Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Kahf 18:1 – Al-Kahf 18:69

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Al-Kahf 18:1
  2. Al-Kahf 18:2
  3. Al-Kahf 18:3
  4. Al-Kahf 18:4
  5. Al-Kahf 18:5
  6. Al-Kahf 18:6
  7. Al-Kahf 18:7
  8. Al-Kahf 18:8
  9. Al-Kahf 18:9
  10. Al-Kahf 18:10
  11. Al-Kahf 18:11
  12. Al-Kahf 18:12
  13. Al-Kahf 18:13
  14. Al-Kahf 18:14
  15. Al-Kahf 18:15
  16. Al-Kahf 18:16
  17. Al-Kahf 18:17
  18. Al-Kahf 18:18
  19. Al-Kahf 18:19
  20. Al-Kahf 18:20
  21. Al-Kahf 18:21
  22. Al-Kahf 18:22
  23. Al-Kahf 18:23
  24. Al-Kahf 18:24
  25. Al-Kahf 18:25
  26. Al-Kahf 18:26
  27. Al-Kahf 18:27
  28. Al-Kahf 18:28
  29. Al-Kahf 18:29
  30. Al-Kahf 18:30
  31. Al-Kahf 18:31
  32. Al-Kahf 18:32
  33. Al-Kahf 18:33
  34. Al-Kahf 18:34
  35. Al-Kahf 18:35
  36. Al-Kahf 18:36
  37. Al-Kahf 18:37
  38. Al-Kahf 18:38
  39. Al-Kahf 18:39
  40. Al-Kahf 18:40
  41. Al-Kahf 18:41
  42. Al-Kahf 18:42
  43. Al-Kahf 18:43
  44. Al-Kahf 18:44
  45. Al-Kahf 18:45
  46. Al-Kahf 18:46
  47. Al-Kahf 18:47
  48. Al-Kahf 18:48
  49. Al-Kahf 18:49
  50. Al-Kahf 18:50
  51. Al-Kahf 18:51
  52. Al-Kahf 18:52
  53. Al-Kahf 18:53
  54. Al-Kahf 18:54
  55. Al-Kahf 18:55
  56. Al-Kahf 18:56
  57. Al-Kahf 18:57
  58. Al-Kahf 18:58
  59. Al-Kahf 18:59
  60. Al-Kahf 18:60
  61. Al-Kahf 18:61
  62. Al-Kahf 18:62
  63. Al-Kahf 18:63
  64. Al-Kahf 18:64
  65. Al-Kahf 18:65
  66. Al-Kahf 18:66
  67. Al-Kahf 18:67
  68. Al-Kahf 18:68
  69. Al-Kahf 18:69

Al-Kahf 18:1

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada ham-baNya al-Kitab (al-Qur`an), dan dia tidak mengadakan kebengkok-an di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus untuk memperingat-kan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan membawa berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerja-kan amal shalih, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah meng-ambil seorang anak.' Mereka sekali-kali tidak mempunyai penge-tahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Qur`an)." (Al-Kahfi: 1-6). Jilid 5 dari kitab Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang" (1) ﴾ ٱلۡحَمۡدُ ﴿, adalah pujian kepada Allah, dengan sifat-sifat-Nya yang keseluruhannya merupakan sifat-sifat sempurna, nikmat-nikmatNya yang zahir maupun yang batin, nikmat agama dan du-nia. Secara mutlak, nikmat Allah yang paling agung adalah Allah menurunkan al-Qur`an kepada hamba dan RasulNya, Muhammad. Maka, Allah memuji DzatNya. Dalam pujian tersebut, terkandung panduan bagi para hamba agar mereka memujiNya atas pengirim-an seorang rasul dan diturunkannya al-Qur`an kepada mereka. Kemudian Allah memberikan predikat pada al-Qur`an dengan dua sifat yang mengandung pengertian bahwasanya al-Qur`an itu sempurna dari segala sisi, yaitu penafian kebengkokan dari al-Qur-`an, dan penetapan bahwasanya al-Qur`an adalah permanen lagi lurus. Penafian unsur kebengkokan dari al-Qur`an menunjukkan bahwa tidak ada kedustaan dalam berita-beritanya, tidak ada ke-zhaliman dan hal-hal yang sia-sia dalam semua perintah dan lara-ngannya. Sedangkan penetapan sifat istiqamah (lurus) menuntut bahwa al-Qur`an tidak memerintahkan dan tidak pula memberita-kan melainkan dengan berita yang paling agung, yaitu berita-berita yang akan membuat hati penuh dengan pengetahuan, keimanan, dan pemahaman. Seperti berita-berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Termasuk juga perkara-perkara ghaib yang sudah lewat maupun yang akan datang. (Mengan-dung makna pula) bahwa perintah-perintah dan larangan-larangan-nya dapat menyucikan, membersihkan, dan menumbuhkan serta menjadikan jiwa sempurna, lantaran memuat unsur keadilan yang sempurna, keseimbangan, keikhlasan, dan peribadahan kepada Allah, Penguasa alam semesta, sendirian, tiada sekutu bagiNya. Maka, patutlah pada kitab (al-Qur`an) yang berkarakter demikian, bahwa Allah memuji diriNya lantaran Dia yang menurunkan al-Qur`an dan mengagungkan DzatNya di hadapan para hambaNya dengan itu. (2) FirmanNya, ﴾ لِّيُنذِرَ بَأۡسٗا شَدِيدٗا مِّن لَّدُنۡهُ ﴿ "Untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah," maksudnya, untuk memperingatkan (para hamba) dengan al-Qur`an ini terhadap hukuman yang ada di sisiNya. Maksudnya, ketetapan dan keputus-an Allah bagi orang yang menyelisihi perintahNya. Hukuman ini meliputi hukuman di dunia dan akhirat. Peringatan ini juga merupa-kan salah satu kenikmatanNya, yaitu Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dan memperingatkan mereka dari hal-hal yang mencela-kakan dan membinasakan mereka. Sebagaimana Firman Allah tat-kala Dia menyebutkan sifat neraka dalam al-Qur`an, ﴾ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ ٱللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥۚ يَٰعِبَادِ فَٱتَّقُونِ 16 ﴿ "Demikianlah Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepadaKu hai hamba-hambaKu." (Az- Zumar: 16). Termasuk (cermin) kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya, adalah Allah menetapkan hukuman-hukuman yang keras bagi orang yang menyelisihi perintahNya, menjelaskannya kepada me-reka dan menerangkan faktor-faktor yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam hukuman. ﴾ وَيُبَشِّرَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا 2 ﴿ "Dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik," maksud-nya, dan Allah menurunkan kepada hambaNya, (Muhammad) al-Qur`an supaya dia menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman kepada Allah, para RasulNya dan kitab-kitab-Nya, yang keimanan mereka telah sempurna. Maka keimanan ter-sebut telah mewajibkan amal-amal shalih bagi mereka. Yaitu, ama-lan-amalan wajib dan mustahab yang memadukan antara keikhlas-an dan mutaba’ah (mengikuti petunjuk Rasulullah). ﴾ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا 2 ﴿ "Bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik," yaitu pahala yang Allah tetapkan karena keimanan dan amal kebajikan (mereka). Pahala yang paling agung dan paling mulia adalah kemenangan meraih keridhaan Allah dan masuk surga yang di dalamnya (penuh kenikmatan) yang belum pernah dilihat indra mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia. Penyebutan sifat 'yang baik' menan-dakan tidak ada unsur yang mengotorinya, tidak pula mengurangi kesempurnaannya sama sekali. Sebab, seandainya dijumpai hal-hal itu, sedikit saja padanya, niscaya kebaikannya tidaklah sempur-na. (3) Ditambah lagi, pahala yang baik ini, ﴾ مَّٰكِثِينَ فِيهِ أَبَدٗا 3 ﴿ "mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya." Tidak akan pernah lenyap dari mereka, dan mereka pun tidak lepas darinya. Bahkan kenikmatan mereka senantiasa bertambah setiap waktu. Di dalam penyebutan kabar gembira terdapat sesuatu yang menuntut penye-butan amal yang mewajibkan bagi orang yang diberi kabar gembira untuk melakukannya, yaitu bahwa al-Qur`an ini telah mencakup setiap amal shalih yang mengantarkan kepada sesuatu yang mem-buat jiwa senang dan ruh berbahagia. (4-5) ﴾ وَيُنذِرَ ٱلَّذِينَ قَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدٗا 4 ﴿ "Dan untuk memperingat-kan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah mengambil seorang anak'," dari kalangan Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik yang me-ngatakan perkataan keji ini. Sesungguhnya mereka tidak mengata-kan hal itu atas dasar ilmu dan keyakinan, mereka tidak memiliki ilmu, tidak pula memiliki ilmu dari nenek moyang mereka yang mereka ikuti. Bahkan, mereka hanyalah mengikuti prasangka dan keinginan-keinginan yang disukai oleh hawa nafsunya. ﴾ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ ﴿ "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka," maksudnya amat besar kekejiannya dan amat parah hukumannya. Manakah kekejian yang lebih besar daripada menyandangi Allah dengan sifat bahwa Dia mengambil seorang anak yang menimbulkan konsekuensi kekuranganNya dan peran-serta pihak lain (dari makhluk) kepadaNya dalam sifat-sifat khusus rububiyyah dan uluhiyyah, dan mengadakan kedustaan atas nama-Nya?! ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah?" (Al-Kahfi: 15). Oleh karena itu, Allah di sini berfirman, ﴾ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبٗا 5 ﴿ "Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta," yaitu kedustaan murni, tidak ada kebenaran sedikit pun padanya. Perhatikanlah, bagaimana Allah menggugurkan perkataan ini sedikit demi sedikit dan berpindah dari suatu kebatilan menuju kebatilan yang lebih parah. Pertama, Allah mengabarkan bahwa, ﴾ مَّا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٖ وَلَا لِأٓبَآئِهِمۡۚ ﴿ "mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka." Berkata atas nama Allah tanpa ilmu, tidak diragukan lagi larangan dan kebatilannya. Kemudian kedua, Allah mengabarkan bahwa perkataan ter-sebut adalah perkataan buruk lagi keji. Maka Allah berfirman, ﴾ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ ﴿ "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka," selanjutnya ketiga, Allah menyebutkan tingkat kejelek-annya yaitu kedustaan yang meniadakan kebenaran. (6) Ketika Rasulullah mempunyai animo tinggi untuk mem-berikan hidayah kepada manusia, berupaya sekuat tenaga untuk mencapainya, maka beliau bergembira dan bersuka cita dengan ter-capainya kesadaran hidayah pada orang-orang, dan (sebaliknya) bersedih hati serta berduka cita terhadap orang-orang yang men-dustakan lagi sesat karena rasa iba dan kasihan beliau kepada me-reka, maka Allah membimbing beliau supaya tidak menyibukkan dirinya dengan rasa iba kepada orang-orang yang tidak beriman terhadap al-Qur`an ini. Sebagaimana Allah berfirman dalam [ayat] yang lain, ﴾ لَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ أَلَّا يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ 3 ﴿ "Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (de-ngan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman." (Asy-Syu'ara`: 3). Dan Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ حَسَرَٰتٍۚ ﴿ "Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka." (Fathir: 8). Di sini Allah berfirman, ﴾ فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ ﴿ "maka (apakah) barang-kali kamu akan membunuh dirimu," maksudnya membinasakan diri-mu disebabkan kegalauan hati dan rasa prihatin kepada mereka. Padahal pahalamu sudah pasti ditanggung oleh Allah, sedangkan mereka itu, seandainya Allah mengetahui ada kebaikan pada diri mereka, niscaya Allah akan memberi mereka petunjuk. Akan tetapi, Allah mengetahui bahwa mereka tidak pantas kecuali untuk api neraka saja. Oleh karena itu, Allah menelantarkan mereka, tidak memberikan hidayah kepada mereka. Maka, perhatianmu (yang menyita) dirimu lantaran kepedihan hati dan keprihatinan kepada mereka tidak ada gunanya bagimu. Dalam ayat ini dan ayat yang semisalnya terdapat pelajaran, bahwa orang yang diperintahkan menyeru manusia ke jalan Allah, wajib baginya menyampaikan dan berupaya menempuh segala cara yang dapat mengantarkan menuju jalan hidayah, menutup semua jalan kesesatan dan kebinasaan dengan kemampuan maksi-malnya, dilandasi dengan bertawakal kepada Allah. Jika mereka mendapatkan petunjuk, maka alangkah indahnya kenikmatan hi-dayah itu. Kalau tidak, maka tidak perlu bersedih dan berduka cita. Sebab, perasaan itu dapat melemahkan jiwa dan menghancurkan kekuatan. Tidak ada faidahnya. Justru, (sebaiknya) tetap menerus-kan pekerjaan yang dibebankan kepadanya dan berjalan ke arah sana. Adapun selain itu, maka di luar batas kemampuannya. Jika Nabi Muhammad saja diberi Firman oleh Allah, ﴾ إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…." (Al-Qashash: 56), dan Musa عليه السلام berkata, ﴾ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudara-ku…." (Al-Ma`idah: 25), maka orang-orang selain mereka termasuk yang lebih utama (untuk memahami hal itu). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ 21 لَّسۡتَ عَلَيۡهِم بِمُصَيۡطِرٍ 22 ﴿ "Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka." (Al-Ghasyiyah: 21-22).

Al-Kahf 18:2

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada ham-baNya al-Kitab (al-Qur`an), dan dia tidak mengadakan kebengkok-an di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus untuk memperingat-kan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan membawa berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerja-kan amal shalih, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah meng-ambil seorang anak.' Mereka sekali-kali tidak mempunyai penge-tahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Qur`an)." (Al-Kahfi: 1-6). Jilid 5 dari kitab Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang" (1) ﴾ ٱلۡحَمۡدُ ﴿, adalah pujian kepada Allah, dengan sifat-sifat-Nya yang keseluruhannya merupakan sifat-sifat sempurna, nikmat-nikmatNya yang zahir maupun yang batin, nikmat agama dan du-nia. Secara mutlak, nikmat Allah yang paling agung adalah Allah menurunkan al-Qur`an kepada hamba dan RasulNya, Muhammad. Maka, Allah memuji DzatNya. Dalam pujian tersebut, terkandung panduan bagi para hamba agar mereka memujiNya atas pengirim-an seorang rasul dan diturunkannya al-Qur`an kepada mereka. Kemudian Allah memberikan predikat pada al-Qur`an dengan dua sifat yang mengandung pengertian bahwasanya al-Qur`an itu sempurna dari segala sisi, yaitu penafian kebengkokan dari al-Qur-`an, dan penetapan bahwasanya al-Qur`an adalah permanen lagi lurus. Penafian unsur kebengkokan dari al-Qur`an menunjukkan bahwa tidak ada kedustaan dalam berita-beritanya, tidak ada ke-zhaliman dan hal-hal yang sia-sia dalam semua perintah dan lara-ngannya. Sedangkan penetapan sifat istiqamah (lurus) menuntut bahwa al-Qur`an tidak memerintahkan dan tidak pula memberita-kan melainkan dengan berita yang paling agung, yaitu berita-berita yang akan membuat hati penuh dengan pengetahuan, keimanan, dan pemahaman. Seperti berita-berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Termasuk juga perkara-perkara ghaib yang sudah lewat maupun yang akan datang. (Mengan-dung makna pula) bahwa perintah-perintah dan larangan-larangan-nya dapat menyucikan, membersihkan, dan menumbuhkan serta menjadikan jiwa sempurna, lantaran memuat unsur keadilan yang sempurna, keseimbangan, keikhlasan, dan peribadahan kepada Allah, Penguasa alam semesta, sendirian, tiada sekutu bagiNya. Maka, patutlah pada kitab (al-Qur`an) yang berkarakter demikian, bahwa Allah memuji diriNya lantaran Dia yang menurunkan al-Qur`an dan mengagungkan DzatNya di hadapan para hambaNya dengan itu. (2) FirmanNya, ﴾ لِّيُنذِرَ بَأۡسٗا شَدِيدٗا مِّن لَّدُنۡهُ ﴿ "Untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah," maksudnya, untuk memperingatkan (para hamba) dengan al-Qur`an ini terhadap hukuman yang ada di sisiNya. Maksudnya, ketetapan dan keputus-an Allah bagi orang yang menyelisihi perintahNya. Hukuman ini meliputi hukuman di dunia dan akhirat. Peringatan ini juga merupa-kan salah satu kenikmatanNya, yaitu Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dan memperingatkan mereka dari hal-hal yang mencela-kakan dan membinasakan mereka. Sebagaimana Firman Allah tat-kala Dia menyebutkan sifat neraka dalam al-Qur`an, ﴾ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ ٱللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥۚ يَٰعِبَادِ فَٱتَّقُونِ 16 ﴿ "Demikianlah Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepadaKu hai hamba-hambaKu." (Az- Zumar: 16). Termasuk (cermin) kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya, adalah Allah menetapkan hukuman-hukuman yang keras bagi orang yang menyelisihi perintahNya, menjelaskannya kepada me-reka dan menerangkan faktor-faktor yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam hukuman. ﴾ وَيُبَشِّرَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا 2 ﴿ "Dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik," maksud-nya, dan Allah menurunkan kepada hambaNya, (Muhammad) al-Qur`an supaya dia menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman kepada Allah, para RasulNya dan kitab-kitab-Nya, yang keimanan mereka telah sempurna. Maka keimanan ter-sebut telah mewajibkan amal-amal shalih bagi mereka. Yaitu, ama-lan-amalan wajib dan mustahab yang memadukan antara keikhlas-an dan mutaba’ah (mengikuti petunjuk Rasulullah). ﴾ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا 2 ﴿ "Bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik," yaitu pahala yang Allah tetapkan karena keimanan dan amal kebajikan (mereka). Pahala yang paling agung dan paling mulia adalah kemenangan meraih keridhaan Allah dan masuk surga yang di dalamnya (penuh kenikmatan) yang belum pernah dilihat indra mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia. Penyebutan sifat 'yang baik' menan-dakan tidak ada unsur yang mengotorinya, tidak pula mengurangi kesempurnaannya sama sekali. Sebab, seandainya dijumpai hal-hal itu, sedikit saja padanya, niscaya kebaikannya tidaklah sempur-na. (3) Ditambah lagi, pahala yang baik ini, ﴾ مَّٰكِثِينَ فِيهِ أَبَدٗا 3 ﴿ "mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya." Tidak akan pernah lenyap dari mereka, dan mereka pun tidak lepas darinya. Bahkan kenikmatan mereka senantiasa bertambah setiap waktu. Di dalam penyebutan kabar gembira terdapat sesuatu yang menuntut penye-butan amal yang mewajibkan bagi orang yang diberi kabar gembira untuk melakukannya, yaitu bahwa al-Qur`an ini telah mencakup setiap amal shalih yang mengantarkan kepada sesuatu yang mem-buat jiwa senang dan ruh berbahagia. (4-5) ﴾ وَيُنذِرَ ٱلَّذِينَ قَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدٗا 4 ﴿ "Dan untuk memperingat-kan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah mengambil seorang anak'," dari kalangan Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik yang me-ngatakan perkataan keji ini. Sesungguhnya mereka tidak mengata-kan hal itu atas dasar ilmu dan keyakinan, mereka tidak memiliki ilmu, tidak pula memiliki ilmu dari nenek moyang mereka yang mereka ikuti. Bahkan, mereka hanyalah mengikuti prasangka dan keinginan-keinginan yang disukai oleh hawa nafsunya. ﴾ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ ﴿ "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka," maksudnya amat besar kekejiannya dan amat parah hukumannya. Manakah kekejian yang lebih besar daripada menyandangi Allah dengan sifat bahwa Dia mengambil seorang anak yang menimbulkan konsekuensi kekuranganNya dan peran-serta pihak lain (dari makhluk) kepadaNya dalam sifat-sifat khusus rububiyyah dan uluhiyyah, dan mengadakan kedustaan atas nama-Nya?! ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah?" (Al-Kahfi: 15). Oleh karena itu, Allah di sini berfirman, ﴾ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبٗا 5 ﴿ "Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta," yaitu kedustaan murni, tidak ada kebenaran sedikit pun padanya. Perhatikanlah, bagaimana Allah menggugurkan perkataan ini sedikit demi sedikit dan berpindah dari suatu kebatilan menuju kebatilan yang lebih parah. Pertama, Allah mengabarkan bahwa, ﴾ مَّا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٖ وَلَا لِأٓبَآئِهِمۡۚ ﴿ "mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka." Berkata atas nama Allah tanpa ilmu, tidak diragukan lagi larangan dan kebatilannya. Kemudian kedua, Allah mengabarkan bahwa perkataan ter-sebut adalah perkataan buruk lagi keji. Maka Allah berfirman, ﴾ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ ﴿ "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka," selanjutnya ketiga, Allah menyebutkan tingkat kejelek-annya yaitu kedustaan yang meniadakan kebenaran. (6) Ketika Rasulullah mempunyai animo tinggi untuk mem-berikan hidayah kepada manusia, berupaya sekuat tenaga untuk mencapainya, maka beliau bergembira dan bersuka cita dengan ter-capainya kesadaran hidayah pada orang-orang, dan (sebaliknya) bersedih hati serta berduka cita terhadap orang-orang yang men-dustakan lagi sesat karena rasa iba dan kasihan beliau kepada me-reka, maka Allah membimbing beliau supaya tidak menyibukkan dirinya dengan rasa iba kepada orang-orang yang tidak beriman terhadap al-Qur`an ini. Sebagaimana Allah berfirman dalam [ayat] yang lain, ﴾ لَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ أَلَّا يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ 3 ﴿ "Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (de-ngan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman." (Asy-Syu'ara`: 3). Dan Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ حَسَرَٰتٍۚ ﴿ "Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka." (Fathir: 8). Di sini Allah berfirman, ﴾ فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ ﴿ "maka (apakah) barang-kali kamu akan membunuh dirimu," maksudnya membinasakan diri-mu disebabkan kegalauan hati dan rasa prihatin kepada mereka. Padahal pahalamu sudah pasti ditanggung oleh Allah, sedangkan mereka itu, seandainya Allah mengetahui ada kebaikan pada diri mereka, niscaya Allah akan memberi mereka petunjuk. Akan tetapi, Allah mengetahui bahwa mereka tidak pantas kecuali untuk api neraka saja. Oleh karena itu, Allah menelantarkan mereka, tidak memberikan hidayah kepada mereka. Maka, perhatianmu (yang menyita) dirimu lantaran kepedihan hati dan keprihatinan kepada mereka tidak ada gunanya bagimu. Dalam ayat ini dan ayat yang semisalnya terdapat pelajaran, bahwa orang yang diperintahkan menyeru manusia ke jalan Allah, wajib baginya menyampaikan dan berupaya menempuh segala cara yang dapat mengantarkan menuju jalan hidayah, menutup semua jalan kesesatan dan kebinasaan dengan kemampuan maksi-malnya, dilandasi dengan bertawakal kepada Allah. Jika mereka mendapatkan petunjuk, maka alangkah indahnya kenikmatan hi-dayah itu. Kalau tidak, maka tidak perlu bersedih dan berduka cita. Sebab, perasaan itu dapat melemahkan jiwa dan menghancurkan kekuatan. Tidak ada faidahnya. Justru, (sebaiknya) tetap menerus-kan pekerjaan yang dibebankan kepadanya dan berjalan ke arah sana. Adapun selain itu, maka di luar batas kemampuannya. Jika Nabi Muhammad saja diberi Firman oleh Allah, ﴾ إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…." (Al-Qashash: 56), dan Musa عليه السلام berkata, ﴾ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudara-ku…." (Al-Ma`idah: 25), maka orang-orang selain mereka termasuk yang lebih utama (untuk memahami hal itu). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ 21 لَّسۡتَ عَلَيۡهِم بِمُصَيۡطِرٍ 22 ﴿ "Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka." (Al-Ghasyiyah: 21-22).

Al-Kahf 18:3

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada ham-baNya al-Kitab (al-Qur`an), dan dia tidak mengadakan kebengkok-an di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus untuk memperingat-kan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan membawa berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerja-kan amal shalih, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah meng-ambil seorang anak.' Mereka sekali-kali tidak mempunyai penge-tahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Qur`an)." (Al-Kahfi: 1-6). Jilid 5 dari kitab Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang" (1) ﴾ ٱلۡحَمۡدُ ﴿, adalah pujian kepada Allah, dengan sifat-sifat-Nya yang keseluruhannya merupakan sifat-sifat sempurna, nikmat-nikmatNya yang zahir maupun yang batin, nikmat agama dan du-nia. Secara mutlak, nikmat Allah yang paling agung adalah Allah menurunkan al-Qur`an kepada hamba dan RasulNya, Muhammad. Maka, Allah memuji DzatNya. Dalam pujian tersebut, terkandung panduan bagi para hamba agar mereka memujiNya atas pengirim-an seorang rasul dan diturunkannya al-Qur`an kepada mereka. Kemudian Allah memberikan predikat pada al-Qur`an dengan dua sifat yang mengandung pengertian bahwasanya al-Qur`an itu sempurna dari segala sisi, yaitu penafian kebengkokan dari al-Qur-`an, dan penetapan bahwasanya al-Qur`an adalah permanen lagi lurus. Penafian unsur kebengkokan dari al-Qur`an menunjukkan bahwa tidak ada kedustaan dalam berita-beritanya, tidak ada ke-zhaliman dan hal-hal yang sia-sia dalam semua perintah dan lara-ngannya. Sedangkan penetapan sifat istiqamah (lurus) menuntut bahwa al-Qur`an tidak memerintahkan dan tidak pula memberita-kan melainkan dengan berita yang paling agung, yaitu berita-berita yang akan membuat hati penuh dengan pengetahuan, keimanan, dan pemahaman. Seperti berita-berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Termasuk juga perkara-perkara ghaib yang sudah lewat maupun yang akan datang. (Mengan-dung makna pula) bahwa perintah-perintah dan larangan-larangan-nya dapat menyucikan, membersihkan, dan menumbuhkan serta menjadikan jiwa sempurna, lantaran memuat unsur keadilan yang sempurna, keseimbangan, keikhlasan, dan peribadahan kepada Allah, Penguasa alam semesta, sendirian, tiada sekutu bagiNya. Maka, patutlah pada kitab (al-Qur`an) yang berkarakter demikian, bahwa Allah memuji diriNya lantaran Dia yang menurunkan al-Qur`an dan mengagungkan DzatNya di hadapan para hambaNya dengan itu. (2) FirmanNya, ﴾ لِّيُنذِرَ بَأۡسٗا شَدِيدٗا مِّن لَّدُنۡهُ ﴿ "Untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah," maksudnya, untuk memperingatkan (para hamba) dengan al-Qur`an ini terhadap hukuman yang ada di sisiNya. Maksudnya, ketetapan dan keputus-an Allah bagi orang yang menyelisihi perintahNya. Hukuman ini meliputi hukuman di dunia dan akhirat. Peringatan ini juga merupa-kan salah satu kenikmatanNya, yaitu Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dan memperingatkan mereka dari hal-hal yang mencela-kakan dan membinasakan mereka. Sebagaimana Firman Allah tat-kala Dia menyebutkan sifat neraka dalam al-Qur`an, ﴾ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ ٱللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥۚ يَٰعِبَادِ فَٱتَّقُونِ 16 ﴿ "Demikianlah Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepadaKu hai hamba-hambaKu." (Az- Zumar: 16). Termasuk (cermin) kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya, adalah Allah menetapkan hukuman-hukuman yang keras bagi orang yang menyelisihi perintahNya, menjelaskannya kepada me-reka dan menerangkan faktor-faktor yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam hukuman. ﴾ وَيُبَشِّرَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا 2 ﴿ "Dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik," maksud-nya, dan Allah menurunkan kepada hambaNya, (Muhammad) al-Qur`an supaya dia menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman kepada Allah, para RasulNya dan kitab-kitab-Nya, yang keimanan mereka telah sempurna. Maka keimanan ter-sebut telah mewajibkan amal-amal shalih bagi mereka. Yaitu, ama-lan-amalan wajib dan mustahab yang memadukan antara keikhlas-an dan mutaba’ah (mengikuti petunjuk Rasulullah). ﴾ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا 2 ﴿ "Bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik," yaitu pahala yang Allah tetapkan karena keimanan dan amal kebajikan (mereka). Pahala yang paling agung dan paling mulia adalah kemenangan meraih keridhaan Allah dan masuk surga yang di dalamnya (penuh kenikmatan) yang belum pernah dilihat indra mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia. Penyebutan sifat 'yang baik' menan-dakan tidak ada unsur yang mengotorinya, tidak pula mengurangi kesempurnaannya sama sekali. Sebab, seandainya dijumpai hal-hal itu, sedikit saja padanya, niscaya kebaikannya tidaklah sempur-na. (3) Ditambah lagi, pahala yang baik ini, ﴾ مَّٰكِثِينَ فِيهِ أَبَدٗا 3 ﴿ "mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya." Tidak akan pernah lenyap dari mereka, dan mereka pun tidak lepas darinya. Bahkan kenikmatan mereka senantiasa bertambah setiap waktu. Di dalam penyebutan kabar gembira terdapat sesuatu yang menuntut penye-butan amal yang mewajibkan bagi orang yang diberi kabar gembira untuk melakukannya, yaitu bahwa al-Qur`an ini telah mencakup setiap amal shalih yang mengantarkan kepada sesuatu yang mem-buat jiwa senang dan ruh berbahagia. (4-5) ﴾ وَيُنذِرَ ٱلَّذِينَ قَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدٗا 4 ﴿ "Dan untuk memperingat-kan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah mengambil seorang anak'," dari kalangan Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik yang me-ngatakan perkataan keji ini. Sesungguhnya mereka tidak mengata-kan hal itu atas dasar ilmu dan keyakinan, mereka tidak memiliki ilmu, tidak pula memiliki ilmu dari nenek moyang mereka yang mereka ikuti. Bahkan, mereka hanyalah mengikuti prasangka dan keinginan-keinginan yang disukai oleh hawa nafsunya. ﴾ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ ﴿ "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka," maksudnya amat besar kekejiannya dan amat parah hukumannya. Manakah kekejian yang lebih besar daripada menyandangi Allah dengan sifat bahwa Dia mengambil seorang anak yang menimbulkan konsekuensi kekuranganNya dan peran-serta pihak lain (dari makhluk) kepadaNya dalam sifat-sifat khusus rububiyyah dan uluhiyyah, dan mengadakan kedustaan atas nama-Nya?! ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah?" (Al-Kahfi: 15). Oleh karena itu, Allah di sini berfirman, ﴾ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبٗا 5 ﴿ "Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta," yaitu kedustaan murni, tidak ada kebenaran sedikit pun padanya. Perhatikanlah, bagaimana Allah menggugurkan perkataan ini sedikit demi sedikit dan berpindah dari suatu kebatilan menuju kebatilan yang lebih parah. Pertama, Allah mengabarkan bahwa, ﴾ مَّا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٖ وَلَا لِأٓبَآئِهِمۡۚ ﴿ "mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka." Berkata atas nama Allah tanpa ilmu, tidak diragukan lagi larangan dan kebatilannya. Kemudian kedua, Allah mengabarkan bahwa perkataan ter-sebut adalah perkataan buruk lagi keji. Maka Allah berfirman, ﴾ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ ﴿ "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka," selanjutnya ketiga, Allah menyebutkan tingkat kejelek-annya yaitu kedustaan yang meniadakan kebenaran. (6) Ketika Rasulullah mempunyai animo tinggi untuk mem-berikan hidayah kepada manusia, berupaya sekuat tenaga untuk mencapainya, maka beliau bergembira dan bersuka cita dengan ter-capainya kesadaran hidayah pada orang-orang, dan (sebaliknya) bersedih hati serta berduka cita terhadap orang-orang yang men-dustakan lagi sesat karena rasa iba dan kasihan beliau kepada me-reka, maka Allah membimbing beliau supaya tidak menyibukkan dirinya dengan rasa iba kepada orang-orang yang tidak beriman terhadap al-Qur`an ini. Sebagaimana Allah berfirman dalam [ayat] yang lain, ﴾ لَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ أَلَّا يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ 3 ﴿ "Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (de-ngan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman." (Asy-Syu'ara`: 3). Dan Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ حَسَرَٰتٍۚ ﴿ "Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka." (Fathir: 8). Di sini Allah berfirman, ﴾ فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ ﴿ "maka (apakah) barang-kali kamu akan membunuh dirimu," maksudnya membinasakan diri-mu disebabkan kegalauan hati dan rasa prihatin kepada mereka. Padahal pahalamu sudah pasti ditanggung oleh Allah, sedangkan mereka itu, seandainya Allah mengetahui ada kebaikan pada diri mereka, niscaya Allah akan memberi mereka petunjuk. Akan tetapi, Allah mengetahui bahwa mereka tidak pantas kecuali untuk api neraka saja. Oleh karena itu, Allah menelantarkan mereka, tidak memberikan hidayah kepada mereka. Maka, perhatianmu (yang menyita) dirimu lantaran kepedihan hati dan keprihatinan kepada mereka tidak ada gunanya bagimu. Dalam ayat ini dan ayat yang semisalnya terdapat pelajaran, bahwa orang yang diperintahkan menyeru manusia ke jalan Allah, wajib baginya menyampaikan dan berupaya menempuh segala cara yang dapat mengantarkan menuju jalan hidayah, menutup semua jalan kesesatan dan kebinasaan dengan kemampuan maksi-malnya, dilandasi dengan bertawakal kepada Allah. Jika mereka mendapatkan petunjuk, maka alangkah indahnya kenikmatan hi-dayah itu. Kalau tidak, maka tidak perlu bersedih dan berduka cita. Sebab, perasaan itu dapat melemahkan jiwa dan menghancurkan kekuatan. Tidak ada faidahnya. Justru, (sebaiknya) tetap menerus-kan pekerjaan yang dibebankan kepadanya dan berjalan ke arah sana. Adapun selain itu, maka di luar batas kemampuannya. Jika Nabi Muhammad saja diberi Firman oleh Allah, ﴾ إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…." (Al-Qashash: 56), dan Musa عليه السلام berkata, ﴾ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudara-ku…." (Al-Ma`idah: 25), maka orang-orang selain mereka termasuk yang lebih utama (untuk memahami hal itu). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ 21 لَّسۡتَ عَلَيۡهِم بِمُصَيۡطِرٍ 22 ﴿ "Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka." (Al-Ghasyiyah: 21-22).

Al-Kahf 18:4

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada ham-baNya al-Kitab (al-Qur`an), dan dia tidak mengadakan kebengkok-an di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus untuk memperingat-kan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan membawa berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerja-kan amal shalih, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah meng-ambil seorang anak.' Mereka sekali-kali tidak mempunyai penge-tahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Qur`an)." (Al-Kahfi: 1-6). Jilid 5 dari kitab Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang" (1) ﴾ ٱلۡحَمۡدُ ﴿, adalah pujian kepada Allah, dengan sifat-sifat-Nya yang keseluruhannya merupakan sifat-sifat sempurna, nikmat-nikmatNya yang zahir maupun yang batin, nikmat agama dan du-nia. Secara mutlak, nikmat Allah yang paling agung adalah Allah menurunkan al-Qur`an kepada hamba dan RasulNya, Muhammad. Maka, Allah memuji DzatNya. Dalam pujian tersebut, terkandung panduan bagi para hamba agar mereka memujiNya atas pengirim-an seorang rasul dan diturunkannya al-Qur`an kepada mereka. Kemudian Allah memberikan predikat pada al-Qur`an dengan dua sifat yang mengandung pengertian bahwasanya al-Qur`an itu sempurna dari segala sisi, yaitu penafian kebengkokan dari al-Qur-`an, dan penetapan bahwasanya al-Qur`an adalah permanen lagi lurus. Penafian unsur kebengkokan dari al-Qur`an menunjukkan bahwa tidak ada kedustaan dalam berita-beritanya, tidak ada ke-zhaliman dan hal-hal yang sia-sia dalam semua perintah dan lara-ngannya. Sedangkan penetapan sifat istiqamah (lurus) menuntut bahwa al-Qur`an tidak memerintahkan dan tidak pula memberita-kan melainkan dengan berita yang paling agung, yaitu berita-berita yang akan membuat hati penuh dengan pengetahuan, keimanan, dan pemahaman. Seperti berita-berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Termasuk juga perkara-perkara ghaib yang sudah lewat maupun yang akan datang. (Mengan-dung makna pula) bahwa perintah-perintah dan larangan-larangan-nya dapat menyucikan, membersihkan, dan menumbuhkan serta menjadikan jiwa sempurna, lantaran memuat unsur keadilan yang sempurna, keseimbangan, keikhlasan, dan peribadahan kepada Allah, Penguasa alam semesta, sendirian, tiada sekutu bagiNya. Maka, patutlah pada kitab (al-Qur`an) yang berkarakter demikian, bahwa Allah memuji diriNya lantaran Dia yang menurunkan al-Qur`an dan mengagungkan DzatNya di hadapan para hambaNya dengan itu. (2) FirmanNya, ﴾ لِّيُنذِرَ بَأۡسٗا شَدِيدٗا مِّن لَّدُنۡهُ ﴿ "Untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah," maksudnya, untuk memperingatkan (para hamba) dengan al-Qur`an ini terhadap hukuman yang ada di sisiNya. Maksudnya, ketetapan dan keputus-an Allah bagi orang yang menyelisihi perintahNya. Hukuman ini meliputi hukuman di dunia dan akhirat. Peringatan ini juga merupa-kan salah satu kenikmatanNya, yaitu Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dan memperingatkan mereka dari hal-hal yang mencela-kakan dan membinasakan mereka. Sebagaimana Firman Allah tat-kala Dia menyebutkan sifat neraka dalam al-Qur`an, ﴾ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ ٱللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥۚ يَٰعِبَادِ فَٱتَّقُونِ 16 ﴿ "Demikianlah Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepadaKu hai hamba-hambaKu." (Az- Zumar: 16). Termasuk (cermin) kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya, adalah Allah menetapkan hukuman-hukuman yang keras bagi orang yang menyelisihi perintahNya, menjelaskannya kepada me-reka dan menerangkan faktor-faktor yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam hukuman. ﴾ وَيُبَشِّرَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا 2 ﴿ "Dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik," maksud-nya, dan Allah menurunkan kepada hambaNya, (Muhammad) al-Qur`an supaya dia menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman kepada Allah, para RasulNya dan kitab-kitab-Nya, yang keimanan mereka telah sempurna. Maka keimanan ter-sebut telah mewajibkan amal-amal shalih bagi mereka. Yaitu, ama-lan-amalan wajib dan mustahab yang memadukan antara keikhlas-an dan mutaba’ah (mengikuti petunjuk Rasulullah). ﴾ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا 2 ﴿ "Bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik," yaitu pahala yang Allah tetapkan karena keimanan dan amal kebajikan (mereka). Pahala yang paling agung dan paling mulia adalah kemenangan meraih keridhaan Allah dan masuk surga yang di dalamnya (penuh kenikmatan) yang belum pernah dilihat indra mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia. Penyebutan sifat 'yang baik' menan-dakan tidak ada unsur yang mengotorinya, tidak pula mengurangi kesempurnaannya sama sekali. Sebab, seandainya dijumpai hal-hal itu, sedikit saja padanya, niscaya kebaikannya tidaklah sempur-na. (3) Ditambah lagi, pahala yang baik ini, ﴾ مَّٰكِثِينَ فِيهِ أَبَدٗا 3 ﴿ "mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya." Tidak akan pernah lenyap dari mereka, dan mereka pun tidak lepas darinya. Bahkan kenikmatan mereka senantiasa bertambah setiap waktu. Di dalam penyebutan kabar gembira terdapat sesuatu yang menuntut penye-butan amal yang mewajibkan bagi orang yang diberi kabar gembira untuk melakukannya, yaitu bahwa al-Qur`an ini telah mencakup setiap amal shalih yang mengantarkan kepada sesuatu yang mem-buat jiwa senang dan ruh berbahagia. (4-5) ﴾ وَيُنذِرَ ٱلَّذِينَ قَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدٗا 4 ﴿ "Dan untuk memperingat-kan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah mengambil seorang anak'," dari kalangan Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik yang me-ngatakan perkataan keji ini. Sesungguhnya mereka tidak mengata-kan hal itu atas dasar ilmu dan keyakinan, mereka tidak memiliki ilmu, tidak pula memiliki ilmu dari nenek moyang mereka yang mereka ikuti. Bahkan, mereka hanyalah mengikuti prasangka dan keinginan-keinginan yang disukai oleh hawa nafsunya. ﴾ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ ﴿ "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka," maksudnya amat besar kekejiannya dan amat parah hukumannya. Manakah kekejian yang lebih besar daripada menyandangi Allah dengan sifat bahwa Dia mengambil seorang anak yang menimbulkan konsekuensi kekuranganNya dan peran-serta pihak lain (dari makhluk) kepadaNya dalam sifat-sifat khusus rububiyyah dan uluhiyyah, dan mengadakan kedustaan atas nama-Nya?! ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah?" (Al-Kahfi: 15). Oleh karena itu, Allah di sini berfirman, ﴾ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبٗا 5 ﴿ "Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta," yaitu kedustaan murni, tidak ada kebenaran sedikit pun padanya. Perhatikanlah, bagaimana Allah menggugurkan perkataan ini sedikit demi sedikit dan berpindah dari suatu kebatilan menuju kebatilan yang lebih parah. Pertama, Allah mengabarkan bahwa, ﴾ مَّا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٖ وَلَا لِأٓبَآئِهِمۡۚ ﴿ "mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka." Berkata atas nama Allah tanpa ilmu, tidak diragukan lagi larangan dan kebatilannya. Kemudian kedua, Allah mengabarkan bahwa perkataan ter-sebut adalah perkataan buruk lagi keji. Maka Allah berfirman, ﴾ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ ﴿ "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka," selanjutnya ketiga, Allah menyebutkan tingkat kejelek-annya yaitu kedustaan yang meniadakan kebenaran. (6) Ketika Rasulullah mempunyai animo tinggi untuk mem-berikan hidayah kepada manusia, berupaya sekuat tenaga untuk mencapainya, maka beliau bergembira dan bersuka cita dengan ter-capainya kesadaran hidayah pada orang-orang, dan (sebaliknya) bersedih hati serta berduka cita terhadap orang-orang yang men-dustakan lagi sesat karena rasa iba dan kasihan beliau kepada me-reka, maka Allah membimbing beliau supaya tidak menyibukkan dirinya dengan rasa iba kepada orang-orang yang tidak beriman terhadap al-Qur`an ini. Sebagaimana Allah berfirman dalam [ayat] yang lain, ﴾ لَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ أَلَّا يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ 3 ﴿ "Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (de-ngan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman." (Asy-Syu'ara`: 3). Dan Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ حَسَرَٰتٍۚ ﴿ "Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka." (Fathir: 8). Di sini Allah berfirman, ﴾ فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ ﴿ "maka (apakah) barang-kali kamu akan membunuh dirimu," maksudnya membinasakan diri-mu disebabkan kegalauan hati dan rasa prihatin kepada mereka. Padahal pahalamu sudah pasti ditanggung oleh Allah, sedangkan mereka itu, seandainya Allah mengetahui ada kebaikan pada diri mereka, niscaya Allah akan memberi mereka petunjuk. Akan tetapi, Allah mengetahui bahwa mereka tidak pantas kecuali untuk api neraka saja. Oleh karena itu, Allah menelantarkan mereka, tidak memberikan hidayah kepada mereka. Maka, perhatianmu (yang menyita) dirimu lantaran kepedihan hati dan keprihatinan kepada mereka tidak ada gunanya bagimu. Dalam ayat ini dan ayat yang semisalnya terdapat pelajaran, bahwa orang yang diperintahkan menyeru manusia ke jalan Allah, wajib baginya menyampaikan dan berupaya menempuh segala cara yang dapat mengantarkan menuju jalan hidayah, menutup semua jalan kesesatan dan kebinasaan dengan kemampuan maksi-malnya, dilandasi dengan bertawakal kepada Allah. Jika mereka mendapatkan petunjuk, maka alangkah indahnya kenikmatan hi-dayah itu. Kalau tidak, maka tidak perlu bersedih dan berduka cita. Sebab, perasaan itu dapat melemahkan jiwa dan menghancurkan kekuatan. Tidak ada faidahnya. Justru, (sebaiknya) tetap menerus-kan pekerjaan yang dibebankan kepadanya dan berjalan ke arah sana. Adapun selain itu, maka di luar batas kemampuannya. Jika Nabi Muhammad saja diberi Firman oleh Allah, ﴾ إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…." (Al-Qashash: 56), dan Musa عليه السلام berkata, ﴾ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudara-ku…." (Al-Ma`idah: 25), maka orang-orang selain mereka termasuk yang lebih utama (untuk memahami hal itu). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ 21 لَّسۡتَ عَلَيۡهِم بِمُصَيۡطِرٍ 22 ﴿ "Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka." (Al-Ghasyiyah: 21-22).

Al-Kahf 18:5

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada ham-baNya al-Kitab (al-Qur`an), dan dia tidak mengadakan kebengkok-an di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus untuk memperingat-kan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan membawa berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerja-kan amal shalih, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah meng-ambil seorang anak.' Mereka sekali-kali tidak mempunyai penge-tahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Qur`an)." (Al-Kahfi: 1-6). Jilid 5 dari kitab Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang" (1) ﴾ ٱلۡحَمۡدُ ﴿, adalah pujian kepada Allah, dengan sifat-sifat-Nya yang keseluruhannya merupakan sifat-sifat sempurna, nikmat-nikmatNya yang zahir maupun yang batin, nikmat agama dan du-nia. Secara mutlak, nikmat Allah yang paling agung adalah Allah menurunkan al-Qur`an kepada hamba dan RasulNya, Muhammad. Maka, Allah memuji DzatNya. Dalam pujian tersebut, terkandung panduan bagi para hamba agar mereka memujiNya atas pengirim-an seorang rasul dan diturunkannya al-Qur`an kepada mereka. Kemudian Allah memberikan predikat pada al-Qur`an dengan dua sifat yang mengandung pengertian bahwasanya al-Qur`an itu sempurna dari segala sisi, yaitu penafian kebengkokan dari al-Qur-`an, dan penetapan bahwasanya al-Qur`an adalah permanen lagi lurus. Penafian unsur kebengkokan dari al-Qur`an menunjukkan bahwa tidak ada kedustaan dalam berita-beritanya, tidak ada ke-zhaliman dan hal-hal yang sia-sia dalam semua perintah dan lara-ngannya. Sedangkan penetapan sifat istiqamah (lurus) menuntut bahwa al-Qur`an tidak memerintahkan dan tidak pula memberita-kan melainkan dengan berita yang paling agung, yaitu berita-berita yang akan membuat hati penuh dengan pengetahuan, keimanan, dan pemahaman. Seperti berita-berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Termasuk juga perkara-perkara ghaib yang sudah lewat maupun yang akan datang. (Mengan-dung makna pula) bahwa perintah-perintah dan larangan-larangan-nya dapat menyucikan, membersihkan, dan menumbuhkan serta menjadikan jiwa sempurna, lantaran memuat unsur keadilan yang sempurna, keseimbangan, keikhlasan, dan peribadahan kepada Allah, Penguasa alam semesta, sendirian, tiada sekutu bagiNya. Maka, patutlah pada kitab (al-Qur`an) yang berkarakter demikian, bahwa Allah memuji diriNya lantaran Dia yang menurunkan al-Qur`an dan mengagungkan DzatNya di hadapan para hambaNya dengan itu. (2) FirmanNya, ﴾ لِّيُنذِرَ بَأۡسٗا شَدِيدٗا مِّن لَّدُنۡهُ ﴿ "Untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah," maksudnya, untuk memperingatkan (para hamba) dengan al-Qur`an ini terhadap hukuman yang ada di sisiNya. Maksudnya, ketetapan dan keputus-an Allah bagi orang yang menyelisihi perintahNya. Hukuman ini meliputi hukuman di dunia dan akhirat. Peringatan ini juga merupa-kan salah satu kenikmatanNya, yaitu Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dan memperingatkan mereka dari hal-hal yang mencela-kakan dan membinasakan mereka. Sebagaimana Firman Allah tat-kala Dia menyebutkan sifat neraka dalam al-Qur`an, ﴾ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ ٱللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥۚ يَٰعِبَادِ فَٱتَّقُونِ 16 ﴿ "Demikianlah Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepadaKu hai hamba-hambaKu." (Az- Zumar: 16). Termasuk (cermin) kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya, adalah Allah menetapkan hukuman-hukuman yang keras bagi orang yang menyelisihi perintahNya, menjelaskannya kepada me-reka dan menerangkan faktor-faktor yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam hukuman. ﴾ وَيُبَشِّرَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا 2 ﴿ "Dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik," maksud-nya, dan Allah menurunkan kepada hambaNya, (Muhammad) al-Qur`an supaya dia menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman kepada Allah, para RasulNya dan kitab-kitab-Nya, yang keimanan mereka telah sempurna. Maka keimanan ter-sebut telah mewajibkan amal-amal shalih bagi mereka. Yaitu, ama-lan-amalan wajib dan mustahab yang memadukan antara keikhlas-an dan mutaba’ah (mengikuti petunjuk Rasulullah). ﴾ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا 2 ﴿ "Bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik," yaitu pahala yang Allah tetapkan karena keimanan dan amal kebajikan (mereka). Pahala yang paling agung dan paling mulia adalah kemenangan meraih keridhaan Allah dan masuk surga yang di dalamnya (penuh kenikmatan) yang belum pernah dilihat indra mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia. Penyebutan sifat 'yang baik' menan-dakan tidak ada unsur yang mengotorinya, tidak pula mengurangi kesempurnaannya sama sekali. Sebab, seandainya dijumpai hal-hal itu, sedikit saja padanya, niscaya kebaikannya tidaklah sempur-na. (3) Ditambah lagi, pahala yang baik ini, ﴾ مَّٰكِثِينَ فِيهِ أَبَدٗا 3 ﴿ "mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya." Tidak akan pernah lenyap dari mereka, dan mereka pun tidak lepas darinya. Bahkan kenikmatan mereka senantiasa bertambah setiap waktu. Di dalam penyebutan kabar gembira terdapat sesuatu yang menuntut penye-butan amal yang mewajibkan bagi orang yang diberi kabar gembira untuk melakukannya, yaitu bahwa al-Qur`an ini telah mencakup setiap amal shalih yang mengantarkan kepada sesuatu yang mem-buat jiwa senang dan ruh berbahagia. (4-5) ﴾ وَيُنذِرَ ٱلَّذِينَ قَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدٗا 4 ﴿ "Dan untuk memperingat-kan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah mengambil seorang anak'," dari kalangan Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik yang me-ngatakan perkataan keji ini. Sesungguhnya mereka tidak mengata-kan hal itu atas dasar ilmu dan keyakinan, mereka tidak memiliki ilmu, tidak pula memiliki ilmu dari nenek moyang mereka yang mereka ikuti. Bahkan, mereka hanyalah mengikuti prasangka dan keinginan-keinginan yang disukai oleh hawa nafsunya. ﴾ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ ﴿ "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka," maksudnya amat besar kekejiannya dan amat parah hukumannya. Manakah kekejian yang lebih besar daripada menyandangi Allah dengan sifat bahwa Dia mengambil seorang anak yang menimbulkan konsekuensi kekuranganNya dan peran-serta pihak lain (dari makhluk) kepadaNya dalam sifat-sifat khusus rububiyyah dan uluhiyyah, dan mengadakan kedustaan atas nama-Nya?! ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah?" (Al-Kahfi: 15). Oleh karena itu, Allah di sini berfirman, ﴾ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبٗا 5 ﴿ "Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta," yaitu kedustaan murni, tidak ada kebenaran sedikit pun padanya. Perhatikanlah, bagaimana Allah menggugurkan perkataan ini sedikit demi sedikit dan berpindah dari suatu kebatilan menuju kebatilan yang lebih parah. Pertama, Allah mengabarkan bahwa, ﴾ مَّا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٖ وَلَا لِأٓبَآئِهِمۡۚ ﴿ "mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka." Berkata atas nama Allah tanpa ilmu, tidak diragukan lagi larangan dan kebatilannya. Kemudian kedua, Allah mengabarkan bahwa perkataan ter-sebut adalah perkataan buruk lagi keji. Maka Allah berfirman, ﴾ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ ﴿ "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka," selanjutnya ketiga, Allah menyebutkan tingkat kejelek-annya yaitu kedustaan yang meniadakan kebenaran. (6) Ketika Rasulullah mempunyai animo tinggi untuk mem-berikan hidayah kepada manusia, berupaya sekuat tenaga untuk mencapainya, maka beliau bergembira dan bersuka cita dengan ter-capainya kesadaran hidayah pada orang-orang, dan (sebaliknya) bersedih hati serta berduka cita terhadap orang-orang yang men-dustakan lagi sesat karena rasa iba dan kasihan beliau kepada me-reka, maka Allah membimbing beliau supaya tidak menyibukkan dirinya dengan rasa iba kepada orang-orang yang tidak beriman terhadap al-Qur`an ini. Sebagaimana Allah berfirman dalam [ayat] yang lain, ﴾ لَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ أَلَّا يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ 3 ﴿ "Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (de-ngan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman." (Asy-Syu'ara`: 3). Dan Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ حَسَرَٰتٍۚ ﴿ "Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka." (Fathir: 8). Di sini Allah berfirman, ﴾ فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ ﴿ "maka (apakah) barang-kali kamu akan membunuh dirimu," maksudnya membinasakan diri-mu disebabkan kegalauan hati dan rasa prihatin kepada mereka. Padahal pahalamu sudah pasti ditanggung oleh Allah, sedangkan mereka itu, seandainya Allah mengetahui ada kebaikan pada diri mereka, niscaya Allah akan memberi mereka petunjuk. Akan tetapi, Allah mengetahui bahwa mereka tidak pantas kecuali untuk api neraka saja. Oleh karena itu, Allah menelantarkan mereka, tidak memberikan hidayah kepada mereka. Maka, perhatianmu (yang menyita) dirimu lantaran kepedihan hati dan keprihatinan kepada mereka tidak ada gunanya bagimu. Dalam ayat ini dan ayat yang semisalnya terdapat pelajaran, bahwa orang yang diperintahkan menyeru manusia ke jalan Allah, wajib baginya menyampaikan dan berupaya menempuh segala cara yang dapat mengantarkan menuju jalan hidayah, menutup semua jalan kesesatan dan kebinasaan dengan kemampuan maksi-malnya, dilandasi dengan bertawakal kepada Allah. Jika mereka mendapatkan petunjuk, maka alangkah indahnya kenikmatan hi-dayah itu. Kalau tidak, maka tidak perlu bersedih dan berduka cita. Sebab, perasaan itu dapat melemahkan jiwa dan menghancurkan kekuatan. Tidak ada faidahnya. Justru, (sebaiknya) tetap menerus-kan pekerjaan yang dibebankan kepadanya dan berjalan ke arah sana. Adapun selain itu, maka di luar batas kemampuannya. Jika Nabi Muhammad saja diberi Firman oleh Allah, ﴾ إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…." (Al-Qashash: 56), dan Musa عليه السلام berkata, ﴾ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudara-ku…." (Al-Ma`idah: 25), maka orang-orang selain mereka termasuk yang lebih utama (untuk memahami hal itu). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ 21 لَّسۡتَ عَلَيۡهِم بِمُصَيۡطِرٍ 22 ﴿ "Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka." (Al-Ghasyiyah: 21-22).

Al-Kahf 18:6

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada ham-baNya al-Kitab (al-Qur`an), dan dia tidak mengadakan kebengkok-an di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus untuk memperingat-kan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan membawa berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerja-kan amal shalih, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah meng-ambil seorang anak.' Mereka sekali-kali tidak mempunyai penge-tahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Qur`an)." (Al-Kahfi: 1-6). Jilid 5 dari kitab Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang" (1) ﴾ ٱلۡحَمۡدُ ﴿, adalah pujian kepada Allah, dengan sifat-sifat-Nya yang keseluruhannya merupakan sifat-sifat sempurna, nikmat-nikmatNya yang zahir maupun yang batin, nikmat agama dan du-nia. Secara mutlak, nikmat Allah yang paling agung adalah Allah menurunkan al-Qur`an kepada hamba dan RasulNya, Muhammad. Maka, Allah memuji DzatNya. Dalam pujian tersebut, terkandung panduan bagi para hamba agar mereka memujiNya atas pengirim-an seorang rasul dan diturunkannya al-Qur`an kepada mereka. Kemudian Allah memberikan predikat pada al-Qur`an dengan dua sifat yang mengandung pengertian bahwasanya al-Qur`an itu sempurna dari segala sisi, yaitu penafian kebengkokan dari al-Qur-`an, dan penetapan bahwasanya al-Qur`an adalah permanen lagi lurus. Penafian unsur kebengkokan dari al-Qur`an menunjukkan bahwa tidak ada kedustaan dalam berita-beritanya, tidak ada ke-zhaliman dan hal-hal yang sia-sia dalam semua perintah dan lara-ngannya. Sedangkan penetapan sifat istiqamah (lurus) menuntut bahwa al-Qur`an tidak memerintahkan dan tidak pula memberita-kan melainkan dengan berita yang paling agung, yaitu berita-berita yang akan membuat hati penuh dengan pengetahuan, keimanan, dan pemahaman. Seperti berita-berita tentang nama-nama Allah, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Termasuk juga perkara-perkara ghaib yang sudah lewat maupun yang akan datang. (Mengan-dung makna pula) bahwa perintah-perintah dan larangan-larangan-nya dapat menyucikan, membersihkan, dan menumbuhkan serta menjadikan jiwa sempurna, lantaran memuat unsur keadilan yang sempurna, keseimbangan, keikhlasan, dan peribadahan kepada Allah, Penguasa alam semesta, sendirian, tiada sekutu bagiNya. Maka, patutlah pada kitab (al-Qur`an) yang berkarakter demikian, bahwa Allah memuji diriNya lantaran Dia yang menurunkan al-Qur`an dan mengagungkan DzatNya di hadapan para hambaNya dengan itu. (2) FirmanNya, ﴾ لِّيُنذِرَ بَأۡسٗا شَدِيدٗا مِّن لَّدُنۡهُ ﴿ "Untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah," maksudnya, untuk memperingatkan (para hamba) dengan al-Qur`an ini terhadap hukuman yang ada di sisiNya. Maksudnya, ketetapan dan keputus-an Allah bagi orang yang menyelisihi perintahNya. Hukuman ini meliputi hukuman di dunia dan akhirat. Peringatan ini juga merupa-kan salah satu kenikmatanNya, yaitu Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dan memperingatkan mereka dari hal-hal yang mencela-kakan dan membinasakan mereka. Sebagaimana Firman Allah tat-kala Dia menyebutkan sifat neraka dalam al-Qur`an, ﴾ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ ٱللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥۚ يَٰعِبَادِ فَٱتَّقُونِ 16 ﴿ "Demikianlah Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepadaKu hai hamba-hambaKu." (Az- Zumar: 16). Termasuk (cermin) kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya, adalah Allah menetapkan hukuman-hukuman yang keras bagi orang yang menyelisihi perintahNya, menjelaskannya kepada me-reka dan menerangkan faktor-faktor yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam hukuman. ﴾ وَيُبَشِّرَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا 2 ﴿ "Dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik," maksud-nya, dan Allah menurunkan kepada hambaNya, (Muhammad) al-Qur`an supaya dia menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman kepada Allah, para RasulNya dan kitab-kitab-Nya, yang keimanan mereka telah sempurna. Maka keimanan ter-sebut telah mewajibkan amal-amal shalih bagi mereka. Yaitu, ama-lan-amalan wajib dan mustahab yang memadukan antara keikhlas-an dan mutaba’ah (mengikuti petunjuk Rasulullah). ﴾ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا 2 ﴿ "Bahwa mereka akan mendapatkan pembalasan yang baik," yaitu pahala yang Allah tetapkan karena keimanan dan amal kebajikan (mereka). Pahala yang paling agung dan paling mulia adalah kemenangan meraih keridhaan Allah dan masuk surga yang di dalamnya (penuh kenikmatan) yang belum pernah dilihat indra mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia. Penyebutan sifat 'yang baik' menan-dakan tidak ada unsur yang mengotorinya, tidak pula mengurangi kesempurnaannya sama sekali. Sebab, seandainya dijumpai hal-hal itu, sedikit saja padanya, niscaya kebaikannya tidaklah sempur-na. (3) Ditambah lagi, pahala yang baik ini, ﴾ مَّٰكِثِينَ فِيهِ أَبَدٗا 3 ﴿ "mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya." Tidak akan pernah lenyap dari mereka, dan mereka pun tidak lepas darinya. Bahkan kenikmatan mereka senantiasa bertambah setiap waktu. Di dalam penyebutan kabar gembira terdapat sesuatu yang menuntut penye-butan amal yang mewajibkan bagi orang yang diberi kabar gembira untuk melakukannya, yaitu bahwa al-Qur`an ini telah mencakup setiap amal shalih yang mengantarkan kepada sesuatu yang mem-buat jiwa senang dan ruh berbahagia. (4-5) ﴾ وَيُنذِرَ ٱلَّذِينَ قَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدٗا 4 ﴿ "Dan untuk memperingat-kan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah mengambil seorang anak'," dari kalangan Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik yang me-ngatakan perkataan keji ini. Sesungguhnya mereka tidak mengata-kan hal itu atas dasar ilmu dan keyakinan, mereka tidak memiliki ilmu, tidak pula memiliki ilmu dari nenek moyang mereka yang mereka ikuti. Bahkan, mereka hanyalah mengikuti prasangka dan keinginan-keinginan yang disukai oleh hawa nafsunya. ﴾ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ ﴿ "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka," maksudnya amat besar kekejiannya dan amat parah hukumannya. Manakah kekejian yang lebih besar daripada menyandangi Allah dengan sifat bahwa Dia mengambil seorang anak yang menimbulkan konsekuensi kekuranganNya dan peran-serta pihak lain (dari makhluk) kepadaNya dalam sifat-sifat khusus rububiyyah dan uluhiyyah, dan mengadakan kedustaan atas nama-Nya?! ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah?" (Al-Kahfi: 15). Oleh karena itu, Allah di sini berfirman, ﴾ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبٗا 5 ﴿ "Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta," yaitu kedustaan murni, tidak ada kebenaran sedikit pun padanya. Perhatikanlah, bagaimana Allah menggugurkan perkataan ini sedikit demi sedikit dan berpindah dari suatu kebatilan menuju kebatilan yang lebih parah. Pertama, Allah mengabarkan bahwa, ﴾ مَّا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٖ وَلَا لِأٓبَآئِهِمۡۚ ﴿ "mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka." Berkata atas nama Allah tanpa ilmu, tidak diragukan lagi larangan dan kebatilannya. Kemudian kedua, Allah mengabarkan bahwa perkataan ter-sebut adalah perkataan buruk lagi keji. Maka Allah berfirman, ﴾ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ ﴿ "Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka," selanjutnya ketiga, Allah menyebutkan tingkat kejelek-annya yaitu kedustaan yang meniadakan kebenaran. (6) Ketika Rasulullah mempunyai animo tinggi untuk mem-berikan hidayah kepada manusia, berupaya sekuat tenaga untuk mencapainya, maka beliau bergembira dan bersuka cita dengan ter-capainya kesadaran hidayah pada orang-orang, dan (sebaliknya) bersedih hati serta berduka cita terhadap orang-orang yang men-dustakan lagi sesat karena rasa iba dan kasihan beliau kepada me-reka, maka Allah membimbing beliau supaya tidak menyibukkan dirinya dengan rasa iba kepada orang-orang yang tidak beriman terhadap al-Qur`an ini. Sebagaimana Allah berfirman dalam [ayat] yang lain, ﴾ لَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ أَلَّا يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ 3 ﴿ "Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (de-ngan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman." (Asy-Syu'ara`: 3). Dan Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ حَسَرَٰتٍۚ ﴿ "Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka." (Fathir: 8). Di sini Allah berfirman, ﴾ فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ ﴿ "maka (apakah) barang-kali kamu akan membunuh dirimu," maksudnya membinasakan diri-mu disebabkan kegalauan hati dan rasa prihatin kepada mereka. Padahal pahalamu sudah pasti ditanggung oleh Allah, sedangkan mereka itu, seandainya Allah mengetahui ada kebaikan pada diri mereka, niscaya Allah akan memberi mereka petunjuk. Akan tetapi, Allah mengetahui bahwa mereka tidak pantas kecuali untuk api neraka saja. Oleh karena itu, Allah menelantarkan mereka, tidak memberikan hidayah kepada mereka. Maka, perhatianmu (yang menyita) dirimu lantaran kepedihan hati dan keprihatinan kepada mereka tidak ada gunanya bagimu. Dalam ayat ini dan ayat yang semisalnya terdapat pelajaran, bahwa orang yang diperintahkan menyeru manusia ke jalan Allah, wajib baginya menyampaikan dan berupaya menempuh segala cara yang dapat mengantarkan menuju jalan hidayah, menutup semua jalan kesesatan dan kebinasaan dengan kemampuan maksi-malnya, dilandasi dengan bertawakal kepada Allah. Jika mereka mendapatkan petunjuk, maka alangkah indahnya kenikmatan hi-dayah itu. Kalau tidak, maka tidak perlu bersedih dan berduka cita. Sebab, perasaan itu dapat melemahkan jiwa dan menghancurkan kekuatan. Tidak ada faidahnya. Justru, (sebaiknya) tetap menerus-kan pekerjaan yang dibebankan kepadanya dan berjalan ke arah sana. Adapun selain itu, maka di luar batas kemampuannya. Jika Nabi Muhammad saja diberi Firman oleh Allah, ﴾ إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…." (Al-Qashash: 56), dan Musa عليه السلام berkata, ﴾ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿ "Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudara-ku…." (Al-Ma`idah: 25), maka orang-orang selain mereka termasuk yang lebih utama (untuk memahami hal itu). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ 21 لَّسۡتَ عَلَيۡهِم بِمُصَيۡطِرٍ 22 ﴿ "Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka." (Al-Ghasyiyah: 21-22).

Al-Kahf 18:7

"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus." (Al-Kahfi: 7-8). (7) Allah mengabarkan bahwa Dia telah menjadikan semua yang ada di muka bumi, baik berupa makanan-makanan yang lezat, aneka minuman, pakaian-pakaian yang bagus, pepohonan, sungai-sungai, sawah-sawah, buah-buahan, panorama yang mengagum-kan, kebun-kebun yang memikat, suara-suara yang membangkit-kan semangat, rupa-rupa yang manis, emas, perak, kuda, unta dan lain sebagainya, semuanya Allah ciptakan sebagai perhiasan untuk perkampungan ini (kehidupan dunia) dan sebagai cobaan dan ujian. ﴾ لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا 7 ﴿ "Agar Kami menguji siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya," maksudnya yang paling ikhlas dan pa-ling benar. (8) Meskipun demikian, Allah akan menjadikan semua yang telah disebutkan sebagai obyek-obyek yang fana (sirna) lagi musnah, lenyap dan berakhir. Bumi akan kembali, ﴾ صَعِيدٗا جُرُزًا 8 ﴿ "menjadi tanah yang rata lagi tandus," telah pergi kenikmatan-kenikmatannya, sungai-sungainya berhenti (mengalir) dan bekas-bekasnya hilang serta kenikmatannya sirna. Inilah hakikat dunia. Allah telah mempertontonkannya de-ngan jelas kepada kita, seolah-olah dunia itu seperti melihat dengan dua mata kita, memperingatkan kita agar tidak terpedaya olehnya dan (juga) merangsang kita untuk lebih menyukai suatu tempat, yang kenikmatannya abadi dan penghuninya berbahagia. Semua itu merupakan rahmat Allah kepada kita. Orang yang melihat penampilan (pesona) fisik dunia semata tanpa (memperhatikan) hakikatnya, niscaya akan tertipu dengan keindahan dan perhiasan-nya, lalu mereka bersahabat dengannya layaknya binatang-binatang ternak (bersahabat) dan bersenang-senang dengan dunia seperti binatang-binatang yang digembalakan. Mereka tidak menoleh kepada hak Rabb mereka, dan tidak berkepentingan untuk menge-nalnya. Bahkan obsesi mereka hanyalah ingin menikmati syahwat dunia dengan cara apa pun dihasilkan dan pada kesempatan kapan pun yang muncul. Mereka ini, apabila ajal mendatangi mereka, pasti merasa gundah lantaran dirinya hancur dan kenikmatannya lenyap. Bukan (merasa gelisah) disebabkan perbuatan yang telah dilakukannya berupa penyepelean aturan (Allah) dan dosa-dosa. Adapun orang yang memperhatikan hakikat dunia, memahami maksud penciptaan dunia dan dirinya, maka dia akan mengambil (bagian) dari dunia tersebut sekedar untuk dipakai merealisasikan tujuan penciptaan dirinya. Dia memanfaatkan kesempatan dalam umurnya yang berharga, lalu menjadikan dunia sebagai jembatan penyeberangan, bukan tempat bersenang-senang, tempat transit dalam perjalanan, bukan tempat menetap. Dia mengorbankan segala kemampuannya untuk mengenal Rabbnya, melaksanakan perintah-perintahNya dan memperbagus amalannya. Orang ini akan berada di tempat sebaik-baiknya di sisi Allah, dan dia layak untuk menerima segala kemuliaan, kenikmatan, dan kebahagiaan, serta penghormatan di sisi Allah. Dia melihat hakikat dunia, tatkala orang yang tertipu melongok pesona fisiknya, beramal untuk kehidupan akhiratnya tatkala para pemburu dunia beramal untuk dunia. Alangkah jauh perbedaan antara kedua golongan itu!

Al-Kahf 18:8

"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus." (Al-Kahfi: 7-8). (7) Allah mengabarkan bahwa Dia telah menjadikan semua yang ada di muka bumi, baik berupa makanan-makanan yang lezat, aneka minuman, pakaian-pakaian yang bagus, pepohonan, sungai-sungai, sawah-sawah, buah-buahan, panorama yang mengagum-kan, kebun-kebun yang memikat, suara-suara yang membangkit-kan semangat, rupa-rupa yang manis, emas, perak, kuda, unta dan lain sebagainya, semuanya Allah ciptakan sebagai perhiasan untuk perkampungan ini (kehidupan dunia) dan sebagai cobaan dan ujian. ﴾ لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا 7 ﴿ "Agar Kami menguji siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya," maksudnya yang paling ikhlas dan pa-ling benar. (8) Meskipun demikian, Allah akan menjadikan semua yang telah disebutkan sebagai obyek-obyek yang fana (sirna) lagi musnah, lenyap dan berakhir. Bumi akan kembali, ﴾ صَعِيدٗا جُرُزًا 8 ﴿ "menjadi tanah yang rata lagi tandus," telah pergi kenikmatan-kenikmatannya, sungai-sungainya berhenti (mengalir) dan bekas-bekasnya hilang serta kenikmatannya sirna. Inilah hakikat dunia. Allah telah mempertontonkannya de-ngan jelas kepada kita, seolah-olah dunia itu seperti melihat dengan dua mata kita, memperingatkan kita agar tidak terpedaya olehnya dan (juga) merangsang kita untuk lebih menyukai suatu tempat, yang kenikmatannya abadi dan penghuninya berbahagia. Semua itu merupakan rahmat Allah kepada kita. Orang yang melihat penampilan (pesona) fisik dunia semata tanpa (memperhatikan) hakikatnya, niscaya akan tertipu dengan keindahan dan perhiasan-nya, lalu mereka bersahabat dengannya layaknya binatang-binatang ternak (bersahabat) dan bersenang-senang dengan dunia seperti binatang-binatang yang digembalakan. Mereka tidak menoleh kepada hak Rabb mereka, dan tidak berkepentingan untuk menge-nalnya. Bahkan obsesi mereka hanyalah ingin menikmati syahwat dunia dengan cara apa pun dihasilkan dan pada kesempatan kapan pun yang muncul. Mereka ini, apabila ajal mendatangi mereka, pasti merasa gundah lantaran dirinya hancur dan kenikmatannya lenyap. Bukan (merasa gelisah) disebabkan perbuatan yang telah dilakukannya berupa penyepelean aturan (Allah) dan dosa-dosa. Adapun orang yang memperhatikan hakikat dunia, memahami maksud penciptaan dunia dan dirinya, maka dia akan mengambil (bagian) dari dunia tersebut sekedar untuk dipakai merealisasikan tujuan penciptaan dirinya. Dia memanfaatkan kesempatan dalam umurnya yang berharga, lalu menjadikan dunia sebagai jembatan penyeberangan, bukan tempat bersenang-senang, tempat transit dalam perjalanan, bukan tempat menetap. Dia mengorbankan segala kemampuannya untuk mengenal Rabbnya, melaksanakan perintah-perintahNya dan memperbagus amalannya. Orang ini akan berada di tempat sebaik-baiknya di sisi Allah, dan dia layak untuk menerima segala kemuliaan, kenikmatan, dan kebahagiaan, serta penghormatan di sisi Allah. Dia melihat hakikat dunia, tatkala orang yang tertipu melongok pesona fisiknya, beramal untuk kehidupan akhiratnya tatkala para pemburu dunia beramal untuk dunia. Alangkah jauh perbedaan antara kedua golongan itu!

Al-Kahf 18:9

"Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, 'Wahai Rabb kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).' Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami me-ngetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)." (Al-Kahfi: 9-12). (9) Istifham (kata tanya) ini ditujukan untuk peniadaan dan larangan. Maksudnya, jangan kamu menyangka bahwa kisah Ash-habul Kahfi (penghuni gua) dan peristiwa yang terjadi pada mereka adalah perkara yang aneh pada tanda-tanda kekuasaan Allah dan perkara yang mengagumkan pada hikmahNya. (Jangan menyangka) tidak ada kisah yang sepadan dengannya dan peristiwa yang serupa dengannya. Bahkan, Allah itu memiliki tanda-tanda kekuasaanNya yang menakjubkan nan aneh yang sangat banyak yang selevel tan-da-tanda kekuasaanNya pada Ashhabul Kahfi, bahkan lebih besar darinya. Allah senantiasa memperlihatkan kepada para hamba tanda-tanda kekuasaanNya di langit, bahkan pada diri mereka sendiri yang menyebabkan kebenaran menjadi jelas dari kebatilan, (menjadi jelas pula) petunjuk dibandingkan kesesatan. Penafian ini tidak ditujukan bahwa kisah Ashhabul Kahfi ini termasuk perkara yang menakjubkan. Justru, kisah ini termasuk salah satu tanda kekuasaan Allah yang membuat decak kagum. Akan tetapi, maksud peniadaan ini adalah bahwa peristiwa sema-cam itu sangat banyak. Terpaku dengan kisah ini saja dalam keka-guman dan keterbelalakan merupakan cermin kedangkalan ilmu dan akal. Justru, tugas seorang Mukmin adalah merenungi seluruh tanda-tanda kekuasaanNya, yang Allah mengajak para hambaNya agar merenunginya. Karena perenungan terhadap tanda kekuasa-an Allah merupakan kunci keimanan, jalan menuju ilmu dan ke-yakinan. Mereka dikaitkan kepada kata al-kahfi yang berarti gua yang berada di gunung. ﴾ وَٱلرَّقِيمِ ﴿ "Yang mempunyai raqim," yaitu kitab yang di dalamnya telah tertulis nama-nama dan kisah-kisah mereka, adalah karena mereka terus bersamanya dalam masa yang sangat lama. (10) Kemudian Allah menyebutkan kisah mereka secara global. Setelah itu, diikuti dengan perinciannya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ أَوَى ﴿ "Ingatlah tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung," yaitu para remaja itu ﴾ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ ﴿ "ke dalam gua." Tindakan itu mereka tujukan untuk menjaga dan membentengi dirinya dari fitnah kaum-nya terhadap mereka ﴾ فَقَالُواْ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ ﴿ "lalu mereka berdoa, 'Wa-hai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu'." Engkau me-neguhkan kami dengannya, menjaga kami dari keburukan serta memberikan kami taufik untuk kebaikan. ﴾ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)," maksudnya mudahkanlah bagi kami segala sebab kausalitas yang menyampaikan kepada petunjuk, dan perbaikilah urusan agama dan dunia kami. Mereka telah meng-gabungkan antara usaha dan lari dari fitnah menuju kepada lokasi yang bisa menjadi tempat persembunyian (mereka) dengan ketun-dukan dan permintaan mereka kepada Allah agar dimudahkan urusan-urusannya, dan tidak menyandarkan urusan-urusan kepada diri mereka sendiri dan kepada makhluk lainnya. (11) Oleh karena itu, Allah mengabulkan doa mereka dan mengondisikan sesuatu yang belum pernah mereka sangka. Allah berfirman, ﴾ فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ ﴿ "Maka kami tutup telinga mereka dalam gua itu," maksudnya Kami telah menidurkan mereka ﴾ سِنِينَ عَدَدٗا 11 ﴿ "beberapa tahun," yaitu tiga ratus sembilan tahun lamanya. Dalam tidur itu, mengandung unsur pemeliharaan terhadap kalbu-kalbu mereka dari kegoncangan dan ketakutan serta penjagaan dari (siksaan) kaumnya [dan agar menjadi sebuah bukti nyata (tentang kekuasaan Allah)]. (12) ﴾ ثُمَّ بَعَثۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kemudian Kami bangunkan mereka," yaitu dari tidur mereka. ﴾ لِنَعۡلَمَ أَيُّ ٱلۡحِزۡبَيۡنِ أَحۡصَىٰ لِمَا لَبِثُوٓاْ أَمَدٗا 12 ﴿ "Agar Kami mengetahui ma-nakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)," maksudnya agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang lebih tepat dalam meng-hitung rentang waktu mereka tinggal (di dalam gua). Sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ بَعَثۡنَٰهُمۡ لِيَتَسَآءَلُواْ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling ber-tanya di antara mereka sendiri…." (Al-Kahfi: 19). Berkaitan dengan mengetahui berapa lama mereka tinggal terdapat keakuratan dalam menghitung dan pengenalan tentang kesempurnaan kekuasaan Allah, hikmah dan rahmatNya. Seandai-nya mereka terus tidur, maka tidak ada pengetahuan tentang kisah mereka sedikit pun.

Al-Kahf 18:10

"Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, 'Wahai Rabb kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).' Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami me-ngetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)." (Al-Kahfi: 9-12). (9) Istifham (kata tanya) ini ditujukan untuk peniadaan dan larangan. Maksudnya, jangan kamu menyangka bahwa kisah Ash-habul Kahfi (penghuni gua) dan peristiwa yang terjadi pada mereka adalah perkara yang aneh pada tanda-tanda kekuasaan Allah dan perkara yang mengagumkan pada hikmahNya. (Jangan menyangka) tidak ada kisah yang sepadan dengannya dan peristiwa yang serupa dengannya. Bahkan, Allah itu memiliki tanda-tanda kekuasaanNya yang menakjubkan nan aneh yang sangat banyak yang selevel tan-da-tanda kekuasaanNya pada Ashhabul Kahfi, bahkan lebih besar darinya. Allah senantiasa memperlihatkan kepada para hamba tanda-tanda kekuasaanNya di langit, bahkan pada diri mereka sendiri yang menyebabkan kebenaran menjadi jelas dari kebatilan, (menjadi jelas pula) petunjuk dibandingkan kesesatan. Penafian ini tidak ditujukan bahwa kisah Ashhabul Kahfi ini termasuk perkara yang menakjubkan. Justru, kisah ini termasuk salah satu tanda kekuasaan Allah yang membuat decak kagum. Akan tetapi, maksud peniadaan ini adalah bahwa peristiwa sema-cam itu sangat banyak. Terpaku dengan kisah ini saja dalam keka-guman dan keterbelalakan merupakan cermin kedangkalan ilmu dan akal. Justru, tugas seorang Mukmin adalah merenungi seluruh tanda-tanda kekuasaanNya, yang Allah mengajak para hambaNya agar merenunginya. Karena perenungan terhadap tanda kekuasa-an Allah merupakan kunci keimanan, jalan menuju ilmu dan ke-yakinan. Mereka dikaitkan kepada kata al-kahfi yang berarti gua yang berada di gunung. ﴾ وَٱلرَّقِيمِ ﴿ "Yang mempunyai raqim," yaitu kitab yang di dalamnya telah tertulis nama-nama dan kisah-kisah mereka, adalah karena mereka terus bersamanya dalam masa yang sangat lama. (10) Kemudian Allah menyebutkan kisah mereka secara global. Setelah itu, diikuti dengan perinciannya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ أَوَى ﴿ "Ingatlah tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung," yaitu para remaja itu ﴾ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ ﴿ "ke dalam gua." Tindakan itu mereka tujukan untuk menjaga dan membentengi dirinya dari fitnah kaum-nya terhadap mereka ﴾ فَقَالُواْ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ ﴿ "lalu mereka berdoa, 'Wa-hai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu'." Engkau me-neguhkan kami dengannya, menjaga kami dari keburukan serta memberikan kami taufik untuk kebaikan. ﴾ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)," maksudnya mudahkanlah bagi kami segala sebab kausalitas yang menyampaikan kepada petunjuk, dan perbaikilah urusan agama dan dunia kami. Mereka telah meng-gabungkan antara usaha dan lari dari fitnah menuju kepada lokasi yang bisa menjadi tempat persembunyian (mereka) dengan ketun-dukan dan permintaan mereka kepada Allah agar dimudahkan urusan-urusannya, dan tidak menyandarkan urusan-urusan kepada diri mereka sendiri dan kepada makhluk lainnya. (11) Oleh karena itu, Allah mengabulkan doa mereka dan mengondisikan sesuatu yang belum pernah mereka sangka. Allah berfirman, ﴾ فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ ﴿ "Maka kami tutup telinga mereka dalam gua itu," maksudnya Kami telah menidurkan mereka ﴾ سِنِينَ عَدَدٗا 11 ﴿ "beberapa tahun," yaitu tiga ratus sembilan tahun lamanya. Dalam tidur itu, mengandung unsur pemeliharaan terhadap kalbu-kalbu mereka dari kegoncangan dan ketakutan serta penjagaan dari (siksaan) kaumnya [dan agar menjadi sebuah bukti nyata (tentang kekuasaan Allah)]. (12) ﴾ ثُمَّ بَعَثۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kemudian Kami bangunkan mereka," yaitu dari tidur mereka. ﴾ لِنَعۡلَمَ أَيُّ ٱلۡحِزۡبَيۡنِ أَحۡصَىٰ لِمَا لَبِثُوٓاْ أَمَدٗا 12 ﴿ "Agar Kami mengetahui ma-nakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)," maksudnya agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang lebih tepat dalam meng-hitung rentang waktu mereka tinggal (di dalam gua). Sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ بَعَثۡنَٰهُمۡ لِيَتَسَآءَلُواْ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling ber-tanya di antara mereka sendiri…." (Al-Kahfi: 19). Berkaitan dengan mengetahui berapa lama mereka tinggal terdapat keakuratan dalam menghitung dan pengenalan tentang kesempurnaan kekuasaan Allah, hikmah dan rahmatNya. Seandai-nya mereka terus tidur, maka tidak ada pengetahuan tentang kisah mereka sedikit pun.

Al-Kahf 18:11

"Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, 'Wahai Rabb kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).' Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami me-ngetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)." (Al-Kahfi: 9-12). (9) Istifham (kata tanya) ini ditujukan untuk peniadaan dan larangan. Maksudnya, jangan kamu menyangka bahwa kisah Ash-habul Kahfi (penghuni gua) dan peristiwa yang terjadi pada mereka adalah perkara yang aneh pada tanda-tanda kekuasaan Allah dan perkara yang mengagumkan pada hikmahNya. (Jangan menyangka) tidak ada kisah yang sepadan dengannya dan peristiwa yang serupa dengannya. Bahkan, Allah itu memiliki tanda-tanda kekuasaanNya yang menakjubkan nan aneh yang sangat banyak yang selevel tan-da-tanda kekuasaanNya pada Ashhabul Kahfi, bahkan lebih besar darinya. Allah senantiasa memperlihatkan kepada para hamba tanda-tanda kekuasaanNya di langit, bahkan pada diri mereka sendiri yang menyebabkan kebenaran menjadi jelas dari kebatilan, (menjadi jelas pula) petunjuk dibandingkan kesesatan. Penafian ini tidak ditujukan bahwa kisah Ashhabul Kahfi ini termasuk perkara yang menakjubkan. Justru, kisah ini termasuk salah satu tanda kekuasaan Allah yang membuat decak kagum. Akan tetapi, maksud peniadaan ini adalah bahwa peristiwa sema-cam itu sangat banyak. Terpaku dengan kisah ini saja dalam keka-guman dan keterbelalakan merupakan cermin kedangkalan ilmu dan akal. Justru, tugas seorang Mukmin adalah merenungi seluruh tanda-tanda kekuasaanNya, yang Allah mengajak para hambaNya agar merenunginya. Karena perenungan terhadap tanda kekuasa-an Allah merupakan kunci keimanan, jalan menuju ilmu dan ke-yakinan. Mereka dikaitkan kepada kata al-kahfi yang berarti gua yang berada di gunung. ﴾ وَٱلرَّقِيمِ ﴿ "Yang mempunyai raqim," yaitu kitab yang di dalamnya telah tertulis nama-nama dan kisah-kisah mereka, adalah karena mereka terus bersamanya dalam masa yang sangat lama. (10) Kemudian Allah menyebutkan kisah mereka secara global. Setelah itu, diikuti dengan perinciannya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ أَوَى ﴿ "Ingatlah tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung," yaitu para remaja itu ﴾ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ ﴿ "ke dalam gua." Tindakan itu mereka tujukan untuk menjaga dan membentengi dirinya dari fitnah kaum-nya terhadap mereka ﴾ فَقَالُواْ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ ﴿ "lalu mereka berdoa, 'Wa-hai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu'." Engkau me-neguhkan kami dengannya, menjaga kami dari keburukan serta memberikan kami taufik untuk kebaikan. ﴾ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)," maksudnya mudahkanlah bagi kami segala sebab kausalitas yang menyampaikan kepada petunjuk, dan perbaikilah urusan agama dan dunia kami. Mereka telah meng-gabungkan antara usaha dan lari dari fitnah menuju kepada lokasi yang bisa menjadi tempat persembunyian (mereka) dengan ketun-dukan dan permintaan mereka kepada Allah agar dimudahkan urusan-urusannya, dan tidak menyandarkan urusan-urusan kepada diri mereka sendiri dan kepada makhluk lainnya. (11) Oleh karena itu, Allah mengabulkan doa mereka dan mengondisikan sesuatu yang belum pernah mereka sangka. Allah berfirman, ﴾ فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ ﴿ "Maka kami tutup telinga mereka dalam gua itu," maksudnya Kami telah menidurkan mereka ﴾ سِنِينَ عَدَدٗا 11 ﴿ "beberapa tahun," yaitu tiga ratus sembilan tahun lamanya. Dalam tidur itu, mengandung unsur pemeliharaan terhadap kalbu-kalbu mereka dari kegoncangan dan ketakutan serta penjagaan dari (siksaan) kaumnya [dan agar menjadi sebuah bukti nyata (tentang kekuasaan Allah)]. (12) ﴾ ثُمَّ بَعَثۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kemudian Kami bangunkan mereka," yaitu dari tidur mereka. ﴾ لِنَعۡلَمَ أَيُّ ٱلۡحِزۡبَيۡنِ أَحۡصَىٰ لِمَا لَبِثُوٓاْ أَمَدٗا 12 ﴿ "Agar Kami mengetahui ma-nakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)," maksudnya agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang lebih tepat dalam meng-hitung rentang waktu mereka tinggal (di dalam gua). Sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ بَعَثۡنَٰهُمۡ لِيَتَسَآءَلُواْ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling ber-tanya di antara mereka sendiri…." (Al-Kahfi: 19). Berkaitan dengan mengetahui berapa lama mereka tinggal terdapat keakuratan dalam menghitung dan pengenalan tentang kesempurnaan kekuasaan Allah, hikmah dan rahmatNya. Seandai-nya mereka terus tidur, maka tidak ada pengetahuan tentang kisah mereka sedikit pun.

Al-Kahf 18:12

"Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, 'Wahai Rabb kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).' Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami me-ngetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)." (Al-Kahfi: 9-12). (9) Istifham (kata tanya) ini ditujukan untuk peniadaan dan larangan. Maksudnya, jangan kamu menyangka bahwa kisah Ash-habul Kahfi (penghuni gua) dan peristiwa yang terjadi pada mereka adalah perkara yang aneh pada tanda-tanda kekuasaan Allah dan perkara yang mengagumkan pada hikmahNya. (Jangan menyangka) tidak ada kisah yang sepadan dengannya dan peristiwa yang serupa dengannya. Bahkan, Allah itu memiliki tanda-tanda kekuasaanNya yang menakjubkan nan aneh yang sangat banyak yang selevel tan-da-tanda kekuasaanNya pada Ashhabul Kahfi, bahkan lebih besar darinya. Allah senantiasa memperlihatkan kepada para hamba tanda-tanda kekuasaanNya di langit, bahkan pada diri mereka sendiri yang menyebabkan kebenaran menjadi jelas dari kebatilan, (menjadi jelas pula) petunjuk dibandingkan kesesatan. Penafian ini tidak ditujukan bahwa kisah Ashhabul Kahfi ini termasuk perkara yang menakjubkan. Justru, kisah ini termasuk salah satu tanda kekuasaan Allah yang membuat decak kagum. Akan tetapi, maksud peniadaan ini adalah bahwa peristiwa sema-cam itu sangat banyak. Terpaku dengan kisah ini saja dalam keka-guman dan keterbelalakan merupakan cermin kedangkalan ilmu dan akal. Justru, tugas seorang Mukmin adalah merenungi seluruh tanda-tanda kekuasaanNya, yang Allah mengajak para hambaNya agar merenunginya. Karena perenungan terhadap tanda kekuasa-an Allah merupakan kunci keimanan, jalan menuju ilmu dan ke-yakinan. Mereka dikaitkan kepada kata al-kahfi yang berarti gua yang berada di gunung. ﴾ وَٱلرَّقِيمِ ﴿ "Yang mempunyai raqim," yaitu kitab yang di dalamnya telah tertulis nama-nama dan kisah-kisah mereka, adalah karena mereka terus bersamanya dalam masa yang sangat lama. (10) Kemudian Allah menyebutkan kisah mereka secara global. Setelah itu, diikuti dengan perinciannya. Allah berfirman, ﴾ إِذۡ أَوَى ﴿ "Ingatlah tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung," yaitu para remaja itu ﴾ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ ﴿ "ke dalam gua." Tindakan itu mereka tujukan untuk menjaga dan membentengi dirinya dari fitnah kaum-nya terhadap mereka ﴾ فَقَالُواْ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ ﴿ "lalu mereka berdoa, 'Wa-hai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu'." Engkau me-neguhkan kami dengannya, menjaga kami dari keburukan serta memberikan kami taufik untuk kebaikan. ﴾ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)," maksudnya mudahkanlah bagi kami segala sebab kausalitas yang menyampaikan kepada petunjuk, dan perbaikilah urusan agama dan dunia kami. Mereka telah meng-gabungkan antara usaha dan lari dari fitnah menuju kepada lokasi yang bisa menjadi tempat persembunyian (mereka) dengan ketun-dukan dan permintaan mereka kepada Allah agar dimudahkan urusan-urusannya, dan tidak menyandarkan urusan-urusan kepada diri mereka sendiri dan kepada makhluk lainnya. (11) Oleh karena itu, Allah mengabulkan doa mereka dan mengondisikan sesuatu yang belum pernah mereka sangka. Allah berfirman, ﴾ فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ ﴿ "Maka kami tutup telinga mereka dalam gua itu," maksudnya Kami telah menidurkan mereka ﴾ سِنِينَ عَدَدٗا 11 ﴿ "beberapa tahun," yaitu tiga ratus sembilan tahun lamanya. Dalam tidur itu, mengandung unsur pemeliharaan terhadap kalbu-kalbu mereka dari kegoncangan dan ketakutan serta penjagaan dari (siksaan) kaumnya [dan agar menjadi sebuah bukti nyata (tentang kekuasaan Allah)]. (12) ﴾ ثُمَّ بَعَثۡنَٰهُمۡ ﴿ "Kemudian Kami bangunkan mereka," yaitu dari tidur mereka. ﴾ لِنَعۡلَمَ أَيُّ ٱلۡحِزۡبَيۡنِ أَحۡصَىٰ لِمَا لَبِثُوٓاْ أَمَدٗا 12 ﴿ "Agar Kami mengetahui ma-nakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)," maksudnya agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang lebih tepat dalam meng-hitung rentang waktu mereka tinggal (di dalam gua). Sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ بَعَثۡنَٰهُمۡ لِيَتَسَآءَلُواْ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling ber-tanya di antara mereka sendiri…." (Al-Kahfi: 19). Berkaitan dengan mengetahui berapa lama mereka tinggal terdapat keakuratan dalam menghitung dan pengenalan tentang kesempurnaan kekuasaan Allah, hikmah dan rahmatNya. Seandai-nya mereka terus tidur, maka tidak ada pengetahuan tentang kisah mereka sedikit pun.

Al-Kahf 18:13

"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) de-ngan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk, dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata, 'Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru tuhan selain Dia. Sesung-guhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran'." (Al-Kahfi: 13-14). (13) Ini adalah permulaan rincian kisah mereka. Sesungguh-nya Allah mengkisahkannya kepada Nabi Muhammad dengan benar dan jujur yang tidak ada keraguan padanya dan tidak ada sisi kerancuan sedikit pun. ﴾ إِنَّهُمۡ فِتۡيَةٌ ءَامَنُواْ بِرَبِّهِمۡ ﴿ "Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka," kata (fit-yah) ini merupakan bentuk plural jenis jumu' qillah (bentuk jamak yang tidak banyak). Hal itu menunjukkan bahwa mereka kurang dari sepuluh orang. Mereka beriman kepada Allah semata dan tidak ada sekutu bagiNya tanpa disertai kaumnya. Maka, Allah mensyukuri keimanan mereka, lalu menambahkan hidayah kepada mereka. Maksudnya, disebabkan oleh inti hidayah kepada keiman-an, maka Allah menambahkan petunjuk kepada mereka berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَيَزِيدُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ هُدٗىۗ ﴿ "Dan Allah akan menambahi petunjuk kepada mereka yang telah mendapatkan petunjuk." (Maryam: 76). (14) ﴾ وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Dan Kami telah meneguhkan hati mereka," maksudnya Kami mencurahkan kesabaran pada mereka dan mene-guhkan mereka, serta menjadikan hati mereka tentram dalam kon-disi yang mencemaskan itu. Ini merupakan (cermin) sifat kelembut-an dan kebaikan Allah تعالى kepada mereka, dalam bentuk memberi-kan taufik kepada mereka menuju keimanan, petunjuk, kesabaran, keteguhan, dan ketenangan. ﴾ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata, 'Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi," maksudnya yang telah menciptakan kami, memberi kami rizki, yang mengatur dan mendidik kami, Dia-lah Sang Pencipta langit dan bumi, Yang Mahatunggal dengan penciptaan makhluk-makhluk yang sangat besar ini. Bukan berhala-berhala dan patung-patung itu, yang tidak bisa menciptakan, memberi rizki, memiliki manfaat dan mudharat, mematikan dan menghidupkan, dan tidak pula dapat membangkitkan. Mereka (para pemuda itu) mengguna-kan dalil tentang tauhid rububiyyah untuk menunjukkan kepada tauhid uluhiyyah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ لَن نَّدۡعُوَاْ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهٗاۖ ﴿ "Kami sekali-kali tidak menyeru tuhan selain Dia," yaitu dari seluruh makhluk. ﴾ لَّقَدۡ قُلۡنَآ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan," maksudnya jika kami menyeru sesembahan bersama-Nya setelah kami mengetahui bahwa Dia adalah Rabb, sesembahan, yang ibadah tidak boleh dan tidak layak kecuali (hanya) bagiNya, ﴾ شَطَطًا 14 ﴿ "perkataan yang amat jauh dari kebenaran," yaitu penyim-pangan yang sangat besar dari al-Haq dan jalan yang sangat jauh dari kebenaran. Mereka telah memadukan antara pengakuan ter-hadap tauhid rububiyyah dengan tauhid uluhiyyah dan konsisten dengannya disertai dengan penjelasan bahwa Allah-lah Dzat Yang Haq, sedangkan selainNya merupakan kebatilan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar mengenal Rabb mereka dan adanya tambahan hidayah pada mereka.

Al-Kahf 18:14

"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) de-ngan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk, dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata, 'Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru tuhan selain Dia. Sesung-guhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran'." (Al-Kahfi: 13-14). (13) Ini adalah permulaan rincian kisah mereka. Sesungguh-nya Allah mengkisahkannya kepada Nabi Muhammad dengan benar dan jujur yang tidak ada keraguan padanya dan tidak ada sisi kerancuan sedikit pun. ﴾ إِنَّهُمۡ فِتۡيَةٌ ءَامَنُواْ بِرَبِّهِمۡ ﴿ "Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka," kata (fit-yah) ini merupakan bentuk plural jenis jumu' qillah (bentuk jamak yang tidak banyak). Hal itu menunjukkan bahwa mereka kurang dari sepuluh orang. Mereka beriman kepada Allah semata dan tidak ada sekutu bagiNya tanpa disertai kaumnya. Maka, Allah mensyukuri keimanan mereka, lalu menambahkan hidayah kepada mereka. Maksudnya, disebabkan oleh inti hidayah kepada keiman-an, maka Allah menambahkan petunjuk kepada mereka berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَيَزِيدُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ هُدٗىۗ ﴿ "Dan Allah akan menambahi petunjuk kepada mereka yang telah mendapatkan petunjuk." (Maryam: 76). (14) ﴾ وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Dan Kami telah meneguhkan hati mereka," maksudnya Kami mencurahkan kesabaran pada mereka dan mene-guhkan mereka, serta menjadikan hati mereka tentram dalam kon-disi yang mencemaskan itu. Ini merupakan (cermin) sifat kelembut-an dan kebaikan Allah تعالى kepada mereka, dalam bentuk memberi-kan taufik kepada mereka menuju keimanan, petunjuk, kesabaran, keteguhan, dan ketenangan. ﴾ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata, 'Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi," maksudnya yang telah menciptakan kami, memberi kami rizki, yang mengatur dan mendidik kami, Dia-lah Sang Pencipta langit dan bumi, Yang Mahatunggal dengan penciptaan makhluk-makhluk yang sangat besar ini. Bukan berhala-berhala dan patung-patung itu, yang tidak bisa menciptakan, memberi rizki, memiliki manfaat dan mudharat, mematikan dan menghidupkan, dan tidak pula dapat membangkitkan. Mereka (para pemuda itu) mengguna-kan dalil tentang tauhid rububiyyah untuk menunjukkan kepada tauhid uluhiyyah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ لَن نَّدۡعُوَاْ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهٗاۖ ﴿ "Kami sekali-kali tidak menyeru tuhan selain Dia," yaitu dari seluruh makhluk. ﴾ لَّقَدۡ قُلۡنَآ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan," maksudnya jika kami menyeru sesembahan bersama-Nya setelah kami mengetahui bahwa Dia adalah Rabb, sesembahan, yang ibadah tidak boleh dan tidak layak kecuali (hanya) bagiNya, ﴾ شَطَطًا 14 ﴿ "perkataan yang amat jauh dari kebenaran," yaitu penyim-pangan yang sangat besar dari al-Haq dan jalan yang sangat jauh dari kebenaran. Mereka telah memadukan antara pengakuan ter-hadap tauhid rububiyyah dengan tauhid uluhiyyah dan konsisten dengannya disertai dengan penjelasan bahwa Allah-lah Dzat Yang Haq, sedangkan selainNya merupakan kebatilan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar mengenal Rabb mereka dan adanya tambahan hidayah pada mereka.

Al-Kahf 18:15

"Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohong-an terhadap Allah?" (Al-Kahfi: 15). (15) Ketika mereka menyebutkan karunia Allah kepada mereka berupa keimanan, petunjuk dan ketakwaan, kemudian mereka menoleh terhadap realita yang terjadi pada kaumnya, yang berupa menjadikan sesembahan selain Allah, Para pemuda itu men-cela mereka dan menjelaskan bahwa mereka melakukannya bukan atas dasar keyakinan, bahkan mereka benar-benar berada dalam ke-jahilan dan kesesatan. Mereka mengatakan, ﴾ لَّوۡلَا يَأۡتُونَ عَلَيۡهِم بِسُلۡطَٰنِۭ بَيِّنٖۖ ﴿ "Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang ke-percayaan mereka?)" yaitu dengan hujjah dan bukti nyata tentang kebatilan yang mereka pegangi. Mereka tidak mampu melakukan hal itu. Akan tetapi, tindakan itu hanyalah ucapan mengada-adakan atas nama Allah dan kedustaan terhadapNya. Ini merupakan ke-zhaliman yang paling besar. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا 15 ﴿ "Siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?"

Al-Kahf 18:16

"Dan apabila kamu meninggalkan mereka, dan apa yang me-reka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmatNya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu." (Al-Kahfi: 16). (16) Maksudnya sebagian mereka mengatakan kepada yang lain, "Jika kalian berhasil mengasingkan diri dari kaum kalian de-ngan jasad-jasad dan agama kalian, maka tidaklah tersisa (suatu tindakan) kecuali menyelamatkan diri dari keburukan mereka dan menempuh langkah-langkah yang mewujudkannya. Pasalnya, para remaja itu tidak mempunyai jalan (kekuatan) untuk memerangi kaumnya dan tidak mungkin pula tinggal bersama di tengah kaum-nya dalam keadaan agama yang berbeda. ﴾ فَأۡوُۥٓاْ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ ﴿ "Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu," maksudnya mengungsi ke sana dan bersembunyi di dalamnya ﴾ يَنشُرۡ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّن رَّحۡمَتِهِۦ وَيُهَيِّئۡ لَكُم مِّنۡ أَمۡرِكُم مِّرۡفَقٗا 16 ﴿ "niscaya Rabbmu akan melimpah-kan sebagian rahmatNya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang ber-guna bagimu dalam urusanmu" sebelumnya, Allah mengabarkan bah-wa mereka berdoa kepadaNya dengan mengatakan, ﴾ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا 10 ﴿ "Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." (Al-Kahfi: 10). Maka mereka telah menghimpun antara berlepas diri dari usaha dan kekuatan pribadi mereka dan bersandar kepada Allah untuk memperbaiki urusan mereka dan permohonan doa kepada-Nya untuk tujuan tersebut dengan berkeyakinan bahwa Dia akan merealisasikannya. Tidak diragukan lagi, bahwa Allah akan mencu-rahkan sebagian rahmatNya kepada mereka dan menyiapkan (bagi urusan mereka) petunjuk yang lurus dalam urusan mereka. Maka, Allah menjaga agama dan badan mereka serta menjadikan mereka termasuk tanda-tanda kekuasaanNya di hadapan makhluk. Allah menyebarluaskan pujian yang baik bagi mereka, yang mana ia ter-masuk curahan rahmatNya kepada mereka dan memudahkan se-gala faktor bagi mereka. Bahkan tempat untuk tidur mereka, sehing-ga berada dalam pemeliharaan yang paling aman. Oleh karena itu, Allah berfirman,

Al-Kahf 18:17

"Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tem-pat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang di-sesatkanNya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemim-pin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Dan kamu me-ngira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami bolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengun-jurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyak-sikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri), dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka." (Al-Kahfi: 17-18). (17) Maksudnya, Allah menjaga mereka dari (sengatan) matahari, menyediakan untuk mereka sebuah gua, apabila matahari terbit, (posisinya) menyerong ke arah kanan gua. Dan ketika ter-benam, (letak) matahari condong ke sebelah kiri gua. Akibatnya, sengatan panas matahari tidak mengenai mereka sehingga bisa me-rusak tubuh-tubuh mereka. ﴾ وَهُمۡ فِي فَجۡوَةٖ مِّنۡهُۚ ﴿ "Mereka berada dalam tempat yang luas di dalamnya," yaitu di dalam gua. Maksudnya, (me-reka) berada di tempat yang luas. Kondisi demikian itu supaya hawa dan angin semilir mengenai mereka dan udara yang tidak baik pergi dari mereka serta rasa tersiksa di tempat yang sempit (tidak mereka rasakan), apalagi dalam masa tinggal yang lama. ﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِۗ ﴿ "Itu adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah," yang menunjukkan kekuasaanNya, rahmatNya dan pengabul-an doa mereka serta pemberian hidayah untuk mereka, sampai da-lam masalah ini. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِۖ ﴿ "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang men-dapat petunjuk," tidak ada jalan untuk menggapai hidayah kecuali dari Allah. Dia-lah Dzat yang memberikan hidayah dan petunjuk untuk kemaslahatan dua kampung (dunia dan akhirat) . ﴾ وَمَن يُضۡلِلۡ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيّٗا مُّرۡشِدٗا 17 ﴿ "Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya," maksudnya kamu tidak menda-pati seorang pun yang mengurusi dan mengaturnya sesuai dengan kondisi yang mengandung kemaslahatan baginya, tidak pula (sese-orang) yang menunjukinya ke jalan kebaikan dan keberuntungan. Karena Allah telah memutuskan kesesatan padanya. Tidak ada yang dapat menolak keputusanNya. (18) ﴾ وَتَحۡسَبُهُمۡ أَيۡقَاظٗا وَهُمۡ رُقُودٞۚ ﴿ "Dan kamu mengira mereka itu ba-ngun padahal mereka tidur," maksudnya, kalian wahai orang yang melihatnya menyangka bahwa mereka seolah-olah bangun, pada-hal mereka dalam keadaan tidur. Para ulama tafsir mengatakan, "Hal itu karena mata mereka tetap terbuka supaya tidak rusak, se-hingga orang yang melihat, menyangka mereka terjaga padahal mereka tidur." ﴾ وَنُقَلِّبُهُمۡ ذَاتَ ٱلۡيَمِينِ وَذَاتَ ٱلشِّمَالِۖ ﴿ "Dan Kami bolak balikkan mereka ke kanan dan ke kiri." Ini juga merupakan bentuk pemeliharaan Allah terhadap badan-badan mereka. Karena bumi, reaksi umumnya, meng-gerogoti tubuh yang menempel padanya. Lalu di antara ke-tentuan Allah, Dia membolak-balikkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri dengan kadar (frekuensi) yang tidak menyebabkan bumi merusak tubuh mereka, meskipun Allah Mahakuasa untuk menjaga tubuh mereka tanpa perlu dibolak-balik. Akan tetapi, Allah Maha-bijaksana, Dia ingin memberlakukan sunnahNya di alam semesta dan mengaitkan sebab kausalitas dengan sesuatu dari akibat-akibat-nya. ﴾ وَكَلۡبُهُم بَٰسِطٞ ذِرَاعَيۡهِ بِٱلۡوَصِيدِۚ ﴿ "Sedangkan anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua." Anjing yang menyertai Ashhabul Kahfi, mengalami tidur (sebagaimana mereka) pada waktu ia berjaga-jaga. Anjing tersebut mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Maksudnya, berada di pintu atau halaman gua. Ini merupa-an penjagaan bagi mereka dari (reaksi) bumi. Sedangkan penjagaan mereka dari kalangan manusia, maka Allah mengabarkan bahwa mereka dijaga dengan rasa takut yang Allah hembuskan. Seandainya ada orang melihat mereka niscaya hatinya akan sarat dengan rasa takut dan lari tunggang langgang dari mereka. Inilah faktor yang menyebabkan mereka bisa tinggal lama dan tidak ada seorang pun yang berhasil melacak mereka, padahal mereka berada dekat se-kali dari kota. Dalil yang menunjukkan dekatnya tempat mereka yaitu bahwa tatkala mereka terbangun, maka mereka mengutus salah seorang dari temannya agar membeli makanan di kota, se-mentara yang lain menunggu kedatangannya. Hal ini menunjuk-kan sangat dekatnya mereka dari kota.

Al-Kahf 18:18

"Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tem-pat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang di-sesatkanNya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemim-pin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Dan kamu me-ngira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami bolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengun-jurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyak-sikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri), dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka." (Al-Kahfi: 17-18). (17) Maksudnya, Allah menjaga mereka dari (sengatan) matahari, menyediakan untuk mereka sebuah gua, apabila matahari terbit, (posisinya) menyerong ke arah kanan gua. Dan ketika ter-benam, (letak) matahari condong ke sebelah kiri gua. Akibatnya, sengatan panas matahari tidak mengenai mereka sehingga bisa me-rusak tubuh-tubuh mereka. ﴾ وَهُمۡ فِي فَجۡوَةٖ مِّنۡهُۚ ﴿ "Mereka berada dalam tempat yang luas di dalamnya," yaitu di dalam gua. Maksudnya, (me-reka) berada di tempat yang luas. Kondisi demikian itu supaya hawa dan angin semilir mengenai mereka dan udara yang tidak baik pergi dari mereka serta rasa tersiksa di tempat yang sempit (tidak mereka rasakan), apalagi dalam masa tinggal yang lama. ﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِۗ ﴿ "Itu adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah," yang menunjukkan kekuasaanNya, rahmatNya dan pengabul-an doa mereka serta pemberian hidayah untuk mereka, sampai da-lam masalah ini. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِۖ ﴿ "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang men-dapat petunjuk," tidak ada jalan untuk menggapai hidayah kecuali dari Allah. Dia-lah Dzat yang memberikan hidayah dan petunjuk untuk kemaslahatan dua kampung (dunia dan akhirat) . ﴾ وَمَن يُضۡلِلۡ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيّٗا مُّرۡشِدٗا 17 ﴿ "Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya," maksudnya kamu tidak menda-pati seorang pun yang mengurusi dan mengaturnya sesuai dengan kondisi yang mengandung kemaslahatan baginya, tidak pula (sese-orang) yang menunjukinya ke jalan kebaikan dan keberuntungan. Karena Allah telah memutuskan kesesatan padanya. Tidak ada yang dapat menolak keputusanNya. (18) ﴾ وَتَحۡسَبُهُمۡ أَيۡقَاظٗا وَهُمۡ رُقُودٞۚ ﴿ "Dan kamu mengira mereka itu ba-ngun padahal mereka tidur," maksudnya, kalian wahai orang yang melihatnya menyangka bahwa mereka seolah-olah bangun, pada-hal mereka dalam keadaan tidur. Para ulama tafsir mengatakan, "Hal itu karena mata mereka tetap terbuka supaya tidak rusak, se-hingga orang yang melihat, menyangka mereka terjaga padahal mereka tidur." ﴾ وَنُقَلِّبُهُمۡ ذَاتَ ٱلۡيَمِينِ وَذَاتَ ٱلشِّمَالِۖ ﴿ "Dan Kami bolak balikkan mereka ke kanan dan ke kiri." Ini juga merupakan bentuk pemeliharaan Allah terhadap badan-badan mereka. Karena bumi, reaksi umumnya, meng-gerogoti tubuh yang menempel padanya. Lalu di antara ke-tentuan Allah, Dia membolak-balikkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri dengan kadar (frekuensi) yang tidak menyebabkan bumi merusak tubuh mereka, meskipun Allah Mahakuasa untuk menjaga tubuh mereka tanpa perlu dibolak-balik. Akan tetapi, Allah Maha-bijaksana, Dia ingin memberlakukan sunnahNya di alam semesta dan mengaitkan sebab kausalitas dengan sesuatu dari akibat-akibat-nya. ﴾ وَكَلۡبُهُم بَٰسِطٞ ذِرَاعَيۡهِ بِٱلۡوَصِيدِۚ ﴿ "Sedangkan anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua." Anjing yang menyertai Ashhabul Kahfi, mengalami tidur (sebagaimana mereka) pada waktu ia berjaga-jaga. Anjing tersebut mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Maksudnya, berada di pintu atau halaman gua. Ini merupa-an penjagaan bagi mereka dari (reaksi) bumi. Sedangkan penjagaan mereka dari kalangan manusia, maka Allah mengabarkan bahwa mereka dijaga dengan rasa takut yang Allah hembuskan. Seandainya ada orang melihat mereka niscaya hatinya akan sarat dengan rasa takut dan lari tunggang langgang dari mereka. Inilah faktor yang menyebabkan mereka bisa tinggal lama dan tidak ada seorang pun yang berhasil melacak mereka, padahal mereka berada dekat se-kali dari kota. Dalil yang menunjukkan dekatnya tempat mereka yaitu bahwa tatkala mereka terbangun, maka mereka mengutus salah seorang dari temannya agar membeli makanan di kota, se-mentara yang lain menunggu kedatangannya. Hal ini menunjuk-kan sangat dekatnya mereka dari kota.

Al-Kahf 18:19

"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, 'Sudah berapa lama kamu berada (di sin)?' Mereka menjawab, 'Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.' Berkatalah (yang lain lagi, 'Rabbmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini), maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, lalu hendaklah dia lihat mana-kah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-sekali menceritakan halmu kepada siapa pun. Sesungguh-nya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan berun-tung selamanya." (Al-Kahfi: 19-20). (19) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ بَعَثۡنَٰهُمۡ ﴿ "Dan demikian-lah Kami bangunkan mereka," dari tidurnya yang sangat lama ﴾ لِيَتَسَآءَلُواْ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri," maksud-nya agar mereka saling berdiskusi supaya mendapatkan berita yang valid tentang berapa lama mereka tinggal. ﴾ قَالَ قَآئِلٞ مِّنۡهُمۡ كَمۡ لَبِثۡتُمۡۖ قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖۚ ﴿ "Salah seorang di antara mereka berkata, 'Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?' Mereka menjawab, 'Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari'." Pernyataan ini berlandaskan prasangka orang yang mengatakan (belaka). Sepertinya, telah terjadi kekaburan pada mereka mengenai masa mereka tinggal. Oleh karena itu, ﴾ قَالُواْ رَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَا لَبِثۡتُمۡ ﴿ "Berkatalah (yang lain lagi), 'Rabbmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini)'." Mereka mengembalikan hal tersebut kepada Dzat yang ilmuNya meliputi segala sesuatu, secara global maupun terperinci. Barangkali setelah itu Allah تعالى memberitahukan kepada mereka tentang masa tinggal mereka. Lantaran Allah membangunkan mereka agar mereka sa-ling bertanya di antara mereka sendiri, dan Allah mengabarkan bahwa mereka saling berdiskusi dan berbicara sebatas pengetahu-an mereka yang berujung pada ketidakjelasan. Maka seharusnya Allah telah mengabarkan mereka (tentang itu) secara pasti. Hal itu dapat kita ketahui melalui hikmah menjadikan mereka terjaga, dan bahwasanya Allah tidak melakukannya secara sia-sia. Di antara rahmatNya terhadap orang yang mencari kepastian sesuatu dalam perkara-perkara yang dituntut untuk diketahui lalu dia berusaha untuk mengetahuinya dengan batas kemampuannya, yaitu Allah menjelaskan perkara tersebut kepadanya, dan berdasarkan ayat-ayat yang disebutkan setelah FirmanNya, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَعۡثَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ لِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ لَا رَيۡبَ فِيهَآ ﴿ "Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan me-reka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bah-wa kedatangan Hari Kiamat tidak ada keraguan padanya." (Al-Kahfi: 21). Seandainya kondisi mereka tidak diketahui (setelahnya), nis-caya mereka tidak menjadi bukti atas apa yang Allah sebutkan (ten-tang hari Kebangkitan). Kemudian, tatkala mereka saling bertanya di antara sesama mereka dan terjadi peristiwa pada mereka yang Allah kabarkan, maka mereka pun mengutus salah seorang di an-tara mereka dengan membawa uang perak. Maksudnya, uang be-berapa dirham yang mereka bawa, agar orang tersebut membelikan makanan dari kota (yang mereka tinggalkan) untuk mereka makan. Mereka memerintahkannya agar memilih makanan yang paling bagus. Maksudnya, makanan terbaik dan paling lezat. Dan supaya berkelakuan ramah ketika pergi, membeli serta kepulangannya. Mereka juga memerintahkan supaya dia menutup diri dalam urusan-nya dan tutup mulut tentang keadaan teman-temannya dan jangan sampai memberitahukan seorang pun tentang keadaan mereka. (20) Mereka menyebutkan bahaya yang timbul dari penge-tahuan orang lain tentang mereka dan penampakan diri mereka di hadapan masyarakat, bahwa mereka akan menghadapi salah satu dari dua pilihan: Dirajam dengan lemparan batu sehingga khalayak membunuh mereka dengan cara yang sangat keji karena kemurka-an kepada diri mereka dan agama mereka. Atau orang-orang meng-uji keteguhan mereka dalam beragama dan memurtadkan mereka kepada ajaran kaumnya. Dalam keadaan ini, kalian selama-lama-nya tidak akan beruntung, bahkan merugi dalam agama, dunia, dan akhiratnya. Kedua ayat ini telah menunjukkan beberapa pelajaran penting: 1.      Anjuran supaya berilmu dan mendiskusikannya, karena Allah membangunkan mereka untuk tujuan itu. 2.      Adab bagi orang yang suatu ilmu belum jelas baginya supaya menyerahkannya kepada orang yang berilmu dan berdiam diri pada batas kemampuannya. 3.      Sahnya mewakilkan dalam urusan jual-beli, dan sahnya per-seroan dalam jual-beli. 4.      Bolehnya memakan makanan yang baik-baik dan makanan-makanan yang lezat jika tidak melewati batas pemborosan yang dilarang. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ فَلۡيَنظُرۡ أَيُّهَآ أَزۡكَىٰ طَعَامٗا فَلۡيَأۡتِكُم بِرِزۡقٖ مِّنۡهُ ﴿ "Dan hendaklah dia melihat manakah makan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untuk-mu." Khususnya jika seseorang tidak cocok baginya kecuali makanan model itu. Barangkali inilah sandaran kebanyakan ahli tafsir yang mengatakan bahwasanya mereka adalah anak-anak raja. Karena mereka memerintahkannya agar membeli makanan yang paling bagus yang menjadi kebiasa-an santapan orang-orang kaya. 5.      Anjuran agar berhati-hati dan bersembunyi serta menjauhi tempat-tempat fitnah yang mengancam agama, dan menyim-pan rahasia seseorang dan saudara-saudaranya seagama. 6.      Besarnya kecintaan para pemuda itu terhadap agama, lari-nya mereka dari segala fitnah yang mengancam agamanya, serta meninggalkan kampung halaman karena Allah. 7.      Penyebutan kandungan kejelekan berupa bahaya-bahaya dan kerusakan-kerusakan yang mendorong untuk membenci dan meninggalkannya. Cara semacam ini adalah konsep kaum Mukminin terdahulu dan sekarang, berdasarkan perkataan mereka, ﴾ وَلَن تُفۡلِحُوٓاْ إِذًا أَبَدٗا 20 ﴿ "Dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya."

Al-Kahf 18:20

"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, 'Sudah berapa lama kamu berada (di sin)?' Mereka menjawab, 'Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.' Berkatalah (yang lain lagi, 'Rabbmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini), maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, lalu hendaklah dia lihat mana-kah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-sekali menceritakan halmu kepada siapa pun. Sesungguh-nya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan berun-tung selamanya." (Al-Kahfi: 19-20). (19) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ بَعَثۡنَٰهُمۡ ﴿ "Dan demikian-lah Kami bangunkan mereka," dari tidurnya yang sangat lama ﴾ لِيَتَسَآءَلُواْ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri," maksud-nya agar mereka saling berdiskusi supaya mendapatkan berita yang valid tentang berapa lama mereka tinggal. ﴾ قَالَ قَآئِلٞ مِّنۡهُمۡ كَمۡ لَبِثۡتُمۡۖ قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖۚ ﴿ "Salah seorang di antara mereka berkata, 'Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?' Mereka menjawab, 'Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari'." Pernyataan ini berlandaskan prasangka orang yang mengatakan (belaka). Sepertinya, telah terjadi kekaburan pada mereka mengenai masa mereka tinggal. Oleh karena itu, ﴾ قَالُواْ رَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَا لَبِثۡتُمۡ ﴿ "Berkatalah (yang lain lagi), 'Rabbmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini)'." Mereka mengembalikan hal tersebut kepada Dzat yang ilmuNya meliputi segala sesuatu, secara global maupun terperinci. Barangkali setelah itu Allah تعالى memberitahukan kepada mereka tentang masa tinggal mereka. Lantaran Allah membangunkan mereka agar mereka sa-ling bertanya di antara mereka sendiri, dan Allah mengabarkan bahwa mereka saling berdiskusi dan berbicara sebatas pengetahu-an mereka yang berujung pada ketidakjelasan. Maka seharusnya Allah telah mengabarkan mereka (tentang itu) secara pasti. Hal itu dapat kita ketahui melalui hikmah menjadikan mereka terjaga, dan bahwasanya Allah tidak melakukannya secara sia-sia. Di antara rahmatNya terhadap orang yang mencari kepastian sesuatu dalam perkara-perkara yang dituntut untuk diketahui lalu dia berusaha untuk mengetahuinya dengan batas kemampuannya, yaitu Allah menjelaskan perkara tersebut kepadanya, dan berdasarkan ayat-ayat yang disebutkan setelah FirmanNya, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَعۡثَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ لِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ لَا رَيۡبَ فِيهَآ ﴿ "Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan me-reka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bah-wa kedatangan Hari Kiamat tidak ada keraguan padanya." (Al-Kahfi: 21). Seandainya kondisi mereka tidak diketahui (setelahnya), nis-caya mereka tidak menjadi bukti atas apa yang Allah sebutkan (ten-tang hari Kebangkitan). Kemudian, tatkala mereka saling bertanya di antara sesama mereka dan terjadi peristiwa pada mereka yang Allah kabarkan, maka mereka pun mengutus salah seorang di an-tara mereka dengan membawa uang perak. Maksudnya, uang be-berapa dirham yang mereka bawa, agar orang tersebut membelikan makanan dari kota (yang mereka tinggalkan) untuk mereka makan. Mereka memerintahkannya agar memilih makanan yang paling bagus. Maksudnya, makanan terbaik dan paling lezat. Dan supaya berkelakuan ramah ketika pergi, membeli serta kepulangannya. Mereka juga memerintahkan supaya dia menutup diri dalam urusan-nya dan tutup mulut tentang keadaan teman-temannya dan jangan sampai memberitahukan seorang pun tentang keadaan mereka. (20) Mereka menyebutkan bahaya yang timbul dari penge-tahuan orang lain tentang mereka dan penampakan diri mereka di hadapan masyarakat, bahwa mereka akan menghadapi salah satu dari dua pilihan: Dirajam dengan lemparan batu sehingga khalayak membunuh mereka dengan cara yang sangat keji karena kemurka-an kepada diri mereka dan agama mereka. Atau orang-orang meng-uji keteguhan mereka dalam beragama dan memurtadkan mereka kepada ajaran kaumnya. Dalam keadaan ini, kalian selama-lama-nya tidak akan beruntung, bahkan merugi dalam agama, dunia, dan akhiratnya. Kedua ayat ini telah menunjukkan beberapa pelajaran penting: 1.      Anjuran supaya berilmu dan mendiskusikannya, karena Allah membangunkan mereka untuk tujuan itu. 2.      Adab bagi orang yang suatu ilmu belum jelas baginya supaya menyerahkannya kepada orang yang berilmu dan berdiam diri pada batas kemampuannya. 3.      Sahnya mewakilkan dalam urusan jual-beli, dan sahnya per-seroan dalam jual-beli. 4.      Bolehnya memakan makanan yang baik-baik dan makanan-makanan yang lezat jika tidak melewati batas pemborosan yang dilarang. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ فَلۡيَنظُرۡ أَيُّهَآ أَزۡكَىٰ طَعَامٗا فَلۡيَأۡتِكُم بِرِزۡقٖ مِّنۡهُ ﴿ "Dan hendaklah dia melihat manakah makan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untuk-mu." Khususnya jika seseorang tidak cocok baginya kecuali makanan model itu. Barangkali inilah sandaran kebanyakan ahli tafsir yang mengatakan bahwasanya mereka adalah anak-anak raja. Karena mereka memerintahkannya agar membeli makanan yang paling bagus yang menjadi kebiasa-an santapan orang-orang kaya. 5.      Anjuran agar berhati-hati dan bersembunyi serta menjauhi tempat-tempat fitnah yang mengancam agama, dan menyim-pan rahasia seseorang dan saudara-saudaranya seagama. 6.      Besarnya kecintaan para pemuda itu terhadap agama, lari-nya mereka dari segala fitnah yang mengancam agamanya, serta meninggalkan kampung halaman karena Allah. 7.      Penyebutan kandungan kejelekan berupa bahaya-bahaya dan kerusakan-kerusakan yang mendorong untuk membenci dan meninggalkannya. Cara semacam ini adalah konsep kaum Mukminin terdahulu dan sekarang, berdasarkan perkataan mereka, ﴾ وَلَن تُفۡلِحُوٓاْ إِذًا أَبَدٗا 20 ﴿ "Dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya."

Al-Kahf 18:21

"Dan demikianlah Kami perlihatkan (manusia) dengan mereka, agar mereka tahu, bahwa janji Allah benar, dan bahwa (kedatang-an) Hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika mereka ber-selisih tentang urusan mereka, maka mereka berkata, 'Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Rabb mereka lebih Menge-tahui tentang mereka.' Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, 'Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya'." (Al-Kahfi: 21). (21) Allah تعالى mengabarkan bahwasanya Dia memperlihat-kan kepada manusia keadaan Ashhabul Kahfi. Kejadian itu –wallahu a'lam- setelah mereka terjaga dan mengutus salah seorang di antara mereka untuk membeli makanan. Mereka memerintahkannya agar menyamar dan merahasiakan (perkara mereka). Maka, Allah ber-kehendak terhadap suatu kejadian yang berisi kemaslahatan bagi orang-orang dan tambahan pahala untuk mereka. Yaitu, ketika orang-orang menyaksikan salah satu tanda kebesaran Allah pada mereka (Ashhabul Kahfi) dengan mata kepala mereka bahwa janji Allah benar-benar ada, tidak ada syak dan keraguan padanya, tidak (pula) ada unsur kemustahilan setelah mereka dahulu berselisih paham tentang urusan para pemuda itu. Sebagian mengakui janji Allah dan Hari Pembalasan. Sebagian lain meniadakannya. Kemu-dian Allah menjadikan kisah Ashhabul Kahfi kepada mereka sebagai tambahan ilmu dan keyakinan bagi kaum Mukminin dan hujjah (penggugat) bagi orang-orang yang menentang. Lalu jadilah pahala dalam perkara ini untuk mereka. Selanjutnya, Allah mempopuler-kan perihal mereka dan mengangkat kedudukan mereka sehingga orang yang mengetahui tentang mereka melakukan "pengagungan". Mereka mengatakan, ﴾ ٱبۡنُواْ عَلَيۡهِم بُنۡيَٰنٗاۖ ﴿ "Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka." Allah lebih mengetahui keadaan mereka dan tem-pat mereka kembali! Berkatalah orang yang berkuasa atas urusan mereka, yaitu orang-orang yang memegang wewenang urusan, ﴾ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيۡهِم مَّسۡجِدٗا 21 ﴿ "Sesungguhnya kami akan mendirikan se-buah rumah ibadah di atasnya," maksudnya kami beribadah kepada Allah تعالى di dalamnya dan mengingat-ingat mereka serta peristiwa yang terjadi pada mereka. Perbuatan ini merupakan sebuah larangan, Nabi telah melarangnya[24] dan mencela para pelakunya, bukan ber-arti penyebutannya di sini tidak menunjukkan celaan terhadapnya (rencana pembangunan masjid di atas kubur mereka), karena kon-teks pembahasan ini tentang Ashhabul Kahfi dan pujian untuk mereka, dan (alasan kedua) bahwa pengagungan (bagi) Ashhabul Kahfi sampai pada level di mana orang-orang mengatakan, "Dirikanlah sebuah rumah peribadatan di atasnya," setelah ketakutan Ashhabul Kahfi yang dahsyat terhadap kaumnya dan sikap kehati-hatian mereka dari deteksi terhadap keberadaan mereka hingga keadaan berubah pada tingkatan yang Anda lihat. Pada kisah ini terdapat dalil bahwasanya orang yang lari me-nyelamatkan agamanya dari fitnah-fitnah, niscaya Allah akan me-nyelamatkannya, dan bahwa orang yang bersungguh-sungguh men-cari keselamatan, niscaya Allah akan menyelamatkannya, dan bahwa orang yang berlindung kepada Allah, niscaya Allah akan melindungi-nya dan menjadikannya sebagai sumber hidayah bagi orang lain. Barangsiapa memikul kehinaan di jalan Allah dan mencari keridha-anNya, niscaya kesudahan urusannya adalah kemuliaan yang agung dari arah yang tidak dia sangka. Dan apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi orang-orang yang patuh.

Al-Kahf 18:22

"Nanti (ada orang yang akan) mengatakan, '(Jumlah mereka) tiga (orang), yang keempat adalah anjingnya,' dan (yang lain) mengatakan, '(Jumlah mereka) lima (orang), yang keenam adalah anjingnya,' sebagai terkaan terhadap yang ghaib, dan (yang lain lagi) mengatakan, '(Jumlah mereka) tujuh (orang), yang kedelapan adalah anjingnya.' Katakanlah (Muhammad), 'Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka, tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.' Karena itu janganlah engkau (Muhammad) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan lahir saja, dan jangan engkau menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada siapa pun." (Al-Kahfi: 22). (22) Allah تعالى menceritakan tentang perselisihan Ahli kitab mengenai jumlah Ashhabul Kahfi. Sebuah perselisihan yang bertolak dari terkaan mereka terhadap perkara ghaib dan omongan mereka yang mengada-ada terhadap peristiwa yang tidak mereka ketahui, dan bahwasanya, mereka terbagi menjadi tiga pendapat: Sebagian mereka mengatakan, ﴾ ثَلَٰثَةٞ رَّابِعُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ ﴿ "(Jumlah mereka) tiga orang, yang keempat adalah anjingnya.' Sebagian lain mengatakan, ﴾ خَمۡسَةٞ سَادِسُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ ﴿ "(Jumlah mereka) lima orang, yang keenam adalah anjing-nya." Dua pendapat ini, Allah sebutkan setelahnya sebagai bentuk terkaan dari mereka tentang perkara ghaib. Maka Allah menunjuk-kan kebatilan dua pernyataan itu. Di antara mereka ada yang me-ngatakan, ﴾ سَبۡعَةٞ وَثَامِنُهُمۡ كَلۡبُهُمۡۚ ﴿ "(Jumlah mereka) tujuh orang, yang ke-delapan adalah anjingnya." Perkataan ini –wallahu 'alam- merupakan pendapat yang benar, karena Allah menggugurkan dua pendapat pertama dan tidak mempermasalahkan perkataan berikutnya. Ini berarti menunjukkan kebenarannya. Perselisihan ini ter-masuk perbedaan pendapat yang tidak mengandung manfaat apa pun, dan pengetahuan tentang jumlah mereka tidak menghasilkan kemaslahatan bagi manusia, baik secara agama ataupun dunia. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ قُل رَّبِّيٓ أَعۡلَمُ بِعِدَّتِهِم مَّا يَعۡلَمُهُمۡ إِلَّا قَلِيلٞۗ ﴿ "Katakanlah, 'Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka, tidak ada orang yang mengetahui bilangan mereka kecuali sedikit'." Mereka itulah orang-orang yang selaras dengan kebenaran, dan mengetahui kebenaran pendapat mereka. ﴾ فَلَا تُمَارِ ﴿ "Karena itu janganlah kamu (Muhammad) berbantah," berdebat dan beradu argumentasi, ﴾ فِيهِمۡ إِلَّا مِرَآءٗ ظَٰهِرٗا ﴿ "tentang hal mereka, kecuali perbantahan lahir saja," yang berdasarkan ilmu dan keyakinan, dan juga mengandung faidah. Adapun perbantahan berdasarkan kebodohan dan terkaan terhadap hal yang ghaib atau yang tidak ada faidahnya; baik pihak lawan sosok yang suka menentang atau permasalahan tersebut tidak penting dan tidak menghasilkan manfaat secara agama dengan mengetahuinya, seperti (mengetahui) jumlah para penghuni gua dan perkara serupa lainnya, maka sesungguhnya banyak diskusi dan pembahasan yang berlarut-larut tentang masalah itu hanya menyia-nyiakan waktu dan menggerogoti kecintaan hati (kepada orang lain) tanpa manfaat. ﴾ وَلَا تَسۡتَفۡتِ فِيهِم ﴿ "Dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu)," maksudnya tentang perkara Ashhabul Kahfi ﴾ مِّنۡهُمۡ أَحَدٗا ﴿ "kepada seorang pun dari mereka," yaitu Ahli Kitab. Demi-kian itu karena landasan perkataan mereka tentang para penghuni gua adalah terkaan dan prasangka yang tidak berpengaruh terhadap kebenaran sedikit pun. Di dalamnya, terdapat dalil larangan me-minta fatwa kepada orang yang tidak layak untuk berfatwa, baik lantaran kedangkalan ilmunya dalam perkara yang ditanyakan atau karena dia tidak peduli dengan apa yang telah dia ucapkan, tidak memiliki sifat wara' yang mengekangnya. Jika meminta fatwa kepada orang semacam ini dilarang, maka larangan terhadap diri-nya untuk memberikan fatwa lebih ditekankan lagi. Pada ayat ini juga terkandung dalil bahwasanya seseorang tidak boleh dimintai fatwa dalam perkara tertentu tanpa (menutup kesempatan) pada masalah yang lain. Ia boleh diminta berfatwa dalam masalah yang ia kuasai, berbeda dengan masalah lainnya. Karena Allah tidak melarang meminta fatwa kepada mereka secara mutlak. Tetapi, Allah melarang meminta fatwa kepada mereka ten-tang kisah Ashhabul Kahfi dan kejadian yang serupa dengannya.

Al-Kahf 18:23

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (de-ngan menyebut), 'Insya Allah'.' Dan ingatlah kepada Rabbmu jika kamu lupa dan katakanlah, 'Mudah-mudahan Rabbku akan mem-beriku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini'." (Al-Kahfi: 23-24). (23) Larangan ini adalah sebagaimana larangan lainnya, sekalipun penyebabnya khusus dan ditujukan kepada Rasulullah, akan tetapi arah pembicaraannya umum, untuk semua kalangan mukallaf. Allah melarang seorang hamba mengatakan dalam urusan yang akan datang, ﴾ إِنِّي فَاعِلٞ ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu," tanpa menggandengkannya dengan kehendak Allah. Demikian itu, karena sikap tersebut memuat sebuah larangan. Yaitu berbicara tentang perkara ghaib yang akan datang, yang mana dia tidak me-ngetahui apakah dia akan mengerjakannya ataukah tidak? Dan apakah akan terjadi atau tidak? Pada ungkapan itu (tanpa mengait-kan dengan kehendak Allah) mengandung pengertian mengembali-kan sebuah perbuatan kepada kehendak seorang hamba belaka, dan sikap demikian ini dilarang lagi diharamkan. Sebab, semua kehendak adalah milik Allah. ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 29 ﴿ "Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 29). Dan karena pada penyertaan kehendak Allah memuat unsur memuluskan dan memudahkan urusan, teraihnya berkah serta unsur meminta bantuan dari hamba kepada Rabbnya. (24) Ketika seorang hamba itu adalah manusia yang pasti mengalami kelupaan untuk mengingat kehendak Allah, maka Dia memerintahkannya untuk mengecualikannya setelah itu bila ingat, agar terwujudkan apa yang diinginkan dan tertampik bahaya dari-nya. Keterangan ini terambil dari keumuman FirmanNya, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ ﴿ "Dan ingatlah kepada Rabbmu jika kamu lupa." Perintah mengingat Allah ketika lupa, karena dapat menghilangkan dan mengingatkan seseorang apa yang dia lupakan. Begitu juga, orang alpa lagi lupa (mengingat Allah) diperintahkan supaya menyebut nama Rabbnya agar tidak menjadi orang yang benar-benar lalai. Tatkala seorang hamba membutuhkan taufik Allah agar dapat meraih kebenaran dan tidak mengalami kesalahan dalam perkataan dan perbuatannya, maka Allah memerintahkannya agar mengucap-kan, ﴾ عَسَىٰٓ أَن يَهۡدِيَنِ رَبِّي لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَٰذَا رَشَدٗا ﴿ "Mudah-mudahan Rabbku akan mem-beriku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini." Allah memerintahkannya agar berdoa dan mengharapNya serta percaya kepada Allah bahwa Dia akan menunjukkan kepadanya jalan paling pintas yang mengantarkan kepada kebenaran. Seharusnya seorang hamba keadaannya seperti ini, lalu dia mencurahkan segenap ke-sungguhannya dan mengerahkan kemampuannya dalam mencari petunjuk dan kebenaran supaya dia diberi taufik untuk tujuan itu, dan agar pertolongan datang dari Rabbnya kepada dirinya dan meluruskan seluruh perkaranya.

Al-Kahf 18:24

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (de-ngan menyebut), 'Insya Allah'.' Dan ingatlah kepada Rabbmu jika kamu lupa dan katakanlah, 'Mudah-mudahan Rabbku akan mem-beriku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini'." (Al-Kahfi: 23-24). (23) Larangan ini adalah sebagaimana larangan lainnya, sekalipun penyebabnya khusus dan ditujukan kepada Rasulullah, akan tetapi arah pembicaraannya umum, untuk semua kalangan mukallaf. Allah melarang seorang hamba mengatakan dalam urusan yang akan datang, ﴾ إِنِّي فَاعِلٞ ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu," tanpa menggandengkannya dengan kehendak Allah. Demikian itu, karena sikap tersebut memuat sebuah larangan. Yaitu berbicara tentang perkara ghaib yang akan datang, yang mana dia tidak me-ngetahui apakah dia akan mengerjakannya ataukah tidak? Dan apakah akan terjadi atau tidak? Pada ungkapan itu (tanpa mengait-kan dengan kehendak Allah) mengandung pengertian mengembali-kan sebuah perbuatan kepada kehendak seorang hamba belaka, dan sikap demikian ini dilarang lagi diharamkan. Sebab, semua kehendak adalah milik Allah. ﴾ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 29 ﴿ "Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 29). Dan karena pada penyertaan kehendak Allah memuat unsur memuluskan dan memudahkan urusan, teraihnya berkah serta unsur meminta bantuan dari hamba kepada Rabbnya. (24) Ketika seorang hamba itu adalah manusia yang pasti mengalami kelupaan untuk mengingat kehendak Allah, maka Dia memerintahkannya untuk mengecualikannya setelah itu bila ingat, agar terwujudkan apa yang diinginkan dan tertampik bahaya dari-nya. Keterangan ini terambil dari keumuman FirmanNya, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ ﴿ "Dan ingatlah kepada Rabbmu jika kamu lupa." Perintah mengingat Allah ketika lupa, karena dapat menghilangkan dan mengingatkan seseorang apa yang dia lupakan. Begitu juga, orang alpa lagi lupa (mengingat Allah) diperintahkan supaya menyebut nama Rabbnya agar tidak menjadi orang yang benar-benar lalai. Tatkala seorang hamba membutuhkan taufik Allah agar dapat meraih kebenaran dan tidak mengalami kesalahan dalam perkataan dan perbuatannya, maka Allah memerintahkannya agar mengucap-kan, ﴾ عَسَىٰٓ أَن يَهۡدِيَنِ رَبِّي لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَٰذَا رَشَدٗا ﴿ "Mudah-mudahan Rabbku akan mem-beriku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini." Allah memerintahkannya agar berdoa dan mengharapNya serta percaya kepada Allah bahwa Dia akan menunjukkan kepadanya jalan paling pintas yang mengantarkan kepada kebenaran. Seharusnya seorang hamba keadaannya seperti ini, lalu dia mencurahkan segenap ke-sungguhannya dan mengerahkan kemampuannya dalam mencari petunjuk dan kebenaran supaya dia diberi taufik untuk tujuan itu, dan agar pertolongan datang dari Rabbnya kepada dirinya dan meluruskan seluruh perkaranya.

Al-Kahf 18:25

"Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah, 'Allah lebih menge-tahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaanNya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatanNya dan alangkah tajam pendengaranNya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dariNya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutuNya dalam menetapkan keputusan'." (Al-Kahfi: 25-26). (25-26) Tatkala Allah melarang Rasulullah meminta fatwa kepada ahli kitab tentang perkara Ashhabul Kahfi karena mereka tidak memiliki ilmu tentang hal itu, sedangkan Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui hal yang ghaib maupun yang nyata dan Maha mengetahui segala sesuatu, maka Allah memberitahukan kepada RasulNya tentang berapa lama mereka tinggal. Ilmu tentang hal itu hanyalah milik Allah, karena termasuk perkara yang ter-sembunyi di langit dan bumi. Keghaiban kejadian itu menjadi hak khususNya. Dan apa yang Allah beritakan melalui lisan-lisan Rasul-Nya merupakan kebenaran yang diyakini yang tidak ada keraguan padanya. Dan berita yang tidak Allah beritahukan kepada para RasulNya, maka tidak ada seorang pun dari makhluk yang dapat mengetahuinya. Firman Allah, ﴾ أَبۡصِرۡ بِهِۦ وَأَسۡمِعۡۚ ﴿ "Alangkah terang penglihatanNya dan alangkah tajam pendengaranNya," kekaguman terhadap kesem-purnaan pendengaran dan penglihatanNya serta jangkauan kedua-nya terhadap seluruh obyek yang didengar dan obyek-obyek yang terlihat setelah Dia mengabarkan tentang ilmuNya yang meliputi segala sesuatu yang diketahui, kemudian Allah menyatakan ke-esaanNya dalam penjagaan yang umum dan khusus. Dia-lah Pe-melihara yang berwenang mengatur seluruh alam semesta dan Pemelihara bagi hamba-hambaNya yang beriman, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, memberikan taufik bagi mereka menuju jalan yang mudah, dan menjauhkan mereka dari kesulitan. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ مَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيّٖ ﴿ "Tidak ada seorang pelindung etelah Dia rhadap seluruh obyek pun bagi mereka selain dariNya." Maksud-nya, Dia-lah yang mengurus perkara Ashhabul Kahfi dengan kelem-butan dan kemuliaanNya, tidak menyerahkan urusan mereka kepada seorang pun dari kalangan makhlukNya. ﴾ وَلَا يُشۡرِكُ فِي حُكۡمِهِۦٓ أَحَدٗا 26 ﴿ "Dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutuNya dalam menetapkan keputusan." Ini mencakup ke-putusan takdir yang bersifat kauni dan syar'i. Sesungguhnya Allah adalah Pemutus keputusan di tengah makhlukNya baik dalam masalah keputusan, ketetapan takdir, penciptaan, dan pengaturan, dan Dzat yang menjadi hakim pada mereka dengan perintah dan laranganNya, pahala dan hukumanNya. Tatkala Allah menceritakan bahwa bagiNya perkara-perkara yang tersembunyi di langit dan bumi, maka tidak ada cara bagi makhluk untuk mengetahuinya kecuali melalui berita yang Allah kabarkan kepada para hambaNya. Al-Qur`an telah menghimpun banyak sekali perkara ghaib. Allah تعالى memerintahkan supaya meresponnya. Allah berfirman,

Al-Kahf 18:26

"Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah, 'Allah lebih menge-tahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaanNya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatanNya dan alangkah tajam pendengaranNya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dariNya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutuNya dalam menetapkan keputusan'." (Al-Kahfi: 25-26). (25-26) Tatkala Allah melarang Rasulullah meminta fatwa kepada ahli kitab tentang perkara Ashhabul Kahfi karena mereka tidak memiliki ilmu tentang hal itu, sedangkan Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui hal yang ghaib maupun yang nyata dan Maha mengetahui segala sesuatu, maka Allah memberitahukan kepada RasulNya tentang berapa lama mereka tinggal. Ilmu tentang hal itu hanyalah milik Allah, karena termasuk perkara yang ter-sembunyi di langit dan bumi. Keghaiban kejadian itu menjadi hak khususNya. Dan apa yang Allah beritakan melalui lisan-lisan Rasul-Nya merupakan kebenaran yang diyakini yang tidak ada keraguan padanya. Dan berita yang tidak Allah beritahukan kepada para RasulNya, maka tidak ada seorang pun dari makhluk yang dapat mengetahuinya. Firman Allah, ﴾ أَبۡصِرۡ بِهِۦ وَأَسۡمِعۡۚ ﴿ "Alangkah terang penglihatanNya dan alangkah tajam pendengaranNya," kekaguman terhadap kesem-purnaan pendengaran dan penglihatanNya serta jangkauan kedua-nya terhadap seluruh obyek yang didengar dan obyek-obyek yang terlihat setelah Dia mengabarkan tentang ilmuNya yang meliputi segala sesuatu yang diketahui, kemudian Allah menyatakan ke-esaanNya dalam penjagaan yang umum dan khusus. Dia-lah Pe-melihara yang berwenang mengatur seluruh alam semesta dan Pemelihara bagi hamba-hambaNya yang beriman, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, memberikan taufik bagi mereka menuju jalan yang mudah, dan menjauhkan mereka dari kesulitan. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ مَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيّٖ ﴿ "Tidak ada seorang pelindung etelah Dia rhadap seluruh obyek pun bagi mereka selain dariNya." Maksud-nya, Dia-lah yang mengurus perkara Ashhabul Kahfi dengan kelem-butan dan kemuliaanNya, tidak menyerahkan urusan mereka kepada seorang pun dari kalangan makhlukNya. ﴾ وَلَا يُشۡرِكُ فِي حُكۡمِهِۦٓ أَحَدٗا 26 ﴿ "Dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutuNya dalam menetapkan keputusan." Ini mencakup ke-putusan takdir yang bersifat kauni dan syar'i. Sesungguhnya Allah adalah Pemutus keputusan di tengah makhlukNya baik dalam masalah keputusan, ketetapan takdir, penciptaan, dan pengaturan, dan Dzat yang menjadi hakim pada mereka dengan perintah dan laranganNya, pahala dan hukumanNya. Tatkala Allah menceritakan bahwa bagiNya perkara-perkara yang tersembunyi di langit dan bumi, maka tidak ada cara bagi makhluk untuk mengetahuinya kecuali melalui berita yang Allah kabarkan kepada para hambaNya. Al-Qur`an telah menghimpun banyak sekali perkara ghaib. Allah تعالى memerintahkan supaya meresponnya. Allah berfirman,

Al-Kahf 18:27

"Dan bacakanlah sesuatu yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabbmu (al-Qur`an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat merubah kalimat-kalimatNya. Dan kamu tidak akan dapat mene-mukan tempat berlindung selain dariNya." (Al-Kahfi: 27). (27) Kata اَلتِّلَاوَةُartinya: Mengikuti. Maksudnya, ikutilah apa yang Allah wahyukan kepadamu dengan mengetahui dan memahami maknanya, membenarkan berita-beritaNya, serta menaati perintah dan laranganNya. Sesungguhnya al-Qur`an adalah kitab yang agung, tidak ada seorang pun yang sanggup merubah kalimat-kalimatNya. Maksudnya, tidak bisa dirubah dan diganti karena aspek kebenaran dan keadilannya serta sisi keelokannya yang meng-ungguli setiap keindahan. ﴾ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقٗا وَعَدۡلٗاۚ ﴿ "Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar lagi adil." (Al-An'am: 115). Kesempurnaannya mustahil bisa dirubah atau diganti. Seandai-nya kalimat-kalimat tersebut memiliki cacat, niscaya akan terjadi padanya perubahan (secara keseluruhan) atau sebagian darinya. Hal ini merupakan pengagungan terhadap al-Qur`an, yang memuat dorongan agar menerimanya. ﴾ وَلَن تَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدٗا ﴿ "Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dariNya." Maksudnya kamu tidak akan mendapatkan tempat kembali dan tidak pula tempat meminta pertolongan selain kepada Allah. Apabila telah jelas bahwa hanya Allah semata tempat kembali dalam segala uru-san, maka jelaslah bahwa Dia-lah yang berhak untuk disembah dan dicintai, baik dalam kondisi lapang maupun sempit, yang selalu dibutuhkan dalam segala keadaan dan yang diminta dalam segala tuntutan.

Al-Kahf 18:28

"Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keri-dhaanNya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan jangan-lah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya itu melewati batas." (Al-Kahfi :28). (28) Allah تعالى memerintahkan NabiNya, Muhammad, se-dangkan orang lain mengikutinya sebagai teladan dalam perintah dan larangan, supaya bersabar bersama orang-orang beriman, ahli ibadah yang selalu kembali kepada Allah. ﴾ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ ﴿ "Orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari," yaitu pada permulaan pagi dan sore hari. Mereka menginginkan Wajah Allah dengan hal itu. Allah menyebutkan karakter mereka dengan ibadah dan keikhlasan dalam melaksanakannya. Jadi, di dalamnya terdapat perintah supaya bersahabat dengan orang baik dan berusaha keras untuk berkumpul dengan mereka, sekali pun mereka itu orang-orang fakir. Karena berhubungan erat dengan mereka memberikan manfaat-manfaat yang tidak terhitung. ﴾ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka," maksudnya pandanganmu janganlah melampaui mereka dan mengangkat penglihatanmu dari mereka ﴾ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "(karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini," sebab ia meru-pakan bahaya, tidak bermanfaat, penghancur kemaslahatan agama dan menjadikan hati bergantung dengan dunia. Akibatnya, pikiran dan angan-angan terfokuskan padanya. Kecintaan di hati terhadap akhirat sirna. Sesungguhnya perhiasan dunia begitu memikat orang yang melihatnya dan menyihir hati, sehingga hati itu lalai untuk mengingat Allah dan lebih menatap aneka kelezatan dan godaan syahwat. Waktunya pun sia-sia dan urusannya menjadi tidak ka-ruan. Kemudian dia menjadi orang yang merugi dan menyesal selama-lamanya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami." Dia lalai mengingat Allah, maka Allah menghukum-nya dengan menjadikannya lalai untuk mengingatNya, ﴾ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ ﴿ "serta menuruti hawa nafsunya," maksudnya dia menjadi orang yang memperturutkan hawa nafsunya. Apa saja yang disukai oleh nafsu-nya, niscaya dia lakukan dan berusaha mendapatkannya sekalipun akan membinasakan dan merugikannya. Dia telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan, seperti Firman Allah, ﴾ أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ ﴿ "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa naf-sunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya…" (Al-Jatsiyah: 23). ﴾ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ ﴿ "Dan keadaannya itu," maksudnya kemaslahatan agama dan duniawinya ﴾ فُرُطٗا 28 ﴿ "melampaui batas," maksudnya lenyap sia-sia lagi tidak terwujudkan. Allah melarang menaati orang seperti ini, karena ketaatan kepadanya akan mengajaknya untuk mengikutinya. Pasalnya, dia tidak menyeru kecuali kepada orang yang memiliki sifat sepertinya. Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang seharusnya ditaati dan menjadi imam bagi orang-orang adalah orang yang hatinya penuh dengan kecintaan kepada Allah dan mencurahkannya pada lisannya, lalu dia tekun berdzikir kepada Allah, mengikuti semua keridhaanNya, lebih mendahulukannya daripada bisikan hawa nafsunya. Maka dengan itu, dia berhasil menjaga waktunya, kon-disinya membaik dan tindak-tanduknya lurus, mengajak manusia kepada kenikmatan yang Allah berikan kepadanya, maka pantaslah dia diikuti dan dijadikan sebagai imam. Sabar yang disebutkan dalam ayat ini adalah bersabar dalam ketaatan kepada Allah yang mana ia merupakan jenis kesabaran yang paling tinggi. Kesempurnaan bentuk kesabaran ini, akan me-nyempurnakan jenis-jenis kesabaran lainnya. Dalam ayat ini terdapat kandungan mengenai disunnahkan-nya berdzikir, berdoa, dan beribadah pada dua penghujung siang, karena Allah memuji mereka atas perbuatan itu. Setiap perbuatan yang Allah memuji pelakunya, berarti menunjukkan bahwa Allah mencintai perbuatan itu. Dan jika Allah mencintainya, maka Dia memerintahkan dan menganjurkan orang untuk melakukannya.

Al-Kahf 18:29

"Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah dia kafir.' Sesungguh-nya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang pa-ling buruk, dan tempat istirahat yang paling jelek. Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shalih, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amal-an(nya) dengan baik. Mereka itulah (orang-orang yang) mendapat-kan surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah." (Al-Kahfi: 29-31). (29) Maksudnya ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad ke-pada umat manusia, bahwa ﴾ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "kebenaran itu datangnya dari Rabbmu," maksudnya, sungguh telah menjadi jelas antara petun-juk dengan kebatilan, kebenaran dengan kesesatan, sifat-sifat orang-orang yang berbahagia dengan sifat-sifat orang-orang yang seng-sara. Demikian itu berdasarkan hasil penjelasan Allah melalui lisan RasulNya. Apabila telah jelas, nampak, dan tidak ada kesamaran padanya ﴾ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "maka barangsiapa yang ingin (ber-iman), hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah dia kafir," maksudnya tidak ada pilihan kecuali menempuh salah satu dari dua jalan sesuai dengan adanya taufik bagi seorang ham-ba atau tidaknya. Allah telah memberinya kehendak untuk memilih antara keimanan dan kekufuran, kebaikan dan keburukan. Barang-siapa beriman, maka sungguh dia telah diberi taufik menuju ke-benaran, dan barangsiapa yang kafir, maka sungguh hujjah telah tegak atasnya, tidak ada yang memaksanya untuk beriman. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ ﴿ "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat." (Al-Baqarah: 256). [Bukan berarti dalam Firman Allah, ﴾ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah dia kafir," mengandung penger-tian dibolehkannya dua perbuatan tersebut. Akan tetapi, hal itu merupakan peringatan dan ancaman bagi orang yang memilih ke-kafiran setelah adanya penjelasan yang sempurna. Sebagaimana ayat itu memuat pengertian untuk membiarkan orang-orang yang kafir tanpa diperangi]. Kemudian Allah تعالى menyebutkan tempat kembali dua golo-ngan itu. Allah berfirman, ﴾ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang yang zhalim itu," karena kekufuran, kefa-sikan, dan kemaksiatan mereka ﴾ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ ﴿ "neraka yang gejo-laknya mengepung mereka," maksudnya pagar-pagarnya mengelilingi mereka, maka tidak ada celah keluar dan jalan untuk melarikan diri meninggalkannya. Api neraka membakar mereka. ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ ﴿ "Dan jika mereka meminta minum," maksudnya meminta minum untuk melenyapkan rasa haus yang mencekik ﴾ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ ﴿ "nis-caya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih," maksudnya seperti timah yang mencair atau seperti kerak minyak karena sangat panas ﴾ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ ﴿ "yang menghanguskan muka." Maka bagaimana (jadinya) dengan usus-usus dan perut-perut mereka?! Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ 20 وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ 21 ﴿ "Dengan air itu dihancurluluhkan segala yang ada dalam perut me-reka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka, cambuk-cambuk dari besi." (Al-Hajj: 20-21). ﴾ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ ﴿ "Itulah minuman yang paling buruk," yang dituju-kan untuk menghilangkan rasa dahaga dan menolak sebagian azab, namun malah menjadi penambah siksa mereka dan kedahsyatan hukuman mereka. ﴾ وَسَآءَتۡ ﴿ "Dan yang paling jelek," maksudnya, ne-raka itu (adalah tempat yang paling jelek sebagai) ﴾ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "tempat istirahat." Ini merupakan celaan tentang keadaan neraka, bahwasa-nya neraka merupakan seburuk-buruk tempat yang digunakan se-bagai tempat beristirahat, karena tidak ada tempat nyaman di dalam-nya. Akan tetapi, di dalamnya adalah siksa yang besar dan berat, yang tidak berhenti barang sesaat pun dari mereka. Mereka berduka cita di dalamnya, berputus asa dari segala kebaikan. Allah Yang Maha Pengasih telah melupakan (tidak mempedulikan) mereka berada dalam siksa sebagaimana mereka telah melupakanNya (di dunia). (30) Kemudian Allah menyebut golongan yang kedua seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shalih," maksudnya, mereka yang menggabung-kan antara keimanan kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-RasulNya, Hari Akhir dan takdir baik dan buruk dengan amal shalih, dari yang wajib maupun yang mustahab, ﴾ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ مَنۡ أَحۡسَنَ عَمَلًا 30 ﴿ "tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik," amalan yang baik maksudnya apabila seorang hamba menginginkan dengan amalannya itu Wajah Allah dan mengikuti syariat Allah, maka amalan inilah yang tidak akan disia-siakan Allah dan (juga tidak) sedikit pun (tersia-siakan). Bahkan, Allah menjaganya untuk orang-orang yang mengamalkannya dan memberikan balasan yang sem-purna dengan pahala sesuai dengan amalan mereka. (31) Allah menyebutkan pahala mereka dengan berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ وَيَلۡبَسُونَ ثِيَابًا خُضۡرٗا مِّن سُندُسٖ وَإِسۡتَبۡرَقٖ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۚ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan Surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya, dalam surga itu me-reka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah," [merekalah] maksudnya mereka yang berkarakter dengan keimanan dan amal shalih mendapatkan surga-surga yang tinggi yang pepohonannya sungguh banyak, hingga menutupi orang yang berada di dalamnya, sungai-sungainya pun banyak, mengalir di bawah pepohonan yang elok dan tempat-tempat kediaman yang tinggi, perhiasan mereka di dalamnya ter-buat dari emas, pakaian mereka terbuat dari sutra hijau dari jenis sutra sundus yaitu sutra yang halus dan istabraq yaitu sutra yang tebal. Mereka dalam keadaan bersandar di atas dipan-dipan yang indah, yaitu ranjang-ranjang yang dihiasi lagi diperindah dengan aksesoris yang mewah. Karena tidaklah ia dinamakan arikah (ran-jang-ranjang mewah) sehingga (harus) menjadi seperti itu. Cara duduk mereka yang menyandar di atas dipan-dipan yang indah itu menunjukkan bentuk istirahat yang sempurna, hilangnya rasa capai dan kelelahan, disertai mobilitas pelayan untuk menyuguh-kan sesuatu yang mereka inginkan. Sebagai penyempurna kenik-matan itu, kekekalan yang lestari dan masa menetap yang abadi, maka kampung yang mulia ini, ﴾ نِعۡمَ ٱلثَّوَابُ ﴿ "adalah pahala yang sebaik-baiknya," untuk orang-orang yang beramal ﴾ وَحَسُنَتۡ مُرۡتَفَقٗا 31 ﴿ "dan tempat istirahat yang indah." Mereka merasa nyaman di dalamnya dan bersenang-senang dengan apa yang disukai oleh jiwa, membuat sejuk pandangan mata, berupa kegembiraan, kesenangan, dan ke-bahagiaan yang abadi, kelezatan yang berturut-turut dan kenikmatan yang melimpah. Tempat istirahat mana yang lebih bagus daripada kampung ini? Serendah-serendah tingkatan penghuninya, dia (bisa) berjalan di kerajaannya, kenikmatan, istana-istana, dan kebun-kebunnya selama waktu dua ribu tahun. Sementara itu, dia tidak merasa me-lihat kenikmatan yang melebihi kenikmatan yang telah dia peroleh. Semua angan-angan dan kebutuhannya telah diberikan kepadanya. Ditambah lagi dengan kenikmatan yang tak terjangkau oleh angan-angan mereka. Bersama dengan semua itu, kenikmatan mereka tetap abadi, terus bertambah sifat-sifat dan keindahannya. Kita memohon kepada Allah agar Dia tidak mengharamkan kita dari kebaikan apa saja yang ada di sisiNya, disebabkan keburukan yang ada pada kita berupa kelalaian dan kemaksiatan. Ayat ini dan ayat semisalnya menunjukkan bahwa perhiasan itu umum bagi laki-laki dan wanita, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits shahih, karena Allah menyebutkannya dalam bentuk umum dalam FirmanNya, ﴾ يُحَلَّوۡنَ ﴿ "mereka dihiasi" begitu pula sutra dan yang sepertinya.

Al-Kahf 18:30

"Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah dia kafir.' Sesungguh-nya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang pa-ling buruk, dan tempat istirahat yang paling jelek. Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shalih, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amal-an(nya) dengan baik. Mereka itulah (orang-orang yang) mendapat-kan surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah." (Al-Kahfi: 29-31). (29) Maksudnya ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad ke-pada umat manusia, bahwa ﴾ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "kebenaran itu datangnya dari Rabbmu," maksudnya, sungguh telah menjadi jelas antara petun-juk dengan kebatilan, kebenaran dengan kesesatan, sifat-sifat orang-orang yang berbahagia dengan sifat-sifat orang-orang yang seng-sara. Demikian itu berdasarkan hasil penjelasan Allah melalui lisan RasulNya. Apabila telah jelas, nampak, dan tidak ada kesamaran padanya ﴾ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "maka barangsiapa yang ingin (ber-iman), hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah dia kafir," maksudnya tidak ada pilihan kecuali menempuh salah satu dari dua jalan sesuai dengan adanya taufik bagi seorang ham-ba atau tidaknya. Allah telah memberinya kehendak untuk memilih antara keimanan dan kekufuran, kebaikan dan keburukan. Barang-siapa beriman, maka sungguh dia telah diberi taufik menuju ke-benaran, dan barangsiapa yang kafir, maka sungguh hujjah telah tegak atasnya, tidak ada yang memaksanya untuk beriman. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ ﴿ "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat." (Al-Baqarah: 256). [Bukan berarti dalam Firman Allah, ﴾ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah dia kafir," mengandung penger-tian dibolehkannya dua perbuatan tersebut. Akan tetapi, hal itu merupakan peringatan dan ancaman bagi orang yang memilih ke-kafiran setelah adanya penjelasan yang sempurna. Sebagaimana ayat itu memuat pengertian untuk membiarkan orang-orang yang kafir tanpa diperangi]. Kemudian Allah تعالى menyebutkan tempat kembali dua golo-ngan itu. Allah berfirman, ﴾ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang yang zhalim itu," karena kekufuran, kefa-sikan, dan kemaksiatan mereka ﴾ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ ﴿ "neraka yang gejo-laknya mengepung mereka," maksudnya pagar-pagarnya mengelilingi mereka, maka tidak ada celah keluar dan jalan untuk melarikan diri meninggalkannya. Api neraka membakar mereka. ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ ﴿ "Dan jika mereka meminta minum," maksudnya meminta minum untuk melenyapkan rasa haus yang mencekik ﴾ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ ﴿ "nis-caya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih," maksudnya seperti timah yang mencair atau seperti kerak minyak karena sangat panas ﴾ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ ﴿ "yang menghanguskan muka." Maka bagaimana (jadinya) dengan usus-usus dan perut-perut mereka?! Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ 20 وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ 21 ﴿ "Dengan air itu dihancurluluhkan segala yang ada dalam perut me-reka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka, cambuk-cambuk dari besi." (Al-Hajj: 20-21). ﴾ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ ﴿ "Itulah minuman yang paling buruk," yang dituju-kan untuk menghilangkan rasa dahaga dan menolak sebagian azab, namun malah menjadi penambah siksa mereka dan kedahsyatan hukuman mereka. ﴾ وَسَآءَتۡ ﴿ "Dan yang paling jelek," maksudnya, ne-raka itu (adalah tempat yang paling jelek sebagai) ﴾ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "tempat istirahat." Ini merupakan celaan tentang keadaan neraka, bahwasa-nya neraka merupakan seburuk-buruk tempat yang digunakan se-bagai tempat beristirahat, karena tidak ada tempat nyaman di dalam-nya. Akan tetapi, di dalamnya adalah siksa yang besar dan berat, yang tidak berhenti barang sesaat pun dari mereka. Mereka berduka cita di dalamnya, berputus asa dari segala kebaikan. Allah Yang Maha Pengasih telah melupakan (tidak mempedulikan) mereka berada dalam siksa sebagaimana mereka telah melupakanNya (di dunia). (30) Kemudian Allah menyebut golongan yang kedua seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shalih," maksudnya, mereka yang menggabung-kan antara keimanan kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-RasulNya, Hari Akhir dan takdir baik dan buruk dengan amal shalih, dari yang wajib maupun yang mustahab, ﴾ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ مَنۡ أَحۡسَنَ عَمَلًا 30 ﴿ "tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik," amalan yang baik maksudnya apabila seorang hamba menginginkan dengan amalannya itu Wajah Allah dan mengikuti syariat Allah, maka amalan inilah yang tidak akan disia-siakan Allah dan (juga tidak) sedikit pun (tersia-siakan). Bahkan, Allah menjaganya untuk orang-orang yang mengamalkannya dan memberikan balasan yang sem-purna dengan pahala sesuai dengan amalan mereka. (31) Allah menyebutkan pahala mereka dengan berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ وَيَلۡبَسُونَ ثِيَابًا خُضۡرٗا مِّن سُندُسٖ وَإِسۡتَبۡرَقٖ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۚ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan Surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya, dalam surga itu me-reka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah," [merekalah] maksudnya mereka yang berkarakter dengan keimanan dan amal shalih mendapatkan surga-surga yang tinggi yang pepohonannya sungguh banyak, hingga menutupi orang yang berada di dalamnya, sungai-sungainya pun banyak, mengalir di bawah pepohonan yang elok dan tempat-tempat kediaman yang tinggi, perhiasan mereka di dalamnya ter-buat dari emas, pakaian mereka terbuat dari sutra hijau dari jenis sutra sundus yaitu sutra yang halus dan istabraq yaitu sutra yang tebal. Mereka dalam keadaan bersandar di atas dipan-dipan yang indah, yaitu ranjang-ranjang yang dihiasi lagi diperindah dengan aksesoris yang mewah. Karena tidaklah ia dinamakan arikah (ran-jang-ranjang mewah) sehingga (harus) menjadi seperti itu. Cara duduk mereka yang menyandar di atas dipan-dipan yang indah itu menunjukkan bentuk istirahat yang sempurna, hilangnya rasa capai dan kelelahan, disertai mobilitas pelayan untuk menyuguh-kan sesuatu yang mereka inginkan. Sebagai penyempurna kenik-matan itu, kekekalan yang lestari dan masa menetap yang abadi, maka kampung yang mulia ini, ﴾ نِعۡمَ ٱلثَّوَابُ ﴿ "adalah pahala yang sebaik-baiknya," untuk orang-orang yang beramal ﴾ وَحَسُنَتۡ مُرۡتَفَقٗا 31 ﴿ "dan tempat istirahat yang indah." Mereka merasa nyaman di dalamnya dan bersenang-senang dengan apa yang disukai oleh jiwa, membuat sejuk pandangan mata, berupa kegembiraan, kesenangan, dan ke-bahagiaan yang abadi, kelezatan yang berturut-turut dan kenikmatan yang melimpah. Tempat istirahat mana yang lebih bagus daripada kampung ini? Serendah-serendah tingkatan penghuninya, dia (bisa) berjalan di kerajaannya, kenikmatan, istana-istana, dan kebun-kebunnya selama waktu dua ribu tahun. Sementara itu, dia tidak merasa me-lihat kenikmatan yang melebihi kenikmatan yang telah dia peroleh. Semua angan-angan dan kebutuhannya telah diberikan kepadanya. Ditambah lagi dengan kenikmatan yang tak terjangkau oleh angan-angan mereka. Bersama dengan semua itu, kenikmatan mereka tetap abadi, terus bertambah sifat-sifat dan keindahannya. Kita memohon kepada Allah agar Dia tidak mengharamkan kita dari kebaikan apa saja yang ada di sisiNya, disebabkan keburukan yang ada pada kita berupa kelalaian dan kemaksiatan. Ayat ini dan ayat semisalnya menunjukkan bahwa perhiasan itu umum bagi laki-laki dan wanita, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits shahih, karena Allah menyebutkannya dalam bentuk umum dalam FirmanNya, ﴾ يُحَلَّوۡنَ ﴿ "mereka dihiasi" begitu pula sutra dan yang sepertinya.

Al-Kahf 18:31

"Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah dia kafir.' Sesungguh-nya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang pa-ling buruk, dan tempat istirahat yang paling jelek. Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shalih, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amal-an(nya) dengan baik. Mereka itulah (orang-orang yang) mendapat-kan surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah." (Al-Kahfi: 29-31). (29) Maksudnya ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad ke-pada umat manusia, bahwa ﴾ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "kebenaran itu datangnya dari Rabbmu," maksudnya, sungguh telah menjadi jelas antara petun-juk dengan kebatilan, kebenaran dengan kesesatan, sifat-sifat orang-orang yang berbahagia dengan sifat-sifat orang-orang yang seng-sara. Demikian itu berdasarkan hasil penjelasan Allah melalui lisan RasulNya. Apabila telah jelas, nampak, dan tidak ada kesamaran padanya ﴾ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "maka barangsiapa yang ingin (ber-iman), hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah dia kafir," maksudnya tidak ada pilihan kecuali menempuh salah satu dari dua jalan sesuai dengan adanya taufik bagi seorang ham-ba atau tidaknya. Allah telah memberinya kehendak untuk memilih antara keimanan dan kekufuran, kebaikan dan keburukan. Barang-siapa beriman, maka sungguh dia telah diberi taufik menuju ke-benaran, dan barangsiapa yang kafir, maka sungguh hujjah telah tegak atasnya, tidak ada yang memaksanya untuk beriman. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ ﴿ "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat." (Al-Baqarah: 256). [Bukan berarti dalam Firman Allah, ﴾ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah dia kafir," mengandung penger-tian dibolehkannya dua perbuatan tersebut. Akan tetapi, hal itu merupakan peringatan dan ancaman bagi orang yang memilih ke-kafiran setelah adanya penjelasan yang sempurna. Sebagaimana ayat itu memuat pengertian untuk membiarkan orang-orang yang kafir tanpa diperangi]. Kemudian Allah تعالى menyebutkan tempat kembali dua golo-ngan itu. Allah berfirman, ﴾ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang yang zhalim itu," karena kekufuran, kefa-sikan, dan kemaksiatan mereka ﴾ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ ﴿ "neraka yang gejo-laknya mengepung mereka," maksudnya pagar-pagarnya mengelilingi mereka, maka tidak ada celah keluar dan jalan untuk melarikan diri meninggalkannya. Api neraka membakar mereka. ﴾ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ ﴿ "Dan jika mereka meminta minum," maksudnya meminta minum untuk melenyapkan rasa haus yang mencekik ﴾ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ ﴿ "nis-caya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih," maksudnya seperti timah yang mencair atau seperti kerak minyak karena sangat panas ﴾ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ ﴿ "yang menghanguskan muka." Maka bagaimana (jadinya) dengan usus-usus dan perut-perut mereka?! Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ 20 وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ 21 ﴿ "Dengan air itu dihancurluluhkan segala yang ada dalam perut me-reka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka, cambuk-cambuk dari besi." (Al-Hajj: 20-21). ﴾ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ ﴿ "Itulah minuman yang paling buruk," yang dituju-kan untuk menghilangkan rasa dahaga dan menolak sebagian azab, namun malah menjadi penambah siksa mereka dan kedahsyatan hukuman mereka. ﴾ وَسَآءَتۡ ﴿ "Dan yang paling jelek," maksudnya, ne-raka itu (adalah tempat yang paling jelek sebagai) ﴾ مُرۡتَفَقًا 29 ﴿ "tempat istirahat." Ini merupakan celaan tentang keadaan neraka, bahwasa-nya neraka merupakan seburuk-buruk tempat yang digunakan se-bagai tempat beristirahat, karena tidak ada tempat nyaman di dalam-nya. Akan tetapi, di dalamnya adalah siksa yang besar dan berat, yang tidak berhenti barang sesaat pun dari mereka. Mereka berduka cita di dalamnya, berputus asa dari segala kebaikan. Allah Yang Maha Pengasih telah melupakan (tidak mempedulikan) mereka berada dalam siksa sebagaimana mereka telah melupakanNya (di dunia). (30) Kemudian Allah menyebut golongan yang kedua seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shalih," maksudnya, mereka yang menggabung-kan antara keimanan kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-RasulNya, Hari Akhir dan takdir baik dan buruk dengan amal shalih, dari yang wajib maupun yang mustahab, ﴾ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ مَنۡ أَحۡسَنَ عَمَلًا 30 ﴿ "tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik," amalan yang baik maksudnya apabila seorang hamba menginginkan dengan amalannya itu Wajah Allah dan mengikuti syariat Allah, maka amalan inilah yang tidak akan disia-siakan Allah dan (juga tidak) sedikit pun (tersia-siakan). Bahkan, Allah menjaganya untuk orang-orang yang mengamalkannya dan memberikan balasan yang sem-purna dengan pahala sesuai dengan amalan mereka. (31) Allah menyebutkan pahala mereka dengan berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ وَيَلۡبَسُونَ ثِيَابًا خُضۡرٗا مِّن سُندُسٖ وَإِسۡتَبۡرَقٖ مُّتَّكِـِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۚ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan Surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya, dalam surga itu me-reka dihiasi dengan gelang emas, dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah," [merekalah] maksudnya mereka yang berkarakter dengan keimanan dan amal shalih mendapatkan surga-surga yang tinggi yang pepohonannya sungguh banyak, hingga menutupi orang yang berada di dalamnya, sungai-sungainya pun banyak, mengalir di bawah pepohonan yang elok dan tempat-tempat kediaman yang tinggi, perhiasan mereka di dalamnya ter-buat dari emas, pakaian mereka terbuat dari sutra hijau dari jenis sutra sundus yaitu sutra yang halus dan istabraq yaitu sutra yang tebal. Mereka dalam keadaan bersandar di atas dipan-dipan yang indah, yaitu ranjang-ranjang yang dihiasi lagi diperindah dengan aksesoris yang mewah. Karena tidaklah ia dinamakan arikah (ran-jang-ranjang mewah) sehingga (harus) menjadi seperti itu. Cara duduk mereka yang menyandar di atas dipan-dipan yang indah itu menunjukkan bentuk istirahat yang sempurna, hilangnya rasa capai dan kelelahan, disertai mobilitas pelayan untuk menyuguh-kan sesuatu yang mereka inginkan. Sebagai penyempurna kenik-matan itu, kekekalan yang lestari dan masa menetap yang abadi, maka kampung yang mulia ini, ﴾ نِعۡمَ ٱلثَّوَابُ ﴿ "adalah pahala yang sebaik-baiknya," untuk orang-orang yang beramal ﴾ وَحَسُنَتۡ مُرۡتَفَقٗا 31 ﴿ "dan tempat istirahat yang indah." Mereka merasa nyaman di dalamnya dan bersenang-senang dengan apa yang disukai oleh jiwa, membuat sejuk pandangan mata, berupa kegembiraan, kesenangan, dan ke-bahagiaan yang abadi, kelezatan yang berturut-turut dan kenikmatan yang melimpah. Tempat istirahat mana yang lebih bagus daripada kampung ini? Serendah-serendah tingkatan penghuninya, dia (bisa) berjalan di kerajaannya, kenikmatan, istana-istana, dan kebun-kebunnya selama waktu dua ribu tahun. Sementara itu, dia tidak merasa me-lihat kenikmatan yang melebihi kenikmatan yang telah dia peroleh. Semua angan-angan dan kebutuhannya telah diberikan kepadanya. Ditambah lagi dengan kenikmatan yang tak terjangkau oleh angan-angan mereka. Bersama dengan semua itu, kenikmatan mereka tetap abadi, terus bertambah sifat-sifat dan keindahannya. Kita memohon kepada Allah agar Dia tidak mengharamkan kita dari kebaikan apa saja yang ada di sisiNya, disebabkan keburukan yang ada pada kita berupa kelalaian dan kemaksiatan. Ayat ini dan ayat semisalnya menunjukkan bahwa perhiasan itu umum bagi laki-laki dan wanita, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits shahih, karena Allah menyebutkannya dalam bentuk umum dalam FirmanNya, ﴾ يُحَلَّوۡنَ ﴿ "mereka dihiasi" begitu pula sutra dan yang sepertinya.

Al-Kahf 18:32

"Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi salah seorang dari keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur, dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma, dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada berkurang buahnya sedikit pun, dan Kami alir-kan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang Muk-min) ketika dia bercakap-cakap dengannya, 'Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat'." (Al-Kahfi: 32-34). (32) Allah berfirman kepada NabiNya, "Berikanlah perum-pamaan dua orang laki-laki ini kepada umat manusia. Yaitu, orang yang mensyukuri nikmat Allah dan yang mengkufurinya serta se-gala sesuatu yang mereka perbuat dan katakan, peristiwa-peristiwa yang terjadi karenanya, berupa hukuman langsung dan tunda (hukuman dunia dan akhirat) serta pahala, supaya mereka dapat mengambil pelajaran tentang kondisi keduanya dan mengambil hikmah dengan apa yang terjadi pada mereka. Tidaklah pengetahuan tentang personal dua orang laki-laki itu, masa, dan tempat mereka mengandung faidah atau suatu hasil tertentu. Karena, intisari manfaat tergapai hanya dengan kisah dua orang tersebut saja. Mencari tahu tentang keterangan selain dari itu (hanya) merupakan sikap memaksakan diri. Salah satu di antara dua orang laki-laki ini, yang mengingkari nikmat Allah, maka Allah menjadikan dua kebun untuknya. Yaitu dua kebun indah ﴾ مِنۡ أَعۡنَٰبٖ وَحَفَفۡنَٰهُمَا بِنَخۡلٖ ﴿ "dari kebun anggur, dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma," maksudnya dalam dua kebun ini terdapat segala jenis pepohonan, khususnya pohon yang paling bagus yaitu, anggur dan kurma. Pohon anggur berada di tengah-tengahnya, sedangkan pohon kurma meliputi dan mengelilinginya. Maka, muncullah pemandangan yang indah nan memikat, dan tampak secara nyata bahwa pepohonan dan pohon kurma tersebut (mendapatkan) sinar matahari dan angin yang akan menyempur-nakan buah-buahan dan menjadikannya matang. Bersama itu pula, Allah menjadikan tanaman-tanaman di antara pepohonan tersebut. (33) Tidak ada pertanyaan tentang dua kebun itu kecuali dikatakan, bagaimana buah-buahan kebun tersebut? Apakah ada air yang mencukupinya? Lalu Allah تعالى mengabarkan bahwa ma-sing-masing dari ﴾ ٱلۡجَنَّتَيۡنِ ءَاتَتۡ أُكُلَهَا ﴿ "kedua kebun itu menghasilkan buah-nya," maksudnya, buahnya dan tanamannya berlipat ganda. Artinya, melimpah ruah. Dan sesungguhnya kebun tersebut ﴾ لَمۡ تَظۡلِم مِّنۡهُ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "tiada berkurang buahnya sedikit pun," artinya: Tidak berkurang buah-nya sedikit pun. Ditambah lagi, di sisi kanan-kirinya, sungai-sungai mengalir dengan deras.

Al-Kahf 18:33

"Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi salah seorang dari keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur, dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma, dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada berkurang buahnya sedikit pun, dan Kami alir-kan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang Muk-min) ketika dia bercakap-cakap dengannya, 'Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat'." (Al-Kahfi: 32-34). (32) Allah berfirman kepada NabiNya, "Berikanlah perum-pamaan dua orang laki-laki ini kepada umat manusia. Yaitu, orang yang mensyukuri nikmat Allah dan yang mengkufurinya serta se-gala sesuatu yang mereka perbuat dan katakan, peristiwa-peristiwa yang terjadi karenanya, berupa hukuman langsung dan tunda (hukuman dunia dan akhirat) serta pahala, supaya mereka dapat mengambil pelajaran tentang kondisi keduanya dan mengambil hikmah dengan apa yang terjadi pada mereka. Tidaklah pengetahuan tentang personal dua orang laki-laki itu, masa, dan tempat mereka mengandung faidah atau suatu hasil tertentu. Karena, intisari manfaat tergapai hanya dengan kisah dua orang tersebut saja. Mencari tahu tentang keterangan selain dari itu (hanya) merupakan sikap memaksakan diri. Salah satu di antara dua orang laki-laki ini, yang mengingkari nikmat Allah, maka Allah menjadikan dua kebun untuknya. Yaitu dua kebun indah ﴾ مِنۡ أَعۡنَٰبٖ وَحَفَفۡنَٰهُمَا بِنَخۡلٖ ﴿ "dari kebun anggur, dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma," maksudnya dalam dua kebun ini terdapat segala jenis pepohonan, khususnya pohon yang paling bagus yaitu, anggur dan kurma. Pohon anggur berada di tengah-tengahnya, sedangkan pohon kurma meliputi dan mengelilinginya. Maka, muncullah pemandangan yang indah nan memikat, dan tampak secara nyata bahwa pepohonan dan pohon kurma tersebut (mendapatkan) sinar matahari dan angin yang akan menyempur-nakan buah-buahan dan menjadikannya matang. Bersama itu pula, Allah menjadikan tanaman-tanaman di antara pepohonan tersebut. (33) Tidak ada pertanyaan tentang dua kebun itu kecuali dikatakan, bagaimana buah-buahan kebun tersebut? Apakah ada air yang mencukupinya? Lalu Allah تعالى mengabarkan bahwa ma-sing-masing dari ﴾ ٱلۡجَنَّتَيۡنِ ءَاتَتۡ أُكُلَهَا ﴿ "kedua kebun itu menghasilkan buah-nya," maksudnya, buahnya dan tanamannya berlipat ganda. Artinya, melimpah ruah. Dan sesungguhnya kebun tersebut ﴾ لَمۡ تَظۡلِم مِّنۡهُ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "tiada berkurang buahnya sedikit pun," artinya: Tidak berkurang buah-nya sedikit pun. Ditambah lagi, di sisi kanan-kirinya, sungai-sungai mengalir dengan deras.

Al-Kahf 18:34

"Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zhalim terhadap dirinya sendiri; dia berkata, 'Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu'." (Al-Kahfi : 35-36). (34) ﴾ وَكَانَ لَهُۥ ﴿ "Dan dia mempunyai," laki-laki itu mempunyai ﴾ ثَمَرٞ ﴿ "kekayaan besar," (kekayaan) yang sangat besar, sebagaimana makna yang dikandung oleh bentuk nakirah (indefinite noun). Mak-sudnya: Kedua kebun tersebut benar-benar sempurna buahnya, sangat kuat pohon-pohonnya dan belum pernah terserang penyakit atau hal yang mencacatinya. Ini merupakan titik klimaks perhias-an dunia dalam masalah tanaman. Oleh karena itu, laki-laki ini tertipu, berbangga diri dan bermegah-megah, tapi melupakan akhi-ratnya. Maka berkatalah pemilik kedua kebun itu kepada temannya yang Mukmin saat mereka berdua berbincang-bincang. Yakni, se-dang berdiskusi tentang sebagian kejadian hidup yang biasa ber-laku dengan nada membanggakan diri di hadapan temannya (yang beriman), ﴾ أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالٗا وَأَعَزُّ نَفَرٗا 34 ﴿ "Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat." Dia bangga karena harta-nya banyak dan penolong-penolongnya yang kuat dari kalangan budak, pembantu, dan kerabat-kerabatnya. Ini merupakan sudut kejahilan darinya. Kalau bukan demikian, kebanggaan apa pun dengan hal-hal yang berada di luar fisiknya, yang tidak memiliki keutamaan psikologis dan sifat maknawi, maka kebanggaannya itu ibarat kebanggaan seorang anak dengan angan-angan (kosong) yang tidak ada kepastian hakikatnya! (35-36) Lalu rasa bangga di hadapan temannya itu tidak cukup sampai di situ, sampai akhirnya dia menetapkan dengan kejahilan dan kebodohannya dan menyangka tatkala masuk ke dalam kebunnya ﴾ قَالَ مَآ أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِۦٓ ﴿ "Ia berkata, 'Aku kira kebun ini tidak akan binasa '," yaitu terputus dan sirna ﴾ أَبَدٗا 35 ﴿ "selama-lama-nya." Dia merasa tenang dan ridha dengan dunia serta mengingkari Hari Kebangkitan. Dia berkata, ﴾ وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةٗ وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "Dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembali-kan kepada Rabbku," sebagai prediksinya ﴾ لَأَجِدَنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهَا مُنقَلَبٗا 36 ﴿ "pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu," maksudnya Dia akan memberikan kepadaku yang lebih baik daripada kedua kebun ini! Perkataan ini tidak lepas dari dua per-kara, boleh jadi dia mengetahui kepastian keadaan, jadi perkataan-nya ini ditujukan untuk mengejek dan mengolok-olok, sehingga menjadi bentuk tambahan kekufuran kepada kekufuran (sebelum-nya), atau, perkataannya itu adalah benar-benar prasangka murni terhadap sebuah kepastian. Maka, jadilah dia orang yang paling bodoh, lagi pincang akal-nya. Apakah terdapat korelasi antara kenikmatan dunia dengan kenikmatan akhirat, hingga dia menyangka dengan kebodohan-nya, barangsiapa diberi kenikmatan di dunia, pasti akan diberi kenikmatan pula di akhirat?! Bahkan pada umumnya, Allah تعالى menjauhkan dunia dari wali-wali dan orang-orang pilihanNya, lalu memudahkannya bagi musuh-musuhNya yang tidak memiliki apa-apa di akhirat. Secara tekstual, dia mengetahui kepastian keadaan. Akan te-tapi, dia mengatakan perkataan ini dalam rangka melontarkan ejekan dan olokan dengan dalil Fiman Allah, ﴾ وَدَخَلَ جَنَّتَهُۥ وَهُوَ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ ﴿ "Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zhalim terhadap dirinya sendiri." Penetapan bahwa dia bersifat zhalim ketika memasukinya, yang kemudian muncul ucapannya yang telah terjadi itu, menunjukkan kesombongan dan kecongkakannya.

Al-Kahf 18:35

"Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zhalim terhadap dirinya sendiri; dia berkata, 'Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu'." (Al-Kahfi : 35-36). (34) ﴾ وَكَانَ لَهُۥ ﴿ "Dan dia mempunyai," laki-laki itu mempunyai ﴾ ثَمَرٞ ﴿ "kekayaan besar," (kekayaan) yang sangat besar, sebagaimana makna yang dikandung oleh bentuk nakirah (indefinite noun). Mak-sudnya: Kedua kebun tersebut benar-benar sempurna buahnya, sangat kuat pohon-pohonnya dan belum pernah terserang penyakit atau hal yang mencacatinya. Ini merupakan titik klimaks perhias-an dunia dalam masalah tanaman. Oleh karena itu, laki-laki ini tertipu, berbangga diri dan bermegah-megah, tapi melupakan akhi-ratnya. Maka berkatalah pemilik kedua kebun itu kepada temannya yang Mukmin saat mereka berdua berbincang-bincang. Yakni, se-dang berdiskusi tentang sebagian kejadian hidup yang biasa ber-laku dengan nada membanggakan diri di hadapan temannya (yang beriman), ﴾ أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالٗا وَأَعَزُّ نَفَرٗا 34 ﴿ "Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat." Dia bangga karena harta-nya banyak dan penolong-penolongnya yang kuat dari kalangan budak, pembantu, dan kerabat-kerabatnya. Ini merupakan sudut kejahilan darinya. Kalau bukan demikian, kebanggaan apa pun dengan hal-hal yang berada di luar fisiknya, yang tidak memiliki keutamaan psikologis dan sifat maknawi, maka kebanggaannya itu ibarat kebanggaan seorang anak dengan angan-angan (kosong) yang tidak ada kepastian hakikatnya! (35-36) Lalu rasa bangga di hadapan temannya itu tidak cukup sampai di situ, sampai akhirnya dia menetapkan dengan kejahilan dan kebodohannya dan menyangka tatkala masuk ke dalam kebunnya ﴾ قَالَ مَآ أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِۦٓ ﴿ "Ia berkata, 'Aku kira kebun ini tidak akan binasa '," yaitu terputus dan sirna ﴾ أَبَدٗا 35 ﴿ "selama-lama-nya." Dia merasa tenang dan ridha dengan dunia serta mengingkari Hari Kebangkitan. Dia berkata, ﴾ وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةٗ وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "Dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembali-kan kepada Rabbku," sebagai prediksinya ﴾ لَأَجِدَنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهَا مُنقَلَبٗا 36 ﴿ "pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu," maksudnya Dia akan memberikan kepadaku yang lebih baik daripada kedua kebun ini! Perkataan ini tidak lepas dari dua per-kara, boleh jadi dia mengetahui kepastian keadaan, jadi perkataan-nya ini ditujukan untuk mengejek dan mengolok-olok, sehingga menjadi bentuk tambahan kekufuran kepada kekufuran (sebelum-nya), atau, perkataannya itu adalah benar-benar prasangka murni terhadap sebuah kepastian. Maka, jadilah dia orang yang paling bodoh, lagi pincang akal-nya. Apakah terdapat korelasi antara kenikmatan dunia dengan kenikmatan akhirat, hingga dia menyangka dengan kebodohan-nya, barangsiapa diberi kenikmatan di dunia, pasti akan diberi kenikmatan pula di akhirat?! Bahkan pada umumnya, Allah تعالى menjauhkan dunia dari wali-wali dan orang-orang pilihanNya, lalu memudahkannya bagi musuh-musuhNya yang tidak memiliki apa-apa di akhirat. Secara tekstual, dia mengetahui kepastian keadaan. Akan te-tapi, dia mengatakan perkataan ini dalam rangka melontarkan ejekan dan olokan dengan dalil Fiman Allah, ﴾ وَدَخَلَ جَنَّتَهُۥ وَهُوَ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ ﴿ "Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zhalim terhadap dirinya sendiri." Penetapan bahwa dia bersifat zhalim ketika memasukinya, yang kemudian muncul ucapannya yang telah terjadi itu, menunjukkan kesombongan dan kecongkakannya.

Al-Kahf 18:36

"Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zhalim terhadap dirinya sendiri; dia berkata, 'Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu'." (Al-Kahfi : 35-36). (34) ﴾ وَكَانَ لَهُۥ ﴿ "Dan dia mempunyai," laki-laki itu mempunyai ﴾ ثَمَرٞ ﴿ "kekayaan besar," (kekayaan) yang sangat besar, sebagaimana makna yang dikandung oleh bentuk nakirah (indefinite noun). Mak-sudnya: Kedua kebun tersebut benar-benar sempurna buahnya, sangat kuat pohon-pohonnya dan belum pernah terserang penyakit atau hal yang mencacatinya. Ini merupakan titik klimaks perhias-an dunia dalam masalah tanaman. Oleh karena itu, laki-laki ini tertipu, berbangga diri dan bermegah-megah, tapi melupakan akhi-ratnya. Maka berkatalah pemilik kedua kebun itu kepada temannya yang Mukmin saat mereka berdua berbincang-bincang. Yakni, se-dang berdiskusi tentang sebagian kejadian hidup yang biasa ber-laku dengan nada membanggakan diri di hadapan temannya (yang beriman), ﴾ أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالٗا وَأَعَزُّ نَفَرٗا 34 ﴿ "Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat." Dia bangga karena harta-nya banyak dan penolong-penolongnya yang kuat dari kalangan budak, pembantu, dan kerabat-kerabatnya. Ini merupakan sudut kejahilan darinya. Kalau bukan demikian, kebanggaan apa pun dengan hal-hal yang berada di luar fisiknya, yang tidak memiliki keutamaan psikologis dan sifat maknawi, maka kebanggaannya itu ibarat kebanggaan seorang anak dengan angan-angan (kosong) yang tidak ada kepastian hakikatnya! (35-36) Lalu rasa bangga di hadapan temannya itu tidak cukup sampai di situ, sampai akhirnya dia menetapkan dengan kejahilan dan kebodohannya dan menyangka tatkala masuk ke dalam kebunnya ﴾ قَالَ مَآ أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِۦٓ ﴿ "Ia berkata, 'Aku kira kebun ini tidak akan binasa '," yaitu terputus dan sirna ﴾ أَبَدٗا 35 ﴿ "selama-lama-nya." Dia merasa tenang dan ridha dengan dunia serta mengingkari Hari Kebangkitan. Dia berkata, ﴾ وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةٗ وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي ﴿ "Dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembali-kan kepada Rabbku," sebagai prediksinya ﴾ لَأَجِدَنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهَا مُنقَلَبٗا 36 ﴿ "pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu," maksudnya Dia akan memberikan kepadaku yang lebih baik daripada kedua kebun ini! Perkataan ini tidak lepas dari dua per-kara, boleh jadi dia mengetahui kepastian keadaan, jadi perkataan-nya ini ditujukan untuk mengejek dan mengolok-olok, sehingga menjadi bentuk tambahan kekufuran kepada kekufuran (sebelum-nya), atau, perkataannya itu adalah benar-benar prasangka murni terhadap sebuah kepastian. Maka, jadilah dia orang yang paling bodoh, lagi pincang akal-nya. Apakah terdapat korelasi antara kenikmatan dunia dengan kenikmatan akhirat, hingga dia menyangka dengan kebodohan-nya, barangsiapa diberi kenikmatan di dunia, pasti akan diberi kenikmatan pula di akhirat?! Bahkan pada umumnya, Allah تعالى menjauhkan dunia dari wali-wali dan orang-orang pilihanNya, lalu memudahkannya bagi musuh-musuhNya yang tidak memiliki apa-apa di akhirat. Secara tekstual, dia mengetahui kepastian keadaan. Akan te-tapi, dia mengatakan perkataan ini dalam rangka melontarkan ejekan dan olokan dengan dalil Fiman Allah, ﴾ وَدَخَلَ جَنَّتَهُۥ وَهُوَ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ ﴿ "Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zhalim terhadap dirinya sendiri." Penetapan bahwa dia bersifat zhalim ketika memasukinya, yang kemudian muncul ucapannya yang telah terjadi itu, menunjukkan kesombongan dan kecongkakannya.

Al-Kahf 18:37

"Kawannya (yang Mukmin) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya, 'Apakah kamu kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna. Tetapi aku (percaya bahwa) Dia-lah Allah, Rabbku, dan aku tidak mem-persekutukan seorang pun dengan Rabbku'." (Al-Kahfi: 37-38). (37) Temannya yang Mukmin berkata untuk menasihati dan mengingatkan keadaan pertamanya ketika Allah menjadikan diri-nya di dunia dalam bentuk tersebut yaitu, ﴾ مِن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ سَوَّىٰكَ رَجُلٗا 37 ﴿ "dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna," Dia-lah Allah yang mengarunia-kan kepadamu nikmat penciptaan dan bantuan, dan senantiasa mencurahkan kenikmatan kepadamu secara silih-berganti serta mengalihkanmu dari satu fase ke fase berikutnya sampai Allah menjadikanmu sebagai seorang laki-laki dengan anggota fisik yang sempurna, anggota tubuh yang teraba maupun yang abstrak. Dengan itu, Allah memudahkan bagimu segala sebab-sebab kemudahan, menyiapkan untukmu kenikmatan-kenikmatan dunia. Engkau tidak mendapatkan dunia dengan upaya dan kekuatanmu sendiri. Tetapi, karena karunia Allah kepadamu. Maka, apakah patut engkau mengingkari Allah yang telah menciptakanmu dari tanah kemudian dari setetes air mani, lalu menjadikanmu sebagai seorang laki-laki yang sempurna, sementara engkau tidak peduli dengan nikmatNya dan menyangka bahwa Dia tidak akan mampu membangkitkanmu, (dan menyangka) kalau Dia membangkitkan-mu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu karunia yang lebih baik dari kebunmu?! Ini merupakan hal yang tidak pantas dan tidak layak. (38) Oleh karena itu, tatkala temannya yang beriman melihat kondisinya dan konsistensinya dalam kekufuran dan kezhaliman, maka temannya itu berkata mengabarkan tentang dirinya dengan nada bersyukur kepada Rabbnya dan menegaskan agamanya ketika terjadi perdebatan-perdebatan dan lontaran-lontaran syubhat, ﴾ لَّٰكِنَّا۠ هُوَ ٱللَّهُ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا 38 ﴿ "Tetapi aku (percaya bahwa), 'Dia-lah Allah, Rabbku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku'," dia mengakui rububiyah Allah dan keesaanNya dalam rububiyah, dia konsisten dalam ketaatan dan ibadah kepadaNya, dan bahwa-sanya dia tidak akan mempersekutukanNya dengan siapa pun dari makhlukNya. Kemudian, dia mengabarkan bahwa nikmat Allah kepadanya berupa keimanan dan Islam, sekalipun harta dan anaknya sedikit, sesungguhnya merupakan kenikmatan yang sebenarnya. Adapun kenikmatan selain itu, akan terancam musnah dan hukuman serta siksaan terhadapnya. Dia berkata,

Al-Kahf 18:38

"Kawannya (yang Mukmin) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya, 'Apakah kamu kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna. Tetapi aku (percaya bahwa) Dia-lah Allah, Rabbku, dan aku tidak mem-persekutukan seorang pun dengan Rabbku'." (Al-Kahfi: 37-38). (37) Temannya yang Mukmin berkata untuk menasihati dan mengingatkan keadaan pertamanya ketika Allah menjadikan diri-nya di dunia dalam bentuk tersebut yaitu, ﴾ مِن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ سَوَّىٰكَ رَجُلٗا 37 ﴿ "dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna," Dia-lah Allah yang mengarunia-kan kepadamu nikmat penciptaan dan bantuan, dan senantiasa mencurahkan kenikmatan kepadamu secara silih-berganti serta mengalihkanmu dari satu fase ke fase berikutnya sampai Allah menjadikanmu sebagai seorang laki-laki dengan anggota fisik yang sempurna, anggota tubuh yang teraba maupun yang abstrak. Dengan itu, Allah memudahkan bagimu segala sebab-sebab kemudahan, menyiapkan untukmu kenikmatan-kenikmatan dunia. Engkau tidak mendapatkan dunia dengan upaya dan kekuatanmu sendiri. Tetapi, karena karunia Allah kepadamu. Maka, apakah patut engkau mengingkari Allah yang telah menciptakanmu dari tanah kemudian dari setetes air mani, lalu menjadikanmu sebagai seorang laki-laki yang sempurna, sementara engkau tidak peduli dengan nikmatNya dan menyangka bahwa Dia tidak akan mampu membangkitkanmu, (dan menyangka) kalau Dia membangkitkan-mu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu karunia yang lebih baik dari kebunmu?! Ini merupakan hal yang tidak pantas dan tidak layak. (38) Oleh karena itu, tatkala temannya yang beriman melihat kondisinya dan konsistensinya dalam kekufuran dan kezhaliman, maka temannya itu berkata mengabarkan tentang dirinya dengan nada bersyukur kepada Rabbnya dan menegaskan agamanya ketika terjadi perdebatan-perdebatan dan lontaran-lontaran syubhat, ﴾ لَّٰكِنَّا۠ هُوَ ٱللَّهُ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا 38 ﴿ "Tetapi aku (percaya bahwa), 'Dia-lah Allah, Rabbku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku'," dia mengakui rububiyah Allah dan keesaanNya dalam rububiyah, dia konsisten dalam ketaatan dan ibadah kepadaNya, dan bahwa-sanya dia tidak akan mempersekutukanNya dengan siapa pun dari makhlukNya. Kemudian, dia mengabarkan bahwa nikmat Allah kepadanya berupa keimanan dan Islam, sekalipun harta dan anaknya sedikit, sesungguhnya merupakan kenikmatan yang sebenarnya. Adapun kenikmatan selain itu, akan terancam musnah dan hukuman serta siksaan terhadapnya. Dia berkata,

Al-Kahf 18:39

"Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala memasuki kebunmu, 'Sungguh atas kehendak Allah (semua ini terwujud)! Tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.' Sekira-nya kamu menganggapku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku, akan memberi kepada-ku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.' Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) ter-hadap sesuatu yang telah dia belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya, dan dia berkata, 'Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.' Dan tidak ada baginya segolongan pun yang menolong-nya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan." (AL-Kahfi : 39-44). (39) Sahabat yang beriman berkata kepada kawannya yang kafir, "Engkau, sekalipun membanggakan diri di depanku dengan harta dan anakmu yang banyak, dan kamu melihatku ﴾ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا 39 ﴿ "lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan," sesung-guhnya sesuatu yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal, apa yang diharapkan dari kebaikan dan curahan kebajikanNya lebih utama daripada seluruh (kenikmatan) dunia yang mana orang-orang berlomba-lomba di dalamnya. (40) ﴾ فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا ﴿ "Maka mudah-mudah-an Rabbku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan kepada kebunmu," maksudnya, (mengirimkan) kepada kebunmu yang mana karena-nya engkau berbuat melampaui batas dan ia memperdayakanmu ﴾ حُسۡبَانٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "ketentuan (petir) dari langit," yaitu azab dengan hujan deras atau yang semacamnya ﴾ فَتُصۡبِحَ ﴿ "hingga (kebun itu)," lantaran azab tersebut ﴾ صَعِيدٗا زَلَقًا 40 ﴿ "menjadi tanah yang licin." Po-hon-pohonnya tercabut, buah-buahannya rusak, tanaman-tanaman-nya tergenangi air dan kemanfaatannya lenyap. (41) ﴾ أَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا ﴿ "Atau airnya menjadi," yaitu air yang materi (pertumbuhannya) berasal darinya ﴾ غَوۡرٗا ﴿ "surut ke dalam tanah," masuk ke dalam tanah ﴾ فَلَن تَسۡتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبٗا 41 ﴿ "maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi," maksudnya airnya masuk ke tanah dan tidak bisa dicapai lagi, baik dengan cangkul ataupun alat lain-nya. Temannya yang Mukmin itu hanya mendoakan keburukan ter-hadap kebunnya (orang yang mengingkari nikmat Allah), lantaran didorong rasa marah karena Allah. Sebab kebun itu telah memper-dayainya dan membuatnya melampaui batas dan dia merasa ten-teram dengannya. Mungkin saja, ia mau bertaubat, kembali sadar dan memperhatikan urusannya. (42) Maka Allah mengabulkan doanya ﴾ وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِۦ ﴿ "dan harta kekayaannya dibinasakan," maksudnya, siksaan yang merata telah menimpanya dan memusnahkannya, sehingga tidak ada yang tersisa sedikit pun. (Maka) azab yang menimpa buah-buahan secara keseluruhan, berarti semua pepohonan, buah-buahan dan sawah ludes. Lalu dia pun amat menyesal dan sangat berduka cita ﴾ فَأَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَآ أَنفَقَ فِيهَا ﴿ "lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap sesuatu yang telah ia belanjakan untuk itu," maksud-nya, (menyesal) karena ia telah banyak membelanjakan (modal) duniawi untuk kebun tersebut, sementara ia (sekarang) telah sirna dan lenyap, hingga tidak tersisa cadangan penggantinya. Maka, dia juga menyesal atas kesyirikan dan sifat keburukannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي لَمۡ أُشۡرِكۡ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا 42 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku'." (43) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ فِئَةٞ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا ﴿ "Dan tidak ada baginya segolongan pun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya," maksudnya, tatkala azab menerjang kebunnya, maka hilanglah apa yang dulu dia bangga-banggakan di hadapan temannya melalui perkataannya, ﴾ أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالٗا وَأَعَزُّ نَفَرٗا 34 ﴿ "Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat." Mereka (para pengikut itu) tidak dapat menolak azab darinya sedikit pun pada momentum yang dia sangat membutuhkannya. Dia pun tidak dapat membela dirinya. Lalu bagaimana mungkin dia sanggup membela diri atau memiliki kemampuan untuk menang di hadapan keputusan dan takdir Allah, yang mana jika telah Allah jalankan dan takdirkan, sekiranya selu-ruh penghuni langit-langit dan bumi bersatu untuk mencampakkan sedikit saja, niscaya mereka tidak akan sanggup? Tidak mustahil, menilik (betapa besar) rahmat dan kelembutan Allah bahwa pemilik kebun (yang telah dilingkari oleh siksaan) ke-adaannya membaik dan Allah memberinya kesempatan kembali kepadaNya dan menemukan nalarnya yang lurus dan meninggal-kan penentangan dan sikapnya yang melampaui batas. Dengan bukti, bahwa orang tersebut memperlihatkan penyesalannya atas tindakan kesyirikannya kepada Rabbnya, dan bahwasanya Allah telah menghilangkan dari dirinya sikap-sikap yang menyebabkan-nya melampaui batas dan menghukuminya di dunia. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, niscaya Allah menye-gerakan hukuman baginya di dunia. Kemurahan Allah tidak ter-liputi oleh imajinasi-imajinasi dan akal-pikiran, tidak ada yang meng-ingkarinya melainkan orang zhalim lagi sangat bodoh. (44) ﴾ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا 44 ﴿ "Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan." Maksudnya, di dalam kondisi itu, yang Allah menjatuhkan hukuman pada orang yang melampaui batas dan lebih mendahulukan kehidupan dunia (sedangkan suasana kemuliaan adalah bagi orang yang beriman dan beramal shalih, mensyukuri Allah dan mengajak orang lain untuk melakukannya), (di saat itulah) menjadi jelas dan terang bahwa kepemimpinan yang haq (hanya) milik Allah semata. Barangsiapa yang beriman dan bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadi walinya, lalu memulia-kannya dengan pelbagai macam kemuliaan, dan menjauhkan dari-nya seluruh keburukan dan siksa. Dan barangsiapa yang tidak ber-iman kepada Rabbnya dan tidak mengangkatNya sebagai walinya, niscaya dia merugi terhadap agama dan dunianya. Pahala Allah di dunia dan akhirat adalah sebaik-baik pahala yang diharapkan dan dinantikan. Dalam kisah ini termuat (petikan) pelajaran dari kondisi orang-orang yang telah Allah beri kenikmatan duniawi yang berlimpah, hingga membuatnya melalaikan kehidupan akhiratnya dan berbuat melampaui batas, melakukan maksiat kepada Allah dengannya (beranggapan), bahwasanya kesudahan nikmat-nikmat itu adalah putus dan pudar, dan bahwa meskipun ia dapat menikmatinya sejenak, namun sikapnya itu akan menghalangi (datangnya) kenik-matan-kenikmatan dalam kurun waktu yang panjang (di akhirat), dan bahwa seorang hamba sepatutnya bila terkagum-kagum dengan sesuatu (yang dia miliki) dari harta dan anaknya, maka hendaknya dia menisbatkannya kepada Dzat yang memberikan dan mencurah-kan kenikmatan sambil mengatakan, "Sungguh atas kehendak Allah. Tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah," supaya ia menjadi hamba yang bersyukur [kepada Allah] dan menempuh cara agar kenikmatannya lestari pada dirinya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, 'Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada ke-kuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah'." (Al-Kahfi: 39). - Dalam kisah ini pula terdapat petunjuk untuk menghibur diri dari (hilangnya) kenikmatan-kenikmatan dunia dan kesenangan-kesenangannya dengan (mengingat-ingat) kebaikan-kebaikan yang berada di sisi Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا 39 فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ ﴿ "Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu." (Al-Kahfi: 39-40). - Bahwasanya harta dan anak tidak bermanfaat bila tidak membantu dalam ketaatan kepada Allah. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُم بِٱلَّتِي تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anakmu yang mendekatkanmu kepada Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal-amal shalih." (Saba`: 37). - Kisah ini juga mengandung doa kehancuran harta orang-orang yang kekayaannya menjadi sebab sifat melampaui batas, kekufuran,yang mendekatkan dan kerugiannya. Apalagi bila dia mengunggulkan diri-nya di atas kaum Mukminin dan berbangga hati di hadapan mereka. Di dalamnya mengandung (faidah) bahwa wujud wilayah perlindungan Allah (pada seseorang) atau ketiadaannya menjadi jelas dampaknya, ketika debu-debu (tabir penutup) sudah tersisih-kan dan pembalasan sudah pasti datang, dan ketika para pelaku perbuatan sudah mendapatkan balasannya, maka ﴾ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا 44 ﴿ "di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan," paling baik akibat dan kesudahannya.

Al-Kahf 18:40

"Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala memasuki kebunmu, 'Sungguh atas kehendak Allah (semua ini terwujud)! Tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.' Sekira-nya kamu menganggapku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku, akan memberi kepada-ku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.' Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) ter-hadap sesuatu yang telah dia belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya, dan dia berkata, 'Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.' Dan tidak ada baginya segolongan pun yang menolong-nya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan." (AL-Kahfi : 39-44). (39) Sahabat yang beriman berkata kepada kawannya yang kafir, "Engkau, sekalipun membanggakan diri di depanku dengan harta dan anakmu yang banyak, dan kamu melihatku ﴾ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا 39 ﴿ "lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan," sesung-guhnya sesuatu yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal, apa yang diharapkan dari kebaikan dan curahan kebajikanNya lebih utama daripada seluruh (kenikmatan) dunia yang mana orang-orang berlomba-lomba di dalamnya. (40) ﴾ فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا ﴿ "Maka mudah-mudah-an Rabbku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan kepada kebunmu," maksudnya, (mengirimkan) kepada kebunmu yang mana karena-nya engkau berbuat melampaui batas dan ia memperdayakanmu ﴾ حُسۡبَانٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "ketentuan (petir) dari langit," yaitu azab dengan hujan deras atau yang semacamnya ﴾ فَتُصۡبِحَ ﴿ "hingga (kebun itu)," lantaran azab tersebut ﴾ صَعِيدٗا زَلَقًا 40 ﴿ "menjadi tanah yang licin." Po-hon-pohonnya tercabut, buah-buahannya rusak, tanaman-tanaman-nya tergenangi air dan kemanfaatannya lenyap. (41) ﴾ أَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا ﴿ "Atau airnya menjadi," yaitu air yang materi (pertumbuhannya) berasal darinya ﴾ غَوۡرٗا ﴿ "surut ke dalam tanah," masuk ke dalam tanah ﴾ فَلَن تَسۡتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبٗا 41 ﴿ "maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi," maksudnya airnya masuk ke tanah dan tidak bisa dicapai lagi, baik dengan cangkul ataupun alat lain-nya. Temannya yang Mukmin itu hanya mendoakan keburukan ter-hadap kebunnya (orang yang mengingkari nikmat Allah), lantaran didorong rasa marah karena Allah. Sebab kebun itu telah memper-dayainya dan membuatnya melampaui batas dan dia merasa ten-teram dengannya. Mungkin saja, ia mau bertaubat, kembali sadar dan memperhatikan urusannya. (42) Maka Allah mengabulkan doanya ﴾ وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِۦ ﴿ "dan harta kekayaannya dibinasakan," maksudnya, siksaan yang merata telah menimpanya dan memusnahkannya, sehingga tidak ada yang tersisa sedikit pun. (Maka) azab yang menimpa buah-buahan secara keseluruhan, berarti semua pepohonan, buah-buahan dan sawah ludes. Lalu dia pun amat menyesal dan sangat berduka cita ﴾ فَأَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَآ أَنفَقَ فِيهَا ﴿ "lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap sesuatu yang telah ia belanjakan untuk itu," maksud-nya, (menyesal) karena ia telah banyak membelanjakan (modal) duniawi untuk kebun tersebut, sementara ia (sekarang) telah sirna dan lenyap, hingga tidak tersisa cadangan penggantinya. Maka, dia juga menyesal atas kesyirikan dan sifat keburukannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي لَمۡ أُشۡرِكۡ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا 42 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku'." (43) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ فِئَةٞ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا ﴿ "Dan tidak ada baginya segolongan pun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya," maksudnya, tatkala azab menerjang kebunnya, maka hilanglah apa yang dulu dia bangga-banggakan di hadapan temannya melalui perkataannya, ﴾ أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالٗا وَأَعَزُّ نَفَرٗا 34 ﴿ "Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat." Mereka (para pengikut itu) tidak dapat menolak azab darinya sedikit pun pada momentum yang dia sangat membutuhkannya. Dia pun tidak dapat membela dirinya. Lalu bagaimana mungkin dia sanggup membela diri atau memiliki kemampuan untuk menang di hadapan keputusan dan takdir Allah, yang mana jika telah Allah jalankan dan takdirkan, sekiranya selu-ruh penghuni langit-langit dan bumi bersatu untuk mencampakkan sedikit saja, niscaya mereka tidak akan sanggup? Tidak mustahil, menilik (betapa besar) rahmat dan kelembutan Allah bahwa pemilik kebun (yang telah dilingkari oleh siksaan) ke-adaannya membaik dan Allah memberinya kesempatan kembali kepadaNya dan menemukan nalarnya yang lurus dan meninggal-kan penentangan dan sikapnya yang melampaui batas. Dengan bukti, bahwa orang tersebut memperlihatkan penyesalannya atas tindakan kesyirikannya kepada Rabbnya, dan bahwasanya Allah telah menghilangkan dari dirinya sikap-sikap yang menyebabkan-nya melampaui batas dan menghukuminya di dunia. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, niscaya Allah menye-gerakan hukuman baginya di dunia. Kemurahan Allah tidak ter-liputi oleh imajinasi-imajinasi dan akal-pikiran, tidak ada yang meng-ingkarinya melainkan orang zhalim lagi sangat bodoh. (44) ﴾ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا 44 ﴿ "Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan." Maksudnya, di dalam kondisi itu, yang Allah menjatuhkan hukuman pada orang yang melampaui batas dan lebih mendahulukan kehidupan dunia (sedangkan suasana kemuliaan adalah bagi orang yang beriman dan beramal shalih, mensyukuri Allah dan mengajak orang lain untuk melakukannya), (di saat itulah) menjadi jelas dan terang bahwa kepemimpinan yang haq (hanya) milik Allah semata. Barangsiapa yang beriman dan bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadi walinya, lalu memulia-kannya dengan pelbagai macam kemuliaan, dan menjauhkan dari-nya seluruh keburukan dan siksa. Dan barangsiapa yang tidak ber-iman kepada Rabbnya dan tidak mengangkatNya sebagai walinya, niscaya dia merugi terhadap agama dan dunianya. Pahala Allah di dunia dan akhirat adalah sebaik-baik pahala yang diharapkan dan dinantikan. Dalam kisah ini termuat (petikan) pelajaran dari kondisi orang-orang yang telah Allah beri kenikmatan duniawi yang berlimpah, hingga membuatnya melalaikan kehidupan akhiratnya dan berbuat melampaui batas, melakukan maksiat kepada Allah dengannya (beranggapan), bahwasanya kesudahan nikmat-nikmat itu adalah putus dan pudar, dan bahwa meskipun ia dapat menikmatinya sejenak, namun sikapnya itu akan menghalangi (datangnya) kenik-matan-kenikmatan dalam kurun waktu yang panjang (di akhirat), dan bahwa seorang hamba sepatutnya bila terkagum-kagum dengan sesuatu (yang dia miliki) dari harta dan anaknya, maka hendaknya dia menisbatkannya kepada Dzat yang memberikan dan mencurah-kan kenikmatan sambil mengatakan, "Sungguh atas kehendak Allah. Tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah," supaya ia menjadi hamba yang bersyukur [kepada Allah] dan menempuh cara agar kenikmatannya lestari pada dirinya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, 'Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada ke-kuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah'." (Al-Kahfi: 39). - Dalam kisah ini pula terdapat petunjuk untuk menghibur diri dari (hilangnya) kenikmatan-kenikmatan dunia dan kesenangan-kesenangannya dengan (mengingat-ingat) kebaikan-kebaikan yang berada di sisi Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا 39 فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ ﴿ "Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu." (Al-Kahfi: 39-40). - Bahwasanya harta dan anak tidak bermanfaat bila tidak membantu dalam ketaatan kepada Allah. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُم بِٱلَّتِي تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anakmu yang mendekatkanmu kepada Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal-amal shalih." (Saba`: 37). - Kisah ini juga mengandung doa kehancuran harta orang-orang yang kekayaannya menjadi sebab sifat melampaui batas, kekufuran,yang mendekatkan dan kerugiannya. Apalagi bila dia mengunggulkan diri-nya di atas kaum Mukminin dan berbangga hati di hadapan mereka. Di dalamnya mengandung (faidah) bahwa wujud wilayah perlindungan Allah (pada seseorang) atau ketiadaannya menjadi jelas dampaknya, ketika debu-debu (tabir penutup) sudah tersisih-kan dan pembalasan sudah pasti datang, dan ketika para pelaku perbuatan sudah mendapatkan balasannya, maka ﴾ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا 44 ﴿ "di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan," paling baik akibat dan kesudahannya.

Al-Kahf 18:41

"Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala memasuki kebunmu, 'Sungguh atas kehendak Allah (semua ini terwujud)! Tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.' Sekira-nya kamu menganggapku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku, akan memberi kepada-ku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.' Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) ter-hadap sesuatu yang telah dia belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya, dan dia berkata, 'Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.' Dan tidak ada baginya segolongan pun yang menolong-nya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan." (AL-Kahfi : 39-44). (39) Sahabat yang beriman berkata kepada kawannya yang kafir, "Engkau, sekalipun membanggakan diri di depanku dengan harta dan anakmu yang banyak, dan kamu melihatku ﴾ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا 39 ﴿ "lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan," sesung-guhnya sesuatu yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal, apa yang diharapkan dari kebaikan dan curahan kebajikanNya lebih utama daripada seluruh (kenikmatan) dunia yang mana orang-orang berlomba-lomba di dalamnya. (40) ﴾ فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا ﴿ "Maka mudah-mudah-an Rabbku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan kepada kebunmu," maksudnya, (mengirimkan) kepada kebunmu yang mana karena-nya engkau berbuat melampaui batas dan ia memperdayakanmu ﴾ حُسۡبَانٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "ketentuan (petir) dari langit," yaitu azab dengan hujan deras atau yang semacamnya ﴾ فَتُصۡبِحَ ﴿ "hingga (kebun itu)," lantaran azab tersebut ﴾ صَعِيدٗا زَلَقًا 40 ﴿ "menjadi tanah yang licin." Po-hon-pohonnya tercabut, buah-buahannya rusak, tanaman-tanaman-nya tergenangi air dan kemanfaatannya lenyap. (41) ﴾ أَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا ﴿ "Atau airnya menjadi," yaitu air yang materi (pertumbuhannya) berasal darinya ﴾ غَوۡرٗا ﴿ "surut ke dalam tanah," masuk ke dalam tanah ﴾ فَلَن تَسۡتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبٗا 41 ﴿ "maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi," maksudnya airnya masuk ke tanah dan tidak bisa dicapai lagi, baik dengan cangkul ataupun alat lain-nya. Temannya yang Mukmin itu hanya mendoakan keburukan ter-hadap kebunnya (orang yang mengingkari nikmat Allah), lantaran didorong rasa marah karena Allah. Sebab kebun itu telah memper-dayainya dan membuatnya melampaui batas dan dia merasa ten-teram dengannya. Mungkin saja, ia mau bertaubat, kembali sadar dan memperhatikan urusannya. (42) Maka Allah mengabulkan doanya ﴾ وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِۦ ﴿ "dan harta kekayaannya dibinasakan," maksudnya, siksaan yang merata telah menimpanya dan memusnahkannya, sehingga tidak ada yang tersisa sedikit pun. (Maka) azab yang menimpa buah-buahan secara keseluruhan, berarti semua pepohonan, buah-buahan dan sawah ludes. Lalu dia pun amat menyesal dan sangat berduka cita ﴾ فَأَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَآ أَنفَقَ فِيهَا ﴿ "lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap sesuatu yang telah ia belanjakan untuk itu," maksud-nya, (menyesal) karena ia telah banyak membelanjakan (modal) duniawi untuk kebun tersebut, sementara ia (sekarang) telah sirna dan lenyap, hingga tidak tersisa cadangan penggantinya. Maka, dia juga menyesal atas kesyirikan dan sifat keburukannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي لَمۡ أُشۡرِكۡ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا 42 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku'." (43) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ فِئَةٞ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا ﴿ "Dan tidak ada baginya segolongan pun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya," maksudnya, tatkala azab menerjang kebunnya, maka hilanglah apa yang dulu dia bangga-banggakan di hadapan temannya melalui perkataannya, ﴾ أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالٗا وَأَعَزُّ نَفَرٗا 34 ﴿ "Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat." Mereka (para pengikut itu) tidak dapat menolak azab darinya sedikit pun pada momentum yang dia sangat membutuhkannya. Dia pun tidak dapat membela dirinya. Lalu bagaimana mungkin dia sanggup membela diri atau memiliki kemampuan untuk menang di hadapan keputusan dan takdir Allah, yang mana jika telah Allah jalankan dan takdirkan, sekiranya selu-ruh penghuni langit-langit dan bumi bersatu untuk mencampakkan sedikit saja, niscaya mereka tidak akan sanggup? Tidak mustahil, menilik (betapa besar) rahmat dan kelembutan Allah bahwa pemilik kebun (yang telah dilingkari oleh siksaan) ke-adaannya membaik dan Allah memberinya kesempatan kembali kepadaNya dan menemukan nalarnya yang lurus dan meninggal-kan penentangan dan sikapnya yang melampaui batas. Dengan bukti, bahwa orang tersebut memperlihatkan penyesalannya atas tindakan kesyirikannya kepada Rabbnya, dan bahwasanya Allah telah menghilangkan dari dirinya sikap-sikap yang menyebabkan-nya melampaui batas dan menghukuminya di dunia. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, niscaya Allah menye-gerakan hukuman baginya di dunia. Kemurahan Allah tidak ter-liputi oleh imajinasi-imajinasi dan akal-pikiran, tidak ada yang meng-ingkarinya melainkan orang zhalim lagi sangat bodoh. (44) ﴾ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا 44 ﴿ "Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan." Maksudnya, di dalam kondisi itu, yang Allah menjatuhkan hukuman pada orang yang melampaui batas dan lebih mendahulukan kehidupan dunia (sedangkan suasana kemuliaan adalah bagi orang yang beriman dan beramal shalih, mensyukuri Allah dan mengajak orang lain untuk melakukannya), (di saat itulah) menjadi jelas dan terang bahwa kepemimpinan yang haq (hanya) milik Allah semata. Barangsiapa yang beriman dan bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadi walinya, lalu memulia-kannya dengan pelbagai macam kemuliaan, dan menjauhkan dari-nya seluruh keburukan dan siksa. Dan barangsiapa yang tidak ber-iman kepada Rabbnya dan tidak mengangkatNya sebagai walinya, niscaya dia merugi terhadap agama dan dunianya. Pahala Allah di dunia dan akhirat adalah sebaik-baik pahala yang diharapkan dan dinantikan. Dalam kisah ini termuat (petikan) pelajaran dari kondisi orang-orang yang telah Allah beri kenikmatan duniawi yang berlimpah, hingga membuatnya melalaikan kehidupan akhiratnya dan berbuat melampaui batas, melakukan maksiat kepada Allah dengannya (beranggapan), bahwasanya kesudahan nikmat-nikmat itu adalah putus dan pudar, dan bahwa meskipun ia dapat menikmatinya sejenak, namun sikapnya itu akan menghalangi (datangnya) kenik-matan-kenikmatan dalam kurun waktu yang panjang (di akhirat), dan bahwa seorang hamba sepatutnya bila terkagum-kagum dengan sesuatu (yang dia miliki) dari harta dan anaknya, maka hendaknya dia menisbatkannya kepada Dzat yang memberikan dan mencurah-kan kenikmatan sambil mengatakan, "Sungguh atas kehendak Allah. Tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah," supaya ia menjadi hamba yang bersyukur [kepada Allah] dan menempuh cara agar kenikmatannya lestari pada dirinya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, 'Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada ke-kuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah'." (Al-Kahfi: 39). - Dalam kisah ini pula terdapat petunjuk untuk menghibur diri dari (hilangnya) kenikmatan-kenikmatan dunia dan kesenangan-kesenangannya dengan (mengingat-ingat) kebaikan-kebaikan yang berada di sisi Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا 39 فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ ﴿ "Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu." (Al-Kahfi: 39-40). - Bahwasanya harta dan anak tidak bermanfaat bila tidak membantu dalam ketaatan kepada Allah. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُم بِٱلَّتِي تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anakmu yang mendekatkanmu kepada Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal-amal shalih." (Saba`: 37). - Kisah ini juga mengandung doa kehancuran harta orang-orang yang kekayaannya menjadi sebab sifat melampaui batas, kekufuran,yang mendekatkan dan kerugiannya. Apalagi bila dia mengunggulkan diri-nya di atas kaum Mukminin dan berbangga hati di hadapan mereka. Di dalamnya mengandung (faidah) bahwa wujud wilayah perlindungan Allah (pada seseorang) atau ketiadaannya menjadi jelas dampaknya, ketika debu-debu (tabir penutup) sudah tersisih-kan dan pembalasan sudah pasti datang, dan ketika para pelaku perbuatan sudah mendapatkan balasannya, maka ﴾ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا 44 ﴿ "di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan," paling baik akibat dan kesudahannya.

Al-Kahf 18:42

"Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala memasuki kebunmu, 'Sungguh atas kehendak Allah (semua ini terwujud)! Tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.' Sekira-nya kamu menganggapku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku, akan memberi kepada-ku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.' Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) ter-hadap sesuatu yang telah dia belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya, dan dia berkata, 'Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.' Dan tidak ada baginya segolongan pun yang menolong-nya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan." (AL-Kahfi : 39-44). (39) Sahabat yang beriman berkata kepada kawannya yang kafir, "Engkau, sekalipun membanggakan diri di depanku dengan harta dan anakmu yang banyak, dan kamu melihatku ﴾ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا 39 ﴿ "lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan," sesung-guhnya sesuatu yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal, apa yang diharapkan dari kebaikan dan curahan kebajikanNya lebih utama daripada seluruh (kenikmatan) dunia yang mana orang-orang berlomba-lomba di dalamnya. (40) ﴾ فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا ﴿ "Maka mudah-mudah-an Rabbku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan kepada kebunmu," maksudnya, (mengirimkan) kepada kebunmu yang mana karena-nya engkau berbuat melampaui batas dan ia memperdayakanmu ﴾ حُسۡبَانٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "ketentuan (petir) dari langit," yaitu azab dengan hujan deras atau yang semacamnya ﴾ فَتُصۡبِحَ ﴿ "hingga (kebun itu)," lantaran azab tersebut ﴾ صَعِيدٗا زَلَقًا 40 ﴿ "menjadi tanah yang licin." Po-hon-pohonnya tercabut, buah-buahannya rusak, tanaman-tanaman-nya tergenangi air dan kemanfaatannya lenyap. (41) ﴾ أَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا ﴿ "Atau airnya menjadi," yaitu air yang materi (pertumbuhannya) berasal darinya ﴾ غَوۡرٗا ﴿ "surut ke dalam tanah," masuk ke dalam tanah ﴾ فَلَن تَسۡتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبٗا 41 ﴿ "maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi," maksudnya airnya masuk ke tanah dan tidak bisa dicapai lagi, baik dengan cangkul ataupun alat lain-nya. Temannya yang Mukmin itu hanya mendoakan keburukan ter-hadap kebunnya (orang yang mengingkari nikmat Allah), lantaran didorong rasa marah karena Allah. Sebab kebun itu telah memper-dayainya dan membuatnya melampaui batas dan dia merasa ten-teram dengannya. Mungkin saja, ia mau bertaubat, kembali sadar dan memperhatikan urusannya. (42) Maka Allah mengabulkan doanya ﴾ وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِۦ ﴿ "dan harta kekayaannya dibinasakan," maksudnya, siksaan yang merata telah menimpanya dan memusnahkannya, sehingga tidak ada yang tersisa sedikit pun. (Maka) azab yang menimpa buah-buahan secara keseluruhan, berarti semua pepohonan, buah-buahan dan sawah ludes. Lalu dia pun amat menyesal dan sangat berduka cita ﴾ فَأَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَآ أَنفَقَ فِيهَا ﴿ "lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap sesuatu yang telah ia belanjakan untuk itu," maksud-nya, (menyesal) karena ia telah banyak membelanjakan (modal) duniawi untuk kebun tersebut, sementara ia (sekarang) telah sirna dan lenyap, hingga tidak tersisa cadangan penggantinya. Maka, dia juga menyesal atas kesyirikan dan sifat keburukannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي لَمۡ أُشۡرِكۡ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا 42 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku'." (43) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ فِئَةٞ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا ﴿ "Dan tidak ada baginya segolongan pun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya," maksudnya, tatkala azab menerjang kebunnya, maka hilanglah apa yang dulu dia bangga-banggakan di hadapan temannya melalui perkataannya, ﴾ أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالٗا وَأَعَزُّ نَفَرٗا 34 ﴿ "Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat." Mereka (para pengikut itu) tidak dapat menolak azab darinya sedikit pun pada momentum yang dia sangat membutuhkannya. Dia pun tidak dapat membela dirinya. Lalu bagaimana mungkin dia sanggup membela diri atau memiliki kemampuan untuk menang di hadapan keputusan dan takdir Allah, yang mana jika telah Allah jalankan dan takdirkan, sekiranya selu-ruh penghuni langit-langit dan bumi bersatu untuk mencampakkan sedikit saja, niscaya mereka tidak akan sanggup? Tidak mustahil, menilik (betapa besar) rahmat dan kelembutan Allah bahwa pemilik kebun (yang telah dilingkari oleh siksaan) ke-adaannya membaik dan Allah memberinya kesempatan kembali kepadaNya dan menemukan nalarnya yang lurus dan meninggal-kan penentangan dan sikapnya yang melampaui batas. Dengan bukti, bahwa orang tersebut memperlihatkan penyesalannya atas tindakan kesyirikannya kepada Rabbnya, dan bahwasanya Allah telah menghilangkan dari dirinya sikap-sikap yang menyebabkan-nya melampaui batas dan menghukuminya di dunia. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, niscaya Allah menye-gerakan hukuman baginya di dunia. Kemurahan Allah tidak ter-liputi oleh imajinasi-imajinasi dan akal-pikiran, tidak ada yang meng-ingkarinya melainkan orang zhalim lagi sangat bodoh. (44) ﴾ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا 44 ﴿ "Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan." Maksudnya, di dalam kondisi itu, yang Allah menjatuhkan hukuman pada orang yang melampaui batas dan lebih mendahulukan kehidupan dunia (sedangkan suasana kemuliaan adalah bagi orang yang beriman dan beramal shalih, mensyukuri Allah dan mengajak orang lain untuk melakukannya), (di saat itulah) menjadi jelas dan terang bahwa kepemimpinan yang haq (hanya) milik Allah semata. Barangsiapa yang beriman dan bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadi walinya, lalu memulia-kannya dengan pelbagai macam kemuliaan, dan menjauhkan dari-nya seluruh keburukan dan siksa. Dan barangsiapa yang tidak ber-iman kepada Rabbnya dan tidak mengangkatNya sebagai walinya, niscaya dia merugi terhadap agama dan dunianya. Pahala Allah di dunia dan akhirat adalah sebaik-baik pahala yang diharapkan dan dinantikan. Dalam kisah ini termuat (petikan) pelajaran dari kondisi orang-orang yang telah Allah beri kenikmatan duniawi yang berlimpah, hingga membuatnya melalaikan kehidupan akhiratnya dan berbuat melampaui batas, melakukan maksiat kepada Allah dengannya (beranggapan), bahwasanya kesudahan nikmat-nikmat itu adalah putus dan pudar, dan bahwa meskipun ia dapat menikmatinya sejenak, namun sikapnya itu akan menghalangi (datangnya) kenik-matan-kenikmatan dalam kurun waktu yang panjang (di akhirat), dan bahwa seorang hamba sepatutnya bila terkagum-kagum dengan sesuatu (yang dia miliki) dari harta dan anaknya, maka hendaknya dia menisbatkannya kepada Dzat yang memberikan dan mencurah-kan kenikmatan sambil mengatakan, "Sungguh atas kehendak Allah. Tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah," supaya ia menjadi hamba yang bersyukur [kepada Allah] dan menempuh cara agar kenikmatannya lestari pada dirinya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, 'Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada ke-kuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah'." (Al-Kahfi: 39). - Dalam kisah ini pula terdapat petunjuk untuk menghibur diri dari (hilangnya) kenikmatan-kenikmatan dunia dan kesenangan-kesenangannya dengan (mengingat-ingat) kebaikan-kebaikan yang berada di sisi Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا 39 فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ ﴿ "Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu." (Al-Kahfi: 39-40). - Bahwasanya harta dan anak tidak bermanfaat bila tidak membantu dalam ketaatan kepada Allah. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُم بِٱلَّتِي تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anakmu yang mendekatkanmu kepada Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal-amal shalih." (Saba`: 37). - Kisah ini juga mengandung doa kehancuran harta orang-orang yang kekayaannya menjadi sebab sifat melampaui batas, kekufuran,yang mendekatkan dan kerugiannya. Apalagi bila dia mengunggulkan diri-nya di atas kaum Mukminin dan berbangga hati di hadapan mereka. Di dalamnya mengandung (faidah) bahwa wujud wilayah perlindungan Allah (pada seseorang) atau ketiadaannya menjadi jelas dampaknya, ketika debu-debu (tabir penutup) sudah tersisih-kan dan pembalasan sudah pasti datang, dan ketika para pelaku perbuatan sudah mendapatkan balasannya, maka ﴾ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا 44 ﴿ "di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan," paling baik akibat dan kesudahannya.

Al-Kahf 18:43

"Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala memasuki kebunmu, 'Sungguh atas kehendak Allah (semua ini terwujud)! Tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.' Sekira-nya kamu menganggapku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku, akan memberi kepada-ku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.' Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) ter-hadap sesuatu yang telah dia belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya, dan dia berkata, 'Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.' Dan tidak ada baginya segolongan pun yang menolong-nya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan." (AL-Kahfi : 39-44). (39) Sahabat yang beriman berkata kepada kawannya yang kafir, "Engkau, sekalipun membanggakan diri di depanku dengan harta dan anakmu yang banyak, dan kamu melihatku ﴾ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا 39 ﴿ "lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan," sesung-guhnya sesuatu yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal, apa yang diharapkan dari kebaikan dan curahan kebajikanNya lebih utama daripada seluruh (kenikmatan) dunia yang mana orang-orang berlomba-lomba di dalamnya. (40) ﴾ فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا ﴿ "Maka mudah-mudah-an Rabbku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan kepada kebunmu," maksudnya, (mengirimkan) kepada kebunmu yang mana karena-nya engkau berbuat melampaui batas dan ia memperdayakanmu ﴾ حُسۡبَانٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "ketentuan (petir) dari langit," yaitu azab dengan hujan deras atau yang semacamnya ﴾ فَتُصۡبِحَ ﴿ "hingga (kebun itu)," lantaran azab tersebut ﴾ صَعِيدٗا زَلَقًا 40 ﴿ "menjadi tanah yang licin." Po-hon-pohonnya tercabut, buah-buahannya rusak, tanaman-tanaman-nya tergenangi air dan kemanfaatannya lenyap. (41) ﴾ أَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا ﴿ "Atau airnya menjadi," yaitu air yang materi (pertumbuhannya) berasal darinya ﴾ غَوۡرٗا ﴿ "surut ke dalam tanah," masuk ke dalam tanah ﴾ فَلَن تَسۡتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبٗا 41 ﴿ "maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi," maksudnya airnya masuk ke tanah dan tidak bisa dicapai lagi, baik dengan cangkul ataupun alat lain-nya. Temannya yang Mukmin itu hanya mendoakan keburukan ter-hadap kebunnya (orang yang mengingkari nikmat Allah), lantaran didorong rasa marah karena Allah. Sebab kebun itu telah memper-dayainya dan membuatnya melampaui batas dan dia merasa ten-teram dengannya. Mungkin saja, ia mau bertaubat, kembali sadar dan memperhatikan urusannya. (42) Maka Allah mengabulkan doanya ﴾ وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِۦ ﴿ "dan harta kekayaannya dibinasakan," maksudnya, siksaan yang merata telah menimpanya dan memusnahkannya, sehingga tidak ada yang tersisa sedikit pun. (Maka) azab yang menimpa buah-buahan secara keseluruhan, berarti semua pepohonan, buah-buahan dan sawah ludes. Lalu dia pun amat menyesal dan sangat berduka cita ﴾ فَأَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَآ أَنفَقَ فِيهَا ﴿ "lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap sesuatu yang telah ia belanjakan untuk itu," maksud-nya, (menyesal) karena ia telah banyak membelanjakan (modal) duniawi untuk kebun tersebut, sementara ia (sekarang) telah sirna dan lenyap, hingga tidak tersisa cadangan penggantinya. Maka, dia juga menyesal atas kesyirikan dan sifat keburukannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي لَمۡ أُشۡرِكۡ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا 42 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku'." (43) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ فِئَةٞ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا ﴿ "Dan tidak ada baginya segolongan pun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya," maksudnya, tatkala azab menerjang kebunnya, maka hilanglah apa yang dulu dia bangga-banggakan di hadapan temannya melalui perkataannya, ﴾ أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالٗا وَأَعَزُّ نَفَرٗا 34 ﴿ "Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat." Mereka (para pengikut itu) tidak dapat menolak azab darinya sedikit pun pada momentum yang dia sangat membutuhkannya. Dia pun tidak dapat membela dirinya. Lalu bagaimana mungkin dia sanggup membela diri atau memiliki kemampuan untuk menang di hadapan keputusan dan takdir Allah, yang mana jika telah Allah jalankan dan takdirkan, sekiranya selu-ruh penghuni langit-langit dan bumi bersatu untuk mencampakkan sedikit saja, niscaya mereka tidak akan sanggup? Tidak mustahil, menilik (betapa besar) rahmat dan kelembutan Allah bahwa pemilik kebun (yang telah dilingkari oleh siksaan) ke-adaannya membaik dan Allah memberinya kesempatan kembali kepadaNya dan menemukan nalarnya yang lurus dan meninggal-kan penentangan dan sikapnya yang melampaui batas. Dengan bukti, bahwa orang tersebut memperlihatkan penyesalannya atas tindakan kesyirikannya kepada Rabbnya, dan bahwasanya Allah telah menghilangkan dari dirinya sikap-sikap yang menyebabkan-nya melampaui batas dan menghukuminya di dunia. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, niscaya Allah menye-gerakan hukuman baginya di dunia. Kemurahan Allah tidak ter-liputi oleh imajinasi-imajinasi dan akal-pikiran, tidak ada yang meng-ingkarinya melainkan orang zhalim lagi sangat bodoh. (44) ﴾ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا 44 ﴿ "Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan." Maksudnya, di dalam kondisi itu, yang Allah menjatuhkan hukuman pada orang yang melampaui batas dan lebih mendahulukan kehidupan dunia (sedangkan suasana kemuliaan adalah bagi orang yang beriman dan beramal shalih, mensyukuri Allah dan mengajak orang lain untuk melakukannya), (di saat itulah) menjadi jelas dan terang bahwa kepemimpinan yang haq (hanya) milik Allah semata. Barangsiapa yang beriman dan bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadi walinya, lalu memulia-kannya dengan pelbagai macam kemuliaan, dan menjauhkan dari-nya seluruh keburukan dan siksa. Dan barangsiapa yang tidak ber-iman kepada Rabbnya dan tidak mengangkatNya sebagai walinya, niscaya dia merugi terhadap agama dan dunianya. Pahala Allah di dunia dan akhirat adalah sebaik-baik pahala yang diharapkan dan dinantikan. Dalam kisah ini termuat (petikan) pelajaran dari kondisi orang-orang yang telah Allah beri kenikmatan duniawi yang berlimpah, hingga membuatnya melalaikan kehidupan akhiratnya dan berbuat melampaui batas, melakukan maksiat kepada Allah dengannya (beranggapan), bahwasanya kesudahan nikmat-nikmat itu adalah putus dan pudar, dan bahwa meskipun ia dapat menikmatinya sejenak, namun sikapnya itu akan menghalangi (datangnya) kenik-matan-kenikmatan dalam kurun waktu yang panjang (di akhirat), dan bahwa seorang hamba sepatutnya bila terkagum-kagum dengan sesuatu (yang dia miliki) dari harta dan anaknya, maka hendaknya dia menisbatkannya kepada Dzat yang memberikan dan mencurah-kan kenikmatan sambil mengatakan, "Sungguh atas kehendak Allah. Tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah," supaya ia menjadi hamba yang bersyukur [kepada Allah] dan menempuh cara agar kenikmatannya lestari pada dirinya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, 'Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada ke-kuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah'." (Al-Kahfi: 39). - Dalam kisah ini pula terdapat petunjuk untuk menghibur diri dari (hilangnya) kenikmatan-kenikmatan dunia dan kesenangan-kesenangannya dengan (mengingat-ingat) kebaikan-kebaikan yang berada di sisi Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا 39 فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ ﴿ "Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu." (Al-Kahfi: 39-40). - Bahwasanya harta dan anak tidak bermanfaat bila tidak membantu dalam ketaatan kepada Allah. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُم بِٱلَّتِي تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anakmu yang mendekatkanmu kepada Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal-amal shalih." (Saba`: 37). - Kisah ini juga mengandung doa kehancuran harta orang-orang yang kekayaannya menjadi sebab sifat melampaui batas, kekufuran,yang mendekatkan dan kerugiannya. Apalagi bila dia mengunggulkan diri-nya di atas kaum Mukminin dan berbangga hati di hadapan mereka. Di dalamnya mengandung (faidah) bahwa wujud wilayah perlindungan Allah (pada seseorang) atau ketiadaannya menjadi jelas dampaknya, ketika debu-debu (tabir penutup) sudah tersisih-kan dan pembalasan sudah pasti datang, dan ketika para pelaku perbuatan sudah mendapatkan balasannya, maka ﴾ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا 44 ﴿ "di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan," paling baik akibat dan kesudahannya.

Al-Kahf 18:44

"Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala memasuki kebunmu, 'Sungguh atas kehendak Allah (semua ini terwujud)! Tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.' Sekira-nya kamu menganggapku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku, akan memberi kepada-ku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.' Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) ter-hadap sesuatu yang telah dia belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya, dan dia berkata, 'Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.' Dan tidak ada baginya segolongan pun yang menolong-nya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan." (AL-Kahfi : 39-44). (39) Sahabat yang beriman berkata kepada kawannya yang kafir, "Engkau, sekalipun membanggakan diri di depanku dengan harta dan anakmu yang banyak, dan kamu melihatku ﴾ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا 39 ﴿ "lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan," sesung-guhnya sesuatu yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal, apa yang diharapkan dari kebaikan dan curahan kebajikanNya lebih utama daripada seluruh (kenikmatan) dunia yang mana orang-orang berlomba-lomba di dalamnya. (40) ﴾ فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا ﴿ "Maka mudah-mudah-an Rabbku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan kepada kebunmu," maksudnya, (mengirimkan) kepada kebunmu yang mana karena-nya engkau berbuat melampaui batas dan ia memperdayakanmu ﴾ حُسۡبَانٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "ketentuan (petir) dari langit," yaitu azab dengan hujan deras atau yang semacamnya ﴾ فَتُصۡبِحَ ﴿ "hingga (kebun itu)," lantaran azab tersebut ﴾ صَعِيدٗا زَلَقًا 40 ﴿ "menjadi tanah yang licin." Po-hon-pohonnya tercabut, buah-buahannya rusak, tanaman-tanaman-nya tergenangi air dan kemanfaatannya lenyap. (41) ﴾ أَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا ﴿ "Atau airnya menjadi," yaitu air yang materi (pertumbuhannya) berasal darinya ﴾ غَوۡرٗا ﴿ "surut ke dalam tanah," masuk ke dalam tanah ﴾ فَلَن تَسۡتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبٗا 41 ﴿ "maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi," maksudnya airnya masuk ke tanah dan tidak bisa dicapai lagi, baik dengan cangkul ataupun alat lain-nya. Temannya yang Mukmin itu hanya mendoakan keburukan ter-hadap kebunnya (orang yang mengingkari nikmat Allah), lantaran didorong rasa marah karena Allah. Sebab kebun itu telah memper-dayainya dan membuatnya melampaui batas dan dia merasa ten-teram dengannya. Mungkin saja, ia mau bertaubat, kembali sadar dan memperhatikan urusannya. (42) Maka Allah mengabulkan doanya ﴾ وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِۦ ﴿ "dan harta kekayaannya dibinasakan," maksudnya, siksaan yang merata telah menimpanya dan memusnahkannya, sehingga tidak ada yang tersisa sedikit pun. (Maka) azab yang menimpa buah-buahan secara keseluruhan, berarti semua pepohonan, buah-buahan dan sawah ludes. Lalu dia pun amat menyesal dan sangat berduka cita ﴾ فَأَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَآ أَنفَقَ فِيهَا ﴿ "lalu dia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap sesuatu yang telah ia belanjakan untuk itu," maksud-nya, (menyesal) karena ia telah banyak membelanjakan (modal) duniawi untuk kebun tersebut, sementara ia (sekarang) telah sirna dan lenyap, hingga tidak tersisa cadangan penggantinya. Maka, dia juga menyesal atas kesyirikan dan sifat keburukannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي لَمۡ أُشۡرِكۡ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا 42 ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku'." (43) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ فِئَةٞ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا ﴿ "Dan tidak ada baginya segolongan pun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya," maksudnya, tatkala azab menerjang kebunnya, maka hilanglah apa yang dulu dia bangga-banggakan di hadapan temannya melalui perkataannya, ﴾ أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالٗا وَأَعَزُّ نَفَرٗا 34 ﴿ "Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat." Mereka (para pengikut itu) tidak dapat menolak azab darinya sedikit pun pada momentum yang dia sangat membutuhkannya. Dia pun tidak dapat membela dirinya. Lalu bagaimana mungkin dia sanggup membela diri atau memiliki kemampuan untuk menang di hadapan keputusan dan takdir Allah, yang mana jika telah Allah jalankan dan takdirkan, sekiranya selu-ruh penghuni langit-langit dan bumi bersatu untuk mencampakkan sedikit saja, niscaya mereka tidak akan sanggup? Tidak mustahil, menilik (betapa besar) rahmat dan kelembutan Allah bahwa pemilik kebun (yang telah dilingkari oleh siksaan) ke-adaannya membaik dan Allah memberinya kesempatan kembali kepadaNya dan menemukan nalarnya yang lurus dan meninggal-kan penentangan dan sikapnya yang melampaui batas. Dengan bukti, bahwa orang tersebut memperlihatkan penyesalannya atas tindakan kesyirikannya kepada Rabbnya, dan bahwasanya Allah telah menghilangkan dari dirinya sikap-sikap yang menyebabkan-nya melampaui batas dan menghukuminya di dunia. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, niscaya Allah menye-gerakan hukuman baginya di dunia. Kemurahan Allah tidak ter-liputi oleh imajinasi-imajinasi dan akal-pikiran, tidak ada yang meng-ingkarinya melainkan orang zhalim lagi sangat bodoh. (44) ﴾ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا 44 ﴿ "Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan." Maksudnya, di dalam kondisi itu, yang Allah menjatuhkan hukuman pada orang yang melampaui batas dan lebih mendahulukan kehidupan dunia (sedangkan suasana kemuliaan adalah bagi orang yang beriman dan beramal shalih, mensyukuri Allah dan mengajak orang lain untuk melakukannya), (di saat itulah) menjadi jelas dan terang bahwa kepemimpinan yang haq (hanya) milik Allah semata. Barangsiapa yang beriman dan bertakwa kepada Allah, maka Allah menjadi walinya, lalu memulia-kannya dengan pelbagai macam kemuliaan, dan menjauhkan dari-nya seluruh keburukan dan siksa. Dan barangsiapa yang tidak ber-iman kepada Rabbnya dan tidak mengangkatNya sebagai walinya, niscaya dia merugi terhadap agama dan dunianya. Pahala Allah di dunia dan akhirat adalah sebaik-baik pahala yang diharapkan dan dinantikan. Dalam kisah ini termuat (petikan) pelajaran dari kondisi orang-orang yang telah Allah beri kenikmatan duniawi yang berlimpah, hingga membuatnya melalaikan kehidupan akhiratnya dan berbuat melampaui batas, melakukan maksiat kepada Allah dengannya (beranggapan), bahwasanya kesudahan nikmat-nikmat itu adalah putus dan pudar, dan bahwa meskipun ia dapat menikmatinya sejenak, namun sikapnya itu akan menghalangi (datangnya) kenik-matan-kenikmatan dalam kurun waktu yang panjang (di akhirat), dan bahwa seorang hamba sepatutnya bila terkagum-kagum dengan sesuatu (yang dia miliki) dari harta dan anaknya, maka hendaknya dia menisbatkannya kepada Dzat yang memberikan dan mencurah-kan kenikmatan sambil mengatakan, "Sungguh atas kehendak Allah. Tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah," supaya ia menjadi hamba yang bersyukur [kepada Allah] dan menempuh cara agar kenikmatannya lestari pada dirinya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, 'Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada ke-kuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah'." (Al-Kahfi: 39). - Dalam kisah ini pula terdapat petunjuk untuk menghibur diri dari (hilangnya) kenikmatan-kenikmatan dunia dan kesenangan-kesenangannya dengan (mengingat-ingat) kebaikan-kebaikan yang berada di sisi Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا 39 فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ ﴿ "Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu." (Al-Kahfi: 39-40). - Bahwasanya harta dan anak tidak bermanfaat bila tidak membantu dalam ketaatan kepada Allah. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُم بِٱلَّتِي تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anakmu yang mendekatkanmu kepada Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal-amal shalih." (Saba`: 37). - Kisah ini juga mengandung doa kehancuran harta orang-orang yang kekayaannya menjadi sebab sifat melampaui batas, kekufuran,yang mendekatkan dan kerugiannya. Apalagi bila dia mengunggulkan diri-nya di atas kaum Mukminin dan berbangga hati di hadapan mereka. Di dalamnya mengandung (faidah) bahwa wujud wilayah perlindungan Allah (pada seseorang) atau ketiadaannya menjadi jelas dampaknya, ketika debu-debu (tabir penutup) sudah tersisih-kan dan pembalasan sudah pasti datang, dan ketika para pelaku perbuatan sudah mendapatkan balasannya, maka ﴾ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا 44 ﴿ "di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan," paling baik akibat dan kesudahannya.

Al-Kahf 18:45

"Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), ke-hidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diter-bangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahala-nya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Al-Kahfi: 45-46). (45) Allah تعالى berfirman pertama-tama kepada NabiNya, dan terarah kepada orang-orang yang mewarisi (misinya) sepening-gal beliau secara otomatis, "Buatkanlah untuk manusia, ﴾ مَّثَلَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "perumpamaan kehidupan dunia," agar mereka mengimajinasikannya dengan benar dan mengetahui (seluk-beluknya) zahir dan batin, membandingkannya dengan kampung akhirat, dan mengutamakan manakah yang seharusnya dikedepankan. Sesungguhnya permisal-an kehidupan dunia, ibarat air hujan yang turun ke tanah. Kemudian tumbuh-tumbuhan menjadi subur, menumbuhkan segala macam tanaman yang sedap dipandang. Pada saat perhiasan dan keindah-annya menyebabkan para pemandangnya senang dan membuat orang-orang yang menyaksikannya ceria serta menawan pandangan-pandangan insan-insan yang lalai, tiba-tiba ia berubah menjadi ﴾ هَشِيمٗا تَذۡرُوهُ ٱلرِّيَٰحُۗ ﴿ "kering yang diterbangkan oleh angin," akibatnya, ta-naman yang indah dan bunga yang memikat serta panorama yang menarik menjadi sirna. Tanah menjadi penuh dengan debu. Fokus pandangan pun beralih darinya, mata-mata berpaling darinya, me-nyebabkan hati sesak. Demikian pula kondisi dunia, di saat pemiliknya terpukau dengan masa mudanya, berhasil mengalahkan kawan-kawan dan teman-teman dalam masalah ini, menggenggam dirham dan dinar, memunguti bunga-bunga kelezatannya, larut dalam kenikmatan-kenikmatannya di seluruh waktunya, dan dia pun menyangka akan senantiasa berada di dalamnya di seluruh hari-harinya, sekonyong-konyong kematian mendatanginya atau kehancuran menimpa harta-bendanya, kegembiraannya pun pudar, kelezatan dan kegirangan-nya hilang. Hatinya sesak karena didera berbagai macam kepedih-an. Dia pun terpisah dengan masa mudanya, kekuatan, dan kekaya-annya. Tinggal sendirian ditemani amal baik atau buruknya. Pada saat itulah, orang zhalim menggigit dua tangannya lan-taran mengetahui kondisinya yang nyata dan berangan-angan bisa kembali ke dunia (untuk memperbaiki diri). Bukan untuk menuntas-kan nafsu syahwatnya, akan tetapi dalam upaya menambal keku-rangan-kekurangan yang dia kerjakan berupa kelalaian-kelalaian, dengan taubat dan beramal shalih. Orang yang cerdik lagi berkepribadian kuat yang meraih taufik (dari Allah) menghadirkan kondisi ini ke hadapan matanya. Kemu-dian berkata kepada dirinya sendiri, "Anggap saja bahwa engkau sudah mati, dan pasti engkau akan mati, kondisi manakah yang engkau pilih, tertipu dengan keindahan tempat ini (dunia) dan ber-senang-senang layaknya binatang-binatang ternak yang sedang berkeliaran, ataukah beramal untuk tempat yang perjamuannya abadi dan naungannya (pun demikian). Di dalamnya terdapat apa saja yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang) mata. Dengan ini bisa diketahui, apakah seorang hamba mendapatkan taufik atau tersia-siakan, memperoleh keuntungan atau kerugian." (46) Oleh karena itu, Allah تعالى memberitahukan bahwa ke-kayaan dan anak-anak adalah ﴾ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "perhiasan kehidupan dunia," maksudnya tidak ada fungsi lainnya. Perkara yang abadi bagi seorang manusia, bermanfaat dan membahagiakannya adalah amalan-amalan yang kekal lagi shalih. Ini mencakup seluruh jenis ketaatan yang wajib atau sunnah, yang bertalian dengan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia, berupa shalat, zakat, sedekah, haji, umrah, bertasbih, (mengucapkan) tahmid, tahlil dan [takbir], membaca (al-Qur`an), mencari ilmu yang bermanfaat, melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, menjalin tali silaturahim, berbakti kepada kedua orang tua, melaksanakan hak-hak istri-istri, budak-budak dan hewan-hewan serta seluruh jenis perbuatan baik yang ditujukan kepada sesama manusia. Ini semua termasuk baqiyyatus shalihat (amalan-amalan yang kekal lagi shalih). Amal perbuatan ini lebih baik pahalanya di sisi Allah, dan lebih baik untuk menjadi harapan. Pahalanya lestari dan berlipat-ganda selama-lamanya. Ganjaran, kebaikan, dan kegunaan amalan itu senantiasa diharap-harap di waktu yang diperlukan. Inilah yang sepatutnya (menjadi ajang) perlombaan bagi orang-orang yang berlomba dan (wahana) adu cepat bagi orang-orang yang beramal, serta (menjadi media) ketekunan untuk meraihnya bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh. Cermatilah, bagaimana Allah menggariskan perumpamaan dunia dan kondisinya serta kepudarannya, Allah menyebutkan bahwa di dalamnya terdapat dua macam (hakikat): Jenis (pertama) yang menjadi sumber keindahannya yang akan dinikmati sejenak kemudian lenyap tanpa faidah yang kembali bagi pemiliknya. Dan bahkan tidak menutup kemungkinan dia terkena kemudharatan-nya yaitu harta dan anak. Dan jenis (kedua) yang abadi bagi pemilik-nya secara lestari, yaitu baqiyyatush shalihat (amalan yang kekal lagi shalih).

Al-Kahf 18:46

"Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), ke-hidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diter-bangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahala-nya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Al-Kahfi: 45-46). (45) Allah تعالى berfirman pertama-tama kepada NabiNya, dan terarah kepada orang-orang yang mewarisi (misinya) sepening-gal beliau secara otomatis, "Buatkanlah untuk manusia, ﴾ مَّثَلَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "perumpamaan kehidupan dunia," agar mereka mengimajinasikannya dengan benar dan mengetahui (seluk-beluknya) zahir dan batin, membandingkannya dengan kampung akhirat, dan mengutamakan manakah yang seharusnya dikedepankan. Sesungguhnya permisal-an kehidupan dunia, ibarat air hujan yang turun ke tanah. Kemudian tumbuh-tumbuhan menjadi subur, menumbuhkan segala macam tanaman yang sedap dipandang. Pada saat perhiasan dan keindah-annya menyebabkan para pemandangnya senang dan membuat orang-orang yang menyaksikannya ceria serta menawan pandangan-pandangan insan-insan yang lalai, tiba-tiba ia berubah menjadi ﴾ هَشِيمٗا تَذۡرُوهُ ٱلرِّيَٰحُۗ ﴿ "kering yang diterbangkan oleh angin," akibatnya, ta-naman yang indah dan bunga yang memikat serta panorama yang menarik menjadi sirna. Tanah menjadi penuh dengan debu. Fokus pandangan pun beralih darinya, mata-mata berpaling darinya, me-nyebabkan hati sesak. Demikian pula kondisi dunia, di saat pemiliknya terpukau dengan masa mudanya, berhasil mengalahkan kawan-kawan dan teman-teman dalam masalah ini, menggenggam dirham dan dinar, memunguti bunga-bunga kelezatannya, larut dalam kenikmatan-kenikmatannya di seluruh waktunya, dan dia pun menyangka akan senantiasa berada di dalamnya di seluruh hari-harinya, sekonyong-konyong kematian mendatanginya atau kehancuran menimpa harta-bendanya, kegembiraannya pun pudar, kelezatan dan kegirangan-nya hilang. Hatinya sesak karena didera berbagai macam kepedih-an. Dia pun terpisah dengan masa mudanya, kekuatan, dan kekaya-annya. Tinggal sendirian ditemani amal baik atau buruknya. Pada saat itulah, orang zhalim menggigit dua tangannya lan-taran mengetahui kondisinya yang nyata dan berangan-angan bisa kembali ke dunia (untuk memperbaiki diri). Bukan untuk menuntas-kan nafsu syahwatnya, akan tetapi dalam upaya menambal keku-rangan-kekurangan yang dia kerjakan berupa kelalaian-kelalaian, dengan taubat dan beramal shalih. Orang yang cerdik lagi berkepribadian kuat yang meraih taufik (dari Allah) menghadirkan kondisi ini ke hadapan matanya. Kemu-dian berkata kepada dirinya sendiri, "Anggap saja bahwa engkau sudah mati, dan pasti engkau akan mati, kondisi manakah yang engkau pilih, tertipu dengan keindahan tempat ini (dunia) dan ber-senang-senang layaknya binatang-binatang ternak yang sedang berkeliaran, ataukah beramal untuk tempat yang perjamuannya abadi dan naungannya (pun demikian). Di dalamnya terdapat apa saja yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang) mata. Dengan ini bisa diketahui, apakah seorang hamba mendapatkan taufik atau tersia-siakan, memperoleh keuntungan atau kerugian." (46) Oleh karena itu, Allah تعالى memberitahukan bahwa ke-kayaan dan anak-anak adalah ﴾ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "perhiasan kehidupan dunia," maksudnya tidak ada fungsi lainnya. Perkara yang abadi bagi seorang manusia, bermanfaat dan membahagiakannya adalah amalan-amalan yang kekal lagi shalih. Ini mencakup seluruh jenis ketaatan yang wajib atau sunnah, yang bertalian dengan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia, berupa shalat, zakat, sedekah, haji, umrah, bertasbih, (mengucapkan) tahmid, tahlil dan [takbir], membaca (al-Qur`an), mencari ilmu yang bermanfaat, melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, menjalin tali silaturahim, berbakti kepada kedua orang tua, melaksanakan hak-hak istri-istri, budak-budak dan hewan-hewan serta seluruh jenis perbuatan baik yang ditujukan kepada sesama manusia. Ini semua termasuk baqiyyatus shalihat (amalan-amalan yang kekal lagi shalih). Amal perbuatan ini lebih baik pahalanya di sisi Allah, dan lebih baik untuk menjadi harapan. Pahalanya lestari dan berlipat-ganda selama-lamanya. Ganjaran, kebaikan, dan kegunaan amalan itu senantiasa diharap-harap di waktu yang diperlukan. Inilah yang sepatutnya (menjadi ajang) perlombaan bagi orang-orang yang berlomba dan (wahana) adu cepat bagi orang-orang yang beramal, serta (menjadi media) ketekunan untuk meraihnya bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh. Cermatilah, bagaimana Allah menggariskan perumpamaan dunia dan kondisinya serta kepudarannya, Allah menyebutkan bahwa di dalamnya terdapat dua macam (hakikat): Jenis (pertama) yang menjadi sumber keindahannya yang akan dinikmati sejenak kemudian lenyap tanpa faidah yang kembali bagi pemiliknya. Dan bahkan tidak menutup kemungkinan dia terkena kemudharatan-nya yaitu harta dan anak. Dan jenis (kedua) yang abadi bagi pemilik-nya secara lestari, yaitu baqiyyatush shalihat (amalan yang kekal lagi shalih).

Al-Kahf 18:47

"Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung, dan kamu akan melihat bumi itu datar, dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka. Dan mereka akan dibawa ke hadapan Rabbmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagai-mana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengklaim bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian. Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia pasti men-catat semuanya; dan mereka mendapati amal yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun'." (Al-Kahfi: 47-49). (47-48) Allah تعالى mengabarkan tentang kondisi Hari Kiamat bersama kengerian-kengerian yang merisaukan (perasaan) dan kedahsyatan-kedahsyatan yang menyentak. Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ نُسَيِّرُ ٱلۡجِبَالَ ﴿ "Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung," maksudnya, Kami memusnahkannya dari tempat-tempatnya, menjadikannya kumpulan pasir, lantas menjelmakan-nya ibarat bulu yang dihambur-hamburkan, kemudian pudar dan hancur. Akhirnya, menjadi debu yang beterbangan. Bumi terpam-pang dan menjadi betul-betul datar, tidak ada tempat yang rendah maupun tinggi. Allah mengumpulkan semua makhluk di permuka-an bumi itu, tidak meninggalkan seorang pun dari mereka. Dia menghimpun generasi manusia pertama dari perut-perut padang pasir dan dasar-dasar lautan. Dia mengumpulkan mereka setelah terpisah-pisah, dan mengembalikan bentuk mereka setelah terko-yak-koyak menjadi bentuk yang baru. Kemudian, mereka dihadap-kan kepada Allah dengan berbaris untuk dilihat amalan-amalan mereka, menjatuhkan keputusan tentang mereka dengan keputusan yang adil, tanpa ada unsur kecurangan atau kezhaliman di dalamnya. Dia berkata kepada mereka, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتُمُونَا كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةِۭۚ ﴿ "Sesungguh-nya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama," maksudnya dalam keadaan tanpa mempu-nyai kekayaan, istri, dan keluarga. Tidak ada yang bersama menyer-tai mereka kecuali amal perbuatan yang telah mereka perbuat dan usaha-usaha dalam kebajikan maupun keburukan yang telah mereka kerjakan. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ جِئۡتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَتَرَكۡتُم مَّا خَوَّلۡنَٰكُمۡ وَرَآءَ ظُهُورِكُمۡۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمۡ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِيكُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْۚ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri se-bagaimana Kami menciptakanmu pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu tuhan di antara kamu." (Al-An'am: 94). Di sini, Allah mengarahkan pembicaraan kepada kaum yang mengingkari kebangkitan saat mereka menyaksikan kenyataannya ﴾ بَلۡ زَعَمۡتُمۡ أَلَّن نَّجۡعَلَ لَكُم مَّوۡعِدٗا 48 ﴿ "bahkan kamu mengklaim bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian," maksudnya kalian mengingkari Hari Pembalasan atas amal per-buatan dan janji serta ancamanNya. Ketahuilah, sungguh kalian sudah melihat dan merasakannya. (49) Pada waktu itulah, buku-buku catatan amal perbuatan yang telah ditulis oleh para malaikat yang berbakti dihadirkan. Maka hati manusia melayang-layang (kosong) dan kesulitan-kesulitan semakin berat saja lantaran kejadian itu. Hampir-hampir gunung-gunung yang kokoh terkikis habis karenanya. Orang-orang jahat pun merasa ketakutan. Bila mereka menyaksikan amal perbuatan mereka terbukukan, ucapan-ucapan dan tindak-tanduk mereka di-perhitungkan, maka mereka berkata, ﴾ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ ﴿ "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak me-ninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya," maksudnya kitab ini tidak meninggalkan per-buatan kecil dan besar melainkan ia pasti tercatat lagi terpelihara di dalamnya, tidak terlewatkan amalan yang sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, di malam dan siang hari ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "dan mereka mendapati amal yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)." Mereka tidak berdaya untuk mengingkarinya, ﴾ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun." Saat itu, mereka diberi balasan atas amalannya dan dimintai pengakuan atasnya, ditimpa kehinaan serta jatuhlah siksaan pada mereka. ﴾ ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيۡسَ بِظَلَّامٖ لِّلۡعَبِيدِ 182 ﴿ "(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tangan kalian sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaNya." (Ali Imran: 182). Bahkan mereka tidak akan keluar dari keadilan dan kemurah-anNya.

Al-Kahf 18:48

"Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung, dan kamu akan melihat bumi itu datar, dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka. Dan mereka akan dibawa ke hadapan Rabbmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagai-mana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengklaim bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian. Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia pasti men-catat semuanya; dan mereka mendapati amal yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun'." (Al-Kahfi: 47-49). (47-48) Allah تعالى mengabarkan tentang kondisi Hari Kiamat bersama kengerian-kengerian yang merisaukan (perasaan) dan kedahsyatan-kedahsyatan yang menyentak. Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ نُسَيِّرُ ٱلۡجِبَالَ ﴿ "Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung," maksudnya, Kami memusnahkannya dari tempat-tempatnya, menjadikannya kumpulan pasir, lantas menjelmakan-nya ibarat bulu yang dihambur-hamburkan, kemudian pudar dan hancur. Akhirnya, menjadi debu yang beterbangan. Bumi terpam-pang dan menjadi betul-betul datar, tidak ada tempat yang rendah maupun tinggi. Allah mengumpulkan semua makhluk di permuka-an bumi itu, tidak meninggalkan seorang pun dari mereka. Dia menghimpun generasi manusia pertama dari perut-perut padang pasir dan dasar-dasar lautan. Dia mengumpulkan mereka setelah terpisah-pisah, dan mengembalikan bentuk mereka setelah terko-yak-koyak menjadi bentuk yang baru. Kemudian, mereka dihadap-kan kepada Allah dengan berbaris untuk dilihat amalan-amalan mereka, menjatuhkan keputusan tentang mereka dengan keputusan yang adil, tanpa ada unsur kecurangan atau kezhaliman di dalamnya. Dia berkata kepada mereka, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتُمُونَا كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةِۭۚ ﴿ "Sesungguh-nya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama," maksudnya dalam keadaan tanpa mempu-nyai kekayaan, istri, dan keluarga. Tidak ada yang bersama menyer-tai mereka kecuali amal perbuatan yang telah mereka perbuat dan usaha-usaha dalam kebajikan maupun keburukan yang telah mereka kerjakan. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ جِئۡتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَتَرَكۡتُم مَّا خَوَّلۡنَٰكُمۡ وَرَآءَ ظُهُورِكُمۡۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمۡ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِيكُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْۚ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri se-bagaimana Kami menciptakanmu pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu tuhan di antara kamu." (Al-An'am: 94). Di sini, Allah mengarahkan pembicaraan kepada kaum yang mengingkari kebangkitan saat mereka menyaksikan kenyataannya ﴾ بَلۡ زَعَمۡتُمۡ أَلَّن نَّجۡعَلَ لَكُم مَّوۡعِدٗا 48 ﴿ "bahkan kamu mengklaim bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian," maksudnya kalian mengingkari Hari Pembalasan atas amal per-buatan dan janji serta ancamanNya. Ketahuilah, sungguh kalian sudah melihat dan merasakannya. (49) Pada waktu itulah, buku-buku catatan amal perbuatan yang telah ditulis oleh para malaikat yang berbakti dihadirkan. Maka hati manusia melayang-layang (kosong) dan kesulitan-kesulitan semakin berat saja lantaran kejadian itu. Hampir-hampir gunung-gunung yang kokoh terkikis habis karenanya. Orang-orang jahat pun merasa ketakutan. Bila mereka menyaksikan amal perbuatan mereka terbukukan, ucapan-ucapan dan tindak-tanduk mereka di-perhitungkan, maka mereka berkata, ﴾ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ ﴿ "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak me-ninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya," maksudnya kitab ini tidak meninggalkan per-buatan kecil dan besar melainkan ia pasti tercatat lagi terpelihara di dalamnya, tidak terlewatkan amalan yang sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, di malam dan siang hari ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "dan mereka mendapati amal yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)." Mereka tidak berdaya untuk mengingkarinya, ﴾ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun." Saat itu, mereka diberi balasan atas amalannya dan dimintai pengakuan atasnya, ditimpa kehinaan serta jatuhlah siksaan pada mereka. ﴾ ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيۡسَ بِظَلَّامٖ لِّلۡعَبِيدِ 182 ﴿ "(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tangan kalian sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaNya." (Ali Imran: 182). Bahkan mereka tidak akan keluar dari keadilan dan kemurah-anNya.

Al-Kahf 18:49

"Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung, dan kamu akan melihat bumi itu datar, dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka. Dan mereka akan dibawa ke hadapan Rabbmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagai-mana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengklaim bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian. Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia pasti men-catat semuanya; dan mereka mendapati amal yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun'." (Al-Kahfi: 47-49). (47-48) Allah تعالى mengabarkan tentang kondisi Hari Kiamat bersama kengerian-kengerian yang merisaukan (perasaan) dan kedahsyatan-kedahsyatan yang menyentak. Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ نُسَيِّرُ ٱلۡجِبَالَ ﴿ "Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung," maksudnya, Kami memusnahkannya dari tempat-tempatnya, menjadikannya kumpulan pasir, lantas menjelmakan-nya ibarat bulu yang dihambur-hamburkan, kemudian pudar dan hancur. Akhirnya, menjadi debu yang beterbangan. Bumi terpam-pang dan menjadi betul-betul datar, tidak ada tempat yang rendah maupun tinggi. Allah mengumpulkan semua makhluk di permuka-an bumi itu, tidak meninggalkan seorang pun dari mereka. Dia menghimpun generasi manusia pertama dari perut-perut padang pasir dan dasar-dasar lautan. Dia mengumpulkan mereka setelah terpisah-pisah, dan mengembalikan bentuk mereka setelah terko-yak-koyak menjadi bentuk yang baru. Kemudian, mereka dihadap-kan kepada Allah dengan berbaris untuk dilihat amalan-amalan mereka, menjatuhkan keputusan tentang mereka dengan keputusan yang adil, tanpa ada unsur kecurangan atau kezhaliman di dalamnya. Dia berkata kepada mereka, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتُمُونَا كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةِۭۚ ﴿ "Sesungguh-nya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama," maksudnya dalam keadaan tanpa mempu-nyai kekayaan, istri, dan keluarga. Tidak ada yang bersama menyer-tai mereka kecuali amal perbuatan yang telah mereka perbuat dan usaha-usaha dalam kebajikan maupun keburukan yang telah mereka kerjakan. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ جِئۡتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَتَرَكۡتُم مَّا خَوَّلۡنَٰكُمۡ وَرَآءَ ظُهُورِكُمۡۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمۡ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِيكُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْۚ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri se-bagaimana Kami menciptakanmu pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu tuhan di antara kamu." (Al-An'am: 94). Di sini, Allah mengarahkan pembicaraan kepada kaum yang mengingkari kebangkitan saat mereka menyaksikan kenyataannya ﴾ بَلۡ زَعَمۡتُمۡ أَلَّن نَّجۡعَلَ لَكُم مَّوۡعِدٗا 48 ﴿ "bahkan kamu mengklaim bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian," maksudnya kalian mengingkari Hari Pembalasan atas amal per-buatan dan janji serta ancamanNya. Ketahuilah, sungguh kalian sudah melihat dan merasakannya. (49) Pada waktu itulah, buku-buku catatan amal perbuatan yang telah ditulis oleh para malaikat yang berbakti dihadirkan. Maka hati manusia melayang-layang (kosong) dan kesulitan-kesulitan semakin berat saja lantaran kejadian itu. Hampir-hampir gunung-gunung yang kokoh terkikis habis karenanya. Orang-orang jahat pun merasa ketakutan. Bila mereka menyaksikan amal perbuatan mereka terbukukan, ucapan-ucapan dan tindak-tanduk mereka di-perhitungkan, maka mereka berkata, ﴾ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ ﴿ "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak me-ninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya," maksudnya kitab ini tidak meninggalkan per-buatan kecil dan besar melainkan ia pasti tercatat lagi terpelihara di dalamnya, tidak terlewatkan amalan yang sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, di malam dan siang hari ﴾ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "dan mereka mendapati amal yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)." Mereka tidak berdaya untuk mengingkarinya, ﴾ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun." Saat itu, mereka diberi balasan atas amalannya dan dimintai pengakuan atasnya, ditimpa kehinaan serta jatuhlah siksaan pada mereka. ﴾ ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيۡسَ بِظَلَّامٖ لِّلۡعَبِيدِ 182 ﴿ "(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tangan kalian sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaNya." (Ali Imran: 182). Bahkan mereka tidak akan keluar dari keadilan dan kemurah-anNya.

Al-Kahf 18:50

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malai-kat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka dia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambilnya dan turunan-turunan-nya sebagai pemimpin selain dari padaKu, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim." (Al-Kahfi: 50). (50) Allah تعالى memberitahukan tentang permusuhan iblis kepada Adam dan anak-keturunannya. Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan serta menaati perintah Allah. Lalu mereka me-naatinya ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِۦٓۗ ﴿ "kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka Dia mendurhakai perintah Rabbnya," dan Allah تعالى berfirman, ﴾ ءَأَسۡجُدُ لِمَنۡ خَلَقۡتَ طِينٗا 61 ﴿ "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" (Al-Isra`: 61). Dan Allah تعالى berfirman, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ ﴿ "Aku lebih baik darinya." (Al-A'raf: 12). Melalui ayat-ayat ini, jelaslah permusuhannya kepada Allah dan ayah kalian (Adam), lalu bagaimana mungkin kamu menjadi-kannya ﴾ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ ﴿ "dan turunan-turunannya," maksudnya setan-setan ﴾ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِي وَهُمۡ لَكُمۡ عَدُوُّۢۚ بِئۡسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلٗا 50 ﴿ "sebagai pemimpin selain dari padaKu, sedang mereka adalah musuhmu. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim," maksudnya sejelek-jelek kepemimpinan yang mereka pilih adalah kepemimpinan setan yang tidak memerintah kecuali perbuatan yang keji dan mungkar dengan mengenyampingkan wilayah (perlindungan) ar-Rahman yang mana semua kebahagiaan, keberuntungan, dan kesenangan berada di bawah pengendalianNya. Dalam ayat ini, terdapat himbauan untuk menjadikan setan sebagai musuh dan memberanikan diri untuk melakukannya, serta penyebutan faktor penyebab yang mengharuskan untuk memusuhi-nya. Sesungguhnya tidak ada orang yang melakukannya (mendaulat setan sebagai pimpinan) kecuali insan yang zhalim. Adakah kezha-liman yang lebih besar daripada kezhaliman seseorang yang men-jadikan musuh sejatinya sebagai pemimpinnya dengan meninggal-kan Pemimpin yang terpuji (Allah تعالى). Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِۗ ﴿ "Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekufuran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan." (Al-Baqarah: 257). Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُمُ ٱتَّخَذُواْ ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung (mereka) selain Allah." (Al-A'raf: 30).

Al-Kahf 18:51

"Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi, dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku menjadikan orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong. Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman, 'Kalian panggillah sekutu-sekutuKu menurut klaim kalian.' Maka mereka memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka, dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka)." (Al-Kahfi: 51-52). (51) Allah تعالى berfirman, ﴾ مَّآ أَشۡهَدتُّهُمۡ خَلۡقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ خَلۡقَ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Aku tidak pernah menghadirkan setan-setan dan orang-orang yang me-nyesatkan untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi, dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri." Maksudnya, Kami tidak mendatangkan mereka dan tidak ber-tukar-pikiran dengan mereka tentang itu. Bagaimana mungkin mereka menjadi para pencipta sebagian dari itu. Akan tetapi Dzat satu-satunya yang menciptakan, mengatur, mempunyai sifat hik-mah dan ketetapan takdir, adalah Allah, Pencipta segala sesuatu, yang memegang kendali di dalamnya berdasarkan hikmahNya. Bagaimana mungkin bisa diterima, penetapan sekutu-sekutu bagi Allah, dari bangsa setan-setan, dipatuhi dan ditaati seperti ketaatan kepada Allah, padahal mereka itu tidak menciptakan dan tidak menyaksikan proses penciptaan, serta tidak membantu Allah تعالى. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمَا كُنتُ مُتَّخِذَ ٱلۡمُضِلِّينَ عَضُدٗا 51 ﴿ "Dan tidaklah Aku menjadikan orang-orang yang menyesatkan itu sebagai pe-nolong," yaitu para penolong yang membantu Allah pada salah satu urusanNya. Maksudnya, tidak patut dan tidak pantas bagi Allah untuk memberi mereka bagian dari hak pengaturan. Pasalnya, mereka itu berupaya menyesatkan umat manusia dan memusuhi Rabb mereka. Selayaknya, menjauhkan mereka (dari Allah) dan tidak mendekatkan mereka. (52) Setelah menyebutkan kondisi orang-orang yang menye-kutukan (sesuatu) denganNya di dunia ini, menggugurkan syirik ini dengan tuntas, dan menetapkan kebodohan dan ketololan pe-lakunya, maka Allah memberitahukan keadaan hubungan mereka dengan para sekutu mereka di Hari Kiamat kelak, bahwasanya Allah berkata kepada mereka, ﴾ نَادُواْ شُرَكَآءِيَ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ ﴿ "Kalian panggil-lah para sekutuKu menurut klaim kalian," maksudnya berdasarkan persepsi kalian yang rusak. Kalau tidak demikian, maka sesung-guhnya Allah tidak memiliki sekutu di bumi ataupun di langit. Maksudnya, panggillah mereka untuk memberikan kemanfaatan dan menyelamatkan kalian dari kesulitan-kesulitan ini. ﴾ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ ﴿ "Maka mereka memanggilnya, tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka," karena kerajaan dan ketetapan hukum pada hari itu hanya milik Allah, tiada seorang pun yang dapat mem-berikan manfaat sekecil biji dzarrah pun bagi dirinya sendiri atau orang lain. ﴾ وَجَعَلۡنَا بَيۡنَهُم ﴿ "Dan Kami adakan untuk mereka," yaitu antara kaum musyrikin dan sekutu-sekutu mereka ﴾ مَّوۡبِقٗا 52 ﴿ "tempat ke-binasaan (neraka)," yaitu tempat kehancuran, yang akan memisah-kan antara kaum musyrikin dengan para sekutu mereka, menjauhkan mereka dari yang lain. Pada saat itu, menjadi teranglah permusuh-an dan pengingkaran para sekutu, serta sikap berlepas dirinya me-reka dari para pemujanya, seperti Firman Allah, ﴾ وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُواْ لَهُمۡ أَعۡدَآءٗ وَكَانُواْ بِعِبَادَتِهِمۡ كَٰفِرِينَ 6 ﴿ "Dan apabila manusia dikumpulkan (pada Hari Kiamat), niscaya sesembahan-sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (Al-Kahfi: 54).

Al-Kahf 18:52

"Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi, dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku menjadikan orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong. Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman, 'Kalian panggillah sekutu-sekutuKu menurut klaim kalian.' Maka mereka memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka, dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka)." (Al-Kahfi: 51-52). (51) Allah تعالى berfirman, ﴾ مَّآ أَشۡهَدتُّهُمۡ خَلۡقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ خَلۡقَ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Aku tidak pernah menghadirkan setan-setan dan orang-orang yang me-nyesatkan untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi, dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri." Maksudnya, Kami tidak mendatangkan mereka dan tidak ber-tukar-pikiran dengan mereka tentang itu. Bagaimana mungkin mereka menjadi para pencipta sebagian dari itu. Akan tetapi Dzat satu-satunya yang menciptakan, mengatur, mempunyai sifat hik-mah dan ketetapan takdir, adalah Allah, Pencipta segala sesuatu, yang memegang kendali di dalamnya berdasarkan hikmahNya. Bagaimana mungkin bisa diterima, penetapan sekutu-sekutu bagi Allah, dari bangsa setan-setan, dipatuhi dan ditaati seperti ketaatan kepada Allah, padahal mereka itu tidak menciptakan dan tidak menyaksikan proses penciptaan, serta tidak membantu Allah تعالى. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمَا كُنتُ مُتَّخِذَ ٱلۡمُضِلِّينَ عَضُدٗا 51 ﴿ "Dan tidaklah Aku menjadikan orang-orang yang menyesatkan itu sebagai pe-nolong," yaitu para penolong yang membantu Allah pada salah satu urusanNya. Maksudnya, tidak patut dan tidak pantas bagi Allah untuk memberi mereka bagian dari hak pengaturan. Pasalnya, mereka itu berupaya menyesatkan umat manusia dan memusuhi Rabb mereka. Selayaknya, menjauhkan mereka (dari Allah) dan tidak mendekatkan mereka. (52) Setelah menyebutkan kondisi orang-orang yang menye-kutukan (sesuatu) denganNya di dunia ini, menggugurkan syirik ini dengan tuntas, dan menetapkan kebodohan dan ketololan pe-lakunya, maka Allah memberitahukan keadaan hubungan mereka dengan para sekutu mereka di Hari Kiamat kelak, bahwasanya Allah berkata kepada mereka, ﴾ نَادُواْ شُرَكَآءِيَ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ ﴿ "Kalian panggil-lah para sekutuKu menurut klaim kalian," maksudnya berdasarkan persepsi kalian yang rusak. Kalau tidak demikian, maka sesung-guhnya Allah tidak memiliki sekutu di bumi ataupun di langit. Maksudnya, panggillah mereka untuk memberikan kemanfaatan dan menyelamatkan kalian dari kesulitan-kesulitan ini. ﴾ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ ﴿ "Maka mereka memanggilnya, tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka," karena kerajaan dan ketetapan hukum pada hari itu hanya milik Allah, tiada seorang pun yang dapat mem-berikan manfaat sekecil biji dzarrah pun bagi dirinya sendiri atau orang lain. ﴾ وَجَعَلۡنَا بَيۡنَهُم ﴿ "Dan Kami adakan untuk mereka," yaitu antara kaum musyrikin dan sekutu-sekutu mereka ﴾ مَّوۡبِقٗا 52 ﴿ "tempat ke-binasaan (neraka)," yaitu tempat kehancuran, yang akan memisah-kan antara kaum musyrikin dengan para sekutu mereka, menjauhkan mereka dari yang lain. Pada saat itu, menjadi teranglah permusuh-an dan pengingkaran para sekutu, serta sikap berlepas dirinya me-reka dari para pemujanya, seperti Firman Allah, ﴾ وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُواْ لَهُمۡ أَعۡدَآءٗ وَكَانُواْ بِعِبَادَتِهِمۡ كَٰفِرِينَ 6 ﴿ "Dan apabila manusia dikumpulkan (pada Hari Kiamat), niscaya sesembahan-sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (Al-Kahfi: 54).

Al-Kahf 18:53

"Dan orang-orang yang berdosa melihat mereka, maka mereka meyakini bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya, dan mereka tidak menemukan tempat berpaling darinya." (Al-Kahfi: 53). (53) Maksudnya, pada Hari Kiamat kelak, ketika telah di-lakukan perhitungan amal, masing-masing orang dari para makhluk terkotak-kotakkan berdasarkan amal perbuatan mereka, keputusan penjatuhan siksa telah jatuh pada kaum yang berbuat dosa, maka mereka menyaksikan Jahanam sebelum memasukinya, sehingga mereka begitu gelisah. Kerisauan mereka semakin menjadi-jadi karena mereka menyangka (meyakini) akan memasukinya. Per-sangkaan mereka itu, sesuai dengan keterangan para ulama tafsir berarti keyakinan. Jadi mereka benar-benar meyakini akan masuk ke dalamnya ﴾ وَلَمۡ يَجِدُواْ عَنۡهَا مَصۡرِفٗا 53 ﴿ "dan mereka tidak menemukan tem-pat berpaling darinya," maksudnya tempat pindah untuk beralih ke sana. Tidak ada pemberi syafa'at bagi mereka tanpa izin Allah. Pada ayat ini terdapat aspek takhwif (intimidasi) dan tarhib (menakut-nakuti) yang membuat jantung dan hati berdebar.

Al-Kahf 18:54

"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi ma-nusia dalam al-Qur`an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah." (Al-Kahfi: 54). (54) Allah تعالى memberitahukan tentang keagungan al-Qur`an, kebesaran dan nilai universalnya, bahwasanya Dia telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur`an ini ﴾ مِن كُلِّ مَثَلٖۚ ﴿ "bermacam-macam perumpamaan," dari semua cara yang mengantar-kan kepada ilmu yang bermanfaat, dan kebahagiaan yang langgeng, dan setiap jalan yang memelihara dari kejelekan dan kebinasaan. Di dalamnya, (juga) terkandung perumpamaan-perumpamaan halal dan haram, balasan amal perbuatan, targhib dan tarhib, berita-berita riil yang berguna bagi hati, sebagai keyakinan, ketentraman, dan cahaya. Ini semua termasuk perkara yang mendatangkan kepas-rahan terhadap al-Qur`an, dan menerimanya dengan tunduk serta ketaatan, tanpa penentangan terhadapnya dalam perkara apa pun. Kendatipun demikian, kebanyakan manusia justru melancarkan bantahan kepada kebenaran setelah menjadi jelas, menyanggah de-ngan dasar kebatilan untuk mempecundangi kebenaran dengannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ أَكۡثَرَ شَيۡءٖ جَدَلٗا 54 ﴿ "Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah," maksud-nya membantah dan menentang kandungan al-Qur`an. Padahal, hal tersebut tidak pantas mereka lakukan dan tidak ada kesanggu-pan bagi mereka untuk melakukannya. Faktor yang menyebabkan-nya demikian, dan ketiadaan beriman (pada mereka) kepada Allah hanyalah sikap kezhaliman dan penentangan, bukan kedangkalan hujjah maupun buktinya yang nyata. Bila bukan ini alasannya, se-kiranya azab datang kepada mereka dan hukuman (pada kaum) sebelum mereka mendatangi mereka, maka keadaan mereka tidak seperti ini. Oleh karena itu, Allah berfirman,

Al-Kahf 18:55

"Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan me-mohon ampun kepada Rabbnya, kecuali (keinginan menanti) datang-nya hukum (Allah yang telah berlaku pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata." (Al-Kahfi: 55). (55) Maksudnya tidak ada faktor yang menghalang-halangi manusia untuk beriman –padahal keberadaan hidayah yang dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebatil-an telah sampai kepada mereka dan telah tegak hujjah Allah atas mereka– dan bukan (pula) penjelasan (yang gamblang) yang meng-hambat mereka (untuk beriman). Akan tetapi, sebab yang meng-halangi mereka dari keimanan adalah kezhaliman dan permusuh-an. Sehingga tidak ada yang ditunggu kecuali ketetapan Allah dan kebiasaanNya pada generasi-generasi dahulu, yaitu jika mereka tidak beriman, maka disegerakan siksa pada mereka atau mereka akan menyaksikan siksa telah menyongsong mereka. Mereka benar-benar melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri. Artinya, hendaklah mereka takut terhadapnya dan bertaubat dari kekufur-an mereka, sebelum siksaan (datang) yang tidak bisa ditolak lagi.

Al-Kahf 18:56

"Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang haq, dan mereka meng-anggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan terhadap me-reka sebagai olok-olokan." (Al-Kahfi: 56). (56) Maksudnya, Kami tidak mengutus para rasul dengan sia-sia, bukan pula agar manusia menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan, dan tidak untuk menyeru umat manusia kepada (kepenting-an) pribadi para rasul. Akan tetapi, Kami mengirim mereka untuk mengajak umat manusia kepada setiap kebajikan dan melarang mereka dari segala kejelekan, membawa kabar gembira bagi mereka atas ketaatan terhadap hal tersebut (perintah dan larangan) dengan pahala dunia dan balasan akhirat, memberi mereka peringatan dari pelanggarannya dengan hukuman dunia dan akhirat. Dengan itu, hujjah Allah telah tegak berdiri kepada para hambaNya. Meskipun begitu, orang-orang yang zhalim dan kafir enggan untuk berbuat sesuatu melainkan melancarkan bantahan dengan kebatilan untuk melenyapkan kebenaran. Mereka mengusahakan cara apa pun yang bisa mereka tempuh untuk memenangkan kebatilan dan melenyap-kan kebenaran serta merontokkannya. Mereka mengolok-olok para rasul Allah dan ayat-ayatNya. Mereka sudah cukup gembira de-ngan ilmu yang mereka miliki, ﴾ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ 32 ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki melainkan menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai." (At- Taubah: 32), dan memenangkan kebenaran di atas kebatilan ﴾ بَلۡ نَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَى ٱلۡبَٰطِلِ فَيَدۡمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٞۚ ﴿ "Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu le-nyap." (Al-Anbiya`: 18). Termasuk pengaruh sifat hikmah Allah dan rahmatNya, bahwa pengerahan orang-orang yang batil dan membantah kebenaran dengan kebatilan, termasuk faktor penting yang menuntun kepada kejelasan al-haq, bukti-bukti dan dalil-dalilnya yang nyata, tersing-kapnya kebatilan dari sisi kerusakannya. Sebab, dengan lawannya, segala sesuatu akan lebih jelas.

Al-Kahf 18:57

"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Rabbnya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan sesuatu yang dikerjakan oleh kedua tangan-nya. Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. Dan Rabbmu-lah Yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapat azab) yang me-reka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari-nya. Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zhalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi ke-binasaan mereka." (Al-Kahfi: 57-59). (57) Allah تعالى memberitahukan bahwa tidak ada tindakan kezhaliman yang paling fatal dan kejahatan yang paling besar, dari seseorang hamba yang sudah diingatkan dengan ayat-ayat Allah dan dijelaskan kepadanya kebenaran dari kebatilan, petunjuk dari kesesatan, ditakut-takuti, diperingatkan dan dianjurkan (dengan balasan baik), akan tetapi dia berpaling muka darinya, tidak sudi mengambil pelajaran dari peringatan yang diarahkan kepadanya, serta tidak meninggalkan kebiasaan lamanya ﴾ وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُۚ ﴿ "dan melupakan sesuatu yang dikerjakan oleh kedua tangannya," yang berupa dosa-dosa. Tidak bermuraqabah kepada 'Allamul ghuyub (Dzat Yang Maha Mengetahui alam ghaib). Ini lebih besar kezhalimannya dari-pada orang yang berpaling tapi memang belum pernah didatangi ayat-ayat Allah dan belum diperingatkan dengannya –meskipun orang ini juga telah berbuat zhalim– akan tetapi orang tadi lebih dahsyat kezhalimannya daripada orang ini, karena dia melanggar atas dasar pengetahuan dan ilmu, dan lebih besar (kezhalimannya) dibandingkan orang yang keadaannya tidak demikian. Allah meng-hukumnya lantaran berpaling dari ayat-ayatNya dan melupakan dosa-dosanya, serta tenang dengan dirinya dalam kondisi buruk, padahal mengetahuinya, dengan hukuman menutup pintu-pintu hidayah baginya, dalam bentuk meletakkan tutup (akinnah) di atas hatinya yaitu penutup-penutup kuat yang menghalanginya untuk memahami ayat-ayat Allah meskipun dia mendengarnya. Tidak mungkin dia bisa mengusahakan pemahaman yang sanggup me-nembus hatinya. ﴾ وَفِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٗاۖ ﴿ "Dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga me-reka," maksudnya ketulian yang mengganjal mereka untuk sanggup mencapai ayat-ayat dan mendengarkannya guna mencari manfaat. Bila kondisi mereka semacam ini, maka tidak ada jalan hidayah bagi mereka. ﴾ وَإِن تَدۡعُهُمۡ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ فَلَن يَهۡتَدُوٓاْ إِذًا أَبَدٗا 57 ﴿ "Dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya," karena orang yang diharapkan menyambut kete-rangan dari penyeru adalah orang yang tidak berilmu. Sementara mereka yang telah mengetahui kemudian membutakan diri, melihat jalan kebenaran, lantas mereka tinggalkan, (dan melihat) jalan ke-sesatan justru mereka tempuh, maka Allah menimpakan hukuman atas mereka dengan mengunci hati-hati mereka dan mematrinya. Tidak ada rekayasa dan jalan untuk memberi hidayah kepada me-reka lagi. Dalam ayat ini, terdapat takhwif (menakut-nakuti) bagi orang yang meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya berupa dihalanginya antara dia dengan hidayah, dan sudah tidak mungkin lagi setelah itu ada kejadian yang lebih menakutkan dan membuat-nya jera dari kesesatannya. (58) Kemudian Allah تعالى memberitahukan tentang luasnya ampunan dan rahmatNya, Dia mengampuni dosa-dosa dan mene-rima taubat orang yang bertaubat kepadaNya. Selanjutnya, Dia me-ngucurkan padanya rahmat dan meliputinya dengan kebaikanNya. Sesungguhnya bila Dia menyiksa para hambaNya atas dosa-dosa yang mereka perbuat, niscaya Dia benar-benar akan menyegerakan azab bagi mereka. Namun, Allah Mahasabar, tidak mempercepat penjatuhan hukuman. Bahkan memberikan penundaan, tapi tidak melupakan. Dan dosa pasti mendatangkan pengaruh buruknya, meskipun terjadinya agak terlambat setelah jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ بَل لَّهُم مَّوۡعِدٞ لَّن يَجِدُواْ مِن دُونِهِۦ مَوۡئِلٗا ﴿ "Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung darinya," maksudnya, mereka telah mendapatkan waktu tertentu untuk menerima balasan atas amal perbuatan mereka. Pasti itu terjadi pada mereka, tidak ada alternatif pilihan untuk mereka, tidak ada tempat untuk berlindung darinya, tidak ada tempat menyembunyi-kan dan melarikan diri darinya. (59) Ini merupakan ketetapan Allah pada orang-orang ter-dahulu dan yang akan datang, yaitu tidak menyegerakan penjatuh-an hukuman atas mereka. Bahkan Dia mengundang mereka untuk bertaubat dan kembali (kepadaNya). Bila mereka mau bertaubat dan kembali, niscaya Allah mengampuni dan mengasihi mereka, serta mengenyahkan hukuman dari mereka, namun kalau mereka tidak (bertaubat dan kembali) dan mereka terus melangsungkan kezhaliman dan penentangan mereka, dan waktu yang sudah di-tetapkan bagi mereka sudah datang, niscaya Allah menurunkan siksaNya pada mereka. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰٓ أَهۡلَكۡنَٰهُمۡ لَمَّا ظَلَمُواْ ﴿ "Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zhalim," maksudnya disebabkan tindakan kezhaliman mereka, bukan disebabkan kezhaliman Kami ﴾ وَجَعَلۡنَا لِمَهۡلِكِهِم مَّوۡعِدٗا 59 ﴿ "dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka," yaitu waktu yang sudah ditentukan, mereka tidak mendahului atau mundur darinya.

Al-Kahf 18:58

"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Rabbnya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan sesuatu yang dikerjakan oleh kedua tangan-nya. Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. Dan Rabbmu-lah Yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapat azab) yang me-reka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari-nya. Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zhalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi ke-binasaan mereka." (Al-Kahfi: 57-59). (57) Allah تعالى memberitahukan bahwa tidak ada tindakan kezhaliman yang paling fatal dan kejahatan yang paling besar, dari seseorang hamba yang sudah diingatkan dengan ayat-ayat Allah dan dijelaskan kepadanya kebenaran dari kebatilan, petunjuk dari kesesatan, ditakut-takuti, diperingatkan dan dianjurkan (dengan balasan baik), akan tetapi dia berpaling muka darinya, tidak sudi mengambil pelajaran dari peringatan yang diarahkan kepadanya, serta tidak meninggalkan kebiasaan lamanya ﴾ وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُۚ ﴿ "dan melupakan sesuatu yang dikerjakan oleh kedua tangannya," yang berupa dosa-dosa. Tidak bermuraqabah kepada 'Allamul ghuyub (Dzat Yang Maha Mengetahui alam ghaib). Ini lebih besar kezhalimannya dari-pada orang yang berpaling tapi memang belum pernah didatangi ayat-ayat Allah dan belum diperingatkan dengannya –meskipun orang ini juga telah berbuat zhalim– akan tetapi orang tadi lebih dahsyat kezhalimannya daripada orang ini, karena dia melanggar atas dasar pengetahuan dan ilmu, dan lebih besar (kezhalimannya) dibandingkan orang yang keadaannya tidak demikian. Allah meng-hukumnya lantaran berpaling dari ayat-ayatNya dan melupakan dosa-dosanya, serta tenang dengan dirinya dalam kondisi buruk, padahal mengetahuinya, dengan hukuman menutup pintu-pintu hidayah baginya, dalam bentuk meletakkan tutup (akinnah) di atas hatinya yaitu penutup-penutup kuat yang menghalanginya untuk memahami ayat-ayat Allah meskipun dia mendengarnya. Tidak mungkin dia bisa mengusahakan pemahaman yang sanggup me-nembus hatinya. ﴾ وَفِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٗاۖ ﴿ "Dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga me-reka," maksudnya ketulian yang mengganjal mereka untuk sanggup mencapai ayat-ayat dan mendengarkannya guna mencari manfaat. Bila kondisi mereka semacam ini, maka tidak ada jalan hidayah bagi mereka. ﴾ وَإِن تَدۡعُهُمۡ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ فَلَن يَهۡتَدُوٓاْ إِذًا أَبَدٗا 57 ﴿ "Dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya," karena orang yang diharapkan menyambut kete-rangan dari penyeru adalah orang yang tidak berilmu. Sementara mereka yang telah mengetahui kemudian membutakan diri, melihat jalan kebenaran, lantas mereka tinggalkan, (dan melihat) jalan ke-sesatan justru mereka tempuh, maka Allah menimpakan hukuman atas mereka dengan mengunci hati-hati mereka dan mematrinya. Tidak ada rekayasa dan jalan untuk memberi hidayah kepada me-reka lagi. Dalam ayat ini, terdapat takhwif (menakut-nakuti) bagi orang yang meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya berupa dihalanginya antara dia dengan hidayah, dan sudah tidak mungkin lagi setelah itu ada kejadian yang lebih menakutkan dan membuat-nya jera dari kesesatannya. (58) Kemudian Allah تعالى memberitahukan tentang luasnya ampunan dan rahmatNya, Dia mengampuni dosa-dosa dan mene-rima taubat orang yang bertaubat kepadaNya. Selanjutnya, Dia me-ngucurkan padanya rahmat dan meliputinya dengan kebaikanNya. Sesungguhnya bila Dia menyiksa para hambaNya atas dosa-dosa yang mereka perbuat, niscaya Dia benar-benar akan menyegerakan azab bagi mereka. Namun, Allah Mahasabar, tidak mempercepat penjatuhan hukuman. Bahkan memberikan penundaan, tapi tidak melupakan. Dan dosa pasti mendatangkan pengaruh buruknya, meskipun terjadinya agak terlambat setelah jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ بَل لَّهُم مَّوۡعِدٞ لَّن يَجِدُواْ مِن دُونِهِۦ مَوۡئِلٗا ﴿ "Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung darinya," maksudnya, mereka telah mendapatkan waktu tertentu untuk menerima balasan atas amal perbuatan mereka. Pasti itu terjadi pada mereka, tidak ada alternatif pilihan untuk mereka, tidak ada tempat untuk berlindung darinya, tidak ada tempat menyembunyi-kan dan melarikan diri darinya. (59) Ini merupakan ketetapan Allah pada orang-orang ter-dahulu dan yang akan datang, yaitu tidak menyegerakan penjatuh-an hukuman atas mereka. Bahkan Dia mengundang mereka untuk bertaubat dan kembali (kepadaNya). Bila mereka mau bertaubat dan kembali, niscaya Allah mengampuni dan mengasihi mereka, serta mengenyahkan hukuman dari mereka, namun kalau mereka tidak (bertaubat dan kembali) dan mereka terus melangsungkan kezhaliman dan penentangan mereka, dan waktu yang sudah di-tetapkan bagi mereka sudah datang, niscaya Allah menurunkan siksaNya pada mereka. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰٓ أَهۡلَكۡنَٰهُمۡ لَمَّا ظَلَمُواْ ﴿ "Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zhalim," maksudnya disebabkan tindakan kezhaliman mereka, bukan disebabkan kezhaliman Kami ﴾ وَجَعَلۡنَا لِمَهۡلِكِهِم مَّوۡعِدٗا 59 ﴿ "dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka," yaitu waktu yang sudah ditentukan, mereka tidak mendahului atau mundur darinya.

Al-Kahf 18:59

"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Rabbnya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan sesuatu yang dikerjakan oleh kedua tangan-nya. Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. Dan Rabbmu-lah Yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapat azab) yang me-reka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari-nya. Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zhalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi ke-binasaan mereka." (Al-Kahfi: 57-59). (57) Allah تعالى memberitahukan bahwa tidak ada tindakan kezhaliman yang paling fatal dan kejahatan yang paling besar, dari seseorang hamba yang sudah diingatkan dengan ayat-ayat Allah dan dijelaskan kepadanya kebenaran dari kebatilan, petunjuk dari kesesatan, ditakut-takuti, diperingatkan dan dianjurkan (dengan balasan baik), akan tetapi dia berpaling muka darinya, tidak sudi mengambil pelajaran dari peringatan yang diarahkan kepadanya, serta tidak meninggalkan kebiasaan lamanya ﴾ وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُۚ ﴿ "dan melupakan sesuatu yang dikerjakan oleh kedua tangannya," yang berupa dosa-dosa. Tidak bermuraqabah kepada 'Allamul ghuyub (Dzat Yang Maha Mengetahui alam ghaib). Ini lebih besar kezhalimannya dari-pada orang yang berpaling tapi memang belum pernah didatangi ayat-ayat Allah dan belum diperingatkan dengannya –meskipun orang ini juga telah berbuat zhalim– akan tetapi orang tadi lebih dahsyat kezhalimannya daripada orang ini, karena dia melanggar atas dasar pengetahuan dan ilmu, dan lebih besar (kezhalimannya) dibandingkan orang yang keadaannya tidak demikian. Allah meng-hukumnya lantaran berpaling dari ayat-ayatNya dan melupakan dosa-dosanya, serta tenang dengan dirinya dalam kondisi buruk, padahal mengetahuinya, dengan hukuman menutup pintu-pintu hidayah baginya, dalam bentuk meletakkan tutup (akinnah) di atas hatinya yaitu penutup-penutup kuat yang menghalanginya untuk memahami ayat-ayat Allah meskipun dia mendengarnya. Tidak mungkin dia bisa mengusahakan pemahaman yang sanggup me-nembus hatinya. ﴾ وَفِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٗاۖ ﴿ "Dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga me-reka," maksudnya ketulian yang mengganjal mereka untuk sanggup mencapai ayat-ayat dan mendengarkannya guna mencari manfaat. Bila kondisi mereka semacam ini, maka tidak ada jalan hidayah bagi mereka. ﴾ وَإِن تَدۡعُهُمۡ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ فَلَن يَهۡتَدُوٓاْ إِذًا أَبَدٗا 57 ﴿ "Dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya," karena orang yang diharapkan menyambut kete-rangan dari penyeru adalah orang yang tidak berilmu. Sementara mereka yang telah mengetahui kemudian membutakan diri, melihat jalan kebenaran, lantas mereka tinggalkan, (dan melihat) jalan ke-sesatan justru mereka tempuh, maka Allah menimpakan hukuman atas mereka dengan mengunci hati-hati mereka dan mematrinya. Tidak ada rekayasa dan jalan untuk memberi hidayah kepada me-reka lagi. Dalam ayat ini, terdapat takhwif (menakut-nakuti) bagi orang yang meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya berupa dihalanginya antara dia dengan hidayah, dan sudah tidak mungkin lagi setelah itu ada kejadian yang lebih menakutkan dan membuat-nya jera dari kesesatannya. (58) Kemudian Allah تعالى memberitahukan tentang luasnya ampunan dan rahmatNya, Dia mengampuni dosa-dosa dan mene-rima taubat orang yang bertaubat kepadaNya. Selanjutnya, Dia me-ngucurkan padanya rahmat dan meliputinya dengan kebaikanNya. Sesungguhnya bila Dia menyiksa para hambaNya atas dosa-dosa yang mereka perbuat, niscaya Dia benar-benar akan menyegerakan azab bagi mereka. Namun, Allah Mahasabar, tidak mempercepat penjatuhan hukuman. Bahkan memberikan penundaan, tapi tidak melupakan. Dan dosa pasti mendatangkan pengaruh buruknya, meskipun terjadinya agak terlambat setelah jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ بَل لَّهُم مَّوۡعِدٞ لَّن يَجِدُواْ مِن دُونِهِۦ مَوۡئِلٗا ﴿ "Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung darinya," maksudnya, mereka telah mendapatkan waktu tertentu untuk menerima balasan atas amal perbuatan mereka. Pasti itu terjadi pada mereka, tidak ada alternatif pilihan untuk mereka, tidak ada tempat untuk berlindung darinya, tidak ada tempat menyembunyi-kan dan melarikan diri darinya. (59) Ini merupakan ketetapan Allah pada orang-orang ter-dahulu dan yang akan datang, yaitu tidak menyegerakan penjatuh-an hukuman atas mereka. Bahkan Dia mengundang mereka untuk bertaubat dan kembali (kepadaNya). Bila mereka mau bertaubat dan kembali, niscaya Allah mengampuni dan mengasihi mereka, serta mengenyahkan hukuman dari mereka, namun kalau mereka tidak (bertaubat dan kembali) dan mereka terus melangsungkan kezhaliman dan penentangan mereka, dan waktu yang sudah di-tetapkan bagi mereka sudah datang, niscaya Allah menurunkan siksaNya pada mereka. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰٓ أَهۡلَكۡنَٰهُمۡ لَمَّا ظَلَمُواْ ﴿ "Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zhalim," maksudnya disebabkan tindakan kezhaliman mereka, bukan disebabkan kezhaliman Kami ﴾ وَجَعَلۡنَا لِمَهۡلِكِهِم مَّوۡعِدٗا 59 ﴿ "dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka," yaitu waktu yang sudah ditentukan, mereka tidak mendahului atau mundur darinya.

Al-Kahf 18:60

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.' Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu (melompat) mengambil jalannya ke laut itu pergi secara sembunyi-sembunyi. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, 'Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.' Muridnya menjawab, 'Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu, dan tidak ada yang mem-buatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata, 'Itulah (tempat) yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, maka mereka bertemu dengan se-orang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khi-dhir, 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan ke-padaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan ke-padamu.' Dia menjawab, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.' Musa berkata, 'Insya Allah, kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.' Dia berkata, 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku ten-tang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepada-mu.' Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya. Musa berkata, 'Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan pe-numpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.' Dia (Khidhir) berkata, 'Bukankah aku telah berkata, 'Se-sungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku'.' Musa berkata, 'Janganlah kamu menghukumku karena ke-lupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan sesuatu ke-sulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir mem-bunuhnya. Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain, sungguh kamu telah me-lakukan suatu yang mungkar.' Khidhir berkata, 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar ber-samaku.' Musa berkata, 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperboleh-kan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberi-kan udzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata, 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidhir berkata, 'Inilah perpisah-an antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadap-nya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu, dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya'." (Al-Kahfi: 60-82). (60) Allah تعالى memberitahukan tentang NabiNya, Musa عليه السلام dan kecintaannya kepada kebaikan dan pencarian ilmu, bahwa beliau berkata kepada pemudanya, maksudnya, pelayannya yang menyertainya saat berada di rumah dan dalam perjalanan. Ia adalah Yusya' bin Nun, Allah menceritakan setelah itu, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan," maksudnya aku akan tetap menempuh perjalan-an meskipun jarak semakin jauh dan kesulitan menghampiriku, sampai aku mencapai tempat pertemuan dua buah lautan[25]. Ia adalah tempat yang sudah diwahyukan (oleh Allah) kepadanya, 'Bahwa engkau akan menjumpai seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang berilmu, dia memiliki ilmu yang tidak engkau punyai.' ﴾ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun," maksud-nya (sampai) jarak yang jauh. Maknanya, kerinduan dan keinginan-lah yang menyebabkan Musa berkata demikian kepada pelayannya. (61) Ini merupakan tekad teguh darinya. Karena itu, dia menjalankannya. ﴾ فَلَمَّا بَلَغَا ﴿ "Maka tatkala mereka sampai," yaitu dia dan pelayannya ﴾ مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا ﴿ "ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya," ada seekor ikan yang mereka bawa seba-gai bekal dan makanan mereka. Ia telah diberitahu (sebelumnya) bahwa kapan saja ikan tersebut hilang, maka di situlah insan yang dia tuju berada ﴾ فَٱتَّخَذَ ﴿ "lalu mengambil," yaitu ikan tersebut meng-ambil ﴾ سَبِيلَهُۥ ﴿ "jalannya," jalannya ﴾ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا 61 ﴿ "ke laut itu dengan pergi secara sembunyi-sembunyi," ini termasuk tanda kebesaran Allah. Para ulama tafsir berkata, 'Sesungguhnya ikan tersebut yang dijadi-kan perbekalan oleh mereka, ketika mereka sampai di tempat itu, (maka ikan itu) terkena air laut. Maka ia pergi secara sembunyi-sembunyi dengan izin Allah ke dalam lautan dan hidup bersama binatang-binatang laut lainnya." (62) Tatkala Musa dan pelayannya telah melewati tempat pertemuan dua laut, maka Musa berkata kepada pelayannya,﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Bawalah ke mari makanan kita; sesung-guhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini," maksudnya kita telah merasa kepayahan disebabkan perjalanan yang melewati (tempat dua pertemuan laut). Apabila tidak demikian, maka pada perjalanan panjang yang mereka lalui sampai ke tempat dua per-temuan laut, mereka tidak merasakan keletihan sama sekali. Ini termasuk tanda-tanda kebesaran Allah dan petunjuk yang meng-indikasikan kepada keberadaan apa yang dicari oleh Musa. Selain itu, sesungguhnya kerinduan yang berhubungan dengan perja-lanan sampai ke tempat itu telah memudahkan jalan bagi mereka. Ketika mereka telah melampaui tujuannya, maka mereka (baru) merasakan keletihan. (63) Usai mengatakan perkataan ini kepada pelayannya, sang pelayan berkata kepada Musa, ﴾ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ ﴿ "Tahu-kah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka se-sungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu," [maksudnya tidakkah engkau tahu ketika kita menginap tadi malam di batu ter-sebut di antara dua lautan itu, sesungguhnya aku lupa terhadap ikan tersebut]. ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan tidak ada yang membuatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan," karena dialah penyebab-nya. ﴾ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا 63 ﴿ "Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali," maksudnya ketika ikan itu telah me-lompat dan menghilang ke dalam laut, maka hal itu termasuk ke-jadian yang mencengangkan. Para ulama tafsir mengatakan, "Jalan yang ditempuh oleh ikan itu adalah jalan tersembunyi, sedangkan dalam (pandangan) Musa dan pelayannya, itu merupakan keajaiban." (64) Setelah si pelayan berkata demikian kepada Musa, yang sebelumnya telah mendapatkan janji dari Allah, bahwasanya jika dia kehilangan ikan itu, berarti akan menjumpai Khidhir, maka Musa berkata, ﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ ﴿ "Itulah (tempat) yang kita cari," yang kita inginkan ﴾ فَٱرۡتَدَّا ﴿ "Lalu keduanya kembali," maksudnya kembali pulang ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا 64 ﴿ "mengikuti jejak mereka semula," mereka kembali menelusuri jejak-jejak mereka sampai (ke tempat) yang mereka lupa terhadap ikan tadi. (65) Ketika mereka telah sampai di sana ﴾ فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ﴿ "maka mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami," yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi, berdasarkan pendapat yang shahih, ﴾ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا ﴿ "yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami," maksudnya Allah menganugerahinya rahmat yang lebih spesial. Dengan itu, ilmu dan kebaikan amalnya bertambah. ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami," maksudnya berasal dari sisi Kami ﴾ عِلۡمٗا 65 ﴿ "ilmu." Dia telah memperoleh ilmu yang tidak diberikan ke-pada Musa, kendatipun Musa lebih berilmu daripada Khidhir pada banyak permasalahan, terutama ilmu-ilmu keimanan dan ilmu-ilmu Ushul. Pasalnya, beliau adalah salah seorang ulul 'azmi dari kalangan para rasul yang Allah utamakan di atas seluruh makhluk dengan ilmu, amal, dan lainnya. (66) Manakala Musa berhasil berkumpul dengan Khidhir, maka beliau berkata kepadanya dengan penuh kesopanan dan per-mohonan persetujuan sembari memberitahukan apa yang ia ingin-kan, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu su-paya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu," maksudnya, apakah aku boleh meng-ikutimu agar engkau mengajariku dari ilmu-ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu, yang akan kujadikan sebagai pegangan dan petunjuk, dan dengan itu aku pun bisa mengetahui kebenaran pada persoalan-persoalan itu? Khidhir telah dianugerahi Allah ilham dan karamah hingga sanggup meneropong rahasia-rahasia permasalah-an yang tersembunyi pada pandangan Musa عليه السلام. (67) Maka Khidhir berkata kepada Musa, "Aku tidak menam-piknya. Akan tetapi, sesungguhnya engkau ﴾ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ﴿ 'sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku,' maksudnya engkau tidak mampu untuk mengikuti dan menyertaiku. Sebab, kamu akan me-nyaksikan obyek yang membuatmu tidak bisa bersabar dalam meng-hadapi perkara-perkara yang nampak terlihat sebagai kemungkar-an, sementara hakikatnya tidak demikian adanya." (68) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mem-punyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu," maksudnya, bagaimana bisa engkau bersabar menghadapi sesuatu yang engkau tidak me-nguasai seluk-beluknya bagian luar dan dalamnya, dan tidak me-ngetahui tujuan dan kesudahannya. (69) Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا 69 ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." Ini merupakan tekad Musa sebelum dijumpainya obyek ujian. Tekad itu sebuah keinginan, sementara keberadaan sabar adalah urusan lain. Karena-nya, Musa tidak bisa menahan diri saat peristiwa terjadi. (70) Pada saat itulah, Khidhir berpesan kepada Musa, ﴾ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡـَٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا 70 ﴿ "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu," maksudnya janganlah eng-kau memulai untuk melontarkan pertanyaan dan pengingkaran kepadaku, sampai akulah yang akan menerangkan kepadamu apa yang terjadi, di waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang itu. Ia melarang Musa untuk bertanya dan berjanji kepadanya untuk menerangkan kepadanya tentang hakikat peristiwa tersebut. (71) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ ﴿ "Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya," maksudnya Khidhir mencabut satu papan dari perahu tersebut. Ia mempunyai tujuan dalam melakukannya yang akan ia jelaskan (nanti). Akan tetapi, Musa عليه السلام tidak tahan (menyaksikannya), lan-taran secara eksplisit merupakan kemungkaran. Pasalnya, tindakan itu dapat merusak perahu tersebut dan menjadi penyebab tenggelam bagi sang pemilik. Oleh karena itu, Musa berkata, ﴾ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا إِمۡرٗا 71 ﴿ "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah ber-buat kesalahan yang besar," yaitu kesalahan yang besar lagi sangat buruk. Ini termasuk cerminan ketidaksabaran Musa عليه السلام. (72) Maka Khidhir berkata kepada Musa, ﴾ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 72 ﴿ "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku'," maksudnya, sudah terjadi apa yang aku beritahukan kepadamu. (73) Teguran itu merupakan bentuk kealpaan dari Musa, maka dia berkata, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرۡهِقۡنِي مِنۡ أَمۡرِي عُسۡرٗا 73 ﴿ "Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku, dan janganlah kamu membebani-ku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku," maksudnya janganlah engkau mempersulit urusan kepada diriku, maafkanlah aku. Se-sungguhnya itu terjadi karena faktor lupa. Janganlah engkau meng-hukum aku karena kelupaanku yang pertama kali ini. Ia memadu-kan antara pengakuan kesalahan dan pengajuan alasan, dan bahwa engkau wahai Khidhir tidak patut bersikap keras terhadap kawan-mu ini, maka Khidhir memaafkannya. (74) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا ﴿ "Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak," yaitu anak kecil ﴾ فَقَتَلَهُۥ ﴿ "maka dia membunuhnya," Khidhir membunuhnya. Kemarahan pun semakin menjadi-jadi pada Musa, kecemburuan agamanya sontak muncul ketika Khidhir membunuh seorang anak kecil yang belum berbuat dosa. ﴾ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain. Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar'." Kemungkaran mana yang sebanding dengan membunuh anak kecil yang belum ternoda oleh dosa, dan ia pun tidak membunuh orang lain? Teguran Musa yang pertama muncul karena kelupaan. Sedangkan sanggahan ini bukan karena lupa, tetapi karena tidak sabar. (75) Khidhir berkata kepada Musa untuk menegur dan meng-ingatkan, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 75 ﴿ "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" (76) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa ﴾ إِن سَأَلۡتُكَ عَن شَيۡءِۭ ﴿ "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini," setelah kali ini ﴾ فَلَا تُصَٰحِبۡنِيۖ ﴿ "maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu," maksudnya engkau punya alasan dan berhak meninggalkan keserta-anku ﴾ قَدۡ بَلَغۡتَ مِن لَّدُنِّي عُذۡرٗا 76 ﴿ "sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur kepadaku," maksudnya kamu telah memberi toleransi bagiku, kamu tidak pelit untuk memberi kesempatan. (77) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا ﴿ "Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu," maksudnya mereka berdua minta perjamuan kepada penduduknya, namun mereka tidak mau menyuguhi mereka berdua, ﴾ فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ ﴿ "kemudian kedua-nya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh," maksudnya [sungguh] telah rusak dan berantakan ﴾ فَأَقَامَهُۥۖ ﴿ "maka dia menegakkan dinding itu," yaitu Khidhir, maksudnya, membangun dan memperbaruinya lagi. Kemudian ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa, ﴾ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا 77 ﴿ "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu," yaitu kepada penduduk negeri itu. Mereka tidak mau menjamu kita, padahal harus mereka lakukan, sementara itu, justru engkau membangun rumah itu tanpa upah sama sekali, pada-hal engkau mampu memintanya? (78) Pada saat itulah, Musa عليه السلام tidak menepati apa yang dia ucapkan. Dan Khidhir meminta pamit kepadanya, seraya ﴾ قَالَ ﴿ "mengatakan" kepada Musa, ﴾ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ ﴿ "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu," karena sesungguhnya engkau telah menetapkan syarat tersebut atas dirimu sendiri, sekarang sudah tidak diterima lagi alasan dan kesempatan untuk menyertai lagi. ﴾ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا 78 ﴿ "Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang membuatmu tidak dapat sabar terhadapnya," maksudnya aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang engkau ingkari terhadapku, dan aku memberitakan bahwa aku mempunyai tujuan dan sasaran dari tindakanku. (79) ﴾ أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ ﴿ "Adapun bahtera itu," yang aku lubangi ﴾ فَكَانَتۡ لِمَسَٰكِينَ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut," yang menuntut munculnya rasa iba dan kasihan kepada mereka ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٞ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصۡبٗا 79 ﴿ "lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang me-rampas tiap-tiap bahtera," maksudnya mereka itu (dalam berlayar), melewati raja yang zhalim. Setiap kapal yang baik yang melewati sang raja tanpa cacat, maka dia merampasnya atau mengambilnya secara paksa. Karena itu, aku berniat melubanginya agar memiliki cacat, sehingga selamat dari (jarahan) penguasa yang zhalim itu. (80) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ ﴿ "Dan adapun anak itu," yang aku bunuh ﴾ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا 80 ﴿ "maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, lalu kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekufuran." Anak lelaki itu telah ditakdirkan, jika menginjak dewasa (kelak) akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekufuran. Maksudnya, menyeret mereka kepada tindakan kesesatan dan kekufuran, baik lantaran kecintaan mereka kepadanya atau ketergantungan mereka kepadanya, maupun lantaran dia memaksa mereka berbuat demi-kian. Maka aku pun membunuhnya, sebab aku mengetahui (kesu-dahan) anak itu, demi keselamatan agama dua orang tuanya yang beriman. Apakah ada manfaat yang lebih besar daripada kebaikan yang besar ini. (81) Pembunuhan tersebut, meskipun mengandung tindak-an buruk kepada mereka berdua dan pemutusan keturunan mereka berdua, namun sesungguhnya Allah تعالى akan menganugerahinya keturunan yang lebih baik daripada si anak itu. Oleh karena itu, (Khidhir) berkata, ﴾ فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا 81 ﴿ "Lalu kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)," yaitu anak yang shalih, suci dan menghormati hubungan dengan orang tuanya. Sesungguhnya anak kecil yang dibunuh tersebut, sekiranya dia dewasa nanti, niscaya dia akan durhaka kepada keduanya dan memaksa mereka kepada kekufuran dan kesesatan. (82) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ ﴿ "Adapun dinding rumah itu," yang aku bangun ﴾ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "maka ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih," maksudnya, kondisi mereka berdua menuntut adanya rasa iba dan rahmat kepada mereka, sebab keduanya masih kecil. Kedua orang tua mereka sudah tiada. Maka Allah memelihara mereka ber-dua juga lantaran keshalihan kedua orang tua mereka. ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu," karena itu, aku hancurkan dindingnya dan aku gali harta simpanan yang berada di bawah dan selanjutnya aku letakkan dan aku (bangun) kembali dengan cuma-cuma. ﴾ رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Sebagai rahmat dari Rabb-mu," maksudnya tindakan yang aku lakukan adalah sebagai bentuk sayang dari Allah yang Allah berikan melalui hambaNya, Khidhir. ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri," maksudnya, aku tidak mengerjakan sesuatu menurut kehendak pribadiku dan murni keinginanku. Sesungguhnya itu hanyalah rahmat dari Allah dan perintahNya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itu," keterangan yang aku jelaskan kepadamu ﴾ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا 82 ﴿ "adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar ter-hadapnya." Dalam kisah yang menakjubkan lagi agung ini, termuat pela-jaran-pelajaran penting, hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang banyak sekali. Kami ingin menyinggung sebagiannya dengan per-tolongan Allah: - Keutamaan ilmu dan pengembaraan untuk mencarinya. Se-sungguhnya ilmu adalah perkara terpenting. Musa عليه السلام telah menem-puh jarak yang jauh dan mengalami keletihan dalam mencarinya, menghentikan berbaur dengan Bani Israil untuk mengajari dan mem-bimbing mereka, dan (lebih) memilih untuk menempuh perjalan-an jauh guna menambah ilmu. - Disyariatkannya memulai dengan perkara yang terpenting lalu (dilanjutkan kepada) perkara yang lebih penting (daripada se-sudahnya). Sesungguhnya menambah ilmu dan meningkatkan pengetahuan masyarakat lebih penting daripada meninggalkan mencari ilmu dan menyibukkan diri dengan mengajar tanpa mem-bekali diri dengan ilmu. Dan bila ada kemampuan untuk memadu-kan antara keduanya, itu lebih diutamakan. - Diperbolehkannya mengangkat seorang pelayan saat berada di lingkungan sendiri maupun dalam bepergian untuk tujuan meng-urusi barang bawaan dan mencari kenyamanan, seperti yang dila-kukan oleh Musa. - Sesungguhnya seorang musafir (yang menempuh perjalan-an jauh) untuk mencari ilmu, berjihad atau tujuan lainnya, jika ke-maslahatan menuntut untuk memberitahukan tujuan dan apa yang ia inginkan, maka sesungguhnya sikap tersebut lebih baik daripada menyembunyikannya. Karena di dalam penyampaiannya terdapat beberapa manfaat, seperti melakukan persiapan perbekalan dan menjalankan suatu perkara dengan dasar ilmu serta memperlihat-kan kerinduan terhadap ibadah yang agung ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musa, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (Al-Kahfi: 60). Sebagaimana Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada para sahabat ketika akan menyerang wilayah Tabuk, padahal ke-biasaan beliau adalah bertauriyah (menzahirkan di luar yang dimak-sud). Hal ini tergantung dengan kemaslahatan. - Penisbatan kejelekan dan faktor-faktor pencetusnya kepada setan dengan cara bujukan dan penghiasan maksiat dalam bentuk yang indah, meskipun semua perkara muncul karena keputusan dan takdir Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ ﴿ "Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63). - Bolehnya seorang manusia untuk memberitahukan sesuatu yang menjadi tuntutan tabiat diri, berupa rasa capek, lapar, dan haus dengan syarat tidak dipenuhi kemarahan, dan merupakan kondisi yang benar (apa adanya) berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). - Dianjurkan memilih pelayan yang cerdik, cerdas, lagi pandai agar urusannya terlaksana seperti yang dia inginkan. - Dianjurkan agar seseorang memberi makanan kepada pelayan dari jenis makanan yang dia makan dan memakannya bersama-sama. Karena yang zahir dari Firman Allah, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita." (Al-Kahfi: 62), terdapat penisbatan makanan kepada mereka berdua, tuan dan pelayannya makan bersamaan. - Sesungguhnya pertolongan turun kepada seseorang berdasar-kan tingkat aplikasinya terhadap perintah Allah, dan orang yang sejalan dengan perintah Allah akan memperoleh pertolongan, yang tidak didapatkan oleh orang lain, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). Terdapat isyarat kepada perjalanan yang melampaui tempat pertemuan dua lautan. Adapun yang pertama, Musa tidak menge-luhkan kelelahan meskipun ditempuh dalam waktu lama. Karena itulah safar yang sebenarnya. Sedangkan perjalanan yang terakhir, nampaknya ditempuh dalam setengah hari. Sebab, mereka telah kehilangan ikan ketika bermalam di batu. Padahal secara eksplisit, mereka bermalam di sana. Lantas, berjalan kembali keesokan hari-nya. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, Musa berkata kepada pelayannya, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita," (Al-Kahfi: 62). Saat itulah dia teringat bahwa dia melupakannya di tem-pat yang merupakan tujuan akhirnya. - Hamba yang mereka jumpai bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang insan yang shalih. Sebab, Allah menyebut predikat-nya dengan ubudiyah (pengabdian diri), dan mengungkapkan ka-runiaNya atas dirinya berupa rahmat dan ilmu. Allah tidak menying-gung risalah atau kenabiannya. Seandainya Khidhir adalah nabi, tentulah Allah menyebutkannya sebagaimana Dia menyebut pre-dikat lainnya. Adapun perkataannya di akhir kisah, ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri." (Al-Kahfi: 82), maka perkataan ini tidak menunjukkan dirinya seorang nabi. Hanya mengindikasikan keberadaan ilham dan tahdits (bisikan)(pada dirinya), sebagaimana bisa terjadi pada selain nabi. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ﴿ "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'." (Al-Qa-shash: 7). ﴾ وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا ﴿ "Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung'." (An-Nahl: 68). - Sesungguhnya ilmu yang diajarkan Allah kepada para ham-baNya terbagi menjadi dua bagian: Ilmu muktasab (ilmu yang diusa-hakan), dihasilkan seorang hamba melalui kesungguhan dan kete-kunannya. Dan jenis ilmu ladunni. Allah menganugerahkannya ke-pada hambaNya yang dikehendakiNya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا 65 ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65). - Keharusan beretika saat bersama dengan seorang pengajar dan cara berbicara dari seorang pelajar kepadanya dengan ungkapan yang paling lembut, berdasarkan perkataan Musa عليه السلام, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu meng-ajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). Musa mengungkapkan perkataan dengan nada lembut dan musyawarah, "Apakah engkau memberi izin kepadaku ataukah tidak?" Disertai pengakuan untuk mau belajar darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang berperilaku keras atau sombong, yang tidak memperlihatkan kebutuhannya kepada ilmu sang guru. Justru mengklaim dirinya saling membantu dengan pengajarnya. Bahkan boleh jadi dia berasumsi bahwa dia telah mengajari guru-nya, padahal dia tidak tahu sama sekali. Jadi, menghinakan diri di hadapan seorang guru dan memperlihatkan kebutuhannya kepada pengajarannya termasuk perkara yang paling bermanfaat bagi pen-cari ilmu. - Tawadhu' orang yang utama untuk belajar kepada orang yang berada di bawah levelnya. Sesungguhnya Musa tanpa disang-sikan, lebih mulia daripada Khidhir. - Orang yang sudah berilmu lagi berkedudukan tinggi mem-pelajari ilmu yang belum dia kuasai dari orang yang mahir pada bidang itu, meskipun kedudukannya dalam ilmu tertentu jauh di bawahnya beberapa derajat. Sesungguhnya Musa عليه السلام termasuk ulul 'azmi dari kalangan rasul yang mana Allah menganugerahkan dan mengaruniai kepada mereka ilmu yang tidak dikaruniakan kepada selain mereka. Namun, pada bidang ilmu yang khusus ini, Khidhir mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu, Musa sangat antusias untuk belajar darinya. Atas dasar ini, tidak sepatutnya seorang fakih lagi muhaddits jika kurang cakap dalam ilmu nahwu atau sharaf maupun ilmu lainnya, tidak mem-pelajarinya dari orang yang mahir dalam bidang itu, meskipun bukan seorang faqih atau muhaddits. - Penisbatan ilmu dan keutamaan-keutamaan lainnya adalah kepada Allah تعالى dan mengakuinya serta bersyukur kepada Allah atas itu, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)." (Al-Kahfi: 66), maksudnya dari ilmu yang Allah تعالى ajarkan kepadamu. - Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mem-bimbing kepada kebaikan. Setiap ilmu yang mengandung petunjuk dan hidayah kepada jalan kebaikan dan peringatan dari jalan kejelek-an maupun perantaranya, maka itu termasuk ilmu yang bermanfaat. Sedangkan selain itu, maka ia merupakan ilmu yang berbahaya, atau tidak berisi faidah. Berdasarkan perkataan Musa, ﴾ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). - Sesungguhnya orang yang tidak memiliki kekuatan untuk bersabar dalam menyertai seorang alim dan tidak memiliki ilmu serta keteguhan yang baik dalam menjalaninya, maka sungguh dia [akan kehilangan ilmu yang banyak sebesar tingkat ketidaksabaran-nya].[26] Barangsiapa yang tidak bersabar sedikit pun, niscaya dia tidak dapat menggapai ilmu. Dan siapa saja yang menempuh ke-sabaran dan selalu berkonsisten padanya, tentu ia akan menggapai setiap urusan yang dia usahakan, berdasarkan perkataan Khidhir yang memberi tahu alasan kepada Musa tentang faktor penghambat bagi Musa untuk dapat belajar darinya, yaitu dia tidak bisa bersabar dengannya. - Sesungguhnya penyebab terpenting untuk meraih kesabaran, adalah seseorang menguasai suatu perkara dari sisi ilmu dan penge-tahuan yang mana dia diperintah untuk bersabar di dalamnya. Ka-lau tidak demikian, maka orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui tujuan, hasil, dan kegunaannya, serta buahnya, maka dia tidak memiliki sebab kausalitas kesabaran, berdasarkan perkata-an Khidhir, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu." (Al-Kahfi: 68). Yang mengembalikan faktor ketidaksabarannya adalah tidak adanya penguasaan tentang persoalan tersebut pada Musa. - Perintah untuk berhati-hati, melakukan klarifikasi dan tidak bersegera menjatuhkan keputusan tentang sesuatu sampai menge-tahui arah yang diinginkan dan tujuannya. - Pengaitan urusan-urusan di masa yang akan datang yang di-lakukan oleh para hamba dengan masyi`ah (kehendak) Allah, dan jangan sampai seseorang berkata tentang sesuatu, "Sesungguhnya aku akan melakukannya nanti" kecuali disusuli dengan kata insya Allah. - Tekad untuk mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan per-buatan riilnya. Sesungguhnya Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar." (Al-Kahfi: 69). Ia mempersiapkan dirinya untuk bersabar, namun tidak merealisasikannya. - Seorang guru, jika melihat adanya kemaslahatan dalam me-nahan seorang murid untuk tidak memulai bertanya tentang seba-gian perkara sampai guru itu sendiri yang mengajaknya bicara ten-tang itu, maka sesungguhnya sisi kemaslahatan itu perlu ditelusuri, misalnya, bila pemahaman seorang murid dangkal, atau melarang-nya dari pertanyaan-pertanyaan yang pelik, yang persoalan lain masih lebih penting daripadanya atau karena tidak tercerna oleh daya tangkapnya, atau melontarkan pertanyaan yang tidak berhu-bungan dengan tema pembahasan. - Diperbolehkannya berlayar di laut dalam kondisi yang tidak mengkhawatirkan (keselamatan). - Orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya itu. Tidak bisa dihukum dalam hak Allah dan hak para hamba berdasar-kan FirmanNya, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ﴿ "Janganlah engkau menghukumku disebabkan kelupaanku." (Al-Kahfi: 73). - Sepatutnya, seseorang menyikapi perilaku-perilaku orang dan cara bermuamalah mereka dengan sikap maaf dan sikap yang bisa mereka terima. Tidak pantas membebani mereka hal-hal yang tidak sanggup mereka kerjakan atau memberatkan atau menggencet mereka. Sesungguhnya sikap-sikap ini akan mengundang antipati dan kebosanan terhadapnya. Bahkan, hendaknya dia mengambil jalan yang mudah supaya urusannya pun menjadi mudah. - Hukum segala urusan berjalan sesuai dengan zahirnya, dan (begitu pula) hukum-hukum agama dalam masalah harta, darah, dan lainnya terkait dengannya. Sesungguhnya Musa عليه السلام menging-kari Khidhir atas tindakannya melubangi kapal dan membunuh anak kecil. Dua tindakan ini secara zahir, merupakan kemungkaran. Dan Musa عليه السلام tidak boleh mendiamkannya selain dalam kondisi menyertai Khidhir. Maka, Musa عليه السلام tergesa-gesa dan bersegera untuk menilainya dalam konteks umum, tidak memperhatikan aspek kondisionalnya (bersama Khidhir) yang mengharuskannya bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkarinya. - Adanya kaidah penting yang agung, yaitu menolak keburuk-an yang besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan dan mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar dengan menying-kirkan kemaslahatan yang paling kecil. Sesungguhnya membunuh anak kecil merupakan tindakan jelek. Akan tetapi, keberadaan anak itu (tetap hidup) yang dapat memfitnah agama kedua orang tuanya merupakan keburukan yang lebih besar. Sementara keber-adaan si anak kecil tanpa dibunuh dan tetap memeliharanya, meski-pun dianggap sebagai kebaikan, namun kebaikan (yang lebih besar) adalah dengan menjaga agama dan keimanan dua orang tuanya yang terpelihara, itu lebih baik. Oleh karena itu, Khidhir membunuh-nya. Masuk ke dalam bingkai kaidah ini, bermacam-macam per-soalan furu' dan pelajaran-pelajaran penting yang tidak terbilang. Persoalan bersinggungannya kemaslahatan dan mafsadah, semua masuk ke dalam kaidah ini. - Adanya kaidah penting yang agung juga. Yaitu, penanganan seseorang terhadap harta orang lain, bila dalam rangka menciptakan kemaslahatan dan menghilangkan mafsadah (kerusakan) maka di-perbolehkan, meskipun tanpa izin, hingga walaupun perbuatan-nya itu mengakibatkan sebagian harta orang lain lenyap. Seperti Khidhir yang melubangi kapal agar menjadi cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zhalim. Atas dasar ini, jika terjadi keba-karan atau tenggelam dan peristiwa serupa lainnya di rumah sese-orang atau kekayaannya, yang mana pemusnahan sebagian kekaya-an atau perobohan sebagian rumah dapat menyebabkan keselamat-an bagian yang tersisa, maka hal itu diperbolehkan bagi seseorang (untuk melakukannya). Bahkan disyariatkan baginya untuk menger-jakannya demi menjaga kekayaan orang lain. Begitu pula, sekiranya ada seorang zhalim ingin mengambil harta orang lain lalu sese-orang menyerahkan sebagian uang (yang akan diambil) sebagai tebusan untuk menyelamatkan yang tersisa, maka itu diperboleh-kan, meskipun tanpa izin pemiliknya. - Boleh bekerja di laut sebagaimana diperbolehkan bekerja di daratan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "yang bekerja di laut." (Al-Kahfi: 79), dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka. -Bahwa orang miskin terkadang mempunyai harta yang tidak mencapai (batas) kecukupannya, namun hal itu tidak mengeluarkan-nya dari predikat miskin, karena Allah mengabarkan bahwa mereka adalah miskin yang memiliki perahu. - Pembunuhan termasuk perbuatan dosa yang paling besar, berdasarkan perkataan Musa tentang pembunuhan si anak kecil, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." (Al-Kahfi: 74). - Pembunuhan untuk tujuan qishash tidaklah diingkari, berdasar-kan FirmanNya, ﴾ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ ﴿ "bukan karena dia membunuh." (Al-Kahfi: 74). - Seorang hamba yang shalih, akan dipelihara Allah, jiwa dan keturunannya. - Membantu orang yang shalih atau orang yang berkaitan dengan mereka adalah lebih utama daripada membantu selainnya, karena Khidiri menyebutkan alasan dirinya mengeluarkan harta simpanan dan mendirikan temboknya adalah karena bapak kedua-nya adalah shalih. - Penggunaan etika kesopanan terhadap Allah تعالى dalam (pe-makaian) ungkapan-ungkapan. Sesungguhnya Khidhir mengait-kan perusakan kapal kepada dirinya dengan berkata, ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا ﴿ "Dan aku bertujuan merusak bahtera itu." (Al-Kahfi: 79). Sedangkan tentang kebaikan, maka dia menghubungkannya kepada Allah تعالى, ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar mereka berdua sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya, sebagai rahmat dari Rabbmu." (Al-Kahfi: 82), Sebagaimana yang disampaikan Ibrahim, ﴾ وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 ﴿ "Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku." (Asy- Syu'ara`: 80), dan perkataan jin, ﴾ وَأَنَّا لَا نَدۡرِيٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ أَرَادَ بِهِمۡ رَبُّهُمۡ رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan bahwa kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (Al-Jin: 10), meskipun semua kejadian berasal dari ketentuan dan takdir Allah. - Sesungguhnya seorang kawan tidak pantas meninggalkan sahabatnya dalam kondisi apa pun, dan memutus persahabatan-nya hingga dia menegurnya (terlebih dahulu) dan mengajukan ala-san, seperti yang dilakukan oleh Khidhir terhadap Musa. - Persetujuan seorang teman terhadap sahabatnya dalam per-kara yang tidak terlarang merupakan pemicu dan faktor kelang-gengan persahabatan dan kerekatannya, sebagaimana ketidakse-pahaman menjadi sebab terputusnya hubungan persahabatan. - [Persoalan-persoalan ini yang dijalankan oleh Khidhir me-rupakan keputusan takdir murni, yang mana Allah menjalankan dan meletakkannya pada tangan seorang hamba shalih, agar para hamba mempunyai bukti nyata tentang kelembutan-kelembutan-Nya dalam segala keputusanNya. Dia mentakdirkan perkara-per-kara atas seorang hamba yang benar-benar dia benci, padahal me-rupakan kebaikan bagi agamanya, seperti dalam kejadian si anak kecil (yang dibunuh). Atau kebaikan bagi dunianya, seperti pada peristiwa kapal (yang dilubangi). Allah memperlihatkan sebuah contoh dari kelembutan dan kemuliaanNya supaya mereka menge-nalNya dan ridha dengan takdir-takdir yang tidak mengenakkan dengan tulus].

Al-Kahf 18:61

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.' Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu (melompat) mengambil jalannya ke laut itu pergi secara sembunyi-sembunyi. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, 'Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.' Muridnya menjawab, 'Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu, dan tidak ada yang mem-buatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata, 'Itulah (tempat) yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, maka mereka bertemu dengan se-orang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khi-dhir, 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan ke-padaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan ke-padamu.' Dia menjawab, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.' Musa berkata, 'Insya Allah, kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.' Dia berkata, 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku ten-tang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepada-mu.' Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya. Musa berkata, 'Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan pe-numpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.' Dia (Khidhir) berkata, 'Bukankah aku telah berkata, 'Se-sungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku'.' Musa berkata, 'Janganlah kamu menghukumku karena ke-lupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan sesuatu ke-sulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir mem-bunuhnya. Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain, sungguh kamu telah me-lakukan suatu yang mungkar.' Khidhir berkata, 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar ber-samaku.' Musa berkata, 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperboleh-kan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberi-kan udzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata, 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidhir berkata, 'Inilah perpisah-an antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadap-nya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu, dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya'." (Al-Kahfi: 60-82). (60) Allah تعالى memberitahukan tentang NabiNya, Musa عليه السلام dan kecintaannya kepada kebaikan dan pencarian ilmu, bahwa beliau berkata kepada pemudanya, maksudnya, pelayannya yang menyertainya saat berada di rumah dan dalam perjalanan. Ia adalah Yusya' bin Nun, Allah menceritakan setelah itu, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan," maksudnya aku akan tetap menempuh perjalan-an meskipun jarak semakin jauh dan kesulitan menghampiriku, sampai aku mencapai tempat pertemuan dua buah lautan[25]. Ia adalah tempat yang sudah diwahyukan (oleh Allah) kepadanya, 'Bahwa engkau akan menjumpai seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang berilmu, dia memiliki ilmu yang tidak engkau punyai.' ﴾ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun," maksud-nya (sampai) jarak yang jauh. Maknanya, kerinduan dan keinginan-lah yang menyebabkan Musa berkata demikian kepada pelayannya. (61) Ini merupakan tekad teguh darinya. Karena itu, dia menjalankannya. ﴾ فَلَمَّا بَلَغَا ﴿ "Maka tatkala mereka sampai," yaitu dia dan pelayannya ﴾ مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا ﴿ "ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya," ada seekor ikan yang mereka bawa seba-gai bekal dan makanan mereka. Ia telah diberitahu (sebelumnya) bahwa kapan saja ikan tersebut hilang, maka di situlah insan yang dia tuju berada ﴾ فَٱتَّخَذَ ﴿ "lalu mengambil," yaitu ikan tersebut meng-ambil ﴾ سَبِيلَهُۥ ﴿ "jalannya," jalannya ﴾ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا 61 ﴿ "ke laut itu dengan pergi secara sembunyi-sembunyi," ini termasuk tanda kebesaran Allah. Para ulama tafsir berkata, 'Sesungguhnya ikan tersebut yang dijadi-kan perbekalan oleh mereka, ketika mereka sampai di tempat itu, (maka ikan itu) terkena air laut. Maka ia pergi secara sembunyi-sembunyi dengan izin Allah ke dalam lautan dan hidup bersama binatang-binatang laut lainnya." (62) Tatkala Musa dan pelayannya telah melewati tempat pertemuan dua laut, maka Musa berkata kepada pelayannya,﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Bawalah ke mari makanan kita; sesung-guhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini," maksudnya kita telah merasa kepayahan disebabkan perjalanan yang melewati (tempat dua pertemuan laut). Apabila tidak demikian, maka pada perjalanan panjang yang mereka lalui sampai ke tempat dua per-temuan laut, mereka tidak merasakan keletihan sama sekali. Ini termasuk tanda-tanda kebesaran Allah dan petunjuk yang meng-indikasikan kepada keberadaan apa yang dicari oleh Musa. Selain itu, sesungguhnya kerinduan yang berhubungan dengan perja-lanan sampai ke tempat itu telah memudahkan jalan bagi mereka. Ketika mereka telah melampaui tujuannya, maka mereka (baru) merasakan keletihan. (63) Usai mengatakan perkataan ini kepada pelayannya, sang pelayan berkata kepada Musa, ﴾ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ ﴿ "Tahu-kah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka se-sungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu," [maksudnya tidakkah engkau tahu ketika kita menginap tadi malam di batu ter-sebut di antara dua lautan itu, sesungguhnya aku lupa terhadap ikan tersebut]. ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan tidak ada yang membuatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan," karena dialah penyebab-nya. ﴾ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا 63 ﴿ "Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali," maksudnya ketika ikan itu telah me-lompat dan menghilang ke dalam laut, maka hal itu termasuk ke-jadian yang mencengangkan. Para ulama tafsir mengatakan, "Jalan yang ditempuh oleh ikan itu adalah jalan tersembunyi, sedangkan dalam (pandangan) Musa dan pelayannya, itu merupakan keajaiban." (64) Setelah si pelayan berkata demikian kepada Musa, yang sebelumnya telah mendapatkan janji dari Allah, bahwasanya jika dia kehilangan ikan itu, berarti akan menjumpai Khidhir, maka Musa berkata, ﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ ﴿ "Itulah (tempat) yang kita cari," yang kita inginkan ﴾ فَٱرۡتَدَّا ﴿ "Lalu keduanya kembali," maksudnya kembali pulang ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا 64 ﴿ "mengikuti jejak mereka semula," mereka kembali menelusuri jejak-jejak mereka sampai (ke tempat) yang mereka lupa terhadap ikan tadi. (65) Ketika mereka telah sampai di sana ﴾ فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ﴿ "maka mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami," yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi, berdasarkan pendapat yang shahih, ﴾ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا ﴿ "yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami," maksudnya Allah menganugerahinya rahmat yang lebih spesial. Dengan itu, ilmu dan kebaikan amalnya bertambah. ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami," maksudnya berasal dari sisi Kami ﴾ عِلۡمٗا 65 ﴿ "ilmu." Dia telah memperoleh ilmu yang tidak diberikan ke-pada Musa, kendatipun Musa lebih berilmu daripada Khidhir pada banyak permasalahan, terutama ilmu-ilmu keimanan dan ilmu-ilmu Ushul. Pasalnya, beliau adalah salah seorang ulul 'azmi dari kalangan para rasul yang Allah utamakan di atas seluruh makhluk dengan ilmu, amal, dan lainnya. (66) Manakala Musa berhasil berkumpul dengan Khidhir, maka beliau berkata kepadanya dengan penuh kesopanan dan per-mohonan persetujuan sembari memberitahukan apa yang ia ingin-kan, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu su-paya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu," maksudnya, apakah aku boleh meng-ikutimu agar engkau mengajariku dari ilmu-ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu, yang akan kujadikan sebagai pegangan dan petunjuk, dan dengan itu aku pun bisa mengetahui kebenaran pada persoalan-persoalan itu? Khidhir telah dianugerahi Allah ilham dan karamah hingga sanggup meneropong rahasia-rahasia permasalah-an yang tersembunyi pada pandangan Musa عليه السلام. (67) Maka Khidhir berkata kepada Musa, "Aku tidak menam-piknya. Akan tetapi, sesungguhnya engkau ﴾ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ﴿ 'sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku,' maksudnya engkau tidak mampu untuk mengikuti dan menyertaiku. Sebab, kamu akan me-nyaksikan obyek yang membuatmu tidak bisa bersabar dalam meng-hadapi perkara-perkara yang nampak terlihat sebagai kemungkar-an, sementara hakikatnya tidak demikian adanya." (68) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mem-punyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu," maksudnya, bagaimana bisa engkau bersabar menghadapi sesuatu yang engkau tidak me-nguasai seluk-beluknya bagian luar dan dalamnya, dan tidak me-ngetahui tujuan dan kesudahannya. (69) Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا 69 ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." Ini merupakan tekad Musa sebelum dijumpainya obyek ujian. Tekad itu sebuah keinginan, sementara keberadaan sabar adalah urusan lain. Karena-nya, Musa tidak bisa menahan diri saat peristiwa terjadi. (70) Pada saat itulah, Khidhir berpesan kepada Musa, ﴾ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡـَٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا 70 ﴿ "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu," maksudnya janganlah eng-kau memulai untuk melontarkan pertanyaan dan pengingkaran kepadaku, sampai akulah yang akan menerangkan kepadamu apa yang terjadi, di waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang itu. Ia melarang Musa untuk bertanya dan berjanji kepadanya untuk menerangkan kepadanya tentang hakikat peristiwa tersebut. (71) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ ﴿ "Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya," maksudnya Khidhir mencabut satu papan dari perahu tersebut. Ia mempunyai tujuan dalam melakukannya yang akan ia jelaskan (nanti). Akan tetapi, Musa عليه السلام tidak tahan (menyaksikannya), lan-taran secara eksplisit merupakan kemungkaran. Pasalnya, tindakan itu dapat merusak perahu tersebut dan menjadi penyebab tenggelam bagi sang pemilik. Oleh karena itu, Musa berkata, ﴾ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا إِمۡرٗا 71 ﴿ "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah ber-buat kesalahan yang besar," yaitu kesalahan yang besar lagi sangat buruk. Ini termasuk cerminan ketidaksabaran Musa عليه السلام. (72) Maka Khidhir berkata kepada Musa, ﴾ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 72 ﴿ "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku'," maksudnya, sudah terjadi apa yang aku beritahukan kepadamu. (73) Teguran itu merupakan bentuk kealpaan dari Musa, maka dia berkata, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرۡهِقۡنِي مِنۡ أَمۡرِي عُسۡرٗا 73 ﴿ "Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku, dan janganlah kamu membebani-ku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku," maksudnya janganlah engkau mempersulit urusan kepada diriku, maafkanlah aku. Se-sungguhnya itu terjadi karena faktor lupa. Janganlah engkau meng-hukum aku karena kelupaanku yang pertama kali ini. Ia memadu-kan antara pengakuan kesalahan dan pengajuan alasan, dan bahwa engkau wahai Khidhir tidak patut bersikap keras terhadap kawan-mu ini, maka Khidhir memaafkannya. (74) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا ﴿ "Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak," yaitu anak kecil ﴾ فَقَتَلَهُۥ ﴿ "maka dia membunuhnya," Khidhir membunuhnya. Kemarahan pun semakin menjadi-jadi pada Musa, kecemburuan agamanya sontak muncul ketika Khidhir membunuh seorang anak kecil yang belum berbuat dosa. ﴾ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain. Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar'." Kemungkaran mana yang sebanding dengan membunuh anak kecil yang belum ternoda oleh dosa, dan ia pun tidak membunuh orang lain? Teguran Musa yang pertama muncul karena kelupaan. Sedangkan sanggahan ini bukan karena lupa, tetapi karena tidak sabar. (75) Khidhir berkata kepada Musa untuk menegur dan meng-ingatkan, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 75 ﴿ "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" (76) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa ﴾ إِن سَأَلۡتُكَ عَن شَيۡءِۭ ﴿ "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini," setelah kali ini ﴾ فَلَا تُصَٰحِبۡنِيۖ ﴿ "maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu," maksudnya engkau punya alasan dan berhak meninggalkan keserta-anku ﴾ قَدۡ بَلَغۡتَ مِن لَّدُنِّي عُذۡرٗا 76 ﴿ "sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur kepadaku," maksudnya kamu telah memberi toleransi bagiku, kamu tidak pelit untuk memberi kesempatan. (77) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا ﴿ "Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu," maksudnya mereka berdua minta perjamuan kepada penduduknya, namun mereka tidak mau menyuguhi mereka berdua, ﴾ فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ ﴿ "kemudian kedua-nya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh," maksudnya [sungguh] telah rusak dan berantakan ﴾ فَأَقَامَهُۥۖ ﴿ "maka dia menegakkan dinding itu," yaitu Khidhir, maksudnya, membangun dan memperbaruinya lagi. Kemudian ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa, ﴾ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا 77 ﴿ "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu," yaitu kepada penduduk negeri itu. Mereka tidak mau menjamu kita, padahal harus mereka lakukan, sementara itu, justru engkau membangun rumah itu tanpa upah sama sekali, pada-hal engkau mampu memintanya? (78) Pada saat itulah, Musa عليه السلام tidak menepati apa yang dia ucapkan. Dan Khidhir meminta pamit kepadanya, seraya ﴾ قَالَ ﴿ "mengatakan" kepada Musa, ﴾ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ ﴿ "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu," karena sesungguhnya engkau telah menetapkan syarat tersebut atas dirimu sendiri, sekarang sudah tidak diterima lagi alasan dan kesempatan untuk menyertai lagi. ﴾ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا 78 ﴿ "Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang membuatmu tidak dapat sabar terhadapnya," maksudnya aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang engkau ingkari terhadapku, dan aku memberitakan bahwa aku mempunyai tujuan dan sasaran dari tindakanku. (79) ﴾ أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ ﴿ "Adapun bahtera itu," yang aku lubangi ﴾ فَكَانَتۡ لِمَسَٰكِينَ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut," yang menuntut munculnya rasa iba dan kasihan kepada mereka ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٞ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصۡبٗا 79 ﴿ "lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang me-rampas tiap-tiap bahtera," maksudnya mereka itu (dalam berlayar), melewati raja yang zhalim. Setiap kapal yang baik yang melewati sang raja tanpa cacat, maka dia merampasnya atau mengambilnya secara paksa. Karena itu, aku berniat melubanginya agar memiliki cacat, sehingga selamat dari (jarahan) penguasa yang zhalim itu. (80) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ ﴿ "Dan adapun anak itu," yang aku bunuh ﴾ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا 80 ﴿ "maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, lalu kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekufuran." Anak lelaki itu telah ditakdirkan, jika menginjak dewasa (kelak) akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekufuran. Maksudnya, menyeret mereka kepada tindakan kesesatan dan kekufuran, baik lantaran kecintaan mereka kepadanya atau ketergantungan mereka kepadanya, maupun lantaran dia memaksa mereka berbuat demi-kian. Maka aku pun membunuhnya, sebab aku mengetahui (kesu-dahan) anak itu, demi keselamatan agama dua orang tuanya yang beriman. Apakah ada manfaat yang lebih besar daripada kebaikan yang besar ini. (81) Pembunuhan tersebut, meskipun mengandung tindak-an buruk kepada mereka berdua dan pemutusan keturunan mereka berdua, namun sesungguhnya Allah تعالى akan menganugerahinya keturunan yang lebih baik daripada si anak itu. Oleh karena itu, (Khidhir) berkata, ﴾ فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا 81 ﴿ "Lalu kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)," yaitu anak yang shalih, suci dan menghormati hubungan dengan orang tuanya. Sesungguhnya anak kecil yang dibunuh tersebut, sekiranya dia dewasa nanti, niscaya dia akan durhaka kepada keduanya dan memaksa mereka kepada kekufuran dan kesesatan. (82) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ ﴿ "Adapun dinding rumah itu," yang aku bangun ﴾ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "maka ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih," maksudnya, kondisi mereka berdua menuntut adanya rasa iba dan rahmat kepada mereka, sebab keduanya masih kecil. Kedua orang tua mereka sudah tiada. Maka Allah memelihara mereka ber-dua juga lantaran keshalihan kedua orang tua mereka. ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu," karena itu, aku hancurkan dindingnya dan aku gali harta simpanan yang berada di bawah dan selanjutnya aku letakkan dan aku (bangun) kembali dengan cuma-cuma. ﴾ رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Sebagai rahmat dari Rabb-mu," maksudnya tindakan yang aku lakukan adalah sebagai bentuk sayang dari Allah yang Allah berikan melalui hambaNya, Khidhir. ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri," maksudnya, aku tidak mengerjakan sesuatu menurut kehendak pribadiku dan murni keinginanku. Sesungguhnya itu hanyalah rahmat dari Allah dan perintahNya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itu," keterangan yang aku jelaskan kepadamu ﴾ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا 82 ﴿ "adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar ter-hadapnya." Dalam kisah yang menakjubkan lagi agung ini, termuat pela-jaran-pelajaran penting, hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang banyak sekali. Kami ingin menyinggung sebagiannya dengan per-tolongan Allah: - Keutamaan ilmu dan pengembaraan untuk mencarinya. Se-sungguhnya ilmu adalah perkara terpenting. Musa عليه السلام telah menem-puh jarak yang jauh dan mengalami keletihan dalam mencarinya, menghentikan berbaur dengan Bani Israil untuk mengajari dan mem-bimbing mereka, dan (lebih) memilih untuk menempuh perjalan-an jauh guna menambah ilmu. - Disyariatkannya memulai dengan perkara yang terpenting lalu (dilanjutkan kepada) perkara yang lebih penting (daripada se-sudahnya). Sesungguhnya menambah ilmu dan meningkatkan pengetahuan masyarakat lebih penting daripada meninggalkan mencari ilmu dan menyibukkan diri dengan mengajar tanpa mem-bekali diri dengan ilmu. Dan bila ada kemampuan untuk memadu-kan antara keduanya, itu lebih diutamakan. - Diperbolehkannya mengangkat seorang pelayan saat berada di lingkungan sendiri maupun dalam bepergian untuk tujuan meng-urusi barang bawaan dan mencari kenyamanan, seperti yang dila-kukan oleh Musa. - Sesungguhnya seorang musafir (yang menempuh perjalan-an jauh) untuk mencari ilmu, berjihad atau tujuan lainnya, jika ke-maslahatan menuntut untuk memberitahukan tujuan dan apa yang ia inginkan, maka sesungguhnya sikap tersebut lebih baik daripada menyembunyikannya. Karena di dalam penyampaiannya terdapat beberapa manfaat, seperti melakukan persiapan perbekalan dan menjalankan suatu perkara dengan dasar ilmu serta memperlihat-kan kerinduan terhadap ibadah yang agung ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musa, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (Al-Kahfi: 60). Sebagaimana Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada para sahabat ketika akan menyerang wilayah Tabuk, padahal ke-biasaan beliau adalah bertauriyah (menzahirkan di luar yang dimak-sud). Hal ini tergantung dengan kemaslahatan. - Penisbatan kejelekan dan faktor-faktor pencetusnya kepada setan dengan cara bujukan dan penghiasan maksiat dalam bentuk yang indah, meskipun semua perkara muncul karena keputusan dan takdir Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ ﴿ "Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63). - Bolehnya seorang manusia untuk memberitahukan sesuatu yang menjadi tuntutan tabiat diri, berupa rasa capek, lapar, dan haus dengan syarat tidak dipenuhi kemarahan, dan merupakan kondisi yang benar (apa adanya) berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). - Dianjurkan memilih pelayan yang cerdik, cerdas, lagi pandai agar urusannya terlaksana seperti yang dia inginkan. - Dianjurkan agar seseorang memberi makanan kepada pelayan dari jenis makanan yang dia makan dan memakannya bersama-sama. Karena yang zahir dari Firman Allah, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita." (Al-Kahfi: 62), terdapat penisbatan makanan kepada mereka berdua, tuan dan pelayannya makan bersamaan. - Sesungguhnya pertolongan turun kepada seseorang berdasar-kan tingkat aplikasinya terhadap perintah Allah, dan orang yang sejalan dengan perintah Allah akan memperoleh pertolongan, yang tidak didapatkan oleh orang lain, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). Terdapat isyarat kepada perjalanan yang melampaui tempat pertemuan dua lautan. Adapun yang pertama, Musa tidak menge-luhkan kelelahan meskipun ditempuh dalam waktu lama. Karena itulah safar yang sebenarnya. Sedangkan perjalanan yang terakhir, nampaknya ditempuh dalam setengah hari. Sebab, mereka telah kehilangan ikan ketika bermalam di batu. Padahal secara eksplisit, mereka bermalam di sana. Lantas, berjalan kembali keesokan hari-nya. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, Musa berkata kepada pelayannya, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita," (Al-Kahfi: 62). Saat itulah dia teringat bahwa dia melupakannya di tem-pat yang merupakan tujuan akhirnya. - Hamba yang mereka jumpai bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang insan yang shalih. Sebab, Allah menyebut predikat-nya dengan ubudiyah (pengabdian diri), dan mengungkapkan ka-runiaNya atas dirinya berupa rahmat dan ilmu. Allah tidak menying-gung risalah atau kenabiannya. Seandainya Khidhir adalah nabi, tentulah Allah menyebutkannya sebagaimana Dia menyebut pre-dikat lainnya. Adapun perkataannya di akhir kisah, ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri." (Al-Kahfi: 82), maka perkataan ini tidak menunjukkan dirinya seorang nabi. Hanya mengindikasikan keberadaan ilham dan tahdits (bisikan)(pada dirinya), sebagaimana bisa terjadi pada selain nabi. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ﴿ "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'." (Al-Qa-shash: 7). ﴾ وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا ﴿ "Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung'." (An-Nahl: 68). - Sesungguhnya ilmu yang diajarkan Allah kepada para ham-baNya terbagi menjadi dua bagian: Ilmu muktasab (ilmu yang diusa-hakan), dihasilkan seorang hamba melalui kesungguhan dan kete-kunannya. Dan jenis ilmu ladunni. Allah menganugerahkannya ke-pada hambaNya yang dikehendakiNya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا 65 ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65). - Keharusan beretika saat bersama dengan seorang pengajar dan cara berbicara dari seorang pelajar kepadanya dengan ungkapan yang paling lembut, berdasarkan perkataan Musa عليه السلام, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu meng-ajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). Musa mengungkapkan perkataan dengan nada lembut dan musyawarah, "Apakah engkau memberi izin kepadaku ataukah tidak?" Disertai pengakuan untuk mau belajar darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang berperilaku keras atau sombong, yang tidak memperlihatkan kebutuhannya kepada ilmu sang guru. Justru mengklaim dirinya saling membantu dengan pengajarnya. Bahkan boleh jadi dia berasumsi bahwa dia telah mengajari guru-nya, padahal dia tidak tahu sama sekali. Jadi, menghinakan diri di hadapan seorang guru dan memperlihatkan kebutuhannya kepada pengajarannya termasuk perkara yang paling bermanfaat bagi pen-cari ilmu. - Tawadhu' orang yang utama untuk belajar kepada orang yang berada di bawah levelnya. Sesungguhnya Musa tanpa disang-sikan, lebih mulia daripada Khidhir. - Orang yang sudah berilmu lagi berkedudukan tinggi mem-pelajari ilmu yang belum dia kuasai dari orang yang mahir pada bidang itu, meskipun kedudukannya dalam ilmu tertentu jauh di bawahnya beberapa derajat. Sesungguhnya Musa عليه السلام termasuk ulul 'azmi dari kalangan rasul yang mana Allah menganugerahkan dan mengaruniai kepada mereka ilmu yang tidak dikaruniakan kepada selain mereka. Namun, pada bidang ilmu yang khusus ini, Khidhir mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu, Musa sangat antusias untuk belajar darinya. Atas dasar ini, tidak sepatutnya seorang fakih lagi muhaddits jika kurang cakap dalam ilmu nahwu atau sharaf maupun ilmu lainnya, tidak mem-pelajarinya dari orang yang mahir dalam bidang itu, meskipun bukan seorang faqih atau muhaddits. - Penisbatan ilmu dan keutamaan-keutamaan lainnya adalah kepada Allah تعالى dan mengakuinya serta bersyukur kepada Allah atas itu, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)." (Al-Kahfi: 66), maksudnya dari ilmu yang Allah تعالى ajarkan kepadamu. - Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mem-bimbing kepada kebaikan. Setiap ilmu yang mengandung petunjuk dan hidayah kepada jalan kebaikan dan peringatan dari jalan kejelek-an maupun perantaranya, maka itu termasuk ilmu yang bermanfaat. Sedangkan selain itu, maka ia merupakan ilmu yang berbahaya, atau tidak berisi faidah. Berdasarkan perkataan Musa, ﴾ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). - Sesungguhnya orang yang tidak memiliki kekuatan untuk bersabar dalam menyertai seorang alim dan tidak memiliki ilmu serta keteguhan yang baik dalam menjalaninya, maka sungguh dia [akan kehilangan ilmu yang banyak sebesar tingkat ketidaksabaran-nya].[26] Barangsiapa yang tidak bersabar sedikit pun, niscaya dia tidak dapat menggapai ilmu. Dan siapa saja yang menempuh ke-sabaran dan selalu berkonsisten padanya, tentu ia akan menggapai setiap urusan yang dia usahakan, berdasarkan perkataan Khidhir yang memberi tahu alasan kepada Musa tentang faktor penghambat bagi Musa untuk dapat belajar darinya, yaitu dia tidak bisa bersabar dengannya. - Sesungguhnya penyebab terpenting untuk meraih kesabaran, adalah seseorang menguasai suatu perkara dari sisi ilmu dan penge-tahuan yang mana dia diperintah untuk bersabar di dalamnya. Ka-lau tidak demikian, maka orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui tujuan, hasil, dan kegunaannya, serta buahnya, maka dia tidak memiliki sebab kausalitas kesabaran, berdasarkan perkata-an Khidhir, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu." (Al-Kahfi: 68). Yang mengembalikan faktor ketidaksabarannya adalah tidak adanya penguasaan tentang persoalan tersebut pada Musa. - Perintah untuk berhati-hati, melakukan klarifikasi dan tidak bersegera menjatuhkan keputusan tentang sesuatu sampai menge-tahui arah yang diinginkan dan tujuannya. - Pengaitan urusan-urusan di masa yang akan datang yang di-lakukan oleh para hamba dengan masyi`ah (kehendak) Allah, dan jangan sampai seseorang berkata tentang sesuatu, "Sesungguhnya aku akan melakukannya nanti" kecuali disusuli dengan kata insya Allah. - Tekad untuk mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan per-buatan riilnya. Sesungguhnya Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar." (Al-Kahfi: 69). Ia mempersiapkan dirinya untuk bersabar, namun tidak merealisasikannya. - Seorang guru, jika melihat adanya kemaslahatan dalam me-nahan seorang murid untuk tidak memulai bertanya tentang seba-gian perkara sampai guru itu sendiri yang mengajaknya bicara ten-tang itu, maka sesungguhnya sisi kemaslahatan itu perlu ditelusuri, misalnya, bila pemahaman seorang murid dangkal, atau melarang-nya dari pertanyaan-pertanyaan yang pelik, yang persoalan lain masih lebih penting daripadanya atau karena tidak tercerna oleh daya tangkapnya, atau melontarkan pertanyaan yang tidak berhu-bungan dengan tema pembahasan. - Diperbolehkannya berlayar di laut dalam kondisi yang tidak mengkhawatirkan (keselamatan). - Orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya itu. Tidak bisa dihukum dalam hak Allah dan hak para hamba berdasar-kan FirmanNya, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ﴿ "Janganlah engkau menghukumku disebabkan kelupaanku." (Al-Kahfi: 73). - Sepatutnya, seseorang menyikapi perilaku-perilaku orang dan cara bermuamalah mereka dengan sikap maaf dan sikap yang bisa mereka terima. Tidak pantas membebani mereka hal-hal yang tidak sanggup mereka kerjakan atau memberatkan atau menggencet mereka. Sesungguhnya sikap-sikap ini akan mengundang antipati dan kebosanan terhadapnya. Bahkan, hendaknya dia mengambil jalan yang mudah supaya urusannya pun menjadi mudah. - Hukum segala urusan berjalan sesuai dengan zahirnya, dan (begitu pula) hukum-hukum agama dalam masalah harta, darah, dan lainnya terkait dengannya. Sesungguhnya Musa عليه السلام menging-kari Khidhir atas tindakannya melubangi kapal dan membunuh anak kecil. Dua tindakan ini secara zahir, merupakan kemungkaran. Dan Musa عليه السلام tidak boleh mendiamkannya selain dalam kondisi menyertai Khidhir. Maka, Musa عليه السلام tergesa-gesa dan bersegera untuk menilainya dalam konteks umum, tidak memperhatikan aspek kondisionalnya (bersama Khidhir) yang mengharuskannya bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkarinya. - Adanya kaidah penting yang agung, yaitu menolak keburuk-an yang besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan dan mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar dengan menying-kirkan kemaslahatan yang paling kecil. Sesungguhnya membunuh anak kecil merupakan tindakan jelek. Akan tetapi, keberadaan anak itu (tetap hidup) yang dapat memfitnah agama kedua orang tuanya merupakan keburukan yang lebih besar. Sementara keber-adaan si anak kecil tanpa dibunuh dan tetap memeliharanya, meski-pun dianggap sebagai kebaikan, namun kebaikan (yang lebih besar) adalah dengan menjaga agama dan keimanan dua orang tuanya yang terpelihara, itu lebih baik. Oleh karena itu, Khidhir membunuh-nya. Masuk ke dalam bingkai kaidah ini, bermacam-macam per-soalan furu' dan pelajaran-pelajaran penting yang tidak terbilang. Persoalan bersinggungannya kemaslahatan dan mafsadah, semua masuk ke dalam kaidah ini. - Adanya kaidah penting yang agung juga. Yaitu, penanganan seseorang terhadap harta orang lain, bila dalam rangka menciptakan kemaslahatan dan menghilangkan mafsadah (kerusakan) maka di-perbolehkan, meskipun tanpa izin, hingga walaupun perbuatan-nya itu mengakibatkan sebagian harta orang lain lenyap. Seperti Khidhir yang melubangi kapal agar menjadi cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zhalim. Atas dasar ini, jika terjadi keba-karan atau tenggelam dan peristiwa serupa lainnya di rumah sese-orang atau kekayaannya, yang mana pemusnahan sebagian kekaya-an atau perobohan sebagian rumah dapat menyebabkan keselamat-an bagian yang tersisa, maka hal itu diperbolehkan bagi seseorang (untuk melakukannya). Bahkan disyariatkan baginya untuk menger-jakannya demi menjaga kekayaan orang lain. Begitu pula, sekiranya ada seorang zhalim ingin mengambil harta orang lain lalu sese-orang menyerahkan sebagian uang (yang akan diambil) sebagai tebusan untuk menyelamatkan yang tersisa, maka itu diperboleh-kan, meskipun tanpa izin pemiliknya. - Boleh bekerja di laut sebagaimana diperbolehkan bekerja di daratan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "yang bekerja di laut." (Al-Kahfi: 79), dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka. -Bahwa orang miskin terkadang mempunyai harta yang tidak mencapai (batas) kecukupannya, namun hal itu tidak mengeluarkan-nya dari predikat miskin, karena Allah mengabarkan bahwa mereka adalah miskin yang memiliki perahu. - Pembunuhan termasuk perbuatan dosa yang paling besar, berdasarkan perkataan Musa tentang pembunuhan si anak kecil, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." (Al-Kahfi: 74). - Pembunuhan untuk tujuan qishash tidaklah diingkari, berdasar-kan FirmanNya, ﴾ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ ﴿ "bukan karena dia membunuh." (Al-Kahfi: 74). - Seorang hamba yang shalih, akan dipelihara Allah, jiwa dan keturunannya. - Membantu orang yang shalih atau orang yang berkaitan dengan mereka adalah lebih utama daripada membantu selainnya, karena Khidiri menyebutkan alasan dirinya mengeluarkan harta simpanan dan mendirikan temboknya adalah karena bapak kedua-nya adalah shalih. - Penggunaan etika kesopanan terhadap Allah تعالى dalam (pe-makaian) ungkapan-ungkapan. Sesungguhnya Khidhir mengait-kan perusakan kapal kepada dirinya dengan berkata, ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا ﴿ "Dan aku bertujuan merusak bahtera itu." (Al-Kahfi: 79). Sedangkan tentang kebaikan, maka dia menghubungkannya kepada Allah تعالى, ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar mereka berdua sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya, sebagai rahmat dari Rabbmu." (Al-Kahfi: 82), Sebagaimana yang disampaikan Ibrahim, ﴾ وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 ﴿ "Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku." (Asy- Syu'ara`: 80), dan perkataan jin, ﴾ وَأَنَّا لَا نَدۡرِيٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ أَرَادَ بِهِمۡ رَبُّهُمۡ رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan bahwa kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (Al-Jin: 10), meskipun semua kejadian berasal dari ketentuan dan takdir Allah. - Sesungguhnya seorang kawan tidak pantas meninggalkan sahabatnya dalam kondisi apa pun, dan memutus persahabatan-nya hingga dia menegurnya (terlebih dahulu) dan mengajukan ala-san, seperti yang dilakukan oleh Khidhir terhadap Musa. - Persetujuan seorang teman terhadap sahabatnya dalam per-kara yang tidak terlarang merupakan pemicu dan faktor kelang-gengan persahabatan dan kerekatannya, sebagaimana ketidakse-pahaman menjadi sebab terputusnya hubungan persahabatan. - [Persoalan-persoalan ini yang dijalankan oleh Khidhir me-rupakan keputusan takdir murni, yang mana Allah menjalankan dan meletakkannya pada tangan seorang hamba shalih, agar para hamba mempunyai bukti nyata tentang kelembutan-kelembutan-Nya dalam segala keputusanNya. Dia mentakdirkan perkara-per-kara atas seorang hamba yang benar-benar dia benci, padahal me-rupakan kebaikan bagi agamanya, seperti dalam kejadian si anak kecil (yang dibunuh). Atau kebaikan bagi dunianya, seperti pada peristiwa kapal (yang dilubangi). Allah memperlihatkan sebuah contoh dari kelembutan dan kemuliaanNya supaya mereka menge-nalNya dan ridha dengan takdir-takdir yang tidak mengenakkan dengan tulus].

Al-Kahf 18:62

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.' Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu (melompat) mengambil jalannya ke laut itu pergi secara sembunyi-sembunyi. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, 'Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.' Muridnya menjawab, 'Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu, dan tidak ada yang mem-buatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata, 'Itulah (tempat) yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, maka mereka bertemu dengan se-orang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khi-dhir, 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan ke-padaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan ke-padamu.' Dia menjawab, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.' Musa berkata, 'Insya Allah, kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.' Dia berkata, 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku ten-tang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepada-mu.' Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya. Musa berkata, 'Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan pe-numpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.' Dia (Khidhir) berkata, 'Bukankah aku telah berkata, 'Se-sungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku'.' Musa berkata, 'Janganlah kamu menghukumku karena ke-lupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan sesuatu ke-sulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir mem-bunuhnya. Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain, sungguh kamu telah me-lakukan suatu yang mungkar.' Khidhir berkata, 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar ber-samaku.' Musa berkata, 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperboleh-kan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberi-kan udzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata, 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidhir berkata, 'Inilah perpisah-an antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadap-nya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu, dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya'." (Al-Kahfi: 60-82). (60) Allah تعالى memberitahukan tentang NabiNya, Musa عليه السلام dan kecintaannya kepada kebaikan dan pencarian ilmu, bahwa beliau berkata kepada pemudanya, maksudnya, pelayannya yang menyertainya saat berada di rumah dan dalam perjalanan. Ia adalah Yusya' bin Nun, Allah menceritakan setelah itu, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan," maksudnya aku akan tetap menempuh perjalan-an meskipun jarak semakin jauh dan kesulitan menghampiriku, sampai aku mencapai tempat pertemuan dua buah lautan[25]. Ia adalah tempat yang sudah diwahyukan (oleh Allah) kepadanya, 'Bahwa engkau akan menjumpai seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang berilmu, dia memiliki ilmu yang tidak engkau punyai.' ﴾ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun," maksud-nya (sampai) jarak yang jauh. Maknanya, kerinduan dan keinginan-lah yang menyebabkan Musa berkata demikian kepada pelayannya. (61) Ini merupakan tekad teguh darinya. Karena itu, dia menjalankannya. ﴾ فَلَمَّا بَلَغَا ﴿ "Maka tatkala mereka sampai," yaitu dia dan pelayannya ﴾ مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا ﴿ "ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya," ada seekor ikan yang mereka bawa seba-gai bekal dan makanan mereka. Ia telah diberitahu (sebelumnya) bahwa kapan saja ikan tersebut hilang, maka di situlah insan yang dia tuju berada ﴾ فَٱتَّخَذَ ﴿ "lalu mengambil," yaitu ikan tersebut meng-ambil ﴾ سَبِيلَهُۥ ﴿ "jalannya," jalannya ﴾ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا 61 ﴿ "ke laut itu dengan pergi secara sembunyi-sembunyi," ini termasuk tanda kebesaran Allah. Para ulama tafsir berkata, 'Sesungguhnya ikan tersebut yang dijadi-kan perbekalan oleh mereka, ketika mereka sampai di tempat itu, (maka ikan itu) terkena air laut. Maka ia pergi secara sembunyi-sembunyi dengan izin Allah ke dalam lautan dan hidup bersama binatang-binatang laut lainnya." (62) Tatkala Musa dan pelayannya telah melewati tempat pertemuan dua laut, maka Musa berkata kepada pelayannya,﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Bawalah ke mari makanan kita; sesung-guhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini," maksudnya kita telah merasa kepayahan disebabkan perjalanan yang melewati (tempat dua pertemuan laut). Apabila tidak demikian, maka pada perjalanan panjang yang mereka lalui sampai ke tempat dua per-temuan laut, mereka tidak merasakan keletihan sama sekali. Ini termasuk tanda-tanda kebesaran Allah dan petunjuk yang meng-indikasikan kepada keberadaan apa yang dicari oleh Musa. Selain itu, sesungguhnya kerinduan yang berhubungan dengan perja-lanan sampai ke tempat itu telah memudahkan jalan bagi mereka. Ketika mereka telah melampaui tujuannya, maka mereka (baru) merasakan keletihan. (63) Usai mengatakan perkataan ini kepada pelayannya, sang pelayan berkata kepada Musa, ﴾ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ ﴿ "Tahu-kah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka se-sungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu," [maksudnya tidakkah engkau tahu ketika kita menginap tadi malam di batu ter-sebut di antara dua lautan itu, sesungguhnya aku lupa terhadap ikan tersebut]. ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan tidak ada yang membuatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan," karena dialah penyebab-nya. ﴾ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا 63 ﴿ "Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali," maksudnya ketika ikan itu telah me-lompat dan menghilang ke dalam laut, maka hal itu termasuk ke-jadian yang mencengangkan. Para ulama tafsir mengatakan, "Jalan yang ditempuh oleh ikan itu adalah jalan tersembunyi, sedangkan dalam (pandangan) Musa dan pelayannya, itu merupakan keajaiban." (64) Setelah si pelayan berkata demikian kepada Musa, yang sebelumnya telah mendapatkan janji dari Allah, bahwasanya jika dia kehilangan ikan itu, berarti akan menjumpai Khidhir, maka Musa berkata, ﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ ﴿ "Itulah (tempat) yang kita cari," yang kita inginkan ﴾ فَٱرۡتَدَّا ﴿ "Lalu keduanya kembali," maksudnya kembali pulang ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا 64 ﴿ "mengikuti jejak mereka semula," mereka kembali menelusuri jejak-jejak mereka sampai (ke tempat) yang mereka lupa terhadap ikan tadi. (65) Ketika mereka telah sampai di sana ﴾ فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ﴿ "maka mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami," yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi, berdasarkan pendapat yang shahih, ﴾ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا ﴿ "yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami," maksudnya Allah menganugerahinya rahmat yang lebih spesial. Dengan itu, ilmu dan kebaikan amalnya bertambah. ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami," maksudnya berasal dari sisi Kami ﴾ عِلۡمٗا 65 ﴿ "ilmu." Dia telah memperoleh ilmu yang tidak diberikan ke-pada Musa, kendatipun Musa lebih berilmu daripada Khidhir pada banyak permasalahan, terutama ilmu-ilmu keimanan dan ilmu-ilmu Ushul. Pasalnya, beliau adalah salah seorang ulul 'azmi dari kalangan para rasul yang Allah utamakan di atas seluruh makhluk dengan ilmu, amal, dan lainnya. (66) Manakala Musa berhasil berkumpul dengan Khidhir, maka beliau berkata kepadanya dengan penuh kesopanan dan per-mohonan persetujuan sembari memberitahukan apa yang ia ingin-kan, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu su-paya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu," maksudnya, apakah aku boleh meng-ikutimu agar engkau mengajariku dari ilmu-ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu, yang akan kujadikan sebagai pegangan dan petunjuk, dan dengan itu aku pun bisa mengetahui kebenaran pada persoalan-persoalan itu? Khidhir telah dianugerahi Allah ilham dan karamah hingga sanggup meneropong rahasia-rahasia permasalah-an yang tersembunyi pada pandangan Musa عليه السلام. (67) Maka Khidhir berkata kepada Musa, "Aku tidak menam-piknya. Akan tetapi, sesungguhnya engkau ﴾ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ﴿ 'sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku,' maksudnya engkau tidak mampu untuk mengikuti dan menyertaiku. Sebab, kamu akan me-nyaksikan obyek yang membuatmu tidak bisa bersabar dalam meng-hadapi perkara-perkara yang nampak terlihat sebagai kemungkar-an, sementara hakikatnya tidak demikian adanya." (68) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mem-punyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu," maksudnya, bagaimana bisa engkau bersabar menghadapi sesuatu yang engkau tidak me-nguasai seluk-beluknya bagian luar dan dalamnya, dan tidak me-ngetahui tujuan dan kesudahannya. (69) Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا 69 ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." Ini merupakan tekad Musa sebelum dijumpainya obyek ujian. Tekad itu sebuah keinginan, sementara keberadaan sabar adalah urusan lain. Karena-nya, Musa tidak bisa menahan diri saat peristiwa terjadi. (70) Pada saat itulah, Khidhir berpesan kepada Musa, ﴾ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡـَٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا 70 ﴿ "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu," maksudnya janganlah eng-kau memulai untuk melontarkan pertanyaan dan pengingkaran kepadaku, sampai akulah yang akan menerangkan kepadamu apa yang terjadi, di waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang itu. Ia melarang Musa untuk bertanya dan berjanji kepadanya untuk menerangkan kepadanya tentang hakikat peristiwa tersebut. (71) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ ﴿ "Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya," maksudnya Khidhir mencabut satu papan dari perahu tersebut. Ia mempunyai tujuan dalam melakukannya yang akan ia jelaskan (nanti). Akan tetapi, Musa عليه السلام tidak tahan (menyaksikannya), lan-taran secara eksplisit merupakan kemungkaran. Pasalnya, tindakan itu dapat merusak perahu tersebut dan menjadi penyebab tenggelam bagi sang pemilik. Oleh karena itu, Musa berkata, ﴾ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا إِمۡرٗا 71 ﴿ "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah ber-buat kesalahan yang besar," yaitu kesalahan yang besar lagi sangat buruk. Ini termasuk cerminan ketidaksabaran Musa عليه السلام. (72) Maka Khidhir berkata kepada Musa, ﴾ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 72 ﴿ "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku'," maksudnya, sudah terjadi apa yang aku beritahukan kepadamu. (73) Teguran itu merupakan bentuk kealpaan dari Musa, maka dia berkata, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرۡهِقۡنِي مِنۡ أَمۡرِي عُسۡرٗا 73 ﴿ "Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku, dan janganlah kamu membebani-ku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku," maksudnya janganlah engkau mempersulit urusan kepada diriku, maafkanlah aku. Se-sungguhnya itu terjadi karena faktor lupa. Janganlah engkau meng-hukum aku karena kelupaanku yang pertama kali ini. Ia memadu-kan antara pengakuan kesalahan dan pengajuan alasan, dan bahwa engkau wahai Khidhir tidak patut bersikap keras terhadap kawan-mu ini, maka Khidhir memaafkannya. (74) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا ﴿ "Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak," yaitu anak kecil ﴾ فَقَتَلَهُۥ ﴿ "maka dia membunuhnya," Khidhir membunuhnya. Kemarahan pun semakin menjadi-jadi pada Musa, kecemburuan agamanya sontak muncul ketika Khidhir membunuh seorang anak kecil yang belum berbuat dosa. ﴾ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain. Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar'." Kemungkaran mana yang sebanding dengan membunuh anak kecil yang belum ternoda oleh dosa, dan ia pun tidak membunuh orang lain? Teguran Musa yang pertama muncul karena kelupaan. Sedangkan sanggahan ini bukan karena lupa, tetapi karena tidak sabar. (75) Khidhir berkata kepada Musa untuk menegur dan meng-ingatkan, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 75 ﴿ "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" (76) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa ﴾ إِن سَأَلۡتُكَ عَن شَيۡءِۭ ﴿ "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini," setelah kali ini ﴾ فَلَا تُصَٰحِبۡنِيۖ ﴿ "maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu," maksudnya engkau punya alasan dan berhak meninggalkan keserta-anku ﴾ قَدۡ بَلَغۡتَ مِن لَّدُنِّي عُذۡرٗا 76 ﴿ "sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur kepadaku," maksudnya kamu telah memberi toleransi bagiku, kamu tidak pelit untuk memberi kesempatan. (77) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا ﴿ "Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu," maksudnya mereka berdua minta perjamuan kepada penduduknya, namun mereka tidak mau menyuguhi mereka berdua, ﴾ فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ ﴿ "kemudian kedua-nya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh," maksudnya [sungguh] telah rusak dan berantakan ﴾ فَأَقَامَهُۥۖ ﴿ "maka dia menegakkan dinding itu," yaitu Khidhir, maksudnya, membangun dan memperbaruinya lagi. Kemudian ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa, ﴾ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا 77 ﴿ "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu," yaitu kepada penduduk negeri itu. Mereka tidak mau menjamu kita, padahal harus mereka lakukan, sementara itu, justru engkau membangun rumah itu tanpa upah sama sekali, pada-hal engkau mampu memintanya? (78) Pada saat itulah, Musa عليه السلام tidak menepati apa yang dia ucapkan. Dan Khidhir meminta pamit kepadanya, seraya ﴾ قَالَ ﴿ "mengatakan" kepada Musa, ﴾ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ ﴿ "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu," karena sesungguhnya engkau telah menetapkan syarat tersebut atas dirimu sendiri, sekarang sudah tidak diterima lagi alasan dan kesempatan untuk menyertai lagi. ﴾ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا 78 ﴿ "Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang membuatmu tidak dapat sabar terhadapnya," maksudnya aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang engkau ingkari terhadapku, dan aku memberitakan bahwa aku mempunyai tujuan dan sasaran dari tindakanku. (79) ﴾ أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ ﴿ "Adapun bahtera itu," yang aku lubangi ﴾ فَكَانَتۡ لِمَسَٰكِينَ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut," yang menuntut munculnya rasa iba dan kasihan kepada mereka ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٞ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصۡبٗا 79 ﴿ "lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang me-rampas tiap-tiap bahtera," maksudnya mereka itu (dalam berlayar), melewati raja yang zhalim. Setiap kapal yang baik yang melewati sang raja tanpa cacat, maka dia merampasnya atau mengambilnya secara paksa. Karena itu, aku berniat melubanginya agar memiliki cacat, sehingga selamat dari (jarahan) penguasa yang zhalim itu. (80) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ ﴿ "Dan adapun anak itu," yang aku bunuh ﴾ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا 80 ﴿ "maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, lalu kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekufuran." Anak lelaki itu telah ditakdirkan, jika menginjak dewasa (kelak) akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekufuran. Maksudnya, menyeret mereka kepada tindakan kesesatan dan kekufuran, baik lantaran kecintaan mereka kepadanya atau ketergantungan mereka kepadanya, maupun lantaran dia memaksa mereka berbuat demi-kian. Maka aku pun membunuhnya, sebab aku mengetahui (kesu-dahan) anak itu, demi keselamatan agama dua orang tuanya yang beriman. Apakah ada manfaat yang lebih besar daripada kebaikan yang besar ini. (81) Pembunuhan tersebut, meskipun mengandung tindak-an buruk kepada mereka berdua dan pemutusan keturunan mereka berdua, namun sesungguhnya Allah تعالى akan menganugerahinya keturunan yang lebih baik daripada si anak itu. Oleh karena itu, (Khidhir) berkata, ﴾ فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا 81 ﴿ "Lalu kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)," yaitu anak yang shalih, suci dan menghormati hubungan dengan orang tuanya. Sesungguhnya anak kecil yang dibunuh tersebut, sekiranya dia dewasa nanti, niscaya dia akan durhaka kepada keduanya dan memaksa mereka kepada kekufuran dan kesesatan. (82) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ ﴿ "Adapun dinding rumah itu," yang aku bangun ﴾ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "maka ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih," maksudnya, kondisi mereka berdua menuntut adanya rasa iba dan rahmat kepada mereka, sebab keduanya masih kecil. Kedua orang tua mereka sudah tiada. Maka Allah memelihara mereka ber-dua juga lantaran keshalihan kedua orang tua mereka. ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu," karena itu, aku hancurkan dindingnya dan aku gali harta simpanan yang berada di bawah dan selanjutnya aku letakkan dan aku (bangun) kembali dengan cuma-cuma. ﴾ رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Sebagai rahmat dari Rabb-mu," maksudnya tindakan yang aku lakukan adalah sebagai bentuk sayang dari Allah yang Allah berikan melalui hambaNya, Khidhir. ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri," maksudnya, aku tidak mengerjakan sesuatu menurut kehendak pribadiku dan murni keinginanku. Sesungguhnya itu hanyalah rahmat dari Allah dan perintahNya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itu," keterangan yang aku jelaskan kepadamu ﴾ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا 82 ﴿ "adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar ter-hadapnya." Dalam kisah yang menakjubkan lagi agung ini, termuat pela-jaran-pelajaran penting, hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang banyak sekali. Kami ingin menyinggung sebagiannya dengan per-tolongan Allah: - Keutamaan ilmu dan pengembaraan untuk mencarinya. Se-sungguhnya ilmu adalah perkara terpenting. Musa عليه السلام telah menem-puh jarak yang jauh dan mengalami keletihan dalam mencarinya, menghentikan berbaur dengan Bani Israil untuk mengajari dan mem-bimbing mereka, dan (lebih) memilih untuk menempuh perjalan-an jauh guna menambah ilmu. - Disyariatkannya memulai dengan perkara yang terpenting lalu (dilanjutkan kepada) perkara yang lebih penting (daripada se-sudahnya). Sesungguhnya menambah ilmu dan meningkatkan pengetahuan masyarakat lebih penting daripada meninggalkan mencari ilmu dan menyibukkan diri dengan mengajar tanpa mem-bekali diri dengan ilmu. Dan bila ada kemampuan untuk memadu-kan antara keduanya, itu lebih diutamakan. - Diperbolehkannya mengangkat seorang pelayan saat berada di lingkungan sendiri maupun dalam bepergian untuk tujuan meng-urusi barang bawaan dan mencari kenyamanan, seperti yang dila-kukan oleh Musa. - Sesungguhnya seorang musafir (yang menempuh perjalan-an jauh) untuk mencari ilmu, berjihad atau tujuan lainnya, jika ke-maslahatan menuntut untuk memberitahukan tujuan dan apa yang ia inginkan, maka sesungguhnya sikap tersebut lebih baik daripada menyembunyikannya. Karena di dalam penyampaiannya terdapat beberapa manfaat, seperti melakukan persiapan perbekalan dan menjalankan suatu perkara dengan dasar ilmu serta memperlihat-kan kerinduan terhadap ibadah yang agung ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musa, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (Al-Kahfi: 60). Sebagaimana Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada para sahabat ketika akan menyerang wilayah Tabuk, padahal ke-biasaan beliau adalah bertauriyah (menzahirkan di luar yang dimak-sud). Hal ini tergantung dengan kemaslahatan. - Penisbatan kejelekan dan faktor-faktor pencetusnya kepada setan dengan cara bujukan dan penghiasan maksiat dalam bentuk yang indah, meskipun semua perkara muncul karena keputusan dan takdir Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ ﴿ "Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63). - Bolehnya seorang manusia untuk memberitahukan sesuatu yang menjadi tuntutan tabiat diri, berupa rasa capek, lapar, dan haus dengan syarat tidak dipenuhi kemarahan, dan merupakan kondisi yang benar (apa adanya) berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). - Dianjurkan memilih pelayan yang cerdik, cerdas, lagi pandai agar urusannya terlaksana seperti yang dia inginkan. - Dianjurkan agar seseorang memberi makanan kepada pelayan dari jenis makanan yang dia makan dan memakannya bersama-sama. Karena yang zahir dari Firman Allah, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita." (Al-Kahfi: 62), terdapat penisbatan makanan kepada mereka berdua, tuan dan pelayannya makan bersamaan. - Sesungguhnya pertolongan turun kepada seseorang berdasar-kan tingkat aplikasinya terhadap perintah Allah, dan orang yang sejalan dengan perintah Allah akan memperoleh pertolongan, yang tidak didapatkan oleh orang lain, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). Terdapat isyarat kepada perjalanan yang melampaui tempat pertemuan dua lautan. Adapun yang pertama, Musa tidak menge-luhkan kelelahan meskipun ditempuh dalam waktu lama. Karena itulah safar yang sebenarnya. Sedangkan perjalanan yang terakhir, nampaknya ditempuh dalam setengah hari. Sebab, mereka telah kehilangan ikan ketika bermalam di batu. Padahal secara eksplisit, mereka bermalam di sana. Lantas, berjalan kembali keesokan hari-nya. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, Musa berkata kepada pelayannya, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita," (Al-Kahfi: 62). Saat itulah dia teringat bahwa dia melupakannya di tem-pat yang merupakan tujuan akhirnya. - Hamba yang mereka jumpai bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang insan yang shalih. Sebab, Allah menyebut predikat-nya dengan ubudiyah (pengabdian diri), dan mengungkapkan ka-runiaNya atas dirinya berupa rahmat dan ilmu. Allah tidak menying-gung risalah atau kenabiannya. Seandainya Khidhir adalah nabi, tentulah Allah menyebutkannya sebagaimana Dia menyebut pre-dikat lainnya. Adapun perkataannya di akhir kisah, ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri." (Al-Kahfi: 82), maka perkataan ini tidak menunjukkan dirinya seorang nabi. Hanya mengindikasikan keberadaan ilham dan tahdits (bisikan)(pada dirinya), sebagaimana bisa terjadi pada selain nabi. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ﴿ "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'." (Al-Qa-shash: 7). ﴾ وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا ﴿ "Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung'." (An-Nahl: 68). - Sesungguhnya ilmu yang diajarkan Allah kepada para ham-baNya terbagi menjadi dua bagian: Ilmu muktasab (ilmu yang diusa-hakan), dihasilkan seorang hamba melalui kesungguhan dan kete-kunannya. Dan jenis ilmu ladunni. Allah menganugerahkannya ke-pada hambaNya yang dikehendakiNya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا 65 ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65). - Keharusan beretika saat bersama dengan seorang pengajar dan cara berbicara dari seorang pelajar kepadanya dengan ungkapan yang paling lembut, berdasarkan perkataan Musa عليه السلام, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu meng-ajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). Musa mengungkapkan perkataan dengan nada lembut dan musyawarah, "Apakah engkau memberi izin kepadaku ataukah tidak?" Disertai pengakuan untuk mau belajar darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang berperilaku keras atau sombong, yang tidak memperlihatkan kebutuhannya kepada ilmu sang guru. Justru mengklaim dirinya saling membantu dengan pengajarnya. Bahkan boleh jadi dia berasumsi bahwa dia telah mengajari guru-nya, padahal dia tidak tahu sama sekali. Jadi, menghinakan diri di hadapan seorang guru dan memperlihatkan kebutuhannya kepada pengajarannya termasuk perkara yang paling bermanfaat bagi pen-cari ilmu. - Tawadhu' orang yang utama untuk belajar kepada orang yang berada di bawah levelnya. Sesungguhnya Musa tanpa disang-sikan, lebih mulia daripada Khidhir. - Orang yang sudah berilmu lagi berkedudukan tinggi mem-pelajari ilmu yang belum dia kuasai dari orang yang mahir pada bidang itu, meskipun kedudukannya dalam ilmu tertentu jauh di bawahnya beberapa derajat. Sesungguhnya Musa عليه السلام termasuk ulul 'azmi dari kalangan rasul yang mana Allah menganugerahkan dan mengaruniai kepada mereka ilmu yang tidak dikaruniakan kepada selain mereka. Namun, pada bidang ilmu yang khusus ini, Khidhir mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu, Musa sangat antusias untuk belajar darinya. Atas dasar ini, tidak sepatutnya seorang fakih lagi muhaddits jika kurang cakap dalam ilmu nahwu atau sharaf maupun ilmu lainnya, tidak mem-pelajarinya dari orang yang mahir dalam bidang itu, meskipun bukan seorang faqih atau muhaddits. - Penisbatan ilmu dan keutamaan-keutamaan lainnya adalah kepada Allah تعالى dan mengakuinya serta bersyukur kepada Allah atas itu, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)." (Al-Kahfi: 66), maksudnya dari ilmu yang Allah تعالى ajarkan kepadamu. - Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mem-bimbing kepada kebaikan. Setiap ilmu yang mengandung petunjuk dan hidayah kepada jalan kebaikan dan peringatan dari jalan kejelek-an maupun perantaranya, maka itu termasuk ilmu yang bermanfaat. Sedangkan selain itu, maka ia merupakan ilmu yang berbahaya, atau tidak berisi faidah. Berdasarkan perkataan Musa, ﴾ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). - Sesungguhnya orang yang tidak memiliki kekuatan untuk bersabar dalam menyertai seorang alim dan tidak memiliki ilmu serta keteguhan yang baik dalam menjalaninya, maka sungguh dia [akan kehilangan ilmu yang banyak sebesar tingkat ketidaksabaran-nya].[26] Barangsiapa yang tidak bersabar sedikit pun, niscaya dia tidak dapat menggapai ilmu. Dan siapa saja yang menempuh ke-sabaran dan selalu berkonsisten padanya, tentu ia akan menggapai setiap urusan yang dia usahakan, berdasarkan perkataan Khidhir yang memberi tahu alasan kepada Musa tentang faktor penghambat bagi Musa untuk dapat belajar darinya, yaitu dia tidak bisa bersabar dengannya. - Sesungguhnya penyebab terpenting untuk meraih kesabaran, adalah seseorang menguasai suatu perkara dari sisi ilmu dan penge-tahuan yang mana dia diperintah untuk bersabar di dalamnya. Ka-lau tidak demikian, maka orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui tujuan, hasil, dan kegunaannya, serta buahnya, maka dia tidak memiliki sebab kausalitas kesabaran, berdasarkan perkata-an Khidhir, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu." (Al-Kahfi: 68). Yang mengembalikan faktor ketidaksabarannya adalah tidak adanya penguasaan tentang persoalan tersebut pada Musa. - Perintah untuk berhati-hati, melakukan klarifikasi dan tidak bersegera menjatuhkan keputusan tentang sesuatu sampai menge-tahui arah yang diinginkan dan tujuannya. - Pengaitan urusan-urusan di masa yang akan datang yang di-lakukan oleh para hamba dengan masyi`ah (kehendak) Allah, dan jangan sampai seseorang berkata tentang sesuatu, "Sesungguhnya aku akan melakukannya nanti" kecuali disusuli dengan kata insya Allah. - Tekad untuk mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan per-buatan riilnya. Sesungguhnya Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar." (Al-Kahfi: 69). Ia mempersiapkan dirinya untuk bersabar, namun tidak merealisasikannya. - Seorang guru, jika melihat adanya kemaslahatan dalam me-nahan seorang murid untuk tidak memulai bertanya tentang seba-gian perkara sampai guru itu sendiri yang mengajaknya bicara ten-tang itu, maka sesungguhnya sisi kemaslahatan itu perlu ditelusuri, misalnya, bila pemahaman seorang murid dangkal, atau melarang-nya dari pertanyaan-pertanyaan yang pelik, yang persoalan lain masih lebih penting daripadanya atau karena tidak tercerna oleh daya tangkapnya, atau melontarkan pertanyaan yang tidak berhu-bungan dengan tema pembahasan. - Diperbolehkannya berlayar di laut dalam kondisi yang tidak mengkhawatirkan (keselamatan). - Orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya itu. Tidak bisa dihukum dalam hak Allah dan hak para hamba berdasar-kan FirmanNya, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ﴿ "Janganlah engkau menghukumku disebabkan kelupaanku." (Al-Kahfi: 73). - Sepatutnya, seseorang menyikapi perilaku-perilaku orang dan cara bermuamalah mereka dengan sikap maaf dan sikap yang bisa mereka terima. Tidak pantas membebani mereka hal-hal yang tidak sanggup mereka kerjakan atau memberatkan atau menggencet mereka. Sesungguhnya sikap-sikap ini akan mengundang antipati dan kebosanan terhadapnya. Bahkan, hendaknya dia mengambil jalan yang mudah supaya urusannya pun menjadi mudah. - Hukum segala urusan berjalan sesuai dengan zahirnya, dan (begitu pula) hukum-hukum agama dalam masalah harta, darah, dan lainnya terkait dengannya. Sesungguhnya Musa عليه السلام menging-kari Khidhir atas tindakannya melubangi kapal dan membunuh anak kecil. Dua tindakan ini secara zahir, merupakan kemungkaran. Dan Musa عليه السلام tidak boleh mendiamkannya selain dalam kondisi menyertai Khidhir. Maka, Musa عليه السلام tergesa-gesa dan bersegera untuk menilainya dalam konteks umum, tidak memperhatikan aspek kondisionalnya (bersama Khidhir) yang mengharuskannya bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkarinya. - Adanya kaidah penting yang agung, yaitu menolak keburuk-an yang besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan dan mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar dengan menying-kirkan kemaslahatan yang paling kecil. Sesungguhnya membunuh anak kecil merupakan tindakan jelek. Akan tetapi, keberadaan anak itu (tetap hidup) yang dapat memfitnah agama kedua orang tuanya merupakan keburukan yang lebih besar. Sementara keber-adaan si anak kecil tanpa dibunuh dan tetap memeliharanya, meski-pun dianggap sebagai kebaikan, namun kebaikan (yang lebih besar) adalah dengan menjaga agama dan keimanan dua orang tuanya yang terpelihara, itu lebih baik. Oleh karena itu, Khidhir membunuh-nya. Masuk ke dalam bingkai kaidah ini, bermacam-macam per-soalan furu' dan pelajaran-pelajaran penting yang tidak terbilang. Persoalan bersinggungannya kemaslahatan dan mafsadah, semua masuk ke dalam kaidah ini. - Adanya kaidah penting yang agung juga. Yaitu, penanganan seseorang terhadap harta orang lain, bila dalam rangka menciptakan kemaslahatan dan menghilangkan mafsadah (kerusakan) maka di-perbolehkan, meskipun tanpa izin, hingga walaupun perbuatan-nya itu mengakibatkan sebagian harta orang lain lenyap. Seperti Khidhir yang melubangi kapal agar menjadi cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zhalim. Atas dasar ini, jika terjadi keba-karan atau tenggelam dan peristiwa serupa lainnya di rumah sese-orang atau kekayaannya, yang mana pemusnahan sebagian kekaya-an atau perobohan sebagian rumah dapat menyebabkan keselamat-an bagian yang tersisa, maka hal itu diperbolehkan bagi seseorang (untuk melakukannya). Bahkan disyariatkan baginya untuk menger-jakannya demi menjaga kekayaan orang lain. Begitu pula, sekiranya ada seorang zhalim ingin mengambil harta orang lain lalu sese-orang menyerahkan sebagian uang (yang akan diambil) sebagai tebusan untuk menyelamatkan yang tersisa, maka itu diperboleh-kan, meskipun tanpa izin pemiliknya. - Boleh bekerja di laut sebagaimana diperbolehkan bekerja di daratan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "yang bekerja di laut." (Al-Kahfi: 79), dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka. -Bahwa orang miskin terkadang mempunyai harta yang tidak mencapai (batas) kecukupannya, namun hal itu tidak mengeluarkan-nya dari predikat miskin, karena Allah mengabarkan bahwa mereka adalah miskin yang memiliki perahu. - Pembunuhan termasuk perbuatan dosa yang paling besar, berdasarkan perkataan Musa tentang pembunuhan si anak kecil, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." (Al-Kahfi: 74). - Pembunuhan untuk tujuan qishash tidaklah diingkari, berdasar-kan FirmanNya, ﴾ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ ﴿ "bukan karena dia membunuh." (Al-Kahfi: 74). - Seorang hamba yang shalih, akan dipelihara Allah, jiwa dan keturunannya. - Membantu orang yang shalih atau orang yang berkaitan dengan mereka adalah lebih utama daripada membantu selainnya, karena Khidiri menyebutkan alasan dirinya mengeluarkan harta simpanan dan mendirikan temboknya adalah karena bapak kedua-nya adalah shalih. - Penggunaan etika kesopanan terhadap Allah تعالى dalam (pe-makaian) ungkapan-ungkapan. Sesungguhnya Khidhir mengait-kan perusakan kapal kepada dirinya dengan berkata, ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا ﴿ "Dan aku bertujuan merusak bahtera itu." (Al-Kahfi: 79). Sedangkan tentang kebaikan, maka dia menghubungkannya kepada Allah تعالى, ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar mereka berdua sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya, sebagai rahmat dari Rabbmu." (Al-Kahfi: 82), Sebagaimana yang disampaikan Ibrahim, ﴾ وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 ﴿ "Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku." (Asy- Syu'ara`: 80), dan perkataan jin, ﴾ وَأَنَّا لَا نَدۡرِيٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ أَرَادَ بِهِمۡ رَبُّهُمۡ رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan bahwa kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (Al-Jin: 10), meskipun semua kejadian berasal dari ketentuan dan takdir Allah. - Sesungguhnya seorang kawan tidak pantas meninggalkan sahabatnya dalam kondisi apa pun, dan memutus persahabatan-nya hingga dia menegurnya (terlebih dahulu) dan mengajukan ala-san, seperti yang dilakukan oleh Khidhir terhadap Musa. - Persetujuan seorang teman terhadap sahabatnya dalam per-kara yang tidak terlarang merupakan pemicu dan faktor kelang-gengan persahabatan dan kerekatannya, sebagaimana ketidakse-pahaman menjadi sebab terputusnya hubungan persahabatan. - [Persoalan-persoalan ini yang dijalankan oleh Khidhir me-rupakan keputusan takdir murni, yang mana Allah menjalankan dan meletakkannya pada tangan seorang hamba shalih, agar para hamba mempunyai bukti nyata tentang kelembutan-kelembutan-Nya dalam segala keputusanNya. Dia mentakdirkan perkara-per-kara atas seorang hamba yang benar-benar dia benci, padahal me-rupakan kebaikan bagi agamanya, seperti dalam kejadian si anak kecil (yang dibunuh). Atau kebaikan bagi dunianya, seperti pada peristiwa kapal (yang dilubangi). Allah memperlihatkan sebuah contoh dari kelembutan dan kemuliaanNya supaya mereka menge-nalNya dan ridha dengan takdir-takdir yang tidak mengenakkan dengan tulus].

Al-Kahf 18:63

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.' Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu (melompat) mengambil jalannya ke laut itu pergi secara sembunyi-sembunyi. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, 'Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.' Muridnya menjawab, 'Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu, dan tidak ada yang mem-buatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata, 'Itulah (tempat) yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, maka mereka bertemu dengan se-orang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khi-dhir, 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan ke-padaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan ke-padamu.' Dia menjawab, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.' Musa berkata, 'Insya Allah, kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.' Dia berkata, 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku ten-tang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepada-mu.' Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya. Musa berkata, 'Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan pe-numpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.' Dia (Khidhir) berkata, 'Bukankah aku telah berkata, 'Se-sungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku'.' Musa berkata, 'Janganlah kamu menghukumku karena ke-lupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan sesuatu ke-sulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir mem-bunuhnya. Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain, sungguh kamu telah me-lakukan suatu yang mungkar.' Khidhir berkata, 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar ber-samaku.' Musa berkata, 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperboleh-kan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberi-kan udzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata, 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidhir berkata, 'Inilah perpisah-an antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadap-nya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu, dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya'." (Al-Kahfi: 60-82). (60) Allah تعالى memberitahukan tentang NabiNya, Musa عليه السلام dan kecintaannya kepada kebaikan dan pencarian ilmu, bahwa beliau berkata kepada pemudanya, maksudnya, pelayannya yang menyertainya saat berada di rumah dan dalam perjalanan. Ia adalah Yusya' bin Nun, Allah menceritakan setelah itu, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan," maksudnya aku akan tetap menempuh perjalan-an meskipun jarak semakin jauh dan kesulitan menghampiriku, sampai aku mencapai tempat pertemuan dua buah lautan[25]. Ia adalah tempat yang sudah diwahyukan (oleh Allah) kepadanya, 'Bahwa engkau akan menjumpai seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang berilmu, dia memiliki ilmu yang tidak engkau punyai.' ﴾ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun," maksud-nya (sampai) jarak yang jauh. Maknanya, kerinduan dan keinginan-lah yang menyebabkan Musa berkata demikian kepada pelayannya. (61) Ini merupakan tekad teguh darinya. Karena itu, dia menjalankannya. ﴾ فَلَمَّا بَلَغَا ﴿ "Maka tatkala mereka sampai," yaitu dia dan pelayannya ﴾ مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا ﴿ "ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya," ada seekor ikan yang mereka bawa seba-gai bekal dan makanan mereka. Ia telah diberitahu (sebelumnya) bahwa kapan saja ikan tersebut hilang, maka di situlah insan yang dia tuju berada ﴾ فَٱتَّخَذَ ﴿ "lalu mengambil," yaitu ikan tersebut meng-ambil ﴾ سَبِيلَهُۥ ﴿ "jalannya," jalannya ﴾ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا 61 ﴿ "ke laut itu dengan pergi secara sembunyi-sembunyi," ini termasuk tanda kebesaran Allah. Para ulama tafsir berkata, 'Sesungguhnya ikan tersebut yang dijadi-kan perbekalan oleh mereka, ketika mereka sampai di tempat itu, (maka ikan itu) terkena air laut. Maka ia pergi secara sembunyi-sembunyi dengan izin Allah ke dalam lautan dan hidup bersama binatang-binatang laut lainnya." (62) Tatkala Musa dan pelayannya telah melewati tempat pertemuan dua laut, maka Musa berkata kepada pelayannya,﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Bawalah ke mari makanan kita; sesung-guhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini," maksudnya kita telah merasa kepayahan disebabkan perjalanan yang melewati (tempat dua pertemuan laut). Apabila tidak demikian, maka pada perjalanan panjang yang mereka lalui sampai ke tempat dua per-temuan laut, mereka tidak merasakan keletihan sama sekali. Ini termasuk tanda-tanda kebesaran Allah dan petunjuk yang meng-indikasikan kepada keberadaan apa yang dicari oleh Musa. Selain itu, sesungguhnya kerinduan yang berhubungan dengan perja-lanan sampai ke tempat itu telah memudahkan jalan bagi mereka. Ketika mereka telah melampaui tujuannya, maka mereka (baru) merasakan keletihan. (63) Usai mengatakan perkataan ini kepada pelayannya, sang pelayan berkata kepada Musa, ﴾ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ ﴿ "Tahu-kah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka se-sungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu," [maksudnya tidakkah engkau tahu ketika kita menginap tadi malam di batu ter-sebut di antara dua lautan itu, sesungguhnya aku lupa terhadap ikan tersebut]. ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan tidak ada yang membuatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan," karena dialah penyebab-nya. ﴾ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا 63 ﴿ "Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali," maksudnya ketika ikan itu telah me-lompat dan menghilang ke dalam laut, maka hal itu termasuk ke-jadian yang mencengangkan. Para ulama tafsir mengatakan, "Jalan yang ditempuh oleh ikan itu adalah jalan tersembunyi, sedangkan dalam (pandangan) Musa dan pelayannya, itu merupakan keajaiban." (64) Setelah si pelayan berkata demikian kepada Musa, yang sebelumnya telah mendapatkan janji dari Allah, bahwasanya jika dia kehilangan ikan itu, berarti akan menjumpai Khidhir, maka Musa berkata, ﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ ﴿ "Itulah (tempat) yang kita cari," yang kita inginkan ﴾ فَٱرۡتَدَّا ﴿ "Lalu keduanya kembali," maksudnya kembali pulang ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا 64 ﴿ "mengikuti jejak mereka semula," mereka kembali menelusuri jejak-jejak mereka sampai (ke tempat) yang mereka lupa terhadap ikan tadi. (65) Ketika mereka telah sampai di sana ﴾ فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ﴿ "maka mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami," yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi, berdasarkan pendapat yang shahih, ﴾ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا ﴿ "yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami," maksudnya Allah menganugerahinya rahmat yang lebih spesial. Dengan itu, ilmu dan kebaikan amalnya bertambah. ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami," maksudnya berasal dari sisi Kami ﴾ عِلۡمٗا 65 ﴿ "ilmu." Dia telah memperoleh ilmu yang tidak diberikan ke-pada Musa, kendatipun Musa lebih berilmu daripada Khidhir pada banyak permasalahan, terutama ilmu-ilmu keimanan dan ilmu-ilmu Ushul. Pasalnya, beliau adalah salah seorang ulul 'azmi dari kalangan para rasul yang Allah utamakan di atas seluruh makhluk dengan ilmu, amal, dan lainnya. (66) Manakala Musa berhasil berkumpul dengan Khidhir, maka beliau berkata kepadanya dengan penuh kesopanan dan per-mohonan persetujuan sembari memberitahukan apa yang ia ingin-kan, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu su-paya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu," maksudnya, apakah aku boleh meng-ikutimu agar engkau mengajariku dari ilmu-ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu, yang akan kujadikan sebagai pegangan dan petunjuk, dan dengan itu aku pun bisa mengetahui kebenaran pada persoalan-persoalan itu? Khidhir telah dianugerahi Allah ilham dan karamah hingga sanggup meneropong rahasia-rahasia permasalah-an yang tersembunyi pada pandangan Musa عليه السلام. (67) Maka Khidhir berkata kepada Musa, "Aku tidak menam-piknya. Akan tetapi, sesungguhnya engkau ﴾ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ﴿ 'sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku,' maksudnya engkau tidak mampu untuk mengikuti dan menyertaiku. Sebab, kamu akan me-nyaksikan obyek yang membuatmu tidak bisa bersabar dalam meng-hadapi perkara-perkara yang nampak terlihat sebagai kemungkar-an, sementara hakikatnya tidak demikian adanya." (68) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mem-punyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu," maksudnya, bagaimana bisa engkau bersabar menghadapi sesuatu yang engkau tidak me-nguasai seluk-beluknya bagian luar dan dalamnya, dan tidak me-ngetahui tujuan dan kesudahannya. (69) Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا 69 ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." Ini merupakan tekad Musa sebelum dijumpainya obyek ujian. Tekad itu sebuah keinginan, sementara keberadaan sabar adalah urusan lain. Karena-nya, Musa tidak bisa menahan diri saat peristiwa terjadi. (70) Pada saat itulah, Khidhir berpesan kepada Musa, ﴾ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡـَٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا 70 ﴿ "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu," maksudnya janganlah eng-kau memulai untuk melontarkan pertanyaan dan pengingkaran kepadaku, sampai akulah yang akan menerangkan kepadamu apa yang terjadi, di waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang itu. Ia melarang Musa untuk bertanya dan berjanji kepadanya untuk menerangkan kepadanya tentang hakikat peristiwa tersebut. (71) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ ﴿ "Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya," maksudnya Khidhir mencabut satu papan dari perahu tersebut. Ia mempunyai tujuan dalam melakukannya yang akan ia jelaskan (nanti). Akan tetapi, Musa عليه السلام tidak tahan (menyaksikannya), lan-taran secara eksplisit merupakan kemungkaran. Pasalnya, tindakan itu dapat merusak perahu tersebut dan menjadi penyebab tenggelam bagi sang pemilik. Oleh karena itu, Musa berkata, ﴾ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا إِمۡرٗا 71 ﴿ "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah ber-buat kesalahan yang besar," yaitu kesalahan yang besar lagi sangat buruk. Ini termasuk cerminan ketidaksabaran Musa عليه السلام. (72) Maka Khidhir berkata kepada Musa, ﴾ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 72 ﴿ "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku'," maksudnya, sudah terjadi apa yang aku beritahukan kepadamu. (73) Teguran itu merupakan bentuk kealpaan dari Musa, maka dia berkata, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرۡهِقۡنِي مِنۡ أَمۡرِي عُسۡرٗا 73 ﴿ "Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku, dan janganlah kamu membebani-ku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku," maksudnya janganlah engkau mempersulit urusan kepada diriku, maafkanlah aku. Se-sungguhnya itu terjadi karena faktor lupa. Janganlah engkau meng-hukum aku karena kelupaanku yang pertama kali ini. Ia memadu-kan antara pengakuan kesalahan dan pengajuan alasan, dan bahwa engkau wahai Khidhir tidak patut bersikap keras terhadap kawan-mu ini, maka Khidhir memaafkannya. (74) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا ﴿ "Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak," yaitu anak kecil ﴾ فَقَتَلَهُۥ ﴿ "maka dia membunuhnya," Khidhir membunuhnya. Kemarahan pun semakin menjadi-jadi pada Musa, kecemburuan agamanya sontak muncul ketika Khidhir membunuh seorang anak kecil yang belum berbuat dosa. ﴾ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain. Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar'." Kemungkaran mana yang sebanding dengan membunuh anak kecil yang belum ternoda oleh dosa, dan ia pun tidak membunuh orang lain? Teguran Musa yang pertama muncul karena kelupaan. Sedangkan sanggahan ini bukan karena lupa, tetapi karena tidak sabar. (75) Khidhir berkata kepada Musa untuk menegur dan meng-ingatkan, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 75 ﴿ "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" (76) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa ﴾ إِن سَأَلۡتُكَ عَن شَيۡءِۭ ﴿ "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini," setelah kali ini ﴾ فَلَا تُصَٰحِبۡنِيۖ ﴿ "maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu," maksudnya engkau punya alasan dan berhak meninggalkan keserta-anku ﴾ قَدۡ بَلَغۡتَ مِن لَّدُنِّي عُذۡرٗا 76 ﴿ "sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur kepadaku," maksudnya kamu telah memberi toleransi bagiku, kamu tidak pelit untuk memberi kesempatan. (77) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا ﴿ "Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu," maksudnya mereka berdua minta perjamuan kepada penduduknya, namun mereka tidak mau menyuguhi mereka berdua, ﴾ فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ ﴿ "kemudian kedua-nya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh," maksudnya [sungguh] telah rusak dan berantakan ﴾ فَأَقَامَهُۥۖ ﴿ "maka dia menegakkan dinding itu," yaitu Khidhir, maksudnya, membangun dan memperbaruinya lagi. Kemudian ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa, ﴾ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا 77 ﴿ "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu," yaitu kepada penduduk negeri itu. Mereka tidak mau menjamu kita, padahal harus mereka lakukan, sementara itu, justru engkau membangun rumah itu tanpa upah sama sekali, pada-hal engkau mampu memintanya? (78) Pada saat itulah, Musa عليه السلام tidak menepati apa yang dia ucapkan. Dan Khidhir meminta pamit kepadanya, seraya ﴾ قَالَ ﴿ "mengatakan" kepada Musa, ﴾ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ ﴿ "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu," karena sesungguhnya engkau telah menetapkan syarat tersebut atas dirimu sendiri, sekarang sudah tidak diterima lagi alasan dan kesempatan untuk menyertai lagi. ﴾ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا 78 ﴿ "Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang membuatmu tidak dapat sabar terhadapnya," maksudnya aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang engkau ingkari terhadapku, dan aku memberitakan bahwa aku mempunyai tujuan dan sasaran dari tindakanku. (79) ﴾ أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ ﴿ "Adapun bahtera itu," yang aku lubangi ﴾ فَكَانَتۡ لِمَسَٰكِينَ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut," yang menuntut munculnya rasa iba dan kasihan kepada mereka ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٞ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصۡبٗا 79 ﴿ "lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang me-rampas tiap-tiap bahtera," maksudnya mereka itu (dalam berlayar), melewati raja yang zhalim. Setiap kapal yang baik yang melewati sang raja tanpa cacat, maka dia merampasnya atau mengambilnya secara paksa. Karena itu, aku berniat melubanginya agar memiliki cacat, sehingga selamat dari (jarahan) penguasa yang zhalim itu. (80) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ ﴿ "Dan adapun anak itu," yang aku bunuh ﴾ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا 80 ﴿ "maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, lalu kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekufuran." Anak lelaki itu telah ditakdirkan, jika menginjak dewasa (kelak) akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekufuran. Maksudnya, menyeret mereka kepada tindakan kesesatan dan kekufuran, baik lantaran kecintaan mereka kepadanya atau ketergantungan mereka kepadanya, maupun lantaran dia memaksa mereka berbuat demi-kian. Maka aku pun membunuhnya, sebab aku mengetahui (kesu-dahan) anak itu, demi keselamatan agama dua orang tuanya yang beriman. Apakah ada manfaat yang lebih besar daripada kebaikan yang besar ini. (81) Pembunuhan tersebut, meskipun mengandung tindak-an buruk kepada mereka berdua dan pemutusan keturunan mereka berdua, namun sesungguhnya Allah تعالى akan menganugerahinya keturunan yang lebih baik daripada si anak itu. Oleh karena itu, (Khidhir) berkata, ﴾ فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا 81 ﴿ "Lalu kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)," yaitu anak yang shalih, suci dan menghormati hubungan dengan orang tuanya. Sesungguhnya anak kecil yang dibunuh tersebut, sekiranya dia dewasa nanti, niscaya dia akan durhaka kepada keduanya dan memaksa mereka kepada kekufuran dan kesesatan. (82) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ ﴿ "Adapun dinding rumah itu," yang aku bangun ﴾ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "maka ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih," maksudnya, kondisi mereka berdua menuntut adanya rasa iba dan rahmat kepada mereka, sebab keduanya masih kecil. Kedua orang tua mereka sudah tiada. Maka Allah memelihara mereka ber-dua juga lantaran keshalihan kedua orang tua mereka. ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu," karena itu, aku hancurkan dindingnya dan aku gali harta simpanan yang berada di bawah dan selanjutnya aku letakkan dan aku (bangun) kembali dengan cuma-cuma. ﴾ رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Sebagai rahmat dari Rabb-mu," maksudnya tindakan yang aku lakukan adalah sebagai bentuk sayang dari Allah yang Allah berikan melalui hambaNya, Khidhir. ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri," maksudnya, aku tidak mengerjakan sesuatu menurut kehendak pribadiku dan murni keinginanku. Sesungguhnya itu hanyalah rahmat dari Allah dan perintahNya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itu," keterangan yang aku jelaskan kepadamu ﴾ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا 82 ﴿ "adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar ter-hadapnya." Dalam kisah yang menakjubkan lagi agung ini, termuat pela-jaran-pelajaran penting, hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang banyak sekali. Kami ingin menyinggung sebagiannya dengan per-tolongan Allah: - Keutamaan ilmu dan pengembaraan untuk mencarinya. Se-sungguhnya ilmu adalah perkara terpenting. Musa عليه السلام telah menem-puh jarak yang jauh dan mengalami keletihan dalam mencarinya, menghentikan berbaur dengan Bani Israil untuk mengajari dan mem-bimbing mereka, dan (lebih) memilih untuk menempuh perjalan-an jauh guna menambah ilmu. - Disyariatkannya memulai dengan perkara yang terpenting lalu (dilanjutkan kepada) perkara yang lebih penting (daripada se-sudahnya). Sesungguhnya menambah ilmu dan meningkatkan pengetahuan masyarakat lebih penting daripada meninggalkan mencari ilmu dan menyibukkan diri dengan mengajar tanpa mem-bekali diri dengan ilmu. Dan bila ada kemampuan untuk memadu-kan antara keduanya, itu lebih diutamakan. - Diperbolehkannya mengangkat seorang pelayan saat berada di lingkungan sendiri maupun dalam bepergian untuk tujuan meng-urusi barang bawaan dan mencari kenyamanan, seperti yang dila-kukan oleh Musa. - Sesungguhnya seorang musafir (yang menempuh perjalan-an jauh) untuk mencari ilmu, berjihad atau tujuan lainnya, jika ke-maslahatan menuntut untuk memberitahukan tujuan dan apa yang ia inginkan, maka sesungguhnya sikap tersebut lebih baik daripada menyembunyikannya. Karena di dalam penyampaiannya terdapat beberapa manfaat, seperti melakukan persiapan perbekalan dan menjalankan suatu perkara dengan dasar ilmu serta memperlihat-kan kerinduan terhadap ibadah yang agung ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musa, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (Al-Kahfi: 60). Sebagaimana Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada para sahabat ketika akan menyerang wilayah Tabuk, padahal ke-biasaan beliau adalah bertauriyah (menzahirkan di luar yang dimak-sud). Hal ini tergantung dengan kemaslahatan. - Penisbatan kejelekan dan faktor-faktor pencetusnya kepada setan dengan cara bujukan dan penghiasan maksiat dalam bentuk yang indah, meskipun semua perkara muncul karena keputusan dan takdir Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ ﴿ "Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63). - Bolehnya seorang manusia untuk memberitahukan sesuatu yang menjadi tuntutan tabiat diri, berupa rasa capek, lapar, dan haus dengan syarat tidak dipenuhi kemarahan, dan merupakan kondisi yang benar (apa adanya) berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). - Dianjurkan memilih pelayan yang cerdik, cerdas, lagi pandai agar urusannya terlaksana seperti yang dia inginkan. - Dianjurkan agar seseorang memberi makanan kepada pelayan dari jenis makanan yang dia makan dan memakannya bersama-sama. Karena yang zahir dari Firman Allah, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita." (Al-Kahfi: 62), terdapat penisbatan makanan kepada mereka berdua, tuan dan pelayannya makan bersamaan. - Sesungguhnya pertolongan turun kepada seseorang berdasar-kan tingkat aplikasinya terhadap perintah Allah, dan orang yang sejalan dengan perintah Allah akan memperoleh pertolongan, yang tidak didapatkan oleh orang lain, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). Terdapat isyarat kepada perjalanan yang melampaui tempat pertemuan dua lautan. Adapun yang pertama, Musa tidak menge-luhkan kelelahan meskipun ditempuh dalam waktu lama. Karena itulah safar yang sebenarnya. Sedangkan perjalanan yang terakhir, nampaknya ditempuh dalam setengah hari. Sebab, mereka telah kehilangan ikan ketika bermalam di batu. Padahal secara eksplisit, mereka bermalam di sana. Lantas, berjalan kembali keesokan hari-nya. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, Musa berkata kepada pelayannya, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita," (Al-Kahfi: 62). Saat itulah dia teringat bahwa dia melupakannya di tem-pat yang merupakan tujuan akhirnya. - Hamba yang mereka jumpai bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang insan yang shalih. Sebab, Allah menyebut predikat-nya dengan ubudiyah (pengabdian diri), dan mengungkapkan ka-runiaNya atas dirinya berupa rahmat dan ilmu. Allah tidak menying-gung risalah atau kenabiannya. Seandainya Khidhir adalah nabi, tentulah Allah menyebutkannya sebagaimana Dia menyebut pre-dikat lainnya. Adapun perkataannya di akhir kisah, ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri." (Al-Kahfi: 82), maka perkataan ini tidak menunjukkan dirinya seorang nabi. Hanya mengindikasikan keberadaan ilham dan tahdits (bisikan)(pada dirinya), sebagaimana bisa terjadi pada selain nabi. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ﴿ "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'." (Al-Qa-shash: 7). ﴾ وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا ﴿ "Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung'." (An-Nahl: 68). - Sesungguhnya ilmu yang diajarkan Allah kepada para ham-baNya terbagi menjadi dua bagian: Ilmu muktasab (ilmu yang diusa-hakan), dihasilkan seorang hamba melalui kesungguhan dan kete-kunannya. Dan jenis ilmu ladunni. Allah menganugerahkannya ke-pada hambaNya yang dikehendakiNya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا 65 ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65). - Keharusan beretika saat bersama dengan seorang pengajar dan cara berbicara dari seorang pelajar kepadanya dengan ungkapan yang paling lembut, berdasarkan perkataan Musa عليه السلام, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu meng-ajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). Musa mengungkapkan perkataan dengan nada lembut dan musyawarah, "Apakah engkau memberi izin kepadaku ataukah tidak?" Disertai pengakuan untuk mau belajar darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang berperilaku keras atau sombong, yang tidak memperlihatkan kebutuhannya kepada ilmu sang guru. Justru mengklaim dirinya saling membantu dengan pengajarnya. Bahkan boleh jadi dia berasumsi bahwa dia telah mengajari guru-nya, padahal dia tidak tahu sama sekali. Jadi, menghinakan diri di hadapan seorang guru dan memperlihatkan kebutuhannya kepada pengajarannya termasuk perkara yang paling bermanfaat bagi pen-cari ilmu. - Tawadhu' orang yang utama untuk belajar kepada orang yang berada di bawah levelnya. Sesungguhnya Musa tanpa disang-sikan, lebih mulia daripada Khidhir. - Orang yang sudah berilmu lagi berkedudukan tinggi mem-pelajari ilmu yang belum dia kuasai dari orang yang mahir pada bidang itu, meskipun kedudukannya dalam ilmu tertentu jauh di bawahnya beberapa derajat. Sesungguhnya Musa عليه السلام termasuk ulul 'azmi dari kalangan rasul yang mana Allah menganugerahkan dan mengaruniai kepada mereka ilmu yang tidak dikaruniakan kepada selain mereka. Namun, pada bidang ilmu yang khusus ini, Khidhir mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu, Musa sangat antusias untuk belajar darinya. Atas dasar ini, tidak sepatutnya seorang fakih lagi muhaddits jika kurang cakap dalam ilmu nahwu atau sharaf maupun ilmu lainnya, tidak mem-pelajarinya dari orang yang mahir dalam bidang itu, meskipun bukan seorang faqih atau muhaddits. - Penisbatan ilmu dan keutamaan-keutamaan lainnya adalah kepada Allah تعالى dan mengakuinya serta bersyukur kepada Allah atas itu, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)." (Al-Kahfi: 66), maksudnya dari ilmu yang Allah تعالى ajarkan kepadamu. - Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mem-bimbing kepada kebaikan. Setiap ilmu yang mengandung petunjuk dan hidayah kepada jalan kebaikan dan peringatan dari jalan kejelek-an maupun perantaranya, maka itu termasuk ilmu yang bermanfaat. Sedangkan selain itu, maka ia merupakan ilmu yang berbahaya, atau tidak berisi faidah. Berdasarkan perkataan Musa, ﴾ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). - Sesungguhnya orang yang tidak memiliki kekuatan untuk bersabar dalam menyertai seorang alim dan tidak memiliki ilmu serta keteguhan yang baik dalam menjalaninya, maka sungguh dia [akan kehilangan ilmu yang banyak sebesar tingkat ketidaksabaran-nya].[26] Barangsiapa yang tidak bersabar sedikit pun, niscaya dia tidak dapat menggapai ilmu. Dan siapa saja yang menempuh ke-sabaran dan selalu berkonsisten padanya, tentu ia akan menggapai setiap urusan yang dia usahakan, berdasarkan perkataan Khidhir yang memberi tahu alasan kepada Musa tentang faktor penghambat bagi Musa untuk dapat belajar darinya, yaitu dia tidak bisa bersabar dengannya. - Sesungguhnya penyebab terpenting untuk meraih kesabaran, adalah seseorang menguasai suatu perkara dari sisi ilmu dan penge-tahuan yang mana dia diperintah untuk bersabar di dalamnya. Ka-lau tidak demikian, maka orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui tujuan, hasil, dan kegunaannya, serta buahnya, maka dia tidak memiliki sebab kausalitas kesabaran, berdasarkan perkata-an Khidhir, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu." (Al-Kahfi: 68). Yang mengembalikan faktor ketidaksabarannya adalah tidak adanya penguasaan tentang persoalan tersebut pada Musa. - Perintah untuk berhati-hati, melakukan klarifikasi dan tidak bersegera menjatuhkan keputusan tentang sesuatu sampai menge-tahui arah yang diinginkan dan tujuannya. - Pengaitan urusan-urusan di masa yang akan datang yang di-lakukan oleh para hamba dengan masyi`ah (kehendak) Allah, dan jangan sampai seseorang berkata tentang sesuatu, "Sesungguhnya aku akan melakukannya nanti" kecuali disusuli dengan kata insya Allah. - Tekad untuk mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan per-buatan riilnya. Sesungguhnya Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar." (Al-Kahfi: 69). Ia mempersiapkan dirinya untuk bersabar, namun tidak merealisasikannya. - Seorang guru, jika melihat adanya kemaslahatan dalam me-nahan seorang murid untuk tidak memulai bertanya tentang seba-gian perkara sampai guru itu sendiri yang mengajaknya bicara ten-tang itu, maka sesungguhnya sisi kemaslahatan itu perlu ditelusuri, misalnya, bila pemahaman seorang murid dangkal, atau melarang-nya dari pertanyaan-pertanyaan yang pelik, yang persoalan lain masih lebih penting daripadanya atau karena tidak tercerna oleh daya tangkapnya, atau melontarkan pertanyaan yang tidak berhu-bungan dengan tema pembahasan. - Diperbolehkannya berlayar di laut dalam kondisi yang tidak mengkhawatirkan (keselamatan). - Orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya itu. Tidak bisa dihukum dalam hak Allah dan hak para hamba berdasar-kan FirmanNya, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ﴿ "Janganlah engkau menghukumku disebabkan kelupaanku." (Al-Kahfi: 73). - Sepatutnya, seseorang menyikapi perilaku-perilaku orang dan cara bermuamalah mereka dengan sikap maaf dan sikap yang bisa mereka terima. Tidak pantas membebani mereka hal-hal yang tidak sanggup mereka kerjakan atau memberatkan atau menggencet mereka. Sesungguhnya sikap-sikap ini akan mengundang antipati dan kebosanan terhadapnya. Bahkan, hendaknya dia mengambil jalan yang mudah supaya urusannya pun menjadi mudah. - Hukum segala urusan berjalan sesuai dengan zahirnya, dan (begitu pula) hukum-hukum agama dalam masalah harta, darah, dan lainnya terkait dengannya. Sesungguhnya Musa عليه السلام menging-kari Khidhir atas tindakannya melubangi kapal dan membunuh anak kecil. Dua tindakan ini secara zahir, merupakan kemungkaran. Dan Musa عليه السلام tidak boleh mendiamkannya selain dalam kondisi menyertai Khidhir. Maka, Musa عليه السلام tergesa-gesa dan bersegera untuk menilainya dalam konteks umum, tidak memperhatikan aspek kondisionalnya (bersama Khidhir) yang mengharuskannya bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkarinya. - Adanya kaidah penting yang agung, yaitu menolak keburuk-an yang besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan dan mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar dengan menying-kirkan kemaslahatan yang paling kecil. Sesungguhnya membunuh anak kecil merupakan tindakan jelek. Akan tetapi, keberadaan anak itu (tetap hidup) yang dapat memfitnah agama kedua orang tuanya merupakan keburukan yang lebih besar. Sementara keber-adaan si anak kecil tanpa dibunuh dan tetap memeliharanya, meski-pun dianggap sebagai kebaikan, namun kebaikan (yang lebih besar) adalah dengan menjaga agama dan keimanan dua orang tuanya yang terpelihara, itu lebih baik. Oleh karena itu, Khidhir membunuh-nya. Masuk ke dalam bingkai kaidah ini, bermacam-macam per-soalan furu' dan pelajaran-pelajaran penting yang tidak terbilang. Persoalan bersinggungannya kemaslahatan dan mafsadah, semua masuk ke dalam kaidah ini. - Adanya kaidah penting yang agung juga. Yaitu, penanganan seseorang terhadap harta orang lain, bila dalam rangka menciptakan kemaslahatan dan menghilangkan mafsadah (kerusakan) maka di-perbolehkan, meskipun tanpa izin, hingga walaupun perbuatan-nya itu mengakibatkan sebagian harta orang lain lenyap. Seperti Khidhir yang melubangi kapal agar menjadi cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zhalim. Atas dasar ini, jika terjadi keba-karan atau tenggelam dan peristiwa serupa lainnya di rumah sese-orang atau kekayaannya, yang mana pemusnahan sebagian kekaya-an atau perobohan sebagian rumah dapat menyebabkan keselamat-an bagian yang tersisa, maka hal itu diperbolehkan bagi seseorang (untuk melakukannya). Bahkan disyariatkan baginya untuk menger-jakannya demi menjaga kekayaan orang lain. Begitu pula, sekiranya ada seorang zhalim ingin mengambil harta orang lain lalu sese-orang menyerahkan sebagian uang (yang akan diambil) sebagai tebusan untuk menyelamatkan yang tersisa, maka itu diperboleh-kan, meskipun tanpa izin pemiliknya. - Boleh bekerja di laut sebagaimana diperbolehkan bekerja di daratan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "yang bekerja di laut." (Al-Kahfi: 79), dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka. -Bahwa orang miskin terkadang mempunyai harta yang tidak mencapai (batas) kecukupannya, namun hal itu tidak mengeluarkan-nya dari predikat miskin, karena Allah mengabarkan bahwa mereka adalah miskin yang memiliki perahu. - Pembunuhan termasuk perbuatan dosa yang paling besar, berdasarkan perkataan Musa tentang pembunuhan si anak kecil, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." (Al-Kahfi: 74). - Pembunuhan untuk tujuan qishash tidaklah diingkari, berdasar-kan FirmanNya, ﴾ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ ﴿ "bukan karena dia membunuh." (Al-Kahfi: 74). - Seorang hamba yang shalih, akan dipelihara Allah, jiwa dan keturunannya. - Membantu orang yang shalih atau orang yang berkaitan dengan mereka adalah lebih utama daripada membantu selainnya, karena Khidiri menyebutkan alasan dirinya mengeluarkan harta simpanan dan mendirikan temboknya adalah karena bapak kedua-nya adalah shalih. - Penggunaan etika kesopanan terhadap Allah تعالى dalam (pe-makaian) ungkapan-ungkapan. Sesungguhnya Khidhir mengait-kan perusakan kapal kepada dirinya dengan berkata, ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا ﴿ "Dan aku bertujuan merusak bahtera itu." (Al-Kahfi: 79). Sedangkan tentang kebaikan, maka dia menghubungkannya kepada Allah تعالى, ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar mereka berdua sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya, sebagai rahmat dari Rabbmu." (Al-Kahfi: 82), Sebagaimana yang disampaikan Ibrahim, ﴾ وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 ﴿ "Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku." (Asy- Syu'ara`: 80), dan perkataan jin, ﴾ وَأَنَّا لَا نَدۡرِيٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ أَرَادَ بِهِمۡ رَبُّهُمۡ رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan bahwa kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (Al-Jin: 10), meskipun semua kejadian berasal dari ketentuan dan takdir Allah. - Sesungguhnya seorang kawan tidak pantas meninggalkan sahabatnya dalam kondisi apa pun, dan memutus persahabatan-nya hingga dia menegurnya (terlebih dahulu) dan mengajukan ala-san, seperti yang dilakukan oleh Khidhir terhadap Musa. - Persetujuan seorang teman terhadap sahabatnya dalam per-kara yang tidak terlarang merupakan pemicu dan faktor kelang-gengan persahabatan dan kerekatannya, sebagaimana ketidakse-pahaman menjadi sebab terputusnya hubungan persahabatan. - [Persoalan-persoalan ini yang dijalankan oleh Khidhir me-rupakan keputusan takdir murni, yang mana Allah menjalankan dan meletakkannya pada tangan seorang hamba shalih, agar para hamba mempunyai bukti nyata tentang kelembutan-kelembutan-Nya dalam segala keputusanNya. Dia mentakdirkan perkara-per-kara atas seorang hamba yang benar-benar dia benci, padahal me-rupakan kebaikan bagi agamanya, seperti dalam kejadian si anak kecil (yang dibunuh). Atau kebaikan bagi dunianya, seperti pada peristiwa kapal (yang dilubangi). Allah memperlihatkan sebuah contoh dari kelembutan dan kemuliaanNya supaya mereka menge-nalNya dan ridha dengan takdir-takdir yang tidak mengenakkan dengan tulus].

Al-Kahf 18:64

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.' Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu (melompat) mengambil jalannya ke laut itu pergi secara sembunyi-sembunyi. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, 'Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.' Muridnya menjawab, 'Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu, dan tidak ada yang mem-buatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata, 'Itulah (tempat) yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, maka mereka bertemu dengan se-orang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khi-dhir, 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan ke-padaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan ke-padamu.' Dia menjawab, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.' Musa berkata, 'Insya Allah, kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.' Dia berkata, 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku ten-tang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepada-mu.' Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya. Musa berkata, 'Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan pe-numpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.' Dia (Khidhir) berkata, 'Bukankah aku telah berkata, 'Se-sungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku'.' Musa berkata, 'Janganlah kamu menghukumku karena ke-lupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan sesuatu ke-sulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir mem-bunuhnya. Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain, sungguh kamu telah me-lakukan suatu yang mungkar.' Khidhir berkata, 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar ber-samaku.' Musa berkata, 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperboleh-kan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberi-kan udzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata, 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidhir berkata, 'Inilah perpisah-an antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadap-nya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu, dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya'." (Al-Kahfi: 60-82). (60) Allah تعالى memberitahukan tentang NabiNya, Musa عليه السلام dan kecintaannya kepada kebaikan dan pencarian ilmu, bahwa beliau berkata kepada pemudanya, maksudnya, pelayannya yang menyertainya saat berada di rumah dan dalam perjalanan. Ia adalah Yusya' bin Nun, Allah menceritakan setelah itu, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan," maksudnya aku akan tetap menempuh perjalan-an meskipun jarak semakin jauh dan kesulitan menghampiriku, sampai aku mencapai tempat pertemuan dua buah lautan[25]. Ia adalah tempat yang sudah diwahyukan (oleh Allah) kepadanya, 'Bahwa engkau akan menjumpai seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang berilmu, dia memiliki ilmu yang tidak engkau punyai.' ﴾ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun," maksud-nya (sampai) jarak yang jauh. Maknanya, kerinduan dan keinginan-lah yang menyebabkan Musa berkata demikian kepada pelayannya. (61) Ini merupakan tekad teguh darinya. Karena itu, dia menjalankannya. ﴾ فَلَمَّا بَلَغَا ﴿ "Maka tatkala mereka sampai," yaitu dia dan pelayannya ﴾ مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا ﴿ "ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya," ada seekor ikan yang mereka bawa seba-gai bekal dan makanan mereka. Ia telah diberitahu (sebelumnya) bahwa kapan saja ikan tersebut hilang, maka di situlah insan yang dia tuju berada ﴾ فَٱتَّخَذَ ﴿ "lalu mengambil," yaitu ikan tersebut meng-ambil ﴾ سَبِيلَهُۥ ﴿ "jalannya," jalannya ﴾ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا 61 ﴿ "ke laut itu dengan pergi secara sembunyi-sembunyi," ini termasuk tanda kebesaran Allah. Para ulama tafsir berkata, 'Sesungguhnya ikan tersebut yang dijadi-kan perbekalan oleh mereka, ketika mereka sampai di tempat itu, (maka ikan itu) terkena air laut. Maka ia pergi secara sembunyi-sembunyi dengan izin Allah ke dalam lautan dan hidup bersama binatang-binatang laut lainnya." (62) Tatkala Musa dan pelayannya telah melewati tempat pertemuan dua laut, maka Musa berkata kepada pelayannya,﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Bawalah ke mari makanan kita; sesung-guhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini," maksudnya kita telah merasa kepayahan disebabkan perjalanan yang melewati (tempat dua pertemuan laut). Apabila tidak demikian, maka pada perjalanan panjang yang mereka lalui sampai ke tempat dua per-temuan laut, mereka tidak merasakan keletihan sama sekali. Ini termasuk tanda-tanda kebesaran Allah dan petunjuk yang meng-indikasikan kepada keberadaan apa yang dicari oleh Musa. Selain itu, sesungguhnya kerinduan yang berhubungan dengan perja-lanan sampai ke tempat itu telah memudahkan jalan bagi mereka. Ketika mereka telah melampaui tujuannya, maka mereka (baru) merasakan keletihan. (63) Usai mengatakan perkataan ini kepada pelayannya, sang pelayan berkata kepada Musa, ﴾ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ ﴿ "Tahu-kah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka se-sungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu," [maksudnya tidakkah engkau tahu ketika kita menginap tadi malam di batu ter-sebut di antara dua lautan itu, sesungguhnya aku lupa terhadap ikan tersebut]. ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan tidak ada yang membuatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan," karena dialah penyebab-nya. ﴾ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا 63 ﴿ "Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali," maksudnya ketika ikan itu telah me-lompat dan menghilang ke dalam laut, maka hal itu termasuk ke-jadian yang mencengangkan. Para ulama tafsir mengatakan, "Jalan yang ditempuh oleh ikan itu adalah jalan tersembunyi, sedangkan dalam (pandangan) Musa dan pelayannya, itu merupakan keajaiban." (64) Setelah si pelayan berkata demikian kepada Musa, yang sebelumnya telah mendapatkan janji dari Allah, bahwasanya jika dia kehilangan ikan itu, berarti akan menjumpai Khidhir, maka Musa berkata, ﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ ﴿ "Itulah (tempat) yang kita cari," yang kita inginkan ﴾ فَٱرۡتَدَّا ﴿ "Lalu keduanya kembali," maksudnya kembali pulang ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا 64 ﴿ "mengikuti jejak mereka semula," mereka kembali menelusuri jejak-jejak mereka sampai (ke tempat) yang mereka lupa terhadap ikan tadi. (65) Ketika mereka telah sampai di sana ﴾ فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ﴿ "maka mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami," yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi, berdasarkan pendapat yang shahih, ﴾ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا ﴿ "yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami," maksudnya Allah menganugerahinya rahmat yang lebih spesial. Dengan itu, ilmu dan kebaikan amalnya bertambah. ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami," maksudnya berasal dari sisi Kami ﴾ عِلۡمٗا 65 ﴿ "ilmu." Dia telah memperoleh ilmu yang tidak diberikan ke-pada Musa, kendatipun Musa lebih berilmu daripada Khidhir pada banyak permasalahan, terutama ilmu-ilmu keimanan dan ilmu-ilmu Ushul. Pasalnya, beliau adalah salah seorang ulul 'azmi dari kalangan para rasul yang Allah utamakan di atas seluruh makhluk dengan ilmu, amal, dan lainnya. (66) Manakala Musa berhasil berkumpul dengan Khidhir, maka beliau berkata kepadanya dengan penuh kesopanan dan per-mohonan persetujuan sembari memberitahukan apa yang ia ingin-kan, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu su-paya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu," maksudnya, apakah aku boleh meng-ikutimu agar engkau mengajariku dari ilmu-ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu, yang akan kujadikan sebagai pegangan dan petunjuk, dan dengan itu aku pun bisa mengetahui kebenaran pada persoalan-persoalan itu? Khidhir telah dianugerahi Allah ilham dan karamah hingga sanggup meneropong rahasia-rahasia permasalah-an yang tersembunyi pada pandangan Musa عليه السلام. (67) Maka Khidhir berkata kepada Musa, "Aku tidak menam-piknya. Akan tetapi, sesungguhnya engkau ﴾ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ﴿ 'sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku,' maksudnya engkau tidak mampu untuk mengikuti dan menyertaiku. Sebab, kamu akan me-nyaksikan obyek yang membuatmu tidak bisa bersabar dalam meng-hadapi perkara-perkara yang nampak terlihat sebagai kemungkar-an, sementara hakikatnya tidak demikian adanya." (68) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mem-punyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu," maksudnya, bagaimana bisa engkau bersabar menghadapi sesuatu yang engkau tidak me-nguasai seluk-beluknya bagian luar dan dalamnya, dan tidak me-ngetahui tujuan dan kesudahannya. (69) Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا 69 ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." Ini merupakan tekad Musa sebelum dijumpainya obyek ujian. Tekad itu sebuah keinginan, sementara keberadaan sabar adalah urusan lain. Karena-nya, Musa tidak bisa menahan diri saat peristiwa terjadi. (70) Pada saat itulah, Khidhir berpesan kepada Musa, ﴾ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡـَٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا 70 ﴿ "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu," maksudnya janganlah eng-kau memulai untuk melontarkan pertanyaan dan pengingkaran kepadaku, sampai akulah yang akan menerangkan kepadamu apa yang terjadi, di waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang itu. Ia melarang Musa untuk bertanya dan berjanji kepadanya untuk menerangkan kepadanya tentang hakikat peristiwa tersebut. (71) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ ﴿ "Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya," maksudnya Khidhir mencabut satu papan dari perahu tersebut. Ia mempunyai tujuan dalam melakukannya yang akan ia jelaskan (nanti). Akan tetapi, Musa عليه السلام tidak tahan (menyaksikannya), lan-taran secara eksplisit merupakan kemungkaran. Pasalnya, tindakan itu dapat merusak perahu tersebut dan menjadi penyebab tenggelam bagi sang pemilik. Oleh karena itu, Musa berkata, ﴾ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا إِمۡرٗا 71 ﴿ "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah ber-buat kesalahan yang besar," yaitu kesalahan yang besar lagi sangat buruk. Ini termasuk cerminan ketidaksabaran Musa عليه السلام. (72) Maka Khidhir berkata kepada Musa, ﴾ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 72 ﴿ "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku'," maksudnya, sudah terjadi apa yang aku beritahukan kepadamu. (73) Teguran itu merupakan bentuk kealpaan dari Musa, maka dia berkata, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرۡهِقۡنِي مِنۡ أَمۡرِي عُسۡرٗا 73 ﴿ "Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku, dan janganlah kamu membebani-ku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku," maksudnya janganlah engkau mempersulit urusan kepada diriku, maafkanlah aku. Se-sungguhnya itu terjadi karena faktor lupa. Janganlah engkau meng-hukum aku karena kelupaanku yang pertama kali ini. Ia memadu-kan antara pengakuan kesalahan dan pengajuan alasan, dan bahwa engkau wahai Khidhir tidak patut bersikap keras terhadap kawan-mu ini, maka Khidhir memaafkannya. (74) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا ﴿ "Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak," yaitu anak kecil ﴾ فَقَتَلَهُۥ ﴿ "maka dia membunuhnya," Khidhir membunuhnya. Kemarahan pun semakin menjadi-jadi pada Musa, kecemburuan agamanya sontak muncul ketika Khidhir membunuh seorang anak kecil yang belum berbuat dosa. ﴾ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain. Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar'." Kemungkaran mana yang sebanding dengan membunuh anak kecil yang belum ternoda oleh dosa, dan ia pun tidak membunuh orang lain? Teguran Musa yang pertama muncul karena kelupaan. Sedangkan sanggahan ini bukan karena lupa, tetapi karena tidak sabar. (75) Khidhir berkata kepada Musa untuk menegur dan meng-ingatkan, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 75 ﴿ "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" (76) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa ﴾ إِن سَأَلۡتُكَ عَن شَيۡءِۭ ﴿ "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini," setelah kali ini ﴾ فَلَا تُصَٰحِبۡنِيۖ ﴿ "maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu," maksudnya engkau punya alasan dan berhak meninggalkan keserta-anku ﴾ قَدۡ بَلَغۡتَ مِن لَّدُنِّي عُذۡرٗا 76 ﴿ "sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur kepadaku," maksudnya kamu telah memberi toleransi bagiku, kamu tidak pelit untuk memberi kesempatan. (77) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا ﴿ "Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu," maksudnya mereka berdua minta perjamuan kepada penduduknya, namun mereka tidak mau menyuguhi mereka berdua, ﴾ فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ ﴿ "kemudian kedua-nya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh," maksudnya [sungguh] telah rusak dan berantakan ﴾ فَأَقَامَهُۥۖ ﴿ "maka dia menegakkan dinding itu," yaitu Khidhir, maksudnya, membangun dan memperbaruinya lagi. Kemudian ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa, ﴾ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا 77 ﴿ "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu," yaitu kepada penduduk negeri itu. Mereka tidak mau menjamu kita, padahal harus mereka lakukan, sementara itu, justru engkau membangun rumah itu tanpa upah sama sekali, pada-hal engkau mampu memintanya? (78) Pada saat itulah, Musa عليه السلام tidak menepati apa yang dia ucapkan. Dan Khidhir meminta pamit kepadanya, seraya ﴾ قَالَ ﴿ "mengatakan" kepada Musa, ﴾ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ ﴿ "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu," karena sesungguhnya engkau telah menetapkan syarat tersebut atas dirimu sendiri, sekarang sudah tidak diterima lagi alasan dan kesempatan untuk menyertai lagi. ﴾ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا 78 ﴿ "Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang membuatmu tidak dapat sabar terhadapnya," maksudnya aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang engkau ingkari terhadapku, dan aku memberitakan bahwa aku mempunyai tujuan dan sasaran dari tindakanku. (79) ﴾ أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ ﴿ "Adapun bahtera itu," yang aku lubangi ﴾ فَكَانَتۡ لِمَسَٰكِينَ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut," yang menuntut munculnya rasa iba dan kasihan kepada mereka ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٞ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصۡبٗا 79 ﴿ "lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang me-rampas tiap-tiap bahtera," maksudnya mereka itu (dalam berlayar), melewati raja yang zhalim. Setiap kapal yang baik yang melewati sang raja tanpa cacat, maka dia merampasnya atau mengambilnya secara paksa. Karena itu, aku berniat melubanginya agar memiliki cacat, sehingga selamat dari (jarahan) penguasa yang zhalim itu. (80) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ ﴿ "Dan adapun anak itu," yang aku bunuh ﴾ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا 80 ﴿ "maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, lalu kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekufuran." Anak lelaki itu telah ditakdirkan, jika menginjak dewasa (kelak) akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekufuran. Maksudnya, menyeret mereka kepada tindakan kesesatan dan kekufuran, baik lantaran kecintaan mereka kepadanya atau ketergantungan mereka kepadanya, maupun lantaran dia memaksa mereka berbuat demi-kian. Maka aku pun membunuhnya, sebab aku mengetahui (kesu-dahan) anak itu, demi keselamatan agama dua orang tuanya yang beriman. Apakah ada manfaat yang lebih besar daripada kebaikan yang besar ini. (81) Pembunuhan tersebut, meskipun mengandung tindak-an buruk kepada mereka berdua dan pemutusan keturunan mereka berdua, namun sesungguhnya Allah تعالى akan menganugerahinya keturunan yang lebih baik daripada si anak itu. Oleh karena itu, (Khidhir) berkata, ﴾ فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا 81 ﴿ "Lalu kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)," yaitu anak yang shalih, suci dan menghormati hubungan dengan orang tuanya. Sesungguhnya anak kecil yang dibunuh tersebut, sekiranya dia dewasa nanti, niscaya dia akan durhaka kepada keduanya dan memaksa mereka kepada kekufuran dan kesesatan. (82) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ ﴿ "Adapun dinding rumah itu," yang aku bangun ﴾ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "maka ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih," maksudnya, kondisi mereka berdua menuntut adanya rasa iba dan rahmat kepada mereka, sebab keduanya masih kecil. Kedua orang tua mereka sudah tiada. Maka Allah memelihara mereka ber-dua juga lantaran keshalihan kedua orang tua mereka. ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu," karena itu, aku hancurkan dindingnya dan aku gali harta simpanan yang berada di bawah dan selanjutnya aku letakkan dan aku (bangun) kembali dengan cuma-cuma. ﴾ رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Sebagai rahmat dari Rabb-mu," maksudnya tindakan yang aku lakukan adalah sebagai bentuk sayang dari Allah yang Allah berikan melalui hambaNya, Khidhir. ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri," maksudnya, aku tidak mengerjakan sesuatu menurut kehendak pribadiku dan murni keinginanku. Sesungguhnya itu hanyalah rahmat dari Allah dan perintahNya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itu," keterangan yang aku jelaskan kepadamu ﴾ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا 82 ﴿ "adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar ter-hadapnya." Dalam kisah yang menakjubkan lagi agung ini, termuat pela-jaran-pelajaran penting, hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang banyak sekali. Kami ingin menyinggung sebagiannya dengan per-tolongan Allah: - Keutamaan ilmu dan pengembaraan untuk mencarinya. Se-sungguhnya ilmu adalah perkara terpenting. Musa عليه السلام telah menem-puh jarak yang jauh dan mengalami keletihan dalam mencarinya, menghentikan berbaur dengan Bani Israil untuk mengajari dan mem-bimbing mereka, dan (lebih) memilih untuk menempuh perjalan-an jauh guna menambah ilmu. - Disyariatkannya memulai dengan perkara yang terpenting lalu (dilanjutkan kepada) perkara yang lebih penting (daripada se-sudahnya). Sesungguhnya menambah ilmu dan meningkatkan pengetahuan masyarakat lebih penting daripada meninggalkan mencari ilmu dan menyibukkan diri dengan mengajar tanpa mem-bekali diri dengan ilmu. Dan bila ada kemampuan untuk memadu-kan antara keduanya, itu lebih diutamakan. - Diperbolehkannya mengangkat seorang pelayan saat berada di lingkungan sendiri maupun dalam bepergian untuk tujuan meng-urusi barang bawaan dan mencari kenyamanan, seperti yang dila-kukan oleh Musa. - Sesungguhnya seorang musafir (yang menempuh perjalan-an jauh) untuk mencari ilmu, berjihad atau tujuan lainnya, jika ke-maslahatan menuntut untuk memberitahukan tujuan dan apa yang ia inginkan, maka sesungguhnya sikap tersebut lebih baik daripada menyembunyikannya. Karena di dalam penyampaiannya terdapat beberapa manfaat, seperti melakukan persiapan perbekalan dan menjalankan suatu perkara dengan dasar ilmu serta memperlihat-kan kerinduan terhadap ibadah yang agung ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musa, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (Al-Kahfi: 60). Sebagaimana Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada para sahabat ketika akan menyerang wilayah Tabuk, padahal ke-biasaan beliau adalah bertauriyah (menzahirkan di luar yang dimak-sud). Hal ini tergantung dengan kemaslahatan. - Penisbatan kejelekan dan faktor-faktor pencetusnya kepada setan dengan cara bujukan dan penghiasan maksiat dalam bentuk yang indah, meskipun semua perkara muncul karena keputusan dan takdir Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ ﴿ "Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63). - Bolehnya seorang manusia untuk memberitahukan sesuatu yang menjadi tuntutan tabiat diri, berupa rasa capek, lapar, dan haus dengan syarat tidak dipenuhi kemarahan, dan merupakan kondisi yang benar (apa adanya) berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). - Dianjurkan memilih pelayan yang cerdik, cerdas, lagi pandai agar urusannya terlaksana seperti yang dia inginkan. - Dianjurkan agar seseorang memberi makanan kepada pelayan dari jenis makanan yang dia makan dan memakannya bersama-sama. Karena yang zahir dari Firman Allah, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita." (Al-Kahfi: 62), terdapat penisbatan makanan kepada mereka berdua, tuan dan pelayannya makan bersamaan. - Sesungguhnya pertolongan turun kepada seseorang berdasar-kan tingkat aplikasinya terhadap perintah Allah, dan orang yang sejalan dengan perintah Allah akan memperoleh pertolongan, yang tidak didapatkan oleh orang lain, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). Terdapat isyarat kepada perjalanan yang melampaui tempat pertemuan dua lautan. Adapun yang pertama, Musa tidak menge-luhkan kelelahan meskipun ditempuh dalam waktu lama. Karena itulah safar yang sebenarnya. Sedangkan perjalanan yang terakhir, nampaknya ditempuh dalam setengah hari. Sebab, mereka telah kehilangan ikan ketika bermalam di batu. Padahal secara eksplisit, mereka bermalam di sana. Lantas, berjalan kembali keesokan hari-nya. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, Musa berkata kepada pelayannya, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita," (Al-Kahfi: 62). Saat itulah dia teringat bahwa dia melupakannya di tem-pat yang merupakan tujuan akhirnya. - Hamba yang mereka jumpai bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang insan yang shalih. Sebab, Allah menyebut predikat-nya dengan ubudiyah (pengabdian diri), dan mengungkapkan ka-runiaNya atas dirinya berupa rahmat dan ilmu. Allah tidak menying-gung risalah atau kenabiannya. Seandainya Khidhir adalah nabi, tentulah Allah menyebutkannya sebagaimana Dia menyebut pre-dikat lainnya. Adapun perkataannya di akhir kisah, ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri." (Al-Kahfi: 82), maka perkataan ini tidak menunjukkan dirinya seorang nabi. Hanya mengindikasikan keberadaan ilham dan tahdits (bisikan)(pada dirinya), sebagaimana bisa terjadi pada selain nabi. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ﴿ "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'." (Al-Qa-shash: 7). ﴾ وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا ﴿ "Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung'." (An-Nahl: 68). - Sesungguhnya ilmu yang diajarkan Allah kepada para ham-baNya terbagi menjadi dua bagian: Ilmu muktasab (ilmu yang diusa-hakan), dihasilkan seorang hamba melalui kesungguhan dan kete-kunannya. Dan jenis ilmu ladunni. Allah menganugerahkannya ke-pada hambaNya yang dikehendakiNya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا 65 ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65). - Keharusan beretika saat bersama dengan seorang pengajar dan cara berbicara dari seorang pelajar kepadanya dengan ungkapan yang paling lembut, berdasarkan perkataan Musa عليه السلام, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu meng-ajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). Musa mengungkapkan perkataan dengan nada lembut dan musyawarah, "Apakah engkau memberi izin kepadaku ataukah tidak?" Disertai pengakuan untuk mau belajar darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang berperilaku keras atau sombong, yang tidak memperlihatkan kebutuhannya kepada ilmu sang guru. Justru mengklaim dirinya saling membantu dengan pengajarnya. Bahkan boleh jadi dia berasumsi bahwa dia telah mengajari guru-nya, padahal dia tidak tahu sama sekali. Jadi, menghinakan diri di hadapan seorang guru dan memperlihatkan kebutuhannya kepada pengajarannya termasuk perkara yang paling bermanfaat bagi pen-cari ilmu. - Tawadhu' orang yang utama untuk belajar kepada orang yang berada di bawah levelnya. Sesungguhnya Musa tanpa disang-sikan, lebih mulia daripada Khidhir. - Orang yang sudah berilmu lagi berkedudukan tinggi mem-pelajari ilmu yang belum dia kuasai dari orang yang mahir pada bidang itu, meskipun kedudukannya dalam ilmu tertentu jauh di bawahnya beberapa derajat. Sesungguhnya Musa عليه السلام termasuk ulul 'azmi dari kalangan rasul yang mana Allah menganugerahkan dan mengaruniai kepada mereka ilmu yang tidak dikaruniakan kepada selain mereka. Namun, pada bidang ilmu yang khusus ini, Khidhir mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu, Musa sangat antusias untuk belajar darinya. Atas dasar ini, tidak sepatutnya seorang fakih lagi muhaddits jika kurang cakap dalam ilmu nahwu atau sharaf maupun ilmu lainnya, tidak mem-pelajarinya dari orang yang mahir dalam bidang itu, meskipun bukan seorang faqih atau muhaddits. - Penisbatan ilmu dan keutamaan-keutamaan lainnya adalah kepada Allah تعالى dan mengakuinya serta bersyukur kepada Allah atas itu, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)." (Al-Kahfi: 66), maksudnya dari ilmu yang Allah تعالى ajarkan kepadamu. - Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mem-bimbing kepada kebaikan. Setiap ilmu yang mengandung petunjuk dan hidayah kepada jalan kebaikan dan peringatan dari jalan kejelek-an maupun perantaranya, maka itu termasuk ilmu yang bermanfaat. Sedangkan selain itu, maka ia merupakan ilmu yang berbahaya, atau tidak berisi faidah. Berdasarkan perkataan Musa, ﴾ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). - Sesungguhnya orang yang tidak memiliki kekuatan untuk bersabar dalam menyertai seorang alim dan tidak memiliki ilmu serta keteguhan yang baik dalam menjalaninya, maka sungguh dia [akan kehilangan ilmu yang banyak sebesar tingkat ketidaksabaran-nya].[26] Barangsiapa yang tidak bersabar sedikit pun, niscaya dia tidak dapat menggapai ilmu. Dan siapa saja yang menempuh ke-sabaran dan selalu berkonsisten padanya, tentu ia akan menggapai setiap urusan yang dia usahakan, berdasarkan perkataan Khidhir yang memberi tahu alasan kepada Musa tentang faktor penghambat bagi Musa untuk dapat belajar darinya, yaitu dia tidak bisa bersabar dengannya. - Sesungguhnya penyebab terpenting untuk meraih kesabaran, adalah seseorang menguasai suatu perkara dari sisi ilmu dan penge-tahuan yang mana dia diperintah untuk bersabar di dalamnya. Ka-lau tidak demikian, maka orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui tujuan, hasil, dan kegunaannya, serta buahnya, maka dia tidak memiliki sebab kausalitas kesabaran, berdasarkan perkata-an Khidhir, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu." (Al-Kahfi: 68). Yang mengembalikan faktor ketidaksabarannya adalah tidak adanya penguasaan tentang persoalan tersebut pada Musa. - Perintah untuk berhati-hati, melakukan klarifikasi dan tidak bersegera menjatuhkan keputusan tentang sesuatu sampai menge-tahui arah yang diinginkan dan tujuannya. - Pengaitan urusan-urusan di masa yang akan datang yang di-lakukan oleh para hamba dengan masyi`ah (kehendak) Allah, dan jangan sampai seseorang berkata tentang sesuatu, "Sesungguhnya aku akan melakukannya nanti" kecuali disusuli dengan kata insya Allah. - Tekad untuk mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan per-buatan riilnya. Sesungguhnya Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar." (Al-Kahfi: 69). Ia mempersiapkan dirinya untuk bersabar, namun tidak merealisasikannya. - Seorang guru, jika melihat adanya kemaslahatan dalam me-nahan seorang murid untuk tidak memulai bertanya tentang seba-gian perkara sampai guru itu sendiri yang mengajaknya bicara ten-tang itu, maka sesungguhnya sisi kemaslahatan itu perlu ditelusuri, misalnya, bila pemahaman seorang murid dangkal, atau melarang-nya dari pertanyaan-pertanyaan yang pelik, yang persoalan lain masih lebih penting daripadanya atau karena tidak tercerna oleh daya tangkapnya, atau melontarkan pertanyaan yang tidak berhu-bungan dengan tema pembahasan. - Diperbolehkannya berlayar di laut dalam kondisi yang tidak mengkhawatirkan (keselamatan). - Orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya itu. Tidak bisa dihukum dalam hak Allah dan hak para hamba berdasar-kan FirmanNya, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ﴿ "Janganlah engkau menghukumku disebabkan kelupaanku." (Al-Kahfi: 73). - Sepatutnya, seseorang menyikapi perilaku-perilaku orang dan cara bermuamalah mereka dengan sikap maaf dan sikap yang bisa mereka terima. Tidak pantas membebani mereka hal-hal yang tidak sanggup mereka kerjakan atau memberatkan atau menggencet mereka. Sesungguhnya sikap-sikap ini akan mengundang antipati dan kebosanan terhadapnya. Bahkan, hendaknya dia mengambil jalan yang mudah supaya urusannya pun menjadi mudah. - Hukum segala urusan berjalan sesuai dengan zahirnya, dan (begitu pula) hukum-hukum agama dalam masalah harta, darah, dan lainnya terkait dengannya. Sesungguhnya Musa عليه السلام menging-kari Khidhir atas tindakannya melubangi kapal dan membunuh anak kecil. Dua tindakan ini secara zahir, merupakan kemungkaran. Dan Musa عليه السلام tidak boleh mendiamkannya selain dalam kondisi menyertai Khidhir. Maka, Musa عليه السلام tergesa-gesa dan bersegera untuk menilainya dalam konteks umum, tidak memperhatikan aspek kondisionalnya (bersama Khidhir) yang mengharuskannya bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkarinya. - Adanya kaidah penting yang agung, yaitu menolak keburuk-an yang besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan dan mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar dengan menying-kirkan kemaslahatan yang paling kecil. Sesungguhnya membunuh anak kecil merupakan tindakan jelek. Akan tetapi, keberadaan anak itu (tetap hidup) yang dapat memfitnah agama kedua orang tuanya merupakan keburukan yang lebih besar. Sementara keber-adaan si anak kecil tanpa dibunuh dan tetap memeliharanya, meski-pun dianggap sebagai kebaikan, namun kebaikan (yang lebih besar) adalah dengan menjaga agama dan keimanan dua orang tuanya yang terpelihara, itu lebih baik. Oleh karena itu, Khidhir membunuh-nya. Masuk ke dalam bingkai kaidah ini, bermacam-macam per-soalan furu' dan pelajaran-pelajaran penting yang tidak terbilang. Persoalan bersinggungannya kemaslahatan dan mafsadah, semua masuk ke dalam kaidah ini. - Adanya kaidah penting yang agung juga. Yaitu, penanganan seseorang terhadap harta orang lain, bila dalam rangka menciptakan kemaslahatan dan menghilangkan mafsadah (kerusakan) maka di-perbolehkan, meskipun tanpa izin, hingga walaupun perbuatan-nya itu mengakibatkan sebagian harta orang lain lenyap. Seperti Khidhir yang melubangi kapal agar menjadi cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zhalim. Atas dasar ini, jika terjadi keba-karan atau tenggelam dan peristiwa serupa lainnya di rumah sese-orang atau kekayaannya, yang mana pemusnahan sebagian kekaya-an atau perobohan sebagian rumah dapat menyebabkan keselamat-an bagian yang tersisa, maka hal itu diperbolehkan bagi seseorang (untuk melakukannya). Bahkan disyariatkan baginya untuk menger-jakannya demi menjaga kekayaan orang lain. Begitu pula, sekiranya ada seorang zhalim ingin mengambil harta orang lain lalu sese-orang menyerahkan sebagian uang (yang akan diambil) sebagai tebusan untuk menyelamatkan yang tersisa, maka itu diperboleh-kan, meskipun tanpa izin pemiliknya. - Boleh bekerja di laut sebagaimana diperbolehkan bekerja di daratan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "yang bekerja di laut." (Al-Kahfi: 79), dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka. -Bahwa orang miskin terkadang mempunyai harta yang tidak mencapai (batas) kecukupannya, namun hal itu tidak mengeluarkan-nya dari predikat miskin, karena Allah mengabarkan bahwa mereka adalah miskin yang memiliki perahu. - Pembunuhan termasuk perbuatan dosa yang paling besar, berdasarkan perkataan Musa tentang pembunuhan si anak kecil, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." (Al-Kahfi: 74). - Pembunuhan untuk tujuan qishash tidaklah diingkari, berdasar-kan FirmanNya, ﴾ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ ﴿ "bukan karena dia membunuh." (Al-Kahfi: 74). - Seorang hamba yang shalih, akan dipelihara Allah, jiwa dan keturunannya. - Membantu orang yang shalih atau orang yang berkaitan dengan mereka adalah lebih utama daripada membantu selainnya, karena Khidiri menyebutkan alasan dirinya mengeluarkan harta simpanan dan mendirikan temboknya adalah karena bapak kedua-nya adalah shalih. - Penggunaan etika kesopanan terhadap Allah تعالى dalam (pe-makaian) ungkapan-ungkapan. Sesungguhnya Khidhir mengait-kan perusakan kapal kepada dirinya dengan berkata, ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا ﴿ "Dan aku bertujuan merusak bahtera itu." (Al-Kahfi: 79). Sedangkan tentang kebaikan, maka dia menghubungkannya kepada Allah تعالى, ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar mereka berdua sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya, sebagai rahmat dari Rabbmu." (Al-Kahfi: 82), Sebagaimana yang disampaikan Ibrahim, ﴾ وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 ﴿ "Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku." (Asy- Syu'ara`: 80), dan perkataan jin, ﴾ وَأَنَّا لَا نَدۡرِيٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ أَرَادَ بِهِمۡ رَبُّهُمۡ رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan bahwa kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (Al-Jin: 10), meskipun semua kejadian berasal dari ketentuan dan takdir Allah. - Sesungguhnya seorang kawan tidak pantas meninggalkan sahabatnya dalam kondisi apa pun, dan memutus persahabatan-nya hingga dia menegurnya (terlebih dahulu) dan mengajukan ala-san, seperti yang dilakukan oleh Khidhir terhadap Musa. - Persetujuan seorang teman terhadap sahabatnya dalam per-kara yang tidak terlarang merupakan pemicu dan faktor kelang-gengan persahabatan dan kerekatannya, sebagaimana ketidakse-pahaman menjadi sebab terputusnya hubungan persahabatan. - [Persoalan-persoalan ini yang dijalankan oleh Khidhir me-rupakan keputusan takdir murni, yang mana Allah menjalankan dan meletakkannya pada tangan seorang hamba shalih, agar para hamba mempunyai bukti nyata tentang kelembutan-kelembutan-Nya dalam segala keputusanNya. Dia mentakdirkan perkara-per-kara atas seorang hamba yang benar-benar dia benci, padahal me-rupakan kebaikan bagi agamanya, seperti dalam kejadian si anak kecil (yang dibunuh). Atau kebaikan bagi dunianya, seperti pada peristiwa kapal (yang dilubangi). Allah memperlihatkan sebuah contoh dari kelembutan dan kemuliaanNya supaya mereka menge-nalNya dan ridha dengan takdir-takdir yang tidak mengenakkan dengan tulus].

Al-Kahf 18:65

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.' Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu (melompat) mengambil jalannya ke laut itu pergi secara sembunyi-sembunyi. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, 'Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.' Muridnya menjawab, 'Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu, dan tidak ada yang mem-buatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata, 'Itulah (tempat) yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, maka mereka bertemu dengan se-orang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khi-dhir, 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan ke-padaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan ke-padamu.' Dia menjawab, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.' Musa berkata, 'Insya Allah, kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.' Dia berkata, 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku ten-tang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepada-mu.' Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya. Musa berkata, 'Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan pe-numpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.' Dia (Khidhir) berkata, 'Bukankah aku telah berkata, 'Se-sungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku'.' Musa berkata, 'Janganlah kamu menghukumku karena ke-lupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan sesuatu ke-sulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir mem-bunuhnya. Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain, sungguh kamu telah me-lakukan suatu yang mungkar.' Khidhir berkata, 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar ber-samaku.' Musa berkata, 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperboleh-kan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberi-kan udzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata, 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidhir berkata, 'Inilah perpisah-an antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadap-nya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu, dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya'." (Al-Kahfi: 60-82). (60) Allah تعالى memberitahukan tentang NabiNya, Musa عليه السلام dan kecintaannya kepada kebaikan dan pencarian ilmu, bahwa beliau berkata kepada pemudanya, maksudnya, pelayannya yang menyertainya saat berada di rumah dan dalam perjalanan. Ia adalah Yusya' bin Nun, Allah menceritakan setelah itu, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan," maksudnya aku akan tetap menempuh perjalan-an meskipun jarak semakin jauh dan kesulitan menghampiriku, sampai aku mencapai tempat pertemuan dua buah lautan[25]. Ia adalah tempat yang sudah diwahyukan (oleh Allah) kepadanya, 'Bahwa engkau akan menjumpai seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang berilmu, dia memiliki ilmu yang tidak engkau punyai.' ﴾ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun," maksud-nya (sampai) jarak yang jauh. Maknanya, kerinduan dan keinginan-lah yang menyebabkan Musa berkata demikian kepada pelayannya. (61) Ini merupakan tekad teguh darinya. Karena itu, dia menjalankannya. ﴾ فَلَمَّا بَلَغَا ﴿ "Maka tatkala mereka sampai," yaitu dia dan pelayannya ﴾ مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا ﴿ "ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya," ada seekor ikan yang mereka bawa seba-gai bekal dan makanan mereka. Ia telah diberitahu (sebelumnya) bahwa kapan saja ikan tersebut hilang, maka di situlah insan yang dia tuju berada ﴾ فَٱتَّخَذَ ﴿ "lalu mengambil," yaitu ikan tersebut meng-ambil ﴾ سَبِيلَهُۥ ﴿ "jalannya," jalannya ﴾ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا 61 ﴿ "ke laut itu dengan pergi secara sembunyi-sembunyi," ini termasuk tanda kebesaran Allah. Para ulama tafsir berkata, 'Sesungguhnya ikan tersebut yang dijadi-kan perbekalan oleh mereka, ketika mereka sampai di tempat itu, (maka ikan itu) terkena air laut. Maka ia pergi secara sembunyi-sembunyi dengan izin Allah ke dalam lautan dan hidup bersama binatang-binatang laut lainnya." (62) Tatkala Musa dan pelayannya telah melewati tempat pertemuan dua laut, maka Musa berkata kepada pelayannya,﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Bawalah ke mari makanan kita; sesung-guhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini," maksudnya kita telah merasa kepayahan disebabkan perjalanan yang melewati (tempat dua pertemuan laut). Apabila tidak demikian, maka pada perjalanan panjang yang mereka lalui sampai ke tempat dua per-temuan laut, mereka tidak merasakan keletihan sama sekali. Ini termasuk tanda-tanda kebesaran Allah dan petunjuk yang meng-indikasikan kepada keberadaan apa yang dicari oleh Musa. Selain itu, sesungguhnya kerinduan yang berhubungan dengan perja-lanan sampai ke tempat itu telah memudahkan jalan bagi mereka. Ketika mereka telah melampaui tujuannya, maka mereka (baru) merasakan keletihan. (63) Usai mengatakan perkataan ini kepada pelayannya, sang pelayan berkata kepada Musa, ﴾ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ ﴿ "Tahu-kah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka se-sungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu," [maksudnya tidakkah engkau tahu ketika kita menginap tadi malam di batu ter-sebut di antara dua lautan itu, sesungguhnya aku lupa terhadap ikan tersebut]. ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan tidak ada yang membuatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan," karena dialah penyebab-nya. ﴾ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا 63 ﴿ "Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali," maksudnya ketika ikan itu telah me-lompat dan menghilang ke dalam laut, maka hal itu termasuk ke-jadian yang mencengangkan. Para ulama tafsir mengatakan, "Jalan yang ditempuh oleh ikan itu adalah jalan tersembunyi, sedangkan dalam (pandangan) Musa dan pelayannya, itu merupakan keajaiban." (64) Setelah si pelayan berkata demikian kepada Musa, yang sebelumnya telah mendapatkan janji dari Allah, bahwasanya jika dia kehilangan ikan itu, berarti akan menjumpai Khidhir, maka Musa berkata, ﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ ﴿ "Itulah (tempat) yang kita cari," yang kita inginkan ﴾ فَٱرۡتَدَّا ﴿ "Lalu keduanya kembali," maksudnya kembali pulang ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا 64 ﴿ "mengikuti jejak mereka semula," mereka kembali menelusuri jejak-jejak mereka sampai (ke tempat) yang mereka lupa terhadap ikan tadi. (65) Ketika mereka telah sampai di sana ﴾ فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ﴿ "maka mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami," yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi, berdasarkan pendapat yang shahih, ﴾ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا ﴿ "yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami," maksudnya Allah menganugerahinya rahmat yang lebih spesial. Dengan itu, ilmu dan kebaikan amalnya bertambah. ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami," maksudnya berasal dari sisi Kami ﴾ عِلۡمٗا 65 ﴿ "ilmu." Dia telah memperoleh ilmu yang tidak diberikan ke-pada Musa, kendatipun Musa lebih berilmu daripada Khidhir pada banyak permasalahan, terutama ilmu-ilmu keimanan dan ilmu-ilmu Ushul. Pasalnya, beliau adalah salah seorang ulul 'azmi dari kalangan para rasul yang Allah utamakan di atas seluruh makhluk dengan ilmu, amal, dan lainnya. (66) Manakala Musa berhasil berkumpul dengan Khidhir, maka beliau berkata kepadanya dengan penuh kesopanan dan per-mohonan persetujuan sembari memberitahukan apa yang ia ingin-kan, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu su-paya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu," maksudnya, apakah aku boleh meng-ikutimu agar engkau mengajariku dari ilmu-ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu, yang akan kujadikan sebagai pegangan dan petunjuk, dan dengan itu aku pun bisa mengetahui kebenaran pada persoalan-persoalan itu? Khidhir telah dianugerahi Allah ilham dan karamah hingga sanggup meneropong rahasia-rahasia permasalah-an yang tersembunyi pada pandangan Musa عليه السلام. (67) Maka Khidhir berkata kepada Musa, "Aku tidak menam-piknya. Akan tetapi, sesungguhnya engkau ﴾ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ﴿ 'sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku,' maksudnya engkau tidak mampu untuk mengikuti dan menyertaiku. Sebab, kamu akan me-nyaksikan obyek yang membuatmu tidak bisa bersabar dalam meng-hadapi perkara-perkara yang nampak terlihat sebagai kemungkar-an, sementara hakikatnya tidak demikian adanya." (68) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mem-punyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu," maksudnya, bagaimana bisa engkau bersabar menghadapi sesuatu yang engkau tidak me-nguasai seluk-beluknya bagian luar dan dalamnya, dan tidak me-ngetahui tujuan dan kesudahannya. (69) Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا 69 ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." Ini merupakan tekad Musa sebelum dijumpainya obyek ujian. Tekad itu sebuah keinginan, sementara keberadaan sabar adalah urusan lain. Karena-nya, Musa tidak bisa menahan diri saat peristiwa terjadi. (70) Pada saat itulah, Khidhir berpesan kepada Musa, ﴾ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡـَٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا 70 ﴿ "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu," maksudnya janganlah eng-kau memulai untuk melontarkan pertanyaan dan pengingkaran kepadaku, sampai akulah yang akan menerangkan kepadamu apa yang terjadi, di waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang itu. Ia melarang Musa untuk bertanya dan berjanji kepadanya untuk menerangkan kepadanya tentang hakikat peristiwa tersebut. (71) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ ﴿ "Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya," maksudnya Khidhir mencabut satu papan dari perahu tersebut. Ia mempunyai tujuan dalam melakukannya yang akan ia jelaskan (nanti). Akan tetapi, Musa عليه السلام tidak tahan (menyaksikannya), lan-taran secara eksplisit merupakan kemungkaran. Pasalnya, tindakan itu dapat merusak perahu tersebut dan menjadi penyebab tenggelam bagi sang pemilik. Oleh karena itu, Musa berkata, ﴾ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا إِمۡرٗا 71 ﴿ "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah ber-buat kesalahan yang besar," yaitu kesalahan yang besar lagi sangat buruk. Ini termasuk cerminan ketidaksabaran Musa عليه السلام. (72) Maka Khidhir berkata kepada Musa, ﴾ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 72 ﴿ "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku'," maksudnya, sudah terjadi apa yang aku beritahukan kepadamu. (73) Teguran itu merupakan bentuk kealpaan dari Musa, maka dia berkata, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرۡهِقۡنِي مِنۡ أَمۡرِي عُسۡرٗا 73 ﴿ "Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku, dan janganlah kamu membebani-ku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku," maksudnya janganlah engkau mempersulit urusan kepada diriku, maafkanlah aku. Se-sungguhnya itu terjadi karena faktor lupa. Janganlah engkau meng-hukum aku karena kelupaanku yang pertama kali ini. Ia memadu-kan antara pengakuan kesalahan dan pengajuan alasan, dan bahwa engkau wahai Khidhir tidak patut bersikap keras terhadap kawan-mu ini, maka Khidhir memaafkannya. (74) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا ﴿ "Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak," yaitu anak kecil ﴾ فَقَتَلَهُۥ ﴿ "maka dia membunuhnya," Khidhir membunuhnya. Kemarahan pun semakin menjadi-jadi pada Musa, kecemburuan agamanya sontak muncul ketika Khidhir membunuh seorang anak kecil yang belum berbuat dosa. ﴾ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain. Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar'." Kemungkaran mana yang sebanding dengan membunuh anak kecil yang belum ternoda oleh dosa, dan ia pun tidak membunuh orang lain? Teguran Musa yang pertama muncul karena kelupaan. Sedangkan sanggahan ini bukan karena lupa, tetapi karena tidak sabar. (75) Khidhir berkata kepada Musa untuk menegur dan meng-ingatkan, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 75 ﴿ "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" (76) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa ﴾ إِن سَأَلۡتُكَ عَن شَيۡءِۭ ﴿ "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini," setelah kali ini ﴾ فَلَا تُصَٰحِبۡنِيۖ ﴿ "maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu," maksudnya engkau punya alasan dan berhak meninggalkan keserta-anku ﴾ قَدۡ بَلَغۡتَ مِن لَّدُنِّي عُذۡرٗا 76 ﴿ "sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur kepadaku," maksudnya kamu telah memberi toleransi bagiku, kamu tidak pelit untuk memberi kesempatan. (77) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا ﴿ "Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu," maksudnya mereka berdua minta perjamuan kepada penduduknya, namun mereka tidak mau menyuguhi mereka berdua, ﴾ فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ ﴿ "kemudian kedua-nya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh," maksudnya [sungguh] telah rusak dan berantakan ﴾ فَأَقَامَهُۥۖ ﴿ "maka dia menegakkan dinding itu," yaitu Khidhir, maksudnya, membangun dan memperbaruinya lagi. Kemudian ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa, ﴾ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا 77 ﴿ "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu," yaitu kepada penduduk negeri itu. Mereka tidak mau menjamu kita, padahal harus mereka lakukan, sementara itu, justru engkau membangun rumah itu tanpa upah sama sekali, pada-hal engkau mampu memintanya? (78) Pada saat itulah, Musa عليه السلام tidak menepati apa yang dia ucapkan. Dan Khidhir meminta pamit kepadanya, seraya ﴾ قَالَ ﴿ "mengatakan" kepada Musa, ﴾ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ ﴿ "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu," karena sesungguhnya engkau telah menetapkan syarat tersebut atas dirimu sendiri, sekarang sudah tidak diterima lagi alasan dan kesempatan untuk menyertai lagi. ﴾ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا 78 ﴿ "Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang membuatmu tidak dapat sabar terhadapnya," maksudnya aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang engkau ingkari terhadapku, dan aku memberitakan bahwa aku mempunyai tujuan dan sasaran dari tindakanku. (79) ﴾ أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ ﴿ "Adapun bahtera itu," yang aku lubangi ﴾ فَكَانَتۡ لِمَسَٰكِينَ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut," yang menuntut munculnya rasa iba dan kasihan kepada mereka ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٞ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصۡبٗا 79 ﴿ "lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang me-rampas tiap-tiap bahtera," maksudnya mereka itu (dalam berlayar), melewati raja yang zhalim. Setiap kapal yang baik yang melewati sang raja tanpa cacat, maka dia merampasnya atau mengambilnya secara paksa. Karena itu, aku berniat melubanginya agar memiliki cacat, sehingga selamat dari (jarahan) penguasa yang zhalim itu. (80) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ ﴿ "Dan adapun anak itu," yang aku bunuh ﴾ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا 80 ﴿ "maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, lalu kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekufuran." Anak lelaki itu telah ditakdirkan, jika menginjak dewasa (kelak) akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekufuran. Maksudnya, menyeret mereka kepada tindakan kesesatan dan kekufuran, baik lantaran kecintaan mereka kepadanya atau ketergantungan mereka kepadanya, maupun lantaran dia memaksa mereka berbuat demi-kian. Maka aku pun membunuhnya, sebab aku mengetahui (kesu-dahan) anak itu, demi keselamatan agama dua orang tuanya yang beriman. Apakah ada manfaat yang lebih besar daripada kebaikan yang besar ini. (81) Pembunuhan tersebut, meskipun mengandung tindak-an buruk kepada mereka berdua dan pemutusan keturunan mereka berdua, namun sesungguhnya Allah تعالى akan menganugerahinya keturunan yang lebih baik daripada si anak itu. Oleh karena itu, (Khidhir) berkata, ﴾ فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا 81 ﴿ "Lalu kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)," yaitu anak yang shalih, suci dan menghormati hubungan dengan orang tuanya. Sesungguhnya anak kecil yang dibunuh tersebut, sekiranya dia dewasa nanti, niscaya dia akan durhaka kepada keduanya dan memaksa mereka kepada kekufuran dan kesesatan. (82) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ ﴿ "Adapun dinding rumah itu," yang aku bangun ﴾ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "maka ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih," maksudnya, kondisi mereka berdua menuntut adanya rasa iba dan rahmat kepada mereka, sebab keduanya masih kecil. Kedua orang tua mereka sudah tiada. Maka Allah memelihara mereka ber-dua juga lantaran keshalihan kedua orang tua mereka. ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu," karena itu, aku hancurkan dindingnya dan aku gali harta simpanan yang berada di bawah dan selanjutnya aku letakkan dan aku (bangun) kembali dengan cuma-cuma. ﴾ رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Sebagai rahmat dari Rabb-mu," maksudnya tindakan yang aku lakukan adalah sebagai bentuk sayang dari Allah yang Allah berikan melalui hambaNya, Khidhir. ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri," maksudnya, aku tidak mengerjakan sesuatu menurut kehendak pribadiku dan murni keinginanku. Sesungguhnya itu hanyalah rahmat dari Allah dan perintahNya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itu," keterangan yang aku jelaskan kepadamu ﴾ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا 82 ﴿ "adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar ter-hadapnya." Dalam kisah yang menakjubkan lagi agung ini, termuat pela-jaran-pelajaran penting, hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang banyak sekali. Kami ingin menyinggung sebagiannya dengan per-tolongan Allah: - Keutamaan ilmu dan pengembaraan untuk mencarinya. Se-sungguhnya ilmu adalah perkara terpenting. Musa عليه السلام telah menem-puh jarak yang jauh dan mengalami keletihan dalam mencarinya, menghentikan berbaur dengan Bani Israil untuk mengajari dan mem-bimbing mereka, dan (lebih) memilih untuk menempuh perjalan-an jauh guna menambah ilmu. - Disyariatkannya memulai dengan perkara yang terpenting lalu (dilanjutkan kepada) perkara yang lebih penting (daripada se-sudahnya). Sesungguhnya menambah ilmu dan meningkatkan pengetahuan masyarakat lebih penting daripada meninggalkan mencari ilmu dan menyibukkan diri dengan mengajar tanpa mem-bekali diri dengan ilmu. Dan bila ada kemampuan untuk memadu-kan antara keduanya, itu lebih diutamakan. - Diperbolehkannya mengangkat seorang pelayan saat berada di lingkungan sendiri maupun dalam bepergian untuk tujuan meng-urusi barang bawaan dan mencari kenyamanan, seperti yang dila-kukan oleh Musa. - Sesungguhnya seorang musafir (yang menempuh perjalan-an jauh) untuk mencari ilmu, berjihad atau tujuan lainnya, jika ke-maslahatan menuntut untuk memberitahukan tujuan dan apa yang ia inginkan, maka sesungguhnya sikap tersebut lebih baik daripada menyembunyikannya. Karena di dalam penyampaiannya terdapat beberapa manfaat, seperti melakukan persiapan perbekalan dan menjalankan suatu perkara dengan dasar ilmu serta memperlihat-kan kerinduan terhadap ibadah yang agung ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musa, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (Al-Kahfi: 60). Sebagaimana Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada para sahabat ketika akan menyerang wilayah Tabuk, padahal ke-biasaan beliau adalah bertauriyah (menzahirkan di luar yang dimak-sud). Hal ini tergantung dengan kemaslahatan. - Penisbatan kejelekan dan faktor-faktor pencetusnya kepada setan dengan cara bujukan dan penghiasan maksiat dalam bentuk yang indah, meskipun semua perkara muncul karena keputusan dan takdir Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ ﴿ "Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63). - Bolehnya seorang manusia untuk memberitahukan sesuatu yang menjadi tuntutan tabiat diri, berupa rasa capek, lapar, dan haus dengan syarat tidak dipenuhi kemarahan, dan merupakan kondisi yang benar (apa adanya) berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). - Dianjurkan memilih pelayan yang cerdik, cerdas, lagi pandai agar urusannya terlaksana seperti yang dia inginkan. - Dianjurkan agar seseorang memberi makanan kepada pelayan dari jenis makanan yang dia makan dan memakannya bersama-sama. Karena yang zahir dari Firman Allah, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita." (Al-Kahfi: 62), terdapat penisbatan makanan kepada mereka berdua, tuan dan pelayannya makan bersamaan. - Sesungguhnya pertolongan turun kepada seseorang berdasar-kan tingkat aplikasinya terhadap perintah Allah, dan orang yang sejalan dengan perintah Allah akan memperoleh pertolongan, yang tidak didapatkan oleh orang lain, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). Terdapat isyarat kepada perjalanan yang melampaui tempat pertemuan dua lautan. Adapun yang pertama, Musa tidak menge-luhkan kelelahan meskipun ditempuh dalam waktu lama. Karena itulah safar yang sebenarnya. Sedangkan perjalanan yang terakhir, nampaknya ditempuh dalam setengah hari. Sebab, mereka telah kehilangan ikan ketika bermalam di batu. Padahal secara eksplisit, mereka bermalam di sana. Lantas, berjalan kembali keesokan hari-nya. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, Musa berkata kepada pelayannya, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita," (Al-Kahfi: 62). Saat itulah dia teringat bahwa dia melupakannya di tem-pat yang merupakan tujuan akhirnya. - Hamba yang mereka jumpai bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang insan yang shalih. Sebab, Allah menyebut predikat-nya dengan ubudiyah (pengabdian diri), dan mengungkapkan ka-runiaNya atas dirinya berupa rahmat dan ilmu. Allah tidak menying-gung risalah atau kenabiannya. Seandainya Khidhir adalah nabi, tentulah Allah menyebutkannya sebagaimana Dia menyebut pre-dikat lainnya. Adapun perkataannya di akhir kisah, ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri." (Al-Kahfi: 82), maka perkataan ini tidak menunjukkan dirinya seorang nabi. Hanya mengindikasikan keberadaan ilham dan tahdits (bisikan)(pada dirinya), sebagaimana bisa terjadi pada selain nabi. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ﴿ "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'." (Al-Qa-shash: 7). ﴾ وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا ﴿ "Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung'." (An-Nahl: 68). - Sesungguhnya ilmu yang diajarkan Allah kepada para ham-baNya terbagi menjadi dua bagian: Ilmu muktasab (ilmu yang diusa-hakan), dihasilkan seorang hamba melalui kesungguhan dan kete-kunannya. Dan jenis ilmu ladunni. Allah menganugerahkannya ke-pada hambaNya yang dikehendakiNya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا 65 ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65). - Keharusan beretika saat bersama dengan seorang pengajar dan cara berbicara dari seorang pelajar kepadanya dengan ungkapan yang paling lembut, berdasarkan perkataan Musa عليه السلام, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu meng-ajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). Musa mengungkapkan perkataan dengan nada lembut dan musyawarah, "Apakah engkau memberi izin kepadaku ataukah tidak?" Disertai pengakuan untuk mau belajar darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang berperilaku keras atau sombong, yang tidak memperlihatkan kebutuhannya kepada ilmu sang guru. Justru mengklaim dirinya saling membantu dengan pengajarnya. Bahkan boleh jadi dia berasumsi bahwa dia telah mengajari guru-nya, padahal dia tidak tahu sama sekali. Jadi, menghinakan diri di hadapan seorang guru dan memperlihatkan kebutuhannya kepada pengajarannya termasuk perkara yang paling bermanfaat bagi pen-cari ilmu. - Tawadhu' orang yang utama untuk belajar kepada orang yang berada di bawah levelnya. Sesungguhnya Musa tanpa disang-sikan, lebih mulia daripada Khidhir. - Orang yang sudah berilmu lagi berkedudukan tinggi mem-pelajari ilmu yang belum dia kuasai dari orang yang mahir pada bidang itu, meskipun kedudukannya dalam ilmu tertentu jauh di bawahnya beberapa derajat. Sesungguhnya Musa عليه السلام termasuk ulul 'azmi dari kalangan rasul yang mana Allah menganugerahkan dan mengaruniai kepada mereka ilmu yang tidak dikaruniakan kepada selain mereka. Namun, pada bidang ilmu yang khusus ini, Khidhir mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu, Musa sangat antusias untuk belajar darinya. Atas dasar ini, tidak sepatutnya seorang fakih lagi muhaddits jika kurang cakap dalam ilmu nahwu atau sharaf maupun ilmu lainnya, tidak mem-pelajarinya dari orang yang mahir dalam bidang itu, meskipun bukan seorang faqih atau muhaddits. - Penisbatan ilmu dan keutamaan-keutamaan lainnya adalah kepada Allah تعالى dan mengakuinya serta bersyukur kepada Allah atas itu, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)." (Al-Kahfi: 66), maksudnya dari ilmu yang Allah تعالى ajarkan kepadamu. - Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mem-bimbing kepada kebaikan. Setiap ilmu yang mengandung petunjuk dan hidayah kepada jalan kebaikan dan peringatan dari jalan kejelek-an maupun perantaranya, maka itu termasuk ilmu yang bermanfaat. Sedangkan selain itu, maka ia merupakan ilmu yang berbahaya, atau tidak berisi faidah. Berdasarkan perkataan Musa, ﴾ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). - Sesungguhnya orang yang tidak memiliki kekuatan untuk bersabar dalam menyertai seorang alim dan tidak memiliki ilmu serta keteguhan yang baik dalam menjalaninya, maka sungguh dia [akan kehilangan ilmu yang banyak sebesar tingkat ketidaksabaran-nya].[26] Barangsiapa yang tidak bersabar sedikit pun, niscaya dia tidak dapat menggapai ilmu. Dan siapa saja yang menempuh ke-sabaran dan selalu berkonsisten padanya, tentu ia akan menggapai setiap urusan yang dia usahakan, berdasarkan perkataan Khidhir yang memberi tahu alasan kepada Musa tentang faktor penghambat bagi Musa untuk dapat belajar darinya, yaitu dia tidak bisa bersabar dengannya. - Sesungguhnya penyebab terpenting untuk meraih kesabaran, adalah seseorang menguasai suatu perkara dari sisi ilmu dan penge-tahuan yang mana dia diperintah untuk bersabar di dalamnya. Ka-lau tidak demikian, maka orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui tujuan, hasil, dan kegunaannya, serta buahnya, maka dia tidak memiliki sebab kausalitas kesabaran, berdasarkan perkata-an Khidhir, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu." (Al-Kahfi: 68). Yang mengembalikan faktor ketidaksabarannya adalah tidak adanya penguasaan tentang persoalan tersebut pada Musa. - Perintah untuk berhati-hati, melakukan klarifikasi dan tidak bersegera menjatuhkan keputusan tentang sesuatu sampai menge-tahui arah yang diinginkan dan tujuannya. - Pengaitan urusan-urusan di masa yang akan datang yang di-lakukan oleh para hamba dengan masyi`ah (kehendak) Allah, dan jangan sampai seseorang berkata tentang sesuatu, "Sesungguhnya aku akan melakukannya nanti" kecuali disusuli dengan kata insya Allah. - Tekad untuk mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan per-buatan riilnya. Sesungguhnya Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar." (Al-Kahfi: 69). Ia mempersiapkan dirinya untuk bersabar, namun tidak merealisasikannya. - Seorang guru, jika melihat adanya kemaslahatan dalam me-nahan seorang murid untuk tidak memulai bertanya tentang seba-gian perkara sampai guru itu sendiri yang mengajaknya bicara ten-tang itu, maka sesungguhnya sisi kemaslahatan itu perlu ditelusuri, misalnya, bila pemahaman seorang murid dangkal, atau melarang-nya dari pertanyaan-pertanyaan yang pelik, yang persoalan lain masih lebih penting daripadanya atau karena tidak tercerna oleh daya tangkapnya, atau melontarkan pertanyaan yang tidak berhu-bungan dengan tema pembahasan. - Diperbolehkannya berlayar di laut dalam kondisi yang tidak mengkhawatirkan (keselamatan). - Orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya itu. Tidak bisa dihukum dalam hak Allah dan hak para hamba berdasar-kan FirmanNya, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ﴿ "Janganlah engkau menghukumku disebabkan kelupaanku." (Al-Kahfi: 73). - Sepatutnya, seseorang menyikapi perilaku-perilaku orang dan cara bermuamalah mereka dengan sikap maaf dan sikap yang bisa mereka terima. Tidak pantas membebani mereka hal-hal yang tidak sanggup mereka kerjakan atau memberatkan atau menggencet mereka. Sesungguhnya sikap-sikap ini akan mengundang antipati dan kebosanan terhadapnya. Bahkan, hendaknya dia mengambil jalan yang mudah supaya urusannya pun menjadi mudah. - Hukum segala urusan berjalan sesuai dengan zahirnya, dan (begitu pula) hukum-hukum agama dalam masalah harta, darah, dan lainnya terkait dengannya. Sesungguhnya Musa عليه السلام menging-kari Khidhir atas tindakannya melubangi kapal dan membunuh anak kecil. Dua tindakan ini secara zahir, merupakan kemungkaran. Dan Musa عليه السلام tidak boleh mendiamkannya selain dalam kondisi menyertai Khidhir. Maka, Musa عليه السلام tergesa-gesa dan bersegera untuk menilainya dalam konteks umum, tidak memperhatikan aspek kondisionalnya (bersama Khidhir) yang mengharuskannya bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkarinya. - Adanya kaidah penting yang agung, yaitu menolak keburuk-an yang besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan dan mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar dengan menying-kirkan kemaslahatan yang paling kecil. Sesungguhnya membunuh anak kecil merupakan tindakan jelek. Akan tetapi, keberadaan anak itu (tetap hidup) yang dapat memfitnah agama kedua orang tuanya merupakan keburukan yang lebih besar. Sementara keber-adaan si anak kecil tanpa dibunuh dan tetap memeliharanya, meski-pun dianggap sebagai kebaikan, namun kebaikan (yang lebih besar) adalah dengan menjaga agama dan keimanan dua orang tuanya yang terpelihara, itu lebih baik. Oleh karena itu, Khidhir membunuh-nya. Masuk ke dalam bingkai kaidah ini, bermacam-macam per-soalan furu' dan pelajaran-pelajaran penting yang tidak terbilang. Persoalan bersinggungannya kemaslahatan dan mafsadah, semua masuk ke dalam kaidah ini. - Adanya kaidah penting yang agung juga. Yaitu, penanganan seseorang terhadap harta orang lain, bila dalam rangka menciptakan kemaslahatan dan menghilangkan mafsadah (kerusakan) maka di-perbolehkan, meskipun tanpa izin, hingga walaupun perbuatan-nya itu mengakibatkan sebagian harta orang lain lenyap. Seperti Khidhir yang melubangi kapal agar menjadi cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zhalim. Atas dasar ini, jika terjadi keba-karan atau tenggelam dan peristiwa serupa lainnya di rumah sese-orang atau kekayaannya, yang mana pemusnahan sebagian kekaya-an atau perobohan sebagian rumah dapat menyebabkan keselamat-an bagian yang tersisa, maka hal itu diperbolehkan bagi seseorang (untuk melakukannya). Bahkan disyariatkan baginya untuk menger-jakannya demi menjaga kekayaan orang lain. Begitu pula, sekiranya ada seorang zhalim ingin mengambil harta orang lain lalu sese-orang menyerahkan sebagian uang (yang akan diambil) sebagai tebusan untuk menyelamatkan yang tersisa, maka itu diperboleh-kan, meskipun tanpa izin pemiliknya. - Boleh bekerja di laut sebagaimana diperbolehkan bekerja di daratan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "yang bekerja di laut." (Al-Kahfi: 79), dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka. -Bahwa orang miskin terkadang mempunyai harta yang tidak mencapai (batas) kecukupannya, namun hal itu tidak mengeluarkan-nya dari predikat miskin, karena Allah mengabarkan bahwa mereka adalah miskin yang memiliki perahu. - Pembunuhan termasuk perbuatan dosa yang paling besar, berdasarkan perkataan Musa tentang pembunuhan si anak kecil, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." (Al-Kahfi: 74). - Pembunuhan untuk tujuan qishash tidaklah diingkari, berdasar-kan FirmanNya, ﴾ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ ﴿ "bukan karena dia membunuh." (Al-Kahfi: 74). - Seorang hamba yang shalih, akan dipelihara Allah, jiwa dan keturunannya. - Membantu orang yang shalih atau orang yang berkaitan dengan mereka adalah lebih utama daripada membantu selainnya, karena Khidiri menyebutkan alasan dirinya mengeluarkan harta simpanan dan mendirikan temboknya adalah karena bapak kedua-nya adalah shalih. - Penggunaan etika kesopanan terhadap Allah تعالى dalam (pe-makaian) ungkapan-ungkapan. Sesungguhnya Khidhir mengait-kan perusakan kapal kepada dirinya dengan berkata, ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا ﴿ "Dan aku bertujuan merusak bahtera itu." (Al-Kahfi: 79). Sedangkan tentang kebaikan, maka dia menghubungkannya kepada Allah تعالى, ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar mereka berdua sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya, sebagai rahmat dari Rabbmu." (Al-Kahfi: 82), Sebagaimana yang disampaikan Ibrahim, ﴾ وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 ﴿ "Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku." (Asy- Syu'ara`: 80), dan perkataan jin, ﴾ وَأَنَّا لَا نَدۡرِيٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ أَرَادَ بِهِمۡ رَبُّهُمۡ رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan bahwa kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (Al-Jin: 10), meskipun semua kejadian berasal dari ketentuan dan takdir Allah. - Sesungguhnya seorang kawan tidak pantas meninggalkan sahabatnya dalam kondisi apa pun, dan memutus persahabatan-nya hingga dia menegurnya (terlebih dahulu) dan mengajukan ala-san, seperti yang dilakukan oleh Khidhir terhadap Musa. - Persetujuan seorang teman terhadap sahabatnya dalam per-kara yang tidak terlarang merupakan pemicu dan faktor kelang-gengan persahabatan dan kerekatannya, sebagaimana ketidakse-pahaman menjadi sebab terputusnya hubungan persahabatan. - [Persoalan-persoalan ini yang dijalankan oleh Khidhir me-rupakan keputusan takdir murni, yang mana Allah menjalankan dan meletakkannya pada tangan seorang hamba shalih, agar para hamba mempunyai bukti nyata tentang kelembutan-kelembutan-Nya dalam segala keputusanNya. Dia mentakdirkan perkara-per-kara atas seorang hamba yang benar-benar dia benci, padahal me-rupakan kebaikan bagi agamanya, seperti dalam kejadian si anak kecil (yang dibunuh). Atau kebaikan bagi dunianya, seperti pada peristiwa kapal (yang dilubangi). Allah memperlihatkan sebuah contoh dari kelembutan dan kemuliaanNya supaya mereka menge-nalNya dan ridha dengan takdir-takdir yang tidak mengenakkan dengan tulus].

Al-Kahf 18:66

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.' Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu (melompat) mengambil jalannya ke laut itu pergi secara sembunyi-sembunyi. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, 'Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.' Muridnya menjawab, 'Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu, dan tidak ada yang mem-buatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata, 'Itulah (tempat) yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, maka mereka bertemu dengan se-orang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khi-dhir, 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan ke-padaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan ke-padamu.' Dia menjawab, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.' Musa berkata, 'Insya Allah, kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.' Dia berkata, 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku ten-tang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepada-mu.' Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya. Musa berkata, 'Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan pe-numpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.' Dia (Khidhir) berkata, 'Bukankah aku telah berkata, 'Se-sungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku'.' Musa berkata, 'Janganlah kamu menghukumku karena ke-lupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan sesuatu ke-sulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir mem-bunuhnya. Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain, sungguh kamu telah me-lakukan suatu yang mungkar.' Khidhir berkata, 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar ber-samaku.' Musa berkata, 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperboleh-kan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberi-kan udzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata, 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidhir berkata, 'Inilah perpisah-an antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadap-nya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu, dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya'." (Al-Kahfi: 60-82). (60) Allah تعالى memberitahukan tentang NabiNya, Musa عليه السلام dan kecintaannya kepada kebaikan dan pencarian ilmu, bahwa beliau berkata kepada pemudanya, maksudnya, pelayannya yang menyertainya saat berada di rumah dan dalam perjalanan. Ia adalah Yusya' bin Nun, Allah menceritakan setelah itu, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan," maksudnya aku akan tetap menempuh perjalan-an meskipun jarak semakin jauh dan kesulitan menghampiriku, sampai aku mencapai tempat pertemuan dua buah lautan[25]. Ia adalah tempat yang sudah diwahyukan (oleh Allah) kepadanya, 'Bahwa engkau akan menjumpai seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang berilmu, dia memiliki ilmu yang tidak engkau punyai.' ﴾ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun," maksud-nya (sampai) jarak yang jauh. Maknanya, kerinduan dan keinginan-lah yang menyebabkan Musa berkata demikian kepada pelayannya. (61) Ini merupakan tekad teguh darinya. Karena itu, dia menjalankannya. ﴾ فَلَمَّا بَلَغَا ﴿ "Maka tatkala mereka sampai," yaitu dia dan pelayannya ﴾ مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا ﴿ "ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya," ada seekor ikan yang mereka bawa seba-gai bekal dan makanan mereka. Ia telah diberitahu (sebelumnya) bahwa kapan saja ikan tersebut hilang, maka di situlah insan yang dia tuju berada ﴾ فَٱتَّخَذَ ﴿ "lalu mengambil," yaitu ikan tersebut meng-ambil ﴾ سَبِيلَهُۥ ﴿ "jalannya," jalannya ﴾ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا 61 ﴿ "ke laut itu dengan pergi secara sembunyi-sembunyi," ini termasuk tanda kebesaran Allah. Para ulama tafsir berkata, 'Sesungguhnya ikan tersebut yang dijadi-kan perbekalan oleh mereka, ketika mereka sampai di tempat itu, (maka ikan itu) terkena air laut. Maka ia pergi secara sembunyi-sembunyi dengan izin Allah ke dalam lautan dan hidup bersama binatang-binatang laut lainnya." (62) Tatkala Musa dan pelayannya telah melewati tempat pertemuan dua laut, maka Musa berkata kepada pelayannya,﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Bawalah ke mari makanan kita; sesung-guhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini," maksudnya kita telah merasa kepayahan disebabkan perjalanan yang melewati (tempat dua pertemuan laut). Apabila tidak demikian, maka pada perjalanan panjang yang mereka lalui sampai ke tempat dua per-temuan laut, mereka tidak merasakan keletihan sama sekali. Ini termasuk tanda-tanda kebesaran Allah dan petunjuk yang meng-indikasikan kepada keberadaan apa yang dicari oleh Musa. Selain itu, sesungguhnya kerinduan yang berhubungan dengan perja-lanan sampai ke tempat itu telah memudahkan jalan bagi mereka. Ketika mereka telah melampaui tujuannya, maka mereka (baru) merasakan keletihan. (63) Usai mengatakan perkataan ini kepada pelayannya, sang pelayan berkata kepada Musa, ﴾ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ ﴿ "Tahu-kah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka se-sungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu," [maksudnya tidakkah engkau tahu ketika kita menginap tadi malam di batu ter-sebut di antara dua lautan itu, sesungguhnya aku lupa terhadap ikan tersebut]. ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan tidak ada yang membuatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan," karena dialah penyebab-nya. ﴾ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا 63 ﴿ "Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali," maksudnya ketika ikan itu telah me-lompat dan menghilang ke dalam laut, maka hal itu termasuk ke-jadian yang mencengangkan. Para ulama tafsir mengatakan, "Jalan yang ditempuh oleh ikan itu adalah jalan tersembunyi, sedangkan dalam (pandangan) Musa dan pelayannya, itu merupakan keajaiban." (64) Setelah si pelayan berkata demikian kepada Musa, yang sebelumnya telah mendapatkan janji dari Allah, bahwasanya jika dia kehilangan ikan itu, berarti akan menjumpai Khidhir, maka Musa berkata, ﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ ﴿ "Itulah (tempat) yang kita cari," yang kita inginkan ﴾ فَٱرۡتَدَّا ﴿ "Lalu keduanya kembali," maksudnya kembali pulang ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا 64 ﴿ "mengikuti jejak mereka semula," mereka kembali menelusuri jejak-jejak mereka sampai (ke tempat) yang mereka lupa terhadap ikan tadi. (65) Ketika mereka telah sampai di sana ﴾ فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ﴿ "maka mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami," yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi, berdasarkan pendapat yang shahih, ﴾ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا ﴿ "yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami," maksudnya Allah menganugerahinya rahmat yang lebih spesial. Dengan itu, ilmu dan kebaikan amalnya bertambah. ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami," maksudnya berasal dari sisi Kami ﴾ عِلۡمٗا 65 ﴿ "ilmu." Dia telah memperoleh ilmu yang tidak diberikan ke-pada Musa, kendatipun Musa lebih berilmu daripada Khidhir pada banyak permasalahan, terutama ilmu-ilmu keimanan dan ilmu-ilmu Ushul. Pasalnya, beliau adalah salah seorang ulul 'azmi dari kalangan para rasul yang Allah utamakan di atas seluruh makhluk dengan ilmu, amal, dan lainnya. (66) Manakala Musa berhasil berkumpul dengan Khidhir, maka beliau berkata kepadanya dengan penuh kesopanan dan per-mohonan persetujuan sembari memberitahukan apa yang ia ingin-kan, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu su-paya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu," maksudnya, apakah aku boleh meng-ikutimu agar engkau mengajariku dari ilmu-ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu, yang akan kujadikan sebagai pegangan dan petunjuk, dan dengan itu aku pun bisa mengetahui kebenaran pada persoalan-persoalan itu? Khidhir telah dianugerahi Allah ilham dan karamah hingga sanggup meneropong rahasia-rahasia permasalah-an yang tersembunyi pada pandangan Musa عليه السلام. (67) Maka Khidhir berkata kepada Musa, "Aku tidak menam-piknya. Akan tetapi, sesungguhnya engkau ﴾ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ﴿ 'sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku,' maksudnya engkau tidak mampu untuk mengikuti dan menyertaiku. Sebab, kamu akan me-nyaksikan obyek yang membuatmu tidak bisa bersabar dalam meng-hadapi perkara-perkara yang nampak terlihat sebagai kemungkar-an, sementara hakikatnya tidak demikian adanya." (68) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mem-punyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu," maksudnya, bagaimana bisa engkau bersabar menghadapi sesuatu yang engkau tidak me-nguasai seluk-beluknya bagian luar dan dalamnya, dan tidak me-ngetahui tujuan dan kesudahannya. (69) Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا 69 ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." Ini merupakan tekad Musa sebelum dijumpainya obyek ujian. Tekad itu sebuah keinginan, sementara keberadaan sabar adalah urusan lain. Karena-nya, Musa tidak bisa menahan diri saat peristiwa terjadi. (70) Pada saat itulah, Khidhir berpesan kepada Musa, ﴾ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡـَٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا 70 ﴿ "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu," maksudnya janganlah eng-kau memulai untuk melontarkan pertanyaan dan pengingkaran kepadaku, sampai akulah yang akan menerangkan kepadamu apa yang terjadi, di waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang itu. Ia melarang Musa untuk bertanya dan berjanji kepadanya untuk menerangkan kepadanya tentang hakikat peristiwa tersebut. (71) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ ﴿ "Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya," maksudnya Khidhir mencabut satu papan dari perahu tersebut. Ia mempunyai tujuan dalam melakukannya yang akan ia jelaskan (nanti). Akan tetapi, Musa عليه السلام tidak tahan (menyaksikannya), lan-taran secara eksplisit merupakan kemungkaran. Pasalnya, tindakan itu dapat merusak perahu tersebut dan menjadi penyebab tenggelam bagi sang pemilik. Oleh karena itu, Musa berkata, ﴾ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا إِمۡرٗا 71 ﴿ "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah ber-buat kesalahan yang besar," yaitu kesalahan yang besar lagi sangat buruk. Ini termasuk cerminan ketidaksabaran Musa عليه السلام. (72) Maka Khidhir berkata kepada Musa, ﴾ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 72 ﴿ "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku'," maksudnya, sudah terjadi apa yang aku beritahukan kepadamu. (73) Teguran itu merupakan bentuk kealpaan dari Musa, maka dia berkata, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرۡهِقۡنِي مِنۡ أَمۡرِي عُسۡرٗا 73 ﴿ "Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku, dan janganlah kamu membebani-ku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku," maksudnya janganlah engkau mempersulit urusan kepada diriku, maafkanlah aku. Se-sungguhnya itu terjadi karena faktor lupa. Janganlah engkau meng-hukum aku karena kelupaanku yang pertama kali ini. Ia memadu-kan antara pengakuan kesalahan dan pengajuan alasan, dan bahwa engkau wahai Khidhir tidak patut bersikap keras terhadap kawan-mu ini, maka Khidhir memaafkannya. (74) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا ﴿ "Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak," yaitu anak kecil ﴾ فَقَتَلَهُۥ ﴿ "maka dia membunuhnya," Khidhir membunuhnya. Kemarahan pun semakin menjadi-jadi pada Musa, kecemburuan agamanya sontak muncul ketika Khidhir membunuh seorang anak kecil yang belum berbuat dosa. ﴾ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain. Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar'." Kemungkaran mana yang sebanding dengan membunuh anak kecil yang belum ternoda oleh dosa, dan ia pun tidak membunuh orang lain? Teguran Musa yang pertama muncul karena kelupaan. Sedangkan sanggahan ini bukan karena lupa, tetapi karena tidak sabar. (75) Khidhir berkata kepada Musa untuk menegur dan meng-ingatkan, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 75 ﴿ "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" (76) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa ﴾ إِن سَأَلۡتُكَ عَن شَيۡءِۭ ﴿ "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini," setelah kali ini ﴾ فَلَا تُصَٰحِبۡنِيۖ ﴿ "maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu," maksudnya engkau punya alasan dan berhak meninggalkan keserta-anku ﴾ قَدۡ بَلَغۡتَ مِن لَّدُنِّي عُذۡرٗا 76 ﴿ "sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur kepadaku," maksudnya kamu telah memberi toleransi bagiku, kamu tidak pelit untuk memberi kesempatan. (77) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا ﴿ "Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu," maksudnya mereka berdua minta perjamuan kepada penduduknya, namun mereka tidak mau menyuguhi mereka berdua, ﴾ فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ ﴿ "kemudian kedua-nya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh," maksudnya [sungguh] telah rusak dan berantakan ﴾ فَأَقَامَهُۥۖ ﴿ "maka dia menegakkan dinding itu," yaitu Khidhir, maksudnya, membangun dan memperbaruinya lagi. Kemudian ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa, ﴾ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا 77 ﴿ "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu," yaitu kepada penduduk negeri itu. Mereka tidak mau menjamu kita, padahal harus mereka lakukan, sementara itu, justru engkau membangun rumah itu tanpa upah sama sekali, pada-hal engkau mampu memintanya? (78) Pada saat itulah, Musa عليه السلام tidak menepati apa yang dia ucapkan. Dan Khidhir meminta pamit kepadanya, seraya ﴾ قَالَ ﴿ "mengatakan" kepada Musa, ﴾ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ ﴿ "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu," karena sesungguhnya engkau telah menetapkan syarat tersebut atas dirimu sendiri, sekarang sudah tidak diterima lagi alasan dan kesempatan untuk menyertai lagi. ﴾ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا 78 ﴿ "Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang membuatmu tidak dapat sabar terhadapnya," maksudnya aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang engkau ingkari terhadapku, dan aku memberitakan bahwa aku mempunyai tujuan dan sasaran dari tindakanku. (79) ﴾ أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ ﴿ "Adapun bahtera itu," yang aku lubangi ﴾ فَكَانَتۡ لِمَسَٰكِينَ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut," yang menuntut munculnya rasa iba dan kasihan kepada mereka ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٞ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصۡبٗا 79 ﴿ "lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang me-rampas tiap-tiap bahtera," maksudnya mereka itu (dalam berlayar), melewati raja yang zhalim. Setiap kapal yang baik yang melewati sang raja tanpa cacat, maka dia merampasnya atau mengambilnya secara paksa. Karena itu, aku berniat melubanginya agar memiliki cacat, sehingga selamat dari (jarahan) penguasa yang zhalim itu. (80) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ ﴿ "Dan adapun anak itu," yang aku bunuh ﴾ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا 80 ﴿ "maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, lalu kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekufuran." Anak lelaki itu telah ditakdirkan, jika menginjak dewasa (kelak) akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekufuran. Maksudnya, menyeret mereka kepada tindakan kesesatan dan kekufuran, baik lantaran kecintaan mereka kepadanya atau ketergantungan mereka kepadanya, maupun lantaran dia memaksa mereka berbuat demi-kian. Maka aku pun membunuhnya, sebab aku mengetahui (kesu-dahan) anak itu, demi keselamatan agama dua orang tuanya yang beriman. Apakah ada manfaat yang lebih besar daripada kebaikan yang besar ini. (81) Pembunuhan tersebut, meskipun mengandung tindak-an buruk kepada mereka berdua dan pemutusan keturunan mereka berdua, namun sesungguhnya Allah تعالى akan menganugerahinya keturunan yang lebih baik daripada si anak itu. Oleh karena itu, (Khidhir) berkata, ﴾ فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا 81 ﴿ "Lalu kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)," yaitu anak yang shalih, suci dan menghormati hubungan dengan orang tuanya. Sesungguhnya anak kecil yang dibunuh tersebut, sekiranya dia dewasa nanti, niscaya dia akan durhaka kepada keduanya dan memaksa mereka kepada kekufuran dan kesesatan. (82) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ ﴿ "Adapun dinding rumah itu," yang aku bangun ﴾ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "maka ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih," maksudnya, kondisi mereka berdua menuntut adanya rasa iba dan rahmat kepada mereka, sebab keduanya masih kecil. Kedua orang tua mereka sudah tiada. Maka Allah memelihara mereka ber-dua juga lantaran keshalihan kedua orang tua mereka. ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu," karena itu, aku hancurkan dindingnya dan aku gali harta simpanan yang berada di bawah dan selanjutnya aku letakkan dan aku (bangun) kembali dengan cuma-cuma. ﴾ رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Sebagai rahmat dari Rabb-mu," maksudnya tindakan yang aku lakukan adalah sebagai bentuk sayang dari Allah yang Allah berikan melalui hambaNya, Khidhir. ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri," maksudnya, aku tidak mengerjakan sesuatu menurut kehendak pribadiku dan murni keinginanku. Sesungguhnya itu hanyalah rahmat dari Allah dan perintahNya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itu," keterangan yang aku jelaskan kepadamu ﴾ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا 82 ﴿ "adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar ter-hadapnya." Dalam kisah yang menakjubkan lagi agung ini, termuat pela-jaran-pelajaran penting, hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang banyak sekali. Kami ingin menyinggung sebagiannya dengan per-tolongan Allah: - Keutamaan ilmu dan pengembaraan untuk mencarinya. Se-sungguhnya ilmu adalah perkara terpenting. Musa عليه السلام telah menem-puh jarak yang jauh dan mengalami keletihan dalam mencarinya, menghentikan berbaur dengan Bani Israil untuk mengajari dan mem-bimbing mereka, dan (lebih) memilih untuk menempuh perjalan-an jauh guna menambah ilmu. - Disyariatkannya memulai dengan perkara yang terpenting lalu (dilanjutkan kepada) perkara yang lebih penting (daripada se-sudahnya). Sesungguhnya menambah ilmu dan meningkatkan pengetahuan masyarakat lebih penting daripada meninggalkan mencari ilmu dan menyibukkan diri dengan mengajar tanpa mem-bekali diri dengan ilmu. Dan bila ada kemampuan untuk memadu-kan antara keduanya, itu lebih diutamakan. - Diperbolehkannya mengangkat seorang pelayan saat berada di lingkungan sendiri maupun dalam bepergian untuk tujuan meng-urusi barang bawaan dan mencari kenyamanan, seperti yang dila-kukan oleh Musa. - Sesungguhnya seorang musafir (yang menempuh perjalan-an jauh) untuk mencari ilmu, berjihad atau tujuan lainnya, jika ke-maslahatan menuntut untuk memberitahukan tujuan dan apa yang ia inginkan, maka sesungguhnya sikap tersebut lebih baik daripada menyembunyikannya. Karena di dalam penyampaiannya terdapat beberapa manfaat, seperti melakukan persiapan perbekalan dan menjalankan suatu perkara dengan dasar ilmu serta memperlihat-kan kerinduan terhadap ibadah yang agung ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musa, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (Al-Kahfi: 60). Sebagaimana Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada para sahabat ketika akan menyerang wilayah Tabuk, padahal ke-biasaan beliau adalah bertauriyah (menzahirkan di luar yang dimak-sud). Hal ini tergantung dengan kemaslahatan. - Penisbatan kejelekan dan faktor-faktor pencetusnya kepada setan dengan cara bujukan dan penghiasan maksiat dalam bentuk yang indah, meskipun semua perkara muncul karena keputusan dan takdir Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ ﴿ "Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63). - Bolehnya seorang manusia untuk memberitahukan sesuatu yang menjadi tuntutan tabiat diri, berupa rasa capek, lapar, dan haus dengan syarat tidak dipenuhi kemarahan, dan merupakan kondisi yang benar (apa adanya) berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). - Dianjurkan memilih pelayan yang cerdik, cerdas, lagi pandai agar urusannya terlaksana seperti yang dia inginkan. - Dianjurkan agar seseorang memberi makanan kepada pelayan dari jenis makanan yang dia makan dan memakannya bersama-sama. Karena yang zahir dari Firman Allah, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita." (Al-Kahfi: 62), terdapat penisbatan makanan kepada mereka berdua, tuan dan pelayannya makan bersamaan. - Sesungguhnya pertolongan turun kepada seseorang berdasar-kan tingkat aplikasinya terhadap perintah Allah, dan orang yang sejalan dengan perintah Allah akan memperoleh pertolongan, yang tidak didapatkan oleh orang lain, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). Terdapat isyarat kepada perjalanan yang melampaui tempat pertemuan dua lautan. Adapun yang pertama, Musa tidak menge-luhkan kelelahan meskipun ditempuh dalam waktu lama. Karena itulah safar yang sebenarnya. Sedangkan perjalanan yang terakhir, nampaknya ditempuh dalam setengah hari. Sebab, mereka telah kehilangan ikan ketika bermalam di batu. Padahal secara eksplisit, mereka bermalam di sana. Lantas, berjalan kembali keesokan hari-nya. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, Musa berkata kepada pelayannya, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita," (Al-Kahfi: 62). Saat itulah dia teringat bahwa dia melupakannya di tem-pat yang merupakan tujuan akhirnya. - Hamba yang mereka jumpai bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang insan yang shalih. Sebab, Allah menyebut predikat-nya dengan ubudiyah (pengabdian diri), dan mengungkapkan ka-runiaNya atas dirinya berupa rahmat dan ilmu. Allah tidak menying-gung risalah atau kenabiannya. Seandainya Khidhir adalah nabi, tentulah Allah menyebutkannya sebagaimana Dia menyebut pre-dikat lainnya. Adapun perkataannya di akhir kisah, ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri." (Al-Kahfi: 82), maka perkataan ini tidak menunjukkan dirinya seorang nabi. Hanya mengindikasikan keberadaan ilham dan tahdits (bisikan)(pada dirinya), sebagaimana bisa terjadi pada selain nabi. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ﴿ "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'." (Al-Qa-shash: 7). ﴾ وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا ﴿ "Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung'." (An-Nahl: 68). - Sesungguhnya ilmu yang diajarkan Allah kepada para ham-baNya terbagi menjadi dua bagian: Ilmu muktasab (ilmu yang diusa-hakan), dihasilkan seorang hamba melalui kesungguhan dan kete-kunannya. Dan jenis ilmu ladunni. Allah menganugerahkannya ke-pada hambaNya yang dikehendakiNya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا 65 ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65). - Keharusan beretika saat bersama dengan seorang pengajar dan cara berbicara dari seorang pelajar kepadanya dengan ungkapan yang paling lembut, berdasarkan perkataan Musa عليه السلام, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu meng-ajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). Musa mengungkapkan perkataan dengan nada lembut dan musyawarah, "Apakah engkau memberi izin kepadaku ataukah tidak?" Disertai pengakuan untuk mau belajar darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang berperilaku keras atau sombong, yang tidak memperlihatkan kebutuhannya kepada ilmu sang guru. Justru mengklaim dirinya saling membantu dengan pengajarnya. Bahkan boleh jadi dia berasumsi bahwa dia telah mengajari guru-nya, padahal dia tidak tahu sama sekali. Jadi, menghinakan diri di hadapan seorang guru dan memperlihatkan kebutuhannya kepada pengajarannya termasuk perkara yang paling bermanfaat bagi pen-cari ilmu. - Tawadhu' orang yang utama untuk belajar kepada orang yang berada di bawah levelnya. Sesungguhnya Musa tanpa disang-sikan, lebih mulia daripada Khidhir. - Orang yang sudah berilmu lagi berkedudukan tinggi mem-pelajari ilmu yang belum dia kuasai dari orang yang mahir pada bidang itu, meskipun kedudukannya dalam ilmu tertentu jauh di bawahnya beberapa derajat. Sesungguhnya Musa عليه السلام termasuk ulul 'azmi dari kalangan rasul yang mana Allah menganugerahkan dan mengaruniai kepada mereka ilmu yang tidak dikaruniakan kepada selain mereka. Namun, pada bidang ilmu yang khusus ini, Khidhir mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu, Musa sangat antusias untuk belajar darinya. Atas dasar ini, tidak sepatutnya seorang fakih lagi muhaddits jika kurang cakap dalam ilmu nahwu atau sharaf maupun ilmu lainnya, tidak mem-pelajarinya dari orang yang mahir dalam bidang itu, meskipun bukan seorang faqih atau muhaddits. - Penisbatan ilmu dan keutamaan-keutamaan lainnya adalah kepada Allah تعالى dan mengakuinya serta bersyukur kepada Allah atas itu, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)." (Al-Kahfi: 66), maksudnya dari ilmu yang Allah تعالى ajarkan kepadamu. - Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mem-bimbing kepada kebaikan. Setiap ilmu yang mengandung petunjuk dan hidayah kepada jalan kebaikan dan peringatan dari jalan kejelek-an maupun perantaranya, maka itu termasuk ilmu yang bermanfaat. Sedangkan selain itu, maka ia merupakan ilmu yang berbahaya, atau tidak berisi faidah. Berdasarkan perkataan Musa, ﴾ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). - Sesungguhnya orang yang tidak memiliki kekuatan untuk bersabar dalam menyertai seorang alim dan tidak memiliki ilmu serta keteguhan yang baik dalam menjalaninya, maka sungguh dia [akan kehilangan ilmu yang banyak sebesar tingkat ketidaksabaran-nya].[26] Barangsiapa yang tidak bersabar sedikit pun, niscaya dia tidak dapat menggapai ilmu. Dan siapa saja yang menempuh ke-sabaran dan selalu berkonsisten padanya, tentu ia akan menggapai setiap urusan yang dia usahakan, berdasarkan perkataan Khidhir yang memberi tahu alasan kepada Musa tentang faktor penghambat bagi Musa untuk dapat belajar darinya, yaitu dia tidak bisa bersabar dengannya. - Sesungguhnya penyebab terpenting untuk meraih kesabaran, adalah seseorang menguasai suatu perkara dari sisi ilmu dan penge-tahuan yang mana dia diperintah untuk bersabar di dalamnya. Ka-lau tidak demikian, maka orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui tujuan, hasil, dan kegunaannya, serta buahnya, maka dia tidak memiliki sebab kausalitas kesabaran, berdasarkan perkata-an Khidhir, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu." (Al-Kahfi: 68). Yang mengembalikan faktor ketidaksabarannya adalah tidak adanya penguasaan tentang persoalan tersebut pada Musa. - Perintah untuk berhati-hati, melakukan klarifikasi dan tidak bersegera menjatuhkan keputusan tentang sesuatu sampai menge-tahui arah yang diinginkan dan tujuannya. - Pengaitan urusan-urusan di masa yang akan datang yang di-lakukan oleh para hamba dengan masyi`ah (kehendak) Allah, dan jangan sampai seseorang berkata tentang sesuatu, "Sesungguhnya aku akan melakukannya nanti" kecuali disusuli dengan kata insya Allah. - Tekad untuk mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan per-buatan riilnya. Sesungguhnya Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar." (Al-Kahfi: 69). Ia mempersiapkan dirinya untuk bersabar, namun tidak merealisasikannya. - Seorang guru, jika melihat adanya kemaslahatan dalam me-nahan seorang murid untuk tidak memulai bertanya tentang seba-gian perkara sampai guru itu sendiri yang mengajaknya bicara ten-tang itu, maka sesungguhnya sisi kemaslahatan itu perlu ditelusuri, misalnya, bila pemahaman seorang murid dangkal, atau melarang-nya dari pertanyaan-pertanyaan yang pelik, yang persoalan lain masih lebih penting daripadanya atau karena tidak tercerna oleh daya tangkapnya, atau melontarkan pertanyaan yang tidak berhu-bungan dengan tema pembahasan. - Diperbolehkannya berlayar di laut dalam kondisi yang tidak mengkhawatirkan (keselamatan). - Orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya itu. Tidak bisa dihukum dalam hak Allah dan hak para hamba berdasar-kan FirmanNya, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ﴿ "Janganlah engkau menghukumku disebabkan kelupaanku." (Al-Kahfi: 73). - Sepatutnya, seseorang menyikapi perilaku-perilaku orang dan cara bermuamalah mereka dengan sikap maaf dan sikap yang bisa mereka terima. Tidak pantas membebani mereka hal-hal yang tidak sanggup mereka kerjakan atau memberatkan atau menggencet mereka. Sesungguhnya sikap-sikap ini akan mengundang antipati dan kebosanan terhadapnya. Bahkan, hendaknya dia mengambil jalan yang mudah supaya urusannya pun menjadi mudah. - Hukum segala urusan berjalan sesuai dengan zahirnya, dan (begitu pula) hukum-hukum agama dalam masalah harta, darah, dan lainnya terkait dengannya. Sesungguhnya Musa عليه السلام menging-kari Khidhir atas tindakannya melubangi kapal dan membunuh anak kecil. Dua tindakan ini secara zahir, merupakan kemungkaran. Dan Musa عليه السلام tidak boleh mendiamkannya selain dalam kondisi menyertai Khidhir. Maka, Musa عليه السلام tergesa-gesa dan bersegera untuk menilainya dalam konteks umum, tidak memperhatikan aspek kondisionalnya (bersama Khidhir) yang mengharuskannya bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkarinya. - Adanya kaidah penting yang agung, yaitu menolak keburuk-an yang besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan dan mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar dengan menying-kirkan kemaslahatan yang paling kecil. Sesungguhnya membunuh anak kecil merupakan tindakan jelek. Akan tetapi, keberadaan anak itu (tetap hidup) yang dapat memfitnah agama kedua orang tuanya merupakan keburukan yang lebih besar. Sementara keber-adaan si anak kecil tanpa dibunuh dan tetap memeliharanya, meski-pun dianggap sebagai kebaikan, namun kebaikan (yang lebih besar) adalah dengan menjaga agama dan keimanan dua orang tuanya yang terpelihara, itu lebih baik. Oleh karena itu, Khidhir membunuh-nya. Masuk ke dalam bingkai kaidah ini, bermacam-macam per-soalan furu' dan pelajaran-pelajaran penting yang tidak terbilang. Persoalan bersinggungannya kemaslahatan dan mafsadah, semua masuk ke dalam kaidah ini. - Adanya kaidah penting yang agung juga. Yaitu, penanganan seseorang terhadap harta orang lain, bila dalam rangka menciptakan kemaslahatan dan menghilangkan mafsadah (kerusakan) maka di-perbolehkan, meskipun tanpa izin, hingga walaupun perbuatan-nya itu mengakibatkan sebagian harta orang lain lenyap. Seperti Khidhir yang melubangi kapal agar menjadi cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zhalim. Atas dasar ini, jika terjadi keba-karan atau tenggelam dan peristiwa serupa lainnya di rumah sese-orang atau kekayaannya, yang mana pemusnahan sebagian kekaya-an atau perobohan sebagian rumah dapat menyebabkan keselamat-an bagian yang tersisa, maka hal itu diperbolehkan bagi seseorang (untuk melakukannya). Bahkan disyariatkan baginya untuk menger-jakannya demi menjaga kekayaan orang lain. Begitu pula, sekiranya ada seorang zhalim ingin mengambil harta orang lain lalu sese-orang menyerahkan sebagian uang (yang akan diambil) sebagai tebusan untuk menyelamatkan yang tersisa, maka itu diperboleh-kan, meskipun tanpa izin pemiliknya. - Boleh bekerja di laut sebagaimana diperbolehkan bekerja di daratan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "yang bekerja di laut." (Al-Kahfi: 79), dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka. -Bahwa orang miskin terkadang mempunyai harta yang tidak mencapai (batas) kecukupannya, namun hal itu tidak mengeluarkan-nya dari predikat miskin, karena Allah mengabarkan bahwa mereka adalah miskin yang memiliki perahu. - Pembunuhan termasuk perbuatan dosa yang paling besar, berdasarkan perkataan Musa tentang pembunuhan si anak kecil, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." (Al-Kahfi: 74). - Pembunuhan untuk tujuan qishash tidaklah diingkari, berdasar-kan FirmanNya, ﴾ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ ﴿ "bukan karena dia membunuh." (Al-Kahfi: 74). - Seorang hamba yang shalih, akan dipelihara Allah, jiwa dan keturunannya. - Membantu orang yang shalih atau orang yang berkaitan dengan mereka adalah lebih utama daripada membantu selainnya, karena Khidiri menyebutkan alasan dirinya mengeluarkan harta simpanan dan mendirikan temboknya adalah karena bapak kedua-nya adalah shalih. - Penggunaan etika kesopanan terhadap Allah تعالى dalam (pe-makaian) ungkapan-ungkapan. Sesungguhnya Khidhir mengait-kan perusakan kapal kepada dirinya dengan berkata, ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا ﴿ "Dan aku bertujuan merusak bahtera itu." (Al-Kahfi: 79). Sedangkan tentang kebaikan, maka dia menghubungkannya kepada Allah تعالى, ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar mereka berdua sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya, sebagai rahmat dari Rabbmu." (Al-Kahfi: 82), Sebagaimana yang disampaikan Ibrahim, ﴾ وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 ﴿ "Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku." (Asy- Syu'ara`: 80), dan perkataan jin, ﴾ وَأَنَّا لَا نَدۡرِيٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ أَرَادَ بِهِمۡ رَبُّهُمۡ رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan bahwa kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (Al-Jin: 10), meskipun semua kejadian berasal dari ketentuan dan takdir Allah. - Sesungguhnya seorang kawan tidak pantas meninggalkan sahabatnya dalam kondisi apa pun, dan memutus persahabatan-nya hingga dia menegurnya (terlebih dahulu) dan mengajukan ala-san, seperti yang dilakukan oleh Khidhir terhadap Musa. - Persetujuan seorang teman terhadap sahabatnya dalam per-kara yang tidak terlarang merupakan pemicu dan faktor kelang-gengan persahabatan dan kerekatannya, sebagaimana ketidakse-pahaman menjadi sebab terputusnya hubungan persahabatan. - [Persoalan-persoalan ini yang dijalankan oleh Khidhir me-rupakan keputusan takdir murni, yang mana Allah menjalankan dan meletakkannya pada tangan seorang hamba shalih, agar para hamba mempunyai bukti nyata tentang kelembutan-kelembutan-Nya dalam segala keputusanNya. Dia mentakdirkan perkara-per-kara atas seorang hamba yang benar-benar dia benci, padahal me-rupakan kebaikan bagi agamanya, seperti dalam kejadian si anak kecil (yang dibunuh). Atau kebaikan bagi dunianya, seperti pada peristiwa kapal (yang dilubangi). Allah memperlihatkan sebuah contoh dari kelembutan dan kemuliaanNya supaya mereka menge-nalNya dan ridha dengan takdir-takdir yang tidak mengenakkan dengan tulus].

Al-Kahf 18:67

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.' Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu (melompat) mengambil jalannya ke laut itu pergi secara sembunyi-sembunyi. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, 'Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.' Muridnya menjawab, 'Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu, dan tidak ada yang mem-buatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata, 'Itulah (tempat) yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, maka mereka bertemu dengan se-orang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khi-dhir, 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan ke-padaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan ke-padamu.' Dia menjawab, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.' Musa berkata, 'Insya Allah, kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.' Dia berkata, 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku ten-tang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepada-mu.' Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya. Musa berkata, 'Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan pe-numpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.' Dia (Khidhir) berkata, 'Bukankah aku telah berkata, 'Se-sungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku'.' Musa berkata, 'Janganlah kamu menghukumku karena ke-lupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan sesuatu ke-sulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir mem-bunuhnya. Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain, sungguh kamu telah me-lakukan suatu yang mungkar.' Khidhir berkata, 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar ber-samaku.' Musa berkata, 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperboleh-kan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberi-kan udzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata, 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidhir berkata, 'Inilah perpisah-an antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadap-nya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu, dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya'." (Al-Kahfi: 60-82). (60) Allah تعالى memberitahukan tentang NabiNya, Musa عليه السلام dan kecintaannya kepada kebaikan dan pencarian ilmu, bahwa beliau berkata kepada pemudanya, maksudnya, pelayannya yang menyertainya saat berada di rumah dan dalam perjalanan. Ia adalah Yusya' bin Nun, Allah menceritakan setelah itu, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan," maksudnya aku akan tetap menempuh perjalan-an meskipun jarak semakin jauh dan kesulitan menghampiriku, sampai aku mencapai tempat pertemuan dua buah lautan[25]. Ia adalah tempat yang sudah diwahyukan (oleh Allah) kepadanya, 'Bahwa engkau akan menjumpai seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang berilmu, dia memiliki ilmu yang tidak engkau punyai.' ﴾ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun," maksud-nya (sampai) jarak yang jauh. Maknanya, kerinduan dan keinginan-lah yang menyebabkan Musa berkata demikian kepada pelayannya. (61) Ini merupakan tekad teguh darinya. Karena itu, dia menjalankannya. ﴾ فَلَمَّا بَلَغَا ﴿ "Maka tatkala mereka sampai," yaitu dia dan pelayannya ﴾ مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا ﴿ "ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya," ada seekor ikan yang mereka bawa seba-gai bekal dan makanan mereka. Ia telah diberitahu (sebelumnya) bahwa kapan saja ikan tersebut hilang, maka di situlah insan yang dia tuju berada ﴾ فَٱتَّخَذَ ﴿ "lalu mengambil," yaitu ikan tersebut meng-ambil ﴾ سَبِيلَهُۥ ﴿ "jalannya," jalannya ﴾ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا 61 ﴿ "ke laut itu dengan pergi secara sembunyi-sembunyi," ini termasuk tanda kebesaran Allah. Para ulama tafsir berkata, 'Sesungguhnya ikan tersebut yang dijadi-kan perbekalan oleh mereka, ketika mereka sampai di tempat itu, (maka ikan itu) terkena air laut. Maka ia pergi secara sembunyi-sembunyi dengan izin Allah ke dalam lautan dan hidup bersama binatang-binatang laut lainnya." (62) Tatkala Musa dan pelayannya telah melewati tempat pertemuan dua laut, maka Musa berkata kepada pelayannya,﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Bawalah ke mari makanan kita; sesung-guhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini," maksudnya kita telah merasa kepayahan disebabkan perjalanan yang melewati (tempat dua pertemuan laut). Apabila tidak demikian, maka pada perjalanan panjang yang mereka lalui sampai ke tempat dua per-temuan laut, mereka tidak merasakan keletihan sama sekali. Ini termasuk tanda-tanda kebesaran Allah dan petunjuk yang meng-indikasikan kepada keberadaan apa yang dicari oleh Musa. Selain itu, sesungguhnya kerinduan yang berhubungan dengan perja-lanan sampai ke tempat itu telah memudahkan jalan bagi mereka. Ketika mereka telah melampaui tujuannya, maka mereka (baru) merasakan keletihan. (63) Usai mengatakan perkataan ini kepada pelayannya, sang pelayan berkata kepada Musa, ﴾ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ ﴿ "Tahu-kah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka se-sungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu," [maksudnya tidakkah engkau tahu ketika kita menginap tadi malam di batu ter-sebut di antara dua lautan itu, sesungguhnya aku lupa terhadap ikan tersebut]. ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan tidak ada yang membuatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan," karena dialah penyebab-nya. ﴾ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا 63 ﴿ "Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali," maksudnya ketika ikan itu telah me-lompat dan menghilang ke dalam laut, maka hal itu termasuk ke-jadian yang mencengangkan. Para ulama tafsir mengatakan, "Jalan yang ditempuh oleh ikan itu adalah jalan tersembunyi, sedangkan dalam (pandangan) Musa dan pelayannya, itu merupakan keajaiban." (64) Setelah si pelayan berkata demikian kepada Musa, yang sebelumnya telah mendapatkan janji dari Allah, bahwasanya jika dia kehilangan ikan itu, berarti akan menjumpai Khidhir, maka Musa berkata, ﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ ﴿ "Itulah (tempat) yang kita cari," yang kita inginkan ﴾ فَٱرۡتَدَّا ﴿ "Lalu keduanya kembali," maksudnya kembali pulang ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا 64 ﴿ "mengikuti jejak mereka semula," mereka kembali menelusuri jejak-jejak mereka sampai (ke tempat) yang mereka lupa terhadap ikan tadi. (65) Ketika mereka telah sampai di sana ﴾ فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ﴿ "maka mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami," yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi, berdasarkan pendapat yang shahih, ﴾ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا ﴿ "yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami," maksudnya Allah menganugerahinya rahmat yang lebih spesial. Dengan itu, ilmu dan kebaikan amalnya bertambah. ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami," maksudnya berasal dari sisi Kami ﴾ عِلۡمٗا 65 ﴿ "ilmu." Dia telah memperoleh ilmu yang tidak diberikan ke-pada Musa, kendatipun Musa lebih berilmu daripada Khidhir pada banyak permasalahan, terutama ilmu-ilmu keimanan dan ilmu-ilmu Ushul. Pasalnya, beliau adalah salah seorang ulul 'azmi dari kalangan para rasul yang Allah utamakan di atas seluruh makhluk dengan ilmu, amal, dan lainnya. (66) Manakala Musa berhasil berkumpul dengan Khidhir, maka beliau berkata kepadanya dengan penuh kesopanan dan per-mohonan persetujuan sembari memberitahukan apa yang ia ingin-kan, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu su-paya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu," maksudnya, apakah aku boleh meng-ikutimu agar engkau mengajariku dari ilmu-ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu, yang akan kujadikan sebagai pegangan dan petunjuk, dan dengan itu aku pun bisa mengetahui kebenaran pada persoalan-persoalan itu? Khidhir telah dianugerahi Allah ilham dan karamah hingga sanggup meneropong rahasia-rahasia permasalah-an yang tersembunyi pada pandangan Musa عليه السلام. (67) Maka Khidhir berkata kepada Musa, "Aku tidak menam-piknya. Akan tetapi, sesungguhnya engkau ﴾ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ﴿ 'sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku,' maksudnya engkau tidak mampu untuk mengikuti dan menyertaiku. Sebab, kamu akan me-nyaksikan obyek yang membuatmu tidak bisa bersabar dalam meng-hadapi perkara-perkara yang nampak terlihat sebagai kemungkar-an, sementara hakikatnya tidak demikian adanya." (68) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mem-punyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu," maksudnya, bagaimana bisa engkau bersabar menghadapi sesuatu yang engkau tidak me-nguasai seluk-beluknya bagian luar dan dalamnya, dan tidak me-ngetahui tujuan dan kesudahannya. (69) Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا 69 ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." Ini merupakan tekad Musa sebelum dijumpainya obyek ujian. Tekad itu sebuah keinginan, sementara keberadaan sabar adalah urusan lain. Karena-nya, Musa tidak bisa menahan diri saat peristiwa terjadi. (70) Pada saat itulah, Khidhir berpesan kepada Musa, ﴾ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡـَٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا 70 ﴿ "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu," maksudnya janganlah eng-kau memulai untuk melontarkan pertanyaan dan pengingkaran kepadaku, sampai akulah yang akan menerangkan kepadamu apa yang terjadi, di waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang itu. Ia melarang Musa untuk bertanya dan berjanji kepadanya untuk menerangkan kepadanya tentang hakikat peristiwa tersebut. (71) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ ﴿ "Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya," maksudnya Khidhir mencabut satu papan dari perahu tersebut. Ia mempunyai tujuan dalam melakukannya yang akan ia jelaskan (nanti). Akan tetapi, Musa عليه السلام tidak tahan (menyaksikannya), lan-taran secara eksplisit merupakan kemungkaran. Pasalnya, tindakan itu dapat merusak perahu tersebut dan menjadi penyebab tenggelam bagi sang pemilik. Oleh karena itu, Musa berkata, ﴾ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا إِمۡرٗا 71 ﴿ "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah ber-buat kesalahan yang besar," yaitu kesalahan yang besar lagi sangat buruk. Ini termasuk cerminan ketidaksabaran Musa عليه السلام. (72) Maka Khidhir berkata kepada Musa, ﴾ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 72 ﴿ "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku'," maksudnya, sudah terjadi apa yang aku beritahukan kepadamu. (73) Teguran itu merupakan bentuk kealpaan dari Musa, maka dia berkata, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرۡهِقۡنِي مِنۡ أَمۡرِي عُسۡرٗا 73 ﴿ "Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku, dan janganlah kamu membebani-ku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku," maksudnya janganlah engkau mempersulit urusan kepada diriku, maafkanlah aku. Se-sungguhnya itu terjadi karena faktor lupa. Janganlah engkau meng-hukum aku karena kelupaanku yang pertama kali ini. Ia memadu-kan antara pengakuan kesalahan dan pengajuan alasan, dan bahwa engkau wahai Khidhir tidak patut bersikap keras terhadap kawan-mu ini, maka Khidhir memaafkannya. (74) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا ﴿ "Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak," yaitu anak kecil ﴾ فَقَتَلَهُۥ ﴿ "maka dia membunuhnya," Khidhir membunuhnya. Kemarahan pun semakin menjadi-jadi pada Musa, kecemburuan agamanya sontak muncul ketika Khidhir membunuh seorang anak kecil yang belum berbuat dosa. ﴾ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain. Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar'." Kemungkaran mana yang sebanding dengan membunuh anak kecil yang belum ternoda oleh dosa, dan ia pun tidak membunuh orang lain? Teguran Musa yang pertama muncul karena kelupaan. Sedangkan sanggahan ini bukan karena lupa, tetapi karena tidak sabar. (75) Khidhir berkata kepada Musa untuk menegur dan meng-ingatkan, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 75 ﴿ "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" (76) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa ﴾ إِن سَأَلۡتُكَ عَن شَيۡءِۭ ﴿ "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini," setelah kali ini ﴾ فَلَا تُصَٰحِبۡنِيۖ ﴿ "maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu," maksudnya engkau punya alasan dan berhak meninggalkan keserta-anku ﴾ قَدۡ بَلَغۡتَ مِن لَّدُنِّي عُذۡرٗا 76 ﴿ "sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur kepadaku," maksudnya kamu telah memberi toleransi bagiku, kamu tidak pelit untuk memberi kesempatan. (77) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا ﴿ "Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu," maksudnya mereka berdua minta perjamuan kepada penduduknya, namun mereka tidak mau menyuguhi mereka berdua, ﴾ فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ ﴿ "kemudian kedua-nya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh," maksudnya [sungguh] telah rusak dan berantakan ﴾ فَأَقَامَهُۥۖ ﴿ "maka dia menegakkan dinding itu," yaitu Khidhir, maksudnya, membangun dan memperbaruinya lagi. Kemudian ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa, ﴾ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا 77 ﴿ "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu," yaitu kepada penduduk negeri itu. Mereka tidak mau menjamu kita, padahal harus mereka lakukan, sementara itu, justru engkau membangun rumah itu tanpa upah sama sekali, pada-hal engkau mampu memintanya? (78) Pada saat itulah, Musa عليه السلام tidak menepati apa yang dia ucapkan. Dan Khidhir meminta pamit kepadanya, seraya ﴾ قَالَ ﴿ "mengatakan" kepada Musa, ﴾ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ ﴿ "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu," karena sesungguhnya engkau telah menetapkan syarat tersebut atas dirimu sendiri, sekarang sudah tidak diterima lagi alasan dan kesempatan untuk menyertai lagi. ﴾ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا 78 ﴿ "Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang membuatmu tidak dapat sabar terhadapnya," maksudnya aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang engkau ingkari terhadapku, dan aku memberitakan bahwa aku mempunyai tujuan dan sasaran dari tindakanku. (79) ﴾ أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ ﴿ "Adapun bahtera itu," yang aku lubangi ﴾ فَكَانَتۡ لِمَسَٰكِينَ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut," yang menuntut munculnya rasa iba dan kasihan kepada mereka ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٞ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصۡبٗا 79 ﴿ "lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang me-rampas tiap-tiap bahtera," maksudnya mereka itu (dalam berlayar), melewati raja yang zhalim. Setiap kapal yang baik yang melewati sang raja tanpa cacat, maka dia merampasnya atau mengambilnya secara paksa. Karena itu, aku berniat melubanginya agar memiliki cacat, sehingga selamat dari (jarahan) penguasa yang zhalim itu. (80) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ ﴿ "Dan adapun anak itu," yang aku bunuh ﴾ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا 80 ﴿ "maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, lalu kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekufuran." Anak lelaki itu telah ditakdirkan, jika menginjak dewasa (kelak) akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekufuran. Maksudnya, menyeret mereka kepada tindakan kesesatan dan kekufuran, baik lantaran kecintaan mereka kepadanya atau ketergantungan mereka kepadanya, maupun lantaran dia memaksa mereka berbuat demi-kian. Maka aku pun membunuhnya, sebab aku mengetahui (kesu-dahan) anak itu, demi keselamatan agama dua orang tuanya yang beriman. Apakah ada manfaat yang lebih besar daripada kebaikan yang besar ini. (81) Pembunuhan tersebut, meskipun mengandung tindak-an buruk kepada mereka berdua dan pemutusan keturunan mereka berdua, namun sesungguhnya Allah تعالى akan menganugerahinya keturunan yang lebih baik daripada si anak itu. Oleh karena itu, (Khidhir) berkata, ﴾ فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا 81 ﴿ "Lalu kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)," yaitu anak yang shalih, suci dan menghormati hubungan dengan orang tuanya. Sesungguhnya anak kecil yang dibunuh tersebut, sekiranya dia dewasa nanti, niscaya dia akan durhaka kepada keduanya dan memaksa mereka kepada kekufuran dan kesesatan. (82) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ ﴿ "Adapun dinding rumah itu," yang aku bangun ﴾ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "maka ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih," maksudnya, kondisi mereka berdua menuntut adanya rasa iba dan rahmat kepada mereka, sebab keduanya masih kecil. Kedua orang tua mereka sudah tiada. Maka Allah memelihara mereka ber-dua juga lantaran keshalihan kedua orang tua mereka. ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu," karena itu, aku hancurkan dindingnya dan aku gali harta simpanan yang berada di bawah dan selanjutnya aku letakkan dan aku (bangun) kembali dengan cuma-cuma. ﴾ رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Sebagai rahmat dari Rabb-mu," maksudnya tindakan yang aku lakukan adalah sebagai bentuk sayang dari Allah yang Allah berikan melalui hambaNya, Khidhir. ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri," maksudnya, aku tidak mengerjakan sesuatu menurut kehendak pribadiku dan murni keinginanku. Sesungguhnya itu hanyalah rahmat dari Allah dan perintahNya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itu," keterangan yang aku jelaskan kepadamu ﴾ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا 82 ﴿ "adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar ter-hadapnya." Dalam kisah yang menakjubkan lagi agung ini, termuat pela-jaran-pelajaran penting, hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang banyak sekali. Kami ingin menyinggung sebagiannya dengan per-tolongan Allah: - Keutamaan ilmu dan pengembaraan untuk mencarinya. Se-sungguhnya ilmu adalah perkara terpenting. Musa عليه السلام telah menem-puh jarak yang jauh dan mengalami keletihan dalam mencarinya, menghentikan berbaur dengan Bani Israil untuk mengajari dan mem-bimbing mereka, dan (lebih) memilih untuk menempuh perjalan-an jauh guna menambah ilmu. - Disyariatkannya memulai dengan perkara yang terpenting lalu (dilanjutkan kepada) perkara yang lebih penting (daripada se-sudahnya). Sesungguhnya menambah ilmu dan meningkatkan pengetahuan masyarakat lebih penting daripada meninggalkan mencari ilmu dan menyibukkan diri dengan mengajar tanpa mem-bekali diri dengan ilmu. Dan bila ada kemampuan untuk memadu-kan antara keduanya, itu lebih diutamakan. - Diperbolehkannya mengangkat seorang pelayan saat berada di lingkungan sendiri maupun dalam bepergian untuk tujuan meng-urusi barang bawaan dan mencari kenyamanan, seperti yang dila-kukan oleh Musa. - Sesungguhnya seorang musafir (yang menempuh perjalan-an jauh) untuk mencari ilmu, berjihad atau tujuan lainnya, jika ke-maslahatan menuntut untuk memberitahukan tujuan dan apa yang ia inginkan, maka sesungguhnya sikap tersebut lebih baik daripada menyembunyikannya. Karena di dalam penyampaiannya terdapat beberapa manfaat, seperti melakukan persiapan perbekalan dan menjalankan suatu perkara dengan dasar ilmu serta memperlihat-kan kerinduan terhadap ibadah yang agung ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musa, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (Al-Kahfi: 60). Sebagaimana Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada para sahabat ketika akan menyerang wilayah Tabuk, padahal ke-biasaan beliau adalah bertauriyah (menzahirkan di luar yang dimak-sud). Hal ini tergantung dengan kemaslahatan. - Penisbatan kejelekan dan faktor-faktor pencetusnya kepada setan dengan cara bujukan dan penghiasan maksiat dalam bentuk yang indah, meskipun semua perkara muncul karena keputusan dan takdir Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ ﴿ "Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63). - Bolehnya seorang manusia untuk memberitahukan sesuatu yang menjadi tuntutan tabiat diri, berupa rasa capek, lapar, dan haus dengan syarat tidak dipenuhi kemarahan, dan merupakan kondisi yang benar (apa adanya) berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). - Dianjurkan memilih pelayan yang cerdik, cerdas, lagi pandai agar urusannya terlaksana seperti yang dia inginkan. - Dianjurkan agar seseorang memberi makanan kepada pelayan dari jenis makanan yang dia makan dan memakannya bersama-sama. Karena yang zahir dari Firman Allah, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita." (Al-Kahfi: 62), terdapat penisbatan makanan kepada mereka berdua, tuan dan pelayannya makan bersamaan. - Sesungguhnya pertolongan turun kepada seseorang berdasar-kan tingkat aplikasinya terhadap perintah Allah, dan orang yang sejalan dengan perintah Allah akan memperoleh pertolongan, yang tidak didapatkan oleh orang lain, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). Terdapat isyarat kepada perjalanan yang melampaui tempat pertemuan dua lautan. Adapun yang pertama, Musa tidak menge-luhkan kelelahan meskipun ditempuh dalam waktu lama. Karena itulah safar yang sebenarnya. Sedangkan perjalanan yang terakhir, nampaknya ditempuh dalam setengah hari. Sebab, mereka telah kehilangan ikan ketika bermalam di batu. Padahal secara eksplisit, mereka bermalam di sana. Lantas, berjalan kembali keesokan hari-nya. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, Musa berkata kepada pelayannya, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita," (Al-Kahfi: 62). Saat itulah dia teringat bahwa dia melupakannya di tem-pat yang merupakan tujuan akhirnya. - Hamba yang mereka jumpai bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang insan yang shalih. Sebab, Allah menyebut predikat-nya dengan ubudiyah (pengabdian diri), dan mengungkapkan ka-runiaNya atas dirinya berupa rahmat dan ilmu. Allah tidak menying-gung risalah atau kenabiannya. Seandainya Khidhir adalah nabi, tentulah Allah menyebutkannya sebagaimana Dia menyebut pre-dikat lainnya. Adapun perkataannya di akhir kisah, ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri." (Al-Kahfi: 82), maka perkataan ini tidak menunjukkan dirinya seorang nabi. Hanya mengindikasikan keberadaan ilham dan tahdits (bisikan)(pada dirinya), sebagaimana bisa terjadi pada selain nabi. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ﴿ "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'." (Al-Qa-shash: 7). ﴾ وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا ﴿ "Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung'." (An-Nahl: 68). - Sesungguhnya ilmu yang diajarkan Allah kepada para ham-baNya terbagi menjadi dua bagian: Ilmu muktasab (ilmu yang diusa-hakan), dihasilkan seorang hamba melalui kesungguhan dan kete-kunannya. Dan jenis ilmu ladunni. Allah menganugerahkannya ke-pada hambaNya yang dikehendakiNya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا 65 ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65). - Keharusan beretika saat bersama dengan seorang pengajar dan cara berbicara dari seorang pelajar kepadanya dengan ungkapan yang paling lembut, berdasarkan perkataan Musa عليه السلام, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu meng-ajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). Musa mengungkapkan perkataan dengan nada lembut dan musyawarah, "Apakah engkau memberi izin kepadaku ataukah tidak?" Disertai pengakuan untuk mau belajar darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang berperilaku keras atau sombong, yang tidak memperlihatkan kebutuhannya kepada ilmu sang guru. Justru mengklaim dirinya saling membantu dengan pengajarnya. Bahkan boleh jadi dia berasumsi bahwa dia telah mengajari guru-nya, padahal dia tidak tahu sama sekali. Jadi, menghinakan diri di hadapan seorang guru dan memperlihatkan kebutuhannya kepada pengajarannya termasuk perkara yang paling bermanfaat bagi pen-cari ilmu. - Tawadhu' orang yang utama untuk belajar kepada orang yang berada di bawah levelnya. Sesungguhnya Musa tanpa disang-sikan, lebih mulia daripada Khidhir. - Orang yang sudah berilmu lagi berkedudukan tinggi mem-pelajari ilmu yang belum dia kuasai dari orang yang mahir pada bidang itu, meskipun kedudukannya dalam ilmu tertentu jauh di bawahnya beberapa derajat. Sesungguhnya Musa عليه السلام termasuk ulul 'azmi dari kalangan rasul yang mana Allah menganugerahkan dan mengaruniai kepada mereka ilmu yang tidak dikaruniakan kepada selain mereka. Namun, pada bidang ilmu yang khusus ini, Khidhir mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu, Musa sangat antusias untuk belajar darinya. Atas dasar ini, tidak sepatutnya seorang fakih lagi muhaddits jika kurang cakap dalam ilmu nahwu atau sharaf maupun ilmu lainnya, tidak mem-pelajarinya dari orang yang mahir dalam bidang itu, meskipun bukan seorang faqih atau muhaddits. - Penisbatan ilmu dan keutamaan-keutamaan lainnya adalah kepada Allah تعالى dan mengakuinya serta bersyukur kepada Allah atas itu, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)." (Al-Kahfi: 66), maksudnya dari ilmu yang Allah تعالى ajarkan kepadamu. - Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mem-bimbing kepada kebaikan. Setiap ilmu yang mengandung petunjuk dan hidayah kepada jalan kebaikan dan peringatan dari jalan kejelek-an maupun perantaranya, maka itu termasuk ilmu yang bermanfaat. Sedangkan selain itu, maka ia merupakan ilmu yang berbahaya, atau tidak berisi faidah. Berdasarkan perkataan Musa, ﴾ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). - Sesungguhnya orang yang tidak memiliki kekuatan untuk bersabar dalam menyertai seorang alim dan tidak memiliki ilmu serta keteguhan yang baik dalam menjalaninya, maka sungguh dia [akan kehilangan ilmu yang banyak sebesar tingkat ketidaksabaran-nya].[26] Barangsiapa yang tidak bersabar sedikit pun, niscaya dia tidak dapat menggapai ilmu. Dan siapa saja yang menempuh ke-sabaran dan selalu berkonsisten padanya, tentu ia akan menggapai setiap urusan yang dia usahakan, berdasarkan perkataan Khidhir yang memberi tahu alasan kepada Musa tentang faktor penghambat bagi Musa untuk dapat belajar darinya, yaitu dia tidak bisa bersabar dengannya. - Sesungguhnya penyebab terpenting untuk meraih kesabaran, adalah seseorang menguasai suatu perkara dari sisi ilmu dan penge-tahuan yang mana dia diperintah untuk bersabar di dalamnya. Ka-lau tidak demikian, maka orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui tujuan, hasil, dan kegunaannya, serta buahnya, maka dia tidak memiliki sebab kausalitas kesabaran, berdasarkan perkata-an Khidhir, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu." (Al-Kahfi: 68). Yang mengembalikan faktor ketidaksabarannya adalah tidak adanya penguasaan tentang persoalan tersebut pada Musa. - Perintah untuk berhati-hati, melakukan klarifikasi dan tidak bersegera menjatuhkan keputusan tentang sesuatu sampai menge-tahui arah yang diinginkan dan tujuannya. - Pengaitan urusan-urusan di masa yang akan datang yang di-lakukan oleh para hamba dengan masyi`ah (kehendak) Allah, dan jangan sampai seseorang berkata tentang sesuatu, "Sesungguhnya aku akan melakukannya nanti" kecuali disusuli dengan kata insya Allah. - Tekad untuk mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan per-buatan riilnya. Sesungguhnya Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar." (Al-Kahfi: 69). Ia mempersiapkan dirinya untuk bersabar, namun tidak merealisasikannya. - Seorang guru, jika melihat adanya kemaslahatan dalam me-nahan seorang murid untuk tidak memulai bertanya tentang seba-gian perkara sampai guru itu sendiri yang mengajaknya bicara ten-tang itu, maka sesungguhnya sisi kemaslahatan itu perlu ditelusuri, misalnya, bila pemahaman seorang murid dangkal, atau melarang-nya dari pertanyaan-pertanyaan yang pelik, yang persoalan lain masih lebih penting daripadanya atau karena tidak tercerna oleh daya tangkapnya, atau melontarkan pertanyaan yang tidak berhu-bungan dengan tema pembahasan. - Diperbolehkannya berlayar di laut dalam kondisi yang tidak mengkhawatirkan (keselamatan). - Orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya itu. Tidak bisa dihukum dalam hak Allah dan hak para hamba berdasar-kan FirmanNya, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ﴿ "Janganlah engkau menghukumku disebabkan kelupaanku." (Al-Kahfi: 73). - Sepatutnya, seseorang menyikapi perilaku-perilaku orang dan cara bermuamalah mereka dengan sikap maaf dan sikap yang bisa mereka terima. Tidak pantas membebani mereka hal-hal yang tidak sanggup mereka kerjakan atau memberatkan atau menggencet mereka. Sesungguhnya sikap-sikap ini akan mengundang antipati dan kebosanan terhadapnya. Bahkan, hendaknya dia mengambil jalan yang mudah supaya urusannya pun menjadi mudah. - Hukum segala urusan berjalan sesuai dengan zahirnya, dan (begitu pula) hukum-hukum agama dalam masalah harta, darah, dan lainnya terkait dengannya. Sesungguhnya Musa عليه السلام menging-kari Khidhir atas tindakannya melubangi kapal dan membunuh anak kecil. Dua tindakan ini secara zahir, merupakan kemungkaran. Dan Musa عليه السلام tidak boleh mendiamkannya selain dalam kondisi menyertai Khidhir. Maka, Musa عليه السلام tergesa-gesa dan bersegera untuk menilainya dalam konteks umum, tidak memperhatikan aspek kondisionalnya (bersama Khidhir) yang mengharuskannya bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkarinya. - Adanya kaidah penting yang agung, yaitu menolak keburuk-an yang besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan dan mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar dengan menying-kirkan kemaslahatan yang paling kecil. Sesungguhnya membunuh anak kecil merupakan tindakan jelek. Akan tetapi, keberadaan anak itu (tetap hidup) yang dapat memfitnah agama kedua orang tuanya merupakan keburukan yang lebih besar. Sementara keber-adaan si anak kecil tanpa dibunuh dan tetap memeliharanya, meski-pun dianggap sebagai kebaikan, namun kebaikan (yang lebih besar) adalah dengan menjaga agama dan keimanan dua orang tuanya yang terpelihara, itu lebih baik. Oleh karena itu, Khidhir membunuh-nya. Masuk ke dalam bingkai kaidah ini, bermacam-macam per-soalan furu' dan pelajaran-pelajaran penting yang tidak terbilang. Persoalan bersinggungannya kemaslahatan dan mafsadah, semua masuk ke dalam kaidah ini. - Adanya kaidah penting yang agung juga. Yaitu, penanganan seseorang terhadap harta orang lain, bila dalam rangka menciptakan kemaslahatan dan menghilangkan mafsadah (kerusakan) maka di-perbolehkan, meskipun tanpa izin, hingga walaupun perbuatan-nya itu mengakibatkan sebagian harta orang lain lenyap. Seperti Khidhir yang melubangi kapal agar menjadi cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zhalim. Atas dasar ini, jika terjadi keba-karan atau tenggelam dan peristiwa serupa lainnya di rumah sese-orang atau kekayaannya, yang mana pemusnahan sebagian kekaya-an atau perobohan sebagian rumah dapat menyebabkan keselamat-an bagian yang tersisa, maka hal itu diperbolehkan bagi seseorang (untuk melakukannya). Bahkan disyariatkan baginya untuk menger-jakannya demi menjaga kekayaan orang lain. Begitu pula, sekiranya ada seorang zhalim ingin mengambil harta orang lain lalu sese-orang menyerahkan sebagian uang (yang akan diambil) sebagai tebusan untuk menyelamatkan yang tersisa, maka itu diperboleh-kan, meskipun tanpa izin pemiliknya. - Boleh bekerja di laut sebagaimana diperbolehkan bekerja di daratan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "yang bekerja di laut." (Al-Kahfi: 79), dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka. -Bahwa orang miskin terkadang mempunyai harta yang tidak mencapai (batas) kecukupannya, namun hal itu tidak mengeluarkan-nya dari predikat miskin, karena Allah mengabarkan bahwa mereka adalah miskin yang memiliki perahu. - Pembunuhan termasuk perbuatan dosa yang paling besar, berdasarkan perkataan Musa tentang pembunuhan si anak kecil, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." (Al-Kahfi: 74). - Pembunuhan untuk tujuan qishash tidaklah diingkari, berdasar-kan FirmanNya, ﴾ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ ﴿ "bukan karena dia membunuh." (Al-Kahfi: 74). - Seorang hamba yang shalih, akan dipelihara Allah, jiwa dan keturunannya. - Membantu orang yang shalih atau orang yang berkaitan dengan mereka adalah lebih utama daripada membantu selainnya, karena Khidiri menyebutkan alasan dirinya mengeluarkan harta simpanan dan mendirikan temboknya adalah karena bapak kedua-nya adalah shalih. - Penggunaan etika kesopanan terhadap Allah تعالى dalam (pe-makaian) ungkapan-ungkapan. Sesungguhnya Khidhir mengait-kan perusakan kapal kepada dirinya dengan berkata, ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا ﴿ "Dan aku bertujuan merusak bahtera itu." (Al-Kahfi: 79). Sedangkan tentang kebaikan, maka dia menghubungkannya kepada Allah تعالى, ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar mereka berdua sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya, sebagai rahmat dari Rabbmu." (Al-Kahfi: 82), Sebagaimana yang disampaikan Ibrahim, ﴾ وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 ﴿ "Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku." (Asy- Syu'ara`: 80), dan perkataan jin, ﴾ وَأَنَّا لَا نَدۡرِيٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ أَرَادَ بِهِمۡ رَبُّهُمۡ رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan bahwa kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (Al-Jin: 10), meskipun semua kejadian berasal dari ketentuan dan takdir Allah. - Sesungguhnya seorang kawan tidak pantas meninggalkan sahabatnya dalam kondisi apa pun, dan memutus persahabatan-nya hingga dia menegurnya (terlebih dahulu) dan mengajukan ala-san, seperti yang dilakukan oleh Khidhir terhadap Musa. - Persetujuan seorang teman terhadap sahabatnya dalam per-kara yang tidak terlarang merupakan pemicu dan faktor kelang-gengan persahabatan dan kerekatannya, sebagaimana ketidakse-pahaman menjadi sebab terputusnya hubungan persahabatan. - [Persoalan-persoalan ini yang dijalankan oleh Khidhir me-rupakan keputusan takdir murni, yang mana Allah menjalankan dan meletakkannya pada tangan seorang hamba shalih, agar para hamba mempunyai bukti nyata tentang kelembutan-kelembutan-Nya dalam segala keputusanNya. Dia mentakdirkan perkara-per-kara atas seorang hamba yang benar-benar dia benci, padahal me-rupakan kebaikan bagi agamanya, seperti dalam kejadian si anak kecil (yang dibunuh). Atau kebaikan bagi dunianya, seperti pada peristiwa kapal (yang dilubangi). Allah memperlihatkan sebuah contoh dari kelembutan dan kemuliaanNya supaya mereka menge-nalNya dan ridha dengan takdir-takdir yang tidak mengenakkan dengan tulus].

Al-Kahf 18:68

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.' Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu (melompat) mengambil jalannya ke laut itu pergi secara sembunyi-sembunyi. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, 'Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.' Muridnya menjawab, 'Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu, dan tidak ada yang mem-buatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata, 'Itulah (tempat) yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, maka mereka bertemu dengan se-orang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khi-dhir, 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan ke-padaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan ke-padamu.' Dia menjawab, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.' Musa berkata, 'Insya Allah, kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.' Dia berkata, 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku ten-tang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepada-mu.' Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya. Musa berkata, 'Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan pe-numpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.' Dia (Khidhir) berkata, 'Bukankah aku telah berkata, 'Se-sungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku'.' Musa berkata, 'Janganlah kamu menghukumku karena ke-lupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan sesuatu ke-sulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir mem-bunuhnya. Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain, sungguh kamu telah me-lakukan suatu yang mungkar.' Khidhir berkata, 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar ber-samaku.' Musa berkata, 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperboleh-kan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberi-kan udzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata, 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidhir berkata, 'Inilah perpisah-an antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadap-nya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu, dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya'." (Al-Kahfi: 60-82). (60) Allah تعالى memberitahukan tentang NabiNya, Musa عليه السلام dan kecintaannya kepada kebaikan dan pencarian ilmu, bahwa beliau berkata kepada pemudanya, maksudnya, pelayannya yang menyertainya saat berada di rumah dan dalam perjalanan. Ia adalah Yusya' bin Nun, Allah menceritakan setelah itu, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan," maksudnya aku akan tetap menempuh perjalan-an meskipun jarak semakin jauh dan kesulitan menghampiriku, sampai aku mencapai tempat pertemuan dua buah lautan[25]. Ia adalah tempat yang sudah diwahyukan (oleh Allah) kepadanya, 'Bahwa engkau akan menjumpai seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang berilmu, dia memiliki ilmu yang tidak engkau punyai.' ﴾ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun," maksud-nya (sampai) jarak yang jauh. Maknanya, kerinduan dan keinginan-lah yang menyebabkan Musa berkata demikian kepada pelayannya. (61) Ini merupakan tekad teguh darinya. Karena itu, dia menjalankannya. ﴾ فَلَمَّا بَلَغَا ﴿ "Maka tatkala mereka sampai," yaitu dia dan pelayannya ﴾ مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا ﴿ "ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya," ada seekor ikan yang mereka bawa seba-gai bekal dan makanan mereka. Ia telah diberitahu (sebelumnya) bahwa kapan saja ikan tersebut hilang, maka di situlah insan yang dia tuju berada ﴾ فَٱتَّخَذَ ﴿ "lalu mengambil," yaitu ikan tersebut meng-ambil ﴾ سَبِيلَهُۥ ﴿ "jalannya," jalannya ﴾ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا 61 ﴿ "ke laut itu dengan pergi secara sembunyi-sembunyi," ini termasuk tanda kebesaran Allah. Para ulama tafsir berkata, 'Sesungguhnya ikan tersebut yang dijadi-kan perbekalan oleh mereka, ketika mereka sampai di tempat itu, (maka ikan itu) terkena air laut. Maka ia pergi secara sembunyi-sembunyi dengan izin Allah ke dalam lautan dan hidup bersama binatang-binatang laut lainnya." (62) Tatkala Musa dan pelayannya telah melewati tempat pertemuan dua laut, maka Musa berkata kepada pelayannya,﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Bawalah ke mari makanan kita; sesung-guhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini," maksudnya kita telah merasa kepayahan disebabkan perjalanan yang melewati (tempat dua pertemuan laut). Apabila tidak demikian, maka pada perjalanan panjang yang mereka lalui sampai ke tempat dua per-temuan laut, mereka tidak merasakan keletihan sama sekali. Ini termasuk tanda-tanda kebesaran Allah dan petunjuk yang meng-indikasikan kepada keberadaan apa yang dicari oleh Musa. Selain itu, sesungguhnya kerinduan yang berhubungan dengan perja-lanan sampai ke tempat itu telah memudahkan jalan bagi mereka. Ketika mereka telah melampaui tujuannya, maka mereka (baru) merasakan keletihan. (63) Usai mengatakan perkataan ini kepada pelayannya, sang pelayan berkata kepada Musa, ﴾ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ ﴿ "Tahu-kah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka se-sungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu," [maksudnya tidakkah engkau tahu ketika kita menginap tadi malam di batu ter-sebut di antara dua lautan itu, sesungguhnya aku lupa terhadap ikan tersebut]. ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan tidak ada yang membuatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan," karena dialah penyebab-nya. ﴾ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا 63 ﴿ "Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali," maksudnya ketika ikan itu telah me-lompat dan menghilang ke dalam laut, maka hal itu termasuk ke-jadian yang mencengangkan. Para ulama tafsir mengatakan, "Jalan yang ditempuh oleh ikan itu adalah jalan tersembunyi, sedangkan dalam (pandangan) Musa dan pelayannya, itu merupakan keajaiban." (64) Setelah si pelayan berkata demikian kepada Musa, yang sebelumnya telah mendapatkan janji dari Allah, bahwasanya jika dia kehilangan ikan itu, berarti akan menjumpai Khidhir, maka Musa berkata, ﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ ﴿ "Itulah (tempat) yang kita cari," yang kita inginkan ﴾ فَٱرۡتَدَّا ﴿ "Lalu keduanya kembali," maksudnya kembali pulang ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا 64 ﴿ "mengikuti jejak mereka semula," mereka kembali menelusuri jejak-jejak mereka sampai (ke tempat) yang mereka lupa terhadap ikan tadi. (65) Ketika mereka telah sampai di sana ﴾ فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ﴿ "maka mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami," yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi, berdasarkan pendapat yang shahih, ﴾ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا ﴿ "yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami," maksudnya Allah menganugerahinya rahmat yang lebih spesial. Dengan itu, ilmu dan kebaikan amalnya bertambah. ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami," maksudnya berasal dari sisi Kami ﴾ عِلۡمٗا 65 ﴿ "ilmu." Dia telah memperoleh ilmu yang tidak diberikan ke-pada Musa, kendatipun Musa lebih berilmu daripada Khidhir pada banyak permasalahan, terutama ilmu-ilmu keimanan dan ilmu-ilmu Ushul. Pasalnya, beliau adalah salah seorang ulul 'azmi dari kalangan para rasul yang Allah utamakan di atas seluruh makhluk dengan ilmu, amal, dan lainnya. (66) Manakala Musa berhasil berkumpul dengan Khidhir, maka beliau berkata kepadanya dengan penuh kesopanan dan per-mohonan persetujuan sembari memberitahukan apa yang ia ingin-kan, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu su-paya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu," maksudnya, apakah aku boleh meng-ikutimu agar engkau mengajariku dari ilmu-ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu, yang akan kujadikan sebagai pegangan dan petunjuk, dan dengan itu aku pun bisa mengetahui kebenaran pada persoalan-persoalan itu? Khidhir telah dianugerahi Allah ilham dan karamah hingga sanggup meneropong rahasia-rahasia permasalah-an yang tersembunyi pada pandangan Musa عليه السلام. (67) Maka Khidhir berkata kepada Musa, "Aku tidak menam-piknya. Akan tetapi, sesungguhnya engkau ﴾ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ﴿ 'sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku,' maksudnya engkau tidak mampu untuk mengikuti dan menyertaiku. Sebab, kamu akan me-nyaksikan obyek yang membuatmu tidak bisa bersabar dalam meng-hadapi perkara-perkara yang nampak terlihat sebagai kemungkar-an, sementara hakikatnya tidak demikian adanya." (68) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mem-punyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu," maksudnya, bagaimana bisa engkau bersabar menghadapi sesuatu yang engkau tidak me-nguasai seluk-beluknya bagian luar dan dalamnya, dan tidak me-ngetahui tujuan dan kesudahannya. (69) Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا 69 ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." Ini merupakan tekad Musa sebelum dijumpainya obyek ujian. Tekad itu sebuah keinginan, sementara keberadaan sabar adalah urusan lain. Karena-nya, Musa tidak bisa menahan diri saat peristiwa terjadi. (70) Pada saat itulah, Khidhir berpesan kepada Musa, ﴾ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡـَٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا 70 ﴿ "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu," maksudnya janganlah eng-kau memulai untuk melontarkan pertanyaan dan pengingkaran kepadaku, sampai akulah yang akan menerangkan kepadamu apa yang terjadi, di waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang itu. Ia melarang Musa untuk bertanya dan berjanji kepadanya untuk menerangkan kepadanya tentang hakikat peristiwa tersebut. (71) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ ﴿ "Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya," maksudnya Khidhir mencabut satu papan dari perahu tersebut. Ia mempunyai tujuan dalam melakukannya yang akan ia jelaskan (nanti). Akan tetapi, Musa عليه السلام tidak tahan (menyaksikannya), lan-taran secara eksplisit merupakan kemungkaran. Pasalnya, tindakan itu dapat merusak perahu tersebut dan menjadi penyebab tenggelam bagi sang pemilik. Oleh karena itu, Musa berkata, ﴾ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا إِمۡرٗا 71 ﴿ "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah ber-buat kesalahan yang besar," yaitu kesalahan yang besar lagi sangat buruk. Ini termasuk cerminan ketidaksabaran Musa عليه السلام. (72) Maka Khidhir berkata kepada Musa, ﴾ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 72 ﴿ "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku'," maksudnya, sudah terjadi apa yang aku beritahukan kepadamu. (73) Teguran itu merupakan bentuk kealpaan dari Musa, maka dia berkata, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرۡهِقۡنِي مِنۡ أَمۡرِي عُسۡرٗا 73 ﴿ "Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku, dan janganlah kamu membebani-ku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku," maksudnya janganlah engkau mempersulit urusan kepada diriku, maafkanlah aku. Se-sungguhnya itu terjadi karena faktor lupa. Janganlah engkau meng-hukum aku karena kelupaanku yang pertama kali ini. Ia memadu-kan antara pengakuan kesalahan dan pengajuan alasan, dan bahwa engkau wahai Khidhir tidak patut bersikap keras terhadap kawan-mu ini, maka Khidhir memaafkannya. (74) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا ﴿ "Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak," yaitu anak kecil ﴾ فَقَتَلَهُۥ ﴿ "maka dia membunuhnya," Khidhir membunuhnya. Kemarahan pun semakin menjadi-jadi pada Musa, kecemburuan agamanya sontak muncul ketika Khidhir membunuh seorang anak kecil yang belum berbuat dosa. ﴾ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain. Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar'." Kemungkaran mana yang sebanding dengan membunuh anak kecil yang belum ternoda oleh dosa, dan ia pun tidak membunuh orang lain? Teguran Musa yang pertama muncul karena kelupaan. Sedangkan sanggahan ini bukan karena lupa, tetapi karena tidak sabar. (75) Khidhir berkata kepada Musa untuk menegur dan meng-ingatkan, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 75 ﴿ "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" (76) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa ﴾ إِن سَأَلۡتُكَ عَن شَيۡءِۭ ﴿ "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini," setelah kali ini ﴾ فَلَا تُصَٰحِبۡنِيۖ ﴿ "maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu," maksudnya engkau punya alasan dan berhak meninggalkan keserta-anku ﴾ قَدۡ بَلَغۡتَ مِن لَّدُنِّي عُذۡرٗا 76 ﴿ "sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur kepadaku," maksudnya kamu telah memberi toleransi bagiku, kamu tidak pelit untuk memberi kesempatan. (77) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا ﴿ "Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu," maksudnya mereka berdua minta perjamuan kepada penduduknya, namun mereka tidak mau menyuguhi mereka berdua, ﴾ فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ ﴿ "kemudian kedua-nya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh," maksudnya [sungguh] telah rusak dan berantakan ﴾ فَأَقَامَهُۥۖ ﴿ "maka dia menegakkan dinding itu," yaitu Khidhir, maksudnya, membangun dan memperbaruinya lagi. Kemudian ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa, ﴾ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا 77 ﴿ "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu," yaitu kepada penduduk negeri itu. Mereka tidak mau menjamu kita, padahal harus mereka lakukan, sementara itu, justru engkau membangun rumah itu tanpa upah sama sekali, pada-hal engkau mampu memintanya? (78) Pada saat itulah, Musa عليه السلام tidak menepati apa yang dia ucapkan. Dan Khidhir meminta pamit kepadanya, seraya ﴾ قَالَ ﴿ "mengatakan" kepada Musa, ﴾ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ ﴿ "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu," karena sesungguhnya engkau telah menetapkan syarat tersebut atas dirimu sendiri, sekarang sudah tidak diterima lagi alasan dan kesempatan untuk menyertai lagi. ﴾ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا 78 ﴿ "Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang membuatmu tidak dapat sabar terhadapnya," maksudnya aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang engkau ingkari terhadapku, dan aku memberitakan bahwa aku mempunyai tujuan dan sasaran dari tindakanku. (79) ﴾ أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ ﴿ "Adapun bahtera itu," yang aku lubangi ﴾ فَكَانَتۡ لِمَسَٰكِينَ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut," yang menuntut munculnya rasa iba dan kasihan kepada mereka ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٞ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصۡبٗا 79 ﴿ "lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang me-rampas tiap-tiap bahtera," maksudnya mereka itu (dalam berlayar), melewati raja yang zhalim. Setiap kapal yang baik yang melewati sang raja tanpa cacat, maka dia merampasnya atau mengambilnya secara paksa. Karena itu, aku berniat melubanginya agar memiliki cacat, sehingga selamat dari (jarahan) penguasa yang zhalim itu. (80) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ ﴿ "Dan adapun anak itu," yang aku bunuh ﴾ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا 80 ﴿ "maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, lalu kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekufuran." Anak lelaki itu telah ditakdirkan, jika menginjak dewasa (kelak) akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekufuran. Maksudnya, menyeret mereka kepada tindakan kesesatan dan kekufuran, baik lantaran kecintaan mereka kepadanya atau ketergantungan mereka kepadanya, maupun lantaran dia memaksa mereka berbuat demi-kian. Maka aku pun membunuhnya, sebab aku mengetahui (kesu-dahan) anak itu, demi keselamatan agama dua orang tuanya yang beriman. Apakah ada manfaat yang lebih besar daripada kebaikan yang besar ini. (81) Pembunuhan tersebut, meskipun mengandung tindak-an buruk kepada mereka berdua dan pemutusan keturunan mereka berdua, namun sesungguhnya Allah تعالى akan menganugerahinya keturunan yang lebih baik daripada si anak itu. Oleh karena itu, (Khidhir) berkata, ﴾ فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا 81 ﴿ "Lalu kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)," yaitu anak yang shalih, suci dan menghormati hubungan dengan orang tuanya. Sesungguhnya anak kecil yang dibunuh tersebut, sekiranya dia dewasa nanti, niscaya dia akan durhaka kepada keduanya dan memaksa mereka kepada kekufuran dan kesesatan. (82) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ ﴿ "Adapun dinding rumah itu," yang aku bangun ﴾ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "maka ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih," maksudnya, kondisi mereka berdua menuntut adanya rasa iba dan rahmat kepada mereka, sebab keduanya masih kecil. Kedua orang tua mereka sudah tiada. Maka Allah memelihara mereka ber-dua juga lantaran keshalihan kedua orang tua mereka. ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu," karena itu, aku hancurkan dindingnya dan aku gali harta simpanan yang berada di bawah dan selanjutnya aku letakkan dan aku (bangun) kembali dengan cuma-cuma. ﴾ رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Sebagai rahmat dari Rabb-mu," maksudnya tindakan yang aku lakukan adalah sebagai bentuk sayang dari Allah yang Allah berikan melalui hambaNya, Khidhir. ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri," maksudnya, aku tidak mengerjakan sesuatu menurut kehendak pribadiku dan murni keinginanku. Sesungguhnya itu hanyalah rahmat dari Allah dan perintahNya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itu," keterangan yang aku jelaskan kepadamu ﴾ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا 82 ﴿ "adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar ter-hadapnya." Dalam kisah yang menakjubkan lagi agung ini, termuat pela-jaran-pelajaran penting, hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang banyak sekali. Kami ingin menyinggung sebagiannya dengan per-tolongan Allah: - Keutamaan ilmu dan pengembaraan untuk mencarinya. Se-sungguhnya ilmu adalah perkara terpenting. Musa عليه السلام telah menem-puh jarak yang jauh dan mengalami keletihan dalam mencarinya, menghentikan berbaur dengan Bani Israil untuk mengajari dan mem-bimbing mereka, dan (lebih) memilih untuk menempuh perjalan-an jauh guna menambah ilmu. - Disyariatkannya memulai dengan perkara yang terpenting lalu (dilanjutkan kepada) perkara yang lebih penting (daripada se-sudahnya). Sesungguhnya menambah ilmu dan meningkatkan pengetahuan masyarakat lebih penting daripada meninggalkan mencari ilmu dan menyibukkan diri dengan mengajar tanpa mem-bekali diri dengan ilmu. Dan bila ada kemampuan untuk memadu-kan antara keduanya, itu lebih diutamakan. - Diperbolehkannya mengangkat seorang pelayan saat berada di lingkungan sendiri maupun dalam bepergian untuk tujuan meng-urusi barang bawaan dan mencari kenyamanan, seperti yang dila-kukan oleh Musa. - Sesungguhnya seorang musafir (yang menempuh perjalan-an jauh) untuk mencari ilmu, berjihad atau tujuan lainnya, jika ke-maslahatan menuntut untuk memberitahukan tujuan dan apa yang ia inginkan, maka sesungguhnya sikap tersebut lebih baik daripada menyembunyikannya. Karena di dalam penyampaiannya terdapat beberapa manfaat, seperti melakukan persiapan perbekalan dan menjalankan suatu perkara dengan dasar ilmu serta memperlihat-kan kerinduan terhadap ibadah yang agung ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musa, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (Al-Kahfi: 60). Sebagaimana Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada para sahabat ketika akan menyerang wilayah Tabuk, padahal ke-biasaan beliau adalah bertauriyah (menzahirkan di luar yang dimak-sud). Hal ini tergantung dengan kemaslahatan. - Penisbatan kejelekan dan faktor-faktor pencetusnya kepada setan dengan cara bujukan dan penghiasan maksiat dalam bentuk yang indah, meskipun semua perkara muncul karena keputusan dan takdir Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ ﴿ "Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63). - Bolehnya seorang manusia untuk memberitahukan sesuatu yang menjadi tuntutan tabiat diri, berupa rasa capek, lapar, dan haus dengan syarat tidak dipenuhi kemarahan, dan merupakan kondisi yang benar (apa adanya) berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). - Dianjurkan memilih pelayan yang cerdik, cerdas, lagi pandai agar urusannya terlaksana seperti yang dia inginkan. - Dianjurkan agar seseorang memberi makanan kepada pelayan dari jenis makanan yang dia makan dan memakannya bersama-sama. Karena yang zahir dari Firman Allah, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita." (Al-Kahfi: 62), terdapat penisbatan makanan kepada mereka berdua, tuan dan pelayannya makan bersamaan. - Sesungguhnya pertolongan turun kepada seseorang berdasar-kan tingkat aplikasinya terhadap perintah Allah, dan orang yang sejalan dengan perintah Allah akan memperoleh pertolongan, yang tidak didapatkan oleh orang lain, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). Terdapat isyarat kepada perjalanan yang melampaui tempat pertemuan dua lautan. Adapun yang pertama, Musa tidak menge-luhkan kelelahan meskipun ditempuh dalam waktu lama. Karena itulah safar yang sebenarnya. Sedangkan perjalanan yang terakhir, nampaknya ditempuh dalam setengah hari. Sebab, mereka telah kehilangan ikan ketika bermalam di batu. Padahal secara eksplisit, mereka bermalam di sana. Lantas, berjalan kembali keesokan hari-nya. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, Musa berkata kepada pelayannya, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita," (Al-Kahfi: 62). Saat itulah dia teringat bahwa dia melupakannya di tem-pat yang merupakan tujuan akhirnya. - Hamba yang mereka jumpai bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang insan yang shalih. Sebab, Allah menyebut predikat-nya dengan ubudiyah (pengabdian diri), dan mengungkapkan ka-runiaNya atas dirinya berupa rahmat dan ilmu. Allah tidak menying-gung risalah atau kenabiannya. Seandainya Khidhir adalah nabi, tentulah Allah menyebutkannya sebagaimana Dia menyebut pre-dikat lainnya. Adapun perkataannya di akhir kisah, ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri." (Al-Kahfi: 82), maka perkataan ini tidak menunjukkan dirinya seorang nabi. Hanya mengindikasikan keberadaan ilham dan tahdits (bisikan)(pada dirinya), sebagaimana bisa terjadi pada selain nabi. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ﴿ "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'." (Al-Qa-shash: 7). ﴾ وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا ﴿ "Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung'." (An-Nahl: 68). - Sesungguhnya ilmu yang diajarkan Allah kepada para ham-baNya terbagi menjadi dua bagian: Ilmu muktasab (ilmu yang diusa-hakan), dihasilkan seorang hamba melalui kesungguhan dan kete-kunannya. Dan jenis ilmu ladunni. Allah menganugerahkannya ke-pada hambaNya yang dikehendakiNya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا 65 ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65). - Keharusan beretika saat bersama dengan seorang pengajar dan cara berbicara dari seorang pelajar kepadanya dengan ungkapan yang paling lembut, berdasarkan perkataan Musa عليه السلام, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu meng-ajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). Musa mengungkapkan perkataan dengan nada lembut dan musyawarah, "Apakah engkau memberi izin kepadaku ataukah tidak?" Disertai pengakuan untuk mau belajar darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang berperilaku keras atau sombong, yang tidak memperlihatkan kebutuhannya kepada ilmu sang guru. Justru mengklaim dirinya saling membantu dengan pengajarnya. Bahkan boleh jadi dia berasumsi bahwa dia telah mengajari guru-nya, padahal dia tidak tahu sama sekali. Jadi, menghinakan diri di hadapan seorang guru dan memperlihatkan kebutuhannya kepada pengajarannya termasuk perkara yang paling bermanfaat bagi pen-cari ilmu. - Tawadhu' orang yang utama untuk belajar kepada orang yang berada di bawah levelnya. Sesungguhnya Musa tanpa disang-sikan, lebih mulia daripada Khidhir. - Orang yang sudah berilmu lagi berkedudukan tinggi mem-pelajari ilmu yang belum dia kuasai dari orang yang mahir pada bidang itu, meskipun kedudukannya dalam ilmu tertentu jauh di bawahnya beberapa derajat. Sesungguhnya Musa عليه السلام termasuk ulul 'azmi dari kalangan rasul yang mana Allah menganugerahkan dan mengaruniai kepada mereka ilmu yang tidak dikaruniakan kepada selain mereka. Namun, pada bidang ilmu yang khusus ini, Khidhir mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu, Musa sangat antusias untuk belajar darinya. Atas dasar ini, tidak sepatutnya seorang fakih lagi muhaddits jika kurang cakap dalam ilmu nahwu atau sharaf maupun ilmu lainnya, tidak mem-pelajarinya dari orang yang mahir dalam bidang itu, meskipun bukan seorang faqih atau muhaddits. - Penisbatan ilmu dan keutamaan-keutamaan lainnya adalah kepada Allah تعالى dan mengakuinya serta bersyukur kepada Allah atas itu, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)." (Al-Kahfi: 66), maksudnya dari ilmu yang Allah تعالى ajarkan kepadamu. - Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mem-bimbing kepada kebaikan. Setiap ilmu yang mengandung petunjuk dan hidayah kepada jalan kebaikan dan peringatan dari jalan kejelek-an maupun perantaranya, maka itu termasuk ilmu yang bermanfaat. Sedangkan selain itu, maka ia merupakan ilmu yang berbahaya, atau tidak berisi faidah. Berdasarkan perkataan Musa, ﴾ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). - Sesungguhnya orang yang tidak memiliki kekuatan untuk bersabar dalam menyertai seorang alim dan tidak memiliki ilmu serta keteguhan yang baik dalam menjalaninya, maka sungguh dia [akan kehilangan ilmu yang banyak sebesar tingkat ketidaksabaran-nya].[26] Barangsiapa yang tidak bersabar sedikit pun, niscaya dia tidak dapat menggapai ilmu. Dan siapa saja yang menempuh ke-sabaran dan selalu berkonsisten padanya, tentu ia akan menggapai setiap urusan yang dia usahakan, berdasarkan perkataan Khidhir yang memberi tahu alasan kepada Musa tentang faktor penghambat bagi Musa untuk dapat belajar darinya, yaitu dia tidak bisa bersabar dengannya. - Sesungguhnya penyebab terpenting untuk meraih kesabaran, adalah seseorang menguasai suatu perkara dari sisi ilmu dan penge-tahuan yang mana dia diperintah untuk bersabar di dalamnya. Ka-lau tidak demikian, maka orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui tujuan, hasil, dan kegunaannya, serta buahnya, maka dia tidak memiliki sebab kausalitas kesabaran, berdasarkan perkata-an Khidhir, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu." (Al-Kahfi: 68). Yang mengembalikan faktor ketidaksabarannya adalah tidak adanya penguasaan tentang persoalan tersebut pada Musa. - Perintah untuk berhati-hati, melakukan klarifikasi dan tidak bersegera menjatuhkan keputusan tentang sesuatu sampai menge-tahui arah yang diinginkan dan tujuannya. - Pengaitan urusan-urusan di masa yang akan datang yang di-lakukan oleh para hamba dengan masyi`ah (kehendak) Allah, dan jangan sampai seseorang berkata tentang sesuatu, "Sesungguhnya aku akan melakukannya nanti" kecuali disusuli dengan kata insya Allah. - Tekad untuk mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan per-buatan riilnya. Sesungguhnya Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar." (Al-Kahfi: 69). Ia mempersiapkan dirinya untuk bersabar, namun tidak merealisasikannya. - Seorang guru, jika melihat adanya kemaslahatan dalam me-nahan seorang murid untuk tidak memulai bertanya tentang seba-gian perkara sampai guru itu sendiri yang mengajaknya bicara ten-tang itu, maka sesungguhnya sisi kemaslahatan itu perlu ditelusuri, misalnya, bila pemahaman seorang murid dangkal, atau melarang-nya dari pertanyaan-pertanyaan yang pelik, yang persoalan lain masih lebih penting daripadanya atau karena tidak tercerna oleh daya tangkapnya, atau melontarkan pertanyaan yang tidak berhu-bungan dengan tema pembahasan. - Diperbolehkannya berlayar di laut dalam kondisi yang tidak mengkhawatirkan (keselamatan). - Orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya itu. Tidak bisa dihukum dalam hak Allah dan hak para hamba berdasar-kan FirmanNya, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ﴿ "Janganlah engkau menghukumku disebabkan kelupaanku." (Al-Kahfi: 73). - Sepatutnya, seseorang menyikapi perilaku-perilaku orang dan cara bermuamalah mereka dengan sikap maaf dan sikap yang bisa mereka terima. Tidak pantas membebani mereka hal-hal yang tidak sanggup mereka kerjakan atau memberatkan atau menggencet mereka. Sesungguhnya sikap-sikap ini akan mengundang antipati dan kebosanan terhadapnya. Bahkan, hendaknya dia mengambil jalan yang mudah supaya urusannya pun menjadi mudah. - Hukum segala urusan berjalan sesuai dengan zahirnya, dan (begitu pula) hukum-hukum agama dalam masalah harta, darah, dan lainnya terkait dengannya. Sesungguhnya Musa عليه السلام menging-kari Khidhir atas tindakannya melubangi kapal dan membunuh anak kecil. Dua tindakan ini secara zahir, merupakan kemungkaran. Dan Musa عليه السلام tidak boleh mendiamkannya selain dalam kondisi menyertai Khidhir. Maka, Musa عليه السلام tergesa-gesa dan bersegera untuk menilainya dalam konteks umum, tidak memperhatikan aspek kondisionalnya (bersama Khidhir) yang mengharuskannya bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkarinya. - Adanya kaidah penting yang agung, yaitu menolak keburuk-an yang besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan dan mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar dengan menying-kirkan kemaslahatan yang paling kecil. Sesungguhnya membunuh anak kecil merupakan tindakan jelek. Akan tetapi, keberadaan anak itu (tetap hidup) yang dapat memfitnah agama kedua orang tuanya merupakan keburukan yang lebih besar. Sementara keber-adaan si anak kecil tanpa dibunuh dan tetap memeliharanya, meski-pun dianggap sebagai kebaikan, namun kebaikan (yang lebih besar) adalah dengan menjaga agama dan keimanan dua orang tuanya yang terpelihara, itu lebih baik. Oleh karena itu, Khidhir membunuh-nya. Masuk ke dalam bingkai kaidah ini, bermacam-macam per-soalan furu' dan pelajaran-pelajaran penting yang tidak terbilang. Persoalan bersinggungannya kemaslahatan dan mafsadah, semua masuk ke dalam kaidah ini. - Adanya kaidah penting yang agung juga. Yaitu, penanganan seseorang terhadap harta orang lain, bila dalam rangka menciptakan kemaslahatan dan menghilangkan mafsadah (kerusakan) maka di-perbolehkan, meskipun tanpa izin, hingga walaupun perbuatan-nya itu mengakibatkan sebagian harta orang lain lenyap. Seperti Khidhir yang melubangi kapal agar menjadi cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zhalim. Atas dasar ini, jika terjadi keba-karan atau tenggelam dan peristiwa serupa lainnya di rumah sese-orang atau kekayaannya, yang mana pemusnahan sebagian kekaya-an atau perobohan sebagian rumah dapat menyebabkan keselamat-an bagian yang tersisa, maka hal itu diperbolehkan bagi seseorang (untuk melakukannya). Bahkan disyariatkan baginya untuk menger-jakannya demi menjaga kekayaan orang lain. Begitu pula, sekiranya ada seorang zhalim ingin mengambil harta orang lain lalu sese-orang menyerahkan sebagian uang (yang akan diambil) sebagai tebusan untuk menyelamatkan yang tersisa, maka itu diperboleh-kan, meskipun tanpa izin pemiliknya. - Boleh bekerja di laut sebagaimana diperbolehkan bekerja di daratan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "yang bekerja di laut." (Al-Kahfi: 79), dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka. -Bahwa orang miskin terkadang mempunyai harta yang tidak mencapai (batas) kecukupannya, namun hal itu tidak mengeluarkan-nya dari predikat miskin, karena Allah mengabarkan bahwa mereka adalah miskin yang memiliki perahu. - Pembunuhan termasuk perbuatan dosa yang paling besar, berdasarkan perkataan Musa tentang pembunuhan si anak kecil, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." (Al-Kahfi: 74). - Pembunuhan untuk tujuan qishash tidaklah diingkari, berdasar-kan FirmanNya, ﴾ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ ﴿ "bukan karena dia membunuh." (Al-Kahfi: 74). - Seorang hamba yang shalih, akan dipelihara Allah, jiwa dan keturunannya. - Membantu orang yang shalih atau orang yang berkaitan dengan mereka adalah lebih utama daripada membantu selainnya, karena Khidiri menyebutkan alasan dirinya mengeluarkan harta simpanan dan mendirikan temboknya adalah karena bapak kedua-nya adalah shalih. - Penggunaan etika kesopanan terhadap Allah تعالى dalam (pe-makaian) ungkapan-ungkapan. Sesungguhnya Khidhir mengait-kan perusakan kapal kepada dirinya dengan berkata, ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا ﴿ "Dan aku bertujuan merusak bahtera itu." (Al-Kahfi: 79). Sedangkan tentang kebaikan, maka dia menghubungkannya kepada Allah تعالى, ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar mereka berdua sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya, sebagai rahmat dari Rabbmu." (Al-Kahfi: 82), Sebagaimana yang disampaikan Ibrahim, ﴾ وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 ﴿ "Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku." (Asy- Syu'ara`: 80), dan perkataan jin, ﴾ وَأَنَّا لَا نَدۡرِيٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ أَرَادَ بِهِمۡ رَبُّهُمۡ رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan bahwa kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (Al-Jin: 10), meskipun semua kejadian berasal dari ketentuan dan takdir Allah. - Sesungguhnya seorang kawan tidak pantas meninggalkan sahabatnya dalam kondisi apa pun, dan memutus persahabatan-nya hingga dia menegurnya (terlebih dahulu) dan mengajukan ala-san, seperti yang dilakukan oleh Khidhir terhadap Musa. - Persetujuan seorang teman terhadap sahabatnya dalam per-kara yang tidak terlarang merupakan pemicu dan faktor kelang-gengan persahabatan dan kerekatannya, sebagaimana ketidakse-pahaman menjadi sebab terputusnya hubungan persahabatan. - [Persoalan-persoalan ini yang dijalankan oleh Khidhir me-rupakan keputusan takdir murni, yang mana Allah menjalankan dan meletakkannya pada tangan seorang hamba shalih, agar para hamba mempunyai bukti nyata tentang kelembutan-kelembutan-Nya dalam segala keputusanNya. Dia mentakdirkan perkara-per-kara atas seorang hamba yang benar-benar dia benci, padahal me-rupakan kebaikan bagi agamanya, seperti dalam kejadian si anak kecil (yang dibunuh). Atau kebaikan bagi dunianya, seperti pada peristiwa kapal (yang dilubangi). Allah memperlihatkan sebuah contoh dari kelembutan dan kemuliaanNya supaya mereka menge-nalNya dan ridha dengan takdir-takdir yang tidak mengenakkan dengan tulus].

Al-Kahf 18:69

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.' Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu (melompat) mengambil jalannya ke laut itu pergi secara sembunyi-sembunyi. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, 'Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.' Muridnya menjawab, 'Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu, dan tidak ada yang mem-buatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata, 'Itulah (tempat) yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula, maka mereka bertemu dengan se-orang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khi-dhir, 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan ke-padaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan ke-padamu.' Dia menjawab, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.' Musa berkata, 'Insya Allah, kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.' Dia berkata, 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku ten-tang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepada-mu.' Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya. Musa berkata, 'Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan pe-numpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.' Dia (Khidhir) berkata, 'Bukankah aku telah berkata, 'Se-sungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku'.' Musa berkata, 'Janganlah kamu menghukumku karena ke-lupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan sesuatu ke-sulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir mem-bunuhnya. Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain, sungguh kamu telah me-lakukan suatu yang mungkar.' Khidhir berkata, 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar ber-samaku.' Musa berkata, 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperboleh-kan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberi-kan udzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata, 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidhir berkata, 'Inilah perpisah-an antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadap-nya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu, dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya'." (Al-Kahfi: 60-82). (60) Allah تعالى memberitahukan tentang NabiNya, Musa عليه السلام dan kecintaannya kepada kebaikan dan pencarian ilmu, bahwa beliau berkata kepada pemudanya, maksudnya, pelayannya yang menyertainya saat berada di rumah dan dalam perjalanan. Ia adalah Yusya' bin Nun, Allah menceritakan setelah itu, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan," maksudnya aku akan tetap menempuh perjalan-an meskipun jarak semakin jauh dan kesulitan menghampiriku, sampai aku mencapai tempat pertemuan dua buah lautan[25]. Ia adalah tempat yang sudah diwahyukan (oleh Allah) kepadanya, 'Bahwa engkau akan menjumpai seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang berilmu, dia memiliki ilmu yang tidak engkau punyai.' ﴾ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun," maksud-nya (sampai) jarak yang jauh. Maknanya, kerinduan dan keinginan-lah yang menyebabkan Musa berkata demikian kepada pelayannya. (61) Ini merupakan tekad teguh darinya. Karena itu, dia menjalankannya. ﴾ فَلَمَّا بَلَغَا ﴿ "Maka tatkala mereka sampai," yaitu dia dan pelayannya ﴾ مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا ﴿ "ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya," ada seekor ikan yang mereka bawa seba-gai bekal dan makanan mereka. Ia telah diberitahu (sebelumnya) bahwa kapan saja ikan tersebut hilang, maka di situlah insan yang dia tuju berada ﴾ فَٱتَّخَذَ ﴿ "lalu mengambil," yaitu ikan tersebut meng-ambil ﴾ سَبِيلَهُۥ ﴿ "jalannya," jalannya ﴾ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا 61 ﴿ "ke laut itu dengan pergi secara sembunyi-sembunyi," ini termasuk tanda kebesaran Allah. Para ulama tafsir berkata, 'Sesungguhnya ikan tersebut yang dijadi-kan perbekalan oleh mereka, ketika mereka sampai di tempat itu, (maka ikan itu) terkena air laut. Maka ia pergi secara sembunyi-sembunyi dengan izin Allah ke dalam lautan dan hidup bersama binatang-binatang laut lainnya." (62) Tatkala Musa dan pelayannya telah melewati tempat pertemuan dua laut, maka Musa berkata kepada pelayannya,﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Bawalah ke mari makanan kita; sesung-guhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini," maksudnya kita telah merasa kepayahan disebabkan perjalanan yang melewati (tempat dua pertemuan laut). Apabila tidak demikian, maka pada perjalanan panjang yang mereka lalui sampai ke tempat dua per-temuan laut, mereka tidak merasakan keletihan sama sekali. Ini termasuk tanda-tanda kebesaran Allah dan petunjuk yang meng-indikasikan kepada keberadaan apa yang dicari oleh Musa. Selain itu, sesungguhnya kerinduan yang berhubungan dengan perja-lanan sampai ke tempat itu telah memudahkan jalan bagi mereka. Ketika mereka telah melampaui tujuannya, maka mereka (baru) merasakan keletihan. (63) Usai mengatakan perkataan ini kepada pelayannya, sang pelayan berkata kepada Musa, ﴾ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ ﴿ "Tahu-kah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka se-sungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu," [maksudnya tidakkah engkau tahu ketika kita menginap tadi malam di batu ter-sebut di antara dua lautan itu, sesungguhnya aku lupa terhadap ikan tersebut]. ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan tidak ada yang membuatku lupa untuk menceritakannya kecuali setan," karena dialah penyebab-nya. ﴾ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا 63 ﴿ "Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali," maksudnya ketika ikan itu telah me-lompat dan menghilang ke dalam laut, maka hal itu termasuk ke-jadian yang mencengangkan. Para ulama tafsir mengatakan, "Jalan yang ditempuh oleh ikan itu adalah jalan tersembunyi, sedangkan dalam (pandangan) Musa dan pelayannya, itu merupakan keajaiban." (64) Setelah si pelayan berkata demikian kepada Musa, yang sebelumnya telah mendapatkan janji dari Allah, bahwasanya jika dia kehilangan ikan itu, berarti akan menjumpai Khidhir, maka Musa berkata, ﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ ﴿ "Itulah (tempat) yang kita cari," yang kita inginkan ﴾ فَٱرۡتَدَّا ﴿ "Lalu keduanya kembali," maksudnya kembali pulang ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا 64 ﴿ "mengikuti jejak mereka semula," mereka kembali menelusuri jejak-jejak mereka sampai (ke tempat) yang mereka lupa terhadap ikan tadi. (65) Ketika mereka telah sampai di sana ﴾ فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ﴿ "maka mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami," yaitu Khidhir. Ia adalah seorang hamba yang shalih, bukan seorang nabi, berdasarkan pendapat yang shahih, ﴾ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا ﴿ "yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami," maksudnya Allah menganugerahinya rahmat yang lebih spesial. Dengan itu, ilmu dan kebaikan amalnya bertambah. ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami," maksudnya berasal dari sisi Kami ﴾ عِلۡمٗا 65 ﴿ "ilmu." Dia telah memperoleh ilmu yang tidak diberikan ke-pada Musa, kendatipun Musa lebih berilmu daripada Khidhir pada banyak permasalahan, terutama ilmu-ilmu keimanan dan ilmu-ilmu Ushul. Pasalnya, beliau adalah salah seorang ulul 'azmi dari kalangan para rasul yang Allah utamakan di atas seluruh makhluk dengan ilmu, amal, dan lainnya. (66) Manakala Musa berhasil berkumpul dengan Khidhir, maka beliau berkata kepadanya dengan penuh kesopanan dan per-mohonan persetujuan sembari memberitahukan apa yang ia ingin-kan, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu su-paya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu," maksudnya, apakah aku boleh meng-ikutimu agar engkau mengajariku dari ilmu-ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu, yang akan kujadikan sebagai pegangan dan petunjuk, dan dengan itu aku pun bisa mengetahui kebenaran pada persoalan-persoalan itu? Khidhir telah dianugerahi Allah ilham dan karamah hingga sanggup meneropong rahasia-rahasia permasalah-an yang tersembunyi pada pandangan Musa عليه السلام. (67) Maka Khidhir berkata kepada Musa, "Aku tidak menam-piknya. Akan tetapi, sesungguhnya engkau ﴾ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا ﴿ 'sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku,' maksudnya engkau tidak mampu untuk mengikuti dan menyertaiku. Sebab, kamu akan me-nyaksikan obyek yang membuatmu tidak bisa bersabar dalam meng-hadapi perkara-perkara yang nampak terlihat sebagai kemungkar-an, sementara hakikatnya tidak demikian adanya." (68) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mem-punyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu," maksudnya, bagaimana bisa engkau bersabar menghadapi sesuatu yang engkau tidak me-nguasai seluk-beluknya bagian luar dan dalamnya, dan tidak me-ngetahui tujuan dan kesudahannya. (69) Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا 69 ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." Ini merupakan tekad Musa sebelum dijumpainya obyek ujian. Tekad itu sebuah keinginan, sementara keberadaan sabar adalah urusan lain. Karena-nya, Musa tidak bisa menahan diri saat peristiwa terjadi. (70) Pada saat itulah, Khidhir berpesan kepada Musa, ﴾ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡـَٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا 70 ﴿ "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu," maksudnya janganlah eng-kau memulai untuk melontarkan pertanyaan dan pengingkaran kepadaku, sampai akulah yang akan menerangkan kepadamu apa yang terjadi, di waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang itu. Ia melarang Musa untuk bertanya dan berjanji kepadanya untuk menerangkan kepadanya tentang hakikat peristiwa tersebut. (71) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ ﴿ "Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu, lalu Khidhir melubanginya," maksudnya Khidhir mencabut satu papan dari perahu tersebut. Ia mempunyai tujuan dalam melakukannya yang akan ia jelaskan (nanti). Akan tetapi, Musa عليه السلام tidak tahan (menyaksikannya), lan-taran secara eksplisit merupakan kemungkaran. Pasalnya, tindakan itu dapat merusak perahu tersebut dan menjadi penyebab tenggelam bagi sang pemilik. Oleh karena itu, Musa berkata, ﴾ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا إِمۡرٗا 71 ﴿ "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah ber-buat kesalahan yang besar," yaitu kesalahan yang besar lagi sangat buruk. Ini termasuk cerminan ketidaksabaran Musa عليه السلام. (72) Maka Khidhir berkata kepada Musa, ﴾ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 72 ﴿ "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku'," maksudnya, sudah terjadi apa yang aku beritahukan kepadamu. (73) Teguran itu merupakan bentuk kealpaan dari Musa, maka dia berkata, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرۡهِقۡنِي مِنۡ أَمۡرِي عُسۡرٗا 73 ﴿ "Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku, dan janganlah kamu membebani-ku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku," maksudnya janganlah engkau mempersulit urusan kepada diriku, maafkanlah aku. Se-sungguhnya itu terjadi karena faktor lupa. Janganlah engkau meng-hukum aku karena kelupaanku yang pertama kali ini. Ia memadu-kan antara pengakuan kesalahan dan pengajuan alasan, dan bahwa engkau wahai Khidhir tidak patut bersikap keras terhadap kawan-mu ini, maka Khidhir memaafkannya. (74) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا ﴿ "Maka berjalanlah keduanya; hingga tat-kala keduanya berjumpa dengan seorang anak," yaitu anak kecil ﴾ فَقَتَلَهُۥ ﴿ "maka dia membunuhnya," Khidhir membunuhnya. Kemarahan pun semakin menjadi-jadi pada Musa, kecemburuan agamanya sontak muncul ketika Khidhir membunuh seorang anak kecil yang belum berbuat dosa. ﴾ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Musa berkata, 'Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain. Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar'." Kemungkaran mana yang sebanding dengan membunuh anak kecil yang belum ternoda oleh dosa, dan ia pun tidak membunuh orang lain? Teguran Musa yang pertama muncul karena kelupaan. Sedangkan sanggahan ini bukan karena lupa, tetapi karena tidak sabar. (75) Khidhir berkata kepada Musa untuk menegur dan meng-ingatkan, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا 75 ﴿ "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" (76) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa ﴾ إِن سَأَلۡتُكَ عَن شَيۡءِۭ ﴿ "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini," setelah kali ini ﴾ فَلَا تُصَٰحِبۡنِيۖ ﴿ "maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu," maksudnya engkau punya alasan dan berhak meninggalkan keserta-anku ﴾ قَدۡ بَلَغۡتَ مِن لَّدُنِّي عُذۡرٗا 76 ﴿ "sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur kepadaku," maksudnya kamu telah memberi toleransi bagiku, kamu tidak pelit untuk memberi kesempatan. (77) ﴾ فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا ﴿ "Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu," maksudnya mereka berdua minta perjamuan kepada penduduknya, namun mereka tidak mau menyuguhi mereka berdua, ﴾ فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ ﴿ "kemudian kedua-nya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh," maksudnya [sungguh] telah rusak dan berantakan ﴾ فَأَقَامَهُۥۖ ﴿ "maka dia menegakkan dinding itu," yaitu Khidhir, maksudnya, membangun dan memperbaruinya lagi. Kemudian ﴾ قَالَ ﴿ "dia berkata," yaitu Musa, ﴾ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا 77 ﴿ "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu," yaitu kepada penduduk negeri itu. Mereka tidak mau menjamu kita, padahal harus mereka lakukan, sementara itu, justru engkau membangun rumah itu tanpa upah sama sekali, pada-hal engkau mampu memintanya? (78) Pada saat itulah, Musa عليه السلام tidak menepati apa yang dia ucapkan. Dan Khidhir meminta pamit kepadanya, seraya ﴾ قَالَ ﴿ "mengatakan" kepada Musa, ﴾ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ ﴿ "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu," karena sesungguhnya engkau telah menetapkan syarat tersebut atas dirimu sendiri, sekarang sudah tidak diterima lagi alasan dan kesempatan untuk menyertai lagi. ﴾ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا 78 ﴿ "Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang membuatmu tidak dapat sabar terhadapnya," maksudnya aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang engkau ingkari terhadapku, dan aku memberitakan bahwa aku mempunyai tujuan dan sasaran dari tindakanku. (79) ﴾ أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ ﴿ "Adapun bahtera itu," yang aku lubangi ﴾ فَكَانَتۡ لِمَسَٰكِينَ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut," yang menuntut munculnya rasa iba dan kasihan kepada mereka ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٞ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصۡبٗا 79 ﴿ "lalu aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang me-rampas tiap-tiap bahtera," maksudnya mereka itu (dalam berlayar), melewati raja yang zhalim. Setiap kapal yang baik yang melewati sang raja tanpa cacat, maka dia merampasnya atau mengambilnya secara paksa. Karena itu, aku berniat melubanginya agar memiliki cacat, sehingga selamat dari (jarahan) penguasa yang zhalim itu. (80) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ ﴿ "Dan adapun anak itu," yang aku bunuh ﴾ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا 80 ﴿ "maka kedua orang tuanya adalah orang-orang Mukmin, lalu kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekufuran." Anak lelaki itu telah ditakdirkan, jika menginjak dewasa (kelak) akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekufuran. Maksudnya, menyeret mereka kepada tindakan kesesatan dan kekufuran, baik lantaran kecintaan mereka kepadanya atau ketergantungan mereka kepadanya, maupun lantaran dia memaksa mereka berbuat demi-kian. Maka aku pun membunuhnya, sebab aku mengetahui (kesu-dahan) anak itu, demi keselamatan agama dua orang tuanya yang beriman. Apakah ada manfaat yang lebih besar daripada kebaikan yang besar ini. (81) Pembunuhan tersebut, meskipun mengandung tindak-an buruk kepada mereka berdua dan pemutusan keturunan mereka berdua, namun sesungguhnya Allah تعالى akan menganugerahinya keturunan yang lebih baik daripada si anak itu. Oleh karena itu, (Khidhir) berkata, ﴾ فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا 81 ﴿ "Lalu kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)," yaitu anak yang shalih, suci dan menghormati hubungan dengan orang tuanya. Sesungguhnya anak kecil yang dibunuh tersebut, sekiranya dia dewasa nanti, niscaya dia akan durhaka kepada keduanya dan memaksa mereka kepada kekufuran dan kesesatan. (82) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ ﴿ "Adapun dinding rumah itu," yang aku bangun ﴾ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "maka ia adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih," maksudnya, kondisi mereka berdua menuntut adanya rasa iba dan rahmat kepada mereka, sebab keduanya masih kecil. Kedua orang tua mereka sudah tiada. Maka Allah memelihara mereka ber-dua juga lantaran keshalihan kedua orang tua mereka. ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu," karena itu, aku hancurkan dindingnya dan aku gali harta simpanan yang berada di bawah dan selanjutnya aku letakkan dan aku (bangun) kembali dengan cuma-cuma. ﴾ رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Sebagai rahmat dari Rabb-mu," maksudnya tindakan yang aku lakukan adalah sebagai bentuk sayang dari Allah yang Allah berikan melalui hambaNya, Khidhir. ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri," maksudnya, aku tidak mengerjakan sesuatu menurut kehendak pribadiku dan murni keinginanku. Sesungguhnya itu hanyalah rahmat dari Allah dan perintahNya. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itu," keterangan yang aku jelaskan kepadamu ﴾ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا 82 ﴿ "adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar ter-hadapnya." Dalam kisah yang menakjubkan lagi agung ini, termuat pela-jaran-pelajaran penting, hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang banyak sekali. Kami ingin menyinggung sebagiannya dengan per-tolongan Allah: - Keutamaan ilmu dan pengembaraan untuk mencarinya. Se-sungguhnya ilmu adalah perkara terpenting. Musa عليه السلام telah menem-puh jarak yang jauh dan mengalami keletihan dalam mencarinya, menghentikan berbaur dengan Bani Israil untuk mengajari dan mem-bimbing mereka, dan (lebih) memilih untuk menempuh perjalan-an jauh guna menambah ilmu. - Disyariatkannya memulai dengan perkara yang terpenting lalu (dilanjutkan kepada) perkara yang lebih penting (daripada se-sudahnya). Sesungguhnya menambah ilmu dan meningkatkan pengetahuan masyarakat lebih penting daripada meninggalkan mencari ilmu dan menyibukkan diri dengan mengajar tanpa mem-bekali diri dengan ilmu. Dan bila ada kemampuan untuk memadu-kan antara keduanya, itu lebih diutamakan. - Diperbolehkannya mengangkat seorang pelayan saat berada di lingkungan sendiri maupun dalam bepergian untuk tujuan meng-urusi barang bawaan dan mencari kenyamanan, seperti yang dila-kukan oleh Musa. - Sesungguhnya seorang musafir (yang menempuh perjalan-an jauh) untuk mencari ilmu, berjihad atau tujuan lainnya, jika ke-maslahatan menuntut untuk memberitahukan tujuan dan apa yang ia inginkan, maka sesungguhnya sikap tersebut lebih baik daripada menyembunyikannya. Karena di dalam penyampaiannya terdapat beberapa manfaat, seperti melakukan persiapan perbekalan dan menjalankan suatu perkara dengan dasar ilmu serta memperlihat-kan kerinduan terhadap ibadah yang agung ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musa, ﴾ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا 60 ﴿ "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." (Al-Kahfi: 60). Sebagaimana Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada para sahabat ketika akan menyerang wilayah Tabuk, padahal ke-biasaan beliau adalah bertauriyah (menzahirkan di luar yang dimak-sud). Hal ini tergantung dengan kemaslahatan. - Penisbatan kejelekan dan faktor-faktor pencetusnya kepada setan dengan cara bujukan dan penghiasan maksiat dalam bentuk yang indah, meskipun semua perkara muncul karena keputusan dan takdir Allah, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ ﴿ "Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (Al-Kahfi: 63). - Bolehnya seorang manusia untuk memberitahukan sesuatu yang menjadi tuntutan tabiat diri, berupa rasa capek, lapar, dan haus dengan syarat tidak dipenuhi kemarahan, dan merupakan kondisi yang benar (apa adanya) berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). - Dianjurkan memilih pelayan yang cerdik, cerdas, lagi pandai agar urusannya terlaksana seperti yang dia inginkan. - Dianjurkan agar seseorang memberi makanan kepada pelayan dari jenis makanan yang dia makan dan memakannya bersama-sama. Karena yang zahir dari Firman Allah, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita." (Al-Kahfi: 62), terdapat penisbatan makanan kepada mereka berdua, tuan dan pelayannya makan bersamaan. - Sesungguhnya pertolongan turun kepada seseorang berdasar-kan tingkat aplikasinya terhadap perintah Allah, dan orang yang sejalan dengan perintah Allah akan memperoleh pertolongan, yang tidak didapatkan oleh orang lain, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا 62 ﴿ "Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." (Al-Kahfi: 62). Terdapat isyarat kepada perjalanan yang melampaui tempat pertemuan dua lautan. Adapun yang pertama, Musa tidak menge-luhkan kelelahan meskipun ditempuh dalam waktu lama. Karena itulah safar yang sebenarnya. Sedangkan perjalanan yang terakhir, nampaknya ditempuh dalam setengah hari. Sebab, mereka telah kehilangan ikan ketika bermalam di batu. Padahal secara eksplisit, mereka bermalam di sana. Lantas, berjalan kembali keesokan hari-nya. Sampai akhirnya datang waktu makan siang, Musa berkata kepada pelayannya, ﴾ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا ﴿ "Bawalah kemari makanan kita," (Al-Kahfi: 62). Saat itulah dia teringat bahwa dia melupakannya di tem-pat yang merupakan tujuan akhirnya. - Hamba yang mereka jumpai bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang insan yang shalih. Sebab, Allah menyebut predikat-nya dengan ubudiyah (pengabdian diri), dan mengungkapkan ka-runiaNya atas dirinya berupa rahmat dan ilmu. Allah tidak menying-gung risalah atau kenabiannya. Seandainya Khidhir adalah nabi, tentulah Allah menyebutkannya sebagaimana Dia menyebut pre-dikat lainnya. Adapun perkataannya di akhir kisah, ﴾ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ﴿ "Dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri." (Al-Kahfi: 82), maka perkataan ini tidak menunjukkan dirinya seorang nabi. Hanya mengindikasikan keberadaan ilham dan tahdits (bisikan)(pada dirinya), sebagaimana bisa terjadi pada selain nabi. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ ﴿ "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'." (Al-Qa-shash: 7). ﴾ وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا ﴿ "Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung'." (An-Nahl: 68). - Sesungguhnya ilmu yang diajarkan Allah kepada para ham-baNya terbagi menjadi dua bagian: Ilmu muktasab (ilmu yang diusa-hakan), dihasilkan seorang hamba melalui kesungguhan dan kete-kunannya. Dan jenis ilmu ladunni. Allah menganugerahkannya ke-pada hambaNya yang dikehendakiNya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا 65 ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65). - Keharusan beretika saat bersama dengan seorang pengajar dan cara berbicara dari seorang pelajar kepadanya dengan ungkapan yang paling lembut, berdasarkan perkataan Musa عليه السلام, ﴾ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu meng-ajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). Musa mengungkapkan perkataan dengan nada lembut dan musyawarah, "Apakah engkau memberi izin kepadaku ataukah tidak?" Disertai pengakuan untuk mau belajar darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang berperilaku keras atau sombong, yang tidak memperlihatkan kebutuhannya kepada ilmu sang guru. Justru mengklaim dirinya saling membantu dengan pengajarnya. Bahkan boleh jadi dia berasumsi bahwa dia telah mengajari guru-nya, padahal dia tidak tahu sama sekali. Jadi, menghinakan diri di hadapan seorang guru dan memperlihatkan kebutuhannya kepada pengajarannya termasuk perkara yang paling bermanfaat bagi pen-cari ilmu. - Tawadhu' orang yang utama untuk belajar kepada orang yang berada di bawah levelnya. Sesungguhnya Musa tanpa disang-sikan, lebih mulia daripada Khidhir. - Orang yang sudah berilmu lagi berkedudukan tinggi mem-pelajari ilmu yang belum dia kuasai dari orang yang mahir pada bidang itu, meskipun kedudukannya dalam ilmu tertentu jauh di bawahnya beberapa derajat. Sesungguhnya Musa عليه السلام termasuk ulul 'azmi dari kalangan rasul yang mana Allah menganugerahkan dan mengaruniai kepada mereka ilmu yang tidak dikaruniakan kepada selain mereka. Namun, pada bidang ilmu yang khusus ini, Khidhir mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa. Karena itu, Musa sangat antusias untuk belajar darinya. Atas dasar ini, tidak sepatutnya seorang fakih lagi muhaddits jika kurang cakap dalam ilmu nahwu atau sharaf maupun ilmu lainnya, tidak mem-pelajarinya dari orang yang mahir dalam bidang itu, meskipun bukan seorang faqih atau muhaddits. - Penisbatan ilmu dan keutamaan-keutamaan lainnya adalah kepada Allah تعالى dan mengakuinya serta bersyukur kepada Allah atas itu, berdasarkan perkataan Musa, ﴾ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu (oleh Allah)." (Al-Kahfi: 66), maksudnya dari ilmu yang Allah تعالى ajarkan kepadamu. - Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mem-bimbing kepada kebaikan. Setiap ilmu yang mengandung petunjuk dan hidayah kepada jalan kebaikan dan peringatan dari jalan kejelek-an maupun perantaranya, maka itu termasuk ilmu yang bermanfaat. Sedangkan selain itu, maka ia merupakan ilmu yang berbahaya, atau tidak berisi faidah. Berdasarkan perkataan Musa, ﴾ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا 66 ﴿ "Supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu." (Al-Kahfi: 66). - Sesungguhnya orang yang tidak memiliki kekuatan untuk bersabar dalam menyertai seorang alim dan tidak memiliki ilmu serta keteguhan yang baik dalam menjalaninya, maka sungguh dia [akan kehilangan ilmu yang banyak sebesar tingkat ketidaksabaran-nya].[26] Barangsiapa yang tidak bersabar sedikit pun, niscaya dia tidak dapat menggapai ilmu. Dan siapa saja yang menempuh ke-sabaran dan selalu berkonsisten padanya, tentu ia akan menggapai setiap urusan yang dia usahakan, berdasarkan perkataan Khidhir yang memberi tahu alasan kepada Musa tentang faktor penghambat bagi Musa untuk dapat belajar darinya, yaitu dia tidak bisa bersabar dengannya. - Sesungguhnya penyebab terpenting untuk meraih kesabaran, adalah seseorang menguasai suatu perkara dari sisi ilmu dan penge-tahuan yang mana dia diperintah untuk bersabar di dalamnya. Ka-lau tidak demikian, maka orang yang tidak mengerti atau tidak mengetahui tujuan, hasil, dan kegunaannya, serta buahnya, maka dia tidak memiliki sebab kausalitas kesabaran, berdasarkan perkata-an Khidhir, ﴾ وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا 68 ﴿ "Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu." (Al-Kahfi: 68). Yang mengembalikan faktor ketidaksabarannya adalah tidak adanya penguasaan tentang persoalan tersebut pada Musa. - Perintah untuk berhati-hati, melakukan klarifikasi dan tidak bersegera menjatuhkan keputusan tentang sesuatu sampai menge-tahui arah yang diinginkan dan tujuannya. - Pengaitan urusan-urusan di masa yang akan datang yang di-lakukan oleh para hamba dengan masyi`ah (kehendak) Allah, dan jangan sampai seseorang berkata tentang sesuatu, "Sesungguhnya aku akan melakukannya nanti" kecuali disusuli dengan kata insya Allah. - Tekad untuk mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan per-buatan riilnya. Sesungguhnya Musa berkata, ﴾ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا ﴿ "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar." (Al-Kahfi: 69). Ia mempersiapkan dirinya untuk bersabar, namun tidak merealisasikannya. - Seorang guru, jika melihat adanya kemaslahatan dalam me-nahan seorang murid untuk tidak memulai bertanya tentang seba-gian perkara sampai guru itu sendiri yang mengajaknya bicara ten-tang itu, maka sesungguhnya sisi kemaslahatan itu perlu ditelusuri, misalnya, bila pemahaman seorang murid dangkal, atau melarang-nya dari pertanyaan-pertanyaan yang pelik, yang persoalan lain masih lebih penting daripadanya atau karena tidak tercerna oleh daya tangkapnya, atau melontarkan pertanyaan yang tidak berhu-bungan dengan tema pembahasan. - Diperbolehkannya berlayar di laut dalam kondisi yang tidak mengkhawatirkan (keselamatan). - Orang yang lupa tidak dihukum karena kelupaannya itu. Tidak bisa dihukum dalam hak Allah dan hak para hamba berdasar-kan FirmanNya, ﴾ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ﴿ "Janganlah engkau menghukumku disebabkan kelupaanku." (Al-Kahfi: 73). - Sepatutnya, seseorang menyikapi perilaku-perilaku orang dan cara bermuamalah mereka dengan sikap maaf dan sikap yang bisa mereka terima. Tidak pantas membebani mereka hal-hal yang tidak sanggup mereka kerjakan atau memberatkan atau menggencet mereka. Sesungguhnya sikap-sikap ini akan mengundang antipati dan kebosanan terhadapnya. Bahkan, hendaknya dia mengambil jalan yang mudah supaya urusannya pun menjadi mudah. - Hukum segala urusan berjalan sesuai dengan zahirnya, dan (begitu pula) hukum-hukum agama dalam masalah harta, darah, dan lainnya terkait dengannya. Sesungguhnya Musa عليه السلام menging-kari Khidhir atas tindakannya melubangi kapal dan membunuh anak kecil. Dua tindakan ini secara zahir, merupakan kemungkaran. Dan Musa عليه السلام tidak boleh mendiamkannya selain dalam kondisi menyertai Khidhir. Maka, Musa عليه السلام tergesa-gesa dan bersegera untuk menilainya dalam konteks umum, tidak memperhatikan aspek kondisionalnya (bersama Khidhir) yang mengharuskannya bersabar dan tidak tergesa-gesa mengingkarinya. - Adanya kaidah penting yang agung, yaitu menolak keburuk-an yang besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan dan mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar dengan menying-kirkan kemaslahatan yang paling kecil. Sesungguhnya membunuh anak kecil merupakan tindakan jelek. Akan tetapi, keberadaan anak itu (tetap hidup) yang dapat memfitnah agama kedua orang tuanya merupakan keburukan yang lebih besar. Sementara keber-adaan si anak kecil tanpa dibunuh dan tetap memeliharanya, meski-pun dianggap sebagai kebaikan, namun kebaikan (yang lebih besar) adalah dengan menjaga agama dan keimanan dua orang tuanya yang terpelihara, itu lebih baik. Oleh karena itu, Khidhir membunuh-nya. Masuk ke dalam bingkai kaidah ini, bermacam-macam per-soalan furu' dan pelajaran-pelajaran penting yang tidak terbilang. Persoalan bersinggungannya kemaslahatan dan mafsadah, semua masuk ke dalam kaidah ini. - Adanya kaidah penting yang agung juga. Yaitu, penanganan seseorang terhadap harta orang lain, bila dalam rangka menciptakan kemaslahatan dan menghilangkan mafsadah (kerusakan) maka di-perbolehkan, meskipun tanpa izin, hingga walaupun perbuatan-nya itu mengakibatkan sebagian harta orang lain lenyap. Seperti Khidhir yang melubangi kapal agar menjadi cacat sehingga selamat dari perampasan raja yang zhalim. Atas dasar ini, jika terjadi keba-karan atau tenggelam dan peristiwa serupa lainnya di rumah sese-orang atau kekayaannya, yang mana pemusnahan sebagian kekaya-an atau perobohan sebagian rumah dapat menyebabkan keselamat-an bagian yang tersisa, maka hal itu diperbolehkan bagi seseorang (untuk melakukannya). Bahkan disyariatkan baginya untuk menger-jakannya demi menjaga kekayaan orang lain. Begitu pula, sekiranya ada seorang zhalim ingin mengambil harta orang lain lalu sese-orang menyerahkan sebagian uang (yang akan diambil) sebagai tebusan untuk menyelamatkan yang tersisa, maka itu diperboleh-kan, meskipun tanpa izin pemiliknya. - Boleh bekerja di laut sebagaimana diperbolehkan bekerja di daratan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "yang bekerja di laut." (Al-Kahfi: 79), dan Allah tidak mengingkari pekerjaan mereka. -Bahwa orang miskin terkadang mempunyai harta yang tidak mencapai (batas) kecukupannya, namun hal itu tidak mengeluarkan-nya dari predikat miskin, karena Allah mengabarkan bahwa mereka adalah miskin yang memiliki perahu. - Pembunuhan termasuk perbuatan dosa yang paling besar, berdasarkan perkataan Musa tentang pembunuhan si anak kecil, ﴾ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا 74 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." (Al-Kahfi: 74). - Pembunuhan untuk tujuan qishash tidaklah diingkari, berdasar-kan FirmanNya, ﴾ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ ﴿ "bukan karena dia membunuh." (Al-Kahfi: 74). - Seorang hamba yang shalih, akan dipelihara Allah, jiwa dan keturunannya. - Membantu orang yang shalih atau orang yang berkaitan dengan mereka adalah lebih utama daripada membantu selainnya, karena Khidiri menyebutkan alasan dirinya mengeluarkan harta simpanan dan mendirikan temboknya adalah karena bapak kedua-nya adalah shalih. - Penggunaan etika kesopanan terhadap Allah تعالى dalam (pe-makaian) ungkapan-ungkapan. Sesungguhnya Khidhir mengait-kan perusakan kapal kepada dirinya dengan berkata, ﴾ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا ﴿ "Dan aku bertujuan merusak bahtera itu." (Al-Kahfi: 79). Sedangkan tentang kebaikan, maka dia menghubungkannya kepada Allah تعالى, ﴾ فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ ﴿ "Maka Rabbmu menghendaki agar mereka berdua sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya, sebagai rahmat dari Rabbmu." (Al-Kahfi: 82), Sebagaimana yang disampaikan Ibrahim, ﴾ وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 ﴿ "Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku." (Asy- Syu'ara`: 80), dan perkataan jin, ﴾ وَأَنَّا لَا نَدۡرِيٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ أَرَادَ بِهِمۡ رَبُّهُمۡ رَشَدٗا 10 ﴿ "Dan bahwa kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (Al-Jin: 10), meskipun semua kejadian berasal dari ketentuan dan takdir Allah. - Sesungguhnya seorang kawan tidak pantas meninggalkan sahabatnya dalam kondisi apa pun, dan memutus persahabatan-nya hingga dia menegurnya (terlebih dahulu) dan mengajukan ala-san, seperti yang dilakukan oleh Khidhir terhadap Musa. - Persetujuan seorang teman terhadap sahabatnya dalam per-kara yang tidak terlarang merupakan pemicu dan faktor kelang-gengan persahabatan dan kerekatannya, sebagaimana ketidakse-pahaman menjadi sebab terputusnya hubungan persahabatan. - [Persoalan-persoalan ini yang dijalankan oleh Khidhir me-rupakan keputusan takdir murni, yang mana Allah menjalankan dan meletakkannya pada tangan seorang hamba shalih, agar para hamba mempunyai bukti nyata tentang kelembutan-kelembutan-Nya dalam segala keputusanNya. Dia mentakdirkan perkara-per-kara atas seorang hamba yang benar-benar dia benci, padahal me-rupakan kebaikan bagi agamanya, seperti dalam kejadian si anak kecil (yang dibunuh). Atau kebaikan bagi dunianya, seperti pada peristiwa kapal (yang dilubangi). Allah memperlihatkan sebuah contoh dari kelembutan dan kemuliaanNya supaya mereka menge-nalNya dan ridha dengan takdir-takdir yang tidak mengenakkan dengan tulus].