Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Baqarah 2:246 – Ali 'Imran 3:42

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Al-Baqarah 2:246
  2. Al-Baqarah 2:247
  3. Al-Baqarah 2:248
  4. Al-Baqarah 2:249
  5. Al-Baqarah 2:250
  6. Al-Baqarah 2:251
  7. Al-Baqarah 2:252
  8. Al-Baqarah 2:253
  9. Al-Baqarah 2:254
  10. Al-Baqarah 2:255
  11. Al-Baqarah 2:256
  12. Al-Baqarah 2:257
  13. Al-Baqarah 2:258
  14. Al-Baqarah 2:259
  15. Al-Baqarah 2:260
  16. Al-Baqarah 2:261
  17. Al-Baqarah 2:262
  18. Al-Baqarah 2:263
  19. Al-Baqarah 2:264
  20. Al-Baqarah 2:265
  21. Al-Baqarah 2:266
  22. Al-Baqarah 2:267
  23. Al-Baqarah 2:268
  24. Al-Baqarah 2:269
  25. Al-Baqarah 2:270
  26. Al-Baqarah 2:271
  27. Al-Baqarah 2:272
  28. Al-Baqarah 2:273
  29. Al-Baqarah 2:274
  30. Al-Baqarah 2:275
  31. Al-Baqarah 2:276
  32. Al-Baqarah 2:277
  33. Al-Baqarah 2:278
  34. Al-Baqarah 2:279
  35. Al-Baqarah 2:280
  36. Al-Baqarah 2:281
  37. Al-Baqarah 2:282
  38. Al-Baqarah 2:283
  39. Al-Baqarah 2:284
  40. Al-Baqarah 2:285
  41. Al-Baqarah 2:286
  42. Ali 'Imran 3:1
  43. Ali 'Imran 3:2
  44. Ali 'Imran 3:3
  45. Ali 'Imran 3:4
  46. Ali 'Imran 3:5
  47. Ali 'Imran 3:6
  48. Ali 'Imran 3:7
  49. Ali 'Imran 3:8
  50. Ali 'Imran 3:9
  51. Ali 'Imran 3:10
  52. Ali 'Imran 3:11
  53. Ali 'Imran 3:12
  54. Ali 'Imran 3:13
  55. Ali 'Imran 3:14
  56. Ali 'Imran 3:15
  57. Ali 'Imran 3:16
  58. Ali 'Imran 3:17
  59. Ali 'Imran 3:18
  60. Ali 'Imran 3:19
  61. Ali 'Imran 3:20
  62. Ali 'Imran 3:21
  63. Ali 'Imran 3:22
  64. Ali 'Imran 3:23
  65. Ali 'Imran 3:24
  66. Ali 'Imran 3:25
  67. Ali 'Imran 3:26
  68. Ali 'Imran 3:27
  69. Ali 'Imran 3:28
  70. Ali 'Imran 3:29
  71. Ali 'Imran 3:30
  72. Ali 'Imran 3:31
  73. Ali 'Imran 3:32
  74. Ali 'Imran 3:33
  75. Ali 'Imran 3:34
  76. Ali 'Imran 3:35
  77. Ali 'Imran 3:36
  78. Ali 'Imran 3:37
  79. Ali 'Imran 3:38
  80. Ali 'Imran 3:39
  81. Ali 'Imran 3:40
  82. Ali 'Imran 3:41
  83. Ali 'Imran 3:42

Al-Baqarah 2:246

"Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, 'Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.' Nabi mereka menjawab, 'Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.' Mereka menjawab, 'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami.' Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zhalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya Allah telah mengang-kat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab, 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?' Nabi (mereka) berkata, 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.' Allah memberikan pemerin-tahan kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Mahaluas pemberianNya lagi Maha Mengetahui. Dan Nabi mereka juga mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat keterangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguh-nya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.' Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya, ia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.' Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman ber-sama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, 'Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.' Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, 'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.' Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa, 'Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.' Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendakiNya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan seba-gian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan se-sungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." (Al-Baqarah: 246-252). (246-247) Allah تعالى menceritakan kisah ini kepada umat ini agar mereka mengambil pelajaran darinya dan agar mereka suka berjihad serta tidak takut darinya, karena orang-orang yang sabar akan mendapatkan hasil yang baik dan terpuji di dunia dan di akhirat, sedangkan orang-orang yang lari darinya akan merugi di dunia dan akhirat. Allah تعالى mengabarkan bahwasanya para cendikiawan dari Bani Israil dan tokoh-tokoh mereka menghendaki berjihad, lalu mereka sepakat untuk meminta kepada nabi mereka seorang raja yang menolong mereka agar perselisihan terhenti dengan pemilihannya dan terwujud, ketaatan yang total, hingga tidak ada lagi perdebatan dari orang-orang, namun Nabi mereka khawatir permintaan mereka itu hanyalah sebatas perkataan saja yang tidak ada pelaksanaannya, namun mereka menyikapi dugaan Nabi mereka itu dengan memperlihatkan tekad yang kuat dan mereka akan konsisten akan hal itu dengan sebenar-benarnya, dan bahwasanya peperangan itu sudah menjadi suatu kepastian untuk mereka karena menjadi sebuah jalan mengembalikan negeri mereka serta kembalinya mereka kepada tempat dan kediaman mereka. Nabi mereka telah menetapkan Thalut sebagai raja yang me-mimpin mereka dalam suatu perkara yang memang harus memiliki pemimpin yang ahli dalam kepemimpinan. Namun mereka mem-permasalahkan ketetapan Nabi mereka untuk memilih Thalut sebagai raja mereka, padahal ada orang yang lebih baik rumahnya dan lebih banyak hartanya darinya. Nabi mereka menjawab bahwa sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk kalian, karena Dia telah mengaruniakan kepadanya kekuatan ilmu tentang siasat (perang) dan kekuatan tubuh, yang mana kedua hal itu merupakan sarana keberanian, kemenangan, dan keahlian dalam mengatur peperangan, dan bahwasanya raja itu tidaklah dengan banyaknya harta, dan tidak juga orang yang menjadi raja itu harus merupakan raja dan pemimpin pula dalam daerah-daerah mereka, karena Allah memberikan kerajaanNya kepada siapa yang dikehendakiNya. Kemudian Nabi mereka tidaklah cukup sampai di situ mene-nangkan mereka dengan apa yang telah Dia sebutkan dari kemam-puan Thalut dan adanya sifat-sifat yang dibutuhkan dalam masalah itu, hingga Dia berkata kembali kepada mereka, (248) ﴾ إِنَّ ءَايَةَ مُلۡكِهِۦٓ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَبَقِيَّةٞ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tanda dia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun." Ketika itu Tabut tersebut telah dikuasai oleh musuh. Mereka tidak-lah cukup dengan sifat-sifat moralitas pada diri Thalut, dan tidak pula dengan penentuan Allah baginya lewat lisan Nabi mereka, hingga ditopang dengan mukzijat tersebut. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman," maka di saat itulah mereka tunduk dan patuh. Ketika Thalut telah memimpin, melatih, mengatur, dan memilah-milah mereka untuk memerangi musuh mereka, ia melihat kelemahan tekad dan sema-ngat pada mereka hingga membutuhkan pemisahan antara yang sabar dan yang takut, maka dia berkata sebagaimana yang diabadi-kan dalam Firman Allah, (249-250) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مُبۡتَلِيكُم بِنَهَرٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai," kalian akan melewatinya saat kalian sangat membutuhkan air, ﴾ فَمَن شَرِبَ مِنۡهُ فَلَيۡسَ مِنِّي ﴿ "maka siapa di antara kamu meminum airnya; dia bukanlah pengikutku," maksudnya ia tidak taat kepadaku, karena hal itu adalah bukti yang jelas ten-tang ketidaksabarannya dan memuncaknya ketakutannya, ﴾ وَمَن لَّمۡ يَطۡعَمۡهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّيٓ ﴿ "dan barangsiapa tiada meminumnya, maka dia adalah pe-ngikutku", karena kejujuran dan kesabarannya, ﴾ إِلَّا مَنِ ٱغۡتَرَفَ غُرۡفَةَۢ بِيَدِهِۦۚ ﴿ "kecuali menceduk seceduk tangan," maka hal itu dapat ditoleransi. Ketika mereka sampai di sungai tersebut dan saat itu mereka sangat membutuhkan air, maka seluruhnya minum dari sungai itu, ﴾ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنۡهُمۡۚ ﴿ "kecuali beberapa orang di antara mereka," karena mereka ber-sabar dan tidak minum. ﴾ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ قَالُواْ ﴿ "Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata," yaitu orang-orang yang penakut (pengecut), atau (menurut pendapat lain), orang-orang yang me-nyeberangi sungai ﴾ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلۡيَوۡمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦۚ ﴿ "tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Apabila yang berkata itu adalah orang-orang yang penakut tersebut, maka per-kataan ini adalah merupakan sebuah pembenaran akan ketakutan mereka, namun apabila orang-orang yang berkata itu adalah me-reka yang menyeberang bersama Thalut, maka sesungguhnya telah timbul sebuah bentuk kelemahan dalam jiwa-jiwa mereka. Akan tetapi orang-orang yang keimanannya sempurna mendorong semangat dan menguatkan mereka untuk terus maju berperang, di mana mereka berkata, ﴾ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalah-kan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar," dengan pertolongan, dukungan, dan bantuan-Nya hingga mereka tegar dan bersabar dalam memerangi musuh mereka, Jalut beserta bala tentaranya. (251) ﴾ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud membunuh", shalawat dan salam atasnya, ﴾ جَالُوتَ ﴿ "Jalut." Dengan demikian mereka mem-peroleh kemenangan dan pembelaan atas musuh-musuh mereka, ﴾ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ﴿ "kemudian Allah memberikan kepadanya", yakni kepada Dawud, ﴾ ٱلۡمُلۡكَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "pemerintahan dan hikmah" kenabian dan pengetahuan yang berguna dan Allah memberikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. Kemudian Allah تعالى menjelaskan tentang manfaat berjihad seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Sean-dainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini," dengan dikuasai oleh orang-orang kafir lagi jahat serta pelaku keburukan dan kerusakan. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam," di mana Allah bersikap lemah lembut terhadap kaum Mukminin, membela mereka dan Agama mereka dengan apa yang disyariatkanNya dan ditakdirkanNya, dan ketika Allah menerangkan tentang kisah ini, maka Allah ber-firman kepada RasulNya ﷺ; (252) ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Itu ada-lah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." Dan di antara sederet tanda-tanda kerasulan beliau adalah adanya kisah ini, di mana Allah mengabarkan kepada beliau tentang kisah ini sebagai wahyu untuk beliau dari Allah yang persis sesuai dengan kenyataannya. Dalam cerita ini banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh umat ini. Di antaranya:(1). Keutamaan berjihad di jalan Allah, manfaat-manfaatnya dan akibat-akibatnya yang indah, dan bahwa jihad itu adalah satu-satunya sebab (yang paling efektif) dalam memelihara Agama, menjaga negeri, tubuh dan harta, dan bahwasanya para mujahidin walaupun urusan itu sangat berat buat mereka akan tetapi hasil yang mereka akan dapatkan adalah terpuji, sebagaimana juga bagi orang-orang yang meninggalkan jihad walaupun mereka dapat beristirahat sekejap, namun mereka akan lelah dalam masa yang panjang. (2). Memberikan kekuasaan kepada orang yang kapabel dan mampu, dan bahwasanya kemampuan itu kembali kepada dua perkara: Pertama, pengetahuan, artinya memahami siasat dan meng-organisir, dan kedua, kekuatan, artinya dengannya kebenaran di-tegakkan dan bahwa seorang yang terkumpul pada dirinya kedua perkara itu, maka dialah yang lebih berhak untuk memimpin dari-pada selainnya. (3). Menjadikan cerita ini sebagai dalil atas apa yang dikatakan oleh para ulama bahwa seyogyanya seorang pemimpin pasukan mengadakan peninjauan ketika menetapkannya, yaitu dia melarang orang yang tidak pantas untuk berperang dari personil tentaranya, kudanya, penunggang-penunggangnya karena kelemahannya, kesabarannya yang sedikit, peremehannya, takut akan memuda-ratkan kesehatannya, karena bagian yang ini adalah bahaya yang jelas bagi manusia. (4). Bahwasanya ketika terjadi suatu peperangan, seyogyanya ada pengobaran semangat kaum Muslimin, penguatan jiwa mereka dan anjuran kepada mereka untuk menguatkan keimanan, ber-tawakal penuh dan bersandar hanya kepadaNya, serta memohon kepadaNya ketetapan hati, bimbingan kepada kesabaran, dan pembelaan atas musuh. (5). Bahwasanya tekad untuk berperang dan berjihad bukanlah merupakan hakikatnya, karena terkadang seseorang itu bertekad untuk berjihad akan tetapi ketika telah tiba masanya, tekadnya melemah. Oleh karena itu di antara doa Nabi ﷺ, أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ. "Aku memohon kepadaMu (ya Allah) ketetapan (keteguhan) dalam Agama dan kebulatan tekad dalam petunjuk."[27] Mereka itulah yang bertekad untuk berjihad dan mereka berkata dengan perkataan yang menunjukkan atas sebuah tekad yang kuat, dan ketika hadir masanya, sebagian besar dari mereka akhirnya lemah kembali. Ini serupa dengan sabda Nabi ﷺ, وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ. "Dan aku memohon kepadaMu (ya Allah) keridhaan setelah terjadi-nya Qadha` (ketetapan)."[28] Karena keridhaan setelah terjadinya suatu ketetapan Allah yang dibenci oleh jiwa merupakan keridhaan yang hakiki.

Al-Baqarah 2:247

"Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, 'Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.' Nabi mereka menjawab, 'Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.' Mereka menjawab, 'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami.' Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zhalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya Allah telah mengang-kat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab, 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?' Nabi (mereka) berkata, 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.' Allah memberikan pemerin-tahan kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Mahaluas pemberianNya lagi Maha Mengetahui. Dan Nabi mereka juga mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat keterangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguh-nya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.' Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya, ia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.' Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman ber-sama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, 'Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.' Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, 'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.' Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa, 'Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.' Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendakiNya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan seba-gian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan se-sungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." (Al-Baqarah: 246-252). (246-247) Allah تعالى menceritakan kisah ini kepada umat ini agar mereka mengambil pelajaran darinya dan agar mereka suka berjihad serta tidak takut darinya, karena orang-orang yang sabar akan mendapatkan hasil yang baik dan terpuji di dunia dan di akhirat, sedangkan orang-orang yang lari darinya akan merugi di dunia dan akhirat. Allah تعالى mengabarkan bahwasanya para cendikiawan dari Bani Israil dan tokoh-tokoh mereka menghendaki berjihad, lalu mereka sepakat untuk meminta kepada nabi mereka seorang raja yang menolong mereka agar perselisihan terhenti dengan pemilihannya dan terwujud, ketaatan yang total, hingga tidak ada lagi perdebatan dari orang-orang, namun Nabi mereka khawatir permintaan mereka itu hanyalah sebatas perkataan saja yang tidak ada pelaksanaannya, namun mereka menyikapi dugaan Nabi mereka itu dengan memperlihatkan tekad yang kuat dan mereka akan konsisten akan hal itu dengan sebenar-benarnya, dan bahwasanya peperangan itu sudah menjadi suatu kepastian untuk mereka karena menjadi sebuah jalan mengembalikan negeri mereka serta kembalinya mereka kepada tempat dan kediaman mereka. Nabi mereka telah menetapkan Thalut sebagai raja yang me-mimpin mereka dalam suatu perkara yang memang harus memiliki pemimpin yang ahli dalam kepemimpinan. Namun mereka mem-permasalahkan ketetapan Nabi mereka untuk memilih Thalut sebagai raja mereka, padahal ada orang yang lebih baik rumahnya dan lebih banyak hartanya darinya. Nabi mereka menjawab bahwa sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk kalian, karena Dia telah mengaruniakan kepadanya kekuatan ilmu tentang siasat (perang) dan kekuatan tubuh, yang mana kedua hal itu merupakan sarana keberanian, kemenangan, dan keahlian dalam mengatur peperangan, dan bahwasanya raja itu tidaklah dengan banyaknya harta, dan tidak juga orang yang menjadi raja itu harus merupakan raja dan pemimpin pula dalam daerah-daerah mereka, karena Allah memberikan kerajaanNya kepada siapa yang dikehendakiNya. Kemudian Nabi mereka tidaklah cukup sampai di situ mene-nangkan mereka dengan apa yang telah Dia sebutkan dari kemam-puan Thalut dan adanya sifat-sifat yang dibutuhkan dalam masalah itu, hingga Dia berkata kembali kepada mereka, (248) ﴾ إِنَّ ءَايَةَ مُلۡكِهِۦٓ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَبَقِيَّةٞ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tanda dia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun." Ketika itu Tabut tersebut telah dikuasai oleh musuh. Mereka tidak-lah cukup dengan sifat-sifat moralitas pada diri Thalut, dan tidak pula dengan penentuan Allah baginya lewat lisan Nabi mereka, hingga ditopang dengan mukzijat tersebut. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman," maka di saat itulah mereka tunduk dan patuh. Ketika Thalut telah memimpin, melatih, mengatur, dan memilah-milah mereka untuk memerangi musuh mereka, ia melihat kelemahan tekad dan sema-ngat pada mereka hingga membutuhkan pemisahan antara yang sabar dan yang takut, maka dia berkata sebagaimana yang diabadi-kan dalam Firman Allah, (249-250) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مُبۡتَلِيكُم بِنَهَرٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai," kalian akan melewatinya saat kalian sangat membutuhkan air, ﴾ فَمَن شَرِبَ مِنۡهُ فَلَيۡسَ مِنِّي ﴿ "maka siapa di antara kamu meminum airnya; dia bukanlah pengikutku," maksudnya ia tidak taat kepadaku, karena hal itu adalah bukti yang jelas ten-tang ketidaksabarannya dan memuncaknya ketakutannya, ﴾ وَمَن لَّمۡ يَطۡعَمۡهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّيٓ ﴿ "dan barangsiapa tiada meminumnya, maka dia adalah pe-ngikutku", karena kejujuran dan kesabarannya, ﴾ إِلَّا مَنِ ٱغۡتَرَفَ غُرۡفَةَۢ بِيَدِهِۦۚ ﴿ "kecuali menceduk seceduk tangan," maka hal itu dapat ditoleransi. Ketika mereka sampai di sungai tersebut dan saat itu mereka sangat membutuhkan air, maka seluruhnya minum dari sungai itu, ﴾ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنۡهُمۡۚ ﴿ "kecuali beberapa orang di antara mereka," karena mereka ber-sabar dan tidak minum. ﴾ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ قَالُواْ ﴿ "Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata," yaitu orang-orang yang penakut (pengecut), atau (menurut pendapat lain), orang-orang yang me-nyeberangi sungai ﴾ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلۡيَوۡمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦۚ ﴿ "tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Apabila yang berkata itu adalah orang-orang yang penakut tersebut, maka per-kataan ini adalah merupakan sebuah pembenaran akan ketakutan mereka, namun apabila orang-orang yang berkata itu adalah me-reka yang menyeberang bersama Thalut, maka sesungguhnya telah timbul sebuah bentuk kelemahan dalam jiwa-jiwa mereka. Akan tetapi orang-orang yang keimanannya sempurna mendorong semangat dan menguatkan mereka untuk terus maju berperang, di mana mereka berkata, ﴾ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalah-kan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar," dengan pertolongan, dukungan, dan bantuan-Nya hingga mereka tegar dan bersabar dalam memerangi musuh mereka, Jalut beserta bala tentaranya. (251) ﴾ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud membunuh", shalawat dan salam atasnya, ﴾ جَالُوتَ ﴿ "Jalut." Dengan demikian mereka mem-peroleh kemenangan dan pembelaan atas musuh-musuh mereka, ﴾ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ﴿ "kemudian Allah memberikan kepadanya", yakni kepada Dawud, ﴾ ٱلۡمُلۡكَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "pemerintahan dan hikmah" kenabian dan pengetahuan yang berguna dan Allah memberikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. Kemudian Allah تعالى menjelaskan tentang manfaat berjihad seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Sean-dainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini," dengan dikuasai oleh orang-orang kafir lagi jahat serta pelaku keburukan dan kerusakan. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam," di mana Allah bersikap lemah lembut terhadap kaum Mukminin, membela mereka dan Agama mereka dengan apa yang disyariatkanNya dan ditakdirkanNya, dan ketika Allah menerangkan tentang kisah ini, maka Allah ber-firman kepada RasulNya ﷺ; (252) ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Itu ada-lah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." Dan di antara sederet tanda-tanda kerasulan beliau adalah adanya kisah ini, di mana Allah mengabarkan kepada beliau tentang kisah ini sebagai wahyu untuk beliau dari Allah yang persis sesuai dengan kenyataannya. Dalam cerita ini banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh umat ini. Di antaranya:(1). Keutamaan berjihad di jalan Allah, manfaat-manfaatnya dan akibat-akibatnya yang indah, dan bahwa jihad itu adalah satu-satunya sebab (yang paling efektif) dalam memelihara Agama, menjaga negeri, tubuh dan harta, dan bahwasanya para mujahidin walaupun urusan itu sangat berat buat mereka akan tetapi hasil yang mereka akan dapatkan adalah terpuji, sebagaimana juga bagi orang-orang yang meninggalkan jihad walaupun mereka dapat beristirahat sekejap, namun mereka akan lelah dalam masa yang panjang. (2). Memberikan kekuasaan kepada orang yang kapabel dan mampu, dan bahwasanya kemampuan itu kembali kepada dua perkara: Pertama, pengetahuan, artinya memahami siasat dan meng-organisir, dan kedua, kekuatan, artinya dengannya kebenaran di-tegakkan dan bahwa seorang yang terkumpul pada dirinya kedua perkara itu, maka dialah yang lebih berhak untuk memimpin dari-pada selainnya. (3). Menjadikan cerita ini sebagai dalil atas apa yang dikatakan oleh para ulama bahwa seyogyanya seorang pemimpin pasukan mengadakan peninjauan ketika menetapkannya, yaitu dia melarang orang yang tidak pantas untuk berperang dari personil tentaranya, kudanya, penunggang-penunggangnya karena kelemahannya, kesabarannya yang sedikit, peremehannya, takut akan memuda-ratkan kesehatannya, karena bagian yang ini adalah bahaya yang jelas bagi manusia. (4). Bahwasanya ketika terjadi suatu peperangan, seyogyanya ada pengobaran semangat kaum Muslimin, penguatan jiwa mereka dan anjuran kepada mereka untuk menguatkan keimanan, ber-tawakal penuh dan bersandar hanya kepadaNya, serta memohon kepadaNya ketetapan hati, bimbingan kepada kesabaran, dan pembelaan atas musuh. (5). Bahwasanya tekad untuk berperang dan berjihad bukanlah merupakan hakikatnya, karena terkadang seseorang itu bertekad untuk berjihad akan tetapi ketika telah tiba masanya, tekadnya melemah. Oleh karena itu di antara doa Nabi ﷺ, أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ. "Aku memohon kepadaMu (ya Allah) ketetapan (keteguhan) dalam Agama dan kebulatan tekad dalam petunjuk."[27] Mereka itulah yang bertekad untuk berjihad dan mereka berkata dengan perkataan yang menunjukkan atas sebuah tekad yang kuat, dan ketika hadir masanya, sebagian besar dari mereka akhirnya lemah kembali. Ini serupa dengan sabda Nabi ﷺ, وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ. "Dan aku memohon kepadaMu (ya Allah) keridhaan setelah terjadi-nya Qadha` (ketetapan)."[28] Karena keridhaan setelah terjadinya suatu ketetapan Allah yang dibenci oleh jiwa merupakan keridhaan yang hakiki.

Al-Baqarah 2:248

"Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, 'Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.' Nabi mereka menjawab, 'Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.' Mereka menjawab, 'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami.' Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zhalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya Allah telah mengang-kat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab, 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?' Nabi (mereka) berkata, 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.' Allah memberikan pemerin-tahan kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Mahaluas pemberianNya lagi Maha Mengetahui. Dan Nabi mereka juga mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat keterangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguh-nya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.' Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya, ia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.' Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman ber-sama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, 'Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.' Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, 'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.' Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa, 'Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.' Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendakiNya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan seba-gian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan se-sungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." (Al-Baqarah: 246-252). (246-247) Allah تعالى menceritakan kisah ini kepada umat ini agar mereka mengambil pelajaran darinya dan agar mereka suka berjihad serta tidak takut darinya, karena orang-orang yang sabar akan mendapatkan hasil yang baik dan terpuji di dunia dan di akhirat, sedangkan orang-orang yang lari darinya akan merugi di dunia dan akhirat. Allah تعالى mengabarkan bahwasanya para cendikiawan dari Bani Israil dan tokoh-tokoh mereka menghendaki berjihad, lalu mereka sepakat untuk meminta kepada nabi mereka seorang raja yang menolong mereka agar perselisihan terhenti dengan pemilihannya dan terwujud, ketaatan yang total, hingga tidak ada lagi perdebatan dari orang-orang, namun Nabi mereka khawatir permintaan mereka itu hanyalah sebatas perkataan saja yang tidak ada pelaksanaannya, namun mereka menyikapi dugaan Nabi mereka itu dengan memperlihatkan tekad yang kuat dan mereka akan konsisten akan hal itu dengan sebenar-benarnya, dan bahwasanya peperangan itu sudah menjadi suatu kepastian untuk mereka karena menjadi sebuah jalan mengembalikan negeri mereka serta kembalinya mereka kepada tempat dan kediaman mereka. Nabi mereka telah menetapkan Thalut sebagai raja yang me-mimpin mereka dalam suatu perkara yang memang harus memiliki pemimpin yang ahli dalam kepemimpinan. Namun mereka mem-permasalahkan ketetapan Nabi mereka untuk memilih Thalut sebagai raja mereka, padahal ada orang yang lebih baik rumahnya dan lebih banyak hartanya darinya. Nabi mereka menjawab bahwa sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk kalian, karena Dia telah mengaruniakan kepadanya kekuatan ilmu tentang siasat (perang) dan kekuatan tubuh, yang mana kedua hal itu merupakan sarana keberanian, kemenangan, dan keahlian dalam mengatur peperangan, dan bahwasanya raja itu tidaklah dengan banyaknya harta, dan tidak juga orang yang menjadi raja itu harus merupakan raja dan pemimpin pula dalam daerah-daerah mereka, karena Allah memberikan kerajaanNya kepada siapa yang dikehendakiNya. Kemudian Nabi mereka tidaklah cukup sampai di situ mene-nangkan mereka dengan apa yang telah Dia sebutkan dari kemam-puan Thalut dan adanya sifat-sifat yang dibutuhkan dalam masalah itu, hingga Dia berkata kembali kepada mereka, (248) ﴾ إِنَّ ءَايَةَ مُلۡكِهِۦٓ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَبَقِيَّةٞ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tanda dia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun." Ketika itu Tabut tersebut telah dikuasai oleh musuh. Mereka tidak-lah cukup dengan sifat-sifat moralitas pada diri Thalut, dan tidak pula dengan penentuan Allah baginya lewat lisan Nabi mereka, hingga ditopang dengan mukzijat tersebut. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman," maka di saat itulah mereka tunduk dan patuh. Ketika Thalut telah memimpin, melatih, mengatur, dan memilah-milah mereka untuk memerangi musuh mereka, ia melihat kelemahan tekad dan sema-ngat pada mereka hingga membutuhkan pemisahan antara yang sabar dan yang takut, maka dia berkata sebagaimana yang diabadi-kan dalam Firman Allah, (249-250) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مُبۡتَلِيكُم بِنَهَرٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai," kalian akan melewatinya saat kalian sangat membutuhkan air, ﴾ فَمَن شَرِبَ مِنۡهُ فَلَيۡسَ مِنِّي ﴿ "maka siapa di antara kamu meminum airnya; dia bukanlah pengikutku," maksudnya ia tidak taat kepadaku, karena hal itu adalah bukti yang jelas ten-tang ketidaksabarannya dan memuncaknya ketakutannya, ﴾ وَمَن لَّمۡ يَطۡعَمۡهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّيٓ ﴿ "dan barangsiapa tiada meminumnya, maka dia adalah pe-ngikutku", karena kejujuran dan kesabarannya, ﴾ إِلَّا مَنِ ٱغۡتَرَفَ غُرۡفَةَۢ بِيَدِهِۦۚ ﴿ "kecuali menceduk seceduk tangan," maka hal itu dapat ditoleransi. Ketika mereka sampai di sungai tersebut dan saat itu mereka sangat membutuhkan air, maka seluruhnya minum dari sungai itu, ﴾ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنۡهُمۡۚ ﴿ "kecuali beberapa orang di antara mereka," karena mereka ber-sabar dan tidak minum. ﴾ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ قَالُواْ ﴿ "Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata," yaitu orang-orang yang penakut (pengecut), atau (menurut pendapat lain), orang-orang yang me-nyeberangi sungai ﴾ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلۡيَوۡمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦۚ ﴿ "tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Apabila yang berkata itu adalah orang-orang yang penakut tersebut, maka per-kataan ini adalah merupakan sebuah pembenaran akan ketakutan mereka, namun apabila orang-orang yang berkata itu adalah me-reka yang menyeberang bersama Thalut, maka sesungguhnya telah timbul sebuah bentuk kelemahan dalam jiwa-jiwa mereka. Akan tetapi orang-orang yang keimanannya sempurna mendorong semangat dan menguatkan mereka untuk terus maju berperang, di mana mereka berkata, ﴾ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalah-kan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar," dengan pertolongan, dukungan, dan bantuan-Nya hingga mereka tegar dan bersabar dalam memerangi musuh mereka, Jalut beserta bala tentaranya. (251) ﴾ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud membunuh", shalawat dan salam atasnya, ﴾ جَالُوتَ ﴿ "Jalut." Dengan demikian mereka mem-peroleh kemenangan dan pembelaan atas musuh-musuh mereka, ﴾ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ﴿ "kemudian Allah memberikan kepadanya", yakni kepada Dawud, ﴾ ٱلۡمُلۡكَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "pemerintahan dan hikmah" kenabian dan pengetahuan yang berguna dan Allah memberikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. Kemudian Allah تعالى menjelaskan tentang manfaat berjihad seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Sean-dainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini," dengan dikuasai oleh orang-orang kafir lagi jahat serta pelaku keburukan dan kerusakan. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam," di mana Allah bersikap lemah lembut terhadap kaum Mukminin, membela mereka dan Agama mereka dengan apa yang disyariatkanNya dan ditakdirkanNya, dan ketika Allah menerangkan tentang kisah ini, maka Allah ber-firman kepada RasulNya ﷺ; (252) ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Itu ada-lah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." Dan di antara sederet tanda-tanda kerasulan beliau adalah adanya kisah ini, di mana Allah mengabarkan kepada beliau tentang kisah ini sebagai wahyu untuk beliau dari Allah yang persis sesuai dengan kenyataannya. Dalam cerita ini banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh umat ini. Di antaranya:(1). Keutamaan berjihad di jalan Allah, manfaat-manfaatnya dan akibat-akibatnya yang indah, dan bahwa jihad itu adalah satu-satunya sebab (yang paling efektif) dalam memelihara Agama, menjaga negeri, tubuh dan harta, dan bahwasanya para mujahidin walaupun urusan itu sangat berat buat mereka akan tetapi hasil yang mereka akan dapatkan adalah terpuji, sebagaimana juga bagi orang-orang yang meninggalkan jihad walaupun mereka dapat beristirahat sekejap, namun mereka akan lelah dalam masa yang panjang. (2). Memberikan kekuasaan kepada orang yang kapabel dan mampu, dan bahwasanya kemampuan itu kembali kepada dua perkara: Pertama, pengetahuan, artinya memahami siasat dan meng-organisir, dan kedua, kekuatan, artinya dengannya kebenaran di-tegakkan dan bahwa seorang yang terkumpul pada dirinya kedua perkara itu, maka dialah yang lebih berhak untuk memimpin dari-pada selainnya. (3). Menjadikan cerita ini sebagai dalil atas apa yang dikatakan oleh para ulama bahwa seyogyanya seorang pemimpin pasukan mengadakan peninjauan ketika menetapkannya, yaitu dia melarang orang yang tidak pantas untuk berperang dari personil tentaranya, kudanya, penunggang-penunggangnya karena kelemahannya, kesabarannya yang sedikit, peremehannya, takut akan memuda-ratkan kesehatannya, karena bagian yang ini adalah bahaya yang jelas bagi manusia. (4). Bahwasanya ketika terjadi suatu peperangan, seyogyanya ada pengobaran semangat kaum Muslimin, penguatan jiwa mereka dan anjuran kepada mereka untuk menguatkan keimanan, ber-tawakal penuh dan bersandar hanya kepadaNya, serta memohon kepadaNya ketetapan hati, bimbingan kepada kesabaran, dan pembelaan atas musuh. (5). Bahwasanya tekad untuk berperang dan berjihad bukanlah merupakan hakikatnya, karena terkadang seseorang itu bertekad untuk berjihad akan tetapi ketika telah tiba masanya, tekadnya melemah. Oleh karena itu di antara doa Nabi ﷺ, أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ. "Aku memohon kepadaMu (ya Allah) ketetapan (keteguhan) dalam Agama dan kebulatan tekad dalam petunjuk."[27] Mereka itulah yang bertekad untuk berjihad dan mereka berkata dengan perkataan yang menunjukkan atas sebuah tekad yang kuat, dan ketika hadir masanya, sebagian besar dari mereka akhirnya lemah kembali. Ini serupa dengan sabda Nabi ﷺ, وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ. "Dan aku memohon kepadaMu (ya Allah) keridhaan setelah terjadi-nya Qadha` (ketetapan)."[28] Karena keridhaan setelah terjadinya suatu ketetapan Allah yang dibenci oleh jiwa merupakan keridhaan yang hakiki.

Al-Baqarah 2:249

"Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, 'Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.' Nabi mereka menjawab, 'Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.' Mereka menjawab, 'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami.' Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zhalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya Allah telah mengang-kat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab, 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?' Nabi (mereka) berkata, 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.' Allah memberikan pemerin-tahan kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Mahaluas pemberianNya lagi Maha Mengetahui. Dan Nabi mereka juga mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat keterangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguh-nya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.' Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya, ia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.' Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman ber-sama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, 'Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.' Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, 'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.' Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa, 'Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.' Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendakiNya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan seba-gian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan se-sungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." (Al-Baqarah: 246-252). (246-247) Allah تعالى menceritakan kisah ini kepada umat ini agar mereka mengambil pelajaran darinya dan agar mereka suka berjihad serta tidak takut darinya, karena orang-orang yang sabar akan mendapatkan hasil yang baik dan terpuji di dunia dan di akhirat, sedangkan orang-orang yang lari darinya akan merugi di dunia dan akhirat. Allah تعالى mengabarkan bahwasanya para cendikiawan dari Bani Israil dan tokoh-tokoh mereka menghendaki berjihad, lalu mereka sepakat untuk meminta kepada nabi mereka seorang raja yang menolong mereka agar perselisihan terhenti dengan pemilihannya dan terwujud, ketaatan yang total, hingga tidak ada lagi perdebatan dari orang-orang, namun Nabi mereka khawatir permintaan mereka itu hanyalah sebatas perkataan saja yang tidak ada pelaksanaannya, namun mereka menyikapi dugaan Nabi mereka itu dengan memperlihatkan tekad yang kuat dan mereka akan konsisten akan hal itu dengan sebenar-benarnya, dan bahwasanya peperangan itu sudah menjadi suatu kepastian untuk mereka karena menjadi sebuah jalan mengembalikan negeri mereka serta kembalinya mereka kepada tempat dan kediaman mereka. Nabi mereka telah menetapkan Thalut sebagai raja yang me-mimpin mereka dalam suatu perkara yang memang harus memiliki pemimpin yang ahli dalam kepemimpinan. Namun mereka mem-permasalahkan ketetapan Nabi mereka untuk memilih Thalut sebagai raja mereka, padahal ada orang yang lebih baik rumahnya dan lebih banyak hartanya darinya. Nabi mereka menjawab bahwa sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk kalian, karena Dia telah mengaruniakan kepadanya kekuatan ilmu tentang siasat (perang) dan kekuatan tubuh, yang mana kedua hal itu merupakan sarana keberanian, kemenangan, dan keahlian dalam mengatur peperangan, dan bahwasanya raja itu tidaklah dengan banyaknya harta, dan tidak juga orang yang menjadi raja itu harus merupakan raja dan pemimpin pula dalam daerah-daerah mereka, karena Allah memberikan kerajaanNya kepada siapa yang dikehendakiNya. Kemudian Nabi mereka tidaklah cukup sampai di situ mene-nangkan mereka dengan apa yang telah Dia sebutkan dari kemam-puan Thalut dan adanya sifat-sifat yang dibutuhkan dalam masalah itu, hingga Dia berkata kembali kepada mereka, (248) ﴾ إِنَّ ءَايَةَ مُلۡكِهِۦٓ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَبَقِيَّةٞ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tanda dia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun." Ketika itu Tabut tersebut telah dikuasai oleh musuh. Mereka tidak-lah cukup dengan sifat-sifat moralitas pada diri Thalut, dan tidak pula dengan penentuan Allah baginya lewat lisan Nabi mereka, hingga ditopang dengan mukzijat tersebut. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman," maka di saat itulah mereka tunduk dan patuh. Ketika Thalut telah memimpin, melatih, mengatur, dan memilah-milah mereka untuk memerangi musuh mereka, ia melihat kelemahan tekad dan sema-ngat pada mereka hingga membutuhkan pemisahan antara yang sabar dan yang takut, maka dia berkata sebagaimana yang diabadi-kan dalam Firman Allah, (249-250) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مُبۡتَلِيكُم بِنَهَرٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai," kalian akan melewatinya saat kalian sangat membutuhkan air, ﴾ فَمَن شَرِبَ مِنۡهُ فَلَيۡسَ مِنِّي ﴿ "maka siapa di antara kamu meminum airnya; dia bukanlah pengikutku," maksudnya ia tidak taat kepadaku, karena hal itu adalah bukti yang jelas ten-tang ketidaksabarannya dan memuncaknya ketakutannya, ﴾ وَمَن لَّمۡ يَطۡعَمۡهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّيٓ ﴿ "dan barangsiapa tiada meminumnya, maka dia adalah pe-ngikutku", karena kejujuran dan kesabarannya, ﴾ إِلَّا مَنِ ٱغۡتَرَفَ غُرۡفَةَۢ بِيَدِهِۦۚ ﴿ "kecuali menceduk seceduk tangan," maka hal itu dapat ditoleransi. Ketika mereka sampai di sungai tersebut dan saat itu mereka sangat membutuhkan air, maka seluruhnya minum dari sungai itu, ﴾ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنۡهُمۡۚ ﴿ "kecuali beberapa orang di antara mereka," karena mereka ber-sabar dan tidak minum. ﴾ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ قَالُواْ ﴿ "Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata," yaitu orang-orang yang penakut (pengecut), atau (menurut pendapat lain), orang-orang yang me-nyeberangi sungai ﴾ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلۡيَوۡمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦۚ ﴿ "tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Apabila yang berkata itu adalah orang-orang yang penakut tersebut, maka per-kataan ini adalah merupakan sebuah pembenaran akan ketakutan mereka, namun apabila orang-orang yang berkata itu adalah me-reka yang menyeberang bersama Thalut, maka sesungguhnya telah timbul sebuah bentuk kelemahan dalam jiwa-jiwa mereka. Akan tetapi orang-orang yang keimanannya sempurna mendorong semangat dan menguatkan mereka untuk terus maju berperang, di mana mereka berkata, ﴾ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalah-kan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar," dengan pertolongan, dukungan, dan bantuan-Nya hingga mereka tegar dan bersabar dalam memerangi musuh mereka, Jalut beserta bala tentaranya. (251) ﴾ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud membunuh", shalawat dan salam atasnya, ﴾ جَالُوتَ ﴿ "Jalut." Dengan demikian mereka mem-peroleh kemenangan dan pembelaan atas musuh-musuh mereka, ﴾ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ﴿ "kemudian Allah memberikan kepadanya", yakni kepada Dawud, ﴾ ٱلۡمُلۡكَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "pemerintahan dan hikmah" kenabian dan pengetahuan yang berguna dan Allah memberikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. Kemudian Allah تعالى menjelaskan tentang manfaat berjihad seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Sean-dainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini," dengan dikuasai oleh orang-orang kafir lagi jahat serta pelaku keburukan dan kerusakan. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam," di mana Allah bersikap lemah lembut terhadap kaum Mukminin, membela mereka dan Agama mereka dengan apa yang disyariatkanNya dan ditakdirkanNya, dan ketika Allah menerangkan tentang kisah ini, maka Allah ber-firman kepada RasulNya ﷺ; (252) ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Itu ada-lah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." Dan di antara sederet tanda-tanda kerasulan beliau adalah adanya kisah ini, di mana Allah mengabarkan kepada beliau tentang kisah ini sebagai wahyu untuk beliau dari Allah yang persis sesuai dengan kenyataannya. Dalam cerita ini banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh umat ini. Di antaranya:(1). Keutamaan berjihad di jalan Allah, manfaat-manfaatnya dan akibat-akibatnya yang indah, dan bahwa jihad itu adalah satu-satunya sebab (yang paling efektif) dalam memelihara Agama, menjaga negeri, tubuh dan harta, dan bahwasanya para mujahidin walaupun urusan itu sangat berat buat mereka akan tetapi hasil yang mereka akan dapatkan adalah terpuji, sebagaimana juga bagi orang-orang yang meninggalkan jihad walaupun mereka dapat beristirahat sekejap, namun mereka akan lelah dalam masa yang panjang. (2). Memberikan kekuasaan kepada orang yang kapabel dan mampu, dan bahwasanya kemampuan itu kembali kepada dua perkara: Pertama, pengetahuan, artinya memahami siasat dan meng-organisir, dan kedua, kekuatan, artinya dengannya kebenaran di-tegakkan dan bahwa seorang yang terkumpul pada dirinya kedua perkara itu, maka dialah yang lebih berhak untuk memimpin dari-pada selainnya. (3). Menjadikan cerita ini sebagai dalil atas apa yang dikatakan oleh para ulama bahwa seyogyanya seorang pemimpin pasukan mengadakan peninjauan ketika menetapkannya, yaitu dia melarang orang yang tidak pantas untuk berperang dari personil tentaranya, kudanya, penunggang-penunggangnya karena kelemahannya, kesabarannya yang sedikit, peremehannya, takut akan memuda-ratkan kesehatannya, karena bagian yang ini adalah bahaya yang jelas bagi manusia. (4). Bahwasanya ketika terjadi suatu peperangan, seyogyanya ada pengobaran semangat kaum Muslimin, penguatan jiwa mereka dan anjuran kepada mereka untuk menguatkan keimanan, ber-tawakal penuh dan bersandar hanya kepadaNya, serta memohon kepadaNya ketetapan hati, bimbingan kepada kesabaran, dan pembelaan atas musuh. (5). Bahwasanya tekad untuk berperang dan berjihad bukanlah merupakan hakikatnya, karena terkadang seseorang itu bertekad untuk berjihad akan tetapi ketika telah tiba masanya, tekadnya melemah. Oleh karena itu di antara doa Nabi ﷺ, أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ. "Aku memohon kepadaMu (ya Allah) ketetapan (keteguhan) dalam Agama dan kebulatan tekad dalam petunjuk."[27] Mereka itulah yang bertekad untuk berjihad dan mereka berkata dengan perkataan yang menunjukkan atas sebuah tekad yang kuat, dan ketika hadir masanya, sebagian besar dari mereka akhirnya lemah kembali. Ini serupa dengan sabda Nabi ﷺ, وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ. "Dan aku memohon kepadaMu (ya Allah) keridhaan setelah terjadi-nya Qadha` (ketetapan)."[28] Karena keridhaan setelah terjadinya suatu ketetapan Allah yang dibenci oleh jiwa merupakan keridhaan yang hakiki.

Al-Baqarah 2:250

"Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, 'Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.' Nabi mereka menjawab, 'Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.' Mereka menjawab, 'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami.' Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zhalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya Allah telah mengang-kat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab, 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?' Nabi (mereka) berkata, 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.' Allah memberikan pemerin-tahan kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Mahaluas pemberianNya lagi Maha Mengetahui. Dan Nabi mereka juga mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat keterangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguh-nya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.' Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya, ia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.' Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman ber-sama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, 'Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.' Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, 'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.' Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa, 'Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.' Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendakiNya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan seba-gian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan se-sungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." (Al-Baqarah: 246-252). (246-247) Allah تعالى menceritakan kisah ini kepada umat ini agar mereka mengambil pelajaran darinya dan agar mereka suka berjihad serta tidak takut darinya, karena orang-orang yang sabar akan mendapatkan hasil yang baik dan terpuji di dunia dan di akhirat, sedangkan orang-orang yang lari darinya akan merugi di dunia dan akhirat. Allah تعالى mengabarkan bahwasanya para cendikiawan dari Bani Israil dan tokoh-tokoh mereka menghendaki berjihad, lalu mereka sepakat untuk meminta kepada nabi mereka seorang raja yang menolong mereka agar perselisihan terhenti dengan pemilihannya dan terwujud, ketaatan yang total, hingga tidak ada lagi perdebatan dari orang-orang, namun Nabi mereka khawatir permintaan mereka itu hanyalah sebatas perkataan saja yang tidak ada pelaksanaannya, namun mereka menyikapi dugaan Nabi mereka itu dengan memperlihatkan tekad yang kuat dan mereka akan konsisten akan hal itu dengan sebenar-benarnya, dan bahwasanya peperangan itu sudah menjadi suatu kepastian untuk mereka karena menjadi sebuah jalan mengembalikan negeri mereka serta kembalinya mereka kepada tempat dan kediaman mereka. Nabi mereka telah menetapkan Thalut sebagai raja yang me-mimpin mereka dalam suatu perkara yang memang harus memiliki pemimpin yang ahli dalam kepemimpinan. Namun mereka mem-permasalahkan ketetapan Nabi mereka untuk memilih Thalut sebagai raja mereka, padahal ada orang yang lebih baik rumahnya dan lebih banyak hartanya darinya. Nabi mereka menjawab bahwa sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk kalian, karena Dia telah mengaruniakan kepadanya kekuatan ilmu tentang siasat (perang) dan kekuatan tubuh, yang mana kedua hal itu merupakan sarana keberanian, kemenangan, dan keahlian dalam mengatur peperangan, dan bahwasanya raja itu tidaklah dengan banyaknya harta, dan tidak juga orang yang menjadi raja itu harus merupakan raja dan pemimpin pula dalam daerah-daerah mereka, karena Allah memberikan kerajaanNya kepada siapa yang dikehendakiNya. Kemudian Nabi mereka tidaklah cukup sampai di situ mene-nangkan mereka dengan apa yang telah Dia sebutkan dari kemam-puan Thalut dan adanya sifat-sifat yang dibutuhkan dalam masalah itu, hingga Dia berkata kembali kepada mereka, (248) ﴾ إِنَّ ءَايَةَ مُلۡكِهِۦٓ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَبَقِيَّةٞ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tanda dia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun." Ketika itu Tabut tersebut telah dikuasai oleh musuh. Mereka tidak-lah cukup dengan sifat-sifat moralitas pada diri Thalut, dan tidak pula dengan penentuan Allah baginya lewat lisan Nabi mereka, hingga ditopang dengan mukzijat tersebut. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman," maka di saat itulah mereka tunduk dan patuh. Ketika Thalut telah memimpin, melatih, mengatur, dan memilah-milah mereka untuk memerangi musuh mereka, ia melihat kelemahan tekad dan sema-ngat pada mereka hingga membutuhkan pemisahan antara yang sabar dan yang takut, maka dia berkata sebagaimana yang diabadi-kan dalam Firman Allah, (249-250) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مُبۡتَلِيكُم بِنَهَرٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai," kalian akan melewatinya saat kalian sangat membutuhkan air, ﴾ فَمَن شَرِبَ مِنۡهُ فَلَيۡسَ مِنِّي ﴿ "maka siapa di antara kamu meminum airnya; dia bukanlah pengikutku," maksudnya ia tidak taat kepadaku, karena hal itu adalah bukti yang jelas ten-tang ketidaksabarannya dan memuncaknya ketakutannya, ﴾ وَمَن لَّمۡ يَطۡعَمۡهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّيٓ ﴿ "dan barangsiapa tiada meminumnya, maka dia adalah pe-ngikutku", karena kejujuran dan kesabarannya, ﴾ إِلَّا مَنِ ٱغۡتَرَفَ غُرۡفَةَۢ بِيَدِهِۦۚ ﴿ "kecuali menceduk seceduk tangan," maka hal itu dapat ditoleransi. Ketika mereka sampai di sungai tersebut dan saat itu mereka sangat membutuhkan air, maka seluruhnya minum dari sungai itu, ﴾ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنۡهُمۡۚ ﴿ "kecuali beberapa orang di antara mereka," karena mereka ber-sabar dan tidak minum. ﴾ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ قَالُواْ ﴿ "Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata," yaitu orang-orang yang penakut (pengecut), atau (menurut pendapat lain), orang-orang yang me-nyeberangi sungai ﴾ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلۡيَوۡمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦۚ ﴿ "tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Apabila yang berkata itu adalah orang-orang yang penakut tersebut, maka per-kataan ini adalah merupakan sebuah pembenaran akan ketakutan mereka, namun apabila orang-orang yang berkata itu adalah me-reka yang menyeberang bersama Thalut, maka sesungguhnya telah timbul sebuah bentuk kelemahan dalam jiwa-jiwa mereka. Akan tetapi orang-orang yang keimanannya sempurna mendorong semangat dan menguatkan mereka untuk terus maju berperang, di mana mereka berkata, ﴾ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalah-kan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar," dengan pertolongan, dukungan, dan bantuan-Nya hingga mereka tegar dan bersabar dalam memerangi musuh mereka, Jalut beserta bala tentaranya. (251) ﴾ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud membunuh", shalawat dan salam atasnya, ﴾ جَالُوتَ ﴿ "Jalut." Dengan demikian mereka mem-peroleh kemenangan dan pembelaan atas musuh-musuh mereka, ﴾ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ﴿ "kemudian Allah memberikan kepadanya", yakni kepada Dawud, ﴾ ٱلۡمُلۡكَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "pemerintahan dan hikmah" kenabian dan pengetahuan yang berguna dan Allah memberikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. Kemudian Allah تعالى menjelaskan tentang manfaat berjihad seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Sean-dainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini," dengan dikuasai oleh orang-orang kafir lagi jahat serta pelaku keburukan dan kerusakan. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam," di mana Allah bersikap lemah lembut terhadap kaum Mukminin, membela mereka dan Agama mereka dengan apa yang disyariatkanNya dan ditakdirkanNya, dan ketika Allah menerangkan tentang kisah ini, maka Allah ber-firman kepada RasulNya ﷺ; (252) ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Itu ada-lah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." Dan di antara sederet tanda-tanda kerasulan beliau adalah adanya kisah ini, di mana Allah mengabarkan kepada beliau tentang kisah ini sebagai wahyu untuk beliau dari Allah yang persis sesuai dengan kenyataannya. Dalam cerita ini banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh umat ini. Di antaranya:(1). Keutamaan berjihad di jalan Allah, manfaat-manfaatnya dan akibat-akibatnya yang indah, dan bahwa jihad itu adalah satu-satunya sebab (yang paling efektif) dalam memelihara Agama, menjaga negeri, tubuh dan harta, dan bahwasanya para mujahidin walaupun urusan itu sangat berat buat mereka akan tetapi hasil yang mereka akan dapatkan adalah terpuji, sebagaimana juga bagi orang-orang yang meninggalkan jihad walaupun mereka dapat beristirahat sekejap, namun mereka akan lelah dalam masa yang panjang. (2). Memberikan kekuasaan kepada orang yang kapabel dan mampu, dan bahwasanya kemampuan itu kembali kepada dua perkara: Pertama, pengetahuan, artinya memahami siasat dan meng-organisir, dan kedua, kekuatan, artinya dengannya kebenaran di-tegakkan dan bahwa seorang yang terkumpul pada dirinya kedua perkara itu, maka dialah yang lebih berhak untuk memimpin dari-pada selainnya. (3). Menjadikan cerita ini sebagai dalil atas apa yang dikatakan oleh para ulama bahwa seyogyanya seorang pemimpin pasukan mengadakan peninjauan ketika menetapkannya, yaitu dia melarang orang yang tidak pantas untuk berperang dari personil tentaranya, kudanya, penunggang-penunggangnya karena kelemahannya, kesabarannya yang sedikit, peremehannya, takut akan memuda-ratkan kesehatannya, karena bagian yang ini adalah bahaya yang jelas bagi manusia. (4). Bahwasanya ketika terjadi suatu peperangan, seyogyanya ada pengobaran semangat kaum Muslimin, penguatan jiwa mereka dan anjuran kepada mereka untuk menguatkan keimanan, ber-tawakal penuh dan bersandar hanya kepadaNya, serta memohon kepadaNya ketetapan hati, bimbingan kepada kesabaran, dan pembelaan atas musuh. (5). Bahwasanya tekad untuk berperang dan berjihad bukanlah merupakan hakikatnya, karena terkadang seseorang itu bertekad untuk berjihad akan tetapi ketika telah tiba masanya, tekadnya melemah. Oleh karena itu di antara doa Nabi ﷺ, أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ. "Aku memohon kepadaMu (ya Allah) ketetapan (keteguhan) dalam Agama dan kebulatan tekad dalam petunjuk."[27] Mereka itulah yang bertekad untuk berjihad dan mereka berkata dengan perkataan yang menunjukkan atas sebuah tekad yang kuat, dan ketika hadir masanya, sebagian besar dari mereka akhirnya lemah kembali. Ini serupa dengan sabda Nabi ﷺ, وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ. "Dan aku memohon kepadaMu (ya Allah) keridhaan setelah terjadi-nya Qadha` (ketetapan)."[28] Karena keridhaan setelah terjadinya suatu ketetapan Allah yang dibenci oleh jiwa merupakan keridhaan yang hakiki.

Al-Baqarah 2:251

"Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, 'Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.' Nabi mereka menjawab, 'Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.' Mereka menjawab, 'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami.' Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zhalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya Allah telah mengang-kat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab, 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?' Nabi (mereka) berkata, 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.' Allah memberikan pemerin-tahan kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Mahaluas pemberianNya lagi Maha Mengetahui. Dan Nabi mereka juga mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat keterangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguh-nya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.' Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya, ia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.' Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman ber-sama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, 'Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.' Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, 'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.' Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa, 'Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.' Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendakiNya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan seba-gian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan se-sungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." (Al-Baqarah: 246-252). (246-247) Allah تعالى menceritakan kisah ini kepada umat ini agar mereka mengambil pelajaran darinya dan agar mereka suka berjihad serta tidak takut darinya, karena orang-orang yang sabar akan mendapatkan hasil yang baik dan terpuji di dunia dan di akhirat, sedangkan orang-orang yang lari darinya akan merugi di dunia dan akhirat. Allah تعالى mengabarkan bahwasanya para cendikiawan dari Bani Israil dan tokoh-tokoh mereka menghendaki berjihad, lalu mereka sepakat untuk meminta kepada nabi mereka seorang raja yang menolong mereka agar perselisihan terhenti dengan pemilihannya dan terwujud, ketaatan yang total, hingga tidak ada lagi perdebatan dari orang-orang, namun Nabi mereka khawatir permintaan mereka itu hanyalah sebatas perkataan saja yang tidak ada pelaksanaannya, namun mereka menyikapi dugaan Nabi mereka itu dengan memperlihatkan tekad yang kuat dan mereka akan konsisten akan hal itu dengan sebenar-benarnya, dan bahwasanya peperangan itu sudah menjadi suatu kepastian untuk mereka karena menjadi sebuah jalan mengembalikan negeri mereka serta kembalinya mereka kepada tempat dan kediaman mereka. Nabi mereka telah menetapkan Thalut sebagai raja yang me-mimpin mereka dalam suatu perkara yang memang harus memiliki pemimpin yang ahli dalam kepemimpinan. Namun mereka mem-permasalahkan ketetapan Nabi mereka untuk memilih Thalut sebagai raja mereka, padahal ada orang yang lebih baik rumahnya dan lebih banyak hartanya darinya. Nabi mereka menjawab bahwa sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk kalian, karena Dia telah mengaruniakan kepadanya kekuatan ilmu tentang siasat (perang) dan kekuatan tubuh, yang mana kedua hal itu merupakan sarana keberanian, kemenangan, dan keahlian dalam mengatur peperangan, dan bahwasanya raja itu tidaklah dengan banyaknya harta, dan tidak juga orang yang menjadi raja itu harus merupakan raja dan pemimpin pula dalam daerah-daerah mereka, karena Allah memberikan kerajaanNya kepada siapa yang dikehendakiNya. Kemudian Nabi mereka tidaklah cukup sampai di situ mene-nangkan mereka dengan apa yang telah Dia sebutkan dari kemam-puan Thalut dan adanya sifat-sifat yang dibutuhkan dalam masalah itu, hingga Dia berkata kembali kepada mereka, (248) ﴾ إِنَّ ءَايَةَ مُلۡكِهِۦٓ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَبَقِيَّةٞ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tanda dia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun." Ketika itu Tabut tersebut telah dikuasai oleh musuh. Mereka tidak-lah cukup dengan sifat-sifat moralitas pada diri Thalut, dan tidak pula dengan penentuan Allah baginya lewat lisan Nabi mereka, hingga ditopang dengan mukzijat tersebut. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman," maka di saat itulah mereka tunduk dan patuh. Ketika Thalut telah memimpin, melatih, mengatur, dan memilah-milah mereka untuk memerangi musuh mereka, ia melihat kelemahan tekad dan sema-ngat pada mereka hingga membutuhkan pemisahan antara yang sabar dan yang takut, maka dia berkata sebagaimana yang diabadi-kan dalam Firman Allah, (249-250) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مُبۡتَلِيكُم بِنَهَرٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai," kalian akan melewatinya saat kalian sangat membutuhkan air, ﴾ فَمَن شَرِبَ مِنۡهُ فَلَيۡسَ مِنِّي ﴿ "maka siapa di antara kamu meminum airnya; dia bukanlah pengikutku," maksudnya ia tidak taat kepadaku, karena hal itu adalah bukti yang jelas ten-tang ketidaksabarannya dan memuncaknya ketakutannya, ﴾ وَمَن لَّمۡ يَطۡعَمۡهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّيٓ ﴿ "dan barangsiapa tiada meminumnya, maka dia adalah pe-ngikutku", karena kejujuran dan kesabarannya, ﴾ إِلَّا مَنِ ٱغۡتَرَفَ غُرۡفَةَۢ بِيَدِهِۦۚ ﴿ "kecuali menceduk seceduk tangan," maka hal itu dapat ditoleransi. Ketika mereka sampai di sungai tersebut dan saat itu mereka sangat membutuhkan air, maka seluruhnya minum dari sungai itu, ﴾ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنۡهُمۡۚ ﴿ "kecuali beberapa orang di antara mereka," karena mereka ber-sabar dan tidak minum. ﴾ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ قَالُواْ ﴿ "Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata," yaitu orang-orang yang penakut (pengecut), atau (menurut pendapat lain), orang-orang yang me-nyeberangi sungai ﴾ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلۡيَوۡمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦۚ ﴿ "tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Apabila yang berkata itu adalah orang-orang yang penakut tersebut, maka per-kataan ini adalah merupakan sebuah pembenaran akan ketakutan mereka, namun apabila orang-orang yang berkata itu adalah me-reka yang menyeberang bersama Thalut, maka sesungguhnya telah timbul sebuah bentuk kelemahan dalam jiwa-jiwa mereka. Akan tetapi orang-orang yang keimanannya sempurna mendorong semangat dan menguatkan mereka untuk terus maju berperang, di mana mereka berkata, ﴾ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalah-kan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar," dengan pertolongan, dukungan, dan bantuan-Nya hingga mereka tegar dan bersabar dalam memerangi musuh mereka, Jalut beserta bala tentaranya. (251) ﴾ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud membunuh", shalawat dan salam atasnya, ﴾ جَالُوتَ ﴿ "Jalut." Dengan demikian mereka mem-peroleh kemenangan dan pembelaan atas musuh-musuh mereka, ﴾ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ﴿ "kemudian Allah memberikan kepadanya", yakni kepada Dawud, ﴾ ٱلۡمُلۡكَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "pemerintahan dan hikmah" kenabian dan pengetahuan yang berguna dan Allah memberikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. Kemudian Allah تعالى menjelaskan tentang manfaat berjihad seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Sean-dainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini," dengan dikuasai oleh orang-orang kafir lagi jahat serta pelaku keburukan dan kerusakan. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam," di mana Allah bersikap lemah lembut terhadap kaum Mukminin, membela mereka dan Agama mereka dengan apa yang disyariatkanNya dan ditakdirkanNya, dan ketika Allah menerangkan tentang kisah ini, maka Allah ber-firman kepada RasulNya ﷺ; (252) ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Itu ada-lah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." Dan di antara sederet tanda-tanda kerasulan beliau adalah adanya kisah ini, di mana Allah mengabarkan kepada beliau tentang kisah ini sebagai wahyu untuk beliau dari Allah yang persis sesuai dengan kenyataannya. Dalam cerita ini banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh umat ini. Di antaranya:(1). Keutamaan berjihad di jalan Allah, manfaat-manfaatnya dan akibat-akibatnya yang indah, dan bahwa jihad itu adalah satu-satunya sebab (yang paling efektif) dalam memelihara Agama, menjaga negeri, tubuh dan harta, dan bahwasanya para mujahidin walaupun urusan itu sangat berat buat mereka akan tetapi hasil yang mereka akan dapatkan adalah terpuji, sebagaimana juga bagi orang-orang yang meninggalkan jihad walaupun mereka dapat beristirahat sekejap, namun mereka akan lelah dalam masa yang panjang. (2). Memberikan kekuasaan kepada orang yang kapabel dan mampu, dan bahwasanya kemampuan itu kembali kepada dua perkara: Pertama, pengetahuan, artinya memahami siasat dan meng-organisir, dan kedua, kekuatan, artinya dengannya kebenaran di-tegakkan dan bahwa seorang yang terkumpul pada dirinya kedua perkara itu, maka dialah yang lebih berhak untuk memimpin dari-pada selainnya. (3). Menjadikan cerita ini sebagai dalil atas apa yang dikatakan oleh para ulama bahwa seyogyanya seorang pemimpin pasukan mengadakan peninjauan ketika menetapkannya, yaitu dia melarang orang yang tidak pantas untuk berperang dari personil tentaranya, kudanya, penunggang-penunggangnya karena kelemahannya, kesabarannya yang sedikit, peremehannya, takut akan memuda-ratkan kesehatannya, karena bagian yang ini adalah bahaya yang jelas bagi manusia. (4). Bahwasanya ketika terjadi suatu peperangan, seyogyanya ada pengobaran semangat kaum Muslimin, penguatan jiwa mereka dan anjuran kepada mereka untuk menguatkan keimanan, ber-tawakal penuh dan bersandar hanya kepadaNya, serta memohon kepadaNya ketetapan hati, bimbingan kepada kesabaran, dan pembelaan atas musuh. (5). Bahwasanya tekad untuk berperang dan berjihad bukanlah merupakan hakikatnya, karena terkadang seseorang itu bertekad untuk berjihad akan tetapi ketika telah tiba masanya, tekadnya melemah. Oleh karena itu di antara doa Nabi ﷺ, أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ. "Aku memohon kepadaMu (ya Allah) ketetapan (keteguhan) dalam Agama dan kebulatan tekad dalam petunjuk."[27] Mereka itulah yang bertekad untuk berjihad dan mereka berkata dengan perkataan yang menunjukkan atas sebuah tekad yang kuat, dan ketika hadir masanya, sebagian besar dari mereka akhirnya lemah kembali. Ini serupa dengan sabda Nabi ﷺ, وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ. "Dan aku memohon kepadaMu (ya Allah) keridhaan setelah terjadi-nya Qadha` (ketetapan)."[28] Karena keridhaan setelah terjadinya suatu ketetapan Allah yang dibenci oleh jiwa merupakan keridhaan yang hakiki.

Al-Baqarah 2:252

"Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, 'Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.' Nabi mereka menjawab, 'Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.' Mereka menjawab, 'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami.' Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zhalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya Allah telah mengang-kat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab, 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?' Nabi (mereka) berkata, 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.' Allah memberikan pemerin-tahan kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Mahaluas pemberianNya lagi Maha Mengetahui. Dan Nabi mereka juga mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat keterangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguh-nya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.' Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya, ia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.' Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman ber-sama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, 'Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.' Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, 'Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.' Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa, 'Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.' Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendakiNya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan seba-gian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan se-sungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." (Al-Baqarah: 246-252). (246-247) Allah تعالى menceritakan kisah ini kepada umat ini agar mereka mengambil pelajaran darinya dan agar mereka suka berjihad serta tidak takut darinya, karena orang-orang yang sabar akan mendapatkan hasil yang baik dan terpuji di dunia dan di akhirat, sedangkan orang-orang yang lari darinya akan merugi di dunia dan akhirat. Allah تعالى mengabarkan bahwasanya para cendikiawan dari Bani Israil dan tokoh-tokoh mereka menghendaki berjihad, lalu mereka sepakat untuk meminta kepada nabi mereka seorang raja yang menolong mereka agar perselisihan terhenti dengan pemilihannya dan terwujud, ketaatan yang total, hingga tidak ada lagi perdebatan dari orang-orang, namun Nabi mereka khawatir permintaan mereka itu hanyalah sebatas perkataan saja yang tidak ada pelaksanaannya, namun mereka menyikapi dugaan Nabi mereka itu dengan memperlihatkan tekad yang kuat dan mereka akan konsisten akan hal itu dengan sebenar-benarnya, dan bahwasanya peperangan itu sudah menjadi suatu kepastian untuk mereka karena menjadi sebuah jalan mengembalikan negeri mereka serta kembalinya mereka kepada tempat dan kediaman mereka. Nabi mereka telah menetapkan Thalut sebagai raja yang me-mimpin mereka dalam suatu perkara yang memang harus memiliki pemimpin yang ahli dalam kepemimpinan. Namun mereka mem-permasalahkan ketetapan Nabi mereka untuk memilih Thalut sebagai raja mereka, padahal ada orang yang lebih baik rumahnya dan lebih banyak hartanya darinya. Nabi mereka menjawab bahwa sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk kalian, karena Dia telah mengaruniakan kepadanya kekuatan ilmu tentang siasat (perang) dan kekuatan tubuh, yang mana kedua hal itu merupakan sarana keberanian, kemenangan, dan keahlian dalam mengatur peperangan, dan bahwasanya raja itu tidaklah dengan banyaknya harta, dan tidak juga orang yang menjadi raja itu harus merupakan raja dan pemimpin pula dalam daerah-daerah mereka, karena Allah memberikan kerajaanNya kepada siapa yang dikehendakiNya. Kemudian Nabi mereka tidaklah cukup sampai di situ mene-nangkan mereka dengan apa yang telah Dia sebutkan dari kemam-puan Thalut dan adanya sifat-sifat yang dibutuhkan dalam masalah itu, hingga Dia berkata kembali kepada mereka, (248) ﴾ إِنَّ ءَايَةَ مُلۡكِهِۦٓ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَبَقِيَّةٞ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tanda dia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun." Ketika itu Tabut tersebut telah dikuasai oleh musuh. Mereka tidak-lah cukup dengan sifat-sifat moralitas pada diri Thalut, dan tidak pula dengan penentuan Allah baginya lewat lisan Nabi mereka, hingga ditopang dengan mukzijat tersebut. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman," maka di saat itulah mereka tunduk dan patuh. Ketika Thalut telah memimpin, melatih, mengatur, dan memilah-milah mereka untuk memerangi musuh mereka, ia melihat kelemahan tekad dan sema-ngat pada mereka hingga membutuhkan pemisahan antara yang sabar dan yang takut, maka dia berkata sebagaimana yang diabadi-kan dalam Firman Allah, (249-250) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مُبۡتَلِيكُم بِنَهَرٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai," kalian akan melewatinya saat kalian sangat membutuhkan air, ﴾ فَمَن شَرِبَ مِنۡهُ فَلَيۡسَ مِنِّي ﴿ "maka siapa di antara kamu meminum airnya; dia bukanlah pengikutku," maksudnya ia tidak taat kepadaku, karena hal itu adalah bukti yang jelas ten-tang ketidaksabarannya dan memuncaknya ketakutannya, ﴾ وَمَن لَّمۡ يَطۡعَمۡهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّيٓ ﴿ "dan barangsiapa tiada meminumnya, maka dia adalah pe-ngikutku", karena kejujuran dan kesabarannya, ﴾ إِلَّا مَنِ ٱغۡتَرَفَ غُرۡفَةَۢ بِيَدِهِۦۚ ﴿ "kecuali menceduk seceduk tangan," maka hal itu dapat ditoleransi. Ketika mereka sampai di sungai tersebut dan saat itu mereka sangat membutuhkan air, maka seluruhnya minum dari sungai itu, ﴾ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنۡهُمۡۚ ﴿ "kecuali beberapa orang di antara mereka," karena mereka ber-sabar dan tidak minum. ﴾ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ قَالُواْ ﴿ "Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata," yaitu orang-orang yang penakut (pengecut), atau (menurut pendapat lain), orang-orang yang me-nyeberangi sungai ﴾ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلۡيَوۡمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦۚ ﴿ "tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Apabila yang berkata itu adalah orang-orang yang penakut tersebut, maka per-kataan ini adalah merupakan sebuah pembenaran akan ketakutan mereka, namun apabila orang-orang yang berkata itu adalah me-reka yang menyeberang bersama Thalut, maka sesungguhnya telah timbul sebuah bentuk kelemahan dalam jiwa-jiwa mereka. Akan tetapi orang-orang yang keimanannya sempurna mendorong semangat dan menguatkan mereka untuk terus maju berperang, di mana mereka berkata, ﴾ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalah-kan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar," dengan pertolongan, dukungan, dan bantuan-Nya hingga mereka tegar dan bersabar dalam memerangi musuh mereka, Jalut beserta bala tentaranya. (251) ﴾ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ ﴿ "Dan Dawud membunuh", shalawat dan salam atasnya, ﴾ جَالُوتَ ﴿ "Jalut." Dengan demikian mereka mem-peroleh kemenangan dan pembelaan atas musuh-musuh mereka, ﴾ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ﴿ "kemudian Allah memberikan kepadanya", yakni kepada Dawud, ﴾ ٱلۡمُلۡكَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "pemerintahan dan hikmah" kenabian dan pengetahuan yang berguna dan Allah memberikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. Kemudian Allah تعالى menjelaskan tentang manfaat berjihad seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Sean-dainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini," dengan dikuasai oleh orang-orang kafir lagi jahat serta pelaku keburukan dan kerusakan. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam," di mana Allah bersikap lemah lembut terhadap kaum Mukminin, membela mereka dan Agama mereka dengan apa yang disyariatkanNya dan ditakdirkanNya, dan ketika Allah menerangkan tentang kisah ini, maka Allah ber-firman kepada RasulNya ﷺ; (252) ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Itu ada-lah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan haq (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus." Dan di antara sederet tanda-tanda kerasulan beliau adalah adanya kisah ini, di mana Allah mengabarkan kepada beliau tentang kisah ini sebagai wahyu untuk beliau dari Allah yang persis sesuai dengan kenyataannya. Dalam cerita ini banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh umat ini. Di antaranya:(1). Keutamaan berjihad di jalan Allah, manfaat-manfaatnya dan akibat-akibatnya yang indah, dan bahwa jihad itu adalah satu-satunya sebab (yang paling efektif) dalam memelihara Agama, menjaga negeri, tubuh dan harta, dan bahwasanya para mujahidin walaupun urusan itu sangat berat buat mereka akan tetapi hasil yang mereka akan dapatkan adalah terpuji, sebagaimana juga bagi orang-orang yang meninggalkan jihad walaupun mereka dapat beristirahat sekejap, namun mereka akan lelah dalam masa yang panjang. (2). Memberikan kekuasaan kepada orang yang kapabel dan mampu, dan bahwasanya kemampuan itu kembali kepada dua perkara: Pertama, pengetahuan, artinya memahami siasat dan meng-organisir, dan kedua, kekuatan, artinya dengannya kebenaran di-tegakkan dan bahwa seorang yang terkumpul pada dirinya kedua perkara itu, maka dialah yang lebih berhak untuk memimpin dari-pada selainnya. (3). Menjadikan cerita ini sebagai dalil atas apa yang dikatakan oleh para ulama bahwa seyogyanya seorang pemimpin pasukan mengadakan peninjauan ketika menetapkannya, yaitu dia melarang orang yang tidak pantas untuk berperang dari personil tentaranya, kudanya, penunggang-penunggangnya karena kelemahannya, kesabarannya yang sedikit, peremehannya, takut akan memuda-ratkan kesehatannya, karena bagian yang ini adalah bahaya yang jelas bagi manusia. (4). Bahwasanya ketika terjadi suatu peperangan, seyogyanya ada pengobaran semangat kaum Muslimin, penguatan jiwa mereka dan anjuran kepada mereka untuk menguatkan keimanan, ber-tawakal penuh dan bersandar hanya kepadaNya, serta memohon kepadaNya ketetapan hati, bimbingan kepada kesabaran, dan pembelaan atas musuh. (5). Bahwasanya tekad untuk berperang dan berjihad bukanlah merupakan hakikatnya, karena terkadang seseorang itu bertekad untuk berjihad akan tetapi ketika telah tiba masanya, tekadnya melemah. Oleh karena itu di antara doa Nabi ﷺ, أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ. "Aku memohon kepadaMu (ya Allah) ketetapan (keteguhan) dalam Agama dan kebulatan tekad dalam petunjuk."[27] Mereka itulah yang bertekad untuk berjihad dan mereka berkata dengan perkataan yang menunjukkan atas sebuah tekad yang kuat, dan ketika hadir masanya, sebagian besar dari mereka akhirnya lemah kembali. Ini serupa dengan sabda Nabi ﷺ, وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ. "Dan aku memohon kepadaMu (ya Allah) keridhaan setelah terjadi-nya Qadha` (ketetapan)."[28] Karena keridhaan setelah terjadinya suatu ketetapan Allah yang dibenci oleh jiwa merupakan keridhaan yang hakiki.

Al-Baqarah 2:253

"Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengannya) dan sebagiannya, Allah meninggikan-nya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuh-an orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka di antara mereka ada yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah meng-hendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendakiNya." (Al-Baqarah: 253). (253) Allah sang Pencipta mengabarkan bahwa Dia mem-beda-bedakan tingkat (derajat) antara para Rasul dalam keutamaan-keutamaan yang mulia dan keistimewaan-keistimewaan yang indah, sesuai dengan keutamaan yang dikaruniakan olehNya atas mereka dan penegakan yang mereka lakukan dari keimanan yang sempurna, keyakinan yang kuat, akhlak yang luhur, tingkah laku yang terpuji, dakwah, pengajaran, dan kegunaan yang menyeluruh. Maka di antara mereka ada yang Allah jadikan sebagai kekasihNya, di antara mereka ada juga yang diajak bicara langsung olehNya, di antara mereka ada yang diangkat olehNya di atas para makhluk beberapa derajat, dan untuk keseluruhan para nabi, tidak ada se-orang pun manusia yang mampu mencapai keutamaan mereka yang tinggi. Allah mengistimewakan Isa bin Maryam عليه السلام bahwa dia diberikan keterangan-keterangan yang jelas yang menunjukkan akan kerasulannya dengan yakin dan kehambaannya dengan benar dan bahwa risalah yang dibawanya dari Allah semuanya adalah benar, lalu Allah menjadikannya mampu menyembuhkan orang yang buta, penyakit kusta, dan mampu menghidupkan orang mati dengan izin Allah, Nabi Isa عليه السلام berbicara dengan manusia saat masih dalam buaian, diperkuat dengan Ruhul Qudus yaitu ruh keimanan yang menjadikan ruhani beliau unggul di atas selainnya. Dengan itu semua dia mendapatkan kekuatan dan pertolongan, walaupun dasar dari pertolongan dengan ruh tersebut bersifat umum bagi setiap Mukmin sesuai dengan keimanannya, sebagai-mana Allah berfirman, ﴾ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ ﴿ "Dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari padaNya." (Al-Mujadilah: 22). Akan tetapi apa yang didapatkan oleh Nabi Isa عليه السلام adalah lebih besar daripada yang didapatkan selainnya. Karena itulah Allah mengkhususkannya dengan menyebutnya. Pendapat lain mengatakan bahwa Ruh Qudus di sini adalah Jibril عليه السلام, yakni Allah menguatkan Nabi Isa dengan pertolongan Jibril dan bantuannya. Akan tetapi maknanya yang benar adalah yang pertama. Dan ketika Allah mengabarkan tentang kesempurnaan para Rasul dan apa yang Allah berikan kepada mereka dari keutamaan dan keistimewaan dan bahwa agama mereka adalah satu, dakwah mereka kepada kebaikan adalah satu, di mana seharusnya dan konsekuensi dari itu adalah bersatunya seluruh umat untuk mem-benarkannya dan patuh kepada mereka, karena apa yang mereka dapatkan dari keterangan-keterangan yang jelas yang dengan hal seperti itu manusia pasti beriman, akan tetapi sebagian besar dari mereka berpaling dari jalan yang lurus, dan terjadilah perselisihan antara seluruh umat, di antara mereka ada yang beriman dan di antara mereka ada yang kafir, maka akibat dari itu semua adalah terjadinya saling membunuh yang merupakan akibat dari perpe-cahan dan perselisihan serta permusuhan, seandainya Allah meng-hendaki, pastilah Allah akan menyatukan mereka di atas petunjuk hingga mereka tidak berselisih, dan sekiranya Allah juga menghen-daki setelah terjadinya perselisihan itu yang mengakibatkan saling membunuh, pastilah mereka tidak saling membunuh, akan tetapi hikmah Allah telah tetap berjalan dengan segala perkara di atas pengaturan itu sesuai dengan sebab-sebabnya. Ayat ini merupakan tanda yang paling besar atas adanya andil tindakan dari Allah pada seluruh sebab-sebab yang meng-akibatkan segala macam hasilnya, dan bahwasanya bila Dia meng-hendaki, Dia akan membiarkannya dan bila Dia menghendaki, Dia akan melarangnya. Semua itu tunduk pada hikmahNya semata, karena Allah Maha Melakukan apa yang dikehendakiNya, tidak ada penghalang, tidak pula penentang, dan tidak pula penolong di hadapan keinginan dan kehendakNya.

Al-Baqarah 2:254

"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 254). (254) Allah menganjurkan kepada kaum Mukminin untuk berinfak pada segala macam bentuk kebaikan, karena tidak dise-butkannya obyek dalam kalimat menunjukkan pada keumuman. Dan Allah juga mengingatkan tentang nikmatNya atas mereka, bahwa Allah-lah yang telah memberi rizki kepada mereka dan memberikan berbagai macam nikmat atas mereka, dan Allah tidak memerintahkan kepada mereka untuk mengeluarkan seluruh harta yang ada pada mereka, akan tetapi ayat ini hadir dengan kata مِنْ (dari) yang menunjukkan arti sebagian, maka hal ini di antara per-kara yang mengajak mereka untuk berinfak, dan juga di antara hal yang mengajak mereka untuk berinfak adalah kabar Allah kepada mereka bahwa infak-infak tersebut akan tersimpan rapi di sisi Allah تعالى pada suatu hari yang tidak ada gunanya lagi saling tawar menawar untuk berjual beli dan semacamnya, tidak pula bantuan-bantuan sosial maupun syafa'at. Setiap orang akan berkata apa yang telah saya persembahkan untuk kehidupan saya, maka selu-ruh sebab-sebab akan lenyap, kecuali sebab-sebab yang berkaitan dengan ketaatan kepada Allah dan keimanan kepadaNya, ﴾ يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ 88 إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ 89 ﴿ "(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Asy-Syu'ara`: 88-89), dan ﴾ وَمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُم بِٱلَّتِي تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ جَزَآءُ ٱلضِّعۡفِ بِمَا عَمِلُواْ وَهُمۡ فِي ٱلۡغُرُفَٰتِ ءَامِنُونَ 37 ﴿ "Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)." (Saba`: 37), dan ﴾ وَمَا تُقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُم مِّنۡ خَيۡرٖ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيۡرٗا وَأَعۡظَمَ أَجۡرٗاۚ ﴿ "Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya." (Al-Muzzammil: 20). Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim." Hal itu karena Allah تعالى menciptakan mereka hanya untuk beribadah kepadaNya, Dia memberi rizki dan menyehatkan mereka agar mereka mampu mengerjakan ketaatan dengannya, namun mereka berpaling dari tujuan Allah menciptakan mereka, mereka menyekutukan Allah dengan apa yang tidak Allah turunkan keterangan tentangnya. Mereka melakukan kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan dengan kenikmatan itu, mereka tidak meletakkan keadilan pada tempatnya, oleh karena itulah kezhaliman yang mutlak meliputi mereka.

Al-Baqarah 2:255

"Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izinNya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahaagung." (Al-Baqarah: 255). (255) Nabi ﷺ mengabarkan, أَنَّ هٰذِهِ الْآيَةَ أَعْظَمُ آيَاتِ الْقُرْآنِ. "Bahwa ayat ini adalah ayat yang paling agung dalam al-Qur`an,"[29] karena ayat ini meliputi makna tauhid, kebesaran, dan luasnya sifat Allah تعالى, dan Allah تعالى mengabarkan bahwasanya Dia adalah, ﴾ ٱللَّهُ ﴿ "Allah" yang memiliki segala makna-makna ketuhanan, dan bahwasanya tidak ada yang berhak bercitra ketuhanan dan per-ibadahan kecuali hanya Dia. Dipertuhankannya selainNya dan peribadahan kepada selain-Nya adalah batil, dan bahwasanya Dia ﴾ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Hidup kekal," yang memiliki seluruh makna-makna kehidupan yang sempurna berupa pendengaran, penglihatan, kemampuan, kehendak, dan sebagainya dari sifat-sifat fisik, sebagaimana juga Dia ﴾ ٱلۡقَيُّومُۚ ﴿ "terus menerus mengurus (makhlukNya)," termasuk di dalamnya segala macam bentuk sifat-sifat perbuatan, karena Dia terus menerus mengurus (makhlukNya), yang sendiri saja mengurusnya, dan tidak butuh kepada bantuan seluruh makhluk-makhlukNya. Allah mengurus segala makhluk, di mana Dia menciptakan mereka, menetapkannya, memberikan segala kebutuhan mereka dalam mempertahankan keberadaan dan kelanggengan mereka. Dan di antara kesempur-naan hidup dan kepengurusanNya bahwa Dia ﴾ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ ﴿ "tidak mengantuk," maksudnya, tidak ingin tidur, ﴾ وَلَا نَوۡمٞۚ ﴿ "dan tidak tidur" karena ngantuk. Tidur hanya muncul pada para makhluk yang diselubungi oleh kelemahan, ketidakmampuan, serta kekurangan, dan tidak muncul pada Dzat yang memiliki keagungan, kesom-bongan, dan kemuliaan, dan Allah juga mengabarkan bahwasanya Dia Pemilik apa yang ada di langit dan di bumi, semuanya adalah hamba-hamba Allah sebagai budak-budakNya yang tidak ada seorang pun yang keluar dari koridor tersebut, ﴾ إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا 93 ﴿ "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba." (Maryam: 93). Maka Dia-lah Raja segala raja dan Dia-lah yang memiliki segala sifat raja, pengaturan, kekuasaan, dan kesombongan, dan dari kesempurnaan kerajaanNya bahwasanya tidak ada yang dapat, ﴾ يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ ﴿ "memberi syafa'at di sisi Allah," yakni tak seorang pun, ﴾ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ ﴿ "kecuali dengan izinNya." Setiap pemuka kaum dan para pemegang syafa'at adalah hamba-hamba bagiNya dan budak-budakNya, di mana mereka tidak melakukan syafa'at hingga me-reka diizinkan untuk itu, (Allah berfirman,) ﴾ قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Hanya kepunyaan Allah syafa'at itu semuanya. KepunyaanNya kerajaan langit dan bumi'." (Az-Zumar: 44). Dan Allah tidak memberikan izin kepada seorang pun untuk memberikan syafa'at kecuali bagi mereka yang Dia ridhai, dan Dia tidak meridhai kecuali mereka yang mentauhidkanNya dan meng-ikuti RasulNya. Barangsiapa yang tidak bersifat seperti ini, maka dia tidak mendapatkan bagian dari syafa'at. Kemudian Allah me-ngabarkan tentang ilmuNya yang luas lagi melingkupi dan bahwa Dia mengetahui apa yang ada pada seluruh makhluk berupa per-kara-perkara yang akan datang yang tidak ada akhirnya, ﴾ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ ﴿ "dan di belakang mereka" dari perkara-perkara yang telah berlalu yang tidak ada batasnya, dan bahwasanya tidak ada yang tersem-bunyi dariNya, ﴾ يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ 19 ﴿ "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (Al-Mu`min: 19). Dan bahwasanya di antara makhluk itu tidaklah seorang pun yang meliputi ilmu Allah dan pengetahuanNya, ﴾ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ ﴿ "melainkan apa yang dikehendakiNya." Di antaranya adalah sesuatu yang diperlihatkan olehNya kepada kalian dari perkara-perkara syar'i dan perkara takdir, dan itu hanya bagian yang sangat sedikit sekali yang akan hilang (bila dibandingkan) ilmu Allah dan penge-tahuanNya sebagaimana yang dikatakan oleh makhluk yang paling mengetahui tentangNya yaitu para Rasul dan Malaikat, ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ 32 ﴿ "Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami." (Al-Baqarah: 32). Kemudian Allah mengabarkan tentang keagungan dan ke-muliaanNya dan bahwasanya kursiNya seluas langit dan bumi, dan bahwa Dia menjaga keduanya dan seluruh makhluk yang berada di dalamnya dengan sebab-sebab dan aturan-aturan yang dijadikan oleh Allah pada para makhluk, walaupun demikian tidaklah ada sesuatu pun yang memberatkanNya untuk menjaga keduanya karena kesempurnaan kebesaranNya dan KuasaNya, serta luasnya hikmahNya dalam segala hukum-hukumNya. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Dan Allah Mahatinggi" dengan DzatNya atas semua makhluk-makhlukNya, dan Dia Tinggi dengan keagungan sifat-sifatNya, dan Dia-lah yang Mahatinggi yang menguasai makhluk-makhluk, segala yang ada patuh padaNya, segala perkara tunduk padaNya, dan semua hamba merendahkan diri kepadaNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahaagung" yang menyatukan segala sifat keagungan, kesom-bongan, kebesaran, dan kemegahan, Dzat yang dicintai oleh hati, diagungkan oleh ruh, orang-orang yang mengetahui itu paham bahwa keagungan setiap hal walaupun nampak jelas namun Dia akan sangat kecil bila disandingkan dengan keagungan Dzat yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Ayat ini meliputi semua makna yang merupakan makna yang paling mulia yang menyebabkannya berhak menjadi ayat yang teragung dalam al-Qur`an, dan orang yang membacanya dengan melakukan perenungan dan pemahaman, maka dia berhak agar hatinya dipenuhi dengan keyakinan, pengetahuan, dan keimanan, dan Dia akan terjaga dengan hal itu dari kejahatan setan.

Al-Baqarah 2:256

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sung-guh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 256). (256) Ayat ini menerangkan tentang kesempurnaan ajaran Islam, dan bahwasanya karena kesempurnaan bukti-buktinya, kejelasan ayat-ayat dan ia merupakan agama akal sehat dan ilmu, agama fitrah dan hikmah, agama kebaikan dan perbaikan, agama kebenaran dan jalan yang lurus, karena kesempurnaannya dan penerimaan fitrah terhadapnya, maka Islam tidak memerlukan pemaksaan, karena pemaksaan itu terjadi pada suatu perkara yang dijauhi oleh hati, tidak memiliki hakikat dan kebenaran, atau ketika bukti-bukti dan ayat-ayatnya tidak ada. Maka barangsiapa yang telah mengetahui ajaran ini dan dia menolaknya, maka hal itu di-dasari karena kedurhakaannya, karena, ﴾ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ ﴿ "sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat," hingga tidak ada suatu alasan pun bagi seseorang dan tidak pula hujjah apabila dia menolak dan tidak menerimanya. Tidak ada perselisihan antara pengertian ayat ini dengan ayat-ayat lainnya yang mengharuskan berjihad, karena Allah telah memerintahkan untuk berperang agar agama Allah semuanya hanya milik Allah, dan demi memberantas kesewenang-wenangan orang-orang yang melampaui batas terhadap agama. Kaum Mus-limin telah berijma' bahwa jihad itu tetap berlaku bersama pemim-pin yang baik maupun yang pendosa, dan bahwasanya jihad itu di antara kewajiban-kewajiban yang berkesinambungan, baik jihad perkataan maupun jihad perbuatan. Dan siapa saja di antara ahli tafsir yang berpendapat bahwa ayat ini meniadakan ayat-ayat jihad hingga mereka menyatakan dengan tegas bahwa ayat-ayat jihad itu telah dihapus, maka pendapat mereka itu lemah secara lafazh maupun makna, sebagaimana hal itu jelas sekali bagi orang-orang yang merenungkan ayat yang mulia ini, sebagaimana juga telah kami jelaskan sebelumnya. Kemudian Allah تعالى menyebutkan pembagian manusia kepada dua bagian: Pertama, manusia yang beriman kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya dan kafir kepada thaghut -yaitu segala hal yang meniadakan keimanan kepada Allah dari kesyirikan dan selainnya- maka orang ini ﴾ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ ﴿ "telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus" yakni yang tidak ada putusnya, bahkan dia tegak di atas ajaran yang benar hingga sampai kepada Allah dan negeri kemuliaanNya. Dan yang kedua dapat diambil dari pemahaman terbalik ayat ini yaitu bahwa barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah bahkan dia kafir kepadaNya dan beriman kepada thaghut, maka dia akan binasa dengan kebinasaan yang abadi dan disiksa dengan siksaan yang selamanya. Dan FirmanNya, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar," yakni kepada segala suara dengan segala macam perbedaan bahasanya menurut segala bentuk kebutuhannya, dan juga Maha Mendengar akan doa orang-orang yang bermunajat dan ketundukan orang-orang yang merendahkann diri (kepadaNya), ﴾ عَلِيمٌ ﴿ "lagi Maha Mengetahui" segala yang disembunyikan dalam hati, dan segala perkara yang tersembunyi dan tidak nampak, hingga Dia mem-balas setiap orang sesuai dengan apa yang diperbuatnya dari niat maupun amalannya.

Al-Baqarah 2:257

"Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluar-kan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (Iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (keka-firan). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalam-nya." (Al-Baqarah: 257). (257) Ayat ini merupakan rangkaian dari ayat sebelumnya. Ayat yang sebelumnya itu merupakan dasar sedangkan ayat ini adalah manifestasinya. Allah تعالى mengabarkan bahwasanya orang-orang yang beriman kepadaNya dan mereka membenarkan ke-imanan mereka dengan menunaikan kewajiban-kewajiban keimanan dan meninggalkan segala perkara yang meniadakannya, Allah adalah wali mereka dan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang dicintai dengan kecintaanNya yang istimewa, dan Dia me-nangani pendidikan mereka. Maka Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kejahilan, kekufuran, kemaksiatan, kelalaian, dan keberpalingan menuju kepada cahaya ilmu, keyakinan, keimanan, ketaatan, dan penerimaan yang total terhadap Rabb mereka, dan Allah menerangi hati mereka dengan apa yang dipancarkanNya ke dalamnya dari cahaya wahyu dan keimanan, memudahkan mereka kepada kemudahan, dan menjauhkan mereka dari perkara yang sulit. Adapun orang-orang yang kafir, tatkala mereka loyal (ber-wala`) kepada selain Wali mereka yang haq (Allah تعالى) maka Allah menyerahkan urusan mereka kepada apa yang telah mereka sendiri jadikan wali untuk diri mereka, menghinakan mereka, mewakilkan pemeliharaan mereka kepada wali yang mereka pilih, yang sama sekali tidak memiliki manfaat dan mudarat. Maka wali-wali mereka itu menyesatkan dan menyengsarakan mereka serta menghalangi mereka dari petunjuk ilmu yang bermanfaat dan amal shalih dan juga menghalangi mereka mendapatkan kebahagiaan hingga nerakalah yang menjadi tempat kembali mereka, mereka kekal di dalamnya selamanya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk di antara orang-orang yang mana Engkau menjadi wali mereka.

Al-Baqarah 2:258

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabbnya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim me-ngatakan, 'Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,' orang itu berkata, 'Saya dapat menghidupkan dan mematikan.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat,' lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 258). (258) Allah تعالى mengisahkan kepada kita tentang berita-berita para Rasul yang terdahulu, di mana dengan berita-berita tersebut, maka jelaslah segala hakikat, bukti-bukti nyata yang ber-aneka ragam akan tegak membela Tauhid. Allah تعالى mengabarkan tentang kekasihNya, Ibrahim عليه السلام, di mana ia mendebat raja yang zhalim, yaitu Namrud al-Babili (penguasa Babilonia) yang menia-dakan dan mengingkari Rabb semesta alam, dan dia menantang untuk menyerang Ibrahim al-Khalil dan mendebatnya tentang perkara tersebut yang sama sekali tidak ada keraguan, masalah dan kebimbangan padanya, yaitu tauhidullah dan rububiyahNya yang merupakan perkara yang paling jelas dan paling terang. Akan tetapi orang sombong ini telah terpedaya oleh kekuasa-annya dan telah tersesat karenanya hingga akhirnya ia meniada-kan Allah. Lalu ia mendebat Ibrahim, Rasul yang mulia yang telah diberikan oleh Allah kepadanya ilmu dan keyakinan yang tidak diberikan kepada seorang pun selainnya dari para Rasul selain Muhammad ﷺ. Maka Ibrahim memberikan pandangan kepadanya, ﴾ رَبِّيَ ٱلَّذِي يُحۡيِۦ وَيُمِيتُ ﴿ "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan memati-kan." Artinya Dzat yang Esa dalam menciptakan, mengatur, meng-hidupkan dan mematikan. Ibrahim menyebutkan dalam perkataan-nya itu hal yang paling jelas dalam masalah ini yaitu menghidup-kan dan mematikan. Raja sombong itu menjawab dengan menantang, ﴾ أَنَا۠ أُحۡيِۦ وَأُمِيتُۖ ﴿ "Saya dapat menghidupkan dan mematikan." Yang dia maksudkan dengan itu adalah bahwa saya membunuh orang yang saya ke-hendaki dan saya biarkan hidup bagi orang yang saya kehendaki. Telah dipahami bahwa hal ini adalah pembelokan dan pemalsuan dari hal yang dimaksudkan. Padahal yang dimaksudkan adalah bahwa Allah تعالى sendiri yang menciptakan kehidupan dari hal-hal yang tidak ada dan kemudian mengembalikannya kepada kematian, dan bahwa Dia-lah yang mematikan hamba-hambaNya, hewan-hewan dengan ajal-ajal mereka melalui sebab-sebab yang dikaitkan padanya maupun dengan tidak ada sebab. Dan ketika al-Khalil melihatnya menyimpang dengan pe-nyimpangan yang kemungkinan saja dapat meluas di antara rakyat jelata, Ibrahim akhirnya berkata dengan memaksanya untuk mem-percayai perkataannya apabila seperti apa yang dia sangkakan, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأۡتِي بِٱلشَّمۡسِ مِنَ ٱلۡمَشۡرِقِ فَأۡتِ بِهَا مِنَ ٱلۡمَغۡرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِي كَفَرَۗ ﴿ "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat, lalu heran terdiamlah orang kafir itu," yakni terhenti dan terputus hujjah-hujjahnya, serta lenyaplah syubhatnya. Sanggahan Nabi Ibrahim ini bukanlah merupakan perpin-dahan dari sebuah dalil kepada yang lainnya, akan tetapi sebagai hujjah pamungkas kepada Namrud dengan mementahkan penda-patnya -kalau ia benar- dan beliau mengemukakan hujjah tersebut yang tidak dapat dicampuradukkan, diputarbalikkan dan dipalsu-kan. Seluruh dalil pendengaran, logika, dan fitrah telah tegak sebagai saksi atas uluhiyah Allah dan mengakui keesaanNya dalam pen-ciptaan dan pengaturan, dan bahwa yang seperti ini kondisinya, maka tidak berhak disembah kecuali hanya Allah saja. Seluruh Rasul sepakat atas asas yang agung ini, dan tidak ada yang meng-ingkari hal itu kecuali seorang yang durhaka, ngotot, dan mencon-toh raja yang zhalim ini. Ini semua adalah dalil-dalil tauhid. Kemu-dian Allah menyebutkan dalil-dalil kesempurnaan tentang akan datangnya kebangkitan dan pembalasan amal.

Al-Baqarah 2:259

"Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, 'Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?' Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya, 'Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?' Dia menjawab, 'Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.' Allah berfirman, 'Sebe-narnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manu-sia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.' Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata, 'Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.' Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, 'Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagai-mana Engkau menghidupkan orang-orang mati.' Allah berfirman, 'Belum yakinkah kamu?' Ibrahim menjawab, 'Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku), Allah berfirman, '(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman), 'Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemu-dian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.' Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana." (Al-Baqarah: 259-260). (259) Kedua ayat ini adalah dalil yang agung yang nyata di dunia sebelum di akhirat tentang akan datangnya kebangkitan kem-bali dan pembalasan amal. Salah satunya adalah Allah perlihatkan kepada seseorang yang ragu akan kebangkitan -menurut pendapat yang benar- sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat yang mulia ini. Sedangkan lainnya, Allah perlihatkan pada kekasihNya Ibrahim عليه السلام, sebagaimana Allah perlihatkan dalil tauhid sebelumnya juga pada diri beliau. Orang tersebut melewati sebuah desa yang telah luluh lantah dan temboknya telah roboh menutupi atapnya, pendu-duknya telah meninggal dan bangunan-bangunannya telah hancur berantakan, lalu dia berkata dengan rasa ragu dan suatu yang tidak mungkin, ﴾ أَنَّىٰ يُحۡيِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ ﴿ "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Artinya, hal tersebut sangatlah mustahil dengan kondisi desa yang seperti itu. Maksudnya, selain desa itu pun seperti itu, seperti apa yang terbesit di dalam hatinya pada waktu itu. Maka Allah menghendaki rahmat bagi orang tersebut dan bagi seluruh manusia di mana Allah mematikannya selama seratus tahun. Ketika itu dia bersama seekor keledai, lalu Allah juga me-matikannya bersama orang itu, demikian juga makanan dan mi-numan, lalu Allah mengawetkan makanan dan minumannya itu seperti keadaannya semula, dalam waktu yang panjang tersebut. Setelah tahun demi tahun berlalu hingga seratus tahun, maka Allah membangkitkannya seraya berfirman, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتَۖ قَالَ لَبِثۡتُ يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖۖ ﴿ "Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?" Dia menjawab, "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari." Hal itu menurut sangkaan dirinya, maka Allah berfirman, ﴾ بَل لَّبِثۡتَ مِاْئَةَ عَامٖ ﴿ "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya." Tampaknya tanya jawab itu melalui perantaraan salah seorang Nabi dari Nabi-nabi Allah yang mulia. Dan di antara kesempurnaan rahmat Allah kepadanya dan kepada seluruh manusia, adalah bahwa Allah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda secara nyata, agar ia puas dengan hal ter-sebut. Dan setelah ia mengetahui bahwa ia adalah mayit yang telah dihidupkan kembali oleh Allah, dikatakan kepadanya, "Lihatlah ﴾ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ يَتَسَنَّهۡۖ ﴿ "kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah." Artinya, tidak berubah dalam masa yang panjang ini. Hal itu adalah di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, karena makanan dan minuman tersebut -khususnya yang disebutkan oleh ahli-ahli tafsir bahwa hal itu adalah berupa buah-buahan dan minuman perasan buah- tidak lama berubah. Ini semua telah dijaga oleh Allah selama seratus tahun. Lalu dikatakan kepadanya,﴾ وَٱنظُرۡ إِلَىٰ حِمَارِكَ ﴿ "Dan lihatlah kepada keledaimu," yang ternyata telah terpisah-pisah dan terpecah-pecah, dan telah menjadi tulang-belulang yang telah rapuh. ﴾ وَٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡعِظَامِ كَيۡفَ نُنشِزُهَا ﴿ "Dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali," maksudnya Kami mengangkat sebagiannya kepada sebagian yang lain, kemudian Kami menyambung sebagian pada sebagian yang lain, setelah terpisah-pisah dan terpecah-pecah, ﴾ ثُمَّ نَكۡسُوهَا ﴿ "kemudian Kami membalutnya" setelah menyatu kembali, ﴾ لَحۡمٗاۚ ﴿ "dengan daging," kemudian Kami mengembalikan kehidupan padanya. ﴾ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ ﴿ "Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati)," dengan penglihatan mata yang tidak mungkin ada keraguan, ﴾ قَالَ أَعۡلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "dia pun berkata, 'Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu'." Maka ia pun mengakui akan Kuasa Allah atas segala sesuatu, ke-mudian ini menjadi bukti bagi manusia, karena mereka telah me-ngetahui kematiannya, kematian keledainya, dan mereka mengeta-hui permasalahannya, kemudian mereka menyaksikan bukti yang agung ini. Dan inilah yang benar pada orang tersebut. Adapun pendapat sebagian besar ahli tafsir, bahwasanya orang tersebut adalah seorang Mukmin, atau seorang Nabi dari Nabi-nabi Allah, baik Uzair atau selainnya, dan bahwasanya Fir-manNya, ﴾ أَنَّىٰ يُحۡيِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ ﴿ "Bagaimana Allah menghidupkan kem-bali negeri ini setelah hancur?," maksudnya, bagaimana desa ini bisa kembali ramai setelah hancur lebur seperti itu, dan bahwasanya Allah mematikannya agar memperlihatkan kepadanya bagaimana Allah mengembalikan desa itu menjadi ramai dengan menciptakan-nya kembali, dan bahwa desa itu telah diramaikan kembali pada masa panjang itu dan manusia kembali membangunnya yang akhirnya kembali ramai padahal sebelumnya hancur berantakan, ini semua tidaklah ditunjukkan oleh lafazh (yang ada dalam rang-kaian kisah ini) namun malah meniadakannya, dan tidak juga ditunjukkan oleh maknanya. Tanda dan bukti nyata mana yang menunjukkan tentang kembalinya desa yang hancur lebur itu menjadi desa yang ramai lagi? Dan ini masih terus dapat disaksi-kan, di mana suatu desa hidup dan ramai sementara desa-desa lain hancur. Adapun ayat yang agung ini adalah tentang dihidupkannya kembali orang itu setelah kematiannya dan dihidupkannya kembali keledainya serta dibiarkannya makanan dan minumannya dan tidak membusuk dan tidak berubah. Kemudian FirmanNya,﴾ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ ﴿ "Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah meng-hidupkan yang telah mati)." Semua itu adalah sangat jelas tentang ketidaktahuannya, kecuali setelah dia menyaksikan sendiri kondisi itu secara nyata yang menunjukkan kesempurnaan KuasaNya. (260) Sedangkan bukti nyata yang lain, adalah bahwa Nabi Ibrahim عليه السلام berkata seraya memohon kepada Allah agar memper-lihatkan untuknya bagaimana Allah menghidupkan yang sudah mati. Maka Allah berfirman kepadanya, ﴾ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" untuk menghilangkan syubhat (keragu-raguan) pada ke-kasihNya, (Nabi Ibrahim). Dia ﴾ قَالَ ﴿ "berkata," yakni Ibrahim عليه السلام, ﴾ بَلَىٰ ﴿ "Tentu aku telah meyakininya" wahai Rabb, sungguh saya telah beriman bahwa Engkau Kuasa atas segala sesuatu, dan Engkau menghidupkan yang telah mati dan Engkau akan membalas semua amal hamba-hamba. Akan tetapi saya ingin agar hatiku tenang dan agar saya sampai kepada derajat keyakinan yang sebenar-benarnya. Maka Allah menjawab permohonannya sebagai kemuliaan baginya dan rahmat bagi hamba-hambaNya, ﴾ قَالَ فَخُذۡ أَرۡبَعَةٗ مِّنَ ٱلطَّيۡرِ ﴿ "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung," dan tidak dijelaskan burung apakah itu. Ayat ini bisa terjadi dengan jenis burung apa pun dan itulah yang dikehendaki, ﴾ فَصُرۡهُنَّ إِلَيۡكَ ﴿ "lalu cincanglah semuanya olehmu," artinya, kumpulkanlah dan sembelihlah mereka dan cincanglah mereka.﴾ ثُمَّ ٱجۡعَلۡ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٖ مِّنۡهُنَّ جُزۡءٗا ثُمَّ ٱدۡعُهُنَّ يَأۡتِينَكَ سَعۡيٗاۚ وَٱعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maka Nabi Ibrahim melakukan itu, dan beliau memisah-misahkan bagian-bagiannya pada beberapa gunung yang ada di sekitarnya lalu beliau memanggil mereka dengan nama-nama mereka dan akhirnya mereka kembali kepadanya dengan sangat cepat. Karena kata سَعْيًا berarti cepat, dan bukanlah yang dimaksud-kan burung-burung itu datang dengan berjalan dengan kaki-kaki mereka, akan tetapi mereka datang dengan terbang dalam kondisi hidup yang paling sempurna. Allah mengkhususkan burung dalam hal itu karena meng-hidupkan mereka lebih mantap dan lebih jelas dari selain mereka. Demikian juga dalam hal ini Allah menghilangkan semua dugaan yang batil yang terbersit dalam hati orang yang membantah. Maka menjadikan jumlah mereka empat ekor, mencincang-cincang mereka, dan meletakkan setiap bagian itu di atas gunung-gunung, agar hal itu nampak nyata dan jelas hingga dapat disaksikan dari dekat maupun dari jauh, dan menjauhkan potongan-potongan dengan jarak yang banyak agar tidak dikira bahwa hal itu adalah sebuah tindakan tipu daya. Dan Allah juga memerintahkan kepa-danya agar memanggil mereka hingga mereka datang dengan segera. Maka ayat ini menjadi bukti-bukti nyata yang paling besar terhadap kesempurnaan kemuliaan Allah dan hikmahNya. Dalam ayat ini terdapat peringatan bahwa kebangkitan itu menunjukkan keperkasaan Allah, hikmahNya, keagunganNya, luasnya kekuasaanNya, kesempurnaan keadilan dan karuniaNya.

Al-Baqarah 2:260

"Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, 'Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?' Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya, 'Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?' Dia menjawab, 'Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.' Allah berfirman, 'Sebe-narnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manu-sia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.' Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata, 'Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.' Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, 'Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagai-mana Engkau menghidupkan orang-orang mati.' Allah berfirman, 'Belum yakinkah kamu?' Ibrahim menjawab, 'Aku telah meyakini-nya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku), Allah berfirman, '(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman), 'Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemu-dian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.' Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana." (Al-Baqarah: 259-260). (259) Kedua ayat ini adalah dalil yang agung yang nyata di dunia sebelum di akhirat tentang akan datangnya kebangkitan kem-bali dan pembalasan amal. Salah satunya adalah Allah perlihatkan kepada seseorang yang ragu akan kebangkitan -menurut pendapat yang benar- sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat yang mulia ini. Sedangkan lainnya, Allah perlihatkan pada kekasihNya Ibrahim عليه السلام, sebagaimana Allah perlihatkan dalil tauhid sebelumnya juga pada diri beliau. Orang tersebut melewati sebuah desa yang telah luluh lantah dan temboknya telah roboh menutupi atapnya, pendu-duknya telah meninggal dan bangunan-bangunannya telah hancur berantakan, lalu dia berkata dengan rasa ragu dan suatu yang tidak mungkin, ﴾ أَنَّىٰ يُحۡيِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ ﴿ "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Artinya, hal tersebut sangatlah mustahil dengan kondisi desa yang seperti itu. Maksudnya, selain desa itu pun seperti itu, seperti apa yang terbesit di dalam hatinya pada waktu itu. Maka Allah menghendaki rahmat bagi orang tersebut dan bagi seluruh manusia di mana Allah mematikannya selama seratus tahun. Ketika itu dia bersama seekor keledai, lalu Allah juga me-matikannya bersama orang itu, demikian juga makanan dan mi-numan, lalu Allah mengawetkan makanan dan minumannya itu seperti keadaannya semula, dalam waktu yang panjang tersebut. Setelah tahun demi tahun berlalu hingga seratus tahun, maka Allah membangkitkannya seraya berfirman, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتَۖ قَالَ لَبِثۡتُ يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖۖ ﴿ "Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?" Dia menjawab, "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari." Hal itu menurut sangkaan dirinya, maka Allah berfirman, ﴾ بَل لَّبِثۡتَ مِاْئَةَ عَامٖ ﴿ "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya." Tampaknya tanya jawab itu melalui perantaraan salah seorang Nabi dari Nabi-nabi Allah yang mulia. Dan di antara kesempurnaan rahmat Allah kepadanya dan kepada seluruh manusia, adalah bahwa Allah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda secara nyata, agar ia puas dengan hal ter-sebut. Dan setelah ia mengetahui bahwa ia adalah mayit yang telah dihidupkan kembali oleh Allah, dikatakan kepadanya, "Lihatlah ﴾ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ يَتَسَنَّهۡۖ ﴿ "kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah." Artinya, tidak berubah dalam masa yang panjang ini. Hal itu adalah di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, karena makanan dan minuman tersebut -khususnya yang disebutkan oleh ahli-ahli tafsir bahwa hal itu adalah berupa buah-buahan dan minuman perasan buah- tidak lama berubah. Ini semua telah dijaga oleh Allah selama seratus tahun. Lalu dikatakan kepadanya,﴾ وَٱنظُرۡ إِلَىٰ حِمَارِكَ ﴿ "Dan lihatlah kepada keledaimu," yang ternyata telah terpisah-pisah dan terpecah-pecah, dan telah menjadi tulang-belulang yang telah rapuh. ﴾ وَٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡعِظَامِ كَيۡفَ نُنشِزُهَا ﴿ "Dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali," maksudnya Kami mengangkat sebagiannya kepada sebagian yang lain, kemudian Kami menyambung sebagian pada sebagian yang lain, setelah terpisah-pisah dan terpecah-pecah, ﴾ ثُمَّ نَكۡسُوهَا ﴿ "kemudian Kami membalutnya" setelah menyatu kembali, ﴾ لَحۡمٗاۚ ﴿ "dengan daging," kemudian Kami mengembalikan kehidupan padanya. ﴾ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ ﴿ "Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati)," dengan penglihatan mata yang tidak mungkin ada keraguan, ﴾ قَالَ أَعۡلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "dia pun berkata, 'Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu'." Maka ia pun mengakui akan Kuasa Allah atas segala sesuatu, ke-mudian ini menjadi bukti bagi manusia, karena mereka telah me-ngetahui kematiannya, kematian keledainya, dan mereka mengeta-hui permasalahannya, kemudian mereka menyaksikan bukti yang agung ini. Dan inilah yang benar pada orang tersebut. Adapun pendapat sebagian besar ahli tafsir, bahwasanya orang tersebut adalah seorang Mukmin, atau seorang Nabi dari Nabi-nabi Allah, baik Uzair atau selainnya, dan bahwasanya Fir-manNya, ﴾ أَنَّىٰ يُحۡيِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ ﴿ "Bagaimana Allah menghidupkan kem-bali negeri ini setelah hancur?," maksudnya, bagaimana desa ini bisa kembali ramai setelah hancur lebur seperti itu, dan bahwasanya Allah mematikannya agar memperlihatkan kepadanya bagaimana Allah mengembalikan desa itu menjadi ramai dengan menciptakan-nya kembali, dan bahwa desa itu telah diramaikan kembali pada masa panjang itu dan manusia kembali membangunnya yang akhirnya kembali ramai padahal sebelumnya hancur berantakan, ini semua tidaklah ditunjukkan oleh lafazh (yang ada dalam rang-kaian kisah ini) namun malah meniadakannya, dan tidak juga ditunjukkan oleh maknanya. Tanda dan bukti nyata mana yang menunjukkan tentang kembalinya desa yang hancur lebur itu menjadi desa yang ramai lagi? Dan ini masih terus dapat disaksi-kan, di mana suatu desa hidup dan ramai sementara desa-desa lain hancur. Adapun ayat yang agung ini adalah tentang dihidupkannya kembali orang itu setelah kematiannya dan dihidupkannya kembali keledainya serta dibiarkannya makanan dan minumannya dan tidak membusuk dan tidak berubah. Kemudian FirmanNya,﴾ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ ﴿ "Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah meng-hidupkan yang telah mati)." Semua itu adalah sangat jelas tentang ketidaktahuannya, kecuali setelah dia menyaksikan sendiri kondisi itu secara nyata yang menunjukkan kesempurnaan KuasaNya. (260) Sedangkan bukti nyata yang lain, adalah bahwa Nabi Ibrahim عليه السلام berkata seraya memohon kepada Allah agar memper-lihatkan untuknya bagaimana Allah menghidupkan yang sudah mati. Maka Allah berfirman kepadanya, ﴾ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ ﴿ "Belum yakinkah kamu?" untuk menghilangkan syubhat (keragu-raguan) pada ke-kasihNya, (Nabi Ibrahim). Dia ﴾ قَالَ ﴿ "berkata," yakni Ibrahim عليه السلام, ﴾ بَلَىٰ ﴿ "Tentu aku telah meyakininya" wahai Rabb, sungguh saya telah beriman bahwa Engkau Kuasa atas segala sesuatu, dan Engkau menghidupkan yang telah mati dan Engkau akan membalas semua amal hamba-hamba. Akan tetapi saya ingin agar hatiku tenang dan agar saya sampai kepada derajat keyakinan yang sebenar-benarnya. Maka Allah menjawab permohonannya sebagai kemuliaan baginya dan rahmat bagi hamba-hambaNya, ﴾ قَالَ فَخُذۡ أَرۡبَعَةٗ مِّنَ ٱلطَّيۡرِ ﴿ "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung," dan tidak dijelaskan burung apakah itu. Ayat ini bisa terjadi dengan jenis burung apa pun dan itulah yang dikehendaki, ﴾ فَصُرۡهُنَّ إِلَيۡكَ ﴿ "lalu cincanglah semuanya olehmu," artinya, kumpulkanlah dan sembelihlah mereka dan cincanglah mereka.﴾ ثُمَّ ٱجۡعَلۡ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٖ مِّنۡهُنَّ جُزۡءٗا ثُمَّ ٱدۡعُهُنَّ يَأۡتِينَكَ سَعۡيٗاۚ وَٱعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maka Nabi Ibrahim melakukan itu, dan beliau memisah-misahkan bagian-bagiannya pada beberapa gunung yang ada di sekitarnya lalu beliau memanggil mereka dengan nama-nama mereka dan akhirnya mereka kembali kepadanya dengan sangat cepat. Karena kata سَعْيًا berarti cepat, dan bukanlah yang dimaksud-kan burung-burung itu datang dengan berjalan dengan kaki-kaki mereka, akan tetapi mereka datang dengan terbang dalam kondisi hidup yang paling sempurna. Allah mengkhususkan burung dalam hal itu karena meng-hidupkan mereka lebih mantap dan lebih jelas dari selain mereka. Demikian juga dalam hal ini Allah menghilangkan semua dugaan yang batil yang terbersit dalam hati orang yang membantah. Maka menjadikan jumlah mereka empat ekor, mencincang-cincang mereka, dan meletakkan setiap bagian itu di atas gunung-gunung, agar hal itu nampak nyata dan jelas hingga dapat disaksikan dari dekat maupun dari jauh, dan menjauhkan potongan-potongan dengan jarak yang banyak agar tidak dikira bahwa hal itu adalah sebuah tindakan tipu daya. Dan Allah juga memerintahkan kepa-danya agar memanggil mereka hingga mereka datang dengan segera. Maka ayat ini menjadi bukti-bukti nyata yang paling besar terhadap kesempurnaan kemuliaan Allah dan hikmahNya. Dalam ayat ini terdapat peringatan bahwa kebangkitan itu menunjukkan keperkasaan Allah, hikmahNya, keagunganNya, luasnya kekuasaanNya, kesempurnaan keadilan dan karuniaNya.

Al-Baqarah 2:261

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkan-nya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 261-262). (261) Ini merupakan anjuran yang agung dari Allah terha-dap hamba-hambaNya untuk menafkahkan harta mereka di jalan-Nya; yaitu jalan yang menyampaikannya kepadaNya. Termasuk dalam hal ini adalah menafkahkan hartanya dalam meningkatkan ilmu yang bermanfaat, dalam mengadakan persiapan berjihad di jalanNya, dalam mempersiapkan para tentara maupun membekali mereka, dan dalam segala macam kegiatan-kegiatan sosial yang berguna bagi kaum Muslimin. Kemudian disusul berinfak kepada orang-orang yang membutuhkan, fakir miskin, dan kemungkinan saja dua cara itu dapat disatukan hingga menjadi nafkah untuk menolong orang-orang yang membutuhkan dan sekaligus bakti sosial dan ketaatan. Nafkah-nafkah seperti ini akan dilipatgandakan. Kelipatan ini dengan tujuh ratus kali lipat hingga berlipat ganda banyaknya lagi dari itu. Karena itu Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ ﴿ "Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki." Itu tentu-nya sesuai dengan apa yang ada dalam hati orang yang berinfak tersebut dari keimanan dan keikhlasan yang tulus, dan juga sesuai dengan kebaikan dan manfaat yang dihasilkan dari infaknya ter-sebut, karena beberapa jalan kebajikan dengan berinfak padanya akan mengakibatkan manfaat-manfaat yang terus menerus dan kemaslahatan yang bermacam-macam, maka balasan itu tentunya sesuai dengan jenis perbuatannya. (262) Kemudian Allah juga menyebutkan ada pahala lain bagi orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalanNya dengan infak yang yang dikeluarkan dengan syarat-syarat yang cukup dan terbebas dari segala penghalang-penghalangnya. Maka orang yang berinfak itu tidak boleh mengiringi infaknya itu dengan menyebut-nyebutnya dan menghitung-hitung kebaikannya, serta tidak menyakiti perasaan si penerima dengan perkataan maupun perbuatan. Maka mereka itu ﴾ لَّهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "memperoleh pahala di sisi Rabb mereka" sesuai dengan apa yang Dia ketahui dari mereka dan sesuai dengan kadar infak-infak mereka dan manfaatnya dan tentu saja karuniaNya yang tidak akan diperoleh dan tidak akan digapai oleh nafkah-nafkah mereka. ﴾ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "Tidak ada ke-khawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." Allah menjauhkan dari mereka perkara yang dibenci yang telah berlalu dengan menghilangkan dari mereka kesedihan, dan yang akan datang dengan menghilangkan kekhawatiran dari me-reka, hingga mereka memperoleh apa yang dicintainya dan dijauh-kan dari perkara yang dibenci.

Al-Baqarah 2:262

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkan-nya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 261-262). (261) Ini merupakan anjuran yang agung dari Allah terha-dap hamba-hambaNya untuk menafkahkan harta mereka di jalan-Nya; yaitu jalan yang menyampaikannya kepadaNya. Termasuk dalam hal ini adalah menafkahkan hartanya dalam meningkatkan ilmu yang bermanfaat, dalam mengadakan persiapan berjihad di jalanNya, dalam mempersiapkan para tentara maupun membekali mereka, dan dalam segala macam kegiatan-kegiatan sosial yang berguna bagi kaum Muslimin. Kemudian disusul berinfak kepada orang-orang yang membutuhkan, fakir miskin, dan kemungkinan saja dua cara itu dapat disatukan hingga menjadi nafkah untuk menolong orang-orang yang membutuhkan dan sekaligus bakti sosial dan ketaatan. Nafkah-nafkah seperti ini akan dilipatgandakan. Kelipatan ini dengan tujuh ratus kali lipat hingga berlipat ganda banyaknya lagi dari itu. Karena itu Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ ﴿ "Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki." Itu tentu-nya sesuai dengan apa yang ada dalam hati orang yang berinfak tersebut dari keimanan dan keikhlasan yang tulus, dan juga sesuai dengan kebaikan dan manfaat yang dihasilkan dari infaknya ter-sebut, karena beberapa jalan kebajikan dengan berinfak padanya akan mengakibatkan manfaat-manfaat yang terus menerus dan kemaslahatan yang bermacam-macam, maka balasan itu tentunya sesuai dengan jenis perbuatannya. (262) Kemudian Allah juga menyebutkan ada pahala lain bagi orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalanNya dengan infak yang yang dikeluarkan dengan syarat-syarat yang cukup dan terbebas dari segala penghalang-penghalangnya. Maka orang yang berinfak itu tidak boleh mengiringi infaknya itu dengan menyebut-nyebutnya dan menghitung-hitung kebaikannya, serta tidak menyakiti perasaan si penerima dengan perkataan maupun perbuatan. Maka mereka itu ﴾ لَّهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "memperoleh pahala di sisi Rabb mereka" sesuai dengan apa yang Dia ketahui dari mereka dan sesuai dengan kadar infak-infak mereka dan manfaatnya dan tentu saja karuniaNya yang tidak akan diperoleh dan tidak akan digapai oleh nafkah-nafkah mereka. ﴾ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "Tidak ada ke-khawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." Allah menjauhkan dari mereka perkara yang dibenci yang telah berlalu dengan menghilangkan dari mereka kesedihan, dan yang akan datang dengan menghilangkan kekhawatiran dari me-reka, hingga mereka memperoleh apa yang dicintainya dan dijauh-kan dari perkara yang dibenci.

Al-Baqarah 2:263

"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun." (Al-Baqa-rah: 263). (263) Allah menyebutkan empat tingkatan dalam kebajikan: Tingkatan pertama: Nafkah yang terlahir dari niat yang shalih dan pemberi nafkah tidak mengiringinya dengan menyebut-nye-butnya dan menyinggung perasaan si penerima. Tingkatan kedua: Berkata yang baik, yaitu kebajikan berupa perkataan dengan segala bentuknya yang mengandung kebahagia-an bagi seorang Muslim, meminta maaf dari orang yang meminta apabila dia tidak memiliki apa yang diminta, dan sebagainya dari perkataan yang baik. Tingkatan ketiga: Kebajikan dengan memberi maaf dan am-punan kepada orang yang telah berlaku buruk kepada Anda, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Dua yang terakhir ini lebih utama dan lebih baik dari tingkatan berikut. Tingkatan Keempat: Pemberi infak itu mengiringi infaknya dengan perlakuan menyakitkan kepada penerimanya karena dia telah mengotori kebaikannya tersebut dan dia telah berbuat baik dan jahat (sekaligus). Kebajikan yang murni walaupun sangat sedikit adalah lebih baik daripada kebajikan yang dicampuri oleh keburukan walaupun kebajikan itu banyak. Ini merupakan an-caman yang keras terhadap orang yang berinfak yang menyakiti orang yang diberikan nafkahnya tersebut, sebagaimana yang di-lakukan oleh orang-orang yang suka mencela, pandir, dan bodoh. ﴾ وَٱللَّهُ ﴿ "Dan Allah" yang Mahatinggi adalah juga ﴾ غَنِيٌّ ﴿ "Maha Kaya" dari sedekah-sedekah mereka dan dari seluruh hamba-ham-baNya, ﴾ حَلِيمٞ ﴿ "lagi Maha Penyantun"; di samping kesempurnaan kekayaanNya dan luasnya pemberian dariNya, Dia Penyantun terhadap pelaku-pelaku maksiat. Dia tidak menyegerakan hukuman bagi mereka, akan tetapi Dia memberikan keselamatan kepada me-reka, memberi mereka rizki, meluaskan bagi mereka kebaikanNya; namun mereka menentang Allah dengan bermaksiat kepadaNya. Kemudian Allah melarang dengan sangat keras dari meng-ungkit-ungkit pemberian dan menyakiti orang yang diberi. Allah membuat perumpamaan tentang itu dengan FirmanNya,

Al-Baqarah 2:264

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meng-hilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkah-kan hartanya karena riya` kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah dia bersih (tidak bertanah). Me-reka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-su-ngai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempu-nyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah ia. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu supaya kamu memikirkannya." (Al-Baqarah: 264-266). (264-266) Allah membuat tiga perumpamaan dalam ayat-ayat ini, yaitu: Pertama, untuk orang yang berinfak karena semata mengharap keridhaan Allah dan tidak mengiringi nafkahnya itu dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang menerima. Kedua, untuk orang yang mengiringi infaknya dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti (si penerima) dan ketiga, untuk orang yang riya`. Perumpamaan pertama, adalah tatkala infaknya diterima dan dilipat gandakan pahalanya karena terlahir dari keimanan dan keikhlasan yang total, ﴾ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ وَتَثۡبِيتٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka," artinya, mereka menafkahkan harta di mana mereka teguh hati (dalam memberi nafkah) dan lapang dada serta penuh kejujuran. Maka perumpama-an perbuatan ini, adalah ﴾ كَمَثَلِ جَنَّةِۭ بِرَبۡوَةٍ ﴿ "seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi," yaitu, tempat yang tinggi yang sangat baik diterpa angin dan matahari, dan air akan sangat cukup padanya. Karena apabila hujan yang deras tidak menimpanya, paling tidak ia akan disirami hujan rintik yang mencukupinya karena areanya yang baik dan tanahnya yang gembur, serta adanya sebab-sebab yang memenuhi perkembangan, keturunan, dan pembuahannya. Karena itu, ﴾ فَـَٔاتَتۡ أُكُلَهَا ضِعۡفَيۡنِ ﴿ "maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat," artinya, berlipat ganda. Taman (kebun) yang seperti itu adalah yang paling diinginkan oleh manusia, dan perbuatan yang mulia ini pun merupakan tingkatan yang paling tinggi. Perumpamaan kedua, yaitu orang yang menafkahkan harta-nya karena Allah kemudian ia mengiringi nafkahnya itu dengan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti penerimanya, atau ia mela-kukan suatu perbuatan yang dapat membatalkannya, maka yang seperti ini adalah sama dengan pemilik taman tadi, akan tetapi ia ditimpa oleh ﴾ إِعۡصَارٞ ﴿ "angin keras," yaitu, angin yang sangat ken-cang, ﴾ فِيهِ نَارٞ فَٱحۡتَرَقَتۡۗ ﴿ "yang mengandung api, lalu terbakarlah." Padahal ia memiliki anak keturunan yang masih kecil-kecil lagi lemah, dan dia sendiri lemah yang telah tua renta. Kondisi seperti ini adalah kondisi yang paling sulit, karena itu Allah سبحانه وتعالى membuat perumpamaan ini dengan FirmanNya, ﴾ أَيَوَدُّ أَحَدُكُمۡ . . . ﴿ "Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin..." hingga akhir ayat, dengan menggunakan rangkaian kalimat pertanyaan yang kengeriannya dapat dipahami secara benar oleh orang-orang yang menjadi sasaran pesan (ayat ini). Karena musnahnya dalam sekali waktu sekaligus setelah keindahan pepohonannya dan ranumnya buah-buahnya, maka itu menjadi musibah yang sangat besar. Kemudian terjadinya musibah yang tiba-tiba ini, sedangkan pemiliknya telah tua dan tidak mampu lagi bekerja, dan dia memi-liki keturunan yang masih kecil-kecil yang tidak mampu memban-tunya dan meringankan bebannya adalah masalah lain. Maka subyek dari perumpamaan ini yang telah beramal karena Allah kemudian dia membatalkan amalannya itu dengan sikap yang menafikannya, menyerupai kondisi pemilik taman tadi yang terjadi padanya apa yang telah terjadi ketika kebutuhan-nya sangat mendesak kepadanya. Perumpamaan ketiga, adalah orang yang ingin dilihat oleh orang lain, tidak disirami iman kepada Allah dan tidak karena mengharap pahala di sisiNya, di mana Allah mengumpamakan hatinya seperti batu licin yang di atasnya ada tanah. Orang yang riya` itu mengira bahwa akan tumbuh tanaman darinya bila di-timpa hujan sebagaimana tanaman tumbuh di tanah yang subur. Akan tetapi itu adalah batu yang bila ditimpa hujan deras, maka lenyaplah apa yang ada di atas batu tersebut. Hal ini adalah perumpamaan yang pas bagi hati orang yang riya` yang tidak ada keimanan padanya, bahkan hati yang keras yang tidak akan lembut dan tidak khusyu'. Inilah amal perbuatan-nya dan infak-infaknya, tidaklah ada asasnya sama sekali yang mendasarinya dan juga tidak memiliki tujuan yang digapai, bahkan apa yang dilakukannya adalah batil karena tidak ada syaratnya. Yang sebelumnya batal setelah adanya syarat, namun juga ada penghalangnya, sedang yang pertama diterima dan dilipat gandakan karena terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu keimanan dan keikhlasan niat, keteguhan (hati) dan terbebasnya dari penghalang-penghalang yang merusaknya. Tiga perumpamaan ini sesuai untuk seluruh orang-orang yang beramal. Maka seorang hamba hendaklah menimbang diri-nya atau selainnya dengan timbangan-timbangan yang adil dan perumpamaan-perumpamaan yang sesuai tersebut. ﴾ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ 43 ﴿ "Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (Al-Ankabut: 43).

Al-Baqarah 2:265

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meng-hilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkah-kan hartanya karena riya` kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah dia bersih (tidak bertanah). Me-reka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-su-ngai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempu-nyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah ia. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu supaya kamu memikirkannya." (Al-Baqarah: 264-266). (264-266) Allah membuat tiga perumpamaan dalam ayat-ayat ini, yaitu: Pertama, untuk orang yang berinfak karena semata mengharap keridhaan Allah dan tidak mengiringi nafkahnya itu dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang menerima. Kedua, untuk orang yang mengiringi infaknya dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti (si penerima) dan ketiga, untuk orang yang riya`. Perumpamaan pertama, adalah tatkala infaknya diterima dan dilipat gandakan pahalanya karena terlahir dari keimanan dan keikhlasan yang total, ﴾ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ وَتَثۡبِيتٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka," artinya, mereka menafkahkan harta di mana mereka teguh hati (dalam memberi nafkah) dan lapang dada serta penuh kejujuran. Maka perumpama-an perbuatan ini, adalah ﴾ كَمَثَلِ جَنَّةِۭ بِرَبۡوَةٍ ﴿ "seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi," yaitu, tempat yang tinggi yang sangat baik diterpa angin dan matahari, dan air akan sangat cukup padanya. Karena apabila hujan yang deras tidak menimpanya, paling tidak ia akan disirami hujan rintik yang mencukupinya karena areanya yang baik dan tanahnya yang gembur, serta adanya sebab-sebab yang memenuhi perkembangan, keturunan, dan pembuahannya. Karena itu, ﴾ فَـَٔاتَتۡ أُكُلَهَا ضِعۡفَيۡنِ ﴿ "maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat," artinya, berlipat ganda. Taman (kebun) yang seperti itu adalah yang paling diinginkan oleh manusia, dan perbuatan yang mulia ini pun merupakan tingkatan yang paling tinggi. Perumpamaan kedua, yaitu orang yang menafkahkan harta-nya karena Allah kemudian ia mengiringi nafkahnya itu dengan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti penerimanya, atau ia mela-kukan suatu perbuatan yang dapat membatalkannya, maka yang seperti ini adalah sama dengan pemilik taman tadi, akan tetapi ia ditimpa oleh ﴾ إِعۡصَارٞ ﴿ "angin keras," yaitu, angin yang sangat ken-cang, ﴾ فِيهِ نَارٞ فَٱحۡتَرَقَتۡۗ ﴿ "yang mengandung api, lalu terbakarlah." Padahal ia memiliki anak keturunan yang masih kecil-kecil lagi lemah, dan dia sendiri lemah yang telah tua renta. Kondisi seperti ini adalah kondisi yang paling sulit, karena itu Allah سبحانه وتعالى membuat perumpamaan ini dengan FirmanNya, ﴾ أَيَوَدُّ أَحَدُكُمۡ . . . ﴿ "Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin..." hingga akhir ayat, dengan menggunakan rangkaian kalimat pertanyaan yang kengeriannya dapat dipahami secara benar oleh orang-orang yang menjadi sasaran pesan (ayat ini). Karena musnahnya dalam sekali waktu sekaligus setelah keindahan pepohonannya dan ranumnya buah-buahnya, maka itu menjadi musibah yang sangat besar. Kemudian terjadinya musibah yang tiba-tiba ini, sedangkan pemiliknya telah tua dan tidak mampu lagi bekerja, dan dia memi-liki keturunan yang masih kecil-kecil yang tidak mampu memban-tunya dan meringankan bebannya adalah masalah lain. Maka subyek dari perumpamaan ini yang telah beramal karena Allah kemudian dia membatalkan amalannya itu dengan sikap yang menafikannya, menyerupai kondisi pemilik taman tadi yang terjadi padanya apa yang telah terjadi ketika kebutuhan-nya sangat mendesak kepadanya. Perumpamaan ketiga, adalah orang yang ingin dilihat oleh orang lain, tidak disirami iman kepada Allah dan tidak karena mengharap pahala di sisiNya, di mana Allah mengumpamakan hatinya seperti batu licin yang di atasnya ada tanah. Orang yang riya` itu mengira bahwa akan tumbuh tanaman darinya bila di-timpa hujan sebagaimana tanaman tumbuh di tanah yang subur. Akan tetapi itu adalah batu yang bila ditimpa hujan deras, maka lenyaplah apa yang ada di atas batu tersebut. Hal ini adalah perumpamaan yang pas bagi hati orang yang riya` yang tidak ada keimanan padanya, bahkan hati yang keras yang tidak akan lembut dan tidak khusyu'. Inilah amal perbuatan-nya dan infak-infaknya, tidaklah ada asasnya sama sekali yang mendasarinya dan juga tidak memiliki tujuan yang digapai, bahkan apa yang dilakukannya adalah batil karena tidak ada syaratnya. Yang sebelumnya batal setelah adanya syarat, namun juga ada penghalangnya, sedang yang pertama diterima dan dilipat gandakan karena terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu keimanan dan keikhlasan niat, keteguhan (hati) dan terbebasnya dari penghalang-penghalang yang merusaknya. Tiga perumpamaan ini sesuai untuk seluruh orang-orang yang beramal. Maka seorang hamba hendaklah menimbang diri-nya atau selainnya dengan timbangan-timbangan yang adil dan perumpamaan-perumpamaan yang sesuai tersebut. ﴾ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ 43 ﴿ "Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (Al-Ankabut: 43).

Al-Baqarah 2:266

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meng-hilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkah-kan hartanya karena riya` kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah dia bersih (tidak bertanah). Me-reka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-su-ngai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempu-nyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah ia. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu supaya kamu memikirkannya." (Al-Baqarah: 264-266). (264-266) Allah membuat tiga perumpamaan dalam ayat-ayat ini, yaitu: Pertama, untuk orang yang berinfak karena semata mengharap keridhaan Allah dan tidak mengiringi nafkahnya itu dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang menerima. Kedua, untuk orang yang mengiringi infaknya dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti (si penerima) dan ketiga, untuk orang yang riya`. Perumpamaan pertama, adalah tatkala infaknya diterima dan dilipat gandakan pahalanya karena terlahir dari keimanan dan keikhlasan yang total, ﴾ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ وَتَثۡبِيتٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka," artinya, mereka menafkahkan harta di mana mereka teguh hati (dalam memberi nafkah) dan lapang dada serta penuh kejujuran. Maka perumpama-an perbuatan ini, adalah ﴾ كَمَثَلِ جَنَّةِۭ بِرَبۡوَةٍ ﴿ "seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi," yaitu, tempat yang tinggi yang sangat baik diterpa angin dan matahari, dan air akan sangat cukup padanya. Karena apabila hujan yang deras tidak menimpanya, paling tidak ia akan disirami hujan rintik yang mencukupinya karena areanya yang baik dan tanahnya yang gembur, serta adanya sebab-sebab yang memenuhi perkembangan, keturunan, dan pembuahannya. Karena itu, ﴾ فَـَٔاتَتۡ أُكُلَهَا ضِعۡفَيۡنِ ﴿ "maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat," artinya, berlipat ganda. Taman (kebun) yang seperti itu adalah yang paling diinginkan oleh manusia, dan perbuatan yang mulia ini pun merupakan tingkatan yang paling tinggi. Perumpamaan kedua, yaitu orang yang menafkahkan harta-nya karena Allah kemudian ia mengiringi nafkahnya itu dengan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti penerimanya, atau ia mela-kukan suatu perbuatan yang dapat membatalkannya, maka yang seperti ini adalah sama dengan pemilik taman tadi, akan tetapi ia ditimpa oleh ﴾ إِعۡصَارٞ ﴿ "angin keras," yaitu, angin yang sangat ken-cang, ﴾ فِيهِ نَارٞ فَٱحۡتَرَقَتۡۗ ﴿ "yang mengandung api, lalu terbakarlah." Padahal ia memiliki anak keturunan yang masih kecil-kecil lagi lemah, dan dia sendiri lemah yang telah tua renta. Kondisi seperti ini adalah kondisi yang paling sulit, karena itu Allah سبحانه وتعالى membuat perumpamaan ini dengan FirmanNya, ﴾ أَيَوَدُّ أَحَدُكُمۡ . . . ﴿ "Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin..." hingga akhir ayat, dengan menggunakan rangkaian kalimat pertanyaan yang kengeriannya dapat dipahami secara benar oleh orang-orang yang menjadi sasaran pesan (ayat ini). Karena musnahnya dalam sekali waktu sekaligus setelah keindahan pepohonannya dan ranumnya buah-buahnya, maka itu menjadi musibah yang sangat besar. Kemudian terjadinya musibah yang tiba-tiba ini, sedangkan pemiliknya telah tua dan tidak mampu lagi bekerja, dan dia memi-liki keturunan yang masih kecil-kecil yang tidak mampu memban-tunya dan meringankan bebannya adalah masalah lain. Maka subyek dari perumpamaan ini yang telah beramal karena Allah kemudian dia membatalkan amalannya itu dengan sikap yang menafikannya, menyerupai kondisi pemilik taman tadi yang terjadi padanya apa yang telah terjadi ketika kebutuhan-nya sangat mendesak kepadanya. Perumpamaan ketiga, adalah orang yang ingin dilihat oleh orang lain, tidak disirami iman kepada Allah dan tidak karena mengharap pahala di sisiNya, di mana Allah mengumpamakan hatinya seperti batu licin yang di atasnya ada tanah. Orang yang riya` itu mengira bahwa akan tumbuh tanaman darinya bila di-timpa hujan sebagaimana tanaman tumbuh di tanah yang subur. Akan tetapi itu adalah batu yang bila ditimpa hujan deras, maka lenyaplah apa yang ada di atas batu tersebut. Hal ini adalah perumpamaan yang pas bagi hati orang yang riya` yang tidak ada keimanan padanya, bahkan hati yang keras yang tidak akan lembut dan tidak khusyu'. Inilah amal perbuatan-nya dan infak-infaknya, tidaklah ada asasnya sama sekali yang mendasarinya dan juga tidak memiliki tujuan yang digapai, bahkan apa yang dilakukannya adalah batil karena tidak ada syaratnya. Yang sebelumnya batal setelah adanya syarat, namun juga ada penghalangnya, sedang yang pertama diterima dan dilipat gandakan karena terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu keimanan dan keikhlasan niat, keteguhan (hati) dan terbebasnya dari penghalang-penghalang yang merusaknya. Tiga perumpamaan ini sesuai untuk seluruh orang-orang yang beramal. Maka seorang hamba hendaklah menimbang diri-nya atau selainnya dengan timbangan-timbangan yang adil dan perumpamaan-perumpamaan yang sesuai tersebut. ﴾ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ 43 ﴿ "Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (Al-Ankabut: 43).

Al-Baqarah 2:267

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan jangan-lah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahui-lah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari padaNya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karu-niaNya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 267-268). (267-268) Allah menganjurkan kepada hamba-hambaNya untuk menginfakkan sebagian apa yang mereka dapatkan dalam berniaga, dan sebagian dari apa yang mereka panen dari tanaman dari biji-bijian maupun buah-buahan, hal ini mencakup zakat uang maupun seluruh perdagangan yang dipersiapkan untuk dijual belikan, juga hasil pertanian dari biji-bijian dan buah-buahan. Ter-masuk dalam keumuman ayat ini, infak yang wajib maupun yang sunnah. Allah تعالى memerintahkan untuk memilih yang baik dari itu semua dan tidak memilih yang buruk, yaitu yang jelek lagi rendah (mutunya) lalu mereka sedekahkan karena Allah, yang seandainya mereka memberikan barang yang seperti itu kepada orang-orang yang berhak menerimanya, pastilah mereka pun tidak akan me-ridhainya, mereka tidak akan menerimanya kecuali dengan kedong-kolan dan memicingkan mata. Maka yang seharusnya adalah mengeluarkan yang tengah-tengah dari semua itu, dan yang lebih sempurna adalah mengeluarkan yang paling baik. Dan yang di-larang adalah mengeluarkan yang jelek, karena yang ini tidaklah memenuhi infak yang wajib dan tidak akan memperoleh pahala yang sempurna dalam infak yang sunnah. ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ ﴿ "Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji." Allah Mahakaya atas seluruh makhluk, Allah Maha-kaya dari infak orang-orang yang berinfak, dan Allah Mahakaya atas ketaatan orang-orang yang taat. Allah memerintahkan hal itu kepada mereka dan menganjurkan mereka untuk itu demi kemas-lahatan mereka sendiri, dan semata-mata karena karunia dan ke-muliaanNya atas mereka. Di samping kesempurnaan kekayaanNya dan luasnya pemberianNya, Dia pun Maha Terpuji dalam segala perkara yang disyariatkanNya untuk hamba-hambaNya dari hu-kum-hukum yang menyampaikan mereka kepada negeri kesela-matan. Dia Terpuji dalam perbuatan-perbuatanNya yang tidak akan keluar dari koridor karunia, keadilan, dan hikmahNya. Terpuji sifat-sifatNya, karena sifat-sifat Allah semuanya baik dan sempurna, yang tidak ada seorang pun dari hamba-hambaNya yang mampu sampai kepada eksistensinya dan tidak akan mengerti seperti apa persisnya sifat-sifat tersebut. Ketika Allah menganjurkan mereka untuk berinfak yang berguna, Allah juga melarang mereka dari menahan harta mereka yang dapat merugikan, dan Allah menjelaskan kepada mereka bahwa mereka itu di antara dua seruan: Pertama, seruan Yang Maha Penyayang, yang mengajak kepada kebaikan, menjanjikan kepada-nya kebaikan, karunia, dan pahala yang segera maupun yang ter-tunda serta mengganti apa yang telah mereka infakkan, dan kedua, seruan dari setan yang mengajak mereka untuk menahan harta dan menakut-nakuti mereka bila mereka menginfakkan harta mereka, pastilah mereka akan menjadi miskin. Siapa yang memenuhi seruan ar-Rahman lalu ia menginfak-kan sebagian dari apa yang Allah rizkikan kepadanya, maka ber-gembiralah dengan ampunan dosa dan mendapatkan apa yang dicarinya. Dan barangsiapa yang mengikuti penyeru setan, maka sesungguhnya setan hanya mengajak kelompoknya agar menjadi penghuni-penghuni neraka. Karena itu, seorang hamba harus memilih di antara kedua perkara itu yang lebih pantas dan cocok untuknya. Lalu Allah menutup ayat ini bahwasanya Dia ﴾ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui," maksudnya, luas sifat-sifatNya, banyak pemberianNya, Maha Mengetahui orang yang berhak untuk dilipat gandakan pahalanya dari orang-orang yang beramal dan Maha Mengetahui orang yang pantas yang akan dibimbing kepada perbuatan kebajikan dan meninggalkan ke-mungkaran.

Al-Baqarah 2:268

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan jangan-lah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahui-lah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari padaNya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karu-niaNya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 267-268). (267-268) Allah menganjurkan kepada hamba-hambaNya untuk menginfakkan sebagian apa yang mereka dapatkan dalam berniaga, dan sebagian dari apa yang mereka panen dari tanaman dari biji-bijian maupun buah-buahan, hal ini mencakup zakat uang maupun seluruh perdagangan yang dipersiapkan untuk dijual belikan, juga hasil pertanian dari biji-bijian dan buah-buahan. Ter-masuk dalam keumuman ayat ini, infak yang wajib maupun yang sunnah. Allah تعالى memerintahkan untuk memilih yang baik dari itu semua dan tidak memilih yang buruk, yaitu yang jelek lagi rendah (mutunya) lalu mereka sedekahkan karena Allah, yang seandainya mereka memberikan barang yang seperti itu kepada orang-orang yang berhak menerimanya, pastilah mereka pun tidak akan me-ridhainya, mereka tidak akan menerimanya kecuali dengan kedong-kolan dan memicingkan mata. Maka yang seharusnya adalah mengeluarkan yang tengah-tengah dari semua itu, dan yang lebih sempurna adalah mengeluarkan yang paling baik. Dan yang di-larang adalah mengeluarkan yang jelek, karena yang ini tidaklah memenuhi infak yang wajib dan tidak akan memperoleh pahala yang sempurna dalam infak yang sunnah. ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ ﴿ "Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji." Allah Mahakaya atas seluruh makhluk, Allah Maha-kaya dari infak orang-orang yang berinfak, dan Allah Mahakaya atas ketaatan orang-orang yang taat. Allah memerintahkan hal itu kepada mereka dan menganjurkan mereka untuk itu demi kemas-lahatan mereka sendiri, dan semata-mata karena karunia dan ke-muliaanNya atas mereka. Di samping kesempurnaan kekayaanNya dan luasnya pemberianNya, Dia pun Maha Terpuji dalam segala perkara yang disyariatkanNya untuk hamba-hambaNya dari hu-kum-hukum yang menyampaikan mereka kepada negeri kesela-matan. Dia Terpuji dalam perbuatan-perbuatanNya yang tidak akan keluar dari koridor karunia, keadilan, dan hikmahNya. Terpuji sifat-sifatNya, karena sifat-sifat Allah semuanya baik dan sempurna, yang tidak ada seorang pun dari hamba-hambaNya yang mampu sampai kepada eksistensinya dan tidak akan mengerti seperti apa persisnya sifat-sifat tersebut. Ketika Allah menganjurkan mereka untuk berinfak yang berguna, Allah juga melarang mereka dari menahan harta mereka yang dapat merugikan, dan Allah menjelaskan kepada mereka bahwa mereka itu di antara dua seruan: Pertama, seruan Yang Maha Penyayang, yang mengajak kepada kebaikan, menjanjikan kepada-nya kebaikan, karunia, dan pahala yang segera maupun yang ter-tunda serta mengganti apa yang telah mereka infakkan, dan kedua, seruan dari setan yang mengajak mereka untuk menahan harta dan menakut-nakuti mereka bila mereka menginfakkan harta mereka, pastilah mereka akan menjadi miskin. Siapa yang memenuhi seruan ar-Rahman lalu ia menginfak-kan sebagian dari apa yang Allah rizkikan kepadanya, maka ber-gembiralah dengan ampunan dosa dan mendapatkan apa yang dicarinya. Dan barangsiapa yang mengikuti penyeru setan, maka sesungguhnya setan hanya mengajak kelompoknya agar menjadi penghuni-penghuni neraka. Karena itu, seorang hamba harus memilih di antara kedua perkara itu yang lebih pantas dan cocok untuknya. Lalu Allah menutup ayat ini bahwasanya Dia ﴾ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui," maksudnya, luas sifat-sifatNya, banyak pemberianNya, Maha Mengetahui orang yang berhak untuk dilipat gandakan pahalanya dari orang-orang yang beramal dan Maha Mengetahui orang yang pantas yang akan dibimbing kepada perbuatan kebajikan dan meninggalkan ke-mungkaran.

Al-Baqarah 2:269

"Allah menganugerahkan al-Hikmah (kepahaman yang dalam tentang al-Qur`an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari Firman Allah)." (Al-Baqarah: 269). (269) Tatkala Allah menjelaskan tentang kondisi orang-orang yang menafkahkan hartanya, dan bahwa Allah-lah yang memberikan kepada mereka dan mengaruniakan untuk mereka harta yang mampu mereka keluarkan nafkahnya di jalan-jalan kebajikan, dan dengan itu mereka memperoleh kedudukan yang mulia, Allah menyebutkan apa yang lebih besar dari hal tersebut, yaitu bahwasanya Allah akan memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya dan siapa yang Dia kehendaki kebaikan padanya dari hamba-hambaNya. Hikmah itu adalah ilmu-ilmu yang bermanfaat, pengetahuan yang benar, akal yang lurus, pemikiran yang matang, dan tercipta-nya kebenaran dalam perkataan maupun perbuatan. Inilah anu-gerah yang paling utama dan karunia yang paling baik. Karena itu Allah berfirman, ﴾ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِيَ خَيۡرٗا كَثِيرٗاۗ ﴿ "Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak." Karena dia telah keluar dari gelapnya kebodohan kepada cahaya petunjuk, dari kepandiran penyimpangan dalam perkataan dan perbuatan menuju tepatnya kebenaran padanya, serta tercipta-nya kebenaran, dan karena ia telah menyempurnakan dirinya de-ngan kebajikan yang agung dan bermanfaat untuk makhluk dengan manfaat yang paling besar dalam agama dan dunia mereka. Seluruh perkara tidak akan berjalan baik kecuali dengan hikmah, yaitu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan me-nempatkan segala perkara pada posisinya masing-masing, menda-hulukan perkara yang harus didahulukan, mengulur perkara yang memang harus diulur. Akan tetapi perkara yang agung ini tidak akan diingat dan tidak akan mengetahui derajat pemberian yang besar ini, ﴾ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "kecuali orang-orang yang berakal." Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki akal sehat dan cita-cita yang sempurna. Mereka itulah yang mengetahui yang berguna lalu mereka melakukannya dan juga mengetahui yang mudarat lalu mereka meninggalkannya. Kedua perkara ini yaitu mengerahkan nafkah-nafkah harta dan mengerahkan hikmah keilmuan adalah lebih utama bagi orang yang mendekatkan diri dengannya kepada Allah dan perkara yang paling tinggi yang menyampaikannya kepada kemuliaan yang paling agung. Kedua perkara itulah yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya, لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللّٰهُ مَالًا فَسلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللّٰهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يُعَلِّمُهَا النَّاسَ. "Tidak boleh hasad kecuali dalam dua perkara:(Pertama), seseorang yang diberikan oleh Allah harta lalu ia menguasainya dengan mengha-biskannya dalam kebenaran, dan (kedua), seseorang yang diberikan oleh Allah al-Hikmah lalu dia mengajarkannya kepada manusia."[30]

Al-Baqarah 2:270

"Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zhalim tidak ada seorang penolong pun bagi-nya. Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan darimu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqarah: 270-271). (270-271) Allah تعالى mengabarkan bahwa bagaimanapun orang-orang yang berinfak itu menginfakkan hartanya, orang-orang yang bersedekah itu menyedekahkan hartanya dan orang-orang yang bernadzar itu menunaikan nadzarnya, sesungguhnya Allah mengetahui semua itu. Kandungan dari kabar tentang pengeta-huanNya itu menunjukkan tentang adanya balasan, dan bahwa Allah tidak akan melalaikannya di sisiNya walau seberat biji atom. Allah mengetahui apa yang terbesit dalam hati dari niat yang baik maupun yang buruk. Dan bahwasanya orang-orang yang zhalim yang tidak mengajarkan apa yang telah diwajibkan oleh Allah atas mereka, atau mereka melanggar apa yang telah Allah haramkan atas mereka; mereka tidak memiliki seorang penolong pun selain-Nya yang mampu menolong dan melindungi mereka. Mereka pasti akan dihukum. Allah mengabarkan juga bahwa sedekah yang ditampakkan oleh orang yang bersedekah itu adalah baik, dan bila dia menyem-bunyikannya dan menyerahkannya kepada orang yang fakir ada-lah lebih utama, karena menyembunyikan sedekah kepada orang fakir adalah kebaikan lain dan juga hal itu menunjukkan kuatnya keikhlasan. Salah satu dari tujuh kelompok yang akan dinaungi oleh naungan Allah di Hari Kiamat nanti adalah orang yang ber-sedekah dengan sebuah pemberian, lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan dalam Firman Allah,﴾ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu beri-kan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi-mu," terkandung sebuah faidah yang lembut yaitu bahwa tindakan menyembunyikan sedekah adalah lebih baik daripada menampak-kannya apabila Anda memberikannya kepada seorang fakir. Adapun bila Anda menafkahkan harta dalam kegiatan-ke-giatan sosial, dalam ayat ini tidak ada indikasi yang menunjukkan tentang keutamaan menyembunyikan infak, bahkan ada sebuah kaidah syariat yang menunjukkan perlunya mempertimbangkan kemaslahatan, sehingga mungkin saja menampakkannya untuk memberikan suri tauladan dan contoh, serta mendorong orang lain untuk berbuat dengan amalan kebaikan (yang sama), akan menjadi lebih baik. Dan FirmanNya, ﴾ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّـَٔاتِكُمۡۗ ﴿ "Dan Allah akan menghapuskan darimu sebagian kesalahan-kesalahanmu." Dalam ayat ini terdapat indiksi bahwa dalam sedekah terkumpul dua hal: Pertama, memperoleh kebaikan, yaitu banyaknya balasan baik dan pahala serta ganjarannya, dan kedua, menolak kejahatan dan musibah dunia dan akhirat dengan penghapusan dosa-dosa, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan," maka Allah membalas dengan hikmahNya setiap orang sesuai amal-amalnya.

Al-Baqarah 2:271

"Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zhalim tidak ada seorang penolong pun bagi-nya. Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan darimu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqarah: 270-271). (270-271) Allah تعالى mengabarkan bahwa bagaimanapun orang-orang yang berinfak itu menginfakkan hartanya, orang-orang yang bersedekah itu menyedekahkan hartanya dan orang-orang yang bernadzar itu menunaikan nadzarnya, sesungguhnya Allah mengetahui semua itu. Kandungan dari kabar tentang pengeta-huanNya itu menunjukkan tentang adanya balasan, dan bahwa Allah tidak akan melalaikannya di sisiNya walau seberat biji atom. Allah mengetahui apa yang terbesit dalam hati dari niat yang baik maupun yang buruk. Dan bahwasanya orang-orang yang zhalim yang tidak mengajarkan apa yang telah diwajibkan oleh Allah atas mereka, atau mereka melanggar apa yang telah Allah haramkan atas mereka; mereka tidak memiliki seorang penolong pun selain-Nya yang mampu menolong dan melindungi mereka. Mereka pasti akan dihukum. Allah mengabarkan juga bahwa sedekah yang ditampakkan oleh orang yang bersedekah itu adalah baik, dan bila dia menyem-bunyikannya dan menyerahkannya kepada orang yang fakir ada-lah lebih utama, karena menyembunyikan sedekah kepada orang fakir adalah kebaikan lain dan juga hal itu menunjukkan kuatnya keikhlasan. Salah satu dari tujuh kelompok yang akan dinaungi oleh naungan Allah di Hari Kiamat nanti adalah orang yang ber-sedekah dengan sebuah pemberian, lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan dalam Firman Allah,﴾ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu beri-kan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi-mu," terkandung sebuah faidah yang lembut yaitu bahwa tindakan menyembunyikan sedekah adalah lebih baik daripada menampak-kannya apabila Anda memberikannya kepada seorang fakir. Adapun bila Anda menafkahkan harta dalam kegiatan-ke-giatan sosial, dalam ayat ini tidak ada indikasi yang menunjukkan tentang keutamaan menyembunyikan infak, bahkan ada sebuah kaidah syariat yang menunjukkan perlunya mempertimbangkan kemaslahatan, sehingga mungkin saja menampakkannya untuk memberikan suri tauladan dan contoh, serta mendorong orang lain untuk berbuat dengan amalan kebaikan (yang sama), akan menjadi lebih baik. Dan FirmanNya, ﴾ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّـَٔاتِكُمۡۗ ﴿ "Dan Allah akan menghapuskan darimu sebagian kesalahan-kesalahanmu." Dalam ayat ini terdapat indiksi bahwa dalam sedekah terkumpul dua hal: Pertama, memperoleh kebaikan, yaitu banyaknya balasan baik dan pahala serta ganjarannya, dan kedua, menolak kejahatan dan musibah dunia dan akhirat dengan penghapusan dosa-dosa, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan," maka Allah membalas dengan hikmahNya setiap orang sesuai amal-amalnya.

Al-Baqarah 2:272

"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendakiNya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu me-lainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (di-rugikan)." (Al-Baqarah: 272). (272) Maksudnya, sesungguhnya kewajibanmu wahai Rasul, hanyalah menyampaikan dan mengajak manusia kepada kebaikan dan memperingatkan mereka dari keburukan; adapun petunjuk, maka hanya di Tangan Allah تعالى. Dan Allah mengabarkan tentang orang-orang Mukmin secara benar, bahwasanya mereka tidaklah bersedekah kecuali hanya untuk mengharapkan Wajah Allah, karena keimanan mereka me-ngajak mereka kepada hal tersebut. Maka kabar ini adalah sebuah kebaikan dan pernyataan baik bagi kaum Mukminin, dan juga mengingatkan mereka untuk ikhlas, dan Allah mengulang-ulang pengetahuanNya tentang sedekah-sedekah mereka demi membe-ritahu mereka bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun di sisiNya dari amal hamba walaupun seberat biji atom, dan bila hal itu adalah kebaikan, maka Allah akan melipat gandakan dan akan memberikan pahala yang besar.

Al-Baqarah 2:273

"(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersem-bunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 273-274). (273) Maksudnya adalah bahwa seyogyanya kalian ber-usaha dalam memberikan sedekah-sedekah kalian kepada orang-orang fakir yang menahan diri mereka pada jalan Allah dan pada ketaatan kepadaNya, dan mereka tidak memiliki (jalan untuk mewujudkan) kehendak mencari nafkah atau malah mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu. Mereka menahan diri dari me-minta-minta, yang bila mereka dilihat oleh orang-orang bodoh, pastilah mereka akan menduga bahwa mereka adalah orang-orang kaya. ﴾ لَا يَسۡـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ ﴿ "Mereka tidak meminta kepada orang se-cara mendesak"; mereka tidak meminta secara umum, dan bila mereka harus meminta pun karena darurat, mereka tidak akan meminta-nya dengan memaksa. Kelompok orang-orang fakir yang satu ini adalah lebih utama untuk diberikan nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka dan menolong mereka dalam menyampaikan mereka kepada tujuan mereka dan kepada jalan yang baik, dan sebagai ucapan terima kasih buat mereka karena kesabaran yang mereka lakukan dan orientasi mereka kepada Allah Yang Maha Mencipta dan bukan kepada makhluk. Walaupun demikian, ber-infak dalam segala jalan kebaikan dan menutupi segala kebutuhan di mana pun didapatkan maka semua itu adalah kebaikan, dan pahala serta ganjarannya ada di sisi Allah. Oleh karena itu Allah berfirman, (274) ﴾ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "Orang-orang yang menafkahkan harta-nya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati," karena Allah تعالى akan menaungi mereka dengan naunganNya pada hari di mana tidak ada naungan selain naunganNya. Allah akan memberi me-reka kebaikan-kebaikan dan menolak dari mereka kesedihan, pera-saan takut, dan khawatir, serta segala perkara yang dibenci. Dan FirmanNya, ﴾ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "Maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya," setiap orang dari mereka menurut kondisinya masing-masing. Pengkhususan bahwa semua itu di sisi Tuhan mereka, menunjukkan atas kemuliaan kondisi tersebut dan keberadaannya pada suatu tempat yang besar, sebagaimana dalam hadits shahih, إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَصَدَّقُ بِالتَّمْرَةِ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ فَيَتَقَبَّلُهَا الْجَبَّارُ بِيَدِهِ فَيُرْبِيْهَا لِأَحَدِكُمْ كَمَا يُرْبِي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ الْعَظِيْمِ. "Sesungguhnya seorang hamba bersedekah dengan sebiji kurma dari hasil usaha yang baik lalu diterima oleh Yang Maha Memaksa dengan TanganNya lalu Dia mengembangkannya untuk salah seorang di antara kalian sebagaimana salah seorang dari kalian mengembangkan anak kuda-nya hingga menjadi seperti gunung yang besar."[31]

Al-Baqarah 2:274

"(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersem-bunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 273-274). (273) Maksudnya adalah bahwa seyogyanya kalian ber-usaha dalam memberikan sedekah-sedekah kalian kepada orang-orang fakir yang menahan diri mereka pada jalan Allah dan pada ketaatan kepadaNya, dan mereka tidak memiliki (jalan untuk mewujudkan) kehendak mencari nafkah atau malah mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu. Mereka menahan diri dari me-minta-minta, yang bila mereka dilihat oleh orang-orang bodoh, pastilah mereka akan menduga bahwa mereka adalah orang-orang kaya. ﴾ لَا يَسۡـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ ﴿ "Mereka tidak meminta kepada orang se-cara mendesak"; mereka tidak meminta secara umum, dan bila mereka harus meminta pun karena darurat, mereka tidak akan meminta-nya dengan memaksa. Kelompok orang-orang fakir yang satu ini adalah lebih utama untuk diberikan nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka dan menolong mereka dalam menyampaikan mereka kepada tujuan mereka dan kepada jalan yang baik, dan sebagai ucapan terima kasih buat mereka karena kesabaran yang mereka lakukan dan orientasi mereka kepada Allah Yang Maha Mencipta dan bukan kepada makhluk. Walaupun demikian, ber-infak dalam segala jalan kebaikan dan menutupi segala kebutuhan di mana pun didapatkan maka semua itu adalah kebaikan, dan pahala serta ganjarannya ada di sisi Allah. Oleh karena itu Allah berfirman, (274) ﴾ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "Orang-orang yang menafkahkan harta-nya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati," karena Allah تعالى akan menaungi mereka dengan naunganNya pada hari di mana tidak ada naungan selain naunganNya. Allah akan memberi me-reka kebaikan-kebaikan dan menolak dari mereka kesedihan, pera-saan takut, dan khawatir, serta segala perkara yang dibenci. Dan FirmanNya, ﴾ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "Maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya," setiap orang dari mereka menurut kondisinya masing-masing. Pengkhususan bahwa semua itu di sisi Tuhan mereka, menunjukkan atas kemuliaan kondisi tersebut dan keberadaannya pada suatu tempat yang besar, sebagaimana dalam hadits shahih, إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَصَدَّقُ بِالتَّمْرَةِ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ فَيَتَقَبَّلُهَا الْجَبَّارُ بِيَدِهِ فَيُرْبِيْهَا لِأَحَدِكُمْ كَمَا يُرْبِي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ الْعَظِيْمِ. "Sesungguhnya seorang hamba bersedekah dengan sebiji kurma dari hasil usaha yang baik lalu diterima oleh Yang Maha Memaksa dengan TanganNya lalu Dia mengembangkannya untuk salah seorang di antara kalian sebagaimana salah seorang dari kalian mengembangkan anak kuda-nya hingga menjadi seperti gunung yang besar."[31]

Al-Baqarah 2:275

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguh-nya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalal-kan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya nasihat (berupa larangan) dari Tuhannya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah di-ambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (ter-serah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam keka-firan, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menu-naikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka ber-sedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang yang ber-hutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-ma-sing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugi-kan)." (Al-Baqarah: 275-281). (275) Setelah Allah menyebutkan tentang kondisi orang-orang yang bersedekah dan apa-apa yang akan mereka dapatkan di sisi Allah dari segala kebaikan dan digugurkannya kesalahan dan dosa-dosa mereka, lalu Allah menyebutkan tentang orang-orang yang zhalim; para pemakan riba dan yang memiliki muamalah yang licik. Allah mengabarkan bahwa mereka akan diberi balasan menurut perbuatan mereka. Untuk itu, sebagaimana mereka saat masih di dunia dalam mencari penghidupan yang keji seperti orang-orang gila, mereka disiksa di alam barzakh dan pada Hari Kiamat, bahwa mereka tidak akan bangkit dari kubur mereka hingga Hari Kebangkitan dan hari berkumpulnya makhluk,﴾ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ﴿ "melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila." Maksudnya, dari kegilaan dan kerasukan. Itu adalah siksaan, penghinaan, dan dipamerkannya segala dosanya, sebagai balasan untuk mereka atas segala bentuk riba mereka dan kelancangan mereka dengan berkata,﴾ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ ﴿ "Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba." Mereka menyatukan -dengan kelancangan mereka- antara apa yang dihalalkan oleh Allah dengan apa yang diharamkan olehNya hingga mereka membolehkan riba dengan hal itu. Allah kemudian menawarkan kepada orang-orang yang melakukan praktik riba dan selain mereka untuk bertaubat dalam FirmanNya, ﴾ فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ ﴿ "Orang-orang yang telah sampai kepa-danya nasihat (berupa larangan) dari Rabbnya," sebuah penjelasan yang disertai dengan janji dan ancaman, ﴾ فَٱنتَهَىٰ ﴿ "lalu berhenti (dari mengambil riba)," yakni dari apa yang mereka lakukan dari praktik riba, ﴾ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ ﴿ "maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (se-belum datang larangan)" dari perkara yang lancang ia lakukan, lalu ia bertaubat darinya, ﴾ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "dan urusannya (terserah) kepada Allah" pada masa yang akan datang jika dia masih terus dalam taubatnya. Allah tidak akan melalaikan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan. ﴾ وَمَنۡ عَادَ ﴿ "Dan orang yang mengulangi (mengambil riba)" sete-lah penjelasan Allah dan peringatanNya serta ancamanNya terha-dap orang yang memakan riba, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." Di sini terkandung isyarat bahwa riba itu berkonsekuensi masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal itu karena kejelekannya, selama tidak ada yang menghalangi kekekalannya yaitu keimanan. Ini di antara sejumlah hukum-hukum yang tergantung kepada terpenuhi-nya dan terbebasnya dari penghalang. Ayat ini bukan hujjah bagi Khawarij atau lainnya dari ayat-ayat ancaman. Yang wajib adalah meyakini semua nash-nash al-Qur`an maupun as-Sunnah, maka seorang Mukmin harus percaya dengan nash-nash yang diriwayat-kan secara mutawatir yaitu akan keluarnya orang yang ada dalam hatinya keimanan walaupun seberat biji sawi dari neraka, dan dari hal yang merupakan perkara yang membinasakan yang mema-sukkan ke dalam neraka apabila ia tidak bertaubat darinya. (276) Kemudian Allah تعالى mengabarkan bahwasanya Dia akan memusnahkan hasil usaha orang-orang yang berpraktik riba dan menyuburkan sedekah orang-orang yang berinfak. Ini berla-wanan dengan apa yang terbersit pada pikiran sebagian besar orang bahwa berinfak itu akan mengurangi harta dan bahwa riba itu akan menambahnya. Karena materi rizki dan mendapatkan buah hasilnya adalah dari Allah تعالى, dan apa yang ada di sisi Allah tidaklah bisa didapatkan kecuali dengan ketaatan kepadaNya dan melaksanakan perintahNya. Maka orang yang lancang melakukan praktik riba, Allah akan menghukumnya dengan apa yang berla-wanan dengan tujuannya. Ini telah terbukti dan dapat dilihat dalam praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa," yaitu orang yang kafir terhadap nikmat Allah, meng-ingkari karunia Rabbnya dan berbuat dosa dengan selalu melaku-kan kemaksiatan. Pemahaman ayat ini adalah bahwa Allah sangat menyukai orang yang gemar bersyukur terhadap nikmat-nikmat, bertaubat dari segala dosa dan kesalahan, kemudian Allah menyisipkan ayat yang satu berikut ini dalam ayat-ayat riba yaitu FirmanNya, (277-279) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ...﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat..." adalah untuk menjelaskan bahwa sebesar-besarnya sebab untuk menjauhkan diri dari apa yang diharamkan oleh Allah dari pendapatan-pendapatan ribawi adalah menyempurnakan keimanan dan hak-haknya, khususnya menegakkan shalat dan menunaikan zakat, karena shalat itu men-cegah dari perbuatan yang keji dan mungkar. Dan zakat adalah kebajikan kepada makhluk yang meniadakan praktik riba yang jelas-jelas merupakan kezhaliman bagi mereka dan keburukan atas mereka. Kemudian Allah menghadapkan FirmanNya kepada kaum Mukminin dan memerintahkan kepada mereka agar bertakwa kepadaNya dan agar mereka meninggalkan sisa-sisa muamalah dengan riba yang mereka kerjakan sebelumnya, dan bahwa bila mereka tidak melakukan hal itu, maka sesungguhnya mereka itu telah memerangi Allah dan RasulNya. Inilah bukti yang paling jelas yang diakibatkan oleh kebu-sukan riba, di mana Allah menjadikan orang yang suka berpraktik riba menjadi orang yang memerangi Allah dan RasulNya. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَإِن تُبۡتُمۡ ﴿ "Dan jika kamu bertaubat." Maksudnya, dari mu'amalah ribawiyah, ﴾ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ ﴿ "maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya" manusia lain dengan mengambil riba, ﴾ وَلَا تُظۡلَمُونَ ﴿ "dan tidak (pula) dianiaya" de-ngan tindakan kalian mengurangi pokok harta kalian. Maka siapa pun yang bertaubat dari riba walaupun muamalah yang telah ber-lalu adalah miliknya, maka perkaranya akan diperhatikan (Allah). Namun apabila muamalahnya masih berjalan, wajiblah ia hanya mengambil pokok hartanya saja. Dan bila ia mengambilnya lebih dari itu, maka ia telah berani melakukan riba. Ayat ini merupakan penjelasan akan hikmah (diharamkannya riba) dan bahwa riba itu meliputi kezhaliman bagi orang-orang yang membutuhkan dengan mengambil tambahan dan melipat gandakan riba atas mereka, padahal dia seharusnya menangguh-kan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman; (280-281) ﴾ وَإِن كَانَ ذُو عُسۡرَةٖ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيۡسَرَةٖۚ ﴿ "Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia ber-kelapangan." Maksudnya, apabila yang memikul hutang itu dalam keadaan sulit dan tidak mampu menunaikan hutangnya, maka wajiblah atas pemilik piutang untuk menangguhkan orang itu hingga kondisinya lapang. Dan piutang bagi orang yang berhutang itu wajib apabila telah mendapatkan kadar hutangnya dengan jalan apa pun yang mubah agar segera melunasi hutangnya itu. Apabila pemilik piutang itu bersedekah kepadanya dengan memaafkan hutang itu semuanya atau sebagiannya, maka itu lebih baik baginya, dan akan mudah bagi seorang hamba untuk konsisten terhadap perkara-perkara syariat dan menjauhi praktik-praktik riba serta berbuat kebajikan kepada orang-orang yang sedang sulit. Semua itu karena pengetahuannya bahwa suatu hari nanti dirinya akan kembali kepada Allah dan akan dipenuhi baginya amalannya ter-sebut, dan Allah tidak akan menganiaya dirinya sedikit pun, seba-gaimana Allah menutup ayat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَٱتَّقُواْ يَوۡمٗا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikem-balikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit-pun tidak dianiaya (dirugikan)."

Al-Baqarah 2:276

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguh-nya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalal-kan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya nasihat (berupa larangan) dari Tuhannya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah di-ambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (ter-serah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam keka-firan, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menu-naikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka ber-sedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang yang ber-hutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-ma-sing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugi-kan)." (Al-Baqarah: 275-281). (275) Setelah Allah menyebutkan tentang kondisi orang-orang yang bersedekah dan apa-apa yang akan mereka dapatkan di sisi Allah dari segala kebaikan dan digugurkannya kesalahan dan dosa-dosa mereka, lalu Allah menyebutkan tentang orang-orang yang zhalim; para pemakan riba dan yang memiliki muamalah yang licik. Allah mengabarkan bahwa mereka akan diberi balasan menurut perbuatan mereka. Untuk itu, sebagaimana mereka saat masih di dunia dalam mencari penghidupan yang keji seperti orang-orang gila, mereka disiksa di alam barzakh dan pada Hari Kiamat, bahwa mereka tidak akan bangkit dari kubur mereka hingga Hari Kebangkitan dan hari berkumpulnya makhluk,﴾ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ﴿ "melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila." Maksudnya, dari kegilaan dan kerasukan. Itu adalah siksaan, penghinaan, dan dipamerkannya segala dosanya, sebagai balasan untuk mereka atas segala bentuk riba mereka dan kelancangan mereka dengan berkata,﴾ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ ﴿ "Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba." Mereka menyatukan -dengan kelancangan mereka- antara apa yang dihalalkan oleh Allah dengan apa yang diharamkan olehNya hingga mereka membolehkan riba dengan hal itu. Allah kemudian menawarkan kepada orang-orang yang melakukan praktik riba dan selain mereka untuk bertaubat dalam FirmanNya, ﴾ فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ ﴿ "Orang-orang yang telah sampai kepa-danya nasihat (berupa larangan) dari Rabbnya," sebuah penjelasan yang disertai dengan janji dan ancaman, ﴾ فَٱنتَهَىٰ ﴿ "lalu berhenti (dari mengambil riba)," yakni dari apa yang mereka lakukan dari praktik riba, ﴾ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ ﴿ "maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (se-belum datang larangan)" dari perkara yang lancang ia lakukan, lalu ia bertaubat darinya, ﴾ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "dan urusannya (terserah) kepada Allah" pada masa yang akan datang jika dia masih terus dalam taubatnya. Allah tidak akan melalaikan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan. ﴾ وَمَنۡ عَادَ ﴿ "Dan orang yang mengulangi (mengambil riba)" sete-lah penjelasan Allah dan peringatanNya serta ancamanNya terha-dap orang yang memakan riba, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." Di sini terkandung isyarat bahwa riba itu berkonsekuensi masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal itu karena kejelekannya, selama tidak ada yang menghalangi kekekalannya yaitu keimanan. Ini di antara sejumlah hukum-hukum yang tergantung kepada terpenuhi-nya dan terbebasnya dari penghalang. Ayat ini bukan hujjah bagi Khawarij atau lainnya dari ayat-ayat ancaman. Yang wajib adalah meyakini semua nash-nash al-Qur`an maupun as-Sunnah, maka seorang Mukmin harus percaya dengan nash-nash yang diriwayat-kan secara mutawatir yaitu akan keluarnya orang yang ada dalam hatinya keimanan walaupun seberat biji sawi dari neraka, dan dari hal yang merupakan perkara yang membinasakan yang mema-sukkan ke dalam neraka apabila ia tidak bertaubat darinya. (276) Kemudian Allah تعالى mengabarkan bahwasanya Dia akan memusnahkan hasil usaha orang-orang yang berpraktik riba dan menyuburkan sedekah orang-orang yang berinfak. Ini berla-wanan dengan apa yang terbersit pada pikiran sebagian besar orang bahwa berinfak itu akan mengurangi harta dan bahwa riba itu akan menambahnya. Karena materi rizki dan mendapatkan buah hasilnya adalah dari Allah تعالى, dan apa yang ada di sisi Allah tidaklah bisa didapatkan kecuali dengan ketaatan kepadaNya dan melaksanakan perintahNya. Maka orang yang lancang melakukan praktik riba, Allah akan menghukumnya dengan apa yang berla-wanan dengan tujuannya. Ini telah terbukti dan dapat dilihat dalam praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa," yaitu orang yang kafir terhadap nikmat Allah, meng-ingkari karunia Rabbnya dan berbuat dosa dengan selalu melaku-kan kemaksiatan. Pemahaman ayat ini adalah bahwa Allah sangat menyukai orang yang gemar bersyukur terhadap nikmat-nikmat, bertaubat dari segala dosa dan kesalahan, kemudian Allah menyisipkan ayat yang satu berikut ini dalam ayat-ayat riba yaitu FirmanNya, (277-279) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ...﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat..." adalah untuk menjelaskan bahwa sebesar-besarnya sebab untuk menjauhkan diri dari apa yang diharamkan oleh Allah dari pendapatan-pendapatan ribawi adalah menyempurnakan keimanan dan hak-haknya, khususnya menegakkan shalat dan menunaikan zakat, karena shalat itu men-cegah dari perbuatan yang keji dan mungkar. Dan zakat adalah kebajikan kepada makhluk yang meniadakan praktik riba yang jelas-jelas merupakan kezhaliman bagi mereka dan keburukan atas mereka. Kemudian Allah menghadapkan FirmanNya kepada kaum Mukminin dan memerintahkan kepada mereka agar bertakwa kepadaNya dan agar mereka meninggalkan sisa-sisa muamalah dengan riba yang mereka kerjakan sebelumnya, dan bahwa bila mereka tidak melakukan hal itu, maka sesungguhnya mereka itu telah memerangi Allah dan RasulNya. Inilah bukti yang paling jelas yang diakibatkan oleh kebu-sukan riba, di mana Allah menjadikan orang yang suka berpraktik riba menjadi orang yang memerangi Allah dan RasulNya. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَإِن تُبۡتُمۡ ﴿ "Dan jika kamu bertaubat." Maksudnya, dari mu'amalah ribawiyah, ﴾ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ ﴿ "maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya" manusia lain dengan mengambil riba, ﴾ وَلَا تُظۡلَمُونَ ﴿ "dan tidak (pula) dianiaya" de-ngan tindakan kalian mengurangi pokok harta kalian. Maka siapa pun yang bertaubat dari riba walaupun muamalah yang telah ber-lalu adalah miliknya, maka perkaranya akan diperhatikan (Allah). Namun apabila muamalahnya masih berjalan, wajiblah ia hanya mengambil pokok hartanya saja. Dan bila ia mengambilnya lebih dari itu, maka ia telah berani melakukan riba. Ayat ini merupakan penjelasan akan hikmah (diharamkannya riba) dan bahwa riba itu meliputi kezhaliman bagi orang-orang yang membutuhkan dengan mengambil tambahan dan melipat gandakan riba atas mereka, padahal dia seharusnya menangguh-kan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman; (280-281) ﴾ وَإِن كَانَ ذُو عُسۡرَةٖ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيۡسَرَةٖۚ ﴿ "Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia ber-kelapangan." Maksudnya, apabila yang memikul hutang itu dalam keadaan sulit dan tidak mampu menunaikan hutangnya, maka wajiblah atas pemilik piutang untuk menangguhkan orang itu hingga kondisinya lapang. Dan piutang bagi orang yang berhutang itu wajib apabila telah mendapatkan kadar hutangnya dengan jalan apa pun yang mubah agar segera melunasi hutangnya itu. Apabila pemilik piutang itu bersedekah kepadanya dengan memaafkan hutang itu semuanya atau sebagiannya, maka itu lebih baik baginya, dan akan mudah bagi seorang hamba untuk konsisten terhadap perkara-perkara syariat dan menjauhi praktik-praktik riba serta berbuat kebajikan kepada orang-orang yang sedang sulit. Semua itu karena pengetahuannya bahwa suatu hari nanti dirinya akan kembali kepada Allah dan akan dipenuhi baginya amalannya ter-sebut, dan Allah tidak akan menganiaya dirinya sedikit pun, seba-gaimana Allah menutup ayat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَٱتَّقُواْ يَوۡمٗا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikem-balikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit-pun tidak dianiaya (dirugikan)."

Al-Baqarah 2:277

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguh-nya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalal-kan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya nasihat (berupa larangan) dari Tuhannya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah di-ambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (ter-serah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam keka-firan, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menu-naikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka ber-sedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang yang ber-hutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-ma-sing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugi-kan)." (Al-Baqarah: 275-281). (275) Setelah Allah menyebutkan tentang kondisi orang-orang yang bersedekah dan apa-apa yang akan mereka dapatkan di sisi Allah dari segala kebaikan dan digugurkannya kesalahan dan dosa-dosa mereka, lalu Allah menyebutkan tentang orang-orang yang zhalim; para pemakan riba dan yang memiliki muamalah yang licik. Allah mengabarkan bahwa mereka akan diberi balasan menurut perbuatan mereka. Untuk itu, sebagaimana mereka saat masih di dunia dalam mencari penghidupan yang keji seperti orang-orang gila, mereka disiksa di alam barzakh dan pada Hari Kiamat, bahwa mereka tidak akan bangkit dari kubur mereka hingga Hari Kebangkitan dan hari berkumpulnya makhluk,﴾ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ﴿ "melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila." Maksudnya, dari kegilaan dan kerasukan. Itu adalah siksaan, penghinaan, dan dipamerkannya segala dosanya, sebagai balasan untuk mereka atas segala bentuk riba mereka dan kelancangan mereka dengan berkata,﴾ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ ﴿ "Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba." Mereka menyatukan -dengan kelancangan mereka- antara apa yang dihalalkan oleh Allah dengan apa yang diharamkan olehNya hingga mereka membolehkan riba dengan hal itu. Allah kemudian menawarkan kepada orang-orang yang melakukan praktik riba dan selain mereka untuk bertaubat dalam FirmanNya, ﴾ فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ ﴿ "Orang-orang yang telah sampai kepa-danya nasihat (berupa larangan) dari Rabbnya," sebuah penjelasan yang disertai dengan janji dan ancaman, ﴾ فَٱنتَهَىٰ ﴿ "lalu berhenti (dari mengambil riba)," yakni dari apa yang mereka lakukan dari praktik riba, ﴾ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ ﴿ "maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (se-belum datang larangan)" dari perkara yang lancang ia lakukan, lalu ia bertaubat darinya, ﴾ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "dan urusannya (terserah) kepada Allah" pada masa yang akan datang jika dia masih terus dalam taubatnya. Allah tidak akan melalaikan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan. ﴾ وَمَنۡ عَادَ ﴿ "Dan orang yang mengulangi (mengambil riba)" sete-lah penjelasan Allah dan peringatanNya serta ancamanNya terha-dap orang yang memakan riba, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." Di sini terkandung isyarat bahwa riba itu berkonsekuensi masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal itu karena kejelekannya, selama tidak ada yang menghalangi kekekalannya yaitu keimanan. Ini di antara sejumlah hukum-hukum yang tergantung kepada terpenuhi-nya dan terbebasnya dari penghalang. Ayat ini bukan hujjah bagi Khawarij atau lainnya dari ayat-ayat ancaman. Yang wajib adalah meyakini semua nash-nash al-Qur`an maupun as-Sunnah, maka seorang Mukmin harus percaya dengan nash-nash yang diriwayat-kan secara mutawatir yaitu akan keluarnya orang yang ada dalam hatinya keimanan walaupun seberat biji sawi dari neraka, dan dari hal yang merupakan perkara yang membinasakan yang mema-sukkan ke dalam neraka apabila ia tidak bertaubat darinya. (276) Kemudian Allah تعالى mengabarkan bahwasanya Dia akan memusnahkan hasil usaha orang-orang yang berpraktik riba dan menyuburkan sedekah orang-orang yang berinfak. Ini berla-wanan dengan apa yang terbersit pada pikiran sebagian besar orang bahwa berinfak itu akan mengurangi harta dan bahwa riba itu akan menambahnya. Karena materi rizki dan mendapatkan buah hasilnya adalah dari Allah تعالى, dan apa yang ada di sisi Allah tidaklah bisa didapatkan kecuali dengan ketaatan kepadaNya dan melaksanakan perintahNya. Maka orang yang lancang melakukan praktik riba, Allah akan menghukumnya dengan apa yang berla-wanan dengan tujuannya. Ini telah terbukti dan dapat dilihat dalam praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa," yaitu orang yang kafir terhadap nikmat Allah, meng-ingkari karunia Rabbnya dan berbuat dosa dengan selalu melaku-kan kemaksiatan. Pemahaman ayat ini adalah bahwa Allah sangat menyukai orang yang gemar bersyukur terhadap nikmat-nikmat, bertaubat dari segala dosa dan kesalahan, kemudian Allah menyisipkan ayat yang satu berikut ini dalam ayat-ayat riba yaitu FirmanNya, (277-279) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ...﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat..." adalah untuk menjelaskan bahwa sebesar-besarnya sebab untuk menjauhkan diri dari apa yang diharamkan oleh Allah dari pendapatan-pendapatan ribawi adalah menyempurnakan keimanan dan hak-haknya, khususnya menegakkan shalat dan menunaikan zakat, karena shalat itu men-cegah dari perbuatan yang keji dan mungkar. Dan zakat adalah kebajikan kepada makhluk yang meniadakan praktik riba yang jelas-jelas merupakan kezhaliman bagi mereka dan keburukan atas mereka. Kemudian Allah menghadapkan FirmanNya kepada kaum Mukminin dan memerintahkan kepada mereka agar bertakwa kepadaNya dan agar mereka meninggalkan sisa-sisa muamalah dengan riba yang mereka kerjakan sebelumnya, dan bahwa bila mereka tidak melakukan hal itu, maka sesungguhnya mereka itu telah memerangi Allah dan RasulNya. Inilah bukti yang paling jelas yang diakibatkan oleh kebu-sukan riba, di mana Allah menjadikan orang yang suka berpraktik riba menjadi orang yang memerangi Allah dan RasulNya. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَإِن تُبۡتُمۡ ﴿ "Dan jika kamu bertaubat." Maksudnya, dari mu'amalah ribawiyah, ﴾ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ ﴿ "maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya" manusia lain dengan mengambil riba, ﴾ وَلَا تُظۡلَمُونَ ﴿ "dan tidak (pula) dianiaya" de-ngan tindakan kalian mengurangi pokok harta kalian. Maka siapa pun yang bertaubat dari riba walaupun muamalah yang telah ber-lalu adalah miliknya, maka perkaranya akan diperhatikan (Allah). Namun apabila muamalahnya masih berjalan, wajiblah ia hanya mengambil pokok hartanya saja. Dan bila ia mengambilnya lebih dari itu, maka ia telah berani melakukan riba. Ayat ini merupakan penjelasan akan hikmah (diharamkannya riba) dan bahwa riba itu meliputi kezhaliman bagi orang-orang yang membutuhkan dengan mengambil tambahan dan melipat gandakan riba atas mereka, padahal dia seharusnya menangguh-kan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman; (280-281) ﴾ وَإِن كَانَ ذُو عُسۡرَةٖ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيۡسَرَةٖۚ ﴿ "Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia ber-kelapangan." Maksudnya, apabila yang memikul hutang itu dalam keadaan sulit dan tidak mampu menunaikan hutangnya, maka wajiblah atas pemilik piutang untuk menangguhkan orang itu hingga kondisinya lapang. Dan piutang bagi orang yang berhutang itu wajib apabila telah mendapatkan kadar hutangnya dengan jalan apa pun yang mubah agar segera melunasi hutangnya itu. Apabila pemilik piutang itu bersedekah kepadanya dengan memaafkan hutang itu semuanya atau sebagiannya, maka itu lebih baik baginya, dan akan mudah bagi seorang hamba untuk konsisten terhadap perkara-perkara syariat dan menjauhi praktik-praktik riba serta berbuat kebajikan kepada orang-orang yang sedang sulit. Semua itu karena pengetahuannya bahwa suatu hari nanti dirinya akan kembali kepada Allah dan akan dipenuhi baginya amalannya ter-sebut, dan Allah tidak akan menganiaya dirinya sedikit pun, seba-gaimana Allah menutup ayat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَٱتَّقُواْ يَوۡمٗا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikem-balikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit-pun tidak dianiaya (dirugikan)."

Al-Baqarah 2:278

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguh-nya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalal-kan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya nasihat (berupa larangan) dari Tuhannya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah di-ambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (ter-serah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam keka-firan, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menu-naikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka ber-sedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang yang ber-hutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-ma-sing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugi-kan)." (Al-Baqarah: 275-281). (275) Setelah Allah menyebutkan tentang kondisi orang-orang yang bersedekah dan apa-apa yang akan mereka dapatkan di sisi Allah dari segala kebaikan dan digugurkannya kesalahan dan dosa-dosa mereka, lalu Allah menyebutkan tentang orang-orang yang zhalim; para pemakan riba dan yang memiliki muamalah yang licik. Allah mengabarkan bahwa mereka akan diberi balasan menurut perbuatan mereka. Untuk itu, sebagaimana mereka saat masih di dunia dalam mencari penghidupan yang keji seperti orang-orang gila, mereka disiksa di alam barzakh dan pada Hari Kiamat, bahwa mereka tidak akan bangkit dari kubur mereka hingga Hari Kebangkitan dan hari berkumpulnya makhluk,﴾ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ﴿ "melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila." Maksudnya, dari kegilaan dan kerasukan. Itu adalah siksaan, penghinaan, dan dipamerkannya segala dosanya, sebagai balasan untuk mereka atas segala bentuk riba mereka dan kelancangan mereka dengan berkata,﴾ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ ﴿ "Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba." Mereka menyatukan -dengan kelancangan mereka- antara apa yang dihalalkan oleh Allah dengan apa yang diharamkan olehNya hingga mereka membolehkan riba dengan hal itu. Allah kemudian menawarkan kepada orang-orang yang melakukan praktik riba dan selain mereka untuk bertaubat dalam FirmanNya, ﴾ فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ ﴿ "Orang-orang yang telah sampai kepa-danya nasihat (berupa larangan) dari Rabbnya," sebuah penjelasan yang disertai dengan janji dan ancaman, ﴾ فَٱنتَهَىٰ ﴿ "lalu berhenti (dari mengambil riba)," yakni dari apa yang mereka lakukan dari praktik riba, ﴾ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ ﴿ "maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (se-belum datang larangan)" dari perkara yang lancang ia lakukan, lalu ia bertaubat darinya, ﴾ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "dan urusannya (terserah) kepada Allah" pada masa yang akan datang jika dia masih terus dalam taubatnya. Allah tidak akan melalaikan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan. ﴾ وَمَنۡ عَادَ ﴿ "Dan orang yang mengulangi (mengambil riba)" sete-lah penjelasan Allah dan peringatanNya serta ancamanNya terha-dap orang yang memakan riba, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." Di sini terkandung isyarat bahwa riba itu berkonsekuensi masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal itu karena kejelekannya, selama tidak ada yang menghalangi kekekalannya yaitu keimanan. Ini di antara sejumlah hukum-hukum yang tergantung kepada terpenuhi-nya dan terbebasnya dari penghalang. Ayat ini bukan hujjah bagi Khawarij atau lainnya dari ayat-ayat ancaman. Yang wajib adalah meyakini semua nash-nash al-Qur`an maupun as-Sunnah, maka seorang Mukmin harus percaya dengan nash-nash yang diriwayat-kan secara mutawatir yaitu akan keluarnya orang yang ada dalam hatinya keimanan walaupun seberat biji sawi dari neraka, dan dari hal yang merupakan perkara yang membinasakan yang mema-sukkan ke dalam neraka apabila ia tidak bertaubat darinya. (276) Kemudian Allah تعالى mengabarkan bahwasanya Dia akan memusnahkan hasil usaha orang-orang yang berpraktik riba dan menyuburkan sedekah orang-orang yang berinfak. Ini berla-wanan dengan apa yang terbersit pada pikiran sebagian besar orang bahwa berinfak itu akan mengurangi harta dan bahwa riba itu akan menambahnya. Karena materi rizki dan mendapatkan buah hasilnya adalah dari Allah تعالى, dan apa yang ada di sisi Allah tidaklah bisa didapatkan kecuali dengan ketaatan kepadaNya dan melaksanakan perintahNya. Maka orang yang lancang melakukan praktik riba, Allah akan menghukumnya dengan apa yang berla-wanan dengan tujuannya. Ini telah terbukti dan dapat dilihat dalam praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa," yaitu orang yang kafir terhadap nikmat Allah, meng-ingkari karunia Rabbnya dan berbuat dosa dengan selalu melaku-kan kemaksiatan. Pemahaman ayat ini adalah bahwa Allah sangat menyukai orang yang gemar bersyukur terhadap nikmat-nikmat, bertaubat dari segala dosa dan kesalahan, kemudian Allah menyisipkan ayat yang satu berikut ini dalam ayat-ayat riba yaitu FirmanNya, (277-279) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ...﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat..." adalah untuk menjelaskan bahwa sebesar-besarnya sebab untuk menjauhkan diri dari apa yang diharamkan oleh Allah dari pendapatan-pendapatan ribawi adalah menyempurnakan keimanan dan hak-haknya, khususnya menegakkan shalat dan menunaikan zakat, karena shalat itu men-cegah dari perbuatan yang keji dan mungkar. Dan zakat adalah kebajikan kepada makhluk yang meniadakan praktik riba yang jelas-jelas merupakan kezhaliman bagi mereka dan keburukan atas mereka. Kemudian Allah menghadapkan FirmanNya kepada kaum Mukminin dan memerintahkan kepada mereka agar bertakwa kepadaNya dan agar mereka meninggalkan sisa-sisa muamalah dengan riba yang mereka kerjakan sebelumnya, dan bahwa bila mereka tidak melakukan hal itu, maka sesungguhnya mereka itu telah memerangi Allah dan RasulNya. Inilah bukti yang paling jelas yang diakibatkan oleh kebu-sukan riba, di mana Allah menjadikan orang yang suka berpraktik riba menjadi orang yang memerangi Allah dan RasulNya. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَإِن تُبۡتُمۡ ﴿ "Dan jika kamu bertaubat." Maksudnya, dari mu'amalah ribawiyah, ﴾ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ ﴿ "maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya" manusia lain dengan mengambil riba, ﴾ وَلَا تُظۡلَمُونَ ﴿ "dan tidak (pula) dianiaya" de-ngan tindakan kalian mengurangi pokok harta kalian. Maka siapa pun yang bertaubat dari riba walaupun muamalah yang telah ber-lalu adalah miliknya, maka perkaranya akan diperhatikan (Allah). Namun apabila muamalahnya masih berjalan, wajiblah ia hanya mengambil pokok hartanya saja. Dan bila ia mengambilnya lebih dari itu, maka ia telah berani melakukan riba. Ayat ini merupakan penjelasan akan hikmah (diharamkannya riba) dan bahwa riba itu meliputi kezhaliman bagi orang-orang yang membutuhkan dengan mengambil tambahan dan melipat gandakan riba atas mereka, padahal dia seharusnya menangguh-kan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman; (280-281) ﴾ وَإِن كَانَ ذُو عُسۡرَةٖ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيۡسَرَةٖۚ ﴿ "Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia ber-kelapangan." Maksudnya, apabila yang memikul hutang itu dalam keadaan sulit dan tidak mampu menunaikan hutangnya, maka wajiblah atas pemilik piutang untuk menangguhkan orang itu hingga kondisinya lapang. Dan piutang bagi orang yang berhutang itu wajib apabila telah mendapatkan kadar hutangnya dengan jalan apa pun yang mubah agar segera melunasi hutangnya itu. Apabila pemilik piutang itu bersedekah kepadanya dengan memaafkan hutang itu semuanya atau sebagiannya, maka itu lebih baik baginya, dan akan mudah bagi seorang hamba untuk konsisten terhadap perkara-perkara syariat dan menjauhi praktik-praktik riba serta berbuat kebajikan kepada orang-orang yang sedang sulit. Semua itu karena pengetahuannya bahwa suatu hari nanti dirinya akan kembali kepada Allah dan akan dipenuhi baginya amalannya ter-sebut, dan Allah tidak akan menganiaya dirinya sedikit pun, seba-gaimana Allah menutup ayat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَٱتَّقُواْ يَوۡمٗا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikem-balikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit-pun tidak dianiaya (dirugikan)."

Al-Baqarah 2:279

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguh-nya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalal-kan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya nasihat (berupa larangan) dari Tuhannya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah di-ambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (ter-serah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam keka-firan, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menu-naikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka ber-sedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang yang ber-hutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-ma-sing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugi-kan)." (Al-Baqarah: 275-281). (275) Setelah Allah menyebutkan tentang kondisi orang-orang yang bersedekah dan apa-apa yang akan mereka dapatkan di sisi Allah dari segala kebaikan dan digugurkannya kesalahan dan dosa-dosa mereka, lalu Allah menyebutkan tentang orang-orang yang zhalim; para pemakan riba dan yang memiliki muamalah yang licik. Allah mengabarkan bahwa mereka akan diberi balasan menurut perbuatan mereka. Untuk itu, sebagaimana mereka saat masih di dunia dalam mencari penghidupan yang keji seperti orang-orang gila, mereka disiksa di alam barzakh dan pada Hari Kiamat, bahwa mereka tidak akan bangkit dari kubur mereka hingga Hari Kebangkitan dan hari berkumpulnya makhluk,﴾ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ﴿ "melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila." Maksudnya, dari kegilaan dan kerasukan. Itu adalah siksaan, penghinaan, dan dipamerkannya segala dosanya, sebagai balasan untuk mereka atas segala bentuk riba mereka dan kelancangan mereka dengan berkata,﴾ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ ﴿ "Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba." Mereka menyatukan -dengan kelancangan mereka- antara apa yang dihalalkan oleh Allah dengan apa yang diharamkan olehNya hingga mereka membolehkan riba dengan hal itu. Allah kemudian menawarkan kepada orang-orang yang melakukan praktik riba dan selain mereka untuk bertaubat dalam FirmanNya, ﴾ فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ ﴿ "Orang-orang yang telah sampai kepa-danya nasihat (berupa larangan) dari Rabbnya," sebuah penjelasan yang disertai dengan janji dan ancaman, ﴾ فَٱنتَهَىٰ ﴿ "lalu berhenti (dari mengambil riba)," yakni dari apa yang mereka lakukan dari praktik riba, ﴾ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ ﴿ "maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (se-belum datang larangan)" dari perkara yang lancang ia lakukan, lalu ia bertaubat darinya, ﴾ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "dan urusannya (terserah) kepada Allah" pada masa yang akan datang jika dia masih terus dalam taubatnya. Allah tidak akan melalaikan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan. ﴾ وَمَنۡ عَادَ ﴿ "Dan orang yang mengulangi (mengambil riba)" sete-lah penjelasan Allah dan peringatanNya serta ancamanNya terha-dap orang yang memakan riba, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." Di sini terkandung isyarat bahwa riba itu berkonsekuensi masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal itu karena kejelekannya, selama tidak ada yang menghalangi kekekalannya yaitu keimanan. Ini di antara sejumlah hukum-hukum yang tergantung kepada terpenuhi-nya dan terbebasnya dari penghalang. Ayat ini bukan hujjah bagi Khawarij atau lainnya dari ayat-ayat ancaman. Yang wajib adalah meyakini semua nash-nash al-Qur`an maupun as-Sunnah, maka seorang Mukmin harus percaya dengan nash-nash yang diriwayat-kan secara mutawatir yaitu akan keluarnya orang yang ada dalam hatinya keimanan walaupun seberat biji sawi dari neraka, dan dari hal yang merupakan perkara yang membinasakan yang mema-sukkan ke dalam neraka apabila ia tidak bertaubat darinya. (276) Kemudian Allah تعالى mengabarkan bahwasanya Dia akan memusnahkan hasil usaha orang-orang yang berpraktik riba dan menyuburkan sedekah orang-orang yang berinfak. Ini berla-wanan dengan apa yang terbersit pada pikiran sebagian besar orang bahwa berinfak itu akan mengurangi harta dan bahwa riba itu akan menambahnya. Karena materi rizki dan mendapatkan buah hasilnya adalah dari Allah تعالى, dan apa yang ada di sisi Allah tidaklah bisa didapatkan kecuali dengan ketaatan kepadaNya dan melaksanakan perintahNya. Maka orang yang lancang melakukan praktik riba, Allah akan menghukumnya dengan apa yang berla-wanan dengan tujuannya. Ini telah terbukti dan dapat dilihat dalam praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa," yaitu orang yang kafir terhadap nikmat Allah, meng-ingkari karunia Rabbnya dan berbuat dosa dengan selalu melaku-kan kemaksiatan. Pemahaman ayat ini adalah bahwa Allah sangat menyukai orang yang gemar bersyukur terhadap nikmat-nikmat, bertaubat dari segala dosa dan kesalahan, kemudian Allah menyisipkan ayat yang satu berikut ini dalam ayat-ayat riba yaitu FirmanNya, (277-279) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ...﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat..." adalah untuk menjelaskan bahwa sebesar-besarnya sebab untuk menjauhkan diri dari apa yang diharamkan oleh Allah dari pendapatan-pendapatan ribawi adalah menyempurnakan keimanan dan hak-haknya, khususnya menegakkan shalat dan menunaikan zakat, karena shalat itu men-cegah dari perbuatan yang keji dan mungkar. Dan zakat adalah kebajikan kepada makhluk yang meniadakan praktik riba yang jelas-jelas merupakan kezhaliman bagi mereka dan keburukan atas mereka. Kemudian Allah menghadapkan FirmanNya kepada kaum Mukminin dan memerintahkan kepada mereka agar bertakwa kepadaNya dan agar mereka meninggalkan sisa-sisa muamalah dengan riba yang mereka kerjakan sebelumnya, dan bahwa bila mereka tidak melakukan hal itu, maka sesungguhnya mereka itu telah memerangi Allah dan RasulNya. Inilah bukti yang paling jelas yang diakibatkan oleh kebu-sukan riba, di mana Allah menjadikan orang yang suka berpraktik riba menjadi orang yang memerangi Allah dan RasulNya. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَإِن تُبۡتُمۡ ﴿ "Dan jika kamu bertaubat." Maksudnya, dari mu'amalah ribawiyah, ﴾ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ ﴿ "maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya" manusia lain dengan mengambil riba, ﴾ وَلَا تُظۡلَمُونَ ﴿ "dan tidak (pula) dianiaya" de-ngan tindakan kalian mengurangi pokok harta kalian. Maka siapa pun yang bertaubat dari riba walaupun muamalah yang telah ber-lalu adalah miliknya, maka perkaranya akan diperhatikan (Allah). Namun apabila muamalahnya masih berjalan, wajiblah ia hanya mengambil pokok hartanya saja. Dan bila ia mengambilnya lebih dari itu, maka ia telah berani melakukan riba. Ayat ini merupakan penjelasan akan hikmah (diharamkannya riba) dan bahwa riba itu meliputi kezhaliman bagi orang-orang yang membutuhkan dengan mengambil tambahan dan melipat gandakan riba atas mereka, padahal dia seharusnya menangguh-kan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman; (280-281) ﴾ وَإِن كَانَ ذُو عُسۡرَةٖ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيۡسَرَةٖۚ ﴿ "Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia ber-kelapangan." Maksudnya, apabila yang memikul hutang itu dalam keadaan sulit dan tidak mampu menunaikan hutangnya, maka wajiblah atas pemilik piutang untuk menangguhkan orang itu hingga kondisinya lapang. Dan piutang bagi orang yang berhutang itu wajib apabila telah mendapatkan kadar hutangnya dengan jalan apa pun yang mubah agar segera melunasi hutangnya itu. Apabila pemilik piutang itu bersedekah kepadanya dengan memaafkan hutang itu semuanya atau sebagiannya, maka itu lebih baik baginya, dan akan mudah bagi seorang hamba untuk konsisten terhadap perkara-perkara syariat dan menjauhi praktik-praktik riba serta berbuat kebajikan kepada orang-orang yang sedang sulit. Semua itu karena pengetahuannya bahwa suatu hari nanti dirinya akan kembali kepada Allah dan akan dipenuhi baginya amalannya ter-sebut, dan Allah tidak akan menganiaya dirinya sedikit pun, seba-gaimana Allah menutup ayat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَٱتَّقُواْ يَوۡمٗا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikem-balikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit-pun tidak dianiaya (dirugikan)."

Al-Baqarah 2:280

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguh-nya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalal-kan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya nasihat (berupa larangan) dari Tuhannya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah di-ambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (ter-serah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam keka-firan, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menu-naikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka ber-sedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang yang ber-hutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-ma-sing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugi-kan)." (Al-Baqarah: 275-281). (275) Setelah Allah menyebutkan tentang kondisi orang-orang yang bersedekah dan apa-apa yang akan mereka dapatkan di sisi Allah dari segala kebaikan dan digugurkannya kesalahan dan dosa-dosa mereka, lalu Allah menyebutkan tentang orang-orang yang zhalim; para pemakan riba dan yang memiliki muamalah yang licik. Allah mengabarkan bahwa mereka akan diberi balasan menurut perbuatan mereka. Untuk itu, sebagaimana mereka saat masih di dunia dalam mencari penghidupan yang keji seperti orang-orang gila, mereka disiksa di alam barzakh dan pada Hari Kiamat, bahwa mereka tidak akan bangkit dari kubur mereka hingga Hari Kebangkitan dan hari berkumpulnya makhluk,﴾ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ﴿ "melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila." Maksudnya, dari kegilaan dan kerasukan. Itu adalah siksaan, penghinaan, dan dipamerkannya segala dosanya, sebagai balasan untuk mereka atas segala bentuk riba mereka dan kelancangan mereka dengan berkata,﴾ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ ﴿ "Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba." Mereka menyatukan -dengan kelancangan mereka- antara apa yang dihalalkan oleh Allah dengan apa yang diharamkan olehNya hingga mereka membolehkan riba dengan hal itu. Allah kemudian menawarkan kepada orang-orang yang melakukan praktik riba dan selain mereka untuk bertaubat dalam FirmanNya, ﴾ فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ ﴿ "Orang-orang yang telah sampai kepa-danya nasihat (berupa larangan) dari Rabbnya," sebuah penjelasan yang disertai dengan janji dan ancaman, ﴾ فَٱنتَهَىٰ ﴿ "lalu berhenti (dari mengambil riba)," yakni dari apa yang mereka lakukan dari praktik riba, ﴾ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ ﴿ "maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (se-belum datang larangan)" dari perkara yang lancang ia lakukan, lalu ia bertaubat darinya, ﴾ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "dan urusannya (terserah) kepada Allah" pada masa yang akan datang jika dia masih terus dalam taubatnya. Allah tidak akan melalaikan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan. ﴾ وَمَنۡ عَادَ ﴿ "Dan orang yang mengulangi (mengambil riba)" sete-lah penjelasan Allah dan peringatanNya serta ancamanNya terha-dap orang yang memakan riba, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." Di sini terkandung isyarat bahwa riba itu berkonsekuensi masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal itu karena kejelekannya, selama tidak ada yang menghalangi kekekalannya yaitu keimanan. Ini di antara sejumlah hukum-hukum yang tergantung kepada terpenuhi-nya dan terbebasnya dari penghalang. Ayat ini bukan hujjah bagi Khawarij atau lainnya dari ayat-ayat ancaman. Yang wajib adalah meyakini semua nash-nash al-Qur`an maupun as-Sunnah, maka seorang Mukmin harus percaya dengan nash-nash yang diriwayat-kan secara mutawatir yaitu akan keluarnya orang yang ada dalam hatinya keimanan walaupun seberat biji sawi dari neraka, dan dari hal yang merupakan perkara yang membinasakan yang mema-sukkan ke dalam neraka apabila ia tidak bertaubat darinya. (276) Kemudian Allah تعالى mengabarkan bahwasanya Dia akan memusnahkan hasil usaha orang-orang yang berpraktik riba dan menyuburkan sedekah orang-orang yang berinfak. Ini berla-wanan dengan apa yang terbersit pada pikiran sebagian besar orang bahwa berinfak itu akan mengurangi harta dan bahwa riba itu akan menambahnya. Karena materi rizki dan mendapatkan buah hasilnya adalah dari Allah تعالى, dan apa yang ada di sisi Allah tidaklah bisa didapatkan kecuali dengan ketaatan kepadaNya dan melaksanakan perintahNya. Maka orang yang lancang melakukan praktik riba, Allah akan menghukumnya dengan apa yang berla-wanan dengan tujuannya. Ini telah terbukti dan dapat dilihat dalam praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa," yaitu orang yang kafir terhadap nikmat Allah, meng-ingkari karunia Rabbnya dan berbuat dosa dengan selalu melaku-kan kemaksiatan. Pemahaman ayat ini adalah bahwa Allah sangat menyukai orang yang gemar bersyukur terhadap nikmat-nikmat, bertaubat dari segala dosa dan kesalahan, kemudian Allah menyisipkan ayat yang satu berikut ini dalam ayat-ayat riba yaitu FirmanNya, (277-279) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ...﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat..." adalah untuk menjelaskan bahwa sebesar-besarnya sebab untuk menjauhkan diri dari apa yang diharamkan oleh Allah dari pendapatan-pendapatan ribawi adalah menyempurnakan keimanan dan hak-haknya, khususnya menegakkan shalat dan menunaikan zakat, karena shalat itu men-cegah dari perbuatan yang keji dan mungkar. Dan zakat adalah kebajikan kepada makhluk yang meniadakan praktik riba yang jelas-jelas merupakan kezhaliman bagi mereka dan keburukan atas mereka. Kemudian Allah menghadapkan FirmanNya kepada kaum Mukminin dan memerintahkan kepada mereka agar bertakwa kepadaNya dan agar mereka meninggalkan sisa-sisa muamalah dengan riba yang mereka kerjakan sebelumnya, dan bahwa bila mereka tidak melakukan hal itu, maka sesungguhnya mereka itu telah memerangi Allah dan RasulNya. Inilah bukti yang paling jelas yang diakibatkan oleh kebu-sukan riba, di mana Allah menjadikan orang yang suka berpraktik riba menjadi orang yang memerangi Allah dan RasulNya. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَإِن تُبۡتُمۡ ﴿ "Dan jika kamu bertaubat." Maksudnya, dari mu'amalah ribawiyah, ﴾ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ ﴿ "maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya" manusia lain dengan mengambil riba, ﴾ وَلَا تُظۡلَمُونَ ﴿ "dan tidak (pula) dianiaya" de-ngan tindakan kalian mengurangi pokok harta kalian. Maka siapa pun yang bertaubat dari riba walaupun muamalah yang telah ber-lalu adalah miliknya, maka perkaranya akan diperhatikan (Allah). Namun apabila muamalahnya masih berjalan, wajiblah ia hanya mengambil pokok hartanya saja. Dan bila ia mengambilnya lebih dari itu, maka ia telah berani melakukan riba. Ayat ini merupakan penjelasan akan hikmah (diharamkannya riba) dan bahwa riba itu meliputi kezhaliman bagi orang-orang yang membutuhkan dengan mengambil tambahan dan melipat gandakan riba atas mereka, padahal dia seharusnya menangguh-kan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman; (280-281) ﴾ وَإِن كَانَ ذُو عُسۡرَةٖ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيۡسَرَةٖۚ ﴿ "Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia ber-kelapangan." Maksudnya, apabila yang memikul hutang itu dalam keadaan sulit dan tidak mampu menunaikan hutangnya, maka wajiblah atas pemilik piutang untuk menangguhkan orang itu hingga kondisinya lapang. Dan piutang bagi orang yang berhutang itu wajib apabila telah mendapatkan kadar hutangnya dengan jalan apa pun yang mubah agar segera melunasi hutangnya itu. Apabila pemilik piutang itu bersedekah kepadanya dengan memaafkan hutang itu semuanya atau sebagiannya, maka itu lebih baik baginya, dan akan mudah bagi seorang hamba untuk konsisten terhadap perkara-perkara syariat dan menjauhi praktik-praktik riba serta berbuat kebajikan kepada orang-orang yang sedang sulit. Semua itu karena pengetahuannya bahwa suatu hari nanti dirinya akan kembali kepada Allah dan akan dipenuhi baginya amalannya ter-sebut, dan Allah tidak akan menganiaya dirinya sedikit pun, seba-gaimana Allah menutup ayat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَٱتَّقُواْ يَوۡمٗا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikem-balikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit-pun tidak dianiaya (dirugikan)."

Al-Baqarah 2:281

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguh-nya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalal-kan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya nasihat (berupa larangan) dari Tuhannya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah di-ambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (ter-serah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam keka-firan, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menu-naikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka ber-sedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang yang ber-hutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-ma-sing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugi-kan)." (Al-Baqarah: 275-281). (275) Setelah Allah menyebutkan tentang kondisi orang-orang yang bersedekah dan apa-apa yang akan mereka dapatkan di sisi Allah dari segala kebaikan dan digugurkannya kesalahan dan dosa-dosa mereka, lalu Allah menyebutkan tentang orang-orang yang zhalim; para pemakan riba dan yang memiliki muamalah yang licik. Allah mengabarkan bahwa mereka akan diberi balasan menurut perbuatan mereka. Untuk itu, sebagaimana mereka saat masih di dunia dalam mencari penghidupan yang keji seperti orang-orang gila, mereka disiksa di alam barzakh dan pada Hari Kiamat, bahwa mereka tidak akan bangkit dari kubur mereka hingga Hari Kebangkitan dan hari berkumpulnya makhluk,﴾ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ﴿ "melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila." Maksudnya, dari kegilaan dan kerasukan. Itu adalah siksaan, penghinaan, dan dipamerkannya segala dosanya, sebagai balasan untuk mereka atas segala bentuk riba mereka dan kelancangan mereka dengan berkata,﴾ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ ﴿ "Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba." Mereka menyatukan -dengan kelancangan mereka- antara apa yang dihalalkan oleh Allah dengan apa yang diharamkan olehNya hingga mereka membolehkan riba dengan hal itu. Allah kemudian menawarkan kepada orang-orang yang melakukan praktik riba dan selain mereka untuk bertaubat dalam FirmanNya, ﴾ فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ ﴿ "Orang-orang yang telah sampai kepa-danya nasihat (berupa larangan) dari Rabbnya," sebuah penjelasan yang disertai dengan janji dan ancaman, ﴾ فَٱنتَهَىٰ ﴿ "lalu berhenti (dari mengambil riba)," yakni dari apa yang mereka lakukan dari praktik riba, ﴾ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ ﴿ "maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (se-belum datang larangan)" dari perkara yang lancang ia lakukan, lalu ia bertaubat darinya, ﴾ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "dan urusannya (terserah) kepada Allah" pada masa yang akan datang jika dia masih terus dalam taubatnya. Allah tidak akan melalaikan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan. ﴾ وَمَنۡ عَادَ ﴿ "Dan orang yang mengulangi (mengambil riba)" sete-lah penjelasan Allah dan peringatanNya serta ancamanNya terha-dap orang yang memakan riba, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." Di sini terkandung isyarat bahwa riba itu berkonsekuensi masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal itu karena kejelekannya, selama tidak ada yang menghalangi kekekalannya yaitu keimanan. Ini di antara sejumlah hukum-hukum yang tergantung kepada terpenuhi-nya dan terbebasnya dari penghalang. Ayat ini bukan hujjah bagi Khawarij atau lainnya dari ayat-ayat ancaman. Yang wajib adalah meyakini semua nash-nash al-Qur`an maupun as-Sunnah, maka seorang Mukmin harus percaya dengan nash-nash yang diriwayat-kan secara mutawatir yaitu akan keluarnya orang yang ada dalam hatinya keimanan walaupun seberat biji sawi dari neraka, dan dari hal yang merupakan perkara yang membinasakan yang mema-sukkan ke dalam neraka apabila ia tidak bertaubat darinya. (276) Kemudian Allah تعالى mengabarkan bahwasanya Dia akan memusnahkan hasil usaha orang-orang yang berpraktik riba dan menyuburkan sedekah orang-orang yang berinfak. Ini berla-wanan dengan apa yang terbersit pada pikiran sebagian besar orang bahwa berinfak itu akan mengurangi harta dan bahwa riba itu akan menambahnya. Karena materi rizki dan mendapatkan buah hasilnya adalah dari Allah تعالى, dan apa yang ada di sisi Allah tidaklah bisa didapatkan kecuali dengan ketaatan kepadaNya dan melaksanakan perintahNya. Maka orang yang lancang melakukan praktik riba, Allah akan menghukumnya dengan apa yang berla-wanan dengan tujuannya. Ini telah terbukti dan dapat dilihat dalam praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa," yaitu orang yang kafir terhadap nikmat Allah, meng-ingkari karunia Rabbnya dan berbuat dosa dengan selalu melaku-kan kemaksiatan. Pemahaman ayat ini adalah bahwa Allah sangat menyukai orang yang gemar bersyukur terhadap nikmat-nikmat, bertaubat dari segala dosa dan kesalahan, kemudian Allah menyisipkan ayat yang satu berikut ini dalam ayat-ayat riba yaitu FirmanNya, (277-279) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ...﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat..." adalah untuk menjelaskan bahwa sebesar-besarnya sebab untuk menjauhkan diri dari apa yang diharamkan oleh Allah dari pendapatan-pendapatan ribawi adalah menyempurnakan keimanan dan hak-haknya, khususnya menegakkan shalat dan menunaikan zakat, karena shalat itu men-cegah dari perbuatan yang keji dan mungkar. Dan zakat adalah kebajikan kepada makhluk yang meniadakan praktik riba yang jelas-jelas merupakan kezhaliman bagi mereka dan keburukan atas mereka. Kemudian Allah menghadapkan FirmanNya kepada kaum Mukminin dan memerintahkan kepada mereka agar bertakwa kepadaNya dan agar mereka meninggalkan sisa-sisa muamalah dengan riba yang mereka kerjakan sebelumnya, dan bahwa bila mereka tidak melakukan hal itu, maka sesungguhnya mereka itu telah memerangi Allah dan RasulNya. Inilah bukti yang paling jelas yang diakibatkan oleh kebu-sukan riba, di mana Allah menjadikan orang yang suka berpraktik riba menjadi orang yang memerangi Allah dan RasulNya. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَإِن تُبۡتُمۡ ﴿ "Dan jika kamu bertaubat." Maksudnya, dari mu'amalah ribawiyah, ﴾ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ ﴿ "maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya" manusia lain dengan mengambil riba, ﴾ وَلَا تُظۡلَمُونَ ﴿ "dan tidak (pula) dianiaya" de-ngan tindakan kalian mengurangi pokok harta kalian. Maka siapa pun yang bertaubat dari riba walaupun muamalah yang telah ber-lalu adalah miliknya, maka perkaranya akan diperhatikan (Allah). Namun apabila muamalahnya masih berjalan, wajiblah ia hanya mengambil pokok hartanya saja. Dan bila ia mengambilnya lebih dari itu, maka ia telah berani melakukan riba. Ayat ini merupakan penjelasan akan hikmah (diharamkannya riba) dan bahwa riba itu meliputi kezhaliman bagi orang-orang yang membutuhkan dengan mengambil tambahan dan melipat gandakan riba atas mereka, padahal dia seharusnya menangguh-kan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman; (280-281) ﴾ وَإِن كَانَ ذُو عُسۡرَةٖ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيۡسَرَةٖۚ ﴿ "Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia ber-kelapangan." Maksudnya, apabila yang memikul hutang itu dalam keadaan sulit dan tidak mampu menunaikan hutangnya, maka wajiblah atas pemilik piutang untuk menangguhkan orang itu hingga kondisinya lapang. Dan piutang bagi orang yang berhutang itu wajib apabila telah mendapatkan kadar hutangnya dengan jalan apa pun yang mubah agar segera melunasi hutangnya itu. Apabila pemilik piutang itu bersedekah kepadanya dengan memaafkan hutang itu semuanya atau sebagiannya, maka itu lebih baik baginya, dan akan mudah bagi seorang hamba untuk konsisten terhadap perkara-perkara syariat dan menjauhi praktik-praktik riba serta berbuat kebajikan kepada orang-orang yang sedang sulit. Semua itu karena pengetahuannya bahwa suatu hari nanti dirinya akan kembali kepada Allah dan akan dipenuhi baginya amalannya ter-sebut, dan Allah tidak akan menganiaya dirinya sedikit pun, seba-gaimana Allah menutup ayat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَٱتَّقُواْ يَوۡمٗا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikem-balikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit-pun tidak dianiaya (dirugikan)."

Al-Baqarah 2:282

Kemudian Allah تعالى berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan transaksi hutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendak-lah kamu menuliskannya (melakukan pencatatan). Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah dia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan jangan-lah dia mengurangi sedikitpun dari hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan, maka hendaklah walinya yang mendiktekan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalan-kan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu ada-lah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya dia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Menge-tahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqaarah: 282-283). (282) Ayat-ayat ini meliputi petunjuk Allah kepada hamba-hambaNya dalam muamalah di antara mereka yaitu pemeliharaan hak-hak mereka dengan cara-cara yang bermanfaat dan kemas-lahatan yang oleh orang-orang yang ahli pikir pun tidak mampu memberikan sarannya yang lebih baik dan lebih sempurna darinya, karena di dalamnya banyak sekali faidah-faidahnya, di antaranya: 1. Bolehnya muamalah dalam bentuk hutang piutang, baik berupa hutang-hutang salam[32] atau pembelian barang yang harganya ditangguhkan, semua itu boleh dilakukan, karena Allah تعالى telah mengabarkannya berkaitan dengan kaum Mukminin, dan apa pun yang Allah kabarkan tentang kaum Mukminin, maka sesungguhnya hal itu termasuk konsekuensi keimanan dan telah ditetapkan juga hal itu oleh Allah Yang Mahakuasa. 2. Wajibnya menyebutkan tempo pembayaran dalam seluruh transaksi hutang piutang dan masa penyewaan. 3. Bahwasanya apabila tempo itu tidak diketahui, maka itu tidak halal, karena itu (sangat rentan) adanya tipu daya dan berba-haya, maka hal itu termasuk dalam perjudian. 4. Allah تعالى memerintahkan untuk mencatat (dokumentasi) hutang piutang. Perkara yang satu ini terkadang menjadi wajib yaitu apabila wajib memelihara hak seperti milik seorang hamba yang wajib atasnya perwalian contohnya harta anak yatim, wakaf, perwakilan, amanah, dan terkadang juga mendekati wajib sebagaimana bila hak itu semata-mata milik seorang hamba. Dan terkadang juga lebih berat kepada wajib dan terka-dang lebih berat kepada sunnah, sesuai dengan kondisi yang dituntut untuk masalah itu. Dan pada intinya pencatatan itu adalah merupakan perangkat yang paling besar dalam men-jaga muamalah-muamalah yang tertangguhkan karena rentan terjadi kelupaan dan kesalahan, dan sebagai tindakan pence-gahan dari orang-orang yang tidak amanah yang tidak takut kepada Allah تعالى. 5. Perintah Allah تعالى kepada juru tulis untuk menulis antara kedua pihak yang bermuamalah itu dengan adil, ia tidak boleh condong kepada salah satu pihak karena faktor keluarga misal-nya atau selainnya, atau memusuhi salah satunya karena suatu dendam dan semacamnya. 6. Bahwasanya penulisan antara kedua belah pihak yang ber-muamalah adalah di antara amal-amal yang paling utama dan tindakan kebaikan kepada keduanya. Dalam pencatatan itu mengandung pemeliharaan hak-hak keduanya dan melepaskan tanggung jawab dari keduanya seperti yang diperintahkan oleh Allah. Maka hendaklah juru tulis mencari pahala (dengan profesinya) di antara manusia dengan perkara-perkara ini agar mendapat keberuntungan dengan balasan baiknya. 7. Hendaklah juru tulis mengetahui keadilan dan terkenal dengan keadilan, karena bila dia tidak mengerti keadilan, pastilah dia tidak akan bisa mewujudkannya, dan apabila keadilannya tidak diakui oleh orang banyak dan tidak diridhai mereka maka pastilah pencatatan juga tidak akan diakui, dan maksud yang diinginkan tidak akan terwujud yaitu pemeliharaan hak. 8. Bahwasanya kesempurnaan dari pencatatan dan keadilan dalam muamalah itu adalah bahwa juru tulis itu ahli dalam merangkai kata dan membuat kalimat yang sesuai dalam se-gala macam muamalah sesuai dengan jenisnya, dan kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat dalam hal ini memiliki peran yang cukup besar. 9. Bahwasanya pencatatan itu di antara nikmat-nikmat Allah terhadap hamba-hambaNya, di mana urusan-urusan agama dan urusan-urusan dunia mereka tidak akan lurus kecuali dengannya. Dan bahwasanya barangsiapa yang diajarkan oleh Allah penulisan, sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepadanya keutamaan yang besar, dan menjadi kesempurnaan syukurnya terhadap nikmat Allah تعالى itu, agar dia memenuhi kebutuhan-kebutuhan hamba dengan pencatatan yang dilaku-kannya dan dia tidak boleh menolak untuk menulis. Karena itu Allah berfirman, ﴾ وَلَا يَأۡبَ كَاتِبٌ أَن يَكۡتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya." 10. Bahwasanya apa yang ditulis oleh juru tulis itu merupakan pengakuan dari orang yang menanggung hak apabila dia mampu merangkai kata tentang hak yang wajib atas dirinya tersebut. Namun apabila ia tidak mampu akan hal itu karena umurnya yang masih kecil atau kebodohannya, ketidakwa-rasannya, kebisuannya, atau ketidakmampuannya, maka wali-nya harus melakukannya untuknya, dan walinya itu sebagai wakil dirinya dalam hal tersebut. 11. Bahwasanya pengakuan itu adalah jalan yang paling besar dalam menetapkan suatu hak, di mana Allah تعالى memerintah-kan kepada juru tulis untuk menulis apa yang didiktekan oleh orang yang menanggung hak orang lain. 12. Penetapan perwalian bagi orang-orang yang tidak mampu seperti anak kecil, orang gila, orang bodoh, dan semacamnya. 13. Bahwasanya seorang wali itu posisinya sama seperti posisi orang yang diwalikannya dalam segala pengakuannya yang berkaitan dengan hak-haknya. 14. Bahwasanya orang yang Anda percaya dalam suatu muamalah dan Anda serahkan urusan itu kepadanya, maka perkataannya dalam perkara itu dapat diterima, karena dia adalah pengganti diri Anda, karena apabila wali itu untuk orang-orang yang tidak mampu menempati posisi mereka, maka orang yang Anda jadikan wali dengan pilihan Anda sendiri lalu Anda serahkan urusan itu kepadanya adalah lebih utama diterima dan diakui perkataannya dan didahulukan daripada perkataan Anda sendiri ketika terjadi perselisihan. 15. Bahwasanya diwajibkan atas orang yang menanggung hak orang lain, apabila mendiktekan kepada juru tulis agar bertak-wa kepada Allah dan tidak berlaku curang terhadap hak yang ditanggungnya. Ia tidak mengurangi jumlahnya atau sifatnya, atau syarat di antara syarat-syaratnya atau ukuran di antara ukuran-ukurannya. Akan tetapi ia harus mengakui setiap hal yang berkaitan dengan hak tersebut sebagaimana juga hal itu wajib atas orang lain yang menanggung hak dirinya. Barang-siapa yang tidak melaksanakan itu, maka ia termasuk orang-orang yang curang lagi mengurangi (timbangan dan takaran). 16. Wajib mengakui hak-hak yang nampak dan hak-hak yang ter-sembunyi, dan bahwa hal itu adalah di antara karakter terbesar ketakwaan, sebagaimana menolak pengakuan adalah di antara pembatal ketakwaan dan yang menguranginya. 17. Petunjuk untuk mengadakan saksi dalam jual beli. Apabila dalam hal hutang piutang, maka hukumnya adalah hukum pencatatan sebagaimana yang telah lalu. Karena penulisan itu adalah pencatatan kesaksian. Apabila jual beli itu adalah jual beli tunai, maka seyogyanya ada saksi padanya dan tidak berdosa bila meninggalkan penulisan karena banyaknya dan adanya kesulitan untuk menulis (semua kasus yang ada). 18. Petunjuk untuk mengadakan saksi dua orang laki-laki yang adil, namun apabila tidak memungkinkan atau tidak ada atau sulit, maka boleh satu laki-laki dan dua wanita. Itu mencakup segala macam muamalah, transaksi obligasi dan transaksi utang piutang dengan segala hal yang berkaitan dengannya, se-perti syarat-syarat atau dokumen-dokumen atau semacamnya. Apabila ada keberatan yang mengatakan bahwa terdapat riwayat shahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau memutuskan dengan satu saksi saja disertai sumpah,[33] tetapi kenapa ayat yang mulia ini tidak menunjukkan kecuali hanya saksi dua laki-laki atau satu laki-laki dan dua wanita? Dapat dijawab, bahwa ayat yang mulia ini mengandung petunjuk Allah kepada hamba-hambaNya untuk menjaga hak-hak mereka, oleh karena itu Allah mendatangkan padanya jalan yang paling sempurna dan yang paling kuat, dan ayat ini juga tidak mengandung hal yang meniadakan (menafikan) apa yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dengan menetapkan satu saksi yang disertai sumpah. Masa-lah memelihara hak-hak, pada awal-awalnya Allah mengarah-kan hambaNya untuk berhati-hati dan menjaga secara total. Masalah ketetapan di antara kedua pihak yang bersengketa dipertimbangkan dengan melihat segala hal yang membantu dan keterangan-keterangan yang ada sesuai keadaan dan kon-disinya. 19. Bahwasanya kesaksian dua orang wanita itu sebanding dengan satu laki-laki dalam hak-hak duniawi. Adapun dalam perkara-perkara agama seperti periwayatan dan fatwa, maka seorang wanita satu derajat (sama dengan) laki-laki. Perbedaan antara dua perkara itu sangatlah jelas sekali. 20. Petunjuk kepada hikmah di balik perbandingan kesaksian dua wanita dengan satu laki-laki yang mana hal itu dikarenakan kelemahan daya ingat wanita pada umumnya dan kuatnya daya ingat laki-laki. 21. Bahwasanya sekiranya seorang saksi bila melupakan kesak-siannya namun saksi yang lainnya mengingatkannya lalu dia teringat kembali, maka kelupaan itu tidaklah mengapa bila dapat dihindarkan dengan adanya pengingatan tersebut, ber-dasarkan Firman Allah, ﴾ أَن تَضِلَّ إِحۡدَىٰهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحۡدَىٰهُمَا ٱلۡأُخۡرَىٰۚ ﴿ "Supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya." Yang lebih baik lagi adalah bila seorang saksi itu lupa kemudian dia bisa mengingat kembali tanpa diingatkan oleh saksi lainnya, karena sesungguhnya kesaksian itu intinya adalah keyakinan dan ilmu. 22. Bahwasanya kesaksian itu harus dengan dasar ilmu dan keya-kinan, bukan keraguan. Maka ketika terjadi keraguan pada se-orang saksi dalam kesaksiannya walaupun berdasarkan dugaan terkuatnya, tidaklah halal baginya untuk bersaksi kecuali dengan apa yang ia ketahui dengan yakin. 23. Bahwasanya seorang saksi itu tidak boleh menolak bila diminta untuk bersaksi, baik saksi untuk membela atau untuk melawan, dan bahwasanya menunaikan kesaksian itu adalah di antara amalan-amalan shalih yang paling utama sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah dan mengabarkan tentang manfaatnya dan berbagai kemaslahatannya. 24. Bahwasanya tidaklah boleh memudaratkan juru tulis dan tidak juga saksi, yaitu dengan dipanggil pada waktu-waktu yang memudaratkan mereka berdua. Dan sebagaimana orang-orang yang memiliki hak dan orang-orang yang saling bermuamalah itu dilarang merugikan para juru tulis maupun para saksi, begitu pula juru tulis dan saksi tidak boleh merugikan orang-orang yang memiliki hak maupun kedua pihak yang bermua-malah atau salah satu pihak dari keduanya. Dalam hal ini bahwa saksi maupun juru tulis bila terjadi kerugian pada mereka dalam hal penulisan maupun kesaksian, maka kewajiban keduanya gugur. 25. Peringatan bahwasanya orang-orang yang baik yang melaku-kan kebajikan, tidaklah halal merugikan dan memberatkan mereka dengan suatu hal yang tidak mereka sanggupi. Tidak-kah pahala kebajikan itu adalah kebajikan juga? Dan demikian juga atas orang-orang yang melakukan kebajikan, agar me-nyempurnakan kebaikan mereka dengan tidak merugikan, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan terhadap orang-orang yang menjadi obyek kebaikan mereka, karena sesungguhnya kebajikan itu tidaklah sempurna kecuali dengan sikap tersebut. 26. Bahwasanya tidaklah halal memungut biaya terhadap penu-lisan dan kesaksian, di mana kedua hal tersebut hukumnya adalah wajib; karena hal itu adalah haq yang telah diwajibkan oleh Allah atas saksi dan juru tulis, dan karena pungutan itu merupakan tindakan merugikan kedua pihak yang bermua-malah. 27. Peringatan terhadap kemaslahatan dan manfaat yang diakibat-kan oleh pengamalan akan petunjuk yang mulia ini; bahwa dalam pengamalan tersebut terdapat pemeliharaan hak, ke-adilan, menghilangkan perselisihan, selamat dari kelupaan dan kebingungan. Karena itu Allah berfirman,﴾ ذَٰلِكُمۡ أَقۡسَطُ عِندَ ٱللَّهِ وَأَقۡوَمُ لِلشَّهَٰدَةِ وَأَدۡنَىٰٓ أَلَّا تَرۡتَابُوٓاْ ﴿ "Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menim-bulkan) keraguanmu" dan ini merupakan kemaslahatan yang asasi bagi manusia. 28. Hendaklah diketahui bahwa menulis (mencatat) adalah di antara perkara-perkara agama, karena hal itu merupakan tin-dakan memelihara agama dan dunia, dan merupakan sebab kebajikan. 29. Bahwasanya barangsiapa yang diistimewakan oleh Allah de-ngan suatu nikmat dari nikmat-nikmat Allah yang dibutuhkan manusia, maka menjadi kesempurnaan kesyukuran terhadap nikmat itu adalah mengembalikan kenikmatan itu kepada hamba-hamba Allah dan ia memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dengannya. Karena Allah menyebutkan sebab dilarang-nya seorang juru tulis menolak menjadi juru tulis dengan FirmanNya, ﴾ كَمَا عَلَّمَهُ ٱللَّهُۚ ﴿ "Sebagaimana Allah mengajarkannya." Dan bersama itu, barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah memenuhi kebutuhannya. 30. Bahwasanya memudaratkan para juru tulis dan para saksi adalah tindakan kefasikan terhadap manusia, karena kefasikan itu keluar dari ketaatan kepada Allah kepada kemaksiatan kepadaNya, dan itu bertambah dan berkurang serta bercabang-cabang. Oleh karena itu Allah tidak berfirman "dan kalian adalah orang-orang yang fasik" akan tetapi Dia berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ فُسُوقُۢ بِكُمۡۗ ﴿ "Maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu." Maka seberapa besar keluarnya seseorang dari ketaatannya kepada Allah, sebesar itu pula kefasikan yang ada padanya. Dan dapat diambil sebagai dalil Firman Allah, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُۗ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu," bahwa bertakwa kepada Allah merupakan jalan memperoleh ilmu, dan yang lebih jelas dari ayat ini adalah FirmanNya تعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَتَّقُواْ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّكُمۡ فُرۡقَانٗا ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan (pembeda antara yang haq dengan yang batil)." (Al-Anfal: 29), yakni, ilmu yang dengannya kalian bisa membedakan antara segala hakikat, kebenaran, dan kebatilan. 31. Bahwasanya sebagaimana ilmu yang bermanfaat di antaranya adalah mengajarkan perkara-perkara agama yang berkaitan dengan ibadah, begitu pula mengajarkan perkara-perkara duniawi yang berkaitan dengan muamalah, karena Allah تعالى memelihara bagi hamba-hambaNya segala perkara agama dan dunia mereka, dan kitabNya yang agung merupakan penjelas segala sesuatu. 32. Disyariatkannya penulisan dokumen berkaitan dengan hak-hak, yaitu penggadaian dan jaminan-jaminan yang dibebankan kepada seseorang untuk memperoleh haknya, baik dia itu pe-kerja yang baik atau jahat, terpercaya atau pengkhianat. Karena berapa banyak sudah dokumen-dokumen telah memelihara hak dan menghilangkan perselisihan. 33. Bahwasanya menjadi kesempurnaan dokumen dalam pengga-daian adalah barang yang menjadi jaminan harus dipegang, sekalipun itu tidaklah berarti bahwa penggadaian itu tidaklah sah kecuali dengan dipegangnya (jaminan), akan tetapi adanya pembatasan dengan dipegangnya jaminan menunjukkan bahwa terkadang dengan terjadi serah terima terjadilah kepercayaan yang sempurna dan terkadang tidak sampai dipegang, sehingga menjadi kurang sempurna. 283- 1. Bahwasanya Firman Allah; ﴾ فَرِهَٰنٞ مَّقۡبُوضَةٞۖ ﴿ "Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)," dapat dijadikan dalil bahwasanya bila terjadi perselisihan antara pihak penggadai dengan pihak yang memiliki piutang tentang jumlah hutang yang diambil dengan barang jaminan, maka yang diterima perkataannya adalah orang yang memiliki piutang yaitu pemilik hak, karena Allah menjadikan barang jaminan sebagai bukti yang kuat, karena bila tidak diterima perkataannya dalam hal itu, niscaya bukti itu tidak akan ada, karena tidak ada pencatatan dan saksi-saksi. 2. Bahwasanya boleh bermuamalah tanpa adanya pencatatan (dokumentasi) maupun saksi-saksi atas dasar Firman Allah تعالى, ﴾ فَإِنۡ أَمِنَ بَعۡضُكُم بَعۡضٗا فَلۡيُؤَدِّ ٱلَّذِي ٱؤۡتُمِنَ أَمَٰنَتَهُۥ ﴿ "Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya)." Namun dalam kondisi yang seperti ini dibutuhkan sifat ketakwaan dan takut kepada Allah. Karena jika tidak demikian, maka pemilik hak dalam posisi dapat dirugikan dalam haknya. Karena itu, dalam kon-disi seperti ini Allah memerintahkan orang yang menanggung hak orang lain untuk bertakwa kepada Allah dan menunaikan amanat yang ditanggungnya. 3. Bahwasanya orang yang mempercayai orang yang bermua-malah dengannya, maka sesungguhnya ia telah melakukan kebaikan yang besar terhadapnya dan ia ridha terhadap agama dan amanahnya, sehingga orang yang menanggung hak orang lain memiliki kewajiban yang semakin kuat untuk menunaikan amanah itu dari dua sisi: Pertama, penunaian hak Allah dan pelaksanaan perintah-perintahNya, dan kedua, pemenuhan hak temannya yang telah meridhai amanahnya dan mempercayai dirinya. 4. Haram menyembunyikan persaksian dan bahwa orang yang melakukan itu hatinya benar-benar telah berdosa yang meru-pakan pengendali dari seluruh anggota tubuh. Hal itu dikare-nakan menyembunyikan hal tersebut adalah seperti persaksian dengan yang batil dan dusta, yang mengakibatkan hilangnya hak-hak, rusaknya muamalah, dan dosa yang berulang-ulang bagi orang tersebut dan orang yang menanggung hak orang lain tersebut. Adapun dibatasinya penggadaian dengan bepergian (musafir) padahal hal itu boleh saja dilakukan saat mukim maupun beper-gian adalah karena kebutuhan akan hal tersebut dan karena tidak adanya juru tulis maupun saksi. Dan Allah menutup ayat ini de-ngan menyebut bahwa Dia Maha Mengetahui atas segala apa yang diperbuat oleh para hamba, sebagai dorongan bagi mereka untuk bermuamalah yang baik dan peringatan dari muamalah yang buruk.

Al-Baqarah 2:283

Kemudian Allah تعالى berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan transaksi hutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendak-lah kamu menuliskannya (melakukan pencatatan). Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah dia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan jangan-lah dia mengurangi sedikitpun dari hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan, maka hendaklah walinya yang mendiktekan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalan-kan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu ada-lah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya dia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Menge-tahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqaarah: 282-283). (282) Ayat-ayat ini meliputi petunjuk Allah kepada hamba-hambaNya dalam muamalah di antara mereka yaitu pemeliharaan hak-hak mereka dengan cara-cara yang bermanfaat dan kemas-lahatan yang oleh orang-orang yang ahli pikir pun tidak mampu memberikan sarannya yang lebih baik dan lebih sempurna darinya, karena di dalamnya banyak sekali faidah-faidahnya, di antaranya: 1. Bolehnya muamalah dalam bentuk hutang piutang, baik berupa hutang-hutang salam[32] atau pembelian barang yang harganya ditangguhkan, semua itu boleh dilakukan, karena Allah تعالى telah mengabarkannya berkaitan dengan kaum Mukminin, dan apa pun yang Allah kabarkan tentang kaum Mukminin, maka sesungguhnya hal itu termasuk konsekuensi keimanan dan telah ditetapkan juga hal itu oleh Allah Yang Mahakuasa. 2. Wajibnya menyebutkan tempo pembayaran dalam seluruh transaksi hutang piutang dan masa penyewaan. 3. Bahwasanya apabila tempo itu tidak diketahui, maka itu tidak halal, karena itu (sangat rentan) adanya tipu daya dan berba-haya, maka hal itu termasuk dalam perjudian. 4. Allah تعالى memerintahkan untuk mencatat (dokumentasi) hutang piutang. Perkara yang satu ini terkadang menjadi wajib yaitu apabila wajib memelihara hak seperti milik seorang hamba yang wajib atasnya perwalian contohnya harta anak yatim, wakaf, perwakilan, amanah, dan terkadang juga mendekati wajib sebagaimana bila hak itu semata-mata milik seorang hamba. Dan terkadang juga lebih berat kepada wajib dan terka-dang lebih berat kepada sunnah, sesuai dengan kondisi yang dituntut untuk masalah itu. Dan pada intinya pencatatan itu adalah merupakan perangkat yang paling besar dalam men-jaga muamalah-muamalah yang tertangguhkan karena rentan terjadi kelupaan dan kesalahan, dan sebagai tindakan pence-gahan dari orang-orang yang tidak amanah yang tidak takut kepada Allah تعالى. 5. Perintah Allah تعالى kepada juru tulis untuk menulis antara kedua pihak yang bermuamalah itu dengan adil, ia tidak boleh condong kepada salah satu pihak karena faktor keluarga misal-nya atau selainnya, atau memusuhi salah satunya karena suatu dendam dan semacamnya. 6. Bahwasanya penulisan antara kedua belah pihak yang ber-muamalah adalah di antara amal-amal yang paling utama dan tindakan kebaikan kepada keduanya. Dalam pencatatan itu mengandung pemeliharaan hak-hak keduanya dan melepaskan tanggung jawab dari keduanya seperti yang diperintahkan oleh Allah. Maka hendaklah juru tulis mencari pahala (dengan profesinya) di antara manusia dengan perkara-perkara ini agar mendapat keberuntungan dengan balasan baiknya. 7. Hendaklah juru tulis mengetahui keadilan dan terkenal dengan keadilan, karena bila dia tidak mengerti keadilan, pastilah dia tidak akan bisa mewujudkannya, dan apabila keadilannya tidak diakui oleh orang banyak dan tidak diridhai mereka maka pastilah pencatatan juga tidak akan diakui, dan maksud yang diinginkan tidak akan terwujud yaitu pemeliharaan hak. 8. Bahwasanya kesempurnaan dari pencatatan dan keadilan dalam muamalah itu adalah bahwa juru tulis itu ahli dalam merangkai kata dan membuat kalimat yang sesuai dalam se-gala macam muamalah sesuai dengan jenisnya, dan kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat dalam hal ini memiliki peran yang cukup besar. 9. Bahwasanya pencatatan itu di antara nikmat-nikmat Allah terhadap hamba-hambaNya, di mana urusan-urusan agama dan urusan-urusan dunia mereka tidak akan lurus kecuali dengannya. Dan bahwasanya barangsiapa yang diajarkan oleh Allah penulisan, sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepadanya keutamaan yang besar, dan menjadi kesempurnaan syukurnya terhadap nikmat Allah تعالى itu, agar dia memenuhi kebutuhan-kebutuhan hamba dengan pencatatan yang dilaku-kannya dan dia tidak boleh menolak untuk menulis. Karena itu Allah berfirman, ﴾ وَلَا يَأۡبَ كَاتِبٌ أَن يَكۡتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya." 10. Bahwasanya apa yang ditulis oleh juru tulis itu merupakan pengakuan dari orang yang menanggung hak apabila dia mampu merangkai kata tentang hak yang wajib atas dirinya tersebut. Namun apabila ia tidak mampu akan hal itu karena umurnya yang masih kecil atau kebodohannya, ketidakwa-rasannya, kebisuannya, atau ketidakmampuannya, maka wali-nya harus melakukannya untuknya, dan walinya itu sebagai wakil dirinya dalam hal tersebut. 11. Bahwasanya pengakuan itu adalah jalan yang paling besar dalam menetapkan suatu hak, di mana Allah تعالى memerintah-kan kepada juru tulis untuk menulis apa yang didiktekan oleh orang yang menanggung hak orang lain. 12. Penetapan perwalian bagi orang-orang yang tidak mampu seperti anak kecil, orang gila, orang bodoh, dan semacamnya. 13. Bahwasanya seorang wali itu posisinya sama seperti posisi orang yang diwalikannya dalam segala pengakuannya yang berkaitan dengan hak-haknya. 14. Bahwasanya orang yang Anda percaya dalam suatu muamalah dan Anda serahkan urusan itu kepadanya, maka perkataannya dalam perkara itu dapat diterima, karena dia adalah pengganti diri Anda, karena apabila wali itu untuk orang-orang yang tidak mampu menempati posisi mereka, maka orang yang Anda jadikan wali dengan pilihan Anda sendiri lalu Anda serahkan urusan itu kepadanya adalah lebih utama diterima dan diakui perkataannya dan didahulukan daripada perkataan Anda sendiri ketika terjadi perselisihan. 15. Bahwasanya diwajibkan atas orang yang menanggung hak orang lain, apabila mendiktekan kepada juru tulis agar bertak-wa kepada Allah dan tidak berlaku curang terhadap hak yang ditanggungnya. Ia tidak mengurangi jumlahnya atau sifatnya, atau syarat di antara syarat-syaratnya atau ukuran di antara ukuran-ukurannya. Akan tetapi ia harus mengakui setiap hal yang berkaitan dengan hak tersebut sebagaimana juga hal itu wajib atas orang lain yang menanggung hak dirinya. Barang-siapa yang tidak melaksanakan itu, maka ia termasuk orang-orang yang curang lagi mengurangi (timbangan dan takaran). 16. Wajib mengakui hak-hak yang nampak dan hak-hak yang ter-sembunyi, dan bahwa hal itu adalah di antara karakter terbesar ketakwaan, sebagaimana menolak pengakuan adalah di antara pembatal ketakwaan dan yang menguranginya. 17. Petunjuk untuk mengadakan saksi dalam jual beli. Apabila dalam hal hutang piutang, maka hukumnya adalah hukum pencatatan sebagaimana yang telah lalu. Karena penulisan itu adalah pencatatan kesaksian. Apabila jual beli itu adalah jual beli tunai, maka seyogyanya ada saksi padanya dan tidak berdosa bila meninggalkan penulisan karena banyaknya dan adanya kesulitan untuk menulis (semua kasus yang ada). 18. Petunjuk untuk mengadakan saksi dua orang laki-laki yang adil, namun apabila tidak memungkinkan atau tidak ada atau sulit, maka boleh satu laki-laki dan dua wanita. Itu mencakup segala macam muamalah, transaksi obligasi dan transaksi utang piutang dengan segala hal yang berkaitan dengannya, se-perti syarat-syarat atau dokumen-dokumen atau semacamnya. Apabila ada keberatan yang mengatakan bahwa terdapat riwayat shahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau memutuskan dengan satu saksi saja disertai sumpah,[33] tetapi kenapa ayat yang mulia ini tidak menunjukkan kecuali hanya saksi dua laki-laki atau satu laki-laki dan dua wanita? Dapat dijawab, bahwa ayat yang mulia ini mengandung petunjuk Allah kepada hamba-hambaNya untuk menjaga hak-hak mereka, oleh karena itu Allah mendatangkan padanya jalan yang paling sempurna dan yang paling kuat, dan ayat ini juga tidak mengandung hal yang meniadakan (menafikan) apa yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dengan menetapkan satu saksi yang disertai sumpah. Masa-lah memelihara hak-hak, pada awal-awalnya Allah mengarah-kan hambaNya untuk berhati-hati dan menjaga secara total. Masalah ketetapan di antara kedua pihak yang bersengketa dipertimbangkan dengan melihat segala hal yang membantu dan keterangan-keterangan yang ada sesuai keadaan dan kon-disinya. 19. Bahwasanya kesaksian dua orang wanita itu sebanding dengan satu laki-laki dalam hak-hak duniawi. Adapun dalam perkara-perkara agama seperti periwayatan dan fatwa, maka seorang wanita satu derajat (sama dengan) laki-laki. Perbedaan antara dua perkara itu sangatlah jelas sekali. 20. Petunjuk kepada hikmah di balik perbandingan kesaksian dua wanita dengan satu laki-laki yang mana hal itu dikarenakan kelemahan daya ingat wanita pada umumnya dan kuatnya daya ingat laki-laki. 21. Bahwasanya sekiranya seorang saksi bila melupakan kesak-siannya namun saksi yang lainnya mengingatkannya lalu dia teringat kembali, maka kelupaan itu tidaklah mengapa bila dapat dihindarkan dengan adanya pengingatan tersebut, ber-dasarkan Firman Allah, ﴾ أَن تَضِلَّ إِحۡدَىٰهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحۡدَىٰهُمَا ٱلۡأُخۡرَىٰۚ ﴿ "Supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya." Yang lebih baik lagi adalah bila seorang saksi itu lupa kemudian dia bisa mengingat kembali tanpa diingatkan oleh saksi lainnya, karena sesungguhnya kesaksian itu intinya adalah keyakinan dan ilmu. 22. Bahwasanya kesaksian itu harus dengan dasar ilmu dan keya-kinan, bukan keraguan. Maka ketika terjadi keraguan pada se-orang saksi dalam kesaksiannya walaupun berdasarkan dugaan terkuatnya, tidaklah halal baginya untuk bersaksi kecuali dengan apa yang ia ketahui dengan yakin. 23. Bahwasanya seorang saksi itu tidak boleh menolak bila diminta untuk bersaksi, baik saksi untuk membela atau untuk melawan, dan bahwasanya menunaikan kesaksian itu adalah di antara amalan-amalan shalih yang paling utama sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah dan mengabarkan tentang manfaatnya dan berbagai kemaslahatannya. 24. Bahwasanya tidaklah boleh memudaratkan juru tulis dan tidak juga saksi, yaitu dengan dipanggil pada waktu-waktu yang memudaratkan mereka berdua. Dan sebagaimana orang-orang yang memiliki hak dan orang-orang yang saling bermuamalah itu dilarang merugikan para juru tulis maupun para saksi, begitu pula juru tulis dan saksi tidak boleh merugikan orang-orang yang memiliki hak maupun kedua pihak yang bermua-malah atau salah satu pihak dari keduanya. Dalam hal ini bahwa saksi maupun juru tulis bila terjadi kerugian pada mereka dalam hal penulisan maupun kesaksian, maka kewajiban keduanya gugur. 25. Peringatan bahwasanya orang-orang yang baik yang melaku-kan kebajikan, tidaklah halal merugikan dan memberatkan mereka dengan suatu hal yang tidak mereka sanggupi. Tidak-kah pahala kebajikan itu adalah kebajikan juga? Dan demikian juga atas orang-orang yang melakukan kebajikan, agar me-nyempurnakan kebaikan mereka dengan tidak merugikan, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan terhadap orang-orang yang menjadi obyek kebaikan mereka, karena sesungguhnya kebajikan itu tidaklah sempurna kecuali dengan sikap tersebut. 26. Bahwasanya tidaklah halal memungut biaya terhadap penu-lisan dan kesaksian, di mana kedua hal tersebut hukumnya adalah wajib; karena hal itu adalah haq yang telah diwajibkan oleh Allah atas saksi dan juru tulis, dan karena pungutan itu merupakan tindakan merugikan kedua pihak yang bermua-malah. 27. Peringatan terhadap kemaslahatan dan manfaat yang diakibat-kan oleh pengamalan akan petunjuk yang mulia ini; bahwa dalam pengamalan tersebut terdapat pemeliharaan hak, ke-adilan, menghilangkan perselisihan, selamat dari kelupaan dan kebingungan. Karena itu Allah berfirman,﴾ ذَٰلِكُمۡ أَقۡسَطُ عِندَ ٱللَّهِ وَأَقۡوَمُ لِلشَّهَٰدَةِ وَأَدۡنَىٰٓ أَلَّا تَرۡتَابُوٓاْ ﴿ "Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menim-bulkan) keraguanmu" dan ini merupakan kemaslahatan yang asasi bagi manusia. 28. Hendaklah diketahui bahwa menulis (mencatat) adalah di antara perkara-perkara agama, karena hal itu merupakan tin-dakan memelihara agama dan dunia, dan merupakan sebab kebajikan. 29. Bahwasanya barangsiapa yang diistimewakan oleh Allah de-ngan suatu nikmat dari nikmat-nikmat Allah yang dibutuhkan manusia, maka menjadi kesempurnaan kesyukuran terhadap nikmat itu adalah mengembalikan kenikmatan itu kepada hamba-hamba Allah dan ia memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dengannya. Karena Allah menyebutkan sebab dilarang-nya seorang juru tulis menolak menjadi juru tulis dengan FirmanNya, ﴾ كَمَا عَلَّمَهُ ٱللَّهُۚ ﴿ "Sebagaimana Allah mengajarkannya." Dan bersama itu, barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah memenuhi kebutuhannya. 30. Bahwasanya memudaratkan para juru tulis dan para saksi adalah tindakan kefasikan terhadap manusia, karena kefasikan itu keluar dari ketaatan kepada Allah kepada kemaksiatan kepadaNya, dan itu bertambah dan berkurang serta bercabang-cabang. Oleh karena itu Allah tidak berfirman "dan kalian adalah orang-orang yang fasik" akan tetapi Dia berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ فُسُوقُۢ بِكُمۡۗ ﴿ "Maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu." Maka seberapa besar keluarnya seseorang dari ketaatannya kepada Allah, sebesar itu pula kefasikan yang ada padanya. Dan dapat diambil sebagai dalil Firman Allah, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُۗ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu," bahwa bertakwa kepada Allah merupakan jalan memperoleh ilmu, dan yang lebih jelas dari ayat ini adalah FirmanNya تعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَتَّقُواْ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّكُمۡ فُرۡقَانٗا ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan (pembeda antara yang haq dengan yang batil)." (Al-Anfal: 29), yakni, ilmu yang dengannya kalian bisa membedakan antara segala hakikat, kebenaran, dan kebatilan. 31. Bahwasanya sebagaimana ilmu yang bermanfaat di antaranya adalah mengajarkan perkara-perkara agama yang berkaitan dengan ibadah, begitu pula mengajarkan perkara-perkara duniawi yang berkaitan dengan muamalah, karena Allah تعالى memelihara bagi hamba-hambaNya segala perkara agama dan dunia mereka, dan kitabNya yang agung merupakan penjelas segala sesuatu. 32. Disyariatkannya penulisan dokumen berkaitan dengan hak-hak, yaitu penggadaian dan jaminan-jaminan yang dibebankan kepada seseorang untuk memperoleh haknya, baik dia itu pe-kerja yang baik atau jahat, terpercaya atau pengkhianat. Karena berapa banyak sudah dokumen-dokumen telah memelihara hak dan menghilangkan perselisihan. 33. Bahwasanya menjadi kesempurnaan dokumen dalam pengga-daian adalah barang yang menjadi jaminan harus dipegang, sekalipun itu tidaklah berarti bahwa penggadaian itu tidaklah sah kecuali dengan dipegangnya (jaminan), akan tetapi adanya pembatasan dengan dipegangnya jaminan menunjukkan bahwa terkadang dengan terjadi serah terima terjadilah kepercayaan yang sempurna dan terkadang tidak sampai dipegang, sehingga menjadi kurang sempurna. 283- 1. Bahwasanya Firman Allah; ﴾ فَرِهَٰنٞ مَّقۡبُوضَةٞۖ ﴿ "Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)," dapat dijadikan dalil bahwasanya bila terjadi perselisihan antara pihak penggadai dengan pihak yang memiliki piutang tentang jumlah hutang yang diambil dengan barang jaminan, maka yang diterima perkataannya adalah orang yang memiliki piutang yaitu pemilik hak, karena Allah menjadikan barang jaminan sebagai bukti yang kuat, karena bila tidak diterima perkataannya dalam hal itu, niscaya bukti itu tidak akan ada, karena tidak ada pencatatan dan saksi-saksi. 2. Bahwasanya boleh bermuamalah tanpa adanya pencatatan (dokumentasi) maupun saksi-saksi atas dasar Firman Allah تعالى, ﴾ فَإِنۡ أَمِنَ بَعۡضُكُم بَعۡضٗا فَلۡيُؤَدِّ ٱلَّذِي ٱؤۡتُمِنَ أَمَٰنَتَهُۥ ﴿ "Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya)." Namun dalam kondisi yang seperti ini dibutuhkan sifat ketakwaan dan takut kepada Allah. Karena jika tidak demikian, maka pemilik hak dalam posisi dapat dirugikan dalam haknya. Karena itu, dalam kon-disi seperti ini Allah memerintahkan orang yang menanggung hak orang lain untuk bertakwa kepada Allah dan menunaikan amanat yang ditanggungnya. 3. Bahwasanya orang yang mempercayai orang yang bermua-malah dengannya, maka sesungguhnya ia telah melakukan kebaikan yang besar terhadapnya dan ia ridha terhadap agama dan amanahnya, sehingga orang yang menanggung hak orang lain memiliki kewajiban yang semakin kuat untuk menunaikan amanah itu dari dua sisi: Pertama, penunaian hak Allah dan pelaksanaan perintah-perintahNya, dan kedua, pemenuhan hak temannya yang telah meridhai amanahnya dan mempercayai dirinya. 4. Haram menyembunyikan persaksian dan bahwa orang yang melakukan itu hatinya benar-benar telah berdosa yang meru-pakan pengendali dari seluruh anggota tubuh. Hal itu dikare-nakan menyembunyikan hal tersebut adalah seperti persaksian dengan yang batil dan dusta, yang mengakibatkan hilangnya hak-hak, rusaknya muamalah, dan dosa yang berulang-ulang bagi orang tersebut dan orang yang menanggung hak orang lain tersebut. Adapun dibatasinya penggadaian dengan bepergian (musafir) padahal hal itu boleh saja dilakukan saat mukim maupun beper-gian adalah karena kebutuhan akan hal tersebut dan karena tidak adanya juru tulis maupun saksi. Dan Allah menutup ayat ini de-ngan menyebut bahwa Dia Maha Mengetahui atas segala apa yang diperbuat oleh para hamba, sebagai dorongan bagi mereka untuk bermuamalah yang baik dan peringatan dari muamalah yang buruk.

Al-Baqarah 2:284

"Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendakiNya dan menyiksa siapa yang dikehendakiNya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 284). (284) Allah تعالى mengabarkan tentang luasnya kekuasaanNya terhadap penghuni langit maupun bumi, ilmuNya yang meliputi segala apa yang ditampakkan oleh hamba-hambaNya maupun yang disembunyikannya dalam hati mereka, dan bahwa Dia akan memberikan ganjaran kepada mereka, ﴾ فَيَغۡفِرُ لِمَن يَشَآءُ ﴿ "maka Allah mengampuni siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang kembali kepada Rabbnya dan bertaubat kepadaNya, ﴾ فَإِنَّهُۥ كَانَ لِلۡأَوَّٰبِينَ غَفُورٗا 25 ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang ber-taubat." (Al-Isra`: 25). ﴾ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Dan menyiksa siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang terus melakukan kemaksiatan, baik batiniyah maupun lahiriyahnya. Ayat ini tidaklah bertentangan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan tentang ampunan terhadap hal yang masih terbersit dalam hati seorang hamba yang belum melakukan dan membicarakannya,[34] maka itu adalah bisikan-bisikan hati yang ter-bersit dalam jiwa yang tidak merupakan sifat seorang hamba dan tidak dibentuk atasnya. Adapun dalam konteks ayat ini adalah tekad yang bulat dan sifat yang mantap dalam jiwa; sifat yang baik maupun kehendak yang buruk. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ مَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ ﴿ "Apa yang ada dalam hatimu," artinya, yang tetap pada-nya dan terpatri, baik tekad atau sifat mantap, dan Allah mengabar-kan bahwasanya Dia ﴾ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Mahakuasa atas segala sesuatu." Maka di antara kesempurnaan KuasaNya adalah mengadili para makhluk dan memberikan kepada mereka apa yang berhak mereka dapatkan dari pahala maupun siksaan.

Al-Baqarah 2:285

"Rasul telah beriman kepada al-Qur`an yang diturunkan ke-padanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan), 'Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya,' dan mereka mengatakan, 'Kami dengar dan kami taat.' (Mereka berdoa), 'Ampunilah kami ya Rabb kami, dan ke-padaMu-lah tempat kembali.' Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaf-lah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkau-lah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir'." (Al-Baqarah: 285-286). (285-286) Terdapat riwayat shahih dari Nabi ﷺ bahwa barangsiapa yang membaca dua ayat ini pada malam hari, maka itu cukuplah baginya,[35] yakni dari segala kejahatan (keburukan). Hal itu karena kedua ayat ini meliputi makna-makna yang agung. Allah تعالى telah memerintahkan manusia dalam awal surat ini untuk beriman dengan segala pokok-pokok dalam FirmanNya, ﴾ قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا ﴿ "Katakanlah (hai orang-orang Mukmin), 'Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami'." (Al-Baqarah: 136). Allah mengabarkan dalam ayat ini bahwasanya Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang bersamanya dari kaum Mukminin telah beriman kepada pokok-pokok yang agung ini; kepada seluruh Rasul dan seluruh kitab-kitab, dan mereka tidak melakukan seperti perbuatan orang-orang yang beriman dengan sebagian dan meng-ingkari sebagian lainnya, seperti kondisi orang-orang yang menyim-pang dari pemeluk-pemeluk agama lain yang tersesat. Dirangkai-nya secara urut kaum Mukminin dengan Rasulullah ﷺ dan disebut-nya mereka semua dengan satu kabar saja, merupakan kemuliaan yang besar bagi kaum Mukminin. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sama dengan umatnya dalam hal sebagai sasaran perintah syar'i, pelaksanaan beliau yang sempurna dan bahwasanya beliau itu lebih tinggi dari kaum Mukminin -bahkan lebih tinggi dari seluruh Rasul- dalam pelaksanaan keimanan dan hak-haknya. Dan FirmanNya, ﴾ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ ﴿ "Dan mereka mengatakan, 'Kami dengar dan kami taat'." Konsistensi kaum Mukminin ini adalah umum terhadap semua yang dibawa oleh Nabi ﷺ dari al-Qur`an dan as-Sunnah. Dan bahwasanya mereka mendengar beliau dengan maksud penerimaan, ketundukan, dan kepatuhan. Kandungan dari itu adalah penghambaan mereka terhadap Allah dalam rangka memohon pertolongan untuk melaksanakannya dan bahwasanya Allah mengampuni mereka atas kelalaian mereka dari kewajiban-kewajiban dan apa yang mereka kerjakan dari hal-hal yang diha-ramkan. Mereka juga menghambakan diri kepada Allah dalam doa-doa yang penuh manfaat tersebut, dan Allah تعالى telah memenuhi doa mereka melewati lisan Nabi mereka ﷺ yang bersabda (dalam sebuah hadits Qudsi), قَدْ فَعَلْتُ. "Sungguh Aku telah melakukannya."[36] Doa-doa ini akan diterima dari seluruh kaum Mukminin secara pasti, dan juga dari pribadi-pribadi mereka apabila tidak ada penghalang dari hal itu pada pribadi-pribadi tersebut. Hal itu bahwa Allah menggugurkan siksaan mereka dari kesalahan dan kelupaan, dan bahwa Allah memudahkan bagi mereka syariat-syariatNya dengan sangat mudah, di mana Allah tidak memberat-kan mereka dengan kesulitan, beban-beban, dan tambahan-tam-bahan seperti yang diberikan kepada orang-orang sebelum mereka. Allah tidak memberatkan mereka melebihi dari kemampuan me-reka. Allah juga telah mengampuni mereka, merahmati, dan mem-bela mereka dari orang-orang kafir. Maka kita memohon kepada Allah تعالى dengan nama-namaNya dan sifat-sifatNya dan dengan segala yang dikaruniakannya kepada kita berupa sikap konsisten kita kepada agamaNya agar Dia merealisasikan hal itu buat kita dan agar Allah membuktikan kepada kita dari apa yang telah Dia janjikan kepada kita melewati lisan NabiNya, dan agar Dia mem-perbaiki kondisi kaum Mukminin. Dari hal ini dapat diambil kaidah "kemudahan dan tidak ada-nya rasa sungkan (sulit) dalam seluruh perkara-perkara Agama," dan kaidah "ampunan dari kelupaan dan kesalahan dalam perkara ibadah dan terhadap hak-hak Allah تعالى dan demikian juga terhadap hak-hak makhluk dari segi menggugurkan dosa dan tidak men-dapat celaan." Adapun wajibnya menjamin kerusakan-kerusakan yang terjadi atas dasar ketidaksengajaan dan kelalaian terhadap jiwa dan harta, maka sesungguhnya hal itu diakibatkan tindakan pengrusakan tanpa hak, yang disengaja ataupun tidak, atau dika-renakan kelalaian. Selesai tafsir Surat al-Baqarah, segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah تعالى, dan shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Al-Baqarah 2:286

"Rasul telah beriman kepada al-Qur`an yang diturunkan ke-padanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan), 'Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya,' dan mereka mengatakan, 'Kami dengar dan kami taat.' (Mereka berdoa), 'Ampunilah kami ya Rabb kami, dan ke-padaMu-lah tempat kembali.' Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaf-lah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkau-lah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir'." (Al-Baqarah: 285-286). (285-286) Terdapat riwayat shahih dari Nabi ﷺ bahwa barangsiapa yang membaca dua ayat ini pada malam hari, maka itu cukuplah baginya,[35] yakni dari segala kejahatan (keburukan). Hal itu karena kedua ayat ini meliputi makna-makna yang agung. Allah تعالى telah memerintahkan manusia dalam awal surat ini untuk beriman dengan segala pokok-pokok dalam FirmanNya, ﴾ قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا ﴿ "Katakanlah (hai orang-orang Mukmin), 'Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami'." (Al-Baqarah: 136). Allah mengabarkan dalam ayat ini bahwasanya Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang bersamanya dari kaum Mukminin telah beriman kepada pokok-pokok yang agung ini; kepada seluruh Rasul dan seluruh kitab-kitab, dan mereka tidak melakukan seperti perbuatan orang-orang yang beriman dengan sebagian dan meng-ingkari sebagian lainnya, seperti kondisi orang-orang yang menyim-pang dari pemeluk-pemeluk agama lain yang tersesat. Dirangkai-nya secara urut kaum Mukminin dengan Rasulullah ﷺ dan disebut-nya mereka semua dengan satu kabar saja, merupakan kemuliaan yang besar bagi kaum Mukminin. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sama dengan umatnya dalam hal sebagai sasaran perintah syar'i, pelaksanaan beliau yang sempurna dan bahwasanya beliau itu lebih tinggi dari kaum Mukminin -bahkan lebih tinggi dari seluruh Rasul- dalam pelaksanaan keimanan dan hak-haknya. Dan FirmanNya, ﴾ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ ﴿ "Dan mereka mengatakan, 'Kami dengar dan kami taat'." Konsistensi kaum Mukminin ini adalah umum terhadap semua yang dibawa oleh Nabi ﷺ dari al-Qur`an dan as-Sunnah. Dan bahwasanya mereka mendengar beliau dengan maksud penerimaan, ketundukan, dan kepatuhan. Kandungan dari itu adalah penghambaan mereka terhadap Allah dalam rangka memohon pertolongan untuk melaksanakannya dan bahwasanya Allah mengampuni mereka atas kelalaian mereka dari kewajiban-kewajiban dan apa yang mereka kerjakan dari hal-hal yang diha-ramkan. Mereka juga menghambakan diri kepada Allah dalam doa-doa yang penuh manfaat tersebut, dan Allah تعالى telah memenuhi doa mereka melewati lisan Nabi mereka ﷺ yang bersabda (dalam sebuah hadits Qudsi), قَدْ فَعَلْتُ. "Sungguh Aku telah melakukannya."[36] Doa-doa ini akan diterima dari seluruh kaum Mukminin secara pasti, dan juga dari pribadi-pribadi mereka apabila tidak ada penghalang dari hal itu pada pribadi-pribadi tersebut. Hal itu bahwa Allah menggugurkan siksaan mereka dari kesalahan dan kelupaan, dan bahwa Allah memudahkan bagi mereka syariat-syariatNya dengan sangat mudah, di mana Allah tidak memberat-kan mereka dengan kesulitan, beban-beban, dan tambahan-tam-bahan seperti yang diberikan kepada orang-orang sebelum mereka. Allah tidak memberatkan mereka melebihi dari kemampuan me-reka. Allah juga telah mengampuni mereka, merahmati, dan mem-bela mereka dari orang-orang kafir. Maka kita memohon kepada Allah تعالى dengan nama-namaNya dan sifat-sifatNya dan dengan segala yang dikaruniakannya kepada kita berupa sikap konsisten kita kepada agamaNya agar Dia merealisasikan hal itu buat kita dan agar Allah membuktikan kepada kita dari apa yang telah Dia janjikan kepada kita melewati lisan NabiNya, dan agar Dia mem-perbaiki kondisi kaum Mukminin. Dari hal ini dapat diambil kaidah "kemudahan dan tidak ada-nya rasa sungkan (sulit) dalam seluruh perkara-perkara Agama," dan kaidah "ampunan dari kelupaan dan kesalahan dalam perkara ibadah dan terhadap hak-hak Allah تعالى dan demikian juga terhadap hak-hak makhluk dari segi menggugurkan dosa dan tidak men-dapat celaan." Adapun wajibnya menjamin kerusakan-kerusakan yang terjadi atas dasar ketidaksengajaan dan kelalaian terhadap jiwa dan harta, maka sesungguhnya hal itu diakibatkan tindakan pengrusakan tanpa hak, yang disengaja ataupun tidak, atau dika-renakan kelalaian. Selesai tafsir Surat al-Baqarah, segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah تعالى, dan shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Ali 'Imran 3:1

"Alif lam mim. Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disem-bah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya). Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Qur`an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa). Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Dia-lah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dike-hendakiNya. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Ali Imran: 1-6). Madaniyah (1) ﴾ الٓمٓ ﴿ "Alif lam mim" adalah di antara huruf-huruf yang tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah. (2) Allah memberitakan bahwa Dia ﴾ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Hidup kekal" yakni hidup yang sempurna, ﴾ ٱلۡقَيُّومُ ﴿ "Terus menerus mengurus makhluk-Nya," yang melakukannya sendiri dan mengurus segala kondisi makhlukNya, di mana Allah telah mengurus kondisi agama, kondisi dunia, dan kondisi takdir-takdir mereka, lalu Allah menurunkan kepada RasulNya, Muhammad ﷺ al-Kitab dengan kebenaran, yang tidak ada keraguan padanya, dan kitab itu mencakup kebenaran. (3-4) ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "Membenarkan kitab yang telah diturun-kan sebelumnya" dari kitab-kitab suci, artinya, kitab ini mempersak-sikan apa yang dipersaksikan oleh kitab-kitab tersebut, dan mem-benarkan para Rasul yang membawa kitab-kitab tersebut. Demikian juga, ﴾ وَأَنزَلَ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ 3 مِن قَبۡلُ ﴿ "dan menurunkan Taurat dan Injil sebe-lum (al-Qur`an)," yakni kitab Allah ini, ﴾ هُدٗى لِّلنَّاسِ ﴿ "menjadi petunjuk bagi manusia," dan Allah menyempurnakan risalah dan menutup-nya dengan Nabi Muhammad ﷺ dan kitabnya yang agung, yang dengannya Allah memberikan petunjukNya kepada makhluk dari kesesatan dan menyelamatkan mereka dari kebodohan, dan dengan-nya Allah memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, kebaha-giaan dan kesengsaraan, jalan yang lurus (ke surga) dan jalan ke neraka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya dan meng-ambil petunjuk niscaya mereka akan memperoleh kebaikan yang melimpah dan pahala yang segera maupun yang tertunda, dan ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah" yang telah dijelaskan oleh Allah dalam KitabNya dan melalui lisan RasulNya, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ ﴿ "akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa)" bagi orang-orang yang maksiat kepadaNya. (5-6) Dan di antara kesempurnaan pengaturanNya (atas hamba-hambaNya) تعالى adalah bahwa ilmuNya meliputi seluruh makhluk, ﴾ لَا يَخۡفَىٰ عَلَيۡهِ شَيۡءٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit," hingga apa yang ada di dalam perut wanita-wanita hamil, Allah-l a h ﴾ ٱلَّذِي يُصَوِّرُكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ كَيۡفَ يَشَآءُۚ ﴿ "yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dike-hendakiNya," berupa laki-laki, wanita, bentuk yang sempurna, ben-tuk yang cacat, yang selalu berganti dalam tahapan pembentukan-Nya dan keindahan hikmahNya. Oleh karena Dia-lah Dzat yang seperti ini terhadap hamba-hambaNya dan perhatianNya yang besar terhadap kondisi mereka dari permulaan ketika Dia mencip-takan mereka hingga akhir dari perkara mereka, tidak ada sekutu bagiNya dalam semua itu, maka menjadi jelaslah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia, ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Mahaperkasa," Yang me-nguasai segala makhluk dengan kekuatanNya, dan Perkasa dari sifat kekurangan atau dari sifat tercela, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana" dalam penciptaan dan syariatNya.

Ali 'Imran 3:2

"Alif lam mim. Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disem-bah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya). Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Qur`an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa). Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Dia-lah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dike-hendakiNya. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Ali Imran: 1-6). Madaniyah (1) ﴾ الٓمٓ ﴿ "Alif lam mim" adalah di antara huruf-huruf yang tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah. (2) Allah memberitakan bahwa Dia ﴾ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Hidup kekal" yakni hidup yang sempurna, ﴾ ٱلۡقَيُّومُ ﴿ "Terus menerus mengurus makhluk-Nya," yang melakukannya sendiri dan mengurus segala kondisi makhlukNya, di mana Allah telah mengurus kondisi agama, kondisi dunia, dan kondisi takdir-takdir mereka, lalu Allah menurunkan kepada RasulNya, Muhammad ﷺ al-Kitab dengan kebenaran, yang tidak ada keraguan padanya, dan kitab itu mencakup kebenaran. (3-4) ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "Membenarkan kitab yang telah diturun-kan sebelumnya" dari kitab-kitab suci, artinya, kitab ini mempersak-sikan apa yang dipersaksikan oleh kitab-kitab tersebut, dan mem-benarkan para Rasul yang membawa kitab-kitab tersebut. Demikian juga, ﴾ وَأَنزَلَ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ 3 مِن قَبۡلُ ﴿ "dan menurunkan Taurat dan Injil sebe-lum (al-Qur`an)," yakni kitab Allah ini, ﴾ هُدٗى لِّلنَّاسِ ﴿ "menjadi petunjuk bagi manusia," dan Allah menyempurnakan risalah dan menutup-nya dengan Nabi Muhammad ﷺ dan kitabnya yang agung, yang dengannya Allah memberikan petunjukNya kepada makhluk dari kesesatan dan menyelamatkan mereka dari kebodohan, dan dengan-nya Allah memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, kebaha-giaan dan kesengsaraan, jalan yang lurus (ke surga) dan jalan ke neraka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya dan meng-ambil petunjuk niscaya mereka akan memperoleh kebaikan yang melimpah dan pahala yang segera maupun yang tertunda, dan ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah" yang telah dijelaskan oleh Allah dalam KitabNya dan melalui lisan RasulNya, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ ﴿ "akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa)" bagi orang-orang yang maksiat kepadaNya. (5-6) Dan di antara kesempurnaan pengaturanNya (atas hamba-hambaNya) تعالى adalah bahwa ilmuNya meliputi seluruh makhluk, ﴾ لَا يَخۡفَىٰ عَلَيۡهِ شَيۡءٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit," hingga apa yang ada di dalam perut wanita-wanita hamil, Allah-l a h ﴾ ٱلَّذِي يُصَوِّرُكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ كَيۡفَ يَشَآءُۚ ﴿ "yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dike-hendakiNya," berupa laki-laki, wanita, bentuk yang sempurna, ben-tuk yang cacat, yang selalu berganti dalam tahapan pembentukan-Nya dan keindahan hikmahNya. Oleh karena Dia-lah Dzat yang seperti ini terhadap hamba-hambaNya dan perhatianNya yang besar terhadap kondisi mereka dari permulaan ketika Dia mencip-takan mereka hingga akhir dari perkara mereka, tidak ada sekutu bagiNya dalam semua itu, maka menjadi jelaslah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia, ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Mahaperkasa," Yang me-nguasai segala makhluk dengan kekuatanNya, dan Perkasa dari sifat kekurangan atau dari sifat tercela, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana" dalam penciptaan dan syariatNya.

Ali 'Imran 3:3

"Alif lam mim. Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disem-bah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya). Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Qur`an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa). Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Dia-lah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dike-hendakiNya. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Ali Imran: 1-6). Madaniyah (1) ﴾ الٓمٓ ﴿ "Alif lam mim" adalah di antara huruf-huruf yang tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah. (2) Allah memberitakan bahwa Dia ﴾ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Hidup kekal" yakni hidup yang sempurna, ﴾ ٱلۡقَيُّومُ ﴿ "Terus menerus mengurus makhluk-Nya," yang melakukannya sendiri dan mengurus segala kondisi makhlukNya, di mana Allah telah mengurus kondisi agama, kondisi dunia, dan kondisi takdir-takdir mereka, lalu Allah menurunkan kepada RasulNya, Muhammad ﷺ al-Kitab dengan kebenaran, yang tidak ada keraguan padanya, dan kitab itu mencakup kebenaran. (3-4) ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "Membenarkan kitab yang telah diturun-kan sebelumnya" dari kitab-kitab suci, artinya, kitab ini mempersak-sikan apa yang dipersaksikan oleh kitab-kitab tersebut, dan mem-benarkan para Rasul yang membawa kitab-kitab tersebut. Demikian juga, ﴾ وَأَنزَلَ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ 3 مِن قَبۡلُ ﴿ "dan menurunkan Taurat dan Injil sebe-lum (al-Qur`an)," yakni kitab Allah ini, ﴾ هُدٗى لِّلنَّاسِ ﴿ "menjadi petunjuk bagi manusia," dan Allah menyempurnakan risalah dan menutup-nya dengan Nabi Muhammad ﷺ dan kitabnya yang agung, yang dengannya Allah memberikan petunjukNya kepada makhluk dari kesesatan dan menyelamatkan mereka dari kebodohan, dan dengan-nya Allah memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, kebaha-giaan dan kesengsaraan, jalan yang lurus (ke surga) dan jalan ke neraka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya dan meng-ambil petunjuk niscaya mereka akan memperoleh kebaikan yang melimpah dan pahala yang segera maupun yang tertunda, dan ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah" yang telah dijelaskan oleh Allah dalam KitabNya dan melalui lisan RasulNya, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ ﴿ "akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa)" bagi orang-orang yang maksiat kepadaNya. (5-6) Dan di antara kesempurnaan pengaturanNya (atas hamba-hambaNya) تعالى adalah bahwa ilmuNya meliputi seluruh makhluk, ﴾ لَا يَخۡفَىٰ عَلَيۡهِ شَيۡءٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit," hingga apa yang ada di dalam perut wanita-wanita hamil, Allah-l a h ﴾ ٱلَّذِي يُصَوِّرُكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ كَيۡفَ يَشَآءُۚ ﴿ "yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dike-hendakiNya," berupa laki-laki, wanita, bentuk yang sempurna, ben-tuk yang cacat, yang selalu berganti dalam tahapan pembentukan-Nya dan keindahan hikmahNya. Oleh karena Dia-lah Dzat yang seperti ini terhadap hamba-hambaNya dan perhatianNya yang besar terhadap kondisi mereka dari permulaan ketika Dia mencip-takan mereka hingga akhir dari perkara mereka, tidak ada sekutu bagiNya dalam semua itu, maka menjadi jelaslah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia, ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Mahaperkasa," Yang me-nguasai segala makhluk dengan kekuatanNya, dan Perkasa dari sifat kekurangan atau dari sifat tercela, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana" dalam penciptaan dan syariatNya.

Ali 'Imran 3:4

"Alif lam mim. Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disem-bah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya). Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Qur`an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa). Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Dia-lah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dike-hendakiNya. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Ali Imran: 1-6). Madaniyah (1) ﴾ الٓمٓ ﴿ "Alif lam mim" adalah di antara huruf-huruf yang tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah. (2) Allah memberitakan bahwa Dia ﴾ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Hidup kekal" yakni hidup yang sempurna, ﴾ ٱلۡقَيُّومُ ﴿ "Terus menerus mengurus makhluk-Nya," yang melakukannya sendiri dan mengurus segala kondisi makhlukNya, di mana Allah telah mengurus kondisi agama, kondisi dunia, dan kondisi takdir-takdir mereka, lalu Allah menurunkan kepada RasulNya, Muhammad ﷺ al-Kitab dengan kebenaran, yang tidak ada keraguan padanya, dan kitab itu mencakup kebenaran. (3-4) ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "Membenarkan kitab yang telah diturun-kan sebelumnya" dari kitab-kitab suci, artinya, kitab ini mempersak-sikan apa yang dipersaksikan oleh kitab-kitab tersebut, dan mem-benarkan para Rasul yang membawa kitab-kitab tersebut. Demikian juga, ﴾ وَأَنزَلَ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ 3 مِن قَبۡلُ ﴿ "dan menurunkan Taurat dan Injil sebe-lum (al-Qur`an)," yakni kitab Allah ini, ﴾ هُدٗى لِّلنَّاسِ ﴿ "menjadi petunjuk bagi manusia," dan Allah menyempurnakan risalah dan menutup-nya dengan Nabi Muhammad ﷺ dan kitabnya yang agung, yang dengannya Allah memberikan petunjukNya kepada makhluk dari kesesatan dan menyelamatkan mereka dari kebodohan, dan dengan-nya Allah memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, kebaha-giaan dan kesengsaraan, jalan yang lurus (ke surga) dan jalan ke neraka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya dan meng-ambil petunjuk niscaya mereka akan memperoleh kebaikan yang melimpah dan pahala yang segera maupun yang tertunda, dan ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah" yang telah dijelaskan oleh Allah dalam KitabNya dan melalui lisan RasulNya, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ ﴿ "akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa)" bagi orang-orang yang maksiat kepadaNya. (5-6) Dan di antara kesempurnaan pengaturanNya (atas hamba-hambaNya) تعالى adalah bahwa ilmuNya meliputi seluruh makhluk, ﴾ لَا يَخۡفَىٰ عَلَيۡهِ شَيۡءٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit," hingga apa yang ada di dalam perut wanita-wanita hamil, Allah-l a h ﴾ ٱلَّذِي يُصَوِّرُكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ كَيۡفَ يَشَآءُۚ ﴿ "yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dike-hendakiNya," berupa laki-laki, wanita, bentuk yang sempurna, ben-tuk yang cacat, yang selalu berganti dalam tahapan pembentukan-Nya dan keindahan hikmahNya. Oleh karena Dia-lah Dzat yang seperti ini terhadap hamba-hambaNya dan perhatianNya yang besar terhadap kondisi mereka dari permulaan ketika Dia mencip-takan mereka hingga akhir dari perkara mereka, tidak ada sekutu bagiNya dalam semua itu, maka menjadi jelaslah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia, ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Mahaperkasa," Yang me-nguasai segala makhluk dengan kekuatanNya, dan Perkasa dari sifat kekurangan atau dari sifat tercela, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana" dalam penciptaan dan syariatNya.

Ali 'Imran 3:5

"Alif lam mim. Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disem-bah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya). Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Qur`an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa). Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Dia-lah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dike-hendakiNya. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Ali Imran: 1-6). Madaniyah (1) ﴾ الٓمٓ ﴿ "Alif lam mim" adalah di antara huruf-huruf yang tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah. (2) Allah memberitakan bahwa Dia ﴾ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Hidup kekal" yakni hidup yang sempurna, ﴾ ٱلۡقَيُّومُ ﴿ "Terus menerus mengurus makhluk-Nya," yang melakukannya sendiri dan mengurus segala kondisi makhlukNya, di mana Allah telah mengurus kondisi agama, kondisi dunia, dan kondisi takdir-takdir mereka, lalu Allah menurunkan kepada RasulNya, Muhammad ﷺ al-Kitab dengan kebenaran, yang tidak ada keraguan padanya, dan kitab itu mencakup kebenaran. (3-4) ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "Membenarkan kitab yang telah diturun-kan sebelumnya" dari kitab-kitab suci, artinya, kitab ini mempersak-sikan apa yang dipersaksikan oleh kitab-kitab tersebut, dan mem-benarkan para Rasul yang membawa kitab-kitab tersebut. Demikian juga, ﴾ وَأَنزَلَ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ 3 مِن قَبۡلُ ﴿ "dan menurunkan Taurat dan Injil sebe-lum (al-Qur`an)," yakni kitab Allah ini, ﴾ هُدٗى لِّلنَّاسِ ﴿ "menjadi petunjuk bagi manusia," dan Allah menyempurnakan risalah dan menutup-nya dengan Nabi Muhammad ﷺ dan kitabnya yang agung, yang dengannya Allah memberikan petunjukNya kepada makhluk dari kesesatan dan menyelamatkan mereka dari kebodohan, dan dengan-nya Allah memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, kebaha-giaan dan kesengsaraan, jalan yang lurus (ke surga) dan jalan ke neraka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya dan meng-ambil petunjuk niscaya mereka akan memperoleh kebaikan yang melimpah dan pahala yang segera maupun yang tertunda, dan ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah" yang telah dijelaskan oleh Allah dalam KitabNya dan melalui lisan RasulNya, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ ﴿ "akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa)" bagi orang-orang yang maksiat kepadaNya. (5-6) Dan di antara kesempurnaan pengaturanNya (atas hamba-hambaNya) تعالى adalah bahwa ilmuNya meliputi seluruh makhluk, ﴾ لَا يَخۡفَىٰ عَلَيۡهِ شَيۡءٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit," hingga apa yang ada di dalam perut wanita-wanita hamil, Allah-l a h ﴾ ٱلَّذِي يُصَوِّرُكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ كَيۡفَ يَشَآءُۚ ﴿ "yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dike-hendakiNya," berupa laki-laki, wanita, bentuk yang sempurna, ben-tuk yang cacat, yang selalu berganti dalam tahapan pembentukan-Nya dan keindahan hikmahNya. Oleh karena Dia-lah Dzat yang seperti ini terhadap hamba-hambaNya dan perhatianNya yang besar terhadap kondisi mereka dari permulaan ketika Dia mencip-takan mereka hingga akhir dari perkara mereka, tidak ada sekutu bagiNya dalam semua itu, maka menjadi jelaslah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia, ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Mahaperkasa," Yang me-nguasai segala makhluk dengan kekuatanNya, dan Perkasa dari sifat kekurangan atau dari sifat tercela, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana" dalam penciptaan dan syariatNya.

Ali 'Imran 3:6

"Alif lam mim. Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disem-bah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya). Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Qur`an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa). Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Dia-lah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dike-hendakiNya. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Ali Imran: 1-6). Madaniyah (1) ﴾ الٓمٓ ﴿ "Alif lam mim" adalah di antara huruf-huruf yang tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah. (2) Allah memberitakan bahwa Dia ﴾ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Hidup kekal" yakni hidup yang sempurna, ﴾ ٱلۡقَيُّومُ ﴿ "Terus menerus mengurus makhluk-Nya," yang melakukannya sendiri dan mengurus segala kondisi makhlukNya, di mana Allah telah mengurus kondisi agama, kondisi dunia, dan kondisi takdir-takdir mereka, lalu Allah menurunkan kepada RasulNya, Muhammad ﷺ al-Kitab dengan kebenaran, yang tidak ada keraguan padanya, dan kitab itu mencakup kebenaran. (3-4) ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "Membenarkan kitab yang telah diturun-kan sebelumnya" dari kitab-kitab suci, artinya, kitab ini mempersak-sikan apa yang dipersaksikan oleh kitab-kitab tersebut, dan mem-benarkan para Rasul yang membawa kitab-kitab tersebut. Demikian juga, ﴾ وَأَنزَلَ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ 3 مِن قَبۡلُ ﴿ "dan menurunkan Taurat dan Injil sebe-lum (al-Qur`an)," yakni kitab Allah ini, ﴾ هُدٗى لِّلنَّاسِ ﴿ "menjadi petunjuk bagi manusia," dan Allah menyempurnakan risalah dan menutup-nya dengan Nabi Muhammad ﷺ dan kitabnya yang agung, yang dengannya Allah memberikan petunjukNya kepada makhluk dari kesesatan dan menyelamatkan mereka dari kebodohan, dan dengan-nya Allah memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, kebaha-giaan dan kesengsaraan, jalan yang lurus (ke surga) dan jalan ke neraka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya dan meng-ambil petunjuk niscaya mereka akan memperoleh kebaikan yang melimpah dan pahala yang segera maupun yang tertunda, dan ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah" yang telah dijelaskan oleh Allah dalam KitabNya dan melalui lisan RasulNya, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ ﴿ "akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan (siksa)" bagi orang-orang yang maksiat kepadaNya. (5-6) Dan di antara kesempurnaan pengaturanNya (atas hamba-hambaNya) تعالى adalah bahwa ilmuNya meliputi seluruh makhluk, ﴾ لَا يَخۡفَىٰ عَلَيۡهِ شَيۡءٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit," hingga apa yang ada di dalam perut wanita-wanita hamil, Allah-l a h ﴾ ٱلَّذِي يُصَوِّرُكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ كَيۡفَ يَشَآءُۚ ﴿ "yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dike-hendakiNya," berupa laki-laki, wanita, bentuk yang sempurna, ben-tuk yang cacat, yang selalu berganti dalam tahapan pembentukan-Nya dan keindahan hikmahNya. Oleh karena Dia-lah Dzat yang seperti ini terhadap hamba-hambaNya dan perhatianNya yang besar terhadap kondisi mereka dari permulaan ketika Dia mencip-takan mereka hingga akhir dari perkara mereka, tidak ada sekutu bagiNya dalam semua itu, maka menjadi jelaslah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia, ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Mahaperkasa," Yang me-nguasai segala makhluk dengan kekuatanNya, dan Perkasa dari sifat kekurangan atau dari sifat tercela, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana" dalam penciptaan dan syariatNya.

Ali 'Imran 3:7

"Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Qur`an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Ada-pun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya me-lainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.' Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Mereka berdoa), 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)'." (Ali Imran: 7-8). (7) Allah تعالى memberitakan tentang keagunganNya dan ke-sempurnaan pengaturanNya, yakni bahwa Dia-lah yang Esa yang menurunkan kitab yang agung ini, yang tidak ditemukan dan tidak akan ditemukan tandingannya dan semisalnya dalam petunjuk, keindahan bahasa, kemukjizatan, dan kebaikannya bagi makhluk. Dan bahwasanya kitab ini mencakup yang muhkam, yakni yang jelas sekali artinya, yang terang, yang tidak samar tentangnya, dan juga mencakup ayat-ayat mutasyabihat yang mengandung beberapa arti yang tidak ada satu pun dari arti-arti itu yang lebih kuat kalau hanya berpegang dengan ayat tersebut hingga disatukan kepada ayat yang muhkam. Orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit, penyimpangan dan penyelewengan karena niat mereka yang buruk justru mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih tersebut. Mereka meng-ambilnya sebagai dalil demi memperkuat tulisan-tulisan mereka yang batil dan pemikiran-pemikiran mereka yang palsu, hanya untuk mengobarkan fitnah dan penyimpangan terhadap kitabullah, serta menjadikannya sebagai tafsiran untuknya sesuai dengan jalan dan madzhab mereka yang akhirnya mereka itu tersesat dan menyesatkan orang lain. Adapun orang-orang yang berilmu lagi mendalam ilmunya yang ilmu dan keyakinan telah mencapai hati mereka, lalu mem-buahkan bagi mereka perbuatan dan pengetahuan, maka mereka ini mengetahui bahwa al-Qur`an itu semuanya dari sisi Allah, dan bahwa semua yang ada di dalamnya adalah haq, baik yang muta-syabih maupun yang muhkam, dan bahwasanya yang haq itu tidak akan saling bertentangan dan tidak saling berbeda. Dan karena mereka mengetahui dengan jelas bahwa ayat-ayat yang muhkam mengandung makna yang tegas dan jelas, maka mereka mengem-balikan ayat-ayat mustasyabih yang sering menimbulkan kebingung-an bagi orang-orang yang kurang ilmu dan pengetahuan, kepada yang muhkam. Mereka mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabih kepada ayat-ayat yang muhkam hingga akhirnya seluruhnya menjadi muhkam dan mereka berkata, ﴾ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ ﴿ "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." ﴾ وَمَا يَذَّكَّرُ ﴿ "Dan tidak dapat mengambil pelajaran, (dari padanya)," yakni perkara-perkara yang bermanfaat dan ilmu pengetahuan yang mendalam, ﴾ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "melainkan orang-orang yang berakal," yakni orang-orang yang memiliki akal yang cerdas. Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa sikap ini adalah tanda orang-orang yang berakal, dan bahwa mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih adalah sifat orang-orang yang pemikiran-nya sakit, akalnya rendah, dan tujuan-tujuannya yang buruk. Dan FirmanNya, ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ ﴿ "Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah," apabila yang dimaksud dari takwil itu adalah pengetahuan tentang akibat dari suatu perkara, hasilnya, serta mengarah kepadanya, maka wajiblah berpatokan dengan, ﴾ إِلَّا ٱللَّهُۗ ﴿ "melainkan Allah;" di mana hanya Allah saja yang melakukan takwil dengan makna tersebut. Namun apabila takwil tersebut dimaksudkan dengan makna tafsir dan ilmu tentang arti dari perkataan tersebut, maka yang lebih baik adalah menyam-bung dengan kalimat sebelumnya, hingga hal ini menjadi sebuah pujian terhadap orang-orang yang ilmunya mendalam, yaitu bah-wasanya mereka mengetahui bagaimana menempatkan nash-nash al-Qur`an dan as-Sunnah, baik yang muhkamnya maupun yang mutasyabihnya. Dan ketika konteksnya adalah tentang perpecahan orang-orang (sehingga) ada yang menyimpang dan ada yang istiqamah, maka mereka berdoa kepada Allah تعالى agar menetapkan mereka di atas keimanan seraya berkata, (8) ﴾ رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا ﴿ "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan," maksudnya, janganlah Engkau menyimpangkan hati kami dari kebenaran kepada kebatilan, ﴾ بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ ﴿ "sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan ka-runiakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu" yang dengannya akan baik segala kondisi kami, ﴾ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)," yakni, karunia dan pemberian yang banyak. Ayat ini patut menjadi sebuah contoh metode yang harus ditempuh dalam memahami ayat-ayat mutasyabih, yaitu bahwasanya Allah تعالى menyebutkan tentang orang-orang yang ilmunya mendalam di mana mereka berdoa kepadaNya agar Allah tidak menjadikan hati-hati mereka condong setelah Dia memberi petunjuk kepada mereka. Dan Allah telah memberitakan pada ayat-ayat yang lain tentang sebab-sebab dari condongnya hati orang-orang yang me-nyimpang tersebut yaitu bahwa hal itu disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri, seperti FirmanNya, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka." (Ash-Shaf: 5), dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ ٱنصَرَفُواْۚ صَرَفَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُم ﴿ "Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati me-reka." (At-Taubah: 127), dan juga FirmanNya, ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya." (Al-An'am: 110). Dan seorang hamba bila berpaling dari Rabbnya dan men-cintai musuhNya, ia mengetahui kebenaran namun ia berpaling darinya dan mengetahui kebatilan namun memilihnya, maka Allah palingkan ia kepada sesuatu yang ia berpaling kepadanya, dan Allah condongkan hatinya sebagai suatu hukuman baginya atas kecondongannya tersebut, dan tidaklah Allah menganiaya dirinya akan tetapi ia telah menganiaya dirinya sendiri, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri yang memerintahkan kepada ke-burukan, wallahu a'lam.

Ali 'Imran 3:8

"Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Qur`an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Ada-pun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya me-lainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.' Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Mereka berdoa), 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)'." (Ali Imran: 7-8). (7) Allah تعالى memberitakan tentang keagunganNya dan ke-sempurnaan pengaturanNya, yakni bahwa Dia-lah yang Esa yang menurunkan kitab yang agung ini, yang tidak ditemukan dan tidak akan ditemukan tandingannya dan semisalnya dalam petunjuk, keindahan bahasa, kemukjizatan, dan kebaikannya bagi makhluk. Dan bahwasanya kitab ini mencakup yang muhkam, yakni yang jelas sekali artinya, yang terang, yang tidak samar tentangnya, dan juga mencakup ayat-ayat mutasyabihat yang mengandung beberapa arti yang tidak ada satu pun dari arti-arti itu yang lebih kuat kalau hanya berpegang dengan ayat tersebut hingga disatukan kepada ayat yang muhkam. Orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit, penyimpangan dan penyelewengan karena niat mereka yang buruk justru mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih tersebut. Mereka meng-ambilnya sebagai dalil demi memperkuat tulisan-tulisan mereka yang batil dan pemikiran-pemikiran mereka yang palsu, hanya untuk mengobarkan fitnah dan penyimpangan terhadap kitabullah, serta menjadikannya sebagai tafsiran untuknya sesuai dengan jalan dan madzhab mereka yang akhirnya mereka itu tersesat dan menyesatkan orang lain. Adapun orang-orang yang berilmu lagi mendalam ilmunya yang ilmu dan keyakinan telah mencapai hati mereka, lalu mem-buahkan bagi mereka perbuatan dan pengetahuan, maka mereka ini mengetahui bahwa al-Qur`an itu semuanya dari sisi Allah, dan bahwa semua yang ada di dalamnya adalah haq, baik yang muta-syabih maupun yang muhkam, dan bahwasanya yang haq itu tidak akan saling bertentangan dan tidak saling berbeda. Dan karena mereka mengetahui dengan jelas bahwa ayat-ayat yang muhkam mengandung makna yang tegas dan jelas, maka mereka mengem-balikan ayat-ayat mustasyabih yang sering menimbulkan kebingung-an bagi orang-orang yang kurang ilmu dan pengetahuan, kepada yang muhkam. Mereka mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabih kepada ayat-ayat yang muhkam hingga akhirnya seluruhnya menjadi muhkam dan mereka berkata, ﴾ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ ﴿ "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." ﴾ وَمَا يَذَّكَّرُ ﴿ "Dan tidak dapat mengambil pelajaran, (dari padanya)," yakni perkara-perkara yang bermanfaat dan ilmu pengetahuan yang mendalam, ﴾ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "melainkan orang-orang yang berakal," yakni orang-orang yang memiliki akal yang cerdas. Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa sikap ini adalah tanda orang-orang yang berakal, dan bahwa mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih adalah sifat orang-orang yang pemikiran-nya sakit, akalnya rendah, dan tujuan-tujuannya yang buruk. Dan FirmanNya, ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ ﴿ "Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah," apabila yang dimaksud dari takwil itu adalah pengetahuan tentang akibat dari suatu perkara, hasilnya, serta mengarah kepadanya, maka wajiblah berpatokan dengan, ﴾ إِلَّا ٱللَّهُۗ ﴿ "melainkan Allah;" di mana hanya Allah saja yang melakukan takwil dengan makna tersebut. Namun apabila takwil tersebut dimaksudkan dengan makna tafsir dan ilmu tentang arti dari perkataan tersebut, maka yang lebih baik adalah menyam-bung dengan kalimat sebelumnya, hingga hal ini menjadi sebuah pujian terhadap orang-orang yang ilmunya mendalam, yaitu bah-wasanya mereka mengetahui bagaimana menempatkan nash-nash al-Qur`an dan as-Sunnah, baik yang muhkamnya maupun yang mutasyabihnya. Dan ketika konteksnya adalah tentang perpecahan orang-orang (sehingga) ada yang menyimpang dan ada yang istiqamah, maka mereka berdoa kepada Allah تعالى agar menetapkan mereka di atas keimanan seraya berkata, (8) ﴾ رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا ﴿ "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan," maksudnya, janganlah Engkau menyimpangkan hati kami dari kebenaran kepada kebatilan, ﴾ بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ ﴿ "sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan ka-runiakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu" yang dengannya akan baik segala kondisi kami, ﴾ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ﴿ "karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)," yakni, karunia dan pemberian yang banyak. Ayat ini patut menjadi sebuah contoh metode yang harus ditempuh dalam memahami ayat-ayat mutasyabih, yaitu bahwasanya Allah تعالى menyebutkan tentang orang-orang yang ilmunya mendalam di mana mereka berdoa kepadaNya agar Allah tidak menjadikan hati-hati mereka condong setelah Dia memberi petunjuk kepada mereka. Dan Allah telah memberitakan pada ayat-ayat yang lain tentang sebab-sebab dari condongnya hati orang-orang yang me-nyimpang tersebut yaitu bahwa hal itu disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri, seperti FirmanNya, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka." (Ash-Shaf: 5), dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ ٱنصَرَفُواْۚ صَرَفَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُم ﴿ "Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati me-reka." (At-Taubah: 127), dan juga FirmanNya, ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya." (Al-An'am: 110). Dan seorang hamba bila berpaling dari Rabbnya dan men-cintai musuhNya, ia mengetahui kebenaran namun ia berpaling darinya dan mengetahui kebatilan namun memilihnya, maka Allah palingkan ia kepada sesuatu yang ia berpaling kepadanya, dan Allah condongkan hatinya sebagai suatu hukuman baginya atas kecondongannya tersebut, dan tidaklah Allah menganiaya dirinya akan tetapi ia telah menganiaya dirinya sendiri, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri yang memerintahkan kepada ke-burukan, wallahu a'lam.

Ali 'Imran 3:9

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan ma-nusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada kera-guan padanya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji." (Ali Imran: 9). (9) Ayat ini adalah penyempurna perkataan orang-orang yang mendalam ilmunya, yaitu mengandung kepercayaan terhadap kebangkitan, pembalasan dan keyakinan yang sempurna, dan bah-wasanya Allah pasti menunaikan janjiNya. Dan itu semua meng-haruskan adanya amal dan persiapan untuk menghadapi hari ter-sebut, karena beriman kepada Hari Kebangkitan adalah asas dari kebaikan hati, dasar dari keinginan kepada kebaikan dan kekha-watiran dari kejahatan, di mana kedua hal itu adalah pondasi dari segala kebajikan.

Ali 'Imran 3:10

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka. (Ke-adaan mereka) adalah seperti keadaan kaum Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksaNya." (Ali Imran: 10-11). (10-11) Setelah Allah menyebutkan tentang Hari Kiamat, Allah memberitakan tentang semua orang-orang yang mengingkari Allah dan mendustakan para Rasul Allah, bahwa mereka pasti akan masuk ke dalam neraka dan tersiksa di dalamnya, dan bahwa harta dan anak-anak mereka tidak berguna bagi mereka sama sekali dari siksa Allah تعالى, dan bahwasanya Allah akan menimpakan atas mereka hukuman-hukuman dan siksaan-siksaan di dunia sebagai-mana yang ditimpakan kepada Fir'aun dan seluruh umat yang mendustakan ayat-ayat Allah. ﴾ فَأَخَذَهُمُ ٱللَّهُ بِذُنُوبِهِمۡۗ ﴿ "Karena itu Allah me-nyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka." Dan Allah menyegerakan atas mereka siksaan-siksaan dunia yang berlanjut hingga siksaan-siksaan akhirat, ﴾ وَٱللَّهُ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan Allah sangat keras siksaNya." Maka janganlah kalian meremehkan siksaan Allah hingga kalian akan merasa biasa hidup di atas keku-furan dan sikap mendustakan.

Ali 'Imran 3:11

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka. (Ke-adaan mereka) adalah seperti keadaan kaum Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksaNya." (Ali Imran: 10-11). (10-11) Setelah Allah menyebutkan tentang Hari Kiamat, Allah memberitakan tentang semua orang-orang yang mengingkari Allah dan mendustakan para Rasul Allah, bahwa mereka pasti akan masuk ke dalam neraka dan tersiksa di dalamnya, dan bahwa harta dan anak-anak mereka tidak berguna bagi mereka sama sekali dari siksa Allah تعالى, dan bahwasanya Allah akan menimpakan atas mereka hukuman-hukuman dan siksaan-siksaan di dunia sebagai-mana yang ditimpakan kepada Fir'aun dan seluruh umat yang mendustakan ayat-ayat Allah. ﴾ فَأَخَذَهُمُ ٱللَّهُ بِذُنُوبِهِمۡۗ ﴿ "Karena itu Allah me-nyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka." Dan Allah menyegerakan atas mereka siksaan-siksaan dunia yang berlanjut hingga siksaan-siksaan akhirat, ﴾ وَٱللَّهُ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan Allah sangat keras siksaNya." Maka janganlah kalian meremehkan siksaan Allah hingga kalian akan merasa biasa hidup di atas keku-furan dan sikap mendustakan.

Ali 'Imran 3:12

"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, 'Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam Neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya.' Sesungguh-nya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir, yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslim dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuanNya siapa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati." (Ali Imran: 12-13). (12-13) Ayat ini merupakan informasi dan kabar gembira bagi kaum Mukminin, dan ancaman bagi orang-orang kafir, yakni bahwasanya mereka akan dikalahkan di dunia ini. Dan terbukti benar telah terjadi sesuai dengan yang Allah kabarkan, di mana mereka telah dikalahkan dengan kekalahan yang tidak ada tan-dingan dan tidak ada yang setara dengannya. Allah تعالى menjadikan apa yang terjadi dalam peperangan Badar sebagai tanda-tandaNya yang menunjukkan atas kebenaran RasulNya, dan bahwa beliau berada di atas kebenaran sedangkan musuh-musuhnya berada di atas kebatilan, di mana kedua pasukan bertemu dengan jumlah pasukan kaum Muslimin yang hanya mencapai tiga ratus sekian belas orang ditambah dengan peralatan yang sedikit, dan pasukan kaum kafir yang mencapai seribu orang ditambah dengan persiap-an mereka yang sempurna dalam persenjataan dan lain-lainnya. Namun Allah membela kaum Mukminin dengan pertolonganNya hingga mereka mampu mengalahkan kaum kafir dengan izin Allah. Ayat ini mengandung pelajaran bagi orang-orang yang memi-liki mata hati, bahwa sekiranya ini bukan kebenaran yang apabila menghadapi kebatilan pasti akan melenyapkan dan merendahkan-nya, maka pastilah, jika diukur dari sebab-sebab yang kongkret, kenyataannya akan terbalik.

Ali 'Imran 3:13

"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, 'Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam Neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya.' Sesungguh-nya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir, yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslim dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuanNya siapa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati." (Ali Imran: 12-13). (12-13) Ayat ini merupakan informasi dan kabar gembira bagi kaum Mukminin, dan ancaman bagi orang-orang kafir, yakni bahwasanya mereka akan dikalahkan di dunia ini. Dan terbukti benar telah terjadi sesuai dengan yang Allah kabarkan, di mana mereka telah dikalahkan dengan kekalahan yang tidak ada tan-dingan dan tidak ada yang setara dengannya. Allah تعالى menjadikan apa yang terjadi dalam peperangan Badar sebagai tanda-tandaNya yang menunjukkan atas kebenaran RasulNya, dan bahwa beliau berada di atas kebenaran sedangkan musuh-musuhnya berada di atas kebatilan, di mana kedua pasukan bertemu dengan jumlah pasukan kaum Muslimin yang hanya mencapai tiga ratus sekian belas orang ditambah dengan peralatan yang sedikit, dan pasukan kaum kafir yang mencapai seribu orang ditambah dengan persiap-an mereka yang sempurna dalam persenjataan dan lain-lainnya. Namun Allah membela kaum Mukminin dengan pertolonganNya hingga mereka mampu mengalahkan kaum kafir dengan izin Allah. Ayat ini mengandung pelajaran bagi orang-orang yang memi-liki mata hati, bahwa sekiranya ini bukan kebenaran yang apabila menghadapi kebatilan pasti akan melenyapkan dan merendahkan-nya, maka pastilah, jika diukur dari sebab-sebab yang kongkret, kenyataannya akan terbalik.

Ali 'Imran 3:14

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan ke-pada apa-apa yang diingini, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah, 'Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?' Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (me-reka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." (Ali Imran: 14-15). (14) Allah تعالى mengabarkan dalam dua ayat ini tentang kondisi manusia ketika mendahulukan dunia atas akhirat, lalu Allah menjelaskan perbedaan yang besar dan ketidaksamaan antara kedua alam tersebut, di mana Allah mengabarkan bahwa manusia dihiasi dengan perkara-perkara tersebut hingga mereka meliriknya dengan mata mereka, dan mereka ilusikan manisnya dalam hati mereka, jiwa-jiwa mereka terbuai dalam kenikmatan-kenikmatannya. Dan setiap kelompok dari manusia itu condong kepada salah satu jenis dari jenis-jenis kenikmatan tersebut, yang sebenarnya mereka telah menjadikannya sebagai cita-cita terbesar mereka dan puncak dari pengetahuan mereka. Padahal itu semua hanyalah kenikmatan yang sedikit yang akan lenyap dalam waktu yang sekejap, maka itulah ﴾ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَـَٔابِ ﴿ "kese-nangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (15) Kemudian Allah تعالى memberitakan tentang hal itu yaitu bahwasanya orang-orang yang bertakwa kepada Allah yang menegakkan penghambaan hanya kepadaNya, maka bagi mereka kesenangan yang lebih baik dari semua kenikmatan itu. Mereka akan mendapatkan berbagai bentuk kebaikan dan kenikmatan yang abadi yang belum pernah dilihat oleh mata, tidak pernah di-dengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam benak seorang manusia pun. Dan bagi mereka keridhaan Allah yang merupakan perkara yang paling agung dari segala sesuatu, bagi mereka istri-istri yang suci dari segala kekurangan dan cacat, akhlak mereka baik, bentuk mereka sangat sempurna, karena peniadaan itu ber-konsekuensi kepada hal yang bertentangan dengannya, oleh karena itu kesuciannya dari kekurangan menunjukkan kepada kesempur-naannya. ﴾ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya," maka Allah memudahkan setiap orang itu kepada apa yang telah diciptakan untuknya. Orang-orang yang bahagia, Allah me-mudahkan mereka dalam beramal untuk negeri yang abadi ter-sebut dan mereka menjadikan kehidupan dunia ini dan segala hal yang ada padanya untuk membantunya dalam beribadah kepada Allah dan taat kepadaNya. Sedangkan orang-orang yang sengsara dan yang berpaling, Allah membiarkan mereka melakukan per-buatan orang-orang yang sengsara dan mereka ridha terhadap kehidupan dunia, senang padanya, serta mereka menjadikannya sebagai tempat menetap mereka.

Ali 'Imran 3:15

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan ke-pada apa-apa yang diingini, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah, 'Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?' Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (me-reka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." (Ali Imran: 14-15). (14) Allah تعالى mengabarkan dalam dua ayat ini tentang kondisi manusia ketika mendahulukan dunia atas akhirat, lalu Allah menjelaskan perbedaan yang besar dan ketidaksamaan antara kedua alam tersebut, di mana Allah mengabarkan bahwa manusia dihiasi dengan perkara-perkara tersebut hingga mereka meliriknya dengan mata mereka, dan mereka ilusikan manisnya dalam hati mereka, jiwa-jiwa mereka terbuai dalam kenikmatan-kenikmatannya. Dan setiap kelompok dari manusia itu condong kepada salah satu jenis dari jenis-jenis kenikmatan tersebut, yang sebenarnya mereka telah menjadikannya sebagai cita-cita terbesar mereka dan puncak dari pengetahuan mereka. Padahal itu semua hanyalah kenikmatan yang sedikit yang akan lenyap dalam waktu yang sekejap, maka itulah ﴾ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَـَٔابِ ﴿ "kese-nangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (15) Kemudian Allah تعالى memberitakan tentang hal itu yaitu bahwasanya orang-orang yang bertakwa kepada Allah yang menegakkan penghambaan hanya kepadaNya, maka bagi mereka kesenangan yang lebih baik dari semua kenikmatan itu. Mereka akan mendapatkan berbagai bentuk kebaikan dan kenikmatan yang abadi yang belum pernah dilihat oleh mata, tidak pernah di-dengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam benak seorang manusia pun. Dan bagi mereka keridhaan Allah yang merupakan perkara yang paling agung dari segala sesuatu, bagi mereka istri-istri yang suci dari segala kekurangan dan cacat, akhlak mereka baik, bentuk mereka sangat sempurna, karena peniadaan itu ber-konsekuensi kepada hal yang bertentangan dengannya, oleh karena itu kesuciannya dari kekurangan menunjukkan kepada kesempur-naannya. ﴾ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya," maka Allah memudahkan setiap orang itu kepada apa yang telah diciptakan untuknya. Orang-orang yang bahagia, Allah me-mudahkan mereka dalam beramal untuk negeri yang abadi ter-sebut dan mereka menjadikan kehidupan dunia ini dan segala hal yang ada padanya untuk membantunya dalam beribadah kepada Allah dan taat kepadaNya. Sedangkan orang-orang yang sengsara dan yang berpaling, Allah membiarkan mereka melakukan per-buatan orang-orang yang sengsara dan mereka ridha terhadap kehidupan dunia, senang padanya, serta mereka menjadikannya sebagai tempat menetap mereka.

Ali 'Imran 3:16

"(Yaitu) orang-orang yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, sesung-guhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,' (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." (Ali Imran: 16-17). (16) Maksudnya, orang-orang yang ilmunya mendalam itu adalah ulama dan ahli iman, di mana mereka bertawassul dengan keimanan mereka itu kepada Tuhan mereka demi meraih ampunan atas dosa-dosa mereka dan pemeliharaan mereka dari siksa neraka. Hal-hal yang seperti ini adalah di antara sarana yang dicintai oleh Allah dari seorang hamba yang bertawassul kepada Tuhannya dengan apa yang telah Dia karuniakan kepada hamba tersebut berupa keimanan dan amal-amal shalih hingga penyempurnaan kenikmatan atas dirinya yaitu dengan memperoleh pahala yang sempurna dan penghindaran dari siksaan. (17) Lalu Allah menyifati mereka dengan sebaik-baik sifat yaitu, dengan kesabaran, yang artinya adalah pengendalian diri berdasarkan perkara yang dicintai oleh Allah demi mengharap ke-ridhaanNya, mereka bersabar atas ketaatan kepada Allah, bersabar dalam meninggalkan maksiat kepadaNya dan bersabar atas takdir-takdir Allah yang menyakitkan, dan bersabar dengan sifat jujur dalam segala perkataan maupun kondisi yaitu kesesuaian antara lahir maupun batin, tekad yang benar dalam menempuh jalan yang lurus, dan dengan sifat patuh yang artinya ketaatan yang terus menerus disertai dengan kekhusyu'an dan ketundukan, juga de-ngan memberi nafkah pada jalan-jalan kebajikan, kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan, dan dengan permo-honan ampunan khususnya di waktu sepertiga malam yang ter-akhir, karena mereka memanjangkan shalat mereka hingga waktu sahur lalu mereka tetap dalam hal itu seraya memohon ampun kepada Allah تعالى.

Ali 'Imran 3:17

"(Yaitu) orang-orang yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, sesung-guhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,' (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." (Ali Imran: 16-17). (16) Maksudnya, orang-orang yang ilmunya mendalam itu adalah ulama dan ahli iman, di mana mereka bertawassul dengan keimanan mereka itu kepada Tuhan mereka demi meraih ampunan atas dosa-dosa mereka dan pemeliharaan mereka dari siksa neraka. Hal-hal yang seperti ini adalah di antara sarana yang dicintai oleh Allah dari seorang hamba yang bertawassul kepada Tuhannya dengan apa yang telah Dia karuniakan kepada hamba tersebut berupa keimanan dan amal-amal shalih hingga penyempurnaan kenikmatan atas dirinya yaitu dengan memperoleh pahala yang sempurna dan penghindaran dari siksaan. (17) Lalu Allah menyifati mereka dengan sebaik-baik sifat yaitu, dengan kesabaran, yang artinya adalah pengendalian diri berdasarkan perkara yang dicintai oleh Allah demi mengharap ke-ridhaanNya, mereka bersabar atas ketaatan kepada Allah, bersabar dalam meninggalkan maksiat kepadaNya dan bersabar atas takdir-takdir Allah yang menyakitkan, dan bersabar dengan sifat jujur dalam segala perkataan maupun kondisi yaitu kesesuaian antara lahir maupun batin, tekad yang benar dalam menempuh jalan yang lurus, dan dengan sifat patuh yang artinya ketaatan yang terus menerus disertai dengan kekhusyu'an dan ketundukan, juga de-ngan memberi nafkah pada jalan-jalan kebajikan, kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan, dan dengan permo-honan ampunan khususnya di waktu sepertiga malam yang ter-akhir, karena mereka memanjangkan shalat mereka hingga waktu sahur lalu mereka tetap dalam hal itu seraya memohon ampun kepada Allah تعالى.

Ali 'Imran 3:18

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang ber-hak disembah) melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang me-negakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana." (Ali Imran: 18). (18) Ini adalah persaksian paling mulia yang bersumber dari Raja Yang Mahaagung, dan dari para malaikat serta orang-orang yang berilmu, atas suatu perkara yang paling mulia yang disaksi-kan yaitu pengesaan Allah dan penegakanNya akan keadilan. Itu semua mengandung persaksian atas seluruh Syariat dan seluruh hukum-hukum pembalasan, karena syariat dan ajaran itu dasar dan pondasinya adalah tauhidullah dan pengesaanNya dengan ibadah dan pengakuan akan keesaanNya dalam sifat-sifat keagungan, kesombongan, kebesaran, keperkasaan, kuasa dan kemuliaan, juga dengan sifat kedermawanan, kebajikan, kasih sayang, perbuatan baik, keindahan, dan dengan kesempurnaanNya yang mutlak yang tidak dapat dihitung oleh seorang pun dari makhluk untuk meliputi sedikit pun darinya atau mereka mencapainya atau me-reka sampai kepada sanjungan atasNya. Dan ibadah-ibadah yang syar'i dan muamalah serta hal-hal yang mengikutinya, perintah maupun larangan, semua itu adalah keadilan yang tidak ada kezha-liman padanya, tidak ada kesewenang-wenangan dalam keadaan apa pun, sebaliknya semua itu berada pada puncak dari hikmah dan kepastian, serta balasan terhadap amalan-amalan shalih mau-pun buruk, semua itu adalah keadilan, ﴾ قُلۡ أَيُّ شَيۡءٍ أَكۡبَرُ شَهَٰدَةٗۖ قُلِ ٱللَّهُۖ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?' Katakanlah, 'Allah'." (Al-An'am: 19). Maka tauhidullah, AgamaNya dan pembalasanNya telah tetap (tsabit) dengan ketetapan yang kuat yang tidak ada keraguan padanya dan ia merupakan hakikat yang paling agung dan paling jelas. Dan Allah telah menegakkan atas hal itu bukti-bukti nyata dan dalil-dalil yang tidak mungkin lagi dihitung dan dijumlah. Dalam ayat ini terdapat keutamaan ilmu dan ulama, karena Allah تعالى mengkhususkan mereka dalam penyebutan tanpa me-nyertakan manusia lainnya. Allah menyandingkan kesaksian me-reka dengan kesaksianNya dan kesaksian para malaikatNya, dan Allah menjadikan kesaksian mereka adalah keterangan dan dalil yang paling besar atas ketauhidanNya, AgamaNya dan pemba-lasanNya. Seorang yang mukallaf wajib menerima kesaksian yang adil lagi benar tersebut, dan termasuk di antara kandungannya adalah membenarkan mereka, bahwa para makhluk mengikuti mereka dan bahwa mereka adalah para pemimpin yang diikuti. Dalam poin ini terdapat keutamaan, kemuliaan, dan kedudukan yang tinggi yang tidak dapat diukur kadarnya.

Ali 'Imran 3:19

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena ke-dengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabNya." (Ali Imran: 19). (19) Allah تعالى memberitakan, ﴾ إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguh-nya agama (yang diridhai) di sisi Allah" maksudnya, agama yang mana Allah tidak memiliki agama selainnya dan tidak pula diterima se-lainnya adalah ﴾ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ ﴿ "Islam," yang artinya ketundukan kepada Allah semata, secara lahir maupun batin dengan apa yang disyariat-kanNya melalui lisan rasul-rasulNya. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 85 ﴿ "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat ter-masuk orang-orang yang rugi." (Ali Imran: 85). Maka barangsiapa yang beragama dengan selain agama Islam, maka hakikatnya ia tidak beragama untuk Allah. Karena ia tidak menempuh jalan yang disyariatkanNya melalui lisan rasul-rasul-Nya. Kemudian Allah تعالى memberitakan bahwasanya ahli kitab mengetahui hal itu, dan mereka berselisih dan menyimpang dari-nya hanya karena keras kepala dan kedengkian, sebab jika bukan karena itu, maka sesungguhnya telah datang kepada mereka ilmu, yang mengharuskan tidak terjadinya perselisihan bahkan yang mengharuskan mereka memasuki agama yang sebenarnya. Kemu-dian setelah datang Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka, maka mereka mengetahuinya dengan sebenar-benarnya, akan tetapi ke-dengkian, kezhaliman, dan kekufuran kepada ayat-ayat Allah telah menghalangi mereka dari mengikuti kebenaran.﴾ وَمَن يَكۡفُرۡ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabNya." Maksudnya, hendaklah mereka menunggu hal tersebut, karena itu semua pasti akan tiba, dan Allah akan membalas mereka semua menurut apa yang telah mereka kerjakan.

Ali 'Imran 3:20

"Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah, 'Aku menyerahkan diriku kepada Allah, dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.' Dan kata-kanlah kepada orang-orang yang telah diberi al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, 'Apakah kamu (mau) masuk Islam?' Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petun-juk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." (Ali Imran: 20). (20) Ketika Allah menjelaskan bahwa agama yang benar di sisiNya hanya Islam, dan ahli kitab itu telah berdialog dengan Nabi ﷺ dengan perdebatan, dan hujjah telah tegak atas mereka, tetapi mereka membangkang terhadapnya, maka Allah memerintahkan kepada NabiNya pada kondisi itu agar berkata dan memberitakan bahwasanya ia telah berserah diri lahir maupun batin kepada Allah, dan bahwa orang-orang yang mengikutinya juga tetap sepakat dengannya dalam ketundukan yang tulus. Dan agar beliau berkata kepada manusia seluruhnya, dari ahli kitab dan orang-orang yang ummi -orang-orang yang tidak memiliki kitab dari bangsa Arab- dan selain mereka bahwa apabila mereka berserah diri, maka mereka berada di atas jalan yang lurus, petunjuk, dan kebenaran. Dan apabila kalian berpaling, maka perhitungan kalian hanya pada Allah, sedang saya tidak memiliki tugas kecuali menyampaikan saja, dan telah saya sampaikan kepada kalian dan telah saya tegak-kan hujjah atas kalian.

Ali 'Imran 3:21

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong." (Ali Imran: 21-22). (21-22) Maksudnya, orang-orang yang mengumpulkan ke-jahatan-kejahatan ini; kufur kepada ayat-ayat Allah, mendustakan rasul-rasul Allah, dan kejahatan terbesar terhadap makhluk yang paling agung, yang benar-benar paling agung di atas semua makh-luk, yaitu para rasul dan para pemimpin petunjuk, yang memerin-tahkan manusia dengan keadilan yang disepakati oleh agama dan akal, maka mereka itu, telah ﴾ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat," dan mereka berhak me-nerima siksaan yang pedih, dan mereka tidak memiliki penolong dari siksaan Allah dan tidak pula memiliki penyelamat dari hukum-anNya.

Ali 'Imran 3:22

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong." (Ali Imran: 21-22). (21-22) Maksudnya, orang-orang yang mengumpulkan ke-jahatan-kejahatan ini; kufur kepada ayat-ayat Allah, mendustakan rasul-rasul Allah, dan kejahatan terbesar terhadap makhluk yang paling agung, yang benar-benar paling agung di atas semua makh-luk, yaitu para rasul dan para pemimpin petunjuk, yang memerin-tahkan manusia dengan keadilan yang disepakati oleh agama dan akal, maka mereka itu, telah ﴾ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat," dan mereka berhak me-nerima siksaan yang pedih, dan mereka tidak memiliki penolong dari siksaan Allah dan tidak pula memiliki penyelamat dari hukum-anNya.

Ali 'Imran 3:23

"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian yaitu al-Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; ke-mudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu mem-belakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka berkata, 'Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.' Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya? Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak di-aniaya (dirugikan)." (Ali Imran: 23-25). (23-25) Maksudnya, tidakkah Anda perhatikan dan heran terhadap mereka, ﴾ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ نَصِيبٗا مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "orang-orang yang telah diberi bagian yaitu al-Kitab (Taurat)", dan ﴾ يُدۡعَوۡنَ إِلَىٰ كِتَٰبِ ٱللَّهِ ﴿ "mereka diseru kepada kitab Allah" yang membenarkan apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-rasulNya, ﴾ ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ وَهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi" dari mengikuti kebenaran. Seolah-olah dikatakan, apa pendorong mereka berpa-ling seperti itu, padahal mereka adalah orang-orang yang paling berhak untuk mengikuti dan paling mengetahui hakikat dari apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ? Lalu Allah menyebutkan dua sebab dari hal itu: Pertama, rasa aman dan persaksian mereka yang batil bagi diri mereka sendiri akan keselamatan dan bahwa neraka itu tidak-lah akan menyentuh mereka kecuali hanya beberapa waktu saja yang mereka tentukan menurut hawa nafsu mereka sendiri yang rusak. Seolah-olah pengaturan kepemilikan kembali kepada me-reka, di mana mereka berkata, ﴾ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰۗ ﴿ "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang ber-agama) Yahudi atau Nasrani." (Al-Baqarah: 111). Telah diketahui bahwa hal ini merupakan angan-angan kosong yang batil secara syar'i maupun akal. Kedua, bahwasanya mereka ketika mendustakan ayat-ayat Allah dan membuat kebohongan atasnya, setan menghiasi per-buatan-perbuatan mereka yang buruk, dan mereka terpedaya oleh hal tersebut, hingga nampak oleh mereka bahwa itu merupakan suatu yang benar, (dan itu adalah) sebagai suatu hukuman atas keberpalingan mereka dari kebenaran, oleh karena itu, bagaimana-kah kondisi mereka ketika Allah mengumpulkan mereka pada Hari Kiamat nanti? Di mana Allah akan memberikan balasan akan perbuatan manusia dan berlakulah keadilan Allah terhadap hamba-hambaNya. Saat itu tidaklah perlu ditanya lagi tentang siksaan yang akan mereka rasakan, kebaikan dan pahala tidak mungkin didapatkan. Dan itu adalah karena tindakan yang diperbuat oleh tangan mereka sendiri, dan tidaklah Tuhanmu itu berlaku zhalim terhadap hamba-hambaNya.

Ali 'Imran 3:24

"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian yaitu al-Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; ke-mudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu mem-belakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka berkata, 'Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.' Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya? Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak di-aniaya (dirugikan)." (Ali Imran: 23-25). (23-25) Maksudnya, tidakkah Anda perhatikan dan heran terhadap mereka, ﴾ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ نَصِيبٗا مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "orang-orang yang telah diberi bagian yaitu al-Kitab (Taurat)", dan ﴾ يُدۡعَوۡنَ إِلَىٰ كِتَٰبِ ٱللَّهِ ﴿ "mereka diseru kepada kitab Allah" yang membenarkan apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-rasulNya, ﴾ ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ وَهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi" dari mengikuti kebenaran. Seolah-olah dikatakan, apa pendorong mereka berpa-ling seperti itu, padahal mereka adalah orang-orang yang paling berhak untuk mengikuti dan paling mengetahui hakikat dari apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ? Lalu Allah menyebutkan dua sebab dari hal itu: Pertama, rasa aman dan persaksian mereka yang batil bagi diri mereka sendiri akan keselamatan dan bahwa neraka itu tidak-lah akan menyentuh mereka kecuali hanya beberapa waktu saja yang mereka tentukan menurut hawa nafsu mereka sendiri yang rusak. Seolah-olah pengaturan kepemilikan kembali kepada me-reka, di mana mereka berkata, ﴾ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰۗ ﴿ "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang ber-agama) Yahudi atau Nasrani." (Al-Baqarah: 111). Telah diketahui bahwa hal ini merupakan angan-angan kosong yang batil secara syar'i maupun akal. Kedua, bahwasanya mereka ketika mendustakan ayat-ayat Allah dan membuat kebohongan atasnya, setan menghiasi per-buatan-perbuatan mereka yang buruk, dan mereka terpedaya oleh hal tersebut, hingga nampak oleh mereka bahwa itu merupakan suatu yang benar, (dan itu adalah) sebagai suatu hukuman atas keberpalingan mereka dari kebenaran, oleh karena itu, bagaimana-kah kondisi mereka ketika Allah mengumpulkan mereka pada Hari Kiamat nanti? Di mana Allah akan memberikan balasan akan perbuatan manusia dan berlakulah keadilan Allah terhadap hamba-hambaNya. Saat itu tidaklah perlu ditanya lagi tentang siksaan yang akan mereka rasakan, kebaikan dan pahala tidak mungkin didapatkan. Dan itu adalah karena tindakan yang diperbuat oleh tangan mereka sendiri, dan tidaklah Tuhanmu itu berlaku zhalim terhadap hamba-hambaNya.

Ali 'Imran 3:25

"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian yaitu al-Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; ke-mudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu mem-belakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka berkata, 'Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.' Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya? Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak di-aniaya (dirugikan)." (Ali Imran: 23-25). (23-25) Maksudnya, tidakkah Anda perhatikan dan heran terhadap mereka, ﴾ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ نَصِيبٗا مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "orang-orang yang telah diberi bagian yaitu al-Kitab (Taurat)", dan ﴾ يُدۡعَوۡنَ إِلَىٰ كِتَٰبِ ٱللَّهِ ﴿ "mereka diseru kepada kitab Allah" yang membenarkan apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-rasulNya, ﴾ ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ وَهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi" dari mengikuti kebenaran. Seolah-olah dikatakan, apa pendorong mereka berpa-ling seperti itu, padahal mereka adalah orang-orang yang paling berhak untuk mengikuti dan paling mengetahui hakikat dari apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ? Lalu Allah menyebutkan dua sebab dari hal itu: Pertama, rasa aman dan persaksian mereka yang batil bagi diri mereka sendiri akan keselamatan dan bahwa neraka itu tidak-lah akan menyentuh mereka kecuali hanya beberapa waktu saja yang mereka tentukan menurut hawa nafsu mereka sendiri yang rusak. Seolah-olah pengaturan kepemilikan kembali kepada me-reka, di mana mereka berkata, ﴾ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰۗ ﴿ "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang ber-agama) Yahudi atau Nasrani." (Al-Baqarah: 111). Telah diketahui bahwa hal ini merupakan angan-angan kosong yang batil secara syar'i maupun akal. Kedua, bahwasanya mereka ketika mendustakan ayat-ayat Allah dan membuat kebohongan atasnya, setan menghiasi per-buatan-perbuatan mereka yang buruk, dan mereka terpedaya oleh hal tersebut, hingga nampak oleh mereka bahwa itu merupakan suatu yang benar, (dan itu adalah) sebagai suatu hukuman atas keberpalingan mereka dari kebenaran, oleh karena itu, bagaimana-kah kondisi mereka ketika Allah mengumpulkan mereka pada Hari Kiamat nanti? Di mana Allah akan memberikan balasan akan perbuatan manusia dan berlakulah keadilan Allah terhadap hamba-hambaNya. Saat itu tidaklah perlu ditanya lagi tentang siksaan yang akan mereka rasakan, kebaikan dan pahala tidak mungkin didapatkan. Dan itu adalah karena tindakan yang diperbuat oleh tangan mereka sendiri, dan tidaklah Tuhanmu itu berlaku zhalim terhadap hamba-hambaNya.

Ali 'Imran 3:26

"Katakanlah, 'Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki, di TanganMu-lah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." (Ali Imran: 26-27). (26-27) Pada dasarnya Allah تعالى memerintahkan kepada NabiNya ﷺ dan orang lain yang mengikuti (beliau) agar menyam-paikan dari Tuhannya secara tegas akan keesaanNya dalam me-ngatur segala perkara, mengontrol seluruh alam, baik langit maupun bumi, dan juga tentang hakNya untuk dikhususkan dengan kekua-saan yang mutlak dan pengaturan yang bijaksana, dan bahwasanya Dia memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mencabut kekuasaan itu dari siapa yang Dia kehendaki, Dia memuliakan siapa yang dikehendakiNya dan menghinakan siapa yang dikehendakiNya. Dan itu tidak berdasarkan angan-angan ahli Kitab atau selain mereka, namun perkara itu semuanya adalah di Tangan Allah, dan pengaturan berada di bawah kekuasaanNya. Maka tidak ada yang dapat menolaknya dalam pengaturanNya tersebut, tidak pula ada penolong untukNya dalam ketetapan tak-dirNya. Dan bahwasanya sebagaimana Dia adalah Pengatur per-putaran hari (kemenangan) di antara manusia, Dia pun Pengatur akan masa itu sendiri, di mana Dia memasukkan siang ke dalam malam dan memasukkan malam ke dalam siang. Artinya Allah memasukkan yang ini ke dalam yang itu dan yang ini menempati posisi yang itu, Dia menambah yang ini apa yang kurang dari yang itu agar dengan hal itu semua tegaklah kemaslahatan makhluk-makhlukNya. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati seba-gaimana Dia mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, pepohonan yang bermacam-macam dari biji-biji benih, orang Mukmin dari orang kafir, orang hidup dari yang mati, sebagaimana juga Allah menge-luarkan biji-bijian, benih, tanaman, pepohonan dan telur dari bu-rung. Dia-lah yang mengeluarkan segala bentuk benda-benda yang berlawanan sebagiannya dari sebagian yang lain, dan sesungguh-nya seluruh unsur-unsur yang ada di alam ini patuh terhadapNya. Dan FirmanNya, ﴾ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ ﴿ "Di TanganMu-lah segala kebaikan," artinya segala kebajikan itu berasal dariMu dan tidaklah ada yang mendatangkan kebaikan dan karunia kecuali Allah. Sedangkan keburukan tidaklah dinisbatkan kepada Allah تعالى, baik secara sifat maupun nama dan tidak pula perbuatan, akan tetapi termasuk dalam tindakan-tindakan makhlukNya dan di bawah ketetapan dan takdirNya. Kebaikan dan keburukan termasuk dalam Qadha` dan Qadar. Dan tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dalam kerajaan-Nya kecuali yang Dia kehendaki. Akan tetapi hal yang buruk itu tidaklah dinisbatkan kepada Allah, maka tidaklah dikatakan, "di TanganMu-lah segala kebaikan dan keburukan," namun seharus-nya dikatakan, di TanganMu-lah segala kebaikan sebagaimana yang telah dikatakan oleh Allah dan oleh RasulNya. Adapun kesimpulan temuan yang dikatakan oleh sebagian ahli tafsir, di mana mereka berkata, "Demikian pula keburukan, berada di TanganNya," maka itu adalah sebuah kesalahan yang murni. Pandangan mereka di-dasari oleh karena mereka mengira bahwa pengkhususan kebaikan dalam penyebutan itu meniadakan Qadha` dan QadarNya yang umum. Dan bantahan terhadap pandangan ini, adalah apa yang telah kami jelaskan secara rinci. Dan FirmanNya, ﴾ وَتَرۡزُقُ مَن تَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." Allah تعالى telah me-nyebutkan pada ayat yang lain sebab-sebab yang mengakibatkan datangnya rizki Allah, seperti FirmanNya, ﴾ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا 2 وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ ﴿ "Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 2-3), ﴾ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (Ath-Thalaq: 3). Karena itu wajib atas manusia agar tidak memohon rizki kecuali dari Allah, lalu mereka berusaha meraihnya dengan mela-kukan sebab-sebabnya yang telah dimudahkan oleh Allah dan dibolehkanNya.

Ali 'Imran 3:27

"Katakanlah, 'Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki, di TanganMu-lah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." (Ali Imran: 26-27). (26-27) Pada dasarnya Allah تعالى memerintahkan kepada NabiNya ﷺ dan orang lain yang mengikuti (beliau) agar menyam-paikan dari Tuhannya secara tegas akan keesaanNya dalam me-ngatur segala perkara, mengontrol seluruh alam, baik langit maupun bumi, dan juga tentang hakNya untuk dikhususkan dengan kekua-saan yang mutlak dan pengaturan yang bijaksana, dan bahwasanya Dia memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mencabut kekuasaan itu dari siapa yang Dia kehendaki, Dia memuliakan siapa yang dikehendakiNya dan menghinakan siapa yang dikehendakiNya. Dan itu tidak berdasarkan angan-angan ahli Kitab atau selain mereka, namun perkara itu semuanya adalah di Tangan Allah, dan pengaturan berada di bawah kekuasaanNya. Maka tidak ada yang dapat menolaknya dalam pengaturanNya tersebut, tidak pula ada penolong untukNya dalam ketetapan tak-dirNya. Dan bahwasanya sebagaimana Dia adalah Pengatur per-putaran hari (kemenangan) di antara manusia, Dia pun Pengatur akan masa itu sendiri, di mana Dia memasukkan siang ke dalam malam dan memasukkan malam ke dalam siang. Artinya Allah memasukkan yang ini ke dalam yang itu dan yang ini menempati posisi yang itu, Dia menambah yang ini apa yang kurang dari yang itu agar dengan hal itu semua tegaklah kemaslahatan makhluk-makhlukNya. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati seba-gaimana Dia mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, pepohonan yang bermacam-macam dari biji-biji benih, orang Mukmin dari orang kafir, orang hidup dari yang mati, sebagaimana juga Allah menge-luarkan biji-bijian, benih, tanaman, pepohonan dan telur dari bu-rung. Dia-lah yang mengeluarkan segala bentuk benda-benda yang berlawanan sebagiannya dari sebagian yang lain, dan sesungguh-nya seluruh unsur-unsur yang ada di alam ini patuh terhadapNya. Dan FirmanNya, ﴾ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ ﴿ "Di TanganMu-lah segala kebaikan," artinya segala kebajikan itu berasal dariMu dan tidaklah ada yang mendatangkan kebaikan dan karunia kecuali Allah. Sedangkan keburukan tidaklah dinisbatkan kepada Allah تعالى, baik secara sifat maupun nama dan tidak pula perbuatan, akan tetapi termasuk dalam tindakan-tindakan makhlukNya dan di bawah ketetapan dan takdirNya. Kebaikan dan keburukan termasuk dalam Qadha` dan Qadar. Dan tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dalam kerajaan-Nya kecuali yang Dia kehendaki. Akan tetapi hal yang buruk itu tidaklah dinisbatkan kepada Allah, maka tidaklah dikatakan, "di TanganMu-lah segala kebaikan dan keburukan," namun seharus-nya dikatakan, di TanganMu-lah segala kebaikan sebagaimana yang telah dikatakan oleh Allah dan oleh RasulNya. Adapun kesimpulan temuan yang dikatakan oleh sebagian ahli tafsir, di mana mereka berkata, "Demikian pula keburukan, berada di TanganNya," maka itu adalah sebuah kesalahan yang murni. Pandangan mereka di-dasari oleh karena mereka mengira bahwa pengkhususan kebaikan dalam penyebutan itu meniadakan Qadha` dan QadarNya yang umum. Dan bantahan terhadap pandangan ini, adalah apa yang telah kami jelaskan secara rinci. Dan FirmanNya, ﴾ وَتَرۡزُقُ مَن تَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." Allah تعالى telah me-nyebutkan pada ayat yang lain sebab-sebab yang mengakibatkan datangnya rizki Allah, seperti FirmanNya, ﴾ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا 2 وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ ﴿ "Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 2-3), ﴾ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (Ath-Thalaq: 3). Karena itu wajib atas manusia agar tidak memohon rizki kecuali dari Allah, lalu mereka berusaha meraihnya dengan mela-kukan sebab-sebabnya yang telah dimudahkan oleh Allah dan dibolehkanNya.

Ali 'Imran 3:28

"Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari perto-longan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu ter-hadap diri (siksa)Nya. Dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu)." (Ali Imran: 28). (28) Ini adalah larangan Allah dan peringatan bagi kaum Mukminin agar tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai wali-wali (pemimpin-pemimpin) mereka selain kaum Mukminin. Karena kaum Mukminin itu sebagian mereka adalah wali bagi sebagian lainnya. Dan Allah adalah wali bagi mereka. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ ﴿ "Barang-siapa berbuat demikian", yakni menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin (pelindung dan penolong), ﴾ فَلَيۡسَ مِنَ ٱللَّهِ فِي شَيۡءٍ ﴿ "niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah," artinya, niscaya ia terlepas dari Allah dan Allah juga berlepas diri (bara`) darinya, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ ﴿ "Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka." (Al-Ma`idah: 51). Dan Firman Allah, ﴾ إِلَّآ أَن تَتَّقُواْ مِنۡهُمۡ تُقَىٰةٗۗ ﴿ "Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka," yakni, kecuali bila kalian khawatir akan diri kalian dalam memulai permusuhan terhadap kaum kafir, maka kalian mendapatkan keringanan, dalam kondisi seperti itu, untuk mengadakan perjanjian dan perdamaian, bukan dalam kapasitas memberi loyalitas (wala`) yang merupakan bentuk kecintaan hati lalu diikuti oleh pembelaan. ﴾ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُۥۗ ﴿ "Dan Allah memperingatkan kamu terhadap Diri (siksa)Nya." Maksudnya, takutlah kalian dariNya, khawatirlah terhadapNya, dan dahulukanlah rasa takut kepadaNya itu dari rasa takut kalian terhadap manusia, karena Dia-lah yang mengurus segala urusan manusia, dan Dia-lah yang mengendalikan (mengua-sai) diri mereka, dan kepadaNya-lah mereka akan kembali dan pulang. Kemudian Dia akan membalas orang-orang yang menda-hulukan rasa takutnya terhadapNya dan rasa harapnya kepadaNya atas selainNya dengan pahala yang melimpah, dan menyiksa orang-orang kafir dan orang-orang yang menjadikan mereka pemimpin dengan siksaan yang menghinakan.

Ali 'Imran 3:29

"Katakanlah, 'Jika kamu menyembunyikan sesuatu yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah menge-tahuinya.' Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan diha-dapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerja-kannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksaNya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hambaNya." (Ali Imran: 29-30). (29-30) Allah تعالى memberitakan tentang ilmuNya yang meliputi apa yang ada dalam dada, baik yang disembunyikan oleh manusia atau yang ditampakkannya. Sebagaimana ilmuNya itu meliputi segala yang di langit dan di bumi, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariNya. Di samping ilmuNya yang meli-puti segala hal itu Dia juga Mahaagung lagi Mahakuasa atas segala sesuatu yang tidak ada suatu apa pun yang ada (di alam ini) dapat menolak kehendakNya. Dan setelah Allah menyebutkan tentang keagunganNya dan luasnya sifat-sifatNya yang mengharuskan manusia agar merasa diawasi olehNya dalam segala keadaan me-reka, Allah menyebutkan juga bagi mereka pendorong lain untuk merasakan pengawasan Allah atasnya dan rasa takut kepadaNya, yaitu bahwa mereka semua akan kembali kepadaNya dan amal perbuatan mereka saat itu dari yang baik maupun yang buruk akan dihadirkan. Di saat itu kaum Mukminin merasa kurang terhadap apa yang telah mereka lakukan bagi diri mereka berupa kebajikan, sedang orang-orang kafir akan menyesal ketika perbuatan-perbuat-an mereka dihadirkan, dan mereka berharap agar antara mereka dengan hari itu masih panjang jaraknya. Maka apabila seorang hamba mengetahui bahwasanya ia ber-jalan menuju Rabbnya dan berjuang di dunia ini, dan bahwasanya pastilah ia akan menjumpai Rabbnya dan melihat usahanya, niscaya hal itu mengharuskan dirinya mengambil sikap hati-hati dan was-pada dari perbuatan-perbuatan yang mengharuskannya diperma-lukan dan disiksa, dan bersiap-siap dengan amal-amal shalih yang mendatangkan kebahagiaan dan pahala. Itulah sebabnya Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُۥۗ ﴿ "Dan Allah memperingatkan kamu ter-hadap Diri (siksa)Nya," yang demikian itu dengan Allah memper-lihatkan buat kalian sifat-sifat keagunganNya, kesempurnaan ke-adilanNya, dan kerasnya siksaanNya. Dan di samping pedihnya hukumanNya, Allah juga Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Dan di antara santun dan kasih sayangNya adalah bahwa Dia me-nakut-nakuti hamba-hambaNya dan mengingatkan mereka dari kezhaliman dan pengrusakan, sebagaimana Allah تعالى berfirman ketika menyebutkan hukumanNya, ﴾ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ ٱللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥۚ يَٰعِبَادِ فَٱتَّقُونِ 16 ﴿ "Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hambaNya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepadaKu hai hamba-hambaKu." (Az-Zumar: 16). Belas kasih dan sayang Allah telah memudahkan bagi mereka jalan-jalan memperoleh kebaikan-kebaikan, dan kasih sayangNya telah menghindarkan mereka dari jalan-jalan yang menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang tidak disukai. Karena itu, kita memohon kepada Allah agar menyempurna-kan kebaikanNya atas kita dengan menempuh jalan yang lurus, dan keselamatan dari jalan-jalan yang menghantarkan orang yang menempuhnya kepada Neraka Jahim.

Ali 'Imran 3:30

"Katakanlah, 'Jika kamu menyembunyikan sesuatu yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah menge-tahuinya.' Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan diha-dapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerja-kannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksaNya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hambaNya." (Ali Imran: 29-30). (29-30) Allah تعالى memberitakan tentang ilmuNya yang meliputi apa yang ada dalam dada, baik yang disembunyikan oleh manusia atau yang ditampakkannya. Sebagaimana ilmuNya itu meliputi segala yang di langit dan di bumi, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariNya. Di samping ilmuNya yang meli-puti segala hal itu Dia juga Mahaagung lagi Mahakuasa atas segala sesuatu yang tidak ada suatu apa pun yang ada (di alam ini) dapat menolak kehendakNya. Dan setelah Allah menyebutkan tentang keagunganNya dan luasnya sifat-sifatNya yang mengharuskan manusia agar merasa diawasi olehNya dalam segala keadaan me-reka, Allah menyebutkan juga bagi mereka pendorong lain untuk merasakan pengawasan Allah atasnya dan rasa takut kepadaNya, yaitu bahwa mereka semua akan kembali kepadaNya dan amal perbuatan mereka saat itu dari yang baik maupun yang buruk akan dihadirkan. Di saat itu kaum Mukminin merasa kurang terhadap apa yang telah mereka lakukan bagi diri mereka berupa kebajikan, sedang orang-orang kafir akan menyesal ketika perbuatan-perbuat-an mereka dihadirkan, dan mereka berharap agar antara mereka dengan hari itu masih panjang jaraknya. Maka apabila seorang hamba mengetahui bahwasanya ia ber-jalan menuju Rabbnya dan berjuang di dunia ini, dan bahwasanya pastilah ia akan menjumpai Rabbnya dan melihat usahanya, niscaya hal itu mengharuskan dirinya mengambil sikap hati-hati dan was-pada dari perbuatan-perbuatan yang mengharuskannya diperma-lukan dan disiksa, dan bersiap-siap dengan amal-amal shalih yang mendatangkan kebahagiaan dan pahala. Itulah sebabnya Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُۥۗ ﴿ "Dan Allah memperingatkan kamu ter-hadap Diri (siksa)Nya," yang demikian itu dengan Allah memper-lihatkan buat kalian sifat-sifat keagunganNya, kesempurnaan ke-adilanNya, dan kerasnya siksaanNya. Dan di samping pedihnya hukumanNya, Allah juga Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Dan di antara santun dan kasih sayangNya adalah bahwa Dia me-nakut-nakuti hamba-hambaNya dan mengingatkan mereka dari kezhaliman dan pengrusakan, sebagaimana Allah تعالى berfirman ketika menyebutkan hukumanNya, ﴾ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ ٱللَّهُ بِهِۦ عِبَادَهُۥۚ يَٰعِبَادِ فَٱتَّقُونِ 16 ﴿ "Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hambaNya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepadaKu hai hamba-hambaKu." (Az-Zumar: 16). Belas kasih dan sayang Allah telah memudahkan bagi mereka jalan-jalan memperoleh kebaikan-kebaikan, dan kasih sayangNya telah menghindarkan mereka dari jalan-jalan yang menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang tidak disukai. Karena itu, kita memohon kepada Allah agar menyempurna-kan kebaikanNya atas kita dengan menempuh jalan yang lurus, dan keselamatan dari jalan-jalan yang menghantarkan orang yang menempuhnya kepada Neraka Jahim.

Ali 'Imran 3:31

"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa-mu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, 'Taatilah Allah dan RasulNya; jika kamu berpaling, maka sesung-guhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir'." (Ali Imran: 31-32). (31-32) Ayat ini merupakan patokan di mana dengannya kita dapat membedakan orang yang mencintai Allah dengan sebe-nar-benarnya dengan orang yang hanya sekedar mengaku-aku semata. Tanda-tanda kecintaan kepada Allah adalah mengikuti Rasulullah, Muhammad ﷺ, di mana Allah menjadikan tindakan mencontohi Rasulullah ﷺ dan mengikuti segala yang diserukan beliau sebagai jalan kepada kecintaan kepadaNya dan keridhaan-Nya. Oleh karena itu, tidaklah akan diperoleh kecintaan Allah dan keridhaanNya serta pahalaNya kecuali dengan membenarkan apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ berupa al-Qur`an dan as-Sunnah, dan menaati perintah keduanya dan menjauhi larangan keduanya. Maka barangsiapa yang melakukan hal itu, niscaya Allah akan mencintainya lalu membalasnya dengan balasan orang-orang yang dicintai, mengampuni dosa-dosanya dan menutupi aib-aibnya. Kemudian seolah-olah dikatakan, "Dan bersama itu semua, maka apakah sebenarnya hakikat mengikuti Rasul dan tata caranya?" Maka Allah menjawabnya dengan FirmanNya, ﴾ قُلۡ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَۖ ﴿ "Katakanlah,'Taatilah Allah dan RasulNya'," yaitu dengan menaati perintah dan menjauhi larangan serta mempercayai kabar berita. ﴾ فَإِن تَوَلَّوۡاْ ﴿ "Jika kamu berpaling" dari hal itu, maka inilah kekufuran, dan Allah ﴾ لَا يُحِبُّ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "tidak menyukai orang-orang kafir."

Ali 'Imran 3:32

"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa-mu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, 'Taatilah Allah dan RasulNya; jika kamu berpaling, maka sesung-guhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir'." (Ali Imran: 31-32). (31-32) Ayat ini merupakan patokan di mana dengannya kita dapat membedakan orang yang mencintai Allah dengan sebe-nar-benarnya dengan orang yang hanya sekedar mengaku-aku semata. Tanda-tanda kecintaan kepada Allah adalah mengikuti Rasulullah, Muhammad ﷺ, di mana Allah menjadikan tindakan mencontohi Rasulullah ﷺ dan mengikuti segala yang diserukan beliau sebagai jalan kepada kecintaan kepadaNya dan keridhaan-Nya. Oleh karena itu, tidaklah akan diperoleh kecintaan Allah dan keridhaanNya serta pahalaNya kecuali dengan membenarkan apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ berupa al-Qur`an dan as-Sunnah, dan menaati perintah keduanya dan menjauhi larangan keduanya. Maka barangsiapa yang melakukan hal itu, niscaya Allah akan mencintainya lalu membalasnya dengan balasan orang-orang yang dicintai, mengampuni dosa-dosanya dan menutupi aib-aibnya. Kemudian seolah-olah dikatakan, "Dan bersama itu semua, maka apakah sebenarnya hakikat mengikuti Rasul dan tata caranya?" Maka Allah menjawabnya dengan FirmanNya, ﴾ قُلۡ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَۖ ﴿ "Katakanlah,'Taatilah Allah dan RasulNya'," yaitu dengan menaati perintah dan menjauhi larangan serta mempercayai kabar berita. ﴾ فَإِن تَوَلَّوۡاْ ﴿ "Jika kamu berpaling" dari hal itu, maka inilah kekufuran, dan Allah ﴾ لَا يُحِبُّ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "tidak menyukai orang-orang kafir."

Ali 'Imran 3:33

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (ke-turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri 'Imran berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepadaMu anak yang dalam kan-dunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis), karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' Maka tatkala istri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perem-puan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari setan yang terkutuk.' Maka Rabbnya menerimanya (se-bagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria seba-gai pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, maka ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria ber-kata, 'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnya seraya ber-kata, 'Ya Rabbku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.' Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenar-kan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shalih.' Zakaria berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul.' Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.' Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).' Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manu-sia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.' Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.' Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari padaNya, namanya al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.' Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.' Allah berfirman (de-ngan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sung-guh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu de-ngan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.' Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia, 'Siapakah yang akan menjadi peno-long-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah.' Para hawa-riyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksi-kanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang ber-serah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).' Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu serta membersih-kan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu ber-selisih padanya'." (Ali Imran: 33-55). (33-55) Allah memiliki hamba-hamba pilihan dari seluruh hamba-hambaNya. Dia memilih mereka, memilah mereka dan mengaruniakan atas mereka keutamaan-keutamaan yang tinggi, sifat-sifat yang luhur, ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal perbuatan yang shalih, dan keistimewaan-keistimewaan yang bermacam-macam. Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut dan apa yang di dalamnya berupa manusia-manusia agung yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan bahwasanya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak cucu mereka, yang mencakup laki-laki maupun wanita di antara mereka. Ini merupakan karuniaNya yang paling utama dan tempat-tempat kemurahan dan kebaikanNya yang paling utama,﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿ "dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," Dia menge-tahui siapa yang berhak menerima keutamaan dan penghormatan, hingga Dia meletakkan keutamaanNya itu yang didasari oleh hik-mahNya yang pasti. Ketika Allah menetapkan keagungan keluarga tersebut lalu Allah menyebutkan kisah Maryam dan putranya, Isa عليه السلام, dan bagaimana turun temurunnya dari keluarga yang mulia ini, dan bagaimana silih bergantinya keadaan keduanya dari awal hingga akhirnya, dan bahwa istri Imran berkata seraya tunduk kepada Rabbnya dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan persembahan yang Dia cintai, yang mengandung pengagungan terhadap rumahNya dan konsistensi dalam ketaatanNya, (istri Imran berkata), ﴾ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا ﴿ "Sesungguhnya aku mena-dzarkan kepadaMu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)," yakni, sebagai pelayan bagi rumah ibadah yang dipenuhi dengan ahli-ahli ibadah. ﴾ فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ ﴿ "Karena itu terimalah (nadzar) itu dari padaku," yakni perbuatan ini, maksudnya, jadikanlah ia di atas dasar keimanan dan keikhlasan yang membuahkan kebaikan dan pahala. ﴾ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ 35 ﴿ "Se-sungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." ﴾ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ ﴿ "Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan;' dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan." Seolah-olah dalam perkataan ini menyim-pan makna ketundukan dan jiwa yang pasrah, di mana nadzarnya itu didasari oleh harapan anak itu adalah laki-laki yang memiliki kekuatan dan pelayanan, serta pelaksanaan terhadap hal itu seba-gaimana yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang kuat, se-dangkan anak wanita tidak seperti itu, lalu Allah menguatkan hatinya dan menerima nadzarnya. Anak wanita itu bahkan menjadi lebih sempurna dan lebih baik dari kebanyakan anak laki-laki, bahkan dari mayoritas mereka, lalu maksud-maksud yang dikehendaki tercapai dengan lebih baik daripada yang diperoleh oleh anak laki-laki. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا ﴿ "Maka Rabbnya meneri-manya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik." Artinya ia dididik dengan didikan yang mengagumkan, baik agama, akhlak maupun bahasanya, di mana dengannya sempurnalah kondisinya, baiklah perkataan dan perbuatannya, kesempurnaannya tumbuh padanya, lalu Allah memudahkannya dengan Zakaria sebagai pemeliharanya. Ini meru-pakan karunia Allah atas hambaNya yaitu menjadikan orang yang menjadi pemeliharanya dari orang-orang yang terbaik dan shalih. Kemudian Allah تعالى memuliakan Maryam dan Zakaria di mana Allah memudahkan bagi Maryam rizki yang diperoleh tanpa keringat dan lelah, hal itu adalah sebuah karamah sebagai kemuliaan dari Allah untuknya, karena ﴾ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab," yakni tempat untuk ibadah, dan di sini terkandung isyarat akan banyaknya shalat yang dilaku-kan Maryam dan konsistensinya terhadap tempat ibadah tersebut, ﴾ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ ﴿ "maka dia mendapati makanan di sisinya" dengan nikmat dan tersedia. Zakaria berkata, ﴾ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ ﴿ "Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" ﴾ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ﴿ "Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab." Ketika Zakaria menyaksikan kondisi tersebut, kebaikan dan seperti itulah kasih Allah terhadap Maryam, maka itu mengingat-kan dirinya untuk memohon kepada Allah تعالى seorang anak laki-laki, dalam kondisinya yang hampir putus asa seraya berkata, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." ﴾ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Ke-mudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggem-birakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu), Yahya, yang mem-benarkan kalimat (yang datang) dari Allah," yakni, namanya (Yahya), dan kalimat yang datangnya dari Allah adalah Isa Ibnu Maryam, berita gembira itu adalah dengan Nabi yang mulia tersebut yang mengandung juga berita gembira dengan Isa Ibnu Maryam, sebagai pembenaran dan kesaksian tentang kerasulannya. Kalimat tersebut dari Allah, merupakan kalimat yang mulia di mana Allah mengkhususkan Isa Ibnu Maryam dengannya, bila tidak demikian, maka kalimat itu merupakan salah satu kalimatNya di mana dengannya Allah menciptakan segala makhluk, sebagai-mana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٖ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ 59 ﴿ "Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemu-dian Allah berfirman kepadanya, 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadi-lah dia." (Ali Imran: 59). Dan FirmanNya, ﴾ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا ﴿ "Menjadi ikutan dan menahan diri (dari hawa nafsu)." Artinya yang menjadi obyek berita gembira itu adalah Yahya yang merupakan panutan dari Rasul-rasul yang mulia dan yang terhormat, dan menahan diri (hashur), artinya, yang tidak bisa punya anak dan tidak berkehendak kepada wanita. Pendapat lain mengatakan orang yang dijaga dan diselamatkan dari dosa dan hawa nafsu yang menjerumuskan, dan yang terakhir inilah yang paling sesuai dari kedua makna tersebut. ﴾ وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih", maksud-nya, orang-orang yang mencapai puncak kebaikan yang tinggi. ﴾ قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَقَدۡ بَلَغَنِيَ ٱلۡكِبَرُ وَٱمۡرَأَتِي عَاقِرٞۖ ﴿ "Zakaria berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?'" Kedua hal itu merupakan penghalang, karena itu dari jalan manakah wahai Tuhan, saya mendapatkan anak tersebut padahal ada penghalangnya? ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya'." Bahwasanya sebagaimana telah berlaku hikmah-Nya dengan berjalannya segala sesuatu itu menurut sebab-sebabnya yang wajar, maka Allah juga terkadang merubah (hukum alam) tersebut karena Allah Maha Berbuat apa yang dikehendakiNya, di mana segala sebab telah patuh pada kekuasaanNya, kehendakNya dan keinginanNya terealisasikan padanya, dan tidak ada suatu sebab pun yang bisa menyalahi titahNya walaupun memiliki ke-kuatan yang besar sekalipun. ﴾ قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ ﴿ "Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)'," agar saya mendapatkan kebahagiaan dan rasa senang, walaupun sebenarnya saya yakin akan apa yang Engkau kabarkan wahai Rabbku. Akan tetapi agar jiwa ini senang dan hati ini tenang dengan pendahuluan-pendahuluan rahmat dan kasih sayang. ﴾ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمۡزٗاۗ ﴿ "Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat'," dan dalam masa itu, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِيرٗا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertas-bihlah di waktu petang dan pagi hari," yakni, awal hari dan di akhir-nya. Zakaria terlarang dari berbicara dengan orang lain pada masa tersebut, dan itu sesuai untuk didapatkannya seorang anak dari seorang suami yang telah tua dan istri yang mandul, keadaannya yang tidak mampu berbicara dengan orang lain padahal lisannya lancar berdzikir kepada Allah dan memujiNya adalah merupakan tanda yang lain. Maka ketika itulah ia mendapat kebahagiaan dan kesenangan tersebut, lalu ia bersyukur kepada Allah, dan ia mem-perbanyak dzikir dan tasbih pada saat petang maupun pagi hari. Dan anak bayi tersebut merupakan berkah dari Maryam binti Imran terhadap Zakaria. Karena apa yang Allah karuniakan atas Maryam berupa rizki yang banyak yang hadir tanpa hisab, meng-ingatkannya dan mengobarkannya untuk bermunajat dan memohon. Sedang Allah تعالى adalah Maha Memberi penyebab maupun aki-batnya, namun Allah menentukan beberapa perkara yang disukai, terjadi pada orang yang dicintaiNya, agar Allah mengangkat ke-hormatannya dan melimpahkan pahalanya. Allah تعالى kembali menyebutkan kisah Maryam, yaitu bahwa Maryam itu telah mencapai puncak ibadah dan kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu'." Maksudnya, Allah memilihmu dan memberikan kepadamu sifat-sifat yang mulia dan akhlak-akhlak yang luhur, ﴾ وَطَهَّرَكِ ﴿ "dan menyucikan kamu" dari akhlak-akhlak yang hina, ﴾ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ. وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Telah banyak yang mencapai kesempurnaan dari para laki-laki, namun belum mencapai kesempurnaan dari para wanita kecuali Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid; dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan daging yang dilapisi adonan[1] atas seluruh makanan yang ada."[2] Kemudian Malaikat menyeru Maryam atas perintah Allah untuknya agar ia menerima nikmat-nikmat Allah dan ia bersyukur kepada Allah, kemudian menunaikan segala hak-hakNya, dan me-nyibukkan diri untuk melayaniNya. Karena itu malaikat berkata, ﴾ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ ﴿ "Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu," artinya, per-banyaklah ketaatan, ketundukan, dan kekhusyu'an kepada Rabbmu lalu konsistenlah atas hal tersebut, ﴾ وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ﴿ "dan rukuklah ber-sama orang-orang yang rukuk," yakni shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Lalu ia menunaikan segala perkara yang diperintahkan hingga ia menjadi mulia dan istimewa dalam kesempurnaannya. Kisah ini dan kisah-kisah lainnya merupakan dalil yang paling besar atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ di mana beliau menga-barkan tentang kisah tersebut secara terperinci lagi autentik yang tidak ada penambahan maupun pengurangan padanya. Semua itu karena ia merupakan wahyu dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan bukan karena belajar dari manusia. Allah تعالى berfirman,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam," yaitu ketika ibunya membawanya kepada kaumnya, lalu mereka berselisih siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam, karena ia adalah anak wanita pemimpin mereka dan tokoh mereka, sedang mereka semua menginginkan kebaikan dan pahala dari Allah, hingga terjadilah perselisihan yang sengit, yang akhirnya mereka harus mengadakan undian atasnya, lalu mereka melemparkan pena-pena mereka seraya mengundi dan ternyata undian itu jatuh pada Zakaria sebagai suatu rahmat dari Allah untuknya dan untuk anak wanita Imran tersebut. Maka engkau -wahai Rasul- tidak hadir saat itu hingga eng-kau mengetahuinya dan menceritakannya kepada manusia, akan tetapi Allah yang mengabarkan kepadamu tentang kisah tersebut. Inilah maksud terbesar dari adanya kisah-kisah dalam al-Qur`an yaitu bahwasanya ia menjadi pelajaran bagi manusia. Dan pela-jaran yang paling agung adalah berdalil dengannya atas tauhid, kerasulan, kebangkitan kembali, dari pokok-pokok Agama lainnya. ﴾ إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, se-sungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dariNya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)'." Maksudnya, ia mempunyai kedudukan dan posisi yang agung di dunia dan akhirat di antara para makhluk. Di samping itu, dia termasuk di antara makhluk Allah yang paling dekat kepadaNya dan paling tinggi derajatnya. Ini merupakan kabar gembira yang tidak dapat disamakan dengan kabar-kabar gembira lainnya. Dan di antara kesempurnaan dari kabar gembira itu adalah bahwa dia ﴾ ي ُ ك َ ل ّ ِ م ُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ ﴿ "berbicara dengan manusia dalam buaian", sehingga kemampuan berbicara saat dalam buaian itu merupakan tanda kebesaran di antara tanda-tanda kebesaran Allah dan rahmat dariNya kepada ibunya dan kepada manusia seluruhnya. Demikian juga ia berbicara dengan mereka ﴾ وَكَهۡلٗا ﴿ "ketika sudah dewasa", yaitu pada saat ia telah besar. Ini merupakan ungkapan kenabian, dakwah, dan bimbingan. Berbicaranya saat dalam buaian merupakan tanda kebesaran dan keterangan yang jelas atas kebenarannya, kenabiannya, dan ter-bebasnya ibunya dari segala sangkaan buruk yang ditudingkan kepadanya. Dan pembicaraannya saat telah dewasa mengandung manfaat yang besar bagi manusia, dan bahwa ia adalah perantara antara manusia dengan Tuhan mereka dalam hal wahyuNya dan penyampaian agama dan syariatNya. Di samping itu juga ia ﴾ م ِ ن َ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "adalah termasuk orang-orang yang shalih", yakni, orang-orang yang hati mereka diberikan keshalihan oleh Allah dengan mengenal dan mencintaiNya, dan lisan mereka diberikan keshalihan dengan pujian atasNya dan dzikir kepadaNya, dan tubuh mereka diberikan keshalihan dengan ketaatan kepadaNya dan melayaniNya. Dan FirmanNya, ﴾ قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ ﴿ "Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun?'" Ini merupakan perkara yang aneh. ﴾ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya'," untuk memberitakan kepada hamba-hambaNya bahwa Dia adalah Maha-kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada penghalang bagi kehendak-Nya. ﴾ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia." ﴾ وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab," yaitu, kitab-kitab terdahulu pada umumnya yang memutuskan hukum di antara manusia, dan Allah memberikan kepadanya ke-nabian lalu Allah menjadikannya ﴾ وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "(sebagai) Rasul kepada Bani Israil." Allah mengukuhkannya dengan ayat-ayat yang jelas serta dalil-dalil yang tegas di mana dia berkata, ﴾ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu," yang menjelaskan kepada kalian bahwa aku adalah benar-benar seorang Rasul Allah. Yang demikian itu,﴾ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ ﴿ "bahwa aku membuat untuk kamu dari tanah ber-bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya," yakni yang kedua matanya cacat, hilang pandangannya dan buta, ﴾ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demi-kian itu," yakni hal-hal yang telah disebutkan, ﴾ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 49 وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepada-mu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku." Allah mengukuhkan beliau dengan dua bentuk ayat dan bukti nyata yaitu hal-hal di luar kebiasaan yang tidak mungkin dilaku-kan oleh selain nabi untuk menghadirkannya, juga kerasulan dan dakwah serta agama yang dibawa olehnya yang mana ajaran itu adalah agama Taurat dan agama nabi-nabi sebelumnya. Ini meru-pakan dalil yang paling besar atas kebenaran orang-orang yang benar, karena seandainya ia di antara orang-orang yang dusta, niscaya pasti ia akan menyalahi apa yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya dan akan menyimpang dari mereka dalam masalah-masalah akidah dan hukum-hukum mereka. Dengan demikian diketahuilah bahwa beliau adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau adalah benar, yang tidak ada keraguan padanya. Juga perkataannya, ﴾ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu," yakni, agar saya meringankan dari kalian beberapa beban dan tanggung jawab. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ 50 إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia." Ini adalah ajaran yang di-serukan oleh seluruh Rasul, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya dan taat kepada mereka, dan inilah jalan yang lurus di mana orang yang menempuhnya akan menghantarkannya kepada surga yang penuh nikmat. Saat itulah sikap kelompok-kelompok Bani Israil terpecah terhadap Nabi Isa عليه السلام. Di antara mereka ada yang beriman kepada beliau dan mengikuti beliau, dan di antara mereka ada yang kafir kepada beliau, mendustai beliau dan memfitnah ibu beliau sebagai seorang yang melakukan kekejian, sebagaimana (yang dilakukan orang-orang) Yahudi. ﴾ فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ ﴿ "Maka tatkala Isa me-ngetahui keingkaran mereka (Bani lsrail)" dan sepakat dalam menolak dakwah beliau, ﴾ قَالَ ﴿ "Isa berkata" seraya menyeru Bani Israil untuk menjadi penolongnya, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab," yakni orang-orang yang membela, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kamilah peno-long-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikan-lah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." Ini merupakan anugerah Allah atas mereka dan khususnya atas Nabi Isa عليه السلام, di mana Allah telah menjadikan para hawariyyun tersebut beriman kepadaNya, tunduk dalam ketaatan kepadaNya dan membela RasulNya. ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul." Ini adalah suatu integritas yang sempurna dalam beriman kepada seluruh hal yang diturunkan oleh Allah dan dalam menaati RasulNya. ﴾ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Karena itu masuk-kanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi" bagiMu dengan keesaan dan bagi RasulMu dengan kerasulan serta bagi agamaMu dengan kebenaran dan kejujuran. Adapun orang-orang yang dirasakan oleh Isa عليه السلام penging-karan mereka, sedang mereka itu adalah sebagian besar Bani Israil, maka mereka ﴾ وَمَكَرُواْ ﴿ "membuat tipu daya" terhadap Nabi Isa, ﴾ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ ﴿ "dan Allah membalas tipu daya itu" terhadap mereka, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." Mereka bersepakat untuk membunuh dan menyalibnya, namun dijadikan buat mereka orang yang serupa dengan Nabi Isa lalu mereka me-nangkap orang yang serupa tersebut, dan Allah berfirman kepada Isa, ﴾ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." Lalu Allah mengangkatnya kepadaNya dan membersihkannya dari orang-orang kafir, dan orang-orang kafir itu menyalib orang yang telah mereka bunuh tersebut seraya menduga bahwa orang yang mereka salib itu adalah Isa عليه السلام, dan mereka justru menanggung dosa yang besar. Dan Isa Ibnu Maryam عليه السلام akan turun kembali di akhir masa umat ini sebagai hakim yang adil, ia akan membunuh babi, meng-hancurkan salib dan ia akan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Orang-orang yang berdusta itu akan mengetahui keterpedayaan dan ketertipuan mereka yaitu bahwa mereka itu telah terpedaya dan tertipu. Dan FirmanNya,﴾ وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ فَوۡقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ ﴿ "Dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat." Yang dimaksud orang-orang yang mengikutinya adalah kelompok yang telah beriman kepada beliau, dan Allah membela mereka atas orang-orang yang menyimpang dari agamaNya. Kemudian ketika umat Muhammad ﷺ tiba, mereka itu benar-benar mengikutinya hingga Allah me-nguatkan mereka dan membela mereka atas orang-orang yang kafir secara keseluruhan, dan Allah memenangkan mereka dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka. ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." (An-Nur: 55). Akan tetapi hikmah Allah itu adil, yaitu bahwasanya hikmah-Nya berlaku bagi siapa yang berpegang teguh dengan Agama, niscaya Allah akan membelanya dengan pembelaan yang nyata, dan bahwa orang yang meninggalkan perintahNya dan melanggar laranganNya, melemparkan syariatNya dan berani lancang berbuat kemaksiatan kepadaNya, niscaya Dia akan menghukumnya dan akan membuat musuh-musuhnya menguasainya. Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana. Dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأَحۡكُمُ بَيۡنَكُمۡ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." Kemudian Allah menjelaskan tentang apa yang dilakukanNya terhadap mereka, seraya berfirman,

Ali 'Imran 3:34

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (ke-turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri 'Imran berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepadaMu anak yang dalam kan-dunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis), karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' Maka tatkala istri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perem-puan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari setan yang terkutuk.' Maka Rabbnya menerimanya (se-bagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria seba-gai pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, maka ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria ber-kata, 'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnya seraya ber-kata, 'Ya Rabbku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.' Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenar-kan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shalih.' Zakaria berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul.' Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.' Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).' Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manu-sia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.' Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.' Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari padaNya, namanya al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.' Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.' Allah berfirman (de-ngan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sung-guh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu de-ngan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.' Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia, 'Siapakah yang akan menjadi peno-long-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah.' Para hawa-riyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksi-kanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang ber-serah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).' Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu serta membersih-kan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu ber-selisih padanya'." (Ali Imran: 33-55). (33-55) Allah memiliki hamba-hamba pilihan dari seluruh hamba-hambaNya. Dia memilih mereka, memilah mereka dan mengaruniakan atas mereka keutamaan-keutamaan yang tinggi, sifat-sifat yang luhur, ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal perbuatan yang shalih, dan keistimewaan-keistimewaan yang bermacam-macam. Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut dan apa yang di dalamnya berupa manusia-manusia agung yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan bahwasanya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak cucu mereka, yang mencakup laki-laki maupun wanita di antara mereka. Ini merupakan karuniaNya yang paling utama dan tempat-tempat kemurahan dan kebaikanNya yang paling utama,﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿ "dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," Dia menge-tahui siapa yang berhak menerima keutamaan dan penghormatan, hingga Dia meletakkan keutamaanNya itu yang didasari oleh hik-mahNya yang pasti. Ketika Allah menetapkan keagungan keluarga tersebut lalu Allah menyebutkan kisah Maryam dan putranya, Isa عليه السلام, dan bagaimana turun temurunnya dari keluarga yang mulia ini, dan bagaimana silih bergantinya keadaan keduanya dari awal hingga akhirnya, dan bahwa istri Imran berkata seraya tunduk kepada Rabbnya dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan persembahan yang Dia cintai, yang mengandung pengagungan terhadap rumahNya dan konsistensi dalam ketaatanNya, (istri Imran berkata), ﴾ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا ﴿ "Sesungguhnya aku mena-dzarkan kepadaMu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)," yakni, sebagai pelayan bagi rumah ibadah yang dipenuhi dengan ahli-ahli ibadah. ﴾ فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ ﴿ "Karena itu terimalah (nadzar) itu dari padaku," yakni perbuatan ini, maksudnya, jadikanlah ia di atas dasar keimanan dan keikhlasan yang membuahkan kebaikan dan pahala. ﴾ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ 35 ﴿ "Se-sungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." ﴾ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ ﴿ "Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan;' dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan." Seolah-olah dalam perkataan ini menyim-pan makna ketundukan dan jiwa yang pasrah, di mana nadzarnya itu didasari oleh harapan anak itu adalah laki-laki yang memiliki kekuatan dan pelayanan, serta pelaksanaan terhadap hal itu seba-gaimana yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang kuat, se-dangkan anak wanita tidak seperti itu, lalu Allah menguatkan hatinya dan menerima nadzarnya. Anak wanita itu bahkan menjadi lebih sempurna dan lebih baik dari kebanyakan anak laki-laki, bahkan dari mayoritas mereka, lalu maksud-maksud yang dikehendaki tercapai dengan lebih baik daripada yang diperoleh oleh anak laki-laki. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا ﴿ "Maka Rabbnya meneri-manya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik." Artinya ia dididik dengan didikan yang mengagumkan, baik agama, akhlak maupun bahasanya, di mana dengannya sempurnalah kondisinya, baiklah perkataan dan perbuatannya, kesempurnaannya tumbuh padanya, lalu Allah memudahkannya dengan Zakaria sebagai pemeliharanya. Ini meru-pakan karunia Allah atas hambaNya yaitu menjadikan orang yang menjadi pemeliharanya dari orang-orang yang terbaik dan shalih. Kemudian Allah تعالى memuliakan Maryam dan Zakaria di mana Allah memudahkan bagi Maryam rizki yang diperoleh tanpa keringat dan lelah, hal itu adalah sebuah karamah sebagai kemuliaan dari Allah untuknya, karena ﴾ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab," yakni tempat untuk ibadah, dan di sini terkandung isyarat akan banyaknya shalat yang dilaku-kan Maryam dan konsistensinya terhadap tempat ibadah tersebut, ﴾ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ ﴿ "maka dia mendapati makanan di sisinya" dengan nikmat dan tersedia. Zakaria berkata, ﴾ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ ﴿ "Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" ﴾ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ﴿ "Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab." Ketika Zakaria menyaksikan kondisi tersebut, kebaikan dan seperti itulah kasih Allah terhadap Maryam, maka itu mengingat-kan dirinya untuk memohon kepada Allah تعالى seorang anak laki-laki, dalam kondisinya yang hampir putus asa seraya berkata, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." ﴾ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Ke-mudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggem-birakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu), Yahya, yang mem-benarkan kalimat (yang datang) dari Allah," yakni, namanya (Yahya), dan kalimat yang datangnya dari Allah adalah Isa Ibnu Maryam, berita gembira itu adalah dengan Nabi yang mulia tersebut yang mengandung juga berita gembira dengan Isa Ibnu Maryam, sebagai pembenaran dan kesaksian tentang kerasulannya. Kalimat tersebut dari Allah, merupakan kalimat yang mulia di mana Allah mengkhususkan Isa Ibnu Maryam dengannya, bila tidak demikian, maka kalimat itu merupakan salah satu kalimatNya di mana dengannya Allah menciptakan segala makhluk, sebagai-mana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٖ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ 59 ﴿ "Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemu-dian Allah berfirman kepadanya, 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadi-lah dia." (Ali Imran: 59). Dan FirmanNya, ﴾ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا ﴿ "Menjadi ikutan dan menahan diri (dari hawa nafsu)." Artinya yang menjadi obyek berita gembira itu adalah Yahya yang merupakan panutan dari Rasul-rasul yang mulia dan yang terhormat, dan menahan diri (hashur), artinya, yang tidak bisa punya anak dan tidak berkehendak kepada wanita. Pendapat lain mengatakan orang yang dijaga dan diselamatkan dari dosa dan hawa nafsu yang menjerumuskan, dan yang terakhir inilah yang paling sesuai dari kedua makna tersebut. ﴾ وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih", maksud-nya, orang-orang yang mencapai puncak kebaikan yang tinggi. ﴾ قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَقَدۡ بَلَغَنِيَ ٱلۡكِبَرُ وَٱمۡرَأَتِي عَاقِرٞۖ ﴿ "Zakaria berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?'" Kedua hal itu merupakan penghalang, karena itu dari jalan manakah wahai Tuhan, saya mendapatkan anak tersebut padahal ada penghalangnya? ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya'." Bahwasanya sebagaimana telah berlaku hikmah-Nya dengan berjalannya segala sesuatu itu menurut sebab-sebabnya yang wajar, maka Allah juga terkadang merubah (hukum alam) tersebut karena Allah Maha Berbuat apa yang dikehendakiNya, di mana segala sebab telah patuh pada kekuasaanNya, kehendakNya dan keinginanNya terealisasikan padanya, dan tidak ada suatu sebab pun yang bisa menyalahi titahNya walaupun memiliki ke-kuatan yang besar sekalipun. ﴾ قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ ﴿ "Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)'," agar saya mendapatkan kebahagiaan dan rasa senang, walaupun sebenarnya saya yakin akan apa yang Engkau kabarkan wahai Rabbku. Akan tetapi agar jiwa ini senang dan hati ini tenang dengan pendahuluan-pendahuluan rahmat dan kasih sayang. ﴾ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمۡزٗاۗ ﴿ "Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat'," dan dalam masa itu, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِيرٗا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertas-bihlah di waktu petang dan pagi hari," yakni, awal hari dan di akhir-nya. Zakaria terlarang dari berbicara dengan orang lain pada masa tersebut, dan itu sesuai untuk didapatkannya seorang anak dari seorang suami yang telah tua dan istri yang mandul, keadaannya yang tidak mampu berbicara dengan orang lain padahal lisannya lancar berdzikir kepada Allah dan memujiNya adalah merupakan tanda yang lain. Maka ketika itulah ia mendapat kebahagiaan dan kesenangan tersebut, lalu ia bersyukur kepada Allah, dan ia mem-perbanyak dzikir dan tasbih pada saat petang maupun pagi hari. Dan anak bayi tersebut merupakan berkah dari Maryam binti Imran terhadap Zakaria. Karena apa yang Allah karuniakan atas Maryam berupa rizki yang banyak yang hadir tanpa hisab, meng-ingatkannya dan mengobarkannya untuk bermunajat dan memohon. Sedang Allah تعالى adalah Maha Memberi penyebab maupun aki-batnya, namun Allah menentukan beberapa perkara yang disukai, terjadi pada orang yang dicintaiNya, agar Allah mengangkat ke-hormatannya dan melimpahkan pahalanya. Allah تعالى kembali menyebutkan kisah Maryam, yaitu bahwa Maryam itu telah mencapai puncak ibadah dan kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu'." Maksudnya, Allah memilihmu dan memberikan kepadamu sifat-sifat yang mulia dan akhlak-akhlak yang luhur, ﴾ وَطَهَّرَكِ ﴿ "dan menyucikan kamu" dari akhlak-akhlak yang hina, ﴾ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ. وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Telah banyak yang mencapai kesempurnaan dari para laki-laki, namun belum mencapai kesempurnaan dari para wanita kecuali Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid; dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan daging yang dilapisi adonan[1] atas seluruh makanan yang ada."[2] Kemudian Malaikat menyeru Maryam atas perintah Allah untuknya agar ia menerima nikmat-nikmat Allah dan ia bersyukur kepada Allah, kemudian menunaikan segala hak-hakNya, dan me-nyibukkan diri untuk melayaniNya. Karena itu malaikat berkata, ﴾ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ ﴿ "Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu," artinya, per-banyaklah ketaatan, ketundukan, dan kekhusyu'an kepada Rabbmu lalu konsistenlah atas hal tersebut, ﴾ وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ﴿ "dan rukuklah ber-sama orang-orang yang rukuk," yakni shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Lalu ia menunaikan segala perkara yang diperintahkan hingga ia menjadi mulia dan istimewa dalam kesempurnaannya. Kisah ini dan kisah-kisah lainnya merupakan dalil yang paling besar atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ di mana beliau menga-barkan tentang kisah tersebut secara terperinci lagi autentik yang tidak ada penambahan maupun pengurangan padanya. Semua itu karena ia merupakan wahyu dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan bukan karena belajar dari manusia. Allah تعالى berfirman,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam," yaitu ketika ibunya membawanya kepada kaumnya, lalu mereka berselisih siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam, karena ia adalah anak wanita pemimpin mereka dan tokoh mereka, sedang mereka semua menginginkan kebaikan dan pahala dari Allah, hingga terjadilah perselisihan yang sengit, yang akhirnya mereka harus mengadakan undian atasnya, lalu mereka melemparkan pena-pena mereka seraya mengundi dan ternyata undian itu jatuh pada Zakaria sebagai suatu rahmat dari Allah untuknya dan untuk anak wanita Imran tersebut. Maka engkau -wahai Rasul- tidak hadir saat itu hingga eng-kau mengetahuinya dan menceritakannya kepada manusia, akan tetapi Allah yang mengabarkan kepadamu tentang kisah tersebut. Inilah maksud terbesar dari adanya kisah-kisah dalam al-Qur`an yaitu bahwasanya ia menjadi pelajaran bagi manusia. Dan pela-jaran yang paling agung adalah berdalil dengannya atas tauhid, kerasulan, kebangkitan kembali, dari pokok-pokok Agama lainnya. ﴾ إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, se-sungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dariNya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)'." Maksudnya, ia mempunyai kedudukan dan posisi yang agung di dunia dan akhirat di antara para makhluk. Di samping itu, dia termasuk di antara makhluk Allah yang paling dekat kepadaNya dan paling tinggi derajatnya. Ini merupakan kabar gembira yang tidak dapat disamakan dengan kabar-kabar gembira lainnya. Dan di antara kesempurnaan dari kabar gembira itu adalah bahwa dia ﴾ ي ُ ك َ ل ّ ِ م ُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ ﴿ "berbicara dengan manusia dalam buaian", sehingga kemampuan berbicara saat dalam buaian itu merupakan tanda kebesaran di antara tanda-tanda kebesaran Allah dan rahmat dariNya kepada ibunya dan kepada manusia seluruhnya. Demikian juga ia berbicara dengan mereka ﴾ وَكَهۡلٗا ﴿ "ketika sudah dewasa", yaitu pada saat ia telah besar. Ini merupakan ungkapan kenabian, dakwah, dan bimbingan. Berbicaranya saat dalam buaian merupakan tanda kebesaran dan keterangan yang jelas atas kebenarannya, kenabiannya, dan ter-bebasnya ibunya dari segala sangkaan buruk yang ditudingkan kepadanya. Dan pembicaraannya saat telah dewasa mengandung manfaat yang besar bagi manusia, dan bahwa ia adalah perantara antara manusia dengan Tuhan mereka dalam hal wahyuNya dan penyampaian agama dan syariatNya. Di samping itu juga ia ﴾ م ِ ن َ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "adalah termasuk orang-orang yang shalih", yakni, orang-orang yang hati mereka diberikan keshalihan oleh Allah dengan mengenal dan mencintaiNya, dan lisan mereka diberikan keshalihan dengan pujian atasNya dan dzikir kepadaNya, dan tubuh mereka diberikan keshalihan dengan ketaatan kepadaNya dan melayaniNya. Dan FirmanNya, ﴾ قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ ﴿ "Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun?'" Ini merupakan perkara yang aneh. ﴾ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya'," untuk memberitakan kepada hamba-hambaNya bahwa Dia adalah Maha-kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada penghalang bagi kehendak-Nya. ﴾ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia." ﴾ وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab," yaitu, kitab-kitab terdahulu pada umumnya yang memutuskan hukum di antara manusia, dan Allah memberikan kepadanya ke-nabian lalu Allah menjadikannya ﴾ وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "(sebagai) Rasul kepada Bani Israil." Allah mengukuhkannya dengan ayat-ayat yang jelas serta dalil-dalil yang tegas di mana dia berkata, ﴾ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu," yang menjelaskan kepada kalian bahwa aku adalah benar-benar seorang Rasul Allah. Yang demikian itu,﴾ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ ﴿ "bahwa aku membuat untuk kamu dari tanah ber-bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya," yakni yang kedua matanya cacat, hilang pandangannya dan buta, ﴾ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demi-kian itu," yakni hal-hal yang telah disebutkan, ﴾ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 49 وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepada-mu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku." Allah mengukuhkan beliau dengan dua bentuk ayat dan bukti nyata yaitu hal-hal di luar kebiasaan yang tidak mungkin dilaku-kan oleh selain nabi untuk menghadirkannya, juga kerasulan dan dakwah serta agama yang dibawa olehnya yang mana ajaran itu adalah agama Taurat dan agama nabi-nabi sebelumnya. Ini meru-pakan dalil yang paling besar atas kebenaran orang-orang yang benar, karena seandainya ia di antara orang-orang yang dusta, niscaya pasti ia akan menyalahi apa yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya dan akan menyimpang dari mereka dalam masalah-masalah akidah dan hukum-hukum mereka. Dengan demikian diketahuilah bahwa beliau adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau adalah benar, yang tidak ada keraguan padanya. Juga perkataannya, ﴾ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu," yakni, agar saya meringankan dari kalian beberapa beban dan tanggung jawab. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ 50 إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia." Ini adalah ajaran yang di-serukan oleh seluruh Rasul, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya dan taat kepada mereka, dan inilah jalan yang lurus di mana orang yang menempuhnya akan menghantarkannya kepada surga yang penuh nikmat. Saat itulah sikap kelompok-kelompok Bani Israil terpecah terhadap Nabi Isa عليه السلام. Di antara mereka ada yang beriman kepada beliau dan mengikuti beliau, dan di antara mereka ada yang kafir kepada beliau, mendustai beliau dan memfitnah ibu beliau sebagai seorang yang melakukan kekejian, sebagaimana (yang dilakukan orang-orang) Yahudi. ﴾ فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ ﴿ "Maka tatkala Isa me-ngetahui keingkaran mereka (Bani lsrail)" dan sepakat dalam menolak dakwah beliau, ﴾ قَالَ ﴿ "Isa berkata" seraya menyeru Bani Israil untuk menjadi penolongnya, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab," yakni orang-orang yang membela, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kamilah peno-long-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikan-lah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." Ini merupakan anugerah Allah atas mereka dan khususnya atas Nabi Isa عليه السلام, di mana Allah telah menjadikan para hawariyyun tersebut beriman kepadaNya, tunduk dalam ketaatan kepadaNya dan membela RasulNya. ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul." Ini adalah suatu integritas yang sempurna dalam beriman kepada seluruh hal yang diturunkan oleh Allah dan dalam menaati RasulNya. ﴾ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Karena itu masuk-kanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi" bagiMu dengan keesaan dan bagi RasulMu dengan kerasulan serta bagi agamaMu dengan kebenaran dan kejujuran. Adapun orang-orang yang dirasakan oleh Isa عليه السلام penging-karan mereka, sedang mereka itu adalah sebagian besar Bani Israil, maka mereka ﴾ وَمَكَرُواْ ﴿ "membuat tipu daya" terhadap Nabi Isa, ﴾ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ ﴿ "dan Allah membalas tipu daya itu" terhadap mereka, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." Mereka bersepakat untuk membunuh dan menyalibnya, namun dijadikan buat mereka orang yang serupa dengan Nabi Isa lalu mereka me-nangkap orang yang serupa tersebut, dan Allah berfirman kepada Isa, ﴾ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." Lalu Allah mengangkatnya kepadaNya dan membersihkannya dari orang-orang kafir, dan orang-orang kafir itu menyalib orang yang telah mereka bunuh tersebut seraya menduga bahwa orang yang mereka salib itu adalah Isa عليه السلام, dan mereka justru menanggung dosa yang besar. Dan Isa Ibnu Maryam عليه السلام akan turun kembali di akhir masa umat ini sebagai hakim yang adil, ia akan membunuh babi, meng-hancurkan salib dan ia akan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Orang-orang yang berdusta itu akan mengetahui keterpedayaan dan ketertipuan mereka yaitu bahwa mereka itu telah terpedaya dan tertipu. Dan FirmanNya,﴾ وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ فَوۡقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ ﴿ "Dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat." Yang dimaksud orang-orang yang mengikutinya adalah kelompok yang telah beriman kepada beliau, dan Allah membela mereka atas orang-orang yang menyimpang dari agamaNya. Kemudian ketika umat Muhammad ﷺ tiba, mereka itu benar-benar mengikutinya hingga Allah me-nguatkan mereka dan membela mereka atas orang-orang yang kafir secara keseluruhan, dan Allah memenangkan mereka dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka. ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." (An-Nur: 55). Akan tetapi hikmah Allah itu adil, yaitu bahwasanya hikmah-Nya berlaku bagi siapa yang berpegang teguh dengan Agama, niscaya Allah akan membelanya dengan pembelaan yang nyata, dan bahwa orang yang meninggalkan perintahNya dan melanggar laranganNya, melemparkan syariatNya dan berani lancang berbuat kemaksiatan kepadaNya, niscaya Dia akan menghukumnya dan akan membuat musuh-musuhnya menguasainya. Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana. Dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأَحۡكُمُ بَيۡنَكُمۡ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." Kemudian Allah menjelaskan tentang apa yang dilakukanNya terhadap mereka, seraya berfirman,

Ali 'Imran 3:35

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (ke-turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri 'Imran berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepadaMu anak yang dalam kan-dunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis), karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' Maka tatkala istri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perem-puan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari setan yang terkutuk.' Maka Rabbnya menerimanya (se-bagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria seba-gai pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, maka ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria ber-kata, 'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnya seraya ber-kata, 'Ya Rabbku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.' Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenar-kan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shalih.' Zakaria berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul.' Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.' Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).' Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manu-sia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.' Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.' Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari padaNya, namanya al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.' Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.' Allah berfirman (de-ngan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sung-guh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu de-ngan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.' Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia, 'Siapakah yang akan menjadi peno-long-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah.' Para hawa-riyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksi-kanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang ber-serah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).' Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu serta membersih-kan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu ber-selisih padanya'." (Ali Imran: 33-55). (33-55) Allah memiliki hamba-hamba pilihan dari seluruh hamba-hambaNya. Dia memilih mereka, memilah mereka dan mengaruniakan atas mereka keutamaan-keutamaan yang tinggi, sifat-sifat yang luhur, ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal perbuatan yang shalih, dan keistimewaan-keistimewaan yang bermacam-macam. Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut dan apa yang di dalamnya berupa manusia-manusia agung yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan bahwasanya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak cucu mereka, yang mencakup laki-laki maupun wanita di antara mereka. Ini merupakan karuniaNya yang paling utama dan tempat-tempat kemurahan dan kebaikanNya yang paling utama,﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿ "dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," Dia menge-tahui siapa yang berhak menerima keutamaan dan penghormatan, hingga Dia meletakkan keutamaanNya itu yang didasari oleh hik-mahNya yang pasti. Ketika Allah menetapkan keagungan keluarga tersebut lalu Allah menyebutkan kisah Maryam dan putranya, Isa عليه السلام, dan bagaimana turun temurunnya dari keluarga yang mulia ini, dan bagaimana silih bergantinya keadaan keduanya dari awal hingga akhirnya, dan bahwa istri Imran berkata seraya tunduk kepada Rabbnya dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan persembahan yang Dia cintai, yang mengandung pengagungan terhadap rumahNya dan konsistensi dalam ketaatanNya, (istri Imran berkata), ﴾ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا ﴿ "Sesungguhnya aku mena-dzarkan kepadaMu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)," yakni, sebagai pelayan bagi rumah ibadah yang dipenuhi dengan ahli-ahli ibadah. ﴾ فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ ﴿ "Karena itu terimalah (nadzar) itu dari padaku," yakni perbuatan ini, maksudnya, jadikanlah ia di atas dasar keimanan dan keikhlasan yang membuahkan kebaikan dan pahala. ﴾ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ 35 ﴿ "Se-sungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." ﴾ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ ﴿ "Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan;' dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan." Seolah-olah dalam perkataan ini menyim-pan makna ketundukan dan jiwa yang pasrah, di mana nadzarnya itu didasari oleh harapan anak itu adalah laki-laki yang memiliki kekuatan dan pelayanan, serta pelaksanaan terhadap hal itu seba-gaimana yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang kuat, se-dangkan anak wanita tidak seperti itu, lalu Allah menguatkan hatinya dan menerima nadzarnya. Anak wanita itu bahkan menjadi lebih sempurna dan lebih baik dari kebanyakan anak laki-laki, bahkan dari mayoritas mereka, lalu maksud-maksud yang dikehendaki tercapai dengan lebih baik daripada yang diperoleh oleh anak laki-laki. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا ﴿ "Maka Rabbnya meneri-manya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik." Artinya ia dididik dengan didikan yang mengagumkan, baik agama, akhlak maupun bahasanya, di mana dengannya sempurnalah kondisinya, baiklah perkataan dan perbuatannya, kesempurnaannya tumbuh padanya, lalu Allah memudahkannya dengan Zakaria sebagai pemeliharanya. Ini meru-pakan karunia Allah atas hambaNya yaitu menjadikan orang yang menjadi pemeliharanya dari orang-orang yang terbaik dan shalih. Kemudian Allah تعالى memuliakan Maryam dan Zakaria di mana Allah memudahkan bagi Maryam rizki yang diperoleh tanpa keringat dan lelah, hal itu adalah sebuah karamah sebagai kemuliaan dari Allah untuknya, karena ﴾ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab," yakni tempat untuk ibadah, dan di sini terkandung isyarat akan banyaknya shalat yang dilaku-kan Maryam dan konsistensinya terhadap tempat ibadah tersebut, ﴾ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ ﴿ "maka dia mendapati makanan di sisinya" dengan nikmat dan tersedia. Zakaria berkata, ﴾ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ ﴿ "Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" ﴾ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ﴿ "Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab." Ketika Zakaria menyaksikan kondisi tersebut, kebaikan dan seperti itulah kasih Allah terhadap Maryam, maka itu mengingat-kan dirinya untuk memohon kepada Allah تعالى seorang anak laki-laki, dalam kondisinya yang hampir putus asa seraya berkata, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." ﴾ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Ke-mudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggem-birakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu), Yahya, yang mem-benarkan kalimat (yang datang) dari Allah," yakni, namanya (Yahya), dan kalimat yang datangnya dari Allah adalah Isa Ibnu Maryam, berita gembira itu adalah dengan Nabi yang mulia tersebut yang mengandung juga berita gembira dengan Isa Ibnu Maryam, sebagai pembenaran dan kesaksian tentang kerasulannya. Kalimat tersebut dari Allah, merupakan kalimat yang mulia di mana Allah mengkhususkan Isa Ibnu Maryam dengannya, bila tidak demikian, maka kalimat itu merupakan salah satu kalimatNya di mana dengannya Allah menciptakan segala makhluk, sebagai-mana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٖ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ 59 ﴿ "Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemu-dian Allah berfirman kepadanya, 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadi-lah dia." (Ali Imran: 59). Dan FirmanNya, ﴾ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا ﴿ "Menjadi ikutan dan menahan diri (dari hawa nafsu)." Artinya yang menjadi obyek berita gembira itu adalah Yahya yang merupakan panutan dari Rasul-rasul yang mulia dan yang terhormat, dan menahan diri (hashur), artinya, yang tidak bisa punya anak dan tidak berkehendak kepada wanita. Pendapat lain mengatakan orang yang dijaga dan diselamatkan dari dosa dan hawa nafsu yang menjerumuskan, dan yang terakhir inilah yang paling sesuai dari kedua makna tersebut. ﴾ وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih", maksud-nya, orang-orang yang mencapai puncak kebaikan yang tinggi. ﴾ قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَقَدۡ بَلَغَنِيَ ٱلۡكِبَرُ وَٱمۡرَأَتِي عَاقِرٞۖ ﴿ "Zakaria berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?'" Kedua hal itu merupakan penghalang, karena itu dari jalan manakah wahai Tuhan, saya mendapatkan anak tersebut padahal ada penghalangnya? ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya'." Bahwasanya sebagaimana telah berlaku hikmah-Nya dengan berjalannya segala sesuatu itu menurut sebab-sebabnya yang wajar, maka Allah juga terkadang merubah (hukum alam) tersebut karena Allah Maha Berbuat apa yang dikehendakiNya, di mana segala sebab telah patuh pada kekuasaanNya, kehendakNya dan keinginanNya terealisasikan padanya, dan tidak ada suatu sebab pun yang bisa menyalahi titahNya walaupun memiliki ke-kuatan yang besar sekalipun. ﴾ قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ ﴿ "Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)'," agar saya mendapatkan kebahagiaan dan rasa senang, walaupun sebenarnya saya yakin akan apa yang Engkau kabarkan wahai Rabbku. Akan tetapi agar jiwa ini senang dan hati ini tenang dengan pendahuluan-pendahuluan rahmat dan kasih sayang. ﴾ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمۡزٗاۗ ﴿ "Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat'," dan dalam masa itu, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِيرٗا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertas-bihlah di waktu petang dan pagi hari," yakni, awal hari dan di akhir-nya. Zakaria terlarang dari berbicara dengan orang lain pada masa tersebut, dan itu sesuai untuk didapatkannya seorang anak dari seorang suami yang telah tua dan istri yang mandul, keadaannya yang tidak mampu berbicara dengan orang lain padahal lisannya lancar berdzikir kepada Allah dan memujiNya adalah merupakan tanda yang lain. Maka ketika itulah ia mendapat kebahagiaan dan kesenangan tersebut, lalu ia bersyukur kepada Allah, dan ia mem-perbanyak dzikir dan tasbih pada saat petang maupun pagi hari. Dan anak bayi tersebut merupakan berkah dari Maryam binti Imran terhadap Zakaria. Karena apa yang Allah karuniakan atas Maryam berupa rizki yang banyak yang hadir tanpa hisab, meng-ingatkannya dan mengobarkannya untuk bermunajat dan memohon. Sedang Allah تعالى adalah Maha Memberi penyebab maupun aki-batnya, namun Allah menentukan beberapa perkara yang disukai, terjadi pada orang yang dicintaiNya, agar Allah mengangkat ke-hormatannya dan melimpahkan pahalanya. Allah تعالى kembali menyebutkan kisah Maryam, yaitu bahwa Maryam itu telah mencapai puncak ibadah dan kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu'." Maksudnya, Allah memilihmu dan memberikan kepadamu sifat-sifat yang mulia dan akhlak-akhlak yang luhur, ﴾ وَطَهَّرَكِ ﴿ "dan menyucikan kamu" dari akhlak-akhlak yang hina, ﴾ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ. وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Telah banyak yang mencapai kesempurnaan dari para laki-laki, namun belum mencapai kesempurnaan dari para wanita kecuali Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid; dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan daging yang dilapisi adonan[1] atas seluruh makanan yang ada."[2] Kemudian Malaikat menyeru Maryam atas perintah Allah untuknya agar ia menerima nikmat-nikmat Allah dan ia bersyukur kepada Allah, kemudian menunaikan segala hak-hakNya, dan me-nyibukkan diri untuk melayaniNya. Karena itu malaikat berkata, ﴾ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ ﴿ "Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu," artinya, per-banyaklah ketaatan, ketundukan, dan kekhusyu'an kepada Rabbmu lalu konsistenlah atas hal tersebut, ﴾ وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ﴿ "dan rukuklah ber-sama orang-orang yang rukuk," yakni shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Lalu ia menunaikan segala perkara yang diperintahkan hingga ia menjadi mulia dan istimewa dalam kesempurnaannya. Kisah ini dan kisah-kisah lainnya merupakan dalil yang paling besar atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ di mana beliau menga-barkan tentang kisah tersebut secara terperinci lagi autentik yang tidak ada penambahan maupun pengurangan padanya. Semua itu karena ia merupakan wahyu dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan bukan karena belajar dari manusia. Allah تعالى berfirman,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam," yaitu ketika ibunya membawanya kepada kaumnya, lalu mereka berselisih siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam, karena ia adalah anak wanita pemimpin mereka dan tokoh mereka, sedang mereka semua menginginkan kebaikan dan pahala dari Allah, hingga terjadilah perselisihan yang sengit, yang akhirnya mereka harus mengadakan undian atasnya, lalu mereka melemparkan pena-pena mereka seraya mengundi dan ternyata undian itu jatuh pada Zakaria sebagai suatu rahmat dari Allah untuknya dan untuk anak wanita Imran tersebut. Maka engkau -wahai Rasul- tidak hadir saat itu hingga eng-kau mengetahuinya dan menceritakannya kepada manusia, akan tetapi Allah yang mengabarkan kepadamu tentang kisah tersebut. Inilah maksud terbesar dari adanya kisah-kisah dalam al-Qur`an yaitu bahwasanya ia menjadi pelajaran bagi manusia. Dan pela-jaran yang paling agung adalah berdalil dengannya atas tauhid, kerasulan, kebangkitan kembali, dari pokok-pokok Agama lainnya. ﴾ إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, se-sungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dariNya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)'." Maksudnya, ia mempunyai kedudukan dan posisi yang agung di dunia dan akhirat di antara para makhluk. Di samping itu, dia termasuk di antara makhluk Allah yang paling dekat kepadaNya dan paling tinggi derajatnya. Ini merupakan kabar gembira yang tidak dapat disamakan dengan kabar-kabar gembira lainnya. Dan di antara kesempurnaan dari kabar gembira itu adalah bahwa dia ﴾ ي ُ ك َ ل ّ ِ م ُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ ﴿ "berbicara dengan manusia dalam buaian", sehingga kemampuan berbicara saat dalam buaian itu merupakan tanda kebesaran di antara tanda-tanda kebesaran Allah dan rahmat dariNya kepada ibunya dan kepada manusia seluruhnya. Demikian juga ia berbicara dengan mereka ﴾ وَكَهۡلٗا ﴿ "ketika sudah dewasa", yaitu pada saat ia telah besar. Ini merupakan ungkapan kenabian, dakwah, dan bimbingan. Berbicaranya saat dalam buaian merupakan tanda kebesaran dan keterangan yang jelas atas kebenarannya, kenabiannya, dan ter-bebasnya ibunya dari segala sangkaan buruk yang ditudingkan kepadanya. Dan pembicaraannya saat telah dewasa mengandung manfaat yang besar bagi manusia, dan bahwa ia adalah perantara antara manusia dengan Tuhan mereka dalam hal wahyuNya dan penyampaian agama dan syariatNya. Di samping itu juga ia ﴾ م ِ ن َ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "adalah termasuk orang-orang yang shalih", yakni, orang-orang yang hati mereka diberikan keshalihan oleh Allah dengan mengenal dan mencintaiNya, dan lisan mereka diberikan keshalihan dengan pujian atasNya dan dzikir kepadaNya, dan tubuh mereka diberikan keshalihan dengan ketaatan kepadaNya dan melayaniNya. Dan FirmanNya, ﴾ قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ ﴿ "Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun?'" Ini merupakan perkara yang aneh. ﴾ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya'," untuk memberitakan kepada hamba-hambaNya bahwa Dia adalah Maha-kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada penghalang bagi kehendak-Nya. ﴾ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia." ﴾ وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab," yaitu, kitab-kitab terdahulu pada umumnya yang memutuskan hukum di antara manusia, dan Allah memberikan kepadanya ke-nabian lalu Allah menjadikannya ﴾ وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "(sebagai) Rasul kepada Bani Israil." Allah mengukuhkannya dengan ayat-ayat yang jelas serta dalil-dalil yang tegas di mana dia berkata, ﴾ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu," yang menjelaskan kepada kalian bahwa aku adalah benar-benar seorang Rasul Allah. Yang demikian itu,﴾ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ ﴿ "bahwa aku membuat untuk kamu dari tanah ber-bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya," yakni yang kedua matanya cacat, hilang pandangannya dan buta, ﴾ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demi-kian itu," yakni hal-hal yang telah disebutkan, ﴾ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 49 وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepada-mu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku." Allah mengukuhkan beliau dengan dua bentuk ayat dan bukti nyata yaitu hal-hal di luar kebiasaan yang tidak mungkin dilaku-kan oleh selain nabi untuk menghadirkannya, juga kerasulan dan dakwah serta agama yang dibawa olehnya yang mana ajaran itu adalah agama Taurat dan agama nabi-nabi sebelumnya. Ini meru-pakan dalil yang paling besar atas kebenaran orang-orang yang benar, karena seandainya ia di antara orang-orang yang dusta, niscaya pasti ia akan menyalahi apa yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya dan akan menyimpang dari mereka dalam masalah-masalah akidah dan hukum-hukum mereka. Dengan demikian diketahuilah bahwa beliau adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau adalah benar, yang tidak ada keraguan padanya. Juga perkataannya, ﴾ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu," yakni, agar saya meringankan dari kalian beberapa beban dan tanggung jawab. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ 50 إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia." Ini adalah ajaran yang di-serukan oleh seluruh Rasul, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya dan taat kepada mereka, dan inilah jalan yang lurus di mana orang yang menempuhnya akan menghantarkannya kepada surga yang penuh nikmat. Saat itulah sikap kelompok-kelompok Bani Israil terpecah terhadap Nabi Isa عليه السلام. Di antara mereka ada yang beriman kepada beliau dan mengikuti beliau, dan di antara mereka ada yang kafir kepada beliau, mendustai beliau dan memfitnah ibu beliau sebagai seorang yang melakukan kekejian, sebagaimana (yang dilakukan orang-orang) Yahudi. ﴾ فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ ﴿ "Maka tatkala Isa me-ngetahui keingkaran mereka (Bani lsrail)" dan sepakat dalam menolak dakwah beliau, ﴾ قَالَ ﴿ "Isa berkata" seraya menyeru Bani Israil untuk menjadi penolongnya, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab," yakni orang-orang yang membela, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kamilah peno-long-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikan-lah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." Ini merupakan anugerah Allah atas mereka dan khususnya atas Nabi Isa عليه السلام, di mana Allah telah menjadikan para hawariyyun tersebut beriman kepadaNya, tunduk dalam ketaatan kepadaNya dan membela RasulNya. ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul." Ini adalah suatu integritas yang sempurna dalam beriman kepada seluruh hal yang diturunkan oleh Allah dan dalam menaati RasulNya. ﴾ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Karena itu masuk-kanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi" bagiMu dengan keesaan dan bagi RasulMu dengan kerasulan serta bagi agamaMu dengan kebenaran dan kejujuran. Adapun orang-orang yang dirasakan oleh Isa عليه السلام penging-karan mereka, sedang mereka itu adalah sebagian besar Bani Israil, maka mereka ﴾ وَمَكَرُواْ ﴿ "membuat tipu daya" terhadap Nabi Isa, ﴾ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ ﴿ "dan Allah membalas tipu daya itu" terhadap mereka, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." Mereka bersepakat untuk membunuh dan menyalibnya, namun dijadikan buat mereka orang yang serupa dengan Nabi Isa lalu mereka me-nangkap orang yang serupa tersebut, dan Allah berfirman kepada Isa, ﴾ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." Lalu Allah mengangkatnya kepadaNya dan membersihkannya dari orang-orang kafir, dan orang-orang kafir itu menyalib orang yang telah mereka bunuh tersebut seraya menduga bahwa orang yang mereka salib itu adalah Isa عليه السلام, dan mereka justru menanggung dosa yang besar. Dan Isa Ibnu Maryam عليه السلام akan turun kembali di akhir masa umat ini sebagai hakim yang adil, ia akan membunuh babi, meng-hancurkan salib dan ia akan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Orang-orang yang berdusta itu akan mengetahui keterpedayaan dan ketertipuan mereka yaitu bahwa mereka itu telah terpedaya dan tertipu. Dan FirmanNya,﴾ وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ فَوۡقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ ﴿ "Dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat." Yang dimaksud orang-orang yang mengikutinya adalah kelompok yang telah beriman kepada beliau, dan Allah membela mereka atas orang-orang yang menyimpang dari agamaNya. Kemudian ketika umat Muhammad ﷺ tiba, mereka itu benar-benar mengikutinya hingga Allah me-nguatkan mereka dan membela mereka atas orang-orang yang kafir secara keseluruhan, dan Allah memenangkan mereka dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka. ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." (An-Nur: 55). Akan tetapi hikmah Allah itu adil, yaitu bahwasanya hikmah-Nya berlaku bagi siapa yang berpegang teguh dengan Agama, niscaya Allah akan membelanya dengan pembelaan yang nyata, dan bahwa orang yang meninggalkan perintahNya dan melanggar laranganNya, melemparkan syariatNya dan berani lancang berbuat kemaksiatan kepadaNya, niscaya Dia akan menghukumnya dan akan membuat musuh-musuhnya menguasainya. Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana. Dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأَحۡكُمُ بَيۡنَكُمۡ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." Kemudian Allah menjelaskan tentang apa yang dilakukanNya terhadap mereka, seraya berfirman,

Ali 'Imran 3:36

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (ke-turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri 'Imran berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepadaMu anak yang dalam kan-dunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis), karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' Maka tatkala istri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perem-puan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari setan yang terkutuk.' Maka Rabbnya menerimanya (se-bagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria seba-gai pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, maka ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria ber-kata, 'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnya seraya ber-kata, 'Ya Rabbku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.' Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenar-kan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shalih.' Zakaria berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul.' Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.' Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).' Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manu-sia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.' Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.' Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari padaNya, namanya al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.' Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.' Allah berfirman (de-ngan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sung-guh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu de-ngan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.' Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia, 'Siapakah yang akan menjadi peno-long-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah.' Para hawa-riyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksi-kanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang ber-serah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).' Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu serta membersih-kan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu ber-selisih padanya'." (Ali Imran: 33-55). (33-55) Allah memiliki hamba-hamba pilihan dari seluruh hamba-hambaNya. Dia memilih mereka, memilah mereka dan mengaruniakan atas mereka keutamaan-keutamaan yang tinggi, sifat-sifat yang luhur, ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal perbuatan yang shalih, dan keistimewaan-keistimewaan yang bermacam-macam. Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut dan apa yang di dalamnya berupa manusia-manusia agung yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan bahwasanya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak cucu mereka, yang mencakup laki-laki maupun wanita di antara mereka. Ini merupakan karuniaNya yang paling utama dan tempat-tempat kemurahan dan kebaikanNya yang paling utama,﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿ "dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," Dia menge-tahui siapa yang berhak menerima keutamaan dan penghormatan, hingga Dia meletakkan keutamaanNya itu yang didasari oleh hik-mahNya yang pasti. Ketika Allah menetapkan keagungan keluarga tersebut lalu Allah menyebutkan kisah Maryam dan putranya, Isa عليه السلام, dan bagaimana turun temurunnya dari keluarga yang mulia ini, dan bagaimana silih bergantinya keadaan keduanya dari awal hingga akhirnya, dan bahwa istri Imran berkata seraya tunduk kepada Rabbnya dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan persembahan yang Dia cintai, yang mengandung pengagungan terhadap rumahNya dan konsistensi dalam ketaatanNya, (istri Imran berkata), ﴾ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا ﴿ "Sesungguhnya aku mena-dzarkan kepadaMu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)," yakni, sebagai pelayan bagi rumah ibadah yang dipenuhi dengan ahli-ahli ibadah. ﴾ فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ ﴿ "Karena itu terimalah (nadzar) itu dari padaku," yakni perbuatan ini, maksudnya, jadikanlah ia di atas dasar keimanan dan keikhlasan yang membuahkan kebaikan dan pahala. ﴾ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ 35 ﴿ "Se-sungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." ﴾ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ ﴿ "Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan;' dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan." Seolah-olah dalam perkataan ini menyim-pan makna ketundukan dan jiwa yang pasrah, di mana nadzarnya itu didasari oleh harapan anak itu adalah laki-laki yang memiliki kekuatan dan pelayanan, serta pelaksanaan terhadap hal itu seba-gaimana yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang kuat, se-dangkan anak wanita tidak seperti itu, lalu Allah menguatkan hatinya dan menerima nadzarnya. Anak wanita itu bahkan menjadi lebih sempurna dan lebih baik dari kebanyakan anak laki-laki, bahkan dari mayoritas mereka, lalu maksud-maksud yang dikehendaki tercapai dengan lebih baik daripada yang diperoleh oleh anak laki-laki. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا ﴿ "Maka Rabbnya meneri-manya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik." Artinya ia dididik dengan didikan yang mengagumkan, baik agama, akhlak maupun bahasanya, di mana dengannya sempurnalah kondisinya, baiklah perkataan dan perbuatannya, kesempurnaannya tumbuh padanya, lalu Allah memudahkannya dengan Zakaria sebagai pemeliharanya. Ini meru-pakan karunia Allah atas hambaNya yaitu menjadikan orang yang menjadi pemeliharanya dari orang-orang yang terbaik dan shalih. Kemudian Allah تعالى memuliakan Maryam dan Zakaria di mana Allah memudahkan bagi Maryam rizki yang diperoleh tanpa keringat dan lelah, hal itu adalah sebuah karamah sebagai kemuliaan dari Allah untuknya, karena ﴾ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab," yakni tempat untuk ibadah, dan di sini terkandung isyarat akan banyaknya shalat yang dilaku-kan Maryam dan konsistensinya terhadap tempat ibadah tersebut, ﴾ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ ﴿ "maka dia mendapati makanan di sisinya" dengan nikmat dan tersedia. Zakaria berkata, ﴾ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ ﴿ "Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" ﴾ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ﴿ "Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab." Ketika Zakaria menyaksikan kondisi tersebut, kebaikan dan seperti itulah kasih Allah terhadap Maryam, maka itu mengingat-kan dirinya untuk memohon kepada Allah تعالى seorang anak laki-laki, dalam kondisinya yang hampir putus asa seraya berkata, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." ﴾ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Ke-mudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggem-birakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu), Yahya, yang mem-benarkan kalimat (yang datang) dari Allah," yakni, namanya (Yahya), dan kalimat yang datangnya dari Allah adalah Isa Ibnu Maryam, berita gembira itu adalah dengan Nabi yang mulia tersebut yang mengandung juga berita gembira dengan Isa Ibnu Maryam, sebagai pembenaran dan kesaksian tentang kerasulannya. Kalimat tersebut dari Allah, merupakan kalimat yang mulia di mana Allah mengkhususkan Isa Ibnu Maryam dengannya, bila tidak demikian, maka kalimat itu merupakan salah satu kalimatNya di mana dengannya Allah menciptakan segala makhluk, sebagai-mana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٖ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ 59 ﴿ "Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemu-dian Allah berfirman kepadanya, 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadi-lah dia." (Ali Imran: 59). Dan FirmanNya, ﴾ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا ﴿ "Menjadi ikutan dan menahan diri (dari hawa nafsu)." Artinya yang menjadi obyek berita gembira itu adalah Yahya yang merupakan panutan dari Rasul-rasul yang mulia dan yang terhormat, dan menahan diri (hashur), artinya, yang tidak bisa punya anak dan tidak berkehendak kepada wanita. Pendapat lain mengatakan orang yang dijaga dan diselamatkan dari dosa dan hawa nafsu yang menjerumuskan, dan yang terakhir inilah yang paling sesuai dari kedua makna tersebut. ﴾ وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih", maksud-nya, orang-orang yang mencapai puncak kebaikan yang tinggi. ﴾ قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَقَدۡ بَلَغَنِيَ ٱلۡكِبَرُ وَٱمۡرَأَتِي عَاقِرٞۖ ﴿ "Zakaria berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?'" Kedua hal itu merupakan penghalang, karena itu dari jalan manakah wahai Tuhan, saya mendapatkan anak tersebut padahal ada penghalangnya? ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya'." Bahwasanya sebagaimana telah berlaku hikmah-Nya dengan berjalannya segala sesuatu itu menurut sebab-sebabnya yang wajar, maka Allah juga terkadang merubah (hukum alam) tersebut karena Allah Maha Berbuat apa yang dikehendakiNya, di mana segala sebab telah patuh pada kekuasaanNya, kehendakNya dan keinginanNya terealisasikan padanya, dan tidak ada suatu sebab pun yang bisa menyalahi titahNya walaupun memiliki ke-kuatan yang besar sekalipun. ﴾ قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ ﴿ "Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)'," agar saya mendapatkan kebahagiaan dan rasa senang, walaupun sebenarnya saya yakin akan apa yang Engkau kabarkan wahai Rabbku. Akan tetapi agar jiwa ini senang dan hati ini tenang dengan pendahuluan-pendahuluan rahmat dan kasih sayang. ﴾ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمۡزٗاۗ ﴿ "Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat'," dan dalam masa itu, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِيرٗا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertas-bihlah di waktu petang dan pagi hari," yakni, awal hari dan di akhir-nya. Zakaria terlarang dari berbicara dengan orang lain pada masa tersebut, dan itu sesuai untuk didapatkannya seorang anak dari seorang suami yang telah tua dan istri yang mandul, keadaannya yang tidak mampu berbicara dengan orang lain padahal lisannya lancar berdzikir kepada Allah dan memujiNya adalah merupakan tanda yang lain. Maka ketika itulah ia mendapat kebahagiaan dan kesenangan tersebut, lalu ia bersyukur kepada Allah, dan ia mem-perbanyak dzikir dan tasbih pada saat petang maupun pagi hari. Dan anak bayi tersebut merupakan berkah dari Maryam binti Imran terhadap Zakaria. Karena apa yang Allah karuniakan atas Maryam berupa rizki yang banyak yang hadir tanpa hisab, meng-ingatkannya dan mengobarkannya untuk bermunajat dan memohon. Sedang Allah تعالى adalah Maha Memberi penyebab maupun aki-batnya, namun Allah menentukan beberapa perkara yang disukai, terjadi pada orang yang dicintaiNya, agar Allah mengangkat ke-hormatannya dan melimpahkan pahalanya. Allah تعالى kembali menyebutkan kisah Maryam, yaitu bahwa Maryam itu telah mencapai puncak ibadah dan kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu'." Maksudnya, Allah memilihmu dan memberikan kepadamu sifat-sifat yang mulia dan akhlak-akhlak yang luhur, ﴾ وَطَهَّرَكِ ﴿ "dan menyucikan kamu" dari akhlak-akhlak yang hina, ﴾ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ. وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Telah banyak yang mencapai kesempurnaan dari para laki-laki, namun belum mencapai kesempurnaan dari para wanita kecuali Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid; dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan daging yang dilapisi adonan[1] atas seluruh makanan yang ada."[2] Kemudian Malaikat menyeru Maryam atas perintah Allah untuknya agar ia menerima nikmat-nikmat Allah dan ia bersyukur kepada Allah, kemudian menunaikan segala hak-hakNya, dan me-nyibukkan diri untuk melayaniNya. Karena itu malaikat berkata, ﴾ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ ﴿ "Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu," artinya, per-banyaklah ketaatan, ketundukan, dan kekhusyu'an kepada Rabbmu lalu konsistenlah atas hal tersebut, ﴾ وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ﴿ "dan rukuklah ber-sama orang-orang yang rukuk," yakni shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Lalu ia menunaikan segala perkara yang diperintahkan hingga ia menjadi mulia dan istimewa dalam kesempurnaannya. Kisah ini dan kisah-kisah lainnya merupakan dalil yang paling besar atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ di mana beliau menga-barkan tentang kisah tersebut secara terperinci lagi autentik yang tidak ada penambahan maupun pengurangan padanya. Semua itu karena ia merupakan wahyu dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan bukan karena belajar dari manusia. Allah تعالى berfirman,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam," yaitu ketika ibunya membawanya kepada kaumnya, lalu mereka berselisih siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam, karena ia adalah anak wanita pemimpin mereka dan tokoh mereka, sedang mereka semua menginginkan kebaikan dan pahala dari Allah, hingga terjadilah perselisihan yang sengit, yang akhirnya mereka harus mengadakan undian atasnya, lalu mereka melemparkan pena-pena mereka seraya mengundi dan ternyata undian itu jatuh pada Zakaria sebagai suatu rahmat dari Allah untuknya dan untuk anak wanita Imran tersebut. Maka engkau -wahai Rasul- tidak hadir saat itu hingga eng-kau mengetahuinya dan menceritakannya kepada manusia, akan tetapi Allah yang mengabarkan kepadamu tentang kisah tersebut. Inilah maksud terbesar dari adanya kisah-kisah dalam al-Qur`an yaitu bahwasanya ia menjadi pelajaran bagi manusia. Dan pela-jaran yang paling agung adalah berdalil dengannya atas tauhid, kerasulan, kebangkitan kembali, dari pokok-pokok Agama lainnya. ﴾ إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, se-sungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dariNya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)'." Maksudnya, ia mempunyai kedudukan dan posisi yang agung di dunia dan akhirat di antara para makhluk. Di samping itu, dia termasuk di antara makhluk Allah yang paling dekat kepadaNya dan paling tinggi derajatnya. Ini merupakan kabar gembira yang tidak dapat disamakan dengan kabar-kabar gembira lainnya. Dan di antara kesempurnaan dari kabar gembira itu adalah bahwa dia ﴾ ي ُ ك َ ل ّ ِ م ُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ ﴿ "berbicara dengan manusia dalam buaian", sehingga kemampuan berbicara saat dalam buaian itu merupakan tanda kebesaran di antara tanda-tanda kebesaran Allah dan rahmat dariNya kepada ibunya dan kepada manusia seluruhnya. Demikian juga ia berbicara dengan mereka ﴾ وَكَهۡلٗا ﴿ "ketika sudah dewasa", yaitu pada saat ia telah besar. Ini merupakan ungkapan kenabian, dakwah, dan bimbingan. Berbicaranya saat dalam buaian merupakan tanda kebesaran dan keterangan yang jelas atas kebenarannya, kenabiannya, dan ter-bebasnya ibunya dari segala sangkaan buruk yang ditudingkan kepadanya. Dan pembicaraannya saat telah dewasa mengandung manfaat yang besar bagi manusia, dan bahwa ia adalah perantara antara manusia dengan Tuhan mereka dalam hal wahyuNya dan penyampaian agama dan syariatNya. Di samping itu juga ia ﴾ م ِ ن َ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "adalah termasuk orang-orang yang shalih", yakni, orang-orang yang hati mereka diberikan keshalihan oleh Allah dengan mengenal dan mencintaiNya, dan lisan mereka diberikan keshalihan dengan pujian atasNya dan dzikir kepadaNya, dan tubuh mereka diberikan keshalihan dengan ketaatan kepadaNya dan melayaniNya. Dan FirmanNya, ﴾ قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ ﴿ "Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun?'" Ini merupakan perkara yang aneh. ﴾ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya'," untuk memberitakan kepada hamba-hambaNya bahwa Dia adalah Maha-kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada penghalang bagi kehendak-Nya. ﴾ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia." ﴾ وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab," yaitu, kitab-kitab terdahulu pada umumnya yang memutuskan hukum di antara manusia, dan Allah memberikan kepadanya ke-nabian lalu Allah menjadikannya ﴾ وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "(sebagai) Rasul kepada Bani Israil." Allah mengukuhkannya dengan ayat-ayat yang jelas serta dalil-dalil yang tegas di mana dia berkata, ﴾ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu," yang menjelaskan kepada kalian bahwa aku adalah benar-benar seorang Rasul Allah. Yang demikian itu,﴾ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ ﴿ "bahwa aku membuat untuk kamu dari tanah ber-bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya," yakni yang kedua matanya cacat, hilang pandangannya dan buta, ﴾ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demi-kian itu," yakni hal-hal yang telah disebutkan, ﴾ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 49 وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepada-mu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku." Allah mengukuhkan beliau dengan dua bentuk ayat dan bukti nyata yaitu hal-hal di luar kebiasaan yang tidak mungkin dilaku-kan oleh selain nabi untuk menghadirkannya, juga kerasulan dan dakwah serta agama yang dibawa olehnya yang mana ajaran itu adalah agama Taurat dan agama nabi-nabi sebelumnya. Ini meru-pakan dalil yang paling besar atas kebenaran orang-orang yang benar, karena seandainya ia di antara orang-orang yang dusta, niscaya pasti ia akan menyalahi apa yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya dan akan menyimpang dari mereka dalam masalah-masalah akidah dan hukum-hukum mereka. Dengan demikian diketahuilah bahwa beliau adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau adalah benar, yang tidak ada keraguan padanya. Juga perkataannya, ﴾ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu," yakni, agar saya meringankan dari kalian beberapa beban dan tanggung jawab. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ 50 إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia." Ini adalah ajaran yang di-serukan oleh seluruh Rasul, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya dan taat kepada mereka, dan inilah jalan yang lurus di mana orang yang menempuhnya akan menghantarkannya kepada surga yang penuh nikmat. Saat itulah sikap kelompok-kelompok Bani Israil terpecah terhadap Nabi Isa عليه السلام. Di antara mereka ada yang beriman kepada beliau dan mengikuti beliau, dan di antara mereka ada yang kafir kepada beliau, mendustai beliau dan memfitnah ibu beliau sebagai seorang yang melakukan kekejian, sebagaimana (yang dilakukan orang-orang) Yahudi. ﴾ فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ ﴿ "Maka tatkala Isa me-ngetahui keingkaran mereka (Bani lsrail)" dan sepakat dalam menolak dakwah beliau, ﴾ قَالَ ﴿ "Isa berkata" seraya menyeru Bani Israil untuk menjadi penolongnya, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab," yakni orang-orang yang membela, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kamilah peno-long-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikan-lah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." Ini merupakan anugerah Allah atas mereka dan khususnya atas Nabi Isa عليه السلام, di mana Allah telah menjadikan para hawariyyun tersebut beriman kepadaNya, tunduk dalam ketaatan kepadaNya dan membela RasulNya. ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul." Ini adalah suatu integritas yang sempurna dalam beriman kepada seluruh hal yang diturunkan oleh Allah dan dalam menaati RasulNya. ﴾ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Karena itu masuk-kanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi" bagiMu dengan keesaan dan bagi RasulMu dengan kerasulan serta bagi agamaMu dengan kebenaran dan kejujuran. Adapun orang-orang yang dirasakan oleh Isa عليه السلام penging-karan mereka, sedang mereka itu adalah sebagian besar Bani Israil, maka mereka ﴾ وَمَكَرُواْ ﴿ "membuat tipu daya" terhadap Nabi Isa, ﴾ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ ﴿ "dan Allah membalas tipu daya itu" terhadap mereka, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." Mereka bersepakat untuk membunuh dan menyalibnya, namun dijadikan buat mereka orang yang serupa dengan Nabi Isa lalu mereka me-nangkap orang yang serupa tersebut, dan Allah berfirman kepada Isa, ﴾ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." Lalu Allah mengangkatnya kepadaNya dan membersihkannya dari orang-orang kafir, dan orang-orang kafir itu menyalib orang yang telah mereka bunuh tersebut seraya menduga bahwa orang yang mereka salib itu adalah Isa عليه السلام, dan mereka justru menanggung dosa yang besar. Dan Isa Ibnu Maryam عليه السلام akan turun kembali di akhir masa umat ini sebagai hakim yang adil, ia akan membunuh babi, meng-hancurkan salib dan ia akan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Orang-orang yang berdusta itu akan mengetahui keterpedayaan dan ketertipuan mereka yaitu bahwa mereka itu telah terpedaya dan tertipu. Dan FirmanNya,﴾ وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ فَوۡقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ ﴿ "Dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat." Yang dimaksud orang-orang yang mengikutinya adalah kelompok yang telah beriman kepada beliau, dan Allah membela mereka atas orang-orang yang menyimpang dari agamaNya. Kemudian ketika umat Muhammad ﷺ tiba, mereka itu benar-benar mengikutinya hingga Allah me-nguatkan mereka dan membela mereka atas orang-orang yang kafir secara keseluruhan, dan Allah memenangkan mereka dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka. ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." (An-Nur: 55). Akan tetapi hikmah Allah itu adil, yaitu bahwasanya hikmah-Nya berlaku bagi siapa yang berpegang teguh dengan Agama, niscaya Allah akan membelanya dengan pembelaan yang nyata, dan bahwa orang yang meninggalkan perintahNya dan melanggar laranganNya, melemparkan syariatNya dan berani lancang berbuat kemaksiatan kepadaNya, niscaya Dia akan menghukumnya dan akan membuat musuh-musuhnya menguasainya. Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana. Dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأَحۡكُمُ بَيۡنَكُمۡ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." Kemudian Allah menjelaskan tentang apa yang dilakukanNya terhadap mereka, seraya berfirman,

Ali 'Imran 3:37

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (ke-turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri 'Imran berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepadaMu anak yang dalam kan-dunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis), karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' Maka tatkala istri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perem-puan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari setan yang terkutuk.' Maka Rabbnya menerimanya (se-bagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria seba-gai pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, maka ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria ber-kata, 'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnya seraya ber-kata, 'Ya Rabbku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.' Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenar-kan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shalih.' Zakaria berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul.' Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.' Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).' Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manu-sia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.' Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.' Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari padaNya, namanya al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.' Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.' Allah berfirman (de-ngan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sung-guh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu de-ngan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.' Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia, 'Siapakah yang akan menjadi peno-long-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah.' Para hawa-riyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksi-kanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang ber-serah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).' Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu serta membersih-kan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu ber-selisih padanya'." (Ali Imran: 33-55). (33-55) Allah memiliki hamba-hamba pilihan dari seluruh hamba-hambaNya. Dia memilih mereka, memilah mereka dan mengaruniakan atas mereka keutamaan-keutamaan yang tinggi, sifat-sifat yang luhur, ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal perbuatan yang shalih, dan keistimewaan-keistimewaan yang bermacam-macam. Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut dan apa yang di dalamnya berupa manusia-manusia agung yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan bahwasanya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak cucu mereka, yang mencakup laki-laki maupun wanita di antara mereka. Ini merupakan karuniaNya yang paling utama dan tempat-tempat kemurahan dan kebaikanNya yang paling utama,﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿ "dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," Dia menge-tahui siapa yang berhak menerima keutamaan dan penghormatan, hingga Dia meletakkan keutamaanNya itu yang didasari oleh hik-mahNya yang pasti. Ketika Allah menetapkan keagungan keluarga tersebut lalu Allah menyebutkan kisah Maryam dan putranya, Isa عليه السلام, dan bagaimana turun temurunnya dari keluarga yang mulia ini, dan bagaimana silih bergantinya keadaan keduanya dari awal hingga akhirnya, dan bahwa istri Imran berkata seraya tunduk kepada Rabbnya dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan persembahan yang Dia cintai, yang mengandung pengagungan terhadap rumahNya dan konsistensi dalam ketaatanNya, (istri Imran berkata), ﴾ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا ﴿ "Sesungguhnya aku mena-dzarkan kepadaMu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)," yakni, sebagai pelayan bagi rumah ibadah yang dipenuhi dengan ahli-ahli ibadah. ﴾ فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ ﴿ "Karena itu terimalah (nadzar) itu dari padaku," yakni perbuatan ini, maksudnya, jadikanlah ia di atas dasar keimanan dan keikhlasan yang membuahkan kebaikan dan pahala. ﴾ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ 35 ﴿ "Se-sungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." ﴾ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ ﴿ "Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan;' dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan." Seolah-olah dalam perkataan ini menyim-pan makna ketundukan dan jiwa yang pasrah, di mana nadzarnya itu didasari oleh harapan anak itu adalah laki-laki yang memiliki kekuatan dan pelayanan, serta pelaksanaan terhadap hal itu seba-gaimana yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang kuat, se-dangkan anak wanita tidak seperti itu, lalu Allah menguatkan hatinya dan menerima nadzarnya. Anak wanita itu bahkan menjadi lebih sempurna dan lebih baik dari kebanyakan anak laki-laki, bahkan dari mayoritas mereka, lalu maksud-maksud yang dikehendaki tercapai dengan lebih baik daripada yang diperoleh oleh anak laki-laki. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا ﴿ "Maka Rabbnya meneri-manya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik." Artinya ia dididik dengan didikan yang mengagumkan, baik agama, akhlak maupun bahasanya, di mana dengannya sempurnalah kondisinya, baiklah perkataan dan perbuatannya, kesempurnaannya tumbuh padanya, lalu Allah memudahkannya dengan Zakaria sebagai pemeliharanya. Ini meru-pakan karunia Allah atas hambaNya yaitu menjadikan orang yang menjadi pemeliharanya dari orang-orang yang terbaik dan shalih. Kemudian Allah تعالى memuliakan Maryam dan Zakaria di mana Allah memudahkan bagi Maryam rizki yang diperoleh tanpa keringat dan lelah, hal itu adalah sebuah karamah sebagai kemuliaan dari Allah untuknya, karena ﴾ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab," yakni tempat untuk ibadah, dan di sini terkandung isyarat akan banyaknya shalat yang dilaku-kan Maryam dan konsistensinya terhadap tempat ibadah tersebut, ﴾ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ ﴿ "maka dia mendapati makanan di sisinya" dengan nikmat dan tersedia. Zakaria berkata, ﴾ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ ﴿ "Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" ﴾ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ﴿ "Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab." Ketika Zakaria menyaksikan kondisi tersebut, kebaikan dan seperti itulah kasih Allah terhadap Maryam, maka itu mengingat-kan dirinya untuk memohon kepada Allah تعالى seorang anak laki-laki, dalam kondisinya yang hampir putus asa seraya berkata, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." ﴾ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Ke-mudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggem-birakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu), Yahya, yang mem-benarkan kalimat (yang datang) dari Allah," yakni, namanya (Yahya), dan kalimat yang datangnya dari Allah adalah Isa Ibnu Maryam, berita gembira itu adalah dengan Nabi yang mulia tersebut yang mengandung juga berita gembira dengan Isa Ibnu Maryam, sebagai pembenaran dan kesaksian tentang kerasulannya. Kalimat tersebut dari Allah, merupakan kalimat yang mulia di mana Allah mengkhususkan Isa Ibnu Maryam dengannya, bila tidak demikian, maka kalimat itu merupakan salah satu kalimatNya di mana dengannya Allah menciptakan segala makhluk, sebagai-mana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٖ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ 59 ﴿ "Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemu-dian Allah berfirman kepadanya, 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadi-lah dia." (Ali Imran: 59). Dan FirmanNya, ﴾ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا ﴿ "Menjadi ikutan dan menahan diri (dari hawa nafsu)." Artinya yang menjadi obyek berita gembira itu adalah Yahya yang merupakan panutan dari Rasul-rasul yang mulia dan yang terhormat, dan menahan diri (hashur), artinya, yang tidak bisa punya anak dan tidak berkehendak kepada wanita. Pendapat lain mengatakan orang yang dijaga dan diselamatkan dari dosa dan hawa nafsu yang menjerumuskan, dan yang terakhir inilah yang paling sesuai dari kedua makna tersebut. ﴾ وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih", maksud-nya, orang-orang yang mencapai puncak kebaikan yang tinggi. ﴾ قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَقَدۡ بَلَغَنِيَ ٱلۡكِبَرُ وَٱمۡرَأَتِي عَاقِرٞۖ ﴿ "Zakaria berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?'" Kedua hal itu merupakan penghalang, karena itu dari jalan manakah wahai Tuhan, saya mendapatkan anak tersebut padahal ada penghalangnya? ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya'." Bahwasanya sebagaimana telah berlaku hikmah-Nya dengan berjalannya segala sesuatu itu menurut sebab-sebabnya yang wajar, maka Allah juga terkadang merubah (hukum alam) tersebut karena Allah Maha Berbuat apa yang dikehendakiNya, di mana segala sebab telah patuh pada kekuasaanNya, kehendakNya dan keinginanNya terealisasikan padanya, dan tidak ada suatu sebab pun yang bisa menyalahi titahNya walaupun memiliki ke-kuatan yang besar sekalipun. ﴾ قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ ﴿ "Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)'," agar saya mendapatkan kebahagiaan dan rasa senang, walaupun sebenarnya saya yakin akan apa yang Engkau kabarkan wahai Rabbku. Akan tetapi agar jiwa ini senang dan hati ini tenang dengan pendahuluan-pendahuluan rahmat dan kasih sayang. ﴾ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمۡزٗاۗ ﴿ "Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat'," dan dalam masa itu, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِيرٗا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertas-bihlah di waktu petang dan pagi hari," yakni, awal hari dan di akhir-nya. Zakaria terlarang dari berbicara dengan orang lain pada masa tersebut, dan itu sesuai untuk didapatkannya seorang anak dari seorang suami yang telah tua dan istri yang mandul, keadaannya yang tidak mampu berbicara dengan orang lain padahal lisannya lancar berdzikir kepada Allah dan memujiNya adalah merupakan tanda yang lain. Maka ketika itulah ia mendapat kebahagiaan dan kesenangan tersebut, lalu ia bersyukur kepada Allah, dan ia mem-perbanyak dzikir dan tasbih pada saat petang maupun pagi hari. Dan anak bayi tersebut merupakan berkah dari Maryam binti Imran terhadap Zakaria. Karena apa yang Allah karuniakan atas Maryam berupa rizki yang banyak yang hadir tanpa hisab, meng-ingatkannya dan mengobarkannya untuk bermunajat dan memohon. Sedang Allah تعالى adalah Maha Memberi penyebab maupun aki-batnya, namun Allah menentukan beberapa perkara yang disukai, terjadi pada orang yang dicintaiNya, agar Allah mengangkat ke-hormatannya dan melimpahkan pahalanya. Allah تعالى kembali menyebutkan kisah Maryam, yaitu bahwa Maryam itu telah mencapai puncak ibadah dan kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu'." Maksudnya, Allah memilihmu dan memberikan kepadamu sifat-sifat yang mulia dan akhlak-akhlak yang luhur, ﴾ وَطَهَّرَكِ ﴿ "dan menyucikan kamu" dari akhlak-akhlak yang hina, ﴾ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ. وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Telah banyak yang mencapai kesempurnaan dari para laki-laki, namun belum mencapai kesempurnaan dari para wanita kecuali Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid; dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan daging yang dilapisi adonan[1] atas seluruh makanan yang ada."[2] Kemudian Malaikat menyeru Maryam atas perintah Allah untuknya agar ia menerima nikmat-nikmat Allah dan ia bersyukur kepada Allah, kemudian menunaikan segala hak-hakNya, dan me-nyibukkan diri untuk melayaniNya. Karena itu malaikat berkata, ﴾ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ ﴿ "Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu," artinya, per-banyaklah ketaatan, ketundukan, dan kekhusyu'an kepada Rabbmu lalu konsistenlah atas hal tersebut, ﴾ وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ﴿ "dan rukuklah ber-sama orang-orang yang rukuk," yakni shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Lalu ia menunaikan segala perkara yang diperintahkan hingga ia menjadi mulia dan istimewa dalam kesempurnaannya. Kisah ini dan kisah-kisah lainnya merupakan dalil yang paling besar atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ di mana beliau menga-barkan tentang kisah tersebut secara terperinci lagi autentik yang tidak ada penambahan maupun pengurangan padanya. Semua itu karena ia merupakan wahyu dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan bukan karena belajar dari manusia. Allah تعالى berfirman,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam," yaitu ketika ibunya membawanya kepada kaumnya, lalu mereka berselisih siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam, karena ia adalah anak wanita pemimpin mereka dan tokoh mereka, sedang mereka semua menginginkan kebaikan dan pahala dari Allah, hingga terjadilah perselisihan yang sengit, yang akhirnya mereka harus mengadakan undian atasnya, lalu mereka melemparkan pena-pena mereka seraya mengundi dan ternyata undian itu jatuh pada Zakaria sebagai suatu rahmat dari Allah untuknya dan untuk anak wanita Imran tersebut. Maka engkau -wahai Rasul- tidak hadir saat itu hingga eng-kau mengetahuinya dan menceritakannya kepada manusia, akan tetapi Allah yang mengabarkan kepadamu tentang kisah tersebut. Inilah maksud terbesar dari adanya kisah-kisah dalam al-Qur`an yaitu bahwasanya ia menjadi pelajaran bagi manusia. Dan pela-jaran yang paling agung adalah berdalil dengannya atas tauhid, kerasulan, kebangkitan kembali, dari pokok-pokok Agama lainnya. ﴾ إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, se-sungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dariNya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)'." Maksudnya, ia mempunyai kedudukan dan posisi yang agung di dunia dan akhirat di antara para makhluk. Di samping itu, dia termasuk di antara makhluk Allah yang paling dekat kepadaNya dan paling tinggi derajatnya. Ini merupakan kabar gembira yang tidak dapat disamakan dengan kabar-kabar gembira lainnya. Dan di antara kesempurnaan dari kabar gembira itu adalah bahwa dia ﴾ ي ُ ك َ ل ّ ِ م ُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ ﴿ "berbicara dengan manusia dalam buaian", sehingga kemampuan berbicara saat dalam buaian itu merupakan tanda kebesaran di antara tanda-tanda kebesaran Allah dan rahmat dariNya kepada ibunya dan kepada manusia seluruhnya. Demikian juga ia berbicara dengan mereka ﴾ وَكَهۡلٗا ﴿ "ketika sudah dewasa", yaitu pada saat ia telah besar. Ini merupakan ungkapan kenabian, dakwah, dan bimbingan. Berbicaranya saat dalam buaian merupakan tanda kebesaran dan keterangan yang jelas atas kebenarannya, kenabiannya, dan ter-bebasnya ibunya dari segala sangkaan buruk yang ditudingkan kepadanya. Dan pembicaraannya saat telah dewasa mengandung manfaat yang besar bagi manusia, dan bahwa ia adalah perantara antara manusia dengan Tuhan mereka dalam hal wahyuNya dan penyampaian agama dan syariatNya. Di samping itu juga ia ﴾ م ِ ن َ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "adalah termasuk orang-orang yang shalih", yakni, orang-orang yang hati mereka diberikan keshalihan oleh Allah dengan mengenal dan mencintaiNya, dan lisan mereka diberikan keshalihan dengan pujian atasNya dan dzikir kepadaNya, dan tubuh mereka diberikan keshalihan dengan ketaatan kepadaNya dan melayaniNya. Dan FirmanNya, ﴾ قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ ﴿ "Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun?'" Ini merupakan perkara yang aneh. ﴾ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya'," untuk memberitakan kepada hamba-hambaNya bahwa Dia adalah Maha-kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada penghalang bagi kehendak-Nya. ﴾ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia." ﴾ وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab," yaitu, kitab-kitab terdahulu pada umumnya yang memutuskan hukum di antara manusia, dan Allah memberikan kepadanya ke-nabian lalu Allah menjadikannya ﴾ وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "(sebagai) Rasul kepada Bani Israil." Allah mengukuhkannya dengan ayat-ayat yang jelas serta dalil-dalil yang tegas di mana dia berkata, ﴾ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu," yang menjelaskan kepada kalian bahwa aku adalah benar-benar seorang Rasul Allah. Yang demikian itu,﴾ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ ﴿ "bahwa aku membuat untuk kamu dari tanah ber-bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya," yakni yang kedua matanya cacat, hilang pandangannya dan buta, ﴾ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demi-kian itu," yakni hal-hal yang telah disebutkan, ﴾ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 49 وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepada-mu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku." Allah mengukuhkan beliau dengan dua bentuk ayat dan bukti nyata yaitu hal-hal di luar kebiasaan yang tidak mungkin dilaku-kan oleh selain nabi untuk menghadirkannya, juga kerasulan dan dakwah serta agama yang dibawa olehnya yang mana ajaran itu adalah agama Taurat dan agama nabi-nabi sebelumnya. Ini meru-pakan dalil yang paling besar atas kebenaran orang-orang yang benar, karena seandainya ia di antara orang-orang yang dusta, niscaya pasti ia akan menyalahi apa yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya dan akan menyimpang dari mereka dalam masalah-masalah akidah dan hukum-hukum mereka. Dengan demikian diketahuilah bahwa beliau adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau adalah benar, yang tidak ada keraguan padanya. Juga perkataannya, ﴾ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu," yakni, agar saya meringankan dari kalian beberapa beban dan tanggung jawab. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ 50 إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia." Ini adalah ajaran yang di-serukan oleh seluruh Rasul, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya dan taat kepada mereka, dan inilah jalan yang lurus di mana orang yang menempuhnya akan menghantarkannya kepada surga yang penuh nikmat. Saat itulah sikap kelompok-kelompok Bani Israil terpecah terhadap Nabi Isa عليه السلام. Di antara mereka ada yang beriman kepada beliau dan mengikuti beliau, dan di antara mereka ada yang kafir kepada beliau, mendustai beliau dan memfitnah ibu beliau sebagai seorang yang melakukan kekejian, sebagaimana (yang dilakukan orang-orang) Yahudi. ﴾ فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ ﴿ "Maka tatkala Isa me-ngetahui keingkaran mereka (Bani lsrail)" dan sepakat dalam menolak dakwah beliau, ﴾ قَالَ ﴿ "Isa berkata" seraya menyeru Bani Israil untuk menjadi penolongnya, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab," yakni orang-orang yang membela, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kamilah peno-long-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikan-lah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." Ini merupakan anugerah Allah atas mereka dan khususnya atas Nabi Isa عليه السلام, di mana Allah telah menjadikan para hawariyyun tersebut beriman kepadaNya, tunduk dalam ketaatan kepadaNya dan membela RasulNya. ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul." Ini adalah suatu integritas yang sempurna dalam beriman kepada seluruh hal yang diturunkan oleh Allah dan dalam menaati RasulNya. ﴾ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Karena itu masuk-kanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi" bagiMu dengan keesaan dan bagi RasulMu dengan kerasulan serta bagi agamaMu dengan kebenaran dan kejujuran. Adapun orang-orang yang dirasakan oleh Isa عليه السلام penging-karan mereka, sedang mereka itu adalah sebagian besar Bani Israil, maka mereka ﴾ وَمَكَرُواْ ﴿ "membuat tipu daya" terhadap Nabi Isa, ﴾ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ ﴿ "dan Allah membalas tipu daya itu" terhadap mereka, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." Mereka bersepakat untuk membunuh dan menyalibnya, namun dijadikan buat mereka orang yang serupa dengan Nabi Isa lalu mereka me-nangkap orang yang serupa tersebut, dan Allah berfirman kepada Isa, ﴾ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." Lalu Allah mengangkatnya kepadaNya dan membersihkannya dari orang-orang kafir, dan orang-orang kafir itu menyalib orang yang telah mereka bunuh tersebut seraya menduga bahwa orang yang mereka salib itu adalah Isa عليه السلام, dan mereka justru menanggung dosa yang besar. Dan Isa Ibnu Maryam عليه السلام akan turun kembali di akhir masa umat ini sebagai hakim yang adil, ia akan membunuh babi, meng-hancurkan salib dan ia akan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Orang-orang yang berdusta itu akan mengetahui keterpedayaan dan ketertipuan mereka yaitu bahwa mereka itu telah terpedaya dan tertipu. Dan FirmanNya,﴾ وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ فَوۡقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ ﴿ "Dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat." Yang dimaksud orang-orang yang mengikutinya adalah kelompok yang telah beriman kepada beliau, dan Allah membela mereka atas orang-orang yang menyimpang dari agamaNya. Kemudian ketika umat Muhammad ﷺ tiba, mereka itu benar-benar mengikutinya hingga Allah me-nguatkan mereka dan membela mereka atas orang-orang yang kafir secara keseluruhan, dan Allah memenangkan mereka dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka. ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." (An-Nur: 55). Akan tetapi hikmah Allah itu adil, yaitu bahwasanya hikmah-Nya berlaku bagi siapa yang berpegang teguh dengan Agama, niscaya Allah akan membelanya dengan pembelaan yang nyata, dan bahwa orang yang meninggalkan perintahNya dan melanggar laranganNya, melemparkan syariatNya dan berani lancang berbuat kemaksiatan kepadaNya, niscaya Dia akan menghukumnya dan akan membuat musuh-musuhnya menguasainya. Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana. Dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأَحۡكُمُ بَيۡنَكُمۡ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." Kemudian Allah menjelaskan tentang apa yang dilakukanNya terhadap mereka, seraya berfirman,

Ali 'Imran 3:38

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (ke-turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri 'Imran berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepadaMu anak yang dalam kan-dunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis), karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' Maka tatkala istri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perem-puan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari setan yang terkutuk.' Maka Rabbnya menerimanya (se-bagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria seba-gai pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, maka ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria ber-kata, 'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnya seraya ber-kata, 'Ya Rabbku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.' Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenar-kan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shalih.' Zakaria berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul.' Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.' Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).' Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manu-sia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.' Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.' Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari padaNya, namanya al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.' Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.' Allah berfirman (de-ngan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sung-guh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu de-ngan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.' Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia, 'Siapakah yang akan menjadi peno-long-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah.' Para hawa-riyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksi-kanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang ber-serah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).' Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu serta membersih-kan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu ber-selisih padanya'." (Ali Imran: 33-55). (33-55) Allah memiliki hamba-hamba pilihan dari seluruh hamba-hambaNya. Dia memilih mereka, memilah mereka dan mengaruniakan atas mereka keutamaan-keutamaan yang tinggi, sifat-sifat yang luhur, ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal perbuatan yang shalih, dan keistimewaan-keistimewaan yang bermacam-macam. Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut dan apa yang di dalamnya berupa manusia-manusia agung yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan bahwasanya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak cucu mereka, yang mencakup laki-laki maupun wanita di antara mereka. Ini merupakan karuniaNya yang paling utama dan tempat-tempat kemurahan dan kebaikanNya yang paling utama,﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿ "dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," Dia menge-tahui siapa yang berhak menerima keutamaan dan penghormatan, hingga Dia meletakkan keutamaanNya itu yang didasari oleh hik-mahNya yang pasti. Ketika Allah menetapkan keagungan keluarga tersebut lalu Allah menyebutkan kisah Maryam dan putranya, Isa عليه السلام, dan bagaimana turun temurunnya dari keluarga yang mulia ini, dan bagaimana silih bergantinya keadaan keduanya dari awal hingga akhirnya, dan bahwa istri Imran berkata seraya tunduk kepada Rabbnya dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan persembahan yang Dia cintai, yang mengandung pengagungan terhadap rumahNya dan konsistensi dalam ketaatanNya, (istri Imran berkata), ﴾ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا ﴿ "Sesungguhnya aku mena-dzarkan kepadaMu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)," yakni, sebagai pelayan bagi rumah ibadah yang dipenuhi dengan ahli-ahli ibadah. ﴾ فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ ﴿ "Karena itu terimalah (nadzar) itu dari padaku," yakni perbuatan ini, maksudnya, jadikanlah ia di atas dasar keimanan dan keikhlasan yang membuahkan kebaikan dan pahala. ﴾ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ 35 ﴿ "Se-sungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." ﴾ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ ﴿ "Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan;' dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan." Seolah-olah dalam perkataan ini menyim-pan makna ketundukan dan jiwa yang pasrah, di mana nadzarnya itu didasari oleh harapan anak itu adalah laki-laki yang memiliki kekuatan dan pelayanan, serta pelaksanaan terhadap hal itu seba-gaimana yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang kuat, se-dangkan anak wanita tidak seperti itu, lalu Allah menguatkan hatinya dan menerima nadzarnya. Anak wanita itu bahkan menjadi lebih sempurna dan lebih baik dari kebanyakan anak laki-laki, bahkan dari mayoritas mereka, lalu maksud-maksud yang dikehendaki tercapai dengan lebih baik daripada yang diperoleh oleh anak laki-laki. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا ﴿ "Maka Rabbnya meneri-manya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik." Artinya ia dididik dengan didikan yang mengagumkan, baik agama, akhlak maupun bahasanya, di mana dengannya sempurnalah kondisinya, baiklah perkataan dan perbuatannya, kesempurnaannya tumbuh padanya, lalu Allah memudahkannya dengan Zakaria sebagai pemeliharanya. Ini meru-pakan karunia Allah atas hambaNya yaitu menjadikan orang yang menjadi pemeliharanya dari orang-orang yang terbaik dan shalih. Kemudian Allah تعالى memuliakan Maryam dan Zakaria di mana Allah memudahkan bagi Maryam rizki yang diperoleh tanpa keringat dan lelah, hal itu adalah sebuah karamah sebagai kemuliaan dari Allah untuknya, karena ﴾ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab," yakni tempat untuk ibadah, dan di sini terkandung isyarat akan banyaknya shalat yang dilaku-kan Maryam dan konsistensinya terhadap tempat ibadah tersebut, ﴾ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ ﴿ "maka dia mendapati makanan di sisinya" dengan nikmat dan tersedia. Zakaria berkata, ﴾ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ ﴿ "Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" ﴾ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ﴿ "Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab." Ketika Zakaria menyaksikan kondisi tersebut, kebaikan dan seperti itulah kasih Allah terhadap Maryam, maka itu mengingat-kan dirinya untuk memohon kepada Allah تعالى seorang anak laki-laki, dalam kondisinya yang hampir putus asa seraya berkata, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." ﴾ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Ke-mudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggem-birakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu), Yahya, yang mem-benarkan kalimat (yang datang) dari Allah," yakni, namanya (Yahya), dan kalimat yang datangnya dari Allah adalah Isa Ibnu Maryam, berita gembira itu adalah dengan Nabi yang mulia tersebut yang mengandung juga berita gembira dengan Isa Ibnu Maryam, sebagai pembenaran dan kesaksian tentang kerasulannya. Kalimat tersebut dari Allah, merupakan kalimat yang mulia di mana Allah mengkhususkan Isa Ibnu Maryam dengannya, bila tidak demikian, maka kalimat itu merupakan salah satu kalimatNya di mana dengannya Allah menciptakan segala makhluk, sebagai-mana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٖ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ 59 ﴿ "Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemu-dian Allah berfirman kepadanya, 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadi-lah dia." (Ali Imran: 59). Dan FirmanNya, ﴾ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا ﴿ "Menjadi ikutan dan menahan diri (dari hawa nafsu)." Artinya yang menjadi obyek berita gembira itu adalah Yahya yang merupakan panutan dari Rasul-rasul yang mulia dan yang terhormat, dan menahan diri (hashur), artinya, yang tidak bisa punya anak dan tidak berkehendak kepada wanita. Pendapat lain mengatakan orang yang dijaga dan diselamatkan dari dosa dan hawa nafsu yang menjerumuskan, dan yang terakhir inilah yang paling sesuai dari kedua makna tersebut. ﴾ وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih", maksud-nya, orang-orang yang mencapai puncak kebaikan yang tinggi. ﴾ قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَقَدۡ بَلَغَنِيَ ٱلۡكِبَرُ وَٱمۡرَأَتِي عَاقِرٞۖ ﴿ "Zakaria berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?'" Kedua hal itu merupakan penghalang, karena itu dari jalan manakah wahai Tuhan, saya mendapatkan anak tersebut padahal ada penghalangnya? ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya'." Bahwasanya sebagaimana telah berlaku hikmah-Nya dengan berjalannya segala sesuatu itu menurut sebab-sebabnya yang wajar, maka Allah juga terkadang merubah (hukum alam) tersebut karena Allah Maha Berbuat apa yang dikehendakiNya, di mana segala sebab telah patuh pada kekuasaanNya, kehendakNya dan keinginanNya terealisasikan padanya, dan tidak ada suatu sebab pun yang bisa menyalahi titahNya walaupun memiliki ke-kuatan yang besar sekalipun. ﴾ قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ ﴿ "Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)'," agar saya mendapatkan kebahagiaan dan rasa senang, walaupun sebenarnya saya yakin akan apa yang Engkau kabarkan wahai Rabbku. Akan tetapi agar jiwa ini senang dan hati ini tenang dengan pendahuluan-pendahuluan rahmat dan kasih sayang. ﴾ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمۡزٗاۗ ﴿ "Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat'," dan dalam masa itu, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِيرٗا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertas-bihlah di waktu petang dan pagi hari," yakni, awal hari dan di akhir-nya. Zakaria terlarang dari berbicara dengan orang lain pada masa tersebut, dan itu sesuai untuk didapatkannya seorang anak dari seorang suami yang telah tua dan istri yang mandul, keadaannya yang tidak mampu berbicara dengan orang lain padahal lisannya lancar berdzikir kepada Allah dan memujiNya adalah merupakan tanda yang lain. Maka ketika itulah ia mendapat kebahagiaan dan kesenangan tersebut, lalu ia bersyukur kepada Allah, dan ia mem-perbanyak dzikir dan tasbih pada saat petang maupun pagi hari. Dan anak bayi tersebut merupakan berkah dari Maryam binti Imran terhadap Zakaria. Karena apa yang Allah karuniakan atas Maryam berupa rizki yang banyak yang hadir tanpa hisab, meng-ingatkannya dan mengobarkannya untuk bermunajat dan memohon. Sedang Allah تعالى adalah Maha Memberi penyebab maupun aki-batnya, namun Allah menentukan beberapa perkara yang disukai, terjadi pada orang yang dicintaiNya, agar Allah mengangkat ke-hormatannya dan melimpahkan pahalanya. Allah تعالى kembali menyebutkan kisah Maryam, yaitu bahwa Maryam itu telah mencapai puncak ibadah dan kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu'." Maksudnya, Allah memilihmu dan memberikan kepadamu sifat-sifat yang mulia dan akhlak-akhlak yang luhur, ﴾ وَطَهَّرَكِ ﴿ "dan menyucikan kamu" dari akhlak-akhlak yang hina, ﴾ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ. وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Telah banyak yang mencapai kesempurnaan dari para laki-laki, namun belum mencapai kesempurnaan dari para wanita kecuali Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid; dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan daging yang dilapisi adonan[1] atas seluruh makanan yang ada."[2] Kemudian Malaikat menyeru Maryam atas perintah Allah untuknya agar ia menerima nikmat-nikmat Allah dan ia bersyukur kepada Allah, kemudian menunaikan segala hak-hakNya, dan me-nyibukkan diri untuk melayaniNya. Karena itu malaikat berkata, ﴾ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ ﴿ "Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu," artinya, per-banyaklah ketaatan, ketundukan, dan kekhusyu'an kepada Rabbmu lalu konsistenlah atas hal tersebut, ﴾ وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ﴿ "dan rukuklah ber-sama orang-orang yang rukuk," yakni shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Lalu ia menunaikan segala perkara yang diperintahkan hingga ia menjadi mulia dan istimewa dalam kesempurnaannya. Kisah ini dan kisah-kisah lainnya merupakan dalil yang paling besar atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ di mana beliau menga-barkan tentang kisah tersebut secara terperinci lagi autentik yang tidak ada penambahan maupun pengurangan padanya. Semua itu karena ia merupakan wahyu dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan bukan karena belajar dari manusia. Allah تعالى berfirman,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam," yaitu ketika ibunya membawanya kepada kaumnya, lalu mereka berselisih siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam, karena ia adalah anak wanita pemimpin mereka dan tokoh mereka, sedang mereka semua menginginkan kebaikan dan pahala dari Allah, hingga terjadilah perselisihan yang sengit, yang akhirnya mereka harus mengadakan undian atasnya, lalu mereka melemparkan pena-pena mereka seraya mengundi dan ternyata undian itu jatuh pada Zakaria sebagai suatu rahmat dari Allah untuknya dan untuk anak wanita Imran tersebut. Maka engkau -wahai Rasul- tidak hadir saat itu hingga eng-kau mengetahuinya dan menceritakannya kepada manusia, akan tetapi Allah yang mengabarkan kepadamu tentang kisah tersebut. Inilah maksud terbesar dari adanya kisah-kisah dalam al-Qur`an yaitu bahwasanya ia menjadi pelajaran bagi manusia. Dan pela-jaran yang paling agung adalah berdalil dengannya atas tauhid, kerasulan, kebangkitan kembali, dari pokok-pokok Agama lainnya. ﴾ إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, se-sungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dariNya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)'." Maksudnya, ia mempunyai kedudukan dan posisi yang agung di dunia dan akhirat di antara para makhluk. Di samping itu, dia termasuk di antara makhluk Allah yang paling dekat kepadaNya dan paling tinggi derajatnya. Ini merupakan kabar gembira yang tidak dapat disamakan dengan kabar-kabar gembira lainnya. Dan di antara kesempurnaan dari kabar gembira itu adalah bahwa dia ﴾ ي ُ ك َ ل ّ ِ م ُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ ﴿ "berbicara dengan manusia dalam buaian", sehingga kemampuan berbicara saat dalam buaian itu merupakan tanda kebesaran di antara tanda-tanda kebesaran Allah dan rahmat dariNya kepada ibunya dan kepada manusia seluruhnya. Demikian juga ia berbicara dengan mereka ﴾ وَكَهۡلٗا ﴿ "ketika sudah dewasa", yaitu pada saat ia telah besar. Ini merupakan ungkapan kenabian, dakwah, dan bimbingan. Berbicaranya saat dalam buaian merupakan tanda kebesaran dan keterangan yang jelas atas kebenarannya, kenabiannya, dan ter-bebasnya ibunya dari segala sangkaan buruk yang ditudingkan kepadanya. Dan pembicaraannya saat telah dewasa mengandung manfaat yang besar bagi manusia, dan bahwa ia adalah perantara antara manusia dengan Tuhan mereka dalam hal wahyuNya dan penyampaian agama dan syariatNya. Di samping itu juga ia ﴾ م ِ ن َ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "adalah termasuk orang-orang yang shalih", yakni, orang-orang yang hati mereka diberikan keshalihan oleh Allah dengan mengenal dan mencintaiNya, dan lisan mereka diberikan keshalihan dengan pujian atasNya dan dzikir kepadaNya, dan tubuh mereka diberikan keshalihan dengan ketaatan kepadaNya dan melayaniNya. Dan FirmanNya, ﴾ قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ ﴿ "Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun?'" Ini merupakan perkara yang aneh. ﴾ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya'," untuk memberitakan kepada hamba-hambaNya bahwa Dia adalah Maha-kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada penghalang bagi kehendak-Nya. ﴾ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia." ﴾ وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab," yaitu, kitab-kitab terdahulu pada umumnya yang memutuskan hukum di antara manusia, dan Allah memberikan kepadanya ke-nabian lalu Allah menjadikannya ﴾ وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "(sebagai) Rasul kepada Bani Israil." Allah mengukuhkannya dengan ayat-ayat yang jelas serta dalil-dalil yang tegas di mana dia berkata, ﴾ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu," yang menjelaskan kepada kalian bahwa aku adalah benar-benar seorang Rasul Allah. Yang demikian itu,﴾ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ ﴿ "bahwa aku membuat untuk kamu dari tanah ber-bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya," yakni yang kedua matanya cacat, hilang pandangannya dan buta, ﴾ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demi-kian itu," yakni hal-hal yang telah disebutkan, ﴾ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 49 وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepada-mu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku." Allah mengukuhkan beliau dengan dua bentuk ayat dan bukti nyata yaitu hal-hal di luar kebiasaan yang tidak mungkin dilaku-kan oleh selain nabi untuk menghadirkannya, juga kerasulan dan dakwah serta agama yang dibawa olehnya yang mana ajaran itu adalah agama Taurat dan agama nabi-nabi sebelumnya. Ini meru-pakan dalil yang paling besar atas kebenaran orang-orang yang benar, karena seandainya ia di antara orang-orang yang dusta, niscaya pasti ia akan menyalahi apa yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya dan akan menyimpang dari mereka dalam masalah-masalah akidah dan hukum-hukum mereka. Dengan demikian diketahuilah bahwa beliau adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau adalah benar, yang tidak ada keraguan padanya. Juga perkataannya, ﴾ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu," yakni, agar saya meringankan dari kalian beberapa beban dan tanggung jawab. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ 50 إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia." Ini adalah ajaran yang di-serukan oleh seluruh Rasul, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya dan taat kepada mereka, dan inilah jalan yang lurus di mana orang yang menempuhnya akan menghantarkannya kepada surga yang penuh nikmat. Saat itulah sikap kelompok-kelompok Bani Israil terpecah terhadap Nabi Isa عليه السلام. Di antara mereka ada yang beriman kepada beliau dan mengikuti beliau, dan di antara mereka ada yang kafir kepada beliau, mendustai beliau dan memfitnah ibu beliau sebagai seorang yang melakukan kekejian, sebagaimana (yang dilakukan orang-orang) Yahudi. ﴾ فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ ﴿ "Maka tatkala Isa me-ngetahui keingkaran mereka (Bani lsrail)" dan sepakat dalam menolak dakwah beliau, ﴾ قَالَ ﴿ "Isa berkata" seraya menyeru Bani Israil untuk menjadi penolongnya, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab," yakni orang-orang yang membela, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kamilah peno-long-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikan-lah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." Ini merupakan anugerah Allah atas mereka dan khususnya atas Nabi Isa عليه السلام, di mana Allah telah menjadikan para hawariyyun tersebut beriman kepadaNya, tunduk dalam ketaatan kepadaNya dan membela RasulNya. ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul." Ini adalah suatu integritas yang sempurna dalam beriman kepada seluruh hal yang diturunkan oleh Allah dan dalam menaati RasulNya. ﴾ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Karena itu masuk-kanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi" bagiMu dengan keesaan dan bagi RasulMu dengan kerasulan serta bagi agamaMu dengan kebenaran dan kejujuran. Adapun orang-orang yang dirasakan oleh Isa عليه السلام penging-karan mereka, sedang mereka itu adalah sebagian besar Bani Israil, maka mereka ﴾ وَمَكَرُواْ ﴿ "membuat tipu daya" terhadap Nabi Isa, ﴾ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ ﴿ "dan Allah membalas tipu daya itu" terhadap mereka, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." Mereka bersepakat untuk membunuh dan menyalibnya, namun dijadikan buat mereka orang yang serupa dengan Nabi Isa lalu mereka me-nangkap orang yang serupa tersebut, dan Allah berfirman kepada Isa, ﴾ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." Lalu Allah mengangkatnya kepadaNya dan membersihkannya dari orang-orang kafir, dan orang-orang kafir itu menyalib orang yang telah mereka bunuh tersebut seraya menduga bahwa orang yang mereka salib itu adalah Isa عليه السلام, dan mereka justru menanggung dosa yang besar. Dan Isa Ibnu Maryam عليه السلام akan turun kembali di akhir masa umat ini sebagai hakim yang adil, ia akan membunuh babi, meng-hancurkan salib dan ia akan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Orang-orang yang berdusta itu akan mengetahui keterpedayaan dan ketertipuan mereka yaitu bahwa mereka itu telah terpedaya dan tertipu. Dan FirmanNya,﴾ وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ فَوۡقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ ﴿ "Dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat." Yang dimaksud orang-orang yang mengikutinya adalah kelompok yang telah beriman kepada beliau, dan Allah membela mereka atas orang-orang yang menyimpang dari agamaNya. Kemudian ketika umat Muhammad ﷺ tiba, mereka itu benar-benar mengikutinya hingga Allah me-nguatkan mereka dan membela mereka atas orang-orang yang kafir secara keseluruhan, dan Allah memenangkan mereka dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka. ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." (An-Nur: 55). Akan tetapi hikmah Allah itu adil, yaitu bahwasanya hikmah-Nya berlaku bagi siapa yang berpegang teguh dengan Agama, niscaya Allah akan membelanya dengan pembelaan yang nyata, dan bahwa orang yang meninggalkan perintahNya dan melanggar laranganNya, melemparkan syariatNya dan berani lancang berbuat kemaksiatan kepadaNya, niscaya Dia akan menghukumnya dan akan membuat musuh-musuhnya menguasainya. Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana. Dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأَحۡكُمُ بَيۡنَكُمۡ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." Kemudian Allah menjelaskan tentang apa yang dilakukanNya terhadap mereka, seraya berfirman,

Ali 'Imran 3:39

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (ke-turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri 'Imran berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepadaMu anak yang dalam kan-dunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis), karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' Maka tatkala istri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perem-puan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari setan yang terkutuk.' Maka Rabbnya menerimanya (se-bagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria seba-gai pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, maka ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria ber-kata, 'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnya seraya ber-kata, 'Ya Rabbku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.' Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenar-kan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shalih.' Zakaria berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul.' Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.' Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).' Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manu-sia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.' Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.' Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari padaNya, namanya al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.' Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.' Allah berfirman (de-ngan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sung-guh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu de-ngan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.' Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia, 'Siapakah yang akan menjadi peno-long-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah.' Para hawa-riyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksi-kanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang ber-serah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).' Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu serta membersih-kan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu ber-selisih padanya'." (Ali Imran: 33-55). (33-55) Allah memiliki hamba-hamba pilihan dari seluruh hamba-hambaNya. Dia memilih mereka, memilah mereka dan mengaruniakan atas mereka keutamaan-keutamaan yang tinggi, sifat-sifat yang luhur, ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal perbuatan yang shalih, dan keistimewaan-keistimewaan yang bermacam-macam. Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut dan apa yang di dalamnya berupa manusia-manusia agung yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan bahwasanya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak cucu mereka, yang mencakup laki-laki maupun wanita di antara mereka. Ini merupakan karuniaNya yang paling utama dan tempat-tempat kemurahan dan kebaikanNya yang paling utama,﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿ "dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," Dia menge-tahui siapa yang berhak menerima keutamaan dan penghormatan, hingga Dia meletakkan keutamaanNya itu yang didasari oleh hik-mahNya yang pasti. Ketika Allah menetapkan keagungan keluarga tersebut lalu Allah menyebutkan kisah Maryam dan putranya, Isa عليه السلام, dan bagaimana turun temurunnya dari keluarga yang mulia ini, dan bagaimana silih bergantinya keadaan keduanya dari awal hingga akhirnya, dan bahwa istri Imran berkata seraya tunduk kepada Rabbnya dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan persembahan yang Dia cintai, yang mengandung pengagungan terhadap rumahNya dan konsistensi dalam ketaatanNya, (istri Imran berkata), ﴾ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا ﴿ "Sesungguhnya aku mena-dzarkan kepadaMu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)," yakni, sebagai pelayan bagi rumah ibadah yang dipenuhi dengan ahli-ahli ibadah. ﴾ فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ ﴿ "Karena itu terimalah (nadzar) itu dari padaku," yakni perbuatan ini, maksudnya, jadikanlah ia di atas dasar keimanan dan keikhlasan yang membuahkan kebaikan dan pahala. ﴾ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ 35 ﴿ "Se-sungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." ﴾ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ ﴿ "Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan;' dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan." Seolah-olah dalam perkataan ini menyim-pan makna ketundukan dan jiwa yang pasrah, di mana nadzarnya itu didasari oleh harapan anak itu adalah laki-laki yang memiliki kekuatan dan pelayanan, serta pelaksanaan terhadap hal itu seba-gaimana yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang kuat, se-dangkan anak wanita tidak seperti itu, lalu Allah menguatkan hatinya dan menerima nadzarnya. Anak wanita itu bahkan menjadi lebih sempurna dan lebih baik dari kebanyakan anak laki-laki, bahkan dari mayoritas mereka, lalu maksud-maksud yang dikehendaki tercapai dengan lebih baik daripada yang diperoleh oleh anak laki-laki. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا ﴿ "Maka Rabbnya meneri-manya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik." Artinya ia dididik dengan didikan yang mengagumkan, baik agama, akhlak maupun bahasanya, di mana dengannya sempurnalah kondisinya, baiklah perkataan dan perbuatannya, kesempurnaannya tumbuh padanya, lalu Allah memudahkannya dengan Zakaria sebagai pemeliharanya. Ini meru-pakan karunia Allah atas hambaNya yaitu menjadikan orang yang menjadi pemeliharanya dari orang-orang yang terbaik dan shalih. Kemudian Allah تعالى memuliakan Maryam dan Zakaria di mana Allah memudahkan bagi Maryam rizki yang diperoleh tanpa keringat dan lelah, hal itu adalah sebuah karamah sebagai kemuliaan dari Allah untuknya, karena ﴾ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab," yakni tempat untuk ibadah, dan di sini terkandung isyarat akan banyaknya shalat yang dilaku-kan Maryam dan konsistensinya terhadap tempat ibadah tersebut, ﴾ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ ﴿ "maka dia mendapati makanan di sisinya" dengan nikmat dan tersedia. Zakaria berkata, ﴾ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ ﴿ "Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" ﴾ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ﴿ "Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab." Ketika Zakaria menyaksikan kondisi tersebut, kebaikan dan seperti itulah kasih Allah terhadap Maryam, maka itu mengingat-kan dirinya untuk memohon kepada Allah تعالى seorang anak laki-laki, dalam kondisinya yang hampir putus asa seraya berkata, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." ﴾ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Ke-mudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggem-birakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu), Yahya, yang mem-benarkan kalimat (yang datang) dari Allah," yakni, namanya (Yahya), dan kalimat yang datangnya dari Allah adalah Isa Ibnu Maryam, berita gembira itu adalah dengan Nabi yang mulia tersebut yang mengandung juga berita gembira dengan Isa Ibnu Maryam, sebagai pembenaran dan kesaksian tentang kerasulannya. Kalimat tersebut dari Allah, merupakan kalimat yang mulia di mana Allah mengkhususkan Isa Ibnu Maryam dengannya, bila tidak demikian, maka kalimat itu merupakan salah satu kalimatNya di mana dengannya Allah menciptakan segala makhluk, sebagai-mana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٖ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ 59 ﴿ "Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemu-dian Allah berfirman kepadanya, 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadi-lah dia." (Ali Imran: 59). Dan FirmanNya, ﴾ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا ﴿ "Menjadi ikutan dan menahan diri (dari hawa nafsu)." Artinya yang menjadi obyek berita gembira itu adalah Yahya yang merupakan panutan dari Rasul-rasul yang mulia dan yang terhormat, dan menahan diri (hashur), artinya, yang tidak bisa punya anak dan tidak berkehendak kepada wanita. Pendapat lain mengatakan orang yang dijaga dan diselamatkan dari dosa dan hawa nafsu yang menjerumuskan, dan yang terakhir inilah yang paling sesuai dari kedua makna tersebut. ﴾ وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih", maksud-nya, orang-orang yang mencapai puncak kebaikan yang tinggi. ﴾ قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَقَدۡ بَلَغَنِيَ ٱلۡكِبَرُ وَٱمۡرَأَتِي عَاقِرٞۖ ﴿ "Zakaria berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?'" Kedua hal itu merupakan penghalang, karena itu dari jalan manakah wahai Tuhan, saya mendapatkan anak tersebut padahal ada penghalangnya? ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya'." Bahwasanya sebagaimana telah berlaku hikmah-Nya dengan berjalannya segala sesuatu itu menurut sebab-sebabnya yang wajar, maka Allah juga terkadang merubah (hukum alam) tersebut karena Allah Maha Berbuat apa yang dikehendakiNya, di mana segala sebab telah patuh pada kekuasaanNya, kehendakNya dan keinginanNya terealisasikan padanya, dan tidak ada suatu sebab pun yang bisa menyalahi titahNya walaupun memiliki ke-kuatan yang besar sekalipun. ﴾ قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ ﴿ "Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)'," agar saya mendapatkan kebahagiaan dan rasa senang, walaupun sebenarnya saya yakin akan apa yang Engkau kabarkan wahai Rabbku. Akan tetapi agar jiwa ini senang dan hati ini tenang dengan pendahuluan-pendahuluan rahmat dan kasih sayang. ﴾ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمۡزٗاۗ ﴿ "Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat'," dan dalam masa itu, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِيرٗا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertas-bihlah di waktu petang dan pagi hari," yakni, awal hari dan di akhir-nya. Zakaria terlarang dari berbicara dengan orang lain pada masa tersebut, dan itu sesuai untuk didapatkannya seorang anak dari seorang suami yang telah tua dan istri yang mandul, keadaannya yang tidak mampu berbicara dengan orang lain padahal lisannya lancar berdzikir kepada Allah dan memujiNya adalah merupakan tanda yang lain. Maka ketika itulah ia mendapat kebahagiaan dan kesenangan tersebut, lalu ia bersyukur kepada Allah, dan ia mem-perbanyak dzikir dan tasbih pada saat petang maupun pagi hari. Dan anak bayi tersebut merupakan berkah dari Maryam binti Imran terhadap Zakaria. Karena apa yang Allah karuniakan atas Maryam berupa rizki yang banyak yang hadir tanpa hisab, meng-ingatkannya dan mengobarkannya untuk bermunajat dan memohon. Sedang Allah تعالى adalah Maha Memberi penyebab maupun aki-batnya, namun Allah menentukan beberapa perkara yang disukai, terjadi pada orang yang dicintaiNya, agar Allah mengangkat ke-hormatannya dan melimpahkan pahalanya. Allah تعالى kembali menyebutkan kisah Maryam, yaitu bahwa Maryam itu telah mencapai puncak ibadah dan kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu'." Maksudnya, Allah memilihmu dan memberikan kepadamu sifat-sifat yang mulia dan akhlak-akhlak yang luhur, ﴾ وَطَهَّرَكِ ﴿ "dan menyucikan kamu" dari akhlak-akhlak yang hina, ﴾ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ. وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Telah banyak yang mencapai kesempurnaan dari para laki-laki, namun belum mencapai kesempurnaan dari para wanita kecuali Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid; dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan daging yang dilapisi adonan[1] atas seluruh makanan yang ada."[2] Kemudian Malaikat menyeru Maryam atas perintah Allah untuknya agar ia menerima nikmat-nikmat Allah dan ia bersyukur kepada Allah, kemudian menunaikan segala hak-hakNya, dan me-nyibukkan diri untuk melayaniNya. Karena itu malaikat berkata, ﴾ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ ﴿ "Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu," artinya, per-banyaklah ketaatan, ketundukan, dan kekhusyu'an kepada Rabbmu lalu konsistenlah atas hal tersebut, ﴾ وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ﴿ "dan rukuklah ber-sama orang-orang yang rukuk," yakni shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Lalu ia menunaikan segala perkara yang diperintahkan hingga ia menjadi mulia dan istimewa dalam kesempurnaannya. Kisah ini dan kisah-kisah lainnya merupakan dalil yang paling besar atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ di mana beliau menga-barkan tentang kisah tersebut secara terperinci lagi autentik yang tidak ada penambahan maupun pengurangan padanya. Semua itu karena ia merupakan wahyu dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan bukan karena belajar dari manusia. Allah تعالى berfirman,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam," yaitu ketika ibunya membawanya kepada kaumnya, lalu mereka berselisih siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam, karena ia adalah anak wanita pemimpin mereka dan tokoh mereka, sedang mereka semua menginginkan kebaikan dan pahala dari Allah, hingga terjadilah perselisihan yang sengit, yang akhirnya mereka harus mengadakan undian atasnya, lalu mereka melemparkan pena-pena mereka seraya mengundi dan ternyata undian itu jatuh pada Zakaria sebagai suatu rahmat dari Allah untuknya dan untuk anak wanita Imran tersebut. Maka engkau -wahai Rasul- tidak hadir saat itu hingga eng-kau mengetahuinya dan menceritakannya kepada manusia, akan tetapi Allah yang mengabarkan kepadamu tentang kisah tersebut. Inilah maksud terbesar dari adanya kisah-kisah dalam al-Qur`an yaitu bahwasanya ia menjadi pelajaran bagi manusia. Dan pela-jaran yang paling agung adalah berdalil dengannya atas tauhid, kerasulan, kebangkitan kembali, dari pokok-pokok Agama lainnya. ﴾ إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, se-sungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dariNya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)'." Maksudnya, ia mempunyai kedudukan dan posisi yang agung di dunia dan akhirat di antara para makhluk. Di samping itu, dia termasuk di antara makhluk Allah yang paling dekat kepadaNya dan paling tinggi derajatnya. Ini merupakan kabar gembira yang tidak dapat disamakan dengan kabar-kabar gembira lainnya. Dan di antara kesempurnaan dari kabar gembira itu adalah bahwa dia ﴾ ي ُ ك َ ل ّ ِ م ُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ ﴿ "berbicara dengan manusia dalam buaian", sehingga kemampuan berbicara saat dalam buaian itu merupakan tanda kebesaran di antara tanda-tanda kebesaran Allah dan rahmat dariNya kepada ibunya dan kepada manusia seluruhnya. Demikian juga ia berbicara dengan mereka ﴾ وَكَهۡلٗا ﴿ "ketika sudah dewasa", yaitu pada saat ia telah besar. Ini merupakan ungkapan kenabian, dakwah, dan bimbingan. Berbicaranya saat dalam buaian merupakan tanda kebesaran dan keterangan yang jelas atas kebenarannya, kenabiannya, dan ter-bebasnya ibunya dari segala sangkaan buruk yang ditudingkan kepadanya. Dan pembicaraannya saat telah dewasa mengandung manfaat yang besar bagi manusia, dan bahwa ia adalah perantara antara manusia dengan Tuhan mereka dalam hal wahyuNya dan penyampaian agama dan syariatNya. Di samping itu juga ia ﴾ م ِ ن َ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "adalah termasuk orang-orang yang shalih", yakni, orang-orang yang hati mereka diberikan keshalihan oleh Allah dengan mengenal dan mencintaiNya, dan lisan mereka diberikan keshalihan dengan pujian atasNya dan dzikir kepadaNya, dan tubuh mereka diberikan keshalihan dengan ketaatan kepadaNya dan melayaniNya. Dan FirmanNya, ﴾ قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ ﴿ "Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun?'" Ini merupakan perkara yang aneh. ﴾ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya'," untuk memberitakan kepada hamba-hambaNya bahwa Dia adalah Maha-kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada penghalang bagi kehendak-Nya. ﴾ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia." ﴾ وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab," yaitu, kitab-kitab terdahulu pada umumnya yang memutuskan hukum di antara manusia, dan Allah memberikan kepadanya ke-nabian lalu Allah menjadikannya ﴾ وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "(sebagai) Rasul kepada Bani Israil." Allah mengukuhkannya dengan ayat-ayat yang jelas serta dalil-dalil yang tegas di mana dia berkata, ﴾ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu," yang menjelaskan kepada kalian bahwa aku adalah benar-benar seorang Rasul Allah. Yang demikian itu,﴾ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ ﴿ "bahwa aku membuat untuk kamu dari tanah ber-bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya," yakni yang kedua matanya cacat, hilang pandangannya dan buta, ﴾ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demi-kian itu," yakni hal-hal yang telah disebutkan, ﴾ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 49 وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepada-mu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku." Allah mengukuhkan beliau dengan dua bentuk ayat dan bukti nyata yaitu hal-hal di luar kebiasaan yang tidak mungkin dilaku-kan oleh selain nabi untuk menghadirkannya, juga kerasulan dan dakwah serta agama yang dibawa olehnya yang mana ajaran itu adalah agama Taurat dan agama nabi-nabi sebelumnya. Ini meru-pakan dalil yang paling besar atas kebenaran orang-orang yang benar, karena seandainya ia di antara orang-orang yang dusta, niscaya pasti ia akan menyalahi apa yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya dan akan menyimpang dari mereka dalam masalah-masalah akidah dan hukum-hukum mereka. Dengan demikian diketahuilah bahwa beliau adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau adalah benar, yang tidak ada keraguan padanya. Juga perkataannya, ﴾ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu," yakni, agar saya meringankan dari kalian beberapa beban dan tanggung jawab. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ 50 إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia." Ini adalah ajaran yang di-serukan oleh seluruh Rasul, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya dan taat kepada mereka, dan inilah jalan yang lurus di mana orang yang menempuhnya akan menghantarkannya kepada surga yang penuh nikmat. Saat itulah sikap kelompok-kelompok Bani Israil terpecah terhadap Nabi Isa عليه السلام. Di antara mereka ada yang beriman kepada beliau dan mengikuti beliau, dan di antara mereka ada yang kafir kepada beliau, mendustai beliau dan memfitnah ibu beliau sebagai seorang yang melakukan kekejian, sebagaimana (yang dilakukan orang-orang) Yahudi. ﴾ فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ ﴿ "Maka tatkala Isa me-ngetahui keingkaran mereka (Bani lsrail)" dan sepakat dalam menolak dakwah beliau, ﴾ قَالَ ﴿ "Isa berkata" seraya menyeru Bani Israil untuk menjadi penolongnya, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab," yakni orang-orang yang membela, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kamilah peno-long-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikan-lah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." Ini merupakan anugerah Allah atas mereka dan khususnya atas Nabi Isa عليه السلام, di mana Allah telah menjadikan para hawariyyun tersebut beriman kepadaNya, tunduk dalam ketaatan kepadaNya dan membela RasulNya. ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul." Ini adalah suatu integritas yang sempurna dalam beriman kepada seluruh hal yang diturunkan oleh Allah dan dalam menaati RasulNya. ﴾ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Karena itu masuk-kanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi" bagiMu dengan keesaan dan bagi RasulMu dengan kerasulan serta bagi agamaMu dengan kebenaran dan kejujuran. Adapun orang-orang yang dirasakan oleh Isa عليه السلام penging-karan mereka, sedang mereka itu adalah sebagian besar Bani Israil, maka mereka ﴾ وَمَكَرُواْ ﴿ "membuat tipu daya" terhadap Nabi Isa, ﴾ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ ﴿ "dan Allah membalas tipu daya itu" terhadap mereka, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." Mereka bersepakat untuk membunuh dan menyalibnya, namun dijadikan buat mereka orang yang serupa dengan Nabi Isa lalu mereka me-nangkap orang yang serupa tersebut, dan Allah berfirman kepada Isa, ﴾ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." Lalu Allah mengangkatnya kepadaNya dan membersihkannya dari orang-orang kafir, dan orang-orang kafir itu menyalib orang yang telah mereka bunuh tersebut seraya menduga bahwa orang yang mereka salib itu adalah Isa عليه السلام, dan mereka justru menanggung dosa yang besar. Dan Isa Ibnu Maryam عليه السلام akan turun kembali di akhir masa umat ini sebagai hakim yang adil, ia akan membunuh babi, meng-hancurkan salib dan ia akan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Orang-orang yang berdusta itu akan mengetahui keterpedayaan dan ketertipuan mereka yaitu bahwa mereka itu telah terpedaya dan tertipu. Dan FirmanNya,﴾ وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ فَوۡقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ ﴿ "Dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat." Yang dimaksud orang-orang yang mengikutinya adalah kelompok yang telah beriman kepada beliau, dan Allah membela mereka atas orang-orang yang menyimpang dari agamaNya. Kemudian ketika umat Muhammad ﷺ tiba, mereka itu benar-benar mengikutinya hingga Allah me-nguatkan mereka dan membela mereka atas orang-orang yang kafir secara keseluruhan, dan Allah memenangkan mereka dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka. ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." (An-Nur: 55). Akan tetapi hikmah Allah itu adil, yaitu bahwasanya hikmah-Nya berlaku bagi siapa yang berpegang teguh dengan Agama, niscaya Allah akan membelanya dengan pembelaan yang nyata, dan bahwa orang yang meninggalkan perintahNya dan melanggar laranganNya, melemparkan syariatNya dan berani lancang berbuat kemaksiatan kepadaNya, niscaya Dia akan menghukumnya dan akan membuat musuh-musuhnya menguasainya. Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana. Dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأَحۡكُمُ بَيۡنَكُمۡ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." Kemudian Allah menjelaskan tentang apa yang dilakukanNya terhadap mereka, seraya berfirman,

Ali 'Imran 3:40

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (ke-turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri 'Imran berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepadaMu anak yang dalam kan-dunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis), karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' Maka tatkala istri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perem-puan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari setan yang terkutuk.' Maka Rabbnya menerimanya (se-bagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria seba-gai pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, maka ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria ber-kata, 'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnya seraya ber-kata, 'Ya Rabbku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.' Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenar-kan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shalih.' Zakaria berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul.' Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.' Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).' Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manu-sia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.' Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.' Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari padaNya, namanya al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.' Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.' Allah berfirman (de-ngan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sung-guh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu de-ngan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.' Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia, 'Siapakah yang akan menjadi peno-long-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah.' Para hawa-riyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksi-kanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang ber-serah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).' Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu serta membersih-kan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu ber-selisih padanya'." (Ali Imran: 33-55). (33-55) Allah memiliki hamba-hamba pilihan dari seluruh hamba-hambaNya. Dia memilih mereka, memilah mereka dan mengaruniakan atas mereka keutamaan-keutamaan yang tinggi, sifat-sifat yang luhur, ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal perbuatan yang shalih, dan keistimewaan-keistimewaan yang bermacam-macam. Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut dan apa yang di dalamnya berupa manusia-manusia agung yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan bahwasanya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak cucu mereka, yang mencakup laki-laki maupun wanita di antara mereka. Ini merupakan karuniaNya yang paling utama dan tempat-tempat kemurahan dan kebaikanNya yang paling utama,﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿ "dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," Dia menge-tahui siapa yang berhak menerima keutamaan dan penghormatan, hingga Dia meletakkan keutamaanNya itu yang didasari oleh hik-mahNya yang pasti. Ketika Allah menetapkan keagungan keluarga tersebut lalu Allah menyebutkan kisah Maryam dan putranya, Isa عليه السلام, dan bagaimana turun temurunnya dari keluarga yang mulia ini, dan bagaimana silih bergantinya keadaan keduanya dari awal hingga akhirnya, dan bahwa istri Imran berkata seraya tunduk kepada Rabbnya dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan persembahan yang Dia cintai, yang mengandung pengagungan terhadap rumahNya dan konsistensi dalam ketaatanNya, (istri Imran berkata), ﴾ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا ﴿ "Sesungguhnya aku mena-dzarkan kepadaMu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)," yakni, sebagai pelayan bagi rumah ibadah yang dipenuhi dengan ahli-ahli ibadah. ﴾ فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ ﴿ "Karena itu terimalah (nadzar) itu dari padaku," yakni perbuatan ini, maksudnya, jadikanlah ia di atas dasar keimanan dan keikhlasan yang membuahkan kebaikan dan pahala. ﴾ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ 35 ﴿ "Se-sungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." ﴾ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ ﴿ "Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan;' dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan." Seolah-olah dalam perkataan ini menyim-pan makna ketundukan dan jiwa yang pasrah, di mana nadzarnya itu didasari oleh harapan anak itu adalah laki-laki yang memiliki kekuatan dan pelayanan, serta pelaksanaan terhadap hal itu seba-gaimana yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang kuat, se-dangkan anak wanita tidak seperti itu, lalu Allah menguatkan hatinya dan menerima nadzarnya. Anak wanita itu bahkan menjadi lebih sempurna dan lebih baik dari kebanyakan anak laki-laki, bahkan dari mayoritas mereka, lalu maksud-maksud yang dikehendaki tercapai dengan lebih baik daripada yang diperoleh oleh anak laki-laki. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا ﴿ "Maka Rabbnya meneri-manya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik." Artinya ia dididik dengan didikan yang mengagumkan, baik agama, akhlak maupun bahasanya, di mana dengannya sempurnalah kondisinya, baiklah perkataan dan perbuatannya, kesempurnaannya tumbuh padanya, lalu Allah memudahkannya dengan Zakaria sebagai pemeliharanya. Ini meru-pakan karunia Allah atas hambaNya yaitu menjadikan orang yang menjadi pemeliharanya dari orang-orang yang terbaik dan shalih. Kemudian Allah تعالى memuliakan Maryam dan Zakaria di mana Allah memudahkan bagi Maryam rizki yang diperoleh tanpa keringat dan lelah, hal itu adalah sebuah karamah sebagai kemuliaan dari Allah untuknya, karena ﴾ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab," yakni tempat untuk ibadah, dan di sini terkandung isyarat akan banyaknya shalat yang dilaku-kan Maryam dan konsistensinya terhadap tempat ibadah tersebut, ﴾ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ ﴿ "maka dia mendapati makanan di sisinya" dengan nikmat dan tersedia. Zakaria berkata, ﴾ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ ﴿ "Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" ﴾ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ﴿ "Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab." Ketika Zakaria menyaksikan kondisi tersebut, kebaikan dan seperti itulah kasih Allah terhadap Maryam, maka itu mengingat-kan dirinya untuk memohon kepada Allah تعالى seorang anak laki-laki, dalam kondisinya yang hampir putus asa seraya berkata, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." ﴾ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Ke-mudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggem-birakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu), Yahya, yang mem-benarkan kalimat (yang datang) dari Allah," yakni, namanya (Yahya), dan kalimat yang datangnya dari Allah adalah Isa Ibnu Maryam, berita gembira itu adalah dengan Nabi yang mulia tersebut yang mengandung juga berita gembira dengan Isa Ibnu Maryam, sebagai pembenaran dan kesaksian tentang kerasulannya. Kalimat tersebut dari Allah, merupakan kalimat yang mulia di mana Allah mengkhususkan Isa Ibnu Maryam dengannya, bila tidak demikian, maka kalimat itu merupakan salah satu kalimatNya di mana dengannya Allah menciptakan segala makhluk, sebagai-mana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٖ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ 59 ﴿ "Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemu-dian Allah berfirman kepadanya, 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadi-lah dia." (Ali Imran: 59). Dan FirmanNya, ﴾ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا ﴿ "Menjadi ikutan dan menahan diri (dari hawa nafsu)." Artinya yang menjadi obyek berita gembira itu adalah Yahya yang merupakan panutan dari Rasul-rasul yang mulia dan yang terhormat, dan menahan diri (hashur), artinya, yang tidak bisa punya anak dan tidak berkehendak kepada wanita. Pendapat lain mengatakan orang yang dijaga dan diselamatkan dari dosa dan hawa nafsu yang menjerumuskan, dan yang terakhir inilah yang paling sesuai dari kedua makna tersebut. ﴾ وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih", maksud-nya, orang-orang yang mencapai puncak kebaikan yang tinggi. ﴾ قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَقَدۡ بَلَغَنِيَ ٱلۡكِبَرُ وَٱمۡرَأَتِي عَاقِرٞۖ ﴿ "Zakaria berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?'" Kedua hal itu merupakan penghalang, karena itu dari jalan manakah wahai Tuhan, saya mendapatkan anak tersebut padahal ada penghalangnya? ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya'." Bahwasanya sebagaimana telah berlaku hikmah-Nya dengan berjalannya segala sesuatu itu menurut sebab-sebabnya yang wajar, maka Allah juga terkadang merubah (hukum alam) tersebut karena Allah Maha Berbuat apa yang dikehendakiNya, di mana segala sebab telah patuh pada kekuasaanNya, kehendakNya dan keinginanNya terealisasikan padanya, dan tidak ada suatu sebab pun yang bisa menyalahi titahNya walaupun memiliki ke-kuatan yang besar sekalipun. ﴾ قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ ﴿ "Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)'," agar saya mendapatkan kebahagiaan dan rasa senang, walaupun sebenarnya saya yakin akan apa yang Engkau kabarkan wahai Rabbku. Akan tetapi agar jiwa ini senang dan hati ini tenang dengan pendahuluan-pendahuluan rahmat dan kasih sayang. ﴾ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمۡزٗاۗ ﴿ "Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat'," dan dalam masa itu, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِيرٗا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertas-bihlah di waktu petang dan pagi hari," yakni, awal hari dan di akhir-nya. Zakaria terlarang dari berbicara dengan orang lain pada masa tersebut, dan itu sesuai untuk didapatkannya seorang anak dari seorang suami yang telah tua dan istri yang mandul, keadaannya yang tidak mampu berbicara dengan orang lain padahal lisannya lancar berdzikir kepada Allah dan memujiNya adalah merupakan tanda yang lain. Maka ketika itulah ia mendapat kebahagiaan dan kesenangan tersebut, lalu ia bersyukur kepada Allah, dan ia mem-perbanyak dzikir dan tasbih pada saat petang maupun pagi hari. Dan anak bayi tersebut merupakan berkah dari Maryam binti Imran terhadap Zakaria. Karena apa yang Allah karuniakan atas Maryam berupa rizki yang banyak yang hadir tanpa hisab, meng-ingatkannya dan mengobarkannya untuk bermunajat dan memohon. Sedang Allah تعالى adalah Maha Memberi penyebab maupun aki-batnya, namun Allah menentukan beberapa perkara yang disukai, terjadi pada orang yang dicintaiNya, agar Allah mengangkat ke-hormatannya dan melimpahkan pahalanya. Allah تعالى kembali menyebutkan kisah Maryam, yaitu bahwa Maryam itu telah mencapai puncak ibadah dan kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu'." Maksudnya, Allah memilihmu dan memberikan kepadamu sifat-sifat yang mulia dan akhlak-akhlak yang luhur, ﴾ وَطَهَّرَكِ ﴿ "dan menyucikan kamu" dari akhlak-akhlak yang hina, ﴾ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ. وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Telah banyak yang mencapai kesempurnaan dari para laki-laki, namun belum mencapai kesempurnaan dari para wanita kecuali Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid; dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan daging yang dilapisi adonan[1] atas seluruh makanan yang ada."[2] Kemudian Malaikat menyeru Maryam atas perintah Allah untuknya agar ia menerima nikmat-nikmat Allah dan ia bersyukur kepada Allah, kemudian menunaikan segala hak-hakNya, dan me-nyibukkan diri untuk melayaniNya. Karena itu malaikat berkata, ﴾ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ ﴿ "Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu," artinya, per-banyaklah ketaatan, ketundukan, dan kekhusyu'an kepada Rabbmu lalu konsistenlah atas hal tersebut, ﴾ وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ﴿ "dan rukuklah ber-sama orang-orang yang rukuk," yakni shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Lalu ia menunaikan segala perkara yang diperintahkan hingga ia menjadi mulia dan istimewa dalam kesempurnaannya. Kisah ini dan kisah-kisah lainnya merupakan dalil yang paling besar atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ di mana beliau menga-barkan tentang kisah tersebut secara terperinci lagi autentik yang tidak ada penambahan maupun pengurangan padanya. Semua itu karena ia merupakan wahyu dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan bukan karena belajar dari manusia. Allah تعالى berfirman,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam," yaitu ketika ibunya membawanya kepada kaumnya, lalu mereka berselisih siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam, karena ia adalah anak wanita pemimpin mereka dan tokoh mereka, sedang mereka semua menginginkan kebaikan dan pahala dari Allah, hingga terjadilah perselisihan yang sengit, yang akhirnya mereka harus mengadakan undian atasnya, lalu mereka melemparkan pena-pena mereka seraya mengundi dan ternyata undian itu jatuh pada Zakaria sebagai suatu rahmat dari Allah untuknya dan untuk anak wanita Imran tersebut. Maka engkau -wahai Rasul- tidak hadir saat itu hingga eng-kau mengetahuinya dan menceritakannya kepada manusia, akan tetapi Allah yang mengabarkan kepadamu tentang kisah tersebut. Inilah maksud terbesar dari adanya kisah-kisah dalam al-Qur`an yaitu bahwasanya ia menjadi pelajaran bagi manusia. Dan pela-jaran yang paling agung adalah berdalil dengannya atas tauhid, kerasulan, kebangkitan kembali, dari pokok-pokok Agama lainnya. ﴾ إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, se-sungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dariNya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)'." Maksudnya, ia mempunyai kedudukan dan posisi yang agung di dunia dan akhirat di antara para makhluk. Di samping itu, dia termasuk di antara makhluk Allah yang paling dekat kepadaNya dan paling tinggi derajatnya. Ini merupakan kabar gembira yang tidak dapat disamakan dengan kabar-kabar gembira lainnya. Dan di antara kesempurnaan dari kabar gembira itu adalah bahwa dia ﴾ ي ُ ك َ ل ّ ِ م ُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ ﴿ "berbicara dengan manusia dalam buaian", sehingga kemampuan berbicara saat dalam buaian itu merupakan tanda kebesaran di antara tanda-tanda kebesaran Allah dan rahmat dariNya kepada ibunya dan kepada manusia seluruhnya. Demikian juga ia berbicara dengan mereka ﴾ وَكَهۡلٗا ﴿ "ketika sudah dewasa", yaitu pada saat ia telah besar. Ini merupakan ungkapan kenabian, dakwah, dan bimbingan. Berbicaranya saat dalam buaian merupakan tanda kebesaran dan keterangan yang jelas atas kebenarannya, kenabiannya, dan ter-bebasnya ibunya dari segala sangkaan buruk yang ditudingkan kepadanya. Dan pembicaraannya saat telah dewasa mengandung manfaat yang besar bagi manusia, dan bahwa ia adalah perantara antara manusia dengan Tuhan mereka dalam hal wahyuNya dan penyampaian agama dan syariatNya. Di samping itu juga ia ﴾ م ِ ن َ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "adalah termasuk orang-orang yang shalih", yakni, orang-orang yang hati mereka diberikan keshalihan oleh Allah dengan mengenal dan mencintaiNya, dan lisan mereka diberikan keshalihan dengan pujian atasNya dan dzikir kepadaNya, dan tubuh mereka diberikan keshalihan dengan ketaatan kepadaNya dan melayaniNya. Dan FirmanNya, ﴾ قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ ﴿ "Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun?'" Ini merupakan perkara yang aneh. ﴾ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya'," untuk memberitakan kepada hamba-hambaNya bahwa Dia adalah Maha-kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada penghalang bagi kehendak-Nya. ﴾ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia." ﴾ وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab," yaitu, kitab-kitab terdahulu pada umumnya yang memutuskan hukum di antara manusia, dan Allah memberikan kepadanya ke-nabian lalu Allah menjadikannya ﴾ وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "(sebagai) Rasul kepada Bani Israil." Allah mengukuhkannya dengan ayat-ayat yang jelas serta dalil-dalil yang tegas di mana dia berkata, ﴾ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu," yang menjelaskan kepada kalian bahwa aku adalah benar-benar seorang Rasul Allah. Yang demikian itu,﴾ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ ﴿ "bahwa aku membuat untuk kamu dari tanah ber-bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya," yakni yang kedua matanya cacat, hilang pandangannya dan buta, ﴾ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demi-kian itu," yakni hal-hal yang telah disebutkan, ﴾ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 49 وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepada-mu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku." Allah mengukuhkan beliau dengan dua bentuk ayat dan bukti nyata yaitu hal-hal di luar kebiasaan yang tidak mungkin dilaku-kan oleh selain nabi untuk menghadirkannya, juga kerasulan dan dakwah serta agama yang dibawa olehnya yang mana ajaran itu adalah agama Taurat dan agama nabi-nabi sebelumnya. Ini meru-pakan dalil yang paling besar atas kebenaran orang-orang yang benar, karena seandainya ia di antara orang-orang yang dusta, niscaya pasti ia akan menyalahi apa yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya dan akan menyimpang dari mereka dalam masalah-masalah akidah dan hukum-hukum mereka. Dengan demikian diketahuilah bahwa beliau adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau adalah benar, yang tidak ada keraguan padanya. Juga perkataannya, ﴾ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu," yakni, agar saya meringankan dari kalian beberapa beban dan tanggung jawab. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ 50 إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia." Ini adalah ajaran yang di-serukan oleh seluruh Rasul, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya dan taat kepada mereka, dan inilah jalan yang lurus di mana orang yang menempuhnya akan menghantarkannya kepada surga yang penuh nikmat. Saat itulah sikap kelompok-kelompok Bani Israil terpecah terhadap Nabi Isa عليه السلام. Di antara mereka ada yang beriman kepada beliau dan mengikuti beliau, dan di antara mereka ada yang kafir kepada beliau, mendustai beliau dan memfitnah ibu beliau sebagai seorang yang melakukan kekejian, sebagaimana (yang dilakukan orang-orang) Yahudi. ﴾ فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ ﴿ "Maka tatkala Isa me-ngetahui keingkaran mereka (Bani lsrail)" dan sepakat dalam menolak dakwah beliau, ﴾ قَالَ ﴿ "Isa berkata" seraya menyeru Bani Israil untuk menjadi penolongnya, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab," yakni orang-orang yang membela, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kamilah peno-long-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikan-lah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." Ini merupakan anugerah Allah atas mereka dan khususnya atas Nabi Isa عليه السلام, di mana Allah telah menjadikan para hawariyyun tersebut beriman kepadaNya, tunduk dalam ketaatan kepadaNya dan membela RasulNya. ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul." Ini adalah suatu integritas yang sempurna dalam beriman kepada seluruh hal yang diturunkan oleh Allah dan dalam menaati RasulNya. ﴾ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Karena itu masuk-kanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi" bagiMu dengan keesaan dan bagi RasulMu dengan kerasulan serta bagi agamaMu dengan kebenaran dan kejujuran. Adapun orang-orang yang dirasakan oleh Isa عليه السلام penging-karan mereka, sedang mereka itu adalah sebagian besar Bani Israil, maka mereka ﴾ وَمَكَرُواْ ﴿ "membuat tipu daya" terhadap Nabi Isa, ﴾ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ ﴿ "dan Allah membalas tipu daya itu" terhadap mereka, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." Mereka bersepakat untuk membunuh dan menyalibnya, namun dijadikan buat mereka orang yang serupa dengan Nabi Isa lalu mereka me-nangkap orang yang serupa tersebut, dan Allah berfirman kepada Isa, ﴾ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." Lalu Allah mengangkatnya kepadaNya dan membersihkannya dari orang-orang kafir, dan orang-orang kafir itu menyalib orang yang telah mereka bunuh tersebut seraya menduga bahwa orang yang mereka salib itu adalah Isa عليه السلام, dan mereka justru menanggung dosa yang besar. Dan Isa Ibnu Maryam عليه السلام akan turun kembali di akhir masa umat ini sebagai hakim yang adil, ia akan membunuh babi, meng-hancurkan salib dan ia akan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Orang-orang yang berdusta itu akan mengetahui keterpedayaan dan ketertipuan mereka yaitu bahwa mereka itu telah terpedaya dan tertipu. Dan FirmanNya,﴾ وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ فَوۡقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ ﴿ "Dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat." Yang dimaksud orang-orang yang mengikutinya adalah kelompok yang telah beriman kepada beliau, dan Allah membela mereka atas orang-orang yang menyimpang dari agamaNya. Kemudian ketika umat Muhammad ﷺ tiba, mereka itu benar-benar mengikutinya hingga Allah me-nguatkan mereka dan membela mereka atas orang-orang yang kafir secara keseluruhan, dan Allah memenangkan mereka dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka. ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." (An-Nur: 55). Akan tetapi hikmah Allah itu adil, yaitu bahwasanya hikmah-Nya berlaku bagi siapa yang berpegang teguh dengan Agama, niscaya Allah akan membelanya dengan pembelaan yang nyata, dan bahwa orang yang meninggalkan perintahNya dan melanggar laranganNya, melemparkan syariatNya dan berani lancang berbuat kemaksiatan kepadaNya, niscaya Dia akan menghukumnya dan akan membuat musuh-musuhnya menguasainya. Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana. Dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأَحۡكُمُ بَيۡنَكُمۡ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." Kemudian Allah menjelaskan tentang apa yang dilakukanNya terhadap mereka, seraya berfirman,

Ali 'Imran 3:41

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (ke-turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri 'Imran berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepadaMu anak yang dalam kan-dunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis), karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' Maka tatkala istri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perem-puan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari setan yang terkutuk.' Maka Rabbnya menerimanya (se-bagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria seba-gai pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, maka ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria ber-kata, 'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnya seraya ber-kata, 'Ya Rabbku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.' Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenar-kan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shalih.' Zakaria berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul.' Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.' Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).' Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manu-sia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.' Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.' Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari padaNya, namanya al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.' Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.' Allah berfirman (de-ngan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sung-guh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu de-ngan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.' Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia, 'Siapakah yang akan menjadi peno-long-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah.' Para hawa-riyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksi-kanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang ber-serah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).' Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu serta membersih-kan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu ber-selisih padanya'." (Ali Imran: 33-55). (33-55) Allah memiliki hamba-hamba pilihan dari seluruh hamba-hambaNya. Dia memilih mereka, memilah mereka dan mengaruniakan atas mereka keutamaan-keutamaan yang tinggi, sifat-sifat yang luhur, ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal perbuatan yang shalih, dan keistimewaan-keistimewaan yang bermacam-macam. Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut dan apa yang di dalamnya berupa manusia-manusia agung yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan bahwasanya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak cucu mereka, yang mencakup laki-laki maupun wanita di antara mereka. Ini merupakan karuniaNya yang paling utama dan tempat-tempat kemurahan dan kebaikanNya yang paling utama,﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿ "dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," Dia menge-tahui siapa yang berhak menerima keutamaan dan penghormatan, hingga Dia meletakkan keutamaanNya itu yang didasari oleh hik-mahNya yang pasti. Ketika Allah menetapkan keagungan keluarga tersebut lalu Allah menyebutkan kisah Maryam dan putranya, Isa عليه السلام, dan bagaimana turun temurunnya dari keluarga yang mulia ini, dan bagaimana silih bergantinya keadaan keduanya dari awal hingga akhirnya, dan bahwa istri Imran berkata seraya tunduk kepada Rabbnya dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan persembahan yang Dia cintai, yang mengandung pengagungan terhadap rumahNya dan konsistensi dalam ketaatanNya, (istri Imran berkata), ﴾ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا ﴿ "Sesungguhnya aku mena-dzarkan kepadaMu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)," yakni, sebagai pelayan bagi rumah ibadah yang dipenuhi dengan ahli-ahli ibadah. ﴾ فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ ﴿ "Karena itu terimalah (nadzar) itu dari padaku," yakni perbuatan ini, maksudnya, jadikanlah ia di atas dasar keimanan dan keikhlasan yang membuahkan kebaikan dan pahala. ﴾ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ 35 ﴿ "Se-sungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." ﴾ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ ﴿ "Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan;' dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan." Seolah-olah dalam perkataan ini menyim-pan makna ketundukan dan jiwa yang pasrah, di mana nadzarnya itu didasari oleh harapan anak itu adalah laki-laki yang memiliki kekuatan dan pelayanan, serta pelaksanaan terhadap hal itu seba-gaimana yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang kuat, se-dangkan anak wanita tidak seperti itu, lalu Allah menguatkan hatinya dan menerima nadzarnya. Anak wanita itu bahkan menjadi lebih sempurna dan lebih baik dari kebanyakan anak laki-laki, bahkan dari mayoritas mereka, lalu maksud-maksud yang dikehendaki tercapai dengan lebih baik daripada yang diperoleh oleh anak laki-laki. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا ﴿ "Maka Rabbnya meneri-manya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik." Artinya ia dididik dengan didikan yang mengagumkan, baik agama, akhlak maupun bahasanya, di mana dengannya sempurnalah kondisinya, baiklah perkataan dan perbuatannya, kesempurnaannya tumbuh padanya, lalu Allah memudahkannya dengan Zakaria sebagai pemeliharanya. Ini meru-pakan karunia Allah atas hambaNya yaitu menjadikan orang yang menjadi pemeliharanya dari orang-orang yang terbaik dan shalih. Kemudian Allah تعالى memuliakan Maryam dan Zakaria di mana Allah memudahkan bagi Maryam rizki yang diperoleh tanpa keringat dan lelah, hal itu adalah sebuah karamah sebagai kemuliaan dari Allah untuknya, karena ﴾ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab," yakni tempat untuk ibadah, dan di sini terkandung isyarat akan banyaknya shalat yang dilaku-kan Maryam dan konsistensinya terhadap tempat ibadah tersebut, ﴾ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ ﴿ "maka dia mendapati makanan di sisinya" dengan nikmat dan tersedia. Zakaria berkata, ﴾ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ ﴿ "Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" ﴾ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ﴿ "Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab." Ketika Zakaria menyaksikan kondisi tersebut, kebaikan dan seperti itulah kasih Allah terhadap Maryam, maka itu mengingat-kan dirinya untuk memohon kepada Allah تعالى seorang anak laki-laki, dalam kondisinya yang hampir putus asa seraya berkata, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." ﴾ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Ke-mudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggem-birakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu), Yahya, yang mem-benarkan kalimat (yang datang) dari Allah," yakni, namanya (Yahya), dan kalimat yang datangnya dari Allah adalah Isa Ibnu Maryam, berita gembira itu adalah dengan Nabi yang mulia tersebut yang mengandung juga berita gembira dengan Isa Ibnu Maryam, sebagai pembenaran dan kesaksian tentang kerasulannya. Kalimat tersebut dari Allah, merupakan kalimat yang mulia di mana Allah mengkhususkan Isa Ibnu Maryam dengannya, bila tidak demikian, maka kalimat itu merupakan salah satu kalimatNya di mana dengannya Allah menciptakan segala makhluk, sebagai-mana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٖ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ 59 ﴿ "Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemu-dian Allah berfirman kepadanya, 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadi-lah dia." (Ali Imran: 59). Dan FirmanNya, ﴾ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا ﴿ "Menjadi ikutan dan menahan diri (dari hawa nafsu)." Artinya yang menjadi obyek berita gembira itu adalah Yahya yang merupakan panutan dari Rasul-rasul yang mulia dan yang terhormat, dan menahan diri (hashur), artinya, yang tidak bisa punya anak dan tidak berkehendak kepada wanita. Pendapat lain mengatakan orang yang dijaga dan diselamatkan dari dosa dan hawa nafsu yang menjerumuskan, dan yang terakhir inilah yang paling sesuai dari kedua makna tersebut. ﴾ وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih", maksud-nya, orang-orang yang mencapai puncak kebaikan yang tinggi. ﴾ قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَقَدۡ بَلَغَنِيَ ٱلۡكِبَرُ وَٱمۡرَأَتِي عَاقِرٞۖ ﴿ "Zakaria berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?'" Kedua hal itu merupakan penghalang, karena itu dari jalan manakah wahai Tuhan, saya mendapatkan anak tersebut padahal ada penghalangnya? ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya'." Bahwasanya sebagaimana telah berlaku hikmah-Nya dengan berjalannya segala sesuatu itu menurut sebab-sebabnya yang wajar, maka Allah juga terkadang merubah (hukum alam) tersebut karena Allah Maha Berbuat apa yang dikehendakiNya, di mana segala sebab telah patuh pada kekuasaanNya, kehendakNya dan keinginanNya terealisasikan padanya, dan tidak ada suatu sebab pun yang bisa menyalahi titahNya walaupun memiliki ke-kuatan yang besar sekalipun. ﴾ قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ ﴿ "Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)'," agar saya mendapatkan kebahagiaan dan rasa senang, walaupun sebenarnya saya yakin akan apa yang Engkau kabarkan wahai Rabbku. Akan tetapi agar jiwa ini senang dan hati ini tenang dengan pendahuluan-pendahuluan rahmat dan kasih sayang. ﴾ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمۡزٗاۗ ﴿ "Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat'," dan dalam masa itu, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِيرٗا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertas-bihlah di waktu petang dan pagi hari," yakni, awal hari dan di akhir-nya. Zakaria terlarang dari berbicara dengan orang lain pada masa tersebut, dan itu sesuai untuk didapatkannya seorang anak dari seorang suami yang telah tua dan istri yang mandul, keadaannya yang tidak mampu berbicara dengan orang lain padahal lisannya lancar berdzikir kepada Allah dan memujiNya adalah merupakan tanda yang lain. Maka ketika itulah ia mendapat kebahagiaan dan kesenangan tersebut, lalu ia bersyukur kepada Allah, dan ia mem-perbanyak dzikir dan tasbih pada saat petang maupun pagi hari. Dan anak bayi tersebut merupakan berkah dari Maryam binti Imran terhadap Zakaria. Karena apa yang Allah karuniakan atas Maryam berupa rizki yang banyak yang hadir tanpa hisab, meng-ingatkannya dan mengobarkannya untuk bermunajat dan memohon. Sedang Allah تعالى adalah Maha Memberi penyebab maupun aki-batnya, namun Allah menentukan beberapa perkara yang disukai, terjadi pada orang yang dicintaiNya, agar Allah mengangkat ke-hormatannya dan melimpahkan pahalanya. Allah تعالى kembali menyebutkan kisah Maryam, yaitu bahwa Maryam itu telah mencapai puncak ibadah dan kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu'." Maksudnya, Allah memilihmu dan memberikan kepadamu sifat-sifat yang mulia dan akhlak-akhlak yang luhur, ﴾ وَطَهَّرَكِ ﴿ "dan menyucikan kamu" dari akhlak-akhlak yang hina, ﴾ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ. وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Telah banyak yang mencapai kesempurnaan dari para laki-laki, namun belum mencapai kesempurnaan dari para wanita kecuali Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid; dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan daging yang dilapisi adonan[1] atas seluruh makanan yang ada."[2] Kemudian Malaikat menyeru Maryam atas perintah Allah untuknya agar ia menerima nikmat-nikmat Allah dan ia bersyukur kepada Allah, kemudian menunaikan segala hak-hakNya, dan me-nyibukkan diri untuk melayaniNya. Karena itu malaikat berkata, ﴾ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ ﴿ "Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu," artinya, per-banyaklah ketaatan, ketundukan, dan kekhusyu'an kepada Rabbmu lalu konsistenlah atas hal tersebut, ﴾ وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ﴿ "dan rukuklah ber-sama orang-orang yang rukuk," yakni shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Lalu ia menunaikan segala perkara yang diperintahkan hingga ia menjadi mulia dan istimewa dalam kesempurnaannya. Kisah ini dan kisah-kisah lainnya merupakan dalil yang paling besar atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ di mana beliau menga-barkan tentang kisah tersebut secara terperinci lagi autentik yang tidak ada penambahan maupun pengurangan padanya. Semua itu karena ia merupakan wahyu dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan bukan karena belajar dari manusia. Allah تعالى berfirman,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam," yaitu ketika ibunya membawanya kepada kaumnya, lalu mereka berselisih siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam, karena ia adalah anak wanita pemimpin mereka dan tokoh mereka, sedang mereka semua menginginkan kebaikan dan pahala dari Allah, hingga terjadilah perselisihan yang sengit, yang akhirnya mereka harus mengadakan undian atasnya, lalu mereka melemparkan pena-pena mereka seraya mengundi dan ternyata undian itu jatuh pada Zakaria sebagai suatu rahmat dari Allah untuknya dan untuk anak wanita Imran tersebut. Maka engkau -wahai Rasul- tidak hadir saat itu hingga eng-kau mengetahuinya dan menceritakannya kepada manusia, akan tetapi Allah yang mengabarkan kepadamu tentang kisah tersebut. Inilah maksud terbesar dari adanya kisah-kisah dalam al-Qur`an yaitu bahwasanya ia menjadi pelajaran bagi manusia. Dan pela-jaran yang paling agung adalah berdalil dengannya atas tauhid, kerasulan, kebangkitan kembali, dari pokok-pokok Agama lainnya. ﴾ إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, se-sungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dariNya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)'." Maksudnya, ia mempunyai kedudukan dan posisi yang agung di dunia dan akhirat di antara para makhluk. Di samping itu, dia termasuk di antara makhluk Allah yang paling dekat kepadaNya dan paling tinggi derajatnya. Ini merupakan kabar gembira yang tidak dapat disamakan dengan kabar-kabar gembira lainnya. Dan di antara kesempurnaan dari kabar gembira itu adalah bahwa dia ﴾ ي ُ ك َ ل ّ ِ م ُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ ﴿ "berbicara dengan manusia dalam buaian", sehingga kemampuan berbicara saat dalam buaian itu merupakan tanda kebesaran di antara tanda-tanda kebesaran Allah dan rahmat dariNya kepada ibunya dan kepada manusia seluruhnya. Demikian juga ia berbicara dengan mereka ﴾ وَكَهۡلٗا ﴿ "ketika sudah dewasa", yaitu pada saat ia telah besar. Ini merupakan ungkapan kenabian, dakwah, dan bimbingan. Berbicaranya saat dalam buaian merupakan tanda kebesaran dan keterangan yang jelas atas kebenarannya, kenabiannya, dan ter-bebasnya ibunya dari segala sangkaan buruk yang ditudingkan kepadanya. Dan pembicaraannya saat telah dewasa mengandung manfaat yang besar bagi manusia, dan bahwa ia adalah perantara antara manusia dengan Tuhan mereka dalam hal wahyuNya dan penyampaian agama dan syariatNya. Di samping itu juga ia ﴾ م ِ ن َ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "adalah termasuk orang-orang yang shalih", yakni, orang-orang yang hati mereka diberikan keshalihan oleh Allah dengan mengenal dan mencintaiNya, dan lisan mereka diberikan keshalihan dengan pujian atasNya dan dzikir kepadaNya, dan tubuh mereka diberikan keshalihan dengan ketaatan kepadaNya dan melayaniNya. Dan FirmanNya, ﴾ قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ ﴿ "Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun?'" Ini merupakan perkara yang aneh. ﴾ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya'," untuk memberitakan kepada hamba-hambaNya bahwa Dia adalah Maha-kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada penghalang bagi kehendak-Nya. ﴾ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia." ﴾ وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab," yaitu, kitab-kitab terdahulu pada umumnya yang memutuskan hukum di antara manusia, dan Allah memberikan kepadanya ke-nabian lalu Allah menjadikannya ﴾ وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "(sebagai) Rasul kepada Bani Israil." Allah mengukuhkannya dengan ayat-ayat yang jelas serta dalil-dalil yang tegas di mana dia berkata, ﴾ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu," yang menjelaskan kepada kalian bahwa aku adalah benar-benar seorang Rasul Allah. Yang demikian itu,﴾ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ ﴿ "bahwa aku membuat untuk kamu dari tanah ber-bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya," yakni yang kedua matanya cacat, hilang pandangannya dan buta, ﴾ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demi-kian itu," yakni hal-hal yang telah disebutkan, ﴾ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 49 وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepada-mu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku." Allah mengukuhkan beliau dengan dua bentuk ayat dan bukti nyata yaitu hal-hal di luar kebiasaan yang tidak mungkin dilaku-kan oleh selain nabi untuk menghadirkannya, juga kerasulan dan dakwah serta agama yang dibawa olehnya yang mana ajaran itu adalah agama Taurat dan agama nabi-nabi sebelumnya. Ini meru-pakan dalil yang paling besar atas kebenaran orang-orang yang benar, karena seandainya ia di antara orang-orang yang dusta, niscaya pasti ia akan menyalahi apa yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya dan akan menyimpang dari mereka dalam masalah-masalah akidah dan hukum-hukum mereka. Dengan demikian diketahuilah bahwa beliau adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau adalah benar, yang tidak ada keraguan padanya. Juga perkataannya, ﴾ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu," yakni, agar saya meringankan dari kalian beberapa beban dan tanggung jawab. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ 50 إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia." Ini adalah ajaran yang di-serukan oleh seluruh Rasul, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya dan taat kepada mereka, dan inilah jalan yang lurus di mana orang yang menempuhnya akan menghantarkannya kepada surga yang penuh nikmat. Saat itulah sikap kelompok-kelompok Bani Israil terpecah terhadap Nabi Isa عليه السلام. Di antara mereka ada yang beriman kepada beliau dan mengikuti beliau, dan di antara mereka ada yang kafir kepada beliau, mendustai beliau dan memfitnah ibu beliau sebagai seorang yang melakukan kekejian, sebagaimana (yang dilakukan orang-orang) Yahudi. ﴾ فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ ﴿ "Maka tatkala Isa me-ngetahui keingkaran mereka (Bani lsrail)" dan sepakat dalam menolak dakwah beliau, ﴾ قَالَ ﴿ "Isa berkata" seraya menyeru Bani Israil untuk menjadi penolongnya, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab," yakni orang-orang yang membela, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kamilah peno-long-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikan-lah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." Ini merupakan anugerah Allah atas mereka dan khususnya atas Nabi Isa عليه السلام, di mana Allah telah menjadikan para hawariyyun tersebut beriman kepadaNya, tunduk dalam ketaatan kepadaNya dan membela RasulNya. ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul." Ini adalah suatu integritas yang sempurna dalam beriman kepada seluruh hal yang diturunkan oleh Allah dan dalam menaati RasulNya. ﴾ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Karena itu masuk-kanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi" bagiMu dengan keesaan dan bagi RasulMu dengan kerasulan serta bagi agamaMu dengan kebenaran dan kejujuran. Adapun orang-orang yang dirasakan oleh Isa عليه السلام penging-karan mereka, sedang mereka itu adalah sebagian besar Bani Israil, maka mereka ﴾ وَمَكَرُواْ ﴿ "membuat tipu daya" terhadap Nabi Isa, ﴾ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ ﴿ "dan Allah membalas tipu daya itu" terhadap mereka, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." Mereka bersepakat untuk membunuh dan menyalibnya, namun dijadikan buat mereka orang yang serupa dengan Nabi Isa lalu mereka me-nangkap orang yang serupa tersebut, dan Allah berfirman kepada Isa, ﴾ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." Lalu Allah mengangkatnya kepadaNya dan membersihkannya dari orang-orang kafir, dan orang-orang kafir itu menyalib orang yang telah mereka bunuh tersebut seraya menduga bahwa orang yang mereka salib itu adalah Isa عليه السلام, dan mereka justru menanggung dosa yang besar. Dan Isa Ibnu Maryam عليه السلام akan turun kembali di akhir masa umat ini sebagai hakim yang adil, ia akan membunuh babi, meng-hancurkan salib dan ia akan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Orang-orang yang berdusta itu akan mengetahui keterpedayaan dan ketertipuan mereka yaitu bahwa mereka itu telah terpedaya dan tertipu. Dan FirmanNya,﴾ وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ فَوۡقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ ﴿ "Dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat." Yang dimaksud orang-orang yang mengikutinya adalah kelompok yang telah beriman kepada beliau, dan Allah membela mereka atas orang-orang yang menyimpang dari agamaNya. Kemudian ketika umat Muhammad ﷺ tiba, mereka itu benar-benar mengikutinya hingga Allah me-nguatkan mereka dan membela mereka atas orang-orang yang kafir secara keseluruhan, dan Allah memenangkan mereka dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka. ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." (An-Nur: 55). Akan tetapi hikmah Allah itu adil, yaitu bahwasanya hikmah-Nya berlaku bagi siapa yang berpegang teguh dengan Agama, niscaya Allah akan membelanya dengan pembelaan yang nyata, dan bahwa orang yang meninggalkan perintahNya dan melanggar laranganNya, melemparkan syariatNya dan berani lancang berbuat kemaksiatan kepadaNya, niscaya Dia akan menghukumnya dan akan membuat musuh-musuhnya menguasainya. Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana. Dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأَحۡكُمُ بَيۡنَكُمۡ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." Kemudian Allah menjelaskan tentang apa yang dilakukanNya terhadap mereka, seraya berfirman,

Ali 'Imran 3:42

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (ke-turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri 'Imran berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku menadzarkan kepadaMu anak yang dalam kan-dunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis), karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' Maka tatkala istri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perem-puan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)-Mu dari setan yang terkutuk.' Maka Rabbnya menerimanya (se-bagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakaria seba-gai pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, maka ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria ber-kata, 'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Rabbnya seraya ber-kata, 'Ya Rabbku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.' Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenar-kan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shalih.' Zakaria berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul.' Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.' Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).' Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manu-sia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.' Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.' Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari padaNya, namanya al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.' Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.' Allah berfirman (de-ngan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sung-guh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu de-ngan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.' Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia, 'Siapakah yang akan menjadi peno-long-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah.' Para hawa-riyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, 'Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksi-kanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang ber-serah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).' Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu serta membersih-kan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu ber-selisih padanya'." (Ali Imran: 33-55). (33-55) Allah memiliki hamba-hamba pilihan dari seluruh hamba-hambaNya. Dia memilih mereka, memilah mereka dan mengaruniakan atas mereka keutamaan-keutamaan yang tinggi, sifat-sifat yang luhur, ilmu-ilmu yang bermanfaat, amal perbuatan yang shalih, dan keistimewaan-keistimewaan yang bermacam-macam. Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut dan apa yang di dalamnya berupa manusia-manusia agung yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan bahwasanya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak cucu mereka, yang mencakup laki-laki maupun wanita di antara mereka. Ini merupakan karuniaNya yang paling utama dan tempat-tempat kemurahan dan kebaikanNya yang paling utama,﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿ "dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," Dia menge-tahui siapa yang berhak menerima keutamaan dan penghormatan, hingga Dia meletakkan keutamaanNya itu yang didasari oleh hik-mahNya yang pasti. Ketika Allah menetapkan keagungan keluarga tersebut lalu Allah menyebutkan kisah Maryam dan putranya, Isa عليه السلام, dan bagaimana turun temurunnya dari keluarga yang mulia ini, dan bagaimana silih bergantinya keadaan keduanya dari awal hingga akhirnya, dan bahwa istri Imran berkata seraya tunduk kepada Rabbnya dengan mendekatkan diri kepadaNya dengan persembahan yang Dia cintai, yang mengandung pengagungan terhadap rumahNya dan konsistensi dalam ketaatanNya, (istri Imran berkata), ﴾ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا ﴿ "Sesungguhnya aku mena-dzarkan kepadaMu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)," yakni, sebagai pelayan bagi rumah ibadah yang dipenuhi dengan ahli-ahli ibadah. ﴾ فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ ﴿ "Karena itu terimalah (nadzar) itu dari padaku," yakni perbuatan ini, maksudnya, jadikanlah ia di atas dasar keimanan dan keikhlasan yang membuahkan kebaikan dan pahala. ﴾ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ 35 ﴿ "Se-sungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." ﴾ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ ﴿ "Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan;' dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan." Seolah-olah dalam perkataan ini menyim-pan makna ketundukan dan jiwa yang pasrah, di mana nadzarnya itu didasari oleh harapan anak itu adalah laki-laki yang memiliki kekuatan dan pelayanan, serta pelaksanaan terhadap hal itu seba-gaimana yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang kuat, se-dangkan anak wanita tidak seperti itu, lalu Allah menguatkan hatinya dan menerima nadzarnya. Anak wanita itu bahkan menjadi lebih sempurna dan lebih baik dari kebanyakan anak laki-laki, bahkan dari mayoritas mereka, lalu maksud-maksud yang dikehendaki tercapai dengan lebih baik daripada yang diperoleh oleh anak laki-laki. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا ﴿ "Maka Rabbnya meneri-manya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik." Artinya ia dididik dengan didikan yang mengagumkan, baik agama, akhlak maupun bahasanya, di mana dengannya sempurnalah kondisinya, baiklah perkataan dan perbuatannya, kesempurnaannya tumbuh padanya, lalu Allah memudahkannya dengan Zakaria sebagai pemeliharanya. Ini meru-pakan karunia Allah atas hambaNya yaitu menjadikan orang yang menjadi pemeliharanya dari orang-orang yang terbaik dan shalih. Kemudian Allah تعالى memuliakan Maryam dan Zakaria di mana Allah memudahkan bagi Maryam rizki yang diperoleh tanpa keringat dan lelah, hal itu adalah sebuah karamah sebagai kemuliaan dari Allah untuknya, karena ﴾ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ ﴿ "setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab," yakni tempat untuk ibadah, dan di sini terkandung isyarat akan banyaknya shalat yang dilaku-kan Maryam dan konsistensinya terhadap tempat ibadah tersebut, ﴾ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ ﴿ "maka dia mendapati makanan di sisinya" dengan nikmat dan tersedia. Zakaria berkata, ﴾ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ ﴿ "Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" ﴾ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ﴿ "Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab." Ketika Zakaria menyaksikan kondisi tersebut, kebaikan dan seperti itulah kasih Allah terhadap Maryam, maka itu mengingat-kan dirinya untuk memohon kepada Allah تعالى seorang anak laki-laki, dalam kondisinya yang hampir putus asa seraya berkata, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." ﴾ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Ke-mudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya), 'Sesungguhnya Allah menggem-birakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu), Yahya, yang mem-benarkan kalimat (yang datang) dari Allah," yakni, namanya (Yahya), dan kalimat yang datangnya dari Allah adalah Isa Ibnu Maryam, berita gembira itu adalah dengan Nabi yang mulia tersebut yang mengandung juga berita gembira dengan Isa Ibnu Maryam, sebagai pembenaran dan kesaksian tentang kerasulannya. Kalimat tersebut dari Allah, merupakan kalimat yang mulia di mana Allah mengkhususkan Isa Ibnu Maryam dengannya, bila tidak demikian, maka kalimat itu merupakan salah satu kalimatNya di mana dengannya Allah menciptakan segala makhluk, sebagai-mana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٖ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ 59 ﴿ "Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemu-dian Allah berfirman kepadanya, 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadi-lah dia." (Ali Imran: 59). Dan FirmanNya, ﴾ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا ﴿ "Menjadi ikutan dan menahan diri (dari hawa nafsu)." Artinya yang menjadi obyek berita gembira itu adalah Yahya yang merupakan panutan dari Rasul-rasul yang mulia dan yang terhormat, dan menahan diri (hashur), artinya, yang tidak bisa punya anak dan tidak berkehendak kepada wanita. Pendapat lain mengatakan orang yang dijaga dan diselamatkan dari dosa dan hawa nafsu yang menjerumuskan, dan yang terakhir inilah yang paling sesuai dari kedua makna tersebut. ﴾ وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shalih", maksud-nya, orang-orang yang mencapai puncak kebaikan yang tinggi. ﴾ قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَقَدۡ بَلَغَنِيَ ٱلۡكِبَرُ وَٱمۡرَأَتِي عَاقِرٞۖ ﴿ "Zakaria berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?'" Kedua hal itu merupakan penghalang, karena itu dari jalan manakah wahai Tuhan, saya mendapatkan anak tersebut padahal ada penghalangnya? ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendakiNya'." Bahwasanya sebagaimana telah berlaku hikmah-Nya dengan berjalannya segala sesuatu itu menurut sebab-sebabnya yang wajar, maka Allah juga terkadang merubah (hukum alam) tersebut karena Allah Maha Berbuat apa yang dikehendakiNya, di mana segala sebab telah patuh pada kekuasaanNya, kehendakNya dan keinginanNya terealisasikan padanya, dan tidak ada suatu sebab pun yang bisa menyalahi titahNya walaupun memiliki ke-kuatan yang besar sekalipun. ﴾ قَالَ رَبِّ ٱجۡعَل لِّيٓ ءَايَةٗۖ ﴿ "Berkata Zakaria, 'Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)'," agar saya mendapatkan kebahagiaan dan rasa senang, walaupun sebenarnya saya yakin akan apa yang Engkau kabarkan wahai Rabbku. Akan tetapi agar jiwa ini senang dan hati ini tenang dengan pendahuluan-pendahuluan rahmat dan kasih sayang. ﴾ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمۡزٗاۗ ﴿ "Allah berfirman, 'Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat'," dan dalam masa itu, ﴾ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ كَثِيرٗا وَسَبِّحۡ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertas-bihlah di waktu petang dan pagi hari," yakni, awal hari dan di akhir-nya. Zakaria terlarang dari berbicara dengan orang lain pada masa tersebut, dan itu sesuai untuk didapatkannya seorang anak dari seorang suami yang telah tua dan istri yang mandul, keadaannya yang tidak mampu berbicara dengan orang lain padahal lisannya lancar berdzikir kepada Allah dan memujiNya adalah merupakan tanda yang lain. Maka ketika itulah ia mendapat kebahagiaan dan kesenangan tersebut, lalu ia bersyukur kepada Allah, dan ia mem-perbanyak dzikir dan tasbih pada saat petang maupun pagi hari. Dan anak bayi tersebut merupakan berkah dari Maryam binti Imran terhadap Zakaria. Karena apa yang Allah karuniakan atas Maryam berupa rizki yang banyak yang hadir tanpa hisab, meng-ingatkannya dan mengobarkannya untuk bermunajat dan memohon. Sedang Allah تعالى adalah Maha Memberi penyebab maupun aki-batnya, namun Allah menentukan beberapa perkara yang disukai, terjadi pada orang yang dicintaiNya, agar Allah mengangkat ke-hormatannya dan melimpahkan pahalanya. Allah تعالى kembali menyebutkan kisah Maryam, yaitu bahwa Maryam itu telah mencapai puncak ibadah dan kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu'." Maksudnya, Allah memilihmu dan memberikan kepadamu sifat-sifat yang mulia dan akhlak-akhlak yang luhur, ﴾ وَطَهَّرَكِ ﴿ "dan menyucikan kamu" dari akhlak-akhlak yang hina, ﴾ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ. وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Telah banyak yang mencapai kesempurnaan dari para laki-laki, namun belum mencapai kesempurnaan dari para wanita kecuali Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid; dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan daging yang dilapisi adonan[1] atas seluruh makanan yang ada."[2] Kemudian Malaikat menyeru Maryam atas perintah Allah untuknya agar ia menerima nikmat-nikmat Allah dan ia bersyukur kepada Allah, kemudian menunaikan segala hak-hakNya, dan me-nyibukkan diri untuk melayaniNya. Karena itu malaikat berkata, ﴾ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ ﴿ "Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu," artinya, per-banyaklah ketaatan, ketundukan, dan kekhusyu'an kepada Rabbmu lalu konsistenlah atas hal tersebut, ﴾ وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ﴿ "dan rukuklah ber-sama orang-orang yang rukuk," yakni shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Lalu ia menunaikan segala perkara yang diperintahkan hingga ia menjadi mulia dan istimewa dalam kesempurnaannya. Kisah ini dan kisah-kisah lainnya merupakan dalil yang paling besar atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ di mana beliau menga-barkan tentang kisah tersebut secara terperinci lagi autentik yang tidak ada penambahan maupun pengurangan padanya. Semua itu karena ia merupakan wahyu dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dan bukan karena belajar dari manusia. Allah تعالى berfirman,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam," yaitu ketika ibunya membawanya kepada kaumnya, lalu mereka berselisih siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam, karena ia adalah anak wanita pemimpin mereka dan tokoh mereka, sedang mereka semua menginginkan kebaikan dan pahala dari Allah, hingga terjadilah perselisihan yang sengit, yang akhirnya mereka harus mengadakan undian atasnya, lalu mereka melemparkan pena-pena mereka seraya mengundi dan ternyata undian itu jatuh pada Zakaria sebagai suatu rahmat dari Allah untuknya dan untuk anak wanita Imran tersebut. Maka engkau -wahai Rasul- tidak hadir saat itu hingga eng-kau mengetahuinya dan menceritakannya kepada manusia, akan tetapi Allah yang mengabarkan kepadamu tentang kisah tersebut. Inilah maksud terbesar dari adanya kisah-kisah dalam al-Qur`an yaitu bahwasanya ia menjadi pelajaran bagi manusia. Dan pela-jaran yang paling agung adalah berdalil dengannya atas tauhid, kerasulan, kebangkitan kembali, dari pokok-pokok Agama lainnya. ﴾ إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata, 'Hai Maryam, se-sungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dariNya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)'." Maksudnya, ia mempunyai kedudukan dan posisi yang agung di dunia dan akhirat di antara para makhluk. Di samping itu, dia termasuk di antara makhluk Allah yang paling dekat kepadaNya dan paling tinggi derajatnya. Ini merupakan kabar gembira yang tidak dapat disamakan dengan kabar-kabar gembira lainnya. Dan di antara kesempurnaan dari kabar gembira itu adalah bahwa dia ﴾ ي ُ ك َ ل ّ ِ م ُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ ﴿ "berbicara dengan manusia dalam buaian", sehingga kemampuan berbicara saat dalam buaian itu merupakan tanda kebesaran di antara tanda-tanda kebesaran Allah dan rahmat dariNya kepada ibunya dan kepada manusia seluruhnya. Demikian juga ia berbicara dengan mereka ﴾ وَكَهۡلٗا ﴿ "ketika sudah dewasa", yaitu pada saat ia telah besar. Ini merupakan ungkapan kenabian, dakwah, dan bimbingan. Berbicaranya saat dalam buaian merupakan tanda kebesaran dan keterangan yang jelas atas kebenarannya, kenabiannya, dan ter-bebasnya ibunya dari segala sangkaan buruk yang ditudingkan kepadanya. Dan pembicaraannya saat telah dewasa mengandung manfaat yang besar bagi manusia, dan bahwa ia adalah perantara antara manusia dengan Tuhan mereka dalam hal wahyuNya dan penyampaian agama dan syariatNya. Di samping itu juga ia ﴾ م ِ ن َ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "adalah termasuk orang-orang yang shalih", yakni, orang-orang yang hati mereka diberikan keshalihan oleh Allah dengan mengenal dan mencintaiNya, dan lisan mereka diberikan keshalihan dengan pujian atasNya dan dzikir kepadaNya, dan tubuh mereka diberikan keshalihan dengan ketaatan kepadaNya dan melayaniNya. Dan FirmanNya, ﴾ قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ ﴿ "Maryam berkata, 'Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun?'" Ini merupakan perkara yang aneh. ﴾ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), 'Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya'," untuk memberitakan kepada hamba-hambaNya bahwa Dia adalah Maha-kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada penghalang bagi kehendak-Nya. ﴾ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah dia." ﴾ وَيُعَلِّمُهُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab," yaitu, kitab-kitab terdahulu pada umumnya yang memutuskan hukum di antara manusia, dan Allah memberikan kepadanya ke-nabian lalu Allah menjadikannya ﴾ وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "(sebagai) Rasul kepada Bani Israil." Allah mengukuhkannya dengan ayat-ayat yang jelas serta dalil-dalil yang tegas di mana dia berkata, ﴾ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu," yang menjelaskan kepada kalian bahwa aku adalah benar-benar seorang Rasul Allah. Yang demikian itu,﴾ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡـَٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ ﴿ "bahwa aku membuat untuk kamu dari tanah ber-bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya," yakni yang kedua matanya cacat, hilang pandangannya dan buta, ﴾ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demi-kian itu," yakni hal-hal yang telah disebutkan, ﴾ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 49 وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepada-mu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku." Allah mengukuhkan beliau dengan dua bentuk ayat dan bukti nyata yaitu hal-hal di luar kebiasaan yang tidak mungkin dilaku-kan oleh selain nabi untuk menghadirkannya, juga kerasulan dan dakwah serta agama yang dibawa olehnya yang mana ajaran itu adalah agama Taurat dan agama nabi-nabi sebelumnya. Ini meru-pakan dalil yang paling besar atas kebenaran orang-orang yang benar, karena seandainya ia di antara orang-orang yang dusta, niscaya pasti ia akan menyalahi apa yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya dan akan menyimpang dari mereka dalam masalah-masalah akidah dan hukum-hukum mereka. Dengan demikian diketahuilah bahwa beliau adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau adalah benar, yang tidak ada keraguan padanya. Juga perkataannya, ﴾ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu," yakni, agar saya meringankan dari kalian beberapa beban dan tanggung jawab. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ 50 إِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia." Ini adalah ajaran yang di-serukan oleh seluruh Rasul, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya dan taat kepada mereka, dan inilah jalan yang lurus di mana orang yang menempuhnya akan menghantarkannya kepada surga yang penuh nikmat. Saat itulah sikap kelompok-kelompok Bani Israil terpecah terhadap Nabi Isa عليه السلام. Di antara mereka ada yang beriman kepada beliau dan mengikuti beliau, dan di antara mereka ada yang kafir kepada beliau, mendustai beliau dan memfitnah ibu beliau sebagai seorang yang melakukan kekejian, sebagaimana (yang dilakukan orang-orang) Yahudi. ﴾ فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ ﴿ "Maka tatkala Isa me-ngetahui keingkaran mereka (Bani lsrail)" dan sepakat dalam menolak dakwah beliau, ﴾ قَالَ ﴿ "Isa berkata" seraya menyeru Bani Israil untuk menjadi penolongnya, ﴾ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ ﴿ "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab," yakni orang-orang yang membela, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ﴿ "Kamilah peno-long-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikan-lah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." Ini merupakan anugerah Allah atas mereka dan khususnya atas Nabi Isa عليه السلام, di mana Allah telah menjadikan para hawariyyun tersebut beriman kepadaNya, tunduk dalam ketaatan kepadaNya dan membela RasulNya. ﴾ رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul." Ini adalah suatu integritas yang sempurna dalam beriman kepada seluruh hal yang diturunkan oleh Allah dan dalam menaati RasulNya. ﴾ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ ﴿ "Karena itu masuk-kanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi" bagiMu dengan keesaan dan bagi RasulMu dengan kerasulan serta bagi agamaMu dengan kebenaran dan kejujuran. Adapun orang-orang yang dirasakan oleh Isa عليه السلام penging-karan mereka, sedang mereka itu adalah sebagian besar Bani Israil, maka mereka ﴾ وَمَكَرُواْ ﴿ "membuat tipu daya" terhadap Nabi Isa, ﴾ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ ﴿ "dan Allah membalas tipu daya itu" terhadap mereka, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." Mereka bersepakat untuk membunuh dan menyalibnya, namun dijadikan buat mereka orang yang serupa dengan Nabi Isa lalu mereka me-nangkap orang yang serupa tersebut, dan Allah berfirman kepada Isa, ﴾ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." Lalu Allah mengangkatnya kepadaNya dan membersihkannya dari orang-orang kafir, dan orang-orang kafir itu menyalib orang yang telah mereka bunuh tersebut seraya menduga bahwa orang yang mereka salib itu adalah Isa عليه السلام, dan mereka justru menanggung dosa yang besar. Dan Isa Ibnu Maryam عليه السلام akan turun kembali di akhir masa umat ini sebagai hakim yang adil, ia akan membunuh babi, meng-hancurkan salib dan ia akan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Orang-orang yang berdusta itu akan mengetahui keterpedayaan dan ketertipuan mereka yaitu bahwa mereka itu telah terpedaya dan tertipu. Dan FirmanNya,﴾ وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ فَوۡقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ ﴿ "Dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat." Yang dimaksud orang-orang yang mengikutinya adalah kelompok yang telah beriman kepada beliau, dan Allah membela mereka atas orang-orang yang menyimpang dari agamaNya. Kemudian ketika umat Muhammad ﷺ tiba, mereka itu benar-benar mengikutinya hingga Allah me-nguatkan mereka dan membela mereka atas orang-orang yang kafir secara keseluruhan, dan Allah memenangkan mereka dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka. ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." (An-Nur: 55). Akan tetapi hikmah Allah itu adil, yaitu bahwasanya hikmah-Nya berlaku bagi siapa yang berpegang teguh dengan Agama, niscaya Allah akan membelanya dengan pembelaan yang nyata, dan bahwa orang yang meninggalkan perintahNya dan melanggar laranganNya, melemparkan syariatNya dan berani lancang berbuat kemaksiatan kepadaNya, niscaya Dia akan menghukumnya dan akan membuat musuh-musuhnya menguasainya. Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana. Dan FirmanNya, ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأَحۡكُمُ بَيۡنَكُمۡ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." Kemudian Allah menjelaskan tentang apa yang dilakukanNya terhadap mereka, seraya berfirman,