Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-A'raf 7:1 – Al-A'raf 7:102

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Al-A'raf 7:1
  2. Al-A'raf 7:2
  3. Al-A'raf 7:3
  4. Al-A'raf 7:4
  5. Al-A'raf 7:5
  6. Al-A'raf 7:6
  7. Al-A'raf 7:7
  8. Al-A'raf 7:8
  9. Al-A'raf 7:9
  10. Al-A'raf 7:10
  11. Al-A'raf 7:11
  12. Al-A'raf 7:12
  13. Al-A'raf 7:13
  14. Al-A'raf 7:14
  15. Al-A'raf 7:15
  16. Al-A'raf 7:16
  17. Al-A'raf 7:17
  18. Al-A'raf 7:18
  19. Al-A'raf 7:19
  20. Al-A'raf 7:20
  21. Al-A'raf 7:21
  22. Al-A'raf 7:22
  23. Al-A'raf 7:23
  24. Al-A'raf 7:24
  25. Al-A'raf 7:25
  26. Al-A'raf 7:26
  27. Al-A'raf 7:27
  28. Al-A'raf 7:28
  29. Al-A'raf 7:29
  30. Al-A'raf 7:30
  31. Al-A'raf 7:31
  32. Al-A'raf 7:32
  33. Al-A'raf 7:33
  34. Al-A'raf 7:34
  35. Al-A'raf 7:35
  36. Al-A'raf 7:36
  37. Al-A'raf 7:37
  38. Al-A'raf 7:38
  39. Al-A'raf 7:39
  40. Al-A'raf 7:40
  41. Al-A'raf 7:41
  42. Al-A'raf 7:42
  43. Al-A'raf 7:43
  44. Al-A'raf 7:44
  45. Al-A'raf 7:45
  46. Al-A'raf 7:46
  47. Al-A'raf 7:47
  48. Al-A'raf 7:48
  49. Al-A'raf 7:49
  50. Al-A'raf 7:50
  51. Al-A'raf 7:51
  52. Al-A'raf 7:52
  53. Al-A'raf 7:53
  54. Al-A'raf 7:54
  55. Al-A'raf 7:55
  56. Al-A'raf 7:56
  57. Al-A'raf 7:57
  58. Al-A'raf 7:58
  59. Al-A'raf 7:59
  60. Al-A'raf 7:60
  61. Al-A'raf 7:61
  62. Al-A'raf 7:62
  63. Al-A'raf 7:63
  64. Al-A'raf 7:64
  65. Al-A'raf 7:65
  66. Al-A'raf 7:66
  67. Al-A'raf 7:67
  68. Al-A'raf 7:68
  69. Al-A'raf 7:69
  70. Al-A'raf 7:70
  71. Al-A'raf 7:71
  72. Al-A'raf 7:72
  73. Al-A'raf 7:73
  74. Al-A'raf 7:74
  75. Al-A'raf 7:75
  76. Al-A'raf 7:76
  77. Al-A'raf 7:77
  78. Al-A'raf 7:78
  79. Al-A'raf 7:79
  80. Al-A'raf 7:80
  81. Al-A'raf 7:81
  82. Al-A'raf 7:82
  83. Al-A'raf 7:83
  84. Al-A'raf 7:84
  85. Al-A'raf 7:85
  86. Al-A'raf 7:86
  87. Al-A'raf 7:87
  88. Al-A'raf 7:88
  89. Al-A'raf 7:89
  90. Al-A'raf 7:90
  91. Al-A'raf 7:91
  92. Al-A'raf 7:92
  93. Al-A'raf 7:93
  94. Al-A'raf 7:94
  95. Al-A'raf 7:95
  96. Al-A'raf 7:96
  97. Al-A'raf 7:97
  98. Al-A'raf 7:98
  99. Al-A'raf 7:99
  100. Al-A'raf 7:100
  101. Al-A'raf 7:101
  102. Al-A'raf 7:102

Al-A'raf 7:1

"Alif lam mim shad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu ka-renanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang-orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari. Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami). Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." (Al-A'raf: 1-7). Makkiyah (1-2) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya, menjelaskan keagungan al-Qur`an kepadanya, ﴾ كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ ﴿ "Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu." Yakni kitab mulia yang memuat segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua hamba, dan seluruh tuntutan-tuntutan ilahiyah, serta tujuan-tujuan syar'i yang akurat lagi ter-perinci. Maka janganlah ada rasa di dadamu karenanya, ﴾ حَرَجٞ ﴿ "ke-sempitan." Yakni kesulitan, keraguan dan kebimbangan. Bahkan agar kamu mengetahui bahwa ia diturunkan dari Dzat Yang Maha-bijaksana lagi Maha terpuji. Tidak ada kebatilan yang datang dari hadapanNya dan tidak pula dari belakangNya. Oleh karena itu hendaknya dadamu menjadi lapang karenanya, jiwamu menjadi tenang dengannya, dan kamu mau menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangannya (kepada para hamba). Jangan takut ke-pada orang yang mencela dan menentang, ﴾ لِتُنذِرَ بِهِۦ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu", kepada seluruh manusia, kamu menasihati dan mengingatkan mereka, sehingga hujjah menjadi tegak atas orang-orang yang menentang, ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 55 ﴿ "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringa-tan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (Adz-Dzariyat: 55). Dengan kitab itu mereka mengingat jalan yang lurus, amal-amal mereka yang lahir maupun yang batin, dan apa yang menjadi penghalang bagi hamba untuk menitinya." (3) Kemudian Allah berbicara kepada hamba-hambaNya dan mengarahkan pandangan mereka kepada kitab ini. Dia berfir-man, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu." Yakni kitab yang memang diturunkan demi kamu dan ia ﴾ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "dari Rabbmu," yang ingin menyempurnakan pendidikan-Nya kepadamu. Maka Dia menurunkan kepadamu kitab ini yang mana jika kamu mengikutinya, maka pendidikanmu sempurna, nikmatNya atasmu menjadi lengkap dan kamu dibimbing kepada amal dan akhlak terbaik dan termulia. ﴾ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ ﴿ "Dan ja-nganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya." Yakni kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, mengikuti hawa nafsu me-reka dan karenanya kamu meninggalkan kebenaran. ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)." Sekiranya kamu mengambil pelajaran dan mengetahui maslahatnya, niscaya kamu tidak akan mengutamakan yang membahayakan daripada yang bermanfaat, dan mengutamakan musuh daripada teman. (4) Kemudian Allah memperingatkan mereka terhadap huku-man-hukumanNya yang menimpa umat-umat yang mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul mereka, agar mereka tidak meniru umat-umat itu. Dia berfirman, ﴾ وَكَم مِّن قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَٰهَا فَجَآءَهَا بَأۡسُنَا ﴿ "Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya." Yakni azab kami yang keras, ﴾ بَيَٰتًا أَوۡ هُمۡ قَآئِلُونَ ﴿ "di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari." Yakni pada waktu mereka lalai, pada waktu mereka bersantai, di mana mereka sama sekali tidak menyangka akan ter-timpa kebinasaan, sehingga manakala azab datang, mereka tidak bisa melindungi diri mereka. Tuhan-tuhan mereka yang mereka harapkan tidak berguna sedikit pun bagi mereka dan tidak pula mengingkari kezhaliman dan kemaksiatan yang mereka lakukan. (5) ﴾ فَمَا كَانَ دَعۡوَىٰهُمۡ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَآ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَكَمۡ قَصَمۡنَا مِن قَرۡيَةٖ كَانَتۡ ظَالِمَةٗ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ 11 فَلَمَّآ أَحَسُّواْ بَأۡسَنَآ إِذَا هُم مِّنۡهَا يَرۡكُضُونَ 12 لَا تَرۡكُضُواْ وَٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡـَٔلُونَ 13 قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 14 فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ حَتَّىٰ جَعَلۡنَٰهُمۡ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ 15 ﴿ "Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zhalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa, kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'. Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi." (Al-Anbiya`: 11-15). (6) Dan FirmanNya, ﴾ فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka sesungguh-nya kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka", tentang bagaimana mereka menjawab rasul-rasul itu. ﴾ وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ فَيَقُولُ مَاذَآ أَجَبۡتُمُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 65 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya ber-kata, 'Apakah jawabanmu kepada para rasul?'" (Al-Qashash: 65). ﴾ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami)." Tentang penyampaian mereka terhadap risalah Allah dan apa jawaban umat mereka kepada mereka. (7) ﴾ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيۡهِم ﴿ "Maka sesungguhnya akan kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat)." Yakni kepada seluruh manusia apa yang telah mereka perbuat. ﴾ بِعِلۡمٖۖ ﴿ "Sedang (Kami) me-ngetahui (keadaan mereka)", terhadap amal-amal mereka. ﴾ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ ﴿ "Dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ أَحۡصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُۚ ﴿ "Allah mengumpulkan (mencatat) amal mereka padahal mereka telah melupakannya." (Al-Mujadalah: 6). Dan juga Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعَ طَرَآئِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلۡخَلۡقِ غَٰفِلِينَ 17 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)."(Al-Mukminun: 17). Kemudian Allah menjelaskan balasan amal. Dia berfirman,

Al-A'raf 7:2

"Alif lam mim shad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu ka-renanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang-orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari. Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami). Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." (Al-A'raf: 1-7). Makkiyah (1-2) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya, menjelaskan keagungan al-Qur`an kepadanya, ﴾ كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ ﴿ "Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu." Yakni kitab mulia yang memuat segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua hamba, dan seluruh tuntutan-tuntutan ilahiyah, serta tujuan-tujuan syar'i yang akurat lagi ter-perinci. Maka janganlah ada rasa di dadamu karenanya, ﴾ حَرَجٞ ﴿ "ke-sempitan." Yakni kesulitan, keraguan dan kebimbangan. Bahkan agar kamu mengetahui bahwa ia diturunkan dari Dzat Yang Maha-bijaksana lagi Maha terpuji. Tidak ada kebatilan yang datang dari hadapanNya dan tidak pula dari belakangNya. Oleh karena itu hendaknya dadamu menjadi lapang karenanya, jiwamu menjadi tenang dengannya, dan kamu mau menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangannya (kepada para hamba). Jangan takut ke-pada orang yang mencela dan menentang, ﴾ لِتُنذِرَ بِهِۦ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu", kepada seluruh manusia, kamu menasihati dan mengingatkan mereka, sehingga hujjah menjadi tegak atas orang-orang yang menentang, ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 55 ﴿ "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringa-tan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (Adz-Dzariyat: 55). Dengan kitab itu mereka mengingat jalan yang lurus, amal-amal mereka yang lahir maupun yang batin, dan apa yang menjadi penghalang bagi hamba untuk menitinya." (3) Kemudian Allah berbicara kepada hamba-hambaNya dan mengarahkan pandangan mereka kepada kitab ini. Dia berfir-man, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu." Yakni kitab yang memang diturunkan demi kamu dan ia ﴾ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "dari Rabbmu," yang ingin menyempurnakan pendidikan-Nya kepadamu. Maka Dia menurunkan kepadamu kitab ini yang mana jika kamu mengikutinya, maka pendidikanmu sempurna, nikmatNya atasmu menjadi lengkap dan kamu dibimbing kepada amal dan akhlak terbaik dan termulia. ﴾ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ ﴿ "Dan ja-nganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya." Yakni kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, mengikuti hawa nafsu me-reka dan karenanya kamu meninggalkan kebenaran. ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)." Sekiranya kamu mengambil pelajaran dan mengetahui maslahatnya, niscaya kamu tidak akan mengutamakan yang membahayakan daripada yang bermanfaat, dan mengutamakan musuh daripada teman. (4) Kemudian Allah memperingatkan mereka terhadap huku-man-hukumanNya yang menimpa umat-umat yang mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul mereka, agar mereka tidak meniru umat-umat itu. Dia berfirman, ﴾ وَكَم مِّن قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَٰهَا فَجَآءَهَا بَأۡسُنَا ﴿ "Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya." Yakni azab kami yang keras, ﴾ بَيَٰتًا أَوۡ هُمۡ قَآئِلُونَ ﴿ "di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari." Yakni pada waktu mereka lalai, pada waktu mereka bersantai, di mana mereka sama sekali tidak menyangka akan ter-timpa kebinasaan, sehingga manakala azab datang, mereka tidak bisa melindungi diri mereka. Tuhan-tuhan mereka yang mereka harapkan tidak berguna sedikit pun bagi mereka dan tidak pula mengingkari kezhaliman dan kemaksiatan yang mereka lakukan. (5) ﴾ فَمَا كَانَ دَعۡوَىٰهُمۡ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَآ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَكَمۡ قَصَمۡنَا مِن قَرۡيَةٖ كَانَتۡ ظَالِمَةٗ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ 11 فَلَمَّآ أَحَسُّواْ بَأۡسَنَآ إِذَا هُم مِّنۡهَا يَرۡكُضُونَ 12 لَا تَرۡكُضُواْ وَٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡـَٔلُونَ 13 قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 14 فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ حَتَّىٰ جَعَلۡنَٰهُمۡ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ 15 ﴿ "Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zhalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa, kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'. Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi." (Al-Anbiya`: 11-15). (6) Dan FirmanNya, ﴾ فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka sesungguh-nya kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka", tentang bagaimana mereka menjawab rasul-rasul itu. ﴾ وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ فَيَقُولُ مَاذَآ أَجَبۡتُمُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 65 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya ber-kata, 'Apakah jawabanmu kepada para rasul?'" (Al-Qashash: 65). ﴾ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami)." Tentang penyampaian mereka terhadap risalah Allah dan apa jawaban umat mereka kepada mereka. (7) ﴾ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيۡهِم ﴿ "Maka sesungguhnya akan kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat)." Yakni kepada seluruh manusia apa yang telah mereka perbuat. ﴾ بِعِلۡمٖۖ ﴿ "Sedang (Kami) me-ngetahui (keadaan mereka)", terhadap amal-amal mereka. ﴾ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ ﴿ "Dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ أَحۡصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُۚ ﴿ "Allah mengumpulkan (mencatat) amal mereka padahal mereka telah melupakannya." (Al-Mujadalah: 6). Dan juga Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعَ طَرَآئِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلۡخَلۡقِ غَٰفِلِينَ 17 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)."(Al-Mukminun: 17). Kemudian Allah menjelaskan balasan amal. Dia berfirman,

Al-A'raf 7:3

"Alif lam mim shad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu ka-renanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang-orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari. Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami). Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." (Al-A'raf: 1-7). Makkiyah (1-2) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya, menjelaskan keagungan al-Qur`an kepadanya, ﴾ كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ ﴿ "Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu." Yakni kitab mulia yang memuat segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua hamba, dan seluruh tuntutan-tuntutan ilahiyah, serta tujuan-tujuan syar'i yang akurat lagi ter-perinci. Maka janganlah ada rasa di dadamu karenanya, ﴾ حَرَجٞ ﴿ "ke-sempitan." Yakni kesulitan, keraguan dan kebimbangan. Bahkan agar kamu mengetahui bahwa ia diturunkan dari Dzat Yang Maha-bijaksana lagi Maha terpuji. Tidak ada kebatilan yang datang dari hadapanNya dan tidak pula dari belakangNya. Oleh karena itu hendaknya dadamu menjadi lapang karenanya, jiwamu menjadi tenang dengannya, dan kamu mau menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangannya (kepada para hamba). Jangan takut ke-pada orang yang mencela dan menentang, ﴾ لِتُنذِرَ بِهِۦ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu", kepada seluruh manusia, kamu menasihati dan mengingatkan mereka, sehingga hujjah menjadi tegak atas orang-orang yang menentang, ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 55 ﴿ "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringa-tan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (Adz-Dzariyat: 55). Dengan kitab itu mereka mengingat jalan yang lurus, amal-amal mereka yang lahir maupun yang batin, dan apa yang menjadi penghalang bagi hamba untuk menitinya." (3) Kemudian Allah berbicara kepada hamba-hambaNya dan mengarahkan pandangan mereka kepada kitab ini. Dia berfir-man, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu." Yakni kitab yang memang diturunkan demi kamu dan ia ﴾ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "dari Rabbmu," yang ingin menyempurnakan pendidikan-Nya kepadamu. Maka Dia menurunkan kepadamu kitab ini yang mana jika kamu mengikutinya, maka pendidikanmu sempurna, nikmatNya atasmu menjadi lengkap dan kamu dibimbing kepada amal dan akhlak terbaik dan termulia. ﴾ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ ﴿ "Dan ja-nganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya." Yakni kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, mengikuti hawa nafsu me-reka dan karenanya kamu meninggalkan kebenaran. ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)." Sekiranya kamu mengambil pelajaran dan mengetahui maslahatnya, niscaya kamu tidak akan mengutamakan yang membahayakan daripada yang bermanfaat, dan mengutamakan musuh daripada teman. (4) Kemudian Allah memperingatkan mereka terhadap huku-man-hukumanNya yang menimpa umat-umat yang mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul mereka, agar mereka tidak meniru umat-umat itu. Dia berfirman, ﴾ وَكَم مِّن قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَٰهَا فَجَآءَهَا بَأۡسُنَا ﴿ "Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya." Yakni azab kami yang keras, ﴾ بَيَٰتًا أَوۡ هُمۡ قَآئِلُونَ ﴿ "di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari." Yakni pada waktu mereka lalai, pada waktu mereka bersantai, di mana mereka sama sekali tidak menyangka akan ter-timpa kebinasaan, sehingga manakala azab datang, mereka tidak bisa melindungi diri mereka. Tuhan-tuhan mereka yang mereka harapkan tidak berguna sedikit pun bagi mereka dan tidak pula mengingkari kezhaliman dan kemaksiatan yang mereka lakukan. (5) ﴾ فَمَا كَانَ دَعۡوَىٰهُمۡ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَآ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَكَمۡ قَصَمۡنَا مِن قَرۡيَةٖ كَانَتۡ ظَالِمَةٗ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ 11 فَلَمَّآ أَحَسُّواْ بَأۡسَنَآ إِذَا هُم مِّنۡهَا يَرۡكُضُونَ 12 لَا تَرۡكُضُواْ وَٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡـَٔلُونَ 13 قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 14 فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ حَتَّىٰ جَعَلۡنَٰهُمۡ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ 15 ﴿ "Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zhalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa, kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'. Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi." (Al-Anbiya`: 11-15). (6) Dan FirmanNya, ﴾ فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka sesungguh-nya kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka", tentang bagaimana mereka menjawab rasul-rasul itu. ﴾ وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ فَيَقُولُ مَاذَآ أَجَبۡتُمُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 65 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya ber-kata, 'Apakah jawabanmu kepada para rasul?'" (Al-Qashash: 65). ﴾ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami)." Tentang penyampaian mereka terhadap risalah Allah dan apa jawaban umat mereka kepada mereka. (7) ﴾ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيۡهِم ﴿ "Maka sesungguhnya akan kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat)." Yakni kepada seluruh manusia apa yang telah mereka perbuat. ﴾ بِعِلۡمٖۖ ﴿ "Sedang (Kami) me-ngetahui (keadaan mereka)", terhadap amal-amal mereka. ﴾ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ ﴿ "Dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ أَحۡصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُۚ ﴿ "Allah mengumpulkan (mencatat) amal mereka padahal mereka telah melupakannya." (Al-Mujadalah: 6). Dan juga Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعَ طَرَآئِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلۡخَلۡقِ غَٰفِلِينَ 17 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)."(Al-Mukminun: 17). Kemudian Allah menjelaskan balasan amal. Dia berfirman,

Al-A'raf 7:4

"Alif lam mim shad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu ka-renanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang-orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari. Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami). Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." (Al-A'raf: 1-7). Makkiyah (1-2) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya, menjelaskan keagungan al-Qur`an kepadanya, ﴾ كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ ﴿ "Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu." Yakni kitab mulia yang memuat segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua hamba, dan seluruh tuntutan-tuntutan ilahiyah, serta tujuan-tujuan syar'i yang akurat lagi ter-perinci. Maka janganlah ada rasa di dadamu karenanya, ﴾ حَرَجٞ ﴿ "ke-sempitan." Yakni kesulitan, keraguan dan kebimbangan. Bahkan agar kamu mengetahui bahwa ia diturunkan dari Dzat Yang Maha-bijaksana lagi Maha terpuji. Tidak ada kebatilan yang datang dari hadapanNya dan tidak pula dari belakangNya. Oleh karena itu hendaknya dadamu menjadi lapang karenanya, jiwamu menjadi tenang dengannya, dan kamu mau menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangannya (kepada para hamba). Jangan takut ke-pada orang yang mencela dan menentang, ﴾ لِتُنذِرَ بِهِۦ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu", kepada seluruh manusia, kamu menasihati dan mengingatkan mereka, sehingga hujjah menjadi tegak atas orang-orang yang menentang, ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 55 ﴿ "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringa-tan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (Adz-Dzariyat: 55). Dengan kitab itu mereka mengingat jalan yang lurus, amal-amal mereka yang lahir maupun yang batin, dan apa yang menjadi penghalang bagi hamba untuk menitinya." (3) Kemudian Allah berbicara kepada hamba-hambaNya dan mengarahkan pandangan mereka kepada kitab ini. Dia berfir-man, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu." Yakni kitab yang memang diturunkan demi kamu dan ia ﴾ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "dari Rabbmu," yang ingin menyempurnakan pendidikan-Nya kepadamu. Maka Dia menurunkan kepadamu kitab ini yang mana jika kamu mengikutinya, maka pendidikanmu sempurna, nikmatNya atasmu menjadi lengkap dan kamu dibimbing kepada amal dan akhlak terbaik dan termulia. ﴾ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ ﴿ "Dan ja-nganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya." Yakni kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, mengikuti hawa nafsu me-reka dan karenanya kamu meninggalkan kebenaran. ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)." Sekiranya kamu mengambil pelajaran dan mengetahui maslahatnya, niscaya kamu tidak akan mengutamakan yang membahayakan daripada yang bermanfaat, dan mengutamakan musuh daripada teman. (4) Kemudian Allah memperingatkan mereka terhadap huku-man-hukumanNya yang menimpa umat-umat yang mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul mereka, agar mereka tidak meniru umat-umat itu. Dia berfirman, ﴾ وَكَم مِّن قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَٰهَا فَجَآءَهَا بَأۡسُنَا ﴿ "Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya." Yakni azab kami yang keras, ﴾ بَيَٰتًا أَوۡ هُمۡ قَآئِلُونَ ﴿ "di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari." Yakni pada waktu mereka lalai, pada waktu mereka bersantai, di mana mereka sama sekali tidak menyangka akan ter-timpa kebinasaan, sehingga manakala azab datang, mereka tidak bisa melindungi diri mereka. Tuhan-tuhan mereka yang mereka harapkan tidak berguna sedikit pun bagi mereka dan tidak pula mengingkari kezhaliman dan kemaksiatan yang mereka lakukan. (5) ﴾ فَمَا كَانَ دَعۡوَىٰهُمۡ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَآ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَكَمۡ قَصَمۡنَا مِن قَرۡيَةٖ كَانَتۡ ظَالِمَةٗ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ 11 فَلَمَّآ أَحَسُّواْ بَأۡسَنَآ إِذَا هُم مِّنۡهَا يَرۡكُضُونَ 12 لَا تَرۡكُضُواْ وَٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡـَٔلُونَ 13 قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 14 فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ حَتَّىٰ جَعَلۡنَٰهُمۡ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ 15 ﴿ "Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zhalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa, kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'. Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi." (Al-Anbiya`: 11-15). (6) Dan FirmanNya, ﴾ فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka sesungguh-nya kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka", tentang bagaimana mereka menjawab rasul-rasul itu. ﴾ وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ فَيَقُولُ مَاذَآ أَجَبۡتُمُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 65 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya ber-kata, 'Apakah jawabanmu kepada para rasul?'" (Al-Qashash: 65). ﴾ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami)." Tentang penyampaian mereka terhadap risalah Allah dan apa jawaban umat mereka kepada mereka. (7) ﴾ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيۡهِم ﴿ "Maka sesungguhnya akan kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat)." Yakni kepada seluruh manusia apa yang telah mereka perbuat. ﴾ بِعِلۡمٖۖ ﴿ "Sedang (Kami) me-ngetahui (keadaan mereka)", terhadap amal-amal mereka. ﴾ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ ﴿ "Dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ أَحۡصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُۚ ﴿ "Allah mengumpulkan (mencatat) amal mereka padahal mereka telah melupakannya." (Al-Mujadalah: 6). Dan juga Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعَ طَرَآئِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلۡخَلۡقِ غَٰفِلِينَ 17 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)."(Al-Mukminun: 17). Kemudian Allah menjelaskan balasan amal. Dia berfirman,

Al-A'raf 7:5

"Alif lam mim shad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu ka-renanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang-orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari. Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami). Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." (Al-A'raf: 1-7). Makkiyah (1-2) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya, menjelaskan keagungan al-Qur`an kepadanya, ﴾ كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ ﴿ "Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu." Yakni kitab mulia yang memuat segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua hamba, dan seluruh tuntutan-tuntutan ilahiyah, serta tujuan-tujuan syar'i yang akurat lagi ter-perinci. Maka janganlah ada rasa di dadamu karenanya, ﴾ حَرَجٞ ﴿ "ke-sempitan." Yakni kesulitan, keraguan dan kebimbangan. Bahkan agar kamu mengetahui bahwa ia diturunkan dari Dzat Yang Maha-bijaksana lagi Maha terpuji. Tidak ada kebatilan yang datang dari hadapanNya dan tidak pula dari belakangNya. Oleh karena itu hendaknya dadamu menjadi lapang karenanya, jiwamu menjadi tenang dengannya, dan kamu mau menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangannya (kepada para hamba). Jangan takut ke-pada orang yang mencela dan menentang, ﴾ لِتُنذِرَ بِهِۦ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu", kepada seluruh manusia, kamu menasihati dan mengingatkan mereka, sehingga hujjah menjadi tegak atas orang-orang yang menentang, ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 55 ﴿ "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringa-tan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (Adz-Dzariyat: 55). Dengan kitab itu mereka mengingat jalan yang lurus, amal-amal mereka yang lahir maupun yang batin, dan apa yang menjadi penghalang bagi hamba untuk menitinya." (3) Kemudian Allah berbicara kepada hamba-hambaNya dan mengarahkan pandangan mereka kepada kitab ini. Dia berfir-man, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu." Yakni kitab yang memang diturunkan demi kamu dan ia ﴾ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "dari Rabbmu," yang ingin menyempurnakan pendidikan-Nya kepadamu. Maka Dia menurunkan kepadamu kitab ini yang mana jika kamu mengikutinya, maka pendidikanmu sempurna, nikmatNya atasmu menjadi lengkap dan kamu dibimbing kepada amal dan akhlak terbaik dan termulia. ﴾ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ ﴿ "Dan ja-nganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya." Yakni kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, mengikuti hawa nafsu me-reka dan karenanya kamu meninggalkan kebenaran. ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)." Sekiranya kamu mengambil pelajaran dan mengetahui maslahatnya, niscaya kamu tidak akan mengutamakan yang membahayakan daripada yang bermanfaat, dan mengutamakan musuh daripada teman. (4) Kemudian Allah memperingatkan mereka terhadap huku-man-hukumanNya yang menimpa umat-umat yang mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul mereka, agar mereka tidak meniru umat-umat itu. Dia berfirman, ﴾ وَكَم مِّن قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَٰهَا فَجَآءَهَا بَأۡسُنَا ﴿ "Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya." Yakni azab kami yang keras, ﴾ بَيَٰتًا أَوۡ هُمۡ قَآئِلُونَ ﴿ "di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari." Yakni pada waktu mereka lalai, pada waktu mereka bersantai, di mana mereka sama sekali tidak menyangka akan ter-timpa kebinasaan, sehingga manakala azab datang, mereka tidak bisa melindungi diri mereka. Tuhan-tuhan mereka yang mereka harapkan tidak berguna sedikit pun bagi mereka dan tidak pula mengingkari kezhaliman dan kemaksiatan yang mereka lakukan. (5) ﴾ فَمَا كَانَ دَعۡوَىٰهُمۡ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَآ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَكَمۡ قَصَمۡنَا مِن قَرۡيَةٖ كَانَتۡ ظَالِمَةٗ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ 11 فَلَمَّآ أَحَسُّواْ بَأۡسَنَآ إِذَا هُم مِّنۡهَا يَرۡكُضُونَ 12 لَا تَرۡكُضُواْ وَٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡـَٔلُونَ 13 قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 14 فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ حَتَّىٰ جَعَلۡنَٰهُمۡ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ 15 ﴿ "Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zhalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa, kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'. Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi." (Al-Anbiya`: 11-15). (6) Dan FirmanNya, ﴾ فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka sesungguh-nya kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka", tentang bagaimana mereka menjawab rasul-rasul itu. ﴾ وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ فَيَقُولُ مَاذَآ أَجَبۡتُمُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 65 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya ber-kata, 'Apakah jawabanmu kepada para rasul?'" (Al-Qashash: 65). ﴾ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami)." Tentang penyampaian mereka terhadap risalah Allah dan apa jawaban umat mereka kepada mereka. (7) ﴾ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيۡهِم ﴿ "Maka sesungguhnya akan kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat)." Yakni kepada seluruh manusia apa yang telah mereka perbuat. ﴾ بِعِلۡمٖۖ ﴿ "Sedang (Kami) me-ngetahui (keadaan mereka)", terhadap amal-amal mereka. ﴾ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ ﴿ "Dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ أَحۡصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُۚ ﴿ "Allah mengumpulkan (mencatat) amal mereka padahal mereka telah melupakannya." (Al-Mujadalah: 6). Dan juga Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعَ طَرَآئِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلۡخَلۡقِ غَٰفِلِينَ 17 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)."(Al-Mukminun: 17). Kemudian Allah menjelaskan balasan amal. Dia berfirman,

Al-A'raf 7:6

"Alif lam mim shad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu ka-renanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang-orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari. Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami). Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." (Al-A'raf: 1-7). Makkiyah (1-2) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya, menjelaskan keagungan al-Qur`an kepadanya, ﴾ كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ ﴿ "Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu." Yakni kitab mulia yang memuat segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua hamba, dan seluruh tuntutan-tuntutan ilahiyah, serta tujuan-tujuan syar'i yang akurat lagi ter-perinci. Maka janganlah ada rasa di dadamu karenanya, ﴾ حَرَجٞ ﴿ "ke-sempitan." Yakni kesulitan, keraguan dan kebimbangan. Bahkan agar kamu mengetahui bahwa ia diturunkan dari Dzat Yang Maha-bijaksana lagi Maha terpuji. Tidak ada kebatilan yang datang dari hadapanNya dan tidak pula dari belakangNya. Oleh karena itu hendaknya dadamu menjadi lapang karenanya, jiwamu menjadi tenang dengannya, dan kamu mau menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangannya (kepada para hamba). Jangan takut ke-pada orang yang mencela dan menentang, ﴾ لِتُنذِرَ بِهِۦ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu", kepada seluruh manusia, kamu menasihati dan mengingatkan mereka, sehingga hujjah menjadi tegak atas orang-orang yang menentang, ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 55 ﴿ "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringa-tan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (Adz-Dzariyat: 55). Dengan kitab itu mereka mengingat jalan yang lurus, amal-amal mereka yang lahir maupun yang batin, dan apa yang menjadi penghalang bagi hamba untuk menitinya." (3) Kemudian Allah berbicara kepada hamba-hambaNya dan mengarahkan pandangan mereka kepada kitab ini. Dia berfir-man, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu." Yakni kitab yang memang diturunkan demi kamu dan ia ﴾ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "dari Rabbmu," yang ingin menyempurnakan pendidikan-Nya kepadamu. Maka Dia menurunkan kepadamu kitab ini yang mana jika kamu mengikutinya, maka pendidikanmu sempurna, nikmatNya atasmu menjadi lengkap dan kamu dibimbing kepada amal dan akhlak terbaik dan termulia. ﴾ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ ﴿ "Dan ja-nganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya." Yakni kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, mengikuti hawa nafsu me-reka dan karenanya kamu meninggalkan kebenaran. ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)." Sekiranya kamu mengambil pelajaran dan mengetahui maslahatnya, niscaya kamu tidak akan mengutamakan yang membahayakan daripada yang bermanfaat, dan mengutamakan musuh daripada teman. (4) Kemudian Allah memperingatkan mereka terhadap huku-man-hukumanNya yang menimpa umat-umat yang mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul mereka, agar mereka tidak meniru umat-umat itu. Dia berfirman, ﴾ وَكَم مِّن قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَٰهَا فَجَآءَهَا بَأۡسُنَا ﴿ "Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya." Yakni azab kami yang keras, ﴾ بَيَٰتًا أَوۡ هُمۡ قَآئِلُونَ ﴿ "di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari." Yakni pada waktu mereka lalai, pada waktu mereka bersantai, di mana mereka sama sekali tidak menyangka akan ter-timpa kebinasaan, sehingga manakala azab datang, mereka tidak bisa melindungi diri mereka. Tuhan-tuhan mereka yang mereka harapkan tidak berguna sedikit pun bagi mereka dan tidak pula mengingkari kezhaliman dan kemaksiatan yang mereka lakukan. (5) ﴾ فَمَا كَانَ دَعۡوَىٰهُمۡ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَآ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَكَمۡ قَصَمۡنَا مِن قَرۡيَةٖ كَانَتۡ ظَالِمَةٗ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ 11 فَلَمَّآ أَحَسُّواْ بَأۡسَنَآ إِذَا هُم مِّنۡهَا يَرۡكُضُونَ 12 لَا تَرۡكُضُواْ وَٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡـَٔلُونَ 13 قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 14 فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ حَتَّىٰ جَعَلۡنَٰهُمۡ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ 15 ﴿ "Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zhalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa, kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'. Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi." (Al-Anbiya`: 11-15). (6) Dan FirmanNya, ﴾ فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka sesungguh-nya kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka", tentang bagaimana mereka menjawab rasul-rasul itu. ﴾ وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ فَيَقُولُ مَاذَآ أَجَبۡتُمُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 65 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya ber-kata, 'Apakah jawabanmu kepada para rasul?'" (Al-Qashash: 65). ﴾ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami)." Tentang penyampaian mereka terhadap risalah Allah dan apa jawaban umat mereka kepada mereka. (7) ﴾ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيۡهِم ﴿ "Maka sesungguhnya akan kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat)." Yakni kepada seluruh manusia apa yang telah mereka perbuat. ﴾ بِعِلۡمٖۖ ﴿ "Sedang (Kami) me-ngetahui (keadaan mereka)", terhadap amal-amal mereka. ﴾ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ ﴿ "Dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ أَحۡصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُۚ ﴿ "Allah mengumpulkan (mencatat) amal mereka padahal mereka telah melupakannya." (Al-Mujadalah: 6). Dan juga Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعَ طَرَآئِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلۡخَلۡقِ غَٰفِلِينَ 17 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)."(Al-Mukminun: 17). Kemudian Allah menjelaskan balasan amal. Dia berfirman,

Al-A'raf 7:7

"Alif lam mim shad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu ka-renanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang-orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari. Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami). Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." (Al-A'raf: 1-7). Makkiyah (1-2) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya, menjelaskan keagungan al-Qur`an kepadanya, ﴾ كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ ﴿ "Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu." Yakni kitab mulia yang memuat segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua hamba, dan seluruh tuntutan-tuntutan ilahiyah, serta tujuan-tujuan syar'i yang akurat lagi ter-perinci. Maka janganlah ada rasa di dadamu karenanya, ﴾ حَرَجٞ ﴿ "ke-sempitan." Yakni kesulitan, keraguan dan kebimbangan. Bahkan agar kamu mengetahui bahwa ia diturunkan dari Dzat Yang Maha-bijaksana lagi Maha terpuji. Tidak ada kebatilan yang datang dari hadapanNya dan tidak pula dari belakangNya. Oleh karena itu hendaknya dadamu menjadi lapang karenanya, jiwamu menjadi tenang dengannya, dan kamu mau menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangannya (kepada para hamba). Jangan takut ke-pada orang yang mencela dan menentang, ﴾ لِتُنذِرَ بِهِۦ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu", kepada seluruh manusia, kamu menasihati dan mengingatkan mereka, sehingga hujjah menjadi tegak atas orang-orang yang menentang, ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 55 ﴿ "Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringa-tan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (Adz-Dzariyat: 55). Dengan kitab itu mereka mengingat jalan yang lurus, amal-amal mereka yang lahir maupun yang batin, dan apa yang menjadi penghalang bagi hamba untuk menitinya." (3) Kemudian Allah berbicara kepada hamba-hambaNya dan mengarahkan pandangan mereka kepada kitab ini. Dia berfir-man, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu." Yakni kitab yang memang diturunkan demi kamu dan ia ﴾ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "dari Rabbmu," yang ingin menyempurnakan pendidikan-Nya kepadamu. Maka Dia menurunkan kepadamu kitab ini yang mana jika kamu mengikutinya, maka pendidikanmu sempurna, nikmatNya atasmu menjadi lengkap dan kamu dibimbing kepada amal dan akhlak terbaik dan termulia. ﴾ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ ﴿ "Dan ja-nganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya." Yakni kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, mengikuti hawa nafsu me-reka dan karenanya kamu meninggalkan kebenaran. ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)." Sekiranya kamu mengambil pelajaran dan mengetahui maslahatnya, niscaya kamu tidak akan mengutamakan yang membahayakan daripada yang bermanfaat, dan mengutamakan musuh daripada teman. (4) Kemudian Allah memperingatkan mereka terhadap huku-man-hukumanNya yang menimpa umat-umat yang mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul mereka, agar mereka tidak meniru umat-umat itu. Dia berfirman, ﴾ وَكَم مِّن قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَٰهَا فَجَآءَهَا بَأۡسُنَا ﴿ "Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya." Yakni azab kami yang keras, ﴾ بَيَٰتًا أَوۡ هُمۡ قَآئِلُونَ ﴿ "di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka sedang beristirahat di tengah hari." Yakni pada waktu mereka lalai, pada waktu mereka bersantai, di mana mereka sama sekali tidak menyangka akan ter-timpa kebinasaan, sehingga manakala azab datang, mereka tidak bisa melindungi diri mereka. Tuhan-tuhan mereka yang mereka harapkan tidak berguna sedikit pun bagi mereka dan tidak pula mengingkari kezhaliman dan kemaksiatan yang mereka lakukan. (5) ﴾ فَمَا كَانَ دَعۡوَىٰهُمۡ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَآ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "Maka tidaklah ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَكَمۡ قَصَمۡنَا مِن قَرۡيَةٖ كَانَتۡ ظَالِمَةٗ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ 11 فَلَمَّآ أَحَسُّواْ بَأۡسَنَآ إِذَا هُم مِّنۡهَا يَرۡكُضُونَ 12 لَا تَرۡكُضُواْ وَٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡـَٔلُونَ 13 قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 14 فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ حَتَّىٰ جَعَلۡنَٰهُمۡ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ 15 ﴿ "Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zhalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa, kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'. Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi." (Al-Anbiya`: 11-15). (6) Dan FirmanNya, ﴾ فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka sesungguh-nya kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka", tentang bagaimana mereka menjawab rasul-rasul itu. ﴾ وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ فَيَقُولُ مَاذَآ أَجَبۡتُمُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 65 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya ber-kata, 'Apakah jawabanmu kepada para rasul?'" (Al-Qashash: 65). ﴾ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami)." Tentang penyampaian mereka terhadap risalah Allah dan apa jawaban umat mereka kepada mereka. (7) ﴾ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيۡهِم ﴿ "Maka sesungguhnya akan kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat)." Yakni kepada seluruh manusia apa yang telah mereka perbuat. ﴾ بِعِلۡمٖۖ ﴿ "Sedang (Kami) me-ngetahui (keadaan mereka)", terhadap amal-amal mereka. ﴾ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ ﴿ "Dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ أَحۡصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُۚ ﴿ "Allah mengumpulkan (mencatat) amal mereka padahal mereka telah melupakannya." (Al-Mujadalah: 6). Dan juga Firman Allah, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعَ طَرَآئِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلۡخَلۡقِ غَٰفِلِينَ 17 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)."(Al-Mukminun: 17). Kemudian Allah menjelaskan balasan amal. Dia berfirman,

Al-A'raf 7:8

"Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan tim-bangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami." (Al-A'raf: 8-9). (8) Yakni timbangan pada Hari Kiamat adalah timbangan yang adil yang tidak ada unsur kesewenang-wenangan dan kezha-liman padanya. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya", di mana daun timbangan kebaikan lebih berat dari-pada daun timbangan keburukan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." Yakni orang-orang yang selamat dari apa yang dibenci, dan meraih apa yang diharapkan. Orang-orang yang mendapatkan keuntungan besar dan kebahagiaan yang terus menerus. (9) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya", di mana keburukannya lebih berat dan hukumnya berdasarkan kepadanya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُم ﴿ "maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri", karena mereka gagal menda-patkan nikmat abadi dan justru mendapatkan azab yang pedih. ﴾ بِمَا كَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَظۡلِمُونَ ﴿ "Disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami." Mereka tidak tunduk kepadanya padahal itu adalah wajib atas mereka.

Al-A'raf 7:9

"Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan tim-bangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami." (Al-A'raf: 8-9). (8) Yakni timbangan pada Hari Kiamat adalah timbangan yang adil yang tidak ada unsur kesewenang-wenangan dan kezha-liman padanya. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya", di mana daun timbangan kebaikan lebih berat dari-pada daun timbangan keburukan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." Yakni orang-orang yang selamat dari apa yang dibenci, dan meraih apa yang diharapkan. Orang-orang yang mendapatkan keuntungan besar dan kebahagiaan yang terus menerus. (9) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya", di mana keburukannya lebih berat dan hukumnya berdasarkan kepadanya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُم ﴿ "maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri", karena mereka gagal menda-patkan nikmat abadi dan justru mendapatkan azab yang pedih. ﴾ بِمَا كَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَظۡلِمُونَ ﴿ "Disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami." Mereka tidak tunduk kepadanya padahal itu adalah wajib atas mereka.

Al-A'raf 7:10

"Dan sungguh Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur." (Al-A'raf: 10). (10) Allah تعالى menjelaskan nikmatNya kepada hamba-ham-baNya berupa tempat tinggal dan kehidupan. ﴾ وَلَقَدۡ مَكَّنَّٰكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan sungguh Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi." Yakni Kami menyiapkannya untukmu di mana kamu bisa mem-bangun bangunan di atasnya, menanam tanaman dan mengambil manfaat-manfaat. ﴾ وَجَعَلۡنَا لَكُمۡ فِيهَا مَعَٰيِشَۗ ﴿ "Dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan," dari hasil pohon-pohonan, tanaman, tambang bumi, dan berbagai macam kerajinan dan perniagaan. Sesungguhnya Dia-lah yang menyiapkannya dan menundukkan sebab-sebabnya. ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ﴿ "Amat sedikitlah kamu bersyukur," ke-pada Allah yang telah melimpahkan nikmat-nikmat kepadamu dan menolak berbagai kesulitan darimu.

Al-A'raf 7:11

"Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, 'Bersujudlah kamu kepada Adam.' Maka mereka pun bersujud kecuali iblis, ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, 'Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?' Iblis menjawab, 'Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.' Allah berfirman, 'Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguh-nya kamu termasuk orang-orang yang hina.' Iblis menjawab, 'Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh'." (Al-A'raf: 11-15). (11) Allah تعالى berfirman kepada Bani Adam, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَٰكُمۡ ﴿ "Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu." Dengan menciptakan asal-usul dan bahan yang darinya kamu keluar, yaitu bapakmu Adam عليه السلام. ﴾ ثُمَّ صَوَّرۡنَٰكُمۡ ﴿ "Lalu kami bentuk tubuhmu", dengan bentuk dan wujud yang paling baik, dan Allah mengajarkan kepadanya apa yang melengkapi gambaran batinnya, yaitu nama-nama segala sesuatu, kemudian Dia memerintahkan para malaikat yang mulia agar bersujud kepada Adam sebagai penghormatan, penghargaan, dan kemuliaan terhadap keutamaannya, lalu para malaikat pun tunduk kepada perintah Allah. ﴾ فَسَجَدُوٓاْ ﴿ "Maka mereka pun bersu-jud", seluruhnya ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ ﴿ "kecuali iblis." Iblis menolak bersujud karena kesombongan diri dan ujub terhadap dirinya. (12) Maka Allah mencelanya karena itu, Dia berfirman, Me-ngapa kamu menolak bersujud kepada dia yang telah Aku ciptakan dengan kedua TanganKu. Yakni Aku memuliakannya dan membe-rinya keutamaan dengan keutamaan yang tidak diberikan kepada selainnya. Kamu mendurhakai perintahKu dan meremehkanKu. ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", iblis menentang Tuhannya, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ ﴿ "Saya lebih baik daripadanya." Kemudian dia berdalil atas klaim yang batil ini dengan ucapannya. ﴾ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ ﴿ "Engkau menciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." Konsekuensinya ada-lah bahwa apa yang diciptakan dari api adalah lebih baik dari apa yang diciptakan dari tanah, karena api di atas tanah. Ini adalah kias paling rusak. Ia batil dari berbagai segi: Di antaranya bahwa ia merupakan bentuk penentangan ter-hadap perintah sujud dari Allah, dan suatu kias yang bertentangan dengan dalil adalah kias batil, karena maksud dari kias adalah men-jadikan hukum yang tidak ada dalil padanya mendekati perkara yang ada dalil padanya dan mengikutinya. Adapun kias yang ber-tabrakan dengannya yang jika ia diambil maka ia berkonsekuensi dibuangnya dalil, maka ini merupakan kias paling buruk. Di antaranya juga, bahwa ucapannya, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ ﴿ "Saya lebih baik daripadanya." Sudah cukup dengan sendirinya menunjukkan keku-rangan iblis yang busuk, karena dia telah membuktikan kekura-ngannya dengan ujub dan takaburnya. Berbicara atas nama Allah tanpa ilmu. Adakah kekurangan yang lebih besar dari ini? Di antaranya juga, bahwa dia telah berdusta dalam mengung-gulkan api di atas tanah, karena tanah mengandung ketenangan, ketenteraman, dan keseimbangan. Darinya muncul keberkahan bumi dari pohon-pohonan dan berbagai macam tanaman dengan berbagai jenis dan macamnya. Lain halnya dengan api, ia membakar, mudah terombang-ambing dan ceroboh. (13) Oleh karena itu, manakala terjadi penentangan dari iblis, maka dia terdegradasi ke derajat yang paling rendah. Allah berfirman kepadanya, turunlah kamu ﴾ مِنۡهَا ﴿"dari surganya," yakni dari surga. ﴾ فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا ﴿ "Karena kamu tidak sepatutnya menyom-bongkan diri di dalamnya." Karena ia adalah rumah orang-orang yang baik lagi suci, maka ia tidak layak dihuni oleh makhluk yang paling buruk dan paling jahat. ﴾ فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّٰغِرِينَ ﴿ "Maka keluarlah, sesungguh-nya kamu termasuk orang-orang yang hina." Yakni termasuk orang-orang yang hina-dina sebagai balasan atas kesombongan dan ujubnya. (14-15) Ketika musuh Allah mengumumkan permusuhan-nya kepada Allah, Adam dan anak cucunya, dia meminta kepada Allah penangguhan tempo sampai Hari Kebangkitan, agar dapat menyesatkan Bani Adam dengan apa yang dia mampu. Manakala hikmah Allah menuntut adanya ujian kepada hamba-hambaNya agar jelas mana yang benar keimanannya dan mana yang dusta, siapa yang taat kepadaNya dan siapa yang taat kepada musuhNya, maka Allah mengabulkan permintaannya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh."

Al-A'raf 7:12

"Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, 'Bersujudlah kamu kepada Adam.' Maka mereka pun bersujud kecuali iblis, ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, 'Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?' Iblis menjawab, 'Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.' Allah berfirman, 'Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguh-nya kamu termasuk orang-orang yang hina.' Iblis menjawab, 'Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh'." (Al-A'raf: 11-15). (11) Allah تعالى berfirman kepada Bani Adam, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَٰكُمۡ ﴿ "Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu." Dengan menciptakan asal-usul dan bahan yang darinya kamu keluar, yaitu bapakmu Adam عليه السلام. ﴾ ثُمَّ صَوَّرۡنَٰكُمۡ ﴿ "Lalu kami bentuk tubuhmu", dengan bentuk dan wujud yang paling baik, dan Allah mengajarkan kepadanya apa yang melengkapi gambaran batinnya, yaitu nama-nama segala sesuatu, kemudian Dia memerintahkan para malaikat yang mulia agar bersujud kepada Adam sebagai penghormatan, penghargaan, dan kemuliaan terhadap keutamaannya, lalu para malaikat pun tunduk kepada perintah Allah. ﴾ فَسَجَدُوٓاْ ﴿ "Maka mereka pun bersu-jud", seluruhnya ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ ﴿ "kecuali iblis." Iblis menolak bersujud karena kesombongan diri dan ujub terhadap dirinya. (12) Maka Allah mencelanya karena itu, Dia berfirman, Me-ngapa kamu menolak bersujud kepada dia yang telah Aku ciptakan dengan kedua TanganKu. Yakni Aku memuliakannya dan membe-rinya keutamaan dengan keutamaan yang tidak diberikan kepada selainnya. Kamu mendurhakai perintahKu dan meremehkanKu. ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", iblis menentang Tuhannya, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ ﴿ "Saya lebih baik daripadanya." Kemudian dia berdalil atas klaim yang batil ini dengan ucapannya. ﴾ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ ﴿ "Engkau menciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." Konsekuensinya ada-lah bahwa apa yang diciptakan dari api adalah lebih baik dari apa yang diciptakan dari tanah, karena api di atas tanah. Ini adalah kias paling rusak. Ia batil dari berbagai segi: Di antaranya bahwa ia merupakan bentuk penentangan ter-hadap perintah sujud dari Allah, dan suatu kias yang bertentangan dengan dalil adalah kias batil, karena maksud dari kias adalah men-jadikan hukum yang tidak ada dalil padanya mendekati perkara yang ada dalil padanya dan mengikutinya. Adapun kias yang ber-tabrakan dengannya yang jika ia diambil maka ia berkonsekuensi dibuangnya dalil, maka ini merupakan kias paling buruk. Di antaranya juga, bahwa ucapannya, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ ﴿ "Saya lebih baik daripadanya." Sudah cukup dengan sendirinya menunjukkan keku-rangan iblis yang busuk, karena dia telah membuktikan kekura-ngannya dengan ujub dan takaburnya. Berbicara atas nama Allah tanpa ilmu. Adakah kekurangan yang lebih besar dari ini? Di antaranya juga, bahwa dia telah berdusta dalam mengung-gulkan api di atas tanah, karena tanah mengandung ketenangan, ketenteraman, dan keseimbangan. Darinya muncul keberkahan bumi dari pohon-pohonan dan berbagai macam tanaman dengan berbagai jenis dan macamnya. Lain halnya dengan api, ia membakar, mudah terombang-ambing dan ceroboh. (13) Oleh karena itu, manakala terjadi penentangan dari iblis, maka dia terdegradasi ke derajat yang paling rendah. Allah berfirman kepadanya, turunlah kamu ﴾ مِنۡهَا ﴿"dari surganya," yakni dari surga. ﴾ فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا ﴿ "Karena kamu tidak sepatutnya menyom-bongkan diri di dalamnya." Karena ia adalah rumah orang-orang yang baik lagi suci, maka ia tidak layak dihuni oleh makhluk yang paling buruk dan paling jahat. ﴾ فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّٰغِرِينَ ﴿ "Maka keluarlah, sesungguh-nya kamu termasuk orang-orang yang hina." Yakni termasuk orang-orang yang hina-dina sebagai balasan atas kesombongan dan ujubnya. (14-15) Ketika musuh Allah mengumumkan permusuhan-nya kepada Allah, Adam dan anak cucunya, dia meminta kepada Allah penangguhan tempo sampai Hari Kebangkitan, agar dapat menyesatkan Bani Adam dengan apa yang dia mampu. Manakala hikmah Allah menuntut adanya ujian kepada hamba-hambaNya agar jelas mana yang benar keimanannya dan mana yang dusta, siapa yang taat kepadaNya dan siapa yang taat kepada musuhNya, maka Allah mengabulkan permintaannya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh."

Al-A'raf 7:13

"Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, 'Bersujudlah kamu kepada Adam.' Maka mereka pun bersujud kecuali iblis, ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, 'Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?' Iblis menjawab, 'Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.' Allah berfirman, 'Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguh-nya kamu termasuk orang-orang yang hina.' Iblis menjawab, 'Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh'." (Al-A'raf: 11-15). (11) Allah تعالى berfirman kepada Bani Adam, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَٰكُمۡ ﴿ "Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu." Dengan menciptakan asal-usul dan bahan yang darinya kamu keluar, yaitu bapakmu Adam عليه السلام. ﴾ ثُمَّ صَوَّرۡنَٰكُمۡ ﴿ "Lalu kami bentuk tubuhmu", dengan bentuk dan wujud yang paling baik, dan Allah mengajarkan kepadanya apa yang melengkapi gambaran batinnya, yaitu nama-nama segala sesuatu, kemudian Dia memerintahkan para malaikat yang mulia agar bersujud kepada Adam sebagai penghormatan, penghargaan, dan kemuliaan terhadap keutamaannya, lalu para malaikat pun tunduk kepada perintah Allah. ﴾ فَسَجَدُوٓاْ ﴿ "Maka mereka pun bersu-jud", seluruhnya ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ ﴿ "kecuali iblis." Iblis menolak bersujud karena kesombongan diri dan ujub terhadap dirinya. (12) Maka Allah mencelanya karena itu, Dia berfirman, Me-ngapa kamu menolak bersujud kepada dia yang telah Aku ciptakan dengan kedua TanganKu. Yakni Aku memuliakannya dan membe-rinya keutamaan dengan keutamaan yang tidak diberikan kepada selainnya. Kamu mendurhakai perintahKu dan meremehkanKu. ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", iblis menentang Tuhannya, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ ﴿ "Saya lebih baik daripadanya." Kemudian dia berdalil atas klaim yang batil ini dengan ucapannya. ﴾ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ ﴿ "Engkau menciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." Konsekuensinya ada-lah bahwa apa yang diciptakan dari api adalah lebih baik dari apa yang diciptakan dari tanah, karena api di atas tanah. Ini adalah kias paling rusak. Ia batil dari berbagai segi: Di antaranya bahwa ia merupakan bentuk penentangan ter-hadap perintah sujud dari Allah, dan suatu kias yang bertentangan dengan dalil adalah kias batil, karena maksud dari kias adalah men-jadikan hukum yang tidak ada dalil padanya mendekati perkara yang ada dalil padanya dan mengikutinya. Adapun kias yang ber-tabrakan dengannya yang jika ia diambil maka ia berkonsekuensi dibuangnya dalil, maka ini merupakan kias paling buruk. Di antaranya juga, bahwa ucapannya, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ ﴿ "Saya lebih baik daripadanya." Sudah cukup dengan sendirinya menunjukkan keku-rangan iblis yang busuk, karena dia telah membuktikan kekura-ngannya dengan ujub dan takaburnya. Berbicara atas nama Allah tanpa ilmu. Adakah kekurangan yang lebih besar dari ini? Di antaranya juga, bahwa dia telah berdusta dalam mengung-gulkan api di atas tanah, karena tanah mengandung ketenangan, ketenteraman, dan keseimbangan. Darinya muncul keberkahan bumi dari pohon-pohonan dan berbagai macam tanaman dengan berbagai jenis dan macamnya. Lain halnya dengan api, ia membakar, mudah terombang-ambing dan ceroboh. (13) Oleh karena itu, manakala terjadi penentangan dari iblis, maka dia terdegradasi ke derajat yang paling rendah. Allah berfirman kepadanya, turunlah kamu ﴾ مِنۡهَا ﴿"dari surganya," yakni dari surga. ﴾ فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا ﴿ "Karena kamu tidak sepatutnya menyom-bongkan diri di dalamnya." Karena ia adalah rumah orang-orang yang baik lagi suci, maka ia tidak layak dihuni oleh makhluk yang paling buruk dan paling jahat. ﴾ فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّٰغِرِينَ ﴿ "Maka keluarlah, sesungguh-nya kamu termasuk orang-orang yang hina." Yakni termasuk orang-orang yang hina-dina sebagai balasan atas kesombongan dan ujubnya. (14-15) Ketika musuh Allah mengumumkan permusuhan-nya kepada Allah, Adam dan anak cucunya, dia meminta kepada Allah penangguhan tempo sampai Hari Kebangkitan, agar dapat menyesatkan Bani Adam dengan apa yang dia mampu. Manakala hikmah Allah menuntut adanya ujian kepada hamba-hambaNya agar jelas mana yang benar keimanannya dan mana yang dusta, siapa yang taat kepadaNya dan siapa yang taat kepada musuhNya, maka Allah mengabulkan permintaannya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh."

Al-A'raf 7:14

"Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, 'Bersujudlah kamu kepada Adam.' Maka mereka pun bersujud kecuali iblis, ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, 'Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?' Iblis menjawab, 'Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.' Allah berfirman, 'Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguh-nya kamu termasuk orang-orang yang hina.' Iblis menjawab, 'Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh'." (Al-A'raf: 11-15). (11) Allah تعالى berfirman kepada Bani Adam, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَٰكُمۡ ﴿ "Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu." Dengan menciptakan asal-usul dan bahan yang darinya kamu keluar, yaitu bapakmu Adam عليه السلام. ﴾ ثُمَّ صَوَّرۡنَٰكُمۡ ﴿ "Lalu kami bentuk tubuhmu", dengan bentuk dan wujud yang paling baik, dan Allah mengajarkan kepadanya apa yang melengkapi gambaran batinnya, yaitu nama-nama segala sesuatu, kemudian Dia memerintahkan para malaikat yang mulia agar bersujud kepada Adam sebagai penghormatan, penghargaan, dan kemuliaan terhadap keutamaannya, lalu para malaikat pun tunduk kepada perintah Allah. ﴾ فَسَجَدُوٓاْ ﴿ "Maka mereka pun bersu-jud", seluruhnya ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ ﴿ "kecuali iblis." Iblis menolak bersujud karena kesombongan diri dan ujub terhadap dirinya. (12) Maka Allah mencelanya karena itu, Dia berfirman, Me-ngapa kamu menolak bersujud kepada dia yang telah Aku ciptakan dengan kedua TanganKu. Yakni Aku memuliakannya dan membe-rinya keutamaan dengan keutamaan yang tidak diberikan kepada selainnya. Kamu mendurhakai perintahKu dan meremehkanKu. ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", iblis menentang Tuhannya, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ ﴿ "Saya lebih baik daripadanya." Kemudian dia berdalil atas klaim yang batil ini dengan ucapannya. ﴾ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ ﴿ "Engkau menciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." Konsekuensinya ada-lah bahwa apa yang diciptakan dari api adalah lebih baik dari apa yang diciptakan dari tanah, karena api di atas tanah. Ini adalah kias paling rusak. Ia batil dari berbagai segi: Di antaranya bahwa ia merupakan bentuk penentangan ter-hadap perintah sujud dari Allah, dan suatu kias yang bertentangan dengan dalil adalah kias batil, karena maksud dari kias adalah men-jadikan hukum yang tidak ada dalil padanya mendekati perkara yang ada dalil padanya dan mengikutinya. Adapun kias yang ber-tabrakan dengannya yang jika ia diambil maka ia berkonsekuensi dibuangnya dalil, maka ini merupakan kias paling buruk. Di antaranya juga, bahwa ucapannya, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ ﴿ "Saya lebih baik daripadanya." Sudah cukup dengan sendirinya menunjukkan keku-rangan iblis yang busuk, karena dia telah membuktikan kekura-ngannya dengan ujub dan takaburnya. Berbicara atas nama Allah tanpa ilmu. Adakah kekurangan yang lebih besar dari ini? Di antaranya juga, bahwa dia telah berdusta dalam mengung-gulkan api di atas tanah, karena tanah mengandung ketenangan, ketenteraman, dan keseimbangan. Darinya muncul keberkahan bumi dari pohon-pohonan dan berbagai macam tanaman dengan berbagai jenis dan macamnya. Lain halnya dengan api, ia membakar, mudah terombang-ambing dan ceroboh. (13) Oleh karena itu, manakala terjadi penentangan dari iblis, maka dia terdegradasi ke derajat yang paling rendah. Allah berfirman kepadanya, turunlah kamu ﴾ مِنۡهَا ﴿"dari surganya," yakni dari surga. ﴾ فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا ﴿ "Karena kamu tidak sepatutnya menyom-bongkan diri di dalamnya." Karena ia adalah rumah orang-orang yang baik lagi suci, maka ia tidak layak dihuni oleh makhluk yang paling buruk dan paling jahat. ﴾ فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّٰغِرِينَ ﴿ "Maka keluarlah, sesungguh-nya kamu termasuk orang-orang yang hina." Yakni termasuk orang-orang yang hina-dina sebagai balasan atas kesombongan dan ujubnya. (14-15) Ketika musuh Allah mengumumkan permusuhan-nya kepada Allah, Adam dan anak cucunya, dia meminta kepada Allah penangguhan tempo sampai Hari Kebangkitan, agar dapat menyesatkan Bani Adam dengan apa yang dia mampu. Manakala hikmah Allah menuntut adanya ujian kepada hamba-hambaNya agar jelas mana yang benar keimanannya dan mana yang dusta, siapa yang taat kepadaNya dan siapa yang taat kepada musuhNya, maka Allah mengabulkan permintaannya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh."

Al-A'raf 7:15

"Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, 'Bersujudlah kamu kepada Adam.' Maka mereka pun bersujud kecuali iblis, ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, 'Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?' Iblis menjawab, 'Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.' Allah berfirman, 'Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguh-nya kamu termasuk orang-orang yang hina.' Iblis menjawab, 'Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh'." (Al-A'raf: 11-15). (11) Allah تعالى berfirman kepada Bani Adam, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَٰكُمۡ ﴿ "Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu." Dengan menciptakan asal-usul dan bahan yang darinya kamu keluar, yaitu bapakmu Adam عليه السلام. ﴾ ثُمَّ صَوَّرۡنَٰكُمۡ ﴿ "Lalu kami bentuk tubuhmu", dengan bentuk dan wujud yang paling baik, dan Allah mengajarkan kepadanya apa yang melengkapi gambaran batinnya, yaitu nama-nama segala sesuatu, kemudian Dia memerintahkan para malaikat yang mulia agar bersujud kepada Adam sebagai penghormatan, penghargaan, dan kemuliaan terhadap keutamaannya, lalu para malaikat pun tunduk kepada perintah Allah. ﴾ فَسَجَدُوٓاْ ﴿ "Maka mereka pun bersu-jud", seluruhnya ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ ﴿ "kecuali iblis." Iblis menolak bersujud karena kesombongan diri dan ujub terhadap dirinya. (12) Maka Allah mencelanya karena itu, Dia berfirman, Me-ngapa kamu menolak bersujud kepada dia yang telah Aku ciptakan dengan kedua TanganKu. Yakni Aku memuliakannya dan membe-rinya keutamaan dengan keutamaan yang tidak diberikan kepada selainnya. Kamu mendurhakai perintahKu dan meremehkanKu. ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", iblis menentang Tuhannya, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ ﴿ "Saya lebih baik daripadanya." Kemudian dia berdalil atas klaim yang batil ini dengan ucapannya. ﴾ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ ﴿ "Engkau menciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." Konsekuensinya ada-lah bahwa apa yang diciptakan dari api adalah lebih baik dari apa yang diciptakan dari tanah, karena api di atas tanah. Ini adalah kias paling rusak. Ia batil dari berbagai segi: Di antaranya bahwa ia merupakan bentuk penentangan ter-hadap perintah sujud dari Allah, dan suatu kias yang bertentangan dengan dalil adalah kias batil, karena maksud dari kias adalah men-jadikan hukum yang tidak ada dalil padanya mendekati perkara yang ada dalil padanya dan mengikutinya. Adapun kias yang ber-tabrakan dengannya yang jika ia diambil maka ia berkonsekuensi dibuangnya dalil, maka ini merupakan kias paling buruk. Di antaranya juga, bahwa ucapannya, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ ﴿ "Saya lebih baik daripadanya." Sudah cukup dengan sendirinya menunjukkan keku-rangan iblis yang busuk, karena dia telah membuktikan kekura-ngannya dengan ujub dan takaburnya. Berbicara atas nama Allah tanpa ilmu. Adakah kekurangan yang lebih besar dari ini? Di antaranya juga, bahwa dia telah berdusta dalam mengung-gulkan api di atas tanah, karena tanah mengandung ketenangan, ketenteraman, dan keseimbangan. Darinya muncul keberkahan bumi dari pohon-pohonan dan berbagai macam tanaman dengan berbagai jenis dan macamnya. Lain halnya dengan api, ia membakar, mudah terombang-ambing dan ceroboh. (13) Oleh karena itu, manakala terjadi penentangan dari iblis, maka dia terdegradasi ke derajat yang paling rendah. Allah berfirman kepadanya, turunlah kamu ﴾ مِنۡهَا ﴿"dari surganya," yakni dari surga. ﴾ فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا ﴿ "Karena kamu tidak sepatutnya menyom-bongkan diri di dalamnya." Karena ia adalah rumah orang-orang yang baik lagi suci, maka ia tidak layak dihuni oleh makhluk yang paling buruk dan paling jahat. ﴾ فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّٰغِرِينَ ﴿ "Maka keluarlah, sesungguh-nya kamu termasuk orang-orang yang hina." Yakni termasuk orang-orang yang hina-dina sebagai balasan atas kesombongan dan ujubnya. (14-15) Ketika musuh Allah mengumumkan permusuhan-nya kepada Allah, Adam dan anak cucunya, dia meminta kepada Allah penangguhan tempo sampai Hari Kebangkitan, agar dapat menyesatkan Bani Adam dengan apa yang dia mampu. Manakala hikmah Allah menuntut adanya ujian kepada hamba-hambaNya agar jelas mana yang benar keimanannya dan mana yang dusta, siapa yang taat kepadaNya dan siapa yang taat kepada musuhNya, maka Allah mengabulkan permintaannya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh."

Al-A'raf 7:16

"Iblis menjawab, 'Karena Engkau telah menghukum saya ter-sesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalanMu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)'." (Al-A'raf: 16-17). (16) Yakni iblis berkata manakala dia telah putus harapan dan putus asa dari rahmat Allah, ﴾ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ ﴿ "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-ha-langi)" mereka, yakni manusia ﴾ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ﴿ "dari jalanMu yang lurus." Yakni aku akan menguntit jalan dan aku benar-benar akan berusaha dengan segenap kemampuanku untuk mencegah orang-orang dari-nya agar tidak melewati jalan itu. (17) ﴾ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ ﴿ "Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka." Yakni dari segala arah dan jurusan dan dari segala jalan yang padanya dia mampu mewujudkan maksudnya pada mereka. Manakala iblis yang buruk ini mengetahui bahwa mereka adalah lemah, kelalaian telah menguasai banyak dari mereka, dan dia sendiri telah bertekad bulat untuk mengeluarkan segala upaya-nya untuk menyesatkan mereka, maka dia mengira –dan memang perkiraannya benar– dia berkata, ﴾ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ﴿ "Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." Karena bersyukur termasuk meniti jalan yang lurus. Sementara dia ingin menghalang-halangi manusia darinya dan dari bersyukur. Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). Allah memperingatkan kita dari apa yang iblis katakan dan dia tekadkan untuk melakukannya, agar kita berhati-hati darinya, bersiap-siap menghadapi musuh kita, menjaga diri darinya. Dengan kita berilmu (mengetahui) jalan-jalan dari mana dia datang, dan celah-celah di mana dia menyusup darinya, maka dengan itu Allah telah memberi nikmat kepada kita dengan kenikmatan yang paling sempurna.

Al-A'raf 7:17

"Iblis menjawab, 'Karena Engkau telah menghukum saya ter-sesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalanMu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)'." (Al-A'raf: 16-17). (16) Yakni iblis berkata manakala dia telah putus harapan dan putus asa dari rahmat Allah, ﴾ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ ﴿ "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-ha-langi)" mereka, yakni manusia ﴾ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ﴿ "dari jalanMu yang lurus." Yakni aku akan menguntit jalan dan aku benar-benar akan berusaha dengan segenap kemampuanku untuk mencegah orang-orang dari-nya agar tidak melewati jalan itu. (17) ﴾ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ ﴿ "Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka." Yakni dari segala arah dan jurusan dan dari segala jalan yang padanya dia mampu mewujudkan maksudnya pada mereka. Manakala iblis yang buruk ini mengetahui bahwa mereka adalah lemah, kelalaian telah menguasai banyak dari mereka, dan dia sendiri telah bertekad bulat untuk mengeluarkan segala upaya-nya untuk menyesatkan mereka, maka dia mengira –dan memang perkiraannya benar– dia berkata, ﴾ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ﴿ "Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." Karena bersyukur termasuk meniti jalan yang lurus. Sementara dia ingin menghalang-halangi manusia darinya dan dari bersyukur. Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). Allah memperingatkan kita dari apa yang iblis katakan dan dia tekadkan untuk melakukannya, agar kita berhati-hati darinya, bersiap-siap menghadapi musuh kita, menjaga diri darinya. Dengan kita berilmu (mengetahui) jalan-jalan dari mana dia datang, dan celah-celah di mana dia menyusup darinya, maka dengan itu Allah telah memberi nikmat kepada kita dengan kenikmatan yang paling sempurna.

Al-A'raf 7:18

"Allah berfirman, 'Keluarlah kamu dari surga itu sebagai yang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya'." (Al-A'raf: 18). (18) Yakni Allah تعالى berfirman kepada iblis ketika dia menga-takan apa yang dikatakannya, ﴾ ٱخۡرُجۡ مِنۡهَا ﴿ "Keluarlah kamu dari surga itu", dalam keadaan hina-dina, bukan mulia, akan tetapi ﴾ مَذۡءُومٗا مَّدۡحُورٗاۖ ﴿ "sebagai yang terhina lagi terusir." Dalam keadaan dijauhkan dari Allah, dari RahmatNya, dan dari segala kebaikan. ﴾ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ ﴿ "Be-nar-benar Aku akan mengisi Neraka Jahanam", denganmu dan dengan orang-orang yang mengikutimu ﴾ أَجۡمَعِينَ ﴿ "semuanya." Ini adalah sum-pah dari Allah bahwa neraka adalah tempat para ahli maksiat. Dia pasti memenuhinya dengan iblis dan para pengikutnya dari go-longan jin dan manusia. Kemudian Allah memperingatkan Adam terhadap kejahatan dan fitnah iblis. Maka Dia berfirman,

Al-A'raf 7:19

"(Dan Allah berfirman), 'Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua ter-masuk orang-orang yang zhalim.' Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan setan berkata, 'Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malai-kat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).' Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu ber-dua.' Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah po-hon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, 'Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, 'Se-sungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu ber-dua.' Keduanya berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 19-23). (19) Yakni, Allah memerintahkan Adam dan istrinya, Haw-wa` yang Allah berikan kepada Adam sebagai nikmat agar dia merasa tenteram karenanya. Allah memerintahkan mereka berdua untuk makan dari surga apa saja yang mereka inginkan, dan me-nikmati di dalamnya apa saja yang mereka sukai. Hanya saja Dia menentukan sebuah pohon dan melarang mereka untuk memakan-nya. Allah lebih mengetahui pohon apa itu. Pohon apa tepatnya tidaklah penting bagi kita untuk mengetahuinya. Pohon ini diha-ramkan atas mereka berdua dengan dalil FirmanNya, ﴾ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (20) Keduanya senantiasa menaati perintah Allah sampai iblis datang kepada mereka dengan makarnya. Dia menggoda me-reka berdua dengan godaan yang menipu dan memperdaya kedua-nya. Dia berkata, ﴾ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيۡنِ ﴿ "Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat", yakni dari jenis malaikat. ﴾ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَٰلِدِينَ ﴿ "Atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)." Seperti disebutkan di ayat yang lain, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴿ "Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (Thaha: 120). (21) Tetapi bersama ucapannya (yang menyesatkan) itu dia bersumpah dengan Nama Allah di depan keduanya, ﴾ إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua." Yakni termasuk dalam golongan para pemberi nasi-hat di mana aku telah berkata kepada kalian berdua apa yang aku katakan ini. (22) Keduanya tertipu dengan godaan iblis, nafsu dalam kondisi itu mengalahkan akal. ﴾ فَدَلَّىٰهُمَا ﴿ "Maka setan membujuk kedua-nya (untuk memakan buah itu)." Yakni setan menurunkan keduanya dari derajat yang tinggi, yaitu bersihnya mereka dari dosa-dosa dan kemaksiatan kepada pengotoran diri dengan kotoran-kotorannya, maka keduanya pun makan buah pohon itu. ﴾ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتۡ لَهُمَا سَوۡءَٰتُهُمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah merasai buah pohon itu, nampaklah bagi kedua-nya aurat-auratnya." Yakni tampaklah aurat mereka setelah sebelum-nya tertutup. Dalam kondisi ini ketelanjangan batin dari takwa mempengaruhi pakaian lahir, sehingga ia pun terlepas, maka ter-bukalah aurat keduanya. Tatkala aurat keduanya terlihat, keduanya malu dan mulai menutupinya dengan daun-daun surga. ﴾ وَنَادَىٰهُمَا رَبُّهُمَآ ﴿ "Kemudian Rabb mereka menyeru mereka." Mencela dan menyalahkan mereka -sementara mereka dalam kondisi seperti itu-. ﴾ أَلَمۡ أَنۡهَكُمَا عَن تِلۡكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَآ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمَا عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, 'Sesungguhnya setan itu ada-lah musuh yang nyata bagi kamu berdua." Mengapa kamu berdua me-lakukan yang dilarang dan menaati musuhmu? (23) Pada saat itu Allah memberi keduanya nikmat untuk bertaubat dan sekaligus menerimanya, keduanya mengakui dosa yang mereka lakukan kemudian memohon ampunan kepada Allah, keduanya berkata ﴾ رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak me-ngampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." Yakni kami melakukan dosa yang telah Engkau peringatkan kepada kami. Kami telah merugikan diri kami sendiri dengan melakukan dosa. Kami telah melakukan penye-bab kerugian, jika Engkau tidak mengampuni kami dengan meng-hapus akibat dosa dan hukumannya, menyayangi kami dengan menerima taubat, dan memaafkan kami dari dosa-dosa seperti ini. Maka Allah pun mengampuni keduanya. Adam telah bersalah ke-pada Rabbnya maka dia tersesat. Kemudian Rabbnya memilihnya dan menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Adapun iblis, maka ia tidak mau berhenti dari kesewenang-wenangannya dan tidak mau meninggalkan kemaksiatannya. Barangsiapa yang meniru Adam dengan mengakui dosa dan memohon ampunan, menyesal dan meninggalkan dosa jika dia melakukannya, maka Rabbnya akan memilihnya dan memberinya petunjuk. Barangsiapa yang meniru iblis jika dia melakukan dosa di mana dia semakin menam-bah kemaksiatan, maka dia hanya menjauhkan dirinya dari Allah.

Al-A'raf 7:20

"(Dan Allah berfirman), 'Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua ter-masuk orang-orang yang zhalim.' Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan setan berkata, 'Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malai-kat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).' Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu ber-dua.' Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah po-hon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, 'Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, 'Se-sungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu ber-dua.' Keduanya berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 19-23). (19) Yakni, Allah memerintahkan Adam dan istrinya, Haw-wa` yang Allah berikan kepada Adam sebagai nikmat agar dia merasa tenteram karenanya. Allah memerintahkan mereka berdua untuk makan dari surga apa saja yang mereka inginkan, dan me-nikmati di dalamnya apa saja yang mereka sukai. Hanya saja Dia menentukan sebuah pohon dan melarang mereka untuk memakan-nya. Allah lebih mengetahui pohon apa itu. Pohon apa tepatnya tidaklah penting bagi kita untuk mengetahuinya. Pohon ini diha-ramkan atas mereka berdua dengan dalil FirmanNya, ﴾ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (20) Keduanya senantiasa menaati perintah Allah sampai iblis datang kepada mereka dengan makarnya. Dia menggoda me-reka berdua dengan godaan yang menipu dan memperdaya kedua-nya. Dia berkata, ﴾ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيۡنِ ﴿ "Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat", yakni dari jenis malaikat. ﴾ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَٰلِدِينَ ﴿ "Atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)." Seperti disebutkan di ayat yang lain, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴿ "Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (Thaha: 120). (21) Tetapi bersama ucapannya (yang menyesatkan) itu dia bersumpah dengan Nama Allah di depan keduanya, ﴾ إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua." Yakni termasuk dalam golongan para pemberi nasi-hat di mana aku telah berkata kepada kalian berdua apa yang aku katakan ini. (22) Keduanya tertipu dengan godaan iblis, nafsu dalam kondisi itu mengalahkan akal. ﴾ فَدَلَّىٰهُمَا ﴿ "Maka setan membujuk kedua-nya (untuk memakan buah itu)." Yakni setan menurunkan keduanya dari derajat yang tinggi, yaitu bersihnya mereka dari dosa-dosa dan kemaksiatan kepada pengotoran diri dengan kotoran-kotorannya, maka keduanya pun makan buah pohon itu. ﴾ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتۡ لَهُمَا سَوۡءَٰتُهُمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah merasai buah pohon itu, nampaklah bagi kedua-nya aurat-auratnya." Yakni tampaklah aurat mereka setelah sebelum-nya tertutup. Dalam kondisi ini ketelanjangan batin dari takwa mempengaruhi pakaian lahir, sehingga ia pun terlepas, maka ter-bukalah aurat keduanya. Tatkala aurat keduanya terlihat, keduanya malu dan mulai menutupinya dengan daun-daun surga. ﴾ وَنَادَىٰهُمَا رَبُّهُمَآ ﴿ "Kemudian Rabb mereka menyeru mereka." Mencela dan menyalahkan mereka -sementara mereka dalam kondisi seperti itu-. ﴾ أَلَمۡ أَنۡهَكُمَا عَن تِلۡكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَآ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمَا عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, 'Sesungguhnya setan itu ada-lah musuh yang nyata bagi kamu berdua." Mengapa kamu berdua me-lakukan yang dilarang dan menaati musuhmu? (23) Pada saat itu Allah memberi keduanya nikmat untuk bertaubat dan sekaligus menerimanya, keduanya mengakui dosa yang mereka lakukan kemudian memohon ampunan kepada Allah, keduanya berkata ﴾ رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak me-ngampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." Yakni kami melakukan dosa yang telah Engkau peringatkan kepada kami. Kami telah merugikan diri kami sendiri dengan melakukan dosa. Kami telah melakukan penye-bab kerugian, jika Engkau tidak mengampuni kami dengan meng-hapus akibat dosa dan hukumannya, menyayangi kami dengan menerima taubat, dan memaafkan kami dari dosa-dosa seperti ini. Maka Allah pun mengampuni keduanya. Adam telah bersalah ke-pada Rabbnya maka dia tersesat. Kemudian Rabbnya memilihnya dan menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Adapun iblis, maka ia tidak mau berhenti dari kesewenang-wenangannya dan tidak mau meninggalkan kemaksiatannya. Barangsiapa yang meniru Adam dengan mengakui dosa dan memohon ampunan, menyesal dan meninggalkan dosa jika dia melakukannya, maka Rabbnya akan memilihnya dan memberinya petunjuk. Barangsiapa yang meniru iblis jika dia melakukan dosa di mana dia semakin menam-bah kemaksiatan, maka dia hanya menjauhkan dirinya dari Allah.

Al-A'raf 7:21

"(Dan Allah berfirman), 'Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua ter-masuk orang-orang yang zhalim.' Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan setan berkata, 'Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malai-kat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).' Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu ber-dua.' Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah po-hon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, 'Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, 'Se-sungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu ber-dua.' Keduanya berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 19-23). (19) Yakni, Allah memerintahkan Adam dan istrinya, Haw-wa` yang Allah berikan kepada Adam sebagai nikmat agar dia merasa tenteram karenanya. Allah memerintahkan mereka berdua untuk makan dari surga apa saja yang mereka inginkan, dan me-nikmati di dalamnya apa saja yang mereka sukai. Hanya saja Dia menentukan sebuah pohon dan melarang mereka untuk memakan-nya. Allah lebih mengetahui pohon apa itu. Pohon apa tepatnya tidaklah penting bagi kita untuk mengetahuinya. Pohon ini diha-ramkan atas mereka berdua dengan dalil FirmanNya, ﴾ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (20) Keduanya senantiasa menaati perintah Allah sampai iblis datang kepada mereka dengan makarnya. Dia menggoda me-reka berdua dengan godaan yang menipu dan memperdaya kedua-nya. Dia berkata, ﴾ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيۡنِ ﴿ "Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat", yakni dari jenis malaikat. ﴾ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَٰلِدِينَ ﴿ "Atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)." Seperti disebutkan di ayat yang lain, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴿ "Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (Thaha: 120). (21) Tetapi bersama ucapannya (yang menyesatkan) itu dia bersumpah dengan Nama Allah di depan keduanya, ﴾ إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua." Yakni termasuk dalam golongan para pemberi nasi-hat di mana aku telah berkata kepada kalian berdua apa yang aku katakan ini. (22) Keduanya tertipu dengan godaan iblis, nafsu dalam kondisi itu mengalahkan akal. ﴾ فَدَلَّىٰهُمَا ﴿ "Maka setan membujuk kedua-nya (untuk memakan buah itu)." Yakni setan menurunkan keduanya dari derajat yang tinggi, yaitu bersihnya mereka dari dosa-dosa dan kemaksiatan kepada pengotoran diri dengan kotoran-kotorannya, maka keduanya pun makan buah pohon itu. ﴾ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتۡ لَهُمَا سَوۡءَٰتُهُمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah merasai buah pohon itu, nampaklah bagi kedua-nya aurat-auratnya." Yakni tampaklah aurat mereka setelah sebelum-nya tertutup. Dalam kondisi ini ketelanjangan batin dari takwa mempengaruhi pakaian lahir, sehingga ia pun terlepas, maka ter-bukalah aurat keduanya. Tatkala aurat keduanya terlihat, keduanya malu dan mulai menutupinya dengan daun-daun surga. ﴾ وَنَادَىٰهُمَا رَبُّهُمَآ ﴿ "Kemudian Rabb mereka menyeru mereka." Mencela dan menyalahkan mereka -sementara mereka dalam kondisi seperti itu-. ﴾ أَلَمۡ أَنۡهَكُمَا عَن تِلۡكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَآ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمَا عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, 'Sesungguhnya setan itu ada-lah musuh yang nyata bagi kamu berdua." Mengapa kamu berdua me-lakukan yang dilarang dan menaati musuhmu? (23) Pada saat itu Allah memberi keduanya nikmat untuk bertaubat dan sekaligus menerimanya, keduanya mengakui dosa yang mereka lakukan kemudian memohon ampunan kepada Allah, keduanya berkata ﴾ رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak me-ngampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." Yakni kami melakukan dosa yang telah Engkau peringatkan kepada kami. Kami telah merugikan diri kami sendiri dengan melakukan dosa. Kami telah melakukan penye-bab kerugian, jika Engkau tidak mengampuni kami dengan meng-hapus akibat dosa dan hukumannya, menyayangi kami dengan menerima taubat, dan memaafkan kami dari dosa-dosa seperti ini. Maka Allah pun mengampuni keduanya. Adam telah bersalah ke-pada Rabbnya maka dia tersesat. Kemudian Rabbnya memilihnya dan menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Adapun iblis, maka ia tidak mau berhenti dari kesewenang-wenangannya dan tidak mau meninggalkan kemaksiatannya. Barangsiapa yang meniru Adam dengan mengakui dosa dan memohon ampunan, menyesal dan meninggalkan dosa jika dia melakukannya, maka Rabbnya akan memilihnya dan memberinya petunjuk. Barangsiapa yang meniru iblis jika dia melakukan dosa di mana dia semakin menam-bah kemaksiatan, maka dia hanya menjauhkan dirinya dari Allah.

Al-A'raf 7:22

"(Dan Allah berfirman), 'Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua ter-masuk orang-orang yang zhalim.' Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan setan berkata, 'Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malai-kat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).' Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu ber-dua.' Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah po-hon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, 'Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, 'Se-sungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu ber-dua.' Keduanya berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 19-23). (19) Yakni, Allah memerintahkan Adam dan istrinya, Haw-wa` yang Allah berikan kepada Adam sebagai nikmat agar dia merasa tenteram karenanya. Allah memerintahkan mereka berdua untuk makan dari surga apa saja yang mereka inginkan, dan me-nikmati di dalamnya apa saja yang mereka sukai. Hanya saja Dia menentukan sebuah pohon dan melarang mereka untuk memakan-nya. Allah lebih mengetahui pohon apa itu. Pohon apa tepatnya tidaklah penting bagi kita untuk mengetahuinya. Pohon ini diha-ramkan atas mereka berdua dengan dalil FirmanNya, ﴾ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (20) Keduanya senantiasa menaati perintah Allah sampai iblis datang kepada mereka dengan makarnya. Dia menggoda me-reka berdua dengan godaan yang menipu dan memperdaya kedua-nya. Dia berkata, ﴾ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيۡنِ ﴿ "Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat", yakni dari jenis malaikat. ﴾ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَٰلِدِينَ ﴿ "Atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)." Seperti disebutkan di ayat yang lain, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴿ "Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (Thaha: 120). (21) Tetapi bersama ucapannya (yang menyesatkan) itu dia bersumpah dengan Nama Allah di depan keduanya, ﴾ إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua." Yakni termasuk dalam golongan para pemberi nasi-hat di mana aku telah berkata kepada kalian berdua apa yang aku katakan ini. (22) Keduanya tertipu dengan godaan iblis, nafsu dalam kondisi itu mengalahkan akal. ﴾ فَدَلَّىٰهُمَا ﴿ "Maka setan membujuk kedua-nya (untuk memakan buah itu)." Yakni setan menurunkan keduanya dari derajat yang tinggi, yaitu bersihnya mereka dari dosa-dosa dan kemaksiatan kepada pengotoran diri dengan kotoran-kotorannya, maka keduanya pun makan buah pohon itu. ﴾ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتۡ لَهُمَا سَوۡءَٰتُهُمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah merasai buah pohon itu, nampaklah bagi kedua-nya aurat-auratnya." Yakni tampaklah aurat mereka setelah sebelum-nya tertutup. Dalam kondisi ini ketelanjangan batin dari takwa mempengaruhi pakaian lahir, sehingga ia pun terlepas, maka ter-bukalah aurat keduanya. Tatkala aurat keduanya terlihat, keduanya malu dan mulai menutupinya dengan daun-daun surga. ﴾ وَنَادَىٰهُمَا رَبُّهُمَآ ﴿ "Kemudian Rabb mereka menyeru mereka." Mencela dan menyalahkan mereka -sementara mereka dalam kondisi seperti itu-. ﴾ أَلَمۡ أَنۡهَكُمَا عَن تِلۡكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَآ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمَا عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, 'Sesungguhnya setan itu ada-lah musuh yang nyata bagi kamu berdua." Mengapa kamu berdua me-lakukan yang dilarang dan menaati musuhmu? (23) Pada saat itu Allah memberi keduanya nikmat untuk bertaubat dan sekaligus menerimanya, keduanya mengakui dosa yang mereka lakukan kemudian memohon ampunan kepada Allah, keduanya berkata ﴾ رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak me-ngampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." Yakni kami melakukan dosa yang telah Engkau peringatkan kepada kami. Kami telah merugikan diri kami sendiri dengan melakukan dosa. Kami telah melakukan penye-bab kerugian, jika Engkau tidak mengampuni kami dengan meng-hapus akibat dosa dan hukumannya, menyayangi kami dengan menerima taubat, dan memaafkan kami dari dosa-dosa seperti ini. Maka Allah pun mengampuni keduanya. Adam telah bersalah ke-pada Rabbnya maka dia tersesat. Kemudian Rabbnya memilihnya dan menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Adapun iblis, maka ia tidak mau berhenti dari kesewenang-wenangannya dan tidak mau meninggalkan kemaksiatannya. Barangsiapa yang meniru Adam dengan mengakui dosa dan memohon ampunan, menyesal dan meninggalkan dosa jika dia melakukannya, maka Rabbnya akan memilihnya dan memberinya petunjuk. Barangsiapa yang meniru iblis jika dia melakukan dosa di mana dia semakin menam-bah kemaksiatan, maka dia hanya menjauhkan dirinya dari Allah.

Al-A'raf 7:23

"(Dan Allah berfirman), 'Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua ter-masuk orang-orang yang zhalim.' Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan setan berkata, 'Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malai-kat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).' Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu ber-dua.' Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah po-hon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, 'Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, 'Se-sungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu ber-dua.' Keduanya berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 19-23). (19) Yakni, Allah memerintahkan Adam dan istrinya, Haw-wa` yang Allah berikan kepada Adam sebagai nikmat agar dia merasa tenteram karenanya. Allah memerintahkan mereka berdua untuk makan dari surga apa saja yang mereka inginkan, dan me-nikmati di dalamnya apa saja yang mereka sukai. Hanya saja Dia menentukan sebuah pohon dan melarang mereka untuk memakan-nya. Allah lebih mengetahui pohon apa itu. Pohon apa tepatnya tidaklah penting bagi kita untuk mengetahuinya. Pohon ini diha-ramkan atas mereka berdua dengan dalil FirmanNya, ﴾ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (20) Keduanya senantiasa menaati perintah Allah sampai iblis datang kepada mereka dengan makarnya. Dia menggoda me-reka berdua dengan godaan yang menipu dan memperdaya kedua-nya. Dia berkata, ﴾ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيۡنِ ﴿ "Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat", yakni dari jenis malaikat. ﴾ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَٰلِدِينَ ﴿ "Atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)." Seperti disebutkan di ayat yang lain, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴿ "Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (Thaha: 120). (21) Tetapi bersama ucapannya (yang menyesatkan) itu dia bersumpah dengan Nama Allah di depan keduanya, ﴾ إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua." Yakni termasuk dalam golongan para pemberi nasi-hat di mana aku telah berkata kepada kalian berdua apa yang aku katakan ini. (22) Keduanya tertipu dengan godaan iblis, nafsu dalam kondisi itu mengalahkan akal. ﴾ فَدَلَّىٰهُمَا ﴿ "Maka setan membujuk kedua-nya (untuk memakan buah itu)." Yakni setan menurunkan keduanya dari derajat yang tinggi, yaitu bersihnya mereka dari dosa-dosa dan kemaksiatan kepada pengotoran diri dengan kotoran-kotorannya, maka keduanya pun makan buah pohon itu. ﴾ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتۡ لَهُمَا سَوۡءَٰتُهُمَا ﴿ "Tatkala keduanya telah merasai buah pohon itu, nampaklah bagi kedua-nya aurat-auratnya." Yakni tampaklah aurat mereka setelah sebelum-nya tertutup. Dalam kondisi ini ketelanjangan batin dari takwa mempengaruhi pakaian lahir, sehingga ia pun terlepas, maka ter-bukalah aurat keduanya. Tatkala aurat keduanya terlihat, keduanya malu dan mulai menutupinya dengan daun-daun surga. ﴾ وَنَادَىٰهُمَا رَبُّهُمَآ ﴿ "Kemudian Rabb mereka menyeru mereka." Mencela dan menyalahkan mereka -sementara mereka dalam kondisi seperti itu-. ﴾ أَلَمۡ أَنۡهَكُمَا عَن تِلۡكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَآ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمَا عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, 'Sesungguhnya setan itu ada-lah musuh yang nyata bagi kamu berdua." Mengapa kamu berdua me-lakukan yang dilarang dan menaati musuhmu? (23) Pada saat itu Allah memberi keduanya nikmat untuk bertaubat dan sekaligus menerimanya, keduanya mengakui dosa yang mereka lakukan kemudian memohon ampunan kepada Allah, keduanya berkata ﴾ رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak me-ngampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." Yakni kami melakukan dosa yang telah Engkau peringatkan kepada kami. Kami telah merugikan diri kami sendiri dengan melakukan dosa. Kami telah melakukan penye-bab kerugian, jika Engkau tidak mengampuni kami dengan meng-hapus akibat dosa dan hukumannya, menyayangi kami dengan menerima taubat, dan memaafkan kami dari dosa-dosa seperti ini. Maka Allah pun mengampuni keduanya. Adam telah bersalah ke-pada Rabbnya maka dia tersesat. Kemudian Rabbnya memilihnya dan menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Adapun iblis, maka ia tidak mau berhenti dari kesewenang-wenangannya dan tidak mau meninggalkan kemaksiatannya. Barangsiapa yang meniru Adam dengan mengakui dosa dan memohon ampunan, menyesal dan meninggalkan dosa jika dia melakukannya, maka Rabbnya akan memilihnya dan memberinya petunjuk. Barangsiapa yang meniru iblis jika dia melakukan dosa di mana dia semakin menam-bah kemaksiatan, maka dia hanya menjauhkan dirinya dari Allah.

Al-A'raf 7:24

"Allah berfirman, 'Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.' Allah berfirman, 'Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.' Hai anak Adam, sesungguh-nya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." (Al-A'raf: 24-26). (24-25) Yakni, manakala Allah menurunkan Adam dan is-trinya dan keturunan mereka ke bumi, Dia memberitakan kepada keduanya tentang keadaan kehidupan mereka di sana, bahwa Dia menjadikan padanya kehidupan yang akan disusul dengan kema-tian, yang akan diiringi dengan ujian dan cobaan, dan mereka se-nantiasa di dalamnya. Dia mengutus rasul-rasul kepada mereka, menurunkan kitab-kitab kepada mereka, sampai kematian datang dan mereka dikubur di dalamnya. Kemudian jika telah sempurna, maka Allah akan membangkitkan mereka dan mengeluarkan mere-ka darinya ke alam yang merupakan alam yang sebenarnya yaitu alam Akhirat. (26) Kemudian Allah memberi nikmat kepada mereka de-ngan apa yang Dia sediakan untuk mereka berupa pakaian pokok dan pakaian lain yang tujuannya adalah keindahan. Begitu pula kebutuhan lainnya, seperti makanan, minuman, kendaraan, perni-kahan, dan perkara-perkara lain yang disediakan oleh Allah bagi manusia; baik yang bersifat pokok maupun yang bersifat peleng-kap. Kemudian Dia menjelaskan kepada mereka bahwa semua itu bukanlah tujuan itu sendiri, akan tetapi Allah menyediakannya se-bagai pendukung dan penopang untuk beribadah dan melakukan ketaatan kepadaNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ ﴿ "Dan pakaian takwa itulah yang paling baik," daripada pakaian badan, karena pakaian takwa akan selalu bersama hamba, tidak usang dan tidak rusak. Ia adalah keindahan hati dan rohani. Ada-pun pakaian yang nampak, maka ia hanyalah menutupi aurat yang nampak pada suatu waktu atau ia menjadi keindahan bagi pema-kainya. Di balik itu tidak ada lagi kegunaan. Seandainya pakaian ini tidak ada, maka aurat lahirnya terlihat di mana tidak mengapa membukanya dalam keadaan darurat. Adapun seandainya pakaian takwa tidak ada, maka aurat batinnya akan terlihat dan dia akan mendapat kehinaan dan aib. FirmanNya, ﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." Yakni, pakaian yang disebutkan itu termasuk yang mengingatkanmu tentang apa-apa yang berguna dan apa yang tidak berguna bagimu, dan kamu memakai pakaian lahir sebagai sarana untuk menopang batin.

Al-A'raf 7:25

"Allah berfirman, 'Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.' Allah berfirman, 'Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.' Hai anak Adam, sesungguh-nya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." (Al-A'raf: 24-26). (24-25) Yakni, manakala Allah menurunkan Adam dan is-trinya dan keturunan mereka ke bumi, Dia memberitakan kepada keduanya tentang keadaan kehidupan mereka di sana, bahwa Dia menjadikan padanya kehidupan yang akan disusul dengan kema-tian, yang akan diiringi dengan ujian dan cobaan, dan mereka se-nantiasa di dalamnya. Dia mengutus rasul-rasul kepada mereka, menurunkan kitab-kitab kepada mereka, sampai kematian datang dan mereka dikubur di dalamnya. Kemudian jika telah sempurna, maka Allah akan membangkitkan mereka dan mengeluarkan mere-ka darinya ke alam yang merupakan alam yang sebenarnya yaitu alam Akhirat. (26) Kemudian Allah memberi nikmat kepada mereka de-ngan apa yang Dia sediakan untuk mereka berupa pakaian pokok dan pakaian lain yang tujuannya adalah keindahan. Begitu pula kebutuhan lainnya, seperti makanan, minuman, kendaraan, perni-kahan, dan perkara-perkara lain yang disediakan oleh Allah bagi manusia; baik yang bersifat pokok maupun yang bersifat peleng-kap. Kemudian Dia menjelaskan kepada mereka bahwa semua itu bukanlah tujuan itu sendiri, akan tetapi Allah menyediakannya se-bagai pendukung dan penopang untuk beribadah dan melakukan ketaatan kepadaNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ ﴿ "Dan pakaian takwa itulah yang paling baik," daripada pakaian badan, karena pakaian takwa akan selalu bersama hamba, tidak usang dan tidak rusak. Ia adalah keindahan hati dan rohani. Ada-pun pakaian yang nampak, maka ia hanyalah menutupi aurat yang nampak pada suatu waktu atau ia menjadi keindahan bagi pema-kainya. Di balik itu tidak ada lagi kegunaan. Seandainya pakaian ini tidak ada, maka aurat lahirnya terlihat di mana tidak mengapa membukanya dalam keadaan darurat. Adapun seandainya pakaian takwa tidak ada, maka aurat batinnya akan terlihat dan dia akan mendapat kehinaan dan aib. FirmanNya, ﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." Yakni, pakaian yang disebutkan itu termasuk yang mengingatkanmu tentang apa-apa yang berguna dan apa yang tidak berguna bagimu, dan kamu memakai pakaian lahir sebagai sarana untuk menopang batin.

Al-A'raf 7:26

"Allah berfirman, 'Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.' Allah berfirman, 'Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.' Hai anak Adam, sesungguh-nya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." (Al-A'raf: 24-26). (24-25) Yakni, manakala Allah menurunkan Adam dan is-trinya dan keturunan mereka ke bumi, Dia memberitakan kepada keduanya tentang keadaan kehidupan mereka di sana, bahwa Dia menjadikan padanya kehidupan yang akan disusul dengan kema-tian, yang akan diiringi dengan ujian dan cobaan, dan mereka se-nantiasa di dalamnya. Dia mengutus rasul-rasul kepada mereka, menurunkan kitab-kitab kepada mereka, sampai kematian datang dan mereka dikubur di dalamnya. Kemudian jika telah sempurna, maka Allah akan membangkitkan mereka dan mengeluarkan mere-ka darinya ke alam yang merupakan alam yang sebenarnya yaitu alam Akhirat. (26) Kemudian Allah memberi nikmat kepada mereka de-ngan apa yang Dia sediakan untuk mereka berupa pakaian pokok dan pakaian lain yang tujuannya adalah keindahan. Begitu pula kebutuhan lainnya, seperti makanan, minuman, kendaraan, perni-kahan, dan perkara-perkara lain yang disediakan oleh Allah bagi manusia; baik yang bersifat pokok maupun yang bersifat peleng-kap. Kemudian Dia menjelaskan kepada mereka bahwa semua itu bukanlah tujuan itu sendiri, akan tetapi Allah menyediakannya se-bagai pendukung dan penopang untuk beribadah dan melakukan ketaatan kepadaNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ ﴿ "Dan pakaian takwa itulah yang paling baik," daripada pakaian badan, karena pakaian takwa akan selalu bersama hamba, tidak usang dan tidak rusak. Ia adalah keindahan hati dan rohani. Ada-pun pakaian yang nampak, maka ia hanyalah menutupi aurat yang nampak pada suatu waktu atau ia menjadi keindahan bagi pema-kainya. Di balik itu tidak ada lagi kegunaan. Seandainya pakaian ini tidak ada, maka aurat lahirnya terlihat di mana tidak mengapa membukanya dalam keadaan darurat. Adapun seandainya pakaian takwa tidak ada, maka aurat batinnya akan terlihat dan dia akan mendapat kehinaan dan aib. FirmanNya, ﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." Yakni, pakaian yang disebutkan itu termasuk yang mengingatkanmu tentang apa-apa yang berguna dan apa yang tidak berguna bagimu, dan kamu memakai pakaian lahir sebagai sarana untuk menopang batin.

Al-A'raf 7:27

"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak-mu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (Al-A'raf: 27). (27) Allah تعالى memperingatkan Bani Adam agar tidak diper-lakukan oleh setan seperti dia melakukan itu kepada bapak mereka. ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu da-pat ditipu oleh setan." Di mana dia menghiasi kemaksiatan kepadamu, mengajakmu dan mendorongmu untuk melakukannya lalu kamu pun tunduk kepadanya. ﴾ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "Sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga." Dia menurunkan kedua-nya dari tempat yang tinggi kepada yang paling rendah darinya. Setan juga ingin melakukan itu kepadamu, dia memfokuskan sega-la usahanya sehingga dia dapat menipumu jika dia mampu. Maka hendaknya kamu selalu menanamkan kewaspadaan di benakmu. Pakailah baju perang untuk menghadapinya, dan jangan melupakan celah-celah di mana darinya dia dapat masuk kepadamu, karena dia selalu memata-mataimu. ﴾ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ ﴿ "Sesungguhnya ia dan pe-ngikut-pengikutnya melihat kamu", dari kalangan jin ﴾ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." Kekufuranlah yang menjadi pemicu tersambungnya hubungan pertemanan antara ma-nusia dengan setan. ﴾ إِنَّهُۥ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ 99 إِنَّمَا سُلۡطَٰنُهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَوَلَّوۡنَهُۥ وَٱلَّذِينَ هُم بِهِۦ مُشۡرِكُونَ 100 ﴿ "Sesungguhnya setan itu tidak memiliki kekuasaan apa pun atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabbnya. Sesungguh-nya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikan-nya sebagai pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah." (An-Nahl: 99-100).

Al-A'raf 7:28

"Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka ber-kata, 'Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.' Kata-kanlah, 'Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) per-buatan yang keji.' Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. Katakanlah, 'Rabbku menyuruh men-jalankan keadilan.' Dan (katakanlah), 'Luruskanlah muka (diri)mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ke-taatanmu kepadaNya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya.' Sebagian diberiNya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk." (Al-A'raf: 28-30). (28) Allah تعالى menjelaskan buruknya keadaan orang-orang musyrik yang melakukan dosa dan mengklaim bahwasanya Allah telah menyuruh mereka melakukannya. ﴾ وَإِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةٗ ﴿ "Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji." Yaitu segala sesuatu yang buruk lagi jelek, di antaranya adalah thawaf di Ka'bah dengan telanjang. ﴾ قَالُواْ وَجَدۡنَا عَلَيۡهَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu'." Mereka benar dalam hal itu. ﴾ وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِهَاۗ ﴿ "Dan Allah menyuruh kami mengerjakannya." Dalam hal ini me-reka berdusta. Oleh karena itu Allah membantah penisbatan ini. Dia berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji'." Yakni tidak layak dengan kesempurnaanNya dan hikmahNya, Dia menyuruh hamba-hambaNya melakukan perbuatan keji. Tidak yang dilakukan orang-orang musyrik itu dan tidak pula lainnya. ﴾ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Me-ngapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" Adakah kedustaan yang lebih besar dari ini? (29) Kemudian Allah menyebutkan apa yang diperintah-kanNya, ﴾ قُلۡ أَمَرَ رَبِّي بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Rabbku menyuruh menjalankan keadilan." Adil dalam ibadah dan muamalat, bukan dengan kezha-liman dan kesewenang-wenangan. ﴾ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ ﴿ "Dan (katakanlah), 'Luruskanlah muka (diri)mu di setiap shalat." Yakni menghadaplah kepada Allah, ber-sungguh-sungguhlah dalam menyempurnakan ibadah, khususnya shalat. Tegakkanlah ia lahir dan batin. Bersihkan ia dari segala yang mengurangi dan merusaknya. ﴾ وَٱدۡعُوهُ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۚ ﴿ "Dan berdoalah (sembahlah) Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepadaNya." Yakni, bertujuan dengan itu WajahNya semata, tidak ada sekutu bagiNya. Doa di sini mencakup doa permohonan dan doa ibadah, yakni janganlah kamu mencari tujuan dan sasaran dalam doamu selain penghambaan kepada Allah dan ridhaNya. ﴾ كَمَا بَدَأَكُمۡ ﴿ "Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu", pada per-mulaan. ﴾ تَعُودُونَ ﴿ "(Demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya," de-ngan dibangkitkan. Yang mampu menciptakanmu pertama kali pasti mampu mengembalikannya, bahkan lebih mudah daripada menciptakan pertama kali. (30) ﴾ فَرِيقًا ﴿ "Sebagian", dari mereka ﴾ هَدَىٰ ﴿ "diberiNya petun-juk", oleh Allah. Yakni Allah memberinya taufik kepada hidayah, memudahkan sebab-sebabnya bagi mereka, dan menepis pengha-lang-penghalangnya. ﴾ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلضَّلَٰلَةُۚ ﴿ "Dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka." Yakni mereka pasti akan sesat karena mereka sendiri yang melakukan sebab-sebabnya untuk diri mereka, karena mereka ﴾ ٱتَّخَذُواْ ٰٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah." Barangsiapa menjadikan setan sebagai pelin-dung selain Allah, maka dia telah merugi dengan kerugian yang nyata. Manakala mereka berlepas diri dari perlindungan Allah dan masuk ke dalam perlindungan setan, maka mereka mendapatkan bagian kekalahan yang melimpah dan dijadikan bersandar kepada diri mereka, sehingga merugilah mereka dengan kerugian yang be-sar, padahal mereka mengira, ﴾ أَنَّهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "bahwa mereka mendapat petunjuk." Karena Hakikat perkaranya telah terbalik bagi mereka. Mereka mengira bahwa yang batil adalah benar dan yang benar adalah batil. Ayat-ayat ini mengandung dalil bahwa perintah dan larangan berinduk kepada hikmah dan kemaslahatan, di mana Allah menya-takan bahwa Dia tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang keji dan diingkari oleh akal, dan bahwa Dia tidak memerintahkan ke-cuali yang adil penuh keikhlasan. Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa hidayah akan didapatkan dengan karunia dan nikmat Allah, sementara kesesatan adalah jika Allah menelantarkan hamba, karena dengan kebodohan dan kezha-limannya dia menjadikan setan sebagai pelindung, dan dia menye-babkan kesesatan untuk dirinya sendiri, dan bahwa barangsiapa menduga dirinya di atas petunjuk padahal sebenarnya dia sesat, maka tidak ada udzur baginya (yakni udzurnya tidak akan diteri-ma), karena dia tetap berpeluang mendapatkan petunjuk, akan te-tapi dugaannya itu datang kepadanya hanyalah dari kezhalimannya dengan berpaling dari jalan yang mengantarkan kepada petunjuk.

Al-A'raf 7:29

"Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka ber-kata, 'Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.' Kata-kanlah, 'Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) per-buatan yang keji.' Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. Katakanlah, 'Rabbku menyuruh men-jalankan keadilan.' Dan (katakanlah), 'Luruskanlah muka (diri)mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ke-taatanmu kepadaNya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya.' Sebagian diberiNya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk." (Al-A'raf: 28-30). (28) Allah تعالى menjelaskan buruknya keadaan orang-orang musyrik yang melakukan dosa dan mengklaim bahwasanya Allah telah menyuruh mereka melakukannya. ﴾ وَإِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةٗ ﴿ "Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji." Yaitu segala sesuatu yang buruk lagi jelek, di antaranya adalah thawaf di Ka'bah dengan telanjang. ﴾ قَالُواْ وَجَدۡنَا عَلَيۡهَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu'." Mereka benar dalam hal itu. ﴾ وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِهَاۗ ﴿ "Dan Allah menyuruh kami mengerjakannya." Dalam hal ini me-reka berdusta. Oleh karena itu Allah membantah penisbatan ini. Dia berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji'." Yakni tidak layak dengan kesempurnaanNya dan hikmahNya, Dia menyuruh hamba-hambaNya melakukan perbuatan keji. Tidak yang dilakukan orang-orang musyrik itu dan tidak pula lainnya. ﴾ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Me-ngapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" Adakah kedustaan yang lebih besar dari ini? (29) Kemudian Allah menyebutkan apa yang diperintah-kanNya, ﴾ قُلۡ أَمَرَ رَبِّي بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Rabbku menyuruh menjalankan keadilan." Adil dalam ibadah dan muamalat, bukan dengan kezha-liman dan kesewenang-wenangan. ﴾ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ ﴿ "Dan (katakanlah), 'Luruskanlah muka (diri)mu di setiap shalat." Yakni menghadaplah kepada Allah, ber-sungguh-sungguhlah dalam menyempurnakan ibadah, khususnya shalat. Tegakkanlah ia lahir dan batin. Bersihkan ia dari segala yang mengurangi dan merusaknya. ﴾ وَٱدۡعُوهُ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۚ ﴿ "Dan berdoalah (sembahlah) Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepadaNya." Yakni, bertujuan dengan itu WajahNya semata, tidak ada sekutu bagiNya. Doa di sini mencakup doa permohonan dan doa ibadah, yakni janganlah kamu mencari tujuan dan sasaran dalam doamu selain penghambaan kepada Allah dan ridhaNya. ﴾ كَمَا بَدَأَكُمۡ ﴿ "Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu", pada per-mulaan. ﴾ تَعُودُونَ ﴿ "(Demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya," de-ngan dibangkitkan. Yang mampu menciptakanmu pertama kali pasti mampu mengembalikannya, bahkan lebih mudah daripada menciptakan pertama kali. (30) ﴾ فَرِيقًا ﴿ "Sebagian", dari mereka ﴾ هَدَىٰ ﴿ "diberiNya petun-juk", oleh Allah. Yakni Allah memberinya taufik kepada hidayah, memudahkan sebab-sebabnya bagi mereka, dan menepis pengha-lang-penghalangnya. ﴾ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلضَّلَٰلَةُۚ ﴿ "Dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka." Yakni mereka pasti akan sesat karena mereka sendiri yang melakukan sebab-sebabnya untuk diri mereka, karena mereka ﴾ ٱتَّخَذُواْ ٰٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah." Barangsiapa menjadikan setan sebagai pelin-dung selain Allah, maka dia telah merugi dengan kerugian yang nyata. Manakala mereka berlepas diri dari perlindungan Allah dan masuk ke dalam perlindungan setan, maka mereka mendapatkan bagian kekalahan yang melimpah dan dijadikan bersandar kepada diri mereka, sehingga merugilah mereka dengan kerugian yang be-sar, padahal mereka mengira, ﴾ أَنَّهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "bahwa mereka mendapat petunjuk." Karena Hakikat perkaranya telah terbalik bagi mereka. Mereka mengira bahwa yang batil adalah benar dan yang benar adalah batil. Ayat-ayat ini mengandung dalil bahwa perintah dan larangan berinduk kepada hikmah dan kemaslahatan, di mana Allah menya-takan bahwa Dia tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang keji dan diingkari oleh akal, dan bahwa Dia tidak memerintahkan ke-cuali yang adil penuh keikhlasan. Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa hidayah akan didapatkan dengan karunia dan nikmat Allah, sementara kesesatan adalah jika Allah menelantarkan hamba, karena dengan kebodohan dan kezha-limannya dia menjadikan setan sebagai pelindung, dan dia menye-babkan kesesatan untuk dirinya sendiri, dan bahwa barangsiapa menduga dirinya di atas petunjuk padahal sebenarnya dia sesat, maka tidak ada udzur baginya (yakni udzurnya tidak akan diteri-ma), karena dia tetap berpeluang mendapatkan petunjuk, akan te-tapi dugaannya itu datang kepadanya hanyalah dari kezhalimannya dengan berpaling dari jalan yang mengantarkan kepada petunjuk.

Al-A'raf 7:30

"Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka ber-kata, 'Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.' Kata-kanlah, 'Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) per-buatan yang keji.' Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. Katakanlah, 'Rabbku menyuruh men-jalankan keadilan.' Dan (katakanlah), 'Luruskanlah muka (diri)mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ke-taatanmu kepadaNya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya.' Sebagian diberiNya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk." (Al-A'raf: 28-30). (28) Allah تعالى menjelaskan buruknya keadaan orang-orang musyrik yang melakukan dosa dan mengklaim bahwasanya Allah telah menyuruh mereka melakukannya. ﴾ وَإِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةٗ ﴿ "Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji." Yaitu segala sesuatu yang buruk lagi jelek, di antaranya adalah thawaf di Ka'bah dengan telanjang. ﴾ قَالُواْ وَجَدۡنَا عَلَيۡهَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu'." Mereka benar dalam hal itu. ﴾ وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِهَاۗ ﴿ "Dan Allah menyuruh kami mengerjakannya." Dalam hal ini me-reka berdusta. Oleh karena itu Allah membantah penisbatan ini. Dia berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji'." Yakni tidak layak dengan kesempurnaanNya dan hikmahNya, Dia menyuruh hamba-hambaNya melakukan perbuatan keji. Tidak yang dilakukan orang-orang musyrik itu dan tidak pula lainnya. ﴾ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Me-ngapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" Adakah kedustaan yang lebih besar dari ini? (29) Kemudian Allah menyebutkan apa yang diperintah-kanNya, ﴾ قُلۡ أَمَرَ رَبِّي بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Rabbku menyuruh menjalankan keadilan." Adil dalam ibadah dan muamalat, bukan dengan kezha-liman dan kesewenang-wenangan. ﴾ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ ﴿ "Dan (katakanlah), 'Luruskanlah muka (diri)mu di setiap shalat." Yakni menghadaplah kepada Allah, ber-sungguh-sungguhlah dalam menyempurnakan ibadah, khususnya shalat. Tegakkanlah ia lahir dan batin. Bersihkan ia dari segala yang mengurangi dan merusaknya. ﴾ وَٱدۡعُوهُ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۚ ﴿ "Dan berdoalah (sembahlah) Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepadaNya." Yakni, bertujuan dengan itu WajahNya semata, tidak ada sekutu bagiNya. Doa di sini mencakup doa permohonan dan doa ibadah, yakni janganlah kamu mencari tujuan dan sasaran dalam doamu selain penghambaan kepada Allah dan ridhaNya. ﴾ كَمَا بَدَأَكُمۡ ﴿ "Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu", pada per-mulaan. ﴾ تَعُودُونَ ﴿ "(Demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya," de-ngan dibangkitkan. Yang mampu menciptakanmu pertama kali pasti mampu mengembalikannya, bahkan lebih mudah daripada menciptakan pertama kali. (30) ﴾ فَرِيقًا ﴿ "Sebagian", dari mereka ﴾ هَدَىٰ ﴿ "diberiNya petun-juk", oleh Allah. Yakni Allah memberinya taufik kepada hidayah, memudahkan sebab-sebabnya bagi mereka, dan menepis pengha-lang-penghalangnya. ﴾ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلضَّلَٰلَةُۚ ﴿ "Dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka." Yakni mereka pasti akan sesat karena mereka sendiri yang melakukan sebab-sebabnya untuk diri mereka, karena mereka ﴾ ٱتَّخَذُواْ ٰٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah." Barangsiapa menjadikan setan sebagai pelin-dung selain Allah, maka dia telah merugi dengan kerugian yang nyata. Manakala mereka berlepas diri dari perlindungan Allah dan masuk ke dalam perlindungan setan, maka mereka mendapatkan bagian kekalahan yang melimpah dan dijadikan bersandar kepada diri mereka, sehingga merugilah mereka dengan kerugian yang be-sar, padahal mereka mengira, ﴾ أَنَّهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "bahwa mereka mendapat petunjuk." Karena Hakikat perkaranya telah terbalik bagi mereka. Mereka mengira bahwa yang batil adalah benar dan yang benar adalah batil. Ayat-ayat ini mengandung dalil bahwa perintah dan larangan berinduk kepada hikmah dan kemaslahatan, di mana Allah menya-takan bahwa Dia tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang keji dan diingkari oleh akal, dan bahwa Dia tidak memerintahkan ke-cuali yang adil penuh keikhlasan. Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa hidayah akan didapatkan dengan karunia dan nikmat Allah, sementara kesesatan adalah jika Allah menelantarkan hamba, karena dengan kebodohan dan kezha-limannya dia menjadikan setan sebagai pelindung, dan dia menye-babkan kesesatan untuk dirinya sendiri, dan bahwa barangsiapa menduga dirinya di atas petunjuk padahal sebenarnya dia sesat, maka tidak ada udzur baginya (yakni udzurnya tidak akan diteri-ma), karena dia tetap berpeluang mendapatkan petunjuk, akan te-tapi dugaannya itu datang kepadanya hanyalah dari kezhalimannya dengan berpaling dari jalan yang mengantarkan kepada petunjuk.

Al-A'raf 7:31

"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Al-A'raf: 31). (31) Setelah Allah تعالى menurunkan kepada Bani Adam pa-kaian untuk menutupi auratnya dan pakaian indah untuk perhiasan, Allah berfirman, ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ ﴿ "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid." Yakni tutuplah auratmu pada waktu shalat, baik yang wajib atau yang sunnah, ka-rena menutupnya adalah perhiasan bagi tubuh sebagaimana mem-bukanya berarti membiarkan tubuh dalam keadaan buruk dan tidak pantas. Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan perhiasan di sini adalah lebih dari sekedar berpakaian yaitu pakaian yang bersih dan baik. Ini mengandung perintah menutup aurat dalam shalat dan memperindah diri di dalamnya serta kebersihan pakaian tersebut dari kotoran dan najis. Kemudian Dia berfirman, ﴾ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ ﴿ "Makan dan minumlah." Yakni dari yang baik-baik yang Allah rizkikan kepadamu. ﴾ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ ﴿ "Dan janganlah berlebih-lebihan", dalam hal itu. Berlebih-lebihan bisa dengan melampaui batas kemewahan dalam makan, minum dan berpakaian, dan bisa pula dengan me-lampaui batas yang halal kepada yang haram. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ﴿ "Se-sungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan," karena sikap berlebih-lebihan itu dibenci oleh Allah, membahaya-kan tubuh dan kehidupan manusia, bahkan bisa menyebabkan ketidakmampuan untuk memberi nafkah. Jadi ayat ini mengandung perintah makan dan minum dan larangan meninggalkannya serta larangan berlebih-lebihan padanya.

Al-A'raf 7:32

"Katakanlah, 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?' Katakan-lah, 'Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman da-lam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di Hari Kiamat.' Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. Katakanlah, 'Rabbku hanya mengharamkan per-buatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharam-kan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu keta-hui'." (Al-A'raf: 32-33). (32) Allah تعالى mengingkari orang yang keras kepala dan mengharamkan hal-hal yang baik yang dihalalkan oleh Allah. Dan berfirman, ﴾ قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِيٓ أَخۡرَجَ لِعِبَادِهِۦ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang meng-haramkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya," dari berbagai macam pakaian dengan berbagai macam jenisnya, dan rizki yang baik-baik, berupa makanan dan minuman dengan beragam macamnya. Yakni siapakah gerangan yang berani mengharamkan apa yang Allah halalkan sebagai nikmat kepada hamba-hambaNya? Siapakah gerangan yang mempersulit kepada mereka apa yang telah dilonggarkan Allah? Allah memberikan ke-longgaran kepada hamba-hambaNya berupa hal-hal yang baik-baik agar hamba-hambaNya menggunakannya sebagai penolong dalam beribadah kepadaNya, maka Dia tidak membolehkannya kecuali hanya untuk hamba-hambaNya yang beriman. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ قُلۡ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا خَالِصَةٗ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ ﴿ "Katakanlah, 'Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di Hari Kiamat." Yakni tidak ada persoalan atas mereka padanya. Mafhum ayat ini bahwa barangsiapa yang ti-dak beriman kepada Allah bahkan dia menggunakan kebaikan yang dirizkikan oleh Allah sebagai sarana untuk bermaksiat kepadaNya, maka ia tidaklah khusus untuk mereka dan tidak pula dibolehkan untuk mereka, bahkan dia dihukum karenanya dan atas penggu-naannya, dan nikmat-nikmat itu akan ditanyakan kepadanya pada Hari Kiamat. ﴾ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu." Kami menerangkan dan merincinya ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "bagi orang-orang yang mengetahui." Karena mereka itulah yang mengambil manfaat dari ayat-ayat yang dijelaskan oleh Allah dan mereka mengetahui bahwa ia dari Allah, lalu mereka memahaminya dan merenung-kannya. (33) Kemudian Allah menyebutkan hal-hal yang diharam-kan dalam setiap syariat, Dia berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ ﴿ "Katakan-lah, 'Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji'." Yakni dosa-dosa besar yang keji, yang dipandang keji karena keburukan dan kejelekannya, seperti zina, homoseksual, dan lain-lain. FirmanNya, ﴾ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ ﴿ "Baik yang nampak ataupun yang tersembunyi." Yakni perbuatan keji yang berkaitan dengan gerakan-gerakan badan dan yang berkaitan dengan amalan-amalan hati seperti, sombong, ujub (bangga diri), riya', nifak, dan lain-lain. ﴾ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan per-buatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar." Yakni dosa-dosa yang diganjar siksa dan mengakibatkan hukuman pada hak-hak Allah, dan pelanggaran kepada manusia berkenaan dengan darah, harta, dan kehormatan mereka. Dalam hal ini ia mencakup dosa-dosa kepada Allah dan dosa-dosa kepada manusia. ﴾ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا ﴿ "(Mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu." Bahkan Dia menurun-kan bukti dan dalil atas tauhid. Syirik adalah menyekutukan Allah dengan seorang makhluk dalam beribadah, bisa pula termasuk da-lam hal ini adalah syirik kecil, seperti riya`, dan bersumpah dengan nama selain Allah dan lain-lain. ﴾ وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan (mengha-ramkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui," dalam nama-namaNya, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya dan syariatNya. Semua ini diharamkan oleh Allah dan Dia melarang hamba-hambaNya untuk melakukannya, karena ia mengandung kerusakan, baik yang bersifat khusus dan umum. Karena ia mengan-dung kezhaliman dan kelancangan terhadap Allah dan kezhaliman kepada hamba-hamba Allah serta perubahan pada agama dan sya-riat Allah.

Al-A'raf 7:33

"Katakanlah, 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?' Katakan-lah, 'Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman da-lam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di Hari Kiamat.' Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. Katakanlah, 'Rabbku hanya mengharamkan per-buatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharam-kan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu keta-hui'." (Al-A'raf: 32-33). (32) Allah تعالى mengingkari orang yang keras kepala dan mengharamkan hal-hal yang baik yang dihalalkan oleh Allah. Dan berfirman, ﴾ قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِيٓ أَخۡرَجَ لِعِبَادِهِۦ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang meng-haramkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya," dari berbagai macam pakaian dengan berbagai macam jenisnya, dan rizki yang baik-baik, berupa makanan dan minuman dengan beragam macamnya. Yakni siapakah gerangan yang berani mengharamkan apa yang Allah halalkan sebagai nikmat kepada hamba-hambaNya? Siapakah gerangan yang mempersulit kepada mereka apa yang telah dilonggarkan Allah? Allah memberikan ke-longgaran kepada hamba-hambaNya berupa hal-hal yang baik-baik agar hamba-hambaNya menggunakannya sebagai penolong dalam beribadah kepadaNya, maka Dia tidak membolehkannya kecuali hanya untuk hamba-hambaNya yang beriman. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ قُلۡ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا خَالِصَةٗ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ ﴿ "Katakanlah, 'Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di Hari Kiamat." Yakni tidak ada persoalan atas mereka padanya. Mafhum ayat ini bahwa barangsiapa yang ti-dak beriman kepada Allah bahkan dia menggunakan kebaikan yang dirizkikan oleh Allah sebagai sarana untuk bermaksiat kepadaNya, maka ia tidaklah khusus untuk mereka dan tidak pula dibolehkan untuk mereka, bahkan dia dihukum karenanya dan atas penggu-naannya, dan nikmat-nikmat itu akan ditanyakan kepadanya pada Hari Kiamat. ﴾ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu." Kami menerangkan dan merincinya ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "bagi orang-orang yang mengetahui." Karena mereka itulah yang mengambil manfaat dari ayat-ayat yang dijelaskan oleh Allah dan mereka mengetahui bahwa ia dari Allah, lalu mereka memahaminya dan merenung-kannya. (33) Kemudian Allah menyebutkan hal-hal yang diharam-kan dalam setiap syariat, Dia berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ ﴿ "Katakan-lah, 'Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji'." Yakni dosa-dosa besar yang keji, yang dipandang keji karena keburukan dan kejelekannya, seperti zina, homoseksual, dan lain-lain. FirmanNya, ﴾ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ ﴿ "Baik yang nampak ataupun yang tersembunyi." Yakni perbuatan keji yang berkaitan dengan gerakan-gerakan badan dan yang berkaitan dengan amalan-amalan hati seperti, sombong, ujub (bangga diri), riya', nifak, dan lain-lain. ﴾ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan per-buatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar." Yakni dosa-dosa yang diganjar siksa dan mengakibatkan hukuman pada hak-hak Allah, dan pelanggaran kepada manusia berkenaan dengan darah, harta, dan kehormatan mereka. Dalam hal ini ia mencakup dosa-dosa kepada Allah dan dosa-dosa kepada manusia. ﴾ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا ﴿ "(Mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu." Bahkan Dia menurun-kan bukti dan dalil atas tauhid. Syirik adalah menyekutukan Allah dengan seorang makhluk dalam beribadah, bisa pula termasuk da-lam hal ini adalah syirik kecil, seperti riya`, dan bersumpah dengan nama selain Allah dan lain-lain. ﴾ وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan (mengha-ramkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui," dalam nama-namaNya, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya dan syariatNya. Semua ini diharamkan oleh Allah dan Dia melarang hamba-hambaNya untuk melakukannya, karena ia mengandung kerusakan, baik yang bersifat khusus dan umum. Karena ia mengan-dung kezhaliman dan kelancangan terhadap Allah dan kezhaliman kepada hamba-hamba Allah serta perubahan pada agama dan sya-riat Allah.

Al-A'raf 7:34

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila te-lah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya ba-rang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (Al-A'raf: 34). (34) Yakni, Allah telah mengeluarkan Bani Adam (dari surga) ke bumi, mengizinkan mereka tinggal di dalamnya, menentukan ajal untuk mereka, tidak ada umat yang maju atau mundur dari ajal yang telah ditentukan; tidak secara bersamaan dan tidak pula secara sendiri-sendiri.

Al-A'raf 7:35

"Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayatKu, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidak-lah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu peng-huni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (Al-A'raf: 35-36). (35) Manakala Allah mengeluarkan Bani Adam dari surga, Allah menguji mereka dengan mengutus para rasul dan menurun-kan kitab-kitab kepada mereka, para rasul itu membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah dan menjelaskan hukum-hukumNya. Ke-mudian Allah menjelaskan keutamaan orang yang menjawab se-ruan rasul dan kerugian orang yang tidak menjawab. Dia berfirman, ﴾ فَمَنِ ٱتَّقَىٰ ﴿ "Maka barangsiapa yang bertakwa", takut dari syirik, dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil yang diharamkan oleh Allah, ﴾ وَأَصۡلَحَ ﴿ "dan mengadakan perbaikan", dengan amal lahir dan batin, ﴾ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "maka tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka", dari keburukan yang mungkin ditakutkan oleh selain mereka, ﴾ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka bersedih hati," terhadap yang telah berlalu, dan jika rasa takut dan sedih telah hilang, maka rasa aman yang sempurna, kebaha-giaan, dan keberuntungan abadi akan diraih. (36) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُواْ عَنۡهَآ ﴿ "Dan orang-orang yang men-dustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya." Yakni hati mereka tidak beriman kepadanya dan anggota badan mereka tidak tunduk kepadanya, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "mereka itu peng-huni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayatNya dan selalu mendustakannya, maka me-reka pun dihinakan dengan azab yang berkepanjangan.

Al-A'raf 7:36

"Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayatKu, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidak-lah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu peng-huni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (Al-A'raf: 35-36). (35) Manakala Allah mengeluarkan Bani Adam dari surga, Allah menguji mereka dengan mengutus para rasul dan menurun-kan kitab-kitab kepada mereka, para rasul itu membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah dan menjelaskan hukum-hukumNya. Ke-mudian Allah menjelaskan keutamaan orang yang menjawab se-ruan rasul dan kerugian orang yang tidak menjawab. Dia berfirman, ﴾ فَمَنِ ٱتَّقَىٰ ﴿ "Maka barangsiapa yang bertakwa", takut dari syirik, dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil yang diharamkan oleh Allah, ﴾ وَأَصۡلَحَ ﴿ "dan mengadakan perbaikan", dengan amal lahir dan batin, ﴾ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "maka tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka", dari keburukan yang mungkin ditakutkan oleh selain mereka, ﴾ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka bersedih hati," terhadap yang telah berlalu, dan jika rasa takut dan sedih telah hilang, maka rasa aman yang sempurna, kebaha-giaan, dan keberuntungan abadi akan diraih. (36) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُواْ عَنۡهَآ ﴿ "Dan orang-orang yang men-dustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya." Yakni hati mereka tidak beriman kepadanya dan anggota badan mereka tidak tunduk kepadanya, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "mereka itu peng-huni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." Sebagaimana mereka meremehkan ayat-ayatNya dan selalu mendustakannya, maka me-reka pun dihinakan dengan azab yang berkepanjangan.

Al-A'raf 7:37

"Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mem-buat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Orang-orang itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan untuknya dalam kitab (Lauh Mahfuzh), hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawa-nya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya, 'Di mana (berhala-ber-hala) yang biasa kamu sembah selain Allah?' Orang-orang musyrik itu menjawab, 'Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,' dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang kafir . Allah berfirman, 'Masuklah kamu se-kalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya), sehingga apabila mereka masuk semuanya, berkatalah orang-orang yang masuk belakangan di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, 'Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.' Allah berfirman, 'Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.' Dan ber-kata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk belakangan, 'Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan'." (Al-A'raf: 37-39). (37) Yakni tidak seorang pun yang lebih zhalim, ﴾ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah," de-ngan menisbatkan sekutu bagiNya, kekurangan kepadaNya dan berkata atas namaNya apa yang tidak dikatakanNya, ﴾ أَوۡ كَذَّبَ بِـَٔايَٰتِهِۦٓۚ ﴿ "atau mendustakan ayat-ayatNya?" Yang menjelaskan lagi menerang-kan kebenaran yang nyata yang menunjukkan kepada jalan yang lurus. Walaupun mereka itu menikmati dunia dan mendapatkan bagian mereka seperti yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh, tetapi itu tidak berguna apa pun baginya. Mereka mendapatkan nikmat sebentar, kemudian diazab dalam waktu yang panjang. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوۡنَهُمۡ ﴿ "Hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (ma-laikat) untuk mengambil nyawanya." Yakni para malaikat yang ditu-gaskan mencabut nyawa dan memenuhi ajal mereka. ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Utusan Kami bertanya", kepada mereka dalam kondisi itu dengan mencela dan menyalahkan. ﴾ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?" Yakni patung-patung dan ber-hala-berhala. Sekaranglah waktunya diperlukan, kalau memang mereka mampu memberi manfaat atau menolak mudarat. ﴾ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا ﴿ "Orang-orang musyrik itu menjawab, 'Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami'." Yakni hilang dan tak berguna. Tidak bergu-na bagi kami untuk melindungi sedikit pun dari azab Allah. ﴾ وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ﴿ "Dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang kafir," yang berhak mendapatkan azab yang pedih lagi kekal. (38-39) Maka malaikat-malaikat berkata kepada mereka, ﴾ ٱدۡخُلُواْ فِيٓ أُمَمٖ ﴿ "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat." Yakni dalam kumpulan umat ﴾ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ ﴿ "jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu." Yakni mereka yang telah berlalu sama seperti kamu berlalu di atas kekufuran dan ke-sombongan, maka semuanya berhak mendapatkan kehinaan dan kebinasaan. ﴾ كُلَّمَا دَخَلَتۡ أُمَّةٞ ﴿ "Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka)", dari umat-umat yang menentang. ﴾ لَّعَنَتۡ أُخۡتَهَاۖ ﴿ "Dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya)." Seperti Firman Allah yang lain. ﴾ ثُمَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُ بَعۡضُكُم بِبَعۡضٖ وَيَلۡعَنُ بَعۡضُكُم بَعۡضٗا ﴿ "Kemudian di Hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian yang (lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain)." (Al-An-kabut: 25). ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَكُواْ فِيهَا جَمِيعٗا ﴿ "Sehingga apabila mereka masuk semuanya." Yakni seluruh penghuninya dari orang-orang terdahulu, orang-orang belakangan, para pembesar, para pemimpin, para pengikut dan para pengekor, semuanya telah berkumpul di neraka. ﴾ قَالَتۡ أُخۡرَىٰهُمۡ ﴿ "Berkatalah orang-orang yang masuk belakangan." Yakni para pengikut para pemimpin, ﴾ لِأُولَىٰهُمۡ ﴿ "kepada orang-orang yang masuk terdahulu." Yakni para pemimpin. Para pengikut itu mengadukan kepada Allah penyesatan para pemimpin kepada mereka, ﴾ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَـَٔاتِهِمۡ عَذَابٗا ضِعۡفٗا مِّنَ ٱلنَّارِۖ ﴿ "Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka." Yakni siksalah mereka dengan siksaan yang berlipat ganda karena mereka telah menyesatkan kami dan menghiasi perbuatan buruk bagi kami. ﴾ وَقَالَتۡ أُولَىٰهُمۡ لِأُخۡرَىٰهُمۡ ﴿ "Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk belakangan." Yakni para pemimpin berkata kepada para pengikut, ﴾ فَمَا كَانَ لَكُمۡ عَلَيۡنَا مِن فَضۡلٖ ﴿ "Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami." Yakni, kita melakukan penyelewengan dan kesesatan secara bersama-sama, melakukan sebab azab secara bersama-sama, lalu keutamaan apa yang kamu miliki dibanding kami? ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman, ﴾ لِكُلّٖ ﴿ Ma-sing-masing" darimu ﴾ ضِعۡفٞ ﴿ "mendapat (siksaan) yang berlipat ganda" dan mendapat bagian dari api neraka. ﴾ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡسِبُونَ ﴿ "Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan." Akan tetapi seperti yang sudah diketahui bahwa azab bagi para pemim-pin tentu lebih pedih dan lebih berat daripada azab para pengikut, sebagaimana nikmat yang didapatkan oleh para imam pemberi petunjuk adalah lebih besar daripada yang akan didapatkan oleh para pengikut. Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ زِدۡنَٰهُمۡ عَذَابٗا فَوۡقَ ٱلۡعَذَابِ بِمَا كَانُواْ يُفۡسِدُونَ 88 ﴿ "Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan." (An-Nahl: 88). Ayat-ayat ini dan yang sepertinya menunjukkan bahwa para pendusta terhadap ayat-ayat Allah akan dikekalkan di dalam azab, mereka sama-sama mendapatkannya, walaupun kadar azab yang mereka dapatkan berbeda-beda menurut amal, pengingkaran, ke-zhaliman, dan kedustaan mereka, dan bahwa kasih sayang di antara mereka di dunia, pada Hari Kiamat akan berubah menjadi permu-suhan dan saling laknat.

Al-A'raf 7:38

"Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mem-buat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Orang-orang itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan untuknya dalam kitab (Lauh Mahfuzh), hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawa-nya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya, 'Di mana (berhala-ber-hala) yang biasa kamu sembah selain Allah?' Orang-orang musyrik itu menjawab, 'Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,' dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang kafir . Allah berfirman, 'Masuklah kamu se-kalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya), sehingga apabila mereka masuk semuanya, berkatalah orang-orang yang masuk belakangan di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, 'Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.' Allah berfirman, 'Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.' Dan ber-kata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk belakangan, 'Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan'." (Al-A'raf: 37-39). (37) Yakni tidak seorang pun yang lebih zhalim, ﴾ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah," de-ngan menisbatkan sekutu bagiNya, kekurangan kepadaNya dan berkata atas namaNya apa yang tidak dikatakanNya, ﴾ أَوۡ كَذَّبَ بِـَٔايَٰتِهِۦٓۚ ﴿ "atau mendustakan ayat-ayatNya?" Yang menjelaskan lagi menerang-kan kebenaran yang nyata yang menunjukkan kepada jalan yang lurus. Walaupun mereka itu menikmati dunia dan mendapatkan bagian mereka seperti yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh, tetapi itu tidak berguna apa pun baginya. Mereka mendapatkan nikmat sebentar, kemudian diazab dalam waktu yang panjang. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوۡنَهُمۡ ﴿ "Hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (ma-laikat) untuk mengambil nyawanya." Yakni para malaikat yang ditu-gaskan mencabut nyawa dan memenuhi ajal mereka. ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Utusan Kami bertanya", kepada mereka dalam kondisi itu dengan mencela dan menyalahkan. ﴾ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?" Yakni patung-patung dan ber-hala-berhala. Sekaranglah waktunya diperlukan, kalau memang mereka mampu memberi manfaat atau menolak mudarat. ﴾ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا ﴿ "Orang-orang musyrik itu menjawab, 'Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami'." Yakni hilang dan tak berguna. Tidak bergu-na bagi kami untuk melindungi sedikit pun dari azab Allah. ﴾ وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ﴿ "Dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang kafir," yang berhak mendapatkan azab yang pedih lagi kekal. (38-39) Maka malaikat-malaikat berkata kepada mereka, ﴾ ٱدۡخُلُواْ فِيٓ أُمَمٖ ﴿ "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat." Yakni dalam kumpulan umat ﴾ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ ﴿ "jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu." Yakni mereka yang telah berlalu sama seperti kamu berlalu di atas kekufuran dan ke-sombongan, maka semuanya berhak mendapatkan kehinaan dan kebinasaan. ﴾ كُلَّمَا دَخَلَتۡ أُمَّةٞ ﴿ "Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka)", dari umat-umat yang menentang. ﴾ لَّعَنَتۡ أُخۡتَهَاۖ ﴿ "Dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya)." Seperti Firman Allah yang lain. ﴾ ثُمَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُ بَعۡضُكُم بِبَعۡضٖ وَيَلۡعَنُ بَعۡضُكُم بَعۡضٗا ﴿ "Kemudian di Hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian yang (lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain)." (Al-An-kabut: 25). ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَكُواْ فِيهَا جَمِيعٗا ﴿ "Sehingga apabila mereka masuk semuanya." Yakni seluruh penghuninya dari orang-orang terdahulu, orang-orang belakangan, para pembesar, para pemimpin, para pengikut dan para pengekor, semuanya telah berkumpul di neraka. ﴾ قَالَتۡ أُخۡرَىٰهُمۡ ﴿ "Berkatalah orang-orang yang masuk belakangan." Yakni para pengikut para pemimpin, ﴾ لِأُولَىٰهُمۡ ﴿ "kepada orang-orang yang masuk terdahulu." Yakni para pemimpin. Para pengikut itu mengadukan kepada Allah penyesatan para pemimpin kepada mereka, ﴾ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَـَٔاتِهِمۡ عَذَابٗا ضِعۡفٗا مِّنَ ٱلنَّارِۖ ﴿ "Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka." Yakni siksalah mereka dengan siksaan yang berlipat ganda karena mereka telah menyesatkan kami dan menghiasi perbuatan buruk bagi kami. ﴾ وَقَالَتۡ أُولَىٰهُمۡ لِأُخۡرَىٰهُمۡ ﴿ "Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk belakangan." Yakni para pemimpin berkata kepada para pengikut, ﴾ فَمَا كَانَ لَكُمۡ عَلَيۡنَا مِن فَضۡلٖ ﴿ "Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami." Yakni, kita melakukan penyelewengan dan kesesatan secara bersama-sama, melakukan sebab azab secara bersama-sama, lalu keutamaan apa yang kamu miliki dibanding kami? ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman, ﴾ لِكُلّٖ ﴿ Ma-sing-masing" darimu ﴾ ضِعۡفٞ ﴿ "mendapat (siksaan) yang berlipat ganda" dan mendapat bagian dari api neraka. ﴾ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡسِبُونَ ﴿ "Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan." Akan tetapi seperti yang sudah diketahui bahwa azab bagi para pemim-pin tentu lebih pedih dan lebih berat daripada azab para pengikut, sebagaimana nikmat yang didapatkan oleh para imam pemberi petunjuk adalah lebih besar daripada yang akan didapatkan oleh para pengikut. Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ زِدۡنَٰهُمۡ عَذَابٗا فَوۡقَ ٱلۡعَذَابِ بِمَا كَانُواْ يُفۡسِدُونَ 88 ﴿ "Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan." (An-Nahl: 88). Ayat-ayat ini dan yang sepertinya menunjukkan bahwa para pendusta terhadap ayat-ayat Allah akan dikekalkan di dalam azab, mereka sama-sama mendapatkannya, walaupun kadar azab yang mereka dapatkan berbeda-beda menurut amal, pengingkaran, ke-zhaliman, dan kedustaan mereka, dan bahwa kasih sayang di antara mereka di dunia, pada Hari Kiamat akan berubah menjadi permu-suhan dan saling laknat.

Al-A'raf 7:39

"Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mem-buat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Orang-orang itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan untuknya dalam kitab (Lauh Mahfuzh), hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawa-nya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya, 'Di mana (berhala-ber-hala) yang biasa kamu sembah selain Allah?' Orang-orang musyrik itu menjawab, 'Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,' dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang kafir . Allah berfirman, 'Masuklah kamu se-kalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya), sehingga apabila mereka masuk semuanya, berkatalah orang-orang yang masuk belakangan di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, 'Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.' Allah berfirman, 'Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.' Dan ber-kata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk belakangan, 'Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan'." (Al-A'raf: 37-39). (37) Yakni tidak seorang pun yang lebih zhalim, ﴾ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah," de-ngan menisbatkan sekutu bagiNya, kekurangan kepadaNya dan berkata atas namaNya apa yang tidak dikatakanNya, ﴾ أَوۡ كَذَّبَ بِـَٔايَٰتِهِۦٓۚ ﴿ "atau mendustakan ayat-ayatNya?" Yang menjelaskan lagi menerang-kan kebenaran yang nyata yang menunjukkan kepada jalan yang lurus. Walaupun mereka itu menikmati dunia dan mendapatkan bagian mereka seperti yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh, tetapi itu tidak berguna apa pun baginya. Mereka mendapatkan nikmat sebentar, kemudian diazab dalam waktu yang panjang. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوۡنَهُمۡ ﴿ "Hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (ma-laikat) untuk mengambil nyawanya." Yakni para malaikat yang ditu-gaskan mencabut nyawa dan memenuhi ajal mereka. ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Utusan Kami bertanya", kepada mereka dalam kondisi itu dengan mencela dan menyalahkan. ﴾ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?" Yakni patung-patung dan ber-hala-berhala. Sekaranglah waktunya diperlukan, kalau memang mereka mampu memberi manfaat atau menolak mudarat. ﴾ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا ﴿ "Orang-orang musyrik itu menjawab, 'Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami'." Yakni hilang dan tak berguna. Tidak bergu-na bagi kami untuk melindungi sedikit pun dari azab Allah. ﴾ وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ﴿ "Dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang kafir," yang berhak mendapatkan azab yang pedih lagi kekal. (38-39) Maka malaikat-malaikat berkata kepada mereka, ﴾ ٱدۡخُلُواْ فِيٓ أُمَمٖ ﴿ "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat." Yakni dalam kumpulan umat ﴾ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ ﴿ "jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu." Yakni mereka yang telah berlalu sama seperti kamu berlalu di atas kekufuran dan ke-sombongan, maka semuanya berhak mendapatkan kehinaan dan kebinasaan. ﴾ كُلَّمَا دَخَلَتۡ أُمَّةٞ ﴿ "Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka)", dari umat-umat yang menentang. ﴾ لَّعَنَتۡ أُخۡتَهَاۖ ﴿ "Dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya)." Seperti Firman Allah yang lain. ﴾ ثُمَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُ بَعۡضُكُم بِبَعۡضٖ وَيَلۡعَنُ بَعۡضُكُم بَعۡضٗا ﴿ "Kemudian di Hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian yang (lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain)." (Al-An-kabut: 25). ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَكُواْ فِيهَا جَمِيعٗا ﴿ "Sehingga apabila mereka masuk semuanya." Yakni seluruh penghuninya dari orang-orang terdahulu, orang-orang belakangan, para pembesar, para pemimpin, para pengikut dan para pengekor, semuanya telah berkumpul di neraka. ﴾ قَالَتۡ أُخۡرَىٰهُمۡ ﴿ "Berkatalah orang-orang yang masuk belakangan." Yakni para pengikut para pemimpin, ﴾ لِأُولَىٰهُمۡ ﴿ "kepada orang-orang yang masuk terdahulu." Yakni para pemimpin. Para pengikut itu mengadukan kepada Allah penyesatan para pemimpin kepada mereka, ﴾ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَـَٔاتِهِمۡ عَذَابٗا ضِعۡفٗا مِّنَ ٱلنَّارِۖ ﴿ "Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka." Yakni siksalah mereka dengan siksaan yang berlipat ganda karena mereka telah menyesatkan kami dan menghiasi perbuatan buruk bagi kami. ﴾ وَقَالَتۡ أُولَىٰهُمۡ لِأُخۡرَىٰهُمۡ ﴿ "Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk belakangan." Yakni para pemimpin berkata kepada para pengikut, ﴾ فَمَا كَانَ لَكُمۡ عَلَيۡنَا مِن فَضۡلٖ ﴿ "Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami." Yakni, kita melakukan penyelewengan dan kesesatan secara bersama-sama, melakukan sebab azab secara bersama-sama, lalu keutamaan apa yang kamu miliki dibanding kami? ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman, ﴾ لِكُلّٖ ﴿ Ma-sing-masing" darimu ﴾ ضِعۡفٞ ﴿ "mendapat (siksaan) yang berlipat ganda" dan mendapat bagian dari api neraka. ﴾ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡسِبُونَ ﴿ "Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan." Akan tetapi seperti yang sudah diketahui bahwa azab bagi para pemim-pin tentu lebih pedih dan lebih berat daripada azab para pengikut, sebagaimana nikmat yang didapatkan oleh para imam pemberi petunjuk adalah lebih besar daripada yang akan didapatkan oleh para pengikut. Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ زِدۡنَٰهُمۡ عَذَابٗا فَوۡقَ ٱلۡعَذَابِ بِمَا كَانُواْ يُفۡسِدُونَ 88 ﴿ "Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan." (An-Nahl: 88). Ayat-ayat ini dan yang sepertinya menunjukkan bahwa para pendusta terhadap ayat-ayat Allah akan dikekalkan di dalam azab, mereka sama-sama mendapatkannya, walaupun kadar azab yang mereka dapatkan berbeda-beda menurut amal, pengingkaran, ke-zhaliman, dan kedustaan mereka, dan bahwa kasih sayang di antara mereka di dunia, pada Hari Kiamat akan berubah menjadi permu-suhan dan saling laknat.

Al-A'raf 7:40

"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demi-kianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang ber-buat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami mem-beri balasan kepada orang-orang yang zhalim." (Al-A'raf: 40-41). (40) Allah تعالى memberitakan hukuman orang-orang yang mendustakan ayat-ayatNya dan tidak beriman kepadanya, padahal ia adalah ayat-ayat yang jelas. Mereka menyombongkan diri dari-nya, tidak tunduk kepada hukum-hukumnya, bahkan mereka men-dustakan dan berpaling. Allah mengabarkan bahwa mereka berpu-tus asa dari segala kebaikan. Jika mereka mati, maka pintu-pintu langit tidak dibuka untuk roh mereka, roh itu naik kepada Allah lalu meminta izin dan tidak diizinkan, sebagaimana di dunia ia tidak sudi beriman kepada Allah, mengetahui dan mencintaiNya, maka setelah mati, Allah tidak sudi kepadanya, karena balasan akan sesuai dengan jenis amalnya. Mafhum ayat ini bahwa roh orang-orang Mukmin yang tunduk kepada perintah Allah dan membenarkan ayat-ayatNya, dibukakan untuknya pintu-pintu langit, sehingga ia dapat naik kepada Allah dan ia sampai di alam yang tinggi yang diinginkan oleh Allah, ia berbahagia karena kedekatannya dengan Rabbnya dan mendapat-kan ridhaNya. FirmanNya tentang penduduk neraka, ﴾ وَلَا يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلۡجَمَلُ ﴿ "Dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk" yaitu unta yang sudah dikenal, ﴾ فِي سَمِّ ٱلۡخِيَاطِۚ ﴿ "ke lubang jarum." Yakni sehingga unta yang merupakan binatang bertubuh besar masuk ke lubang jarum yang merupakan lubang tersempit. Ini merupakan ungkapan mengaitkan sesuatu dengan sesuatu yang mustahil. Yakni sebagaimana unta mustahil dapat masuk ke dalam lubang jarum, maka orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah juga mus-tahil masuk surga. Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka." (Al-Ma`idah: 72). Di sini Allah berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan." Yakni orang-orang yang banyak berbuat kejahatan dan sangat melampaui batas. (41) ﴾ لَهُم مِّن جَهَنَّمَ مِهَادٞ ﴿ "Mereka mempunyai tikar tidur dari api ne-raka." Yakni kasur di bawah mereka. ﴾ وَمِن فَوۡقِهِمۡ غَوَاشٖۚ ﴿ "Dan di atas mereka ada selimut (api neraka)." Yakni naungan azab yang menutupi mereka. ﴾ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim", kepada diri mereka sebagai balasan yang setimpal, dan Allah tidaklah menzhalimi hamba-hambaNya.

Al-A'raf 7:41

"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demi-kianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang ber-buat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami mem-beri balasan kepada orang-orang yang zhalim." (Al-A'raf: 40-41). (40) Allah تعالى memberitakan hukuman orang-orang yang mendustakan ayat-ayatNya dan tidak beriman kepadanya, padahal ia adalah ayat-ayat yang jelas. Mereka menyombongkan diri dari-nya, tidak tunduk kepada hukum-hukumnya, bahkan mereka men-dustakan dan berpaling. Allah mengabarkan bahwa mereka berpu-tus asa dari segala kebaikan. Jika mereka mati, maka pintu-pintu langit tidak dibuka untuk roh mereka, roh itu naik kepada Allah lalu meminta izin dan tidak diizinkan, sebagaimana di dunia ia tidak sudi beriman kepada Allah, mengetahui dan mencintaiNya, maka setelah mati, Allah tidak sudi kepadanya, karena balasan akan sesuai dengan jenis amalnya. Mafhum ayat ini bahwa roh orang-orang Mukmin yang tunduk kepada perintah Allah dan membenarkan ayat-ayatNya, dibukakan untuknya pintu-pintu langit, sehingga ia dapat naik kepada Allah dan ia sampai di alam yang tinggi yang diinginkan oleh Allah, ia berbahagia karena kedekatannya dengan Rabbnya dan mendapat-kan ridhaNya. FirmanNya tentang penduduk neraka, ﴾ وَلَا يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلۡجَمَلُ ﴿ "Dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk" yaitu unta yang sudah dikenal, ﴾ فِي سَمِّ ٱلۡخِيَاطِۚ ﴿ "ke lubang jarum." Yakni sehingga unta yang merupakan binatang bertubuh besar masuk ke lubang jarum yang merupakan lubang tersempit. Ini merupakan ungkapan mengaitkan sesuatu dengan sesuatu yang mustahil. Yakni sebagaimana unta mustahil dapat masuk ke dalam lubang jarum, maka orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah juga mus-tahil masuk surga. Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka." (Al-Ma`idah: 72). Di sini Allah berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan." Yakni orang-orang yang banyak berbuat kejahatan dan sangat melampaui batas. (41) ﴾ لَهُم مِّن جَهَنَّمَ مِهَادٞ ﴿ "Mereka mempunyai tikar tidur dari api ne-raka." Yakni kasur di bawah mereka. ﴾ وَمِن فَوۡقِهِمۡ غَوَاشٖۚ ﴿ "Dan di atas mereka ada selimut (api neraka)." Yakni naungan azab yang menutupi mereka. ﴾ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim", kepada diri mereka sebagai balasan yang setimpal, dan Allah tidaklah menzhalimi hamba-hambaNya.

Al-A'raf 7:42

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri sese-orang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan Kami cabut segala macam kedengkian yang berada di dalam dada mere-ka, mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami, membawa kebenaran.' Dan diserukan kepa-da mereka, 'Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan'." (Al-A'raf: 42-43). (42) Manakala Allah menyebutkan hukuman orang-orang yang durhaka lagi zhalim, maka setelah itu Dia juga menyebutkan pahala orang-orang yang taat. Dia berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman", dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih", dengan anggota tubuh mereka. Mereka mengumpulkan antara iman dan amal, antara amalan lahir dengan amalan batin, antara melakukan yang wajib dan menjauhi yang haram. Karena FirmanNya, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Dan mengerjakan amal shalih," adalah bersifat umum mencakup seluruh amal shalih yang wajib dan yang dianjurkan, dan bisa jadi sebagian darinya di luar kemampuan seorang hamba, maka Allah berfirman, ﴾ لَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَآ ﴿ "Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." Yakni sesuai dengan ke-mampuannya dan tidak melebihi batas kekuatannya, maka dalam kondisi tersebut dia wajib bertakwa kepada Allah sebatas kemam-puannya. Jika dia tidak mampu melakukan sebagian yang wajib di mana selainnya mampu melakukannya, maka ia gugur darinya, sebagaimana Firman Allah, ﴾ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ ﴿ "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesang-gupannya." (Al-Baqarah: 286). ﴾ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَاۚ ﴿ "Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (seke-dar) apa yang Allah berikan kepadanya." (Ath-Thalaq: 7). ﴾ وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ ﴿ "Dia sekali-kali tidak menjadikan kesempitan untukmu di dalam agama." (Al-Hajj: 78). ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ ﴿ "Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu." (At-Taghabun: 16). Tiada kewajiban karena ketidakmampuan, dan tiada yang diharamkan pada waktu darurat. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah", yaitu orang-orang yang menyandang Iman dan mengerjakan amal shalih, adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya." Yakni, mereka tidak berpindah darinya. Tidak mencari pengganti karena mereka telah mendapatkan berbagai macam kelezatan dan kenikmatan yang tiada tertandingi dan tidak ada yang lebih dari itu. (43) ﴾ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلّٖ ﴿ "Dan Kami cabut segala macam ke-dengkian yang berada di dalam dada mereka." Ini termasuk kemurahan dan kebaikan Allah kepada penghuni surga. Bahwa Allah mencabut dan menghilangkan kebencian dan persaingan yang ada di dalam hati mereka sehingga mereka menjadi bersaudara dan berteman yang saling mencintai. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ إِخۡوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٖ مُّتَقَٰبِلِينَ 47 ﴿ "Dan Kami lenyapkan segala rasa dengki yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan." (Al-Hijr: 47). Allah menciptakan kemuliaan untuk mereka yang dengannya masing-masing mendapatkan kebahagiaan dan saling ridha satu sama lain. Dia melihat tidak ada nikmat di atas nikmat yang dia rasakan. Dengan ini tidak ada saling dengki dan benci karena pe-nyebabnya telah hilang. Dan FirmanNya, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ ﴿ "Mengalir di bawah mereka sungai-sungai." Yakni mereka dapat memancarkan-nya sesuka mereka, di mana pun mereka inginkan. Jika mereka mau, maka di sela-sela istana-istana, atau di kamar-kamar yang tinggi, atau di kebun-kebun surga di bawah pohon-pohon yang rindang, sungai-sungai mengalir tanpa aliran, kenikmatan yang tak berba-tas. ﴾ و َ ﴿ "Dan" karena itu manakala mereka melihat kenikmatan dan kemuliaan yang Allah berikan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا ﴿ "mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini'," dengan memberi nikmat kepada kami, me-nuntun hati kami, sehingga hati kami beriman dan tunduk kepada amal kebaikan yang membimbing kami kepada rumah (surga) ini. Allah menjaga iman kami dan amal kami sehingga mengantarkan kami kepada tempat ini, maka alangkah mulianya Rabb Yang Mulia yang memberi kita nikmat-nikmat dan melimpahkannya, baik lahir maupun batin yang tidak terhitung oleh siapa pun (dari hamba-Nya). ﴾ وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk." Yakni kami tidak mungkin mau menerima petunjuk dan mengikuti rasul-rasulNya seandainya Allah tidak memberikan hidayahNya. ﴾ لَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami, membawa kebena-ran." Yakni ketika mereka bernikmat ria dengan kenikmatan yang pernah dikabarkan oleh para rasul dan ia menjadi haqqul yaqin sete-lah sebelumnya adalah ilmul yaqin, mereka berkata, "Sungguh kami telah melihat dan membuktikan apa yang diberitakan oleh para rasul bahwa seluruh apa yang mereka bawa tidak ada keraguan padanya. ﴾ وَنُودُوٓاْ ﴿ "Dan diserukan kepada mereka", sebagai penghor-matan dan penghargaan kepada mereka, ﴾ أَن تِلۡكُمُ ٱلۡجَنَّةُ أُورِثۡتُمُوهَا ﴿ "Itulah surga yang diwariskan kepadamu." Yakni kamu adalah pewarisnya dan ia menjadi bagianmu, karena neraka adalah bagian orang-orang kafir. Kamu mendapatkannya, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." Sebagian ulama Salaf berkata, "Penghuni surga selamat dari neraka dengan ampunan Allah, mereka masuk surga dengan Rahmat Allah, mereka membagi-bagi tempat dan mewarisinya dengan amal shalih dan ia dengan Rahmat Allah, bah-kan termasuk RahmatNya yang paling tinggi." 9

Al-A'raf 7:43

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri sese-orang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan Kami cabut segala macam kedengkian yang berada di dalam dada mere-ka, mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami, membawa kebenaran.' Dan diserukan kepa-da mereka, 'Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan'." (Al-A'raf: 42-43). (42) Manakala Allah menyebutkan hukuman orang-orang yang durhaka lagi zhalim, maka setelah itu Dia juga menyebutkan pahala orang-orang yang taat. Dia berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman", dengan hati mereka, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal yang shalih", dengan anggota tubuh mereka. Mereka mengumpulkan antara iman dan amal, antara amalan lahir dengan amalan batin, antara melakukan yang wajib dan menjauhi yang haram. Karena FirmanNya, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Dan mengerjakan amal shalih," adalah bersifat umum mencakup seluruh amal shalih yang wajib dan yang dianjurkan, dan bisa jadi sebagian darinya di luar kemampuan seorang hamba, maka Allah berfirman, ﴾ لَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَآ ﴿ "Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." Yakni sesuai dengan ke-mampuannya dan tidak melebihi batas kekuatannya, maka dalam kondisi tersebut dia wajib bertakwa kepada Allah sebatas kemam-puannya. Jika dia tidak mampu melakukan sebagian yang wajib di mana selainnya mampu melakukannya, maka ia gugur darinya, sebagaimana Firman Allah, ﴾ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ ﴿ "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesang-gupannya." (Al-Baqarah: 286). ﴾ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَاۚ ﴿ "Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (seke-dar) apa yang Allah berikan kepadanya." (Ath-Thalaq: 7). ﴾ وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ ﴿ "Dia sekali-kali tidak menjadikan kesempitan untukmu di dalam agama." (Al-Hajj: 78). ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ ﴿ "Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu." (At-Taghabun: 16). Tiada kewajiban karena ketidakmampuan, dan tiada yang diharamkan pada waktu darurat. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah", yaitu orang-orang yang menyandang Iman dan mengerjakan amal shalih, adalah ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya." Yakni, mereka tidak berpindah darinya. Tidak mencari pengganti karena mereka telah mendapatkan berbagai macam kelezatan dan kenikmatan yang tiada tertandingi dan tidak ada yang lebih dari itu. (43) ﴾ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلّٖ ﴿ "Dan Kami cabut segala macam ke-dengkian yang berada di dalam dada mereka." Ini termasuk kemurahan dan kebaikan Allah kepada penghuni surga. Bahwa Allah mencabut dan menghilangkan kebencian dan persaingan yang ada di dalam hati mereka sehingga mereka menjadi bersaudara dan berteman yang saling mencintai. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ إِخۡوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٖ مُّتَقَٰبِلِينَ 47 ﴿ "Dan Kami lenyapkan segala rasa dengki yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan." (Al-Hijr: 47). Allah menciptakan kemuliaan untuk mereka yang dengannya masing-masing mendapatkan kebahagiaan dan saling ridha satu sama lain. Dia melihat tidak ada nikmat di atas nikmat yang dia rasakan. Dengan ini tidak ada saling dengki dan benci karena pe-nyebabnya telah hilang. Dan FirmanNya, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ ﴿ "Mengalir di bawah mereka sungai-sungai." Yakni mereka dapat memancarkan-nya sesuka mereka, di mana pun mereka inginkan. Jika mereka mau, maka di sela-sela istana-istana, atau di kamar-kamar yang tinggi, atau di kebun-kebun surga di bawah pohon-pohon yang rindang, sungai-sungai mengalir tanpa aliran, kenikmatan yang tak berba-tas. ﴾ و َ ﴿ "Dan" karena itu manakala mereka melihat kenikmatan dan kemuliaan yang Allah berikan kepada mereka, ﴾ قَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا ﴿ "mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini'," dengan memberi nikmat kepada kami, me-nuntun hati kami, sehingga hati kami beriman dan tunduk kepada amal kebaikan yang membimbing kami kepada rumah (surga) ini. Allah menjaga iman kami dan amal kami sehingga mengantarkan kami kepada tempat ini, maka alangkah mulianya Rabb Yang Mulia yang memberi kita nikmat-nikmat dan melimpahkannya, baik lahir maupun batin yang tidak terhitung oleh siapa pun (dari hamba-Nya). ﴾ وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk." Yakni kami tidak mungkin mau menerima petunjuk dan mengikuti rasul-rasulNya seandainya Allah tidak memberikan hidayahNya. ﴾ لَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami, membawa kebena-ran." Yakni ketika mereka bernikmat ria dengan kenikmatan yang pernah dikabarkan oleh para rasul dan ia menjadi haqqul yaqin sete-lah sebelumnya adalah ilmul yaqin, mereka berkata, "Sungguh kami telah melihat dan membuktikan apa yang diberitakan oleh para rasul bahwa seluruh apa yang mereka bawa tidak ada keraguan padanya. ﴾ وَنُودُوٓاْ ﴿ "Dan diserukan kepada mereka", sebagai penghor-matan dan penghargaan kepada mereka, ﴾ أَن تِلۡكُمُ ٱلۡجَنَّةُ أُورِثۡتُمُوهَا ﴿ "Itulah surga yang diwariskan kepadamu." Yakni kamu adalah pewarisnya dan ia menjadi bagianmu, karena neraka adalah bagian orang-orang kafir. Kamu mendapatkannya, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." Sebagian ulama Salaf berkata, "Penghuni surga selamat dari neraka dengan ampunan Allah, mereka masuk surga dengan Rahmat Allah, mereka membagi-bagi tempat dan mewarisinya dengan amal shalih dan ia dengan Rahmat Allah, bah-kan termasuk RahmatNya yang paling tinggi." 9

Al-A'raf 7:44

"Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-peng-huni neraka (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Rabb kami menjanjikan-nya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Rabb kamu menjanjikannya (kepada-mu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul.' Kemudian se-orang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zhalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan me-reka kafir kepada kehidupan Akhirat'." (Al-A'raf: 44-45). (44-45) Allah تعالى berfirman setelah menyebutkan bahwa masing-masing kelompok menempati tempat masing-masing. Ke-duanya mendapatkan kebenaran pahala dan azab yang disampai-kan oleh para rasul dan dinyatakan oleh kitab-kitab, bahwa pendu-duk surga memanggil penghuni neraka dengan mengatakan, ﴾ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّٗا ﴿ "Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Rabb kami menjanjikannya kepada kami." Ketika Dia menjan-jikan surga dengan iman dan amal shalih, lalu Dia memasukkan kami dan menunjukkan apa yang Dia jelaskan kepada kami.﴾ فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقّٗاۖ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Rabb kamu menjanjikannya (kepadamu)?" akibat keku-furan dan kemaksiatan. ﴾ قَالُواْ نَعَمۡۚ ﴿ "Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul'." Yakni kami benar-benar mendapatkannya. Maka terbuk-tilah bagi seluruh makhluk dengan bukti yang tidak ada keraguan padanya akan kebenaran janji Allah. Dan siapakah yang lebih jujur ucapannya daripada Allah? Keraguan dan kebimbangan telah lenyap dari mereka. Perkaranya telah menjadi haqqul yaqin. Orang-orang Mukmin bangga dan berbahagia dengan janji Allah, sementara orang-orang kafir berputus asa dari kebaikan dan mereka mengakui bahwa mereka berhak mendapatkan azab. ﴾ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu." Yakni di antara penduduk surga dan penghuni neraka dengan ber-kata, ﴾ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ ﴿ "Kutukan Allah," pengusiran dan penjauhan dari segala kebaikan, ﴾ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "ditimpakan kepada orang-orang yang zha-lim." Karena Allah telah membuka pintu RahmatNya untuk mereka, tetapi mereka berpaling darinya karena kezhaliman, dan mereka menghalang-halangi diri mereka sendiri dan juga orang lain dari jalan Allah, maka mereka itu sesat dan menyesatkan. Allah تعالى meng-inginkan jalan itu lurus dan mengarahkan para penitinya kepada-nya, sementara mereka menginginkannya ﴾ عِوَجٗا ﴿ "menjadi bengkok", menyimpang dan justru menghalang-halangi dari jalan yang lurus. ﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir kepada kehidupan Akhirat." Dan ini-lah yang menyebabkan mereka menyimpang dari jalan yang lurus dan gemar menerima keinginan syahwat jiwa yang diharamkan adalah karena ketidakimanan mereka kepada Hari Kebangkitan, tidak takut kepada azab dan tidak mengharapkan pahala. Mafhum dari seruan malaikat ini adalah bahwa Rahmat Allah melimpah ke-pada orang-orang beriman, kebaikanNya meliputi dan menaungi mereka.

Al-A'raf 7:45

"Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-peng-huni neraka (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Rabb kami menjanjikan-nya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Rabb kamu menjanjikannya (kepada-mu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul.' Kemudian se-orang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zhalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan me-reka kafir kepada kehidupan Akhirat'." (Al-A'raf: 44-45). (44-45) Allah تعالى berfirman setelah menyebutkan bahwa masing-masing kelompok menempati tempat masing-masing. Ke-duanya mendapatkan kebenaran pahala dan azab yang disampai-kan oleh para rasul dan dinyatakan oleh kitab-kitab, bahwa pendu-duk surga memanggil penghuni neraka dengan mengatakan, ﴾ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّٗا ﴿ "Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Rabb kami menjanjikannya kepada kami." Ketika Dia menjan-jikan surga dengan iman dan amal shalih, lalu Dia memasukkan kami dan menunjukkan apa yang Dia jelaskan kepada kami.﴾ فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقّٗاۖ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Rabb kamu menjanjikannya (kepadamu)?" akibat keku-furan dan kemaksiatan. ﴾ قَالُواْ نَعَمۡۚ ﴿ "Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul'." Yakni kami benar-benar mendapatkannya. Maka terbuk-tilah bagi seluruh makhluk dengan bukti yang tidak ada keraguan padanya akan kebenaran janji Allah. Dan siapakah yang lebih jujur ucapannya daripada Allah? Keraguan dan kebimbangan telah lenyap dari mereka. Perkaranya telah menjadi haqqul yaqin. Orang-orang Mukmin bangga dan berbahagia dengan janji Allah, sementara orang-orang kafir berputus asa dari kebaikan dan mereka mengakui bahwa mereka berhak mendapatkan azab. ﴾ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu." Yakni di antara penduduk surga dan penghuni neraka dengan ber-kata, ﴾ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ ﴿ "Kutukan Allah," pengusiran dan penjauhan dari segala kebaikan, ﴾ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "ditimpakan kepada orang-orang yang zha-lim." Karena Allah telah membuka pintu RahmatNya untuk mereka, tetapi mereka berpaling darinya karena kezhaliman, dan mereka menghalang-halangi diri mereka sendiri dan juga orang lain dari jalan Allah, maka mereka itu sesat dan menyesatkan. Allah تعالى meng-inginkan jalan itu lurus dan mengarahkan para penitinya kepada-nya, sementara mereka menginginkannya ﴾ عِوَجٗا ﴿ "menjadi bengkok", menyimpang dan justru menghalang-halangi dari jalan yang lurus. ﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir kepada kehidupan Akhirat." Dan ini-lah yang menyebabkan mereka menyimpang dari jalan yang lurus dan gemar menerima keinginan syahwat jiwa yang diharamkan adalah karena ketidakimanan mereka kepada Hari Kebangkitan, tidak takut kepada azab dan tidak mengharapkan pahala. Mafhum dari seruan malaikat ini adalah bahwa Rahmat Allah melimpah ke-pada orang-orang beriman, kebaikanNya meliputi dan menaungi mereka.

Al-A'raf 7:46

"Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas, dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal ma-sing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum (salam sejahtera atas kalian).' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan me-reka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zhalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf me-manggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka, 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat Rahmat Allah.' (Kepada orang-orang Mukmin itu dikatakan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati'." (Al-A'raf: 46-49). (46) Yakni di antara penduduk surga dengan penghuni neraka terdapat pembatas yang bernama al-A'raf, tidak dari surga tidak pula dari neraka, menghadap ke surga dan neraka. Siapa yang di situ dapat melihat keadaan kedua golongan ini. Di atas pemba-tasnya itu terdapat orang-orang yang mengenal masing-masing dari penduduk surga dan penghuni neraka dengan tanda-tanda mereka, yakni dengan ciri khas yang dengannya mereka dibeda-kan. Jika mereka melihat kepada penduduk surga, mereka berseru kepada mereka, ﴾ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Salamun 'alaikum (salam sejahtera atas kalian)." Yakni mereka memberi hormat dan salam kepada mereka, akan tetapi mereka sampai saat itu belum masuk surga, walaupun demikian mereka sangat berhasrat untuk memasukinya dan Allah tidak menjadikan hasrat di dalam hati mereka kecuali karena ke-muliaanNya yang Dia inginkan untuk mereka. (47) ﴾ وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka," mereka melihat pemandangan yang mengerikan dan ketakutan yang mencekam. ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zhalim itu." Jika orang-orang yang ada di al-A'raf melihat penduduk surga, mereka berhasrat bisa bersama mereka di surga, memberi hormat dan salam kepada mereka. Manakala pandangan mereka tertuju secara tidak sengaja kepada penghuni neraka, maka mereka memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan buruk mereka secara umum. (48) Kemudian Allah menyebutkan yang khusus setelah yang umum. Dia berfirman, ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya." Mereka adalah penduduk neraka, mereka di dunia memiliki kebanggaan, kehormatan, harta dan anak-anak. Maka orang-orang al-A'raf ber-kata kepada mereka ketika melihat mereka terbenam dalam azab tanpa seorang pun penolong dan pembantu, ﴾ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu som-bongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu" yakni, bahwa harta di dunia, yang dengannya kamu menolak hal-hal yang tidak kamu inginkan, dan dengannya kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan di dunia, pada hari ini ia lenyap tak berbekas, tak berguna sedikit pun bagimu. Begitu pula kesombongan menolak kebenaran dan kesombonganmu kepada orang yang membawanya dan me-ngikutinya, sama sekali tidak berguna bagimu. (49) Kemudian mereka menunjuk kepada orang-orang dari penduduk surga yang dahulu di dunia adalah orang-orang miskin papa yang dilecehkan oleh penghuni neraka. Mereka berkata kepada penghuni neraka ﴾ أَهَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Itukah orang-orang", yang dimasukkan Allah ke surga, ﴾ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ﴿ "Yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat Rahmat Allah?" sebagai pelecehan dan penghinaan kepada mereka serta kesombongan dari kalian. Kamu telah melanggar sumpahmu dan ternyata Allah memperla-kukan mereka tidak seperti yang kamu kira. ﴾ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "(Kepada orang Mukmin itu dikatakan), 'Masuklah ke dalam surga", karena amal yang dulu kamu kerjakan. Yakni dikatakan kepada orang-orang lemah itu sebagai penghormatan dan penghargaan kepada mereka, "masuklah surga dengan amal shalihmu." ﴾ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Tidak ada kekhawatiran terhadapmu", terhadap hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan. ﴾ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ ﴿ "Dan tidak (pula) kamu bersedih hati", atas perkara yang telah berlalu. Justru kalian akan merasa aman, tenang dan berbahagia dengan segala kebaikan. Ini seperti Firman Allah تعالى, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ كَانُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يَضۡحَكُونَ 29 وَإِذَا مَرُّواْ بِهِمۡ يَتَغَامَزُونَ 30 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang da-hulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apa-bila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya." (Al-Muthaffifin: 29-30). Sampai kepada FirmanNya, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ 35 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang." (Al-Muthaffifin: 34-35). Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa Ashhabul A'raf itu dan apa amal mereka. Yang benar dari pendapat-pendapat itu adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang ber-imbang kebaikan dan keburukannya. Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga ti-dak lebih berat sehingga mereka masuk surga, maka mereka berada di al-A'raf sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah dengan RahmatNya memasukkan mereka ke surga, karena RahmatNya mendahului dan mengungguli murkaNya dan RahmatNya meli-puti segala sesuatu.

Al-A'raf 7:47

"Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas, dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal ma-sing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum (salam sejahtera atas kalian).' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan me-reka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zhalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf me-manggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka, 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat Rahmat Allah.' (Kepada orang-orang Mukmin itu dikatakan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati'." (Al-A'raf: 46-49). (46) Yakni di antara penduduk surga dengan penghuni neraka terdapat pembatas yang bernama al-A'raf, tidak dari surga tidak pula dari neraka, menghadap ke surga dan neraka. Siapa yang di situ dapat melihat keadaan kedua golongan ini. Di atas pemba-tasnya itu terdapat orang-orang yang mengenal masing-masing dari penduduk surga dan penghuni neraka dengan tanda-tanda mereka, yakni dengan ciri khas yang dengannya mereka dibeda-kan. Jika mereka melihat kepada penduduk surga, mereka berseru kepada mereka, ﴾ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Salamun 'alaikum (salam sejahtera atas kalian)." Yakni mereka memberi hormat dan salam kepada mereka, akan tetapi mereka sampai saat itu belum masuk surga, walaupun demikian mereka sangat berhasrat untuk memasukinya dan Allah tidak menjadikan hasrat di dalam hati mereka kecuali karena ke-muliaanNya yang Dia inginkan untuk mereka. (47) ﴾ وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka," mereka melihat pemandangan yang mengerikan dan ketakutan yang mencekam. ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zhalim itu." Jika orang-orang yang ada di al-A'raf melihat penduduk surga, mereka berhasrat bisa bersama mereka di surga, memberi hormat dan salam kepada mereka. Manakala pandangan mereka tertuju secara tidak sengaja kepada penghuni neraka, maka mereka memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan buruk mereka secara umum. (48) Kemudian Allah menyebutkan yang khusus setelah yang umum. Dia berfirman, ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya." Mereka adalah penduduk neraka, mereka di dunia memiliki kebanggaan, kehormatan, harta dan anak-anak. Maka orang-orang al-A'raf ber-kata kepada mereka ketika melihat mereka terbenam dalam azab tanpa seorang pun penolong dan pembantu, ﴾ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu som-bongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu" yakni, bahwa harta di dunia, yang dengannya kamu menolak hal-hal yang tidak kamu inginkan, dan dengannya kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan di dunia, pada hari ini ia lenyap tak berbekas, tak berguna sedikit pun bagimu. Begitu pula kesombongan menolak kebenaran dan kesombonganmu kepada orang yang membawanya dan me-ngikutinya, sama sekali tidak berguna bagimu. (49) Kemudian mereka menunjuk kepada orang-orang dari penduduk surga yang dahulu di dunia adalah orang-orang miskin papa yang dilecehkan oleh penghuni neraka. Mereka berkata kepada penghuni neraka ﴾ أَهَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Itukah orang-orang", yang dimasukkan Allah ke surga, ﴾ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ﴿ "Yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat Rahmat Allah?" sebagai pelecehan dan penghinaan kepada mereka serta kesombongan dari kalian. Kamu telah melanggar sumpahmu dan ternyata Allah memperla-kukan mereka tidak seperti yang kamu kira. ﴾ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "(Kepada orang Mukmin itu dikatakan), 'Masuklah ke dalam surga", karena amal yang dulu kamu kerjakan. Yakni dikatakan kepada orang-orang lemah itu sebagai penghormatan dan penghargaan kepada mereka, "masuklah surga dengan amal shalihmu." ﴾ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Tidak ada kekhawatiran terhadapmu", terhadap hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan. ﴾ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ ﴿ "Dan tidak (pula) kamu bersedih hati", atas perkara yang telah berlalu. Justru kalian akan merasa aman, tenang dan berbahagia dengan segala kebaikan. Ini seperti Firman Allah تعالى, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ كَانُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يَضۡحَكُونَ 29 وَإِذَا مَرُّواْ بِهِمۡ يَتَغَامَزُونَ 30 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang da-hulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apa-bila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya." (Al-Muthaffifin: 29-30). Sampai kepada FirmanNya, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ 35 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang." (Al-Muthaffifin: 34-35). Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa Ashhabul A'raf itu dan apa amal mereka. Yang benar dari pendapat-pendapat itu adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang ber-imbang kebaikan dan keburukannya. Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga ti-dak lebih berat sehingga mereka masuk surga, maka mereka berada di al-A'raf sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah dengan RahmatNya memasukkan mereka ke surga, karena RahmatNya mendahului dan mengungguli murkaNya dan RahmatNya meli-puti segala sesuatu.

Al-A'raf 7:48

"Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas, dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal ma-sing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum (salam sejahtera atas kalian).' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan me-reka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zhalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf me-manggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka, 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat Rahmat Allah.' (Kepada orang-orang Mukmin itu dikatakan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati'." (Al-A'raf: 46-49). (46) Yakni di antara penduduk surga dengan penghuni neraka terdapat pembatas yang bernama al-A'raf, tidak dari surga tidak pula dari neraka, menghadap ke surga dan neraka. Siapa yang di situ dapat melihat keadaan kedua golongan ini. Di atas pemba-tasnya itu terdapat orang-orang yang mengenal masing-masing dari penduduk surga dan penghuni neraka dengan tanda-tanda mereka, yakni dengan ciri khas yang dengannya mereka dibeda-kan. Jika mereka melihat kepada penduduk surga, mereka berseru kepada mereka, ﴾ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Salamun 'alaikum (salam sejahtera atas kalian)." Yakni mereka memberi hormat dan salam kepada mereka, akan tetapi mereka sampai saat itu belum masuk surga, walaupun demikian mereka sangat berhasrat untuk memasukinya dan Allah tidak menjadikan hasrat di dalam hati mereka kecuali karena ke-muliaanNya yang Dia inginkan untuk mereka. (47) ﴾ وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka," mereka melihat pemandangan yang mengerikan dan ketakutan yang mencekam. ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zhalim itu." Jika orang-orang yang ada di al-A'raf melihat penduduk surga, mereka berhasrat bisa bersama mereka di surga, memberi hormat dan salam kepada mereka. Manakala pandangan mereka tertuju secara tidak sengaja kepada penghuni neraka, maka mereka memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan buruk mereka secara umum. (48) Kemudian Allah menyebutkan yang khusus setelah yang umum. Dia berfirman, ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya." Mereka adalah penduduk neraka, mereka di dunia memiliki kebanggaan, kehormatan, harta dan anak-anak. Maka orang-orang al-A'raf ber-kata kepada mereka ketika melihat mereka terbenam dalam azab tanpa seorang pun penolong dan pembantu, ﴾ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu som-bongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu" yakni, bahwa harta di dunia, yang dengannya kamu menolak hal-hal yang tidak kamu inginkan, dan dengannya kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan di dunia, pada hari ini ia lenyap tak berbekas, tak berguna sedikit pun bagimu. Begitu pula kesombongan menolak kebenaran dan kesombonganmu kepada orang yang membawanya dan me-ngikutinya, sama sekali tidak berguna bagimu. (49) Kemudian mereka menunjuk kepada orang-orang dari penduduk surga yang dahulu di dunia adalah orang-orang miskin papa yang dilecehkan oleh penghuni neraka. Mereka berkata kepada penghuni neraka ﴾ أَهَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Itukah orang-orang", yang dimasukkan Allah ke surga, ﴾ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ﴿ "Yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat Rahmat Allah?" sebagai pelecehan dan penghinaan kepada mereka serta kesombongan dari kalian. Kamu telah melanggar sumpahmu dan ternyata Allah memperla-kukan mereka tidak seperti yang kamu kira. ﴾ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "(Kepada orang Mukmin itu dikatakan), 'Masuklah ke dalam surga", karena amal yang dulu kamu kerjakan. Yakni dikatakan kepada orang-orang lemah itu sebagai penghormatan dan penghargaan kepada mereka, "masuklah surga dengan amal shalihmu." ﴾ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Tidak ada kekhawatiran terhadapmu", terhadap hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan. ﴾ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ ﴿ "Dan tidak (pula) kamu bersedih hati", atas perkara yang telah berlalu. Justru kalian akan merasa aman, tenang dan berbahagia dengan segala kebaikan. Ini seperti Firman Allah تعالى, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ كَانُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يَضۡحَكُونَ 29 وَإِذَا مَرُّواْ بِهِمۡ يَتَغَامَزُونَ 30 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang da-hulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apa-bila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya." (Al-Muthaffifin: 29-30). Sampai kepada FirmanNya, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ 35 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang." (Al-Muthaffifin: 34-35). Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa Ashhabul A'raf itu dan apa amal mereka. Yang benar dari pendapat-pendapat itu adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang ber-imbang kebaikan dan keburukannya. Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga ti-dak lebih berat sehingga mereka masuk surga, maka mereka berada di al-A'raf sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah dengan RahmatNya memasukkan mereka ke surga, karena RahmatNya mendahului dan mengungguli murkaNya dan RahmatNya meli-puti segala sesuatu.

Al-A'raf 7:49

"Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas, dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal ma-sing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum (salam sejahtera atas kalian).' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan me-reka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zhalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf me-manggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka, 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat Rahmat Allah.' (Kepada orang-orang Mukmin itu dikatakan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati'." (Al-A'raf: 46-49). (46) Yakni di antara penduduk surga dengan penghuni neraka terdapat pembatas yang bernama al-A'raf, tidak dari surga tidak pula dari neraka, menghadap ke surga dan neraka. Siapa yang di situ dapat melihat keadaan kedua golongan ini. Di atas pemba-tasnya itu terdapat orang-orang yang mengenal masing-masing dari penduduk surga dan penghuni neraka dengan tanda-tanda mereka, yakni dengan ciri khas yang dengannya mereka dibeda-kan. Jika mereka melihat kepada penduduk surga, mereka berseru kepada mereka, ﴾ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ ﴿ "Salamun 'alaikum (salam sejahtera atas kalian)." Yakni mereka memberi hormat dan salam kepada mereka, akan tetapi mereka sampai saat itu belum masuk surga, walaupun demikian mereka sangat berhasrat untuk memasukinya dan Allah tidak menjadikan hasrat di dalam hati mereka kecuali karena ke-muliaanNya yang Dia inginkan untuk mereka. (47) ﴾ وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka," mereka melihat pemandangan yang mengerikan dan ketakutan yang mencekam. ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zhalim itu." Jika orang-orang yang ada di al-A'raf melihat penduduk surga, mereka berhasrat bisa bersama mereka di surga, memberi hormat dan salam kepada mereka. Manakala pandangan mereka tertuju secara tidak sengaja kepada penghuni neraka, maka mereka memohon perlindungan kepada Allah dari keadaan buruk mereka secara umum. (48) Kemudian Allah menyebutkan yang khusus setelah yang umum. Dia berfirman, ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya." Mereka adalah penduduk neraka, mereka di dunia memiliki kebanggaan, kehormatan, harta dan anak-anak. Maka orang-orang al-A'raf ber-kata kepada mereka ketika melihat mereka terbenam dalam azab tanpa seorang pun penolong dan pembantu, ﴾ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu som-bongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu" yakni, bahwa harta di dunia, yang dengannya kamu menolak hal-hal yang tidak kamu inginkan, dan dengannya kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan di dunia, pada hari ini ia lenyap tak berbekas, tak berguna sedikit pun bagimu. Begitu pula kesombongan menolak kebenaran dan kesombonganmu kepada orang yang membawanya dan me-ngikutinya, sama sekali tidak berguna bagimu. (49) Kemudian mereka menunjuk kepada orang-orang dari penduduk surga yang dahulu di dunia adalah orang-orang miskin papa yang dilecehkan oleh penghuni neraka. Mereka berkata kepada penghuni neraka ﴾ أَهَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Itukah orang-orang", yang dimasukkan Allah ke surga, ﴾ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ﴿ "Yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat Rahmat Allah?" sebagai pelecehan dan penghinaan kepada mereka serta kesombongan dari kalian. Kamu telah melanggar sumpahmu dan ternyata Allah memperla-kukan mereka tidak seperti yang kamu kira. ﴾ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ ﴿ "(Kepada orang Mukmin itu dikatakan), 'Masuklah ke dalam surga", karena amal yang dulu kamu kerjakan. Yakni dikatakan kepada orang-orang lemah itu sebagai penghormatan dan penghargaan kepada mereka, "masuklah surga dengan amal shalihmu." ﴾ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Tidak ada kekhawatiran terhadapmu", terhadap hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan. ﴾ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ ﴿ "Dan tidak (pula) kamu bersedih hati", atas perkara yang telah berlalu. Justru kalian akan merasa aman, tenang dan berbahagia dengan segala kebaikan. Ini seperti Firman Allah تعالى, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ كَانُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يَضۡحَكُونَ 29 وَإِذَا مَرُّواْ بِهِمۡ يَتَغَامَزُونَ 30 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang da-hulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apa-bila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya." (Al-Muthaffifin: 29-30). Sampai kepada FirmanNya, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ 35 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang." (Al-Muthaffifin: 34-35). Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa Ashhabul A'raf itu dan apa amal mereka. Yang benar dari pendapat-pendapat itu adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang ber-imbang kebaikan dan keburukannya. Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga mereka masuk neraka, dan kebaikan mereka juga ti-dak lebih berat sehingga mereka masuk surga, maka mereka berada di al-A'raf sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah dengan RahmatNya memasukkan mereka ke surga, karena RahmatNya mendahului dan mengungguli murkaNya dan RahmatNya meli-puti segala sesuatu.

Al-A'raf 7:50

"Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, 'Limpahkan-lah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesung-guhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.' Maka pada hari (Kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (al-Qur`an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlak-sananya kebenaran) al-Qur`an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan al-Qur`an itu, berkatalah orang-orang yang melupa-kannya sebelum itu. 'Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami membawa yang haq, maka adakah bagi kami pemberi sya-fa'at yang akan memberi syafa'at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?' Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan." (Al-A'raf: 50-53). (50-52) Yakni penghuni neraka memanggil penduduk surga ketika mereka mendapatkan azab yang sangat pedih, dan ketika kelaparan yang sangat dan kehausan yang mencekik menerpa me-reka, mereka memanggil dan meminta tolong kepada penduduk surga. ﴾ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ ﴿ "Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu." Lalu pendu-duk surga menjawab, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا ﴿ "Sesungguhnya Allah telah meng-haramkan keduanya." Yakni air dan makanan surga ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Atas orang-orang kafir." Dan hal itu adalah sebagai balasan kepada me-reka atas kekufuran mereka kepada ayat-ayat Allah dan mereka menjadikan agama yang mereka diperintahkan agar teguh di atas-nya dan dijanjikan dengan balasan besar atasnya, ﴾ لَهۡوٗا وَلَعِبٗا ﴿ "sebagai main-main dan senda-gurau." Yakni hati mereka lalai darinya dan berpaling, mereka main-main dan menjadikannya sebagai bahan cemoohan, atau mereka mengganti agama mereka dengan main-main dan senda gurau. Mereka menukar agama yang lurus dengan itu. ﴾ وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kehidupan dunia telah menipu mereka", dengan perhiasannya, keindahannya, dan banyaknya propaganda-nya. Mereka cenderung kepadanya, rela dan berbahagia dengannya dan mereka lupa dan berpaling dari Akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰهُمۡ ﴿ "Maka pada Hari (Kiamat) ini, Kami melupakan mereka." Yakni Kami mem-biarkan mereka di dalam azab, ﴾ كَمَا نَسُواْ لِقَآءَ يَوۡمِهِمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini." Seolah-olah me-reka hanya diciptakan untuk dunia semata dan di belakang hari nanti tidak ada perhitungan dan balasan amal bagi mereka, ﴾ وَمَا كَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَجۡحَدُونَ ﴿ "dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami." Padahal pengingkaran mereka itu bukan karena keter-batasan pada ayat-ayat Allah dan kejelasannya, justru ﴾ جِئۡنَٰهُم بِكِتَٰبٖ فَصَّلۡنَٰهُ ﴿ "Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (al-Qur`an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya." Yakni Kami jelaskan padanya se-luruh tuntutan yang dibutuhkan oleh manusia ﴾ عَلَىٰ عِلۡمٍ ﴿ "atas dasar pengetahuan Kami." Yakni atas dasar pengetahuan dari Allah terha-dap keadaan para hamba di setiap waktu dan tempat, serta apa yang baik dan apa yang tidak baik bagi mereka. Perinciannya bukan perincian orang yang tidak memiliki pengetahuan terhadap per-kara-perkara, sehingga ia tidak mengetahui sebagian kondisi yang akibatnya dia mengeluarkan hukum yang tidak sesuai. Akan teta-pi ini adalah perincian Dzat yang IlmuNya meliputi segala sesuatu dan RahmatNya meliputi segala sesuatu, ﴾ هُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." Yakni dengan kitab ini orang-orang Mukmin mendapatkan hidayah dari kesesatan, penjelasan tentang yang haq dan yang batil, demikian juga penyimpangan dan kebenaran. Dengannya pula mereka juga mendapatkan rahmat, yaitu kebahagiaan dan kebaikan dunia dan akhirat, sehingga lenyaplah kesesatan dan kesengsaraan. (53) Orang-orang yang ditimpa azab itu tidak beriman ke-pada kitab yang agung ini, tidak pula tunduk kepada perintah dan larangannya, maka tidak ada alasan bagi mereka kecuali bahwa mereka berhak menerima apa yang diberitakan oleh al-Qur`an. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ هَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّا تَأۡوِيلَهُۥۚ ﴿ "Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) al-Qur`an itu." Yakni terjadinya apa yang diberitakannya seperti kata Nabi Yusuf عليه السلام manakala mimpinya terbukti, "Inilah tabir mimpiku yang dahulu itu." ﴾ يَوۡمَ يَأۡتِي تَأۡوِيلُهُۥ يَقُولُ ٱلَّذِينَ نَسُوهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Pada hari datangnya kebenaran pem-beritaan al-Qur`an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebe-lum itu," dalam keadaan menyesal dan bersedih atas apa yang telah berlalu, memohon syafa'at agar dosa-dosa mereka diampuni, me-ngakui apa yang diberitakan oleh para rasul, ﴾ قَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلۡحَقِّ فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَآءَ فَيَشۡفَعُواْ لَنَآ أَوۡ نُرَدُّ ﴿ "sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami membawa yang haq, maka adakah bagi kami pemberi syafa'at yang akan memberi syafa'at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan", ke dunia, ﴾ فَنَعۡمَلَ غَيۡرَ ٱلَّذِي كُنَّا نَعۡمَلُۚ ﴿ "sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?" Waktunya telah berlalu, tidak mungkin kem-bali ke dunia, dan syafa'at pemberi syafa'at tidaklah berguna bagi mereka. Permintaan agar mereka dikembalikan ke dunia untuk beramal dengan selain amal mereka yang dulu adalah dusta belaka, tujuan mereka hanya membela diri (untuk menghindari) dari apa yang menimpa mereka. ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 28 ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguh-nya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka." (Al-An'am: 28). ﴾ قَدۡ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendi-ri", di mana mereka menyia-nyiakan keberuntungan dan mengam-bil jalan kebinasaan. Hal itu tidak seperti kerugian harta, perkakas dan anak-anak, akan tetapi ini adalah kerugian yang tidak mungkin tergantikan. ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan", di dunia yang mereka harap-harapkan dan dijanjikan oleh setan, mereka melakukan apa yang tidak pernah mereka perhitungkan, dan teranglah kebatilan dan kesesatannya, serta terbukti dan benarlah apa yang dibawa oleh para rasul.

Al-A'raf 7:51

"Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, 'Limpahkan-lah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesung-guhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.' Maka pada hari (Kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (al-Qur`an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlak-sananya kebenaran) al-Qur`an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan al-Qur`an itu, berkatalah orang-orang yang melupa-kannya sebelum itu. 'Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami membawa yang haq, maka adakah bagi kami pemberi sya-fa'at yang akan memberi syafa'at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?' Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan." (Al-A'raf: 50-53). (50-52) Yakni penghuni neraka memanggil penduduk surga ketika mereka mendapatkan azab yang sangat pedih, dan ketika kelaparan yang sangat dan kehausan yang mencekik menerpa me-reka, mereka memanggil dan meminta tolong kepada penduduk surga. ﴾ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ ﴿ "Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu." Lalu pendu-duk surga menjawab, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا ﴿ "Sesungguhnya Allah telah meng-haramkan keduanya." Yakni air dan makanan surga ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Atas orang-orang kafir." Dan hal itu adalah sebagai balasan kepada me-reka atas kekufuran mereka kepada ayat-ayat Allah dan mereka menjadikan agama yang mereka diperintahkan agar teguh di atas-nya dan dijanjikan dengan balasan besar atasnya, ﴾ لَهۡوٗا وَلَعِبٗا ﴿ "sebagai main-main dan senda-gurau." Yakni hati mereka lalai darinya dan berpaling, mereka main-main dan menjadikannya sebagai bahan cemoohan, atau mereka mengganti agama mereka dengan main-main dan senda gurau. Mereka menukar agama yang lurus dengan itu. ﴾ وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kehidupan dunia telah menipu mereka", dengan perhiasannya, keindahannya, dan banyaknya propaganda-nya. Mereka cenderung kepadanya, rela dan berbahagia dengannya dan mereka lupa dan berpaling dari Akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰهُمۡ ﴿ "Maka pada Hari (Kiamat) ini, Kami melupakan mereka." Yakni Kami mem-biarkan mereka di dalam azab, ﴾ كَمَا نَسُواْ لِقَآءَ يَوۡمِهِمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini." Seolah-olah me-reka hanya diciptakan untuk dunia semata dan di belakang hari nanti tidak ada perhitungan dan balasan amal bagi mereka, ﴾ وَمَا كَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَجۡحَدُونَ ﴿ "dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami." Padahal pengingkaran mereka itu bukan karena keter-batasan pada ayat-ayat Allah dan kejelasannya, justru ﴾ جِئۡنَٰهُم بِكِتَٰبٖ فَصَّلۡنَٰهُ ﴿ "Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (al-Qur`an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya." Yakni Kami jelaskan padanya se-luruh tuntutan yang dibutuhkan oleh manusia ﴾ عَلَىٰ عِلۡمٍ ﴿ "atas dasar pengetahuan Kami." Yakni atas dasar pengetahuan dari Allah terha-dap keadaan para hamba di setiap waktu dan tempat, serta apa yang baik dan apa yang tidak baik bagi mereka. Perinciannya bukan perincian orang yang tidak memiliki pengetahuan terhadap per-kara-perkara, sehingga ia tidak mengetahui sebagian kondisi yang akibatnya dia mengeluarkan hukum yang tidak sesuai. Akan teta-pi ini adalah perincian Dzat yang IlmuNya meliputi segala sesuatu dan RahmatNya meliputi segala sesuatu, ﴾ هُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." Yakni dengan kitab ini orang-orang Mukmin mendapatkan hidayah dari kesesatan, penjelasan tentang yang haq dan yang batil, demikian juga penyimpangan dan kebenaran. Dengannya pula mereka juga mendapatkan rahmat, yaitu kebahagiaan dan kebaikan dunia dan akhirat, sehingga lenyaplah kesesatan dan kesengsaraan. (53) Orang-orang yang ditimpa azab itu tidak beriman ke-pada kitab yang agung ini, tidak pula tunduk kepada perintah dan larangannya, maka tidak ada alasan bagi mereka kecuali bahwa mereka berhak menerima apa yang diberitakan oleh al-Qur`an. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ هَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّا تَأۡوِيلَهُۥۚ ﴿ "Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) al-Qur`an itu." Yakni terjadinya apa yang diberitakannya seperti kata Nabi Yusuf عليه السلام manakala mimpinya terbukti, "Inilah tabir mimpiku yang dahulu itu." ﴾ يَوۡمَ يَأۡتِي تَأۡوِيلُهُۥ يَقُولُ ٱلَّذِينَ نَسُوهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Pada hari datangnya kebenaran pem-beritaan al-Qur`an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebe-lum itu," dalam keadaan menyesal dan bersedih atas apa yang telah berlalu, memohon syafa'at agar dosa-dosa mereka diampuni, me-ngakui apa yang diberitakan oleh para rasul, ﴾ قَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلۡحَقِّ فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَآءَ فَيَشۡفَعُواْ لَنَآ أَوۡ نُرَدُّ ﴿ "sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami membawa yang haq, maka adakah bagi kami pemberi syafa'at yang akan memberi syafa'at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan", ke dunia, ﴾ فَنَعۡمَلَ غَيۡرَ ٱلَّذِي كُنَّا نَعۡمَلُۚ ﴿ "sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?" Waktunya telah berlalu, tidak mungkin kem-bali ke dunia, dan syafa'at pemberi syafa'at tidaklah berguna bagi mereka. Permintaan agar mereka dikembalikan ke dunia untuk beramal dengan selain amal mereka yang dulu adalah dusta belaka, tujuan mereka hanya membela diri (untuk menghindari) dari apa yang menimpa mereka. ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 28 ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguh-nya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka." (Al-An'am: 28). ﴾ قَدۡ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendi-ri", di mana mereka menyia-nyiakan keberuntungan dan mengam-bil jalan kebinasaan. Hal itu tidak seperti kerugian harta, perkakas dan anak-anak, akan tetapi ini adalah kerugian yang tidak mungkin tergantikan. ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan", di dunia yang mereka harap-harapkan dan dijanjikan oleh setan, mereka melakukan apa yang tidak pernah mereka perhitungkan, dan teranglah kebatilan dan kesesatannya, serta terbukti dan benarlah apa yang dibawa oleh para rasul.

Al-A'raf 7:52

"Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, 'Limpahkan-lah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesung-guhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.' Maka pada hari (Kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (al-Qur`an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlak-sananya kebenaran) al-Qur`an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan al-Qur`an itu, berkatalah orang-orang yang melupa-kannya sebelum itu. 'Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami membawa yang haq, maka adakah bagi kami pemberi sya-fa'at yang akan memberi syafa'at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?' Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan." (Al-A'raf: 50-53). (50-52) Yakni penghuni neraka memanggil penduduk surga ketika mereka mendapatkan azab yang sangat pedih, dan ketika kelaparan yang sangat dan kehausan yang mencekik menerpa me-reka, mereka memanggil dan meminta tolong kepada penduduk surga. ﴾ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ ﴿ "Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu." Lalu pendu-duk surga menjawab, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا ﴿ "Sesungguhnya Allah telah meng-haramkan keduanya." Yakni air dan makanan surga ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Atas orang-orang kafir." Dan hal itu adalah sebagai balasan kepada me-reka atas kekufuran mereka kepada ayat-ayat Allah dan mereka menjadikan agama yang mereka diperintahkan agar teguh di atas-nya dan dijanjikan dengan balasan besar atasnya, ﴾ لَهۡوٗا وَلَعِبٗا ﴿ "sebagai main-main dan senda-gurau." Yakni hati mereka lalai darinya dan berpaling, mereka main-main dan menjadikannya sebagai bahan cemoohan, atau mereka mengganti agama mereka dengan main-main dan senda gurau. Mereka menukar agama yang lurus dengan itu. ﴾ وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kehidupan dunia telah menipu mereka", dengan perhiasannya, keindahannya, dan banyaknya propaganda-nya. Mereka cenderung kepadanya, rela dan berbahagia dengannya dan mereka lupa dan berpaling dari Akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰهُمۡ ﴿ "Maka pada Hari (Kiamat) ini, Kami melupakan mereka." Yakni Kami mem-biarkan mereka di dalam azab, ﴾ كَمَا نَسُواْ لِقَآءَ يَوۡمِهِمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini." Seolah-olah me-reka hanya diciptakan untuk dunia semata dan di belakang hari nanti tidak ada perhitungan dan balasan amal bagi mereka, ﴾ وَمَا كَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَجۡحَدُونَ ﴿ "dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami." Padahal pengingkaran mereka itu bukan karena keter-batasan pada ayat-ayat Allah dan kejelasannya, justru ﴾ جِئۡنَٰهُم بِكِتَٰبٖ فَصَّلۡنَٰهُ ﴿ "Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (al-Qur`an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya." Yakni Kami jelaskan padanya se-luruh tuntutan yang dibutuhkan oleh manusia ﴾ عَلَىٰ عِلۡمٍ ﴿ "atas dasar pengetahuan Kami." Yakni atas dasar pengetahuan dari Allah terha-dap keadaan para hamba di setiap waktu dan tempat, serta apa yang baik dan apa yang tidak baik bagi mereka. Perinciannya bukan perincian orang yang tidak memiliki pengetahuan terhadap per-kara-perkara, sehingga ia tidak mengetahui sebagian kondisi yang akibatnya dia mengeluarkan hukum yang tidak sesuai. Akan teta-pi ini adalah perincian Dzat yang IlmuNya meliputi segala sesuatu dan RahmatNya meliputi segala sesuatu, ﴾ هُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." Yakni dengan kitab ini orang-orang Mukmin mendapatkan hidayah dari kesesatan, penjelasan tentang yang haq dan yang batil, demikian juga penyimpangan dan kebenaran. Dengannya pula mereka juga mendapatkan rahmat, yaitu kebahagiaan dan kebaikan dunia dan akhirat, sehingga lenyaplah kesesatan dan kesengsaraan. (53) Orang-orang yang ditimpa azab itu tidak beriman ke-pada kitab yang agung ini, tidak pula tunduk kepada perintah dan larangannya, maka tidak ada alasan bagi mereka kecuali bahwa mereka berhak menerima apa yang diberitakan oleh al-Qur`an. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ هَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّا تَأۡوِيلَهُۥۚ ﴿ "Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) al-Qur`an itu." Yakni terjadinya apa yang diberitakannya seperti kata Nabi Yusuf عليه السلام manakala mimpinya terbukti, "Inilah tabir mimpiku yang dahulu itu." ﴾ يَوۡمَ يَأۡتِي تَأۡوِيلُهُۥ يَقُولُ ٱلَّذِينَ نَسُوهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Pada hari datangnya kebenaran pem-beritaan al-Qur`an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebe-lum itu," dalam keadaan menyesal dan bersedih atas apa yang telah berlalu, memohon syafa'at agar dosa-dosa mereka diampuni, me-ngakui apa yang diberitakan oleh para rasul, ﴾ قَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلۡحَقِّ فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَآءَ فَيَشۡفَعُواْ لَنَآ أَوۡ نُرَدُّ ﴿ "sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami membawa yang haq, maka adakah bagi kami pemberi syafa'at yang akan memberi syafa'at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan", ke dunia, ﴾ فَنَعۡمَلَ غَيۡرَ ٱلَّذِي كُنَّا نَعۡمَلُۚ ﴿ "sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?" Waktunya telah berlalu, tidak mungkin kem-bali ke dunia, dan syafa'at pemberi syafa'at tidaklah berguna bagi mereka. Permintaan agar mereka dikembalikan ke dunia untuk beramal dengan selain amal mereka yang dulu adalah dusta belaka, tujuan mereka hanya membela diri (untuk menghindari) dari apa yang menimpa mereka. ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 28 ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguh-nya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka." (Al-An'am: 28). ﴾ قَدۡ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendi-ri", di mana mereka menyia-nyiakan keberuntungan dan mengam-bil jalan kebinasaan. Hal itu tidak seperti kerugian harta, perkakas dan anak-anak, akan tetapi ini adalah kerugian yang tidak mungkin tergantikan. ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan", di dunia yang mereka harap-harapkan dan dijanjikan oleh setan, mereka melakukan apa yang tidak pernah mereka perhitungkan, dan teranglah kebatilan dan kesesatannya, serta terbukti dan benarlah apa yang dibawa oleh para rasul.

Al-A'raf 7:53

"Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, 'Limpahkan-lah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesung-guhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.' Maka pada hari (Kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (al-Qur`an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlak-sananya kebenaran) al-Qur`an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan al-Qur`an itu, berkatalah orang-orang yang melupa-kannya sebelum itu. 'Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami membawa yang haq, maka adakah bagi kami pemberi sya-fa'at yang akan memberi syafa'at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?' Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan." (Al-A'raf: 50-53). (50-52) Yakni penghuni neraka memanggil penduduk surga ketika mereka mendapatkan azab yang sangat pedih, dan ketika kelaparan yang sangat dan kehausan yang mencekik menerpa me-reka, mereka memanggil dan meminta tolong kepada penduduk surga. ﴾ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ ﴿ "Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu." Lalu pendu-duk surga menjawab, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا ﴿ "Sesungguhnya Allah telah meng-haramkan keduanya." Yakni air dan makanan surga ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Atas orang-orang kafir." Dan hal itu adalah sebagai balasan kepada me-reka atas kekufuran mereka kepada ayat-ayat Allah dan mereka menjadikan agama yang mereka diperintahkan agar teguh di atas-nya dan dijanjikan dengan balasan besar atasnya, ﴾ لَهۡوٗا وَلَعِبٗا ﴿ "sebagai main-main dan senda-gurau." Yakni hati mereka lalai darinya dan berpaling, mereka main-main dan menjadikannya sebagai bahan cemoohan, atau mereka mengganti agama mereka dengan main-main dan senda gurau. Mereka menukar agama yang lurus dengan itu. ﴾ وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kehidupan dunia telah menipu mereka", dengan perhiasannya, keindahannya, dan banyaknya propaganda-nya. Mereka cenderung kepadanya, rela dan berbahagia dengannya dan mereka lupa dan berpaling dari Akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰهُمۡ ﴿ "Maka pada Hari (Kiamat) ini, Kami melupakan mereka." Yakni Kami mem-biarkan mereka di dalam azab, ﴾ كَمَا نَسُواْ لِقَآءَ يَوۡمِهِمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini." Seolah-olah me-reka hanya diciptakan untuk dunia semata dan di belakang hari nanti tidak ada perhitungan dan balasan amal bagi mereka, ﴾ وَمَا كَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَجۡحَدُونَ ﴿ "dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami." Padahal pengingkaran mereka itu bukan karena keter-batasan pada ayat-ayat Allah dan kejelasannya, justru ﴾ جِئۡنَٰهُم بِكِتَٰبٖ فَصَّلۡنَٰهُ ﴿ "Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (al-Qur`an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya." Yakni Kami jelaskan padanya se-luruh tuntutan yang dibutuhkan oleh manusia ﴾ عَلَىٰ عِلۡمٍ ﴿ "atas dasar pengetahuan Kami." Yakni atas dasar pengetahuan dari Allah terha-dap keadaan para hamba di setiap waktu dan tempat, serta apa yang baik dan apa yang tidak baik bagi mereka. Perinciannya bukan perincian orang yang tidak memiliki pengetahuan terhadap per-kara-perkara, sehingga ia tidak mengetahui sebagian kondisi yang akibatnya dia mengeluarkan hukum yang tidak sesuai. Akan teta-pi ini adalah perincian Dzat yang IlmuNya meliputi segala sesuatu dan RahmatNya meliputi segala sesuatu, ﴾ هُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." Yakni dengan kitab ini orang-orang Mukmin mendapatkan hidayah dari kesesatan, penjelasan tentang yang haq dan yang batil, demikian juga penyimpangan dan kebenaran. Dengannya pula mereka juga mendapatkan rahmat, yaitu kebahagiaan dan kebaikan dunia dan akhirat, sehingga lenyaplah kesesatan dan kesengsaraan. (53) Orang-orang yang ditimpa azab itu tidak beriman ke-pada kitab yang agung ini, tidak pula tunduk kepada perintah dan larangannya, maka tidak ada alasan bagi mereka kecuali bahwa mereka berhak menerima apa yang diberitakan oleh al-Qur`an. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ هَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّا تَأۡوِيلَهُۥۚ ﴿ "Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) al-Qur`an itu." Yakni terjadinya apa yang diberitakannya seperti kata Nabi Yusuf عليه السلام manakala mimpinya terbukti, "Inilah tabir mimpiku yang dahulu itu." ﴾ يَوۡمَ يَأۡتِي تَأۡوِيلُهُۥ يَقُولُ ٱلَّذِينَ نَسُوهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Pada hari datangnya kebenaran pem-beritaan al-Qur`an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebe-lum itu," dalam keadaan menyesal dan bersedih atas apa yang telah berlalu, memohon syafa'at agar dosa-dosa mereka diampuni, me-ngakui apa yang diberitakan oleh para rasul, ﴾ قَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلۡحَقِّ فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَآءَ فَيَشۡفَعُواْ لَنَآ أَوۡ نُرَدُّ ﴿ "sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami membawa yang haq, maka adakah bagi kami pemberi syafa'at yang akan memberi syafa'at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan", ke dunia, ﴾ فَنَعۡمَلَ غَيۡرَ ٱلَّذِي كُنَّا نَعۡمَلُۚ ﴿ "sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?" Waktunya telah berlalu, tidak mungkin kem-bali ke dunia, dan syafa'at pemberi syafa'at tidaklah berguna bagi mereka. Permintaan agar mereka dikembalikan ke dunia untuk beramal dengan selain amal mereka yang dulu adalah dusta belaka, tujuan mereka hanya membela diri (untuk menghindari) dari apa yang menimpa mereka. ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 28 ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguh-nya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka." (Al-An'am: 28). ﴾ قَدۡ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendi-ri", di mana mereka menyia-nyiakan keberuntungan dan mengam-bil jalan kebinasaan. Hal itu tidak seperti kerugian harta, perkakas dan anak-anak, akan tetapi ini adalah kerugian yang tidak mungkin tergantikan. ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan", di dunia yang mereka harap-harapkan dan dijanjikan oleh setan, mereka melakukan apa yang tidak pernah mereka perhitungkan, dan teranglah kebatilan dan kesesatannya, serta terbukti dan benarlah apa yang dibawa oleh para rasul.

Al-A'raf 7:54

"Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah mencip-takan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengiku-tinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Ma-hasuci Allah, Rabb semesta alam." (Al-A'raf: 54). (54) Allah تعالى menetapkan bahwa Dia-lah satu-satunya Rabb yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya. ﴾ إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi," dan apa yang ada pada keduanya dengan kebesaran, keluasan, kekuatan dan kecanggihan langit dan bumi, ditambah penciptaan keduanya yang unik, ﴾ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ﴿ "dalam enam masa", dimulai dari Hari Ahad dan diakhiri Hari Jum'at. Ketika Dia telah menyelesaikan keduanya, dan Dia letakkan berbagai hal pada kedua-nya. ﴾ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "Lalu Dia bersemayam di atas Arasy", yang agung yang luasnya mampu mencakup langit dan bumi, apa yang ada padanya, dan apa yang ada di antara keduanya. Dia bersemayam sesuai dengan kebesaran, keagungan dan kemahakuasaanNya. Dia bersemayam di atas Arasy, Menguasai kerajaanNya, Mengatur makhlukNya dan memperlakukan kepada mereka hukum-hukum-Nya, baik kauniyah maupun diniyah, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ﴿ "Dia menutupkan malam", yang gelap ﴾ ٱلنَّهَارَ ﴿ "kepada siang", yang terang. Malam menutupi apa yang ada di permukaan bumi, manusia beristirahat, para makhluk pulang ke tempat tinggalnya, mereka beristirahat dari aktivitas harian yang mereka lakukan di siang hari. ﴾ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثٗا ﴿ "Yang mengikutinya dengan cepat", setiap kali malam datang, maka siang pun berlalu, setiap kali siang datang maka malam pun berlalu. Begitulah terus menerus sampai Allah menutup alam ini dan para hamba berpindah dari alam ini, ke alam yang lain. ﴾ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتِۭ بِأَمۡرِهِۦٓۗ ﴿ "Dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya." Yakni dengan pengaturanNya yang menunjukkan kesempurnaan sifat-sifatNya, Dia menciptakan dan mengagungkannya yang me-nunjukkan akan kesempurnaan KuasaNya. Kekuatan, dan kecang-gihan yang ada padanya membuktikan kesempurnaan hikmahNya. Dan berbagai manfaat dan maslahat yang ada padanya membukti-kan keluasan RahmatNya. Itu semua adalah bukti keluasan ilmu-Nya, dan bahwa Dia-lah Tuhan yang haq, hanya Dia-lah yang ber-hak untuk di ibadahi. ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah." Yakni, Dia adalah pemilik hak mencipta yang dari pen-ciptaan itulah semua makhluk ini menjadi ada; baik yang di atas, yang di bawah, dzatnya, sifatnya, perbuatannya, dan perintah yang meliputi syariat dan kenabian. Hak penciptaan mencakup hukum-hukumNya yang kauniyah dan qadariyah, sementara hak memerin-tah mencakup hukum-hukumNya yang diniyah syar'iyah dan sete-rusnya adalah hukum pembalasan dan hal itu di alam kekekalan (akhirat). ﴾ تَبَارَكَ ٱللَّهُ ﴿ "Mahasuci Allah." Yakni, Allah Mahaagung, Maha-tinggi kebaikanNya, Mahabanyak kebaikanNya, Mahasuci Allah pada diriNya karena keagungan dan kesempurnaan sifatNya. Dia memberkahi makhlukNya dengan melimpahkan kebaikan yang be-sar dan banyak. Semua berkah alam ini adalah berkat RahmatNya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Mahasuci Allah Rabb semesta alam." Manakala Allah menjelaskan kebesaran dan keagunganNya yang memberikan bukti pada para pemilik akal bahwa hanya Dia Rabb yang berhak disembah dan yang dituju dalam segala kebutuh-an, maka Dia memerintahkan apa yang menjadi konsekuensinya. Dia berfirman.

Al-A'raf 7:55

"Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat keru-sakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya, dan ber-doalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al-A'raf: 55-56). (55) Doa meliputi doa permohonan dan doa ibadah. Dia memerintahkan kita untuk berdoa kepadaNya, ﴾ تَضَرُّعٗا ﴿ "dengan be-rendah diri." Yakni terus menerus dalam memohon dan ulet dalam beribadah, ﴾ وَخُفۡيَةًۚ ﴿ "dan suara yang lembut." Yakni tidak keras dan terang-terangan yang ditakutkan timbul riya'. Akan tetapi dengan lembut dan ikhlas kepadaNya تعالى. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." Yaitu orang-orang yang melampaui batas dalam segala urusan, termasuk di da-lamnya adalah permintaan seorang hamba kepada Allah terhadap sesuatu yang tidak layak, atau terlalu berlebihan dalam menfasih-fasihkan kalimat doa, atau berlebih-lebihan dalam mengeraskan doanya. Semua itu termasuk dalam sikap berlebih-lebihan yang di-larang. (56) ﴾ وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi", dengan kemaksiatan ﴾ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَا ﴿ "sesudah (Allah) memperbaikinya," dengan ketaatan, karena kemaksiatan dapat me-rusak akhlak, amal, dan rizki, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ ﴿ "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia." (Ar-Rum: 41). Sebagaimana akhlak, amal, rizki, keadaan dunia dan akhirat menjadi baik dengan ketaatan. ﴾ وَٱدۡعُوهُ خَوۡفٗا وَطَمَعًاۚ ﴿ "Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabul-kan)." Yakni takut kepada azabNya dan berharap pahalaNya, ber-harap diterima dan takut ditolak, bukan doa seorang hamba yang lancang kepada Rabbnya yang mengagumi dirinya dan menduduk-kannya di atas kedudukan yang semestinya, atau doa dari hamba yang lupa dan lalai. Kesimpulan dari adab doa yang Allah sebutkan adalah, hen-daknya doa itu diikhlaskan hanya kepada Allah semata, karena hal itu merupakan sikap merendahkan suara, memelankan dan mera-hasiakannya. Hendaknya hati kita ketika berdoa adalah hati yang takut nan penuh berharap, bukan hati yang lalai, merasa yakin pasti diterima, atau tidak peduli doa itu dikabulkan atau tidak. Ini adalah termasuk berbuat baik dalam doa, karena berbuat baik da-lam ibadah adalah mengerahkan usaha padanya dan menunaikan-nya dengan sempurna, tidak ada kekurangan sedikit pun. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik", dalam beribadah kepada Allah, berbuat baik kepada hamba-hamba Allah. Semakin banyak seorang hamba berbuat baik, maka dia semakin dekat kepada rahmat Allah, dan Allah pun dekat kepadanya de-ngan RahmatNya. Ini adalah dorongan kepada berbuat baik yang sangat jelas.

Al-A'raf 7:56

"Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat keru-sakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya, dan ber-doalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al-A'raf: 55-56). (55) Doa meliputi doa permohonan dan doa ibadah. Dia memerintahkan kita untuk berdoa kepadaNya, ﴾ تَضَرُّعٗا ﴿ "dengan be-rendah diri." Yakni terus menerus dalam memohon dan ulet dalam beribadah, ﴾ وَخُفۡيَةًۚ ﴿ "dan suara yang lembut." Yakni tidak keras dan terang-terangan yang ditakutkan timbul riya'. Akan tetapi dengan lembut dan ikhlas kepadaNya تعالى. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." Yaitu orang-orang yang melampaui batas dalam segala urusan, termasuk di da-lamnya adalah permintaan seorang hamba kepada Allah terhadap sesuatu yang tidak layak, atau terlalu berlebihan dalam menfasih-fasihkan kalimat doa, atau berlebih-lebihan dalam mengeraskan doanya. Semua itu termasuk dalam sikap berlebih-lebihan yang di-larang. (56) ﴾ وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi", dengan kemaksiatan ﴾ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَا ﴿ "sesudah (Allah) memperbaikinya," dengan ketaatan, karena kemaksiatan dapat me-rusak akhlak, amal, dan rizki, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ ﴿ "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia." (Ar-Rum: 41). Sebagaimana akhlak, amal, rizki, keadaan dunia dan akhirat menjadi baik dengan ketaatan. ﴾ وَٱدۡعُوهُ خَوۡفٗا وَطَمَعًاۚ ﴿ "Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabul-kan)." Yakni takut kepada azabNya dan berharap pahalaNya, ber-harap diterima dan takut ditolak, bukan doa seorang hamba yang lancang kepada Rabbnya yang mengagumi dirinya dan menduduk-kannya di atas kedudukan yang semestinya, atau doa dari hamba yang lupa dan lalai. Kesimpulan dari adab doa yang Allah sebutkan adalah, hen-daknya doa itu diikhlaskan hanya kepada Allah semata, karena hal itu merupakan sikap merendahkan suara, memelankan dan mera-hasiakannya. Hendaknya hati kita ketika berdoa adalah hati yang takut nan penuh berharap, bukan hati yang lalai, merasa yakin pasti diterima, atau tidak peduli doa itu dikabulkan atau tidak. Ini adalah termasuk berbuat baik dalam doa, karena berbuat baik da-lam ibadah adalah mengerahkan usaha padanya dan menunaikan-nya dengan sempurna, tidak ada kekurangan sedikit pun. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik", dalam beribadah kepada Allah, berbuat baik kepada hamba-hamba Allah. Semakin banyak seorang hamba berbuat baik, maka dia semakin dekat kepada rahmat Allah, dan Allah pun dekat kepadanya de-ngan RahmatNya. Ini adalah dorongan kepada berbuat baik yang sangat jelas.

Al-A'raf 7:57

"Dan Dia-lah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan RahmatNya (hujan), hingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanam-tanamannya hanya tumbuh merana. De-mikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur." (Al-A'raf: 57-58). (57) Allah تعالى menjelaskan salah satu bukti kuasaNya dan salah satu bentuk karuniaNya. Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ بُشۡرَۢا بَيۡنَ يَدَيۡ رَحۡمَتِهِۦۖ ﴿ "Dan Dia-lah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan RahmatNya (hujan)." Yakni angin yang membawa hujan, yang memicu hujan dari bumi dengan izin Allah, maka makhluk bersuka cita dengan rahmat Allah dan hati mereka menjadi tenang sebelum ia turun. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَقَلَّتۡ سَحَابٗا ثِقَالٗا ﴿ "Hingga apabila angin itu membawa awan mendung." Sebagian darinya meniupnya, lalu ia bertemu dengan angin yang lain, dan bersatu dengan angin yang lain lagi. ﴾ سُقۡنَٰهُ لِبَلَدٖ مَّيِّتٖ ﴿ "Kami halau ke suatu daerah yang tandus", hewan-hewannya hampir mati dan penduduknya hampir berputus asa dari rahmat Allah. ﴾ فَأَنزَلۡنَا بِهِ ﴿ "Lalu Kami turunkan", pada daerah yang tandus itu ﴾ ٱلۡمَآءَ ﴿ "hujan" yang deras dari awan itu. Allah me-ngirimkan angin yang mengucurkannya dan angin yang meratakan-nya dengan izin Allah, lalu Kami tumbuhkan dengannya tumbuh-tumbuhan, maka mereka bersuka cita dengan rahmat Allah, dan menikmati kebaikan Allah. FirmanNya, ﴾ كَذَٰلِكَ نُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran." Yakni, sebagaimana Kami hidupkan bumi setelah ia mati dengan tumbuh-tumbuhan, maka begitu pula Kami mengeluarkan orang-orang mati dari kubur mereka setelah sebe-lumnya mereka adalah tulang belulang yang tercecer. Ini adalah argumen yang sangat jelas, karena di antara kedua perkara tersebut tidak ada perbedaan. Orang yang mengingkari Hari Kebangkitan karena menurutnya mustahil, padahal dia melihat hal yang sama dengannya adalah orang yang sombong yang mengingkari hal-hal kongkrit. Ini mengandung dorongan untuk merenungkan dan me-mikirkan nikmat-nikmat Allah dengan mata yang dapat mengambil pelajaran dan ibrah, bukan mata yang penuh dengan kelalaian dan kelengahan.

Al-A'raf 7:58

"Dan Dia-lah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan RahmatNya (hujan), hingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanam-tanamannya hanya tumbuh merana. De-mikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur." (Al-A'raf: 57-58). (57) Allah تعالى menjelaskan salah satu bukti kuasaNya dan salah satu bentuk karuniaNya. Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ بُشۡرَۢا بَيۡنَ يَدَيۡ رَحۡمَتِهِۦۖ ﴿ "Dan Dia-lah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan RahmatNya (hujan)." Yakni angin yang membawa hujan, yang memicu hujan dari bumi dengan izin Allah, maka makhluk bersuka cita dengan rahmat Allah dan hati mereka menjadi tenang sebelum ia turun. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَقَلَّتۡ سَحَابٗا ثِقَالٗا ﴿ "Hingga apabila angin itu membawa awan mendung." Sebagian darinya meniupnya, lalu ia bertemu dengan angin yang lain, dan bersatu dengan angin yang lain lagi. ﴾ سُقۡنَٰهُ لِبَلَدٖ مَّيِّتٖ ﴿ "Kami halau ke suatu daerah yang tandus", hewan-hewannya hampir mati dan penduduknya hampir berputus asa dari rahmat Allah. ﴾ فَأَنزَلۡنَا بِهِ ﴿ "Lalu Kami turunkan", pada daerah yang tandus itu ﴾ ٱلۡمَآءَ ﴿ "hujan" yang deras dari awan itu. Allah me-ngirimkan angin yang mengucurkannya dan angin yang meratakan-nya dengan izin Allah, lalu Kami tumbuhkan dengannya tumbuh-tumbuhan, maka mereka bersuka cita dengan rahmat Allah, dan menikmati kebaikan Allah. FirmanNya, ﴾ كَذَٰلِكَ نُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran." Yakni, sebagaimana Kami hidupkan bumi setelah ia mati dengan tumbuh-tumbuhan, maka begitu pula Kami mengeluarkan orang-orang mati dari kubur mereka setelah sebe-lumnya mereka adalah tulang belulang yang tercecer. Ini adalah argumen yang sangat jelas, karena di antara kedua perkara tersebut tidak ada perbedaan. Orang yang mengingkari Hari Kebangkitan karena menurutnya mustahil, padahal dia melihat hal yang sama dengannya adalah orang yang sombong yang mengingkari hal-hal kongkrit. Ini mengandung dorongan untuk merenungkan dan me-mikirkan nikmat-nikmat Allah dengan mata yang dapat mengambil pelajaran dan ibrah, bukan mata yang penuh dengan kelalaian dan kelengahan.

Al-A'raf 7:59

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, 'Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya.' Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat)." (Al-A'raf: 59). "Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.' Nuh menjawab, 'Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun, tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat ke-padamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ke-tahui. Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepada-mu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu men-dapat rahmat.' Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bah-tera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)."(Al-'Araf: 60-64). (59) Allah تعالى berfirman tentang Nuh, Rasul pertama, ﴾ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaum-nya." Dia mengajak mereka supaya beribadah kepada Allah semata manakala mereka menyembah berhala-berhala. ﴾ فَقَالَ ﴿ "Lalu ia ber-kata", kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "wahai kaumku sembahlah Allah." Yakni tauhidkanlah Dia. ﴾ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ ﴿ "Sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya," karena Dia adalah Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur segala sesuatu, sedangkan selainNya adalah makhluk yang diatur yang tidak memiliki perkara sedikit pun. Kemudian dia menakut-nakuti mereka dengan azab Allah jika mereka tidak menaatinya, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya (kalau kamu ti-dak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat)." Ini termasuk kepedulian dan kasih sayang Nuh kepada kaumnya, di mana dia mengkhawatirkan azab dan kesengsaraan abadi menimpa mereka, sama seperti saudara-saudaranya para rasul yang lain yang menyayangi manusia melebihi kasih sayang bapak ibu mereka. (60) Manakala Nuh mengatakan itu kepada mereka, mereka menjawabnya dengan jawaban terburuk, ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata." Yakni orang-orang kaya, para pemim-pin yang diikuti yang telah terbiasa menyombongkan diri di depan kebenaran dan pembangkangan kepada para rasul, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata." Mereka tidak merasa cukup –semoga Allah menjelek-kan mereka– hanya dengan pembangkangan. Bahkan lebih dari itu, mereka menyombongkan diri dari tunduk kepadanya. Mereka men-celanya dengan celaan yang paling pedas. Mereka menisbatkannya kepada kesesatan. Tidak sebatas sesat, lebih dari itu mereka menya-takannya dengan kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa pun. Ini termasuk bentuk kesombongan diri yang paling besar yang tidak akan dilakukan oleh orang yang paling lemah akalnya sekalipun. Justru kriteria ini pas benar untuk kaum Nuh, yang mendatangi berhala-berhala yang mereka bikin dan mereka bentuk dengan tangan mereka dari benda mati yang tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat dan tidak berguna sedikit pun, tetapi mereka mem-posisikannya sebagai pencipta langit. Kepada berhala-berhala itu mereka memberikan berbagai macam ibadah. Sekiranya mereka tidak memiliki akal yang dengannya hujjah Allah tegak atas mereka, niscaya mereka dinyatakan lebih sesat daripada orang-orang gila. Justru orang-orang gila itu lebih berakal dan lebih mendapatkan petunjuk daripada mereka. (61-62) Nuh menjawab dengan halus, dia bersikap lemah lembut dengan harapan mereka akan tunduk. Nuh berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي ضَلَٰلَةٞ ﴿ "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun." Yakni aku bukanlah orang yang sesat dalam satu persoalan pun. Akan tetapi aku hanyalah pemberi petunjuk yang diberi petunjuk. Hida-yahnya adalah seperti hidayah saudara-saudaranya para rasul ulul azmi, hidayah tertinggi, terlengkap dan tersempurna. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam." Yakni Rabbku, Rabbmu dan Rabb seluruh makh-luk, yang mendidik seluruh makhluk dengan segala bentuk pendi-dikan, di mana salah satu pendidikanNya yang paling agung adalah bahwa Dia mengutus para rasul kepada hamba-hambaNya yang mengajak mereka kepada amal shalih, akhlak yang mulia dan aki-dah yang lurus, dan melarang dari yang sebaliknya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمۡ ﴿ "Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat kepadamu."Yakni tu-gasku adalah menyampaikan kepadamu dengan menjelaskan tauhid kepadaNya, perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, se-mata-mata karena dasar kasih sayang dan memberi nasihat. ﴾ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui." Yang mengharuskanmu menaatiku dan tunduk kepada perintahku jika kamu mengetahui. (63) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ ﴿ "Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu." Yakni bagai-mana kamu merasa heran terhadap sesuatu yang tidak perlu dihe-rankan, yakni peringatan, nasihat dan petuah datang kepadamu melalui tangan seorang laki-laki darimu, di mana kamu mengetahui hakikatnya, kejujurannya dan keadaannya. Keadaan ini termasuk perhatian Allah kepadamu dan kebaikanNya yang semestinya di-sambut dengan penerimaan dan rasa syukur. ﴾ لِيُنذِرَكُمۡ وَلِتَتَّقُواْ وَلَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "Agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?" Yakni agar dia memberi peringatan kepadamu dari azab yang pe-dih, kemudian kamu melakukan sebab-sebab keselamatan berupa takwa kepada Allah, lahir dan batin. Dengan itu mereka meraih se-bab-sebab itu dan rahmat Allah yang luas pun turun kepada mereka. (64) Ajakan Nuh tidak mereka terima.﴾ فَكَذَّبُوهُ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera." Yakni perahu yang dibuat oleh Nuh atas perintah Allah, dan Dia mewahyukan kepadanya agar membawa dari masing-masing sepasang binatang dan membawa pula keluarganya dan orang-orang yang beriman bersamanya, maka Nuh membawa mereka dan Allah menyelamat-kan mereka dengan perahu tersebut. ﴾ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمًا عَمِينَ ﴿ "Dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)", dari hidayah. Mereka melihat kebenaran dan Allah telah memper-lihatkan tanda-tandaNya yang jelas melalui Nuh yang dengannya orang-orang yang berakal beriman kepadanya, tetapi mereka men-cemooh, menghina, dan kufur kepadanya.

Al-A'raf 7:60

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, 'Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya.' Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat)." (Al-A'raf: 59). "Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.' Nuh menjawab, 'Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun, tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat ke-padamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ke-tahui. Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepada-mu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu men-dapat rahmat.' Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bah-tera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)."(Al-'Araf: 60-64). (59) Allah تعالى berfirman tentang Nuh, Rasul pertama, ﴾ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaum-nya." Dia mengajak mereka supaya beribadah kepada Allah semata manakala mereka menyembah berhala-berhala. ﴾ فَقَالَ ﴿ "Lalu ia ber-kata", kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "wahai kaumku sembahlah Allah." Yakni tauhidkanlah Dia. ﴾ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ ﴿ "Sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya," karena Dia adalah Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur segala sesuatu, sedangkan selainNya adalah makhluk yang diatur yang tidak memiliki perkara sedikit pun. Kemudian dia menakut-nakuti mereka dengan azab Allah jika mereka tidak menaatinya, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya (kalau kamu ti-dak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat)." Ini termasuk kepedulian dan kasih sayang Nuh kepada kaumnya, di mana dia mengkhawatirkan azab dan kesengsaraan abadi menimpa mereka, sama seperti saudara-saudaranya para rasul yang lain yang menyayangi manusia melebihi kasih sayang bapak ibu mereka. (60) Manakala Nuh mengatakan itu kepada mereka, mereka menjawabnya dengan jawaban terburuk, ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata." Yakni orang-orang kaya, para pemim-pin yang diikuti yang telah terbiasa menyombongkan diri di depan kebenaran dan pembangkangan kepada para rasul, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata." Mereka tidak merasa cukup –semoga Allah menjelek-kan mereka– hanya dengan pembangkangan. Bahkan lebih dari itu, mereka menyombongkan diri dari tunduk kepadanya. Mereka men-celanya dengan celaan yang paling pedas. Mereka menisbatkannya kepada kesesatan. Tidak sebatas sesat, lebih dari itu mereka menya-takannya dengan kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa pun. Ini termasuk bentuk kesombongan diri yang paling besar yang tidak akan dilakukan oleh orang yang paling lemah akalnya sekalipun. Justru kriteria ini pas benar untuk kaum Nuh, yang mendatangi berhala-berhala yang mereka bikin dan mereka bentuk dengan tangan mereka dari benda mati yang tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat dan tidak berguna sedikit pun, tetapi mereka mem-posisikannya sebagai pencipta langit. Kepada berhala-berhala itu mereka memberikan berbagai macam ibadah. Sekiranya mereka tidak memiliki akal yang dengannya hujjah Allah tegak atas mereka, niscaya mereka dinyatakan lebih sesat daripada orang-orang gila. Justru orang-orang gila itu lebih berakal dan lebih mendapatkan petunjuk daripada mereka. (61-62) Nuh menjawab dengan halus, dia bersikap lemah lembut dengan harapan mereka akan tunduk. Nuh berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي ضَلَٰلَةٞ ﴿ "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun." Yakni aku bukanlah orang yang sesat dalam satu persoalan pun. Akan tetapi aku hanyalah pemberi petunjuk yang diberi petunjuk. Hida-yahnya adalah seperti hidayah saudara-saudaranya para rasul ulul azmi, hidayah tertinggi, terlengkap dan tersempurna. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam." Yakni Rabbku, Rabbmu dan Rabb seluruh makh-luk, yang mendidik seluruh makhluk dengan segala bentuk pendi-dikan, di mana salah satu pendidikanNya yang paling agung adalah bahwa Dia mengutus para rasul kepada hamba-hambaNya yang mengajak mereka kepada amal shalih, akhlak yang mulia dan aki-dah yang lurus, dan melarang dari yang sebaliknya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمۡ ﴿ "Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat kepadamu."Yakni tu-gasku adalah menyampaikan kepadamu dengan menjelaskan tauhid kepadaNya, perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, se-mata-mata karena dasar kasih sayang dan memberi nasihat. ﴾ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui." Yang mengharuskanmu menaatiku dan tunduk kepada perintahku jika kamu mengetahui. (63) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ ﴿ "Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu." Yakni bagai-mana kamu merasa heran terhadap sesuatu yang tidak perlu dihe-rankan, yakni peringatan, nasihat dan petuah datang kepadamu melalui tangan seorang laki-laki darimu, di mana kamu mengetahui hakikatnya, kejujurannya dan keadaannya. Keadaan ini termasuk perhatian Allah kepadamu dan kebaikanNya yang semestinya di-sambut dengan penerimaan dan rasa syukur. ﴾ لِيُنذِرَكُمۡ وَلِتَتَّقُواْ وَلَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "Agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?" Yakni agar dia memberi peringatan kepadamu dari azab yang pe-dih, kemudian kamu melakukan sebab-sebab keselamatan berupa takwa kepada Allah, lahir dan batin. Dengan itu mereka meraih se-bab-sebab itu dan rahmat Allah yang luas pun turun kepada mereka. (64) Ajakan Nuh tidak mereka terima.﴾ فَكَذَّبُوهُ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera." Yakni perahu yang dibuat oleh Nuh atas perintah Allah, dan Dia mewahyukan kepadanya agar membawa dari masing-masing sepasang binatang dan membawa pula keluarganya dan orang-orang yang beriman bersamanya, maka Nuh membawa mereka dan Allah menyelamat-kan mereka dengan perahu tersebut. ﴾ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمًا عَمِينَ ﴿ "Dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)", dari hidayah. Mereka melihat kebenaran dan Allah telah memper-lihatkan tanda-tandaNya yang jelas melalui Nuh yang dengannya orang-orang yang berakal beriman kepadanya, tetapi mereka men-cemooh, menghina, dan kufur kepadanya.

Al-A'raf 7:61

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, 'Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya.' Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat)." (Al-A'raf: 59). "Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.' Nuh menjawab, 'Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun, tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat ke-padamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ke-tahui. Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepada-mu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu men-dapat rahmat.' Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bah-tera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)."(Al-'Araf: 60-64). (59) Allah تعالى berfirman tentang Nuh, Rasul pertama, ﴾ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaum-nya." Dia mengajak mereka supaya beribadah kepada Allah semata manakala mereka menyembah berhala-berhala. ﴾ فَقَالَ ﴿ "Lalu ia ber-kata", kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "wahai kaumku sembahlah Allah." Yakni tauhidkanlah Dia. ﴾ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ ﴿ "Sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya," karena Dia adalah Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur segala sesuatu, sedangkan selainNya adalah makhluk yang diatur yang tidak memiliki perkara sedikit pun. Kemudian dia menakut-nakuti mereka dengan azab Allah jika mereka tidak menaatinya, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya (kalau kamu ti-dak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat)." Ini termasuk kepedulian dan kasih sayang Nuh kepada kaumnya, di mana dia mengkhawatirkan azab dan kesengsaraan abadi menimpa mereka, sama seperti saudara-saudaranya para rasul yang lain yang menyayangi manusia melebihi kasih sayang bapak ibu mereka. (60) Manakala Nuh mengatakan itu kepada mereka, mereka menjawabnya dengan jawaban terburuk, ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata." Yakni orang-orang kaya, para pemim-pin yang diikuti yang telah terbiasa menyombongkan diri di depan kebenaran dan pembangkangan kepada para rasul, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata." Mereka tidak merasa cukup –semoga Allah menjelek-kan mereka– hanya dengan pembangkangan. Bahkan lebih dari itu, mereka menyombongkan diri dari tunduk kepadanya. Mereka men-celanya dengan celaan yang paling pedas. Mereka menisbatkannya kepada kesesatan. Tidak sebatas sesat, lebih dari itu mereka menya-takannya dengan kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa pun. Ini termasuk bentuk kesombongan diri yang paling besar yang tidak akan dilakukan oleh orang yang paling lemah akalnya sekalipun. Justru kriteria ini pas benar untuk kaum Nuh, yang mendatangi berhala-berhala yang mereka bikin dan mereka bentuk dengan tangan mereka dari benda mati yang tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat dan tidak berguna sedikit pun, tetapi mereka mem-posisikannya sebagai pencipta langit. Kepada berhala-berhala itu mereka memberikan berbagai macam ibadah. Sekiranya mereka tidak memiliki akal yang dengannya hujjah Allah tegak atas mereka, niscaya mereka dinyatakan lebih sesat daripada orang-orang gila. Justru orang-orang gila itu lebih berakal dan lebih mendapatkan petunjuk daripada mereka. (61-62) Nuh menjawab dengan halus, dia bersikap lemah lembut dengan harapan mereka akan tunduk. Nuh berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي ضَلَٰلَةٞ ﴿ "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun." Yakni aku bukanlah orang yang sesat dalam satu persoalan pun. Akan tetapi aku hanyalah pemberi petunjuk yang diberi petunjuk. Hida-yahnya adalah seperti hidayah saudara-saudaranya para rasul ulul azmi, hidayah tertinggi, terlengkap dan tersempurna. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam." Yakni Rabbku, Rabbmu dan Rabb seluruh makh-luk, yang mendidik seluruh makhluk dengan segala bentuk pendi-dikan, di mana salah satu pendidikanNya yang paling agung adalah bahwa Dia mengutus para rasul kepada hamba-hambaNya yang mengajak mereka kepada amal shalih, akhlak yang mulia dan aki-dah yang lurus, dan melarang dari yang sebaliknya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمۡ ﴿ "Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat kepadamu."Yakni tu-gasku adalah menyampaikan kepadamu dengan menjelaskan tauhid kepadaNya, perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, se-mata-mata karena dasar kasih sayang dan memberi nasihat. ﴾ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui." Yang mengharuskanmu menaatiku dan tunduk kepada perintahku jika kamu mengetahui. (63) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ ﴿ "Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu." Yakni bagai-mana kamu merasa heran terhadap sesuatu yang tidak perlu dihe-rankan, yakni peringatan, nasihat dan petuah datang kepadamu melalui tangan seorang laki-laki darimu, di mana kamu mengetahui hakikatnya, kejujurannya dan keadaannya. Keadaan ini termasuk perhatian Allah kepadamu dan kebaikanNya yang semestinya di-sambut dengan penerimaan dan rasa syukur. ﴾ لِيُنذِرَكُمۡ وَلِتَتَّقُواْ وَلَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "Agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?" Yakni agar dia memberi peringatan kepadamu dari azab yang pe-dih, kemudian kamu melakukan sebab-sebab keselamatan berupa takwa kepada Allah, lahir dan batin. Dengan itu mereka meraih se-bab-sebab itu dan rahmat Allah yang luas pun turun kepada mereka. (64) Ajakan Nuh tidak mereka terima.﴾ فَكَذَّبُوهُ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera." Yakni perahu yang dibuat oleh Nuh atas perintah Allah, dan Dia mewahyukan kepadanya agar membawa dari masing-masing sepasang binatang dan membawa pula keluarganya dan orang-orang yang beriman bersamanya, maka Nuh membawa mereka dan Allah menyelamat-kan mereka dengan perahu tersebut. ﴾ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمًا عَمِينَ ﴿ "Dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)", dari hidayah. Mereka melihat kebenaran dan Allah telah memper-lihatkan tanda-tandaNya yang jelas melalui Nuh yang dengannya orang-orang yang berakal beriman kepadanya, tetapi mereka men-cemooh, menghina, dan kufur kepadanya.

Al-A'raf 7:62

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, 'Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya.' Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat)." (Al-A'raf: 59). "Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.' Nuh menjawab, 'Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun, tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat ke-padamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ke-tahui. Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepada-mu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu men-dapat rahmat.' Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bah-tera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)."(Al-'Araf: 60-64). (59) Allah تعالى berfirman tentang Nuh, Rasul pertama, ﴾ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaum-nya." Dia mengajak mereka supaya beribadah kepada Allah semata manakala mereka menyembah berhala-berhala. ﴾ فَقَالَ ﴿ "Lalu ia ber-kata", kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "wahai kaumku sembahlah Allah." Yakni tauhidkanlah Dia. ﴾ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ ﴿ "Sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya," karena Dia adalah Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur segala sesuatu, sedangkan selainNya adalah makhluk yang diatur yang tidak memiliki perkara sedikit pun. Kemudian dia menakut-nakuti mereka dengan azab Allah jika mereka tidak menaatinya, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya (kalau kamu ti-dak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat)." Ini termasuk kepedulian dan kasih sayang Nuh kepada kaumnya, di mana dia mengkhawatirkan azab dan kesengsaraan abadi menimpa mereka, sama seperti saudara-saudaranya para rasul yang lain yang menyayangi manusia melebihi kasih sayang bapak ibu mereka. (60) Manakala Nuh mengatakan itu kepada mereka, mereka menjawabnya dengan jawaban terburuk, ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata." Yakni orang-orang kaya, para pemim-pin yang diikuti yang telah terbiasa menyombongkan diri di depan kebenaran dan pembangkangan kepada para rasul, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata." Mereka tidak merasa cukup –semoga Allah menjelek-kan mereka– hanya dengan pembangkangan. Bahkan lebih dari itu, mereka menyombongkan diri dari tunduk kepadanya. Mereka men-celanya dengan celaan yang paling pedas. Mereka menisbatkannya kepada kesesatan. Tidak sebatas sesat, lebih dari itu mereka menya-takannya dengan kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa pun. Ini termasuk bentuk kesombongan diri yang paling besar yang tidak akan dilakukan oleh orang yang paling lemah akalnya sekalipun. Justru kriteria ini pas benar untuk kaum Nuh, yang mendatangi berhala-berhala yang mereka bikin dan mereka bentuk dengan tangan mereka dari benda mati yang tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat dan tidak berguna sedikit pun, tetapi mereka mem-posisikannya sebagai pencipta langit. Kepada berhala-berhala itu mereka memberikan berbagai macam ibadah. Sekiranya mereka tidak memiliki akal yang dengannya hujjah Allah tegak atas mereka, niscaya mereka dinyatakan lebih sesat daripada orang-orang gila. Justru orang-orang gila itu lebih berakal dan lebih mendapatkan petunjuk daripada mereka. (61-62) Nuh menjawab dengan halus, dia bersikap lemah lembut dengan harapan mereka akan tunduk. Nuh berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي ضَلَٰلَةٞ ﴿ "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun." Yakni aku bukanlah orang yang sesat dalam satu persoalan pun. Akan tetapi aku hanyalah pemberi petunjuk yang diberi petunjuk. Hida-yahnya adalah seperti hidayah saudara-saudaranya para rasul ulul azmi, hidayah tertinggi, terlengkap dan tersempurna. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam." Yakni Rabbku, Rabbmu dan Rabb seluruh makh-luk, yang mendidik seluruh makhluk dengan segala bentuk pendi-dikan, di mana salah satu pendidikanNya yang paling agung adalah bahwa Dia mengutus para rasul kepada hamba-hambaNya yang mengajak mereka kepada amal shalih, akhlak yang mulia dan aki-dah yang lurus, dan melarang dari yang sebaliknya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمۡ ﴿ "Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat kepadamu."Yakni tu-gasku adalah menyampaikan kepadamu dengan menjelaskan tauhid kepadaNya, perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, se-mata-mata karena dasar kasih sayang dan memberi nasihat. ﴾ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui." Yang mengharuskanmu menaatiku dan tunduk kepada perintahku jika kamu mengetahui. (63) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ ﴿ "Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu." Yakni bagai-mana kamu merasa heran terhadap sesuatu yang tidak perlu dihe-rankan, yakni peringatan, nasihat dan petuah datang kepadamu melalui tangan seorang laki-laki darimu, di mana kamu mengetahui hakikatnya, kejujurannya dan keadaannya. Keadaan ini termasuk perhatian Allah kepadamu dan kebaikanNya yang semestinya di-sambut dengan penerimaan dan rasa syukur. ﴾ لِيُنذِرَكُمۡ وَلِتَتَّقُواْ وَلَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "Agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?" Yakni agar dia memberi peringatan kepadamu dari azab yang pe-dih, kemudian kamu melakukan sebab-sebab keselamatan berupa takwa kepada Allah, lahir dan batin. Dengan itu mereka meraih se-bab-sebab itu dan rahmat Allah yang luas pun turun kepada mereka. (64) Ajakan Nuh tidak mereka terima.﴾ فَكَذَّبُوهُ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera." Yakni perahu yang dibuat oleh Nuh atas perintah Allah, dan Dia mewahyukan kepadanya agar membawa dari masing-masing sepasang binatang dan membawa pula keluarganya dan orang-orang yang beriman bersamanya, maka Nuh membawa mereka dan Allah menyelamat-kan mereka dengan perahu tersebut. ﴾ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمًا عَمِينَ ﴿ "Dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)", dari hidayah. Mereka melihat kebenaran dan Allah telah memper-lihatkan tanda-tandaNya yang jelas melalui Nuh yang dengannya orang-orang yang berakal beriman kepadanya, tetapi mereka men-cemooh, menghina, dan kufur kepadanya.

Al-A'raf 7:63

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, 'Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya.' Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat)." (Al-A'raf: 59). "Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.' Nuh menjawab, 'Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun, tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat ke-padamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ke-tahui. Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepada-mu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu men-dapat rahmat.' Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bah-tera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)."(Al-'Araf: 60-64). (59) Allah تعالى berfirman tentang Nuh, Rasul pertama, ﴾ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaum-nya." Dia mengajak mereka supaya beribadah kepada Allah semata manakala mereka menyembah berhala-berhala. ﴾ فَقَالَ ﴿ "Lalu ia ber-kata", kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "wahai kaumku sembahlah Allah." Yakni tauhidkanlah Dia. ﴾ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ ﴿ "Sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya," karena Dia adalah Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur segala sesuatu, sedangkan selainNya adalah makhluk yang diatur yang tidak memiliki perkara sedikit pun. Kemudian dia menakut-nakuti mereka dengan azab Allah jika mereka tidak menaatinya, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya (kalau kamu ti-dak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat)." Ini termasuk kepedulian dan kasih sayang Nuh kepada kaumnya, di mana dia mengkhawatirkan azab dan kesengsaraan abadi menimpa mereka, sama seperti saudara-saudaranya para rasul yang lain yang menyayangi manusia melebihi kasih sayang bapak ibu mereka. (60) Manakala Nuh mengatakan itu kepada mereka, mereka menjawabnya dengan jawaban terburuk, ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata." Yakni orang-orang kaya, para pemim-pin yang diikuti yang telah terbiasa menyombongkan diri di depan kebenaran dan pembangkangan kepada para rasul, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata." Mereka tidak merasa cukup –semoga Allah menjelek-kan mereka– hanya dengan pembangkangan. Bahkan lebih dari itu, mereka menyombongkan diri dari tunduk kepadanya. Mereka men-celanya dengan celaan yang paling pedas. Mereka menisbatkannya kepada kesesatan. Tidak sebatas sesat, lebih dari itu mereka menya-takannya dengan kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa pun. Ini termasuk bentuk kesombongan diri yang paling besar yang tidak akan dilakukan oleh orang yang paling lemah akalnya sekalipun. Justru kriteria ini pas benar untuk kaum Nuh, yang mendatangi berhala-berhala yang mereka bikin dan mereka bentuk dengan tangan mereka dari benda mati yang tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat dan tidak berguna sedikit pun, tetapi mereka mem-posisikannya sebagai pencipta langit. Kepada berhala-berhala itu mereka memberikan berbagai macam ibadah. Sekiranya mereka tidak memiliki akal yang dengannya hujjah Allah tegak atas mereka, niscaya mereka dinyatakan lebih sesat daripada orang-orang gila. Justru orang-orang gila itu lebih berakal dan lebih mendapatkan petunjuk daripada mereka. (61-62) Nuh menjawab dengan halus, dia bersikap lemah lembut dengan harapan mereka akan tunduk. Nuh berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي ضَلَٰلَةٞ ﴿ "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun." Yakni aku bukanlah orang yang sesat dalam satu persoalan pun. Akan tetapi aku hanyalah pemberi petunjuk yang diberi petunjuk. Hida-yahnya adalah seperti hidayah saudara-saudaranya para rasul ulul azmi, hidayah tertinggi, terlengkap dan tersempurna. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam." Yakni Rabbku, Rabbmu dan Rabb seluruh makh-luk, yang mendidik seluruh makhluk dengan segala bentuk pendi-dikan, di mana salah satu pendidikanNya yang paling agung adalah bahwa Dia mengutus para rasul kepada hamba-hambaNya yang mengajak mereka kepada amal shalih, akhlak yang mulia dan aki-dah yang lurus, dan melarang dari yang sebaliknya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمۡ ﴿ "Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat kepadamu."Yakni tu-gasku adalah menyampaikan kepadamu dengan menjelaskan tauhid kepadaNya, perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, se-mata-mata karena dasar kasih sayang dan memberi nasihat. ﴾ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui." Yang mengharuskanmu menaatiku dan tunduk kepada perintahku jika kamu mengetahui. (63) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ ﴿ "Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu." Yakni bagai-mana kamu merasa heran terhadap sesuatu yang tidak perlu dihe-rankan, yakni peringatan, nasihat dan petuah datang kepadamu melalui tangan seorang laki-laki darimu, di mana kamu mengetahui hakikatnya, kejujurannya dan keadaannya. Keadaan ini termasuk perhatian Allah kepadamu dan kebaikanNya yang semestinya di-sambut dengan penerimaan dan rasa syukur. ﴾ لِيُنذِرَكُمۡ وَلِتَتَّقُواْ وَلَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "Agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?" Yakni agar dia memberi peringatan kepadamu dari azab yang pe-dih, kemudian kamu melakukan sebab-sebab keselamatan berupa takwa kepada Allah, lahir dan batin. Dengan itu mereka meraih se-bab-sebab itu dan rahmat Allah yang luas pun turun kepada mereka. (64) Ajakan Nuh tidak mereka terima.﴾ فَكَذَّبُوهُ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera." Yakni perahu yang dibuat oleh Nuh atas perintah Allah, dan Dia mewahyukan kepadanya agar membawa dari masing-masing sepasang binatang dan membawa pula keluarganya dan orang-orang yang beriman bersamanya, maka Nuh membawa mereka dan Allah menyelamat-kan mereka dengan perahu tersebut. ﴾ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمًا عَمِينَ ﴿ "Dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)", dari hidayah. Mereka melihat kebenaran dan Allah telah memper-lihatkan tanda-tandaNya yang jelas melalui Nuh yang dengannya orang-orang yang berakal beriman kepadanya, tetapi mereka men-cemooh, menghina, dan kufur kepadanya.

Al-A'raf 7:64

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, 'Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya.' Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat)." (Al-A'raf: 59). "Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.' Nuh menjawab, 'Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun, tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat ke-padamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ke-tahui. Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepada-mu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu men-dapat rahmat.' Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bah-tera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)."(Al-'Araf: 60-64). (59) Allah تعالى berfirman tentang Nuh, Rasul pertama, ﴾ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaum-nya." Dia mengajak mereka supaya beribadah kepada Allah semata manakala mereka menyembah berhala-berhala. ﴾ فَقَالَ ﴿ "Lalu ia ber-kata", kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "wahai kaumku sembahlah Allah." Yakni tauhidkanlah Dia. ﴾ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ ﴿ "Sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya," karena Dia adalah Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur segala sesuatu, sedangkan selainNya adalah makhluk yang diatur yang tidak memiliki perkara sedikit pun. Kemudian dia menakut-nakuti mereka dengan azab Allah jika mereka tidak menaatinya, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya (kalau kamu ti-dak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (Kiamat)." Ini termasuk kepedulian dan kasih sayang Nuh kepada kaumnya, di mana dia mengkhawatirkan azab dan kesengsaraan abadi menimpa mereka, sama seperti saudara-saudaranya para rasul yang lain yang menyayangi manusia melebihi kasih sayang bapak ibu mereka. (60) Manakala Nuh mengatakan itu kepada mereka, mereka menjawabnya dengan jawaban terburuk, ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata." Yakni orang-orang kaya, para pemim-pin yang diikuti yang telah terbiasa menyombongkan diri di depan kebenaran dan pembangkangan kepada para rasul, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata." Mereka tidak merasa cukup –semoga Allah menjelek-kan mereka– hanya dengan pembangkangan. Bahkan lebih dari itu, mereka menyombongkan diri dari tunduk kepadanya. Mereka men-celanya dengan celaan yang paling pedas. Mereka menisbatkannya kepada kesesatan. Tidak sebatas sesat, lebih dari itu mereka menya-takannya dengan kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa pun. Ini termasuk bentuk kesombongan diri yang paling besar yang tidak akan dilakukan oleh orang yang paling lemah akalnya sekalipun. Justru kriteria ini pas benar untuk kaum Nuh, yang mendatangi berhala-berhala yang mereka bikin dan mereka bentuk dengan tangan mereka dari benda mati yang tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat dan tidak berguna sedikit pun, tetapi mereka mem-posisikannya sebagai pencipta langit. Kepada berhala-berhala itu mereka memberikan berbagai macam ibadah. Sekiranya mereka tidak memiliki akal yang dengannya hujjah Allah tegak atas mereka, niscaya mereka dinyatakan lebih sesat daripada orang-orang gila. Justru orang-orang gila itu lebih berakal dan lebih mendapatkan petunjuk daripada mereka. (61-62) Nuh menjawab dengan halus, dia bersikap lemah lembut dengan harapan mereka akan tunduk. Nuh berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي ضَلَٰلَةٞ ﴿ "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun." Yakni aku bukanlah orang yang sesat dalam satu persoalan pun. Akan tetapi aku hanyalah pemberi petunjuk yang diberi petunjuk. Hida-yahnya adalah seperti hidayah saudara-saudaranya para rasul ulul azmi, hidayah tertinggi, terlengkap dan tersempurna. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam." Yakni Rabbku, Rabbmu dan Rabb seluruh makh-luk, yang mendidik seluruh makhluk dengan segala bentuk pendi-dikan, di mana salah satu pendidikanNya yang paling agung adalah bahwa Dia mengutus para rasul kepada hamba-hambaNya yang mengajak mereka kepada amal shalih, akhlak yang mulia dan aki-dah yang lurus, dan melarang dari yang sebaliknya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمۡ ﴿ "Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat kepadamu."Yakni tu-gasku adalah menyampaikan kepadamu dengan menjelaskan tauhid kepadaNya, perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, se-mata-mata karena dasar kasih sayang dan memberi nasihat. ﴾ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui." Yang mengharuskanmu menaatiku dan tunduk kepada perintahku jika kamu mengetahui. (63) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ ﴿ "Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu." Yakni bagai-mana kamu merasa heran terhadap sesuatu yang tidak perlu dihe-rankan, yakni peringatan, nasihat dan petuah datang kepadamu melalui tangan seorang laki-laki darimu, di mana kamu mengetahui hakikatnya, kejujurannya dan keadaannya. Keadaan ini termasuk perhatian Allah kepadamu dan kebaikanNya yang semestinya di-sambut dengan penerimaan dan rasa syukur. ﴾ لِيُنذِرَكُمۡ وَلِتَتَّقُواْ وَلَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "Agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?" Yakni agar dia memberi peringatan kepadamu dari azab yang pe-dih, kemudian kamu melakukan sebab-sebab keselamatan berupa takwa kepada Allah, lahir dan batin. Dengan itu mereka meraih se-bab-sebab itu dan rahmat Allah yang luas pun turun kepada mereka. (64) Ajakan Nuh tidak mereka terima.﴾ فَكَذَّبُوهُ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera." Yakni perahu yang dibuat oleh Nuh atas perintah Allah, dan Dia mewahyukan kepadanya agar membawa dari masing-masing sepasang binatang dan membawa pula keluarganya dan orang-orang yang beriman bersamanya, maka Nuh membawa mereka dan Allah menyelamat-kan mereka dengan perahu tersebut. ﴾ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمًا عَمِينَ ﴿ "Dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)", dari hidayah. Mereka melihat kebenaran dan Allah telah memper-lihatkan tanda-tandaNya yang jelas melalui Nuh yang dengannya orang-orang yang berakal beriman kepadanya, tetapi mereka men-cemooh, menghina, dan kufur kepadanya.

Al-A'raf 7:65

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Ad saudara me-reka, Hud. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?' Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami benar-benar me-mandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.' Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam'." (Al-A'raf: 65-67). "'Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.' Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringa-tan dari Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu. Dan ingatlah oleh kamu seka-lian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah me-lebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datang-kanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu terma-suk orang-orang yang benar." (Al-A'raf: 68-70). "Ia berkata, 'Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu.' Apakah kamu sekalian hendak ber-bantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenekmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menu-runkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (azab itu), sesungguh-nya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu. Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya de-ngan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 71-72). (65)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus ﴾ إِلَىٰ عَادٍ ﴿ "kepada kaum 'Ad" yang pertama, yang ada di bumi Yaman, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara me-reka", dari nasab ﴾ هُودٗاۚ ﴿ "Hud عليه السلام", menyeru mereka kepada tauhid, melarang mereka dari syirik, dan berbuat semena-mena di muka bumi. Dia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" Apakah kamu tidak takut dari azab dan siksaNya jika kamu tetap memegang apa yang kamu pegang. (66) Tetapi mereka tidak tunduk dan menyambut baik ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata", membantah ajakannya dan mencela pendapatnya, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي سَفَاهَةٖ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta." Yakni kami tidak melihatmu melainkan orang yang bodoh dan tidak berakal. Menurut kami ka-mu termasuk orang-orang yang berdusta. Hakikat kebenaran bagi mereka telah terbalik dan kebodohan telah menguasai mereka, di mana mereka menuduh Nabi mereka dengan kriteria yang justru merekalah yang memilikinya, sementara dia adalah orang yang pa-ling jauh darinya. Mereka itulah pendusta sebenarnya. Kebodohan mana yang lebih besar daripada orang yang menyambut kebenaran paling benar dengan penolakan dan pengingkaran, dan menyom-bongkan diri kepada para pembimbing dan para pemberi nasihat. Hati dan fisik mereka tunduk kepada setan yang durhaka, meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya. Dia menyembah pohon dan batu yang tidak berguna sedikit pun. Adakah dusta yang lebih berat da-ripada orang yang menisbatkan perkara-perkara ini kepada Allah? (67) ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي سَفَاهَةٞ ﴿ "Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun'." Justru dia adalah seorang Rasul yang membimbing lagi lurus. ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam." (68) ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنَا۠ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ ﴿ "Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang ter-percaya bagimu." Yakni wajib atasmu menyambut itu dengan penuh penerimaan dan ketundukan serta ketaatan kepada Rabb para hamba. (69) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ لِيُنذِرَكُمۡۚ ﴿ "Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabb-mu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peri-ngatan kepadamu?" Yakni bagaimana kamu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak perlu diherankan, yaitu bahwa Allah me-ngutus seorang laki-laki kepadamu, kamu mengenalnya, dia meng-ingatkanmu dengan apa yang baik bagimu, mendorongmu kepada yang bermanfaat bagimu, lalu kamu pun heran seperti herannya para pengingkar. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh." Yakni bersyukur dan pujilah Rabbmu karena Dia telah menempatkanmu di muka bumi dan menjadikanmu sebagai penerus umat-umat yang telah binasa yang mendustakan para rasul, lalu Allah membinasakan mereka, dan menyisakanmu untuk mengetahui bagaimana kamu beramal. Waspadalah jangan sampai kamu mendustakan seperti mereka mendustakan, akibatnya adalah apa yang menimpa mereka akan menimpamu. (وَ) " Dan" ingatlah nikmat Allah kepadamu yang Dia khususkan kepadamu yaitu ﴾ ز َ ا د َ ك ُ م ْ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ ﴿ "Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu)." Dalam urusan kekuatan, ukuran tubuh dan kekuatan tenaga. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yang luas dan karunia-Nya yang berulang-ulang, ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "supaya kamu" jika kamu meng-ingatnya dengan mensyukurinya dan menunaikan haknya ﴾ تُفۡلِحُونَ ﴿ "mendapat keberuntungan." Yakni kamu beruntung meraih yang di-inginkan dan selamat dari yang ditakutkan. (70) Selanjutnya Hud menasihati dan mengingatkan serta memerintahkan mereka kepada tauhid, dia menjelaskan siapa di-rinya, bahwa dia adalah pemberi nasihat yang dipercaya. Dia mem-peringatkan mereka agar waspada terhadap azab Allah kepada mereka seperti yang telah Dia timpakan kepada orang-orang se-belum mereka. Dia mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah dan pelimpahan rizki kepada mereka, tetapi mereka tidak merespon dan tidak tunduk. Mereka menjawab dengan penuh ke-heranan terhadap dakwahnya dan menyatakan bahwa mustahil mereka akan menaatinya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Apa-kah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?" Se-moga Allah memperburuk mereka, mereka menjadikan perkara yang merupakan kewajiban paling wajib dan perkara paling sem-purna termasuk perkara-perkara yang dengannya mereka memper-tentangkannya dengan apa yang dianut oleh nenek moyang mereka. Mereka mendahulukan kesyirikan dan penyembahan berhala yang dianut oleh nenek moyang mereka daripada tauhid kepada Allah semata yang tiada sekutu bagiNya yang didakwahkan oleh para rasul. Dan mereka berkata, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka da-tangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah tantangan dari mereka agar di-timpakan azab atas mereka. (71) Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ قَدۡ وَقَعَ عَلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ رِجۡسٞ وَغَضَبٌۖ ﴿ "Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu." Yakni azab itu pasti terjadi, karena penyebab-penye-babnya telah terpenuhi dan waktu kebinasaan telah tiba. ﴾ أَتُجَٰدِلُونَنِي فِيٓ أَسۡمَآءٖ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم ﴿ "Apakah kamu sekalian hendak berbantah de-nganku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya", yakni, bagaimana kamu mendebat perkara-perkara yang tidak ada hakikatnya dan dalam perkara berhala yang kamu namakan sebagai tuhan padahal ia sama sekali tidak memiliki sifat ketuhanan. ﴾ مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٖۚ ﴿ "Padahal Allah sekali-kali tidak me-nurunkan hujjah untuk itu." Seandainya berhala-berhala itu adalah benar, niscaya Allah akan menurunkan hujjah untuk itu. Tidak turunnya hujjah tentang hal itu adalah bukti kebatilannya, karena tidak ada perkara yang menjadi suatu tujuan –lebih-lebih perkara-perkara besar– kecuali Allah telah menjelaskan hujjah-hujjahNya yang memadahi dan ilmu yang tidak samar sedikit pun. ﴾ فَٱنتَظِرُوٓاْ ﴿ "Maka tunggulah (azab itu)", yang akan menimpamu yang telah aku janjikan kepadamu. ﴾ إِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu." Meski kedua penung-guan itu tidaklah sama, menunggunya orang yang cemas terhadap turunnya azab dan menunggunya orang yang berharap pertolongan dan pahala dari Allah. (72) Oleh karena itu Allah membedakan kedua golongan. Dia berfirman, ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ ﴿ "Maka Kami selamatkan dia", yakni Hud, ﴾ وَٱلَّذِينَ ﴿ "beserta orang-orang" yang beriman bersamanya, ﴾ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا ﴿ "dengan rahmat yang besar dari Kami." Karena Dia-lah yang memberi mereka petunjuk kepada keimanan dan menjadikan iman mereka sebagai sebab mereka mendapatkan rahmat, maka Allah menyela-matkan mereka dengan RahmatNya, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ ﴿ "dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Yakni kami binasakan mereka dengan azab yang keras yang tidak menyi-sakan seorang pun dari mereka. Allah mengirim kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. Orang-orang yang telah ditegakkan hujjah atas mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, dan mereka diperintahkan agar beriman tetapi mereka tidak beriman, maka akibatnya adalah ke-binasaan, kehinaan, dan kesengsaraan. ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ أَلَآ إِنَّ عَادٗا كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّعَادٖ قَوۡمِ هُودٖ 60 ﴿ "Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Hud itu." (Hud: 60). Dan di sini Allah berfirman, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ وَمَا كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman" sedikit pun, justru sifat mereka adalah pendustaan dan pengingkaran. Ciri mereka adalah kesombongan dan kerusakan.

Al-A'raf 7:66

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Ad saudara me-reka, Hud. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?' Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami benar-benar me-mandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.' Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam'." (Al-A'raf: 65-67). "'Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.' Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringa-tan dari Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu. Dan ingatlah oleh kamu seka-lian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah me-lebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datang-kanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu terma-suk orang-orang yang benar." (Al-A'raf: 68-70). "Ia berkata, 'Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu.' Apakah kamu sekalian hendak ber-bantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenekmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menu-runkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (azab itu), sesungguh-nya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu. Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya de-ngan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 71-72). (65)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus ﴾ إِلَىٰ عَادٍ ﴿ "kepada kaum 'Ad" yang pertama, yang ada di bumi Yaman, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara me-reka", dari nasab ﴾ هُودٗاۚ ﴿ "Hud عليه السلام", menyeru mereka kepada tauhid, melarang mereka dari syirik, dan berbuat semena-mena di muka bumi. Dia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" Apakah kamu tidak takut dari azab dan siksaNya jika kamu tetap memegang apa yang kamu pegang. (66) Tetapi mereka tidak tunduk dan menyambut baik ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata", membantah ajakannya dan mencela pendapatnya, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي سَفَاهَةٖ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta." Yakni kami tidak melihatmu melainkan orang yang bodoh dan tidak berakal. Menurut kami ka-mu termasuk orang-orang yang berdusta. Hakikat kebenaran bagi mereka telah terbalik dan kebodohan telah menguasai mereka, di mana mereka menuduh Nabi mereka dengan kriteria yang justru merekalah yang memilikinya, sementara dia adalah orang yang pa-ling jauh darinya. Mereka itulah pendusta sebenarnya. Kebodohan mana yang lebih besar daripada orang yang menyambut kebenaran paling benar dengan penolakan dan pengingkaran, dan menyom-bongkan diri kepada para pembimbing dan para pemberi nasihat. Hati dan fisik mereka tunduk kepada setan yang durhaka, meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya. Dia menyembah pohon dan batu yang tidak berguna sedikit pun. Adakah dusta yang lebih berat da-ripada orang yang menisbatkan perkara-perkara ini kepada Allah? (67) ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي سَفَاهَةٞ ﴿ "Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun'." Justru dia adalah seorang Rasul yang membimbing lagi lurus. ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam." (68) ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنَا۠ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ ﴿ "Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang ter-percaya bagimu." Yakni wajib atasmu menyambut itu dengan penuh penerimaan dan ketundukan serta ketaatan kepada Rabb para hamba. (69) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ لِيُنذِرَكُمۡۚ ﴿ "Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabb-mu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peri-ngatan kepadamu?" Yakni bagaimana kamu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak perlu diherankan, yaitu bahwa Allah me-ngutus seorang laki-laki kepadamu, kamu mengenalnya, dia meng-ingatkanmu dengan apa yang baik bagimu, mendorongmu kepada yang bermanfaat bagimu, lalu kamu pun heran seperti herannya para pengingkar. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh." Yakni bersyukur dan pujilah Rabbmu karena Dia telah menempatkanmu di muka bumi dan menjadikanmu sebagai penerus umat-umat yang telah binasa yang mendustakan para rasul, lalu Allah membinasakan mereka, dan menyisakanmu untuk mengetahui bagaimana kamu beramal. Waspadalah jangan sampai kamu mendustakan seperti mereka mendustakan, akibatnya adalah apa yang menimpa mereka akan menimpamu. (وَ) " Dan" ingatlah nikmat Allah kepadamu yang Dia khususkan kepadamu yaitu ﴾ ز َ ا د َ ك ُ م ْ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ ﴿ "Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu)." Dalam urusan kekuatan, ukuran tubuh dan kekuatan tenaga. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yang luas dan karunia-Nya yang berulang-ulang, ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "supaya kamu" jika kamu meng-ingatnya dengan mensyukurinya dan menunaikan haknya ﴾ تُفۡلِحُونَ ﴿ "mendapat keberuntungan." Yakni kamu beruntung meraih yang di-inginkan dan selamat dari yang ditakutkan. (70) Selanjutnya Hud menasihati dan mengingatkan serta memerintahkan mereka kepada tauhid, dia menjelaskan siapa di-rinya, bahwa dia adalah pemberi nasihat yang dipercaya. Dia mem-peringatkan mereka agar waspada terhadap azab Allah kepada mereka seperti yang telah Dia timpakan kepada orang-orang se-belum mereka. Dia mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah dan pelimpahan rizki kepada mereka, tetapi mereka tidak merespon dan tidak tunduk. Mereka menjawab dengan penuh ke-heranan terhadap dakwahnya dan menyatakan bahwa mustahil mereka akan menaatinya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Apa-kah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?" Se-moga Allah memperburuk mereka, mereka menjadikan perkara yang merupakan kewajiban paling wajib dan perkara paling sem-purna termasuk perkara-perkara yang dengannya mereka memper-tentangkannya dengan apa yang dianut oleh nenek moyang mereka. Mereka mendahulukan kesyirikan dan penyembahan berhala yang dianut oleh nenek moyang mereka daripada tauhid kepada Allah semata yang tiada sekutu bagiNya yang didakwahkan oleh para rasul. Dan mereka berkata, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka da-tangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah tantangan dari mereka agar di-timpakan azab atas mereka. (71) Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ قَدۡ وَقَعَ عَلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ رِجۡسٞ وَغَضَبٌۖ ﴿ "Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu." Yakni azab itu pasti terjadi, karena penyebab-penye-babnya telah terpenuhi dan waktu kebinasaan telah tiba. ﴾ أَتُجَٰدِلُونَنِي فِيٓ أَسۡمَآءٖ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم ﴿ "Apakah kamu sekalian hendak berbantah de-nganku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya", yakni, bagaimana kamu mendebat perkara-perkara yang tidak ada hakikatnya dan dalam perkara berhala yang kamu namakan sebagai tuhan padahal ia sama sekali tidak memiliki sifat ketuhanan. ﴾ مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٖۚ ﴿ "Padahal Allah sekali-kali tidak me-nurunkan hujjah untuk itu." Seandainya berhala-berhala itu adalah benar, niscaya Allah akan menurunkan hujjah untuk itu. Tidak turunnya hujjah tentang hal itu adalah bukti kebatilannya, karena tidak ada perkara yang menjadi suatu tujuan –lebih-lebih perkara-perkara besar– kecuali Allah telah menjelaskan hujjah-hujjahNya yang memadahi dan ilmu yang tidak samar sedikit pun. ﴾ فَٱنتَظِرُوٓاْ ﴿ "Maka tunggulah (azab itu)", yang akan menimpamu yang telah aku janjikan kepadamu. ﴾ إِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu." Meski kedua penung-guan itu tidaklah sama, menunggunya orang yang cemas terhadap turunnya azab dan menunggunya orang yang berharap pertolongan dan pahala dari Allah. (72) Oleh karena itu Allah membedakan kedua golongan. Dia berfirman, ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ ﴿ "Maka Kami selamatkan dia", yakni Hud, ﴾ وَٱلَّذِينَ ﴿ "beserta orang-orang" yang beriman bersamanya, ﴾ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا ﴿ "dengan rahmat yang besar dari Kami." Karena Dia-lah yang memberi mereka petunjuk kepada keimanan dan menjadikan iman mereka sebagai sebab mereka mendapatkan rahmat, maka Allah menyela-matkan mereka dengan RahmatNya, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ ﴿ "dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Yakni kami binasakan mereka dengan azab yang keras yang tidak menyi-sakan seorang pun dari mereka. Allah mengirim kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. Orang-orang yang telah ditegakkan hujjah atas mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, dan mereka diperintahkan agar beriman tetapi mereka tidak beriman, maka akibatnya adalah ke-binasaan, kehinaan, dan kesengsaraan. ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ أَلَآ إِنَّ عَادٗا كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّعَادٖ قَوۡمِ هُودٖ 60 ﴿ "Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Hud itu." (Hud: 60). Dan di sini Allah berfirman, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ وَمَا كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman" sedikit pun, justru sifat mereka adalah pendustaan dan pengingkaran. Ciri mereka adalah kesombongan dan kerusakan.

Al-A'raf 7:67

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Ad saudara me-reka, Hud. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?' Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami benar-benar me-mandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.' Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam'." (Al-A'raf: 65-67). "'Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.' Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringa-tan dari Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu. Dan ingatlah oleh kamu seka-lian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah me-lebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datang-kanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu terma-suk orang-orang yang benar." (Al-A'raf: 68-70). "Ia berkata, 'Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu.' Apakah kamu sekalian hendak ber-bantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenekmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menu-runkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (azab itu), sesungguh-nya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu. Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya de-ngan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 71-72). (65)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus ﴾ إِلَىٰ عَادٍ ﴿ "kepada kaum 'Ad" yang pertama, yang ada di bumi Yaman, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara me-reka", dari nasab ﴾ هُودٗاۚ ﴿ "Hud عليه السلام", menyeru mereka kepada tauhid, melarang mereka dari syirik, dan berbuat semena-mena di muka bumi. Dia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" Apakah kamu tidak takut dari azab dan siksaNya jika kamu tetap memegang apa yang kamu pegang. (66) Tetapi mereka tidak tunduk dan menyambut baik ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata", membantah ajakannya dan mencela pendapatnya, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي سَفَاهَةٖ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta." Yakni kami tidak melihatmu melainkan orang yang bodoh dan tidak berakal. Menurut kami ka-mu termasuk orang-orang yang berdusta. Hakikat kebenaran bagi mereka telah terbalik dan kebodohan telah menguasai mereka, di mana mereka menuduh Nabi mereka dengan kriteria yang justru merekalah yang memilikinya, sementara dia adalah orang yang pa-ling jauh darinya. Mereka itulah pendusta sebenarnya. Kebodohan mana yang lebih besar daripada orang yang menyambut kebenaran paling benar dengan penolakan dan pengingkaran, dan menyom-bongkan diri kepada para pembimbing dan para pemberi nasihat. Hati dan fisik mereka tunduk kepada setan yang durhaka, meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya. Dia menyembah pohon dan batu yang tidak berguna sedikit pun. Adakah dusta yang lebih berat da-ripada orang yang menisbatkan perkara-perkara ini kepada Allah? (67) ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي سَفَاهَةٞ ﴿ "Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun'." Justru dia adalah seorang Rasul yang membimbing lagi lurus. ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam." (68) ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنَا۠ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ ﴿ "Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang ter-percaya bagimu." Yakni wajib atasmu menyambut itu dengan penuh penerimaan dan ketundukan serta ketaatan kepada Rabb para hamba. (69) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ لِيُنذِرَكُمۡۚ ﴿ "Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabb-mu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peri-ngatan kepadamu?" Yakni bagaimana kamu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak perlu diherankan, yaitu bahwa Allah me-ngutus seorang laki-laki kepadamu, kamu mengenalnya, dia meng-ingatkanmu dengan apa yang baik bagimu, mendorongmu kepada yang bermanfaat bagimu, lalu kamu pun heran seperti herannya para pengingkar. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh." Yakni bersyukur dan pujilah Rabbmu karena Dia telah menempatkanmu di muka bumi dan menjadikanmu sebagai penerus umat-umat yang telah binasa yang mendustakan para rasul, lalu Allah membinasakan mereka, dan menyisakanmu untuk mengetahui bagaimana kamu beramal. Waspadalah jangan sampai kamu mendustakan seperti mereka mendustakan, akibatnya adalah apa yang menimpa mereka akan menimpamu. (وَ) " Dan" ingatlah nikmat Allah kepadamu yang Dia khususkan kepadamu yaitu ﴾ ز َ ا د َ ك ُ م ْ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ ﴿ "Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu)." Dalam urusan kekuatan, ukuran tubuh dan kekuatan tenaga. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yang luas dan karunia-Nya yang berulang-ulang, ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "supaya kamu" jika kamu meng-ingatnya dengan mensyukurinya dan menunaikan haknya ﴾ تُفۡلِحُونَ ﴿ "mendapat keberuntungan." Yakni kamu beruntung meraih yang di-inginkan dan selamat dari yang ditakutkan. (70) Selanjutnya Hud menasihati dan mengingatkan serta memerintahkan mereka kepada tauhid, dia menjelaskan siapa di-rinya, bahwa dia adalah pemberi nasihat yang dipercaya. Dia mem-peringatkan mereka agar waspada terhadap azab Allah kepada mereka seperti yang telah Dia timpakan kepada orang-orang se-belum mereka. Dia mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah dan pelimpahan rizki kepada mereka, tetapi mereka tidak merespon dan tidak tunduk. Mereka menjawab dengan penuh ke-heranan terhadap dakwahnya dan menyatakan bahwa mustahil mereka akan menaatinya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Apa-kah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?" Se-moga Allah memperburuk mereka, mereka menjadikan perkara yang merupakan kewajiban paling wajib dan perkara paling sem-purna termasuk perkara-perkara yang dengannya mereka memper-tentangkannya dengan apa yang dianut oleh nenek moyang mereka. Mereka mendahulukan kesyirikan dan penyembahan berhala yang dianut oleh nenek moyang mereka daripada tauhid kepada Allah semata yang tiada sekutu bagiNya yang didakwahkan oleh para rasul. Dan mereka berkata, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka da-tangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah tantangan dari mereka agar di-timpakan azab atas mereka. (71) Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ قَدۡ وَقَعَ عَلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ رِجۡسٞ وَغَضَبٌۖ ﴿ "Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu." Yakni azab itu pasti terjadi, karena penyebab-penye-babnya telah terpenuhi dan waktu kebinasaan telah tiba. ﴾ أَتُجَٰدِلُونَنِي فِيٓ أَسۡمَآءٖ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم ﴿ "Apakah kamu sekalian hendak berbantah de-nganku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya", yakni, bagaimana kamu mendebat perkara-perkara yang tidak ada hakikatnya dan dalam perkara berhala yang kamu namakan sebagai tuhan padahal ia sama sekali tidak memiliki sifat ketuhanan. ﴾ مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٖۚ ﴿ "Padahal Allah sekali-kali tidak me-nurunkan hujjah untuk itu." Seandainya berhala-berhala itu adalah benar, niscaya Allah akan menurunkan hujjah untuk itu. Tidak turunnya hujjah tentang hal itu adalah bukti kebatilannya, karena tidak ada perkara yang menjadi suatu tujuan –lebih-lebih perkara-perkara besar– kecuali Allah telah menjelaskan hujjah-hujjahNya yang memadahi dan ilmu yang tidak samar sedikit pun. ﴾ فَٱنتَظِرُوٓاْ ﴿ "Maka tunggulah (azab itu)", yang akan menimpamu yang telah aku janjikan kepadamu. ﴾ إِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu." Meski kedua penung-guan itu tidaklah sama, menunggunya orang yang cemas terhadap turunnya azab dan menunggunya orang yang berharap pertolongan dan pahala dari Allah. (72) Oleh karena itu Allah membedakan kedua golongan. Dia berfirman, ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ ﴿ "Maka Kami selamatkan dia", yakni Hud, ﴾ وَٱلَّذِينَ ﴿ "beserta orang-orang" yang beriman bersamanya, ﴾ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا ﴿ "dengan rahmat yang besar dari Kami." Karena Dia-lah yang memberi mereka petunjuk kepada keimanan dan menjadikan iman mereka sebagai sebab mereka mendapatkan rahmat, maka Allah menyela-matkan mereka dengan RahmatNya, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ ﴿ "dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Yakni kami binasakan mereka dengan azab yang keras yang tidak menyi-sakan seorang pun dari mereka. Allah mengirim kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. Orang-orang yang telah ditegakkan hujjah atas mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, dan mereka diperintahkan agar beriman tetapi mereka tidak beriman, maka akibatnya adalah ke-binasaan, kehinaan, dan kesengsaraan. ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ أَلَآ إِنَّ عَادٗا كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّعَادٖ قَوۡمِ هُودٖ 60 ﴿ "Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Hud itu." (Hud: 60). Dan di sini Allah berfirman, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ وَمَا كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman" sedikit pun, justru sifat mereka adalah pendustaan dan pengingkaran. Ciri mereka adalah kesombongan dan kerusakan.

Al-A'raf 7:68

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Ad saudara me-reka, Hud. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?' Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami benar-benar me-mandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.' Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam'." (Al-A'raf: 65-67). "'Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.' Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringa-tan dari Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu. Dan ingatlah oleh kamu seka-lian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah me-lebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datang-kanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu terma-suk orang-orang yang benar." (Al-A'raf: 68-70). "Ia berkata, 'Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu.' Apakah kamu sekalian hendak ber-bantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenekmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menu-runkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (azab itu), sesungguh-nya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu. Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya de-ngan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 71-72). (65)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus ﴾ إِلَىٰ عَادٍ ﴿ "kepada kaum 'Ad" yang pertama, yang ada di bumi Yaman, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara me-reka", dari nasab ﴾ هُودٗاۚ ﴿ "Hud عليه السلام", menyeru mereka kepada tauhid, melarang mereka dari syirik, dan berbuat semena-mena di muka bumi. Dia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" Apakah kamu tidak takut dari azab dan siksaNya jika kamu tetap memegang apa yang kamu pegang. (66) Tetapi mereka tidak tunduk dan menyambut baik ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata", membantah ajakannya dan mencela pendapatnya, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي سَفَاهَةٖ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta." Yakni kami tidak melihatmu melainkan orang yang bodoh dan tidak berakal. Menurut kami ka-mu termasuk orang-orang yang berdusta. Hakikat kebenaran bagi mereka telah terbalik dan kebodohan telah menguasai mereka, di mana mereka menuduh Nabi mereka dengan kriteria yang justru merekalah yang memilikinya, sementara dia adalah orang yang pa-ling jauh darinya. Mereka itulah pendusta sebenarnya. Kebodohan mana yang lebih besar daripada orang yang menyambut kebenaran paling benar dengan penolakan dan pengingkaran, dan menyom-bongkan diri kepada para pembimbing dan para pemberi nasihat. Hati dan fisik mereka tunduk kepada setan yang durhaka, meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya. Dia menyembah pohon dan batu yang tidak berguna sedikit pun. Adakah dusta yang lebih berat da-ripada orang yang menisbatkan perkara-perkara ini kepada Allah? (67) ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي سَفَاهَةٞ ﴿ "Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun'." Justru dia adalah seorang Rasul yang membimbing lagi lurus. ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam." (68) ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنَا۠ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ ﴿ "Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang ter-percaya bagimu." Yakni wajib atasmu menyambut itu dengan penuh penerimaan dan ketundukan serta ketaatan kepada Rabb para hamba. (69) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ لِيُنذِرَكُمۡۚ ﴿ "Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabb-mu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peri-ngatan kepadamu?" Yakni bagaimana kamu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak perlu diherankan, yaitu bahwa Allah me-ngutus seorang laki-laki kepadamu, kamu mengenalnya, dia meng-ingatkanmu dengan apa yang baik bagimu, mendorongmu kepada yang bermanfaat bagimu, lalu kamu pun heran seperti herannya para pengingkar. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh." Yakni bersyukur dan pujilah Rabbmu karena Dia telah menempatkanmu di muka bumi dan menjadikanmu sebagai penerus umat-umat yang telah binasa yang mendustakan para rasul, lalu Allah membinasakan mereka, dan menyisakanmu untuk mengetahui bagaimana kamu beramal. Waspadalah jangan sampai kamu mendustakan seperti mereka mendustakan, akibatnya adalah apa yang menimpa mereka akan menimpamu. (وَ) " Dan" ingatlah nikmat Allah kepadamu yang Dia khususkan kepadamu yaitu ﴾ ز َ ا د َ ك ُ م ْ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ ﴿ "Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu)." Dalam urusan kekuatan, ukuran tubuh dan kekuatan tenaga. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yang luas dan karunia-Nya yang berulang-ulang, ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "supaya kamu" jika kamu meng-ingatnya dengan mensyukurinya dan menunaikan haknya ﴾ تُفۡلِحُونَ ﴿ "mendapat keberuntungan." Yakni kamu beruntung meraih yang di-inginkan dan selamat dari yang ditakutkan. (70) Selanjutnya Hud menasihati dan mengingatkan serta memerintahkan mereka kepada tauhid, dia menjelaskan siapa di-rinya, bahwa dia adalah pemberi nasihat yang dipercaya. Dia mem-peringatkan mereka agar waspada terhadap azab Allah kepada mereka seperti yang telah Dia timpakan kepada orang-orang se-belum mereka. Dia mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah dan pelimpahan rizki kepada mereka, tetapi mereka tidak merespon dan tidak tunduk. Mereka menjawab dengan penuh ke-heranan terhadap dakwahnya dan menyatakan bahwa mustahil mereka akan menaatinya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Apa-kah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?" Se-moga Allah memperburuk mereka, mereka menjadikan perkara yang merupakan kewajiban paling wajib dan perkara paling sem-purna termasuk perkara-perkara yang dengannya mereka memper-tentangkannya dengan apa yang dianut oleh nenek moyang mereka. Mereka mendahulukan kesyirikan dan penyembahan berhala yang dianut oleh nenek moyang mereka daripada tauhid kepada Allah semata yang tiada sekutu bagiNya yang didakwahkan oleh para rasul. Dan mereka berkata, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka da-tangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah tantangan dari mereka agar di-timpakan azab atas mereka. (71) Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ قَدۡ وَقَعَ عَلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ رِجۡسٞ وَغَضَبٌۖ ﴿ "Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu." Yakni azab itu pasti terjadi, karena penyebab-penye-babnya telah terpenuhi dan waktu kebinasaan telah tiba. ﴾ أَتُجَٰدِلُونَنِي فِيٓ أَسۡمَآءٖ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم ﴿ "Apakah kamu sekalian hendak berbantah de-nganku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya", yakni, bagaimana kamu mendebat perkara-perkara yang tidak ada hakikatnya dan dalam perkara berhala yang kamu namakan sebagai tuhan padahal ia sama sekali tidak memiliki sifat ketuhanan. ﴾ مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٖۚ ﴿ "Padahal Allah sekali-kali tidak me-nurunkan hujjah untuk itu." Seandainya berhala-berhala itu adalah benar, niscaya Allah akan menurunkan hujjah untuk itu. Tidak turunnya hujjah tentang hal itu adalah bukti kebatilannya, karena tidak ada perkara yang menjadi suatu tujuan –lebih-lebih perkara-perkara besar– kecuali Allah telah menjelaskan hujjah-hujjahNya yang memadahi dan ilmu yang tidak samar sedikit pun. ﴾ فَٱنتَظِرُوٓاْ ﴿ "Maka tunggulah (azab itu)", yang akan menimpamu yang telah aku janjikan kepadamu. ﴾ إِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu." Meski kedua penung-guan itu tidaklah sama, menunggunya orang yang cemas terhadap turunnya azab dan menunggunya orang yang berharap pertolongan dan pahala dari Allah. (72) Oleh karena itu Allah membedakan kedua golongan. Dia berfirman, ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ ﴿ "Maka Kami selamatkan dia", yakni Hud, ﴾ وَٱلَّذِينَ ﴿ "beserta orang-orang" yang beriman bersamanya, ﴾ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا ﴿ "dengan rahmat yang besar dari Kami." Karena Dia-lah yang memberi mereka petunjuk kepada keimanan dan menjadikan iman mereka sebagai sebab mereka mendapatkan rahmat, maka Allah menyela-matkan mereka dengan RahmatNya, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ ﴿ "dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Yakni kami binasakan mereka dengan azab yang keras yang tidak menyi-sakan seorang pun dari mereka. Allah mengirim kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. Orang-orang yang telah ditegakkan hujjah atas mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, dan mereka diperintahkan agar beriman tetapi mereka tidak beriman, maka akibatnya adalah ke-binasaan, kehinaan, dan kesengsaraan. ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ أَلَآ إِنَّ عَادٗا كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّعَادٖ قَوۡمِ هُودٖ 60 ﴿ "Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Hud itu." (Hud: 60). Dan di sini Allah berfirman, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ وَمَا كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman" sedikit pun, justru sifat mereka adalah pendustaan dan pengingkaran. Ciri mereka adalah kesombongan dan kerusakan.

Al-A'raf 7:69

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Ad saudara me-reka, Hud. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?' Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami benar-benar me-mandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.' Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam'." (Al-A'raf: 65-67). "'Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.' Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringa-tan dari Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu. Dan ingatlah oleh kamu seka-lian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah me-lebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datang-kanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu terma-suk orang-orang yang benar." (Al-A'raf: 68-70). "Ia berkata, 'Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu.' Apakah kamu sekalian hendak ber-bantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenekmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menu-runkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (azab itu), sesungguh-nya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu. Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya de-ngan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 71-72). (65)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus ﴾ إِلَىٰ عَادٍ ﴿ "kepada kaum 'Ad" yang pertama, yang ada di bumi Yaman, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara me-reka", dari nasab ﴾ هُودٗاۚ ﴿ "Hud عليه السلام", menyeru mereka kepada tauhid, melarang mereka dari syirik, dan berbuat semena-mena di muka bumi. Dia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" Apakah kamu tidak takut dari azab dan siksaNya jika kamu tetap memegang apa yang kamu pegang. (66) Tetapi mereka tidak tunduk dan menyambut baik ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata", membantah ajakannya dan mencela pendapatnya, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي سَفَاهَةٖ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta." Yakni kami tidak melihatmu melainkan orang yang bodoh dan tidak berakal. Menurut kami ka-mu termasuk orang-orang yang berdusta. Hakikat kebenaran bagi mereka telah terbalik dan kebodohan telah menguasai mereka, di mana mereka menuduh Nabi mereka dengan kriteria yang justru merekalah yang memilikinya, sementara dia adalah orang yang pa-ling jauh darinya. Mereka itulah pendusta sebenarnya. Kebodohan mana yang lebih besar daripada orang yang menyambut kebenaran paling benar dengan penolakan dan pengingkaran, dan menyom-bongkan diri kepada para pembimbing dan para pemberi nasihat. Hati dan fisik mereka tunduk kepada setan yang durhaka, meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya. Dia menyembah pohon dan batu yang tidak berguna sedikit pun. Adakah dusta yang lebih berat da-ripada orang yang menisbatkan perkara-perkara ini kepada Allah? (67) ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي سَفَاهَةٞ ﴿ "Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun'." Justru dia adalah seorang Rasul yang membimbing lagi lurus. ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam." (68) ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنَا۠ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ ﴿ "Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang ter-percaya bagimu." Yakni wajib atasmu menyambut itu dengan penuh penerimaan dan ketundukan serta ketaatan kepada Rabb para hamba. (69) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ لِيُنذِرَكُمۡۚ ﴿ "Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabb-mu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peri-ngatan kepadamu?" Yakni bagaimana kamu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak perlu diherankan, yaitu bahwa Allah me-ngutus seorang laki-laki kepadamu, kamu mengenalnya, dia meng-ingatkanmu dengan apa yang baik bagimu, mendorongmu kepada yang bermanfaat bagimu, lalu kamu pun heran seperti herannya para pengingkar. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh." Yakni bersyukur dan pujilah Rabbmu karena Dia telah menempatkanmu di muka bumi dan menjadikanmu sebagai penerus umat-umat yang telah binasa yang mendustakan para rasul, lalu Allah membinasakan mereka, dan menyisakanmu untuk mengetahui bagaimana kamu beramal. Waspadalah jangan sampai kamu mendustakan seperti mereka mendustakan, akibatnya adalah apa yang menimpa mereka akan menimpamu. (وَ) " Dan" ingatlah nikmat Allah kepadamu yang Dia khususkan kepadamu yaitu ﴾ ز َ ا د َ ك ُ م ْ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ ﴿ "Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu)." Dalam urusan kekuatan, ukuran tubuh dan kekuatan tenaga. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yang luas dan karunia-Nya yang berulang-ulang, ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "supaya kamu" jika kamu meng-ingatnya dengan mensyukurinya dan menunaikan haknya ﴾ تُفۡلِحُونَ ﴿ "mendapat keberuntungan." Yakni kamu beruntung meraih yang di-inginkan dan selamat dari yang ditakutkan. (70) Selanjutnya Hud menasihati dan mengingatkan serta memerintahkan mereka kepada tauhid, dia menjelaskan siapa di-rinya, bahwa dia adalah pemberi nasihat yang dipercaya. Dia mem-peringatkan mereka agar waspada terhadap azab Allah kepada mereka seperti yang telah Dia timpakan kepada orang-orang se-belum mereka. Dia mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah dan pelimpahan rizki kepada mereka, tetapi mereka tidak merespon dan tidak tunduk. Mereka menjawab dengan penuh ke-heranan terhadap dakwahnya dan menyatakan bahwa mustahil mereka akan menaatinya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Apa-kah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?" Se-moga Allah memperburuk mereka, mereka menjadikan perkara yang merupakan kewajiban paling wajib dan perkara paling sem-purna termasuk perkara-perkara yang dengannya mereka memper-tentangkannya dengan apa yang dianut oleh nenek moyang mereka. Mereka mendahulukan kesyirikan dan penyembahan berhala yang dianut oleh nenek moyang mereka daripada tauhid kepada Allah semata yang tiada sekutu bagiNya yang didakwahkan oleh para rasul. Dan mereka berkata, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka da-tangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah tantangan dari mereka agar di-timpakan azab atas mereka. (71) Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ قَدۡ وَقَعَ عَلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ رِجۡسٞ وَغَضَبٌۖ ﴿ "Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu." Yakni azab itu pasti terjadi, karena penyebab-penye-babnya telah terpenuhi dan waktu kebinasaan telah tiba. ﴾ أَتُجَٰدِلُونَنِي فِيٓ أَسۡمَآءٖ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم ﴿ "Apakah kamu sekalian hendak berbantah de-nganku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya", yakni, bagaimana kamu mendebat perkara-perkara yang tidak ada hakikatnya dan dalam perkara berhala yang kamu namakan sebagai tuhan padahal ia sama sekali tidak memiliki sifat ketuhanan. ﴾ مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٖۚ ﴿ "Padahal Allah sekali-kali tidak me-nurunkan hujjah untuk itu." Seandainya berhala-berhala itu adalah benar, niscaya Allah akan menurunkan hujjah untuk itu. Tidak turunnya hujjah tentang hal itu adalah bukti kebatilannya, karena tidak ada perkara yang menjadi suatu tujuan –lebih-lebih perkara-perkara besar– kecuali Allah telah menjelaskan hujjah-hujjahNya yang memadahi dan ilmu yang tidak samar sedikit pun. ﴾ فَٱنتَظِرُوٓاْ ﴿ "Maka tunggulah (azab itu)", yang akan menimpamu yang telah aku janjikan kepadamu. ﴾ إِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu." Meski kedua penung-guan itu tidaklah sama, menunggunya orang yang cemas terhadap turunnya azab dan menunggunya orang yang berharap pertolongan dan pahala dari Allah. (72) Oleh karena itu Allah membedakan kedua golongan. Dia berfirman, ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ ﴿ "Maka Kami selamatkan dia", yakni Hud, ﴾ وَٱلَّذِينَ ﴿ "beserta orang-orang" yang beriman bersamanya, ﴾ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا ﴿ "dengan rahmat yang besar dari Kami." Karena Dia-lah yang memberi mereka petunjuk kepada keimanan dan menjadikan iman mereka sebagai sebab mereka mendapatkan rahmat, maka Allah menyela-matkan mereka dengan RahmatNya, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ ﴿ "dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Yakni kami binasakan mereka dengan azab yang keras yang tidak menyi-sakan seorang pun dari mereka. Allah mengirim kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. Orang-orang yang telah ditegakkan hujjah atas mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, dan mereka diperintahkan agar beriman tetapi mereka tidak beriman, maka akibatnya adalah ke-binasaan, kehinaan, dan kesengsaraan. ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ أَلَآ إِنَّ عَادٗا كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّعَادٖ قَوۡمِ هُودٖ 60 ﴿ "Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Hud itu." (Hud: 60). Dan di sini Allah berfirman, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ وَمَا كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman" sedikit pun, justru sifat mereka adalah pendustaan dan pengingkaran. Ciri mereka adalah kesombongan dan kerusakan.

Al-A'raf 7:70

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Ad saudara me-reka, Hud. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?' Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami benar-benar me-mandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.' Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam'." (Al-A'raf: 65-67). "'Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.' Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringa-tan dari Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu. Dan ingatlah oleh kamu seka-lian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah me-lebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datang-kanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu terma-suk orang-orang yang benar." (Al-A'raf: 68-70). "Ia berkata, 'Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu.' Apakah kamu sekalian hendak ber-bantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenekmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menu-runkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (azab itu), sesungguh-nya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu. Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya de-ngan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 71-72). (65)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus ﴾ إِلَىٰ عَادٍ ﴿ "kepada kaum 'Ad" yang pertama, yang ada di bumi Yaman, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara me-reka", dari nasab ﴾ هُودٗاۚ ﴿ "Hud عليه السلام", menyeru mereka kepada tauhid, melarang mereka dari syirik, dan berbuat semena-mena di muka bumi. Dia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" Apakah kamu tidak takut dari azab dan siksaNya jika kamu tetap memegang apa yang kamu pegang. (66) Tetapi mereka tidak tunduk dan menyambut baik ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata", membantah ajakannya dan mencela pendapatnya, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي سَفَاهَةٖ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta." Yakni kami tidak melihatmu melainkan orang yang bodoh dan tidak berakal. Menurut kami ka-mu termasuk orang-orang yang berdusta. Hakikat kebenaran bagi mereka telah terbalik dan kebodohan telah menguasai mereka, di mana mereka menuduh Nabi mereka dengan kriteria yang justru merekalah yang memilikinya, sementara dia adalah orang yang pa-ling jauh darinya. Mereka itulah pendusta sebenarnya. Kebodohan mana yang lebih besar daripada orang yang menyambut kebenaran paling benar dengan penolakan dan pengingkaran, dan menyom-bongkan diri kepada para pembimbing dan para pemberi nasihat. Hati dan fisik mereka tunduk kepada setan yang durhaka, meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya. Dia menyembah pohon dan batu yang tidak berguna sedikit pun. Adakah dusta yang lebih berat da-ripada orang yang menisbatkan perkara-perkara ini kepada Allah? (67) ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي سَفَاهَةٞ ﴿ "Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun'." Justru dia adalah seorang Rasul yang membimbing lagi lurus. ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam." (68) ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنَا۠ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ ﴿ "Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang ter-percaya bagimu." Yakni wajib atasmu menyambut itu dengan penuh penerimaan dan ketundukan serta ketaatan kepada Rabb para hamba. (69) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ لِيُنذِرَكُمۡۚ ﴿ "Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabb-mu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peri-ngatan kepadamu?" Yakni bagaimana kamu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak perlu diherankan, yaitu bahwa Allah me-ngutus seorang laki-laki kepadamu, kamu mengenalnya, dia meng-ingatkanmu dengan apa yang baik bagimu, mendorongmu kepada yang bermanfaat bagimu, lalu kamu pun heran seperti herannya para pengingkar. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh." Yakni bersyukur dan pujilah Rabbmu karena Dia telah menempatkanmu di muka bumi dan menjadikanmu sebagai penerus umat-umat yang telah binasa yang mendustakan para rasul, lalu Allah membinasakan mereka, dan menyisakanmu untuk mengetahui bagaimana kamu beramal. Waspadalah jangan sampai kamu mendustakan seperti mereka mendustakan, akibatnya adalah apa yang menimpa mereka akan menimpamu. (وَ) " Dan" ingatlah nikmat Allah kepadamu yang Dia khususkan kepadamu yaitu ﴾ ز َ ا د َ ك ُ م ْ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ ﴿ "Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu)." Dalam urusan kekuatan, ukuran tubuh dan kekuatan tenaga. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yang luas dan karunia-Nya yang berulang-ulang, ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "supaya kamu" jika kamu meng-ingatnya dengan mensyukurinya dan menunaikan haknya ﴾ تُفۡلِحُونَ ﴿ "mendapat keberuntungan." Yakni kamu beruntung meraih yang di-inginkan dan selamat dari yang ditakutkan. (70) Selanjutnya Hud menasihati dan mengingatkan serta memerintahkan mereka kepada tauhid, dia menjelaskan siapa di-rinya, bahwa dia adalah pemberi nasihat yang dipercaya. Dia mem-peringatkan mereka agar waspada terhadap azab Allah kepada mereka seperti yang telah Dia timpakan kepada orang-orang se-belum mereka. Dia mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah dan pelimpahan rizki kepada mereka, tetapi mereka tidak merespon dan tidak tunduk. Mereka menjawab dengan penuh ke-heranan terhadap dakwahnya dan menyatakan bahwa mustahil mereka akan menaatinya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Apa-kah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?" Se-moga Allah memperburuk mereka, mereka menjadikan perkara yang merupakan kewajiban paling wajib dan perkara paling sem-purna termasuk perkara-perkara yang dengannya mereka memper-tentangkannya dengan apa yang dianut oleh nenek moyang mereka. Mereka mendahulukan kesyirikan dan penyembahan berhala yang dianut oleh nenek moyang mereka daripada tauhid kepada Allah semata yang tiada sekutu bagiNya yang didakwahkan oleh para rasul. Dan mereka berkata, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka da-tangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah tantangan dari mereka agar di-timpakan azab atas mereka. (71) Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ قَدۡ وَقَعَ عَلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ رِجۡسٞ وَغَضَبٌۖ ﴿ "Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu." Yakni azab itu pasti terjadi, karena penyebab-penye-babnya telah terpenuhi dan waktu kebinasaan telah tiba. ﴾ أَتُجَٰدِلُونَنِي فِيٓ أَسۡمَآءٖ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم ﴿ "Apakah kamu sekalian hendak berbantah de-nganku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya", yakni, bagaimana kamu mendebat perkara-perkara yang tidak ada hakikatnya dan dalam perkara berhala yang kamu namakan sebagai tuhan padahal ia sama sekali tidak memiliki sifat ketuhanan. ﴾ مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٖۚ ﴿ "Padahal Allah sekali-kali tidak me-nurunkan hujjah untuk itu." Seandainya berhala-berhala itu adalah benar, niscaya Allah akan menurunkan hujjah untuk itu. Tidak turunnya hujjah tentang hal itu adalah bukti kebatilannya, karena tidak ada perkara yang menjadi suatu tujuan –lebih-lebih perkara-perkara besar– kecuali Allah telah menjelaskan hujjah-hujjahNya yang memadahi dan ilmu yang tidak samar sedikit pun. ﴾ فَٱنتَظِرُوٓاْ ﴿ "Maka tunggulah (azab itu)", yang akan menimpamu yang telah aku janjikan kepadamu. ﴾ إِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu." Meski kedua penung-guan itu tidaklah sama, menunggunya orang yang cemas terhadap turunnya azab dan menunggunya orang yang berharap pertolongan dan pahala dari Allah. (72) Oleh karena itu Allah membedakan kedua golongan. Dia berfirman, ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ ﴿ "Maka Kami selamatkan dia", yakni Hud, ﴾ وَٱلَّذِينَ ﴿ "beserta orang-orang" yang beriman bersamanya, ﴾ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا ﴿ "dengan rahmat yang besar dari Kami." Karena Dia-lah yang memberi mereka petunjuk kepada keimanan dan menjadikan iman mereka sebagai sebab mereka mendapatkan rahmat, maka Allah menyela-matkan mereka dengan RahmatNya, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ ﴿ "dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Yakni kami binasakan mereka dengan azab yang keras yang tidak menyi-sakan seorang pun dari mereka. Allah mengirim kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. Orang-orang yang telah ditegakkan hujjah atas mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, dan mereka diperintahkan agar beriman tetapi mereka tidak beriman, maka akibatnya adalah ke-binasaan, kehinaan, dan kesengsaraan. ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ أَلَآ إِنَّ عَادٗا كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّعَادٖ قَوۡمِ هُودٖ 60 ﴿ "Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Hud itu." (Hud: 60). Dan di sini Allah berfirman, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ وَمَا كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman" sedikit pun, justru sifat mereka adalah pendustaan dan pengingkaran. Ciri mereka adalah kesombongan dan kerusakan.

Al-A'raf 7:71

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Ad saudara me-reka, Hud. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?' Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami benar-benar me-mandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.' Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam'." (Al-A'raf: 65-67). "'Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.' Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringa-tan dari Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu. Dan ingatlah oleh kamu seka-lian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah me-lebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datang-kanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu terma-suk orang-orang yang benar." (Al-A'raf: 68-70). "Ia berkata, 'Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu.' Apakah kamu sekalian hendak ber-bantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenekmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menu-runkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (azab itu), sesungguh-nya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu. Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya de-ngan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 71-72). (65)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus ﴾ إِلَىٰ عَادٍ ﴿ "kepada kaum 'Ad" yang pertama, yang ada di bumi Yaman, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara me-reka", dari nasab ﴾ هُودٗاۚ ﴿ "Hud عليه السلام", menyeru mereka kepada tauhid, melarang mereka dari syirik, dan berbuat semena-mena di muka bumi. Dia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" Apakah kamu tidak takut dari azab dan siksaNya jika kamu tetap memegang apa yang kamu pegang. (66) Tetapi mereka tidak tunduk dan menyambut baik ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata", membantah ajakannya dan mencela pendapatnya, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي سَفَاهَةٖ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta." Yakni kami tidak melihatmu melainkan orang yang bodoh dan tidak berakal. Menurut kami ka-mu termasuk orang-orang yang berdusta. Hakikat kebenaran bagi mereka telah terbalik dan kebodohan telah menguasai mereka, di mana mereka menuduh Nabi mereka dengan kriteria yang justru merekalah yang memilikinya, sementara dia adalah orang yang pa-ling jauh darinya. Mereka itulah pendusta sebenarnya. Kebodohan mana yang lebih besar daripada orang yang menyambut kebenaran paling benar dengan penolakan dan pengingkaran, dan menyom-bongkan diri kepada para pembimbing dan para pemberi nasihat. Hati dan fisik mereka tunduk kepada setan yang durhaka, meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya. Dia menyembah pohon dan batu yang tidak berguna sedikit pun. Adakah dusta yang lebih berat da-ripada orang yang menisbatkan perkara-perkara ini kepada Allah? (67) ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي سَفَاهَةٞ ﴿ "Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun'." Justru dia adalah seorang Rasul yang membimbing lagi lurus. ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam." (68) ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنَا۠ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ ﴿ "Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang ter-percaya bagimu." Yakni wajib atasmu menyambut itu dengan penuh penerimaan dan ketundukan serta ketaatan kepada Rabb para hamba. (69) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ لِيُنذِرَكُمۡۚ ﴿ "Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabb-mu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peri-ngatan kepadamu?" Yakni bagaimana kamu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak perlu diherankan, yaitu bahwa Allah me-ngutus seorang laki-laki kepadamu, kamu mengenalnya, dia meng-ingatkanmu dengan apa yang baik bagimu, mendorongmu kepada yang bermanfaat bagimu, lalu kamu pun heran seperti herannya para pengingkar. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh." Yakni bersyukur dan pujilah Rabbmu karena Dia telah menempatkanmu di muka bumi dan menjadikanmu sebagai penerus umat-umat yang telah binasa yang mendustakan para rasul, lalu Allah membinasakan mereka, dan menyisakanmu untuk mengetahui bagaimana kamu beramal. Waspadalah jangan sampai kamu mendustakan seperti mereka mendustakan, akibatnya adalah apa yang menimpa mereka akan menimpamu. (وَ) " Dan" ingatlah nikmat Allah kepadamu yang Dia khususkan kepadamu yaitu ﴾ ز َ ا د َ ك ُ م ْ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ ﴿ "Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu)." Dalam urusan kekuatan, ukuran tubuh dan kekuatan tenaga. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yang luas dan karunia-Nya yang berulang-ulang, ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "supaya kamu" jika kamu meng-ingatnya dengan mensyukurinya dan menunaikan haknya ﴾ تُفۡلِحُونَ ﴿ "mendapat keberuntungan." Yakni kamu beruntung meraih yang di-inginkan dan selamat dari yang ditakutkan. (70) Selanjutnya Hud menasihati dan mengingatkan serta memerintahkan mereka kepada tauhid, dia menjelaskan siapa di-rinya, bahwa dia adalah pemberi nasihat yang dipercaya. Dia mem-peringatkan mereka agar waspada terhadap azab Allah kepada mereka seperti yang telah Dia timpakan kepada orang-orang se-belum mereka. Dia mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah dan pelimpahan rizki kepada mereka, tetapi mereka tidak merespon dan tidak tunduk. Mereka menjawab dengan penuh ke-heranan terhadap dakwahnya dan menyatakan bahwa mustahil mereka akan menaatinya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Apa-kah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?" Se-moga Allah memperburuk mereka, mereka menjadikan perkara yang merupakan kewajiban paling wajib dan perkara paling sem-purna termasuk perkara-perkara yang dengannya mereka memper-tentangkannya dengan apa yang dianut oleh nenek moyang mereka. Mereka mendahulukan kesyirikan dan penyembahan berhala yang dianut oleh nenek moyang mereka daripada tauhid kepada Allah semata yang tiada sekutu bagiNya yang didakwahkan oleh para rasul. Dan mereka berkata, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka da-tangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah tantangan dari mereka agar di-timpakan azab atas mereka. (71) Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ قَدۡ وَقَعَ عَلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ رِجۡسٞ وَغَضَبٌۖ ﴿ "Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu." Yakni azab itu pasti terjadi, karena penyebab-penye-babnya telah terpenuhi dan waktu kebinasaan telah tiba. ﴾ أَتُجَٰدِلُونَنِي فِيٓ أَسۡمَآءٖ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم ﴿ "Apakah kamu sekalian hendak berbantah de-nganku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya", yakni, bagaimana kamu mendebat perkara-perkara yang tidak ada hakikatnya dan dalam perkara berhala yang kamu namakan sebagai tuhan padahal ia sama sekali tidak memiliki sifat ketuhanan. ﴾ مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٖۚ ﴿ "Padahal Allah sekali-kali tidak me-nurunkan hujjah untuk itu." Seandainya berhala-berhala itu adalah benar, niscaya Allah akan menurunkan hujjah untuk itu. Tidak turunnya hujjah tentang hal itu adalah bukti kebatilannya, karena tidak ada perkara yang menjadi suatu tujuan –lebih-lebih perkara-perkara besar– kecuali Allah telah menjelaskan hujjah-hujjahNya yang memadahi dan ilmu yang tidak samar sedikit pun. ﴾ فَٱنتَظِرُوٓاْ ﴿ "Maka tunggulah (azab itu)", yang akan menimpamu yang telah aku janjikan kepadamu. ﴾ إِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu." Meski kedua penung-guan itu tidaklah sama, menunggunya orang yang cemas terhadap turunnya azab dan menunggunya orang yang berharap pertolongan dan pahala dari Allah. (72) Oleh karena itu Allah membedakan kedua golongan. Dia berfirman, ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ ﴿ "Maka Kami selamatkan dia", yakni Hud, ﴾ وَٱلَّذِينَ ﴿ "beserta orang-orang" yang beriman bersamanya, ﴾ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا ﴿ "dengan rahmat yang besar dari Kami." Karena Dia-lah yang memberi mereka petunjuk kepada keimanan dan menjadikan iman mereka sebagai sebab mereka mendapatkan rahmat, maka Allah menyela-matkan mereka dengan RahmatNya, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ ﴿ "dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Yakni kami binasakan mereka dengan azab yang keras yang tidak menyi-sakan seorang pun dari mereka. Allah mengirim kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. Orang-orang yang telah ditegakkan hujjah atas mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, dan mereka diperintahkan agar beriman tetapi mereka tidak beriman, maka akibatnya adalah ke-binasaan, kehinaan, dan kesengsaraan. ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ أَلَآ إِنَّ عَادٗا كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّعَادٖ قَوۡمِ هُودٖ 60 ﴿ "Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Hud itu." (Hud: 60). Dan di sini Allah berfirman, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ وَمَا كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman" sedikit pun, justru sifat mereka adalah pendustaan dan pengingkaran. Ciri mereka adalah kesombongan dan kerusakan.

Al-A'raf 7:72

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Ad saudara me-reka, Hud. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?' Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya kami benar-benar me-mandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.' Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam'." (Al-A'raf: 65-67). "'Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.' Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringa-tan dari Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu. Dan ingatlah oleh kamu seka-lian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah me-lebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datang-kanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu terma-suk orang-orang yang benar." (Al-A'raf: 68-70). "Ia berkata, 'Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu.' Apakah kamu sekalian hendak ber-bantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenekmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menu-runkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (azab itu), sesungguh-nya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu. Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya de-ngan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 71-72). (65)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus ﴾ إِلَىٰ عَادٍ ﴿ "kepada kaum 'Ad" yang pertama, yang ada di bumi Yaman, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara me-reka", dari nasab ﴾ هُودٗاۚ ﴿ "Hud عليه السلام", menyeru mereka kepada tauhid, melarang mereka dari syirik, dan berbuat semena-mena di muka bumi. Dia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu (yang berhak disembah) selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" Apakah kamu tidak takut dari azab dan siksaNya jika kamu tetap memegang apa yang kamu pegang. (66) Tetapi mereka tidak tunduk dan menyambut baik ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦٓ ﴿ "Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata", membantah ajakannya dan mencela pendapatnya, ﴾ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي سَفَاهَةٖ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta." Yakni kami tidak melihatmu melainkan orang yang bodoh dan tidak berakal. Menurut kami ka-mu termasuk orang-orang yang berdusta. Hakikat kebenaran bagi mereka telah terbalik dan kebodohan telah menguasai mereka, di mana mereka menuduh Nabi mereka dengan kriteria yang justru merekalah yang memilikinya, sementara dia adalah orang yang pa-ling jauh darinya. Mereka itulah pendusta sebenarnya. Kebodohan mana yang lebih besar daripada orang yang menyambut kebenaran paling benar dengan penolakan dan pengingkaran, dan menyom-bongkan diri kepada para pembimbing dan para pemberi nasihat. Hati dan fisik mereka tunduk kepada setan yang durhaka, meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya. Dia menyembah pohon dan batu yang tidak berguna sedikit pun. Adakah dusta yang lebih berat da-ripada orang yang menisbatkan perkara-perkara ini kepada Allah? (67) ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِي سَفَاهَةٞ ﴿ "Hud berkata, 'Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun'." Justru dia adalah seorang Rasul yang membimbing lagi lurus. ﴾ وَلَٰكِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam." (68) ﴾ أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنَا۠ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ ﴿ "Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang ter-percaya bagimu." Yakni wajib atasmu menyambut itu dengan penuh penerimaan dan ketundukan serta ketaatan kepada Rabb para hamba. (69) ﴾ أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَآءَكُمۡ ذِكۡرٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنكُمۡ لِيُنذِرَكُمۡۚ ﴿ "Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabb-mu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peri-ngatan kepadamu?" Yakni bagaimana kamu merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak perlu diherankan, yaitu bahwa Allah me-ngutus seorang laki-laki kepadamu, kamu mengenalnya, dia meng-ingatkanmu dengan apa yang baik bagimu, mendorongmu kepada yang bermanfaat bagimu, lalu kamu pun heran seperti herannya para pengingkar. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٖ ﴿ "Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh." Yakni bersyukur dan pujilah Rabbmu karena Dia telah menempatkanmu di muka bumi dan menjadikanmu sebagai penerus umat-umat yang telah binasa yang mendustakan para rasul, lalu Allah membinasakan mereka, dan menyisakanmu untuk mengetahui bagaimana kamu beramal. Waspadalah jangan sampai kamu mendustakan seperti mereka mendustakan, akibatnya adalah apa yang menimpa mereka akan menimpamu. (وَ) " Dan" ingatlah nikmat Allah kepadamu yang Dia khususkan kepadamu yaitu ﴾ ز َ ا د َ ك ُ م ْ فِي ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةٗۖ ﴿ "Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu)." Dalam urusan kekuatan, ukuran tubuh dan kekuatan tenaga. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yang luas dan karunia-Nya yang berulang-ulang, ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "supaya kamu" jika kamu meng-ingatnya dengan mensyukurinya dan menunaikan haknya ﴾ تُفۡلِحُونَ ﴿ "mendapat keberuntungan." Yakni kamu beruntung meraih yang di-inginkan dan selamat dari yang ditakutkan. (70) Selanjutnya Hud menasihati dan mengingatkan serta memerintahkan mereka kepada tauhid, dia menjelaskan siapa di-rinya, bahwa dia adalah pemberi nasihat yang dipercaya. Dia mem-peringatkan mereka agar waspada terhadap azab Allah kepada mereka seperti yang telah Dia timpakan kepada orang-orang se-belum mereka. Dia mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah dan pelimpahan rizki kepada mereka, tetapi mereka tidak merespon dan tidak tunduk. Mereka menjawab dengan penuh ke-heranan terhadap dakwahnya dan menyatakan bahwa mustahil mereka akan menaatinya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Apa-kah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?" Se-moga Allah memperburuk mereka, mereka menjadikan perkara yang merupakan kewajiban paling wajib dan perkara paling sem-purna termasuk perkara-perkara yang dengannya mereka memper-tentangkannya dengan apa yang dianut oleh nenek moyang mereka. Mereka mendahulukan kesyirikan dan penyembahan berhala yang dianut oleh nenek moyang mereka daripada tauhid kepada Allah semata yang tiada sekutu bagiNya yang didakwahkan oleh para rasul. Dan mereka berkata, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka da-tangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah tantangan dari mereka agar di-timpakan azab atas mereka. (71) Hud عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ قَدۡ وَقَعَ عَلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ رِجۡسٞ وَغَضَبٌۖ ﴿ "Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Rabbmu." Yakni azab itu pasti terjadi, karena penyebab-penye-babnya telah terpenuhi dan waktu kebinasaan telah tiba. ﴾ أَتُجَٰدِلُونَنِي فِيٓ أَسۡمَآءٖ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم ﴿ "Apakah kamu sekalian hendak berbantah de-nganku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya", yakni, bagaimana kamu mendebat perkara-perkara yang tidak ada hakikatnya dan dalam perkara berhala yang kamu namakan sebagai tuhan padahal ia sama sekali tidak memiliki sifat ketuhanan. ﴾ مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٖۚ ﴿ "Padahal Allah sekali-kali tidak me-nurunkan hujjah untuk itu." Seandainya berhala-berhala itu adalah benar, niscaya Allah akan menurunkan hujjah untuk itu. Tidak turunnya hujjah tentang hal itu adalah bukti kebatilannya, karena tidak ada perkara yang menjadi suatu tujuan –lebih-lebih perkara-perkara besar– kecuali Allah telah menjelaskan hujjah-hujjahNya yang memadahi dan ilmu yang tidak samar sedikit pun. ﴾ فَٱنتَظِرُوٓاْ ﴿ "Maka tunggulah (azab itu)", yang akan menimpamu yang telah aku janjikan kepadamu. ﴾ إِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu." Meski kedua penung-guan itu tidaklah sama, menunggunya orang yang cemas terhadap turunnya azab dan menunggunya orang yang berharap pertolongan dan pahala dari Allah. (72) Oleh karena itu Allah membedakan kedua golongan. Dia berfirman, ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ ﴿ "Maka Kami selamatkan dia", yakni Hud, ﴾ وَٱلَّذِينَ ﴿ "beserta orang-orang" yang beriman bersamanya, ﴾ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا ﴿ "dengan rahmat yang besar dari Kami." Karena Dia-lah yang memberi mereka petunjuk kepada keimanan dan menjadikan iman mereka sebagai sebab mereka mendapatkan rahmat, maka Allah menyela-matkan mereka dengan RahmatNya, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ ﴿ "dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Yakni kami binasakan mereka dengan azab yang keras yang tidak menyi-sakan seorang pun dari mereka. Allah mengirim kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. Orang-orang yang telah ditegakkan hujjah atas mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, dan mereka diperintahkan agar beriman tetapi mereka tidak beriman, maka akibatnya adalah ke-binasaan, kehinaan, dan kesengsaraan. ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ أَلَآ إِنَّ عَادٗا كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّعَادٖ قَوۡمِ هُودٖ 60 ﴿ "Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Hud itu." (Hud: 60). Dan di sini Allah berfirman, ﴾ وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ وَمَا كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman" sedikit pun, justru sifat mereka adalah pendustaan dan pengingkaran. Ciri mereka adalah kesombongan dan kerusakan.

Al-A'raf 7:73

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." (Al-A'raf: 73-74). "Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaum-nya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, 'Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyam-paikannya.' Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Se-sungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.' Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb. Dan mereka berkata, 'Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).' Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Maka Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabb-ku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat'." (Al-A'raf: 75- 79). (73)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus, ﴾ إِلَىٰ ثَمُودَ ﴿ "kepada kaum Tsamud", kabilah terkenal yang mendiami Hijr dan sekitarnya di tanah Hijaz dan jazirah Arab. Allah mengutus kepada mereka ﴾ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ ﴿ "saudara mereka, Shalih," sebagai Nabi yang mengajak mereka kepada iman dan tauhid dan melarang mereka dari kekufuran dan kesyirikan. Maka Shalih berkata ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selainNya." Dakwah Shalih sama dengan dakwah saudara-saudaranya para Nabi yang lain, yaitu perintah beribadah kepada Allah dan penje-lasan bahwa hanya Dia-lah yang berhak disembah. ﴾ قَدۡ جَآءَتۡكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu." Yakni salah satu mukjizat yang tidak lain kecuali dari la-ngit di mana manusia tidak mampu mendatangkannya. Kemudian Shalih menjelaskan mukjizat itu ﴾ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمۡ ءَايَةٗۖ ﴿ "Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu." Yakni ini adalah unta yang mulia lagi utama karena ia disandarkan kepada Allah sebagai bentuk penghormatan. Padanya terdapat tanda yang besar bagimu. Tanda ini disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ لَّهَا شِرۡبٞ وَلَكُمۡ شِرۡبُ يَوۡمٖ مَّعۡلُومٖ 155 ﴿ "Ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempu-nyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu." (Asy-Syu'ara: 155). Tsamud memiliki sumur yang besar, ia terkenal dengan su-mur unta, mereka dan unta itu saling bergiliran. Satu hari unta itu minum dari sumur dan mereka minum air susunya, dan sehari beri-kutnya mereka minum dari sumur dan unta itu menjauh. Lalu Nabi mereka, Shalih عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ فَذَرُوهَا تَأۡكُلۡ فِيٓ أَرۡضِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah." Makanannya bukan tang-gung jawabmu sedikit pun. ﴾ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوٓءٖ ﴿ "Dan janganlah kamu meng-ganggunya dengan gangguan apa pun", dengan menyembelihnya atau dengan yang lain, ﴾ فَيَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "(yang karenanya) kamu akan di-timpa siksaan yang pedih." (74) ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ ﴿ "Dan ingatlah olehmu di waktu Rabb menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa)", di bumi, yang padanya kamu bersenang-senang dan meraih keinginanmu. ﴾ مِنۢ بَعۡدِ عَادٖ ﴿ "sesudah kaum 'Ad", yang telah dibinasakan oleh Allah lalu Allah menjadikanmu pengganti sesudah mereka. ﴾ وَبَوَّأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dan memberikan tempat bagimu di bumi." Yakni mengizinkanmu hidup padanya dan memudahkan sarana-sarana yang dengannya kamu meraih apa yang kamu inginkan dan kamu perlukan. ﴾ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورٗا ﴿ "Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar." Yakni tanah-tanah datar yang bukan gunung, dan di sana kamu membangun istana-istana. Dan dari gunung-gunung kamu mema-hatnya untuk kamu jadikan[70] sebagai rumah, sebagai-mana ia bisa dilihat sampai sekarang, peninggalan-peninggalan mereka di gu-nung yang ada di Hijr dan sekelilingnya. Ia tetap ada selama gunung itu ada. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yakni berupa karunia, rizki, serta kekuatan yang diberikanNya kepada-mu. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." Yakni jangan kamu menghancurkan bumi dengan kerusakan dan kemaksiatan, karena kemaksiatan dapat merubah negeri-negeri yang makmur menjadi kubangan keseng-saraan, negeri-negeri itu telah sepi dari penduduknya, sehingga suasananya pun mencekam dan menakutkan. (75) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka yang me-nyombongkan diri di antara kaumnya berkata." Yakni para pemimpin dan pembesar yang menyombongkan diri dari kebenaran ﴾ لِلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ ﴿ "kepada orang-orang yang dianggap lemah." Karena tidak semua orang lemah itu beriman, maka mereka berkata, ﴾ لِمَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُمۡ أَتَعۡلَمُونَ أَنَّ صَٰلِحٗا مُّرۡسَلٞ مِّن رَّبِّهِۦۚ ﴿ "Yang telah beriman di antara mereka, 'Tahu-kah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?" Yakni apakah dia benar atau dusta? Lalu orang-orang lemah itu menjawab, ﴾ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلَ بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyampaikannya." Yakni tauhid kepada Allah, berita tentangNya, perintah dan laranganNya. (76) ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ إِنَّا بِٱلَّذِيٓ ءَامَنتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ ﴿ "Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu'." Kesombongan me-nyeret mereka sehingga mereka menolak tunduk kepada kebenaran seperti orang-orang yang lemah. (77) ﴾ فَعَقَرُواْ ٱلنَّاقَةَ ﴿ "Kemudian mereka sembelih unta betina itu." Di mana Shalih telah mengancam mereka dengan siksa yang pedih jika mereka berani mengganggunya. ﴾ وَعَتَوۡاْ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb." Yakni mereka menolaknya dengan menyombongkan diri terhadap perintah Allah, di mana barangsiapa bersikap demikian maka Allah akan menimpakan azab yang pedih padanya. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", ditambah dengan perbuatan-perbuatan tersebut yang menunjukkan kelancangan dan keberanian menentang Allah tanpa mempedulikan apa yang me-reka katakan justru mereka membanggakannya,﴾ يَٰصَٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." Maka Shalih menjawab, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ذَٰلِكَ وَعۡدٌ غَيۡرُ مَكۡذُوبٖ 65 ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu ada-lah janji yang tidak dapat didustakan." (Hud: 65). (78) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿"Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka," dalam keadaan berlutut Allah membinasakan dan menumpas mereka. (79) ﴾ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka Shalih meninggalkan mereka", pada waktu Allah menimpakan azab kepada mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka dalam rangka menghinakan dan mencela mereka setelah Allah membinasakan mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ ﴿ "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Yakni segala apa yang Allah mengutusku dengannya kepadamu, aku telah me-nyampaikannya kepadamu. Aku telah berusaha memberimu petun-juk dan aku pun telah berupaya membawamu ke jalan yang lurus dan agama yang benar. ﴾ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Tetapi kamu tidak menyu-kai orang-orang yang memberi nasihat." Justru kamu menolak ucapan orang-orang yang tulus memberi nasihat dan menaati semua setan yang terkutuk. Ketahuilah, bahwa banyak ahli tafsir yang menyebutkan pada kisah ini bahwa unta betina itu keluar dari batu besar yang licin atas permintaan mereka kepada Shalih, bahwa batu itu mengejang seperti wanita hamil yang mau melahirkan, lalu unta itu keluar dan mereka melihatnya. Manakala mereka menyembelihnya, ia memi-liki anak, lalu ia bersuara tiga kali sehingga gunung terbelah dan ia pun masuk ke dalamnya. Dan Shalih berkata kepada mereka bahwa tanda turunnya azab adalah wajahmu menguning di hari pertama dari tiga hari yang dijanjikan, pada hari kedua memerah, dan pada hari ketiga menghitam, maka terjadilah seperti yang dikatakannya. Ini termasuk kisah-kisah Isra`iliyat yang tidak semestinya di-nukil dalam tafsir terhadap kitabullah, padahal di dalam al-Qur`an tidak ada yang menunjukkan hal itu sama sekali, justru kalau ia benar pastilah Allah تعالى akan menyebutkannya, karena padanya terdapat keajaiban, pelajaran, dan tanda kebesaranNya yang tidak mungkin dilalaikan oleh Allah dan ditinggalkan sampai ia diceri-takan oleh orang yang penukilannya tidak dipercaya. Bahkan al-Qur`an mendustakan sebagian yang disebutkan, karena Shalih ber-kata kepada mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari." (Hud: 65). Yakni bersenang-senanglah dalam waktu yang sangat pendek ini, karena kamu tidak memiliki kenikmatan dan kesenangan ke-cuali ini. Kenikmatan dan kesukaan apa bagi orang yang diancam oleh Nabi mereka dengan azab dan Nabi itu menyebutkan kejadian-kejadian yang menjadi pendahuluan azab tersebut, lalu ia terjadi hari demi hari dalam bentuk yang meliputi dan mencakup mereka, karena memerahnya wajah mereka, menguning dan menghitam-nya termasuk azab? Bukankah ini adalah bertentangan dengan al-Qur`an dan bertabrakan dengannya? Al-Qur`an sudah cukup dan ia sebagai petunjuk dari selainnya. Benar, jika sesuatu darinya di-tetapkan secara shahih dari Rasulullah ﷺ yang tidak bertentangan dengan al-Qur`an maka wajib diterima dan ia termasuk yang harus diikuti menurut al-Qur`an. ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr: 7). Dan telah dijelaskan bahwa tidak boleh menafsirkan Kitabul-lah dengan berita-berita Isra`iliyat, walaupun ada pendapat yang membolehkan meriwayatkan dari mereka dalam perkara-perkara yang tidak dipastikan dustanya, karena makna al-Qur`an bersifat yakin, sementara berita-berita Isra`iliyat merupakan perkara-perka-ra yang tidak dibenarkan dan juga tidak didustakan, jadi keduanya tidak mungkin dipertemukan.

Al-A'raf 7:74

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." (Al-A'raf: 73-74). "Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaum-nya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, 'Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyam-paikannya.' Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Se-sungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.' Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb. Dan mereka berkata, 'Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).' Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Maka Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabb-ku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat'." (Al-A'raf: 75- 79). (73)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus, ﴾ إِلَىٰ ثَمُودَ ﴿ "kepada kaum Tsamud", kabilah terkenal yang mendiami Hijr dan sekitarnya di tanah Hijaz dan jazirah Arab. Allah mengutus kepada mereka ﴾ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ ﴿ "saudara mereka, Shalih," sebagai Nabi yang mengajak mereka kepada iman dan tauhid dan melarang mereka dari kekufuran dan kesyirikan. Maka Shalih berkata ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selainNya." Dakwah Shalih sama dengan dakwah saudara-saudaranya para Nabi yang lain, yaitu perintah beribadah kepada Allah dan penje-lasan bahwa hanya Dia-lah yang berhak disembah. ﴾ قَدۡ جَآءَتۡكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu." Yakni salah satu mukjizat yang tidak lain kecuali dari la-ngit di mana manusia tidak mampu mendatangkannya. Kemudian Shalih menjelaskan mukjizat itu ﴾ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمۡ ءَايَةٗۖ ﴿ "Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu." Yakni ini adalah unta yang mulia lagi utama karena ia disandarkan kepada Allah sebagai bentuk penghormatan. Padanya terdapat tanda yang besar bagimu. Tanda ini disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ لَّهَا شِرۡبٞ وَلَكُمۡ شِرۡبُ يَوۡمٖ مَّعۡلُومٖ 155 ﴿ "Ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempu-nyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu." (Asy-Syu'ara: 155). Tsamud memiliki sumur yang besar, ia terkenal dengan su-mur unta, mereka dan unta itu saling bergiliran. Satu hari unta itu minum dari sumur dan mereka minum air susunya, dan sehari beri-kutnya mereka minum dari sumur dan unta itu menjauh. Lalu Nabi mereka, Shalih عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ فَذَرُوهَا تَأۡكُلۡ فِيٓ أَرۡضِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah." Makanannya bukan tang-gung jawabmu sedikit pun. ﴾ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوٓءٖ ﴿ "Dan janganlah kamu meng-ganggunya dengan gangguan apa pun", dengan menyembelihnya atau dengan yang lain, ﴾ فَيَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "(yang karenanya) kamu akan di-timpa siksaan yang pedih." (74) ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ ﴿ "Dan ingatlah olehmu di waktu Rabb menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa)", di bumi, yang padanya kamu bersenang-senang dan meraih keinginanmu. ﴾ مِنۢ بَعۡدِ عَادٖ ﴿ "sesudah kaum 'Ad", yang telah dibinasakan oleh Allah lalu Allah menjadikanmu pengganti sesudah mereka. ﴾ وَبَوَّأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dan memberikan tempat bagimu di bumi." Yakni mengizinkanmu hidup padanya dan memudahkan sarana-sarana yang dengannya kamu meraih apa yang kamu inginkan dan kamu perlukan. ﴾ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورٗا ﴿ "Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar." Yakni tanah-tanah datar yang bukan gunung, dan di sana kamu membangun istana-istana. Dan dari gunung-gunung kamu mema-hatnya untuk kamu jadikan[70] sebagai rumah, sebagai-mana ia bisa dilihat sampai sekarang, peninggalan-peninggalan mereka di gu-nung yang ada di Hijr dan sekelilingnya. Ia tetap ada selama gunung itu ada. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yakni berupa karunia, rizki, serta kekuatan yang diberikanNya kepada-mu. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." Yakni jangan kamu menghancurkan bumi dengan kerusakan dan kemaksiatan, karena kemaksiatan dapat merubah negeri-negeri yang makmur menjadi kubangan keseng-saraan, negeri-negeri itu telah sepi dari penduduknya, sehingga suasananya pun mencekam dan menakutkan. (75) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka yang me-nyombongkan diri di antara kaumnya berkata." Yakni para pemimpin dan pembesar yang menyombongkan diri dari kebenaran ﴾ لِلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ ﴿ "kepada orang-orang yang dianggap lemah." Karena tidak semua orang lemah itu beriman, maka mereka berkata, ﴾ لِمَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُمۡ أَتَعۡلَمُونَ أَنَّ صَٰلِحٗا مُّرۡسَلٞ مِّن رَّبِّهِۦۚ ﴿ "Yang telah beriman di antara mereka, 'Tahu-kah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?" Yakni apakah dia benar atau dusta? Lalu orang-orang lemah itu menjawab, ﴾ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلَ بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyampaikannya." Yakni tauhid kepada Allah, berita tentangNya, perintah dan laranganNya. (76) ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ إِنَّا بِٱلَّذِيٓ ءَامَنتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ ﴿ "Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu'." Kesombongan me-nyeret mereka sehingga mereka menolak tunduk kepada kebenaran seperti orang-orang yang lemah. (77) ﴾ فَعَقَرُواْ ٱلنَّاقَةَ ﴿ "Kemudian mereka sembelih unta betina itu." Di mana Shalih telah mengancam mereka dengan siksa yang pedih jika mereka berani mengganggunya. ﴾ وَعَتَوۡاْ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb." Yakni mereka menolaknya dengan menyombongkan diri terhadap perintah Allah, di mana barangsiapa bersikap demikian maka Allah akan menimpakan azab yang pedih padanya. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", ditambah dengan perbuatan-perbuatan tersebut yang menunjukkan kelancangan dan keberanian menentang Allah tanpa mempedulikan apa yang me-reka katakan justru mereka membanggakannya,﴾ يَٰصَٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." Maka Shalih menjawab, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ذَٰلِكَ وَعۡدٌ غَيۡرُ مَكۡذُوبٖ 65 ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu ada-lah janji yang tidak dapat didustakan." (Hud: 65). (78) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿"Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka," dalam keadaan berlutut Allah membinasakan dan menumpas mereka. (79) ﴾ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka Shalih meninggalkan mereka", pada waktu Allah menimpakan azab kepada mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka dalam rangka menghinakan dan mencela mereka setelah Allah membinasakan mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ ﴿ "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Yakni segala apa yang Allah mengutusku dengannya kepadamu, aku telah me-nyampaikannya kepadamu. Aku telah berusaha memberimu petun-juk dan aku pun telah berupaya membawamu ke jalan yang lurus dan agama yang benar. ﴾ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Tetapi kamu tidak menyu-kai orang-orang yang memberi nasihat." Justru kamu menolak ucapan orang-orang yang tulus memberi nasihat dan menaati semua setan yang terkutuk. Ketahuilah, bahwa banyak ahli tafsir yang menyebutkan pada kisah ini bahwa unta betina itu keluar dari batu besar yang licin atas permintaan mereka kepada Shalih, bahwa batu itu mengejang seperti wanita hamil yang mau melahirkan, lalu unta itu keluar dan mereka melihatnya. Manakala mereka menyembelihnya, ia memi-liki anak, lalu ia bersuara tiga kali sehingga gunung terbelah dan ia pun masuk ke dalamnya. Dan Shalih berkata kepada mereka bahwa tanda turunnya azab adalah wajahmu menguning di hari pertama dari tiga hari yang dijanjikan, pada hari kedua memerah, dan pada hari ketiga menghitam, maka terjadilah seperti yang dikatakannya. Ini termasuk kisah-kisah Isra`iliyat yang tidak semestinya di-nukil dalam tafsir terhadap kitabullah, padahal di dalam al-Qur`an tidak ada yang menunjukkan hal itu sama sekali, justru kalau ia benar pastilah Allah تعالى akan menyebutkannya, karena padanya terdapat keajaiban, pelajaran, dan tanda kebesaranNya yang tidak mungkin dilalaikan oleh Allah dan ditinggalkan sampai ia diceri-takan oleh orang yang penukilannya tidak dipercaya. Bahkan al-Qur`an mendustakan sebagian yang disebutkan, karena Shalih ber-kata kepada mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari." (Hud: 65). Yakni bersenang-senanglah dalam waktu yang sangat pendek ini, karena kamu tidak memiliki kenikmatan dan kesenangan ke-cuali ini. Kenikmatan dan kesukaan apa bagi orang yang diancam oleh Nabi mereka dengan azab dan Nabi itu menyebutkan kejadian-kejadian yang menjadi pendahuluan azab tersebut, lalu ia terjadi hari demi hari dalam bentuk yang meliputi dan mencakup mereka, karena memerahnya wajah mereka, menguning dan menghitam-nya termasuk azab? Bukankah ini adalah bertentangan dengan al-Qur`an dan bertabrakan dengannya? Al-Qur`an sudah cukup dan ia sebagai petunjuk dari selainnya. Benar, jika sesuatu darinya di-tetapkan secara shahih dari Rasulullah ﷺ yang tidak bertentangan dengan al-Qur`an maka wajib diterima dan ia termasuk yang harus diikuti menurut al-Qur`an. ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr: 7). Dan telah dijelaskan bahwa tidak boleh menafsirkan Kitabul-lah dengan berita-berita Isra`iliyat, walaupun ada pendapat yang membolehkan meriwayatkan dari mereka dalam perkara-perkara yang tidak dipastikan dustanya, karena makna al-Qur`an bersifat yakin, sementara berita-berita Isra`iliyat merupakan perkara-perka-ra yang tidak dibenarkan dan juga tidak didustakan, jadi keduanya tidak mungkin dipertemukan.

Al-A'raf 7:75

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." (Al-A'raf: 73-74). "Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaum-nya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, 'Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyam-paikannya.' Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Se-sungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.' Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb. Dan mereka berkata, 'Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).' Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Maka Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabb-ku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat'." (Al-A'raf: 75- 79). (73)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus, ﴾ إِلَىٰ ثَمُودَ ﴿ "kepada kaum Tsamud", kabilah terkenal yang mendiami Hijr dan sekitarnya di tanah Hijaz dan jazirah Arab. Allah mengutus kepada mereka ﴾ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ ﴿ "saudara mereka, Shalih," sebagai Nabi yang mengajak mereka kepada iman dan tauhid dan melarang mereka dari kekufuran dan kesyirikan. Maka Shalih berkata ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selainNya." Dakwah Shalih sama dengan dakwah saudara-saudaranya para Nabi yang lain, yaitu perintah beribadah kepada Allah dan penje-lasan bahwa hanya Dia-lah yang berhak disembah. ﴾ قَدۡ جَآءَتۡكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu." Yakni salah satu mukjizat yang tidak lain kecuali dari la-ngit di mana manusia tidak mampu mendatangkannya. Kemudian Shalih menjelaskan mukjizat itu ﴾ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمۡ ءَايَةٗۖ ﴿ "Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu." Yakni ini adalah unta yang mulia lagi utama karena ia disandarkan kepada Allah sebagai bentuk penghormatan. Padanya terdapat tanda yang besar bagimu. Tanda ini disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ لَّهَا شِرۡبٞ وَلَكُمۡ شِرۡبُ يَوۡمٖ مَّعۡلُومٖ 155 ﴿ "Ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempu-nyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu." (Asy-Syu'ara: 155). Tsamud memiliki sumur yang besar, ia terkenal dengan su-mur unta, mereka dan unta itu saling bergiliran. Satu hari unta itu minum dari sumur dan mereka minum air susunya, dan sehari beri-kutnya mereka minum dari sumur dan unta itu menjauh. Lalu Nabi mereka, Shalih عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ فَذَرُوهَا تَأۡكُلۡ فِيٓ أَرۡضِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah." Makanannya bukan tang-gung jawabmu sedikit pun. ﴾ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوٓءٖ ﴿ "Dan janganlah kamu meng-ganggunya dengan gangguan apa pun", dengan menyembelihnya atau dengan yang lain, ﴾ فَيَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "(yang karenanya) kamu akan di-timpa siksaan yang pedih." (74) ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ ﴿ "Dan ingatlah olehmu di waktu Rabb menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa)", di bumi, yang padanya kamu bersenang-senang dan meraih keinginanmu. ﴾ مِنۢ بَعۡدِ عَادٖ ﴿ "sesudah kaum 'Ad", yang telah dibinasakan oleh Allah lalu Allah menjadikanmu pengganti sesudah mereka. ﴾ وَبَوَّأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dan memberikan tempat bagimu di bumi." Yakni mengizinkanmu hidup padanya dan memudahkan sarana-sarana yang dengannya kamu meraih apa yang kamu inginkan dan kamu perlukan. ﴾ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورٗا ﴿ "Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar." Yakni tanah-tanah datar yang bukan gunung, dan di sana kamu membangun istana-istana. Dan dari gunung-gunung kamu mema-hatnya untuk kamu jadikan[70] sebagai rumah, sebagai-mana ia bisa dilihat sampai sekarang, peninggalan-peninggalan mereka di gu-nung yang ada di Hijr dan sekelilingnya. Ia tetap ada selama gunung itu ada. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yakni berupa karunia, rizki, serta kekuatan yang diberikanNya kepada-mu. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." Yakni jangan kamu menghancurkan bumi dengan kerusakan dan kemaksiatan, karena kemaksiatan dapat merubah negeri-negeri yang makmur menjadi kubangan keseng-saraan, negeri-negeri itu telah sepi dari penduduknya, sehingga suasananya pun mencekam dan menakutkan. (75) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka yang me-nyombongkan diri di antara kaumnya berkata." Yakni para pemimpin dan pembesar yang menyombongkan diri dari kebenaran ﴾ لِلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ ﴿ "kepada orang-orang yang dianggap lemah." Karena tidak semua orang lemah itu beriman, maka mereka berkata, ﴾ لِمَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُمۡ أَتَعۡلَمُونَ أَنَّ صَٰلِحٗا مُّرۡسَلٞ مِّن رَّبِّهِۦۚ ﴿ "Yang telah beriman di antara mereka, 'Tahu-kah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?" Yakni apakah dia benar atau dusta? Lalu orang-orang lemah itu menjawab, ﴾ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلَ بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyampaikannya." Yakni tauhid kepada Allah, berita tentangNya, perintah dan laranganNya. (76) ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ إِنَّا بِٱلَّذِيٓ ءَامَنتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ ﴿ "Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu'." Kesombongan me-nyeret mereka sehingga mereka menolak tunduk kepada kebenaran seperti orang-orang yang lemah. (77) ﴾ فَعَقَرُواْ ٱلنَّاقَةَ ﴿ "Kemudian mereka sembelih unta betina itu." Di mana Shalih telah mengancam mereka dengan siksa yang pedih jika mereka berani mengganggunya. ﴾ وَعَتَوۡاْ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb." Yakni mereka menolaknya dengan menyombongkan diri terhadap perintah Allah, di mana barangsiapa bersikap demikian maka Allah akan menimpakan azab yang pedih padanya. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", ditambah dengan perbuatan-perbuatan tersebut yang menunjukkan kelancangan dan keberanian menentang Allah tanpa mempedulikan apa yang me-reka katakan justru mereka membanggakannya,﴾ يَٰصَٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." Maka Shalih menjawab, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ذَٰلِكَ وَعۡدٌ غَيۡرُ مَكۡذُوبٖ 65 ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu ada-lah janji yang tidak dapat didustakan." (Hud: 65). (78) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿"Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka," dalam keadaan berlutut Allah membinasakan dan menumpas mereka. (79) ﴾ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka Shalih meninggalkan mereka", pada waktu Allah menimpakan azab kepada mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka dalam rangka menghinakan dan mencela mereka setelah Allah membinasakan mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ ﴿ "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Yakni segala apa yang Allah mengutusku dengannya kepadamu, aku telah me-nyampaikannya kepadamu. Aku telah berusaha memberimu petun-juk dan aku pun telah berupaya membawamu ke jalan yang lurus dan agama yang benar. ﴾ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Tetapi kamu tidak menyu-kai orang-orang yang memberi nasihat." Justru kamu menolak ucapan orang-orang yang tulus memberi nasihat dan menaati semua setan yang terkutuk. Ketahuilah, bahwa banyak ahli tafsir yang menyebutkan pada kisah ini bahwa unta betina itu keluar dari batu besar yang licin atas permintaan mereka kepada Shalih, bahwa batu itu mengejang seperti wanita hamil yang mau melahirkan, lalu unta itu keluar dan mereka melihatnya. Manakala mereka menyembelihnya, ia memi-liki anak, lalu ia bersuara tiga kali sehingga gunung terbelah dan ia pun masuk ke dalamnya. Dan Shalih berkata kepada mereka bahwa tanda turunnya azab adalah wajahmu menguning di hari pertama dari tiga hari yang dijanjikan, pada hari kedua memerah, dan pada hari ketiga menghitam, maka terjadilah seperti yang dikatakannya. Ini termasuk kisah-kisah Isra`iliyat yang tidak semestinya di-nukil dalam tafsir terhadap kitabullah, padahal di dalam al-Qur`an tidak ada yang menunjukkan hal itu sama sekali, justru kalau ia benar pastilah Allah تعالى akan menyebutkannya, karena padanya terdapat keajaiban, pelajaran, dan tanda kebesaranNya yang tidak mungkin dilalaikan oleh Allah dan ditinggalkan sampai ia diceri-takan oleh orang yang penukilannya tidak dipercaya. Bahkan al-Qur`an mendustakan sebagian yang disebutkan, karena Shalih ber-kata kepada mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari." (Hud: 65). Yakni bersenang-senanglah dalam waktu yang sangat pendek ini, karena kamu tidak memiliki kenikmatan dan kesenangan ke-cuali ini. Kenikmatan dan kesukaan apa bagi orang yang diancam oleh Nabi mereka dengan azab dan Nabi itu menyebutkan kejadian-kejadian yang menjadi pendahuluan azab tersebut, lalu ia terjadi hari demi hari dalam bentuk yang meliputi dan mencakup mereka, karena memerahnya wajah mereka, menguning dan menghitam-nya termasuk azab? Bukankah ini adalah bertentangan dengan al-Qur`an dan bertabrakan dengannya? Al-Qur`an sudah cukup dan ia sebagai petunjuk dari selainnya. Benar, jika sesuatu darinya di-tetapkan secara shahih dari Rasulullah ﷺ yang tidak bertentangan dengan al-Qur`an maka wajib diterima dan ia termasuk yang harus diikuti menurut al-Qur`an. ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr: 7). Dan telah dijelaskan bahwa tidak boleh menafsirkan Kitabul-lah dengan berita-berita Isra`iliyat, walaupun ada pendapat yang membolehkan meriwayatkan dari mereka dalam perkara-perkara yang tidak dipastikan dustanya, karena makna al-Qur`an bersifat yakin, sementara berita-berita Isra`iliyat merupakan perkara-perka-ra yang tidak dibenarkan dan juga tidak didustakan, jadi keduanya tidak mungkin dipertemukan.

Al-A'raf 7:76

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." (Al-A'raf: 73-74). "Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaum-nya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, 'Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyam-paikannya.' Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Se-sungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.' Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb. Dan mereka berkata, 'Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).' Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Maka Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabb-ku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat'." (Al-A'raf: 75- 79). (73)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus, ﴾ إِلَىٰ ثَمُودَ ﴿ "kepada kaum Tsamud", kabilah terkenal yang mendiami Hijr dan sekitarnya di tanah Hijaz dan jazirah Arab. Allah mengutus kepada mereka ﴾ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ ﴿ "saudara mereka, Shalih," sebagai Nabi yang mengajak mereka kepada iman dan tauhid dan melarang mereka dari kekufuran dan kesyirikan. Maka Shalih berkata ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selainNya." Dakwah Shalih sama dengan dakwah saudara-saudaranya para Nabi yang lain, yaitu perintah beribadah kepada Allah dan penje-lasan bahwa hanya Dia-lah yang berhak disembah. ﴾ قَدۡ جَآءَتۡكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu." Yakni salah satu mukjizat yang tidak lain kecuali dari la-ngit di mana manusia tidak mampu mendatangkannya. Kemudian Shalih menjelaskan mukjizat itu ﴾ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمۡ ءَايَةٗۖ ﴿ "Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu." Yakni ini adalah unta yang mulia lagi utama karena ia disandarkan kepada Allah sebagai bentuk penghormatan. Padanya terdapat tanda yang besar bagimu. Tanda ini disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ لَّهَا شِرۡبٞ وَلَكُمۡ شِرۡبُ يَوۡمٖ مَّعۡلُومٖ 155 ﴿ "Ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempu-nyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu." (Asy-Syu'ara: 155). Tsamud memiliki sumur yang besar, ia terkenal dengan su-mur unta, mereka dan unta itu saling bergiliran. Satu hari unta itu minum dari sumur dan mereka minum air susunya, dan sehari beri-kutnya mereka minum dari sumur dan unta itu menjauh. Lalu Nabi mereka, Shalih عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ فَذَرُوهَا تَأۡكُلۡ فِيٓ أَرۡضِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah." Makanannya bukan tang-gung jawabmu sedikit pun. ﴾ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوٓءٖ ﴿ "Dan janganlah kamu meng-ganggunya dengan gangguan apa pun", dengan menyembelihnya atau dengan yang lain, ﴾ فَيَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "(yang karenanya) kamu akan di-timpa siksaan yang pedih." (74) ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ ﴿ "Dan ingatlah olehmu di waktu Rabb menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa)", di bumi, yang padanya kamu bersenang-senang dan meraih keinginanmu. ﴾ مِنۢ بَعۡدِ عَادٖ ﴿ "sesudah kaum 'Ad", yang telah dibinasakan oleh Allah lalu Allah menjadikanmu pengganti sesudah mereka. ﴾ وَبَوَّأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dan memberikan tempat bagimu di bumi." Yakni mengizinkanmu hidup padanya dan memudahkan sarana-sarana yang dengannya kamu meraih apa yang kamu inginkan dan kamu perlukan. ﴾ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورٗا ﴿ "Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar." Yakni tanah-tanah datar yang bukan gunung, dan di sana kamu membangun istana-istana. Dan dari gunung-gunung kamu mema-hatnya untuk kamu jadikan[70] sebagai rumah, sebagai-mana ia bisa dilihat sampai sekarang, peninggalan-peninggalan mereka di gu-nung yang ada di Hijr dan sekelilingnya. Ia tetap ada selama gunung itu ada. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yakni berupa karunia, rizki, serta kekuatan yang diberikanNya kepada-mu. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." Yakni jangan kamu menghancurkan bumi dengan kerusakan dan kemaksiatan, karena kemaksiatan dapat merubah negeri-negeri yang makmur menjadi kubangan keseng-saraan, negeri-negeri itu telah sepi dari penduduknya, sehingga suasananya pun mencekam dan menakutkan. (75) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka yang me-nyombongkan diri di antara kaumnya berkata." Yakni para pemimpin dan pembesar yang menyombongkan diri dari kebenaran ﴾ لِلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ ﴿ "kepada orang-orang yang dianggap lemah." Karena tidak semua orang lemah itu beriman, maka mereka berkata, ﴾ لِمَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُمۡ أَتَعۡلَمُونَ أَنَّ صَٰلِحٗا مُّرۡسَلٞ مِّن رَّبِّهِۦۚ ﴿ "Yang telah beriman di antara mereka, 'Tahu-kah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?" Yakni apakah dia benar atau dusta? Lalu orang-orang lemah itu menjawab, ﴾ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلَ بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyampaikannya." Yakni tauhid kepada Allah, berita tentangNya, perintah dan laranganNya. (76) ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ إِنَّا بِٱلَّذِيٓ ءَامَنتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ ﴿ "Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu'." Kesombongan me-nyeret mereka sehingga mereka menolak tunduk kepada kebenaran seperti orang-orang yang lemah. (77) ﴾ فَعَقَرُواْ ٱلنَّاقَةَ ﴿ "Kemudian mereka sembelih unta betina itu." Di mana Shalih telah mengancam mereka dengan siksa yang pedih jika mereka berani mengganggunya. ﴾ وَعَتَوۡاْ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb." Yakni mereka menolaknya dengan menyombongkan diri terhadap perintah Allah, di mana barangsiapa bersikap demikian maka Allah akan menimpakan azab yang pedih padanya. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", ditambah dengan perbuatan-perbuatan tersebut yang menunjukkan kelancangan dan keberanian menentang Allah tanpa mempedulikan apa yang me-reka katakan justru mereka membanggakannya,﴾ يَٰصَٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." Maka Shalih menjawab, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ذَٰلِكَ وَعۡدٌ غَيۡرُ مَكۡذُوبٖ 65 ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu ada-lah janji yang tidak dapat didustakan." (Hud: 65). (78) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿"Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka," dalam keadaan berlutut Allah membinasakan dan menumpas mereka. (79) ﴾ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka Shalih meninggalkan mereka", pada waktu Allah menimpakan azab kepada mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka dalam rangka menghinakan dan mencela mereka setelah Allah membinasakan mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ ﴿ "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Yakni segala apa yang Allah mengutusku dengannya kepadamu, aku telah me-nyampaikannya kepadamu. Aku telah berusaha memberimu petun-juk dan aku pun telah berupaya membawamu ke jalan yang lurus dan agama yang benar. ﴾ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Tetapi kamu tidak menyu-kai orang-orang yang memberi nasihat." Justru kamu menolak ucapan orang-orang yang tulus memberi nasihat dan menaati semua setan yang terkutuk. Ketahuilah, bahwa banyak ahli tafsir yang menyebutkan pada kisah ini bahwa unta betina itu keluar dari batu besar yang licin atas permintaan mereka kepada Shalih, bahwa batu itu mengejang seperti wanita hamil yang mau melahirkan, lalu unta itu keluar dan mereka melihatnya. Manakala mereka menyembelihnya, ia memi-liki anak, lalu ia bersuara tiga kali sehingga gunung terbelah dan ia pun masuk ke dalamnya. Dan Shalih berkata kepada mereka bahwa tanda turunnya azab adalah wajahmu menguning di hari pertama dari tiga hari yang dijanjikan, pada hari kedua memerah, dan pada hari ketiga menghitam, maka terjadilah seperti yang dikatakannya. Ini termasuk kisah-kisah Isra`iliyat yang tidak semestinya di-nukil dalam tafsir terhadap kitabullah, padahal di dalam al-Qur`an tidak ada yang menunjukkan hal itu sama sekali, justru kalau ia benar pastilah Allah تعالى akan menyebutkannya, karena padanya terdapat keajaiban, pelajaran, dan tanda kebesaranNya yang tidak mungkin dilalaikan oleh Allah dan ditinggalkan sampai ia diceri-takan oleh orang yang penukilannya tidak dipercaya. Bahkan al-Qur`an mendustakan sebagian yang disebutkan, karena Shalih ber-kata kepada mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari." (Hud: 65). Yakni bersenang-senanglah dalam waktu yang sangat pendek ini, karena kamu tidak memiliki kenikmatan dan kesenangan ke-cuali ini. Kenikmatan dan kesukaan apa bagi orang yang diancam oleh Nabi mereka dengan azab dan Nabi itu menyebutkan kejadian-kejadian yang menjadi pendahuluan azab tersebut, lalu ia terjadi hari demi hari dalam bentuk yang meliputi dan mencakup mereka, karena memerahnya wajah mereka, menguning dan menghitam-nya termasuk azab? Bukankah ini adalah bertentangan dengan al-Qur`an dan bertabrakan dengannya? Al-Qur`an sudah cukup dan ia sebagai petunjuk dari selainnya. Benar, jika sesuatu darinya di-tetapkan secara shahih dari Rasulullah ﷺ yang tidak bertentangan dengan al-Qur`an maka wajib diterima dan ia termasuk yang harus diikuti menurut al-Qur`an. ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr: 7). Dan telah dijelaskan bahwa tidak boleh menafsirkan Kitabul-lah dengan berita-berita Isra`iliyat, walaupun ada pendapat yang membolehkan meriwayatkan dari mereka dalam perkara-perkara yang tidak dipastikan dustanya, karena makna al-Qur`an bersifat yakin, sementara berita-berita Isra`iliyat merupakan perkara-perka-ra yang tidak dibenarkan dan juga tidak didustakan, jadi keduanya tidak mungkin dipertemukan.

Al-A'raf 7:77

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." (Al-A'raf: 73-74). "Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaum-nya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, 'Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyam-paikannya.' Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Se-sungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.' Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb. Dan mereka berkata, 'Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).' Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Maka Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabb-ku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat'." (Al-A'raf: 75- 79). (73)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus, ﴾ إِلَىٰ ثَمُودَ ﴿ "kepada kaum Tsamud", kabilah terkenal yang mendiami Hijr dan sekitarnya di tanah Hijaz dan jazirah Arab. Allah mengutus kepada mereka ﴾ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ ﴿ "saudara mereka, Shalih," sebagai Nabi yang mengajak mereka kepada iman dan tauhid dan melarang mereka dari kekufuran dan kesyirikan. Maka Shalih berkata ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selainNya." Dakwah Shalih sama dengan dakwah saudara-saudaranya para Nabi yang lain, yaitu perintah beribadah kepada Allah dan penje-lasan bahwa hanya Dia-lah yang berhak disembah. ﴾ قَدۡ جَآءَتۡكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu." Yakni salah satu mukjizat yang tidak lain kecuali dari la-ngit di mana manusia tidak mampu mendatangkannya. Kemudian Shalih menjelaskan mukjizat itu ﴾ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمۡ ءَايَةٗۖ ﴿ "Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu." Yakni ini adalah unta yang mulia lagi utama karena ia disandarkan kepada Allah sebagai bentuk penghormatan. Padanya terdapat tanda yang besar bagimu. Tanda ini disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ لَّهَا شِرۡبٞ وَلَكُمۡ شِرۡبُ يَوۡمٖ مَّعۡلُومٖ 155 ﴿ "Ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempu-nyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu." (Asy-Syu'ara: 155). Tsamud memiliki sumur yang besar, ia terkenal dengan su-mur unta, mereka dan unta itu saling bergiliran. Satu hari unta itu minum dari sumur dan mereka minum air susunya, dan sehari beri-kutnya mereka minum dari sumur dan unta itu menjauh. Lalu Nabi mereka, Shalih عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ فَذَرُوهَا تَأۡكُلۡ فِيٓ أَرۡضِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah." Makanannya bukan tang-gung jawabmu sedikit pun. ﴾ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوٓءٖ ﴿ "Dan janganlah kamu meng-ganggunya dengan gangguan apa pun", dengan menyembelihnya atau dengan yang lain, ﴾ فَيَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "(yang karenanya) kamu akan di-timpa siksaan yang pedih." (74) ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ ﴿ "Dan ingatlah olehmu di waktu Rabb menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa)", di bumi, yang padanya kamu bersenang-senang dan meraih keinginanmu. ﴾ مِنۢ بَعۡدِ عَادٖ ﴿ "sesudah kaum 'Ad", yang telah dibinasakan oleh Allah lalu Allah menjadikanmu pengganti sesudah mereka. ﴾ وَبَوَّأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dan memberikan tempat bagimu di bumi." Yakni mengizinkanmu hidup padanya dan memudahkan sarana-sarana yang dengannya kamu meraih apa yang kamu inginkan dan kamu perlukan. ﴾ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورٗا ﴿ "Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar." Yakni tanah-tanah datar yang bukan gunung, dan di sana kamu membangun istana-istana. Dan dari gunung-gunung kamu mema-hatnya untuk kamu jadikan[70] sebagai rumah, sebagai-mana ia bisa dilihat sampai sekarang, peninggalan-peninggalan mereka di gu-nung yang ada di Hijr dan sekelilingnya. Ia tetap ada selama gunung itu ada. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yakni berupa karunia, rizki, serta kekuatan yang diberikanNya kepada-mu. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." Yakni jangan kamu menghancurkan bumi dengan kerusakan dan kemaksiatan, karena kemaksiatan dapat merubah negeri-negeri yang makmur menjadi kubangan keseng-saraan, negeri-negeri itu telah sepi dari penduduknya, sehingga suasananya pun mencekam dan menakutkan. (75) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka yang me-nyombongkan diri di antara kaumnya berkata." Yakni para pemimpin dan pembesar yang menyombongkan diri dari kebenaran ﴾ لِلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ ﴿ "kepada orang-orang yang dianggap lemah." Karena tidak semua orang lemah itu beriman, maka mereka berkata, ﴾ لِمَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُمۡ أَتَعۡلَمُونَ أَنَّ صَٰلِحٗا مُّرۡسَلٞ مِّن رَّبِّهِۦۚ ﴿ "Yang telah beriman di antara mereka, 'Tahu-kah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?" Yakni apakah dia benar atau dusta? Lalu orang-orang lemah itu menjawab, ﴾ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلَ بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyampaikannya." Yakni tauhid kepada Allah, berita tentangNya, perintah dan laranganNya. (76) ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ إِنَّا بِٱلَّذِيٓ ءَامَنتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ ﴿ "Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu'." Kesombongan me-nyeret mereka sehingga mereka menolak tunduk kepada kebenaran seperti orang-orang yang lemah. (77) ﴾ فَعَقَرُواْ ٱلنَّاقَةَ ﴿ "Kemudian mereka sembelih unta betina itu." Di mana Shalih telah mengancam mereka dengan siksa yang pedih jika mereka berani mengganggunya. ﴾ وَعَتَوۡاْ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb." Yakni mereka menolaknya dengan menyombongkan diri terhadap perintah Allah, di mana barangsiapa bersikap demikian maka Allah akan menimpakan azab yang pedih padanya. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", ditambah dengan perbuatan-perbuatan tersebut yang menunjukkan kelancangan dan keberanian menentang Allah tanpa mempedulikan apa yang me-reka katakan justru mereka membanggakannya,﴾ يَٰصَٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." Maka Shalih menjawab, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ذَٰلِكَ وَعۡدٌ غَيۡرُ مَكۡذُوبٖ 65 ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu ada-lah janji yang tidak dapat didustakan." (Hud: 65). (78) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿"Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka," dalam keadaan berlutut Allah membinasakan dan menumpas mereka. (79) ﴾ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka Shalih meninggalkan mereka", pada waktu Allah menimpakan azab kepada mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka dalam rangka menghinakan dan mencela mereka setelah Allah membinasakan mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ ﴿ "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Yakni segala apa yang Allah mengutusku dengannya kepadamu, aku telah me-nyampaikannya kepadamu. Aku telah berusaha memberimu petun-juk dan aku pun telah berupaya membawamu ke jalan yang lurus dan agama yang benar. ﴾ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Tetapi kamu tidak menyu-kai orang-orang yang memberi nasihat." Justru kamu menolak ucapan orang-orang yang tulus memberi nasihat dan menaati semua setan yang terkutuk. Ketahuilah, bahwa banyak ahli tafsir yang menyebutkan pada kisah ini bahwa unta betina itu keluar dari batu besar yang licin atas permintaan mereka kepada Shalih, bahwa batu itu mengejang seperti wanita hamil yang mau melahirkan, lalu unta itu keluar dan mereka melihatnya. Manakala mereka menyembelihnya, ia memi-liki anak, lalu ia bersuara tiga kali sehingga gunung terbelah dan ia pun masuk ke dalamnya. Dan Shalih berkata kepada mereka bahwa tanda turunnya azab adalah wajahmu menguning di hari pertama dari tiga hari yang dijanjikan, pada hari kedua memerah, dan pada hari ketiga menghitam, maka terjadilah seperti yang dikatakannya. Ini termasuk kisah-kisah Isra`iliyat yang tidak semestinya di-nukil dalam tafsir terhadap kitabullah, padahal di dalam al-Qur`an tidak ada yang menunjukkan hal itu sama sekali, justru kalau ia benar pastilah Allah تعالى akan menyebutkannya, karena padanya terdapat keajaiban, pelajaran, dan tanda kebesaranNya yang tidak mungkin dilalaikan oleh Allah dan ditinggalkan sampai ia diceri-takan oleh orang yang penukilannya tidak dipercaya. Bahkan al-Qur`an mendustakan sebagian yang disebutkan, karena Shalih ber-kata kepada mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari." (Hud: 65). Yakni bersenang-senanglah dalam waktu yang sangat pendek ini, karena kamu tidak memiliki kenikmatan dan kesenangan ke-cuali ini. Kenikmatan dan kesukaan apa bagi orang yang diancam oleh Nabi mereka dengan azab dan Nabi itu menyebutkan kejadian-kejadian yang menjadi pendahuluan azab tersebut, lalu ia terjadi hari demi hari dalam bentuk yang meliputi dan mencakup mereka, karena memerahnya wajah mereka, menguning dan menghitam-nya termasuk azab? Bukankah ini adalah bertentangan dengan al-Qur`an dan bertabrakan dengannya? Al-Qur`an sudah cukup dan ia sebagai petunjuk dari selainnya. Benar, jika sesuatu darinya di-tetapkan secara shahih dari Rasulullah ﷺ yang tidak bertentangan dengan al-Qur`an maka wajib diterima dan ia termasuk yang harus diikuti menurut al-Qur`an. ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr: 7). Dan telah dijelaskan bahwa tidak boleh menafsirkan Kitabul-lah dengan berita-berita Isra`iliyat, walaupun ada pendapat yang membolehkan meriwayatkan dari mereka dalam perkara-perkara yang tidak dipastikan dustanya, karena makna al-Qur`an bersifat yakin, sementara berita-berita Isra`iliyat merupakan perkara-perka-ra yang tidak dibenarkan dan juga tidak didustakan, jadi keduanya tidak mungkin dipertemukan.

Al-A'raf 7:78

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." (Al-A'raf: 73-74). "Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaum-nya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, 'Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyam-paikannya.' Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Se-sungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.' Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb. Dan mereka berkata, 'Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).' Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Maka Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabb-ku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat'." (Al-A'raf: 75- 79). (73)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus, ﴾ إِلَىٰ ثَمُودَ ﴿ "kepada kaum Tsamud", kabilah terkenal yang mendiami Hijr dan sekitarnya di tanah Hijaz dan jazirah Arab. Allah mengutus kepada mereka ﴾ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ ﴿ "saudara mereka, Shalih," sebagai Nabi yang mengajak mereka kepada iman dan tauhid dan melarang mereka dari kekufuran dan kesyirikan. Maka Shalih berkata ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selainNya." Dakwah Shalih sama dengan dakwah saudara-saudaranya para Nabi yang lain, yaitu perintah beribadah kepada Allah dan penje-lasan bahwa hanya Dia-lah yang berhak disembah. ﴾ قَدۡ جَآءَتۡكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu." Yakni salah satu mukjizat yang tidak lain kecuali dari la-ngit di mana manusia tidak mampu mendatangkannya. Kemudian Shalih menjelaskan mukjizat itu ﴾ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمۡ ءَايَةٗۖ ﴿ "Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu." Yakni ini adalah unta yang mulia lagi utama karena ia disandarkan kepada Allah sebagai bentuk penghormatan. Padanya terdapat tanda yang besar bagimu. Tanda ini disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ لَّهَا شِرۡبٞ وَلَكُمۡ شِرۡبُ يَوۡمٖ مَّعۡلُومٖ 155 ﴿ "Ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempu-nyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu." (Asy-Syu'ara: 155). Tsamud memiliki sumur yang besar, ia terkenal dengan su-mur unta, mereka dan unta itu saling bergiliran. Satu hari unta itu minum dari sumur dan mereka minum air susunya, dan sehari beri-kutnya mereka minum dari sumur dan unta itu menjauh. Lalu Nabi mereka, Shalih عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ فَذَرُوهَا تَأۡكُلۡ فِيٓ أَرۡضِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah." Makanannya bukan tang-gung jawabmu sedikit pun. ﴾ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوٓءٖ ﴿ "Dan janganlah kamu meng-ganggunya dengan gangguan apa pun", dengan menyembelihnya atau dengan yang lain, ﴾ فَيَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "(yang karenanya) kamu akan di-timpa siksaan yang pedih." (74) ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ ﴿ "Dan ingatlah olehmu di waktu Rabb menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa)", di bumi, yang padanya kamu bersenang-senang dan meraih keinginanmu. ﴾ مِنۢ بَعۡدِ عَادٖ ﴿ "sesudah kaum 'Ad", yang telah dibinasakan oleh Allah lalu Allah menjadikanmu pengganti sesudah mereka. ﴾ وَبَوَّأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dan memberikan tempat bagimu di bumi." Yakni mengizinkanmu hidup padanya dan memudahkan sarana-sarana yang dengannya kamu meraih apa yang kamu inginkan dan kamu perlukan. ﴾ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورٗا ﴿ "Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar." Yakni tanah-tanah datar yang bukan gunung, dan di sana kamu membangun istana-istana. Dan dari gunung-gunung kamu mema-hatnya untuk kamu jadikan[70] sebagai rumah, sebagai-mana ia bisa dilihat sampai sekarang, peninggalan-peninggalan mereka di gu-nung yang ada di Hijr dan sekelilingnya. Ia tetap ada selama gunung itu ada. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yakni berupa karunia, rizki, serta kekuatan yang diberikanNya kepada-mu. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." Yakni jangan kamu menghancurkan bumi dengan kerusakan dan kemaksiatan, karena kemaksiatan dapat merubah negeri-negeri yang makmur menjadi kubangan keseng-saraan, negeri-negeri itu telah sepi dari penduduknya, sehingga suasananya pun mencekam dan menakutkan. (75) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka yang me-nyombongkan diri di antara kaumnya berkata." Yakni para pemimpin dan pembesar yang menyombongkan diri dari kebenaran ﴾ لِلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ ﴿ "kepada orang-orang yang dianggap lemah." Karena tidak semua orang lemah itu beriman, maka mereka berkata, ﴾ لِمَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُمۡ أَتَعۡلَمُونَ أَنَّ صَٰلِحٗا مُّرۡسَلٞ مِّن رَّبِّهِۦۚ ﴿ "Yang telah beriman di antara mereka, 'Tahu-kah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?" Yakni apakah dia benar atau dusta? Lalu orang-orang lemah itu menjawab, ﴾ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلَ بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyampaikannya." Yakni tauhid kepada Allah, berita tentangNya, perintah dan laranganNya. (76) ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ إِنَّا بِٱلَّذِيٓ ءَامَنتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ ﴿ "Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu'." Kesombongan me-nyeret mereka sehingga mereka menolak tunduk kepada kebenaran seperti orang-orang yang lemah. (77) ﴾ فَعَقَرُواْ ٱلنَّاقَةَ ﴿ "Kemudian mereka sembelih unta betina itu." Di mana Shalih telah mengancam mereka dengan siksa yang pedih jika mereka berani mengganggunya. ﴾ وَعَتَوۡاْ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb." Yakni mereka menolaknya dengan menyombongkan diri terhadap perintah Allah, di mana barangsiapa bersikap demikian maka Allah akan menimpakan azab yang pedih padanya. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", ditambah dengan perbuatan-perbuatan tersebut yang menunjukkan kelancangan dan keberanian menentang Allah tanpa mempedulikan apa yang me-reka katakan justru mereka membanggakannya,﴾ يَٰصَٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." Maka Shalih menjawab, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ذَٰلِكَ وَعۡدٌ غَيۡرُ مَكۡذُوبٖ 65 ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu ada-lah janji yang tidak dapat didustakan." (Hud: 65). (78) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿"Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka," dalam keadaan berlutut Allah membinasakan dan menumpas mereka. (79) ﴾ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka Shalih meninggalkan mereka", pada waktu Allah menimpakan azab kepada mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka dalam rangka menghinakan dan mencela mereka setelah Allah membinasakan mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ ﴿ "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Yakni segala apa yang Allah mengutusku dengannya kepadamu, aku telah me-nyampaikannya kepadamu. Aku telah berusaha memberimu petun-juk dan aku pun telah berupaya membawamu ke jalan yang lurus dan agama yang benar. ﴾ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Tetapi kamu tidak menyu-kai orang-orang yang memberi nasihat." Justru kamu menolak ucapan orang-orang yang tulus memberi nasihat dan menaati semua setan yang terkutuk. Ketahuilah, bahwa banyak ahli tafsir yang menyebutkan pada kisah ini bahwa unta betina itu keluar dari batu besar yang licin atas permintaan mereka kepada Shalih, bahwa batu itu mengejang seperti wanita hamil yang mau melahirkan, lalu unta itu keluar dan mereka melihatnya. Manakala mereka menyembelihnya, ia memi-liki anak, lalu ia bersuara tiga kali sehingga gunung terbelah dan ia pun masuk ke dalamnya. Dan Shalih berkata kepada mereka bahwa tanda turunnya azab adalah wajahmu menguning di hari pertama dari tiga hari yang dijanjikan, pada hari kedua memerah, dan pada hari ketiga menghitam, maka terjadilah seperti yang dikatakannya. Ini termasuk kisah-kisah Isra`iliyat yang tidak semestinya di-nukil dalam tafsir terhadap kitabullah, padahal di dalam al-Qur`an tidak ada yang menunjukkan hal itu sama sekali, justru kalau ia benar pastilah Allah تعالى akan menyebutkannya, karena padanya terdapat keajaiban, pelajaran, dan tanda kebesaranNya yang tidak mungkin dilalaikan oleh Allah dan ditinggalkan sampai ia diceri-takan oleh orang yang penukilannya tidak dipercaya. Bahkan al-Qur`an mendustakan sebagian yang disebutkan, karena Shalih ber-kata kepada mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari." (Hud: 65). Yakni bersenang-senanglah dalam waktu yang sangat pendek ini, karena kamu tidak memiliki kenikmatan dan kesenangan ke-cuali ini. Kenikmatan dan kesukaan apa bagi orang yang diancam oleh Nabi mereka dengan azab dan Nabi itu menyebutkan kejadian-kejadian yang menjadi pendahuluan azab tersebut, lalu ia terjadi hari demi hari dalam bentuk yang meliputi dan mencakup mereka, karena memerahnya wajah mereka, menguning dan menghitam-nya termasuk azab? Bukankah ini adalah bertentangan dengan al-Qur`an dan bertabrakan dengannya? Al-Qur`an sudah cukup dan ia sebagai petunjuk dari selainnya. Benar, jika sesuatu darinya di-tetapkan secara shahih dari Rasulullah ﷺ yang tidak bertentangan dengan al-Qur`an maka wajib diterima dan ia termasuk yang harus diikuti menurut al-Qur`an. ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr: 7). Dan telah dijelaskan bahwa tidak boleh menafsirkan Kitabul-lah dengan berita-berita Isra`iliyat, walaupun ada pendapat yang membolehkan meriwayatkan dari mereka dalam perkara-perkara yang tidak dipastikan dustanya, karena makna al-Qur`an bersifat yakin, sementara berita-berita Isra`iliyat merupakan perkara-perka-ra yang tidak dibenarkan dan juga tidak didustakan, jadi keduanya tidak mungkin dipertemukan.

Al-A'raf 7:79

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih. Ia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-peng-ganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." (Al-A'raf: 73-74). "Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaum-nya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, 'Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyam-paikannya.' Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Se-sungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.' Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb. Dan mereka berkata, 'Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).' Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Maka Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabb-ku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat'." (Al-A'raf: 75- 79). (73)(وَ) "Dan" Kami telah mengutus, ﴾ إِلَىٰ ثَمُودَ ﴿ "kepada kaum Tsamud", kabilah terkenal yang mendiami Hijr dan sekitarnya di tanah Hijaz dan jazirah Arab. Allah mengutus kepada mereka ﴾ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ ﴿ "saudara mereka, Shalih," sebagai Nabi yang mengajak mereka kepada iman dan tauhid dan melarang mereka dari kekufuran dan kesyirikan. Maka Shalih berkata ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selainNya." Dakwah Shalih sama dengan dakwah saudara-saudaranya para Nabi yang lain, yaitu perintah beribadah kepada Allah dan penje-lasan bahwa hanya Dia-lah yang berhak disembah. ﴾ قَدۡ جَآءَتۡكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu." Yakni salah satu mukjizat yang tidak lain kecuali dari la-ngit di mana manusia tidak mampu mendatangkannya. Kemudian Shalih menjelaskan mukjizat itu ﴾ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمۡ ءَايَةٗۖ ﴿ "Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu." Yakni ini adalah unta yang mulia lagi utama karena ia disandarkan kepada Allah sebagai bentuk penghormatan. Padanya terdapat tanda yang besar bagimu. Tanda ini disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ لَّهَا شِرۡبٞ وَلَكُمۡ شِرۡبُ يَوۡمٖ مَّعۡلُومٖ 155 ﴿ "Ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempu-nyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu." (Asy-Syu'ara: 155). Tsamud memiliki sumur yang besar, ia terkenal dengan su-mur unta, mereka dan unta itu saling bergiliran. Satu hari unta itu minum dari sumur dan mereka minum air susunya, dan sehari beri-kutnya mereka minum dari sumur dan unta itu menjauh. Lalu Nabi mereka, Shalih عليه السلام berkata kepada mereka, ﴾ فَذَرُوهَا تَأۡكُلۡ فِيٓ أَرۡضِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah." Makanannya bukan tang-gung jawabmu sedikit pun. ﴾ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوٓءٖ ﴿ "Dan janganlah kamu meng-ganggunya dengan gangguan apa pun", dengan menyembelihnya atau dengan yang lain, ﴾ فَيَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "(yang karenanya) kamu akan di-timpa siksaan yang pedih." (74) ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ ﴿ "Dan ingatlah olehmu di waktu Rabb menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa)", di bumi, yang padanya kamu bersenang-senang dan meraih keinginanmu. ﴾ مِنۢ بَعۡدِ عَادٖ ﴿ "sesudah kaum 'Ad", yang telah dibinasakan oleh Allah lalu Allah menjadikanmu pengganti sesudah mereka. ﴾ وَبَوَّأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dan memberikan tempat bagimu di bumi." Yakni mengizinkanmu hidup padanya dan memudahkan sarana-sarana yang dengannya kamu meraih apa yang kamu inginkan dan kamu perlukan. ﴾ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورٗا ﴿ "Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar." Yakni tanah-tanah datar yang bukan gunung, dan di sana kamu membangun istana-istana. Dan dari gunung-gunung kamu mema-hatnya untuk kamu jadikan[70] sebagai rumah, sebagai-mana ia bisa dilihat sampai sekarang, peninggalan-peninggalan mereka di gu-nung yang ada di Hijr dan sekelilingnya. Ia tetap ada selama gunung itu ada. ﴾ فَٱذۡكُرُوٓاْ ءَالَآءَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah", yakni berupa karunia, rizki, serta kekuatan yang diberikanNya kepada-mu. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." Yakni jangan kamu menghancurkan bumi dengan kerusakan dan kemaksiatan, karena kemaksiatan dapat merubah negeri-negeri yang makmur menjadi kubangan keseng-saraan, negeri-negeri itu telah sepi dari penduduknya, sehingga suasananya pun mencekam dan menakutkan. (75) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka yang me-nyombongkan diri di antara kaumnya berkata." Yakni para pemimpin dan pembesar yang menyombongkan diri dari kebenaran ﴾ لِلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ ﴿ "kepada orang-orang yang dianggap lemah." Karena tidak semua orang lemah itu beriman, maka mereka berkata, ﴾ لِمَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُمۡ أَتَعۡلَمُونَ أَنَّ صَٰلِحٗا مُّرۡسَلٞ مِّن رَّبِّهِۦۚ ﴿ "Yang telah beriman di antara mereka, 'Tahu-kah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?" Yakni apakah dia benar atau dusta? Lalu orang-orang lemah itu menjawab, ﴾ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلَ بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyampaikannya." Yakni tauhid kepada Allah, berita tentangNya, perintah dan laranganNya. (76) ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ إِنَّا بِٱلَّذِيٓ ءَامَنتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ ﴿ "Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu'." Kesombongan me-nyeret mereka sehingga mereka menolak tunduk kepada kebenaran seperti orang-orang yang lemah. (77) ﴾ فَعَقَرُواْ ٱلنَّاقَةَ ﴿ "Kemudian mereka sembelih unta betina itu." Di mana Shalih telah mengancam mereka dengan siksa yang pedih jika mereka berani mengganggunya. ﴾ وَعَتَوۡاْ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb." Yakni mereka menolaknya dengan menyombongkan diri terhadap perintah Allah, di mana barangsiapa bersikap demikian maka Allah akan menimpakan azab yang pedih padanya. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", ditambah dengan perbuatan-perbuatan tersebut yang menunjukkan kelancangan dan keberanian menentang Allah tanpa mempedulikan apa yang me-reka katakan justru mereka membanggakannya,﴾ يَٰصَٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." Maka Shalih menjawab, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ذَٰلِكَ وَعۡدٌ غَيۡرُ مَكۡذُوبٖ 65 ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu ada-lah janji yang tidak dapat didustakan." (Hud: 65). (78) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿"Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka," dalam keadaan berlutut Allah membinasakan dan menumpas mereka. (79) ﴾ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka Shalih meninggalkan mereka", pada waktu Allah menimpakan azab kepada mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka dalam rangka menghinakan dan mencela mereka setelah Allah membinasakan mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ ﴿ "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Yakni segala apa yang Allah mengutusku dengannya kepadamu, aku telah me-nyampaikannya kepadamu. Aku telah berusaha memberimu petun-juk dan aku pun telah berupaya membawamu ke jalan yang lurus dan agama yang benar. ﴾ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ ﴿ "Tetapi kamu tidak menyu-kai orang-orang yang memberi nasihat." Justru kamu menolak ucapan orang-orang yang tulus memberi nasihat dan menaati semua setan yang terkutuk. Ketahuilah, bahwa banyak ahli tafsir yang menyebutkan pada kisah ini bahwa unta betina itu keluar dari batu besar yang licin atas permintaan mereka kepada Shalih, bahwa batu itu mengejang seperti wanita hamil yang mau melahirkan, lalu unta itu keluar dan mereka melihatnya. Manakala mereka menyembelihnya, ia memi-liki anak, lalu ia bersuara tiga kali sehingga gunung terbelah dan ia pun masuk ke dalamnya. Dan Shalih berkata kepada mereka bahwa tanda turunnya azab adalah wajahmu menguning di hari pertama dari tiga hari yang dijanjikan, pada hari kedua memerah, dan pada hari ketiga menghitam, maka terjadilah seperti yang dikatakannya. Ini termasuk kisah-kisah Isra`iliyat yang tidak semestinya di-nukil dalam tafsir terhadap kitabullah, padahal di dalam al-Qur`an tidak ada yang menunjukkan hal itu sama sekali, justru kalau ia benar pastilah Allah تعالى akan menyebutkannya, karena padanya terdapat keajaiban, pelajaran, dan tanda kebesaranNya yang tidak mungkin dilalaikan oleh Allah dan ditinggalkan sampai ia diceri-takan oleh orang yang penukilannya tidak dipercaya. Bahkan al-Qur`an mendustakan sebagian yang disebutkan, karena Shalih ber-kata kepada mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ﴿ "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari." (Hud: 65). Yakni bersenang-senanglah dalam waktu yang sangat pendek ini, karena kamu tidak memiliki kenikmatan dan kesenangan ke-cuali ini. Kenikmatan dan kesukaan apa bagi orang yang diancam oleh Nabi mereka dengan azab dan Nabi itu menyebutkan kejadian-kejadian yang menjadi pendahuluan azab tersebut, lalu ia terjadi hari demi hari dalam bentuk yang meliputi dan mencakup mereka, karena memerahnya wajah mereka, menguning dan menghitam-nya termasuk azab? Bukankah ini adalah bertentangan dengan al-Qur`an dan bertabrakan dengannya? Al-Qur`an sudah cukup dan ia sebagai petunjuk dari selainnya. Benar, jika sesuatu darinya di-tetapkan secara shahih dari Rasulullah ﷺ yang tidak bertentangan dengan al-Qur`an maka wajib diterima dan ia termasuk yang harus diikuti menurut al-Qur`an. ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr: 7). Dan telah dijelaskan bahwa tidak boleh menafsirkan Kitabul-lah dengan berita-berita Isra`iliyat, walaupun ada pendapat yang membolehkan meriwayatkan dari mereka dalam perkara-perkara yang tidak dipastikan dustanya, karena makna al-Qur`an bersifat yakin, sementara berita-berita Isra`iliyat merupakan perkara-perka-ra yang tidak dibenarkan dan juga tidak didustakan, jadi keduanya tidak mungkin dipertemukan.

Al-A'raf 7:80

"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu men-datangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.' Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini; sesungguh-nya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.' Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibi-nasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." (Al-A'raf: 80-84). (80) ﴾ وَلُوطًا ﴿ "Dan (Kami juga telah mengutus) Luth عليه السلام", ke-pada kaumnya untuk memerintahkan mereka agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan melarang mereka dari perbuatan keji yang tidak pernah dilakukakan oleh seorang pun di dunia sebelum mereka. Luth berkata, ﴾ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ ﴿ "Mengapa kamu mengerjakan per-buatan keji itu?" Yakni perbuatan yang sangat keji lagi buruk yang mencapai tingkat keburukan tertinggi ﴾ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?" Di samping ia adalah perbuatan keji yang merupakan perkara terbu-ruk, mereka jugalah yang memulai menemukannya dan mencon-tohkannya bagi orang-orang setelah mereka, ini juga merupakan perbuatan terburuk. (81) Kemudian Luth menjelaskannya dengan ucapannya, ﴾ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ ﴿ "Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita." Yakni bagaimana kamu tidak berhasrat kepada para wanita yang dicip-takan oleh Allah untukmu dan padanya terdapat kenikmatan yang sesuai dengan hasrat dan fitrah, justru kamu berhasrat kepada du-bur laki-laki yang sangat kotor dan menjijikkan, jalan yang keluar darinya kotoran busuk yang untuk menyebutnya pun memalukan lebih-lebih menyentuh dan mendekatinya, ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas." Yakni kamu adalah orang-orang yang melanggar batasan Allah dan berani menentang perkara-perkara yang dilarangNya. (82) ﴾ وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَخۡرِجُوهُم مِّن قَرۡيَتِكُمۡۖ إِنَّهُمۡ أُنَاسٞ يَتَطَهَّرُونَ ﴿ "Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri'." Yakni sok suci (pura-pura menjauhkan diri) dari perbuatan keji, ﴾ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴿ "Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaper-kasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). (83) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kemudian Kami sela-matkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)." Yakni yang tertinggal dan di-timpa azab. Allah memerintahkan Luth agar menyingkir di waktu malam karena azab akan turun di pagi hari. Maka Luth membawa keluarganya kecuali istrinya, ia tertimpa apa yang menimpa kaum-nya. (84) ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرٗاۖ ﴿ "Dan Kami turunkan kepada mereka hujan", batu panas lagi keras dari tanah yang terbakar, dan Allah membalik kota mereka, di mana Allah menjadikan bagian atasnya menjadi bawah. ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." Kebinasaan dan kehinaan untuk selama-lamanya.

Al-A'raf 7:81

"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu men-datangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.' Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini; sesungguh-nya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.' Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibi-nasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." (Al-A'raf: 80-84). (80) ﴾ وَلُوطًا ﴿ "Dan (Kami juga telah mengutus) Luth عليه السلام", ke-pada kaumnya untuk memerintahkan mereka agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan melarang mereka dari perbuatan keji yang tidak pernah dilakukakan oleh seorang pun di dunia sebelum mereka. Luth berkata, ﴾ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ ﴿ "Mengapa kamu mengerjakan per-buatan keji itu?" Yakni perbuatan yang sangat keji lagi buruk yang mencapai tingkat keburukan tertinggi ﴾ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?" Di samping ia adalah perbuatan keji yang merupakan perkara terbu-ruk, mereka jugalah yang memulai menemukannya dan mencon-tohkannya bagi orang-orang setelah mereka, ini juga merupakan perbuatan terburuk. (81) Kemudian Luth menjelaskannya dengan ucapannya, ﴾ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ ﴿ "Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita." Yakni bagaimana kamu tidak berhasrat kepada para wanita yang dicip-takan oleh Allah untukmu dan padanya terdapat kenikmatan yang sesuai dengan hasrat dan fitrah, justru kamu berhasrat kepada du-bur laki-laki yang sangat kotor dan menjijikkan, jalan yang keluar darinya kotoran busuk yang untuk menyebutnya pun memalukan lebih-lebih menyentuh dan mendekatinya, ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas." Yakni kamu adalah orang-orang yang melanggar batasan Allah dan berani menentang perkara-perkara yang dilarangNya. (82) ﴾ وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَخۡرِجُوهُم مِّن قَرۡيَتِكُمۡۖ إِنَّهُمۡ أُنَاسٞ يَتَطَهَّرُونَ ﴿ "Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri'." Yakni sok suci (pura-pura menjauhkan diri) dari perbuatan keji, ﴾ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴿ "Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaper-kasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). (83) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kemudian Kami sela-matkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)." Yakni yang tertinggal dan di-timpa azab. Allah memerintahkan Luth agar menyingkir di waktu malam karena azab akan turun di pagi hari. Maka Luth membawa keluarganya kecuali istrinya, ia tertimpa apa yang menimpa kaum-nya. (84) ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرٗاۖ ﴿ "Dan Kami turunkan kepada mereka hujan", batu panas lagi keras dari tanah yang terbakar, dan Allah membalik kota mereka, di mana Allah menjadikan bagian atasnya menjadi bawah. ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." Kebinasaan dan kehinaan untuk selama-lamanya.

Al-A'raf 7:82

"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu men-datangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.' Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini; sesungguh-nya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.' Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibi-nasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." (Al-A'raf: 80-84). (80) ﴾ وَلُوطًا ﴿ "Dan (Kami juga telah mengutus) Luth عليه السلام", ke-pada kaumnya untuk memerintahkan mereka agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan melarang mereka dari perbuatan keji yang tidak pernah dilakukakan oleh seorang pun di dunia sebelum mereka. Luth berkata, ﴾ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ ﴿ "Mengapa kamu mengerjakan per-buatan keji itu?" Yakni perbuatan yang sangat keji lagi buruk yang mencapai tingkat keburukan tertinggi ﴾ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?" Di samping ia adalah perbuatan keji yang merupakan perkara terbu-ruk, mereka jugalah yang memulai menemukannya dan mencon-tohkannya bagi orang-orang setelah mereka, ini juga merupakan perbuatan terburuk. (81) Kemudian Luth menjelaskannya dengan ucapannya, ﴾ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ ﴿ "Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita." Yakni bagaimana kamu tidak berhasrat kepada para wanita yang dicip-takan oleh Allah untukmu dan padanya terdapat kenikmatan yang sesuai dengan hasrat dan fitrah, justru kamu berhasrat kepada du-bur laki-laki yang sangat kotor dan menjijikkan, jalan yang keluar darinya kotoran busuk yang untuk menyebutnya pun memalukan lebih-lebih menyentuh dan mendekatinya, ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas." Yakni kamu adalah orang-orang yang melanggar batasan Allah dan berani menentang perkara-perkara yang dilarangNya. (82) ﴾ وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَخۡرِجُوهُم مِّن قَرۡيَتِكُمۡۖ إِنَّهُمۡ أُنَاسٞ يَتَطَهَّرُونَ ﴿ "Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri'." Yakni sok suci (pura-pura menjauhkan diri) dari perbuatan keji, ﴾ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴿ "Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaper-kasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). (83) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kemudian Kami sela-matkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)." Yakni yang tertinggal dan di-timpa azab. Allah memerintahkan Luth agar menyingkir di waktu malam karena azab akan turun di pagi hari. Maka Luth membawa keluarganya kecuali istrinya, ia tertimpa apa yang menimpa kaum-nya. (84) ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرٗاۖ ﴿ "Dan Kami turunkan kepada mereka hujan", batu panas lagi keras dari tanah yang terbakar, dan Allah membalik kota mereka, di mana Allah menjadikan bagian atasnya menjadi bawah. ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." Kebinasaan dan kehinaan untuk selama-lamanya.

Al-A'raf 7:83

"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu men-datangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.' Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini; sesungguh-nya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.' Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibi-nasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." (Al-A'raf: 80-84). (80) ﴾ وَلُوطًا ﴿ "Dan (Kami juga telah mengutus) Luth عليه السلام", ke-pada kaumnya untuk memerintahkan mereka agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan melarang mereka dari perbuatan keji yang tidak pernah dilakukakan oleh seorang pun di dunia sebelum mereka. Luth berkata, ﴾ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ ﴿ "Mengapa kamu mengerjakan per-buatan keji itu?" Yakni perbuatan yang sangat keji lagi buruk yang mencapai tingkat keburukan tertinggi ﴾ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?" Di samping ia adalah perbuatan keji yang merupakan perkara terbu-ruk, mereka jugalah yang memulai menemukannya dan mencon-tohkannya bagi orang-orang setelah mereka, ini juga merupakan perbuatan terburuk. (81) Kemudian Luth menjelaskannya dengan ucapannya, ﴾ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ ﴿ "Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita." Yakni bagaimana kamu tidak berhasrat kepada para wanita yang dicip-takan oleh Allah untukmu dan padanya terdapat kenikmatan yang sesuai dengan hasrat dan fitrah, justru kamu berhasrat kepada du-bur laki-laki yang sangat kotor dan menjijikkan, jalan yang keluar darinya kotoran busuk yang untuk menyebutnya pun memalukan lebih-lebih menyentuh dan mendekatinya, ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas." Yakni kamu adalah orang-orang yang melanggar batasan Allah dan berani menentang perkara-perkara yang dilarangNya. (82) ﴾ وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَخۡرِجُوهُم مِّن قَرۡيَتِكُمۡۖ إِنَّهُمۡ أُنَاسٞ يَتَطَهَّرُونَ ﴿ "Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri'." Yakni sok suci (pura-pura menjauhkan diri) dari perbuatan keji, ﴾ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴿ "Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaper-kasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). (83) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kemudian Kami sela-matkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)." Yakni yang tertinggal dan di-timpa azab. Allah memerintahkan Luth agar menyingkir di waktu malam karena azab akan turun di pagi hari. Maka Luth membawa keluarganya kecuali istrinya, ia tertimpa apa yang menimpa kaum-nya. (84) ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرٗاۖ ﴿ "Dan Kami turunkan kepada mereka hujan", batu panas lagi keras dari tanah yang terbakar, dan Allah membalik kota mereka, di mana Allah menjadikan bagian atasnya menjadi bawah. ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." Kebinasaan dan kehinaan untuk selama-lamanya.

Al-A'raf 7:84

"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu men-datangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.' Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini; sesungguh-nya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.' Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibi-nasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." (Al-A'raf: 80-84). (80) ﴾ وَلُوطًا ﴿ "Dan (Kami juga telah mengutus) Luth عليه السلام", ke-pada kaumnya untuk memerintahkan mereka agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan melarang mereka dari perbuatan keji yang tidak pernah dilakukakan oleh seorang pun di dunia sebelum mereka. Luth berkata, ﴾ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ ﴿ "Mengapa kamu mengerjakan per-buatan keji itu?" Yakni perbuatan yang sangat keji lagi buruk yang mencapai tingkat keburukan tertinggi ﴾ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?" Di samping ia adalah perbuatan keji yang merupakan perkara terbu-ruk, mereka jugalah yang memulai menemukannya dan mencon-tohkannya bagi orang-orang setelah mereka, ini juga merupakan perbuatan terburuk. (81) Kemudian Luth menjelaskannya dengan ucapannya, ﴾ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ ﴿ "Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita." Yakni bagaimana kamu tidak berhasrat kepada para wanita yang dicip-takan oleh Allah untukmu dan padanya terdapat kenikmatan yang sesuai dengan hasrat dan fitrah, justru kamu berhasrat kepada du-bur laki-laki yang sangat kotor dan menjijikkan, jalan yang keluar darinya kotoran busuk yang untuk menyebutnya pun memalukan lebih-lebih menyentuh dan mendekatinya, ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas." Yakni kamu adalah orang-orang yang melanggar batasan Allah dan berani menentang perkara-perkara yang dilarangNya. (82) ﴾ وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَخۡرِجُوهُم مِّن قَرۡيَتِكُمۡۖ إِنَّهُمۡ أُنَاسٞ يَتَطَهَّرُونَ ﴿ "Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri'." Yakni sok suci (pura-pura menjauhkan diri) dari perbuatan keji, ﴾ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴿ "Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaper-kasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). (83) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kemudian Kami sela-matkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)." Yakni yang tertinggal dan di-timpa azab. Allah memerintahkan Luth agar menyingkir di waktu malam karena azab akan turun di pagi hari. Maka Luth membawa keluarganya kecuali istrinya, ia tertimpa apa yang menimpa kaum-nya. (84) ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرٗاۖ ﴿ "Dan Kami turunkan kepada mereka hujan", batu panas lagi keras dari tanah yang terbakar, dan Allah membalik kota mereka, di mana Allah menjadikan bagian atasnya menjadi bawah. ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." Kebinasaan dan kehinaan untuk selama-lamanya.

Al-A'raf 7:85

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan sau-dara mereka, Syu'aib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurna-kanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang de-mikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 85). "Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan me-nakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesu-dahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyam-paikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 86-87). "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.' Syu'aib berkata, 'Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya'." (Al-A'raf: 88). "Sungguh kami telah mengada-adakan kebohongan yang be-sar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki-(nya). Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), 'Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 89-90). "Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. Maka Syu'aib me-ninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir'." (Al-A'raf: 91-93). (85)(وَ) "Dan (Kami telah mengutus)", kepada kabilah yang terkenal di Madyan, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", dari nasab ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Yang mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Memerintahkan mereka agar memenuhi timbangan dan takaran, agar mereka tidak mengurangi hak-hak manusia, dan agar mereka jangan berbuat kerusakan di muka bumi dengan memperbanyak kemaksiatan padanya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." Karena meninggalkan kemaksiatan demi menjalankan perintah Allah dan mendekatkan diri kepadaNya adalah lebih baik dan lebih berguna bagi seorang hamba daripada melakukannya yang mana ia menyebabkan ke-murkaan dari Allah dan azab neraka. (86) ﴾ وَلَا تَقۡعُدُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu duduk" menghadang orang ﴾ بِكُلِّ صِرَٰطٖ ﴿ "di tiap-tiap jalan." Yaitu jalan yang banyak dila-lui oleh orang-orang, kamu memperingatkan orang-orang darinya, ﴾ تُوعِدُونَ ﴿ "dengan menakut-nakuti", orang-orang yang melewatinya ﴾ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah." Yakni orang yang ingin menjadikannya sebagai petun-juk. ﴾ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجٗاۚ ﴿ "Dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok." Dan kamu membelokkannya demi mengikuti hawa nafsu-mu. Semestinya kamu dan orang-orang selainmu menghargai dan menghormati jalan-jalan yang Allah letakkan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka bisa menitinya kepada ridha Allah dan rumah kemuliaanNya yang dengannya Dia merahmati mereka dengan rahmat terbesar. Semestinya kamu menolongnya, menyerukan ke-padanya dan membelanya, bukan malah kamu menjadi pembegal yang menghadang orang-orang darinya, karena ini adalah meru-pakan bentuk kekufuran kepada nikmat Allah dan penentangan kepada Allah serta menjadikan jalan yang paling lurus dan paling adil sebagai jalan yang bengkok, dan kamu menyalahkan orang-orang yang menitinya. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ ﴿ "Dan ingatlah", nikmat Allah atas kalian, ﴾ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِيلٗا فَكَثَّرَكُمۡۖ ﴿ "di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu." Yakni menumbuh-biakkanmu dengan istri, anak-anak dan kesehatan yang Dia berikan kepadamu, bahwa Dia tidak mengujimu dengan wabah atau penya-kit yang mengurangi jumlahmu. Dia juga tidak menguasakanmu kepada musuh yang menumpasmu dan mencerai-beraikanmu di muka bumi. Justru Dia memberimu nikmat dengan kesatuanmu, pelimpahan rizki dan banyaknya keturunan.﴾ وَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." Kamu tidak melihat mereka kecuali tercerai berai, yang ada di negeri mereka hanyalah kesunyian dan porak poranda. Mereka tidak meninggalkan nama yang baik, justru di du-nia ini mereka mendapatkan laknat, sementara pada Hari Kiamat mereka lebih hina dan sengsara. (87) ﴾ وَإِن كَانَ طَآئِفَةٞ مِّنكُمۡ ءَامَنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَطَآئِفَةٞ لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk me-nyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman." Yaitu yang tidak beriman itu adalah mayoritas dari mereka. ﴾ فَٱصۡبِرُواْ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ بَيۡنَنَاۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hu-kumnya di antara kita dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." Allah akan memenangkan (menolong) yang haq dan mengazab yang batil. (88) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata." Orang-orang besar yang dihor-mati di kalangan mereka, yang mengikuti hawa nafsu mereka dan bermain-main dengan kemewahan mereka, begitu kebenaran da-tang kepada mereka dan ternyata ia tidak sesuai dengan hawa nafsu rendah mereka, maka mereka menentangnya dan menyombong-kan diri darinya. Mereka berkata kepada Nabi mereka Syu'aib dan orang-orang lemah yang beriman bersamanya. ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكَ يَٰشُعَيۡبُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَكَ مِن قَرۡيَتِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۚ ﴿ "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami." Mereka menggunakan kekuatan premanisme dalam menghadapi kebenaran tanpa mempedulikan agama, perjanjian dan hak, mereka hanya memperhatikan dan me-ngikuti hawa nafsu dan akal bodoh mereka, yang menunjukkan mereka kepada ucapan buruk ini, maka mereka berkata, "Kamu dan orang-orangmu kembali kepada agama kami, atau kami me-ngusirmu dari desa ini." Syu'aib berdakwah kepada mereka karena berharap mereka mau beriman, sekarang justru dia diancam oleh mereka dengan pengusiran dari negerinya jika dia tidak mengikuti mereka, padahal dia dan orang-orang yang bersamanya adalah lebih berhak daripada mereka. Syu'aib menjawab mereka dengan keheranan terhadap ucapan mereka, ﴾ أَوَلَوۡ كُنَّا كَٰرِهِينَ ﴿ "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" Yakni apa-kah kami akan mengikuti agamamu dan ajaranmu yang batil itu meskipun kami membencinya karena kami mengetahui kebatilan-nya. Semestinya yang diajak kepadanya adalah orang yang memiliki kecenderungan kepadanya. Adapun orang yang secara terbuka melarangnya dan menyalahkan orang yang mengikutinya, bagai-mana dia diajak kepadanya. (89) ﴾ قَدِ ٱفۡتَرَيۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِي مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ ﴿ "Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kem-bali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami daripadanya." Yakni, bersaksilah atas kami jika kami kembali kepadanya setelah Allah menyelamatkan kami darinya dan mengentaskan kami dari keburukannya maka kami adalah orang-orang yang berbohong dan berdusta atas nama Allah, karena kami mengetahui bahwa tidak ada dusta yang lebih besar daripada orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tempat bergantung para makhluk yang tidak beristri dan tidak beranak dan tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya. ﴾ وَمَا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّعُودَ فِيهَآ ﴿ "Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya." Yakni tidak mungkin bagi orang-orang seperti kami kembali lagi padanya, ini mustahil. Syu'aib membuat mereka tidak lagi berharap darinya untuk mengikuti mereka dari beberapa segi: Dari segi bahwa dia dan orang-orang yang beriman bersama-nya membenci dan tidak menyukai kesyirikan yang dipegang oleh kaumnya. Dari segi bahwa dia menjadikan apa yang mereka anut seba-gai kedustaan dan dia meminta mereka untuk bersaksi apabila dia dan orang-orang yang bersamanya mengikuti mereka, maka dia dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang ber-dusta. Di antaranya juga pengakuan mereka terhadap nikmat Allah kepada mereka di mana Dia telah menyelamatkan mereka darinya. Di antaranya juga bahwa kembalinya mereka kepadanya se-telah Allah memberi petunjuk kepada mereka adalah termasuk per-kara yang mustahil jika melihat kepada keadaan mereka saat ini dan apa yang tertanam dalam hati mereka berupa pengagungan kepada Allah, pengakuan ubudiyah kepadaNya, bahwa hanya Dia-lah yang berhak atas ibadah semata tiada sekutu bagiNya, bahwa tuhan-tuhan kaum musyrikin adalah kebatilan paling batil dan ke-mustahilan paling mustahil, di mana Allah telah menganugerahkan akal kepada mereka yang dengannya mereka mengetahui kebenar-an dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan. Adapun dari segi kehendak dan keinginan Allah yang pasti berlaku pada makhlukNya, di mana tidak seorang pun yang bisa menghindar darinya walaupun segala sebab dan kekuatan terkum-pul dan tersedia, maka mereka tidak memutuskan atas diri mereka bahwa mereka akan melakukan atau meninggalkan sesuatu. Oleh karena itu mereka mengecualikan dengan mengatakan, ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ ﴿ "Kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki(nya)." Yakni, tidak mungkin bagi kami ataupun selain kami yang bisa lolos dari ke-hendakNya yang berdasarkan kepada Ilmu dan HikmahNya. Dan sungguh ﴾ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ ﴿ "Pengetahuan Rabb kami meliputi segala se-suatu." Dia mengetahui apa yang baik bagi hamba-hambaNya dan apa yang menjadi aturanNya pada mereka. ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ ﴿ "Kepada Allah sajalah kami bertawakal." Yakni kami percaya bahwa Dia akan meneguhkan kami di atas jalan yang lurus dan melindungi kami dari seluruh jalan neraka, karena barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan mencukupkannya dan memudahkan untuknya urusan agama dan dunianya. ﴾ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)." Yakni tolonglah orang yang dizhalimi dan pemilik hak atas orang yang zhalim, penentang kebenaran. ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ﴿ "Dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya." Kepu-tusanNya kepada hamba-hambaNya ada dua macam: keputusan ilmu dengan menjelaskan kebenaran dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan, dan siapa yang tegak lurus di atas jalan dan siapa yang membelot darinya. Adapun yang kedua adalah keputusannya dengan pembalasan dan hukuman kepada orang-orang yang zhalim, serta keselamatan dan kemuliaan bagi orang-orang yang shalih. Maka mereka memohon kepada Allah keputusan di antara mereka dengan kaumnya dengan benar dan adil, dan supaya Dia menun-jukkan ayat-ayat dan pelajaran-pelajarannya yang menjadi kepu-tusan bagi kedua belah pihak. (90) ﴾ وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya)", memperingatkan agar tidak meng-ikuti Syu'aib ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu meng-ikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." Ini termasuk tipuan dari diri mereka, bahwa kerugian dan kesengsaraan ada pada mengikuti kebenaran dan petunjuk. Mereka tidak menyadari bahwa seluruh kerugian berporos pada sikap mereka, berpegang kepada kesesatan dan usaha penyesatan kepada orang lain. Dan mereka mengetahui itu manakala azab te-lah turun menimpa mereka. (91) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ ﴿ "Kemudian mereka ditimpa gempa", yang dahsyat. ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka", yakni tersungkur mati dan tidak bergerak. (92) Allah تعالى berfirman mencela keadaan mereka, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَاۚ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu." Yakni seolah-olah me-reka tidak pernah tinggal di negeri mereka, seolah-olah mereka tidak pernah bersuka ria di halamannya, tidak pernah berteduh padanya, tidak pernah bermain-main di aliran sungainya, dan tidak pernah makan dari buah-buahannya. Mereka ditimpa oleh azab yang mem-bawa mereka dari segala permainan, kesenangan dan kenikmatan, kepada rumah kesedihan, kesengsaraan, azab dan kehinaan. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَانُواْ هُمُ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi." Yakni bahwa kerugian hanya untuk mereka saja, karena diri mereka dan keluarga mereka merugi di Hari Kiamat. Bukankah itu meru-pakan kerugian yang nyata, bukan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ 90 ﴿ "Jika kamu mengikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 90) (93) Manakala mereka binasa, Nabi mereka meninggalkan mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka setelah mereka mati dalam rangka menyalahkan dan mencela mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku." Yakni aku telah menyampaikannya dan menjelaskannya kepadamu sehingga ia mencapai sejauh apa yang bisa dicapai pada dirimu dan ia pun telah mencapai hatimu, ﴾ وَنَصَحۡتُ لَكُمۡۖ ﴿ "dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Tetapi kamu tidak menerima nasihatku dan tidak mendengarkan petunjukku, justru kamu bersikap fasik dan melampaui batas. ﴾ فَكَيۡفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ﴿ "Bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?" Yakni, bagaimana aku bersedih kepada kaum yang tidak ada ke-baikan bagi mereka, di mana kebaikan mendatangi mereka tetapi mereka malah menolaknya dan tidak menerimanya, maka tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. Mereka itu tidak layak dikasihani, justru kebinasaan mereka disyukuri. Kami ber-lindung kepadaMu ya Allah dari kehinaan dan kenistaan. Adakah kesengsaraan dan hukuman yang lebih berat daripada mereka yang telah mencapai tingkat bahwa orang yang paling tulus kepada me-reka berlepas diri dari mereka.

Al-A'raf 7:86

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan sau-dara mereka, Syu'aib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurna-kanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang de-mikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 85). "Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan me-nakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesu-dahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyam-paikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 86-87). "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.' Syu'aib berkata, 'Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya'." (Al-A'raf: 88). "Sungguh kami telah mengada-adakan kebohongan yang be-sar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki-(nya). Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), 'Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 89-90). "Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. Maka Syu'aib me-ninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir'." (Al-A'raf: 91-93). (85)(وَ) "Dan (Kami telah mengutus)", kepada kabilah yang terkenal di Madyan, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", dari nasab ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Yang mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Memerintahkan mereka agar memenuhi timbangan dan takaran, agar mereka tidak mengurangi hak-hak manusia, dan agar mereka jangan berbuat kerusakan di muka bumi dengan memperbanyak kemaksiatan padanya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." Karena meninggalkan kemaksiatan demi menjalankan perintah Allah dan mendekatkan diri kepadaNya adalah lebih baik dan lebih berguna bagi seorang hamba daripada melakukannya yang mana ia menyebabkan ke-murkaan dari Allah dan azab neraka. (86) ﴾ وَلَا تَقۡعُدُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu duduk" menghadang orang ﴾ بِكُلِّ صِرَٰطٖ ﴿ "di tiap-tiap jalan." Yaitu jalan yang banyak dila-lui oleh orang-orang, kamu memperingatkan orang-orang darinya, ﴾ تُوعِدُونَ ﴿ "dengan menakut-nakuti", orang-orang yang melewatinya ﴾ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah." Yakni orang yang ingin menjadikannya sebagai petun-juk. ﴾ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجٗاۚ ﴿ "Dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok." Dan kamu membelokkannya demi mengikuti hawa nafsu-mu. Semestinya kamu dan orang-orang selainmu menghargai dan menghormati jalan-jalan yang Allah letakkan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka bisa menitinya kepada ridha Allah dan rumah kemuliaanNya yang dengannya Dia merahmati mereka dengan rahmat terbesar. Semestinya kamu menolongnya, menyerukan ke-padanya dan membelanya, bukan malah kamu menjadi pembegal yang menghadang orang-orang darinya, karena ini adalah meru-pakan bentuk kekufuran kepada nikmat Allah dan penentangan kepada Allah serta menjadikan jalan yang paling lurus dan paling adil sebagai jalan yang bengkok, dan kamu menyalahkan orang-orang yang menitinya. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ ﴿ "Dan ingatlah", nikmat Allah atas kalian, ﴾ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِيلٗا فَكَثَّرَكُمۡۖ ﴿ "di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu." Yakni menumbuh-biakkanmu dengan istri, anak-anak dan kesehatan yang Dia berikan kepadamu, bahwa Dia tidak mengujimu dengan wabah atau penya-kit yang mengurangi jumlahmu. Dia juga tidak menguasakanmu kepada musuh yang menumpasmu dan mencerai-beraikanmu di muka bumi. Justru Dia memberimu nikmat dengan kesatuanmu, pelimpahan rizki dan banyaknya keturunan.﴾ وَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." Kamu tidak melihat mereka kecuali tercerai berai, yang ada di negeri mereka hanyalah kesunyian dan porak poranda. Mereka tidak meninggalkan nama yang baik, justru di du-nia ini mereka mendapatkan laknat, sementara pada Hari Kiamat mereka lebih hina dan sengsara. (87) ﴾ وَإِن كَانَ طَآئِفَةٞ مِّنكُمۡ ءَامَنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَطَآئِفَةٞ لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk me-nyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman." Yaitu yang tidak beriman itu adalah mayoritas dari mereka. ﴾ فَٱصۡبِرُواْ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ بَيۡنَنَاۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hu-kumnya di antara kita dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." Allah akan memenangkan (menolong) yang haq dan mengazab yang batil. (88) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata." Orang-orang besar yang dihor-mati di kalangan mereka, yang mengikuti hawa nafsu mereka dan bermain-main dengan kemewahan mereka, begitu kebenaran da-tang kepada mereka dan ternyata ia tidak sesuai dengan hawa nafsu rendah mereka, maka mereka menentangnya dan menyombong-kan diri darinya. Mereka berkata kepada Nabi mereka Syu'aib dan orang-orang lemah yang beriman bersamanya. ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكَ يَٰشُعَيۡبُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَكَ مِن قَرۡيَتِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۚ ﴿ "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami." Mereka menggunakan kekuatan premanisme dalam menghadapi kebenaran tanpa mempedulikan agama, perjanjian dan hak, mereka hanya memperhatikan dan me-ngikuti hawa nafsu dan akal bodoh mereka, yang menunjukkan mereka kepada ucapan buruk ini, maka mereka berkata, "Kamu dan orang-orangmu kembali kepada agama kami, atau kami me-ngusirmu dari desa ini." Syu'aib berdakwah kepada mereka karena berharap mereka mau beriman, sekarang justru dia diancam oleh mereka dengan pengusiran dari negerinya jika dia tidak mengikuti mereka, padahal dia dan orang-orang yang bersamanya adalah lebih berhak daripada mereka. Syu'aib menjawab mereka dengan keheranan terhadap ucapan mereka, ﴾ أَوَلَوۡ كُنَّا كَٰرِهِينَ ﴿ "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" Yakni apa-kah kami akan mengikuti agamamu dan ajaranmu yang batil itu meskipun kami membencinya karena kami mengetahui kebatilan-nya. Semestinya yang diajak kepadanya adalah orang yang memiliki kecenderungan kepadanya. Adapun orang yang secara terbuka melarangnya dan menyalahkan orang yang mengikutinya, bagai-mana dia diajak kepadanya. (89) ﴾ قَدِ ٱفۡتَرَيۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِي مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ ﴿ "Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kem-bali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami daripadanya." Yakni, bersaksilah atas kami jika kami kembali kepadanya setelah Allah menyelamatkan kami darinya dan mengentaskan kami dari keburukannya maka kami adalah orang-orang yang berbohong dan berdusta atas nama Allah, karena kami mengetahui bahwa tidak ada dusta yang lebih besar daripada orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tempat bergantung para makhluk yang tidak beristri dan tidak beranak dan tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya. ﴾ وَمَا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّعُودَ فِيهَآ ﴿ "Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya." Yakni tidak mungkin bagi orang-orang seperti kami kembali lagi padanya, ini mustahil. Syu'aib membuat mereka tidak lagi berharap darinya untuk mengikuti mereka dari beberapa segi: Dari segi bahwa dia dan orang-orang yang beriman bersama-nya membenci dan tidak menyukai kesyirikan yang dipegang oleh kaumnya. Dari segi bahwa dia menjadikan apa yang mereka anut seba-gai kedustaan dan dia meminta mereka untuk bersaksi apabila dia dan orang-orang yang bersamanya mengikuti mereka, maka dia dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang ber-dusta. Di antaranya juga pengakuan mereka terhadap nikmat Allah kepada mereka di mana Dia telah menyelamatkan mereka darinya. Di antaranya juga bahwa kembalinya mereka kepadanya se-telah Allah memberi petunjuk kepada mereka adalah termasuk per-kara yang mustahil jika melihat kepada keadaan mereka saat ini dan apa yang tertanam dalam hati mereka berupa pengagungan kepada Allah, pengakuan ubudiyah kepadaNya, bahwa hanya Dia-lah yang berhak atas ibadah semata tiada sekutu bagiNya, bahwa tuhan-tuhan kaum musyrikin adalah kebatilan paling batil dan ke-mustahilan paling mustahil, di mana Allah telah menganugerahkan akal kepada mereka yang dengannya mereka mengetahui kebenar-an dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan. Adapun dari segi kehendak dan keinginan Allah yang pasti berlaku pada makhlukNya, di mana tidak seorang pun yang bisa menghindar darinya walaupun segala sebab dan kekuatan terkum-pul dan tersedia, maka mereka tidak memutuskan atas diri mereka bahwa mereka akan melakukan atau meninggalkan sesuatu. Oleh karena itu mereka mengecualikan dengan mengatakan, ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ ﴿ "Kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki(nya)." Yakni, tidak mungkin bagi kami ataupun selain kami yang bisa lolos dari ke-hendakNya yang berdasarkan kepada Ilmu dan HikmahNya. Dan sungguh ﴾ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ ﴿ "Pengetahuan Rabb kami meliputi segala se-suatu." Dia mengetahui apa yang baik bagi hamba-hambaNya dan apa yang menjadi aturanNya pada mereka. ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ ﴿ "Kepada Allah sajalah kami bertawakal." Yakni kami percaya bahwa Dia akan meneguhkan kami di atas jalan yang lurus dan melindungi kami dari seluruh jalan neraka, karena barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan mencukupkannya dan memudahkan untuknya urusan agama dan dunianya. ﴾ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)." Yakni tolonglah orang yang dizhalimi dan pemilik hak atas orang yang zhalim, penentang kebenaran. ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ﴿ "Dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya." Kepu-tusanNya kepada hamba-hambaNya ada dua macam: keputusan ilmu dengan menjelaskan kebenaran dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan, dan siapa yang tegak lurus di atas jalan dan siapa yang membelot darinya. Adapun yang kedua adalah keputusannya dengan pembalasan dan hukuman kepada orang-orang yang zhalim, serta keselamatan dan kemuliaan bagi orang-orang yang shalih. Maka mereka memohon kepada Allah keputusan di antara mereka dengan kaumnya dengan benar dan adil, dan supaya Dia menun-jukkan ayat-ayat dan pelajaran-pelajarannya yang menjadi kepu-tusan bagi kedua belah pihak. (90) ﴾ وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya)", memperingatkan agar tidak meng-ikuti Syu'aib ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu meng-ikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." Ini termasuk tipuan dari diri mereka, bahwa kerugian dan kesengsaraan ada pada mengikuti kebenaran dan petunjuk. Mereka tidak menyadari bahwa seluruh kerugian berporos pada sikap mereka, berpegang kepada kesesatan dan usaha penyesatan kepada orang lain. Dan mereka mengetahui itu manakala azab te-lah turun menimpa mereka. (91) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ ﴿ "Kemudian mereka ditimpa gempa", yang dahsyat. ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka", yakni tersungkur mati dan tidak bergerak. (92) Allah تعالى berfirman mencela keadaan mereka, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَاۚ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu." Yakni seolah-olah me-reka tidak pernah tinggal di negeri mereka, seolah-olah mereka tidak pernah bersuka ria di halamannya, tidak pernah berteduh padanya, tidak pernah bermain-main di aliran sungainya, dan tidak pernah makan dari buah-buahannya. Mereka ditimpa oleh azab yang mem-bawa mereka dari segala permainan, kesenangan dan kenikmatan, kepada rumah kesedihan, kesengsaraan, azab dan kehinaan. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَانُواْ هُمُ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi." Yakni bahwa kerugian hanya untuk mereka saja, karena diri mereka dan keluarga mereka merugi di Hari Kiamat. Bukankah itu meru-pakan kerugian yang nyata, bukan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ 90 ﴿ "Jika kamu mengikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 90) (93) Manakala mereka binasa, Nabi mereka meninggalkan mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka setelah mereka mati dalam rangka menyalahkan dan mencela mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku." Yakni aku telah menyampaikannya dan menjelaskannya kepadamu sehingga ia mencapai sejauh apa yang bisa dicapai pada dirimu dan ia pun telah mencapai hatimu, ﴾ وَنَصَحۡتُ لَكُمۡۖ ﴿ "dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Tetapi kamu tidak menerima nasihatku dan tidak mendengarkan petunjukku, justru kamu bersikap fasik dan melampaui batas. ﴾ فَكَيۡفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ﴿ "Bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?" Yakni, bagaimana aku bersedih kepada kaum yang tidak ada ke-baikan bagi mereka, di mana kebaikan mendatangi mereka tetapi mereka malah menolaknya dan tidak menerimanya, maka tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. Mereka itu tidak layak dikasihani, justru kebinasaan mereka disyukuri. Kami ber-lindung kepadaMu ya Allah dari kehinaan dan kenistaan. Adakah kesengsaraan dan hukuman yang lebih berat daripada mereka yang telah mencapai tingkat bahwa orang yang paling tulus kepada me-reka berlepas diri dari mereka.

Al-A'raf 7:87

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan sau-dara mereka, Syu'aib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurna-kanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang de-mikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 85). "Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan me-nakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesu-dahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyam-paikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 86-87). "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.' Syu'aib berkata, 'Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya'." (Al-A'raf: 88). "Sungguh kami telah mengada-adakan kebohongan yang be-sar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki-(nya). Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), 'Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 89-90). "Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. Maka Syu'aib me-ninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir'." (Al-A'raf: 91-93). (85)(وَ) "Dan (Kami telah mengutus)", kepada kabilah yang terkenal di Madyan, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", dari nasab ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Yang mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Memerintahkan mereka agar memenuhi timbangan dan takaran, agar mereka tidak mengurangi hak-hak manusia, dan agar mereka jangan berbuat kerusakan di muka bumi dengan memperbanyak kemaksiatan padanya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." Karena meninggalkan kemaksiatan demi menjalankan perintah Allah dan mendekatkan diri kepadaNya adalah lebih baik dan lebih berguna bagi seorang hamba daripada melakukannya yang mana ia menyebabkan ke-murkaan dari Allah dan azab neraka. (86) ﴾ وَلَا تَقۡعُدُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu duduk" menghadang orang ﴾ بِكُلِّ صِرَٰطٖ ﴿ "di tiap-tiap jalan." Yaitu jalan yang banyak dila-lui oleh orang-orang, kamu memperingatkan orang-orang darinya, ﴾ تُوعِدُونَ ﴿ "dengan menakut-nakuti", orang-orang yang melewatinya ﴾ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah." Yakni orang yang ingin menjadikannya sebagai petun-juk. ﴾ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجٗاۚ ﴿ "Dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok." Dan kamu membelokkannya demi mengikuti hawa nafsu-mu. Semestinya kamu dan orang-orang selainmu menghargai dan menghormati jalan-jalan yang Allah letakkan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka bisa menitinya kepada ridha Allah dan rumah kemuliaanNya yang dengannya Dia merahmati mereka dengan rahmat terbesar. Semestinya kamu menolongnya, menyerukan ke-padanya dan membelanya, bukan malah kamu menjadi pembegal yang menghadang orang-orang darinya, karena ini adalah meru-pakan bentuk kekufuran kepada nikmat Allah dan penentangan kepada Allah serta menjadikan jalan yang paling lurus dan paling adil sebagai jalan yang bengkok, dan kamu menyalahkan orang-orang yang menitinya. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ ﴿ "Dan ingatlah", nikmat Allah atas kalian, ﴾ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِيلٗا فَكَثَّرَكُمۡۖ ﴿ "di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu." Yakni menumbuh-biakkanmu dengan istri, anak-anak dan kesehatan yang Dia berikan kepadamu, bahwa Dia tidak mengujimu dengan wabah atau penya-kit yang mengurangi jumlahmu. Dia juga tidak menguasakanmu kepada musuh yang menumpasmu dan mencerai-beraikanmu di muka bumi. Justru Dia memberimu nikmat dengan kesatuanmu, pelimpahan rizki dan banyaknya keturunan.﴾ وَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." Kamu tidak melihat mereka kecuali tercerai berai, yang ada di negeri mereka hanyalah kesunyian dan porak poranda. Mereka tidak meninggalkan nama yang baik, justru di du-nia ini mereka mendapatkan laknat, sementara pada Hari Kiamat mereka lebih hina dan sengsara. (87) ﴾ وَإِن كَانَ طَآئِفَةٞ مِّنكُمۡ ءَامَنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَطَآئِفَةٞ لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk me-nyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman." Yaitu yang tidak beriman itu adalah mayoritas dari mereka. ﴾ فَٱصۡبِرُواْ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ بَيۡنَنَاۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hu-kumnya di antara kita dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." Allah akan memenangkan (menolong) yang haq dan mengazab yang batil. (88) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata." Orang-orang besar yang dihor-mati di kalangan mereka, yang mengikuti hawa nafsu mereka dan bermain-main dengan kemewahan mereka, begitu kebenaran da-tang kepada mereka dan ternyata ia tidak sesuai dengan hawa nafsu rendah mereka, maka mereka menentangnya dan menyombong-kan diri darinya. Mereka berkata kepada Nabi mereka Syu'aib dan orang-orang lemah yang beriman bersamanya. ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكَ يَٰشُعَيۡبُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَكَ مِن قَرۡيَتِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۚ ﴿ "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami." Mereka menggunakan kekuatan premanisme dalam menghadapi kebenaran tanpa mempedulikan agama, perjanjian dan hak, mereka hanya memperhatikan dan me-ngikuti hawa nafsu dan akal bodoh mereka, yang menunjukkan mereka kepada ucapan buruk ini, maka mereka berkata, "Kamu dan orang-orangmu kembali kepada agama kami, atau kami me-ngusirmu dari desa ini." Syu'aib berdakwah kepada mereka karena berharap mereka mau beriman, sekarang justru dia diancam oleh mereka dengan pengusiran dari negerinya jika dia tidak mengikuti mereka, padahal dia dan orang-orang yang bersamanya adalah lebih berhak daripada mereka. Syu'aib menjawab mereka dengan keheranan terhadap ucapan mereka, ﴾ أَوَلَوۡ كُنَّا كَٰرِهِينَ ﴿ "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" Yakni apa-kah kami akan mengikuti agamamu dan ajaranmu yang batil itu meskipun kami membencinya karena kami mengetahui kebatilan-nya. Semestinya yang diajak kepadanya adalah orang yang memiliki kecenderungan kepadanya. Adapun orang yang secara terbuka melarangnya dan menyalahkan orang yang mengikutinya, bagai-mana dia diajak kepadanya. (89) ﴾ قَدِ ٱفۡتَرَيۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِي مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ ﴿ "Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kem-bali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami daripadanya." Yakni, bersaksilah atas kami jika kami kembali kepadanya setelah Allah menyelamatkan kami darinya dan mengentaskan kami dari keburukannya maka kami adalah orang-orang yang berbohong dan berdusta atas nama Allah, karena kami mengetahui bahwa tidak ada dusta yang lebih besar daripada orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tempat bergantung para makhluk yang tidak beristri dan tidak beranak dan tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya. ﴾ وَمَا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّعُودَ فِيهَآ ﴿ "Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya." Yakni tidak mungkin bagi orang-orang seperti kami kembali lagi padanya, ini mustahil. Syu'aib membuat mereka tidak lagi berharap darinya untuk mengikuti mereka dari beberapa segi: Dari segi bahwa dia dan orang-orang yang beriman bersama-nya membenci dan tidak menyukai kesyirikan yang dipegang oleh kaumnya. Dari segi bahwa dia menjadikan apa yang mereka anut seba-gai kedustaan dan dia meminta mereka untuk bersaksi apabila dia dan orang-orang yang bersamanya mengikuti mereka, maka dia dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang ber-dusta. Di antaranya juga pengakuan mereka terhadap nikmat Allah kepada mereka di mana Dia telah menyelamatkan mereka darinya. Di antaranya juga bahwa kembalinya mereka kepadanya se-telah Allah memberi petunjuk kepada mereka adalah termasuk per-kara yang mustahil jika melihat kepada keadaan mereka saat ini dan apa yang tertanam dalam hati mereka berupa pengagungan kepada Allah, pengakuan ubudiyah kepadaNya, bahwa hanya Dia-lah yang berhak atas ibadah semata tiada sekutu bagiNya, bahwa tuhan-tuhan kaum musyrikin adalah kebatilan paling batil dan ke-mustahilan paling mustahil, di mana Allah telah menganugerahkan akal kepada mereka yang dengannya mereka mengetahui kebenar-an dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan. Adapun dari segi kehendak dan keinginan Allah yang pasti berlaku pada makhlukNya, di mana tidak seorang pun yang bisa menghindar darinya walaupun segala sebab dan kekuatan terkum-pul dan tersedia, maka mereka tidak memutuskan atas diri mereka bahwa mereka akan melakukan atau meninggalkan sesuatu. Oleh karena itu mereka mengecualikan dengan mengatakan, ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ ﴿ "Kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki(nya)." Yakni, tidak mungkin bagi kami ataupun selain kami yang bisa lolos dari ke-hendakNya yang berdasarkan kepada Ilmu dan HikmahNya. Dan sungguh ﴾ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ ﴿ "Pengetahuan Rabb kami meliputi segala se-suatu." Dia mengetahui apa yang baik bagi hamba-hambaNya dan apa yang menjadi aturanNya pada mereka. ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ ﴿ "Kepada Allah sajalah kami bertawakal." Yakni kami percaya bahwa Dia akan meneguhkan kami di atas jalan yang lurus dan melindungi kami dari seluruh jalan neraka, karena barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan mencukupkannya dan memudahkan untuknya urusan agama dan dunianya. ﴾ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)." Yakni tolonglah orang yang dizhalimi dan pemilik hak atas orang yang zhalim, penentang kebenaran. ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ﴿ "Dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya." Kepu-tusanNya kepada hamba-hambaNya ada dua macam: keputusan ilmu dengan menjelaskan kebenaran dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan, dan siapa yang tegak lurus di atas jalan dan siapa yang membelot darinya. Adapun yang kedua adalah keputusannya dengan pembalasan dan hukuman kepada orang-orang yang zhalim, serta keselamatan dan kemuliaan bagi orang-orang yang shalih. Maka mereka memohon kepada Allah keputusan di antara mereka dengan kaumnya dengan benar dan adil, dan supaya Dia menun-jukkan ayat-ayat dan pelajaran-pelajarannya yang menjadi kepu-tusan bagi kedua belah pihak. (90) ﴾ وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya)", memperingatkan agar tidak meng-ikuti Syu'aib ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu meng-ikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." Ini termasuk tipuan dari diri mereka, bahwa kerugian dan kesengsaraan ada pada mengikuti kebenaran dan petunjuk. Mereka tidak menyadari bahwa seluruh kerugian berporos pada sikap mereka, berpegang kepada kesesatan dan usaha penyesatan kepada orang lain. Dan mereka mengetahui itu manakala azab te-lah turun menimpa mereka. (91) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ ﴿ "Kemudian mereka ditimpa gempa", yang dahsyat. ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka", yakni tersungkur mati dan tidak bergerak. (92) Allah تعالى berfirman mencela keadaan mereka, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَاۚ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu." Yakni seolah-olah me-reka tidak pernah tinggal di negeri mereka, seolah-olah mereka tidak pernah bersuka ria di halamannya, tidak pernah berteduh padanya, tidak pernah bermain-main di aliran sungainya, dan tidak pernah makan dari buah-buahannya. Mereka ditimpa oleh azab yang mem-bawa mereka dari segala permainan, kesenangan dan kenikmatan, kepada rumah kesedihan, kesengsaraan, azab dan kehinaan. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَانُواْ هُمُ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi." Yakni bahwa kerugian hanya untuk mereka saja, karena diri mereka dan keluarga mereka merugi di Hari Kiamat. Bukankah itu meru-pakan kerugian yang nyata, bukan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ 90 ﴿ "Jika kamu mengikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 90) (93) Manakala mereka binasa, Nabi mereka meninggalkan mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka setelah mereka mati dalam rangka menyalahkan dan mencela mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku." Yakni aku telah menyampaikannya dan menjelaskannya kepadamu sehingga ia mencapai sejauh apa yang bisa dicapai pada dirimu dan ia pun telah mencapai hatimu, ﴾ وَنَصَحۡتُ لَكُمۡۖ ﴿ "dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Tetapi kamu tidak menerima nasihatku dan tidak mendengarkan petunjukku, justru kamu bersikap fasik dan melampaui batas. ﴾ فَكَيۡفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ﴿ "Bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?" Yakni, bagaimana aku bersedih kepada kaum yang tidak ada ke-baikan bagi mereka, di mana kebaikan mendatangi mereka tetapi mereka malah menolaknya dan tidak menerimanya, maka tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. Mereka itu tidak layak dikasihani, justru kebinasaan mereka disyukuri. Kami ber-lindung kepadaMu ya Allah dari kehinaan dan kenistaan. Adakah kesengsaraan dan hukuman yang lebih berat daripada mereka yang telah mencapai tingkat bahwa orang yang paling tulus kepada me-reka berlepas diri dari mereka.

Al-A'raf 7:88

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan sau-dara mereka, Syu'aib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurna-kanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang de-mikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 85). "Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan me-nakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesu-dahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyam-paikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 86-87). "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.' Syu'aib berkata, 'Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya'." (Al-A'raf: 88). "Sungguh kami telah mengada-adakan kebohongan yang be-sar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki-(nya). Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), 'Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 89-90). "Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. Maka Syu'aib me-ninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir'." (Al-A'raf: 91-93). (85)(وَ) "Dan (Kami telah mengutus)", kepada kabilah yang terkenal di Madyan, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", dari nasab ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Yang mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Memerintahkan mereka agar memenuhi timbangan dan takaran, agar mereka tidak mengurangi hak-hak manusia, dan agar mereka jangan berbuat kerusakan di muka bumi dengan memperbanyak kemaksiatan padanya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." Karena meninggalkan kemaksiatan demi menjalankan perintah Allah dan mendekatkan diri kepadaNya adalah lebih baik dan lebih berguna bagi seorang hamba daripada melakukannya yang mana ia menyebabkan ke-murkaan dari Allah dan azab neraka. (86) ﴾ وَلَا تَقۡعُدُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu duduk" menghadang orang ﴾ بِكُلِّ صِرَٰطٖ ﴿ "di tiap-tiap jalan." Yaitu jalan yang banyak dila-lui oleh orang-orang, kamu memperingatkan orang-orang darinya, ﴾ تُوعِدُونَ ﴿ "dengan menakut-nakuti", orang-orang yang melewatinya ﴾ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah." Yakni orang yang ingin menjadikannya sebagai petun-juk. ﴾ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجٗاۚ ﴿ "Dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok." Dan kamu membelokkannya demi mengikuti hawa nafsu-mu. Semestinya kamu dan orang-orang selainmu menghargai dan menghormati jalan-jalan yang Allah letakkan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka bisa menitinya kepada ridha Allah dan rumah kemuliaanNya yang dengannya Dia merahmati mereka dengan rahmat terbesar. Semestinya kamu menolongnya, menyerukan ke-padanya dan membelanya, bukan malah kamu menjadi pembegal yang menghadang orang-orang darinya, karena ini adalah meru-pakan bentuk kekufuran kepada nikmat Allah dan penentangan kepada Allah serta menjadikan jalan yang paling lurus dan paling adil sebagai jalan yang bengkok, dan kamu menyalahkan orang-orang yang menitinya. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ ﴿ "Dan ingatlah", nikmat Allah atas kalian, ﴾ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِيلٗا فَكَثَّرَكُمۡۖ ﴿ "di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu." Yakni menumbuh-biakkanmu dengan istri, anak-anak dan kesehatan yang Dia berikan kepadamu, bahwa Dia tidak mengujimu dengan wabah atau penya-kit yang mengurangi jumlahmu. Dia juga tidak menguasakanmu kepada musuh yang menumpasmu dan mencerai-beraikanmu di muka bumi. Justru Dia memberimu nikmat dengan kesatuanmu, pelimpahan rizki dan banyaknya keturunan.﴾ وَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." Kamu tidak melihat mereka kecuali tercerai berai, yang ada di negeri mereka hanyalah kesunyian dan porak poranda. Mereka tidak meninggalkan nama yang baik, justru di du-nia ini mereka mendapatkan laknat, sementara pada Hari Kiamat mereka lebih hina dan sengsara. (87) ﴾ وَإِن كَانَ طَآئِفَةٞ مِّنكُمۡ ءَامَنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَطَآئِفَةٞ لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk me-nyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman." Yaitu yang tidak beriman itu adalah mayoritas dari mereka. ﴾ فَٱصۡبِرُواْ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ بَيۡنَنَاۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hu-kumnya di antara kita dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." Allah akan memenangkan (menolong) yang haq dan mengazab yang batil. (88) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata." Orang-orang besar yang dihor-mati di kalangan mereka, yang mengikuti hawa nafsu mereka dan bermain-main dengan kemewahan mereka, begitu kebenaran da-tang kepada mereka dan ternyata ia tidak sesuai dengan hawa nafsu rendah mereka, maka mereka menentangnya dan menyombong-kan diri darinya. Mereka berkata kepada Nabi mereka Syu'aib dan orang-orang lemah yang beriman bersamanya. ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكَ يَٰشُعَيۡبُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَكَ مِن قَرۡيَتِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۚ ﴿ "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami." Mereka menggunakan kekuatan premanisme dalam menghadapi kebenaran tanpa mempedulikan agama, perjanjian dan hak, mereka hanya memperhatikan dan me-ngikuti hawa nafsu dan akal bodoh mereka, yang menunjukkan mereka kepada ucapan buruk ini, maka mereka berkata, "Kamu dan orang-orangmu kembali kepada agama kami, atau kami me-ngusirmu dari desa ini." Syu'aib berdakwah kepada mereka karena berharap mereka mau beriman, sekarang justru dia diancam oleh mereka dengan pengusiran dari negerinya jika dia tidak mengikuti mereka, padahal dia dan orang-orang yang bersamanya adalah lebih berhak daripada mereka. Syu'aib menjawab mereka dengan keheranan terhadap ucapan mereka, ﴾ أَوَلَوۡ كُنَّا كَٰرِهِينَ ﴿ "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" Yakni apa-kah kami akan mengikuti agamamu dan ajaranmu yang batil itu meskipun kami membencinya karena kami mengetahui kebatilan-nya. Semestinya yang diajak kepadanya adalah orang yang memiliki kecenderungan kepadanya. Adapun orang yang secara terbuka melarangnya dan menyalahkan orang yang mengikutinya, bagai-mana dia diajak kepadanya. (89) ﴾ قَدِ ٱفۡتَرَيۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِي مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ ﴿ "Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kem-bali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami daripadanya." Yakni, bersaksilah atas kami jika kami kembali kepadanya setelah Allah menyelamatkan kami darinya dan mengentaskan kami dari keburukannya maka kami adalah orang-orang yang berbohong dan berdusta atas nama Allah, karena kami mengetahui bahwa tidak ada dusta yang lebih besar daripada orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tempat bergantung para makhluk yang tidak beristri dan tidak beranak dan tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya. ﴾ وَمَا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّعُودَ فِيهَآ ﴿ "Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya." Yakni tidak mungkin bagi orang-orang seperti kami kembali lagi padanya, ini mustahil. Syu'aib membuat mereka tidak lagi berharap darinya untuk mengikuti mereka dari beberapa segi: Dari segi bahwa dia dan orang-orang yang beriman bersama-nya membenci dan tidak menyukai kesyirikan yang dipegang oleh kaumnya. Dari segi bahwa dia menjadikan apa yang mereka anut seba-gai kedustaan dan dia meminta mereka untuk bersaksi apabila dia dan orang-orang yang bersamanya mengikuti mereka, maka dia dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang ber-dusta. Di antaranya juga pengakuan mereka terhadap nikmat Allah kepada mereka di mana Dia telah menyelamatkan mereka darinya. Di antaranya juga bahwa kembalinya mereka kepadanya se-telah Allah memberi petunjuk kepada mereka adalah termasuk per-kara yang mustahil jika melihat kepada keadaan mereka saat ini dan apa yang tertanam dalam hati mereka berupa pengagungan kepada Allah, pengakuan ubudiyah kepadaNya, bahwa hanya Dia-lah yang berhak atas ibadah semata tiada sekutu bagiNya, bahwa tuhan-tuhan kaum musyrikin adalah kebatilan paling batil dan ke-mustahilan paling mustahil, di mana Allah telah menganugerahkan akal kepada mereka yang dengannya mereka mengetahui kebenar-an dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan. Adapun dari segi kehendak dan keinginan Allah yang pasti berlaku pada makhlukNya, di mana tidak seorang pun yang bisa menghindar darinya walaupun segala sebab dan kekuatan terkum-pul dan tersedia, maka mereka tidak memutuskan atas diri mereka bahwa mereka akan melakukan atau meninggalkan sesuatu. Oleh karena itu mereka mengecualikan dengan mengatakan, ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ ﴿ "Kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki(nya)." Yakni, tidak mungkin bagi kami ataupun selain kami yang bisa lolos dari ke-hendakNya yang berdasarkan kepada Ilmu dan HikmahNya. Dan sungguh ﴾ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ ﴿ "Pengetahuan Rabb kami meliputi segala se-suatu." Dia mengetahui apa yang baik bagi hamba-hambaNya dan apa yang menjadi aturanNya pada mereka. ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ ﴿ "Kepada Allah sajalah kami bertawakal." Yakni kami percaya bahwa Dia akan meneguhkan kami di atas jalan yang lurus dan melindungi kami dari seluruh jalan neraka, karena barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan mencukupkannya dan memudahkan untuknya urusan agama dan dunianya. ﴾ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)." Yakni tolonglah orang yang dizhalimi dan pemilik hak atas orang yang zhalim, penentang kebenaran. ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ﴿ "Dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya." Kepu-tusanNya kepada hamba-hambaNya ada dua macam: keputusan ilmu dengan menjelaskan kebenaran dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan, dan siapa yang tegak lurus di atas jalan dan siapa yang membelot darinya. Adapun yang kedua adalah keputusannya dengan pembalasan dan hukuman kepada orang-orang yang zhalim, serta keselamatan dan kemuliaan bagi orang-orang yang shalih. Maka mereka memohon kepada Allah keputusan di antara mereka dengan kaumnya dengan benar dan adil, dan supaya Dia menun-jukkan ayat-ayat dan pelajaran-pelajarannya yang menjadi kepu-tusan bagi kedua belah pihak. (90) ﴾ وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya)", memperingatkan agar tidak meng-ikuti Syu'aib ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu meng-ikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." Ini termasuk tipuan dari diri mereka, bahwa kerugian dan kesengsaraan ada pada mengikuti kebenaran dan petunjuk. Mereka tidak menyadari bahwa seluruh kerugian berporos pada sikap mereka, berpegang kepada kesesatan dan usaha penyesatan kepada orang lain. Dan mereka mengetahui itu manakala azab te-lah turun menimpa mereka. (91) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ ﴿ "Kemudian mereka ditimpa gempa", yang dahsyat. ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka", yakni tersungkur mati dan tidak bergerak. (92) Allah تعالى berfirman mencela keadaan mereka, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَاۚ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu." Yakni seolah-olah me-reka tidak pernah tinggal di negeri mereka, seolah-olah mereka tidak pernah bersuka ria di halamannya, tidak pernah berteduh padanya, tidak pernah bermain-main di aliran sungainya, dan tidak pernah makan dari buah-buahannya. Mereka ditimpa oleh azab yang mem-bawa mereka dari segala permainan, kesenangan dan kenikmatan, kepada rumah kesedihan, kesengsaraan, azab dan kehinaan. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَانُواْ هُمُ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi." Yakni bahwa kerugian hanya untuk mereka saja, karena diri mereka dan keluarga mereka merugi di Hari Kiamat. Bukankah itu meru-pakan kerugian yang nyata, bukan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ 90 ﴿ "Jika kamu mengikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 90) (93) Manakala mereka binasa, Nabi mereka meninggalkan mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka setelah mereka mati dalam rangka menyalahkan dan mencela mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku." Yakni aku telah menyampaikannya dan menjelaskannya kepadamu sehingga ia mencapai sejauh apa yang bisa dicapai pada dirimu dan ia pun telah mencapai hatimu, ﴾ وَنَصَحۡتُ لَكُمۡۖ ﴿ "dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Tetapi kamu tidak menerima nasihatku dan tidak mendengarkan petunjukku, justru kamu bersikap fasik dan melampaui batas. ﴾ فَكَيۡفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ﴿ "Bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?" Yakni, bagaimana aku bersedih kepada kaum yang tidak ada ke-baikan bagi mereka, di mana kebaikan mendatangi mereka tetapi mereka malah menolaknya dan tidak menerimanya, maka tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. Mereka itu tidak layak dikasihani, justru kebinasaan mereka disyukuri. Kami ber-lindung kepadaMu ya Allah dari kehinaan dan kenistaan. Adakah kesengsaraan dan hukuman yang lebih berat daripada mereka yang telah mencapai tingkat bahwa orang yang paling tulus kepada me-reka berlepas diri dari mereka.

Al-A'raf 7:89

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan sau-dara mereka, Syu'aib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurna-kanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang de-mikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 85). "Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan me-nakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesu-dahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyam-paikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 86-87). "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.' Syu'aib berkata, 'Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya'." (Al-A'raf: 88). "Sungguh kami telah mengada-adakan kebohongan yang be-sar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki-(nya). Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), 'Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 89-90). "Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. Maka Syu'aib me-ninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir'." (Al-A'raf: 91-93). (85)(وَ) "Dan (Kami telah mengutus)", kepada kabilah yang terkenal di Madyan, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", dari nasab ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Yang mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Memerintahkan mereka agar memenuhi timbangan dan takaran, agar mereka tidak mengurangi hak-hak manusia, dan agar mereka jangan berbuat kerusakan di muka bumi dengan memperbanyak kemaksiatan padanya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." Karena meninggalkan kemaksiatan demi menjalankan perintah Allah dan mendekatkan diri kepadaNya adalah lebih baik dan lebih berguna bagi seorang hamba daripada melakukannya yang mana ia menyebabkan ke-murkaan dari Allah dan azab neraka. (86) ﴾ وَلَا تَقۡعُدُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu duduk" menghadang orang ﴾ بِكُلِّ صِرَٰطٖ ﴿ "di tiap-tiap jalan." Yaitu jalan yang banyak dila-lui oleh orang-orang, kamu memperingatkan orang-orang darinya, ﴾ تُوعِدُونَ ﴿ "dengan menakut-nakuti", orang-orang yang melewatinya ﴾ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah." Yakni orang yang ingin menjadikannya sebagai petun-juk. ﴾ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجٗاۚ ﴿ "Dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok." Dan kamu membelokkannya demi mengikuti hawa nafsu-mu. Semestinya kamu dan orang-orang selainmu menghargai dan menghormati jalan-jalan yang Allah letakkan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka bisa menitinya kepada ridha Allah dan rumah kemuliaanNya yang dengannya Dia merahmati mereka dengan rahmat terbesar. Semestinya kamu menolongnya, menyerukan ke-padanya dan membelanya, bukan malah kamu menjadi pembegal yang menghadang orang-orang darinya, karena ini adalah meru-pakan bentuk kekufuran kepada nikmat Allah dan penentangan kepada Allah serta menjadikan jalan yang paling lurus dan paling adil sebagai jalan yang bengkok, dan kamu menyalahkan orang-orang yang menitinya. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ ﴿ "Dan ingatlah", nikmat Allah atas kalian, ﴾ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِيلٗا فَكَثَّرَكُمۡۖ ﴿ "di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu." Yakni menumbuh-biakkanmu dengan istri, anak-anak dan kesehatan yang Dia berikan kepadamu, bahwa Dia tidak mengujimu dengan wabah atau penya-kit yang mengurangi jumlahmu. Dia juga tidak menguasakanmu kepada musuh yang menumpasmu dan mencerai-beraikanmu di muka bumi. Justru Dia memberimu nikmat dengan kesatuanmu, pelimpahan rizki dan banyaknya keturunan.﴾ وَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." Kamu tidak melihat mereka kecuali tercerai berai, yang ada di negeri mereka hanyalah kesunyian dan porak poranda. Mereka tidak meninggalkan nama yang baik, justru di du-nia ini mereka mendapatkan laknat, sementara pada Hari Kiamat mereka lebih hina dan sengsara. (87) ﴾ وَإِن كَانَ طَآئِفَةٞ مِّنكُمۡ ءَامَنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَطَآئِفَةٞ لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk me-nyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman." Yaitu yang tidak beriman itu adalah mayoritas dari mereka. ﴾ فَٱصۡبِرُواْ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ بَيۡنَنَاۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hu-kumnya di antara kita dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." Allah akan memenangkan (menolong) yang haq dan mengazab yang batil. (88) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata." Orang-orang besar yang dihor-mati di kalangan mereka, yang mengikuti hawa nafsu mereka dan bermain-main dengan kemewahan mereka, begitu kebenaran da-tang kepada mereka dan ternyata ia tidak sesuai dengan hawa nafsu rendah mereka, maka mereka menentangnya dan menyombong-kan diri darinya. Mereka berkata kepada Nabi mereka Syu'aib dan orang-orang lemah yang beriman bersamanya. ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكَ يَٰشُعَيۡبُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَكَ مِن قَرۡيَتِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۚ ﴿ "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami." Mereka menggunakan kekuatan premanisme dalam menghadapi kebenaran tanpa mempedulikan agama, perjanjian dan hak, mereka hanya memperhatikan dan me-ngikuti hawa nafsu dan akal bodoh mereka, yang menunjukkan mereka kepada ucapan buruk ini, maka mereka berkata, "Kamu dan orang-orangmu kembali kepada agama kami, atau kami me-ngusirmu dari desa ini." Syu'aib berdakwah kepada mereka karena berharap mereka mau beriman, sekarang justru dia diancam oleh mereka dengan pengusiran dari negerinya jika dia tidak mengikuti mereka, padahal dia dan orang-orang yang bersamanya adalah lebih berhak daripada mereka. Syu'aib menjawab mereka dengan keheranan terhadap ucapan mereka, ﴾ أَوَلَوۡ كُنَّا كَٰرِهِينَ ﴿ "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" Yakni apa-kah kami akan mengikuti agamamu dan ajaranmu yang batil itu meskipun kami membencinya karena kami mengetahui kebatilan-nya. Semestinya yang diajak kepadanya adalah orang yang memiliki kecenderungan kepadanya. Adapun orang yang secara terbuka melarangnya dan menyalahkan orang yang mengikutinya, bagai-mana dia diajak kepadanya. (89) ﴾ قَدِ ٱفۡتَرَيۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِي مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ ﴿ "Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kem-bali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami daripadanya." Yakni, bersaksilah atas kami jika kami kembali kepadanya setelah Allah menyelamatkan kami darinya dan mengentaskan kami dari keburukannya maka kami adalah orang-orang yang berbohong dan berdusta atas nama Allah, karena kami mengetahui bahwa tidak ada dusta yang lebih besar daripada orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tempat bergantung para makhluk yang tidak beristri dan tidak beranak dan tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya. ﴾ وَمَا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّعُودَ فِيهَآ ﴿ "Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya." Yakni tidak mungkin bagi orang-orang seperti kami kembali lagi padanya, ini mustahil. Syu'aib membuat mereka tidak lagi berharap darinya untuk mengikuti mereka dari beberapa segi: Dari segi bahwa dia dan orang-orang yang beriman bersama-nya membenci dan tidak menyukai kesyirikan yang dipegang oleh kaumnya. Dari segi bahwa dia menjadikan apa yang mereka anut seba-gai kedustaan dan dia meminta mereka untuk bersaksi apabila dia dan orang-orang yang bersamanya mengikuti mereka, maka dia dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang ber-dusta. Di antaranya juga pengakuan mereka terhadap nikmat Allah kepada mereka di mana Dia telah menyelamatkan mereka darinya. Di antaranya juga bahwa kembalinya mereka kepadanya se-telah Allah memberi petunjuk kepada mereka adalah termasuk per-kara yang mustahil jika melihat kepada keadaan mereka saat ini dan apa yang tertanam dalam hati mereka berupa pengagungan kepada Allah, pengakuan ubudiyah kepadaNya, bahwa hanya Dia-lah yang berhak atas ibadah semata tiada sekutu bagiNya, bahwa tuhan-tuhan kaum musyrikin adalah kebatilan paling batil dan ke-mustahilan paling mustahil, di mana Allah telah menganugerahkan akal kepada mereka yang dengannya mereka mengetahui kebenar-an dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan. Adapun dari segi kehendak dan keinginan Allah yang pasti berlaku pada makhlukNya, di mana tidak seorang pun yang bisa menghindar darinya walaupun segala sebab dan kekuatan terkum-pul dan tersedia, maka mereka tidak memutuskan atas diri mereka bahwa mereka akan melakukan atau meninggalkan sesuatu. Oleh karena itu mereka mengecualikan dengan mengatakan, ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ ﴿ "Kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki(nya)." Yakni, tidak mungkin bagi kami ataupun selain kami yang bisa lolos dari ke-hendakNya yang berdasarkan kepada Ilmu dan HikmahNya. Dan sungguh ﴾ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ ﴿ "Pengetahuan Rabb kami meliputi segala se-suatu." Dia mengetahui apa yang baik bagi hamba-hambaNya dan apa yang menjadi aturanNya pada mereka. ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ ﴿ "Kepada Allah sajalah kami bertawakal." Yakni kami percaya bahwa Dia akan meneguhkan kami di atas jalan yang lurus dan melindungi kami dari seluruh jalan neraka, karena barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan mencukupkannya dan memudahkan untuknya urusan agama dan dunianya. ﴾ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)." Yakni tolonglah orang yang dizhalimi dan pemilik hak atas orang yang zhalim, penentang kebenaran. ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ﴿ "Dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya." Kepu-tusanNya kepada hamba-hambaNya ada dua macam: keputusan ilmu dengan menjelaskan kebenaran dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan, dan siapa yang tegak lurus di atas jalan dan siapa yang membelot darinya. Adapun yang kedua adalah keputusannya dengan pembalasan dan hukuman kepada orang-orang yang zhalim, serta keselamatan dan kemuliaan bagi orang-orang yang shalih. Maka mereka memohon kepada Allah keputusan di antara mereka dengan kaumnya dengan benar dan adil, dan supaya Dia menun-jukkan ayat-ayat dan pelajaran-pelajarannya yang menjadi kepu-tusan bagi kedua belah pihak. (90) ﴾ وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya)", memperingatkan agar tidak meng-ikuti Syu'aib ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu meng-ikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." Ini termasuk tipuan dari diri mereka, bahwa kerugian dan kesengsaraan ada pada mengikuti kebenaran dan petunjuk. Mereka tidak menyadari bahwa seluruh kerugian berporos pada sikap mereka, berpegang kepada kesesatan dan usaha penyesatan kepada orang lain. Dan mereka mengetahui itu manakala azab te-lah turun menimpa mereka. (91) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ ﴿ "Kemudian mereka ditimpa gempa", yang dahsyat. ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka", yakni tersungkur mati dan tidak bergerak. (92) Allah تعالى berfirman mencela keadaan mereka, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَاۚ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu." Yakni seolah-olah me-reka tidak pernah tinggal di negeri mereka, seolah-olah mereka tidak pernah bersuka ria di halamannya, tidak pernah berteduh padanya, tidak pernah bermain-main di aliran sungainya, dan tidak pernah makan dari buah-buahannya. Mereka ditimpa oleh azab yang mem-bawa mereka dari segala permainan, kesenangan dan kenikmatan, kepada rumah kesedihan, kesengsaraan, azab dan kehinaan. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَانُواْ هُمُ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi." Yakni bahwa kerugian hanya untuk mereka saja, karena diri mereka dan keluarga mereka merugi di Hari Kiamat. Bukankah itu meru-pakan kerugian yang nyata, bukan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ 90 ﴿ "Jika kamu mengikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 90) (93) Manakala mereka binasa, Nabi mereka meninggalkan mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka setelah mereka mati dalam rangka menyalahkan dan mencela mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku." Yakni aku telah menyampaikannya dan menjelaskannya kepadamu sehingga ia mencapai sejauh apa yang bisa dicapai pada dirimu dan ia pun telah mencapai hatimu, ﴾ وَنَصَحۡتُ لَكُمۡۖ ﴿ "dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Tetapi kamu tidak menerima nasihatku dan tidak mendengarkan petunjukku, justru kamu bersikap fasik dan melampaui batas. ﴾ فَكَيۡفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ﴿ "Bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?" Yakni, bagaimana aku bersedih kepada kaum yang tidak ada ke-baikan bagi mereka, di mana kebaikan mendatangi mereka tetapi mereka malah menolaknya dan tidak menerimanya, maka tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. Mereka itu tidak layak dikasihani, justru kebinasaan mereka disyukuri. Kami ber-lindung kepadaMu ya Allah dari kehinaan dan kenistaan. Adakah kesengsaraan dan hukuman yang lebih berat daripada mereka yang telah mencapai tingkat bahwa orang yang paling tulus kepada me-reka berlepas diri dari mereka.

Al-A'raf 7:90

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan sau-dara mereka, Syu'aib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurna-kanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang de-mikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 85). "Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan me-nakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesu-dahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyam-paikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 86-87). "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.' Syu'aib berkata, 'Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya'." (Al-A'raf: 88). "Sungguh kami telah mengada-adakan kebohongan yang be-sar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki-(nya). Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), 'Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 89-90). "Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. Maka Syu'aib me-ninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir'." (Al-A'raf: 91-93). (85)(وَ) "Dan (Kami telah mengutus)", kepada kabilah yang terkenal di Madyan, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", dari nasab ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Yang mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Memerintahkan mereka agar memenuhi timbangan dan takaran, agar mereka tidak mengurangi hak-hak manusia, dan agar mereka jangan berbuat kerusakan di muka bumi dengan memperbanyak kemaksiatan padanya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." Karena meninggalkan kemaksiatan demi menjalankan perintah Allah dan mendekatkan diri kepadaNya adalah lebih baik dan lebih berguna bagi seorang hamba daripada melakukannya yang mana ia menyebabkan ke-murkaan dari Allah dan azab neraka. (86) ﴾ وَلَا تَقۡعُدُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu duduk" menghadang orang ﴾ بِكُلِّ صِرَٰطٖ ﴿ "di tiap-tiap jalan." Yaitu jalan yang banyak dila-lui oleh orang-orang, kamu memperingatkan orang-orang darinya, ﴾ تُوعِدُونَ ﴿ "dengan menakut-nakuti", orang-orang yang melewatinya ﴾ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah." Yakni orang yang ingin menjadikannya sebagai petun-juk. ﴾ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجٗاۚ ﴿ "Dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok." Dan kamu membelokkannya demi mengikuti hawa nafsu-mu. Semestinya kamu dan orang-orang selainmu menghargai dan menghormati jalan-jalan yang Allah letakkan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka bisa menitinya kepada ridha Allah dan rumah kemuliaanNya yang dengannya Dia merahmati mereka dengan rahmat terbesar. Semestinya kamu menolongnya, menyerukan ke-padanya dan membelanya, bukan malah kamu menjadi pembegal yang menghadang orang-orang darinya, karena ini adalah meru-pakan bentuk kekufuran kepada nikmat Allah dan penentangan kepada Allah serta menjadikan jalan yang paling lurus dan paling adil sebagai jalan yang bengkok, dan kamu menyalahkan orang-orang yang menitinya. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ ﴿ "Dan ingatlah", nikmat Allah atas kalian, ﴾ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِيلٗا فَكَثَّرَكُمۡۖ ﴿ "di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu." Yakni menumbuh-biakkanmu dengan istri, anak-anak dan kesehatan yang Dia berikan kepadamu, bahwa Dia tidak mengujimu dengan wabah atau penya-kit yang mengurangi jumlahmu. Dia juga tidak menguasakanmu kepada musuh yang menumpasmu dan mencerai-beraikanmu di muka bumi. Justru Dia memberimu nikmat dengan kesatuanmu, pelimpahan rizki dan banyaknya keturunan.﴾ وَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." Kamu tidak melihat mereka kecuali tercerai berai, yang ada di negeri mereka hanyalah kesunyian dan porak poranda. Mereka tidak meninggalkan nama yang baik, justru di du-nia ini mereka mendapatkan laknat, sementara pada Hari Kiamat mereka lebih hina dan sengsara. (87) ﴾ وَإِن كَانَ طَآئِفَةٞ مِّنكُمۡ ءَامَنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَطَآئِفَةٞ لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk me-nyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman." Yaitu yang tidak beriman itu adalah mayoritas dari mereka. ﴾ فَٱصۡبِرُواْ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ بَيۡنَنَاۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hu-kumnya di antara kita dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." Allah akan memenangkan (menolong) yang haq dan mengazab yang batil. (88) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata." Orang-orang besar yang dihor-mati di kalangan mereka, yang mengikuti hawa nafsu mereka dan bermain-main dengan kemewahan mereka, begitu kebenaran da-tang kepada mereka dan ternyata ia tidak sesuai dengan hawa nafsu rendah mereka, maka mereka menentangnya dan menyombong-kan diri darinya. Mereka berkata kepada Nabi mereka Syu'aib dan orang-orang lemah yang beriman bersamanya. ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكَ يَٰشُعَيۡبُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَكَ مِن قَرۡيَتِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۚ ﴿ "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami." Mereka menggunakan kekuatan premanisme dalam menghadapi kebenaran tanpa mempedulikan agama, perjanjian dan hak, mereka hanya memperhatikan dan me-ngikuti hawa nafsu dan akal bodoh mereka, yang menunjukkan mereka kepada ucapan buruk ini, maka mereka berkata, "Kamu dan orang-orangmu kembali kepada agama kami, atau kami me-ngusirmu dari desa ini." Syu'aib berdakwah kepada mereka karena berharap mereka mau beriman, sekarang justru dia diancam oleh mereka dengan pengusiran dari negerinya jika dia tidak mengikuti mereka, padahal dia dan orang-orang yang bersamanya adalah lebih berhak daripada mereka. Syu'aib menjawab mereka dengan keheranan terhadap ucapan mereka, ﴾ أَوَلَوۡ كُنَّا كَٰرِهِينَ ﴿ "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" Yakni apa-kah kami akan mengikuti agamamu dan ajaranmu yang batil itu meskipun kami membencinya karena kami mengetahui kebatilan-nya. Semestinya yang diajak kepadanya adalah orang yang memiliki kecenderungan kepadanya. Adapun orang yang secara terbuka melarangnya dan menyalahkan orang yang mengikutinya, bagai-mana dia diajak kepadanya. (89) ﴾ قَدِ ٱفۡتَرَيۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِي مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ ﴿ "Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kem-bali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami daripadanya." Yakni, bersaksilah atas kami jika kami kembali kepadanya setelah Allah menyelamatkan kami darinya dan mengentaskan kami dari keburukannya maka kami adalah orang-orang yang berbohong dan berdusta atas nama Allah, karena kami mengetahui bahwa tidak ada dusta yang lebih besar daripada orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tempat bergantung para makhluk yang tidak beristri dan tidak beranak dan tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya. ﴾ وَمَا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّعُودَ فِيهَآ ﴿ "Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya." Yakni tidak mungkin bagi orang-orang seperti kami kembali lagi padanya, ini mustahil. Syu'aib membuat mereka tidak lagi berharap darinya untuk mengikuti mereka dari beberapa segi: Dari segi bahwa dia dan orang-orang yang beriman bersama-nya membenci dan tidak menyukai kesyirikan yang dipegang oleh kaumnya. Dari segi bahwa dia menjadikan apa yang mereka anut seba-gai kedustaan dan dia meminta mereka untuk bersaksi apabila dia dan orang-orang yang bersamanya mengikuti mereka, maka dia dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang ber-dusta. Di antaranya juga pengakuan mereka terhadap nikmat Allah kepada mereka di mana Dia telah menyelamatkan mereka darinya. Di antaranya juga bahwa kembalinya mereka kepadanya se-telah Allah memberi petunjuk kepada mereka adalah termasuk per-kara yang mustahil jika melihat kepada keadaan mereka saat ini dan apa yang tertanam dalam hati mereka berupa pengagungan kepada Allah, pengakuan ubudiyah kepadaNya, bahwa hanya Dia-lah yang berhak atas ibadah semata tiada sekutu bagiNya, bahwa tuhan-tuhan kaum musyrikin adalah kebatilan paling batil dan ke-mustahilan paling mustahil, di mana Allah telah menganugerahkan akal kepada mereka yang dengannya mereka mengetahui kebenar-an dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan. Adapun dari segi kehendak dan keinginan Allah yang pasti berlaku pada makhlukNya, di mana tidak seorang pun yang bisa menghindar darinya walaupun segala sebab dan kekuatan terkum-pul dan tersedia, maka mereka tidak memutuskan atas diri mereka bahwa mereka akan melakukan atau meninggalkan sesuatu. Oleh karena itu mereka mengecualikan dengan mengatakan, ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ ﴿ "Kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki(nya)." Yakni, tidak mungkin bagi kami ataupun selain kami yang bisa lolos dari ke-hendakNya yang berdasarkan kepada Ilmu dan HikmahNya. Dan sungguh ﴾ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ ﴿ "Pengetahuan Rabb kami meliputi segala se-suatu." Dia mengetahui apa yang baik bagi hamba-hambaNya dan apa yang menjadi aturanNya pada mereka. ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ ﴿ "Kepada Allah sajalah kami bertawakal." Yakni kami percaya bahwa Dia akan meneguhkan kami di atas jalan yang lurus dan melindungi kami dari seluruh jalan neraka, karena barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan mencukupkannya dan memudahkan untuknya urusan agama dan dunianya. ﴾ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)." Yakni tolonglah orang yang dizhalimi dan pemilik hak atas orang yang zhalim, penentang kebenaran. ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ﴿ "Dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya." Kepu-tusanNya kepada hamba-hambaNya ada dua macam: keputusan ilmu dengan menjelaskan kebenaran dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan, dan siapa yang tegak lurus di atas jalan dan siapa yang membelot darinya. Adapun yang kedua adalah keputusannya dengan pembalasan dan hukuman kepada orang-orang yang zhalim, serta keselamatan dan kemuliaan bagi orang-orang yang shalih. Maka mereka memohon kepada Allah keputusan di antara mereka dengan kaumnya dengan benar dan adil, dan supaya Dia menun-jukkan ayat-ayat dan pelajaran-pelajarannya yang menjadi kepu-tusan bagi kedua belah pihak. (90) ﴾ وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya)", memperingatkan agar tidak meng-ikuti Syu'aib ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu meng-ikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." Ini termasuk tipuan dari diri mereka, bahwa kerugian dan kesengsaraan ada pada mengikuti kebenaran dan petunjuk. Mereka tidak menyadari bahwa seluruh kerugian berporos pada sikap mereka, berpegang kepada kesesatan dan usaha penyesatan kepada orang lain. Dan mereka mengetahui itu manakala azab te-lah turun menimpa mereka. (91) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ ﴿ "Kemudian mereka ditimpa gempa", yang dahsyat. ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka", yakni tersungkur mati dan tidak bergerak. (92) Allah تعالى berfirman mencela keadaan mereka, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَاۚ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu." Yakni seolah-olah me-reka tidak pernah tinggal di negeri mereka, seolah-olah mereka tidak pernah bersuka ria di halamannya, tidak pernah berteduh padanya, tidak pernah bermain-main di aliran sungainya, dan tidak pernah makan dari buah-buahannya. Mereka ditimpa oleh azab yang mem-bawa mereka dari segala permainan, kesenangan dan kenikmatan, kepada rumah kesedihan, kesengsaraan, azab dan kehinaan. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَانُواْ هُمُ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi." Yakni bahwa kerugian hanya untuk mereka saja, karena diri mereka dan keluarga mereka merugi di Hari Kiamat. Bukankah itu meru-pakan kerugian yang nyata, bukan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ 90 ﴿ "Jika kamu mengikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 90) (93) Manakala mereka binasa, Nabi mereka meninggalkan mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka setelah mereka mati dalam rangka menyalahkan dan mencela mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku." Yakni aku telah menyampaikannya dan menjelaskannya kepadamu sehingga ia mencapai sejauh apa yang bisa dicapai pada dirimu dan ia pun telah mencapai hatimu, ﴾ وَنَصَحۡتُ لَكُمۡۖ ﴿ "dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Tetapi kamu tidak menerima nasihatku dan tidak mendengarkan petunjukku, justru kamu bersikap fasik dan melampaui batas. ﴾ فَكَيۡفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ﴿ "Bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?" Yakni, bagaimana aku bersedih kepada kaum yang tidak ada ke-baikan bagi mereka, di mana kebaikan mendatangi mereka tetapi mereka malah menolaknya dan tidak menerimanya, maka tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. Mereka itu tidak layak dikasihani, justru kebinasaan mereka disyukuri. Kami ber-lindung kepadaMu ya Allah dari kehinaan dan kenistaan. Adakah kesengsaraan dan hukuman yang lebih berat daripada mereka yang telah mencapai tingkat bahwa orang yang paling tulus kepada me-reka berlepas diri dari mereka.

Al-A'raf 7:91

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan sau-dara mereka, Syu'aib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurna-kanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang de-mikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 85). "Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan me-nakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesu-dahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyam-paikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 86-87). "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.' Syu'aib berkata, 'Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya'." (Al-A'raf: 88). "Sungguh kami telah mengada-adakan kebohongan yang be-sar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki-(nya). Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), 'Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 89-90). "Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. Maka Syu'aib me-ninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir'." (Al-A'raf: 91-93). (85)(وَ) "Dan (Kami telah mengutus)", kepada kabilah yang terkenal di Madyan, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", dari nasab ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Yang mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Memerintahkan mereka agar memenuhi timbangan dan takaran, agar mereka tidak mengurangi hak-hak manusia, dan agar mereka jangan berbuat kerusakan di muka bumi dengan memperbanyak kemaksiatan padanya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." Karena meninggalkan kemaksiatan demi menjalankan perintah Allah dan mendekatkan diri kepadaNya adalah lebih baik dan lebih berguna bagi seorang hamba daripada melakukannya yang mana ia menyebabkan ke-murkaan dari Allah dan azab neraka. (86) ﴾ وَلَا تَقۡعُدُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu duduk" menghadang orang ﴾ بِكُلِّ صِرَٰطٖ ﴿ "di tiap-tiap jalan." Yaitu jalan yang banyak dila-lui oleh orang-orang, kamu memperingatkan orang-orang darinya, ﴾ تُوعِدُونَ ﴿ "dengan menakut-nakuti", orang-orang yang melewatinya ﴾ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah." Yakni orang yang ingin menjadikannya sebagai petun-juk. ﴾ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجٗاۚ ﴿ "Dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok." Dan kamu membelokkannya demi mengikuti hawa nafsu-mu. Semestinya kamu dan orang-orang selainmu menghargai dan menghormati jalan-jalan yang Allah letakkan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka bisa menitinya kepada ridha Allah dan rumah kemuliaanNya yang dengannya Dia merahmati mereka dengan rahmat terbesar. Semestinya kamu menolongnya, menyerukan ke-padanya dan membelanya, bukan malah kamu menjadi pembegal yang menghadang orang-orang darinya, karena ini adalah meru-pakan bentuk kekufuran kepada nikmat Allah dan penentangan kepada Allah serta menjadikan jalan yang paling lurus dan paling adil sebagai jalan yang bengkok, dan kamu menyalahkan orang-orang yang menitinya. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ ﴿ "Dan ingatlah", nikmat Allah atas kalian, ﴾ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِيلٗا فَكَثَّرَكُمۡۖ ﴿ "di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu." Yakni menumbuh-biakkanmu dengan istri, anak-anak dan kesehatan yang Dia berikan kepadamu, bahwa Dia tidak mengujimu dengan wabah atau penya-kit yang mengurangi jumlahmu. Dia juga tidak menguasakanmu kepada musuh yang menumpasmu dan mencerai-beraikanmu di muka bumi. Justru Dia memberimu nikmat dengan kesatuanmu, pelimpahan rizki dan banyaknya keturunan.﴾ وَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." Kamu tidak melihat mereka kecuali tercerai berai, yang ada di negeri mereka hanyalah kesunyian dan porak poranda. Mereka tidak meninggalkan nama yang baik, justru di du-nia ini mereka mendapatkan laknat, sementara pada Hari Kiamat mereka lebih hina dan sengsara. (87) ﴾ وَإِن كَانَ طَآئِفَةٞ مِّنكُمۡ ءَامَنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَطَآئِفَةٞ لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk me-nyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman." Yaitu yang tidak beriman itu adalah mayoritas dari mereka. ﴾ فَٱصۡبِرُواْ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ بَيۡنَنَاۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hu-kumnya di antara kita dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." Allah akan memenangkan (menolong) yang haq dan mengazab yang batil. (88) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata." Orang-orang besar yang dihor-mati di kalangan mereka, yang mengikuti hawa nafsu mereka dan bermain-main dengan kemewahan mereka, begitu kebenaran da-tang kepada mereka dan ternyata ia tidak sesuai dengan hawa nafsu rendah mereka, maka mereka menentangnya dan menyombong-kan diri darinya. Mereka berkata kepada Nabi mereka Syu'aib dan orang-orang lemah yang beriman bersamanya. ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكَ يَٰشُعَيۡبُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَكَ مِن قَرۡيَتِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۚ ﴿ "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami." Mereka menggunakan kekuatan premanisme dalam menghadapi kebenaran tanpa mempedulikan agama, perjanjian dan hak, mereka hanya memperhatikan dan me-ngikuti hawa nafsu dan akal bodoh mereka, yang menunjukkan mereka kepada ucapan buruk ini, maka mereka berkata, "Kamu dan orang-orangmu kembali kepada agama kami, atau kami me-ngusirmu dari desa ini." Syu'aib berdakwah kepada mereka karena berharap mereka mau beriman, sekarang justru dia diancam oleh mereka dengan pengusiran dari negerinya jika dia tidak mengikuti mereka, padahal dia dan orang-orang yang bersamanya adalah lebih berhak daripada mereka. Syu'aib menjawab mereka dengan keheranan terhadap ucapan mereka, ﴾ أَوَلَوۡ كُنَّا كَٰرِهِينَ ﴿ "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" Yakni apa-kah kami akan mengikuti agamamu dan ajaranmu yang batil itu meskipun kami membencinya karena kami mengetahui kebatilan-nya. Semestinya yang diajak kepadanya adalah orang yang memiliki kecenderungan kepadanya. Adapun orang yang secara terbuka melarangnya dan menyalahkan orang yang mengikutinya, bagai-mana dia diajak kepadanya. (89) ﴾ قَدِ ٱفۡتَرَيۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِي مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ ﴿ "Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kem-bali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami daripadanya." Yakni, bersaksilah atas kami jika kami kembali kepadanya setelah Allah menyelamatkan kami darinya dan mengentaskan kami dari keburukannya maka kami adalah orang-orang yang berbohong dan berdusta atas nama Allah, karena kami mengetahui bahwa tidak ada dusta yang lebih besar daripada orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tempat bergantung para makhluk yang tidak beristri dan tidak beranak dan tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya. ﴾ وَمَا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّعُودَ فِيهَآ ﴿ "Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya." Yakni tidak mungkin bagi orang-orang seperti kami kembali lagi padanya, ini mustahil. Syu'aib membuat mereka tidak lagi berharap darinya untuk mengikuti mereka dari beberapa segi: Dari segi bahwa dia dan orang-orang yang beriman bersama-nya membenci dan tidak menyukai kesyirikan yang dipegang oleh kaumnya. Dari segi bahwa dia menjadikan apa yang mereka anut seba-gai kedustaan dan dia meminta mereka untuk bersaksi apabila dia dan orang-orang yang bersamanya mengikuti mereka, maka dia dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang ber-dusta. Di antaranya juga pengakuan mereka terhadap nikmat Allah kepada mereka di mana Dia telah menyelamatkan mereka darinya. Di antaranya juga bahwa kembalinya mereka kepadanya se-telah Allah memberi petunjuk kepada mereka adalah termasuk per-kara yang mustahil jika melihat kepada keadaan mereka saat ini dan apa yang tertanam dalam hati mereka berupa pengagungan kepada Allah, pengakuan ubudiyah kepadaNya, bahwa hanya Dia-lah yang berhak atas ibadah semata tiada sekutu bagiNya, bahwa tuhan-tuhan kaum musyrikin adalah kebatilan paling batil dan ke-mustahilan paling mustahil, di mana Allah telah menganugerahkan akal kepada mereka yang dengannya mereka mengetahui kebenar-an dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan. Adapun dari segi kehendak dan keinginan Allah yang pasti berlaku pada makhlukNya, di mana tidak seorang pun yang bisa menghindar darinya walaupun segala sebab dan kekuatan terkum-pul dan tersedia, maka mereka tidak memutuskan atas diri mereka bahwa mereka akan melakukan atau meninggalkan sesuatu. Oleh karena itu mereka mengecualikan dengan mengatakan, ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ ﴿ "Kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki(nya)." Yakni, tidak mungkin bagi kami ataupun selain kami yang bisa lolos dari ke-hendakNya yang berdasarkan kepada Ilmu dan HikmahNya. Dan sungguh ﴾ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ ﴿ "Pengetahuan Rabb kami meliputi segala se-suatu." Dia mengetahui apa yang baik bagi hamba-hambaNya dan apa yang menjadi aturanNya pada mereka. ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ ﴿ "Kepada Allah sajalah kami bertawakal." Yakni kami percaya bahwa Dia akan meneguhkan kami di atas jalan yang lurus dan melindungi kami dari seluruh jalan neraka, karena barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan mencukupkannya dan memudahkan untuknya urusan agama dan dunianya. ﴾ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)." Yakni tolonglah orang yang dizhalimi dan pemilik hak atas orang yang zhalim, penentang kebenaran. ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ﴿ "Dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya." Kepu-tusanNya kepada hamba-hambaNya ada dua macam: keputusan ilmu dengan menjelaskan kebenaran dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan, dan siapa yang tegak lurus di atas jalan dan siapa yang membelot darinya. Adapun yang kedua adalah keputusannya dengan pembalasan dan hukuman kepada orang-orang yang zhalim, serta keselamatan dan kemuliaan bagi orang-orang yang shalih. Maka mereka memohon kepada Allah keputusan di antara mereka dengan kaumnya dengan benar dan adil, dan supaya Dia menun-jukkan ayat-ayat dan pelajaran-pelajarannya yang menjadi kepu-tusan bagi kedua belah pihak. (90) ﴾ وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya)", memperingatkan agar tidak meng-ikuti Syu'aib ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu meng-ikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." Ini termasuk tipuan dari diri mereka, bahwa kerugian dan kesengsaraan ada pada mengikuti kebenaran dan petunjuk. Mereka tidak menyadari bahwa seluruh kerugian berporos pada sikap mereka, berpegang kepada kesesatan dan usaha penyesatan kepada orang lain. Dan mereka mengetahui itu manakala azab te-lah turun menimpa mereka. (91) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ ﴿ "Kemudian mereka ditimpa gempa", yang dahsyat. ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka", yakni tersungkur mati dan tidak bergerak. (92) Allah تعالى berfirman mencela keadaan mereka, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَاۚ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu." Yakni seolah-olah me-reka tidak pernah tinggal di negeri mereka, seolah-olah mereka tidak pernah bersuka ria di halamannya, tidak pernah berteduh padanya, tidak pernah bermain-main di aliran sungainya, dan tidak pernah makan dari buah-buahannya. Mereka ditimpa oleh azab yang mem-bawa mereka dari segala permainan, kesenangan dan kenikmatan, kepada rumah kesedihan, kesengsaraan, azab dan kehinaan. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَانُواْ هُمُ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi." Yakni bahwa kerugian hanya untuk mereka saja, karena diri mereka dan keluarga mereka merugi di Hari Kiamat. Bukankah itu meru-pakan kerugian yang nyata, bukan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ 90 ﴿ "Jika kamu mengikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 90) (93) Manakala mereka binasa, Nabi mereka meninggalkan mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka setelah mereka mati dalam rangka menyalahkan dan mencela mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku." Yakni aku telah menyampaikannya dan menjelaskannya kepadamu sehingga ia mencapai sejauh apa yang bisa dicapai pada dirimu dan ia pun telah mencapai hatimu, ﴾ وَنَصَحۡتُ لَكُمۡۖ ﴿ "dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Tetapi kamu tidak menerima nasihatku dan tidak mendengarkan petunjukku, justru kamu bersikap fasik dan melampaui batas. ﴾ فَكَيۡفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ﴿ "Bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?" Yakni, bagaimana aku bersedih kepada kaum yang tidak ada ke-baikan bagi mereka, di mana kebaikan mendatangi mereka tetapi mereka malah menolaknya dan tidak menerimanya, maka tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. Mereka itu tidak layak dikasihani, justru kebinasaan mereka disyukuri. Kami ber-lindung kepadaMu ya Allah dari kehinaan dan kenistaan. Adakah kesengsaraan dan hukuman yang lebih berat daripada mereka yang telah mencapai tingkat bahwa orang yang paling tulus kepada me-reka berlepas diri dari mereka.

Al-A'raf 7:92

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan sau-dara mereka, Syu'aib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurna-kanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang de-mikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 85). "Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan me-nakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesu-dahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyam-paikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 86-87). "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.' Syu'aib berkata, 'Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya'." (Al-A'raf: 88). "Sungguh kami telah mengada-adakan kebohongan yang be-sar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki-(nya). Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), 'Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 89-90). "Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. Maka Syu'aib me-ninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir'." (Al-A'raf: 91-93). (85)(وَ) "Dan (Kami telah mengutus)", kepada kabilah yang terkenal di Madyan, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", dari nasab ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Yang mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Memerintahkan mereka agar memenuhi timbangan dan takaran, agar mereka tidak mengurangi hak-hak manusia, dan agar mereka jangan berbuat kerusakan di muka bumi dengan memperbanyak kemaksiatan padanya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." Karena meninggalkan kemaksiatan demi menjalankan perintah Allah dan mendekatkan diri kepadaNya adalah lebih baik dan lebih berguna bagi seorang hamba daripada melakukannya yang mana ia menyebabkan ke-murkaan dari Allah dan azab neraka. (86) ﴾ وَلَا تَقۡعُدُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu duduk" menghadang orang ﴾ بِكُلِّ صِرَٰطٖ ﴿ "di tiap-tiap jalan." Yaitu jalan yang banyak dila-lui oleh orang-orang, kamu memperingatkan orang-orang darinya, ﴾ تُوعِدُونَ ﴿ "dengan menakut-nakuti", orang-orang yang melewatinya ﴾ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah." Yakni orang yang ingin menjadikannya sebagai petun-juk. ﴾ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجٗاۚ ﴿ "Dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok." Dan kamu membelokkannya demi mengikuti hawa nafsu-mu. Semestinya kamu dan orang-orang selainmu menghargai dan menghormati jalan-jalan yang Allah letakkan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka bisa menitinya kepada ridha Allah dan rumah kemuliaanNya yang dengannya Dia merahmati mereka dengan rahmat terbesar. Semestinya kamu menolongnya, menyerukan ke-padanya dan membelanya, bukan malah kamu menjadi pembegal yang menghadang orang-orang darinya, karena ini adalah meru-pakan bentuk kekufuran kepada nikmat Allah dan penentangan kepada Allah serta menjadikan jalan yang paling lurus dan paling adil sebagai jalan yang bengkok, dan kamu menyalahkan orang-orang yang menitinya. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ ﴿ "Dan ingatlah", nikmat Allah atas kalian, ﴾ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِيلٗا فَكَثَّرَكُمۡۖ ﴿ "di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu." Yakni menumbuh-biakkanmu dengan istri, anak-anak dan kesehatan yang Dia berikan kepadamu, bahwa Dia tidak mengujimu dengan wabah atau penya-kit yang mengurangi jumlahmu. Dia juga tidak menguasakanmu kepada musuh yang menumpasmu dan mencerai-beraikanmu di muka bumi. Justru Dia memberimu nikmat dengan kesatuanmu, pelimpahan rizki dan banyaknya keturunan.﴾ وَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." Kamu tidak melihat mereka kecuali tercerai berai, yang ada di negeri mereka hanyalah kesunyian dan porak poranda. Mereka tidak meninggalkan nama yang baik, justru di du-nia ini mereka mendapatkan laknat, sementara pada Hari Kiamat mereka lebih hina dan sengsara. (87) ﴾ وَإِن كَانَ طَآئِفَةٞ مِّنكُمۡ ءَامَنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَطَآئِفَةٞ لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk me-nyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman." Yaitu yang tidak beriman itu adalah mayoritas dari mereka. ﴾ فَٱصۡبِرُواْ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ بَيۡنَنَاۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hu-kumnya di antara kita dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." Allah akan memenangkan (menolong) yang haq dan mengazab yang batil. (88) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata." Orang-orang besar yang dihor-mati di kalangan mereka, yang mengikuti hawa nafsu mereka dan bermain-main dengan kemewahan mereka, begitu kebenaran da-tang kepada mereka dan ternyata ia tidak sesuai dengan hawa nafsu rendah mereka, maka mereka menentangnya dan menyombong-kan diri darinya. Mereka berkata kepada Nabi mereka Syu'aib dan orang-orang lemah yang beriman bersamanya. ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكَ يَٰشُعَيۡبُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَكَ مِن قَرۡيَتِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۚ ﴿ "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami." Mereka menggunakan kekuatan premanisme dalam menghadapi kebenaran tanpa mempedulikan agama, perjanjian dan hak, mereka hanya memperhatikan dan me-ngikuti hawa nafsu dan akal bodoh mereka, yang menunjukkan mereka kepada ucapan buruk ini, maka mereka berkata, "Kamu dan orang-orangmu kembali kepada agama kami, atau kami me-ngusirmu dari desa ini." Syu'aib berdakwah kepada mereka karena berharap mereka mau beriman, sekarang justru dia diancam oleh mereka dengan pengusiran dari negerinya jika dia tidak mengikuti mereka, padahal dia dan orang-orang yang bersamanya adalah lebih berhak daripada mereka. Syu'aib menjawab mereka dengan keheranan terhadap ucapan mereka, ﴾ أَوَلَوۡ كُنَّا كَٰرِهِينَ ﴿ "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" Yakni apa-kah kami akan mengikuti agamamu dan ajaranmu yang batil itu meskipun kami membencinya karena kami mengetahui kebatilan-nya. Semestinya yang diajak kepadanya adalah orang yang memiliki kecenderungan kepadanya. Adapun orang yang secara terbuka melarangnya dan menyalahkan orang yang mengikutinya, bagai-mana dia diajak kepadanya. (89) ﴾ قَدِ ٱفۡتَرَيۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِي مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ ﴿ "Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kem-bali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami daripadanya." Yakni, bersaksilah atas kami jika kami kembali kepadanya setelah Allah menyelamatkan kami darinya dan mengentaskan kami dari keburukannya maka kami adalah orang-orang yang berbohong dan berdusta atas nama Allah, karena kami mengetahui bahwa tidak ada dusta yang lebih besar daripada orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tempat bergantung para makhluk yang tidak beristri dan tidak beranak dan tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya. ﴾ وَمَا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّعُودَ فِيهَآ ﴿ "Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya." Yakni tidak mungkin bagi orang-orang seperti kami kembali lagi padanya, ini mustahil. Syu'aib membuat mereka tidak lagi berharap darinya untuk mengikuti mereka dari beberapa segi: Dari segi bahwa dia dan orang-orang yang beriman bersama-nya membenci dan tidak menyukai kesyirikan yang dipegang oleh kaumnya. Dari segi bahwa dia menjadikan apa yang mereka anut seba-gai kedustaan dan dia meminta mereka untuk bersaksi apabila dia dan orang-orang yang bersamanya mengikuti mereka, maka dia dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang ber-dusta. Di antaranya juga pengakuan mereka terhadap nikmat Allah kepada mereka di mana Dia telah menyelamatkan mereka darinya. Di antaranya juga bahwa kembalinya mereka kepadanya se-telah Allah memberi petunjuk kepada mereka adalah termasuk per-kara yang mustahil jika melihat kepada keadaan mereka saat ini dan apa yang tertanam dalam hati mereka berupa pengagungan kepada Allah, pengakuan ubudiyah kepadaNya, bahwa hanya Dia-lah yang berhak atas ibadah semata tiada sekutu bagiNya, bahwa tuhan-tuhan kaum musyrikin adalah kebatilan paling batil dan ke-mustahilan paling mustahil, di mana Allah telah menganugerahkan akal kepada mereka yang dengannya mereka mengetahui kebenar-an dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan. Adapun dari segi kehendak dan keinginan Allah yang pasti berlaku pada makhlukNya, di mana tidak seorang pun yang bisa menghindar darinya walaupun segala sebab dan kekuatan terkum-pul dan tersedia, maka mereka tidak memutuskan atas diri mereka bahwa mereka akan melakukan atau meninggalkan sesuatu. Oleh karena itu mereka mengecualikan dengan mengatakan, ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ ﴿ "Kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki(nya)." Yakni, tidak mungkin bagi kami ataupun selain kami yang bisa lolos dari ke-hendakNya yang berdasarkan kepada Ilmu dan HikmahNya. Dan sungguh ﴾ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ ﴿ "Pengetahuan Rabb kami meliputi segala se-suatu." Dia mengetahui apa yang baik bagi hamba-hambaNya dan apa yang menjadi aturanNya pada mereka. ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ ﴿ "Kepada Allah sajalah kami bertawakal." Yakni kami percaya bahwa Dia akan meneguhkan kami di atas jalan yang lurus dan melindungi kami dari seluruh jalan neraka, karena barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan mencukupkannya dan memudahkan untuknya urusan agama dan dunianya. ﴾ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)." Yakni tolonglah orang yang dizhalimi dan pemilik hak atas orang yang zhalim, penentang kebenaran. ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ﴿ "Dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya." Kepu-tusanNya kepada hamba-hambaNya ada dua macam: keputusan ilmu dengan menjelaskan kebenaran dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan, dan siapa yang tegak lurus di atas jalan dan siapa yang membelot darinya. Adapun yang kedua adalah keputusannya dengan pembalasan dan hukuman kepada orang-orang yang zhalim, serta keselamatan dan kemuliaan bagi orang-orang yang shalih. Maka mereka memohon kepada Allah keputusan di antara mereka dengan kaumnya dengan benar dan adil, dan supaya Dia menun-jukkan ayat-ayat dan pelajaran-pelajarannya yang menjadi kepu-tusan bagi kedua belah pihak. (90) ﴾ وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya)", memperingatkan agar tidak meng-ikuti Syu'aib ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu meng-ikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." Ini termasuk tipuan dari diri mereka, bahwa kerugian dan kesengsaraan ada pada mengikuti kebenaran dan petunjuk. Mereka tidak menyadari bahwa seluruh kerugian berporos pada sikap mereka, berpegang kepada kesesatan dan usaha penyesatan kepada orang lain. Dan mereka mengetahui itu manakala azab te-lah turun menimpa mereka. (91) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ ﴿ "Kemudian mereka ditimpa gempa", yang dahsyat. ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka", yakni tersungkur mati dan tidak bergerak. (92) Allah تعالى berfirman mencela keadaan mereka, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَاۚ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu." Yakni seolah-olah me-reka tidak pernah tinggal di negeri mereka, seolah-olah mereka tidak pernah bersuka ria di halamannya, tidak pernah berteduh padanya, tidak pernah bermain-main di aliran sungainya, dan tidak pernah makan dari buah-buahannya. Mereka ditimpa oleh azab yang mem-bawa mereka dari segala permainan, kesenangan dan kenikmatan, kepada rumah kesedihan, kesengsaraan, azab dan kehinaan. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَانُواْ هُمُ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi." Yakni bahwa kerugian hanya untuk mereka saja, karena diri mereka dan keluarga mereka merugi di Hari Kiamat. Bukankah itu meru-pakan kerugian yang nyata, bukan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ 90 ﴿ "Jika kamu mengikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 90) (93) Manakala mereka binasa, Nabi mereka meninggalkan mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka setelah mereka mati dalam rangka menyalahkan dan mencela mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku." Yakni aku telah menyampaikannya dan menjelaskannya kepadamu sehingga ia mencapai sejauh apa yang bisa dicapai pada dirimu dan ia pun telah mencapai hatimu, ﴾ وَنَصَحۡتُ لَكُمۡۖ ﴿ "dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Tetapi kamu tidak menerima nasihatku dan tidak mendengarkan petunjukku, justru kamu bersikap fasik dan melampaui batas. ﴾ فَكَيۡفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ﴿ "Bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?" Yakni, bagaimana aku bersedih kepada kaum yang tidak ada ke-baikan bagi mereka, di mana kebaikan mendatangi mereka tetapi mereka malah menolaknya dan tidak menerimanya, maka tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. Mereka itu tidak layak dikasihani, justru kebinasaan mereka disyukuri. Kami ber-lindung kepadaMu ya Allah dari kehinaan dan kenistaan. Adakah kesengsaraan dan hukuman yang lebih berat daripada mereka yang telah mencapai tingkat bahwa orang yang paling tulus kepada me-reka berlepas diri dari mereka.

Al-A'raf 7:93

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan sau-dara mereka, Syu'aib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurna-kanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang de-mikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 85). "Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan me-nakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesu-dahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyam-paikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 86-87). "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.' Syu'aib berkata, 'Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya'." (Al-A'raf: 88). "Sungguh kami telah mengada-adakan kebohongan yang be-sar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki-(nya). Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), 'Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 89-90). "Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. Maka Syu'aib me-ninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir'." (Al-A'raf: 91-93). (85)(وَ) "Dan (Kami telah mengutus)", kepada kabilah yang terkenal di Madyan, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", dari nasab ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Yang mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Memerintahkan mereka agar memenuhi timbangan dan takaran, agar mereka tidak mengurangi hak-hak manusia, dan agar mereka jangan berbuat kerusakan di muka bumi dengan memperbanyak kemaksiatan padanya. Oleh karena itu dia berkata, ﴾ وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." Karena meninggalkan kemaksiatan demi menjalankan perintah Allah dan mendekatkan diri kepadaNya adalah lebih baik dan lebih berguna bagi seorang hamba daripada melakukannya yang mana ia menyebabkan ke-murkaan dari Allah dan azab neraka. (86) ﴾ وَلَا تَقۡعُدُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu duduk" menghadang orang ﴾ بِكُلِّ صِرَٰطٖ ﴿ "di tiap-tiap jalan." Yaitu jalan yang banyak dila-lui oleh orang-orang, kamu memperingatkan orang-orang darinya, ﴾ تُوعِدُونَ ﴿ "dengan menakut-nakuti", orang-orang yang melewatinya ﴾ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah." Yakni orang yang ingin menjadikannya sebagai petun-juk. ﴾ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجٗاۚ ﴿ "Dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok." Dan kamu membelokkannya demi mengikuti hawa nafsu-mu. Semestinya kamu dan orang-orang selainmu menghargai dan menghormati jalan-jalan yang Allah letakkan bagi hamba-hamba-Nya, agar mereka bisa menitinya kepada ridha Allah dan rumah kemuliaanNya yang dengannya Dia merahmati mereka dengan rahmat terbesar. Semestinya kamu menolongnya, menyerukan ke-padanya dan membelanya, bukan malah kamu menjadi pembegal yang menghadang orang-orang darinya, karena ini adalah meru-pakan bentuk kekufuran kepada nikmat Allah dan penentangan kepada Allah serta menjadikan jalan yang paling lurus dan paling adil sebagai jalan yang bengkok, dan kamu menyalahkan orang-orang yang menitinya. ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ ﴿ "Dan ingatlah", nikmat Allah atas kalian, ﴾ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِيلٗا فَكَثَّرَكُمۡۖ ﴿ "di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu." Yakni menumbuh-biakkanmu dengan istri, anak-anak dan kesehatan yang Dia berikan kepadamu, bahwa Dia tidak mengujimu dengan wabah atau penya-kit yang mengurangi jumlahmu. Dia juga tidak menguasakanmu kepada musuh yang menumpasmu dan mencerai-beraikanmu di muka bumi. Justru Dia memberimu nikmat dengan kesatuanmu, pelimpahan rizki dan banyaknya keturunan.﴾ وَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." Kamu tidak melihat mereka kecuali tercerai berai, yang ada di negeri mereka hanyalah kesunyian dan porak poranda. Mereka tidak meninggalkan nama yang baik, justru di du-nia ini mereka mendapatkan laknat, sementara pada Hari Kiamat mereka lebih hina dan sengsara. (87) ﴾ وَإِن كَانَ طَآئِفَةٞ مِّنكُمۡ ءَامَنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَطَآئِفَةٞ لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk me-nyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman." Yaitu yang tidak beriman itu adalah mayoritas dari mereka. ﴾ فَٱصۡبِرُواْ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ بَيۡنَنَاۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hu-kumnya di antara kita dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." Allah akan memenangkan (menolong) yang haq dan mengazab yang batil. (88) ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata." Orang-orang besar yang dihor-mati di kalangan mereka, yang mengikuti hawa nafsu mereka dan bermain-main dengan kemewahan mereka, begitu kebenaran da-tang kepada mereka dan ternyata ia tidak sesuai dengan hawa nafsu rendah mereka, maka mereka menentangnya dan menyombong-kan diri darinya. Mereka berkata kepada Nabi mereka Syu'aib dan orang-orang lemah yang beriman bersamanya. ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكَ يَٰشُعَيۡبُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَكَ مِن قَرۡيَتِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۚ ﴿ "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami." Mereka menggunakan kekuatan premanisme dalam menghadapi kebenaran tanpa mempedulikan agama, perjanjian dan hak, mereka hanya memperhatikan dan me-ngikuti hawa nafsu dan akal bodoh mereka, yang menunjukkan mereka kepada ucapan buruk ini, maka mereka berkata, "Kamu dan orang-orangmu kembali kepada agama kami, atau kami me-ngusirmu dari desa ini." Syu'aib berdakwah kepada mereka karena berharap mereka mau beriman, sekarang justru dia diancam oleh mereka dengan pengusiran dari negerinya jika dia tidak mengikuti mereka, padahal dia dan orang-orang yang bersamanya adalah lebih berhak daripada mereka. Syu'aib menjawab mereka dengan keheranan terhadap ucapan mereka, ﴾ أَوَلَوۡ كُنَّا كَٰرِهِينَ ﴿ "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" Yakni apa-kah kami akan mengikuti agamamu dan ajaranmu yang batil itu meskipun kami membencinya karena kami mengetahui kebatilan-nya. Semestinya yang diajak kepadanya adalah orang yang memiliki kecenderungan kepadanya. Adapun orang yang secara terbuka melarangnya dan menyalahkan orang yang mengikutinya, bagai-mana dia diajak kepadanya. (89) ﴾ قَدِ ٱفۡتَرَيۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِي مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ ﴿ "Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kem-bali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami daripadanya." Yakni, bersaksilah atas kami jika kami kembali kepadanya setelah Allah menyelamatkan kami darinya dan mengentaskan kami dari keburukannya maka kami adalah orang-orang yang berbohong dan berdusta atas nama Allah, karena kami mengetahui bahwa tidak ada dusta yang lebih besar daripada orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tempat bergantung para makhluk yang tidak beristri dan tidak beranak dan tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya. ﴾ وَمَا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّعُودَ فِيهَآ ﴿ "Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya." Yakni tidak mungkin bagi orang-orang seperti kami kembali lagi padanya, ini mustahil. Syu'aib membuat mereka tidak lagi berharap darinya untuk mengikuti mereka dari beberapa segi: Dari segi bahwa dia dan orang-orang yang beriman bersama-nya membenci dan tidak menyukai kesyirikan yang dipegang oleh kaumnya. Dari segi bahwa dia menjadikan apa yang mereka anut seba-gai kedustaan dan dia meminta mereka untuk bersaksi apabila dia dan orang-orang yang bersamanya mengikuti mereka, maka dia dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang ber-dusta. Di antaranya juga pengakuan mereka terhadap nikmat Allah kepada mereka di mana Dia telah menyelamatkan mereka darinya. Di antaranya juga bahwa kembalinya mereka kepadanya se-telah Allah memberi petunjuk kepada mereka adalah termasuk per-kara yang mustahil jika melihat kepada keadaan mereka saat ini dan apa yang tertanam dalam hati mereka berupa pengagungan kepada Allah, pengakuan ubudiyah kepadaNya, bahwa hanya Dia-lah yang berhak atas ibadah semata tiada sekutu bagiNya, bahwa tuhan-tuhan kaum musyrikin adalah kebatilan paling batil dan ke-mustahilan paling mustahil, di mana Allah telah menganugerahkan akal kepada mereka yang dengannya mereka mengetahui kebenar-an dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan. Adapun dari segi kehendak dan keinginan Allah yang pasti berlaku pada makhlukNya, di mana tidak seorang pun yang bisa menghindar darinya walaupun segala sebab dan kekuatan terkum-pul dan tersedia, maka mereka tidak memutuskan atas diri mereka bahwa mereka akan melakukan atau meninggalkan sesuatu. Oleh karena itu mereka mengecualikan dengan mengatakan, ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ ﴿ "Kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki(nya)." Yakni, tidak mungkin bagi kami ataupun selain kami yang bisa lolos dari ke-hendakNya yang berdasarkan kepada Ilmu dan HikmahNya. Dan sungguh ﴾ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ ﴿ "Pengetahuan Rabb kami meliputi segala se-suatu." Dia mengetahui apa yang baik bagi hamba-hambaNya dan apa yang menjadi aturanNya pada mereka. ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ ﴿ "Kepada Allah sajalah kami bertawakal." Yakni kami percaya bahwa Dia akan meneguhkan kami di atas jalan yang lurus dan melindungi kami dari seluruh jalan neraka, karena barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan mencukupkannya dan memudahkan untuknya urusan agama dan dunianya. ﴾ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)." Yakni tolonglah orang yang dizhalimi dan pemilik hak atas orang yang zhalim, penentang kebenaran. ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ﴿ "Dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya." Kepu-tusanNya kepada hamba-hambaNya ada dua macam: keputusan ilmu dengan menjelaskan kebenaran dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan, dan siapa yang tegak lurus di atas jalan dan siapa yang membelot darinya. Adapun yang kedua adalah keputusannya dengan pembalasan dan hukuman kepada orang-orang yang zhalim, serta keselamatan dan kemuliaan bagi orang-orang yang shalih. Maka mereka memohon kepada Allah keputusan di antara mereka dengan kaumnya dengan benar dan adil, dan supaya Dia menun-jukkan ayat-ayat dan pelajaran-pelajarannya yang menjadi kepu-tusan bagi kedua belah pihak. (90) ﴾ وَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya)", memperingatkan agar tidak meng-ikuti Syu'aib ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu meng-ikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." Ini termasuk tipuan dari diri mereka, bahwa kerugian dan kesengsaraan ada pada mengikuti kebenaran dan petunjuk. Mereka tidak menyadari bahwa seluruh kerugian berporos pada sikap mereka, berpegang kepada kesesatan dan usaha penyesatan kepada orang lain. Dan mereka mengetahui itu manakala azab te-lah turun menimpa mereka. (91) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ ﴿ "Kemudian mereka ditimpa gempa", yang dahsyat. ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka", yakni tersungkur mati dan tidak bergerak. (92) Allah تعالى berfirman mencela keadaan mereka, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَاۚ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu." Yakni seolah-olah me-reka tidak pernah tinggal di negeri mereka, seolah-olah mereka tidak pernah bersuka ria di halamannya, tidak pernah berteduh padanya, tidak pernah bermain-main di aliran sungainya, dan tidak pernah makan dari buah-buahannya. Mereka ditimpa oleh azab yang mem-bawa mereka dari segala permainan, kesenangan dan kenikmatan, kepada rumah kesedihan, kesengsaraan, azab dan kehinaan. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيۡبٗا كَانُواْ هُمُ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi." Yakni bahwa kerugian hanya untuk mereka saja, karena diri mereka dan keluarga mereka merugi di Hari Kiamat. Bukankah itu meru-pakan kerugian yang nyata, bukan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ﴾ لَئِنِ ٱتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ 90 ﴿ "Jika kamu mengikuti Syu'aib tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 90) (93) Manakala mereka binasa, Nabi mereka meninggalkan mereka, ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada mereka setelah mereka mati dalam rangka menyalahkan dan mencela mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku." Yakni aku telah menyampaikannya dan menjelaskannya kepadamu sehingga ia mencapai sejauh apa yang bisa dicapai pada dirimu dan ia pun telah mencapai hatimu, ﴾ وَنَصَحۡتُ لَكُمۡۖ ﴿ "dan aku telah memberi nasihat kepadamu." Tetapi kamu tidak menerima nasihatku dan tidak mendengarkan petunjukku, justru kamu bersikap fasik dan melampaui batas. ﴾ فَكَيۡفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوۡمٖ كَٰفِرِينَ ﴿ "Bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?" Yakni, bagaimana aku bersedih kepada kaum yang tidak ada ke-baikan bagi mereka, di mana kebaikan mendatangi mereka tetapi mereka malah menolaknya dan tidak menerimanya, maka tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. Mereka itu tidak layak dikasihani, justru kebinasaan mereka disyukuri. Kami ber-lindung kepadaMu ya Allah dari kehinaan dan kenistaan. Adakah kesengsaraan dan hukuman yang lebih berat daripada mereka yang telah mencapai tingkat bahwa orang yang paling tulus kepada me-reka berlepas diri dari mereka.

Al-A'raf 7:94

"Kami tidaklah mengutus seorang nabi pun kepada suatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga (keturunan dan harta mereka) bertambah banyak, dan mereka berkata, 'Sesungguhnya nenek moyang kami pun telah merasakan penderitaan dan kese-nangan,' maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan seko-nyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya." (Al-A'raf: 94-95). (94) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِي قَرۡيَةٖ مِّن نَّبِيٍّ ﴿ "Kami tidaklah mengutus seorang nabi pun kepada suatu negeri", yang mengajak me-reka untuk beribadah kepada Allah dan melarang keburukan yang ada pada mereka, tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka ﴾ بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ ﴿ "kesempitan dan penderitaan," yakni dengan kemiskinan, penyakit dan musibah-musibah lainnya, ﴾ لَعَلَّهُمۡ ﴿ "supaya mereka", jika musibah itu menim-pa mereka, jiwa mereka tunduk lalu mereka merendahkan diri dan menaati kebenaran. (95) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian", jika musibah tersebut tidak berguna pada mereka, justru kesombongan mereka berlanjut dan kezhali-man mereka bertambah ﴾ بَدَّلۡنَا مَكَانَ ٱلسَّيِّئَةِ ٱلۡحَسَنَةَ ﴿ "Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan." Dia melimpahkan berbagai rizki kepada mereka, memberi badan mereka kesehatan dan mengangkat mu-sibah dari mereka ﴾ حَتَّىٰ عَفَواْ ﴿ "hingga (keturunan dan harta mereka) ber-tambah banyak." Mereka menjadi banyak, rizki mereka melimpah, nikmat dan karunia Allah terbentang luas pada mereka dan mere-ka melupakan musibah yang menimpa mereka. ﴾ وَّقَالُواْ قَدۡ مَسَّ ءَابَآءَنَا ٱلضَّرَّآءُ وَٱلسَّرَّآءُ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sesungguhnya nenek moyang kami pun telah merasakan penderitaan dan kesenangan." Yakni ini adalah kebia-saan yang akan selalu berlaku dan senantiasa ada pada orang-orang dahulu dan orang-orang berikutnya, di mana terkadang mereka dalam kemudahan, terkadang mereka dalam kesulitan, terkadang dalam kebahagiaan dan terkadang dalam kesedihan, sesuai dengan perubahan zaman dan bergantinya hari-hari, dan mereka mengira bahwa itu bukan untuk pelajaran dan peringatan, tidak pula untuk istidraj, sehingga ketika mereka telah berbangga dan berbahagia dengan apa yang mereka dapatkan, dan dunia merupakan sesuatu yang paling membahagiakan mereka, maka Kami menurunkan azab kepada mereka ﴾ بَغۡتَةٗ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya." Yakni kebinasaan yang tak terlintas di benak mereka, mereka mengira bahwa mereka menguasai apa yang Allah berikan kepada mereka dan bahwa mereka tidak akan binasa dan berpindah darinya.

Al-A'raf 7:95

"Kami tidaklah mengutus seorang nabi pun kepada suatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga (keturunan dan harta mereka) bertambah banyak, dan mereka berkata, 'Sesungguhnya nenek moyang kami pun telah merasakan penderitaan dan kese-nangan,' maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan seko-nyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya." (Al-A'raf: 94-95). (94) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِي قَرۡيَةٖ مِّن نَّبِيٍّ ﴿ "Kami tidaklah mengutus seorang nabi pun kepada suatu negeri", yang mengajak me-reka untuk beribadah kepada Allah dan melarang keburukan yang ada pada mereka, tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka ﴾ بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ ﴿ "kesempitan dan penderitaan," yakni dengan kemiskinan, penyakit dan musibah-musibah lainnya, ﴾ لَعَلَّهُمۡ ﴿ "supaya mereka", jika musibah itu menim-pa mereka, jiwa mereka tunduk lalu mereka merendahkan diri dan menaati kebenaran. (95) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian", jika musibah tersebut tidak berguna pada mereka, justru kesombongan mereka berlanjut dan kezhali-man mereka bertambah ﴾ بَدَّلۡنَا مَكَانَ ٱلسَّيِّئَةِ ٱلۡحَسَنَةَ ﴿ "Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan." Dia melimpahkan berbagai rizki kepada mereka, memberi badan mereka kesehatan dan mengangkat mu-sibah dari mereka ﴾ حَتَّىٰ عَفَواْ ﴿ "hingga (keturunan dan harta mereka) ber-tambah banyak." Mereka menjadi banyak, rizki mereka melimpah, nikmat dan karunia Allah terbentang luas pada mereka dan mere-ka melupakan musibah yang menimpa mereka. ﴾ وَّقَالُواْ قَدۡ مَسَّ ءَابَآءَنَا ٱلضَّرَّآءُ وَٱلسَّرَّآءُ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sesungguhnya nenek moyang kami pun telah merasakan penderitaan dan kesenangan." Yakni ini adalah kebia-saan yang akan selalu berlaku dan senantiasa ada pada orang-orang dahulu dan orang-orang berikutnya, di mana terkadang mereka dalam kemudahan, terkadang mereka dalam kesulitan, terkadang dalam kebahagiaan dan terkadang dalam kesedihan, sesuai dengan perubahan zaman dan bergantinya hari-hari, dan mereka mengira bahwa itu bukan untuk pelajaran dan peringatan, tidak pula untuk istidraj, sehingga ketika mereka telah berbangga dan berbahagia dengan apa yang mereka dapatkan, dan dunia merupakan sesuatu yang paling membahagiakan mereka, maka Kami menurunkan azab kepada mereka ﴾ بَغۡتَةٗ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya." Yakni kebinasaan yang tak terlintas di benak mereka, mereka mengira bahwa mereka menguasai apa yang Allah berikan kepada mereka dan bahwa mereka tidak akan binasa dan berpindah darinya.

Al-A'raf 7:96

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan ber-takwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka se-dang tidur. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 96-99). (96) Manakala Allah تعالى menjelaskan bahwa orang-orang yang mendustakan para rasul diuji dengan kesusahan sebagai na-sihat dan peringatan, dan dengan kemudahan sebagai istidraj dan tipuan, maka kemudian Allah menjelaskan bahwa seandainya pen-duduk negeri itu beriman dengan hati mereka secara benar yang dibuktikan dengan amal, mereka bertakwa kepada Allah lahir dan batin, dengan meninggalkan seluruh yang diharamkan oleh Allah تعالى, niscaya Allah akan membukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, Dia akan menurunkan hujan dengan deras dan menumbuhkan bumi dengan apa yang mereka bisa hidup de-ngannya juga ternak-ternak mereka dalam kehidupan paling subur dan rizki paling melimpah tanpa kelelahan, tanpa kesusahan, tanpa kelebihan dan tanpa kesulitan. Akan tetapi mereka tidak beriman dan bertakwa, ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "maka Kami siksa mereka dise-babkan perbuatan mereka", dengan azab, musibah, dicabutnya keber-kahan dan banyaknya penyakit, di mana ia adalah merupakan se-bagian dari balasan amal mereka, sebab jika tidak demikian, maka seandainya Dia menghukum mereka karena semua dosa mereka, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu binatang melata pun di atas muka bumi. Allah تعالى berfirman, ﴾ ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 41 ﴿ "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka seba-gian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Ar-Rum: 41). (97) ﴾ أَفَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰٓ ﴿ "Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman." Yakni penduduk yang mendustakan sesuai dengan konteks. ﴾ أَن يَأۡتِيَهُم بَأۡسُنَا ﴿ "Dari kedatangan siksaan Kami", yang keras ﴾ بَيَٰتٗا وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" Yakni dalam keadaan mereka lalai, lengah dan enak-enakan. (98) ﴾ أَوَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰٓ أَن يَأۡتِيَهُم بَأۡسُنَا ضُحٗى وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ ﴿ "Atau apakah pendu-duk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang ber-main." Apa yang membuat mereka merasa aman dari hal itu, se-mentara mereka telah melakukan sebab-sebab datangnya azab dan melakukan dosa-dosa besar yang sebagian darinya menyebabkan kebinasaan. (99) ﴾ أَفَأَمِنُواْ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)?" Di mana Dia menarik mereka kepada kebinasaan secara berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka duga dan Dia memberikan penangguhan. Sesungguhnya rencanaNya amat teguh. ﴾ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." Karena barangsiapa merasa aman dari azab Allah, berarti dia tidak mem-percayai balasan amal perbuatan dan tidak pula beriman kepada para rasul dengan iman yang sebenarnya. Ayat ini mengandung peringatan yang mendalam bahwa seorang hamba tidak sepatutnya merasa aman terhadap keimanan yang dimilikinya, justru hendaknya dia merasa takut dan khawatir jika ditimpa sebuah ujian yang dapat melenyapkan imannya, hen-daknya dia selalu berdoa "Wahai Dzat yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas iman." Hendaknya dia beramal dan berusaha melalui berbagai cara yang bisa membebaskannya dari keburukan pada saat terjadinya fitnah-fitnah, karena seorang hamba walaupun dia telah mencapai apa yang telah dicapai, dia tidak benar-benar yakin bisa selamat.

Al-A'raf 7:97

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan ber-takwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka se-dang tidur. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 96-99). (96) Manakala Allah تعالى menjelaskan bahwa orang-orang yang mendustakan para rasul diuji dengan kesusahan sebagai na-sihat dan peringatan, dan dengan kemudahan sebagai istidraj dan tipuan, maka kemudian Allah menjelaskan bahwa seandainya pen-duduk negeri itu beriman dengan hati mereka secara benar yang dibuktikan dengan amal, mereka bertakwa kepada Allah lahir dan batin, dengan meninggalkan seluruh yang diharamkan oleh Allah تعالى, niscaya Allah akan membukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, Dia akan menurunkan hujan dengan deras dan menumbuhkan bumi dengan apa yang mereka bisa hidup de-ngannya juga ternak-ternak mereka dalam kehidupan paling subur dan rizki paling melimpah tanpa kelelahan, tanpa kesusahan, tanpa kelebihan dan tanpa kesulitan. Akan tetapi mereka tidak beriman dan bertakwa, ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "maka Kami siksa mereka dise-babkan perbuatan mereka", dengan azab, musibah, dicabutnya keber-kahan dan banyaknya penyakit, di mana ia adalah merupakan se-bagian dari balasan amal mereka, sebab jika tidak demikian, maka seandainya Dia menghukum mereka karena semua dosa mereka, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu binatang melata pun di atas muka bumi. Allah تعالى berfirman, ﴾ ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 41 ﴿ "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka seba-gian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Ar-Rum: 41). (97) ﴾ أَفَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰٓ ﴿ "Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman." Yakni penduduk yang mendustakan sesuai dengan konteks. ﴾ أَن يَأۡتِيَهُم بَأۡسُنَا ﴿ "Dari kedatangan siksaan Kami", yang keras ﴾ بَيَٰتٗا وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" Yakni dalam keadaan mereka lalai, lengah dan enak-enakan. (98) ﴾ أَوَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰٓ أَن يَأۡتِيَهُم بَأۡسُنَا ضُحٗى وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ ﴿ "Atau apakah pendu-duk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang ber-main." Apa yang membuat mereka merasa aman dari hal itu, se-mentara mereka telah melakukan sebab-sebab datangnya azab dan melakukan dosa-dosa besar yang sebagian darinya menyebabkan kebinasaan. (99) ﴾ أَفَأَمِنُواْ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)?" Di mana Dia menarik mereka kepada kebinasaan secara berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka duga dan Dia memberikan penangguhan. Sesungguhnya rencanaNya amat teguh. ﴾ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." Karena barangsiapa merasa aman dari azab Allah, berarti dia tidak mem-percayai balasan amal perbuatan dan tidak pula beriman kepada para rasul dengan iman yang sebenarnya. Ayat ini mengandung peringatan yang mendalam bahwa seorang hamba tidak sepatutnya merasa aman terhadap keimanan yang dimilikinya, justru hendaknya dia merasa takut dan khawatir jika ditimpa sebuah ujian yang dapat melenyapkan imannya, hen-daknya dia selalu berdoa "Wahai Dzat yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas iman." Hendaknya dia beramal dan berusaha melalui berbagai cara yang bisa membebaskannya dari keburukan pada saat terjadinya fitnah-fitnah, karena seorang hamba walaupun dia telah mencapai apa yang telah dicapai, dia tidak benar-benar yakin bisa selamat.

Al-A'raf 7:98

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan ber-takwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka se-dang tidur. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 96-99). (96) Manakala Allah تعالى menjelaskan bahwa orang-orang yang mendustakan para rasul diuji dengan kesusahan sebagai na-sihat dan peringatan, dan dengan kemudahan sebagai istidraj dan tipuan, maka kemudian Allah menjelaskan bahwa seandainya pen-duduk negeri itu beriman dengan hati mereka secara benar yang dibuktikan dengan amal, mereka bertakwa kepada Allah lahir dan batin, dengan meninggalkan seluruh yang diharamkan oleh Allah تعالى, niscaya Allah akan membukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, Dia akan menurunkan hujan dengan deras dan menumbuhkan bumi dengan apa yang mereka bisa hidup de-ngannya juga ternak-ternak mereka dalam kehidupan paling subur dan rizki paling melimpah tanpa kelelahan, tanpa kesusahan, tanpa kelebihan dan tanpa kesulitan. Akan tetapi mereka tidak beriman dan bertakwa, ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "maka Kami siksa mereka dise-babkan perbuatan mereka", dengan azab, musibah, dicabutnya keber-kahan dan banyaknya penyakit, di mana ia adalah merupakan se-bagian dari balasan amal mereka, sebab jika tidak demikian, maka seandainya Dia menghukum mereka karena semua dosa mereka, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu binatang melata pun di atas muka bumi. Allah تعالى berfirman, ﴾ ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 41 ﴿ "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka seba-gian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Ar-Rum: 41). (97) ﴾ أَفَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰٓ ﴿ "Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman." Yakni penduduk yang mendustakan sesuai dengan konteks. ﴾ أَن يَأۡتِيَهُم بَأۡسُنَا ﴿ "Dari kedatangan siksaan Kami", yang keras ﴾ بَيَٰتٗا وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" Yakni dalam keadaan mereka lalai, lengah dan enak-enakan. (98) ﴾ أَوَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰٓ أَن يَأۡتِيَهُم بَأۡسُنَا ضُحٗى وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ ﴿ "Atau apakah pendu-duk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang ber-main." Apa yang membuat mereka merasa aman dari hal itu, se-mentara mereka telah melakukan sebab-sebab datangnya azab dan melakukan dosa-dosa besar yang sebagian darinya menyebabkan kebinasaan. (99) ﴾ أَفَأَمِنُواْ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)?" Di mana Dia menarik mereka kepada kebinasaan secara berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka duga dan Dia memberikan penangguhan. Sesungguhnya rencanaNya amat teguh. ﴾ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." Karena barangsiapa merasa aman dari azab Allah, berarti dia tidak mem-percayai balasan amal perbuatan dan tidak pula beriman kepada para rasul dengan iman yang sebenarnya. Ayat ini mengandung peringatan yang mendalam bahwa seorang hamba tidak sepatutnya merasa aman terhadap keimanan yang dimilikinya, justru hendaknya dia merasa takut dan khawatir jika ditimpa sebuah ujian yang dapat melenyapkan imannya, hen-daknya dia selalu berdoa "Wahai Dzat yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas iman." Hendaknya dia beramal dan berusaha melalui berbagai cara yang bisa membebaskannya dari keburukan pada saat terjadinya fitnah-fitnah, karena seorang hamba walaupun dia telah mencapai apa yang telah dicapai, dia tidak benar-benar yakin bisa selamat.

Al-A'raf 7:99

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan ber-takwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka se-dang tidur. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 96-99). (96) Manakala Allah تعالى menjelaskan bahwa orang-orang yang mendustakan para rasul diuji dengan kesusahan sebagai na-sihat dan peringatan, dan dengan kemudahan sebagai istidraj dan tipuan, maka kemudian Allah menjelaskan bahwa seandainya pen-duduk negeri itu beriman dengan hati mereka secara benar yang dibuktikan dengan amal, mereka bertakwa kepada Allah lahir dan batin, dengan meninggalkan seluruh yang diharamkan oleh Allah تعالى, niscaya Allah akan membukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, Dia akan menurunkan hujan dengan deras dan menumbuhkan bumi dengan apa yang mereka bisa hidup de-ngannya juga ternak-ternak mereka dalam kehidupan paling subur dan rizki paling melimpah tanpa kelelahan, tanpa kesusahan, tanpa kelebihan dan tanpa kesulitan. Akan tetapi mereka tidak beriman dan bertakwa, ﴾ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "maka Kami siksa mereka dise-babkan perbuatan mereka", dengan azab, musibah, dicabutnya keber-kahan dan banyaknya penyakit, di mana ia adalah merupakan se-bagian dari balasan amal mereka, sebab jika tidak demikian, maka seandainya Dia menghukum mereka karena semua dosa mereka, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu binatang melata pun di atas muka bumi. Allah تعالى berfirman, ﴾ ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 41 ﴿ "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka seba-gian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Ar-Rum: 41). (97) ﴾ أَفَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰٓ ﴿ "Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman." Yakni penduduk yang mendustakan sesuai dengan konteks. ﴾ أَن يَأۡتِيَهُم بَأۡسُنَا ﴿ "Dari kedatangan siksaan Kami", yang keras ﴾ بَيَٰتٗا وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" Yakni dalam keadaan mereka lalai, lengah dan enak-enakan. (98) ﴾ أَوَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰٓ أَن يَأۡتِيَهُم بَأۡسُنَا ضُحٗى وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ ﴿ "Atau apakah pendu-duk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang ber-main." Apa yang membuat mereka merasa aman dari hal itu, se-mentara mereka telah melakukan sebab-sebab datangnya azab dan melakukan dosa-dosa besar yang sebagian darinya menyebabkan kebinasaan. (99) ﴾ أَفَأَمِنُواْ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)?" Di mana Dia menarik mereka kepada kebinasaan secara berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka duga dan Dia memberikan penangguhan. Sesungguhnya rencanaNya amat teguh. ﴾ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." Karena barangsiapa merasa aman dari azab Allah, berarti dia tidak mem-percayai balasan amal perbuatan dan tidak pula beriman kepada para rasul dengan iman yang sebenarnya. Ayat ini mengandung peringatan yang mendalam bahwa seorang hamba tidak sepatutnya merasa aman terhadap keimanan yang dimilikinya, justru hendaknya dia merasa takut dan khawatir jika ditimpa sebuah ujian yang dapat melenyapkan imannya, hen-daknya dia selalu berdoa "Wahai Dzat yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas iman." Hendaknya dia beramal dan berusaha melalui berbagai cara yang bisa membebaskannya dari keburukan pada saat terjadinya fitnah-fitnah, karena seorang hamba walaupun dia telah mencapai apa yang telah dicapai, dia tidak benar-benar yakin bisa selamat.

Al-A'raf 7:100

"Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu kami azab mereka karena dosa-dosanya, dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mende-ngar (pelajaran lagi)? Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak ber-iman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesung-guhnya Kami mendapati kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-A'raf: 100-102). (100) Allah تعالى berfirman dalam rangka memberi peringa-tan kepada umat-umat yang tersisa[71] setelah binasanya umat-umat yang tersisa,[72] ﴾ أَوَلَمۡ يَهۡدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِ أَهۡلِهَآ أَن لَّوۡ نَشَآءُ أَصَبۡنَٰهُم بِذُنُوبِهِمۡۚ ﴿ "Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu kami azab mereka karena dosa-dosanya." Yakni, apakah belum jelas dan terang bagi umat-umat yang mewarisi bumi setelah dibinasakannya umat-umat sebelum mereka karena dosa-dosanya kemudian mereka me-lakukan apa yang dilakukan oleh umat yang dibinasakan itu. Apa-kah mereka tidak menyadari jika Allah menghendaki niscaya Dia menimpakan azabNya kepada mereka disebabkan dosa-dosa me-reka, karena ini adalah sunnahNya yang berlalu pada orang-orang terdahulu dan orang-orang yang berikutnya. FirmanNya, ﴾ وَنَطۡبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "Dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?" Yakni, jika Allah telah mem-peringatkan mereka akan tetapi mereka tidak kunjung menyadari, Dia mengingatkan mereka tetapi mereka tidak mau ingat, Dia mem-beri petunjuk kepada kebenaran melalui ayat-ayat dan pelajaran-pelajaran tetapi mereka tidak juga beriman, maka Allah menghu-kum mereka dan mengunci hati mereka yang akhirnya dikotori oleh noda dan karat, sampai hatinya terstempel (tertutupi), sehingga tidak ada kebenaran dan kebaikan yang dapat sampai kepadanya, dan mereka tidak mendengar apa yang berguna bagi mereka, me-reka hanya mendengar apa yang dengannya hujjah menjadi tegak atas mereka. (101) ﴾ تِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu", yang disebutkan di atas, ﴾ نَقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآئِهَاۚ ﴿ "Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu." Yang dengannya orang-orang bisa mengambil pelajaran, orang-orang zhalim tergugah dari kezhaliman-nya dan orang-orang yang bertakwa mengambil nasihat darinya. ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata." Yakni orang-orang yang mendustakan itu telah didatangi oleh rasul-rasul mereka yang menyeru kepada kebahagiaan, Allah mengukuhkan mereka dengan berbagai mukjizat yang jelas lagi terang dan menerangkan kebenaran dengan sempurna, akan tetapi ia tidak berguna dan ber-manfaat sedikit pun bagi mereka. ﴾ فَمَا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُواْ بِمَا كَذَّبُواْ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "Maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya." Yakni, sebab pendustaan dan penolakan mereka terhadap kebenaran sejak awal, maka Dia tidak memberi mereka petunjuk kepada iman sebagai balasan atas penolakan me-reka terhadap kebenaran. ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permu-laannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ كَذَٰلِكَ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir." Sebagai hukuman dariNya, dan Allah tidak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri. (102) ﴾ وَمَا وَجَدۡنَا لِأَكۡثَرِهِم مِّنۡ عَهۡدٖۖ ﴿ "Dan Kami tidak mendapati keba-nyakan mereka memenuhi janji." Yakni, Kami tidak mendapati keba-nyakan umat yang diutus kepada mereka rasul-rasul itu menepati janji, yakni keteguhan dan komitmen dalam memegang wasiat Allah bagi seluruh alam, mereka juga tidak tunduk kepada perintah-pe-rintahNya yang Dia sampaikan melalui para rasul. ﴾ وَإِن وَجَدۡنَآ أَكۡثَرَهُمۡ لَفَٰسِقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik." Menyimpang dari ketaatan kepada Allah, mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah تعالى. Allah menguji para hamba dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab, serta memerintahkan mereka agar memenuhi perjanjianNya dan meng-ikuti petunjukNya, tetapi yang bersedia tunduk kepada perintah-Nya hanyalah sedikit dari mereka, orang-orang yang telah ditulis (ditetapkan) akan berbahagia oleh Allah. Adapun mayoritas ma-nusia maka mereka berpaling dari petunjuk dan menyombongkan diri dari apa yang dibawa oleh rasul-rasul, maka Allah pun menim-pakan kepada mereka dari hukuman-hukumanNya yang berma-cam-macam.

Al-A'raf 7:101

"Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu kami azab mereka karena dosa-dosanya, dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mende-ngar (pelajaran lagi)? Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak ber-iman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesung-guhnya Kami mendapati kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-A'raf: 100-102). (100) Allah تعالى berfirman dalam rangka memberi peringa-tan kepada umat-umat yang tersisa[71] setelah binasanya umat-umat yang tersisa,[72] ﴾ أَوَلَمۡ يَهۡدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِ أَهۡلِهَآ أَن لَّوۡ نَشَآءُ أَصَبۡنَٰهُم بِذُنُوبِهِمۡۚ ﴿ "Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu kami azab mereka karena dosa-dosanya." Yakni, apakah belum jelas dan terang bagi umat-umat yang mewarisi bumi setelah dibinasakannya umat-umat sebelum mereka karena dosa-dosanya kemudian mereka me-lakukan apa yang dilakukan oleh umat yang dibinasakan itu. Apa-kah mereka tidak menyadari jika Allah menghendaki niscaya Dia menimpakan azabNya kepada mereka disebabkan dosa-dosa me-reka, karena ini adalah sunnahNya yang berlalu pada orang-orang terdahulu dan orang-orang yang berikutnya. FirmanNya, ﴾ وَنَطۡبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "Dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?" Yakni, jika Allah telah mem-peringatkan mereka akan tetapi mereka tidak kunjung menyadari, Dia mengingatkan mereka tetapi mereka tidak mau ingat, Dia mem-beri petunjuk kepada kebenaran melalui ayat-ayat dan pelajaran-pelajaran tetapi mereka tidak juga beriman, maka Allah menghu-kum mereka dan mengunci hati mereka yang akhirnya dikotori oleh noda dan karat, sampai hatinya terstempel (tertutupi), sehingga tidak ada kebenaran dan kebaikan yang dapat sampai kepadanya, dan mereka tidak mendengar apa yang berguna bagi mereka, me-reka hanya mendengar apa yang dengannya hujjah menjadi tegak atas mereka. (101) ﴾ تِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu", yang disebutkan di atas, ﴾ نَقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآئِهَاۚ ﴿ "Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu." Yang dengannya orang-orang bisa mengambil pelajaran, orang-orang zhalim tergugah dari kezhaliman-nya dan orang-orang yang bertakwa mengambil nasihat darinya. ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata." Yakni orang-orang yang mendustakan itu telah didatangi oleh rasul-rasul mereka yang menyeru kepada kebahagiaan, Allah mengukuhkan mereka dengan berbagai mukjizat yang jelas lagi terang dan menerangkan kebenaran dengan sempurna, akan tetapi ia tidak berguna dan ber-manfaat sedikit pun bagi mereka. ﴾ فَمَا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُواْ بِمَا كَذَّبُواْ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "Maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya." Yakni, sebab pendustaan dan penolakan mereka terhadap kebenaran sejak awal, maka Dia tidak memberi mereka petunjuk kepada iman sebagai balasan atas penolakan me-reka terhadap kebenaran. ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permu-laannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ كَذَٰلِكَ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir." Sebagai hukuman dariNya, dan Allah tidak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri. (102) ﴾ وَمَا وَجَدۡنَا لِأَكۡثَرِهِم مِّنۡ عَهۡدٖۖ ﴿ "Dan Kami tidak mendapati keba-nyakan mereka memenuhi janji." Yakni, Kami tidak mendapati keba-nyakan umat yang diutus kepada mereka rasul-rasul itu menepati janji, yakni keteguhan dan komitmen dalam memegang wasiat Allah bagi seluruh alam, mereka juga tidak tunduk kepada perintah-pe-rintahNya yang Dia sampaikan melalui para rasul. ﴾ وَإِن وَجَدۡنَآ أَكۡثَرَهُمۡ لَفَٰسِقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik." Menyimpang dari ketaatan kepada Allah, mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah تعالى. Allah menguji para hamba dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab, serta memerintahkan mereka agar memenuhi perjanjianNya dan meng-ikuti petunjukNya, tetapi yang bersedia tunduk kepada perintah-Nya hanyalah sedikit dari mereka, orang-orang yang telah ditulis (ditetapkan) akan berbahagia oleh Allah. Adapun mayoritas ma-nusia maka mereka berpaling dari petunjuk dan menyombongkan diri dari apa yang dibawa oleh rasul-rasul, maka Allah pun menim-pakan kepada mereka dari hukuman-hukumanNya yang berma-cam-macam.

Al-A'raf 7:102

"Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu kami azab mereka karena dosa-dosanya, dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mende-ngar (pelajaran lagi)? Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak ber-iman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesung-guhnya Kami mendapati kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-A'raf: 100-102). (100) Allah تعالى berfirman dalam rangka memberi peringa-tan kepada umat-umat yang tersisa[71] setelah binasanya umat-umat yang tersisa,[72] ﴾ أَوَلَمۡ يَهۡدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِ أَهۡلِهَآ أَن لَّوۡ نَشَآءُ أَصَبۡنَٰهُم بِذُنُوبِهِمۡۚ ﴿ "Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu kami azab mereka karena dosa-dosanya." Yakni, apakah belum jelas dan terang bagi umat-umat yang mewarisi bumi setelah dibinasakannya umat-umat sebelum mereka karena dosa-dosanya kemudian mereka me-lakukan apa yang dilakukan oleh umat yang dibinasakan itu. Apa-kah mereka tidak menyadari jika Allah menghendaki niscaya Dia menimpakan azabNya kepada mereka disebabkan dosa-dosa me-reka, karena ini adalah sunnahNya yang berlalu pada orang-orang terdahulu dan orang-orang yang berikutnya. FirmanNya, ﴾ وَنَطۡبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "Dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?" Yakni, jika Allah telah mem-peringatkan mereka akan tetapi mereka tidak kunjung menyadari, Dia mengingatkan mereka tetapi mereka tidak mau ingat, Dia mem-beri petunjuk kepada kebenaran melalui ayat-ayat dan pelajaran-pelajaran tetapi mereka tidak juga beriman, maka Allah menghu-kum mereka dan mengunci hati mereka yang akhirnya dikotori oleh noda dan karat, sampai hatinya terstempel (tertutupi), sehingga tidak ada kebenaran dan kebaikan yang dapat sampai kepadanya, dan mereka tidak mendengar apa yang berguna bagi mereka, me-reka hanya mendengar apa yang dengannya hujjah menjadi tegak atas mereka. (101) ﴾ تِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu", yang disebutkan di atas, ﴾ نَقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآئِهَاۚ ﴿ "Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu." Yang dengannya orang-orang bisa mengambil pelajaran, orang-orang zhalim tergugah dari kezhaliman-nya dan orang-orang yang bertakwa mengambil nasihat darinya. ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata." Yakni orang-orang yang mendustakan itu telah didatangi oleh rasul-rasul mereka yang menyeru kepada kebahagiaan, Allah mengukuhkan mereka dengan berbagai mukjizat yang jelas lagi terang dan menerangkan kebenaran dengan sempurna, akan tetapi ia tidak berguna dan ber-manfaat sedikit pun bagi mereka. ﴾ فَمَا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُواْ بِمَا كَذَّبُواْ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "Maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya." Yakni, sebab pendustaan dan penolakan mereka terhadap kebenaran sejak awal, maka Dia tidak memberi mereka petunjuk kepada iman sebagai balasan atas penolakan me-reka terhadap kebenaran. ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permu-laannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ كَذَٰلِكَ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir." Sebagai hukuman dariNya, dan Allah tidak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri. (102) ﴾ وَمَا وَجَدۡنَا لِأَكۡثَرِهِم مِّنۡ عَهۡدٖۖ ﴿ "Dan Kami tidak mendapati keba-nyakan mereka memenuhi janji." Yakni, Kami tidak mendapati keba-nyakan umat yang diutus kepada mereka rasul-rasul itu menepati janji, yakni keteguhan dan komitmen dalam memegang wasiat Allah bagi seluruh alam, mereka juga tidak tunduk kepada perintah-pe-rintahNya yang Dia sampaikan melalui para rasul. ﴾ وَإِن وَجَدۡنَآ أَكۡثَرَهُمۡ لَفَٰسِقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik." Menyimpang dari ketaatan kepada Allah, mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah تعالى. Allah menguji para hamba dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab, serta memerintahkan mereka agar memenuhi perjanjianNya dan meng-ikuti petunjukNya, tetapi yang bersedia tunduk kepada perintah-Nya hanyalah sedikit dari mereka, orang-orang yang telah ditulis (ditetapkan) akan berbahagia oleh Allah. Adapun mayoritas ma-nusia maka mereka berpaling dari petunjuk dan menyombongkan diri dari apa yang dibawa oleh rasul-rasul, maka Allah pun menim-pakan kepada mereka dari hukuman-hukumanNya yang berma-cam-macam.