Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-An'am 6:80 – Al-An'am 6:165
Daftar isi
- Al-An'am 6:80
- Al-An'am 6:81
- Al-An'am 6:82
- Al-An'am 6:83
- Al-An'am 6:84
- Al-An'am 6:85
- Al-An'am 6:86
- Al-An'am 6:87
- Al-An'am 6:88
- Al-An'am 6:89
- Al-An'am 6:90
- Al-An'am 6:91
- Al-An'am 6:92
- Al-An'am 6:93
- Al-An'am 6:94
- Al-An'am 6:95
- Al-An'am 6:96
- Al-An'am 6:97
- Al-An'am 6:98
- Al-An'am 6:99
- Al-An'am 6:100
- Al-An'am 6:101
- Al-An'am 6:102
- Al-An'am 6:103
- Al-An'am 6:104
- Al-An'am 6:105
- Al-An'am 6:106
- Al-An'am 6:107
- Al-An'am 6:108
- Al-An'am 6:109
- Al-An'am 6:110
- Al-An'am 6:111
- Al-An'am 6:112
- Al-An'am 6:113
- Al-An'am 6:114
- Al-An'am 6:115
- Al-An'am 6:116
- Al-An'am 6:117
- Al-An'am 6:118
- Al-An'am 6:119
- Al-An'am 6:120
- Al-An'am 6:121
- Al-An'am 6:122
- Al-An'am 6:123
- Al-An'am 6:124
- Al-An'am 6:125
- Al-An'am 6:126
- Al-An'am 6:127
- Al-An'am 6:128
- Al-An'am 6:129
- Al-An'am 6:130
- Al-An'am 6:131
- Al-An'am 6:132
- Al-An'am 6:133
- Al-An'am 6:134
- Al-An'am 6:135
- Al-An'am 6:136
- Al-An'am 6:137
- Al-An'am 6:138
- Al-An'am 6:139
- Al-An'am 6:140
- Al-An'am 6:141
- Al-An'am 6:142
- Al-An'am 6:143
- Al-An'am 6:144
- Al-An'am 6:145
- Al-An'am 6:146
- Al-An'am 6:147
- Al-An'am 6:148
- Al-An'am 6:149
- Al-An'am 6:150
- Al-An'am 6:151
- Al-An'am 6:152
- Al-An'am 6:153
- Al-An'am 6:154
- Al-An'am 6:155
- Al-An'am 6:156
- Al-An'am 6:157
- Al-An'am 6:158
- Al-An'am 6:159
- Al-An'am 6:160
- Al-An'am 6:161
- Al-An'am 6:162
- Al-An'am 6:163
- Al-An'am 6:164
- Al-An'am 6:165
Al-An'am 6:80
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu ter-masuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, 'Saya tidak suka ke-pada yang tenggelam.' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi setelah bulan itu tenggelam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemu-dian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku, ini yang lebih besar,' maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku meng-hadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.' Dan dia di-bantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak mem-bantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah mem-beri petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)? (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya? Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?' Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 74-83).
(74) Di sini Allah mengatakan, Ceritakanlah kisah Ibrahim dengan menyanjung dan menghormatinya dalam kondisi di mana dia mengajak kepada tauhid dan melarang syirik.﴾ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapak-nya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?'" Yang tidak mampu menghadirkan manfaat dan mudarat, dan yang tidak memiliki hak sedikit pun dalam segala urusan. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." Yang mana kamu menyembah sesuatu yang sedikit pun tidak berhak untuk disembah, sementara kamu mening-galkan penyembahan kepada penciptamu, pemberi rizkimu, dan pengaturmu.
(75) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami memberi taufik kepadanya menuju tauhid dan dakwah kepadanya, ﴾ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi," agar dia melihat dengan bashirah dalil yang kuat dan bukti-bukti yang jelas yang dikandung-nya. ﴾ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." Karena berdasarkan tegaknya dalil, dia mendapatkan keyakinan dan ilmu yang sempurna dengan segala tuntutan.
(76) ﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ ﴿ "Ketika malam menjadi gelap, dia me-lihat sebuah bintang." Mungkin ia bintang yang bersinar, karena peng-khususannya dalam penyebutan menunjukkan bahwa dia lebih daripada yang lain. Oleh karena itu, wallahu a'lam, ada yang menga-takan bahwa itu adalah bintang Venus. ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "(Lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Maksudnya, dia berkata, "Inilah Rabbku," dengan nada merendah, namun menentang. Lalu marilah kita lihat, apakah dia berhak memperoleh rubu-biyah? Apakah kita memiliki dalil dalam hal ini? Karena seorang yang berakal tidak layak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan tanpa bukti dan dalil. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ ﴿ "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam," maksudnya, bintang itu menghilang. ﴾ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ﴿ "Dia ber-kata, 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'," maksudnya, yang meng-hilang dan bersembunyi dari orang yang menyembahnya, karena yang disembah harus mengurusi kepentingan-kepentingan orang yang menyembahnya, dan harus berfungsi sebagai pengaturnya dalam segala urusannya. Adapun yang tenggelam dalam waktu yang lama, maka bagaimana mungkin dia berhak disembah? Bu-kankah menjadikannya sebagai tuhan termasuk kebodohan besar dan kebatilan yang parah?
(77) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit," dan dia melihatnya lebih dan berbeda dengan cahaya bintang, ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Dengan nada merendah. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ ﴿ "Tetapi setelah bulan itu ter-benam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat'." Maka dia benar-benar membutuhkan hidayah dari Tuhannya. Dia menya-dari jika Dia tidak memberinya petunjuk, maka tak ada yang mem-beri petunjuk kepadanya. Jika Dia tidak membantunya dalam menaatiNya, maka tiada penolong baginya.
(78) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'," daripada bintang dan bulan. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ ﴿ "Maka tatkala matahari itu telah terbenam," terungkaplah petunjuk untuknya. Pada saat itu hi-langlah kebodohan. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." Yang mana dalil yang benar dan jelas menyatakan kebatilannya.
(79) ﴾ إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ ﴿ "Sesungguh-nya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar," yang hanya milik Allah semata, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya." Dia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk kepada tauhid, dan menegakkan dalil atas itu. Apa yang kami sebutkan dalam penafsiran ayat-ayat ini adalah yang benar, yakni bahwa konteksnya adalah perdebatan antara Ibrahim dengan kaumnya, dan penjelasan batilnya penuhanan terhadap planet-planet ini dan lain-lainnya. Adapun orang yang berpendapat bahwa itu terjadi pada waktu dia masih muda sebagai proses pencarian, maka pendapat ini tidak berdasar.
(80) ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku'." Apa gunanya mendebat orang yang mana petunjuk belum jelas baginya? Adapun orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mencapai de-rajat yakin tertinggi, maka dengan sendirinya dia mengajak orang-orang kepada apa yang dipegangnya. ﴾ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشۡرِكُونَ بِهِۦٓ ﴿ "Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah." Karena ia tidak akan mampu menda-tangkan mudarat dan tidak bisa menghalangi manfaat sedikit pun dariku. ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat meng-ambil pelajaran (darinya)?" Maka kamu pun mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
(81) ﴾ وَكَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَكۡتُمۡ ﴿ "Bagaimana aku takut kepada sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah)," se-mentara keadaannya adalah lemah dan tidak berguna. ﴾ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗاۚ ﴿ "Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya." Kecuali hanya mengikuti hawa nafsu. ﴾ فَأَيُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malaikat), jika kamu mengetahui?"
(82) Allah berfirman untuk memberi keputusan kepada ke-dua kelompok, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keaman-an, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Aman dari ketakutan, azab, dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. Jika mereka tidak mencampurnya dengan kesyirikan saja, na-mun mereka masih melakukan keburukan-keburukan, maka mereka mendapatkan pokok hidayah dan pokok rasa aman walaupun ke-sempurnaannya tidak tercapai. Pengertian dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak mencapai dua perkara itu, maka mereka juga tidak mendapatkan hidayah dan rasa aman. Akan tetapi bagian yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kesengsaraan.
(83) Manakala Allah menetapkan untuk Nabi Ibrahim de-ngan menjelaskan padanya tentang bukti-bukti yang kuat, maka Dia berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." Ibrahim mengungguli dan mengalahkan mereka dengannya. ﴾ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ ﴿ "Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat," se-bagaimana Kami meninggikan derajat Ibrahim di dunia dan akhirat. Allah mengangkat pemilik ilmu beberapa derajat bagi yang beramal lagi mendidik. Allah menjadikannya sebagai pemimpin menurut keadaannya, perbuatannya dicermati, langkahnya diikuti, cahaya-nya diambil, dan ilmunya digunakan sebagai pegangan dalam ke-gelapan. Allah berfirman, ﴾ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ ﴿ "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa dera-jat." (Al-Mujadilah: 11). ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Dia tidak meletakkan ilmu dan hikmah kecuali di tempat yang sesuai dengannya, dan Dia lebih mengetahui tem-pat itu dan yang seharusnya.
Ketika Allah menyebutkan hamba dan KhalilNya, Ibrahim dan menyebutkan nikmatNya kepadanya dalam bentuk ilmu, dakwah, dan kesabaran, maka Allah menyebutkan anugerahNya kepadanya berupa anak keturunan yang shalih dan baik, dan bah-wa Allah menjadikan makhluk tersuci dari keturunannya. Alangkah utama dan mulianya dia, yang tidak ada contoh semisal yang mem-bandinginya. Dia berfirman,
Al-An'am 6:81
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu ter-masuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, 'Saya tidak suka ke-pada yang tenggelam.' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi setelah bulan itu tenggelam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemu-dian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku, ini yang lebih besar,' maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku meng-hadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.' Dan dia di-bantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak mem-bantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah mem-beri petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)? (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya? Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?' Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 74-83).
(74) Di sini Allah mengatakan, Ceritakanlah kisah Ibrahim dengan menyanjung dan menghormatinya dalam kondisi di mana dia mengajak kepada tauhid dan melarang syirik.﴾ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapak-nya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?'" Yang tidak mampu menghadirkan manfaat dan mudarat, dan yang tidak memiliki hak sedikit pun dalam segala urusan. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." Yang mana kamu menyembah sesuatu yang sedikit pun tidak berhak untuk disembah, sementara kamu mening-galkan penyembahan kepada penciptamu, pemberi rizkimu, dan pengaturmu.
(75) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami memberi taufik kepadanya menuju tauhid dan dakwah kepadanya, ﴾ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi," agar dia melihat dengan bashirah dalil yang kuat dan bukti-bukti yang jelas yang dikandung-nya. ﴾ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." Karena berdasarkan tegaknya dalil, dia mendapatkan keyakinan dan ilmu yang sempurna dengan segala tuntutan.
(76) ﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ ﴿ "Ketika malam menjadi gelap, dia me-lihat sebuah bintang." Mungkin ia bintang yang bersinar, karena peng-khususannya dalam penyebutan menunjukkan bahwa dia lebih daripada yang lain. Oleh karena itu, wallahu a'lam, ada yang menga-takan bahwa itu adalah bintang Venus. ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "(Lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Maksudnya, dia berkata, "Inilah Rabbku," dengan nada merendah, namun menentang. Lalu marilah kita lihat, apakah dia berhak memperoleh rubu-biyah? Apakah kita memiliki dalil dalam hal ini? Karena seorang yang berakal tidak layak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan tanpa bukti dan dalil. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ ﴿ "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam," maksudnya, bintang itu menghilang. ﴾ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ﴿ "Dia ber-kata, 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'," maksudnya, yang meng-hilang dan bersembunyi dari orang yang menyembahnya, karena yang disembah harus mengurusi kepentingan-kepentingan orang yang menyembahnya, dan harus berfungsi sebagai pengaturnya dalam segala urusannya. Adapun yang tenggelam dalam waktu yang lama, maka bagaimana mungkin dia berhak disembah? Bu-kankah menjadikannya sebagai tuhan termasuk kebodohan besar dan kebatilan yang parah?
(77) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit," dan dia melihatnya lebih dan berbeda dengan cahaya bintang, ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Dengan nada merendah. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ ﴿ "Tetapi setelah bulan itu ter-benam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat'." Maka dia benar-benar membutuhkan hidayah dari Tuhannya. Dia menya-dari jika Dia tidak memberinya petunjuk, maka tak ada yang mem-beri petunjuk kepadanya. Jika Dia tidak membantunya dalam menaatiNya, maka tiada penolong baginya.
(78) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'," daripada bintang dan bulan. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ ﴿ "Maka tatkala matahari itu telah terbenam," terungkaplah petunjuk untuknya. Pada saat itu hi-langlah kebodohan. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." Yang mana dalil yang benar dan jelas menyatakan kebatilannya.
(79) ﴾ إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ ﴿ "Sesungguh-nya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar," yang hanya milik Allah semata, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya." Dia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk kepada tauhid, dan menegakkan dalil atas itu. Apa yang kami sebutkan dalam penafsiran ayat-ayat ini adalah yang benar, yakni bahwa konteksnya adalah perdebatan antara Ibrahim dengan kaumnya, dan penjelasan batilnya penuhanan terhadap planet-planet ini dan lain-lainnya. Adapun orang yang berpendapat bahwa itu terjadi pada waktu dia masih muda sebagai proses pencarian, maka pendapat ini tidak berdasar.
(80) ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku'." Apa gunanya mendebat orang yang mana petunjuk belum jelas baginya? Adapun orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mencapai de-rajat yakin tertinggi, maka dengan sendirinya dia mengajak orang-orang kepada apa yang dipegangnya. ﴾ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشۡرِكُونَ بِهِۦٓ ﴿ "Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah." Karena ia tidak akan mampu menda-tangkan mudarat dan tidak bisa menghalangi manfaat sedikit pun dariku. ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat meng-ambil pelajaran (darinya)?" Maka kamu pun mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
(81) ﴾ وَكَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَكۡتُمۡ ﴿ "Bagaimana aku takut kepada sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah)," se-mentara keadaannya adalah lemah dan tidak berguna. ﴾ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗاۚ ﴿ "Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya." Kecuali hanya mengikuti hawa nafsu. ﴾ فَأَيُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malaikat), jika kamu mengetahui?"
(82) Allah berfirman untuk memberi keputusan kepada ke-dua kelompok, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keaman-an, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Aman dari ketakutan, azab, dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. Jika mereka tidak mencampurnya dengan kesyirikan saja, na-mun mereka masih melakukan keburukan-keburukan, maka mereka mendapatkan pokok hidayah dan pokok rasa aman walaupun ke-sempurnaannya tidak tercapai. Pengertian dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak mencapai dua perkara itu, maka mereka juga tidak mendapatkan hidayah dan rasa aman. Akan tetapi bagian yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kesengsaraan.
(83) Manakala Allah menetapkan untuk Nabi Ibrahim de-ngan menjelaskan padanya tentang bukti-bukti yang kuat, maka Dia berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." Ibrahim mengungguli dan mengalahkan mereka dengannya. ﴾ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ ﴿ "Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat," se-bagaimana Kami meninggikan derajat Ibrahim di dunia dan akhirat. Allah mengangkat pemilik ilmu beberapa derajat bagi yang beramal lagi mendidik. Allah menjadikannya sebagai pemimpin menurut keadaannya, perbuatannya dicermati, langkahnya diikuti, cahaya-nya diambil, dan ilmunya digunakan sebagai pegangan dalam ke-gelapan. Allah berfirman, ﴾ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ ﴿ "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa dera-jat." (Al-Mujadilah: 11). ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Dia tidak meletakkan ilmu dan hikmah kecuali di tempat yang sesuai dengannya, dan Dia lebih mengetahui tem-pat itu dan yang seharusnya.
Ketika Allah menyebutkan hamba dan KhalilNya, Ibrahim dan menyebutkan nikmatNya kepadanya dalam bentuk ilmu, dakwah, dan kesabaran, maka Allah menyebutkan anugerahNya kepadanya berupa anak keturunan yang shalih dan baik, dan bah-wa Allah menjadikan makhluk tersuci dari keturunannya. Alangkah utama dan mulianya dia, yang tidak ada contoh semisal yang mem-bandinginya. Dia berfirman,
Al-An'am 6:82
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu ter-masuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, 'Saya tidak suka ke-pada yang tenggelam.' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi setelah bulan itu tenggelam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemu-dian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku, ini yang lebih besar,' maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku meng-hadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.' Dan dia di-bantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak mem-bantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah mem-beri petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)? (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya? Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?' Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 74-83).
(74) Di sini Allah mengatakan, Ceritakanlah kisah Ibrahim dengan menyanjung dan menghormatinya dalam kondisi di mana dia mengajak kepada tauhid dan melarang syirik.﴾ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapak-nya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?'" Yang tidak mampu menghadirkan manfaat dan mudarat, dan yang tidak memiliki hak sedikit pun dalam segala urusan. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." Yang mana kamu menyembah sesuatu yang sedikit pun tidak berhak untuk disembah, sementara kamu mening-galkan penyembahan kepada penciptamu, pemberi rizkimu, dan pengaturmu.
(75) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami memberi taufik kepadanya menuju tauhid dan dakwah kepadanya, ﴾ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi," agar dia melihat dengan bashirah dalil yang kuat dan bukti-bukti yang jelas yang dikandung-nya. ﴾ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." Karena berdasarkan tegaknya dalil, dia mendapatkan keyakinan dan ilmu yang sempurna dengan segala tuntutan.
(76) ﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ ﴿ "Ketika malam menjadi gelap, dia me-lihat sebuah bintang." Mungkin ia bintang yang bersinar, karena peng-khususannya dalam penyebutan menunjukkan bahwa dia lebih daripada yang lain. Oleh karena itu, wallahu a'lam, ada yang menga-takan bahwa itu adalah bintang Venus. ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "(Lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Maksudnya, dia berkata, "Inilah Rabbku," dengan nada merendah, namun menentang. Lalu marilah kita lihat, apakah dia berhak memperoleh rubu-biyah? Apakah kita memiliki dalil dalam hal ini? Karena seorang yang berakal tidak layak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan tanpa bukti dan dalil. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ ﴿ "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam," maksudnya, bintang itu menghilang. ﴾ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ﴿ "Dia ber-kata, 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'," maksudnya, yang meng-hilang dan bersembunyi dari orang yang menyembahnya, karena yang disembah harus mengurusi kepentingan-kepentingan orang yang menyembahnya, dan harus berfungsi sebagai pengaturnya dalam segala urusannya. Adapun yang tenggelam dalam waktu yang lama, maka bagaimana mungkin dia berhak disembah? Bu-kankah menjadikannya sebagai tuhan termasuk kebodohan besar dan kebatilan yang parah?
(77) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit," dan dia melihatnya lebih dan berbeda dengan cahaya bintang, ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Dengan nada merendah. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ ﴿ "Tetapi setelah bulan itu ter-benam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat'." Maka dia benar-benar membutuhkan hidayah dari Tuhannya. Dia menya-dari jika Dia tidak memberinya petunjuk, maka tak ada yang mem-beri petunjuk kepadanya. Jika Dia tidak membantunya dalam menaatiNya, maka tiada penolong baginya.
(78) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'," daripada bintang dan bulan. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ ﴿ "Maka tatkala matahari itu telah terbenam," terungkaplah petunjuk untuknya. Pada saat itu hi-langlah kebodohan. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." Yang mana dalil yang benar dan jelas menyatakan kebatilannya.
(79) ﴾ إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ ﴿ "Sesungguh-nya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar," yang hanya milik Allah semata, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya." Dia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk kepada tauhid, dan menegakkan dalil atas itu. Apa yang kami sebutkan dalam penafsiran ayat-ayat ini adalah yang benar, yakni bahwa konteksnya adalah perdebatan antara Ibrahim dengan kaumnya, dan penjelasan batilnya penuhanan terhadap planet-planet ini dan lain-lainnya. Adapun orang yang berpendapat bahwa itu terjadi pada waktu dia masih muda sebagai proses pencarian, maka pendapat ini tidak berdasar.
(80) ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku'." Apa gunanya mendebat orang yang mana petunjuk belum jelas baginya? Adapun orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mencapai de-rajat yakin tertinggi, maka dengan sendirinya dia mengajak orang-orang kepada apa yang dipegangnya. ﴾ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشۡرِكُونَ بِهِۦٓ ﴿ "Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah." Karena ia tidak akan mampu menda-tangkan mudarat dan tidak bisa menghalangi manfaat sedikit pun dariku. ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat meng-ambil pelajaran (darinya)?" Maka kamu pun mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
(81) ﴾ وَكَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَكۡتُمۡ ﴿ "Bagaimana aku takut kepada sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah)," se-mentara keadaannya adalah lemah dan tidak berguna. ﴾ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗاۚ ﴿ "Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya." Kecuali hanya mengikuti hawa nafsu. ﴾ فَأَيُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malaikat), jika kamu mengetahui?"
(82) Allah berfirman untuk memberi keputusan kepada ke-dua kelompok, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keaman-an, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Aman dari ketakutan, azab, dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. Jika mereka tidak mencampurnya dengan kesyirikan saja, na-mun mereka masih melakukan keburukan-keburukan, maka mereka mendapatkan pokok hidayah dan pokok rasa aman walaupun ke-sempurnaannya tidak tercapai. Pengertian dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak mencapai dua perkara itu, maka mereka juga tidak mendapatkan hidayah dan rasa aman. Akan tetapi bagian yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kesengsaraan.
(83) Manakala Allah menetapkan untuk Nabi Ibrahim de-ngan menjelaskan padanya tentang bukti-bukti yang kuat, maka Dia berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." Ibrahim mengungguli dan mengalahkan mereka dengannya. ﴾ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ ﴿ "Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat," se-bagaimana Kami meninggikan derajat Ibrahim di dunia dan akhirat. Allah mengangkat pemilik ilmu beberapa derajat bagi yang beramal lagi mendidik. Allah menjadikannya sebagai pemimpin menurut keadaannya, perbuatannya dicermati, langkahnya diikuti, cahaya-nya diambil, dan ilmunya digunakan sebagai pegangan dalam ke-gelapan. Allah berfirman, ﴾ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ ﴿ "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa dera-jat." (Al-Mujadilah: 11). ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Dia tidak meletakkan ilmu dan hikmah kecuali di tempat yang sesuai dengannya, dan Dia lebih mengetahui tem-pat itu dan yang seharusnya.
Ketika Allah menyebutkan hamba dan KhalilNya, Ibrahim dan menyebutkan nikmatNya kepadanya dalam bentuk ilmu, dakwah, dan kesabaran, maka Allah menyebutkan anugerahNya kepadanya berupa anak keturunan yang shalih dan baik, dan bah-wa Allah menjadikan makhluk tersuci dari keturunannya. Alangkah utama dan mulianya dia, yang tidak ada contoh semisal yang mem-bandinginya. Dia berfirman,
Al-An'am 6:83
"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu ter-masuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, 'Saya tidak suka ke-pada yang tenggelam.' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi setelah bulan itu tenggelam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemu-dian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku, ini yang lebih besar,' maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku meng-hadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.' Dan dia di-bantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak mem-bantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah mem-beri petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)? (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya? Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?' Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 74-83).
(74) Di sini Allah mengatakan, Ceritakanlah kisah Ibrahim dengan menyanjung dan menghormatinya dalam kondisi di mana dia mengajak kepada tauhid dan melarang syirik.﴾ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً ﴿ "Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapak-nya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?'" Yang tidak mampu menghadirkan manfaat dan mudarat, dan yang tidak memiliki hak sedikit pun dalam segala urusan. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." Yang mana kamu menyembah sesuatu yang sedikit pun tidak berhak untuk disembah, sementara kamu mening-galkan penyembahan kepada penciptamu, pemberi rizkimu, dan pengaturmu.
(75) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami memberi taufik kepadanya menuju tauhid dan dakwah kepadanya, ﴾ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi," agar dia melihat dengan bashirah dalil yang kuat dan bukti-bukti yang jelas yang dikandung-nya. ﴾ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ﴿ "Dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." Karena berdasarkan tegaknya dalil, dia mendapatkan keyakinan dan ilmu yang sempurna dengan segala tuntutan.
(76) ﴾ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ ﴿ "Ketika malam menjadi gelap, dia me-lihat sebuah bintang." Mungkin ia bintang yang bersinar, karena peng-khususannya dalam penyebutan menunjukkan bahwa dia lebih daripada yang lain. Oleh karena itu, wallahu a'lam, ada yang menga-takan bahwa itu adalah bintang Venus. ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "(Lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Maksudnya, dia berkata, "Inilah Rabbku," dengan nada merendah, namun menentang. Lalu marilah kita lihat, apakah dia berhak memperoleh rubu-biyah? Apakah kita memiliki dalil dalam hal ini? Karena seorang yang berakal tidak layak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan tanpa bukti dan dalil. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ ﴿ "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam," maksudnya, bintang itu menghilang. ﴾ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ﴿ "Dia ber-kata, 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'," maksudnya, yang meng-hilang dan bersembunyi dari orang yang menyembahnya, karena yang disembah harus mengurusi kepentingan-kepentingan orang yang menyembahnya, dan harus berfungsi sebagai pengaturnya dalam segala urusannya. Adapun yang tenggelam dalam waktu yang lama, maka bagaimana mungkin dia berhak disembah? Bu-kankah menjadikannya sebagai tuhan termasuk kebodohan besar dan kebatilan yang parah?
(77) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit," dan dia melihatnya lebih dan berbeda dengan cahaya bintang, ﴾ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴿ "dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Dengan nada merendah. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ ﴿ "Tetapi setelah bulan itu ter-benam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat'." Maka dia benar-benar membutuhkan hidayah dari Tuhannya. Dia menya-dari jika Dia tidak memberinya petunjuk, maka tak ada yang mem-beri petunjuk kepadanya. Jika Dia tidak membantunya dalam menaatiNya, maka tiada penolong baginya.
(78) ﴾ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ ﴿ "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'," daripada bintang dan bulan. ﴾ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ ﴿ "Maka tatkala matahari itu telah terbenam," terungkaplah petunjuk untuknya. Pada saat itu hi-langlah kebodohan. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴿ "Dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." Yang mana dalil yang benar dan jelas menyatakan kebatilannya.
(79) ﴾ إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ ﴿ "Sesungguh-nya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar," yang hanya milik Allah semata, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya." Dia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk kepada tauhid, dan menegakkan dalil atas itu. Apa yang kami sebutkan dalam penafsiran ayat-ayat ini adalah yang benar, yakni bahwa konteksnya adalah perdebatan antara Ibrahim dengan kaumnya, dan penjelasan batilnya penuhanan terhadap planet-planet ini dan lain-lainnya. Adapun orang yang berpendapat bahwa itu terjadi pada waktu dia masih muda sebagai proses pencarian, maka pendapat ini tidak berdasar.
(80) ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku'." Apa gunanya mendebat orang yang mana petunjuk belum jelas baginya? Adapun orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mencapai de-rajat yakin tertinggi, maka dengan sendirinya dia mengajak orang-orang kepada apa yang dipegangnya. ﴾ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشۡرِكُونَ بِهِۦٓ ﴿ "Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah." Karena ia tidak akan mampu menda-tangkan mudarat dan tidak bisa menghalangi manfaat sedikit pun dariku. ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat meng-ambil pelajaran (darinya)?" Maka kamu pun mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
(81) ﴾ وَكَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَكۡتُمۡ ﴿ "Bagaimana aku takut kepada sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah)," se-mentara keadaannya adalah lemah dan tidak berguna. ﴾ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗاۚ ﴿ "Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya." Kecuali hanya mengikuti hawa nafsu. ﴾ فَأَيُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malaikat), jika kamu mengetahui?"
(82) Allah berfirman untuk memberi keputusan kepada ke-dua kelompok, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keaman-an, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Aman dari ketakutan, azab, dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. Jika mereka tidak mencampurnya dengan kesyirikan saja, na-mun mereka masih melakukan keburukan-keburukan, maka mereka mendapatkan pokok hidayah dan pokok rasa aman walaupun ke-sempurnaannya tidak tercapai. Pengertian dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak mencapai dua perkara itu, maka mereka juga tidak mendapatkan hidayah dan rasa aman. Akan tetapi bagian yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kesengsaraan.
(83) Manakala Allah menetapkan untuk Nabi Ibrahim de-ngan menjelaskan padanya tentang bukti-bukti yang kuat, maka Dia berfirman, ﴾ وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." Ibrahim mengungguli dan mengalahkan mereka dengannya. ﴾ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ ﴿ "Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat," se-bagaimana Kami meninggikan derajat Ibrahim di dunia dan akhirat. Allah mengangkat pemilik ilmu beberapa derajat bagi yang beramal lagi mendidik. Allah menjadikannya sebagai pemimpin menurut keadaannya, perbuatannya dicermati, langkahnya diikuti, cahaya-nya diambil, dan ilmunya digunakan sebagai pegangan dalam ke-gelapan. Allah berfirman, ﴾ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ ﴿ "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa dera-jat." (Al-Mujadilah: 11). ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Dia tidak meletakkan ilmu dan hikmah kecuali di tempat yang sesuai dengannya, dan Dia lebih mengetahui tem-pat itu dan yang seharusnya.
Ketika Allah menyebutkan hamba dan KhalilNya, Ibrahim dan menyebutkan nikmatNya kepadanya dalam bentuk ilmu, dakwah, dan kesabaran, maka Allah menyebutkan anugerahNya kepadanya berupa anak keturunan yang shalih dan baik, dan bah-wa Allah menjadikan makhluk tersuci dari keturunannya. Alangkah utama dan mulianya dia, yang tidak ada contoh semisal yang mem-bandinginya. Dia berfirman,
Al-An'am 6:84
"Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepa-danya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi ba-lasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih. Dan Isma'il, Ilyasa', Yunus, dan Luth, masing-masing telah Kami lebih-kan derajatnya di atas umat (di masanya)? (Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengan-nya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan ke-pada mereka kitab, hikmah (pemahaman agama), dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekalipun tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petun-juk mereka. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an).' Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." (Al-An'am: 84-90).
(84) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَۚ ﴿ "Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya." Ya'qub adalah Putra Ishaq. Ya'qub di-gelari Israil, bapak beberapa suku bangsa yang mana Allah meng-utamakannya di alam dunia. ﴾ كُلًّا ﴿ "Kepada keduanya masing-masing," Kami telah memberinya petunjuk ke jalan yang lurus pada ilmu dan amalnya. ﴾ وَنُوحًا ﴿ "Dan kepada Nuh," Kami juga memberi-nya petunjuk ﴾ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "sebelum itu (juga)." Dan hidayahnya terma-suk bentuk hidayah tertinggi yang bersifat khusus yang hanya di-dapatkan oleh beberapa orang di alam ini, dan mereka adalah ulul azmi yang berasal dari para Rasul yang mana salah satunya adalah dia. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِۦ ﴿ "Dan kepada sebagian dari keturunannya." Ada ke-mungkinan kata gantinya adalah kembali kepada Nuh, karena dialah yang disebut paling dekat, karena Allah menyebutkan Luth bersama yang lain, dan ia termasuk keturunan Nuh, bukan Ibrahim, karena dia adalah keponakannya. Ada kemungkinan juga kata gan-tinya kembali kepada Ibrahim karena konteks ayat ini tentang pu-jian dan sanjungan kepadanya, dan Luth walaupun dia bukan termasuk keturunannya, tetapi dia termasuk yang beriman berkat dirinya, maka keutamaan dan keunggulan Ibrahim al-Khalil lebih tinggi daripada sekedar sebagai anaknya. ﴾ دَاوُۥدَ وَسُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Yaitu Da-wud, Sulaiman" bin Dawud. ﴾ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ ﴿ "Dan Ayyub dan Yusuf" bin Ya'qub. ﴾ وَمُوسَىٰ وَهَٰرُونَۚ ﴿ "Dan Musa dan Harun." Keduanya adalah putra Imran. ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," sebagaimana Kami menjadi-kan anak keturunan Ibrahim sebagai orang-orang yang baik karena dia telah beribadah kepada Tuhannya dengan baik dan memberi manfaat kepada makhluk dengan baik. Begitu pula ﴾ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dengan menjadikan nama yang baik dan keturunan yang shalih untuk me-reka sesuai dengan kebaikan mereka.
(85) ﴾ وَزَكَرِيَّا وَيَحۡيَىٰ ﴿ "Dan Zakaria dan Yahya" bin Zakaria. ﴾ وَعِيسَىٰ ﴿ "Dan Isa" putra Maryam. ﴾ وَإِلۡيَاسَۖ كُلّٞ ﴿ "Dan Ilyas. Semuanya," mereka-mereka itu ﴾ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih," dalam akhlak, amal mereka, dan ilmu, bahkan mereka adalah pemimpin, imam, dan panutan orang-orang shalih.
(86) ﴾ وَإِسۡمَٰعِيلَ ﴿ "Dan Isma'il" bin Ibrahim, bapak bangsa yang merupakan bangsa paling mulia yakni bangsa Arab, bapak dari Sayyid anak cucu Adam, Muhammad. ﴾ وَيُونُسَ ﴿ "Dan Yunus" bin Matta. ﴾ وَلُوطٗاۚ ﴿ "Dan Luth" bin Harun, saudara Ibrahim. ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masingnya," dari para Nabi dan Rasul itu ﴾ فَضَّلۡنَا عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)." Karena derajat keutamaan ada empat, yaitu yang disebutkan oleh Allah dalam FirmanNya. ﴾ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, dari kalangan para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih." (An-Nisa`: 69). Mereka itu termasuk ke dalam derajat yang tinggi, bahkan mereka adalah rasul-rasul terbaik secara mutlak. Para Rasul yang kisahnya Allah ceritakan di dalam kitabNya adalah lebih utama dari-pada yang tidak diceritakan, tanpa ragu.
(87) ﴾ وَمِنۡ ءَابَآئِهِمۡ ﴿ "(Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka," yaitu bapak-bapak mereka yang disebut. ﴾ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡ وَإِخۡوَٰنِهِمۡۖ ﴿ "Dan keturunan mereka dan saudara-saudara mereka." Maksud-nya, Kami juga memberi petunjuk kepada bapak-bapak, keturunan, dan saudara-saudara mereka. ﴾ وَٱجۡتَبَيۡنَٰهُمۡ وَهَدَيۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus."
(88-89) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah," petunjuk yang disebutkan adalah ﴾ هُدَى ٱللَّهِ ﴿ "Petunjuk Allah," yang tiada petunjuk selain petunjukNya. ﴾ يَهۡدِي بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya." Maka carilah petunjuk dariNya, karena jika Dia tidak memberimu petunjuk, maka tidak ada pemberi petunjuk untukmu selainNya, dan di antara orang yang mana Allah berkehendak untuk memberi petunjuk adalah orang-orang yang telah disebutkan. ﴾ وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ ﴿ "Seandainya mereka mempersekutukan Allah," menu-rut kepastian dan perkiraan, ﴾ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." Karena syirik mele-nyapkan amal dan menyebabkan kekekalan di dalam neraka. Jika orang-orang mulia lagi terpilih itu melakukan kesyirikan, -dan ini mustahil- niscaya amal-amal mereka lenyap, lebih-lebih selain mereka.
(90) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," maksudnya yang disebutkan adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "orang-orang yang telah diberi petun-juk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." Maksudnya, berjalan-lah wahai Rasul yang mulia di belakang para Nabi yang terpilih itu, ikutilah agama mereka. Rasulullah telah taat, dia mengambil petunjuk dari petunjuk para Rasul sebelumnya. Dia mengumpul-kan semua kesempurnaan pada mereka, maka terkumpullah padanya keutamaan-keutamaan dan keistimewaan yang dengan-nya dia mengungguli seluruh alam. Dia adalah sayyid para Rasul, imam orang-orang yang bertakwa. Dari segi ini kalangan para sahabat berdalil dengannya bahwa Rasulullah adalah Rasul paling utama. ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang berpaling dari dakwahmu, ﴾ لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًاۖ ﴿ "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an)." Mak-sudnya, aku tidak meminta harta dan bayaran kepadamu sebagai upah atas tabligh dan dakwahku kepadamu, karena itu bisa menjadi sebab penolakanmu, balasanku hanyalah pada Allah.﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." Dengan al-Qur`an mereka ingat apa yang berguna bagi me-reka lalu mereka melakukannya, sedangkan yang membahayakan mereka, maka mereka menjauhinya, dengannya mereka ingat pengetahuan tentang Tuhan mereka dengan nama-nama dan sifat-sifatNya, dengannya mereka ingat akhlak-akhlak yang terpuji dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan akhlak-akhlak yang tercela dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan ia adalah peringatan bagi seluruh alam. Itu adalah nikmat terbesar bagi mereka, maka mereka harus menerima dan mensyukurinya.
Al-An'am 6:85
"Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepa-danya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi ba-lasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih. Dan Isma'il, Ilyasa', Yunus, dan Luth, masing-masing telah Kami lebih-kan derajatnya di atas umat (di masanya)? (Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengan-nya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan ke-pada mereka kitab, hikmah (pemahaman agama), dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekalipun tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petun-juk mereka. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an).' Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." (Al-An'am: 84-90).
(84) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَۚ ﴿ "Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya." Ya'qub adalah Putra Ishaq. Ya'qub di-gelari Israil, bapak beberapa suku bangsa yang mana Allah meng-utamakannya di alam dunia. ﴾ كُلًّا ﴿ "Kepada keduanya masing-masing," Kami telah memberinya petunjuk ke jalan yang lurus pada ilmu dan amalnya. ﴾ وَنُوحًا ﴿ "Dan kepada Nuh," Kami juga memberi-nya petunjuk ﴾ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "sebelum itu (juga)." Dan hidayahnya terma-suk bentuk hidayah tertinggi yang bersifat khusus yang hanya di-dapatkan oleh beberapa orang di alam ini, dan mereka adalah ulul azmi yang berasal dari para Rasul yang mana salah satunya adalah dia. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِۦ ﴿ "Dan kepada sebagian dari keturunannya." Ada ke-mungkinan kata gantinya adalah kembali kepada Nuh, karena dialah yang disebut paling dekat, karena Allah menyebutkan Luth bersama yang lain, dan ia termasuk keturunan Nuh, bukan Ibrahim, karena dia adalah keponakannya. Ada kemungkinan juga kata gan-tinya kembali kepada Ibrahim karena konteks ayat ini tentang pu-jian dan sanjungan kepadanya, dan Luth walaupun dia bukan termasuk keturunannya, tetapi dia termasuk yang beriman berkat dirinya, maka keutamaan dan keunggulan Ibrahim al-Khalil lebih tinggi daripada sekedar sebagai anaknya. ﴾ دَاوُۥدَ وَسُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Yaitu Da-wud, Sulaiman" bin Dawud. ﴾ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ ﴿ "Dan Ayyub dan Yusuf" bin Ya'qub. ﴾ وَمُوسَىٰ وَهَٰرُونَۚ ﴿ "Dan Musa dan Harun." Keduanya adalah putra Imran. ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," sebagaimana Kami menjadi-kan anak keturunan Ibrahim sebagai orang-orang yang baik karena dia telah beribadah kepada Tuhannya dengan baik dan memberi manfaat kepada makhluk dengan baik. Begitu pula ﴾ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dengan menjadikan nama yang baik dan keturunan yang shalih untuk me-reka sesuai dengan kebaikan mereka.
(85) ﴾ وَزَكَرِيَّا وَيَحۡيَىٰ ﴿ "Dan Zakaria dan Yahya" bin Zakaria. ﴾ وَعِيسَىٰ ﴿ "Dan Isa" putra Maryam. ﴾ وَإِلۡيَاسَۖ كُلّٞ ﴿ "Dan Ilyas. Semuanya," mereka-mereka itu ﴾ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih," dalam akhlak, amal mereka, dan ilmu, bahkan mereka adalah pemimpin, imam, dan panutan orang-orang shalih.
(86) ﴾ وَإِسۡمَٰعِيلَ ﴿ "Dan Isma'il" bin Ibrahim, bapak bangsa yang merupakan bangsa paling mulia yakni bangsa Arab, bapak dari Sayyid anak cucu Adam, Muhammad. ﴾ وَيُونُسَ ﴿ "Dan Yunus" bin Matta. ﴾ وَلُوطٗاۚ ﴿ "Dan Luth" bin Harun, saudara Ibrahim. ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masingnya," dari para Nabi dan Rasul itu ﴾ فَضَّلۡنَا عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)." Karena derajat keutamaan ada empat, yaitu yang disebutkan oleh Allah dalam FirmanNya. ﴾ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, dari kalangan para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih." (An-Nisa`: 69). Mereka itu termasuk ke dalam derajat yang tinggi, bahkan mereka adalah rasul-rasul terbaik secara mutlak. Para Rasul yang kisahnya Allah ceritakan di dalam kitabNya adalah lebih utama dari-pada yang tidak diceritakan, tanpa ragu.
(87) ﴾ وَمِنۡ ءَابَآئِهِمۡ ﴿ "(Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka," yaitu bapak-bapak mereka yang disebut. ﴾ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡ وَإِخۡوَٰنِهِمۡۖ ﴿ "Dan keturunan mereka dan saudara-saudara mereka." Maksud-nya, Kami juga memberi petunjuk kepada bapak-bapak, keturunan, dan saudara-saudara mereka. ﴾ وَٱجۡتَبَيۡنَٰهُمۡ وَهَدَيۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus."
(88-89) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah," petunjuk yang disebutkan adalah ﴾ هُدَى ٱللَّهِ ﴿ "Petunjuk Allah," yang tiada petunjuk selain petunjukNya. ﴾ يَهۡدِي بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya." Maka carilah petunjuk dariNya, karena jika Dia tidak memberimu petunjuk, maka tidak ada pemberi petunjuk untukmu selainNya, dan di antara orang yang mana Allah berkehendak untuk memberi petunjuk adalah orang-orang yang telah disebutkan. ﴾ وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ ﴿ "Seandainya mereka mempersekutukan Allah," menu-rut kepastian dan perkiraan, ﴾ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." Karena syirik mele-nyapkan amal dan menyebabkan kekekalan di dalam neraka. Jika orang-orang mulia lagi terpilih itu melakukan kesyirikan, -dan ini mustahil- niscaya amal-amal mereka lenyap, lebih-lebih selain mereka.
(90) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," maksudnya yang disebutkan adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "orang-orang yang telah diberi petun-juk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." Maksudnya, berjalan-lah wahai Rasul yang mulia di belakang para Nabi yang terpilih itu, ikutilah agama mereka. Rasulullah telah taat, dia mengambil petunjuk dari petunjuk para Rasul sebelumnya. Dia mengumpul-kan semua kesempurnaan pada mereka, maka terkumpullah padanya keutamaan-keutamaan dan keistimewaan yang dengan-nya dia mengungguli seluruh alam. Dia adalah sayyid para Rasul, imam orang-orang yang bertakwa. Dari segi ini kalangan para sahabat berdalil dengannya bahwa Rasulullah adalah Rasul paling utama. ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang berpaling dari dakwahmu, ﴾ لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًاۖ ﴿ "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an)." Mak-sudnya, aku tidak meminta harta dan bayaran kepadamu sebagai upah atas tabligh dan dakwahku kepadamu, karena itu bisa menjadi sebab penolakanmu, balasanku hanyalah pada Allah.﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." Dengan al-Qur`an mereka ingat apa yang berguna bagi me-reka lalu mereka melakukannya, sedangkan yang membahayakan mereka, maka mereka menjauhinya, dengannya mereka ingat pengetahuan tentang Tuhan mereka dengan nama-nama dan sifat-sifatNya, dengannya mereka ingat akhlak-akhlak yang terpuji dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan akhlak-akhlak yang tercela dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan ia adalah peringatan bagi seluruh alam. Itu adalah nikmat terbesar bagi mereka, maka mereka harus menerima dan mensyukurinya.
Al-An'am 6:86
"Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepa-danya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi ba-lasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih. Dan Isma'il, Ilyasa', Yunus, dan Luth, masing-masing telah Kami lebih-kan derajatnya di atas umat (di masanya)? (Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengan-nya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan ke-pada mereka kitab, hikmah (pemahaman agama), dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekalipun tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petun-juk mereka. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an).' Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." (Al-An'am: 84-90).
(84) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَۚ ﴿ "Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya." Ya'qub adalah Putra Ishaq. Ya'qub di-gelari Israil, bapak beberapa suku bangsa yang mana Allah meng-utamakannya di alam dunia. ﴾ كُلًّا ﴿ "Kepada keduanya masing-masing," Kami telah memberinya petunjuk ke jalan yang lurus pada ilmu dan amalnya. ﴾ وَنُوحًا ﴿ "Dan kepada Nuh," Kami juga memberi-nya petunjuk ﴾ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "sebelum itu (juga)." Dan hidayahnya terma-suk bentuk hidayah tertinggi yang bersifat khusus yang hanya di-dapatkan oleh beberapa orang di alam ini, dan mereka adalah ulul azmi yang berasal dari para Rasul yang mana salah satunya adalah dia. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِۦ ﴿ "Dan kepada sebagian dari keturunannya." Ada ke-mungkinan kata gantinya adalah kembali kepada Nuh, karena dialah yang disebut paling dekat, karena Allah menyebutkan Luth bersama yang lain, dan ia termasuk keturunan Nuh, bukan Ibrahim, karena dia adalah keponakannya. Ada kemungkinan juga kata gan-tinya kembali kepada Ibrahim karena konteks ayat ini tentang pu-jian dan sanjungan kepadanya, dan Luth walaupun dia bukan termasuk keturunannya, tetapi dia termasuk yang beriman berkat dirinya, maka keutamaan dan keunggulan Ibrahim al-Khalil lebih tinggi daripada sekedar sebagai anaknya. ﴾ دَاوُۥدَ وَسُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Yaitu Da-wud, Sulaiman" bin Dawud. ﴾ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ ﴿ "Dan Ayyub dan Yusuf" bin Ya'qub. ﴾ وَمُوسَىٰ وَهَٰرُونَۚ ﴿ "Dan Musa dan Harun." Keduanya adalah putra Imran. ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," sebagaimana Kami menjadi-kan anak keturunan Ibrahim sebagai orang-orang yang baik karena dia telah beribadah kepada Tuhannya dengan baik dan memberi manfaat kepada makhluk dengan baik. Begitu pula ﴾ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dengan menjadikan nama yang baik dan keturunan yang shalih untuk me-reka sesuai dengan kebaikan mereka.
(85) ﴾ وَزَكَرِيَّا وَيَحۡيَىٰ ﴿ "Dan Zakaria dan Yahya" bin Zakaria. ﴾ وَعِيسَىٰ ﴿ "Dan Isa" putra Maryam. ﴾ وَإِلۡيَاسَۖ كُلّٞ ﴿ "Dan Ilyas. Semuanya," mereka-mereka itu ﴾ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih," dalam akhlak, amal mereka, dan ilmu, bahkan mereka adalah pemimpin, imam, dan panutan orang-orang shalih.
(86) ﴾ وَإِسۡمَٰعِيلَ ﴿ "Dan Isma'il" bin Ibrahim, bapak bangsa yang merupakan bangsa paling mulia yakni bangsa Arab, bapak dari Sayyid anak cucu Adam, Muhammad. ﴾ وَيُونُسَ ﴿ "Dan Yunus" bin Matta. ﴾ وَلُوطٗاۚ ﴿ "Dan Luth" bin Harun, saudara Ibrahim. ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masingnya," dari para Nabi dan Rasul itu ﴾ فَضَّلۡنَا عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)." Karena derajat keutamaan ada empat, yaitu yang disebutkan oleh Allah dalam FirmanNya. ﴾ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, dari kalangan para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih." (An-Nisa`: 69). Mereka itu termasuk ke dalam derajat yang tinggi, bahkan mereka adalah rasul-rasul terbaik secara mutlak. Para Rasul yang kisahnya Allah ceritakan di dalam kitabNya adalah lebih utama dari-pada yang tidak diceritakan, tanpa ragu.
(87) ﴾ وَمِنۡ ءَابَآئِهِمۡ ﴿ "(Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka," yaitu bapak-bapak mereka yang disebut. ﴾ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡ وَإِخۡوَٰنِهِمۡۖ ﴿ "Dan keturunan mereka dan saudara-saudara mereka." Maksud-nya, Kami juga memberi petunjuk kepada bapak-bapak, keturunan, dan saudara-saudara mereka. ﴾ وَٱجۡتَبَيۡنَٰهُمۡ وَهَدَيۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus."
(88-89) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah," petunjuk yang disebutkan adalah ﴾ هُدَى ٱللَّهِ ﴿ "Petunjuk Allah," yang tiada petunjuk selain petunjukNya. ﴾ يَهۡدِي بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya." Maka carilah petunjuk dariNya, karena jika Dia tidak memberimu petunjuk, maka tidak ada pemberi petunjuk untukmu selainNya, dan di antara orang yang mana Allah berkehendak untuk memberi petunjuk adalah orang-orang yang telah disebutkan. ﴾ وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ ﴿ "Seandainya mereka mempersekutukan Allah," menu-rut kepastian dan perkiraan, ﴾ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." Karena syirik mele-nyapkan amal dan menyebabkan kekekalan di dalam neraka. Jika orang-orang mulia lagi terpilih itu melakukan kesyirikan, -dan ini mustahil- niscaya amal-amal mereka lenyap, lebih-lebih selain mereka.
(90) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," maksudnya yang disebutkan adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "orang-orang yang telah diberi petun-juk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." Maksudnya, berjalan-lah wahai Rasul yang mulia di belakang para Nabi yang terpilih itu, ikutilah agama mereka. Rasulullah telah taat, dia mengambil petunjuk dari petunjuk para Rasul sebelumnya. Dia mengumpul-kan semua kesempurnaan pada mereka, maka terkumpullah padanya keutamaan-keutamaan dan keistimewaan yang dengan-nya dia mengungguli seluruh alam. Dia adalah sayyid para Rasul, imam orang-orang yang bertakwa. Dari segi ini kalangan para sahabat berdalil dengannya bahwa Rasulullah adalah Rasul paling utama. ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang berpaling dari dakwahmu, ﴾ لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًاۖ ﴿ "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an)." Mak-sudnya, aku tidak meminta harta dan bayaran kepadamu sebagai upah atas tabligh dan dakwahku kepadamu, karena itu bisa menjadi sebab penolakanmu, balasanku hanyalah pada Allah.﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." Dengan al-Qur`an mereka ingat apa yang berguna bagi me-reka lalu mereka melakukannya, sedangkan yang membahayakan mereka, maka mereka menjauhinya, dengannya mereka ingat pengetahuan tentang Tuhan mereka dengan nama-nama dan sifat-sifatNya, dengannya mereka ingat akhlak-akhlak yang terpuji dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan akhlak-akhlak yang tercela dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan ia adalah peringatan bagi seluruh alam. Itu adalah nikmat terbesar bagi mereka, maka mereka harus menerima dan mensyukurinya.
Al-An'am 6:87
"Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepa-danya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi ba-lasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih. Dan Isma'il, Ilyasa', Yunus, dan Luth, masing-masing telah Kami lebih-kan derajatnya di atas umat (di masanya)? (Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengan-nya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan ke-pada mereka kitab, hikmah (pemahaman agama), dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekalipun tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petun-juk mereka. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an).' Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." (Al-An'am: 84-90).
(84) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَۚ ﴿ "Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya." Ya'qub adalah Putra Ishaq. Ya'qub di-gelari Israil, bapak beberapa suku bangsa yang mana Allah meng-utamakannya di alam dunia. ﴾ كُلًّا ﴿ "Kepada keduanya masing-masing," Kami telah memberinya petunjuk ke jalan yang lurus pada ilmu dan amalnya. ﴾ وَنُوحًا ﴿ "Dan kepada Nuh," Kami juga memberi-nya petunjuk ﴾ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "sebelum itu (juga)." Dan hidayahnya terma-suk bentuk hidayah tertinggi yang bersifat khusus yang hanya di-dapatkan oleh beberapa orang di alam ini, dan mereka adalah ulul azmi yang berasal dari para Rasul yang mana salah satunya adalah dia. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِۦ ﴿ "Dan kepada sebagian dari keturunannya." Ada ke-mungkinan kata gantinya adalah kembali kepada Nuh, karena dialah yang disebut paling dekat, karena Allah menyebutkan Luth bersama yang lain, dan ia termasuk keturunan Nuh, bukan Ibrahim, karena dia adalah keponakannya. Ada kemungkinan juga kata gan-tinya kembali kepada Ibrahim karena konteks ayat ini tentang pu-jian dan sanjungan kepadanya, dan Luth walaupun dia bukan termasuk keturunannya, tetapi dia termasuk yang beriman berkat dirinya, maka keutamaan dan keunggulan Ibrahim al-Khalil lebih tinggi daripada sekedar sebagai anaknya. ﴾ دَاوُۥدَ وَسُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Yaitu Da-wud, Sulaiman" bin Dawud. ﴾ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ ﴿ "Dan Ayyub dan Yusuf" bin Ya'qub. ﴾ وَمُوسَىٰ وَهَٰرُونَۚ ﴿ "Dan Musa dan Harun." Keduanya adalah putra Imran. ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," sebagaimana Kami menjadi-kan anak keturunan Ibrahim sebagai orang-orang yang baik karena dia telah beribadah kepada Tuhannya dengan baik dan memberi manfaat kepada makhluk dengan baik. Begitu pula ﴾ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dengan menjadikan nama yang baik dan keturunan yang shalih untuk me-reka sesuai dengan kebaikan mereka.
(85) ﴾ وَزَكَرِيَّا وَيَحۡيَىٰ ﴿ "Dan Zakaria dan Yahya" bin Zakaria. ﴾ وَعِيسَىٰ ﴿ "Dan Isa" putra Maryam. ﴾ وَإِلۡيَاسَۖ كُلّٞ ﴿ "Dan Ilyas. Semuanya," mereka-mereka itu ﴾ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih," dalam akhlak, amal mereka, dan ilmu, bahkan mereka adalah pemimpin, imam, dan panutan orang-orang shalih.
(86) ﴾ وَإِسۡمَٰعِيلَ ﴿ "Dan Isma'il" bin Ibrahim, bapak bangsa yang merupakan bangsa paling mulia yakni bangsa Arab, bapak dari Sayyid anak cucu Adam, Muhammad. ﴾ وَيُونُسَ ﴿ "Dan Yunus" bin Matta. ﴾ وَلُوطٗاۚ ﴿ "Dan Luth" bin Harun, saudara Ibrahim. ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masingnya," dari para Nabi dan Rasul itu ﴾ فَضَّلۡنَا عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)." Karena derajat keutamaan ada empat, yaitu yang disebutkan oleh Allah dalam FirmanNya. ﴾ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, dari kalangan para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih." (An-Nisa`: 69). Mereka itu termasuk ke dalam derajat yang tinggi, bahkan mereka adalah rasul-rasul terbaik secara mutlak. Para Rasul yang kisahnya Allah ceritakan di dalam kitabNya adalah lebih utama dari-pada yang tidak diceritakan, tanpa ragu.
(87) ﴾ وَمِنۡ ءَابَآئِهِمۡ ﴿ "(Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka," yaitu bapak-bapak mereka yang disebut. ﴾ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡ وَإِخۡوَٰنِهِمۡۖ ﴿ "Dan keturunan mereka dan saudara-saudara mereka." Maksud-nya, Kami juga memberi petunjuk kepada bapak-bapak, keturunan, dan saudara-saudara mereka. ﴾ وَٱجۡتَبَيۡنَٰهُمۡ وَهَدَيۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus."
(88-89) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah," petunjuk yang disebutkan adalah ﴾ هُدَى ٱللَّهِ ﴿ "Petunjuk Allah," yang tiada petunjuk selain petunjukNya. ﴾ يَهۡدِي بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya." Maka carilah petunjuk dariNya, karena jika Dia tidak memberimu petunjuk, maka tidak ada pemberi petunjuk untukmu selainNya, dan di antara orang yang mana Allah berkehendak untuk memberi petunjuk adalah orang-orang yang telah disebutkan. ﴾ وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ ﴿ "Seandainya mereka mempersekutukan Allah," menu-rut kepastian dan perkiraan, ﴾ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." Karena syirik mele-nyapkan amal dan menyebabkan kekekalan di dalam neraka. Jika orang-orang mulia lagi terpilih itu melakukan kesyirikan, -dan ini mustahil- niscaya amal-amal mereka lenyap, lebih-lebih selain mereka.
(90) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," maksudnya yang disebutkan adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "orang-orang yang telah diberi petun-juk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." Maksudnya, berjalan-lah wahai Rasul yang mulia di belakang para Nabi yang terpilih itu, ikutilah agama mereka. Rasulullah telah taat, dia mengambil petunjuk dari petunjuk para Rasul sebelumnya. Dia mengumpul-kan semua kesempurnaan pada mereka, maka terkumpullah padanya keutamaan-keutamaan dan keistimewaan yang dengan-nya dia mengungguli seluruh alam. Dia adalah sayyid para Rasul, imam orang-orang yang bertakwa. Dari segi ini kalangan para sahabat berdalil dengannya bahwa Rasulullah adalah Rasul paling utama. ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang berpaling dari dakwahmu, ﴾ لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًاۖ ﴿ "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an)." Mak-sudnya, aku tidak meminta harta dan bayaran kepadamu sebagai upah atas tabligh dan dakwahku kepadamu, karena itu bisa menjadi sebab penolakanmu, balasanku hanyalah pada Allah.﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." Dengan al-Qur`an mereka ingat apa yang berguna bagi me-reka lalu mereka melakukannya, sedangkan yang membahayakan mereka, maka mereka menjauhinya, dengannya mereka ingat pengetahuan tentang Tuhan mereka dengan nama-nama dan sifat-sifatNya, dengannya mereka ingat akhlak-akhlak yang terpuji dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan akhlak-akhlak yang tercela dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan ia adalah peringatan bagi seluruh alam. Itu adalah nikmat terbesar bagi mereka, maka mereka harus menerima dan mensyukurinya.
Al-An'am 6:88
"Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepa-danya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi ba-lasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih. Dan Isma'il, Ilyasa', Yunus, dan Luth, masing-masing telah Kami lebih-kan derajatnya di atas umat (di masanya)? (Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengan-nya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan ke-pada mereka kitab, hikmah (pemahaman agama), dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekalipun tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petun-juk mereka. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an).' Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." (Al-An'am: 84-90).
(84) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَۚ ﴿ "Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya." Ya'qub adalah Putra Ishaq. Ya'qub di-gelari Israil, bapak beberapa suku bangsa yang mana Allah meng-utamakannya di alam dunia. ﴾ كُلًّا ﴿ "Kepada keduanya masing-masing," Kami telah memberinya petunjuk ke jalan yang lurus pada ilmu dan amalnya. ﴾ وَنُوحًا ﴿ "Dan kepada Nuh," Kami juga memberi-nya petunjuk ﴾ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "sebelum itu (juga)." Dan hidayahnya terma-suk bentuk hidayah tertinggi yang bersifat khusus yang hanya di-dapatkan oleh beberapa orang di alam ini, dan mereka adalah ulul azmi yang berasal dari para Rasul yang mana salah satunya adalah dia. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِۦ ﴿ "Dan kepada sebagian dari keturunannya." Ada ke-mungkinan kata gantinya adalah kembali kepada Nuh, karena dialah yang disebut paling dekat, karena Allah menyebutkan Luth bersama yang lain, dan ia termasuk keturunan Nuh, bukan Ibrahim, karena dia adalah keponakannya. Ada kemungkinan juga kata gan-tinya kembali kepada Ibrahim karena konteks ayat ini tentang pu-jian dan sanjungan kepadanya, dan Luth walaupun dia bukan termasuk keturunannya, tetapi dia termasuk yang beriman berkat dirinya, maka keutamaan dan keunggulan Ibrahim al-Khalil lebih tinggi daripada sekedar sebagai anaknya. ﴾ دَاوُۥدَ وَسُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Yaitu Da-wud, Sulaiman" bin Dawud. ﴾ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ ﴿ "Dan Ayyub dan Yusuf" bin Ya'qub. ﴾ وَمُوسَىٰ وَهَٰرُونَۚ ﴿ "Dan Musa dan Harun." Keduanya adalah putra Imran. ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," sebagaimana Kami menjadi-kan anak keturunan Ibrahim sebagai orang-orang yang baik karena dia telah beribadah kepada Tuhannya dengan baik dan memberi manfaat kepada makhluk dengan baik. Begitu pula ﴾ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dengan menjadikan nama yang baik dan keturunan yang shalih untuk me-reka sesuai dengan kebaikan mereka.
(85) ﴾ وَزَكَرِيَّا وَيَحۡيَىٰ ﴿ "Dan Zakaria dan Yahya" bin Zakaria. ﴾ وَعِيسَىٰ ﴿ "Dan Isa" putra Maryam. ﴾ وَإِلۡيَاسَۖ كُلّٞ ﴿ "Dan Ilyas. Semuanya," mereka-mereka itu ﴾ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih," dalam akhlak, amal mereka, dan ilmu, bahkan mereka adalah pemimpin, imam, dan panutan orang-orang shalih.
(86) ﴾ وَإِسۡمَٰعِيلَ ﴿ "Dan Isma'il" bin Ibrahim, bapak bangsa yang merupakan bangsa paling mulia yakni bangsa Arab, bapak dari Sayyid anak cucu Adam, Muhammad. ﴾ وَيُونُسَ ﴿ "Dan Yunus" bin Matta. ﴾ وَلُوطٗاۚ ﴿ "Dan Luth" bin Harun, saudara Ibrahim. ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masingnya," dari para Nabi dan Rasul itu ﴾ فَضَّلۡنَا عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)." Karena derajat keutamaan ada empat, yaitu yang disebutkan oleh Allah dalam FirmanNya. ﴾ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, dari kalangan para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih." (An-Nisa`: 69). Mereka itu termasuk ke dalam derajat yang tinggi, bahkan mereka adalah rasul-rasul terbaik secara mutlak. Para Rasul yang kisahnya Allah ceritakan di dalam kitabNya adalah lebih utama dari-pada yang tidak diceritakan, tanpa ragu.
(87) ﴾ وَمِنۡ ءَابَآئِهِمۡ ﴿ "(Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka," yaitu bapak-bapak mereka yang disebut. ﴾ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡ وَإِخۡوَٰنِهِمۡۖ ﴿ "Dan keturunan mereka dan saudara-saudara mereka." Maksud-nya, Kami juga memberi petunjuk kepada bapak-bapak, keturunan, dan saudara-saudara mereka. ﴾ وَٱجۡتَبَيۡنَٰهُمۡ وَهَدَيۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus."
(88-89) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah," petunjuk yang disebutkan adalah ﴾ هُدَى ٱللَّهِ ﴿ "Petunjuk Allah," yang tiada petunjuk selain petunjukNya. ﴾ يَهۡدِي بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya." Maka carilah petunjuk dariNya, karena jika Dia tidak memberimu petunjuk, maka tidak ada pemberi petunjuk untukmu selainNya, dan di antara orang yang mana Allah berkehendak untuk memberi petunjuk adalah orang-orang yang telah disebutkan. ﴾ وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ ﴿ "Seandainya mereka mempersekutukan Allah," menu-rut kepastian dan perkiraan, ﴾ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." Karena syirik mele-nyapkan amal dan menyebabkan kekekalan di dalam neraka. Jika orang-orang mulia lagi terpilih itu melakukan kesyirikan, -dan ini mustahil- niscaya amal-amal mereka lenyap, lebih-lebih selain mereka.
(90) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," maksudnya yang disebutkan adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "orang-orang yang telah diberi petun-juk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." Maksudnya, berjalan-lah wahai Rasul yang mulia di belakang para Nabi yang terpilih itu, ikutilah agama mereka. Rasulullah telah taat, dia mengambil petunjuk dari petunjuk para Rasul sebelumnya. Dia mengumpul-kan semua kesempurnaan pada mereka, maka terkumpullah padanya keutamaan-keutamaan dan keistimewaan yang dengan-nya dia mengungguli seluruh alam. Dia adalah sayyid para Rasul, imam orang-orang yang bertakwa. Dari segi ini kalangan para sahabat berdalil dengannya bahwa Rasulullah adalah Rasul paling utama. ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang berpaling dari dakwahmu, ﴾ لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًاۖ ﴿ "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an)." Mak-sudnya, aku tidak meminta harta dan bayaran kepadamu sebagai upah atas tabligh dan dakwahku kepadamu, karena itu bisa menjadi sebab penolakanmu, balasanku hanyalah pada Allah.﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." Dengan al-Qur`an mereka ingat apa yang berguna bagi me-reka lalu mereka melakukannya, sedangkan yang membahayakan mereka, maka mereka menjauhinya, dengannya mereka ingat pengetahuan tentang Tuhan mereka dengan nama-nama dan sifat-sifatNya, dengannya mereka ingat akhlak-akhlak yang terpuji dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan akhlak-akhlak yang tercela dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan ia adalah peringatan bagi seluruh alam. Itu adalah nikmat terbesar bagi mereka, maka mereka harus menerima dan mensyukurinya.
Al-An'am 6:89
"Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepa-danya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi ba-lasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih. Dan Isma'il, Ilyasa', Yunus, dan Luth, masing-masing telah Kami lebih-kan derajatnya di atas umat (di masanya)? (Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengan-nya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan ke-pada mereka kitab, hikmah (pemahaman agama), dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekalipun tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petun-juk mereka. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an).' Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." (Al-An'am: 84-90).
(84) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَۚ ﴿ "Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya." Ya'qub adalah Putra Ishaq. Ya'qub di-gelari Israil, bapak beberapa suku bangsa yang mana Allah meng-utamakannya di alam dunia. ﴾ كُلًّا ﴿ "Kepada keduanya masing-masing," Kami telah memberinya petunjuk ke jalan yang lurus pada ilmu dan amalnya. ﴾ وَنُوحًا ﴿ "Dan kepada Nuh," Kami juga memberi-nya petunjuk ﴾ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "sebelum itu (juga)." Dan hidayahnya terma-suk bentuk hidayah tertinggi yang bersifat khusus yang hanya di-dapatkan oleh beberapa orang di alam ini, dan mereka adalah ulul azmi yang berasal dari para Rasul yang mana salah satunya adalah dia. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِۦ ﴿ "Dan kepada sebagian dari keturunannya." Ada ke-mungkinan kata gantinya adalah kembali kepada Nuh, karena dialah yang disebut paling dekat, karena Allah menyebutkan Luth bersama yang lain, dan ia termasuk keturunan Nuh, bukan Ibrahim, karena dia adalah keponakannya. Ada kemungkinan juga kata gan-tinya kembali kepada Ibrahim karena konteks ayat ini tentang pu-jian dan sanjungan kepadanya, dan Luth walaupun dia bukan termasuk keturunannya, tetapi dia termasuk yang beriman berkat dirinya, maka keutamaan dan keunggulan Ibrahim al-Khalil lebih tinggi daripada sekedar sebagai anaknya. ﴾ دَاوُۥدَ وَسُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Yaitu Da-wud, Sulaiman" bin Dawud. ﴾ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ ﴿ "Dan Ayyub dan Yusuf" bin Ya'qub. ﴾ وَمُوسَىٰ وَهَٰرُونَۚ ﴿ "Dan Musa dan Harun." Keduanya adalah putra Imran. ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," sebagaimana Kami menjadi-kan anak keturunan Ibrahim sebagai orang-orang yang baik karena dia telah beribadah kepada Tuhannya dengan baik dan memberi manfaat kepada makhluk dengan baik. Begitu pula ﴾ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dengan menjadikan nama yang baik dan keturunan yang shalih untuk me-reka sesuai dengan kebaikan mereka.
(85) ﴾ وَزَكَرِيَّا وَيَحۡيَىٰ ﴿ "Dan Zakaria dan Yahya" bin Zakaria. ﴾ وَعِيسَىٰ ﴿ "Dan Isa" putra Maryam. ﴾ وَإِلۡيَاسَۖ كُلّٞ ﴿ "Dan Ilyas. Semuanya," mereka-mereka itu ﴾ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih," dalam akhlak, amal mereka, dan ilmu, bahkan mereka adalah pemimpin, imam, dan panutan orang-orang shalih.
(86) ﴾ وَإِسۡمَٰعِيلَ ﴿ "Dan Isma'il" bin Ibrahim, bapak bangsa yang merupakan bangsa paling mulia yakni bangsa Arab, bapak dari Sayyid anak cucu Adam, Muhammad. ﴾ وَيُونُسَ ﴿ "Dan Yunus" bin Matta. ﴾ وَلُوطٗاۚ ﴿ "Dan Luth" bin Harun, saudara Ibrahim. ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masingnya," dari para Nabi dan Rasul itu ﴾ فَضَّلۡنَا عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)." Karena derajat keutamaan ada empat, yaitu yang disebutkan oleh Allah dalam FirmanNya. ﴾ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, dari kalangan para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih." (An-Nisa`: 69). Mereka itu termasuk ke dalam derajat yang tinggi, bahkan mereka adalah rasul-rasul terbaik secara mutlak. Para Rasul yang kisahnya Allah ceritakan di dalam kitabNya adalah lebih utama dari-pada yang tidak diceritakan, tanpa ragu.
(87) ﴾ وَمِنۡ ءَابَآئِهِمۡ ﴿ "(Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka," yaitu bapak-bapak mereka yang disebut. ﴾ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡ وَإِخۡوَٰنِهِمۡۖ ﴿ "Dan keturunan mereka dan saudara-saudara mereka." Maksud-nya, Kami juga memberi petunjuk kepada bapak-bapak, keturunan, dan saudara-saudara mereka. ﴾ وَٱجۡتَبَيۡنَٰهُمۡ وَهَدَيۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus."
(88-89) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah," petunjuk yang disebutkan adalah ﴾ هُدَى ٱللَّهِ ﴿ "Petunjuk Allah," yang tiada petunjuk selain petunjukNya. ﴾ يَهۡدِي بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya." Maka carilah petunjuk dariNya, karena jika Dia tidak memberimu petunjuk, maka tidak ada pemberi petunjuk untukmu selainNya, dan di antara orang yang mana Allah berkehendak untuk memberi petunjuk adalah orang-orang yang telah disebutkan. ﴾ وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ ﴿ "Seandainya mereka mempersekutukan Allah," menu-rut kepastian dan perkiraan, ﴾ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." Karena syirik mele-nyapkan amal dan menyebabkan kekekalan di dalam neraka. Jika orang-orang mulia lagi terpilih itu melakukan kesyirikan, -dan ini mustahil- niscaya amal-amal mereka lenyap, lebih-lebih selain mereka.
(90) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," maksudnya yang disebutkan adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "orang-orang yang telah diberi petun-juk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." Maksudnya, berjalan-lah wahai Rasul yang mulia di belakang para Nabi yang terpilih itu, ikutilah agama mereka. Rasulullah telah taat, dia mengambil petunjuk dari petunjuk para Rasul sebelumnya. Dia mengumpul-kan semua kesempurnaan pada mereka, maka terkumpullah padanya keutamaan-keutamaan dan keistimewaan yang dengan-nya dia mengungguli seluruh alam. Dia adalah sayyid para Rasul, imam orang-orang yang bertakwa. Dari segi ini kalangan para sahabat berdalil dengannya bahwa Rasulullah adalah Rasul paling utama. ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang berpaling dari dakwahmu, ﴾ لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًاۖ ﴿ "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an)." Mak-sudnya, aku tidak meminta harta dan bayaran kepadamu sebagai upah atas tabligh dan dakwahku kepadamu, karena itu bisa menjadi sebab penolakanmu, balasanku hanyalah pada Allah.﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." Dengan al-Qur`an mereka ingat apa yang berguna bagi me-reka lalu mereka melakukannya, sedangkan yang membahayakan mereka, maka mereka menjauhinya, dengannya mereka ingat pengetahuan tentang Tuhan mereka dengan nama-nama dan sifat-sifatNya, dengannya mereka ingat akhlak-akhlak yang terpuji dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan akhlak-akhlak yang tercela dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan ia adalah peringatan bagi seluruh alam. Itu adalah nikmat terbesar bagi mereka, maka mereka harus menerima dan mensyukurinya.
Al-An'am 6:90
"Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepa-danya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi ba-lasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih. Dan Isma'il, Ilyasa', Yunus, dan Luth, masing-masing telah Kami lebih-kan derajatnya di atas umat (di masanya)? (Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengan-nya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan ke-pada mereka kitab, hikmah (pemahaman agama), dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekalipun tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petun-juk mereka. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an).' Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." (Al-An'am: 84-90).
(84) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَۚ ﴿ "Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya." Ya'qub adalah Putra Ishaq. Ya'qub di-gelari Israil, bapak beberapa suku bangsa yang mana Allah meng-utamakannya di alam dunia. ﴾ كُلًّا ﴿ "Kepada keduanya masing-masing," Kami telah memberinya petunjuk ke jalan yang lurus pada ilmu dan amalnya. ﴾ وَنُوحًا ﴿ "Dan kepada Nuh," Kami juga memberi-nya petunjuk ﴾ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "sebelum itu (juga)." Dan hidayahnya terma-suk bentuk hidayah tertinggi yang bersifat khusus yang hanya di-dapatkan oleh beberapa orang di alam ini, dan mereka adalah ulul azmi yang berasal dari para Rasul yang mana salah satunya adalah dia. ﴾ وَمِن ذُرِّيَّتِهِۦ ﴿ "Dan kepada sebagian dari keturunannya." Ada ke-mungkinan kata gantinya adalah kembali kepada Nuh, karena dialah yang disebut paling dekat, karena Allah menyebutkan Luth bersama yang lain, dan ia termasuk keturunan Nuh, bukan Ibrahim, karena dia adalah keponakannya. Ada kemungkinan juga kata gan-tinya kembali kepada Ibrahim karena konteks ayat ini tentang pu-jian dan sanjungan kepadanya, dan Luth walaupun dia bukan termasuk keturunannya, tetapi dia termasuk yang beriman berkat dirinya, maka keutamaan dan keunggulan Ibrahim al-Khalil lebih tinggi daripada sekedar sebagai anaknya. ﴾ دَاوُۥدَ وَسُلَيۡمَٰنَ ﴿ "Yaitu Da-wud, Sulaiman" bin Dawud. ﴾ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ ﴿ "Dan Ayyub dan Yusuf" bin Ya'qub. ﴾ وَمُوسَىٰ وَهَٰرُونَۚ ﴿ "Dan Musa dan Harun." Keduanya adalah putra Imran. ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," sebagaimana Kami menjadi-kan anak keturunan Ibrahim sebagai orang-orang yang baik karena dia telah beribadah kepada Tuhannya dengan baik dan memberi manfaat kepada makhluk dengan baik. Begitu pula ﴾ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," dengan menjadikan nama yang baik dan keturunan yang shalih untuk me-reka sesuai dengan kebaikan mereka.
(85) ﴾ وَزَكَرِيَّا وَيَحۡيَىٰ ﴿ "Dan Zakaria dan Yahya" bin Zakaria. ﴾ وَعِيسَىٰ ﴿ "Dan Isa" putra Maryam. ﴾ وَإِلۡيَاسَۖ كُلّٞ ﴿ "Dan Ilyas. Semuanya," mereka-mereka itu ﴾ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang shalih," dalam akhlak, amal mereka, dan ilmu, bahkan mereka adalah pemimpin, imam, dan panutan orang-orang shalih.
(86) ﴾ وَإِسۡمَٰعِيلَ ﴿ "Dan Isma'il" bin Ibrahim, bapak bangsa yang merupakan bangsa paling mulia yakni bangsa Arab, bapak dari Sayyid anak cucu Adam, Muhammad. ﴾ وَيُونُسَ ﴿ "Dan Yunus" bin Matta. ﴾ وَلُوطٗاۚ ﴿ "Dan Luth" bin Harun, saudara Ibrahim. ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masingnya," dari para Nabi dan Rasul itu ﴾ فَضَّلۡنَا عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)." Karena derajat keutamaan ada empat, yaitu yang disebutkan oleh Allah dalam FirmanNya. ﴾ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, dari kalangan para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih." (An-Nisa`: 69). Mereka itu termasuk ke dalam derajat yang tinggi, bahkan mereka adalah rasul-rasul terbaik secara mutlak. Para Rasul yang kisahnya Allah ceritakan di dalam kitabNya adalah lebih utama dari-pada yang tidak diceritakan, tanpa ragu.
(87) ﴾ وَمِنۡ ءَابَآئِهِمۡ ﴿ "(Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka," yaitu bapak-bapak mereka yang disebut. ﴾ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡ وَإِخۡوَٰنِهِمۡۖ ﴿ "Dan keturunan mereka dan saudara-saudara mereka." Maksud-nya, Kami juga memberi petunjuk kepada bapak-bapak, keturunan, dan saudara-saudara mereka. ﴾ وَٱجۡتَبَيۡنَٰهُمۡ وَهَدَيۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus."
(88-89) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah," petunjuk yang disebutkan adalah ﴾ هُدَى ٱللَّهِ ﴿ "Petunjuk Allah," yang tiada petunjuk selain petunjukNya. ﴾ يَهۡدِي بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ ﴿ "Yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya." Maka carilah petunjuk dariNya, karena jika Dia tidak memberimu petunjuk, maka tidak ada pemberi petunjuk untukmu selainNya, dan di antara orang yang mana Allah berkehendak untuk memberi petunjuk adalah orang-orang yang telah disebutkan. ﴾ وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ ﴿ "Seandainya mereka mempersekutukan Allah," menu-rut kepastian dan perkiraan, ﴾ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." Karena syirik mele-nyapkan amal dan menyebabkan kekekalan di dalam neraka. Jika orang-orang mulia lagi terpilih itu melakukan kesyirikan, -dan ini mustahil- niscaya amal-amal mereka lenyap, lebih-lebih selain mereka.
(90) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," maksudnya yang disebutkan adalah ﴾ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ ﴿ "orang-orang yang telah diberi petun-juk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." Maksudnya, berjalan-lah wahai Rasul yang mulia di belakang para Nabi yang terpilih itu, ikutilah agama mereka. Rasulullah telah taat, dia mengambil petunjuk dari petunjuk para Rasul sebelumnya. Dia mengumpul-kan semua kesempurnaan pada mereka, maka terkumpullah padanya keutamaan-keutamaan dan keistimewaan yang dengan-nya dia mengungguli seluruh alam. Dia adalah sayyid para Rasul, imam orang-orang yang bertakwa. Dari segi ini kalangan para sahabat berdalil dengannya bahwa Rasulullah adalah Rasul paling utama. ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada orang-orang yang berpaling dari dakwahmu, ﴾ لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًاۖ ﴿ "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur`an)." Mak-sudnya, aku tidak meminta harta dan bayaran kepadamu sebagai upah atas tabligh dan dakwahku kepadamu, karena itu bisa menjadi sebab penolakanmu, balasanku hanyalah pada Allah.﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat." Dengan al-Qur`an mereka ingat apa yang berguna bagi me-reka lalu mereka melakukannya, sedangkan yang membahayakan mereka, maka mereka menjauhinya, dengannya mereka ingat pengetahuan tentang Tuhan mereka dengan nama-nama dan sifat-sifatNya, dengannya mereka ingat akhlak-akhlak yang terpuji dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan akhlak-akhlak yang tercela dan sarana-sarana yang mengantarkan kepadanya, dan ia adalah peringatan bagi seluruh alam. Itu adalah nikmat terbesar bagi mereka, maka mereka harus menerima dan mensyukurinya.
Al-An'am 6:91
"Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.' Katakanlah, 'Siapakah yang menu-runkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengeta-hui(nya)?' Katakanlah, 'Allah-lah (yang menurunkannya),' kemu-dian (sesudah kamu menyampaikan al-Qur`an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya." (Al-An'am: 91).
(91) Ini adalah celaan terhadap orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik yang mengingkari kerasulan, dan mereka mengklaim bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia. Barangsiapa mengucapkan itu, maka mereka tidak meng-hormati, dan tidak mengagungkan Allah dengan yang semestinya, karena ini adalah celaan kepada hikmahNya, dan klaim buruk bahwa Dia membiarkan hamba-hambaNya begitu saja tanpa di-perintah dan dilarang, dan merupakan penafian terhadap nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah kepada hambaNya. Ia adalah risalah di mana tidak ada jalan bagi hamba untuk mendapatkan kebahagiaan, kemuliaan, dan keberuntungan kecuali dengannya. Adakah celaan kepada Allah yang lebih besar dari ini? ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka dengan (perkataan) yang memastikan rusaknya pendapat mereka, tetapkanlah dengan se-suatu yang diakui oleh mereka, ﴾ مَنۡ أَنزَلَ ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِي جَآءَ بِهِۦ مُوسَىٰ ﴿ "Siapakah yang menurunkan kitab yang dibawa oleh Musa," yaitu Taurat yang besar ﴾ نُورٗا ﴿ "sebagai cahaya" dalam kegelapan kebodohan, ﴾ وَهُدٗى ﴿ "dan petunjuk" dari kesesatan, petunjuk kepada jalan yang lurus sesuai ilmu dan amal. Ia adalah kitab yang terkenal dan tersebar, namanya memenuhi hati dan pendengaran sehingga mereka menulisnya di atas kertas dan mengubahnya sesuai dengan yang mereka inginkan, apa yang sesuai dengan keinginan mereka, maka mereka menampakkannya dan apa yang tidak, maka mereka me-nyembunyikannya, dan itu banyak. ﴾ وَعُلِّمۡتُم ﴿ "Padahal telah diajarkan kepadamu" ilmu-ilmu dengan kitab yang agung itu, ﴾ مَّا لَمۡ تَعۡلَمُوٓاْ أَنتُمۡ وَلَآ ءَابَآؤُكُمۡۖ ﴿ "apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?" Jika kamu tanyakan kepada mereka siapa yang menurunkan kitab dengan kriteria-kriteria ini, maka jawablah pertanyaan ini dan ﴾ قُلِ ٱللَّهُۖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah-lah'," yang menurunkannya. Pada saat itu kebenaran menjadi jelas dan terang seperti matahari, dan hujjah pun tegak atas mereka. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian (sesudah kamu menyam-paikan al-Qur`an kepada mereka)," jika kamu telah melazimkan mereka menerima, ﴾ ذَرۡهُمۡ فِي خَوۡضِهِمۡ يَلۡعَبُونَ ﴿ "biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya." Maksudnya, biarkanlah mereka tenggelam dalam kebatilan dan bermain-main dengan (hal-hal) yang tiada berguna sampai mereka bertemu hari yang dijanjikan.
Al-An'am 6:92
"Dan ini (al-Qur`an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi, membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) se-belumnya, dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Makkah) dan orang-orang yang di luar lingkungan-nya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (al-Qur`an), dan mereka selalu memeli-hara shalatnya." (Al-An'am: 92).
(92) ﴾ وَهَٰذَا ﴿ "Dan ini," al-Qur`an yang ﴾ أَنزَلۡنَٰهُ ﴿ "Kami turun-kan" kepadamu. ﴾ مُبَارَكٞ ﴿ "Yang diberkahi," maksudnya, Allah mem-berinya sifat keberkahan. Hal itu karena kebaikannya yang banyak dan luas. ﴾ مُّصَدِّقُ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "Membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya." Maksudnya, sesuai dengan kitab-kitab sebelumnya dan bersaksi atas kebenarannya. ﴾ وَلِتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ وَمَنۡ حَوۡلَهَاۚ ﴿ "Dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Makkah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya." Maksudnya, Kami menurunkan al-Qur`an juga agar kamu memberi peringatan kepada penduduk Ummul Qura -Makkah al-Mukarramah- dan daerah Arab sekeli-lingnya bahkan seluruh negeri. Peringatkan manusia dari azab Allah dan siksaNya terhadap umat-umat, peringatkan mereka dari penyebabnya. ﴾ وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦۖ ﴿ "Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (al-Qur`an)," karena jika rasa takut dalam hati telah memenuhi seluruh bagian-nya, maka ia akan tunduk kepada keridhaanNya. ﴾ وَهُمۡ عَلَىٰ صَلَاتِهِمۡ يُحَافِظُونَ ﴿ "Dan mereka selalu memelihara shalatnya." Mereka terus-menerus menetapinya, menjaga rukun-rukun, batasan-batasan, syarat-syarat, adab-adab, dan penyempurna-penyempurnanya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dari mereka.
Al-An'am 6:93
"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mem-buat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, 'Telah diwah-yukan kepada saya,' padahal tidak ada sesuatu pun diwahyukan kepadanya, dan orang yang berkata, 'Saya akan menurunkan se-perti apa yang diturunkan Allah.' Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), 'Keluarkan nyawamu.' Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. Dan sungguh kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakanmu pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu sesuatu yang dahulu kamu berdusta dengannya (di dunia)." (Al-An'am : 93-94).
(93) Allah menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang kezhaliman dan kejahatannya lebih besar daripada orang yang berdusta atas Nama Allah dengan menisbatkan ucapan atau hukum kepada Allah padahal Allah terbebas darinya. Orang ini adalah orang terzhalim, karena perbuatannya mengandung kedustaan, dia mengubah agama, furu' dan ushulnya, dan menisbatkannya kepada Allah, dan ini adalah kerusakan terbesar. Termasuk dalam hal ini adalah klaim kenabian, bahwa Allah mewahyukan kepada-nya, padahal dalam hal tersebut dia dusta. Di samping dia telah berdusta atas Nama Allah dan kelancangannya terhadap kebesaran dan kekuasaanNya, dia juga telah mewajibkan manusia untuk meng-ikutinya, dan berjihad melawan mereka di atas dasar itu (jika tidak mau mengikutinya) serta menghalalkan darah dan harta orang-orang yang menyelisihinya. Termasuk di dalam ayat ini adalah setiap orang yang mengaku sebagai nabi seperti Musailamah al-Kadzdzab, al-Aswad al-Ansi, al-Mukhtar, dan lain-lain yang mengikuti sifat ini. ﴾ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثۡلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُۗ ﴿ "Dan orang yang berkata, 'Saya akan menu-runkan seperti apa yang diturunkan Allah'." Maksudnya, siapa yang lebih zhalim daripada orang yang mengklaim bahwa dirinya mampu melakukan apa yang dilakukan oleh Allah, menandingi hukum-hukumNya, dan membuat syariat seperti Allah? Termasuk di da-lamnya semua orang yang mengklaim bahwa dia mampu menan-tang al-Qur`an, bahwa dia mampu menghadirkan yang sepertinya. Kezhaliman mana yang lebih besar daripada klaim orang miskin lagi lemah lagi kurang dari berbagai segi bahwa dirinya mampu menandingi Yang Mahakuat, Mahakaya, pemilik kesempurnaan yang mutlak dari berbagai segi, pada dzat, nama, dan sifatNya? Manakala Allah mencela orang-orang zhalim, maka Dia me-nyebutkan siksa yang Dia siapkan untuk mereka pada waktu mereka hadir di Hari Kiamat. Dia berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ ﴿ "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut." Maksudnya, berada dalam kesulitan dan sekarat yang menyakitkan dan pende-ritaannya yang berat, niscaya kamu akan melihat perkara yang menakutkan dan keadaan yang sulit untuk digambarkan. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Sedang para malaikat memukul dengan tangannya," kepada orang-orang zhalim yang kematiannya diiringi oleh pukulan dan siksaan. Para malaikat itu berkata kepada mereka pada waktu me-narik ruhnya dan (sulitnya ia) keluar dari badannya, ﴾ أَخۡرِجُوٓاْ أَنفُسَكُمُۖ ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ ﴿ "Keluarkan nyawamu." Di hari ini kamu dibalas de-ngan siksaan yang sangat menghinakan." Maksudnya, azab yang keras yang menghinakanmu. Dan balasan itu dari jenis perbuatan itu sendiri, karena azab ini ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "disebabkan kamu se-lalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar." Karena Kedustaanmu atasnya dan penolakanmu terhadap kebenaran yang dibawa oleh para Rasul. ﴾ وَكُنتُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهِۦ تَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "Dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya." Maksudnya, kamu tidak mau tunduk dan berserah diri kepada hukum-hukumNya. Ini mengandung dalil atas azab dan nikmat kubur. Pembica-raan dan azab yang diarahkan kepada mereka ini terjadi pada waktu hadirnya kematian, sebelum dan sesudahnya. Ini juga menunjuk-kan bahwa ruh adalah materi, ia keluar dan masuk, diajak bicara, tinggal di dalam tubuh dan meninggalkannya.
(94) Ini adalah keadaan mereka di alam Barzakh. Adapun pada Hari Kiamat, maka mereka menghadirinya dalam keadaan tidak membawa apa-apa, sendiri-sendiri tanpa keluarga, tanpa harta, tanpa anak, tanpa tentara dan penolong sebagaimana keada-annya saat pertama kali diciptakan oleh Allah, ia telanjang dari segala sesuatu, karena segala sesuatu hanya diraih dan didapatkan setelah itu dengan sebab-sebabnya yang mana faktor tersebut merupakan sebab-sebabnya, dan pada hari itu segala perkara yang berhubungan dengan hamba di dunia terputus kecuali amal baik dan amal buruk yang menjadi bahan rumah akhirat yang tumbuh darinya. Kebaikan, keburukan, kebahagiaan, kesedihan, azab dan nikmatnya adalah berdasarkan amal. Amallah yang bermanfaat atau bermudarat, menyedihkan atau membahagiakan, sedang selain itu berupa keluarga, anak, harta dan penolong, maka semua itu adalah faktor luar, dan semua itu tidak termasuk kriteria. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ جِئۡتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَتَرَكۡتُم مَّا خَوَّلۡنَٰكُمۡ ﴿ "Dan sungguh kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakanmu pada mulanya, dan kamu tinggalkan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu," yakni, yang Kami berikan sebagai nikmat kepadamu, ﴾ وَرَآءَ ظُهُورِكُمۡۖ ﴿ "di belakangmu," karena ia tidak berguna apa pun untukmu. ﴾ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمۡ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِيكُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْۚ ﴿ "Dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu." Orang-orang musyrik menyekutukan Allah, mereka menyem-bah para malaikat, para Nabi, orang-orang shalih, dan lain-lain ber-samaNya, padahal mereka semua adalah milik Allah, akan tetapi mereka memberikan bagian dari diri mereka kepada makhluk-makhluk ini dan melakukan kesyirikan dalam beribadah. Ini adalah klaim batil dan kezhaliman dari mereka, karena semuanya adalah hamba Allah, Allah adalah Maharaja yang berhak mereka sembah. Kesyirikan mereka dalam ibadah dengan memberikannya kepada para hamba adalah mengangkat mereka menduduki posisi pen-cipta dan pemilik. Maka pada Hari Kiamat mereka dicela dan dika-takan kepada mereka ucapan ini, ﴾ م َ ا نَرَىٰ مَعَكُمۡ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِيكُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْۚ لَقَد تَّقَطَّعَ بَيۡنَكُمۡ ﴿ "Dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu, sungguh terputuslah pertalian antara kamu." Maksudnya, terputuslah hubungan dan ikatan antara kamu dengan sekutu-sekutumu da-lam bentuk syafa'at dan lain-lain. Ia tidak bermanfaat dan tidak berguna apa pun. ﴾ وَضَلَّ عَنكُم مَّا كُنتُمۡ تَزۡعُمُونَ ﴿ "Dan telah lenyap darimu sesuatu yang dahulu kamu berdusta dengannya (di dunia)," berupa keun-tungan, keamanan, kebahagiaan, dan keselamatan yang dihiasi dan dijadikan indah oleh setan dalam hatimu, dan lisanmu meng-ucapkan itu. Kamu terkecoh dengan klaim batil yang tidak ada hakikatnya pada waktu terbuktinya lawan dari klaimmu, dan ter-nyata kamu adalah orang yang merugi pada diri, harta, dan jiwamu.
Al-An'am 6:94
"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mem-buat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, 'Telah diwah-yukan kepada saya,' padahal tidak ada sesuatu pun diwahyukan kepadanya, dan orang yang berkata, 'Saya akan menurunkan se-perti apa yang diturunkan Allah.' Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), 'Keluarkan nyawamu.' Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. Dan sungguh kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakanmu pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu sesuatu yang dahulu kamu berdusta dengannya (di dunia)." (Al-An'am : 93-94).
(93) Allah menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang kezhaliman dan kejahatannya lebih besar daripada orang yang berdusta atas Nama Allah dengan menisbatkan ucapan atau hukum kepada Allah padahal Allah terbebas darinya. Orang ini adalah orang terzhalim, karena perbuatannya mengandung kedustaan, dia mengubah agama, furu' dan ushulnya, dan menisbatkannya kepada Allah, dan ini adalah kerusakan terbesar. Termasuk dalam hal ini adalah klaim kenabian, bahwa Allah mewahyukan kepada-nya, padahal dalam hal tersebut dia dusta. Di samping dia telah berdusta atas Nama Allah dan kelancangannya terhadap kebesaran dan kekuasaanNya, dia juga telah mewajibkan manusia untuk meng-ikutinya, dan berjihad melawan mereka di atas dasar itu (jika tidak mau mengikutinya) serta menghalalkan darah dan harta orang-orang yang menyelisihinya. Termasuk di dalam ayat ini adalah setiap orang yang mengaku sebagai nabi seperti Musailamah al-Kadzdzab, al-Aswad al-Ansi, al-Mukhtar, dan lain-lain yang mengikuti sifat ini. ﴾ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثۡلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُۗ ﴿ "Dan orang yang berkata, 'Saya akan menu-runkan seperti apa yang diturunkan Allah'." Maksudnya, siapa yang lebih zhalim daripada orang yang mengklaim bahwa dirinya mampu melakukan apa yang dilakukan oleh Allah, menandingi hukum-hukumNya, dan membuat syariat seperti Allah? Termasuk di da-lamnya semua orang yang mengklaim bahwa dia mampu menan-tang al-Qur`an, bahwa dia mampu menghadirkan yang sepertinya. Kezhaliman mana yang lebih besar daripada klaim orang miskin lagi lemah lagi kurang dari berbagai segi bahwa dirinya mampu menandingi Yang Mahakuat, Mahakaya, pemilik kesempurnaan yang mutlak dari berbagai segi, pada dzat, nama, dan sifatNya? Manakala Allah mencela orang-orang zhalim, maka Dia me-nyebutkan siksa yang Dia siapkan untuk mereka pada waktu mereka hadir di Hari Kiamat. Dia berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ ﴿ "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut." Maksudnya, berada dalam kesulitan dan sekarat yang menyakitkan dan pende-ritaannya yang berat, niscaya kamu akan melihat perkara yang menakutkan dan keadaan yang sulit untuk digambarkan. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Sedang para malaikat memukul dengan tangannya," kepada orang-orang zhalim yang kematiannya diiringi oleh pukulan dan siksaan. Para malaikat itu berkata kepada mereka pada waktu me-narik ruhnya dan (sulitnya ia) keluar dari badannya, ﴾ أَخۡرِجُوٓاْ أَنفُسَكُمُۖ ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ ﴿ "Keluarkan nyawamu." Di hari ini kamu dibalas de-ngan siksaan yang sangat menghinakan." Maksudnya, azab yang keras yang menghinakanmu. Dan balasan itu dari jenis perbuatan itu sendiri, karena azab ini ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "disebabkan kamu se-lalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar." Karena Kedustaanmu atasnya dan penolakanmu terhadap kebenaran yang dibawa oleh para Rasul. ﴾ وَكُنتُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهِۦ تَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "Dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya." Maksudnya, kamu tidak mau tunduk dan berserah diri kepada hukum-hukumNya. Ini mengandung dalil atas azab dan nikmat kubur. Pembica-raan dan azab yang diarahkan kepada mereka ini terjadi pada waktu hadirnya kematian, sebelum dan sesudahnya. Ini juga menunjuk-kan bahwa ruh adalah materi, ia keluar dan masuk, diajak bicara, tinggal di dalam tubuh dan meninggalkannya.
(94) Ini adalah keadaan mereka di alam Barzakh. Adapun pada Hari Kiamat, maka mereka menghadirinya dalam keadaan tidak membawa apa-apa, sendiri-sendiri tanpa keluarga, tanpa harta, tanpa anak, tanpa tentara dan penolong sebagaimana keada-annya saat pertama kali diciptakan oleh Allah, ia telanjang dari segala sesuatu, karena segala sesuatu hanya diraih dan didapatkan setelah itu dengan sebab-sebabnya yang mana faktor tersebut merupakan sebab-sebabnya, dan pada hari itu segala perkara yang berhubungan dengan hamba di dunia terputus kecuali amal baik dan amal buruk yang menjadi bahan rumah akhirat yang tumbuh darinya. Kebaikan, keburukan, kebahagiaan, kesedihan, azab dan nikmatnya adalah berdasarkan amal. Amallah yang bermanfaat atau bermudarat, menyedihkan atau membahagiakan, sedang selain itu berupa keluarga, anak, harta dan penolong, maka semua itu adalah faktor luar, dan semua itu tidak termasuk kriteria. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ جِئۡتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَتَرَكۡتُم مَّا خَوَّلۡنَٰكُمۡ ﴿ "Dan sungguh kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakanmu pada mulanya, dan kamu tinggalkan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu," yakni, yang Kami berikan sebagai nikmat kepadamu, ﴾ وَرَآءَ ظُهُورِكُمۡۖ ﴿ "di belakangmu," karena ia tidak berguna apa pun untukmu. ﴾ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمۡ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِيكُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْۚ ﴿ "Dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu." Orang-orang musyrik menyekutukan Allah, mereka menyem-bah para malaikat, para Nabi, orang-orang shalih, dan lain-lain ber-samaNya, padahal mereka semua adalah milik Allah, akan tetapi mereka memberikan bagian dari diri mereka kepada makhluk-makhluk ini dan melakukan kesyirikan dalam beribadah. Ini adalah klaim batil dan kezhaliman dari mereka, karena semuanya adalah hamba Allah, Allah adalah Maharaja yang berhak mereka sembah. Kesyirikan mereka dalam ibadah dengan memberikannya kepada para hamba adalah mengangkat mereka menduduki posisi pen-cipta dan pemilik. Maka pada Hari Kiamat mereka dicela dan dika-takan kepada mereka ucapan ini, ﴾ م َ ا نَرَىٰ مَعَكُمۡ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ أَنَّهُمۡ فِيكُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْۚ لَقَد تَّقَطَّعَ بَيۡنَكُمۡ ﴿ "Dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu, sungguh terputuslah pertalian antara kamu." Maksudnya, terputuslah hubungan dan ikatan antara kamu dengan sekutu-sekutumu da-lam bentuk syafa'at dan lain-lain. Ia tidak bermanfaat dan tidak berguna apa pun. ﴾ وَضَلَّ عَنكُم مَّا كُنتُمۡ تَزۡعُمُونَ ﴿ "Dan telah lenyap darimu sesuatu yang dahulu kamu berdusta dengannya (di dunia)," berupa keun-tungan, keamanan, kebahagiaan, dan keselamatan yang dihiasi dan dijadikan indah oleh setan dalam hatimu, dan lisanmu meng-ucapkan itu. Kamu terkecoh dengan klaim batil yang tidak ada hakikatnya pada waktu terbuktinya lawan dari klaimmu, dan ter-nyata kamu adalah orang yang merugi pada diri, harta, dan jiwamu.
Al-An'am 6:95
"Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristi-rahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut. Sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari diri yang satu, maka (bagimu) ada tempat menetap dan tempat penyimpanan. Sungguh telah Kami jelaskan tanda-tanda kebe-saran Kami kepada orang-orang yang mengetahui." (Al-An'am: 95-98).
(95) Allah menyampaikan tentang kesempurnaanNya, ke-agungan kekuasaanNya, potensi kekuatanNya, keluasan rahmatNya, kemurahanNya yang universal dan perhatianNya yang mendalam kepada makhlukNya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ فَالِقُ ٱلۡحَبِّ ﴿ "Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan." Mencakup seluruh biji-bijian yang ditanam oleh manusia dan yang tidak mereka tanam seperti biji-bijian yang Allah tebarkan di tanah-tanah yang sepi lagi kosong. Biji-bijian itu tumbuh menjadi tanaman-tanaman yang bermacam-macam, serta berbeda-beda bentuk dan kegunaannya. Allah juga menumbuhkan biji-bijian dari pohon, berupa pohon kurma, buah-buahan, dan lain-lain, maka makhluk Allah seperti manusia, ternak, dan binatang memanfaatkannya. Mereka menikmati apa yang telah ditumbuhkan dari butir dan biji-bijian itu, mereka menjadikannya sebagai bahan makanan dan mengambil manfaat dengan berbagai macam pemanfaatan yang Allah jadikan padanya. Allah menunjukkan kepada mereka kebaik-an dan kemurahanNya yang mengagumkan akal dan menakjubkan orang-orang yang berakal cemerlang. Dia menunjukkan kepada mereka keunikan penciptaanNya dan kesempurnaan hikmahNya kepada mereka di mana dengannya mereka mengenalNya, mentau-hidkanNya, menyadari bahwa Dia-lah Yang Mahabenar dan bahwa penghambaan kepada selainNya adalah batil. ﴾ يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati," sebagaimana Dia mengeluarkan hewan dari air mani, anak ayam dari telur, dan tanaman serta tumbuh-tumbuhan dari biji-bijian. ﴾ وَمُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dan mengeluarkan yang mati," yang tidak tumbuh atau tidak bernyawa ﴾ مِنَ ٱلۡحَيِّۚ ﴿ "dari yang hidup," sebagaimana Dia menge-luarkan biji-bijian dari tanaman dan tumbuh-tumbuhan dan Dia mengeluarkan telur dari burung dan sebagainya. ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "(Yang memiliki sifat-sifat) demikian," maksudnya yang melakukan apa yang dilakukan dan bersendirian dalam penciptaan dan pengaturan se-gala sesuatu ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ ﴿ "Ialah Allah Tuhanmu." Pemilik hak uluhiyah dan ibadah atas seluruh makhluk. Dia-lah yang menumbuhkan seluruh alam dengan nikmatNya dan memberi makan mereka de-ngan kemurahanNya. ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu masih ber-paling?" Maksudnya, mengapa kamu berpaling dan menolak ibadah dari Dzat yang keadaanNya adalah demikian, dengan berpaling menuju ibadah kepada sesuatu yang tidak memiliki manfaat, mu-darat dan tidak memiliki hak mematikan, menghidupkan, dan membangkitkan dirinya?
(96) Manakala Allah menyebutkan bahan penciptaan makan-an pokok, maka Dia juga menyebutkan nikmatNya dengan menye-diakan tempat tinggal, dan Dia menciptakan cahaya dan kegelapan yang dibutuhkan oleh para hamba dan manfaat serta maslahat yang diakibatkannya. Dia berfirman, ﴾ فَالِقُ ٱلۡإِصۡبَاحِ ﴿ "Dia menyingsingkan pagi," sebagaimana Dia menumbuhkan biji-bijian, maka Dia juga membelah kegelapan malam yang menyelimuti permukaan bumi dengan cahaya pagi yang melenyapkannya sedikit demi sedikit sampai kegelapan malam sirna seluruhnya dan berganti dengan cahaya yang menyebar. Dengan pergantian masa tersebut, manusia beraktifitas dalam maslahat dan kehidupan mereka, dan dalam kemanfaatan agama dan dunia mereka. Ketika manusia membutuhkan ketenangan dan ketentram-an, serta istirahat yang tidak terjadi kecuali dengan adanya siang dan cahaya, maka ﴾ جَعَلَ ﴿ "Dia menjadikan" malam untuk istirahat. Manusia beristirahat di rumah-rumah dan tempat tidur mereka di malam hari, ternak ke kandangnya, burung ke sarangnya, maka masing-masing mengambil bagian istirahatnya. Kemudian Allah menggantikannya dengan cahaya, dan begitulah seterusnya sampai Hari Kiamat. ﴾ و َ ﴿ "Dan Allah" menjadikan ﴾ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ حُسۡبَانٗاۚ ﴿ "matahari dan bulan untuk perhitungan." Dengan keduanya diketahui waktu dan masa. Dengan itu waktu-waktu ibadah dan muamalat dipatok dan diketahui. Dengannya diketahui waktu-waktu yang telah ber-lalu, yang mana kalau bukan karena matahari, rembulan, dan per-gantian keduanya silih berganti, niscaya orang-orang tidaklah mengetahuinya, akan tetapi yang mengetahuinya hanyalah bebe-rapa orang, itu pun setelah upaya yang keras yang karenanya ada beberapa kemaslahatan yang tidak tercapai. ﴾ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui." Yang mana di antara keperkasaanNya adalah tunduknya makhluk yang besar ini, maka ia pun berjalan dengan tunduk dan patuh kepada perintahNya, yang mana ia tidak me-lampaui batasan yang diletakkan oleh Allah, tidak maju dan tidak mundur darinya. Dia Maha Mengetahui, di mana ilmuNya meliputi yang lahir, yang batin, yang pertama dan yang terakhir. Di antara dalil aqli atas keluasan ilmuNya adalah pengendalian makhluk-makhluk yang besar ini dengan tatanan dan aturan yang konkret yang mencengangkan akal dalam kebaikan, kesempurnaan, dan kesesuaiannya dengan kemaslahatan dan hikmah.
(97) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلنُّجُومَ لِتَهۡتَدُواْ بِهَا فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۗ ﴿ "Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut." Manakala jalan-jalan mem-bingungkanmu, peniti jalan tidak mengetahui jalan mana yang diambil, maka Allah menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk bagi manusia ke jalan yang harus mereka lalui kepada kepenting-an perniagaan dan perjalanan mereka. Di antaranya adalah bintang-bintang tertentu yang selalu terlihat dan tetap di tempat, ada pula yang selalu bergerak. Gerakannya diketahui oleh ahlinya, dan dengannya mereka mengetahui waktu dan arah. Ayat ini dan yang semisal dengannya menunjukkan anjuran mempelajari gerakan-gerakan dan orbit-orbitnya yang dinamakan dengan ilmu per-gerakan bintang karena fungsi bintang sebagai petunjuk tidak ter-capai kecuali dengan itu. ﴾ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Kami," maksudnya, Kami telah menjelaskan dan mene-rangkannya, dan Kami telah membedakan setiap jenis dan macam-nya dengan selainnya yang mana tanda-tanda kebesaran Allah menjadi nampak dan jelas, ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "kepada orang-orang yang mengetahui," maksudnya, bagi ahli ilmu dan ahli pengetahuan alam, karena merekalah yang dituju oleh khithabullah (titah Allah), dan jawabannya dituntut dari mereka. Hal ini berbeda dengan kaum jahil dan keras kepala yang berpaling dari tanda-tanda kebesaran Allah dan berpaling dari ilmu yang dibawa oleh para rasul, karena penjelasan tidak akan bermanfaat bagi mereka sama sekali, peme-rincian tidak akan menghilangkan kerancuan mereka, dan pene-rangan tidak akan membuka kesulitan mereka.
(98) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari diri yang satu." Yaitu Adam, Allah menciptakan bangsa manusia yang memenuhi bumi adalah berasal darinya dan mereka terus bertambah dan berkembang dengan perangai, bentuk pencip-taan, dan karakter yang berbeda-beda, sehingga sulit untuk dipa-parkan dan dijelaskan. Allah menjadikan untuk mereka tempat kembali, yakni akhir hidup mereka dan tujuan di mana mereka nanti akan digiring ke sana yaitu alam akhirat yang tidak ada lagi alam sesudahnya dan tidak ada waktu akhir sesudahnya, sedang-kan alam ini di mana makhluk diciptakan untuk tinggal di dalam-nya, maka mereka diciptakan di dunia agar berusaha memperoleh sarana-sarananya, di mana dia tumbuh dan berkembang dengannya. Allah menitipkan mereka di tulang punggung (sulbi) bapak mereka dan rahim ibu mereka kemudian ke alam dunia dan akhirnya alam Barzakh. Semua itu hanyalah sementara, tidak menetap dan kekal, akan tetapi dia berpindah darinya, sehingga sampai ke alam yang menjadi tempat tinggal permanen. Adapun dunia ini, maka ia ha-nyalah tempat berlalu dan simpanan. ﴾ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَفۡقَهُونَ ﴿ "Sung-guh telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui" tentang ayat-ayatNya dan memahami hujjah-hujjah dan keterangan-keteranganNya.
Al-An'am 6:96
"Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristi-rahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut. Sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari diri yang satu, maka (bagimu) ada tempat menetap dan tempat penyimpanan. Sungguh telah Kami jelaskan tanda-tanda kebe-saran Kami kepada orang-orang yang mengetahui." (Al-An'am: 95-98).
(95) Allah menyampaikan tentang kesempurnaanNya, ke-agungan kekuasaanNya, potensi kekuatanNya, keluasan rahmatNya, kemurahanNya yang universal dan perhatianNya yang mendalam kepada makhlukNya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ فَالِقُ ٱلۡحَبِّ ﴿ "Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan." Mencakup seluruh biji-bijian yang ditanam oleh manusia dan yang tidak mereka tanam seperti biji-bijian yang Allah tebarkan di tanah-tanah yang sepi lagi kosong. Biji-bijian itu tumbuh menjadi tanaman-tanaman yang bermacam-macam, serta berbeda-beda bentuk dan kegunaannya. Allah juga menumbuhkan biji-bijian dari pohon, berupa pohon kurma, buah-buahan, dan lain-lain, maka makhluk Allah seperti manusia, ternak, dan binatang memanfaatkannya. Mereka menikmati apa yang telah ditumbuhkan dari butir dan biji-bijian itu, mereka menjadikannya sebagai bahan makanan dan mengambil manfaat dengan berbagai macam pemanfaatan yang Allah jadikan padanya. Allah menunjukkan kepada mereka kebaik-an dan kemurahanNya yang mengagumkan akal dan menakjubkan orang-orang yang berakal cemerlang. Dia menunjukkan kepada mereka keunikan penciptaanNya dan kesempurnaan hikmahNya kepada mereka di mana dengannya mereka mengenalNya, mentau-hidkanNya, menyadari bahwa Dia-lah Yang Mahabenar dan bahwa penghambaan kepada selainNya adalah batil. ﴾ يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati," sebagaimana Dia mengeluarkan hewan dari air mani, anak ayam dari telur, dan tanaman serta tumbuh-tumbuhan dari biji-bijian. ﴾ وَمُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dan mengeluarkan yang mati," yang tidak tumbuh atau tidak bernyawa ﴾ مِنَ ٱلۡحَيِّۚ ﴿ "dari yang hidup," sebagaimana Dia menge-luarkan biji-bijian dari tanaman dan tumbuh-tumbuhan dan Dia mengeluarkan telur dari burung dan sebagainya. ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "(Yang memiliki sifat-sifat) demikian," maksudnya yang melakukan apa yang dilakukan dan bersendirian dalam penciptaan dan pengaturan se-gala sesuatu ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ ﴿ "Ialah Allah Tuhanmu." Pemilik hak uluhiyah dan ibadah atas seluruh makhluk. Dia-lah yang menumbuhkan seluruh alam dengan nikmatNya dan memberi makan mereka de-ngan kemurahanNya. ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu masih ber-paling?" Maksudnya, mengapa kamu berpaling dan menolak ibadah dari Dzat yang keadaanNya adalah demikian, dengan berpaling menuju ibadah kepada sesuatu yang tidak memiliki manfaat, mu-darat dan tidak memiliki hak mematikan, menghidupkan, dan membangkitkan dirinya?
(96) Manakala Allah menyebutkan bahan penciptaan makan-an pokok, maka Dia juga menyebutkan nikmatNya dengan menye-diakan tempat tinggal, dan Dia menciptakan cahaya dan kegelapan yang dibutuhkan oleh para hamba dan manfaat serta maslahat yang diakibatkannya. Dia berfirman, ﴾ فَالِقُ ٱلۡإِصۡبَاحِ ﴿ "Dia menyingsingkan pagi," sebagaimana Dia menumbuhkan biji-bijian, maka Dia juga membelah kegelapan malam yang menyelimuti permukaan bumi dengan cahaya pagi yang melenyapkannya sedikit demi sedikit sampai kegelapan malam sirna seluruhnya dan berganti dengan cahaya yang menyebar. Dengan pergantian masa tersebut, manusia beraktifitas dalam maslahat dan kehidupan mereka, dan dalam kemanfaatan agama dan dunia mereka. Ketika manusia membutuhkan ketenangan dan ketentram-an, serta istirahat yang tidak terjadi kecuali dengan adanya siang dan cahaya, maka ﴾ جَعَلَ ﴿ "Dia menjadikan" malam untuk istirahat. Manusia beristirahat di rumah-rumah dan tempat tidur mereka di malam hari, ternak ke kandangnya, burung ke sarangnya, maka masing-masing mengambil bagian istirahatnya. Kemudian Allah menggantikannya dengan cahaya, dan begitulah seterusnya sampai Hari Kiamat. ﴾ و َ ﴿ "Dan Allah" menjadikan ﴾ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ حُسۡبَانٗاۚ ﴿ "matahari dan bulan untuk perhitungan." Dengan keduanya diketahui waktu dan masa. Dengan itu waktu-waktu ibadah dan muamalat dipatok dan diketahui. Dengannya diketahui waktu-waktu yang telah ber-lalu, yang mana kalau bukan karena matahari, rembulan, dan per-gantian keduanya silih berganti, niscaya orang-orang tidaklah mengetahuinya, akan tetapi yang mengetahuinya hanyalah bebe-rapa orang, itu pun setelah upaya yang keras yang karenanya ada beberapa kemaslahatan yang tidak tercapai. ﴾ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui." Yang mana di antara keperkasaanNya adalah tunduknya makhluk yang besar ini, maka ia pun berjalan dengan tunduk dan patuh kepada perintahNya, yang mana ia tidak me-lampaui batasan yang diletakkan oleh Allah, tidak maju dan tidak mundur darinya. Dia Maha Mengetahui, di mana ilmuNya meliputi yang lahir, yang batin, yang pertama dan yang terakhir. Di antara dalil aqli atas keluasan ilmuNya adalah pengendalian makhluk-makhluk yang besar ini dengan tatanan dan aturan yang konkret yang mencengangkan akal dalam kebaikan, kesempurnaan, dan kesesuaiannya dengan kemaslahatan dan hikmah.
(97) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلنُّجُومَ لِتَهۡتَدُواْ بِهَا فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۗ ﴿ "Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut." Manakala jalan-jalan mem-bingungkanmu, peniti jalan tidak mengetahui jalan mana yang diambil, maka Allah menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk bagi manusia ke jalan yang harus mereka lalui kepada kepenting-an perniagaan dan perjalanan mereka. Di antaranya adalah bintang-bintang tertentu yang selalu terlihat dan tetap di tempat, ada pula yang selalu bergerak. Gerakannya diketahui oleh ahlinya, dan dengannya mereka mengetahui waktu dan arah. Ayat ini dan yang semisal dengannya menunjukkan anjuran mempelajari gerakan-gerakan dan orbit-orbitnya yang dinamakan dengan ilmu per-gerakan bintang karena fungsi bintang sebagai petunjuk tidak ter-capai kecuali dengan itu. ﴾ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Kami," maksudnya, Kami telah menjelaskan dan mene-rangkannya, dan Kami telah membedakan setiap jenis dan macam-nya dengan selainnya yang mana tanda-tanda kebesaran Allah menjadi nampak dan jelas, ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "kepada orang-orang yang mengetahui," maksudnya, bagi ahli ilmu dan ahli pengetahuan alam, karena merekalah yang dituju oleh khithabullah (titah Allah), dan jawabannya dituntut dari mereka. Hal ini berbeda dengan kaum jahil dan keras kepala yang berpaling dari tanda-tanda kebesaran Allah dan berpaling dari ilmu yang dibawa oleh para rasul, karena penjelasan tidak akan bermanfaat bagi mereka sama sekali, peme-rincian tidak akan menghilangkan kerancuan mereka, dan pene-rangan tidak akan membuka kesulitan mereka.
(98) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari diri yang satu." Yaitu Adam, Allah menciptakan bangsa manusia yang memenuhi bumi adalah berasal darinya dan mereka terus bertambah dan berkembang dengan perangai, bentuk pencip-taan, dan karakter yang berbeda-beda, sehingga sulit untuk dipa-parkan dan dijelaskan. Allah menjadikan untuk mereka tempat kembali, yakni akhir hidup mereka dan tujuan di mana mereka nanti akan digiring ke sana yaitu alam akhirat yang tidak ada lagi alam sesudahnya dan tidak ada waktu akhir sesudahnya, sedang-kan alam ini di mana makhluk diciptakan untuk tinggal di dalam-nya, maka mereka diciptakan di dunia agar berusaha memperoleh sarana-sarananya, di mana dia tumbuh dan berkembang dengannya. Allah menitipkan mereka di tulang punggung (sulbi) bapak mereka dan rahim ibu mereka kemudian ke alam dunia dan akhirnya alam Barzakh. Semua itu hanyalah sementara, tidak menetap dan kekal, akan tetapi dia berpindah darinya, sehingga sampai ke alam yang menjadi tempat tinggal permanen. Adapun dunia ini, maka ia ha-nyalah tempat berlalu dan simpanan. ﴾ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَفۡقَهُونَ ﴿ "Sung-guh telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui" tentang ayat-ayatNya dan memahami hujjah-hujjah dan keterangan-keteranganNya.
Al-An'am 6:97
"Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristi-rahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut. Sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari diri yang satu, maka (bagimu) ada tempat menetap dan tempat penyimpanan. Sungguh telah Kami jelaskan tanda-tanda kebe-saran Kami kepada orang-orang yang mengetahui." (Al-An'am: 95-98).
(95) Allah menyampaikan tentang kesempurnaanNya, ke-agungan kekuasaanNya, potensi kekuatanNya, keluasan rahmatNya, kemurahanNya yang universal dan perhatianNya yang mendalam kepada makhlukNya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ فَالِقُ ٱلۡحَبِّ ﴿ "Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan." Mencakup seluruh biji-bijian yang ditanam oleh manusia dan yang tidak mereka tanam seperti biji-bijian yang Allah tebarkan di tanah-tanah yang sepi lagi kosong. Biji-bijian itu tumbuh menjadi tanaman-tanaman yang bermacam-macam, serta berbeda-beda bentuk dan kegunaannya. Allah juga menumbuhkan biji-bijian dari pohon, berupa pohon kurma, buah-buahan, dan lain-lain, maka makhluk Allah seperti manusia, ternak, dan binatang memanfaatkannya. Mereka menikmati apa yang telah ditumbuhkan dari butir dan biji-bijian itu, mereka menjadikannya sebagai bahan makanan dan mengambil manfaat dengan berbagai macam pemanfaatan yang Allah jadikan padanya. Allah menunjukkan kepada mereka kebaik-an dan kemurahanNya yang mengagumkan akal dan menakjubkan orang-orang yang berakal cemerlang. Dia menunjukkan kepada mereka keunikan penciptaanNya dan kesempurnaan hikmahNya kepada mereka di mana dengannya mereka mengenalNya, mentau-hidkanNya, menyadari bahwa Dia-lah Yang Mahabenar dan bahwa penghambaan kepada selainNya adalah batil. ﴾ يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati," sebagaimana Dia mengeluarkan hewan dari air mani, anak ayam dari telur, dan tanaman serta tumbuh-tumbuhan dari biji-bijian. ﴾ وَمُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dan mengeluarkan yang mati," yang tidak tumbuh atau tidak bernyawa ﴾ مِنَ ٱلۡحَيِّۚ ﴿ "dari yang hidup," sebagaimana Dia menge-luarkan biji-bijian dari tanaman dan tumbuh-tumbuhan dan Dia mengeluarkan telur dari burung dan sebagainya. ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "(Yang memiliki sifat-sifat) demikian," maksudnya yang melakukan apa yang dilakukan dan bersendirian dalam penciptaan dan pengaturan se-gala sesuatu ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ ﴿ "Ialah Allah Tuhanmu." Pemilik hak uluhiyah dan ibadah atas seluruh makhluk. Dia-lah yang menumbuhkan seluruh alam dengan nikmatNya dan memberi makan mereka de-ngan kemurahanNya. ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu masih ber-paling?" Maksudnya, mengapa kamu berpaling dan menolak ibadah dari Dzat yang keadaanNya adalah demikian, dengan berpaling menuju ibadah kepada sesuatu yang tidak memiliki manfaat, mu-darat dan tidak memiliki hak mematikan, menghidupkan, dan membangkitkan dirinya?
(96) Manakala Allah menyebutkan bahan penciptaan makan-an pokok, maka Dia juga menyebutkan nikmatNya dengan menye-diakan tempat tinggal, dan Dia menciptakan cahaya dan kegelapan yang dibutuhkan oleh para hamba dan manfaat serta maslahat yang diakibatkannya. Dia berfirman, ﴾ فَالِقُ ٱلۡإِصۡبَاحِ ﴿ "Dia menyingsingkan pagi," sebagaimana Dia menumbuhkan biji-bijian, maka Dia juga membelah kegelapan malam yang menyelimuti permukaan bumi dengan cahaya pagi yang melenyapkannya sedikit demi sedikit sampai kegelapan malam sirna seluruhnya dan berganti dengan cahaya yang menyebar. Dengan pergantian masa tersebut, manusia beraktifitas dalam maslahat dan kehidupan mereka, dan dalam kemanfaatan agama dan dunia mereka. Ketika manusia membutuhkan ketenangan dan ketentram-an, serta istirahat yang tidak terjadi kecuali dengan adanya siang dan cahaya, maka ﴾ جَعَلَ ﴿ "Dia menjadikan" malam untuk istirahat. Manusia beristirahat di rumah-rumah dan tempat tidur mereka di malam hari, ternak ke kandangnya, burung ke sarangnya, maka masing-masing mengambil bagian istirahatnya. Kemudian Allah menggantikannya dengan cahaya, dan begitulah seterusnya sampai Hari Kiamat. ﴾ و َ ﴿ "Dan Allah" menjadikan ﴾ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ حُسۡبَانٗاۚ ﴿ "matahari dan bulan untuk perhitungan." Dengan keduanya diketahui waktu dan masa. Dengan itu waktu-waktu ibadah dan muamalat dipatok dan diketahui. Dengannya diketahui waktu-waktu yang telah ber-lalu, yang mana kalau bukan karena matahari, rembulan, dan per-gantian keduanya silih berganti, niscaya orang-orang tidaklah mengetahuinya, akan tetapi yang mengetahuinya hanyalah bebe-rapa orang, itu pun setelah upaya yang keras yang karenanya ada beberapa kemaslahatan yang tidak tercapai. ﴾ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui." Yang mana di antara keperkasaanNya adalah tunduknya makhluk yang besar ini, maka ia pun berjalan dengan tunduk dan patuh kepada perintahNya, yang mana ia tidak me-lampaui batasan yang diletakkan oleh Allah, tidak maju dan tidak mundur darinya. Dia Maha Mengetahui, di mana ilmuNya meliputi yang lahir, yang batin, yang pertama dan yang terakhir. Di antara dalil aqli atas keluasan ilmuNya adalah pengendalian makhluk-makhluk yang besar ini dengan tatanan dan aturan yang konkret yang mencengangkan akal dalam kebaikan, kesempurnaan, dan kesesuaiannya dengan kemaslahatan dan hikmah.
(97) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلنُّجُومَ لِتَهۡتَدُواْ بِهَا فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۗ ﴿ "Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut." Manakala jalan-jalan mem-bingungkanmu, peniti jalan tidak mengetahui jalan mana yang diambil, maka Allah menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk bagi manusia ke jalan yang harus mereka lalui kepada kepenting-an perniagaan dan perjalanan mereka. Di antaranya adalah bintang-bintang tertentu yang selalu terlihat dan tetap di tempat, ada pula yang selalu bergerak. Gerakannya diketahui oleh ahlinya, dan dengannya mereka mengetahui waktu dan arah. Ayat ini dan yang semisal dengannya menunjukkan anjuran mempelajari gerakan-gerakan dan orbit-orbitnya yang dinamakan dengan ilmu per-gerakan bintang karena fungsi bintang sebagai petunjuk tidak ter-capai kecuali dengan itu. ﴾ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Kami," maksudnya, Kami telah menjelaskan dan mene-rangkannya, dan Kami telah membedakan setiap jenis dan macam-nya dengan selainnya yang mana tanda-tanda kebesaran Allah menjadi nampak dan jelas, ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "kepada orang-orang yang mengetahui," maksudnya, bagi ahli ilmu dan ahli pengetahuan alam, karena merekalah yang dituju oleh khithabullah (titah Allah), dan jawabannya dituntut dari mereka. Hal ini berbeda dengan kaum jahil dan keras kepala yang berpaling dari tanda-tanda kebesaran Allah dan berpaling dari ilmu yang dibawa oleh para rasul, karena penjelasan tidak akan bermanfaat bagi mereka sama sekali, peme-rincian tidak akan menghilangkan kerancuan mereka, dan pene-rangan tidak akan membuka kesulitan mereka.
(98) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari diri yang satu." Yaitu Adam, Allah menciptakan bangsa manusia yang memenuhi bumi adalah berasal darinya dan mereka terus bertambah dan berkembang dengan perangai, bentuk pencip-taan, dan karakter yang berbeda-beda, sehingga sulit untuk dipa-parkan dan dijelaskan. Allah menjadikan untuk mereka tempat kembali, yakni akhir hidup mereka dan tujuan di mana mereka nanti akan digiring ke sana yaitu alam akhirat yang tidak ada lagi alam sesudahnya dan tidak ada waktu akhir sesudahnya, sedang-kan alam ini di mana makhluk diciptakan untuk tinggal di dalam-nya, maka mereka diciptakan di dunia agar berusaha memperoleh sarana-sarananya, di mana dia tumbuh dan berkembang dengannya. Allah menitipkan mereka di tulang punggung (sulbi) bapak mereka dan rahim ibu mereka kemudian ke alam dunia dan akhirnya alam Barzakh. Semua itu hanyalah sementara, tidak menetap dan kekal, akan tetapi dia berpindah darinya, sehingga sampai ke alam yang menjadi tempat tinggal permanen. Adapun dunia ini, maka ia ha-nyalah tempat berlalu dan simpanan. ﴾ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَفۡقَهُونَ ﴿ "Sung-guh telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui" tentang ayat-ayatNya dan memahami hujjah-hujjah dan keterangan-keteranganNya.
Al-An'am 6:98
"Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristi-rahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut. Sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari diri yang satu, maka (bagimu) ada tempat menetap dan tempat penyimpanan. Sungguh telah Kami jelaskan tanda-tanda kebe-saran Kami kepada orang-orang yang mengetahui." (Al-An'am: 95-98).
(95) Allah menyampaikan tentang kesempurnaanNya, ke-agungan kekuasaanNya, potensi kekuatanNya, keluasan rahmatNya, kemurahanNya yang universal dan perhatianNya yang mendalam kepada makhlukNya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ فَالِقُ ٱلۡحَبِّ ﴿ "Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan." Mencakup seluruh biji-bijian yang ditanam oleh manusia dan yang tidak mereka tanam seperti biji-bijian yang Allah tebarkan di tanah-tanah yang sepi lagi kosong. Biji-bijian itu tumbuh menjadi tanaman-tanaman yang bermacam-macam, serta berbeda-beda bentuk dan kegunaannya. Allah juga menumbuhkan biji-bijian dari pohon, berupa pohon kurma, buah-buahan, dan lain-lain, maka makhluk Allah seperti manusia, ternak, dan binatang memanfaatkannya. Mereka menikmati apa yang telah ditumbuhkan dari butir dan biji-bijian itu, mereka menjadikannya sebagai bahan makanan dan mengambil manfaat dengan berbagai macam pemanfaatan yang Allah jadikan padanya. Allah menunjukkan kepada mereka kebaik-an dan kemurahanNya yang mengagumkan akal dan menakjubkan orang-orang yang berakal cemerlang. Dia menunjukkan kepada mereka keunikan penciptaanNya dan kesempurnaan hikmahNya kepada mereka di mana dengannya mereka mengenalNya, mentau-hidkanNya, menyadari bahwa Dia-lah Yang Mahabenar dan bahwa penghambaan kepada selainNya adalah batil. ﴾ يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati," sebagaimana Dia mengeluarkan hewan dari air mani, anak ayam dari telur, dan tanaman serta tumbuh-tumbuhan dari biji-bijian. ﴾ وَمُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dan mengeluarkan yang mati," yang tidak tumbuh atau tidak bernyawa ﴾ مِنَ ٱلۡحَيِّۚ ﴿ "dari yang hidup," sebagaimana Dia menge-luarkan biji-bijian dari tanaman dan tumbuh-tumbuhan dan Dia mengeluarkan telur dari burung dan sebagainya. ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "(Yang memiliki sifat-sifat) demikian," maksudnya yang melakukan apa yang dilakukan dan bersendirian dalam penciptaan dan pengaturan se-gala sesuatu ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ ﴿ "Ialah Allah Tuhanmu." Pemilik hak uluhiyah dan ibadah atas seluruh makhluk. Dia-lah yang menumbuhkan seluruh alam dengan nikmatNya dan memberi makan mereka de-ngan kemurahanNya. ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu masih ber-paling?" Maksudnya, mengapa kamu berpaling dan menolak ibadah dari Dzat yang keadaanNya adalah demikian, dengan berpaling menuju ibadah kepada sesuatu yang tidak memiliki manfaat, mu-darat dan tidak memiliki hak mematikan, menghidupkan, dan membangkitkan dirinya?
(96) Manakala Allah menyebutkan bahan penciptaan makan-an pokok, maka Dia juga menyebutkan nikmatNya dengan menye-diakan tempat tinggal, dan Dia menciptakan cahaya dan kegelapan yang dibutuhkan oleh para hamba dan manfaat serta maslahat yang diakibatkannya. Dia berfirman, ﴾ فَالِقُ ٱلۡإِصۡبَاحِ ﴿ "Dia menyingsingkan pagi," sebagaimana Dia menumbuhkan biji-bijian, maka Dia juga membelah kegelapan malam yang menyelimuti permukaan bumi dengan cahaya pagi yang melenyapkannya sedikit demi sedikit sampai kegelapan malam sirna seluruhnya dan berganti dengan cahaya yang menyebar. Dengan pergantian masa tersebut, manusia beraktifitas dalam maslahat dan kehidupan mereka, dan dalam kemanfaatan agama dan dunia mereka. Ketika manusia membutuhkan ketenangan dan ketentram-an, serta istirahat yang tidak terjadi kecuali dengan adanya siang dan cahaya, maka ﴾ جَعَلَ ﴿ "Dia menjadikan" malam untuk istirahat. Manusia beristirahat di rumah-rumah dan tempat tidur mereka di malam hari, ternak ke kandangnya, burung ke sarangnya, maka masing-masing mengambil bagian istirahatnya. Kemudian Allah menggantikannya dengan cahaya, dan begitulah seterusnya sampai Hari Kiamat. ﴾ و َ ﴿ "Dan Allah" menjadikan ﴾ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ حُسۡبَانٗاۚ ﴿ "matahari dan bulan untuk perhitungan." Dengan keduanya diketahui waktu dan masa. Dengan itu waktu-waktu ibadah dan muamalat dipatok dan diketahui. Dengannya diketahui waktu-waktu yang telah ber-lalu, yang mana kalau bukan karena matahari, rembulan, dan per-gantian keduanya silih berganti, niscaya orang-orang tidaklah mengetahuinya, akan tetapi yang mengetahuinya hanyalah bebe-rapa orang, itu pun setelah upaya yang keras yang karenanya ada beberapa kemaslahatan yang tidak tercapai. ﴾ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui." Yang mana di antara keperkasaanNya adalah tunduknya makhluk yang besar ini, maka ia pun berjalan dengan tunduk dan patuh kepada perintahNya, yang mana ia tidak me-lampaui batasan yang diletakkan oleh Allah, tidak maju dan tidak mundur darinya. Dia Maha Mengetahui, di mana ilmuNya meliputi yang lahir, yang batin, yang pertama dan yang terakhir. Di antara dalil aqli atas keluasan ilmuNya adalah pengendalian makhluk-makhluk yang besar ini dengan tatanan dan aturan yang konkret yang mencengangkan akal dalam kebaikan, kesempurnaan, dan kesesuaiannya dengan kemaslahatan dan hikmah.
(97) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلنُّجُومَ لِتَهۡتَدُواْ بِهَا فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۗ ﴿ "Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan laut." Manakala jalan-jalan mem-bingungkanmu, peniti jalan tidak mengetahui jalan mana yang diambil, maka Allah menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk bagi manusia ke jalan yang harus mereka lalui kepada kepenting-an perniagaan dan perjalanan mereka. Di antaranya adalah bintang-bintang tertentu yang selalu terlihat dan tetap di tempat, ada pula yang selalu bergerak. Gerakannya diketahui oleh ahlinya, dan dengannya mereka mengetahui waktu dan arah. Ayat ini dan yang semisal dengannya menunjukkan anjuran mempelajari gerakan-gerakan dan orbit-orbitnya yang dinamakan dengan ilmu per-gerakan bintang karena fungsi bintang sebagai petunjuk tidak ter-capai kecuali dengan itu. ﴾ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Kami," maksudnya, Kami telah menjelaskan dan mene-rangkannya, dan Kami telah membedakan setiap jenis dan macam-nya dengan selainnya yang mana tanda-tanda kebesaran Allah menjadi nampak dan jelas, ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "kepada orang-orang yang mengetahui," maksudnya, bagi ahli ilmu dan ahli pengetahuan alam, karena merekalah yang dituju oleh khithabullah (titah Allah), dan jawabannya dituntut dari mereka. Hal ini berbeda dengan kaum jahil dan keras kepala yang berpaling dari tanda-tanda kebesaran Allah dan berpaling dari ilmu yang dibawa oleh para rasul, karena penjelasan tidak akan bermanfaat bagi mereka sama sekali, peme-rincian tidak akan menghilangkan kerancuan mereka, dan pene-rangan tidak akan membuka kesulitan mereka.
(98) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari diri yang satu." Yaitu Adam, Allah menciptakan bangsa manusia yang memenuhi bumi adalah berasal darinya dan mereka terus bertambah dan berkembang dengan perangai, bentuk pencip-taan, dan karakter yang berbeda-beda, sehingga sulit untuk dipa-parkan dan dijelaskan. Allah menjadikan untuk mereka tempat kembali, yakni akhir hidup mereka dan tujuan di mana mereka nanti akan digiring ke sana yaitu alam akhirat yang tidak ada lagi alam sesudahnya dan tidak ada waktu akhir sesudahnya, sedang-kan alam ini di mana makhluk diciptakan untuk tinggal di dalam-nya, maka mereka diciptakan di dunia agar berusaha memperoleh sarana-sarananya, di mana dia tumbuh dan berkembang dengannya. Allah menitipkan mereka di tulang punggung (sulbi) bapak mereka dan rahim ibu mereka kemudian ke alam dunia dan akhirnya alam Barzakh. Semua itu hanyalah sementara, tidak menetap dan kekal, akan tetapi dia berpindah darinya, sehingga sampai ke alam yang menjadi tempat tinggal permanen. Adapun dunia ini, maka ia ha-nyalah tempat berlalu dan simpanan. ﴾ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَفۡقَهُونَ ﴿ "Sung-guh telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui" tentang ayat-ayatNya dan memahami hujjah-hujjah dan keterangan-keteranganNya.
Al-An'am 6:99
"Dan Dia-lah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak, dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Per-hatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pula) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-An'am: 99).
(99) Ini adalah salah satu nikmatNya yang besar yang di-perlukan oleh manusia dan lain-lainnya yaitu bahwa Allah menu-runkan air dari langit yang datang silih berganti di saat orang-orang memerlukannya. Lalu Allah menumbuhkan segala sesuatu yang dimakan oleh manusia dan binatang, maka makhluk menikmati karunia Allah, hidup lapang dengan rizkiNya, dan bersuka cita dengan kebaikanNya. Kekeringan, kekurangan dan paceklik lenyap dari mereka. Hati berbunga-bunga, wajah berseri-seri, para hamba meraih rahmat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berupa sesuatu yang dengannya mereka merasakan nikmat dan suka cita. Hal itu mengharuskan mereka mengeluarkan upaya untuk mensyukuri Dzat yang telah melimpahkan nikmat-nikmat, dengan menyembahNya, kembali kepadaNya, dan mencintaiNya. Manakala Dia menyebutkan bermacam pohon dan tumbuhan yang ditumbuhkan oleh air, Dia menyebutkan tanaman pangan dan pohon kurma karena manfaatnya yang banyak, dan dia sebagai makanan pokok bagi manusia. Dia berfirman, ﴾ فَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهُ خَضِرٗا نُّخۡرِجُ مِنۡهُ ﴿ "Maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang meng-hijau, Kami keluarkan darinya," maksudnya, dari tanaman yang hijau itu, ﴾ حَبّٗا مُّتَرَاكِبٗا ﴿ "butir yang banyak," sebagian di atas sebagian yang lain, berupa gandum, jewawut, jagung, padi, dan tanaman-tanaman pangan lainnya. Dan dari penjelasan ini menunjukkan bahwa butir-nya bermacam-macam. Semuanya berasal dari bahan yang satu yang tidak tercampur aduk. Bahkan ia berupa butir-butir yang terpisah-pisah dari asal yang satu, dan ia juga menunjukkan ke-pada banyaknya dan keluasan hasil dan produknya, agar asal bijinya tetap ada sementara sisanya dalam jumlah yang besar dimakan dan disimpan. ﴾ وَمِنَ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan dari pohon kurma," Allah mengeluarkan ﴾ مِن طَلۡعِهَا ﴿ "dari mayangnya," yaitu janjang dan manggar sebelum tangkai-tangkai yang menjulai itu muncul, maka dari janjang tersebut ﴾ قِنۡوَانٞ دَانِيَةٞ ﴿ "terurai tangkai-tangkai yang menjulai," Maksudnya, tangkai yang dekat, mudah diambil, merunduk kepada orang yang ingin memetiknya tanpa kesulitan. Walaupun ia panjang, namun pada-nya terdapat pelepah dan tatakan yang memudahkan untuk me-manjatnya. ﴾ و َ ﴿ "Dan," dengan air itu Allah m e n g e l u a r k a n ﴾ وَجَنَّٰتٖ مِّنۡ أَعۡنَابٖ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلرُّمَّانَ ﴿ "kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima." Ini termasuk pohon yang banyak dan besar manfaat dan kegunaannya. Oleh karena itu, Allah menyebutkan secara khusus setelah menyebutkan pohon dan tumbuhan secara umum. FirmanNya, ﴾ مُشۡتَبِهٗا وَغَيۡرَ مُتَشَٰبِهٍۗ ﴿ "Yang serupa dan yang tidak seru-pa." Ada kemungkinan ia kembali kepada delima dan zaitun, yakni serupa pohon dan daunnya namun tidak serupa buahnya. Ada ke-mungkinan lain, ia kembali kepada semua pohon dan buah-buahan. Sebagian darinya mirip dengan sebagian yang lain dan ciri-cirinya tidak jauh berbeda, dan sebagian yang lain benar-benar berbeda. Dari semuanya itu manusia mengambil manfaat, menikmati buah-buahan dan menjadikannya sebagai bahan makanan dan mereka juga bisa mengambil pelajaran. Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar mengambil pela-jaran darinya. Dia berfirman, ﴾ ٱنظُرُوٓاْ ﴿ "Perhatikanlah," dengan pere-nungan demi mendapatkan pelajaran ﴾ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ ﴿ "buahnya," buah seluruh pohon, khususnya kurma, ﴾ إِذَآ أَثۡمَرَ وَيَنۡعِهِۦٓۚ ﴿ "di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pula) kematangannya." Maksudnya, perhati-kanlah waktu ia muncul dan waktu ia matang dan ranum. Karena hal itu mengandung pelajaran-pelajaran dan tanda-tanda kebesaran Allah sebagai bukti rahmatNya, keluasan karunia dan kemurahan-Nya, serta kesempurnaan kodrat, dan perhatianNya kepada hamba-hambaNya. Akan tetapi tidak semua orang mau memperhatikan dan mengambil pelajaran, dan tidak semua yang merenungkan pasti mengetahui rahasia yang dimaksud. Oleh karena itu, Allah membatasi pengambilan manfaat dari tanda-tanda kebesaran Allah pada orang-orang Mukmin. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمۡ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Karena orang-orang Mukmin terdorong oleh iman mereka untuk beramal sesuai dengan tuntutan dan kelazimannya yang mana salah satunya adalah tafakkur terhadap ayat-ayat Allah, meng-ambil hasil dari maksud dan targetnya dari segi akal, fitrah, dan syariat.
Al-An'am 6:100
"Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka bohong (dengan mengatakan), 'Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,' tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah, Tuhan kamu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Pen-cipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Peme-lihara segala sesuatu, Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu)." (Al-An'am: 100-104).
(100) Allah memberitakan -walaupun Dia telah memberi-kan kebaikan kepada hamba-hambaNya, menjelaskan kepada mereka dengan ayat-ayat yang jelas dan hujjah yang nyata- bahwa orang-orang musyrik dari kalangan Quraisy dan lain-lain mengangkat tandingan untukNya. Mereka berdoa dan beribadah kepada makh-luk dari kalangan jin dan malaikat, di mana mereka adalah makhluk Allah yang tidak sedikit pun memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Mereka menjadikannya sebagai tandingan bagi pemilik hak penciptaan dan pemberi perintah, pemberi seluruh nikmat yang bermacam-macam, dan penolak seluruh kesulitan. Begitulah orang-orang musyrik membuat kebohongan dan kedustaan dari diri mereka bahwa Allah mempunyai anak-anak laki-laki dan perempuan tanpa dasar ilmu sama sekali. Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang berkata atas Nama Allah tanpa ilmu, dan berdusta atasNya dengan menisbatkan kekurang-an paling buruk di mana Allah wajib disucikan darinya? Oleh karena itu, Allah menyucikan DiriNya dari kedustaan orang-orang musyrik. Dia berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dan Maha-tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan." Karena Dia adalah Allah, Dzat yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan yang disucikan dari segala aib, cacat, dan kekurangan.
(101) ﴾ بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dia Pencipta langit dan bumi." Mak-sudnya, pencipta keduanya dengan sangat baik dan kokoh dengan penciptaan terbaik, pengaturan dan kemegahan tanpa contoh sebelumnya, di mana akal orang-orang yang berakal tidak dapat mengusulkan sepertinya. Dan Dia tidak mempunyai rekan dalam menciptakan keduanya. ﴾ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٞۖ ﴿ "Bagaimana Dia mempunyai anak pada-hal Dia tidak mempunyai istri." Maksudnya, bagaimana Allah mem-punyai anak sementara Dia adalah Tuhan, pemilik dan tempat bergantung (bagi seluruh makhluk) dan yang tidak beristri? Dia Mahakaya dari makhluk-makhlukNya, sementara makhluk-makhlukNya memerlukan dan membutuhkanNya, dan anak harus berasal dari jenis orang tuanya, sedangkan Allah adalah pencipta segala sesuatu dan tiada satu pun makhluk yang menyerupai Allah dari segi mana pun. Manakala Dia menyebutkan penciptaanNya yang menyeluruh terhadap seluruh makhluk, Dia menyebutkan keluasan ilmuNya terhadap makhlukNya. Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Dia menge-tahui segala sesuatu." Dalam penyebutan ilmu setelah penciptaan mengandung isyarat kepada dalil aqli tentang ketetapan ilmuNya, yaitu makhluk-makhluk ini dengan keserasiannya yang sempurna dan penciptaan yang mengagumkan. Hal itu benar-benar mengan-dung bukti atas keluasan ilmu sang pencipta dan kesempurnaan hikmahNya sebagaimana Allah berfirman, ﴾ أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ 14 ﴿ "Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui." (Al-Mulk: 14). Dan sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ 81 ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui." (Yasin: 81).
(102) Dzat yang menciptakan apa yang diciptakan dan menentukan apa yang ditentukan, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ ﴿ "Dia-lah Allah, Tuhan-mu," maksudnya, Dzat yang dipertuhankan dan disembah, yang berhak mendapatkan ketundukan dan kecintaan sempurna. Tuhan yang mengurusi seluruh makhluk dengan melimpahkan nikmat-nikmatNya dan menolak seluruh kesulitan dari mereka. Dia adalah Pencipta segala sesuatu yang tidak ada tuhan yang berhak disem-bah kecuali Dia. ﴾ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia." Maksudnya, jika telah terbukti dengan meyakinkan bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, maka berikan kepadaNya seluruh bentuk ibadah, ikhlaskanlah ia untukNya, dan maksudkanlah untuk wajah-Nya, karena inilah maksud dari penciptaan manusia, ﴾ وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 56 ﴿ "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat: 56). ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ ﴿ "Dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu." Maksudnya, segala sesuatu berada di bawah pemeliharaan dan pengawasan Allah, baik dari segi penciptaan, penataan, dan peng-aturan. Sudah diketahui bahwa perkara yang diatur, kesempurnaan-nya, kelengkapan dan keserasiannya tergantung kepada keadaan pemeliharanya, dan pemeliharaan Allah terhadap segala sesuatu tidak seperti pemeliharaan makhluk, karena pemeliharaan makh-luk adalah pemeliharaan yang bersifat penggantian, dan pelaksana hanya menginduk kepada pemberi hak pemeliharaan tersebut. Lain halnya dengan Allah Yang Maha Pencipta, pemeliharaanNya ada-lah berasal dari DiriNya sendiri untuk DiriNya, yang mencakup kesempurnaan ilmu, kebaikan pengurusan dan adil. Maka tidak seorang pun yang mungkin bisa mengkritik Allah dan tidak mung-kin melihat ada kekurangan tidak juga kelemahan pada makhluk ciptaanNya dan tidak pula ketimpangan dan cacat pada pengatur-anNya. Di antara pemeliharaan Allah adalah bahwa Dia menjelas-kan agamaNya dan menjaganya dari perkara-perkara yang bisa menghapus dan merubahnya, dan bahwa Dia-lah yang menjaga orang-orang Mukmin dan memelihara mereka dari perkara-perkara yang merusak iman dan akidahnya.
(103) ﴾ لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ ﴿ "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata," karena kebesaran, keagungan dan kesempurnaanNya, mak-sudnya, mata penglihatan tidak bisa mengetahuiNya dari segala segi walaupun mata bisa melihatNya dan bergembira dengan melihat kepada wajahNya yang mulia. Penafian terhadap penge-tahuan tidak berarti menafikan penglihatan, justru ia menetapkan-nya dengan cara pemahaman (mafhum), karena ketika ayat tersebut menafikan "pengetahuan" (idrak) yang mana ia merupakan sifat "penglihatan" (ru'yah) yang paling khusus, maka hal itu menunjuk-kan bahwa "penglihatan" adalah tetap (tsabit) dan tidak dinafikan. Seandainya ayat ini hendak menafikan "penglihatan" niscaya ia akan mengatakan, "Tidak dilihat oleh mata," atau ucapan lain yang sejenis. Dari sini diketahui bahwa dalam ayat ini tidak terdapat dalil yang mendukung pendapat para pengingkar sifat Allah yang meniadakan kemungkinan melihat Allah di Akhirat. Justru ayat ini mengandung bantahan terhadap pendapat tersebut. ﴾ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَۖ ﴿ "Sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu." Maksudnya, Dia-lah yang ilmuNya meliputi lahir dan batin. Pen-dengaranNya meliputi seluruh suara yang samar dan yang jelas, dan penglihatanNya meliputi segala yang terlihat, baik kecil mau-pun yang besar. Oleh karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui." Maksudnya, ilmu dan penge-tahuanNya cermat dan teliti sehingga Dia mengetahui sesuatu yang rahasia, yang samar, yang tersembunyi dan yang tersimpan. Dan di antara kelembutan Allah adalah bahwa Dia membimbing hamba-Nya kepada kemaslahatan agamanya, mengantarkannya kepadanya dengan cara di mana hamba itu tidak merasa dan tidak berusaha padanya. Dia mengantarkannya pada kebahagiaan abadi dan keberun-tungan yang kekal dari arah yang tidak diduga, bahkan Dia mentak-dirkan perkara-perkara yang tidak disukai dan dirasa sakit oleh hamba sehingga dia memohon kepadaNya agar menyembuhkan-nya. Hal tersebut karena Dia mengetahui bahwa agamaNya lebih baik dan bahwa kesempurnaan agamaNya bergantung kepada ujian tersebut. Mahasuci Allah Yang Mahalembut kepada apa yang Dia Kehendaki, Maha Penyayang kepada orang-orang Mukmin.
(104) ﴾ قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Sungguh bukti-bukti yang terang telah datang dari Rabbmu, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (maksudnya Muhammad) sekali-kali bukanlah pemeliharamu." Manakala Allah menjelaskan ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang nyata yang menunjukkan kepada kebenaran dalam seluruh tuntutan dan tujuan, maka Dia mengingat-kan hamba-hambaNya terhadapnya dan Dia menyatakan bahwa petunjuk dan kesesatan mereka adalah untuk mereka sendiri. Dia berfirman, ﴾ قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sungguh telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang." Maksudnya, ayat-ayat yang menjelaskan kebenaran dan menjadikannya di dalam hati seperti matahari bagi mata karena sesuatu yang dikandungnya, berupa kefasihan dan kegamblangan ditambah dengan kesesuaiannya dengan makna-makna yang mulia dan hakikat-hakikat yang indah karena ia datang dari Tuhan yang mengatur makhluk dengan seluruh nikmatNya, lahir dan batin di mana yang paling utama dan paling berharga adalah penjelasan ayat-ayat dan keterangan tentang persoalan-persoalan yang dibutuhkan. ﴾ فَمَنۡ أَبۡصَرَ ﴿ "Maka barangsiapa melihat (kebenaran itu)," maksud-nya dengan ayat-ayat itu tempat-tempat pelajaran dan beramal dengan sesuatu yang ditunjukkannya, ﴾ فَلِنَفۡسِهِۦۖ ﴿ "maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri." Karena Allah adalah Dzat Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan barangsiapa buta, dia ditunjukkan, akan tetapi ia tidak membuka matanya, diperingatkan tetapi tidak mengindah-kan, dijelaskan kebenaran kepadanya akan tetapi dia menolak tun-duk dan mengikutinya, maka mudarat kebutaan itu menimpa dirinya sendiri. Katakanlah wahai Rasul, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ ﴿ "Dan aku bukanlah," yakni, Rasulullah ﷺ ﴾ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "pemelihara(mu)." Maksudnya, memelihara dan mengawasi amalmu secara terus menerus. Akan tetapi tugasku hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan aku telah melaksanakannya dan menyampaikan apa yang Allah turunkan kepadaku. Inilah tugasku dan selain itu bukanlah urusanku.
Al-An'am 6:101
"Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka bohong (dengan mengatakan), 'Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,' tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah, Tuhan kamu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Pen-cipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Peme-lihara segala sesuatu, Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu)." (Al-An'am: 100-104).
(100) Allah memberitakan -walaupun Dia telah memberi-kan kebaikan kepada hamba-hambaNya, menjelaskan kepada mereka dengan ayat-ayat yang jelas dan hujjah yang nyata- bahwa orang-orang musyrik dari kalangan Quraisy dan lain-lain mengangkat tandingan untukNya. Mereka berdoa dan beribadah kepada makh-luk dari kalangan jin dan malaikat, di mana mereka adalah makhluk Allah yang tidak sedikit pun memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Mereka menjadikannya sebagai tandingan bagi pemilik hak penciptaan dan pemberi perintah, pemberi seluruh nikmat yang bermacam-macam, dan penolak seluruh kesulitan. Begitulah orang-orang musyrik membuat kebohongan dan kedustaan dari diri mereka bahwa Allah mempunyai anak-anak laki-laki dan perempuan tanpa dasar ilmu sama sekali. Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang berkata atas Nama Allah tanpa ilmu, dan berdusta atasNya dengan menisbatkan kekurang-an paling buruk di mana Allah wajib disucikan darinya? Oleh karena itu, Allah menyucikan DiriNya dari kedustaan orang-orang musyrik. Dia berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dan Maha-tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan." Karena Dia adalah Allah, Dzat yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan yang disucikan dari segala aib, cacat, dan kekurangan.
(101) ﴾ بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dia Pencipta langit dan bumi." Mak-sudnya, pencipta keduanya dengan sangat baik dan kokoh dengan penciptaan terbaik, pengaturan dan kemegahan tanpa contoh sebelumnya, di mana akal orang-orang yang berakal tidak dapat mengusulkan sepertinya. Dan Dia tidak mempunyai rekan dalam menciptakan keduanya. ﴾ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٞۖ ﴿ "Bagaimana Dia mempunyai anak pada-hal Dia tidak mempunyai istri." Maksudnya, bagaimana Allah mem-punyai anak sementara Dia adalah Tuhan, pemilik dan tempat bergantung (bagi seluruh makhluk) dan yang tidak beristri? Dia Mahakaya dari makhluk-makhlukNya, sementara makhluk-makhlukNya memerlukan dan membutuhkanNya, dan anak harus berasal dari jenis orang tuanya, sedangkan Allah adalah pencipta segala sesuatu dan tiada satu pun makhluk yang menyerupai Allah dari segi mana pun. Manakala Dia menyebutkan penciptaanNya yang menyeluruh terhadap seluruh makhluk, Dia menyebutkan keluasan ilmuNya terhadap makhlukNya. Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Dia menge-tahui segala sesuatu." Dalam penyebutan ilmu setelah penciptaan mengandung isyarat kepada dalil aqli tentang ketetapan ilmuNya, yaitu makhluk-makhluk ini dengan keserasiannya yang sempurna dan penciptaan yang mengagumkan. Hal itu benar-benar mengan-dung bukti atas keluasan ilmu sang pencipta dan kesempurnaan hikmahNya sebagaimana Allah berfirman, ﴾ أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ 14 ﴿ "Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui." (Al-Mulk: 14). Dan sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ 81 ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui." (Yasin: 81).
(102) Dzat yang menciptakan apa yang diciptakan dan menentukan apa yang ditentukan, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ ﴿ "Dia-lah Allah, Tuhan-mu," maksudnya, Dzat yang dipertuhankan dan disembah, yang berhak mendapatkan ketundukan dan kecintaan sempurna. Tuhan yang mengurusi seluruh makhluk dengan melimpahkan nikmat-nikmatNya dan menolak seluruh kesulitan dari mereka. Dia adalah Pencipta segala sesuatu yang tidak ada tuhan yang berhak disem-bah kecuali Dia. ﴾ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia." Maksudnya, jika telah terbukti dengan meyakinkan bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, maka berikan kepadaNya seluruh bentuk ibadah, ikhlaskanlah ia untukNya, dan maksudkanlah untuk wajah-Nya, karena inilah maksud dari penciptaan manusia, ﴾ وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 56 ﴿ "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat: 56). ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ ﴿ "Dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu." Maksudnya, segala sesuatu berada di bawah pemeliharaan dan pengawasan Allah, baik dari segi penciptaan, penataan, dan peng-aturan. Sudah diketahui bahwa perkara yang diatur, kesempurnaan-nya, kelengkapan dan keserasiannya tergantung kepada keadaan pemeliharanya, dan pemeliharaan Allah terhadap segala sesuatu tidak seperti pemeliharaan makhluk, karena pemeliharaan makh-luk adalah pemeliharaan yang bersifat penggantian, dan pelaksana hanya menginduk kepada pemberi hak pemeliharaan tersebut. Lain halnya dengan Allah Yang Maha Pencipta, pemeliharaanNya ada-lah berasal dari DiriNya sendiri untuk DiriNya, yang mencakup kesempurnaan ilmu, kebaikan pengurusan dan adil. Maka tidak seorang pun yang mungkin bisa mengkritik Allah dan tidak mung-kin melihat ada kekurangan tidak juga kelemahan pada makhluk ciptaanNya dan tidak pula ketimpangan dan cacat pada pengatur-anNya. Di antara pemeliharaan Allah adalah bahwa Dia menjelas-kan agamaNya dan menjaganya dari perkara-perkara yang bisa menghapus dan merubahnya, dan bahwa Dia-lah yang menjaga orang-orang Mukmin dan memelihara mereka dari perkara-perkara yang merusak iman dan akidahnya.
(103) ﴾ لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ ﴿ "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata," karena kebesaran, keagungan dan kesempurnaanNya, mak-sudnya, mata penglihatan tidak bisa mengetahuiNya dari segala segi walaupun mata bisa melihatNya dan bergembira dengan melihat kepada wajahNya yang mulia. Penafian terhadap penge-tahuan tidak berarti menafikan penglihatan, justru ia menetapkan-nya dengan cara pemahaman (mafhum), karena ketika ayat tersebut menafikan "pengetahuan" (idrak) yang mana ia merupakan sifat "penglihatan" (ru'yah) yang paling khusus, maka hal itu menunjuk-kan bahwa "penglihatan" adalah tetap (tsabit) dan tidak dinafikan. Seandainya ayat ini hendak menafikan "penglihatan" niscaya ia akan mengatakan, "Tidak dilihat oleh mata," atau ucapan lain yang sejenis. Dari sini diketahui bahwa dalam ayat ini tidak terdapat dalil yang mendukung pendapat para pengingkar sifat Allah yang meniadakan kemungkinan melihat Allah di Akhirat. Justru ayat ini mengandung bantahan terhadap pendapat tersebut. ﴾ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَۖ ﴿ "Sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu." Maksudnya, Dia-lah yang ilmuNya meliputi lahir dan batin. Pen-dengaranNya meliputi seluruh suara yang samar dan yang jelas, dan penglihatanNya meliputi segala yang terlihat, baik kecil mau-pun yang besar. Oleh karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui." Maksudnya, ilmu dan penge-tahuanNya cermat dan teliti sehingga Dia mengetahui sesuatu yang rahasia, yang samar, yang tersembunyi dan yang tersimpan. Dan di antara kelembutan Allah adalah bahwa Dia membimbing hamba-Nya kepada kemaslahatan agamanya, mengantarkannya kepadanya dengan cara di mana hamba itu tidak merasa dan tidak berusaha padanya. Dia mengantarkannya pada kebahagiaan abadi dan keberun-tungan yang kekal dari arah yang tidak diduga, bahkan Dia mentak-dirkan perkara-perkara yang tidak disukai dan dirasa sakit oleh hamba sehingga dia memohon kepadaNya agar menyembuhkan-nya. Hal tersebut karena Dia mengetahui bahwa agamaNya lebih baik dan bahwa kesempurnaan agamaNya bergantung kepada ujian tersebut. Mahasuci Allah Yang Mahalembut kepada apa yang Dia Kehendaki, Maha Penyayang kepada orang-orang Mukmin.
(104) ﴾ قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Sungguh bukti-bukti yang terang telah datang dari Rabbmu, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (maksudnya Muhammad) sekali-kali bukanlah pemeliharamu." Manakala Allah menjelaskan ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang nyata yang menunjukkan kepada kebenaran dalam seluruh tuntutan dan tujuan, maka Dia mengingat-kan hamba-hambaNya terhadapnya dan Dia menyatakan bahwa petunjuk dan kesesatan mereka adalah untuk mereka sendiri. Dia berfirman, ﴾ قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sungguh telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang." Maksudnya, ayat-ayat yang menjelaskan kebenaran dan menjadikannya di dalam hati seperti matahari bagi mata karena sesuatu yang dikandungnya, berupa kefasihan dan kegamblangan ditambah dengan kesesuaiannya dengan makna-makna yang mulia dan hakikat-hakikat yang indah karena ia datang dari Tuhan yang mengatur makhluk dengan seluruh nikmatNya, lahir dan batin di mana yang paling utama dan paling berharga adalah penjelasan ayat-ayat dan keterangan tentang persoalan-persoalan yang dibutuhkan. ﴾ فَمَنۡ أَبۡصَرَ ﴿ "Maka barangsiapa melihat (kebenaran itu)," maksud-nya dengan ayat-ayat itu tempat-tempat pelajaran dan beramal dengan sesuatu yang ditunjukkannya, ﴾ فَلِنَفۡسِهِۦۖ ﴿ "maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri." Karena Allah adalah Dzat Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan barangsiapa buta, dia ditunjukkan, akan tetapi ia tidak membuka matanya, diperingatkan tetapi tidak mengindah-kan, dijelaskan kebenaran kepadanya akan tetapi dia menolak tun-duk dan mengikutinya, maka mudarat kebutaan itu menimpa dirinya sendiri. Katakanlah wahai Rasul, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ ﴿ "Dan aku bukanlah," yakni, Rasulullah ﷺ ﴾ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "pemelihara(mu)." Maksudnya, memelihara dan mengawasi amalmu secara terus menerus. Akan tetapi tugasku hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan aku telah melaksanakannya dan menyampaikan apa yang Allah turunkan kepadaku. Inilah tugasku dan selain itu bukanlah urusanku.
Al-An'am 6:102
"Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka bohong (dengan mengatakan), 'Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,' tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah, Tuhan kamu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Pen-cipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Peme-lihara segala sesuatu, Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu)." (Al-An'am: 100-104).
(100) Allah memberitakan -walaupun Dia telah memberi-kan kebaikan kepada hamba-hambaNya, menjelaskan kepada mereka dengan ayat-ayat yang jelas dan hujjah yang nyata- bahwa orang-orang musyrik dari kalangan Quraisy dan lain-lain mengangkat tandingan untukNya. Mereka berdoa dan beribadah kepada makh-luk dari kalangan jin dan malaikat, di mana mereka adalah makhluk Allah yang tidak sedikit pun memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Mereka menjadikannya sebagai tandingan bagi pemilik hak penciptaan dan pemberi perintah, pemberi seluruh nikmat yang bermacam-macam, dan penolak seluruh kesulitan. Begitulah orang-orang musyrik membuat kebohongan dan kedustaan dari diri mereka bahwa Allah mempunyai anak-anak laki-laki dan perempuan tanpa dasar ilmu sama sekali. Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang berkata atas Nama Allah tanpa ilmu, dan berdusta atasNya dengan menisbatkan kekurang-an paling buruk di mana Allah wajib disucikan darinya? Oleh karena itu, Allah menyucikan DiriNya dari kedustaan orang-orang musyrik. Dia berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dan Maha-tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan." Karena Dia adalah Allah, Dzat yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan yang disucikan dari segala aib, cacat, dan kekurangan.
(101) ﴾ بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dia Pencipta langit dan bumi." Mak-sudnya, pencipta keduanya dengan sangat baik dan kokoh dengan penciptaan terbaik, pengaturan dan kemegahan tanpa contoh sebelumnya, di mana akal orang-orang yang berakal tidak dapat mengusulkan sepertinya. Dan Dia tidak mempunyai rekan dalam menciptakan keduanya. ﴾ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٞۖ ﴿ "Bagaimana Dia mempunyai anak pada-hal Dia tidak mempunyai istri." Maksudnya, bagaimana Allah mem-punyai anak sementara Dia adalah Tuhan, pemilik dan tempat bergantung (bagi seluruh makhluk) dan yang tidak beristri? Dia Mahakaya dari makhluk-makhlukNya, sementara makhluk-makhlukNya memerlukan dan membutuhkanNya, dan anak harus berasal dari jenis orang tuanya, sedangkan Allah adalah pencipta segala sesuatu dan tiada satu pun makhluk yang menyerupai Allah dari segi mana pun. Manakala Dia menyebutkan penciptaanNya yang menyeluruh terhadap seluruh makhluk, Dia menyebutkan keluasan ilmuNya terhadap makhlukNya. Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Dia menge-tahui segala sesuatu." Dalam penyebutan ilmu setelah penciptaan mengandung isyarat kepada dalil aqli tentang ketetapan ilmuNya, yaitu makhluk-makhluk ini dengan keserasiannya yang sempurna dan penciptaan yang mengagumkan. Hal itu benar-benar mengan-dung bukti atas keluasan ilmu sang pencipta dan kesempurnaan hikmahNya sebagaimana Allah berfirman, ﴾ أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ 14 ﴿ "Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui." (Al-Mulk: 14). Dan sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ 81 ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui." (Yasin: 81).
(102) Dzat yang menciptakan apa yang diciptakan dan menentukan apa yang ditentukan, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ ﴿ "Dia-lah Allah, Tuhan-mu," maksudnya, Dzat yang dipertuhankan dan disembah, yang berhak mendapatkan ketundukan dan kecintaan sempurna. Tuhan yang mengurusi seluruh makhluk dengan melimpahkan nikmat-nikmatNya dan menolak seluruh kesulitan dari mereka. Dia adalah Pencipta segala sesuatu yang tidak ada tuhan yang berhak disem-bah kecuali Dia. ﴾ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia." Maksudnya, jika telah terbukti dengan meyakinkan bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, maka berikan kepadaNya seluruh bentuk ibadah, ikhlaskanlah ia untukNya, dan maksudkanlah untuk wajah-Nya, karena inilah maksud dari penciptaan manusia, ﴾ وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 56 ﴿ "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat: 56). ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ ﴿ "Dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu." Maksudnya, segala sesuatu berada di bawah pemeliharaan dan pengawasan Allah, baik dari segi penciptaan, penataan, dan peng-aturan. Sudah diketahui bahwa perkara yang diatur, kesempurnaan-nya, kelengkapan dan keserasiannya tergantung kepada keadaan pemeliharanya, dan pemeliharaan Allah terhadap segala sesuatu tidak seperti pemeliharaan makhluk, karena pemeliharaan makh-luk adalah pemeliharaan yang bersifat penggantian, dan pelaksana hanya menginduk kepada pemberi hak pemeliharaan tersebut. Lain halnya dengan Allah Yang Maha Pencipta, pemeliharaanNya ada-lah berasal dari DiriNya sendiri untuk DiriNya, yang mencakup kesempurnaan ilmu, kebaikan pengurusan dan adil. Maka tidak seorang pun yang mungkin bisa mengkritik Allah dan tidak mung-kin melihat ada kekurangan tidak juga kelemahan pada makhluk ciptaanNya dan tidak pula ketimpangan dan cacat pada pengatur-anNya. Di antara pemeliharaan Allah adalah bahwa Dia menjelas-kan agamaNya dan menjaganya dari perkara-perkara yang bisa menghapus dan merubahnya, dan bahwa Dia-lah yang menjaga orang-orang Mukmin dan memelihara mereka dari perkara-perkara yang merusak iman dan akidahnya.
(103) ﴾ لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ ﴿ "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata," karena kebesaran, keagungan dan kesempurnaanNya, mak-sudnya, mata penglihatan tidak bisa mengetahuiNya dari segala segi walaupun mata bisa melihatNya dan bergembira dengan melihat kepada wajahNya yang mulia. Penafian terhadap penge-tahuan tidak berarti menafikan penglihatan, justru ia menetapkan-nya dengan cara pemahaman (mafhum), karena ketika ayat tersebut menafikan "pengetahuan" (idrak) yang mana ia merupakan sifat "penglihatan" (ru'yah) yang paling khusus, maka hal itu menunjuk-kan bahwa "penglihatan" adalah tetap (tsabit) dan tidak dinafikan. Seandainya ayat ini hendak menafikan "penglihatan" niscaya ia akan mengatakan, "Tidak dilihat oleh mata," atau ucapan lain yang sejenis. Dari sini diketahui bahwa dalam ayat ini tidak terdapat dalil yang mendukung pendapat para pengingkar sifat Allah yang meniadakan kemungkinan melihat Allah di Akhirat. Justru ayat ini mengandung bantahan terhadap pendapat tersebut. ﴾ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَۖ ﴿ "Sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu." Maksudnya, Dia-lah yang ilmuNya meliputi lahir dan batin. Pen-dengaranNya meliputi seluruh suara yang samar dan yang jelas, dan penglihatanNya meliputi segala yang terlihat, baik kecil mau-pun yang besar. Oleh karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui." Maksudnya, ilmu dan penge-tahuanNya cermat dan teliti sehingga Dia mengetahui sesuatu yang rahasia, yang samar, yang tersembunyi dan yang tersimpan. Dan di antara kelembutan Allah adalah bahwa Dia membimbing hamba-Nya kepada kemaslahatan agamanya, mengantarkannya kepadanya dengan cara di mana hamba itu tidak merasa dan tidak berusaha padanya. Dia mengantarkannya pada kebahagiaan abadi dan keberun-tungan yang kekal dari arah yang tidak diduga, bahkan Dia mentak-dirkan perkara-perkara yang tidak disukai dan dirasa sakit oleh hamba sehingga dia memohon kepadaNya agar menyembuhkan-nya. Hal tersebut karena Dia mengetahui bahwa agamaNya lebih baik dan bahwa kesempurnaan agamaNya bergantung kepada ujian tersebut. Mahasuci Allah Yang Mahalembut kepada apa yang Dia Kehendaki, Maha Penyayang kepada orang-orang Mukmin.
(104) ﴾ قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Sungguh bukti-bukti yang terang telah datang dari Rabbmu, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (maksudnya Muhammad) sekali-kali bukanlah pemeliharamu." Manakala Allah menjelaskan ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang nyata yang menunjukkan kepada kebenaran dalam seluruh tuntutan dan tujuan, maka Dia mengingat-kan hamba-hambaNya terhadapnya dan Dia menyatakan bahwa petunjuk dan kesesatan mereka adalah untuk mereka sendiri. Dia berfirman, ﴾ قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sungguh telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang." Maksudnya, ayat-ayat yang menjelaskan kebenaran dan menjadikannya di dalam hati seperti matahari bagi mata karena sesuatu yang dikandungnya, berupa kefasihan dan kegamblangan ditambah dengan kesesuaiannya dengan makna-makna yang mulia dan hakikat-hakikat yang indah karena ia datang dari Tuhan yang mengatur makhluk dengan seluruh nikmatNya, lahir dan batin di mana yang paling utama dan paling berharga adalah penjelasan ayat-ayat dan keterangan tentang persoalan-persoalan yang dibutuhkan. ﴾ فَمَنۡ أَبۡصَرَ ﴿ "Maka barangsiapa melihat (kebenaran itu)," maksud-nya dengan ayat-ayat itu tempat-tempat pelajaran dan beramal dengan sesuatu yang ditunjukkannya, ﴾ فَلِنَفۡسِهِۦۖ ﴿ "maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri." Karena Allah adalah Dzat Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan barangsiapa buta, dia ditunjukkan, akan tetapi ia tidak membuka matanya, diperingatkan tetapi tidak mengindah-kan, dijelaskan kebenaran kepadanya akan tetapi dia menolak tun-duk dan mengikutinya, maka mudarat kebutaan itu menimpa dirinya sendiri. Katakanlah wahai Rasul, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ ﴿ "Dan aku bukanlah," yakni, Rasulullah ﷺ ﴾ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "pemelihara(mu)." Maksudnya, memelihara dan mengawasi amalmu secara terus menerus. Akan tetapi tugasku hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan aku telah melaksanakannya dan menyampaikan apa yang Allah turunkan kepadaku. Inilah tugasku dan selain itu bukanlah urusanku.
Al-An'am 6:103
"Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka bohong (dengan mengatakan), 'Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,' tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah, Tuhan kamu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Pen-cipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Peme-lihara segala sesuatu, Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu)." (Al-An'am: 100-104).
(100) Allah memberitakan -walaupun Dia telah memberi-kan kebaikan kepada hamba-hambaNya, menjelaskan kepada mereka dengan ayat-ayat yang jelas dan hujjah yang nyata- bahwa orang-orang musyrik dari kalangan Quraisy dan lain-lain mengangkat tandingan untukNya. Mereka berdoa dan beribadah kepada makh-luk dari kalangan jin dan malaikat, di mana mereka adalah makhluk Allah yang tidak sedikit pun memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Mereka menjadikannya sebagai tandingan bagi pemilik hak penciptaan dan pemberi perintah, pemberi seluruh nikmat yang bermacam-macam, dan penolak seluruh kesulitan. Begitulah orang-orang musyrik membuat kebohongan dan kedustaan dari diri mereka bahwa Allah mempunyai anak-anak laki-laki dan perempuan tanpa dasar ilmu sama sekali. Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang berkata atas Nama Allah tanpa ilmu, dan berdusta atasNya dengan menisbatkan kekurang-an paling buruk di mana Allah wajib disucikan darinya? Oleh karena itu, Allah menyucikan DiriNya dari kedustaan orang-orang musyrik. Dia berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dan Maha-tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan." Karena Dia adalah Allah, Dzat yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan yang disucikan dari segala aib, cacat, dan kekurangan.
(101) ﴾ بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dia Pencipta langit dan bumi." Mak-sudnya, pencipta keduanya dengan sangat baik dan kokoh dengan penciptaan terbaik, pengaturan dan kemegahan tanpa contoh sebelumnya, di mana akal orang-orang yang berakal tidak dapat mengusulkan sepertinya. Dan Dia tidak mempunyai rekan dalam menciptakan keduanya. ﴾ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٞۖ ﴿ "Bagaimana Dia mempunyai anak pada-hal Dia tidak mempunyai istri." Maksudnya, bagaimana Allah mem-punyai anak sementara Dia adalah Tuhan, pemilik dan tempat bergantung (bagi seluruh makhluk) dan yang tidak beristri? Dia Mahakaya dari makhluk-makhlukNya, sementara makhluk-makhlukNya memerlukan dan membutuhkanNya, dan anak harus berasal dari jenis orang tuanya, sedangkan Allah adalah pencipta segala sesuatu dan tiada satu pun makhluk yang menyerupai Allah dari segi mana pun. Manakala Dia menyebutkan penciptaanNya yang menyeluruh terhadap seluruh makhluk, Dia menyebutkan keluasan ilmuNya terhadap makhlukNya. Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Dia menge-tahui segala sesuatu." Dalam penyebutan ilmu setelah penciptaan mengandung isyarat kepada dalil aqli tentang ketetapan ilmuNya, yaitu makhluk-makhluk ini dengan keserasiannya yang sempurna dan penciptaan yang mengagumkan. Hal itu benar-benar mengan-dung bukti atas keluasan ilmu sang pencipta dan kesempurnaan hikmahNya sebagaimana Allah berfirman, ﴾ أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ 14 ﴿ "Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui." (Al-Mulk: 14). Dan sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ 81 ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui." (Yasin: 81).
(102) Dzat yang menciptakan apa yang diciptakan dan menentukan apa yang ditentukan, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ ﴿ "Dia-lah Allah, Tuhan-mu," maksudnya, Dzat yang dipertuhankan dan disembah, yang berhak mendapatkan ketundukan dan kecintaan sempurna. Tuhan yang mengurusi seluruh makhluk dengan melimpahkan nikmat-nikmatNya dan menolak seluruh kesulitan dari mereka. Dia adalah Pencipta segala sesuatu yang tidak ada tuhan yang berhak disem-bah kecuali Dia. ﴾ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia." Maksudnya, jika telah terbukti dengan meyakinkan bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, maka berikan kepadaNya seluruh bentuk ibadah, ikhlaskanlah ia untukNya, dan maksudkanlah untuk wajah-Nya, karena inilah maksud dari penciptaan manusia, ﴾ وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 56 ﴿ "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat: 56). ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ ﴿ "Dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu." Maksudnya, segala sesuatu berada di bawah pemeliharaan dan pengawasan Allah, baik dari segi penciptaan, penataan, dan peng-aturan. Sudah diketahui bahwa perkara yang diatur, kesempurnaan-nya, kelengkapan dan keserasiannya tergantung kepada keadaan pemeliharanya, dan pemeliharaan Allah terhadap segala sesuatu tidak seperti pemeliharaan makhluk, karena pemeliharaan makh-luk adalah pemeliharaan yang bersifat penggantian, dan pelaksana hanya menginduk kepada pemberi hak pemeliharaan tersebut. Lain halnya dengan Allah Yang Maha Pencipta, pemeliharaanNya ada-lah berasal dari DiriNya sendiri untuk DiriNya, yang mencakup kesempurnaan ilmu, kebaikan pengurusan dan adil. Maka tidak seorang pun yang mungkin bisa mengkritik Allah dan tidak mung-kin melihat ada kekurangan tidak juga kelemahan pada makhluk ciptaanNya dan tidak pula ketimpangan dan cacat pada pengatur-anNya. Di antara pemeliharaan Allah adalah bahwa Dia menjelas-kan agamaNya dan menjaganya dari perkara-perkara yang bisa menghapus dan merubahnya, dan bahwa Dia-lah yang menjaga orang-orang Mukmin dan memelihara mereka dari perkara-perkara yang merusak iman dan akidahnya.
(103) ﴾ لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ ﴿ "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata," karena kebesaran, keagungan dan kesempurnaanNya, mak-sudnya, mata penglihatan tidak bisa mengetahuiNya dari segala segi walaupun mata bisa melihatNya dan bergembira dengan melihat kepada wajahNya yang mulia. Penafian terhadap penge-tahuan tidak berarti menafikan penglihatan, justru ia menetapkan-nya dengan cara pemahaman (mafhum), karena ketika ayat tersebut menafikan "pengetahuan" (idrak) yang mana ia merupakan sifat "penglihatan" (ru'yah) yang paling khusus, maka hal itu menunjuk-kan bahwa "penglihatan" adalah tetap (tsabit) dan tidak dinafikan. Seandainya ayat ini hendak menafikan "penglihatan" niscaya ia akan mengatakan, "Tidak dilihat oleh mata," atau ucapan lain yang sejenis. Dari sini diketahui bahwa dalam ayat ini tidak terdapat dalil yang mendukung pendapat para pengingkar sifat Allah yang meniadakan kemungkinan melihat Allah di Akhirat. Justru ayat ini mengandung bantahan terhadap pendapat tersebut. ﴾ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَۖ ﴿ "Sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu." Maksudnya, Dia-lah yang ilmuNya meliputi lahir dan batin. Pen-dengaranNya meliputi seluruh suara yang samar dan yang jelas, dan penglihatanNya meliputi segala yang terlihat, baik kecil mau-pun yang besar. Oleh karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui." Maksudnya, ilmu dan penge-tahuanNya cermat dan teliti sehingga Dia mengetahui sesuatu yang rahasia, yang samar, yang tersembunyi dan yang tersimpan. Dan di antara kelembutan Allah adalah bahwa Dia membimbing hamba-Nya kepada kemaslahatan agamanya, mengantarkannya kepadanya dengan cara di mana hamba itu tidak merasa dan tidak berusaha padanya. Dia mengantarkannya pada kebahagiaan abadi dan keberun-tungan yang kekal dari arah yang tidak diduga, bahkan Dia mentak-dirkan perkara-perkara yang tidak disukai dan dirasa sakit oleh hamba sehingga dia memohon kepadaNya agar menyembuhkan-nya. Hal tersebut karena Dia mengetahui bahwa agamaNya lebih baik dan bahwa kesempurnaan agamaNya bergantung kepada ujian tersebut. Mahasuci Allah Yang Mahalembut kepada apa yang Dia Kehendaki, Maha Penyayang kepada orang-orang Mukmin.
(104) ﴾ قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Sungguh bukti-bukti yang terang telah datang dari Rabbmu, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (maksudnya Muhammad) sekali-kali bukanlah pemeliharamu." Manakala Allah menjelaskan ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang nyata yang menunjukkan kepada kebenaran dalam seluruh tuntutan dan tujuan, maka Dia mengingat-kan hamba-hambaNya terhadapnya dan Dia menyatakan bahwa petunjuk dan kesesatan mereka adalah untuk mereka sendiri. Dia berfirman, ﴾ قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sungguh telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang." Maksudnya, ayat-ayat yang menjelaskan kebenaran dan menjadikannya di dalam hati seperti matahari bagi mata karena sesuatu yang dikandungnya, berupa kefasihan dan kegamblangan ditambah dengan kesesuaiannya dengan makna-makna yang mulia dan hakikat-hakikat yang indah karena ia datang dari Tuhan yang mengatur makhluk dengan seluruh nikmatNya, lahir dan batin di mana yang paling utama dan paling berharga adalah penjelasan ayat-ayat dan keterangan tentang persoalan-persoalan yang dibutuhkan. ﴾ فَمَنۡ أَبۡصَرَ ﴿ "Maka barangsiapa melihat (kebenaran itu)," maksud-nya dengan ayat-ayat itu tempat-tempat pelajaran dan beramal dengan sesuatu yang ditunjukkannya, ﴾ فَلِنَفۡسِهِۦۖ ﴿ "maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri." Karena Allah adalah Dzat Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan barangsiapa buta, dia ditunjukkan, akan tetapi ia tidak membuka matanya, diperingatkan tetapi tidak mengindah-kan, dijelaskan kebenaran kepadanya akan tetapi dia menolak tun-duk dan mengikutinya, maka mudarat kebutaan itu menimpa dirinya sendiri. Katakanlah wahai Rasul, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ ﴿ "Dan aku bukanlah," yakni, Rasulullah ﷺ ﴾ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "pemelihara(mu)." Maksudnya, memelihara dan mengawasi amalmu secara terus menerus. Akan tetapi tugasku hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan aku telah melaksanakannya dan menyampaikan apa yang Allah turunkan kepadaku. Inilah tugasku dan selain itu bukanlah urusanku.
Al-An'am 6:104
"Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka bohong (dengan mengatakan), 'Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,' tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah, Tuhan kamu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Pen-cipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Peme-lihara segala sesuatu, Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu)." (Al-An'am: 100-104).
(100) Allah memberitakan -walaupun Dia telah memberi-kan kebaikan kepada hamba-hambaNya, menjelaskan kepada mereka dengan ayat-ayat yang jelas dan hujjah yang nyata- bahwa orang-orang musyrik dari kalangan Quraisy dan lain-lain mengangkat tandingan untukNya. Mereka berdoa dan beribadah kepada makh-luk dari kalangan jin dan malaikat, di mana mereka adalah makhluk Allah yang tidak sedikit pun memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Mereka menjadikannya sebagai tandingan bagi pemilik hak penciptaan dan pemberi perintah, pemberi seluruh nikmat yang bermacam-macam, dan penolak seluruh kesulitan. Begitulah orang-orang musyrik membuat kebohongan dan kedustaan dari diri mereka bahwa Allah mempunyai anak-anak laki-laki dan perempuan tanpa dasar ilmu sama sekali. Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang berkata atas Nama Allah tanpa ilmu, dan berdusta atasNya dengan menisbatkan kekurang-an paling buruk di mana Allah wajib disucikan darinya? Oleh karena itu, Allah menyucikan DiriNya dari kedustaan orang-orang musyrik. Dia berfirman, ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dan Maha-tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan." Karena Dia adalah Allah, Dzat yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan yang disucikan dari segala aib, cacat, dan kekurangan.
(101) ﴾ بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dia Pencipta langit dan bumi." Mak-sudnya, pencipta keduanya dengan sangat baik dan kokoh dengan penciptaan terbaik, pengaturan dan kemegahan tanpa contoh sebelumnya, di mana akal orang-orang yang berakal tidak dapat mengusulkan sepertinya. Dan Dia tidak mempunyai rekan dalam menciptakan keduanya. ﴾ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٞۖ ﴿ "Bagaimana Dia mempunyai anak pada-hal Dia tidak mempunyai istri." Maksudnya, bagaimana Allah mem-punyai anak sementara Dia adalah Tuhan, pemilik dan tempat bergantung (bagi seluruh makhluk) dan yang tidak beristri? Dia Mahakaya dari makhluk-makhlukNya, sementara makhluk-makhlukNya memerlukan dan membutuhkanNya, dan anak harus berasal dari jenis orang tuanya, sedangkan Allah adalah pencipta segala sesuatu dan tiada satu pun makhluk yang menyerupai Allah dari segi mana pun. Manakala Dia menyebutkan penciptaanNya yang menyeluruh terhadap seluruh makhluk, Dia menyebutkan keluasan ilmuNya terhadap makhlukNya. Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Dia menge-tahui segala sesuatu." Dalam penyebutan ilmu setelah penciptaan mengandung isyarat kepada dalil aqli tentang ketetapan ilmuNya, yaitu makhluk-makhluk ini dengan keserasiannya yang sempurna dan penciptaan yang mengagumkan. Hal itu benar-benar mengan-dung bukti atas keluasan ilmu sang pencipta dan kesempurnaan hikmahNya sebagaimana Allah berfirman, ﴾ أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ 14 ﴿ "Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui." (Al-Mulk: 14). Dan sebagaimana Allah berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ 81 ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui." (Yasin: 81).
(102) Dzat yang menciptakan apa yang diciptakan dan menentukan apa yang ditentukan, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ ﴿ "Dia-lah Allah, Tuhan-mu," maksudnya, Dzat yang dipertuhankan dan disembah, yang berhak mendapatkan ketundukan dan kecintaan sempurna. Tuhan yang mengurusi seluruh makhluk dengan melimpahkan nikmat-nikmatNya dan menolak seluruh kesulitan dari mereka. Dia adalah Pencipta segala sesuatu yang tidak ada tuhan yang berhak disem-bah kecuali Dia. ﴾ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia." Maksudnya, jika telah terbukti dengan meyakinkan bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, maka berikan kepadaNya seluruh bentuk ibadah, ikhlaskanlah ia untukNya, dan maksudkanlah untuk wajah-Nya, karena inilah maksud dari penciptaan manusia, ﴾ وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 56 ﴿ "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat: 56). ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ ﴿ "Dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu." Maksudnya, segala sesuatu berada di bawah pemeliharaan dan pengawasan Allah, baik dari segi penciptaan, penataan, dan peng-aturan. Sudah diketahui bahwa perkara yang diatur, kesempurnaan-nya, kelengkapan dan keserasiannya tergantung kepada keadaan pemeliharanya, dan pemeliharaan Allah terhadap segala sesuatu tidak seperti pemeliharaan makhluk, karena pemeliharaan makh-luk adalah pemeliharaan yang bersifat penggantian, dan pelaksana hanya menginduk kepada pemberi hak pemeliharaan tersebut. Lain halnya dengan Allah Yang Maha Pencipta, pemeliharaanNya ada-lah berasal dari DiriNya sendiri untuk DiriNya, yang mencakup kesempurnaan ilmu, kebaikan pengurusan dan adil. Maka tidak seorang pun yang mungkin bisa mengkritik Allah dan tidak mung-kin melihat ada kekurangan tidak juga kelemahan pada makhluk ciptaanNya dan tidak pula ketimpangan dan cacat pada pengatur-anNya. Di antara pemeliharaan Allah adalah bahwa Dia menjelas-kan agamaNya dan menjaganya dari perkara-perkara yang bisa menghapus dan merubahnya, dan bahwa Dia-lah yang menjaga orang-orang Mukmin dan memelihara mereka dari perkara-perkara yang merusak iman dan akidahnya.
(103) ﴾ لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ ﴿ "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata," karena kebesaran, keagungan dan kesempurnaanNya, mak-sudnya, mata penglihatan tidak bisa mengetahuiNya dari segala segi walaupun mata bisa melihatNya dan bergembira dengan melihat kepada wajahNya yang mulia. Penafian terhadap penge-tahuan tidak berarti menafikan penglihatan, justru ia menetapkan-nya dengan cara pemahaman (mafhum), karena ketika ayat tersebut menafikan "pengetahuan" (idrak) yang mana ia merupakan sifat "penglihatan" (ru'yah) yang paling khusus, maka hal itu menunjuk-kan bahwa "penglihatan" adalah tetap (tsabit) dan tidak dinafikan. Seandainya ayat ini hendak menafikan "penglihatan" niscaya ia akan mengatakan, "Tidak dilihat oleh mata," atau ucapan lain yang sejenis. Dari sini diketahui bahwa dalam ayat ini tidak terdapat dalil yang mendukung pendapat para pengingkar sifat Allah yang meniadakan kemungkinan melihat Allah di Akhirat. Justru ayat ini mengandung bantahan terhadap pendapat tersebut. ﴾ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَۖ ﴿ "Sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu." Maksudnya, Dia-lah yang ilmuNya meliputi lahir dan batin. Pen-dengaranNya meliputi seluruh suara yang samar dan yang jelas, dan penglihatanNya meliputi segala yang terlihat, baik kecil mau-pun yang besar. Oleh karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui." Maksudnya, ilmu dan penge-tahuanNya cermat dan teliti sehingga Dia mengetahui sesuatu yang rahasia, yang samar, yang tersembunyi dan yang tersimpan. Dan di antara kelembutan Allah adalah bahwa Dia membimbing hamba-Nya kepada kemaslahatan agamanya, mengantarkannya kepadanya dengan cara di mana hamba itu tidak merasa dan tidak berusaha padanya. Dia mengantarkannya pada kebahagiaan abadi dan keberun-tungan yang kekal dari arah yang tidak diduga, bahkan Dia mentak-dirkan perkara-perkara yang tidak disukai dan dirasa sakit oleh hamba sehingga dia memohon kepadaNya agar menyembuhkan-nya. Hal tersebut karena Dia mengetahui bahwa agamaNya lebih baik dan bahwa kesempurnaan agamaNya bergantung kepada ujian tersebut. Mahasuci Allah Yang Mahalembut kepada apa yang Dia Kehendaki, Maha Penyayang kepada orang-orang Mukmin.
(104) ﴾ قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Sungguh bukti-bukti yang terang telah datang dari Rabbmu, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (maksudnya Muhammad) sekali-kali bukanlah pemeliharamu." Manakala Allah menjelaskan ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang nyata yang menunjukkan kepada kebenaran dalam seluruh tuntutan dan tujuan, maka Dia mengingat-kan hamba-hambaNya terhadapnya dan Dia menyatakan bahwa petunjuk dan kesesatan mereka adalah untuk mereka sendiri. Dia berfirman, ﴾ قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Sungguh telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang." Maksudnya, ayat-ayat yang menjelaskan kebenaran dan menjadikannya di dalam hati seperti matahari bagi mata karena sesuatu yang dikandungnya, berupa kefasihan dan kegamblangan ditambah dengan kesesuaiannya dengan makna-makna yang mulia dan hakikat-hakikat yang indah karena ia datang dari Tuhan yang mengatur makhluk dengan seluruh nikmatNya, lahir dan batin di mana yang paling utama dan paling berharga adalah penjelasan ayat-ayat dan keterangan tentang persoalan-persoalan yang dibutuhkan. ﴾ فَمَنۡ أَبۡصَرَ ﴿ "Maka barangsiapa melihat (kebenaran itu)," maksud-nya dengan ayat-ayat itu tempat-tempat pelajaran dan beramal dengan sesuatu yang ditunjukkannya, ﴾ فَلِنَفۡسِهِۦۖ ﴿ "maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri." Karena Allah adalah Dzat Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan barangsiapa buta, dia ditunjukkan, akan tetapi ia tidak membuka matanya, diperingatkan tetapi tidak mengindah-kan, dijelaskan kebenaran kepadanya akan tetapi dia menolak tun-duk dan mengikutinya, maka mudarat kebutaan itu menimpa dirinya sendiri. Katakanlah wahai Rasul, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ ﴿ "Dan aku bukanlah," yakni, Rasulullah ﷺ ﴾ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "pemelihara(mu)." Maksudnya, memelihara dan mengawasi amalmu secara terus menerus. Akan tetapi tugasku hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan aku telah melaksanakannya dan menyampaikan apa yang Allah turunkan kepadaku. Inilah tugasku dan selain itu bukanlah urusanku.
Al-An'am 6:105
"Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supa-ya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan yang meng-akibatkan orang-orang musyrik berkata, 'Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab),' dan supaya Kami menjelaskan al-Qur`an itu kepada orang-orang yang mengetahui. Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka, dan kamu sekali-kali bukanlah pemeli-hara bagi mereka.[63] Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik peker-jaan mereka. Kemudian mereka kembali kepada Tuhan mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-An'am: 105-108).
(108) Allah melarang orang-orang Mukmin dari satu per-kara yang pada dasarnya dibolehkan bahkan dianjurkan, yaitu mencela tuhan-tuhan milik orang-orang musyrik yang disembah dan dipertuhankan bersama Allah, di mana menghinanya dan men-celanya mendekatkan kepada Allah. Akan tetapi karena celaan terhadap tuhan mereka merupakan jalan bagi mereka untuk men-cela Allah, Rabbul alamin, yang mana Dia harus disucikan dari se-gala aib, cacat, celaan, dan hinaan, maka Allah melarang mencela tuhan-tuhan kaum musyrikin, karena mereka membela dan fanatik kepada agamanya. Karena Allah menghiasi amal setiap umat, maka mereka memandangnya baik, membelanya, dan memperjuangkan-nya dengan berbagai cara bahkan mereka mencela Allah, -Rabbul alamin di mana keagunganNya telah terpatri di hati orang-orang baik dan durhaka- apabila kaum Muslimin mencelanya. Akan te-tapi tempat kembali semua manusia pada Hari Kiamat adalah kepada Allah. Mereka akan menghadap kepadaNya, amal-amal mereka akan disodorkan lalu Dia akan menjelaskan kepada mereka kebaikan dan keburukan apa yang mereka lakukan. Ayat yang mulia ini adalah dalil bagi kaidah syar'i yaitu bahwa sarana ditimbang dengan tujuannya, sarana kepada yang haram -walaupun pada dasarnya dibolehkan- adalah haram jika ia menye-ret kepada keburukan.
Al-An'am 6:106
"Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supa-ya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan yang meng-akibatkan orang-orang musyrik berkata, 'Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab),' dan supaya Kami menjelaskan al-Qur`an itu kepada orang-orang yang mengetahui. Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka, dan kamu sekali-kali bukanlah pemeli-hara bagi mereka.[63] Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik peker-jaan mereka. Kemudian mereka kembali kepada Tuhan mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-An'am: 105-108).
(108) Allah melarang orang-orang Mukmin dari satu per-kara yang pada dasarnya dibolehkan bahkan dianjurkan, yaitu mencela tuhan-tuhan milik orang-orang musyrik yang disembah dan dipertuhankan bersama Allah, di mana menghinanya dan men-celanya mendekatkan kepada Allah. Akan tetapi karena celaan terhadap tuhan mereka merupakan jalan bagi mereka untuk men-cela Allah, Rabbul alamin, yang mana Dia harus disucikan dari se-gala aib, cacat, celaan, dan hinaan, maka Allah melarang mencela tuhan-tuhan kaum musyrikin, karena mereka membela dan fanatik kepada agamanya. Karena Allah menghiasi amal setiap umat, maka mereka memandangnya baik, membelanya, dan memperjuangkan-nya dengan berbagai cara bahkan mereka mencela Allah, -Rabbul alamin di mana keagunganNya telah terpatri di hati orang-orang baik dan durhaka- apabila kaum Muslimin mencelanya. Akan te-tapi tempat kembali semua manusia pada Hari Kiamat adalah kepada Allah. Mereka akan menghadap kepadaNya, amal-amal mereka akan disodorkan lalu Dia akan menjelaskan kepada mereka kebaikan dan keburukan apa yang mereka lakukan. Ayat yang mulia ini adalah dalil bagi kaidah syar'i yaitu bahwa sarana ditimbang dengan tujuannya, sarana kepada yang haram -walaupun pada dasarnya dibolehkan- adalah haram jika ia menye-ret kepada keburukan.
Al-An'am 6:107
"Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supa-ya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan yang meng-akibatkan orang-orang musyrik berkata, 'Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab),' dan supaya Kami menjelaskan al-Qur`an itu kepada orang-orang yang mengetahui. Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka, dan kamu sekali-kali bukanlah pemeli-hara bagi mereka.[63] Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik peker-jaan mereka. Kemudian mereka kembali kepada Tuhan mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-An'am: 105-108).
(108) Allah melarang orang-orang Mukmin dari satu per-kara yang pada dasarnya dibolehkan bahkan dianjurkan, yaitu mencela tuhan-tuhan milik orang-orang musyrik yang disembah dan dipertuhankan bersama Allah, di mana menghinanya dan men-celanya mendekatkan kepada Allah. Akan tetapi karena celaan terhadap tuhan mereka merupakan jalan bagi mereka untuk men-cela Allah, Rabbul alamin, yang mana Dia harus disucikan dari se-gala aib, cacat, celaan, dan hinaan, maka Allah melarang mencela tuhan-tuhan kaum musyrikin, karena mereka membela dan fanatik kepada agamanya. Karena Allah menghiasi amal setiap umat, maka mereka memandangnya baik, membelanya, dan memperjuangkan-nya dengan berbagai cara bahkan mereka mencela Allah, -Rabbul alamin di mana keagunganNya telah terpatri di hati orang-orang baik dan durhaka- apabila kaum Muslimin mencelanya. Akan te-tapi tempat kembali semua manusia pada Hari Kiamat adalah kepada Allah. Mereka akan menghadap kepadaNya, amal-amal mereka akan disodorkan lalu Dia akan menjelaskan kepada mereka kebaikan dan keburukan apa yang mereka lakukan. Ayat yang mulia ini adalah dalil bagi kaidah syar'i yaitu bahwa sarana ditimbang dengan tujuannya, sarana kepada yang haram -walaupun pada dasarnya dibolehkan- adalah haram jika ia menye-ret kepada keburukan.
Al-An'am 6:108
"Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supa-ya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan yang meng-akibatkan orang-orang musyrik berkata, 'Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab),' dan supaya Kami menjelaskan al-Qur`an itu kepada orang-orang yang mengetahui. Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka, dan kamu sekali-kali bukanlah pemeli-hara bagi mereka.[63] Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik peker-jaan mereka. Kemudian mereka kembali kepada Tuhan mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-An'am: 105-108).
(108) Allah melarang orang-orang Mukmin dari satu per-kara yang pada dasarnya dibolehkan bahkan dianjurkan, yaitu mencela tuhan-tuhan milik orang-orang musyrik yang disembah dan dipertuhankan bersama Allah, di mana menghinanya dan men-celanya mendekatkan kepada Allah. Akan tetapi karena celaan terhadap tuhan mereka merupakan jalan bagi mereka untuk men-cela Allah, Rabbul alamin, yang mana Dia harus disucikan dari se-gala aib, cacat, celaan, dan hinaan, maka Allah melarang mencela tuhan-tuhan kaum musyrikin, karena mereka membela dan fanatik kepada agamanya. Karena Allah menghiasi amal setiap umat, maka mereka memandangnya baik, membelanya, dan memperjuangkan-nya dengan berbagai cara bahkan mereka mencela Allah, -Rabbul alamin di mana keagunganNya telah terpatri di hati orang-orang baik dan durhaka- apabila kaum Muslimin mencelanya. Akan te-tapi tempat kembali semua manusia pada Hari Kiamat adalah kepada Allah. Mereka akan menghadap kepadaNya, amal-amal mereka akan disodorkan lalu Dia akan menjelaskan kepada mereka kebaikan dan keburukan apa yang mereka lakukan. Ayat yang mulia ini adalah dalil bagi kaidah syar'i yaitu bahwa sarana ditimbang dengan tujuannya, sarana kepada yang haram -walaupun pada dasarnya dibolehkan- adalah haram jika ia menye-ret kepada keburukan.
Al-An'am 6:109
"Mereka bersumpah dengan Nama Allah dengan segala kesung-guhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat, pastilah mereka beriman kepadaNya. Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah.' Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman? Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permulaannya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 109-110). "Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya me-reka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-An'am: 111).
(109) Orang-orang musyrik yang mendustakan Rasul Muhammad bersumpah ﴾ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ ﴿ "dengan Nama Allah dengan segala kesungguhan." Maksudnya, sumpah yang mereka tegaskan dan mereka tekankan, ﴾ لَئِن جَآءَتۡهُمۡ ءَايَةٞ ﴿ "sungguh jika datang kepada me-reka sesuatu mukjizat," yang menunjukkan kebenaran Muhammad, ﴾ لَّيُؤۡمِنُنَّ بِهَاۚ ﴿ "pastilah mereka beriman kepadaNya." Ucapan yang mereka katakan ini tidak bertujuan baik, akan tetapi tujuannya hanyalah menyangkal bantahan yang ditujukan kepada mereka dan menolak apa yang dibawa oleh Rasul dengan pasti, Allah telah mendukung RasulNya dengan mukjizat-mukjizat yang jelas dan dalil yang kuat di mana jika ia dilihat, maka tidak tersisa sedikit pun syubhat dan persoalan tentang kebenaran sesuatu yang dibawanya. Permintaan mereka terhadap mukjizat setelah itu hanyalah permintaan yang menyusahkan yang tidak perlu dipenuhi. Bahkan terkadang pelarangan untuk menjawab pertanyaan mereka adalah lebih banyak kemaslahatannya bagimu karena sunnatullah yang berlaku pada manusia adalah bahwa orang-orang yang menuntut turunnya mukjizat kepada Rasul-rasul mereka, apabila ia diturun-kan lalu mereka tidak beriman kepadanya, maka Allah menyege-rakan azab kepada mereka. Oleh karena itu Allah berfirman,﴾ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡأٓيَٰتُ عِندَ ٱللَّهِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah'." Maksudnya, Allah-lah yang menurunkannya jika Dia berkehendak, dan menahannya jika Dia berkehendak. Urusannya sedikit pun bukanlah di tanganku, tuntutanmu kepa-daku terhadap mukjizat bukanlah pada tempatnya. Tuntutan ter-hadap apa yang tidak aku miliki. Seharusnya tuntutan tersebut ditujukan untuk meminta penjelasan ayat yang aku sampaikan kepadamu dan tuntutan penjelasan tentang pembenarannya. Itu telah terjadi. Walaupun begitu tidak bisa dipastikan bahwa sean-dainya mukjizat itu turun, mereka akan beriman dan memperca- yainya. Justru pada umumnya orang yang keadaannya begini malah tidak beriman. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَمَا يُشۡعِرُكُمۡ أَنَّهَآ إِذَا جَآءَتۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman?"
(110) ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka se-perti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permu-laannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." Kami menghukum mereka jika mereka tidak beriman pertama kali, pada saat itu penyeru mendatangi mereka dan hujjah pun telah tegak atas mereka dengan memalingkan hati mereka, menghalangi mereka dari keimanan, dan tidak memberi mereka taufik kepada jalan yang lurus. Ini adalah keadilan Allah dan hik-mahNya kepada hamba-hambaNya, karena merekalah yang mena-nam untuk diri mereka, pintu telah dibuka di depan mereka tetapi mereka tidak memasukinya. Jalan telah dijelaskan tetapi mereka tidak melewatinya. Jika setelah itu mereka gagal mendapatkan taufik, maka itu sudah sesuai dengan kondisi mereka.
(111) Begitu pula mereka menggantungkan iman kepada keinginan dan kehendak mereka semata tanpa bersandar kepada Allah, itu adalah kesalahan besar. Jika mukjizat-mukjizat besar da-tang kepada mereka seperti turunnya para malaikat kepada mereka, mereka memberi kesaksian kepada Rasulullah tentang risalah yang dibawanya, dialog mereka dengan orang-orang mati dan kebang-kitan mereka setelah mereka mati, dan Kami kumpulkan segala mukjizat di hadapan mereka sehingga ia berbicara kepada mereka berhadap-hadapan, melihat langsung tentang kebenaran sesuatu yang dibawa oleh Rasul, semua itu tidak membuat mereka beriman jika Allah tidak menghendaki mereka beriman. Akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui, oleh karena itu, mereka hanya menggantungkan iman mereka kepada turunnya mukjizat, padahal sesuai dengan tuntutan akal dan ilmu, hendaknya tujuan seorang hamba adalah ketundukan kepada kebe-naran, hendaknya dia mencarinya dengan cara yang telah dijelaskan oleh Allah lalu mengamalkannya dan memohon pertolongan kepada Tuhannya dalam mengikutinya, bukan bersandar kepada dirinya, kepada daya dan kekuatannya serta tidak menuntut turunnya muk-jizat-mukijizat yang justru tidak ada manfaat padanya.
Al-An'am 6:110
"Mereka bersumpah dengan Nama Allah dengan segala kesung-guhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat, pastilah mereka beriman kepadaNya. Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah.' Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman? Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permulaannya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 109-110). "Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya me-reka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-An'am: 111).
(109) Orang-orang musyrik yang mendustakan Rasul Muhammad bersumpah ﴾ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ ﴿ "dengan Nama Allah dengan segala kesungguhan." Maksudnya, sumpah yang mereka tegaskan dan mereka tekankan, ﴾ لَئِن جَآءَتۡهُمۡ ءَايَةٞ ﴿ "sungguh jika datang kepada me-reka sesuatu mukjizat," yang menunjukkan kebenaran Muhammad, ﴾ لَّيُؤۡمِنُنَّ بِهَاۚ ﴿ "pastilah mereka beriman kepadaNya." Ucapan yang mereka katakan ini tidak bertujuan baik, akan tetapi tujuannya hanyalah menyangkal bantahan yang ditujukan kepada mereka dan menolak apa yang dibawa oleh Rasul dengan pasti, Allah telah mendukung RasulNya dengan mukjizat-mukjizat yang jelas dan dalil yang kuat di mana jika ia dilihat, maka tidak tersisa sedikit pun syubhat dan persoalan tentang kebenaran sesuatu yang dibawanya. Permintaan mereka terhadap mukjizat setelah itu hanyalah permintaan yang menyusahkan yang tidak perlu dipenuhi. Bahkan terkadang pelarangan untuk menjawab pertanyaan mereka adalah lebih banyak kemaslahatannya bagimu karena sunnatullah yang berlaku pada manusia adalah bahwa orang-orang yang menuntut turunnya mukjizat kepada Rasul-rasul mereka, apabila ia diturun-kan lalu mereka tidak beriman kepadanya, maka Allah menyege-rakan azab kepada mereka. Oleh karena itu Allah berfirman,﴾ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡأٓيَٰتُ عِندَ ٱللَّهِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah'." Maksudnya, Allah-lah yang menurunkannya jika Dia berkehendak, dan menahannya jika Dia berkehendak. Urusannya sedikit pun bukanlah di tanganku, tuntutanmu kepa-daku terhadap mukjizat bukanlah pada tempatnya. Tuntutan ter-hadap apa yang tidak aku miliki. Seharusnya tuntutan tersebut ditujukan untuk meminta penjelasan ayat yang aku sampaikan kepadamu dan tuntutan penjelasan tentang pembenarannya. Itu telah terjadi. Walaupun begitu tidak bisa dipastikan bahwa sean-dainya mukjizat itu turun, mereka akan beriman dan memperca- yainya. Justru pada umumnya orang yang keadaannya begini malah tidak beriman. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَمَا يُشۡعِرُكُمۡ أَنَّهَآ إِذَا جَآءَتۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman?"
(110) ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka se-perti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permu-laannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." Kami menghukum mereka jika mereka tidak beriman pertama kali, pada saat itu penyeru mendatangi mereka dan hujjah pun telah tegak atas mereka dengan memalingkan hati mereka, menghalangi mereka dari keimanan, dan tidak memberi mereka taufik kepada jalan yang lurus. Ini adalah keadilan Allah dan hik-mahNya kepada hamba-hambaNya, karena merekalah yang mena-nam untuk diri mereka, pintu telah dibuka di depan mereka tetapi mereka tidak memasukinya. Jalan telah dijelaskan tetapi mereka tidak melewatinya. Jika setelah itu mereka gagal mendapatkan taufik, maka itu sudah sesuai dengan kondisi mereka.
(111) Begitu pula mereka menggantungkan iman kepada keinginan dan kehendak mereka semata tanpa bersandar kepada Allah, itu adalah kesalahan besar. Jika mukjizat-mukjizat besar da-tang kepada mereka seperti turunnya para malaikat kepada mereka, mereka memberi kesaksian kepada Rasulullah tentang risalah yang dibawanya, dialog mereka dengan orang-orang mati dan kebang-kitan mereka setelah mereka mati, dan Kami kumpulkan segala mukjizat di hadapan mereka sehingga ia berbicara kepada mereka berhadap-hadapan, melihat langsung tentang kebenaran sesuatu yang dibawa oleh Rasul, semua itu tidak membuat mereka beriman jika Allah tidak menghendaki mereka beriman. Akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui, oleh karena itu, mereka hanya menggantungkan iman mereka kepada turunnya mukjizat, padahal sesuai dengan tuntutan akal dan ilmu, hendaknya tujuan seorang hamba adalah ketundukan kepada kebe-naran, hendaknya dia mencarinya dengan cara yang telah dijelaskan oleh Allah lalu mengamalkannya dan memohon pertolongan kepada Tuhannya dalam mengikutinya, bukan bersandar kepada dirinya, kepada daya dan kekuatannya serta tidak menuntut turunnya muk-jizat-mukijizat yang justru tidak ada manfaat padanya.
Al-An'am 6:111
"Mereka bersumpah dengan Nama Allah dengan segala kesung-guhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat, pastilah mereka beriman kepadaNya. Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah.' Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman? Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permulaannya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 109-110). "Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya me-reka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-An'am: 111).
(109) Orang-orang musyrik yang mendustakan Rasul Muhammad bersumpah ﴾ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ ﴿ "dengan Nama Allah dengan segala kesungguhan." Maksudnya, sumpah yang mereka tegaskan dan mereka tekankan, ﴾ لَئِن جَآءَتۡهُمۡ ءَايَةٞ ﴿ "sungguh jika datang kepada me-reka sesuatu mukjizat," yang menunjukkan kebenaran Muhammad, ﴾ لَّيُؤۡمِنُنَّ بِهَاۚ ﴿ "pastilah mereka beriman kepadaNya." Ucapan yang mereka katakan ini tidak bertujuan baik, akan tetapi tujuannya hanyalah menyangkal bantahan yang ditujukan kepada mereka dan menolak apa yang dibawa oleh Rasul dengan pasti, Allah telah mendukung RasulNya dengan mukjizat-mukjizat yang jelas dan dalil yang kuat di mana jika ia dilihat, maka tidak tersisa sedikit pun syubhat dan persoalan tentang kebenaran sesuatu yang dibawanya. Permintaan mereka terhadap mukjizat setelah itu hanyalah permintaan yang menyusahkan yang tidak perlu dipenuhi. Bahkan terkadang pelarangan untuk menjawab pertanyaan mereka adalah lebih banyak kemaslahatannya bagimu karena sunnatullah yang berlaku pada manusia adalah bahwa orang-orang yang menuntut turunnya mukjizat kepada Rasul-rasul mereka, apabila ia diturun-kan lalu mereka tidak beriman kepadanya, maka Allah menyege-rakan azab kepada mereka. Oleh karena itu Allah berfirman,﴾ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡأٓيَٰتُ عِندَ ٱللَّهِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah'." Maksudnya, Allah-lah yang menurunkannya jika Dia berkehendak, dan menahannya jika Dia berkehendak. Urusannya sedikit pun bukanlah di tanganku, tuntutanmu kepa-daku terhadap mukjizat bukanlah pada tempatnya. Tuntutan ter-hadap apa yang tidak aku miliki. Seharusnya tuntutan tersebut ditujukan untuk meminta penjelasan ayat yang aku sampaikan kepadamu dan tuntutan penjelasan tentang pembenarannya. Itu telah terjadi. Walaupun begitu tidak bisa dipastikan bahwa sean-dainya mukjizat itu turun, mereka akan beriman dan memperca- yainya. Justru pada umumnya orang yang keadaannya begini malah tidak beriman. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَمَا يُشۡعِرُكُمۡ أَنَّهَآ إِذَا جَآءَتۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman?"
(110) ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka se-perti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permu-laannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." Kami menghukum mereka jika mereka tidak beriman pertama kali, pada saat itu penyeru mendatangi mereka dan hujjah pun telah tegak atas mereka dengan memalingkan hati mereka, menghalangi mereka dari keimanan, dan tidak memberi mereka taufik kepada jalan yang lurus. Ini adalah keadilan Allah dan hik-mahNya kepada hamba-hambaNya, karena merekalah yang mena-nam untuk diri mereka, pintu telah dibuka di depan mereka tetapi mereka tidak memasukinya. Jalan telah dijelaskan tetapi mereka tidak melewatinya. Jika setelah itu mereka gagal mendapatkan taufik, maka itu sudah sesuai dengan kondisi mereka.
(111) Begitu pula mereka menggantungkan iman kepada keinginan dan kehendak mereka semata tanpa bersandar kepada Allah, itu adalah kesalahan besar. Jika mukjizat-mukjizat besar da-tang kepada mereka seperti turunnya para malaikat kepada mereka, mereka memberi kesaksian kepada Rasulullah tentang risalah yang dibawanya, dialog mereka dengan orang-orang mati dan kebang-kitan mereka setelah mereka mati, dan Kami kumpulkan segala mukjizat di hadapan mereka sehingga ia berbicara kepada mereka berhadap-hadapan, melihat langsung tentang kebenaran sesuatu yang dibawa oleh Rasul, semua itu tidak membuat mereka beriman jika Allah tidak menghendaki mereka beriman. Akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui, oleh karena itu, mereka hanya menggantungkan iman mereka kepada turunnya mukjizat, padahal sesuai dengan tuntutan akal dan ilmu, hendaknya tujuan seorang hamba adalah ketundukan kepada kebe-naran, hendaknya dia mencarinya dengan cara yang telah dijelaskan oleh Allah lalu mengamalkannya dan memohon pertolongan kepada Tuhannya dalam mengikutinya, bukan bersandar kepada dirinya, kepada daya dan kekuatannya serta tidak menuntut turunnya muk-jizat-mukijizat yang justru tidak ada manfaat padanya.
Al-An'am 6:112
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu mu-suh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada ke-hidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan sesuatu yang mereka (setan) kerjakan." (Al-An'am: 112-113).
(112) Allah menghibur RasulNya Muhammad dengan me-ngatakan, "Kami menjadikan untukmu musuh-musuh yang menolak dakwahmu, memerangi dan memusuhimu serta hasud kepadamu," karena ini adalah sunnah Kami di mana setiap Nabi yang Kami utus kepada manusia pasti memiliki musuh-musuh dari kalangan jin dan manusia yang melawan ajaran yang dibawa oleh para Rasul. ﴾ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ ﴿ "Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)." Maksudnya, sebagian mereka menghiasi kebatilan yang mereka serukan dengan kebaikan kepada sebagian yang lain, dan memperindah kata-kata sehingga mereka menyulapnya dalam ben-tuk yang paling baik untuk mengelabui orang-orang bodoh dan menipu orang-orang pandir yang tidak memahami hakikat yang sebenarnya dan tidak mengerti makna yang sesungguhnya. Mereka terkagum-kagum oleh kata-kata indah dan ungkapan yang mem-pesona, lalu mereka meyakini kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.
(113) Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ ﴿ "Agar cenderung kepada bisikan itu," maksudnya, condong kepada ucapan yang indah tersebut ﴾ أَفۡـِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat." Karena ketidakimanan mereka kepada Hari Akhir dan ketiadaan akal mereka yang berguna yang telah membawa mereka kepada hal tersebut. ﴾ وَلِيَرۡضَوۡهُ ﴿ "Agar mereka merasa senang kepadanya," setelah mereka cenderung kepadanya. Mereka cenderung kepadanya lebih dahulu, lalu apabila mereka condong kepadanya dan melihat kata-kata indah itu, maka mereka rela menerimanya, dan ia dihiasi dengan kesesatan di dalam hati mereka lalu menjadi keyakinan yang ter-patri dan sifat yang tidak terpisahkan, kemudian akibat dari itu adalah munculnya perbuatan-perbuatan dan perkataan yang telah diperbuat oleh setan yakni mereka mendatangkan ucapan dan perbuatan dusta yang merupakan konsekuensi dari keyakinan-keyakinan buruk itu. Inilah keadaan orang-orang yang berdusta, setan-setan manusia dan jin yang menjawab ajakan mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepada Hari Akhir, para pemilik akal yang sempurna, dan pemikiran yang terukur, maka mereka tidak tertipu oleh kata-kata tersebut, mereka tidak terjerat oleh jebakan-jebakan tersebut, justru semangat mereka diarahkan untuk menge-tahui hakikat-hakikat (keimanan kepada Hari Akhir), mereka mene-laah makna-makna yang dilontarkan oleh para penyeru, jika benar maka mereka menerimanya dan tunduk kepadanya meskipun ia dibungkus dengan kata-kata yang kurang dan ungkapan-ungkapan yang tidak memadai, dan jika ia batil maka mereka mengembalikan-nya kepada pengusungnya, siapa pun dia, meskipun ia dibungkus dengan kata-kata yang indah yang lebih lembut dari sutra. Di antara hikmah Allah menjadikan musuh-musuh bagi para nabi dan penyokong bagi kebatilan yang menyerukan kepada kebatilan adalah sebagai realisasi ujian kepada manusia agar orang yang benar dengan orang yang dusta, orang yang berakal dengan orang bodoh, orang yang melihat dengan orang yang buta menjadi terbedakan. Dan di antara hikmahNya adalah bahwa hal itu me-ngandung penjelasan dan keterangan terhadap kebenaran, karena kebenaran menjadi bercahaya dan bersinar jika kebatilan berdiri melawan dan memusuhinya, dalam kondisi itu dalil-dalil dan bukti-bukti kebenaran menjadi nyata yang menunjukkan kepada kebenaran dan hakikatnya, begitu pula kerusakan dan keburukan kebatilan akan terlihat secara nyata yang mana itu termasuk target besar, yang dicari-cari oleh orang-orang yang berlomba-lomba mencarinya.
Al-An'am 6:113
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu mu-suh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada ke-hidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan sesuatu yang mereka (setan) kerjakan." (Al-An'am: 112-113).
(112) Allah menghibur RasulNya Muhammad dengan me-ngatakan, "Kami menjadikan untukmu musuh-musuh yang menolak dakwahmu, memerangi dan memusuhimu serta hasud kepadamu," karena ini adalah sunnah Kami di mana setiap Nabi yang Kami utus kepada manusia pasti memiliki musuh-musuh dari kalangan jin dan manusia yang melawan ajaran yang dibawa oleh para Rasul. ﴾ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ ﴿ "Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)." Maksudnya, sebagian mereka menghiasi kebatilan yang mereka serukan dengan kebaikan kepada sebagian yang lain, dan memperindah kata-kata sehingga mereka menyulapnya dalam ben-tuk yang paling baik untuk mengelabui orang-orang bodoh dan menipu orang-orang pandir yang tidak memahami hakikat yang sebenarnya dan tidak mengerti makna yang sesungguhnya. Mereka terkagum-kagum oleh kata-kata indah dan ungkapan yang mem-pesona, lalu mereka meyakini kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.
(113) Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ ﴿ "Agar cenderung kepada bisikan itu," maksudnya, condong kepada ucapan yang indah tersebut ﴾ أَفۡـِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat." Karena ketidakimanan mereka kepada Hari Akhir dan ketiadaan akal mereka yang berguna yang telah membawa mereka kepada hal tersebut. ﴾ وَلِيَرۡضَوۡهُ ﴿ "Agar mereka merasa senang kepadanya," setelah mereka cenderung kepadanya. Mereka cenderung kepadanya lebih dahulu, lalu apabila mereka condong kepadanya dan melihat kata-kata indah itu, maka mereka rela menerimanya, dan ia dihiasi dengan kesesatan di dalam hati mereka lalu menjadi keyakinan yang ter-patri dan sifat yang tidak terpisahkan, kemudian akibat dari itu adalah munculnya perbuatan-perbuatan dan perkataan yang telah diperbuat oleh setan yakni mereka mendatangkan ucapan dan perbuatan dusta yang merupakan konsekuensi dari keyakinan-keyakinan buruk itu. Inilah keadaan orang-orang yang berdusta, setan-setan manusia dan jin yang menjawab ajakan mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepada Hari Akhir, para pemilik akal yang sempurna, dan pemikiran yang terukur, maka mereka tidak tertipu oleh kata-kata tersebut, mereka tidak terjerat oleh jebakan-jebakan tersebut, justru semangat mereka diarahkan untuk menge-tahui hakikat-hakikat (keimanan kepada Hari Akhir), mereka mene-laah makna-makna yang dilontarkan oleh para penyeru, jika benar maka mereka menerimanya dan tunduk kepadanya meskipun ia dibungkus dengan kata-kata yang kurang dan ungkapan-ungkapan yang tidak memadai, dan jika ia batil maka mereka mengembalikan-nya kepada pengusungnya, siapa pun dia, meskipun ia dibungkus dengan kata-kata yang indah yang lebih lembut dari sutra. Di antara hikmah Allah menjadikan musuh-musuh bagi para nabi dan penyokong bagi kebatilan yang menyerukan kepada kebatilan adalah sebagai realisasi ujian kepada manusia agar orang yang benar dengan orang yang dusta, orang yang berakal dengan orang bodoh, orang yang melihat dengan orang yang buta menjadi terbedakan. Dan di antara hikmahNya adalah bahwa hal itu me-ngandung penjelasan dan keterangan terhadap kebenaran, karena kebenaran menjadi bercahaya dan bersinar jika kebatilan berdiri melawan dan memusuhinya, dalam kondisi itu dalil-dalil dan bukti-bukti kebenaran menjadi nyata yang menunjukkan kepada kebenaran dan hakikatnya, begitu pula kerusakan dan keburukan kebatilan akan terlihat secara nyata yang mana itu termasuk target besar, yang dicari-cari oleh orang-orang yang berlomba-lomba mencarinya.
Al-An'am 6:114
"Maka patutkah aku mencari hakim selain dari Allah, pada-hal Dia-lah yang telah menurunkan kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami berikan kitab ke-pada mereka, mereka mengetahui bahwa al-Qur`an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu-ragu. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur`an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimatNya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 114-115).
(114) Katakan wahai Rasul, ﴾ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡتَغِي حَكَمٗا ﴿ "Maka patut-kah aku mencari hakim selain dari Allah?" Aku berhukum dan berpe-gang kepada perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, karena selain Allah adalah obyek hukum bukan peletak hukum. Semua pengaturan dan hukum manusia pasti mengandung cacat, kekurangan, dan kezhaliman. Yang semestinya dijadikan sebagai hakim adalah Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, yang memiliki hak mencipta dan memerintah. ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ مُفَصَّلٗاۚ ﴿ "Padahal Dia-lah yang telah menu-runkan kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan terperinci?" Maksudnya, di dalamnya dijelaskan halal haram, hukum-hukum syar'i, pokok-pokok dan cabang-cabang agama yang tidak ada penjelasan di atas penjelasanNya, tidak ada bukti yang lebih jelas daripada buktiNya, tidak ada yang lebih baik hukumnya daripada Dia, tidak ada yang lebih benar perkataannya daripada Dia, karena hukum-hukumNya mengandung hikmah dan rahmat, dan Ahli Kitab; orang-orang Yahudi dan Nasrani dahulu mengakui itu. ﴾ يَعۡلَمُونَ أَنَّهُۥ مُنَزَّلٞ مِّن رَّبِّكَ بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Mereka mengetahui bahwa al-Qur`an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya." Oleh karena itu, berita-berita tentangnya berkesesuaian, ﴾ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ﴿ "maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu-ragu."
(115) Kemudian Allah menjelaskan perinciannya, Dia ber-firman, ﴾ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقٗا وَعَدۡلٗاۚ ﴿ "Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur`an), sebagai kalimat yang benar dan adil." Maksudnya, "benar" dalam berita dan "adil" dalam perintah dan larangan. Tidak ada yang lebih benar daripada berita-berita Allah yang dimuat di dalam kitab yang mulia ini, tidak ada yang lebih adil daripada perintah-perintah dan laranganNya. ﴾ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦۚ ﴿ "Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimatNya." Karena Dia menjaganya dan melin-dunginya dengan bentuk kebenaran tertinggi dan dengan kebenaran paling mulia, maka tidak mungkin merubahnya dan tidak ada pen-dapat yang diusulkan yang lebih baik darinya. ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar" seluruh suara dengan bahasa yang berbeda-beda dan kepentingan yang bermacam-macam. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui," Dzat Yang ilmuNya me-liputi yang lahir, yang batin, yang lampau dan yang akan datang.
Al-An'am 6:115
"Maka patutkah aku mencari hakim selain dari Allah, pada-hal Dia-lah yang telah menurunkan kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami berikan kitab ke-pada mereka, mereka mengetahui bahwa al-Qur`an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu-ragu. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur`an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimatNya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 114-115).
(114) Katakan wahai Rasul, ﴾ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡتَغِي حَكَمٗا ﴿ "Maka patut-kah aku mencari hakim selain dari Allah?" Aku berhukum dan berpe-gang kepada perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, karena selain Allah adalah obyek hukum bukan peletak hukum. Semua pengaturan dan hukum manusia pasti mengandung cacat, kekurangan, dan kezhaliman. Yang semestinya dijadikan sebagai hakim adalah Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, yang memiliki hak mencipta dan memerintah. ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ مُفَصَّلٗاۚ ﴿ "Padahal Dia-lah yang telah menu-runkan kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan terperinci?" Maksudnya, di dalamnya dijelaskan halal haram, hukum-hukum syar'i, pokok-pokok dan cabang-cabang agama yang tidak ada penjelasan di atas penjelasanNya, tidak ada bukti yang lebih jelas daripada buktiNya, tidak ada yang lebih baik hukumnya daripada Dia, tidak ada yang lebih benar perkataannya daripada Dia, karena hukum-hukumNya mengandung hikmah dan rahmat, dan Ahli Kitab; orang-orang Yahudi dan Nasrani dahulu mengakui itu. ﴾ يَعۡلَمُونَ أَنَّهُۥ مُنَزَّلٞ مِّن رَّبِّكَ بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Mereka mengetahui bahwa al-Qur`an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya." Oleh karena itu, berita-berita tentangnya berkesesuaian, ﴾ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ﴿ "maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu-ragu."
(115) Kemudian Allah menjelaskan perinciannya, Dia ber-firman, ﴾ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقٗا وَعَدۡلٗاۚ ﴿ "Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur`an), sebagai kalimat yang benar dan adil." Maksudnya, "benar" dalam berita dan "adil" dalam perintah dan larangan. Tidak ada yang lebih benar daripada berita-berita Allah yang dimuat di dalam kitab yang mulia ini, tidak ada yang lebih adil daripada perintah-perintah dan laranganNya. ﴾ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦۚ ﴿ "Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimatNya." Karena Dia menjaganya dan melin-dunginya dengan bentuk kebenaran tertinggi dan dengan kebenaran paling mulia, maka tidak mungkin merubahnya dan tidak ada pen-dapat yang diusulkan yang lebih baik darinya. ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar" seluruh suara dengan bahasa yang berbeda-beda dan kepentingan yang bermacam-macam. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui," Dzat Yang ilmuNya me-liputi yang lahir, yang batin, yang lampau dan yang akan datang.
Al-An'am 6:116
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalanNya, dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-An'am: 116-117).
(116) Allah memperingatkan NabiNya agar tidak menu-ruti mayoritas manusia. Dia berfirman, ﴾ وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." Karena kebanyakan manusia telah menyimpang dalam agama, amal, dan ilmunya. Agama mereka rusak, amal mereka memper-turutkan hawa nafsu, ilmu mereka serabutan, tak bisa mengantar-kan kepada jalan yang lurus, hanya sebatas mengikuti praduga yang tidak berguna sedikit pun bagi kebenaran dan berspekulasi dalam memberikan pernyataan atas Nama Allah tanpa landasan ilmu.
(117) Orang yang seperti inilah yang layak Allah peringat-kan hamba-hambaNya darinya dan menjelaskan keadaannya ke-pada mereka. Karena ini, walaupun ia ditujukan kepada nabi, akan tetapi umatnya mengikutinya dalam hukum-hukum lainnya yang bukan kekhususannya. Perkataan dan pembicaraan Allah adalah yang paling benar dan ﴾ هُوَ أَعۡلَمُ مَن يَضِلُّ عَن سَبِيلِهِۦۖ ﴿ "Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalanNya." Dan Dia lebih mengetahui tentang orang yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk, maka wajib atasmu wahai orang-orang Mukmin untuk mengikuti nasihat-nasihat, perintah-perintah, dan larangan-larangan-Nya, karena Dia lebih mengetahui kemaslahatanmu dan lebih me-nyayangimu daripada dirimu sendiri. Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak dibuktikan dengan banyaknya pendukung, dan minimnya pendukung dalam salah satu perkara tidak menunjukkan bahwa itu tidak di atas ke-benaran, tetapi yang realistis adalah kebalikan dari itu, para peng-ikut kebenaran lebih minim jumlahnya, akan tetapi kedudukan dan pahala mereka lebih besar di sisi Allah. Yang wajib adalah mencari dalil kebenaran dan kebatilan dengan jalan yang mengantarkan kepadanya.
Al-An'am 6:117
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalanNya, dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-An'am: 116-117).
(116) Allah memperingatkan NabiNya agar tidak menu-ruti mayoritas manusia. Dia berfirman, ﴾ وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." Karena kebanyakan manusia telah menyimpang dalam agama, amal, dan ilmunya. Agama mereka rusak, amal mereka memper-turutkan hawa nafsu, ilmu mereka serabutan, tak bisa mengantar-kan kepada jalan yang lurus, hanya sebatas mengikuti praduga yang tidak berguna sedikit pun bagi kebenaran dan berspekulasi dalam memberikan pernyataan atas Nama Allah tanpa landasan ilmu.
(117) Orang yang seperti inilah yang layak Allah peringat-kan hamba-hambaNya darinya dan menjelaskan keadaannya ke-pada mereka. Karena ini, walaupun ia ditujukan kepada nabi, akan tetapi umatnya mengikutinya dalam hukum-hukum lainnya yang bukan kekhususannya. Perkataan dan pembicaraan Allah adalah yang paling benar dan ﴾ هُوَ أَعۡلَمُ مَن يَضِلُّ عَن سَبِيلِهِۦۖ ﴿ "Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalanNya." Dan Dia lebih mengetahui tentang orang yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk, maka wajib atasmu wahai orang-orang Mukmin untuk mengikuti nasihat-nasihat, perintah-perintah, dan larangan-larangan-Nya, karena Dia lebih mengetahui kemaslahatanmu dan lebih me-nyayangimu daripada dirimu sendiri. Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak dibuktikan dengan banyaknya pendukung, dan minimnya pendukung dalam salah satu perkara tidak menunjukkan bahwa itu tidak di atas ke-benaran, tetapi yang realistis adalah kebalikan dari itu, para peng-ikut kebenaran lebih minim jumlahnya, akan tetapi kedudukan dan pahala mereka lebih besar di sisi Allah. Yang wajib adalah mencari dalil kebenaran dan kebatilan dengan jalan yang mengantarkan kepadanya.
Al-An'am 6:118
"Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut Nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya. Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut Nama Allah ketika menyembelih-nya? Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu sesuatu yang diharamkanNya atasmu, kecuali sesuatu yang ter-paksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas." (Al-An'am: 118-119).
(118-119) Allah memerintahkan orang-orang beriman de-ngan tuntutan iman, bahwa jika mereka adalah orang-orang yang beriman maka hendaknya mereka memakan binatang ternak dan binatang-binatang lain yang dihalalkan yang disembelih dengan menyebut Nama Allah dan meyakini kehalalannya. Janganlah me-reka melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah yaitu mengharamkan apa-apa yang dihalalkan dalam jumlah banyak dan itu mereka adakan dari diri mereka sendiri, dan penyesatan dari setan-setan mereka. Maka Allah menjelaskan bahwa tanda se-orang Mukmin adalah dia menyelisihi orang-orang jahiliyah pada kebiasaan yang tercela ini yang mengandung penyimpangan ter-hadap syariat Allah. Apa gerangan yang menghalangi mereka untuk memakan sesuatu yang telah disebut Nama Allah saat menyem-belihnya sementara Allah telah menjelaskan dan memaparkan se-cara terperinci apa-apa yang diharamkan atas mereka? Tidak ada lagi syubhat dan persoalan yang mengharuskan mereka menolak makan sebagian yang halal karena takut terjatuh pada yang haram. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa pada dasarnya segala sesuatu dan makanan itu adalah mubah, dan bahwa pada dasarnya segala sesuatu jika tidak ada dalil syariat yang mengha-ramkan sesuatu darinya, maka ia tetap berada di atas kehalalannya. Sesuatu yang tidak Allah bahas adalah halal, karena Dia telah me-rinci yang haram, maka sesuatu yang tidak Dia rinci berarti tidak haram, walaupun begitu dalam keadaan terpaksa dan kelaparan sesuatu yang haram yang telah dijelaskan oleh Allah secara rinci adalah dihalalkan, sebagaimana FirmanNya, ﴾ حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلۡمُنۡخَنِقَةُ وَٱلۡمَوۡقُوذَةُ وَٱلۡمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيۡتُمۡ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسۡتَقۡسِمُواْ بِٱلۡأَزۡلَٰمِۚ ذَٰلِكُمۡ فِسۡقٌۗ ٱلۡيَوۡمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ لِّإِثۡمٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ 3 ﴿ "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (da-ging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang di-sembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu. Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ma`idah: 3). Kemudian Allah memperingatkan kebanyakan manusia, Dia berfirman, ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا لَّيُضِلُّونَ بِأَهۡوَآئِهِم ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka." Maksudnya, hanya dengan memperturutkan apa yang diinginkan oleh diri mereka ﴾ بِغَيۡرِ عِلۡمٍۚ ﴿ "tanpa pengetahuan," dan tanpa hujjah. Maka hendaknya hamba-hamba Allah berhati-hati dengan orang-orang yang seperti mereka. Tanda-tanda mereka seperti yang dijelaskan oleh Allah adalah bahwa ajakan mereka tidak dilandasi dengan bukti dan mereka tidak memiliki dalil syar'i, hanya sekedar syubhat-syubhat menurut hawa nafsu mereka yang rusak dan akal mereka yang terbatas. Orang-orang itu adalah orang-orang yang telah membuat pelanggaran terhadap syariat Allah dan terhadap hamba-hambaNya, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar. Lain halnya dengan orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk, mereka menyeru kepada petunjuk dan kebenaran. Mereka menopang dakwah me-reka dengan hujjah aqli dan naqli, dan dalam dakwah, mereka hanya mengikuti dan mencari ridha serta kedekatan kepadaNya.
Al-An'am 6:119
"Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut Nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya. Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut Nama Allah ketika menyembelih-nya? Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu sesuatu yang diharamkanNya atasmu, kecuali sesuatu yang ter-paksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas." (Al-An'am: 118-119).
(118-119) Allah memerintahkan orang-orang beriman de-ngan tuntutan iman, bahwa jika mereka adalah orang-orang yang beriman maka hendaknya mereka memakan binatang ternak dan binatang-binatang lain yang dihalalkan yang disembelih dengan menyebut Nama Allah dan meyakini kehalalannya. Janganlah me-reka melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah yaitu mengharamkan apa-apa yang dihalalkan dalam jumlah banyak dan itu mereka adakan dari diri mereka sendiri, dan penyesatan dari setan-setan mereka. Maka Allah menjelaskan bahwa tanda se-orang Mukmin adalah dia menyelisihi orang-orang jahiliyah pada kebiasaan yang tercela ini yang mengandung penyimpangan ter-hadap syariat Allah. Apa gerangan yang menghalangi mereka untuk memakan sesuatu yang telah disebut Nama Allah saat menyem-belihnya sementara Allah telah menjelaskan dan memaparkan se-cara terperinci apa-apa yang diharamkan atas mereka? Tidak ada lagi syubhat dan persoalan yang mengharuskan mereka menolak makan sebagian yang halal karena takut terjatuh pada yang haram. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa pada dasarnya segala sesuatu dan makanan itu adalah mubah, dan bahwa pada dasarnya segala sesuatu jika tidak ada dalil syariat yang mengha-ramkan sesuatu darinya, maka ia tetap berada di atas kehalalannya. Sesuatu yang tidak Allah bahas adalah halal, karena Dia telah me-rinci yang haram, maka sesuatu yang tidak Dia rinci berarti tidak haram, walaupun begitu dalam keadaan terpaksa dan kelaparan sesuatu yang haram yang telah dijelaskan oleh Allah secara rinci adalah dihalalkan, sebagaimana FirmanNya, ﴾ حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلۡمُنۡخَنِقَةُ وَٱلۡمَوۡقُوذَةُ وَٱلۡمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيۡتُمۡ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسۡتَقۡسِمُواْ بِٱلۡأَزۡلَٰمِۚ ذَٰلِكُمۡ فِسۡقٌۗ ٱلۡيَوۡمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ لِّإِثۡمٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ 3 ﴿ "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (da-ging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang di-sembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu. Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. Barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ma`idah: 3). Kemudian Allah memperingatkan kebanyakan manusia, Dia berfirman, ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا لَّيُضِلُّونَ بِأَهۡوَآئِهِم ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka." Maksudnya, hanya dengan memperturutkan apa yang diinginkan oleh diri mereka ﴾ بِغَيۡرِ عِلۡمٍۚ ﴿ "tanpa pengetahuan," dan tanpa hujjah. Maka hendaknya hamba-hamba Allah berhati-hati dengan orang-orang yang seperti mereka. Tanda-tanda mereka seperti yang dijelaskan oleh Allah adalah bahwa ajakan mereka tidak dilandasi dengan bukti dan mereka tidak memiliki dalil syar'i, hanya sekedar syubhat-syubhat menurut hawa nafsu mereka yang rusak dan akal mereka yang terbatas. Orang-orang itu adalah orang-orang yang telah membuat pelanggaran terhadap syariat Allah dan terhadap hamba-hambaNya, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar. Lain halnya dengan orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk, mereka menyeru kepada petunjuk dan kebenaran. Mereka menopang dakwah me-reka dengan hujjah aqli dan naqli, dan dalam dakwah, mereka hanya mengikuti dan mencari ridha serta kedekatan kepadaNya.
Al-An'am 6:120
"Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembu-nyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi penjelasan (pada Hari Kiamat), disebabkan sesuatu yang telah mereka kerjakan." (Al-An'am: 120).
(120) Yang dimaksud dengan dosa adalah seluruh kemak-siatan yang membuat pelakunya berdosa yakni terjerumus ke dalam dosa dan kesengsaraan dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hambaNya. Allah me-larang hamba-hambaNya melakukan dosa lahir dan batin yakni yang rahasia dan yang jelas yang berkaitan dengan tubuh dan ang-gotanya, dan yang berkaitan dengan hati. Dan seorang hamba tidak meninggalkan kemaksiatan lahir batin kecuali setelah dia menge-tahui dan mencarinya, maka mencari dan mengetahui kemaksiat-an hati dan badan adalah sesuatu yang wajib atas setiap mukallaf. Banyak orang tidak mengenal banyak kemaksiatan, lebih-lebih kemaksiatan hati seperti kikir, ujub, riya' dan sebagainya sehingga banyak orang tertimpa olehnya sementara dia tidak menyadari dan merasa, dan ini termasuk berpaling dari ilmu dan tidak adanya bashirah. Kemudian Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang mela-kukan dosa lahir dan batin akan dibalas sesuai dengan hasil per-buatannya dan sesuai dengan kadar dosanya, sedikit atau banyak. Balasan ini akan hadir di Akhirat, dan bisa jadi seorang hamba dihukum di dunia, maka hal itu mengurangi keburukannya.
Al-An'am 6:121
"Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut Nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya per-buatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik." (Al-An'am: 121).
(121) Termasuk dalam larangan ini adalah binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain nama Allah seperti yang disembelih untuk berhala dan tuhan-tuhan orang-orang musyrik, karena ini termasuk ke dalam kategori yang disembelih bukan ka-rena Allah yang secara khusus diharamkan oleh dalil. Termasuk dalam larangan ini adalah binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Allah yang disembelih karena Allah seperti dhahaya (sembelihan kurban) dan hadyu (sembelihan untuk dam haji) atau untuk sekedar dimakan dagingnya, jika penyembelihnya se-ngaja meninggalkan basmalah menurut pendapat mayoritas ulama. Dan tidak termasuk ke dalam keumuman ini adalah orang yang lupa, dengan adanya dalil-dalil lain yang menunjukkan diampuni-nya dosa darinya. Termasuk ke dalam ayat ini adalah bangkai yang mati tanpa disembelih, ia termasuk yang tidak disebut nama Allah padanya dan Allah secara khusus menyatakannya di dalam FirmanNya, ﴾ حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ ﴿ "Diharamkan bagimu bangkai." (Al-Ma`idah: 3). Dan bisa jadi ia adalah sebab turunnya ayat ini berdasarkan FirmanNya, ﴾ وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu" tanpa ilmu, karena manakala orang-orang musyrik mendengar pengharaman Allah terhadap bangkai dan penghalalanNya terhadap binatang sembelihan sementara mereka menghalalkan memakan bangkai, maka mereka menentang dan mendebat Allah dan Rasul-Nya tanpa ilmu dan bukti, "Apakah kamu makan binatang yang kamu bunuh sementara kamu tidak memakan binatang yang di-bunuh oleh Allah." Maksud "binatang yang dibunuh Allah" adalah bangkai. Ini adalah akal yang rusak yang tak berpijak kepada hujjah dan dalil, akan tetapi hanya berpijak kepada akal mereka yang rusak di mana jika seandainya kebenaran itu meng-ikutinya, niscaya bumi, langit, dan apa yang ada padanya akan rusak. Maka celaka-lah orang yang mendahulukan akal rusak seperti ini daripada syariat dan hukum Allah yang sesuai dengan kemaslahatan umum dan manfaat khusus. Ini tidaklah mengherankan, karena akal-akal seperti ini adalah hasil dari bisikan setan yang merupakan wali mereka, di mana mereka berkeinginan untuk menyesatkan manu-sia dari agamanya dan mengajak mereka agar menjadi penduduk neraka. ﴾ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Dan jika kamu menuruti mereka" dalam kesyirik-an mereka, penghalalan yang haram dan pengharaman yang halal, ﴾ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ ﴿ "sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik." Karena kamu telah mengangkat mereka sebagai wali-walimu selain Allah, dan kamu menyetujui perbuatan mereka yang menyelisihi kaum Muslimin, maka jalanmu sama dengan jalan mereka. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa ilham-ilham dan kasyaf yang terjadi di dalam hati yang banyak diklaim oleh orang-orang sufi dan semisalnya tidak menunjukkan dengan sendirinya bahwa ia adalah benar. Ia tidak dibenarkan sebelum ditimbang dengan kitabullah dan sunnah RasulNya. Jika keduanya meneri-manya, maka ia diterima dan jika tidak, maka ia ditolak. Jika salah satu darinya tidak diketahui, maka ia belum bisa disikapi, tidak dibenarkan dan tidak didustakan, karena bisikan dan ilham bisa berasal dari Allah bisa pula dari setan, maka harus dilakukan pem-bedaan antara keduanya, karena kesalahan dan kesesatan yang hanya diketahui oleh Allah akan terjadi jika tidak dilakukan pem-bedaan.
Al-An'am 6:122
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidup-kan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadi-kan terasa indah bagi orang-orang kafir itu apa yang telah mereka kerjakan. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata, 'Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.' Allah lebih mengetahui pada siapa Dia menempatkan tugas kera-sulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." (Al-An'am: 122-124).
(122) Allah berfirman, ﴾ أَوَمَن كَانَ ﴿ "Dan apakah orang" yang belum diberi hidayah oleh Allah ﴾ مَيۡتٗا ﴿ "yang sudah mati," dalam kegelapan, kekufuran, kebodohan, dan kemaksiatan, ﴾ فَأَحۡيَيۡنَٰهُ ﴿ "ke-mudian Kami hidupkan" dengan cahaya ilmu, iman, dan ketaatan, lalu dia berjalan dengan cahaya di antara manusia, mengetahui perkara-perkaranya, mengetahui jalannya, mengenal dan meng-utamakan kebaikan, bersungguh-sungguh menerapkannya pada dirinya dan orang lain, mengetahui keburukan, membencinya, ber-sungguh-sungguh meninggalkannya dan menghilangkannya dari diri dan orang lain, apakah orang ini sama dengan orang yang ada di dalam kegelapan, baik kegelapan kebodohan, kesesatan, keku-furan, dan kemaksiatan? ﴾ لَيۡسَ بِخَارِجٖ مِّنۡهَاۚ ﴿ "Yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya." Jalan-jalan menjadi rancu, dan rambu-rambu menjadi gelap, maka kese-dihan, kegalauan, kesedihan, dan kesengsaraan menghadirinya. Maka Allah mengingatkan akal dengan apa yang ia kenal dan ia ketahui bahwa ini tidaklah sama dengan itu sebagaimana malam tidaklah sama dengan siang, keterang-benderangan tidaklah sama dengan kegelapan, orang hidup tidaklah sama dengan orang mati, seolah-olah dikatakan, "Bagaimana mungkin orang yang mempu-nyai sedikit akal rela dalam keadaan seperti ini, dalam kegelapan-kegelapan kebingungan?" Maka Dia menjawab b a h w a ﴾ زُيِّنَ لِلۡكَٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir itu apa yang telah mereka kerjakan." Setan terus menjadikan amal mereka tampak bagus dan menghiasinya di dalam hati mereka sehingga mereka memandangnya baik dan melihatnya benar, maka ia pun menjadi akidah di dalam hati mereka dan sifat yang terpatri yang selalu mengiringi mereka, oleh karena itu, mereka rela dengan keburukan dan kejahatan yang mereka alami.
(123) Orang-orang yang kebingungan dalam kegelapan dan buta di dalam kebatilan serta yang berada dalam keadaan bimbang adalah tidaklah sama. Di antara mereka adalah para pemimpin, para kepala dan figur publik, serta ada pula pengikut yang dipimpin. Yang pertamalah yang beruntung mendapatkan keadaan paling sengsara. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا فِي كُلِّ قَرۡيَةٍ أَكَٰبِرَ مُجۡرِمِيهَا ﴿ "Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar." Maksudnya, para pemimpin di mana keja-hatannya besar dan pembangkangannya sangat parah. ﴾ لِيَمۡكُرُواْ فِيهَاۖ ﴿ "Agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu," dengan tipuan dan seruan kepada jalan setan, memusuhi para Rasul dan peng-ikutnya dengan ucapan dan perbuatan. Hanya saja tipu daya dan makar mereka justru kembali kepada diri mereka sendiri karena mereka membuat makar sementara Allah juga membuat makar, dan Dia adalah sebaik-baik pembuat makar. Begitu juga Allah menjadikan imam-imam besar dalam hida-yah dan orang-orang mulia yang melawan para penjahat itu, yang membantah pendapat-pendapat mereka, yang berjihad di jalan Allah melawan mereka, dan meniti jalan-jalan yang mengantarkan kepadanya. Allah membantu mereka, meluruskan pendapat mereka dan meneguhkan kaki mereka. Allah menjadikan hari-hari silih berganti di antara mereka dengan musuh-musuh mereka sehingga akhir perkaranya adalah kemenangan dan keunggulan mereka, dan akibat baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
(124) Para penjahat besar itu kukuh di atas kebatilannya dan menolak kebenaran yang dibawa oleh para Rasul karena ha-sad dan dengki, mereka berkata, ﴾ لَن نُّؤۡمِنَ حَتَّىٰ نُؤۡتَىٰ مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ رُسُلُ ٱللَّهِۘ ﴿ "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah," berupa kenabian dan kerasulan. Ini mengandung penentangan mereka kepada Allah, bangga terhadap diri mereka, sombong terhadap kebenaran yang Dia turunkan melalui para rasul, dan penolakan terhadap keutama-an dan kebaikan Allah, maka Allah menjawab tantangan mereka yang rusak. Dia menyatakan bahwa mereka tidak layak mendapat-kan kebaikan. Pada mereka tidak terdapat sesuatu yang bisa mem-buat mereka menjadi hamba-hamba Allah yang shalih. Apalagi menjadi nabi dan Rasul. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ حَيۡثُ يَجۡعَلُ رِسَالَتَهُۥۗ ﴿ "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan." Barangsiapa yang Allah mengetahuinya layak mendapatkannya, mampu menunaikan tanggung jawabnya, mempunyai segala sifat yang baik, dan terbebas dari segala akhlak yang tercela, maka Allah memberinya apa yang menjadi tuntutan hikmahNya, baik secara independen maupun menginduk, dan barangsiapa yang tidak de-mikian, maka Dia tidak akan meletakkan pemberianNya yang paling utama pada orang yang tidak kapabel dan tidak suci di sisiNya. Ayat ini mengandung dalil kesempurnaan hikmah Allah, ka-rena walaupun Dia Maha Pengasih, Maha Pemurah, Mahaluas KaruniaNya, namun Dia adalah Mahabijaksana, tidak meletakkan karuniaNya kecuali pada orang yang layak. Kemudian Allah meng-ancam orang-orang yang berbuat kejahatan. Dia berfirman,﴾ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ صَغَارٌ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah." Yakni kehinaan dan kenistaan, Allah menghinakan mereka akibat kesombongan mereka terhadap kebenaran.﴾ وَعَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا كَانُواْ يَمۡكُرُونَ ﴿ "Dan siksa yang keras itu disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." Maksudnya, disebabkan makar mereka, bukan karena Allah menzhalimi mereka.
Al-An'am 6:123
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidup-kan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadi-kan terasa indah bagi orang-orang kafir itu apa yang telah mereka kerjakan. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata, 'Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.' Allah lebih mengetahui pada siapa Dia menempatkan tugas kera-sulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." (Al-An'am: 122-124).
(122) Allah berfirman, ﴾ أَوَمَن كَانَ ﴿ "Dan apakah orang" yang belum diberi hidayah oleh Allah ﴾ مَيۡتٗا ﴿ "yang sudah mati," dalam kegelapan, kekufuran, kebodohan, dan kemaksiatan, ﴾ فَأَحۡيَيۡنَٰهُ ﴿ "ke-mudian Kami hidupkan" dengan cahaya ilmu, iman, dan ketaatan, lalu dia berjalan dengan cahaya di antara manusia, mengetahui perkara-perkaranya, mengetahui jalannya, mengenal dan meng-utamakan kebaikan, bersungguh-sungguh menerapkannya pada dirinya dan orang lain, mengetahui keburukan, membencinya, ber-sungguh-sungguh meninggalkannya dan menghilangkannya dari diri dan orang lain, apakah orang ini sama dengan orang yang ada di dalam kegelapan, baik kegelapan kebodohan, kesesatan, keku-furan, dan kemaksiatan? ﴾ لَيۡسَ بِخَارِجٖ مِّنۡهَاۚ ﴿ "Yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya." Jalan-jalan menjadi rancu, dan rambu-rambu menjadi gelap, maka kese-dihan, kegalauan, kesedihan, dan kesengsaraan menghadirinya. Maka Allah mengingatkan akal dengan apa yang ia kenal dan ia ketahui bahwa ini tidaklah sama dengan itu sebagaimana malam tidaklah sama dengan siang, keterang-benderangan tidaklah sama dengan kegelapan, orang hidup tidaklah sama dengan orang mati, seolah-olah dikatakan, "Bagaimana mungkin orang yang mempu-nyai sedikit akal rela dalam keadaan seperti ini, dalam kegelapan-kegelapan kebingungan?" Maka Dia menjawab b a h w a ﴾ زُيِّنَ لِلۡكَٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir itu apa yang telah mereka kerjakan." Setan terus menjadikan amal mereka tampak bagus dan menghiasinya di dalam hati mereka sehingga mereka memandangnya baik dan melihatnya benar, maka ia pun menjadi akidah di dalam hati mereka dan sifat yang terpatri yang selalu mengiringi mereka, oleh karena itu, mereka rela dengan keburukan dan kejahatan yang mereka alami.
(123) Orang-orang yang kebingungan dalam kegelapan dan buta di dalam kebatilan serta yang berada dalam keadaan bimbang adalah tidaklah sama. Di antara mereka adalah para pemimpin, para kepala dan figur publik, serta ada pula pengikut yang dipimpin. Yang pertamalah yang beruntung mendapatkan keadaan paling sengsara. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا فِي كُلِّ قَرۡيَةٍ أَكَٰبِرَ مُجۡرِمِيهَا ﴿ "Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar." Maksudnya, para pemimpin di mana keja-hatannya besar dan pembangkangannya sangat parah. ﴾ لِيَمۡكُرُواْ فِيهَاۖ ﴿ "Agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu," dengan tipuan dan seruan kepada jalan setan, memusuhi para Rasul dan peng-ikutnya dengan ucapan dan perbuatan. Hanya saja tipu daya dan makar mereka justru kembali kepada diri mereka sendiri karena mereka membuat makar sementara Allah juga membuat makar, dan Dia adalah sebaik-baik pembuat makar. Begitu juga Allah menjadikan imam-imam besar dalam hida-yah dan orang-orang mulia yang melawan para penjahat itu, yang membantah pendapat-pendapat mereka, yang berjihad di jalan Allah melawan mereka, dan meniti jalan-jalan yang mengantarkan kepadanya. Allah membantu mereka, meluruskan pendapat mereka dan meneguhkan kaki mereka. Allah menjadikan hari-hari silih berganti di antara mereka dengan musuh-musuh mereka sehingga akhir perkaranya adalah kemenangan dan keunggulan mereka, dan akibat baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
(124) Para penjahat besar itu kukuh di atas kebatilannya dan menolak kebenaran yang dibawa oleh para Rasul karena ha-sad dan dengki, mereka berkata, ﴾ لَن نُّؤۡمِنَ حَتَّىٰ نُؤۡتَىٰ مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ رُسُلُ ٱللَّهِۘ ﴿ "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah," berupa kenabian dan kerasulan. Ini mengandung penentangan mereka kepada Allah, bangga terhadap diri mereka, sombong terhadap kebenaran yang Dia turunkan melalui para rasul, dan penolakan terhadap keutama-an dan kebaikan Allah, maka Allah menjawab tantangan mereka yang rusak. Dia menyatakan bahwa mereka tidak layak mendapat-kan kebaikan. Pada mereka tidak terdapat sesuatu yang bisa mem-buat mereka menjadi hamba-hamba Allah yang shalih. Apalagi menjadi nabi dan Rasul. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ حَيۡثُ يَجۡعَلُ رِسَالَتَهُۥۗ ﴿ "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan." Barangsiapa yang Allah mengetahuinya layak mendapatkannya, mampu menunaikan tanggung jawabnya, mempunyai segala sifat yang baik, dan terbebas dari segala akhlak yang tercela, maka Allah memberinya apa yang menjadi tuntutan hikmahNya, baik secara independen maupun menginduk, dan barangsiapa yang tidak de-mikian, maka Dia tidak akan meletakkan pemberianNya yang paling utama pada orang yang tidak kapabel dan tidak suci di sisiNya. Ayat ini mengandung dalil kesempurnaan hikmah Allah, ka-rena walaupun Dia Maha Pengasih, Maha Pemurah, Mahaluas KaruniaNya, namun Dia adalah Mahabijaksana, tidak meletakkan karuniaNya kecuali pada orang yang layak. Kemudian Allah meng-ancam orang-orang yang berbuat kejahatan. Dia berfirman,﴾ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ صَغَارٌ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah." Yakni kehinaan dan kenistaan, Allah menghinakan mereka akibat kesombongan mereka terhadap kebenaran.﴾ وَعَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا كَانُواْ يَمۡكُرُونَ ﴿ "Dan siksa yang keras itu disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." Maksudnya, disebabkan makar mereka, bukan karena Allah menzhalimi mereka.
Al-An'am 6:124
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidup-kan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadi-kan terasa indah bagi orang-orang kafir itu apa yang telah mereka kerjakan. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata, 'Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.' Allah lebih mengetahui pada siapa Dia menempatkan tugas kera-sulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." (Al-An'am: 122-124).
(122) Allah berfirman, ﴾ أَوَمَن كَانَ ﴿ "Dan apakah orang" yang belum diberi hidayah oleh Allah ﴾ مَيۡتٗا ﴿ "yang sudah mati," dalam kegelapan, kekufuran, kebodohan, dan kemaksiatan, ﴾ فَأَحۡيَيۡنَٰهُ ﴿ "ke-mudian Kami hidupkan" dengan cahaya ilmu, iman, dan ketaatan, lalu dia berjalan dengan cahaya di antara manusia, mengetahui perkara-perkaranya, mengetahui jalannya, mengenal dan meng-utamakan kebaikan, bersungguh-sungguh menerapkannya pada dirinya dan orang lain, mengetahui keburukan, membencinya, ber-sungguh-sungguh meninggalkannya dan menghilangkannya dari diri dan orang lain, apakah orang ini sama dengan orang yang ada di dalam kegelapan, baik kegelapan kebodohan, kesesatan, keku-furan, dan kemaksiatan? ﴾ لَيۡسَ بِخَارِجٖ مِّنۡهَاۚ ﴿ "Yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya." Jalan-jalan menjadi rancu, dan rambu-rambu menjadi gelap, maka kese-dihan, kegalauan, kesedihan, dan kesengsaraan menghadirinya. Maka Allah mengingatkan akal dengan apa yang ia kenal dan ia ketahui bahwa ini tidaklah sama dengan itu sebagaimana malam tidaklah sama dengan siang, keterang-benderangan tidaklah sama dengan kegelapan, orang hidup tidaklah sama dengan orang mati, seolah-olah dikatakan, "Bagaimana mungkin orang yang mempu-nyai sedikit akal rela dalam keadaan seperti ini, dalam kegelapan-kegelapan kebingungan?" Maka Dia menjawab b a h w a ﴾ زُيِّنَ لِلۡكَٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir itu apa yang telah mereka kerjakan." Setan terus menjadikan amal mereka tampak bagus dan menghiasinya di dalam hati mereka sehingga mereka memandangnya baik dan melihatnya benar, maka ia pun menjadi akidah di dalam hati mereka dan sifat yang terpatri yang selalu mengiringi mereka, oleh karena itu, mereka rela dengan keburukan dan kejahatan yang mereka alami.
(123) Orang-orang yang kebingungan dalam kegelapan dan buta di dalam kebatilan serta yang berada dalam keadaan bimbang adalah tidaklah sama. Di antara mereka adalah para pemimpin, para kepala dan figur publik, serta ada pula pengikut yang dipimpin. Yang pertamalah yang beruntung mendapatkan keadaan paling sengsara. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا فِي كُلِّ قَرۡيَةٍ أَكَٰبِرَ مُجۡرِمِيهَا ﴿ "Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar." Maksudnya, para pemimpin di mana keja-hatannya besar dan pembangkangannya sangat parah. ﴾ لِيَمۡكُرُواْ فِيهَاۖ ﴿ "Agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu," dengan tipuan dan seruan kepada jalan setan, memusuhi para Rasul dan peng-ikutnya dengan ucapan dan perbuatan. Hanya saja tipu daya dan makar mereka justru kembali kepada diri mereka sendiri karena mereka membuat makar sementara Allah juga membuat makar, dan Dia adalah sebaik-baik pembuat makar. Begitu juga Allah menjadikan imam-imam besar dalam hida-yah dan orang-orang mulia yang melawan para penjahat itu, yang membantah pendapat-pendapat mereka, yang berjihad di jalan Allah melawan mereka, dan meniti jalan-jalan yang mengantarkan kepadanya. Allah membantu mereka, meluruskan pendapat mereka dan meneguhkan kaki mereka. Allah menjadikan hari-hari silih berganti di antara mereka dengan musuh-musuh mereka sehingga akhir perkaranya adalah kemenangan dan keunggulan mereka, dan akibat baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
(124) Para penjahat besar itu kukuh di atas kebatilannya dan menolak kebenaran yang dibawa oleh para Rasul karena ha-sad dan dengki, mereka berkata, ﴾ لَن نُّؤۡمِنَ حَتَّىٰ نُؤۡتَىٰ مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ رُسُلُ ٱللَّهِۘ ﴿ "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah," berupa kenabian dan kerasulan. Ini mengandung penentangan mereka kepada Allah, bangga terhadap diri mereka, sombong terhadap kebenaran yang Dia turunkan melalui para rasul, dan penolakan terhadap keutama-an dan kebaikan Allah, maka Allah menjawab tantangan mereka yang rusak. Dia menyatakan bahwa mereka tidak layak mendapat-kan kebaikan. Pada mereka tidak terdapat sesuatu yang bisa mem-buat mereka menjadi hamba-hamba Allah yang shalih. Apalagi menjadi nabi dan Rasul. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ حَيۡثُ يَجۡعَلُ رِسَالَتَهُۥۗ ﴿ "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan." Barangsiapa yang Allah mengetahuinya layak mendapatkannya, mampu menunaikan tanggung jawabnya, mempunyai segala sifat yang baik, dan terbebas dari segala akhlak yang tercela, maka Allah memberinya apa yang menjadi tuntutan hikmahNya, baik secara independen maupun menginduk, dan barangsiapa yang tidak de-mikian, maka Dia tidak akan meletakkan pemberianNya yang paling utama pada orang yang tidak kapabel dan tidak suci di sisiNya. Ayat ini mengandung dalil kesempurnaan hikmah Allah, ka-rena walaupun Dia Maha Pengasih, Maha Pemurah, Mahaluas KaruniaNya, namun Dia adalah Mahabijaksana, tidak meletakkan karuniaNya kecuali pada orang yang layak. Kemudian Allah meng-ancam orang-orang yang berbuat kejahatan. Dia berfirman,﴾ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ صَغَارٌ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah." Yakni kehinaan dan kenistaan, Allah menghinakan mereka akibat kesombongan mereka terhadap kebenaran.﴾ وَعَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا كَانُواْ يَمۡكُرُونَ ﴿ "Dan siksa yang keras itu disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." Maksudnya, disebabkan makar mereka, bukan karena Allah menzhalimi mereka.
Al-An'am 6:125
"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki ke-sesatannya oleh Allah, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (Al-An'am: 125).
(125) Allah menjelaskan kepada hamba-hambaNya tanda-tanda kebahagiaan, hidayah, kesengsaraan, dan kesesatan seorang hamba, "Sesungguhnya orang yang dadanya terbuka untuk Islam dan disinari cahaya iman, ia hidup dengan sinar yakin, maka jiwa-nya tenteram, mencintai kebaikan, melakukannya dengan jiwa yang rela, merasakan kenikmatan tanpa merasa berat; ini adalah tanda bahwa Allah telah memberinya petunjuk, menganugerahkan taufik kepadanya sehingga dia mampu meniti jalan lurus. Dan bahwa tanda orang yang Allah ingin ﴾ أَن يُضِلَّهُۥ ﴿ "menyesatkannya" adalah, ﴾ يَجۡعَلۡ صَدۡرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجٗا ﴿ "Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit." Mak-sudnya, dadanya sangat sempit dari iman, ilmu dan yakin. Hatinya telah terbenam di dalam syubhat dan syahwat sehingga tidak ada kebaikan yang masuk ke dalamnya, dan hatinya tidak lapang dalam melakukan kebaikan, saking sempit dan sesaknya, seolah-olah ﴾ يَصَّعَّدُ فِي ٱلسَّمَآءِۚ ﴿ "ia sedang mendaki ke langit." Maksudnya, seolah-olah dia dipaksa naik ke langit di mana dia tidak mempunyai cara untuk menghindarinya. Penyebabnya adalah ketidakimanan me-reka. Ketidakimanan merekalah yang menyebabkan Allah menim-pakan siksa kepada mereka, karena mereka sendirilah yang menutup pintu rahmat dan kebaikan dari diri mereka. Ini adalah parameter yang adil dan jalan yang tidak berubah. Barangsiapa yang memberi, bertakwa dan membenarkan kebaikan, maka Allah memudahkan-nya kepada kebaikan. Dan barangsiapa yang kikir, merasa kaya dan mendustakan kebaikan, maka Allah akan memudahkannya kepada kesulitan.
Al-An'am 6:126
"Dan inilah jalan Tuhanmu, (jalan) yang lurus. Sungguh Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya, dan Dia-lah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shalih yang selalu mereka kerjakan." (Al-An'am: 126-127).
(126) Maksudnya, jalan yang seimbang dan mengantarkan kepada Allah dan kepada rumah kemuliaanNya. Hukum-hukumNya telah dijelaskan, syariat-syariatNya telah diperinci, kebaikan dan keburukan telah dibedakan, akan tetapi perincian dan penjelasan ini bukan untuk setiap orang, ia hanya untuk ﴾ لِقَوۡمٖ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "orang-orang yang mengambil pelajaran." Karena merekalah orang-orang yang mengetahui dan mengambil manfaat dari ilmunya, dan Allah menyiapkan untuk mereka balasan yang besar dan pahala yang baik.
(127) Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga)." Surga dinamakan darus-salam karena keselamatannya dari segala kekurangan, cacat, keke-ruhan, kesedihan, kecemasan, dan pengganggu-pengganggu lainnya. Hal itu secara otomatis menunjukkan bahwa nikmatnya benar-benar sempurna dan benar-benar lengkap di mana orang yang ingin menjelaskannya tidak mampu untuk menjelaskannya. Para pengkhayal tidak akan berkhayal melebihi hakikatnya, berupa nik-mat rohani, hati, dan badan. Mereka mendapatkan sesuatu yang diinginkan oleh jiwa dan dinikmati oleh mata, dan mereka kekal di dalamnya. ﴾ وَهُوَ وَلِيُّهُم ﴿ "Dan Dia-lah Pelindung mereka," Yang mengatur dan mendidik mereka, menyayangi mereka dalam segala perkara mereka, membantu mereka untuk menaatiNya, memudahkan un-tuk mereka segala sebab yang mengantarkan kepada kecintaanNya. Dia melindungi mereka karena amal baik mereka dan persembahan mereka di mana tujuan mereka adalah ridha Allah, lain halnya dengan orang yang berpaling dari pelindungNya dan mengikuti hawa nafsunya, dia dikuasai oleh setan, maka setanlah yang meng-urusinya sehingga ia merusak agama dan dunianya.
Al-An'am 6:127
"Dan inilah jalan Tuhanmu, (jalan) yang lurus. Sungguh Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya, dan Dia-lah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shalih yang selalu mereka kerjakan." (Al-An'am: 126-127).
(126) Maksudnya, jalan yang seimbang dan mengantarkan kepada Allah dan kepada rumah kemuliaanNya. Hukum-hukumNya telah dijelaskan, syariat-syariatNya telah diperinci, kebaikan dan keburukan telah dibedakan, akan tetapi perincian dan penjelasan ini bukan untuk setiap orang, ia hanya untuk ﴾ لِقَوۡمٖ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "orang-orang yang mengambil pelajaran." Karena merekalah orang-orang yang mengetahui dan mengambil manfaat dari ilmunya, dan Allah menyiapkan untuk mereka balasan yang besar dan pahala yang baik.
(127) Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ لَهُمۡ دَارُ ٱلسَّلَٰمِ عِندَ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga)." Surga dinamakan darus-salam karena keselamatannya dari segala kekurangan, cacat, keke-ruhan, kesedihan, kecemasan, dan pengganggu-pengganggu lainnya. Hal itu secara otomatis menunjukkan bahwa nikmatnya benar-benar sempurna dan benar-benar lengkap di mana orang yang ingin menjelaskannya tidak mampu untuk menjelaskannya. Para pengkhayal tidak akan berkhayal melebihi hakikatnya, berupa nik-mat rohani, hati, dan badan. Mereka mendapatkan sesuatu yang diinginkan oleh jiwa dan dinikmati oleh mata, dan mereka kekal di dalamnya. ﴾ وَهُوَ وَلِيُّهُم ﴿ "Dan Dia-lah Pelindung mereka," Yang mengatur dan mendidik mereka, menyayangi mereka dalam segala perkara mereka, membantu mereka untuk menaatiNya, memudahkan un-tuk mereka segala sebab yang mengantarkan kepada kecintaanNya. Dia melindungi mereka karena amal baik mereka dan persembahan mereka di mana tujuan mereka adalah ridha Allah, lain halnya dengan orang yang berpaling dari pelindungNya dan mengikuti hawa nafsunya, dia dikuasai oleh setan, maka setanlah yang meng-urusinya sehingga ia merusak agama dan dunianya.
Al-An'am 6:128
"Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka se-muanya, (dan Allah berfirman), 'Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.' Lalu kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, 'Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain), dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami.' Allah berfirman, 'Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).' Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan ayat-ayatKu kepadamu dan memberi peringatan kepadamu mengenai pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.' Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Yang demikian itu karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu Mahakaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkanmu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikanmu dari keturunan orang-orang lain. Sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya. Katakanlah, 'Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.' Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan menda-pat keberuntungan." (Al-An'am: 128-135).
(128) Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka semuanya." Yakni seluruh manu-sia dan jin, baik yang sesat di antara mereka dan menyesatkan yang lain. Dia berfirman, mencela jin yang menyesatkan manusia, meng-hiasi keburukan bagi mereka, dan mendorong mereka kepada ke-maksiatan, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ قَدِ ٱسۡتَكۡثَرۡتُم مِّنَ ٱلۡإِنسِۖ ﴿ "Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia." Maksudnya, kamu banyak menyesatkan dan menghalangi manusia dari jalan Allah, bagaimana kamu berani melanggar batasan-batasanKu, kamu berani menentang rasul-rasulKu, kamu berperan memerangi Allah, berusaha menghalang-halangi hamba-hamba Allah dari jalan Allah kepada jalan neraka? Pada hari ini laknatKu menimpamu, murka-Ku adalah balasanmu, dan Kami akan menambah azabmu berda-sarkan kekufuran dan penyesatanmu kepada orang lain. Kamu tidak mempunyai dalih yang bisa kamu sodorkan sebagai alasan, tidak ada tempat berlindung bagimu, tidak ada pemberi syafa'at dan tidak ada permohonan yang didengarkan, pada hari ini kamu jangan bertanya tentang azab, siksa, dan kehinaan yang menimpa mereka. Oleh karena itu, Allah tidak menyebutkan alasan untuk me-reka. Adapun teman-teman mereka dari kalangan manusia, maka mereka menyodorkan alasan yang mengada-ada. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَا ٱسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٖ ﴿ "Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah menda-pat kesenangan dari sebagian (yang lain)." Maksudnya, masing-masing dari jin dan manusia mendapatkan kesenangan dan manfaat dari yang lain. Jin merasa senang dengan ketaatan manusia kepadanya, dia menikmati ibadah, penghormatan, dan permohonan perlindung-an manusia kepadanya, sementara manusia mendapatkan kese-nangan dengan mendapatkan apa yang diinginkan dan diimpikan dengan pelayanan yang dilakukan oleh jin untuknya dalam seba-gian ambisinya. Manusia menyembah jin lalu jin menjadi khadamnya dengan mewujudkan keperluan-keperluan dunia untuknya. Maksudnya mewujudkan dosa-dosa kami yang telah terjadi, dan hal tersebut tidak mungkin ditolak. ﴾ وَبَلَغۡنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِيٓ أَجَّلۡتَ لَنَاۚ ﴿ "Dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami." Maksudnya, kami telah sampai di tempat yang mana amalan-amalan akan dibalas, maka lakukanlah kepada kami apa yang Engkau kehendaki, putus-kanlah apa yang Engkau kehendaki pada kami, hujjah kami telah habis, kami sudah tidak memiliki alasan lagi. Perkaranya adalah perkaraMu dan hukumnya adalah hukumMu. Seakan-akan ucapan yang mereka katakan ini mengandung kerendahan dan kepasrah-an, namun dilakukan bukan pada waktunya (yang tepat). Oleh karena itu, Allah memutuskan dengan keputusanNya yang adil yang tidak ada kezhaliman padanya. Dia berfirman, ﴾ ٱلنَّارُ مَثۡوَىٰكُمۡ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ﴿ "Neraka itulah tempat diammu sedang kamu kekal di dalamnya," karena keputusan ini berasal dari tuntutan hikmah dan ilmunya, maka Dia menutup ayat dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Seba-gaimana ilmuNya meliputi dan mencakup segala sesuatu, maka hikmah tujuanNya juga meliputi dan mencakup segala sesuatu.
(129) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعۡضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعۡضَۢا بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." Maksudnya, sebagaimana Kami jadikan jin yang bengal sebagai wali dan ber-kuasa menyesatkan teman-temannya dari kalangan manusia, Kami hubungkan juga mereka dengan jalinan pertemanan dan kesesuaian disebabkan oleh usaha dan jerih payah mereka, maka termasuk sunnah Kami adalah menjadikan orang zhalim sebagai wali bagi orang zhalim yang lain yang mendorong dan meng-hasudnya kepada keburukan, menjauhkan dan menghindarkannya dari kebaikan. Hal itu termasuk hukuman Allah yang keras, yang buruk pengaruhnya, yang mendalam bahayanya, dan yang me-nanggung dosa adalah orang yang zhalim, dialah yang mengundang dan memetik mudarat bagi dirinya sendiri, dan Tuhanmu tidaklah menzhalimi hamba-hambaNya. Termasuk dalam hal ini adalah jika kezhaliman manusia, kerusakan dan penolakan manusia untuk menunaikan hak-hak yang wajib telah memuncak, maka Allah akan memunculkan orang zhalim yang menguasai mereka dan menimpakan azab yang buruk kepada mereka. Dia akan memerintah mereka dengan kezhaliman dan kesewenang-wenangan yang jauh lebih besar daripada hak-hak Allah dan hamba-hambaNya yang tidak mereka tunaikan dengan tidak diberi balasan dan pahala padanya, sebagaimana jika manu-sia baik dan lurus, maka Allah memperbaiki pemimpin mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang adil dan bukan pemimpin zhalim lagi lalim.
(130) Kemudian Allah mencela semua orang yang berpa-ling dari kebenaran dan menolaknya, baik yang berasal dari ka-langan jin dan manusia. Dia menjelaskan kesalahan mereka, maka mereka mengakui itu. Dia berfirman, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ رُسُلٞ مِّنكُمۡ يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu" yang jelas dan terang yang terdapat padanya perincian perintah, larangan, kebaikan, keburukan, janji pahala, dan ancaman siksa, ﴾ وَيُنذِرُونَكُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?" Dan mengajarkan kepadamu bahwa keselamatan dan keberuntungan hanya didapat dengan menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, dan bahwa kesengsaraan dan kerugian terletak pada penyia-nyiaan semua itu? Maka mereka mengakui itu. Mereka berkata, "Benar, ﴾ شَهِدۡنَا عَلَىٰٓ أَنفُسِنَاۖ وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri', namun kehidupan dunia telah menipu mereka," dengan perhiasan, keindahan dan kenikmatannya, maka mereka condong kepadanya dan menerimanya, dan itu melalaikan mereka dari Akhi-rat. ﴾ وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ﴿ "Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." Maka hujjah Allah pun tegak atas mereka, dan pada saat itu, semua orang mengetahui bahkan diri mereka sendiri mengetahui keadilan Allah pada mereka. (Maka Allah menyatakan hukumNya atas mereka dengan azab yang pedih, "Masuklah kamu ke dalam deretan umat-umat yang telah berlalu sebelummu dari kalangan jin dan manusia di mana mereka melakukan seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka se-perti kamu pun bersenang-senang. Mereka terjun ke dalam keba-tilan sepertimu. Mereka adalah orang-orang yang merugi, yakni orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir dari mereka. Ada-kah kerugian yang lebih besar daripada kerugian surga kenikmat-an dan lenyapnya perlindungan dari Allah Yang Maha Pemurah?).[64]
(132) Walaupun mereka sama-sama merugi, akan tetapi kerugian mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang besar. ﴾ وَلِكُلّٖ ﴿ "Dan masing-masing orang" dari mereka ﴾ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۚ ﴿ "memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya." Sesuai dengan amal mereka, sedikit keburukan tidak disamakan dengan banyaknya, pengikut tidaklah sama dengan yang diikuti, yang dipimpin tidaklah sama dengan yang memimpin. Sebagai-mana penduduk surga, walaupun mereka sama-sama masuk surga, mendapatkan keuntungan dan kemenangan, akan tetapi di antara mereka terdapat perbedaan yang hanya diketahui oleh Allah, mes-kipun masing-masing dari mereka telah rela menerima apa yang Allah berikan kepadanya dan cukup dengan apa yang dilimpah-kan kepadanya. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kami termasuk penduduk Surga Firdaus yang tertinggi yang Allah sediakan bagi hamba-hambaNya yang dekat, makhlukNya yang terpilih dan orang-orang khusus dari orang-orang yang dicintaiNya. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." Maka masing-masing dibalas sesuai dengan amalnya dan sesuai dengan maksud yang diketahuiNya.
(133) Allah memerintahkan amal shalih kepada hamba-hambaNya dan melarang amal buruk sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka dan bertujuan mewujudkan kebaikan bagi mereka, karena jika tidak, maka Dia Mahakaya dengan DzatNya dan tidak membutuhkan makhluk-makhlukNya. Ketaatan orang-orang yang taat tidak berguna bagiNya, dan kedurhakaan orang yang durha-ka tidaklah merugikannya. ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفۡ مِنۢ بَعۡدِكُم مَّا يَشَآءُ كَمَآ أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوۡمٍ ءَاخَرِينَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu, dan menggan-timu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain." Jika kamu mengetahui bahwa kamu pasti berpindah dari alam ini sebagaimana selainmu juga berpindah, kamu pasti pergi darinya dan meninggalkannya untuk orang-orang sesudahmu sebagaimana orang-orang sebelummu telah berpindah darinya, pergi darinya dan meninggalkannya untukmu, lalu mengapa kamu menjadikannya sebagai tempat tinggal permanen, kamu tinggal padanya dan kamu lupa bahwa ia hanyalah tempat singgah sementara, bukan tempat menetap, dan bahwa di depanmu terdapat alam yang menghim-pun seluruh kenikmatan dan terbebas dari segala kekurangan dan aib? Ia adalah alam di mana orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir berjuang mendapatkannya, orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian berpindah ke sana, yang mana jika mereka telah sampai kepadanya, maka di dalamnya terdapat kekekalan selama-lamanya, tempat tinggal abadi, tujuan yang di belakangnya tidak ada tujuan lagi, sesuatu yang didambakan di mana seluruh dambaan terhenti padanya, sesuatu yang diinginkan di mana se-gala yang diinginkan sirna di bawahnya. Di sana demi Allah, ter-dapat apa yang diinginkan oleh jiwa, yang dinikmati oleh mata, padanya orang-orang berlomba-lomba mendapatkan kenikmatan ruh, kebahagiaan yang banyak, nikmat-nikmat badan dan hati serta kedekatan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Alangkah mulianya semangat yang berkaitan dengan kemu-liaan itu dan keinginan yang terangkat ke derajat yang tertinggi. Dan betapa hinanya bagian orang yang rela dengan kerendahan, dan betapa rendahnya semangat orang yang rela dengan pernia-gaan yang melenakan.
(134) Orang yang berpaling lagi lalai jangan meyakini bah-wa untuk sampai kepada alam ini memerlukan waktu yang lama karena ﴾ إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَأٓتٖۖ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ ﴿ "sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya." Maksudnya, menolak dari Allah, tidak sanggup lari dari azabnya karena ubun-ubunmu berada dalam genggamanNya, dan kamu berada di bawah pengaturan dan penataanNya.
(135) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Rasul kepada kaummu jika kamu mengajak mereka kepada Allah, jelaskanlah tempat kembali mereka kepada mereka dan hak-hakNya yang wajib atas mereka lalu mereka menolak tunduk kepada perintahNya, mengikuti hawa nafsu mereka dan terus berjalan di atas kesyirikan,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu pada tem-pat berpijakmu." Maksudnya berbuatlah pada tempat berpijakmu di mana kamu berada di atasnya dan kamu merelakannya untuk dirimu. ﴾ إِنِّي عَامِلٞۖ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula)," dengan berpedoman pada perintah dari Allah dan mengikuti ridha Allah. ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِۚ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui, sia-pakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini." Aku atau kamu. Ini termasuk obyektifitas dengan nilai tinggi di mana Dia menjelaskan amal perbuatan dan pelakunya, men-jadikan balasan terkait dengan pandangan orang yang mengetahui, memaparkannya dengan terbuka dan jelas sehingga tidak memer-lukan isyarat. Telah diketahui bahwa akibat yang baik di dunia dan akhirat adalah milik orang-orang yang bertakwa, bahwa orang-orang Mukmin adalah pemilik hasil yang baik dari dunia ini, dan bahwa setiap orang yang berpaling dari sesuatu yang dibawa oleh para Rasul, akibatnya adalah akibat buruk. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." Semua orang yang zhalim walaupun dia menikmati dunia dengan kenikmatannya, tetap saja akhirnya adalah ketiadaan dan kebinasaan. Sesungguh-nya Allah mendikte orang zhalim sehingga manakala Dia meng-ambilnya, maka dia tidak akan lolos.
Al-An'am 6:129
"Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka se-muanya, (dan Allah berfirman), 'Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.' Lalu kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, 'Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain), dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami.' Allah berfirman, 'Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).' Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan ayat-ayatKu kepadamu dan memberi peringatan kepadamu mengenai pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.' Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Yang demikian itu karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu Mahakaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkanmu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikanmu dari keturunan orang-orang lain. Sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya. Katakanlah, 'Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.' Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan menda-pat keberuntungan." (Al-An'am: 128-135).
(128) Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka semuanya." Yakni seluruh manu-sia dan jin, baik yang sesat di antara mereka dan menyesatkan yang lain. Dia berfirman, mencela jin yang menyesatkan manusia, meng-hiasi keburukan bagi mereka, dan mendorong mereka kepada ke-maksiatan, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ قَدِ ٱسۡتَكۡثَرۡتُم مِّنَ ٱلۡإِنسِۖ ﴿ "Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia." Maksudnya, kamu banyak menyesatkan dan menghalangi manusia dari jalan Allah, bagaimana kamu berani melanggar batasan-batasanKu, kamu berani menentang rasul-rasulKu, kamu berperan memerangi Allah, berusaha menghalang-halangi hamba-hamba Allah dari jalan Allah kepada jalan neraka? Pada hari ini laknatKu menimpamu, murka-Ku adalah balasanmu, dan Kami akan menambah azabmu berda-sarkan kekufuran dan penyesatanmu kepada orang lain. Kamu tidak mempunyai dalih yang bisa kamu sodorkan sebagai alasan, tidak ada tempat berlindung bagimu, tidak ada pemberi syafa'at dan tidak ada permohonan yang didengarkan, pada hari ini kamu jangan bertanya tentang azab, siksa, dan kehinaan yang menimpa mereka. Oleh karena itu, Allah tidak menyebutkan alasan untuk me-reka. Adapun teman-teman mereka dari kalangan manusia, maka mereka menyodorkan alasan yang mengada-ada. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَا ٱسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٖ ﴿ "Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah menda-pat kesenangan dari sebagian (yang lain)." Maksudnya, masing-masing dari jin dan manusia mendapatkan kesenangan dan manfaat dari yang lain. Jin merasa senang dengan ketaatan manusia kepadanya, dia menikmati ibadah, penghormatan, dan permohonan perlindung-an manusia kepadanya, sementara manusia mendapatkan kese-nangan dengan mendapatkan apa yang diinginkan dan diimpikan dengan pelayanan yang dilakukan oleh jin untuknya dalam seba-gian ambisinya. Manusia menyembah jin lalu jin menjadi khadamnya dengan mewujudkan keperluan-keperluan dunia untuknya. Maksudnya mewujudkan dosa-dosa kami yang telah terjadi, dan hal tersebut tidak mungkin ditolak. ﴾ وَبَلَغۡنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِيٓ أَجَّلۡتَ لَنَاۚ ﴿ "Dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami." Maksudnya, kami telah sampai di tempat yang mana amalan-amalan akan dibalas, maka lakukanlah kepada kami apa yang Engkau kehendaki, putus-kanlah apa yang Engkau kehendaki pada kami, hujjah kami telah habis, kami sudah tidak memiliki alasan lagi. Perkaranya adalah perkaraMu dan hukumnya adalah hukumMu. Seakan-akan ucapan yang mereka katakan ini mengandung kerendahan dan kepasrah-an, namun dilakukan bukan pada waktunya (yang tepat). Oleh karena itu, Allah memutuskan dengan keputusanNya yang adil yang tidak ada kezhaliman padanya. Dia berfirman, ﴾ ٱلنَّارُ مَثۡوَىٰكُمۡ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ﴿ "Neraka itulah tempat diammu sedang kamu kekal di dalamnya," karena keputusan ini berasal dari tuntutan hikmah dan ilmunya, maka Dia menutup ayat dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Seba-gaimana ilmuNya meliputi dan mencakup segala sesuatu, maka hikmah tujuanNya juga meliputi dan mencakup segala sesuatu.
(129) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعۡضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعۡضَۢا بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." Maksudnya, sebagaimana Kami jadikan jin yang bengal sebagai wali dan ber-kuasa menyesatkan teman-temannya dari kalangan manusia, Kami hubungkan juga mereka dengan jalinan pertemanan dan kesesuaian disebabkan oleh usaha dan jerih payah mereka, maka termasuk sunnah Kami adalah menjadikan orang zhalim sebagai wali bagi orang zhalim yang lain yang mendorong dan meng-hasudnya kepada keburukan, menjauhkan dan menghindarkannya dari kebaikan. Hal itu termasuk hukuman Allah yang keras, yang buruk pengaruhnya, yang mendalam bahayanya, dan yang me-nanggung dosa adalah orang yang zhalim, dialah yang mengundang dan memetik mudarat bagi dirinya sendiri, dan Tuhanmu tidaklah menzhalimi hamba-hambaNya. Termasuk dalam hal ini adalah jika kezhaliman manusia, kerusakan dan penolakan manusia untuk menunaikan hak-hak yang wajib telah memuncak, maka Allah akan memunculkan orang zhalim yang menguasai mereka dan menimpakan azab yang buruk kepada mereka. Dia akan memerintah mereka dengan kezhaliman dan kesewenang-wenangan yang jauh lebih besar daripada hak-hak Allah dan hamba-hambaNya yang tidak mereka tunaikan dengan tidak diberi balasan dan pahala padanya, sebagaimana jika manu-sia baik dan lurus, maka Allah memperbaiki pemimpin mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang adil dan bukan pemimpin zhalim lagi lalim.
(130) Kemudian Allah mencela semua orang yang berpa-ling dari kebenaran dan menolaknya, baik yang berasal dari ka-langan jin dan manusia. Dia menjelaskan kesalahan mereka, maka mereka mengakui itu. Dia berfirman, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ رُسُلٞ مِّنكُمۡ يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu" yang jelas dan terang yang terdapat padanya perincian perintah, larangan, kebaikan, keburukan, janji pahala, dan ancaman siksa, ﴾ وَيُنذِرُونَكُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?" Dan mengajarkan kepadamu bahwa keselamatan dan keberuntungan hanya didapat dengan menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, dan bahwa kesengsaraan dan kerugian terletak pada penyia-nyiaan semua itu? Maka mereka mengakui itu. Mereka berkata, "Benar, ﴾ شَهِدۡنَا عَلَىٰٓ أَنفُسِنَاۖ وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri', namun kehidupan dunia telah menipu mereka," dengan perhiasan, keindahan dan kenikmatannya, maka mereka condong kepadanya dan menerimanya, dan itu melalaikan mereka dari Akhi-rat. ﴾ وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ﴿ "Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." Maka hujjah Allah pun tegak atas mereka, dan pada saat itu, semua orang mengetahui bahkan diri mereka sendiri mengetahui keadilan Allah pada mereka. (Maka Allah menyatakan hukumNya atas mereka dengan azab yang pedih, "Masuklah kamu ke dalam deretan umat-umat yang telah berlalu sebelummu dari kalangan jin dan manusia di mana mereka melakukan seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka se-perti kamu pun bersenang-senang. Mereka terjun ke dalam keba-tilan sepertimu. Mereka adalah orang-orang yang merugi, yakni orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir dari mereka. Ada-kah kerugian yang lebih besar daripada kerugian surga kenikmat-an dan lenyapnya perlindungan dari Allah Yang Maha Pemurah?).[64]
(132) Walaupun mereka sama-sama merugi, akan tetapi kerugian mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang besar. ﴾ وَلِكُلّٖ ﴿ "Dan masing-masing orang" dari mereka ﴾ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۚ ﴿ "memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya." Sesuai dengan amal mereka, sedikit keburukan tidak disamakan dengan banyaknya, pengikut tidaklah sama dengan yang diikuti, yang dipimpin tidaklah sama dengan yang memimpin. Sebagai-mana penduduk surga, walaupun mereka sama-sama masuk surga, mendapatkan keuntungan dan kemenangan, akan tetapi di antara mereka terdapat perbedaan yang hanya diketahui oleh Allah, mes-kipun masing-masing dari mereka telah rela menerima apa yang Allah berikan kepadanya dan cukup dengan apa yang dilimpah-kan kepadanya. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kami termasuk penduduk Surga Firdaus yang tertinggi yang Allah sediakan bagi hamba-hambaNya yang dekat, makhlukNya yang terpilih dan orang-orang khusus dari orang-orang yang dicintaiNya. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." Maka masing-masing dibalas sesuai dengan amalnya dan sesuai dengan maksud yang diketahuiNya.
(133) Allah memerintahkan amal shalih kepada hamba-hambaNya dan melarang amal buruk sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka dan bertujuan mewujudkan kebaikan bagi mereka, karena jika tidak, maka Dia Mahakaya dengan DzatNya dan tidak membutuhkan makhluk-makhlukNya. Ketaatan orang-orang yang taat tidak berguna bagiNya, dan kedurhakaan orang yang durha-ka tidaklah merugikannya. ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفۡ مِنۢ بَعۡدِكُم مَّا يَشَآءُ كَمَآ أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوۡمٍ ءَاخَرِينَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu, dan menggan-timu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain." Jika kamu mengetahui bahwa kamu pasti berpindah dari alam ini sebagaimana selainmu juga berpindah, kamu pasti pergi darinya dan meninggalkannya untuk orang-orang sesudahmu sebagaimana orang-orang sebelummu telah berpindah darinya, pergi darinya dan meninggalkannya untukmu, lalu mengapa kamu menjadikannya sebagai tempat tinggal permanen, kamu tinggal padanya dan kamu lupa bahwa ia hanyalah tempat singgah sementara, bukan tempat menetap, dan bahwa di depanmu terdapat alam yang menghim-pun seluruh kenikmatan dan terbebas dari segala kekurangan dan aib? Ia adalah alam di mana orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir berjuang mendapatkannya, orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian berpindah ke sana, yang mana jika mereka telah sampai kepadanya, maka di dalamnya terdapat kekekalan selama-lamanya, tempat tinggal abadi, tujuan yang di belakangnya tidak ada tujuan lagi, sesuatu yang didambakan di mana seluruh dambaan terhenti padanya, sesuatu yang diinginkan di mana se-gala yang diinginkan sirna di bawahnya. Di sana demi Allah, ter-dapat apa yang diinginkan oleh jiwa, yang dinikmati oleh mata, padanya orang-orang berlomba-lomba mendapatkan kenikmatan ruh, kebahagiaan yang banyak, nikmat-nikmat badan dan hati serta kedekatan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Alangkah mulianya semangat yang berkaitan dengan kemu-liaan itu dan keinginan yang terangkat ke derajat yang tertinggi. Dan betapa hinanya bagian orang yang rela dengan kerendahan, dan betapa rendahnya semangat orang yang rela dengan pernia-gaan yang melenakan.
(134) Orang yang berpaling lagi lalai jangan meyakini bah-wa untuk sampai kepada alam ini memerlukan waktu yang lama karena ﴾ إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَأٓتٖۖ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ ﴿ "sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya." Maksudnya, menolak dari Allah, tidak sanggup lari dari azabnya karena ubun-ubunmu berada dalam genggamanNya, dan kamu berada di bawah pengaturan dan penataanNya.
(135) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Rasul kepada kaummu jika kamu mengajak mereka kepada Allah, jelaskanlah tempat kembali mereka kepada mereka dan hak-hakNya yang wajib atas mereka lalu mereka menolak tunduk kepada perintahNya, mengikuti hawa nafsu mereka dan terus berjalan di atas kesyirikan,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu pada tem-pat berpijakmu." Maksudnya berbuatlah pada tempat berpijakmu di mana kamu berada di atasnya dan kamu merelakannya untuk dirimu. ﴾ إِنِّي عَامِلٞۖ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula)," dengan berpedoman pada perintah dari Allah dan mengikuti ridha Allah. ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِۚ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui, sia-pakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini." Aku atau kamu. Ini termasuk obyektifitas dengan nilai tinggi di mana Dia menjelaskan amal perbuatan dan pelakunya, men-jadikan balasan terkait dengan pandangan orang yang mengetahui, memaparkannya dengan terbuka dan jelas sehingga tidak memer-lukan isyarat. Telah diketahui bahwa akibat yang baik di dunia dan akhirat adalah milik orang-orang yang bertakwa, bahwa orang-orang Mukmin adalah pemilik hasil yang baik dari dunia ini, dan bahwa setiap orang yang berpaling dari sesuatu yang dibawa oleh para Rasul, akibatnya adalah akibat buruk. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." Semua orang yang zhalim walaupun dia menikmati dunia dengan kenikmatannya, tetap saja akhirnya adalah ketiadaan dan kebinasaan. Sesungguh-nya Allah mendikte orang zhalim sehingga manakala Dia meng-ambilnya, maka dia tidak akan lolos.
Al-An'am 6:130
"Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka se-muanya, (dan Allah berfirman), 'Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.' Lalu kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, 'Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain), dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami.' Allah berfirman, 'Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).' Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan ayat-ayatKu kepadamu dan memberi peringatan kepadamu mengenai pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.' Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Yang demikian itu karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu Mahakaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkanmu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikanmu dari keturunan orang-orang lain. Sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya. Katakanlah, 'Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.' Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan menda-pat keberuntungan." (Al-An'am: 128-135).
(128) Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka semuanya." Yakni seluruh manu-sia dan jin, baik yang sesat di antara mereka dan menyesatkan yang lain. Dia berfirman, mencela jin yang menyesatkan manusia, meng-hiasi keburukan bagi mereka, dan mendorong mereka kepada ke-maksiatan, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ قَدِ ٱسۡتَكۡثَرۡتُم مِّنَ ٱلۡإِنسِۖ ﴿ "Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia." Maksudnya, kamu banyak menyesatkan dan menghalangi manusia dari jalan Allah, bagaimana kamu berani melanggar batasan-batasanKu, kamu berani menentang rasul-rasulKu, kamu berperan memerangi Allah, berusaha menghalang-halangi hamba-hamba Allah dari jalan Allah kepada jalan neraka? Pada hari ini laknatKu menimpamu, murka-Ku adalah balasanmu, dan Kami akan menambah azabmu berda-sarkan kekufuran dan penyesatanmu kepada orang lain. Kamu tidak mempunyai dalih yang bisa kamu sodorkan sebagai alasan, tidak ada tempat berlindung bagimu, tidak ada pemberi syafa'at dan tidak ada permohonan yang didengarkan, pada hari ini kamu jangan bertanya tentang azab, siksa, dan kehinaan yang menimpa mereka. Oleh karena itu, Allah tidak menyebutkan alasan untuk me-reka. Adapun teman-teman mereka dari kalangan manusia, maka mereka menyodorkan alasan yang mengada-ada. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَا ٱسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٖ ﴿ "Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah menda-pat kesenangan dari sebagian (yang lain)." Maksudnya, masing-masing dari jin dan manusia mendapatkan kesenangan dan manfaat dari yang lain. Jin merasa senang dengan ketaatan manusia kepadanya, dia menikmati ibadah, penghormatan, dan permohonan perlindung-an manusia kepadanya, sementara manusia mendapatkan kese-nangan dengan mendapatkan apa yang diinginkan dan diimpikan dengan pelayanan yang dilakukan oleh jin untuknya dalam seba-gian ambisinya. Manusia menyembah jin lalu jin menjadi khadamnya dengan mewujudkan keperluan-keperluan dunia untuknya. Maksudnya mewujudkan dosa-dosa kami yang telah terjadi, dan hal tersebut tidak mungkin ditolak. ﴾ وَبَلَغۡنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِيٓ أَجَّلۡتَ لَنَاۚ ﴿ "Dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami." Maksudnya, kami telah sampai di tempat yang mana amalan-amalan akan dibalas, maka lakukanlah kepada kami apa yang Engkau kehendaki, putus-kanlah apa yang Engkau kehendaki pada kami, hujjah kami telah habis, kami sudah tidak memiliki alasan lagi. Perkaranya adalah perkaraMu dan hukumnya adalah hukumMu. Seakan-akan ucapan yang mereka katakan ini mengandung kerendahan dan kepasrah-an, namun dilakukan bukan pada waktunya (yang tepat). Oleh karena itu, Allah memutuskan dengan keputusanNya yang adil yang tidak ada kezhaliman padanya. Dia berfirman, ﴾ ٱلنَّارُ مَثۡوَىٰكُمۡ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ﴿ "Neraka itulah tempat diammu sedang kamu kekal di dalamnya," karena keputusan ini berasal dari tuntutan hikmah dan ilmunya, maka Dia menutup ayat dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Seba-gaimana ilmuNya meliputi dan mencakup segala sesuatu, maka hikmah tujuanNya juga meliputi dan mencakup segala sesuatu.
(129) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعۡضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعۡضَۢا بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." Maksudnya, sebagaimana Kami jadikan jin yang bengal sebagai wali dan ber-kuasa menyesatkan teman-temannya dari kalangan manusia, Kami hubungkan juga mereka dengan jalinan pertemanan dan kesesuaian disebabkan oleh usaha dan jerih payah mereka, maka termasuk sunnah Kami adalah menjadikan orang zhalim sebagai wali bagi orang zhalim yang lain yang mendorong dan meng-hasudnya kepada keburukan, menjauhkan dan menghindarkannya dari kebaikan. Hal itu termasuk hukuman Allah yang keras, yang buruk pengaruhnya, yang mendalam bahayanya, dan yang me-nanggung dosa adalah orang yang zhalim, dialah yang mengundang dan memetik mudarat bagi dirinya sendiri, dan Tuhanmu tidaklah menzhalimi hamba-hambaNya. Termasuk dalam hal ini adalah jika kezhaliman manusia, kerusakan dan penolakan manusia untuk menunaikan hak-hak yang wajib telah memuncak, maka Allah akan memunculkan orang zhalim yang menguasai mereka dan menimpakan azab yang buruk kepada mereka. Dia akan memerintah mereka dengan kezhaliman dan kesewenang-wenangan yang jauh lebih besar daripada hak-hak Allah dan hamba-hambaNya yang tidak mereka tunaikan dengan tidak diberi balasan dan pahala padanya, sebagaimana jika manu-sia baik dan lurus, maka Allah memperbaiki pemimpin mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang adil dan bukan pemimpin zhalim lagi lalim.
(130) Kemudian Allah mencela semua orang yang berpa-ling dari kebenaran dan menolaknya, baik yang berasal dari ka-langan jin dan manusia. Dia menjelaskan kesalahan mereka, maka mereka mengakui itu. Dia berfirman, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ رُسُلٞ مِّنكُمۡ يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu" yang jelas dan terang yang terdapat padanya perincian perintah, larangan, kebaikan, keburukan, janji pahala, dan ancaman siksa, ﴾ وَيُنذِرُونَكُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?" Dan mengajarkan kepadamu bahwa keselamatan dan keberuntungan hanya didapat dengan menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, dan bahwa kesengsaraan dan kerugian terletak pada penyia-nyiaan semua itu? Maka mereka mengakui itu. Mereka berkata, "Benar, ﴾ شَهِدۡنَا عَلَىٰٓ أَنفُسِنَاۖ وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri', namun kehidupan dunia telah menipu mereka," dengan perhiasan, keindahan dan kenikmatannya, maka mereka condong kepadanya dan menerimanya, dan itu melalaikan mereka dari Akhi-rat. ﴾ وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ﴿ "Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." Maka hujjah Allah pun tegak atas mereka, dan pada saat itu, semua orang mengetahui bahkan diri mereka sendiri mengetahui keadilan Allah pada mereka. (Maka Allah menyatakan hukumNya atas mereka dengan azab yang pedih, "Masuklah kamu ke dalam deretan umat-umat yang telah berlalu sebelummu dari kalangan jin dan manusia di mana mereka melakukan seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka se-perti kamu pun bersenang-senang. Mereka terjun ke dalam keba-tilan sepertimu. Mereka adalah orang-orang yang merugi, yakni orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir dari mereka. Ada-kah kerugian yang lebih besar daripada kerugian surga kenikmat-an dan lenyapnya perlindungan dari Allah Yang Maha Pemurah?).[64]
(132) Walaupun mereka sama-sama merugi, akan tetapi kerugian mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang besar. ﴾ وَلِكُلّٖ ﴿ "Dan masing-masing orang" dari mereka ﴾ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۚ ﴿ "memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya." Sesuai dengan amal mereka, sedikit keburukan tidak disamakan dengan banyaknya, pengikut tidaklah sama dengan yang diikuti, yang dipimpin tidaklah sama dengan yang memimpin. Sebagai-mana penduduk surga, walaupun mereka sama-sama masuk surga, mendapatkan keuntungan dan kemenangan, akan tetapi di antara mereka terdapat perbedaan yang hanya diketahui oleh Allah, mes-kipun masing-masing dari mereka telah rela menerima apa yang Allah berikan kepadanya dan cukup dengan apa yang dilimpah-kan kepadanya. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kami termasuk penduduk Surga Firdaus yang tertinggi yang Allah sediakan bagi hamba-hambaNya yang dekat, makhlukNya yang terpilih dan orang-orang khusus dari orang-orang yang dicintaiNya. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." Maka masing-masing dibalas sesuai dengan amalnya dan sesuai dengan maksud yang diketahuiNya.
(133) Allah memerintahkan amal shalih kepada hamba-hambaNya dan melarang amal buruk sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka dan bertujuan mewujudkan kebaikan bagi mereka, karena jika tidak, maka Dia Mahakaya dengan DzatNya dan tidak membutuhkan makhluk-makhlukNya. Ketaatan orang-orang yang taat tidak berguna bagiNya, dan kedurhakaan orang yang durha-ka tidaklah merugikannya. ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفۡ مِنۢ بَعۡدِكُم مَّا يَشَآءُ كَمَآ أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوۡمٍ ءَاخَرِينَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu, dan menggan-timu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain." Jika kamu mengetahui bahwa kamu pasti berpindah dari alam ini sebagaimana selainmu juga berpindah, kamu pasti pergi darinya dan meninggalkannya untuk orang-orang sesudahmu sebagaimana orang-orang sebelummu telah berpindah darinya, pergi darinya dan meninggalkannya untukmu, lalu mengapa kamu menjadikannya sebagai tempat tinggal permanen, kamu tinggal padanya dan kamu lupa bahwa ia hanyalah tempat singgah sementara, bukan tempat menetap, dan bahwa di depanmu terdapat alam yang menghim-pun seluruh kenikmatan dan terbebas dari segala kekurangan dan aib? Ia adalah alam di mana orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir berjuang mendapatkannya, orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian berpindah ke sana, yang mana jika mereka telah sampai kepadanya, maka di dalamnya terdapat kekekalan selama-lamanya, tempat tinggal abadi, tujuan yang di belakangnya tidak ada tujuan lagi, sesuatu yang didambakan di mana seluruh dambaan terhenti padanya, sesuatu yang diinginkan di mana se-gala yang diinginkan sirna di bawahnya. Di sana demi Allah, ter-dapat apa yang diinginkan oleh jiwa, yang dinikmati oleh mata, padanya orang-orang berlomba-lomba mendapatkan kenikmatan ruh, kebahagiaan yang banyak, nikmat-nikmat badan dan hati serta kedekatan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Alangkah mulianya semangat yang berkaitan dengan kemu-liaan itu dan keinginan yang terangkat ke derajat yang tertinggi. Dan betapa hinanya bagian orang yang rela dengan kerendahan, dan betapa rendahnya semangat orang yang rela dengan pernia-gaan yang melenakan.
(134) Orang yang berpaling lagi lalai jangan meyakini bah-wa untuk sampai kepada alam ini memerlukan waktu yang lama karena ﴾ إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَأٓتٖۖ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ ﴿ "sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya." Maksudnya, menolak dari Allah, tidak sanggup lari dari azabnya karena ubun-ubunmu berada dalam genggamanNya, dan kamu berada di bawah pengaturan dan penataanNya.
(135) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Rasul kepada kaummu jika kamu mengajak mereka kepada Allah, jelaskanlah tempat kembali mereka kepada mereka dan hak-hakNya yang wajib atas mereka lalu mereka menolak tunduk kepada perintahNya, mengikuti hawa nafsu mereka dan terus berjalan di atas kesyirikan,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu pada tem-pat berpijakmu." Maksudnya berbuatlah pada tempat berpijakmu di mana kamu berada di atasnya dan kamu merelakannya untuk dirimu. ﴾ إِنِّي عَامِلٞۖ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula)," dengan berpedoman pada perintah dari Allah dan mengikuti ridha Allah. ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِۚ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui, sia-pakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini." Aku atau kamu. Ini termasuk obyektifitas dengan nilai tinggi di mana Dia menjelaskan amal perbuatan dan pelakunya, men-jadikan balasan terkait dengan pandangan orang yang mengetahui, memaparkannya dengan terbuka dan jelas sehingga tidak memer-lukan isyarat. Telah diketahui bahwa akibat yang baik di dunia dan akhirat adalah milik orang-orang yang bertakwa, bahwa orang-orang Mukmin adalah pemilik hasil yang baik dari dunia ini, dan bahwa setiap orang yang berpaling dari sesuatu yang dibawa oleh para Rasul, akibatnya adalah akibat buruk. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." Semua orang yang zhalim walaupun dia menikmati dunia dengan kenikmatannya, tetap saja akhirnya adalah ketiadaan dan kebinasaan. Sesungguh-nya Allah mendikte orang zhalim sehingga manakala Dia meng-ambilnya, maka dia tidak akan lolos.
Al-An'am 6:131
"Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka se-muanya, (dan Allah berfirman), 'Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.' Lalu kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, 'Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain), dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami.' Allah berfirman, 'Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).' Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan ayat-ayatKu kepadamu dan memberi peringatan kepadamu mengenai pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.' Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Yang demikian itu karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu Mahakaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkanmu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikanmu dari keturunan orang-orang lain. Sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya. Katakanlah, 'Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.' Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan menda-pat keberuntungan." (Al-An'am: 128-135).
(128) Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka semuanya." Yakni seluruh manu-sia dan jin, baik yang sesat di antara mereka dan menyesatkan yang lain. Dia berfirman, mencela jin yang menyesatkan manusia, meng-hiasi keburukan bagi mereka, dan mendorong mereka kepada ke-maksiatan, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ قَدِ ٱسۡتَكۡثَرۡتُم مِّنَ ٱلۡإِنسِۖ ﴿ "Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia." Maksudnya, kamu banyak menyesatkan dan menghalangi manusia dari jalan Allah, bagaimana kamu berani melanggar batasan-batasanKu, kamu berani menentang rasul-rasulKu, kamu berperan memerangi Allah, berusaha menghalang-halangi hamba-hamba Allah dari jalan Allah kepada jalan neraka? Pada hari ini laknatKu menimpamu, murka-Ku adalah balasanmu, dan Kami akan menambah azabmu berda-sarkan kekufuran dan penyesatanmu kepada orang lain. Kamu tidak mempunyai dalih yang bisa kamu sodorkan sebagai alasan, tidak ada tempat berlindung bagimu, tidak ada pemberi syafa'at dan tidak ada permohonan yang didengarkan, pada hari ini kamu jangan bertanya tentang azab, siksa, dan kehinaan yang menimpa mereka. Oleh karena itu, Allah tidak menyebutkan alasan untuk me-reka. Adapun teman-teman mereka dari kalangan manusia, maka mereka menyodorkan alasan yang mengada-ada. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَا ٱسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٖ ﴿ "Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah menda-pat kesenangan dari sebagian (yang lain)." Maksudnya, masing-masing dari jin dan manusia mendapatkan kesenangan dan manfaat dari yang lain. Jin merasa senang dengan ketaatan manusia kepadanya, dia menikmati ibadah, penghormatan, dan permohonan perlindung-an manusia kepadanya, sementara manusia mendapatkan kese-nangan dengan mendapatkan apa yang diinginkan dan diimpikan dengan pelayanan yang dilakukan oleh jin untuknya dalam seba-gian ambisinya. Manusia menyembah jin lalu jin menjadi khadamnya dengan mewujudkan keperluan-keperluan dunia untuknya. Maksudnya mewujudkan dosa-dosa kami yang telah terjadi, dan hal tersebut tidak mungkin ditolak. ﴾ وَبَلَغۡنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِيٓ أَجَّلۡتَ لَنَاۚ ﴿ "Dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami." Maksudnya, kami telah sampai di tempat yang mana amalan-amalan akan dibalas, maka lakukanlah kepada kami apa yang Engkau kehendaki, putus-kanlah apa yang Engkau kehendaki pada kami, hujjah kami telah habis, kami sudah tidak memiliki alasan lagi. Perkaranya adalah perkaraMu dan hukumnya adalah hukumMu. Seakan-akan ucapan yang mereka katakan ini mengandung kerendahan dan kepasrah-an, namun dilakukan bukan pada waktunya (yang tepat). Oleh karena itu, Allah memutuskan dengan keputusanNya yang adil yang tidak ada kezhaliman padanya. Dia berfirman, ﴾ ٱلنَّارُ مَثۡوَىٰكُمۡ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ﴿ "Neraka itulah tempat diammu sedang kamu kekal di dalamnya," karena keputusan ini berasal dari tuntutan hikmah dan ilmunya, maka Dia menutup ayat dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Seba-gaimana ilmuNya meliputi dan mencakup segala sesuatu, maka hikmah tujuanNya juga meliputi dan mencakup segala sesuatu.
(129) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعۡضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعۡضَۢا بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." Maksudnya, sebagaimana Kami jadikan jin yang bengal sebagai wali dan ber-kuasa menyesatkan teman-temannya dari kalangan manusia, Kami hubungkan juga mereka dengan jalinan pertemanan dan kesesuaian disebabkan oleh usaha dan jerih payah mereka, maka termasuk sunnah Kami adalah menjadikan orang zhalim sebagai wali bagi orang zhalim yang lain yang mendorong dan meng-hasudnya kepada keburukan, menjauhkan dan menghindarkannya dari kebaikan. Hal itu termasuk hukuman Allah yang keras, yang buruk pengaruhnya, yang mendalam bahayanya, dan yang me-nanggung dosa adalah orang yang zhalim, dialah yang mengundang dan memetik mudarat bagi dirinya sendiri, dan Tuhanmu tidaklah menzhalimi hamba-hambaNya. Termasuk dalam hal ini adalah jika kezhaliman manusia, kerusakan dan penolakan manusia untuk menunaikan hak-hak yang wajib telah memuncak, maka Allah akan memunculkan orang zhalim yang menguasai mereka dan menimpakan azab yang buruk kepada mereka. Dia akan memerintah mereka dengan kezhaliman dan kesewenang-wenangan yang jauh lebih besar daripada hak-hak Allah dan hamba-hambaNya yang tidak mereka tunaikan dengan tidak diberi balasan dan pahala padanya, sebagaimana jika manu-sia baik dan lurus, maka Allah memperbaiki pemimpin mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang adil dan bukan pemimpin zhalim lagi lalim.
(130) Kemudian Allah mencela semua orang yang berpa-ling dari kebenaran dan menolaknya, baik yang berasal dari ka-langan jin dan manusia. Dia menjelaskan kesalahan mereka, maka mereka mengakui itu. Dia berfirman, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ رُسُلٞ مِّنكُمۡ يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu" yang jelas dan terang yang terdapat padanya perincian perintah, larangan, kebaikan, keburukan, janji pahala, dan ancaman siksa, ﴾ وَيُنذِرُونَكُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?" Dan mengajarkan kepadamu bahwa keselamatan dan keberuntungan hanya didapat dengan menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, dan bahwa kesengsaraan dan kerugian terletak pada penyia-nyiaan semua itu? Maka mereka mengakui itu. Mereka berkata, "Benar, ﴾ شَهِدۡنَا عَلَىٰٓ أَنفُسِنَاۖ وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri', namun kehidupan dunia telah menipu mereka," dengan perhiasan, keindahan dan kenikmatannya, maka mereka condong kepadanya dan menerimanya, dan itu melalaikan mereka dari Akhi-rat. ﴾ وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ﴿ "Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." Maka hujjah Allah pun tegak atas mereka, dan pada saat itu, semua orang mengetahui bahkan diri mereka sendiri mengetahui keadilan Allah pada mereka. (Maka Allah menyatakan hukumNya atas mereka dengan azab yang pedih, "Masuklah kamu ke dalam deretan umat-umat yang telah berlalu sebelummu dari kalangan jin dan manusia di mana mereka melakukan seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka se-perti kamu pun bersenang-senang. Mereka terjun ke dalam keba-tilan sepertimu. Mereka adalah orang-orang yang merugi, yakni orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir dari mereka. Ada-kah kerugian yang lebih besar daripada kerugian surga kenikmat-an dan lenyapnya perlindungan dari Allah Yang Maha Pemurah?).[64]
(132) Walaupun mereka sama-sama merugi, akan tetapi kerugian mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang besar. ﴾ وَلِكُلّٖ ﴿ "Dan masing-masing orang" dari mereka ﴾ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۚ ﴿ "memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya." Sesuai dengan amal mereka, sedikit keburukan tidak disamakan dengan banyaknya, pengikut tidaklah sama dengan yang diikuti, yang dipimpin tidaklah sama dengan yang memimpin. Sebagai-mana penduduk surga, walaupun mereka sama-sama masuk surga, mendapatkan keuntungan dan kemenangan, akan tetapi di antara mereka terdapat perbedaan yang hanya diketahui oleh Allah, mes-kipun masing-masing dari mereka telah rela menerima apa yang Allah berikan kepadanya dan cukup dengan apa yang dilimpah-kan kepadanya. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kami termasuk penduduk Surga Firdaus yang tertinggi yang Allah sediakan bagi hamba-hambaNya yang dekat, makhlukNya yang terpilih dan orang-orang khusus dari orang-orang yang dicintaiNya. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." Maka masing-masing dibalas sesuai dengan amalnya dan sesuai dengan maksud yang diketahuiNya.
(133) Allah memerintahkan amal shalih kepada hamba-hambaNya dan melarang amal buruk sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka dan bertujuan mewujudkan kebaikan bagi mereka, karena jika tidak, maka Dia Mahakaya dengan DzatNya dan tidak membutuhkan makhluk-makhlukNya. Ketaatan orang-orang yang taat tidak berguna bagiNya, dan kedurhakaan orang yang durha-ka tidaklah merugikannya. ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفۡ مِنۢ بَعۡدِكُم مَّا يَشَآءُ كَمَآ أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوۡمٍ ءَاخَرِينَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu, dan menggan-timu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain." Jika kamu mengetahui bahwa kamu pasti berpindah dari alam ini sebagaimana selainmu juga berpindah, kamu pasti pergi darinya dan meninggalkannya untuk orang-orang sesudahmu sebagaimana orang-orang sebelummu telah berpindah darinya, pergi darinya dan meninggalkannya untukmu, lalu mengapa kamu menjadikannya sebagai tempat tinggal permanen, kamu tinggal padanya dan kamu lupa bahwa ia hanyalah tempat singgah sementara, bukan tempat menetap, dan bahwa di depanmu terdapat alam yang menghim-pun seluruh kenikmatan dan terbebas dari segala kekurangan dan aib? Ia adalah alam di mana orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir berjuang mendapatkannya, orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian berpindah ke sana, yang mana jika mereka telah sampai kepadanya, maka di dalamnya terdapat kekekalan selama-lamanya, tempat tinggal abadi, tujuan yang di belakangnya tidak ada tujuan lagi, sesuatu yang didambakan di mana seluruh dambaan terhenti padanya, sesuatu yang diinginkan di mana se-gala yang diinginkan sirna di bawahnya. Di sana demi Allah, ter-dapat apa yang diinginkan oleh jiwa, yang dinikmati oleh mata, padanya orang-orang berlomba-lomba mendapatkan kenikmatan ruh, kebahagiaan yang banyak, nikmat-nikmat badan dan hati serta kedekatan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Alangkah mulianya semangat yang berkaitan dengan kemu-liaan itu dan keinginan yang terangkat ke derajat yang tertinggi. Dan betapa hinanya bagian orang yang rela dengan kerendahan, dan betapa rendahnya semangat orang yang rela dengan pernia-gaan yang melenakan.
(134) Orang yang berpaling lagi lalai jangan meyakini bah-wa untuk sampai kepada alam ini memerlukan waktu yang lama karena ﴾ إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَأٓتٖۖ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ ﴿ "sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya." Maksudnya, menolak dari Allah, tidak sanggup lari dari azabnya karena ubun-ubunmu berada dalam genggamanNya, dan kamu berada di bawah pengaturan dan penataanNya.
(135) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Rasul kepada kaummu jika kamu mengajak mereka kepada Allah, jelaskanlah tempat kembali mereka kepada mereka dan hak-hakNya yang wajib atas mereka lalu mereka menolak tunduk kepada perintahNya, mengikuti hawa nafsu mereka dan terus berjalan di atas kesyirikan,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu pada tem-pat berpijakmu." Maksudnya berbuatlah pada tempat berpijakmu di mana kamu berada di atasnya dan kamu merelakannya untuk dirimu. ﴾ إِنِّي عَامِلٞۖ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula)," dengan berpedoman pada perintah dari Allah dan mengikuti ridha Allah. ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِۚ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui, sia-pakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini." Aku atau kamu. Ini termasuk obyektifitas dengan nilai tinggi di mana Dia menjelaskan amal perbuatan dan pelakunya, men-jadikan balasan terkait dengan pandangan orang yang mengetahui, memaparkannya dengan terbuka dan jelas sehingga tidak memer-lukan isyarat. Telah diketahui bahwa akibat yang baik di dunia dan akhirat adalah milik orang-orang yang bertakwa, bahwa orang-orang Mukmin adalah pemilik hasil yang baik dari dunia ini, dan bahwa setiap orang yang berpaling dari sesuatu yang dibawa oleh para Rasul, akibatnya adalah akibat buruk. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." Semua orang yang zhalim walaupun dia menikmati dunia dengan kenikmatannya, tetap saja akhirnya adalah ketiadaan dan kebinasaan. Sesungguh-nya Allah mendikte orang zhalim sehingga manakala Dia meng-ambilnya, maka dia tidak akan lolos.
Al-An'am 6:132
"Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka se-muanya, (dan Allah berfirman), 'Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.' Lalu kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, 'Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain), dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami.' Allah berfirman, 'Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).' Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan ayat-ayatKu kepadamu dan memberi peringatan kepadamu mengenai pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.' Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Yang demikian itu karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu Mahakaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkanmu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikanmu dari keturunan orang-orang lain. Sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya. Katakanlah, 'Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.' Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan menda-pat keberuntungan." (Al-An'am: 128-135).
(128) Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka semuanya." Yakni seluruh manu-sia dan jin, baik yang sesat di antara mereka dan menyesatkan yang lain. Dia berfirman, mencela jin yang menyesatkan manusia, meng-hiasi keburukan bagi mereka, dan mendorong mereka kepada ke-maksiatan, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ قَدِ ٱسۡتَكۡثَرۡتُم مِّنَ ٱلۡإِنسِۖ ﴿ "Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia." Maksudnya, kamu banyak menyesatkan dan menghalangi manusia dari jalan Allah, bagaimana kamu berani melanggar batasan-batasanKu, kamu berani menentang rasul-rasulKu, kamu berperan memerangi Allah, berusaha menghalang-halangi hamba-hamba Allah dari jalan Allah kepada jalan neraka? Pada hari ini laknatKu menimpamu, murka-Ku adalah balasanmu, dan Kami akan menambah azabmu berda-sarkan kekufuran dan penyesatanmu kepada orang lain. Kamu tidak mempunyai dalih yang bisa kamu sodorkan sebagai alasan, tidak ada tempat berlindung bagimu, tidak ada pemberi syafa'at dan tidak ada permohonan yang didengarkan, pada hari ini kamu jangan bertanya tentang azab, siksa, dan kehinaan yang menimpa mereka. Oleh karena itu, Allah tidak menyebutkan alasan untuk me-reka. Adapun teman-teman mereka dari kalangan manusia, maka mereka menyodorkan alasan yang mengada-ada. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَا ٱسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٖ ﴿ "Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah menda-pat kesenangan dari sebagian (yang lain)." Maksudnya, masing-masing dari jin dan manusia mendapatkan kesenangan dan manfaat dari yang lain. Jin merasa senang dengan ketaatan manusia kepadanya, dia menikmati ibadah, penghormatan, dan permohonan perlindung-an manusia kepadanya, sementara manusia mendapatkan kese-nangan dengan mendapatkan apa yang diinginkan dan diimpikan dengan pelayanan yang dilakukan oleh jin untuknya dalam seba-gian ambisinya. Manusia menyembah jin lalu jin menjadi khadamnya dengan mewujudkan keperluan-keperluan dunia untuknya. Maksudnya mewujudkan dosa-dosa kami yang telah terjadi, dan hal tersebut tidak mungkin ditolak. ﴾ وَبَلَغۡنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِيٓ أَجَّلۡتَ لَنَاۚ ﴿ "Dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami." Maksudnya, kami telah sampai di tempat yang mana amalan-amalan akan dibalas, maka lakukanlah kepada kami apa yang Engkau kehendaki, putus-kanlah apa yang Engkau kehendaki pada kami, hujjah kami telah habis, kami sudah tidak memiliki alasan lagi. Perkaranya adalah perkaraMu dan hukumnya adalah hukumMu. Seakan-akan ucapan yang mereka katakan ini mengandung kerendahan dan kepasrah-an, namun dilakukan bukan pada waktunya (yang tepat). Oleh karena itu, Allah memutuskan dengan keputusanNya yang adil yang tidak ada kezhaliman padanya. Dia berfirman, ﴾ ٱلنَّارُ مَثۡوَىٰكُمۡ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ﴿ "Neraka itulah tempat diammu sedang kamu kekal di dalamnya," karena keputusan ini berasal dari tuntutan hikmah dan ilmunya, maka Dia menutup ayat dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Seba-gaimana ilmuNya meliputi dan mencakup segala sesuatu, maka hikmah tujuanNya juga meliputi dan mencakup segala sesuatu.
(129) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعۡضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعۡضَۢا بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." Maksudnya, sebagaimana Kami jadikan jin yang bengal sebagai wali dan ber-kuasa menyesatkan teman-temannya dari kalangan manusia, Kami hubungkan juga mereka dengan jalinan pertemanan dan kesesuaian disebabkan oleh usaha dan jerih payah mereka, maka termasuk sunnah Kami adalah menjadikan orang zhalim sebagai wali bagi orang zhalim yang lain yang mendorong dan meng-hasudnya kepada keburukan, menjauhkan dan menghindarkannya dari kebaikan. Hal itu termasuk hukuman Allah yang keras, yang buruk pengaruhnya, yang mendalam bahayanya, dan yang me-nanggung dosa adalah orang yang zhalim, dialah yang mengundang dan memetik mudarat bagi dirinya sendiri, dan Tuhanmu tidaklah menzhalimi hamba-hambaNya. Termasuk dalam hal ini adalah jika kezhaliman manusia, kerusakan dan penolakan manusia untuk menunaikan hak-hak yang wajib telah memuncak, maka Allah akan memunculkan orang zhalim yang menguasai mereka dan menimpakan azab yang buruk kepada mereka. Dia akan memerintah mereka dengan kezhaliman dan kesewenang-wenangan yang jauh lebih besar daripada hak-hak Allah dan hamba-hambaNya yang tidak mereka tunaikan dengan tidak diberi balasan dan pahala padanya, sebagaimana jika manu-sia baik dan lurus, maka Allah memperbaiki pemimpin mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang adil dan bukan pemimpin zhalim lagi lalim.
(130) Kemudian Allah mencela semua orang yang berpa-ling dari kebenaran dan menolaknya, baik yang berasal dari ka-langan jin dan manusia. Dia menjelaskan kesalahan mereka, maka mereka mengakui itu. Dia berfirman, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ رُسُلٞ مِّنكُمۡ يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu" yang jelas dan terang yang terdapat padanya perincian perintah, larangan, kebaikan, keburukan, janji pahala, dan ancaman siksa, ﴾ وَيُنذِرُونَكُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?" Dan mengajarkan kepadamu bahwa keselamatan dan keberuntungan hanya didapat dengan menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, dan bahwa kesengsaraan dan kerugian terletak pada penyia-nyiaan semua itu? Maka mereka mengakui itu. Mereka berkata, "Benar, ﴾ شَهِدۡنَا عَلَىٰٓ أَنفُسِنَاۖ وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri', namun kehidupan dunia telah menipu mereka," dengan perhiasan, keindahan dan kenikmatannya, maka mereka condong kepadanya dan menerimanya, dan itu melalaikan mereka dari Akhi-rat. ﴾ وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ﴿ "Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." Maka hujjah Allah pun tegak atas mereka, dan pada saat itu, semua orang mengetahui bahkan diri mereka sendiri mengetahui keadilan Allah pada mereka. (Maka Allah menyatakan hukumNya atas mereka dengan azab yang pedih, "Masuklah kamu ke dalam deretan umat-umat yang telah berlalu sebelummu dari kalangan jin dan manusia di mana mereka melakukan seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka se-perti kamu pun bersenang-senang. Mereka terjun ke dalam keba-tilan sepertimu. Mereka adalah orang-orang yang merugi, yakni orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir dari mereka. Ada-kah kerugian yang lebih besar daripada kerugian surga kenikmat-an dan lenyapnya perlindungan dari Allah Yang Maha Pemurah?).[64]
(132) Walaupun mereka sama-sama merugi, akan tetapi kerugian mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang besar. ﴾ وَلِكُلّٖ ﴿ "Dan masing-masing orang" dari mereka ﴾ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۚ ﴿ "memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya." Sesuai dengan amal mereka, sedikit keburukan tidak disamakan dengan banyaknya, pengikut tidaklah sama dengan yang diikuti, yang dipimpin tidaklah sama dengan yang memimpin. Sebagai-mana penduduk surga, walaupun mereka sama-sama masuk surga, mendapatkan keuntungan dan kemenangan, akan tetapi di antara mereka terdapat perbedaan yang hanya diketahui oleh Allah, mes-kipun masing-masing dari mereka telah rela menerima apa yang Allah berikan kepadanya dan cukup dengan apa yang dilimpah-kan kepadanya. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kami termasuk penduduk Surga Firdaus yang tertinggi yang Allah sediakan bagi hamba-hambaNya yang dekat, makhlukNya yang terpilih dan orang-orang khusus dari orang-orang yang dicintaiNya. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." Maka masing-masing dibalas sesuai dengan amalnya dan sesuai dengan maksud yang diketahuiNya.
(133) Allah memerintahkan amal shalih kepada hamba-hambaNya dan melarang amal buruk sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka dan bertujuan mewujudkan kebaikan bagi mereka, karena jika tidak, maka Dia Mahakaya dengan DzatNya dan tidak membutuhkan makhluk-makhlukNya. Ketaatan orang-orang yang taat tidak berguna bagiNya, dan kedurhakaan orang yang durha-ka tidaklah merugikannya. ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفۡ مِنۢ بَعۡدِكُم مَّا يَشَآءُ كَمَآ أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوۡمٍ ءَاخَرِينَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu, dan menggan-timu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain." Jika kamu mengetahui bahwa kamu pasti berpindah dari alam ini sebagaimana selainmu juga berpindah, kamu pasti pergi darinya dan meninggalkannya untuk orang-orang sesudahmu sebagaimana orang-orang sebelummu telah berpindah darinya, pergi darinya dan meninggalkannya untukmu, lalu mengapa kamu menjadikannya sebagai tempat tinggal permanen, kamu tinggal padanya dan kamu lupa bahwa ia hanyalah tempat singgah sementara, bukan tempat menetap, dan bahwa di depanmu terdapat alam yang menghim-pun seluruh kenikmatan dan terbebas dari segala kekurangan dan aib? Ia adalah alam di mana orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir berjuang mendapatkannya, orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian berpindah ke sana, yang mana jika mereka telah sampai kepadanya, maka di dalamnya terdapat kekekalan selama-lamanya, tempat tinggal abadi, tujuan yang di belakangnya tidak ada tujuan lagi, sesuatu yang didambakan di mana seluruh dambaan terhenti padanya, sesuatu yang diinginkan di mana se-gala yang diinginkan sirna di bawahnya. Di sana demi Allah, ter-dapat apa yang diinginkan oleh jiwa, yang dinikmati oleh mata, padanya orang-orang berlomba-lomba mendapatkan kenikmatan ruh, kebahagiaan yang banyak, nikmat-nikmat badan dan hati serta kedekatan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Alangkah mulianya semangat yang berkaitan dengan kemu-liaan itu dan keinginan yang terangkat ke derajat yang tertinggi. Dan betapa hinanya bagian orang yang rela dengan kerendahan, dan betapa rendahnya semangat orang yang rela dengan pernia-gaan yang melenakan.
(134) Orang yang berpaling lagi lalai jangan meyakini bah-wa untuk sampai kepada alam ini memerlukan waktu yang lama karena ﴾ إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَأٓتٖۖ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ ﴿ "sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya." Maksudnya, menolak dari Allah, tidak sanggup lari dari azabnya karena ubun-ubunmu berada dalam genggamanNya, dan kamu berada di bawah pengaturan dan penataanNya.
(135) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Rasul kepada kaummu jika kamu mengajak mereka kepada Allah, jelaskanlah tempat kembali mereka kepada mereka dan hak-hakNya yang wajib atas mereka lalu mereka menolak tunduk kepada perintahNya, mengikuti hawa nafsu mereka dan terus berjalan di atas kesyirikan,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu pada tem-pat berpijakmu." Maksudnya berbuatlah pada tempat berpijakmu di mana kamu berada di atasnya dan kamu merelakannya untuk dirimu. ﴾ إِنِّي عَامِلٞۖ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula)," dengan berpedoman pada perintah dari Allah dan mengikuti ridha Allah. ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِۚ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui, sia-pakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini." Aku atau kamu. Ini termasuk obyektifitas dengan nilai tinggi di mana Dia menjelaskan amal perbuatan dan pelakunya, men-jadikan balasan terkait dengan pandangan orang yang mengetahui, memaparkannya dengan terbuka dan jelas sehingga tidak memer-lukan isyarat. Telah diketahui bahwa akibat yang baik di dunia dan akhirat adalah milik orang-orang yang bertakwa, bahwa orang-orang Mukmin adalah pemilik hasil yang baik dari dunia ini, dan bahwa setiap orang yang berpaling dari sesuatu yang dibawa oleh para Rasul, akibatnya adalah akibat buruk. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." Semua orang yang zhalim walaupun dia menikmati dunia dengan kenikmatannya, tetap saja akhirnya adalah ketiadaan dan kebinasaan. Sesungguh-nya Allah mendikte orang zhalim sehingga manakala Dia meng-ambilnya, maka dia tidak akan lolos.
Al-An'am 6:133
"Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka se-muanya, (dan Allah berfirman), 'Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.' Lalu kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, 'Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain), dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami.' Allah berfirman, 'Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).' Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan ayat-ayatKu kepadamu dan memberi peringatan kepadamu mengenai pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.' Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Yang demikian itu karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu Mahakaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkanmu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikanmu dari keturunan orang-orang lain. Sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya. Katakanlah, 'Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.' Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan menda-pat keberuntungan." (Al-An'am: 128-135).
(128) Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka semuanya." Yakni seluruh manu-sia dan jin, baik yang sesat di antara mereka dan menyesatkan yang lain. Dia berfirman, mencela jin yang menyesatkan manusia, meng-hiasi keburukan bagi mereka, dan mendorong mereka kepada ke-maksiatan, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ قَدِ ٱسۡتَكۡثَرۡتُم مِّنَ ٱلۡإِنسِۖ ﴿ "Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia." Maksudnya, kamu banyak menyesatkan dan menghalangi manusia dari jalan Allah, bagaimana kamu berani melanggar batasan-batasanKu, kamu berani menentang rasul-rasulKu, kamu berperan memerangi Allah, berusaha menghalang-halangi hamba-hamba Allah dari jalan Allah kepada jalan neraka? Pada hari ini laknatKu menimpamu, murka-Ku adalah balasanmu, dan Kami akan menambah azabmu berda-sarkan kekufuran dan penyesatanmu kepada orang lain. Kamu tidak mempunyai dalih yang bisa kamu sodorkan sebagai alasan, tidak ada tempat berlindung bagimu, tidak ada pemberi syafa'at dan tidak ada permohonan yang didengarkan, pada hari ini kamu jangan bertanya tentang azab, siksa, dan kehinaan yang menimpa mereka. Oleh karena itu, Allah tidak menyebutkan alasan untuk me-reka. Adapun teman-teman mereka dari kalangan manusia, maka mereka menyodorkan alasan yang mengada-ada. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَا ٱسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٖ ﴿ "Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah menda-pat kesenangan dari sebagian (yang lain)." Maksudnya, masing-masing dari jin dan manusia mendapatkan kesenangan dan manfaat dari yang lain. Jin merasa senang dengan ketaatan manusia kepadanya, dia menikmati ibadah, penghormatan, dan permohonan perlindung-an manusia kepadanya, sementara manusia mendapatkan kese-nangan dengan mendapatkan apa yang diinginkan dan diimpikan dengan pelayanan yang dilakukan oleh jin untuknya dalam seba-gian ambisinya. Manusia menyembah jin lalu jin menjadi khadamnya dengan mewujudkan keperluan-keperluan dunia untuknya. Maksudnya mewujudkan dosa-dosa kami yang telah terjadi, dan hal tersebut tidak mungkin ditolak. ﴾ وَبَلَغۡنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِيٓ أَجَّلۡتَ لَنَاۚ ﴿ "Dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami." Maksudnya, kami telah sampai di tempat yang mana amalan-amalan akan dibalas, maka lakukanlah kepada kami apa yang Engkau kehendaki, putus-kanlah apa yang Engkau kehendaki pada kami, hujjah kami telah habis, kami sudah tidak memiliki alasan lagi. Perkaranya adalah perkaraMu dan hukumnya adalah hukumMu. Seakan-akan ucapan yang mereka katakan ini mengandung kerendahan dan kepasrah-an, namun dilakukan bukan pada waktunya (yang tepat). Oleh karena itu, Allah memutuskan dengan keputusanNya yang adil yang tidak ada kezhaliman padanya. Dia berfirman, ﴾ ٱلنَّارُ مَثۡوَىٰكُمۡ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ﴿ "Neraka itulah tempat diammu sedang kamu kekal di dalamnya," karena keputusan ini berasal dari tuntutan hikmah dan ilmunya, maka Dia menutup ayat dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Seba-gaimana ilmuNya meliputi dan mencakup segala sesuatu, maka hikmah tujuanNya juga meliputi dan mencakup segala sesuatu.
(129) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعۡضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعۡضَۢا بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." Maksudnya, sebagaimana Kami jadikan jin yang bengal sebagai wali dan ber-kuasa menyesatkan teman-temannya dari kalangan manusia, Kami hubungkan juga mereka dengan jalinan pertemanan dan kesesuaian disebabkan oleh usaha dan jerih payah mereka, maka termasuk sunnah Kami adalah menjadikan orang zhalim sebagai wali bagi orang zhalim yang lain yang mendorong dan meng-hasudnya kepada keburukan, menjauhkan dan menghindarkannya dari kebaikan. Hal itu termasuk hukuman Allah yang keras, yang buruk pengaruhnya, yang mendalam bahayanya, dan yang me-nanggung dosa adalah orang yang zhalim, dialah yang mengundang dan memetik mudarat bagi dirinya sendiri, dan Tuhanmu tidaklah menzhalimi hamba-hambaNya. Termasuk dalam hal ini adalah jika kezhaliman manusia, kerusakan dan penolakan manusia untuk menunaikan hak-hak yang wajib telah memuncak, maka Allah akan memunculkan orang zhalim yang menguasai mereka dan menimpakan azab yang buruk kepada mereka. Dia akan memerintah mereka dengan kezhaliman dan kesewenang-wenangan yang jauh lebih besar daripada hak-hak Allah dan hamba-hambaNya yang tidak mereka tunaikan dengan tidak diberi balasan dan pahala padanya, sebagaimana jika manu-sia baik dan lurus, maka Allah memperbaiki pemimpin mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang adil dan bukan pemimpin zhalim lagi lalim.
(130) Kemudian Allah mencela semua orang yang berpa-ling dari kebenaran dan menolaknya, baik yang berasal dari ka-langan jin dan manusia. Dia menjelaskan kesalahan mereka, maka mereka mengakui itu. Dia berfirman, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ رُسُلٞ مِّنكُمۡ يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu" yang jelas dan terang yang terdapat padanya perincian perintah, larangan, kebaikan, keburukan, janji pahala, dan ancaman siksa, ﴾ وَيُنذِرُونَكُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?" Dan mengajarkan kepadamu bahwa keselamatan dan keberuntungan hanya didapat dengan menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, dan bahwa kesengsaraan dan kerugian terletak pada penyia-nyiaan semua itu? Maka mereka mengakui itu. Mereka berkata, "Benar, ﴾ شَهِدۡنَا عَلَىٰٓ أَنفُسِنَاۖ وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri', namun kehidupan dunia telah menipu mereka," dengan perhiasan, keindahan dan kenikmatannya, maka mereka condong kepadanya dan menerimanya, dan itu melalaikan mereka dari Akhi-rat. ﴾ وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ﴿ "Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." Maka hujjah Allah pun tegak atas mereka, dan pada saat itu, semua orang mengetahui bahkan diri mereka sendiri mengetahui keadilan Allah pada mereka. (Maka Allah menyatakan hukumNya atas mereka dengan azab yang pedih, "Masuklah kamu ke dalam deretan umat-umat yang telah berlalu sebelummu dari kalangan jin dan manusia di mana mereka melakukan seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka se-perti kamu pun bersenang-senang. Mereka terjun ke dalam keba-tilan sepertimu. Mereka adalah orang-orang yang merugi, yakni orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir dari mereka. Ada-kah kerugian yang lebih besar daripada kerugian surga kenikmat-an dan lenyapnya perlindungan dari Allah Yang Maha Pemurah?).[64]
(132) Walaupun mereka sama-sama merugi, akan tetapi kerugian mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang besar. ﴾ وَلِكُلّٖ ﴿ "Dan masing-masing orang" dari mereka ﴾ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۚ ﴿ "memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya." Sesuai dengan amal mereka, sedikit keburukan tidak disamakan dengan banyaknya, pengikut tidaklah sama dengan yang diikuti, yang dipimpin tidaklah sama dengan yang memimpin. Sebagai-mana penduduk surga, walaupun mereka sama-sama masuk surga, mendapatkan keuntungan dan kemenangan, akan tetapi di antara mereka terdapat perbedaan yang hanya diketahui oleh Allah, mes-kipun masing-masing dari mereka telah rela menerima apa yang Allah berikan kepadanya dan cukup dengan apa yang dilimpah-kan kepadanya. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kami termasuk penduduk Surga Firdaus yang tertinggi yang Allah sediakan bagi hamba-hambaNya yang dekat, makhlukNya yang terpilih dan orang-orang khusus dari orang-orang yang dicintaiNya. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." Maka masing-masing dibalas sesuai dengan amalnya dan sesuai dengan maksud yang diketahuiNya.
(133) Allah memerintahkan amal shalih kepada hamba-hambaNya dan melarang amal buruk sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka dan bertujuan mewujudkan kebaikan bagi mereka, karena jika tidak, maka Dia Mahakaya dengan DzatNya dan tidak membutuhkan makhluk-makhlukNya. Ketaatan orang-orang yang taat tidak berguna bagiNya, dan kedurhakaan orang yang durha-ka tidaklah merugikannya. ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفۡ مِنۢ بَعۡدِكُم مَّا يَشَآءُ كَمَآ أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوۡمٍ ءَاخَرِينَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu, dan menggan-timu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain." Jika kamu mengetahui bahwa kamu pasti berpindah dari alam ini sebagaimana selainmu juga berpindah, kamu pasti pergi darinya dan meninggalkannya untuk orang-orang sesudahmu sebagaimana orang-orang sebelummu telah berpindah darinya, pergi darinya dan meninggalkannya untukmu, lalu mengapa kamu menjadikannya sebagai tempat tinggal permanen, kamu tinggal padanya dan kamu lupa bahwa ia hanyalah tempat singgah sementara, bukan tempat menetap, dan bahwa di depanmu terdapat alam yang menghim-pun seluruh kenikmatan dan terbebas dari segala kekurangan dan aib? Ia adalah alam di mana orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir berjuang mendapatkannya, orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian berpindah ke sana, yang mana jika mereka telah sampai kepadanya, maka di dalamnya terdapat kekekalan selama-lamanya, tempat tinggal abadi, tujuan yang di belakangnya tidak ada tujuan lagi, sesuatu yang didambakan di mana seluruh dambaan terhenti padanya, sesuatu yang diinginkan di mana se-gala yang diinginkan sirna di bawahnya. Di sana demi Allah, ter-dapat apa yang diinginkan oleh jiwa, yang dinikmati oleh mata, padanya orang-orang berlomba-lomba mendapatkan kenikmatan ruh, kebahagiaan yang banyak, nikmat-nikmat badan dan hati serta kedekatan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Alangkah mulianya semangat yang berkaitan dengan kemu-liaan itu dan keinginan yang terangkat ke derajat yang tertinggi. Dan betapa hinanya bagian orang yang rela dengan kerendahan, dan betapa rendahnya semangat orang yang rela dengan pernia-gaan yang melenakan.
(134) Orang yang berpaling lagi lalai jangan meyakini bah-wa untuk sampai kepada alam ini memerlukan waktu yang lama karena ﴾ إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَأٓتٖۖ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ ﴿ "sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya." Maksudnya, menolak dari Allah, tidak sanggup lari dari azabnya karena ubun-ubunmu berada dalam genggamanNya, dan kamu berada di bawah pengaturan dan penataanNya.
(135) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Rasul kepada kaummu jika kamu mengajak mereka kepada Allah, jelaskanlah tempat kembali mereka kepada mereka dan hak-hakNya yang wajib atas mereka lalu mereka menolak tunduk kepada perintahNya, mengikuti hawa nafsu mereka dan terus berjalan di atas kesyirikan,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu pada tem-pat berpijakmu." Maksudnya berbuatlah pada tempat berpijakmu di mana kamu berada di atasnya dan kamu merelakannya untuk dirimu. ﴾ إِنِّي عَامِلٞۖ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula)," dengan berpedoman pada perintah dari Allah dan mengikuti ridha Allah. ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِۚ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui, sia-pakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini." Aku atau kamu. Ini termasuk obyektifitas dengan nilai tinggi di mana Dia menjelaskan amal perbuatan dan pelakunya, men-jadikan balasan terkait dengan pandangan orang yang mengetahui, memaparkannya dengan terbuka dan jelas sehingga tidak memer-lukan isyarat. Telah diketahui bahwa akibat yang baik di dunia dan akhirat adalah milik orang-orang yang bertakwa, bahwa orang-orang Mukmin adalah pemilik hasil yang baik dari dunia ini, dan bahwa setiap orang yang berpaling dari sesuatu yang dibawa oleh para Rasul, akibatnya adalah akibat buruk. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." Semua orang yang zhalim walaupun dia menikmati dunia dengan kenikmatannya, tetap saja akhirnya adalah ketiadaan dan kebinasaan. Sesungguh-nya Allah mendikte orang zhalim sehingga manakala Dia meng-ambilnya, maka dia tidak akan lolos.
Al-An'am 6:134
"Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka se-muanya, (dan Allah berfirman), 'Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.' Lalu kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, 'Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain), dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami.' Allah berfirman, 'Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).' Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan ayat-ayatKu kepadamu dan memberi peringatan kepadamu mengenai pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.' Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Yang demikian itu karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu Mahakaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkanmu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikanmu dari keturunan orang-orang lain. Sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya. Katakanlah, 'Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.' Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan menda-pat keberuntungan." (Al-An'am: 128-135).
(128) Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka semuanya." Yakni seluruh manu-sia dan jin, baik yang sesat di antara mereka dan menyesatkan yang lain. Dia berfirman, mencela jin yang menyesatkan manusia, meng-hiasi keburukan bagi mereka, dan mendorong mereka kepada ke-maksiatan, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ قَدِ ٱسۡتَكۡثَرۡتُم مِّنَ ٱلۡإِنسِۖ ﴿ "Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia." Maksudnya, kamu banyak menyesatkan dan menghalangi manusia dari jalan Allah, bagaimana kamu berani melanggar batasan-batasanKu, kamu berani menentang rasul-rasulKu, kamu berperan memerangi Allah, berusaha menghalang-halangi hamba-hamba Allah dari jalan Allah kepada jalan neraka? Pada hari ini laknatKu menimpamu, murka-Ku adalah balasanmu, dan Kami akan menambah azabmu berda-sarkan kekufuran dan penyesatanmu kepada orang lain. Kamu tidak mempunyai dalih yang bisa kamu sodorkan sebagai alasan, tidak ada tempat berlindung bagimu, tidak ada pemberi syafa'at dan tidak ada permohonan yang didengarkan, pada hari ini kamu jangan bertanya tentang azab, siksa, dan kehinaan yang menimpa mereka. Oleh karena itu, Allah tidak menyebutkan alasan untuk me-reka. Adapun teman-teman mereka dari kalangan manusia, maka mereka menyodorkan alasan yang mengada-ada. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَا ٱسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٖ ﴿ "Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah menda-pat kesenangan dari sebagian (yang lain)." Maksudnya, masing-masing dari jin dan manusia mendapatkan kesenangan dan manfaat dari yang lain. Jin merasa senang dengan ketaatan manusia kepadanya, dia menikmati ibadah, penghormatan, dan permohonan perlindung-an manusia kepadanya, sementara manusia mendapatkan kese-nangan dengan mendapatkan apa yang diinginkan dan diimpikan dengan pelayanan yang dilakukan oleh jin untuknya dalam seba-gian ambisinya. Manusia menyembah jin lalu jin menjadi khadamnya dengan mewujudkan keperluan-keperluan dunia untuknya. Maksudnya mewujudkan dosa-dosa kami yang telah terjadi, dan hal tersebut tidak mungkin ditolak. ﴾ وَبَلَغۡنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِيٓ أَجَّلۡتَ لَنَاۚ ﴿ "Dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami." Maksudnya, kami telah sampai di tempat yang mana amalan-amalan akan dibalas, maka lakukanlah kepada kami apa yang Engkau kehendaki, putus-kanlah apa yang Engkau kehendaki pada kami, hujjah kami telah habis, kami sudah tidak memiliki alasan lagi. Perkaranya adalah perkaraMu dan hukumnya adalah hukumMu. Seakan-akan ucapan yang mereka katakan ini mengandung kerendahan dan kepasrah-an, namun dilakukan bukan pada waktunya (yang tepat). Oleh karena itu, Allah memutuskan dengan keputusanNya yang adil yang tidak ada kezhaliman padanya. Dia berfirman, ﴾ ٱلنَّارُ مَثۡوَىٰكُمۡ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ﴿ "Neraka itulah tempat diammu sedang kamu kekal di dalamnya," karena keputusan ini berasal dari tuntutan hikmah dan ilmunya, maka Dia menutup ayat dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Seba-gaimana ilmuNya meliputi dan mencakup segala sesuatu, maka hikmah tujuanNya juga meliputi dan mencakup segala sesuatu.
(129) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعۡضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعۡضَۢا بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." Maksudnya, sebagaimana Kami jadikan jin yang bengal sebagai wali dan ber-kuasa menyesatkan teman-temannya dari kalangan manusia, Kami hubungkan juga mereka dengan jalinan pertemanan dan kesesuaian disebabkan oleh usaha dan jerih payah mereka, maka termasuk sunnah Kami adalah menjadikan orang zhalim sebagai wali bagi orang zhalim yang lain yang mendorong dan meng-hasudnya kepada keburukan, menjauhkan dan menghindarkannya dari kebaikan. Hal itu termasuk hukuman Allah yang keras, yang buruk pengaruhnya, yang mendalam bahayanya, dan yang me-nanggung dosa adalah orang yang zhalim, dialah yang mengundang dan memetik mudarat bagi dirinya sendiri, dan Tuhanmu tidaklah menzhalimi hamba-hambaNya. Termasuk dalam hal ini adalah jika kezhaliman manusia, kerusakan dan penolakan manusia untuk menunaikan hak-hak yang wajib telah memuncak, maka Allah akan memunculkan orang zhalim yang menguasai mereka dan menimpakan azab yang buruk kepada mereka. Dia akan memerintah mereka dengan kezhaliman dan kesewenang-wenangan yang jauh lebih besar daripada hak-hak Allah dan hamba-hambaNya yang tidak mereka tunaikan dengan tidak diberi balasan dan pahala padanya, sebagaimana jika manu-sia baik dan lurus, maka Allah memperbaiki pemimpin mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang adil dan bukan pemimpin zhalim lagi lalim.
(130) Kemudian Allah mencela semua orang yang berpa-ling dari kebenaran dan menolaknya, baik yang berasal dari ka-langan jin dan manusia. Dia menjelaskan kesalahan mereka, maka mereka mengakui itu. Dia berfirman, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ رُسُلٞ مِّنكُمۡ يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu" yang jelas dan terang yang terdapat padanya perincian perintah, larangan, kebaikan, keburukan, janji pahala, dan ancaman siksa, ﴾ وَيُنذِرُونَكُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?" Dan mengajarkan kepadamu bahwa keselamatan dan keberuntungan hanya didapat dengan menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, dan bahwa kesengsaraan dan kerugian terletak pada penyia-nyiaan semua itu? Maka mereka mengakui itu. Mereka berkata, "Benar, ﴾ شَهِدۡنَا عَلَىٰٓ أَنفُسِنَاۖ وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri', namun kehidupan dunia telah menipu mereka," dengan perhiasan, keindahan dan kenikmatannya, maka mereka condong kepadanya dan menerimanya, dan itu melalaikan mereka dari Akhi-rat. ﴾ وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ﴿ "Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." Maka hujjah Allah pun tegak atas mereka, dan pada saat itu, semua orang mengetahui bahkan diri mereka sendiri mengetahui keadilan Allah pada mereka. (Maka Allah menyatakan hukumNya atas mereka dengan azab yang pedih, "Masuklah kamu ke dalam deretan umat-umat yang telah berlalu sebelummu dari kalangan jin dan manusia di mana mereka melakukan seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka se-perti kamu pun bersenang-senang. Mereka terjun ke dalam keba-tilan sepertimu. Mereka adalah orang-orang yang merugi, yakni orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir dari mereka. Ada-kah kerugian yang lebih besar daripada kerugian surga kenikmat-an dan lenyapnya perlindungan dari Allah Yang Maha Pemurah?).[64]
(132) Walaupun mereka sama-sama merugi, akan tetapi kerugian mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang besar. ﴾ وَلِكُلّٖ ﴿ "Dan masing-masing orang" dari mereka ﴾ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۚ ﴿ "memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya." Sesuai dengan amal mereka, sedikit keburukan tidak disamakan dengan banyaknya, pengikut tidaklah sama dengan yang diikuti, yang dipimpin tidaklah sama dengan yang memimpin. Sebagai-mana penduduk surga, walaupun mereka sama-sama masuk surga, mendapatkan keuntungan dan kemenangan, akan tetapi di antara mereka terdapat perbedaan yang hanya diketahui oleh Allah, mes-kipun masing-masing dari mereka telah rela menerima apa yang Allah berikan kepadanya dan cukup dengan apa yang dilimpah-kan kepadanya. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kami termasuk penduduk Surga Firdaus yang tertinggi yang Allah sediakan bagi hamba-hambaNya yang dekat, makhlukNya yang terpilih dan orang-orang khusus dari orang-orang yang dicintaiNya. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." Maka masing-masing dibalas sesuai dengan amalnya dan sesuai dengan maksud yang diketahuiNya.
(133) Allah memerintahkan amal shalih kepada hamba-hambaNya dan melarang amal buruk sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka dan bertujuan mewujudkan kebaikan bagi mereka, karena jika tidak, maka Dia Mahakaya dengan DzatNya dan tidak membutuhkan makhluk-makhlukNya. Ketaatan orang-orang yang taat tidak berguna bagiNya, dan kedurhakaan orang yang durha-ka tidaklah merugikannya. ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفۡ مِنۢ بَعۡدِكُم مَّا يَشَآءُ كَمَآ أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوۡمٍ ءَاخَرِينَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu, dan menggan-timu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain." Jika kamu mengetahui bahwa kamu pasti berpindah dari alam ini sebagaimana selainmu juga berpindah, kamu pasti pergi darinya dan meninggalkannya untuk orang-orang sesudahmu sebagaimana orang-orang sebelummu telah berpindah darinya, pergi darinya dan meninggalkannya untukmu, lalu mengapa kamu menjadikannya sebagai tempat tinggal permanen, kamu tinggal padanya dan kamu lupa bahwa ia hanyalah tempat singgah sementara, bukan tempat menetap, dan bahwa di depanmu terdapat alam yang menghim-pun seluruh kenikmatan dan terbebas dari segala kekurangan dan aib? Ia adalah alam di mana orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir berjuang mendapatkannya, orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian berpindah ke sana, yang mana jika mereka telah sampai kepadanya, maka di dalamnya terdapat kekekalan selama-lamanya, tempat tinggal abadi, tujuan yang di belakangnya tidak ada tujuan lagi, sesuatu yang didambakan di mana seluruh dambaan terhenti padanya, sesuatu yang diinginkan di mana se-gala yang diinginkan sirna di bawahnya. Di sana demi Allah, ter-dapat apa yang diinginkan oleh jiwa, yang dinikmati oleh mata, padanya orang-orang berlomba-lomba mendapatkan kenikmatan ruh, kebahagiaan yang banyak, nikmat-nikmat badan dan hati serta kedekatan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Alangkah mulianya semangat yang berkaitan dengan kemu-liaan itu dan keinginan yang terangkat ke derajat yang tertinggi. Dan betapa hinanya bagian orang yang rela dengan kerendahan, dan betapa rendahnya semangat orang yang rela dengan pernia-gaan yang melenakan.
(134) Orang yang berpaling lagi lalai jangan meyakini bah-wa untuk sampai kepada alam ini memerlukan waktu yang lama karena ﴾ إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَأٓتٖۖ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ ﴿ "sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya." Maksudnya, menolak dari Allah, tidak sanggup lari dari azabnya karena ubun-ubunmu berada dalam genggamanNya, dan kamu berada di bawah pengaturan dan penataanNya.
(135) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Rasul kepada kaummu jika kamu mengajak mereka kepada Allah, jelaskanlah tempat kembali mereka kepada mereka dan hak-hakNya yang wajib atas mereka lalu mereka menolak tunduk kepada perintahNya, mengikuti hawa nafsu mereka dan terus berjalan di atas kesyirikan,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu pada tem-pat berpijakmu." Maksudnya berbuatlah pada tempat berpijakmu di mana kamu berada di atasnya dan kamu merelakannya untuk dirimu. ﴾ إِنِّي عَامِلٞۖ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula)," dengan berpedoman pada perintah dari Allah dan mengikuti ridha Allah. ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِۚ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui, sia-pakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini." Aku atau kamu. Ini termasuk obyektifitas dengan nilai tinggi di mana Dia menjelaskan amal perbuatan dan pelakunya, men-jadikan balasan terkait dengan pandangan orang yang mengetahui, memaparkannya dengan terbuka dan jelas sehingga tidak memer-lukan isyarat. Telah diketahui bahwa akibat yang baik di dunia dan akhirat adalah milik orang-orang yang bertakwa, bahwa orang-orang Mukmin adalah pemilik hasil yang baik dari dunia ini, dan bahwa setiap orang yang berpaling dari sesuatu yang dibawa oleh para Rasul, akibatnya adalah akibat buruk. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." Semua orang yang zhalim walaupun dia menikmati dunia dengan kenikmatannya, tetap saja akhirnya adalah ketiadaan dan kebinasaan. Sesungguh-nya Allah mendikte orang zhalim sehingga manakala Dia meng-ambilnya, maka dia tidak akan lolos.
Al-An'am 6:135
"Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka se-muanya, (dan Allah berfirman), 'Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.' Lalu kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, 'Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain), dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami.' Allah berfirman, 'Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).' Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan ayat-ayatKu kepadamu dan memberi peringatan kepadamu mengenai pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.' Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Yang demikian itu karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu Mahakaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkanmu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikanmu dari keturunan orang-orang lain. Sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya. Katakanlah, 'Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.' Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan menda-pat keberuntungan." (Al-An'am: 128-135).
(128) Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka semuanya." Yakni seluruh manu-sia dan jin, baik yang sesat di antara mereka dan menyesatkan yang lain. Dia berfirman, mencela jin yang menyesatkan manusia, meng-hiasi keburukan bagi mereka, dan mendorong mereka kepada ke-maksiatan, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ قَدِ ٱسۡتَكۡثَرۡتُم مِّنَ ٱلۡإِنسِۖ ﴿ "Hai golongan jin (setan), sungguh kamu telah banyak (menyesatkan) manusia." Maksudnya, kamu banyak menyesatkan dan menghalangi manusia dari jalan Allah, bagaimana kamu berani melanggar batasan-batasanKu, kamu berani menentang rasul-rasulKu, kamu berperan memerangi Allah, berusaha menghalang-halangi hamba-hamba Allah dari jalan Allah kepada jalan neraka? Pada hari ini laknatKu menimpamu, murka-Ku adalah balasanmu, dan Kami akan menambah azabmu berda-sarkan kekufuran dan penyesatanmu kepada orang lain. Kamu tidak mempunyai dalih yang bisa kamu sodorkan sebagai alasan, tidak ada tempat berlindung bagimu, tidak ada pemberi syafa'at dan tidak ada permohonan yang didengarkan, pada hari ini kamu jangan bertanya tentang azab, siksa, dan kehinaan yang menimpa mereka. Oleh karena itu, Allah tidak menyebutkan alasan untuk me-reka. Adapun teman-teman mereka dari kalangan manusia, maka mereka menyodorkan alasan yang mengada-ada. Mereka berkata, ﴾ رَبَّنَا ٱسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٖ ﴿ "Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah menda-pat kesenangan dari sebagian (yang lain)." Maksudnya, masing-masing dari jin dan manusia mendapatkan kesenangan dan manfaat dari yang lain. Jin merasa senang dengan ketaatan manusia kepadanya, dia menikmati ibadah, penghormatan, dan permohonan perlindung-an manusia kepadanya, sementara manusia mendapatkan kese-nangan dengan mendapatkan apa yang diinginkan dan diimpikan dengan pelayanan yang dilakukan oleh jin untuknya dalam seba-gian ambisinya. Manusia menyembah jin lalu jin menjadi khadamnya dengan mewujudkan keperluan-keperluan dunia untuknya. Maksudnya mewujudkan dosa-dosa kami yang telah terjadi, dan hal tersebut tidak mungkin ditolak. ﴾ وَبَلَغۡنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِيٓ أَجَّلۡتَ لَنَاۚ ﴿ "Dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami." Maksudnya, kami telah sampai di tempat yang mana amalan-amalan akan dibalas, maka lakukanlah kepada kami apa yang Engkau kehendaki, putus-kanlah apa yang Engkau kehendaki pada kami, hujjah kami telah habis, kami sudah tidak memiliki alasan lagi. Perkaranya adalah perkaraMu dan hukumnya adalah hukumMu. Seakan-akan ucapan yang mereka katakan ini mengandung kerendahan dan kepasrah-an, namun dilakukan bukan pada waktunya (yang tepat). Oleh karena itu, Allah memutuskan dengan keputusanNya yang adil yang tidak ada kezhaliman padanya. Dia berfirman, ﴾ ٱلنَّارُ مَثۡوَىٰكُمۡ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ﴿ "Neraka itulah tempat diammu sedang kamu kekal di dalamnya," karena keputusan ini berasal dari tuntutan hikmah dan ilmunya, maka Dia menutup ayat dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Seba-gaimana ilmuNya meliputi dan mencakup segala sesuatu, maka hikmah tujuanNya juga meliputi dan mencakup segala sesuatu.
(129) ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعۡضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعۡضَۢا بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." Maksudnya, sebagaimana Kami jadikan jin yang bengal sebagai wali dan ber-kuasa menyesatkan teman-temannya dari kalangan manusia, Kami hubungkan juga mereka dengan jalinan pertemanan dan kesesuaian disebabkan oleh usaha dan jerih payah mereka, maka termasuk sunnah Kami adalah menjadikan orang zhalim sebagai wali bagi orang zhalim yang lain yang mendorong dan meng-hasudnya kepada keburukan, menjauhkan dan menghindarkannya dari kebaikan. Hal itu termasuk hukuman Allah yang keras, yang buruk pengaruhnya, yang mendalam bahayanya, dan yang me-nanggung dosa adalah orang yang zhalim, dialah yang mengundang dan memetik mudarat bagi dirinya sendiri, dan Tuhanmu tidaklah menzhalimi hamba-hambaNya. Termasuk dalam hal ini adalah jika kezhaliman manusia, kerusakan dan penolakan manusia untuk menunaikan hak-hak yang wajib telah memuncak, maka Allah akan memunculkan orang zhalim yang menguasai mereka dan menimpakan azab yang buruk kepada mereka. Dia akan memerintah mereka dengan kezhaliman dan kesewenang-wenangan yang jauh lebih besar daripada hak-hak Allah dan hamba-hambaNya yang tidak mereka tunaikan dengan tidak diberi balasan dan pahala padanya, sebagaimana jika manu-sia baik dan lurus, maka Allah memperbaiki pemimpin mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang adil dan bukan pemimpin zhalim lagi lalim.
(130) Kemudian Allah mencela semua orang yang berpa-ling dari kebenaran dan menolaknya, baik yang berasal dari ka-langan jin dan manusia. Dia menjelaskan kesalahan mereka, maka mereka mengakui itu. Dia berfirman, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ رُسُلٞ مِّنكُمۡ يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu" yang jelas dan terang yang terdapat padanya perincian perintah, larangan, kebaikan, keburukan, janji pahala, dan ancaman siksa, ﴾ وَيُنذِرُونَكُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?" Dan mengajarkan kepadamu bahwa keselamatan dan keberuntungan hanya didapat dengan menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, dan bahwa kesengsaraan dan kerugian terletak pada penyia-nyiaan semua itu? Maka mereka mengakui itu. Mereka berkata, "Benar, ﴾ شَهِدۡنَا عَلَىٰٓ أَنفُسِنَاۖ وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri', namun kehidupan dunia telah menipu mereka," dengan perhiasan, keindahan dan kenikmatannya, maka mereka condong kepadanya dan menerimanya, dan itu melalaikan mereka dari Akhi-rat. ﴾ وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ ﴿ "Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." Maka hujjah Allah pun tegak atas mereka, dan pada saat itu, semua orang mengetahui bahkan diri mereka sendiri mengetahui keadilan Allah pada mereka. (Maka Allah menyatakan hukumNya atas mereka dengan azab yang pedih, "Masuklah kamu ke dalam deretan umat-umat yang telah berlalu sebelummu dari kalangan jin dan manusia di mana mereka melakukan seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka seperti yang kamu lakukan. Mereka bersenang-senang dengan kekayaan mereka se-perti kamu pun bersenang-senang. Mereka terjun ke dalam keba-tilan sepertimu. Mereka adalah orang-orang yang merugi, yakni orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir dari mereka. Ada-kah kerugian yang lebih besar daripada kerugian surga kenikmat-an dan lenyapnya perlindungan dari Allah Yang Maha Pemurah?).[64]
(132) Walaupun mereka sama-sama merugi, akan tetapi kerugian mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang besar. ﴾ وَلِكُلّٖ ﴿ "Dan masing-masing orang" dari mereka ﴾ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۚ ﴿ "memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya." Sesuai dengan amal mereka, sedikit keburukan tidak disamakan dengan banyaknya, pengikut tidaklah sama dengan yang diikuti, yang dipimpin tidaklah sama dengan yang memimpin. Sebagai-mana penduduk surga, walaupun mereka sama-sama masuk surga, mendapatkan keuntungan dan kemenangan, akan tetapi di antara mereka terdapat perbedaan yang hanya diketahui oleh Allah, mes-kipun masing-masing dari mereka telah rela menerima apa yang Allah berikan kepadanya dan cukup dengan apa yang dilimpah-kan kepadanya. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kami termasuk penduduk Surga Firdaus yang tertinggi yang Allah sediakan bagi hamba-hambaNya yang dekat, makhlukNya yang terpilih dan orang-orang khusus dari orang-orang yang dicintaiNya. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." Maka masing-masing dibalas sesuai dengan amalnya dan sesuai dengan maksud yang diketahuiNya.
(133) Allah memerintahkan amal shalih kepada hamba-hambaNya dan melarang amal buruk sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka dan bertujuan mewujudkan kebaikan bagi mereka, karena jika tidak, maka Dia Mahakaya dengan DzatNya dan tidak membutuhkan makhluk-makhlukNya. Ketaatan orang-orang yang taat tidak berguna bagiNya, dan kedurhakaan orang yang durha-ka tidaklah merugikannya. ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفۡ مِنۢ بَعۡدِكُم مَّا يَشَآءُ كَمَآ أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوۡمٍ ءَاخَرِينَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu, dan menggan-timu dengan siapa yang dikehendakiNya setelah kamu (musnah), seba-gaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain." Jika kamu mengetahui bahwa kamu pasti berpindah dari alam ini sebagaimana selainmu juga berpindah, kamu pasti pergi darinya dan meninggalkannya untuk orang-orang sesudahmu sebagaimana orang-orang sebelummu telah berpindah darinya, pergi darinya dan meninggalkannya untukmu, lalu mengapa kamu menjadikannya sebagai tempat tinggal permanen, kamu tinggal padanya dan kamu lupa bahwa ia hanyalah tempat singgah sementara, bukan tempat menetap, dan bahwa di depanmu terdapat alam yang menghim-pun seluruh kenikmatan dan terbebas dari segala kekurangan dan aib? Ia adalah alam di mana orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir berjuang mendapatkannya, orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian berpindah ke sana, yang mana jika mereka telah sampai kepadanya, maka di dalamnya terdapat kekekalan selama-lamanya, tempat tinggal abadi, tujuan yang di belakangnya tidak ada tujuan lagi, sesuatu yang didambakan di mana seluruh dambaan terhenti padanya, sesuatu yang diinginkan di mana se-gala yang diinginkan sirna di bawahnya. Di sana demi Allah, ter-dapat apa yang diinginkan oleh jiwa, yang dinikmati oleh mata, padanya orang-orang berlomba-lomba mendapatkan kenikmatan ruh, kebahagiaan yang banyak, nikmat-nikmat badan dan hati serta kedekatan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Alangkah mulianya semangat yang berkaitan dengan kemu-liaan itu dan keinginan yang terangkat ke derajat yang tertinggi. Dan betapa hinanya bagian orang yang rela dengan kerendahan, dan betapa rendahnya semangat orang yang rela dengan pernia-gaan yang melenakan.
(134) Orang yang berpaling lagi lalai jangan meyakini bah-wa untuk sampai kepada alam ini memerlukan waktu yang lama karena ﴾ إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَأٓتٖۖ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ ﴿ "sesungguhnya sesuatu yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya." Maksudnya, menolak dari Allah, tidak sanggup lari dari azabnya karena ubun-ubunmu berada dalam genggamanNya, dan kamu berada di bawah pengaturan dan penataanNya.
(135) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Rasul kepada kaummu jika kamu mengajak mereka kepada Allah, jelaskanlah tempat kembali mereka kepada mereka dan hak-hakNya yang wajib atas mereka lalu mereka menolak tunduk kepada perintahNya, mengikuti hawa nafsu mereka dan terus berjalan di atas kesyirikan,﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu pada tem-pat berpijakmu." Maksudnya berbuatlah pada tempat berpijakmu di mana kamu berada di atasnya dan kamu merelakannya untuk dirimu. ﴾ إِنِّي عَامِلٞۖ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula)," dengan berpedoman pada perintah dari Allah dan mengikuti ridha Allah. ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِۚ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui, sia-pakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini." Aku atau kamu. Ini termasuk obyektifitas dengan nilai tinggi di mana Dia menjelaskan amal perbuatan dan pelakunya, men-jadikan balasan terkait dengan pandangan orang yang mengetahui, memaparkannya dengan terbuka dan jelas sehingga tidak memer-lukan isyarat. Telah diketahui bahwa akibat yang baik di dunia dan akhirat adalah milik orang-orang yang bertakwa, bahwa orang-orang Mukmin adalah pemilik hasil yang baik dari dunia ini, dan bahwa setiap orang yang berpaling dari sesuatu yang dibawa oleh para Rasul, akibatnya adalah akibat buruk. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Sesungguhnya, orang-orang yang zhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." Semua orang yang zhalim walaupun dia menikmati dunia dengan kenikmatannya, tetap saja akhirnya adalah ketiadaan dan kebinasaan. Sesungguh-nya Allah mendikte orang zhalim sehingga manakala Dia meng-ambilnya, maka dia tidak akan lolos.
Al-An'am 6:136
"Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka ber-kata sesuai dengan persangkaan mereka, 'Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.' Maka sajian-sajian yang diperuntuk-kan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah, dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadi-kan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan agama mereka. Dan kalau Allah menghen-daki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan sesuatu yang mereka ada-adakan. Dan mereka menga-takan, 'Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang, tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki,' menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan me-nungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka atas apa yang selalu mereka ada-adakan. Dan mereka mengata-kan, 'Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami, dan diharamkan atas wanita kami,' dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka atas ke-tetapan mereka. Sesungguhnya Allah Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Sungguh rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka meng-haramkan sesuatu yang telah Allah rizkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sungguh mereka telah sesat, dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." (Al-An'am: 136-140).
(136) Allah menyampaikan kebodohan akal, kerancuan pemikiran dan kebodohan yang mendalam yang dimiliki oleh orang-orang musyrik yang mendustakan Nabi. Allah membongkar sedi-kit khurafat mereka untuk memperingatkan kesesatan mereka, dan agar ia diwaspadai, dan bahwa penentangan dari orang-orang se-misal mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rasul sama sekali tidak menodainya, karena mereka tidak layak untuk meng-hadapi kebenaran. Allah menjelaskan sebagian dari itu, bahwa mereka ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ ٱلۡحَرۡثِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ نَصِيبٗا ﴿ "memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah." Sementara sesembahan mereka juga mendapatkan satu bagian, padahal sebenarnya Allah-lah yang menciptakan dan meng-adakan rizki untuk hamba-hambaNya, maka mereka menggabung-kan antara dua perkara dosa yang dikhawatirkan bahkan tiga: Pertama, jasa mereka kepada Allah dengan memberikan ba-gian untukNya meskipun mereka meyakini bahwa itu adalah sukarela dari mereka. Kedua, menyamakan sesembahan itu dengan Allah padahal sesembahan itu tidak memberi mereka rizki dan tidak mencipta-kan sedikit pun darinya. Ketiga, keputusan mereka yang tidak adil bahwa mereka tidak mempedulikan dan tidak memperhatikan sesuatu yang diberikan kepada Allah walaupun ia sampai kepada sesembahan-sesembahan mereka. Sebaliknya yang diberikan kepada sesembahan-sesem-bahan, maka mereka menjaga dan memperhatikannya, dan tidak sedikit pun yang sampai kepada Allah darinya. Hal itu jika mereka mendapatkan rizki dari tanaman, buah-buahan, dan ternak mereka, maka mereka membaginya menjadi dua bagian. Satu bagian me-reka katakan, "Ini untuk Allah," menurut klaim mereka, karena jika tidak, maka Allah tidak menerima kecuali apa yang diikhlaskan demi WajahNya. Dia tidak menerima amal orang yang menyekutu-kanNya, sedangkan bagian lain, maka mereka menjadikannya se-bagai bagian untuk sesembahan-sesembahan mereka dalam bentuk berhala dan tandingan-tandingan. Mereka tidak mempedulikan jika sesuatu yang mereka peruntukkan bagi Allah sampai dan bercam-pur dengan sesuatu yang mereka peruntukkan untuk selainNya. Mereka berkata, "Allah tidak membutuhkannya." Maka me-reka tidak mengembalikannya (kepada Allah). Sebaliknya jika sesuatu yang mereka peruntukkan bagi sesembahan-sesembahan bercampur dengan sesuatu yang mereka peruntukkan bagi Allah, maka mereka memisahkannya dan mengembalikannya ke tempat-nya, maka mereka berkata, "Ia miskin, bagiannya harus dikembali-kan." Adakah hukum yang lebih buruk dan lebih zhalim daripada ini, di mana mereka bersungguh-sungguh, menjaga dan mengikhlas-kan diri untuk sesuatu yang diberikan kepada makhluk sementara sebaliknya pada hak Allah? Ayat yang mulia ini bisa pula ditafsirkan dengan hadits yang ada dalam ash-Shahih dari Nabi bahwa Nabi bersabda, قَالَ اللّٰهُ: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ أَشْرَكَ مَعِيْ شَيْئًا تَرَكْتُهُ وَشَرِيْكَهُ. "Allah berfirman, 'Aku adalah sekutu (maksudnya dalam anggap-an mereka) yang tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa menyekutu-kanKu dengan sesuatu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya'."[65] Jadi makna ayat ini adalah, bahwa sesuatu yang mereka per-untukkan dan persembahkan untuk berhala-berhala adalah ibadah yang murni kepada selain Allah. Allah tidak mendapatkan sedikit pun darinya. Apa yang menurut klaim mereka diperuntukkan bagi Allah, maka ia tetap tidak sampai kepadaNya karena itu adalah kesyirikan. Ia adalah bagian bagi sesembahan-sesembahan dan tandingan-tandingan itu, karena Allah tidak memerlukannya, dan Dia tidak menerima amal yang padanya terdapat unsur syirik de-ngan salah satu makhlukNya.
(137) Dan di antara kebodohan dan kesesatan orang-orang musyrik adalah bahwa pemimpin-pemimpin mereka ﴾ زَيَّنَ لِكَثِيرٖ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik." Maksudnya, para pembesar dan para pemimpin mereka menjadikan indah pembunuhan terhadap anak-anak mereka, yaitu menguburkan hidup-hidup anak laki-laki karena takut miskin dan anak perempuan karena takut malu. Semua itu termasuk tipuan setan yang ingin menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan dan merancukan agama mereka, akibatnya mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat buruk. Para pembe-sar mereka terus menerus menghiasinya bagi mereka sehingga me-nurut mereka hal tersebut termasuk perkara dan sifat yang baik. Seandainya Allah berkehendak melarang dan menghalang-halangi mereka dari perbuatan-perbuatan ini, serta melindungi anak-anak mereka dari pembunuhan yang dilakukan kedua orang tua mereka, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, akan tetapi hikmahNya membiarkan mereka melakukan hal itu sebagai tipu daya dariNya kepada mereka dan penundaan kepada mereka serta ketidakpedulianNya terhadap keadaan mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ﴿ "Maka tinggalkanlah mereka dan sesuatu yang mereka ada-adakan." Maksudnya, biarkan mereka dengan kebohongan dan kedustaannya. Jangan sedih atas tindakan buruk mereka, karena mereka tidak merugikan Allah sedikit pun.
(138) Di antara bentuk kebodohan mereka adalah bahwa binatang ternak yang secara umum telah dihalalkan oleh Allah, dan dijadikan sebagai rizki dan rahmat di mana mereka menikmati-nya dan mengambil manfaatnya, namun mereka mengada-adakan keyakinan dan ucapan dari diri mereka sendiri, mereka memiliki istilah sendiri pada sebagian binatang ternak dan tanaman, mereka mengatakan, ﴾ هَٰذِهِۦٓ أَنۡعَٰمٞ وَحَرۡثٌ حِجۡرٞ ﴿ "Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang." Maksudnya, diharamkan, tidak ada yang memakan-nya ﴾ إِلَّا مَن نَّشَآءُ ﴿ "kecuali orang yang kami kehendaki." Maksudnya, tidak seorang pun boleh memakannya kecuali orang yang kami inginkan atau dia memiliki kriteria khusus menurut kami. Semua ini hanya sekedar klaim mereka tanpa pijakan dan hujjah kecuali hanya hawa nafsu dan akal mereka yang rusak. Adapula binatang ternak yang tidak diharamkan dari segala segi, hanya punggungnya saja yang diharamkan, maksudnya mereka dilarang mengendarai dan memberi beban kepadanya, mereka melindungi punggungnya, dan mereka menamakannya Ham. Adapula binatang ternak di mana mereka tidak menyebut nama Allah saat menyembelihnya, akan tetapi menyebut nama berhala-berhala dan sesembahan-sesembahan yang mereka sem-bah selain Allah, mereka menyandarkan perbuatan itu kepada Allah, maka mereka semua adalah orang-orang fajir lagi pendusta. ﴾ سَيَجۡزِيهِم بِمَا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Kelak Allah akan membalas mereka atas apa yang selalu mereka ada-adakan" atas nama Allah dalam bentuk penghalalan syirik, pengharaman makanan dan manfaat yang halal.
(139) Di antara keyakinan mereka yang buruk adalah bahwa mereka menentukan sebagian binatang ternak, lalu mereka menentukan janin yang ada di perutnya sebagai sesuatu yang haram untuk wanita dan tidak bagi laki-laki. Mereka berkata,﴾ مَا فِي بُطُونِ هَٰذِهِ ٱلۡأَنۡعَٰمِ خَالِصَةٞ لِّذُكُورِنَا ﴿ "Janin yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami." Maksudnya, hanya halal untuk kaum laki-laki saja, dan tidak halal untuk wanita. ﴾ وَمُحَرَّمٌ عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِنَاۖ ﴿ "Dan diharamkan atas wanita kami." Ini jika janin itu lahir dalam ke-adaan hidup. Jika ia dilahirkan dalam keadaan mati, maka ia halal untuk semuanya, yakni halal untuk laki-laki dan wanita.﴾ سَيَجۡزِيهِمۡ وَصۡفَهُمۡۚ ﴿ "Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka," di mana mereka menetapkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah sebagai sesuatu yang haram, dan menetapkan yang haram menjadi halal, maka mereka menentang dan menyelisihi syariat Allah dan mereka menisbatkannya kepada Allah. ﴾ إِنَّهُۥ حَكِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahabijaksana," di mana Dia menunda mereka dan menempatkan mereka di dalam kesesatan yang mereka alami. ﴾ عَلِيمٞ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui," keadaan me-reka, tidak ada yang samar bagiNya. Dia mengetahui mereka, me-ngetahui apa yang mereka katakan dan mereka nisbatkan secara dusta kepadaNya sementara Dia terus memberi mereka rizki dan keselamatan.
(140) Kemudian Allah menjelaskan kerugian dan kebodoh-an akal mereka. Dia berfirman, ﴾ قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ قَتَلُوٓاْ أَوۡلَٰدَهُمۡ سَفَهَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "Sungguh rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena ke-bodohan lagi tidak mengetahui." Maksudnya, mereka rugi agama, anak, dan akal. Ciri mereka berubah dari pemilik akal yang baik menjadi pemilik kedunguan dan kesesatan yang buruk. ﴾ وَحَرَّمُواْ مَا رَزَقَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Dan mereka mengharamkan sesuatu yang telah Allah rizkikan kepada mereka." Maksudnya, mereka mengharamkan sesuatu yang Allah jadikan sebagai rahmat bagi mereka dan sesuatu yang Dia limpahkan sebagai rizki bagi mereka. Mereka menolak karunia tuhan mereka, tidak sebatas itu saja bahkan mereka menyatakannya haram. Padahal sebenarnya ia termasuk yang paling halal, semua itu adalah ﴾ ٱفۡتِرَآءً عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "semata-mata mengada-adakan terhadap Allah." Maksudnya, kedustaan yang dilancarkan oleh setiap kafir yang menentang. ﴾ قَدۡ ضَلُّواْ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ ﴿ "Sungguh mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." Maksudnya, mereka tersesat dengan kesesatan yang jauh dan tidak mendapatkan petunjuk sedikit pun dalam urusan-urusan mereka.
Al-An'am 6:137
"Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka ber-kata sesuai dengan persangkaan mereka, 'Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.' Maka sajian-sajian yang diperuntuk-kan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah, dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadi-kan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan agama mereka. Dan kalau Allah menghen-daki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan sesuatu yang mereka ada-adakan. Dan mereka menga-takan, 'Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang, tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki,' menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan me-nungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka atas apa yang selalu mereka ada-adakan. Dan mereka mengata-kan, 'Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami, dan diharamkan atas wanita kami,' dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka atas ke-tetapan mereka. Sesungguhnya Allah Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Sungguh rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka meng-haramkan sesuatu yang telah Allah rizkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sungguh mereka telah sesat, dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." (Al-An'am: 136-140).
(136) Allah menyampaikan kebodohan akal, kerancuan pemikiran dan kebodohan yang mendalam yang dimiliki oleh orang-orang musyrik yang mendustakan Nabi. Allah membongkar sedi-kit khurafat mereka untuk memperingatkan kesesatan mereka, dan agar ia diwaspadai, dan bahwa penentangan dari orang-orang se-misal mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rasul sama sekali tidak menodainya, karena mereka tidak layak untuk meng-hadapi kebenaran. Allah menjelaskan sebagian dari itu, bahwa mereka ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ ٱلۡحَرۡثِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ نَصِيبٗا ﴿ "memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah." Sementara sesembahan mereka juga mendapatkan satu bagian, padahal sebenarnya Allah-lah yang menciptakan dan meng-adakan rizki untuk hamba-hambaNya, maka mereka menggabung-kan antara dua perkara dosa yang dikhawatirkan bahkan tiga: Pertama, jasa mereka kepada Allah dengan memberikan ba-gian untukNya meskipun mereka meyakini bahwa itu adalah sukarela dari mereka. Kedua, menyamakan sesembahan itu dengan Allah padahal sesembahan itu tidak memberi mereka rizki dan tidak mencipta-kan sedikit pun darinya. Ketiga, keputusan mereka yang tidak adil bahwa mereka tidak mempedulikan dan tidak memperhatikan sesuatu yang diberikan kepada Allah walaupun ia sampai kepada sesembahan-sesembahan mereka. Sebaliknya yang diberikan kepada sesembahan-sesem-bahan, maka mereka menjaga dan memperhatikannya, dan tidak sedikit pun yang sampai kepada Allah darinya. Hal itu jika mereka mendapatkan rizki dari tanaman, buah-buahan, dan ternak mereka, maka mereka membaginya menjadi dua bagian. Satu bagian me-reka katakan, "Ini untuk Allah," menurut klaim mereka, karena jika tidak, maka Allah tidak menerima kecuali apa yang diikhlaskan demi WajahNya. Dia tidak menerima amal orang yang menyekutu-kanNya, sedangkan bagian lain, maka mereka menjadikannya se-bagai bagian untuk sesembahan-sesembahan mereka dalam bentuk berhala dan tandingan-tandingan. Mereka tidak mempedulikan jika sesuatu yang mereka peruntukkan bagi Allah sampai dan bercam-pur dengan sesuatu yang mereka peruntukkan untuk selainNya. Mereka berkata, "Allah tidak membutuhkannya." Maka me-reka tidak mengembalikannya (kepada Allah). Sebaliknya jika sesuatu yang mereka peruntukkan bagi sesembahan-sesembahan bercampur dengan sesuatu yang mereka peruntukkan bagi Allah, maka mereka memisahkannya dan mengembalikannya ke tempat-nya, maka mereka berkata, "Ia miskin, bagiannya harus dikembali-kan." Adakah hukum yang lebih buruk dan lebih zhalim daripada ini, di mana mereka bersungguh-sungguh, menjaga dan mengikhlas-kan diri untuk sesuatu yang diberikan kepada makhluk sementara sebaliknya pada hak Allah? Ayat yang mulia ini bisa pula ditafsirkan dengan hadits yang ada dalam ash-Shahih dari Nabi bahwa Nabi bersabda, قَالَ اللّٰهُ: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ أَشْرَكَ مَعِيْ شَيْئًا تَرَكْتُهُ وَشَرِيْكَهُ. "Allah berfirman, 'Aku adalah sekutu (maksudnya dalam anggap-an mereka) yang tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa menyekutu-kanKu dengan sesuatu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya'."[65] Jadi makna ayat ini adalah, bahwa sesuatu yang mereka per-untukkan dan persembahkan untuk berhala-berhala adalah ibadah yang murni kepada selain Allah. Allah tidak mendapatkan sedikit pun darinya. Apa yang menurut klaim mereka diperuntukkan bagi Allah, maka ia tetap tidak sampai kepadaNya karena itu adalah kesyirikan. Ia adalah bagian bagi sesembahan-sesembahan dan tandingan-tandingan itu, karena Allah tidak memerlukannya, dan Dia tidak menerima amal yang padanya terdapat unsur syirik de-ngan salah satu makhlukNya.
(137) Dan di antara kebodohan dan kesesatan orang-orang musyrik adalah bahwa pemimpin-pemimpin mereka ﴾ زَيَّنَ لِكَثِيرٖ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik." Maksudnya, para pembesar dan para pemimpin mereka menjadikan indah pembunuhan terhadap anak-anak mereka, yaitu menguburkan hidup-hidup anak laki-laki karena takut miskin dan anak perempuan karena takut malu. Semua itu termasuk tipuan setan yang ingin menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan dan merancukan agama mereka, akibatnya mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat buruk. Para pembe-sar mereka terus menerus menghiasinya bagi mereka sehingga me-nurut mereka hal tersebut termasuk perkara dan sifat yang baik. Seandainya Allah berkehendak melarang dan menghalang-halangi mereka dari perbuatan-perbuatan ini, serta melindungi anak-anak mereka dari pembunuhan yang dilakukan kedua orang tua mereka, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, akan tetapi hikmahNya membiarkan mereka melakukan hal itu sebagai tipu daya dariNya kepada mereka dan penundaan kepada mereka serta ketidakpedulianNya terhadap keadaan mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ﴿ "Maka tinggalkanlah mereka dan sesuatu yang mereka ada-adakan." Maksudnya, biarkan mereka dengan kebohongan dan kedustaannya. Jangan sedih atas tindakan buruk mereka, karena mereka tidak merugikan Allah sedikit pun.
(138) Di antara bentuk kebodohan mereka adalah bahwa binatang ternak yang secara umum telah dihalalkan oleh Allah, dan dijadikan sebagai rizki dan rahmat di mana mereka menikmati-nya dan mengambil manfaatnya, namun mereka mengada-adakan keyakinan dan ucapan dari diri mereka sendiri, mereka memiliki istilah sendiri pada sebagian binatang ternak dan tanaman, mereka mengatakan, ﴾ هَٰذِهِۦٓ أَنۡعَٰمٞ وَحَرۡثٌ حِجۡرٞ ﴿ "Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang." Maksudnya, diharamkan, tidak ada yang memakan-nya ﴾ إِلَّا مَن نَّشَآءُ ﴿ "kecuali orang yang kami kehendaki." Maksudnya, tidak seorang pun boleh memakannya kecuali orang yang kami inginkan atau dia memiliki kriteria khusus menurut kami. Semua ini hanya sekedar klaim mereka tanpa pijakan dan hujjah kecuali hanya hawa nafsu dan akal mereka yang rusak. Adapula binatang ternak yang tidak diharamkan dari segala segi, hanya punggungnya saja yang diharamkan, maksudnya mereka dilarang mengendarai dan memberi beban kepadanya, mereka melindungi punggungnya, dan mereka menamakannya Ham. Adapula binatang ternak di mana mereka tidak menyebut nama Allah saat menyembelihnya, akan tetapi menyebut nama berhala-berhala dan sesembahan-sesembahan yang mereka sem-bah selain Allah, mereka menyandarkan perbuatan itu kepada Allah, maka mereka semua adalah orang-orang fajir lagi pendusta. ﴾ سَيَجۡزِيهِم بِمَا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Kelak Allah akan membalas mereka atas apa yang selalu mereka ada-adakan" atas nama Allah dalam bentuk penghalalan syirik, pengharaman makanan dan manfaat yang halal.
(139) Di antara keyakinan mereka yang buruk adalah bahwa mereka menentukan sebagian binatang ternak, lalu mereka menentukan janin yang ada di perutnya sebagai sesuatu yang haram untuk wanita dan tidak bagi laki-laki. Mereka berkata,﴾ مَا فِي بُطُونِ هَٰذِهِ ٱلۡأَنۡعَٰمِ خَالِصَةٞ لِّذُكُورِنَا ﴿ "Janin yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami." Maksudnya, hanya halal untuk kaum laki-laki saja, dan tidak halal untuk wanita. ﴾ وَمُحَرَّمٌ عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِنَاۖ ﴿ "Dan diharamkan atas wanita kami." Ini jika janin itu lahir dalam ke-adaan hidup. Jika ia dilahirkan dalam keadaan mati, maka ia halal untuk semuanya, yakni halal untuk laki-laki dan wanita.﴾ سَيَجۡزِيهِمۡ وَصۡفَهُمۡۚ ﴿ "Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka," di mana mereka menetapkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah sebagai sesuatu yang haram, dan menetapkan yang haram menjadi halal, maka mereka menentang dan menyelisihi syariat Allah dan mereka menisbatkannya kepada Allah. ﴾ إِنَّهُۥ حَكِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahabijaksana," di mana Dia menunda mereka dan menempatkan mereka di dalam kesesatan yang mereka alami. ﴾ عَلِيمٞ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui," keadaan me-reka, tidak ada yang samar bagiNya. Dia mengetahui mereka, me-ngetahui apa yang mereka katakan dan mereka nisbatkan secara dusta kepadaNya sementara Dia terus memberi mereka rizki dan keselamatan.
(140) Kemudian Allah menjelaskan kerugian dan kebodoh-an akal mereka. Dia berfirman, ﴾ قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ قَتَلُوٓاْ أَوۡلَٰدَهُمۡ سَفَهَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "Sungguh rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena ke-bodohan lagi tidak mengetahui." Maksudnya, mereka rugi agama, anak, dan akal. Ciri mereka berubah dari pemilik akal yang baik menjadi pemilik kedunguan dan kesesatan yang buruk. ﴾ وَحَرَّمُواْ مَا رَزَقَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Dan mereka mengharamkan sesuatu yang telah Allah rizkikan kepada mereka." Maksudnya, mereka mengharamkan sesuatu yang Allah jadikan sebagai rahmat bagi mereka dan sesuatu yang Dia limpahkan sebagai rizki bagi mereka. Mereka menolak karunia tuhan mereka, tidak sebatas itu saja bahkan mereka menyatakannya haram. Padahal sebenarnya ia termasuk yang paling halal, semua itu adalah ﴾ ٱفۡتِرَآءً عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "semata-mata mengada-adakan terhadap Allah." Maksudnya, kedustaan yang dilancarkan oleh setiap kafir yang menentang. ﴾ قَدۡ ضَلُّواْ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ ﴿ "Sungguh mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." Maksudnya, mereka tersesat dengan kesesatan yang jauh dan tidak mendapatkan petunjuk sedikit pun dalam urusan-urusan mereka.
Al-An'am 6:138
"Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka ber-kata sesuai dengan persangkaan mereka, 'Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.' Maka sajian-sajian yang diperuntuk-kan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah, dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadi-kan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan agama mereka. Dan kalau Allah menghen-daki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan sesuatu yang mereka ada-adakan. Dan mereka menga-takan, 'Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang, tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki,' menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan me-nungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka atas apa yang selalu mereka ada-adakan. Dan mereka mengata-kan, 'Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami, dan diharamkan atas wanita kami,' dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka atas ke-tetapan mereka. Sesungguhnya Allah Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Sungguh rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka meng-haramkan sesuatu yang telah Allah rizkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sungguh mereka telah sesat, dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." (Al-An'am: 136-140).
(136) Allah menyampaikan kebodohan akal, kerancuan pemikiran dan kebodohan yang mendalam yang dimiliki oleh orang-orang musyrik yang mendustakan Nabi. Allah membongkar sedi-kit khurafat mereka untuk memperingatkan kesesatan mereka, dan agar ia diwaspadai, dan bahwa penentangan dari orang-orang se-misal mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rasul sama sekali tidak menodainya, karena mereka tidak layak untuk meng-hadapi kebenaran. Allah menjelaskan sebagian dari itu, bahwa mereka ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ ٱلۡحَرۡثِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ نَصِيبٗا ﴿ "memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah." Sementara sesembahan mereka juga mendapatkan satu bagian, padahal sebenarnya Allah-lah yang menciptakan dan meng-adakan rizki untuk hamba-hambaNya, maka mereka menggabung-kan antara dua perkara dosa yang dikhawatirkan bahkan tiga: Pertama, jasa mereka kepada Allah dengan memberikan ba-gian untukNya meskipun mereka meyakini bahwa itu adalah sukarela dari mereka. Kedua, menyamakan sesembahan itu dengan Allah padahal sesembahan itu tidak memberi mereka rizki dan tidak mencipta-kan sedikit pun darinya. Ketiga, keputusan mereka yang tidak adil bahwa mereka tidak mempedulikan dan tidak memperhatikan sesuatu yang diberikan kepada Allah walaupun ia sampai kepada sesembahan-sesembahan mereka. Sebaliknya yang diberikan kepada sesembahan-sesem-bahan, maka mereka menjaga dan memperhatikannya, dan tidak sedikit pun yang sampai kepada Allah darinya. Hal itu jika mereka mendapatkan rizki dari tanaman, buah-buahan, dan ternak mereka, maka mereka membaginya menjadi dua bagian. Satu bagian me-reka katakan, "Ini untuk Allah," menurut klaim mereka, karena jika tidak, maka Allah tidak menerima kecuali apa yang diikhlaskan demi WajahNya. Dia tidak menerima amal orang yang menyekutu-kanNya, sedangkan bagian lain, maka mereka menjadikannya se-bagai bagian untuk sesembahan-sesembahan mereka dalam bentuk berhala dan tandingan-tandingan. Mereka tidak mempedulikan jika sesuatu yang mereka peruntukkan bagi Allah sampai dan bercam-pur dengan sesuatu yang mereka peruntukkan untuk selainNya. Mereka berkata, "Allah tidak membutuhkannya." Maka me-reka tidak mengembalikannya (kepada Allah). Sebaliknya jika sesuatu yang mereka peruntukkan bagi sesembahan-sesembahan bercampur dengan sesuatu yang mereka peruntukkan bagi Allah, maka mereka memisahkannya dan mengembalikannya ke tempat-nya, maka mereka berkata, "Ia miskin, bagiannya harus dikembali-kan." Adakah hukum yang lebih buruk dan lebih zhalim daripada ini, di mana mereka bersungguh-sungguh, menjaga dan mengikhlas-kan diri untuk sesuatu yang diberikan kepada makhluk sementara sebaliknya pada hak Allah? Ayat yang mulia ini bisa pula ditafsirkan dengan hadits yang ada dalam ash-Shahih dari Nabi bahwa Nabi bersabda, قَالَ اللّٰهُ: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ أَشْرَكَ مَعِيْ شَيْئًا تَرَكْتُهُ وَشَرِيْكَهُ. "Allah berfirman, 'Aku adalah sekutu (maksudnya dalam anggap-an mereka) yang tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa menyekutu-kanKu dengan sesuatu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya'."[65] Jadi makna ayat ini adalah, bahwa sesuatu yang mereka per-untukkan dan persembahkan untuk berhala-berhala adalah ibadah yang murni kepada selain Allah. Allah tidak mendapatkan sedikit pun darinya. Apa yang menurut klaim mereka diperuntukkan bagi Allah, maka ia tetap tidak sampai kepadaNya karena itu adalah kesyirikan. Ia adalah bagian bagi sesembahan-sesembahan dan tandingan-tandingan itu, karena Allah tidak memerlukannya, dan Dia tidak menerima amal yang padanya terdapat unsur syirik de-ngan salah satu makhlukNya.
(137) Dan di antara kebodohan dan kesesatan orang-orang musyrik adalah bahwa pemimpin-pemimpin mereka ﴾ زَيَّنَ لِكَثِيرٖ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik." Maksudnya, para pembesar dan para pemimpin mereka menjadikan indah pembunuhan terhadap anak-anak mereka, yaitu menguburkan hidup-hidup anak laki-laki karena takut miskin dan anak perempuan karena takut malu. Semua itu termasuk tipuan setan yang ingin menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan dan merancukan agama mereka, akibatnya mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat buruk. Para pembe-sar mereka terus menerus menghiasinya bagi mereka sehingga me-nurut mereka hal tersebut termasuk perkara dan sifat yang baik. Seandainya Allah berkehendak melarang dan menghalang-halangi mereka dari perbuatan-perbuatan ini, serta melindungi anak-anak mereka dari pembunuhan yang dilakukan kedua orang tua mereka, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, akan tetapi hikmahNya membiarkan mereka melakukan hal itu sebagai tipu daya dariNya kepada mereka dan penundaan kepada mereka serta ketidakpedulianNya terhadap keadaan mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ﴿ "Maka tinggalkanlah mereka dan sesuatu yang mereka ada-adakan." Maksudnya, biarkan mereka dengan kebohongan dan kedustaannya. Jangan sedih atas tindakan buruk mereka, karena mereka tidak merugikan Allah sedikit pun.
(138) Di antara bentuk kebodohan mereka adalah bahwa binatang ternak yang secara umum telah dihalalkan oleh Allah, dan dijadikan sebagai rizki dan rahmat di mana mereka menikmati-nya dan mengambil manfaatnya, namun mereka mengada-adakan keyakinan dan ucapan dari diri mereka sendiri, mereka memiliki istilah sendiri pada sebagian binatang ternak dan tanaman, mereka mengatakan, ﴾ هَٰذِهِۦٓ أَنۡعَٰمٞ وَحَرۡثٌ حِجۡرٞ ﴿ "Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang." Maksudnya, diharamkan, tidak ada yang memakan-nya ﴾ إِلَّا مَن نَّشَآءُ ﴿ "kecuali orang yang kami kehendaki." Maksudnya, tidak seorang pun boleh memakannya kecuali orang yang kami inginkan atau dia memiliki kriteria khusus menurut kami. Semua ini hanya sekedar klaim mereka tanpa pijakan dan hujjah kecuali hanya hawa nafsu dan akal mereka yang rusak. Adapula binatang ternak yang tidak diharamkan dari segala segi, hanya punggungnya saja yang diharamkan, maksudnya mereka dilarang mengendarai dan memberi beban kepadanya, mereka melindungi punggungnya, dan mereka menamakannya Ham. Adapula binatang ternak di mana mereka tidak menyebut nama Allah saat menyembelihnya, akan tetapi menyebut nama berhala-berhala dan sesembahan-sesembahan yang mereka sem-bah selain Allah, mereka menyandarkan perbuatan itu kepada Allah, maka mereka semua adalah orang-orang fajir lagi pendusta. ﴾ سَيَجۡزِيهِم بِمَا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Kelak Allah akan membalas mereka atas apa yang selalu mereka ada-adakan" atas nama Allah dalam bentuk penghalalan syirik, pengharaman makanan dan manfaat yang halal.
(139) Di antara keyakinan mereka yang buruk adalah bahwa mereka menentukan sebagian binatang ternak, lalu mereka menentukan janin yang ada di perutnya sebagai sesuatu yang haram untuk wanita dan tidak bagi laki-laki. Mereka berkata,﴾ مَا فِي بُطُونِ هَٰذِهِ ٱلۡأَنۡعَٰمِ خَالِصَةٞ لِّذُكُورِنَا ﴿ "Janin yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami." Maksudnya, hanya halal untuk kaum laki-laki saja, dan tidak halal untuk wanita. ﴾ وَمُحَرَّمٌ عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِنَاۖ ﴿ "Dan diharamkan atas wanita kami." Ini jika janin itu lahir dalam ke-adaan hidup. Jika ia dilahirkan dalam keadaan mati, maka ia halal untuk semuanya, yakni halal untuk laki-laki dan wanita.﴾ سَيَجۡزِيهِمۡ وَصۡفَهُمۡۚ ﴿ "Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka," di mana mereka menetapkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah sebagai sesuatu yang haram, dan menetapkan yang haram menjadi halal, maka mereka menentang dan menyelisihi syariat Allah dan mereka menisbatkannya kepada Allah. ﴾ إِنَّهُۥ حَكِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahabijaksana," di mana Dia menunda mereka dan menempatkan mereka di dalam kesesatan yang mereka alami. ﴾ عَلِيمٞ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui," keadaan me-reka, tidak ada yang samar bagiNya. Dia mengetahui mereka, me-ngetahui apa yang mereka katakan dan mereka nisbatkan secara dusta kepadaNya sementara Dia terus memberi mereka rizki dan keselamatan.
(140) Kemudian Allah menjelaskan kerugian dan kebodoh-an akal mereka. Dia berfirman, ﴾ قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ قَتَلُوٓاْ أَوۡلَٰدَهُمۡ سَفَهَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "Sungguh rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena ke-bodohan lagi tidak mengetahui." Maksudnya, mereka rugi agama, anak, dan akal. Ciri mereka berubah dari pemilik akal yang baik menjadi pemilik kedunguan dan kesesatan yang buruk. ﴾ وَحَرَّمُواْ مَا رَزَقَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Dan mereka mengharamkan sesuatu yang telah Allah rizkikan kepada mereka." Maksudnya, mereka mengharamkan sesuatu yang Allah jadikan sebagai rahmat bagi mereka dan sesuatu yang Dia limpahkan sebagai rizki bagi mereka. Mereka menolak karunia tuhan mereka, tidak sebatas itu saja bahkan mereka menyatakannya haram. Padahal sebenarnya ia termasuk yang paling halal, semua itu adalah ﴾ ٱفۡتِرَآءً عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "semata-mata mengada-adakan terhadap Allah." Maksudnya, kedustaan yang dilancarkan oleh setiap kafir yang menentang. ﴾ قَدۡ ضَلُّواْ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ ﴿ "Sungguh mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." Maksudnya, mereka tersesat dengan kesesatan yang jauh dan tidak mendapatkan petunjuk sedikit pun dalam urusan-urusan mereka.
Al-An'am 6:139
"Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka ber-kata sesuai dengan persangkaan mereka, 'Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.' Maka sajian-sajian yang diperuntuk-kan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah, dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadi-kan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan agama mereka. Dan kalau Allah menghen-daki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan sesuatu yang mereka ada-adakan. Dan mereka menga-takan, 'Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang, tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki,' menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan me-nungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka atas apa yang selalu mereka ada-adakan. Dan mereka mengata-kan, 'Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami, dan diharamkan atas wanita kami,' dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka atas ke-tetapan mereka. Sesungguhnya Allah Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Sungguh rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka meng-haramkan sesuatu yang telah Allah rizkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sungguh mereka telah sesat, dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." (Al-An'am: 136-140).
(136) Allah menyampaikan kebodohan akal, kerancuan pemikiran dan kebodohan yang mendalam yang dimiliki oleh orang-orang musyrik yang mendustakan Nabi. Allah membongkar sedi-kit khurafat mereka untuk memperingatkan kesesatan mereka, dan agar ia diwaspadai, dan bahwa penentangan dari orang-orang se-misal mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rasul sama sekali tidak menodainya, karena mereka tidak layak untuk meng-hadapi kebenaran. Allah menjelaskan sebagian dari itu, bahwa mereka ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ ٱلۡحَرۡثِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ نَصِيبٗا ﴿ "memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah." Sementara sesembahan mereka juga mendapatkan satu bagian, padahal sebenarnya Allah-lah yang menciptakan dan meng-adakan rizki untuk hamba-hambaNya, maka mereka menggabung-kan antara dua perkara dosa yang dikhawatirkan bahkan tiga: Pertama, jasa mereka kepada Allah dengan memberikan ba-gian untukNya meskipun mereka meyakini bahwa itu adalah sukarela dari mereka. Kedua, menyamakan sesembahan itu dengan Allah padahal sesembahan itu tidak memberi mereka rizki dan tidak mencipta-kan sedikit pun darinya. Ketiga, keputusan mereka yang tidak adil bahwa mereka tidak mempedulikan dan tidak memperhatikan sesuatu yang diberikan kepada Allah walaupun ia sampai kepada sesembahan-sesembahan mereka. Sebaliknya yang diberikan kepada sesembahan-sesem-bahan, maka mereka menjaga dan memperhatikannya, dan tidak sedikit pun yang sampai kepada Allah darinya. Hal itu jika mereka mendapatkan rizki dari tanaman, buah-buahan, dan ternak mereka, maka mereka membaginya menjadi dua bagian. Satu bagian me-reka katakan, "Ini untuk Allah," menurut klaim mereka, karena jika tidak, maka Allah tidak menerima kecuali apa yang diikhlaskan demi WajahNya. Dia tidak menerima amal orang yang menyekutu-kanNya, sedangkan bagian lain, maka mereka menjadikannya se-bagai bagian untuk sesembahan-sesembahan mereka dalam bentuk berhala dan tandingan-tandingan. Mereka tidak mempedulikan jika sesuatu yang mereka peruntukkan bagi Allah sampai dan bercam-pur dengan sesuatu yang mereka peruntukkan untuk selainNya. Mereka berkata, "Allah tidak membutuhkannya." Maka me-reka tidak mengembalikannya (kepada Allah). Sebaliknya jika sesuatu yang mereka peruntukkan bagi sesembahan-sesembahan bercampur dengan sesuatu yang mereka peruntukkan bagi Allah, maka mereka memisahkannya dan mengembalikannya ke tempat-nya, maka mereka berkata, "Ia miskin, bagiannya harus dikembali-kan." Adakah hukum yang lebih buruk dan lebih zhalim daripada ini, di mana mereka bersungguh-sungguh, menjaga dan mengikhlas-kan diri untuk sesuatu yang diberikan kepada makhluk sementara sebaliknya pada hak Allah? Ayat yang mulia ini bisa pula ditafsirkan dengan hadits yang ada dalam ash-Shahih dari Nabi bahwa Nabi bersabda, قَالَ اللّٰهُ: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ أَشْرَكَ مَعِيْ شَيْئًا تَرَكْتُهُ وَشَرِيْكَهُ. "Allah berfirman, 'Aku adalah sekutu (maksudnya dalam anggap-an mereka) yang tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa menyekutu-kanKu dengan sesuatu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya'."[65] Jadi makna ayat ini adalah, bahwa sesuatu yang mereka per-untukkan dan persembahkan untuk berhala-berhala adalah ibadah yang murni kepada selain Allah. Allah tidak mendapatkan sedikit pun darinya. Apa yang menurut klaim mereka diperuntukkan bagi Allah, maka ia tetap tidak sampai kepadaNya karena itu adalah kesyirikan. Ia adalah bagian bagi sesembahan-sesembahan dan tandingan-tandingan itu, karena Allah tidak memerlukannya, dan Dia tidak menerima amal yang padanya terdapat unsur syirik de-ngan salah satu makhlukNya.
(137) Dan di antara kebodohan dan kesesatan orang-orang musyrik adalah bahwa pemimpin-pemimpin mereka ﴾ زَيَّنَ لِكَثِيرٖ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik." Maksudnya, para pembesar dan para pemimpin mereka menjadikan indah pembunuhan terhadap anak-anak mereka, yaitu menguburkan hidup-hidup anak laki-laki karena takut miskin dan anak perempuan karena takut malu. Semua itu termasuk tipuan setan yang ingin menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan dan merancukan agama mereka, akibatnya mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat buruk. Para pembe-sar mereka terus menerus menghiasinya bagi mereka sehingga me-nurut mereka hal tersebut termasuk perkara dan sifat yang baik. Seandainya Allah berkehendak melarang dan menghalang-halangi mereka dari perbuatan-perbuatan ini, serta melindungi anak-anak mereka dari pembunuhan yang dilakukan kedua orang tua mereka, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, akan tetapi hikmahNya membiarkan mereka melakukan hal itu sebagai tipu daya dariNya kepada mereka dan penundaan kepada mereka serta ketidakpedulianNya terhadap keadaan mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ﴿ "Maka tinggalkanlah mereka dan sesuatu yang mereka ada-adakan." Maksudnya, biarkan mereka dengan kebohongan dan kedustaannya. Jangan sedih atas tindakan buruk mereka, karena mereka tidak merugikan Allah sedikit pun.
(138) Di antara bentuk kebodohan mereka adalah bahwa binatang ternak yang secara umum telah dihalalkan oleh Allah, dan dijadikan sebagai rizki dan rahmat di mana mereka menikmati-nya dan mengambil manfaatnya, namun mereka mengada-adakan keyakinan dan ucapan dari diri mereka sendiri, mereka memiliki istilah sendiri pada sebagian binatang ternak dan tanaman, mereka mengatakan, ﴾ هَٰذِهِۦٓ أَنۡعَٰمٞ وَحَرۡثٌ حِجۡرٞ ﴿ "Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang." Maksudnya, diharamkan, tidak ada yang memakan-nya ﴾ إِلَّا مَن نَّشَآءُ ﴿ "kecuali orang yang kami kehendaki." Maksudnya, tidak seorang pun boleh memakannya kecuali orang yang kami inginkan atau dia memiliki kriteria khusus menurut kami. Semua ini hanya sekedar klaim mereka tanpa pijakan dan hujjah kecuali hanya hawa nafsu dan akal mereka yang rusak. Adapula binatang ternak yang tidak diharamkan dari segala segi, hanya punggungnya saja yang diharamkan, maksudnya mereka dilarang mengendarai dan memberi beban kepadanya, mereka melindungi punggungnya, dan mereka menamakannya Ham. Adapula binatang ternak di mana mereka tidak menyebut nama Allah saat menyembelihnya, akan tetapi menyebut nama berhala-berhala dan sesembahan-sesembahan yang mereka sem-bah selain Allah, mereka menyandarkan perbuatan itu kepada Allah, maka mereka semua adalah orang-orang fajir lagi pendusta. ﴾ سَيَجۡزِيهِم بِمَا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Kelak Allah akan membalas mereka atas apa yang selalu mereka ada-adakan" atas nama Allah dalam bentuk penghalalan syirik, pengharaman makanan dan manfaat yang halal.
(139) Di antara keyakinan mereka yang buruk adalah bahwa mereka menentukan sebagian binatang ternak, lalu mereka menentukan janin yang ada di perutnya sebagai sesuatu yang haram untuk wanita dan tidak bagi laki-laki. Mereka berkata,﴾ مَا فِي بُطُونِ هَٰذِهِ ٱلۡأَنۡعَٰمِ خَالِصَةٞ لِّذُكُورِنَا ﴿ "Janin yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami." Maksudnya, hanya halal untuk kaum laki-laki saja, dan tidak halal untuk wanita. ﴾ وَمُحَرَّمٌ عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِنَاۖ ﴿ "Dan diharamkan atas wanita kami." Ini jika janin itu lahir dalam ke-adaan hidup. Jika ia dilahirkan dalam keadaan mati, maka ia halal untuk semuanya, yakni halal untuk laki-laki dan wanita.﴾ سَيَجۡزِيهِمۡ وَصۡفَهُمۡۚ ﴿ "Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka," di mana mereka menetapkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah sebagai sesuatu yang haram, dan menetapkan yang haram menjadi halal, maka mereka menentang dan menyelisihi syariat Allah dan mereka menisbatkannya kepada Allah. ﴾ إِنَّهُۥ حَكِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahabijaksana," di mana Dia menunda mereka dan menempatkan mereka di dalam kesesatan yang mereka alami. ﴾ عَلِيمٞ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui," keadaan me-reka, tidak ada yang samar bagiNya. Dia mengetahui mereka, me-ngetahui apa yang mereka katakan dan mereka nisbatkan secara dusta kepadaNya sementara Dia terus memberi mereka rizki dan keselamatan.
(140) Kemudian Allah menjelaskan kerugian dan kebodoh-an akal mereka. Dia berfirman, ﴾ قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ قَتَلُوٓاْ أَوۡلَٰدَهُمۡ سَفَهَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "Sungguh rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena ke-bodohan lagi tidak mengetahui." Maksudnya, mereka rugi agama, anak, dan akal. Ciri mereka berubah dari pemilik akal yang baik menjadi pemilik kedunguan dan kesesatan yang buruk. ﴾ وَحَرَّمُواْ مَا رَزَقَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Dan mereka mengharamkan sesuatu yang telah Allah rizkikan kepada mereka." Maksudnya, mereka mengharamkan sesuatu yang Allah jadikan sebagai rahmat bagi mereka dan sesuatu yang Dia limpahkan sebagai rizki bagi mereka. Mereka menolak karunia tuhan mereka, tidak sebatas itu saja bahkan mereka menyatakannya haram. Padahal sebenarnya ia termasuk yang paling halal, semua itu adalah ﴾ ٱفۡتِرَآءً عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "semata-mata mengada-adakan terhadap Allah." Maksudnya, kedustaan yang dilancarkan oleh setiap kafir yang menentang. ﴾ قَدۡ ضَلُّواْ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ ﴿ "Sungguh mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." Maksudnya, mereka tersesat dengan kesesatan yang jauh dan tidak mendapatkan petunjuk sedikit pun dalam urusan-urusan mereka.
Al-An'am 6:140
"Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka ber-kata sesuai dengan persangkaan mereka, 'Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.' Maka sajian-sajian yang diperuntuk-kan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah, dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadi-kan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan agama mereka. Dan kalau Allah menghen-daki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan sesuatu yang mereka ada-adakan. Dan mereka menga-takan, 'Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang, tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki,' menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan me-nungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka atas apa yang selalu mereka ada-adakan. Dan mereka mengata-kan, 'Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami, dan diharamkan atas wanita kami,' dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka atas ke-tetapan mereka. Sesungguhnya Allah Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Sungguh rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka meng-haramkan sesuatu yang telah Allah rizkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sungguh mereka telah sesat, dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." (Al-An'am: 136-140).
(136) Allah menyampaikan kebodohan akal, kerancuan pemikiran dan kebodohan yang mendalam yang dimiliki oleh orang-orang musyrik yang mendustakan Nabi. Allah membongkar sedi-kit khurafat mereka untuk memperingatkan kesesatan mereka, dan agar ia diwaspadai, dan bahwa penentangan dari orang-orang se-misal mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rasul sama sekali tidak menodainya, karena mereka tidak layak untuk meng-hadapi kebenaran. Allah menjelaskan sebagian dari itu, bahwa mereka ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ ٱلۡحَرۡثِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ نَصِيبٗا ﴿ "memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah." Sementara sesembahan mereka juga mendapatkan satu bagian, padahal sebenarnya Allah-lah yang menciptakan dan meng-adakan rizki untuk hamba-hambaNya, maka mereka menggabung-kan antara dua perkara dosa yang dikhawatirkan bahkan tiga: Pertama, jasa mereka kepada Allah dengan memberikan ba-gian untukNya meskipun mereka meyakini bahwa itu adalah sukarela dari mereka. Kedua, menyamakan sesembahan itu dengan Allah padahal sesembahan itu tidak memberi mereka rizki dan tidak mencipta-kan sedikit pun darinya. Ketiga, keputusan mereka yang tidak adil bahwa mereka tidak mempedulikan dan tidak memperhatikan sesuatu yang diberikan kepada Allah walaupun ia sampai kepada sesembahan-sesembahan mereka. Sebaliknya yang diberikan kepada sesembahan-sesem-bahan, maka mereka menjaga dan memperhatikannya, dan tidak sedikit pun yang sampai kepada Allah darinya. Hal itu jika mereka mendapatkan rizki dari tanaman, buah-buahan, dan ternak mereka, maka mereka membaginya menjadi dua bagian. Satu bagian me-reka katakan, "Ini untuk Allah," menurut klaim mereka, karena jika tidak, maka Allah tidak menerima kecuali apa yang diikhlaskan demi WajahNya. Dia tidak menerima amal orang yang menyekutu-kanNya, sedangkan bagian lain, maka mereka menjadikannya se-bagai bagian untuk sesembahan-sesembahan mereka dalam bentuk berhala dan tandingan-tandingan. Mereka tidak mempedulikan jika sesuatu yang mereka peruntukkan bagi Allah sampai dan bercam-pur dengan sesuatu yang mereka peruntukkan untuk selainNya. Mereka berkata, "Allah tidak membutuhkannya." Maka me-reka tidak mengembalikannya (kepada Allah). Sebaliknya jika sesuatu yang mereka peruntukkan bagi sesembahan-sesembahan bercampur dengan sesuatu yang mereka peruntukkan bagi Allah, maka mereka memisahkannya dan mengembalikannya ke tempat-nya, maka mereka berkata, "Ia miskin, bagiannya harus dikembali-kan." Adakah hukum yang lebih buruk dan lebih zhalim daripada ini, di mana mereka bersungguh-sungguh, menjaga dan mengikhlas-kan diri untuk sesuatu yang diberikan kepada makhluk sementara sebaliknya pada hak Allah? Ayat yang mulia ini bisa pula ditafsirkan dengan hadits yang ada dalam ash-Shahih dari Nabi bahwa Nabi bersabda, قَالَ اللّٰهُ: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ أَشْرَكَ مَعِيْ شَيْئًا تَرَكْتُهُ وَشَرِيْكَهُ. "Allah berfirman, 'Aku adalah sekutu (maksudnya dalam anggap-an mereka) yang tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa menyekutu-kanKu dengan sesuatu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya'."[65] Jadi makna ayat ini adalah, bahwa sesuatu yang mereka per-untukkan dan persembahkan untuk berhala-berhala adalah ibadah yang murni kepada selain Allah. Allah tidak mendapatkan sedikit pun darinya. Apa yang menurut klaim mereka diperuntukkan bagi Allah, maka ia tetap tidak sampai kepadaNya karena itu adalah kesyirikan. Ia adalah bagian bagi sesembahan-sesembahan dan tandingan-tandingan itu, karena Allah tidak memerlukannya, dan Dia tidak menerima amal yang padanya terdapat unsur syirik de-ngan salah satu makhlukNya.
(137) Dan di antara kebodohan dan kesesatan orang-orang musyrik adalah bahwa pemimpin-pemimpin mereka ﴾ زَيَّنَ لِكَثِيرٖ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik." Maksudnya, para pembesar dan para pemimpin mereka menjadikan indah pembunuhan terhadap anak-anak mereka, yaitu menguburkan hidup-hidup anak laki-laki karena takut miskin dan anak perempuan karena takut malu. Semua itu termasuk tipuan setan yang ingin menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan dan merancukan agama mereka, akibatnya mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat buruk. Para pembe-sar mereka terus menerus menghiasinya bagi mereka sehingga me-nurut mereka hal tersebut termasuk perkara dan sifat yang baik. Seandainya Allah berkehendak melarang dan menghalang-halangi mereka dari perbuatan-perbuatan ini, serta melindungi anak-anak mereka dari pembunuhan yang dilakukan kedua orang tua mereka, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, akan tetapi hikmahNya membiarkan mereka melakukan hal itu sebagai tipu daya dariNya kepada mereka dan penundaan kepada mereka serta ketidakpedulianNya terhadap keadaan mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ﴿ "Maka tinggalkanlah mereka dan sesuatu yang mereka ada-adakan." Maksudnya, biarkan mereka dengan kebohongan dan kedustaannya. Jangan sedih atas tindakan buruk mereka, karena mereka tidak merugikan Allah sedikit pun.
(138) Di antara bentuk kebodohan mereka adalah bahwa binatang ternak yang secara umum telah dihalalkan oleh Allah, dan dijadikan sebagai rizki dan rahmat di mana mereka menikmati-nya dan mengambil manfaatnya, namun mereka mengada-adakan keyakinan dan ucapan dari diri mereka sendiri, mereka memiliki istilah sendiri pada sebagian binatang ternak dan tanaman, mereka mengatakan, ﴾ هَٰذِهِۦٓ أَنۡعَٰمٞ وَحَرۡثٌ حِجۡرٞ ﴿ "Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang." Maksudnya, diharamkan, tidak ada yang memakan-nya ﴾ إِلَّا مَن نَّشَآءُ ﴿ "kecuali orang yang kami kehendaki." Maksudnya, tidak seorang pun boleh memakannya kecuali orang yang kami inginkan atau dia memiliki kriteria khusus menurut kami. Semua ini hanya sekedar klaim mereka tanpa pijakan dan hujjah kecuali hanya hawa nafsu dan akal mereka yang rusak. Adapula binatang ternak yang tidak diharamkan dari segala segi, hanya punggungnya saja yang diharamkan, maksudnya mereka dilarang mengendarai dan memberi beban kepadanya, mereka melindungi punggungnya, dan mereka menamakannya Ham. Adapula binatang ternak di mana mereka tidak menyebut nama Allah saat menyembelihnya, akan tetapi menyebut nama berhala-berhala dan sesembahan-sesembahan yang mereka sem-bah selain Allah, mereka menyandarkan perbuatan itu kepada Allah, maka mereka semua adalah orang-orang fajir lagi pendusta. ﴾ سَيَجۡزِيهِم بِمَا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Kelak Allah akan membalas mereka atas apa yang selalu mereka ada-adakan" atas nama Allah dalam bentuk penghalalan syirik, pengharaman makanan dan manfaat yang halal.
(139) Di antara keyakinan mereka yang buruk adalah bahwa mereka menentukan sebagian binatang ternak, lalu mereka menentukan janin yang ada di perutnya sebagai sesuatu yang haram untuk wanita dan tidak bagi laki-laki. Mereka berkata,﴾ مَا فِي بُطُونِ هَٰذِهِ ٱلۡأَنۡعَٰمِ خَالِصَةٞ لِّذُكُورِنَا ﴿ "Janin yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami." Maksudnya, hanya halal untuk kaum laki-laki saja, dan tidak halal untuk wanita. ﴾ وَمُحَرَّمٌ عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِنَاۖ ﴿ "Dan diharamkan atas wanita kami." Ini jika janin itu lahir dalam ke-adaan hidup. Jika ia dilahirkan dalam keadaan mati, maka ia halal untuk semuanya, yakni halal untuk laki-laki dan wanita.﴾ سَيَجۡزِيهِمۡ وَصۡفَهُمۡۚ ﴿ "Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka," di mana mereka menetapkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah sebagai sesuatu yang haram, dan menetapkan yang haram menjadi halal, maka mereka menentang dan menyelisihi syariat Allah dan mereka menisbatkannya kepada Allah. ﴾ إِنَّهُۥ حَكِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahabijaksana," di mana Dia menunda mereka dan menempatkan mereka di dalam kesesatan yang mereka alami. ﴾ عَلِيمٞ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui," keadaan me-reka, tidak ada yang samar bagiNya. Dia mengetahui mereka, me-ngetahui apa yang mereka katakan dan mereka nisbatkan secara dusta kepadaNya sementara Dia terus memberi mereka rizki dan keselamatan.
(140) Kemudian Allah menjelaskan kerugian dan kebodoh-an akal mereka. Dia berfirman, ﴾ قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ قَتَلُوٓاْ أَوۡلَٰدَهُمۡ سَفَهَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "Sungguh rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena ke-bodohan lagi tidak mengetahui." Maksudnya, mereka rugi agama, anak, dan akal. Ciri mereka berubah dari pemilik akal yang baik menjadi pemilik kedunguan dan kesesatan yang buruk. ﴾ وَحَرَّمُواْ مَا رَزَقَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Dan mereka mengharamkan sesuatu yang telah Allah rizkikan kepada mereka." Maksudnya, mereka mengharamkan sesuatu yang Allah jadikan sebagai rahmat bagi mereka dan sesuatu yang Dia limpahkan sebagai rizki bagi mereka. Mereka menolak karunia tuhan mereka, tidak sebatas itu saja bahkan mereka menyatakannya haram. Padahal sebenarnya ia termasuk yang paling halal, semua itu adalah ﴾ ٱفۡتِرَآءً عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "semata-mata mengada-adakan terhadap Allah." Maksudnya, kedustaan yang dilancarkan oleh setiap kafir yang menentang. ﴾ قَدۡ ضَلُّواْ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ ﴿ "Sungguh mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." Maksudnya, mereka tersesat dengan kesesatan yang jauh dan tidak mendapatkan petunjuk sedikit pun dalam urusan-urusan mereka.
Al-An'am 6:141
"Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), namun tidak sama (rasanya). Makanlah dari buah-nya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikan-lah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya), dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Al-An'am: 141).
(141) Manakala Allah menjelaskan tindakan orang-orang musyrik terhadap banyak tanaman dan binatang ternak yang dihalalkan oleh Allah untuk mereka, maka Allah menjelaskan nikmatNya kepada mereka dengan itu, dan tugas mereka yang semestinya mereka lakukan pada tanaman dan binatang ternak, Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَ جَنَّٰتٖ ﴿ "Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun," maksudnya, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat ber-bagai macam pohon dan tanaman yang berbeda-beda, ﴾ مَّعۡرُوشَٰتٖ وَغَيۡرَ مَعۡرُوشَٰتٖ ﴿ "yang berjunjung dan yang tidak berjunjung." Maksudnya, sebagian dari kebun-kebun itu memiliki penyangga-penyangga, di mana tanaman merambat melaluinya sehingga ia terangkat dari bumi, dan sebagian lain tidak memiliki penyangga, maka ia tumbuh melata di permukaan bumi. Ini mengandung isyarat kepada banyaknya manfaat dan ke-baikannya. Dan bahwa Allah mengajarkan kepada manusia bagai-mana mereka menjunjung kebun-kebun itu dan menumbuhkan-nya. Dan Allah menumbuhkan ﴾ وَٱلنَّخۡلَ وَٱلزَّرۡعَ مُخۡتَلِفًا أُكُلُهُۥ ﴿ "pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya." Maksudnya, semua-nya di satu tempat, dan disiram dengan air yang sama, namun Allah membedakan rasa antara yang ini dengan yang itu. Allah mengkhususkan pohon kurma dan tanaman pangan dengan ber-bagai bentuknya karena manfaatnya yang banyak dan karena ia adalah sumber makanan manusia. Dan Allah menumbuhkan ﴾ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُتَشَٰبِهٗا ﴿ "zaitun dan delima yang serupa" pohonnya, ﴾ وَغَيۡرَ مُتَشَٰبِهٖۚ ﴿ "namun tidak sama," buah dan rasanya. Seolah-olah ada yang bertanya, "Untuk apa Allah menumbuhkan kebun-kebun ini dan buah-buahan yang disebutkan sesudahnya?" Maka Allah men-jelaskan bahwa Dia menumbuhkannya untuk kebaikan manusia. Dia berfirman, ﴾ كُلُواْ مِن ثَمَرِهِۦٓ ﴿ "Makanlah dari buahnya." Yakni kurma dan tanaman pangan ﴾ إِذَآ أَثۡمَرَ وَءَاتُواْ حَقَّهُۥ يَوۡمَ حَصَادِهِۦۖ ﴿ "bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya." Maksudnya, tunaikan-lah hak tanaman pangan yaitu zakat dengan nishab-nishab yang telah ditentukan dalam agama. Allah memerintahkan mereka membayarnya pada waktu pa-nen, karena masa panen tanaman pangan ibarat perubahan masa, karena ia adalah waktu di mana hati orang-orang miskin menunggu-nunggunya, maka pada saat itu membayarnya adalah mudah bagi para pemilik tanaman pangan, dan perkaranya pun jelas bagi yang membayarnya, sehingga menjadi jelaslah siapa yang membayar zakat dan siapa yang tidak membayarnya. FirmanNya, ﴾ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ ﴿ "Dan janganlah kamu berlebih-lebihan." Ini meliputi larangan berlebih-lebihan dalam makan, yaitu yang melebihi batas dan kebiasaan. Ini juga termasuk larangan bagi pe-milik tanaman untuk memakan dari tanamannya sampai pada batas merugikan zakat. Termasuk pula berlebih-lebihan dalam mengeluarkan hak tanaman di mana dia mengeluarkannya mele-bihi kewajibannya atau merugikan diri atau keluarganya atau orang yang memiliki hutang atasnya. Semua itu termasuk berlebih-lebihan yang dilarang, dibenci, tidak disukai bahkan dimurkai oleh Allah. Ayat ini mengandung dalil atas kewajiban zakat hasil buah-buahan dan bahwa ia tidak perlu haul (melewati masa satu tahun). Akan tetapi haulnya adalah saat panen pada tanaman pangan dan petikan kurma, dan bahwa zakatnya tidak berulang-ulang walau-pun ia dimiliki oleh seseorang dalam waktu bertahun-tahun, jika bukan untuk perniagaan, karena Allah tidak memerintahkan un-tuk mengeluarkan zakatnya kecuali saat panen, bahwa jika ia terkena musibah tanpa adanya unsur kelalaian dari pemiliknya maka dia tidak harus menggantinya. Dia boleh makan dari tanam-an dan kurma sebelum ia dizakati dan bahwa yang dimakan itu tidak dihitung ke dalam zakat, akan tetapi yang dizakati adalah harta yang tersisa. Rasulullah pernah mengutus juru taksir untuk menaksir hasil kebun milik kaum Muslimin, dan Rasulullah memerintahkannya agar membiarkan untuk pemiliknya sepertiga atau seperempat[66] menurut kebiasaan yang dimakan oleh pemiliknya dan selainnya.
Al-An'am 6:142
"Dan di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang bukan untuk pengangkutan. Makan-lah dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu, (yaitu) delapan binatang yang berpa-sangan, sepasang dari domba dan sepasang dari kambing. Kata-kanlah, 'Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betina-nya?' Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan, jika kamu memang orang-orang yang benar. Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah, 'Apakah dua yang jantan diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?' Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-An'am: 142-144).
(142) ﴾ و َ ﴿ "Dan" Dia menciptakan dan m e n u m b u h k a n ﴾ مِن ٱلۡأَنۡعَٰمِ حَمُولَةٗ وَفَرۡشٗاۚ ﴿ "di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang bukan untuk pengangkutan." Mak-sudnya, sebagian kamu tunggangi dan kamu beri beban pada punggungnya. Sebagian lain tidak layak untuk ditunggangi dan dibebani karena belum cukup umur seperti anak unta dan sebagai-nya dan inilah yang disebut al-Farsy. Jadi binatang ternak dilihat dari sisi ia ditunggangi dan dibebani terbagi menjadi dua bagian ini. Adapun dari segi konsumsi dan manfaat yang lain maka semuanya dimakan dan diambil manfaatnya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ كُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Makanlah dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan." Yakni jalan-jalannya dan amal perbuatannya di mana di antaranya adalah pengharaman terhadap sebagian yang dirizkikan oleh Allah kepadamu. ﴾ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu." Dia hanya memerintahkanmu kepada kerugian dan kesengsaraan abadi.
(143) Allah merinci binatang ternak yang Allah berikan se-bagai nikmat bagi hamba-hambaNya, dan dijadikan halal serta baik, ﴾ ثَمَٰنِيَةَ أَزۡوَٰجٖۖ مِّنَ ٱلضَّأۡنِ ٱثۡنَيۡنِ ﴿ "(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba," jantan dan betina, ﴾ وَمِنَ ٱلۡمَعۡزِ ٱثۡنَيۡنِۗ ﴿ "dan sepa-sang dari kambing," jantan dan betina. Ini berarti empat. Semuanya termasuk yang Allah halalkan, tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Maka katakanlah kepada orang-orang yang memaksakan diri dengan mengharamkan sebagian darinya dan menghalalkan sebagian yang lain, atau mengharamkannya khusus buat kaum wanita, dan bukan kaum laki-laki dengan me-nekankan kepada mereka bahwa tidak ada perbedaan antara apa yang mereka haramkan dengan apa yang mereka halalkan. ﴾ ءَآلذَّكَرَيۡنِ ﴿ "Apakah dua yang jantan," yakni dari domba dan kambing ﴾ حَرَّمَ ﴿ "yang diharamkan" oleh Allah? Lalu kamu tidak mengatakan itu dan kamu menolaknya? ﴾ أَمِ ٱلۡأُنثَيَيۡنِ ﴿ "Ataukah dua yang betina?" "Allah mengharamkan dari kambing dan domba," juga bukan ucapanmu? Tidak pengharaman jantan saja dan tidak pula peng-haraman betina saja dari kedua jenis tersebut. Maka (kemungkinan) yang tersisa adalah, jika rahim mengandung jantan dan betina sekaligus atau yang tidak diketahui. Dia berfirman, ﴾ أَمۡ ﴿ "Ataukah," kamu mengharamkan ﴾ م َ ا ٱشۡتَمَلَتۡ عَلَيۡهِ أَرۡحَامُ ٱلۡأُنثَيَيۡنِۖ ﴿ "janin yang ada dalam kandungan dua betinanya?" Yakni betina domba dan betina kambing tanpa pembedaan antara janin jantan dan betina. Kamu pun tidak berpendapat demikian. Jika kamu tidak memilih satu dari tiga kemungkinan ini padahal tidak ada yang keempat, lalu ke mana arah pendapatmu? ﴾ نَبِّـُٔونِي بِعِلۡمٍ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan, jika kamu memang orang-orang yang benar" dalam ucapan dan klaimmu. Jelas sekali bahwa mereka tidak mungkin mengucapkan pen-dapat yang masuk akal kecuali satu dari tiga kemungkinan terse-but, padahal mereka tidak menyatakan satu pun darinya. Mereka hanya menyatakan bahwa sebagian binatang ternak yang mereka beri istilah tersendiri oleh mereka sendiri adalah haram untuk wanita bukan laki-laki atau diharamkan dalam kondisi tertentu saja atau ucapan yang sepertinya, yang diketahui tanpa ragu bahwa sumbernya adalah kebodohan rangkap, akal yang rusak dan penda-pat yang miring, dan bahwa Allah tidak menurunkan ilmu terkait dengan apa yang mereka katakan. Mereka juga tidak memiliki hujjah dan bukti atas hal itu.
(144) Kemudian Allah menjelaskan tentang unta dan sapi dengan penjelasan yang sama. Manakala Allah menjelaskan keba-tilan dan kerusakan ucapan mereka, maka Allah berfirman kepada mereka dengan perkataan yang membuat mereka tidak mampu lolos dari konsekuensinya kecuali hanya dengan mengikuti syari-at, ﴾ أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ وَصَّىٰكُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu?" Maksudnya, yang tersisa padamu hanyalah sekedar klaim di mana kamu tidak mampu membukti-kan kebenarannya. Yaitu hendaknya kamu berkata, "Sesungguhnya Allah menetapkan itu kepada kami dan mewahyukan sebagaima-na Dia mewahyukan kepada rasul-rasulNya, bahkan Allah mewah-yukan kepada kami dengan wahyu yang menyelisihi wahyu para Rasul dan yang disampaikan oleh kitab-kitab." Ini adalah kedustaan yang diketahui oleh semua orang. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا لِّيُضِلَّ ٱلنَّاسَ بِغَيۡرِ عِلۡمٍۚ ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?" Maksudnya, ditam-bah dengan kedustaan dan kebohongannya atas nama Allah dengan maksud menyesatkan hamba-hamba Allah dari jalan Allah tanpa bukti, argumen, akal dan dalil. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesung-guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim," yang tidak memiliki kemauan selain menzhalimi, berlaku sewenang-wenang dan berdusta atas Nama Allah.
Al-An'am 6:143
"Dan di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang bukan untuk pengangkutan. Makan-lah dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu, (yaitu) delapan binatang yang berpa-sangan, sepasang dari domba dan sepasang dari kambing. Kata-kanlah, 'Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betina-nya?' Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan, jika kamu memang orang-orang yang benar. Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah, 'Apakah dua yang jantan diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?' Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-An'am: 142-144).
(142) ﴾ و َ ﴿ "Dan" Dia menciptakan dan m e n u m b u h k a n ﴾ مِن ٱلۡأَنۡعَٰمِ حَمُولَةٗ وَفَرۡشٗاۚ ﴿ "di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang bukan untuk pengangkutan." Mak-sudnya, sebagian kamu tunggangi dan kamu beri beban pada punggungnya. Sebagian lain tidak layak untuk ditunggangi dan dibebani karena belum cukup umur seperti anak unta dan sebagai-nya dan inilah yang disebut al-Farsy. Jadi binatang ternak dilihat dari sisi ia ditunggangi dan dibebani terbagi menjadi dua bagian ini. Adapun dari segi konsumsi dan manfaat yang lain maka semuanya dimakan dan diambil manfaatnya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ كُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Makanlah dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan." Yakni jalan-jalannya dan amal perbuatannya di mana di antaranya adalah pengharaman terhadap sebagian yang dirizkikan oleh Allah kepadamu. ﴾ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu." Dia hanya memerintahkanmu kepada kerugian dan kesengsaraan abadi.
(143) Allah merinci binatang ternak yang Allah berikan se-bagai nikmat bagi hamba-hambaNya, dan dijadikan halal serta baik, ﴾ ثَمَٰنِيَةَ أَزۡوَٰجٖۖ مِّنَ ٱلضَّأۡنِ ٱثۡنَيۡنِ ﴿ "(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba," jantan dan betina, ﴾ وَمِنَ ٱلۡمَعۡزِ ٱثۡنَيۡنِۗ ﴿ "dan sepa-sang dari kambing," jantan dan betina. Ini berarti empat. Semuanya termasuk yang Allah halalkan, tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Maka katakanlah kepada orang-orang yang memaksakan diri dengan mengharamkan sebagian darinya dan menghalalkan sebagian yang lain, atau mengharamkannya khusus buat kaum wanita, dan bukan kaum laki-laki dengan me-nekankan kepada mereka bahwa tidak ada perbedaan antara apa yang mereka haramkan dengan apa yang mereka halalkan. ﴾ ءَآلذَّكَرَيۡنِ ﴿ "Apakah dua yang jantan," yakni dari domba dan kambing ﴾ حَرَّمَ ﴿ "yang diharamkan" oleh Allah? Lalu kamu tidak mengatakan itu dan kamu menolaknya? ﴾ أَمِ ٱلۡأُنثَيَيۡنِ ﴿ "Ataukah dua yang betina?" "Allah mengharamkan dari kambing dan domba," juga bukan ucapanmu? Tidak pengharaman jantan saja dan tidak pula peng-haraman betina saja dari kedua jenis tersebut. Maka (kemungkinan) yang tersisa adalah, jika rahim mengandung jantan dan betina sekaligus atau yang tidak diketahui. Dia berfirman, ﴾ أَمۡ ﴿ "Ataukah," kamu mengharamkan ﴾ م َ ا ٱشۡتَمَلَتۡ عَلَيۡهِ أَرۡحَامُ ٱلۡأُنثَيَيۡنِۖ ﴿ "janin yang ada dalam kandungan dua betinanya?" Yakni betina domba dan betina kambing tanpa pembedaan antara janin jantan dan betina. Kamu pun tidak berpendapat demikian. Jika kamu tidak memilih satu dari tiga kemungkinan ini padahal tidak ada yang keempat, lalu ke mana arah pendapatmu? ﴾ نَبِّـُٔونِي بِعِلۡمٍ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan, jika kamu memang orang-orang yang benar" dalam ucapan dan klaimmu. Jelas sekali bahwa mereka tidak mungkin mengucapkan pen-dapat yang masuk akal kecuali satu dari tiga kemungkinan terse-but, padahal mereka tidak menyatakan satu pun darinya. Mereka hanya menyatakan bahwa sebagian binatang ternak yang mereka beri istilah tersendiri oleh mereka sendiri adalah haram untuk wanita bukan laki-laki atau diharamkan dalam kondisi tertentu saja atau ucapan yang sepertinya, yang diketahui tanpa ragu bahwa sumbernya adalah kebodohan rangkap, akal yang rusak dan penda-pat yang miring, dan bahwa Allah tidak menurunkan ilmu terkait dengan apa yang mereka katakan. Mereka juga tidak memiliki hujjah dan bukti atas hal itu.
(144) Kemudian Allah menjelaskan tentang unta dan sapi dengan penjelasan yang sama. Manakala Allah menjelaskan keba-tilan dan kerusakan ucapan mereka, maka Allah berfirman kepada mereka dengan perkataan yang membuat mereka tidak mampu lolos dari konsekuensinya kecuali hanya dengan mengikuti syari-at, ﴾ أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ وَصَّىٰكُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu?" Maksudnya, yang tersisa padamu hanyalah sekedar klaim di mana kamu tidak mampu membukti-kan kebenarannya. Yaitu hendaknya kamu berkata, "Sesungguhnya Allah menetapkan itu kepada kami dan mewahyukan sebagaima-na Dia mewahyukan kepada rasul-rasulNya, bahkan Allah mewah-yukan kepada kami dengan wahyu yang menyelisihi wahyu para Rasul dan yang disampaikan oleh kitab-kitab." Ini adalah kedustaan yang diketahui oleh semua orang. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا لِّيُضِلَّ ٱلنَّاسَ بِغَيۡرِ عِلۡمٍۚ ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?" Maksudnya, ditam-bah dengan kedustaan dan kebohongannya atas nama Allah dengan maksud menyesatkan hamba-hamba Allah dari jalan Allah tanpa bukti, argumen, akal dan dalil. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesung-guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim," yang tidak memiliki kemauan selain menzhalimi, berlaku sewenang-wenang dan berdusta atas Nama Allah.
Al-An'am 6:144
"Dan di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang bukan untuk pengangkutan. Makan-lah dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu, (yaitu) delapan binatang yang berpa-sangan, sepasang dari domba dan sepasang dari kambing. Kata-kanlah, 'Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betina-nya?' Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan, jika kamu memang orang-orang yang benar. Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah, 'Apakah dua yang jantan diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?' Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-An'am: 142-144).
(142) ﴾ و َ ﴿ "Dan" Dia menciptakan dan m e n u m b u h k a n ﴾ مِن ٱلۡأَنۡعَٰمِ حَمُولَةٗ وَفَرۡشٗاۚ ﴿ "di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang bukan untuk pengangkutan." Mak-sudnya, sebagian kamu tunggangi dan kamu beri beban pada punggungnya. Sebagian lain tidak layak untuk ditunggangi dan dibebani karena belum cukup umur seperti anak unta dan sebagai-nya dan inilah yang disebut al-Farsy. Jadi binatang ternak dilihat dari sisi ia ditunggangi dan dibebani terbagi menjadi dua bagian ini. Adapun dari segi konsumsi dan manfaat yang lain maka semuanya dimakan dan diambil manfaatnya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ كُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Makanlah dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan." Yakni jalan-jalannya dan amal perbuatannya di mana di antaranya adalah pengharaman terhadap sebagian yang dirizkikan oleh Allah kepadamu. ﴾ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu." Dia hanya memerintahkanmu kepada kerugian dan kesengsaraan abadi.
(143) Allah merinci binatang ternak yang Allah berikan se-bagai nikmat bagi hamba-hambaNya, dan dijadikan halal serta baik, ﴾ ثَمَٰنِيَةَ أَزۡوَٰجٖۖ مِّنَ ٱلضَّأۡنِ ٱثۡنَيۡنِ ﴿ "(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba," jantan dan betina, ﴾ وَمِنَ ٱلۡمَعۡزِ ٱثۡنَيۡنِۗ ﴿ "dan sepa-sang dari kambing," jantan dan betina. Ini berarti empat. Semuanya termasuk yang Allah halalkan, tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Maka katakanlah kepada orang-orang yang memaksakan diri dengan mengharamkan sebagian darinya dan menghalalkan sebagian yang lain, atau mengharamkannya khusus buat kaum wanita, dan bukan kaum laki-laki dengan me-nekankan kepada mereka bahwa tidak ada perbedaan antara apa yang mereka haramkan dengan apa yang mereka halalkan. ﴾ ءَآلذَّكَرَيۡنِ ﴿ "Apakah dua yang jantan," yakni dari domba dan kambing ﴾ حَرَّمَ ﴿ "yang diharamkan" oleh Allah? Lalu kamu tidak mengatakan itu dan kamu menolaknya? ﴾ أَمِ ٱلۡأُنثَيَيۡنِ ﴿ "Ataukah dua yang betina?" "Allah mengharamkan dari kambing dan domba," juga bukan ucapanmu? Tidak pengharaman jantan saja dan tidak pula peng-haraman betina saja dari kedua jenis tersebut. Maka (kemungkinan) yang tersisa adalah, jika rahim mengandung jantan dan betina sekaligus atau yang tidak diketahui. Dia berfirman, ﴾ أَمۡ ﴿ "Ataukah," kamu mengharamkan ﴾ م َ ا ٱشۡتَمَلَتۡ عَلَيۡهِ أَرۡحَامُ ٱلۡأُنثَيَيۡنِۖ ﴿ "janin yang ada dalam kandungan dua betinanya?" Yakni betina domba dan betina kambing tanpa pembedaan antara janin jantan dan betina. Kamu pun tidak berpendapat demikian. Jika kamu tidak memilih satu dari tiga kemungkinan ini padahal tidak ada yang keempat, lalu ke mana arah pendapatmu? ﴾ نَبِّـُٔونِي بِعِلۡمٍ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan, jika kamu memang orang-orang yang benar" dalam ucapan dan klaimmu. Jelas sekali bahwa mereka tidak mungkin mengucapkan pen-dapat yang masuk akal kecuali satu dari tiga kemungkinan terse-but, padahal mereka tidak menyatakan satu pun darinya. Mereka hanya menyatakan bahwa sebagian binatang ternak yang mereka beri istilah tersendiri oleh mereka sendiri adalah haram untuk wanita bukan laki-laki atau diharamkan dalam kondisi tertentu saja atau ucapan yang sepertinya, yang diketahui tanpa ragu bahwa sumbernya adalah kebodohan rangkap, akal yang rusak dan penda-pat yang miring, dan bahwa Allah tidak menurunkan ilmu terkait dengan apa yang mereka katakan. Mereka juga tidak memiliki hujjah dan bukti atas hal itu.
(144) Kemudian Allah menjelaskan tentang unta dan sapi dengan penjelasan yang sama. Manakala Allah menjelaskan keba-tilan dan kerusakan ucapan mereka, maka Allah berfirman kepada mereka dengan perkataan yang membuat mereka tidak mampu lolos dari konsekuensinya kecuali hanya dengan mengikuti syari-at, ﴾ أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ وَصَّىٰكُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu?" Maksudnya, yang tersisa padamu hanyalah sekedar klaim di mana kamu tidak mampu membukti-kan kebenarannya. Yaitu hendaknya kamu berkata, "Sesungguhnya Allah menetapkan itu kepada kami dan mewahyukan sebagaima-na Dia mewahyukan kepada rasul-rasulNya, bahkan Allah mewah-yukan kepada kami dengan wahyu yang menyelisihi wahyu para Rasul dan yang disampaikan oleh kitab-kitab." Ini adalah kedustaan yang diketahui oleh semua orang. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا لِّيُضِلَّ ٱلنَّاسَ بِغَيۡرِ عِلۡمٍۚ ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?" Maksudnya, ditam-bah dengan kedustaan dan kebohongannya atas nama Allah dengan maksud menyesatkan hamba-hamba Allah dari jalan Allah tanpa bukti, argumen, akal dan dalil. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesung-guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim," yang tidak memiliki kemauan selain menzhalimi, berlaku sewenang-wenang dan berdusta atas Nama Allah.
Al-An'am 6:145
"Katakanlah, 'Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang di-wahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak meng-inginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguh-nya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku, dan dari sapi dan domba. Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung kedua-nya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka, dan sesungguhnya Kami adalah Mahabenar." (Al-An'am: 145-146).
(145) Manakala Allah mencela orang-orang musyrik atas tindakan mereka yang mengharamkan yang halal, lalu mereka menisbatkan itu kepada Allah, dan Allah membatalkan ucapan mereka, maka Allah memerintahkan RasulNya untuk menerang-kan sesuatu yang diharamkan oleh Allah kepada mereka agar mereka mengetahui bahwa sesuatu yang selain itu adalah halal. Siapa yang menisbatkan pengharamannya kepada Allah, maka dia adalah pendusta dan pembual, karena pengharaman tidak akan terjadi kecuali berasal dari sisi Allah melalui lisan RasulNya, dan Dia telah berfirman kepada RasulNya, ﴾ قُل لَّآ أَجِدُ فِي مَآ أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٖ ﴿ "Katakanlah, 'Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan ke-padaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya'." Maksudnya, diharamkan "memakannya" tanpa melihat kepada diharamkan atau tidak diharamkan "pemanfaatan lain selain me-makannya." ﴾ إِلَّآ أَن يَكُونَ مَيۡتَةً ﴿ "Kecuali kalau makanan itu bangkai." Bangkai adalah binatang yang mati tanpa disembelih secara syar'i, sesungguhnya ia tidak halal sebagaimana Firman Allah, ﴾ حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ ﴿ "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, dan daging babi." (Al-Ma`idah: 3). ﴾ أَوۡ دَمٗا مَّسۡفُوحًا ﴿ "Atau darah yang mengalir." Yaitu darah yang keluar dari binatang sembelihan pada waktu ia disembelih. Ia adalah darah yang jika tertahan di dalam tubuh, maka ia membahayakan. Jika ia keluar maka bahaya "makan dagingnya" telah lenyap. Mahfum lafazh ini adalah bahwa darah yang tersisa di dalam daging dan urat setelah penyembelihan adalah halal lagi suci. ﴾ أَوۡ لَحۡمَ خِنزِيرٖ فَإِنَّهُۥ رِجۡسٌ ﴿ "Atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor." Maksudnya, tiga perkara ini adalah kotor yakni buruk, na-jis lagi membahayakan. Allah mengharamkannya karena kasih sayangNya kepadamu dan demi menyucikanmu dari perbuatan kotor. ﴾ أَوۡ ﴿ "Atau" binatang itu adalah ﴾ فِسۡقًا أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦۚ ﴿ "binatang yang disembelih atas nama selain Allah." Maksudnya, kecuali jika sembelihan itu disembelih untuk selain Allah berupa berhala-berhala dan sesembahan-sesembahan yang dipuja oleh orang-orang musyrik, karena ia termasuk kefasikan yang merupakan penyim-pangan dari ketaatan kepada Allah kepada kemaksiatan kepadaNya. Perkara-perkara yang diharamkan ini (walaupun ia diharamkan) akan tetapi bagi siapa yang dalam kondisi terpaksa, maksudnya keterpaksaan dan kebutuhan mendesaknya untuk makan sesuatu darinya yang mana dia tidak lagi memiliki sesuatu yang halal, dan dia khawatir mati, ﴾ غَيۡرَ بَاغٖ وَلَا عَادٖ ﴿ "sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas." Maksudnya, dia tidak ingin me-makannya jika tidak dalam kondisi darurat dan tidak pula melebihi batas dengan makan melampaui batas apa yang diperlukan, ﴾ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Maksudnya, Allah memaafkan orang yang dalam kondisi tersebut. Para ulama berbeda pendapat tentang pembatasan yang disebutkan dalam ayat ini meskipun ada perkara-perkara lain selainnya yang diharamkan dan tidak disebutkan padanya seperti binatang buas, burung pemilik cakar dan sebagainya. Sebagian ulama menyatakan bahwa ayat ini turun sebelum pengharaman selainnya yang lebih dari itu, maka pembatasan yang disebutkan di dalam ayat ini tidak menafikan pengharaman yang hadir setelah itu, karena ia belum ada dalam sesuatu yang diwahyukan kepada-nya pada waktu itu. Yang lain berpendapat bahwa ayat ini mencakup seluruh perkara-perkara yang diharamkan, sebagian darinya disebutkan secara jelas sedangkan yang lain diambil dari makna dan keumum-an illat, karena Firman Allah yang menjelaskan illat bangkai, darah dan daging babi atau yang terakhir saja, adalah ﴾ فَإِنَّهُۥ رِجۡسٌ ﴿ "karena sesungguhnya semua itu kotor." Ini adalah kriteria yang mencakup segala yang diharamkan karena semua perkara yang diharamkan adalah kotor lagi buruk. Ia termasuk perkara-perkara yang kotor lagi buruk yang diharamkan atas hamba-hambaNya demi melin-dungi mereka dan memuliakan mereka agar tidak berinteraksi dengan sesuatu yang buruk lagi kotor, dan perincian yang kotor yang diharamkan adalah diambil dari sunnah, karena ia menafsir-kan al-Qur`an dan menjelaskan maksud darinya. Jika Allah tidak mengharamkan makanan kecuali sesuatu yang telah disebutkan, dan pengharaman hanya bersumber kepada sya-riat Allah, maka hal itu menunjukkan bahwa orang-orang musyrik yang mengharamkan sesuatu yang Allah rizkikan kepada mereka adalah pelaku kebohongan atas nama Allah dan menisbatkan se-suatu kepadaNya secara dusta. Ayat ini akan mengandung beberapa kemungkinan kuat jika Allah tidak menyebutkan babi di dalamnya, hal tersebut disebab-kan bahwa konteksnya adalah bantahan pendapat orang-orang musyrik yang telah disinggung di atas di mana mereka mengharam-kan apa yang dihalalkan oleh Allah dan kelancangan mereka da-lam memasuki pembahasan itu sesuai dengan godaan hawa nafsu mereka, dan itu pada binatang ternak secara khusus, yang mana dari binatang ternak itu tidak ada yang haram kecuali apa yang disebutkan di dalam ayat yaitu bangkai dan apa yang disembelih bukan karena Allah. Sedangkan selain itu maka ia adalah halal. Mungkin disinggungnya babi di sini berdasarkan kemungkinan ini, bahwa sebagian orang-orang bodoh mungkin memasukkannya ke dalam binatang ternak, bahwa ia adalah salah satu jenis kambing sebagaimana hal itu dikira oleh sebagian orang-orang Nasrani dan orang-orang yang seperti mereka, lalu mereka mengembangkannya sebagaimana menernakkan binatang ternak, menghalalkannya dan tidak membedakannya dengan ternak.
(146) Semua yang diharamkan atas umat ini adalah sebagai penjaga dan perlindungan. Adapun apa yang diharamkan atas Ahli Kitab, maka sebagian darinya adalah baik, akan tetapi ia diharam-kan atas mereka sebagai hukuman atas mereka. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَعَلَى ٱلَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمۡنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٖۖ ﴿ "Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku." Hal itu seperti unta dan yang sejenisnya, dan Kami haramkan sebagian dari bagian sapi dan kambing yaitu lemaknya, walaupun bukan seluruh lemak, akan tetapi hanya lemak bokong dan lemak tipis yang ada di usus. Oleh karena itu, ada pengecualian lemak yang halal darinya. FirmanNya, ﴾ إِلَّا مَا حَمَلَتۡ ظُهُورُهُمَآ أَوِ ٱلۡحَوَايَآ ﴿ "Selain lemak yang me-lekat di punggung keduanya atau yang di perut besar." Maksudnya, lemak yang melilit usus, ﴾ أَوۡ مَا ٱخۡتَلَطَ بِعَظۡمٖۚ ذَٰلِكَ ﴿ "atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah" pengharaman atas orang-orang Yahudi. ﴾ جَزَيۡنَٰهُم بِبَغۡيِهِمۡۖ ﴿ "Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka." Maksudnya, karena kezhaliman dan pelanggaran mereka terha-dap hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hambaNya, maka Allah mengharamkan semua ini sebagai balasan dan hukuman atas me-reka. ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami adalah Mahabenar" dalam segala yang Kami katakan, Kami perbuat, dan Kami putuskan. Siapakah yang lebih benar pembicaraannya daripada Allah? Sia-pakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?
Al-An'am 6:146
"Katakanlah, 'Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang di-wahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak meng-inginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguh-nya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku, dan dari sapi dan domba. Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung kedua-nya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka, dan sesungguhnya Kami adalah Mahabenar." (Al-An'am: 145-146).
(145) Manakala Allah mencela orang-orang musyrik atas tindakan mereka yang mengharamkan yang halal, lalu mereka menisbatkan itu kepada Allah, dan Allah membatalkan ucapan mereka, maka Allah memerintahkan RasulNya untuk menerang-kan sesuatu yang diharamkan oleh Allah kepada mereka agar mereka mengetahui bahwa sesuatu yang selain itu adalah halal. Siapa yang menisbatkan pengharamannya kepada Allah, maka dia adalah pendusta dan pembual, karena pengharaman tidak akan terjadi kecuali berasal dari sisi Allah melalui lisan RasulNya, dan Dia telah berfirman kepada RasulNya, ﴾ قُل لَّآ أَجِدُ فِي مَآ أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٖ ﴿ "Katakanlah, 'Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan ke-padaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya'." Maksudnya, diharamkan "memakannya" tanpa melihat kepada diharamkan atau tidak diharamkan "pemanfaatan lain selain me-makannya." ﴾ إِلَّآ أَن يَكُونَ مَيۡتَةً ﴿ "Kecuali kalau makanan itu bangkai." Bangkai adalah binatang yang mati tanpa disembelih secara syar'i, sesungguhnya ia tidak halal sebagaimana Firman Allah, ﴾ حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ ﴿ "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, dan daging babi." (Al-Ma`idah: 3). ﴾ أَوۡ دَمٗا مَّسۡفُوحًا ﴿ "Atau darah yang mengalir." Yaitu darah yang keluar dari binatang sembelihan pada waktu ia disembelih. Ia adalah darah yang jika tertahan di dalam tubuh, maka ia membahayakan. Jika ia keluar maka bahaya "makan dagingnya" telah lenyap. Mahfum lafazh ini adalah bahwa darah yang tersisa di dalam daging dan urat setelah penyembelihan adalah halal lagi suci. ﴾ أَوۡ لَحۡمَ خِنزِيرٖ فَإِنَّهُۥ رِجۡسٌ ﴿ "Atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor." Maksudnya, tiga perkara ini adalah kotor yakni buruk, na-jis lagi membahayakan. Allah mengharamkannya karena kasih sayangNya kepadamu dan demi menyucikanmu dari perbuatan kotor. ﴾ أَوۡ ﴿ "Atau" binatang itu adalah ﴾ فِسۡقًا أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦۚ ﴿ "binatang yang disembelih atas nama selain Allah." Maksudnya, kecuali jika sembelihan itu disembelih untuk selain Allah berupa berhala-berhala dan sesembahan-sesembahan yang dipuja oleh orang-orang musyrik, karena ia termasuk kefasikan yang merupakan penyim-pangan dari ketaatan kepada Allah kepada kemaksiatan kepadaNya. Perkara-perkara yang diharamkan ini (walaupun ia diharamkan) akan tetapi bagi siapa yang dalam kondisi terpaksa, maksudnya keterpaksaan dan kebutuhan mendesaknya untuk makan sesuatu darinya yang mana dia tidak lagi memiliki sesuatu yang halal, dan dia khawatir mati, ﴾ غَيۡرَ بَاغٖ وَلَا عَادٖ ﴿ "sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas." Maksudnya, dia tidak ingin me-makannya jika tidak dalam kondisi darurat dan tidak pula melebihi batas dengan makan melampaui batas apa yang diperlukan, ﴾ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Maksudnya, Allah memaafkan orang yang dalam kondisi tersebut. Para ulama berbeda pendapat tentang pembatasan yang disebutkan dalam ayat ini meskipun ada perkara-perkara lain selainnya yang diharamkan dan tidak disebutkan padanya seperti binatang buas, burung pemilik cakar dan sebagainya. Sebagian ulama menyatakan bahwa ayat ini turun sebelum pengharaman selainnya yang lebih dari itu, maka pembatasan yang disebutkan di dalam ayat ini tidak menafikan pengharaman yang hadir setelah itu, karena ia belum ada dalam sesuatu yang diwahyukan kepada-nya pada waktu itu. Yang lain berpendapat bahwa ayat ini mencakup seluruh perkara-perkara yang diharamkan, sebagian darinya disebutkan secara jelas sedangkan yang lain diambil dari makna dan keumum-an illat, karena Firman Allah yang menjelaskan illat bangkai, darah dan daging babi atau yang terakhir saja, adalah ﴾ فَإِنَّهُۥ رِجۡسٌ ﴿ "karena sesungguhnya semua itu kotor." Ini adalah kriteria yang mencakup segala yang diharamkan karena semua perkara yang diharamkan adalah kotor lagi buruk. Ia termasuk perkara-perkara yang kotor lagi buruk yang diharamkan atas hamba-hambaNya demi melin-dungi mereka dan memuliakan mereka agar tidak berinteraksi dengan sesuatu yang buruk lagi kotor, dan perincian yang kotor yang diharamkan adalah diambil dari sunnah, karena ia menafsir-kan al-Qur`an dan menjelaskan maksud darinya. Jika Allah tidak mengharamkan makanan kecuali sesuatu yang telah disebutkan, dan pengharaman hanya bersumber kepada sya-riat Allah, maka hal itu menunjukkan bahwa orang-orang musyrik yang mengharamkan sesuatu yang Allah rizkikan kepada mereka adalah pelaku kebohongan atas nama Allah dan menisbatkan se-suatu kepadaNya secara dusta. Ayat ini akan mengandung beberapa kemungkinan kuat jika Allah tidak menyebutkan babi di dalamnya, hal tersebut disebab-kan bahwa konteksnya adalah bantahan pendapat orang-orang musyrik yang telah disinggung di atas di mana mereka mengharam-kan apa yang dihalalkan oleh Allah dan kelancangan mereka da-lam memasuki pembahasan itu sesuai dengan godaan hawa nafsu mereka, dan itu pada binatang ternak secara khusus, yang mana dari binatang ternak itu tidak ada yang haram kecuali apa yang disebutkan di dalam ayat yaitu bangkai dan apa yang disembelih bukan karena Allah. Sedangkan selain itu maka ia adalah halal. Mungkin disinggungnya babi di sini berdasarkan kemungkinan ini, bahwa sebagian orang-orang bodoh mungkin memasukkannya ke dalam binatang ternak, bahwa ia adalah salah satu jenis kambing sebagaimana hal itu dikira oleh sebagian orang-orang Nasrani dan orang-orang yang seperti mereka, lalu mereka mengembangkannya sebagaimana menernakkan binatang ternak, menghalalkannya dan tidak membedakannya dengan ternak.
(146) Semua yang diharamkan atas umat ini adalah sebagai penjaga dan perlindungan. Adapun apa yang diharamkan atas Ahli Kitab, maka sebagian darinya adalah baik, akan tetapi ia diharam-kan atas mereka sebagai hukuman atas mereka. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَعَلَى ٱلَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمۡنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٖۖ ﴿ "Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku." Hal itu seperti unta dan yang sejenisnya, dan Kami haramkan sebagian dari bagian sapi dan kambing yaitu lemaknya, walaupun bukan seluruh lemak, akan tetapi hanya lemak bokong dan lemak tipis yang ada di usus. Oleh karena itu, ada pengecualian lemak yang halal darinya. FirmanNya, ﴾ إِلَّا مَا حَمَلَتۡ ظُهُورُهُمَآ أَوِ ٱلۡحَوَايَآ ﴿ "Selain lemak yang me-lekat di punggung keduanya atau yang di perut besar." Maksudnya, lemak yang melilit usus, ﴾ أَوۡ مَا ٱخۡتَلَطَ بِعَظۡمٖۚ ذَٰلِكَ ﴿ "atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah" pengharaman atas orang-orang Yahudi. ﴾ جَزَيۡنَٰهُم بِبَغۡيِهِمۡۖ ﴿ "Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka." Maksudnya, karena kezhaliman dan pelanggaran mereka terha-dap hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hambaNya, maka Allah mengharamkan semua ini sebagai balasan dan hukuman atas me-reka. ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami adalah Mahabenar" dalam segala yang Kami katakan, Kami perbuat, dan Kami putuskan. Siapakah yang lebih benar pembicaraannya daripada Allah? Sia-pakah yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?
Al-An'am 6:147
"Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, 'Tuhan-mu mempunyai rahmat yang luas, dan siksaNya tidak dapat dito-lak dari kaum yang berdosa'." (Al-An'am: 147).
(147) Jika orang-orang musyrik itu mendustakanmu, maka teruslah dalam dakwah dengan targhib dan tarhib (anjuran dan ancaman). Katakan kepada mereka bahwa Allah, ﴾ ذُو رَحۡمَةٖ وَٰسِعَةٖ ﴿ "mem-punyai rahmat yang luas," yakni, umum, yang meliputi seluruh makhluk, maka bersegeralah kepada rahmatNya dengan sebab-sebabnya di mana yang terpenting dan yang menjadi pijakannya adalah membenarkan syariat yang dibawa oleh Muhammad.﴾ وَلَا يُرَدُّ بَأۡسُهُۥ عَنِ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Dan siksaNya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa," yakni, orang-orang dengan dosa dan kejahatan yang me-numpuk. Waspadalah terhadap dosa-dosa yang mengantarkan kepada azab Allah, di mana dosa paling besar dan yang menjadi kepalanya adalah mendustakan Muhammad.
Al-An'am 6:148
"Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan menga-takan, 'Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukanNya dan tidak (pula) kami mengha-ramkan sesuatu apa pun.' Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, 'Adakah kamu mempunyai suatu pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya ke-pada kami?' Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta. Katakanlah, 'Allah mem-punyai hujjah yang jelas lagi kuat', maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya." (Al-An'am: 148-149).
(148) Ini adalah pemberitahuan dari Allah bahwa orang-orang musyrik akan berdalil kepada Qadha` dan Qadar atas ke-syirikan mereka dan pengharaman mereka terhadap sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, mereka menjadikan kehendak Allah yang meliputi segala sesuatu, baik yang baik maupun yang buruk seba-gai dalil bagi mereka untuk menepis celaan yang mengarah kepada mereka, mereka telah mengatakan sesuatu yang Allah nyatakan bahwa mereka akan mengatakannya sebagaimana FirmanNya dalam ayat lain, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا عَبَدۡنَا مِن دُونِهِۦ ﴿ "Dan berkatalah orang-orang musyrik, 'Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia...'" (An-Nahl: 35). Allah memberitahukan bahwa dalil ini selalu digunakan oleh umat-umat yang mendustakan para Rasul untuk menolak dakwah mereka, padahal dalil ini sama sekali tidak menolong dan membantu mereka. Begitulah mereka, sampai akhirnya Allah membinasakan mereka dan menimpakan azabNya. Seandainya ia merupakan dalil yang benar, niscaya dalil itu melindungi mereka dari azab, dan niscaya Allah tidak menurunkan azabNya, karena azabNya hanya akan menimpa orang-orang yang berhak mene-rimanya. Dari sini diketahui bahwa berdalil kepada Qadha` dan Qadar atas kekufuran dan kemaksiatan adalah dalil yang rusak dan syubhat yang tidak laku ditinjau dari berbagai segi. Di antaranya: Allah telah menyatakan bahwa azab telah me-nimpa mereka, seandainya ia adalah dalil yang benar, maka hal itu tidak akan terjadi. Di antaranya: Dalil itu haruslah dalil yang berpijak kepada ilmu dan bukti. Adapun jika ia hanya berpijak kepada dugaan dan prasangka belaka yang tidak berguna sedikit pun di hadapan kebe-naran, maka ia adalah dalil yang batil. Oleh karenanya, Dia berfir-man, ﴾ هَلۡ عِندَكُم مِّنۡ عِلۡمٖ فَتُخۡرِجُوهُ لَنَآۖ ﴿ "Adakah kamu memiliki suatu pengeta-huan sehingga kamu dapat mengemukakannya kepada kami." Jika mereka memiliki ilmu -sementara mereka adalah musuh yang keras- niscaya mereka akan mengeluarkannya. Kenyataannya mereka tidak me-ngeluarkannya. Ini menunjukkan bahwa mereka memang tidak memiliki ilmu. ﴾ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَخۡرُصُونَ ﴿ "Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta." Siapa yang melandaskan dalil-dalilnya di atas dugaan dan prasangka, maka dia adalah orang yang mengada-ada lagi merugi. Bagaimana jika dia melandaskannya kepada kedengkian, kebencian, penging-karan, dan kerusakan?
(149) Di antaranya adalah bahwa hujjah yang jelas lagi kuat adalah milik Allah yang tidak memberi peluang bagi siapa pun untuk beralasan, di mana para Nabi, para Rasul, kitab-kitab ilahiyah, hadits-hadits Nabi, akal yang benar, fitrah yang lurus dan akhlak yang terpuji bersepakat di atasnya. Dari sini diketahui bahwa semua yang menyelisihi ayat yang tegas ini adalah batil karena lawan kebenaran tidak lain adalah kebatilan. Di antaranya adalah bahwa Allah memberi makhluk kemam-puan dan keinginan yang dengannya dia mampu melakukan ke-wajiban yang dibebankan kepadanya. Allah tidak mewajibkan sesuatu kepada seseorang yang tidak mampu dia tunaikan, dan Allah juga tidak mengharamkan sesuatu yang tidak mampu dia tinggalkan. Maka setelah ini berdalil kepada Qadha` dan Qadar adalah kezhaliman murni dan pengingkaran asal. Di antaranya adalah bahwa Allah tidak memaksa hamba-hamba atas perbuatannya (jabariyah), akan tetapi Dia menjadikan perbuatannya mengikuti keinginannya. Jika mereka mau maka mereka lakukan, jika mereka mau, mereka tinggalkan. Ini adalah perkara nyata, yang mengingkarinya hanyalah orang yang som-bong yang mengingkari sesuatu yang nyata. Semua orang membe-dakan antara gerakan suka rela dengan gerakan terpaksa meskipun semuanya termasuk dalam kehendak dan keinginan Allah. Di antaranya adalah bahwa orang-orang yang berhujjah dengan Qadha` dan Qadar, maka mereka sendiri memiliki kontradiksi. Mereka tidak mungkin menerapkan hujjah mereka untuk seluruh kondisi. Seandainya ada orang yang berbuat buruk kepadanya dengan memukulnya atau mengambil hartanya lalu dia berdalil kepada Qadha` dan Qadar, niscaya mereka tidak akan menerima-nya, dan mereka akan marah besar. Benar-benar aneh, bagaimana mungkin dalam bermaksiat kepada Allah mereka berdalil kepada Qadha` dan Qadar sementara jika dalil yang sama digunakan untuk sesuatu yang membuat mereka marah, maka mereka tidak mene-rimanya? Di antaranya adalah bahwa berdalil kepada Qadha` dan Qadar bukanlah target, mereka mengetahui bahwa ia bukanlah dalil, yang mereka targetkan adalah penolakan terhadap kebenar-an. Mereka memandang kebenaran sebagai penyerang berbahaya, maka mereka harus membendungnya dengan segala sesuatu yang terlintas di benak mereka (walaupun mereka mengetahui bahwa ia adalah salah)[67].
Al-An'am 6:149
"Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan menga-takan, 'Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukanNya dan tidak (pula) kami mengha-ramkan sesuatu apa pun.' Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, 'Adakah kamu mempunyai suatu pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya ke-pada kami?' Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta. Katakanlah, 'Allah mem-punyai hujjah yang jelas lagi kuat', maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya." (Al-An'am: 148-149).
(148) Ini adalah pemberitahuan dari Allah bahwa orang-orang musyrik akan berdalil kepada Qadha` dan Qadar atas ke-syirikan mereka dan pengharaman mereka terhadap sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, mereka menjadikan kehendak Allah yang meliputi segala sesuatu, baik yang baik maupun yang buruk seba-gai dalil bagi mereka untuk menepis celaan yang mengarah kepada mereka, mereka telah mengatakan sesuatu yang Allah nyatakan bahwa mereka akan mengatakannya sebagaimana FirmanNya dalam ayat lain, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا عَبَدۡنَا مِن دُونِهِۦ ﴿ "Dan berkatalah orang-orang musyrik, 'Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia...'" (An-Nahl: 35). Allah memberitahukan bahwa dalil ini selalu digunakan oleh umat-umat yang mendustakan para Rasul untuk menolak dakwah mereka, padahal dalil ini sama sekali tidak menolong dan membantu mereka. Begitulah mereka, sampai akhirnya Allah membinasakan mereka dan menimpakan azabNya. Seandainya ia merupakan dalil yang benar, niscaya dalil itu melindungi mereka dari azab, dan niscaya Allah tidak menurunkan azabNya, karena azabNya hanya akan menimpa orang-orang yang berhak mene-rimanya. Dari sini diketahui bahwa berdalil kepada Qadha` dan Qadar atas kekufuran dan kemaksiatan adalah dalil yang rusak dan syubhat yang tidak laku ditinjau dari berbagai segi. Di antaranya: Allah telah menyatakan bahwa azab telah me-nimpa mereka, seandainya ia adalah dalil yang benar, maka hal itu tidak akan terjadi. Di antaranya: Dalil itu haruslah dalil yang berpijak kepada ilmu dan bukti. Adapun jika ia hanya berpijak kepada dugaan dan prasangka belaka yang tidak berguna sedikit pun di hadapan kebe-naran, maka ia adalah dalil yang batil. Oleh karenanya, Dia berfir-man, ﴾ هَلۡ عِندَكُم مِّنۡ عِلۡمٖ فَتُخۡرِجُوهُ لَنَآۖ ﴿ "Adakah kamu memiliki suatu pengeta-huan sehingga kamu dapat mengemukakannya kepada kami." Jika mereka memiliki ilmu -sementara mereka adalah musuh yang keras- niscaya mereka akan mengeluarkannya. Kenyataannya mereka tidak me-ngeluarkannya. Ini menunjukkan bahwa mereka memang tidak memiliki ilmu. ﴾ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَخۡرُصُونَ ﴿ "Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta." Siapa yang melandaskan dalil-dalilnya di atas dugaan dan prasangka, maka dia adalah orang yang mengada-ada lagi merugi. Bagaimana jika dia melandaskannya kepada kedengkian, kebencian, penging-karan, dan kerusakan?
(149) Di antaranya adalah bahwa hujjah yang jelas lagi kuat adalah milik Allah yang tidak memberi peluang bagi siapa pun untuk beralasan, di mana para Nabi, para Rasul, kitab-kitab ilahiyah, hadits-hadits Nabi, akal yang benar, fitrah yang lurus dan akhlak yang terpuji bersepakat di atasnya. Dari sini diketahui bahwa semua yang menyelisihi ayat yang tegas ini adalah batil karena lawan kebenaran tidak lain adalah kebatilan. Di antaranya adalah bahwa Allah memberi makhluk kemam-puan dan keinginan yang dengannya dia mampu melakukan ke-wajiban yang dibebankan kepadanya. Allah tidak mewajibkan sesuatu kepada seseorang yang tidak mampu dia tunaikan, dan Allah juga tidak mengharamkan sesuatu yang tidak mampu dia tinggalkan. Maka setelah ini berdalil kepada Qadha` dan Qadar adalah kezhaliman murni dan pengingkaran asal. Di antaranya adalah bahwa Allah tidak memaksa hamba-hamba atas perbuatannya (jabariyah), akan tetapi Dia menjadikan perbuatannya mengikuti keinginannya. Jika mereka mau maka mereka lakukan, jika mereka mau, mereka tinggalkan. Ini adalah perkara nyata, yang mengingkarinya hanyalah orang yang som-bong yang mengingkari sesuatu yang nyata. Semua orang membe-dakan antara gerakan suka rela dengan gerakan terpaksa meskipun semuanya termasuk dalam kehendak dan keinginan Allah. Di antaranya adalah bahwa orang-orang yang berhujjah dengan Qadha` dan Qadar, maka mereka sendiri memiliki kontradiksi. Mereka tidak mungkin menerapkan hujjah mereka untuk seluruh kondisi. Seandainya ada orang yang berbuat buruk kepadanya dengan memukulnya atau mengambil hartanya lalu dia berdalil kepada Qadha` dan Qadar, niscaya mereka tidak akan menerima-nya, dan mereka akan marah besar. Benar-benar aneh, bagaimana mungkin dalam bermaksiat kepada Allah mereka berdalil kepada Qadha` dan Qadar sementara jika dalil yang sama digunakan untuk sesuatu yang membuat mereka marah, maka mereka tidak mene-rimanya? Di antaranya adalah bahwa berdalil kepada Qadha` dan Qadar bukanlah target, mereka mengetahui bahwa ia bukanlah dalil, yang mereka targetkan adalah penolakan terhadap kebenar-an. Mereka memandang kebenaran sebagai penyerang berbahaya, maka mereka harus membendungnya dengan segala sesuatu yang terlintas di benak mereka (walaupun mereka mengetahui bahwa ia adalah salah)[67].
Al-An'am 6:150
"Katakanlah, 'Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makan-an yang kamu) haramkan ini.' Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang men-dustakan ayat-ayat Kami dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Tuhan mereka." (Al-An'am: 150).
(150) Katakanlah kepada orang-orang yang mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah dan menisbatkannya kepada Allah, "Datangkanlah saksi-saksimu yang memberi kesaksian bahwa Allah mengharamkan ini?" Jika ucapan ini disodorkan kepada mereka, maka mereka berada di antara dua perkara: Bisa jadi mereka tidak menghadirkan seorang pun yang bersaksi atas itu. Sehingga klaim mereka adalah batil yang tak didukung dengan saksi dan bukti. Bisa jadi mereka mendatangkan saksi yang bersaksi untuk mereka dalam perkara ini, dan tidak mungkin ada yang memberi kesaksian dalam hal ini kecuali pendusta lagi pendosa yang kesaksiannya tidak diterima. Perkara ini bukan termasuk perkara yang mungkin ditetapkan dengan kesaksian orang yang adil. Oleh karena itu, Allah melarang NabiNya dan para pengikutnya dari kesaksian ini. Dia berfirman, ﴾ فَإِن شَهِدُواْ فَلَا تَشۡهَدۡ مَعَهُمۡۚ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَهُم بِرَبِّهِمۡ يَعۡدِلُونَ ﴿ "Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Tuhan mereka." Maksudnya, mereka menyamakan Allah dengan selainNya dari sesembahan-sesembah-an dan sekutu-sekutu. Jika mereka tidak beriman kepada Hari Akhir, tidak bertauhid kepada Allah, maka keinginan mereka pun akan sama dengan akidah mereka, ia berkisar di antara kesyirikan dan pendustaan terhadap kebenaran. Maka sudah selayaknya kalau Allah melarang makhlukNya yang terpilih untuk mengikuti hawa nafsu seperti ini dan memberi kesaksian bersama para pendukungnya. Dari sini di-ketahui bahwa pengharaman mereka terhadap apa yang dihalal-kan oleh Allah adalah berasal dari hawa nafsu yang menyesatkan.
Al-An'am 6:151
"Katakanlah, 'Marilah kubacakan sesuatu yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutu-kan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (mem-bunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.' Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat(mu), dan penuhi-lah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu meng-ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (Al-An'am: 151-153).
(151) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada orang-orang yang mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, ﴾ تَعَالَوۡاْ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Marilah kubacakan sesuatu yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu." Dengan pengharaman yang bersifat umum, menyeluruh untuk semua orang, mencakup seluruh yang diharamkan, baik itu makanan, minuman, ucapan, dan perbuatan. ﴾ أَلَّا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـٔٗاۖ ﴿ "Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu." Tidak banyak, tidak pula sedikit. Hakikat syirik kepada Allah adalah disembahnya makhluk sebagaimana Allah disembah atau dia diagungkan sebagaimana Allah diagungkan atau dia diberi sebagian dari keistimewaan ru-bubiyah dan uluhiyah. Jika seorang hamba meninggalkan seluruh kesyirikan, maka dia menjadi orang yang bertauhid dan ikhlas ke-pada Allah dalam seluruh kondisinya. Ini adalah hak Allah atas hamba-hambaNya yaitu hendaknya mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Kemudian Allah memulai dengan hak paling kuat setelah hakNya. Dia berfirman, ﴾ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗاۖ ﴿ "Berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak," de-ngan ucapan-ucapan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang mulia. Semua perkataan dan perbuatan yang bermanfaat dan mem-bahagiakan kedua orang tua, maka ia termasuk berbuat baik kepada keduanya. Jika ada perbuatan baik, maka hilanglah kedurhakaan. ﴾ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُم ﴿ "Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu." Laki-laki dan perempuan ﴾ مِّنۡ إِمۡلَٰقٖ ﴿ "karena takut kemiskinan." Mak-sudnya, disebabkan oleh kesulitan hidup dan kesempitan rizki sebagaimana hal itu terdapat pada masa jahiliyah yang keras lagi zhalim. Jika mereka dilarang membunuhnya dalam kondisi tersebut, sementara mereka adalah anaknya, maka membunuh mereka tanpa alasan atau membunuh anak orang lain adalah lebih layak dan lebih pantas untuk dilarang. ﴾ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكُمۡ وَإِيَّاهُمۡۖ ﴿ "Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka." Maksudnya, Kami menjamin semua rizki. Bukan kamu yang memberi rizki kepada anakmu bahkan bukan kamu yang memberi rizki kepada dirimu. Mereka tidak mem-bawamu kepada kesulitan. ﴾ وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلۡفَوَٰحِشَ ﴿ "Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-per-buatan yang keji," yaitu dosa-dosa besar yang buruk, ﴾ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَۖ ﴿ "baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi." Mak-sudnya, janganlah kamu mendekati perbuatan keji yang nampak darinya dan yang samar atau yang berkaitan dengan yang lahir dan yang batin. Larangan mendekati perbuatan keji adalah lebih mendalam daripada larangan melakukannya karena ia meliputi larangan terhadap pengantarnya dan sarananya yang menjadi jembatan kepadanya. ﴾ وَلَا تَقۡتُلُواْ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah." Yaitu jiwa yang Islam, laki-laki dan wanita, besar dan kecil, orang baik dan orang fasik, dan jiwa orang kafir yang mendapatkan suaka perjanjian dan perdamaian. ﴾ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Me-lainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar." Seperti pezina muhshan, pembunuh jiwa dengan sengaja dan orang yang murtad yang me-nyelisihi jamaah. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Demikian itu," yakni yang disebutkan, ﴾ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya)." Maksudnya, kamu memahami wasiat dari Allah kemudian kamu menjaganya, memeliharanya, dan melaku-kannya. Ayat ini menunjukkan bahwa pemahaman seorang hamba bergantung kepada pelaksanaannya terhadap perintah Allah.
(152) ﴾ وَلَا تَقۡرَبُواْ مَالَ ٱلۡيَتِيمِ ﴿ "Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim," dengan memakannya atau menukarnya dengan lan-dasan berat sebelah atau mengambil tanpa alasan, ﴾ إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ﴿ "kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat." Maksudnya, dengan cara yang dengannya harta anak yatim menjadi baik dan mereka meng-ambil manfaat darinya. Ini menunjukkan tidak bolehnya mendekati dan mengambil tindakan padanya dengan cara yang merugikan anak yatim atau dengan cara yang tidak merugikan dan tidak menguntungkan. ﴾ حَتَّىٰ يَبۡلُغَ ﴿ "Hingga ia sampai," maksudnya, anak yatim sampai ﴾ أَشُدَّهُۥۚ ﴿ "dewasa." Yakni sampai ia dewasa, mengerti, dan mengetahui tindakan yang baik. Jika dia sudah mencapai usia dewasa, maka pada saat itu hartanya diserahkan kepadanya, dan dia sendirilah yang bertindak menurut pertimbangannya. Ayat ini mengandung petunjuk bahwa anak yatim tidak boleh bertindak sendiri pada hartanya, dan bahwa walinyalah yang mengurusi har-tanya dengan cara yang lebih baik, dan bahwa ketentuan ini ber-laku sampai dia mencapai usia dewasa. ﴾ وَأَوۡفُواْ ٱلۡكَيۡلَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Dan sempurnakanlah takaran dan tim-bangan dengan adil," dengan amanat yang sempurna. Jika kamu telah bersungguh-sungguh, maka ﴾ لَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۖ ﴿ "Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang pun melainkan sekedar kesanggupan-nya." Maksudnya, berdasarkan kemampuannya tanpa menyulitkan-nya. Barangsiapa telah bersungguh-sungguh memenuhi takaran dan timbangan kemudian terjadi kekurangan tanpa disengaja dan tanpa diketahuinya, maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dengan ayat ini dan ayat yang sepertinya para ulama ushul fikih berdalil bahwa Allah tidak membebani sesuatu kepada seseorang yang tidak mampu dilakukannya, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dalam perintahNya dan melakukan sesuatu yang dia mampu melakukannya, maka tiada dosa atasnya pada selain itu. ﴾ وَإِذَا قُلۡتُمۡ ﴿ "Dan apabila kamu berkata" suatu perkataan yang dengannya kamu menilai manusia dan memutuskan perkara me-reka serta kamu mengkritik pendapat dan keadaan, ﴾ فَٱعۡدِلُواْ ﴿ "maka hendaklah kamu berlaku adil" pada ucapanmu dengan menjunjung kejujuran pada orang yang kamu cintai dan pada orang yang kamu benci, obyektif tidak menyembunyikan apa yang semestinya di-jelaskan, karena kecenderungan negatif terhadap orang yang kamu benci dalam pembicaraan atau pendapatnya adalah termasuk kezhaliman yang dilarang. Akan tetapi jika seorang ulama berbi-cara tentang pendapat ahli bid'ah, yang wajib atasnya adalah mem-berikan hak kepada yang berhak. Hendaknya dia menjelaskan ke-benaran dan kebatilan yang ada padanya, menimbang kedekatan dan kejauhannya kepada kebenaran. Para fuqaha menyebutkan bahwa hakim wajib berlaku adil terhadap dua orang yang berseteru pada perhatian dan perkataan-nya. ﴾ وَبِعَهۡدِ ٱللَّهِ أَوۡفُواْۚ ﴿ "Dan penuhilah janji Allah." Ini meliputi perjanjian yang Dia ambil atas hamba-hambaNya dalam bentuk menunaikan hak-hakNya dengan sebaik-baiknya, dan meliputi pula perjanjian yang disepakati di antara manusia. Semuanya wajib dipenuhi dan haram membatalkan serta menelantarkannya. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," yakni hukum-hukum di atas ﴾ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat" hukum-hukum yang telah dijelaskan kepadamu, dan kamu menunaikan wasiat Allah kepadamu dengan sebaik-baiknya dan kamu mengetahui hikmah-hikmah dan hukum-hukum yang ada padanya.
(153) Manakala Allah menjelaskan perintah-perintah besar dan syariat-syariat yang penting maka Dia memberi isyarat kepada-nya dan kepada yang lebih umum darinya. Dia berfirman, ﴾ وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا ﴿ "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus." Maksudnya, hukum-hukum ini dan yang sejenis de-ngannya yang dijelaskan oleh Allah di dalam kitabNya dan Dia terangkan kepada hamba-hambaNya adalah jalan Allah yang meng-antarkan kepadaNya dan kepada rumah kemuliaanNya, dan jalan yang seimbang, mudah lagi singkat. ﴾ فَٱتَّبِعُوهُ ﴿ "Maka ikutilah ia," agar kamu beruntung dan menang, dan meraih impian dan kebahagiaan. ﴾ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)," yaitu jalan-jalan yang menyimpang dari jalan ini. ﴾ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ﴿ "Karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya." Maksud-nya, menyesatkanmu darinya dan memecahkanmu ke kanan dan ke kiri. Jika kamu telah tersesat dari jalan yang lurus, maka yang ada hanyalah jalan menuju Neraka Jahim. ﴾ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." Karena jika kamu menunaikan sesuatu yang telah dijelaskan oleh Allah kepadamu, baik dari sisi ilmu maupun dari sisi amal, maka kamu termasuk orang-orang yang bertakwa dan hamba Allah yang beruntung. Kata "jalan" disebut-kan dengan kata tunggal dan dinisbatkan kepada Allah karena ia adalah "jalan" yang satu, yang mengantarkan kepadaNya. Dan Allah adalah penolong bagi para peniti untuk menitinya.
Al-An'am 6:152
"Katakanlah, 'Marilah kubacakan sesuatu yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutu-kan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (mem-bunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.' Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat(mu), dan penuhi-lah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu meng-ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (Al-An'am: 151-153).
(151) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada orang-orang yang mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, ﴾ تَعَالَوۡاْ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Marilah kubacakan sesuatu yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu." Dengan pengharaman yang bersifat umum, menyeluruh untuk semua orang, mencakup seluruh yang diharamkan, baik itu makanan, minuman, ucapan, dan perbuatan. ﴾ أَلَّا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـٔٗاۖ ﴿ "Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu." Tidak banyak, tidak pula sedikit. Hakikat syirik kepada Allah adalah disembahnya makhluk sebagaimana Allah disembah atau dia diagungkan sebagaimana Allah diagungkan atau dia diberi sebagian dari keistimewaan ru-bubiyah dan uluhiyah. Jika seorang hamba meninggalkan seluruh kesyirikan, maka dia menjadi orang yang bertauhid dan ikhlas ke-pada Allah dalam seluruh kondisinya. Ini adalah hak Allah atas hamba-hambaNya yaitu hendaknya mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Kemudian Allah memulai dengan hak paling kuat setelah hakNya. Dia berfirman, ﴾ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗاۖ ﴿ "Berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak," de-ngan ucapan-ucapan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang mulia. Semua perkataan dan perbuatan yang bermanfaat dan mem-bahagiakan kedua orang tua, maka ia termasuk berbuat baik kepada keduanya. Jika ada perbuatan baik, maka hilanglah kedurhakaan. ﴾ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُم ﴿ "Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu." Laki-laki dan perempuan ﴾ مِّنۡ إِمۡلَٰقٖ ﴿ "karena takut kemiskinan." Mak-sudnya, disebabkan oleh kesulitan hidup dan kesempitan rizki sebagaimana hal itu terdapat pada masa jahiliyah yang keras lagi zhalim. Jika mereka dilarang membunuhnya dalam kondisi tersebut, sementara mereka adalah anaknya, maka membunuh mereka tanpa alasan atau membunuh anak orang lain adalah lebih layak dan lebih pantas untuk dilarang. ﴾ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكُمۡ وَإِيَّاهُمۡۖ ﴿ "Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka." Maksudnya, Kami menjamin semua rizki. Bukan kamu yang memberi rizki kepada anakmu bahkan bukan kamu yang memberi rizki kepada dirimu. Mereka tidak mem-bawamu kepada kesulitan. ﴾ وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلۡفَوَٰحِشَ ﴿ "Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-per-buatan yang keji," yaitu dosa-dosa besar yang buruk, ﴾ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَۖ ﴿ "baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi." Mak-sudnya, janganlah kamu mendekati perbuatan keji yang nampak darinya dan yang samar atau yang berkaitan dengan yang lahir dan yang batin. Larangan mendekati perbuatan keji adalah lebih mendalam daripada larangan melakukannya karena ia meliputi larangan terhadap pengantarnya dan sarananya yang menjadi jembatan kepadanya. ﴾ وَلَا تَقۡتُلُواْ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah." Yaitu jiwa yang Islam, laki-laki dan wanita, besar dan kecil, orang baik dan orang fasik, dan jiwa orang kafir yang mendapatkan suaka perjanjian dan perdamaian. ﴾ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Me-lainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar." Seperti pezina muhshan, pembunuh jiwa dengan sengaja dan orang yang murtad yang me-nyelisihi jamaah. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Demikian itu," yakni yang disebutkan, ﴾ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya)." Maksudnya, kamu memahami wasiat dari Allah kemudian kamu menjaganya, memeliharanya, dan melaku-kannya. Ayat ini menunjukkan bahwa pemahaman seorang hamba bergantung kepada pelaksanaannya terhadap perintah Allah.
(152) ﴾ وَلَا تَقۡرَبُواْ مَالَ ٱلۡيَتِيمِ ﴿ "Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim," dengan memakannya atau menukarnya dengan lan-dasan berat sebelah atau mengambil tanpa alasan, ﴾ إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ﴿ "kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat." Maksudnya, dengan cara yang dengannya harta anak yatim menjadi baik dan mereka meng-ambil manfaat darinya. Ini menunjukkan tidak bolehnya mendekati dan mengambil tindakan padanya dengan cara yang merugikan anak yatim atau dengan cara yang tidak merugikan dan tidak menguntungkan. ﴾ حَتَّىٰ يَبۡلُغَ ﴿ "Hingga ia sampai," maksudnya, anak yatim sampai ﴾ أَشُدَّهُۥۚ ﴿ "dewasa." Yakni sampai ia dewasa, mengerti, dan mengetahui tindakan yang baik. Jika dia sudah mencapai usia dewasa, maka pada saat itu hartanya diserahkan kepadanya, dan dia sendirilah yang bertindak menurut pertimbangannya. Ayat ini mengandung petunjuk bahwa anak yatim tidak boleh bertindak sendiri pada hartanya, dan bahwa walinyalah yang mengurusi har-tanya dengan cara yang lebih baik, dan bahwa ketentuan ini ber-laku sampai dia mencapai usia dewasa. ﴾ وَأَوۡفُواْ ٱلۡكَيۡلَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Dan sempurnakanlah takaran dan tim-bangan dengan adil," dengan amanat yang sempurna. Jika kamu telah bersungguh-sungguh, maka ﴾ لَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۖ ﴿ "Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang pun melainkan sekedar kesanggupan-nya." Maksudnya, berdasarkan kemampuannya tanpa menyulitkan-nya. Barangsiapa telah bersungguh-sungguh memenuhi takaran dan timbangan kemudian terjadi kekurangan tanpa disengaja dan tanpa diketahuinya, maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dengan ayat ini dan ayat yang sepertinya para ulama ushul fikih berdalil bahwa Allah tidak membebani sesuatu kepada seseorang yang tidak mampu dilakukannya, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dalam perintahNya dan melakukan sesuatu yang dia mampu melakukannya, maka tiada dosa atasnya pada selain itu. ﴾ وَإِذَا قُلۡتُمۡ ﴿ "Dan apabila kamu berkata" suatu perkataan yang dengannya kamu menilai manusia dan memutuskan perkara me-reka serta kamu mengkritik pendapat dan keadaan, ﴾ فَٱعۡدِلُواْ ﴿ "maka hendaklah kamu berlaku adil" pada ucapanmu dengan menjunjung kejujuran pada orang yang kamu cintai dan pada orang yang kamu benci, obyektif tidak menyembunyikan apa yang semestinya di-jelaskan, karena kecenderungan negatif terhadap orang yang kamu benci dalam pembicaraan atau pendapatnya adalah termasuk kezhaliman yang dilarang. Akan tetapi jika seorang ulama berbi-cara tentang pendapat ahli bid'ah, yang wajib atasnya adalah mem-berikan hak kepada yang berhak. Hendaknya dia menjelaskan ke-benaran dan kebatilan yang ada padanya, menimbang kedekatan dan kejauhannya kepada kebenaran. Para fuqaha menyebutkan bahwa hakim wajib berlaku adil terhadap dua orang yang berseteru pada perhatian dan perkataan-nya. ﴾ وَبِعَهۡدِ ٱللَّهِ أَوۡفُواْۚ ﴿ "Dan penuhilah janji Allah." Ini meliputi perjanjian yang Dia ambil atas hamba-hambaNya dalam bentuk menunaikan hak-hakNya dengan sebaik-baiknya, dan meliputi pula perjanjian yang disepakati di antara manusia. Semuanya wajib dipenuhi dan haram membatalkan serta menelantarkannya. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," yakni hukum-hukum di atas ﴾ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat" hukum-hukum yang telah dijelaskan kepadamu, dan kamu menunaikan wasiat Allah kepadamu dengan sebaik-baiknya dan kamu mengetahui hikmah-hikmah dan hukum-hukum yang ada padanya.
(153) Manakala Allah menjelaskan perintah-perintah besar dan syariat-syariat yang penting maka Dia memberi isyarat kepada-nya dan kepada yang lebih umum darinya. Dia berfirman, ﴾ وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا ﴿ "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus." Maksudnya, hukum-hukum ini dan yang sejenis de-ngannya yang dijelaskan oleh Allah di dalam kitabNya dan Dia terangkan kepada hamba-hambaNya adalah jalan Allah yang meng-antarkan kepadaNya dan kepada rumah kemuliaanNya, dan jalan yang seimbang, mudah lagi singkat. ﴾ فَٱتَّبِعُوهُ ﴿ "Maka ikutilah ia," agar kamu beruntung dan menang, dan meraih impian dan kebahagiaan. ﴾ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)," yaitu jalan-jalan yang menyimpang dari jalan ini. ﴾ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ﴿ "Karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya." Maksud-nya, menyesatkanmu darinya dan memecahkanmu ke kanan dan ke kiri. Jika kamu telah tersesat dari jalan yang lurus, maka yang ada hanyalah jalan menuju Neraka Jahim. ﴾ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." Karena jika kamu menunaikan sesuatu yang telah dijelaskan oleh Allah kepadamu, baik dari sisi ilmu maupun dari sisi amal, maka kamu termasuk orang-orang yang bertakwa dan hamba Allah yang beruntung. Kata "jalan" disebut-kan dengan kata tunggal dan dinisbatkan kepada Allah karena ia adalah "jalan" yang satu, yang mengantarkan kepadaNya. Dan Allah adalah penolong bagi para peniti untuk menitinya.
Al-An'am 6:153
"Katakanlah, 'Marilah kubacakan sesuatu yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutu-kan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (mem-bunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.' Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat(mu), dan penuhi-lah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu meng-ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (Al-An'am: 151-153).
(151) Allah berfirman kepada NabiNya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada orang-orang yang mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, ﴾ تَعَالَوۡاْ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Marilah kubacakan sesuatu yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu." Dengan pengharaman yang bersifat umum, menyeluruh untuk semua orang, mencakup seluruh yang diharamkan, baik itu makanan, minuman, ucapan, dan perbuatan. ﴾ أَلَّا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـٔٗاۖ ﴿ "Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu." Tidak banyak, tidak pula sedikit. Hakikat syirik kepada Allah adalah disembahnya makhluk sebagaimana Allah disembah atau dia diagungkan sebagaimana Allah diagungkan atau dia diberi sebagian dari keistimewaan ru-bubiyah dan uluhiyah. Jika seorang hamba meninggalkan seluruh kesyirikan, maka dia menjadi orang yang bertauhid dan ikhlas ke-pada Allah dalam seluruh kondisinya. Ini adalah hak Allah atas hamba-hambaNya yaitu hendaknya mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Kemudian Allah memulai dengan hak paling kuat setelah hakNya. Dia berfirman, ﴾ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗاۖ ﴿ "Berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak," de-ngan ucapan-ucapan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang mulia. Semua perkataan dan perbuatan yang bermanfaat dan mem-bahagiakan kedua orang tua, maka ia termasuk berbuat baik kepada keduanya. Jika ada perbuatan baik, maka hilanglah kedurhakaan. ﴾ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُم ﴿ "Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu." Laki-laki dan perempuan ﴾ مِّنۡ إِمۡلَٰقٖ ﴿ "karena takut kemiskinan." Mak-sudnya, disebabkan oleh kesulitan hidup dan kesempitan rizki sebagaimana hal itu terdapat pada masa jahiliyah yang keras lagi zhalim. Jika mereka dilarang membunuhnya dalam kondisi tersebut, sementara mereka adalah anaknya, maka membunuh mereka tanpa alasan atau membunuh anak orang lain adalah lebih layak dan lebih pantas untuk dilarang. ﴾ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكُمۡ وَإِيَّاهُمۡۖ ﴿ "Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka." Maksudnya, Kami menjamin semua rizki. Bukan kamu yang memberi rizki kepada anakmu bahkan bukan kamu yang memberi rizki kepada dirimu. Mereka tidak mem-bawamu kepada kesulitan. ﴾ وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلۡفَوَٰحِشَ ﴿ "Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-per-buatan yang keji," yaitu dosa-dosa besar yang buruk, ﴾ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَۖ ﴿ "baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi." Mak-sudnya, janganlah kamu mendekati perbuatan keji yang nampak darinya dan yang samar atau yang berkaitan dengan yang lahir dan yang batin. Larangan mendekati perbuatan keji adalah lebih mendalam daripada larangan melakukannya karena ia meliputi larangan terhadap pengantarnya dan sarananya yang menjadi jembatan kepadanya. ﴾ وَلَا تَقۡتُلُواْ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah." Yaitu jiwa yang Islam, laki-laki dan wanita, besar dan kecil, orang baik dan orang fasik, dan jiwa orang kafir yang mendapatkan suaka perjanjian dan perdamaian. ﴾ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Me-lainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar." Seperti pezina muhshan, pembunuh jiwa dengan sengaja dan orang yang murtad yang me-nyelisihi jamaah. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Demikian itu," yakni yang disebutkan, ﴾ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya)." Maksudnya, kamu memahami wasiat dari Allah kemudian kamu menjaganya, memeliharanya, dan melaku-kannya. Ayat ini menunjukkan bahwa pemahaman seorang hamba bergantung kepada pelaksanaannya terhadap perintah Allah.
(152) ﴾ وَلَا تَقۡرَبُواْ مَالَ ٱلۡيَتِيمِ ﴿ "Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim," dengan memakannya atau menukarnya dengan lan-dasan berat sebelah atau mengambil tanpa alasan, ﴾ إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ﴿ "kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat." Maksudnya, dengan cara yang dengannya harta anak yatim menjadi baik dan mereka meng-ambil manfaat darinya. Ini menunjukkan tidak bolehnya mendekati dan mengambil tindakan padanya dengan cara yang merugikan anak yatim atau dengan cara yang tidak merugikan dan tidak menguntungkan. ﴾ حَتَّىٰ يَبۡلُغَ ﴿ "Hingga ia sampai," maksudnya, anak yatim sampai ﴾ أَشُدَّهُۥۚ ﴿ "dewasa." Yakni sampai ia dewasa, mengerti, dan mengetahui tindakan yang baik. Jika dia sudah mencapai usia dewasa, maka pada saat itu hartanya diserahkan kepadanya, dan dia sendirilah yang bertindak menurut pertimbangannya. Ayat ini mengandung petunjuk bahwa anak yatim tidak boleh bertindak sendiri pada hartanya, dan bahwa walinyalah yang mengurusi har-tanya dengan cara yang lebih baik, dan bahwa ketentuan ini ber-laku sampai dia mencapai usia dewasa. ﴾ وَأَوۡفُواْ ٱلۡكَيۡلَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Dan sempurnakanlah takaran dan tim-bangan dengan adil," dengan amanat yang sempurna. Jika kamu telah bersungguh-sungguh, maka ﴾ لَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۖ ﴿ "Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang pun melainkan sekedar kesanggupan-nya." Maksudnya, berdasarkan kemampuannya tanpa menyulitkan-nya. Barangsiapa telah bersungguh-sungguh memenuhi takaran dan timbangan kemudian terjadi kekurangan tanpa disengaja dan tanpa diketahuinya, maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dengan ayat ini dan ayat yang sepertinya para ulama ushul fikih berdalil bahwa Allah tidak membebani sesuatu kepada seseorang yang tidak mampu dilakukannya, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dalam perintahNya dan melakukan sesuatu yang dia mampu melakukannya, maka tiada dosa atasnya pada selain itu. ﴾ وَإِذَا قُلۡتُمۡ ﴿ "Dan apabila kamu berkata" suatu perkataan yang dengannya kamu menilai manusia dan memutuskan perkara me-reka serta kamu mengkritik pendapat dan keadaan, ﴾ فَٱعۡدِلُواْ ﴿ "maka hendaklah kamu berlaku adil" pada ucapanmu dengan menjunjung kejujuran pada orang yang kamu cintai dan pada orang yang kamu benci, obyektif tidak menyembunyikan apa yang semestinya di-jelaskan, karena kecenderungan negatif terhadap orang yang kamu benci dalam pembicaraan atau pendapatnya adalah termasuk kezhaliman yang dilarang. Akan tetapi jika seorang ulama berbi-cara tentang pendapat ahli bid'ah, yang wajib atasnya adalah mem-berikan hak kepada yang berhak. Hendaknya dia menjelaskan ke-benaran dan kebatilan yang ada padanya, menimbang kedekatan dan kejauhannya kepada kebenaran. Para fuqaha menyebutkan bahwa hakim wajib berlaku adil terhadap dua orang yang berseteru pada perhatian dan perkataan-nya. ﴾ وَبِعَهۡدِ ٱللَّهِ أَوۡفُواْۚ ﴿ "Dan penuhilah janji Allah." Ini meliputi perjanjian yang Dia ambil atas hamba-hambaNya dalam bentuk menunaikan hak-hakNya dengan sebaik-baiknya, dan meliputi pula perjanjian yang disepakati di antara manusia. Semuanya wajib dipenuhi dan haram membatalkan serta menelantarkannya. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," yakni hukum-hukum di atas ﴾ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat" hukum-hukum yang telah dijelaskan kepadamu, dan kamu menunaikan wasiat Allah kepadamu dengan sebaik-baiknya dan kamu mengetahui hikmah-hikmah dan hukum-hukum yang ada padanya.
(153) Manakala Allah menjelaskan perintah-perintah besar dan syariat-syariat yang penting maka Dia memberi isyarat kepada-nya dan kepada yang lebih umum darinya. Dia berfirman, ﴾ وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا ﴿ "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus." Maksudnya, hukum-hukum ini dan yang sejenis de-ngannya yang dijelaskan oleh Allah di dalam kitabNya dan Dia terangkan kepada hamba-hambaNya adalah jalan Allah yang meng-antarkan kepadaNya dan kepada rumah kemuliaanNya, dan jalan yang seimbang, mudah lagi singkat. ﴾ فَٱتَّبِعُوهُ ﴿ "Maka ikutilah ia," agar kamu beruntung dan menang, dan meraih impian dan kebahagiaan. ﴾ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)," yaitu jalan-jalan yang menyimpang dari jalan ini. ﴾ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ﴿ "Karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya." Maksud-nya, menyesatkanmu darinya dan memecahkanmu ke kanan dan ke kiri. Jika kamu telah tersesat dari jalan yang lurus, maka yang ada hanyalah jalan menuju Neraka Jahim. ﴾ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." Karena jika kamu menunaikan sesuatu yang telah dijelaskan oleh Allah kepadamu, baik dari sisi ilmu maupun dari sisi amal, maka kamu termasuk orang-orang yang bertakwa dan hamba Allah yang beruntung. Kata "jalan" disebut-kan dengan kata tunggal dan dinisbatkan kepada Allah karena ia adalah "jalan" yang satu, yang mengantarkan kepadaNya. Dan Allah adalah penolong bagi para peniti untuk menitinya.
Al-An'am 6:154
"Kemudian Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka. Dan al-Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan, yang diberkati, maka ikutilah ia dan bertakwa-lah, agar kamu diberi rahmat. (Kami turunkan al-Qur`an itu) agar kamu (tidak) mengatakan bahwa kitab itu hanya diturunkan ke-pada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan sesuatu yang mereka baca.' Atau agar kamu (tidak) mengatakan, 'Sungguh jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka.' Sesungguhnya telah datang kepadamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling." (Al-An'am: 154-157).
(154) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" di sini tidak menunjukkan urutan waktu, karena waktu Musa mendahului waktu pembacaan Rasu-lullah, Muhammad ﷺ terhadap kitab ini, akan tetapi yang dimak-sud adalah urutan pemberitahuan. Allah memberitahukan bahwa Dia telah memberi ﴾ مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Al-Kitab kepada Musa," yaitu Taurat, ﴾ تَمَامًا ﴿ "untuk menyempurnakan" nikmatNya dan pelengkap kebaik-anNya ﴾ عَلَى ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ ﴿ "kepada orang-orang yang berbuat kebaikan," dari kalangan umat Musa. Karena Allah telah memberi nikmat kepada orang-orang yang berbuat baik di antara mereka dengan nikmat-nikmat yang tidak terhitung, di mana salah satu dari kesempurna-annya adalah diturunkannya Taurat kepada mereka, maka sem-purnalah nikmat Allah kepada mereka dan mereka wajib mensyu-kurinya. ﴾ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan untuk menjelaskan segala sesuatu," berupa halal, haram, perintah, larangan, akidah dan lain-lain, yang perinciannya diperlukan oleh mereka, ﴾ وَهُدٗى ﴿ "dan sebagai petunjuk." Maksudnya, memberi mereka petunjuk kepada kebaikan dan me-ngenalkan keburukan kepada mereka dalam perkara-perkara dasar dan cabang. ﴾ وَرَحۡمَةٗ ﴿ "Dan sebagai rahmat," dengannya mereka men-dapatkan kebahagiaan, rahmat dan kebaikan yang banyak. ﴾ لَّعَلَّهُم ﴿ "Agar mereka," dengan diturunkannya kitab dan penjelasan kepada mereka, ﴾ بِلِقَآءِ رَبِّهِمۡ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka." Karena ia meliputi dalil-dalil yang pasti tentang balasan amal dan kebangkitan, yang mengharuskan mereka beriman ke-pada pertemuan dengan Allah dan bersiap diri karenanya.
(155) ﴾ وَهَٰذَا ﴿ "Dan al-Qur`an itu," adalah al-Qur`an yang agung dan dzikir yang bijak ﴾ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ ﴿ "adalah kitab yang Kami turunkan, yang diberkati." Maksudnya, di dalamnya terdapat kebaik-an yang banyak dan ilmu yang melimpah. Darinyalah seluruh ilmu bersumber dan darinyalah seluruh keberkahan dikeluarkan. Tidak ada kebaikan kecuali ia (al-Qur`an) telah menyerukan dan mendo-rong kepadanya. Ia menyebutkan hikmah-hikmah dan kemaslahatan yang mendorong kepadanya. Tidak ada keburukan kecuali ia telah melarangnya, memperingatkannya dan menjelaskan sebab-sebab yang menghindarkannya dari melakukannya dan akibat buruknya. ﴾ فَٱتَّبِعُوهُ ﴿ "Maka ikutilah ia," pada apa yang diperintahkan dan dila-rang, bangunlah perkara-perkara agamamu, baik yang ushul maupun yang furu' di atasnya. ﴾ وَٱتَّقُواْ ﴿ "Dan bertakwalah" kepada Allah dan jangan menyelisihi perintahNya. ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "Agar kamu," jika meng-ikutinya ﴾ تُرۡحَمُونَ ﴿ "diberi rahmat." Penyebab terbesar mendapatkan rahmat Allah adalah mengikuti kitab ini dari segi ilmu dan peng-amalan.
(156) ﴾ أَن تَقُولُوٓاْ إِنَّمَآ أُنزِلَ ٱلۡكِتَٰبُ عَلَىٰ طَآئِفَتَيۡنِ مِن قَبۡلِنَا وَإِن كُنَّا عَن دِرَاسَتِهِمۡ لَغَٰفِلِينَ ﴿ "(Kami turunkan al-Qur`an itu) agar kamu (tidak) mengatakan bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca." Mak-sudnya, Kami turunkan kepadamu kitab yang penuh berkah ini secara pasti sebagai hujjah bagimu dan sebagai antisipasi bahwa kamu akan menyatakan bahwa kitab hanya diturunkan kepada dua golongan dari orang-orang sebelum kami yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani. ﴾ وَإِن كُنَّا عَن دِرَاسَتِهِمۡ لَغَٰفِلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca." Maksudnya, kamu mengata-kan, "Engkau belum menurunkan kitab kepada kami sedangkan kitab-kitab yang Engkau turunkan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka kami tidak memiliki pengetahuan dan ilmu tentang-nya." Maka Kami turunkan sebuah kitab kepadamu. Tiada kitab yang turun dari langit yang lebih komplit, lebih jelas, dan lebih terang darinya.
(157) ﴾ أَوۡ تَقُولُواْ لَوۡ أَنَّآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا ٱلۡكِتَٰبُ لَكُنَّآ أَهۡدَىٰ مِنۡهُمۡۚ ﴿ "Atau agar kamu (tidak) mengatakan, 'Sesungguhnya jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka'." Bisa jadi kamu beralasan tidak sampainya dasar petunjuk kepadamu dan bisa pula kamu beralasan bahwa petunjuk itu tidak lengkap dan tidak sempurna, maka dengan kitabmu ini terpenuhilah dasar petunjuk dan kesempurnaannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَقَدۡ جَآءَكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sungguh telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu." Ini adalah kata benda yang meliputi segala jenis, maka segala sesuatu yang menjelaskan kebenaran ter-masuk di dalamnya. ﴾ وَهُدٗى ﴿ "Dan petunjuk" dari kesesatan ﴾ وَرَحۡمَةٞۚ ﴿ "dan rahmat." Maksudnya, kebahagiaanmu dalam agama dan du-niamu. Ini mewajibkanmu tunduk kepada hukum-hukumnya dan beriman kepada berita-beritanya, dan bahwa siapa yang tidak mengangkat kepalanya dengannya dan mendustakannya, maka dia adalah orang yang paling zhalim. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن كَذَّبَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَصَدَفَ عَنۡهَاۗ ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling dari padanya?" Maksudnya, berpaling dan menyingkir darinya. ﴾ سَنَجۡزِي ٱلَّذِينَ يَصۡدِفُونَ عَنۡ ءَايَٰتِنَا سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk." Maksudnya, azab yang memperburuk orang yang tertimpa olehnya dan memberatkannya. ﴾ بِمَا كَانُواْ يَصۡدِفُونَ ﴿ "Disebabkan mereka selalu berpaling," untuk diri mereka dan untuk selain mereka, sebagai balasan kepada mereka atas per-buatan buruk mereka, dan Tuhanmu tiada sedikit pun menzhalimi hamba-hambaNya. Ayat-ayat ini mengandung dalil bahwa ilmu al-Qur`an adalah ilmu paling mulia, paling berkah, dan paling luas. Dengannya diraih petunjuk kepada jalan yang lurus secara sempurna, di mana bersa-manya tidak lagi memerlukan bualan pakar ilmu kalam (mutakallim), pemikiran ahli filsafat dan tidak pula selain itu dari ilmu orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Sudah dikenal bahwa kitab (selain al-Qur`an; pent) tidak di-turunkan kecuali kepada dua golongan: Yahudi dan Nasrani. Mereka itulah Ahli Kitab secara mutlak. Kelompok-kelompok lain tidak termasuk kepadanya, tidak orang-orang Majusi dan tidak pula se-lainnya. Di dalamnya terdapat keterangan tentang apa yang meraja-lela di masa jahiliyah sebelum al-Qur`an turun, yaitu kebodohan besar dan ketidaktahuan terhadap ilmu yang dimiliki oleh Ahli Kitab serta kelalaian mereka mempelajari kitab mereka.
Al-An'am 6:155
"Kemudian Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka. Dan al-Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan, yang diberkati, maka ikutilah ia dan bertakwa-lah, agar kamu diberi rahmat. (Kami turunkan al-Qur`an itu) agar kamu (tidak) mengatakan bahwa kitab itu hanya diturunkan ke-pada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan sesuatu yang mereka baca.' Atau agar kamu (tidak) mengatakan, 'Sungguh jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka.' Sesungguhnya telah datang kepadamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling." (Al-An'am: 154-157).
(154) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" di sini tidak menunjukkan urutan waktu, karena waktu Musa mendahului waktu pembacaan Rasu-lullah, Muhammad ﷺ terhadap kitab ini, akan tetapi yang dimak-sud adalah urutan pemberitahuan. Allah memberitahukan bahwa Dia telah memberi ﴾ مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Al-Kitab kepada Musa," yaitu Taurat, ﴾ تَمَامًا ﴿ "untuk menyempurnakan" nikmatNya dan pelengkap kebaik-anNya ﴾ عَلَى ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ ﴿ "kepada orang-orang yang berbuat kebaikan," dari kalangan umat Musa. Karena Allah telah memberi nikmat kepada orang-orang yang berbuat baik di antara mereka dengan nikmat-nikmat yang tidak terhitung, di mana salah satu dari kesempurna-annya adalah diturunkannya Taurat kepada mereka, maka sem-purnalah nikmat Allah kepada mereka dan mereka wajib mensyu-kurinya. ﴾ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan untuk menjelaskan segala sesuatu," berupa halal, haram, perintah, larangan, akidah dan lain-lain, yang perinciannya diperlukan oleh mereka, ﴾ وَهُدٗى ﴿ "dan sebagai petunjuk." Maksudnya, memberi mereka petunjuk kepada kebaikan dan me-ngenalkan keburukan kepada mereka dalam perkara-perkara dasar dan cabang. ﴾ وَرَحۡمَةٗ ﴿ "Dan sebagai rahmat," dengannya mereka men-dapatkan kebahagiaan, rahmat dan kebaikan yang banyak. ﴾ لَّعَلَّهُم ﴿ "Agar mereka," dengan diturunkannya kitab dan penjelasan kepada mereka, ﴾ بِلِقَآءِ رَبِّهِمۡ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka." Karena ia meliputi dalil-dalil yang pasti tentang balasan amal dan kebangkitan, yang mengharuskan mereka beriman ke-pada pertemuan dengan Allah dan bersiap diri karenanya.
(155) ﴾ وَهَٰذَا ﴿ "Dan al-Qur`an itu," adalah al-Qur`an yang agung dan dzikir yang bijak ﴾ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ ﴿ "adalah kitab yang Kami turunkan, yang diberkati." Maksudnya, di dalamnya terdapat kebaik-an yang banyak dan ilmu yang melimpah. Darinyalah seluruh ilmu bersumber dan darinyalah seluruh keberkahan dikeluarkan. Tidak ada kebaikan kecuali ia (al-Qur`an) telah menyerukan dan mendo-rong kepadanya. Ia menyebutkan hikmah-hikmah dan kemaslahatan yang mendorong kepadanya. Tidak ada keburukan kecuali ia telah melarangnya, memperingatkannya dan menjelaskan sebab-sebab yang menghindarkannya dari melakukannya dan akibat buruknya. ﴾ فَٱتَّبِعُوهُ ﴿ "Maka ikutilah ia," pada apa yang diperintahkan dan dila-rang, bangunlah perkara-perkara agamamu, baik yang ushul maupun yang furu' di atasnya. ﴾ وَٱتَّقُواْ ﴿ "Dan bertakwalah" kepada Allah dan jangan menyelisihi perintahNya. ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "Agar kamu," jika meng-ikutinya ﴾ تُرۡحَمُونَ ﴿ "diberi rahmat." Penyebab terbesar mendapatkan rahmat Allah adalah mengikuti kitab ini dari segi ilmu dan peng-amalan.
(156) ﴾ أَن تَقُولُوٓاْ إِنَّمَآ أُنزِلَ ٱلۡكِتَٰبُ عَلَىٰ طَآئِفَتَيۡنِ مِن قَبۡلِنَا وَإِن كُنَّا عَن دِرَاسَتِهِمۡ لَغَٰفِلِينَ ﴿ "(Kami turunkan al-Qur`an itu) agar kamu (tidak) mengatakan bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca." Mak-sudnya, Kami turunkan kepadamu kitab yang penuh berkah ini secara pasti sebagai hujjah bagimu dan sebagai antisipasi bahwa kamu akan menyatakan bahwa kitab hanya diturunkan kepada dua golongan dari orang-orang sebelum kami yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani. ﴾ وَإِن كُنَّا عَن دِرَاسَتِهِمۡ لَغَٰفِلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca." Maksudnya, kamu mengata-kan, "Engkau belum menurunkan kitab kepada kami sedangkan kitab-kitab yang Engkau turunkan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka kami tidak memiliki pengetahuan dan ilmu tentang-nya." Maka Kami turunkan sebuah kitab kepadamu. Tiada kitab yang turun dari langit yang lebih komplit, lebih jelas, dan lebih terang darinya.
(157) ﴾ أَوۡ تَقُولُواْ لَوۡ أَنَّآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا ٱلۡكِتَٰبُ لَكُنَّآ أَهۡدَىٰ مِنۡهُمۡۚ ﴿ "Atau agar kamu (tidak) mengatakan, 'Sesungguhnya jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka'." Bisa jadi kamu beralasan tidak sampainya dasar petunjuk kepadamu dan bisa pula kamu beralasan bahwa petunjuk itu tidak lengkap dan tidak sempurna, maka dengan kitabmu ini terpenuhilah dasar petunjuk dan kesempurnaannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَقَدۡ جَآءَكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sungguh telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu." Ini adalah kata benda yang meliputi segala jenis, maka segala sesuatu yang menjelaskan kebenaran ter-masuk di dalamnya. ﴾ وَهُدٗى ﴿ "Dan petunjuk" dari kesesatan ﴾ وَرَحۡمَةٞۚ ﴿ "dan rahmat." Maksudnya, kebahagiaanmu dalam agama dan du-niamu. Ini mewajibkanmu tunduk kepada hukum-hukumnya dan beriman kepada berita-beritanya, dan bahwa siapa yang tidak mengangkat kepalanya dengannya dan mendustakannya, maka dia adalah orang yang paling zhalim. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن كَذَّبَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَصَدَفَ عَنۡهَاۗ ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling dari padanya?" Maksudnya, berpaling dan menyingkir darinya. ﴾ سَنَجۡزِي ٱلَّذِينَ يَصۡدِفُونَ عَنۡ ءَايَٰتِنَا سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk." Maksudnya, azab yang memperburuk orang yang tertimpa olehnya dan memberatkannya. ﴾ بِمَا كَانُواْ يَصۡدِفُونَ ﴿ "Disebabkan mereka selalu berpaling," untuk diri mereka dan untuk selain mereka, sebagai balasan kepada mereka atas per-buatan buruk mereka, dan Tuhanmu tiada sedikit pun menzhalimi hamba-hambaNya. Ayat-ayat ini mengandung dalil bahwa ilmu al-Qur`an adalah ilmu paling mulia, paling berkah, dan paling luas. Dengannya diraih petunjuk kepada jalan yang lurus secara sempurna, di mana bersa-manya tidak lagi memerlukan bualan pakar ilmu kalam (mutakallim), pemikiran ahli filsafat dan tidak pula selain itu dari ilmu orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Sudah dikenal bahwa kitab (selain al-Qur`an; pent) tidak di-turunkan kecuali kepada dua golongan: Yahudi dan Nasrani. Mereka itulah Ahli Kitab secara mutlak. Kelompok-kelompok lain tidak termasuk kepadanya, tidak orang-orang Majusi dan tidak pula se-lainnya. Di dalamnya terdapat keterangan tentang apa yang meraja-lela di masa jahiliyah sebelum al-Qur`an turun, yaitu kebodohan besar dan ketidaktahuan terhadap ilmu yang dimiliki oleh Ahli Kitab serta kelalaian mereka mempelajari kitab mereka.
Al-An'am 6:156
"Kemudian Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka. Dan al-Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan, yang diberkati, maka ikutilah ia dan bertakwa-lah, agar kamu diberi rahmat. (Kami turunkan al-Qur`an itu) agar kamu (tidak) mengatakan bahwa kitab itu hanya diturunkan ke-pada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan sesuatu yang mereka baca.' Atau agar kamu (tidak) mengatakan, 'Sungguh jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka.' Sesungguhnya telah datang kepadamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling." (Al-An'am: 154-157).
(154) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" di sini tidak menunjukkan urutan waktu, karena waktu Musa mendahului waktu pembacaan Rasu-lullah, Muhammad ﷺ terhadap kitab ini, akan tetapi yang dimak-sud adalah urutan pemberitahuan. Allah memberitahukan bahwa Dia telah memberi ﴾ مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Al-Kitab kepada Musa," yaitu Taurat, ﴾ تَمَامًا ﴿ "untuk menyempurnakan" nikmatNya dan pelengkap kebaik-anNya ﴾ عَلَى ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ ﴿ "kepada orang-orang yang berbuat kebaikan," dari kalangan umat Musa. Karena Allah telah memberi nikmat kepada orang-orang yang berbuat baik di antara mereka dengan nikmat-nikmat yang tidak terhitung, di mana salah satu dari kesempurna-annya adalah diturunkannya Taurat kepada mereka, maka sem-purnalah nikmat Allah kepada mereka dan mereka wajib mensyu-kurinya. ﴾ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan untuk menjelaskan segala sesuatu," berupa halal, haram, perintah, larangan, akidah dan lain-lain, yang perinciannya diperlukan oleh mereka, ﴾ وَهُدٗى ﴿ "dan sebagai petunjuk." Maksudnya, memberi mereka petunjuk kepada kebaikan dan me-ngenalkan keburukan kepada mereka dalam perkara-perkara dasar dan cabang. ﴾ وَرَحۡمَةٗ ﴿ "Dan sebagai rahmat," dengannya mereka men-dapatkan kebahagiaan, rahmat dan kebaikan yang banyak. ﴾ لَّعَلَّهُم ﴿ "Agar mereka," dengan diturunkannya kitab dan penjelasan kepada mereka, ﴾ بِلِقَآءِ رَبِّهِمۡ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka." Karena ia meliputi dalil-dalil yang pasti tentang balasan amal dan kebangkitan, yang mengharuskan mereka beriman ke-pada pertemuan dengan Allah dan bersiap diri karenanya.
(155) ﴾ وَهَٰذَا ﴿ "Dan al-Qur`an itu," adalah al-Qur`an yang agung dan dzikir yang bijak ﴾ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ ﴿ "adalah kitab yang Kami turunkan, yang diberkati." Maksudnya, di dalamnya terdapat kebaik-an yang banyak dan ilmu yang melimpah. Darinyalah seluruh ilmu bersumber dan darinyalah seluruh keberkahan dikeluarkan. Tidak ada kebaikan kecuali ia (al-Qur`an) telah menyerukan dan mendo-rong kepadanya. Ia menyebutkan hikmah-hikmah dan kemaslahatan yang mendorong kepadanya. Tidak ada keburukan kecuali ia telah melarangnya, memperingatkannya dan menjelaskan sebab-sebab yang menghindarkannya dari melakukannya dan akibat buruknya. ﴾ فَٱتَّبِعُوهُ ﴿ "Maka ikutilah ia," pada apa yang diperintahkan dan dila-rang, bangunlah perkara-perkara agamamu, baik yang ushul maupun yang furu' di atasnya. ﴾ وَٱتَّقُواْ ﴿ "Dan bertakwalah" kepada Allah dan jangan menyelisihi perintahNya. ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "Agar kamu," jika meng-ikutinya ﴾ تُرۡحَمُونَ ﴿ "diberi rahmat." Penyebab terbesar mendapatkan rahmat Allah adalah mengikuti kitab ini dari segi ilmu dan peng-amalan.
(156) ﴾ أَن تَقُولُوٓاْ إِنَّمَآ أُنزِلَ ٱلۡكِتَٰبُ عَلَىٰ طَآئِفَتَيۡنِ مِن قَبۡلِنَا وَإِن كُنَّا عَن دِرَاسَتِهِمۡ لَغَٰفِلِينَ ﴿ "(Kami turunkan al-Qur`an itu) agar kamu (tidak) mengatakan bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca." Mak-sudnya, Kami turunkan kepadamu kitab yang penuh berkah ini secara pasti sebagai hujjah bagimu dan sebagai antisipasi bahwa kamu akan menyatakan bahwa kitab hanya diturunkan kepada dua golongan dari orang-orang sebelum kami yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani. ﴾ وَإِن كُنَّا عَن دِرَاسَتِهِمۡ لَغَٰفِلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca." Maksudnya, kamu mengata-kan, "Engkau belum menurunkan kitab kepada kami sedangkan kitab-kitab yang Engkau turunkan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka kami tidak memiliki pengetahuan dan ilmu tentang-nya." Maka Kami turunkan sebuah kitab kepadamu. Tiada kitab yang turun dari langit yang lebih komplit, lebih jelas, dan lebih terang darinya.
(157) ﴾ أَوۡ تَقُولُواْ لَوۡ أَنَّآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا ٱلۡكِتَٰبُ لَكُنَّآ أَهۡدَىٰ مِنۡهُمۡۚ ﴿ "Atau agar kamu (tidak) mengatakan, 'Sesungguhnya jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka'." Bisa jadi kamu beralasan tidak sampainya dasar petunjuk kepadamu dan bisa pula kamu beralasan bahwa petunjuk itu tidak lengkap dan tidak sempurna, maka dengan kitabmu ini terpenuhilah dasar petunjuk dan kesempurnaannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَقَدۡ جَآءَكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sungguh telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu." Ini adalah kata benda yang meliputi segala jenis, maka segala sesuatu yang menjelaskan kebenaran ter-masuk di dalamnya. ﴾ وَهُدٗى ﴿ "Dan petunjuk" dari kesesatan ﴾ وَرَحۡمَةٞۚ ﴿ "dan rahmat." Maksudnya, kebahagiaanmu dalam agama dan du-niamu. Ini mewajibkanmu tunduk kepada hukum-hukumnya dan beriman kepada berita-beritanya, dan bahwa siapa yang tidak mengangkat kepalanya dengannya dan mendustakannya, maka dia adalah orang yang paling zhalim. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن كَذَّبَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَصَدَفَ عَنۡهَاۗ ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling dari padanya?" Maksudnya, berpaling dan menyingkir darinya. ﴾ سَنَجۡزِي ٱلَّذِينَ يَصۡدِفُونَ عَنۡ ءَايَٰتِنَا سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk." Maksudnya, azab yang memperburuk orang yang tertimpa olehnya dan memberatkannya. ﴾ بِمَا كَانُواْ يَصۡدِفُونَ ﴿ "Disebabkan mereka selalu berpaling," untuk diri mereka dan untuk selain mereka, sebagai balasan kepada mereka atas per-buatan buruk mereka, dan Tuhanmu tiada sedikit pun menzhalimi hamba-hambaNya. Ayat-ayat ini mengandung dalil bahwa ilmu al-Qur`an adalah ilmu paling mulia, paling berkah, dan paling luas. Dengannya diraih petunjuk kepada jalan yang lurus secara sempurna, di mana bersa-manya tidak lagi memerlukan bualan pakar ilmu kalam (mutakallim), pemikiran ahli filsafat dan tidak pula selain itu dari ilmu orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Sudah dikenal bahwa kitab (selain al-Qur`an; pent) tidak di-turunkan kecuali kepada dua golongan: Yahudi dan Nasrani. Mereka itulah Ahli Kitab secara mutlak. Kelompok-kelompok lain tidak termasuk kepadanya, tidak orang-orang Majusi dan tidak pula se-lainnya. Di dalamnya terdapat keterangan tentang apa yang meraja-lela di masa jahiliyah sebelum al-Qur`an turun, yaitu kebodohan besar dan ketidaktahuan terhadap ilmu yang dimiliki oleh Ahli Kitab serta kelalaian mereka mempelajari kitab mereka.
Al-An'am 6:157
"Kemudian Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka. Dan al-Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan, yang diberkati, maka ikutilah ia dan bertakwa-lah, agar kamu diberi rahmat. (Kami turunkan al-Qur`an itu) agar kamu (tidak) mengatakan bahwa kitab itu hanya diturunkan ke-pada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan sesuatu yang mereka baca.' Atau agar kamu (tidak) mengatakan, 'Sungguh jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka.' Sesungguhnya telah datang kepadamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling." (Al-An'am: 154-157).
(154) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" di sini tidak menunjukkan urutan waktu, karena waktu Musa mendahului waktu pembacaan Rasu-lullah, Muhammad ﷺ terhadap kitab ini, akan tetapi yang dimak-sud adalah urutan pemberitahuan. Allah memberitahukan bahwa Dia telah memberi ﴾ مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Al-Kitab kepada Musa," yaitu Taurat, ﴾ تَمَامًا ﴿ "untuk menyempurnakan" nikmatNya dan pelengkap kebaik-anNya ﴾ عَلَى ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ ﴿ "kepada orang-orang yang berbuat kebaikan," dari kalangan umat Musa. Karena Allah telah memberi nikmat kepada orang-orang yang berbuat baik di antara mereka dengan nikmat-nikmat yang tidak terhitung, di mana salah satu dari kesempurna-annya adalah diturunkannya Taurat kepada mereka, maka sem-purnalah nikmat Allah kepada mereka dan mereka wajib mensyu-kurinya. ﴾ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan untuk menjelaskan segala sesuatu," berupa halal, haram, perintah, larangan, akidah dan lain-lain, yang perinciannya diperlukan oleh mereka, ﴾ وَهُدٗى ﴿ "dan sebagai petunjuk." Maksudnya, memberi mereka petunjuk kepada kebaikan dan me-ngenalkan keburukan kepada mereka dalam perkara-perkara dasar dan cabang. ﴾ وَرَحۡمَةٗ ﴿ "Dan sebagai rahmat," dengannya mereka men-dapatkan kebahagiaan, rahmat dan kebaikan yang banyak. ﴾ لَّعَلَّهُم ﴿ "Agar mereka," dengan diturunkannya kitab dan penjelasan kepada mereka, ﴾ بِلِقَآءِ رَبِّهِمۡ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka." Karena ia meliputi dalil-dalil yang pasti tentang balasan amal dan kebangkitan, yang mengharuskan mereka beriman ke-pada pertemuan dengan Allah dan bersiap diri karenanya.
(155) ﴾ وَهَٰذَا ﴿ "Dan al-Qur`an itu," adalah al-Qur`an yang agung dan dzikir yang bijak ﴾ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ ﴿ "adalah kitab yang Kami turunkan, yang diberkati." Maksudnya, di dalamnya terdapat kebaik-an yang banyak dan ilmu yang melimpah. Darinyalah seluruh ilmu bersumber dan darinyalah seluruh keberkahan dikeluarkan. Tidak ada kebaikan kecuali ia (al-Qur`an) telah menyerukan dan mendo-rong kepadanya. Ia menyebutkan hikmah-hikmah dan kemaslahatan yang mendorong kepadanya. Tidak ada keburukan kecuali ia telah melarangnya, memperingatkannya dan menjelaskan sebab-sebab yang menghindarkannya dari melakukannya dan akibat buruknya. ﴾ فَٱتَّبِعُوهُ ﴿ "Maka ikutilah ia," pada apa yang diperintahkan dan dila-rang, bangunlah perkara-perkara agamamu, baik yang ushul maupun yang furu' di atasnya. ﴾ وَٱتَّقُواْ ﴿ "Dan bertakwalah" kepada Allah dan jangan menyelisihi perintahNya. ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "Agar kamu," jika meng-ikutinya ﴾ تُرۡحَمُونَ ﴿ "diberi rahmat." Penyebab terbesar mendapatkan rahmat Allah adalah mengikuti kitab ini dari segi ilmu dan peng-amalan.
(156) ﴾ أَن تَقُولُوٓاْ إِنَّمَآ أُنزِلَ ٱلۡكِتَٰبُ عَلَىٰ طَآئِفَتَيۡنِ مِن قَبۡلِنَا وَإِن كُنَّا عَن دِرَاسَتِهِمۡ لَغَٰفِلِينَ ﴿ "(Kami turunkan al-Qur`an itu) agar kamu (tidak) mengatakan bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca." Mak-sudnya, Kami turunkan kepadamu kitab yang penuh berkah ini secara pasti sebagai hujjah bagimu dan sebagai antisipasi bahwa kamu akan menyatakan bahwa kitab hanya diturunkan kepada dua golongan dari orang-orang sebelum kami yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani. ﴾ وَإِن كُنَّا عَن دِرَاسَتِهِمۡ لَغَٰفِلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca." Maksudnya, kamu mengata-kan, "Engkau belum menurunkan kitab kepada kami sedangkan kitab-kitab yang Engkau turunkan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka kami tidak memiliki pengetahuan dan ilmu tentang-nya." Maka Kami turunkan sebuah kitab kepadamu. Tiada kitab yang turun dari langit yang lebih komplit, lebih jelas, dan lebih terang darinya.
(157) ﴾ أَوۡ تَقُولُواْ لَوۡ أَنَّآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا ٱلۡكِتَٰبُ لَكُنَّآ أَهۡدَىٰ مِنۡهُمۡۚ ﴿ "Atau agar kamu (tidak) mengatakan, 'Sesungguhnya jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka'." Bisa jadi kamu beralasan tidak sampainya dasar petunjuk kepadamu dan bisa pula kamu beralasan bahwa petunjuk itu tidak lengkap dan tidak sempurna, maka dengan kitabmu ini terpenuhilah dasar petunjuk dan kesempurnaannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَقَدۡ جَآءَكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Sungguh telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu." Ini adalah kata benda yang meliputi segala jenis, maka segala sesuatu yang menjelaskan kebenaran ter-masuk di dalamnya. ﴾ وَهُدٗى ﴿ "Dan petunjuk" dari kesesatan ﴾ وَرَحۡمَةٞۚ ﴿ "dan rahmat." Maksudnya, kebahagiaanmu dalam agama dan du-niamu. Ini mewajibkanmu tunduk kepada hukum-hukumnya dan beriman kepada berita-beritanya, dan bahwa siapa yang tidak mengangkat kepalanya dengannya dan mendustakannya, maka dia adalah orang yang paling zhalim. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن كَذَّبَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَصَدَفَ عَنۡهَاۗ ﴿ "Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling dari padanya?" Maksudnya, berpaling dan menyingkir darinya. ﴾ سَنَجۡزِي ٱلَّذِينَ يَصۡدِفُونَ عَنۡ ءَايَٰتِنَا سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk." Maksudnya, azab yang memperburuk orang yang tertimpa olehnya dan memberatkannya. ﴾ بِمَا كَانُواْ يَصۡدِفُونَ ﴿ "Disebabkan mereka selalu berpaling," untuk diri mereka dan untuk selain mereka, sebagai balasan kepada mereka atas per-buatan buruk mereka, dan Tuhanmu tiada sedikit pun menzhalimi hamba-hambaNya. Ayat-ayat ini mengandung dalil bahwa ilmu al-Qur`an adalah ilmu paling mulia, paling berkah, dan paling luas. Dengannya diraih petunjuk kepada jalan yang lurus secara sempurna, di mana bersa-manya tidak lagi memerlukan bualan pakar ilmu kalam (mutakallim), pemikiran ahli filsafat dan tidak pula selain itu dari ilmu orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Sudah dikenal bahwa kitab (selain al-Qur`an; pent) tidak di-turunkan kecuali kepada dua golongan: Yahudi dan Nasrani. Mereka itulah Ahli Kitab secara mutlak. Kelompok-kelompok lain tidak termasuk kepadanya, tidak orang-orang Majusi dan tidak pula se-lainnya. Di dalamnya terdapat keterangan tentang apa yang meraja-lela di masa jahiliyah sebelum al-Qur`an turun, yaitu kebodohan besar dan ketidaktahuan terhadap ilmu yang dimiliki oleh Ahli Kitab serta kelalaian mereka mempelajari kitab mereka.
Al-An'am 6:158
"Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu, iman seseorang tidaklah bermanfaat lagi bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, 'Tunggulah olehmu, sesungguhnya kami pun menunggu (pula)'." (Al-An'am: 158).
(158) Allah berfirman, "Tiada yang mereka nanti-nantikan di atas kezhaliman dan pengingkaran mereka hanya ﴾ أَن تَأۡتِيَهُمُ ﴿ "ke-datangan" mukadimah azab dan mukadimah akhirat kepada mereka dengan datangnya ﴾ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "malaikat" kepada mereka untuk men-cabut nyawa mereka. Jika mereka telah sampai pada keadaan ini maka iman dan amal shalih tidaklah berguna bagi mereka. ﴾ أَوۡ يَأۡتِيَ رَبُّكَ ﴿ "Atau kedatangan Tuhanmu," untuk memberikan keputusan di antara manusia dan memberikan balasan kepada orang-orang yang ber-buat baik dan orang-orang yang berbuat buruk. ﴾ أَوۡ يَأۡتِيَ بَعۡضُ ءَايَٰتِ رَبِّكَۗ ﴿ "Atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu," yang menunjukkan dekatnya Kiamat. ﴾ يَوۡمَ يَأۡتِي بَعۡضُ ءَايَٰتِ رَبِّكَ ﴿ "Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu," yang luar biasa yang dengannya diketahui bahwa Kiamat telah dekat dan bahwa Kiamat sudah di ambang pintu. ﴾ لَا يَنفَعُ نَفۡسًا إِيمَٰنُهَا لَمۡ تَكُنۡ ءَامَنَتۡ مِن قَبۡلُ أَوۡ كَسَبَتۡ فِيٓ إِيمَٰنِهَا خَيۡرٗاۗ ﴿ "Iman seseorang tidaklah bermanfaat lagi bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya." Maksudnya, jika sebagian tanda-tanda Allah telah muncul, maka iman orang kafir tidak berguna jika dia beriman, begitu pula orang-orang Mukmin yang lalai, tidak berguna lagi penambahan kebaikannya sesudah itu. Yang berguna baginya adalah imannya yang telah dia miliki sebe-lum itu, dan kebaikan yang dia laksanakan sebelum munculnya sebagian tanda-tanda tersebut. Hikmah masalah ini sangat jelas. Iman berguna bagi seorang hamba jika ia merupakan iman kepada yang ghaib dan dilakukan atas dasar kemauan seorang hamba. Ada-pun jika tanda-tanda Kiamat telah datang, perkaranya bisa dilihat oleh mata, maka iman tiada lagi berguna, karena ia sama dengan iman terpaksa seperti imannya orang yang tenggelam, imannya orang yang terbakar dan yang sepertinya yang melihat kematian di depan mata, maka dia pun meninggalkan kemaksiatan yang da-hulu dilakukannya sebagaimana Firman Allah, ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَا قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥ وَكَفَرۡنَا بِمَا كُنَّا بِهِۦ مُشۡرِكِينَ 84 فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ إِيمَٰنُهُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَاۖ سُنَّتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي قَدۡ خَلَتۡ فِي عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, 'Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sesembahan-sesembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah'. Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hambaNya." (Al-Mu`min: 84-85). Banyak hadits-hadits shahih dari Nabi[68] yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "ayat" (sebagian tanda Allah) adalah terbitnya matahari dari barat. Bahwa jika manusia telah melihatnya, niscaya mereka semuanya beriman, tetapi iman mereka tidak lagi berguna pada hari itu, dan pintu taubat ditutup. Manakala ini adalah ancaman bagi orang-orang yang mendustakan Rasulullah yang ditunggu-tunggu sementara mereka juga menunggu Nabi dan para pengikutnya tertimpa kesulitan dan musibah kehidupan, maka Allah berfirman, ﴾ قُلِ ٱنتَظِرُوٓاْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Tunggulah olehmu, sesung-guhnya kami pun menunggu (pula)'." Maka kamu akan mengetahui siapa yang berada di atas kebenaran. Ayat ini mengandung dalil bagi madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam menetapkan perbuatan sukarela (ikhtiyariyah) bagi Allah seperti istiwa` (bersemayam), nuzul (turun) dan ityan (datang) bagi Allah tanpa menyamakannya dengan sifat makhluk. Dan dalil seperti ini sangat banyak di dalam al-Qur`an dan as-Sunnah. Ayat ini mengandung penjelasan bahwa sebagian tanda-tanda Kiamat adalah terbitnya matahari dari barat. Bahwasanya Allah Mahabijaksana, dan sunnatullah itu ber-laku, bahwa iman itu berguna selama ia dilakukan secara sukarela bukan terpaksa seperti yang telah dijelaskan, bahwa manusia men-dapatkan kebaikan dengan imannya. Ketaatan, kebaikan dan ke-takwaan hanyalah berguna dan berkembang jika seorang hamba memiliki iman. Jika hati kosong dari iman, maka semua itu sedikit pun tidaklah berguna.
Al-An'am 6:159
"Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, maka tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka per-buat. Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barangsiapa yang membawa per-buatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan yang seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)." (Al-An'am: 159-160).
(159) Allah mengancam orang-orang yang memecah-belah agamanya sehingga mereka telah terpecah-belah di dalamnya, ma-sing-masing orang mengambil nama yang tidak berguna baginya dalam agamanya seperti Yahudi, Nasrani dan Majusi, atau iman-nya tidak sempurna dengannya seperti dengan cara mengambil sesuatu dari syariat dan menjadikannya sebagai agamanya dan meninggalkan yang semisal dengannya atau yang lebih utama darinya sebagaimana yang dilakukan oleh pemecah-belah umat dari kalangan ahli bid'ah dan kesesatan yang memecah belah umat. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan kepada kesatuan dan persatuan, dan melarang perpecahan dan perselisihan dalam agama dan persoalan-persoalan prinsip mau-pun cabang. Agama memerintahkan untuk melepaskan diri dari orang-orang yang memecah-belah umatnya. Dia berfirman, ﴾ لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِي شَيۡءٍۚ ﴿ "Tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka." Maksudnya, kamu tidak termasuk mereka dan mereka tidak termasuk kamu, karena mereka menyelisihi dan menentangmu. ﴾ إِنَّمَآ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya urusan mereka hanya-lah (terserah) kepada Allah." Mereka kembali kepadaNya dan Dia membalas mereka sesuai dengan amal mereka. ﴾ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat."
(160) Kemudian Allah menyebutkan sifat balasan. Dia ber-firman, ﴾ مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ ﴿ "Barangsiapa membawa amal yang baik," perka-taan dan perbuatan, lahir dan batin yang berkait dengan hak Allah dan hak hamba-hambaNya, ﴾ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ ﴿ "maka baginya (pahala) se-puluh kali lipat amalnya." Ini adalah pelipatgandaan minimal.﴾ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا ﴿ "Dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan yang seimbang dengan kejahatannya." Ini adalah keadilan dan kebaikan Allah yang sempur-na dan bahwa Dia tidak berlaku zhalim sedikit pun. Oleh karena itu dia berfirman, ﴾ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)."
Al-An'am 6:160
"Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, maka tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka per-buat. Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barangsiapa yang membawa per-buatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan yang seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)." (Al-An'am: 159-160).
(159) Allah mengancam orang-orang yang memecah-belah agamanya sehingga mereka telah terpecah-belah di dalamnya, ma-sing-masing orang mengambil nama yang tidak berguna baginya dalam agamanya seperti Yahudi, Nasrani dan Majusi, atau iman-nya tidak sempurna dengannya seperti dengan cara mengambil sesuatu dari syariat dan menjadikannya sebagai agamanya dan meninggalkan yang semisal dengannya atau yang lebih utama darinya sebagaimana yang dilakukan oleh pemecah-belah umat dari kalangan ahli bid'ah dan kesesatan yang memecah belah umat. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan kepada kesatuan dan persatuan, dan melarang perpecahan dan perselisihan dalam agama dan persoalan-persoalan prinsip mau-pun cabang. Agama memerintahkan untuk melepaskan diri dari orang-orang yang memecah-belah umatnya. Dia berfirman, ﴾ لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِي شَيۡءٍۚ ﴿ "Tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka." Maksudnya, kamu tidak termasuk mereka dan mereka tidak termasuk kamu, karena mereka menyelisihi dan menentangmu. ﴾ إِنَّمَآ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya urusan mereka hanya-lah (terserah) kepada Allah." Mereka kembali kepadaNya dan Dia membalas mereka sesuai dengan amal mereka. ﴾ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat."
(160) Kemudian Allah menyebutkan sifat balasan. Dia ber-firman, ﴾ مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ ﴿ "Barangsiapa membawa amal yang baik," perka-taan dan perbuatan, lahir dan batin yang berkait dengan hak Allah dan hak hamba-hambaNya, ﴾ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ ﴿ "maka baginya (pahala) se-puluh kali lipat amalnya." Ini adalah pelipatgandaan minimal.﴾ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا ﴿ "Dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan yang seimbang dengan kejahatannya." Ini adalah keadilan dan kebaikan Allah yang sempur-na dan bahwa Dia tidak berlaku zhalim sedikit pun. Oleh karena itu dia berfirman, ﴾ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)."
Al-An'am 6:161
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup-ku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepada-ku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).' Katakanlah, 'Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakanNya kepadamu apa yang kamu perselisihkan?' Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang sesuatu yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaanNya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-An'am: 161-165).
(161) Allah memerintahkan NabiNya agar berkata dan mengumumkan sesuatu yang dipijaknya dalam bentuk hidayah kepada jalan yang lurus, agama yang seimbang yang mengandung akidah-akidah yang berguna, amal yang shalih, perintah kepada semua yang baik, melarang dari segala yang buruk, yang dianut oleh para Nabi dan Rasul Allah, khususnya imam orang-orang yang bertauhid. Bapak para Nabi yang diutus sesudahnya, Khalil ar-Rahman, Ibrahim. Yaitu agama yang lurus yang condong dari semua agama yang tidak lurus yang dianut oleh para penyimpang seperti Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik. Ini umum.
(162) Kemudian Dia mengkhususkan dari itu ibadah yang paling mulia. Dia berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguh-nya shalatku, sembelihanku,'." Maksudnya, penyembelihanku. Hal itu karena kemuliaan dua ibadah ini serta keutamaannya, dan ke-duanya merupakan petunjuk kecintaan kepada Allah, pengikhlasan agama untukNya, mendekatkan diri kepadaNya dengan hati dan lisan serta anggota badan. Dan dengan penyembelihan yang meru-pakan pengorbanan harta yang dicintai oleh jiwa demi yang lebih dia cintai, yaitu Allah. Dan barangsiapa ikhlas dalam shalat dan penyembelihannya, maka secara otomatis dia akan ikhlas pada amal-amalnya yang lain. FirmanNya, ﴾ وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي ﴿ "Hidupku dan matiku," yakni apa yang diberikan kepadaku dalam hidupku, apa yang Allah titipkan kepadaku dan apa yang ditakdirkan atasku pada waktu matiku. Semua itu ﴾ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
(163) ﴾ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ ﴿ "Tiada sekutu bagiNya" dalam ibadah, seba-gaimana Dia tidak memiliki sekutu dalam hak kepemilikan dan pengaturan. Keikhlasan kepada Allah ini bukanlah sesuatu yang baru dariku, tidak pula sesuatu yang aku ada-adakan dari diriku sendiri. Akan tetapi ﴾ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ ﴿ "itulah yang diperintahkan kepadaku," secara pasti, di mana aku tidak keluar dari tanggung jawab kecuali dengan menaatinya. ﴾ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "Dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)," dari umat ini.
(164) ﴾ قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِي رَبّٗا ﴿ "Katakanlah, 'Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah'." Maksudnya, apakah aku akan mencari tuhan selain Allah dari kalangan makhluk. Layakkah itu bagiku. Baikkah itu bagiku kalau aku menjadikan selainNya sebagai pendidik dan pengaturku sementara Dia adalah Tuhan segala sesuatu? Semua makhluk berada di bawah rububiyahNya dan tunduk kepada perin-tahNya, maka wajib atasku dan atas selainku menjadikan Allah sebagai Tuhan, ridha kepadaNya dan agar tidak bergantung kepada para makhluk yang miskin lagi lemah. Kemudian Allah mendo-rong dan memperingatkan kita dengan balasan itu. Dia berfirman, ﴾ وَلَا تَكۡسِبُ كُلُّ نَفۡسٍ ﴿ "Dan tidaklah seseorang membuat sesuatu," yang baik dan yang buruk ﴾ إِلَّا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri." Sebagaimana Firman Allah, ﴾ مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). ﴾ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ﴿ "Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." Akan tetapi masing-masing memikul dosanya sendiri-sendiri. Jika seseorang menjadi penyebab kesesatan dan dosa orang lain, maka dia memikul dosa sebagai penyebab tanpa mengurangi dosa pelaku sedikit pun. ﴾ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali," pada Hari Kiamat.﴾ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Dan akan diberitakanNya kepadamu apa yang kamu perseli-sihkan." Baik dan buruk, dan membalasmu dengan itu dengan sem-purna.
(165) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi." Maksudnya, sebagian mengganti-kan (sebagai pemimpin) sebagian yang lain. Allah menempatkan-mu di bumi dan Dia menundukkan sesuatu yang ada padanya untukmu. Dia mengujimu untuk melihat bagaimana kamu beramal. ﴾ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ ﴿ "Dan Dia meninggikan sebagian kamu atas se-bagian (yang lain) beberapa derajat," dalam kekuatan, keselamatan, rizki, penciptaan, dan akhlak. ﴾ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ ﴿ "Untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu." Maka amalmu pun berbeda-beda. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaanNya" kepada orang yang durhaka kepadaNya dan mendustakan ayat-ayatNya. ﴾ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ ﴿ "Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," bagi yang beriman kepadanya dan beramal shalih serta bertaubat dari perbuatan-perbuatan dosa besar.[69]
Ini adalah akhir tafsir Surat al-An'am. Segala puji dan san-jungan adalah milik Allah. Semoga shalawat dan salam yang banyak terlimpahkan kepada Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatNya sampai Hari Kiamat.
Al-An'am 6:162
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup-ku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepada-ku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).' Katakanlah, 'Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakanNya kepadamu apa yang kamu perselisihkan?' Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang sesuatu yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaanNya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-An'am: 161-165).
(161) Allah memerintahkan NabiNya agar berkata dan mengumumkan sesuatu yang dipijaknya dalam bentuk hidayah kepada jalan yang lurus, agama yang seimbang yang mengandung akidah-akidah yang berguna, amal yang shalih, perintah kepada semua yang baik, melarang dari segala yang buruk, yang dianut oleh para Nabi dan Rasul Allah, khususnya imam orang-orang yang bertauhid. Bapak para Nabi yang diutus sesudahnya, Khalil ar-Rahman, Ibrahim. Yaitu agama yang lurus yang condong dari semua agama yang tidak lurus yang dianut oleh para penyimpang seperti Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik. Ini umum.
(162) Kemudian Dia mengkhususkan dari itu ibadah yang paling mulia. Dia berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguh-nya shalatku, sembelihanku,'." Maksudnya, penyembelihanku. Hal itu karena kemuliaan dua ibadah ini serta keutamaannya, dan ke-duanya merupakan petunjuk kecintaan kepada Allah, pengikhlasan agama untukNya, mendekatkan diri kepadaNya dengan hati dan lisan serta anggota badan. Dan dengan penyembelihan yang meru-pakan pengorbanan harta yang dicintai oleh jiwa demi yang lebih dia cintai, yaitu Allah. Dan barangsiapa ikhlas dalam shalat dan penyembelihannya, maka secara otomatis dia akan ikhlas pada amal-amalnya yang lain. FirmanNya, ﴾ وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي ﴿ "Hidupku dan matiku," yakni apa yang diberikan kepadaku dalam hidupku, apa yang Allah titipkan kepadaku dan apa yang ditakdirkan atasku pada waktu matiku. Semua itu ﴾ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
(163) ﴾ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ ﴿ "Tiada sekutu bagiNya" dalam ibadah, seba-gaimana Dia tidak memiliki sekutu dalam hak kepemilikan dan pengaturan. Keikhlasan kepada Allah ini bukanlah sesuatu yang baru dariku, tidak pula sesuatu yang aku ada-adakan dari diriku sendiri. Akan tetapi ﴾ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ ﴿ "itulah yang diperintahkan kepadaku," secara pasti, di mana aku tidak keluar dari tanggung jawab kecuali dengan menaatinya. ﴾ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "Dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)," dari umat ini.
(164) ﴾ قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِي رَبّٗا ﴿ "Katakanlah, 'Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah'." Maksudnya, apakah aku akan mencari tuhan selain Allah dari kalangan makhluk. Layakkah itu bagiku. Baikkah itu bagiku kalau aku menjadikan selainNya sebagai pendidik dan pengaturku sementara Dia adalah Tuhan segala sesuatu? Semua makhluk berada di bawah rububiyahNya dan tunduk kepada perin-tahNya, maka wajib atasku dan atas selainku menjadikan Allah sebagai Tuhan, ridha kepadaNya dan agar tidak bergantung kepada para makhluk yang miskin lagi lemah. Kemudian Allah mendo-rong dan memperingatkan kita dengan balasan itu. Dia berfirman, ﴾ وَلَا تَكۡسِبُ كُلُّ نَفۡسٍ ﴿ "Dan tidaklah seseorang membuat sesuatu," yang baik dan yang buruk ﴾ إِلَّا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri." Sebagaimana Firman Allah, ﴾ مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). ﴾ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ﴿ "Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." Akan tetapi masing-masing memikul dosanya sendiri-sendiri. Jika seseorang menjadi penyebab kesesatan dan dosa orang lain, maka dia memikul dosa sebagai penyebab tanpa mengurangi dosa pelaku sedikit pun. ﴾ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali," pada Hari Kiamat.﴾ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Dan akan diberitakanNya kepadamu apa yang kamu perseli-sihkan." Baik dan buruk, dan membalasmu dengan itu dengan sem-purna.
(165) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi." Maksudnya, sebagian mengganti-kan (sebagai pemimpin) sebagian yang lain. Allah menempatkan-mu di bumi dan Dia menundukkan sesuatu yang ada padanya untukmu. Dia mengujimu untuk melihat bagaimana kamu beramal. ﴾ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ ﴿ "Dan Dia meninggikan sebagian kamu atas se-bagian (yang lain) beberapa derajat," dalam kekuatan, keselamatan, rizki, penciptaan, dan akhlak. ﴾ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ ﴿ "Untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu." Maka amalmu pun berbeda-beda. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaanNya" kepada orang yang durhaka kepadaNya dan mendustakan ayat-ayatNya. ﴾ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ ﴿ "Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," bagi yang beriman kepadanya dan beramal shalih serta bertaubat dari perbuatan-perbuatan dosa besar.[69]
Ini adalah akhir tafsir Surat al-An'am. Segala puji dan san-jungan adalah milik Allah. Semoga shalawat dan salam yang banyak terlimpahkan kepada Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatNya sampai Hari Kiamat.
Al-An'am 6:163
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup-ku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepada-ku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).' Katakanlah, 'Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakanNya kepadamu apa yang kamu perselisihkan?' Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang sesuatu yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaanNya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-An'am: 161-165).
(161) Allah memerintahkan NabiNya agar berkata dan mengumumkan sesuatu yang dipijaknya dalam bentuk hidayah kepada jalan yang lurus, agama yang seimbang yang mengandung akidah-akidah yang berguna, amal yang shalih, perintah kepada semua yang baik, melarang dari segala yang buruk, yang dianut oleh para Nabi dan Rasul Allah, khususnya imam orang-orang yang bertauhid. Bapak para Nabi yang diutus sesudahnya, Khalil ar-Rahman, Ibrahim. Yaitu agama yang lurus yang condong dari semua agama yang tidak lurus yang dianut oleh para penyimpang seperti Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik. Ini umum.
(162) Kemudian Dia mengkhususkan dari itu ibadah yang paling mulia. Dia berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguh-nya shalatku, sembelihanku,'." Maksudnya, penyembelihanku. Hal itu karena kemuliaan dua ibadah ini serta keutamaannya, dan ke-duanya merupakan petunjuk kecintaan kepada Allah, pengikhlasan agama untukNya, mendekatkan diri kepadaNya dengan hati dan lisan serta anggota badan. Dan dengan penyembelihan yang meru-pakan pengorbanan harta yang dicintai oleh jiwa demi yang lebih dia cintai, yaitu Allah. Dan barangsiapa ikhlas dalam shalat dan penyembelihannya, maka secara otomatis dia akan ikhlas pada amal-amalnya yang lain. FirmanNya, ﴾ وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي ﴿ "Hidupku dan matiku," yakni apa yang diberikan kepadaku dalam hidupku, apa yang Allah titipkan kepadaku dan apa yang ditakdirkan atasku pada waktu matiku. Semua itu ﴾ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
(163) ﴾ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ ﴿ "Tiada sekutu bagiNya" dalam ibadah, seba-gaimana Dia tidak memiliki sekutu dalam hak kepemilikan dan pengaturan. Keikhlasan kepada Allah ini bukanlah sesuatu yang baru dariku, tidak pula sesuatu yang aku ada-adakan dari diriku sendiri. Akan tetapi ﴾ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ ﴿ "itulah yang diperintahkan kepadaku," secara pasti, di mana aku tidak keluar dari tanggung jawab kecuali dengan menaatinya. ﴾ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "Dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)," dari umat ini.
(164) ﴾ قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِي رَبّٗا ﴿ "Katakanlah, 'Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah'." Maksudnya, apakah aku akan mencari tuhan selain Allah dari kalangan makhluk. Layakkah itu bagiku. Baikkah itu bagiku kalau aku menjadikan selainNya sebagai pendidik dan pengaturku sementara Dia adalah Tuhan segala sesuatu? Semua makhluk berada di bawah rububiyahNya dan tunduk kepada perin-tahNya, maka wajib atasku dan atas selainku menjadikan Allah sebagai Tuhan, ridha kepadaNya dan agar tidak bergantung kepada para makhluk yang miskin lagi lemah. Kemudian Allah mendo-rong dan memperingatkan kita dengan balasan itu. Dia berfirman, ﴾ وَلَا تَكۡسِبُ كُلُّ نَفۡسٍ ﴿ "Dan tidaklah seseorang membuat sesuatu," yang baik dan yang buruk ﴾ إِلَّا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri." Sebagaimana Firman Allah, ﴾ مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). ﴾ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ﴿ "Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." Akan tetapi masing-masing memikul dosanya sendiri-sendiri. Jika seseorang menjadi penyebab kesesatan dan dosa orang lain, maka dia memikul dosa sebagai penyebab tanpa mengurangi dosa pelaku sedikit pun. ﴾ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali," pada Hari Kiamat.﴾ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Dan akan diberitakanNya kepadamu apa yang kamu perseli-sihkan." Baik dan buruk, dan membalasmu dengan itu dengan sem-purna.
(165) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi." Maksudnya, sebagian mengganti-kan (sebagai pemimpin) sebagian yang lain. Allah menempatkan-mu di bumi dan Dia menundukkan sesuatu yang ada padanya untukmu. Dia mengujimu untuk melihat bagaimana kamu beramal. ﴾ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ ﴿ "Dan Dia meninggikan sebagian kamu atas se-bagian (yang lain) beberapa derajat," dalam kekuatan, keselamatan, rizki, penciptaan, dan akhlak. ﴾ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ ﴿ "Untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu." Maka amalmu pun berbeda-beda. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaanNya" kepada orang yang durhaka kepadaNya dan mendustakan ayat-ayatNya. ﴾ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ ﴿ "Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," bagi yang beriman kepadanya dan beramal shalih serta bertaubat dari perbuatan-perbuatan dosa besar.[69]
Ini adalah akhir tafsir Surat al-An'am. Segala puji dan san-jungan adalah milik Allah. Semoga shalawat dan salam yang banyak terlimpahkan kepada Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatNya sampai Hari Kiamat.
Al-An'am 6:164
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup-ku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepada-ku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).' Katakanlah, 'Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakanNya kepadamu apa yang kamu perselisihkan?' Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang sesuatu yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaanNya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-An'am: 161-165).
(161) Allah memerintahkan NabiNya agar berkata dan mengumumkan sesuatu yang dipijaknya dalam bentuk hidayah kepada jalan yang lurus, agama yang seimbang yang mengandung akidah-akidah yang berguna, amal yang shalih, perintah kepada semua yang baik, melarang dari segala yang buruk, yang dianut oleh para Nabi dan Rasul Allah, khususnya imam orang-orang yang bertauhid. Bapak para Nabi yang diutus sesudahnya, Khalil ar-Rahman, Ibrahim. Yaitu agama yang lurus yang condong dari semua agama yang tidak lurus yang dianut oleh para penyimpang seperti Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik. Ini umum.
(162) Kemudian Dia mengkhususkan dari itu ibadah yang paling mulia. Dia berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguh-nya shalatku, sembelihanku,'." Maksudnya, penyembelihanku. Hal itu karena kemuliaan dua ibadah ini serta keutamaannya, dan ke-duanya merupakan petunjuk kecintaan kepada Allah, pengikhlasan agama untukNya, mendekatkan diri kepadaNya dengan hati dan lisan serta anggota badan. Dan dengan penyembelihan yang meru-pakan pengorbanan harta yang dicintai oleh jiwa demi yang lebih dia cintai, yaitu Allah. Dan barangsiapa ikhlas dalam shalat dan penyembelihannya, maka secara otomatis dia akan ikhlas pada amal-amalnya yang lain. FirmanNya, ﴾ وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي ﴿ "Hidupku dan matiku," yakni apa yang diberikan kepadaku dalam hidupku, apa yang Allah titipkan kepadaku dan apa yang ditakdirkan atasku pada waktu matiku. Semua itu ﴾ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
(163) ﴾ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ ﴿ "Tiada sekutu bagiNya" dalam ibadah, seba-gaimana Dia tidak memiliki sekutu dalam hak kepemilikan dan pengaturan. Keikhlasan kepada Allah ini bukanlah sesuatu yang baru dariku, tidak pula sesuatu yang aku ada-adakan dari diriku sendiri. Akan tetapi ﴾ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ ﴿ "itulah yang diperintahkan kepadaku," secara pasti, di mana aku tidak keluar dari tanggung jawab kecuali dengan menaatinya. ﴾ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "Dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)," dari umat ini.
(164) ﴾ قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِي رَبّٗا ﴿ "Katakanlah, 'Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah'." Maksudnya, apakah aku akan mencari tuhan selain Allah dari kalangan makhluk. Layakkah itu bagiku. Baikkah itu bagiku kalau aku menjadikan selainNya sebagai pendidik dan pengaturku sementara Dia adalah Tuhan segala sesuatu? Semua makhluk berada di bawah rububiyahNya dan tunduk kepada perin-tahNya, maka wajib atasku dan atas selainku menjadikan Allah sebagai Tuhan, ridha kepadaNya dan agar tidak bergantung kepada para makhluk yang miskin lagi lemah. Kemudian Allah mendo-rong dan memperingatkan kita dengan balasan itu. Dia berfirman, ﴾ وَلَا تَكۡسِبُ كُلُّ نَفۡسٍ ﴿ "Dan tidaklah seseorang membuat sesuatu," yang baik dan yang buruk ﴾ إِلَّا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri." Sebagaimana Firman Allah, ﴾ مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). ﴾ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ﴿ "Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." Akan tetapi masing-masing memikul dosanya sendiri-sendiri. Jika seseorang menjadi penyebab kesesatan dan dosa orang lain, maka dia memikul dosa sebagai penyebab tanpa mengurangi dosa pelaku sedikit pun. ﴾ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali," pada Hari Kiamat.﴾ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Dan akan diberitakanNya kepadamu apa yang kamu perseli-sihkan." Baik dan buruk, dan membalasmu dengan itu dengan sem-purna.
(165) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi." Maksudnya, sebagian mengganti-kan (sebagai pemimpin) sebagian yang lain. Allah menempatkan-mu di bumi dan Dia menundukkan sesuatu yang ada padanya untukmu. Dia mengujimu untuk melihat bagaimana kamu beramal. ﴾ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ ﴿ "Dan Dia meninggikan sebagian kamu atas se-bagian (yang lain) beberapa derajat," dalam kekuatan, keselamatan, rizki, penciptaan, dan akhlak. ﴾ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ ﴿ "Untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu." Maka amalmu pun berbeda-beda. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaanNya" kepada orang yang durhaka kepadaNya dan mendustakan ayat-ayatNya. ﴾ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ ﴿ "Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," bagi yang beriman kepadanya dan beramal shalih serta bertaubat dari perbuatan-perbuatan dosa besar.[69]
Ini adalah akhir tafsir Surat al-An'am. Segala puji dan san-jungan adalah milik Allah. Semoga shalawat dan salam yang banyak terlimpahkan kepada Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatNya sampai Hari Kiamat.
Al-An'am 6:165
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.' Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup-ku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepada-ku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).' Katakanlah, 'Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakanNya kepadamu apa yang kamu perselisihkan?' Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang sesuatu yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaanNya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-An'am: 161-165).
(161) Allah memerintahkan NabiNya agar berkata dan mengumumkan sesuatu yang dipijaknya dalam bentuk hidayah kepada jalan yang lurus, agama yang seimbang yang mengandung akidah-akidah yang berguna, amal yang shalih, perintah kepada semua yang baik, melarang dari segala yang buruk, yang dianut oleh para Nabi dan Rasul Allah, khususnya imam orang-orang yang bertauhid. Bapak para Nabi yang diutus sesudahnya, Khalil ar-Rahman, Ibrahim. Yaitu agama yang lurus yang condong dari semua agama yang tidak lurus yang dianut oleh para penyimpang seperti Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik. Ini umum.
(162) Kemudian Dia mengkhususkan dari itu ibadah yang paling mulia. Dia berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguh-nya shalatku, sembelihanku,'." Maksudnya, penyembelihanku. Hal itu karena kemuliaan dua ibadah ini serta keutamaannya, dan ke-duanya merupakan petunjuk kecintaan kepada Allah, pengikhlasan agama untukNya, mendekatkan diri kepadaNya dengan hati dan lisan serta anggota badan. Dan dengan penyembelihan yang meru-pakan pengorbanan harta yang dicintai oleh jiwa demi yang lebih dia cintai, yaitu Allah. Dan barangsiapa ikhlas dalam shalat dan penyembelihannya, maka secara otomatis dia akan ikhlas pada amal-amalnya yang lain. FirmanNya, ﴾ وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي ﴿ "Hidupku dan matiku," yakni apa yang diberikan kepadaku dalam hidupku, apa yang Allah titipkan kepadaku dan apa yang ditakdirkan atasku pada waktu matiku. Semua itu ﴾ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
(163) ﴾ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ ﴿ "Tiada sekutu bagiNya" dalam ibadah, seba-gaimana Dia tidak memiliki sekutu dalam hak kepemilikan dan pengaturan. Keikhlasan kepada Allah ini bukanlah sesuatu yang baru dariku, tidak pula sesuatu yang aku ada-adakan dari diriku sendiri. Akan tetapi ﴾ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ ﴿ "itulah yang diperintahkan kepadaku," secara pasti, di mana aku tidak keluar dari tanggung jawab kecuali dengan menaatinya. ﴾ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "Dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)," dari umat ini.
(164) ﴾ قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِي رَبّٗا ﴿ "Katakanlah, 'Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah'." Maksudnya, apakah aku akan mencari tuhan selain Allah dari kalangan makhluk. Layakkah itu bagiku. Baikkah itu bagiku kalau aku menjadikan selainNya sebagai pendidik dan pengaturku sementara Dia adalah Tuhan segala sesuatu? Semua makhluk berada di bawah rububiyahNya dan tunduk kepada perin-tahNya, maka wajib atasku dan atas selainku menjadikan Allah sebagai Tuhan, ridha kepadaNya dan agar tidak bergantung kepada para makhluk yang miskin lagi lemah. Kemudian Allah mendo-rong dan memperingatkan kita dengan balasan itu. Dia berfirman, ﴾ وَلَا تَكۡسِبُ كُلُّ نَفۡسٍ ﴿ "Dan tidaklah seseorang membuat sesuatu," yang baik dan yang buruk ﴾ إِلَّا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri." Sebagaimana Firman Allah, ﴾ مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). ﴾ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ﴿ "Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." Akan tetapi masing-masing memikul dosanya sendiri-sendiri. Jika seseorang menjadi penyebab kesesatan dan dosa orang lain, maka dia memikul dosa sebagai penyebab tanpa mengurangi dosa pelaku sedikit pun. ﴾ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali," pada Hari Kiamat.﴾ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Dan akan diberitakanNya kepadamu apa yang kamu perseli-sihkan." Baik dan buruk, dan membalasmu dengan itu dengan sem-purna.
(165) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi." Maksudnya, sebagian mengganti-kan (sebagai pemimpin) sebagian yang lain. Allah menempatkan-mu di bumi dan Dia menundukkan sesuatu yang ada padanya untukmu. Dia mengujimu untuk melihat bagaimana kamu beramal. ﴾ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ ﴿ "Dan Dia meninggikan sebagian kamu atas se-bagian (yang lain) beberapa derajat," dalam kekuatan, keselamatan, rizki, penciptaan, dan akhlak. ﴾ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ ﴿ "Untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu." Maka amalmu pun berbeda-beda. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaanNya" kepada orang yang durhaka kepadaNya dan mendustakan ayat-ayatNya. ﴾ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ ﴿ "Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," bagi yang beriman kepadanya dan beramal shalih serta bertaubat dari perbuatan-perbuatan dosa besar.[69]
Ini adalah akhir tafsir Surat al-An'am. Segala puji dan san-jungan adalah milik Allah. Semoga shalawat dan salam yang banyak terlimpahkan kepada Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatNya sampai Hari Kiamat.