Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-A'raf 7:166 – Al-A'raf 7:200
Daftar isi
- Al-A'raf 7:166
- Al-A'raf 7:167
- Al-A'raf 7:168
- Al-A'raf 7:169
- Al-A'raf 7:170
- Al-A'raf 7:171
- Al-A'raf 7:172
- Al-A'raf 7:173
- Al-A'raf 7:174
- Al-A'raf 7:175
- Al-A'raf 7:176
- Al-A'raf 7:177
- Al-A'raf 7:178
- Al-A'raf 7:179
- Al-A'raf 7:180
- Al-A'raf 7:181
- Al-A'raf 7:182
- Al-A'raf 7:183
- Al-A'raf 7:184
- Al-A'raf 7:185
- Al-A'raf 7:186
- Al-A'raf 7:187
- Al-A'raf 7:188
- Al-A'raf 7:189
- Al-A'raf 7:190
- Al-A'raf 7:191
- Al-A'raf 7:192
- Al-A'raf 7:193
- Al-A'raf 7:194
- Al-A'raf 7:195
- Al-A'raf 7:196
- Al-A'raf 7:197
- Al-A'raf 7:198
- Al-A'raf 7:199
- Al-A'raf 7:200
Al-A'raf 7:166
"Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu memba-wa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah ba-gaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Musa berkata, 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam, wajib atasku tidak berkata atas Nama Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu de-ngan membawa bukti yang nyata dari Rabbmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku'." (Al-'Araf: 103-105). "Fir'aun menjawab, 'Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.' Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu se-ketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu men-jadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata, 'Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluar-kan kamu dari negerimu.' (Fir'aun berkata), 'Maka apakah yang kamu anjurkan?' Pemuka-pemuka itu menjawab, 'Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka mem-bawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai'." (Al-'Araf: 106-112). "Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun menga-takan, '(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?' Fir'aun menjawab, 'Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepa-daku).' Ahli-ahli sihir berkata, 'Hai Musa, kamukah yang akan melempar lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?'" (Al-'Araf: 113-115). "Musa menjawab, 'Lemparkanlah (lebih dahulu)!' Maka tat-kala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang-orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatang-kan sihir yang besar (menakjubkan).' Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekonyong-konyong tong-kat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina'." (Al-A'raf: 116-119). "Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu, sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan pendu-duknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya'." (Al-A'raf: 120-124). "Ahli-ahli sihir itu menjawab, 'Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.' (Mereka berdoa), 'Ya Rabb ka-mi, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu).' Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun), 'Apakah kamu mem-biarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilah-ilahmu.' Fir'aun menjawab, 'Akan kita bunuh anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita ber-kuasa penuh di atas mereka.' Musa berkata kepada kaumnya, 'Mo-honlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah yang dipusakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa'." (Al-A'raf: 125-128). "Kaum Musa berkata, 'Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) se-belum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.' Musa menjawab, 'Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khafilah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.' Dan sesungguhnya kami telah menghu-kum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kema-rau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab ke-sialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Keta-huilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-A'raf: 129-131). "Mereka berkata, 'Bagaimanapun kamu mendatangkan kete-rangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.' Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersa-mamu.' Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya." (Al-A'raf: 132-135). "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelam-kan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah tertindas itu negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang te-lah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka." (Al-A'raf: 136-137). "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang sedang me-nyembah berhala mereka, Bani Israil berkata, 'Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempu-nyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab, 'Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat tuhan). Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.' Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas se-gala umat. Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamat-kanmu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lela-kimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Rabbmu'." (Al-A'raf: 138-141). "Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurna-lah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam. Dan berkatalah Musa kepada saudaranya yaitu Harun, 'Gantikan-lah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan jangan-lah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.' Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu.' Rabb berfirman, 'Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala) niscaya kamu dapat melihatKu.' Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, 'Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepadaMu dan aku orang yang pertama-tama beriman'." (Al-A'raf: 142-143). "Allah berfirman, 'Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (me-lebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk mem-bawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.' Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah padanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik'." (Al-A'raf: 144-145). "Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri-nya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda ke-kuasaanKu. Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan me-reka selalu lalai dari padanya." (Al-A'raf: 146). "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan. Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gu-nung Thur, membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengeta-hui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim. Dan setelah mereka sangat menyesali perbua-tannya dan mengetahui bahwa mereka sesat, mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 147-149). "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu.' Dan Musa melemparkan luh-luh (Tau-rat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata, 'Hai anak ibuku, sesung-guhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka mau membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim.' Musa berdoa, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.' Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." (Al-A'raf: 150-152). "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian ber-taubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Rabb kamu, sesu-dah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesudah amarah Musa menjadi reda, maka dia mengambil (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisan-nya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Rabbnya. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari ka-umnya untuk (memohon taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, 'Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Eng-kau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami. Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 153-155). "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu. Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku ke-hendaki dan rahmatKu meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang me-nunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami'." (Al-A'raf: 156). "(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-A'raf: 157). "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.' Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (ke-pada manusia) dengan hak dan dengan hak itulah mereka menja-lankan keadilan." (Al-A'raf: 158-159). "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar, dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu!' Maka memancarlah dari padanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka, dan Kami tu-runkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman), 'Ma-kanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepada-mu.' Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." (Al-A'raf: 160). "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.' Dan katakanlah, 'Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbang-nya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesa-lahanmu.' Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang yang zhalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dika-takan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezhaliman mereka." (Al-A'raf: 161-162). "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikian-lah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, 'Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras?' Mereka menjawab, 'Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertakwa'." (Al-A'raf: 163-164). "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepada mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina.' Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberita-hukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesung-guhnya Rabbmu amat cepat siksaNya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shalih dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (Al-A'raf: 165-168). "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata, 'Kami akan diberi ampun.' Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan menga-takan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti. Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pa-hala), karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan." (Al-A'raf: 169-170). "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas me-reka seakan-akan bukit naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), 'Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa'." (Al-A'raf:171).
(103) Yakni, kemudian Kami mengutus setelah para rasul itu, Musa yang pernah diajak berbicara langsung oleh Allah, pe-mimpin yang agung, seorang Rasul yang mulia kepada kaum yang bengal lagi sombong yaitu Fir'aun dan para pemuka kaumnya serta bala tentaranya, maka Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya yang besar yang tidak ada tandingannya, ﴾ فَظَلَمُواْ بِهَاۖ ﴿ "Lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu." Dengan tidak tunduk kepada ke-benarannya, di mana siapa yang tidak tunduk kepadanya maka dia adalah orang zhalim, namun justru menyombongkan diri kepada-nya. ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan." Bagaimana Allah membinasa-kan mereka dan menambahkan celaan dan laknat atas mereka di dunia, dan pada Hari Kiamat mereka akan mendapatkan seburuk-buruk pemberian.
(104) Ini adalah pernyataan global yang diperinci dengan FirmanNya, ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Dan Musa berkata", manakala dia datang kepada Fir'aun untuk mengajaknya kepada iman, ﴾ يَٰفِرۡعَوۡنُ إِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam." Yakni, aku adalah Rasul dari Pengutus yang Agung yaitu Rabb semesta alam, alam tinggi dan alam rendah, Pengurus seluruh makhlukNya dengan berbagai macam tatanan Ilahiyah, yang di antaranya adalah bahwa Dia tidak membiarkan mereka hidup secara sia-sia, tetapi Dia mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, di mana tidak seorang pun yang berani atasnya dan mengklaim bahwa Dia mengutusnya pa-dahal tidak mengutusnya.
(105) Jika urusannya memang begitu, sedangkan aku telah dipilih dan diangkat untuk memikul risalahNya, maka tidak se-pantasnya bagiku untuk berdusta atasNya dan tidak mengatakan atasNya kecuali kebenaran, karena jika aku berkata selain itu, maka Dia pasti menyegerakan hukuman kepadaku, dan pasti Dia akan mengazabku dengan azab dari Yang Mahaperkasa lagi Maha Ber-kuasa. Ini merupakan kenyataan yang mengharuskan mereka un-tuk tunduk dan mengikutinya, lebih-lebih dia telah datang kepada mereka dengan bukti kuat dari Allah yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawanya, maka wajib atas mereka menjalankan tujuan risalahnya yang merupakan dua tujuan besar, yaitu agar mereka beriman kepadaNya, mengikutiNya dan melepaskan Bani Israil, bangsa yang diberi keutamaan oleh Allah, putra-putra para nabi dan keturunan Ya'qub, di mana Musa عليه السلام adalah salah satu dari mereka.
(106) Fir'aun menjawab, ﴾ إِن كُنتَ جِئۡتَ بِـَٔايَةٖ فَأۡتِ بِهَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar."
(107) ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya", di tanah. ﴾ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ ﴿ "Lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya." Yakni, ular yang nyata merayap dan mereka me-nyaksikannya.
(108) ﴾ وَنَزَعَ يَدَهُۥ ﴿ "Dan ia mengeluarkan tangannya", dari saku-nya, ﴾ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ ﴿ "maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." Tanpa aib. Ini adalah dua mukjizat besar yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawa oleh Musa dan bahwa dia adalah benar-benar utusan Rabbul 'Alamin.
(109) Akan tetapi orang-orang yang tidak beriman, seandai-nya semua ayat datang kepada mereka, mereka tetap tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih. Oleh karena itu, ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata", manakala mereka terkagum-kagum dengan mukjizat, tetapi mereka tidak mau ber-iman, maka mereka mencari-cari takwil yang rusak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَسَٰحِرٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai." Yang pintar menyihir.
(110) Kemudian mereka itu menakut-nakuti orang-orang yang berakal lemah lagi bodoh bahwa Musa, ﴾ يُرِيدُ ﴿ "bermaksud hen-dak", dengan perbuatannya tersebut ﴾ أَن يُخۡرِجَكُم مِّنۡ أَرۡضِكُمۡۖ ﴿ "mengeluarkan-mu dari negerimu." Yakni dia ingin mengusirmu dari tanah tumpah darahmu. ﴾ فَمَاذَا تَأۡمُرُونَ ﴿ "Fir'aun berkata, 'Maka apakah yang kamu an-jurkan?'" Yakni mereka saling bertukar pikiran di antara mereka terkait dengan apa yang dilakukan oleh Musa dan bagaimana cara menangkis kemudaratan –menurut klaim mereka– dari mereka, karena jika apa yang dibawa oleh Musa tidak ditangkal dan diban-tah, maka bisa-bisa ia menyusup ke pikiran banyak orang.
(111-112) Pada saat itu pendapat mereka bersatu dengan mengatakan kepada Fir'aun, ﴾ أَرۡجِهۡ وَأَخَاهُ ﴿ "Beri tangguhlah dia dan sau-daranya." Yakni tahan dan beri mereka berdua waktu, dan utuslah orang-orang ke penjuru kota untuk mengumumkan kepada pen-duduknya agar mereka menghadirkan semua penyihir yang ahli, yakni mereka mendatangkan para penyihir yang mumpuni, untuk melawan apa yang dibawa oleh Musa, maka mereka berkata, ﴾ فَٱجۡعَلۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 قَالَ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ثُمَّ أَتَىٰ 60 ﴿ "'(Wahai Musa), buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah ma-nusia dikumpulkan pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemu-dian dia datang." (Thaha: 58-60).
(113) Di sini Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan be-berapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun." Menuntut balasan (upah) jika mereka menang. Mereka berkata, ﴾ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبِينَ ﴿ "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?"
(114) Fir'aun menjawab, ﴾ نَعَمۡ ﴿ "Ya", kamu akan mendapat imbalan. ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)." Fir'aun menjanjikan balasan, kedekatan, dan kedudukan tinggi di sisinya agar mereka serius dan mengeluarkan segala daya dan upaya mereka dalam mengalahkan Musa.
(115) Manakala mereka hadir bersama Musa di depan kha-layak yang berjumlah besar, ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata", dengan ber-sumpah tanpa memandang sama sekali kepada apa yang dibawa oleh Musa, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "Hai Musa kamukah yang akan melempar-kan lebih dahulu", apa yang ada padamu, ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ نَحۡنُ ٱلۡمُلۡقِينَ ﴿ "ataukah kami yang akan melemparkan?"
(116) Musa menjawab, ﴾ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Lemparkanlah (lebih dahulu)." Agar orang-orang melihat apa yang mereka miliki dari apa yang Musa miliki. ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka tatkala mereka melemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka sehingga nampak menjadi seperti ular yang melata, mereka menyulap, ﴾ أَعۡيُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٖ ﴿ "mata orang-orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan)." Sihir yang tak tertandingi.
(117) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu'." Maka Musa melemparkannya, ﴾ فَإِذَا هِيَ ﴿ "maka sekonyong-konyong tongkat itu menjadi", ular yang melata, maka ia menelan sulap mereka, yakni kebohongan dan kedustaan mereka.
(118) ﴾ فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Karena itu nyatalah yang benar", yakni jelas dan nyata serta unggul di perkumpulan itu, ﴾ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dan batallah yang selalu mereka kerjakan."
(119) ﴾ فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ ﴿ "Maka mereka kalah di tempat itu." Yakni di pertandingan itu, ﴾ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ ﴿ "dan jadilah mereka orang-orang yang hina", lagi dina. Kebatilan mereka terkikis dan sihir mereka kalah dan mereka gagal mendapat apa yang mereka ingin dapatkan.
(120-122) Orang yang paling jelas mengetahui kebenaran yang agung adalah orang-orang yang berpikiran obyektif dan ahli sihir yang mengetahui macam-macam sihir dan detail-detailnya yang tidak diketahui oleh selain mereka. Mereka mengetahui bahwa itu adalah mukjizat besar dari Allah, tak ada yang mampu menan-dinginya, maka ﴾ وَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ 120 قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam (yaitu) Rabb Musa dan Harun'." Yakni kami membenarkan ayat-ayat yang jelas yang di-bawa oleh Musa.
(123) ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata", kepada mereka dengan mengancam karena iman mereka, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Orang busuk ini adalah penguasa otoriter yang sewenang-wenang dalam mem-perlakukan fisik dan pendapat rakyatnya. Telah menjadi semacam ketetapan baginya dan rakyatnya bahwa pendapatnya harus didengar dan perintahnya harus terlaksana, tak seorang pun boleh keluar dari ucapan dan hukumnya. Dengan kondisi seperti ini mental mereka merosot, akal dan tindakan mereka lemah, serta tidak mampu membela hak-hak mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman tentangnya, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya." (Az-Zukhruf: 54). Di sini dia berkata, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Ini adalah sikap ke-kurangajaran darimu dan kelancangan kepadaku. Kemudian dia mengaburkan sikap kaumnya dengan berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَمَكۡرٞ مَّكَرۡتُمُوهُ فِي ٱلۡمَدِينَةِ لِتُخۡرِجُواْ مِنۡهَآ أَهۡلَهَاۖ ﴿ "Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduk-nya dari padanya." Yakni sesungguhnya Musa adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir, kamu telah bersepakat dengannya di mana seakan-akan kalian tunduk padanya, lalu dia menang dan kamu mengikutinya, kemudian orang-orang atau mayoritas dari mereka mengikutimu, lalu kamu mengusir penduduknya darinya. Ini ada-lah kedustaan yang dia sendiri dan orang-orang yang mengetahui situasi, mengetahui bahwa Musa tidak bersekongkol dengan siapa pun dari mereka. Bahwa mereka itu dikumpulkan menurut perin-tah Fir'aun melalui kaki tangannya. Bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah mukjizat Ilahiyah. Bahwa ahli sihir itu telah mengeluar-kan segala kemampuan mereka untuk mengalahkan Musa namun mereka kalah, lalu kebenaran menjadi jelas bagi mereka dan mereka pun mengikutinya. Kemudian Fir'aun mengancam mereka dengan mengatakan, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuat-anmu ini)." Yakni, hukuman yang aku siapkan untukmu.
(124) ﴾ لَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Sesungguhnya aku akan memo-tong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik." Orang busuk ini mengklaim bahwa mereka sebagai perusak di muka bumi, di mana dia akan memperlakukan mereka layaknya orang-orang yang merusak, dipotong tangan dan kaki secara berselang-seling, yakni tangan kanan dan kaki kiri. ﴾ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمۡ ﴿ "Kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalibmu", di batang pohon kurma agar kamu kapok -menurut anggapannya- ﴾ أَجۡمَعِينَ ﴿ "semua." Yakni aku mem-perlakukan ini tidak hanya kepada beberapa orang saja, akan tetapi semuanya akan mendapatkannya.
(125) Para penyihir yang beriman itu berkata kepada Fir'aun yang mengancam mereka, ﴾ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ ﴿"Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali." Yakni kami tidak peduli dengan hukumanmu. Allah lebih baik dan lebih kekal, lakukan saja apa yang kamu mau.
(126) ﴾ وَمَا تَنقِمُ مِنَّآ ﴿ "Dan kamu tidak menyalahkan kami." Yakni kamu tidak mencela kami atas pengingkaranmu kepada kami dan ancamanmu kepada kami, kami tidak mempunyai dosa, ﴾ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتۡنَاۚ ﴿ "melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami." Jika ini memang dosa yang dicela atasnya dan pelakunya berhak atas hukuman, maka ini adalah dosa kami. Kemudian mereka memohon kepada Allah agar memberi mereka keteguhan dan kesabaran, mereka ber-kata, ﴾ رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا ﴿ "Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami." Yakni kesabaran yang besar. Ini ditunjukkan oleh kata صَبْرًا dengan bentuk nakirah karena ini adalah ujian besar yang berujung kepada kematian, maka ia memerlukan kesabaran besar agar hati tetap teguh dan orang mukmin tetap tenang dengan imannya serta agar kepanikan sirna darinya. ﴾ وَتَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ ﴿ "Dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu)." Yakni dalam keadaan tun-duk kepada perintahMu dan mengikuti RasulMu. Dan yang zahir bahwa ancaman Fir'aun benar-benar dilakukan kepada mereka dan bahwa Allah meneguhkan mereka di atas iman.
(127) Fir'aun dengan kaki tangannya dan mayoritas dari mereka yang mengikuti para pembesar di kalangan mereka telah menyombongkan diri di depan ayat-ayat Allah dan mengingkari-nya karena kezhaliman dan kesombongan. Mereka berkata kepada Fir'aun dalam rangka menghasutnya agar mengazab Musa dengan alasan bahwa apa yang dibawanya adalah batil dan merupakan kerusakan di muka bumi, ﴾ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوۡمَهُۥ لِيُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir)," dengan dakwah menyeru agar mereka beriman kepada Allah, kepada kemuliaan akhlak dan kebaikan amal yang merupa-kan kebaikan di muka bumi? Justru merekalah yang berada di atas kerusakan, akan tetapi orang-orang zhalim bersikap masa bodoh terhadap apa yang mereka katakan. ﴾ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَۚ ﴿ "Dan meninggal-kanmu serta tuhan-tuhanmu." Yakni membiarkanmu dan tuhan-tu-hanmu, dia melarangmu dan menghalang-halangi manusia dari mengikutimu. Maka Fir'aun menjawab mereka dengan mengata-kan bahwa dia akan membiarkan Musa dengan Bani Israil dalam kondisi di mana mereka tidak dapat berkembang, dan Fir'aun de-ngan kaki tangannya merasa aman dari bahaya mereka. Katanya, ﴾ سَنُقَتِّلُ أَبۡنَآءَهُمۡ وَنَسۡتَحۡيِۦ نِسَآءَهُمۡ ﴿ "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka." Yakni kita membiar-kan anak-anak perempuan itu hidup, kita tidak membunuhnya. Jika kita melakukan itu, maka kita akan aman dari kekuatan me-reka yang berjumlah banyak, sisanya kita perbudak dan kita atur sesuai dengan kehendak kita. ﴾ وَإِنَّا فَوۡقَهُمۡ قَٰهِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka." Mereka tidak memiliki kemam-puan untuk melepaskan diri dari hukum kita. Ini adalah puncak kesombongan, kezhaliman, dan kebengisan Fir'aun.
(128) ﴾ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ﴿ "Maka Musa berkata kepada kaumnya," me-wasiatkan kepada mereka dalam keadaan tersebut di mana mereka tidak memiliki apa pun untuk melawan, dengan perlawanan Ila-hiyah dan bantuan Rabbaniyah. ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah." Yakni bersandarlah kepadaNya dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu dan menolak apa yang memudaratkan-mu. Percayalah kepada Allah bahwa Dia akan menyempurnakan perkaramu, ﴾ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ ﴿ "Dan bersabarlah." Yakni pegang teguhlah ke-sabaran atas apa yang menimpamu dengan berharap kelapangan di balik ujian ini. ﴾ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ ﴿ "Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah." Bukan milik Fir'aun, bukan pula milik kaumnya sehingga mereka bisa semena-mena di atasnya. ﴾ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Dipu-sakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya." Yakni merotasinya di antara manusia menurut hikmah dan kehen-dakNya, akan tetapi kesudahan yang baik tetap milik orang-orang yang bertakwa. Walaupun mereka itu diuji beberapa lama berda-sarkan hikmah dari Allah, tetapi kemenangan adalah milik mereka. ﴾ وَٱلۡعَٰقِبَةُ ﴿ "Dan kesudahan yang baik", adalah untuk mereka. Ini ada-lah tugas seorang hamba, di mana pada waktu memiliki kemam-puan, dia harus melakukan cara untuk menolak gangguan orang lain dari dirinya sebatas kemampuan itu dan pada saat lemah hen-daknya dia bersabar, memohon pertolongan kepada Allah dan menunggu datangnya kelapangan.
(129) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa mengeluhkan siksaan Fir'aun yang menimpa mereka dalam kurun waktu yang lama, ﴾ أُوذِينَا مِن قَبۡلِ أَن تَأۡتِيَنَا ﴿ "Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami." Mereka menimpakan siksaan yang buruk kepada kami, mereka membunuh anak-anak laki-laki kami dan membiarkan anak-anak perempuan kami, ﴾ وَمِنۢ بَعۡدِ مَا جِئۡتَنَاۚ ﴿ "dan se-sudah kamu datang", juga demikian. Musa menjawab mereka dengan memberi harapan kemenangan dan kebebasan dari kejahatan me-reka. ﴾ عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُهۡلِكَ عَدُوَّكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-(Nya)." Yakni menjadikanmu pengendali dan pemegang urusan di dalamnya. ﴾ فَيَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu." Apakah kamu akan bersyukur atau kufur? Ini adalah janji yang Allah laksanakan manakala telah tiba waktu yang telah diinginkan oleh Allah.
(130) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan per-lakuanNya terhadap keluarga Fir'aun di waktu akhir-akhir ini, ia seperti biasa dan sesuai dengan sunnahNya pada umat-umat yang telah lalu, di mana Dia menimpakan, ﴾ بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَضَّرَّعُونَ 94 ﴿ "Azab dan kesulitan agar mereka tunduk dengan merendahkan diri." (Al-A'raf: 93) ﴾ وَلَقَدۡ أَخَذۡنَآ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ بِٱلسِّنِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meng-hukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang." Yakni kekeringan dan paceklik. ﴾ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pela-jaran." Yakni supaya mereka menyadari bahwa apa yang menimpa dan apa yang terjadi pada mereka adalah pelajaran dari Allah, agar mereka meninggalkan kekufuran. Tetapi hal itu tidak berguna dan berpengaruh bagi mereka, justru mereka terus di atas kezhaliman dan kerusakan.
(131) ﴾ فَإِذَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡحَسَنَةُ ﴿ "Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran." Yakni kesuburan dan kelimpahan rizki, ﴾ قَالُواْ لَنَا هَٰذِهِۦۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami'." Yakni, kami berhak atasnya. Mereka tidak bersyukur kepada Allah atas karunia tersebut. ﴾ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ ﴿ "Dan jika mereka ditimpa kesusahan." Yakni kekeringan dan paceklik, ﴾ يَطَّيَّرُواْ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓۗ ﴿ "mereka melemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya." Yakni mereka ber-kata, "Kesialan ini menimpa kami karena kedatangan Musa dan karena Bani Israil mengikutinya." Allah menjawab, ﴾ أَلَآ إِنَّمَا طَٰٓئِرُهُمۡ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah." Yakni dengan qadha dan qadarNya, tidak seperti yang me-reka katakan, justru penyebabnya adalah kekufuran dan dosa-dosa mereka, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui, oleh karena itu mereka berkata begitu.
(132) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", menjelaskan kepada Musa bahwa mereka senantiasa dan tetap akan berada pada keba-tilan. ﴾ مَهۡمَا تَأۡتِنَا بِهِۦ مِنۡ ءَايَةٖ لِّتَسۡحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحۡنُ لَكَ بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Bagaimanapun kamu men-datangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu." Yakni, kami telah yakin bahwa dirimu adalah penyihir, meskipun kamu datang dengan membawa mukjizat, kami tetap yakin bahwa kamu adalah penyihir, maka kami tidak mempercayaimu dan beriman kepada-mu. Ini adalah puncak pengingkaran orang-orang kafir itu, di mana keadaannya adalah sama saja, mukjizat turun atau tidak.
(133) ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلطُّوفَانَ ﴿ "Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah." Yakni banjir bandang yang menenggelamkan pohon-pohon dan tanaman-tanaman serta merugikan mereka dengan kerugian yang besar, ﴾ وَٱلۡجَرَادَ ﴿ "dan belalang", yang melahap buah-buahan, tanaman, dan pertanian mereka, ﴾ وَٱلۡقُمَّلَ ﴿ "dan kutu", yakni belalang kecil, dan yang zahir adalah bahwa ia adalah kutu yang dikenal, ﴾ وَٱلضَّفَادِعَ ﴿ "dan katak", yang memenuhi tempat-tempat air mereka sehingga mengganggu mereka dan membuat mereka sangat tidak nyaman, ﴾ وَٱلدَّمَ ﴿ "dan darah", bisa jadi ia adalah mimisan, atau se-perti yang dikatakan oleh banyak ahli tafsir bahwa air yang mereka minum berubah menjadi darah, sehingga mereka tidak minum ke-cuali darah dan tidak memasak kecuali dengan darah, ﴾ ءَايَٰتٖ مُّفَصَّلَٰتٖ ﴿ "sebagai bukti yang jelas." Yakni sebagai dalil dan bukti kongkrit bahwa mereka itulah orang-orang yang berdusta lagi zhalim, dan bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah kebenaran, ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "tetapi mereka tetap menyombongkan diri", tatkala melihat ayat-ayat itu, ﴾ وَكَانُواْ ﴿ "dan mereka", dulu ﴾ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "adalah kaum yang berdosa." Oleh karena itu Allah menghukum mereka dengan tetap membiar-kan mereka di atas kesesatan dan penyimpangan.
(134) ﴾ وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيۡهِمُ ٱلرِّجۡزُ ﴿ "Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu)." Yakni siksa. Ada kemungkinan bahwa ia adalah penyakit tha'un sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli tafsir, dan kemungkinan pula bencana yang telah disebutkan di atas, yaitu banjir, belalang, kutu, katak dan darah, karena semua ini adalah siksa dan azab. Setiap kali satu darinya menimpa mereka, ﴾ قَالُواْ يَٰمُوسَى ٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَۖ ﴿ "mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu'." Yakni mereka meminta perantara kepada Musa dengan wahyu dan syariat yang Allah berikan kepadanya. ﴾ لَئِن كَشَفۡتَ عَنَّا ٱلرِّجۡزَ لَنُؤۡمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرۡسِلَنَّ مَعَكَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." Dan mereka itu adalah para pendusta, maksud mereka hanyalah bagai-mana azab ini selesai, mereka mengira bahwa jika ia selesai maka tidak ada azab yang lain.
(135) ﴾ فَلَمَّا كَشَفۡنَا عَنۡهُمُ ٱلرِّجۡزَ إِلَىٰٓ أَجَلٍ هُم بَٰلِغُوهُ ﴿ "Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya." Yakni sampai waktu di mana Allah menentukan kebera-daannya pada mereka, bukan pengangkatan azab untuk seterusnya, akan tetapi hanya sementara, ﴾ إِذَا هُمۡ يَنكُثُونَ ﴿ "tiba-tiba mereka menging-karinya." Yakni janji yang mereka sampaikan kepada Musa bahwa mereka akan beriman kepadanya dan membiarkan Bani Israil ber-samanya. Mereka tidak beriman kepada Musa dan tidak pula me-lepas Bani Israil bersamanya, justru mereka terus berjalan di atas kekufuran tanpa peduli dan tetap menyiksa Bani Israil secara terus-menerus.
(136) ﴾ فَٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ ﴿ "Kemudian Kami menghukum mereka." Yakni pada waktu kebinasaan mereka telah tiba. Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil di malam hari. Dan Allah mem-beritahukan kepada Musa bahwa Fir'aun dengan bala tentaranya akan mengejar mereka. ﴾ فَأَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِي ٱلۡمَدَآئِنِ حَٰشِرِينَ 53 ﴿ "Kemudian Fir'aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (ten-taranya) ke kota-kota." (Asy-Syu'ara`: 53). Untuk mengumpulkan orang-orang guna mengejar Bani Israil, Fir'aun dan bala tentaranya berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَشِرۡذِمَةٞ قَلِيلُونَ 54 وَإِنَّهُمۡ لَنَا لَغَآئِظُونَ 55 وَإِنَّا لَجَمِيعٌ حَٰذِرُونَ 56 فَأَخۡرَجۡنَٰهُم مِّن جَنَّٰتٖ وَعُيُونٖ 57 وَكُنُوزٖ وَمَقَامٖ كَرِيمٖ 58 كَذَٰلِكَۖ وَأَوۡرَثۡنَٰهَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ 59 فَأَتۡبَعُوهُم مُّشۡرِقِينَ 60 فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلۡجَمۡعَانِ قَالَ أَصۡحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدۡرَكُونَ 61 قَالَ كـَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ 62 فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ 63 وَأَزۡلَفۡنَا ثَمَّ ٱلۡأٓخَرِينَ 64 وَأَنجَيۡنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ أَجۡمَعِينَ 65 ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ 66 ﴿ "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga'. Maka Kami keluarkan Fir'aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demi-kianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka di waktu ma-tahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, 'Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.' Musa menjawab, 'Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku'. Lalu Kami wah-yukan kepada Musa, 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu'. Maka ter-belahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelam-kan golongan yang lain itu." (Asy-Syu'ara`: 54-66). Allah berfirman di dalam surat al-A'raf ini, ﴾ فَأَغۡرَقۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "Maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebab-kan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." Yakni disebabkan oleh pendus-taan mereka kepada ayat-ayat Allah dan berpalingnya mereka dari kebenaran yang datang kepada mereka.
(137) ﴾ وَأَوۡرَثۡنَا ٱلۡقَوۡمَ ٱلَّذِينَ كَانُواْ يُسۡتَضۡعَفُونَ ﴿ "Dan Kami pusakakan ke-pada kaum yang telah ditindas itu", di bumi. Yakni Bani Israil yang dulu adalah pelayan bagi keluarga Fir'aun yang telah menimpakan kepada mereka azab yang buruk. Allah mempusakakan kepada mereka ﴾ مَشَٰرِقَ ٱلۡأَرۡضِ وَمَغَٰرِبَهَا ﴿ "negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya." Yang dimaksud dengan bumi di sini adalah bumi Mesir di mana padanyalah mereka ditindas dan dijajah, yakni Allah menguasakannya kepada mereka dan menjadikan mereka pengua-sanya. ﴾ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَاۖ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ ٱلۡحُسۡنَىٰ عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ بِمَا صَبَرُواْۖ ﴿ "Yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka." Mana-kala Musa berkata kepada mereka, ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ 128 ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguh-nya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakanNya kepada siapa yang di-kehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-A'raf: 128). ﴾ وَدَمَّرۡنَا مَا كَانَ يَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَقَوۡمُهُۥ ﴿ "Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya", yakni bangunan-bangunan yang besar dan tempat tinggal yang indah, ﴾ وَمَا كَانُواْ يَعۡرِشُونَ ﴿ "dan apa yang telah dibangun mereka." Itulah rumah-rumah mereka yang han-cur karena kezhaliman mereka, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengetahui.
(138) ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu", setelah Allah menyelamatkan mereka dari musuh mereka, yaitu Fir'aun dan bala tentaranya, di mana Allah telah membinasakan mereka sementara Bani Israil melihatnya. ﴾ فَأَتَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka sampai", yakni melewati ﴾ عَلَىٰ قَوۡمٖ يَعۡكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصۡنَامٖ لَّهُمۡۚ ﴿ "kepada suatu kaum yang sedang menyembah berhala mereka." Yakni mereka berdiam padanya, ngalap berkah padanya, dan menyem-bahnya, lalu mereka berkata kepada Nabi mereka, Musa عليه السلام, karena kebodohan dan ketidaktahuan mereka, setelah sebelumnya Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya. ﴾ يَٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهٗا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٞۚ ﴿ "Hai Musa buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana me-reka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Yakni izinkan kami men-jadikan berhala-berhala sebagai tuhan kami seperti yang mereka lakukan. Maka Musa menjawab, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)." Adakah kejahilan yang lebih besar daripada kejahilan orang tentang Tuhan dan Penciptanya dan dia ingin menyamakanNya dengan selainNya yang tidak dapat mendatangkan manfaat, mudarat, kematian, ke-hidupan dan kebangkitan?
(139) Oleh karena itu Musa berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ مُتَبَّرٞ مَّا هُمۡ فِيهِ وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan." Karena doa mereka kepada berhala-berhala itu adalah batil dan ia sendiri adalah batil, amal dan tujuannya adalah sama-sama batil.
(140) ﴾ قَالَ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِيكُمۡ إِلَٰهٗا ﴿ "Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah." Yakni aku mencari tuhan selain Allah yang disembah lagi sempurna pada dzatnya, sifat-sifatnya dan perbuatan-perbuatannya, ﴾ وَهُوَ فَضَّلَكُمۡ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." Ini me-nuntutmu menyambut nikmat dan karuniaNya dan mensyukuri hal itu dengan mengesakanNya dalam beribadah dan mengingkari apa yang dipertuhankan selainNya.
(141) Kemudian Musa mengingatkan mereka dengan nik-mat Allah kepada mereka, dia berkata, ﴾ وَإِذۡ أَنجَيۡنَٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya." Yakni Fir'aun dan bala tentaranya ﴾ يَسُومُونَكُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat." Yakni menim-pakan kepadamu azab paling buruk, di mana mereka menyembe-lih ﴾ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ وَفِي ذَٰلِكُم ﴿ "anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu", yakni kebebasan dari azab mereka adalah ﴾ بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ ﴿ "cobaan yang besar dari Rabbmu." Yakni nikmat yang besar dan karunia yang agung. Atau pada azab yang mereka timpakan itu terdapat ujian besar dari Rabbmu.
(142) Manakala Musa menasihati dan mengingatkan me-reka, mereka pun menghentikan apa yang mereka inginkan berupa berhala, dan ketika Allah menyempurnakan nikmatNya dengan keselamatan dari musuh mereka dan kekuasaan di muka bumi, maka Allah سبحانه وتعالى ingin menyempurnakan nikmatNya dengan menu-runkan kitab yang padanya terdapat hukum-hukum syariat dan akidah yang lurus. Maka Allah menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam ditambah dengan sepuluh jadi empat puluh malam, agar Musa bersiap-siap untuk memenuhi panggilan janji Allah dan agar turunnya kitab itu sangat dinantikan dan dirindukan. Manakala Musa pergi untuk bermunajat kepada Rabbnya, Musa mewasiat-kan Bani Israil kepada Harun, hal itu karena kasih sayangnya dan ketulusannya kepada mereka. ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku." Yakni jadilah kamu penggantiku dan lakukan kepada mereka apa yang aku lakukan. ﴾ وَأَصۡلِحۡ ﴿ "Dan perbaikilah", yakni ikutilah jalan kebaikan. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." Yaitu orang-orang yang berbuat kemaksiatan.
(143) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا ﴿ "Dan tatkala Musa datang untuk (mu-najat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan", untuknya untuk menurunkan kitab, ﴾ وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ ﴿ "dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya", berfirman langsung dengan wahyuNya, pe-rintah dan laranganNya, Musa berkeinginan untuk melihat Allah, jiwanya mengharapkan itu karena kecintaannya kepada Rabbnya dan sangat ingin melihatNya. ﴾ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu." Allah menjawab, ﴾ لَن تَرَىٰنِي ﴿ "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu." Yakni sekarang kamu tidak akan mampu melihatKu, karena Allah سبحانه وتعالى menciptakan makhluk di dunia ini dalam kondisi di mana mereka tidak akan kuat dan tidak akan mampu melihat Allah. Ini tidak menunjukkan bahwa mereka tidak dapat melihat-Nya di surga, karena dalil-dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah telah menunjukkan bahwa penduduk surga akan melihat Rabb mereka dan menikmati melihat kepada wajahNya Yang Mulia. Dan bahwa Allah تعالى menghidupkan mereka secara sempurna yang dengannya mereka mampu melihat Allah تعالى. Oleh karena itu Allah mengait-kan kemungkinan melihat dengan ketetapan gunung. Allah تعالى menenangkan Musa karena tidak bisa mengabulkan permintaannya. ﴾ وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ ﴿ "Tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala)", jika Allah menampakkan diri kepadanya ﴾ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ ﴿ "niscaya ka-mu dapat melihatKu. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu", yang bisu lagi keras. ﴾ جَعَلَهُۥ دَكّٗا ﴿ "Dijadikannya gunung itu han-cur luluh." Yakni hancur berkeping-keping ibarat kerikil, karena kegoncangannya dan tidak kuatnya ia melihat Allah. ﴾ وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ ﴿ "Dan Musa pun jatuh pingsan," ketika melihat apa yang dilihat. Ma-ka jelaslah bagi Musa pada saat itu bahwa jika gunung saja tidak kuat melihat Allah, maka Musa lebih tidak kuat melihatNya. Musa memohon ampun kepada Allah تعالى karena telah meminta sesuatu yang tidak pada tempatnya. ﴾ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Musa berkata, 'Mahasuci Engkau'." Yakni Aku menyucikan dan mengagungkanMu dari apa yang tidak layak dengan kebesaranMu. ﴾ تُبۡتُ إِلَيۡكَ ﴿ "Aku bertaubat kepada Engkau", dari segala dosa dan kekurangajaran kepadaMu. ﴾ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku orang yang pertama-tama beriman." Yakni Musa menyempurna-kan imanNya dengan sesuatu yang sebelum-nya tidak dia ketahui.
(144) Manakala Allah tidak memberikan kesempatan ke-pada Nabi Musa untuk melihatNya setelah sebelumnya dia sangat menginginkannya, maka Allah memberikan kepadanya kebaikan yang banyak. Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّي ٱصۡطَفَيۡتُكَ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu)." Yakni Aku memilihmu, mengangkatmu, melebihkan-mu, dan mengkhususkanmu dengan keutamaan-keutamaan yang besar dan kemuliaan-kemuliaan yang agung, ﴾ بِرِسَٰلَٰتِي ﴿ "untuk mem-bawa risalahKu." Di mana Aku tidak mengkhususkan dan memberi-kannya kecuali kepada orang yang paling mulia, ﴾ وَبِكَلَٰمِي ﴿ "dan untuk berbicara langsung denganKu", tanpa perantara. Ini adalah keutamaan khusus Musa al-Kalim (Rasul Allah yang diajak berbicara langsung oleh Allah) dan dia dikenal di kalangan saudara-saudaranya para rasul yang lain dengan itu. ﴾ فَخُذۡ مَآ ءَاتَيۡتُكَ ﴿ "Sebab itu berpegang teguh-lah kepada apa yang Aku berikan kepadamu." Yakni dari nikmat-nikmat, dan ambillah perintah dan larangan yang Aku berikan kepadamu dengan lapang dada, terimalah ia dengan ketundukan, ﴾ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur," kepada Allah atas apa yang Dia khususkan dan karuniakan kepadamu.
(145) ﴾ وَكَتَبۡنَا لَهُۥ فِي ٱلۡأَلۡوَاحِ مِن كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu", yang dibutuhkan oleh para hamba ﴾ مَّوۡعِظَةٗ ﴿ "sebagai pelajaran" yang mendorong jiwa untuk berbuat kebaikan dan menakutinya untuk berbuat keburukan. ﴾ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan penjelasan bagi segala sesuatu", dari hukum-hukum syar'i, akidah, akhlak dan adab. ﴾ فَخُذۡهَا بِقُوَّةٖ ﴿ "Maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah kepadanya dengan teguh." Yakni dengan sungguh-sungguh dan serius dalam menegakkannya. ﴾ وَأۡمُرۡ قَوۡمَكَ يَأۡخُذُواْ بِأَحۡسَنِهَاۚ ﴿ "Dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya." Yaitu perintah-perintah yang bersifat wajib dan dianjurkan, karena ia adalah yang terbaik. Di dalam penjelasan ini terdapat dalil bahwa perintah Allah dalam setiap syariat adalah sempurna, adil, dan baik. ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ دَارَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Nanti Aku akan memper-lihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik." Setelah Allah mem-binasakan mereka dan menyisakan negeri-negeri mereka sebagai pelajaran sesudah mereka bagi orang-orang Mukmin yang diberi taufik lagi rendah diri.9
(146) Adapun selain mereka, maka Allah berfirman tentang mereka, ﴾ سَأَصۡرِفُ عَنۡ ءَايَٰتِيَ ﴿ "Aku akan memalingkan dari tanda-tanda kekua-saanKu." Yakni dari mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang ada di langit dan yang ada pada diri manusia dan pemahaman terhadap ayat-ayat kitab ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "orang-orang yang menyom-bongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar." Yakni mereka menyombongkan diri kepada hamba-hamba Allah dan kepada kebe-naran serta kepada pembawanya. Siapa saja yang memiliki kriteria ini, maka Allah tidak akan memberikan kebaikan kepadanya, Allah akan menelantarkannya dan dia tidak dapat memahami ayat-ayat Allah yang bermanfaat bagi diri bahkan bisa jadi hakikat-hakikat perkara menjadi jungkir balik baginya yang selanjutnya dia meng-anggap yang buruk sebagai sesuatu yang baik. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ كُلَّ ءَايَةٖ لَّا يُؤۡمِنُواْ بِهَا ﴿ " Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya." Karena mereka berpaling, menyangkal dan menentang Allah dan RasulNya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلرُّشۡدِ ﴿ "Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk", yang lurus dan benar, yaitu jalan yang mengantarkan kepada Allah dan kepada rumah kemuliaan-Nya (surga), ﴾ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗا ﴿ "mereka tidak mau menempuhnya." Yakni mereka tidak mau menitinya dan tidak menyukainya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلۡغَيِّ ﴿ "Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan", yakni kesesatan yang mengantarkan pelakunya kepada rumah kesengsaraan (mereka), ﴾ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗاۚ ﴿ "mereka terus menempuhnya." Penyebab penyimpangan mereka seperti itu karena ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "yang de-mikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya." Penolakan mereka terhadap ayat-ayat Allah, kelalaiannya terhadap maksudnya dan pelecehannya terhadapnya adalah penyebab mereka menempuh jalan kesesatan dan mening-galkan jalan lurus.
(147) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami", yang agung, yang menunjukkan kebenaran rasul-rasul yang telah Kami utus, ﴾ وَلِقَآءِ ٱلۡأٓخِرَةِ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡۚ ﴿ "dan mendus-takan akan menemui Akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka." Karena perbuatan tersebut tidak dilakukan di atas fondasi syariat dan telah hilang darinya syarat diterimanya, yaitu beriman kepada ayat-ayat-Nya dan membenarkan balasanNya. ﴾ هَلۡ يُجۡزَوۡنَ ﴿ "Mereka tidak diberi balasan", tentang amal perbuatan mereka yang sia-sia dan terjadinya apa yang tidak mereka harapkan ﴾ إِلَّا مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "selain dari apa yang telah mereka kerjakan." Sesungguhnya amal perbuatan orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak ada pahala yang di-harapkan padanya dan tidak memiliki tujuan yang dicapai. Oleh karena itu ia batal dan sia-sia.
(148) ﴾ وَٱتَّخَذَ قَوۡمُ مُوسَىٰ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِنۡ حُلِيِّهِمۡ عِجۡلٗا جَسَدٗا ﴿ "Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh", yang dibuat oleh Samiri dan dia masukkan bekas jejak Rasul ke dalamnya, maka ia ﴾ لَّهُۥ خُوَارٌۚ ﴿ "bersuara." Maka mereka pun menyembahnya dan menjadikannya sebagai tuhan. Samiri berkata "Ini adalah tuhanmu dan tuhan Musa. Musa lupa sehingga dia pergi untuk mencarinya." Ini adalah ke-bodohan mereka dan minimnya ilmu mereka. Bagaimana mereka tidak bisa membedakan antara Tuhan langit dan bumi dengan anak sapi makhluk yang paling hina? Oleh karena itu Allah menjelaskan bahwa ia tidak memiliki sifat-sifat dzat dan perbuatan yang me-nunjukkan bahwa ia adalah tuhan. ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمۡ ﴿ "Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka." Bisu adalah kekurangan yang nyata. Mereka sendiri lebih baik keadaannya daripada hewan atau benda mati yang tidak ber-bicara, ﴾ وَلَا يَهۡدِيهِمۡ سَبِيلًاۘ ﴿ "dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?" Yakni ia tidak dapat menunjukkan mereka jalan agama dan tidak dapat menghasilkan kebaikan dunia untuk mereka, kare-na sudah diketahui oleh akal bahwa menyembah tuhan yang tidak bisa bicara, tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat termasuk kebatilan yang paling batil dan kedunguan yang paling dungu. ﴾ ٱتَّخَذُوهُ وَكَانُواْ ظَٰلِمِينَ ﴿ "Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim." Di mana mereka meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya dan menyekutukan Allah tanpa bukti dalil dariNya. Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa siapa yang mengingkari Kalamullah berarti mengingkari kekhususan uluhiyah Allah تعالى, karena Allah menyebutkan bahwa ketidakmam-puan berbicara adalah dalil ketidaklayakannya untuk dijadikan sebagai tuhan.
(149) ﴾ وَلَمَّا ﴿ "Dan manakala", Musa kembali kepada kaum-nya, dia mendapati mereka dalam keadaan tersebut. Musa menje-laskan kesesatan mereka, dan mereka pun menyesal. ﴾ سُقِطَ فِيٓ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Mereka sangat menyesali perbuatannya." Yakni bersedih tanda pe-nyesalan atas perbuatan mereka, ﴾ وَرَأَوۡاْ أَنَّهُمۡ قَدۡ ضَلُّواْ ﴿ "dan mengetahui bahwa mereka telah sesat", mereka pun kembali kepada Allah dan merendahkan diri di hadapanNya. ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ يَرۡحَمۡنَا رَبُّنَا ﴿ "Mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami," dengan membimbing kita kepada jalan yang lurus, memberi taufik kepada ibadah kepadaNya dan kepada amal-amal shalih, ﴾ وَيَغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "dan tidak mengampuni kami", atas dosa menyembah anak sapi yang telah kami lakukan, ﴾ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi," yang merugi di dunia dan di Akhirat.
(150) ﴾ وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا ﴿ "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati." Yakni Musa dipenuhi oleh amarah dan emosi kepada mereka karena kecemburuannya yang besar terhadap Allah تعالى dan kasih sayang serta ketulusan-nya yang sempurna. ﴾ قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ ﴿ "Berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku'." Yakni alangkah buruknya keadaan kalian setelah kepergianku dari kalian, sesungguhnya ia adalah keadaan yang menyeret kepada kebinasaan dan kesengsaraan untuk selama-lamanya. ﴾ أَعَجِلۡتُمۡ أَمۡرَ رَبِّكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu?" Di mana Dia telah menjan-jikan kepadamu untuk menurunkan kitab tetapi kamu tergesa-gesa dengan akalmu yang rusak sehingga melakukan perbuatan buruk ini. ﴾ وَأَلۡقَى ٱلۡأَلۡوَاحَ ﴿ "Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu." Yakni dia melemparnya karena marah. ﴾ وَأَخَذَ بِرَأۡسِ أَخِيهِ ﴿ "Dan memegang (rambut) kepala saudaranya", Harun dan juga jenggotnya, ﴾ يَجُرُّهُۥٓ إِلَيۡهِۚ ﴿ "sambil menariknya ke arahnya." Dan Musa berkata kepadanya, ﴾ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ 92 أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي 93 ﴿ "Apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (se-ngaja) mendurhakai perintahku?" (Thaha: 92-93), kepadamu dengan ucapanku, ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 142 ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (Al-A'raf: 142). Harun menjawab, ﴾ قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي 94 ﴿ "Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak me-melihara amanatku'." (Thaha: 94). Dan di sini Harun menjawab, ﴾ قَالَ ٱبۡنَ أُمَّ ﴿ "Hai anak ibuku", ucapan ini untuk melunakkan Musa dengan hanya menyinggung ibu saja. Namun demikian, sebenarnya dia adalah saudara kandung-nya. ﴾ إِنَّ ٱلۡقَوۡمَ ٱسۡتَضۡعَفُونِي ﴿ "Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah." Yakni mereka meremehkanku ketika aku berkata kepada mereka, "Wahai kaum, kalian hanya difitnah dengannya dan bahwa Rabbmu adalah Allah Yang Maha Rahman, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku. ﴾ وَكَادُواْ يَقۡتُلُونَنِي ﴿ "Dan hampir-hampir mereka membu-nuhku." Yakni janganlah kamu mendugaku lalai. ﴾ فَلَا تُشۡمِتۡ بِيَ ٱلۡأَعۡدَآءَ ﴿ "Sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku", dengan hardikanmu kepadaku dan perlakuan burukmu kepadaku, karena musuh-musuh selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam memunculkan kesalahan dan menemukan kekeliruan pada-ku, ﴾ وَلَا تَجۡعَلۡنِي مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim." Lalu kamu memperlakukanku seperti mereka.
(151) Musa عليه السلام menyesal atas perbuatannya yang terburu-buru terhadap saudaranya sebelum dia mengetahui bahwa sauda-ranya tidak seperti yang dia duga. Musa berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي ﴿ "Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku", Harun. ﴾ وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ ﴿ "Dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu." Yakni di dalamnya, ja-dikanlah rahmatMu meliputi kami dari segala segi karena ia adalah benteng yang kokoh dari segala keburukan dan di sanalah seluruh kebaikan dan kebahagiaan. ﴾ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." Yakni, lebih menyayangi kami dari seluruh penyayang, lebih sayang kepada kami daripada bapak, ibu, anak dan diri kami sendiri.
(152) Allah تعالى menjelaskan keadaan para penyembah anak sapi. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ ٱلۡعِجۡلَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sesembahannya)", yakni sebagai tuhan, ﴾ سَيَنَالُهُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَذِلَّةٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia." Sebagaimana mereka telah membuat Rabb mereka marah dan meremehkan pe-rintahNya. ﴾ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُفۡتَرِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan ke-pada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." Semua pendusta atas nama Allah, pembohong atas syariatNya, dan mengucapkan sesuatu atas namaNya apa yang tidak Dia katakan; akan menda-patkan bagian dari murka Allah dan kehinaan di dunia.
(153) Mereka telah mendapatkan murka dari Allah, di mana Dia memerintahkan mereka membunuh diri mereka, dan bahwa Allah tidak meridhai mereka kecuali dengan itu. Lalu sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain dan pembunuhan tersebut memakan korban yang banyak, kemudian Allah mengampuni me-reka setelah itu. Oleh karena itu Allah menyebutkan hukum secara umum, di mana mereka dan selain mereka masuk ke dalamnya. ﴾ وَٱلَّذِينَ عَمِلُواْ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan", baik dosa syirik, dosa besar, dan dosa kecil, ﴾ ثُمَّ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "kemudian bertau-bat sesudah itu." Yakni mereka menyesalinya, meninggalkannya, dan bertekad tidak kembali mengulangnya ﴾ وَءَامَنُوٓاْ ﴿ "dan beriman", kepada Allah dan kepada apa yang Allah wajibkan untuk diimani, dan iman tidak sempurna kecuali dengan amalan hati dan amalan anggota badan yang merupakan tuntutan iman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "se-sungguhnya Rabbmu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu." Yakni setelah keadaan ini keadaan taubat dari kejahatan dan kem-bali kepada ketaatan, ﴾ لَغَفُورٞ ﴿ "adalah Maha Pengampun", mengam-puni keburukan dan menghapusnya meskipun ia sepenuh jagad, ﴾ رَّحِيمٞ ﴿ "lagi Maha Penyayang," dengan menerima taubat dan mem-beri taufik untuk dapat beramal shalih dan menerimanya.
(154) ﴾ وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلۡغَضَبُ ﴿ "Sesudah amarah Musa menjadi reda." Yakni kemarahannya reda, jiwanya tenang, dan dapat mengu-asai dirinya, maka dia mulai melakukan perkara paling penting padanya, maka dia mengambil ﴾ ٱلۡأَلۡوَاحَۖ ﴿ "Luh-luh (Taurat) itu", yang dia lemparkan, dan ia adalah luh-luh yang mulia dan berukuran besar, ﴾ وَفِي نُسۡخَتِهَا ﴿ "dan dalam tulisannya", yakni mengandung dan berisi ﴾ هُدٗى وَرَحۡمَةٞ ﴿ "petunjuk dan rahmat." Yakni, di dalamnya terda-pat petunjuk dari kesesatan, penjelasan tentang kebenaran dari kebatilan, perbuatan baik dan perbuatan buruk, petunjuk kepada amalan, akhlak, dan adab terbaik, serta rahmat dan kebahagiaan bagi yang melaksanakannya dan mengetahui hukum-hukum dan makna-maknanya. Akan tetapi tidak semua orang mau menerima petunjuk Allah dan RahmatNya. Yang bersedia menerima, menaati, dan tunduk kepadanya adalah ﴾ لِّلَّذِينَ هُمۡ لِرَبِّهِمۡ يَرۡهَبُونَ ﴿ "orang-orang yang takut kepada Rabbnya." Adapun orang yang tidak takut kepada Allah dan tidak pula kepada pengadilan di hadapanNya, maka ia hanya menambah kesombongannya dan penolakannya, dan hujjah Allah pun tegak atasnya.
(155) Dan tatkala Bani Israil bertaubat serta kembali ke jalan mereka yang lurus ﴾ وَٱخۡتَارَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa memilih", dari mereka ﴾ سَبۡعِينَ رَجُلٗا ﴿ "tujuh puluh orang", terbaik di antara mereka untuk memohon maaf kepada Allah bagi kaum mereka. Allah menjanjikan kepada mereka waktu di mana mereka bisa menghadirinya. Manakala me-reka telah hadir, mereka berkata, "Wahai Musa, tunjukkanlah Allah kepada kami secara nyata." Mereka telah berkata sangat lancang kepada Allah, bersikap kurang ajar kepadaNya, maka mereka pun digoncang gempa, sehingga mereka pingsan dan binasa, maka Musa tiada henti-hentinya berdoa merendahkan diri kepada Allah dan berkata, ﴾ رَبِّ لَوۡ شِئۡتَ أَهۡلَكۡتَهُم مِّن قَبۡلُ ﴿ "Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka sebelum ini." Yakni sebelum mereka hadir dan mereka dalam keadaan memohon maaf untuk kaum mereka, justru mereka sekarang menjadi orang-orang yang zhalim. ﴾ أَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَّآۖ ﴿ "Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?" Yakni orang-orang berakal bodoh dan berpikiran pandir. Musa merendahkan diri kepada Allah dan memohon pemakluman karena orang-orang yang berbuat kelancangan tersebut tidak memiliki akal yang sem-purna yang menjaga mereka sehingga mereka tidak mengucapkan dan melakukan demikian, dan bahwa telah terjadi fitnah pada diri mereka yang terlintas pada diri seseorang dan dia khawatir agama-nya akan lenyap. Maka dia berkata, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّا فِتۡنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَآءُ وَتَهۡدِي مَن تَشَآءُۖ أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۖ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡغَٰفِرِينَ ﴿ "Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri pe-tunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." Yakni Engkau adalah sebaik-baik pemaaf, sebaik-baik yang menyayangi, dan semulia-mulia pemberi karunia. Seakan-akan Musa عليه السلام berkata, "Wahai Rabb, yang dimaksud dengan tujuan pertama bagi kami semua adalah menaatiMu dan beriman kepadaMu, dan bahwa orang yang ber-akal, mengerti, dan memahaminya dengan sempurna sesuai dengan taufik yang telah Engkau berikan, maka ia tetap bersikap lurus. Adapun orang yang lemah akalnya, pandir pemikirannya, dan di-belokkan oleh fitnah, maka dialah yang melakukan pelanggaran itu, meskipun demikian Engkau adalah sebaik-baik Penyayang dan sebaik-baik Pengampun, maka ampunilah dan sayangilah kami." Maka Allah mengabulkan permintaan Musa dan menghidupkan mereka setelah mereka mati dan mengampuni dosa-dosa mereka.
(156) Musa menyempurnakan doanya, ﴾ وَٱكۡتُبۡ لَنَا فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ ﴿ "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini", berupa ilmu yang bermanfaat, rizki yang lapang, dan amal yang shalih. ﴾ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dan di Akhirat", yakni dengan kebajikan, yaitu pahala yang Allah sediakan untuk hamba-hambaNya yang shalih. ﴾ إِنَّا هُدۡنَآ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu." Yakni kami kem-bali dengan mengakui kelalaian kami. Kami kembali kepadaMu dalam segala urusan kami. ﴾ قَالَ عَذَابِيٓ أُصِيبُ بِهِۦ مَنۡ أَشَآءُۖ ﴿ "Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki," dari kala-ngan orang yang sengsara yang menentang sebab-sebabnya. ﴾ وَرَحۡمَتِي وَسِعَتۡ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Dan RahmatKu meliputi segala sesuatu," meliputi langit dan bumi, orang baik dan orang jahat, Mukmin dan kafir, tiada makhluk kecuali rahmat Allah telah dia rasakan, karunia dan ke-baikanNya telah dia cicipi, akan tetapi rahmat yang khusus yang berkonsekuensi kepada kebahagiaan dunia dan akhirat tidak dira-sakan oleh semua orang. Oleh karena itu Dia berfirman tentangnya, ﴾ فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ﴿ "Maka akan Aku tetapkan RahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa", dari kemaksiatan besar dan kecil, ﴾ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "yang menunaikan zakat", yang wajib ditunaikan kepada yang ber-hak, ﴾ وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَٰتِنَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami."
(157) Di antara kesempurnaan iman kepada ayat-ayat Allah adalah mengetahui maknanya dan menjalankan konsekuensinya. Termasuk dalam hal ini adalah mengikuti Nabi ﷺ lahir dan batin dalam perkara agama, baik yang ushul (pokok) maupun yang furu' (cabang). ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang meng-ikuti Rasul, Nabi yang ummi." Dikatakan ummi agar nabi-nabi yang lain tidak termasuk di dalamnya, karena yang dimaksud di sini adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib, sementara konteks ayatnya adalah tentang Bani Israil, bahwa iman kepada Nabi Muhammad adalah syarat atas mereka untuk masuk ke dalam iman, bahwa orang-orang yang beriman kepadanya yang mengiku-tinya adalah orang-orang yang mendapatkan rahmat yang mutlak yang telah Allah tulis untuk mereka. Allah menyifatinya dengan ummi karena dia dari bangsa Arab umat yang ummi, tidak menulis dan tidak membaca, dan sebelum al-Qur`an turun mereka tidak memiliki kitab. ﴾ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ ﴿ "Yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka." Dengan nama dan sifatnya di mana yang paling mulia dan paling agung adalah apa yang dia dakwahkan dan apa yang dia larang. ﴾ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf." Yaitu semua yang diketahui kebaikannya, kebagusannya, dan man-faatnya. ﴾ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar." Yaitu semua yang dikenal buruknya menurut akal dan fitrah. Dia memerintahkan mereka untuk shalat, zakat, puasa, haji, silaturahim, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada tetangga dan hamba sahaya, memberikan manfaat kepada seluruh makhluk, kejujuran, kesucian diri, kebaikan, nasihat, dan lain-lain. Dia melarang syirik kepada Allah, membunuh tanpa ala-san yang benar, zina, minum khamar, kezhaliman kepada makhluk lain, dusta, dosa, dan lain-lain. Bukti paling agung bahwa dia adalah Rasul Allah adalah apa yang dia dakwahkan dan dia perintahkan dan apa yang dia larang, apa yang dia halalkan dan apa yang dia haramkan. Dia menghalalkan yang baik-baik dari makanan, mi-numan, dan pernikahan, ﴾ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ ﴿ "dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk", dari makanan, minuman, pernikahan, ucapan dan perbuatan, ﴾ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "dan mem-buang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." Yakni di antara sifatnya adalah bahwa agamanya mudah, ringan, tidak sulit, tidak ada beban, tidak ada belenggu, tidak ada kesulitan, dan tidak ada pembebanan syariat yang berat. ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman kepada-nya, memuliakannya", yakni mengagungkannya dan menghormati-nya. ﴾ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ﴿ "Menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya", yaitu al-Qur`an yang mene-rangi di kegelapan keraguan dan kebodohan, dijadikan pegangan pada saat terjadi pertentangan pendapat. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang beruntung." Yang meraih kebaikan di dunia dan akhirat, yang selamat dari keburukan dunia dan akhirat, karena mereka melakukan sebab keberuntungan terbesar. Adapun orang yang tidak beriman kepada Nabi ummi ini, tidak memuliakannya, tidak menolongnya, dan tidak mengikuti cahaya yang dibawanya, maka dia adalah orang-orang yang merugi.
(158) Manakala ahli Taurat dari Bani Israil diajak untuk me-ngikuti Nabi Muhammad, dan mungkin ada yang mengira bahwa ajakan tersebut hanya terbatas kepada mereka, maka dihadirkan lafazh yang menunjukkan keumuman, maka Allah berfirman, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguh-nya aku adalah utusan Allah kepadamu semua'." Yakni bangsa Arab dan yang non Arab, ahli kitab dan yang bukan ahli kitab. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi." Dia bertindak pada keduanya dengan hukum-hukumNya yang kauniyah, peraturan-peraturan kekuasaanNya, dan hukum-hukum syar'iyah diniyah yang di antaranya adalah bahwa Dia mengutus kepadamu seorang Rasul yang agung yang mengajakmu kepada Allah dan kepada rumah kemuliaanNya (surga), dan memperingat-kanmu dari setiap perkara yang menjauhkanmu dariNya dan dari rumah kemuliaanNya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak di-sembah) selain Dia." Yakni tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan cara beribadah kepadaNya tidak diketahui kecuali melalui rasul-rasulNya. ﴾ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Yang menghidupkan dan mematikan." Yakni di antara PengaturanNya adalah menghidupkan dan mematikan, di mana tidak ada seorang pun yang menyertaiNya dalam hal ini di mana Allah menjadikan kematian sebagai jembatan penyeberangan ke rumah kekekalan di mana barangsiapa yang beriman kepada-nya, pasti akan membenarkan Rasul. ﴾ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ﴿ "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi." Iman dengan hati yang mencakup amal hati dan anggota badan. ﴾ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ ﴿ "Yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-ka-limatNya (kitab-kitabNya)." Yakni berimanlah kepada Rasul yang lurus ini dalam akidah dan perbuatannya. ﴾ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ﴿ "Dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk," kepada kebaikan duniamu dan agamamu, karena jika kamu tidak mengikutinya, maka kamu akan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.
(159) ﴾ وَمِن قَوۡمِ مُوسَىٰٓ أُمَّةٞ ﴿ "Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat." Yakni jamaah, ﴾ يَهۡدُونَ بِٱلۡحَقِّ وَبِهِۦ يَعۡدِلُونَ ﴿ "Yang memberi pe-tunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan." Yakni mereka memberi petunjuk kepada ma-nusia dengan pengajaran dan fatwa kepada mereka dan berlaku adil di antara mereka dalam memutuskan perkara-perkara di an-tara mereka, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 24 ﴿ "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24). Ini menunjukkan keutamaan umat Nabi Musa عليه السلام, dan bahwa Allah تعالى menjadikan di antara mereka orang-orang yang memberi petunjuk dengan perintahNya. Dan sepertinya ayat yang mulia ini hadir untuk menepis kesalahan pemahaman dari penjelasan-penje-lasan sebelumnya, karena dalam ayat-ayat sebelumnya Allah me-nyebutkan sekumpulan aib Bani Israil yang bertentangan dan ber-tabrakan dengan hidayah dan kesempurnaan, mungkin saja ada yang menduga salah bahwa hal itu ada pada Bani Israil semuanya, maka Allah menyebutkan bahwa di antara mereka ada sekelompok orang yang lurus yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk tersebut kepada orang lain.
(160) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمُ ٱثۡنَتَيۡ عَشۡرَةَ أَسۡبَاطًا أُمَمٗاۚ ﴿ "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar." Yakni dua belas suku yang selalu mengenal dan berhubungan baik. Setiap ke-turunan seorang laki-laki dari anak-anak Ya'qub adalah satu suku. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ إِذِ ٱسۡتَسۡقَىٰهُ قَوۡمُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya." Yakni mereka meminta kepada-nya untuk berdoa kepada Allah تعالى agar memberi mereka air untuk minum mereka dan ternak mereka, hal itu karena –wallahu a'lam– mereka berada di daerah minim air. Maka Allah menjawab permin-taan mereka dengan mewahyukan kepada Musa, ﴾ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ ﴿ "Pukullah batu itu dengan tongkatmu." Ada kemungkinan ia adalah batu tertentu, ada kemungkinan ia adalah jenis batu apa saja. Musa memukulnya. ﴾ فَٱنۢبَجَسَتۡ ﴿ "maka memancarlah", dari batu tersebut ﴾ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَيۡنٗاۖ ﴿ "dua belas mata air", mengalir. ﴾ قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٖ مَّشۡرَبَهُمۡۚ ﴿ "Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum ma-sing-masing." Yakni mata air itu terbagi menjadi dua belas sesuai dengan jumlah suku Bani Israil, masing-masing suku dengan mata airnya, mereka mengetahuinya, mereka tenang, terbebas dari kele-lahan dan tanpa berdesak-desakan, dan ini termasuk kesempurnaan nikmat Allah kepada mereka. ﴾ وَظَلَّلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡغَمَٰمَ ﴿ "Dan Kami naungkan awan di atas mereka." Ia melindungi mereka dari panas matahari. ﴾ وَأَنزَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَنَّ ﴿ "Dan Kami turunkan kepada mereka manna", yaitu sesuatu yang manis (seperti madu. Ed) ﴾ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ ﴿ "dan salwa", yaitu daging burung terbaik dan terlezat. Allah mengumpulkan untuk mereka naungan awan, minuman, dan makanan yang enak yaitu manna dan salwa yang didapat tanpa lelah dan capek. Dikatakan kepada mereka, ﴾ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا ﴿ 'Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepadamu'. Mereka tidak menganiaya Kami," manakala mereka tidak bersyukur kepada Allah dan tidak menunaikan apa yang Allah wajibkan atas mereka. ﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." Di mana mereka menyia-nyiakan kebaikan dan menentang resiko keburukan dan azab. Ini terjadi pada masa di mana mereka tersesat dari bumi.
(161) ﴾ وَإِذۡ قِيلَ لَهُمُ ٱسۡكُنُواْ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis)'." Yakni masuklah ke dalamnya agar ia menjadi tempat tinggal dan negerimu, yaitu Ailia (Baitul Maqdis). ﴾ وَكُلُواْ مِنۡهَا حَيۡثُ شِئۡتُمۡ ﴿ "Dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki." Yakni negeri dengan pohon yang lebat dan buah yang banyak serta kehi-dupan yang nyaman. Oleh karena itu Allah memerintahkan mereka agar makan darinya sesuka mereka. ﴾ وَقُولُواْ ﴿ "Dan katakanlah", ketika kamu masuk, ﴾ حِطَّةٞ ﴿ "Bebaskanlah kami dari dosa kami." Yakni ha-puskanlah kesalahan kami dan maafkanlah kami. ﴾ وَٱدۡخُلُواْ ٱلۡبَابَ سُجَّدٗا ﴿ "Dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk." Yakni dengan merendahkan diri kepada Allah, mengakui kebesaranNya dan mensyukuri nikmatNya. Allah memerintahkan mereka agar tunduk dan memohon ampunan, dan menjanjikan mereka ampunan atas dosa-dosa mereka dan pahala di dunia dan Akhirat. Dia berfirman, ﴾ نَّغۡفِرۡ لَكُمۡ خَطِيٓـَٰٔتِكُمۡۚ سَنَزِيدُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik." Dari kebaikan dunia dan akhirat.
(162) Mereka tidak menggubris perintah Ilahi ini, justru orang-orang zhalim dari mereka merubahnya, yakni mereka me-langgar dan meremehkan perintah Allah. ﴾ قَوۡلًا غَيۡرَ ٱلَّذِي قِيلَ لَهُمۡ ﴿ "dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka", sebagai ganti meminta ampun dan mengucapkan "hiththah", mereka berkata, "Satu biji gandum." Jika mereka merubah ucapan meski ia sangat mudah, maka mereka lebih berani lagi merubah perbuatan. Oleh karena itu mereka masuk dengan cara mengesot. ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka Kami timpakan kepada mereka", ketika mereka menyelisihi perintah Allah dan durhaka kepadaNya, ﴾ رِجۡزٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "azab dari langit." Yakni azab yang berat, bisa jadi tha'un atau azab dari langit yang lain, Allah tidak menzhalimi mereka dengan azabNya, akan tetapi hal itu ﴾ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ﴿ "disebabkan kezhaliman mereka."
(163) ﴾ وَسۡـَٔلۡهُمۡ عَنِ ٱلۡقَرۡيَةِ ٱلَّتِي كَانَتۡ حَاضِرَةَ ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut", di pantai ketika mereka melanggar dan Allah menghukum mereka ﴾ إِذۡ يَعۡدُونَ فِي ٱلسَّبۡتِ ﴿ "ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu." Padahal Allah تعالى telah memerintahkan mereka agar menghormatinya dan mengagungkannya dengan tidak menangkap ikan pada hari itu, lalu Allah menguji mereka, di mana pada Hari Sabtu ikan-ikan be-sar muncul di permukaan laut dalam jumlah yang banyak. ﴾ وَيَوۡمَ لَا يَسۡبِتُونَ ﴿ "Dan di hari-hari yang bukan Sabtu." Yakni jika Hari Sabtu berlalu ﴾ لَا تَأۡتِيهِمۡۚ ﴿ "ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka." Yakni ia menghilang dan mereka tidak melihat seekor pun. ﴾ كَذَٰلِكَ نَبۡلُوهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka ber-laku fasik." Kefasikan mereka yang menyebabkan Allah menguji mereka dengan ujian tersebut, karena jika mereka tidak demikian, niscaya Allah membebaskan mereka dan tidak menimpakan ujian dan keburukan kepada mereka.
(164) Namun mereka tetap berburu dengan membuat tipuan, mereka menggali lubang-lubang dan memasang jaring-jaring, jika Hari Sabtu tiba, maka ikan-ikan itu tertangkap ke dalam lubang-lubang dan jaring-jaring tersebut, tetapi mereka tidak mengambil-nya pada hari itu, jika Hari Ahad tiba, maka mereka mengambilnya dan hal itu sering terjadi pada mereka. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Mayoritas dari mereka tidak mengindahkan dan mereka melanggar secara terang-terangan. Kelompok kedua melarang dan mengingkari perbuatan kelompok mayoritas. Dan kelompok ketiga merasa cukup dengan apa yang dilakukan oleh kelompok kedua. Kelompok ini berkata, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Sepertinya mereka berkata, "Tidak ada gunanya menasihati orang yang berani melang-gar larangan Allah dan tidak menghiraukan nasihat yang tulus, tetapi justru tetap teguh di atas pelanggaran dan kezhaliman, karena Allah pasti akan menghukum mereka, baik dengan kebinasaan atau azab yang pedih." Orang-orang yang memberi nasihat menjawab, "Kami melarang dan menasihati mereka, ﴾ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ ﴿ 'agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu.' Yakni agar kami dimaafkan berkenaan dengan apa yang mereka lakukan, ﴾ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "dan supaya mereka bertakwa." Yakni mereka meninggal-kan kemaksiatan yang mereka lakukan. Maka kami tidak berputus asa dari usaha memberi petunjuk kepada mereka, bisa jadi nasihat kami mujarab pada mereka, larangan kami didengar oleh mereka, dan inilah tujuan terbesar dari pengingkaran terhadap kemungka-ran, agar ia berfungsi sebagai alasan dan penegakan hujjah atas yang diperintah dan yang dilarang, dan semoga Allah memberinya petunjuk lalu dia melaksanakan tuntutan dari perintah dan lara-ngan tersebut.
(165) ﴾ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦٓ ﴿ "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperintahkan kepada mereka." Mereka meninggalkan apa yang diperingatkan kepada mereka dan mereka terus berjalan di atas pelanggaran dan kesesatan. ﴾ أَنجَيۡنَا ٱلَّذِينَ يَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلسُّوٓءِ ﴿ "Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat." Begitulah sunnah Allah pada hamba-hambaNya, bahwa jika azab telah turun, maka yang selamat adalah orang-orang yang beramar ma'ruf dan bernahi mungkar. ﴾ وَأَخَذۡنَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim." Yaitu orang-orang yang melanggar pada Hari Sabtu ﴾ بِعَذَابِۭ بَـِٔيسِۭ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik." Adapun kelompok yang lain yang berkata kepada orang-orang yang melarang, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka." Maka ahli tafsir berbeda pen-dapat tentang apakah mereka selamat atau tidak, dan sepertinya mereka itu selamat, karena Allah mengkhususkan kebinasaan bagi orang-orang yang zhalim, sedangkan Dia tidak menyatakan mereka sebagai orang-orang yang zhalim. Ini menunjukkan bahwa azab hanya menimpa orang-orang yang melanggar di Hari Sabtu saja. Di samping itu amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah fardhu ki-fayah. Jika ia telah ditunaikan oleh sebagian orang, maka ia gugur dari sebagian yang lain, maka mereka merasa cukup dengan peng-ingkaran orang-orang yang mengingkari, dan karena sebenarnya mereka juga mengingkari dengan ucapan mereka, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" (Al-A'raf: 164). Mereka menampakkan kemarahan kepada orang-orang zhalim itu yang menunjukkan bahwa mereka sangat membenci perbuatan mereka dan bahwa Allah akan mengazab mereka atasnya.
(166) ﴾ فَلَمَّا عَتَوۡاْ عَن مَّا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya." Yakni, hati mereka keras, menolak dan tidak mau menerima nasihat. ﴾ قُلۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Kami katakan kepadanya", dengan perkataan sebagai takdir. ﴾ كُونُواْ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ ﴿ "Jadilah kamu kera yang hina." Mereka berubah menjadi kera dengan izin Allah dan Allah menjauhkan mereka dari RahmatNya.
(167) Kemudian Allah menyebutkan kehinaan dan kenis-taan yang menimpa orang-orang yang tersisa dari mereka. Dia ber-firman, ﴾ وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberitahukan", dengan pemberitahuan yang jelas, ﴾ لَيَبۡعَثَنَّ عَلَيۡهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَن يَسُومُهُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِۗ ﴿ "bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya." Yakni yang menghina-kan dan merendahkan mereka. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Sesunggguhnya Rabbmu amat cepat siksaNya", kepada orang yang mendurhakaiNya, bahwa Dia bisa menyegerakan hukuman di dunia kepadanya. ﴾ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang," bagi yang kembali dan bertaubat kepadaNya. Dia mengam-puni dosanya dan menutupi aib-aibnya, menyayanginya dengan menerima ketaatan dan membalasnya dengan berbagai macam balasan. Allah telah merealisasikan janjiNya pada mereka, maka mereka selalu dalam kehinaan dan kerendahan dijajah oleh bangsa lain, tidak ada panji dan bendera mereka yang tegak dengan kokoh.
(168) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أُمَمٗاۖ ﴿ "Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan." Yakni Kami memecah dan mencerai-beraikan mereka setelah sebelumnya mereka berkumpul. ﴾ مِّنۡهُمُ ٱلصَّٰلِحُونَ ﴿ "Di antaranya ada orang-orang yang shalih." Yaitu orang-orang yang melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-ham-baNya. ﴾ وَمِنۡهُمۡ دُونَ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Dan di antaranya ada yang tidak demikian." Yakni di bawah yang pertama. Bisa jadi mereka adalah orang-orang pertengahan, dan bisa pula orang-orang yang menzhalimi diri me-reka. ﴾ وَبَلَوۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami coba mereka", berdasarkan kebiasaan dan sunnah Kami, ﴾ بِٱلۡحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk." Yakni dengan kemudahan dan kesu-litan ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "agar mereka kembali (kepada kebenaran)", dari kese-satan di mana mereka berada di dalamnya, dan mereka berpegang kepada petunjuk yang karenanya mereka diciptakan. Di antara mereka selalu ada orang yang baik, tengah-tengah, dan yang buruk.
(169) ﴾ فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٞ وَرِثُواْ ﴿ "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi", sesudah mereka ﴾ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Taurat." Mereka memperlakukan kitab itu menurut hawa nafsu mereka. Mereka disodori harta agar mereka memberi fatwa dan memutus-kan hukum dengan cara yang tidak benar, suap merajalela di ka-langan mereka, ﴾ يَأۡخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا ٱلۡأَدۡنَىٰ وَيَقُولُونَ ﴿ "Yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata", mereka mengakui bahwa ia ada-lah dosa dan bahwa mereka adalah orang-orang zhalim, ﴾ سَيُغۡفَرُ لَنَا ﴿ "Kami akan diberi ampun." Ini adalah omong kosong, ia bukan istighfar dan minta ampun yang sebenarnya. Jika memang demikian, niscaya mereka akan menyesal atas apa yang mereka perbuat dan mereka berniat kuat untuk tidak mengulanginya, akan tetapi jika ada harta dan suap lain, maka mereka mengambilnya, mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, mereka mengganti yang baik dengan yang buruk. Allah تعالى mengingkari mereka dan menjelaskan kelancangan mereka. ﴾ أَلَمۡ يُؤۡخَذۡ عَلَيۡهِم مِّيثَٰقُ ٱلۡكِتَٰبِ أَن لَّا يَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّ ﴿ "Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar?" Lalu mengapa mereka berkata atas namaNya tanpa kebenaran karena mengikuti hawa nafsu dan cenderung kepada ambisi mereka, ﴾ وَ﴿ "dan" se-benarnya mereka ﴾ وَدَرَسُواْ مَا فِيهِۗ ﴿ "telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?" tidak ada persoalan atas mereka padanya, justru mereka melakukan perbuatan mereka itu dalam keadaan sengaja dan me-ngetahui. Ini lebih besar dosanya, lebih buruk celaannya, dan lebih berat siksanya. Ini termasuk kebodohan akal mereka dan keren-dahan pikiran mereka, karena mereka lebih mementingkan dunia daripada akhirat. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ ﴿ "Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa." Dengan menjauhi penghasilan yang bersumber dari suap atas pe-netapan hukum berdasar kepada selain yang diturunkan oleh Allah dan perkara-perkara haram lainnya. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?" Yakni apakah kalian tidak mempunyai akal yang dengannya kalian menimbang apa yang semestinya lebih di-pentingkan, apa yang lebih berhak untuk diusahakan dan didahu-lukan? Tugas akal adalah melihat kepada akibat dari sesuatu. Ada-pun orang yang berpandangan dangkal lagi pendek, dia tidak dapat meraih nikmat agung yang kekal, di mana akal dan pikirannya?
(170) Orang-orang yang berakal sebenar-benarnya adalah orang-orang yang dicitrakan oleh Allah dengan FirmanNya, ﴾ وَٱلَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat)." Yakni berpegang teguh dari segi ilmu dan amal, mereka mengetahui hukum-hukum dan berita-berita yang dikandungnya, di mana ilmu tentang itu adalah ilmu yang termulia, mereka men-jalankan perintah-perintah yang dikandungnya yang merupakan ketenangan, kebahagiaan hati dan jiwa serta kemenangan dunia dan akhirat. Dan di antara perintah-perintah agung yang wajib di-pegang adalah mendirikan shalat secara lahir dan batin. Oleh karena itu Allah menyebutkannya secara khusus karena keutamaannya dan kemuliaannya, dan bahwa ia adalah timbangan amal dan penega-kannya mendorong kepada penegakan ibadah-ibadah yang lain. Karena seluruh amal mereka adalah baik, maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan," dalam perkataan, perbuatan, dan niat mereka, memperbaiki diri dan orang lain. Ayat ini dan yang sepertinya menunjukkan bahwa Allah mengutus para rasulNya k dengan kebaikan bukan kerusakan, dengan manfaat bukan mudarat, mereka diutus dengan kebaikan dunia dan akhirat. Jadi, semakin seseorang itu baik, maka dia sema-kin dekat kepada sikap mengikuti mereka.
(171) Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ نَتَقۡنَا ٱلۡجَبَلَ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka", ketika mereka menolak apa yang ada di dalam Taurat, Dia mewajibkan mereka beramal dan mengangkat gunung di atas mereka, maka gunung pun di atas mereka, ﴾ كَأَنَّهُۥ ظُلَّةٞ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُۥ وَاقِعُۢ بِهِمۡ ﴿ "seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka." Dan dikatakan kepada mereka, ﴾ خُذُواْ مَآ ءَاتَيۡنَٰكُم بِقُوَّةٖ ﴿ "Peganglah dengan teguh apa yang telah kami berikan kepadamu." Yakni dengan serius dan sungguh-sungguh ﴾ وَٱذۡكُرُواْ مَا فِيهِ ﴿ "serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya", dengan mengkaji dan mempelajari serta mengamalkannya ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa", jika kamu melakukan itu.
Al-A'raf 7:167
"Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu memba-wa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah ba-gaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Musa berkata, 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam, wajib atasku tidak berkata atas Nama Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu de-ngan membawa bukti yang nyata dari Rabbmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku'." (Al-'Araf: 103-105). "Fir'aun menjawab, 'Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.' Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu se-ketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu men-jadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata, 'Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluar-kan kamu dari negerimu.' (Fir'aun berkata), 'Maka apakah yang kamu anjurkan?' Pemuka-pemuka itu menjawab, 'Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka mem-bawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai'." (Al-'Araf: 106-112). "Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun menga-takan, '(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?' Fir'aun menjawab, 'Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepa-daku).' Ahli-ahli sihir berkata, 'Hai Musa, kamukah yang akan melempar lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?'" (Al-'Araf: 113-115). "Musa menjawab, 'Lemparkanlah (lebih dahulu)!' Maka tat-kala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang-orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatang-kan sihir yang besar (menakjubkan).' Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekonyong-konyong tong-kat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina'." (Al-A'raf: 116-119). "Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu, sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan pendu-duknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya'." (Al-A'raf: 120-124). "Ahli-ahli sihir itu menjawab, 'Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.' (Mereka berdoa), 'Ya Rabb ka-mi, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu).' Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun), 'Apakah kamu mem-biarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilah-ilahmu.' Fir'aun menjawab, 'Akan kita bunuh anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita ber-kuasa penuh di atas mereka.' Musa berkata kepada kaumnya, 'Mo-honlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah yang dipusakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa'." (Al-A'raf: 125-128). "Kaum Musa berkata, 'Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) se-belum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.' Musa menjawab, 'Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khafilah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.' Dan sesungguhnya kami telah menghu-kum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kema-rau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab ke-sialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Keta-huilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-A'raf: 129-131). "Mereka berkata, 'Bagaimanapun kamu mendatangkan kete-rangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.' Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersa-mamu.' Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya." (Al-A'raf: 132-135). "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelam-kan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah tertindas itu negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang te-lah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka." (Al-A'raf: 136-137). "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang sedang me-nyembah berhala mereka, Bani Israil berkata, 'Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempu-nyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab, 'Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat tuhan). Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.' Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas se-gala umat. Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamat-kanmu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lela-kimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Rabbmu'." (Al-A'raf: 138-141). "Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurna-lah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam. Dan berkatalah Musa kepada saudaranya yaitu Harun, 'Gantikan-lah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan jangan-lah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.' Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu.' Rabb berfirman, 'Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala) niscaya kamu dapat melihatKu.' Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, 'Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepadaMu dan aku orang yang pertama-tama beriman'." (Al-A'raf: 142-143). "Allah berfirman, 'Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (me-lebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk mem-bawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.' Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah padanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik'." (Al-A'raf: 144-145). "Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri-nya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda ke-kuasaanKu. Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan me-reka selalu lalai dari padanya." (Al-A'raf: 146). "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan. Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gu-nung Thur, membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengeta-hui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim. Dan setelah mereka sangat menyesali perbua-tannya dan mengetahui bahwa mereka sesat, mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 147-149). "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu.' Dan Musa melemparkan luh-luh (Tau-rat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata, 'Hai anak ibuku, sesung-guhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka mau membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim.' Musa berdoa, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.' Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." (Al-A'raf: 150-152). "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian ber-taubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Rabb kamu, sesu-dah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesudah amarah Musa menjadi reda, maka dia mengambil (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisan-nya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Rabbnya. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari ka-umnya untuk (memohon taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, 'Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Eng-kau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami. Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 153-155). "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu. Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku ke-hendaki dan rahmatKu meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang me-nunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami'." (Al-A'raf: 156). "(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-A'raf: 157). "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.' Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (ke-pada manusia) dengan hak dan dengan hak itulah mereka menja-lankan keadilan." (Al-A'raf: 158-159). "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar, dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu!' Maka memancarlah dari padanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka, dan Kami tu-runkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman), 'Ma-kanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepada-mu.' Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." (Al-A'raf: 160). "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.' Dan katakanlah, 'Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbang-nya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesa-lahanmu.' Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang yang zhalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dika-takan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezhaliman mereka." (Al-A'raf: 161-162). "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikian-lah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, 'Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras?' Mereka menjawab, 'Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertakwa'." (Al-A'raf: 163-164). "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepada mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina.' Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberita-hukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesung-guhnya Rabbmu amat cepat siksaNya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shalih dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (Al-A'raf: 165-168). "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata, 'Kami akan diberi ampun.' Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan menga-takan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti. Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pa-hala), karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan." (Al-A'raf: 169-170). "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas me-reka seakan-akan bukit naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), 'Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa'." (Al-A'raf:171).
(103) Yakni, kemudian Kami mengutus setelah para rasul itu, Musa yang pernah diajak berbicara langsung oleh Allah, pe-mimpin yang agung, seorang Rasul yang mulia kepada kaum yang bengal lagi sombong yaitu Fir'aun dan para pemuka kaumnya serta bala tentaranya, maka Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya yang besar yang tidak ada tandingannya, ﴾ فَظَلَمُواْ بِهَاۖ ﴿ "Lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu." Dengan tidak tunduk kepada ke-benarannya, di mana siapa yang tidak tunduk kepadanya maka dia adalah orang zhalim, namun justru menyombongkan diri kepada-nya. ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan." Bagaimana Allah membinasa-kan mereka dan menambahkan celaan dan laknat atas mereka di dunia, dan pada Hari Kiamat mereka akan mendapatkan seburuk-buruk pemberian.
(104) Ini adalah pernyataan global yang diperinci dengan FirmanNya, ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Dan Musa berkata", manakala dia datang kepada Fir'aun untuk mengajaknya kepada iman, ﴾ يَٰفِرۡعَوۡنُ إِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam." Yakni, aku adalah Rasul dari Pengutus yang Agung yaitu Rabb semesta alam, alam tinggi dan alam rendah, Pengurus seluruh makhlukNya dengan berbagai macam tatanan Ilahiyah, yang di antaranya adalah bahwa Dia tidak membiarkan mereka hidup secara sia-sia, tetapi Dia mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, di mana tidak seorang pun yang berani atasnya dan mengklaim bahwa Dia mengutusnya pa-dahal tidak mengutusnya.
(105) Jika urusannya memang begitu, sedangkan aku telah dipilih dan diangkat untuk memikul risalahNya, maka tidak se-pantasnya bagiku untuk berdusta atasNya dan tidak mengatakan atasNya kecuali kebenaran, karena jika aku berkata selain itu, maka Dia pasti menyegerakan hukuman kepadaku, dan pasti Dia akan mengazabku dengan azab dari Yang Mahaperkasa lagi Maha Ber-kuasa. Ini merupakan kenyataan yang mengharuskan mereka un-tuk tunduk dan mengikutinya, lebih-lebih dia telah datang kepada mereka dengan bukti kuat dari Allah yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawanya, maka wajib atas mereka menjalankan tujuan risalahnya yang merupakan dua tujuan besar, yaitu agar mereka beriman kepadaNya, mengikutiNya dan melepaskan Bani Israil, bangsa yang diberi keutamaan oleh Allah, putra-putra para nabi dan keturunan Ya'qub, di mana Musa عليه السلام adalah salah satu dari mereka.
(106) Fir'aun menjawab, ﴾ إِن كُنتَ جِئۡتَ بِـَٔايَةٖ فَأۡتِ بِهَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar."
(107) ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya", di tanah. ﴾ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ ﴿ "Lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya." Yakni, ular yang nyata merayap dan mereka me-nyaksikannya.
(108) ﴾ وَنَزَعَ يَدَهُۥ ﴿ "Dan ia mengeluarkan tangannya", dari saku-nya, ﴾ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ ﴿ "maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." Tanpa aib. Ini adalah dua mukjizat besar yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawa oleh Musa dan bahwa dia adalah benar-benar utusan Rabbul 'Alamin.
(109) Akan tetapi orang-orang yang tidak beriman, seandai-nya semua ayat datang kepada mereka, mereka tetap tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih. Oleh karena itu, ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata", manakala mereka terkagum-kagum dengan mukjizat, tetapi mereka tidak mau ber-iman, maka mereka mencari-cari takwil yang rusak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَسَٰحِرٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai." Yang pintar menyihir.
(110) Kemudian mereka itu menakut-nakuti orang-orang yang berakal lemah lagi bodoh bahwa Musa, ﴾ يُرِيدُ ﴿ "bermaksud hen-dak", dengan perbuatannya tersebut ﴾ أَن يُخۡرِجَكُم مِّنۡ أَرۡضِكُمۡۖ ﴿ "mengeluarkan-mu dari negerimu." Yakni dia ingin mengusirmu dari tanah tumpah darahmu. ﴾ فَمَاذَا تَأۡمُرُونَ ﴿ "Fir'aun berkata, 'Maka apakah yang kamu an-jurkan?'" Yakni mereka saling bertukar pikiran di antara mereka terkait dengan apa yang dilakukan oleh Musa dan bagaimana cara menangkis kemudaratan –menurut klaim mereka– dari mereka, karena jika apa yang dibawa oleh Musa tidak ditangkal dan diban-tah, maka bisa-bisa ia menyusup ke pikiran banyak orang.
(111-112) Pada saat itu pendapat mereka bersatu dengan mengatakan kepada Fir'aun, ﴾ أَرۡجِهۡ وَأَخَاهُ ﴿ "Beri tangguhlah dia dan sau-daranya." Yakni tahan dan beri mereka berdua waktu, dan utuslah orang-orang ke penjuru kota untuk mengumumkan kepada pen-duduknya agar mereka menghadirkan semua penyihir yang ahli, yakni mereka mendatangkan para penyihir yang mumpuni, untuk melawan apa yang dibawa oleh Musa, maka mereka berkata, ﴾ فَٱجۡعَلۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 قَالَ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ثُمَّ أَتَىٰ 60 ﴿ "'(Wahai Musa), buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah ma-nusia dikumpulkan pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemu-dian dia datang." (Thaha: 58-60).
(113) Di sini Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan be-berapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun." Menuntut balasan (upah) jika mereka menang. Mereka berkata, ﴾ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبِينَ ﴿ "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?"
(114) Fir'aun menjawab, ﴾ نَعَمۡ ﴿ "Ya", kamu akan mendapat imbalan. ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)." Fir'aun menjanjikan balasan, kedekatan, dan kedudukan tinggi di sisinya agar mereka serius dan mengeluarkan segala daya dan upaya mereka dalam mengalahkan Musa.
(115) Manakala mereka hadir bersama Musa di depan kha-layak yang berjumlah besar, ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata", dengan ber-sumpah tanpa memandang sama sekali kepada apa yang dibawa oleh Musa, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "Hai Musa kamukah yang akan melempar-kan lebih dahulu", apa yang ada padamu, ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ نَحۡنُ ٱلۡمُلۡقِينَ ﴿ "ataukah kami yang akan melemparkan?"
(116) Musa menjawab, ﴾ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Lemparkanlah (lebih dahulu)." Agar orang-orang melihat apa yang mereka miliki dari apa yang Musa miliki. ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka tatkala mereka melemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka sehingga nampak menjadi seperti ular yang melata, mereka menyulap, ﴾ أَعۡيُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٖ ﴿ "mata orang-orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan)." Sihir yang tak tertandingi.
(117) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu'." Maka Musa melemparkannya, ﴾ فَإِذَا هِيَ ﴿ "maka sekonyong-konyong tongkat itu menjadi", ular yang melata, maka ia menelan sulap mereka, yakni kebohongan dan kedustaan mereka.
(118) ﴾ فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Karena itu nyatalah yang benar", yakni jelas dan nyata serta unggul di perkumpulan itu, ﴾ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dan batallah yang selalu mereka kerjakan."
(119) ﴾ فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ ﴿ "Maka mereka kalah di tempat itu." Yakni di pertandingan itu, ﴾ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ ﴿ "dan jadilah mereka orang-orang yang hina", lagi dina. Kebatilan mereka terkikis dan sihir mereka kalah dan mereka gagal mendapat apa yang mereka ingin dapatkan.
(120-122) Orang yang paling jelas mengetahui kebenaran yang agung adalah orang-orang yang berpikiran obyektif dan ahli sihir yang mengetahui macam-macam sihir dan detail-detailnya yang tidak diketahui oleh selain mereka. Mereka mengetahui bahwa itu adalah mukjizat besar dari Allah, tak ada yang mampu menan-dinginya, maka ﴾ وَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ 120 قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam (yaitu) Rabb Musa dan Harun'." Yakni kami membenarkan ayat-ayat yang jelas yang di-bawa oleh Musa.
(123) ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata", kepada mereka dengan mengancam karena iman mereka, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Orang busuk ini adalah penguasa otoriter yang sewenang-wenang dalam mem-perlakukan fisik dan pendapat rakyatnya. Telah menjadi semacam ketetapan baginya dan rakyatnya bahwa pendapatnya harus didengar dan perintahnya harus terlaksana, tak seorang pun boleh keluar dari ucapan dan hukumnya. Dengan kondisi seperti ini mental mereka merosot, akal dan tindakan mereka lemah, serta tidak mampu membela hak-hak mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman tentangnya, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya." (Az-Zukhruf: 54). Di sini dia berkata, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Ini adalah sikap ke-kurangajaran darimu dan kelancangan kepadaku. Kemudian dia mengaburkan sikap kaumnya dengan berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَمَكۡرٞ مَّكَرۡتُمُوهُ فِي ٱلۡمَدِينَةِ لِتُخۡرِجُواْ مِنۡهَآ أَهۡلَهَاۖ ﴿ "Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduk-nya dari padanya." Yakni sesungguhnya Musa adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir, kamu telah bersepakat dengannya di mana seakan-akan kalian tunduk padanya, lalu dia menang dan kamu mengikutinya, kemudian orang-orang atau mayoritas dari mereka mengikutimu, lalu kamu mengusir penduduknya darinya. Ini ada-lah kedustaan yang dia sendiri dan orang-orang yang mengetahui situasi, mengetahui bahwa Musa tidak bersekongkol dengan siapa pun dari mereka. Bahwa mereka itu dikumpulkan menurut perin-tah Fir'aun melalui kaki tangannya. Bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah mukjizat Ilahiyah. Bahwa ahli sihir itu telah mengeluar-kan segala kemampuan mereka untuk mengalahkan Musa namun mereka kalah, lalu kebenaran menjadi jelas bagi mereka dan mereka pun mengikutinya. Kemudian Fir'aun mengancam mereka dengan mengatakan, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuat-anmu ini)." Yakni, hukuman yang aku siapkan untukmu.
(124) ﴾ لَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Sesungguhnya aku akan memo-tong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik." Orang busuk ini mengklaim bahwa mereka sebagai perusak di muka bumi, di mana dia akan memperlakukan mereka layaknya orang-orang yang merusak, dipotong tangan dan kaki secara berselang-seling, yakni tangan kanan dan kaki kiri. ﴾ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمۡ ﴿ "Kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalibmu", di batang pohon kurma agar kamu kapok -menurut anggapannya- ﴾ أَجۡمَعِينَ ﴿ "semua." Yakni aku mem-perlakukan ini tidak hanya kepada beberapa orang saja, akan tetapi semuanya akan mendapatkannya.
(125) Para penyihir yang beriman itu berkata kepada Fir'aun yang mengancam mereka, ﴾ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ ﴿"Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali." Yakni kami tidak peduli dengan hukumanmu. Allah lebih baik dan lebih kekal, lakukan saja apa yang kamu mau.
(126) ﴾ وَمَا تَنقِمُ مِنَّآ ﴿ "Dan kamu tidak menyalahkan kami." Yakni kamu tidak mencela kami atas pengingkaranmu kepada kami dan ancamanmu kepada kami, kami tidak mempunyai dosa, ﴾ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتۡنَاۚ ﴿ "melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami." Jika ini memang dosa yang dicela atasnya dan pelakunya berhak atas hukuman, maka ini adalah dosa kami. Kemudian mereka memohon kepada Allah agar memberi mereka keteguhan dan kesabaran, mereka ber-kata, ﴾ رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا ﴿ "Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami." Yakni kesabaran yang besar. Ini ditunjukkan oleh kata صَبْرًا dengan bentuk nakirah karena ini adalah ujian besar yang berujung kepada kematian, maka ia memerlukan kesabaran besar agar hati tetap teguh dan orang mukmin tetap tenang dengan imannya serta agar kepanikan sirna darinya. ﴾ وَتَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ ﴿ "Dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu)." Yakni dalam keadaan tun-duk kepada perintahMu dan mengikuti RasulMu. Dan yang zahir bahwa ancaman Fir'aun benar-benar dilakukan kepada mereka dan bahwa Allah meneguhkan mereka di atas iman.
(127) Fir'aun dengan kaki tangannya dan mayoritas dari mereka yang mengikuti para pembesar di kalangan mereka telah menyombongkan diri di depan ayat-ayat Allah dan mengingkari-nya karena kezhaliman dan kesombongan. Mereka berkata kepada Fir'aun dalam rangka menghasutnya agar mengazab Musa dengan alasan bahwa apa yang dibawanya adalah batil dan merupakan kerusakan di muka bumi, ﴾ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوۡمَهُۥ لِيُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir)," dengan dakwah menyeru agar mereka beriman kepada Allah, kepada kemuliaan akhlak dan kebaikan amal yang merupa-kan kebaikan di muka bumi? Justru merekalah yang berada di atas kerusakan, akan tetapi orang-orang zhalim bersikap masa bodoh terhadap apa yang mereka katakan. ﴾ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَۚ ﴿ "Dan meninggal-kanmu serta tuhan-tuhanmu." Yakni membiarkanmu dan tuhan-tu-hanmu, dia melarangmu dan menghalang-halangi manusia dari mengikutimu. Maka Fir'aun menjawab mereka dengan mengata-kan bahwa dia akan membiarkan Musa dengan Bani Israil dalam kondisi di mana mereka tidak dapat berkembang, dan Fir'aun de-ngan kaki tangannya merasa aman dari bahaya mereka. Katanya, ﴾ سَنُقَتِّلُ أَبۡنَآءَهُمۡ وَنَسۡتَحۡيِۦ نِسَآءَهُمۡ ﴿ "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka." Yakni kita membiar-kan anak-anak perempuan itu hidup, kita tidak membunuhnya. Jika kita melakukan itu, maka kita akan aman dari kekuatan me-reka yang berjumlah banyak, sisanya kita perbudak dan kita atur sesuai dengan kehendak kita. ﴾ وَإِنَّا فَوۡقَهُمۡ قَٰهِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka." Mereka tidak memiliki kemam-puan untuk melepaskan diri dari hukum kita. Ini adalah puncak kesombongan, kezhaliman, dan kebengisan Fir'aun.
(128) ﴾ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ﴿ "Maka Musa berkata kepada kaumnya," me-wasiatkan kepada mereka dalam keadaan tersebut di mana mereka tidak memiliki apa pun untuk melawan, dengan perlawanan Ila-hiyah dan bantuan Rabbaniyah. ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah." Yakni bersandarlah kepadaNya dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu dan menolak apa yang memudaratkan-mu. Percayalah kepada Allah bahwa Dia akan menyempurnakan perkaramu, ﴾ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ ﴿ "Dan bersabarlah." Yakni pegang teguhlah ke-sabaran atas apa yang menimpamu dengan berharap kelapangan di balik ujian ini. ﴾ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ ﴿ "Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah." Bukan milik Fir'aun, bukan pula milik kaumnya sehingga mereka bisa semena-mena di atasnya. ﴾ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Dipu-sakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya." Yakni merotasinya di antara manusia menurut hikmah dan kehen-dakNya, akan tetapi kesudahan yang baik tetap milik orang-orang yang bertakwa. Walaupun mereka itu diuji beberapa lama berda-sarkan hikmah dari Allah, tetapi kemenangan adalah milik mereka. ﴾ وَٱلۡعَٰقِبَةُ ﴿ "Dan kesudahan yang baik", adalah untuk mereka. Ini ada-lah tugas seorang hamba, di mana pada waktu memiliki kemam-puan, dia harus melakukan cara untuk menolak gangguan orang lain dari dirinya sebatas kemampuan itu dan pada saat lemah hen-daknya dia bersabar, memohon pertolongan kepada Allah dan menunggu datangnya kelapangan.
(129) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa mengeluhkan siksaan Fir'aun yang menimpa mereka dalam kurun waktu yang lama, ﴾ أُوذِينَا مِن قَبۡلِ أَن تَأۡتِيَنَا ﴿ "Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami." Mereka menimpakan siksaan yang buruk kepada kami, mereka membunuh anak-anak laki-laki kami dan membiarkan anak-anak perempuan kami, ﴾ وَمِنۢ بَعۡدِ مَا جِئۡتَنَاۚ ﴿ "dan se-sudah kamu datang", juga demikian. Musa menjawab mereka dengan memberi harapan kemenangan dan kebebasan dari kejahatan me-reka. ﴾ عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُهۡلِكَ عَدُوَّكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-(Nya)." Yakni menjadikanmu pengendali dan pemegang urusan di dalamnya. ﴾ فَيَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu." Apakah kamu akan bersyukur atau kufur? Ini adalah janji yang Allah laksanakan manakala telah tiba waktu yang telah diinginkan oleh Allah.
(130) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan per-lakuanNya terhadap keluarga Fir'aun di waktu akhir-akhir ini, ia seperti biasa dan sesuai dengan sunnahNya pada umat-umat yang telah lalu, di mana Dia menimpakan, ﴾ بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَضَّرَّعُونَ 94 ﴿ "Azab dan kesulitan agar mereka tunduk dengan merendahkan diri." (Al-A'raf: 93) ﴾ وَلَقَدۡ أَخَذۡنَآ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ بِٱلسِّنِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meng-hukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang." Yakni kekeringan dan paceklik. ﴾ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pela-jaran." Yakni supaya mereka menyadari bahwa apa yang menimpa dan apa yang terjadi pada mereka adalah pelajaran dari Allah, agar mereka meninggalkan kekufuran. Tetapi hal itu tidak berguna dan berpengaruh bagi mereka, justru mereka terus di atas kezhaliman dan kerusakan.
(131) ﴾ فَإِذَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡحَسَنَةُ ﴿ "Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran." Yakni kesuburan dan kelimpahan rizki, ﴾ قَالُواْ لَنَا هَٰذِهِۦۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami'." Yakni, kami berhak atasnya. Mereka tidak bersyukur kepada Allah atas karunia tersebut. ﴾ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ ﴿ "Dan jika mereka ditimpa kesusahan." Yakni kekeringan dan paceklik, ﴾ يَطَّيَّرُواْ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓۗ ﴿ "mereka melemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya." Yakni mereka ber-kata, "Kesialan ini menimpa kami karena kedatangan Musa dan karena Bani Israil mengikutinya." Allah menjawab, ﴾ أَلَآ إِنَّمَا طَٰٓئِرُهُمۡ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah." Yakni dengan qadha dan qadarNya, tidak seperti yang me-reka katakan, justru penyebabnya adalah kekufuran dan dosa-dosa mereka, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui, oleh karena itu mereka berkata begitu.
(132) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", menjelaskan kepada Musa bahwa mereka senantiasa dan tetap akan berada pada keba-tilan. ﴾ مَهۡمَا تَأۡتِنَا بِهِۦ مِنۡ ءَايَةٖ لِّتَسۡحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحۡنُ لَكَ بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Bagaimanapun kamu men-datangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu." Yakni, kami telah yakin bahwa dirimu adalah penyihir, meskipun kamu datang dengan membawa mukjizat, kami tetap yakin bahwa kamu adalah penyihir, maka kami tidak mempercayaimu dan beriman kepada-mu. Ini adalah puncak pengingkaran orang-orang kafir itu, di mana keadaannya adalah sama saja, mukjizat turun atau tidak.
(133) ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلطُّوفَانَ ﴿ "Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah." Yakni banjir bandang yang menenggelamkan pohon-pohon dan tanaman-tanaman serta merugikan mereka dengan kerugian yang besar, ﴾ وَٱلۡجَرَادَ ﴿ "dan belalang", yang melahap buah-buahan, tanaman, dan pertanian mereka, ﴾ وَٱلۡقُمَّلَ ﴿ "dan kutu", yakni belalang kecil, dan yang zahir adalah bahwa ia adalah kutu yang dikenal, ﴾ وَٱلضَّفَادِعَ ﴿ "dan katak", yang memenuhi tempat-tempat air mereka sehingga mengganggu mereka dan membuat mereka sangat tidak nyaman, ﴾ وَٱلدَّمَ ﴿ "dan darah", bisa jadi ia adalah mimisan, atau se-perti yang dikatakan oleh banyak ahli tafsir bahwa air yang mereka minum berubah menjadi darah, sehingga mereka tidak minum ke-cuali darah dan tidak memasak kecuali dengan darah, ﴾ ءَايَٰتٖ مُّفَصَّلَٰتٖ ﴿ "sebagai bukti yang jelas." Yakni sebagai dalil dan bukti kongkrit bahwa mereka itulah orang-orang yang berdusta lagi zhalim, dan bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah kebenaran, ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "tetapi mereka tetap menyombongkan diri", tatkala melihat ayat-ayat itu, ﴾ وَكَانُواْ ﴿ "dan mereka", dulu ﴾ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "adalah kaum yang berdosa." Oleh karena itu Allah menghukum mereka dengan tetap membiar-kan mereka di atas kesesatan dan penyimpangan.
(134) ﴾ وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيۡهِمُ ٱلرِّجۡزُ ﴿ "Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu)." Yakni siksa. Ada kemungkinan bahwa ia adalah penyakit tha'un sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli tafsir, dan kemungkinan pula bencana yang telah disebutkan di atas, yaitu banjir, belalang, kutu, katak dan darah, karena semua ini adalah siksa dan azab. Setiap kali satu darinya menimpa mereka, ﴾ قَالُواْ يَٰمُوسَى ٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَۖ ﴿ "mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu'." Yakni mereka meminta perantara kepada Musa dengan wahyu dan syariat yang Allah berikan kepadanya. ﴾ لَئِن كَشَفۡتَ عَنَّا ٱلرِّجۡزَ لَنُؤۡمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرۡسِلَنَّ مَعَكَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." Dan mereka itu adalah para pendusta, maksud mereka hanyalah bagai-mana azab ini selesai, mereka mengira bahwa jika ia selesai maka tidak ada azab yang lain.
(135) ﴾ فَلَمَّا كَشَفۡنَا عَنۡهُمُ ٱلرِّجۡزَ إِلَىٰٓ أَجَلٍ هُم بَٰلِغُوهُ ﴿ "Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya." Yakni sampai waktu di mana Allah menentukan kebera-daannya pada mereka, bukan pengangkatan azab untuk seterusnya, akan tetapi hanya sementara, ﴾ إِذَا هُمۡ يَنكُثُونَ ﴿ "tiba-tiba mereka menging-karinya." Yakni janji yang mereka sampaikan kepada Musa bahwa mereka akan beriman kepadanya dan membiarkan Bani Israil ber-samanya. Mereka tidak beriman kepada Musa dan tidak pula me-lepas Bani Israil bersamanya, justru mereka terus berjalan di atas kekufuran tanpa peduli dan tetap menyiksa Bani Israil secara terus-menerus.
(136) ﴾ فَٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ ﴿ "Kemudian Kami menghukum mereka." Yakni pada waktu kebinasaan mereka telah tiba. Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil di malam hari. Dan Allah mem-beritahukan kepada Musa bahwa Fir'aun dengan bala tentaranya akan mengejar mereka. ﴾ فَأَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِي ٱلۡمَدَآئِنِ حَٰشِرِينَ 53 ﴿ "Kemudian Fir'aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (ten-taranya) ke kota-kota." (Asy-Syu'ara`: 53). Untuk mengumpulkan orang-orang guna mengejar Bani Israil, Fir'aun dan bala tentaranya berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَشِرۡذِمَةٞ قَلِيلُونَ 54 وَإِنَّهُمۡ لَنَا لَغَآئِظُونَ 55 وَإِنَّا لَجَمِيعٌ حَٰذِرُونَ 56 فَأَخۡرَجۡنَٰهُم مِّن جَنَّٰتٖ وَعُيُونٖ 57 وَكُنُوزٖ وَمَقَامٖ كَرِيمٖ 58 كَذَٰلِكَۖ وَأَوۡرَثۡنَٰهَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ 59 فَأَتۡبَعُوهُم مُّشۡرِقِينَ 60 فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلۡجَمۡعَانِ قَالَ أَصۡحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدۡرَكُونَ 61 قَالَ كـَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ 62 فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ 63 وَأَزۡلَفۡنَا ثَمَّ ٱلۡأٓخَرِينَ 64 وَأَنجَيۡنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ أَجۡمَعِينَ 65 ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ 66 ﴿ "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga'. Maka Kami keluarkan Fir'aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demi-kianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka di waktu ma-tahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, 'Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.' Musa menjawab, 'Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku'. Lalu Kami wah-yukan kepada Musa, 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu'. Maka ter-belahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelam-kan golongan yang lain itu." (Asy-Syu'ara`: 54-66). Allah berfirman di dalam surat al-A'raf ini, ﴾ فَأَغۡرَقۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "Maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebab-kan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." Yakni disebabkan oleh pendus-taan mereka kepada ayat-ayat Allah dan berpalingnya mereka dari kebenaran yang datang kepada mereka.
(137) ﴾ وَأَوۡرَثۡنَا ٱلۡقَوۡمَ ٱلَّذِينَ كَانُواْ يُسۡتَضۡعَفُونَ ﴿ "Dan Kami pusakakan ke-pada kaum yang telah ditindas itu", di bumi. Yakni Bani Israil yang dulu adalah pelayan bagi keluarga Fir'aun yang telah menimpakan kepada mereka azab yang buruk. Allah mempusakakan kepada mereka ﴾ مَشَٰرِقَ ٱلۡأَرۡضِ وَمَغَٰرِبَهَا ﴿ "negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya." Yang dimaksud dengan bumi di sini adalah bumi Mesir di mana padanyalah mereka ditindas dan dijajah, yakni Allah menguasakannya kepada mereka dan menjadikan mereka pengua-sanya. ﴾ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَاۖ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ ٱلۡحُسۡنَىٰ عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ بِمَا صَبَرُواْۖ ﴿ "Yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka." Mana-kala Musa berkata kepada mereka, ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ 128 ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguh-nya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakanNya kepada siapa yang di-kehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-A'raf: 128). ﴾ وَدَمَّرۡنَا مَا كَانَ يَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَقَوۡمُهُۥ ﴿ "Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya", yakni bangunan-bangunan yang besar dan tempat tinggal yang indah, ﴾ وَمَا كَانُواْ يَعۡرِشُونَ ﴿ "dan apa yang telah dibangun mereka." Itulah rumah-rumah mereka yang han-cur karena kezhaliman mereka, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengetahui.
(138) ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu", setelah Allah menyelamatkan mereka dari musuh mereka, yaitu Fir'aun dan bala tentaranya, di mana Allah telah membinasakan mereka sementara Bani Israil melihatnya. ﴾ فَأَتَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka sampai", yakni melewati ﴾ عَلَىٰ قَوۡمٖ يَعۡكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصۡنَامٖ لَّهُمۡۚ ﴿ "kepada suatu kaum yang sedang menyembah berhala mereka." Yakni mereka berdiam padanya, ngalap berkah padanya, dan menyem-bahnya, lalu mereka berkata kepada Nabi mereka, Musa عليه السلام, karena kebodohan dan ketidaktahuan mereka, setelah sebelumnya Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya. ﴾ يَٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهٗا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٞۚ ﴿ "Hai Musa buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana me-reka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Yakni izinkan kami men-jadikan berhala-berhala sebagai tuhan kami seperti yang mereka lakukan. Maka Musa menjawab, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)." Adakah kejahilan yang lebih besar daripada kejahilan orang tentang Tuhan dan Penciptanya dan dia ingin menyamakanNya dengan selainNya yang tidak dapat mendatangkan manfaat, mudarat, kematian, ke-hidupan dan kebangkitan?
(139) Oleh karena itu Musa berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ مُتَبَّرٞ مَّا هُمۡ فِيهِ وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan." Karena doa mereka kepada berhala-berhala itu adalah batil dan ia sendiri adalah batil, amal dan tujuannya adalah sama-sama batil.
(140) ﴾ قَالَ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِيكُمۡ إِلَٰهٗا ﴿ "Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah." Yakni aku mencari tuhan selain Allah yang disembah lagi sempurna pada dzatnya, sifat-sifatnya dan perbuatan-perbuatannya, ﴾ وَهُوَ فَضَّلَكُمۡ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." Ini me-nuntutmu menyambut nikmat dan karuniaNya dan mensyukuri hal itu dengan mengesakanNya dalam beribadah dan mengingkari apa yang dipertuhankan selainNya.
(141) Kemudian Musa mengingatkan mereka dengan nik-mat Allah kepada mereka, dia berkata, ﴾ وَإِذۡ أَنجَيۡنَٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya." Yakni Fir'aun dan bala tentaranya ﴾ يَسُومُونَكُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat." Yakni menim-pakan kepadamu azab paling buruk, di mana mereka menyembe-lih ﴾ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ وَفِي ذَٰلِكُم ﴿ "anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu", yakni kebebasan dari azab mereka adalah ﴾ بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ ﴿ "cobaan yang besar dari Rabbmu." Yakni nikmat yang besar dan karunia yang agung. Atau pada azab yang mereka timpakan itu terdapat ujian besar dari Rabbmu.
(142) Manakala Musa menasihati dan mengingatkan me-reka, mereka pun menghentikan apa yang mereka inginkan berupa berhala, dan ketika Allah menyempurnakan nikmatNya dengan keselamatan dari musuh mereka dan kekuasaan di muka bumi, maka Allah سبحانه وتعالى ingin menyempurnakan nikmatNya dengan menu-runkan kitab yang padanya terdapat hukum-hukum syariat dan akidah yang lurus. Maka Allah menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam ditambah dengan sepuluh jadi empat puluh malam, agar Musa bersiap-siap untuk memenuhi panggilan janji Allah dan agar turunnya kitab itu sangat dinantikan dan dirindukan. Manakala Musa pergi untuk bermunajat kepada Rabbnya, Musa mewasiat-kan Bani Israil kepada Harun, hal itu karena kasih sayangnya dan ketulusannya kepada mereka. ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku." Yakni jadilah kamu penggantiku dan lakukan kepada mereka apa yang aku lakukan. ﴾ وَأَصۡلِحۡ ﴿ "Dan perbaikilah", yakni ikutilah jalan kebaikan. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." Yaitu orang-orang yang berbuat kemaksiatan.
(143) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا ﴿ "Dan tatkala Musa datang untuk (mu-najat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan", untuknya untuk menurunkan kitab, ﴾ وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ ﴿ "dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya", berfirman langsung dengan wahyuNya, pe-rintah dan laranganNya, Musa berkeinginan untuk melihat Allah, jiwanya mengharapkan itu karena kecintaannya kepada Rabbnya dan sangat ingin melihatNya. ﴾ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu." Allah menjawab, ﴾ لَن تَرَىٰنِي ﴿ "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu." Yakni sekarang kamu tidak akan mampu melihatKu, karena Allah سبحانه وتعالى menciptakan makhluk di dunia ini dalam kondisi di mana mereka tidak akan kuat dan tidak akan mampu melihat Allah. Ini tidak menunjukkan bahwa mereka tidak dapat melihat-Nya di surga, karena dalil-dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah telah menunjukkan bahwa penduduk surga akan melihat Rabb mereka dan menikmati melihat kepada wajahNya Yang Mulia. Dan bahwa Allah تعالى menghidupkan mereka secara sempurna yang dengannya mereka mampu melihat Allah تعالى. Oleh karena itu Allah mengait-kan kemungkinan melihat dengan ketetapan gunung. Allah تعالى menenangkan Musa karena tidak bisa mengabulkan permintaannya. ﴾ وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ ﴿ "Tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala)", jika Allah menampakkan diri kepadanya ﴾ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ ﴿ "niscaya ka-mu dapat melihatKu. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu", yang bisu lagi keras. ﴾ جَعَلَهُۥ دَكّٗا ﴿ "Dijadikannya gunung itu han-cur luluh." Yakni hancur berkeping-keping ibarat kerikil, karena kegoncangannya dan tidak kuatnya ia melihat Allah. ﴾ وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ ﴿ "Dan Musa pun jatuh pingsan," ketika melihat apa yang dilihat. Ma-ka jelaslah bagi Musa pada saat itu bahwa jika gunung saja tidak kuat melihat Allah, maka Musa lebih tidak kuat melihatNya. Musa memohon ampun kepada Allah تعالى karena telah meminta sesuatu yang tidak pada tempatnya. ﴾ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Musa berkata, 'Mahasuci Engkau'." Yakni Aku menyucikan dan mengagungkanMu dari apa yang tidak layak dengan kebesaranMu. ﴾ تُبۡتُ إِلَيۡكَ ﴿ "Aku bertaubat kepada Engkau", dari segala dosa dan kekurangajaran kepadaMu. ﴾ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku orang yang pertama-tama beriman." Yakni Musa menyempurna-kan imanNya dengan sesuatu yang sebelum-nya tidak dia ketahui.
(144) Manakala Allah tidak memberikan kesempatan ke-pada Nabi Musa untuk melihatNya setelah sebelumnya dia sangat menginginkannya, maka Allah memberikan kepadanya kebaikan yang banyak. Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّي ٱصۡطَفَيۡتُكَ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu)." Yakni Aku memilihmu, mengangkatmu, melebihkan-mu, dan mengkhususkanmu dengan keutamaan-keutamaan yang besar dan kemuliaan-kemuliaan yang agung, ﴾ بِرِسَٰلَٰتِي ﴿ "untuk mem-bawa risalahKu." Di mana Aku tidak mengkhususkan dan memberi-kannya kecuali kepada orang yang paling mulia, ﴾ وَبِكَلَٰمِي ﴿ "dan untuk berbicara langsung denganKu", tanpa perantara. Ini adalah keutamaan khusus Musa al-Kalim (Rasul Allah yang diajak berbicara langsung oleh Allah) dan dia dikenal di kalangan saudara-saudaranya para rasul yang lain dengan itu. ﴾ فَخُذۡ مَآ ءَاتَيۡتُكَ ﴿ "Sebab itu berpegang teguh-lah kepada apa yang Aku berikan kepadamu." Yakni dari nikmat-nikmat, dan ambillah perintah dan larangan yang Aku berikan kepadamu dengan lapang dada, terimalah ia dengan ketundukan, ﴾ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur," kepada Allah atas apa yang Dia khususkan dan karuniakan kepadamu.
(145) ﴾ وَكَتَبۡنَا لَهُۥ فِي ٱلۡأَلۡوَاحِ مِن كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu", yang dibutuhkan oleh para hamba ﴾ مَّوۡعِظَةٗ ﴿ "sebagai pelajaran" yang mendorong jiwa untuk berbuat kebaikan dan menakutinya untuk berbuat keburukan. ﴾ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan penjelasan bagi segala sesuatu", dari hukum-hukum syar'i, akidah, akhlak dan adab. ﴾ فَخُذۡهَا بِقُوَّةٖ ﴿ "Maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah kepadanya dengan teguh." Yakni dengan sungguh-sungguh dan serius dalam menegakkannya. ﴾ وَأۡمُرۡ قَوۡمَكَ يَأۡخُذُواْ بِأَحۡسَنِهَاۚ ﴿ "Dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya." Yaitu perintah-perintah yang bersifat wajib dan dianjurkan, karena ia adalah yang terbaik. Di dalam penjelasan ini terdapat dalil bahwa perintah Allah dalam setiap syariat adalah sempurna, adil, dan baik. ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ دَارَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Nanti Aku akan memper-lihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik." Setelah Allah mem-binasakan mereka dan menyisakan negeri-negeri mereka sebagai pelajaran sesudah mereka bagi orang-orang Mukmin yang diberi taufik lagi rendah diri.9
(146) Adapun selain mereka, maka Allah berfirman tentang mereka, ﴾ سَأَصۡرِفُ عَنۡ ءَايَٰتِيَ ﴿ "Aku akan memalingkan dari tanda-tanda kekua-saanKu." Yakni dari mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang ada di langit dan yang ada pada diri manusia dan pemahaman terhadap ayat-ayat kitab ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "orang-orang yang menyom-bongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar." Yakni mereka menyombongkan diri kepada hamba-hamba Allah dan kepada kebe-naran serta kepada pembawanya. Siapa saja yang memiliki kriteria ini, maka Allah tidak akan memberikan kebaikan kepadanya, Allah akan menelantarkannya dan dia tidak dapat memahami ayat-ayat Allah yang bermanfaat bagi diri bahkan bisa jadi hakikat-hakikat perkara menjadi jungkir balik baginya yang selanjutnya dia meng-anggap yang buruk sebagai sesuatu yang baik. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ كُلَّ ءَايَةٖ لَّا يُؤۡمِنُواْ بِهَا ﴿ " Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya." Karena mereka berpaling, menyangkal dan menentang Allah dan RasulNya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلرُّشۡدِ ﴿ "Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk", yang lurus dan benar, yaitu jalan yang mengantarkan kepada Allah dan kepada rumah kemuliaan-Nya (surga), ﴾ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗا ﴿ "mereka tidak mau menempuhnya." Yakni mereka tidak mau menitinya dan tidak menyukainya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلۡغَيِّ ﴿ "Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan", yakni kesesatan yang mengantarkan pelakunya kepada rumah kesengsaraan (mereka), ﴾ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗاۚ ﴿ "mereka terus menempuhnya." Penyebab penyimpangan mereka seperti itu karena ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "yang de-mikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya." Penolakan mereka terhadap ayat-ayat Allah, kelalaiannya terhadap maksudnya dan pelecehannya terhadapnya adalah penyebab mereka menempuh jalan kesesatan dan mening-galkan jalan lurus.
(147) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami", yang agung, yang menunjukkan kebenaran rasul-rasul yang telah Kami utus, ﴾ وَلِقَآءِ ٱلۡأٓخِرَةِ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡۚ ﴿ "dan mendus-takan akan menemui Akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka." Karena perbuatan tersebut tidak dilakukan di atas fondasi syariat dan telah hilang darinya syarat diterimanya, yaitu beriman kepada ayat-ayat-Nya dan membenarkan balasanNya. ﴾ هَلۡ يُجۡزَوۡنَ ﴿ "Mereka tidak diberi balasan", tentang amal perbuatan mereka yang sia-sia dan terjadinya apa yang tidak mereka harapkan ﴾ إِلَّا مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "selain dari apa yang telah mereka kerjakan." Sesungguhnya amal perbuatan orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak ada pahala yang di-harapkan padanya dan tidak memiliki tujuan yang dicapai. Oleh karena itu ia batal dan sia-sia.
(148) ﴾ وَٱتَّخَذَ قَوۡمُ مُوسَىٰ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِنۡ حُلِيِّهِمۡ عِجۡلٗا جَسَدٗا ﴿ "Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh", yang dibuat oleh Samiri dan dia masukkan bekas jejak Rasul ke dalamnya, maka ia ﴾ لَّهُۥ خُوَارٌۚ ﴿ "bersuara." Maka mereka pun menyembahnya dan menjadikannya sebagai tuhan. Samiri berkata "Ini adalah tuhanmu dan tuhan Musa. Musa lupa sehingga dia pergi untuk mencarinya." Ini adalah ke-bodohan mereka dan minimnya ilmu mereka. Bagaimana mereka tidak bisa membedakan antara Tuhan langit dan bumi dengan anak sapi makhluk yang paling hina? Oleh karena itu Allah menjelaskan bahwa ia tidak memiliki sifat-sifat dzat dan perbuatan yang me-nunjukkan bahwa ia adalah tuhan. ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمۡ ﴿ "Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka." Bisu adalah kekurangan yang nyata. Mereka sendiri lebih baik keadaannya daripada hewan atau benda mati yang tidak ber-bicara, ﴾ وَلَا يَهۡدِيهِمۡ سَبِيلًاۘ ﴿ "dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?" Yakni ia tidak dapat menunjukkan mereka jalan agama dan tidak dapat menghasilkan kebaikan dunia untuk mereka, kare-na sudah diketahui oleh akal bahwa menyembah tuhan yang tidak bisa bicara, tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat termasuk kebatilan yang paling batil dan kedunguan yang paling dungu. ﴾ ٱتَّخَذُوهُ وَكَانُواْ ظَٰلِمِينَ ﴿ "Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim." Di mana mereka meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya dan menyekutukan Allah tanpa bukti dalil dariNya. Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa siapa yang mengingkari Kalamullah berarti mengingkari kekhususan uluhiyah Allah تعالى, karena Allah menyebutkan bahwa ketidakmam-puan berbicara adalah dalil ketidaklayakannya untuk dijadikan sebagai tuhan.
(149) ﴾ وَلَمَّا ﴿ "Dan manakala", Musa kembali kepada kaum-nya, dia mendapati mereka dalam keadaan tersebut. Musa menje-laskan kesesatan mereka, dan mereka pun menyesal. ﴾ سُقِطَ فِيٓ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Mereka sangat menyesali perbuatannya." Yakni bersedih tanda pe-nyesalan atas perbuatan mereka, ﴾ وَرَأَوۡاْ أَنَّهُمۡ قَدۡ ضَلُّواْ ﴿ "dan mengetahui bahwa mereka telah sesat", mereka pun kembali kepada Allah dan merendahkan diri di hadapanNya. ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ يَرۡحَمۡنَا رَبُّنَا ﴿ "Mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami," dengan membimbing kita kepada jalan yang lurus, memberi taufik kepada ibadah kepadaNya dan kepada amal-amal shalih, ﴾ وَيَغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "dan tidak mengampuni kami", atas dosa menyembah anak sapi yang telah kami lakukan, ﴾ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi," yang merugi di dunia dan di Akhirat.
(150) ﴾ وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا ﴿ "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati." Yakni Musa dipenuhi oleh amarah dan emosi kepada mereka karena kecemburuannya yang besar terhadap Allah تعالى dan kasih sayang serta ketulusan-nya yang sempurna. ﴾ قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ ﴿ "Berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku'." Yakni alangkah buruknya keadaan kalian setelah kepergianku dari kalian, sesungguhnya ia adalah keadaan yang menyeret kepada kebinasaan dan kesengsaraan untuk selama-lamanya. ﴾ أَعَجِلۡتُمۡ أَمۡرَ رَبِّكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu?" Di mana Dia telah menjan-jikan kepadamu untuk menurunkan kitab tetapi kamu tergesa-gesa dengan akalmu yang rusak sehingga melakukan perbuatan buruk ini. ﴾ وَأَلۡقَى ٱلۡأَلۡوَاحَ ﴿ "Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu." Yakni dia melemparnya karena marah. ﴾ وَأَخَذَ بِرَأۡسِ أَخِيهِ ﴿ "Dan memegang (rambut) kepala saudaranya", Harun dan juga jenggotnya, ﴾ يَجُرُّهُۥٓ إِلَيۡهِۚ ﴿ "sambil menariknya ke arahnya." Dan Musa berkata kepadanya, ﴾ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ 92 أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي 93 ﴿ "Apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (se-ngaja) mendurhakai perintahku?" (Thaha: 92-93), kepadamu dengan ucapanku, ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 142 ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (Al-A'raf: 142). Harun menjawab, ﴾ قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي 94 ﴿ "Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak me-melihara amanatku'." (Thaha: 94). Dan di sini Harun menjawab, ﴾ قَالَ ٱبۡنَ أُمَّ ﴿ "Hai anak ibuku", ucapan ini untuk melunakkan Musa dengan hanya menyinggung ibu saja. Namun demikian, sebenarnya dia adalah saudara kandung-nya. ﴾ إِنَّ ٱلۡقَوۡمَ ٱسۡتَضۡعَفُونِي ﴿ "Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah." Yakni mereka meremehkanku ketika aku berkata kepada mereka, "Wahai kaum, kalian hanya difitnah dengannya dan bahwa Rabbmu adalah Allah Yang Maha Rahman, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku. ﴾ وَكَادُواْ يَقۡتُلُونَنِي ﴿ "Dan hampir-hampir mereka membu-nuhku." Yakni janganlah kamu mendugaku lalai. ﴾ فَلَا تُشۡمِتۡ بِيَ ٱلۡأَعۡدَآءَ ﴿ "Sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku", dengan hardikanmu kepadaku dan perlakuan burukmu kepadaku, karena musuh-musuh selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam memunculkan kesalahan dan menemukan kekeliruan pada-ku, ﴾ وَلَا تَجۡعَلۡنِي مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim." Lalu kamu memperlakukanku seperti mereka.
(151) Musa عليه السلام menyesal atas perbuatannya yang terburu-buru terhadap saudaranya sebelum dia mengetahui bahwa sauda-ranya tidak seperti yang dia duga. Musa berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي ﴿ "Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku", Harun. ﴾ وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ ﴿ "Dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu." Yakni di dalamnya, ja-dikanlah rahmatMu meliputi kami dari segala segi karena ia adalah benteng yang kokoh dari segala keburukan dan di sanalah seluruh kebaikan dan kebahagiaan. ﴾ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." Yakni, lebih menyayangi kami dari seluruh penyayang, lebih sayang kepada kami daripada bapak, ibu, anak dan diri kami sendiri.
(152) Allah تعالى menjelaskan keadaan para penyembah anak sapi. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ ٱلۡعِجۡلَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sesembahannya)", yakni sebagai tuhan, ﴾ سَيَنَالُهُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَذِلَّةٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia." Sebagaimana mereka telah membuat Rabb mereka marah dan meremehkan pe-rintahNya. ﴾ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُفۡتَرِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan ke-pada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." Semua pendusta atas nama Allah, pembohong atas syariatNya, dan mengucapkan sesuatu atas namaNya apa yang tidak Dia katakan; akan menda-patkan bagian dari murka Allah dan kehinaan di dunia.
(153) Mereka telah mendapatkan murka dari Allah, di mana Dia memerintahkan mereka membunuh diri mereka, dan bahwa Allah tidak meridhai mereka kecuali dengan itu. Lalu sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain dan pembunuhan tersebut memakan korban yang banyak, kemudian Allah mengampuni me-reka setelah itu. Oleh karena itu Allah menyebutkan hukum secara umum, di mana mereka dan selain mereka masuk ke dalamnya. ﴾ وَٱلَّذِينَ عَمِلُواْ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan", baik dosa syirik, dosa besar, dan dosa kecil, ﴾ ثُمَّ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "kemudian bertau-bat sesudah itu." Yakni mereka menyesalinya, meninggalkannya, dan bertekad tidak kembali mengulangnya ﴾ وَءَامَنُوٓاْ ﴿ "dan beriman", kepada Allah dan kepada apa yang Allah wajibkan untuk diimani, dan iman tidak sempurna kecuali dengan amalan hati dan amalan anggota badan yang merupakan tuntutan iman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "se-sungguhnya Rabbmu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu." Yakni setelah keadaan ini keadaan taubat dari kejahatan dan kem-bali kepada ketaatan, ﴾ لَغَفُورٞ ﴿ "adalah Maha Pengampun", mengam-puni keburukan dan menghapusnya meskipun ia sepenuh jagad, ﴾ رَّحِيمٞ ﴿ "lagi Maha Penyayang," dengan menerima taubat dan mem-beri taufik untuk dapat beramal shalih dan menerimanya.
(154) ﴾ وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلۡغَضَبُ ﴿ "Sesudah amarah Musa menjadi reda." Yakni kemarahannya reda, jiwanya tenang, dan dapat mengu-asai dirinya, maka dia mulai melakukan perkara paling penting padanya, maka dia mengambil ﴾ ٱلۡأَلۡوَاحَۖ ﴿ "Luh-luh (Taurat) itu", yang dia lemparkan, dan ia adalah luh-luh yang mulia dan berukuran besar, ﴾ وَفِي نُسۡخَتِهَا ﴿ "dan dalam tulisannya", yakni mengandung dan berisi ﴾ هُدٗى وَرَحۡمَةٞ ﴿ "petunjuk dan rahmat." Yakni, di dalamnya terda-pat petunjuk dari kesesatan, penjelasan tentang kebenaran dari kebatilan, perbuatan baik dan perbuatan buruk, petunjuk kepada amalan, akhlak, dan adab terbaik, serta rahmat dan kebahagiaan bagi yang melaksanakannya dan mengetahui hukum-hukum dan makna-maknanya. Akan tetapi tidak semua orang mau menerima petunjuk Allah dan RahmatNya. Yang bersedia menerima, menaati, dan tunduk kepadanya adalah ﴾ لِّلَّذِينَ هُمۡ لِرَبِّهِمۡ يَرۡهَبُونَ ﴿ "orang-orang yang takut kepada Rabbnya." Adapun orang yang tidak takut kepada Allah dan tidak pula kepada pengadilan di hadapanNya, maka ia hanya menambah kesombongannya dan penolakannya, dan hujjah Allah pun tegak atasnya.
(155) Dan tatkala Bani Israil bertaubat serta kembali ke jalan mereka yang lurus ﴾ وَٱخۡتَارَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa memilih", dari mereka ﴾ سَبۡعِينَ رَجُلٗا ﴿ "tujuh puluh orang", terbaik di antara mereka untuk memohon maaf kepada Allah bagi kaum mereka. Allah menjanjikan kepada mereka waktu di mana mereka bisa menghadirinya. Manakala me-reka telah hadir, mereka berkata, "Wahai Musa, tunjukkanlah Allah kepada kami secara nyata." Mereka telah berkata sangat lancang kepada Allah, bersikap kurang ajar kepadaNya, maka mereka pun digoncang gempa, sehingga mereka pingsan dan binasa, maka Musa tiada henti-hentinya berdoa merendahkan diri kepada Allah dan berkata, ﴾ رَبِّ لَوۡ شِئۡتَ أَهۡلَكۡتَهُم مِّن قَبۡلُ ﴿ "Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka sebelum ini." Yakni sebelum mereka hadir dan mereka dalam keadaan memohon maaf untuk kaum mereka, justru mereka sekarang menjadi orang-orang yang zhalim. ﴾ أَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَّآۖ ﴿ "Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?" Yakni orang-orang berakal bodoh dan berpikiran pandir. Musa merendahkan diri kepada Allah dan memohon pemakluman karena orang-orang yang berbuat kelancangan tersebut tidak memiliki akal yang sem-purna yang menjaga mereka sehingga mereka tidak mengucapkan dan melakukan demikian, dan bahwa telah terjadi fitnah pada diri mereka yang terlintas pada diri seseorang dan dia khawatir agama-nya akan lenyap. Maka dia berkata, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّا فِتۡنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَآءُ وَتَهۡدِي مَن تَشَآءُۖ أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۖ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡغَٰفِرِينَ ﴿ "Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri pe-tunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." Yakni Engkau adalah sebaik-baik pemaaf, sebaik-baik yang menyayangi, dan semulia-mulia pemberi karunia. Seakan-akan Musa عليه السلام berkata, "Wahai Rabb, yang dimaksud dengan tujuan pertama bagi kami semua adalah menaatiMu dan beriman kepadaMu, dan bahwa orang yang ber-akal, mengerti, dan memahaminya dengan sempurna sesuai dengan taufik yang telah Engkau berikan, maka ia tetap bersikap lurus. Adapun orang yang lemah akalnya, pandir pemikirannya, dan di-belokkan oleh fitnah, maka dialah yang melakukan pelanggaran itu, meskipun demikian Engkau adalah sebaik-baik Penyayang dan sebaik-baik Pengampun, maka ampunilah dan sayangilah kami." Maka Allah mengabulkan permintaan Musa dan menghidupkan mereka setelah mereka mati dan mengampuni dosa-dosa mereka.
(156) Musa menyempurnakan doanya, ﴾ وَٱكۡتُبۡ لَنَا فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ ﴿ "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini", berupa ilmu yang bermanfaat, rizki yang lapang, dan amal yang shalih. ﴾ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dan di Akhirat", yakni dengan kebajikan, yaitu pahala yang Allah sediakan untuk hamba-hambaNya yang shalih. ﴾ إِنَّا هُدۡنَآ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu." Yakni kami kem-bali dengan mengakui kelalaian kami. Kami kembali kepadaMu dalam segala urusan kami. ﴾ قَالَ عَذَابِيٓ أُصِيبُ بِهِۦ مَنۡ أَشَآءُۖ ﴿ "Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki," dari kala-ngan orang yang sengsara yang menentang sebab-sebabnya. ﴾ وَرَحۡمَتِي وَسِعَتۡ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Dan RahmatKu meliputi segala sesuatu," meliputi langit dan bumi, orang baik dan orang jahat, Mukmin dan kafir, tiada makhluk kecuali rahmat Allah telah dia rasakan, karunia dan ke-baikanNya telah dia cicipi, akan tetapi rahmat yang khusus yang berkonsekuensi kepada kebahagiaan dunia dan akhirat tidak dira-sakan oleh semua orang. Oleh karena itu Dia berfirman tentangnya, ﴾ فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ﴿ "Maka akan Aku tetapkan RahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa", dari kemaksiatan besar dan kecil, ﴾ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "yang menunaikan zakat", yang wajib ditunaikan kepada yang ber-hak, ﴾ وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَٰتِنَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami."
(157) Di antara kesempurnaan iman kepada ayat-ayat Allah adalah mengetahui maknanya dan menjalankan konsekuensinya. Termasuk dalam hal ini adalah mengikuti Nabi ﷺ lahir dan batin dalam perkara agama, baik yang ushul (pokok) maupun yang furu' (cabang). ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang meng-ikuti Rasul, Nabi yang ummi." Dikatakan ummi agar nabi-nabi yang lain tidak termasuk di dalamnya, karena yang dimaksud di sini adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib, sementara konteks ayatnya adalah tentang Bani Israil, bahwa iman kepada Nabi Muhammad adalah syarat atas mereka untuk masuk ke dalam iman, bahwa orang-orang yang beriman kepadanya yang mengiku-tinya adalah orang-orang yang mendapatkan rahmat yang mutlak yang telah Allah tulis untuk mereka. Allah menyifatinya dengan ummi karena dia dari bangsa Arab umat yang ummi, tidak menulis dan tidak membaca, dan sebelum al-Qur`an turun mereka tidak memiliki kitab. ﴾ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ ﴿ "Yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka." Dengan nama dan sifatnya di mana yang paling mulia dan paling agung adalah apa yang dia dakwahkan dan apa yang dia larang. ﴾ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf." Yaitu semua yang diketahui kebaikannya, kebagusannya, dan man-faatnya. ﴾ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar." Yaitu semua yang dikenal buruknya menurut akal dan fitrah. Dia memerintahkan mereka untuk shalat, zakat, puasa, haji, silaturahim, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada tetangga dan hamba sahaya, memberikan manfaat kepada seluruh makhluk, kejujuran, kesucian diri, kebaikan, nasihat, dan lain-lain. Dia melarang syirik kepada Allah, membunuh tanpa ala-san yang benar, zina, minum khamar, kezhaliman kepada makhluk lain, dusta, dosa, dan lain-lain. Bukti paling agung bahwa dia adalah Rasul Allah adalah apa yang dia dakwahkan dan dia perintahkan dan apa yang dia larang, apa yang dia halalkan dan apa yang dia haramkan. Dia menghalalkan yang baik-baik dari makanan, mi-numan, dan pernikahan, ﴾ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ ﴿ "dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk", dari makanan, minuman, pernikahan, ucapan dan perbuatan, ﴾ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "dan mem-buang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." Yakni di antara sifatnya adalah bahwa agamanya mudah, ringan, tidak sulit, tidak ada beban, tidak ada belenggu, tidak ada kesulitan, dan tidak ada pembebanan syariat yang berat. ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman kepada-nya, memuliakannya", yakni mengagungkannya dan menghormati-nya. ﴾ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ﴿ "Menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya", yaitu al-Qur`an yang mene-rangi di kegelapan keraguan dan kebodohan, dijadikan pegangan pada saat terjadi pertentangan pendapat. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang beruntung." Yang meraih kebaikan di dunia dan akhirat, yang selamat dari keburukan dunia dan akhirat, karena mereka melakukan sebab keberuntungan terbesar. Adapun orang yang tidak beriman kepada Nabi ummi ini, tidak memuliakannya, tidak menolongnya, dan tidak mengikuti cahaya yang dibawanya, maka dia adalah orang-orang yang merugi.
(158) Manakala ahli Taurat dari Bani Israil diajak untuk me-ngikuti Nabi Muhammad, dan mungkin ada yang mengira bahwa ajakan tersebut hanya terbatas kepada mereka, maka dihadirkan lafazh yang menunjukkan keumuman, maka Allah berfirman, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguh-nya aku adalah utusan Allah kepadamu semua'." Yakni bangsa Arab dan yang non Arab, ahli kitab dan yang bukan ahli kitab. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi." Dia bertindak pada keduanya dengan hukum-hukumNya yang kauniyah, peraturan-peraturan kekuasaanNya, dan hukum-hukum syar'iyah diniyah yang di antaranya adalah bahwa Dia mengutus kepadamu seorang Rasul yang agung yang mengajakmu kepada Allah dan kepada rumah kemuliaanNya (surga), dan memperingat-kanmu dari setiap perkara yang menjauhkanmu dariNya dan dari rumah kemuliaanNya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak di-sembah) selain Dia." Yakni tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan cara beribadah kepadaNya tidak diketahui kecuali melalui rasul-rasulNya. ﴾ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Yang menghidupkan dan mematikan." Yakni di antara PengaturanNya adalah menghidupkan dan mematikan, di mana tidak ada seorang pun yang menyertaiNya dalam hal ini di mana Allah menjadikan kematian sebagai jembatan penyeberangan ke rumah kekekalan di mana barangsiapa yang beriman kepada-nya, pasti akan membenarkan Rasul. ﴾ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ﴿ "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi." Iman dengan hati yang mencakup amal hati dan anggota badan. ﴾ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ ﴿ "Yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-ka-limatNya (kitab-kitabNya)." Yakni berimanlah kepada Rasul yang lurus ini dalam akidah dan perbuatannya. ﴾ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ﴿ "Dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk," kepada kebaikan duniamu dan agamamu, karena jika kamu tidak mengikutinya, maka kamu akan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.
(159) ﴾ وَمِن قَوۡمِ مُوسَىٰٓ أُمَّةٞ ﴿ "Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat." Yakni jamaah, ﴾ يَهۡدُونَ بِٱلۡحَقِّ وَبِهِۦ يَعۡدِلُونَ ﴿ "Yang memberi pe-tunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan." Yakni mereka memberi petunjuk kepada ma-nusia dengan pengajaran dan fatwa kepada mereka dan berlaku adil di antara mereka dalam memutuskan perkara-perkara di an-tara mereka, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 24 ﴿ "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24). Ini menunjukkan keutamaan umat Nabi Musa عليه السلام, dan bahwa Allah تعالى menjadikan di antara mereka orang-orang yang memberi petunjuk dengan perintahNya. Dan sepertinya ayat yang mulia ini hadir untuk menepis kesalahan pemahaman dari penjelasan-penje-lasan sebelumnya, karena dalam ayat-ayat sebelumnya Allah me-nyebutkan sekumpulan aib Bani Israil yang bertentangan dan ber-tabrakan dengan hidayah dan kesempurnaan, mungkin saja ada yang menduga salah bahwa hal itu ada pada Bani Israil semuanya, maka Allah menyebutkan bahwa di antara mereka ada sekelompok orang yang lurus yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk tersebut kepada orang lain.
(160) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمُ ٱثۡنَتَيۡ عَشۡرَةَ أَسۡبَاطًا أُمَمٗاۚ ﴿ "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar." Yakni dua belas suku yang selalu mengenal dan berhubungan baik. Setiap ke-turunan seorang laki-laki dari anak-anak Ya'qub adalah satu suku. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ إِذِ ٱسۡتَسۡقَىٰهُ قَوۡمُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya." Yakni mereka meminta kepada-nya untuk berdoa kepada Allah تعالى agar memberi mereka air untuk minum mereka dan ternak mereka, hal itu karena –wallahu a'lam– mereka berada di daerah minim air. Maka Allah menjawab permin-taan mereka dengan mewahyukan kepada Musa, ﴾ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ ﴿ "Pukullah batu itu dengan tongkatmu." Ada kemungkinan ia adalah batu tertentu, ada kemungkinan ia adalah jenis batu apa saja. Musa memukulnya. ﴾ فَٱنۢبَجَسَتۡ ﴿ "maka memancarlah", dari batu tersebut ﴾ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَيۡنٗاۖ ﴿ "dua belas mata air", mengalir. ﴾ قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٖ مَّشۡرَبَهُمۡۚ ﴿ "Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum ma-sing-masing." Yakni mata air itu terbagi menjadi dua belas sesuai dengan jumlah suku Bani Israil, masing-masing suku dengan mata airnya, mereka mengetahuinya, mereka tenang, terbebas dari kele-lahan dan tanpa berdesak-desakan, dan ini termasuk kesempurnaan nikmat Allah kepada mereka. ﴾ وَظَلَّلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡغَمَٰمَ ﴿ "Dan Kami naungkan awan di atas mereka." Ia melindungi mereka dari panas matahari. ﴾ وَأَنزَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَنَّ ﴿ "Dan Kami turunkan kepada mereka manna", yaitu sesuatu yang manis (seperti madu. Ed) ﴾ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ ﴿ "dan salwa", yaitu daging burung terbaik dan terlezat. Allah mengumpulkan untuk mereka naungan awan, minuman, dan makanan yang enak yaitu manna dan salwa yang didapat tanpa lelah dan capek. Dikatakan kepada mereka, ﴾ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا ﴿ 'Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepadamu'. Mereka tidak menganiaya Kami," manakala mereka tidak bersyukur kepada Allah dan tidak menunaikan apa yang Allah wajibkan atas mereka. ﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." Di mana mereka menyia-nyiakan kebaikan dan menentang resiko keburukan dan azab. Ini terjadi pada masa di mana mereka tersesat dari bumi.
(161) ﴾ وَإِذۡ قِيلَ لَهُمُ ٱسۡكُنُواْ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis)'." Yakni masuklah ke dalamnya agar ia menjadi tempat tinggal dan negerimu, yaitu Ailia (Baitul Maqdis). ﴾ وَكُلُواْ مِنۡهَا حَيۡثُ شِئۡتُمۡ ﴿ "Dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki." Yakni negeri dengan pohon yang lebat dan buah yang banyak serta kehi-dupan yang nyaman. Oleh karena itu Allah memerintahkan mereka agar makan darinya sesuka mereka. ﴾ وَقُولُواْ ﴿ "Dan katakanlah", ketika kamu masuk, ﴾ حِطَّةٞ ﴿ "Bebaskanlah kami dari dosa kami." Yakni ha-puskanlah kesalahan kami dan maafkanlah kami. ﴾ وَٱدۡخُلُواْ ٱلۡبَابَ سُجَّدٗا ﴿ "Dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk." Yakni dengan merendahkan diri kepada Allah, mengakui kebesaranNya dan mensyukuri nikmatNya. Allah memerintahkan mereka agar tunduk dan memohon ampunan, dan menjanjikan mereka ampunan atas dosa-dosa mereka dan pahala di dunia dan Akhirat. Dia berfirman, ﴾ نَّغۡفِرۡ لَكُمۡ خَطِيٓـَٰٔتِكُمۡۚ سَنَزِيدُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik." Dari kebaikan dunia dan akhirat.
(162) Mereka tidak menggubris perintah Ilahi ini, justru orang-orang zhalim dari mereka merubahnya, yakni mereka me-langgar dan meremehkan perintah Allah. ﴾ قَوۡلًا غَيۡرَ ٱلَّذِي قِيلَ لَهُمۡ ﴿ "dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka", sebagai ganti meminta ampun dan mengucapkan "hiththah", mereka berkata, "Satu biji gandum." Jika mereka merubah ucapan meski ia sangat mudah, maka mereka lebih berani lagi merubah perbuatan. Oleh karena itu mereka masuk dengan cara mengesot. ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka Kami timpakan kepada mereka", ketika mereka menyelisihi perintah Allah dan durhaka kepadaNya, ﴾ رِجۡزٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "azab dari langit." Yakni azab yang berat, bisa jadi tha'un atau azab dari langit yang lain, Allah tidak menzhalimi mereka dengan azabNya, akan tetapi hal itu ﴾ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ﴿ "disebabkan kezhaliman mereka."
(163) ﴾ وَسۡـَٔلۡهُمۡ عَنِ ٱلۡقَرۡيَةِ ٱلَّتِي كَانَتۡ حَاضِرَةَ ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut", di pantai ketika mereka melanggar dan Allah menghukum mereka ﴾ إِذۡ يَعۡدُونَ فِي ٱلسَّبۡتِ ﴿ "ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu." Padahal Allah تعالى telah memerintahkan mereka agar menghormatinya dan mengagungkannya dengan tidak menangkap ikan pada hari itu, lalu Allah menguji mereka, di mana pada Hari Sabtu ikan-ikan be-sar muncul di permukaan laut dalam jumlah yang banyak. ﴾ وَيَوۡمَ لَا يَسۡبِتُونَ ﴿ "Dan di hari-hari yang bukan Sabtu." Yakni jika Hari Sabtu berlalu ﴾ لَا تَأۡتِيهِمۡۚ ﴿ "ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka." Yakni ia menghilang dan mereka tidak melihat seekor pun. ﴾ كَذَٰلِكَ نَبۡلُوهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka ber-laku fasik." Kefasikan mereka yang menyebabkan Allah menguji mereka dengan ujian tersebut, karena jika mereka tidak demikian, niscaya Allah membebaskan mereka dan tidak menimpakan ujian dan keburukan kepada mereka.
(164) Namun mereka tetap berburu dengan membuat tipuan, mereka menggali lubang-lubang dan memasang jaring-jaring, jika Hari Sabtu tiba, maka ikan-ikan itu tertangkap ke dalam lubang-lubang dan jaring-jaring tersebut, tetapi mereka tidak mengambil-nya pada hari itu, jika Hari Ahad tiba, maka mereka mengambilnya dan hal itu sering terjadi pada mereka. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Mayoritas dari mereka tidak mengindahkan dan mereka melanggar secara terang-terangan. Kelompok kedua melarang dan mengingkari perbuatan kelompok mayoritas. Dan kelompok ketiga merasa cukup dengan apa yang dilakukan oleh kelompok kedua. Kelompok ini berkata, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Sepertinya mereka berkata, "Tidak ada gunanya menasihati orang yang berani melang-gar larangan Allah dan tidak menghiraukan nasihat yang tulus, tetapi justru tetap teguh di atas pelanggaran dan kezhaliman, karena Allah pasti akan menghukum mereka, baik dengan kebinasaan atau azab yang pedih." Orang-orang yang memberi nasihat menjawab, "Kami melarang dan menasihati mereka, ﴾ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ ﴿ 'agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu.' Yakni agar kami dimaafkan berkenaan dengan apa yang mereka lakukan, ﴾ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "dan supaya mereka bertakwa." Yakni mereka meninggal-kan kemaksiatan yang mereka lakukan. Maka kami tidak berputus asa dari usaha memberi petunjuk kepada mereka, bisa jadi nasihat kami mujarab pada mereka, larangan kami didengar oleh mereka, dan inilah tujuan terbesar dari pengingkaran terhadap kemungka-ran, agar ia berfungsi sebagai alasan dan penegakan hujjah atas yang diperintah dan yang dilarang, dan semoga Allah memberinya petunjuk lalu dia melaksanakan tuntutan dari perintah dan lara-ngan tersebut.
(165) ﴾ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦٓ ﴿ "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperintahkan kepada mereka." Mereka meninggalkan apa yang diperingatkan kepada mereka dan mereka terus berjalan di atas pelanggaran dan kesesatan. ﴾ أَنجَيۡنَا ٱلَّذِينَ يَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلسُّوٓءِ ﴿ "Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat." Begitulah sunnah Allah pada hamba-hambaNya, bahwa jika azab telah turun, maka yang selamat adalah orang-orang yang beramar ma'ruf dan bernahi mungkar. ﴾ وَأَخَذۡنَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim." Yaitu orang-orang yang melanggar pada Hari Sabtu ﴾ بِعَذَابِۭ بَـِٔيسِۭ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik." Adapun kelompok yang lain yang berkata kepada orang-orang yang melarang, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka." Maka ahli tafsir berbeda pen-dapat tentang apakah mereka selamat atau tidak, dan sepertinya mereka itu selamat, karena Allah mengkhususkan kebinasaan bagi orang-orang yang zhalim, sedangkan Dia tidak menyatakan mereka sebagai orang-orang yang zhalim. Ini menunjukkan bahwa azab hanya menimpa orang-orang yang melanggar di Hari Sabtu saja. Di samping itu amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah fardhu ki-fayah. Jika ia telah ditunaikan oleh sebagian orang, maka ia gugur dari sebagian yang lain, maka mereka merasa cukup dengan peng-ingkaran orang-orang yang mengingkari, dan karena sebenarnya mereka juga mengingkari dengan ucapan mereka, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" (Al-A'raf: 164). Mereka menampakkan kemarahan kepada orang-orang zhalim itu yang menunjukkan bahwa mereka sangat membenci perbuatan mereka dan bahwa Allah akan mengazab mereka atasnya.
(166) ﴾ فَلَمَّا عَتَوۡاْ عَن مَّا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya." Yakni, hati mereka keras, menolak dan tidak mau menerima nasihat. ﴾ قُلۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Kami katakan kepadanya", dengan perkataan sebagai takdir. ﴾ كُونُواْ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ ﴿ "Jadilah kamu kera yang hina." Mereka berubah menjadi kera dengan izin Allah dan Allah menjauhkan mereka dari RahmatNya.
(167) Kemudian Allah menyebutkan kehinaan dan kenis-taan yang menimpa orang-orang yang tersisa dari mereka. Dia ber-firman, ﴾ وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberitahukan", dengan pemberitahuan yang jelas, ﴾ لَيَبۡعَثَنَّ عَلَيۡهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَن يَسُومُهُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِۗ ﴿ "bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya." Yakni yang menghina-kan dan merendahkan mereka. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Sesunggguhnya Rabbmu amat cepat siksaNya", kepada orang yang mendurhakaiNya, bahwa Dia bisa menyegerakan hukuman di dunia kepadanya. ﴾ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang," bagi yang kembali dan bertaubat kepadaNya. Dia mengam-puni dosanya dan menutupi aib-aibnya, menyayanginya dengan menerima ketaatan dan membalasnya dengan berbagai macam balasan. Allah telah merealisasikan janjiNya pada mereka, maka mereka selalu dalam kehinaan dan kerendahan dijajah oleh bangsa lain, tidak ada panji dan bendera mereka yang tegak dengan kokoh.
(168) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أُمَمٗاۖ ﴿ "Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan." Yakni Kami memecah dan mencerai-beraikan mereka setelah sebelumnya mereka berkumpul. ﴾ مِّنۡهُمُ ٱلصَّٰلِحُونَ ﴿ "Di antaranya ada orang-orang yang shalih." Yaitu orang-orang yang melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-ham-baNya. ﴾ وَمِنۡهُمۡ دُونَ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Dan di antaranya ada yang tidak demikian." Yakni di bawah yang pertama. Bisa jadi mereka adalah orang-orang pertengahan, dan bisa pula orang-orang yang menzhalimi diri me-reka. ﴾ وَبَلَوۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami coba mereka", berdasarkan kebiasaan dan sunnah Kami, ﴾ بِٱلۡحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk." Yakni dengan kemudahan dan kesu-litan ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "agar mereka kembali (kepada kebenaran)", dari kese-satan di mana mereka berada di dalamnya, dan mereka berpegang kepada petunjuk yang karenanya mereka diciptakan. Di antara mereka selalu ada orang yang baik, tengah-tengah, dan yang buruk.
(169) ﴾ فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٞ وَرِثُواْ ﴿ "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi", sesudah mereka ﴾ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Taurat." Mereka memperlakukan kitab itu menurut hawa nafsu mereka. Mereka disodori harta agar mereka memberi fatwa dan memutus-kan hukum dengan cara yang tidak benar, suap merajalela di ka-langan mereka, ﴾ يَأۡخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا ٱلۡأَدۡنَىٰ وَيَقُولُونَ ﴿ "Yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata", mereka mengakui bahwa ia ada-lah dosa dan bahwa mereka adalah orang-orang zhalim, ﴾ سَيُغۡفَرُ لَنَا ﴿ "Kami akan diberi ampun." Ini adalah omong kosong, ia bukan istighfar dan minta ampun yang sebenarnya. Jika memang demikian, niscaya mereka akan menyesal atas apa yang mereka perbuat dan mereka berniat kuat untuk tidak mengulanginya, akan tetapi jika ada harta dan suap lain, maka mereka mengambilnya, mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, mereka mengganti yang baik dengan yang buruk. Allah تعالى mengingkari mereka dan menjelaskan kelancangan mereka. ﴾ أَلَمۡ يُؤۡخَذۡ عَلَيۡهِم مِّيثَٰقُ ٱلۡكِتَٰبِ أَن لَّا يَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّ ﴿ "Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar?" Lalu mengapa mereka berkata atas namaNya tanpa kebenaran karena mengikuti hawa nafsu dan cenderung kepada ambisi mereka, ﴾ وَ﴿ "dan" se-benarnya mereka ﴾ وَدَرَسُواْ مَا فِيهِۗ ﴿ "telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?" tidak ada persoalan atas mereka padanya, justru mereka melakukan perbuatan mereka itu dalam keadaan sengaja dan me-ngetahui. Ini lebih besar dosanya, lebih buruk celaannya, dan lebih berat siksanya. Ini termasuk kebodohan akal mereka dan keren-dahan pikiran mereka, karena mereka lebih mementingkan dunia daripada akhirat. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ ﴿ "Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa." Dengan menjauhi penghasilan yang bersumber dari suap atas pe-netapan hukum berdasar kepada selain yang diturunkan oleh Allah dan perkara-perkara haram lainnya. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?" Yakni apakah kalian tidak mempunyai akal yang dengannya kalian menimbang apa yang semestinya lebih di-pentingkan, apa yang lebih berhak untuk diusahakan dan didahu-lukan? Tugas akal adalah melihat kepada akibat dari sesuatu. Ada-pun orang yang berpandangan dangkal lagi pendek, dia tidak dapat meraih nikmat agung yang kekal, di mana akal dan pikirannya?
(170) Orang-orang yang berakal sebenar-benarnya adalah orang-orang yang dicitrakan oleh Allah dengan FirmanNya, ﴾ وَٱلَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat)." Yakni berpegang teguh dari segi ilmu dan amal, mereka mengetahui hukum-hukum dan berita-berita yang dikandungnya, di mana ilmu tentang itu adalah ilmu yang termulia, mereka men-jalankan perintah-perintah yang dikandungnya yang merupakan ketenangan, kebahagiaan hati dan jiwa serta kemenangan dunia dan akhirat. Dan di antara perintah-perintah agung yang wajib di-pegang adalah mendirikan shalat secara lahir dan batin. Oleh karena itu Allah menyebutkannya secara khusus karena keutamaannya dan kemuliaannya, dan bahwa ia adalah timbangan amal dan penega-kannya mendorong kepada penegakan ibadah-ibadah yang lain. Karena seluruh amal mereka adalah baik, maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan," dalam perkataan, perbuatan, dan niat mereka, memperbaiki diri dan orang lain. Ayat ini dan yang sepertinya menunjukkan bahwa Allah mengutus para rasulNya k dengan kebaikan bukan kerusakan, dengan manfaat bukan mudarat, mereka diutus dengan kebaikan dunia dan akhirat. Jadi, semakin seseorang itu baik, maka dia sema-kin dekat kepada sikap mengikuti mereka.
(171) Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ نَتَقۡنَا ٱلۡجَبَلَ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka", ketika mereka menolak apa yang ada di dalam Taurat, Dia mewajibkan mereka beramal dan mengangkat gunung di atas mereka, maka gunung pun di atas mereka, ﴾ كَأَنَّهُۥ ظُلَّةٞ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُۥ وَاقِعُۢ بِهِمۡ ﴿ "seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka." Dan dikatakan kepada mereka, ﴾ خُذُواْ مَآ ءَاتَيۡنَٰكُم بِقُوَّةٖ ﴿ "Peganglah dengan teguh apa yang telah kami berikan kepadamu." Yakni dengan serius dan sungguh-sungguh ﴾ وَٱذۡكُرُواْ مَا فِيهِ ﴿ "serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya", dengan mengkaji dan mempelajari serta mengamalkannya ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa", jika kamu melakukan itu.
Al-A'raf 7:168
"Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu memba-wa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah ba-gaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Musa berkata, 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam, wajib atasku tidak berkata atas Nama Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu de-ngan membawa bukti yang nyata dari Rabbmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku'." (Al-'Araf: 103-105). "Fir'aun menjawab, 'Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.' Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu se-ketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu men-jadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata, 'Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluar-kan kamu dari negerimu.' (Fir'aun berkata), 'Maka apakah yang kamu anjurkan?' Pemuka-pemuka itu menjawab, 'Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka mem-bawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai'." (Al-'Araf: 106-112). "Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun menga-takan, '(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?' Fir'aun menjawab, 'Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepa-daku).' Ahli-ahli sihir berkata, 'Hai Musa, kamukah yang akan melempar lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?'" (Al-'Araf: 113-115). "Musa menjawab, 'Lemparkanlah (lebih dahulu)!' Maka tat-kala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang-orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatang-kan sihir yang besar (menakjubkan).' Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekonyong-konyong tong-kat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina'." (Al-A'raf: 116-119). "Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu, sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan pendu-duknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya'." (Al-A'raf: 120-124). "Ahli-ahli sihir itu menjawab, 'Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.' (Mereka berdoa), 'Ya Rabb ka-mi, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu).' Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun), 'Apakah kamu mem-biarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilah-ilahmu.' Fir'aun menjawab, 'Akan kita bunuh anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita ber-kuasa penuh di atas mereka.' Musa berkata kepada kaumnya, 'Mo-honlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah yang dipusakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa'." (Al-A'raf: 125-128). "Kaum Musa berkata, 'Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) se-belum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.' Musa menjawab, 'Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khafilah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.' Dan sesungguhnya kami telah menghu-kum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kema-rau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab ke-sialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Keta-huilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-A'raf: 129-131). "Mereka berkata, 'Bagaimanapun kamu mendatangkan kete-rangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.' Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersa-mamu.' Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya." (Al-A'raf: 132-135). "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelam-kan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah tertindas itu negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang te-lah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka." (Al-A'raf: 136-137). "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang sedang me-nyembah berhala mereka, Bani Israil berkata, 'Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempu-nyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab, 'Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat tuhan). Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.' Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas se-gala umat. Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamat-kanmu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lela-kimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Rabbmu'." (Al-A'raf: 138-141). "Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurna-lah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam. Dan berkatalah Musa kepada saudaranya yaitu Harun, 'Gantikan-lah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan jangan-lah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.' Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu.' Rabb berfirman, 'Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala) niscaya kamu dapat melihatKu.' Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, 'Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepadaMu dan aku orang yang pertama-tama beriman'." (Al-A'raf: 142-143). "Allah berfirman, 'Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (me-lebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk mem-bawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.' Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah padanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik'." (Al-A'raf: 144-145). "Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri-nya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda ke-kuasaanKu. Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan me-reka selalu lalai dari padanya." (Al-A'raf: 146). "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan. Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gu-nung Thur, membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengeta-hui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim. Dan setelah mereka sangat menyesali perbua-tannya dan mengetahui bahwa mereka sesat, mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 147-149). "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu.' Dan Musa melemparkan luh-luh (Tau-rat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata, 'Hai anak ibuku, sesung-guhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka mau membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim.' Musa berdoa, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.' Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." (Al-A'raf: 150-152). "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian ber-taubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Rabb kamu, sesu-dah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesudah amarah Musa menjadi reda, maka dia mengambil (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisan-nya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Rabbnya. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari ka-umnya untuk (memohon taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, 'Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Eng-kau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami. Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 153-155). "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu. Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku ke-hendaki dan rahmatKu meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang me-nunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami'." (Al-A'raf: 156). "(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-A'raf: 157). "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.' Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (ke-pada manusia) dengan hak dan dengan hak itulah mereka menja-lankan keadilan." (Al-A'raf: 158-159). "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar, dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu!' Maka memancarlah dari padanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka, dan Kami tu-runkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman), 'Ma-kanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepada-mu.' Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." (Al-A'raf: 160). "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.' Dan katakanlah, 'Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbang-nya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesa-lahanmu.' Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang yang zhalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dika-takan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezhaliman mereka." (Al-A'raf: 161-162). "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikian-lah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, 'Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras?' Mereka menjawab, 'Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertakwa'." (Al-A'raf: 163-164). "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepada mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina.' Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberita-hukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesung-guhnya Rabbmu amat cepat siksaNya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shalih dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (Al-A'raf: 165-168). "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata, 'Kami akan diberi ampun.' Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan menga-takan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti. Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pa-hala), karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan." (Al-A'raf: 169-170). "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas me-reka seakan-akan bukit naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), 'Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa'." (Al-A'raf:171).
(103) Yakni, kemudian Kami mengutus setelah para rasul itu, Musa yang pernah diajak berbicara langsung oleh Allah, pe-mimpin yang agung, seorang Rasul yang mulia kepada kaum yang bengal lagi sombong yaitu Fir'aun dan para pemuka kaumnya serta bala tentaranya, maka Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya yang besar yang tidak ada tandingannya, ﴾ فَظَلَمُواْ بِهَاۖ ﴿ "Lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu." Dengan tidak tunduk kepada ke-benarannya, di mana siapa yang tidak tunduk kepadanya maka dia adalah orang zhalim, namun justru menyombongkan diri kepada-nya. ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan." Bagaimana Allah membinasa-kan mereka dan menambahkan celaan dan laknat atas mereka di dunia, dan pada Hari Kiamat mereka akan mendapatkan seburuk-buruk pemberian.
(104) Ini adalah pernyataan global yang diperinci dengan FirmanNya, ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Dan Musa berkata", manakala dia datang kepada Fir'aun untuk mengajaknya kepada iman, ﴾ يَٰفِرۡعَوۡنُ إِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam." Yakni, aku adalah Rasul dari Pengutus yang Agung yaitu Rabb semesta alam, alam tinggi dan alam rendah, Pengurus seluruh makhlukNya dengan berbagai macam tatanan Ilahiyah, yang di antaranya adalah bahwa Dia tidak membiarkan mereka hidup secara sia-sia, tetapi Dia mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, di mana tidak seorang pun yang berani atasnya dan mengklaim bahwa Dia mengutusnya pa-dahal tidak mengutusnya.
(105) Jika urusannya memang begitu, sedangkan aku telah dipilih dan diangkat untuk memikul risalahNya, maka tidak se-pantasnya bagiku untuk berdusta atasNya dan tidak mengatakan atasNya kecuali kebenaran, karena jika aku berkata selain itu, maka Dia pasti menyegerakan hukuman kepadaku, dan pasti Dia akan mengazabku dengan azab dari Yang Mahaperkasa lagi Maha Ber-kuasa. Ini merupakan kenyataan yang mengharuskan mereka un-tuk tunduk dan mengikutinya, lebih-lebih dia telah datang kepada mereka dengan bukti kuat dari Allah yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawanya, maka wajib atas mereka menjalankan tujuan risalahnya yang merupakan dua tujuan besar, yaitu agar mereka beriman kepadaNya, mengikutiNya dan melepaskan Bani Israil, bangsa yang diberi keutamaan oleh Allah, putra-putra para nabi dan keturunan Ya'qub, di mana Musa عليه السلام adalah salah satu dari mereka.
(106) Fir'aun menjawab, ﴾ إِن كُنتَ جِئۡتَ بِـَٔايَةٖ فَأۡتِ بِهَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar."
(107) ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya", di tanah. ﴾ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ ﴿ "Lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya." Yakni, ular yang nyata merayap dan mereka me-nyaksikannya.
(108) ﴾ وَنَزَعَ يَدَهُۥ ﴿ "Dan ia mengeluarkan tangannya", dari saku-nya, ﴾ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ ﴿ "maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." Tanpa aib. Ini adalah dua mukjizat besar yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawa oleh Musa dan bahwa dia adalah benar-benar utusan Rabbul 'Alamin.
(109) Akan tetapi orang-orang yang tidak beriman, seandai-nya semua ayat datang kepada mereka, mereka tetap tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih. Oleh karena itu, ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata", manakala mereka terkagum-kagum dengan mukjizat, tetapi mereka tidak mau ber-iman, maka mereka mencari-cari takwil yang rusak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَسَٰحِرٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai." Yang pintar menyihir.
(110) Kemudian mereka itu menakut-nakuti orang-orang yang berakal lemah lagi bodoh bahwa Musa, ﴾ يُرِيدُ ﴿ "bermaksud hen-dak", dengan perbuatannya tersebut ﴾ أَن يُخۡرِجَكُم مِّنۡ أَرۡضِكُمۡۖ ﴿ "mengeluarkan-mu dari negerimu." Yakni dia ingin mengusirmu dari tanah tumpah darahmu. ﴾ فَمَاذَا تَأۡمُرُونَ ﴿ "Fir'aun berkata, 'Maka apakah yang kamu an-jurkan?'" Yakni mereka saling bertukar pikiran di antara mereka terkait dengan apa yang dilakukan oleh Musa dan bagaimana cara menangkis kemudaratan –menurut klaim mereka– dari mereka, karena jika apa yang dibawa oleh Musa tidak ditangkal dan diban-tah, maka bisa-bisa ia menyusup ke pikiran banyak orang.
(111-112) Pada saat itu pendapat mereka bersatu dengan mengatakan kepada Fir'aun, ﴾ أَرۡجِهۡ وَأَخَاهُ ﴿ "Beri tangguhlah dia dan sau-daranya." Yakni tahan dan beri mereka berdua waktu, dan utuslah orang-orang ke penjuru kota untuk mengumumkan kepada pen-duduknya agar mereka menghadirkan semua penyihir yang ahli, yakni mereka mendatangkan para penyihir yang mumpuni, untuk melawan apa yang dibawa oleh Musa, maka mereka berkata, ﴾ فَٱجۡعَلۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 قَالَ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ثُمَّ أَتَىٰ 60 ﴿ "'(Wahai Musa), buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah ma-nusia dikumpulkan pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemu-dian dia datang." (Thaha: 58-60).
(113) Di sini Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan be-berapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun." Menuntut balasan (upah) jika mereka menang. Mereka berkata, ﴾ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبِينَ ﴿ "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?"
(114) Fir'aun menjawab, ﴾ نَعَمۡ ﴿ "Ya", kamu akan mendapat imbalan. ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)." Fir'aun menjanjikan balasan, kedekatan, dan kedudukan tinggi di sisinya agar mereka serius dan mengeluarkan segala daya dan upaya mereka dalam mengalahkan Musa.
(115) Manakala mereka hadir bersama Musa di depan kha-layak yang berjumlah besar, ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata", dengan ber-sumpah tanpa memandang sama sekali kepada apa yang dibawa oleh Musa, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "Hai Musa kamukah yang akan melempar-kan lebih dahulu", apa yang ada padamu, ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ نَحۡنُ ٱلۡمُلۡقِينَ ﴿ "ataukah kami yang akan melemparkan?"
(116) Musa menjawab, ﴾ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Lemparkanlah (lebih dahulu)." Agar orang-orang melihat apa yang mereka miliki dari apa yang Musa miliki. ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka tatkala mereka melemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka sehingga nampak menjadi seperti ular yang melata, mereka menyulap, ﴾ أَعۡيُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٖ ﴿ "mata orang-orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan)." Sihir yang tak tertandingi.
(117) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu'." Maka Musa melemparkannya, ﴾ فَإِذَا هِيَ ﴿ "maka sekonyong-konyong tongkat itu menjadi", ular yang melata, maka ia menelan sulap mereka, yakni kebohongan dan kedustaan mereka.
(118) ﴾ فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Karena itu nyatalah yang benar", yakni jelas dan nyata serta unggul di perkumpulan itu, ﴾ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dan batallah yang selalu mereka kerjakan."
(119) ﴾ فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ ﴿ "Maka mereka kalah di tempat itu." Yakni di pertandingan itu, ﴾ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ ﴿ "dan jadilah mereka orang-orang yang hina", lagi dina. Kebatilan mereka terkikis dan sihir mereka kalah dan mereka gagal mendapat apa yang mereka ingin dapatkan.
(120-122) Orang yang paling jelas mengetahui kebenaran yang agung adalah orang-orang yang berpikiran obyektif dan ahli sihir yang mengetahui macam-macam sihir dan detail-detailnya yang tidak diketahui oleh selain mereka. Mereka mengetahui bahwa itu adalah mukjizat besar dari Allah, tak ada yang mampu menan-dinginya, maka ﴾ وَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ 120 قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam (yaitu) Rabb Musa dan Harun'." Yakni kami membenarkan ayat-ayat yang jelas yang di-bawa oleh Musa.
(123) ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata", kepada mereka dengan mengancam karena iman mereka, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Orang busuk ini adalah penguasa otoriter yang sewenang-wenang dalam mem-perlakukan fisik dan pendapat rakyatnya. Telah menjadi semacam ketetapan baginya dan rakyatnya bahwa pendapatnya harus didengar dan perintahnya harus terlaksana, tak seorang pun boleh keluar dari ucapan dan hukumnya. Dengan kondisi seperti ini mental mereka merosot, akal dan tindakan mereka lemah, serta tidak mampu membela hak-hak mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman tentangnya, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya." (Az-Zukhruf: 54). Di sini dia berkata, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Ini adalah sikap ke-kurangajaran darimu dan kelancangan kepadaku. Kemudian dia mengaburkan sikap kaumnya dengan berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَمَكۡرٞ مَّكَرۡتُمُوهُ فِي ٱلۡمَدِينَةِ لِتُخۡرِجُواْ مِنۡهَآ أَهۡلَهَاۖ ﴿ "Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduk-nya dari padanya." Yakni sesungguhnya Musa adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir, kamu telah bersepakat dengannya di mana seakan-akan kalian tunduk padanya, lalu dia menang dan kamu mengikutinya, kemudian orang-orang atau mayoritas dari mereka mengikutimu, lalu kamu mengusir penduduknya darinya. Ini ada-lah kedustaan yang dia sendiri dan orang-orang yang mengetahui situasi, mengetahui bahwa Musa tidak bersekongkol dengan siapa pun dari mereka. Bahwa mereka itu dikumpulkan menurut perin-tah Fir'aun melalui kaki tangannya. Bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah mukjizat Ilahiyah. Bahwa ahli sihir itu telah mengeluar-kan segala kemampuan mereka untuk mengalahkan Musa namun mereka kalah, lalu kebenaran menjadi jelas bagi mereka dan mereka pun mengikutinya. Kemudian Fir'aun mengancam mereka dengan mengatakan, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuat-anmu ini)." Yakni, hukuman yang aku siapkan untukmu.
(124) ﴾ لَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Sesungguhnya aku akan memo-tong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik." Orang busuk ini mengklaim bahwa mereka sebagai perusak di muka bumi, di mana dia akan memperlakukan mereka layaknya orang-orang yang merusak, dipotong tangan dan kaki secara berselang-seling, yakni tangan kanan dan kaki kiri. ﴾ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمۡ ﴿ "Kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalibmu", di batang pohon kurma agar kamu kapok -menurut anggapannya- ﴾ أَجۡمَعِينَ ﴿ "semua." Yakni aku mem-perlakukan ini tidak hanya kepada beberapa orang saja, akan tetapi semuanya akan mendapatkannya.
(125) Para penyihir yang beriman itu berkata kepada Fir'aun yang mengancam mereka, ﴾ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ ﴿"Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali." Yakni kami tidak peduli dengan hukumanmu. Allah lebih baik dan lebih kekal, lakukan saja apa yang kamu mau.
(126) ﴾ وَمَا تَنقِمُ مِنَّآ ﴿ "Dan kamu tidak menyalahkan kami." Yakni kamu tidak mencela kami atas pengingkaranmu kepada kami dan ancamanmu kepada kami, kami tidak mempunyai dosa, ﴾ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتۡنَاۚ ﴿ "melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami." Jika ini memang dosa yang dicela atasnya dan pelakunya berhak atas hukuman, maka ini adalah dosa kami. Kemudian mereka memohon kepada Allah agar memberi mereka keteguhan dan kesabaran, mereka ber-kata, ﴾ رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا ﴿ "Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami." Yakni kesabaran yang besar. Ini ditunjukkan oleh kata صَبْرًا dengan bentuk nakirah karena ini adalah ujian besar yang berujung kepada kematian, maka ia memerlukan kesabaran besar agar hati tetap teguh dan orang mukmin tetap tenang dengan imannya serta agar kepanikan sirna darinya. ﴾ وَتَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ ﴿ "Dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu)." Yakni dalam keadaan tun-duk kepada perintahMu dan mengikuti RasulMu. Dan yang zahir bahwa ancaman Fir'aun benar-benar dilakukan kepada mereka dan bahwa Allah meneguhkan mereka di atas iman.
(127) Fir'aun dengan kaki tangannya dan mayoritas dari mereka yang mengikuti para pembesar di kalangan mereka telah menyombongkan diri di depan ayat-ayat Allah dan mengingkari-nya karena kezhaliman dan kesombongan. Mereka berkata kepada Fir'aun dalam rangka menghasutnya agar mengazab Musa dengan alasan bahwa apa yang dibawanya adalah batil dan merupakan kerusakan di muka bumi, ﴾ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوۡمَهُۥ لِيُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir)," dengan dakwah menyeru agar mereka beriman kepada Allah, kepada kemuliaan akhlak dan kebaikan amal yang merupa-kan kebaikan di muka bumi? Justru merekalah yang berada di atas kerusakan, akan tetapi orang-orang zhalim bersikap masa bodoh terhadap apa yang mereka katakan. ﴾ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَۚ ﴿ "Dan meninggal-kanmu serta tuhan-tuhanmu." Yakni membiarkanmu dan tuhan-tu-hanmu, dia melarangmu dan menghalang-halangi manusia dari mengikutimu. Maka Fir'aun menjawab mereka dengan mengata-kan bahwa dia akan membiarkan Musa dengan Bani Israil dalam kondisi di mana mereka tidak dapat berkembang, dan Fir'aun de-ngan kaki tangannya merasa aman dari bahaya mereka. Katanya, ﴾ سَنُقَتِّلُ أَبۡنَآءَهُمۡ وَنَسۡتَحۡيِۦ نِسَآءَهُمۡ ﴿ "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka." Yakni kita membiar-kan anak-anak perempuan itu hidup, kita tidak membunuhnya. Jika kita melakukan itu, maka kita akan aman dari kekuatan me-reka yang berjumlah banyak, sisanya kita perbudak dan kita atur sesuai dengan kehendak kita. ﴾ وَإِنَّا فَوۡقَهُمۡ قَٰهِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka." Mereka tidak memiliki kemam-puan untuk melepaskan diri dari hukum kita. Ini adalah puncak kesombongan, kezhaliman, dan kebengisan Fir'aun.
(128) ﴾ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ﴿ "Maka Musa berkata kepada kaumnya," me-wasiatkan kepada mereka dalam keadaan tersebut di mana mereka tidak memiliki apa pun untuk melawan, dengan perlawanan Ila-hiyah dan bantuan Rabbaniyah. ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah." Yakni bersandarlah kepadaNya dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu dan menolak apa yang memudaratkan-mu. Percayalah kepada Allah bahwa Dia akan menyempurnakan perkaramu, ﴾ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ ﴿ "Dan bersabarlah." Yakni pegang teguhlah ke-sabaran atas apa yang menimpamu dengan berharap kelapangan di balik ujian ini. ﴾ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ ﴿ "Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah." Bukan milik Fir'aun, bukan pula milik kaumnya sehingga mereka bisa semena-mena di atasnya. ﴾ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Dipu-sakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya." Yakni merotasinya di antara manusia menurut hikmah dan kehen-dakNya, akan tetapi kesudahan yang baik tetap milik orang-orang yang bertakwa. Walaupun mereka itu diuji beberapa lama berda-sarkan hikmah dari Allah, tetapi kemenangan adalah milik mereka. ﴾ وَٱلۡعَٰقِبَةُ ﴿ "Dan kesudahan yang baik", adalah untuk mereka. Ini ada-lah tugas seorang hamba, di mana pada waktu memiliki kemam-puan, dia harus melakukan cara untuk menolak gangguan orang lain dari dirinya sebatas kemampuan itu dan pada saat lemah hen-daknya dia bersabar, memohon pertolongan kepada Allah dan menunggu datangnya kelapangan.
(129) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa mengeluhkan siksaan Fir'aun yang menimpa mereka dalam kurun waktu yang lama, ﴾ أُوذِينَا مِن قَبۡلِ أَن تَأۡتِيَنَا ﴿ "Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami." Mereka menimpakan siksaan yang buruk kepada kami, mereka membunuh anak-anak laki-laki kami dan membiarkan anak-anak perempuan kami, ﴾ وَمِنۢ بَعۡدِ مَا جِئۡتَنَاۚ ﴿ "dan se-sudah kamu datang", juga demikian. Musa menjawab mereka dengan memberi harapan kemenangan dan kebebasan dari kejahatan me-reka. ﴾ عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُهۡلِكَ عَدُوَّكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-(Nya)." Yakni menjadikanmu pengendali dan pemegang urusan di dalamnya. ﴾ فَيَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu." Apakah kamu akan bersyukur atau kufur? Ini adalah janji yang Allah laksanakan manakala telah tiba waktu yang telah diinginkan oleh Allah.
(130) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan per-lakuanNya terhadap keluarga Fir'aun di waktu akhir-akhir ini, ia seperti biasa dan sesuai dengan sunnahNya pada umat-umat yang telah lalu, di mana Dia menimpakan, ﴾ بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَضَّرَّعُونَ 94 ﴿ "Azab dan kesulitan agar mereka tunduk dengan merendahkan diri." (Al-A'raf: 93) ﴾ وَلَقَدۡ أَخَذۡنَآ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ بِٱلسِّنِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meng-hukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang." Yakni kekeringan dan paceklik. ﴾ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pela-jaran." Yakni supaya mereka menyadari bahwa apa yang menimpa dan apa yang terjadi pada mereka adalah pelajaran dari Allah, agar mereka meninggalkan kekufuran. Tetapi hal itu tidak berguna dan berpengaruh bagi mereka, justru mereka terus di atas kezhaliman dan kerusakan.
(131) ﴾ فَإِذَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡحَسَنَةُ ﴿ "Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran." Yakni kesuburan dan kelimpahan rizki, ﴾ قَالُواْ لَنَا هَٰذِهِۦۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami'." Yakni, kami berhak atasnya. Mereka tidak bersyukur kepada Allah atas karunia tersebut. ﴾ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ ﴿ "Dan jika mereka ditimpa kesusahan." Yakni kekeringan dan paceklik, ﴾ يَطَّيَّرُواْ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓۗ ﴿ "mereka melemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya." Yakni mereka ber-kata, "Kesialan ini menimpa kami karena kedatangan Musa dan karena Bani Israil mengikutinya." Allah menjawab, ﴾ أَلَآ إِنَّمَا طَٰٓئِرُهُمۡ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah." Yakni dengan qadha dan qadarNya, tidak seperti yang me-reka katakan, justru penyebabnya adalah kekufuran dan dosa-dosa mereka, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui, oleh karena itu mereka berkata begitu.
(132) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", menjelaskan kepada Musa bahwa mereka senantiasa dan tetap akan berada pada keba-tilan. ﴾ مَهۡمَا تَأۡتِنَا بِهِۦ مِنۡ ءَايَةٖ لِّتَسۡحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحۡنُ لَكَ بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Bagaimanapun kamu men-datangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu." Yakni, kami telah yakin bahwa dirimu adalah penyihir, meskipun kamu datang dengan membawa mukjizat, kami tetap yakin bahwa kamu adalah penyihir, maka kami tidak mempercayaimu dan beriman kepada-mu. Ini adalah puncak pengingkaran orang-orang kafir itu, di mana keadaannya adalah sama saja, mukjizat turun atau tidak.
(133) ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلطُّوفَانَ ﴿ "Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah." Yakni banjir bandang yang menenggelamkan pohon-pohon dan tanaman-tanaman serta merugikan mereka dengan kerugian yang besar, ﴾ وَٱلۡجَرَادَ ﴿ "dan belalang", yang melahap buah-buahan, tanaman, dan pertanian mereka, ﴾ وَٱلۡقُمَّلَ ﴿ "dan kutu", yakni belalang kecil, dan yang zahir adalah bahwa ia adalah kutu yang dikenal, ﴾ وَٱلضَّفَادِعَ ﴿ "dan katak", yang memenuhi tempat-tempat air mereka sehingga mengganggu mereka dan membuat mereka sangat tidak nyaman, ﴾ وَٱلدَّمَ ﴿ "dan darah", bisa jadi ia adalah mimisan, atau se-perti yang dikatakan oleh banyak ahli tafsir bahwa air yang mereka minum berubah menjadi darah, sehingga mereka tidak minum ke-cuali darah dan tidak memasak kecuali dengan darah, ﴾ ءَايَٰتٖ مُّفَصَّلَٰتٖ ﴿ "sebagai bukti yang jelas." Yakni sebagai dalil dan bukti kongkrit bahwa mereka itulah orang-orang yang berdusta lagi zhalim, dan bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah kebenaran, ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "tetapi mereka tetap menyombongkan diri", tatkala melihat ayat-ayat itu, ﴾ وَكَانُواْ ﴿ "dan mereka", dulu ﴾ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "adalah kaum yang berdosa." Oleh karena itu Allah menghukum mereka dengan tetap membiar-kan mereka di atas kesesatan dan penyimpangan.
(134) ﴾ وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيۡهِمُ ٱلرِّجۡزُ ﴿ "Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu)." Yakni siksa. Ada kemungkinan bahwa ia adalah penyakit tha'un sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli tafsir, dan kemungkinan pula bencana yang telah disebutkan di atas, yaitu banjir, belalang, kutu, katak dan darah, karena semua ini adalah siksa dan azab. Setiap kali satu darinya menimpa mereka, ﴾ قَالُواْ يَٰمُوسَى ٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَۖ ﴿ "mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu'." Yakni mereka meminta perantara kepada Musa dengan wahyu dan syariat yang Allah berikan kepadanya. ﴾ لَئِن كَشَفۡتَ عَنَّا ٱلرِّجۡزَ لَنُؤۡمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرۡسِلَنَّ مَعَكَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." Dan mereka itu adalah para pendusta, maksud mereka hanyalah bagai-mana azab ini selesai, mereka mengira bahwa jika ia selesai maka tidak ada azab yang lain.
(135) ﴾ فَلَمَّا كَشَفۡنَا عَنۡهُمُ ٱلرِّجۡزَ إِلَىٰٓ أَجَلٍ هُم بَٰلِغُوهُ ﴿ "Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya." Yakni sampai waktu di mana Allah menentukan kebera-daannya pada mereka, bukan pengangkatan azab untuk seterusnya, akan tetapi hanya sementara, ﴾ إِذَا هُمۡ يَنكُثُونَ ﴿ "tiba-tiba mereka menging-karinya." Yakni janji yang mereka sampaikan kepada Musa bahwa mereka akan beriman kepadanya dan membiarkan Bani Israil ber-samanya. Mereka tidak beriman kepada Musa dan tidak pula me-lepas Bani Israil bersamanya, justru mereka terus berjalan di atas kekufuran tanpa peduli dan tetap menyiksa Bani Israil secara terus-menerus.
(136) ﴾ فَٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ ﴿ "Kemudian Kami menghukum mereka." Yakni pada waktu kebinasaan mereka telah tiba. Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil di malam hari. Dan Allah mem-beritahukan kepada Musa bahwa Fir'aun dengan bala tentaranya akan mengejar mereka. ﴾ فَأَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِي ٱلۡمَدَآئِنِ حَٰشِرِينَ 53 ﴿ "Kemudian Fir'aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (ten-taranya) ke kota-kota." (Asy-Syu'ara`: 53). Untuk mengumpulkan orang-orang guna mengejar Bani Israil, Fir'aun dan bala tentaranya berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَشِرۡذِمَةٞ قَلِيلُونَ 54 وَإِنَّهُمۡ لَنَا لَغَآئِظُونَ 55 وَإِنَّا لَجَمِيعٌ حَٰذِرُونَ 56 فَأَخۡرَجۡنَٰهُم مِّن جَنَّٰتٖ وَعُيُونٖ 57 وَكُنُوزٖ وَمَقَامٖ كَرِيمٖ 58 كَذَٰلِكَۖ وَأَوۡرَثۡنَٰهَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ 59 فَأَتۡبَعُوهُم مُّشۡرِقِينَ 60 فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلۡجَمۡعَانِ قَالَ أَصۡحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدۡرَكُونَ 61 قَالَ كـَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ 62 فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ 63 وَأَزۡلَفۡنَا ثَمَّ ٱلۡأٓخَرِينَ 64 وَأَنجَيۡنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ أَجۡمَعِينَ 65 ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ 66 ﴿ "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga'. Maka Kami keluarkan Fir'aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demi-kianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka di waktu ma-tahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, 'Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.' Musa menjawab, 'Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku'. Lalu Kami wah-yukan kepada Musa, 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu'. Maka ter-belahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelam-kan golongan yang lain itu." (Asy-Syu'ara`: 54-66). Allah berfirman di dalam surat al-A'raf ini, ﴾ فَأَغۡرَقۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "Maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebab-kan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." Yakni disebabkan oleh pendus-taan mereka kepada ayat-ayat Allah dan berpalingnya mereka dari kebenaran yang datang kepada mereka.
(137) ﴾ وَأَوۡرَثۡنَا ٱلۡقَوۡمَ ٱلَّذِينَ كَانُواْ يُسۡتَضۡعَفُونَ ﴿ "Dan Kami pusakakan ke-pada kaum yang telah ditindas itu", di bumi. Yakni Bani Israil yang dulu adalah pelayan bagi keluarga Fir'aun yang telah menimpakan kepada mereka azab yang buruk. Allah mempusakakan kepada mereka ﴾ مَشَٰرِقَ ٱلۡأَرۡضِ وَمَغَٰرِبَهَا ﴿ "negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya." Yang dimaksud dengan bumi di sini adalah bumi Mesir di mana padanyalah mereka ditindas dan dijajah, yakni Allah menguasakannya kepada mereka dan menjadikan mereka pengua-sanya. ﴾ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَاۖ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ ٱلۡحُسۡنَىٰ عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ بِمَا صَبَرُواْۖ ﴿ "Yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka." Mana-kala Musa berkata kepada mereka, ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ 128 ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguh-nya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakanNya kepada siapa yang di-kehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-A'raf: 128). ﴾ وَدَمَّرۡنَا مَا كَانَ يَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَقَوۡمُهُۥ ﴿ "Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya", yakni bangunan-bangunan yang besar dan tempat tinggal yang indah, ﴾ وَمَا كَانُواْ يَعۡرِشُونَ ﴿ "dan apa yang telah dibangun mereka." Itulah rumah-rumah mereka yang han-cur karena kezhaliman mereka, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengetahui.
(138) ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu", setelah Allah menyelamatkan mereka dari musuh mereka, yaitu Fir'aun dan bala tentaranya, di mana Allah telah membinasakan mereka sementara Bani Israil melihatnya. ﴾ فَأَتَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka sampai", yakni melewati ﴾ عَلَىٰ قَوۡمٖ يَعۡكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصۡنَامٖ لَّهُمۡۚ ﴿ "kepada suatu kaum yang sedang menyembah berhala mereka." Yakni mereka berdiam padanya, ngalap berkah padanya, dan menyem-bahnya, lalu mereka berkata kepada Nabi mereka, Musa عليه السلام, karena kebodohan dan ketidaktahuan mereka, setelah sebelumnya Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya. ﴾ يَٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهٗا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٞۚ ﴿ "Hai Musa buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana me-reka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Yakni izinkan kami men-jadikan berhala-berhala sebagai tuhan kami seperti yang mereka lakukan. Maka Musa menjawab, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)." Adakah kejahilan yang lebih besar daripada kejahilan orang tentang Tuhan dan Penciptanya dan dia ingin menyamakanNya dengan selainNya yang tidak dapat mendatangkan manfaat, mudarat, kematian, ke-hidupan dan kebangkitan?
(139) Oleh karena itu Musa berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ مُتَبَّرٞ مَّا هُمۡ فِيهِ وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan." Karena doa mereka kepada berhala-berhala itu adalah batil dan ia sendiri adalah batil, amal dan tujuannya adalah sama-sama batil.
(140) ﴾ قَالَ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِيكُمۡ إِلَٰهٗا ﴿ "Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah." Yakni aku mencari tuhan selain Allah yang disembah lagi sempurna pada dzatnya, sifat-sifatnya dan perbuatan-perbuatannya, ﴾ وَهُوَ فَضَّلَكُمۡ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." Ini me-nuntutmu menyambut nikmat dan karuniaNya dan mensyukuri hal itu dengan mengesakanNya dalam beribadah dan mengingkari apa yang dipertuhankan selainNya.
(141) Kemudian Musa mengingatkan mereka dengan nik-mat Allah kepada mereka, dia berkata, ﴾ وَإِذۡ أَنجَيۡنَٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya." Yakni Fir'aun dan bala tentaranya ﴾ يَسُومُونَكُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat." Yakni menim-pakan kepadamu azab paling buruk, di mana mereka menyembe-lih ﴾ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ وَفِي ذَٰلِكُم ﴿ "anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu", yakni kebebasan dari azab mereka adalah ﴾ بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ ﴿ "cobaan yang besar dari Rabbmu." Yakni nikmat yang besar dan karunia yang agung. Atau pada azab yang mereka timpakan itu terdapat ujian besar dari Rabbmu.
(142) Manakala Musa menasihati dan mengingatkan me-reka, mereka pun menghentikan apa yang mereka inginkan berupa berhala, dan ketika Allah menyempurnakan nikmatNya dengan keselamatan dari musuh mereka dan kekuasaan di muka bumi, maka Allah سبحانه وتعالى ingin menyempurnakan nikmatNya dengan menu-runkan kitab yang padanya terdapat hukum-hukum syariat dan akidah yang lurus. Maka Allah menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam ditambah dengan sepuluh jadi empat puluh malam, agar Musa bersiap-siap untuk memenuhi panggilan janji Allah dan agar turunnya kitab itu sangat dinantikan dan dirindukan. Manakala Musa pergi untuk bermunajat kepada Rabbnya, Musa mewasiat-kan Bani Israil kepada Harun, hal itu karena kasih sayangnya dan ketulusannya kepada mereka. ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku." Yakni jadilah kamu penggantiku dan lakukan kepada mereka apa yang aku lakukan. ﴾ وَأَصۡلِحۡ ﴿ "Dan perbaikilah", yakni ikutilah jalan kebaikan. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." Yaitu orang-orang yang berbuat kemaksiatan.
(143) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا ﴿ "Dan tatkala Musa datang untuk (mu-najat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan", untuknya untuk menurunkan kitab, ﴾ وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ ﴿ "dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya", berfirman langsung dengan wahyuNya, pe-rintah dan laranganNya, Musa berkeinginan untuk melihat Allah, jiwanya mengharapkan itu karena kecintaannya kepada Rabbnya dan sangat ingin melihatNya. ﴾ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu." Allah menjawab, ﴾ لَن تَرَىٰنِي ﴿ "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu." Yakni sekarang kamu tidak akan mampu melihatKu, karena Allah سبحانه وتعالى menciptakan makhluk di dunia ini dalam kondisi di mana mereka tidak akan kuat dan tidak akan mampu melihat Allah. Ini tidak menunjukkan bahwa mereka tidak dapat melihat-Nya di surga, karena dalil-dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah telah menunjukkan bahwa penduduk surga akan melihat Rabb mereka dan menikmati melihat kepada wajahNya Yang Mulia. Dan bahwa Allah تعالى menghidupkan mereka secara sempurna yang dengannya mereka mampu melihat Allah تعالى. Oleh karena itu Allah mengait-kan kemungkinan melihat dengan ketetapan gunung. Allah تعالى menenangkan Musa karena tidak bisa mengabulkan permintaannya. ﴾ وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ ﴿ "Tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala)", jika Allah menampakkan diri kepadanya ﴾ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ ﴿ "niscaya ka-mu dapat melihatKu. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu", yang bisu lagi keras. ﴾ جَعَلَهُۥ دَكّٗا ﴿ "Dijadikannya gunung itu han-cur luluh." Yakni hancur berkeping-keping ibarat kerikil, karena kegoncangannya dan tidak kuatnya ia melihat Allah. ﴾ وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ ﴿ "Dan Musa pun jatuh pingsan," ketika melihat apa yang dilihat. Ma-ka jelaslah bagi Musa pada saat itu bahwa jika gunung saja tidak kuat melihat Allah, maka Musa lebih tidak kuat melihatNya. Musa memohon ampun kepada Allah تعالى karena telah meminta sesuatu yang tidak pada tempatnya. ﴾ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Musa berkata, 'Mahasuci Engkau'." Yakni Aku menyucikan dan mengagungkanMu dari apa yang tidak layak dengan kebesaranMu. ﴾ تُبۡتُ إِلَيۡكَ ﴿ "Aku bertaubat kepada Engkau", dari segala dosa dan kekurangajaran kepadaMu. ﴾ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku orang yang pertama-tama beriman." Yakni Musa menyempurna-kan imanNya dengan sesuatu yang sebelum-nya tidak dia ketahui.
(144) Manakala Allah tidak memberikan kesempatan ke-pada Nabi Musa untuk melihatNya setelah sebelumnya dia sangat menginginkannya, maka Allah memberikan kepadanya kebaikan yang banyak. Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّي ٱصۡطَفَيۡتُكَ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu)." Yakni Aku memilihmu, mengangkatmu, melebihkan-mu, dan mengkhususkanmu dengan keutamaan-keutamaan yang besar dan kemuliaan-kemuliaan yang agung, ﴾ بِرِسَٰلَٰتِي ﴿ "untuk mem-bawa risalahKu." Di mana Aku tidak mengkhususkan dan memberi-kannya kecuali kepada orang yang paling mulia, ﴾ وَبِكَلَٰمِي ﴿ "dan untuk berbicara langsung denganKu", tanpa perantara. Ini adalah keutamaan khusus Musa al-Kalim (Rasul Allah yang diajak berbicara langsung oleh Allah) dan dia dikenal di kalangan saudara-saudaranya para rasul yang lain dengan itu. ﴾ فَخُذۡ مَآ ءَاتَيۡتُكَ ﴿ "Sebab itu berpegang teguh-lah kepada apa yang Aku berikan kepadamu." Yakni dari nikmat-nikmat, dan ambillah perintah dan larangan yang Aku berikan kepadamu dengan lapang dada, terimalah ia dengan ketundukan, ﴾ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur," kepada Allah atas apa yang Dia khususkan dan karuniakan kepadamu.
(145) ﴾ وَكَتَبۡنَا لَهُۥ فِي ٱلۡأَلۡوَاحِ مِن كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu", yang dibutuhkan oleh para hamba ﴾ مَّوۡعِظَةٗ ﴿ "sebagai pelajaran" yang mendorong jiwa untuk berbuat kebaikan dan menakutinya untuk berbuat keburukan. ﴾ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan penjelasan bagi segala sesuatu", dari hukum-hukum syar'i, akidah, akhlak dan adab. ﴾ فَخُذۡهَا بِقُوَّةٖ ﴿ "Maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah kepadanya dengan teguh." Yakni dengan sungguh-sungguh dan serius dalam menegakkannya. ﴾ وَأۡمُرۡ قَوۡمَكَ يَأۡخُذُواْ بِأَحۡسَنِهَاۚ ﴿ "Dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya." Yaitu perintah-perintah yang bersifat wajib dan dianjurkan, karena ia adalah yang terbaik. Di dalam penjelasan ini terdapat dalil bahwa perintah Allah dalam setiap syariat adalah sempurna, adil, dan baik. ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ دَارَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Nanti Aku akan memper-lihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik." Setelah Allah mem-binasakan mereka dan menyisakan negeri-negeri mereka sebagai pelajaran sesudah mereka bagi orang-orang Mukmin yang diberi taufik lagi rendah diri.9
(146) Adapun selain mereka, maka Allah berfirman tentang mereka, ﴾ سَأَصۡرِفُ عَنۡ ءَايَٰتِيَ ﴿ "Aku akan memalingkan dari tanda-tanda kekua-saanKu." Yakni dari mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang ada di langit dan yang ada pada diri manusia dan pemahaman terhadap ayat-ayat kitab ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "orang-orang yang menyom-bongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar." Yakni mereka menyombongkan diri kepada hamba-hamba Allah dan kepada kebe-naran serta kepada pembawanya. Siapa saja yang memiliki kriteria ini, maka Allah tidak akan memberikan kebaikan kepadanya, Allah akan menelantarkannya dan dia tidak dapat memahami ayat-ayat Allah yang bermanfaat bagi diri bahkan bisa jadi hakikat-hakikat perkara menjadi jungkir balik baginya yang selanjutnya dia meng-anggap yang buruk sebagai sesuatu yang baik. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ كُلَّ ءَايَةٖ لَّا يُؤۡمِنُواْ بِهَا ﴿ " Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya." Karena mereka berpaling, menyangkal dan menentang Allah dan RasulNya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلرُّشۡدِ ﴿ "Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk", yang lurus dan benar, yaitu jalan yang mengantarkan kepada Allah dan kepada rumah kemuliaan-Nya (surga), ﴾ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗا ﴿ "mereka tidak mau menempuhnya." Yakni mereka tidak mau menitinya dan tidak menyukainya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلۡغَيِّ ﴿ "Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan", yakni kesesatan yang mengantarkan pelakunya kepada rumah kesengsaraan (mereka), ﴾ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗاۚ ﴿ "mereka terus menempuhnya." Penyebab penyimpangan mereka seperti itu karena ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "yang de-mikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya." Penolakan mereka terhadap ayat-ayat Allah, kelalaiannya terhadap maksudnya dan pelecehannya terhadapnya adalah penyebab mereka menempuh jalan kesesatan dan mening-galkan jalan lurus.
(147) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami", yang agung, yang menunjukkan kebenaran rasul-rasul yang telah Kami utus, ﴾ وَلِقَآءِ ٱلۡأٓخِرَةِ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡۚ ﴿ "dan mendus-takan akan menemui Akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka." Karena perbuatan tersebut tidak dilakukan di atas fondasi syariat dan telah hilang darinya syarat diterimanya, yaitu beriman kepada ayat-ayat-Nya dan membenarkan balasanNya. ﴾ هَلۡ يُجۡزَوۡنَ ﴿ "Mereka tidak diberi balasan", tentang amal perbuatan mereka yang sia-sia dan terjadinya apa yang tidak mereka harapkan ﴾ إِلَّا مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "selain dari apa yang telah mereka kerjakan." Sesungguhnya amal perbuatan orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak ada pahala yang di-harapkan padanya dan tidak memiliki tujuan yang dicapai. Oleh karena itu ia batal dan sia-sia.
(148) ﴾ وَٱتَّخَذَ قَوۡمُ مُوسَىٰ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِنۡ حُلِيِّهِمۡ عِجۡلٗا جَسَدٗا ﴿ "Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh", yang dibuat oleh Samiri dan dia masukkan bekas jejak Rasul ke dalamnya, maka ia ﴾ لَّهُۥ خُوَارٌۚ ﴿ "bersuara." Maka mereka pun menyembahnya dan menjadikannya sebagai tuhan. Samiri berkata "Ini adalah tuhanmu dan tuhan Musa. Musa lupa sehingga dia pergi untuk mencarinya." Ini adalah ke-bodohan mereka dan minimnya ilmu mereka. Bagaimana mereka tidak bisa membedakan antara Tuhan langit dan bumi dengan anak sapi makhluk yang paling hina? Oleh karena itu Allah menjelaskan bahwa ia tidak memiliki sifat-sifat dzat dan perbuatan yang me-nunjukkan bahwa ia adalah tuhan. ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمۡ ﴿ "Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka." Bisu adalah kekurangan yang nyata. Mereka sendiri lebih baik keadaannya daripada hewan atau benda mati yang tidak ber-bicara, ﴾ وَلَا يَهۡدِيهِمۡ سَبِيلًاۘ ﴿ "dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?" Yakni ia tidak dapat menunjukkan mereka jalan agama dan tidak dapat menghasilkan kebaikan dunia untuk mereka, kare-na sudah diketahui oleh akal bahwa menyembah tuhan yang tidak bisa bicara, tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat termasuk kebatilan yang paling batil dan kedunguan yang paling dungu. ﴾ ٱتَّخَذُوهُ وَكَانُواْ ظَٰلِمِينَ ﴿ "Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim." Di mana mereka meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya dan menyekutukan Allah tanpa bukti dalil dariNya. Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa siapa yang mengingkari Kalamullah berarti mengingkari kekhususan uluhiyah Allah تعالى, karena Allah menyebutkan bahwa ketidakmam-puan berbicara adalah dalil ketidaklayakannya untuk dijadikan sebagai tuhan.
(149) ﴾ وَلَمَّا ﴿ "Dan manakala", Musa kembali kepada kaum-nya, dia mendapati mereka dalam keadaan tersebut. Musa menje-laskan kesesatan mereka, dan mereka pun menyesal. ﴾ سُقِطَ فِيٓ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Mereka sangat menyesali perbuatannya." Yakni bersedih tanda pe-nyesalan atas perbuatan mereka, ﴾ وَرَأَوۡاْ أَنَّهُمۡ قَدۡ ضَلُّواْ ﴿ "dan mengetahui bahwa mereka telah sesat", mereka pun kembali kepada Allah dan merendahkan diri di hadapanNya. ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ يَرۡحَمۡنَا رَبُّنَا ﴿ "Mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami," dengan membimbing kita kepada jalan yang lurus, memberi taufik kepada ibadah kepadaNya dan kepada amal-amal shalih, ﴾ وَيَغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "dan tidak mengampuni kami", atas dosa menyembah anak sapi yang telah kami lakukan, ﴾ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi," yang merugi di dunia dan di Akhirat.
(150) ﴾ وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا ﴿ "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati." Yakni Musa dipenuhi oleh amarah dan emosi kepada mereka karena kecemburuannya yang besar terhadap Allah تعالى dan kasih sayang serta ketulusan-nya yang sempurna. ﴾ قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ ﴿ "Berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku'." Yakni alangkah buruknya keadaan kalian setelah kepergianku dari kalian, sesungguhnya ia adalah keadaan yang menyeret kepada kebinasaan dan kesengsaraan untuk selama-lamanya. ﴾ أَعَجِلۡتُمۡ أَمۡرَ رَبِّكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu?" Di mana Dia telah menjan-jikan kepadamu untuk menurunkan kitab tetapi kamu tergesa-gesa dengan akalmu yang rusak sehingga melakukan perbuatan buruk ini. ﴾ وَأَلۡقَى ٱلۡأَلۡوَاحَ ﴿ "Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu." Yakni dia melemparnya karena marah. ﴾ وَأَخَذَ بِرَأۡسِ أَخِيهِ ﴿ "Dan memegang (rambut) kepala saudaranya", Harun dan juga jenggotnya, ﴾ يَجُرُّهُۥٓ إِلَيۡهِۚ ﴿ "sambil menariknya ke arahnya." Dan Musa berkata kepadanya, ﴾ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ 92 أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي 93 ﴿ "Apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (se-ngaja) mendurhakai perintahku?" (Thaha: 92-93), kepadamu dengan ucapanku, ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 142 ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (Al-A'raf: 142). Harun menjawab, ﴾ قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي 94 ﴿ "Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak me-melihara amanatku'." (Thaha: 94). Dan di sini Harun menjawab, ﴾ قَالَ ٱبۡنَ أُمَّ ﴿ "Hai anak ibuku", ucapan ini untuk melunakkan Musa dengan hanya menyinggung ibu saja. Namun demikian, sebenarnya dia adalah saudara kandung-nya. ﴾ إِنَّ ٱلۡقَوۡمَ ٱسۡتَضۡعَفُونِي ﴿ "Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah." Yakni mereka meremehkanku ketika aku berkata kepada mereka, "Wahai kaum, kalian hanya difitnah dengannya dan bahwa Rabbmu adalah Allah Yang Maha Rahman, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku. ﴾ وَكَادُواْ يَقۡتُلُونَنِي ﴿ "Dan hampir-hampir mereka membu-nuhku." Yakni janganlah kamu mendugaku lalai. ﴾ فَلَا تُشۡمِتۡ بِيَ ٱلۡأَعۡدَآءَ ﴿ "Sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku", dengan hardikanmu kepadaku dan perlakuan burukmu kepadaku, karena musuh-musuh selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam memunculkan kesalahan dan menemukan kekeliruan pada-ku, ﴾ وَلَا تَجۡعَلۡنِي مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim." Lalu kamu memperlakukanku seperti mereka.
(151) Musa عليه السلام menyesal atas perbuatannya yang terburu-buru terhadap saudaranya sebelum dia mengetahui bahwa sauda-ranya tidak seperti yang dia duga. Musa berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي ﴿ "Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku", Harun. ﴾ وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ ﴿ "Dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu." Yakni di dalamnya, ja-dikanlah rahmatMu meliputi kami dari segala segi karena ia adalah benteng yang kokoh dari segala keburukan dan di sanalah seluruh kebaikan dan kebahagiaan. ﴾ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." Yakni, lebih menyayangi kami dari seluruh penyayang, lebih sayang kepada kami daripada bapak, ibu, anak dan diri kami sendiri.
(152) Allah تعالى menjelaskan keadaan para penyembah anak sapi. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ ٱلۡعِجۡلَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sesembahannya)", yakni sebagai tuhan, ﴾ سَيَنَالُهُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَذِلَّةٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia." Sebagaimana mereka telah membuat Rabb mereka marah dan meremehkan pe-rintahNya. ﴾ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُفۡتَرِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan ke-pada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." Semua pendusta atas nama Allah, pembohong atas syariatNya, dan mengucapkan sesuatu atas namaNya apa yang tidak Dia katakan; akan menda-patkan bagian dari murka Allah dan kehinaan di dunia.
(153) Mereka telah mendapatkan murka dari Allah, di mana Dia memerintahkan mereka membunuh diri mereka, dan bahwa Allah tidak meridhai mereka kecuali dengan itu. Lalu sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain dan pembunuhan tersebut memakan korban yang banyak, kemudian Allah mengampuni me-reka setelah itu. Oleh karena itu Allah menyebutkan hukum secara umum, di mana mereka dan selain mereka masuk ke dalamnya. ﴾ وَٱلَّذِينَ عَمِلُواْ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan", baik dosa syirik, dosa besar, dan dosa kecil, ﴾ ثُمَّ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "kemudian bertau-bat sesudah itu." Yakni mereka menyesalinya, meninggalkannya, dan bertekad tidak kembali mengulangnya ﴾ وَءَامَنُوٓاْ ﴿ "dan beriman", kepada Allah dan kepada apa yang Allah wajibkan untuk diimani, dan iman tidak sempurna kecuali dengan amalan hati dan amalan anggota badan yang merupakan tuntutan iman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "se-sungguhnya Rabbmu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu." Yakni setelah keadaan ini keadaan taubat dari kejahatan dan kem-bali kepada ketaatan, ﴾ لَغَفُورٞ ﴿ "adalah Maha Pengampun", mengam-puni keburukan dan menghapusnya meskipun ia sepenuh jagad, ﴾ رَّحِيمٞ ﴿ "lagi Maha Penyayang," dengan menerima taubat dan mem-beri taufik untuk dapat beramal shalih dan menerimanya.
(154) ﴾ وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلۡغَضَبُ ﴿ "Sesudah amarah Musa menjadi reda." Yakni kemarahannya reda, jiwanya tenang, dan dapat mengu-asai dirinya, maka dia mulai melakukan perkara paling penting padanya, maka dia mengambil ﴾ ٱلۡأَلۡوَاحَۖ ﴿ "Luh-luh (Taurat) itu", yang dia lemparkan, dan ia adalah luh-luh yang mulia dan berukuran besar, ﴾ وَفِي نُسۡخَتِهَا ﴿ "dan dalam tulisannya", yakni mengandung dan berisi ﴾ هُدٗى وَرَحۡمَةٞ ﴿ "petunjuk dan rahmat." Yakni, di dalamnya terda-pat petunjuk dari kesesatan, penjelasan tentang kebenaran dari kebatilan, perbuatan baik dan perbuatan buruk, petunjuk kepada amalan, akhlak, dan adab terbaik, serta rahmat dan kebahagiaan bagi yang melaksanakannya dan mengetahui hukum-hukum dan makna-maknanya. Akan tetapi tidak semua orang mau menerima petunjuk Allah dan RahmatNya. Yang bersedia menerima, menaati, dan tunduk kepadanya adalah ﴾ لِّلَّذِينَ هُمۡ لِرَبِّهِمۡ يَرۡهَبُونَ ﴿ "orang-orang yang takut kepada Rabbnya." Adapun orang yang tidak takut kepada Allah dan tidak pula kepada pengadilan di hadapanNya, maka ia hanya menambah kesombongannya dan penolakannya, dan hujjah Allah pun tegak atasnya.
(155) Dan tatkala Bani Israil bertaubat serta kembali ke jalan mereka yang lurus ﴾ وَٱخۡتَارَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa memilih", dari mereka ﴾ سَبۡعِينَ رَجُلٗا ﴿ "tujuh puluh orang", terbaik di antara mereka untuk memohon maaf kepada Allah bagi kaum mereka. Allah menjanjikan kepada mereka waktu di mana mereka bisa menghadirinya. Manakala me-reka telah hadir, mereka berkata, "Wahai Musa, tunjukkanlah Allah kepada kami secara nyata." Mereka telah berkata sangat lancang kepada Allah, bersikap kurang ajar kepadaNya, maka mereka pun digoncang gempa, sehingga mereka pingsan dan binasa, maka Musa tiada henti-hentinya berdoa merendahkan diri kepada Allah dan berkata, ﴾ رَبِّ لَوۡ شِئۡتَ أَهۡلَكۡتَهُم مِّن قَبۡلُ ﴿ "Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka sebelum ini." Yakni sebelum mereka hadir dan mereka dalam keadaan memohon maaf untuk kaum mereka, justru mereka sekarang menjadi orang-orang yang zhalim. ﴾ أَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَّآۖ ﴿ "Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?" Yakni orang-orang berakal bodoh dan berpikiran pandir. Musa merendahkan diri kepada Allah dan memohon pemakluman karena orang-orang yang berbuat kelancangan tersebut tidak memiliki akal yang sem-purna yang menjaga mereka sehingga mereka tidak mengucapkan dan melakukan demikian, dan bahwa telah terjadi fitnah pada diri mereka yang terlintas pada diri seseorang dan dia khawatir agama-nya akan lenyap. Maka dia berkata, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّا فِتۡنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَآءُ وَتَهۡدِي مَن تَشَآءُۖ أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۖ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡغَٰفِرِينَ ﴿ "Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri pe-tunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." Yakni Engkau adalah sebaik-baik pemaaf, sebaik-baik yang menyayangi, dan semulia-mulia pemberi karunia. Seakan-akan Musa عليه السلام berkata, "Wahai Rabb, yang dimaksud dengan tujuan pertama bagi kami semua adalah menaatiMu dan beriman kepadaMu, dan bahwa orang yang ber-akal, mengerti, dan memahaminya dengan sempurna sesuai dengan taufik yang telah Engkau berikan, maka ia tetap bersikap lurus. Adapun orang yang lemah akalnya, pandir pemikirannya, dan di-belokkan oleh fitnah, maka dialah yang melakukan pelanggaran itu, meskipun demikian Engkau adalah sebaik-baik Penyayang dan sebaik-baik Pengampun, maka ampunilah dan sayangilah kami." Maka Allah mengabulkan permintaan Musa dan menghidupkan mereka setelah mereka mati dan mengampuni dosa-dosa mereka.
(156) Musa menyempurnakan doanya, ﴾ وَٱكۡتُبۡ لَنَا فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ ﴿ "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini", berupa ilmu yang bermanfaat, rizki yang lapang, dan amal yang shalih. ﴾ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dan di Akhirat", yakni dengan kebajikan, yaitu pahala yang Allah sediakan untuk hamba-hambaNya yang shalih. ﴾ إِنَّا هُدۡنَآ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu." Yakni kami kem-bali dengan mengakui kelalaian kami. Kami kembali kepadaMu dalam segala urusan kami. ﴾ قَالَ عَذَابِيٓ أُصِيبُ بِهِۦ مَنۡ أَشَآءُۖ ﴿ "Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki," dari kala-ngan orang yang sengsara yang menentang sebab-sebabnya. ﴾ وَرَحۡمَتِي وَسِعَتۡ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Dan RahmatKu meliputi segala sesuatu," meliputi langit dan bumi, orang baik dan orang jahat, Mukmin dan kafir, tiada makhluk kecuali rahmat Allah telah dia rasakan, karunia dan ke-baikanNya telah dia cicipi, akan tetapi rahmat yang khusus yang berkonsekuensi kepada kebahagiaan dunia dan akhirat tidak dira-sakan oleh semua orang. Oleh karena itu Dia berfirman tentangnya, ﴾ فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ﴿ "Maka akan Aku tetapkan RahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa", dari kemaksiatan besar dan kecil, ﴾ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "yang menunaikan zakat", yang wajib ditunaikan kepada yang ber-hak, ﴾ وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَٰتِنَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami."
(157) Di antara kesempurnaan iman kepada ayat-ayat Allah adalah mengetahui maknanya dan menjalankan konsekuensinya. Termasuk dalam hal ini adalah mengikuti Nabi ﷺ lahir dan batin dalam perkara agama, baik yang ushul (pokok) maupun yang furu' (cabang). ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang meng-ikuti Rasul, Nabi yang ummi." Dikatakan ummi agar nabi-nabi yang lain tidak termasuk di dalamnya, karena yang dimaksud di sini adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib, sementara konteks ayatnya adalah tentang Bani Israil, bahwa iman kepada Nabi Muhammad adalah syarat atas mereka untuk masuk ke dalam iman, bahwa orang-orang yang beriman kepadanya yang mengiku-tinya adalah orang-orang yang mendapatkan rahmat yang mutlak yang telah Allah tulis untuk mereka. Allah menyifatinya dengan ummi karena dia dari bangsa Arab umat yang ummi, tidak menulis dan tidak membaca, dan sebelum al-Qur`an turun mereka tidak memiliki kitab. ﴾ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ ﴿ "Yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka." Dengan nama dan sifatnya di mana yang paling mulia dan paling agung adalah apa yang dia dakwahkan dan apa yang dia larang. ﴾ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf." Yaitu semua yang diketahui kebaikannya, kebagusannya, dan man-faatnya. ﴾ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar." Yaitu semua yang dikenal buruknya menurut akal dan fitrah. Dia memerintahkan mereka untuk shalat, zakat, puasa, haji, silaturahim, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada tetangga dan hamba sahaya, memberikan manfaat kepada seluruh makhluk, kejujuran, kesucian diri, kebaikan, nasihat, dan lain-lain. Dia melarang syirik kepada Allah, membunuh tanpa ala-san yang benar, zina, minum khamar, kezhaliman kepada makhluk lain, dusta, dosa, dan lain-lain. Bukti paling agung bahwa dia adalah Rasul Allah adalah apa yang dia dakwahkan dan dia perintahkan dan apa yang dia larang, apa yang dia halalkan dan apa yang dia haramkan. Dia menghalalkan yang baik-baik dari makanan, mi-numan, dan pernikahan, ﴾ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ ﴿ "dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk", dari makanan, minuman, pernikahan, ucapan dan perbuatan, ﴾ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "dan mem-buang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." Yakni di antara sifatnya adalah bahwa agamanya mudah, ringan, tidak sulit, tidak ada beban, tidak ada belenggu, tidak ada kesulitan, dan tidak ada pembebanan syariat yang berat. ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman kepada-nya, memuliakannya", yakni mengagungkannya dan menghormati-nya. ﴾ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ﴿ "Menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya", yaitu al-Qur`an yang mene-rangi di kegelapan keraguan dan kebodohan, dijadikan pegangan pada saat terjadi pertentangan pendapat. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang beruntung." Yang meraih kebaikan di dunia dan akhirat, yang selamat dari keburukan dunia dan akhirat, karena mereka melakukan sebab keberuntungan terbesar. Adapun orang yang tidak beriman kepada Nabi ummi ini, tidak memuliakannya, tidak menolongnya, dan tidak mengikuti cahaya yang dibawanya, maka dia adalah orang-orang yang merugi.
(158) Manakala ahli Taurat dari Bani Israil diajak untuk me-ngikuti Nabi Muhammad, dan mungkin ada yang mengira bahwa ajakan tersebut hanya terbatas kepada mereka, maka dihadirkan lafazh yang menunjukkan keumuman, maka Allah berfirman, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguh-nya aku adalah utusan Allah kepadamu semua'." Yakni bangsa Arab dan yang non Arab, ahli kitab dan yang bukan ahli kitab. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi." Dia bertindak pada keduanya dengan hukum-hukumNya yang kauniyah, peraturan-peraturan kekuasaanNya, dan hukum-hukum syar'iyah diniyah yang di antaranya adalah bahwa Dia mengutus kepadamu seorang Rasul yang agung yang mengajakmu kepada Allah dan kepada rumah kemuliaanNya (surga), dan memperingat-kanmu dari setiap perkara yang menjauhkanmu dariNya dan dari rumah kemuliaanNya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak di-sembah) selain Dia." Yakni tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan cara beribadah kepadaNya tidak diketahui kecuali melalui rasul-rasulNya. ﴾ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Yang menghidupkan dan mematikan." Yakni di antara PengaturanNya adalah menghidupkan dan mematikan, di mana tidak ada seorang pun yang menyertaiNya dalam hal ini di mana Allah menjadikan kematian sebagai jembatan penyeberangan ke rumah kekekalan di mana barangsiapa yang beriman kepada-nya, pasti akan membenarkan Rasul. ﴾ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ﴿ "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi." Iman dengan hati yang mencakup amal hati dan anggota badan. ﴾ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ ﴿ "Yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-ka-limatNya (kitab-kitabNya)." Yakni berimanlah kepada Rasul yang lurus ini dalam akidah dan perbuatannya. ﴾ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ﴿ "Dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk," kepada kebaikan duniamu dan agamamu, karena jika kamu tidak mengikutinya, maka kamu akan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.
(159) ﴾ وَمِن قَوۡمِ مُوسَىٰٓ أُمَّةٞ ﴿ "Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat." Yakni jamaah, ﴾ يَهۡدُونَ بِٱلۡحَقِّ وَبِهِۦ يَعۡدِلُونَ ﴿ "Yang memberi pe-tunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan." Yakni mereka memberi petunjuk kepada ma-nusia dengan pengajaran dan fatwa kepada mereka dan berlaku adil di antara mereka dalam memutuskan perkara-perkara di an-tara mereka, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 24 ﴿ "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24). Ini menunjukkan keutamaan umat Nabi Musa عليه السلام, dan bahwa Allah تعالى menjadikan di antara mereka orang-orang yang memberi petunjuk dengan perintahNya. Dan sepertinya ayat yang mulia ini hadir untuk menepis kesalahan pemahaman dari penjelasan-penje-lasan sebelumnya, karena dalam ayat-ayat sebelumnya Allah me-nyebutkan sekumpulan aib Bani Israil yang bertentangan dan ber-tabrakan dengan hidayah dan kesempurnaan, mungkin saja ada yang menduga salah bahwa hal itu ada pada Bani Israil semuanya, maka Allah menyebutkan bahwa di antara mereka ada sekelompok orang yang lurus yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk tersebut kepada orang lain.
(160) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمُ ٱثۡنَتَيۡ عَشۡرَةَ أَسۡبَاطًا أُمَمٗاۚ ﴿ "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar." Yakni dua belas suku yang selalu mengenal dan berhubungan baik. Setiap ke-turunan seorang laki-laki dari anak-anak Ya'qub adalah satu suku. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ إِذِ ٱسۡتَسۡقَىٰهُ قَوۡمُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya." Yakni mereka meminta kepada-nya untuk berdoa kepada Allah تعالى agar memberi mereka air untuk minum mereka dan ternak mereka, hal itu karena –wallahu a'lam– mereka berada di daerah minim air. Maka Allah menjawab permin-taan mereka dengan mewahyukan kepada Musa, ﴾ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ ﴿ "Pukullah batu itu dengan tongkatmu." Ada kemungkinan ia adalah batu tertentu, ada kemungkinan ia adalah jenis batu apa saja. Musa memukulnya. ﴾ فَٱنۢبَجَسَتۡ ﴿ "maka memancarlah", dari batu tersebut ﴾ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَيۡنٗاۖ ﴿ "dua belas mata air", mengalir. ﴾ قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٖ مَّشۡرَبَهُمۡۚ ﴿ "Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum ma-sing-masing." Yakni mata air itu terbagi menjadi dua belas sesuai dengan jumlah suku Bani Israil, masing-masing suku dengan mata airnya, mereka mengetahuinya, mereka tenang, terbebas dari kele-lahan dan tanpa berdesak-desakan, dan ini termasuk kesempurnaan nikmat Allah kepada mereka. ﴾ وَظَلَّلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡغَمَٰمَ ﴿ "Dan Kami naungkan awan di atas mereka." Ia melindungi mereka dari panas matahari. ﴾ وَأَنزَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَنَّ ﴿ "Dan Kami turunkan kepada mereka manna", yaitu sesuatu yang manis (seperti madu. Ed) ﴾ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ ﴿ "dan salwa", yaitu daging burung terbaik dan terlezat. Allah mengumpulkan untuk mereka naungan awan, minuman, dan makanan yang enak yaitu manna dan salwa yang didapat tanpa lelah dan capek. Dikatakan kepada mereka, ﴾ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا ﴿ 'Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepadamu'. Mereka tidak menganiaya Kami," manakala mereka tidak bersyukur kepada Allah dan tidak menunaikan apa yang Allah wajibkan atas mereka. ﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." Di mana mereka menyia-nyiakan kebaikan dan menentang resiko keburukan dan azab. Ini terjadi pada masa di mana mereka tersesat dari bumi.
(161) ﴾ وَإِذۡ قِيلَ لَهُمُ ٱسۡكُنُواْ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis)'." Yakni masuklah ke dalamnya agar ia menjadi tempat tinggal dan negerimu, yaitu Ailia (Baitul Maqdis). ﴾ وَكُلُواْ مِنۡهَا حَيۡثُ شِئۡتُمۡ ﴿ "Dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki." Yakni negeri dengan pohon yang lebat dan buah yang banyak serta kehi-dupan yang nyaman. Oleh karena itu Allah memerintahkan mereka agar makan darinya sesuka mereka. ﴾ وَقُولُواْ ﴿ "Dan katakanlah", ketika kamu masuk, ﴾ حِطَّةٞ ﴿ "Bebaskanlah kami dari dosa kami." Yakni ha-puskanlah kesalahan kami dan maafkanlah kami. ﴾ وَٱدۡخُلُواْ ٱلۡبَابَ سُجَّدٗا ﴿ "Dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk." Yakni dengan merendahkan diri kepada Allah, mengakui kebesaranNya dan mensyukuri nikmatNya. Allah memerintahkan mereka agar tunduk dan memohon ampunan, dan menjanjikan mereka ampunan atas dosa-dosa mereka dan pahala di dunia dan Akhirat. Dia berfirman, ﴾ نَّغۡفِرۡ لَكُمۡ خَطِيٓـَٰٔتِكُمۡۚ سَنَزِيدُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik." Dari kebaikan dunia dan akhirat.
(162) Mereka tidak menggubris perintah Ilahi ini, justru orang-orang zhalim dari mereka merubahnya, yakni mereka me-langgar dan meremehkan perintah Allah. ﴾ قَوۡلًا غَيۡرَ ٱلَّذِي قِيلَ لَهُمۡ ﴿ "dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka", sebagai ganti meminta ampun dan mengucapkan "hiththah", mereka berkata, "Satu biji gandum." Jika mereka merubah ucapan meski ia sangat mudah, maka mereka lebih berani lagi merubah perbuatan. Oleh karena itu mereka masuk dengan cara mengesot. ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka Kami timpakan kepada mereka", ketika mereka menyelisihi perintah Allah dan durhaka kepadaNya, ﴾ رِجۡزٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "azab dari langit." Yakni azab yang berat, bisa jadi tha'un atau azab dari langit yang lain, Allah tidak menzhalimi mereka dengan azabNya, akan tetapi hal itu ﴾ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ﴿ "disebabkan kezhaliman mereka."
(163) ﴾ وَسۡـَٔلۡهُمۡ عَنِ ٱلۡقَرۡيَةِ ٱلَّتِي كَانَتۡ حَاضِرَةَ ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut", di pantai ketika mereka melanggar dan Allah menghukum mereka ﴾ إِذۡ يَعۡدُونَ فِي ٱلسَّبۡتِ ﴿ "ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu." Padahal Allah تعالى telah memerintahkan mereka agar menghormatinya dan mengagungkannya dengan tidak menangkap ikan pada hari itu, lalu Allah menguji mereka, di mana pada Hari Sabtu ikan-ikan be-sar muncul di permukaan laut dalam jumlah yang banyak. ﴾ وَيَوۡمَ لَا يَسۡبِتُونَ ﴿ "Dan di hari-hari yang bukan Sabtu." Yakni jika Hari Sabtu berlalu ﴾ لَا تَأۡتِيهِمۡۚ ﴿ "ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka." Yakni ia menghilang dan mereka tidak melihat seekor pun. ﴾ كَذَٰلِكَ نَبۡلُوهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka ber-laku fasik." Kefasikan mereka yang menyebabkan Allah menguji mereka dengan ujian tersebut, karena jika mereka tidak demikian, niscaya Allah membebaskan mereka dan tidak menimpakan ujian dan keburukan kepada mereka.
(164) Namun mereka tetap berburu dengan membuat tipuan, mereka menggali lubang-lubang dan memasang jaring-jaring, jika Hari Sabtu tiba, maka ikan-ikan itu tertangkap ke dalam lubang-lubang dan jaring-jaring tersebut, tetapi mereka tidak mengambil-nya pada hari itu, jika Hari Ahad tiba, maka mereka mengambilnya dan hal itu sering terjadi pada mereka. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Mayoritas dari mereka tidak mengindahkan dan mereka melanggar secara terang-terangan. Kelompok kedua melarang dan mengingkari perbuatan kelompok mayoritas. Dan kelompok ketiga merasa cukup dengan apa yang dilakukan oleh kelompok kedua. Kelompok ini berkata, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Sepertinya mereka berkata, "Tidak ada gunanya menasihati orang yang berani melang-gar larangan Allah dan tidak menghiraukan nasihat yang tulus, tetapi justru tetap teguh di atas pelanggaran dan kezhaliman, karena Allah pasti akan menghukum mereka, baik dengan kebinasaan atau azab yang pedih." Orang-orang yang memberi nasihat menjawab, "Kami melarang dan menasihati mereka, ﴾ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ ﴿ 'agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu.' Yakni agar kami dimaafkan berkenaan dengan apa yang mereka lakukan, ﴾ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "dan supaya mereka bertakwa." Yakni mereka meninggal-kan kemaksiatan yang mereka lakukan. Maka kami tidak berputus asa dari usaha memberi petunjuk kepada mereka, bisa jadi nasihat kami mujarab pada mereka, larangan kami didengar oleh mereka, dan inilah tujuan terbesar dari pengingkaran terhadap kemungka-ran, agar ia berfungsi sebagai alasan dan penegakan hujjah atas yang diperintah dan yang dilarang, dan semoga Allah memberinya petunjuk lalu dia melaksanakan tuntutan dari perintah dan lara-ngan tersebut.
(165) ﴾ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦٓ ﴿ "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperintahkan kepada mereka." Mereka meninggalkan apa yang diperingatkan kepada mereka dan mereka terus berjalan di atas pelanggaran dan kesesatan. ﴾ أَنجَيۡنَا ٱلَّذِينَ يَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلسُّوٓءِ ﴿ "Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat." Begitulah sunnah Allah pada hamba-hambaNya, bahwa jika azab telah turun, maka yang selamat adalah orang-orang yang beramar ma'ruf dan bernahi mungkar. ﴾ وَأَخَذۡنَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim." Yaitu orang-orang yang melanggar pada Hari Sabtu ﴾ بِعَذَابِۭ بَـِٔيسِۭ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik." Adapun kelompok yang lain yang berkata kepada orang-orang yang melarang, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka." Maka ahli tafsir berbeda pen-dapat tentang apakah mereka selamat atau tidak, dan sepertinya mereka itu selamat, karena Allah mengkhususkan kebinasaan bagi orang-orang yang zhalim, sedangkan Dia tidak menyatakan mereka sebagai orang-orang yang zhalim. Ini menunjukkan bahwa azab hanya menimpa orang-orang yang melanggar di Hari Sabtu saja. Di samping itu amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah fardhu ki-fayah. Jika ia telah ditunaikan oleh sebagian orang, maka ia gugur dari sebagian yang lain, maka mereka merasa cukup dengan peng-ingkaran orang-orang yang mengingkari, dan karena sebenarnya mereka juga mengingkari dengan ucapan mereka, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" (Al-A'raf: 164). Mereka menampakkan kemarahan kepada orang-orang zhalim itu yang menunjukkan bahwa mereka sangat membenci perbuatan mereka dan bahwa Allah akan mengazab mereka atasnya.
(166) ﴾ فَلَمَّا عَتَوۡاْ عَن مَّا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya." Yakni, hati mereka keras, menolak dan tidak mau menerima nasihat. ﴾ قُلۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Kami katakan kepadanya", dengan perkataan sebagai takdir. ﴾ كُونُواْ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ ﴿ "Jadilah kamu kera yang hina." Mereka berubah menjadi kera dengan izin Allah dan Allah menjauhkan mereka dari RahmatNya.
(167) Kemudian Allah menyebutkan kehinaan dan kenis-taan yang menimpa orang-orang yang tersisa dari mereka. Dia ber-firman, ﴾ وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberitahukan", dengan pemberitahuan yang jelas, ﴾ لَيَبۡعَثَنَّ عَلَيۡهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَن يَسُومُهُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِۗ ﴿ "bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya." Yakni yang menghina-kan dan merendahkan mereka. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Sesunggguhnya Rabbmu amat cepat siksaNya", kepada orang yang mendurhakaiNya, bahwa Dia bisa menyegerakan hukuman di dunia kepadanya. ﴾ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang," bagi yang kembali dan bertaubat kepadaNya. Dia mengam-puni dosanya dan menutupi aib-aibnya, menyayanginya dengan menerima ketaatan dan membalasnya dengan berbagai macam balasan. Allah telah merealisasikan janjiNya pada mereka, maka mereka selalu dalam kehinaan dan kerendahan dijajah oleh bangsa lain, tidak ada panji dan bendera mereka yang tegak dengan kokoh.
(168) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أُمَمٗاۖ ﴿ "Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan." Yakni Kami memecah dan mencerai-beraikan mereka setelah sebelumnya mereka berkumpul. ﴾ مِّنۡهُمُ ٱلصَّٰلِحُونَ ﴿ "Di antaranya ada orang-orang yang shalih." Yaitu orang-orang yang melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-ham-baNya. ﴾ وَمِنۡهُمۡ دُونَ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Dan di antaranya ada yang tidak demikian." Yakni di bawah yang pertama. Bisa jadi mereka adalah orang-orang pertengahan, dan bisa pula orang-orang yang menzhalimi diri me-reka. ﴾ وَبَلَوۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami coba mereka", berdasarkan kebiasaan dan sunnah Kami, ﴾ بِٱلۡحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk." Yakni dengan kemudahan dan kesu-litan ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "agar mereka kembali (kepada kebenaran)", dari kese-satan di mana mereka berada di dalamnya, dan mereka berpegang kepada petunjuk yang karenanya mereka diciptakan. Di antara mereka selalu ada orang yang baik, tengah-tengah, dan yang buruk.
(169) ﴾ فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٞ وَرِثُواْ ﴿ "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi", sesudah mereka ﴾ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Taurat." Mereka memperlakukan kitab itu menurut hawa nafsu mereka. Mereka disodori harta agar mereka memberi fatwa dan memutus-kan hukum dengan cara yang tidak benar, suap merajalela di ka-langan mereka, ﴾ يَأۡخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا ٱلۡأَدۡنَىٰ وَيَقُولُونَ ﴿ "Yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata", mereka mengakui bahwa ia ada-lah dosa dan bahwa mereka adalah orang-orang zhalim, ﴾ سَيُغۡفَرُ لَنَا ﴿ "Kami akan diberi ampun." Ini adalah omong kosong, ia bukan istighfar dan minta ampun yang sebenarnya. Jika memang demikian, niscaya mereka akan menyesal atas apa yang mereka perbuat dan mereka berniat kuat untuk tidak mengulanginya, akan tetapi jika ada harta dan suap lain, maka mereka mengambilnya, mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, mereka mengganti yang baik dengan yang buruk. Allah تعالى mengingkari mereka dan menjelaskan kelancangan mereka. ﴾ أَلَمۡ يُؤۡخَذۡ عَلَيۡهِم مِّيثَٰقُ ٱلۡكِتَٰبِ أَن لَّا يَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّ ﴿ "Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar?" Lalu mengapa mereka berkata atas namaNya tanpa kebenaran karena mengikuti hawa nafsu dan cenderung kepada ambisi mereka, ﴾ وَ﴿ "dan" se-benarnya mereka ﴾ وَدَرَسُواْ مَا فِيهِۗ ﴿ "telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?" tidak ada persoalan atas mereka padanya, justru mereka melakukan perbuatan mereka itu dalam keadaan sengaja dan me-ngetahui. Ini lebih besar dosanya, lebih buruk celaannya, dan lebih berat siksanya. Ini termasuk kebodohan akal mereka dan keren-dahan pikiran mereka, karena mereka lebih mementingkan dunia daripada akhirat. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ ﴿ "Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa." Dengan menjauhi penghasilan yang bersumber dari suap atas pe-netapan hukum berdasar kepada selain yang diturunkan oleh Allah dan perkara-perkara haram lainnya. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?" Yakni apakah kalian tidak mempunyai akal yang dengannya kalian menimbang apa yang semestinya lebih di-pentingkan, apa yang lebih berhak untuk diusahakan dan didahu-lukan? Tugas akal adalah melihat kepada akibat dari sesuatu. Ada-pun orang yang berpandangan dangkal lagi pendek, dia tidak dapat meraih nikmat agung yang kekal, di mana akal dan pikirannya?
(170) Orang-orang yang berakal sebenar-benarnya adalah orang-orang yang dicitrakan oleh Allah dengan FirmanNya, ﴾ وَٱلَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat)." Yakni berpegang teguh dari segi ilmu dan amal, mereka mengetahui hukum-hukum dan berita-berita yang dikandungnya, di mana ilmu tentang itu adalah ilmu yang termulia, mereka men-jalankan perintah-perintah yang dikandungnya yang merupakan ketenangan, kebahagiaan hati dan jiwa serta kemenangan dunia dan akhirat. Dan di antara perintah-perintah agung yang wajib di-pegang adalah mendirikan shalat secara lahir dan batin. Oleh karena itu Allah menyebutkannya secara khusus karena keutamaannya dan kemuliaannya, dan bahwa ia adalah timbangan amal dan penega-kannya mendorong kepada penegakan ibadah-ibadah yang lain. Karena seluruh amal mereka adalah baik, maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan," dalam perkataan, perbuatan, dan niat mereka, memperbaiki diri dan orang lain. Ayat ini dan yang sepertinya menunjukkan bahwa Allah mengutus para rasulNya k dengan kebaikan bukan kerusakan, dengan manfaat bukan mudarat, mereka diutus dengan kebaikan dunia dan akhirat. Jadi, semakin seseorang itu baik, maka dia sema-kin dekat kepada sikap mengikuti mereka.
(171) Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ نَتَقۡنَا ٱلۡجَبَلَ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka", ketika mereka menolak apa yang ada di dalam Taurat, Dia mewajibkan mereka beramal dan mengangkat gunung di atas mereka, maka gunung pun di atas mereka, ﴾ كَأَنَّهُۥ ظُلَّةٞ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُۥ وَاقِعُۢ بِهِمۡ ﴿ "seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka." Dan dikatakan kepada mereka, ﴾ خُذُواْ مَآ ءَاتَيۡنَٰكُم بِقُوَّةٖ ﴿ "Peganglah dengan teguh apa yang telah kami berikan kepadamu." Yakni dengan serius dan sungguh-sungguh ﴾ وَٱذۡكُرُواْ مَا فِيهِ ﴿ "serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya", dengan mengkaji dan mempelajari serta mengamalkannya ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa", jika kamu melakukan itu.
Al-A'raf 7:169
"Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu memba-wa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah ba-gaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Musa berkata, 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam, wajib atasku tidak berkata atas Nama Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu de-ngan membawa bukti yang nyata dari Rabbmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku'." (Al-'Araf: 103-105). "Fir'aun menjawab, 'Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.' Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu se-ketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu men-jadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata, 'Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluar-kan kamu dari negerimu.' (Fir'aun berkata), 'Maka apakah yang kamu anjurkan?' Pemuka-pemuka itu menjawab, 'Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka mem-bawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai'." (Al-'Araf: 106-112). "Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun menga-takan, '(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?' Fir'aun menjawab, 'Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepa-daku).' Ahli-ahli sihir berkata, 'Hai Musa, kamukah yang akan melempar lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?'" (Al-'Araf: 113-115). "Musa menjawab, 'Lemparkanlah (lebih dahulu)!' Maka tat-kala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang-orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatang-kan sihir yang besar (menakjubkan).' Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekonyong-konyong tong-kat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina'." (Al-A'raf: 116-119). "Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu, sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan pendu-duknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya'." (Al-A'raf: 120-124). "Ahli-ahli sihir itu menjawab, 'Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.' (Mereka berdoa), 'Ya Rabb ka-mi, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu).' Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun), 'Apakah kamu mem-biarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilah-ilahmu.' Fir'aun menjawab, 'Akan kita bunuh anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita ber-kuasa penuh di atas mereka.' Musa berkata kepada kaumnya, 'Mo-honlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah yang dipusakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa'." (Al-A'raf: 125-128). "Kaum Musa berkata, 'Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) se-belum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.' Musa menjawab, 'Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khafilah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.' Dan sesungguhnya kami telah menghu-kum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kema-rau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab ke-sialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Keta-huilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-A'raf: 129-131). "Mereka berkata, 'Bagaimanapun kamu mendatangkan kete-rangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.' Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersa-mamu.' Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya." (Al-A'raf: 132-135). "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelam-kan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah tertindas itu negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang te-lah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka." (Al-A'raf: 136-137). "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang sedang me-nyembah berhala mereka, Bani Israil berkata, 'Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempu-nyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab, 'Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat tuhan). Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.' Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas se-gala umat. Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamat-kanmu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lela-kimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Rabbmu'." (Al-A'raf: 138-141). "Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurna-lah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam. Dan berkatalah Musa kepada saudaranya yaitu Harun, 'Gantikan-lah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan jangan-lah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.' Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu.' Rabb berfirman, 'Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala) niscaya kamu dapat melihatKu.' Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, 'Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepadaMu dan aku orang yang pertama-tama beriman'." (Al-A'raf: 142-143). "Allah berfirman, 'Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (me-lebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk mem-bawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.' Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah padanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik'." (Al-A'raf: 144-145). "Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri-nya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda ke-kuasaanKu. Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan me-reka selalu lalai dari padanya." (Al-A'raf: 146). "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan. Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gu-nung Thur, membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengeta-hui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim. Dan setelah mereka sangat menyesali perbua-tannya dan mengetahui bahwa mereka sesat, mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 147-149). "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu.' Dan Musa melemparkan luh-luh (Tau-rat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata, 'Hai anak ibuku, sesung-guhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka mau membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim.' Musa berdoa, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.' Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." (Al-A'raf: 150-152). "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian ber-taubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Rabb kamu, sesu-dah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesudah amarah Musa menjadi reda, maka dia mengambil (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisan-nya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Rabbnya. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari ka-umnya untuk (memohon taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, 'Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Eng-kau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami. Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 153-155). "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu. Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku ke-hendaki dan rahmatKu meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang me-nunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami'." (Al-A'raf: 156). "(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-A'raf: 157). "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.' Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (ke-pada manusia) dengan hak dan dengan hak itulah mereka menja-lankan keadilan." (Al-A'raf: 158-159). "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar, dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu!' Maka memancarlah dari padanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka, dan Kami tu-runkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman), 'Ma-kanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepada-mu.' Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." (Al-A'raf: 160). "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.' Dan katakanlah, 'Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbang-nya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesa-lahanmu.' Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang yang zhalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dika-takan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezhaliman mereka." (Al-A'raf: 161-162). "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikian-lah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, 'Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras?' Mereka menjawab, 'Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertakwa'." (Al-A'raf: 163-164). "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepada mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina.' Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberita-hukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesung-guhnya Rabbmu amat cepat siksaNya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shalih dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (Al-A'raf: 165-168). "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata, 'Kami akan diberi ampun.' Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan menga-takan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti. Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pa-hala), karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan." (Al-A'raf: 169-170). "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas me-reka seakan-akan bukit naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), 'Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa'." (Al-A'raf:171).
(103) Yakni, kemudian Kami mengutus setelah para rasul itu, Musa yang pernah diajak berbicara langsung oleh Allah, pe-mimpin yang agung, seorang Rasul yang mulia kepada kaum yang bengal lagi sombong yaitu Fir'aun dan para pemuka kaumnya serta bala tentaranya, maka Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya yang besar yang tidak ada tandingannya, ﴾ فَظَلَمُواْ بِهَاۖ ﴿ "Lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu." Dengan tidak tunduk kepada ke-benarannya, di mana siapa yang tidak tunduk kepadanya maka dia adalah orang zhalim, namun justru menyombongkan diri kepada-nya. ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan." Bagaimana Allah membinasa-kan mereka dan menambahkan celaan dan laknat atas mereka di dunia, dan pada Hari Kiamat mereka akan mendapatkan seburuk-buruk pemberian.
(104) Ini adalah pernyataan global yang diperinci dengan FirmanNya, ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Dan Musa berkata", manakala dia datang kepada Fir'aun untuk mengajaknya kepada iman, ﴾ يَٰفِرۡعَوۡنُ إِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam." Yakni, aku adalah Rasul dari Pengutus yang Agung yaitu Rabb semesta alam, alam tinggi dan alam rendah, Pengurus seluruh makhlukNya dengan berbagai macam tatanan Ilahiyah, yang di antaranya adalah bahwa Dia tidak membiarkan mereka hidup secara sia-sia, tetapi Dia mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, di mana tidak seorang pun yang berani atasnya dan mengklaim bahwa Dia mengutusnya pa-dahal tidak mengutusnya.
(105) Jika urusannya memang begitu, sedangkan aku telah dipilih dan diangkat untuk memikul risalahNya, maka tidak se-pantasnya bagiku untuk berdusta atasNya dan tidak mengatakan atasNya kecuali kebenaran, karena jika aku berkata selain itu, maka Dia pasti menyegerakan hukuman kepadaku, dan pasti Dia akan mengazabku dengan azab dari Yang Mahaperkasa lagi Maha Ber-kuasa. Ini merupakan kenyataan yang mengharuskan mereka un-tuk tunduk dan mengikutinya, lebih-lebih dia telah datang kepada mereka dengan bukti kuat dari Allah yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawanya, maka wajib atas mereka menjalankan tujuan risalahnya yang merupakan dua tujuan besar, yaitu agar mereka beriman kepadaNya, mengikutiNya dan melepaskan Bani Israil, bangsa yang diberi keutamaan oleh Allah, putra-putra para nabi dan keturunan Ya'qub, di mana Musa عليه السلام adalah salah satu dari mereka.
(106) Fir'aun menjawab, ﴾ إِن كُنتَ جِئۡتَ بِـَٔايَةٖ فَأۡتِ بِهَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar."
(107) ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya", di tanah. ﴾ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ ﴿ "Lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya." Yakni, ular yang nyata merayap dan mereka me-nyaksikannya.
(108) ﴾ وَنَزَعَ يَدَهُۥ ﴿ "Dan ia mengeluarkan tangannya", dari saku-nya, ﴾ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ ﴿ "maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." Tanpa aib. Ini adalah dua mukjizat besar yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawa oleh Musa dan bahwa dia adalah benar-benar utusan Rabbul 'Alamin.
(109) Akan tetapi orang-orang yang tidak beriman, seandai-nya semua ayat datang kepada mereka, mereka tetap tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih. Oleh karena itu, ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata", manakala mereka terkagum-kagum dengan mukjizat, tetapi mereka tidak mau ber-iman, maka mereka mencari-cari takwil yang rusak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَسَٰحِرٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai." Yang pintar menyihir.
(110) Kemudian mereka itu menakut-nakuti orang-orang yang berakal lemah lagi bodoh bahwa Musa, ﴾ يُرِيدُ ﴿ "bermaksud hen-dak", dengan perbuatannya tersebut ﴾ أَن يُخۡرِجَكُم مِّنۡ أَرۡضِكُمۡۖ ﴿ "mengeluarkan-mu dari negerimu." Yakni dia ingin mengusirmu dari tanah tumpah darahmu. ﴾ فَمَاذَا تَأۡمُرُونَ ﴿ "Fir'aun berkata, 'Maka apakah yang kamu an-jurkan?'" Yakni mereka saling bertukar pikiran di antara mereka terkait dengan apa yang dilakukan oleh Musa dan bagaimana cara menangkis kemudaratan –menurut klaim mereka– dari mereka, karena jika apa yang dibawa oleh Musa tidak ditangkal dan diban-tah, maka bisa-bisa ia menyusup ke pikiran banyak orang.
(111-112) Pada saat itu pendapat mereka bersatu dengan mengatakan kepada Fir'aun, ﴾ أَرۡجِهۡ وَأَخَاهُ ﴿ "Beri tangguhlah dia dan sau-daranya." Yakni tahan dan beri mereka berdua waktu, dan utuslah orang-orang ke penjuru kota untuk mengumumkan kepada pen-duduknya agar mereka menghadirkan semua penyihir yang ahli, yakni mereka mendatangkan para penyihir yang mumpuni, untuk melawan apa yang dibawa oleh Musa, maka mereka berkata, ﴾ فَٱجۡعَلۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 قَالَ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ثُمَّ أَتَىٰ 60 ﴿ "'(Wahai Musa), buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah ma-nusia dikumpulkan pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemu-dian dia datang." (Thaha: 58-60).
(113) Di sini Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan be-berapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun." Menuntut balasan (upah) jika mereka menang. Mereka berkata, ﴾ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبِينَ ﴿ "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?"
(114) Fir'aun menjawab, ﴾ نَعَمۡ ﴿ "Ya", kamu akan mendapat imbalan. ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)." Fir'aun menjanjikan balasan, kedekatan, dan kedudukan tinggi di sisinya agar mereka serius dan mengeluarkan segala daya dan upaya mereka dalam mengalahkan Musa.
(115) Manakala mereka hadir bersama Musa di depan kha-layak yang berjumlah besar, ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata", dengan ber-sumpah tanpa memandang sama sekali kepada apa yang dibawa oleh Musa, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "Hai Musa kamukah yang akan melempar-kan lebih dahulu", apa yang ada padamu, ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ نَحۡنُ ٱلۡمُلۡقِينَ ﴿ "ataukah kami yang akan melemparkan?"
(116) Musa menjawab, ﴾ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Lemparkanlah (lebih dahulu)." Agar orang-orang melihat apa yang mereka miliki dari apa yang Musa miliki. ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka tatkala mereka melemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka sehingga nampak menjadi seperti ular yang melata, mereka menyulap, ﴾ أَعۡيُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٖ ﴿ "mata orang-orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan)." Sihir yang tak tertandingi.
(117) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu'." Maka Musa melemparkannya, ﴾ فَإِذَا هِيَ ﴿ "maka sekonyong-konyong tongkat itu menjadi", ular yang melata, maka ia menelan sulap mereka, yakni kebohongan dan kedustaan mereka.
(118) ﴾ فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Karena itu nyatalah yang benar", yakni jelas dan nyata serta unggul di perkumpulan itu, ﴾ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dan batallah yang selalu mereka kerjakan."
(119) ﴾ فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ ﴿ "Maka mereka kalah di tempat itu." Yakni di pertandingan itu, ﴾ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ ﴿ "dan jadilah mereka orang-orang yang hina", lagi dina. Kebatilan mereka terkikis dan sihir mereka kalah dan mereka gagal mendapat apa yang mereka ingin dapatkan.
(120-122) Orang yang paling jelas mengetahui kebenaran yang agung adalah orang-orang yang berpikiran obyektif dan ahli sihir yang mengetahui macam-macam sihir dan detail-detailnya yang tidak diketahui oleh selain mereka. Mereka mengetahui bahwa itu adalah mukjizat besar dari Allah, tak ada yang mampu menan-dinginya, maka ﴾ وَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ 120 قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam (yaitu) Rabb Musa dan Harun'." Yakni kami membenarkan ayat-ayat yang jelas yang di-bawa oleh Musa.
(123) ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata", kepada mereka dengan mengancam karena iman mereka, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Orang busuk ini adalah penguasa otoriter yang sewenang-wenang dalam mem-perlakukan fisik dan pendapat rakyatnya. Telah menjadi semacam ketetapan baginya dan rakyatnya bahwa pendapatnya harus didengar dan perintahnya harus terlaksana, tak seorang pun boleh keluar dari ucapan dan hukumnya. Dengan kondisi seperti ini mental mereka merosot, akal dan tindakan mereka lemah, serta tidak mampu membela hak-hak mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman tentangnya, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya." (Az-Zukhruf: 54). Di sini dia berkata, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Ini adalah sikap ke-kurangajaran darimu dan kelancangan kepadaku. Kemudian dia mengaburkan sikap kaumnya dengan berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَمَكۡرٞ مَّكَرۡتُمُوهُ فِي ٱلۡمَدِينَةِ لِتُخۡرِجُواْ مِنۡهَآ أَهۡلَهَاۖ ﴿ "Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduk-nya dari padanya." Yakni sesungguhnya Musa adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir, kamu telah bersepakat dengannya di mana seakan-akan kalian tunduk padanya, lalu dia menang dan kamu mengikutinya, kemudian orang-orang atau mayoritas dari mereka mengikutimu, lalu kamu mengusir penduduknya darinya. Ini ada-lah kedustaan yang dia sendiri dan orang-orang yang mengetahui situasi, mengetahui bahwa Musa tidak bersekongkol dengan siapa pun dari mereka. Bahwa mereka itu dikumpulkan menurut perin-tah Fir'aun melalui kaki tangannya. Bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah mukjizat Ilahiyah. Bahwa ahli sihir itu telah mengeluar-kan segala kemampuan mereka untuk mengalahkan Musa namun mereka kalah, lalu kebenaran menjadi jelas bagi mereka dan mereka pun mengikutinya. Kemudian Fir'aun mengancam mereka dengan mengatakan, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuat-anmu ini)." Yakni, hukuman yang aku siapkan untukmu.
(124) ﴾ لَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Sesungguhnya aku akan memo-tong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik." Orang busuk ini mengklaim bahwa mereka sebagai perusak di muka bumi, di mana dia akan memperlakukan mereka layaknya orang-orang yang merusak, dipotong tangan dan kaki secara berselang-seling, yakni tangan kanan dan kaki kiri. ﴾ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمۡ ﴿ "Kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalibmu", di batang pohon kurma agar kamu kapok -menurut anggapannya- ﴾ أَجۡمَعِينَ ﴿ "semua." Yakni aku mem-perlakukan ini tidak hanya kepada beberapa orang saja, akan tetapi semuanya akan mendapatkannya.
(125) Para penyihir yang beriman itu berkata kepada Fir'aun yang mengancam mereka, ﴾ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ ﴿"Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali." Yakni kami tidak peduli dengan hukumanmu. Allah lebih baik dan lebih kekal, lakukan saja apa yang kamu mau.
(126) ﴾ وَمَا تَنقِمُ مِنَّآ ﴿ "Dan kamu tidak menyalahkan kami." Yakni kamu tidak mencela kami atas pengingkaranmu kepada kami dan ancamanmu kepada kami, kami tidak mempunyai dosa, ﴾ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتۡنَاۚ ﴿ "melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami." Jika ini memang dosa yang dicela atasnya dan pelakunya berhak atas hukuman, maka ini adalah dosa kami. Kemudian mereka memohon kepada Allah agar memberi mereka keteguhan dan kesabaran, mereka ber-kata, ﴾ رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا ﴿ "Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami." Yakni kesabaran yang besar. Ini ditunjukkan oleh kata صَبْرًا dengan bentuk nakirah karena ini adalah ujian besar yang berujung kepada kematian, maka ia memerlukan kesabaran besar agar hati tetap teguh dan orang mukmin tetap tenang dengan imannya serta agar kepanikan sirna darinya. ﴾ وَتَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ ﴿ "Dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu)." Yakni dalam keadaan tun-duk kepada perintahMu dan mengikuti RasulMu. Dan yang zahir bahwa ancaman Fir'aun benar-benar dilakukan kepada mereka dan bahwa Allah meneguhkan mereka di atas iman.
(127) Fir'aun dengan kaki tangannya dan mayoritas dari mereka yang mengikuti para pembesar di kalangan mereka telah menyombongkan diri di depan ayat-ayat Allah dan mengingkari-nya karena kezhaliman dan kesombongan. Mereka berkata kepada Fir'aun dalam rangka menghasutnya agar mengazab Musa dengan alasan bahwa apa yang dibawanya adalah batil dan merupakan kerusakan di muka bumi, ﴾ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوۡمَهُۥ لِيُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir)," dengan dakwah menyeru agar mereka beriman kepada Allah, kepada kemuliaan akhlak dan kebaikan amal yang merupa-kan kebaikan di muka bumi? Justru merekalah yang berada di atas kerusakan, akan tetapi orang-orang zhalim bersikap masa bodoh terhadap apa yang mereka katakan. ﴾ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَۚ ﴿ "Dan meninggal-kanmu serta tuhan-tuhanmu." Yakni membiarkanmu dan tuhan-tu-hanmu, dia melarangmu dan menghalang-halangi manusia dari mengikutimu. Maka Fir'aun menjawab mereka dengan mengata-kan bahwa dia akan membiarkan Musa dengan Bani Israil dalam kondisi di mana mereka tidak dapat berkembang, dan Fir'aun de-ngan kaki tangannya merasa aman dari bahaya mereka. Katanya, ﴾ سَنُقَتِّلُ أَبۡنَآءَهُمۡ وَنَسۡتَحۡيِۦ نِسَآءَهُمۡ ﴿ "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka." Yakni kita membiar-kan anak-anak perempuan itu hidup, kita tidak membunuhnya. Jika kita melakukan itu, maka kita akan aman dari kekuatan me-reka yang berjumlah banyak, sisanya kita perbudak dan kita atur sesuai dengan kehendak kita. ﴾ وَإِنَّا فَوۡقَهُمۡ قَٰهِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka." Mereka tidak memiliki kemam-puan untuk melepaskan diri dari hukum kita. Ini adalah puncak kesombongan, kezhaliman, dan kebengisan Fir'aun.
(128) ﴾ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ﴿ "Maka Musa berkata kepada kaumnya," me-wasiatkan kepada mereka dalam keadaan tersebut di mana mereka tidak memiliki apa pun untuk melawan, dengan perlawanan Ila-hiyah dan bantuan Rabbaniyah. ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah." Yakni bersandarlah kepadaNya dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu dan menolak apa yang memudaratkan-mu. Percayalah kepada Allah bahwa Dia akan menyempurnakan perkaramu, ﴾ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ ﴿ "Dan bersabarlah." Yakni pegang teguhlah ke-sabaran atas apa yang menimpamu dengan berharap kelapangan di balik ujian ini. ﴾ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ ﴿ "Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah." Bukan milik Fir'aun, bukan pula milik kaumnya sehingga mereka bisa semena-mena di atasnya. ﴾ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Dipu-sakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya." Yakni merotasinya di antara manusia menurut hikmah dan kehen-dakNya, akan tetapi kesudahan yang baik tetap milik orang-orang yang bertakwa. Walaupun mereka itu diuji beberapa lama berda-sarkan hikmah dari Allah, tetapi kemenangan adalah milik mereka. ﴾ وَٱلۡعَٰقِبَةُ ﴿ "Dan kesudahan yang baik", adalah untuk mereka. Ini ada-lah tugas seorang hamba, di mana pada waktu memiliki kemam-puan, dia harus melakukan cara untuk menolak gangguan orang lain dari dirinya sebatas kemampuan itu dan pada saat lemah hen-daknya dia bersabar, memohon pertolongan kepada Allah dan menunggu datangnya kelapangan.
(129) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa mengeluhkan siksaan Fir'aun yang menimpa mereka dalam kurun waktu yang lama, ﴾ أُوذِينَا مِن قَبۡلِ أَن تَأۡتِيَنَا ﴿ "Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami." Mereka menimpakan siksaan yang buruk kepada kami, mereka membunuh anak-anak laki-laki kami dan membiarkan anak-anak perempuan kami, ﴾ وَمِنۢ بَعۡدِ مَا جِئۡتَنَاۚ ﴿ "dan se-sudah kamu datang", juga demikian. Musa menjawab mereka dengan memberi harapan kemenangan dan kebebasan dari kejahatan me-reka. ﴾ عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُهۡلِكَ عَدُوَّكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-(Nya)." Yakni menjadikanmu pengendali dan pemegang urusan di dalamnya. ﴾ فَيَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu." Apakah kamu akan bersyukur atau kufur? Ini adalah janji yang Allah laksanakan manakala telah tiba waktu yang telah diinginkan oleh Allah.
(130) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan per-lakuanNya terhadap keluarga Fir'aun di waktu akhir-akhir ini, ia seperti biasa dan sesuai dengan sunnahNya pada umat-umat yang telah lalu, di mana Dia menimpakan, ﴾ بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَضَّرَّعُونَ 94 ﴿ "Azab dan kesulitan agar mereka tunduk dengan merendahkan diri." (Al-A'raf: 93) ﴾ وَلَقَدۡ أَخَذۡنَآ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ بِٱلسِّنِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meng-hukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang." Yakni kekeringan dan paceklik. ﴾ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pela-jaran." Yakni supaya mereka menyadari bahwa apa yang menimpa dan apa yang terjadi pada mereka adalah pelajaran dari Allah, agar mereka meninggalkan kekufuran. Tetapi hal itu tidak berguna dan berpengaruh bagi mereka, justru mereka terus di atas kezhaliman dan kerusakan.
(131) ﴾ فَإِذَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡحَسَنَةُ ﴿ "Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran." Yakni kesuburan dan kelimpahan rizki, ﴾ قَالُواْ لَنَا هَٰذِهِۦۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami'." Yakni, kami berhak atasnya. Mereka tidak bersyukur kepada Allah atas karunia tersebut. ﴾ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ ﴿ "Dan jika mereka ditimpa kesusahan." Yakni kekeringan dan paceklik, ﴾ يَطَّيَّرُواْ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓۗ ﴿ "mereka melemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya." Yakni mereka ber-kata, "Kesialan ini menimpa kami karena kedatangan Musa dan karena Bani Israil mengikutinya." Allah menjawab, ﴾ أَلَآ إِنَّمَا طَٰٓئِرُهُمۡ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah." Yakni dengan qadha dan qadarNya, tidak seperti yang me-reka katakan, justru penyebabnya adalah kekufuran dan dosa-dosa mereka, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui, oleh karena itu mereka berkata begitu.
(132) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", menjelaskan kepada Musa bahwa mereka senantiasa dan tetap akan berada pada keba-tilan. ﴾ مَهۡمَا تَأۡتِنَا بِهِۦ مِنۡ ءَايَةٖ لِّتَسۡحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحۡنُ لَكَ بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Bagaimanapun kamu men-datangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu." Yakni, kami telah yakin bahwa dirimu adalah penyihir, meskipun kamu datang dengan membawa mukjizat, kami tetap yakin bahwa kamu adalah penyihir, maka kami tidak mempercayaimu dan beriman kepada-mu. Ini adalah puncak pengingkaran orang-orang kafir itu, di mana keadaannya adalah sama saja, mukjizat turun atau tidak.
(133) ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلطُّوفَانَ ﴿ "Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah." Yakni banjir bandang yang menenggelamkan pohon-pohon dan tanaman-tanaman serta merugikan mereka dengan kerugian yang besar, ﴾ وَٱلۡجَرَادَ ﴿ "dan belalang", yang melahap buah-buahan, tanaman, dan pertanian mereka, ﴾ وَٱلۡقُمَّلَ ﴿ "dan kutu", yakni belalang kecil, dan yang zahir adalah bahwa ia adalah kutu yang dikenal, ﴾ وَٱلضَّفَادِعَ ﴿ "dan katak", yang memenuhi tempat-tempat air mereka sehingga mengganggu mereka dan membuat mereka sangat tidak nyaman, ﴾ وَٱلدَّمَ ﴿ "dan darah", bisa jadi ia adalah mimisan, atau se-perti yang dikatakan oleh banyak ahli tafsir bahwa air yang mereka minum berubah menjadi darah, sehingga mereka tidak minum ke-cuali darah dan tidak memasak kecuali dengan darah, ﴾ ءَايَٰتٖ مُّفَصَّلَٰتٖ ﴿ "sebagai bukti yang jelas." Yakni sebagai dalil dan bukti kongkrit bahwa mereka itulah orang-orang yang berdusta lagi zhalim, dan bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah kebenaran, ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "tetapi mereka tetap menyombongkan diri", tatkala melihat ayat-ayat itu, ﴾ وَكَانُواْ ﴿ "dan mereka", dulu ﴾ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "adalah kaum yang berdosa." Oleh karena itu Allah menghukum mereka dengan tetap membiar-kan mereka di atas kesesatan dan penyimpangan.
(134) ﴾ وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيۡهِمُ ٱلرِّجۡزُ ﴿ "Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu)." Yakni siksa. Ada kemungkinan bahwa ia adalah penyakit tha'un sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli tafsir, dan kemungkinan pula bencana yang telah disebutkan di atas, yaitu banjir, belalang, kutu, katak dan darah, karena semua ini adalah siksa dan azab. Setiap kali satu darinya menimpa mereka, ﴾ قَالُواْ يَٰمُوسَى ٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَۖ ﴿ "mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu'." Yakni mereka meminta perantara kepada Musa dengan wahyu dan syariat yang Allah berikan kepadanya. ﴾ لَئِن كَشَفۡتَ عَنَّا ٱلرِّجۡزَ لَنُؤۡمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرۡسِلَنَّ مَعَكَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." Dan mereka itu adalah para pendusta, maksud mereka hanyalah bagai-mana azab ini selesai, mereka mengira bahwa jika ia selesai maka tidak ada azab yang lain.
(135) ﴾ فَلَمَّا كَشَفۡنَا عَنۡهُمُ ٱلرِّجۡزَ إِلَىٰٓ أَجَلٍ هُم بَٰلِغُوهُ ﴿ "Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya." Yakni sampai waktu di mana Allah menentukan kebera-daannya pada mereka, bukan pengangkatan azab untuk seterusnya, akan tetapi hanya sementara, ﴾ إِذَا هُمۡ يَنكُثُونَ ﴿ "tiba-tiba mereka menging-karinya." Yakni janji yang mereka sampaikan kepada Musa bahwa mereka akan beriman kepadanya dan membiarkan Bani Israil ber-samanya. Mereka tidak beriman kepada Musa dan tidak pula me-lepas Bani Israil bersamanya, justru mereka terus berjalan di atas kekufuran tanpa peduli dan tetap menyiksa Bani Israil secara terus-menerus.
(136) ﴾ فَٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ ﴿ "Kemudian Kami menghukum mereka." Yakni pada waktu kebinasaan mereka telah tiba. Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil di malam hari. Dan Allah mem-beritahukan kepada Musa bahwa Fir'aun dengan bala tentaranya akan mengejar mereka. ﴾ فَأَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِي ٱلۡمَدَآئِنِ حَٰشِرِينَ 53 ﴿ "Kemudian Fir'aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (ten-taranya) ke kota-kota." (Asy-Syu'ara`: 53). Untuk mengumpulkan orang-orang guna mengejar Bani Israil, Fir'aun dan bala tentaranya berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَشِرۡذِمَةٞ قَلِيلُونَ 54 وَإِنَّهُمۡ لَنَا لَغَآئِظُونَ 55 وَإِنَّا لَجَمِيعٌ حَٰذِرُونَ 56 فَأَخۡرَجۡنَٰهُم مِّن جَنَّٰتٖ وَعُيُونٖ 57 وَكُنُوزٖ وَمَقَامٖ كَرِيمٖ 58 كَذَٰلِكَۖ وَأَوۡرَثۡنَٰهَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ 59 فَأَتۡبَعُوهُم مُّشۡرِقِينَ 60 فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلۡجَمۡعَانِ قَالَ أَصۡحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدۡرَكُونَ 61 قَالَ كـَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ 62 فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ 63 وَأَزۡلَفۡنَا ثَمَّ ٱلۡأٓخَرِينَ 64 وَأَنجَيۡنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ أَجۡمَعِينَ 65 ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ 66 ﴿ "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga'. Maka Kami keluarkan Fir'aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demi-kianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka di waktu ma-tahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, 'Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.' Musa menjawab, 'Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku'. Lalu Kami wah-yukan kepada Musa, 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu'. Maka ter-belahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelam-kan golongan yang lain itu." (Asy-Syu'ara`: 54-66). Allah berfirman di dalam surat al-A'raf ini, ﴾ فَأَغۡرَقۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "Maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebab-kan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." Yakni disebabkan oleh pendus-taan mereka kepada ayat-ayat Allah dan berpalingnya mereka dari kebenaran yang datang kepada mereka.
(137) ﴾ وَأَوۡرَثۡنَا ٱلۡقَوۡمَ ٱلَّذِينَ كَانُواْ يُسۡتَضۡعَفُونَ ﴿ "Dan Kami pusakakan ke-pada kaum yang telah ditindas itu", di bumi. Yakni Bani Israil yang dulu adalah pelayan bagi keluarga Fir'aun yang telah menimpakan kepada mereka azab yang buruk. Allah mempusakakan kepada mereka ﴾ مَشَٰرِقَ ٱلۡأَرۡضِ وَمَغَٰرِبَهَا ﴿ "negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya." Yang dimaksud dengan bumi di sini adalah bumi Mesir di mana padanyalah mereka ditindas dan dijajah, yakni Allah menguasakannya kepada mereka dan menjadikan mereka pengua-sanya. ﴾ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَاۖ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ ٱلۡحُسۡنَىٰ عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ بِمَا صَبَرُواْۖ ﴿ "Yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka." Mana-kala Musa berkata kepada mereka, ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ 128 ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguh-nya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakanNya kepada siapa yang di-kehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-A'raf: 128). ﴾ وَدَمَّرۡنَا مَا كَانَ يَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَقَوۡمُهُۥ ﴿ "Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya", yakni bangunan-bangunan yang besar dan tempat tinggal yang indah, ﴾ وَمَا كَانُواْ يَعۡرِشُونَ ﴿ "dan apa yang telah dibangun mereka." Itulah rumah-rumah mereka yang han-cur karena kezhaliman mereka, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengetahui.
(138) ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu", setelah Allah menyelamatkan mereka dari musuh mereka, yaitu Fir'aun dan bala tentaranya, di mana Allah telah membinasakan mereka sementara Bani Israil melihatnya. ﴾ فَأَتَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka sampai", yakni melewati ﴾ عَلَىٰ قَوۡمٖ يَعۡكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصۡنَامٖ لَّهُمۡۚ ﴿ "kepada suatu kaum yang sedang menyembah berhala mereka." Yakni mereka berdiam padanya, ngalap berkah padanya, dan menyem-bahnya, lalu mereka berkata kepada Nabi mereka, Musa عليه السلام, karena kebodohan dan ketidaktahuan mereka, setelah sebelumnya Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya. ﴾ يَٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهٗا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٞۚ ﴿ "Hai Musa buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana me-reka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Yakni izinkan kami men-jadikan berhala-berhala sebagai tuhan kami seperti yang mereka lakukan. Maka Musa menjawab, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)." Adakah kejahilan yang lebih besar daripada kejahilan orang tentang Tuhan dan Penciptanya dan dia ingin menyamakanNya dengan selainNya yang tidak dapat mendatangkan manfaat, mudarat, kematian, ke-hidupan dan kebangkitan?
(139) Oleh karena itu Musa berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ مُتَبَّرٞ مَّا هُمۡ فِيهِ وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan." Karena doa mereka kepada berhala-berhala itu adalah batil dan ia sendiri adalah batil, amal dan tujuannya adalah sama-sama batil.
(140) ﴾ قَالَ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِيكُمۡ إِلَٰهٗا ﴿ "Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah." Yakni aku mencari tuhan selain Allah yang disembah lagi sempurna pada dzatnya, sifat-sifatnya dan perbuatan-perbuatannya, ﴾ وَهُوَ فَضَّلَكُمۡ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." Ini me-nuntutmu menyambut nikmat dan karuniaNya dan mensyukuri hal itu dengan mengesakanNya dalam beribadah dan mengingkari apa yang dipertuhankan selainNya.
(141) Kemudian Musa mengingatkan mereka dengan nik-mat Allah kepada mereka, dia berkata, ﴾ وَإِذۡ أَنجَيۡنَٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya." Yakni Fir'aun dan bala tentaranya ﴾ يَسُومُونَكُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat." Yakni menim-pakan kepadamu azab paling buruk, di mana mereka menyembe-lih ﴾ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ وَفِي ذَٰلِكُم ﴿ "anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu", yakni kebebasan dari azab mereka adalah ﴾ بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ ﴿ "cobaan yang besar dari Rabbmu." Yakni nikmat yang besar dan karunia yang agung. Atau pada azab yang mereka timpakan itu terdapat ujian besar dari Rabbmu.
(142) Manakala Musa menasihati dan mengingatkan me-reka, mereka pun menghentikan apa yang mereka inginkan berupa berhala, dan ketika Allah menyempurnakan nikmatNya dengan keselamatan dari musuh mereka dan kekuasaan di muka bumi, maka Allah سبحانه وتعالى ingin menyempurnakan nikmatNya dengan menu-runkan kitab yang padanya terdapat hukum-hukum syariat dan akidah yang lurus. Maka Allah menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam ditambah dengan sepuluh jadi empat puluh malam, agar Musa bersiap-siap untuk memenuhi panggilan janji Allah dan agar turunnya kitab itu sangat dinantikan dan dirindukan. Manakala Musa pergi untuk bermunajat kepada Rabbnya, Musa mewasiat-kan Bani Israil kepada Harun, hal itu karena kasih sayangnya dan ketulusannya kepada mereka. ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku." Yakni jadilah kamu penggantiku dan lakukan kepada mereka apa yang aku lakukan. ﴾ وَأَصۡلِحۡ ﴿ "Dan perbaikilah", yakni ikutilah jalan kebaikan. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." Yaitu orang-orang yang berbuat kemaksiatan.
(143) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا ﴿ "Dan tatkala Musa datang untuk (mu-najat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan", untuknya untuk menurunkan kitab, ﴾ وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ ﴿ "dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya", berfirman langsung dengan wahyuNya, pe-rintah dan laranganNya, Musa berkeinginan untuk melihat Allah, jiwanya mengharapkan itu karena kecintaannya kepada Rabbnya dan sangat ingin melihatNya. ﴾ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu." Allah menjawab, ﴾ لَن تَرَىٰنِي ﴿ "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu." Yakni sekarang kamu tidak akan mampu melihatKu, karena Allah سبحانه وتعالى menciptakan makhluk di dunia ini dalam kondisi di mana mereka tidak akan kuat dan tidak akan mampu melihat Allah. Ini tidak menunjukkan bahwa mereka tidak dapat melihat-Nya di surga, karena dalil-dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah telah menunjukkan bahwa penduduk surga akan melihat Rabb mereka dan menikmati melihat kepada wajahNya Yang Mulia. Dan bahwa Allah تعالى menghidupkan mereka secara sempurna yang dengannya mereka mampu melihat Allah تعالى. Oleh karena itu Allah mengait-kan kemungkinan melihat dengan ketetapan gunung. Allah تعالى menenangkan Musa karena tidak bisa mengabulkan permintaannya. ﴾ وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ ﴿ "Tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala)", jika Allah menampakkan diri kepadanya ﴾ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ ﴿ "niscaya ka-mu dapat melihatKu. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu", yang bisu lagi keras. ﴾ جَعَلَهُۥ دَكّٗا ﴿ "Dijadikannya gunung itu han-cur luluh." Yakni hancur berkeping-keping ibarat kerikil, karena kegoncangannya dan tidak kuatnya ia melihat Allah. ﴾ وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ ﴿ "Dan Musa pun jatuh pingsan," ketika melihat apa yang dilihat. Ma-ka jelaslah bagi Musa pada saat itu bahwa jika gunung saja tidak kuat melihat Allah, maka Musa lebih tidak kuat melihatNya. Musa memohon ampun kepada Allah تعالى karena telah meminta sesuatu yang tidak pada tempatnya. ﴾ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Musa berkata, 'Mahasuci Engkau'." Yakni Aku menyucikan dan mengagungkanMu dari apa yang tidak layak dengan kebesaranMu. ﴾ تُبۡتُ إِلَيۡكَ ﴿ "Aku bertaubat kepada Engkau", dari segala dosa dan kekurangajaran kepadaMu. ﴾ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku orang yang pertama-tama beriman." Yakni Musa menyempurna-kan imanNya dengan sesuatu yang sebelum-nya tidak dia ketahui.
(144) Manakala Allah tidak memberikan kesempatan ke-pada Nabi Musa untuk melihatNya setelah sebelumnya dia sangat menginginkannya, maka Allah memberikan kepadanya kebaikan yang banyak. Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّي ٱصۡطَفَيۡتُكَ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu)." Yakni Aku memilihmu, mengangkatmu, melebihkan-mu, dan mengkhususkanmu dengan keutamaan-keutamaan yang besar dan kemuliaan-kemuliaan yang agung, ﴾ بِرِسَٰلَٰتِي ﴿ "untuk mem-bawa risalahKu." Di mana Aku tidak mengkhususkan dan memberi-kannya kecuali kepada orang yang paling mulia, ﴾ وَبِكَلَٰمِي ﴿ "dan untuk berbicara langsung denganKu", tanpa perantara. Ini adalah keutamaan khusus Musa al-Kalim (Rasul Allah yang diajak berbicara langsung oleh Allah) dan dia dikenal di kalangan saudara-saudaranya para rasul yang lain dengan itu. ﴾ فَخُذۡ مَآ ءَاتَيۡتُكَ ﴿ "Sebab itu berpegang teguh-lah kepada apa yang Aku berikan kepadamu." Yakni dari nikmat-nikmat, dan ambillah perintah dan larangan yang Aku berikan kepadamu dengan lapang dada, terimalah ia dengan ketundukan, ﴾ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur," kepada Allah atas apa yang Dia khususkan dan karuniakan kepadamu.
(145) ﴾ وَكَتَبۡنَا لَهُۥ فِي ٱلۡأَلۡوَاحِ مِن كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu", yang dibutuhkan oleh para hamba ﴾ مَّوۡعِظَةٗ ﴿ "sebagai pelajaran" yang mendorong jiwa untuk berbuat kebaikan dan menakutinya untuk berbuat keburukan. ﴾ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan penjelasan bagi segala sesuatu", dari hukum-hukum syar'i, akidah, akhlak dan adab. ﴾ فَخُذۡهَا بِقُوَّةٖ ﴿ "Maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah kepadanya dengan teguh." Yakni dengan sungguh-sungguh dan serius dalam menegakkannya. ﴾ وَأۡمُرۡ قَوۡمَكَ يَأۡخُذُواْ بِأَحۡسَنِهَاۚ ﴿ "Dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya." Yaitu perintah-perintah yang bersifat wajib dan dianjurkan, karena ia adalah yang terbaik. Di dalam penjelasan ini terdapat dalil bahwa perintah Allah dalam setiap syariat adalah sempurna, adil, dan baik. ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ دَارَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Nanti Aku akan memper-lihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik." Setelah Allah mem-binasakan mereka dan menyisakan negeri-negeri mereka sebagai pelajaran sesudah mereka bagi orang-orang Mukmin yang diberi taufik lagi rendah diri.9
(146) Adapun selain mereka, maka Allah berfirman tentang mereka, ﴾ سَأَصۡرِفُ عَنۡ ءَايَٰتِيَ ﴿ "Aku akan memalingkan dari tanda-tanda kekua-saanKu." Yakni dari mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang ada di langit dan yang ada pada diri manusia dan pemahaman terhadap ayat-ayat kitab ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "orang-orang yang menyom-bongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar." Yakni mereka menyombongkan diri kepada hamba-hamba Allah dan kepada kebe-naran serta kepada pembawanya. Siapa saja yang memiliki kriteria ini, maka Allah tidak akan memberikan kebaikan kepadanya, Allah akan menelantarkannya dan dia tidak dapat memahami ayat-ayat Allah yang bermanfaat bagi diri bahkan bisa jadi hakikat-hakikat perkara menjadi jungkir balik baginya yang selanjutnya dia meng-anggap yang buruk sebagai sesuatu yang baik. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ كُلَّ ءَايَةٖ لَّا يُؤۡمِنُواْ بِهَا ﴿ " Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya." Karena mereka berpaling, menyangkal dan menentang Allah dan RasulNya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلرُّشۡدِ ﴿ "Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk", yang lurus dan benar, yaitu jalan yang mengantarkan kepada Allah dan kepada rumah kemuliaan-Nya (surga), ﴾ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗا ﴿ "mereka tidak mau menempuhnya." Yakni mereka tidak mau menitinya dan tidak menyukainya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلۡغَيِّ ﴿ "Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan", yakni kesesatan yang mengantarkan pelakunya kepada rumah kesengsaraan (mereka), ﴾ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗاۚ ﴿ "mereka terus menempuhnya." Penyebab penyimpangan mereka seperti itu karena ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "yang de-mikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya." Penolakan mereka terhadap ayat-ayat Allah, kelalaiannya terhadap maksudnya dan pelecehannya terhadapnya adalah penyebab mereka menempuh jalan kesesatan dan mening-galkan jalan lurus.
(147) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami", yang agung, yang menunjukkan kebenaran rasul-rasul yang telah Kami utus, ﴾ وَلِقَآءِ ٱلۡأٓخِرَةِ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡۚ ﴿ "dan mendus-takan akan menemui Akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka." Karena perbuatan tersebut tidak dilakukan di atas fondasi syariat dan telah hilang darinya syarat diterimanya, yaitu beriman kepada ayat-ayat-Nya dan membenarkan balasanNya. ﴾ هَلۡ يُجۡزَوۡنَ ﴿ "Mereka tidak diberi balasan", tentang amal perbuatan mereka yang sia-sia dan terjadinya apa yang tidak mereka harapkan ﴾ إِلَّا مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "selain dari apa yang telah mereka kerjakan." Sesungguhnya amal perbuatan orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak ada pahala yang di-harapkan padanya dan tidak memiliki tujuan yang dicapai. Oleh karena itu ia batal dan sia-sia.
(148) ﴾ وَٱتَّخَذَ قَوۡمُ مُوسَىٰ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِنۡ حُلِيِّهِمۡ عِجۡلٗا جَسَدٗا ﴿ "Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh", yang dibuat oleh Samiri dan dia masukkan bekas jejak Rasul ke dalamnya, maka ia ﴾ لَّهُۥ خُوَارٌۚ ﴿ "bersuara." Maka mereka pun menyembahnya dan menjadikannya sebagai tuhan. Samiri berkata "Ini adalah tuhanmu dan tuhan Musa. Musa lupa sehingga dia pergi untuk mencarinya." Ini adalah ke-bodohan mereka dan minimnya ilmu mereka. Bagaimana mereka tidak bisa membedakan antara Tuhan langit dan bumi dengan anak sapi makhluk yang paling hina? Oleh karena itu Allah menjelaskan bahwa ia tidak memiliki sifat-sifat dzat dan perbuatan yang me-nunjukkan bahwa ia adalah tuhan. ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمۡ ﴿ "Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka." Bisu adalah kekurangan yang nyata. Mereka sendiri lebih baik keadaannya daripada hewan atau benda mati yang tidak ber-bicara, ﴾ وَلَا يَهۡدِيهِمۡ سَبِيلًاۘ ﴿ "dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?" Yakni ia tidak dapat menunjukkan mereka jalan agama dan tidak dapat menghasilkan kebaikan dunia untuk mereka, kare-na sudah diketahui oleh akal bahwa menyembah tuhan yang tidak bisa bicara, tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat termasuk kebatilan yang paling batil dan kedunguan yang paling dungu. ﴾ ٱتَّخَذُوهُ وَكَانُواْ ظَٰلِمِينَ ﴿ "Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim." Di mana mereka meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya dan menyekutukan Allah tanpa bukti dalil dariNya. Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa siapa yang mengingkari Kalamullah berarti mengingkari kekhususan uluhiyah Allah تعالى, karena Allah menyebutkan bahwa ketidakmam-puan berbicara adalah dalil ketidaklayakannya untuk dijadikan sebagai tuhan.
(149) ﴾ وَلَمَّا ﴿ "Dan manakala", Musa kembali kepada kaum-nya, dia mendapati mereka dalam keadaan tersebut. Musa menje-laskan kesesatan mereka, dan mereka pun menyesal. ﴾ سُقِطَ فِيٓ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Mereka sangat menyesali perbuatannya." Yakni bersedih tanda pe-nyesalan atas perbuatan mereka, ﴾ وَرَأَوۡاْ أَنَّهُمۡ قَدۡ ضَلُّواْ ﴿ "dan mengetahui bahwa mereka telah sesat", mereka pun kembali kepada Allah dan merendahkan diri di hadapanNya. ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ يَرۡحَمۡنَا رَبُّنَا ﴿ "Mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami," dengan membimbing kita kepada jalan yang lurus, memberi taufik kepada ibadah kepadaNya dan kepada amal-amal shalih, ﴾ وَيَغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "dan tidak mengampuni kami", atas dosa menyembah anak sapi yang telah kami lakukan, ﴾ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi," yang merugi di dunia dan di Akhirat.
(150) ﴾ وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا ﴿ "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati." Yakni Musa dipenuhi oleh amarah dan emosi kepada mereka karena kecemburuannya yang besar terhadap Allah تعالى dan kasih sayang serta ketulusan-nya yang sempurna. ﴾ قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ ﴿ "Berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku'." Yakni alangkah buruknya keadaan kalian setelah kepergianku dari kalian, sesungguhnya ia adalah keadaan yang menyeret kepada kebinasaan dan kesengsaraan untuk selama-lamanya. ﴾ أَعَجِلۡتُمۡ أَمۡرَ رَبِّكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu?" Di mana Dia telah menjan-jikan kepadamu untuk menurunkan kitab tetapi kamu tergesa-gesa dengan akalmu yang rusak sehingga melakukan perbuatan buruk ini. ﴾ وَأَلۡقَى ٱلۡأَلۡوَاحَ ﴿ "Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu." Yakni dia melemparnya karena marah. ﴾ وَأَخَذَ بِرَأۡسِ أَخِيهِ ﴿ "Dan memegang (rambut) kepala saudaranya", Harun dan juga jenggotnya, ﴾ يَجُرُّهُۥٓ إِلَيۡهِۚ ﴿ "sambil menariknya ke arahnya." Dan Musa berkata kepadanya, ﴾ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ 92 أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي 93 ﴿ "Apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (se-ngaja) mendurhakai perintahku?" (Thaha: 92-93), kepadamu dengan ucapanku, ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 142 ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (Al-A'raf: 142). Harun menjawab, ﴾ قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي 94 ﴿ "Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak me-melihara amanatku'." (Thaha: 94). Dan di sini Harun menjawab, ﴾ قَالَ ٱبۡنَ أُمَّ ﴿ "Hai anak ibuku", ucapan ini untuk melunakkan Musa dengan hanya menyinggung ibu saja. Namun demikian, sebenarnya dia adalah saudara kandung-nya. ﴾ إِنَّ ٱلۡقَوۡمَ ٱسۡتَضۡعَفُونِي ﴿ "Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah." Yakni mereka meremehkanku ketika aku berkata kepada mereka, "Wahai kaum, kalian hanya difitnah dengannya dan bahwa Rabbmu adalah Allah Yang Maha Rahman, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku. ﴾ وَكَادُواْ يَقۡتُلُونَنِي ﴿ "Dan hampir-hampir mereka membu-nuhku." Yakni janganlah kamu mendugaku lalai. ﴾ فَلَا تُشۡمِتۡ بِيَ ٱلۡأَعۡدَآءَ ﴿ "Sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku", dengan hardikanmu kepadaku dan perlakuan burukmu kepadaku, karena musuh-musuh selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam memunculkan kesalahan dan menemukan kekeliruan pada-ku, ﴾ وَلَا تَجۡعَلۡنِي مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim." Lalu kamu memperlakukanku seperti mereka.
(151) Musa عليه السلام menyesal atas perbuatannya yang terburu-buru terhadap saudaranya sebelum dia mengetahui bahwa sauda-ranya tidak seperti yang dia duga. Musa berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي ﴿ "Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku", Harun. ﴾ وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ ﴿ "Dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu." Yakni di dalamnya, ja-dikanlah rahmatMu meliputi kami dari segala segi karena ia adalah benteng yang kokoh dari segala keburukan dan di sanalah seluruh kebaikan dan kebahagiaan. ﴾ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." Yakni, lebih menyayangi kami dari seluruh penyayang, lebih sayang kepada kami daripada bapak, ibu, anak dan diri kami sendiri.
(152) Allah تعالى menjelaskan keadaan para penyembah anak sapi. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ ٱلۡعِجۡلَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sesembahannya)", yakni sebagai tuhan, ﴾ سَيَنَالُهُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَذِلَّةٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia." Sebagaimana mereka telah membuat Rabb mereka marah dan meremehkan pe-rintahNya. ﴾ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُفۡتَرِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan ke-pada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." Semua pendusta atas nama Allah, pembohong atas syariatNya, dan mengucapkan sesuatu atas namaNya apa yang tidak Dia katakan; akan menda-patkan bagian dari murka Allah dan kehinaan di dunia.
(153) Mereka telah mendapatkan murka dari Allah, di mana Dia memerintahkan mereka membunuh diri mereka, dan bahwa Allah tidak meridhai mereka kecuali dengan itu. Lalu sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain dan pembunuhan tersebut memakan korban yang banyak, kemudian Allah mengampuni me-reka setelah itu. Oleh karena itu Allah menyebutkan hukum secara umum, di mana mereka dan selain mereka masuk ke dalamnya. ﴾ وَٱلَّذِينَ عَمِلُواْ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan", baik dosa syirik, dosa besar, dan dosa kecil, ﴾ ثُمَّ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "kemudian bertau-bat sesudah itu." Yakni mereka menyesalinya, meninggalkannya, dan bertekad tidak kembali mengulangnya ﴾ وَءَامَنُوٓاْ ﴿ "dan beriman", kepada Allah dan kepada apa yang Allah wajibkan untuk diimani, dan iman tidak sempurna kecuali dengan amalan hati dan amalan anggota badan yang merupakan tuntutan iman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "se-sungguhnya Rabbmu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu." Yakni setelah keadaan ini keadaan taubat dari kejahatan dan kem-bali kepada ketaatan, ﴾ لَغَفُورٞ ﴿ "adalah Maha Pengampun", mengam-puni keburukan dan menghapusnya meskipun ia sepenuh jagad, ﴾ رَّحِيمٞ ﴿ "lagi Maha Penyayang," dengan menerima taubat dan mem-beri taufik untuk dapat beramal shalih dan menerimanya.
(154) ﴾ وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلۡغَضَبُ ﴿ "Sesudah amarah Musa menjadi reda." Yakni kemarahannya reda, jiwanya tenang, dan dapat mengu-asai dirinya, maka dia mulai melakukan perkara paling penting padanya, maka dia mengambil ﴾ ٱلۡأَلۡوَاحَۖ ﴿ "Luh-luh (Taurat) itu", yang dia lemparkan, dan ia adalah luh-luh yang mulia dan berukuran besar, ﴾ وَفِي نُسۡخَتِهَا ﴿ "dan dalam tulisannya", yakni mengandung dan berisi ﴾ هُدٗى وَرَحۡمَةٞ ﴿ "petunjuk dan rahmat." Yakni, di dalamnya terda-pat petunjuk dari kesesatan, penjelasan tentang kebenaran dari kebatilan, perbuatan baik dan perbuatan buruk, petunjuk kepada amalan, akhlak, dan adab terbaik, serta rahmat dan kebahagiaan bagi yang melaksanakannya dan mengetahui hukum-hukum dan makna-maknanya. Akan tetapi tidak semua orang mau menerima petunjuk Allah dan RahmatNya. Yang bersedia menerima, menaati, dan tunduk kepadanya adalah ﴾ لِّلَّذِينَ هُمۡ لِرَبِّهِمۡ يَرۡهَبُونَ ﴿ "orang-orang yang takut kepada Rabbnya." Adapun orang yang tidak takut kepada Allah dan tidak pula kepada pengadilan di hadapanNya, maka ia hanya menambah kesombongannya dan penolakannya, dan hujjah Allah pun tegak atasnya.
(155) Dan tatkala Bani Israil bertaubat serta kembali ke jalan mereka yang lurus ﴾ وَٱخۡتَارَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa memilih", dari mereka ﴾ سَبۡعِينَ رَجُلٗا ﴿ "tujuh puluh orang", terbaik di antara mereka untuk memohon maaf kepada Allah bagi kaum mereka. Allah menjanjikan kepada mereka waktu di mana mereka bisa menghadirinya. Manakala me-reka telah hadir, mereka berkata, "Wahai Musa, tunjukkanlah Allah kepada kami secara nyata." Mereka telah berkata sangat lancang kepada Allah, bersikap kurang ajar kepadaNya, maka mereka pun digoncang gempa, sehingga mereka pingsan dan binasa, maka Musa tiada henti-hentinya berdoa merendahkan diri kepada Allah dan berkata, ﴾ رَبِّ لَوۡ شِئۡتَ أَهۡلَكۡتَهُم مِّن قَبۡلُ ﴿ "Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka sebelum ini." Yakni sebelum mereka hadir dan mereka dalam keadaan memohon maaf untuk kaum mereka, justru mereka sekarang menjadi orang-orang yang zhalim. ﴾ أَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَّآۖ ﴿ "Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?" Yakni orang-orang berakal bodoh dan berpikiran pandir. Musa merendahkan diri kepada Allah dan memohon pemakluman karena orang-orang yang berbuat kelancangan tersebut tidak memiliki akal yang sem-purna yang menjaga mereka sehingga mereka tidak mengucapkan dan melakukan demikian, dan bahwa telah terjadi fitnah pada diri mereka yang terlintas pada diri seseorang dan dia khawatir agama-nya akan lenyap. Maka dia berkata, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّا فِتۡنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَآءُ وَتَهۡدِي مَن تَشَآءُۖ أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۖ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡغَٰفِرِينَ ﴿ "Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri pe-tunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." Yakni Engkau adalah sebaik-baik pemaaf, sebaik-baik yang menyayangi, dan semulia-mulia pemberi karunia. Seakan-akan Musa عليه السلام berkata, "Wahai Rabb, yang dimaksud dengan tujuan pertama bagi kami semua adalah menaatiMu dan beriman kepadaMu, dan bahwa orang yang ber-akal, mengerti, dan memahaminya dengan sempurna sesuai dengan taufik yang telah Engkau berikan, maka ia tetap bersikap lurus. Adapun orang yang lemah akalnya, pandir pemikirannya, dan di-belokkan oleh fitnah, maka dialah yang melakukan pelanggaran itu, meskipun demikian Engkau adalah sebaik-baik Penyayang dan sebaik-baik Pengampun, maka ampunilah dan sayangilah kami." Maka Allah mengabulkan permintaan Musa dan menghidupkan mereka setelah mereka mati dan mengampuni dosa-dosa mereka.
(156) Musa menyempurnakan doanya, ﴾ وَٱكۡتُبۡ لَنَا فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ ﴿ "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini", berupa ilmu yang bermanfaat, rizki yang lapang, dan amal yang shalih. ﴾ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dan di Akhirat", yakni dengan kebajikan, yaitu pahala yang Allah sediakan untuk hamba-hambaNya yang shalih. ﴾ إِنَّا هُدۡنَآ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu." Yakni kami kem-bali dengan mengakui kelalaian kami. Kami kembali kepadaMu dalam segala urusan kami. ﴾ قَالَ عَذَابِيٓ أُصِيبُ بِهِۦ مَنۡ أَشَآءُۖ ﴿ "Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki," dari kala-ngan orang yang sengsara yang menentang sebab-sebabnya. ﴾ وَرَحۡمَتِي وَسِعَتۡ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Dan RahmatKu meliputi segala sesuatu," meliputi langit dan bumi, orang baik dan orang jahat, Mukmin dan kafir, tiada makhluk kecuali rahmat Allah telah dia rasakan, karunia dan ke-baikanNya telah dia cicipi, akan tetapi rahmat yang khusus yang berkonsekuensi kepada kebahagiaan dunia dan akhirat tidak dira-sakan oleh semua orang. Oleh karena itu Dia berfirman tentangnya, ﴾ فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ﴿ "Maka akan Aku tetapkan RahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa", dari kemaksiatan besar dan kecil, ﴾ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "yang menunaikan zakat", yang wajib ditunaikan kepada yang ber-hak, ﴾ وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَٰتِنَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami."
(157) Di antara kesempurnaan iman kepada ayat-ayat Allah adalah mengetahui maknanya dan menjalankan konsekuensinya. Termasuk dalam hal ini adalah mengikuti Nabi ﷺ lahir dan batin dalam perkara agama, baik yang ushul (pokok) maupun yang furu' (cabang). ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang meng-ikuti Rasul, Nabi yang ummi." Dikatakan ummi agar nabi-nabi yang lain tidak termasuk di dalamnya, karena yang dimaksud di sini adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib, sementara konteks ayatnya adalah tentang Bani Israil, bahwa iman kepada Nabi Muhammad adalah syarat atas mereka untuk masuk ke dalam iman, bahwa orang-orang yang beriman kepadanya yang mengiku-tinya adalah orang-orang yang mendapatkan rahmat yang mutlak yang telah Allah tulis untuk mereka. Allah menyifatinya dengan ummi karena dia dari bangsa Arab umat yang ummi, tidak menulis dan tidak membaca, dan sebelum al-Qur`an turun mereka tidak memiliki kitab. ﴾ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ ﴿ "Yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka." Dengan nama dan sifatnya di mana yang paling mulia dan paling agung adalah apa yang dia dakwahkan dan apa yang dia larang. ﴾ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf." Yaitu semua yang diketahui kebaikannya, kebagusannya, dan man-faatnya. ﴾ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar." Yaitu semua yang dikenal buruknya menurut akal dan fitrah. Dia memerintahkan mereka untuk shalat, zakat, puasa, haji, silaturahim, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada tetangga dan hamba sahaya, memberikan manfaat kepada seluruh makhluk, kejujuran, kesucian diri, kebaikan, nasihat, dan lain-lain. Dia melarang syirik kepada Allah, membunuh tanpa ala-san yang benar, zina, minum khamar, kezhaliman kepada makhluk lain, dusta, dosa, dan lain-lain. Bukti paling agung bahwa dia adalah Rasul Allah adalah apa yang dia dakwahkan dan dia perintahkan dan apa yang dia larang, apa yang dia halalkan dan apa yang dia haramkan. Dia menghalalkan yang baik-baik dari makanan, mi-numan, dan pernikahan, ﴾ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ ﴿ "dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk", dari makanan, minuman, pernikahan, ucapan dan perbuatan, ﴾ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "dan mem-buang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." Yakni di antara sifatnya adalah bahwa agamanya mudah, ringan, tidak sulit, tidak ada beban, tidak ada belenggu, tidak ada kesulitan, dan tidak ada pembebanan syariat yang berat. ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman kepada-nya, memuliakannya", yakni mengagungkannya dan menghormati-nya. ﴾ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ﴿ "Menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya", yaitu al-Qur`an yang mene-rangi di kegelapan keraguan dan kebodohan, dijadikan pegangan pada saat terjadi pertentangan pendapat. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang beruntung." Yang meraih kebaikan di dunia dan akhirat, yang selamat dari keburukan dunia dan akhirat, karena mereka melakukan sebab keberuntungan terbesar. Adapun orang yang tidak beriman kepada Nabi ummi ini, tidak memuliakannya, tidak menolongnya, dan tidak mengikuti cahaya yang dibawanya, maka dia adalah orang-orang yang merugi.
(158) Manakala ahli Taurat dari Bani Israil diajak untuk me-ngikuti Nabi Muhammad, dan mungkin ada yang mengira bahwa ajakan tersebut hanya terbatas kepada mereka, maka dihadirkan lafazh yang menunjukkan keumuman, maka Allah berfirman, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguh-nya aku adalah utusan Allah kepadamu semua'." Yakni bangsa Arab dan yang non Arab, ahli kitab dan yang bukan ahli kitab. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi." Dia bertindak pada keduanya dengan hukum-hukumNya yang kauniyah, peraturan-peraturan kekuasaanNya, dan hukum-hukum syar'iyah diniyah yang di antaranya adalah bahwa Dia mengutus kepadamu seorang Rasul yang agung yang mengajakmu kepada Allah dan kepada rumah kemuliaanNya (surga), dan memperingat-kanmu dari setiap perkara yang menjauhkanmu dariNya dan dari rumah kemuliaanNya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak di-sembah) selain Dia." Yakni tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan cara beribadah kepadaNya tidak diketahui kecuali melalui rasul-rasulNya. ﴾ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Yang menghidupkan dan mematikan." Yakni di antara PengaturanNya adalah menghidupkan dan mematikan, di mana tidak ada seorang pun yang menyertaiNya dalam hal ini di mana Allah menjadikan kematian sebagai jembatan penyeberangan ke rumah kekekalan di mana barangsiapa yang beriman kepada-nya, pasti akan membenarkan Rasul. ﴾ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ﴿ "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi." Iman dengan hati yang mencakup amal hati dan anggota badan. ﴾ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ ﴿ "Yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-ka-limatNya (kitab-kitabNya)." Yakni berimanlah kepada Rasul yang lurus ini dalam akidah dan perbuatannya. ﴾ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ﴿ "Dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk," kepada kebaikan duniamu dan agamamu, karena jika kamu tidak mengikutinya, maka kamu akan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.
(159) ﴾ وَمِن قَوۡمِ مُوسَىٰٓ أُمَّةٞ ﴿ "Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat." Yakni jamaah, ﴾ يَهۡدُونَ بِٱلۡحَقِّ وَبِهِۦ يَعۡدِلُونَ ﴿ "Yang memberi pe-tunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan." Yakni mereka memberi petunjuk kepada ma-nusia dengan pengajaran dan fatwa kepada mereka dan berlaku adil di antara mereka dalam memutuskan perkara-perkara di an-tara mereka, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 24 ﴿ "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24). Ini menunjukkan keutamaan umat Nabi Musa عليه السلام, dan bahwa Allah تعالى menjadikan di antara mereka orang-orang yang memberi petunjuk dengan perintahNya. Dan sepertinya ayat yang mulia ini hadir untuk menepis kesalahan pemahaman dari penjelasan-penje-lasan sebelumnya, karena dalam ayat-ayat sebelumnya Allah me-nyebutkan sekumpulan aib Bani Israil yang bertentangan dan ber-tabrakan dengan hidayah dan kesempurnaan, mungkin saja ada yang menduga salah bahwa hal itu ada pada Bani Israil semuanya, maka Allah menyebutkan bahwa di antara mereka ada sekelompok orang yang lurus yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk tersebut kepada orang lain.
(160) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمُ ٱثۡنَتَيۡ عَشۡرَةَ أَسۡبَاطًا أُمَمٗاۚ ﴿ "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar." Yakni dua belas suku yang selalu mengenal dan berhubungan baik. Setiap ke-turunan seorang laki-laki dari anak-anak Ya'qub adalah satu suku. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ إِذِ ٱسۡتَسۡقَىٰهُ قَوۡمُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya." Yakni mereka meminta kepada-nya untuk berdoa kepada Allah تعالى agar memberi mereka air untuk minum mereka dan ternak mereka, hal itu karena –wallahu a'lam– mereka berada di daerah minim air. Maka Allah menjawab permin-taan mereka dengan mewahyukan kepada Musa, ﴾ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ ﴿ "Pukullah batu itu dengan tongkatmu." Ada kemungkinan ia adalah batu tertentu, ada kemungkinan ia adalah jenis batu apa saja. Musa memukulnya. ﴾ فَٱنۢبَجَسَتۡ ﴿ "maka memancarlah", dari batu tersebut ﴾ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَيۡنٗاۖ ﴿ "dua belas mata air", mengalir. ﴾ قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٖ مَّشۡرَبَهُمۡۚ ﴿ "Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum ma-sing-masing." Yakni mata air itu terbagi menjadi dua belas sesuai dengan jumlah suku Bani Israil, masing-masing suku dengan mata airnya, mereka mengetahuinya, mereka tenang, terbebas dari kele-lahan dan tanpa berdesak-desakan, dan ini termasuk kesempurnaan nikmat Allah kepada mereka. ﴾ وَظَلَّلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡغَمَٰمَ ﴿ "Dan Kami naungkan awan di atas mereka." Ia melindungi mereka dari panas matahari. ﴾ وَأَنزَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَنَّ ﴿ "Dan Kami turunkan kepada mereka manna", yaitu sesuatu yang manis (seperti madu. Ed) ﴾ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ ﴿ "dan salwa", yaitu daging burung terbaik dan terlezat. Allah mengumpulkan untuk mereka naungan awan, minuman, dan makanan yang enak yaitu manna dan salwa yang didapat tanpa lelah dan capek. Dikatakan kepada mereka, ﴾ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا ﴿ 'Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepadamu'. Mereka tidak menganiaya Kami," manakala mereka tidak bersyukur kepada Allah dan tidak menunaikan apa yang Allah wajibkan atas mereka. ﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." Di mana mereka menyia-nyiakan kebaikan dan menentang resiko keburukan dan azab. Ini terjadi pada masa di mana mereka tersesat dari bumi.
(161) ﴾ وَإِذۡ قِيلَ لَهُمُ ٱسۡكُنُواْ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis)'." Yakni masuklah ke dalamnya agar ia menjadi tempat tinggal dan negerimu, yaitu Ailia (Baitul Maqdis). ﴾ وَكُلُواْ مِنۡهَا حَيۡثُ شِئۡتُمۡ ﴿ "Dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki." Yakni negeri dengan pohon yang lebat dan buah yang banyak serta kehi-dupan yang nyaman. Oleh karena itu Allah memerintahkan mereka agar makan darinya sesuka mereka. ﴾ وَقُولُواْ ﴿ "Dan katakanlah", ketika kamu masuk, ﴾ حِطَّةٞ ﴿ "Bebaskanlah kami dari dosa kami." Yakni ha-puskanlah kesalahan kami dan maafkanlah kami. ﴾ وَٱدۡخُلُواْ ٱلۡبَابَ سُجَّدٗا ﴿ "Dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk." Yakni dengan merendahkan diri kepada Allah, mengakui kebesaranNya dan mensyukuri nikmatNya. Allah memerintahkan mereka agar tunduk dan memohon ampunan, dan menjanjikan mereka ampunan atas dosa-dosa mereka dan pahala di dunia dan Akhirat. Dia berfirman, ﴾ نَّغۡفِرۡ لَكُمۡ خَطِيٓـَٰٔتِكُمۡۚ سَنَزِيدُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik." Dari kebaikan dunia dan akhirat.
(162) Mereka tidak menggubris perintah Ilahi ini, justru orang-orang zhalim dari mereka merubahnya, yakni mereka me-langgar dan meremehkan perintah Allah. ﴾ قَوۡلًا غَيۡرَ ٱلَّذِي قِيلَ لَهُمۡ ﴿ "dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka", sebagai ganti meminta ampun dan mengucapkan "hiththah", mereka berkata, "Satu biji gandum." Jika mereka merubah ucapan meski ia sangat mudah, maka mereka lebih berani lagi merubah perbuatan. Oleh karena itu mereka masuk dengan cara mengesot. ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka Kami timpakan kepada mereka", ketika mereka menyelisihi perintah Allah dan durhaka kepadaNya, ﴾ رِجۡزٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "azab dari langit." Yakni azab yang berat, bisa jadi tha'un atau azab dari langit yang lain, Allah tidak menzhalimi mereka dengan azabNya, akan tetapi hal itu ﴾ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ﴿ "disebabkan kezhaliman mereka."
(163) ﴾ وَسۡـَٔلۡهُمۡ عَنِ ٱلۡقَرۡيَةِ ٱلَّتِي كَانَتۡ حَاضِرَةَ ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut", di pantai ketika mereka melanggar dan Allah menghukum mereka ﴾ إِذۡ يَعۡدُونَ فِي ٱلسَّبۡتِ ﴿ "ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu." Padahal Allah تعالى telah memerintahkan mereka agar menghormatinya dan mengagungkannya dengan tidak menangkap ikan pada hari itu, lalu Allah menguji mereka, di mana pada Hari Sabtu ikan-ikan be-sar muncul di permukaan laut dalam jumlah yang banyak. ﴾ وَيَوۡمَ لَا يَسۡبِتُونَ ﴿ "Dan di hari-hari yang bukan Sabtu." Yakni jika Hari Sabtu berlalu ﴾ لَا تَأۡتِيهِمۡۚ ﴿ "ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka." Yakni ia menghilang dan mereka tidak melihat seekor pun. ﴾ كَذَٰلِكَ نَبۡلُوهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka ber-laku fasik." Kefasikan mereka yang menyebabkan Allah menguji mereka dengan ujian tersebut, karena jika mereka tidak demikian, niscaya Allah membebaskan mereka dan tidak menimpakan ujian dan keburukan kepada mereka.
(164) Namun mereka tetap berburu dengan membuat tipuan, mereka menggali lubang-lubang dan memasang jaring-jaring, jika Hari Sabtu tiba, maka ikan-ikan itu tertangkap ke dalam lubang-lubang dan jaring-jaring tersebut, tetapi mereka tidak mengambil-nya pada hari itu, jika Hari Ahad tiba, maka mereka mengambilnya dan hal itu sering terjadi pada mereka. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Mayoritas dari mereka tidak mengindahkan dan mereka melanggar secara terang-terangan. Kelompok kedua melarang dan mengingkari perbuatan kelompok mayoritas. Dan kelompok ketiga merasa cukup dengan apa yang dilakukan oleh kelompok kedua. Kelompok ini berkata, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Sepertinya mereka berkata, "Tidak ada gunanya menasihati orang yang berani melang-gar larangan Allah dan tidak menghiraukan nasihat yang tulus, tetapi justru tetap teguh di atas pelanggaran dan kezhaliman, karena Allah pasti akan menghukum mereka, baik dengan kebinasaan atau azab yang pedih." Orang-orang yang memberi nasihat menjawab, "Kami melarang dan menasihati mereka, ﴾ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ ﴿ 'agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu.' Yakni agar kami dimaafkan berkenaan dengan apa yang mereka lakukan, ﴾ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "dan supaya mereka bertakwa." Yakni mereka meninggal-kan kemaksiatan yang mereka lakukan. Maka kami tidak berputus asa dari usaha memberi petunjuk kepada mereka, bisa jadi nasihat kami mujarab pada mereka, larangan kami didengar oleh mereka, dan inilah tujuan terbesar dari pengingkaran terhadap kemungka-ran, agar ia berfungsi sebagai alasan dan penegakan hujjah atas yang diperintah dan yang dilarang, dan semoga Allah memberinya petunjuk lalu dia melaksanakan tuntutan dari perintah dan lara-ngan tersebut.
(165) ﴾ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦٓ ﴿ "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperintahkan kepada mereka." Mereka meninggalkan apa yang diperingatkan kepada mereka dan mereka terus berjalan di atas pelanggaran dan kesesatan. ﴾ أَنجَيۡنَا ٱلَّذِينَ يَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلسُّوٓءِ ﴿ "Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat." Begitulah sunnah Allah pada hamba-hambaNya, bahwa jika azab telah turun, maka yang selamat adalah orang-orang yang beramar ma'ruf dan bernahi mungkar. ﴾ وَأَخَذۡنَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim." Yaitu orang-orang yang melanggar pada Hari Sabtu ﴾ بِعَذَابِۭ بَـِٔيسِۭ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik." Adapun kelompok yang lain yang berkata kepada orang-orang yang melarang, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka." Maka ahli tafsir berbeda pen-dapat tentang apakah mereka selamat atau tidak, dan sepertinya mereka itu selamat, karena Allah mengkhususkan kebinasaan bagi orang-orang yang zhalim, sedangkan Dia tidak menyatakan mereka sebagai orang-orang yang zhalim. Ini menunjukkan bahwa azab hanya menimpa orang-orang yang melanggar di Hari Sabtu saja. Di samping itu amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah fardhu ki-fayah. Jika ia telah ditunaikan oleh sebagian orang, maka ia gugur dari sebagian yang lain, maka mereka merasa cukup dengan peng-ingkaran orang-orang yang mengingkari, dan karena sebenarnya mereka juga mengingkari dengan ucapan mereka, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" (Al-A'raf: 164). Mereka menampakkan kemarahan kepada orang-orang zhalim itu yang menunjukkan bahwa mereka sangat membenci perbuatan mereka dan bahwa Allah akan mengazab mereka atasnya.
(166) ﴾ فَلَمَّا عَتَوۡاْ عَن مَّا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya." Yakni, hati mereka keras, menolak dan tidak mau menerima nasihat. ﴾ قُلۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Kami katakan kepadanya", dengan perkataan sebagai takdir. ﴾ كُونُواْ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ ﴿ "Jadilah kamu kera yang hina." Mereka berubah menjadi kera dengan izin Allah dan Allah menjauhkan mereka dari RahmatNya.
(167) Kemudian Allah menyebutkan kehinaan dan kenis-taan yang menimpa orang-orang yang tersisa dari mereka. Dia ber-firman, ﴾ وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberitahukan", dengan pemberitahuan yang jelas, ﴾ لَيَبۡعَثَنَّ عَلَيۡهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَن يَسُومُهُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِۗ ﴿ "bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya." Yakni yang menghina-kan dan merendahkan mereka. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Sesunggguhnya Rabbmu amat cepat siksaNya", kepada orang yang mendurhakaiNya, bahwa Dia bisa menyegerakan hukuman di dunia kepadanya. ﴾ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang," bagi yang kembali dan bertaubat kepadaNya. Dia mengam-puni dosanya dan menutupi aib-aibnya, menyayanginya dengan menerima ketaatan dan membalasnya dengan berbagai macam balasan. Allah telah merealisasikan janjiNya pada mereka, maka mereka selalu dalam kehinaan dan kerendahan dijajah oleh bangsa lain, tidak ada panji dan bendera mereka yang tegak dengan kokoh.
(168) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أُمَمٗاۖ ﴿ "Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan." Yakni Kami memecah dan mencerai-beraikan mereka setelah sebelumnya mereka berkumpul. ﴾ مِّنۡهُمُ ٱلصَّٰلِحُونَ ﴿ "Di antaranya ada orang-orang yang shalih." Yaitu orang-orang yang melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-ham-baNya. ﴾ وَمِنۡهُمۡ دُونَ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Dan di antaranya ada yang tidak demikian." Yakni di bawah yang pertama. Bisa jadi mereka adalah orang-orang pertengahan, dan bisa pula orang-orang yang menzhalimi diri me-reka. ﴾ وَبَلَوۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami coba mereka", berdasarkan kebiasaan dan sunnah Kami, ﴾ بِٱلۡحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk." Yakni dengan kemudahan dan kesu-litan ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "agar mereka kembali (kepada kebenaran)", dari kese-satan di mana mereka berada di dalamnya, dan mereka berpegang kepada petunjuk yang karenanya mereka diciptakan. Di antara mereka selalu ada orang yang baik, tengah-tengah, dan yang buruk.
(169) ﴾ فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٞ وَرِثُواْ ﴿ "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi", sesudah mereka ﴾ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Taurat." Mereka memperlakukan kitab itu menurut hawa nafsu mereka. Mereka disodori harta agar mereka memberi fatwa dan memutus-kan hukum dengan cara yang tidak benar, suap merajalela di ka-langan mereka, ﴾ يَأۡخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا ٱلۡأَدۡنَىٰ وَيَقُولُونَ ﴿ "Yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata", mereka mengakui bahwa ia ada-lah dosa dan bahwa mereka adalah orang-orang zhalim, ﴾ سَيُغۡفَرُ لَنَا ﴿ "Kami akan diberi ampun." Ini adalah omong kosong, ia bukan istighfar dan minta ampun yang sebenarnya. Jika memang demikian, niscaya mereka akan menyesal atas apa yang mereka perbuat dan mereka berniat kuat untuk tidak mengulanginya, akan tetapi jika ada harta dan suap lain, maka mereka mengambilnya, mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, mereka mengganti yang baik dengan yang buruk. Allah تعالى mengingkari mereka dan menjelaskan kelancangan mereka. ﴾ أَلَمۡ يُؤۡخَذۡ عَلَيۡهِم مِّيثَٰقُ ٱلۡكِتَٰبِ أَن لَّا يَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّ ﴿ "Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar?" Lalu mengapa mereka berkata atas namaNya tanpa kebenaran karena mengikuti hawa nafsu dan cenderung kepada ambisi mereka, ﴾ وَ﴿ "dan" se-benarnya mereka ﴾ وَدَرَسُواْ مَا فِيهِۗ ﴿ "telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?" tidak ada persoalan atas mereka padanya, justru mereka melakukan perbuatan mereka itu dalam keadaan sengaja dan me-ngetahui. Ini lebih besar dosanya, lebih buruk celaannya, dan lebih berat siksanya. Ini termasuk kebodohan akal mereka dan keren-dahan pikiran mereka, karena mereka lebih mementingkan dunia daripada akhirat. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ ﴿ "Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa." Dengan menjauhi penghasilan yang bersumber dari suap atas pe-netapan hukum berdasar kepada selain yang diturunkan oleh Allah dan perkara-perkara haram lainnya. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?" Yakni apakah kalian tidak mempunyai akal yang dengannya kalian menimbang apa yang semestinya lebih di-pentingkan, apa yang lebih berhak untuk diusahakan dan didahu-lukan? Tugas akal adalah melihat kepada akibat dari sesuatu. Ada-pun orang yang berpandangan dangkal lagi pendek, dia tidak dapat meraih nikmat agung yang kekal, di mana akal dan pikirannya?
(170) Orang-orang yang berakal sebenar-benarnya adalah orang-orang yang dicitrakan oleh Allah dengan FirmanNya, ﴾ وَٱلَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat)." Yakni berpegang teguh dari segi ilmu dan amal, mereka mengetahui hukum-hukum dan berita-berita yang dikandungnya, di mana ilmu tentang itu adalah ilmu yang termulia, mereka men-jalankan perintah-perintah yang dikandungnya yang merupakan ketenangan, kebahagiaan hati dan jiwa serta kemenangan dunia dan akhirat. Dan di antara perintah-perintah agung yang wajib di-pegang adalah mendirikan shalat secara lahir dan batin. Oleh karena itu Allah menyebutkannya secara khusus karena keutamaannya dan kemuliaannya, dan bahwa ia adalah timbangan amal dan penega-kannya mendorong kepada penegakan ibadah-ibadah yang lain. Karena seluruh amal mereka adalah baik, maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan," dalam perkataan, perbuatan, dan niat mereka, memperbaiki diri dan orang lain. Ayat ini dan yang sepertinya menunjukkan bahwa Allah mengutus para rasulNya k dengan kebaikan bukan kerusakan, dengan manfaat bukan mudarat, mereka diutus dengan kebaikan dunia dan akhirat. Jadi, semakin seseorang itu baik, maka dia sema-kin dekat kepada sikap mengikuti mereka.
(171) Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ نَتَقۡنَا ٱلۡجَبَلَ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka", ketika mereka menolak apa yang ada di dalam Taurat, Dia mewajibkan mereka beramal dan mengangkat gunung di atas mereka, maka gunung pun di atas mereka, ﴾ كَأَنَّهُۥ ظُلَّةٞ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُۥ وَاقِعُۢ بِهِمۡ ﴿ "seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka." Dan dikatakan kepada mereka, ﴾ خُذُواْ مَآ ءَاتَيۡنَٰكُم بِقُوَّةٖ ﴿ "Peganglah dengan teguh apa yang telah kami berikan kepadamu." Yakni dengan serius dan sungguh-sungguh ﴾ وَٱذۡكُرُواْ مَا فِيهِ ﴿ "serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya", dengan mengkaji dan mempelajari serta mengamalkannya ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa", jika kamu melakukan itu.
Al-A'raf 7:170
"Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu memba-wa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah ba-gaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Musa berkata, 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam, wajib atasku tidak berkata atas Nama Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu de-ngan membawa bukti yang nyata dari Rabbmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku'." (Al-'Araf: 103-105). "Fir'aun menjawab, 'Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.' Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu se-ketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu men-jadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata, 'Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluar-kan kamu dari negerimu.' (Fir'aun berkata), 'Maka apakah yang kamu anjurkan?' Pemuka-pemuka itu menjawab, 'Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka mem-bawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai'." (Al-'Araf: 106-112). "Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun menga-takan, '(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?' Fir'aun menjawab, 'Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepa-daku).' Ahli-ahli sihir berkata, 'Hai Musa, kamukah yang akan melempar lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?'" (Al-'Araf: 113-115). "Musa menjawab, 'Lemparkanlah (lebih dahulu)!' Maka tat-kala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang-orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatang-kan sihir yang besar (menakjubkan).' Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekonyong-konyong tong-kat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina'." (Al-A'raf: 116-119). "Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu, sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan pendu-duknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya'." (Al-A'raf: 120-124). "Ahli-ahli sihir itu menjawab, 'Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.' (Mereka berdoa), 'Ya Rabb ka-mi, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu).' Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun), 'Apakah kamu mem-biarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilah-ilahmu.' Fir'aun menjawab, 'Akan kita bunuh anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita ber-kuasa penuh di atas mereka.' Musa berkata kepada kaumnya, 'Mo-honlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah yang dipusakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa'." (Al-A'raf: 125-128). "Kaum Musa berkata, 'Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) se-belum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.' Musa menjawab, 'Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khafilah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.' Dan sesungguhnya kami telah menghu-kum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kema-rau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab ke-sialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Keta-huilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-A'raf: 129-131). "Mereka berkata, 'Bagaimanapun kamu mendatangkan kete-rangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.' Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersa-mamu.' Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya." (Al-A'raf: 132-135). "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelam-kan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah tertindas itu negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang te-lah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka." (Al-A'raf: 136-137). "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang sedang me-nyembah berhala mereka, Bani Israil berkata, 'Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempu-nyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab, 'Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat tuhan). Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.' Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas se-gala umat. Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamat-kanmu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lela-kimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Rabbmu'." (Al-A'raf: 138-141). "Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurna-lah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam. Dan berkatalah Musa kepada saudaranya yaitu Harun, 'Gantikan-lah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan jangan-lah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.' Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu.' Rabb berfirman, 'Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala) niscaya kamu dapat melihatKu.' Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, 'Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepadaMu dan aku orang yang pertama-tama beriman'." (Al-A'raf: 142-143). "Allah berfirman, 'Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (me-lebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk mem-bawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.' Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah padanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik'." (Al-A'raf: 144-145). "Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri-nya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda ke-kuasaanKu. Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan me-reka selalu lalai dari padanya." (Al-A'raf: 146). "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan. Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gu-nung Thur, membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengeta-hui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim. Dan setelah mereka sangat menyesali perbua-tannya dan mengetahui bahwa mereka sesat, mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 147-149). "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu.' Dan Musa melemparkan luh-luh (Tau-rat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata, 'Hai anak ibuku, sesung-guhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka mau membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim.' Musa berdoa, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.' Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." (Al-A'raf: 150-152). "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian ber-taubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Rabb kamu, sesu-dah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesudah amarah Musa menjadi reda, maka dia mengambil (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisan-nya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Rabbnya. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari ka-umnya untuk (memohon taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, 'Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Eng-kau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami. Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 153-155). "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu. Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku ke-hendaki dan rahmatKu meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang me-nunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami'." (Al-A'raf: 156). "(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-A'raf: 157). "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.' Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (ke-pada manusia) dengan hak dan dengan hak itulah mereka menja-lankan keadilan." (Al-A'raf: 158-159). "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar, dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu!' Maka memancarlah dari padanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka, dan Kami tu-runkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman), 'Ma-kanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepada-mu.' Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." (Al-A'raf: 160). "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.' Dan katakanlah, 'Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbang-nya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesa-lahanmu.' Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang yang zhalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dika-takan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezhaliman mereka." (Al-A'raf: 161-162). "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikian-lah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, 'Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras?' Mereka menjawab, 'Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertakwa'." (Al-A'raf: 163-164). "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepada mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina.' Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberita-hukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesung-guhnya Rabbmu amat cepat siksaNya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shalih dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (Al-A'raf: 165-168). "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata, 'Kami akan diberi ampun.' Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan menga-takan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti. Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pa-hala), karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan." (Al-A'raf: 169-170). "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas me-reka seakan-akan bukit naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), 'Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa'." (Al-A'raf:171).
(103) Yakni, kemudian Kami mengutus setelah para rasul itu, Musa yang pernah diajak berbicara langsung oleh Allah, pe-mimpin yang agung, seorang Rasul yang mulia kepada kaum yang bengal lagi sombong yaitu Fir'aun dan para pemuka kaumnya serta bala tentaranya, maka Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya yang besar yang tidak ada tandingannya, ﴾ فَظَلَمُواْ بِهَاۖ ﴿ "Lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu." Dengan tidak tunduk kepada ke-benarannya, di mana siapa yang tidak tunduk kepadanya maka dia adalah orang zhalim, namun justru menyombongkan diri kepada-nya. ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan." Bagaimana Allah membinasa-kan mereka dan menambahkan celaan dan laknat atas mereka di dunia, dan pada Hari Kiamat mereka akan mendapatkan seburuk-buruk pemberian.
(104) Ini adalah pernyataan global yang diperinci dengan FirmanNya, ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Dan Musa berkata", manakala dia datang kepada Fir'aun untuk mengajaknya kepada iman, ﴾ يَٰفِرۡعَوۡنُ إِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam." Yakni, aku adalah Rasul dari Pengutus yang Agung yaitu Rabb semesta alam, alam tinggi dan alam rendah, Pengurus seluruh makhlukNya dengan berbagai macam tatanan Ilahiyah, yang di antaranya adalah bahwa Dia tidak membiarkan mereka hidup secara sia-sia, tetapi Dia mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, di mana tidak seorang pun yang berani atasnya dan mengklaim bahwa Dia mengutusnya pa-dahal tidak mengutusnya.
(105) Jika urusannya memang begitu, sedangkan aku telah dipilih dan diangkat untuk memikul risalahNya, maka tidak se-pantasnya bagiku untuk berdusta atasNya dan tidak mengatakan atasNya kecuali kebenaran, karena jika aku berkata selain itu, maka Dia pasti menyegerakan hukuman kepadaku, dan pasti Dia akan mengazabku dengan azab dari Yang Mahaperkasa lagi Maha Ber-kuasa. Ini merupakan kenyataan yang mengharuskan mereka un-tuk tunduk dan mengikutinya, lebih-lebih dia telah datang kepada mereka dengan bukti kuat dari Allah yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawanya, maka wajib atas mereka menjalankan tujuan risalahnya yang merupakan dua tujuan besar, yaitu agar mereka beriman kepadaNya, mengikutiNya dan melepaskan Bani Israil, bangsa yang diberi keutamaan oleh Allah, putra-putra para nabi dan keturunan Ya'qub, di mana Musa عليه السلام adalah salah satu dari mereka.
(106) Fir'aun menjawab, ﴾ إِن كُنتَ جِئۡتَ بِـَٔايَةٖ فَأۡتِ بِهَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar."
(107) ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya", di tanah. ﴾ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ ﴿ "Lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya." Yakni, ular yang nyata merayap dan mereka me-nyaksikannya.
(108) ﴾ وَنَزَعَ يَدَهُۥ ﴿ "Dan ia mengeluarkan tangannya", dari saku-nya, ﴾ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ ﴿ "maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." Tanpa aib. Ini adalah dua mukjizat besar yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawa oleh Musa dan bahwa dia adalah benar-benar utusan Rabbul 'Alamin.
(109) Akan tetapi orang-orang yang tidak beriman, seandai-nya semua ayat datang kepada mereka, mereka tetap tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih. Oleh karena itu, ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata", manakala mereka terkagum-kagum dengan mukjizat, tetapi mereka tidak mau ber-iman, maka mereka mencari-cari takwil yang rusak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَسَٰحِرٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai." Yang pintar menyihir.
(110) Kemudian mereka itu menakut-nakuti orang-orang yang berakal lemah lagi bodoh bahwa Musa, ﴾ يُرِيدُ ﴿ "bermaksud hen-dak", dengan perbuatannya tersebut ﴾ أَن يُخۡرِجَكُم مِّنۡ أَرۡضِكُمۡۖ ﴿ "mengeluarkan-mu dari negerimu." Yakni dia ingin mengusirmu dari tanah tumpah darahmu. ﴾ فَمَاذَا تَأۡمُرُونَ ﴿ "Fir'aun berkata, 'Maka apakah yang kamu an-jurkan?'" Yakni mereka saling bertukar pikiran di antara mereka terkait dengan apa yang dilakukan oleh Musa dan bagaimana cara menangkis kemudaratan –menurut klaim mereka– dari mereka, karena jika apa yang dibawa oleh Musa tidak ditangkal dan diban-tah, maka bisa-bisa ia menyusup ke pikiran banyak orang.
(111-112) Pada saat itu pendapat mereka bersatu dengan mengatakan kepada Fir'aun, ﴾ أَرۡجِهۡ وَأَخَاهُ ﴿ "Beri tangguhlah dia dan sau-daranya." Yakni tahan dan beri mereka berdua waktu, dan utuslah orang-orang ke penjuru kota untuk mengumumkan kepada pen-duduknya agar mereka menghadirkan semua penyihir yang ahli, yakni mereka mendatangkan para penyihir yang mumpuni, untuk melawan apa yang dibawa oleh Musa, maka mereka berkata, ﴾ فَٱجۡعَلۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 قَالَ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ثُمَّ أَتَىٰ 60 ﴿ "'(Wahai Musa), buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah ma-nusia dikumpulkan pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemu-dian dia datang." (Thaha: 58-60).
(113) Di sini Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan be-berapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun." Menuntut balasan (upah) jika mereka menang. Mereka berkata, ﴾ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبِينَ ﴿ "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?"
(114) Fir'aun menjawab, ﴾ نَعَمۡ ﴿ "Ya", kamu akan mendapat imbalan. ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)." Fir'aun menjanjikan balasan, kedekatan, dan kedudukan tinggi di sisinya agar mereka serius dan mengeluarkan segala daya dan upaya mereka dalam mengalahkan Musa.
(115) Manakala mereka hadir bersama Musa di depan kha-layak yang berjumlah besar, ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata", dengan ber-sumpah tanpa memandang sama sekali kepada apa yang dibawa oleh Musa, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "Hai Musa kamukah yang akan melempar-kan lebih dahulu", apa yang ada padamu, ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ نَحۡنُ ٱلۡمُلۡقِينَ ﴿ "ataukah kami yang akan melemparkan?"
(116) Musa menjawab, ﴾ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Lemparkanlah (lebih dahulu)." Agar orang-orang melihat apa yang mereka miliki dari apa yang Musa miliki. ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka tatkala mereka melemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka sehingga nampak menjadi seperti ular yang melata, mereka menyulap, ﴾ أَعۡيُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٖ ﴿ "mata orang-orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan)." Sihir yang tak tertandingi.
(117) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu'." Maka Musa melemparkannya, ﴾ فَإِذَا هِيَ ﴿ "maka sekonyong-konyong tongkat itu menjadi", ular yang melata, maka ia menelan sulap mereka, yakni kebohongan dan kedustaan mereka.
(118) ﴾ فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Karena itu nyatalah yang benar", yakni jelas dan nyata serta unggul di perkumpulan itu, ﴾ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dan batallah yang selalu mereka kerjakan."
(119) ﴾ فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ ﴿ "Maka mereka kalah di tempat itu." Yakni di pertandingan itu, ﴾ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ ﴿ "dan jadilah mereka orang-orang yang hina", lagi dina. Kebatilan mereka terkikis dan sihir mereka kalah dan mereka gagal mendapat apa yang mereka ingin dapatkan.
(120-122) Orang yang paling jelas mengetahui kebenaran yang agung adalah orang-orang yang berpikiran obyektif dan ahli sihir yang mengetahui macam-macam sihir dan detail-detailnya yang tidak diketahui oleh selain mereka. Mereka mengetahui bahwa itu adalah mukjizat besar dari Allah, tak ada yang mampu menan-dinginya, maka ﴾ وَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ 120 قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam (yaitu) Rabb Musa dan Harun'." Yakni kami membenarkan ayat-ayat yang jelas yang di-bawa oleh Musa.
(123) ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata", kepada mereka dengan mengancam karena iman mereka, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Orang busuk ini adalah penguasa otoriter yang sewenang-wenang dalam mem-perlakukan fisik dan pendapat rakyatnya. Telah menjadi semacam ketetapan baginya dan rakyatnya bahwa pendapatnya harus didengar dan perintahnya harus terlaksana, tak seorang pun boleh keluar dari ucapan dan hukumnya. Dengan kondisi seperti ini mental mereka merosot, akal dan tindakan mereka lemah, serta tidak mampu membela hak-hak mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman tentangnya, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya." (Az-Zukhruf: 54). Di sini dia berkata, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Ini adalah sikap ke-kurangajaran darimu dan kelancangan kepadaku. Kemudian dia mengaburkan sikap kaumnya dengan berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَمَكۡرٞ مَّكَرۡتُمُوهُ فِي ٱلۡمَدِينَةِ لِتُخۡرِجُواْ مِنۡهَآ أَهۡلَهَاۖ ﴿ "Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduk-nya dari padanya." Yakni sesungguhnya Musa adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir, kamu telah bersepakat dengannya di mana seakan-akan kalian tunduk padanya, lalu dia menang dan kamu mengikutinya, kemudian orang-orang atau mayoritas dari mereka mengikutimu, lalu kamu mengusir penduduknya darinya. Ini ada-lah kedustaan yang dia sendiri dan orang-orang yang mengetahui situasi, mengetahui bahwa Musa tidak bersekongkol dengan siapa pun dari mereka. Bahwa mereka itu dikumpulkan menurut perin-tah Fir'aun melalui kaki tangannya. Bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah mukjizat Ilahiyah. Bahwa ahli sihir itu telah mengeluar-kan segala kemampuan mereka untuk mengalahkan Musa namun mereka kalah, lalu kebenaran menjadi jelas bagi mereka dan mereka pun mengikutinya. Kemudian Fir'aun mengancam mereka dengan mengatakan, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuat-anmu ini)." Yakni, hukuman yang aku siapkan untukmu.
(124) ﴾ لَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Sesungguhnya aku akan memo-tong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik." Orang busuk ini mengklaim bahwa mereka sebagai perusak di muka bumi, di mana dia akan memperlakukan mereka layaknya orang-orang yang merusak, dipotong tangan dan kaki secara berselang-seling, yakni tangan kanan dan kaki kiri. ﴾ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمۡ ﴿ "Kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalibmu", di batang pohon kurma agar kamu kapok -menurut anggapannya- ﴾ أَجۡمَعِينَ ﴿ "semua." Yakni aku mem-perlakukan ini tidak hanya kepada beberapa orang saja, akan tetapi semuanya akan mendapatkannya.
(125) Para penyihir yang beriman itu berkata kepada Fir'aun yang mengancam mereka, ﴾ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ ﴿"Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali." Yakni kami tidak peduli dengan hukumanmu. Allah lebih baik dan lebih kekal, lakukan saja apa yang kamu mau.
(126) ﴾ وَمَا تَنقِمُ مِنَّآ ﴿ "Dan kamu tidak menyalahkan kami." Yakni kamu tidak mencela kami atas pengingkaranmu kepada kami dan ancamanmu kepada kami, kami tidak mempunyai dosa, ﴾ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتۡنَاۚ ﴿ "melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami." Jika ini memang dosa yang dicela atasnya dan pelakunya berhak atas hukuman, maka ini adalah dosa kami. Kemudian mereka memohon kepada Allah agar memberi mereka keteguhan dan kesabaran, mereka ber-kata, ﴾ رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا ﴿ "Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami." Yakni kesabaran yang besar. Ini ditunjukkan oleh kata صَبْرًا dengan bentuk nakirah karena ini adalah ujian besar yang berujung kepada kematian, maka ia memerlukan kesabaran besar agar hati tetap teguh dan orang mukmin tetap tenang dengan imannya serta agar kepanikan sirna darinya. ﴾ وَتَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ ﴿ "Dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu)." Yakni dalam keadaan tun-duk kepada perintahMu dan mengikuti RasulMu. Dan yang zahir bahwa ancaman Fir'aun benar-benar dilakukan kepada mereka dan bahwa Allah meneguhkan mereka di atas iman.
(127) Fir'aun dengan kaki tangannya dan mayoritas dari mereka yang mengikuti para pembesar di kalangan mereka telah menyombongkan diri di depan ayat-ayat Allah dan mengingkari-nya karena kezhaliman dan kesombongan. Mereka berkata kepada Fir'aun dalam rangka menghasutnya agar mengazab Musa dengan alasan bahwa apa yang dibawanya adalah batil dan merupakan kerusakan di muka bumi, ﴾ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوۡمَهُۥ لِيُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir)," dengan dakwah menyeru agar mereka beriman kepada Allah, kepada kemuliaan akhlak dan kebaikan amal yang merupa-kan kebaikan di muka bumi? Justru merekalah yang berada di atas kerusakan, akan tetapi orang-orang zhalim bersikap masa bodoh terhadap apa yang mereka katakan. ﴾ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَۚ ﴿ "Dan meninggal-kanmu serta tuhan-tuhanmu." Yakni membiarkanmu dan tuhan-tu-hanmu, dia melarangmu dan menghalang-halangi manusia dari mengikutimu. Maka Fir'aun menjawab mereka dengan mengata-kan bahwa dia akan membiarkan Musa dengan Bani Israil dalam kondisi di mana mereka tidak dapat berkembang, dan Fir'aun de-ngan kaki tangannya merasa aman dari bahaya mereka. Katanya, ﴾ سَنُقَتِّلُ أَبۡنَآءَهُمۡ وَنَسۡتَحۡيِۦ نِسَآءَهُمۡ ﴿ "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka." Yakni kita membiar-kan anak-anak perempuan itu hidup, kita tidak membunuhnya. Jika kita melakukan itu, maka kita akan aman dari kekuatan me-reka yang berjumlah banyak, sisanya kita perbudak dan kita atur sesuai dengan kehendak kita. ﴾ وَإِنَّا فَوۡقَهُمۡ قَٰهِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka." Mereka tidak memiliki kemam-puan untuk melepaskan diri dari hukum kita. Ini adalah puncak kesombongan, kezhaliman, dan kebengisan Fir'aun.
(128) ﴾ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ﴿ "Maka Musa berkata kepada kaumnya," me-wasiatkan kepada mereka dalam keadaan tersebut di mana mereka tidak memiliki apa pun untuk melawan, dengan perlawanan Ila-hiyah dan bantuan Rabbaniyah. ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah." Yakni bersandarlah kepadaNya dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu dan menolak apa yang memudaratkan-mu. Percayalah kepada Allah bahwa Dia akan menyempurnakan perkaramu, ﴾ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ ﴿ "Dan bersabarlah." Yakni pegang teguhlah ke-sabaran atas apa yang menimpamu dengan berharap kelapangan di balik ujian ini. ﴾ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ ﴿ "Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah." Bukan milik Fir'aun, bukan pula milik kaumnya sehingga mereka bisa semena-mena di atasnya. ﴾ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Dipu-sakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya." Yakni merotasinya di antara manusia menurut hikmah dan kehen-dakNya, akan tetapi kesudahan yang baik tetap milik orang-orang yang bertakwa. Walaupun mereka itu diuji beberapa lama berda-sarkan hikmah dari Allah, tetapi kemenangan adalah milik mereka. ﴾ وَٱلۡعَٰقِبَةُ ﴿ "Dan kesudahan yang baik", adalah untuk mereka. Ini ada-lah tugas seorang hamba, di mana pada waktu memiliki kemam-puan, dia harus melakukan cara untuk menolak gangguan orang lain dari dirinya sebatas kemampuan itu dan pada saat lemah hen-daknya dia bersabar, memohon pertolongan kepada Allah dan menunggu datangnya kelapangan.
(129) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa mengeluhkan siksaan Fir'aun yang menimpa mereka dalam kurun waktu yang lama, ﴾ أُوذِينَا مِن قَبۡلِ أَن تَأۡتِيَنَا ﴿ "Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami." Mereka menimpakan siksaan yang buruk kepada kami, mereka membunuh anak-anak laki-laki kami dan membiarkan anak-anak perempuan kami, ﴾ وَمِنۢ بَعۡدِ مَا جِئۡتَنَاۚ ﴿ "dan se-sudah kamu datang", juga demikian. Musa menjawab mereka dengan memberi harapan kemenangan dan kebebasan dari kejahatan me-reka. ﴾ عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُهۡلِكَ عَدُوَّكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-(Nya)." Yakni menjadikanmu pengendali dan pemegang urusan di dalamnya. ﴾ فَيَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu." Apakah kamu akan bersyukur atau kufur? Ini adalah janji yang Allah laksanakan manakala telah tiba waktu yang telah diinginkan oleh Allah.
(130) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan per-lakuanNya terhadap keluarga Fir'aun di waktu akhir-akhir ini, ia seperti biasa dan sesuai dengan sunnahNya pada umat-umat yang telah lalu, di mana Dia menimpakan, ﴾ بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَضَّرَّعُونَ 94 ﴿ "Azab dan kesulitan agar mereka tunduk dengan merendahkan diri." (Al-A'raf: 93) ﴾ وَلَقَدۡ أَخَذۡنَآ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ بِٱلسِّنِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meng-hukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang." Yakni kekeringan dan paceklik. ﴾ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pela-jaran." Yakni supaya mereka menyadari bahwa apa yang menimpa dan apa yang terjadi pada mereka adalah pelajaran dari Allah, agar mereka meninggalkan kekufuran. Tetapi hal itu tidak berguna dan berpengaruh bagi mereka, justru mereka terus di atas kezhaliman dan kerusakan.
(131) ﴾ فَإِذَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡحَسَنَةُ ﴿ "Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran." Yakni kesuburan dan kelimpahan rizki, ﴾ قَالُواْ لَنَا هَٰذِهِۦۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami'." Yakni, kami berhak atasnya. Mereka tidak bersyukur kepada Allah atas karunia tersebut. ﴾ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ ﴿ "Dan jika mereka ditimpa kesusahan." Yakni kekeringan dan paceklik, ﴾ يَطَّيَّرُواْ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓۗ ﴿ "mereka melemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya." Yakni mereka ber-kata, "Kesialan ini menimpa kami karena kedatangan Musa dan karena Bani Israil mengikutinya." Allah menjawab, ﴾ أَلَآ إِنَّمَا طَٰٓئِرُهُمۡ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah." Yakni dengan qadha dan qadarNya, tidak seperti yang me-reka katakan, justru penyebabnya adalah kekufuran dan dosa-dosa mereka, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui, oleh karena itu mereka berkata begitu.
(132) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", menjelaskan kepada Musa bahwa mereka senantiasa dan tetap akan berada pada keba-tilan. ﴾ مَهۡمَا تَأۡتِنَا بِهِۦ مِنۡ ءَايَةٖ لِّتَسۡحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحۡنُ لَكَ بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Bagaimanapun kamu men-datangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu." Yakni, kami telah yakin bahwa dirimu adalah penyihir, meskipun kamu datang dengan membawa mukjizat, kami tetap yakin bahwa kamu adalah penyihir, maka kami tidak mempercayaimu dan beriman kepada-mu. Ini adalah puncak pengingkaran orang-orang kafir itu, di mana keadaannya adalah sama saja, mukjizat turun atau tidak.
(133) ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلطُّوفَانَ ﴿ "Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah." Yakni banjir bandang yang menenggelamkan pohon-pohon dan tanaman-tanaman serta merugikan mereka dengan kerugian yang besar, ﴾ وَٱلۡجَرَادَ ﴿ "dan belalang", yang melahap buah-buahan, tanaman, dan pertanian mereka, ﴾ وَٱلۡقُمَّلَ ﴿ "dan kutu", yakni belalang kecil, dan yang zahir adalah bahwa ia adalah kutu yang dikenal, ﴾ وَٱلضَّفَادِعَ ﴿ "dan katak", yang memenuhi tempat-tempat air mereka sehingga mengganggu mereka dan membuat mereka sangat tidak nyaman, ﴾ وَٱلدَّمَ ﴿ "dan darah", bisa jadi ia adalah mimisan, atau se-perti yang dikatakan oleh banyak ahli tafsir bahwa air yang mereka minum berubah menjadi darah, sehingga mereka tidak minum ke-cuali darah dan tidak memasak kecuali dengan darah, ﴾ ءَايَٰتٖ مُّفَصَّلَٰتٖ ﴿ "sebagai bukti yang jelas." Yakni sebagai dalil dan bukti kongkrit bahwa mereka itulah orang-orang yang berdusta lagi zhalim, dan bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah kebenaran, ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "tetapi mereka tetap menyombongkan diri", tatkala melihat ayat-ayat itu, ﴾ وَكَانُواْ ﴿ "dan mereka", dulu ﴾ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "adalah kaum yang berdosa." Oleh karena itu Allah menghukum mereka dengan tetap membiar-kan mereka di atas kesesatan dan penyimpangan.
(134) ﴾ وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيۡهِمُ ٱلرِّجۡزُ ﴿ "Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu)." Yakni siksa. Ada kemungkinan bahwa ia adalah penyakit tha'un sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli tafsir, dan kemungkinan pula bencana yang telah disebutkan di atas, yaitu banjir, belalang, kutu, katak dan darah, karena semua ini adalah siksa dan azab. Setiap kali satu darinya menimpa mereka, ﴾ قَالُواْ يَٰمُوسَى ٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَۖ ﴿ "mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu'." Yakni mereka meminta perantara kepada Musa dengan wahyu dan syariat yang Allah berikan kepadanya. ﴾ لَئِن كَشَفۡتَ عَنَّا ٱلرِّجۡزَ لَنُؤۡمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرۡسِلَنَّ مَعَكَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." Dan mereka itu adalah para pendusta, maksud mereka hanyalah bagai-mana azab ini selesai, mereka mengira bahwa jika ia selesai maka tidak ada azab yang lain.
(135) ﴾ فَلَمَّا كَشَفۡنَا عَنۡهُمُ ٱلرِّجۡزَ إِلَىٰٓ أَجَلٍ هُم بَٰلِغُوهُ ﴿ "Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya." Yakni sampai waktu di mana Allah menentukan kebera-daannya pada mereka, bukan pengangkatan azab untuk seterusnya, akan tetapi hanya sementara, ﴾ إِذَا هُمۡ يَنكُثُونَ ﴿ "tiba-tiba mereka menging-karinya." Yakni janji yang mereka sampaikan kepada Musa bahwa mereka akan beriman kepadanya dan membiarkan Bani Israil ber-samanya. Mereka tidak beriman kepada Musa dan tidak pula me-lepas Bani Israil bersamanya, justru mereka terus berjalan di atas kekufuran tanpa peduli dan tetap menyiksa Bani Israil secara terus-menerus.
(136) ﴾ فَٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ ﴿ "Kemudian Kami menghukum mereka." Yakni pada waktu kebinasaan mereka telah tiba. Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil di malam hari. Dan Allah mem-beritahukan kepada Musa bahwa Fir'aun dengan bala tentaranya akan mengejar mereka. ﴾ فَأَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِي ٱلۡمَدَآئِنِ حَٰشِرِينَ 53 ﴿ "Kemudian Fir'aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (ten-taranya) ke kota-kota." (Asy-Syu'ara`: 53). Untuk mengumpulkan orang-orang guna mengejar Bani Israil, Fir'aun dan bala tentaranya berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَشِرۡذِمَةٞ قَلِيلُونَ 54 وَإِنَّهُمۡ لَنَا لَغَآئِظُونَ 55 وَإِنَّا لَجَمِيعٌ حَٰذِرُونَ 56 فَأَخۡرَجۡنَٰهُم مِّن جَنَّٰتٖ وَعُيُونٖ 57 وَكُنُوزٖ وَمَقَامٖ كَرِيمٖ 58 كَذَٰلِكَۖ وَأَوۡرَثۡنَٰهَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ 59 فَأَتۡبَعُوهُم مُّشۡرِقِينَ 60 فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلۡجَمۡعَانِ قَالَ أَصۡحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدۡرَكُونَ 61 قَالَ كـَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ 62 فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ 63 وَأَزۡلَفۡنَا ثَمَّ ٱلۡأٓخَرِينَ 64 وَأَنجَيۡنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ أَجۡمَعِينَ 65 ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ 66 ﴿ "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga'. Maka Kami keluarkan Fir'aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demi-kianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka di waktu ma-tahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, 'Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.' Musa menjawab, 'Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku'. Lalu Kami wah-yukan kepada Musa, 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu'. Maka ter-belahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelam-kan golongan yang lain itu." (Asy-Syu'ara`: 54-66). Allah berfirman di dalam surat al-A'raf ini, ﴾ فَأَغۡرَقۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "Maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebab-kan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." Yakni disebabkan oleh pendus-taan mereka kepada ayat-ayat Allah dan berpalingnya mereka dari kebenaran yang datang kepada mereka.
(137) ﴾ وَأَوۡرَثۡنَا ٱلۡقَوۡمَ ٱلَّذِينَ كَانُواْ يُسۡتَضۡعَفُونَ ﴿ "Dan Kami pusakakan ke-pada kaum yang telah ditindas itu", di bumi. Yakni Bani Israil yang dulu adalah pelayan bagi keluarga Fir'aun yang telah menimpakan kepada mereka azab yang buruk. Allah mempusakakan kepada mereka ﴾ مَشَٰرِقَ ٱلۡأَرۡضِ وَمَغَٰرِبَهَا ﴿ "negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya." Yang dimaksud dengan bumi di sini adalah bumi Mesir di mana padanyalah mereka ditindas dan dijajah, yakni Allah menguasakannya kepada mereka dan menjadikan mereka pengua-sanya. ﴾ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَاۖ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ ٱلۡحُسۡنَىٰ عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ بِمَا صَبَرُواْۖ ﴿ "Yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka." Mana-kala Musa berkata kepada mereka, ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ 128 ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguh-nya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakanNya kepada siapa yang di-kehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-A'raf: 128). ﴾ وَدَمَّرۡنَا مَا كَانَ يَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَقَوۡمُهُۥ ﴿ "Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya", yakni bangunan-bangunan yang besar dan tempat tinggal yang indah, ﴾ وَمَا كَانُواْ يَعۡرِشُونَ ﴿ "dan apa yang telah dibangun mereka." Itulah rumah-rumah mereka yang han-cur karena kezhaliman mereka, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengetahui.
(138) ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu", setelah Allah menyelamatkan mereka dari musuh mereka, yaitu Fir'aun dan bala tentaranya, di mana Allah telah membinasakan mereka sementara Bani Israil melihatnya. ﴾ فَأَتَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka sampai", yakni melewati ﴾ عَلَىٰ قَوۡمٖ يَعۡكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصۡنَامٖ لَّهُمۡۚ ﴿ "kepada suatu kaum yang sedang menyembah berhala mereka." Yakni mereka berdiam padanya, ngalap berkah padanya, dan menyem-bahnya, lalu mereka berkata kepada Nabi mereka, Musa عليه السلام, karena kebodohan dan ketidaktahuan mereka, setelah sebelumnya Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya. ﴾ يَٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهٗا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٞۚ ﴿ "Hai Musa buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana me-reka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Yakni izinkan kami men-jadikan berhala-berhala sebagai tuhan kami seperti yang mereka lakukan. Maka Musa menjawab, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)." Adakah kejahilan yang lebih besar daripada kejahilan orang tentang Tuhan dan Penciptanya dan dia ingin menyamakanNya dengan selainNya yang tidak dapat mendatangkan manfaat, mudarat, kematian, ke-hidupan dan kebangkitan?
(139) Oleh karena itu Musa berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ مُتَبَّرٞ مَّا هُمۡ فِيهِ وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan." Karena doa mereka kepada berhala-berhala itu adalah batil dan ia sendiri adalah batil, amal dan tujuannya adalah sama-sama batil.
(140) ﴾ قَالَ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِيكُمۡ إِلَٰهٗا ﴿ "Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah." Yakni aku mencari tuhan selain Allah yang disembah lagi sempurna pada dzatnya, sifat-sifatnya dan perbuatan-perbuatannya, ﴾ وَهُوَ فَضَّلَكُمۡ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." Ini me-nuntutmu menyambut nikmat dan karuniaNya dan mensyukuri hal itu dengan mengesakanNya dalam beribadah dan mengingkari apa yang dipertuhankan selainNya.
(141) Kemudian Musa mengingatkan mereka dengan nik-mat Allah kepada mereka, dia berkata, ﴾ وَإِذۡ أَنجَيۡنَٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya." Yakni Fir'aun dan bala tentaranya ﴾ يَسُومُونَكُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat." Yakni menim-pakan kepadamu azab paling buruk, di mana mereka menyembe-lih ﴾ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ وَفِي ذَٰلِكُم ﴿ "anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu", yakni kebebasan dari azab mereka adalah ﴾ بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ ﴿ "cobaan yang besar dari Rabbmu." Yakni nikmat yang besar dan karunia yang agung. Atau pada azab yang mereka timpakan itu terdapat ujian besar dari Rabbmu.
(142) Manakala Musa menasihati dan mengingatkan me-reka, mereka pun menghentikan apa yang mereka inginkan berupa berhala, dan ketika Allah menyempurnakan nikmatNya dengan keselamatan dari musuh mereka dan kekuasaan di muka bumi, maka Allah سبحانه وتعالى ingin menyempurnakan nikmatNya dengan menu-runkan kitab yang padanya terdapat hukum-hukum syariat dan akidah yang lurus. Maka Allah menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam ditambah dengan sepuluh jadi empat puluh malam, agar Musa bersiap-siap untuk memenuhi panggilan janji Allah dan agar turunnya kitab itu sangat dinantikan dan dirindukan. Manakala Musa pergi untuk bermunajat kepada Rabbnya, Musa mewasiat-kan Bani Israil kepada Harun, hal itu karena kasih sayangnya dan ketulusannya kepada mereka. ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku." Yakni jadilah kamu penggantiku dan lakukan kepada mereka apa yang aku lakukan. ﴾ وَأَصۡلِحۡ ﴿ "Dan perbaikilah", yakni ikutilah jalan kebaikan. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." Yaitu orang-orang yang berbuat kemaksiatan.
(143) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا ﴿ "Dan tatkala Musa datang untuk (mu-najat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan", untuknya untuk menurunkan kitab, ﴾ وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ ﴿ "dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya", berfirman langsung dengan wahyuNya, pe-rintah dan laranganNya, Musa berkeinginan untuk melihat Allah, jiwanya mengharapkan itu karena kecintaannya kepada Rabbnya dan sangat ingin melihatNya. ﴾ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu." Allah menjawab, ﴾ لَن تَرَىٰنِي ﴿ "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu." Yakni sekarang kamu tidak akan mampu melihatKu, karena Allah سبحانه وتعالى menciptakan makhluk di dunia ini dalam kondisi di mana mereka tidak akan kuat dan tidak akan mampu melihat Allah. Ini tidak menunjukkan bahwa mereka tidak dapat melihat-Nya di surga, karena dalil-dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah telah menunjukkan bahwa penduduk surga akan melihat Rabb mereka dan menikmati melihat kepada wajahNya Yang Mulia. Dan bahwa Allah تعالى menghidupkan mereka secara sempurna yang dengannya mereka mampu melihat Allah تعالى. Oleh karena itu Allah mengait-kan kemungkinan melihat dengan ketetapan gunung. Allah تعالى menenangkan Musa karena tidak bisa mengabulkan permintaannya. ﴾ وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ ﴿ "Tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala)", jika Allah menampakkan diri kepadanya ﴾ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ ﴿ "niscaya ka-mu dapat melihatKu. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu", yang bisu lagi keras. ﴾ جَعَلَهُۥ دَكّٗا ﴿ "Dijadikannya gunung itu han-cur luluh." Yakni hancur berkeping-keping ibarat kerikil, karena kegoncangannya dan tidak kuatnya ia melihat Allah. ﴾ وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ ﴿ "Dan Musa pun jatuh pingsan," ketika melihat apa yang dilihat. Ma-ka jelaslah bagi Musa pada saat itu bahwa jika gunung saja tidak kuat melihat Allah, maka Musa lebih tidak kuat melihatNya. Musa memohon ampun kepada Allah تعالى karena telah meminta sesuatu yang tidak pada tempatnya. ﴾ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Musa berkata, 'Mahasuci Engkau'." Yakni Aku menyucikan dan mengagungkanMu dari apa yang tidak layak dengan kebesaranMu. ﴾ تُبۡتُ إِلَيۡكَ ﴿ "Aku bertaubat kepada Engkau", dari segala dosa dan kekurangajaran kepadaMu. ﴾ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku orang yang pertama-tama beriman." Yakni Musa menyempurna-kan imanNya dengan sesuatu yang sebelum-nya tidak dia ketahui.
(144) Manakala Allah tidak memberikan kesempatan ke-pada Nabi Musa untuk melihatNya setelah sebelumnya dia sangat menginginkannya, maka Allah memberikan kepadanya kebaikan yang banyak. Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّي ٱصۡطَفَيۡتُكَ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu)." Yakni Aku memilihmu, mengangkatmu, melebihkan-mu, dan mengkhususkanmu dengan keutamaan-keutamaan yang besar dan kemuliaan-kemuliaan yang agung, ﴾ بِرِسَٰلَٰتِي ﴿ "untuk mem-bawa risalahKu." Di mana Aku tidak mengkhususkan dan memberi-kannya kecuali kepada orang yang paling mulia, ﴾ وَبِكَلَٰمِي ﴿ "dan untuk berbicara langsung denganKu", tanpa perantara. Ini adalah keutamaan khusus Musa al-Kalim (Rasul Allah yang diajak berbicara langsung oleh Allah) dan dia dikenal di kalangan saudara-saudaranya para rasul yang lain dengan itu. ﴾ فَخُذۡ مَآ ءَاتَيۡتُكَ ﴿ "Sebab itu berpegang teguh-lah kepada apa yang Aku berikan kepadamu." Yakni dari nikmat-nikmat, dan ambillah perintah dan larangan yang Aku berikan kepadamu dengan lapang dada, terimalah ia dengan ketundukan, ﴾ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur," kepada Allah atas apa yang Dia khususkan dan karuniakan kepadamu.
(145) ﴾ وَكَتَبۡنَا لَهُۥ فِي ٱلۡأَلۡوَاحِ مِن كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu", yang dibutuhkan oleh para hamba ﴾ مَّوۡعِظَةٗ ﴿ "sebagai pelajaran" yang mendorong jiwa untuk berbuat kebaikan dan menakutinya untuk berbuat keburukan. ﴾ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan penjelasan bagi segala sesuatu", dari hukum-hukum syar'i, akidah, akhlak dan adab. ﴾ فَخُذۡهَا بِقُوَّةٖ ﴿ "Maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah kepadanya dengan teguh." Yakni dengan sungguh-sungguh dan serius dalam menegakkannya. ﴾ وَأۡمُرۡ قَوۡمَكَ يَأۡخُذُواْ بِأَحۡسَنِهَاۚ ﴿ "Dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya." Yaitu perintah-perintah yang bersifat wajib dan dianjurkan, karena ia adalah yang terbaik. Di dalam penjelasan ini terdapat dalil bahwa perintah Allah dalam setiap syariat adalah sempurna, adil, dan baik. ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ دَارَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Nanti Aku akan memper-lihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik." Setelah Allah mem-binasakan mereka dan menyisakan negeri-negeri mereka sebagai pelajaran sesudah mereka bagi orang-orang Mukmin yang diberi taufik lagi rendah diri.9
(146) Adapun selain mereka, maka Allah berfirman tentang mereka, ﴾ سَأَصۡرِفُ عَنۡ ءَايَٰتِيَ ﴿ "Aku akan memalingkan dari tanda-tanda kekua-saanKu." Yakni dari mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang ada di langit dan yang ada pada diri manusia dan pemahaman terhadap ayat-ayat kitab ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "orang-orang yang menyom-bongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar." Yakni mereka menyombongkan diri kepada hamba-hamba Allah dan kepada kebe-naran serta kepada pembawanya. Siapa saja yang memiliki kriteria ini, maka Allah tidak akan memberikan kebaikan kepadanya, Allah akan menelantarkannya dan dia tidak dapat memahami ayat-ayat Allah yang bermanfaat bagi diri bahkan bisa jadi hakikat-hakikat perkara menjadi jungkir balik baginya yang selanjutnya dia meng-anggap yang buruk sebagai sesuatu yang baik. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ كُلَّ ءَايَةٖ لَّا يُؤۡمِنُواْ بِهَا ﴿ " Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya." Karena mereka berpaling, menyangkal dan menentang Allah dan RasulNya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلرُّشۡدِ ﴿ "Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk", yang lurus dan benar, yaitu jalan yang mengantarkan kepada Allah dan kepada rumah kemuliaan-Nya (surga), ﴾ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗا ﴿ "mereka tidak mau menempuhnya." Yakni mereka tidak mau menitinya dan tidak menyukainya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلۡغَيِّ ﴿ "Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan", yakni kesesatan yang mengantarkan pelakunya kepada rumah kesengsaraan (mereka), ﴾ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗاۚ ﴿ "mereka terus menempuhnya." Penyebab penyimpangan mereka seperti itu karena ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "yang de-mikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya." Penolakan mereka terhadap ayat-ayat Allah, kelalaiannya terhadap maksudnya dan pelecehannya terhadapnya adalah penyebab mereka menempuh jalan kesesatan dan mening-galkan jalan lurus.
(147) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami", yang agung, yang menunjukkan kebenaran rasul-rasul yang telah Kami utus, ﴾ وَلِقَآءِ ٱلۡأٓخِرَةِ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡۚ ﴿ "dan mendus-takan akan menemui Akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka." Karena perbuatan tersebut tidak dilakukan di atas fondasi syariat dan telah hilang darinya syarat diterimanya, yaitu beriman kepada ayat-ayat-Nya dan membenarkan balasanNya. ﴾ هَلۡ يُجۡزَوۡنَ ﴿ "Mereka tidak diberi balasan", tentang amal perbuatan mereka yang sia-sia dan terjadinya apa yang tidak mereka harapkan ﴾ إِلَّا مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "selain dari apa yang telah mereka kerjakan." Sesungguhnya amal perbuatan orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak ada pahala yang di-harapkan padanya dan tidak memiliki tujuan yang dicapai. Oleh karena itu ia batal dan sia-sia.
(148) ﴾ وَٱتَّخَذَ قَوۡمُ مُوسَىٰ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِنۡ حُلِيِّهِمۡ عِجۡلٗا جَسَدٗا ﴿ "Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh", yang dibuat oleh Samiri dan dia masukkan bekas jejak Rasul ke dalamnya, maka ia ﴾ لَّهُۥ خُوَارٌۚ ﴿ "bersuara." Maka mereka pun menyembahnya dan menjadikannya sebagai tuhan. Samiri berkata "Ini adalah tuhanmu dan tuhan Musa. Musa lupa sehingga dia pergi untuk mencarinya." Ini adalah ke-bodohan mereka dan minimnya ilmu mereka. Bagaimana mereka tidak bisa membedakan antara Tuhan langit dan bumi dengan anak sapi makhluk yang paling hina? Oleh karena itu Allah menjelaskan bahwa ia tidak memiliki sifat-sifat dzat dan perbuatan yang me-nunjukkan bahwa ia adalah tuhan. ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمۡ ﴿ "Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka." Bisu adalah kekurangan yang nyata. Mereka sendiri lebih baik keadaannya daripada hewan atau benda mati yang tidak ber-bicara, ﴾ وَلَا يَهۡدِيهِمۡ سَبِيلًاۘ ﴿ "dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?" Yakni ia tidak dapat menunjukkan mereka jalan agama dan tidak dapat menghasilkan kebaikan dunia untuk mereka, kare-na sudah diketahui oleh akal bahwa menyembah tuhan yang tidak bisa bicara, tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat termasuk kebatilan yang paling batil dan kedunguan yang paling dungu. ﴾ ٱتَّخَذُوهُ وَكَانُواْ ظَٰلِمِينَ ﴿ "Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim." Di mana mereka meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya dan menyekutukan Allah tanpa bukti dalil dariNya. Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa siapa yang mengingkari Kalamullah berarti mengingkari kekhususan uluhiyah Allah تعالى, karena Allah menyebutkan bahwa ketidakmam-puan berbicara adalah dalil ketidaklayakannya untuk dijadikan sebagai tuhan.
(149) ﴾ وَلَمَّا ﴿ "Dan manakala", Musa kembali kepada kaum-nya, dia mendapati mereka dalam keadaan tersebut. Musa menje-laskan kesesatan mereka, dan mereka pun menyesal. ﴾ سُقِطَ فِيٓ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Mereka sangat menyesali perbuatannya." Yakni bersedih tanda pe-nyesalan atas perbuatan mereka, ﴾ وَرَأَوۡاْ أَنَّهُمۡ قَدۡ ضَلُّواْ ﴿ "dan mengetahui bahwa mereka telah sesat", mereka pun kembali kepada Allah dan merendahkan diri di hadapanNya. ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ يَرۡحَمۡنَا رَبُّنَا ﴿ "Mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami," dengan membimbing kita kepada jalan yang lurus, memberi taufik kepada ibadah kepadaNya dan kepada amal-amal shalih, ﴾ وَيَغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "dan tidak mengampuni kami", atas dosa menyembah anak sapi yang telah kami lakukan, ﴾ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi," yang merugi di dunia dan di Akhirat.
(150) ﴾ وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا ﴿ "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati." Yakni Musa dipenuhi oleh amarah dan emosi kepada mereka karena kecemburuannya yang besar terhadap Allah تعالى dan kasih sayang serta ketulusan-nya yang sempurna. ﴾ قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ ﴿ "Berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku'." Yakni alangkah buruknya keadaan kalian setelah kepergianku dari kalian, sesungguhnya ia adalah keadaan yang menyeret kepada kebinasaan dan kesengsaraan untuk selama-lamanya. ﴾ أَعَجِلۡتُمۡ أَمۡرَ رَبِّكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu?" Di mana Dia telah menjan-jikan kepadamu untuk menurunkan kitab tetapi kamu tergesa-gesa dengan akalmu yang rusak sehingga melakukan perbuatan buruk ini. ﴾ وَأَلۡقَى ٱلۡأَلۡوَاحَ ﴿ "Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu." Yakni dia melemparnya karena marah. ﴾ وَأَخَذَ بِرَأۡسِ أَخِيهِ ﴿ "Dan memegang (rambut) kepala saudaranya", Harun dan juga jenggotnya, ﴾ يَجُرُّهُۥٓ إِلَيۡهِۚ ﴿ "sambil menariknya ke arahnya." Dan Musa berkata kepadanya, ﴾ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ 92 أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي 93 ﴿ "Apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (se-ngaja) mendurhakai perintahku?" (Thaha: 92-93), kepadamu dengan ucapanku, ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 142 ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (Al-A'raf: 142). Harun menjawab, ﴾ قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي 94 ﴿ "Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak me-melihara amanatku'." (Thaha: 94). Dan di sini Harun menjawab, ﴾ قَالَ ٱبۡنَ أُمَّ ﴿ "Hai anak ibuku", ucapan ini untuk melunakkan Musa dengan hanya menyinggung ibu saja. Namun demikian, sebenarnya dia adalah saudara kandung-nya. ﴾ إِنَّ ٱلۡقَوۡمَ ٱسۡتَضۡعَفُونِي ﴿ "Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah." Yakni mereka meremehkanku ketika aku berkata kepada mereka, "Wahai kaum, kalian hanya difitnah dengannya dan bahwa Rabbmu adalah Allah Yang Maha Rahman, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku. ﴾ وَكَادُواْ يَقۡتُلُونَنِي ﴿ "Dan hampir-hampir mereka membu-nuhku." Yakni janganlah kamu mendugaku lalai. ﴾ فَلَا تُشۡمِتۡ بِيَ ٱلۡأَعۡدَآءَ ﴿ "Sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku", dengan hardikanmu kepadaku dan perlakuan burukmu kepadaku, karena musuh-musuh selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam memunculkan kesalahan dan menemukan kekeliruan pada-ku, ﴾ وَلَا تَجۡعَلۡنِي مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim." Lalu kamu memperlakukanku seperti mereka.
(151) Musa عليه السلام menyesal atas perbuatannya yang terburu-buru terhadap saudaranya sebelum dia mengetahui bahwa sauda-ranya tidak seperti yang dia duga. Musa berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي ﴿ "Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku", Harun. ﴾ وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ ﴿ "Dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu." Yakni di dalamnya, ja-dikanlah rahmatMu meliputi kami dari segala segi karena ia adalah benteng yang kokoh dari segala keburukan dan di sanalah seluruh kebaikan dan kebahagiaan. ﴾ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." Yakni, lebih menyayangi kami dari seluruh penyayang, lebih sayang kepada kami daripada bapak, ibu, anak dan diri kami sendiri.
(152) Allah تعالى menjelaskan keadaan para penyembah anak sapi. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ ٱلۡعِجۡلَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sesembahannya)", yakni sebagai tuhan, ﴾ سَيَنَالُهُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَذِلَّةٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia." Sebagaimana mereka telah membuat Rabb mereka marah dan meremehkan pe-rintahNya. ﴾ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُفۡتَرِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan ke-pada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." Semua pendusta atas nama Allah, pembohong atas syariatNya, dan mengucapkan sesuatu atas namaNya apa yang tidak Dia katakan; akan menda-patkan bagian dari murka Allah dan kehinaan di dunia.
(153) Mereka telah mendapatkan murka dari Allah, di mana Dia memerintahkan mereka membunuh diri mereka, dan bahwa Allah tidak meridhai mereka kecuali dengan itu. Lalu sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain dan pembunuhan tersebut memakan korban yang banyak, kemudian Allah mengampuni me-reka setelah itu. Oleh karena itu Allah menyebutkan hukum secara umum, di mana mereka dan selain mereka masuk ke dalamnya. ﴾ وَٱلَّذِينَ عَمِلُواْ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan", baik dosa syirik, dosa besar, dan dosa kecil, ﴾ ثُمَّ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "kemudian bertau-bat sesudah itu." Yakni mereka menyesalinya, meninggalkannya, dan bertekad tidak kembali mengulangnya ﴾ وَءَامَنُوٓاْ ﴿ "dan beriman", kepada Allah dan kepada apa yang Allah wajibkan untuk diimani, dan iman tidak sempurna kecuali dengan amalan hati dan amalan anggota badan yang merupakan tuntutan iman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "se-sungguhnya Rabbmu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu." Yakni setelah keadaan ini keadaan taubat dari kejahatan dan kem-bali kepada ketaatan, ﴾ لَغَفُورٞ ﴿ "adalah Maha Pengampun", mengam-puni keburukan dan menghapusnya meskipun ia sepenuh jagad, ﴾ رَّحِيمٞ ﴿ "lagi Maha Penyayang," dengan menerima taubat dan mem-beri taufik untuk dapat beramal shalih dan menerimanya.
(154) ﴾ وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلۡغَضَبُ ﴿ "Sesudah amarah Musa menjadi reda." Yakni kemarahannya reda, jiwanya tenang, dan dapat mengu-asai dirinya, maka dia mulai melakukan perkara paling penting padanya, maka dia mengambil ﴾ ٱلۡأَلۡوَاحَۖ ﴿ "Luh-luh (Taurat) itu", yang dia lemparkan, dan ia adalah luh-luh yang mulia dan berukuran besar, ﴾ وَفِي نُسۡخَتِهَا ﴿ "dan dalam tulisannya", yakni mengandung dan berisi ﴾ هُدٗى وَرَحۡمَةٞ ﴿ "petunjuk dan rahmat." Yakni, di dalamnya terda-pat petunjuk dari kesesatan, penjelasan tentang kebenaran dari kebatilan, perbuatan baik dan perbuatan buruk, petunjuk kepada amalan, akhlak, dan adab terbaik, serta rahmat dan kebahagiaan bagi yang melaksanakannya dan mengetahui hukum-hukum dan makna-maknanya. Akan tetapi tidak semua orang mau menerima petunjuk Allah dan RahmatNya. Yang bersedia menerima, menaati, dan tunduk kepadanya adalah ﴾ لِّلَّذِينَ هُمۡ لِرَبِّهِمۡ يَرۡهَبُونَ ﴿ "orang-orang yang takut kepada Rabbnya." Adapun orang yang tidak takut kepada Allah dan tidak pula kepada pengadilan di hadapanNya, maka ia hanya menambah kesombongannya dan penolakannya, dan hujjah Allah pun tegak atasnya.
(155) Dan tatkala Bani Israil bertaubat serta kembali ke jalan mereka yang lurus ﴾ وَٱخۡتَارَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa memilih", dari mereka ﴾ سَبۡعِينَ رَجُلٗا ﴿ "tujuh puluh orang", terbaik di antara mereka untuk memohon maaf kepada Allah bagi kaum mereka. Allah menjanjikan kepada mereka waktu di mana mereka bisa menghadirinya. Manakala me-reka telah hadir, mereka berkata, "Wahai Musa, tunjukkanlah Allah kepada kami secara nyata." Mereka telah berkata sangat lancang kepada Allah, bersikap kurang ajar kepadaNya, maka mereka pun digoncang gempa, sehingga mereka pingsan dan binasa, maka Musa tiada henti-hentinya berdoa merendahkan diri kepada Allah dan berkata, ﴾ رَبِّ لَوۡ شِئۡتَ أَهۡلَكۡتَهُم مِّن قَبۡلُ ﴿ "Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka sebelum ini." Yakni sebelum mereka hadir dan mereka dalam keadaan memohon maaf untuk kaum mereka, justru mereka sekarang menjadi orang-orang yang zhalim. ﴾ أَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَّآۖ ﴿ "Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?" Yakni orang-orang berakal bodoh dan berpikiran pandir. Musa merendahkan diri kepada Allah dan memohon pemakluman karena orang-orang yang berbuat kelancangan tersebut tidak memiliki akal yang sem-purna yang menjaga mereka sehingga mereka tidak mengucapkan dan melakukan demikian, dan bahwa telah terjadi fitnah pada diri mereka yang terlintas pada diri seseorang dan dia khawatir agama-nya akan lenyap. Maka dia berkata, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّا فِتۡنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَآءُ وَتَهۡدِي مَن تَشَآءُۖ أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۖ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡغَٰفِرِينَ ﴿ "Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri pe-tunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." Yakni Engkau adalah sebaik-baik pemaaf, sebaik-baik yang menyayangi, dan semulia-mulia pemberi karunia. Seakan-akan Musa عليه السلام berkata, "Wahai Rabb, yang dimaksud dengan tujuan pertama bagi kami semua adalah menaatiMu dan beriman kepadaMu, dan bahwa orang yang ber-akal, mengerti, dan memahaminya dengan sempurna sesuai dengan taufik yang telah Engkau berikan, maka ia tetap bersikap lurus. Adapun orang yang lemah akalnya, pandir pemikirannya, dan di-belokkan oleh fitnah, maka dialah yang melakukan pelanggaran itu, meskipun demikian Engkau adalah sebaik-baik Penyayang dan sebaik-baik Pengampun, maka ampunilah dan sayangilah kami." Maka Allah mengabulkan permintaan Musa dan menghidupkan mereka setelah mereka mati dan mengampuni dosa-dosa mereka.
(156) Musa menyempurnakan doanya, ﴾ وَٱكۡتُبۡ لَنَا فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ ﴿ "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini", berupa ilmu yang bermanfaat, rizki yang lapang, dan amal yang shalih. ﴾ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dan di Akhirat", yakni dengan kebajikan, yaitu pahala yang Allah sediakan untuk hamba-hambaNya yang shalih. ﴾ إِنَّا هُدۡنَآ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu." Yakni kami kem-bali dengan mengakui kelalaian kami. Kami kembali kepadaMu dalam segala urusan kami. ﴾ قَالَ عَذَابِيٓ أُصِيبُ بِهِۦ مَنۡ أَشَآءُۖ ﴿ "Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki," dari kala-ngan orang yang sengsara yang menentang sebab-sebabnya. ﴾ وَرَحۡمَتِي وَسِعَتۡ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Dan RahmatKu meliputi segala sesuatu," meliputi langit dan bumi, orang baik dan orang jahat, Mukmin dan kafir, tiada makhluk kecuali rahmat Allah telah dia rasakan, karunia dan ke-baikanNya telah dia cicipi, akan tetapi rahmat yang khusus yang berkonsekuensi kepada kebahagiaan dunia dan akhirat tidak dira-sakan oleh semua orang. Oleh karena itu Dia berfirman tentangnya, ﴾ فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ﴿ "Maka akan Aku tetapkan RahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa", dari kemaksiatan besar dan kecil, ﴾ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "yang menunaikan zakat", yang wajib ditunaikan kepada yang ber-hak, ﴾ وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَٰتِنَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami."
(157) Di antara kesempurnaan iman kepada ayat-ayat Allah adalah mengetahui maknanya dan menjalankan konsekuensinya. Termasuk dalam hal ini adalah mengikuti Nabi ﷺ lahir dan batin dalam perkara agama, baik yang ushul (pokok) maupun yang furu' (cabang). ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang meng-ikuti Rasul, Nabi yang ummi." Dikatakan ummi agar nabi-nabi yang lain tidak termasuk di dalamnya, karena yang dimaksud di sini adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib, sementara konteks ayatnya adalah tentang Bani Israil, bahwa iman kepada Nabi Muhammad adalah syarat atas mereka untuk masuk ke dalam iman, bahwa orang-orang yang beriman kepadanya yang mengiku-tinya adalah orang-orang yang mendapatkan rahmat yang mutlak yang telah Allah tulis untuk mereka. Allah menyifatinya dengan ummi karena dia dari bangsa Arab umat yang ummi, tidak menulis dan tidak membaca, dan sebelum al-Qur`an turun mereka tidak memiliki kitab. ﴾ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ ﴿ "Yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka." Dengan nama dan sifatnya di mana yang paling mulia dan paling agung adalah apa yang dia dakwahkan dan apa yang dia larang. ﴾ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf." Yaitu semua yang diketahui kebaikannya, kebagusannya, dan man-faatnya. ﴾ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar." Yaitu semua yang dikenal buruknya menurut akal dan fitrah. Dia memerintahkan mereka untuk shalat, zakat, puasa, haji, silaturahim, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada tetangga dan hamba sahaya, memberikan manfaat kepada seluruh makhluk, kejujuran, kesucian diri, kebaikan, nasihat, dan lain-lain. Dia melarang syirik kepada Allah, membunuh tanpa ala-san yang benar, zina, minum khamar, kezhaliman kepada makhluk lain, dusta, dosa, dan lain-lain. Bukti paling agung bahwa dia adalah Rasul Allah adalah apa yang dia dakwahkan dan dia perintahkan dan apa yang dia larang, apa yang dia halalkan dan apa yang dia haramkan. Dia menghalalkan yang baik-baik dari makanan, mi-numan, dan pernikahan, ﴾ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ ﴿ "dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk", dari makanan, minuman, pernikahan, ucapan dan perbuatan, ﴾ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "dan mem-buang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." Yakni di antara sifatnya adalah bahwa agamanya mudah, ringan, tidak sulit, tidak ada beban, tidak ada belenggu, tidak ada kesulitan, dan tidak ada pembebanan syariat yang berat. ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman kepada-nya, memuliakannya", yakni mengagungkannya dan menghormati-nya. ﴾ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ﴿ "Menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya", yaitu al-Qur`an yang mene-rangi di kegelapan keraguan dan kebodohan, dijadikan pegangan pada saat terjadi pertentangan pendapat. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang beruntung." Yang meraih kebaikan di dunia dan akhirat, yang selamat dari keburukan dunia dan akhirat, karena mereka melakukan sebab keberuntungan terbesar. Adapun orang yang tidak beriman kepada Nabi ummi ini, tidak memuliakannya, tidak menolongnya, dan tidak mengikuti cahaya yang dibawanya, maka dia adalah orang-orang yang merugi.
(158) Manakala ahli Taurat dari Bani Israil diajak untuk me-ngikuti Nabi Muhammad, dan mungkin ada yang mengira bahwa ajakan tersebut hanya terbatas kepada mereka, maka dihadirkan lafazh yang menunjukkan keumuman, maka Allah berfirman, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguh-nya aku adalah utusan Allah kepadamu semua'." Yakni bangsa Arab dan yang non Arab, ahli kitab dan yang bukan ahli kitab. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi." Dia bertindak pada keduanya dengan hukum-hukumNya yang kauniyah, peraturan-peraturan kekuasaanNya, dan hukum-hukum syar'iyah diniyah yang di antaranya adalah bahwa Dia mengutus kepadamu seorang Rasul yang agung yang mengajakmu kepada Allah dan kepada rumah kemuliaanNya (surga), dan memperingat-kanmu dari setiap perkara yang menjauhkanmu dariNya dan dari rumah kemuliaanNya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak di-sembah) selain Dia." Yakni tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan cara beribadah kepadaNya tidak diketahui kecuali melalui rasul-rasulNya. ﴾ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Yang menghidupkan dan mematikan." Yakni di antara PengaturanNya adalah menghidupkan dan mematikan, di mana tidak ada seorang pun yang menyertaiNya dalam hal ini di mana Allah menjadikan kematian sebagai jembatan penyeberangan ke rumah kekekalan di mana barangsiapa yang beriman kepada-nya, pasti akan membenarkan Rasul. ﴾ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ﴿ "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi." Iman dengan hati yang mencakup amal hati dan anggota badan. ﴾ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ ﴿ "Yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-ka-limatNya (kitab-kitabNya)." Yakni berimanlah kepada Rasul yang lurus ini dalam akidah dan perbuatannya. ﴾ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ﴿ "Dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk," kepada kebaikan duniamu dan agamamu, karena jika kamu tidak mengikutinya, maka kamu akan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.
(159) ﴾ وَمِن قَوۡمِ مُوسَىٰٓ أُمَّةٞ ﴿ "Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat." Yakni jamaah, ﴾ يَهۡدُونَ بِٱلۡحَقِّ وَبِهِۦ يَعۡدِلُونَ ﴿ "Yang memberi pe-tunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan." Yakni mereka memberi petunjuk kepada ma-nusia dengan pengajaran dan fatwa kepada mereka dan berlaku adil di antara mereka dalam memutuskan perkara-perkara di an-tara mereka, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 24 ﴿ "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24). Ini menunjukkan keutamaan umat Nabi Musa عليه السلام, dan bahwa Allah تعالى menjadikan di antara mereka orang-orang yang memberi petunjuk dengan perintahNya. Dan sepertinya ayat yang mulia ini hadir untuk menepis kesalahan pemahaman dari penjelasan-penje-lasan sebelumnya, karena dalam ayat-ayat sebelumnya Allah me-nyebutkan sekumpulan aib Bani Israil yang bertentangan dan ber-tabrakan dengan hidayah dan kesempurnaan, mungkin saja ada yang menduga salah bahwa hal itu ada pada Bani Israil semuanya, maka Allah menyebutkan bahwa di antara mereka ada sekelompok orang yang lurus yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk tersebut kepada orang lain.
(160) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمُ ٱثۡنَتَيۡ عَشۡرَةَ أَسۡبَاطًا أُمَمٗاۚ ﴿ "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar." Yakni dua belas suku yang selalu mengenal dan berhubungan baik. Setiap ke-turunan seorang laki-laki dari anak-anak Ya'qub adalah satu suku. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ إِذِ ٱسۡتَسۡقَىٰهُ قَوۡمُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya." Yakni mereka meminta kepada-nya untuk berdoa kepada Allah تعالى agar memberi mereka air untuk minum mereka dan ternak mereka, hal itu karena –wallahu a'lam– mereka berada di daerah minim air. Maka Allah menjawab permin-taan mereka dengan mewahyukan kepada Musa, ﴾ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ ﴿ "Pukullah batu itu dengan tongkatmu." Ada kemungkinan ia adalah batu tertentu, ada kemungkinan ia adalah jenis batu apa saja. Musa memukulnya. ﴾ فَٱنۢبَجَسَتۡ ﴿ "maka memancarlah", dari batu tersebut ﴾ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَيۡنٗاۖ ﴿ "dua belas mata air", mengalir. ﴾ قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٖ مَّشۡرَبَهُمۡۚ ﴿ "Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum ma-sing-masing." Yakni mata air itu terbagi menjadi dua belas sesuai dengan jumlah suku Bani Israil, masing-masing suku dengan mata airnya, mereka mengetahuinya, mereka tenang, terbebas dari kele-lahan dan tanpa berdesak-desakan, dan ini termasuk kesempurnaan nikmat Allah kepada mereka. ﴾ وَظَلَّلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡغَمَٰمَ ﴿ "Dan Kami naungkan awan di atas mereka." Ia melindungi mereka dari panas matahari. ﴾ وَأَنزَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَنَّ ﴿ "Dan Kami turunkan kepada mereka manna", yaitu sesuatu yang manis (seperti madu. Ed) ﴾ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ ﴿ "dan salwa", yaitu daging burung terbaik dan terlezat. Allah mengumpulkan untuk mereka naungan awan, minuman, dan makanan yang enak yaitu manna dan salwa yang didapat tanpa lelah dan capek. Dikatakan kepada mereka, ﴾ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا ﴿ 'Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepadamu'. Mereka tidak menganiaya Kami," manakala mereka tidak bersyukur kepada Allah dan tidak menunaikan apa yang Allah wajibkan atas mereka. ﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." Di mana mereka menyia-nyiakan kebaikan dan menentang resiko keburukan dan azab. Ini terjadi pada masa di mana mereka tersesat dari bumi.
(161) ﴾ وَإِذۡ قِيلَ لَهُمُ ٱسۡكُنُواْ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis)'." Yakni masuklah ke dalamnya agar ia menjadi tempat tinggal dan negerimu, yaitu Ailia (Baitul Maqdis). ﴾ وَكُلُواْ مِنۡهَا حَيۡثُ شِئۡتُمۡ ﴿ "Dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki." Yakni negeri dengan pohon yang lebat dan buah yang banyak serta kehi-dupan yang nyaman. Oleh karena itu Allah memerintahkan mereka agar makan darinya sesuka mereka. ﴾ وَقُولُواْ ﴿ "Dan katakanlah", ketika kamu masuk, ﴾ حِطَّةٞ ﴿ "Bebaskanlah kami dari dosa kami." Yakni ha-puskanlah kesalahan kami dan maafkanlah kami. ﴾ وَٱدۡخُلُواْ ٱلۡبَابَ سُجَّدٗا ﴿ "Dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk." Yakni dengan merendahkan diri kepada Allah, mengakui kebesaranNya dan mensyukuri nikmatNya. Allah memerintahkan mereka agar tunduk dan memohon ampunan, dan menjanjikan mereka ampunan atas dosa-dosa mereka dan pahala di dunia dan Akhirat. Dia berfirman, ﴾ نَّغۡفِرۡ لَكُمۡ خَطِيٓـَٰٔتِكُمۡۚ سَنَزِيدُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik." Dari kebaikan dunia dan akhirat.
(162) Mereka tidak menggubris perintah Ilahi ini, justru orang-orang zhalim dari mereka merubahnya, yakni mereka me-langgar dan meremehkan perintah Allah. ﴾ قَوۡلًا غَيۡرَ ٱلَّذِي قِيلَ لَهُمۡ ﴿ "dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka", sebagai ganti meminta ampun dan mengucapkan "hiththah", mereka berkata, "Satu biji gandum." Jika mereka merubah ucapan meski ia sangat mudah, maka mereka lebih berani lagi merubah perbuatan. Oleh karena itu mereka masuk dengan cara mengesot. ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka Kami timpakan kepada mereka", ketika mereka menyelisihi perintah Allah dan durhaka kepadaNya, ﴾ رِجۡزٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "azab dari langit." Yakni azab yang berat, bisa jadi tha'un atau azab dari langit yang lain, Allah tidak menzhalimi mereka dengan azabNya, akan tetapi hal itu ﴾ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ﴿ "disebabkan kezhaliman mereka."
(163) ﴾ وَسۡـَٔلۡهُمۡ عَنِ ٱلۡقَرۡيَةِ ٱلَّتِي كَانَتۡ حَاضِرَةَ ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut", di pantai ketika mereka melanggar dan Allah menghukum mereka ﴾ إِذۡ يَعۡدُونَ فِي ٱلسَّبۡتِ ﴿ "ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu." Padahal Allah تعالى telah memerintahkan mereka agar menghormatinya dan mengagungkannya dengan tidak menangkap ikan pada hari itu, lalu Allah menguji mereka, di mana pada Hari Sabtu ikan-ikan be-sar muncul di permukaan laut dalam jumlah yang banyak. ﴾ وَيَوۡمَ لَا يَسۡبِتُونَ ﴿ "Dan di hari-hari yang bukan Sabtu." Yakni jika Hari Sabtu berlalu ﴾ لَا تَأۡتِيهِمۡۚ ﴿ "ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka." Yakni ia menghilang dan mereka tidak melihat seekor pun. ﴾ كَذَٰلِكَ نَبۡلُوهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka ber-laku fasik." Kefasikan mereka yang menyebabkan Allah menguji mereka dengan ujian tersebut, karena jika mereka tidak demikian, niscaya Allah membebaskan mereka dan tidak menimpakan ujian dan keburukan kepada mereka.
(164) Namun mereka tetap berburu dengan membuat tipuan, mereka menggali lubang-lubang dan memasang jaring-jaring, jika Hari Sabtu tiba, maka ikan-ikan itu tertangkap ke dalam lubang-lubang dan jaring-jaring tersebut, tetapi mereka tidak mengambil-nya pada hari itu, jika Hari Ahad tiba, maka mereka mengambilnya dan hal itu sering terjadi pada mereka. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Mayoritas dari mereka tidak mengindahkan dan mereka melanggar secara terang-terangan. Kelompok kedua melarang dan mengingkari perbuatan kelompok mayoritas. Dan kelompok ketiga merasa cukup dengan apa yang dilakukan oleh kelompok kedua. Kelompok ini berkata, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Sepertinya mereka berkata, "Tidak ada gunanya menasihati orang yang berani melang-gar larangan Allah dan tidak menghiraukan nasihat yang tulus, tetapi justru tetap teguh di atas pelanggaran dan kezhaliman, karena Allah pasti akan menghukum mereka, baik dengan kebinasaan atau azab yang pedih." Orang-orang yang memberi nasihat menjawab, "Kami melarang dan menasihati mereka, ﴾ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ ﴿ 'agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu.' Yakni agar kami dimaafkan berkenaan dengan apa yang mereka lakukan, ﴾ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "dan supaya mereka bertakwa." Yakni mereka meninggal-kan kemaksiatan yang mereka lakukan. Maka kami tidak berputus asa dari usaha memberi petunjuk kepada mereka, bisa jadi nasihat kami mujarab pada mereka, larangan kami didengar oleh mereka, dan inilah tujuan terbesar dari pengingkaran terhadap kemungka-ran, agar ia berfungsi sebagai alasan dan penegakan hujjah atas yang diperintah dan yang dilarang, dan semoga Allah memberinya petunjuk lalu dia melaksanakan tuntutan dari perintah dan lara-ngan tersebut.
(165) ﴾ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦٓ ﴿ "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperintahkan kepada mereka." Mereka meninggalkan apa yang diperingatkan kepada mereka dan mereka terus berjalan di atas pelanggaran dan kesesatan. ﴾ أَنجَيۡنَا ٱلَّذِينَ يَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلسُّوٓءِ ﴿ "Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat." Begitulah sunnah Allah pada hamba-hambaNya, bahwa jika azab telah turun, maka yang selamat adalah orang-orang yang beramar ma'ruf dan bernahi mungkar. ﴾ وَأَخَذۡنَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim." Yaitu orang-orang yang melanggar pada Hari Sabtu ﴾ بِعَذَابِۭ بَـِٔيسِۭ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik." Adapun kelompok yang lain yang berkata kepada orang-orang yang melarang, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka." Maka ahli tafsir berbeda pen-dapat tentang apakah mereka selamat atau tidak, dan sepertinya mereka itu selamat, karena Allah mengkhususkan kebinasaan bagi orang-orang yang zhalim, sedangkan Dia tidak menyatakan mereka sebagai orang-orang yang zhalim. Ini menunjukkan bahwa azab hanya menimpa orang-orang yang melanggar di Hari Sabtu saja. Di samping itu amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah fardhu ki-fayah. Jika ia telah ditunaikan oleh sebagian orang, maka ia gugur dari sebagian yang lain, maka mereka merasa cukup dengan peng-ingkaran orang-orang yang mengingkari, dan karena sebenarnya mereka juga mengingkari dengan ucapan mereka, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" (Al-A'raf: 164). Mereka menampakkan kemarahan kepada orang-orang zhalim itu yang menunjukkan bahwa mereka sangat membenci perbuatan mereka dan bahwa Allah akan mengazab mereka atasnya.
(166) ﴾ فَلَمَّا عَتَوۡاْ عَن مَّا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya." Yakni, hati mereka keras, menolak dan tidak mau menerima nasihat. ﴾ قُلۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Kami katakan kepadanya", dengan perkataan sebagai takdir. ﴾ كُونُواْ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ ﴿ "Jadilah kamu kera yang hina." Mereka berubah menjadi kera dengan izin Allah dan Allah menjauhkan mereka dari RahmatNya.
(167) Kemudian Allah menyebutkan kehinaan dan kenis-taan yang menimpa orang-orang yang tersisa dari mereka. Dia ber-firman, ﴾ وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberitahukan", dengan pemberitahuan yang jelas, ﴾ لَيَبۡعَثَنَّ عَلَيۡهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَن يَسُومُهُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِۗ ﴿ "bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya." Yakni yang menghina-kan dan merendahkan mereka. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Sesunggguhnya Rabbmu amat cepat siksaNya", kepada orang yang mendurhakaiNya, bahwa Dia bisa menyegerakan hukuman di dunia kepadanya. ﴾ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang," bagi yang kembali dan bertaubat kepadaNya. Dia mengam-puni dosanya dan menutupi aib-aibnya, menyayanginya dengan menerima ketaatan dan membalasnya dengan berbagai macam balasan. Allah telah merealisasikan janjiNya pada mereka, maka mereka selalu dalam kehinaan dan kerendahan dijajah oleh bangsa lain, tidak ada panji dan bendera mereka yang tegak dengan kokoh.
(168) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أُمَمٗاۖ ﴿ "Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan." Yakni Kami memecah dan mencerai-beraikan mereka setelah sebelumnya mereka berkumpul. ﴾ مِّنۡهُمُ ٱلصَّٰلِحُونَ ﴿ "Di antaranya ada orang-orang yang shalih." Yaitu orang-orang yang melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-ham-baNya. ﴾ وَمِنۡهُمۡ دُونَ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Dan di antaranya ada yang tidak demikian." Yakni di bawah yang pertama. Bisa jadi mereka adalah orang-orang pertengahan, dan bisa pula orang-orang yang menzhalimi diri me-reka. ﴾ وَبَلَوۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami coba mereka", berdasarkan kebiasaan dan sunnah Kami, ﴾ بِٱلۡحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk." Yakni dengan kemudahan dan kesu-litan ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "agar mereka kembali (kepada kebenaran)", dari kese-satan di mana mereka berada di dalamnya, dan mereka berpegang kepada petunjuk yang karenanya mereka diciptakan. Di antara mereka selalu ada orang yang baik, tengah-tengah, dan yang buruk.
(169) ﴾ فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٞ وَرِثُواْ ﴿ "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi", sesudah mereka ﴾ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Taurat." Mereka memperlakukan kitab itu menurut hawa nafsu mereka. Mereka disodori harta agar mereka memberi fatwa dan memutus-kan hukum dengan cara yang tidak benar, suap merajalela di ka-langan mereka, ﴾ يَأۡخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا ٱلۡأَدۡنَىٰ وَيَقُولُونَ ﴿ "Yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata", mereka mengakui bahwa ia ada-lah dosa dan bahwa mereka adalah orang-orang zhalim, ﴾ سَيُغۡفَرُ لَنَا ﴿ "Kami akan diberi ampun." Ini adalah omong kosong, ia bukan istighfar dan minta ampun yang sebenarnya. Jika memang demikian, niscaya mereka akan menyesal atas apa yang mereka perbuat dan mereka berniat kuat untuk tidak mengulanginya, akan tetapi jika ada harta dan suap lain, maka mereka mengambilnya, mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, mereka mengganti yang baik dengan yang buruk. Allah تعالى mengingkari mereka dan menjelaskan kelancangan mereka. ﴾ أَلَمۡ يُؤۡخَذۡ عَلَيۡهِم مِّيثَٰقُ ٱلۡكِتَٰبِ أَن لَّا يَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّ ﴿ "Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar?" Lalu mengapa mereka berkata atas namaNya tanpa kebenaran karena mengikuti hawa nafsu dan cenderung kepada ambisi mereka, ﴾ وَ﴿ "dan" se-benarnya mereka ﴾ وَدَرَسُواْ مَا فِيهِۗ ﴿ "telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?" tidak ada persoalan atas mereka padanya, justru mereka melakukan perbuatan mereka itu dalam keadaan sengaja dan me-ngetahui. Ini lebih besar dosanya, lebih buruk celaannya, dan lebih berat siksanya. Ini termasuk kebodohan akal mereka dan keren-dahan pikiran mereka, karena mereka lebih mementingkan dunia daripada akhirat. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ ﴿ "Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa." Dengan menjauhi penghasilan yang bersumber dari suap atas pe-netapan hukum berdasar kepada selain yang diturunkan oleh Allah dan perkara-perkara haram lainnya. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?" Yakni apakah kalian tidak mempunyai akal yang dengannya kalian menimbang apa yang semestinya lebih di-pentingkan, apa yang lebih berhak untuk diusahakan dan didahu-lukan? Tugas akal adalah melihat kepada akibat dari sesuatu. Ada-pun orang yang berpandangan dangkal lagi pendek, dia tidak dapat meraih nikmat agung yang kekal, di mana akal dan pikirannya?
(170) Orang-orang yang berakal sebenar-benarnya adalah orang-orang yang dicitrakan oleh Allah dengan FirmanNya, ﴾ وَٱلَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat)." Yakni berpegang teguh dari segi ilmu dan amal, mereka mengetahui hukum-hukum dan berita-berita yang dikandungnya, di mana ilmu tentang itu adalah ilmu yang termulia, mereka men-jalankan perintah-perintah yang dikandungnya yang merupakan ketenangan, kebahagiaan hati dan jiwa serta kemenangan dunia dan akhirat. Dan di antara perintah-perintah agung yang wajib di-pegang adalah mendirikan shalat secara lahir dan batin. Oleh karena itu Allah menyebutkannya secara khusus karena keutamaannya dan kemuliaannya, dan bahwa ia adalah timbangan amal dan penega-kannya mendorong kepada penegakan ibadah-ibadah yang lain. Karena seluruh amal mereka adalah baik, maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan," dalam perkataan, perbuatan, dan niat mereka, memperbaiki diri dan orang lain. Ayat ini dan yang sepertinya menunjukkan bahwa Allah mengutus para rasulNya k dengan kebaikan bukan kerusakan, dengan manfaat bukan mudarat, mereka diutus dengan kebaikan dunia dan akhirat. Jadi, semakin seseorang itu baik, maka dia sema-kin dekat kepada sikap mengikuti mereka.
(171) Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ نَتَقۡنَا ٱلۡجَبَلَ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka", ketika mereka menolak apa yang ada di dalam Taurat, Dia mewajibkan mereka beramal dan mengangkat gunung di atas mereka, maka gunung pun di atas mereka, ﴾ كَأَنَّهُۥ ظُلَّةٞ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُۥ وَاقِعُۢ بِهِمۡ ﴿ "seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka." Dan dikatakan kepada mereka, ﴾ خُذُواْ مَآ ءَاتَيۡنَٰكُم بِقُوَّةٖ ﴿ "Peganglah dengan teguh apa yang telah kami berikan kepadamu." Yakni dengan serius dan sungguh-sungguh ﴾ وَٱذۡكُرُواْ مَا فِيهِ ﴿ "serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya", dengan mengkaji dan mempelajari serta mengamalkannya ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa", jika kamu melakukan itu.
Al-A'raf 7:171
"Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu memba-wa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah ba-gaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Musa berkata, 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam, wajib atasku tidak berkata atas Nama Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu de-ngan membawa bukti yang nyata dari Rabbmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku'." (Al-'Araf: 103-105). "Fir'aun menjawab, 'Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.' Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu se-ketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangan itu men-jadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata, 'Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluar-kan kamu dari negerimu.' (Fir'aun berkata), 'Maka apakah yang kamu anjurkan?' Pemuka-pemuka itu menjawab, 'Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka mem-bawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai'." (Al-'Araf: 106-112). "Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun menga-takan, '(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?' Fir'aun menjawab, 'Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepa-daku).' Ahli-ahli sihir berkata, 'Hai Musa, kamukah yang akan melempar lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?'" (Al-'Araf: 113-115). "Musa menjawab, 'Lemparkanlah (lebih dahulu)!' Maka tat-kala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang-orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatang-kan sihir yang besar (menakjubkan).' Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekonyong-konyong tong-kat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina'." (Al-A'raf: 116-119). "Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu, sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan pendu-duknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya'." (Al-A'raf: 120-124). "Ahli-ahli sihir itu menjawab, 'Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.' (Mereka berdoa), 'Ya Rabb ka-mi, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu).' Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun), 'Apakah kamu mem-biarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilah-ilahmu.' Fir'aun menjawab, 'Akan kita bunuh anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita ber-kuasa penuh di atas mereka.' Musa berkata kepada kaumnya, 'Mo-honlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah yang dipusakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa'." (Al-A'raf: 125-128). "Kaum Musa berkata, 'Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) se-belum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.' Musa menjawab, 'Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khafilah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.' Dan sesungguhnya kami telah menghu-kum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kema-rau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab ke-sialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Keta-huilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-A'raf: 129-131). "Mereka berkata, 'Bagaimanapun kamu mendatangkan kete-rangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.' Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersa-mamu.' Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya." (Al-A'raf: 132-135). "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelam-kan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah tertindas itu negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang te-lah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka." (Al-A'raf: 136-137). "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang sedang me-nyembah berhala mereka, Bani Israil berkata, 'Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempu-nyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab, 'Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat tuhan). Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.' Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas se-gala umat. Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamat-kanmu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lela-kimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Rabbmu'." (Al-A'raf: 138-141). "Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurna-lah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam. Dan berkatalah Musa kepada saudaranya yaitu Harun, 'Gantikan-lah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan jangan-lah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.' Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu.' Rabb berfirman, 'Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala) niscaya kamu dapat melihatKu.' Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, 'Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepadaMu dan aku orang yang pertama-tama beriman'." (Al-A'raf: 142-143). "Allah berfirman, 'Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (me-lebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk mem-bawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.' Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah padanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik'." (Al-A'raf: 144-145). "Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri-nya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda ke-kuasaanKu. Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan me-reka selalu lalai dari padanya." (Al-A'raf: 146). "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan. Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gu-nung Thur, membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengeta-hui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim. Dan setelah mereka sangat menyesali perbua-tannya dan mengetahui bahwa mereka sesat, mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 147-149). "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu.' Dan Musa melemparkan luh-luh (Tau-rat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata, 'Hai anak ibuku, sesung-guhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka mau membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim.' Musa berdoa, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.' Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." (Al-A'raf: 150-152). "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian ber-taubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Rabb kamu, sesu-dah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesudah amarah Musa menjadi reda, maka dia mengambil (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisan-nya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Rabbnya. Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari ka-umnya untuk (memohon taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, 'Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Eng-kau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami. Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 153-155). "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu. Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku ke-hendaki dan rahmatKu meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang me-nunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami'." (Al-A'raf: 156). "(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-A'raf: 157). "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.' Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (ke-pada manusia) dengan hak dan dengan hak itulah mereka menja-lankan keadilan." (Al-A'raf: 158-159). "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar, dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu!' Maka memancarlah dari padanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka, dan Kami tu-runkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman), 'Ma-kanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepada-mu.' Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." (Al-A'raf: 160). "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.' Dan katakanlah, 'Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbang-nya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesa-lahanmu.' Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang yang zhalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dika-takan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezhaliman mereka." (Al-A'raf: 161-162). "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikian-lah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, 'Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras?' Mereka menjawab, 'Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertakwa'." (Al-A'raf: 163-164). "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepada mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina.' Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberita-hukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesung-guhnya Rabbmu amat cepat siksaNya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shalih dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (Al-A'raf: 165-168). "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata, 'Kami akan diberi ampun.' Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan menga-takan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti. Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pa-hala), karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan." (Al-A'raf: 169-170). "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas me-reka seakan-akan bukit naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), 'Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa'." (Al-A'raf:171).
(103) Yakni, kemudian Kami mengutus setelah para rasul itu, Musa yang pernah diajak berbicara langsung oleh Allah, pe-mimpin yang agung, seorang Rasul yang mulia kepada kaum yang bengal lagi sombong yaitu Fir'aun dan para pemuka kaumnya serta bala tentaranya, maka Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya yang besar yang tidak ada tandingannya, ﴾ فَظَلَمُواْ بِهَاۖ ﴿ "Lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu." Dengan tidak tunduk kepada ke-benarannya, di mana siapa yang tidak tunduk kepadanya maka dia adalah orang zhalim, namun justru menyombongkan diri kepada-nya. ﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan." Bagaimana Allah membinasa-kan mereka dan menambahkan celaan dan laknat atas mereka di dunia, dan pada Hari Kiamat mereka akan mendapatkan seburuk-buruk pemberian.
(104) Ini adalah pernyataan global yang diperinci dengan FirmanNya, ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Dan Musa berkata", manakala dia datang kepada Fir'aun untuk mengajaknya kepada iman, ﴾ يَٰفِرۡعَوۡنُ إِنِّي رَسُولٞ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam." Yakni, aku adalah Rasul dari Pengutus yang Agung yaitu Rabb semesta alam, alam tinggi dan alam rendah, Pengurus seluruh makhlukNya dengan berbagai macam tatanan Ilahiyah, yang di antaranya adalah bahwa Dia tidak membiarkan mereka hidup secara sia-sia, tetapi Dia mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, di mana tidak seorang pun yang berani atasnya dan mengklaim bahwa Dia mengutusnya pa-dahal tidak mengutusnya.
(105) Jika urusannya memang begitu, sedangkan aku telah dipilih dan diangkat untuk memikul risalahNya, maka tidak se-pantasnya bagiku untuk berdusta atasNya dan tidak mengatakan atasNya kecuali kebenaran, karena jika aku berkata selain itu, maka Dia pasti menyegerakan hukuman kepadaku, dan pasti Dia akan mengazabku dengan azab dari Yang Mahaperkasa lagi Maha Ber-kuasa. Ini merupakan kenyataan yang mengharuskan mereka un-tuk tunduk dan mengikutinya, lebih-lebih dia telah datang kepada mereka dengan bukti kuat dari Allah yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawanya, maka wajib atas mereka menjalankan tujuan risalahnya yang merupakan dua tujuan besar, yaitu agar mereka beriman kepadaNya, mengikutiNya dan melepaskan Bani Israil, bangsa yang diberi keutamaan oleh Allah, putra-putra para nabi dan keturunan Ya'qub, di mana Musa عليه السلام adalah salah satu dari mereka.
(106) Fir'aun menjawab, ﴾ إِن كُنتَ جِئۡتَ بِـَٔايَةٖ فَأۡتِ بِهَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar."
(107) ﴾ فَأَلۡقَىٰ عَصَاهُ ﴿ "Maka Musa menjatuhkan tongkatnya", di tanah. ﴾ فَإِذَا هِيَ ثُعۡبَانٞ مُّبِينٞ ﴿ "Lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya." Yakni, ular yang nyata merayap dan mereka me-nyaksikannya.
(108) ﴾ وَنَزَعَ يَدَهُۥ ﴿ "Dan ia mengeluarkan tangannya", dari saku-nya, ﴾ فَإِذَا هِيَ بَيۡضَآءُ لِلنَّٰظِرِينَ ﴿ "maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." Tanpa aib. Ini adalah dua mukjizat besar yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawa oleh Musa dan bahwa dia adalah benar-benar utusan Rabbul 'Alamin.
(109) Akan tetapi orang-orang yang tidak beriman, seandai-nya semua ayat datang kepada mereka, mereka tetap tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih. Oleh karena itu, ﴾ قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata", manakala mereka terkagum-kagum dengan mukjizat, tetapi mereka tidak mau ber-iman, maka mereka mencari-cari takwil yang rusak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَسَٰحِرٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai." Yang pintar menyihir.
(110) Kemudian mereka itu menakut-nakuti orang-orang yang berakal lemah lagi bodoh bahwa Musa, ﴾ يُرِيدُ ﴿ "bermaksud hen-dak", dengan perbuatannya tersebut ﴾ أَن يُخۡرِجَكُم مِّنۡ أَرۡضِكُمۡۖ ﴿ "mengeluarkan-mu dari negerimu." Yakni dia ingin mengusirmu dari tanah tumpah darahmu. ﴾ فَمَاذَا تَأۡمُرُونَ ﴿ "Fir'aun berkata, 'Maka apakah yang kamu an-jurkan?'" Yakni mereka saling bertukar pikiran di antara mereka terkait dengan apa yang dilakukan oleh Musa dan bagaimana cara menangkis kemudaratan –menurut klaim mereka– dari mereka, karena jika apa yang dibawa oleh Musa tidak ditangkal dan diban-tah, maka bisa-bisa ia menyusup ke pikiran banyak orang.
(111-112) Pada saat itu pendapat mereka bersatu dengan mengatakan kepada Fir'aun, ﴾ أَرۡجِهۡ وَأَخَاهُ ﴿ "Beri tangguhlah dia dan sau-daranya." Yakni tahan dan beri mereka berdua waktu, dan utuslah orang-orang ke penjuru kota untuk mengumumkan kepada pen-duduknya agar mereka menghadirkan semua penyihir yang ahli, yakni mereka mendatangkan para penyihir yang mumpuni, untuk melawan apa yang dibawa oleh Musa, maka mereka berkata, ﴾ فَٱجۡعَلۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكَ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 قَالَ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ثُمَّ أَتَىٰ 60 ﴿ "'(Wahai Musa), buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah ma-nusia dikumpulkan pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemu-dian dia datang." (Thaha: 58-60).
(113) Di sini Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan be-berapa ahli sihir itu datang kepada Fir'aun." Menuntut balasan (upah) jika mereka menang. Mereka berkata, ﴾ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبِينَ ﴿ "(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?"
(114) Fir'aun menjawab, ﴾ نَعَمۡ ﴿ "Ya", kamu akan mendapat imbalan. ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)." Fir'aun menjanjikan balasan, kedekatan, dan kedudukan tinggi di sisinya agar mereka serius dan mengeluarkan segala daya dan upaya mereka dalam mengalahkan Musa.
(115) Manakala mereka hadir bersama Musa di depan kha-layak yang berjumlah besar, ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata", dengan ber-sumpah tanpa memandang sama sekali kepada apa yang dibawa oleh Musa, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "Hai Musa kamukah yang akan melempar-kan lebih dahulu", apa yang ada padamu, ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ نَحۡنُ ٱلۡمُلۡقِينَ ﴿ "ataukah kami yang akan melemparkan?"
(116) Musa menjawab, ﴾ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Lemparkanlah (lebih dahulu)." Agar orang-orang melihat apa yang mereka miliki dari apa yang Musa miliki. ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka tatkala mereka melemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka sehingga nampak menjadi seperti ular yang melata, mereka menyulap, ﴾ أَعۡيُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَآءُو بِسِحۡرٍ عَظِيمٖ ﴿ "mata orang-orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan)." Sihir yang tak tertandingi.
(117) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu'." Maka Musa melemparkannya, ﴾ فَإِذَا هِيَ ﴿ "maka sekonyong-konyong tongkat itu menjadi", ular yang melata, maka ia menelan sulap mereka, yakni kebohongan dan kedustaan mereka.
(118) ﴾ فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Karena itu nyatalah yang benar", yakni jelas dan nyata serta unggul di perkumpulan itu, ﴾ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dan batallah yang selalu mereka kerjakan."
(119) ﴾ فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ ﴿ "Maka mereka kalah di tempat itu." Yakni di pertandingan itu, ﴾ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ ﴿ "dan jadilah mereka orang-orang yang hina", lagi dina. Kebatilan mereka terkikis dan sihir mereka kalah dan mereka gagal mendapat apa yang mereka ingin dapatkan.
(120-122) Orang yang paling jelas mengetahui kebenaran yang agung adalah orang-orang yang berpikiran obyektif dan ahli sihir yang mengetahui macam-macam sihir dan detail-detailnya yang tidak diketahui oleh selain mereka. Mereka mengetahui bahwa itu adalah mukjizat besar dari Allah, tak ada yang mampu menan-dinginya, maka ﴾ وَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ 120 قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, 'Kami beriman kepada Rabb semesta alam (yaitu) Rabb Musa dan Harun'." Yakni kami membenarkan ayat-ayat yang jelas yang di-bawa oleh Musa.
(123) ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata", kepada mereka dengan mengancam karena iman mereka, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Orang busuk ini adalah penguasa otoriter yang sewenang-wenang dalam mem-perlakukan fisik dan pendapat rakyatnya. Telah menjadi semacam ketetapan baginya dan rakyatnya bahwa pendapatnya harus didengar dan perintahnya harus terlaksana, tak seorang pun boleh keluar dari ucapan dan hukumnya. Dengan kondisi seperti ini mental mereka merosot, akal dan tindakan mereka lemah, serta tidak mampu membela hak-hak mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman tentangnya, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya." (Az-Zukhruf: 54). Di sini dia berkata, ﴾ ءَامَنتُم بِهِۦ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?" Ini adalah sikap ke-kurangajaran darimu dan kelancangan kepadaku. Kemudian dia mengaburkan sikap kaumnya dengan berkata, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَمَكۡرٞ مَّكَرۡتُمُوهُ فِي ٱلۡمَدِينَةِ لِتُخۡرِجُواْ مِنۡهَآ أَهۡلَهَاۖ ﴿ "Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduk-nya dari padanya." Yakni sesungguhnya Musa adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir, kamu telah bersepakat dengannya di mana seakan-akan kalian tunduk padanya, lalu dia menang dan kamu mengikutinya, kemudian orang-orang atau mayoritas dari mereka mengikutimu, lalu kamu mengusir penduduknya darinya. Ini ada-lah kedustaan yang dia sendiri dan orang-orang yang mengetahui situasi, mengetahui bahwa Musa tidak bersekongkol dengan siapa pun dari mereka. Bahwa mereka itu dikumpulkan menurut perin-tah Fir'aun melalui kaki tangannya. Bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah mukjizat Ilahiyah. Bahwa ahli sihir itu telah mengeluar-kan segala kemampuan mereka untuk mengalahkan Musa namun mereka kalah, lalu kebenaran menjadi jelas bagi mereka dan mereka pun mengikutinya. Kemudian Fir'aun mengancam mereka dengan mengatakan, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuat-anmu ini)." Yakni, hukuman yang aku siapkan untukmu.
(124) ﴾ لَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Sesungguhnya aku akan memo-tong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik." Orang busuk ini mengklaim bahwa mereka sebagai perusak di muka bumi, di mana dia akan memperlakukan mereka layaknya orang-orang yang merusak, dipotong tangan dan kaki secara berselang-seling, yakni tangan kanan dan kaki kiri. ﴾ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمۡ ﴿ "Kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalibmu", di batang pohon kurma agar kamu kapok -menurut anggapannya- ﴾ أَجۡمَعِينَ ﴿ "semua." Yakni aku mem-perlakukan ini tidak hanya kepada beberapa orang saja, akan tetapi semuanya akan mendapatkannya.
(125) Para penyihir yang beriman itu berkata kepada Fir'aun yang mengancam mereka, ﴾ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ ﴿"Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali." Yakni kami tidak peduli dengan hukumanmu. Allah lebih baik dan lebih kekal, lakukan saja apa yang kamu mau.
(126) ﴾ وَمَا تَنقِمُ مِنَّآ ﴿ "Dan kamu tidak menyalahkan kami." Yakni kamu tidak mencela kami atas pengingkaranmu kepada kami dan ancamanmu kepada kami, kami tidak mempunyai dosa, ﴾ إِلَّآ أَنۡ ءَامَنَّا بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتۡنَاۚ ﴿ "melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami." Jika ini memang dosa yang dicela atasnya dan pelakunya berhak atas hukuman, maka ini adalah dosa kami. Kemudian mereka memohon kepada Allah agar memberi mereka keteguhan dan kesabaran, mereka ber-kata, ﴾ رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا ﴿ "Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami." Yakni kesabaran yang besar. Ini ditunjukkan oleh kata صَبْرًا dengan bentuk nakirah karena ini adalah ujian besar yang berujung kepada kematian, maka ia memerlukan kesabaran besar agar hati tetap teguh dan orang mukmin tetap tenang dengan imannya serta agar kepanikan sirna darinya. ﴾ وَتَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ ﴿ "Dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadaMu)." Yakni dalam keadaan tun-duk kepada perintahMu dan mengikuti RasulMu. Dan yang zahir bahwa ancaman Fir'aun benar-benar dilakukan kepada mereka dan bahwa Allah meneguhkan mereka di atas iman.
(127) Fir'aun dengan kaki tangannya dan mayoritas dari mereka yang mengikuti para pembesar di kalangan mereka telah menyombongkan diri di depan ayat-ayat Allah dan mengingkari-nya karena kezhaliman dan kesombongan. Mereka berkata kepada Fir'aun dalam rangka menghasutnya agar mengazab Musa dengan alasan bahwa apa yang dibawanya adalah batil dan merupakan kerusakan di muka bumi, ﴾ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوۡمَهُۥ لِيُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir)," dengan dakwah menyeru agar mereka beriman kepada Allah, kepada kemuliaan akhlak dan kebaikan amal yang merupa-kan kebaikan di muka bumi? Justru merekalah yang berada di atas kerusakan, akan tetapi orang-orang zhalim bersikap masa bodoh terhadap apa yang mereka katakan. ﴾ وَيَذَرَكَ وَءَالِهَتَكَۚ ﴿ "Dan meninggal-kanmu serta tuhan-tuhanmu." Yakni membiarkanmu dan tuhan-tu-hanmu, dia melarangmu dan menghalang-halangi manusia dari mengikutimu. Maka Fir'aun menjawab mereka dengan mengata-kan bahwa dia akan membiarkan Musa dengan Bani Israil dalam kondisi di mana mereka tidak dapat berkembang, dan Fir'aun de-ngan kaki tangannya merasa aman dari bahaya mereka. Katanya, ﴾ سَنُقَتِّلُ أَبۡنَآءَهُمۡ وَنَسۡتَحۡيِۦ نِسَآءَهُمۡ ﴿ "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka." Yakni kita membiar-kan anak-anak perempuan itu hidup, kita tidak membunuhnya. Jika kita melakukan itu, maka kita akan aman dari kekuatan me-reka yang berjumlah banyak, sisanya kita perbudak dan kita atur sesuai dengan kehendak kita. ﴾ وَإِنَّا فَوۡقَهُمۡ قَٰهِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka." Mereka tidak memiliki kemam-puan untuk melepaskan diri dari hukum kita. Ini adalah puncak kesombongan, kezhaliman, dan kebengisan Fir'aun.
(128) ﴾ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ﴿ "Maka Musa berkata kepada kaumnya," me-wasiatkan kepada mereka dalam keadaan tersebut di mana mereka tidak memiliki apa pun untuk melawan, dengan perlawanan Ila-hiyah dan bantuan Rabbaniyah. ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah." Yakni bersandarlah kepadaNya dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu dan menolak apa yang memudaratkan-mu. Percayalah kepada Allah bahwa Dia akan menyempurnakan perkaramu, ﴾ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ ﴿ "Dan bersabarlah." Yakni pegang teguhlah ke-sabaran atas apa yang menimpamu dengan berharap kelapangan di balik ujian ini. ﴾ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ ﴿ "Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah." Bukan milik Fir'aun, bukan pula milik kaumnya sehingga mereka bisa semena-mena di atasnya. ﴾ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Dipu-sakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya." Yakni merotasinya di antara manusia menurut hikmah dan kehen-dakNya, akan tetapi kesudahan yang baik tetap milik orang-orang yang bertakwa. Walaupun mereka itu diuji beberapa lama berda-sarkan hikmah dari Allah, tetapi kemenangan adalah milik mereka. ﴾ وَٱلۡعَٰقِبَةُ ﴿ "Dan kesudahan yang baik", adalah untuk mereka. Ini ada-lah tugas seorang hamba, di mana pada waktu memiliki kemam-puan, dia harus melakukan cara untuk menolak gangguan orang lain dari dirinya sebatas kemampuan itu dan pada saat lemah hen-daknya dia bersabar, memohon pertolongan kepada Allah dan menunggu datangnya kelapangan.
(129) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa mengeluhkan siksaan Fir'aun yang menimpa mereka dalam kurun waktu yang lama, ﴾ أُوذِينَا مِن قَبۡلِ أَن تَأۡتِيَنَا ﴿ "Kami telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami." Mereka menimpakan siksaan yang buruk kepada kami, mereka membunuh anak-anak laki-laki kami dan membiarkan anak-anak perempuan kami, ﴾ وَمِنۢ بَعۡدِ مَا جِئۡتَنَاۚ ﴿ "dan se-sudah kamu datang", juga demikian. Musa menjawab mereka dengan memberi harapan kemenangan dan kebebasan dari kejahatan me-reka. ﴾ عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُهۡلِكَ عَدُوَّكُمۡ وَيَسۡتَخۡلِفَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-(Nya)." Yakni menjadikanmu pengendali dan pemegang urusan di dalamnya. ﴾ فَيَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu." Apakah kamu akan bersyukur atau kufur? Ini adalah janji yang Allah laksanakan manakala telah tiba waktu yang telah diinginkan oleh Allah.
(130) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan per-lakuanNya terhadap keluarga Fir'aun di waktu akhir-akhir ini, ia seperti biasa dan sesuai dengan sunnahNya pada umat-umat yang telah lalu, di mana Dia menimpakan, ﴾ بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَضَّرَّعُونَ 94 ﴿ "Azab dan kesulitan agar mereka tunduk dengan merendahkan diri." (Al-A'raf: 93) ﴾ وَلَقَدۡ أَخَذۡنَآ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ بِٱلسِّنِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meng-hukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang." Yakni kekeringan dan paceklik. ﴾ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pela-jaran." Yakni supaya mereka menyadari bahwa apa yang menimpa dan apa yang terjadi pada mereka adalah pelajaran dari Allah, agar mereka meninggalkan kekufuran. Tetapi hal itu tidak berguna dan berpengaruh bagi mereka, justru mereka terus di atas kezhaliman dan kerusakan.
(131) ﴾ فَإِذَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡحَسَنَةُ ﴿ "Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran." Yakni kesuburan dan kelimpahan rizki, ﴾ قَالُواْ لَنَا هَٰذِهِۦۖ ﴿ "Mereka berkata, 'Ini adalah karena (usaha) kami'." Yakni, kami berhak atasnya. Mereka tidak bersyukur kepada Allah atas karunia tersebut. ﴾ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ ﴿ "Dan jika mereka ditimpa kesusahan." Yakni kekeringan dan paceklik, ﴾ يَطَّيَّرُواْ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓۗ ﴿ "mereka melemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya." Yakni mereka ber-kata, "Kesialan ini menimpa kami karena kedatangan Musa dan karena Bani Israil mengikutinya." Allah menjawab, ﴾ أَلَآ إِنَّمَا طَٰٓئِرُهُمۡ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah." Yakni dengan qadha dan qadarNya, tidak seperti yang me-reka katakan, justru penyebabnya adalah kekufuran dan dosa-dosa mereka, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui, oleh karena itu mereka berkata begitu.
(132) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", menjelaskan kepada Musa bahwa mereka senantiasa dan tetap akan berada pada keba-tilan. ﴾ مَهۡمَا تَأۡتِنَا بِهِۦ مِنۡ ءَايَةٖ لِّتَسۡحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحۡنُ لَكَ بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Bagaimanapun kamu men-datangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu." Yakni, kami telah yakin bahwa dirimu adalah penyihir, meskipun kamu datang dengan membawa mukjizat, kami tetap yakin bahwa kamu adalah penyihir, maka kami tidak mempercayaimu dan beriman kepada-mu. Ini adalah puncak pengingkaran orang-orang kafir itu, di mana keadaannya adalah sama saja, mukjizat turun atau tidak.
(133) ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلطُّوفَانَ ﴿ "Maka Kami kirimkan kepada mereka air bah." Yakni banjir bandang yang menenggelamkan pohon-pohon dan tanaman-tanaman serta merugikan mereka dengan kerugian yang besar, ﴾ وَٱلۡجَرَادَ ﴿ "dan belalang", yang melahap buah-buahan, tanaman, dan pertanian mereka, ﴾ وَٱلۡقُمَّلَ ﴿ "dan kutu", yakni belalang kecil, dan yang zahir adalah bahwa ia adalah kutu yang dikenal, ﴾ وَٱلضَّفَادِعَ ﴿ "dan katak", yang memenuhi tempat-tempat air mereka sehingga mengganggu mereka dan membuat mereka sangat tidak nyaman, ﴾ وَٱلدَّمَ ﴿ "dan darah", bisa jadi ia adalah mimisan, atau se-perti yang dikatakan oleh banyak ahli tafsir bahwa air yang mereka minum berubah menjadi darah, sehingga mereka tidak minum ke-cuali darah dan tidak memasak kecuali dengan darah, ﴾ ءَايَٰتٖ مُّفَصَّلَٰتٖ ﴿ "sebagai bukti yang jelas." Yakni sebagai dalil dan bukti kongkrit bahwa mereka itulah orang-orang yang berdusta lagi zhalim, dan bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah kebenaran, ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "tetapi mereka tetap menyombongkan diri", tatkala melihat ayat-ayat itu, ﴾ وَكَانُواْ ﴿ "dan mereka", dulu ﴾ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "adalah kaum yang berdosa." Oleh karena itu Allah menghukum mereka dengan tetap membiar-kan mereka di atas kesesatan dan penyimpangan.
(134) ﴾ وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيۡهِمُ ٱلرِّجۡزُ ﴿ "Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu)." Yakni siksa. Ada kemungkinan bahwa ia adalah penyakit tha'un sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli tafsir, dan kemungkinan pula bencana yang telah disebutkan di atas, yaitu banjir, belalang, kutu, katak dan darah, karena semua ini adalah siksa dan azab. Setiap kali satu darinya menimpa mereka, ﴾ قَالُواْ يَٰمُوسَى ٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَۖ ﴿ "mereka pun berkata, 'Hai Musa, mohonlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu'." Yakni mereka meminta perantara kepada Musa dengan wahyu dan syariat yang Allah berikan kepadanya. ﴾ لَئِن كَشَفۡتَ عَنَّا ٱلرِّجۡزَ لَنُؤۡمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرۡسِلَنَّ مَعَكَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." Dan mereka itu adalah para pendusta, maksud mereka hanyalah bagai-mana azab ini selesai, mereka mengira bahwa jika ia selesai maka tidak ada azab yang lain.
(135) ﴾ فَلَمَّا كَشَفۡنَا عَنۡهُمُ ٱلرِّجۡزَ إِلَىٰٓ أَجَلٍ هُم بَٰلِغُوهُ ﴿ "Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya." Yakni sampai waktu di mana Allah menentukan kebera-daannya pada mereka, bukan pengangkatan azab untuk seterusnya, akan tetapi hanya sementara, ﴾ إِذَا هُمۡ يَنكُثُونَ ﴿ "tiba-tiba mereka menging-karinya." Yakni janji yang mereka sampaikan kepada Musa bahwa mereka akan beriman kepadanya dan membiarkan Bani Israil ber-samanya. Mereka tidak beriman kepada Musa dan tidak pula me-lepas Bani Israil bersamanya, justru mereka terus berjalan di atas kekufuran tanpa peduli dan tetap menyiksa Bani Israil secara terus-menerus.
(136) ﴾ فَٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ ﴿ "Kemudian Kami menghukum mereka." Yakni pada waktu kebinasaan mereka telah tiba. Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil di malam hari. Dan Allah mem-beritahukan kepada Musa bahwa Fir'aun dengan bala tentaranya akan mengejar mereka. ﴾ فَأَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِي ٱلۡمَدَآئِنِ حَٰشِرِينَ 53 ﴿ "Kemudian Fir'aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (ten-taranya) ke kota-kota." (Asy-Syu'ara`: 53). Untuk mengumpulkan orang-orang guna mengejar Bani Israil, Fir'aun dan bala tentaranya berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَشِرۡذِمَةٞ قَلِيلُونَ 54 وَإِنَّهُمۡ لَنَا لَغَآئِظُونَ 55 وَإِنَّا لَجَمِيعٌ حَٰذِرُونَ 56 فَأَخۡرَجۡنَٰهُم مِّن جَنَّٰتٖ وَعُيُونٖ 57 وَكُنُوزٖ وَمَقَامٖ كَرِيمٖ 58 كَذَٰلِكَۖ وَأَوۡرَثۡنَٰهَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ 59 فَأَتۡبَعُوهُم مُّشۡرِقِينَ 60 فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلۡجَمۡعَانِ قَالَ أَصۡحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدۡرَكُونَ 61 قَالَ كـَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ 62 فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ 63 وَأَزۡلَفۡنَا ثَمَّ ٱلۡأٓخَرِينَ 64 وَأَنجَيۡنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ أَجۡمَعِينَ 65 ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا ٱلۡأٓخَرِينَ 66 ﴿ "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga'. Maka Kami keluarkan Fir'aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demi-kianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka di waktu ma-tahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, 'Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.' Musa menjawab, 'Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku'. Lalu Kami wah-yukan kepada Musa, 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu'. Maka ter-belahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelam-kan golongan yang lain itu." (Asy-Syu'ara`: 54-66). Allah berfirman di dalam surat al-A'raf ini, ﴾ فَأَغۡرَقۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡيَمِّ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "Maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebab-kan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." Yakni disebabkan oleh pendus-taan mereka kepada ayat-ayat Allah dan berpalingnya mereka dari kebenaran yang datang kepada mereka.
(137) ﴾ وَأَوۡرَثۡنَا ٱلۡقَوۡمَ ٱلَّذِينَ كَانُواْ يُسۡتَضۡعَفُونَ ﴿ "Dan Kami pusakakan ke-pada kaum yang telah ditindas itu", di bumi. Yakni Bani Israil yang dulu adalah pelayan bagi keluarga Fir'aun yang telah menimpakan kepada mereka azab yang buruk. Allah mempusakakan kepada mereka ﴾ مَشَٰرِقَ ٱلۡأَرۡضِ وَمَغَٰرِبَهَا ﴿ "negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya." Yang dimaksud dengan bumi di sini adalah bumi Mesir di mana padanyalah mereka ditindas dan dijajah, yakni Allah menguasakannya kepada mereka dan menjadikan mereka pengua-sanya. ﴾ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَاۖ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ ٱلۡحُسۡنَىٰ عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ بِمَا صَبَرُواْۖ ﴿ "Yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka." Mana-kala Musa berkata kepada mereka, ﴾ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ 128 ﴿ "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguh-nya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakanNya kepada siapa yang di-kehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-A'raf: 128). ﴾ وَدَمَّرۡنَا مَا كَانَ يَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَقَوۡمُهُۥ ﴿ "Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya", yakni bangunan-bangunan yang besar dan tempat tinggal yang indah, ﴾ وَمَا كَانُواْ يَعۡرِشُونَ ﴿ "dan apa yang telah dibangun mereka." Itulah rumah-rumah mereka yang han-cur karena kezhaliman mereka, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengetahui.
(138) ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu", setelah Allah menyelamatkan mereka dari musuh mereka, yaitu Fir'aun dan bala tentaranya, di mana Allah telah membinasakan mereka sementara Bani Israil melihatnya. ﴾ فَأَتَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka sampai", yakni melewati ﴾ عَلَىٰ قَوۡمٖ يَعۡكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصۡنَامٖ لَّهُمۡۚ ﴿ "kepada suatu kaum yang sedang menyembah berhala mereka." Yakni mereka berdiam padanya, ngalap berkah padanya, dan menyem-bahnya, lalu mereka berkata kepada Nabi mereka, Musa عليه السلام, karena kebodohan dan ketidaktahuan mereka, setelah sebelumnya Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayatNya. ﴾ يَٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهٗا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٞۚ ﴿ "Hai Musa buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana me-reka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Yakni izinkan kami men-jadikan berhala-berhala sebagai tuhan kami seperti yang mereka lakukan. Maka Musa menjawab, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)." Adakah kejahilan yang lebih besar daripada kejahilan orang tentang Tuhan dan Penciptanya dan dia ingin menyamakanNya dengan selainNya yang tidak dapat mendatangkan manfaat, mudarat, kematian, ke-hidupan dan kebangkitan?
(139) Oleh karena itu Musa berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ مُتَبَّرٞ مَّا هُمۡ فِيهِ وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan." Karena doa mereka kepada berhala-berhala itu adalah batil dan ia sendiri adalah batil, amal dan tujuannya adalah sama-sama batil.
(140) ﴾ قَالَ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِيكُمۡ إِلَٰهٗا ﴿ "Musa menjawab, 'Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah." Yakni aku mencari tuhan selain Allah yang disembah lagi sempurna pada dzatnya, sifat-sifatnya dan perbuatan-perbuatannya, ﴾ وَهُوَ فَضَّلَكُمۡ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat." Ini me-nuntutmu menyambut nikmat dan karuniaNya dan mensyukuri hal itu dengan mengesakanNya dalam beribadah dan mengingkari apa yang dipertuhankan selainNya.
(141) Kemudian Musa mengingatkan mereka dengan nik-mat Allah kepada mereka, dia berkata, ﴾ وَإِذۡ أَنجَيۡنَٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya." Yakni Fir'aun dan bala tentaranya ﴾ يَسُومُونَكُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat." Yakni menim-pakan kepadamu azab paling buruk, di mana mereka menyembe-lih ﴾ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ وَفِي ذَٰلِكُم ﴿ "anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu", yakni kebebasan dari azab mereka adalah ﴾ بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ ﴿ "cobaan yang besar dari Rabbmu." Yakni nikmat yang besar dan karunia yang agung. Atau pada azab yang mereka timpakan itu terdapat ujian besar dari Rabbmu.
(142) Manakala Musa menasihati dan mengingatkan me-reka, mereka pun menghentikan apa yang mereka inginkan berupa berhala, dan ketika Allah menyempurnakan nikmatNya dengan keselamatan dari musuh mereka dan kekuasaan di muka bumi, maka Allah سبحانه وتعالى ingin menyempurnakan nikmatNya dengan menu-runkan kitab yang padanya terdapat hukum-hukum syariat dan akidah yang lurus. Maka Allah menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam ditambah dengan sepuluh jadi empat puluh malam, agar Musa bersiap-siap untuk memenuhi panggilan janji Allah dan agar turunnya kitab itu sangat dinantikan dan dirindukan. Manakala Musa pergi untuk bermunajat kepada Rabbnya, Musa mewasiat-kan Bani Israil kepada Harun, hal itu karena kasih sayangnya dan ketulusannya kepada mereka. ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku." Yakni jadilah kamu penggantiku dan lakukan kepada mereka apa yang aku lakukan. ﴾ وَأَصۡلِحۡ ﴿ "Dan perbaikilah", yakni ikutilah jalan kebaikan. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." Yaitu orang-orang yang berbuat kemaksiatan.
(143) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا ﴿ "Dan tatkala Musa datang untuk (mu-najat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan", untuknya untuk menurunkan kitab, ﴾ وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ ﴿ "dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya", berfirman langsung dengan wahyuNya, pe-rintah dan laranganNya, Musa berkeinginan untuk melihat Allah, jiwanya mengharapkan itu karena kecintaannya kepada Rabbnya dan sangat ingin melihatNya. ﴾ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Berkatalah Musa, 'Ya Rabbku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu." Allah menjawab, ﴾ لَن تَرَىٰنِي ﴿ "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu." Yakni sekarang kamu tidak akan mampu melihatKu, karena Allah سبحانه وتعالى menciptakan makhluk di dunia ini dalam kondisi di mana mereka tidak akan kuat dan tidak akan mampu melihat Allah. Ini tidak menunjukkan bahwa mereka tidak dapat melihat-Nya di surga, karena dalil-dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah telah menunjukkan bahwa penduduk surga akan melihat Rabb mereka dan menikmati melihat kepada wajahNya Yang Mulia. Dan bahwa Allah تعالى menghidupkan mereka secara sempurna yang dengannya mereka mampu melihat Allah تعالى. Oleh karena itu Allah mengait-kan kemungkinan melihat dengan ketetapan gunung. Allah تعالى menenangkan Musa karena tidak bisa mengabulkan permintaannya. ﴾ وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ ﴿ "Tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana sediakala)", jika Allah menampakkan diri kepadanya ﴾ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ ﴿ "niscaya ka-mu dapat melihatKu. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu", yang bisu lagi keras. ﴾ جَعَلَهُۥ دَكّٗا ﴿ "Dijadikannya gunung itu han-cur luluh." Yakni hancur berkeping-keping ibarat kerikil, karena kegoncangannya dan tidak kuatnya ia melihat Allah. ﴾ وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ ﴿ "Dan Musa pun jatuh pingsan," ketika melihat apa yang dilihat. Ma-ka jelaslah bagi Musa pada saat itu bahwa jika gunung saja tidak kuat melihat Allah, maka Musa lebih tidak kuat melihatNya. Musa memohon ampun kepada Allah تعالى karena telah meminta sesuatu yang tidak pada tempatnya. ﴾ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Musa berkata, 'Mahasuci Engkau'." Yakni Aku menyucikan dan mengagungkanMu dari apa yang tidak layak dengan kebesaranMu. ﴾ تُبۡتُ إِلَيۡكَ ﴿ "Aku bertaubat kepada Engkau", dari segala dosa dan kekurangajaran kepadaMu. ﴾ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku orang yang pertama-tama beriman." Yakni Musa menyempurna-kan imanNya dengan sesuatu yang sebelum-nya tidak dia ketahui.
(144) Manakala Allah tidak memberikan kesempatan ke-pada Nabi Musa untuk melihatNya setelah sebelumnya dia sangat menginginkannya, maka Allah memberikan kepadanya kebaikan yang banyak. Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّي ٱصۡطَفَيۡتُكَ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu)." Yakni Aku memilihmu, mengangkatmu, melebihkan-mu, dan mengkhususkanmu dengan keutamaan-keutamaan yang besar dan kemuliaan-kemuliaan yang agung, ﴾ بِرِسَٰلَٰتِي ﴿ "untuk mem-bawa risalahKu." Di mana Aku tidak mengkhususkan dan memberi-kannya kecuali kepada orang yang paling mulia, ﴾ وَبِكَلَٰمِي ﴿ "dan untuk berbicara langsung denganKu", tanpa perantara. Ini adalah keutamaan khusus Musa al-Kalim (Rasul Allah yang diajak berbicara langsung oleh Allah) dan dia dikenal di kalangan saudara-saudaranya para rasul yang lain dengan itu. ﴾ فَخُذۡ مَآ ءَاتَيۡتُكَ ﴿ "Sebab itu berpegang teguh-lah kepada apa yang Aku berikan kepadamu." Yakni dari nikmat-nikmat, dan ambillah perintah dan larangan yang Aku berikan kepadamu dengan lapang dada, terimalah ia dengan ketundukan, ﴾ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur," kepada Allah atas apa yang Dia khususkan dan karuniakan kepadamu.
(145) ﴾ وَكَتَبۡنَا لَهُۥ فِي ٱلۡأَلۡوَاحِ مِن كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu", yang dibutuhkan oleh para hamba ﴾ مَّوۡعِظَةٗ ﴿ "sebagai pelajaran" yang mendorong jiwa untuk berbuat kebaikan dan menakutinya untuk berbuat keburukan. ﴾ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan penjelasan bagi segala sesuatu", dari hukum-hukum syar'i, akidah, akhlak dan adab. ﴾ فَخُذۡهَا بِقُوَّةٖ ﴿ "Maka (Kami berfirman), 'Berpeganglah kepadanya dengan teguh." Yakni dengan sungguh-sungguh dan serius dalam menegakkannya. ﴾ وَأۡمُرۡ قَوۡمَكَ يَأۡخُذُواْ بِأَحۡسَنِهَاۚ ﴿ "Dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya." Yaitu perintah-perintah yang bersifat wajib dan dianjurkan, karena ia adalah yang terbaik. Di dalam penjelasan ini terdapat dalil bahwa perintah Allah dalam setiap syariat adalah sempurna, adil, dan baik. ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ دَارَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Nanti Aku akan memper-lihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik." Setelah Allah mem-binasakan mereka dan menyisakan negeri-negeri mereka sebagai pelajaran sesudah mereka bagi orang-orang Mukmin yang diberi taufik lagi rendah diri.9
(146) Adapun selain mereka, maka Allah berfirman tentang mereka, ﴾ سَأَصۡرِفُ عَنۡ ءَايَٰتِيَ ﴿ "Aku akan memalingkan dari tanda-tanda kekua-saanKu." Yakni dari mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang ada di langit dan yang ada pada diri manusia dan pemahaman terhadap ayat-ayat kitab ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "orang-orang yang menyom-bongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar." Yakni mereka menyombongkan diri kepada hamba-hamba Allah dan kepada kebe-naran serta kepada pembawanya. Siapa saja yang memiliki kriteria ini, maka Allah tidak akan memberikan kebaikan kepadanya, Allah akan menelantarkannya dan dia tidak dapat memahami ayat-ayat Allah yang bermanfaat bagi diri bahkan bisa jadi hakikat-hakikat perkara menjadi jungkir balik baginya yang selanjutnya dia meng-anggap yang buruk sebagai sesuatu yang baik. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ كُلَّ ءَايَةٖ لَّا يُؤۡمِنُواْ بِهَا ﴿ " Jika mereka melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya." Karena mereka berpaling, menyangkal dan menentang Allah dan RasulNya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلرُّشۡدِ ﴿ "Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk", yang lurus dan benar, yaitu jalan yang mengantarkan kepada Allah dan kepada rumah kemuliaan-Nya (surga), ﴾ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗا ﴿ "mereka tidak mau menempuhnya." Yakni mereka tidak mau menitinya dan tidak menyukainya. ﴾ وَإِن يَرَوۡاْ سَبِيلَ ٱلۡغَيِّ ﴿ "Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan", yakni kesesatan yang mengantarkan pelakunya kepada rumah kesengsaraan (mereka), ﴾ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلٗاۚ ﴿ "mereka terus menempuhnya." Penyebab penyimpangan mereka seperti itu karena ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُواْ عَنۡهَا غَٰفِلِينَ ﴿ "yang de-mikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya." Penolakan mereka terhadap ayat-ayat Allah, kelalaiannya terhadap maksudnya dan pelecehannya terhadapnya adalah penyebab mereka menempuh jalan kesesatan dan mening-galkan jalan lurus.
(147) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami", yang agung, yang menunjukkan kebenaran rasul-rasul yang telah Kami utus, ﴾ وَلِقَآءِ ٱلۡأٓخِرَةِ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡۚ ﴿ "dan mendus-takan akan menemui Akhirat, maka sia-sialah perbuatan mereka." Karena perbuatan tersebut tidak dilakukan di atas fondasi syariat dan telah hilang darinya syarat diterimanya, yaitu beriman kepada ayat-ayat-Nya dan membenarkan balasanNya. ﴾ هَلۡ يُجۡزَوۡنَ ﴿ "Mereka tidak diberi balasan", tentang amal perbuatan mereka yang sia-sia dan terjadinya apa yang tidak mereka harapkan ﴾ إِلَّا مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "selain dari apa yang telah mereka kerjakan." Sesungguhnya amal perbuatan orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak ada pahala yang di-harapkan padanya dan tidak memiliki tujuan yang dicapai. Oleh karena itu ia batal dan sia-sia.
(148) ﴾ وَٱتَّخَذَ قَوۡمُ مُوسَىٰ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِنۡ حُلِيِّهِمۡ عِجۡلٗا جَسَدٗا ﴿ "Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh", yang dibuat oleh Samiri dan dia masukkan bekas jejak Rasul ke dalamnya, maka ia ﴾ لَّهُۥ خُوَارٌۚ ﴿ "bersuara." Maka mereka pun menyembahnya dan menjadikannya sebagai tuhan. Samiri berkata "Ini adalah tuhanmu dan tuhan Musa. Musa lupa sehingga dia pergi untuk mencarinya." Ini adalah ke-bodohan mereka dan minimnya ilmu mereka. Bagaimana mereka tidak bisa membedakan antara Tuhan langit dan bumi dengan anak sapi makhluk yang paling hina? Oleh karena itu Allah menjelaskan bahwa ia tidak memiliki sifat-sifat dzat dan perbuatan yang me-nunjukkan bahwa ia adalah tuhan. ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمۡ ﴿ "Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka." Bisu adalah kekurangan yang nyata. Mereka sendiri lebih baik keadaannya daripada hewan atau benda mati yang tidak ber-bicara, ﴾ وَلَا يَهۡدِيهِمۡ سَبِيلًاۘ ﴿ "dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?" Yakni ia tidak dapat menunjukkan mereka jalan agama dan tidak dapat menghasilkan kebaikan dunia untuk mereka, kare-na sudah diketahui oleh akal bahwa menyembah tuhan yang tidak bisa bicara, tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat termasuk kebatilan yang paling batil dan kedunguan yang paling dungu. ﴾ ٱتَّخَذُوهُ وَكَانُواْ ظَٰلِمِينَ ﴿ "Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim." Di mana mereka meletak-kan ibadah tidak pada tempatnya dan menyekutukan Allah tanpa bukti dalil dariNya. Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa siapa yang mengingkari Kalamullah berarti mengingkari kekhususan uluhiyah Allah تعالى, karena Allah menyebutkan bahwa ketidakmam-puan berbicara adalah dalil ketidaklayakannya untuk dijadikan sebagai tuhan.
(149) ﴾ وَلَمَّا ﴿ "Dan manakala", Musa kembali kepada kaum-nya, dia mendapati mereka dalam keadaan tersebut. Musa menje-laskan kesesatan mereka, dan mereka pun menyesal. ﴾ سُقِطَ فِيٓ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Mereka sangat menyesali perbuatannya." Yakni bersedih tanda pe-nyesalan atas perbuatan mereka, ﴾ وَرَأَوۡاْ أَنَّهُمۡ قَدۡ ضَلُّواْ ﴿ "dan mengetahui bahwa mereka telah sesat", mereka pun kembali kepada Allah dan merendahkan diri di hadapanNya. ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ يَرۡحَمۡنَا رَبُّنَا ﴿ "Mereka pun berkata, 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami," dengan membimbing kita kepada jalan yang lurus, memberi taufik kepada ibadah kepadaNya dan kepada amal-amal shalih, ﴾ وَيَغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "dan tidak mengampuni kami", atas dosa menyembah anak sapi yang telah kami lakukan, ﴾ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi," yang merugi di dunia dan di Akhirat.
(150) ﴾ وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا ﴿ "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati." Yakni Musa dipenuhi oleh amarah dan emosi kepada mereka karena kecemburuannya yang besar terhadap Allah تعالى dan kasih sayang serta ketulusan-nya yang sempurna. ﴾ قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ ﴿ "Berkatalah dia, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku'." Yakni alangkah buruknya keadaan kalian setelah kepergianku dari kalian, sesungguhnya ia adalah keadaan yang menyeret kepada kebinasaan dan kesengsaraan untuk selama-lamanya. ﴾ أَعَجِلۡتُمۡ أَمۡرَ رَبِّكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu?" Di mana Dia telah menjan-jikan kepadamu untuk menurunkan kitab tetapi kamu tergesa-gesa dengan akalmu yang rusak sehingga melakukan perbuatan buruk ini. ﴾ وَأَلۡقَى ٱلۡأَلۡوَاحَ ﴿ "Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu." Yakni dia melemparnya karena marah. ﴾ وَأَخَذَ بِرَأۡسِ أَخِيهِ ﴿ "Dan memegang (rambut) kepala saudaranya", Harun dan juga jenggotnya, ﴾ يَجُرُّهُۥٓ إِلَيۡهِۚ ﴿ "sambil menariknya ke arahnya." Dan Musa berkata kepadanya, ﴾ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ 92 أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي 93 ﴿ "Apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (se-ngaja) mendurhakai perintahku?" (Thaha: 92-93), kepadamu dengan ucapanku, ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 142 ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (Al-A'raf: 142). Harun menjawab, ﴾ قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي 94 ﴿ "Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak me-melihara amanatku'." (Thaha: 94). Dan di sini Harun menjawab, ﴾ قَالَ ٱبۡنَ أُمَّ ﴿ "Hai anak ibuku", ucapan ini untuk melunakkan Musa dengan hanya menyinggung ibu saja. Namun demikian, sebenarnya dia adalah saudara kandung-nya. ﴾ إِنَّ ٱلۡقَوۡمَ ٱسۡتَضۡعَفُونِي ﴿ "Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah." Yakni mereka meremehkanku ketika aku berkata kepada mereka, "Wahai kaum, kalian hanya difitnah dengannya dan bahwa Rabbmu adalah Allah Yang Maha Rahman, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku. ﴾ وَكَادُواْ يَقۡتُلُونَنِي ﴿ "Dan hampir-hampir mereka membu-nuhku." Yakni janganlah kamu mendugaku lalai. ﴾ فَلَا تُشۡمِتۡ بِيَ ٱلۡأَعۡدَآءَ ﴿ "Sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku", dengan hardikanmu kepadaku dan perlakuan burukmu kepadaku, karena musuh-musuh selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam memunculkan kesalahan dan menemukan kekeliruan pada-ku, ﴾ وَلَا تَجۡعَلۡنِي مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zhalim." Lalu kamu memperlakukanku seperti mereka.
(151) Musa عليه السلام menyesal atas perbuatannya yang terburu-buru terhadap saudaranya sebelum dia mengetahui bahwa sauda-ranya tidak seperti yang dia duga. Musa berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي ﴿ "Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku", Harun. ﴾ وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ ﴿ "Dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu." Yakni di dalamnya, ja-dikanlah rahmatMu meliputi kami dari segala segi karena ia adalah benteng yang kokoh dari segala keburukan dan di sanalah seluruh kebaikan dan kebahagiaan. ﴾ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." Yakni, lebih menyayangi kami dari seluruh penyayang, lebih sayang kepada kami daripada bapak, ibu, anak dan diri kami sendiri.
(152) Allah تعالى menjelaskan keadaan para penyembah anak sapi. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ ٱلۡعِجۡلَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sesembahannya)", yakni sebagai tuhan, ﴾ سَيَنَالُهُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَذِلَّةٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia." Sebagaimana mereka telah membuat Rabb mereka marah dan meremehkan pe-rintahNya. ﴾ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُفۡتَرِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan ke-pada orang-orang yang membuat-buat kebohongan." Semua pendusta atas nama Allah, pembohong atas syariatNya, dan mengucapkan sesuatu atas namaNya apa yang tidak Dia katakan; akan menda-patkan bagian dari murka Allah dan kehinaan di dunia.
(153) Mereka telah mendapatkan murka dari Allah, di mana Dia memerintahkan mereka membunuh diri mereka, dan bahwa Allah tidak meridhai mereka kecuali dengan itu. Lalu sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain dan pembunuhan tersebut memakan korban yang banyak, kemudian Allah mengampuni me-reka setelah itu. Oleh karena itu Allah menyebutkan hukum secara umum, di mana mereka dan selain mereka masuk ke dalamnya. ﴾ وَٱلَّذِينَ عَمِلُواْ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan", baik dosa syirik, dosa besar, dan dosa kecil, ﴾ ثُمَّ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "kemudian bertau-bat sesudah itu." Yakni mereka menyesalinya, meninggalkannya, dan bertekad tidak kembali mengulangnya ﴾ وَءَامَنُوٓاْ ﴿ "dan beriman", kepada Allah dan kepada apa yang Allah wajibkan untuk diimani, dan iman tidak sempurna kecuali dengan amalan hati dan amalan anggota badan yang merupakan tuntutan iman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعۡدِهَا ﴿ "se-sungguhnya Rabbmu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu." Yakni setelah keadaan ini keadaan taubat dari kejahatan dan kem-bali kepada ketaatan, ﴾ لَغَفُورٞ ﴿ "adalah Maha Pengampun", mengam-puni keburukan dan menghapusnya meskipun ia sepenuh jagad, ﴾ رَّحِيمٞ ﴿ "lagi Maha Penyayang," dengan menerima taubat dan mem-beri taufik untuk dapat beramal shalih dan menerimanya.
(154) ﴾ وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلۡغَضَبُ ﴿ "Sesudah amarah Musa menjadi reda." Yakni kemarahannya reda, jiwanya tenang, dan dapat mengu-asai dirinya, maka dia mulai melakukan perkara paling penting padanya, maka dia mengambil ﴾ ٱلۡأَلۡوَاحَۖ ﴿ "Luh-luh (Taurat) itu", yang dia lemparkan, dan ia adalah luh-luh yang mulia dan berukuran besar, ﴾ وَفِي نُسۡخَتِهَا ﴿ "dan dalam tulisannya", yakni mengandung dan berisi ﴾ هُدٗى وَرَحۡمَةٞ ﴿ "petunjuk dan rahmat." Yakni, di dalamnya terda-pat petunjuk dari kesesatan, penjelasan tentang kebenaran dari kebatilan, perbuatan baik dan perbuatan buruk, petunjuk kepada amalan, akhlak, dan adab terbaik, serta rahmat dan kebahagiaan bagi yang melaksanakannya dan mengetahui hukum-hukum dan makna-maknanya. Akan tetapi tidak semua orang mau menerima petunjuk Allah dan RahmatNya. Yang bersedia menerima, menaati, dan tunduk kepadanya adalah ﴾ لِّلَّذِينَ هُمۡ لِرَبِّهِمۡ يَرۡهَبُونَ ﴿ "orang-orang yang takut kepada Rabbnya." Adapun orang yang tidak takut kepada Allah dan tidak pula kepada pengadilan di hadapanNya, maka ia hanya menambah kesombongannya dan penolakannya, dan hujjah Allah pun tegak atasnya.
(155) Dan tatkala Bani Israil bertaubat serta kembali ke jalan mereka yang lurus ﴾ وَٱخۡتَارَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa memilih", dari mereka ﴾ سَبۡعِينَ رَجُلٗا ﴿ "tujuh puluh orang", terbaik di antara mereka untuk memohon maaf kepada Allah bagi kaum mereka. Allah menjanjikan kepada mereka waktu di mana mereka bisa menghadirinya. Manakala me-reka telah hadir, mereka berkata, "Wahai Musa, tunjukkanlah Allah kepada kami secara nyata." Mereka telah berkata sangat lancang kepada Allah, bersikap kurang ajar kepadaNya, maka mereka pun digoncang gempa, sehingga mereka pingsan dan binasa, maka Musa tiada henti-hentinya berdoa merendahkan diri kepada Allah dan berkata, ﴾ رَبِّ لَوۡ شِئۡتَ أَهۡلَكۡتَهُم مِّن قَبۡلُ ﴿ "Ya Rabbku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka sebelum ini." Yakni sebelum mereka hadir dan mereka dalam keadaan memohon maaf untuk kaum mereka, justru mereka sekarang menjadi orang-orang yang zhalim. ﴾ أَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَّآۖ ﴿ "Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?" Yakni orang-orang berakal bodoh dan berpikiran pandir. Musa merendahkan diri kepada Allah dan memohon pemakluman karena orang-orang yang berbuat kelancangan tersebut tidak memiliki akal yang sem-purna yang menjaga mereka sehingga mereka tidak mengucapkan dan melakukan demikian, dan bahwa telah terjadi fitnah pada diri mereka yang terlintas pada diri seseorang dan dia khawatir agama-nya akan lenyap. Maka dia berkata, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّا فِتۡنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَآءُ وَتَهۡدِي مَن تَشَآءُۖ أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۖ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡغَٰفِرِينَ ﴿ "Itu hanyalah cobaan dariMu, Engkau sesat-kan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri pe-tunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkau-lah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau-lah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." Yakni Engkau adalah sebaik-baik pemaaf, sebaik-baik yang menyayangi, dan semulia-mulia pemberi karunia. Seakan-akan Musa عليه السلام berkata, "Wahai Rabb, yang dimaksud dengan tujuan pertama bagi kami semua adalah menaatiMu dan beriman kepadaMu, dan bahwa orang yang ber-akal, mengerti, dan memahaminya dengan sempurna sesuai dengan taufik yang telah Engkau berikan, maka ia tetap bersikap lurus. Adapun orang yang lemah akalnya, pandir pemikirannya, dan di-belokkan oleh fitnah, maka dialah yang melakukan pelanggaran itu, meskipun demikian Engkau adalah sebaik-baik Penyayang dan sebaik-baik Pengampun, maka ampunilah dan sayangilah kami." Maka Allah mengabulkan permintaan Musa dan menghidupkan mereka setelah mereka mati dan mengampuni dosa-dosa mereka.
(156) Musa menyempurnakan doanya, ﴾ وَٱكۡتُبۡ لَنَا فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ ﴿ "Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini", berupa ilmu yang bermanfaat, rizki yang lapang, dan amal yang shalih. ﴾ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dan di Akhirat", yakni dengan kebajikan, yaitu pahala yang Allah sediakan untuk hamba-hambaNya yang shalih. ﴾ إِنَّا هُدۡنَآ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepadaMu." Yakni kami kem-bali dengan mengakui kelalaian kami. Kami kembali kepadaMu dalam segala urusan kami. ﴾ قَالَ عَذَابِيٓ أُصِيبُ بِهِۦ مَنۡ أَشَآءُۖ ﴿ "Allah berfirman, 'SiksaKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki," dari kala-ngan orang yang sengsara yang menentang sebab-sebabnya. ﴾ وَرَحۡمَتِي وَسِعَتۡ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Dan RahmatKu meliputi segala sesuatu," meliputi langit dan bumi, orang baik dan orang jahat, Mukmin dan kafir, tiada makhluk kecuali rahmat Allah telah dia rasakan, karunia dan ke-baikanNya telah dia cicipi, akan tetapi rahmat yang khusus yang berkonsekuensi kepada kebahagiaan dunia dan akhirat tidak dira-sakan oleh semua orang. Oleh karena itu Dia berfirman tentangnya, ﴾ فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ﴿ "Maka akan Aku tetapkan RahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa", dari kemaksiatan besar dan kecil, ﴾ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "yang menunaikan zakat", yang wajib ditunaikan kepada yang ber-hak, ﴾ وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَٰتِنَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami."
(157) Di antara kesempurnaan iman kepada ayat-ayat Allah adalah mengetahui maknanya dan menjalankan konsekuensinya. Termasuk dalam hal ini adalah mengikuti Nabi ﷺ lahir dan batin dalam perkara agama, baik yang ushul (pokok) maupun yang furu' (cabang). ﴾ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang meng-ikuti Rasul, Nabi yang ummi." Dikatakan ummi agar nabi-nabi yang lain tidak termasuk di dalamnya, karena yang dimaksud di sini adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib, sementara konteks ayatnya adalah tentang Bani Israil, bahwa iman kepada Nabi Muhammad adalah syarat atas mereka untuk masuk ke dalam iman, bahwa orang-orang yang beriman kepadanya yang mengiku-tinya adalah orang-orang yang mendapatkan rahmat yang mutlak yang telah Allah tulis untuk mereka. Allah menyifatinya dengan ummi karena dia dari bangsa Arab umat yang ummi, tidak menulis dan tidak membaca, dan sebelum al-Qur`an turun mereka tidak memiliki kitab. ﴾ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ ﴿ "Yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka." Dengan nama dan sifatnya di mana yang paling mulia dan paling agung adalah apa yang dia dakwahkan dan apa yang dia larang. ﴾ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf." Yaitu semua yang diketahui kebaikannya, kebagusannya, dan man-faatnya. ﴾ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar." Yaitu semua yang dikenal buruknya menurut akal dan fitrah. Dia memerintahkan mereka untuk shalat, zakat, puasa, haji, silaturahim, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada tetangga dan hamba sahaya, memberikan manfaat kepada seluruh makhluk, kejujuran, kesucian diri, kebaikan, nasihat, dan lain-lain. Dia melarang syirik kepada Allah, membunuh tanpa ala-san yang benar, zina, minum khamar, kezhaliman kepada makhluk lain, dusta, dosa, dan lain-lain. Bukti paling agung bahwa dia adalah Rasul Allah adalah apa yang dia dakwahkan dan dia perintahkan dan apa yang dia larang, apa yang dia halalkan dan apa yang dia haramkan. Dia menghalalkan yang baik-baik dari makanan, mi-numan, dan pernikahan, ﴾ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ ﴿ "dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk", dari makanan, minuman, pernikahan, ucapan dan perbuatan, ﴾ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "dan mem-buang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." Yakni di antara sifatnya adalah bahwa agamanya mudah, ringan, tidak sulit, tidak ada beban, tidak ada belenggu, tidak ada kesulitan, dan tidak ada pembebanan syariat yang berat. ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman kepada-nya, memuliakannya", yakni mengagungkannya dan menghormati-nya. ﴾ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ﴿ "Menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya", yaitu al-Qur`an yang mene-rangi di kegelapan keraguan dan kebodohan, dijadikan pegangan pada saat terjadi pertentangan pendapat. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang beruntung." Yang meraih kebaikan di dunia dan akhirat, yang selamat dari keburukan dunia dan akhirat, karena mereka melakukan sebab keberuntungan terbesar. Adapun orang yang tidak beriman kepada Nabi ummi ini, tidak memuliakannya, tidak menolongnya, dan tidak mengikuti cahaya yang dibawanya, maka dia adalah orang-orang yang merugi.
(158) Manakala ahli Taurat dari Bani Israil diajak untuk me-ngikuti Nabi Muhammad, dan mungkin ada yang mengira bahwa ajakan tersebut hanya terbatas kepada mereka, maka dihadirkan lafazh yang menunjukkan keumuman, maka Allah berfirman, ﴾ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguh-nya aku adalah utusan Allah kepadamu semua'." Yakni bangsa Arab dan yang non Arab, ahli kitab dan yang bukan ahli kitab. ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi." Dia bertindak pada keduanya dengan hukum-hukumNya yang kauniyah, peraturan-peraturan kekuasaanNya, dan hukum-hukum syar'iyah diniyah yang di antaranya adalah bahwa Dia mengutus kepadamu seorang Rasul yang agung yang mengajakmu kepada Allah dan kepada rumah kemuliaanNya (surga), dan memperingat-kanmu dari setiap perkara yang menjauhkanmu dariNya dan dari rumah kemuliaanNya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tidak ada tuhan (yang berhak di-sembah) selain Dia." Yakni tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan cara beribadah kepadaNya tidak diketahui kecuali melalui rasul-rasulNya. ﴾ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Yang menghidupkan dan mematikan." Yakni di antara PengaturanNya adalah menghidupkan dan mematikan, di mana tidak ada seorang pun yang menyertaiNya dalam hal ini di mana Allah menjadikan kematian sebagai jembatan penyeberangan ke rumah kekekalan di mana barangsiapa yang beriman kepada-nya, pasti akan membenarkan Rasul. ﴾ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ﴿ "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi." Iman dengan hati yang mencakup amal hati dan anggota badan. ﴾ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ ﴿ "Yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-ka-limatNya (kitab-kitabNya)." Yakni berimanlah kepada Rasul yang lurus ini dalam akidah dan perbuatannya. ﴾ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ﴿ "Dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk," kepada kebaikan duniamu dan agamamu, karena jika kamu tidak mengikutinya, maka kamu akan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.
(159) ﴾ وَمِن قَوۡمِ مُوسَىٰٓ أُمَّةٞ ﴿ "Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat." Yakni jamaah, ﴾ يَهۡدُونَ بِٱلۡحَقِّ وَبِهِۦ يَعۡدِلُونَ ﴿ "Yang memberi pe-tunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan." Yakni mereka memberi petunjuk kepada ma-nusia dengan pengajaran dan fatwa kepada mereka dan berlaku adil di antara mereka dalam memutuskan perkara-perkara di an-tara mereka, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 24 ﴿ "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24). Ini menunjukkan keutamaan umat Nabi Musa عليه السلام, dan bahwa Allah تعالى menjadikan di antara mereka orang-orang yang memberi petunjuk dengan perintahNya. Dan sepertinya ayat yang mulia ini hadir untuk menepis kesalahan pemahaman dari penjelasan-penje-lasan sebelumnya, karena dalam ayat-ayat sebelumnya Allah me-nyebutkan sekumpulan aib Bani Israil yang bertentangan dan ber-tabrakan dengan hidayah dan kesempurnaan, mungkin saja ada yang menduga salah bahwa hal itu ada pada Bani Israil semuanya, maka Allah menyebutkan bahwa di antara mereka ada sekelompok orang yang lurus yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk tersebut kepada orang lain.
(160) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمُ ٱثۡنَتَيۡ عَشۡرَةَ أَسۡبَاطًا أُمَمٗاۚ ﴿ "Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar." Yakni dua belas suku yang selalu mengenal dan berhubungan baik. Setiap ke-turunan seorang laki-laki dari anak-anak Ya'qub adalah satu suku. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ إِذِ ٱسۡتَسۡقَىٰهُ قَوۡمُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya." Yakni mereka meminta kepada-nya untuk berdoa kepada Allah تعالى agar memberi mereka air untuk minum mereka dan ternak mereka, hal itu karena –wallahu a'lam– mereka berada di daerah minim air. Maka Allah menjawab permin-taan mereka dengan mewahyukan kepada Musa, ﴾ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ ﴿ "Pukullah batu itu dengan tongkatmu." Ada kemungkinan ia adalah batu tertentu, ada kemungkinan ia adalah jenis batu apa saja. Musa memukulnya. ﴾ فَٱنۢبَجَسَتۡ ﴿ "maka memancarlah", dari batu tersebut ﴾ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَيۡنٗاۖ ﴿ "dua belas mata air", mengalir. ﴾ قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٖ مَّشۡرَبَهُمۡۚ ﴿ "Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum ma-sing-masing." Yakni mata air itu terbagi menjadi dua belas sesuai dengan jumlah suku Bani Israil, masing-masing suku dengan mata airnya, mereka mengetahuinya, mereka tenang, terbebas dari kele-lahan dan tanpa berdesak-desakan, dan ini termasuk kesempurnaan nikmat Allah kepada mereka. ﴾ وَظَلَّلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡغَمَٰمَ ﴿ "Dan Kami naungkan awan di atas mereka." Ia melindungi mereka dari panas matahari. ﴾ وَأَنزَلۡنَا عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَنَّ ﴿ "Dan Kami turunkan kepada mereka manna", yaitu sesuatu yang manis (seperti madu. Ed) ﴾ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ ﴿ "dan salwa", yaitu daging burung terbaik dan terlezat. Allah mengumpulkan untuk mereka naungan awan, minuman, dan makanan yang enak yaitu manna dan salwa yang didapat tanpa lelah dan capek. Dikatakan kepada mereka, ﴾ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا ﴿ 'Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepadamu'. Mereka tidak menganiaya Kami," manakala mereka tidak bersyukur kepada Allah dan tidak menunaikan apa yang Allah wajibkan atas mereka. ﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." Di mana mereka menyia-nyiakan kebaikan dan menentang resiko keburukan dan azab. Ini terjadi pada masa di mana mereka tersesat dari bumi.
(161) ﴾ وَإِذۡ قِيلَ لَهُمُ ٱسۡكُنُواْ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), 'Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis)'." Yakni masuklah ke dalamnya agar ia menjadi tempat tinggal dan negerimu, yaitu Ailia (Baitul Maqdis). ﴾ وَكُلُواْ مِنۡهَا حَيۡثُ شِئۡتُمۡ ﴿ "Dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki." Yakni negeri dengan pohon yang lebat dan buah yang banyak serta kehi-dupan yang nyaman. Oleh karena itu Allah memerintahkan mereka agar makan darinya sesuka mereka. ﴾ وَقُولُواْ ﴿ "Dan katakanlah", ketika kamu masuk, ﴾ حِطَّةٞ ﴿ "Bebaskanlah kami dari dosa kami." Yakni ha-puskanlah kesalahan kami dan maafkanlah kami. ﴾ وَٱدۡخُلُواْ ٱلۡبَابَ سُجَّدٗا ﴿ "Dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk." Yakni dengan merendahkan diri kepada Allah, mengakui kebesaranNya dan mensyukuri nikmatNya. Allah memerintahkan mereka agar tunduk dan memohon ampunan, dan menjanjikan mereka ampunan atas dosa-dosa mereka dan pahala di dunia dan Akhirat. Dia berfirman, ﴾ نَّغۡفِرۡ لَكُمۡ خَطِيٓـَٰٔتِكُمۡۚ سَنَزِيدُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik." Dari kebaikan dunia dan akhirat.
(162) Mereka tidak menggubris perintah Ilahi ini, justru orang-orang zhalim dari mereka merubahnya, yakni mereka me-langgar dan meremehkan perintah Allah. ﴾ قَوۡلًا غَيۡرَ ٱلَّذِي قِيلَ لَهُمۡ ﴿ "dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka", sebagai ganti meminta ampun dan mengucapkan "hiththah", mereka berkata, "Satu biji gandum." Jika mereka merubah ucapan meski ia sangat mudah, maka mereka lebih berani lagi merubah perbuatan. Oleh karena itu mereka masuk dengan cara mengesot. ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka Kami timpakan kepada mereka", ketika mereka menyelisihi perintah Allah dan durhaka kepadaNya, ﴾ رِجۡزٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "azab dari langit." Yakni azab yang berat, bisa jadi tha'un atau azab dari langit yang lain, Allah tidak menzhalimi mereka dengan azabNya, akan tetapi hal itu ﴾ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ﴿ "disebabkan kezhaliman mereka."
(163) ﴾ وَسۡـَٔلۡهُمۡ عَنِ ٱلۡقَرۡيَةِ ٱلَّتِي كَانَتۡ حَاضِرَةَ ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut", di pantai ketika mereka melanggar dan Allah menghukum mereka ﴾ إِذۡ يَعۡدُونَ فِي ٱلسَّبۡتِ ﴿ "ketika mereka melanggar aturan pada Hari Sabtu." Padahal Allah تعالى telah memerintahkan mereka agar menghormatinya dan mengagungkannya dengan tidak menangkap ikan pada hari itu, lalu Allah menguji mereka, di mana pada Hari Sabtu ikan-ikan be-sar muncul di permukaan laut dalam jumlah yang banyak. ﴾ وَيَوۡمَ لَا يَسۡبِتُونَ ﴿ "Dan di hari-hari yang bukan Sabtu." Yakni jika Hari Sabtu berlalu ﴾ لَا تَأۡتِيهِمۡۚ ﴿ "ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka." Yakni ia menghilang dan mereka tidak melihat seekor pun. ﴾ كَذَٰلِكَ نَبۡلُوهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka ber-laku fasik." Kefasikan mereka yang menyebabkan Allah menguji mereka dengan ujian tersebut, karena jika mereka tidak demikian, niscaya Allah membebaskan mereka dan tidak menimpakan ujian dan keburukan kepada mereka.
(164) Namun mereka tetap berburu dengan membuat tipuan, mereka menggali lubang-lubang dan memasang jaring-jaring, jika Hari Sabtu tiba, maka ikan-ikan itu tertangkap ke dalam lubang-lubang dan jaring-jaring tersebut, tetapi mereka tidak mengambil-nya pada hari itu, jika Hari Ahad tiba, maka mereka mengambilnya dan hal itu sering terjadi pada mereka. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Mayoritas dari mereka tidak mengindahkan dan mereka melanggar secara terang-terangan. Kelompok kedua melarang dan mengingkari perbuatan kelompok mayoritas. Dan kelompok ketiga merasa cukup dengan apa yang dilakukan oleh kelompok kedua. Kelompok ini berkata, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Sepertinya mereka berkata, "Tidak ada gunanya menasihati orang yang berani melang-gar larangan Allah dan tidak menghiraukan nasihat yang tulus, tetapi justru tetap teguh di atas pelanggaran dan kezhaliman, karena Allah pasti akan menghukum mereka, baik dengan kebinasaan atau azab yang pedih." Orang-orang yang memberi nasihat menjawab, "Kami melarang dan menasihati mereka, ﴾ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ ﴿ 'agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu.' Yakni agar kami dimaafkan berkenaan dengan apa yang mereka lakukan, ﴾ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "dan supaya mereka bertakwa." Yakni mereka meninggal-kan kemaksiatan yang mereka lakukan. Maka kami tidak berputus asa dari usaha memberi petunjuk kepada mereka, bisa jadi nasihat kami mujarab pada mereka, larangan kami didengar oleh mereka, dan inilah tujuan terbesar dari pengingkaran terhadap kemungka-ran, agar ia berfungsi sebagai alasan dan penegakan hujjah atas yang diperintah dan yang dilarang, dan semoga Allah memberinya petunjuk lalu dia melaksanakan tuntutan dari perintah dan lara-ngan tersebut.
(165) ﴾ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦٓ ﴿ "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperintahkan kepada mereka." Mereka meninggalkan apa yang diperingatkan kepada mereka dan mereka terus berjalan di atas pelanggaran dan kesesatan. ﴾ أَنجَيۡنَا ٱلَّذِينَ يَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلسُّوٓءِ ﴿ "Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat." Begitulah sunnah Allah pada hamba-hambaNya, bahwa jika azab telah turun, maka yang selamat adalah orang-orang yang beramar ma'ruf dan bernahi mungkar. ﴾ وَأَخَذۡنَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim." Yaitu orang-orang yang melanggar pada Hari Sabtu ﴾ بِعَذَابِۭ بَـِٔيسِۭ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik." Adapun kelompok yang lain yang berkata kepada orang-orang yang melarang, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka." Maka ahli tafsir berbeda pen-dapat tentang apakah mereka selamat atau tidak, dan sepertinya mereka itu selamat, karena Allah mengkhususkan kebinasaan bagi orang-orang yang zhalim, sedangkan Dia tidak menyatakan mereka sebagai orang-orang yang zhalim. Ini menunjukkan bahwa azab hanya menimpa orang-orang yang melanggar di Hari Sabtu saja. Di samping itu amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah fardhu ki-fayah. Jika ia telah ditunaikan oleh sebagian orang, maka ia gugur dari sebagian yang lain, maka mereka merasa cukup dengan peng-ingkaran orang-orang yang mengingkari, dan karena sebenarnya mereka juga mengingkari dengan ucapan mereka, ﴾ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابٗا شَدِيدٗاۖ ﴿ "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" (Al-A'raf: 164). Mereka menampakkan kemarahan kepada orang-orang zhalim itu yang menunjukkan bahwa mereka sangat membenci perbuatan mereka dan bahwa Allah akan mengazab mereka atasnya.
(166) ﴾ فَلَمَّا عَتَوۡاْ عَن مَّا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya." Yakni, hati mereka keras, menolak dan tidak mau menerima nasihat. ﴾ قُلۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Kami katakan kepadanya", dengan perkataan sebagai takdir. ﴾ كُونُواْ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ ﴿ "Jadilah kamu kera yang hina." Mereka berubah menjadi kera dengan izin Allah dan Allah menjauhkan mereka dari RahmatNya.
(167) Kemudian Allah menyebutkan kehinaan dan kenis-taan yang menimpa orang-orang yang tersisa dari mereka. Dia ber-firman, ﴾ وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكَ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Rabbmu memberitahukan", dengan pemberitahuan yang jelas, ﴾ لَيَبۡعَثَنَّ عَلَيۡهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَن يَسُومُهُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِۗ ﴿ "bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang yahudi) sampai Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya." Yakni yang menghina-kan dan merendahkan mereka. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Sesunggguhnya Rabbmu amat cepat siksaNya", kepada orang yang mendurhakaiNya, bahwa Dia bisa menyegerakan hukuman di dunia kepadanya. ﴾ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang," bagi yang kembali dan bertaubat kepadaNya. Dia mengam-puni dosanya dan menutupi aib-aibnya, menyayanginya dengan menerima ketaatan dan membalasnya dengan berbagai macam balasan. Allah telah merealisasikan janjiNya pada mereka, maka mereka selalu dalam kehinaan dan kerendahan dijajah oleh bangsa lain, tidak ada panji dan bendera mereka yang tegak dengan kokoh.
(168) ﴾ وَقَطَّعۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أُمَمٗاۖ ﴿ "Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan." Yakni Kami memecah dan mencerai-beraikan mereka setelah sebelumnya mereka berkumpul. ﴾ مِّنۡهُمُ ٱلصَّٰلِحُونَ ﴿ "Di antaranya ada orang-orang yang shalih." Yaitu orang-orang yang melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-ham-baNya. ﴾ وَمِنۡهُمۡ دُونَ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Dan di antaranya ada yang tidak demikian." Yakni di bawah yang pertama. Bisa jadi mereka adalah orang-orang pertengahan, dan bisa pula orang-orang yang menzhalimi diri me-reka. ﴾ وَبَلَوۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami coba mereka", berdasarkan kebiasaan dan sunnah Kami, ﴾ بِٱلۡحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk." Yakni dengan kemudahan dan kesu-litan ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "agar mereka kembali (kepada kebenaran)", dari kese-satan di mana mereka berada di dalamnya, dan mereka berpegang kepada petunjuk yang karenanya mereka diciptakan. Di antara mereka selalu ada orang yang baik, tengah-tengah, dan yang buruk.
(169) ﴾ فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٞ وَرِثُواْ ﴿ "Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi", sesudah mereka ﴾ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Taurat." Mereka memperlakukan kitab itu menurut hawa nafsu mereka. Mereka disodori harta agar mereka memberi fatwa dan memutus-kan hukum dengan cara yang tidak benar, suap merajalela di ka-langan mereka, ﴾ يَأۡخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا ٱلۡأَدۡنَىٰ وَيَقُولُونَ ﴿ "Yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata", mereka mengakui bahwa ia ada-lah dosa dan bahwa mereka adalah orang-orang zhalim, ﴾ سَيُغۡفَرُ لَنَا ﴿ "Kami akan diberi ampun." Ini adalah omong kosong, ia bukan istighfar dan minta ampun yang sebenarnya. Jika memang demikian, niscaya mereka akan menyesal atas apa yang mereka perbuat dan mereka berniat kuat untuk tidak mengulanginya, akan tetapi jika ada harta dan suap lain, maka mereka mengambilnya, mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, mereka mengganti yang baik dengan yang buruk. Allah تعالى mengingkari mereka dan menjelaskan kelancangan mereka. ﴾ أَلَمۡ يُؤۡخَذۡ عَلَيۡهِم مِّيثَٰقُ ٱلۡكِتَٰبِ أَن لَّا يَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّ ﴿ "Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar?" Lalu mengapa mereka berkata atas namaNya tanpa kebenaran karena mengikuti hawa nafsu dan cenderung kepada ambisi mereka, ﴾ وَ﴿ "dan" se-benarnya mereka ﴾ وَدَرَسُواْ مَا فِيهِۗ ﴿ "telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?" tidak ada persoalan atas mereka padanya, justru mereka melakukan perbuatan mereka itu dalam keadaan sengaja dan me-ngetahui. Ini lebih besar dosanya, lebih buruk celaannya, dan lebih berat siksanya. Ini termasuk kebodohan akal mereka dan keren-dahan pikiran mereka, karena mereka lebih mementingkan dunia daripada akhirat. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ ﴿ "Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa." Dengan menjauhi penghasilan yang bersumber dari suap atas pe-netapan hukum berdasar kepada selain yang diturunkan oleh Allah dan perkara-perkara haram lainnya. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?" Yakni apakah kalian tidak mempunyai akal yang dengannya kalian menimbang apa yang semestinya lebih di-pentingkan, apa yang lebih berhak untuk diusahakan dan didahu-lukan? Tugas akal adalah melihat kepada akibat dari sesuatu. Ada-pun orang yang berpandangan dangkal lagi pendek, dia tidak dapat meraih nikmat agung yang kekal, di mana akal dan pikirannya?
(170) Orang-orang yang berakal sebenar-benarnya adalah orang-orang yang dicitrakan oleh Allah dengan FirmanNya, ﴾ وَٱلَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat)." Yakni berpegang teguh dari segi ilmu dan amal, mereka mengetahui hukum-hukum dan berita-berita yang dikandungnya, di mana ilmu tentang itu adalah ilmu yang termulia, mereka men-jalankan perintah-perintah yang dikandungnya yang merupakan ketenangan, kebahagiaan hati dan jiwa serta kemenangan dunia dan akhirat. Dan di antara perintah-perintah agung yang wajib di-pegang adalah mendirikan shalat secara lahir dan batin. Oleh karena itu Allah menyebutkannya secara khusus karena keutamaannya dan kemuliaannya, dan bahwa ia adalah timbangan amal dan penega-kannya mendorong kepada penegakan ibadah-ibadah yang lain. Karena seluruh amal mereka adalah baik, maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan," dalam perkataan, perbuatan, dan niat mereka, memperbaiki diri dan orang lain. Ayat ini dan yang sepertinya menunjukkan bahwa Allah mengutus para rasulNya k dengan kebaikan bukan kerusakan, dengan manfaat bukan mudarat, mereka diutus dengan kebaikan dunia dan akhirat. Jadi, semakin seseorang itu baik, maka dia sema-kin dekat kepada sikap mengikuti mereka.
(171) Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ نَتَقۡنَا ٱلۡجَبَلَ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka", ketika mereka menolak apa yang ada di dalam Taurat, Dia mewajibkan mereka beramal dan mengangkat gunung di atas mereka, maka gunung pun di atas mereka, ﴾ كَأَنَّهُۥ ظُلَّةٞ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُۥ وَاقِعُۢ بِهِمۡ ﴿ "seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka." Dan dikatakan kepada mereka, ﴾ خُذُواْ مَآ ءَاتَيۡنَٰكُم بِقُوَّةٖ ﴿ "Peganglah dengan teguh apa yang telah kami berikan kepadamu." Yakni dengan serius dan sungguh-sungguh ﴾ وَٱذۡكُرُواْ مَا فِيهِ ﴿ "serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya", dengan mengkaji dan mempelajari serta mengamalkannya ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa", jika kamu melakukan itu.
Al-A'raf 7:172
"Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesak-sian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Rabbmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb),' atau agar kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu, se-dang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesu-dah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.' Dan demi-kianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (Al-A'raf: 172-174).
(172-173) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka." Yakni Dia mengeluarkan keturunan mereka dari sulbi mereka dan menjadikan mereka beranak pinak dari satu ge-nerasi ke generasi yang lain. (وَ) "Dan", ketika Dia mengeluarkan dari perut ibu mereka dan sulbi bapak mereka, ﴾ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ ﴿ "Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfir-man), 'Bukankah Aku ini Rabbmu?'" Yakni membuat mereka menga-kui rububiyahNya dengan fitrah yang Dia berikan kepada mereka bahwa mereka mengakui bahwa Dia adalah Rabb, Pencipta, dan Pemilik mereka. Mereka pun menjawab, "Ya kami mengakui itu." Karena sesungguhnya Allah تعالى telah memfitrahkan manusia di atas agama yang lurus dan benar, semua manusia difitrahkan di atas itu, akan tetapi fitrah bisa saja dirubah dan diganti oleh per-kara-perkara yang menyusup kepada akal dari akidah-akidah yang rusak. Oleh karena itu, ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ﴿ "Me-reka menjawab, 'Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi'. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah ter-hadap ini (keesaan Rabb)'." Yakni Kami mengujimu sehingga kamu mengakui apa yang bersemayam di dalam jiwamu bahwa Allah تعالى adalah Rabbmu, karena bisa saja pada Hari Kiamat kamu meng-ingkari itu dan tidak mengakuinya sedikit pun, dan kamu meng-klaim bahwa hujjah Allah belum tegak atasmu dan kamu pun tidak mempunyai ilmu tentangnya, justru kamu lalai dan teledor darinya. Pada hari ini hujjahmu telah terputus dan yang tegak hanyalah hujjah Allah yang kuat atasmu. Atau bisa jadi kamu berdalih dengan hujjah yang lain, kamu mengatakan, ﴾ إِنَّمَآ أَشۡرَكَ ءَابَآؤُنَا مِن قَبۡلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةٗ مِّنۢ بَعۡدِهِمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka." Maka kami mengikuti jejak mereka dan menelusuri kebatilan mereka. ﴾ أَفَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ ﴿ "Maka apakah Engkau akan membinasakan kami ka-rena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu." Allah telah menye-matkan di dalam jiwamu sesuatu yang menunjukkanmu bahwa apa yang dilakukan oleh nenek moyangmu adalah batil, dan bahwa kebenaran adalah apa yang dibawa oleh para rasul, ini menandingi apa yang dipegang oleh nenek moyangmu dan mengunggulinya. Benar, terkadang ada pendapat dan pemikiran nenek moyang yang sesat yang diyakini sebagai kebenaran, hal itu tidak lain karena dia berpaling dari hujjah-hujjah Allah, keterangan-keterangan dan tanda-tanda kebesaranNya yang terdapat di alam raya atau yang ada pada diri. Berpalingnya dia dari hal itu dan kecenderungannya kepada apa yang diucapkan oleh orang-orang yang menyimpang bisa membawa kepada keadaan di mana dia lebih mementingkan kebatilan di atas kebenaran. Inilah yang benar dalam menafsirkan ayat ini. Ada yang me-ngatakan, bahwa ini terjadi pada hari di mana Allah mengambil perjanjian kepada keturunan Adam ketika Dia mengeluarkan me-reka dari sulbinya dan Allah menuntut mereka bersaksi atas diri mereka lalu mereka bersaksi dengan itu, lalu Dia berhujjah atas mereka dengan apa yang diperintahkannya kepada mereka pada waktu itu atas kezhaliman mereka dalam kekufuran dan penging-karan mereka di dunia dan di akhirat. Akan tetapi dalam ayat ter-sebut tidak terdapat petunjuk ke arah ini, tidak pula ada korelasi dan tidak pula sesuai dengan hikmah Allah تعالى, dan realita pun membuktikan itu, karena perjanjian ini yang mereka katakan bahwa ia terjadi manakala Allah mengeluarkan keturunan Adam dari sulbinya[73] ketika mereka masih di alam seperti atom, tidak seorang pun yang menyinggungnya dan terlintas di benak Bani Adam. Ba-gaimana Allah berhujjah kepada mereka dengan sesuatu di mana mereka tidak memiliki berita tentangnya, tidak memiliki wujud dan bekas?
(174) Oleh karena itu, karena perkara ini jelas dan nyata, maka Allah تعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ وَلَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 174 ﴿ "Dan de-mikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." Kepada apa yang Allah titipkan kepada fitrah mereka dan kepada perjanjian Allah, hal mana itu membuat mereka tidak melakukan perbuatan buruk.9
Al-A'raf 7:173
"Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesak-sian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Rabbmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb),' atau agar kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu, se-dang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesu-dah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.' Dan demi-kianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (Al-A'raf: 172-174).
(172-173) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka." Yakni Dia mengeluarkan keturunan mereka dari sulbi mereka dan menjadikan mereka beranak pinak dari satu ge-nerasi ke generasi yang lain. (وَ) "Dan", ketika Dia mengeluarkan dari perut ibu mereka dan sulbi bapak mereka, ﴾ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ ﴿ "Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfir-man), 'Bukankah Aku ini Rabbmu?'" Yakni membuat mereka menga-kui rububiyahNya dengan fitrah yang Dia berikan kepada mereka bahwa mereka mengakui bahwa Dia adalah Rabb, Pencipta, dan Pemilik mereka. Mereka pun menjawab, "Ya kami mengakui itu." Karena sesungguhnya Allah تعالى telah memfitrahkan manusia di atas agama yang lurus dan benar, semua manusia difitrahkan di atas itu, akan tetapi fitrah bisa saja dirubah dan diganti oleh per-kara-perkara yang menyusup kepada akal dari akidah-akidah yang rusak. Oleh karena itu, ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ﴿ "Me-reka menjawab, 'Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi'. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah ter-hadap ini (keesaan Rabb)'." Yakni Kami mengujimu sehingga kamu mengakui apa yang bersemayam di dalam jiwamu bahwa Allah تعالى adalah Rabbmu, karena bisa saja pada Hari Kiamat kamu meng-ingkari itu dan tidak mengakuinya sedikit pun, dan kamu meng-klaim bahwa hujjah Allah belum tegak atasmu dan kamu pun tidak mempunyai ilmu tentangnya, justru kamu lalai dan teledor darinya. Pada hari ini hujjahmu telah terputus dan yang tegak hanyalah hujjah Allah yang kuat atasmu. Atau bisa jadi kamu berdalih dengan hujjah yang lain, kamu mengatakan, ﴾ إِنَّمَآ أَشۡرَكَ ءَابَآؤُنَا مِن قَبۡلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةٗ مِّنۢ بَعۡدِهِمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka." Maka kami mengikuti jejak mereka dan menelusuri kebatilan mereka. ﴾ أَفَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ ﴿ "Maka apakah Engkau akan membinasakan kami ka-rena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu." Allah telah menye-matkan di dalam jiwamu sesuatu yang menunjukkanmu bahwa apa yang dilakukan oleh nenek moyangmu adalah batil, dan bahwa kebenaran adalah apa yang dibawa oleh para rasul, ini menandingi apa yang dipegang oleh nenek moyangmu dan mengunggulinya. Benar, terkadang ada pendapat dan pemikiran nenek moyang yang sesat yang diyakini sebagai kebenaran, hal itu tidak lain karena dia berpaling dari hujjah-hujjah Allah, keterangan-keterangan dan tanda-tanda kebesaranNya yang terdapat di alam raya atau yang ada pada diri. Berpalingnya dia dari hal itu dan kecenderungannya kepada apa yang diucapkan oleh orang-orang yang menyimpang bisa membawa kepada keadaan di mana dia lebih mementingkan kebatilan di atas kebenaran. Inilah yang benar dalam menafsirkan ayat ini. Ada yang me-ngatakan, bahwa ini terjadi pada hari di mana Allah mengambil perjanjian kepada keturunan Adam ketika Dia mengeluarkan me-reka dari sulbinya dan Allah menuntut mereka bersaksi atas diri mereka lalu mereka bersaksi dengan itu, lalu Dia berhujjah atas mereka dengan apa yang diperintahkannya kepada mereka pada waktu itu atas kezhaliman mereka dalam kekufuran dan penging-karan mereka di dunia dan di akhirat. Akan tetapi dalam ayat ter-sebut tidak terdapat petunjuk ke arah ini, tidak pula ada korelasi dan tidak pula sesuai dengan hikmah Allah تعالى, dan realita pun membuktikan itu, karena perjanjian ini yang mereka katakan bahwa ia terjadi manakala Allah mengeluarkan keturunan Adam dari sulbinya[73] ketika mereka masih di alam seperti atom, tidak seorang pun yang menyinggungnya dan terlintas di benak Bani Adam. Ba-gaimana Allah berhujjah kepada mereka dengan sesuatu di mana mereka tidak memiliki berita tentangnya, tidak memiliki wujud dan bekas?
(174) Oleh karena itu, karena perkara ini jelas dan nyata, maka Allah تعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ وَلَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 174 ﴿ "Dan de-mikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." Kepada apa yang Allah titipkan kepada fitrah mereka dan kepada perjanjian Allah, hal mana itu membuat mereka tidak melakukan perbuatan buruk.9
Al-A'raf 7:174
"Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesak-sian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Rabbmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb),' atau agar kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu, se-dang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesu-dah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.' Dan demi-kianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (Al-A'raf: 172-174).
(172-173) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka." Yakni Dia mengeluarkan keturunan mereka dari sulbi mereka dan menjadikan mereka beranak pinak dari satu ge-nerasi ke generasi yang lain. (وَ) "Dan", ketika Dia mengeluarkan dari perut ibu mereka dan sulbi bapak mereka, ﴾ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ ﴿ "Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfir-man), 'Bukankah Aku ini Rabbmu?'" Yakni membuat mereka menga-kui rububiyahNya dengan fitrah yang Dia berikan kepada mereka bahwa mereka mengakui bahwa Dia adalah Rabb, Pencipta, dan Pemilik mereka. Mereka pun menjawab, "Ya kami mengakui itu." Karena sesungguhnya Allah تعالى telah memfitrahkan manusia di atas agama yang lurus dan benar, semua manusia difitrahkan di atas itu, akan tetapi fitrah bisa saja dirubah dan diganti oleh per-kara-perkara yang menyusup kepada akal dari akidah-akidah yang rusak. Oleh karena itu, ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ﴿ "Me-reka menjawab, 'Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi'. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah ter-hadap ini (keesaan Rabb)'." Yakni Kami mengujimu sehingga kamu mengakui apa yang bersemayam di dalam jiwamu bahwa Allah تعالى adalah Rabbmu, karena bisa saja pada Hari Kiamat kamu meng-ingkari itu dan tidak mengakuinya sedikit pun, dan kamu meng-klaim bahwa hujjah Allah belum tegak atasmu dan kamu pun tidak mempunyai ilmu tentangnya, justru kamu lalai dan teledor darinya. Pada hari ini hujjahmu telah terputus dan yang tegak hanyalah hujjah Allah yang kuat atasmu. Atau bisa jadi kamu berdalih dengan hujjah yang lain, kamu mengatakan, ﴾ إِنَّمَآ أَشۡرَكَ ءَابَآؤُنَا مِن قَبۡلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةٗ مِّنۢ بَعۡدِهِمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka." Maka kami mengikuti jejak mereka dan menelusuri kebatilan mereka. ﴾ أَفَتُهۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ ﴿ "Maka apakah Engkau akan membinasakan kami ka-rena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu." Allah telah menye-matkan di dalam jiwamu sesuatu yang menunjukkanmu bahwa apa yang dilakukan oleh nenek moyangmu adalah batil, dan bahwa kebenaran adalah apa yang dibawa oleh para rasul, ini menandingi apa yang dipegang oleh nenek moyangmu dan mengunggulinya. Benar, terkadang ada pendapat dan pemikiran nenek moyang yang sesat yang diyakini sebagai kebenaran, hal itu tidak lain karena dia berpaling dari hujjah-hujjah Allah, keterangan-keterangan dan tanda-tanda kebesaranNya yang terdapat di alam raya atau yang ada pada diri. Berpalingnya dia dari hal itu dan kecenderungannya kepada apa yang diucapkan oleh orang-orang yang menyimpang bisa membawa kepada keadaan di mana dia lebih mementingkan kebatilan di atas kebenaran. Inilah yang benar dalam menafsirkan ayat ini. Ada yang me-ngatakan, bahwa ini terjadi pada hari di mana Allah mengambil perjanjian kepada keturunan Adam ketika Dia mengeluarkan me-reka dari sulbinya dan Allah menuntut mereka bersaksi atas diri mereka lalu mereka bersaksi dengan itu, lalu Dia berhujjah atas mereka dengan apa yang diperintahkannya kepada mereka pada waktu itu atas kezhaliman mereka dalam kekufuran dan penging-karan mereka di dunia dan di akhirat. Akan tetapi dalam ayat ter-sebut tidak terdapat petunjuk ke arah ini, tidak pula ada korelasi dan tidak pula sesuai dengan hikmah Allah تعالى, dan realita pun membuktikan itu, karena perjanjian ini yang mereka katakan bahwa ia terjadi manakala Allah mengeluarkan keturunan Adam dari sulbinya[73] ketika mereka masih di alam seperti atom, tidak seorang pun yang menyinggungnya dan terlintas di benak Bani Adam. Ba-gaimana Allah berhujjah kepada mereka dengan sesuatu di mana mereka tidak memiliki berita tentangnya, tidak memiliki wujud dan bekas?
(174) Oleh karena itu, karena perkara ini jelas dan nyata, maka Allah تعالى berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ وَلَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 174 ﴿ "Dan de-mikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." Kepada apa yang Allah titipkan kepada fitrah mereka dan kepada perjanjian Allah, hal mana itu membuat mereka tidak melakukan perbuatan buruk.9
Al-A'raf 7:175
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghen-daki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petun-juk, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 175- 178).
(175) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya ﷺ, ﴾ وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab)." Yakni Kami mengajarkan kepadanya ilmu tentang kitab Allah se-hingga dia menjadi seorang alim besar, dan cendikiawan yang mum-puni, tetapi dia berlepas diri darinya dan diikuti oleh setan, yakni dia melepaskan diri dari kriteria hakiki seorang ulama yang menge-tahui tentang ayat-ayat Allah, karena ilmu tentang itu seharusnya dapat mengantarkan pemiliknya menjadi orang yang menjunjung tinggi sifat kemuliaan akhlak dan keshalihan amal, dia menapaki derajat dan kedudukan tinggi dan mulia. Akan tetapi orang ini membuang Kitab Allah di belakang punggungnya, mencampak-kan akhlak yang diperintahkan oleh kitab, dia melepasnya seperti melepas pakaian. Maka ketika dia berlepas darinya setan pun mengi-kutinya, yakni setan menguasainya manakala dia keluar dari ben-teng kokoh dan terjerembab ke dalam derajat terendah maka setan menendangnya kepada kemaksiatan. ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat." Padahal sebelumnya dia adalah orang yang lurus dan meluruskan.
(176) Ini karena Allah تعالى membiarkannya dan menyandar-kannya kepada dirinya sendiri. Oleh karena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا ﴿ "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu", dengan memberinya taufik untuk mengamalkannya, sehingga derajatnya terangkat di dunia dan akhirat dan terlindungi dari musuh-musuhnya. ﴾ وَلَٰكِنَّهُۥٓ ﴿ "Tetapi dia", melakukan sesuatu yang menyebabkan kehinaan, dia cenderung kepada dunia, yakni kepada hawa nafsu rendahan dan tujuan duniawi, ﴾ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ ﴿ "dan menurutkan hawa nafsunya yang ren-dah," serta tidak menaati Rabbnya, ﴾ فَمَثَلُهُۥ ﴿ "maka perumpamaannya", dalam perkara kesungguhannya kepada dunia dan terfokusnya hati kepadanya ﴾ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ﴿ "seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiar-kannya dia mengulurkan lidahnya (juga)." Yakni dia selalu menjulur-kan lidahnya, sementara orang ini selalu berusaha dengan sungguh-sungguh, kebutuhannya tidak tertutupi oleh dunia sedikit pun. ﴾ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۚ ﴿ "Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Setelah Allah menjelaskannya kepada mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, justru me-reka mendustakannya dan menolaknya karena tidak berartinya Allah bagi mereka dan hawa nafsu yang mereka ikuti tanpa petun-juk dari Allah. ﴾ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir," tentang perumpamaan yang dibuat, mengambil pelajaran dari ayat-ayat, jika mereka ber-pikir, mereka mengetahui, jika mereka mengetahui, maka mereka akan beramal.
(177) ﴾ سَآءَ مَثَلًا ٱلۡقَوۡمُ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَأَنفُسَهُمۡ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Amat buruk-lah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim." Yakni, (sungguh) buruk dan jelek perumpamaan orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan menzhalimi diri dengan berbagai macam kemaksiatan. Sesungguhnya perumpamaan mereka adalah perumpamaan yang buruk. Orang tersebut yang Allah berikan ayat-ayatNya kepadanya, ada kemungkinan dia adalah orang tertentu yang keadaannya se-perti yang Allah jelaskan maka Allah menceritakan kisahnya untuk memberi peringatan kepada hamba-hambaNya. Ada kemungkinan lain yaitu bahwa maksudnya adalah laki-laki manapun, ia menca-kup semua orang yang diberi ayat oleh Allah lalu dia berlepas diri darinya. Ayat-ayat ini mengandung anjuran beramal dengan ilmu, dan bahwa itu merupakan derajat tinggi yang diberikan oleh Allah ke-pada pelakunya dan pelindung dari setan. Ayat ini juga mengan-dung targhib (ancaman) tidak mengamalkan ilmu yang didapat, dan bahwa ia adalah degradasi kepada derajat paling rendah dan keme-nangan setan atasnya. Ayat ini juga menjelaskan bahwa mengikuti hawa nafsu dan kecenderungan kepada syahwat adalah penyebab kehinaan.
(178) Kemudian Allah تعالى menjelaskan bahwa Dia-lah satu-satunya Pemberi hidayah dan kesesatan. ﴾ مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ ﴿ "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah." Yakni dengan memberinya taufik kepada kebaikan, menjaganya dari keburukan dan mengajarkan apa yang tidak dia ketahui, ﴾ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ ﴿ "maka dialah yang mendapat petunjuk", yang sebenarnya, karena dia mementingkan hidayah Allah تعالى. ﴾ وَمَن يُضۡلِلۡ ﴿ "Dan barangsiapa yang disesatkan Allah", di mana Dia tidak menolongnya dan tidak memberinya taufik kepada kebaikan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "maka merekalah orang-orang yang merugi," diri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat. Itulah kerugian yang sebenarnya.
Al-A'raf 7:176
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghen-daki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petun-juk, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 175- 178).
(175) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya ﷺ, ﴾ وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab)." Yakni Kami mengajarkan kepadanya ilmu tentang kitab Allah se-hingga dia menjadi seorang alim besar, dan cendikiawan yang mum-puni, tetapi dia berlepas diri darinya dan diikuti oleh setan, yakni dia melepaskan diri dari kriteria hakiki seorang ulama yang menge-tahui tentang ayat-ayat Allah, karena ilmu tentang itu seharusnya dapat mengantarkan pemiliknya menjadi orang yang menjunjung tinggi sifat kemuliaan akhlak dan keshalihan amal, dia menapaki derajat dan kedudukan tinggi dan mulia. Akan tetapi orang ini membuang Kitab Allah di belakang punggungnya, mencampak-kan akhlak yang diperintahkan oleh kitab, dia melepasnya seperti melepas pakaian. Maka ketika dia berlepas darinya setan pun mengi-kutinya, yakni setan menguasainya manakala dia keluar dari ben-teng kokoh dan terjerembab ke dalam derajat terendah maka setan menendangnya kepada kemaksiatan. ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat." Padahal sebelumnya dia adalah orang yang lurus dan meluruskan.
(176) Ini karena Allah تعالى membiarkannya dan menyandar-kannya kepada dirinya sendiri. Oleh karena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا ﴿ "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu", dengan memberinya taufik untuk mengamalkannya, sehingga derajatnya terangkat di dunia dan akhirat dan terlindungi dari musuh-musuhnya. ﴾ وَلَٰكِنَّهُۥٓ ﴿ "Tetapi dia", melakukan sesuatu yang menyebabkan kehinaan, dia cenderung kepada dunia, yakni kepada hawa nafsu rendahan dan tujuan duniawi, ﴾ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ ﴿ "dan menurutkan hawa nafsunya yang ren-dah," serta tidak menaati Rabbnya, ﴾ فَمَثَلُهُۥ ﴿ "maka perumpamaannya", dalam perkara kesungguhannya kepada dunia dan terfokusnya hati kepadanya ﴾ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ﴿ "seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiar-kannya dia mengulurkan lidahnya (juga)." Yakni dia selalu menjulur-kan lidahnya, sementara orang ini selalu berusaha dengan sungguh-sungguh, kebutuhannya tidak tertutupi oleh dunia sedikit pun. ﴾ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۚ ﴿ "Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Setelah Allah menjelaskannya kepada mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, justru me-reka mendustakannya dan menolaknya karena tidak berartinya Allah bagi mereka dan hawa nafsu yang mereka ikuti tanpa petun-juk dari Allah. ﴾ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir," tentang perumpamaan yang dibuat, mengambil pelajaran dari ayat-ayat, jika mereka ber-pikir, mereka mengetahui, jika mereka mengetahui, maka mereka akan beramal.
(177) ﴾ سَآءَ مَثَلًا ٱلۡقَوۡمُ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَأَنفُسَهُمۡ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Amat buruk-lah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim." Yakni, (sungguh) buruk dan jelek perumpamaan orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan menzhalimi diri dengan berbagai macam kemaksiatan. Sesungguhnya perumpamaan mereka adalah perumpamaan yang buruk. Orang tersebut yang Allah berikan ayat-ayatNya kepadanya, ada kemungkinan dia adalah orang tertentu yang keadaannya se-perti yang Allah jelaskan maka Allah menceritakan kisahnya untuk memberi peringatan kepada hamba-hambaNya. Ada kemungkinan lain yaitu bahwa maksudnya adalah laki-laki manapun, ia menca-kup semua orang yang diberi ayat oleh Allah lalu dia berlepas diri darinya. Ayat-ayat ini mengandung anjuran beramal dengan ilmu, dan bahwa itu merupakan derajat tinggi yang diberikan oleh Allah ke-pada pelakunya dan pelindung dari setan. Ayat ini juga mengan-dung targhib (ancaman) tidak mengamalkan ilmu yang didapat, dan bahwa ia adalah degradasi kepada derajat paling rendah dan keme-nangan setan atasnya. Ayat ini juga menjelaskan bahwa mengikuti hawa nafsu dan kecenderungan kepada syahwat adalah penyebab kehinaan.
(178) Kemudian Allah تعالى menjelaskan bahwa Dia-lah satu-satunya Pemberi hidayah dan kesesatan. ﴾ مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ ﴿ "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah." Yakni dengan memberinya taufik kepada kebaikan, menjaganya dari keburukan dan mengajarkan apa yang tidak dia ketahui, ﴾ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ ﴿ "maka dialah yang mendapat petunjuk", yang sebenarnya, karena dia mementingkan hidayah Allah تعالى. ﴾ وَمَن يُضۡلِلۡ ﴿ "Dan barangsiapa yang disesatkan Allah", di mana Dia tidak menolongnya dan tidak memberinya taufik kepada kebaikan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "maka merekalah orang-orang yang merugi," diri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat. Itulah kerugian yang sebenarnya.
Al-A'raf 7:177
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghen-daki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petun-juk, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 175- 178).
(175) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya ﷺ, ﴾ وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab)." Yakni Kami mengajarkan kepadanya ilmu tentang kitab Allah se-hingga dia menjadi seorang alim besar, dan cendikiawan yang mum-puni, tetapi dia berlepas diri darinya dan diikuti oleh setan, yakni dia melepaskan diri dari kriteria hakiki seorang ulama yang menge-tahui tentang ayat-ayat Allah, karena ilmu tentang itu seharusnya dapat mengantarkan pemiliknya menjadi orang yang menjunjung tinggi sifat kemuliaan akhlak dan keshalihan amal, dia menapaki derajat dan kedudukan tinggi dan mulia. Akan tetapi orang ini membuang Kitab Allah di belakang punggungnya, mencampak-kan akhlak yang diperintahkan oleh kitab, dia melepasnya seperti melepas pakaian. Maka ketika dia berlepas darinya setan pun mengi-kutinya, yakni setan menguasainya manakala dia keluar dari ben-teng kokoh dan terjerembab ke dalam derajat terendah maka setan menendangnya kepada kemaksiatan. ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat." Padahal sebelumnya dia adalah orang yang lurus dan meluruskan.
(176) Ini karena Allah تعالى membiarkannya dan menyandar-kannya kepada dirinya sendiri. Oleh karena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا ﴿ "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu", dengan memberinya taufik untuk mengamalkannya, sehingga derajatnya terangkat di dunia dan akhirat dan terlindungi dari musuh-musuhnya. ﴾ وَلَٰكِنَّهُۥٓ ﴿ "Tetapi dia", melakukan sesuatu yang menyebabkan kehinaan, dia cenderung kepada dunia, yakni kepada hawa nafsu rendahan dan tujuan duniawi, ﴾ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ ﴿ "dan menurutkan hawa nafsunya yang ren-dah," serta tidak menaati Rabbnya, ﴾ فَمَثَلُهُۥ ﴿ "maka perumpamaannya", dalam perkara kesungguhannya kepada dunia dan terfokusnya hati kepadanya ﴾ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ﴿ "seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiar-kannya dia mengulurkan lidahnya (juga)." Yakni dia selalu menjulur-kan lidahnya, sementara orang ini selalu berusaha dengan sungguh-sungguh, kebutuhannya tidak tertutupi oleh dunia sedikit pun. ﴾ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۚ ﴿ "Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Setelah Allah menjelaskannya kepada mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, justru me-reka mendustakannya dan menolaknya karena tidak berartinya Allah bagi mereka dan hawa nafsu yang mereka ikuti tanpa petun-juk dari Allah. ﴾ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir," tentang perumpamaan yang dibuat, mengambil pelajaran dari ayat-ayat, jika mereka ber-pikir, mereka mengetahui, jika mereka mengetahui, maka mereka akan beramal.
(177) ﴾ سَآءَ مَثَلًا ٱلۡقَوۡمُ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَأَنفُسَهُمۡ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Amat buruk-lah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim." Yakni, (sungguh) buruk dan jelek perumpamaan orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan menzhalimi diri dengan berbagai macam kemaksiatan. Sesungguhnya perumpamaan mereka adalah perumpamaan yang buruk. Orang tersebut yang Allah berikan ayat-ayatNya kepadanya, ada kemungkinan dia adalah orang tertentu yang keadaannya se-perti yang Allah jelaskan maka Allah menceritakan kisahnya untuk memberi peringatan kepada hamba-hambaNya. Ada kemungkinan lain yaitu bahwa maksudnya adalah laki-laki manapun, ia menca-kup semua orang yang diberi ayat oleh Allah lalu dia berlepas diri darinya. Ayat-ayat ini mengandung anjuran beramal dengan ilmu, dan bahwa itu merupakan derajat tinggi yang diberikan oleh Allah ke-pada pelakunya dan pelindung dari setan. Ayat ini juga mengan-dung targhib (ancaman) tidak mengamalkan ilmu yang didapat, dan bahwa ia adalah degradasi kepada derajat paling rendah dan keme-nangan setan atasnya. Ayat ini juga menjelaskan bahwa mengikuti hawa nafsu dan kecenderungan kepada syahwat adalah penyebab kehinaan.
(178) Kemudian Allah تعالى menjelaskan bahwa Dia-lah satu-satunya Pemberi hidayah dan kesesatan. ﴾ مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ ﴿ "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah." Yakni dengan memberinya taufik kepada kebaikan, menjaganya dari keburukan dan mengajarkan apa yang tidak dia ketahui, ﴾ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ ﴿ "maka dialah yang mendapat petunjuk", yang sebenarnya, karena dia mementingkan hidayah Allah تعالى. ﴾ وَمَن يُضۡلِلۡ ﴿ "Dan barangsiapa yang disesatkan Allah", di mana Dia tidak menolongnya dan tidak memberinya taufik kepada kebaikan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "maka merekalah orang-orang yang merugi," diri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat. Itulah kerugian yang sebenarnya.
Al-A'raf 7:178
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghen-daki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petun-juk, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 175- 178).
(175) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya ﷺ, ﴾ وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab)." Yakni Kami mengajarkan kepadanya ilmu tentang kitab Allah se-hingga dia menjadi seorang alim besar, dan cendikiawan yang mum-puni, tetapi dia berlepas diri darinya dan diikuti oleh setan, yakni dia melepaskan diri dari kriteria hakiki seorang ulama yang menge-tahui tentang ayat-ayat Allah, karena ilmu tentang itu seharusnya dapat mengantarkan pemiliknya menjadi orang yang menjunjung tinggi sifat kemuliaan akhlak dan keshalihan amal, dia menapaki derajat dan kedudukan tinggi dan mulia. Akan tetapi orang ini membuang Kitab Allah di belakang punggungnya, mencampak-kan akhlak yang diperintahkan oleh kitab, dia melepasnya seperti melepas pakaian. Maka ketika dia berlepas darinya setan pun mengi-kutinya, yakni setan menguasainya manakala dia keluar dari ben-teng kokoh dan terjerembab ke dalam derajat terendah maka setan menendangnya kepada kemaksiatan. ﴾ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat." Padahal sebelumnya dia adalah orang yang lurus dan meluruskan.
(176) Ini karena Allah تعالى membiarkannya dan menyandar-kannya kepada dirinya sendiri. Oleh karena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا ﴿ "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu", dengan memberinya taufik untuk mengamalkannya, sehingga derajatnya terangkat di dunia dan akhirat dan terlindungi dari musuh-musuhnya. ﴾ وَلَٰكِنَّهُۥٓ ﴿ "Tetapi dia", melakukan sesuatu yang menyebabkan kehinaan, dia cenderung kepada dunia, yakni kepada hawa nafsu rendahan dan tujuan duniawi, ﴾ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ ﴿ "dan menurutkan hawa nafsunya yang ren-dah," serta tidak menaati Rabbnya, ﴾ فَمَثَلُهُۥ ﴿ "maka perumpamaannya", dalam perkara kesungguhannya kepada dunia dan terfokusnya hati kepadanya ﴾ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ﴿ "seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiar-kannya dia mengulurkan lidahnya (juga)." Yakni dia selalu menjulur-kan lidahnya, sementara orang ini selalu berusaha dengan sungguh-sungguh, kebutuhannya tidak tertutupi oleh dunia sedikit pun. ﴾ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۚ ﴿ "Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." Setelah Allah menjelaskannya kepada mereka tetapi mereka tidak tunduk kepadanya, justru me-reka mendustakannya dan menolaknya karena tidak berartinya Allah bagi mereka dan hawa nafsu yang mereka ikuti tanpa petun-juk dari Allah. ﴾ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir," tentang perumpamaan yang dibuat, mengambil pelajaran dari ayat-ayat, jika mereka ber-pikir, mereka mengetahui, jika mereka mengetahui, maka mereka akan beramal.
(177) ﴾ سَآءَ مَثَلًا ٱلۡقَوۡمُ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَأَنفُسَهُمۡ كَانُواْ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Amat buruk-lah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim." Yakni, (sungguh) buruk dan jelek perumpamaan orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan menzhalimi diri dengan berbagai macam kemaksiatan. Sesungguhnya perumpamaan mereka adalah perumpamaan yang buruk. Orang tersebut yang Allah berikan ayat-ayatNya kepadanya, ada kemungkinan dia adalah orang tertentu yang keadaannya se-perti yang Allah jelaskan maka Allah menceritakan kisahnya untuk memberi peringatan kepada hamba-hambaNya. Ada kemungkinan lain yaitu bahwa maksudnya adalah laki-laki manapun, ia menca-kup semua orang yang diberi ayat oleh Allah lalu dia berlepas diri darinya. Ayat-ayat ini mengandung anjuran beramal dengan ilmu, dan bahwa itu merupakan derajat tinggi yang diberikan oleh Allah ke-pada pelakunya dan pelindung dari setan. Ayat ini juga mengan-dung targhib (ancaman) tidak mengamalkan ilmu yang didapat, dan bahwa ia adalah degradasi kepada derajat paling rendah dan keme-nangan setan atasnya. Ayat ini juga menjelaskan bahwa mengikuti hawa nafsu dan kecenderungan kepada syahwat adalah penyebab kehinaan.
(178) Kemudian Allah تعالى menjelaskan bahwa Dia-lah satu-satunya Pemberi hidayah dan kesesatan. ﴾ مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ ﴿ "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah." Yakni dengan memberinya taufik kepada kebaikan, menjaganya dari keburukan dan mengajarkan apa yang tidak dia ketahui, ﴾ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ ﴿ "maka dialah yang mendapat petunjuk", yang sebenarnya, karena dia mementingkan hidayah Allah تعالى. ﴾ وَمَن يُضۡلِلۡ ﴿ "Dan barangsiapa yang disesatkan Allah", di mana Dia tidak menolongnya dan tidak memberinya taufik kepada kebaikan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "maka merekalah orang-orang yang merugi," diri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat. Itulah kerugian yang sebenarnya.
Al-A'raf 7:179
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Neraka Jaha-nam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak diperguna-kannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan me-reka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al-A'raf: 179).
(179) Allah تعالى menjelaskan banyaknya orang-orang yang tersesat yang mengikuti iblis yang terkutuk. ﴾ وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا ﴿ "Dan sesung-guhnya kami jadikan", yakni Kami ciptakan ﴾ لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ ﴿ "untuk isi Neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia", binatang ternak menjadi lebih baik keadaannya daripada mereka. ﴾ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا ﴿ "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)." Yakni, tidak ada ilmu dan pemahaman yang sampai kepadanya kecuali hanya sekedar penegakan hujjah. ﴾ وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا ﴿ "Dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak diper-gunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah)." Ia tidak memberi mereka manfaat, justru mereka kehilangan manfaat dan kegunaannya. ﴾ وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ ﴿ "Dan mereka mempunyai telinga (te-tapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah)," dengan pendengaran yang maknanya sampai ke dalam hati mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu", yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat buruk ini ﴾ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ ﴿ "seperti binatang ternak", yang tidak berakal. Mereka itu lebih mementingkan apa yang fana di atas apa yang ke-kal, maka mereka kehilangan keistimewaan akal. ﴾ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ ﴿ "Bah-kan mereka lebih sesat lagi", daripada binatang ternak, karena bina-tang ternak digunakan sesuai dengan tabiat penciptaannya, dan ia memiliki insting yang dengannya ia mengetahui apa yang ber-manfaat dan merugikan. Oleh karena itu ia lebih baik keadaannya daripada mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang lalai." Orang-orang yang melalaikan sesuatu yang paling berguna, mereka melalaikan iman, ketaatan dan dzikir kepada Allah. Me-reka diberi hati, pendengaran, dan penglihatan agar ia menjadi penolong bagi mereka untuk menjalankan perintah-perintah dan kewajiban-kewajiban dari Allah, tetapi mereka menggunakannya untuk kebalikannya, maka mereka itu memang berhak termasuk orang-orang yang dijadikan oleh Allah untuk isi Neraka Jahanam. Dia menciptakan mereka untuk neraka dan mereka pun melaku-kan perbuatan penduduknya. Adapun orang yang menggunakan anggota-anggota tubuh ini untuk beribadah kepada Allah, hatinya tercetak oleh iman dan kecintaan kepada Allah dan tidak lalai dari Allah, maka mereka adalah penduduk surga dan mereka beramal dengan amal penduduk surga.
Al-A'raf 7:180
"Hanya milik Allah Asma` al-Husna (nama-nama yang baik), maka mohonlah kepadaNya dengan menyebut Asma` al-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti me-reka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf: 180).
(180) Ini adalah penjelasan tentang agungnya kemuliaan Allah dan luasnya sifat-sifatNya, bahwa Dia memiliki Asma` al-Husna, yakni Dia mempunyai semua nama yang baik. Pedoman-nya adalah bahwa ia adalah semua nama yang menunjukkan sifat kesempurnaan yang agung. Dengan itu ia menjadi husna, karena jika seandainya ia tidak menunjukkan sifat, hanya sekedar nama saja maka ia bukan husna. Begitu pula jika seandainya ia menun-jukkan sifat yang bukan sifat sempurna, bisa sifat kekurangan atau sifat yang mungkin menunjukkan kekurangan dan kesempurnaan, maka ia bukan husna. Semua nama-nama Allah menunjukkan se-mua sifat yang mana ia diambil darinya yang meliputi seluruh maknanya. Seperti (العَلِيْمُ) yang menunjukkan bahwa Dia memiliki ilmu yang umum lagi menyeluruh serta meliputi segala sesuatu, maka tidak ada sekecil apa pun di bumi dan di langit yang luput dari ilmu Allah. (الرَّحِيْمُ) yang menunjukkan bahwa Dia mempunyai rahmat yang agung yang mencakup segala sesuatu. (الْقَدِيْرُ) yang menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa yang sempurna, tak se-suatu pun yang dapat melemahkanNya. Dan Nama-nama Allah lainnya yang termasuk kesempurnaan husnanya adalah bahwa Dia tidak dipanggil kecuali dengannya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ ﴿ "Maka mohonlah kepadaNya dengan menyebut Asma` al-Husna itu." Ini mencakup doa ibadah dan doa meminta. Dia dipanggil dalam setiap keinginan yang sesuai dengan keinginan tersebut. Pemohon misalnya mengucapkan, "Ya Allah, ampunilah aku, sa-yangilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Terimalah taubatku, wahai yang Maha menerima taubat. Berikanlah rizki kepadaku wahai Dzat Yang Memberi rizki. Berle-mah lembutlah kepadaku wahai Dzat Yang Maha Lemah Lembut. Dan yang sepertinya. FirmanNya, ﴾ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan ting-galkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." Yakni sebagai hukuman dan azab atas pe-nyimpangannya pada Nama-nama Allah. Hakikat penyimpangan yaitu membelokkannya dari apa yang ia dijadikan untuknya. Bisa jadi ia digunakan sebagai nama untuk yang tidak berhak seperti orang-orang musyrikin yang memberi nama tuhan-tuhan mereka dengan nama-namaNya. Bisa jadi dengan meniadakan maknanya dan menyelewengkannya serta menafsirkannya dengan makna yang tidak diinginkan oleh Allah dan RasulNya, bisa pula dengan menyamakan selainNya dengannya. Maka sudah sewajibnya ber-hati-hati terhadap penyimpangan dari para penyimpang padanya. Dalam hadits shahih dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, إِنَّ لِلّٰهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. "Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barangsiapa menghafalnya maka dia masuk surga."[74] 9
Al-A'raf 7:181
"Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan haq, dan dengan yang haq itu (pula) mereka menjalankan keadilan." (Al-A'raf: 181).
(181) Yakni di antara makhluk ciptaan Kami terdapat umat yang utama lagi sempurna pada dirinya dan menyempurnakan yang lain, memberi petunjuk kepada diri dan orang lain dengan kebenaran, mereka mengetahui kebenaran, mengamalkannya, meng-ajarkannya, mendakwahkannya dan mengajak orang lain untuk beramal dengannya. ﴾ وَبِهِۦ يَعۡدِلُونَ ﴿ "Dan dengan yang haq itu (pula) mereka menjalankan keadilan," di antara manusia dalam hukum-hu-kum mereka jika mereka menetapkannya pada harta, darah, hak, pendapat dan lain-lain. Mereka itu adalah para imam hidayah dan lampu di kegelapan. Mereka itulah yang diberi nikmat oleh Allah dengan nikmat iman, amal shalih, saling berwasiat dalam kebena-ran dan kesabaran. Mereka itu adalah para shiddiqin yang mana derajat mereka di bawah derajat kerasulan. Mereka sendiri berting-kat-tingkat. Masing-masing berdasarkan sesuai dengan keadaan dan kedudukannya. Mahasuci Allah yang mengkhususkan Rahmat-Nya kepada yang Dia Kehendaki dan Allah adalah Pemilik karunia yang besar.
Al-A'raf 7:182
"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Mu-hammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. Dan apakah mereka tidak memperhati-kan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang dicipta-kan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al-Qur`an itu? Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tak ada orang yang akan memberi petunjuk padanya. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." (Al-A'raf: 182-186).
(182) Yakni dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menunjukkan kebenaran hidayah yang dibawa oleh Muhammad ﷺ, lalu mereka menolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui", yakni dengan mengucurkan rizki kepada mereka.
(183) ﴾ وَأُمۡلِي لَهُمۡۚ ﴿ "Dan Aku memberi tangguh kepada mereka." Yakni Aku menunda mereka sehingga mereka mengira bahwa me-reka dibiarkan dan tidak diazab. Maka kejahatan, kekufuran dan keburukan mereka semakin bertambah. Dengan itu siksa dan azab mereka bertambah, maka tanpa mereka sadari justru mereka meru-gikan diri mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ كَيۡدِي مَتِينٌ ﴿ "Sesungguhnya rencanaKu amat teguh", yakni kuat lagi kokoh.
(184) ﴾ أَوَلَمۡ يَتَفَكَّرُواْۗ مَا بِصَاحِبِهِم مِّن جِنَّةٍۚ ﴿ "Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila." Yakni apakah mereka tidak memakai pikiran dan melihat teman mereka yang mereka kenal dan tidak sedikit pun dari keadaannya yang samar bagi mereka, apakah dia gila? Hendaknya mereka me-lihat akhlaknya, sifatnya, perangainya dan tingkah lakunya, juga melihat dakwah yang diserukannya, maka mereka pasti tidak me-nemukan sifat-sifat kecuali yang paling sempurna, tidak mendapati akhlak-akhlak kecuali yang paling utama, dan tidak pula menyak-sikan akal dan pemikiran kecuali ia mengungguli seluruh manusia. Dia tidak berseru kecuali kepada kebaikan, dan tidak melarang ke-cuali dari segala yang buruk. Apakah dengan sifat-sifat seperti ini –wahai orang-orang yang berakal– dia dianggap gila? Ataukah dia adalah imam yang agung, pemberi nasihat yang mulia, yang bersi-fat dermawan, penyayang dan lemah lembut? Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan." Yakni mengajak makhluk kepada apa yang dapat menyelamatkan mereka dari azab dan meraih pahala.
(185) ﴾ أَوَلَمۡ يَنظُرُواْ فِي مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi." Sesungguhnya jika mereka melihat kepadanya, maka mereka akan mendapatinya sebagai bukti yang menunjukkan keesaan Penciptanya dan kesempurnaan sifat-sifat yang dimilikiNya. ﴾ و َ ﴿ "Dan", begitu pula hendaknya mereka melihat ﴾ م َ ا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٖ ﴿ "segala sesuatu yang diciptakan Allah." Karena seluruh bagian alam raya ini menunjukkan secara jelas kepada ilmu Allah, kodratNya, hikmahNya, keluasan RahmatNya, kebaikanNya, kehendakNya yang pasti terlaksana, dan sifat-sifat agung lainnya yang menunjukkan keesaanNya dalam penciptaan dan pengaturan yang mengantarkan kepada keyakinan bahwa Dia-lah yang berhak disembah, dipuji, disucikan, diesakan dan dicintai. Dan FirmanNya, ﴾ وَأَنۡ عَسَىٰٓ أَن يَكُونَ قَدِ ٱقۡتَرَبَ أَجَلُهُمۡۖ ﴿ "Dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka?" Yakni hendaknya mereka melihat keadaan mereka sendiri secara khusus, melihat diri mereka sebelum ajal datang mendekat dan kematian hadir secara tiba-tiba, sementara mereka dalam ke-adaan lalai dan berpaling, maka dalam kondisi itu mereka tidak mungkin mengejar ketertinggalan. ﴾ فَبِأَيِّ حَدِيثِۭ بَعۡدَهُۥ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al-Qur`an itu?" Yakni jika mereka tidak beriman kepada kitab yang mulia ini, lalu kepada apakah mereka beriman? Apakah kepada kitab-kitab ke-sesatan dan kebatilan? Ataukah kepada ucapan pendusta dan pembual?
(186) Akan tetapi orang yang sesat tidak memiliki cara dan jalan untuk mendapatkan hidayahNya. Oleh karena itu Allah ber-firman, ﴾ مَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُۥۚ وَيَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." Yakni bingung, bimbang, tidak bisa lepas darinya, dan tidak meraih ke-benaran.
Al-A'raf 7:183
"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Mu-hammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. Dan apakah mereka tidak memperhati-kan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang dicipta-kan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al-Qur`an itu? Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tak ada orang yang akan memberi petunjuk padanya. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." (Al-A'raf: 182-186).
(182) Yakni dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menunjukkan kebenaran hidayah yang dibawa oleh Muhammad ﷺ, lalu mereka menolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui", yakni dengan mengucurkan rizki kepada mereka.
(183) ﴾ وَأُمۡلِي لَهُمۡۚ ﴿ "Dan Aku memberi tangguh kepada mereka." Yakni Aku menunda mereka sehingga mereka mengira bahwa me-reka dibiarkan dan tidak diazab. Maka kejahatan, kekufuran dan keburukan mereka semakin bertambah. Dengan itu siksa dan azab mereka bertambah, maka tanpa mereka sadari justru mereka meru-gikan diri mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ كَيۡدِي مَتِينٌ ﴿ "Sesungguhnya rencanaKu amat teguh", yakni kuat lagi kokoh.
(184) ﴾ أَوَلَمۡ يَتَفَكَّرُواْۗ مَا بِصَاحِبِهِم مِّن جِنَّةٍۚ ﴿ "Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila." Yakni apakah mereka tidak memakai pikiran dan melihat teman mereka yang mereka kenal dan tidak sedikit pun dari keadaannya yang samar bagi mereka, apakah dia gila? Hendaknya mereka me-lihat akhlaknya, sifatnya, perangainya dan tingkah lakunya, juga melihat dakwah yang diserukannya, maka mereka pasti tidak me-nemukan sifat-sifat kecuali yang paling sempurna, tidak mendapati akhlak-akhlak kecuali yang paling utama, dan tidak pula menyak-sikan akal dan pemikiran kecuali ia mengungguli seluruh manusia. Dia tidak berseru kecuali kepada kebaikan, dan tidak melarang ke-cuali dari segala yang buruk. Apakah dengan sifat-sifat seperti ini –wahai orang-orang yang berakal– dia dianggap gila? Ataukah dia adalah imam yang agung, pemberi nasihat yang mulia, yang bersi-fat dermawan, penyayang dan lemah lembut? Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan." Yakni mengajak makhluk kepada apa yang dapat menyelamatkan mereka dari azab dan meraih pahala.
(185) ﴾ أَوَلَمۡ يَنظُرُواْ فِي مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi." Sesungguhnya jika mereka melihat kepadanya, maka mereka akan mendapatinya sebagai bukti yang menunjukkan keesaan Penciptanya dan kesempurnaan sifat-sifat yang dimilikiNya. ﴾ و َ ﴿ "Dan", begitu pula hendaknya mereka melihat ﴾ م َ ا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٖ ﴿ "segala sesuatu yang diciptakan Allah." Karena seluruh bagian alam raya ini menunjukkan secara jelas kepada ilmu Allah, kodratNya, hikmahNya, keluasan RahmatNya, kebaikanNya, kehendakNya yang pasti terlaksana, dan sifat-sifat agung lainnya yang menunjukkan keesaanNya dalam penciptaan dan pengaturan yang mengantarkan kepada keyakinan bahwa Dia-lah yang berhak disembah, dipuji, disucikan, diesakan dan dicintai. Dan FirmanNya, ﴾ وَأَنۡ عَسَىٰٓ أَن يَكُونَ قَدِ ٱقۡتَرَبَ أَجَلُهُمۡۖ ﴿ "Dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka?" Yakni hendaknya mereka melihat keadaan mereka sendiri secara khusus, melihat diri mereka sebelum ajal datang mendekat dan kematian hadir secara tiba-tiba, sementara mereka dalam ke-adaan lalai dan berpaling, maka dalam kondisi itu mereka tidak mungkin mengejar ketertinggalan. ﴾ فَبِأَيِّ حَدِيثِۭ بَعۡدَهُۥ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al-Qur`an itu?" Yakni jika mereka tidak beriman kepada kitab yang mulia ini, lalu kepada apakah mereka beriman? Apakah kepada kitab-kitab ke-sesatan dan kebatilan? Ataukah kepada ucapan pendusta dan pembual?
(186) Akan tetapi orang yang sesat tidak memiliki cara dan jalan untuk mendapatkan hidayahNya. Oleh karena itu Allah ber-firman, ﴾ مَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُۥۚ وَيَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." Yakni bingung, bimbang, tidak bisa lepas darinya, dan tidak meraih ke-benaran.
Al-A'raf 7:184
"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Mu-hammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. Dan apakah mereka tidak memperhati-kan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang dicipta-kan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al-Qur`an itu? Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tak ada orang yang akan memberi petunjuk padanya. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." (Al-A'raf: 182-186).
(182) Yakni dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menunjukkan kebenaran hidayah yang dibawa oleh Muhammad ﷺ, lalu mereka menolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui", yakni dengan mengucurkan rizki kepada mereka.
(183) ﴾ وَأُمۡلِي لَهُمۡۚ ﴿ "Dan Aku memberi tangguh kepada mereka." Yakni Aku menunda mereka sehingga mereka mengira bahwa me-reka dibiarkan dan tidak diazab. Maka kejahatan, kekufuran dan keburukan mereka semakin bertambah. Dengan itu siksa dan azab mereka bertambah, maka tanpa mereka sadari justru mereka meru-gikan diri mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ كَيۡدِي مَتِينٌ ﴿ "Sesungguhnya rencanaKu amat teguh", yakni kuat lagi kokoh.
(184) ﴾ أَوَلَمۡ يَتَفَكَّرُواْۗ مَا بِصَاحِبِهِم مِّن جِنَّةٍۚ ﴿ "Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila." Yakni apakah mereka tidak memakai pikiran dan melihat teman mereka yang mereka kenal dan tidak sedikit pun dari keadaannya yang samar bagi mereka, apakah dia gila? Hendaknya mereka me-lihat akhlaknya, sifatnya, perangainya dan tingkah lakunya, juga melihat dakwah yang diserukannya, maka mereka pasti tidak me-nemukan sifat-sifat kecuali yang paling sempurna, tidak mendapati akhlak-akhlak kecuali yang paling utama, dan tidak pula menyak-sikan akal dan pemikiran kecuali ia mengungguli seluruh manusia. Dia tidak berseru kecuali kepada kebaikan, dan tidak melarang ke-cuali dari segala yang buruk. Apakah dengan sifat-sifat seperti ini –wahai orang-orang yang berakal– dia dianggap gila? Ataukah dia adalah imam yang agung, pemberi nasihat yang mulia, yang bersi-fat dermawan, penyayang dan lemah lembut? Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan." Yakni mengajak makhluk kepada apa yang dapat menyelamatkan mereka dari azab dan meraih pahala.
(185) ﴾ أَوَلَمۡ يَنظُرُواْ فِي مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi." Sesungguhnya jika mereka melihat kepadanya, maka mereka akan mendapatinya sebagai bukti yang menunjukkan keesaan Penciptanya dan kesempurnaan sifat-sifat yang dimilikiNya. ﴾ و َ ﴿ "Dan", begitu pula hendaknya mereka melihat ﴾ م َ ا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٖ ﴿ "segala sesuatu yang diciptakan Allah." Karena seluruh bagian alam raya ini menunjukkan secara jelas kepada ilmu Allah, kodratNya, hikmahNya, keluasan RahmatNya, kebaikanNya, kehendakNya yang pasti terlaksana, dan sifat-sifat agung lainnya yang menunjukkan keesaanNya dalam penciptaan dan pengaturan yang mengantarkan kepada keyakinan bahwa Dia-lah yang berhak disembah, dipuji, disucikan, diesakan dan dicintai. Dan FirmanNya, ﴾ وَأَنۡ عَسَىٰٓ أَن يَكُونَ قَدِ ٱقۡتَرَبَ أَجَلُهُمۡۖ ﴿ "Dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka?" Yakni hendaknya mereka melihat keadaan mereka sendiri secara khusus, melihat diri mereka sebelum ajal datang mendekat dan kematian hadir secara tiba-tiba, sementara mereka dalam ke-adaan lalai dan berpaling, maka dalam kondisi itu mereka tidak mungkin mengejar ketertinggalan. ﴾ فَبِأَيِّ حَدِيثِۭ بَعۡدَهُۥ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al-Qur`an itu?" Yakni jika mereka tidak beriman kepada kitab yang mulia ini, lalu kepada apakah mereka beriman? Apakah kepada kitab-kitab ke-sesatan dan kebatilan? Ataukah kepada ucapan pendusta dan pembual?
(186) Akan tetapi orang yang sesat tidak memiliki cara dan jalan untuk mendapatkan hidayahNya. Oleh karena itu Allah ber-firman, ﴾ مَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُۥۚ وَيَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." Yakni bingung, bimbang, tidak bisa lepas darinya, dan tidak meraih ke-benaran.
Al-A'raf 7:185
"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Mu-hammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. Dan apakah mereka tidak memperhati-kan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang dicipta-kan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al-Qur`an itu? Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tak ada orang yang akan memberi petunjuk padanya. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." (Al-A'raf: 182-186).
(182) Yakni dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menunjukkan kebenaran hidayah yang dibawa oleh Muhammad ﷺ, lalu mereka menolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui", yakni dengan mengucurkan rizki kepada mereka.
(183) ﴾ وَأُمۡلِي لَهُمۡۚ ﴿ "Dan Aku memberi tangguh kepada mereka." Yakni Aku menunda mereka sehingga mereka mengira bahwa me-reka dibiarkan dan tidak diazab. Maka kejahatan, kekufuran dan keburukan mereka semakin bertambah. Dengan itu siksa dan azab mereka bertambah, maka tanpa mereka sadari justru mereka meru-gikan diri mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ كَيۡدِي مَتِينٌ ﴿ "Sesungguhnya rencanaKu amat teguh", yakni kuat lagi kokoh.
(184) ﴾ أَوَلَمۡ يَتَفَكَّرُواْۗ مَا بِصَاحِبِهِم مِّن جِنَّةٍۚ ﴿ "Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila." Yakni apakah mereka tidak memakai pikiran dan melihat teman mereka yang mereka kenal dan tidak sedikit pun dari keadaannya yang samar bagi mereka, apakah dia gila? Hendaknya mereka me-lihat akhlaknya, sifatnya, perangainya dan tingkah lakunya, juga melihat dakwah yang diserukannya, maka mereka pasti tidak me-nemukan sifat-sifat kecuali yang paling sempurna, tidak mendapati akhlak-akhlak kecuali yang paling utama, dan tidak pula menyak-sikan akal dan pemikiran kecuali ia mengungguli seluruh manusia. Dia tidak berseru kecuali kepada kebaikan, dan tidak melarang ke-cuali dari segala yang buruk. Apakah dengan sifat-sifat seperti ini –wahai orang-orang yang berakal– dia dianggap gila? Ataukah dia adalah imam yang agung, pemberi nasihat yang mulia, yang bersi-fat dermawan, penyayang dan lemah lembut? Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan." Yakni mengajak makhluk kepada apa yang dapat menyelamatkan mereka dari azab dan meraih pahala.
(185) ﴾ أَوَلَمۡ يَنظُرُواْ فِي مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi." Sesungguhnya jika mereka melihat kepadanya, maka mereka akan mendapatinya sebagai bukti yang menunjukkan keesaan Penciptanya dan kesempurnaan sifat-sifat yang dimilikiNya. ﴾ و َ ﴿ "Dan", begitu pula hendaknya mereka melihat ﴾ م َ ا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٖ ﴿ "segala sesuatu yang diciptakan Allah." Karena seluruh bagian alam raya ini menunjukkan secara jelas kepada ilmu Allah, kodratNya, hikmahNya, keluasan RahmatNya, kebaikanNya, kehendakNya yang pasti terlaksana, dan sifat-sifat agung lainnya yang menunjukkan keesaanNya dalam penciptaan dan pengaturan yang mengantarkan kepada keyakinan bahwa Dia-lah yang berhak disembah, dipuji, disucikan, diesakan dan dicintai. Dan FirmanNya, ﴾ وَأَنۡ عَسَىٰٓ أَن يَكُونَ قَدِ ٱقۡتَرَبَ أَجَلُهُمۡۖ ﴿ "Dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka?" Yakni hendaknya mereka melihat keadaan mereka sendiri secara khusus, melihat diri mereka sebelum ajal datang mendekat dan kematian hadir secara tiba-tiba, sementara mereka dalam ke-adaan lalai dan berpaling, maka dalam kondisi itu mereka tidak mungkin mengejar ketertinggalan. ﴾ فَبِأَيِّ حَدِيثِۭ بَعۡدَهُۥ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al-Qur`an itu?" Yakni jika mereka tidak beriman kepada kitab yang mulia ini, lalu kepada apakah mereka beriman? Apakah kepada kitab-kitab ke-sesatan dan kebatilan? Ataukah kepada ucapan pendusta dan pembual?
(186) Akan tetapi orang yang sesat tidak memiliki cara dan jalan untuk mendapatkan hidayahNya. Oleh karena itu Allah ber-firman, ﴾ مَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُۥۚ وَيَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." Yakni bingung, bimbang, tidak bisa lepas darinya, dan tidak meraih ke-benaran.
Al-A'raf 7:186
"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Mu-hammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. Dan apakah mereka tidak memperhati-kan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang dicipta-kan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al-Qur`an itu? Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tak ada orang yang akan memberi petunjuk padanya. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." (Al-A'raf: 182-186).
(182) Yakni dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menunjukkan kebenaran hidayah yang dibawa oleh Muhammad ﷺ, lalu mereka menolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui", yakni dengan mengucurkan rizki kepada mereka.
(183) ﴾ وَأُمۡلِي لَهُمۡۚ ﴿ "Dan Aku memberi tangguh kepada mereka." Yakni Aku menunda mereka sehingga mereka mengira bahwa me-reka dibiarkan dan tidak diazab. Maka kejahatan, kekufuran dan keburukan mereka semakin bertambah. Dengan itu siksa dan azab mereka bertambah, maka tanpa mereka sadari justru mereka meru-gikan diri mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ كَيۡدِي مَتِينٌ ﴿ "Sesungguhnya rencanaKu amat teguh", yakni kuat lagi kokoh.
(184) ﴾ أَوَلَمۡ يَتَفَكَّرُواْۗ مَا بِصَاحِبِهِم مِّن جِنَّةٍۚ ﴿ "Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila." Yakni apakah mereka tidak memakai pikiran dan melihat teman mereka yang mereka kenal dan tidak sedikit pun dari keadaannya yang samar bagi mereka, apakah dia gila? Hendaknya mereka me-lihat akhlaknya, sifatnya, perangainya dan tingkah lakunya, juga melihat dakwah yang diserukannya, maka mereka pasti tidak me-nemukan sifat-sifat kecuali yang paling sempurna, tidak mendapati akhlak-akhlak kecuali yang paling utama, dan tidak pula menyak-sikan akal dan pemikiran kecuali ia mengungguli seluruh manusia. Dia tidak berseru kecuali kepada kebaikan, dan tidak melarang ke-cuali dari segala yang buruk. Apakah dengan sifat-sifat seperti ini –wahai orang-orang yang berakal– dia dianggap gila? Ataukah dia adalah imam yang agung, pemberi nasihat yang mulia, yang bersi-fat dermawan, penyayang dan lemah lembut? Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan." Yakni mengajak makhluk kepada apa yang dapat menyelamatkan mereka dari azab dan meraih pahala.
(185) ﴾ أَوَلَمۡ يَنظُرُواْ فِي مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi." Sesungguhnya jika mereka melihat kepadanya, maka mereka akan mendapatinya sebagai bukti yang menunjukkan keesaan Penciptanya dan kesempurnaan sifat-sifat yang dimilikiNya. ﴾ و َ ﴿ "Dan", begitu pula hendaknya mereka melihat ﴾ م َ ا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٖ ﴿ "segala sesuatu yang diciptakan Allah." Karena seluruh bagian alam raya ini menunjukkan secara jelas kepada ilmu Allah, kodratNya, hikmahNya, keluasan RahmatNya, kebaikanNya, kehendakNya yang pasti terlaksana, dan sifat-sifat agung lainnya yang menunjukkan keesaanNya dalam penciptaan dan pengaturan yang mengantarkan kepada keyakinan bahwa Dia-lah yang berhak disembah, dipuji, disucikan, diesakan dan dicintai. Dan FirmanNya, ﴾ وَأَنۡ عَسَىٰٓ أَن يَكُونَ قَدِ ٱقۡتَرَبَ أَجَلُهُمۡۖ ﴿ "Dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka?" Yakni hendaknya mereka melihat keadaan mereka sendiri secara khusus, melihat diri mereka sebelum ajal datang mendekat dan kematian hadir secara tiba-tiba, sementara mereka dalam ke-adaan lalai dan berpaling, maka dalam kondisi itu mereka tidak mungkin mengejar ketertinggalan. ﴾ فَبِأَيِّ حَدِيثِۭ بَعۡدَهُۥ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al-Qur`an itu?" Yakni jika mereka tidak beriman kepada kitab yang mulia ini, lalu kepada apakah mereka beriman? Apakah kepada kitab-kitab ke-sesatan dan kebatilan? Ataukah kepada ucapan pendusta dan pembual?
(186) Akan tetapi orang yang sesat tidak memiliki cara dan jalan untuk mendapatkan hidayahNya. Oleh karena itu Allah ber-firman, ﴾ مَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُۥۚ وَيَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." Yakni bingung, bimbang, tidak bisa lepas darinya, dan tidak meraih ke-benaran.
Al-A'raf 7:187
"Mereka menanyakan kepadamu tentang Hari Kiamat, 'Bilakah terjadinya?' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabbku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.' Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, 'Sesungguh-nya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.' Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku mem-buat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditim-pa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman'." (Al-A'raf: 187-188).
(187) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya Muhammad ﷺ, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ ﴿ "Mereka menanyakan kepadamu." Yakni orang-orang yang membangkang dan mendustakanmu ﴾ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ ﴿ "tentang Hari Kiamat, bilakah terjadinya?" Yakni kapan terjadinya? Kapan ia hadir pada manusia? ﴾ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّيۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya pengeta-huan tentang Hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabbku'." Yakni penge-tahuannya hanya dimiliki oleh Allah. ﴾ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقۡتِهَآ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia." Yakni ia tidak ditampakkan pada waktu yang telah ditentukan untuk terjadi padanya kecuali oleh Allah. ﴾ ثَقُلَتۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi." Yakni penge-tahuan tentangnya tidak diketahui oleh penduduk langit dan bumi dan perkaranya pun berat atas mereka. Mereka ketakutan terhadap kiamat. ﴾ لَا تَأۡتِيكُمۡ إِلَّا بَغۡتَةٗۗ ﴿ "Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melain-kan dengan tiba-tiba." Di mana mereka tidak merasa sehingga me-reka tidak bersiap-siap untuk menghadapinya. ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنۡهَاۖ ﴿ "Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahui-nya." Yakni mereka terus bertanya kepadamu tentang Hari Kiamat seolah-olah kamu memiliki perhatian besar terhadap pertanyaan seperti ini, sementara mereka tidak menyadari bahwa kamu –karena sempurnanya ilmumu terhadap Rabbmu dan karena tidak bergu-nanya pertanyaan seperti ini– tidak mempedulikan dan tidak mem-perhatikan pertanyaan tentangnya. Mengapa dalam hal ini mereka tidak meneladanimu? Dan menahan diri dari pertanyaan ini yang tidak mengandung kemaslahatan sama sekali, yang ilmunya tidak mungkin diketahui, ia tidak diketahui oleh Nabi yang diutus mau-pun malaikat yang dekat kepada Allah, ia termasuk perkara yang dirahasiakan oleh Allah dari makhlukNya karena hikmahNya yang sempurna dan RahmatNya yang luas. ﴾ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui'." Oleh karena itu mereka memberi perhatian terhadap sesuatu yang tidak selayaknya diperhatikan, lebih-lebih mereka yang tidak ber-tanya tentang perkara yang lebih penting dengan meninggalkan ilmu yang wajib mereka ketahui, kemudian menggantinya dengan pertanyaan yang tidak seorang pun mengetahui jawabannya dan mereka sendiri tidak dituntut untuk mengetahuinya.
(188) ﴾ قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي نَفۡعٗا وَلَا ضَرًّا ﴿ "Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan'." Karena sesungguhnya aku adalah hamba fakir yang diatur, kebaik-an tidak datang kepadaku kecuali dari Allah dan tidak ada yang menolak kejahatan dariku kecuali Dia, dan aku pun tidak memiliki ilmu kecuali apa yang diajarkan oleh Allah تعالى kepadaku.﴾ وَلَوۡ كُنتُ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ لَٱسۡتَكۡثَرۡتُ مِنَ ٱلۡخَيۡرِ وَمَا مَسَّنِيَ ٱلسُّوٓءُۚ ﴿ "Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan." Yakni niscaya aku melakukan sebab-se-bab yang mana aku mengetahui bahwa ia menghasilkan kebaikan dan kemaslahatan untukku dan aku pun akan berhati-hati terhadap segala perkara yang membawaku kepada keburukan dan hal-hal yang tidak diinginkan, karena aku mengetahui perkara-perkara sebelum ia terjadi, dan aku pun mengetahui akibat yang ditimbul-kan. Akan tetapi karena aku sendiri tidak mengetahui, maka terka-dang aku pun ditimpa kemalangan dan aku pun gagal meraih ke-baikan dan kemaslahatan dunia. Ini adalah dalil paling kuat bahwa aku tidak memiliki ilmu ghaib. ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ ﴿ "Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan", yang memperingatkan azab diniyah, duniawi-yah dan ukhrawiyah. Aku menjelaskan perbuatan-perbuatan yang mengantarkan kepadanya sekaligus memperingatkannya. Aku juga menyampaikan berita gembira pahala dunia dan akhirat, dengan menjelaskan perbuatan-perbuatan yang mengantarkan kepadanya dan mendorong kepadanya. Akan tetapi tidak semua orang mau menerima peringatan dan berita gembira ini. Hanya orang-orang Mukminlah yang mau menerima dan mengambil manfaat darinya. Ayat-ayat yang mulia ini menjelaskan kebodohan orang yang berdoa kepada Nabi untuk mendapatkan kebaikan dan menolak kemudaratan, karena perkaranya tidak berada di tangannya, dan dia tidak dapat memberi manfaat kepada orang yang tidak diberi bermanfaat oleh Allah, dan tidak dapat menolak mudarat dari orang yang tidak dilindungi oleh Allah serta tidak memiliki ilmu kecuali apa yang diajarkan oleh Allah تعالى kepadanya. Ia hanya manfaat bagi orang yang mau menerima berita gembira dan peringatannya serta mengamalkannya. Ini adalah manfaat Nabi yang mengung-guli manfaat bapak, ibu, saudara dan karib, dengan dorongannya kepada semua manusia kepada semua kebaikan, dan peringatannya dari segala keburukan, serta penjelasannya kepada mereka dengan sangat jelas dan gamblang.
Al-A'raf 7:188
"Mereka menanyakan kepadamu tentang Hari Kiamat, 'Bilakah terjadinya?' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabbku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.' Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, 'Sesungguh-nya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.' Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku mem-buat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditim-pa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman'." (Al-A'raf: 187-188).
(187) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya Muhammad ﷺ, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ ﴿ "Mereka menanyakan kepadamu." Yakni orang-orang yang membangkang dan mendustakanmu ﴾ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ ﴿ "tentang Hari Kiamat, bilakah terjadinya?" Yakni kapan terjadinya? Kapan ia hadir pada manusia? ﴾ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّيۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya pengeta-huan tentang Hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabbku'." Yakni penge-tahuannya hanya dimiliki oleh Allah. ﴾ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقۡتِهَآ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia." Yakni ia tidak ditampakkan pada waktu yang telah ditentukan untuk terjadi padanya kecuali oleh Allah. ﴾ ثَقُلَتۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi." Yakni penge-tahuan tentangnya tidak diketahui oleh penduduk langit dan bumi dan perkaranya pun berat atas mereka. Mereka ketakutan terhadap kiamat. ﴾ لَا تَأۡتِيكُمۡ إِلَّا بَغۡتَةٗۗ ﴿ "Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melain-kan dengan tiba-tiba." Di mana mereka tidak merasa sehingga me-reka tidak bersiap-siap untuk menghadapinya. ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنۡهَاۖ ﴿ "Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahui-nya." Yakni mereka terus bertanya kepadamu tentang Hari Kiamat seolah-olah kamu memiliki perhatian besar terhadap pertanyaan seperti ini, sementara mereka tidak menyadari bahwa kamu –karena sempurnanya ilmumu terhadap Rabbmu dan karena tidak bergu-nanya pertanyaan seperti ini– tidak mempedulikan dan tidak mem-perhatikan pertanyaan tentangnya. Mengapa dalam hal ini mereka tidak meneladanimu? Dan menahan diri dari pertanyaan ini yang tidak mengandung kemaslahatan sama sekali, yang ilmunya tidak mungkin diketahui, ia tidak diketahui oleh Nabi yang diutus mau-pun malaikat yang dekat kepada Allah, ia termasuk perkara yang dirahasiakan oleh Allah dari makhlukNya karena hikmahNya yang sempurna dan RahmatNya yang luas. ﴾ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui'." Oleh karena itu mereka memberi perhatian terhadap sesuatu yang tidak selayaknya diperhatikan, lebih-lebih mereka yang tidak ber-tanya tentang perkara yang lebih penting dengan meninggalkan ilmu yang wajib mereka ketahui, kemudian menggantinya dengan pertanyaan yang tidak seorang pun mengetahui jawabannya dan mereka sendiri tidak dituntut untuk mengetahuinya.
(188) ﴾ قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي نَفۡعٗا وَلَا ضَرًّا ﴿ "Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan'." Karena sesungguhnya aku adalah hamba fakir yang diatur, kebaik-an tidak datang kepadaku kecuali dari Allah dan tidak ada yang menolak kejahatan dariku kecuali Dia, dan aku pun tidak memiliki ilmu kecuali apa yang diajarkan oleh Allah تعالى kepadaku.﴾ وَلَوۡ كُنتُ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ لَٱسۡتَكۡثَرۡتُ مِنَ ٱلۡخَيۡرِ وَمَا مَسَّنِيَ ٱلسُّوٓءُۚ ﴿ "Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan." Yakni niscaya aku melakukan sebab-se-bab yang mana aku mengetahui bahwa ia menghasilkan kebaikan dan kemaslahatan untukku dan aku pun akan berhati-hati terhadap segala perkara yang membawaku kepada keburukan dan hal-hal yang tidak diinginkan, karena aku mengetahui perkara-perkara sebelum ia terjadi, dan aku pun mengetahui akibat yang ditimbul-kan. Akan tetapi karena aku sendiri tidak mengetahui, maka terka-dang aku pun ditimpa kemalangan dan aku pun gagal meraih ke-baikan dan kemaslahatan dunia. Ini adalah dalil paling kuat bahwa aku tidak memiliki ilmu ghaib. ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ ﴿ "Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan", yang memperingatkan azab diniyah, duniawi-yah dan ukhrawiyah. Aku menjelaskan perbuatan-perbuatan yang mengantarkan kepadanya sekaligus memperingatkannya. Aku juga menyampaikan berita gembira pahala dunia dan akhirat, dengan menjelaskan perbuatan-perbuatan yang mengantarkan kepadanya dan mendorong kepadanya. Akan tetapi tidak semua orang mau menerima peringatan dan berita gembira ini. Hanya orang-orang Mukminlah yang mau menerima dan mengambil manfaat darinya. Ayat-ayat yang mulia ini menjelaskan kebodohan orang yang berdoa kepada Nabi untuk mendapatkan kebaikan dan menolak kemudaratan, karena perkaranya tidak berada di tangannya, dan dia tidak dapat memberi manfaat kepada orang yang tidak diberi bermanfaat oleh Allah, dan tidak dapat menolak mudarat dari orang yang tidak dilindungi oleh Allah serta tidak memiliki ilmu kecuali apa yang diajarkan oleh Allah تعالى kepadanya. Ia hanya manfaat bagi orang yang mau menerima berita gembira dan peringatannya serta mengamalkannya. Ini adalah manfaat Nabi yang mengung-guli manfaat bapak, ibu, saudara dan karib, dengan dorongannya kepada semua manusia kepada semua kebaikan, dan peringatannya dari segala keburukan, serta penjelasannya kepada mereka dengan sangat jelas dan gamblang.
Al-A'raf 7:189
"Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-istri) memohon kepada Allah, Rabbnya seraya berkata, 'Sesungguh-nya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.' Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianuge-rahkanNya kepada keduanya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan se-suatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun ber-hala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memper-kenankan seruanmu, sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri." (Al-A'raf: 189-193).
(189) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم ﴿ "Dia-lah Yang menciptakan kamu", wahai kaum laki-laki dan perempuan yang bertebaran di muka bumi de-ngan jumlah yang banyak dan beraneka ragam, ﴾ مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ ﴿ "dari diri yang satu." Yaitu Adam عليه السلام bapak manusia. ﴾ وَجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا ﴿ "Dan dari padanya Dia menciptakan istrinya." Yakni menciptakan istrinya Hawwa` dari Adam, agar dia merasa senang kepadanya. Karena jika dia diciptakan dari unsur Adam, maka akan terjadi keserasian dan keharmonisan yang menjadikan masing-masing dari keduanya menjadi tenang dengan yang lain, maka masing-masing dari kedua-nya cenderung kepada yang lain dengan kecenderungan syahwat. ﴾ فَلَمَّا تَغَشَّىٰهَا ﴿ "Maka setelah dicampurinya", yakni digaulinya, dan Allah menakdirkan dari syahwat atau percampuran itu seorang anak, maka dia pun hamil, ﴾ حَمۡلًا خَفِيفٗا ﴿ "mengandung kandungan yang ri-ngan." Hal itu terjadi di awal kehamilan di mana wanita tidak me-rasakan beratnya kehamilan. ﴾ فَلَمَّآ ﴿ "Kemudian tatkala", dia terus berlangsung dan ﴾ أَثۡقَلَت ﴿ "dia merasa berat", ketika kehamilan itu membesar di perutnya, dalam kondisi tersebut dia mulai merin-dukan anaknya. Dia berharap anaknya lahir dalam keadaan sehat dan selamat dari segala cacat. Maka keduanya berdoa ﴾ ٱللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنۡ ءَاتَيۡتَنَا صَٰلِحٗا ﴿ "kepada Allah, Rabbnya seraya berkata, 'Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna.' Sempurna penciptaannya, tidak ada yang kurang suatu apa pun, ﴾ لَّنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur'."
(190) ﴾ فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna", sesuai dengan permintaan mereka dan sempurnalah nikmat Allah padanya ﴾ جَعَلَا لَهُۥ شُرَكَآءَ فِيمَآ ءَاتَىٰهُمَاۚ ﴿ "maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianu-gerahkanNya kepada keduanya itu." Yakni keduanya menjadikan se-kutu-sekutu bagi Allah pada anak tersebut. Padahal yang mencip-takannya, menganugerahkannya, dan membahagiakan kedua orang tuanya hanyalah Allah semata. Maka keduanya menjadikannya sebagai hamba selain Allah, bisa dengan memberinya nama dengan nama Abd (hamba) yang disandarkan kepada selain Allah, Abdul Haris, Abdul Uzza, Abdul Ka'bah dan lain-lain. Dan bisa pula ke-duanya menyekutukan Allah dalam ibadah setelah Allah memberi-nya nikmat yang tidak seorang hamba pun mampu menghitungnya. Ini adalah perpindahan dari macam kepada jenis, karena asal pem-bicaraan tentang Adam dan Hawwa`, kemudian berpindah kepada pembicaraan tentang jenis (yakni jenis manusia secara umum), dan tidak diragukan bahwa hal itu banyak terjadi pada keturunan Adam dan Hawwa`. Oleh karena itu Allah menetapkan kebatilan syirik atas mereka dan bahwa dalam hal itu mereka adalah orang-orang zhalim dengan kezhaliman yang paling besar. Tiada beda antara syirik dalam ucapan dan syirik dalam perbuatan. Sesungguhnya Dzat yang menciptakan mereka dari jiwa yang satu yang darinya Dia menciptakan istrinya dan menjadikan untuk mereka pasangan dari jenis mereka sendiri, kemudian menjadikan kasih sayang dan rasa cinta di antara mereka yang menjadikan sebagian merasa se-nang, cinta dan condong kepada sebagian yang lain, kemudian Dia membimbing mereka kepada apa yang dengannya syahwat kenik-matan, anak-anak dan keturunan bisa diraih, kemudian Dia men-ciptakan anak cucu di dalam rahim ibu dalam jangka waktu tertentu yang diidam-idamkan oleh jiwa mereka dan mereka memohon ke-pada Allah agar melahirkannya dalam keadaan sehat dan selamat, lalu Allah menyempurnakan nikmat bagi mereka, serta mewujud-kan keinginan mereka. Apakah Dia tidak berhak disembah tanpa disekutukan dengan sesuatu pun dalam ibadah kepadaNya dengan mengikhlaskan agama hanya kepadaNya?
(191-192) Akan tetapi perkaranya justru terbalik. Mereka menyekutukan Allah dengan ﴾ مَا لَا يَخۡلُقُ شَيۡـٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ 191 وَلَا يَسۡتَطِيعُونَ لَهُمۡ نَصۡرٗا وَلَآ أَنفُسَهُمۡ يَنصُرُونَ ﴿ "berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun. Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan." Jika ia tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun bah-kan seberat biji sawi, justru ia adalah yang diciptakan, ia juga tidak mampu menolak hal-hal buruk dari penyembahnya bahkan dari dirinya, lalu bagaimana ia diangkat sebagai tuhan bersama Allah? Ini hanyalah kezhaliman yang paling zhalim dan kebodohan yang paling bodoh.
(193) Jika kamu wahai orang-orang musyrik, menyeru ber-hala-berhala yang kamu sembah selain Allah itu ﴾ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ لَا يَتَّبِعُوكُمۡۚ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡ أَدَعَوۡتُمُوهُمۡ أَمۡ أَنتُمۡ صَٰمِتُونَ ﴿ "untuk memberi petunjuk kepadamu, maka tidak-lah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu, sama saja (hasil-nya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri." Manusia lebih baik keadaannya daripadanya, karena ia tidak mendengar, tidak melihat, tidak menunjukkan dan tidak ditunjukkan. Jika orang yang berakal merenungkan hal itu dengan jernih, maka dia memas-tikan kebatilan ketuhanannya dan kebodohan para penyembahnya.
Al-A'raf 7:190
"Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-istri) memohon kepada Allah, Rabbnya seraya berkata, 'Sesungguh-nya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.' Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianuge-rahkanNya kepada keduanya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan se-suatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun ber-hala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memper-kenankan seruanmu, sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri." (Al-A'raf: 189-193).
(189) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم ﴿ "Dia-lah Yang menciptakan kamu", wahai kaum laki-laki dan perempuan yang bertebaran di muka bumi de-ngan jumlah yang banyak dan beraneka ragam, ﴾ مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ ﴿ "dari diri yang satu." Yaitu Adam عليه السلام bapak manusia. ﴾ وَجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا ﴿ "Dan dari padanya Dia menciptakan istrinya." Yakni menciptakan istrinya Hawwa` dari Adam, agar dia merasa senang kepadanya. Karena jika dia diciptakan dari unsur Adam, maka akan terjadi keserasian dan keharmonisan yang menjadikan masing-masing dari keduanya menjadi tenang dengan yang lain, maka masing-masing dari kedua-nya cenderung kepada yang lain dengan kecenderungan syahwat. ﴾ فَلَمَّا تَغَشَّىٰهَا ﴿ "Maka setelah dicampurinya", yakni digaulinya, dan Allah menakdirkan dari syahwat atau percampuran itu seorang anak, maka dia pun hamil, ﴾ حَمۡلًا خَفِيفٗا ﴿ "mengandung kandungan yang ri-ngan." Hal itu terjadi di awal kehamilan di mana wanita tidak me-rasakan beratnya kehamilan. ﴾ فَلَمَّآ ﴿ "Kemudian tatkala", dia terus berlangsung dan ﴾ أَثۡقَلَت ﴿ "dia merasa berat", ketika kehamilan itu membesar di perutnya, dalam kondisi tersebut dia mulai merin-dukan anaknya. Dia berharap anaknya lahir dalam keadaan sehat dan selamat dari segala cacat. Maka keduanya berdoa ﴾ ٱللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنۡ ءَاتَيۡتَنَا صَٰلِحٗا ﴿ "kepada Allah, Rabbnya seraya berkata, 'Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna.' Sempurna penciptaannya, tidak ada yang kurang suatu apa pun, ﴾ لَّنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur'."
(190) ﴾ فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna", sesuai dengan permintaan mereka dan sempurnalah nikmat Allah padanya ﴾ جَعَلَا لَهُۥ شُرَكَآءَ فِيمَآ ءَاتَىٰهُمَاۚ ﴿ "maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianu-gerahkanNya kepada keduanya itu." Yakni keduanya menjadikan se-kutu-sekutu bagi Allah pada anak tersebut. Padahal yang mencip-takannya, menganugerahkannya, dan membahagiakan kedua orang tuanya hanyalah Allah semata. Maka keduanya menjadikannya sebagai hamba selain Allah, bisa dengan memberinya nama dengan nama Abd (hamba) yang disandarkan kepada selain Allah, Abdul Haris, Abdul Uzza, Abdul Ka'bah dan lain-lain. Dan bisa pula ke-duanya menyekutukan Allah dalam ibadah setelah Allah memberi-nya nikmat yang tidak seorang hamba pun mampu menghitungnya. Ini adalah perpindahan dari macam kepada jenis, karena asal pem-bicaraan tentang Adam dan Hawwa`, kemudian berpindah kepada pembicaraan tentang jenis (yakni jenis manusia secara umum), dan tidak diragukan bahwa hal itu banyak terjadi pada keturunan Adam dan Hawwa`. Oleh karena itu Allah menetapkan kebatilan syirik atas mereka dan bahwa dalam hal itu mereka adalah orang-orang zhalim dengan kezhaliman yang paling besar. Tiada beda antara syirik dalam ucapan dan syirik dalam perbuatan. Sesungguhnya Dzat yang menciptakan mereka dari jiwa yang satu yang darinya Dia menciptakan istrinya dan menjadikan untuk mereka pasangan dari jenis mereka sendiri, kemudian menjadikan kasih sayang dan rasa cinta di antara mereka yang menjadikan sebagian merasa se-nang, cinta dan condong kepada sebagian yang lain, kemudian Dia membimbing mereka kepada apa yang dengannya syahwat kenik-matan, anak-anak dan keturunan bisa diraih, kemudian Dia men-ciptakan anak cucu di dalam rahim ibu dalam jangka waktu tertentu yang diidam-idamkan oleh jiwa mereka dan mereka memohon ke-pada Allah agar melahirkannya dalam keadaan sehat dan selamat, lalu Allah menyempurnakan nikmat bagi mereka, serta mewujud-kan keinginan mereka. Apakah Dia tidak berhak disembah tanpa disekutukan dengan sesuatu pun dalam ibadah kepadaNya dengan mengikhlaskan agama hanya kepadaNya?
(191-192) Akan tetapi perkaranya justru terbalik. Mereka menyekutukan Allah dengan ﴾ مَا لَا يَخۡلُقُ شَيۡـٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ 191 وَلَا يَسۡتَطِيعُونَ لَهُمۡ نَصۡرٗا وَلَآ أَنفُسَهُمۡ يَنصُرُونَ ﴿ "berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun. Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan." Jika ia tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun bah-kan seberat biji sawi, justru ia adalah yang diciptakan, ia juga tidak mampu menolak hal-hal buruk dari penyembahnya bahkan dari dirinya, lalu bagaimana ia diangkat sebagai tuhan bersama Allah? Ini hanyalah kezhaliman yang paling zhalim dan kebodohan yang paling bodoh.
(193) Jika kamu wahai orang-orang musyrik, menyeru ber-hala-berhala yang kamu sembah selain Allah itu ﴾ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ لَا يَتَّبِعُوكُمۡۚ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡ أَدَعَوۡتُمُوهُمۡ أَمۡ أَنتُمۡ صَٰمِتُونَ ﴿ "untuk memberi petunjuk kepadamu, maka tidak-lah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu, sama saja (hasil-nya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri." Manusia lebih baik keadaannya daripadanya, karena ia tidak mendengar, tidak melihat, tidak menunjukkan dan tidak ditunjukkan. Jika orang yang berakal merenungkan hal itu dengan jernih, maka dia memas-tikan kebatilan ketuhanannya dan kebodohan para penyembahnya.
Al-A'raf 7:191
"Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-istri) memohon kepada Allah, Rabbnya seraya berkata, 'Sesungguh-nya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.' Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianuge-rahkanNya kepada keduanya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan se-suatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun ber-hala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memper-kenankan seruanmu, sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri." (Al-A'raf: 189-193).
(189) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم ﴿ "Dia-lah Yang menciptakan kamu", wahai kaum laki-laki dan perempuan yang bertebaran di muka bumi de-ngan jumlah yang banyak dan beraneka ragam, ﴾ مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ ﴿ "dari diri yang satu." Yaitu Adam عليه السلام bapak manusia. ﴾ وَجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا ﴿ "Dan dari padanya Dia menciptakan istrinya." Yakni menciptakan istrinya Hawwa` dari Adam, agar dia merasa senang kepadanya. Karena jika dia diciptakan dari unsur Adam, maka akan terjadi keserasian dan keharmonisan yang menjadikan masing-masing dari keduanya menjadi tenang dengan yang lain, maka masing-masing dari kedua-nya cenderung kepada yang lain dengan kecenderungan syahwat. ﴾ فَلَمَّا تَغَشَّىٰهَا ﴿ "Maka setelah dicampurinya", yakni digaulinya, dan Allah menakdirkan dari syahwat atau percampuran itu seorang anak, maka dia pun hamil, ﴾ حَمۡلًا خَفِيفٗا ﴿ "mengandung kandungan yang ri-ngan." Hal itu terjadi di awal kehamilan di mana wanita tidak me-rasakan beratnya kehamilan. ﴾ فَلَمَّآ ﴿ "Kemudian tatkala", dia terus berlangsung dan ﴾ أَثۡقَلَت ﴿ "dia merasa berat", ketika kehamilan itu membesar di perutnya, dalam kondisi tersebut dia mulai merin-dukan anaknya. Dia berharap anaknya lahir dalam keadaan sehat dan selamat dari segala cacat. Maka keduanya berdoa ﴾ ٱللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنۡ ءَاتَيۡتَنَا صَٰلِحٗا ﴿ "kepada Allah, Rabbnya seraya berkata, 'Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna.' Sempurna penciptaannya, tidak ada yang kurang suatu apa pun, ﴾ لَّنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur'."
(190) ﴾ فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna", sesuai dengan permintaan mereka dan sempurnalah nikmat Allah padanya ﴾ جَعَلَا لَهُۥ شُرَكَآءَ فِيمَآ ءَاتَىٰهُمَاۚ ﴿ "maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianu-gerahkanNya kepada keduanya itu." Yakni keduanya menjadikan se-kutu-sekutu bagi Allah pada anak tersebut. Padahal yang mencip-takannya, menganugerahkannya, dan membahagiakan kedua orang tuanya hanyalah Allah semata. Maka keduanya menjadikannya sebagai hamba selain Allah, bisa dengan memberinya nama dengan nama Abd (hamba) yang disandarkan kepada selain Allah, Abdul Haris, Abdul Uzza, Abdul Ka'bah dan lain-lain. Dan bisa pula ke-duanya menyekutukan Allah dalam ibadah setelah Allah memberi-nya nikmat yang tidak seorang hamba pun mampu menghitungnya. Ini adalah perpindahan dari macam kepada jenis, karena asal pem-bicaraan tentang Adam dan Hawwa`, kemudian berpindah kepada pembicaraan tentang jenis (yakni jenis manusia secara umum), dan tidak diragukan bahwa hal itu banyak terjadi pada keturunan Adam dan Hawwa`. Oleh karena itu Allah menetapkan kebatilan syirik atas mereka dan bahwa dalam hal itu mereka adalah orang-orang zhalim dengan kezhaliman yang paling besar. Tiada beda antara syirik dalam ucapan dan syirik dalam perbuatan. Sesungguhnya Dzat yang menciptakan mereka dari jiwa yang satu yang darinya Dia menciptakan istrinya dan menjadikan untuk mereka pasangan dari jenis mereka sendiri, kemudian menjadikan kasih sayang dan rasa cinta di antara mereka yang menjadikan sebagian merasa se-nang, cinta dan condong kepada sebagian yang lain, kemudian Dia membimbing mereka kepada apa yang dengannya syahwat kenik-matan, anak-anak dan keturunan bisa diraih, kemudian Dia men-ciptakan anak cucu di dalam rahim ibu dalam jangka waktu tertentu yang diidam-idamkan oleh jiwa mereka dan mereka memohon ke-pada Allah agar melahirkannya dalam keadaan sehat dan selamat, lalu Allah menyempurnakan nikmat bagi mereka, serta mewujud-kan keinginan mereka. Apakah Dia tidak berhak disembah tanpa disekutukan dengan sesuatu pun dalam ibadah kepadaNya dengan mengikhlaskan agama hanya kepadaNya?
(191-192) Akan tetapi perkaranya justru terbalik. Mereka menyekutukan Allah dengan ﴾ مَا لَا يَخۡلُقُ شَيۡـٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ 191 وَلَا يَسۡتَطِيعُونَ لَهُمۡ نَصۡرٗا وَلَآ أَنفُسَهُمۡ يَنصُرُونَ ﴿ "berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun. Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan." Jika ia tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun bah-kan seberat biji sawi, justru ia adalah yang diciptakan, ia juga tidak mampu menolak hal-hal buruk dari penyembahnya bahkan dari dirinya, lalu bagaimana ia diangkat sebagai tuhan bersama Allah? Ini hanyalah kezhaliman yang paling zhalim dan kebodohan yang paling bodoh.
(193) Jika kamu wahai orang-orang musyrik, menyeru ber-hala-berhala yang kamu sembah selain Allah itu ﴾ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ لَا يَتَّبِعُوكُمۡۚ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡ أَدَعَوۡتُمُوهُمۡ أَمۡ أَنتُمۡ صَٰمِتُونَ ﴿ "untuk memberi petunjuk kepadamu, maka tidak-lah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu, sama saja (hasil-nya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri." Manusia lebih baik keadaannya daripadanya, karena ia tidak mendengar, tidak melihat, tidak menunjukkan dan tidak ditunjukkan. Jika orang yang berakal merenungkan hal itu dengan jernih, maka dia memas-tikan kebatilan ketuhanannya dan kebodohan para penyembahnya.
Al-A'raf 7:192
"Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-istri) memohon kepada Allah, Rabbnya seraya berkata, 'Sesungguh-nya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.' Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianuge-rahkanNya kepada keduanya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan se-suatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun ber-hala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memper-kenankan seruanmu, sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri." (Al-A'raf: 189-193).
(189) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم ﴿ "Dia-lah Yang menciptakan kamu", wahai kaum laki-laki dan perempuan yang bertebaran di muka bumi de-ngan jumlah yang banyak dan beraneka ragam, ﴾ مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ ﴿ "dari diri yang satu." Yaitu Adam عليه السلام bapak manusia. ﴾ وَجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا ﴿ "Dan dari padanya Dia menciptakan istrinya." Yakni menciptakan istrinya Hawwa` dari Adam, agar dia merasa senang kepadanya. Karena jika dia diciptakan dari unsur Adam, maka akan terjadi keserasian dan keharmonisan yang menjadikan masing-masing dari keduanya menjadi tenang dengan yang lain, maka masing-masing dari kedua-nya cenderung kepada yang lain dengan kecenderungan syahwat. ﴾ فَلَمَّا تَغَشَّىٰهَا ﴿ "Maka setelah dicampurinya", yakni digaulinya, dan Allah menakdirkan dari syahwat atau percampuran itu seorang anak, maka dia pun hamil, ﴾ حَمۡلًا خَفِيفٗا ﴿ "mengandung kandungan yang ri-ngan." Hal itu terjadi di awal kehamilan di mana wanita tidak me-rasakan beratnya kehamilan. ﴾ فَلَمَّآ ﴿ "Kemudian tatkala", dia terus berlangsung dan ﴾ أَثۡقَلَت ﴿ "dia merasa berat", ketika kehamilan itu membesar di perutnya, dalam kondisi tersebut dia mulai merin-dukan anaknya. Dia berharap anaknya lahir dalam keadaan sehat dan selamat dari segala cacat. Maka keduanya berdoa ﴾ ٱللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنۡ ءَاتَيۡتَنَا صَٰلِحٗا ﴿ "kepada Allah, Rabbnya seraya berkata, 'Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna.' Sempurna penciptaannya, tidak ada yang kurang suatu apa pun, ﴾ لَّنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur'."
(190) ﴾ فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna", sesuai dengan permintaan mereka dan sempurnalah nikmat Allah padanya ﴾ جَعَلَا لَهُۥ شُرَكَآءَ فِيمَآ ءَاتَىٰهُمَاۚ ﴿ "maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianu-gerahkanNya kepada keduanya itu." Yakni keduanya menjadikan se-kutu-sekutu bagi Allah pada anak tersebut. Padahal yang mencip-takannya, menganugerahkannya, dan membahagiakan kedua orang tuanya hanyalah Allah semata. Maka keduanya menjadikannya sebagai hamba selain Allah, bisa dengan memberinya nama dengan nama Abd (hamba) yang disandarkan kepada selain Allah, Abdul Haris, Abdul Uzza, Abdul Ka'bah dan lain-lain. Dan bisa pula ke-duanya menyekutukan Allah dalam ibadah setelah Allah memberi-nya nikmat yang tidak seorang hamba pun mampu menghitungnya. Ini adalah perpindahan dari macam kepada jenis, karena asal pem-bicaraan tentang Adam dan Hawwa`, kemudian berpindah kepada pembicaraan tentang jenis (yakni jenis manusia secara umum), dan tidak diragukan bahwa hal itu banyak terjadi pada keturunan Adam dan Hawwa`. Oleh karena itu Allah menetapkan kebatilan syirik atas mereka dan bahwa dalam hal itu mereka adalah orang-orang zhalim dengan kezhaliman yang paling besar. Tiada beda antara syirik dalam ucapan dan syirik dalam perbuatan. Sesungguhnya Dzat yang menciptakan mereka dari jiwa yang satu yang darinya Dia menciptakan istrinya dan menjadikan untuk mereka pasangan dari jenis mereka sendiri, kemudian menjadikan kasih sayang dan rasa cinta di antara mereka yang menjadikan sebagian merasa se-nang, cinta dan condong kepada sebagian yang lain, kemudian Dia membimbing mereka kepada apa yang dengannya syahwat kenik-matan, anak-anak dan keturunan bisa diraih, kemudian Dia men-ciptakan anak cucu di dalam rahim ibu dalam jangka waktu tertentu yang diidam-idamkan oleh jiwa mereka dan mereka memohon ke-pada Allah agar melahirkannya dalam keadaan sehat dan selamat, lalu Allah menyempurnakan nikmat bagi mereka, serta mewujud-kan keinginan mereka. Apakah Dia tidak berhak disembah tanpa disekutukan dengan sesuatu pun dalam ibadah kepadaNya dengan mengikhlaskan agama hanya kepadaNya?
(191-192) Akan tetapi perkaranya justru terbalik. Mereka menyekutukan Allah dengan ﴾ مَا لَا يَخۡلُقُ شَيۡـٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ 191 وَلَا يَسۡتَطِيعُونَ لَهُمۡ نَصۡرٗا وَلَآ أَنفُسَهُمۡ يَنصُرُونَ ﴿ "berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun. Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan." Jika ia tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun bah-kan seberat biji sawi, justru ia adalah yang diciptakan, ia juga tidak mampu menolak hal-hal buruk dari penyembahnya bahkan dari dirinya, lalu bagaimana ia diangkat sebagai tuhan bersama Allah? Ini hanyalah kezhaliman yang paling zhalim dan kebodohan yang paling bodoh.
(193) Jika kamu wahai orang-orang musyrik, menyeru ber-hala-berhala yang kamu sembah selain Allah itu ﴾ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ لَا يَتَّبِعُوكُمۡۚ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡ أَدَعَوۡتُمُوهُمۡ أَمۡ أَنتُمۡ صَٰمِتُونَ ﴿ "untuk memberi petunjuk kepadamu, maka tidak-lah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu, sama saja (hasil-nya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri." Manusia lebih baik keadaannya daripadanya, karena ia tidak mendengar, tidak melihat, tidak menunjukkan dan tidak ditunjukkan. Jika orang yang berakal merenungkan hal itu dengan jernih, maka dia memas-tikan kebatilan ketuhanannya dan kebodohan para penyembahnya.
Al-A'raf 7:193
"Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-istri) memohon kepada Allah, Rabbnya seraya berkata, 'Sesungguh-nya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.' Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianuge-rahkanNya kepada keduanya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan se-suatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun ber-hala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memper-kenankan seruanmu, sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri." (Al-A'raf: 189-193).
(189) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم ﴿ "Dia-lah Yang menciptakan kamu", wahai kaum laki-laki dan perempuan yang bertebaran di muka bumi de-ngan jumlah yang banyak dan beraneka ragam, ﴾ مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ ﴿ "dari diri yang satu." Yaitu Adam عليه السلام bapak manusia. ﴾ وَجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا ﴿ "Dan dari padanya Dia menciptakan istrinya." Yakni menciptakan istrinya Hawwa` dari Adam, agar dia merasa senang kepadanya. Karena jika dia diciptakan dari unsur Adam, maka akan terjadi keserasian dan keharmonisan yang menjadikan masing-masing dari keduanya menjadi tenang dengan yang lain, maka masing-masing dari kedua-nya cenderung kepada yang lain dengan kecenderungan syahwat. ﴾ فَلَمَّا تَغَشَّىٰهَا ﴿ "Maka setelah dicampurinya", yakni digaulinya, dan Allah menakdirkan dari syahwat atau percampuran itu seorang anak, maka dia pun hamil, ﴾ حَمۡلًا خَفِيفٗا ﴿ "mengandung kandungan yang ri-ngan." Hal itu terjadi di awal kehamilan di mana wanita tidak me-rasakan beratnya kehamilan. ﴾ فَلَمَّآ ﴿ "Kemudian tatkala", dia terus berlangsung dan ﴾ أَثۡقَلَت ﴿ "dia merasa berat", ketika kehamilan itu membesar di perutnya, dalam kondisi tersebut dia mulai merin-dukan anaknya. Dia berharap anaknya lahir dalam keadaan sehat dan selamat dari segala cacat. Maka keduanya berdoa ﴾ ٱللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنۡ ءَاتَيۡتَنَا صَٰلِحٗا ﴿ "kepada Allah, Rabbnya seraya berkata, 'Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna.' Sempurna penciptaannya, tidak ada yang kurang suatu apa pun, ﴾ لَّنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur'."
(190) ﴾ فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُمَا صَٰلِحٗا ﴿ "Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna", sesuai dengan permintaan mereka dan sempurnalah nikmat Allah padanya ﴾ جَعَلَا لَهُۥ شُرَكَآءَ فِيمَآ ءَاتَىٰهُمَاۚ ﴿ "maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianu-gerahkanNya kepada keduanya itu." Yakni keduanya menjadikan se-kutu-sekutu bagi Allah pada anak tersebut. Padahal yang mencip-takannya, menganugerahkannya, dan membahagiakan kedua orang tuanya hanyalah Allah semata. Maka keduanya menjadikannya sebagai hamba selain Allah, bisa dengan memberinya nama dengan nama Abd (hamba) yang disandarkan kepada selain Allah, Abdul Haris, Abdul Uzza, Abdul Ka'bah dan lain-lain. Dan bisa pula ke-duanya menyekutukan Allah dalam ibadah setelah Allah memberi-nya nikmat yang tidak seorang hamba pun mampu menghitungnya. Ini adalah perpindahan dari macam kepada jenis, karena asal pem-bicaraan tentang Adam dan Hawwa`, kemudian berpindah kepada pembicaraan tentang jenis (yakni jenis manusia secara umum), dan tidak diragukan bahwa hal itu banyak terjadi pada keturunan Adam dan Hawwa`. Oleh karena itu Allah menetapkan kebatilan syirik atas mereka dan bahwa dalam hal itu mereka adalah orang-orang zhalim dengan kezhaliman yang paling besar. Tiada beda antara syirik dalam ucapan dan syirik dalam perbuatan. Sesungguhnya Dzat yang menciptakan mereka dari jiwa yang satu yang darinya Dia menciptakan istrinya dan menjadikan untuk mereka pasangan dari jenis mereka sendiri, kemudian menjadikan kasih sayang dan rasa cinta di antara mereka yang menjadikan sebagian merasa se-nang, cinta dan condong kepada sebagian yang lain, kemudian Dia membimbing mereka kepada apa yang dengannya syahwat kenik-matan, anak-anak dan keturunan bisa diraih, kemudian Dia men-ciptakan anak cucu di dalam rahim ibu dalam jangka waktu tertentu yang diidam-idamkan oleh jiwa mereka dan mereka memohon ke-pada Allah agar melahirkannya dalam keadaan sehat dan selamat, lalu Allah menyempurnakan nikmat bagi mereka, serta mewujud-kan keinginan mereka. Apakah Dia tidak berhak disembah tanpa disekutukan dengan sesuatu pun dalam ibadah kepadaNya dengan mengikhlaskan agama hanya kepadaNya?
(191-192) Akan tetapi perkaranya justru terbalik. Mereka menyekutukan Allah dengan ﴾ مَا لَا يَخۡلُقُ شَيۡـٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ 191 وَلَا يَسۡتَطِيعُونَ لَهُمۡ نَصۡرٗا وَلَآ أَنفُسَهُمۡ يَنصُرُونَ ﴿ "berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun. Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan." Jika ia tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun bah-kan seberat biji sawi, justru ia adalah yang diciptakan, ia juga tidak mampu menolak hal-hal buruk dari penyembahnya bahkan dari dirinya, lalu bagaimana ia diangkat sebagai tuhan bersama Allah? Ini hanyalah kezhaliman yang paling zhalim dan kebodohan yang paling bodoh.
(193) Jika kamu wahai orang-orang musyrik, menyeru ber-hala-berhala yang kamu sembah selain Allah itu ﴾ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ لَا يَتَّبِعُوكُمۡۚ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡ أَدَعَوۡتُمُوهُمۡ أَمۡ أَنتُمۡ صَٰمِتُونَ ﴿ "untuk memberi petunjuk kepadamu, maka tidak-lah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu, sama saja (hasil-nya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri." Manusia lebih baik keadaannya daripadanya, karena ia tidak mendengar, tidak melihat, tidak menunjukkan dan tidak ditunjukkan. Jika orang yang berakal merenungkan hal itu dengan jernih, maka dia memas-tikan kebatilan ketuhanannya dan kebodohan para penyembahnya.
Al-A'raf 7:194
"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memper-kenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar. Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia da-pat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah, 'Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, tanpa memberi tangguh (kepadaku). Se-sungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih'." (Al-A'raf: 194-196).
(194) Ini adalah tantangan kepada orang-orang musyrik penyembah berhala. Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ عِبَادٌ أَمۡثَالُكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu." Yakni tiada beda antara kamu dengan mereka, kalian semua adalah hamba yang diatur oleh Allah, jika klaimmu benar bahwa ia berhak disem-bah, ﴾ فَٱدۡعُوهُمۡ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لَكُمۡ ﴿ "maka serulah berhala-berhala itu lalu biar-kanlah mereka memperkenankan permintaanmu," jika mereka menjawab permohonanmu dan mewujudkan keinginanmu, jika tidak maka jelaslah bahwa klaimmu adalah dusta dan kamu berdusta atas nama Allah dengan kedustaan yang besar.
(195) Ini tidak memerlukan penjelasan padanya karena jika kamu melihat kepadanya, maka bentuknya menunjukkan kepada-mu bahwa ia tidak dapat mendatangkan manfaat sedikit pun. Ia tak berkaki untuk berjalan, tak bertangan untuk bekerja, tak ber-mata untuk melihat, dan tak bertelinga untuk mendengar. Ia tidak memiliki semua kekuatan dan perangkat yang ada pada manusia. Jika ia tidak mampu menjawab seruanmu, maka ia adalah hamba sepertimu, bahkan kamu lebih sempurna dan lebih kuat dari pada-nya dalam banyak hal, maka dengan alasan apa kamu menyembah-nya? ﴾ قُلِ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنظِرُونِ ﴿ "Katakanlah, 'Panggillah berhala-ber-halamu yang kamu jadikan sekutu bagi Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, tanpa memberi tangguh (kepadaku)'." Yakni berkumpullah kamu dengan sekutu-sekutumu untuk me-nimpakan kejahatan dan keburukan terhadapku tanpa penundaan dan pengunduran, niscaya kamu tidak akan mampu melakukan itu terhadapku.
(196) Karena waliku (penolongku) adalah Allah yang men-jagaku, Dia-lah yang mendatangkan manfaat bagiku dan menolak mudarat dariku, ﴾ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡكِتَٰبَۖ ﴿ "Yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur`an)." Yang padanya terdapat petunjuk, kesembuhan, dan ca-haya. Ia termasuk perlindungan dan pendidikan diniyahNya yang khusus kepada hamba-hambaNya. ﴾ وَهُوَ يَتَوَلَّى ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Dia melin-dungi orang-orang yang shalih", yang niat, amal dan perkataan me-reka adalah baik, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ ﴿ "Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)." (Al-Baqarah: 257). Ketika orang-orang Mukmin yang shalih mengangkat Rabb mereka menjadi pelindung, dengan takwa dan iman, dan tidak mengangkat selainNya yang tidak mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudarat, maka Allah melindungi mereka, menyaya-ngi mereka dan menolong mereka dalam perkara kebaikan dan kemaslahatan dunia dan agama, serta menolak segala keburukan dari mereka semua, dengan iman mereka, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ ﴿ "Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman." (Al-Hajj: 38).
Al-A'raf 7:195
"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memper-kenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar. Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia da-pat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah, 'Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, tanpa memberi tangguh (kepadaku). Se-sungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih'." (Al-A'raf: 194-196).
(194) Ini adalah tantangan kepada orang-orang musyrik penyembah berhala. Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ عِبَادٌ أَمۡثَالُكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu." Yakni tiada beda antara kamu dengan mereka, kalian semua adalah hamba yang diatur oleh Allah, jika klaimmu benar bahwa ia berhak disem-bah, ﴾ فَٱدۡعُوهُمۡ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لَكُمۡ ﴿ "maka serulah berhala-berhala itu lalu biar-kanlah mereka memperkenankan permintaanmu," jika mereka menjawab permohonanmu dan mewujudkan keinginanmu, jika tidak maka jelaslah bahwa klaimmu adalah dusta dan kamu berdusta atas nama Allah dengan kedustaan yang besar.
(195) Ini tidak memerlukan penjelasan padanya karena jika kamu melihat kepadanya, maka bentuknya menunjukkan kepada-mu bahwa ia tidak dapat mendatangkan manfaat sedikit pun. Ia tak berkaki untuk berjalan, tak bertangan untuk bekerja, tak ber-mata untuk melihat, dan tak bertelinga untuk mendengar. Ia tidak memiliki semua kekuatan dan perangkat yang ada pada manusia. Jika ia tidak mampu menjawab seruanmu, maka ia adalah hamba sepertimu, bahkan kamu lebih sempurna dan lebih kuat dari pada-nya dalam banyak hal, maka dengan alasan apa kamu menyembah-nya? ﴾ قُلِ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنظِرُونِ ﴿ "Katakanlah, 'Panggillah berhala-ber-halamu yang kamu jadikan sekutu bagi Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, tanpa memberi tangguh (kepadaku)'." Yakni berkumpullah kamu dengan sekutu-sekutumu untuk me-nimpakan kejahatan dan keburukan terhadapku tanpa penundaan dan pengunduran, niscaya kamu tidak akan mampu melakukan itu terhadapku.
(196) Karena waliku (penolongku) adalah Allah yang men-jagaku, Dia-lah yang mendatangkan manfaat bagiku dan menolak mudarat dariku, ﴾ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡكِتَٰبَۖ ﴿ "Yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur`an)." Yang padanya terdapat petunjuk, kesembuhan, dan ca-haya. Ia termasuk perlindungan dan pendidikan diniyahNya yang khusus kepada hamba-hambaNya. ﴾ وَهُوَ يَتَوَلَّى ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Dia melin-dungi orang-orang yang shalih", yang niat, amal dan perkataan me-reka adalah baik, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ ﴿ "Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)." (Al-Baqarah: 257). Ketika orang-orang Mukmin yang shalih mengangkat Rabb mereka menjadi pelindung, dengan takwa dan iman, dan tidak mengangkat selainNya yang tidak mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudarat, maka Allah melindungi mereka, menyaya-ngi mereka dan menolong mereka dalam perkara kebaikan dan kemaslahatan dunia dan agama, serta menolak segala keburukan dari mereka semua, dengan iman mereka, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ ﴿ "Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman." (Al-Hajj: 38).
Al-A'raf 7:196
"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memper-kenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar. Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia da-pat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah, 'Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, tanpa memberi tangguh (kepadaku). Se-sungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih'." (Al-A'raf: 194-196).
(194) Ini adalah tantangan kepada orang-orang musyrik penyembah berhala. Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ عِبَادٌ أَمۡثَالُكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu." Yakni tiada beda antara kamu dengan mereka, kalian semua adalah hamba yang diatur oleh Allah, jika klaimmu benar bahwa ia berhak disem-bah, ﴾ فَٱدۡعُوهُمۡ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لَكُمۡ ﴿ "maka serulah berhala-berhala itu lalu biar-kanlah mereka memperkenankan permintaanmu," jika mereka menjawab permohonanmu dan mewujudkan keinginanmu, jika tidak maka jelaslah bahwa klaimmu adalah dusta dan kamu berdusta atas nama Allah dengan kedustaan yang besar.
(195) Ini tidak memerlukan penjelasan padanya karena jika kamu melihat kepadanya, maka bentuknya menunjukkan kepada-mu bahwa ia tidak dapat mendatangkan manfaat sedikit pun. Ia tak berkaki untuk berjalan, tak bertangan untuk bekerja, tak ber-mata untuk melihat, dan tak bertelinga untuk mendengar. Ia tidak memiliki semua kekuatan dan perangkat yang ada pada manusia. Jika ia tidak mampu menjawab seruanmu, maka ia adalah hamba sepertimu, bahkan kamu lebih sempurna dan lebih kuat dari pada-nya dalam banyak hal, maka dengan alasan apa kamu menyembah-nya? ﴾ قُلِ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنظِرُونِ ﴿ "Katakanlah, 'Panggillah berhala-ber-halamu yang kamu jadikan sekutu bagi Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, tanpa memberi tangguh (kepadaku)'." Yakni berkumpullah kamu dengan sekutu-sekutumu untuk me-nimpakan kejahatan dan keburukan terhadapku tanpa penundaan dan pengunduran, niscaya kamu tidak akan mampu melakukan itu terhadapku.
(196) Karena waliku (penolongku) adalah Allah yang men-jagaku, Dia-lah yang mendatangkan manfaat bagiku dan menolak mudarat dariku, ﴾ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡكِتَٰبَۖ ﴿ "Yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur`an)." Yang padanya terdapat petunjuk, kesembuhan, dan ca-haya. Ia termasuk perlindungan dan pendidikan diniyahNya yang khusus kepada hamba-hambaNya. ﴾ وَهُوَ يَتَوَلَّى ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan Dia melin-dungi orang-orang yang shalih", yang niat, amal dan perkataan me-reka adalah baik, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ ﴿ "Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)." (Al-Baqarah: 257). Ketika orang-orang Mukmin yang shalih mengangkat Rabb mereka menjadi pelindung, dengan takwa dan iman, dan tidak mengangkat selainNya yang tidak mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudarat, maka Allah melindungi mereka, menyaya-ngi mereka dan menolong mereka dalam perkara kebaikan dan kemaslahatan dunia dan agama, serta menolak segala keburukan dari mereka semua, dengan iman mereka, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ ﴿ "Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman." (Al-Hajj: 38).
Al-A'raf 7:197
"Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sen-diri. Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala itu tidak dapat men-dengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat." (Al-A'raf: 197-198).
(197-198) Ayat ini juga merupakan penjelasan tentang tidak berhaknya berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah untuk disembah, karena berhala-berhala itu tidak memiliki kemampuan dan kekuatan dalam membantu dirinya sendiri apalagi membantu para penyembahnya. Ia tidak memiliki kekuatan akal dan kemam-puan menjawab. Jika kamu menyerunya kepada petunjuk, ia tidak bisa menjawab. Ia hanyalah gambar tanpa kehidupan. Kamu me-lihatnya memandangmu padahal ia sama sekali tidak melihatmu, karena merekalah yang membentuknya dalam bentuk makhluk hidup, seperti manusia dan lain-lain. Mereka memberinya mata dan anggota badan. Jika kamu melihatnya, kamu melihatnya se-perti ia hidup. Jika kamu mengamatinya maka terbukti bahwa ia adalah benda mati yang tak bergerak dan tak hidup. Lalu dengan dasar apa orang-orang musyrik itu menjadikannya sebagai tuhan bersama Allah? Demi kebaikan dan kemaslahatan apa mereka ber-i'tikaf di depannya dan mendekatkan diri dengan berbagai macam ibadah kepadanya. Jika ini telah diketahui, maka diketahuilah bahwa orang-orang musyrik dengan sesembahan-sesembahannya, jika mereka berkumpul dan ingin menimpakan keburukan kepada orang yang dilindungi oleh Pencipta langit dan bumi, yang melindungi hamba-hambaNya yang shalih, niscaya mereka tidak akan mampu menim-pakan keburukan sekecil apa pun, karena sempurnanya ketidak-mampuan mereka dan sesembahan mereka, dan sempurnanya ke-kuatan dan kemampuan Allah serta kekuatan orang yang berlin-dung di bawah perlindunganNya dan bertawakal kepadaNya. Ada yang menyatakan bahwa makna FirmanNya, ﴾ وَتَرَىٰهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ وَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang ke-padamu padahal ia tidak melihat", bahwa dhamir (kata ganti) kem-bali kepada orang-orang musyrik yang mendustakan Rasulullah ﷺ. Kamu mengira mereka melihat kepadamu ya Rasulullah dengan mata perenungan yang dengannya dibedakan antara orang yang benar dan orang yang dusta, padahal sebenarnya mereka tidak melihat hakikatmu. Mereka tidak melihat keindahan, kebenaran, dan kesempurnaanmu.
Al-A'raf 7:198
"Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sen-diri. Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala itu tidak dapat men-dengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat." (Al-A'raf: 197-198).
(197-198) Ayat ini juga merupakan penjelasan tentang tidak berhaknya berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah untuk disembah, karena berhala-berhala itu tidak memiliki kemampuan dan kekuatan dalam membantu dirinya sendiri apalagi membantu para penyembahnya. Ia tidak memiliki kekuatan akal dan kemam-puan menjawab. Jika kamu menyerunya kepada petunjuk, ia tidak bisa menjawab. Ia hanyalah gambar tanpa kehidupan. Kamu me-lihatnya memandangmu padahal ia sama sekali tidak melihatmu, karena merekalah yang membentuknya dalam bentuk makhluk hidup, seperti manusia dan lain-lain. Mereka memberinya mata dan anggota badan. Jika kamu melihatnya, kamu melihatnya se-perti ia hidup. Jika kamu mengamatinya maka terbukti bahwa ia adalah benda mati yang tak bergerak dan tak hidup. Lalu dengan dasar apa orang-orang musyrik itu menjadikannya sebagai tuhan bersama Allah? Demi kebaikan dan kemaslahatan apa mereka ber-i'tikaf di depannya dan mendekatkan diri dengan berbagai macam ibadah kepadanya. Jika ini telah diketahui, maka diketahuilah bahwa orang-orang musyrik dengan sesembahan-sesembahannya, jika mereka berkumpul dan ingin menimpakan keburukan kepada orang yang dilindungi oleh Pencipta langit dan bumi, yang melindungi hamba-hambaNya yang shalih, niscaya mereka tidak akan mampu menim-pakan keburukan sekecil apa pun, karena sempurnanya ketidak-mampuan mereka dan sesembahan mereka, dan sempurnanya ke-kuatan dan kemampuan Allah serta kekuatan orang yang berlin-dung di bawah perlindunganNya dan bertawakal kepadaNya. Ada yang menyatakan bahwa makna FirmanNya, ﴾ وَتَرَىٰهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ وَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang ke-padamu padahal ia tidak melihat", bahwa dhamir (kata ganti) kem-bali kepada orang-orang musyrik yang mendustakan Rasulullah ﷺ. Kamu mengira mereka melihat kepadamu ya Rasulullah dengan mata perenungan yang dengannya dibedakan antara orang yang benar dan orang yang dusta, padahal sebenarnya mereka tidak melihat hakikatmu. Mereka tidak melihat keindahan, kebenaran, dan kesempurnaanmu.
Al-A'raf 7:199
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al-A'raf: 199).
(199) Ayat ini mengumpulkan kebaikan akhlak dengan ma-nusia dan apa yang harus dilakukan dalam bergaul dengan mereka. Perkara yang selayaknya dijadikan pedoman dalam bergaul dengan manusia adalah memberi maaf, yakni perangai yang disukai oleh diri mereka, serta merupakan perbuatan dan akhlak yang mudah atas mereka. Jangan membebani mereka dengan apa yang tidak sesuai dengan tabiat mereka, akan tetapi berterima kasihlah kepada setiap orang atas apa yang dia dapatkan darinya dalam bentuk ucapan dan perbuatan baik, memaklumi kelalaian dan memaafkan kekurangan mereka. Tidak menyombongkan diri kepada yang lebih kecil karena kecilnya, atau kepada orang bodoh karena kebodohan-nya, atau kepada orang miskin karena kemiskinannya, akan tetapi dia bergaul dengan semuanya dengan lemah lembut dan perlakuan yang sesuai dengan kondisi, dengan dada yang lapang. ﴾ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ ﴿ "Dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf." Yakni mengerjakan semua ucapan dan perbuatan yang baik dan akhlak yang sempurna, baik kepada orang yang dekat maupun kepada orang yang jauh. Jadikanlah sesuatu yang kamu berikan kepada manusia, dalam bentuk pengajaran ilmu atau dorongan kepada kebaikan, berupa silaturahim, berbuat baik kepada kedua orang tua, mendamaikan perselisihan di antara manusia, memberi nasihat yang berguna, memberi pendapat yang benar, tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, melarang yang buruk, atau memberi petunjuk kepada kemaslahatan agama dan dunia. Karena gangguan dari orang bo-doh adalah suatu keniscayaan, maka Allah تعالى memerintahkan agar menyikapinya dengan berpaling darinya dan tidak membalas ke-bodohannya. Barangsiapa menyakitimu dengan ucapan dan per-buatannya, maka janganlah kamu menyakitinya. Barangsiapa tidak memberimu, maka kamu jangan tidak memberinya. Barangsiapa memutuskanmu, maka kamu jangan memutuskannya, dan barang-siapa menzhalimimu, maka bersikap adillah kepadanya.
Adapun sikap yang layak diberikan oleh seorang hamba ke-pada setan, maka Allah berfirman,
Al-A'raf 7:200
"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlin-dunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu setan-setan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)." (Al-A'raf: 200-202).
(200) Yakni kapan pun dan dalam kondisi apa pun, ﴾ يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ ﴿ "kamu ditimpa sesuatu godaan setan." Yakni kamu mera-sakan godaannya, membuatmu malas berbuat baik atau mendorong-mu dan memacumu berbuat buruk, ﴾ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۚ ﴿ "maka berlindunglah kepada Allah." Yakni berlindunglah kepada naungan perlindungan Allah, karena Dia Maha Mendengar apa yang kamu ucapkan. ﴾ عَلِيمٌ ﴿ "Mengetahui" niatmu, kelemahanmu, dan kebutuhanmu akan per-lindunganNya, maka Dia akan melindungimu dari fitnahnya dan menjagamu dari godaannya, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ 1 مَلِكِ ٱلنَّاسِ 2 إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ 3 مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ 4 ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ 5 مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ 6 ﴿ "Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia." (An-Nas: 1-6).
(201) Karena hamba pasti lalai dan setan berhasil menipu-nya karena ia terus bersiap siaga menantikan kelengahan dan ke-lalaiannya, maka Allah تعالى menyebutkan tanda-tanda orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang menyimpang. Adapun orang yang bertakwa, jika dia merasakan dosa dan gangguan dari setan, lalu dia melakukan dosa, dengan melakukan yang haram atau me-ninggalkan yang wajib, maka dia segera sadar dari mana setan da-tang dan dari pintu mana setan masuk kepadanya, dia menyadari apa yang diwajibkan Allah atasnya dan apa yang menjadi tuntutan iman, maka dia memohon ampun kepada Allah, dia menambal apa yang terlewatkan dengan taubat nasuha dan kebaikan yang banyak, maka dia berhasil mengusir setannya dengan hina dina dan mem-porak porandakan apa yang setan dapatkan darinya.
(202) Adapun teman-teman dan wali-wali setan, maka me-reka apabila terjatuh ke dalam dosa, mereka terus berada di dalam kesesatan. Mereka melakukan satu dosa kepada dosa yang lain. Bahkan tidak hanya sebatas itu, setan tiada henti-hentinya menye-satkan, karena ia berambisi kepada mereka manakala mereka adalah orang-orang yang mudah dikendalikan dan tiada henti melakukan perbuatan jahat.