Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-A'raf 7:201 – At-Taubah 9:82

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Al-A'raf 7:201
  2. Al-A'raf 7:202
  3. Al-A'raf 7:203
  4. Al-A'raf 7:204
  5. Al-A'raf 7:205
  6. Al-A'raf 7:206
  7. Al-Anfal 8:1
  8. Al-Anfal 8:2
  9. Al-Anfal 8:3
  10. Al-Anfal 8:4
  11. Al-Anfal 8:5
  12. Al-Anfal 8:6
  13. Al-Anfal 8:7
  14. Al-Anfal 8:8
  15. Al-Anfal 8:9
  16. Al-Anfal 8:10
  17. Al-Anfal 8:11
  18. Al-Anfal 8:12
  19. Al-Anfal 8:13
  20. Al-Anfal 8:14
  21. Al-Anfal 8:15
  22. Al-Anfal 8:16
  23. Al-Anfal 8:17
  24. Al-Anfal 8:18
  25. Al-Anfal 8:19
  26. Al-Anfal 8:20
  27. Al-Anfal 8:21
  28. Al-Anfal 8:22
  29. Al-Anfal 8:23
  30. Al-Anfal 8:24
  31. Al-Anfal 8:25
  32. Al-Anfal 8:26
  33. Al-Anfal 8:27
  34. Al-Anfal 8:28
  35. Al-Anfal 8:29
  36. Al-Anfal 8:30
  37. Al-Anfal 8:31
  38. Al-Anfal 8:32
  39. Al-Anfal 8:33
  40. Al-Anfal 8:34
  41. Al-Anfal 8:35
  42. Al-Anfal 8:36
  43. Al-Anfal 8:37
  44. Al-Anfal 8:38
  45. Al-Anfal 8:39
  46. Al-Anfal 8:40
  47. Al-Anfal 8:41
  48. Al-Anfal 8:42
  49. Al-Anfal 8:43
  50. Al-Anfal 8:44
  51. Al-Anfal 8:45
  52. Al-Anfal 8:46
  53. Al-Anfal 8:47
  54. Al-Anfal 8:48
  55. Al-Anfal 8:49
  56. Al-Anfal 8:50
  57. Al-Anfal 8:51
  58. Al-Anfal 8:52
  59. Al-Anfal 8:53
  60. Al-Anfal 8:54
  61. Al-Anfal 8:55
  62. Al-Anfal 8:56
  63. Al-Anfal 8:57
  64. Al-Anfal 8:58
  65. Al-Anfal 8:59
  66. Al-Anfal 8:60
  67. Al-Anfal 8:61
  68. Al-Anfal 8:62
  69. Al-Anfal 8:63
  70. Al-Anfal 8:64
  71. Al-Anfal 8:65
  72. Al-Anfal 8:66
  73. Al-Anfal 8:67
  74. Al-Anfal 8:68
  75. Al-Anfal 8:69
  76. Al-Anfal 8:70
  77. Al-Anfal 8:71
  78. Al-Anfal 8:72
  79. Al-Anfal 8:73
  80. Al-Anfal 8:74
  81. Al-Anfal 8:75
  82. At-Taubah 9:1
  83. At-Taubah 9:2
  84. At-Taubah 9:3
  85. At-Taubah 9:4
  86. At-Taubah 9:5
  87. At-Taubah 9:6
  88. At-Taubah 9:7
  89. At-Taubah 9:8
  90. At-Taubah 9:9
  91. At-Taubah 9:10
  92. At-Taubah 9:11
  93. At-Taubah 9:12
  94. At-Taubah 9:13
  95. At-Taubah 9:14
  96. At-Taubah 9:15
  97. At-Taubah 9:16
  98. At-Taubah 9:17
  99. At-Taubah 9:18
  100. At-Taubah 9:19
  101. At-Taubah 9:20
  102. At-Taubah 9:21
  103. At-Taubah 9:22
  104. At-Taubah 9:23
  105. At-Taubah 9:24
  106. At-Taubah 9:25
  107. At-Taubah 9:26
  108. At-Taubah 9:27
  109. At-Taubah 9:28
  110. At-Taubah 9:29
  111. At-Taubah 9:30
  112. At-Taubah 9:31
  113. At-Taubah 9:32
  114. At-Taubah 9:33
  115. At-Taubah 9:34
  116. At-Taubah 9:35
  117. At-Taubah 9:36
  118. At-Taubah 9:37
  119. At-Taubah 9:38
  120. At-Taubah 9:39
  121. At-Taubah 9:40
  122. At-Taubah 9:41
  123. At-Taubah 9:42
  124. At-Taubah 9:43
  125. At-Taubah 9:44
  126. At-Taubah 9:45
  127. At-Taubah 9:46
  128. At-Taubah 9:47
  129. At-Taubah 9:48
  130. At-Taubah 9:49
  131. At-Taubah 9:50
  132. At-Taubah 9:51
  133. At-Taubah 9:52
  134. At-Taubah 9:53
  135. At-Taubah 9:54
  136. At-Taubah 9:55
  137. At-Taubah 9:56
  138. At-Taubah 9:57
  139. At-Taubah 9:58
  140. At-Taubah 9:59
  141. At-Taubah 9:60
  142. At-Taubah 9:61
  143. At-Taubah 9:62
  144. At-Taubah 9:63
  145. At-Taubah 9:64
  146. At-Taubah 9:65
  147. At-Taubah 9:66
  148. At-Taubah 9:67
  149. At-Taubah 9:68
  150. At-Taubah 9:69
  151. At-Taubah 9:70
  152. At-Taubah 9:71
  153. At-Taubah 9:72
  154. At-Taubah 9:73
  155. At-Taubah 9:74
  156. At-Taubah 9:75
  157. At-Taubah 9:76
  158. At-Taubah 9:77
  159. At-Taubah 9:78
  160. At-Taubah 9:79
  161. At-Taubah 9:80
  162. At-Taubah 9:81
  163. At-Taubah 9:82

Al-A'raf 7:201

"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlin-dunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu setan-setan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)." (Al-A'raf: 200-202). (200) Yakni kapan pun dan dalam kondisi apa pun, ﴾ يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ ﴿ "kamu ditimpa sesuatu godaan setan." Yakni kamu mera-sakan godaannya, membuatmu malas berbuat baik atau mendorong-mu dan memacumu berbuat buruk, ﴾ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۚ ﴿ "maka berlindunglah kepada Allah." Yakni berlindunglah kepada naungan perlindungan Allah, karena Dia Maha Mendengar apa yang kamu ucapkan. ﴾ عَلِيمٌ ﴿ "Mengetahui" niatmu, kelemahanmu, dan kebutuhanmu akan per-lindunganNya, maka Dia akan melindungimu dari fitnahnya dan menjagamu dari godaannya, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ 1 مَلِكِ ٱلنَّاسِ 2 إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ 3 مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ 4 ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ 5 مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ 6 ﴿ "Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia." (An-Nas: 1-6). (201) Karena hamba pasti lalai dan setan berhasil menipu-nya karena ia terus bersiap siaga menantikan kelengahan dan ke-lalaiannya, maka Allah تعالى menyebutkan tanda-tanda orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang menyimpang. Adapun orang yang bertakwa, jika dia merasakan dosa dan gangguan dari setan, lalu dia melakukan dosa, dengan melakukan yang haram atau me-ninggalkan yang wajib, maka dia segera sadar dari mana setan da-tang dan dari pintu mana setan masuk kepadanya, dia menyadari apa yang diwajibkan Allah atasnya dan apa yang menjadi tuntutan iman, maka dia memohon ampun kepada Allah, dia menambal apa yang terlewatkan dengan taubat nasuha dan kebaikan yang banyak, maka dia berhasil mengusir setannya dengan hina dina dan mem-porak porandakan apa yang setan dapatkan darinya. (202) Adapun teman-teman dan wali-wali setan, maka me-reka apabila terjatuh ke dalam dosa, mereka terus berada di dalam kesesatan. Mereka melakukan satu dosa kepada dosa yang lain. Bahkan tidak hanya sebatas itu, setan tiada henti-hentinya menye-satkan, karena ia berambisi kepada mereka manakala mereka adalah orang-orang yang mudah dikendalikan dan tiada henti melakukan perbuatan jahat.

Al-A'raf 7:202

"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlin-dunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu setan-setan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)." (Al-A'raf: 200-202). (200) Yakni kapan pun dan dalam kondisi apa pun, ﴾ يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ ﴿ "kamu ditimpa sesuatu godaan setan." Yakni kamu mera-sakan godaannya, membuatmu malas berbuat baik atau mendorong-mu dan memacumu berbuat buruk, ﴾ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۚ ﴿ "maka berlindunglah kepada Allah." Yakni berlindunglah kepada naungan perlindungan Allah, karena Dia Maha Mendengar apa yang kamu ucapkan. ﴾ عَلِيمٌ ﴿ "Mengetahui" niatmu, kelemahanmu, dan kebutuhanmu akan per-lindunganNya, maka Dia akan melindungimu dari fitnahnya dan menjagamu dari godaannya, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ 1 مَلِكِ ٱلنَّاسِ 2 إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ 3 مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ 4 ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ 5 مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ 6 ﴿ "Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia." (An-Nas: 1-6). (201) Karena hamba pasti lalai dan setan berhasil menipu-nya karena ia terus bersiap siaga menantikan kelengahan dan ke-lalaiannya, maka Allah تعالى menyebutkan tanda-tanda orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang menyimpang. Adapun orang yang bertakwa, jika dia merasakan dosa dan gangguan dari setan, lalu dia melakukan dosa, dengan melakukan yang haram atau me-ninggalkan yang wajib, maka dia segera sadar dari mana setan da-tang dan dari pintu mana setan masuk kepadanya, dia menyadari apa yang diwajibkan Allah atasnya dan apa yang menjadi tuntutan iman, maka dia memohon ampun kepada Allah, dia menambal apa yang terlewatkan dengan taubat nasuha dan kebaikan yang banyak, maka dia berhasil mengusir setannya dengan hina dina dan mem-porak porandakan apa yang setan dapatkan darinya. (202) Adapun teman-teman dan wali-wali setan, maka me-reka apabila terjatuh ke dalam dosa, mereka terus berada di dalam kesesatan. Mereka melakukan satu dosa kepada dosa yang lain. Bahkan tidak hanya sebatas itu, setan tiada henti-hentinya menye-satkan, karena ia berambisi kepada mereka manakala mereka adalah orang-orang yang mudah dikendalikan dan tiada henti melakukan perbuatan jahat.

Al-A'raf 7:203

"Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat al-Qur`an kepada mereka, mereka berkata, 'Mengapa tidak kamu buat sen-diri ayat itu?' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan dari Rabbku kepadaku. Al-Qur`an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Rabbmu, petunjuk dan rah-mat bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 203). (203) Yakni, orang-orang yang mendustakanmu itu senan-tiasa berada di dalam kesombongan dan pengingkaran, meskipun kamu hadir kepada mereka dengan ayat-ayat yang membuktikan hidayah dan jalan lurus. Jika kamu membawa ayat kepada mereka yang menunjukkan kebenaranmu, maka mereka tidak akan tunduk. ﴾ وَإِذَا لَمۡ تَأۡتِهِم بِـَٔايَةٖ ﴿ "Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat", dari ayat-ayat yang mereka usulkan dan tentukan, ﴾ قَالُواْ لَوۡلَا ٱجۡتَبَيۡتَهَاۚ ﴿ "mereka berkata, 'Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?'" Yakni mengapa kamu tidak memilih-milih (suatu kalimat yang bisa dijadikan se-bagai) ayat, sehingga ia pun menjadi ayat atau mukjizat tertentu, seolah-olah kamulah yang menurunkan ayat yang mengatur selu-ruh makhluk. Padahal sebenarnya sedikit pun kamu tidak memiliki urusan apa pun dalam hal ini. Atau (maknanya) adalah, mengapa kamu tidak membuatnya sendiri dari dirimu. ﴾ قُلۡ إِنَّمَآ أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّ مِن رَّبِّيۚ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan dari Rabbku kepadaku'." Aku hanyalah seorang hamba yang meng-ikuti lagi diatur, Allah تعالى-lah yang menurunkan ayat dan mengi-rimkannya sesuai dengan tuntutan kebesaranNya dan hikmahNya yang agung. Jika kamu menginginkan ayat yang tidak tergusur oleh waktu dan hujjah yang tidak luruh dalam segala kesempatan maka ayat tersebut adalah al-Qur`an yang agung yang merupakan dzikir yang penuh hikmah. ﴾ بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Al-Qur`an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Rabbmu", yang dijadikan sebagai penerang dalam seluruh tuntutan ilahiyah dan tujuan insaniyah. Ia adalah dalil dan bukti. Barang-siapa yang merenungkan dan memikirkannya, maka dia mengeta-hui bahwa ia turun dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Mahamulia, tiada kebatilan yang hadir dari depannya atau dari belakangnya. Dengannya hujjah menjadi tegak atas semua orang yang menge-tahuinya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman, karena barangsiapa yang beriman maka ia adalah ﴾ وَهُدٗى ﴿ "petunjuk", bagi-nya dari kesesatan ﴾ وَرَحۡمَةٞ ﴿ "dan rahmat", baginya dari kesengsaraan. Seorang Mukmin yang mengikuti al-Qur`an dan mengambil petun-juk darinya, dia akan berbahagia di dunia dan akhiratnya. Adapun orang yang tidak beriman kepadanya, maka dia akan sesat dan sengsara di dunia dan akhirat.

Al-A'raf 7:204

"Dan apabila dibacakan al-Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu menda-pat rahmat." (Al-A'raf: 204). (204) Perintah ini berlaku umum bagi semua orang yang mendengar al-Qur`an, kitabullah dibaca, dia diperintahkan untuk diam dan mendengarkan. Dan perbedaan di antara keduanya ada­lah bahwa diam secara zahir adalah dengan meninggalkan pembi-caraan atau tidak menyibukkan diri dengan sesuatu yang membuat-nya tidak mendengar. Adapun mendengar, maka maksudnya ada-lah menyimak dengan membuka hati dan merenungkan apa yang didengar. Barangsiapa yang memegang kedua perkara ini ketika kitabullah dibaca, maka dia akan mendapatkan kebaikan yang ba-nyak, ilmu yang melimpah, iman yang terus diperbarui, petunjuk yang selalu bertambah, dan bashirah dalam agamanya. Oleh karena itu Allah mengaitkan diraihnya rahmat dengan kedua perkara ter-sebut. Hal ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang dibacakan al-Qur`an kepadanya, lalu dia tidak mendengar dan tidak diam, maka dia tidak akan meraih bagian rahmat, dan dia telah kehila-ngan kebaikan yang melimpah. Di antara perintah yang ditekankan kepada pendengar al-Qur`an adalah hendaknya dia mendengarkan dan diam untuknya dalam shalat jahriyah ketika imamnya membaca al-Qur`an, dalam kondisi ini dia diperintahkan untuk diam, bahkan kebanyakan ulama berkata bahwa diamnya adalah lebih baik daripada dia mem-baca al-Fatihah atau lainnya.

Al-A'raf 7:205

"Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan me-rendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Rabbmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkanNya dan hanya kepadaNya-lah me-reka bersujud." (Al-A'raf: 205-206). (205) Dzikir kepada Allah تعالى bisa dengan hati, bisa dengan lisan, bisa dengan keduanya, dan ia adalah bentuk dzikir yang paling sempurna. Allah memerintahkan hamba dan RasulNya Muhammad dan orang-orang yang mengikutinya agar mengingat Allah pada dirinya, yakni dengan ikhlas dan dalam keadaan sendiri, ﴾ تَضَرُّعٗا ﴿ "dengan merendahkan diri", dengan lisanmu, mengulang-ulang ma-cam-macam dzikir, ﴾ وَخِيفَةٗ ﴿ "dan rasa takut", di dalam hatimu, di mana kamu takut kepada Allah, hatimu khawatir dan cemas terha-dap amalmu yang mungkin tidak diterima. Bukti rasa takut terse-but adalah kesungguhan dan keseriusan dalam menyempurnakan, memperbaiki dan mengikhlaskan amal. ﴾ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ ﴿ "Dan de-ngan tidak mengeraskan suara." Yakni ambillah jalan tengah. Jangan-lah kamu mengeraskan doamu dan jangan pula menyamarkannya, dan carilah jalan tengah di antara itu. ﴾ بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ ﴿ "Di waktu pagi dan petang." Dua waktu ini memiliki keistimewaan dan keutamaan untuk berdzikir kepada Allah. ﴾ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." Yaitu orang-orang yang melupakan Allah lalu Allah menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka itu adalah orang-orang yang diharamkan untuk mendapat-kan kebaikan dunia dan akhirat. Mereka berpaling dari Dzat di mana kebahagiaan dan keberuntungan didapat dengan mengingatNya dan beribadah kepadaNya, dan justru menghadap kepada sesuatu di mana kerugian dan kesengsaraan adalah karena menyibukkan diri dengannya. Ini termasuk adab yang semestinya dijaga oleh seorang hamba dengan sebaik-baiknya, yaitu memperbanyak dzikrullah di siang dan malam hari, khususnya di awal dan akhir siang, dengan ikhlas, khusyu', merendahkan diri, menundukkan diri, tenang, hati dan lisannya saling mendukung dengan penuh adab, ketenangan, dan berkonsentrasi kepada doa dan dzikir, serta hati yang fokus kepa-danya, dan tidak lalai darinya, karena Allah tidak menerima doa dari hati yang kosong lagi lalai. (206) Kemudian Allah تعالى menyebutkan bahwa Dia memi-liki hamba-hamba yang selalu beribadah kepadaNya dan melaya-niNya, yaitu para malaikat. Ketahuilah bahwa Allah tidak ingin memperkaya diri dengan ibadahmu karena kemiskinan dan tidak pula memuliakan diri dari kehinaan. Akan tetapi Dia ingin mem-berimu manfaat dan agar kamu beruntung dengan keberuntungan yang berlipat ganda atas apa yang kamu kerjakan. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Rabb-mu", para malaikat yang dekat dan para pengusung Arasy yang setia, ﴾ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ ﴿ "tidaklah merasa enggan menyembah Allah." Bahkan mereka menundukkan diri kepadaNya dan menaati segala perintah Rabb mereka. ﴾ وَيُسَبِّحُونَهُۥ ﴿ "dan mereka mentasbihkanNya", di siang dan malam hari tiada henti. ﴾ وَلَهُۥ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah", semata tanpa sekutu bagiNya, ﴾ يَسۡجُدُونَۤ۩ ﴿ "mereka bersujud." Maka hendaknya para hamba meneladani para malaikat yang mulia itu. Hendaknya mereka menyembah Maha Raja Yang Maha Mengeta-hui secara terus menerus. Selesai tafsir surat al-A'raf. Segala puji dan syukur hanya ke-pada Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercu-rah kepada Muhammad, keluarga dan sahabatnya

Al-A'raf 7:206

"Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan me-rendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Rabbmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkanNya dan hanya kepadaNya-lah me-reka bersujud." (Al-A'raf: 205-206). (205) Dzikir kepada Allah تعالى bisa dengan hati, bisa dengan lisan, bisa dengan keduanya, dan ia adalah bentuk dzikir yang paling sempurna. Allah memerintahkan hamba dan RasulNya Muhammad dan orang-orang yang mengikutinya agar mengingat Allah pada dirinya, yakni dengan ikhlas dan dalam keadaan sendiri, ﴾ تَضَرُّعٗا ﴿ "dengan merendahkan diri", dengan lisanmu, mengulang-ulang ma-cam-macam dzikir, ﴾ وَخِيفَةٗ ﴿ "dan rasa takut", di dalam hatimu, di mana kamu takut kepada Allah, hatimu khawatir dan cemas terha-dap amalmu yang mungkin tidak diterima. Bukti rasa takut terse-but adalah kesungguhan dan keseriusan dalam menyempurnakan, memperbaiki dan mengikhlaskan amal. ﴾ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ ﴿ "Dan de-ngan tidak mengeraskan suara." Yakni ambillah jalan tengah. Jangan-lah kamu mengeraskan doamu dan jangan pula menyamarkannya, dan carilah jalan tengah di antara itu. ﴾ بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ ﴿ "Di waktu pagi dan petang." Dua waktu ini memiliki keistimewaan dan keutamaan untuk berdzikir kepada Allah. ﴾ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." Yaitu orang-orang yang melupakan Allah lalu Allah menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka itu adalah orang-orang yang diharamkan untuk mendapat-kan kebaikan dunia dan akhirat. Mereka berpaling dari Dzat di mana kebahagiaan dan keberuntungan didapat dengan mengingatNya dan beribadah kepadaNya, dan justru menghadap kepada sesuatu di mana kerugian dan kesengsaraan adalah karena menyibukkan diri dengannya. Ini termasuk adab yang semestinya dijaga oleh seorang hamba dengan sebaik-baiknya, yaitu memperbanyak dzikrullah di siang dan malam hari, khususnya di awal dan akhir siang, dengan ikhlas, khusyu', merendahkan diri, menundukkan diri, tenang, hati dan lisannya saling mendukung dengan penuh adab, ketenangan, dan berkonsentrasi kepada doa dan dzikir, serta hati yang fokus kepa-danya, dan tidak lalai darinya, karena Allah tidak menerima doa dari hati yang kosong lagi lalai. (206) Kemudian Allah تعالى menyebutkan bahwa Dia memi-liki hamba-hamba yang selalu beribadah kepadaNya dan melaya-niNya, yaitu para malaikat. Ketahuilah bahwa Allah tidak ingin memperkaya diri dengan ibadahmu karena kemiskinan dan tidak pula memuliakan diri dari kehinaan. Akan tetapi Dia ingin mem-berimu manfaat dan agar kamu beruntung dengan keberuntungan yang berlipat ganda atas apa yang kamu kerjakan. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Rabb-mu", para malaikat yang dekat dan para pengusung Arasy yang setia, ﴾ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ ﴿ "tidaklah merasa enggan menyembah Allah." Bahkan mereka menundukkan diri kepadaNya dan menaati segala perintah Rabb mereka. ﴾ وَيُسَبِّحُونَهُۥ ﴿ "dan mereka mentasbihkanNya", di siang dan malam hari tiada henti. ﴾ وَلَهُۥ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah", semata tanpa sekutu bagiNya, ﴾ يَسۡجُدُونَۤ۩ ﴿ "mereka bersujud." Maka hendaknya para hamba meneladani para malaikat yang mulia itu. Hendaknya mereka menyembah Maha Raja Yang Maha Mengeta-hui secara terus menerus. Selesai tafsir surat al-A'raf. Segala puji dan syukur hanya ke-pada Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercu-rah kepada Muhammad, keluarga dan sahabatnya

Al-Anfal 8:1

"Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, 'Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah me-reka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb mereka dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia." (Al-Anfal: 1-4). Madaniyah (1) Anfal adalah harta rampasan perang yang Allah berikan kepada kaum Muslimin yang berasal dari harta orang-orang kafir. Ayat-ayat dalam surat ini turun terkait dengan kisah perang Badar, tentang ghanimah (harta rampasan perang) besar pertama kali yang didapatkan kaum Muslimin dari kaum musyrikin, maka di kalangan sebagian kaum Muslimin terjadi sengketa tentangnya, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentangnya, maka Allah menurun-kan ayat, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَنفَالِۖ ﴿ "mereka menanyakan kepadamu tentang (pem-bagian) harta rampasan perang," bagaimana ia dibagi dan kepada siapa ia dibagi? ﴾ قُلِ ﴿ "Katakanlah", kepada mereka bahwa anfal itu adalah hak Allah dan RasulNya. Keduanya memberikannya kepada yang dikehendaki, maka kamu tidak berhak menentang ketetapan hukum Allah dan RasulNya. Sebaliknya jika Allah dan RasulNya telah menetapkan hukum, kamu wajib menerima dan menyerahkan perkara kepada keduanya. Dan hal itu masuk ke dalam FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Sebab itu bertakwalah kepada Allah", dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. ﴾ وَأَصۡلِحُواْ ذَاتَ بَيۡنِكُمۡۖ ﴿ "Dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu," yakni perbaikilah kebencian, permusuhan, dan persengketaan di antara-mu dengan kasih sayang, hubungan baik, dan saling cinta. Dengan itu kalian bisa bersepakat, dan kebencian, permusuhan, serta per-sengketaan di antara kalian bisa sirna. Termasuk dalam perbaikan di antara sesama adalah memba-guskan akhlak kepada mereka dan memaafkan mereka yang berbuat salah, karena dengan itu permusuhan dan kebencian yang ada di dalam hati bisa disingkirkan. Perkara yang menggabungkan semua itu adalah Firman Allah, ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan taatlah ke-pada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang yang beriman." Karena iman mengajak kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana orang yang tidak menaati Allah dan RasulNya adalah bukan orang Mukmin, dan barangsiapa yang ketaatannya kepada Allah dan RasulNya berkurang, maka itu karena imannya yang kurang. (2) Karena iman ada dua bagian, yaitu iman yang sempurna yang menghasilkan pujian dan keberuntungan yang sempurna; dan iman yang selain itu, maka di sini Allah menyebutkan yang pertama yaitu iman yang sempurna, Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang beriman itu." Alif dan lam menunjukkan cakupan terhadap cabang-cabang iman, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "ada-lah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka." Yakni takut kepada Allah sehingga ia menahan dirinya dari yang haram, karena bukti ketakutan kepada Allah yang paling besar ada-lah mengendalikan pemiliknya dari dosa-dosa. ﴾ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا ﴿ "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya)." Hal itu karena mereka menyimaknya de-ngan baik dan menghadirkan hati untuk merenungkannya. Dengan itu iman mereka bertambah, karena merenungkan termasuk per-buatan hati, dan juga karena mereka akan menemukan makna yang baru yang sebelumnya belum mereka ketahui dan mengingat apa yang telah mereka lupakan, atau memunculkan keinginan dalam hati mereka kepada kebaikan dan kerinduan kepada kemuliaan Allah, atau memunculkan rasa takut berbuat dosa dan azab Allah, yang semua itu akan menambah keimanan. ﴾ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan kepada Rabb-lah", semata tanpa sekutu bagiNya, ﴾ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "mereka bertawa-kal." Yakni mereka menyandarkan hati mereka kepada Allah dalam mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan, baik da-lam urusan agama maupun duniawi. Mereka percaya bahwa Allah تعالى akan melakukan itu, dan tawakal adalah pendorong kepada seluruh amal, di mana amal itu tidak ada dan tidak sempurna tan-panya. (3) ﴾ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat", yang fardhu dan yang sunnah, dengan amal-amalnya yang lahir dan yang batin, seperti hadirnya hati yang merupakan inti dan ruh shalat, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﴿ "dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka," yakni nafkah-nafkah wajib seperti zakat, kafarat, nafkah kepada istri, kerabat dan hamba sahaya, dan nafkah sunnah seperti sedekah pada jalan-jalan kebaikan. (4) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah", yang memiliki sifat-sifat di atas adalah ﴾ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚ ﴿ "orang-orang yang beriman dengan sebenar-benar-nya," karena mereka menggabungkan antara Islam dengan iman, antara amal lahir dengan amal batin, antara ilmu dengan amal, dan antara hak Allah dengan hak hamba-hambaNya. Allah تعالى mendahulukan amalan hati karena ia adalah dasar bagi amalan anggota tubuh sekaligus ia lebih utama darinya. Dan di dalam ayat ini terkandung dalil bahwa iman itu bertambah dan berkurang, ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan sebaliknya. Bahwa seorang hamba harus menjaga dan memupuk imannya, dan bahwa perkara pertama yang menghasilkan itu ada-lah mentadaburi dan merenungkan makna Kitabullah. Kemudian Allah menyebutkan pahala orang-orang yang beriman dengan se-benar-benarnya, Dia berfirman, ﴾ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "Mereka akan mem-peroleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb mereka," yakni derajat yang tinggi sesuai dengan ketinggian amal mereka, ﴾ وَمَغۡفِرَةٞ ﴿ "dan ampunan" bagi dosa-dosa mereka ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "serta rizki (nikmat) yang mulia," yaitu apa yang Allah sediakan untuk mereka di Surga dari apa yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah ter-dengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. Ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak sampai pada derajat mereka dalam keimanan, maka walaupun dia masuk surga, namun dia tidak mendapatkan kemuliaan dari Allah yang sempurna seperti yang mereka dapatkan. Allah تعالى mengemukakan di depan perang besar yang penuh berkah ini sifat-sifat yang selayaknya bagi orang-orang Mukmin untuk melakukannya, karena barangsiapa yang melakukannya ma-ka keadaannya akan lurus dan amalnya akan baik, di mana yang paling besar adalah berjihad di jalanNya.

Al-Anfal 8:2

"Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, 'Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah me-reka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb mereka dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia." (Al-Anfal: 1-4). Madaniyah (1) Anfal adalah harta rampasan perang yang Allah berikan kepada kaum Muslimin yang berasal dari harta orang-orang kafir. Ayat-ayat dalam surat ini turun terkait dengan kisah perang Badar, tentang ghanimah (harta rampasan perang) besar pertama kali yang didapatkan kaum Muslimin dari kaum musyrikin, maka di kalangan sebagian kaum Muslimin terjadi sengketa tentangnya, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentangnya, maka Allah menurun-kan ayat, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَنفَالِۖ ﴿ "mereka menanyakan kepadamu tentang (pem-bagian) harta rampasan perang," bagaimana ia dibagi dan kepada siapa ia dibagi? ﴾ قُلِ ﴿ "Katakanlah", kepada mereka bahwa anfal itu adalah hak Allah dan RasulNya. Keduanya memberikannya kepada yang dikehendaki, maka kamu tidak berhak menentang ketetapan hukum Allah dan RasulNya. Sebaliknya jika Allah dan RasulNya telah menetapkan hukum, kamu wajib menerima dan menyerahkan perkara kepada keduanya. Dan hal itu masuk ke dalam FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Sebab itu bertakwalah kepada Allah", dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. ﴾ وَأَصۡلِحُواْ ذَاتَ بَيۡنِكُمۡۖ ﴿ "Dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu," yakni perbaikilah kebencian, permusuhan, dan persengketaan di antara-mu dengan kasih sayang, hubungan baik, dan saling cinta. Dengan itu kalian bisa bersepakat, dan kebencian, permusuhan, serta per-sengketaan di antara kalian bisa sirna. Termasuk dalam perbaikan di antara sesama adalah memba-guskan akhlak kepada mereka dan memaafkan mereka yang berbuat salah, karena dengan itu permusuhan dan kebencian yang ada di dalam hati bisa disingkirkan. Perkara yang menggabungkan semua itu adalah Firman Allah, ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan taatlah ke-pada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang yang beriman." Karena iman mengajak kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana orang yang tidak menaati Allah dan RasulNya adalah bukan orang Mukmin, dan barangsiapa yang ketaatannya kepada Allah dan RasulNya berkurang, maka itu karena imannya yang kurang. (2) Karena iman ada dua bagian, yaitu iman yang sempurna yang menghasilkan pujian dan keberuntungan yang sempurna; dan iman yang selain itu, maka di sini Allah menyebutkan yang pertama yaitu iman yang sempurna, Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang beriman itu." Alif dan lam menunjukkan cakupan terhadap cabang-cabang iman, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "ada-lah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka." Yakni takut kepada Allah sehingga ia menahan dirinya dari yang haram, karena bukti ketakutan kepada Allah yang paling besar ada-lah mengendalikan pemiliknya dari dosa-dosa. ﴾ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا ﴿ "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya)." Hal itu karena mereka menyimaknya de-ngan baik dan menghadirkan hati untuk merenungkannya. Dengan itu iman mereka bertambah, karena merenungkan termasuk per-buatan hati, dan juga karena mereka akan menemukan makna yang baru yang sebelumnya belum mereka ketahui dan mengingat apa yang telah mereka lupakan, atau memunculkan keinginan dalam hati mereka kepada kebaikan dan kerinduan kepada kemuliaan Allah, atau memunculkan rasa takut berbuat dosa dan azab Allah, yang semua itu akan menambah keimanan. ﴾ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan kepada Rabb-lah", semata tanpa sekutu bagiNya, ﴾ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "mereka bertawa-kal." Yakni mereka menyandarkan hati mereka kepada Allah dalam mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan, baik da-lam urusan agama maupun duniawi. Mereka percaya bahwa Allah تعالى akan melakukan itu, dan tawakal adalah pendorong kepada seluruh amal, di mana amal itu tidak ada dan tidak sempurna tan-panya. (3) ﴾ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat", yang fardhu dan yang sunnah, dengan amal-amalnya yang lahir dan yang batin, seperti hadirnya hati yang merupakan inti dan ruh shalat, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﴿ "dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka," yakni nafkah-nafkah wajib seperti zakat, kafarat, nafkah kepada istri, kerabat dan hamba sahaya, dan nafkah sunnah seperti sedekah pada jalan-jalan kebaikan. (4) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah", yang memiliki sifat-sifat di atas adalah ﴾ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚ ﴿ "orang-orang yang beriman dengan sebenar-benar-nya," karena mereka menggabungkan antara Islam dengan iman, antara amal lahir dengan amal batin, antara ilmu dengan amal, dan antara hak Allah dengan hak hamba-hambaNya. Allah تعالى mendahulukan amalan hati karena ia adalah dasar bagi amalan anggota tubuh sekaligus ia lebih utama darinya. Dan di dalam ayat ini terkandung dalil bahwa iman itu bertambah dan berkurang, ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan sebaliknya. Bahwa seorang hamba harus menjaga dan memupuk imannya, dan bahwa perkara pertama yang menghasilkan itu ada-lah mentadaburi dan merenungkan makna Kitabullah. Kemudian Allah menyebutkan pahala orang-orang yang beriman dengan se-benar-benarnya, Dia berfirman, ﴾ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "Mereka akan mem-peroleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb mereka," yakni derajat yang tinggi sesuai dengan ketinggian amal mereka, ﴾ وَمَغۡفِرَةٞ ﴿ "dan ampunan" bagi dosa-dosa mereka ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "serta rizki (nikmat) yang mulia," yaitu apa yang Allah sediakan untuk mereka di Surga dari apa yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah ter-dengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. Ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak sampai pada derajat mereka dalam keimanan, maka walaupun dia masuk surga, namun dia tidak mendapatkan kemuliaan dari Allah yang sempurna seperti yang mereka dapatkan. Allah تعالى mengemukakan di depan perang besar yang penuh berkah ini sifat-sifat yang selayaknya bagi orang-orang Mukmin untuk melakukannya, karena barangsiapa yang melakukannya ma-ka keadaannya akan lurus dan amalnya akan baik, di mana yang paling besar adalah berjihad di jalanNya.

Al-Anfal 8:3

"Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, 'Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah me-reka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb mereka dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia." (Al-Anfal: 1-4). Madaniyah (1) Anfal adalah harta rampasan perang yang Allah berikan kepada kaum Muslimin yang berasal dari harta orang-orang kafir. Ayat-ayat dalam surat ini turun terkait dengan kisah perang Badar, tentang ghanimah (harta rampasan perang) besar pertama kali yang didapatkan kaum Muslimin dari kaum musyrikin, maka di kalangan sebagian kaum Muslimin terjadi sengketa tentangnya, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentangnya, maka Allah menurun-kan ayat, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَنفَالِۖ ﴿ "mereka menanyakan kepadamu tentang (pem-bagian) harta rampasan perang," bagaimana ia dibagi dan kepada siapa ia dibagi? ﴾ قُلِ ﴿ "Katakanlah", kepada mereka bahwa anfal itu adalah hak Allah dan RasulNya. Keduanya memberikannya kepada yang dikehendaki, maka kamu tidak berhak menentang ketetapan hukum Allah dan RasulNya. Sebaliknya jika Allah dan RasulNya telah menetapkan hukum, kamu wajib menerima dan menyerahkan perkara kepada keduanya. Dan hal itu masuk ke dalam FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Sebab itu bertakwalah kepada Allah", dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. ﴾ وَأَصۡلِحُواْ ذَاتَ بَيۡنِكُمۡۖ ﴿ "Dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu," yakni perbaikilah kebencian, permusuhan, dan persengketaan di antara-mu dengan kasih sayang, hubungan baik, dan saling cinta. Dengan itu kalian bisa bersepakat, dan kebencian, permusuhan, serta per-sengketaan di antara kalian bisa sirna. Termasuk dalam perbaikan di antara sesama adalah memba-guskan akhlak kepada mereka dan memaafkan mereka yang berbuat salah, karena dengan itu permusuhan dan kebencian yang ada di dalam hati bisa disingkirkan. Perkara yang menggabungkan semua itu adalah Firman Allah, ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan taatlah ke-pada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang yang beriman." Karena iman mengajak kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana orang yang tidak menaati Allah dan RasulNya adalah bukan orang Mukmin, dan barangsiapa yang ketaatannya kepada Allah dan RasulNya berkurang, maka itu karena imannya yang kurang. (2) Karena iman ada dua bagian, yaitu iman yang sempurna yang menghasilkan pujian dan keberuntungan yang sempurna; dan iman yang selain itu, maka di sini Allah menyebutkan yang pertama yaitu iman yang sempurna, Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang beriman itu." Alif dan lam menunjukkan cakupan terhadap cabang-cabang iman, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "ada-lah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka." Yakni takut kepada Allah sehingga ia menahan dirinya dari yang haram, karena bukti ketakutan kepada Allah yang paling besar ada-lah mengendalikan pemiliknya dari dosa-dosa. ﴾ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا ﴿ "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya)." Hal itu karena mereka menyimaknya de-ngan baik dan menghadirkan hati untuk merenungkannya. Dengan itu iman mereka bertambah, karena merenungkan termasuk per-buatan hati, dan juga karena mereka akan menemukan makna yang baru yang sebelumnya belum mereka ketahui dan mengingat apa yang telah mereka lupakan, atau memunculkan keinginan dalam hati mereka kepada kebaikan dan kerinduan kepada kemuliaan Allah, atau memunculkan rasa takut berbuat dosa dan azab Allah, yang semua itu akan menambah keimanan. ﴾ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan kepada Rabb-lah", semata tanpa sekutu bagiNya, ﴾ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "mereka bertawa-kal." Yakni mereka menyandarkan hati mereka kepada Allah dalam mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan, baik da-lam urusan agama maupun duniawi. Mereka percaya bahwa Allah تعالى akan melakukan itu, dan tawakal adalah pendorong kepada seluruh amal, di mana amal itu tidak ada dan tidak sempurna tan-panya. (3) ﴾ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat", yang fardhu dan yang sunnah, dengan amal-amalnya yang lahir dan yang batin, seperti hadirnya hati yang merupakan inti dan ruh shalat, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﴿ "dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka," yakni nafkah-nafkah wajib seperti zakat, kafarat, nafkah kepada istri, kerabat dan hamba sahaya, dan nafkah sunnah seperti sedekah pada jalan-jalan kebaikan. (4) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah", yang memiliki sifat-sifat di atas adalah ﴾ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚ ﴿ "orang-orang yang beriman dengan sebenar-benar-nya," karena mereka menggabungkan antara Islam dengan iman, antara amal lahir dengan amal batin, antara ilmu dengan amal, dan antara hak Allah dengan hak hamba-hambaNya. Allah تعالى mendahulukan amalan hati karena ia adalah dasar bagi amalan anggota tubuh sekaligus ia lebih utama darinya. Dan di dalam ayat ini terkandung dalil bahwa iman itu bertambah dan berkurang, ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan sebaliknya. Bahwa seorang hamba harus menjaga dan memupuk imannya, dan bahwa perkara pertama yang menghasilkan itu ada-lah mentadaburi dan merenungkan makna Kitabullah. Kemudian Allah menyebutkan pahala orang-orang yang beriman dengan se-benar-benarnya, Dia berfirman, ﴾ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "Mereka akan mem-peroleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb mereka," yakni derajat yang tinggi sesuai dengan ketinggian amal mereka, ﴾ وَمَغۡفِرَةٞ ﴿ "dan ampunan" bagi dosa-dosa mereka ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "serta rizki (nikmat) yang mulia," yaitu apa yang Allah sediakan untuk mereka di Surga dari apa yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah ter-dengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. Ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak sampai pada derajat mereka dalam keimanan, maka walaupun dia masuk surga, namun dia tidak mendapatkan kemuliaan dari Allah yang sempurna seperti yang mereka dapatkan. Allah تعالى mengemukakan di depan perang besar yang penuh berkah ini sifat-sifat yang selayaknya bagi orang-orang Mukmin untuk melakukannya, karena barangsiapa yang melakukannya ma-ka keadaannya akan lurus dan amalnya akan baik, di mana yang paling besar adalah berjihad di jalanNya.

Al-Anfal 8:4

"Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, 'Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah me-reka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb mereka dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia." (Al-Anfal: 1-4). Madaniyah (1) Anfal adalah harta rampasan perang yang Allah berikan kepada kaum Muslimin yang berasal dari harta orang-orang kafir. Ayat-ayat dalam surat ini turun terkait dengan kisah perang Badar, tentang ghanimah (harta rampasan perang) besar pertama kali yang didapatkan kaum Muslimin dari kaum musyrikin, maka di kalangan sebagian kaum Muslimin terjadi sengketa tentangnya, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentangnya, maka Allah menurun-kan ayat, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَنفَالِۖ ﴿ "mereka menanyakan kepadamu tentang (pem-bagian) harta rampasan perang," bagaimana ia dibagi dan kepada siapa ia dibagi? ﴾ قُلِ ﴿ "Katakanlah", kepada mereka bahwa anfal itu adalah hak Allah dan RasulNya. Keduanya memberikannya kepada yang dikehendaki, maka kamu tidak berhak menentang ketetapan hukum Allah dan RasulNya. Sebaliknya jika Allah dan RasulNya telah menetapkan hukum, kamu wajib menerima dan menyerahkan perkara kepada keduanya. Dan hal itu masuk ke dalam FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Sebab itu bertakwalah kepada Allah", dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. ﴾ وَأَصۡلِحُواْ ذَاتَ بَيۡنِكُمۡۖ ﴿ "Dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu," yakni perbaikilah kebencian, permusuhan, dan persengketaan di antara-mu dengan kasih sayang, hubungan baik, dan saling cinta. Dengan itu kalian bisa bersepakat, dan kebencian, permusuhan, serta per-sengketaan di antara kalian bisa sirna. Termasuk dalam perbaikan di antara sesama adalah memba-guskan akhlak kepada mereka dan memaafkan mereka yang berbuat salah, karena dengan itu permusuhan dan kebencian yang ada di dalam hati bisa disingkirkan. Perkara yang menggabungkan semua itu adalah Firman Allah, ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan taatlah ke-pada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang yang beriman." Karena iman mengajak kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana orang yang tidak menaati Allah dan RasulNya adalah bukan orang Mukmin, dan barangsiapa yang ketaatannya kepada Allah dan RasulNya berkurang, maka itu karena imannya yang kurang. (2) Karena iman ada dua bagian, yaitu iman yang sempurna yang menghasilkan pujian dan keberuntungan yang sempurna; dan iman yang selain itu, maka di sini Allah menyebutkan yang pertama yaitu iman yang sempurna, Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang beriman itu." Alif dan lam menunjukkan cakupan terhadap cabang-cabang iman, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "ada-lah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka." Yakni takut kepada Allah sehingga ia menahan dirinya dari yang haram, karena bukti ketakutan kepada Allah yang paling besar ada-lah mengendalikan pemiliknya dari dosa-dosa. ﴾ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا ﴿ "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya)." Hal itu karena mereka menyimaknya de-ngan baik dan menghadirkan hati untuk merenungkannya. Dengan itu iman mereka bertambah, karena merenungkan termasuk per-buatan hati, dan juga karena mereka akan menemukan makna yang baru yang sebelumnya belum mereka ketahui dan mengingat apa yang telah mereka lupakan, atau memunculkan keinginan dalam hati mereka kepada kebaikan dan kerinduan kepada kemuliaan Allah, atau memunculkan rasa takut berbuat dosa dan azab Allah, yang semua itu akan menambah keimanan. ﴾ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan kepada Rabb-lah", semata tanpa sekutu bagiNya, ﴾ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "mereka bertawa-kal." Yakni mereka menyandarkan hati mereka kepada Allah dalam mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan, baik da-lam urusan agama maupun duniawi. Mereka percaya bahwa Allah تعالى akan melakukan itu, dan tawakal adalah pendorong kepada seluruh amal, di mana amal itu tidak ada dan tidak sempurna tan-panya. (3) ﴾ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat", yang fardhu dan yang sunnah, dengan amal-amalnya yang lahir dan yang batin, seperti hadirnya hati yang merupakan inti dan ruh shalat, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﴿ "dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka," yakni nafkah-nafkah wajib seperti zakat, kafarat, nafkah kepada istri, kerabat dan hamba sahaya, dan nafkah sunnah seperti sedekah pada jalan-jalan kebaikan. (4) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah", yang memiliki sifat-sifat di atas adalah ﴾ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚ ﴿ "orang-orang yang beriman dengan sebenar-benar-nya," karena mereka menggabungkan antara Islam dengan iman, antara amal lahir dengan amal batin, antara ilmu dengan amal, dan antara hak Allah dengan hak hamba-hambaNya. Allah تعالى mendahulukan amalan hati karena ia adalah dasar bagi amalan anggota tubuh sekaligus ia lebih utama darinya. Dan di dalam ayat ini terkandung dalil bahwa iman itu bertambah dan berkurang, ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan sebaliknya. Bahwa seorang hamba harus menjaga dan memupuk imannya, dan bahwa perkara pertama yang menghasilkan itu ada-lah mentadaburi dan merenungkan makna Kitabullah. Kemudian Allah menyebutkan pahala orang-orang yang beriman dengan se-benar-benarnya, Dia berfirman, ﴾ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "Mereka akan mem-peroleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb mereka," yakni derajat yang tinggi sesuai dengan ketinggian amal mereka, ﴾ وَمَغۡفِرَةٞ ﴿ "dan ampunan" bagi dosa-dosa mereka ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "serta rizki (nikmat) yang mulia," yaitu apa yang Allah sediakan untuk mereka di Surga dari apa yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah ter-dengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. Ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak sampai pada derajat mereka dalam keimanan, maka walaupun dia masuk surga, namun dia tidak mendapatkan kemuliaan dari Allah yang sempurna seperti yang mereka dapatkan. Allah تعالى mengemukakan di depan perang besar yang penuh berkah ini sifat-sifat yang selayaknya bagi orang-orang Mukmin untuk melakukannya, karena barangsiapa yang melakukannya ma-ka keadaannya akan lurus dan amalnya akan baik, di mana yang paling besar adalah berjihad di jalanNya.

Al-Anfal 8:5

"Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu de-ngan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu ten-tang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), se-olah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). Dan (ingatlah), ketika Allah menjanji-kan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayatNya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya." (Al-Anfal: 5-8). (5-6) Sebagaimana iman mereka adalah iman yang hakiki dan balasan mereka adalah kebenaran yang Allah janjikan kepada mereka, maka begitulah Allah memerintahkan RasulNya ﷺ keluar dari rumahnya untuk berperang dengan orang-orang musyrik di Badar dengan kebenaran yang dicintai dan diputuskan serta ditak-dirkan oleh Allah تعالى meskipun orang-orang Mukmin tidak pernah menyangka akan terjadi perang antara mereka dengan orang-orang musyrik, maka ketika mereka mengetahui bahwa hal itu benar ter-jadi, muncullah sebagian orang-orang Mukmin yang membantah Nabi ﷺ dalam hal itu dan tidak menyukai bertemu musuh, seolah-olah mereka itu digiring kepada kematian sedangkan mereka me-lihatnya. Padahal sebenarnya hal ini tidak sepatutnya mereka laku-kan, lebih-lebih setelah jelas bahwa keluarnya mereka adalah dengan kebenaran dan itu termasuk yang diperintahkan dan diridhai oleh Allah, keadaan seperti itu tidak membuka peluang untuk berban-tah-bantahan, karena tempat dan faidah berbantah-bantahan adalah pada saat perkara kebenaran itu samar. Adapun jika ia telah jelas dan nyata, maka yang ada hanya patuh dan tunduk. Namun keba-nyakan orang-orang Mukmin saat itu tidak terpengaruh sedikit pun oleh bantahan-bantahan ini, mereka juga tidak membenci bertemu musuh, demikian juga dengan orang-orang yang ditegur oleh Allah, mereka tetap patuh kepada jihad dengan sempurna dan Allah me-neguhkan mereka serta memudahkan sebab-sebab yang menenang-kan hati mereka sebagaimana sebagian darinya akan dijelaskan nanti. (7) Keluarnya kaum Muslimin pada mulanya adalah untuk mencegat kafilah dagang besar Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb yang sedang berangkat ke Syam. Manakala kaum Muslimin mendengar kepulangan kafilah tersebut dari Syam, Nabi ﷺ mengajak para sahabat, maka berangkatlah tiga ratus ditambah belasan orang dengan dilengkapi tujuh puluh unta yang mereka tunggangi secara bergiliran sekaligus untuk mengangkut perleng-kapan mereka. Orang-orang Quraisy mendengar persiapan kaum Muslimin tersebut, maka mereka pun keluar demi melindungi ka-filah mereka dengan kekuatan pasukan, senjata, dan kuda dalam jumlah yang besar. Jumlah mereka mendekati seribu prajurit. Allah menjanjikan kepada orang-orang Mukmin satu dari dua perkara: menguasai kafilah dagang atau memenangi peperangan. Kaum Muslimin menyukai yang pertama karena minimnya persiapan mereka dan tentu tanpa peperangan yang berarti. Akan tetapi Allah تعالى menginginkan dan mencintai perkara yang lebih tinggi daripada apa yang mereka inginkan. Allah ingin kaum Muslimin memenang-kan peperangan yang dihadiri oleh para pembesar dan tokoh Quraisy. Allah ingin menetapkan yang haq dengan kalimat-kalimatNya dan memenangkan pengikutnya. ﴾ وَيَقۡطَعَ دَابِرَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan memusnahkan orang-orang kafir." Yakni mengikis pengikut kebatilan dan menun-jukkan pertolonganNya untuk kebenaran kepada hamba-hambaNya yang sebelumnya tidak mereka duga. (8) ﴾ لِيُحِقَّ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Agar Allah menetapkan yang haq (Islam)", dengan bukti-bukti dan argumen-argumen yang kuat yang menunjukkan kebenarannya dan keabsahannya, ﴾ وَيُبۡطِلَ ٱلۡبَٰطِلَ ﴿ "dan membatalkan yang batil (syirik)", dengan bukti-bukti dan argumen-argumen kuat atas kebatilannya. ﴾ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Walaupun orang-orang yang ber-dosa (musyrik) itu tidak menyukainya." Allah tidak mempedulikan mereka.

Al-Anfal 8:6

"Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu de-ngan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu ten-tang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), se-olah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). Dan (ingatlah), ketika Allah menjanji-kan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayatNya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya." (Al-Anfal: 5-8). (5-6) Sebagaimana iman mereka adalah iman yang hakiki dan balasan mereka adalah kebenaran yang Allah janjikan kepada mereka, maka begitulah Allah memerintahkan RasulNya ﷺ keluar dari rumahnya untuk berperang dengan orang-orang musyrik di Badar dengan kebenaran yang dicintai dan diputuskan serta ditak-dirkan oleh Allah تعالى meskipun orang-orang Mukmin tidak pernah menyangka akan terjadi perang antara mereka dengan orang-orang musyrik, maka ketika mereka mengetahui bahwa hal itu benar ter-jadi, muncullah sebagian orang-orang Mukmin yang membantah Nabi ﷺ dalam hal itu dan tidak menyukai bertemu musuh, seolah-olah mereka itu digiring kepada kematian sedangkan mereka me-lihatnya. Padahal sebenarnya hal ini tidak sepatutnya mereka laku-kan, lebih-lebih setelah jelas bahwa keluarnya mereka adalah dengan kebenaran dan itu termasuk yang diperintahkan dan diridhai oleh Allah, keadaan seperti itu tidak membuka peluang untuk berban-tah-bantahan, karena tempat dan faidah berbantah-bantahan adalah pada saat perkara kebenaran itu samar. Adapun jika ia telah jelas dan nyata, maka yang ada hanya patuh dan tunduk. Namun keba-nyakan orang-orang Mukmin saat itu tidak terpengaruh sedikit pun oleh bantahan-bantahan ini, mereka juga tidak membenci bertemu musuh, demikian juga dengan orang-orang yang ditegur oleh Allah, mereka tetap patuh kepada jihad dengan sempurna dan Allah me-neguhkan mereka serta memudahkan sebab-sebab yang menenang-kan hati mereka sebagaimana sebagian darinya akan dijelaskan nanti. (7) Keluarnya kaum Muslimin pada mulanya adalah untuk mencegat kafilah dagang besar Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb yang sedang berangkat ke Syam. Manakala kaum Muslimin mendengar kepulangan kafilah tersebut dari Syam, Nabi ﷺ mengajak para sahabat, maka berangkatlah tiga ratus ditambah belasan orang dengan dilengkapi tujuh puluh unta yang mereka tunggangi secara bergiliran sekaligus untuk mengangkut perleng-kapan mereka. Orang-orang Quraisy mendengar persiapan kaum Muslimin tersebut, maka mereka pun keluar demi melindungi ka-filah mereka dengan kekuatan pasukan, senjata, dan kuda dalam jumlah yang besar. Jumlah mereka mendekati seribu prajurit. Allah menjanjikan kepada orang-orang Mukmin satu dari dua perkara: menguasai kafilah dagang atau memenangi peperangan. Kaum Muslimin menyukai yang pertama karena minimnya persiapan mereka dan tentu tanpa peperangan yang berarti. Akan tetapi Allah تعالى menginginkan dan mencintai perkara yang lebih tinggi daripada apa yang mereka inginkan. Allah ingin kaum Muslimin memenang-kan peperangan yang dihadiri oleh para pembesar dan tokoh Quraisy. Allah ingin menetapkan yang haq dengan kalimat-kalimatNya dan memenangkan pengikutnya. ﴾ وَيَقۡطَعَ دَابِرَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan memusnahkan orang-orang kafir." Yakni mengikis pengikut kebatilan dan menun-jukkan pertolonganNya untuk kebenaran kepada hamba-hambaNya yang sebelumnya tidak mereka duga. (8) ﴾ لِيُحِقَّ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Agar Allah menetapkan yang haq (Islam)", dengan bukti-bukti dan argumen-argumen yang kuat yang menunjukkan kebenarannya dan keabsahannya, ﴾ وَيُبۡطِلَ ٱلۡبَٰطِلَ ﴿ "dan membatalkan yang batil (syirik)", dengan bukti-bukti dan argumen-argumen kuat atas kebatilannya. ﴾ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Walaupun orang-orang yang ber-dosa (musyrik) itu tidak menyukainya." Allah tidak mempedulikan mereka.

Al-Anfal 8:7

"Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu de-ngan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu ten-tang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), se-olah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). Dan (ingatlah), ketika Allah menjanji-kan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayatNya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya." (Al-Anfal: 5-8). (5-6) Sebagaimana iman mereka adalah iman yang hakiki dan balasan mereka adalah kebenaran yang Allah janjikan kepada mereka, maka begitulah Allah memerintahkan RasulNya ﷺ keluar dari rumahnya untuk berperang dengan orang-orang musyrik di Badar dengan kebenaran yang dicintai dan diputuskan serta ditak-dirkan oleh Allah تعالى meskipun orang-orang Mukmin tidak pernah menyangka akan terjadi perang antara mereka dengan orang-orang musyrik, maka ketika mereka mengetahui bahwa hal itu benar ter-jadi, muncullah sebagian orang-orang Mukmin yang membantah Nabi ﷺ dalam hal itu dan tidak menyukai bertemu musuh, seolah-olah mereka itu digiring kepada kematian sedangkan mereka me-lihatnya. Padahal sebenarnya hal ini tidak sepatutnya mereka laku-kan, lebih-lebih setelah jelas bahwa keluarnya mereka adalah dengan kebenaran dan itu termasuk yang diperintahkan dan diridhai oleh Allah, keadaan seperti itu tidak membuka peluang untuk berban-tah-bantahan, karena tempat dan faidah berbantah-bantahan adalah pada saat perkara kebenaran itu samar. Adapun jika ia telah jelas dan nyata, maka yang ada hanya patuh dan tunduk. Namun keba-nyakan orang-orang Mukmin saat itu tidak terpengaruh sedikit pun oleh bantahan-bantahan ini, mereka juga tidak membenci bertemu musuh, demikian juga dengan orang-orang yang ditegur oleh Allah, mereka tetap patuh kepada jihad dengan sempurna dan Allah me-neguhkan mereka serta memudahkan sebab-sebab yang menenang-kan hati mereka sebagaimana sebagian darinya akan dijelaskan nanti. (7) Keluarnya kaum Muslimin pada mulanya adalah untuk mencegat kafilah dagang besar Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb yang sedang berangkat ke Syam. Manakala kaum Muslimin mendengar kepulangan kafilah tersebut dari Syam, Nabi ﷺ mengajak para sahabat, maka berangkatlah tiga ratus ditambah belasan orang dengan dilengkapi tujuh puluh unta yang mereka tunggangi secara bergiliran sekaligus untuk mengangkut perleng-kapan mereka. Orang-orang Quraisy mendengar persiapan kaum Muslimin tersebut, maka mereka pun keluar demi melindungi ka-filah mereka dengan kekuatan pasukan, senjata, dan kuda dalam jumlah yang besar. Jumlah mereka mendekati seribu prajurit. Allah menjanjikan kepada orang-orang Mukmin satu dari dua perkara: menguasai kafilah dagang atau memenangi peperangan. Kaum Muslimin menyukai yang pertama karena minimnya persiapan mereka dan tentu tanpa peperangan yang berarti. Akan tetapi Allah تعالى menginginkan dan mencintai perkara yang lebih tinggi daripada apa yang mereka inginkan. Allah ingin kaum Muslimin memenang-kan peperangan yang dihadiri oleh para pembesar dan tokoh Quraisy. Allah ingin menetapkan yang haq dengan kalimat-kalimatNya dan memenangkan pengikutnya. ﴾ وَيَقۡطَعَ دَابِرَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan memusnahkan orang-orang kafir." Yakni mengikis pengikut kebatilan dan menun-jukkan pertolonganNya untuk kebenaran kepada hamba-hambaNya yang sebelumnya tidak mereka duga. (8) ﴾ لِيُحِقَّ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Agar Allah menetapkan yang haq (Islam)", dengan bukti-bukti dan argumen-argumen yang kuat yang menunjukkan kebenarannya dan keabsahannya, ﴾ وَيُبۡطِلَ ٱلۡبَٰطِلَ ﴿ "dan membatalkan yang batil (syirik)", dengan bukti-bukti dan argumen-argumen kuat atas kebatilannya. ﴾ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Walaupun orang-orang yang ber-dosa (musyrik) itu tidak menyukainya." Allah tidak mempedulikan mereka.

Al-Anfal 8:8

"Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu de-ngan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu ten-tang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), se-olah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). Dan (ingatlah), ketika Allah menjanji-kan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayatNya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya." (Al-Anfal: 5-8). (5-6) Sebagaimana iman mereka adalah iman yang hakiki dan balasan mereka adalah kebenaran yang Allah janjikan kepada mereka, maka begitulah Allah memerintahkan RasulNya ﷺ keluar dari rumahnya untuk berperang dengan orang-orang musyrik di Badar dengan kebenaran yang dicintai dan diputuskan serta ditak-dirkan oleh Allah تعالى meskipun orang-orang Mukmin tidak pernah menyangka akan terjadi perang antara mereka dengan orang-orang musyrik, maka ketika mereka mengetahui bahwa hal itu benar ter-jadi, muncullah sebagian orang-orang Mukmin yang membantah Nabi ﷺ dalam hal itu dan tidak menyukai bertemu musuh, seolah-olah mereka itu digiring kepada kematian sedangkan mereka me-lihatnya. Padahal sebenarnya hal ini tidak sepatutnya mereka laku-kan, lebih-lebih setelah jelas bahwa keluarnya mereka adalah dengan kebenaran dan itu termasuk yang diperintahkan dan diridhai oleh Allah, keadaan seperti itu tidak membuka peluang untuk berban-tah-bantahan, karena tempat dan faidah berbantah-bantahan adalah pada saat perkara kebenaran itu samar. Adapun jika ia telah jelas dan nyata, maka yang ada hanya patuh dan tunduk. Namun keba-nyakan orang-orang Mukmin saat itu tidak terpengaruh sedikit pun oleh bantahan-bantahan ini, mereka juga tidak membenci bertemu musuh, demikian juga dengan orang-orang yang ditegur oleh Allah, mereka tetap patuh kepada jihad dengan sempurna dan Allah me-neguhkan mereka serta memudahkan sebab-sebab yang menenang-kan hati mereka sebagaimana sebagian darinya akan dijelaskan nanti. (7) Keluarnya kaum Muslimin pada mulanya adalah untuk mencegat kafilah dagang besar Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb yang sedang berangkat ke Syam. Manakala kaum Muslimin mendengar kepulangan kafilah tersebut dari Syam, Nabi ﷺ mengajak para sahabat, maka berangkatlah tiga ratus ditambah belasan orang dengan dilengkapi tujuh puluh unta yang mereka tunggangi secara bergiliran sekaligus untuk mengangkut perleng-kapan mereka. Orang-orang Quraisy mendengar persiapan kaum Muslimin tersebut, maka mereka pun keluar demi melindungi ka-filah mereka dengan kekuatan pasukan, senjata, dan kuda dalam jumlah yang besar. Jumlah mereka mendekati seribu prajurit. Allah menjanjikan kepada orang-orang Mukmin satu dari dua perkara: menguasai kafilah dagang atau memenangi peperangan. Kaum Muslimin menyukai yang pertama karena minimnya persiapan mereka dan tentu tanpa peperangan yang berarti. Akan tetapi Allah تعالى menginginkan dan mencintai perkara yang lebih tinggi daripada apa yang mereka inginkan. Allah ingin kaum Muslimin memenang-kan peperangan yang dihadiri oleh para pembesar dan tokoh Quraisy. Allah ingin menetapkan yang haq dengan kalimat-kalimatNya dan memenangkan pengikutnya. ﴾ وَيَقۡطَعَ دَابِرَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan memusnahkan orang-orang kafir." Yakni mengikis pengikut kebatilan dan menun-jukkan pertolonganNya untuk kebenaran kepada hamba-hambaNya yang sebelumnya tidak mereka duga. (8) ﴾ لِيُحِقَّ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Agar Allah menetapkan yang haq (Islam)", dengan bukti-bukti dan argumen-argumen yang kuat yang menunjukkan kebenarannya dan keabsahannya, ﴾ وَيُبۡطِلَ ٱلۡبَٰطِلَ ﴿ "dan membatalkan yang batil (syirik)", dengan bukti-bukti dan argumen-argumen kuat atas kebatilannya. ﴾ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Walaupun orang-orang yang ber-dosa (musyrik) itu tidak menyukainya." Allah tidak mempedulikan mereka.

Al-Anfal 8:9

"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankanNya bagimu, 'Sesungguhnya Aku akan men-datangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.' Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hati-mu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dariNya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka, (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya, dan barangsiapa menentang Allah dan Ra-sulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaanNya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukum-an itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka." (Al-Anfal: 9-14). (9) Yakni ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu hampir bertemu dengan musuhmu, kamu memohon pertolongan dan kemenangan kepada Rabbmu, ﴾ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ ﴿ "lalu diperkenan-kanNya bagimu." Allah menolongmu dengan beberapa perkara, di antaranya adalah bahwa Allah menghadirkan bala bantuan kepa-damu, ﴾ بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ ﴿ "dengan seribu malaikat yang datang ber-turut-turut." Yakni sebagian datang dengan disusul oleh yang lain. (10) ﴾ وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ ﴿ "Dan Allah tidak menjadikannya", yakni pengi-riman malaikat tersebut ﴾ إِلَّا بُشۡرَىٰ ﴿ "melainkan sebagai kabar gembira", agar jiwa mereka gembira dengan itu. ﴾ وَلِتَطۡمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمۡۚ ﴿ "Dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya." Namun pada hakikatnya keme-nangan itu di Tangan Allah, bukan dengan banyaknya tentara dan senjata. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahaperkasa", tidak ada yang mengalahkanNya. Dia-lah yang Mahaperkasa yang menga-lahkan siapa pun, walaupun orang itu dilengkapi oleh kekuatan jumlah dan senjata yang demikian besarnya. ﴾ حَكِيمٌ ﴿ "Lagi Maha-bijaksana." Di mana Dia menentukan perkara dengan sebab-sebabnya dan meletakkan segala urusan pada tempatnya. (11) Di antara pertolongan Allah kepadamu dan jawaban-Nya terhadap doamu adalah bahwa Dia mengirimkan rasa kantuk kepadamu. ﴾ يُغَشِّيكُمُ ﴿ "Allah menjadikan kamu mengantuk." Yakni de-ngan kantuk itu Allah melenyapkan rasa takut dan cemas yang ada di dalam hatimu. Dan ia sebagai ﴾ أَمَنَةٗ ﴿ "penenteraman", bagimu dan tanda ketenangan dan kemenangan. Di antara pertolonganNya kepadamu juga adalah bahwa Dia menurunkan hujan kepadamu dari langit untuk menyucikanmu dari hadas dan najis, dan untuk menyucikanmu dari godaan dan bisikan setan. ﴾ وَلِيَرۡبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمۡ ﴿ "Dan untuk menguatkan hatimu." Yakni meneguhkannya, karena keteguhan hati adalah dasar bagi keteguhan badan. ﴾ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلۡأَقۡدَامَ ﴿ "Dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)", karena bumi se-belum hujan rata dan datar, dan setelah hujan ia menjadi kempal dan dapat meneguhkan telapak kaki. (12) Termasuk pertolongan Allah juga adalah bahwa Dia mewahyukan kepada para malaikat, ﴾ أَنِّي مَعَكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Aku bersama kamu", dengan bantuan, pertolongan, dan kemenangan. ﴾ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "Maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Yakni tanamkanlah di dalam hati mereka keberanian melawan musuh serta doronglah mereka kepada jihad dan keuta-maannya. ﴾ سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir," yang merupakan tentara terbesarmu dalam menghadapi mereka, karena jika Allah meneguh-kan orang-orang yang beriman dan menyusupkan rasa takut di hati orang-orang kafir, maka orang-orang kafir tidak akan mampu teguh di hadapan kaum Muslimin, dan Allah menyerahkan pundak-pun-dak mereka kepada orang-orang Mukmin. ﴾ فَٱضۡرِبُواْ فَوۡقَ ٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "Maka penggallah kepala mereka." Yakni leher mereka. ﴾ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ ﴿ "Dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka." Yakni pergelangan. Ucapan ini bisa jadi untuk para malaikat yang mana Allah mewah-yukan kepada mereka agar meneguhkan hati orang-orang beriman. Ini menunjukkan bahwa para malaikat turut berpartisipasi secara langsung dalam perang Badar. Bisa pula ucapan ini tertuju kepada orang-orang yang beriman di mana Allah menyemangati mereka dan mengajarkan kepada mereka bagaimana mereka membunuh orang-orang kafir dan bahwa mereka tidak perlu mengasihani orang-orang kafir. (13) Hal itu karena orang-orang kafir itu menentang Allah dan RasulNya, yakni memerangi dan memusuhi secara terang-te-rangan. ﴾ وَمَن يُشَاقِقِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan barangsiapa me-nentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras sik-saanNya." Di antara siksaNya terhadap orang-orang kafir adalah kemenangan yang diberikanNya kepada orang-orang yang beriman atas mereka dan pembunuhan terhadap mereka. (14) ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), yakni siksa yang disebutkan di atas, ﴾ فَذُوقُوهُ ﴿ "maka rasakanlah hu-kuman itu," wahai orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sebagai hukuman yang disegerakan. ﴾ وَأَنَّ لِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿ "Sesung-guhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab Neraka." Kisah ini mengandung tanda-tanda kekuasaan Allah yang agung yang menunjukkan bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ sebagai Rasul Allah adalah benar. Di antaranya adalah, bahwa Allah menjanjikan sesuatu kepada kaum Mukminin dan merealisasikan janji tersebut. Di antaranya adalah, Firman Allah تعالى, ﴾ قَدۡ كَانَ لَكُمۡ ءَايَةٞ فِي فِئَتَيۡنِ ٱلۡتَقَتَاۖ فِئَةٞ تُقَٰتِلُ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَأُخۡرَىٰ كَافِرَةٞ يَرَوۡنَهُم مِّثۡلَيۡهِمۡ رَأۡيَ ٱلۡعَيۡنِۚ ﴿ "Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (se-golongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka." (Ali Imran: 13). Di antaranya adalah, jawaban Allah terhadap doa orang-orang Mukmin ketika mereka memohon pertolongan kepadaNya dengan sebab-sebab yang dijelaskanNya. Kisah ini juga menunjukkan bahwa Allah sangat perhatian terhadap kondisi hamba-hambaNya yang beriman dan Dia menda-tangkan sebab-sebab (kemenangan) yang dengannya iman mereka menjadi teguh dan hal yang tidak diinginkan serta godaan setan pun lenyap. Di antaranya juga adalah, bahwa di antara kasih sayang Allah terhadap hambaNya adalah bahwa Allah memudahkannya untuk menaatiNya dan memudahkannya dengan sebab-sebab dari dalam dan dari luar. 9

Al-Anfal 8:10

"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankanNya bagimu, 'Sesungguhnya Aku akan men-datangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.' Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hati-mu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dariNya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka, (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya, dan barangsiapa menentang Allah dan Ra-sulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaanNya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukum-an itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka." (Al-Anfal: 9-14). (9) Yakni ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu hampir bertemu dengan musuhmu, kamu memohon pertolongan dan kemenangan kepada Rabbmu, ﴾ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ ﴿ "lalu diperkenan-kanNya bagimu." Allah menolongmu dengan beberapa perkara, di antaranya adalah bahwa Allah menghadirkan bala bantuan kepa-damu, ﴾ بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ ﴿ "dengan seribu malaikat yang datang ber-turut-turut." Yakni sebagian datang dengan disusul oleh yang lain. (10) ﴾ وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ ﴿ "Dan Allah tidak menjadikannya", yakni pengi-riman malaikat tersebut ﴾ إِلَّا بُشۡرَىٰ ﴿ "melainkan sebagai kabar gembira", agar jiwa mereka gembira dengan itu. ﴾ وَلِتَطۡمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمۡۚ ﴿ "Dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya." Namun pada hakikatnya keme-nangan itu di Tangan Allah, bukan dengan banyaknya tentara dan senjata. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahaperkasa", tidak ada yang mengalahkanNya. Dia-lah yang Mahaperkasa yang menga-lahkan siapa pun, walaupun orang itu dilengkapi oleh kekuatan jumlah dan senjata yang demikian besarnya. ﴾ حَكِيمٌ ﴿ "Lagi Maha-bijaksana." Di mana Dia menentukan perkara dengan sebab-sebabnya dan meletakkan segala urusan pada tempatnya. (11) Di antara pertolongan Allah kepadamu dan jawaban-Nya terhadap doamu adalah bahwa Dia mengirimkan rasa kantuk kepadamu. ﴾ يُغَشِّيكُمُ ﴿ "Allah menjadikan kamu mengantuk." Yakni de-ngan kantuk itu Allah melenyapkan rasa takut dan cemas yang ada di dalam hatimu. Dan ia sebagai ﴾ أَمَنَةٗ ﴿ "penenteraman", bagimu dan tanda ketenangan dan kemenangan. Di antara pertolonganNya kepadamu juga adalah bahwa Dia menurunkan hujan kepadamu dari langit untuk menyucikanmu dari hadas dan najis, dan untuk menyucikanmu dari godaan dan bisikan setan. ﴾ وَلِيَرۡبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمۡ ﴿ "Dan untuk menguatkan hatimu." Yakni meneguhkannya, karena keteguhan hati adalah dasar bagi keteguhan badan. ﴾ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلۡأَقۡدَامَ ﴿ "Dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)", karena bumi se-belum hujan rata dan datar, dan setelah hujan ia menjadi kempal dan dapat meneguhkan telapak kaki. (12) Termasuk pertolongan Allah juga adalah bahwa Dia mewahyukan kepada para malaikat, ﴾ أَنِّي مَعَكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Aku bersama kamu", dengan bantuan, pertolongan, dan kemenangan. ﴾ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "Maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Yakni tanamkanlah di dalam hati mereka keberanian melawan musuh serta doronglah mereka kepada jihad dan keuta-maannya. ﴾ سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir," yang merupakan tentara terbesarmu dalam menghadapi mereka, karena jika Allah meneguh-kan orang-orang yang beriman dan menyusupkan rasa takut di hati orang-orang kafir, maka orang-orang kafir tidak akan mampu teguh di hadapan kaum Muslimin, dan Allah menyerahkan pundak-pun-dak mereka kepada orang-orang Mukmin. ﴾ فَٱضۡرِبُواْ فَوۡقَ ٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "Maka penggallah kepala mereka." Yakni leher mereka. ﴾ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ ﴿ "Dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka." Yakni pergelangan. Ucapan ini bisa jadi untuk para malaikat yang mana Allah mewah-yukan kepada mereka agar meneguhkan hati orang-orang beriman. Ini menunjukkan bahwa para malaikat turut berpartisipasi secara langsung dalam perang Badar. Bisa pula ucapan ini tertuju kepada orang-orang yang beriman di mana Allah menyemangati mereka dan mengajarkan kepada mereka bagaimana mereka membunuh orang-orang kafir dan bahwa mereka tidak perlu mengasihani orang-orang kafir. (13) Hal itu karena orang-orang kafir itu menentang Allah dan RasulNya, yakni memerangi dan memusuhi secara terang-te-rangan. ﴾ وَمَن يُشَاقِقِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan barangsiapa me-nentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras sik-saanNya." Di antara siksaNya terhadap orang-orang kafir adalah kemenangan yang diberikanNya kepada orang-orang yang beriman atas mereka dan pembunuhan terhadap mereka. (14) ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), yakni siksa yang disebutkan di atas, ﴾ فَذُوقُوهُ ﴿ "maka rasakanlah hu-kuman itu," wahai orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sebagai hukuman yang disegerakan. ﴾ وَأَنَّ لِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿ "Sesung-guhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab Neraka." Kisah ini mengandung tanda-tanda kekuasaan Allah yang agung yang menunjukkan bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ sebagai Rasul Allah adalah benar. Di antaranya adalah, bahwa Allah menjanjikan sesuatu kepada kaum Mukminin dan merealisasikan janji tersebut. Di antaranya adalah, Firman Allah تعالى, ﴾ قَدۡ كَانَ لَكُمۡ ءَايَةٞ فِي فِئَتَيۡنِ ٱلۡتَقَتَاۖ فِئَةٞ تُقَٰتِلُ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَأُخۡرَىٰ كَافِرَةٞ يَرَوۡنَهُم مِّثۡلَيۡهِمۡ رَأۡيَ ٱلۡعَيۡنِۚ ﴿ "Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (se-golongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka." (Ali Imran: 13). Di antaranya adalah, jawaban Allah terhadap doa orang-orang Mukmin ketika mereka memohon pertolongan kepadaNya dengan sebab-sebab yang dijelaskanNya. Kisah ini juga menunjukkan bahwa Allah sangat perhatian terhadap kondisi hamba-hambaNya yang beriman dan Dia menda-tangkan sebab-sebab (kemenangan) yang dengannya iman mereka menjadi teguh dan hal yang tidak diinginkan serta godaan setan pun lenyap. Di antaranya juga adalah, bahwa di antara kasih sayang Allah terhadap hambaNya adalah bahwa Allah memudahkannya untuk menaatiNya dan memudahkannya dengan sebab-sebab dari dalam dan dari luar. 9

Al-Anfal 8:11

"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankanNya bagimu, 'Sesungguhnya Aku akan men-datangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.' Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hati-mu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dariNya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka, (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya, dan barangsiapa menentang Allah dan Ra-sulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaanNya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukum-an itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka." (Al-Anfal: 9-14). (9) Yakni ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu hampir bertemu dengan musuhmu, kamu memohon pertolongan dan kemenangan kepada Rabbmu, ﴾ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ ﴿ "lalu diperkenan-kanNya bagimu." Allah menolongmu dengan beberapa perkara, di antaranya adalah bahwa Allah menghadirkan bala bantuan kepa-damu, ﴾ بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ ﴿ "dengan seribu malaikat yang datang ber-turut-turut." Yakni sebagian datang dengan disusul oleh yang lain. (10) ﴾ وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ ﴿ "Dan Allah tidak menjadikannya", yakni pengi-riman malaikat tersebut ﴾ إِلَّا بُشۡرَىٰ ﴿ "melainkan sebagai kabar gembira", agar jiwa mereka gembira dengan itu. ﴾ وَلِتَطۡمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمۡۚ ﴿ "Dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya." Namun pada hakikatnya keme-nangan itu di Tangan Allah, bukan dengan banyaknya tentara dan senjata. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahaperkasa", tidak ada yang mengalahkanNya. Dia-lah yang Mahaperkasa yang menga-lahkan siapa pun, walaupun orang itu dilengkapi oleh kekuatan jumlah dan senjata yang demikian besarnya. ﴾ حَكِيمٌ ﴿ "Lagi Maha-bijaksana." Di mana Dia menentukan perkara dengan sebab-sebabnya dan meletakkan segala urusan pada tempatnya. (11) Di antara pertolongan Allah kepadamu dan jawaban-Nya terhadap doamu adalah bahwa Dia mengirimkan rasa kantuk kepadamu. ﴾ يُغَشِّيكُمُ ﴿ "Allah menjadikan kamu mengantuk." Yakni de-ngan kantuk itu Allah melenyapkan rasa takut dan cemas yang ada di dalam hatimu. Dan ia sebagai ﴾ أَمَنَةٗ ﴿ "penenteraman", bagimu dan tanda ketenangan dan kemenangan. Di antara pertolonganNya kepadamu juga adalah bahwa Dia menurunkan hujan kepadamu dari langit untuk menyucikanmu dari hadas dan najis, dan untuk menyucikanmu dari godaan dan bisikan setan. ﴾ وَلِيَرۡبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمۡ ﴿ "Dan untuk menguatkan hatimu." Yakni meneguhkannya, karena keteguhan hati adalah dasar bagi keteguhan badan. ﴾ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلۡأَقۡدَامَ ﴿ "Dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)", karena bumi se-belum hujan rata dan datar, dan setelah hujan ia menjadi kempal dan dapat meneguhkan telapak kaki. (12) Termasuk pertolongan Allah juga adalah bahwa Dia mewahyukan kepada para malaikat, ﴾ أَنِّي مَعَكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Aku bersama kamu", dengan bantuan, pertolongan, dan kemenangan. ﴾ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "Maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Yakni tanamkanlah di dalam hati mereka keberanian melawan musuh serta doronglah mereka kepada jihad dan keuta-maannya. ﴾ سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir," yang merupakan tentara terbesarmu dalam menghadapi mereka, karena jika Allah meneguh-kan orang-orang yang beriman dan menyusupkan rasa takut di hati orang-orang kafir, maka orang-orang kafir tidak akan mampu teguh di hadapan kaum Muslimin, dan Allah menyerahkan pundak-pun-dak mereka kepada orang-orang Mukmin. ﴾ فَٱضۡرِبُواْ فَوۡقَ ٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "Maka penggallah kepala mereka." Yakni leher mereka. ﴾ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ ﴿ "Dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka." Yakni pergelangan. Ucapan ini bisa jadi untuk para malaikat yang mana Allah mewah-yukan kepada mereka agar meneguhkan hati orang-orang beriman. Ini menunjukkan bahwa para malaikat turut berpartisipasi secara langsung dalam perang Badar. Bisa pula ucapan ini tertuju kepada orang-orang yang beriman di mana Allah menyemangati mereka dan mengajarkan kepada mereka bagaimana mereka membunuh orang-orang kafir dan bahwa mereka tidak perlu mengasihani orang-orang kafir. (13) Hal itu karena orang-orang kafir itu menentang Allah dan RasulNya, yakni memerangi dan memusuhi secara terang-te-rangan. ﴾ وَمَن يُشَاقِقِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan barangsiapa me-nentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras sik-saanNya." Di antara siksaNya terhadap orang-orang kafir adalah kemenangan yang diberikanNya kepada orang-orang yang beriman atas mereka dan pembunuhan terhadap mereka. (14) ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), yakni siksa yang disebutkan di atas, ﴾ فَذُوقُوهُ ﴿ "maka rasakanlah hu-kuman itu," wahai orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sebagai hukuman yang disegerakan. ﴾ وَأَنَّ لِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿ "Sesung-guhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab Neraka." Kisah ini mengandung tanda-tanda kekuasaan Allah yang agung yang menunjukkan bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ sebagai Rasul Allah adalah benar. Di antaranya adalah, bahwa Allah menjanjikan sesuatu kepada kaum Mukminin dan merealisasikan janji tersebut. Di antaranya adalah, Firman Allah تعالى, ﴾ قَدۡ كَانَ لَكُمۡ ءَايَةٞ فِي فِئَتَيۡنِ ٱلۡتَقَتَاۖ فِئَةٞ تُقَٰتِلُ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَأُخۡرَىٰ كَافِرَةٞ يَرَوۡنَهُم مِّثۡلَيۡهِمۡ رَأۡيَ ٱلۡعَيۡنِۚ ﴿ "Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (se-golongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka." (Ali Imran: 13). Di antaranya adalah, jawaban Allah terhadap doa orang-orang Mukmin ketika mereka memohon pertolongan kepadaNya dengan sebab-sebab yang dijelaskanNya. Kisah ini juga menunjukkan bahwa Allah sangat perhatian terhadap kondisi hamba-hambaNya yang beriman dan Dia menda-tangkan sebab-sebab (kemenangan) yang dengannya iman mereka menjadi teguh dan hal yang tidak diinginkan serta godaan setan pun lenyap. Di antaranya juga adalah, bahwa di antara kasih sayang Allah terhadap hambaNya adalah bahwa Allah memudahkannya untuk menaatiNya dan memudahkannya dengan sebab-sebab dari dalam dan dari luar. 9

Al-Anfal 8:12

"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankanNya bagimu, 'Sesungguhnya Aku akan men-datangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.' Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hati-mu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dariNya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka, (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya, dan barangsiapa menentang Allah dan Ra-sulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaanNya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukum-an itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka." (Al-Anfal: 9-14). (9) Yakni ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu hampir bertemu dengan musuhmu, kamu memohon pertolongan dan kemenangan kepada Rabbmu, ﴾ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ ﴿ "lalu diperkenan-kanNya bagimu." Allah menolongmu dengan beberapa perkara, di antaranya adalah bahwa Allah menghadirkan bala bantuan kepa-damu, ﴾ بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ ﴿ "dengan seribu malaikat yang datang ber-turut-turut." Yakni sebagian datang dengan disusul oleh yang lain. (10) ﴾ وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ ﴿ "Dan Allah tidak menjadikannya", yakni pengi-riman malaikat tersebut ﴾ إِلَّا بُشۡرَىٰ ﴿ "melainkan sebagai kabar gembira", agar jiwa mereka gembira dengan itu. ﴾ وَلِتَطۡمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمۡۚ ﴿ "Dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya." Namun pada hakikatnya keme-nangan itu di Tangan Allah, bukan dengan banyaknya tentara dan senjata. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahaperkasa", tidak ada yang mengalahkanNya. Dia-lah yang Mahaperkasa yang menga-lahkan siapa pun, walaupun orang itu dilengkapi oleh kekuatan jumlah dan senjata yang demikian besarnya. ﴾ حَكِيمٌ ﴿ "Lagi Maha-bijaksana." Di mana Dia menentukan perkara dengan sebab-sebabnya dan meletakkan segala urusan pada tempatnya. (11) Di antara pertolongan Allah kepadamu dan jawaban-Nya terhadap doamu adalah bahwa Dia mengirimkan rasa kantuk kepadamu. ﴾ يُغَشِّيكُمُ ﴿ "Allah menjadikan kamu mengantuk." Yakni de-ngan kantuk itu Allah melenyapkan rasa takut dan cemas yang ada di dalam hatimu. Dan ia sebagai ﴾ أَمَنَةٗ ﴿ "penenteraman", bagimu dan tanda ketenangan dan kemenangan. Di antara pertolonganNya kepadamu juga adalah bahwa Dia menurunkan hujan kepadamu dari langit untuk menyucikanmu dari hadas dan najis, dan untuk menyucikanmu dari godaan dan bisikan setan. ﴾ وَلِيَرۡبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمۡ ﴿ "Dan untuk menguatkan hatimu." Yakni meneguhkannya, karena keteguhan hati adalah dasar bagi keteguhan badan. ﴾ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلۡأَقۡدَامَ ﴿ "Dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)", karena bumi se-belum hujan rata dan datar, dan setelah hujan ia menjadi kempal dan dapat meneguhkan telapak kaki. (12) Termasuk pertolongan Allah juga adalah bahwa Dia mewahyukan kepada para malaikat, ﴾ أَنِّي مَعَكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Aku bersama kamu", dengan bantuan, pertolongan, dan kemenangan. ﴾ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "Maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Yakni tanamkanlah di dalam hati mereka keberanian melawan musuh serta doronglah mereka kepada jihad dan keuta-maannya. ﴾ سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir," yang merupakan tentara terbesarmu dalam menghadapi mereka, karena jika Allah meneguh-kan orang-orang yang beriman dan menyusupkan rasa takut di hati orang-orang kafir, maka orang-orang kafir tidak akan mampu teguh di hadapan kaum Muslimin, dan Allah menyerahkan pundak-pun-dak mereka kepada orang-orang Mukmin. ﴾ فَٱضۡرِبُواْ فَوۡقَ ٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "Maka penggallah kepala mereka." Yakni leher mereka. ﴾ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ ﴿ "Dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka." Yakni pergelangan. Ucapan ini bisa jadi untuk para malaikat yang mana Allah mewah-yukan kepada mereka agar meneguhkan hati orang-orang beriman. Ini menunjukkan bahwa para malaikat turut berpartisipasi secara langsung dalam perang Badar. Bisa pula ucapan ini tertuju kepada orang-orang yang beriman di mana Allah menyemangati mereka dan mengajarkan kepada mereka bagaimana mereka membunuh orang-orang kafir dan bahwa mereka tidak perlu mengasihani orang-orang kafir. (13) Hal itu karena orang-orang kafir itu menentang Allah dan RasulNya, yakni memerangi dan memusuhi secara terang-te-rangan. ﴾ وَمَن يُشَاقِقِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan barangsiapa me-nentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras sik-saanNya." Di antara siksaNya terhadap orang-orang kafir adalah kemenangan yang diberikanNya kepada orang-orang yang beriman atas mereka dan pembunuhan terhadap mereka. (14) ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), yakni siksa yang disebutkan di atas, ﴾ فَذُوقُوهُ ﴿ "maka rasakanlah hu-kuman itu," wahai orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sebagai hukuman yang disegerakan. ﴾ وَأَنَّ لِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿ "Sesung-guhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab Neraka." Kisah ini mengandung tanda-tanda kekuasaan Allah yang agung yang menunjukkan bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ sebagai Rasul Allah adalah benar. Di antaranya adalah, bahwa Allah menjanjikan sesuatu kepada kaum Mukminin dan merealisasikan janji tersebut. Di antaranya adalah, Firman Allah تعالى, ﴾ قَدۡ كَانَ لَكُمۡ ءَايَةٞ فِي فِئَتَيۡنِ ٱلۡتَقَتَاۖ فِئَةٞ تُقَٰتِلُ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَأُخۡرَىٰ كَافِرَةٞ يَرَوۡنَهُم مِّثۡلَيۡهِمۡ رَأۡيَ ٱلۡعَيۡنِۚ ﴿ "Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (se-golongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka." (Ali Imran: 13). Di antaranya adalah, jawaban Allah terhadap doa orang-orang Mukmin ketika mereka memohon pertolongan kepadaNya dengan sebab-sebab yang dijelaskanNya. Kisah ini juga menunjukkan bahwa Allah sangat perhatian terhadap kondisi hamba-hambaNya yang beriman dan Dia menda-tangkan sebab-sebab (kemenangan) yang dengannya iman mereka menjadi teguh dan hal yang tidak diinginkan serta godaan setan pun lenyap. Di antaranya juga adalah, bahwa di antara kasih sayang Allah terhadap hambaNya adalah bahwa Allah memudahkannya untuk menaatiNya dan memudahkannya dengan sebab-sebab dari dalam dan dari luar. 9

Al-Anfal 8:13

"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankanNya bagimu, 'Sesungguhnya Aku akan men-datangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.' Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hati-mu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dariNya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka, (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya, dan barangsiapa menentang Allah dan Ra-sulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaanNya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukum-an itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka." (Al-Anfal: 9-14). (9) Yakni ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu hampir bertemu dengan musuhmu, kamu memohon pertolongan dan kemenangan kepada Rabbmu, ﴾ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ ﴿ "lalu diperkenan-kanNya bagimu." Allah menolongmu dengan beberapa perkara, di antaranya adalah bahwa Allah menghadirkan bala bantuan kepa-damu, ﴾ بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ ﴿ "dengan seribu malaikat yang datang ber-turut-turut." Yakni sebagian datang dengan disusul oleh yang lain. (10) ﴾ وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ ﴿ "Dan Allah tidak menjadikannya", yakni pengi-riman malaikat tersebut ﴾ إِلَّا بُشۡرَىٰ ﴿ "melainkan sebagai kabar gembira", agar jiwa mereka gembira dengan itu. ﴾ وَلِتَطۡمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمۡۚ ﴿ "Dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya." Namun pada hakikatnya keme-nangan itu di Tangan Allah, bukan dengan banyaknya tentara dan senjata. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahaperkasa", tidak ada yang mengalahkanNya. Dia-lah yang Mahaperkasa yang menga-lahkan siapa pun, walaupun orang itu dilengkapi oleh kekuatan jumlah dan senjata yang demikian besarnya. ﴾ حَكِيمٌ ﴿ "Lagi Maha-bijaksana." Di mana Dia menentukan perkara dengan sebab-sebabnya dan meletakkan segala urusan pada tempatnya. (11) Di antara pertolongan Allah kepadamu dan jawaban-Nya terhadap doamu adalah bahwa Dia mengirimkan rasa kantuk kepadamu. ﴾ يُغَشِّيكُمُ ﴿ "Allah menjadikan kamu mengantuk." Yakni de-ngan kantuk itu Allah melenyapkan rasa takut dan cemas yang ada di dalam hatimu. Dan ia sebagai ﴾ أَمَنَةٗ ﴿ "penenteraman", bagimu dan tanda ketenangan dan kemenangan. Di antara pertolonganNya kepadamu juga adalah bahwa Dia menurunkan hujan kepadamu dari langit untuk menyucikanmu dari hadas dan najis, dan untuk menyucikanmu dari godaan dan bisikan setan. ﴾ وَلِيَرۡبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمۡ ﴿ "Dan untuk menguatkan hatimu." Yakni meneguhkannya, karena keteguhan hati adalah dasar bagi keteguhan badan. ﴾ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلۡأَقۡدَامَ ﴿ "Dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)", karena bumi se-belum hujan rata dan datar, dan setelah hujan ia menjadi kempal dan dapat meneguhkan telapak kaki. (12) Termasuk pertolongan Allah juga adalah bahwa Dia mewahyukan kepada para malaikat, ﴾ أَنِّي مَعَكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Aku bersama kamu", dengan bantuan, pertolongan, dan kemenangan. ﴾ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "Maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Yakni tanamkanlah di dalam hati mereka keberanian melawan musuh serta doronglah mereka kepada jihad dan keuta-maannya. ﴾ سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir," yang merupakan tentara terbesarmu dalam menghadapi mereka, karena jika Allah meneguh-kan orang-orang yang beriman dan menyusupkan rasa takut di hati orang-orang kafir, maka orang-orang kafir tidak akan mampu teguh di hadapan kaum Muslimin, dan Allah menyerahkan pundak-pun-dak mereka kepada orang-orang Mukmin. ﴾ فَٱضۡرِبُواْ فَوۡقَ ٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "Maka penggallah kepala mereka." Yakni leher mereka. ﴾ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ ﴿ "Dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka." Yakni pergelangan. Ucapan ini bisa jadi untuk para malaikat yang mana Allah mewah-yukan kepada mereka agar meneguhkan hati orang-orang beriman. Ini menunjukkan bahwa para malaikat turut berpartisipasi secara langsung dalam perang Badar. Bisa pula ucapan ini tertuju kepada orang-orang yang beriman di mana Allah menyemangati mereka dan mengajarkan kepada mereka bagaimana mereka membunuh orang-orang kafir dan bahwa mereka tidak perlu mengasihani orang-orang kafir. (13) Hal itu karena orang-orang kafir itu menentang Allah dan RasulNya, yakni memerangi dan memusuhi secara terang-te-rangan. ﴾ وَمَن يُشَاقِقِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan barangsiapa me-nentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras sik-saanNya." Di antara siksaNya terhadap orang-orang kafir adalah kemenangan yang diberikanNya kepada orang-orang yang beriman atas mereka dan pembunuhan terhadap mereka. (14) ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), yakni siksa yang disebutkan di atas, ﴾ فَذُوقُوهُ ﴿ "maka rasakanlah hu-kuman itu," wahai orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sebagai hukuman yang disegerakan. ﴾ وَأَنَّ لِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿ "Sesung-guhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab Neraka." Kisah ini mengandung tanda-tanda kekuasaan Allah yang agung yang menunjukkan bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ sebagai Rasul Allah adalah benar. Di antaranya adalah, bahwa Allah menjanjikan sesuatu kepada kaum Mukminin dan merealisasikan janji tersebut. Di antaranya adalah, Firman Allah تعالى, ﴾ قَدۡ كَانَ لَكُمۡ ءَايَةٞ فِي فِئَتَيۡنِ ٱلۡتَقَتَاۖ فِئَةٞ تُقَٰتِلُ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَأُخۡرَىٰ كَافِرَةٞ يَرَوۡنَهُم مِّثۡلَيۡهِمۡ رَأۡيَ ٱلۡعَيۡنِۚ ﴿ "Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (se-golongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka." (Ali Imran: 13). Di antaranya adalah, jawaban Allah terhadap doa orang-orang Mukmin ketika mereka memohon pertolongan kepadaNya dengan sebab-sebab yang dijelaskanNya. Kisah ini juga menunjukkan bahwa Allah sangat perhatian terhadap kondisi hamba-hambaNya yang beriman dan Dia menda-tangkan sebab-sebab (kemenangan) yang dengannya iman mereka menjadi teguh dan hal yang tidak diinginkan serta godaan setan pun lenyap. Di antaranya juga adalah, bahwa di antara kasih sayang Allah terhadap hambaNya adalah bahwa Allah memudahkannya untuk menaatiNya dan memudahkannya dengan sebab-sebab dari dalam dan dari luar. 9

Al-Anfal 8:14

"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankanNya bagimu, 'Sesungguhnya Aku akan men-datangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.' Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hati-mu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dariNya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka, (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya, dan barangsiapa menentang Allah dan Ra-sulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaanNya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukum-an itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka." (Al-Anfal: 9-14). (9) Yakni ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu hampir bertemu dengan musuhmu, kamu memohon pertolongan dan kemenangan kepada Rabbmu, ﴾ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ ﴿ "lalu diperkenan-kanNya bagimu." Allah menolongmu dengan beberapa perkara, di antaranya adalah bahwa Allah menghadirkan bala bantuan kepa-damu, ﴾ بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ ﴿ "dengan seribu malaikat yang datang ber-turut-turut." Yakni sebagian datang dengan disusul oleh yang lain. (10) ﴾ وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ ﴿ "Dan Allah tidak menjadikannya", yakni pengi-riman malaikat tersebut ﴾ إِلَّا بُشۡرَىٰ ﴿ "melainkan sebagai kabar gembira", agar jiwa mereka gembira dengan itu. ﴾ وَلِتَطۡمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمۡۚ ﴿ "Dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya." Namun pada hakikatnya keme-nangan itu di Tangan Allah, bukan dengan banyaknya tentara dan senjata. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahaperkasa", tidak ada yang mengalahkanNya. Dia-lah yang Mahaperkasa yang menga-lahkan siapa pun, walaupun orang itu dilengkapi oleh kekuatan jumlah dan senjata yang demikian besarnya. ﴾ حَكِيمٌ ﴿ "Lagi Maha-bijaksana." Di mana Dia menentukan perkara dengan sebab-sebabnya dan meletakkan segala urusan pada tempatnya. (11) Di antara pertolongan Allah kepadamu dan jawaban-Nya terhadap doamu adalah bahwa Dia mengirimkan rasa kantuk kepadamu. ﴾ يُغَشِّيكُمُ ﴿ "Allah menjadikan kamu mengantuk." Yakni de-ngan kantuk itu Allah melenyapkan rasa takut dan cemas yang ada di dalam hatimu. Dan ia sebagai ﴾ أَمَنَةٗ ﴿ "penenteraman", bagimu dan tanda ketenangan dan kemenangan. Di antara pertolonganNya kepadamu juga adalah bahwa Dia menurunkan hujan kepadamu dari langit untuk menyucikanmu dari hadas dan najis, dan untuk menyucikanmu dari godaan dan bisikan setan. ﴾ وَلِيَرۡبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمۡ ﴿ "Dan untuk menguatkan hatimu." Yakni meneguhkannya, karena keteguhan hati adalah dasar bagi keteguhan badan. ﴾ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلۡأَقۡدَامَ ﴿ "Dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)", karena bumi se-belum hujan rata dan datar, dan setelah hujan ia menjadi kempal dan dapat meneguhkan telapak kaki. (12) Termasuk pertolongan Allah juga adalah bahwa Dia mewahyukan kepada para malaikat, ﴾ أَنِّي مَعَكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Aku bersama kamu", dengan bantuan, pertolongan, dan kemenangan. ﴾ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "Maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Yakni tanamkanlah di dalam hati mereka keberanian melawan musuh serta doronglah mereka kepada jihad dan keuta-maannya. ﴾ سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir," yang merupakan tentara terbesarmu dalam menghadapi mereka, karena jika Allah meneguh-kan orang-orang yang beriman dan menyusupkan rasa takut di hati orang-orang kafir, maka orang-orang kafir tidak akan mampu teguh di hadapan kaum Muslimin, dan Allah menyerahkan pundak-pun-dak mereka kepada orang-orang Mukmin. ﴾ فَٱضۡرِبُواْ فَوۡقَ ٱلۡأَعۡنَاقِ ﴿ "Maka penggallah kepala mereka." Yakni leher mereka. ﴾ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ ﴿ "Dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka." Yakni pergelangan. Ucapan ini bisa jadi untuk para malaikat yang mana Allah mewah-yukan kepada mereka agar meneguhkan hati orang-orang beriman. Ini menunjukkan bahwa para malaikat turut berpartisipasi secara langsung dalam perang Badar. Bisa pula ucapan ini tertuju kepada orang-orang yang beriman di mana Allah menyemangati mereka dan mengajarkan kepada mereka bagaimana mereka membunuh orang-orang kafir dan bahwa mereka tidak perlu mengasihani orang-orang kafir. (13) Hal itu karena orang-orang kafir itu menentang Allah dan RasulNya, yakni memerangi dan memusuhi secara terang-te-rangan. ﴾ وَمَن يُشَاقِقِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan barangsiapa me-nentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras sik-saanNya." Di antara siksaNya terhadap orang-orang kafir adalah kemenangan yang diberikanNya kepada orang-orang yang beriman atas mereka dan pembunuhan terhadap mereka. (14) ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), yakni siksa yang disebutkan di atas, ﴾ فَذُوقُوهُ ﴿ "maka rasakanlah hu-kuman itu," wahai orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sebagai hukuman yang disegerakan. ﴾ وَأَنَّ لِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿ "Sesung-guhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab Neraka." Kisah ini mengandung tanda-tanda kekuasaan Allah yang agung yang menunjukkan bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ sebagai Rasul Allah adalah benar. Di antaranya adalah, bahwa Allah menjanjikan sesuatu kepada kaum Mukminin dan merealisasikan janji tersebut. Di antaranya adalah, Firman Allah تعالى, ﴾ قَدۡ كَانَ لَكُمۡ ءَايَةٞ فِي فِئَتَيۡنِ ٱلۡتَقَتَاۖ فِئَةٞ تُقَٰتِلُ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَأُخۡرَىٰ كَافِرَةٞ يَرَوۡنَهُم مِّثۡلَيۡهِمۡ رَأۡيَ ٱلۡعَيۡنِۚ ﴿ "Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (se-golongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka." (Ali Imran: 13). Di antaranya adalah, jawaban Allah terhadap doa orang-orang Mukmin ketika mereka memohon pertolongan kepadaNya dengan sebab-sebab yang dijelaskanNya. Kisah ini juga menunjukkan bahwa Allah sangat perhatian terhadap kondisi hamba-hambaNya yang beriman dan Dia menda-tangkan sebab-sebab (kemenangan) yang dengannya iman mereka menjadi teguh dan hal yang tidak diinginkan serta godaan setan pun lenyap. Di antaranya juga adalah, bahwa di antara kasih sayang Allah terhadap hambaNya adalah bahwa Allah memudahkannya untuk menaatiNya dan memudahkannya dengan sebab-sebab dari dalam dan dari luar. 9

Al-Anfal 8:15

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka jangan-lah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang mem-belakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah Neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya." (Al-Anfal: 15-16). (15) Allah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman dengan keberanian iman, keteguhan dalam menjalankan perintah-Nya, dan usaha untuk mendatangkan sebab-sebab yang menguat-kan hati dan badan. Dan Dia melarang mereka kabur pada saat dua pasukan telah bertemu. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ زَحۡفٗا ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu," yakni di barisan perang, pada saat pasukan saling serang dan sebagian mendekat kepada sebagian yang lain, ﴾ فَلَا تُوَلُّوهُمُ ٱلۡأَدۡبَارَ ﴿ "maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)." Akan tetapi teguhkanlah dirimu untuk memerangi mereka dan sabarlah dalam menghadapi mereka, karena hal itu berarti menolong agama Allah, menguatkan hati orang-orang Mukminin, dan menakut-nakuti orang-orang kafir. (16) ﴾ وَمَن يُوَلِّهِمۡ يَوۡمَئِذٖ دُبُرَهُۥٓ إِلَّا مُتَحَرِّفٗا لِّقِتَالٍ أَوۡ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٖ فَقَدۡ بَآءَ بِغَضَبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَمَأۡوَىٰهُ جَهَنَّمُۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Barangsiapa yang membelakangi mereka (mun-dur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya." Ini menunjukkan bahwa berlari dari medan perang tanpa alasan adalah termasuk dosa besar, sebagaimana hal itu dinyatakan oleh hadits-hadits shahih,[75] dan sebagaimana dinyatakan secara tegas dalam ayat ini akan ancaman yang keras atas perbuatan itu. Mahfum ayat ini menunjukkan bahwa orang yang berbelok untuk siasat dalam perang –yaitu dia berpindah dari satu arah ke arah lainnya agar lebih leluasa untuk berperang dan lebih kuat dalam menghadapi musuh–, tidaklah mengapa, karena dia tidak mundur untuk berlari. Dia hanyalah mundur untuk strategi agar dapat me-ngalahkan musuh, atau menyerang dari arah yang merupakan titik lengah atau lemah mereka, atau sebagai siasat-siasat perang lain-nya. Dan bahwa orang yang bergabung dengan pasukan lain yang membuatnya kuat dan membantunya dalam memerangi orang-orang kafir juga dibolehkan, jika kelompok lain tersebut berada di markas pasukan maka perkaranya jelas. Jika pasukan itu tidak di tempat perang seperti mundurnya kaum Muslimin dari hadapan orang-orang kafir dan mereka mundur masuk ke sebuah kota kaum Muslimin atau kepada pasukan kaum Muslimin yang lain, maka terdapat atsar sahabat yang menunjukkan bahwa hal itu diboleh-kan. Mungkin ini dibatasi dengan apabila kaum Muslimin mengira bahwa mundur dari medan perang lebih baik akibatnya dan lebih menjamin keberadaan mereka. Adapun jika mereka menduga bah-wa kemenangan mereka atas kaum kafir adalah dengan keteguhan di depan mereka, maka sulit dikatakan bahwa ia termasuk keadaan yang dibolehkan, karena dalam keadaan tersebut sulit dibayangkan adanya berlari dari medan perang yang dilarang. Ayat ini bersifat mutlak, dan di akhir surat akan disebutkan pembatasannya dengan jumlah pasukan. 9

Al-Anfal 8:16

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka jangan-lah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang mem-belakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah Neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya." (Al-Anfal: 15-16). (15) Allah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman dengan keberanian iman, keteguhan dalam menjalankan perintah-Nya, dan usaha untuk mendatangkan sebab-sebab yang menguat-kan hati dan badan. Dan Dia melarang mereka kabur pada saat dua pasukan telah bertemu. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ زَحۡفٗا ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu," yakni di barisan perang, pada saat pasukan saling serang dan sebagian mendekat kepada sebagian yang lain, ﴾ فَلَا تُوَلُّوهُمُ ٱلۡأَدۡبَارَ ﴿ "maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)." Akan tetapi teguhkanlah dirimu untuk memerangi mereka dan sabarlah dalam menghadapi mereka, karena hal itu berarti menolong agama Allah, menguatkan hati orang-orang Mukminin, dan menakut-nakuti orang-orang kafir. (16) ﴾ وَمَن يُوَلِّهِمۡ يَوۡمَئِذٖ دُبُرَهُۥٓ إِلَّا مُتَحَرِّفٗا لِّقِتَالٍ أَوۡ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٖ فَقَدۡ بَآءَ بِغَضَبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَمَأۡوَىٰهُ جَهَنَّمُۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Barangsiapa yang membelakangi mereka (mun-dur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya." Ini menunjukkan bahwa berlari dari medan perang tanpa alasan adalah termasuk dosa besar, sebagaimana hal itu dinyatakan oleh hadits-hadits shahih,[75] dan sebagaimana dinyatakan secara tegas dalam ayat ini akan ancaman yang keras atas perbuatan itu. Mahfum ayat ini menunjukkan bahwa orang yang berbelok untuk siasat dalam perang –yaitu dia berpindah dari satu arah ke arah lainnya agar lebih leluasa untuk berperang dan lebih kuat dalam menghadapi musuh–, tidaklah mengapa, karena dia tidak mundur untuk berlari. Dia hanyalah mundur untuk strategi agar dapat me-ngalahkan musuh, atau menyerang dari arah yang merupakan titik lengah atau lemah mereka, atau sebagai siasat-siasat perang lain-nya. Dan bahwa orang yang bergabung dengan pasukan lain yang membuatnya kuat dan membantunya dalam memerangi orang-orang kafir juga dibolehkan, jika kelompok lain tersebut berada di markas pasukan maka perkaranya jelas. Jika pasukan itu tidak di tempat perang seperti mundurnya kaum Muslimin dari hadapan orang-orang kafir dan mereka mundur masuk ke sebuah kota kaum Muslimin atau kepada pasukan kaum Muslimin yang lain, maka terdapat atsar sahabat yang menunjukkan bahwa hal itu diboleh-kan. Mungkin ini dibatasi dengan apabila kaum Muslimin mengira bahwa mundur dari medan perang lebih baik akibatnya dan lebih menjamin keberadaan mereka. Adapun jika mereka menduga bah-wa kemenangan mereka atas kaum kafir adalah dengan keteguhan di depan mereka, maka sulit dikatakan bahwa ia termasuk keadaan yang dibolehkan, karena dalam keadaan tersebut sulit dibayangkan adanya berlari dari medan perang yang dilarang. Ayat ini bersifat mutlak, dan di akhir surat akan disebutkan pembatasannya dengan jumlah pasukan. 9

Al-Anfal 8:17

"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh me-reka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin, de-ngan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir. Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari ke-putusan, maka telah datang keputusan kepadamu, dan jika kamu berhenti, maka itulah yang lebih baik bagimu, dan jika kamu kem-bali, niscaya Kami kembali (pula), dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biarpun dia banyak, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman." (Al-Anfal: 17-19). (17) Allah تعالى berfirman ketika orang-orang musyrik kalah di perang Badar dan kaum Muslimin berhasil membunuh mereka, ﴾ فَلَمۡ تَقۡتُلُوهُمۡ ﴿ "maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh me-reka", dengan kemampuan dan kekuatanmu. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمۡۚ ﴿ "Akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka." Di mana Dia membantu melakukan itu dengan apa yang telah disebutkan. ﴾ وَمَا رَمَيۡتَ إِذۡ رَمَيۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ﴿ "Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." Hal itu karena Nabi ﷺ pada saat ter-jadi perang, beliau masuk ke kemah beliau. Beliau berdoa kepada Allah dan memohon pertolonganNya,[76] kemudian Nabi keluar dari-nya lalu mengambil segenggam tanah dan menaburkannya ke wajah orang-orang kafir, dan Allah menyampaikan tanah itu ke semua wajah mereka. Tidak seorang pun dari mereka kecuali tanah ter-sebut mengenai wajah, mulut dan kedua matanya.[77] Dalam kondisi tersebut kekuatan mereka luruh, semangat mereka melemah, dan nampaklah kegagalan dan kelemahan mereka, sehingga mereka pun kalah. Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, "Ketika kamu melempar tanah dan ia sampai pada mata mereka, itu bukan dengan kekuatan-mu, akan tetapi ia sampai kepada mereka dengan kekuatan dan kemampuan Kami." ﴾ وَلِيُبۡلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡهُ بَلَآءً حَسَنًاۚ ﴿ "(Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin." Yakni Allah تعالى Mahamampu memberi keme-nangan kepada orang-orang Mukmin atas orang-orang kafir tanpa harus ada perang, akan tetapi Allah hendak menguji orang-orang Mukmin dan menyampaikan mereka dengan jihad ke derajat ter-tinggi dan maqam termulia serta memberi mereka pahala yang baik lagi besar. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Allah تعالى mendengar apa yang dirahasiakan dan ditampakkan oleh hamba. Dia mengetahui niat baik dan niat buruk yang disembunyikannya. Dia menakdirkan untuk hamba-hamba ketentuan-ketentuan yang sesuai dengan ilmuNya, hikmah-Nya dan kemaslahatan hambaNya, dan Dia membalas setiap hamba sesuai dengan niat dan amalnya. (18) ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepada-mu)." Yakni kemenangan dari Allah kepadamu. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ مُوهِنُ كَيۡدِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir." Yakni mematahkan segala makar dan tipu daya yang dilancarkan oleh musuh kepada Islam dan kaum Muslimin, dan menjadikan makar mereka menimpa diri mereka sendiri. (19) ﴾ إِن تَسۡتَفۡتِحُواْ ﴿ "Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan." Yakni kamu menuntut Allah menurunkan siksa dan azabNya kepada orang-orang yang zhalim lagi melampaui batas, ﴾ فَقَدۡ جَآءَكُمُ ٱلۡفَتۡحُۖ ﴿ "maka telah datang keputusan kepadamu." Ketika Dia menimpakan kepadamu azabNya sebagai hukuman bagimu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. ﴾ وَإِن تَنتَهُواْ ﴿ "Dan jika kamu berhenti", menuntut datangnya keputusan, ﴾ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ ﴿ "maka itulah yang lebih baik bagimu" karena mungkin Dia memberimu tempo dan tidak menyegerakan azabNya, ﴾ وَإِن تَعُودُواْ ﴿ "dan jika kamu kembali", menuntut keputusan dan memerangi tentara Allah yaitu orang-orang Mukmin, ﴾ نَعُدۡ ﴿ "niscaya Kami kembali (pula)", memenangkan tentara Kami atasmu. ﴾ وَلَن تُغۡنِيَ عَنكُمۡ فِئَتُكُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun." Yakni penolongmu dan pembantumu yang berperang dengan sengaja melawan mereka. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman." Barangsiapa yang Allah bersamanya, niscaya dia akan menang meskipun dia lemah dan kekuatannya minim. Ma'iyah (kebersamaan) Allah ini yang dengannya Dia mem-bantu orang-orang yang beriman adalah sesuai dengan amal-amal iman yang mereka kerjakan, jika terkadang musuh menang atas orang-orang Mukmin, maka hal itu tidak lain kecuali karena kela-laian mereka dan karena mereka tidak melakukan kewajiban iman dan tuntutanNya. Seandainya mereka melakukan perintah Allah dari berbagai segi, niscaya tidak ada panji mereka yang terkalahkan dan tidak ada musuh yang mengungguli mereka untuk selama-lamanya.

Al-Anfal 8:18

"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh me-reka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin, de-ngan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir. Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari ke-putusan, maka telah datang keputusan kepadamu, dan jika kamu berhenti, maka itulah yang lebih baik bagimu, dan jika kamu kem-bali, niscaya Kami kembali (pula), dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biarpun dia banyak, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman." (Al-Anfal: 17-19). (17) Allah تعالى berfirman ketika orang-orang musyrik kalah di perang Badar dan kaum Muslimin berhasil membunuh mereka, ﴾ فَلَمۡ تَقۡتُلُوهُمۡ ﴿ "maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh me-reka", dengan kemampuan dan kekuatanmu. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمۡۚ ﴿ "Akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka." Di mana Dia membantu melakukan itu dengan apa yang telah disebutkan. ﴾ وَمَا رَمَيۡتَ إِذۡ رَمَيۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ﴿ "Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." Hal itu karena Nabi ﷺ pada saat ter-jadi perang, beliau masuk ke kemah beliau. Beliau berdoa kepada Allah dan memohon pertolonganNya,[76] kemudian Nabi keluar dari-nya lalu mengambil segenggam tanah dan menaburkannya ke wajah orang-orang kafir, dan Allah menyampaikan tanah itu ke semua wajah mereka. Tidak seorang pun dari mereka kecuali tanah ter-sebut mengenai wajah, mulut dan kedua matanya.[77] Dalam kondisi tersebut kekuatan mereka luruh, semangat mereka melemah, dan nampaklah kegagalan dan kelemahan mereka, sehingga mereka pun kalah. Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, "Ketika kamu melempar tanah dan ia sampai pada mata mereka, itu bukan dengan kekuatan-mu, akan tetapi ia sampai kepada mereka dengan kekuatan dan kemampuan Kami." ﴾ وَلِيُبۡلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡهُ بَلَآءً حَسَنًاۚ ﴿ "(Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin." Yakni Allah تعالى Mahamampu memberi keme-nangan kepada orang-orang Mukmin atas orang-orang kafir tanpa harus ada perang, akan tetapi Allah hendak menguji orang-orang Mukmin dan menyampaikan mereka dengan jihad ke derajat ter-tinggi dan maqam termulia serta memberi mereka pahala yang baik lagi besar. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Allah تعالى mendengar apa yang dirahasiakan dan ditampakkan oleh hamba. Dia mengetahui niat baik dan niat buruk yang disembunyikannya. Dia menakdirkan untuk hamba-hamba ketentuan-ketentuan yang sesuai dengan ilmuNya, hikmah-Nya dan kemaslahatan hambaNya, dan Dia membalas setiap hamba sesuai dengan niat dan amalnya. (18) ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepada-mu)." Yakni kemenangan dari Allah kepadamu. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ مُوهِنُ كَيۡدِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir." Yakni mematahkan segala makar dan tipu daya yang dilancarkan oleh musuh kepada Islam dan kaum Muslimin, dan menjadikan makar mereka menimpa diri mereka sendiri. (19) ﴾ إِن تَسۡتَفۡتِحُواْ ﴿ "Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan." Yakni kamu menuntut Allah menurunkan siksa dan azabNya kepada orang-orang yang zhalim lagi melampaui batas, ﴾ فَقَدۡ جَآءَكُمُ ٱلۡفَتۡحُۖ ﴿ "maka telah datang keputusan kepadamu." Ketika Dia menimpakan kepadamu azabNya sebagai hukuman bagimu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. ﴾ وَإِن تَنتَهُواْ ﴿ "Dan jika kamu berhenti", menuntut datangnya keputusan, ﴾ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ ﴿ "maka itulah yang lebih baik bagimu" karena mungkin Dia memberimu tempo dan tidak menyegerakan azabNya, ﴾ وَإِن تَعُودُواْ ﴿ "dan jika kamu kembali", menuntut keputusan dan memerangi tentara Allah yaitu orang-orang Mukmin, ﴾ نَعُدۡ ﴿ "niscaya Kami kembali (pula)", memenangkan tentara Kami atasmu. ﴾ وَلَن تُغۡنِيَ عَنكُمۡ فِئَتُكُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun." Yakni penolongmu dan pembantumu yang berperang dengan sengaja melawan mereka. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman." Barangsiapa yang Allah bersamanya, niscaya dia akan menang meskipun dia lemah dan kekuatannya minim. Ma'iyah (kebersamaan) Allah ini yang dengannya Dia mem-bantu orang-orang yang beriman adalah sesuai dengan amal-amal iman yang mereka kerjakan, jika terkadang musuh menang atas orang-orang Mukmin, maka hal itu tidak lain kecuali karena kela-laian mereka dan karena mereka tidak melakukan kewajiban iman dan tuntutanNya. Seandainya mereka melakukan perintah Allah dari berbagai segi, niscaya tidak ada panji mereka yang terkalahkan dan tidak ada musuh yang mengungguli mereka untuk selama-lamanya.

Al-Anfal 8:19

"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh me-reka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin, de-ngan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir. Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari ke-putusan, maka telah datang keputusan kepadamu, dan jika kamu berhenti, maka itulah yang lebih baik bagimu, dan jika kamu kem-bali, niscaya Kami kembali (pula), dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biarpun dia banyak, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman." (Al-Anfal: 17-19). (17) Allah تعالى berfirman ketika orang-orang musyrik kalah di perang Badar dan kaum Muslimin berhasil membunuh mereka, ﴾ فَلَمۡ تَقۡتُلُوهُمۡ ﴿ "maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh me-reka", dengan kemampuan dan kekuatanmu. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمۡۚ ﴿ "Akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka." Di mana Dia membantu melakukan itu dengan apa yang telah disebutkan. ﴾ وَمَا رَمَيۡتَ إِذۡ رَمَيۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ﴿ "Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." Hal itu karena Nabi ﷺ pada saat ter-jadi perang, beliau masuk ke kemah beliau. Beliau berdoa kepada Allah dan memohon pertolonganNya,[76] kemudian Nabi keluar dari-nya lalu mengambil segenggam tanah dan menaburkannya ke wajah orang-orang kafir, dan Allah menyampaikan tanah itu ke semua wajah mereka. Tidak seorang pun dari mereka kecuali tanah ter-sebut mengenai wajah, mulut dan kedua matanya.[77] Dalam kondisi tersebut kekuatan mereka luruh, semangat mereka melemah, dan nampaklah kegagalan dan kelemahan mereka, sehingga mereka pun kalah. Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, "Ketika kamu melempar tanah dan ia sampai pada mata mereka, itu bukan dengan kekuatan-mu, akan tetapi ia sampai kepada mereka dengan kekuatan dan kemampuan Kami." ﴾ وَلِيُبۡلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡهُ بَلَآءً حَسَنًاۚ ﴿ "(Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin." Yakni Allah تعالى Mahamampu memberi keme-nangan kepada orang-orang Mukmin atas orang-orang kafir tanpa harus ada perang, akan tetapi Allah hendak menguji orang-orang Mukmin dan menyampaikan mereka dengan jihad ke derajat ter-tinggi dan maqam termulia serta memberi mereka pahala yang baik lagi besar. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Allah تعالى mendengar apa yang dirahasiakan dan ditampakkan oleh hamba. Dia mengetahui niat baik dan niat buruk yang disembunyikannya. Dia menakdirkan untuk hamba-hamba ketentuan-ketentuan yang sesuai dengan ilmuNya, hikmah-Nya dan kemaslahatan hambaNya, dan Dia membalas setiap hamba sesuai dengan niat dan amalnya. (18) ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepada-mu)." Yakni kemenangan dari Allah kepadamu. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ مُوهِنُ كَيۡدِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir." Yakni mematahkan segala makar dan tipu daya yang dilancarkan oleh musuh kepada Islam dan kaum Muslimin, dan menjadikan makar mereka menimpa diri mereka sendiri. (19) ﴾ إِن تَسۡتَفۡتِحُواْ ﴿ "Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan." Yakni kamu menuntut Allah menurunkan siksa dan azabNya kepada orang-orang yang zhalim lagi melampaui batas, ﴾ فَقَدۡ جَآءَكُمُ ٱلۡفَتۡحُۖ ﴿ "maka telah datang keputusan kepadamu." Ketika Dia menimpakan kepadamu azabNya sebagai hukuman bagimu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. ﴾ وَإِن تَنتَهُواْ ﴿ "Dan jika kamu berhenti", menuntut datangnya keputusan, ﴾ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ ﴿ "maka itulah yang lebih baik bagimu" karena mungkin Dia memberimu tempo dan tidak menyegerakan azabNya, ﴾ وَإِن تَعُودُواْ ﴿ "dan jika kamu kembali", menuntut keputusan dan memerangi tentara Allah yaitu orang-orang Mukmin, ﴾ نَعُدۡ ﴿ "niscaya Kami kembali (pula)", memenangkan tentara Kami atasmu. ﴾ وَلَن تُغۡنِيَ عَنكُمۡ فِئَتُكُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun." Yakni penolongmu dan pembantumu yang berperang dengan sengaja melawan mereka. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman." Barangsiapa yang Allah bersamanya, niscaya dia akan menang meskipun dia lemah dan kekuatannya minim. Ma'iyah (kebersamaan) Allah ini yang dengannya Dia mem-bantu orang-orang yang beriman adalah sesuai dengan amal-amal iman yang mereka kerjakan, jika terkadang musuh menang atas orang-orang Mukmin, maka hal itu tidak lain kecuali karena kela-laian mereka dan karena mereka tidak melakukan kewajiban iman dan tuntutanNya. Seandainya mereka melakukan perintah Allah dari berbagai segi, niscaya tidak ada panji mereka yang terkalahkan dan tidak ada musuh yang mengungguli mereka untuk selama-lamanya.

Al-Anfal 8:20

"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berpaling dariNya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahNya). Dan janganlah kamu menjadi orang-orang (munafik) yang berkata, 'Kami mendengarkan,' pada-hal mereka tidak mendengarkan." (Al-Anfal: 20-21). (20) Ketika Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia bersama orang-orang Mukmin, maka Dia memerintahkan mereka agar me-laksanakan konsekuensi iman yang dengannya mereka mendapat-kan ma'iyahNya. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan RasulNya," dengan menjalankan perintah keduanya dan menjauhi larangan keduanya. ﴾ وَلَا تَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ ﴿ "Dan janganlah kamu berpaling dariNya," yakni dari perka-ra ini yang merupakan ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada RasulNya, ﴾ وَأَنتُمۡ تَسۡمَعُونَ ﴿ "sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)." Yakni, Kitab Allah yang dibacakan kepadamu, perintah-perin-tah, wasiat-wasiat, dan nasihat-nasihatNya. Berpalingnya dirimu dalam kondisi tersebut merupakan perbuatan terburuk. (21) ﴾ وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ قَالُواْ سَمِعۡنَا وَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "Dan janganlah kamu menjadi orang-orang (munafik) yang berkata, 'Kami mendengarkan,' padahal mereka tidak mendengarkan." Yakni, jangan merasa cukup dengan klaim kosong yang tanpa hakikat, karena hal tersebut tidak diridhai oleh Allah dan RasulNya. Iman bukanlah dengan angan-angan dan impian, akan tetapi ia adalah apa yang menancap dalam hati dan dibenarkan oleh perbuatan.

Al-Anfal 8:21

"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berpaling dariNya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahNya). Dan janganlah kamu menjadi orang-orang (munafik) yang berkata, 'Kami mendengarkan,' pada-hal mereka tidak mendengarkan." (Al-Anfal: 20-21). (20) Ketika Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia bersama orang-orang Mukmin, maka Dia memerintahkan mereka agar me-laksanakan konsekuensi iman yang dengannya mereka mendapat-kan ma'iyahNya. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan RasulNya," dengan menjalankan perintah keduanya dan menjauhi larangan keduanya. ﴾ وَلَا تَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ ﴿ "Dan janganlah kamu berpaling dariNya," yakni dari perka-ra ini yang merupakan ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada RasulNya, ﴾ وَأَنتُمۡ تَسۡمَعُونَ ﴿ "sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)." Yakni, Kitab Allah yang dibacakan kepadamu, perintah-perin-tah, wasiat-wasiat, dan nasihat-nasihatNya. Berpalingnya dirimu dalam kondisi tersebut merupakan perbuatan terburuk. (21) ﴾ وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ قَالُواْ سَمِعۡنَا وَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "Dan janganlah kamu menjadi orang-orang (munafik) yang berkata, 'Kami mendengarkan,' padahal mereka tidak mendengarkan." Yakni, jangan merasa cukup dengan klaim kosong yang tanpa hakikat, karena hal tersebut tidak diridhai oleh Allah dan RasulNya. Iman bukanlah dengan angan-angan dan impian, akan tetapi ia adalah apa yang menancap dalam hati dan dibenarkan oleh perbuatan.

Al-Anfal 8:22

"Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apa-apa. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)." (Al-Anfal: 22-23). (22) Allah berfirman, ﴾ إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya bina-tang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah." Yakni orang-orang yang peringatan dan ayat-ayat Allah tidak berguna bagi me-reka, dan mereka ﴾ ٱلصُّمُّ ﴿ "ialah orang-orang yang tuli", dari mendengar kebenaran, ﴾ ٱلۡبُكۡمُ ﴿ "dan bisu", dari menyuarakan kebenaran, ﴾ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡقِلُونَ ﴿ "yang tidak mengerti apa-apa," yang bermanfaat bagi mereka dan terpengaruh oleh apa yang merugikan mereka. Mereka itu lebih buruk di sisi Allah daripada binatang yang buruk, karena Allah telah memberi mereka pendengaran, penglihatan, dan hati agar digunakan dalam ketaatan kepadaNya, tetapi mereka meng-gunakannya untuk bermaksiat kepadaNya. Dengan itu mereka kehilangan banyak kebaikan. Mereka berada di ujung jalan yang membawa mereka untuk menjadi makhluk mulia, tetapi mereka menolak jalan itu dan mereka malah memilih menjadi manusia yang buruk. Pendengaran yang dinafikan oleh Allah dari mereka adalah pendengaran yang berpengaruh kepada hati. Adapun pendengaran yang merupakan hujjah, maka ia telah tegak atas mereka dengan ayat-ayatNya yang mereka dengar. (23) Allah tidak membuat mereka mendengar dengan pen-dengaran yang berguna, karena Dia tidak mendapati adanya ke-baikan pada mereka yang menjadikan mereka layak mendengar ayat-ayatNya. ﴾ وَلَوۡ عَلِمَ ٱللَّهُ فِيهِمۡ خَيۡرٗا لَّأَسۡمَعَهُمۡۖ وَلَوۡ أَسۡمَعَهُمۡ ﴿ "Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar." Berdasarkan dugaan dan perkiraan ﴾ لَتَوَلَّواْ ﴿ "niscaya mereka pasti berpaling juga", dari ketaatan. ﴾ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "Sedang me-reka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)." Tak menoleh sedikit pun kepada kebenaran. Ini menunjukkan bahwa Allah تعالى tidak menghalangi iman dan kebaikan kecuali bagi orang yang tidak ada kebaikan padanya, yang tidak suci di sisiNya dan tidak berman-faat di sisiNya. Segala puji dan hikmah bagiNya dalam hal ini.

Al-Anfal 8:23

"Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apa-apa. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)." (Al-Anfal: 22-23). (22) Allah berfirman, ﴾ إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya bina-tang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah." Yakni orang-orang yang peringatan dan ayat-ayat Allah tidak berguna bagi me-reka, dan mereka ﴾ ٱلصُّمُّ ﴿ "ialah orang-orang yang tuli", dari mendengar kebenaran, ﴾ ٱلۡبُكۡمُ ﴿ "dan bisu", dari menyuarakan kebenaran, ﴾ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡقِلُونَ ﴿ "yang tidak mengerti apa-apa," yang bermanfaat bagi mereka dan terpengaruh oleh apa yang merugikan mereka. Mereka itu lebih buruk di sisi Allah daripada binatang yang buruk, karena Allah telah memberi mereka pendengaran, penglihatan, dan hati agar digunakan dalam ketaatan kepadaNya, tetapi mereka meng-gunakannya untuk bermaksiat kepadaNya. Dengan itu mereka kehilangan banyak kebaikan. Mereka berada di ujung jalan yang membawa mereka untuk menjadi makhluk mulia, tetapi mereka menolak jalan itu dan mereka malah memilih menjadi manusia yang buruk. Pendengaran yang dinafikan oleh Allah dari mereka adalah pendengaran yang berpengaruh kepada hati. Adapun pendengaran yang merupakan hujjah, maka ia telah tegak atas mereka dengan ayat-ayatNya yang mereka dengar. (23) Allah tidak membuat mereka mendengar dengan pen-dengaran yang berguna, karena Dia tidak mendapati adanya ke-baikan pada mereka yang menjadikan mereka layak mendengar ayat-ayatNya. ﴾ وَلَوۡ عَلِمَ ٱللَّهُ فِيهِمۡ خَيۡرٗا لَّأَسۡمَعَهُمۡۖ وَلَوۡ أَسۡمَعَهُمۡ ﴿ "Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar." Berdasarkan dugaan dan perkiraan ﴾ لَتَوَلَّواْ ﴿ "niscaya mereka pasti berpaling juga", dari ketaatan. ﴾ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "Sedang me-reka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)." Tak menoleh sedikit pun kepada kebenaran. Ini menunjukkan bahwa Allah تعالى tidak menghalangi iman dan kebaikan kecuali bagi orang yang tidak ada kebaikan padanya, yang tidak suci di sisiNya dan tidak berman-faat di sisiNya. Segala puji dan hikmah bagiNya dalam hal ini.

Al-Anfal 8:24

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang mem-beri kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepadaNya-lah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya." (Al-Anfal: 24-25). (24) Allah تعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang ber-iman dengan apa yang menjadi konsekuensi keimanan mereka, yaitu memenuhi seruan Allah dan RasulNya, yakni tunduk kepada perintah keduanya, bersegera melakukannya, dan berdakwah (me-nyeru manusia) kepadaNya, menjauhi sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah, menahan diri dan mencegah darinya. Firman-Nya, ﴾ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡۖ ﴿ "Apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu", adalah suatu sifat yang pasti ada pada semua perkara yang diserukan oleh Allah dan RasulNya sekaligus penjelasan tentang faidah dan hikmahNya, karena kehi-dupan hati dan rohani adalah dengan beribadah kepada Allah, senantiasa menaatiNya dan menaati RasulNya. Kemudian Allah memperingatkan hamba-hambaNya dari sikap tidak menjawab seruan Allah dan RasulNya. Dia berfirman, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَقَلۡبِهِۦ ﴿ "Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya." Maka janganlah kamu menentang perintah Allah saat pertama kali ia datang kepadamu, karena akibatnya adalah kamu dihalangi darinya jika kamu meng-inginkannya setelah itu, selanjutnya hatimu pun berselisih, karena Allah membatasi antara manusia dengan hatinya. Allah membolak-balik hati sesukaNya, dan memalingkannya kemana yang Dia ingin-kan, maka hendaknya seorang hamba memperbanyak doa, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبَ ِثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ، يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبَ صَرَّفْ قَلْبِيْ إِلَى طَاعَتِكَ. "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu. Wahai Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hatiku kepada ketaatan kepadaMu."[78] ﴾ وَأَنَّهُۥٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kepadaNya-lah kamu akan dikumpulkan." Yakni kamu dikumpulkan untuk suatu hari yang tiada keraguan padanya, lalu orang yang baik akan dibalas dengan kebaikannya dan orang jahat akan dibalas dengan kejahatannya. (25) ﴾ وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةٗ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ ﴿ "Dan peliharalah diri-mu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu." Akan tetapi ia menimpa pelaku kezhaliman dan juga selainnya. Hal itu jika kezhaliman muncul dan tidak dirubah, maka azabnya akan menimpa pelaku dan selainnya. Menghindari fitnah ini adalah dengan melarang kemungkaran dan melawan para pengusung kejahatan dan kerusakan serta tidak memberi mereka peluang untuk berbuat dosa dan kemaksiatan sebisa mungkin. ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-anNya," bagi orang yang melakukan penyebab kemurkaanNya dan menjauhi ridhaNya.

Al-Anfal 8:25

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang mem-beri kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepadaNya-lah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya." (Al-Anfal: 24-25). (24) Allah تعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang ber-iman dengan apa yang menjadi konsekuensi keimanan mereka, yaitu memenuhi seruan Allah dan RasulNya, yakni tunduk kepada perintah keduanya, bersegera melakukannya, dan berdakwah (me-nyeru manusia) kepadaNya, menjauhi sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah, menahan diri dan mencegah darinya. Firman-Nya, ﴾ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡۖ ﴿ "Apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu", adalah suatu sifat yang pasti ada pada semua perkara yang diserukan oleh Allah dan RasulNya sekaligus penjelasan tentang faidah dan hikmahNya, karena kehi-dupan hati dan rohani adalah dengan beribadah kepada Allah, senantiasa menaatiNya dan menaati RasulNya. Kemudian Allah memperingatkan hamba-hambaNya dari sikap tidak menjawab seruan Allah dan RasulNya. Dia berfirman, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَقَلۡبِهِۦ ﴿ "Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya." Maka janganlah kamu menentang perintah Allah saat pertama kali ia datang kepadamu, karena akibatnya adalah kamu dihalangi darinya jika kamu meng-inginkannya setelah itu, selanjutnya hatimu pun berselisih, karena Allah membatasi antara manusia dengan hatinya. Allah membolak-balik hati sesukaNya, dan memalingkannya kemana yang Dia ingin-kan, maka hendaknya seorang hamba memperbanyak doa, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبَ ِثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ، يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبَ صَرَّفْ قَلْبِيْ إِلَى طَاعَتِكَ. "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu. Wahai Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hatiku kepada ketaatan kepadaMu."[78] ﴾ وَأَنَّهُۥٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kepadaNya-lah kamu akan dikumpulkan." Yakni kamu dikumpulkan untuk suatu hari yang tiada keraguan padanya, lalu orang yang baik akan dibalas dengan kebaikannya dan orang jahat akan dibalas dengan kejahatannya. (25) ﴾ وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةٗ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ ﴿ "Dan peliharalah diri-mu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu." Akan tetapi ia menimpa pelaku kezhaliman dan juga selainnya. Hal itu jika kezhaliman muncul dan tidak dirubah, maka azabnya akan menimpa pelaku dan selainnya. Menghindari fitnah ini adalah dengan melarang kemungkaran dan melawan para pengusung kejahatan dan kerusakan serta tidak memberi mereka peluang untuk berbuat dosa dan kemaksiatan sebisa mungkin. ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-anNya," bagi orang yang melakukan penyebab kemurkaanNya dan menjauhi ridhaNya.

Al-Anfal 8:26

"Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih ber-jumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikanNya kamu kuat dengan pertolonganNya dan diberiNya kamu rizki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur." (Al-Anfal: 26). (26) Allah تعالى berfirman menjelaskan nikmatNya kepada hamba-hambaNya dalam bentuk pertolonganNya kepada mereka setelah sebelumnya terhina, memperbanyak mereka setelah sebe-lumnya sedikit, dan mencukupi mereka setelah sebelumnya keku-rangan, ﴾ وَٱذۡكُرُوٓاْ إِذۡ أَنتُمۡ قَلِيلٞ مُّسۡتَضۡعَفُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dan ingatlah (hai para mu-hajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Makkah)." Yakni tertindas di bawah hukum orang lain. ﴾ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu." Yakni mengambilmu. ﴾ فَـَٔاوَىٰكُمۡ وَأَيَّدَكُم بِنَصۡرِهِۦ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ﴿ "Maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikanNya kamu kuat dengan pertolonganNya dan diberiNya kamu rizki dari yang baik-baik." Allah menyediakan kota tempat tinggal untukmu, mengalahkan musuh-musuhmu dengan tanganmu, dan kamu dapat merampas harta perang dari mereka yang dengannya kamu berkecukupan. ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ﴿ "Agar kamu bersyukur", kepada Allah atas nikmatNya yang besar dan kebaikanNya yang sempurna, dengan menyembah-Nya tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu pun.

Al-Anfal 8:27

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhia-nati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, se-dang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Al-Anfal: 27-28). (27) Allah تعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang ber-iman agar menunaikan perintah-perintah dan larangan-larangan yang Allah amanatkan kepada mereka, karena Allah telah mena-warkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung, semua menolak memikulnya dan khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh. Barangsiapa menunaikan amanat, maka dia berhak mendapatkan pahala besar dari Allah, dan barangsiapa mengkhia-natinya dan tidak menunaikannya, maka dia berhak mendapatkan azab yang keras dan dia menjadi pengkhianat Allah, Rasulullah, dan amanatnya itu sendiri, menodai dirinya sendiri karena dia telah mengambil sifat terburuk dan ciri terjelek yaitu khianat, serta meng-abaikan sifat yang paling baik dan sempurna yaitu amanat. (28) Karena hamba diuji dengan harta dan anak-anaknya, dan mungkin saja kecintaannya mendorongnya mendahulukan hawa nafsunya di atas amanatnya, maka Allah تعالى memberitahu-kan bahwa anak dan harta benda adalah fitnah yang dengannya Allah menguji hambaNya, dan bahwa ia adalah pinjaman yang akan ditunaikan kepada yang memberinya dan dikembalikan kepada yang menitipkannya. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ﴿ "Dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." Jika kamu memiliki akal dan pemikiran, maka dahulukanlah karuniaNya yang besar atas kenikmatan kecil yang akan lenyap dan fana. Orang yang berakal akan menimbang segala urusan, dia tahu mana yang mesti didahulukan dan dikede-pankan.

Al-Anfal 8:28

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhia-nati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, se-dang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Al-Anfal: 27-28). (27) Allah تعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang ber-iman agar menunaikan perintah-perintah dan larangan-larangan yang Allah amanatkan kepada mereka, karena Allah telah mena-warkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung, semua menolak memikulnya dan khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh. Barangsiapa menunaikan amanat, maka dia berhak mendapatkan pahala besar dari Allah, dan barangsiapa mengkhia-natinya dan tidak menunaikannya, maka dia berhak mendapatkan azab yang keras dan dia menjadi pengkhianat Allah, Rasulullah, dan amanatnya itu sendiri, menodai dirinya sendiri karena dia telah mengambil sifat terburuk dan ciri terjelek yaitu khianat, serta meng-abaikan sifat yang paling baik dan sempurna yaitu amanat. (28) Karena hamba diuji dengan harta dan anak-anaknya, dan mungkin saja kecintaannya mendorongnya mendahulukan hawa nafsunya di atas amanatnya, maka Allah تعالى memberitahu-kan bahwa anak dan harta benda adalah fitnah yang dengannya Allah menguji hambaNya, dan bahwa ia adalah pinjaman yang akan ditunaikan kepada yang memberinya dan dikembalikan kepada yang menitipkannya. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ﴿ "Dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." Jika kamu memiliki akal dan pemikiran, maka dahulukanlah karuniaNya yang besar atas kenikmatan kecil yang akan lenyap dan fana. Orang yang berakal akan menimbang segala urusan, dia tahu mana yang mesti didahulukan dan dikede-pankan.

Al-Anfal 8:29

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan meng-hapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (Al-Anfal: 29). (29) Ketakwaan seorang hamba kepada Rabbnya adalah tanda keberuntungan dan kebahagiaan, Allah mengaitkan banyak sekali kebaikan dunia dan Akhirat dengan takwa. Dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka dia akan mendapatkan empat perkara, setiap satu per-kara darinya lebih baik daripada dunia dan isinya. Pertama, furqan, yaitu ilmu dan hidayah yang dengannya pemiliknya dapat membedakan antara petunjuk dengan kesesatan, kebenaran dengan kebatilan, halal dengan haram, dan orang-orang yang berbahagia dengan orang-orang yang sengsara. Kedua dan ketiga, pelebur keburukan dan ampunan dosa-dosa, masing-masing dari keduanya adalah satu makna jika dise-butkan secara mutlak, jika digabung maka yang pertama berarti pelebur dosa-dosa kecil dan yang kedua adalah ampunan dosa-dosa besar. Yang keempat, pahala dan ganjaran yang besar bagi yang ber-takwa kepada Allah dan mementingkan ridhaNya di atas hawa naf-sunya. ﴾ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Allah mempunyai karunia yang besar."

Al-Anfal 8:30

"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikir-kan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan-mu dan membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (Al-Anfal: 30). (30) Dan ingatlah wahai Rasulullah, apa yang Allah limpah-kan sebagai nikmat kepadamu ﴾ إ ِ ذ ْ يَمۡكُرُ بِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu." Ketika orang-orang musyrikin berunding di Dar an-Nadwah tentang apa yang akan mereka lakukan terhadap Nabi ﷺ; apakah mereka hendak memenjarakan dan memasung beliau, atau mereka akan membunuh beliau sehingga mereka bisa terbebas –kata mereka– dari keburukan beliau, atau mereka akan mengusir dan mengeluarkan beliau dari negeri mereka. Setiap orang menyodorkan pendapatnya dari pen-dapat-pendapat tersebut, dan akhirnya mereka bersepakat di atas pendapat orang terburuk dari mereka, Abu Jahal –semoga Allah melaknatnya–, yakni hendaknya masing-masing suku di Quraisy memilih seorang pemuda, lalu dia dibekali pedang yang tajam, lalu semuanya serempak membunuh beliau agar darah beliau terbagi pada suku-suku yang berpartisipasi, sehingga mau tidak mau Bani Hasyim akan menerima diyatnya, karena mereka tidak akan kuasa menghadapi seluruh suku Quraisy. Di malam hari mereka mengincar Nabi ﷺ untuk membunuh beliau jika bangun dari tidurnya. Akan tetapi datang wahyu kepada beliau dari langit. Nabi keluar melewati mereka dengan menabur-kan pasir ke kepala mereka, maka Allah menutup pandangan me-reka, sehingga tatkala merasa telah menunggu sangat lama, ada seseorang menghampiri mereka dan berkata, "Allah telah mengga-galkan kalian. Muhammad telah pergi dan menaburkan pasir ke kepala kalian." Maka masing-masing dari mereka mengibaskan pasir dari kepalanya[79]. Allah melindungi RasulNya dari mereka dan mengizinkannya hijrah ke Madinah, maka Nabi pun berhijrah ke sana. Selain itu Allah mendukungnya dengan sahabat-sahabatnya dari kalangan muhajirin dan anshar. Seterusnya dakwah beliau ber-kembang pesat, sehingga beliau masuk kembali ke Makkah dengan kekuatan dan dapat menundukkan penduduknya. Mereka pun takluk kepada Nabi, berlutut di bawah hukumnya. Padahal sebe-lum itu Nabi keluar dari sana secara sembunyi-sembunyi dengan rasa takut. Mahasuci Allah Yang Mahakasih kepada hambaNya. Tidak ada seorang makhluk pun yang dapat mengalahkanNya. Dan FirmanNya,

Al-Anfal 8:31

"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala.' Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, 'Ya Allah, jika betul (al-Qur`an) ini, ialah yang benar dari sisiMu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.' Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai-(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-Anfal: 31-34). (31) Allah berfirman menjelaskan kebengalan orang-orang yang mendustakan Rasulullah ﷺ, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا ﴿ "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami", yang menunjukkan kebe-naran apa yang dibawa oleh Rasulullah,﴾ قَالُواْ قَدۡ سَمِعۡنَا لَوۡ نَشَآءُ لَقُلۡنَا مِثۡلَ هَٰذَآ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah men-dengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala'." Ini termasuk penging-karan dan kezhaliman mereka, padahal sebenarnya Allah telah menantang mereka untuk menghadirkan satu surat yang seperti-nya dan memanggil siapa pun yang mampu selain Allah, namun mereka tidak mampu untuk itu, dan ketidakmampuan mereka ter-bukti. Ucapan yang diucapkan oleh orang ini hanyalah klaim kosong yang didustakan oleh realita. Telah diketahui bahwa Nabi ﷺ adalah Ummi, tidak membaca, tidak menulis, tidak pula bepergian untuk mempelajari berita-berita orang-orang terdahulu, lalu beliau hadir dengan Kitab yang mulia ini yang tidak ada kebatilan yang datang di depannya dan tidak pula dari belakangnya, yang turun dari Yang Mahabijak lagi Maha Terpuji. (32) ﴾ وَإِذۡ قَالُواْ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا ﴿ "Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, 'Ya Allah, jika betul (al-Qur`an) ini,' yang mana Muhammad berdakwah kepadanya, ﴾ هُوَ ٱلۡحَقَّ مِنۡ عِندِكَ فَأَمۡطِرۡ عَلَيۡنَا حِجَارَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ أَوِ ٱئۡتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ 'adalah yang benar dari sisiMu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih'." Mereka mengucapkan itu dengan penuh keyaki-nan karena kebatilan dan kebodohan mereka terhadap ucapan yang pantas. Seandainya mereka –apabila mereka tetap memegang syub-hat dan tipu daya batil yang semestinya membuat mereka tahu dan yakin terhadapnya– berkata kepada orang yang mendebat mereka dan mengklaim bahwa kebenaran ada padanya, "Jika memang ini adalah kebenaran darimu maka tunjukkan kami kepadanya," nis-caya hal itu lebih utama dan lebih menutupi kezhaliman mereka, sejak mereka berkata, ﴾ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا هُوَ ٱلۡحَقَّ مِنۡ عِندِكَ ﴿ "Ya Allah jika betul al-Qur`an ini ialah yang benar dari sisiMu." Dengan hanya perkataan ini saja telah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang bodoh, dungu, pandir, dan zhalim. (33) Seandainya Allah menyegerakan azabNya, niscaya tiada yang tertinggal, akan tetapi Allah تعالى menunda azabNya disebab-kan oleh keberadaan Rasulullah di antara mereka. Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka." Keberadaan Rasulullah ﷺ di antara mereka adalah pelindung dari azab. Dan dengan per-kataan yang mereka ucapkan secara terbuka di depan khalayak, mereka menyadari keburukannya, mereka khawatir ia akan me-nimpa mereka, maka mereka memohon ampun kepada Allah. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ﴿ "Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun." Ini adalah pencegah azab dari mereka padahal sebab-sebab turunnya azab itu telah tercapai. (34) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَمَا لَهُمۡ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Kenapa Allah tidak mengazab mereka", yakni apa yang menghalangi mereka dari azab Allah, padahal mereka telah melakukan sebab-sebabnya? Yaitu menghalang-halangi manusia dari Masjidil Haram, lebih-lebih mereka menghalangi Nabi ﷺ dan para sahabat yang sebenarnya lebih layak dengannya daripada mereka. Oleh karena itu Dia berfir-man, ﴾ وَمَا كَانُوٓاْ ﴿ "Dan mereka bukanlah", yakni orang-orang musyrik itu ﴾ أَوۡلِيَآءَهُۥٓۚ ﴿ "orang-orang yang berhak menguasainya." Ada kemung-kinan dhamir (kata ganti)nya kembali kepada Allah, yakni wali-wali Allah, ada kemungkinan ia kembali ke Masjidil Haram, yakni me-reka tidak lebih berhak terhadapnya daripada orang lain. ﴾ إِنۡ أَوۡلِيَآؤُهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُتَّقُونَ ﴿ "Orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa." Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, mengesakanNya dengan tauhid dan ibadah dan mengikhlaskan agama hanya untukNya. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Te-tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." Oleh karena itu mereka mengklaim perkara padahal orang lain lebih berhak terhadap per-kara tersebut daripada mereka.

Al-Anfal 8:32

"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala.' Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, 'Ya Allah, jika betul (al-Qur`an) ini, ialah yang benar dari sisiMu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.' Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai-(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-Anfal: 31-34). (31) Allah berfirman menjelaskan kebengalan orang-orang yang mendustakan Rasulullah ﷺ, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا ﴿ "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami", yang menunjukkan kebe-naran apa yang dibawa oleh Rasulullah,﴾ قَالُواْ قَدۡ سَمِعۡنَا لَوۡ نَشَآءُ لَقُلۡنَا مِثۡلَ هَٰذَآ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah men-dengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala'." Ini termasuk penging-karan dan kezhaliman mereka, padahal sebenarnya Allah telah menantang mereka untuk menghadirkan satu surat yang seperti-nya dan memanggil siapa pun yang mampu selain Allah, namun mereka tidak mampu untuk itu, dan ketidakmampuan mereka ter-bukti. Ucapan yang diucapkan oleh orang ini hanyalah klaim kosong yang didustakan oleh realita. Telah diketahui bahwa Nabi ﷺ adalah Ummi, tidak membaca, tidak menulis, tidak pula bepergian untuk mempelajari berita-berita orang-orang terdahulu, lalu beliau hadir dengan Kitab yang mulia ini yang tidak ada kebatilan yang datang di depannya dan tidak pula dari belakangnya, yang turun dari Yang Mahabijak lagi Maha Terpuji. (32) ﴾ وَإِذۡ قَالُواْ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا ﴿ "Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, 'Ya Allah, jika betul (al-Qur`an) ini,' yang mana Muhammad berdakwah kepadanya, ﴾ هُوَ ٱلۡحَقَّ مِنۡ عِندِكَ فَأَمۡطِرۡ عَلَيۡنَا حِجَارَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ أَوِ ٱئۡتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ 'adalah yang benar dari sisiMu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih'." Mereka mengucapkan itu dengan penuh keyaki-nan karena kebatilan dan kebodohan mereka terhadap ucapan yang pantas. Seandainya mereka –apabila mereka tetap memegang syub-hat dan tipu daya batil yang semestinya membuat mereka tahu dan yakin terhadapnya– berkata kepada orang yang mendebat mereka dan mengklaim bahwa kebenaran ada padanya, "Jika memang ini adalah kebenaran darimu maka tunjukkan kami kepadanya," nis-caya hal itu lebih utama dan lebih menutupi kezhaliman mereka, sejak mereka berkata, ﴾ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا هُوَ ٱلۡحَقَّ مِنۡ عِندِكَ ﴿ "Ya Allah jika betul al-Qur`an ini ialah yang benar dari sisiMu." Dengan hanya perkataan ini saja telah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang bodoh, dungu, pandir, dan zhalim. (33) Seandainya Allah menyegerakan azabNya, niscaya tiada yang tertinggal, akan tetapi Allah تعالى menunda azabNya disebab-kan oleh keberadaan Rasulullah di antara mereka. Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka." Keberadaan Rasulullah ﷺ di antara mereka adalah pelindung dari azab. Dan dengan per-kataan yang mereka ucapkan secara terbuka di depan khalayak, mereka menyadari keburukannya, mereka khawatir ia akan me-nimpa mereka, maka mereka memohon ampun kepada Allah. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ﴿ "Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun." Ini adalah pencegah azab dari mereka padahal sebab-sebab turunnya azab itu telah tercapai. (34) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَمَا لَهُمۡ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Kenapa Allah tidak mengazab mereka", yakni apa yang menghalangi mereka dari azab Allah, padahal mereka telah melakukan sebab-sebabnya? Yaitu menghalang-halangi manusia dari Masjidil Haram, lebih-lebih mereka menghalangi Nabi ﷺ dan para sahabat yang sebenarnya lebih layak dengannya daripada mereka. Oleh karena itu Dia berfir-man, ﴾ وَمَا كَانُوٓاْ ﴿ "Dan mereka bukanlah", yakni orang-orang musyrik itu ﴾ أَوۡلِيَآءَهُۥٓۚ ﴿ "orang-orang yang berhak menguasainya." Ada kemung-kinan dhamir (kata ganti)nya kembali kepada Allah, yakni wali-wali Allah, ada kemungkinan ia kembali ke Masjidil Haram, yakni me-reka tidak lebih berhak terhadapnya daripada orang lain. ﴾ إِنۡ أَوۡلِيَآؤُهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُتَّقُونَ ﴿ "Orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa." Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, mengesakanNya dengan tauhid dan ibadah dan mengikhlaskan agama hanya untukNya. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Te-tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." Oleh karena itu mereka mengklaim perkara padahal orang lain lebih berhak terhadap per-kara tersebut daripada mereka.

Al-Anfal 8:33

"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala.' Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, 'Ya Allah, jika betul (al-Qur`an) ini, ialah yang benar dari sisiMu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.' Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai-(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-Anfal: 31-34). (31) Allah berfirman menjelaskan kebengalan orang-orang yang mendustakan Rasulullah ﷺ, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا ﴿ "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami", yang menunjukkan kebe-naran apa yang dibawa oleh Rasulullah,﴾ قَالُواْ قَدۡ سَمِعۡنَا لَوۡ نَشَآءُ لَقُلۡنَا مِثۡلَ هَٰذَآ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah men-dengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala'." Ini termasuk penging-karan dan kezhaliman mereka, padahal sebenarnya Allah telah menantang mereka untuk menghadirkan satu surat yang seperti-nya dan memanggil siapa pun yang mampu selain Allah, namun mereka tidak mampu untuk itu, dan ketidakmampuan mereka ter-bukti. Ucapan yang diucapkan oleh orang ini hanyalah klaim kosong yang didustakan oleh realita. Telah diketahui bahwa Nabi ﷺ adalah Ummi, tidak membaca, tidak menulis, tidak pula bepergian untuk mempelajari berita-berita orang-orang terdahulu, lalu beliau hadir dengan Kitab yang mulia ini yang tidak ada kebatilan yang datang di depannya dan tidak pula dari belakangnya, yang turun dari Yang Mahabijak lagi Maha Terpuji. (32) ﴾ وَإِذۡ قَالُواْ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا ﴿ "Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, 'Ya Allah, jika betul (al-Qur`an) ini,' yang mana Muhammad berdakwah kepadanya, ﴾ هُوَ ٱلۡحَقَّ مِنۡ عِندِكَ فَأَمۡطِرۡ عَلَيۡنَا حِجَارَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ أَوِ ٱئۡتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ 'adalah yang benar dari sisiMu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih'." Mereka mengucapkan itu dengan penuh keyaki-nan karena kebatilan dan kebodohan mereka terhadap ucapan yang pantas. Seandainya mereka –apabila mereka tetap memegang syub-hat dan tipu daya batil yang semestinya membuat mereka tahu dan yakin terhadapnya– berkata kepada orang yang mendebat mereka dan mengklaim bahwa kebenaran ada padanya, "Jika memang ini adalah kebenaran darimu maka tunjukkan kami kepadanya," nis-caya hal itu lebih utama dan lebih menutupi kezhaliman mereka, sejak mereka berkata, ﴾ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا هُوَ ٱلۡحَقَّ مِنۡ عِندِكَ ﴿ "Ya Allah jika betul al-Qur`an ini ialah yang benar dari sisiMu." Dengan hanya perkataan ini saja telah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang bodoh, dungu, pandir, dan zhalim. (33) Seandainya Allah menyegerakan azabNya, niscaya tiada yang tertinggal, akan tetapi Allah تعالى menunda azabNya disebab-kan oleh keberadaan Rasulullah di antara mereka. Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka." Keberadaan Rasulullah ﷺ di antara mereka adalah pelindung dari azab. Dan dengan per-kataan yang mereka ucapkan secara terbuka di depan khalayak, mereka menyadari keburukannya, mereka khawatir ia akan me-nimpa mereka, maka mereka memohon ampun kepada Allah. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ﴿ "Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun." Ini adalah pencegah azab dari mereka padahal sebab-sebab turunnya azab itu telah tercapai. (34) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَمَا لَهُمۡ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Kenapa Allah tidak mengazab mereka", yakni apa yang menghalangi mereka dari azab Allah, padahal mereka telah melakukan sebab-sebabnya? Yaitu menghalang-halangi manusia dari Masjidil Haram, lebih-lebih mereka menghalangi Nabi ﷺ dan para sahabat yang sebenarnya lebih layak dengannya daripada mereka. Oleh karena itu Dia berfir-man, ﴾ وَمَا كَانُوٓاْ ﴿ "Dan mereka bukanlah", yakni orang-orang musyrik itu ﴾ أَوۡلِيَآءَهُۥٓۚ ﴿ "orang-orang yang berhak menguasainya." Ada kemung-kinan dhamir (kata ganti)nya kembali kepada Allah, yakni wali-wali Allah, ada kemungkinan ia kembali ke Masjidil Haram, yakni me-reka tidak lebih berhak terhadapnya daripada orang lain. ﴾ إِنۡ أَوۡلِيَآؤُهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُتَّقُونَ ﴿ "Orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa." Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, mengesakanNya dengan tauhid dan ibadah dan mengikhlaskan agama hanya untukNya. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Te-tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." Oleh karena itu mereka mengklaim perkara padahal orang lain lebih berhak terhadap per-kara tersebut daripada mereka.

Al-Anfal 8:34

"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala.' Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, 'Ya Allah, jika betul (al-Qur`an) ini, ialah yang benar dari sisiMu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.' Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai-(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-Anfal: 31-34). (31) Allah berfirman menjelaskan kebengalan orang-orang yang mendustakan Rasulullah ﷺ, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا ﴿ "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami", yang menunjukkan kebe-naran apa yang dibawa oleh Rasulullah,﴾ قَالُواْ قَدۡ سَمِعۡنَا لَوۡ نَشَآءُ لَقُلۡنَا مِثۡلَ هَٰذَآ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah men-dengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala'." Ini termasuk penging-karan dan kezhaliman mereka, padahal sebenarnya Allah telah menantang mereka untuk menghadirkan satu surat yang seperti-nya dan memanggil siapa pun yang mampu selain Allah, namun mereka tidak mampu untuk itu, dan ketidakmampuan mereka ter-bukti. Ucapan yang diucapkan oleh orang ini hanyalah klaim kosong yang didustakan oleh realita. Telah diketahui bahwa Nabi ﷺ adalah Ummi, tidak membaca, tidak menulis, tidak pula bepergian untuk mempelajari berita-berita orang-orang terdahulu, lalu beliau hadir dengan Kitab yang mulia ini yang tidak ada kebatilan yang datang di depannya dan tidak pula dari belakangnya, yang turun dari Yang Mahabijak lagi Maha Terpuji. (32) ﴾ وَإِذۡ قَالُواْ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا ﴿ "Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, 'Ya Allah, jika betul (al-Qur`an) ini,' yang mana Muhammad berdakwah kepadanya, ﴾ هُوَ ٱلۡحَقَّ مِنۡ عِندِكَ فَأَمۡطِرۡ عَلَيۡنَا حِجَارَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ أَوِ ٱئۡتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ 'adalah yang benar dari sisiMu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih'." Mereka mengucapkan itu dengan penuh keyaki-nan karena kebatilan dan kebodohan mereka terhadap ucapan yang pantas. Seandainya mereka –apabila mereka tetap memegang syub-hat dan tipu daya batil yang semestinya membuat mereka tahu dan yakin terhadapnya– berkata kepada orang yang mendebat mereka dan mengklaim bahwa kebenaran ada padanya, "Jika memang ini adalah kebenaran darimu maka tunjukkan kami kepadanya," nis-caya hal itu lebih utama dan lebih menutupi kezhaliman mereka, sejak mereka berkata, ﴾ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا هُوَ ٱلۡحَقَّ مِنۡ عِندِكَ ﴿ "Ya Allah jika betul al-Qur`an ini ialah yang benar dari sisiMu." Dengan hanya perkataan ini saja telah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang bodoh, dungu, pandir, dan zhalim. (33) Seandainya Allah menyegerakan azabNya, niscaya tiada yang tertinggal, akan tetapi Allah تعالى menunda azabNya disebab-kan oleh keberadaan Rasulullah di antara mereka. Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka." Keberadaan Rasulullah ﷺ di antara mereka adalah pelindung dari azab. Dan dengan per-kataan yang mereka ucapkan secara terbuka di depan khalayak, mereka menyadari keburukannya, mereka khawatir ia akan me-nimpa mereka, maka mereka memohon ampun kepada Allah. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ﴿ "Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun." Ini adalah pencegah azab dari mereka padahal sebab-sebab turunnya azab itu telah tercapai. (34) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَمَا لَهُمۡ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "Kenapa Allah tidak mengazab mereka", yakni apa yang menghalangi mereka dari azab Allah, padahal mereka telah melakukan sebab-sebabnya? Yaitu menghalang-halangi manusia dari Masjidil Haram, lebih-lebih mereka menghalangi Nabi ﷺ dan para sahabat yang sebenarnya lebih layak dengannya daripada mereka. Oleh karena itu Dia berfir-man, ﴾ وَمَا كَانُوٓاْ ﴿ "Dan mereka bukanlah", yakni orang-orang musyrik itu ﴾ أَوۡلِيَآءَهُۥٓۚ ﴿ "orang-orang yang berhak menguasainya." Ada kemung-kinan dhamir (kata ganti)nya kembali kepada Allah, yakni wali-wali Allah, ada kemungkinan ia kembali ke Masjidil Haram, yakni me-reka tidak lebih berhak terhadapnya daripada orang lain. ﴾ إِنۡ أَوۡلِيَآؤُهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُتَّقُونَ ﴿ "Orang-orang yang berhak menguasai(nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa." Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, mengesakanNya dengan tauhid dan ibadah dan mengikhlaskan agama hanya untukNya. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Te-tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." Oleh karena itu mereka mengklaim perkara padahal orang lain lebih berhak terhadap per-kara tersebut daripada mereka.

Al-Anfal 8:35

"Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan keka-firanmu itu." (Al-Anfal: 35). (35) Yakni, bahwa Allah تعالى hanya menjadikan Baitul Haram agar agamaNya ditegakkan padanya dan diikhlaskan ibadah untuk-Nya di dalamnya. Orang-orang Mukminlah yang dapat menegakkan perkara ini. Adapun orang-orang musyrik yang menghalang-halangi manusia darinya, maka shalat mereka padanya –yang merupakan ibadah terbesar– ﴾ إِلَّا مُكَآءٗ وَتَصۡدِيَةٗۚ ﴿ "tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan," kelakuan orang-orang bodoh lagi dungu, orang-orang yang di dalam hati mereka tidak terdapat sedikit pun peng-agungan kepada Rabbnya tidak pula mengetahui hak-hakNya, tidak pula penghormatan terhadap belahan bumi paling mulia dan paling utama. Jika shalat mereka padanya adalah demikian, lalu bagaimana dengan ibadah-ibadah yang lain? Dengan alasan apa mereka merasa lebih berhak terhadap Baitullah daripada orang-orang Mukmin, yang shalat mereka padanya adalah shalat yang khusyu', orang-orang yang berpaling dari perkara-perkara yang tidak berguna… dan sifat-sifat terpuji lainnya serta perbuatan-perbuatan baik yang dijelaskan oleh Allah, tidak aneh kalau Allah mewariskan Baitullah al-Haram kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai pengua-sanya. Setelah Allah menjadikan mereka sebagai penguasanya, Dia berfirman kepada orang-orang yang beriman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini." (At-Taubah: 28). Dan di sini Dia berfirman, ﴾ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu."

Al-Anfal 8:36

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kese-muanya ditumpukkanNya, dan dimasukkanNya ke dalam Neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi." (Al-Anfal: 36-37). (36) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan permu-suhan orang-orang kafir, tipu daya dan makar mereka, serta per-lawanan mereka kepada Allah dan RasulNya, dan usaha mereka untuk memadamkan cahaya dan kalimatNya, dan bahwa akibat makar mereka akan kembali kepada diri mereka sendiri, dan makar yang buruk tidak akan menimpa kecuali pelakunya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ لِيَصُدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah." Yakni untuk membatalkan kebenaran dan menyokong keba-tilan, membatalkan tauhid dan menegakkan penyembahan kepada berhala. ﴾ فَسَيُنفِقُونَهَا ﴿ "Mereka akan menafkahkan harta itu." Mereka menge-luarkan nafkah ini dengan ringan karena keteguhan mereka me-megang kebatilan dan kebencian mereka yang mendalam terhadap kebenaran, akan tetapi ia akan menjadi ﴾ عَلَيۡهِمۡ حَسۡرَةٗ ﴿ "sesalan bagi mereka," kehinaan dan kerendahan. ﴾ ثُمَّ يُغۡلَبُونَۗ ﴿ "Dan mereka akan dikalahkan." Lalu harta dan angan-angan mereka lenyap, sedangkan di akhirat diazab dengan azab yang keras. Oleh karena itu Dia ber-firman, ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحۡشَرُونَ ﴿ "Dan ke dalam Neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan." Di dalamnya mereka dikum-pulkan untuk merasakan azab neraka, karena ia adalah tempat keburukan dan orang-orang yang buruk. (37) Allah تعالى ingin membedakan antara yang buruk dengan yang baik, dan masing-masing dari keduanya diletakkan di tempat-nya yang khusus. Dia menjadikan yang buruk dari perbuatan, harta dan pelaku kebaikan sebagiannya di atas sebagian yang lain. ﴾ فَيَرۡكُمَهُۥ جَمِيعٗا فَيَجۡعَلَهُۥ فِي جَهَنَّمَۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Lalu kesemuanya ditumpukkanNya, dan dimasukkanNya ke dalam Neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi." Orang-orang yang rugi diri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat, itulah kerugian yang nyata.

Al-Anfal 8:37

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kese-muanya ditumpukkanNya, dan dimasukkanNya ke dalam Neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi." (Al-Anfal: 36-37). (36) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan permu-suhan orang-orang kafir, tipu daya dan makar mereka, serta per-lawanan mereka kepada Allah dan RasulNya, dan usaha mereka untuk memadamkan cahaya dan kalimatNya, dan bahwa akibat makar mereka akan kembali kepada diri mereka sendiri, dan makar yang buruk tidak akan menimpa kecuali pelakunya. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ لِيَصُدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah." Yakni untuk membatalkan kebenaran dan menyokong keba-tilan, membatalkan tauhid dan menegakkan penyembahan kepada berhala. ﴾ فَسَيُنفِقُونَهَا ﴿ "Mereka akan menafkahkan harta itu." Mereka menge-luarkan nafkah ini dengan ringan karena keteguhan mereka me-megang kebatilan dan kebencian mereka yang mendalam terhadap kebenaran, akan tetapi ia akan menjadi ﴾ عَلَيۡهِمۡ حَسۡرَةٗ ﴿ "sesalan bagi mereka," kehinaan dan kerendahan. ﴾ ثُمَّ يُغۡلَبُونَۗ ﴿ "Dan mereka akan dikalahkan." Lalu harta dan angan-angan mereka lenyap, sedangkan di akhirat diazab dengan azab yang keras. Oleh karena itu Dia ber-firman, ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحۡشَرُونَ ﴿ "Dan ke dalam Neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan." Di dalamnya mereka dikum-pulkan untuk merasakan azab neraka, karena ia adalah tempat keburukan dan orang-orang yang buruk. (37) Allah تعالى ingin membedakan antara yang buruk dengan yang baik, dan masing-masing dari keduanya diletakkan di tempat-nya yang khusus. Dia menjadikan yang buruk dari perbuatan, harta dan pelaku kebaikan sebagiannya di atas sebagian yang lain. ﴾ فَيَرۡكُمَهُۥ جَمِيعٗا فَيَجۡعَلَهُۥ فِي جَهَنَّمَۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Lalu kesemuanya ditumpukkanNya, dan dimasukkanNya ke dalam Neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi." Orang-orang yang rugi diri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat, itulah kerugian yang nyata.

Al-Anfal 8:38

"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, 'Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni me-reka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.' Dan perangilah mereka, su-paya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (Al-Anfal: 38-40). (38) Ini termasuk kasih sayang Allah تعالى kepada hamba-hambaNya. Kekufuran mereka dan keberadaan mereka dalam penentangan secara terus menerus tidak menghalangiNya untuk mengajak mereka ke jalan petunjuk yang lurus dan mencegah mereka dari segala perkara yang menjadi penyebab kesesatan dan kebina-saan. Dia berfirman, ﴾ قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِن يَنتَهُواْ ﴿ "Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, 'Jika mereka berhenti (dari kekafirannya)'." Hal itu dengan masuk ke dalam Islam hanya karena Allah semata, tanpa sekutu bagiNya, ﴾ يُغۡفَرۡ لَهُم مَّا قَدۡ سَلَفَ ﴿ "niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu", dari kejahatan-keja-hatan mereka. ﴾ وَإِن يَعُودُواْ ﴿ "Dan jika mereka kembali", kepada kekufuran dan penentangan, ﴾ فَقَدۡ مَضَتۡ سُنَّتُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu." Dengan dibinasakannya umat-umat yang mendustakan. Maka hendaknya mereka melihat apa yang menimpa orang-orang yang menentang. Akan hadir kepada mereka berita-berita yang sebelumnya mereka perolok-olokkan. Ini adalah FirmanNya kepada orang-orang yang mendustakan. (39) Adapun FirmanNya kepada orang-orang Mukmin ketika Dia memerintahkan mereka untuk memperlakukan orang-orang kafir, Dia berfirman, ﴾ وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ ﴿ "Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah." Yakni syirik dan usaha mengha-langi jalan Allah, sehingga mereka tunduk kepada hukum Islam. ﴾ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ ﴿ "Dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." Inilah maksud dari jihad dan perang melawan musuh-musuh aga-ma, yakni menepis kejahatan mereka dari agama, dan melindungi agama yang mana Allah menciptakan makhluk karenanya, sehingga ialah yang unggul di atas agama-agama yang lain. ﴾ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ ﴿ "Jika mereka berhenti (dari kekafiran)", dari kezhaliman yang mereka ikuti, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." Tidak sedikit pun dari mereka yang samar bagiNya. (40) ﴾ وَإِن تَوَلَّوۡاْ ﴿ "Dan jika mereka berpaling", dari ketaatan dan terbenam ke dalam kelalaian, ﴾ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَىٰكُمۡۚ نِعۡمَ ٱلۡمَوۡلَىٰ ﴿ "maka keta-huilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung", yang melindungi orang-orang yang beriman, menyampaikan ke-baikan kepada mereka, dan memudahkan urusan dunia dan agama mereka, ﴾ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ ﴿ "dan sebaik-baik Penolong", yang menolong me-reka dan menolak dari mereka tipu daya orang-orang busuk serta jebakan orang-orang jahat. Barangsiapa penolong dan pelindung-nya adalah Allah, maka tidak ada ketakutan baginya, dan barang-siapa yang Allah tidak menolongnya, maka tidak ada kemuliaan ataupun kemenangan untuknya.

Al-Anfal 8:39

"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, 'Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni me-reka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.' Dan perangilah mereka, su-paya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (Al-Anfal: 38-40). (38) Ini termasuk kasih sayang Allah تعالى kepada hamba-hambaNya. Kekufuran mereka dan keberadaan mereka dalam penentangan secara terus menerus tidak menghalangiNya untuk mengajak mereka ke jalan petunjuk yang lurus dan mencegah mereka dari segala perkara yang menjadi penyebab kesesatan dan kebina-saan. Dia berfirman, ﴾ قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِن يَنتَهُواْ ﴿ "Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, 'Jika mereka berhenti (dari kekafirannya)'." Hal itu dengan masuk ke dalam Islam hanya karena Allah semata, tanpa sekutu bagiNya, ﴾ يُغۡفَرۡ لَهُم مَّا قَدۡ سَلَفَ ﴿ "niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu", dari kejahatan-keja-hatan mereka. ﴾ وَإِن يَعُودُواْ ﴿ "Dan jika mereka kembali", kepada kekufuran dan penentangan, ﴾ فَقَدۡ مَضَتۡ سُنَّتُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu." Dengan dibinasakannya umat-umat yang mendustakan. Maka hendaknya mereka melihat apa yang menimpa orang-orang yang menentang. Akan hadir kepada mereka berita-berita yang sebelumnya mereka perolok-olokkan. Ini adalah FirmanNya kepada orang-orang yang mendustakan. (39) Adapun FirmanNya kepada orang-orang Mukmin ketika Dia memerintahkan mereka untuk memperlakukan orang-orang kafir, Dia berfirman, ﴾ وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ ﴿ "Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah." Yakni syirik dan usaha mengha-langi jalan Allah, sehingga mereka tunduk kepada hukum Islam. ﴾ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ ﴿ "Dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." Inilah maksud dari jihad dan perang melawan musuh-musuh aga-ma, yakni menepis kejahatan mereka dari agama, dan melindungi agama yang mana Allah menciptakan makhluk karenanya, sehingga ialah yang unggul di atas agama-agama yang lain. ﴾ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ ﴿ "Jika mereka berhenti (dari kekafiran)", dari kezhaliman yang mereka ikuti, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." Tidak sedikit pun dari mereka yang samar bagiNya. (40) ﴾ وَإِن تَوَلَّوۡاْ ﴿ "Dan jika mereka berpaling", dari ketaatan dan terbenam ke dalam kelalaian, ﴾ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَىٰكُمۡۚ نِعۡمَ ٱلۡمَوۡلَىٰ ﴿ "maka keta-huilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung", yang melindungi orang-orang yang beriman, menyampaikan ke-baikan kepada mereka, dan memudahkan urusan dunia dan agama mereka, ﴾ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ ﴿ "dan sebaik-baik Penolong", yang menolong me-reka dan menolak dari mereka tipu daya orang-orang busuk serta jebakan orang-orang jahat. Barangsiapa penolong dan pelindung-nya adalah Allah, maka tidak ada ketakutan baginya, dan barang-siapa yang Allah tidak menolongnya, maka tidak ada kemuliaan ataupun kemenangan untuknya.

Al-Anfal 8:40

"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, 'Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni me-reka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.' Dan perangilah mereka, su-paya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (Al-Anfal: 38-40). (38) Ini termasuk kasih sayang Allah تعالى kepada hamba-hambaNya. Kekufuran mereka dan keberadaan mereka dalam penentangan secara terus menerus tidak menghalangiNya untuk mengajak mereka ke jalan petunjuk yang lurus dan mencegah mereka dari segala perkara yang menjadi penyebab kesesatan dan kebina-saan. Dia berfirman, ﴾ قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِن يَنتَهُواْ ﴿ "Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, 'Jika mereka berhenti (dari kekafirannya)'." Hal itu dengan masuk ke dalam Islam hanya karena Allah semata, tanpa sekutu bagiNya, ﴾ يُغۡفَرۡ لَهُم مَّا قَدۡ سَلَفَ ﴿ "niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu", dari kejahatan-keja-hatan mereka. ﴾ وَإِن يَعُودُواْ ﴿ "Dan jika mereka kembali", kepada kekufuran dan penentangan, ﴾ فَقَدۡ مَضَتۡ سُنَّتُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu." Dengan dibinasakannya umat-umat yang mendustakan. Maka hendaknya mereka melihat apa yang menimpa orang-orang yang menentang. Akan hadir kepada mereka berita-berita yang sebelumnya mereka perolok-olokkan. Ini adalah FirmanNya kepada orang-orang yang mendustakan. (39) Adapun FirmanNya kepada orang-orang Mukmin ketika Dia memerintahkan mereka untuk memperlakukan orang-orang kafir, Dia berfirman, ﴾ وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ ﴿ "Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah." Yakni syirik dan usaha mengha-langi jalan Allah, sehingga mereka tunduk kepada hukum Islam. ﴾ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ ﴿ "Dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." Inilah maksud dari jihad dan perang melawan musuh-musuh aga-ma, yakni menepis kejahatan mereka dari agama, dan melindungi agama yang mana Allah menciptakan makhluk karenanya, sehingga ialah yang unggul di atas agama-agama yang lain. ﴾ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ ﴿ "Jika mereka berhenti (dari kekafiran)", dari kezhaliman yang mereka ikuti, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." Tidak sedikit pun dari mereka yang samar bagiNya. (40) ﴾ وَإِن تَوَلَّوۡاْ ﴿ "Dan jika mereka berpaling", dari ketaatan dan terbenam ke dalam kelalaian, ﴾ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَىٰكُمۡۚ نِعۡمَ ٱلۡمَوۡلَىٰ ﴿ "maka keta-huilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung", yang melindungi orang-orang yang beriman, menyampaikan ke-baikan kepada mereka, dan memudahkan urusan dunia dan agama mereka, ﴾ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ ﴿ "dan sebaik-baik Penolong", yang menolong me-reka dan menolak dari mereka tipu daya orang-orang busuk serta jebakan orang-orang jahat. Barangsiapa penolong dan pelindung-nya adalah Allah, maka tidak ada ketakutan baginya, dan barang-siapa yang Allah tidak menolongnya, maka tidak ada kemuliaan ataupun kemenangan untuknya.

Al-Anfal 8:41

"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnus sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di Hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu. (Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertem-puran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan kete-rangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-Anfal: 41-42). (41) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ ﴿ "Ketahuilah, se-sungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang." Yakni harta orang kafir yang kamu ambil dengan cara kekuatan yang dibenarkan, banyak ataupun sedikit, ﴾ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ ﴿ "maka se-sungguhnya seperlima untuk Allah", yakni, sisanya adalah untukmu wahai pasukan perang, karena Allah menisbatkan ghanimah terse-but kepada mereka dan mengeluarkan seperlimanya darinya. Ini menunjukkan bahwa sisanya adalah untuk mereka, dibagi seperti pembagian Rasululah: untuk pasukan berjalan kaki satu bagian dan untuk yang berkuda tiga bagian, dua untuk kudanya dan satu untuk penunggangnya. Adapun yang seperlima itu maka ia dibagi menjadi lima bagian: Satu bagian untuk Allah dan RasulNya, yang didistribusikan untuk kepentingan kaum Muslimin secara umum tanpa pengkhu-susan, karena Allah menjadikannya untukNya dan untuk RasulNya, sementara keduanya tidak memerlukannya, dari sini diketahui bahwa ia untuk hamba-hamba Allah, jika Allah tidak menentukan pos distribusinya maka itu menunjukkan bahwa ia untuk kepen-tingan umum kaum Muslimin. Bagian kedua adalah untuk kerabat Nabi ﷺ dari Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib. Allah menisbatkannya kepada kerabat ada-lah merupakan dalil bahwa illatnya hanyalah kekerabatan semata, maka tidak ada beda antara kaya, miskin, laki-laki, dan perempuan di kalangan mereka. Bagian ketiga adalah untuk anak-anak yatim, yaitu anak-anak yang ditinggal mati oleh bapak mereka sedangkan mereka masih kecil. Allah memberikan satu bagian dari seperlima untuk menyan-tuni mereka, di mana mereka belum mampu memenuhi kebutuhan mereka secara mandiri, sementara orang yang mengurusi kebutuhan mereka telah wafat. Bagian keempat adalah untuk orang-orang miskin, yaitu orang-orang yang membutuhkan, baik besar, kecil, laki-laki, dan perempuan. Bagian kelima adalah untuk ibnu sabil, yaitu orang asing yang kehilangan bekal di selain negerinya. Sebagian ahli tafsir menyata-kan bahwa seperlima dari ghanimah tidak harus dikeluarkan untuk semua lima kelompok ini, dan tidak harus disamaratakan, akan te-tapi hal itu disesuaikan dengan kemaslahatan. Dan ini lebih utama. Allah menjadikan penunaian terhadap seperlima dengan sebaik-baiknya sebagai syarat iman. Dia berfirman, ﴾ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا يَوۡمَ ٱلۡفُرۡقَانِ ﴿ "Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di Hari Furqan." Yakni hari Perang Badar, di mana pada hari itu Allah membedakan antara yang haq dengan yang batil. Dia memenangkan yang haq dan membatalkan yang batil. ﴾ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِۗ ﴿ "Yaitu di hari bertemu-nya dua pasukan." Pasukan Muslimin dan pasukan kafirin. Yakni, jika imanmu kepada Allah dan kepada kebenaran yang Allah turun-kan kepada RasulNya pada Hari Furqan yang mana pada hari itu terlihat tanda-tanda dan bukti-bukti kebenaran yang menunjukkan bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad adalah benar. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada seorang pun yang melawannya kecuali kalah. (42) ﴾ إِذۡ أَنتُم بِٱلۡعُدۡوَةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat." Yakni di pinggir lembah yang dekat de-ngan Madinah, sementara mereka di pinggirnya (yang lain) yang jauh dari Madinah. Satu lembah telah mengumpulkan kamu dengan mereka ﴾ وَٱلرَّكۡبُ ﴿ "sedang kafilah" yang kamu incar dan itu bukan-lah yang diinginkan oleh Allah ﴾ أَسۡفَلَ مِنكُمۡۚ ﴿ "berada di bawah kamu," melewati pinggir laut. ﴾ وَلَوۡ تَوَاعَدتُّمۡ ﴿ "Sekiranya kamu mengadakan per-setujuan (untuk menentukan hari pertempuran)", dengan mereka sesuai dengan kondisi dan keadaan tersebut ﴾ لَٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِي ٱلۡمِيعَٰدِ ﴿ "pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu." Yakni pasti ada maju mundurnya atau pemilihan tempat dan lain-lain sebagai-nya yang memalingkanmu atau mereka dari perjanjian. Akan tetapi Allah-lah yang mengumpulkanmu dengan mereka dalam kondisi tersebut. ﴾ لِّيَقۡضِيَ ٱللَّهُ أَمۡرٗا كَانَ مَفۡعُولٗا ﴿ "Agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan", yang telah ditakdirkan sejak azali yang mesti terjadi. ﴾ لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٖ ﴿ "Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata." Yakni supaya ia menjadi hujjah dan bukti bagi penentang, sehingga ketika dia memilih ke-kufuran dengan dasar ilmu dan keyakinan terhadap kebatilannya, maka tidak ada lagi alasan baginya di hadapan Allah. ﴾ وَيَحۡيَىٰ مَنۡ حَيَّ عَنۢ بَيِّنَةٖۗ ﴿ "Dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)." Yakni bashirah dan keyakinan orang Mukmin bertambah dengan bukti-bukti kebenaran yang ditunjukkan oleh Allah kepada kedua kelompok yang cukup menjadi peringatan bagi orang-orang yang berakal. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Maha Mendengar segala suara dengan bahasa yang beraneka ragam dan keperluan yang bermacam-macam, Maha Mengetahui yang lahir, yang batin, yang rahasia, yang ghaib, dan yang nampak.

Al-Anfal 8:42

"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnus sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di Hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu. (Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertem-puran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan kete-rangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-Anfal: 41-42). (41) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ ﴿ "Ketahuilah, se-sungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang." Yakni harta orang kafir yang kamu ambil dengan cara kekuatan yang dibenarkan, banyak ataupun sedikit, ﴾ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ ﴿ "maka se-sungguhnya seperlima untuk Allah", yakni, sisanya adalah untukmu wahai pasukan perang, karena Allah menisbatkan ghanimah terse-but kepada mereka dan mengeluarkan seperlimanya darinya. Ini menunjukkan bahwa sisanya adalah untuk mereka, dibagi seperti pembagian Rasululah: untuk pasukan berjalan kaki satu bagian dan untuk yang berkuda tiga bagian, dua untuk kudanya dan satu untuk penunggangnya. Adapun yang seperlima itu maka ia dibagi menjadi lima bagian: Satu bagian untuk Allah dan RasulNya, yang didistribusikan untuk kepentingan kaum Muslimin secara umum tanpa pengkhu-susan, karena Allah menjadikannya untukNya dan untuk RasulNya, sementara keduanya tidak memerlukannya, dari sini diketahui bahwa ia untuk hamba-hamba Allah, jika Allah tidak menentukan pos distribusinya maka itu menunjukkan bahwa ia untuk kepen-tingan umum kaum Muslimin. Bagian kedua adalah untuk kerabat Nabi ﷺ dari Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib. Allah menisbatkannya kepada kerabat ada-lah merupakan dalil bahwa illatnya hanyalah kekerabatan semata, maka tidak ada beda antara kaya, miskin, laki-laki, dan perempuan di kalangan mereka. Bagian ketiga adalah untuk anak-anak yatim, yaitu anak-anak yang ditinggal mati oleh bapak mereka sedangkan mereka masih kecil. Allah memberikan satu bagian dari seperlima untuk menyan-tuni mereka, di mana mereka belum mampu memenuhi kebutuhan mereka secara mandiri, sementara orang yang mengurusi kebutuhan mereka telah wafat. Bagian keempat adalah untuk orang-orang miskin, yaitu orang-orang yang membutuhkan, baik besar, kecil, laki-laki, dan perempuan. Bagian kelima adalah untuk ibnu sabil, yaitu orang asing yang kehilangan bekal di selain negerinya. Sebagian ahli tafsir menyata-kan bahwa seperlima dari ghanimah tidak harus dikeluarkan untuk semua lima kelompok ini, dan tidak harus disamaratakan, akan te-tapi hal itu disesuaikan dengan kemaslahatan. Dan ini lebih utama. Allah menjadikan penunaian terhadap seperlima dengan sebaik-baiknya sebagai syarat iman. Dia berfirman, ﴾ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا يَوۡمَ ٱلۡفُرۡقَانِ ﴿ "Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di Hari Furqan." Yakni hari Perang Badar, di mana pada hari itu Allah membedakan antara yang haq dengan yang batil. Dia memenangkan yang haq dan membatalkan yang batil. ﴾ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِۗ ﴿ "Yaitu di hari bertemu-nya dua pasukan." Pasukan Muslimin dan pasukan kafirin. Yakni, jika imanmu kepada Allah dan kepada kebenaran yang Allah turun-kan kepada RasulNya pada Hari Furqan yang mana pada hari itu terlihat tanda-tanda dan bukti-bukti kebenaran yang menunjukkan bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad adalah benar. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada seorang pun yang melawannya kecuali kalah. (42) ﴾ إِذۡ أَنتُم بِٱلۡعُدۡوَةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat." Yakni di pinggir lembah yang dekat de-ngan Madinah, sementara mereka di pinggirnya (yang lain) yang jauh dari Madinah. Satu lembah telah mengumpulkan kamu dengan mereka ﴾ وَٱلرَّكۡبُ ﴿ "sedang kafilah" yang kamu incar dan itu bukan-lah yang diinginkan oleh Allah ﴾ أَسۡفَلَ مِنكُمۡۚ ﴿ "berada di bawah kamu," melewati pinggir laut. ﴾ وَلَوۡ تَوَاعَدتُّمۡ ﴿ "Sekiranya kamu mengadakan per-setujuan (untuk menentukan hari pertempuran)", dengan mereka sesuai dengan kondisi dan keadaan tersebut ﴾ لَٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِي ٱلۡمِيعَٰدِ ﴿ "pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu." Yakni pasti ada maju mundurnya atau pemilihan tempat dan lain-lain sebagai-nya yang memalingkanmu atau mereka dari perjanjian. Akan tetapi Allah-lah yang mengumpulkanmu dengan mereka dalam kondisi tersebut. ﴾ لِّيَقۡضِيَ ٱللَّهُ أَمۡرٗا كَانَ مَفۡعُولٗا ﴿ "Agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan", yang telah ditakdirkan sejak azali yang mesti terjadi. ﴾ لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٖ ﴿ "Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata." Yakni supaya ia menjadi hujjah dan bukti bagi penentang, sehingga ketika dia memilih ke-kufuran dengan dasar ilmu dan keyakinan terhadap kebatilannya, maka tidak ada lagi alasan baginya di hadapan Allah. ﴾ وَيَحۡيَىٰ مَنۡ حَيَّ عَنۢ بَيِّنَةٖۗ ﴿ "Dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)." Yakni bashirah dan keyakinan orang Mukmin bertambah dengan bukti-bukti kebenaran yang ditunjukkan oleh Allah kepada kedua kelompok yang cukup menjadi peringatan bagi orang-orang yang berakal. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Maha Mendengar segala suara dengan bahasa yang beraneka ragam dan keperluan yang bermacam-macam, Maha Mengetahui yang lahir, yang batin, yang rahasia, yang ghaib, dan yang nampak.

Al-Anfal 8:43

"(Yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memper-lihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak, tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan mata-mu dan kamu ditampakkanNya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan." (Al-Anfal: 43-44). (43-44) Allah memperlihatkan dalam mimpi Rasulullah ﷺ, bahwa orang-orang musyrik berjumlah sedikit, kemudian Rasulullah menyampaikan berita gembira itu kepada sahabat-sahabatnya, maka hati mereka pun menjadi tenang dan teguh. ﴾ وَلَوۡ أَرَىٰكَهُمۡ كَثِيرٗا ﴿ "Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak", lalu kamu menyampaikan hal itu kepada sahabat-sahabatmu, ﴾ لَّفَشِلۡتُمۡ وَلَتَنَٰزَعۡتُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِ ﴿ "tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu." Di antara kamu ada yang berpendapat meneruskan perang, ada pula yang tidak berpendapat demikian, dan percekcokan adalah pemicu kekalahan. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ سَلَّمَۚ ﴿ "Akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu." Yakni melindungimu. ﴾ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati." Yakni keteguhan, kekhawatiran, kejujuran, dan kedustaan yang ada padanya. Allah mengetahui apa yang ada di hatimu yang membuatNya mengasihimu, berlaku baik kepadamu, dan membuk-tikan kebenaran mimpi RasulNya. Allah menampakkan kepada orang-orang Mukmin bahwa seakan-akan musuh-musuh mereka berjumlah sedikit, dan juga menampakkanmu di mata musuhmu seakan-akan kamu berjumlah sedikit. Masing-masing pasukan melihat musuhnya berjumlah sedikit, agar masing-masing berani menghadapi yang lain. ﴾ لِيَقۡضِيَ ٱللَّهُ أَمۡرٗا كَانَ مَفۡعُولٗاۗ ﴿ "Karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan." Yaitu memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin dan menimpakan keka-lahan kepada orang-orang kafir, serta membinasakan para pemim-pin dan pembesar kekufuran dari mereka, sehingga tidak seorang pun dari mereka yang bisa dibanggakan, sehingga setelah itu mereka mudah jika diajak kepada Islam, ia juga menjadi bukti kelembutan bagi yang lain yang Allah beri nikmat Islam. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan." Yakni segala urusan makhluk kembali kepada Allah, maka Dia membedakan yang baik dengan yang buruk, dan memutuskan urusan makhluk dengan adil tanpa sedikit pun kezhaliman.

Al-Anfal 8:44

"(Yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memper-lihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak, tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan mata-mu dan kamu ditampakkanNya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan." (Al-Anfal: 43-44). (43-44) Allah memperlihatkan dalam mimpi Rasulullah ﷺ, bahwa orang-orang musyrik berjumlah sedikit, kemudian Rasulullah menyampaikan berita gembira itu kepada sahabat-sahabatnya, maka hati mereka pun menjadi tenang dan teguh. ﴾ وَلَوۡ أَرَىٰكَهُمۡ كَثِيرٗا ﴿ "Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak", lalu kamu menyampaikan hal itu kepada sahabat-sahabatmu, ﴾ لَّفَشِلۡتُمۡ وَلَتَنَٰزَعۡتُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِ ﴿ "tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu." Di antara kamu ada yang berpendapat meneruskan perang, ada pula yang tidak berpendapat demikian, dan percekcokan adalah pemicu kekalahan. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ سَلَّمَۚ ﴿ "Akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu." Yakni melindungimu. ﴾ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati." Yakni keteguhan, kekhawatiran, kejujuran, dan kedustaan yang ada padanya. Allah mengetahui apa yang ada di hatimu yang membuatNya mengasihimu, berlaku baik kepadamu, dan membuk-tikan kebenaran mimpi RasulNya. Allah menampakkan kepada orang-orang Mukmin bahwa seakan-akan musuh-musuh mereka berjumlah sedikit, dan juga menampakkanmu di mata musuhmu seakan-akan kamu berjumlah sedikit. Masing-masing pasukan melihat musuhnya berjumlah sedikit, agar masing-masing berani menghadapi yang lain. ﴾ لِيَقۡضِيَ ٱللَّهُ أَمۡرٗا كَانَ مَفۡعُولٗاۗ ﴿ "Karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan." Yaitu memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin dan menimpakan keka-lahan kepada orang-orang kafir, serta membinasakan para pemim-pin dan pembesar kekufuran dari mereka, sehingga tidak seorang pun dari mereka yang bisa dibanggakan, sehingga setelah itu mereka mudah jika diajak kepada Islam, ia juga menjadi bukti kelembutan bagi yang lain yang Allah beri nikmat Islam. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan." Yakni segala urusan makhluk kembali kepada Allah, maka Dia membedakan yang baik dengan yang buruk, dan memutuskan urusan makhluk dengan adil tanpa sedikit pun kezhaliman.

Al-Anfal 8:45

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (Nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berbantah-ban-tahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuat-anmu, dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya` kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menga-lahkanmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu', maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri darimu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat, sesungguh-nya saya takut kepada Allah.' Dan Allah sangat keras siksaNya. (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, 'Mereka itu (orang-orang Muk-min) ditipu oleh agamanya.' (Allah berfirman), 'Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Anfal: 45-49). (45) Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمۡ فِئَةٗ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh)." Yakni, sekelompok orang-orang kafir yang memerangi kamu, ﴾ فَٱثۡبُتُواْ ﴿ "maka berteguh hatilah", dalam menghadapi mereka, gunakan kesabaran atas ketaatan besar ini, yang buahnya adalah kemuliaan dan ke-menangan, minta tolonglah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "agar kamu beruntung." Yakni kemenangan atas musuhmu yang kamu inginkan. Jadi, kesabaran, keteguhan dan memperbanyak dzikir kepada Allah adalah penyebab besar kemenangan. (46) ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya", dalam melaksanakan perintah keduanya dan tetaplah demikian dalam segala kondisi. ﴾ وَلَا تَنَٰزَعُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu berbantah-ban-tahan", dengan bantah-bantahan yang menyebabkan perpecahan hati-hati kalian ﴾ فَتَفۡشَلُواْ ﴿ "yang menyebabkan kamu menjadi gentar", yakni takut, ﴾ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ ﴿ "dan hilang kekuatanmu." Yakni tekadmu melempem, kekuatanmu luruh, dan kemenangan yang dijanjikan kepadamu atas ketaatan kepada Allah dan RasulNya hilang lenyap. ﴾ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ ﴿ "Dan bersabarlah", di atas ketaatan kepada Allah. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar", dengan pertolongan, dukungan, dan kemenangan. (47) Khusyu'lah dan tunduklah kepada Rabbmu. ﴾ وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بَطَرٗا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah." Yakni, inilah tujuan mereka keluar berperang, dan inilah yang memicu mereka keluar dari negeri mereka, yaitu demi keangkuhan dan kesombongan di bumi, agar orang-orang melihat dan membanggakan mereka, dan tujuan terbesar adalah bahwa mereka hendak menghalangi dari jalan Allah bagi orang yang me-nitinya. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan." Oleh karena itu Allah memberitahumu tentang tujuan mereka dan memperingatkan agar kamu tidak seperti mereka, ka-rena Allah akan mengazab mereka dengan azab yang sangat berat. Hendaknya tujuanmu dalam peperangan adalah demi mengharap Wajah Allah, meninggikan agama Allah, membendung jalan yang menuju murka dan azab Allah, dan menarik manusia kepada jalan Allah yang lurus yang mengantarkan kepada Surga kenikmatan. (48) ﴾ وَإِذۡ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Dan ketika setan menjadikan me-reka memandang baik pekerjaan mereka", menjadikannya indah dalam hati mereka dan menipunya, ﴾ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ ﴿ "dan me-ngatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengalahkanmu pada hari ini," karena kamu dengan jumlah, senjata dan kondisi yang mana Muhammad dan teman-temannya tidak mampu melawanmu. ﴾ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ ﴿ "Dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Dari siapa pun yang kamu takutkan keburukannya, karena iblis menam-pakkan diri dalam wujud Suraqah bin Malik bin Ju'syum al-Mudliji, dan mereka takut kepada Bani Mudlij karena adanya permusuhan di antara mereka. Setan berkata kepada mereka, "Aku-lah pelindung-mu." Maka tenanglah mereka dan hadir dengan kesombongan dan keyakinan menang. ﴾ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ ﴿ "Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan)", pasukan Muslimin dan pasukan kafirin, lalu tiba-tiba setan melihat Jibril عليه السلام memimpin pasukan malaikat, maka ia sangat ketakutan. ﴾ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ ﴿ "setan itu balik ke belakang", yakni lari terbirit-birit ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada orang yang ia tipu dan perdayai. ﴾ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Sesungguhnya saya berlepas diri darimu, sesungguhnya saya dapat me-lihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat." Yakni aku melihat malaikat yang tak seorang pun sanggup melawannya. ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَۚ ﴿ "Sesungguhnya saya takut kepada Allah." Yakni takut akan menyege-rakan azab kepadaku di dunia. ﴾ وَٱللَّهُ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan Allah sangat keras siksaNya." Ada kemungkinan setan telah menipu mereka dan membisik-kan di dalam dada mereka bahwa mereka tidak akan dikalahkan oleh manusia siapa pun, dan bahwa ia melindungi mereka. Ketika ia berhasil menggiring ke medan perang, maka ia berlepas diri dari mereka dan meninggalkan mereka, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 16 فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ 17 ﴿ "(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, 'Kafirlah kamu', maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'. Maka kesu-dahan keduanya adalah, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam Neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 16-17). (49) ﴾ إِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya ber-kata," yakni keraguan dan syubhat dari orang-orang yang lemah iman terhadap orang-orang yang beriman ketika mereka pergi berperang dengan jumlah minim melawan orang-orang musyrik dengan jum-lah yang besar, ﴾ غَرَّ هَٰٓؤُلَآءِ دِينُهُمۡۗ ﴿ "Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu oleh agamanya." Yakni agama yang mereka anut menggiring mereka ke medan perang ini yang mana mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk memenangkannya. Orang-orang munafik itu mengatakannya untuk melecehkan orang-orang Mukmin dan meng-hina akal mereka padahal justru orang-orang munafik itulah –demi Allah– orang-orang yang bodoh akal dan pikirannya. Karena ke-imanan akan mewajibkan pemiliknya maju menghadapi perkara-perkara besar yang tidak dihadapi oleh pasukan-pasukan besar karena seorang Mukmin yang bertawakal kepada Allah yang me-ngetahui bahwa tidak ada daya, kekuatan, dan kemampuan bagi siapa pun kecuali dengan pertolongan Allah, dan seandainya selu-ruh makhluk bersepakat untuk memberi manfaat sedikit saja kepada seseorang, niscaya mereka tidak mampu melakukannya, begitu pula jika mereka bersepakat untuk memudaratkannya niscaya mereka tidak mampu memudaratkannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tulis atasnya, dan dia mengetahui bahwa dia di atas kebena-ran, bahwa Allah تعالى Mahabijaksana lagi Maha Penyayang dalam semua takdir dan keputusanNya, maka dia tidak akan peduli de-ngan kekuatan dan jumlah yang dia hadapi, dia percaya diri kepada Rabbnya, tenang tanpa rasa takut dan cemas. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Barangsiapa yang tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksa-na." Tak ada kekuatan yang dapat mengalahkannya, ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "lagi Mahabijaksana", dalam keputusanNya.

Al-Anfal 8:46

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (Nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berbantah-ban-tahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuat-anmu, dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya` kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menga-lahkanmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu', maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri darimu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat, sesungguh-nya saya takut kepada Allah.' Dan Allah sangat keras siksaNya. (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, 'Mereka itu (orang-orang Muk-min) ditipu oleh agamanya.' (Allah berfirman), 'Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Anfal: 45-49). (45) Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمۡ فِئَةٗ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh)." Yakni, sekelompok orang-orang kafir yang memerangi kamu, ﴾ فَٱثۡبُتُواْ ﴿ "maka berteguh hatilah", dalam menghadapi mereka, gunakan kesabaran atas ketaatan besar ini, yang buahnya adalah kemuliaan dan ke-menangan, minta tolonglah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "agar kamu beruntung." Yakni kemenangan atas musuhmu yang kamu inginkan. Jadi, kesabaran, keteguhan dan memperbanyak dzikir kepada Allah adalah penyebab besar kemenangan. (46) ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya", dalam melaksanakan perintah keduanya dan tetaplah demikian dalam segala kondisi. ﴾ وَلَا تَنَٰزَعُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu berbantah-ban-tahan", dengan bantah-bantahan yang menyebabkan perpecahan hati-hati kalian ﴾ فَتَفۡشَلُواْ ﴿ "yang menyebabkan kamu menjadi gentar", yakni takut, ﴾ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ ﴿ "dan hilang kekuatanmu." Yakni tekadmu melempem, kekuatanmu luruh, dan kemenangan yang dijanjikan kepadamu atas ketaatan kepada Allah dan RasulNya hilang lenyap. ﴾ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ ﴿ "Dan bersabarlah", di atas ketaatan kepada Allah. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar", dengan pertolongan, dukungan, dan kemenangan. (47) Khusyu'lah dan tunduklah kepada Rabbmu. ﴾ وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بَطَرٗا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah." Yakni, inilah tujuan mereka keluar berperang, dan inilah yang memicu mereka keluar dari negeri mereka, yaitu demi keangkuhan dan kesombongan di bumi, agar orang-orang melihat dan membanggakan mereka, dan tujuan terbesar adalah bahwa mereka hendak menghalangi dari jalan Allah bagi orang yang me-nitinya. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan." Oleh karena itu Allah memberitahumu tentang tujuan mereka dan memperingatkan agar kamu tidak seperti mereka, ka-rena Allah akan mengazab mereka dengan azab yang sangat berat. Hendaknya tujuanmu dalam peperangan adalah demi mengharap Wajah Allah, meninggikan agama Allah, membendung jalan yang menuju murka dan azab Allah, dan menarik manusia kepada jalan Allah yang lurus yang mengantarkan kepada Surga kenikmatan. (48) ﴾ وَإِذۡ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Dan ketika setan menjadikan me-reka memandang baik pekerjaan mereka", menjadikannya indah dalam hati mereka dan menipunya, ﴾ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ ﴿ "dan me-ngatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengalahkanmu pada hari ini," karena kamu dengan jumlah, senjata dan kondisi yang mana Muhammad dan teman-temannya tidak mampu melawanmu. ﴾ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ ﴿ "Dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Dari siapa pun yang kamu takutkan keburukannya, karena iblis menam-pakkan diri dalam wujud Suraqah bin Malik bin Ju'syum al-Mudliji, dan mereka takut kepada Bani Mudlij karena adanya permusuhan di antara mereka. Setan berkata kepada mereka, "Aku-lah pelindung-mu." Maka tenanglah mereka dan hadir dengan kesombongan dan keyakinan menang. ﴾ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ ﴿ "Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan)", pasukan Muslimin dan pasukan kafirin, lalu tiba-tiba setan melihat Jibril عليه السلام memimpin pasukan malaikat, maka ia sangat ketakutan. ﴾ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ ﴿ "setan itu balik ke belakang", yakni lari terbirit-birit ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada orang yang ia tipu dan perdayai. ﴾ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Sesungguhnya saya berlepas diri darimu, sesungguhnya saya dapat me-lihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat." Yakni aku melihat malaikat yang tak seorang pun sanggup melawannya. ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَۚ ﴿ "Sesungguhnya saya takut kepada Allah." Yakni takut akan menyege-rakan azab kepadaku di dunia. ﴾ وَٱللَّهُ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan Allah sangat keras siksaNya." Ada kemungkinan setan telah menipu mereka dan membisik-kan di dalam dada mereka bahwa mereka tidak akan dikalahkan oleh manusia siapa pun, dan bahwa ia melindungi mereka. Ketika ia berhasil menggiring ke medan perang, maka ia berlepas diri dari mereka dan meninggalkan mereka, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 16 فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ 17 ﴿ "(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, 'Kafirlah kamu', maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'. Maka kesu-dahan keduanya adalah, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam Neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 16-17). (49) ﴾ إِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya ber-kata," yakni keraguan dan syubhat dari orang-orang yang lemah iman terhadap orang-orang yang beriman ketika mereka pergi berperang dengan jumlah minim melawan orang-orang musyrik dengan jum-lah yang besar, ﴾ غَرَّ هَٰٓؤُلَآءِ دِينُهُمۡۗ ﴿ "Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu oleh agamanya." Yakni agama yang mereka anut menggiring mereka ke medan perang ini yang mana mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk memenangkannya. Orang-orang munafik itu mengatakannya untuk melecehkan orang-orang Mukmin dan meng-hina akal mereka padahal justru orang-orang munafik itulah –demi Allah– orang-orang yang bodoh akal dan pikirannya. Karena ke-imanan akan mewajibkan pemiliknya maju menghadapi perkara-perkara besar yang tidak dihadapi oleh pasukan-pasukan besar karena seorang Mukmin yang bertawakal kepada Allah yang me-ngetahui bahwa tidak ada daya, kekuatan, dan kemampuan bagi siapa pun kecuali dengan pertolongan Allah, dan seandainya selu-ruh makhluk bersepakat untuk memberi manfaat sedikit saja kepada seseorang, niscaya mereka tidak mampu melakukannya, begitu pula jika mereka bersepakat untuk memudaratkannya niscaya mereka tidak mampu memudaratkannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tulis atasnya, dan dia mengetahui bahwa dia di atas kebena-ran, bahwa Allah تعالى Mahabijaksana lagi Maha Penyayang dalam semua takdir dan keputusanNya, maka dia tidak akan peduli de-ngan kekuatan dan jumlah yang dia hadapi, dia percaya diri kepada Rabbnya, tenang tanpa rasa takut dan cemas. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Barangsiapa yang tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksa-na." Tak ada kekuatan yang dapat mengalahkannya, ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "lagi Mahabijaksana", dalam keputusanNya.

Al-Anfal 8:47

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (Nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berbantah-ban-tahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuat-anmu, dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya` kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menga-lahkanmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu', maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri darimu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat, sesungguh-nya saya takut kepada Allah.' Dan Allah sangat keras siksaNya. (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, 'Mereka itu (orang-orang Muk-min) ditipu oleh agamanya.' (Allah berfirman), 'Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Anfal: 45-49). (45) Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمۡ فِئَةٗ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh)." Yakni, sekelompok orang-orang kafir yang memerangi kamu, ﴾ فَٱثۡبُتُواْ ﴿ "maka berteguh hatilah", dalam menghadapi mereka, gunakan kesabaran atas ketaatan besar ini, yang buahnya adalah kemuliaan dan ke-menangan, minta tolonglah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "agar kamu beruntung." Yakni kemenangan atas musuhmu yang kamu inginkan. Jadi, kesabaran, keteguhan dan memperbanyak dzikir kepada Allah adalah penyebab besar kemenangan. (46) ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya", dalam melaksanakan perintah keduanya dan tetaplah demikian dalam segala kondisi. ﴾ وَلَا تَنَٰزَعُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu berbantah-ban-tahan", dengan bantah-bantahan yang menyebabkan perpecahan hati-hati kalian ﴾ فَتَفۡشَلُواْ ﴿ "yang menyebabkan kamu menjadi gentar", yakni takut, ﴾ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ ﴿ "dan hilang kekuatanmu." Yakni tekadmu melempem, kekuatanmu luruh, dan kemenangan yang dijanjikan kepadamu atas ketaatan kepada Allah dan RasulNya hilang lenyap. ﴾ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ ﴿ "Dan bersabarlah", di atas ketaatan kepada Allah. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar", dengan pertolongan, dukungan, dan kemenangan. (47) Khusyu'lah dan tunduklah kepada Rabbmu. ﴾ وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بَطَرٗا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah." Yakni, inilah tujuan mereka keluar berperang, dan inilah yang memicu mereka keluar dari negeri mereka, yaitu demi keangkuhan dan kesombongan di bumi, agar orang-orang melihat dan membanggakan mereka, dan tujuan terbesar adalah bahwa mereka hendak menghalangi dari jalan Allah bagi orang yang me-nitinya. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan." Oleh karena itu Allah memberitahumu tentang tujuan mereka dan memperingatkan agar kamu tidak seperti mereka, ka-rena Allah akan mengazab mereka dengan azab yang sangat berat. Hendaknya tujuanmu dalam peperangan adalah demi mengharap Wajah Allah, meninggikan agama Allah, membendung jalan yang menuju murka dan azab Allah, dan menarik manusia kepada jalan Allah yang lurus yang mengantarkan kepada Surga kenikmatan. (48) ﴾ وَإِذۡ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Dan ketika setan menjadikan me-reka memandang baik pekerjaan mereka", menjadikannya indah dalam hati mereka dan menipunya, ﴾ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ ﴿ "dan me-ngatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengalahkanmu pada hari ini," karena kamu dengan jumlah, senjata dan kondisi yang mana Muhammad dan teman-temannya tidak mampu melawanmu. ﴾ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ ﴿ "Dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Dari siapa pun yang kamu takutkan keburukannya, karena iblis menam-pakkan diri dalam wujud Suraqah bin Malik bin Ju'syum al-Mudliji, dan mereka takut kepada Bani Mudlij karena adanya permusuhan di antara mereka. Setan berkata kepada mereka, "Aku-lah pelindung-mu." Maka tenanglah mereka dan hadir dengan kesombongan dan keyakinan menang. ﴾ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ ﴿ "Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan)", pasukan Muslimin dan pasukan kafirin, lalu tiba-tiba setan melihat Jibril عليه السلام memimpin pasukan malaikat, maka ia sangat ketakutan. ﴾ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ ﴿ "setan itu balik ke belakang", yakni lari terbirit-birit ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada orang yang ia tipu dan perdayai. ﴾ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Sesungguhnya saya berlepas diri darimu, sesungguhnya saya dapat me-lihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat." Yakni aku melihat malaikat yang tak seorang pun sanggup melawannya. ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَۚ ﴿ "Sesungguhnya saya takut kepada Allah." Yakni takut akan menyege-rakan azab kepadaku di dunia. ﴾ وَٱللَّهُ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan Allah sangat keras siksaNya." Ada kemungkinan setan telah menipu mereka dan membisik-kan di dalam dada mereka bahwa mereka tidak akan dikalahkan oleh manusia siapa pun, dan bahwa ia melindungi mereka. Ketika ia berhasil menggiring ke medan perang, maka ia berlepas diri dari mereka dan meninggalkan mereka, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 16 فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ 17 ﴿ "(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, 'Kafirlah kamu', maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'. Maka kesu-dahan keduanya adalah, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam Neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 16-17). (49) ﴾ إِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya ber-kata," yakni keraguan dan syubhat dari orang-orang yang lemah iman terhadap orang-orang yang beriman ketika mereka pergi berperang dengan jumlah minim melawan orang-orang musyrik dengan jum-lah yang besar, ﴾ غَرَّ هَٰٓؤُلَآءِ دِينُهُمۡۗ ﴿ "Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu oleh agamanya." Yakni agama yang mereka anut menggiring mereka ke medan perang ini yang mana mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk memenangkannya. Orang-orang munafik itu mengatakannya untuk melecehkan orang-orang Mukmin dan meng-hina akal mereka padahal justru orang-orang munafik itulah –demi Allah– orang-orang yang bodoh akal dan pikirannya. Karena ke-imanan akan mewajibkan pemiliknya maju menghadapi perkara-perkara besar yang tidak dihadapi oleh pasukan-pasukan besar karena seorang Mukmin yang bertawakal kepada Allah yang me-ngetahui bahwa tidak ada daya, kekuatan, dan kemampuan bagi siapa pun kecuali dengan pertolongan Allah, dan seandainya selu-ruh makhluk bersepakat untuk memberi manfaat sedikit saja kepada seseorang, niscaya mereka tidak mampu melakukannya, begitu pula jika mereka bersepakat untuk memudaratkannya niscaya mereka tidak mampu memudaratkannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tulis atasnya, dan dia mengetahui bahwa dia di atas kebena-ran, bahwa Allah تعالى Mahabijaksana lagi Maha Penyayang dalam semua takdir dan keputusanNya, maka dia tidak akan peduli de-ngan kekuatan dan jumlah yang dia hadapi, dia percaya diri kepada Rabbnya, tenang tanpa rasa takut dan cemas. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Barangsiapa yang tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksa-na." Tak ada kekuatan yang dapat mengalahkannya, ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "lagi Mahabijaksana", dalam keputusanNya.

Al-Anfal 8:48

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (Nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berbantah-ban-tahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuat-anmu, dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya` kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menga-lahkanmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu', maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri darimu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat, sesungguh-nya saya takut kepada Allah.' Dan Allah sangat keras siksaNya. (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, 'Mereka itu (orang-orang Muk-min) ditipu oleh agamanya.' (Allah berfirman), 'Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Anfal: 45-49). (45) Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمۡ فِئَةٗ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh)." Yakni, sekelompok orang-orang kafir yang memerangi kamu, ﴾ فَٱثۡبُتُواْ ﴿ "maka berteguh hatilah", dalam menghadapi mereka, gunakan kesabaran atas ketaatan besar ini, yang buahnya adalah kemuliaan dan ke-menangan, minta tolonglah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "agar kamu beruntung." Yakni kemenangan atas musuhmu yang kamu inginkan. Jadi, kesabaran, keteguhan dan memperbanyak dzikir kepada Allah adalah penyebab besar kemenangan. (46) ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya", dalam melaksanakan perintah keduanya dan tetaplah demikian dalam segala kondisi. ﴾ وَلَا تَنَٰزَعُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu berbantah-ban-tahan", dengan bantah-bantahan yang menyebabkan perpecahan hati-hati kalian ﴾ فَتَفۡشَلُواْ ﴿ "yang menyebabkan kamu menjadi gentar", yakni takut, ﴾ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ ﴿ "dan hilang kekuatanmu." Yakni tekadmu melempem, kekuatanmu luruh, dan kemenangan yang dijanjikan kepadamu atas ketaatan kepada Allah dan RasulNya hilang lenyap. ﴾ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ ﴿ "Dan bersabarlah", di atas ketaatan kepada Allah. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar", dengan pertolongan, dukungan, dan kemenangan. (47) Khusyu'lah dan tunduklah kepada Rabbmu. ﴾ وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بَطَرٗا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah." Yakni, inilah tujuan mereka keluar berperang, dan inilah yang memicu mereka keluar dari negeri mereka, yaitu demi keangkuhan dan kesombongan di bumi, agar orang-orang melihat dan membanggakan mereka, dan tujuan terbesar adalah bahwa mereka hendak menghalangi dari jalan Allah bagi orang yang me-nitinya. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan." Oleh karena itu Allah memberitahumu tentang tujuan mereka dan memperingatkan agar kamu tidak seperti mereka, ka-rena Allah akan mengazab mereka dengan azab yang sangat berat. Hendaknya tujuanmu dalam peperangan adalah demi mengharap Wajah Allah, meninggikan agama Allah, membendung jalan yang menuju murka dan azab Allah, dan menarik manusia kepada jalan Allah yang lurus yang mengantarkan kepada Surga kenikmatan. (48) ﴾ وَإِذۡ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Dan ketika setan menjadikan me-reka memandang baik pekerjaan mereka", menjadikannya indah dalam hati mereka dan menipunya, ﴾ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ ﴿ "dan me-ngatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengalahkanmu pada hari ini," karena kamu dengan jumlah, senjata dan kondisi yang mana Muhammad dan teman-temannya tidak mampu melawanmu. ﴾ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ ﴿ "Dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Dari siapa pun yang kamu takutkan keburukannya, karena iblis menam-pakkan diri dalam wujud Suraqah bin Malik bin Ju'syum al-Mudliji, dan mereka takut kepada Bani Mudlij karena adanya permusuhan di antara mereka. Setan berkata kepada mereka, "Aku-lah pelindung-mu." Maka tenanglah mereka dan hadir dengan kesombongan dan keyakinan menang. ﴾ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ ﴿ "Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan)", pasukan Muslimin dan pasukan kafirin, lalu tiba-tiba setan melihat Jibril عليه السلام memimpin pasukan malaikat, maka ia sangat ketakutan. ﴾ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ ﴿ "setan itu balik ke belakang", yakni lari terbirit-birit ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada orang yang ia tipu dan perdayai. ﴾ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Sesungguhnya saya berlepas diri darimu, sesungguhnya saya dapat me-lihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat." Yakni aku melihat malaikat yang tak seorang pun sanggup melawannya. ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَۚ ﴿ "Sesungguhnya saya takut kepada Allah." Yakni takut akan menyege-rakan azab kepadaku di dunia. ﴾ وَٱللَّهُ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan Allah sangat keras siksaNya." Ada kemungkinan setan telah menipu mereka dan membisik-kan di dalam dada mereka bahwa mereka tidak akan dikalahkan oleh manusia siapa pun, dan bahwa ia melindungi mereka. Ketika ia berhasil menggiring ke medan perang, maka ia berlepas diri dari mereka dan meninggalkan mereka, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 16 فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ 17 ﴿ "(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, 'Kafirlah kamu', maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'. Maka kesu-dahan keduanya adalah, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam Neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 16-17). (49) ﴾ إِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya ber-kata," yakni keraguan dan syubhat dari orang-orang yang lemah iman terhadap orang-orang yang beriman ketika mereka pergi berperang dengan jumlah minim melawan orang-orang musyrik dengan jum-lah yang besar, ﴾ غَرَّ هَٰٓؤُلَآءِ دِينُهُمۡۗ ﴿ "Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu oleh agamanya." Yakni agama yang mereka anut menggiring mereka ke medan perang ini yang mana mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk memenangkannya. Orang-orang munafik itu mengatakannya untuk melecehkan orang-orang Mukmin dan meng-hina akal mereka padahal justru orang-orang munafik itulah –demi Allah– orang-orang yang bodoh akal dan pikirannya. Karena ke-imanan akan mewajibkan pemiliknya maju menghadapi perkara-perkara besar yang tidak dihadapi oleh pasukan-pasukan besar karena seorang Mukmin yang bertawakal kepada Allah yang me-ngetahui bahwa tidak ada daya, kekuatan, dan kemampuan bagi siapa pun kecuali dengan pertolongan Allah, dan seandainya selu-ruh makhluk bersepakat untuk memberi manfaat sedikit saja kepada seseorang, niscaya mereka tidak mampu melakukannya, begitu pula jika mereka bersepakat untuk memudaratkannya niscaya mereka tidak mampu memudaratkannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tulis atasnya, dan dia mengetahui bahwa dia di atas kebena-ran, bahwa Allah تعالى Mahabijaksana lagi Maha Penyayang dalam semua takdir dan keputusanNya, maka dia tidak akan peduli de-ngan kekuatan dan jumlah yang dia hadapi, dia percaya diri kepada Rabbnya, tenang tanpa rasa takut dan cemas. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Barangsiapa yang tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksa-na." Tak ada kekuatan yang dapat mengalahkannya, ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "lagi Mahabijaksana", dalam keputusanNya.

Al-Anfal 8:49

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (Nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berbantah-ban-tahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuat-anmu, dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya` kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menga-lahkanmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu', maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri darimu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat, sesungguh-nya saya takut kepada Allah.' Dan Allah sangat keras siksaNya. (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, 'Mereka itu (orang-orang Muk-min) ditipu oleh agamanya.' (Allah berfirman), 'Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Anfal: 45-49). (45) Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمۡ فِئَةٗ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh)." Yakni, sekelompok orang-orang kafir yang memerangi kamu, ﴾ فَٱثۡبُتُواْ ﴿ "maka berteguh hatilah", dalam menghadapi mereka, gunakan kesabaran atas ketaatan besar ini, yang buahnya adalah kemuliaan dan ke-menangan, minta tolonglah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "agar kamu beruntung." Yakni kemenangan atas musuhmu yang kamu inginkan. Jadi, kesabaran, keteguhan dan memperbanyak dzikir kepada Allah adalah penyebab besar kemenangan. (46) ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya", dalam melaksanakan perintah keduanya dan tetaplah demikian dalam segala kondisi. ﴾ وَلَا تَنَٰزَعُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu berbantah-ban-tahan", dengan bantah-bantahan yang menyebabkan perpecahan hati-hati kalian ﴾ فَتَفۡشَلُواْ ﴿ "yang menyebabkan kamu menjadi gentar", yakni takut, ﴾ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ ﴿ "dan hilang kekuatanmu." Yakni tekadmu melempem, kekuatanmu luruh, dan kemenangan yang dijanjikan kepadamu atas ketaatan kepada Allah dan RasulNya hilang lenyap. ﴾ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ ﴿ "Dan bersabarlah", di atas ketaatan kepada Allah. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar", dengan pertolongan, dukungan, dan kemenangan. (47) Khusyu'lah dan tunduklah kepada Rabbmu. ﴾ وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بَطَرٗا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah." Yakni, inilah tujuan mereka keluar berperang, dan inilah yang memicu mereka keluar dari negeri mereka, yaitu demi keangkuhan dan kesombongan di bumi, agar orang-orang melihat dan membanggakan mereka, dan tujuan terbesar adalah bahwa mereka hendak menghalangi dari jalan Allah bagi orang yang me-nitinya. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan." Oleh karena itu Allah memberitahumu tentang tujuan mereka dan memperingatkan agar kamu tidak seperti mereka, ka-rena Allah akan mengazab mereka dengan azab yang sangat berat. Hendaknya tujuanmu dalam peperangan adalah demi mengharap Wajah Allah, meninggikan agama Allah, membendung jalan yang menuju murka dan azab Allah, dan menarik manusia kepada jalan Allah yang lurus yang mengantarkan kepada Surga kenikmatan. (48) ﴾ وَإِذۡ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Dan ketika setan menjadikan me-reka memandang baik pekerjaan mereka", menjadikannya indah dalam hati mereka dan menipunya, ﴾ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ ﴿ "dan me-ngatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengalahkanmu pada hari ini," karena kamu dengan jumlah, senjata dan kondisi yang mana Muhammad dan teman-temannya tidak mampu melawanmu. ﴾ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ ﴿ "Dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Dari siapa pun yang kamu takutkan keburukannya, karena iblis menam-pakkan diri dalam wujud Suraqah bin Malik bin Ju'syum al-Mudliji, dan mereka takut kepada Bani Mudlij karena adanya permusuhan di antara mereka. Setan berkata kepada mereka, "Aku-lah pelindung-mu." Maka tenanglah mereka dan hadir dengan kesombongan dan keyakinan menang. ﴾ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ ﴿ "Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan)", pasukan Muslimin dan pasukan kafirin, lalu tiba-tiba setan melihat Jibril عليه السلام memimpin pasukan malaikat, maka ia sangat ketakutan. ﴾ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ ﴿ "setan itu balik ke belakang", yakni lari terbirit-birit ﴾ وَقَالَ ﴿ "seraya berkata", kepada orang yang ia tipu dan perdayai. ﴾ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Sesungguhnya saya berlepas diri darimu, sesungguhnya saya dapat me-lihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat." Yakni aku melihat malaikat yang tak seorang pun sanggup melawannya. ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَۚ ﴿ "Sesungguhnya saya takut kepada Allah." Yakni takut akan menyege-rakan azab kepadaku di dunia. ﴾ وَٱللَّهُ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan Allah sangat keras siksaNya." Ada kemungkinan setan telah menipu mereka dan membisik-kan di dalam dada mereka bahwa mereka tidak akan dikalahkan oleh manusia siapa pun, dan bahwa ia melindungi mereka. Ketika ia berhasil menggiring ke medan perang, maka ia berlepas diri dari mereka dan meninggalkan mereka, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 16 فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ 17 ﴿ "(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, 'Kafirlah kamu', maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'. Maka kesu-dahan keduanya adalah, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam Neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 16-17). (49) ﴾ إِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya ber-kata," yakni keraguan dan syubhat dari orang-orang yang lemah iman terhadap orang-orang yang beriman ketika mereka pergi berperang dengan jumlah minim melawan orang-orang musyrik dengan jum-lah yang besar, ﴾ غَرَّ هَٰٓؤُلَآءِ دِينُهُمۡۗ ﴿ "Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu oleh agamanya." Yakni agama yang mereka anut menggiring mereka ke medan perang ini yang mana mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk memenangkannya. Orang-orang munafik itu mengatakannya untuk melecehkan orang-orang Mukmin dan meng-hina akal mereka padahal justru orang-orang munafik itulah –demi Allah– orang-orang yang bodoh akal dan pikirannya. Karena ke-imanan akan mewajibkan pemiliknya maju menghadapi perkara-perkara besar yang tidak dihadapi oleh pasukan-pasukan besar karena seorang Mukmin yang bertawakal kepada Allah yang me-ngetahui bahwa tidak ada daya, kekuatan, dan kemampuan bagi siapa pun kecuali dengan pertolongan Allah, dan seandainya selu-ruh makhluk bersepakat untuk memberi manfaat sedikit saja kepada seseorang, niscaya mereka tidak mampu melakukannya, begitu pula jika mereka bersepakat untuk memudaratkannya niscaya mereka tidak mampu memudaratkannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tulis atasnya, dan dia mengetahui bahwa dia di atas kebena-ran, bahwa Allah تعالى Mahabijaksana lagi Maha Penyayang dalam semua takdir dan keputusanNya, maka dia tidak akan peduli de-ngan kekuatan dan jumlah yang dia hadapi, dia percaya diri kepada Rabbnya, tenang tanpa rasa takut dan cemas. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Barangsiapa yang tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksa-na." Tak ada kekuatan yang dapat mengalahkannya, ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "lagi Mahabijaksana", dalam keputusanNya.

Al-Anfal 8:50

"Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata), 'Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar', (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hambaNya. (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelum-nya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi amat keras siksaNya ." (Al-Anfal: 50-52). (50) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ ﴿ "Kalau kamu melihat", orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, ketika malaikat yang bertugas mencabut nyawa mewafatkan mereka, mereka sangat takut, sangat cemas, sementara para malaikat itu ﴾ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَٰرَهُمۡ ﴿ "memukul muka dan belakang mereka." Para malaikat berkata kepada mereka, "Keluarkan nyawamu." Padahal nyawa mereka sangat sulit dikeluarkan, karena ia mengetahui azab yang pedih yang ada di depannya. Oleh karena itu malaikat berkata, ﴾ وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Ra-sakanlah olehmu siksa neraka yang membakar'." Yakni siksa keras lagi panas membakar. (51) Azab ini menimpamu bukan karena kezhaliman dan ketidakadilan dari Rabbmu, akan tetapi akibat dari kemaksiatan yang kamu lakukan yang berakibat seperti yang kamu rasakan. (52) Ini adalah sunnatullah yang berlaku untuk orang-orang yang dahulu dan yang datang berikutnya. Keadaan para pendusta itu, yakni Sunnatullah atas mereka serta kebinasaan yang Allah tam-pakkan kepada mereka akibat dosa-dosa mereka, ﴾ كَدَأۡبِ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ ﴿ "serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya", dari umat-umat yang mendustakan. ﴾ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَأَخَذَهُمُ ٱللَّهُ بِذُنُوبِهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيّٞ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Se-sungguhnya Allah Mahakuat lagi amat keras siksaNya." Tak seorang pun mampu melindungi dirinya dari siksaNya. ﴾ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذُۢ بِنَاصِيَتِهَآۚ ﴿ "Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya." (Hud: 56).

Al-Anfal 8:51

"Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata), 'Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar', (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hambaNya. (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelum-nya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi amat keras siksaNya ." (Al-Anfal: 50-52). (50) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ ﴿ "Kalau kamu melihat", orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, ketika malaikat yang bertugas mencabut nyawa mewafatkan mereka, mereka sangat takut, sangat cemas, sementara para malaikat itu ﴾ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَٰرَهُمۡ ﴿ "memukul muka dan belakang mereka." Para malaikat berkata kepada mereka, "Keluarkan nyawamu." Padahal nyawa mereka sangat sulit dikeluarkan, karena ia mengetahui azab yang pedih yang ada di depannya. Oleh karena itu malaikat berkata, ﴾ وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Ra-sakanlah olehmu siksa neraka yang membakar'." Yakni siksa keras lagi panas membakar. (51) Azab ini menimpamu bukan karena kezhaliman dan ketidakadilan dari Rabbmu, akan tetapi akibat dari kemaksiatan yang kamu lakukan yang berakibat seperti yang kamu rasakan. (52) Ini adalah sunnatullah yang berlaku untuk orang-orang yang dahulu dan yang datang berikutnya. Keadaan para pendusta itu, yakni Sunnatullah atas mereka serta kebinasaan yang Allah tam-pakkan kepada mereka akibat dosa-dosa mereka, ﴾ كَدَأۡبِ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ ﴿ "serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya", dari umat-umat yang mendustakan. ﴾ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَأَخَذَهُمُ ٱللَّهُ بِذُنُوبِهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيّٞ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Se-sungguhnya Allah Mahakuat lagi amat keras siksaNya." Tak seorang pun mampu melindungi dirinya dari siksaNya. ﴾ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذُۢ بِنَاصِيَتِهَآۚ ﴿ "Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya." (Hud: 56).

Al-Anfal 8:52

"Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata), 'Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar', (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hambaNya. (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelum-nya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi amat keras siksaNya ." (Al-Anfal: 50-52). (50) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ ﴿ "Kalau kamu melihat", orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, ketika malaikat yang bertugas mencabut nyawa mewafatkan mereka, mereka sangat takut, sangat cemas, sementara para malaikat itu ﴾ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَٰرَهُمۡ ﴿ "memukul muka dan belakang mereka." Para malaikat berkata kepada mereka, "Keluarkan nyawamu." Padahal nyawa mereka sangat sulit dikeluarkan, karena ia mengetahui azab yang pedih yang ada di depannya. Oleh karena itu malaikat berkata, ﴾ وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ ﴿ "Ra-sakanlah olehmu siksa neraka yang membakar'." Yakni siksa keras lagi panas membakar. (51) Azab ini menimpamu bukan karena kezhaliman dan ketidakadilan dari Rabbmu, akan tetapi akibat dari kemaksiatan yang kamu lakukan yang berakibat seperti yang kamu rasakan. (52) Ini adalah sunnatullah yang berlaku untuk orang-orang yang dahulu dan yang datang berikutnya. Keadaan para pendusta itu, yakni Sunnatullah atas mereka serta kebinasaan yang Allah tam-pakkan kepada mereka akibat dosa-dosa mereka, ﴾ كَدَأۡبِ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ ﴿ "serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya", dari umat-umat yang mendustakan. ﴾ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَأَخَذَهُمُ ٱللَّهُ بِذُنُوبِهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيّٞ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Se-sungguhnya Allah Mahakuat lagi amat keras siksaNya." Tak seorang pun mampu melindungi dirinya dari siksaNya. ﴾ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذُۢ بِنَاصِيَتِهَآۚ ﴿ "Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya." (Hud: 56).

Al-Anfal 8:53

"Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah di-anugerahkanNya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dengan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Rabb mereka maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosa mereka dan Kami tenggelamkan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya, dan kesemuanya adalah orang-orang yang zhalim." (Al-Anfal: 53-54). (53) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian (siksaan) itu." Yakni siksa yang Allah timpakan kepada umat-umat yang mendustakan dan mele-nyapkan nikmat yang mereka rasakan adalah disebabkan oleh dosa-dosa mereka dan pengubahan terhadap apa yang ada pada diri mereka sendiri, karena ﴾ ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرٗا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ ﴿ "sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum", dari nikmat agama dan dunia, tetapi Dia membiarkannya dan akan menambahnya jika mereka mensyukuri-nya, ﴾ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ ﴿ "hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri", dari ketaatan kepada kemaksiatan, kemudian mereka mengkufuri nikmat Allah, menggantinya dengan kekufuran, maka Dia pun menariknya kembali dan merubahnya sebagaimana me-reka merubah apa yang ada pada diri mereka. Dan dalam semua itu Allah memiliki hikmah, keadilan, dan kebaikan kepada hamba-hambaNya, yang mana Allah tidak menyiksa mereka kecuali ka-rena kezhaliman mereka dan Allah menarik hati para waliNya agar selalu ingat kepadaNya dengan melihat azab yang menimpa hamba-hambaNya yang menyelisihi perintahNya. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui", Mende-ngar semua yang diucapkan orang yang berucap, baik yang dikeras-kan maupun yang dirahasiakan. Dan Allah mengetahui apa yang disimpan oleh hati dan dipendam dalam dada, maka Dia member-lakukan takdir kepada hamba-hambaNya sesuai dengan ilmu dan kehendakNya. (54) ﴾ كَدَأۡبِ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "(Keadaan mereka) serupa dengan keada-an Fir'aun dengan pengikut-pengikutnya", yakni Fir'aun dan kaumnya. ﴾ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Rabb mereka", ketika ia datang kepada mereka. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُم بِذُنُوبِهِمۡ ﴿ "Maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosa mereka", semua sesuai dengan kejahatannya. ﴾ وَأَغۡرَقۡنَآ ءَالَ فِرۡعَوۡنَۚ وَكُلّٞ ﴿ "Dan Kami tenggelamkan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya, dan kesemuanya", yakni orang-orang yang diazab dan dibinasakan ﴾ كَانُواْ ظَٰلِمِينَ ﴿ "adalah orang-orang yang zhalim", kepada diri mereka sendiri dengan berusa-ha membinasakannya. Allah tidak menzhalimi dan tidak menyiksa mereka tanpa dosa yang mereka lakukan maka hendaknya orang-orang yang ucapan ini ditujukan kepadanya tidak menyerupai me-reka dalam kezhaliman, karena Allah akan menurunkan azabNya kepadanya seperti kepada orang-orang fasik itu.

Al-Anfal 8:54

"Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah di-anugerahkanNya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dengan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Rabb mereka maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosa mereka dan Kami tenggelamkan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya, dan kesemuanya adalah orang-orang yang zhalim." (Al-Anfal: 53-54). (53) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian (siksaan) itu." Yakni siksa yang Allah timpakan kepada umat-umat yang mendustakan dan mele-nyapkan nikmat yang mereka rasakan adalah disebabkan oleh dosa-dosa mereka dan pengubahan terhadap apa yang ada pada diri mereka sendiri, karena ﴾ ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرٗا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ ﴿ "sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum", dari nikmat agama dan dunia, tetapi Dia membiarkannya dan akan menambahnya jika mereka mensyukuri-nya, ﴾ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ ﴿ "hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri", dari ketaatan kepada kemaksiatan, kemudian mereka mengkufuri nikmat Allah, menggantinya dengan kekufuran, maka Dia pun menariknya kembali dan merubahnya sebagaimana me-reka merubah apa yang ada pada diri mereka. Dan dalam semua itu Allah memiliki hikmah, keadilan, dan kebaikan kepada hamba-hambaNya, yang mana Allah tidak menyiksa mereka kecuali ka-rena kezhaliman mereka dan Allah menarik hati para waliNya agar selalu ingat kepadaNya dengan melihat azab yang menimpa hamba-hambaNya yang menyelisihi perintahNya. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui", Mende-ngar semua yang diucapkan orang yang berucap, baik yang dikeras-kan maupun yang dirahasiakan. Dan Allah mengetahui apa yang disimpan oleh hati dan dipendam dalam dada, maka Dia member-lakukan takdir kepada hamba-hambaNya sesuai dengan ilmu dan kehendakNya. (54) ﴾ كَدَأۡبِ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "(Keadaan mereka) serupa dengan keada-an Fir'aun dengan pengikut-pengikutnya", yakni Fir'aun dan kaumnya. ﴾ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Rabb mereka", ketika ia datang kepada mereka. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُم بِذُنُوبِهِمۡ ﴿ "Maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosa mereka", semua sesuai dengan kejahatannya. ﴾ وَأَغۡرَقۡنَآ ءَالَ فِرۡعَوۡنَۚ وَكُلّٞ ﴿ "Dan Kami tenggelamkan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya, dan kesemuanya", yakni orang-orang yang diazab dan dibinasakan ﴾ كَانُواْ ظَٰلِمِينَ ﴿ "adalah orang-orang yang zhalim", kepada diri mereka sendiri dengan berusa-ha membinasakannya. Allah tidak menzhalimi dan tidak menyiksa mereka tanpa dosa yang mereka lakukan maka hendaknya orang-orang yang ucapan ini ditujukan kepadanya tidak menyerupai me-reka dalam kezhaliman, karena Allah akan menurunkan azabNya kepadanya seperti kepada orang-orang fasik itu.

Al-Anfal 8:55

"Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjan-jian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janji mereka pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya). Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai-berai-kanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran." (Al-Anfal: 55-57). (55-56) Mereka yang mengumpulkan tiga sifat buruk ini –kekufuran, ketidakimanan, dan khianat– yang mana mereka tidak memegang janji yang disepakati dan ucapan yang mereka ucapkan, adalah ﴾ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah." Mereka lebih buruk daripada keledai, anjing, dan binatang lainnya, karena tidak adanya kebaikan pada mereka, yang ada ha-nyalah keburukan. (57) Melenyapkan dan membinasakan mereka adalah kenis-cayaan, agar penyakit mereka tidak merembet kepada selain mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَإِمَّا تَثۡقَفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡحَرۡبِ ﴿ "Jika kamu mene-mui mereka dalam peperangan." Yakni kamu bertemu mereka dalam peperangan di mana tidak ada perjanjian dan perdamaian, ﴾ فَشَرِّدۡ بِهِم مَّنۡ خَلۡفَهُمۡ ﴿ "maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka." Yakni jadikanlah selain mereka takut dengan cara menumpas mereka, timpakan hukuman kepada mereka yang bisa menjadi pelajaran bagi yang datang sesudah mereka, ﴾ لَعَلَّهُمۡ ﴿ "Supaya mereka mengambil pelajaran." Yakni orang-orang yang datang sesudah mereka menghindari apa yang mereka lakukan agar tidak tertimpa apa yang menimpa mereka. Ini adalah salah satu manfaat hukuman dan hudud yang disebabkan karena kemaksiatan, yakni ia menjadi sebab jeranya orang yang tidak melakukan keja-hatan, bahkan ia juga merupakan sebab jeranya pelaku kejahatan agar tidak mengulangi perbuatannya. Pembatasan hukuman ini di waktu perang menunjukkan bahwa orang kafir –meskipun dia se-ring dan mudah berkhianat– jika dia telah diberi janji, maka dia tidak boleh dihukum dan dikhianati.

Al-Anfal 8:56

"Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjan-jian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janji mereka pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya). Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai-berai-kanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran." (Al-Anfal: 55-57). (55-56) Mereka yang mengumpulkan tiga sifat buruk ini –kekufuran, ketidakimanan, dan khianat– yang mana mereka tidak memegang janji yang disepakati dan ucapan yang mereka ucapkan, adalah ﴾ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah." Mereka lebih buruk daripada keledai, anjing, dan binatang lainnya, karena tidak adanya kebaikan pada mereka, yang ada ha-nyalah keburukan. (57) Melenyapkan dan membinasakan mereka adalah kenis-cayaan, agar penyakit mereka tidak merembet kepada selain mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَإِمَّا تَثۡقَفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡحَرۡبِ ﴿ "Jika kamu mene-mui mereka dalam peperangan." Yakni kamu bertemu mereka dalam peperangan di mana tidak ada perjanjian dan perdamaian, ﴾ فَشَرِّدۡ بِهِم مَّنۡ خَلۡفَهُمۡ ﴿ "maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka." Yakni jadikanlah selain mereka takut dengan cara menumpas mereka, timpakan hukuman kepada mereka yang bisa menjadi pelajaran bagi yang datang sesudah mereka, ﴾ لَعَلَّهُمۡ ﴿ "Supaya mereka mengambil pelajaran." Yakni orang-orang yang datang sesudah mereka menghindari apa yang mereka lakukan agar tidak tertimpa apa yang menimpa mereka. Ini adalah salah satu manfaat hukuman dan hudud yang disebabkan karena kemaksiatan, yakni ia menjadi sebab jeranya orang yang tidak melakukan keja-hatan, bahkan ia juga merupakan sebab jeranya pelaku kejahatan agar tidak mengulangi perbuatannya. Pembatasan hukuman ini di waktu perang menunjukkan bahwa orang kafir –meskipun dia se-ring dan mudah berkhianat– jika dia telah diberi janji, maka dia tidak boleh dihukum dan dikhianati.

Al-Anfal 8:57

"Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjan-jian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janji mereka pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya). Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai-berai-kanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran." (Al-Anfal: 55-57). (55-56) Mereka yang mengumpulkan tiga sifat buruk ini –kekufuran, ketidakimanan, dan khianat– yang mana mereka tidak memegang janji yang disepakati dan ucapan yang mereka ucapkan, adalah ﴾ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah." Mereka lebih buruk daripada keledai, anjing, dan binatang lainnya, karena tidak adanya kebaikan pada mereka, yang ada ha-nyalah keburukan. (57) Melenyapkan dan membinasakan mereka adalah kenis-cayaan, agar penyakit mereka tidak merembet kepada selain mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَإِمَّا تَثۡقَفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡحَرۡبِ ﴿ "Jika kamu mene-mui mereka dalam peperangan." Yakni kamu bertemu mereka dalam peperangan di mana tidak ada perjanjian dan perdamaian, ﴾ فَشَرِّدۡ بِهِم مَّنۡ خَلۡفَهُمۡ ﴿ "maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka." Yakni jadikanlah selain mereka takut dengan cara menumpas mereka, timpakan hukuman kepada mereka yang bisa menjadi pelajaran bagi yang datang sesudah mereka, ﴾ لَعَلَّهُمۡ ﴿ "Supaya mereka mengambil pelajaran." Yakni orang-orang yang datang sesudah mereka menghindari apa yang mereka lakukan agar tidak tertimpa apa yang menimpa mereka. Ini adalah salah satu manfaat hukuman dan hudud yang disebabkan karena kemaksiatan, yakni ia menjadi sebab jeranya orang yang tidak melakukan keja-hatan, bahkan ia juga merupakan sebab jeranya pelaku kejahatan agar tidak mengulangi perbuatannya. Pembatasan hukuman ini di waktu perang menunjukkan bahwa orang kafir –meskipun dia se-ring dan mudah berkhianat– jika dia telah diberi janji, maka dia tidak boleh dihukum dan dikhianati.

Al-Anfal 8:58

"Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang berkhianat." (Al-Anfal: 58). (58) Yakni, jika antara kamu dengan suatu kaum terdapat perjanjian damai, lalu kamu khawatir mereka akan berkhianat, di mana kamu mencium indikasi pengkhianatan mereka dan mereka tidak berkhianat dengan terang-terangan, ﴾ فَٱنۢبِذۡ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "maka kembali-kanlah perjanjian itu kepada mereka." Yakni, katakanlah kepada mereka bahwa antara kamu dengan mereka tidak ada perjanjian, ﴾ عَلَىٰ سَوَآءٍۚ ﴿ "dengan cara yang jujur." Yakni sehingga pengetahuanmu dan pe-ngetahuan mereka tentang itu adalah sama, tidak halal bagimu mengkhianati mereka atau melakukan sesuatu yang dilarang sesuai dengan tuntutan perjanjian sebelum kamu mengatakan itu kepada mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡخَآئِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat." Bahkan Dia sangat membencinya. Jadi, harus ada hal yang jelas yang membebaskanmu dari khianat. Ayat ini menunjukkan bahwa jika pengkhianatan telah terbukti terjadi dari mereka, maka tidak perlu lagi mengembalikan perjanjian kepada mereka, karena ia telah diketahui dengan jelas dari mereka, dan karena tidak ada kegunaannya, serta berdasarkan FirmanNya, ﴾ عَلَىٰ سَوَآءٍۚ ﴿ "Dengan cara yang jujur." Dan di sini pengkhianatan mereka telah diketahui oleh semua pihak. Makna tersirat ayat ini juga menun-jukkan bahwa jika pengkhianatan mereka tidak dikhawatirkan, di mana tidak ada indikasi ke arah sana dari mereka, maka tidak boleh membatalkannya, bahkan wajib dipenuhi sampai habis masanya.

Al-Anfal 8:59

"Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah)." (Al-Anfal: 59). (59) Yakni, janganlah orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka, yang mendustakan ayat-ayatNya meyakini bahwa mereka akan lolos dan bebas dari hukuman Allah, karena sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkanNya, dan Allah selalu mengawasi mereka. Allah تعالى mempunyai hikmah yang mendalam dalam pe-nundaanNya dan tidak menyegerakan azab kepada mereka, yang di antaranya adalah ujian kepada hamba-hambaNya yang beriman dan membekali mereka dari ketaatan dan keridhaanNya yang mem-buat mereka mencapai derajat yang tinggi serta akhlak dan sifat yang tidak bisa mereka raih dengan selainnya. Oleh karena itu Dia berfirman kepada hamba-hambaNya yang beriman,

Al-Anfal 8:60

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (Al-Anfal: 60). (60) ﴾ وَأَعِدُّواْ ﴿ "Dan siapkanlah," untuk menghadapi musuh-musuhmu, orang-orang kafir yang selalu berusaha mencelakakanmu dan membatalkan agamamu, ﴾ مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٖ ﴿ "kekuatan apa saja yang kamu sanggupi." Yakni kekuatan akal (strategi), jasmani, senjata, dan apa saja yang kamu mampu, di mana kekuatan itu dapat memban-tumu menghadapi mereka, termasuk dalam hal ini adalah berbagai bentuk keahlian membuat senjata perang dan perangkatnya, seperti meriam, peluru, senapan, pesawat tempur, kendaraan darat dan laut, benteng, kapal layar, parit, perangkat-perangkat pertahanan, strategi, dan siasat, yang dengannya kaum Muslimin menjadi maju dan mampu menangkal ancaman musuh, termasuk belajar mem-bidik, melatih keberanian, dan seni perang. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda, أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ. "Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah (membidik)."[80] Termasuk juga mempersiapkan kendaraan yang diperlukan pada waktu perang. Oleh karena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ ﴿ "Dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu." Illat ini ada padanya pada masa itu, yaitu yang dapat menggentarkan musuh, dan hukum selalu beriringan dengan illat-nya, jika memang ada sesuatu yang lebih menggentarkan dari pa-danya, seperti kendaraan perang darat dan udara di mana serangan-nya kepada musuh lebih telak, maka ia pun diperintahkan untuk diusahakan dan dipersiapkan, bahkan seandainya ia tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan mempelajari ilmu persenjataan, maka mempelajarinya adalah wajib, karena suatu perkara yang suatu kewajiban tidak bisa terlaksana kecuali dengannya, maka perkara tersebut hukumnya wajib. Dan FirmanNya, ﴾ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ ﴿ "Kamu menggentar-kan dengannya musuh Allah dan musuhmu", dari kalangan orang-orang yang kamu ketahui bahwa mereka adalah musuhmu, ﴾ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ﴿ "dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahui-nya", dari kalangan orang-orang yang akan memerangimu sesudah ini yang Allah berbicara kepada mereka dengan kekalahan. ﴾ ٱللَّهُ يَعۡلَمُهُمۡۚ ﴿ "Sedang Allah mengetahuinya." Oleh karena itu Allah memerintah-kanmu agar bersiap-siap menghadapi mereka juga. Dan di antara perkara besar yang membantu dalam memerangi mereka adalah menginfakkan harta untuk berjihad melawan orang-orang kafir. Oleh karena itu, Allah تعالى mendorong hal itu dengan FirmanNya, ﴾ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٖ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah", baik sedikit ataupun banyak ﴾ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ ﴿ "niscaya akan dibalas dengan cukup", pahalanya pada Hari Kiamat dengan berlipat ganda, bahkan nafkah di jalan Allah akan dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali lipat sampai berkali-kali lipat. ﴾ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." Yakni sedikit pun pahalamu tidak akan dikurangi.

Al-Anfal 8:61

"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka con-donglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukup-lah Allah (menjadi pelindungmu). Dia-lah yang memperkuatmu dengan pertolonganNya dan dengan para Mukmin. Dan yang mem-persatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nis-caya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang Mukmin yang mengiku-timu." (Al-Anfal: 61-64). (61) Allah تعالى berfirman ﴾ وَإِن جَنَحُواْ ﴿ "Dan jika mereka condong", yakni orang-orang kafir yang memerangi kaum Muslimin. Yakni, mereka condong kepada kedamaian dan genjatan senjata, ﴾ فَٱجۡنَحۡ لَهَا وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah." Yakni, ikutilah keinginan mereka dengan bertawakal kepada Allah karena hal itu mengandung banyak faidah, di antaranya bahwa kedamaian adalah tuntutan di setiap waktu, jika mereka yang me-mulai dalam hal ini maka harus diikuti. Di antara faidah lainnya adalah, bahwa hal itu memberi waktu bagi pasukan Muslim untuk menyusun kekuatan dan mempersiap-kan diri untuk waktu berikutnya jika diperlukan. Di antara faidahnya juga adalah, bahwa jika kamu berdamai dan masing-masing pihak mengetahui apa yang ada pada selain-nya, maka Islam adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang di atasnya. Siapa pun yang mempunyai akal dan ilmu, jika memang dia itu obyektif, maka dia pasti akan mengutamakan agama Islam daripada agama lainnya, karena keindahan Islam dalam perintah dan larangan, dalam pergaulan dengan makhluk, dan dalam ke-adilan. Dan bahwa tidak ada kezhaliman dan aniaya sedikit pun dalam Islam, maka dalam kondisi tersebut akan muncul simpatisan dan pengikut dalam jumlah yang banyak, sehingga perdamaian itu menjadi batu loncatan bagi orang-orang Muslim untuk mengalah-kan orang-orang kafir. (62-63) Tidak ada yang dikhawatirkan dari perdamaian kecuali satu hal, yaitu bahwa mungkin saja tujuan mereka dalam perdamaian tersebut adalah untuk menipu kaum Muslimin dengan memanfaatkan kesempatan untuk menyerang mereka, maka Allah memberitahukan bahwa Dia adalah pelindung mereka dan cukup-lah Allah sebagai pelindung, dan bahwa akibat buruk makar mereka akan menimpa mereka sendiri. Dia berfirman, ﴾ وَإِن يُرِيدُوٓاْ أَن يَخۡدَعُوكَ فَإِنَّ حَسۡبَكَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesung-guhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu)." Yakni melindungimu dari apa yang dapat menyakitimu. Dia-lah yang mengurusi kemas-lahatan dan keperluanmu, sebagaimana perlindungan dan bantuan-Nya yang menenteramkan hatimu telah kamu rasakan sebelum-nya. ﴾ ٱلَّذِيٓ أَيَّدَكَ بِنَصۡرِهِۦ وَبِٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dia-lah yang memperkuatmu dengan per-tolonganNya dan dengan para Mukmin." Yakni Allah membantumu dengan pertolongan langit yaitu pertolongan dariNya yang tidak ada sesuatu pun yang dapat menandinginya, dan pertolongan dengan orang-orang Mukmin dengan membimbing mereka untuk membantumu. ﴾ وَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡۚ ﴿ "Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)," sehingga mereka kompak bersatu yang karena persatuan itu kekuatan mereka pun bertambah, dan ini bu-kan karena usaha seseorang, bukan pula dengan kekuatan selain kekuatan Allah. ﴾ لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Walaupun kamu membelanja-kan semua (kekayaan) yang berada di bumi", serupa emas, perak, dan lain-lain untuk menyatukan mereka setelah perselisihan dan per-pecahan yang berat itu, ﴾ مَّآ أَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka", karena tidak ada yang mampu membo-lak-balikkan hati kecuali Allah. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." Dan di antara keperkasaanNya adalah menyatukan dan mempertemukan hati mereka setelah sebelumnya bercerai-berai, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ ﴿ "Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah menjadilah kamu orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya." (Ali Imran: 103). (64) Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ حَسۡبُكَ ٱللَّهُ وَمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang Mukmin yang mengikutimu." Yakni pelindung orang-orang Mukmin yang mengikutimu. Ini adalah janji Allah bagi ham-ba-hambaNya yang beriman yang mengikuti RasulNya, bahwa Dia akan mencukupi, melindungi, dan memenangkan mereka atas mu-suh, jika mereka melakukan sebabnya, yaitu iman dan ittiba'. Allah pasti akan menjamin apa yang mereka perlukan dari perkara agama dan dunia, perlindungan ini hanya tidak diberikan pada saat sya-ratnya tidak terlaksana.

Al-Anfal 8:62

"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka con-donglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukup-lah Allah (menjadi pelindungmu). Dia-lah yang memperkuatmu dengan pertolonganNya dan dengan para Mukmin. Dan yang mem-persatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nis-caya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang Mukmin yang mengiku-timu." (Al-Anfal: 61-64). (61) Allah تعالى berfirman ﴾ وَإِن جَنَحُواْ ﴿ "Dan jika mereka condong", yakni orang-orang kafir yang memerangi kaum Muslimin. Yakni, mereka condong kepada kedamaian dan genjatan senjata, ﴾ فَٱجۡنَحۡ لَهَا وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah." Yakni, ikutilah keinginan mereka dengan bertawakal kepada Allah karena hal itu mengandung banyak faidah, di antaranya bahwa kedamaian adalah tuntutan di setiap waktu, jika mereka yang me-mulai dalam hal ini maka harus diikuti. Di antara faidah lainnya adalah, bahwa hal itu memberi waktu bagi pasukan Muslim untuk menyusun kekuatan dan mempersiap-kan diri untuk waktu berikutnya jika diperlukan. Di antara faidahnya juga adalah, bahwa jika kamu berdamai dan masing-masing pihak mengetahui apa yang ada pada selain-nya, maka Islam adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang di atasnya. Siapa pun yang mempunyai akal dan ilmu, jika memang dia itu obyektif, maka dia pasti akan mengutamakan agama Islam daripada agama lainnya, karena keindahan Islam dalam perintah dan larangan, dalam pergaulan dengan makhluk, dan dalam ke-adilan. Dan bahwa tidak ada kezhaliman dan aniaya sedikit pun dalam Islam, maka dalam kondisi tersebut akan muncul simpatisan dan pengikut dalam jumlah yang banyak, sehingga perdamaian itu menjadi batu loncatan bagi orang-orang Muslim untuk mengalah-kan orang-orang kafir. (62-63) Tidak ada yang dikhawatirkan dari perdamaian kecuali satu hal, yaitu bahwa mungkin saja tujuan mereka dalam perdamaian tersebut adalah untuk menipu kaum Muslimin dengan memanfaatkan kesempatan untuk menyerang mereka, maka Allah memberitahukan bahwa Dia adalah pelindung mereka dan cukup-lah Allah sebagai pelindung, dan bahwa akibat buruk makar mereka akan menimpa mereka sendiri. Dia berfirman, ﴾ وَإِن يُرِيدُوٓاْ أَن يَخۡدَعُوكَ فَإِنَّ حَسۡبَكَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesung-guhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu)." Yakni melindungimu dari apa yang dapat menyakitimu. Dia-lah yang mengurusi kemas-lahatan dan keperluanmu, sebagaimana perlindungan dan bantuan-Nya yang menenteramkan hatimu telah kamu rasakan sebelum-nya. ﴾ ٱلَّذِيٓ أَيَّدَكَ بِنَصۡرِهِۦ وَبِٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dia-lah yang memperkuatmu dengan per-tolonganNya dan dengan para Mukmin." Yakni Allah membantumu dengan pertolongan langit yaitu pertolongan dariNya yang tidak ada sesuatu pun yang dapat menandinginya, dan pertolongan dengan orang-orang Mukmin dengan membimbing mereka untuk membantumu. ﴾ وَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡۚ ﴿ "Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)," sehingga mereka kompak bersatu yang karena persatuan itu kekuatan mereka pun bertambah, dan ini bu-kan karena usaha seseorang, bukan pula dengan kekuatan selain kekuatan Allah. ﴾ لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Walaupun kamu membelanja-kan semua (kekayaan) yang berada di bumi", serupa emas, perak, dan lain-lain untuk menyatukan mereka setelah perselisihan dan per-pecahan yang berat itu, ﴾ مَّآ أَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka", karena tidak ada yang mampu membo-lak-balikkan hati kecuali Allah. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." Dan di antara keperkasaanNya adalah menyatukan dan mempertemukan hati mereka setelah sebelumnya bercerai-berai, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ ﴿ "Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah menjadilah kamu orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya." (Ali Imran: 103). (64) Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ حَسۡبُكَ ٱللَّهُ وَمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang Mukmin yang mengikutimu." Yakni pelindung orang-orang Mukmin yang mengikutimu. Ini adalah janji Allah bagi ham-ba-hambaNya yang beriman yang mengikuti RasulNya, bahwa Dia akan mencukupi, melindungi, dan memenangkan mereka atas mu-suh, jika mereka melakukan sebabnya, yaitu iman dan ittiba'. Allah pasti akan menjamin apa yang mereka perlukan dari perkara agama dan dunia, perlindungan ini hanya tidak diberikan pada saat sya-ratnya tidak terlaksana.

Al-Anfal 8:63

"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka con-donglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukup-lah Allah (menjadi pelindungmu). Dia-lah yang memperkuatmu dengan pertolonganNya dan dengan para Mukmin. Dan yang mem-persatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nis-caya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang Mukmin yang mengiku-timu." (Al-Anfal: 61-64). (61) Allah تعالى berfirman ﴾ وَإِن جَنَحُواْ ﴿ "Dan jika mereka condong", yakni orang-orang kafir yang memerangi kaum Muslimin. Yakni, mereka condong kepada kedamaian dan genjatan senjata, ﴾ فَٱجۡنَحۡ لَهَا وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah." Yakni, ikutilah keinginan mereka dengan bertawakal kepada Allah karena hal itu mengandung banyak faidah, di antaranya bahwa kedamaian adalah tuntutan di setiap waktu, jika mereka yang me-mulai dalam hal ini maka harus diikuti. Di antara faidah lainnya adalah, bahwa hal itu memberi waktu bagi pasukan Muslim untuk menyusun kekuatan dan mempersiap-kan diri untuk waktu berikutnya jika diperlukan. Di antara faidahnya juga adalah, bahwa jika kamu berdamai dan masing-masing pihak mengetahui apa yang ada pada selain-nya, maka Islam adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang di atasnya. Siapa pun yang mempunyai akal dan ilmu, jika memang dia itu obyektif, maka dia pasti akan mengutamakan agama Islam daripada agama lainnya, karena keindahan Islam dalam perintah dan larangan, dalam pergaulan dengan makhluk, dan dalam ke-adilan. Dan bahwa tidak ada kezhaliman dan aniaya sedikit pun dalam Islam, maka dalam kondisi tersebut akan muncul simpatisan dan pengikut dalam jumlah yang banyak, sehingga perdamaian itu menjadi batu loncatan bagi orang-orang Muslim untuk mengalah-kan orang-orang kafir. (62-63) Tidak ada yang dikhawatirkan dari perdamaian kecuali satu hal, yaitu bahwa mungkin saja tujuan mereka dalam perdamaian tersebut adalah untuk menipu kaum Muslimin dengan memanfaatkan kesempatan untuk menyerang mereka, maka Allah memberitahukan bahwa Dia adalah pelindung mereka dan cukup-lah Allah sebagai pelindung, dan bahwa akibat buruk makar mereka akan menimpa mereka sendiri. Dia berfirman, ﴾ وَإِن يُرِيدُوٓاْ أَن يَخۡدَعُوكَ فَإِنَّ حَسۡبَكَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesung-guhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu)." Yakni melindungimu dari apa yang dapat menyakitimu. Dia-lah yang mengurusi kemas-lahatan dan keperluanmu, sebagaimana perlindungan dan bantuan-Nya yang menenteramkan hatimu telah kamu rasakan sebelum-nya. ﴾ ٱلَّذِيٓ أَيَّدَكَ بِنَصۡرِهِۦ وَبِٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dia-lah yang memperkuatmu dengan per-tolonganNya dan dengan para Mukmin." Yakni Allah membantumu dengan pertolongan langit yaitu pertolongan dariNya yang tidak ada sesuatu pun yang dapat menandinginya, dan pertolongan dengan orang-orang Mukmin dengan membimbing mereka untuk membantumu. ﴾ وَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡۚ ﴿ "Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)," sehingga mereka kompak bersatu yang karena persatuan itu kekuatan mereka pun bertambah, dan ini bu-kan karena usaha seseorang, bukan pula dengan kekuatan selain kekuatan Allah. ﴾ لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Walaupun kamu membelanja-kan semua (kekayaan) yang berada di bumi", serupa emas, perak, dan lain-lain untuk menyatukan mereka setelah perselisihan dan per-pecahan yang berat itu, ﴾ مَّآ أَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka", karena tidak ada yang mampu membo-lak-balikkan hati kecuali Allah. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." Dan di antara keperkasaanNya adalah menyatukan dan mempertemukan hati mereka setelah sebelumnya bercerai-berai, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ ﴿ "Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah menjadilah kamu orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya." (Ali Imran: 103). (64) Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ حَسۡبُكَ ٱللَّهُ وَمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang Mukmin yang mengikutimu." Yakni pelindung orang-orang Mukmin yang mengikutimu. Ini adalah janji Allah bagi ham-ba-hambaNya yang beriman yang mengikuti RasulNya, bahwa Dia akan mencukupi, melindungi, dan memenangkan mereka atas mu-suh, jika mereka melakukan sebabnya, yaitu iman dan ittiba'. Allah pasti akan menjamin apa yang mereka perlukan dari perkara agama dan dunia, perlindungan ini hanya tidak diberikan pada saat sya-ratnya tidak terlaksana.

Al-Anfal 8:64

"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka con-donglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukup-lah Allah (menjadi pelindungmu). Dia-lah yang memperkuatmu dengan pertolonganNya dan dengan para Mukmin. Dan yang mem-persatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nis-caya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang Mukmin yang mengiku-timu." (Al-Anfal: 61-64). (61) Allah تعالى berfirman ﴾ وَإِن جَنَحُواْ ﴿ "Dan jika mereka condong", yakni orang-orang kafir yang memerangi kaum Muslimin. Yakni, mereka condong kepada kedamaian dan genjatan senjata, ﴾ فَٱجۡنَحۡ لَهَا وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah." Yakni, ikutilah keinginan mereka dengan bertawakal kepada Allah karena hal itu mengandung banyak faidah, di antaranya bahwa kedamaian adalah tuntutan di setiap waktu, jika mereka yang me-mulai dalam hal ini maka harus diikuti. Di antara faidah lainnya adalah, bahwa hal itu memberi waktu bagi pasukan Muslim untuk menyusun kekuatan dan mempersiap-kan diri untuk waktu berikutnya jika diperlukan. Di antara faidahnya juga adalah, bahwa jika kamu berdamai dan masing-masing pihak mengetahui apa yang ada pada selain-nya, maka Islam adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang di atasnya. Siapa pun yang mempunyai akal dan ilmu, jika memang dia itu obyektif, maka dia pasti akan mengutamakan agama Islam daripada agama lainnya, karena keindahan Islam dalam perintah dan larangan, dalam pergaulan dengan makhluk, dan dalam ke-adilan. Dan bahwa tidak ada kezhaliman dan aniaya sedikit pun dalam Islam, maka dalam kondisi tersebut akan muncul simpatisan dan pengikut dalam jumlah yang banyak, sehingga perdamaian itu menjadi batu loncatan bagi orang-orang Muslim untuk mengalah-kan orang-orang kafir. (62-63) Tidak ada yang dikhawatirkan dari perdamaian kecuali satu hal, yaitu bahwa mungkin saja tujuan mereka dalam perdamaian tersebut adalah untuk menipu kaum Muslimin dengan memanfaatkan kesempatan untuk menyerang mereka, maka Allah memberitahukan bahwa Dia adalah pelindung mereka dan cukup-lah Allah sebagai pelindung, dan bahwa akibat buruk makar mereka akan menimpa mereka sendiri. Dia berfirman, ﴾ وَإِن يُرِيدُوٓاْ أَن يَخۡدَعُوكَ فَإِنَّ حَسۡبَكَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesung-guhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu)." Yakni melindungimu dari apa yang dapat menyakitimu. Dia-lah yang mengurusi kemas-lahatan dan keperluanmu, sebagaimana perlindungan dan bantuan-Nya yang menenteramkan hatimu telah kamu rasakan sebelum-nya. ﴾ ٱلَّذِيٓ أَيَّدَكَ بِنَصۡرِهِۦ وَبِٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dia-lah yang memperkuatmu dengan per-tolonganNya dan dengan para Mukmin." Yakni Allah membantumu dengan pertolongan langit yaitu pertolongan dariNya yang tidak ada sesuatu pun yang dapat menandinginya, dan pertolongan dengan orang-orang Mukmin dengan membimbing mereka untuk membantumu. ﴾ وَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡۚ ﴿ "Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)," sehingga mereka kompak bersatu yang karena persatuan itu kekuatan mereka pun bertambah, dan ini bu-kan karena usaha seseorang, bukan pula dengan kekuatan selain kekuatan Allah. ﴾ لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Walaupun kamu membelanja-kan semua (kekayaan) yang berada di bumi", serupa emas, perak, dan lain-lain untuk menyatukan mereka setelah perselisihan dan per-pecahan yang berat itu, ﴾ مَّآ أَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka", karena tidak ada yang mampu membo-lak-balikkan hati kecuali Allah. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." Dan di antara keperkasaanNya adalah menyatukan dan mempertemukan hati mereka setelah sebelumnya bercerai-berai, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ ﴿ "Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah menjadilah kamu orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya." (Ali Imran: 103). (64) Kemudian Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ حَسۡبُكَ ٱللَّهُ وَمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang Mukmin yang mengikutimu." Yakni pelindung orang-orang Mukmin yang mengikutimu. Ini adalah janji Allah bagi ham-ba-hambaNya yang beriman yang mengikuti RasulNya, bahwa Dia akan mencukupi, melindungi, dan memenangkan mereka atas mu-suh, jika mereka melakukan sebabnya, yaitu iman dan ittiba'. Allah pasti akan menjamin apa yang mereka perlukan dari perkara agama dan dunia, perlindungan ini hanya tidak diberikan pada saat sya-ratnya tidak terlaksana.

Al-Anfal 8:65

"Hai Nabi, kobarkanlah semangat para Mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat me-ngalahkan seribu orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemah-an. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang, dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 65-66). (65) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya ﷺ, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ حَرِّضِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ عَلَى ٱلۡقِتَالِۚ ﴿ "Hai Nabi, kobarkanlah semangat para Mukmin itu untuk berperang." Yakni doronglah dan paculah mereka untuk berperang dengan apa yang dapat menguatkan tekad mereka dan melecut semangat mereka, dengan memberikan anjuran dan janji pahala jihad dan melawan musuh, serta memberikan ancaman dan janji dosa terhadap sebaliknya, menjelaskan keutamaan kesabaran dan keberanian, serta apa yang dihasilkannya berupa kebaikan dunia dan akhirat, menjelaskan bahayanya sifat penakut, dan bahwa ia termasuk akhlak tercela yang menodai agama dan muru'ah, dan bahwa orang Mukmin lebih berhak untuk berani daripada yang lain. ﴾ إِن تَكُونُواْ تَأۡلَمُونَ فَإِنَّهُمۡ يَأۡلَمُونَ كَمَا تَأۡلَمُونَۖ وَتَرۡجُونَ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا يَرۡجُونَۗ ﴿ "Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang ka-mu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan." (An-Nisa`: 104). ﴾ إِن يَكُن مِّنكُمۡ ﴿ "Jika ada di antara kamu", wahai orang-orang Muk-min ﴾ عِشۡرُونَ صَٰبِرُونَ يَغۡلِبُواْ مِاْئَتَيۡنِۚ وَإِن يَكُن مِّنكُم مِّاْئَةٞ يَغۡلِبُوٓاْ أَلۡفٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalah-kan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir." Satu Muslim melawan sepuluh orang kafir. Hal itu karena orang-orang kafir itu adalah ﴾ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "kaum yang tidak mengerti." Yakni me-reka tidak mengetahui tentang apa yang Allah sediakan bagi para mujahidin di jalanNya. Orang-orang kafir berperang demi kekuasa-an dan membuat kerusakan di bumi, sementara kamu memahami maksud dari berperang, bahwa ia adalah untuk meninggikan kali-mat Allah, meninggikan agamaNya, membela KitabNya, dan meraih kemenangan besar di sisi Allah. Semua itu adalah pendorong untuk berani, bersabar, dan maju ke medan perang. (66) Kemudian Allah meringankan hukum ini atas hamba-hambaNya. Dia berfirman, ﴾ ٱلۡـَٰٔنَ خَفَّفَ ٱللَّهُ عَنكُمۡ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمۡ ضَعۡفٗاۚ ﴿ "Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa pa-damu ada kelemahan." Oleh karena itu hikmah dan rahmatNya me-nuntut adanya keringanan. ﴾ فَإِن يَكُن مِّنكُم مِّاْئَةٞ صَابِرَةٞ يَغۡلِبُواْ مِاْئَتَيۡنِۚ وَإِن يَكُن مِّنكُمۡ أَلۡفٞ يَغۡلِبُوٓاْ أَلۡفَيۡنِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang, dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat menga-lahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar", dengan dukungan dan pertolonganNya. Konteks ayat-ayat ini berbentuk berita tentang orang-orang Mukmin bahwa jika mereka mencapai jumlah tertentu tersebut, mereka akan mengalahkan jumlah tertentu dari orang-orang kafir, bahwa Allah memberikan nikmat kepada mereka dengan kebera-nian iman yang mereka miliki, akan tetapi makna dan hakikatnya adalah perintah, bahwa pada awalnya Allah memerintahkan orang-orang Mukmin, bahwa satu orang Mukmin melawan sepuluh orang kafir dan tidak boleh berlari dari mereka, sepuluh menghadapi se-ratus dan seratus menghadapi seribu kemudian Allah meringankan itu, maka orang Muslim tidak boleh berlari jika berhadapan dengan orang-orang kafir yang berjumlah dua kali dari mereka, jika lebih maka boleh berlari. Akan tetapi pemahaman ini disanggah dengan dua hal: Pertama: Konteks ayat ini berbentuk berita, dan berita pada dasarnya sesuai dengan keberadaannya, bahwa maksud dari itu adalah penyebutan nikmat dan pemberitahuan tentang realita yang terjadi. Kedua: Pembatasan angka tersebut, apabila mereka adalah orang-orang yang sabar, terlatih di atas kesabaran, makna tersirat-nya adalah bahwa jika mereka bukan orang-orang yang bersabar, maka dibolehkan untuk berlari, meski orang-orang kafir itu kurang dari dua kali lipat mereka, jika perkiraan mereka akan kalah, seba-gaimana hal itu merupakan tuntutan hikmah ilahiyah. Yang pertama dijawab dengan mengatakan bahwa Firman-Nya, ﴾ ٱلۡـَٰٔنَ خَفَّفَ ٱللَّهُ عَنكُمۡ ﴿ "Sekarang Allah telah meringankan kepadamu…" dan seterusnya adalah dalil bahwa perkara ini adalah wajib dan perintah tak bisa ditawar. Kemudian Allah meringankannya men-jadi jumlah tersebut, ini jelas sekali bahwa ia adalah perintah, meski dengan konteks berita. Bisa juga dikatakan bahwa konteks berita yang dihadirkan mengandung rahasia indah yang tidak ada pada bahasa perintah, yaitu memompa semangat orang-orang Mukmin dan berita gembira bahwa mereka akan mengalahkan orang-orang kafir. Yang kedua dijawab dengan mengatakan bahwa yang dimak-sud pembatasan dengan orang-orang yang bersabar adalah sebagai pemacu kepada kesabaran, bahwa orang-orang Mukmin harus me-lakukan sebab-sebabnya, jika mereka telah melakukannya maka sebab-sebab iman dan materiil memberi isyarat gembira terwujud-nya kemenangan yang dijanjikan oleh Allah untuk kelompok kecil ini.

Al-Anfal 8:66

"Hai Nabi, kobarkanlah semangat para Mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat me-ngalahkan seribu orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemah-an. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang, dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 65-66). (65) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya ﷺ, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ حَرِّضِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ عَلَى ٱلۡقِتَالِۚ ﴿ "Hai Nabi, kobarkanlah semangat para Mukmin itu untuk berperang." Yakni doronglah dan paculah mereka untuk berperang dengan apa yang dapat menguatkan tekad mereka dan melecut semangat mereka, dengan memberikan anjuran dan janji pahala jihad dan melawan musuh, serta memberikan ancaman dan janji dosa terhadap sebaliknya, menjelaskan keutamaan kesabaran dan keberanian, serta apa yang dihasilkannya berupa kebaikan dunia dan akhirat, menjelaskan bahayanya sifat penakut, dan bahwa ia termasuk akhlak tercela yang menodai agama dan muru'ah, dan bahwa orang Mukmin lebih berhak untuk berani daripada yang lain. ﴾ إِن تَكُونُواْ تَأۡلَمُونَ فَإِنَّهُمۡ يَأۡلَمُونَ كَمَا تَأۡلَمُونَۖ وَتَرۡجُونَ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا يَرۡجُونَۗ ﴿ "Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang ka-mu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan." (An-Nisa`: 104). ﴾ إِن يَكُن مِّنكُمۡ ﴿ "Jika ada di antara kamu", wahai orang-orang Muk-min ﴾ عِشۡرُونَ صَٰبِرُونَ يَغۡلِبُواْ مِاْئَتَيۡنِۚ وَإِن يَكُن مِّنكُم مِّاْئَةٞ يَغۡلِبُوٓاْ أَلۡفٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalah-kan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir." Satu Muslim melawan sepuluh orang kafir. Hal itu karena orang-orang kafir itu adalah ﴾ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "kaum yang tidak mengerti." Yakni me-reka tidak mengetahui tentang apa yang Allah sediakan bagi para mujahidin di jalanNya. Orang-orang kafir berperang demi kekuasa-an dan membuat kerusakan di bumi, sementara kamu memahami maksud dari berperang, bahwa ia adalah untuk meninggikan kali-mat Allah, meninggikan agamaNya, membela KitabNya, dan meraih kemenangan besar di sisi Allah. Semua itu adalah pendorong untuk berani, bersabar, dan maju ke medan perang. (66) Kemudian Allah meringankan hukum ini atas hamba-hambaNya. Dia berfirman, ﴾ ٱلۡـَٰٔنَ خَفَّفَ ٱللَّهُ عَنكُمۡ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمۡ ضَعۡفٗاۚ ﴿ "Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa pa-damu ada kelemahan." Oleh karena itu hikmah dan rahmatNya me-nuntut adanya keringanan. ﴾ فَإِن يَكُن مِّنكُم مِّاْئَةٞ صَابِرَةٞ يَغۡلِبُواْ مِاْئَتَيۡنِۚ وَإِن يَكُن مِّنكُمۡ أَلۡفٞ يَغۡلِبُوٓاْ أَلۡفَيۡنِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang, dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat menga-lahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar", dengan dukungan dan pertolonganNya. Konteks ayat-ayat ini berbentuk berita tentang orang-orang Mukmin bahwa jika mereka mencapai jumlah tertentu tersebut, mereka akan mengalahkan jumlah tertentu dari orang-orang kafir, bahwa Allah memberikan nikmat kepada mereka dengan kebera-nian iman yang mereka miliki, akan tetapi makna dan hakikatnya adalah perintah, bahwa pada awalnya Allah memerintahkan orang-orang Mukmin, bahwa satu orang Mukmin melawan sepuluh orang kafir dan tidak boleh berlari dari mereka, sepuluh menghadapi se-ratus dan seratus menghadapi seribu kemudian Allah meringankan itu, maka orang Muslim tidak boleh berlari jika berhadapan dengan orang-orang kafir yang berjumlah dua kali dari mereka, jika lebih maka boleh berlari. Akan tetapi pemahaman ini disanggah dengan dua hal: Pertama: Konteks ayat ini berbentuk berita, dan berita pada dasarnya sesuai dengan keberadaannya, bahwa maksud dari itu adalah penyebutan nikmat dan pemberitahuan tentang realita yang terjadi. Kedua: Pembatasan angka tersebut, apabila mereka adalah orang-orang yang sabar, terlatih di atas kesabaran, makna tersirat-nya adalah bahwa jika mereka bukan orang-orang yang bersabar, maka dibolehkan untuk berlari, meski orang-orang kafir itu kurang dari dua kali lipat mereka, jika perkiraan mereka akan kalah, seba-gaimana hal itu merupakan tuntutan hikmah ilahiyah. Yang pertama dijawab dengan mengatakan bahwa Firman-Nya, ﴾ ٱلۡـَٰٔنَ خَفَّفَ ٱللَّهُ عَنكُمۡ ﴿ "Sekarang Allah telah meringankan kepadamu…" dan seterusnya adalah dalil bahwa perkara ini adalah wajib dan perintah tak bisa ditawar. Kemudian Allah meringankannya men-jadi jumlah tersebut, ini jelas sekali bahwa ia adalah perintah, meski dengan konteks berita. Bisa juga dikatakan bahwa konteks berita yang dihadirkan mengandung rahasia indah yang tidak ada pada bahasa perintah, yaitu memompa semangat orang-orang Mukmin dan berita gembira bahwa mereka akan mengalahkan orang-orang kafir. Yang kedua dijawab dengan mengatakan bahwa yang dimak-sud pembatasan dengan orang-orang yang bersabar adalah sebagai pemacu kepada kesabaran, bahwa orang-orang Mukmin harus me-lakukan sebab-sebabnya, jika mereka telah melakukannya maka sebab-sebab iman dan materiil memberi isyarat gembira terwujud-nya kemenangan yang dijanjikan oleh Allah untuk kelompok kecil ini.

Al-Anfal 8:67

"Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghen-daki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pa-hala) akhirat (untukmu). Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena te-busan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Anfal: 67-69). (67) Ini adalah teguran Allah kepada RasulNya dan orang-orang yang beriman pada hari Perang Badar, manakala mereka me-nawan orang-orang musyrik dan membiarkan mereka untuk harta tebusan. Ketika itu Umar bin al-Khaththab telah mengusulkan agar para tawanan itu dibunuh dan dihabisi saja. Allah berfirman, ﴾ مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسۡرَىٰ حَتَّىٰ يُثۡخِنَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempu-nyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi." Yakni tidak layak dan tidak pantas bagi Nabi, jika Nabi memerangi orang-orang kafir yang hendak memadamkan cahaya Allah, ber-usaha mematikan agamaNya, memberangus siapa pun di bumi ini yang menyembah Allah, untuk menawan orang-orang kafir dan membiarkannya hidup demi harta tebusan dari mereka, karena ia hanyalah harta sedikit jika dibandingkan dengan kemaslahatan yang menuntut pemusnahan mereka dan penangkalan terhadap keburukan mereka. Selama mereka memendam keburukan dan memiliki gerakan, maka yang lebih utama adalah tidak menawan mereka, jika mereka telah bisa dilumpuhkan, kejahatan mereka terkikis dan kekuatan mereka sirna, maka dalam kondisi tersebut tidak mengapa menawan mereka dan membiarkan mereka hidup. Allah berfirman, ﴾ تُرِيدُونَ ﴿ "Kamu menghendaki", dengan me-nerima tebusan dari mereka ﴾ عَرَضَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "harta benda duniawiyah", bukan kemaslahatan yang kembali kepada agamamu ﴾ وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلۡأٓخِرَةَۗ ﴿ "sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)." Dengan memuliakan agamaNya, memenangkan para waliNya, dan menja-dikan kalimat mereka tinggi di atas yang lain, maka Dia memerin-tahkanmu untuk melakukan sesuatu yang dapat menyampaikanmu ke sana. ﴾ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Yakni perkasa dengan sempurna, jika Allah mau, Allah bisa menga-lahkan orang-orang kafir tanpa perang, akan tetapi Allah Mahabi-jaksana, menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. (68) ﴾ لَّوۡلَا كِتَٰبٞ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ ﴿ "Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah", yaitu qadha dan qadarNya, bahwa Dia telah menghalalkan harta rampasan perang untukmu dan bah-wa Allah telah mengangkat azab darimu wahai umat ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِيمَآ أَخَذۡتُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil." Dalam hadits disebutkan, لَوْ نَزَلَ عَذَابُ يَوْمَ بَدْرٍ، مَا نَجَا مِنْهُ إِلَّا عُمَرَ. "Seandainya pada Hari perang Badar turun azab, maka yang selamat darinya hanyalah Umar."[81] (69) ﴾ فَكُلُواْ مِمَّا غَنِمۡتُمۡ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ ﴿ "Maka makanlah dari sebagian ram-pasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik." Ini adalah di antara kasih sayang Allah تعالى kepada umat ini, dengan menghalalkan harta rampasan perang yang tidak dihalal-kan kepada umat sebelumnya. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah", dalam segala urusanmu, dan pegang eratlah ketakwaan ini sebagai bukti syukur terhadap nikmat Allah atasmu. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun." Mengampuni semua dosa bagi yang bertaubat kepadaNya, dan mengampuni seluruh maksiat bagi yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun. ﴾ رَّحِيمٞ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepadamu, di mana Dia menghalalkan harta rampasan perang dan menjadikannya halal lagi baik untukmu.

Al-Anfal 8:68

"Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghen-daki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pa-hala) akhirat (untukmu). Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena te-busan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Anfal: 67-69). (67) Ini adalah teguran Allah kepada RasulNya dan orang-orang yang beriman pada hari Perang Badar, manakala mereka me-nawan orang-orang musyrik dan membiarkan mereka untuk harta tebusan. Ketika itu Umar bin al-Khaththab telah mengusulkan agar para tawanan itu dibunuh dan dihabisi saja. Allah berfirman, ﴾ مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسۡرَىٰ حَتَّىٰ يُثۡخِنَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempu-nyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi." Yakni tidak layak dan tidak pantas bagi Nabi, jika Nabi memerangi orang-orang kafir yang hendak memadamkan cahaya Allah, ber-usaha mematikan agamaNya, memberangus siapa pun di bumi ini yang menyembah Allah, untuk menawan orang-orang kafir dan membiarkannya hidup demi harta tebusan dari mereka, karena ia hanyalah harta sedikit jika dibandingkan dengan kemaslahatan yang menuntut pemusnahan mereka dan penangkalan terhadap keburukan mereka. Selama mereka memendam keburukan dan memiliki gerakan, maka yang lebih utama adalah tidak menawan mereka, jika mereka telah bisa dilumpuhkan, kejahatan mereka terkikis dan kekuatan mereka sirna, maka dalam kondisi tersebut tidak mengapa menawan mereka dan membiarkan mereka hidup. Allah berfirman, ﴾ تُرِيدُونَ ﴿ "Kamu menghendaki", dengan me-nerima tebusan dari mereka ﴾ عَرَضَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "harta benda duniawiyah", bukan kemaslahatan yang kembali kepada agamamu ﴾ وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلۡأٓخِرَةَۗ ﴿ "sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)." Dengan memuliakan agamaNya, memenangkan para waliNya, dan menja-dikan kalimat mereka tinggi di atas yang lain, maka Dia memerin-tahkanmu untuk melakukan sesuatu yang dapat menyampaikanmu ke sana. ﴾ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Yakni perkasa dengan sempurna, jika Allah mau, Allah bisa menga-lahkan orang-orang kafir tanpa perang, akan tetapi Allah Mahabi-jaksana, menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. (68) ﴾ لَّوۡلَا كِتَٰبٞ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ ﴿ "Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah", yaitu qadha dan qadarNya, bahwa Dia telah menghalalkan harta rampasan perang untukmu dan bah-wa Allah telah mengangkat azab darimu wahai umat ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِيمَآ أَخَذۡتُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil." Dalam hadits disebutkan, لَوْ نَزَلَ عَذَابُ يَوْمَ بَدْرٍ، مَا نَجَا مِنْهُ إِلَّا عُمَرَ. "Seandainya pada Hari perang Badar turun azab, maka yang selamat darinya hanyalah Umar."[81] (69) ﴾ فَكُلُواْ مِمَّا غَنِمۡتُمۡ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ ﴿ "Maka makanlah dari sebagian ram-pasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik." Ini adalah di antara kasih sayang Allah تعالى kepada umat ini, dengan menghalalkan harta rampasan perang yang tidak dihalal-kan kepada umat sebelumnya. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah", dalam segala urusanmu, dan pegang eratlah ketakwaan ini sebagai bukti syukur terhadap nikmat Allah atasmu. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun." Mengampuni semua dosa bagi yang bertaubat kepadaNya, dan mengampuni seluruh maksiat bagi yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun. ﴾ رَّحِيمٞ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepadamu, di mana Dia menghalalkan harta rampasan perang dan menjadikannya halal lagi baik untukmu.

Al-Anfal 8:69

"Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghen-daki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pa-hala) akhirat (untukmu). Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena te-busan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Anfal: 67-69). (67) Ini adalah teguran Allah kepada RasulNya dan orang-orang yang beriman pada hari Perang Badar, manakala mereka me-nawan orang-orang musyrik dan membiarkan mereka untuk harta tebusan. Ketika itu Umar bin al-Khaththab telah mengusulkan agar para tawanan itu dibunuh dan dihabisi saja. Allah berfirman, ﴾ مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسۡرَىٰ حَتَّىٰ يُثۡخِنَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempu-nyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi." Yakni tidak layak dan tidak pantas bagi Nabi, jika Nabi memerangi orang-orang kafir yang hendak memadamkan cahaya Allah, ber-usaha mematikan agamaNya, memberangus siapa pun di bumi ini yang menyembah Allah, untuk menawan orang-orang kafir dan membiarkannya hidup demi harta tebusan dari mereka, karena ia hanyalah harta sedikit jika dibandingkan dengan kemaslahatan yang menuntut pemusnahan mereka dan penangkalan terhadap keburukan mereka. Selama mereka memendam keburukan dan memiliki gerakan, maka yang lebih utama adalah tidak menawan mereka, jika mereka telah bisa dilumpuhkan, kejahatan mereka terkikis dan kekuatan mereka sirna, maka dalam kondisi tersebut tidak mengapa menawan mereka dan membiarkan mereka hidup. Allah berfirman, ﴾ تُرِيدُونَ ﴿ "Kamu menghendaki", dengan me-nerima tebusan dari mereka ﴾ عَرَضَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "harta benda duniawiyah", bukan kemaslahatan yang kembali kepada agamamu ﴾ وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلۡأٓخِرَةَۗ ﴿ "sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)." Dengan memuliakan agamaNya, memenangkan para waliNya, dan menja-dikan kalimat mereka tinggi di atas yang lain, maka Dia memerin-tahkanmu untuk melakukan sesuatu yang dapat menyampaikanmu ke sana. ﴾ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Yakni perkasa dengan sempurna, jika Allah mau, Allah bisa menga-lahkan orang-orang kafir tanpa perang, akan tetapi Allah Mahabi-jaksana, menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. (68) ﴾ لَّوۡلَا كِتَٰبٞ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ ﴿ "Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah", yaitu qadha dan qadarNya, bahwa Dia telah menghalalkan harta rampasan perang untukmu dan bah-wa Allah telah mengangkat azab darimu wahai umat ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِيمَآ أَخَذۡتُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil." Dalam hadits disebutkan, لَوْ نَزَلَ عَذَابُ يَوْمَ بَدْرٍ، مَا نَجَا مِنْهُ إِلَّا عُمَرَ. "Seandainya pada Hari perang Badar turun azab, maka yang selamat darinya hanyalah Umar."[81] (69) ﴾ فَكُلُواْ مِمَّا غَنِمۡتُمۡ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ ﴿ "Maka makanlah dari sebagian ram-pasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik." Ini adalah di antara kasih sayang Allah تعالى kepada umat ini, dengan menghalalkan harta rampasan perang yang tidak dihalal-kan kepada umat sebelumnya. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah", dalam segala urusanmu, dan pegang eratlah ketakwaan ini sebagai bukti syukur terhadap nikmat Allah atasmu. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun." Mengampuni semua dosa bagi yang bertaubat kepadaNya, dan mengampuni seluruh maksiat bagi yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun. ﴾ رَّحِيمٞ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepadamu, di mana Dia menghalalkan harta rampasan perang dan menjadikannya halal lagi baik untukmu.

Al-Anfal 8:70

"Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu, 'Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik daripada apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu.' Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Akan tetapi jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (Al-Anfal: 70-71). (70) Ayat ini turun terkait dengan tawanan perang Badar[82], yang salah satunya adalah al-Abbas, paman Nabi ﷺ, ketika dia di-minta uang tebusan, dia menyatakan bahwa dia telah masuk Islam sebelumnya, tetapi mereka tetap mengambil tebusan darinya. Maka Allah تعالى menurunkan ayat ini untuk menenangkan pikirannya dan orang-orang yang sepertinya. ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّمَن فِيٓ أَيۡدِيكُم مِّنَ ٱلۡأَسۡرَىٰٓ إِن يَعۡلَمِ ٱللَّهُ فِي قُلُوبِكُمۡ خَيۡرٗا يُؤۡتِكُمۡ خَيۡرٗا مِّمَّآ أُخِذَ مِنكُمۡ ﴿ "Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-ta-wanan yang ada di tanganmu, 'Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik daripada apa yang telah diambil darimu'," berupa harta, yaitu dengan memu-dahkan untukmu banyak kebaikan yang lebih baik daripada apa yang diambil darimu dari karunianya. ﴾ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡۚ ﴿ "Dan Dia akan mengampuni kamu," yakni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam Surga. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Allah telah membuktikan janjiNya untuk al-Abbas dan selainnya, maka setelah itu dia mendapatkan harta yang banyak, sampai suatu kali Nabi ﷺ mendapatkan harta yang melimpah, lalu Abbas datang kepada beliau, maka beliau memintanya mengambil dari harta itu dengan lembaran pakaiannya yang mampu dia ang-kut, dia pun mengambil darinya apa yang hampir-hampir dia tidak dapat mengangkutnya.[83] (71) ﴾ وَإِن يُرِيدُواْ خِيَانَتَكَ ﴿ "Akan tetapi jika mereka (tawanan-tawa-nan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu", dengan usaha untuk memusuhimu dan memerangimu. ﴾ فَقَدۡ خَانُواْ ٱللَّهَ مِن قَبۡلُ فَأَمۡكَنَ مِنۡهُمۡۗ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka." Sehingga mereka mewas-padai pengkhianatanmu, karena Allah Maha Berkuasa atas mereka, sementara mereka di bawah kekuasaanNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." Yakni mengetahui segala sesuatu, Bijaksana dengan meletakkan segala urusan pada tempat-nya. Dan termasuk ilmu dan hikmahNya adalah Dia meletakkan hukum-hukum yang mulia lagi baik ini, dan Dia telah menjamin penjagaanmu dari kejahatan para tawanan itu jika mereka ingin mengkhianatimu. 9

Al-Anfal 8:71

"Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu, 'Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik daripada apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu.' Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Akan tetapi jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (Al-Anfal: 70-71). (70) Ayat ini turun terkait dengan tawanan perang Badar[82], yang salah satunya adalah al-Abbas, paman Nabi ﷺ, ketika dia di-minta uang tebusan, dia menyatakan bahwa dia telah masuk Islam sebelumnya, tetapi mereka tetap mengambil tebusan darinya. Maka Allah تعالى menurunkan ayat ini untuk menenangkan pikirannya dan orang-orang yang sepertinya. ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّمَن فِيٓ أَيۡدِيكُم مِّنَ ٱلۡأَسۡرَىٰٓ إِن يَعۡلَمِ ٱللَّهُ فِي قُلُوبِكُمۡ خَيۡرٗا يُؤۡتِكُمۡ خَيۡرٗا مِّمَّآ أُخِذَ مِنكُمۡ ﴿ "Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-ta-wanan yang ada di tanganmu, 'Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik daripada apa yang telah diambil darimu'," berupa harta, yaitu dengan memu-dahkan untukmu banyak kebaikan yang lebih baik daripada apa yang diambil darimu dari karunianya. ﴾ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡۚ ﴿ "Dan Dia akan mengampuni kamu," yakni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam Surga. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Allah telah membuktikan janjiNya untuk al-Abbas dan selainnya, maka setelah itu dia mendapatkan harta yang banyak, sampai suatu kali Nabi ﷺ mendapatkan harta yang melimpah, lalu Abbas datang kepada beliau, maka beliau memintanya mengambil dari harta itu dengan lembaran pakaiannya yang mampu dia ang-kut, dia pun mengambil darinya apa yang hampir-hampir dia tidak dapat mengangkutnya.[83] (71) ﴾ وَإِن يُرِيدُواْ خِيَانَتَكَ ﴿ "Akan tetapi jika mereka (tawanan-tawa-nan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu", dengan usaha untuk memusuhimu dan memerangimu. ﴾ فَقَدۡ خَانُواْ ٱللَّهَ مِن قَبۡلُ فَأَمۡكَنَ مِنۡهُمۡۗ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka." Sehingga mereka mewas-padai pengkhianatanmu, karena Allah Maha Berkuasa atas mereka, sementara mereka di bawah kekuasaanNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." Yakni mengetahui segala sesuatu, Bijaksana dengan meletakkan segala urusan pada tempat-nya. Dan termasuk ilmu dan hikmahNya adalah Dia meletakkan hukum-hukum yang mulia lagi baik ini, dan Dia telah menjamin penjagaanmu dari kejahatan para tawanan itu jika mereka ingin mengkhianatimu. 9

Al-Anfal 8:72

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melin-dungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum ber-hijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka me-minta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Anfal: 72). (72) Ini adalah akad muwalah (loyalitas) dan kecintaan yang Allah buat di antara orang-orang Muhajirin yang beriman, berhijrah di jalan Allah, meninggalkan tanah kelahiran untuk Allah demi berjihad di jalanNya, dengan orang-orang Anshar yang melindungi Rasulullah ﷺ dan kawan-kawannya, dan memberi mereka bantuan di negeri mereka dengan harta dan jiwa mereka. Mereka itu adalah wali bagi sebagian yang lain, karena kesempurnaan iman mereka dan eratnya hubungan sebagian dengan sebagian yang lain. ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يُهَاجِرُواْ مَا لَكُم مِّن وَلَٰيَتِهِم مِّن شَيۡءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُواْۚ ﴿ "Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah." Karena mereka memutuskan akad muwalah darimu dengan memisahkan diri darimu pada waktu di mana kebutuhan kepada kaum laki-laki sangat mendesak, karena mereka tidak berhijrah maka mereka tidak memiliki sedikit pun akad muwalah dengan orang-orang yang beriman. ﴾ وَإِنِ ٱسۡتَنصَرُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ ﴿ "(Akan tetapi) jika mereka meminta perto-longan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama", yakni untuk me-merangi orang yang memerangi mereka karena agamanya, ﴾ فَعَلَيۡكُمُ ٱلنَّصۡرُ ﴿ "maka kamu wajib memberikan pertolongan", dengan berperang bersama mereka. Adapun jika perangnya bukan untuk tujuan ter-sebut maka kamu tidak harus menolongnya. FirmanNya تعالى, ﴾ إِلَّا عَلَىٰ قَوۡمِۭ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُم مِّيثَٰقٞۗ ﴿ "Kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka." Yakni perjanjian damai, jika orang-orang Mukmin yang tidak berhijrah itu hendak memerangi mereka, maka janganlah kamu membantu mereka atasnya, karena perjanjian yang ada di antara dirimu dengan diri mereka. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan." Mengetahui keadaanmu, sehingga Dia meletakkan hukum yang sesuai denganmu.

Al-Anfal 8:73

"Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai kaum Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, nis-caya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." (Al-Anfal: 73). (73) Manakala Allah menyatakan akad muwalah di antara orang-orang Mukmin, Dia menyatakan bahwa orang-orang kafir yang dihimpun oleh kekufuran, sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain, maka tidak ada yang mengangkat mereka menjadi wali kecuali orang kafir yang sama dengan mereka. Firman-Nya, ﴾ إِلَّا تَفۡعَلُوهُ ﴿ "Jika kamu (hai kaum Muslimin) tidak melaksanakan," yakni berwala` (bersikap loyal) kepada orang-orang Mukmin dan berbara' (anti dan berlepas diri) dari orang-orang kafir, di mana kamu berwala` kepada mereka semua atau berbara' dari mereka semua, atau kamu berwala` kepada orang-orang kafir dan berbara' dari orang-orang Mukmin, ﴾ تَكُن فِتۡنَةٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَفَسَادٞ كَبِيرٞ ﴿ "niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." Hal itu me-nimbulkan dampak negatif yang tak berbatas: bercampurnya kebe-naran dengan kebatilan, Mukmin dengan kafir, lenyapnya banyak ibadah besar seperti jihad, hijrah, dan tujuan-tujuan syariat yang lain yang bisa lenyap jika orang-orang Mukmin tidak mengangkat orang-orang Mukmin sebagai wali. Ayat-ayat di atas menyebutkan akad muwalah di antara orang-orang Mukmin dari Muhajirin dan Anshar. Dan ayat-ayat berikut ini menjelaskan pujian dan janji pahala bagi mereka.

Al-Anfal 8:74

"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu, maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Anfal: 74-75). (74) ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَواْ وَّنَصَرُوٓاْ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman." Yaitu orang-orang Muhajirin dan Anshar, mereka itulah orang-orang yang ﴾ حَقّٗاۚ ﴿ "benar-benar beriman," karena mereka membenarkan iman mereka dengan hijrah, menolong, ber-wala` kepada sebagian yang lain, dan jihad mereka melawan orang-orang kafir dan munafik. ﴾ لَّهُم مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "Mereka memperoleh ampunan", dari Allah yang menghapus dosa-dosa mereka dan menghilangkan kesalahan mereka, ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan (mereka mendapatkan) rizki (nikmat) yang mulia." Yakni, kebaikan yang banyak dari Rabb Yang Mulia di Surga kenikmatan, dan bisa jadi mereka mendapatkan pahala dunia yang membuat mereka berbahagia dan hidup tenteram. (75) Begitu pula orang-orang yang datang sesudah para Muhajirin dan Anshar tersebut dari kalangan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dia beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ مِنكُمۡۚ ﴿ "maka orang-orang itu termasuk golongan-mu (juga)." Untuk mereka apa yang menjadi hakmu, atas mereka apa yang menjadi kewajibanmu. Inilah muwalah imaniyah (loyalitas keimanan) yang mana di awal Islam ia memiliki pengaruh dan dampak positif yang sangat besar, sampai-sampai Nabi ﷺ memper-saudarakan di antara orang-orang Muhajirin dengan orang-orang Anshar dengan persaudaraan yang khusus, selain persaudaraan iman yang umum, bahkan mereka saling mewarisi satu sama lain dengan persaudaraan tersebut. Lalu Allah menurunkan, ﴾ وَأُوْلُواْ ٱلۡأَرۡحَامِ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلَىٰ بِبَعۡضٖ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagaiannya lebih berhak terhadap sesamanya (da-ripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah." Maka yang mewarisi hanyalah kerabatnya dari Ashabah[84] dan Ashhabul Furudh[85], jika tidak ada, maka kerabat terdekatnya dari Dzawil Arham[86], sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh keumuman ayat yang mulia. FirmanNya, ﴾ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Di dalam Kitab Allah." Yakni di dalam hukum dan sya-riatNya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمُۢ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Yang di antaranya adalah keadaanmu, yang mana Allah memberlakukan syariat-syariat agamaNya yang cocok dan sesuai dengannya. Selesai tafsir surat al-Anfal. Segala puji hanya bagi Allah dan segala karunia hanya dariNya.

Al-Anfal 8:75

"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu, maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Anfal: 74-75). (74) ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَواْ وَّنَصَرُوٓاْ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman." Yaitu orang-orang Muhajirin dan Anshar, mereka itulah orang-orang yang ﴾ حَقّٗاۚ ﴿ "benar-benar beriman," karena mereka membenarkan iman mereka dengan hijrah, menolong, ber-wala` kepada sebagian yang lain, dan jihad mereka melawan orang-orang kafir dan munafik. ﴾ لَّهُم مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "Mereka memperoleh ampunan", dari Allah yang menghapus dosa-dosa mereka dan menghilangkan kesalahan mereka, ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan (mereka mendapatkan) rizki (nikmat) yang mulia." Yakni, kebaikan yang banyak dari Rabb Yang Mulia di Surga kenikmatan, dan bisa jadi mereka mendapatkan pahala dunia yang membuat mereka berbahagia dan hidup tenteram. (75) Begitu pula orang-orang yang datang sesudah para Muhajirin dan Anshar tersebut dari kalangan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dia beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ مِنكُمۡۚ ﴿ "maka orang-orang itu termasuk golongan-mu (juga)." Untuk mereka apa yang menjadi hakmu, atas mereka apa yang menjadi kewajibanmu. Inilah muwalah imaniyah (loyalitas keimanan) yang mana di awal Islam ia memiliki pengaruh dan dampak positif yang sangat besar, sampai-sampai Nabi ﷺ memper-saudarakan di antara orang-orang Muhajirin dengan orang-orang Anshar dengan persaudaraan yang khusus, selain persaudaraan iman yang umum, bahkan mereka saling mewarisi satu sama lain dengan persaudaraan tersebut. Lalu Allah menurunkan, ﴾ وَأُوْلُواْ ٱلۡأَرۡحَامِ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلَىٰ بِبَعۡضٖ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagaiannya lebih berhak terhadap sesamanya (da-ripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah." Maka yang mewarisi hanyalah kerabatnya dari Ashabah[84] dan Ashhabul Furudh[85], jika tidak ada, maka kerabat terdekatnya dari Dzawil Arham[86], sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh keumuman ayat yang mulia. FirmanNya, ﴾ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Di dalam Kitab Allah." Yakni di dalam hukum dan sya-riatNya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمُۢ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Yang di antaranya adalah keadaanmu, yang mana Allah memberlakukan syariat-syariat agamaNya yang cocok dan sesuai dengannya. Selesai tafsir surat al-Anfal. Segala puji hanya bagi Allah dan segala karunia hanya dariNya.

At-Taubah 9:1

"(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum Muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan me-reka). Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah meng-hinakan orang-orang kafir." (At-Taubah: 1-2). Madaniyah (1-2) ﴾ بَرَآءَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya (yang dihadapkan)", kepada seluruh orang-orang musyrik yang berada dalam perjanjian damai, bahwa mereka memiliki empat bulan untuk berkeliling dunia sesuka mereka dalam keadaan aman dari orang-orang Mukmin, dan setelah empat bulan tersebut tidak ada lagi perjanjian dan jaminan. Ini berlaku bagi me-reka yang dalam perjanjian mutlak, tidak berbatas atau berbatas, dengan empat bulan atau kurang. Adapun yang mempunyai per-janjian lebih dari empat bulan, maka wajib disempurnakan sampai akhir, jika tidak dikhawatirkan pengkhianatannya, dan mereka tidak memulai membatalkan perjanjian. Kemudian Allah memperingatkan orang-orang musyrik yang berada di dalam masa perjanjian, bahwa meskipun mereka aman, mereka tidak akan dapat melemahkan Allah dan mengalahkanNya, barangsiapa di antara mereka yang terus berpegang dengan kesyi-rikannya, maka Allah pasti akan menghinakannya. Hal ini termasuk pendorong bagi mereka untuk masuk Islam, kecuali orang yang menyombongkan diri, menentang dan mengabaikan ancaman Allah.

At-Taubah 9:2

"(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum Muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan me-reka). Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah meng-hinakan orang-orang kafir." (At-Taubah: 1-2). Madaniyah (1-2) ﴾ بَرَآءَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya (yang dihadapkan)", kepada seluruh orang-orang musyrik yang berada dalam perjanjian damai, bahwa mereka memiliki empat bulan untuk berkeliling dunia sesuka mereka dalam keadaan aman dari orang-orang Mukmin, dan setelah empat bulan tersebut tidak ada lagi perjanjian dan jaminan. Ini berlaku bagi me-reka yang dalam perjanjian mutlak, tidak berbatas atau berbatas, dengan empat bulan atau kurang. Adapun yang mempunyai per-janjian lebih dari empat bulan, maka wajib disempurnakan sampai akhir, jika tidak dikhawatirkan pengkhianatannya, dan mereka tidak memulai membatalkan perjanjian. Kemudian Allah memperingatkan orang-orang musyrik yang berada di dalam masa perjanjian, bahwa meskipun mereka aman, mereka tidak akan dapat melemahkan Allah dan mengalahkanNya, barangsiapa di antara mereka yang terus berpegang dengan kesyi-rikannya, maka Allah pasti akan menghinakannya. Hal ini termasuk pendorong bagi mereka untuk masuk Islam, kecuali orang yang menyombongkan diri, menentang dan mengabaikan ancaman Allah.

At-Taubah 9:3

"Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan RasulNya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Ke-mudian jika kamu (kaum musyrikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu, dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan men-dapat) siksa yang pedih." (At-Taubah: 3). (3) Ini adalah janji Allah kepada orang-orang Mukmin: bahwa Allah akan memenangkan agamaNya, meninggikan kalimatNya dan mengalahkan musuh-musuh mereka, yaitu orang-orang musy-rik yang telah mengusir dan mengeluarkan Rasulullah dan para sahabatnya dari Makkah, dari Baitullah al-Haram, yang membuat mereka memiliki kekuasaan atasnya di tanah Hijaz. Allah meme-nangkan RasulNya dan orang-orang yang beriman sampai Makkah dapat ditaklukkan dan orang-orang musyrik menjadi terhina. Hu-kum dan kendali atas negara itu beralih ke tangan orang-orang yang beriman. Maka Nabi ﷺ meminta penyeru agar mengumumkan pada hari yang akbar yaitu hari penyembelihan, hari berkumpulnya manusia yang Muslim dan yang kafir dari seluruh penjuru jazirah Arabia, dia mengumumkan bahwa Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrik, mereka tidak lagi mempunyai per-janjian damai di sisiNya, di mana saja mereka berada, mereka akan diperangi dan dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu mende-kati Masjidil Haram sesudah tahun ini" itu terjadi pada tahun 9 H, dan Abu Bakar رضي الله عنه yang memimpin haji, sedangkan yang meng-umumkan pernyataan pemutusan hubungan pada hari penyembe-lihan adalah sepupu Rasulullah ﷺ, Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه. Kemudian Allah تعالى mendorong orang-orang musyrik agar bertaubat dan memperingatkan mereka untuk meninggalkan kesyi-rikan yang mereka ikuti, ﴾ فَإِن تُبۡتُمۡ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّكُمۡ غَيۡرُ مُعۡجِزِي ٱللَّهِۗ ﴿ "kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu, dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah." Yakni kamu tidak mungkin melepaskan diri dariNya, justru kamu dalam genggaman-Nya. Dia mampu menguasakan hamba-hambaNya yang beriman atasmu. ﴾ وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih." Yakni azab yang menyakitkan dan mengerikan di dunia dengan ditawan, dibunuh dan diusir dan di akhirat dengan api neraka dan itu adalah sebu-ruk-buruk tempat.

At-Taubah 9:4

"Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu tidak (pula) mereka membantu sese-orang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." (At-Taubah: 4). (4) Yakni pemutusan hubungan yang sempurna lagi mutlak kepada seluruh orang-orang musyrik ini. ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ عَٰهَدتُّم مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka)", mereka tetap dalam perjanjian mereka dan tidak terjadi dari mereka sesuatu yang mengharuskan pembatalan, me-reka tidak mengurangi sesuatu pun dari isi perjanjian denganmu, tidak membantu orang lain melawanmu; untuk mereka itu, sempur-nakanlah perjanjian dengan mereka sampai batasnya, baik pendek atau panjang, karena Islam tidak memerintahkan berkhianat, akan tetapi Islam memerintahkan memenuhi janji. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Se-sungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." Orang-orang yang melakukan apa yang diperintahkan, menjauhi syirik, khianat, dan dosa-dosa yang lain.

At-Taubah 9:5

"Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuh-lah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang." (At-Taubah: 5). (5) Allah تعالى berfirman, ﴾ فَإِذَا ٱنسَلَخَ ٱلۡأَشۡهُرُ ٱلۡحُرُمُ ﴿ "Apabila sudah ha-bis bulan-bulan Haram itu", yang padanya diharamkan memerangi orang musyrik yang dalam perjanjian, yaitu bulan-bulan berkeliling yang berjumlah empat, dan selesainya jangka waktu bagi yang mempunyai jangka waktu lebih dari itu, maka tanggung jawab telah terbebas dari mereka. ﴾ فَٱقۡتُلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ حَيۡثُ وَجَدتُّمُوهُمۡ ﴿ "Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka", di tempat dan waktu apa pun. ﴾ وَخُذُوهُمۡ ﴿ "Dan tangkaplah mereka," sebagai tawanan, ﴾ وَٱحۡصُرُوهُمۡ ﴿ "Kepunglah mereka," yakni persempit gerak mereka, jangan biarkan mereka bergerak leluasa di bumi Allah yang dijadikanNya sebagai tempat ibadah bagi hamba-hambaNya. Mereka tidaklah layak untuk tinggal padanya, dan tidak berhak atasnya sejengkal pun karena bumi adalah bumi Allah, sedangkan mereka adalah musuh-musuhNya yang menantangNya dan RasulNya, mereka adalah orang-orang yang selalu berusaha agar bumi Allah bersih dari agamaNya, padahal Allah menolak selain menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir membencinya. ﴾ وَٱقۡعُدُواْ لَهُمۡ كُلَّ مَرۡصَدٖۚ ﴿ "Dan intailah di tempat pengintaian." Yakni di setiap ke-sempatan dan tempat yang mereka lewati, bersiap siagalah dalam berjihad melawan mereka, keluarkan segala usahamu dalam hal ini, dan teruslah bersikap demikian kepada mereka sehingga mereka bertaubat dari kesyirikan mereka. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ فَإِن تَابُواْ ﴿ "Jika mereka bertaubat", dari kesyirikan mereka, ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "dan mendirikan shalat." Yakni melaksanakannya dengan semesti-nya, ﴾ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan menunaikan zakat", kepada yang berhak me-nerimanya, ﴾ فَخَلُّواْ سَبِيلَهُمۡۚ ﴿ "maka berilah kebebasan kepada mereka." Yakni biarkanlah mereka, adapun seterusnya, berikan kepada mereka seperti apa yang menjadi hakmu dan bebankanlah atas mereka seperti apa yang menjadi kewajibanmu. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguh-nya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Dia mengampuni syirik dan dosa yang lebih rendah darinya bagi orang-orang yang bertaubat, dan menyayangi mereka dengan memberi taufik kepada taubat lalu menerimanya dari mereka. Di dalam ayat ini terkandung dalil bahwa barangsiapa tidak mau melaksanakan shalat atau zakat, maka dia diperangi sampai dia mau melaksanakannya, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه.

At-Taubah 9:6

"Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu me-minta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar Firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tem-pat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui." (At-Taubah: 6). (6) Karena FirmanNya, ﴾ فَإِذَا ٱنسَلَخَ ٱلۡأَشۡهُرُ ٱلۡحُرُمُ فَٱقۡتُلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ حَيۡثُ وَجَدتُّمُوهُمۡ وَخُذُوهُمۡ وَٱحۡصُرُوهُمۡ وَٱقۡعُدُواْ لَهُمۡ كُلَّ مَرۡصَدٖۚ ﴿ "Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian", (at-Tau-bah: 5) adalah perintah yang bersifat umum dalam segala kondisi dan untuk semua orang dari mereka, maka Allah menyatakan bah-wa jika memang ada kemaslahatan dalam mendekati sebagian dari mereka, maka hal itu dibolehkan, bahkan wajib, Dia berfirman, ﴾ وَإِنۡ أَحَدٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٱسۡتَجَارَكَ ﴿ "Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu." Yakni memintamu melindungi-nya dan menjamin keamanannya agar dia mendengar Kalamullah dan melihat keadaan Islam, ﴾ فَأَجِرۡهُ حَتَّىٰ يَسۡمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ﴿ "maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar Firman Allah", kemudian jika dia masuk Islam, maka itulah yang diharapkan, jika tidak, maka antarkan dia ke tempat yang aman. Penyebabnya adalah bahwa orang-orang kafir adalah kaum yang tidak mengetahui, bisa jadi kekufuran yang mereka ikuti itu dikarenakan kejahilan mereka, jika kejahilan ini lenyap maka bisa jadi mereka memilih Islam, oleh karena itu Allah memerintahkan RasulNya dan umatnya yang mengikutinya, agar melindungi orang yang ingin mendengar Kalamullah. Ini adalah dalil yang sangat jelas bagi madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang menyatakan bahwa al-Qur`an adalah Kalamullah bukan makhluk, karena Allah-lah yang berbicara dengannya dan menisbatkannya kepada diriNya sebagai bentuk penisbatan sifat kepada pemiliknya. Ini sekaligus menunjukkan kebatilan madzhab Mu'tazilah dan orang-orang yang mengambil pendapat mereka bahwa al-Qur`an adalah makhluk. Dan banyak sekali dalil yang menunjukkan kebatilan pendapat ini, namun bukan di sini tempat untuk membeberkannya.

At-Taubah 9:7

"Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil Haram? Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguh-nya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." (At-Taubah: 7). (7) Ini adalah penjelasan tentang hikmah yang mengharus-kan berlepasnya Allah dan RasulNya dari orang-orang musyrik. Dia berfirman, ﴾ كَيۡفَ يَكُونُ لِلۡمُشۡرِكِينَ عَهۡدٌ عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ رَسُولِهِۦٓ ﴿ "Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya." Apakah me-reka melakukan kewajiban iman? Apakah mereka tidak menyakiti Rasulullah dan orang-orang yang beriman? Bukankah mereka me-merangi kebenaran dan menyokong kebatilan? Bukankah mereka telah melakukan kerusakan di muka bumi? Maka sudah selayak-nya Allah berlepas diri dari mereka, dan hendaknya mereka tidak memiliki jaminan dari Allah dan RasulNya, ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ عَٰهَدتُّمۡ ﴿ "kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka), dari kaum musyrikin ﴾ عِندَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۖ ﴿ di dekat Masjidil Haram?" Maka mereka memiliki perjanjian, khususnya di tempat yang mulia ini yang seharusnya dijaga. ﴾ فَمَا ٱسۡتَقَٰمُواْ لَكُمۡ فَٱسۡتَقِيمُواْ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." Oleh karena itu Dia berfirman,

At-Taubah 9:8

"Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) per-janjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menetapi perjanjian). Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu. Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang Mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui." (At-Tau-bah: 8-11). (8) ﴾ كَيۡفَ وَإِن يَظۡهَرُواْ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu", dengan kekuatan dan kekuasaan, mereka tidak mengasihimu, dan ﴾ لَا يَرۡقُبُواْ فِيكُمۡ إِلّٗا وَلَا ذِمَّةٗۚ ﴿ "me-reka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian." Tidak dalam perjanjian dan tidak juga kekerabatan, serta tidak takut kepada Allah dalam memper-lakukan kamu, justru mereka menimpakan kepadamu siksa yang buruk. Inilah keadaanmu bersama mereka, jika mereka menang. Janganlah kamu tertipu dengan sikap mereka pada waktu mereka takut kepadamu, karena mereka ﴾ يُرۡضُونَكُم بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَتَأۡبَىٰ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "menye-nangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak." Yakni, hati mereka sama sekali tidak cenderung maupun cinta kepadamu, bah-kan mereka adalah musuh yang sebenarnya, yang membencimu dengan sebenarnya. ﴾ وَأَكۡثَرُهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menetapi perjanjian)." Tidak memiliki agama maupun muru'ah. (9) ﴾ ٱشۡتَرَوۡاْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنٗا قَلِيلٗا ﴿ "Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit." Yakni mereka memilih bagian yang fana lagi hina di dunia daripada iman kepada Allah, RasulNya, dan ke-tundukan kepada ayat-ayatNya. ﴾ فَصَدُّواْ ﴿ "Lalu mereka menghalangi", diri mereka sendiri dan orang lain ﴾ عَن سَبِيلِهِۦٓۚ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu." (10) ﴾ لَا يَرۡقُبُونَ فِي مُؤۡمِنٍ إِلّٗا وَلَا ذِمَّةٗۚ ﴿ "Mereka tidak memelihara (hu-bungan) kerabat terhadap orang-orang Mukmin dan tidak (pula mengin-dahkan) perjanjian." Yakni karena permusuhan mereka terhadap keimanan dan orang-orang yang beriman. Pemicu yang membuat mereka membencimu dan memusuhimu adalah karena iman. (11) Maka belalah agamamu, menangkanlah ia, jadikan orang yang memusuhinya sebagai musuh, dan orang yang menolongnya sebagai kawan, jadikanlah ada dan tidaknya hukum berkisar pada-nya, jangan jadikan muwalah (loyalitas) dan mu'adah (permusuhan) bersifat emosional yang mengikuti kecenderungan syahwat dan nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan. Oleh karena itu ﴾ فَإِن تَابُواْ ﴿ "jika mereka bertaubat", dari kesyirikan mereka dan kembali kepada iman, ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ فَإِخۡوَٰنُكُمۡ فِي ٱلدِّينِۗ ﴿ "mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama." Lupakanlah permusuhan tatkala mereka masih dalam kesyirikan, agar kalian menjadi hamba-hamba Allah yang ikhlas, dengan ini seorang hamba menjadi hamba yang sebenarnya. Manakala Allah menjelaskan hukum-hukumNya yang agung dan menerangkan berbagai hukum, serta hikmah, Dia berfirman, ﴾ وَنُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu", yakni menerang-kan dan memerincinya ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "bagi kaum yang mengetahui", kepada mereka ucapan ditujukan, dengan mereka hukum-hukum dan ayat-ayat diketahui, dan dengan mereka syariat dan agama Islam dikenal. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengetahui dan beramal dengan apa yang kami ketahui dengan rahmatMu, kedermawananMu, kemurahanMu, dan kebaikanMu, ya Rabbal 'alamin.

At-Taubah 9:9

"Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) per-janjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menetapi perjanjian). Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu. Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang Mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui." (At-Tau-bah: 8-11). (8) ﴾ كَيۡفَ وَإِن يَظۡهَرُواْ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu", dengan kekuatan dan kekuasaan, mereka tidak mengasihimu, dan ﴾ لَا يَرۡقُبُواْ فِيكُمۡ إِلّٗا وَلَا ذِمَّةٗۚ ﴿ "me-reka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian." Tidak dalam perjanjian dan tidak juga kekerabatan, serta tidak takut kepada Allah dalam memper-lakukan kamu, justru mereka menimpakan kepadamu siksa yang buruk. Inilah keadaanmu bersama mereka, jika mereka menang. Janganlah kamu tertipu dengan sikap mereka pada waktu mereka takut kepadamu, karena mereka ﴾ يُرۡضُونَكُم بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَتَأۡبَىٰ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "menye-nangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak." Yakni, hati mereka sama sekali tidak cenderung maupun cinta kepadamu, bah-kan mereka adalah musuh yang sebenarnya, yang membencimu dengan sebenarnya. ﴾ وَأَكۡثَرُهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menetapi perjanjian)." Tidak memiliki agama maupun muru'ah. (9) ﴾ ٱشۡتَرَوۡاْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنٗا قَلِيلٗا ﴿ "Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit." Yakni mereka memilih bagian yang fana lagi hina di dunia daripada iman kepada Allah, RasulNya, dan ke-tundukan kepada ayat-ayatNya. ﴾ فَصَدُّواْ ﴿ "Lalu mereka menghalangi", diri mereka sendiri dan orang lain ﴾ عَن سَبِيلِهِۦٓۚ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu." (10) ﴾ لَا يَرۡقُبُونَ فِي مُؤۡمِنٍ إِلّٗا وَلَا ذِمَّةٗۚ ﴿ "Mereka tidak memelihara (hu-bungan) kerabat terhadap orang-orang Mukmin dan tidak (pula mengin-dahkan) perjanjian." Yakni karena permusuhan mereka terhadap keimanan dan orang-orang yang beriman. Pemicu yang membuat mereka membencimu dan memusuhimu adalah karena iman. (11) Maka belalah agamamu, menangkanlah ia, jadikan orang yang memusuhinya sebagai musuh, dan orang yang menolongnya sebagai kawan, jadikanlah ada dan tidaknya hukum berkisar pada-nya, jangan jadikan muwalah (loyalitas) dan mu'adah (permusuhan) bersifat emosional yang mengikuti kecenderungan syahwat dan nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan. Oleh karena itu ﴾ فَإِن تَابُواْ ﴿ "jika mereka bertaubat", dari kesyirikan mereka dan kembali kepada iman, ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ فَإِخۡوَٰنُكُمۡ فِي ٱلدِّينِۗ ﴿ "mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama." Lupakanlah permusuhan tatkala mereka masih dalam kesyirikan, agar kalian menjadi hamba-hamba Allah yang ikhlas, dengan ini seorang hamba menjadi hamba yang sebenarnya. Manakala Allah menjelaskan hukum-hukumNya yang agung dan menerangkan berbagai hukum, serta hikmah, Dia berfirman, ﴾ وَنُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu", yakni menerang-kan dan memerincinya ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "bagi kaum yang mengetahui", kepada mereka ucapan ditujukan, dengan mereka hukum-hukum dan ayat-ayat diketahui, dan dengan mereka syariat dan agama Islam dikenal. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengetahui dan beramal dengan apa yang kami ketahui dengan rahmatMu, kedermawananMu, kemurahanMu, dan kebaikanMu, ya Rabbal 'alamin.

At-Taubah 9:10

"Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) per-janjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menetapi perjanjian). Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu. Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang Mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui." (At-Tau-bah: 8-11). (8) ﴾ كَيۡفَ وَإِن يَظۡهَرُواْ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu", dengan kekuatan dan kekuasaan, mereka tidak mengasihimu, dan ﴾ لَا يَرۡقُبُواْ فِيكُمۡ إِلّٗا وَلَا ذِمَّةٗۚ ﴿ "me-reka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian." Tidak dalam perjanjian dan tidak juga kekerabatan, serta tidak takut kepada Allah dalam memper-lakukan kamu, justru mereka menimpakan kepadamu siksa yang buruk. Inilah keadaanmu bersama mereka, jika mereka menang. Janganlah kamu tertipu dengan sikap mereka pada waktu mereka takut kepadamu, karena mereka ﴾ يُرۡضُونَكُم بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَتَأۡبَىٰ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "menye-nangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak." Yakni, hati mereka sama sekali tidak cenderung maupun cinta kepadamu, bah-kan mereka adalah musuh yang sebenarnya, yang membencimu dengan sebenarnya. ﴾ وَأَكۡثَرُهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menetapi perjanjian)." Tidak memiliki agama maupun muru'ah. (9) ﴾ ٱشۡتَرَوۡاْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنٗا قَلِيلٗا ﴿ "Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit." Yakni mereka memilih bagian yang fana lagi hina di dunia daripada iman kepada Allah, RasulNya, dan ke-tundukan kepada ayat-ayatNya. ﴾ فَصَدُّواْ ﴿ "Lalu mereka menghalangi", diri mereka sendiri dan orang lain ﴾ عَن سَبِيلِهِۦٓۚ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu." (10) ﴾ لَا يَرۡقُبُونَ فِي مُؤۡمِنٍ إِلّٗا وَلَا ذِمَّةٗۚ ﴿ "Mereka tidak memelihara (hu-bungan) kerabat terhadap orang-orang Mukmin dan tidak (pula mengin-dahkan) perjanjian." Yakni karena permusuhan mereka terhadap keimanan dan orang-orang yang beriman. Pemicu yang membuat mereka membencimu dan memusuhimu adalah karena iman. (11) Maka belalah agamamu, menangkanlah ia, jadikan orang yang memusuhinya sebagai musuh, dan orang yang menolongnya sebagai kawan, jadikanlah ada dan tidaknya hukum berkisar pada-nya, jangan jadikan muwalah (loyalitas) dan mu'adah (permusuhan) bersifat emosional yang mengikuti kecenderungan syahwat dan nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan. Oleh karena itu ﴾ فَإِن تَابُواْ ﴿ "jika mereka bertaubat", dari kesyirikan mereka dan kembali kepada iman, ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ فَإِخۡوَٰنُكُمۡ فِي ٱلدِّينِۗ ﴿ "mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama." Lupakanlah permusuhan tatkala mereka masih dalam kesyirikan, agar kalian menjadi hamba-hamba Allah yang ikhlas, dengan ini seorang hamba menjadi hamba yang sebenarnya. Manakala Allah menjelaskan hukum-hukumNya yang agung dan menerangkan berbagai hukum, serta hikmah, Dia berfirman, ﴾ وَنُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu", yakni menerang-kan dan memerincinya ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "bagi kaum yang mengetahui", kepada mereka ucapan ditujukan, dengan mereka hukum-hukum dan ayat-ayat diketahui, dan dengan mereka syariat dan agama Islam dikenal. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengetahui dan beramal dengan apa yang kami ketahui dengan rahmatMu, kedermawananMu, kemurahanMu, dan kebaikanMu, ya Rabbal 'alamin.

At-Taubah 9:11

"Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) per-janjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menetapi perjanjian). Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu. Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang Mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui." (At-Tau-bah: 8-11). (8) ﴾ كَيۡفَ وَإِن يَظۡهَرُواْ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu", dengan kekuatan dan kekuasaan, mereka tidak mengasihimu, dan ﴾ لَا يَرۡقُبُواْ فِيكُمۡ إِلّٗا وَلَا ذِمَّةٗۚ ﴿ "me-reka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian." Tidak dalam perjanjian dan tidak juga kekerabatan, serta tidak takut kepada Allah dalam memper-lakukan kamu, justru mereka menimpakan kepadamu siksa yang buruk. Inilah keadaanmu bersama mereka, jika mereka menang. Janganlah kamu tertipu dengan sikap mereka pada waktu mereka takut kepadamu, karena mereka ﴾ يُرۡضُونَكُم بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَتَأۡبَىٰ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "menye-nangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak." Yakni, hati mereka sama sekali tidak cenderung maupun cinta kepadamu, bah-kan mereka adalah musuh yang sebenarnya, yang membencimu dengan sebenarnya. ﴾ وَأَكۡثَرُهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menetapi perjanjian)." Tidak memiliki agama maupun muru'ah. (9) ﴾ ٱشۡتَرَوۡاْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنٗا قَلِيلٗا ﴿ "Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit." Yakni mereka memilih bagian yang fana lagi hina di dunia daripada iman kepada Allah, RasulNya, dan ke-tundukan kepada ayat-ayatNya. ﴾ فَصَدُّواْ ﴿ "Lalu mereka menghalangi", diri mereka sendiri dan orang lain ﴾ عَن سَبِيلِهِۦٓۚ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu." (10) ﴾ لَا يَرۡقُبُونَ فِي مُؤۡمِنٍ إِلّٗا وَلَا ذِمَّةٗۚ ﴿ "Mereka tidak memelihara (hu-bungan) kerabat terhadap orang-orang Mukmin dan tidak (pula mengin-dahkan) perjanjian." Yakni karena permusuhan mereka terhadap keimanan dan orang-orang yang beriman. Pemicu yang membuat mereka membencimu dan memusuhimu adalah karena iman. (11) Maka belalah agamamu, menangkanlah ia, jadikan orang yang memusuhinya sebagai musuh, dan orang yang menolongnya sebagai kawan, jadikanlah ada dan tidaknya hukum berkisar pada-nya, jangan jadikan muwalah (loyalitas) dan mu'adah (permusuhan) bersifat emosional yang mengikuti kecenderungan syahwat dan nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan. Oleh karena itu ﴾ فَإِن تَابُواْ ﴿ "jika mereka bertaubat", dari kesyirikan mereka dan kembali kepada iman, ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ فَإِخۡوَٰنُكُمۡ فِي ٱلدِّينِۗ ﴿ "mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama." Lupakanlah permusuhan tatkala mereka masih dalam kesyirikan, agar kalian menjadi hamba-hamba Allah yang ikhlas, dengan ini seorang hamba menjadi hamba yang sebenarnya. Manakala Allah menjelaskan hukum-hukumNya yang agung dan menerangkan berbagai hukum, serta hikmah, Dia berfirman, ﴾ وَنُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu", yakni menerang-kan dan memerincinya ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "bagi kaum yang mengetahui", kepada mereka ucapan ditujukan, dengan mereka hukum-hukum dan ayat-ayat diketahui, dan dengan mereka syariat dan agama Islam dikenal. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengetahui dan beramal dengan apa yang kami ketahui dengan rahmatMu, kedermawananMu, kemurahanMu, dan kebaikanMu, ya Rabbal 'alamin.

At-Taubah 9:12

"Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka ber-janji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti. Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapa kamu takut kepada me-reka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan meng-hilangkan panas hati orang-orang Mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (At-Taubah: 12-15). (12) Allah تعالى berfirman setelah menjelaskan bahwa orang-orang musyrikin yang berada dalam perjanjian, jika mereka tetap memegang teguh perjanjian mereka, maka penuhilah perjanjian tersebut. ﴾ وَإِن نَّكَثُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُم مِّنۢ بَعۡدِ عَهۡدِهِمۡ ﴿ "Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji." Yakni mereka melanggarnya dan membatalkannya, lalu mereka memerangimu atau membantu me-merangimu atau mengurangi isi perjanjianmu, ﴾ وَطَعَنُواْ فِي دِينِكُمۡ ﴿ "dan mereka mencerca agamamu," yakni mencelanya dan menghinakannya, termasuk dalam hal ini adalah semua cercaan yang ditujukan ke-pada agama atau kepada al-Qur`an, ﴾ فَقَٰتِلُوٓاْ أَئِمَّةَ ٱلۡكُفۡرِ ﴿ "maka perangi-lah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu." Yakni para pembesar-nya, para pemuka yang mencerca agama Allah, yang membantu agama setan. Mereka disebut secara khusus karena besarnya kejahatan mereka, dan karena selain mereka hanyalah pengikut, serta untuk menunjukkan bahwa barangsiapa mencerca agama dan menantang untuk menolaknya, maka dia termasuk pemimpin kekufuran, ﴾ إِنَّهُمۡ لَآ أَيۡمَٰنَ لَهُمۡ ﴿ "karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya." Yakni tiada perjanjian yang selalu mereka pegang teguh, tetapi sebaliknya, mereka selalu membatal-kannya dan mengkhianatinya, tanpa bisa dipercaya ﴾ لَعَلَّهُمۡ ﴿ "agar supaya mereka", karena kamu memeranginya ﴾ يَنتَهُونَ ﴿ "berhenti", dari mencerca agamamu, dan mungkin memeluknya. (13) Kemudian Allah mendorong dan memacu orang-orang Mukmin agar memerangi mereka dengan menyinggung sifat-sifat musuh yang mengharuskan agar mereka diperangi. ﴾ أَلَا تُقَٰتِلُونَ قَوۡمٗا نَّكَثُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ وَهَمُّواْ بِإِخۡرَاجِ ٱلرَّسُولِ ﴿ "Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemau-annya untuk mengusir Rasul", yang seharusnya dihormati, dihargai, dan dimuliakan, tapi mereka hendak mengusirnya dan mengeluar-kannya dari tanah kelahirannya, dan berusaha untuk itu sekuat tenaga, ﴾ وَهُم بَدَءُوكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٍۚ ﴿ "dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu?" Yang mana mereka membatalkan per-janjian dan membantu orang lain memerangimu, di mana hal itu ketika Quraisy –sementara mereka masih terikat perjanjian damai– membantu Bani Bakar sekutu mereka, memerangi Bani Khuza'ah sekutu Rasulullah ﷺ, orang-orang Quraisy berperang bersama Bani Bakar sebagaimana hal itu dijelaskan oleh buku-buku sirah. ﴾ أَتَخۡشَوۡنَهُمۡۚ ﴿ "Mengapa kamu takut kepada mereka", sehingga kamu enggan memerangi mereka? ﴾ فَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَوۡهُ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman." Allah memerintahkanmu agar memerangi mereka. Dia sangat menekankan hal itu atasmu, jika kamu adalah orang yang beriman, maka laksanakan perintah Allah, dan janganlah kamu takut kepada mereka sehingga kamu meninggalkan perintah Allah. (14) Kemudian Allah memerintahkan orang-orang Mukmin agar memerangi mereka, dan menjelaskan manfaat yang timbul aki-bat perang dengan mereka. Semua itu adalah dorongan dan lecutan bagi orang-orang yang beriman agar mau memerangi mereka, Dia berfirman, ﴾ قَٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيكُمۡ ﴿ "Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu", dengan pembunuhan, ﴾ وَيُخۡزِهِمۡ ﴿ "dan Allah akan menghinakan mereka", jika Allah memenangkanmu atas mereka. Mereka adalah musuh yang memang hendak menghinakan diri mereka sendiri dan berusaha untuk itu. ﴾ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan menolong kamu atas mereka." Ini adalah janji dan berita gembira dari Allah yang telah Dia wujudkan.﴾ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٖ مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Serta melegakan hati orang-orang yang beriman." (15) ﴾ وَيُذۡهِبۡ غَيۡظَ قُلُوبِهِمۡۗ ﴿ "Dan menghilangkan panas hati orang-orang Mukmin." Karena di hati orang-orang Mukmin terdapat ke-bencian dan permusuhan terhadap mereka, yang mana memerangi dan membunuh mereka berarti obat bagi kesedihan dan kecemasan yang ada di dalam hati orang-orang Mukmin, dan penghilang bagi kebencian yang ada di dalam hati mereka, karena mereka melihat musuh-musuh itu adalah orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya, berusaha memadamkan cahaya Allah. Ini menunjukkan kecintaan Allah kepada orang-orang yang beriman dan perhatian-Nya terhadap keadaan mereka, sehingga Dia menjadikan di antara maksud tujuan syariatNya adalah mengobati apa yang ada di dalam hati mereka dan meredam kemarahan mereka. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَيَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Dan Allah me-nerima taubat orang yang dikehendakiNya," dari kalangan orang-orang yang memerangi itu dengan memberi mereka taufik untuk masuk Islam, menghiasinya di dalam hati mereka, dan menjadikan keku-furan, kefasikan dan kemaksiatan dibenci oleh hati mereka. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." Allah Meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia mengetahui orang yang layak dengan iman lalu Dia menunjukkannya kepadanya, dan siapa yang tidak layak maka Dia membiarkannya dalam kesesatan dan keja-hatannya.

At-Taubah 9:13

"Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka ber-janji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti. Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapa kamu takut kepada me-reka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan meng-hilangkan panas hati orang-orang Mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (At-Taubah: 12-15). (12) Allah تعالى berfirman setelah menjelaskan bahwa orang-orang musyrikin yang berada dalam perjanjian, jika mereka tetap memegang teguh perjanjian mereka, maka penuhilah perjanjian tersebut. ﴾ وَإِن نَّكَثُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُم مِّنۢ بَعۡدِ عَهۡدِهِمۡ ﴿ "Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji." Yakni mereka melanggarnya dan membatalkannya, lalu mereka memerangimu atau membantu me-merangimu atau mengurangi isi perjanjianmu, ﴾ وَطَعَنُواْ فِي دِينِكُمۡ ﴿ "dan mereka mencerca agamamu," yakni mencelanya dan menghinakannya, termasuk dalam hal ini adalah semua cercaan yang ditujukan ke-pada agama atau kepada al-Qur`an, ﴾ فَقَٰتِلُوٓاْ أَئِمَّةَ ٱلۡكُفۡرِ ﴿ "maka perangi-lah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu." Yakni para pembesar-nya, para pemuka yang mencerca agama Allah, yang membantu agama setan. Mereka disebut secara khusus karena besarnya kejahatan mereka, dan karena selain mereka hanyalah pengikut, serta untuk menunjukkan bahwa barangsiapa mencerca agama dan menantang untuk menolaknya, maka dia termasuk pemimpin kekufuran, ﴾ إِنَّهُمۡ لَآ أَيۡمَٰنَ لَهُمۡ ﴿ "karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya." Yakni tiada perjanjian yang selalu mereka pegang teguh, tetapi sebaliknya, mereka selalu membatal-kannya dan mengkhianatinya, tanpa bisa dipercaya ﴾ لَعَلَّهُمۡ ﴿ "agar supaya mereka", karena kamu memeranginya ﴾ يَنتَهُونَ ﴿ "berhenti", dari mencerca agamamu, dan mungkin memeluknya. (13) Kemudian Allah mendorong dan memacu orang-orang Mukmin agar memerangi mereka dengan menyinggung sifat-sifat musuh yang mengharuskan agar mereka diperangi. ﴾ أَلَا تُقَٰتِلُونَ قَوۡمٗا نَّكَثُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ وَهَمُّواْ بِإِخۡرَاجِ ٱلرَّسُولِ ﴿ "Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemau-annya untuk mengusir Rasul", yang seharusnya dihormati, dihargai, dan dimuliakan, tapi mereka hendak mengusirnya dan mengeluar-kannya dari tanah kelahirannya, dan berusaha untuk itu sekuat tenaga, ﴾ وَهُم بَدَءُوكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٍۚ ﴿ "dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu?" Yang mana mereka membatalkan per-janjian dan membantu orang lain memerangimu, di mana hal itu ketika Quraisy –sementara mereka masih terikat perjanjian damai– membantu Bani Bakar sekutu mereka, memerangi Bani Khuza'ah sekutu Rasulullah ﷺ, orang-orang Quraisy berperang bersama Bani Bakar sebagaimana hal itu dijelaskan oleh buku-buku sirah. ﴾ أَتَخۡشَوۡنَهُمۡۚ ﴿ "Mengapa kamu takut kepada mereka", sehingga kamu enggan memerangi mereka? ﴾ فَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَوۡهُ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman." Allah memerintahkanmu agar memerangi mereka. Dia sangat menekankan hal itu atasmu, jika kamu adalah orang yang beriman, maka laksanakan perintah Allah, dan janganlah kamu takut kepada mereka sehingga kamu meninggalkan perintah Allah. (14) Kemudian Allah memerintahkan orang-orang Mukmin agar memerangi mereka, dan menjelaskan manfaat yang timbul aki-bat perang dengan mereka. Semua itu adalah dorongan dan lecutan bagi orang-orang yang beriman agar mau memerangi mereka, Dia berfirman, ﴾ قَٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيكُمۡ ﴿ "Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu", dengan pembunuhan, ﴾ وَيُخۡزِهِمۡ ﴿ "dan Allah akan menghinakan mereka", jika Allah memenangkanmu atas mereka. Mereka adalah musuh yang memang hendak menghinakan diri mereka sendiri dan berusaha untuk itu. ﴾ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan menolong kamu atas mereka." Ini adalah janji dan berita gembira dari Allah yang telah Dia wujudkan.﴾ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٖ مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Serta melegakan hati orang-orang yang beriman." (15) ﴾ وَيُذۡهِبۡ غَيۡظَ قُلُوبِهِمۡۗ ﴿ "Dan menghilangkan panas hati orang-orang Mukmin." Karena di hati orang-orang Mukmin terdapat ke-bencian dan permusuhan terhadap mereka, yang mana memerangi dan membunuh mereka berarti obat bagi kesedihan dan kecemasan yang ada di dalam hati orang-orang Mukmin, dan penghilang bagi kebencian yang ada di dalam hati mereka, karena mereka melihat musuh-musuh itu adalah orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya, berusaha memadamkan cahaya Allah. Ini menunjukkan kecintaan Allah kepada orang-orang yang beriman dan perhatian-Nya terhadap keadaan mereka, sehingga Dia menjadikan di antara maksud tujuan syariatNya adalah mengobati apa yang ada di dalam hati mereka dan meredam kemarahan mereka. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَيَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Dan Allah me-nerima taubat orang yang dikehendakiNya," dari kalangan orang-orang yang memerangi itu dengan memberi mereka taufik untuk masuk Islam, menghiasinya di dalam hati mereka, dan menjadikan keku-furan, kefasikan dan kemaksiatan dibenci oleh hati mereka. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." Allah Meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia mengetahui orang yang layak dengan iman lalu Dia menunjukkannya kepadanya, dan siapa yang tidak layak maka Dia membiarkannya dalam kesesatan dan keja-hatannya.

At-Taubah 9:14

"Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka ber-janji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti. Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapa kamu takut kepada me-reka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan meng-hilangkan panas hati orang-orang Mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (At-Taubah: 12-15). (12) Allah تعالى berfirman setelah menjelaskan bahwa orang-orang musyrikin yang berada dalam perjanjian, jika mereka tetap memegang teguh perjanjian mereka, maka penuhilah perjanjian tersebut. ﴾ وَإِن نَّكَثُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُم مِّنۢ بَعۡدِ عَهۡدِهِمۡ ﴿ "Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji." Yakni mereka melanggarnya dan membatalkannya, lalu mereka memerangimu atau membantu me-merangimu atau mengurangi isi perjanjianmu, ﴾ وَطَعَنُواْ فِي دِينِكُمۡ ﴿ "dan mereka mencerca agamamu," yakni mencelanya dan menghinakannya, termasuk dalam hal ini adalah semua cercaan yang ditujukan ke-pada agama atau kepada al-Qur`an, ﴾ فَقَٰتِلُوٓاْ أَئِمَّةَ ٱلۡكُفۡرِ ﴿ "maka perangi-lah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu." Yakni para pembesar-nya, para pemuka yang mencerca agama Allah, yang membantu agama setan. Mereka disebut secara khusus karena besarnya kejahatan mereka, dan karena selain mereka hanyalah pengikut, serta untuk menunjukkan bahwa barangsiapa mencerca agama dan menantang untuk menolaknya, maka dia termasuk pemimpin kekufuran, ﴾ إِنَّهُمۡ لَآ أَيۡمَٰنَ لَهُمۡ ﴿ "karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya." Yakni tiada perjanjian yang selalu mereka pegang teguh, tetapi sebaliknya, mereka selalu membatal-kannya dan mengkhianatinya, tanpa bisa dipercaya ﴾ لَعَلَّهُمۡ ﴿ "agar supaya mereka", karena kamu memeranginya ﴾ يَنتَهُونَ ﴿ "berhenti", dari mencerca agamamu, dan mungkin memeluknya. (13) Kemudian Allah mendorong dan memacu orang-orang Mukmin agar memerangi mereka dengan menyinggung sifat-sifat musuh yang mengharuskan agar mereka diperangi. ﴾ أَلَا تُقَٰتِلُونَ قَوۡمٗا نَّكَثُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ وَهَمُّواْ بِإِخۡرَاجِ ٱلرَّسُولِ ﴿ "Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemau-annya untuk mengusir Rasul", yang seharusnya dihormati, dihargai, dan dimuliakan, tapi mereka hendak mengusirnya dan mengeluar-kannya dari tanah kelahirannya, dan berusaha untuk itu sekuat tenaga, ﴾ وَهُم بَدَءُوكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٍۚ ﴿ "dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu?" Yang mana mereka membatalkan per-janjian dan membantu orang lain memerangimu, di mana hal itu ketika Quraisy –sementara mereka masih terikat perjanjian damai– membantu Bani Bakar sekutu mereka, memerangi Bani Khuza'ah sekutu Rasulullah ﷺ, orang-orang Quraisy berperang bersama Bani Bakar sebagaimana hal itu dijelaskan oleh buku-buku sirah. ﴾ أَتَخۡشَوۡنَهُمۡۚ ﴿ "Mengapa kamu takut kepada mereka", sehingga kamu enggan memerangi mereka? ﴾ فَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَوۡهُ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman." Allah memerintahkanmu agar memerangi mereka. Dia sangat menekankan hal itu atasmu, jika kamu adalah orang yang beriman, maka laksanakan perintah Allah, dan janganlah kamu takut kepada mereka sehingga kamu meninggalkan perintah Allah. (14) Kemudian Allah memerintahkan orang-orang Mukmin agar memerangi mereka, dan menjelaskan manfaat yang timbul aki-bat perang dengan mereka. Semua itu adalah dorongan dan lecutan bagi orang-orang yang beriman agar mau memerangi mereka, Dia berfirman, ﴾ قَٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيكُمۡ ﴿ "Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu", dengan pembunuhan, ﴾ وَيُخۡزِهِمۡ ﴿ "dan Allah akan menghinakan mereka", jika Allah memenangkanmu atas mereka. Mereka adalah musuh yang memang hendak menghinakan diri mereka sendiri dan berusaha untuk itu. ﴾ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan menolong kamu atas mereka." Ini adalah janji dan berita gembira dari Allah yang telah Dia wujudkan.﴾ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٖ مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Serta melegakan hati orang-orang yang beriman." (15) ﴾ وَيُذۡهِبۡ غَيۡظَ قُلُوبِهِمۡۗ ﴿ "Dan menghilangkan panas hati orang-orang Mukmin." Karena di hati orang-orang Mukmin terdapat ke-bencian dan permusuhan terhadap mereka, yang mana memerangi dan membunuh mereka berarti obat bagi kesedihan dan kecemasan yang ada di dalam hati orang-orang Mukmin, dan penghilang bagi kebencian yang ada di dalam hati mereka, karena mereka melihat musuh-musuh itu adalah orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya, berusaha memadamkan cahaya Allah. Ini menunjukkan kecintaan Allah kepada orang-orang yang beriman dan perhatian-Nya terhadap keadaan mereka, sehingga Dia menjadikan di antara maksud tujuan syariatNya adalah mengobati apa yang ada di dalam hati mereka dan meredam kemarahan mereka. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَيَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Dan Allah me-nerima taubat orang yang dikehendakiNya," dari kalangan orang-orang yang memerangi itu dengan memberi mereka taufik untuk masuk Islam, menghiasinya di dalam hati mereka, dan menjadikan keku-furan, kefasikan dan kemaksiatan dibenci oleh hati mereka. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." Allah Meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia mengetahui orang yang layak dengan iman lalu Dia menunjukkannya kepadanya, dan siapa yang tidak layak maka Dia membiarkannya dalam kesesatan dan keja-hatannya.

At-Taubah 9:15

"Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka ber-janji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti. Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapa kamu takut kepada me-reka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan meng-hilangkan panas hati orang-orang Mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (At-Taubah: 12-15). (12) Allah تعالى berfirman setelah menjelaskan bahwa orang-orang musyrikin yang berada dalam perjanjian, jika mereka tetap memegang teguh perjanjian mereka, maka penuhilah perjanjian tersebut. ﴾ وَإِن نَّكَثُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُم مِّنۢ بَعۡدِ عَهۡدِهِمۡ ﴿ "Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji." Yakni mereka melanggarnya dan membatalkannya, lalu mereka memerangimu atau membantu me-merangimu atau mengurangi isi perjanjianmu, ﴾ وَطَعَنُواْ فِي دِينِكُمۡ ﴿ "dan mereka mencerca agamamu," yakni mencelanya dan menghinakannya, termasuk dalam hal ini adalah semua cercaan yang ditujukan ke-pada agama atau kepada al-Qur`an, ﴾ فَقَٰتِلُوٓاْ أَئِمَّةَ ٱلۡكُفۡرِ ﴿ "maka perangi-lah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu." Yakni para pembesar-nya, para pemuka yang mencerca agama Allah, yang membantu agama setan. Mereka disebut secara khusus karena besarnya kejahatan mereka, dan karena selain mereka hanyalah pengikut, serta untuk menunjukkan bahwa barangsiapa mencerca agama dan menantang untuk menolaknya, maka dia termasuk pemimpin kekufuran, ﴾ إِنَّهُمۡ لَآ أَيۡمَٰنَ لَهُمۡ ﴿ "karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya." Yakni tiada perjanjian yang selalu mereka pegang teguh, tetapi sebaliknya, mereka selalu membatal-kannya dan mengkhianatinya, tanpa bisa dipercaya ﴾ لَعَلَّهُمۡ ﴿ "agar supaya mereka", karena kamu memeranginya ﴾ يَنتَهُونَ ﴿ "berhenti", dari mencerca agamamu, dan mungkin memeluknya. (13) Kemudian Allah mendorong dan memacu orang-orang Mukmin agar memerangi mereka dengan menyinggung sifat-sifat musuh yang mengharuskan agar mereka diperangi. ﴾ أَلَا تُقَٰتِلُونَ قَوۡمٗا نَّكَثُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ وَهَمُّواْ بِإِخۡرَاجِ ٱلرَّسُولِ ﴿ "Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemau-annya untuk mengusir Rasul", yang seharusnya dihormati, dihargai, dan dimuliakan, tapi mereka hendak mengusirnya dan mengeluar-kannya dari tanah kelahirannya, dan berusaha untuk itu sekuat tenaga, ﴾ وَهُم بَدَءُوكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٍۚ ﴿ "dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu?" Yang mana mereka membatalkan per-janjian dan membantu orang lain memerangimu, di mana hal itu ketika Quraisy –sementara mereka masih terikat perjanjian damai– membantu Bani Bakar sekutu mereka, memerangi Bani Khuza'ah sekutu Rasulullah ﷺ, orang-orang Quraisy berperang bersama Bani Bakar sebagaimana hal itu dijelaskan oleh buku-buku sirah. ﴾ أَتَخۡشَوۡنَهُمۡۚ ﴿ "Mengapa kamu takut kepada mereka", sehingga kamu enggan memerangi mereka? ﴾ فَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَوۡهُ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman." Allah memerintahkanmu agar memerangi mereka. Dia sangat menekankan hal itu atasmu, jika kamu adalah orang yang beriman, maka laksanakan perintah Allah, dan janganlah kamu takut kepada mereka sehingga kamu meninggalkan perintah Allah. (14) Kemudian Allah memerintahkan orang-orang Mukmin agar memerangi mereka, dan menjelaskan manfaat yang timbul aki-bat perang dengan mereka. Semua itu adalah dorongan dan lecutan bagi orang-orang yang beriman agar mau memerangi mereka, Dia berfirman, ﴾ قَٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيكُمۡ ﴿ "Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu", dengan pembunuhan, ﴾ وَيُخۡزِهِمۡ ﴿ "dan Allah akan menghinakan mereka", jika Allah memenangkanmu atas mereka. Mereka adalah musuh yang memang hendak menghinakan diri mereka sendiri dan berusaha untuk itu. ﴾ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan menolong kamu atas mereka." Ini adalah janji dan berita gembira dari Allah yang telah Dia wujudkan.﴾ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٖ مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Serta melegakan hati orang-orang yang beriman." (15) ﴾ وَيُذۡهِبۡ غَيۡظَ قُلُوبِهِمۡۗ ﴿ "Dan menghilangkan panas hati orang-orang Mukmin." Karena di hati orang-orang Mukmin terdapat ke-bencian dan permusuhan terhadap mereka, yang mana memerangi dan membunuh mereka berarti obat bagi kesedihan dan kecemasan yang ada di dalam hati orang-orang Mukmin, dan penghilang bagi kebencian yang ada di dalam hati mereka, karena mereka melihat musuh-musuh itu adalah orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya, berusaha memadamkan cahaya Allah. Ini menunjukkan kecintaan Allah kepada orang-orang yang beriman dan perhatian-Nya terhadap keadaan mereka, sehingga Dia menjadikan di antara maksud tujuan syariatNya adalah mengobati apa yang ada di dalam hati mereka dan meredam kemarahan mereka. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَيَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Dan Allah me-nerima taubat orang yang dikehendakiNya," dari kalangan orang-orang yang memerangi itu dengan memberi mereka taufik untuk masuk Islam, menghiasinya di dalam hati mereka, dan menjadikan keku-furan, kefasikan dan kemaksiatan dibenci oleh hati mereka. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." Allah Meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia mengetahui orang yang layak dengan iman lalu Dia menunjukkannya kepadanya, dan siapa yang tidak layak maka Dia membiarkannya dalam kesesatan dan keja-hatannya.

At-Taubah 9:16

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak menjadikan teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (At-Tau-bah: 16). (16) Allah تعالى berfirman kepada hamba-hambaNya yang beriman setelah memerintahkan mereka agar berjihad,﴾ أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تُتۡرَكُواْ ﴿ "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja)", tanpa cobaan, ujian, dan perintah yang membuktikan antara yang benar dan yang dusta (dalam keimanannya). ﴾ وَلَمَّا يَعۡلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ مِنكُمۡ ﴿ "Sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu." Yakni pengetahuan tentang usaha ka-lian yang nampak pada amalan nyata yang berakibat pahala dan siksa, maka Dia mengetahui orang-orang yang berjihad di jalanNya untuk meninggikan kalimat Allah. ﴾ وَلَمۡ يَتَّخِذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَا رَسُولِهِۦ وَلَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَلِيجَةٗۚ ﴿ "Dan tidak menjadikan teman yang setia selain Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman," yakni wali dari kalangan orang-orang kafir, akan tetapi menjadikan Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman sebagai wali. Maka Allah mensyariatkan jihad untuk mewujudkan tujuan besar ini, yaitu agar orang-orang yang benar keimanan mereka, yang tidak cenderung kecuali kepada agama Allah, dibedakan dari orang-orang yang dusta, yang mengklaim iman namun mereka mengangkat wali-wali dan kawan-kawan ka-rib selain Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman.﴾ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Mengetahui apa yang kamu lakukan lalu Dia mengujimu dengan sesuatu yang membuktikan imanmu dan membalasmu atas amal perbuatanmu yang baik dan yang buruk.

At-Taubah 9:17

"Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sen-diri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka me-rekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (At-Taubah: 17-18). (17) Allah تعالى berfirman, ﴾ مَا كَانَ ﴿ "Tidaklah pantas", yakni tidak semestinya dan tidak layak ﴾ لِلۡمُشۡرِكِينَ أَن يَعۡمُرُواْ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah", dengan ibadah, shalat dan ketaatan-ketaatan lainnya. Sementara mereka bersaksi dan mengakui bahwa diri mereka adalah kafir, dengan kesaksian keadaan dan fitrah mereka, serta pengetahuan banyak kalangan dari mereka bahwa mereka di atas kekufuran dan kebatilan. Jika mereka ﴾ شَٰهِدِينَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِم بِٱلۡكُفۡرِۚ ﴿ "mengakui bahwa mereka sendiri kafir," tidak memiliki iman yang merupakan syarat diterimanya amal, bagaimana mereka mengklaim bahwa diri mereka adalah orang-orang yang memakmurkan masjid Allah, padahal mereka tidak mempunyai dasar dan amal mereka adalah batal. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ ﴿ "Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya", yakni batal dan sia-sia. ﴾ وَفِي ٱلنَّارِ هُمۡ خَٰلِدُونَ ﴿ "Dan mereka kekal di dalam neraka." (18) Kemudian Allah menyebutkan siapa orang-orang yang memakmurkan masjid Allah sebenarnya, Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat", yang wajib dan yang sunnah dengan melaksanakan yang lahir dan yang batin darinya, ﴾ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "menunaikan zakat", kepada yang berhak menerima-nya, ﴾ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ ﴿ "dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah." Yakni, Dia membatasi rasa takutnya hanya kepada Allah, sehingga dia menahan diri dari yang diharamkan Allah, dan tidak melalaikan hak-hak Allah yang wajib, maka Allah menyifati mereka dengan iman yang bermanfaat dan melakukan amal shalih yang intinya adalah shalat dan zakat, serta dengan rasa takut kepada Allah yang merupakan pokok semua kebaikan. Mereka itulah para pemakmur masjid dan ahlinya yang sebenar-benarnya. ﴾ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Maka merekalah orang-orang yang diharapkan ter-masuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk", (عَسَى) jika dari Allah maka artinya adalah pasti terjadi. Adapun orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada Hari Akhir dan tidak memiliki rasa takut kepada Allah, maka dia ini bukan termasuk orang-orang yang memakmurkan masjid dan bukan pula ahlinya yang sebenar-nya, meskipun dia mengaku dan mengklaim.

At-Taubah 9:18

"Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sen-diri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka me-rekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (At-Taubah: 17-18). (17) Allah تعالى berfirman, ﴾ مَا كَانَ ﴿ "Tidaklah pantas", yakni tidak semestinya dan tidak layak ﴾ لِلۡمُشۡرِكِينَ أَن يَعۡمُرُواْ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah", dengan ibadah, shalat dan ketaatan-ketaatan lainnya. Sementara mereka bersaksi dan mengakui bahwa diri mereka adalah kafir, dengan kesaksian keadaan dan fitrah mereka, serta pengetahuan banyak kalangan dari mereka bahwa mereka di atas kekufuran dan kebatilan. Jika mereka ﴾ شَٰهِدِينَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِم بِٱلۡكُفۡرِۚ ﴿ "mengakui bahwa mereka sendiri kafir," tidak memiliki iman yang merupakan syarat diterimanya amal, bagaimana mereka mengklaim bahwa diri mereka adalah orang-orang yang memakmurkan masjid Allah, padahal mereka tidak mempunyai dasar dan amal mereka adalah batal. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ ﴿ "Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya", yakni batal dan sia-sia. ﴾ وَفِي ٱلنَّارِ هُمۡ خَٰلِدُونَ ﴿ "Dan mereka kekal di dalam neraka." (18) Kemudian Allah menyebutkan siapa orang-orang yang memakmurkan masjid Allah sebenarnya, Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat", yang wajib dan yang sunnah dengan melaksanakan yang lahir dan yang batin darinya, ﴾ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "menunaikan zakat", kepada yang berhak menerima-nya, ﴾ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ ﴿ "dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah." Yakni, Dia membatasi rasa takutnya hanya kepada Allah, sehingga dia menahan diri dari yang diharamkan Allah, dan tidak melalaikan hak-hak Allah yang wajib, maka Allah menyifati mereka dengan iman yang bermanfaat dan melakukan amal shalih yang intinya adalah shalat dan zakat, serta dengan rasa takut kepada Allah yang merupakan pokok semua kebaikan. Mereka itulah para pemakmur masjid dan ahlinya yang sebenar-benarnya. ﴾ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Maka merekalah orang-orang yang diharapkan ter-masuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk", (عَسَى) jika dari Allah maka artinya adalah pasti terjadi. Adapun orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada Hari Akhir dan tidak memiliki rasa takut kepada Allah, maka dia ini bukan termasuk orang-orang yang memakmurkan masjid dan bukan pula ahlinya yang sebenar-nya, meskipun dia mengaku dan mengklaim.

At-Taubah 9:19

"Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan Haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Rabb mereka menggembirakan mereka dengan mem-berikan rahmat daripadaNya, keridhaan dan Surga, mereka mem-peroleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di da-lamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (At-Taubah: 19-22). (19) Manakala terjadi perbedaan pandangan di antara se-bagian kaum Muslimin, atau di antara sebagian kaum Muslimin dengan sebagian kaum musyrikin tentang mana yang lebih utama antara memakmurkan Masjidil Haram dengan membangunnya, shalat dan ibadah di dalamnya serta memberi minum kepada ja-maah haji, dengan iman kepada Allah dan jihad di jalanNya, maka Allah تعالى memberitahukan adanya perbedaan di antara keduanya. Dia berfirman, ﴾ أَجَعَلۡتُمۡ سِقَايَةَ ٱلۡحَآجِّ ﴿ "Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji." Yakni memberi mereka minum dari air zam-zam, sebagaimana sudah diketahui bahwa jika nama ini disebut secara mutlak maka maksudnya adalah itu, ﴾ وَعِمَارَةَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ كَمَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَجَٰهَدَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ لَا يَسۡتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِۗ ﴿ "dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah", jihad dan iman kepada Allah lebih utama dengan banyak derajat daripada memakmurkan Masjidil Haram dan memberi minum air zam-zam kepada jamaah, karena iman adalah dasar agama, dengannya amal ibadah diterima dan sifat-sifat menjadi suci bersih. Adapun jihad di jalan Allah, maka ia adalah puncak tertinggi agama Islam, yang dengannya agama Islam terjaga dan tersebar luas, dan dengannya kebenaran dimenangkan dan kebatilan dicampakkan. Adapun memakmurkan Masjidil Ha-ram dan memberi minum untuk jamaah, walaupun ia adalah amal shalih, akan tetapi ia bergantung kepada iman, dan tidak terdapat padanya kemaslahatan seperti yang ada pada iman dan jihad di jalanNya, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ لَا يَسۡتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim." Yakni orang-orang yang sifat mereka adalah kezhaliman, yang tidak layak menerima sedikit pun kebaikan, justru tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. (20) Kemudian Allah secara jelas menyatakan keutamaan seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda", dengan berinfak untuk jihad dan menyiapkan mujahidin ﴾ وَأَنفُسِهِمۡ ﴿ "dan diri mereka", dengan keluar perang dengan jiwa, ﴾ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." Yakni tidak akan mendapatkan apa yang diharapkan dan tidak akan selamat dari yang ditakutkan kecuali orang yang memiliki sifat seperti mereka dan berakhlak dengan akhlak mereka. (21) ﴾ يُبَشِّرُهُمۡ رَبُّهُم ﴿ "Rabb mereka menggembirakan mereka", sebagai rahmat, kemurahan, kebaikan, perhatian, dan kecintaan dariNya untuk mereka ﴾ بِرَحۡمَةٖ مِّنۡهُ ﴿ "dengan memberikan rahmat dari-padaNya." Dengannya Dia menghilangkan keburukan-keburukan dan menyampaikan kepada mereka semua kebaikan, ﴾ وَرِضۡوَٰنٖ ﴿ "ke-ridhaan" dariNya تعالى yang merupakan kenikmatan surga paling besar dan paling utama. Dia memberikan keridhaanNya, maka Dia tidak murka kepada mereka selamanya. ﴾ وَجَنَّٰتٖ لَّهُمۡ فِيهَا نَعِيمٞ مُّقِيمٌ ﴿ "Dan Surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal." Dari semua yang diinginkan oleh jiwa, yang dinikmati oleh mata yang tidak diketahui sifat dan kadarnya kecuali oleh Allah تعالى yang di antaranya adalah bahwa Allah menyediakan bagi para mujahidin di jalanNya seratus derajat, antara satu derajat dengan yang lainnya seperti antara langit dan bumi, seandainya semua makhluk berkum-pul dalam satu derajat surga niscaya satu derajat surga itu menca-kupi mereka. (22) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Mereka tidak berpindah darinya dan tidak mau meninggalkannya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." Banyaknya karunia Allah, kebesaran dan kebaikanNya tidaklah mengherankan atas Dzat yang cukup berkata kepada sesuatu, de-ngan Kun fayakun (jadilah, maka jadilah ia).

At-Taubah 9:20

"Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan Haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Rabb mereka menggembirakan mereka dengan mem-berikan rahmat daripadaNya, keridhaan dan Surga, mereka mem-peroleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di da-lamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (At-Taubah: 19-22). (19) Manakala terjadi perbedaan pandangan di antara se-bagian kaum Muslimin, atau di antara sebagian kaum Muslimin dengan sebagian kaum musyrikin tentang mana yang lebih utama antara memakmurkan Masjidil Haram dengan membangunnya, shalat dan ibadah di dalamnya serta memberi minum kepada ja-maah haji, dengan iman kepada Allah dan jihad di jalanNya, maka Allah تعالى memberitahukan adanya perbedaan di antara keduanya. Dia berfirman, ﴾ أَجَعَلۡتُمۡ سِقَايَةَ ٱلۡحَآجِّ ﴿ "Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji." Yakni memberi mereka minum dari air zam-zam, sebagaimana sudah diketahui bahwa jika nama ini disebut secara mutlak maka maksudnya adalah itu, ﴾ وَعِمَارَةَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ كَمَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَجَٰهَدَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ لَا يَسۡتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِۗ ﴿ "dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah", jihad dan iman kepada Allah lebih utama dengan banyak derajat daripada memakmurkan Masjidil Haram dan memberi minum air zam-zam kepada jamaah, karena iman adalah dasar agama, dengannya amal ibadah diterima dan sifat-sifat menjadi suci bersih. Adapun jihad di jalan Allah, maka ia adalah puncak tertinggi agama Islam, yang dengannya agama Islam terjaga dan tersebar luas, dan dengannya kebenaran dimenangkan dan kebatilan dicampakkan. Adapun memakmurkan Masjidil Ha-ram dan memberi minum untuk jamaah, walaupun ia adalah amal shalih, akan tetapi ia bergantung kepada iman, dan tidak terdapat padanya kemaslahatan seperti yang ada pada iman dan jihad di jalanNya, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ لَا يَسۡتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim." Yakni orang-orang yang sifat mereka adalah kezhaliman, yang tidak layak menerima sedikit pun kebaikan, justru tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. (20) Kemudian Allah secara jelas menyatakan keutamaan seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda", dengan berinfak untuk jihad dan menyiapkan mujahidin ﴾ وَأَنفُسِهِمۡ ﴿ "dan diri mereka", dengan keluar perang dengan jiwa, ﴾ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." Yakni tidak akan mendapatkan apa yang diharapkan dan tidak akan selamat dari yang ditakutkan kecuali orang yang memiliki sifat seperti mereka dan berakhlak dengan akhlak mereka. (21) ﴾ يُبَشِّرُهُمۡ رَبُّهُم ﴿ "Rabb mereka menggembirakan mereka", sebagai rahmat, kemurahan, kebaikan, perhatian, dan kecintaan dariNya untuk mereka ﴾ بِرَحۡمَةٖ مِّنۡهُ ﴿ "dengan memberikan rahmat dari-padaNya." Dengannya Dia menghilangkan keburukan-keburukan dan menyampaikan kepada mereka semua kebaikan, ﴾ وَرِضۡوَٰنٖ ﴿ "ke-ridhaan" dariNya تعالى yang merupakan kenikmatan surga paling besar dan paling utama. Dia memberikan keridhaanNya, maka Dia tidak murka kepada mereka selamanya. ﴾ وَجَنَّٰتٖ لَّهُمۡ فِيهَا نَعِيمٞ مُّقِيمٌ ﴿ "Dan Surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal." Dari semua yang diinginkan oleh jiwa, yang dinikmati oleh mata yang tidak diketahui sifat dan kadarnya kecuali oleh Allah تعالى yang di antaranya adalah bahwa Allah menyediakan bagi para mujahidin di jalanNya seratus derajat, antara satu derajat dengan yang lainnya seperti antara langit dan bumi, seandainya semua makhluk berkum-pul dalam satu derajat surga niscaya satu derajat surga itu menca-kupi mereka. (22) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Mereka tidak berpindah darinya dan tidak mau meninggalkannya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." Banyaknya karunia Allah, kebesaran dan kebaikanNya tidaklah mengherankan atas Dzat yang cukup berkata kepada sesuatu, de-ngan Kun fayakun (jadilah, maka jadilah ia).

At-Taubah 9:21

"Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan Haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Rabb mereka menggembirakan mereka dengan mem-berikan rahmat daripadaNya, keridhaan dan Surga, mereka mem-peroleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di da-lamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (At-Taubah: 19-22). (19) Manakala terjadi perbedaan pandangan di antara se-bagian kaum Muslimin, atau di antara sebagian kaum Muslimin dengan sebagian kaum musyrikin tentang mana yang lebih utama antara memakmurkan Masjidil Haram dengan membangunnya, shalat dan ibadah di dalamnya serta memberi minum kepada ja-maah haji, dengan iman kepada Allah dan jihad di jalanNya, maka Allah تعالى memberitahukan adanya perbedaan di antara keduanya. Dia berfirman, ﴾ أَجَعَلۡتُمۡ سِقَايَةَ ٱلۡحَآجِّ ﴿ "Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji." Yakni memberi mereka minum dari air zam-zam, sebagaimana sudah diketahui bahwa jika nama ini disebut secara mutlak maka maksudnya adalah itu, ﴾ وَعِمَارَةَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ كَمَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَجَٰهَدَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ لَا يَسۡتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِۗ ﴿ "dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah", jihad dan iman kepada Allah lebih utama dengan banyak derajat daripada memakmurkan Masjidil Haram dan memberi minum air zam-zam kepada jamaah, karena iman adalah dasar agama, dengannya amal ibadah diterima dan sifat-sifat menjadi suci bersih. Adapun jihad di jalan Allah, maka ia adalah puncak tertinggi agama Islam, yang dengannya agama Islam terjaga dan tersebar luas, dan dengannya kebenaran dimenangkan dan kebatilan dicampakkan. Adapun memakmurkan Masjidil Ha-ram dan memberi minum untuk jamaah, walaupun ia adalah amal shalih, akan tetapi ia bergantung kepada iman, dan tidak terdapat padanya kemaslahatan seperti yang ada pada iman dan jihad di jalanNya, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ لَا يَسۡتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim." Yakni orang-orang yang sifat mereka adalah kezhaliman, yang tidak layak menerima sedikit pun kebaikan, justru tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. (20) Kemudian Allah secara jelas menyatakan keutamaan seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda", dengan berinfak untuk jihad dan menyiapkan mujahidin ﴾ وَأَنفُسِهِمۡ ﴿ "dan diri mereka", dengan keluar perang dengan jiwa, ﴾ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." Yakni tidak akan mendapatkan apa yang diharapkan dan tidak akan selamat dari yang ditakutkan kecuali orang yang memiliki sifat seperti mereka dan berakhlak dengan akhlak mereka. (21) ﴾ يُبَشِّرُهُمۡ رَبُّهُم ﴿ "Rabb mereka menggembirakan mereka", sebagai rahmat, kemurahan, kebaikan, perhatian, dan kecintaan dariNya untuk mereka ﴾ بِرَحۡمَةٖ مِّنۡهُ ﴿ "dengan memberikan rahmat dari-padaNya." Dengannya Dia menghilangkan keburukan-keburukan dan menyampaikan kepada mereka semua kebaikan, ﴾ وَرِضۡوَٰنٖ ﴿ "ke-ridhaan" dariNya تعالى yang merupakan kenikmatan surga paling besar dan paling utama. Dia memberikan keridhaanNya, maka Dia tidak murka kepada mereka selamanya. ﴾ وَجَنَّٰتٖ لَّهُمۡ فِيهَا نَعِيمٞ مُّقِيمٌ ﴿ "Dan Surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal." Dari semua yang diinginkan oleh jiwa, yang dinikmati oleh mata yang tidak diketahui sifat dan kadarnya kecuali oleh Allah تعالى yang di antaranya adalah bahwa Allah menyediakan bagi para mujahidin di jalanNya seratus derajat, antara satu derajat dengan yang lainnya seperti antara langit dan bumi, seandainya semua makhluk berkum-pul dalam satu derajat surga niscaya satu derajat surga itu menca-kupi mereka. (22) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Mereka tidak berpindah darinya dan tidak mau meninggalkannya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." Banyaknya karunia Allah, kebesaran dan kebaikanNya tidaklah mengherankan atas Dzat yang cukup berkata kepada sesuatu, de-ngan Kun fayakun (jadilah, maka jadilah ia).

At-Taubah 9:22

"Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan Haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Rabb mereka menggembirakan mereka dengan mem-berikan rahmat daripadaNya, keridhaan dan Surga, mereka mem-peroleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di da-lamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (At-Taubah: 19-22). (19) Manakala terjadi perbedaan pandangan di antara se-bagian kaum Muslimin, atau di antara sebagian kaum Muslimin dengan sebagian kaum musyrikin tentang mana yang lebih utama antara memakmurkan Masjidil Haram dengan membangunnya, shalat dan ibadah di dalamnya serta memberi minum kepada ja-maah haji, dengan iman kepada Allah dan jihad di jalanNya, maka Allah تعالى memberitahukan adanya perbedaan di antara keduanya. Dia berfirman, ﴾ أَجَعَلۡتُمۡ سِقَايَةَ ٱلۡحَآجِّ ﴿ "Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji." Yakni memberi mereka minum dari air zam-zam, sebagaimana sudah diketahui bahwa jika nama ini disebut secara mutlak maka maksudnya adalah itu, ﴾ وَعِمَارَةَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ كَمَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَجَٰهَدَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ لَا يَسۡتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِۗ ﴿ "dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah", jihad dan iman kepada Allah lebih utama dengan banyak derajat daripada memakmurkan Masjidil Haram dan memberi minum air zam-zam kepada jamaah, karena iman adalah dasar agama, dengannya amal ibadah diterima dan sifat-sifat menjadi suci bersih. Adapun jihad di jalan Allah, maka ia adalah puncak tertinggi agama Islam, yang dengannya agama Islam terjaga dan tersebar luas, dan dengannya kebenaran dimenangkan dan kebatilan dicampakkan. Adapun memakmurkan Masjidil Ha-ram dan memberi minum untuk jamaah, walaupun ia adalah amal shalih, akan tetapi ia bergantung kepada iman, dan tidak terdapat padanya kemaslahatan seperti yang ada pada iman dan jihad di jalanNya, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ لَا يَسۡتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim." Yakni orang-orang yang sifat mereka adalah kezhaliman, yang tidak layak menerima sedikit pun kebaikan, justru tidak ada yang layak bagi mereka kecuali keburukan. (20) Kemudian Allah secara jelas menyatakan keutamaan seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda", dengan berinfak untuk jihad dan menyiapkan mujahidin ﴾ وَأَنفُسِهِمۡ ﴿ "dan diri mereka", dengan keluar perang dengan jiwa, ﴾ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." Yakni tidak akan mendapatkan apa yang diharapkan dan tidak akan selamat dari yang ditakutkan kecuali orang yang memiliki sifat seperti mereka dan berakhlak dengan akhlak mereka. (21) ﴾ يُبَشِّرُهُمۡ رَبُّهُم ﴿ "Rabb mereka menggembirakan mereka", sebagai rahmat, kemurahan, kebaikan, perhatian, dan kecintaan dariNya untuk mereka ﴾ بِرَحۡمَةٖ مِّنۡهُ ﴿ "dengan memberikan rahmat dari-padaNya." Dengannya Dia menghilangkan keburukan-keburukan dan menyampaikan kepada mereka semua kebaikan, ﴾ وَرِضۡوَٰنٖ ﴿ "ke-ridhaan" dariNya تعالى yang merupakan kenikmatan surga paling besar dan paling utama. Dia memberikan keridhaanNya, maka Dia tidak murka kepada mereka selamanya. ﴾ وَجَنَّٰتٖ لَّهُمۡ فِيهَا نَعِيمٞ مُّقِيمٌ ﴿ "Dan Surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal." Dari semua yang diinginkan oleh jiwa, yang dinikmati oleh mata yang tidak diketahui sifat dan kadarnya kecuali oleh Allah تعالى yang di antaranya adalah bahwa Allah menyediakan bagi para mujahidin di jalanNya seratus derajat, antara satu derajat dengan yang lainnya seperti antara langit dan bumi, seandainya semua makhluk berkum-pul dalam satu derajat surga niscaya satu derajat surga itu menca-kupi mereka. (22) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Mereka tidak berpindah darinya dan tidak mau meninggalkannya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." Banyaknya karunia Allah, kebesaran dan kebaikanNya tidaklah mengherankan atas Dzat yang cukup berkata kepada sesuatu, de-ngan Kun fayakun (jadilah, maka jadilah ia).

At-Taubah 9:23

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan ba-pak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpin-mu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemim-pinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (At-Taubah: 23-24). (23) Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman", lakukanlah tuntutan iman dengan berwala` kepada yang menunaikannya dan bermu'adah kepada yang tidak menunai-kannya. Dan ﴾ لَا تَتَّخِذُوٓاْ ءَابَآءَكُمۡ وَإِخۡوَٰنَكُمۡ ﴿ "janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu", yang merupakan orang terdekat, lebih-lebih selainnya, janganlah kamu menjadikan mereka ﴾ أَوۡلِيَآءَ إِنِ ٱسۡتَحَبُّواْ ﴿ "pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan." Yakni me-milih dengan suka rela ﴾ ٱلۡكُفۡرَ عَلَى ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." Karena mereka berani bermaksiat kepada Allah dan men-jadikan musuh-musuh Allah sebagai pemimpin-pemimpin. Pada asalnya, arti al-Wilayah adalah kecintaan dan pertolongan, dan di sini dinyatakan demikian karena menjadikan mereka pemimpin-pemimpin melazimkan sifat mendahulukan ketaatan dan kecintaan kepada mereka di atas ketaatan dan kecintaan kepada Allah dan RasulNya. (24) Oleh karena itu Allah menyebutkan sebab yang me-lazimkan hal itu, yaitu bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya wajib didahulukan di atas kecintaan kepada apa pun, dan menjadikan segala sesuatu menginduk kepadanya, Dia berfirman, ﴾ قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Jika bapak-bapak'," sama juga ibu-ibu, ﴾ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ ﴿ "saudara-saudara",[87] dalam nasab dan keluarga, ﴾ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ ﴿ "istri-istri, kaum keluargamu." Yaitu kerabatmu secara umum. ﴾ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا ﴿ "dan harta kekayaan yang kamu usahakan", dan kamu men-dapatkannya dengan susah payah, ia disebutkan secara khusus karena ia paling dicintai oleh pemiliknya, dan tentu saja pemiliknya lebih semangat dalam menjaganya daripada orang yang mendapat-kan harta tanpa usaha dan lelah ﴾ وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا ﴿ "dan perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya." Yakni khawatir menipis dan ber-kurang. Ini meliputi seluruh bentuk perniagaan dan usaha dalam berbagai bentuk perniagaan seperti emas, bejana, senjata, perabot, biji-bijian, hasil bumi, ternak, dan lain-lain. ﴾ وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ ﴿ "Dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai", karena keindahannya, hiasannya, dan kesesuaiannya dengan hawa nafsumu, jika semua itu ﴾ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ ﴿ "adalah lebih kamu cintai dari-pada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya", maka kamu adalah orang-orang fasik yang zhalim. ﴾ فَتَرَبَّصُواْ ﴿ "Maka tunggulah", azab yang akan menimpamu ﴾ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ ﴿ "sampai Allah menda-tangkan keputusanNya", yang tiada tertolak. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik", yaitu yang keluar dari ketaatan kepada Allah, yang mendahulukan salah satu perkara di atas, daripada kecintaan kepada Allah. Ayat yang mulia ini adalah dalil terbesar akan kewajiban men-cintai Allah dan RasulNya, dan mendahulukannya di atas kecintaan kepada segala sesuatu selain keduaNya, serta ancaman keras dan kemarahan besar atas siapa saja yang salah satu dari yang disebut-kan ini lebih dia cintai daripada Allah, RasulNya, dan jihad di ja-lanNya. Dan tandanya adalah bahwa jika dia dihadapkan pada dua perkara, yang pertama dicintai oleh Allah dan RasulNya dan dia tidak memiliki hasrat padanya, dan kedua dicintai dan diinginkan oleh nafsunya, akan tetapi ia mengakibatkan lenyapnya apa yang dicintai oleh Allah dan RasulNya atau menguranginya, maka jika dia mendahulukan apa yang diinginkan oleh nafsunya daripada apa yang dicintai Allah, berarti itu menunjukkan bahwa dia zhalim dan telah meninggalkan apa yang wajib atasnya. Allah تعالى memberi nikmat kepada hamba-hambaNya yang beriman dengan memberikan kemenangan di banyak peperangan, hingga pada perang Hunain di mana kaum Muslimin menghadapi tekanan kuat sehingga mereka berlari dan mundur yang membuat bumi yang luas itu seolah-olah menjadi sempit, hal itu ketika Nabi ﷺ menaklukkan Makkah, Nabi mendengar bahwa Hawazin ber-sekutu untuk memerangi beliau, maka Nabi mendatangi mereka dengan sahabat-sahabat yang ikut berpartisipasi pada Fathu Makkah ditambah orang-orang Makkah yang dimaafkan oleh beliau dan masuk Islam, mereka semua berjumlah dua belas ribu orang, se-dangkan orang-orang musyrik hanyalah empat ribu orang, sehingga sebagian kaum Muslimin terperdaya oleh jumlah mereka yang be-sar, sebagian dari mereka berkata, "Hari ini kita tidak akan mungkin dikalahkan oleh yang sedikit." Manakala mereka bertemu dengan pasukan Hawazin, me-reka menyerang kaum Muslimin secara serempak, sehingga kaum Muslimin terpukul mundur tanpa mempedulikan yang lain, yang tersisa bersama Rasulullah hanyalah sekitar seratus orang yang teguh bersamanya. Mereka ini berperang melawan orang-orang musyrik, Nabi sendiri memacu untanya ke barisan musuh sambil berkata, أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ، أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ. "Akulah Nabi tiada dusta, akulah Ibnu Abdil Muththalib."[88] Manakala Nabi melihat kondisi kaum Muslimin, beliau me-minta Abbas bin Abdul Muththalib untuk menyeru orang-orang Anshar dan kaum Muslimin yang lain, "Wahai Ashhabus Samurah[89], wahai ahli surat al-Baqarah." Manakala kaum Muslimin mendengar suaranya, mereka kembali dengan serempak dan berperang me-lawan kaum musyrikin, maka Allah mengalahkan kaum musyrikin dengan kekalahan yang sangat telak dan kaum Muslimin pun me-nguasai negeri, wanita-wanita dan harta mereka.

At-Taubah 9:24

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan ba-pak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpin-mu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemim-pinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (At-Taubah: 23-24). (23) Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman", lakukanlah tuntutan iman dengan berwala` kepada yang menunaikannya dan bermu'adah kepada yang tidak menunai-kannya. Dan ﴾ لَا تَتَّخِذُوٓاْ ءَابَآءَكُمۡ وَإِخۡوَٰنَكُمۡ ﴿ "janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu", yang merupakan orang terdekat, lebih-lebih selainnya, janganlah kamu menjadikan mereka ﴾ أَوۡلِيَآءَ إِنِ ٱسۡتَحَبُّواْ ﴿ "pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan." Yakni me-milih dengan suka rela ﴾ ٱلۡكُفۡرَ عَلَى ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." Karena mereka berani bermaksiat kepada Allah dan men-jadikan musuh-musuh Allah sebagai pemimpin-pemimpin. Pada asalnya, arti al-Wilayah adalah kecintaan dan pertolongan, dan di sini dinyatakan demikian karena menjadikan mereka pemimpin-pemimpin melazimkan sifat mendahulukan ketaatan dan kecintaan kepada mereka di atas ketaatan dan kecintaan kepada Allah dan RasulNya. (24) Oleh karena itu Allah menyebutkan sebab yang me-lazimkan hal itu, yaitu bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya wajib didahulukan di atas kecintaan kepada apa pun, dan menjadikan segala sesuatu menginduk kepadanya, Dia berfirman, ﴾ قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Jika bapak-bapak'," sama juga ibu-ibu, ﴾ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ ﴿ "saudara-saudara",[87] dalam nasab dan keluarga, ﴾ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ ﴿ "istri-istri, kaum keluargamu." Yaitu kerabatmu secara umum. ﴾ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا ﴿ "dan harta kekayaan yang kamu usahakan", dan kamu men-dapatkannya dengan susah payah, ia disebutkan secara khusus karena ia paling dicintai oleh pemiliknya, dan tentu saja pemiliknya lebih semangat dalam menjaganya daripada orang yang mendapat-kan harta tanpa usaha dan lelah ﴾ وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا ﴿ "dan perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya." Yakni khawatir menipis dan ber-kurang. Ini meliputi seluruh bentuk perniagaan dan usaha dalam berbagai bentuk perniagaan seperti emas, bejana, senjata, perabot, biji-bijian, hasil bumi, ternak, dan lain-lain. ﴾ وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ ﴿ "Dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai", karena keindahannya, hiasannya, dan kesesuaiannya dengan hawa nafsumu, jika semua itu ﴾ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ ﴿ "adalah lebih kamu cintai dari-pada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya", maka kamu adalah orang-orang fasik yang zhalim. ﴾ فَتَرَبَّصُواْ ﴿ "Maka tunggulah", azab yang akan menimpamu ﴾ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ ﴿ "sampai Allah menda-tangkan keputusanNya", yang tiada tertolak. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik", yaitu yang keluar dari ketaatan kepada Allah, yang mendahulukan salah satu perkara di atas, daripada kecintaan kepada Allah. Ayat yang mulia ini adalah dalil terbesar akan kewajiban men-cintai Allah dan RasulNya, dan mendahulukannya di atas kecintaan kepada segala sesuatu selain keduaNya, serta ancaman keras dan kemarahan besar atas siapa saja yang salah satu dari yang disebut-kan ini lebih dia cintai daripada Allah, RasulNya, dan jihad di ja-lanNya. Dan tandanya adalah bahwa jika dia dihadapkan pada dua perkara, yang pertama dicintai oleh Allah dan RasulNya dan dia tidak memiliki hasrat padanya, dan kedua dicintai dan diinginkan oleh nafsunya, akan tetapi ia mengakibatkan lenyapnya apa yang dicintai oleh Allah dan RasulNya atau menguranginya, maka jika dia mendahulukan apa yang diinginkan oleh nafsunya daripada apa yang dicintai Allah, berarti itu menunjukkan bahwa dia zhalim dan telah meninggalkan apa yang wajib atasnya. Allah تعالى memberi nikmat kepada hamba-hambaNya yang beriman dengan memberikan kemenangan di banyak peperangan, hingga pada perang Hunain di mana kaum Muslimin menghadapi tekanan kuat sehingga mereka berlari dan mundur yang membuat bumi yang luas itu seolah-olah menjadi sempit, hal itu ketika Nabi ﷺ menaklukkan Makkah, Nabi mendengar bahwa Hawazin ber-sekutu untuk memerangi beliau, maka Nabi mendatangi mereka dengan sahabat-sahabat yang ikut berpartisipasi pada Fathu Makkah ditambah orang-orang Makkah yang dimaafkan oleh beliau dan masuk Islam, mereka semua berjumlah dua belas ribu orang, se-dangkan orang-orang musyrik hanyalah empat ribu orang, sehingga sebagian kaum Muslimin terperdaya oleh jumlah mereka yang be-sar, sebagian dari mereka berkata, "Hari ini kita tidak akan mungkin dikalahkan oleh yang sedikit." Manakala mereka bertemu dengan pasukan Hawazin, me-reka menyerang kaum Muslimin secara serempak, sehingga kaum Muslimin terpukul mundur tanpa mempedulikan yang lain, yang tersisa bersama Rasulullah hanyalah sekitar seratus orang yang teguh bersamanya. Mereka ini berperang melawan orang-orang musyrik, Nabi sendiri memacu untanya ke barisan musuh sambil berkata, أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ، أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ. "Akulah Nabi tiada dusta, akulah Ibnu Abdil Muththalib."[88] Manakala Nabi melihat kondisi kaum Muslimin, beliau me-minta Abbas bin Abdul Muththalib untuk menyeru orang-orang Anshar dan kaum Muslimin yang lain, "Wahai Ashhabus Samurah[89], wahai ahli surat al-Baqarah." Manakala kaum Muslimin mendengar suaranya, mereka kembali dengan serempak dan berperang me-lawan kaum musyrikin, maka Allah mengalahkan kaum musyrikin dengan kekalahan yang sangat telak dan kaum Muslimin pun me-nguasai negeri, wanita-wanita dan harta mereka.

At-Taubah 9:25

"Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang Mukmin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) pepe-rangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena ba-nyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan ben-cana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang." (At-Taubah: 25-27). (25) Yaitu Firman Allah تعالى, ﴾ لَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٖ وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ ﴿ "Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang Mukmin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain." Ia adalah nama tempat yang terletak di antara Makkah dan Thaif, yang terjadi padanya perang tersebut.﴾ إِذۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun." Yakni jumlahmu yang banyak maupun sedikit, sama sekali tidak bisa membantumu. ﴾ وَضَاقَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu", karena kesedihan dan duka yang di-sebabkan oleh kekalahan kalian itu, padahal ﴾ بِمَا رَحُبَتۡ ﴿ "bumi yang luas", maksudnya, padahal tanah (tempat kalian berpijak) begitu lapang dan luas. ﴾ ثُمَّ وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ ﴿ "Kemudian kamu lari ke belakang de-ngan bercerai berai", maksudnya, lari terdesak kalah. (26) ﴾ ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kemudian Allah me-nurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman." Sakinah adalah apa yang Allah sematkan dalam hati dalam kondisi kesulitan, kegoncangan, dan ketakutan, yang dapat mene-guhkannya, menenteramkannya, dan menjadikannya tenang. Ia adalah salah satu nikmat besar Allah kepada hamba-hambaNya. ﴾ وَأَنزَلَ جُنُودٗا لَّمۡ تَرَوۡهَا ﴿ "Dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya." Yaitu para malaikat, Allah menurunkan mereka untuk menolong kaum Muslimin pada perang Hunain yang me-neguhkan dan memberi berita gembira kemenangan.﴾ وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir", dengan kekalahan, pembunuhan dan dikuasainya wanita, anak-anak dan harta mereka oleh kaum Muslimin. ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir." Allah mengazab mereka di dunia kemudian di akhirat mereka digiring kepada azab yang sangat pedih. (27) ﴾ ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Sesudah itu Allah mene-rima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya." Allah mengampuni banyak orang yang kalah dalam perang ini, mereka datang kepada Nabi ﷺ dengan menyatakan masuk Islam dan bertaubat, maka Nabi mengembalikan harta, istri, dan anak mereka. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Yakni Pemilik ampunan yang luas dan rahmat yang menyeluruh. Mengampuni dosa-dosa besar bagi yang bertaubat dan menyayangi mereka de-ngan taufikNya kepada mereka untuk bertaubat dan melakukan ketaatan, serta Allah memaafkan kesalahan mereka dan menerima taubat mereka, maka janganlah seorang pun berputus asa dari rahmat dan ampunanNya, meski dia telah melakukan dosa dan kejahatan sebesar apa pun.

At-Taubah 9:26

"Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang Mukmin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) pepe-rangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena ba-nyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan ben-cana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang." (At-Taubah: 25-27). (25) Yaitu Firman Allah تعالى, ﴾ لَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٖ وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ ﴿ "Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang Mukmin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain." Ia adalah nama tempat yang terletak di antara Makkah dan Thaif, yang terjadi padanya perang tersebut.﴾ إِذۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun." Yakni jumlahmu yang banyak maupun sedikit, sama sekali tidak bisa membantumu. ﴾ وَضَاقَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu", karena kesedihan dan duka yang di-sebabkan oleh kekalahan kalian itu, padahal ﴾ بِمَا رَحُبَتۡ ﴿ "bumi yang luas", maksudnya, padahal tanah (tempat kalian berpijak) begitu lapang dan luas. ﴾ ثُمَّ وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ ﴿ "Kemudian kamu lari ke belakang de-ngan bercerai berai", maksudnya, lari terdesak kalah. (26) ﴾ ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kemudian Allah me-nurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman." Sakinah adalah apa yang Allah sematkan dalam hati dalam kondisi kesulitan, kegoncangan, dan ketakutan, yang dapat mene-guhkannya, menenteramkannya, dan menjadikannya tenang. Ia adalah salah satu nikmat besar Allah kepada hamba-hambaNya. ﴾ وَأَنزَلَ جُنُودٗا لَّمۡ تَرَوۡهَا ﴿ "Dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya." Yaitu para malaikat, Allah menurunkan mereka untuk menolong kaum Muslimin pada perang Hunain yang me-neguhkan dan memberi berita gembira kemenangan.﴾ وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir", dengan kekalahan, pembunuhan dan dikuasainya wanita, anak-anak dan harta mereka oleh kaum Muslimin. ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir." Allah mengazab mereka di dunia kemudian di akhirat mereka digiring kepada azab yang sangat pedih. (27) ﴾ ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Sesudah itu Allah mene-rima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya." Allah mengampuni banyak orang yang kalah dalam perang ini, mereka datang kepada Nabi ﷺ dengan menyatakan masuk Islam dan bertaubat, maka Nabi mengembalikan harta, istri, dan anak mereka. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Yakni Pemilik ampunan yang luas dan rahmat yang menyeluruh. Mengampuni dosa-dosa besar bagi yang bertaubat dan menyayangi mereka de-ngan taufikNya kepada mereka untuk bertaubat dan melakukan ketaatan, serta Allah memaafkan kesalahan mereka dan menerima taubat mereka, maka janganlah seorang pun berputus asa dari rahmat dan ampunanNya, meski dia telah melakukan dosa dan kejahatan sebesar apa pun.

At-Taubah 9:27

"Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang Mukmin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) pepe-rangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena ba-nyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan ben-cana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang." (At-Taubah: 25-27). (25) Yaitu Firman Allah تعالى, ﴾ لَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٖ وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ ﴿ "Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang Mukmin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain." Ia adalah nama tempat yang terletak di antara Makkah dan Thaif, yang terjadi padanya perang tersebut.﴾ إِذۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun." Yakni jumlahmu yang banyak maupun sedikit, sama sekali tidak bisa membantumu. ﴾ وَضَاقَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu", karena kesedihan dan duka yang di-sebabkan oleh kekalahan kalian itu, padahal ﴾ بِمَا رَحُبَتۡ ﴿ "bumi yang luas", maksudnya, padahal tanah (tempat kalian berpijak) begitu lapang dan luas. ﴾ ثُمَّ وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ ﴿ "Kemudian kamu lari ke belakang de-ngan bercerai berai", maksudnya, lari terdesak kalah. (26) ﴾ ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kemudian Allah me-nurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman." Sakinah adalah apa yang Allah sematkan dalam hati dalam kondisi kesulitan, kegoncangan, dan ketakutan, yang dapat mene-guhkannya, menenteramkannya, dan menjadikannya tenang. Ia adalah salah satu nikmat besar Allah kepada hamba-hambaNya. ﴾ وَأَنزَلَ جُنُودٗا لَّمۡ تَرَوۡهَا ﴿ "Dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya." Yaitu para malaikat, Allah menurunkan mereka untuk menolong kaum Muslimin pada perang Hunain yang me-neguhkan dan memberi berita gembira kemenangan.﴾ وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir", dengan kekalahan, pembunuhan dan dikuasainya wanita, anak-anak dan harta mereka oleh kaum Muslimin. ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir." Allah mengazab mereka di dunia kemudian di akhirat mereka digiring kepada azab yang sangat pedih. (27) ﴾ ثُمَّ يَتُوبُ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Sesudah itu Allah mene-rima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya." Allah mengampuni banyak orang yang kalah dalam perang ini, mereka datang kepada Nabi ﷺ dengan menyatakan masuk Islam dan bertaubat, maka Nabi mengembalikan harta, istri, dan anak mereka. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Yakni Pemilik ampunan yang luas dan rahmat yang menyeluruh. Mengampuni dosa-dosa besar bagi yang bertaubat dan menyayangi mereka de-ngan taufikNya kepada mereka untuk bertaubat dan melakukan ketaatan, serta Allah memaafkan kesalahan mereka dan menerima taubat mereka, maka janganlah seorang pun berputus asa dari rahmat dan ampunanNya, meski dia telah melakukan dosa dan kejahatan sebesar apa pun.

At-Taubah 9:28

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Mas-jidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (At-Taubah: 28). (28) Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu", yang menyekutukan Allah dengan sesuatu, ﴾ نَجَسٞ ﴿ "najis", yakni kotor pada akidah dan amal mereka, najis mana yang lebih berat daripada orang yang menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah yang tidak dapat mendatangkan manfaat, menolak mudarat, dan tidak berguna apa pun. Sementara perbuatan mereka hanyalah berkisar antara memerangi Allah, menghalang-halangi dari jalan Allah, men-dukung kebatilan, menolak kebenaran, dan berbuat kerusakan di muka bumi, bukan kebaikan? Maka kamu harus menyucikan rumah termulia dan tersuci dari mereka. ﴾ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "Maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini." Yakni tahun sembilan hijriyah, ketika orang-orang berhaji dengan amir Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Nabi ﷺ mengutus sepupunya, Ali bin Abi Thalib, agar mengumumkan pemutusan hubungan dari Allah kepada orang-orang musyrik pada hari haji akbar, maka dia mengumumkan bahwa setelah tahun ini orang-orang musyrik tidak boleh berhaji dan orang yang telanjang tidak boleh thawaf di Ka'bah. Najis yang dimaksud di sini bukan najis badan, karena orang kafir adalah suci badannya sebagaimana yang lain, dengan dalil bahwa Allah تعالى menghalalkan menggauli istri yang Ahli Kitab, dan tidak memerintahkannya agar mencuci apa yang terkena darinya, dan kaum Muslimin sendiri selalu bergaul dan bermuamalah de-ngan orang-orang kafir, dan tidak dinukil dari mereka bahwa me-reka merasa jijik seperti mereka jijik terhadap benda najis, akan tetapi yang dimaksud di sini adalah najis maknawi, yaitu syirik mereka, sebagaimana tauhid dan iman adalah kesucian, maka syirik adalah najis. FirmanNya, ﴾ وَإِنۡ خِفۡتُمۡ ﴿ "Dan jika kamu khawatir", wahai kaum Muslimin ﴾ عَيۡلَةٗ ﴿ "menjadi miskin", akibat melarang orang-orang musyrik dari mendekati Masjidil Haram, di mana sarana-sarana dunia terputus darimu karena itu, ﴾ فَسَوۡفَ يُغۡنِيكُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦٓ ﴿ "maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karuniaNya." Rizki tidak terbatas pada satu pintu dan tempat saja, bahkan tidaklah satu pintu tertutup kecuali pintu-pintu lain yang banyak akan dibukakan, karena karunia Allah sangatlah luas, dan kemurahanNya amatlah besar, khususnya bagi yang meninggalkan sesuatu karena meng-harap WajahNya yang mulia, karena sesungguhnya Allah adalah Dzat paling Pemurah di antara para pemurah, dan Allah telah membuktikan janjiNya dengan menjadikan kaum Muslimin ber-kecukupan dengan karuniaNya dan membentangkan rizki untuk mereka yang membuat mereka menjadi orang-orang kaya dan pe-nguasa yang terkaya. FirmanNya, ﴾ إِن شَآءَۚ ﴿ "Jika Dia menghendaki." Mengaitkan karunia kekayaan dengan kehendakNya, karena ke-kayaan di dunia bukan termasuk konsekuensi iman dan tidak me-nunjukkan kecintaan Allah, oleh karenanya Allah menggantung-kannya dengan kehendakNya, karena Allah memberikan dunia kepada yang Dia cintai dan kepada yang tidak Dia cintai dan Dia tidak menganugerahkan keimanan dan agama kecuali kepada yang Dia cintai. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Menge-tahui lagi Mahabijaksana." Yakni ilmuNya luas, mengetahui siapa yang layak diberi kekayaan dan siapa yang tak layak, meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan posisinya. Ayat yang mulia ini, yakni FirmanNya, ﴾ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "Maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini", menunjukkan bahwa orang-orang musyrik sebelumnya adalah pemimpin dan penguasa di Baitul Haram, kemudian setelah Fathu Makkah kepemimpinan tersebut berpindah kepada Rasulullah dan orang-orang Mukmin, meski mereka tetap tinggal di Makkah Mukarramah, kemudian turunlah ayat ini. Dan ketika Nabi ﷺ hen-dak wafat, beliau meminta agar mereka diusir dari Hijaz, sehingga tidak ada dua agama padanya, semua itu demi menjauhkan orang kafir dari Masjidil Haram, ia termasuk ke dalam Firman Allah, ﴾ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ ﴿ "Maka janganlah mereka mendekati Mas-jidil Haram sesudah tahun ini."

At-Taubah 9:29

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada Hari Kemudian dan mereka tidak mengha-ramkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai me-reka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk." (At-Taubah: 29). (29) Ayat ini adalah perintah memerangi orang-orang kafir dari orang-orang Yahudi dan Nasrani dari ﴾ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ ﴿ "orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada Hari Kemudian", dengan iman yang benar yang dibuktikan dengan perbuatan mereka. ﴾ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan mereka tidak meng-haramkan apa yang telah diharamkan oleh Allah." Mereka tidak meng-ikuti syariatNya dalam mengharamkan yang haram, ﴾ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah)." Yakni tidak memeluk agama yang benar, meskipun mereka meng-klaim diri mereka beragama, karena ia bukanlah agama yang benar karena ia adalah agama yang telah diganti yang tidak disyariatkan oleh Allah sama sekali, atau ia adalah agama yang mansukh (terha-pus) yang disyariatkan lalu diganti dengan syariat Muhammad, maka setelah ia dinasakh tidak boleh dipegang lagi. Allah memerintahkan dan mendorong orang-orang beriman untuk memerangi mereka karena mereka menyeru manusia kepa-da kesesatan dan terjadi banyak mudarat terhadap manusia dari mereka, karena mereka adalah Ahli Kitab. Dan titik akhir perang itu adalah ﴾ حَتَّىٰ يُعۡطُواْ ٱلۡجِزۡيَةَ ﴿ "sampai mereka membayar jizyah." Yakni harta yang dibayarkan sebagai imbalan atas tidak diperanginya mereka oleh kaum Muslimin dan izin tinggal dengan aman terha-dap diri dan harta mereka di tengah-tengah kaum Muslimin. Ia diambil dari mereka setiap tahun, masing-masing berdasarkan ke-mampuannya, kaya, miskin, atau menengah, sebagaimana hal itu dilakukan oleh Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab dan se-lainnya. FirmanNya, ﴾ عَن يَدٖ ﴿ "Dengan patuh", yakni, mereka memba-yarnya dalam keadaan rendah diri dan tanpa memiliki kekuasaan, mereka membayarnya dengan tangan mereka tanpa melalui pe-layan atau perantara, dan ia tidak diterima kecuali melalui tangan mereka, ﴾ وَهُمۡ صَٰغِرُونَ ﴿ "sedang mereka dalam keadaan tunduk." Jika me-reka dalam kondisi seperti ini, dan mereka meminta kaum Muslimin agar mereka dibiarkan dengan jizyah sedangkan mereka di bawah kendali dan kekuasaan kaum Muslimin, dalam kondisi aman dari fitnah dan keburukan mereka, menerima syarat yang diberlakukan oleh kaum Muslimin kepada mereka, di mana hal ini dapat meng-hilangkan kesombongan dan kekuasaan mereka dan memaksa me-reka tunduk dan patuh, maka sang pimpinan atau wakilnya wajib memberlakukan jizyah atas mereka, jika tidak demikian, di mana mereka tidak menepati dan tidak memberikan jizyah dengan patuh dan tunduk, maka tidak boleh membiarkan mereka dengan jizyah, akan tetapi wajib diperangi. Ayat ini dijadikan dalil oleh jumhur ulama yang berkata bah-wa jizyah tidak diambil kecuali dari Ahli Kitab, karena Allah tidak menyebutkan tentang bolehnya mengambil jizyah kecuali dari me-reka. Adapun selain mereka, maka yang ada hanyalah diperangi sampai mereka masuk Islam. Orang-orang Majusi diindukkan kepada Ahli Kitab dalam hal pengambilan jizyah dari mereka dan pembiaran mereka di negeri kaum Muslimin, karena Nabi ﷺ meng-ambilnya dari orang Majusi Hajar, kemudian Umar juga mengam-bilnya dari orang Majusi Persia.[90] Ada juga yang berpendapat, bahwa jizyah diambil dari semua orang kafir, baik dari Ahli Kitab maupun lainnya, karena ayat ini turun setelah selesainya perang melawan orang-orang Arab yang musyrik dan dimulainya perang melawan Ahli Kitab dan semisal mereka, maka pembatasan ini hanyalah sekedar penyampaian ten-tang kenyataan yang terjadi, tidak ada makna tersirat padanya, dan ini didukung dengan dalil bahwa orang-orang Majusi juga dituntut membayar jizyah, padahal mereka bukanlah Ahli Kitab, dan karena telah mutawatir dari kalangan sahabat dan orang-orang yang se-sudah mereka, bahwa mereka menyerukan satu dari tiga perkara kepada orang-orang yang mereka perangi: Islam, atau jizyah, atau perang, tanpa ada perbedaan antara Ahli Kitab dan selainnya.

At-Taubah 9:30

"Orang-orang Yahudi berkata, 'Uzair itu putra Allah.' Dan orang-orang Nasrani berkata, 'Al-Masih itu putra Allah.' Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perka-taan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, pada-hal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur`an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." (At-Taubah: 30-33). (30) Manakala Allah تعالى memerintahkan memerangi Ahli Kitab, Dia menyebutkan dari ucapan mereka yang buruk, yang dapat mendorong orang-orang Mukmin yang mempunyai kecem-buruan membela Rabb dan agamaNya, untuk memerangi mereka dengan sungguh-sungguh dan mengeluarkan segala daya untuk itu, Dia berfirman, ﴾ وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ عُزَيۡرٌ ٱبۡنُ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang Yahudi ber-kata, 'Uzair itu putra Allah'." Meskipun ini bukanlah pendapat ma-yoritas mereka, akan tetapi ia diucapkan sekelompok dari mereka. Ini menunjukkan bahwa pada diri orang-orang Yahudi terdapat ke-jahatan dan kebusukan yang membuat mereka mengatakan ucapan yang merupakan kelancangan terhadap Allah dan pelecehan ter-hadap keagungan dan kebesaranNya. Dikatakan bahwa penyebab klaim mereka bahwa Uzair adalah putra Allah adalah manakala para raja menguasai Bani Israil dan mencerai beraikan mereka de-ngan buruk dan membunuh para pembawa Taurat, mereka men-dapati Uzair menghafal Taurat atau menghafal mayoritas darinya, maka Uzair mendiktekan Taurat kepada mereka dari hafalannya dan mereka menulisnya, lalu mereka menganggapnya dengan anggapan yang buruk tersebut. Dan orang-orang Nasrani berkata Isa, ﴾ ٱبۡنُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Putra Allah." Allah berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itulah", ucapan yang mereka ucapkan ﴾ قَوۡلُهُم بِأَفۡوَٰهِهِمۡۖ ﴿ "dengan mulut mereka", tanpa berpijak kepada bukti dan dalil, dan barangsiapa tidak peduli dengan apa yang diucapkan, maka tidak heran kalau dia mengucapkan apa pun, karena tidak ada akal dan agama yang mengerem ucapannya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ يُضَٰهِـُٔونَ ﴿ "Mereka meniru", yakni menye-rupai dengan ucapan mereka itu ﴾ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "perkataan orang-orang kafir yang terdahulu." Yakni ucapan orang-orang musyrik bahwa malaikat adalah anak wanita Allah, hati mereka serupa maka ucapan mereka pun sama-sama batilnya. ﴾ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?" Ba-gaimana mereka berpaling dari kebenaran murni dan sangat jelas kepada ucapan yang telah nyata kebatilannya. (31) Ini, walaupun agak mengherankan jika ada umat besar bersepakat mengatakan pendapat yang kebatilannya ditunjukkan oleh pemikiran ringan dan akal yang biasa-biasa saja, akan tetapi hal itu mempunyai sebab yaitu bahwa mereka ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ ﴿ "Men-jadikan orang-orang alimnya", yaitu ulama mereka, ﴾ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ ﴿ "dan rahib-rahib mereka," yakni ahli ibadah yang berkonsentrasi hanya kepada ibadah ﴾ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "sebagai tuhan selain Allah." Para alim dan rahib itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharam-kan Allah, lalu mereka mengikutinya, dan mengharamkan untuk mereka apa yang dihalalkan Allah lalu mereka mengikutinya, serta mensyariatkan syariat-syariat dan ucapan-ucapan yang bertentangan dengan agama para rasul, dan mereka pun mengikutinya. Mereka juga bersikap berlebih-lebihan terhadap syaikh-syaikh dan ahli-ahli ibadah mereka dan mengagungkannya, menjadikan kuburan mereka sebagai tempat-tempat ibadah yang disembah selain Allah, serta dijadikan sebagai tempat untuk menyembelih kurban, berdoa, dan beristighatsah. ﴾ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ﴿ "Dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam." Mereka mengangkatnya sebagai tuhan selain Allah, mereka telah menyelisihi perintah Allah kepada mereka melalui lisan para rasulNya. ﴾ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "Pa-dahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia." Agar mereka mengikhlaskan ibadah dan ketaatan hanya untukNya, serta mengkhususkanNya dengan kecintaan dan doa, namun mereka mencampakkan perintah Allah dan menyekutukanNya dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentangnya. ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Maha-suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Mahasuci, Mahabersih, dan Mahatinggi keagunganNya dari kesyirikan dan kedustaan mereka, sesungguhnya perbuatan mereka itu berarti meremehkan-Nya dan menyifatiNya dengan apa yang tidak layak bagi keagung-anNya, padahal Allah Mahatinggi dalam sifat dan perbuatanNya dari segala yang dinisbatkan kepadaNya yang bertentangan dengan kesucianNya. (32) Manakala terbukti bahwa tidak ada hujjah atas apa yang mereka katakan, dan tidak ada bukti atas apa yang mereka letak-kan, akan tetapi ia hanyalah ucapan dan kedustaan yang mereka ada-adakan, maka Allah mengabarkan bahwa, ﴾ يُرِيدُونَ ﴿ "mereka berkehendak", dengan ini ﴾ أَن يُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka." Cahaya Allah adalah agamaNya yang dengannya Dia mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Allah menamakannya cahaya karena ia dijadikan sebagai cahaya penerang dalam kegelapan kebodohan dan agama-agama yang batil. Ia adalah ilmu dan amal dengan ke-benaran, sedangkan selainnya adalah kebalikannya. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrikin lain yang menyerupai mereka ingin memadamkan cahaya Allah hanya dengan ucapan mereka yang sama sekali tak berdalil. ﴾ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya", karena itu adalah cahaya yang terang kuat, yang tidak mungkin bagi se-luruh makhluk untuk memadamkannya meski mereka bersatu, sementara yang menurunkannya adalah pemegang ubun-ubun segenap hamba. Dan Dia menjamin menjaganya dari siapa pun yang ingin berbuat jahat kepadanya. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai," dan berusaha dengan keras dalam menolak dan membatalkannya, sesungguhnya usaha mereka tidak akan memu-daratkan kebenaran sedikit pun. (33) Kemudian Allah تعالى menjelaskan cahaya yang Allah menjamin akan menjaga dan menyempurnakannya, Dia berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ ﴿ "Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (de-ngan membawa) petunjuk (al-Qur`an)", yaitu ilmu yang bermanfaat ﴾ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "dan agama yang benar", yaitu amal yang shalih. Apa yang dengannya Allah mengutus Muhammad ﷺ mencakup penjelasan yang haq dengan yang batil dalam nama, sifat, dan perbuatan Allah, dalam hukum dan beritaNya, perintah kepada semua kemaslahatan yang bermanfaat bagi hati, rohani, dan jasmani, mulai dari meng-ikhlaskan ketaatan hanya kepada Allah semata, mencintai dan menyembah Allah, perintah kepada kemuliaan akhlak, kebaikan sifat, amal shalih, dan adab yang bermanfaat, serta larangan ter-hadap apa yang menjadi lawannya, berupa amal dan akhlak yang buruk, yang memudaratkan hati, jasmani, dunia, dan akhirat. Allah mengutus Muhammad dengan petunjuk dan agama yang benar ﴾ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ﴿ "untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai", yakni agar Dia meninggikannya di atas agama-agama yang lain dengan hujjah dan bukti, pedang dan tombak, meskipun orang-orang musyrik membenci itu, membuat tipu daya dan makar untuk-nya, sesungguhnya makar yang buruk hanya akan membahayakan pelakunya, janji Allah pasti akan Dia laksanakan dan jaminanNya pasti akan Dia tunaikan.

At-Taubah 9:31

"Orang-orang Yahudi berkata, 'Uzair itu putra Allah.' Dan orang-orang Nasrani berkata, 'Al-Masih itu putra Allah.' Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perka-taan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, pada-hal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur`an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." (At-Taubah: 30-33). (30) Manakala Allah تعالى memerintahkan memerangi Ahli Kitab, Dia menyebutkan dari ucapan mereka yang buruk, yang dapat mendorong orang-orang Mukmin yang mempunyai kecem-buruan membela Rabb dan agamaNya, untuk memerangi mereka dengan sungguh-sungguh dan mengeluarkan segala daya untuk itu, Dia berfirman, ﴾ وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ عُزَيۡرٌ ٱبۡنُ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang Yahudi ber-kata, 'Uzair itu putra Allah'." Meskipun ini bukanlah pendapat ma-yoritas mereka, akan tetapi ia diucapkan sekelompok dari mereka. Ini menunjukkan bahwa pada diri orang-orang Yahudi terdapat ke-jahatan dan kebusukan yang membuat mereka mengatakan ucapan yang merupakan kelancangan terhadap Allah dan pelecehan ter-hadap keagungan dan kebesaranNya. Dikatakan bahwa penyebab klaim mereka bahwa Uzair adalah putra Allah adalah manakala para raja menguasai Bani Israil dan mencerai beraikan mereka de-ngan buruk dan membunuh para pembawa Taurat, mereka men-dapati Uzair menghafal Taurat atau menghafal mayoritas darinya, maka Uzair mendiktekan Taurat kepada mereka dari hafalannya dan mereka menulisnya, lalu mereka menganggapnya dengan anggapan yang buruk tersebut. Dan orang-orang Nasrani berkata Isa, ﴾ ٱبۡنُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Putra Allah." Allah berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itulah", ucapan yang mereka ucapkan ﴾ قَوۡلُهُم بِأَفۡوَٰهِهِمۡۖ ﴿ "dengan mulut mereka", tanpa berpijak kepada bukti dan dalil, dan barangsiapa tidak peduli dengan apa yang diucapkan, maka tidak heran kalau dia mengucapkan apa pun, karena tidak ada akal dan agama yang mengerem ucapannya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ يُضَٰهِـُٔونَ ﴿ "Mereka meniru", yakni menye-rupai dengan ucapan mereka itu ﴾ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "perkataan orang-orang kafir yang terdahulu." Yakni ucapan orang-orang musyrik bahwa malaikat adalah anak wanita Allah, hati mereka serupa maka ucapan mereka pun sama-sama batilnya. ﴾ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?" Ba-gaimana mereka berpaling dari kebenaran murni dan sangat jelas kepada ucapan yang telah nyata kebatilannya. (31) Ini, walaupun agak mengherankan jika ada umat besar bersepakat mengatakan pendapat yang kebatilannya ditunjukkan oleh pemikiran ringan dan akal yang biasa-biasa saja, akan tetapi hal itu mempunyai sebab yaitu bahwa mereka ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ ﴿ "Men-jadikan orang-orang alimnya", yaitu ulama mereka, ﴾ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ ﴿ "dan rahib-rahib mereka," yakni ahli ibadah yang berkonsentrasi hanya kepada ibadah ﴾ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "sebagai tuhan selain Allah." Para alim dan rahib itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharam-kan Allah, lalu mereka mengikutinya, dan mengharamkan untuk mereka apa yang dihalalkan Allah lalu mereka mengikutinya, serta mensyariatkan syariat-syariat dan ucapan-ucapan yang bertentangan dengan agama para rasul, dan mereka pun mengikutinya. Mereka juga bersikap berlebih-lebihan terhadap syaikh-syaikh dan ahli-ahli ibadah mereka dan mengagungkannya, menjadikan kuburan mereka sebagai tempat-tempat ibadah yang disembah selain Allah, serta dijadikan sebagai tempat untuk menyembelih kurban, berdoa, dan beristighatsah. ﴾ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ﴿ "Dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam." Mereka mengangkatnya sebagai tuhan selain Allah, mereka telah menyelisihi perintah Allah kepada mereka melalui lisan para rasulNya. ﴾ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "Pa-dahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia." Agar mereka mengikhlaskan ibadah dan ketaatan hanya untukNya, serta mengkhususkanNya dengan kecintaan dan doa, namun mereka mencampakkan perintah Allah dan menyekutukanNya dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentangnya. ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Maha-suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Mahasuci, Mahabersih, dan Mahatinggi keagunganNya dari kesyirikan dan kedustaan mereka, sesungguhnya perbuatan mereka itu berarti meremehkan-Nya dan menyifatiNya dengan apa yang tidak layak bagi keagung-anNya, padahal Allah Mahatinggi dalam sifat dan perbuatanNya dari segala yang dinisbatkan kepadaNya yang bertentangan dengan kesucianNya. (32) Manakala terbukti bahwa tidak ada hujjah atas apa yang mereka katakan, dan tidak ada bukti atas apa yang mereka letak-kan, akan tetapi ia hanyalah ucapan dan kedustaan yang mereka ada-adakan, maka Allah mengabarkan bahwa, ﴾ يُرِيدُونَ ﴿ "mereka berkehendak", dengan ini ﴾ أَن يُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka." Cahaya Allah adalah agamaNya yang dengannya Dia mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Allah menamakannya cahaya karena ia dijadikan sebagai cahaya penerang dalam kegelapan kebodohan dan agama-agama yang batil. Ia adalah ilmu dan amal dengan ke-benaran, sedangkan selainnya adalah kebalikannya. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrikin lain yang menyerupai mereka ingin memadamkan cahaya Allah hanya dengan ucapan mereka yang sama sekali tak berdalil. ﴾ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya", karena itu adalah cahaya yang terang kuat, yang tidak mungkin bagi se-luruh makhluk untuk memadamkannya meski mereka bersatu, sementara yang menurunkannya adalah pemegang ubun-ubun segenap hamba. Dan Dia menjamin menjaganya dari siapa pun yang ingin berbuat jahat kepadanya. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai," dan berusaha dengan keras dalam menolak dan membatalkannya, sesungguhnya usaha mereka tidak akan memu-daratkan kebenaran sedikit pun. (33) Kemudian Allah تعالى menjelaskan cahaya yang Allah menjamin akan menjaga dan menyempurnakannya, Dia berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ ﴿ "Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (de-ngan membawa) petunjuk (al-Qur`an)", yaitu ilmu yang bermanfaat ﴾ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "dan agama yang benar", yaitu amal yang shalih. Apa yang dengannya Allah mengutus Muhammad ﷺ mencakup penjelasan yang haq dengan yang batil dalam nama, sifat, dan perbuatan Allah, dalam hukum dan beritaNya, perintah kepada semua kemaslahatan yang bermanfaat bagi hati, rohani, dan jasmani, mulai dari meng-ikhlaskan ketaatan hanya kepada Allah semata, mencintai dan menyembah Allah, perintah kepada kemuliaan akhlak, kebaikan sifat, amal shalih, dan adab yang bermanfaat, serta larangan ter-hadap apa yang menjadi lawannya, berupa amal dan akhlak yang buruk, yang memudaratkan hati, jasmani, dunia, dan akhirat. Allah mengutus Muhammad dengan petunjuk dan agama yang benar ﴾ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ﴿ "untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai", yakni agar Dia meninggikannya di atas agama-agama yang lain dengan hujjah dan bukti, pedang dan tombak, meskipun orang-orang musyrik membenci itu, membuat tipu daya dan makar untuk-nya, sesungguhnya makar yang buruk hanya akan membahayakan pelakunya, janji Allah pasti akan Dia laksanakan dan jaminanNya pasti akan Dia tunaikan.

At-Taubah 9:32

"Orang-orang Yahudi berkata, 'Uzair itu putra Allah.' Dan orang-orang Nasrani berkata, 'Al-Masih itu putra Allah.' Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perka-taan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, pada-hal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur`an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." (At-Taubah: 30-33). (30) Manakala Allah تعالى memerintahkan memerangi Ahli Kitab, Dia menyebutkan dari ucapan mereka yang buruk, yang dapat mendorong orang-orang Mukmin yang mempunyai kecem-buruan membela Rabb dan agamaNya, untuk memerangi mereka dengan sungguh-sungguh dan mengeluarkan segala daya untuk itu, Dia berfirman, ﴾ وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ عُزَيۡرٌ ٱبۡنُ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang Yahudi ber-kata, 'Uzair itu putra Allah'." Meskipun ini bukanlah pendapat ma-yoritas mereka, akan tetapi ia diucapkan sekelompok dari mereka. Ini menunjukkan bahwa pada diri orang-orang Yahudi terdapat ke-jahatan dan kebusukan yang membuat mereka mengatakan ucapan yang merupakan kelancangan terhadap Allah dan pelecehan ter-hadap keagungan dan kebesaranNya. Dikatakan bahwa penyebab klaim mereka bahwa Uzair adalah putra Allah adalah manakala para raja menguasai Bani Israil dan mencerai beraikan mereka de-ngan buruk dan membunuh para pembawa Taurat, mereka men-dapati Uzair menghafal Taurat atau menghafal mayoritas darinya, maka Uzair mendiktekan Taurat kepada mereka dari hafalannya dan mereka menulisnya, lalu mereka menganggapnya dengan anggapan yang buruk tersebut. Dan orang-orang Nasrani berkata Isa, ﴾ ٱبۡنُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Putra Allah." Allah berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itulah", ucapan yang mereka ucapkan ﴾ قَوۡلُهُم بِأَفۡوَٰهِهِمۡۖ ﴿ "dengan mulut mereka", tanpa berpijak kepada bukti dan dalil, dan barangsiapa tidak peduli dengan apa yang diucapkan, maka tidak heran kalau dia mengucapkan apa pun, karena tidak ada akal dan agama yang mengerem ucapannya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ يُضَٰهِـُٔونَ ﴿ "Mereka meniru", yakni menye-rupai dengan ucapan mereka itu ﴾ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "perkataan orang-orang kafir yang terdahulu." Yakni ucapan orang-orang musyrik bahwa malaikat adalah anak wanita Allah, hati mereka serupa maka ucapan mereka pun sama-sama batilnya. ﴾ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?" Ba-gaimana mereka berpaling dari kebenaran murni dan sangat jelas kepada ucapan yang telah nyata kebatilannya. (31) Ini, walaupun agak mengherankan jika ada umat besar bersepakat mengatakan pendapat yang kebatilannya ditunjukkan oleh pemikiran ringan dan akal yang biasa-biasa saja, akan tetapi hal itu mempunyai sebab yaitu bahwa mereka ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ ﴿ "Men-jadikan orang-orang alimnya", yaitu ulama mereka, ﴾ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ ﴿ "dan rahib-rahib mereka," yakni ahli ibadah yang berkonsentrasi hanya kepada ibadah ﴾ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "sebagai tuhan selain Allah." Para alim dan rahib itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharam-kan Allah, lalu mereka mengikutinya, dan mengharamkan untuk mereka apa yang dihalalkan Allah lalu mereka mengikutinya, serta mensyariatkan syariat-syariat dan ucapan-ucapan yang bertentangan dengan agama para rasul, dan mereka pun mengikutinya. Mereka juga bersikap berlebih-lebihan terhadap syaikh-syaikh dan ahli-ahli ibadah mereka dan mengagungkannya, menjadikan kuburan mereka sebagai tempat-tempat ibadah yang disembah selain Allah, serta dijadikan sebagai tempat untuk menyembelih kurban, berdoa, dan beristighatsah. ﴾ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ﴿ "Dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam." Mereka mengangkatnya sebagai tuhan selain Allah, mereka telah menyelisihi perintah Allah kepada mereka melalui lisan para rasulNya. ﴾ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "Pa-dahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia." Agar mereka mengikhlaskan ibadah dan ketaatan hanya untukNya, serta mengkhususkanNya dengan kecintaan dan doa, namun mereka mencampakkan perintah Allah dan menyekutukanNya dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentangnya. ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Maha-suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Mahasuci, Mahabersih, dan Mahatinggi keagunganNya dari kesyirikan dan kedustaan mereka, sesungguhnya perbuatan mereka itu berarti meremehkan-Nya dan menyifatiNya dengan apa yang tidak layak bagi keagung-anNya, padahal Allah Mahatinggi dalam sifat dan perbuatanNya dari segala yang dinisbatkan kepadaNya yang bertentangan dengan kesucianNya. (32) Manakala terbukti bahwa tidak ada hujjah atas apa yang mereka katakan, dan tidak ada bukti atas apa yang mereka letak-kan, akan tetapi ia hanyalah ucapan dan kedustaan yang mereka ada-adakan, maka Allah mengabarkan bahwa, ﴾ يُرِيدُونَ ﴿ "mereka berkehendak", dengan ini ﴾ أَن يُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka." Cahaya Allah adalah agamaNya yang dengannya Dia mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Allah menamakannya cahaya karena ia dijadikan sebagai cahaya penerang dalam kegelapan kebodohan dan agama-agama yang batil. Ia adalah ilmu dan amal dengan ke-benaran, sedangkan selainnya adalah kebalikannya. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrikin lain yang menyerupai mereka ingin memadamkan cahaya Allah hanya dengan ucapan mereka yang sama sekali tak berdalil. ﴾ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya", karena itu adalah cahaya yang terang kuat, yang tidak mungkin bagi se-luruh makhluk untuk memadamkannya meski mereka bersatu, sementara yang menurunkannya adalah pemegang ubun-ubun segenap hamba. Dan Dia menjamin menjaganya dari siapa pun yang ingin berbuat jahat kepadanya. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai," dan berusaha dengan keras dalam menolak dan membatalkannya, sesungguhnya usaha mereka tidak akan memu-daratkan kebenaran sedikit pun. (33) Kemudian Allah تعالى menjelaskan cahaya yang Allah menjamin akan menjaga dan menyempurnakannya, Dia berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ ﴿ "Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (de-ngan membawa) petunjuk (al-Qur`an)", yaitu ilmu yang bermanfaat ﴾ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "dan agama yang benar", yaitu amal yang shalih. Apa yang dengannya Allah mengutus Muhammad ﷺ mencakup penjelasan yang haq dengan yang batil dalam nama, sifat, dan perbuatan Allah, dalam hukum dan beritaNya, perintah kepada semua kemaslahatan yang bermanfaat bagi hati, rohani, dan jasmani, mulai dari meng-ikhlaskan ketaatan hanya kepada Allah semata, mencintai dan menyembah Allah, perintah kepada kemuliaan akhlak, kebaikan sifat, amal shalih, dan adab yang bermanfaat, serta larangan ter-hadap apa yang menjadi lawannya, berupa amal dan akhlak yang buruk, yang memudaratkan hati, jasmani, dunia, dan akhirat. Allah mengutus Muhammad dengan petunjuk dan agama yang benar ﴾ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ﴿ "untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai", yakni agar Dia meninggikannya di atas agama-agama yang lain dengan hujjah dan bukti, pedang dan tombak, meskipun orang-orang musyrik membenci itu, membuat tipu daya dan makar untuk-nya, sesungguhnya makar yang buruk hanya akan membahayakan pelakunya, janji Allah pasti akan Dia laksanakan dan jaminanNya pasti akan Dia tunaikan.

At-Taubah 9:33

"Orang-orang Yahudi berkata, 'Uzair itu putra Allah.' Dan orang-orang Nasrani berkata, 'Al-Masih itu putra Allah.' Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perka-taan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, pada-hal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur`an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." (At-Taubah: 30-33). (30) Manakala Allah تعالى memerintahkan memerangi Ahli Kitab, Dia menyebutkan dari ucapan mereka yang buruk, yang dapat mendorong orang-orang Mukmin yang mempunyai kecem-buruan membela Rabb dan agamaNya, untuk memerangi mereka dengan sungguh-sungguh dan mengeluarkan segala daya untuk itu, Dia berfirman, ﴾ وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ عُزَيۡرٌ ٱبۡنُ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang Yahudi ber-kata, 'Uzair itu putra Allah'." Meskipun ini bukanlah pendapat ma-yoritas mereka, akan tetapi ia diucapkan sekelompok dari mereka. Ini menunjukkan bahwa pada diri orang-orang Yahudi terdapat ke-jahatan dan kebusukan yang membuat mereka mengatakan ucapan yang merupakan kelancangan terhadap Allah dan pelecehan ter-hadap keagungan dan kebesaranNya. Dikatakan bahwa penyebab klaim mereka bahwa Uzair adalah putra Allah adalah manakala para raja menguasai Bani Israil dan mencerai beraikan mereka de-ngan buruk dan membunuh para pembawa Taurat, mereka men-dapati Uzair menghafal Taurat atau menghafal mayoritas darinya, maka Uzair mendiktekan Taurat kepada mereka dari hafalannya dan mereka menulisnya, lalu mereka menganggapnya dengan anggapan yang buruk tersebut. Dan orang-orang Nasrani berkata Isa, ﴾ ٱبۡنُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Putra Allah." Allah berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itulah", ucapan yang mereka ucapkan ﴾ قَوۡلُهُم بِأَفۡوَٰهِهِمۡۖ ﴿ "dengan mulut mereka", tanpa berpijak kepada bukti dan dalil, dan barangsiapa tidak peduli dengan apa yang diucapkan, maka tidak heran kalau dia mengucapkan apa pun, karena tidak ada akal dan agama yang mengerem ucapannya. Oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ يُضَٰهِـُٔونَ ﴿ "Mereka meniru", yakni menye-rupai dengan ucapan mereka itu ﴾ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "perkataan orang-orang kafir yang terdahulu." Yakni ucapan orang-orang musyrik bahwa malaikat adalah anak wanita Allah, hati mereka serupa maka ucapan mereka pun sama-sama batilnya. ﴾ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?" Ba-gaimana mereka berpaling dari kebenaran murni dan sangat jelas kepada ucapan yang telah nyata kebatilannya. (31) Ini, walaupun agak mengherankan jika ada umat besar bersepakat mengatakan pendapat yang kebatilannya ditunjukkan oleh pemikiran ringan dan akal yang biasa-biasa saja, akan tetapi hal itu mempunyai sebab yaitu bahwa mereka ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ ﴿ "Men-jadikan orang-orang alimnya", yaitu ulama mereka, ﴾ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ ﴿ "dan rahib-rahib mereka," yakni ahli ibadah yang berkonsentrasi hanya kepada ibadah ﴾ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "sebagai tuhan selain Allah." Para alim dan rahib itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharam-kan Allah, lalu mereka mengikutinya, dan mengharamkan untuk mereka apa yang dihalalkan Allah lalu mereka mengikutinya, serta mensyariatkan syariat-syariat dan ucapan-ucapan yang bertentangan dengan agama para rasul, dan mereka pun mengikutinya. Mereka juga bersikap berlebih-lebihan terhadap syaikh-syaikh dan ahli-ahli ibadah mereka dan mengagungkannya, menjadikan kuburan mereka sebagai tempat-tempat ibadah yang disembah selain Allah, serta dijadikan sebagai tempat untuk menyembelih kurban, berdoa, dan beristighatsah. ﴾ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ﴿ "Dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam." Mereka mengangkatnya sebagai tuhan selain Allah, mereka telah menyelisihi perintah Allah kepada mereka melalui lisan para rasulNya. ﴾ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "Pa-dahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia." Agar mereka mengikhlaskan ibadah dan ketaatan hanya untukNya, serta mengkhususkanNya dengan kecintaan dan doa, namun mereka mencampakkan perintah Allah dan menyekutukanNya dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentangnya. ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Maha-suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Mahasuci, Mahabersih, dan Mahatinggi keagunganNya dari kesyirikan dan kedustaan mereka, sesungguhnya perbuatan mereka itu berarti meremehkan-Nya dan menyifatiNya dengan apa yang tidak layak bagi keagung-anNya, padahal Allah Mahatinggi dalam sifat dan perbuatanNya dari segala yang dinisbatkan kepadaNya yang bertentangan dengan kesucianNya. (32) Manakala terbukti bahwa tidak ada hujjah atas apa yang mereka katakan, dan tidak ada bukti atas apa yang mereka letak-kan, akan tetapi ia hanyalah ucapan dan kedustaan yang mereka ada-adakan, maka Allah mengabarkan bahwa, ﴾ يُرِيدُونَ ﴿ "mereka berkehendak", dengan ini ﴾ أَن يُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka." Cahaya Allah adalah agamaNya yang dengannya Dia mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Allah menamakannya cahaya karena ia dijadikan sebagai cahaya penerang dalam kegelapan kebodohan dan agama-agama yang batil. Ia adalah ilmu dan amal dengan ke-benaran, sedangkan selainnya adalah kebalikannya. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrikin lain yang menyerupai mereka ingin memadamkan cahaya Allah hanya dengan ucapan mereka yang sama sekali tak berdalil. ﴾ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya", karena itu adalah cahaya yang terang kuat, yang tidak mungkin bagi se-luruh makhluk untuk memadamkannya meski mereka bersatu, sementara yang menurunkannya adalah pemegang ubun-ubun segenap hamba. Dan Dia menjamin menjaganya dari siapa pun yang ingin berbuat jahat kepadanya. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai," dan berusaha dengan keras dalam menolak dan membatalkannya, sesungguhnya usaha mereka tidak akan memu-daratkan kebenaran sedikit pun. (33) Kemudian Allah تعالى menjelaskan cahaya yang Allah menjamin akan menjaga dan menyempurnakannya, Dia berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ ﴿ "Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (de-ngan membawa) petunjuk (al-Qur`an)", yaitu ilmu yang bermanfaat ﴾ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "dan agama yang benar", yaitu amal yang shalih. Apa yang dengannya Allah mengutus Muhammad ﷺ mencakup penjelasan yang haq dengan yang batil dalam nama, sifat, dan perbuatan Allah, dalam hukum dan beritaNya, perintah kepada semua kemaslahatan yang bermanfaat bagi hati, rohani, dan jasmani, mulai dari meng-ikhlaskan ketaatan hanya kepada Allah semata, mencintai dan menyembah Allah, perintah kepada kemuliaan akhlak, kebaikan sifat, amal shalih, dan adab yang bermanfaat, serta larangan ter-hadap apa yang menjadi lawannya, berupa amal dan akhlak yang buruk, yang memudaratkan hati, jasmani, dunia, dan akhirat. Allah mengutus Muhammad dengan petunjuk dan agama yang benar ﴾ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ﴿ "untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai", yakni agar Dia meninggikannya di atas agama-agama yang lain dengan hujjah dan bukti, pedang dan tombak, meskipun orang-orang musyrik membenci itu, membuat tipu daya dan makar untuk-nya, sesungguhnya makar yang buruk hanya akan membahayakan pelakunya, janji Allah pasti akan Dia laksanakan dan jaminanNya pasti akan Dia tunaikan.

At-Taubah 9:34

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka meng-halang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam Neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, 'Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu'." (At-Taubah: 34-35). (34) Ini adalah peringatan dari Allah تعالى kepada hamba-hambaNya yang beriman agar berhati-hati terhadap banyaknya rahib dan ulama yang memakan harta manusia dengan cara yang batil, yakni dengan cara yang tidak benar dan menghalang-halangi dari jalan Allah, jika mereka mendapatkan gaji dari uang manusia atau manusia memberikan hartanya kepada mereka maka seharus-nya hal itu karena ilmu dan ibadahnya, karena petunjuk dan hida-yahnya, sementara mereka mengambilnya dan menghalang-halangi orang-orang dari jalan Allah, maka tindakan mereka mengambil harta dengan cara itu adalah kezhaliman dan keburukan, karena orang-orang tidak memberikan harta mereka kecuali agar mereka mau membimbing ke jalan yang lurus. Termasuk tindakan mereka mengambil harta manusia dengan cara yang tidak benar adalah jika orang-orang membayar demi fatwa atau keputusan hukum mereka yang tidak berdasar kepada apa yang diturunkan oleh Allah. Para rahib dan ulama itu yang diwas-padai dari mereka adalah dua hal: tindakan mereka mengambil harta manusia dengan cara yang batil, dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. ﴾ وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ ﴿ "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak." Yakni menahannya. ﴾ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah." Yakni jalan-jalan kebaikan yang mengantarkan kepada Allah, dan inilah kekayaan yang diharam-kan, yakni tidak menafkahkannya pada nafkah wajib, seperti tidak membayar zakat, tidak memberi nafkah istri, atau kerabat, atau nafkah untuk jihad di jalan Allah jika jihad itu wajib, ﴾ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ "maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan menda-pat) siksa yang pedih." (35) Kemudian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya, ﴾ يَوۡمَ يُحۡمَىٰ عَلَيۡهَا ﴿ "Pada hari dipanaskan" yaitu pada harta m e r e k a ﴾ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ﴿ "dalam Neraka Jahanam", setiap dinar dan emas dipanaskan sedemikian rupa, ﴾ فَتُكۡوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمۡ وَجُنُوبُهُمۡ وَظُهُورُهُمۡۖ ﴿ "lalu dibakar dengan-nya dahi mereka, lambung dan punggung mereka", pada Hari Kiamat. Setiap kali ia dingin, siksa itu dilakukan kembali pada hari yang lamanya seperti lima puluh ribu tahun (di dunia), maka dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hinaan.﴾ هَٰذَا مَا كَنَزۡتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَكۡنِزُونَ ﴿ "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." Allah tidak menzhalimimu, akan tetapi kamulah yang menzha-limi dirimu sendiri dan disiksa dengan kekayaan ini. Dalam dua ayat ini Allah menyebutkan penyimpangan ma-nusia pada hartanya, yaitu dengan satu dari dua hal: bisa dengan membelanjakannya dalam kebatilan yang tidak bermanfaat apa pun, justru yang didapatkan hanyalah mudarat semata, seperti dengan membelanjakan harta dalam memuaskan nafsu dan kemaksiatan yang tidak mendukung ketaatan kepada Allah, dan mengeluarkan-nya untuk menghalang-halangi dari jalan Allah, bisa pula dengan tidak menafkahkannya pada hal yang bersifat wajib, dan larangan terhadap sesuatu merupakan perintah kepada kebalikannya. 9

At-Taubah 9:35

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka meng-halang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam Neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, 'Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu'." (At-Taubah: 34-35). (34) Ini adalah peringatan dari Allah تعالى kepada hamba-hambaNya yang beriman agar berhati-hati terhadap banyaknya rahib dan ulama yang memakan harta manusia dengan cara yang batil, yakni dengan cara yang tidak benar dan menghalang-halangi dari jalan Allah, jika mereka mendapatkan gaji dari uang manusia atau manusia memberikan hartanya kepada mereka maka seharus-nya hal itu karena ilmu dan ibadahnya, karena petunjuk dan hida-yahnya, sementara mereka mengambilnya dan menghalang-halangi orang-orang dari jalan Allah, maka tindakan mereka mengambil harta dengan cara itu adalah kezhaliman dan keburukan, karena orang-orang tidak memberikan harta mereka kecuali agar mereka mau membimbing ke jalan yang lurus. Termasuk tindakan mereka mengambil harta manusia dengan cara yang tidak benar adalah jika orang-orang membayar demi fatwa atau keputusan hukum mereka yang tidak berdasar kepada apa yang diturunkan oleh Allah. Para rahib dan ulama itu yang diwas-padai dari mereka adalah dua hal: tindakan mereka mengambil harta manusia dengan cara yang batil, dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. ﴾ وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ ﴿ "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak." Yakni menahannya. ﴾ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah." Yakni jalan-jalan kebaikan yang mengantarkan kepada Allah, dan inilah kekayaan yang diharam-kan, yakni tidak menafkahkannya pada nafkah wajib, seperti tidak membayar zakat, tidak memberi nafkah istri, atau kerabat, atau nafkah untuk jihad di jalan Allah jika jihad itu wajib, ﴾ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ "maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan menda-pat) siksa yang pedih." (35) Kemudian Allah menafsirkannya dengan FirmanNya, ﴾ يَوۡمَ يُحۡمَىٰ عَلَيۡهَا ﴿ "Pada hari dipanaskan" yaitu pada harta m e r e k a ﴾ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ﴿ "dalam Neraka Jahanam", setiap dinar dan emas dipanaskan sedemikian rupa, ﴾ فَتُكۡوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمۡ وَجُنُوبُهُمۡ وَظُهُورُهُمۡۖ ﴿ "lalu dibakar dengan-nya dahi mereka, lambung dan punggung mereka", pada Hari Kiamat. Setiap kali ia dingin, siksa itu dilakukan kembali pada hari yang lamanya seperti lima puluh ribu tahun (di dunia), maka dikatakan kepada mereka dengan celaan dan hinaan.﴾ هَٰذَا مَا كَنَزۡتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَكۡنِزُونَ ﴿ "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." Allah tidak menzhalimimu, akan tetapi kamulah yang menzha-limi dirimu sendiri dan disiksa dengan kekayaan ini. Dalam dua ayat ini Allah menyebutkan penyimpangan ma-nusia pada hartanya, yaitu dengan satu dari dua hal: bisa dengan membelanjakannya dalam kebatilan yang tidak bermanfaat apa pun, justru yang didapatkan hanyalah mudarat semata, seperti dengan membelanjakan harta dalam memuaskan nafsu dan kemaksiatan yang tidak mendukung ketaatan kepada Allah, dan mengeluarkan-nya untuk menghalang-halangi dari jalan Allah, bisa pula dengan tidak menafkahkannya pada hal yang bersifat wajib, dan larangan terhadap sesuatu merupakan perintah kepada kebalikannya. 9

At-Taubah 9:36

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan Haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang ber-takwa." (At-Taubah: 36). (36) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah," yakni dalam keputusan dan takdir-Nya, ﴾ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا ﴿ "ialah dua belas bulan", yaitu bulan-bulan yang dikenal ini ﴾ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ ﴿ "dalam ketetapan Allah," yakni hukum tak-dirNya ﴾ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "di waktu Dia menciptakan langit dan bumi", dan memberlakukan siang dan malam serta menentukan waktu-waktunya, lalu Dia membaginya menjadi dua belas bulan ini. ﴾ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ﴿ "Di antaranya empat bulan Haram." Yaitu Rajab, Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram, dinamakan Haram karena kesucian dan kehormatannya yang lebih dan karena diharamkan-nya perang di dalamnya. ﴾ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu menganiaya diri kamu da-lam bulan yang empat itu." Ada kemungkinan kata gantinya kembali kepada dua belas bulan itu, dan bahwa Allah تعالى menjelaskan bah-wa Dia menjadikannya sebagai ukuran bagi manusia, dan agar ia diramaikan dengan ketaatan, agar Allah تعالى disyukuri karena nik-matNya padanya, dan pemberlakuan bulan-bulan tersebut untuk kemaslahatan ma-nusia, maka hendaknya kamu berhati-hati dalam menzhalimi diri sendiri di dalamnya. Ada kemungkinan pula kata gantinya kembali kepada empat bulan Haram, bahwa ini adalah larangan khusus bagi mereka dari berbuat aniaya di dalamnya, ditambah dengan larangan terhadap kezhaliman di setiap waktu, karena pengharamannya yang lebih di mana kezhaliman padanya lebih berat daripada di selainnya, dan di antaranya adalah larangan berperang di dalamnya menurut pendapat yang menyatakan bahwa pengharaman berperang di bulan-bulan Haram tidak dinasakh, dalam rangka mengamalkan dalil-dalil yang umum yang mengha-ramkan perang di dalamnya, ada pula yang berkata bahwa pengha-raman perang di bulan Haram telah dinasakh dengan mengambil keumuman Firman Allah, ﴾ وَقَٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ كَآفَّةٗ كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ كَآفَّةٗۚ ﴿ "Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya." Yakni perangilah semua jenis orang-orang musyrik dan orang-orang yang kafir kepada Rabb semesta alam tanpa pandang bulu, akan tetapi anggaplah semuanya sebagai musuhmu sebagaimana mereka bersikap kepadamu, mereka meng-anggap orang-orang yang beriman sebagai musuh di mana mereka selalu ingin menimpakan keburukan kepadamu. Ada juga kemung-kinan bahwa ﴾ كَآفَّةٗ ﴿ adalah hal dari wawu (pada kata قَاتِلُوْا) jadi mak-nanya adalah perangilah olehmu semua orang-orang musyrik, jadi kewajiban berperang berlaku atas semua kaum Muslimin, dan menurut kemungkinan ini ia dinasakh oleh FirmanNya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةٗۚ ...﴿ "Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu pergi se-muanya (ke medan perang)...." (At-Taubah: 122). ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa," dengan pertolonganNya, kemenangan-Nya, dan dukunganNya. Hendaknya kamu selalu bertakwa dan taat kepada Allah dalam urusanmu yang rahasia dan yang terang-terangan, khususnya pada saat perang melawan orang-orang kafir, karena bisa jadi dalam kondisi tersebut seorang Mukmin mening-galkan ketakwaan kepada Allah dalam bersikap terhadap orang-orang kafir yang merupakan musuh yang memerangi.

At-Taubah 9:37

"Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran, orang-orang yang kafir disesatkan dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkan-nya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (At-Taubah: 37). (37) An-Nasi` adalah apa yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dalam bulan-bulan Haram, dan di antara bid'ah mereka yang batil adalah bahwa manakala mereka merasa harus berperang di sebagian waktu dari bulan yang Haram, maka mereka meman-dang dengan pandangan mereka yang rusak perlunya menjaga bilangan bulan-bulan Haram yang mana Allah melarang berperang padanya, maka mereka menunda atau memajukan sebagian bulan Haram dengan menggantikannya dengan bulan halal sesuka hati mereka, jika ia telah diganti dengannya, maka mereka pun mengha-lalkan berperang di dalamnya dan menjadikan bulan yang halal, haram. Inilah yang dinyatakan oleh Allah bahwa ia adalah tam-bahan kekufuran dan kesesatan mereka, karena ia mengandung berbagai dampak negatif: Di antaranya, bahwa mereka mengada-adakan hal tersebut dari diri mereka sendiri dan menjadikannya sama dengan syariat dan agama Allah, padahal Allah dan RasulNya berlepas diri dari-nya. Di antaranya, bahwa mereka memutarbalikkan agama, men-jadikan yang halal haram dan yang haram halal. Di antaranya, bahwa mereka mengelabui Allah –menurut klaim mereka- dan mengelabui hamba-hambaNya serta merancukan agama mereka. Mereka memakai tipuan dan kebohongan dalam agama Allah. Di antaranya, juga bahwa adat-adat yang bertentangan dengan syariat yang terus dilakukan berakibat hilangnya (nilai) keburukan adat itu dari jiwa, bahkan bisa jadi ia dikira baik, maka terjadilah kesesatan dan kebatilan. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُحِلُّونَهُۥ عَامٗا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامٗا لِّيُوَاطِـُٔواْ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ ﴿ "Orang-orang yang kafir disesatkan dengan meng-undur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya." Yakni agar mereka menyesuaikan bilangannya. ﴾ فَيُحِلُّواْ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُۚ زُيِّنَ لَهُمۡ سُوٓءُ أَعۡمَٰلِهِمۡۗ ﴿ "Maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu." Yakni setan menjadikan amal buruk mereka seakan-akan indah, maka mereka pun memandangnya indah keyakinan yang disematkan oleh setan seolah-olah indah di dalam hati mereka. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir", orang-orang yang kekufuran dan pendustaan telah tercetak di dalam hati mereka. Kalaupun semua ayat Allah datang kepada mereka, niscaya mereka tetap tidak beriman. Kemudian Allah تعالى berfirman,

At-Taubah 9:38

"Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, 'Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah,' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehi-dupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (diban-dingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudaratan kepadaNya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (At-Taubah: 38-39). (38) Ketahuilah bahwa banyak ayat di dalam surat yang mulia ini turun pada perang Tabuk, ketika Nabi ﷺ menyiapkan kaum Muslimin untuk memerangi Romawi, sementara waktu itu adalah musim panas, bekal minim dan kehidupan sedang sulit[91], maka sebagian kaum Muslimin merasa berat yang membuat Allah تعالى menegur dan mendorong mereka, Dia تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman", tidakkah kalian tahu tuntutan keimanan dan sebab keyakinan adalah bersegera melaksanakan perintah Allah dan berlomba-lomba menuju ridhaNya, berjihad melawan musuhnya serta memenangkan agamamu? ﴾ مَا لَكُمۡ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلۡتُمۡ إِلَى ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Apakah sebabnya apa-bila dikatakan kepada kamu, 'Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah,' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu?" Yakni kamu bermalas-malasan, cenderung dan condong kepada keselamatan dan enak-enakan. ﴾ أَرَضِيتُم بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا مِنَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat?" Yakni keadaanmu tidak lain kecuali sama dengan keadaan orang yang rela dengan dunia dan mengejarnya tanpa peduli terhadap akhirat, seolah-olah dia tidak beriman kepadanya. ﴾ فَمَا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Pa-dahal kenikmatan hidup di dunia ini", yang kamu condong kepadanya dan kamu dahulukan di atas akhirat ﴾ إِلَّا قَلِيلٌ ﴿ "hanyalah sedikit." Bukankah Allah telah memberimu akal untuk menimbang segala urusan, mana yang lebih berhak untuk didahulukan? Bu-kankah dunia dari awal sampai ujung tiada bandingannya dengan akhirat? Berapakah umur manusia di dunia yang sangat pendek itu sehingga dia menjadikannya tujuan akhir, sehingga seluruh usaha-nya, pikirannya, tindak tanduknya, dan ambisinya tidak lebih ke-cuali untuk dunia yang pendek yang penuh dengan polusi yang sarat dengan marabahaya? Dengan dasar apakah kamu mementing-kannya di atas kehidupan akhirat, yang padanya terdapat seluruh nikmat, yang padanya terdapat seluruh apa yang diinginkan oleh jiwa dan dinikmati oleh mata dan kamu pun kekal di dalamnya? Demi Allah, tidak akan mendahulukan dunia di atas akhirat orang yang imannya mantap di hatinya, pikirannya matang di kepalanya, yang termasuk sebagai Ulil Albab (orang-orang yang berakal). (39) Kemudian Allah mengancam mereka jika mereka tetap malas berjihad, Dia berfirman, ﴾ إِلَّا تَنفِرُواْ يُعَذِّبۡكُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih", di dunia dan akhirat, karena tidak berangkat untuk berjihad dalam kondisi yang menuntut keberangkatan, termasuk dosa besar yang menyebabkan azab yang berat, karena ia mengan-dung mudarat besar, orang yang tertinggal dengan sengaja telah durhaka kepada Allah تعالى, melakukan laranganNya, tidak mem-bantu menolong agama Allah, tidak membela Kitab dan syariat Allah, tidak membantu saudaranya yang seiman melawan musuh yang hendak menghabisi mereka dan mematikan agama mereka, dan bisa jadi dia diikuti orang-orang yang lemah imannya, bahkan hal itu bisa melemahkan sebagian orang yang telah ikut berjihad melawan musuh Allah, maka orang yang demikian ini berhak mem-peroleh ancaman keras dari Allah, Dia berfirman, ﴾ إِلَّا تَنفِرُواْ يُعَذِّبۡكُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا وَيَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ﴿ "Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain", yang tidak sama dengan kamu, ﴾ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيۡـٔٗاۗ ﴿ "dan kamu tidak akan dapat memberi kemudaratan kepada-Nya sedikit pun." Karena Allah تعالى telah menjamin untuk memenang-kan agamaNya dan meninggikan kalimatNya, tak ada bedanya kamu menjalankan perintah Allah atau kamu mencampakkannya di belakang punggungmu. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada sesuatu pun yang menghalang-hala-ngiNya dari apa yang diinginkanNya dan tak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkanNya.

At-Taubah 9:39

"Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, 'Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah,' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehi-dupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (diban-dingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudaratan kepadaNya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (At-Taubah: 38-39). (38) Ketahuilah bahwa banyak ayat di dalam surat yang mulia ini turun pada perang Tabuk, ketika Nabi ﷺ menyiapkan kaum Muslimin untuk memerangi Romawi, sementara waktu itu adalah musim panas, bekal minim dan kehidupan sedang sulit[91], maka sebagian kaum Muslimin merasa berat yang membuat Allah تعالى menegur dan mendorong mereka, Dia تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman", tidakkah kalian tahu tuntutan keimanan dan sebab keyakinan adalah bersegera melaksanakan perintah Allah dan berlomba-lomba menuju ridhaNya, berjihad melawan musuhnya serta memenangkan agamamu? ﴾ مَا لَكُمۡ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلۡتُمۡ إِلَى ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Apakah sebabnya apa-bila dikatakan kepada kamu, 'Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah,' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu?" Yakni kamu bermalas-malasan, cenderung dan condong kepada keselamatan dan enak-enakan. ﴾ أَرَضِيتُم بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا مِنَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat?" Yakni keadaanmu tidak lain kecuali sama dengan keadaan orang yang rela dengan dunia dan mengejarnya tanpa peduli terhadap akhirat, seolah-olah dia tidak beriman kepadanya. ﴾ فَمَا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Pa-dahal kenikmatan hidup di dunia ini", yang kamu condong kepadanya dan kamu dahulukan di atas akhirat ﴾ إِلَّا قَلِيلٌ ﴿ "hanyalah sedikit." Bukankah Allah telah memberimu akal untuk menimbang segala urusan, mana yang lebih berhak untuk didahulukan? Bu-kankah dunia dari awal sampai ujung tiada bandingannya dengan akhirat? Berapakah umur manusia di dunia yang sangat pendek itu sehingga dia menjadikannya tujuan akhir, sehingga seluruh usaha-nya, pikirannya, tindak tanduknya, dan ambisinya tidak lebih ke-cuali untuk dunia yang pendek yang penuh dengan polusi yang sarat dengan marabahaya? Dengan dasar apakah kamu mementing-kannya di atas kehidupan akhirat, yang padanya terdapat seluruh nikmat, yang padanya terdapat seluruh apa yang diinginkan oleh jiwa dan dinikmati oleh mata dan kamu pun kekal di dalamnya? Demi Allah, tidak akan mendahulukan dunia di atas akhirat orang yang imannya mantap di hatinya, pikirannya matang di kepalanya, yang termasuk sebagai Ulil Albab (orang-orang yang berakal). (39) Kemudian Allah mengancam mereka jika mereka tetap malas berjihad, Dia berfirman, ﴾ إِلَّا تَنفِرُواْ يُعَذِّبۡكُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih", di dunia dan akhirat, karena tidak berangkat untuk berjihad dalam kondisi yang menuntut keberangkatan, termasuk dosa besar yang menyebabkan azab yang berat, karena ia mengan-dung mudarat besar, orang yang tertinggal dengan sengaja telah durhaka kepada Allah تعالى, melakukan laranganNya, tidak mem-bantu menolong agama Allah, tidak membela Kitab dan syariat Allah, tidak membantu saudaranya yang seiman melawan musuh yang hendak menghabisi mereka dan mematikan agama mereka, dan bisa jadi dia diikuti orang-orang yang lemah imannya, bahkan hal itu bisa melemahkan sebagian orang yang telah ikut berjihad melawan musuh Allah, maka orang yang demikian ini berhak mem-peroleh ancaman keras dari Allah, Dia berfirman, ﴾ إِلَّا تَنفِرُواْ يُعَذِّبۡكُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا وَيَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ﴿ "Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain", yang tidak sama dengan kamu, ﴾ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيۡـٔٗاۗ ﴿ "dan kamu tidak akan dapat memberi kemudaratan kepada-Nya sedikit pun." Karena Allah تعالى telah menjamin untuk memenang-kan agamaNya dan meninggikan kalimatNya, tak ada bedanya kamu menjalankan perintah Allah atau kamu mencampakkannya di belakang punggungmu. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Tidak ada sesuatu pun yang menghalang-hala-ngiNya dari apa yang diinginkanNya dan tak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkanNya.

At-Taubah 9:40

"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka se-sungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya, 'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.' Maka Allah menu-runkan ketenanganNya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (At-Taubah: 40). (40) Jikalau kamu tidak menolong RasulNya, Muhammad ﷺ, maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan se-suatu pun) darimu, dan kamu tidak akan memudaratkanNya sama sekali. Dia telah menolongnya dalam kondisi yang paling sulit dan paling lemah, ﴾ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "(yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah)." Ketika mereka hendak membunuhnya dengan serius dan sungguh-sungguh, maka mereka telah memaksanya keluar. ﴾ ثَانِيَ ٱثۡنَيۡنِ ﴿ "Sedang dia salah se-orang dari dua orang." Dia dan Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه ﴾ إِذۡ هُمَا فِي ٱلۡغَارِ ﴿ "ketika keduanya berada dalam gua." Ketika keduanya lari dari Makkah dan berlindung di gua Tsur di bagian bawah Makkah, ke-duanya bersembunyi di dalamnya sampai pencarian kaum musy-rikin terhadapnya mengendur, keduanya dalam kondisi yang sulit, sempit, dan berat, manakala musuh berada di setiap penjuru men-cari keduanya untuk dibunuh, lalu Allah menurunkan pertolongan-Nya kepada keduanya yang tidak diduga-duga ﴾ إِذۡ يَقُولُ ﴿ "di waktu dia berkata," yakni Nabi ﷺ ﴾ لِصَٰحِبِهِۦ ﴿ "kepada sahabatnya", Abu Bakar ketika dia bersedih dan sangat cemas, ﴾ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ ﴿ "janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Dengan bantuan, pertolongan, dan dukunganNya. ﴾ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيۡهِ ﴿ "Maka Allah menurunkan ketenanganNya kepada (Muhammad)", yakni keteguhan, ketentraman, dan kedamaian yang meneguhkan hati. Oleh karena itu manakala sahabatnya cemas, dia menenangkannya dengan ucapannya, "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." ﴾ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٖ لَّمۡ تَرَوۡهَا ﴿ "Dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya", yaitu para malaikat yang mulia yang dija-dikan sebagai penjaga oleh Allah baginya. ﴾ وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلسُّفۡلَىٰۗ ﴿ "Dan Allah menjadikan se-ruan orang-orang kafir itulah yang rendah." Yakni kalah dan terhinakan. Orang-orang kafir dengan kemarahannya mengira mampu mem-bunuh Muhammad untuk mengobati kebenciannya, mereka meng-upayakan segala cara untuk itu, akan tetapi Allah menipu mereka dan menggagalkan keinginan mereka, bahkan mereka sedikit pun tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Allah menolong RasulNya dengan membelanya. Inilah pertolongan yang disebut-kan di tempat ini, karena pertolongan Allah itu ada dua macam: yaitu pertolongan bagi kaum Muslimin manakala mereka berperang melawan musuh mereka. Allah menyempurnakan apa yang mereka cari dan inginkan sehingga mereka pun menguasai musuh dan menang atas mereka. Yang kedua adalah pertolongan bagi orang tertindas di mana musuh yang kuat hendak mencelakakannya, per-tolongan Allah kepadanya adalah dalam bentuk menolak keinginan musuh darinya dan menggagalkanya. Bisa jadi jenis pertolongan yang kedua ini lebih bermanfaat, dan pertolongan Allah kepada RasulNya ketika orang-orang kafir mengusirnya sedang dia adalah salah satu dari dua orang adalah termasuk jenis yang kedua. FirmanNya, ﴾ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِيَ ٱلۡعُلۡيَاۗ ﴿ "Dan kalimat Allah itulah yang tinggi." Yakni kalimat takdirNya dan kalimat diniyahNya meng-ungguli kalimat selainnya, yang di antaranya adalah FirmanNya, ﴾ وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 47 ﴿ "Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang ber-iman." (Ar-Rum: 47). ﴾ إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَيَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡأَشۡهَٰدُ 51 ﴿ "Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (Hari Kiamat)." (Al-Mu`min: 51). ﴾ وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ 173 ﴿ "Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang." (Ash-Shaffat: 173). Agama Allah-lah yang unggul dan di atas agama-agama lain dengan hujjah-hujjah yang jelas, ayat-ayat yang mengagumkan, dan kekuatan yang unggul. ﴾ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ ﴿ "Allah Mahaperkasa", tidak ada yang dapat mengalahkanNya dan tidak ada yang mampu berlari dariNya, ﴾ حَكِيمٌ ﴿ "lagi Mahabijaksana." Meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan menunda kemenangan golonganNya sampai batas waktu tertentu sesuai dengan tuntutan hikmah ilahiyah. Di dalam ayat yang mulia ini juga terdapat penjelasan tentang keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه dengan satu keunggulan yang tidak diraih oleh siapa pun dari umat ini, yaitu keberuntungan me-raih keistimewaan yang mulia dan persahabatan yang luhur. Dan kaum Muslimin telah sepakat bahwa dialah yang dimaksud dalam ayat ini. Oleh karena itu mereka mengategorikan orang yang meng-ingkari Abu Bakar sebagai sahabat Nabi ﷺ adalah kafir, karena dia mengingkari al-Qur`an yang secara nyata menegaskan hal itu. Di dalam ayat ini juga terdapat penjelasan tentang keutamaan 'sakinah' bahwa ia termasuk kesempurnaan nikmat Allah kepada seorang hamba dalam masa-masa sulit dan mencekam yang men-jadikan hati takut, dan bahwa ia akan didapat sesuai dengan ma'rifat seorang hamba kepada Rabbnya dan kepercayaannya kepada jan-jiNya yang benar, dan sesuai dengan iman serta keberaniannya. Di dalamnya juga terdapat penjelasan bahwa kecemasan bisa merasuki hamba-hamaba Allah yang shiddiqin, meskipun yang lebih baik bagi seorang hamba jika tertimpa olehnya agar berusaha melenyapkannya, karena ia dapat melemahkan hati dan menggem-bosi semangat.

At-Taubah 9:41

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau-pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu me-ngetahui. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pas-tilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (Nama) Allah, 'Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.' Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang ber-dusta." (At-Taubah: 41-42). (41) Allah تعالى berfirman kepada hamba-hambaNya yang beriman, mendorong mereka untuk berjihad di jalanNya. Dia ber-firman, ﴾ ٱنفِرُواْ خِفَافٗا وَثِقَالٗا ﴿ "Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat", dalam kondisi sulit maupun mudah, semangat maupun terpaksa, panas maupun dingin, dan dalam se-mua kondisi. ﴾ وَجَٰهِدُواْ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah." Yakni keluarkan dayamu untuk itu, berikanlah kemampuanmu dalam harta dan jiwa. Ini adalah dalil bahwa sebagaimana jihad itu wajib pada jiwa, ia juga wajib pada harta, sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi, kemudian Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." Yakni, jihad dengan jiwa dan harta adalah lebih baik bagimu daripada berpangku tangan, karena ia mengandung ridha Allah تعالى dan kemenangan dengan derajat yang tinggi di sisiNya, serta membantu agamaNya dan masuk ke dalam golongan dan tentaraNya. (42) ﴾ لَوۡ كَانَ ﴿ "Kalau", keluarnya mereka itu untuk mencari keuntungan yang mudah untuk didapatkan atau manfaat dunia yang mudah untuk diraih, atau bepergiannya adalah, ﴾ وَسَفَرٗا قَاصِدٗا ﴿ "Perjalanan yang tidak berapa jauh," yakni mudah lagi dekat, ﴾ لَّٱتَّبَعُوكَ ﴿ "pastilah mereka mengikutimu", karena tidak adanya kesulitan yang berarti. ﴾ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلشُّقَّةُۚ ﴿ "Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka." Jaraknya bagi mereka adalah jauh. Perjalanan-nya bagi mereka adalah sulit. Oleh karena itu, mereka merasa berat untuk mengikutimu. Ini bukanlah tanda penghambaan, akan tetapi seorang hamba yang hakiki yang benar-benar beribadah kepada Allah dalam kondisi apa pun, yang menunaikan semua ibadah baik yang mudah maupun yang berat, maka dialah hamba Allah dalam kondisi apa pun. ﴾ وَسَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسۡتَطَعۡنَا لَخَرَجۡنَا مَعَكُمۡ ﴿ "Mereka akan ber-sumpah dengan (nama) Allah, 'Jikalau kami sanggup tentulah kami ber-angkat bersama-samamu'." Yakni mereka akan bersumpah bahwa tidak keluarnya mereka disebabkan oleh suatu alasan, dan bahwa mereka memang tidak mampu melakukan itu. ﴾ يُهۡلِكُونَ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Mereka membinasakan diri mereka sendiri", dengan duduk, berpangku tangan, berdusta, dan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenya-taannya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui bahwa sesungguh-nya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta." Sindiran ini hanyalah untuk orang-orang munafik yang tidak berpartisipasi bersama Nabi ﷺ dalam perang Tabuk, lalu mereka menyampaikan alasan-alasan dusta, maka Nabi ﷺ memaafkan me-reka hanya dengan alasan yang mereka sampaikan, tanpa menguji mereka agar diketahui yang berdusta dan yang jujur, oleh karena itu Allah menegur Rasulullah atas ketergesa-gesaan beliau dalam memaklumi mereka.

At-Taubah 9:42

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau-pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu me-ngetahui. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pas-tilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (Nama) Allah, 'Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.' Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang ber-dusta." (At-Taubah: 41-42). (41) Allah تعالى berfirman kepada hamba-hambaNya yang beriman, mendorong mereka untuk berjihad di jalanNya. Dia ber-firman, ﴾ ٱنفِرُواْ خِفَافٗا وَثِقَالٗا ﴿ "Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat", dalam kondisi sulit maupun mudah, semangat maupun terpaksa, panas maupun dingin, dan dalam se-mua kondisi. ﴾ وَجَٰهِدُواْ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah." Yakni keluarkan dayamu untuk itu, berikanlah kemampuanmu dalam harta dan jiwa. Ini adalah dalil bahwa sebagaimana jihad itu wajib pada jiwa, ia juga wajib pada harta, sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi, kemudian Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." Yakni, jihad dengan jiwa dan harta adalah lebih baik bagimu daripada berpangku tangan, karena ia mengandung ridha Allah تعالى dan kemenangan dengan derajat yang tinggi di sisiNya, serta membantu agamaNya dan masuk ke dalam golongan dan tentaraNya. (42) ﴾ لَوۡ كَانَ ﴿ "Kalau", keluarnya mereka itu untuk mencari keuntungan yang mudah untuk didapatkan atau manfaat dunia yang mudah untuk diraih, atau bepergiannya adalah, ﴾ وَسَفَرٗا قَاصِدٗا ﴿ "Perjalanan yang tidak berapa jauh," yakni mudah lagi dekat, ﴾ لَّٱتَّبَعُوكَ ﴿ "pastilah mereka mengikutimu", karena tidak adanya kesulitan yang berarti. ﴾ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلشُّقَّةُۚ ﴿ "Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka." Jaraknya bagi mereka adalah jauh. Perjalanan-nya bagi mereka adalah sulit. Oleh karena itu, mereka merasa berat untuk mengikutimu. Ini bukanlah tanda penghambaan, akan tetapi seorang hamba yang hakiki yang benar-benar beribadah kepada Allah dalam kondisi apa pun, yang menunaikan semua ibadah baik yang mudah maupun yang berat, maka dialah hamba Allah dalam kondisi apa pun. ﴾ وَسَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسۡتَطَعۡنَا لَخَرَجۡنَا مَعَكُمۡ ﴿ "Mereka akan ber-sumpah dengan (nama) Allah, 'Jikalau kami sanggup tentulah kami ber-angkat bersama-samamu'." Yakni mereka akan bersumpah bahwa tidak keluarnya mereka disebabkan oleh suatu alasan, dan bahwa mereka memang tidak mampu melakukan itu. ﴾ يُهۡلِكُونَ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "Mereka membinasakan diri mereka sendiri", dengan duduk, berpangku tangan, berdusta, dan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenya-taannya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui bahwa sesungguh-nya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta." Sindiran ini hanyalah untuk orang-orang munafik yang tidak berpartisipasi bersama Nabi ﷺ dalam perang Tabuk, lalu mereka menyampaikan alasan-alasan dusta, maka Nabi ﷺ memaafkan me-reka hanya dengan alasan yang mereka sampaikan, tanpa menguji mereka agar diketahui yang berdusta dan yang jujur, oleh karena itu Allah menegur Rasulullah atas ketergesa-gesaan beliau dalam memaklumi mereka.

At-Taubah 9:43

Dia berfirman, "Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keudzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, tidak akan meminta izin kepa-damu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya." (At-Taubah: 43-45). (43) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya ﷺ, ﴾ عَفَا ٱللَّهُ عَنكَ ﴿ "Semoga Allah memaafkanmu." Yakni mengampuni dan memaklumi apa yang kamu lakukan. ﴾ لِمَ أَذِنتَ لَهُمۡ ﴿ "Mengapa kamu memberi izin kepada mereka," untuk tidak pergi berperang, ﴾ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَتَعۡلَمَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keudzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?" Dengan menguji mereka agar terbukti mana yang dusta dan mana yang benar sehingga kamu memaafkan siapa yang berhak dimaaf-kan dan siapa yang tidak. (44) Kemudian Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak akan meminta izin untuk tidak pergi berjihad dengan harta dan jiwa mereka, ka-rena mereka memiliki semangat kepada kebaikan dan keimanan yang membuat mereka terdorong untuk berjihad tanpa memerlukan adanya pendorong, apalagi mereka meminta izin untuk tidak ber-jihad tanpa alasan. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa." Maka Dia membalas mereka atas ketakwaan yang mereka lakukan. Dan di antara ilmu Allah terhadap orang-orang yang bertakwa adalah bahwa Dia menyatakan bahwa di antara tanda-tandanya adalah mereka tidak meminta izin untuk tidak ber-jihad. (45) ﴾ إِنَّمَا يَسۡتَـٔۡذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱرۡتَابَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "Sesung-guhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu." Yakni, mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan keyakinan yang benar. Oleh karena itu, keinginan mereka kepada kebaikan pun minim, mereka takut berperang, mereka harus me-minta izin untuk tidak berperang. ﴾ فَهُمۡ فِي رَيۡبِهِمۡ يَتَرَدَّدُونَ ﴿ "Karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya." Yakni selalu dalam ke-bimbangan dan kebingungan.

At-Taubah 9:44

Dia berfirman, "Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keudzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, tidak akan meminta izin kepa-damu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya." (At-Taubah: 43-45). (43) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya ﷺ, ﴾ عَفَا ٱللَّهُ عَنكَ ﴿ "Semoga Allah memaafkanmu." Yakni mengampuni dan memaklumi apa yang kamu lakukan. ﴾ لِمَ أَذِنتَ لَهُمۡ ﴿ "Mengapa kamu memberi izin kepada mereka," untuk tidak pergi berperang, ﴾ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَتَعۡلَمَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keudzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?" Dengan menguji mereka agar terbukti mana yang dusta dan mana yang benar sehingga kamu memaafkan siapa yang berhak dimaaf-kan dan siapa yang tidak. (44) Kemudian Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak akan meminta izin untuk tidak pergi berjihad dengan harta dan jiwa mereka, ka-rena mereka memiliki semangat kepada kebaikan dan keimanan yang membuat mereka terdorong untuk berjihad tanpa memerlukan adanya pendorong, apalagi mereka meminta izin untuk tidak ber-jihad tanpa alasan. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa." Maka Dia membalas mereka atas ketakwaan yang mereka lakukan. Dan di antara ilmu Allah terhadap orang-orang yang bertakwa adalah bahwa Dia menyatakan bahwa di antara tanda-tandanya adalah mereka tidak meminta izin untuk tidak ber-jihad. (45) ﴾ إِنَّمَا يَسۡتَـٔۡذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱرۡتَابَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "Sesung-guhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu." Yakni, mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan keyakinan yang benar. Oleh karena itu, keinginan mereka kepada kebaikan pun minim, mereka takut berperang, mereka harus me-minta izin untuk tidak berperang. ﴾ فَهُمۡ فِي رَيۡبِهِمۡ يَتَرَدَّدُونَ ﴿ "Karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya." Yakni selalu dalam ke-bimbangan dan kebingungan.

At-Taubah 9:45

Dia berfirman, "Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keudzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, tidak akan meminta izin kepa-damu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya." (At-Taubah: 43-45). (43) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya ﷺ, ﴾ عَفَا ٱللَّهُ عَنكَ ﴿ "Semoga Allah memaafkanmu." Yakni mengampuni dan memaklumi apa yang kamu lakukan. ﴾ لِمَ أَذِنتَ لَهُمۡ ﴿ "Mengapa kamu memberi izin kepada mereka," untuk tidak pergi berperang, ﴾ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَتَعۡلَمَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keudzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?" Dengan menguji mereka agar terbukti mana yang dusta dan mana yang benar sehingga kamu memaafkan siapa yang berhak dimaaf-kan dan siapa yang tidak. (44) Kemudian Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak akan meminta izin untuk tidak pergi berjihad dengan harta dan jiwa mereka, ka-rena mereka memiliki semangat kepada kebaikan dan keimanan yang membuat mereka terdorong untuk berjihad tanpa memerlukan adanya pendorong, apalagi mereka meminta izin untuk tidak ber-jihad tanpa alasan. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa." Maka Dia membalas mereka atas ketakwaan yang mereka lakukan. Dan di antara ilmu Allah terhadap orang-orang yang bertakwa adalah bahwa Dia menyatakan bahwa di antara tanda-tandanya adalah mereka tidak meminta izin untuk tidak ber-jihad. (45) ﴾ إِنَّمَا يَسۡتَـٔۡذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱرۡتَابَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "Sesung-guhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu." Yakni, mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan keyakinan yang benar. Oleh karena itu, keinginan mereka kepada kebaikan pun minim, mereka takut berperang, mereka harus me-minta izin untuk tidak berperang. ﴾ فَهُمۡ فِي رَيۡبِهِمۡ يَتَرَدَّدُونَ ﴿ "Karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya." Yakni selalu dalam ke-bimbangan dan kebingungan.

At-Taubah 9:46

"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiap-kan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.' Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan be-laka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu, sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya dari dahulu pun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusak-kan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya." (At-Taubah: 46-48). (46) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak ikut serta dalam berjihad dari kalangan orang-orang munafik, telah nampak dari mereka indikasi-indikasi tidak ingin berjihad sama sekali, dan bahwa alasan yang mereka ajukan adalah batil, karena alasan yang benar adalah penghalang yang mengha-langi jika seorang hamba telah mengeluarkan upayanya dan ber-usaha melakukan sebab-sebab yang dengannya dia bisa keluar berjihad lalu dia terhalangi oleh penghalang yang syar'i, inilah yang dianggap sebagai alasan. Adapun orang-orang munafik itu sean-dainya ﴾ أَرَادُواْ ٱلۡخُرُوجَ لَأَعَدُّواْ لَهُۥ عُدَّةٗ ﴿ "mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu." Yakni mereka pasti bersiap-siap dan melakukan sarana-sarana yang membantu, akan tetapi karena mereka tidak melakukan persiapan, maka terbuktilah bahwa mereka memang tidak ingin berangkat. ﴾ وَلَٰكِن كَرِهَ ٱللَّهُ ٱنۢبِعَاثَهُمۡ ﴿ "Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka", bersamamu kepa-da jihad, ﴾ فَثَبَّطَهُمۡ ﴿ "maka Allah melemahkan keinginan mereka", dengan qadha dan qadarnya, meskipun Dia telah memerintahkan mereka dan mendorong mereka untuk keluar berjihad dan menjadikan mereka mampu untuk itu, akan tetapi dengan hikmahNya Dia tidak berkenan membantu mereka, Dia membiarkan dan melemahkan niat mereka, ﴾ وَقِيلَ ٱقۡعُدُواْ مَعَ ٱلۡقَٰعِدِينَ ﴿ "dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu'." Dari kalangan para wanita dan orang-orang yang berhalangan. (47) Kemudian Allah menyebutkan hikmahNya dalam hal ini. ﴾ لَوۡ خَرَجُواْ فِيكُم مَّا زَادُوكُمۡ إِلَّا خَبَالٗا ﴿ "Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka", yakni kekurangan, ﴾ وَلَأَوۡضَعُواْ خِلَٰلَكُمۡ ﴿ "dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu", yakni, mereka akan menyulut fitnah dan keburukan di antaramu dan memecah belah persatuanmu ﴾ يَبۡغُونَكُمُ ٱلۡفِتۡنَةَ ﴿ "untuk mengadakan kekacauan di antara-mu." Yakni mereka berkeinginan keras memicu fitnah dan memacu permusuhan di antaramu. ﴾ وَفِيكُمۡ ﴿ "Sedang di antara kamu ada orang-orang", yang lemah akalnya ﴾ سَمَّٰعُونَ لَهُمۡۗ ﴿ "yang amat suka mendengarkan perkataan mereka." Yakni memenuhi panggilan mereka dan tertipu oleh mereka. Jika mereka berkeinginan keras untuk menelantar-kanmu dan ingin menanamkan keburukan di antaramu, serta me-lemahkan barisanmu di depan musuhmu sedangkan di antaramu ada yang menerima ucapan mereka dan mendengarnya, maka bagaimana menurutmu dengan keburukan yang terjadi dan akibat pahit yang timbul jika mereka berangkat bersama orang-orang yang beriman? Milik Allah-lah hikmah yang sempurna manakala Dia melemahkan niat mereka dan mencegah mereka keluar bersama hamba-hambaNya yang beriman karena kasih sayangNya kepada hamba-hambaNya agar mereka tidak disusupi orang-orang yang tidak berguna malah membahayakan. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah mengetahui orang-orang yang zhalim." Maka Dia memberitahu hamba-hambaNya bagaimana mewaspadai mereka dan menjelaskan dam-pak negatif akibat berteman dengan mereka. (48) Kemudian Allah menyebutkan bahwa mereka telah menanam keburukan sebelumnya, Dia berfirman, ﴾ لَقَدِ ٱبۡتَغَوُاْ ٱلۡفِتۡنَةَ مِن قَبۡلُ ﴿ "Sesungguhnya dari dahulu pun mereka telah mencari-cari kekacau-an." Yakni pada waktu kamu hijrah ke Madinah, mereka berusaha dengan sekuat tenaga, ﴾ وَقَلَّبُواْ لَكَ ٱلۡأُمُورَ ﴿ "dan mereka mengatur berba-gai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu." Yakni mereka memutar otak dan membuat tipu daya untuk membatalkan dakwahmu dan menghinakan agamamu, dan mereka tidak lalai dalam melakukan hal itu. ﴾ حَتَّىٰ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَظَهَرَ أَمۡرُ ٱللَّهِ وَهُمۡ كَٰرِهُونَ ﴿ "Hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya." Maka batallah tipu daya mereka dan terkikislah ke-batilan mereka, maka orang-orang seperti mereka memang pantas diwaspadai oleh hamba-hamba Allah yang beriman dan agar orang-orang Mukmin tidak peduli dengan ketidakberangkatan mereka kepada jihad.

At-Taubah 9:47

"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiap-kan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.' Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan be-laka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu, sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya dari dahulu pun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusak-kan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya." (At-Taubah: 46-48). (46) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak ikut serta dalam berjihad dari kalangan orang-orang munafik, telah nampak dari mereka indikasi-indikasi tidak ingin berjihad sama sekali, dan bahwa alasan yang mereka ajukan adalah batil, karena alasan yang benar adalah penghalang yang mengha-langi jika seorang hamba telah mengeluarkan upayanya dan ber-usaha melakukan sebab-sebab yang dengannya dia bisa keluar berjihad lalu dia terhalangi oleh penghalang yang syar'i, inilah yang dianggap sebagai alasan. Adapun orang-orang munafik itu sean-dainya ﴾ أَرَادُواْ ٱلۡخُرُوجَ لَأَعَدُّواْ لَهُۥ عُدَّةٗ ﴿ "mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu." Yakni mereka pasti bersiap-siap dan melakukan sarana-sarana yang membantu, akan tetapi karena mereka tidak melakukan persiapan, maka terbuktilah bahwa mereka memang tidak ingin berangkat. ﴾ وَلَٰكِن كَرِهَ ٱللَّهُ ٱنۢبِعَاثَهُمۡ ﴿ "Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka", bersamamu kepa-da jihad, ﴾ فَثَبَّطَهُمۡ ﴿ "maka Allah melemahkan keinginan mereka", dengan qadha dan qadarnya, meskipun Dia telah memerintahkan mereka dan mendorong mereka untuk keluar berjihad dan menjadikan mereka mampu untuk itu, akan tetapi dengan hikmahNya Dia tidak berkenan membantu mereka, Dia membiarkan dan melemahkan niat mereka, ﴾ وَقِيلَ ٱقۡعُدُواْ مَعَ ٱلۡقَٰعِدِينَ ﴿ "dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu'." Dari kalangan para wanita dan orang-orang yang berhalangan. (47) Kemudian Allah menyebutkan hikmahNya dalam hal ini. ﴾ لَوۡ خَرَجُواْ فِيكُم مَّا زَادُوكُمۡ إِلَّا خَبَالٗا ﴿ "Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka", yakni kekurangan, ﴾ وَلَأَوۡضَعُواْ خِلَٰلَكُمۡ ﴿ "dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu", yakni, mereka akan menyulut fitnah dan keburukan di antaramu dan memecah belah persatuanmu ﴾ يَبۡغُونَكُمُ ٱلۡفِتۡنَةَ ﴿ "untuk mengadakan kekacauan di antara-mu." Yakni mereka berkeinginan keras memicu fitnah dan memacu permusuhan di antaramu. ﴾ وَفِيكُمۡ ﴿ "Sedang di antara kamu ada orang-orang", yang lemah akalnya ﴾ سَمَّٰعُونَ لَهُمۡۗ ﴿ "yang amat suka mendengarkan perkataan mereka." Yakni memenuhi panggilan mereka dan tertipu oleh mereka. Jika mereka berkeinginan keras untuk menelantar-kanmu dan ingin menanamkan keburukan di antaramu, serta me-lemahkan barisanmu di depan musuhmu sedangkan di antaramu ada yang menerima ucapan mereka dan mendengarnya, maka bagaimana menurutmu dengan keburukan yang terjadi dan akibat pahit yang timbul jika mereka berangkat bersama orang-orang yang beriman? Milik Allah-lah hikmah yang sempurna manakala Dia melemahkan niat mereka dan mencegah mereka keluar bersama hamba-hambaNya yang beriman karena kasih sayangNya kepada hamba-hambaNya agar mereka tidak disusupi orang-orang yang tidak berguna malah membahayakan. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah mengetahui orang-orang yang zhalim." Maka Dia memberitahu hamba-hambaNya bagaimana mewaspadai mereka dan menjelaskan dam-pak negatif akibat berteman dengan mereka. (48) Kemudian Allah menyebutkan bahwa mereka telah menanam keburukan sebelumnya, Dia berfirman, ﴾ لَقَدِ ٱبۡتَغَوُاْ ٱلۡفِتۡنَةَ مِن قَبۡلُ ﴿ "Sesungguhnya dari dahulu pun mereka telah mencari-cari kekacau-an." Yakni pada waktu kamu hijrah ke Madinah, mereka berusaha dengan sekuat tenaga, ﴾ وَقَلَّبُواْ لَكَ ٱلۡأُمُورَ ﴿ "dan mereka mengatur berba-gai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu." Yakni mereka memutar otak dan membuat tipu daya untuk membatalkan dakwahmu dan menghinakan agamamu, dan mereka tidak lalai dalam melakukan hal itu. ﴾ حَتَّىٰ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَظَهَرَ أَمۡرُ ٱللَّهِ وَهُمۡ كَٰرِهُونَ ﴿ "Hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya." Maka batallah tipu daya mereka dan terkikislah ke-batilan mereka, maka orang-orang seperti mereka memang pantas diwaspadai oleh hamba-hamba Allah yang beriman dan agar orang-orang Mukmin tidak peduli dengan ketidakberangkatan mereka kepada jihad.

At-Taubah 9:48

"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiap-kan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.' Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan be-laka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu, sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya dari dahulu pun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusak-kan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya." (At-Taubah: 46-48). (46) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak ikut serta dalam berjihad dari kalangan orang-orang munafik, telah nampak dari mereka indikasi-indikasi tidak ingin berjihad sama sekali, dan bahwa alasan yang mereka ajukan adalah batil, karena alasan yang benar adalah penghalang yang mengha-langi jika seorang hamba telah mengeluarkan upayanya dan ber-usaha melakukan sebab-sebab yang dengannya dia bisa keluar berjihad lalu dia terhalangi oleh penghalang yang syar'i, inilah yang dianggap sebagai alasan. Adapun orang-orang munafik itu sean-dainya ﴾ أَرَادُواْ ٱلۡخُرُوجَ لَأَعَدُّواْ لَهُۥ عُدَّةٗ ﴿ "mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu." Yakni mereka pasti bersiap-siap dan melakukan sarana-sarana yang membantu, akan tetapi karena mereka tidak melakukan persiapan, maka terbuktilah bahwa mereka memang tidak ingin berangkat. ﴾ وَلَٰكِن كَرِهَ ٱللَّهُ ٱنۢبِعَاثَهُمۡ ﴿ "Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka", bersamamu kepa-da jihad, ﴾ فَثَبَّطَهُمۡ ﴿ "maka Allah melemahkan keinginan mereka", dengan qadha dan qadarnya, meskipun Dia telah memerintahkan mereka dan mendorong mereka untuk keluar berjihad dan menjadikan mereka mampu untuk itu, akan tetapi dengan hikmahNya Dia tidak berkenan membantu mereka, Dia membiarkan dan melemahkan niat mereka, ﴾ وَقِيلَ ٱقۡعُدُواْ مَعَ ٱلۡقَٰعِدِينَ ﴿ "dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu'." Dari kalangan para wanita dan orang-orang yang berhalangan. (47) Kemudian Allah menyebutkan hikmahNya dalam hal ini. ﴾ لَوۡ خَرَجُواْ فِيكُم مَّا زَادُوكُمۡ إِلَّا خَبَالٗا ﴿ "Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka", yakni kekurangan, ﴾ وَلَأَوۡضَعُواْ خِلَٰلَكُمۡ ﴿ "dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu", yakni, mereka akan menyulut fitnah dan keburukan di antaramu dan memecah belah persatuanmu ﴾ يَبۡغُونَكُمُ ٱلۡفِتۡنَةَ ﴿ "untuk mengadakan kekacauan di antara-mu." Yakni mereka berkeinginan keras memicu fitnah dan memacu permusuhan di antaramu. ﴾ وَفِيكُمۡ ﴿ "Sedang di antara kamu ada orang-orang", yang lemah akalnya ﴾ سَمَّٰعُونَ لَهُمۡۗ ﴿ "yang amat suka mendengarkan perkataan mereka." Yakni memenuhi panggilan mereka dan tertipu oleh mereka. Jika mereka berkeinginan keras untuk menelantar-kanmu dan ingin menanamkan keburukan di antaramu, serta me-lemahkan barisanmu di depan musuhmu sedangkan di antaramu ada yang menerima ucapan mereka dan mendengarnya, maka bagaimana menurutmu dengan keburukan yang terjadi dan akibat pahit yang timbul jika mereka berangkat bersama orang-orang yang beriman? Milik Allah-lah hikmah yang sempurna manakala Dia melemahkan niat mereka dan mencegah mereka keluar bersama hamba-hambaNya yang beriman karena kasih sayangNya kepada hamba-hambaNya agar mereka tidak disusupi orang-orang yang tidak berguna malah membahayakan. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah mengetahui orang-orang yang zhalim." Maka Dia memberitahu hamba-hambaNya bagaimana mewaspadai mereka dan menjelaskan dam-pak negatif akibat berteman dengan mereka. (48) Kemudian Allah menyebutkan bahwa mereka telah menanam keburukan sebelumnya, Dia berfirman, ﴾ لَقَدِ ٱبۡتَغَوُاْ ٱلۡفِتۡنَةَ مِن قَبۡلُ ﴿ "Sesungguhnya dari dahulu pun mereka telah mencari-cari kekacau-an." Yakni pada waktu kamu hijrah ke Madinah, mereka berusaha dengan sekuat tenaga, ﴾ وَقَلَّبُواْ لَكَ ٱلۡأُمُورَ ﴿ "dan mereka mengatur berba-gai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu." Yakni mereka memutar otak dan membuat tipu daya untuk membatalkan dakwahmu dan menghinakan agamamu, dan mereka tidak lalai dalam melakukan hal itu. ﴾ حَتَّىٰ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَظَهَرَ أَمۡرُ ٱللَّهِ وَهُمۡ كَٰرِهُونَ ﴿ "Hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya." Maka batallah tipu daya mereka dan terkikislah ke-batilan mereka, maka orang-orang seperti mereka memang pantas diwaspadai oleh hamba-hamba Allah yang beriman dan agar orang-orang Mukmin tidak peduli dengan ketidakberangkatan mereka kepada jihad.

At-Taubah 9:49

"Di antara mereka ada orang yang berkata, 'Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.' Ketahuilah, bahwa mereka telah ter-jerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir." (At-Taubah: 49). (49) Yakni, dari kalangan orang-orang munafik itu ada yang meminta izin tidak berangkat dengan memberi alasan yang aneh, dia berkata, ﴾ ٱئۡذَن لِّي ﴿ "Berilah saya izin", tidak pergi berperang, ﴾ وَلَا تَفۡتِنِّيٓۚ ﴿ "dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah", dengan keluar berjihad, karena jika aku keluar berjihad dan melihat para wanita Bani al-Ashfar maka aku tidak bisa menahan diri, se-bagaimana hal itu diucapkan oleh al-Jad bin Qais, padahal maksud mereka –semoga Allah menimpakan keburukan kepadanya– adalah nifak dan riya, dengan mengatakan bahwa tujuanku baik, karena kalau aku keluar berperang berarti fitnah dan menjebloskan diri kepada keburukan, sedangkan kalau aku tidak keluar maka itu berarti keselamatan dan keterjagaan dari keburukan. Allah تعالى berfirman menjelaskan kedustaan perkataan ini,﴾ أَلَا فِي ٱلۡفِتۡنَةِ سَقَطُواْۗ ﴿ "Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fit-nah." Seandainya maksud ucapan orang itu adalah benar, maka penolakan berangkat jihad tetap saja mengakibatkan kerugian besar dan fitnah besar yang pasti terjadi, yaitu kemaksiatan kepada Allah dan kepada RasulNya serta keberanian kepada dosa yang besar lagi berat. Adapun kerugian berangkat berjihad maka ia lebih kecil dibandingkan dengan ketidakberangkatan, padahal ia belum tentu terjadi. Namun sebenarnya maksud orang tersebut hanyalah pe-nolakan terhadap jihad, tidak lain. Oleh karena itu Allah mengan-camnya dengan FirmanNya. ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةُۢ بِٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir." Mereka tidak mungkin selamat, berlari, dan menghindar darinya.

At-Taubah 9:50

"Jika kamu mendapat sesuatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya, dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperha-tikan urusan kami (tidak pergi berperang),' dan mereka berpaling dengan rasa gembira. Katakanlah, 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia-lah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal'." (At-Taubah: 50-51). (50) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa orang-orang munafik itu adalah musuh yang sebenarnya yang murni membenci agama, ﴾ إِن تُصِبۡكَ حَسَنَةٞ ﴿ "jika kamu mendapat sesuatu kebaikan", se-perti kemenangan dan keunggulan di atas musuh, ﴾ تَسُؤۡهُمۡۖ ﴿ "mereka menjadi tidak senang karenanya." Yakni membuat mereka bersedih dan gundah gulana. ﴾ وَإِن تُصِبۡكَ مُصِيبَةٞ ﴿ "Dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana", seperti kamu kalah dari musuhmu, ﴾ يَقُولُواْ ﴿ "me-reka berkata", dengan membanggakan diri mereka yang selamat karena tidak ikut berperang bersamamu, ﴾ قَدۡ أَخَذۡنَآ أَمۡرَنَا مِن قَبۡلُ ﴿ "Se-sungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi berperang)", kami telah berhati-hati dan melakukan apa yang membuat kami selamat dari musibah seperti ini. ﴾ وَيَتَوَلَّواْ وَّهُمۡ فَرِحُونَ ﴿ "Dan mereka berpaling dengan rasa gembira", dengan musibahmu dan ketidakikutsertaan mereka bersamamu. (51) Allah تعالى berfirman membantah mereka, ﴾ قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا ﴿ "Katakanlah, 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melain-kan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami'." Yakni Dia menak-dirkannya dan memberlakukannya di Lauhul Mahfuzh. ﴾ هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ ﴿ "Dia-lah Pelindung kami", yang mengurusi perkara kami, baik urusan agama maupun dunia, maka kita wajib ridha terhadap takdirNya, dan kita tidak memiliki sedikit pun hak dalam perkara kita. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang ber-iman harus bertawakal." Yakni mereka bersandar kepadaNya dalam mendatangkan maslahat untuk mereka dan menolak mudarat dari mereka, serta mereka percaya kepadaNya dalam meraih apa yang mereka harapkan, maka tidaklah merugi orang yang bertawakal kepadaNya. Adapun orang yang bertawakal kepada selainNya, maka dia akan terlantar dan tidak berhasil meraih apa yang diangan-angankan.

At-Taubah 9:51

"Jika kamu mendapat sesuatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya, dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperha-tikan urusan kami (tidak pergi berperang),' dan mereka berpaling dengan rasa gembira. Katakanlah, 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia-lah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal'." (At-Taubah: 50-51). (50) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa orang-orang munafik itu adalah musuh yang sebenarnya yang murni membenci agama, ﴾ إِن تُصِبۡكَ حَسَنَةٞ ﴿ "jika kamu mendapat sesuatu kebaikan", se-perti kemenangan dan keunggulan di atas musuh, ﴾ تَسُؤۡهُمۡۖ ﴿ "mereka menjadi tidak senang karenanya." Yakni membuat mereka bersedih dan gundah gulana. ﴾ وَإِن تُصِبۡكَ مُصِيبَةٞ ﴿ "Dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana", seperti kamu kalah dari musuhmu, ﴾ يَقُولُواْ ﴿ "me-reka berkata", dengan membanggakan diri mereka yang selamat karena tidak ikut berperang bersamamu, ﴾ قَدۡ أَخَذۡنَآ أَمۡرَنَا مِن قَبۡلُ ﴿ "Se-sungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi berperang)", kami telah berhati-hati dan melakukan apa yang membuat kami selamat dari musibah seperti ini. ﴾ وَيَتَوَلَّواْ وَّهُمۡ فَرِحُونَ ﴿ "Dan mereka berpaling dengan rasa gembira", dengan musibahmu dan ketidakikutsertaan mereka bersamamu. (51) Allah تعالى berfirman membantah mereka, ﴾ قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا ﴿ "Katakanlah, 'Sekali-kali tidak akan menimpa kami melain-kan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami'." Yakni Dia menak-dirkannya dan memberlakukannya di Lauhul Mahfuzh. ﴾ هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ ﴿ "Dia-lah Pelindung kami", yang mengurusi perkara kami, baik urusan agama maupun dunia, maka kita wajib ridha terhadap takdirNya, dan kita tidak memiliki sedikit pun hak dalam perkara kita. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang ber-iman harus bertawakal." Yakni mereka bersandar kepadaNya dalam mendatangkan maslahat untuk mereka dan menolak mudarat dari mereka, serta mereka percaya kepadaNya dalam meraih apa yang mereka harapkan, maka tidaklah merugi orang yang bertawakal kepadaNya. Adapun orang yang bertawakal kepada selainNya, maka dia akan terlantar dan tidak berhasil meraih apa yang diangan-angankan.

At-Taubah 9:52

"Katakanlah, 'Tidak ada yang kamu tunggu-tumggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisiNya, atau (azab) dengan tangan kami. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu'." (At-Taubah: 52). (52) Katakan kepada orang-orang munafik yang menanti-nantikan kekalahan bagimu. Apakah yang kamu tunggu-tunggu bagi kami? Karena kamu tidak menunggu kecuali perkara yang be-nar-benar bermanfaat bagi kami yaitu salah satu dari dua kebaikan: yang pertama adalah kemenangan dan keunggulan atas musuh serta meraih pahala dunia dan akhirat, dan yang kedua adalah mati syahid yang merupakan derajat makhluk tertinggi di sisi Allah. Adapun kami wahai orang-orang munafik, maka ﴾ نَتَرَبَّصُ بِكُمۡ أَن يُصِيبَكُمُ ٱللَّهُ بِعَذَابٖ مِّنۡ عِندِهِۦٓ ﴿ "kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisiNya", di mana kami bukan menjadi penyebabnya, ﴾ أَوۡ بِأَيۡدِينَاۖ ﴿ "atau (azab) dengan tangan kami", dengan menguasakan kami atasmu, lalu kami mem-bunuhmu. ﴾ فَتَرَبَّصُوٓاْ ﴿ "Sebab itu tunggulah", kebaikan bagi kami. ﴾ إِنَّا مَعَكُم مُّتَرَبِّصُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu", keburukan bagimu.

At-Taubah 9:53

"Katakanlah, 'Nafkahkanlah hartamu baik dengan suka rela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima darimu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik.' Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melain-kan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (At-Taubah: 53-54). (53) Allah تعالى berfirman menjelaskan kebatilan nafkah orang-orang munafik dan menyebutkan penyebabnya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, ﴾ أَنفِقُواْ طَوۡعًا ﴿ "nafkahkanlah hartamu baik dengan suka rela", dari dirimu ﴾ أَوۡ كَرۡهٗا ﴿ "ataupun dengan terpaksa", atas itu tanpa kerelaan, ﴾ لَّن يُتَقَبَّلَ مِنكُمۡ ﴿ "namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima darimu." Yakni, tidak ada sedikit pun amalmu yang diterima, karena ﴾ كُنتُمۡ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ﴿ "sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik." Keluar dari ketaatan kepada Allah. (54) Kemudian Allah menjelaskan sifat kefasikan mereka dan perbuatan mereka, Dia berfirman, ﴾ وَمَا مَنَعَهُمۡ أَن تُقۡبَلَ مِنۡهُمۡ نَفَقَٰتُهُمۡ إِلَّآ أَنَّهُمۡ كَفَرُواْ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ ﴿ "Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya." Padahal semua amal, syarat diterima-nya adalah iman, sedangkan mereka itu tidak beriman dan tidak beramal shalih, bahkan shalat yang merupakan amal jasmani yang paling utama, mereka lakukan dengan malas-malasan. ﴾ وَلَا يَأۡتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمۡ كُسَالَىٰ ﴿ "Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas." Yakni merasa berat, hampir tidak melakukannya karena beratnya shalat atas mereka. ﴾ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمۡ كَٰرِهُونَ ﴿ "Dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan", tanpa kelapangan dada dan ketenangan jiwa. Ini adalah celaan yang men-dalam bagi siapa saja yang melakukan seperti apa yang mereka lakukan, dan bahwa seorang hamba seharusnya tidak mendatangi shalat kecuali dalam keadaan semangat jasmani dan rohani, dan tidak berinfak kecuali dengan dada yang lapang dan jiwa yang tenang berharap balasan pahalanya dari Allah semata dan tidak menyerupai orang-orang munafik.

At-Taubah 9:54

"Katakanlah, 'Nafkahkanlah hartamu baik dengan suka rela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima darimu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik.' Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melain-kan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (At-Taubah: 53-54). (53) Allah تعالى berfirman menjelaskan kebatilan nafkah orang-orang munafik dan menyebutkan penyebabnya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, ﴾ أَنفِقُواْ طَوۡعًا ﴿ "nafkahkanlah hartamu baik dengan suka rela", dari dirimu ﴾ أَوۡ كَرۡهٗا ﴿ "ataupun dengan terpaksa", atas itu tanpa kerelaan, ﴾ لَّن يُتَقَبَّلَ مِنكُمۡ ﴿ "namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima darimu." Yakni, tidak ada sedikit pun amalmu yang diterima, karena ﴾ كُنتُمۡ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ﴿ "sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik." Keluar dari ketaatan kepada Allah. (54) Kemudian Allah menjelaskan sifat kefasikan mereka dan perbuatan mereka, Dia berfirman, ﴾ وَمَا مَنَعَهُمۡ أَن تُقۡبَلَ مِنۡهُمۡ نَفَقَٰتُهُمۡ إِلَّآ أَنَّهُمۡ كَفَرُواْ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ ﴿ "Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya." Padahal semua amal, syarat diterima-nya adalah iman, sedangkan mereka itu tidak beriman dan tidak beramal shalih, bahkan shalat yang merupakan amal jasmani yang paling utama, mereka lakukan dengan malas-malasan. ﴾ وَلَا يَأۡتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمۡ كُسَالَىٰ ﴿ "Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas." Yakni merasa berat, hampir tidak melakukannya karena beratnya shalat atas mereka. ﴾ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمۡ كَٰرِهُونَ ﴿ "Dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan", tanpa kelapangan dada dan ketenangan jiwa. Ini adalah celaan yang men-dalam bagi siapa saja yang melakukan seperti apa yang mereka lakukan, dan bahwa seorang hamba seharusnya tidak mendatangi shalat kecuali dalam keadaan semangat jasmani dan rohani, dan tidak berinfak kecuali dengan dada yang lapang dan jiwa yang tenang berharap balasan pahalanya dari Allah semata dan tidak menyerupai orang-orang munafik.

At-Taubah 9:55

"Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka mena-rik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam ke-hidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (Nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepada-mu). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan atau gua-gua atau lubang-lubang (dalam tanah), niscaya mereka pergi kepada-nya dengan secepat-cepatnya." (At-Taubah: 55-57). (55) Allah تعالى berfirman, janganlah kamu kagum terhadap harta dan anak-anak orang-orang munafik itu, karena tidak ghibthah[92] padanya, kesialan pertama mereka adalah bahwa mereka menda-hulukannya di atas keridhaan Allah dan mereka durhaka kepada Allah karenanya. ﴾ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia." Yang dimaksud dengan azab di sini adalah kesulitan dalam mendapatkannya, usaha yang mati-matian dalam hal itu, serta kecemasan hati dan keletihan tu-buh yang mereka dapatkan, sekiranya kenikmatan mereka diukur dengan kesulitannya maka ia tidaklah sebanding, manakala harta tersebut melenakan mereka dari Allah dan dzikir kepadaNya, maka ia menjadi azab atas mereka bahkan di dunia, dan di antara akibat buruk yang berbahaya adalah bahwa hati mereka selalu bergantung kepadanya dan keinginan mereka tidak lepas darinya, ia menjadi tujuan akhir dan target final mereka, di hati mereka tidak lagi ada bagian akhirat, yang hal itu mengharuskan mereka berpindah dari dunia. ﴾ وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir." Adakah hukuman yang lebih besar daripada hukuman yang mengakibatkan kesengsaraan dan kerugian yang abadi dan terus menerus? (56) ﴾ وَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ إِنَّهُمۡ لَمِنكُمۡ وَمَا هُم مِّنكُمۡ وَلَٰكِنَّهُمۡ ﴿ "Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (Nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka", tujuan mereka dalam bersumpah adalah bahwa mereka ﴾ قَوۡمٞ يَفۡرَقُونَ ﴿ "adalah orang-orang yang sangat takut (kepada-mu)." Yakni takut serangan. Di hati mereka tidak ada keberanian yang mendorong mereka menunjukkan jati diri mereka, mereka takut jika mereka menunjukkan keadaan mereka kepadamu, mereka takut kamu berlepas diri dari mereka yang akibatnya musuh meng-incar mereka dari segala penjuru. Adapun keadaan orang yang kuat hatinya lagi teguh jiwanya, maka dia tidak takut menyatakan ke-adaan dirinya, baik atau buruk, akan tetapi orang-orang munafik itu memang berbaju dengan pakaian ketakutan dan bermantel kebohongan. (57) Kemudian Allah menyebutkan besarnya ketakutan me-reka, Dia berfirman, ﴾ لَوۡ يَجِدُونَ مَلۡجَـًٔا ﴿ "Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan", sebagai tempat berlindung pada saat datang-nya kesulitan ﴾ أَوۡ مَغَٰرَٰتٍ ﴿ "atau gua-gua" yang bisa mereka masuki dan tinggali ﴾ أَوۡ مُدَّخَلٗا ﴿ "atau lubang-lubang (dalam tanah)," yaitu tempat persembunyian untuk membentengi diri mereka, ﴾ لَّوَلَّوۡاْ إِلَيۡهِ وَهُمۡ يَجۡمَحُونَ ﴿ "niscaya mereka pergi kepadanya dengan secepat-cepatnya", yakni dengan cepat dan bergegas. Mereka tidak memiliki keteguhan yang mem-buat mereka tenang.

At-Taubah 9:56

"Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka mena-rik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam ke-hidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (Nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepada-mu). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan atau gua-gua atau lubang-lubang (dalam tanah), niscaya mereka pergi kepada-nya dengan secepat-cepatnya." (At-Taubah: 55-57). (55) Allah تعالى berfirman, janganlah kamu kagum terhadap harta dan anak-anak orang-orang munafik itu, karena tidak ghibthah[92] padanya, kesialan pertama mereka adalah bahwa mereka menda-hulukannya di atas keridhaan Allah dan mereka durhaka kepada Allah karenanya. ﴾ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia." Yang dimaksud dengan azab di sini adalah kesulitan dalam mendapatkannya, usaha yang mati-matian dalam hal itu, serta kecemasan hati dan keletihan tu-buh yang mereka dapatkan, sekiranya kenikmatan mereka diukur dengan kesulitannya maka ia tidaklah sebanding, manakala harta tersebut melenakan mereka dari Allah dan dzikir kepadaNya, maka ia menjadi azab atas mereka bahkan di dunia, dan di antara akibat buruk yang berbahaya adalah bahwa hati mereka selalu bergantung kepadanya dan keinginan mereka tidak lepas darinya, ia menjadi tujuan akhir dan target final mereka, di hati mereka tidak lagi ada bagian akhirat, yang hal itu mengharuskan mereka berpindah dari dunia. ﴾ وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir." Adakah hukuman yang lebih besar daripada hukuman yang mengakibatkan kesengsaraan dan kerugian yang abadi dan terus menerus? (56) ﴾ وَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ إِنَّهُمۡ لَمِنكُمۡ وَمَا هُم مِّنكُمۡ وَلَٰكِنَّهُمۡ ﴿ "Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (Nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka", tujuan mereka dalam bersumpah adalah bahwa mereka ﴾ قَوۡمٞ يَفۡرَقُونَ ﴿ "adalah orang-orang yang sangat takut (kepada-mu)." Yakni takut serangan. Di hati mereka tidak ada keberanian yang mendorong mereka menunjukkan jati diri mereka, mereka takut jika mereka menunjukkan keadaan mereka kepadamu, mereka takut kamu berlepas diri dari mereka yang akibatnya musuh meng-incar mereka dari segala penjuru. Adapun keadaan orang yang kuat hatinya lagi teguh jiwanya, maka dia tidak takut menyatakan ke-adaan dirinya, baik atau buruk, akan tetapi orang-orang munafik itu memang berbaju dengan pakaian ketakutan dan bermantel kebohongan. (57) Kemudian Allah menyebutkan besarnya ketakutan me-reka, Dia berfirman, ﴾ لَوۡ يَجِدُونَ مَلۡجَـًٔا ﴿ "Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan", sebagai tempat berlindung pada saat datang-nya kesulitan ﴾ أَوۡ مَغَٰرَٰتٍ ﴿ "atau gua-gua" yang bisa mereka masuki dan tinggali ﴾ أَوۡ مُدَّخَلٗا ﴿ "atau lubang-lubang (dalam tanah)," yaitu tempat persembunyian untuk membentengi diri mereka, ﴾ لَّوَلَّوۡاْ إِلَيۡهِ وَهُمۡ يَجۡمَحُونَ ﴿ "niscaya mereka pergi kepadanya dengan secepat-cepatnya", yakni dengan cepat dan bergegas. Mereka tidak memiliki keteguhan yang mem-buat mereka tenang.

At-Taubah 9:57

"Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka mena-rik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam ke-hidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (Nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepada-mu). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan atau gua-gua atau lubang-lubang (dalam tanah), niscaya mereka pergi kepada-nya dengan secepat-cepatnya." (At-Taubah: 55-57). (55) Allah تعالى berfirman, janganlah kamu kagum terhadap harta dan anak-anak orang-orang munafik itu, karena tidak ghibthah[92] padanya, kesialan pertama mereka adalah bahwa mereka menda-hulukannya di atas keridhaan Allah dan mereka durhaka kepada Allah karenanya. ﴾ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia." Yang dimaksud dengan azab di sini adalah kesulitan dalam mendapatkannya, usaha yang mati-matian dalam hal itu, serta kecemasan hati dan keletihan tu-buh yang mereka dapatkan, sekiranya kenikmatan mereka diukur dengan kesulitannya maka ia tidaklah sebanding, manakala harta tersebut melenakan mereka dari Allah dan dzikir kepadaNya, maka ia menjadi azab atas mereka bahkan di dunia, dan di antara akibat buruk yang berbahaya adalah bahwa hati mereka selalu bergantung kepadanya dan keinginan mereka tidak lepas darinya, ia menjadi tujuan akhir dan target final mereka, di hati mereka tidak lagi ada bagian akhirat, yang hal itu mengharuskan mereka berpindah dari dunia. ﴾ وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir." Adakah hukuman yang lebih besar daripada hukuman yang mengakibatkan kesengsaraan dan kerugian yang abadi dan terus menerus? (56) ﴾ وَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ إِنَّهُمۡ لَمِنكُمۡ وَمَا هُم مِّنكُمۡ وَلَٰكِنَّهُمۡ ﴿ "Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (Nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka", tujuan mereka dalam bersumpah adalah bahwa mereka ﴾ قَوۡمٞ يَفۡرَقُونَ ﴿ "adalah orang-orang yang sangat takut (kepada-mu)." Yakni takut serangan. Di hati mereka tidak ada keberanian yang mendorong mereka menunjukkan jati diri mereka, mereka takut jika mereka menunjukkan keadaan mereka kepadamu, mereka takut kamu berlepas diri dari mereka yang akibatnya musuh meng-incar mereka dari segala penjuru. Adapun keadaan orang yang kuat hatinya lagi teguh jiwanya, maka dia tidak takut menyatakan ke-adaan dirinya, baik atau buruk, akan tetapi orang-orang munafik itu memang berbaju dengan pakaian ketakutan dan bermantel kebohongan. (57) Kemudian Allah menyebutkan besarnya ketakutan me-reka, Dia berfirman, ﴾ لَوۡ يَجِدُونَ مَلۡجَـًٔا ﴿ "Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan", sebagai tempat berlindung pada saat datang-nya kesulitan ﴾ أَوۡ مَغَٰرَٰتٍ ﴿ "atau gua-gua" yang bisa mereka masuki dan tinggali ﴾ أَوۡ مُدَّخَلٗا ﴿ "atau lubang-lubang (dalam tanah)," yaitu tempat persembunyian untuk membentengi diri mereka, ﴾ لَّوَلَّوۡاْ إِلَيۡهِ وَهُمۡ يَجۡمَحُونَ ﴿ "niscaya mereka pergi kepadanya dengan secepat-cepatnya", yakni dengan cepat dan bergegas. Mereka tidak memiliki keteguhan yang mem-buat mereka tenang.

At-Taubah 9:58

"Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat, jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah. Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya ke-pada mereka, dan berkata, 'Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karuniaNya dan demikian (pula) RasulNya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang ber-harap kepada Allah,' (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)." (At-Taubah: 58-59). (58) Yakni di antara orang-orang munafik itu ada yang mencelamu dan mengkritikmu dalam pembagian zakat, akan tetapi kritikannya bukan untuk tujuan yang benar maupun pandangan yang lurus, akan tetapi tujuannya hanyalah agar mereka diberi. ﴾ فَإِنۡ أُعۡطُواْ مِنۡهَا رَضُواْ وَإِن لَّمۡ يُعۡطَوۡاْ مِنۡهَآ إِذَا هُمۡ يَسۡخَطُونَ ﴿ "Jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian dari-nya, dengan serta merta mereka menjadi marah." Tidak selayaknya bagi seorang hamba mengikutkan rela dan marahnya kepada hawa nafsunya yang bersifat dunia dan tujuannya yang rusak, justru yang semestinya adalah hendaknya hawa nafsunya mengikuti ridha Rabbnya, sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ. "Tidak beriman (dengan sempurna) salah seorang dari kalian se-hingga hawa nafsunya mengikuti ajaranku."[93] (59) Dan di sini Dia berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّهُمۡ رَضُواْ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka", besar atau kecil, ﴾ وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ ﴿ "dan berkata, 'Cukuplah Allah bagi kami'." Yakni Allah yang mencukupi kami, maka kami pun rela dengan pembagian dariNya. Dan hen-daklah mereka berharap karunia dan kebaikanNya kepada mereka dengan berkata, ﴾ سَيُؤۡتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ وَرَسُولُهُۥٓ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ ﴿ "'Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karuniaNya dan demikian (pula) RasulNya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,' (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)." Yakni kami merendahkan diri dalam mengharap kebaikan dan menolak kebu-rukan [niscaya mereka selamat dari kemunafikan, dan niscaya me-reka ditunjukkan kepada iman dan keadaan-keadaan yang tinggi]. Kemudian Allah تعالى menerangkan tata cara pembagian sede-kah wajib (zakat), Dia berfirman,

At-Taubah 9:59

"Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat, jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah. Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya ke-pada mereka, dan berkata, 'Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karuniaNya dan demikian (pula) RasulNya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang ber-harap kepada Allah,' (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)." (At-Taubah: 58-59). (58) Yakni di antara orang-orang munafik itu ada yang mencelamu dan mengkritikmu dalam pembagian zakat, akan tetapi kritikannya bukan untuk tujuan yang benar maupun pandangan yang lurus, akan tetapi tujuannya hanyalah agar mereka diberi. ﴾ فَإِنۡ أُعۡطُواْ مِنۡهَا رَضُواْ وَإِن لَّمۡ يُعۡطَوۡاْ مِنۡهَآ إِذَا هُمۡ يَسۡخَطُونَ ﴿ "Jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian dari-nya, dengan serta merta mereka menjadi marah." Tidak selayaknya bagi seorang hamba mengikutkan rela dan marahnya kepada hawa nafsunya yang bersifat dunia dan tujuannya yang rusak, justru yang semestinya adalah hendaknya hawa nafsunya mengikuti ridha Rabbnya, sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ. "Tidak beriman (dengan sempurna) salah seorang dari kalian se-hingga hawa nafsunya mengikuti ajaranku."[93] (59) Dan di sini Dia berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّهُمۡ رَضُواْ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka", besar atau kecil, ﴾ وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ ﴿ "dan berkata, 'Cukuplah Allah bagi kami'." Yakni Allah yang mencukupi kami, maka kami pun rela dengan pembagian dariNya. Dan hen-daklah mereka berharap karunia dan kebaikanNya kepada mereka dengan berkata, ﴾ سَيُؤۡتِينَا ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ وَرَسُولُهُۥٓ إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ ﴿ "'Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karuniaNya dan demikian (pula) RasulNya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,' (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)." Yakni kami merendahkan diri dalam mengharap kebaikan dan menolak kebu-rukan [niscaya mereka selamat dari kemunafikan, dan niscaya me-reka ditunjukkan kepada iman dan keadaan-keadaan yang tinggi]. Kemudian Allah تعالى menerangkan tata cara pembagian sede-kah wajib (zakat), Dia berfirman,

At-Taubah 9:60

"Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (At-Tau-bah: 60). (60) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ ﴿ "Sesungguhnya zakat-zakat itu", yakni zakat yang wajib dengan dalil bahwa sedekah yang dianjurkan itu diberikan kepada siapa saja tanpa pengkhususan, se-dangkan di dalam ayat ini disebutkan adanya pengkhususan, yakni ﴾ إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ ﴿ "Sesungguhnya zakat-zakat itu", adalah untuk mereka, tidak untuk yang lain, karena Allah membatasinya pada mereka, yaitu delapan golongan berikut ini: Pertama dan kedua: Fakir dan miskin. Di tempat ini kedua-nya adalah dua golongan yang berbeda. Fakir lebih membutuhkan daripada miskin, karena Allah menyebutkannya di awal, dan suatu perkataan tidak dimulai kecuali dengan yang lebih penting, lalu baru yang penting berikutnya. Fakir adalah orang yang tidak memi-liki apa pun untuk memenuhi kebutuhannya, atau memiliki kurang dari setengahnya, sedangkan miskin, maka dia memiliki setengah lebih tetapi belum mencukupi, karena jika dia memilikinya berarti dia adalah orang kaya. Keduanya diberi zakat yang bisa menghi-langkan kefakiran dan kemiskinannya. Ketiga: Amil zakat, dia adalah setiap orang yang bekerja dan sibuk pada urusan zakat, mulai dari penjaga, penarik dari muzakki (pembayar zakat), penggembala, pembawa, penulis, dan petugas lainnya, dia diberi karena pekerjaannya, ia adalah gaji dari peker-jaannya dalam mengurusi zakat. Keempat:(Orang yang sedang dibujuk hatinya) dia adalah pembesar yang ditaati oleh kaumnya yang diharapkan keislaman-nya, atau ditakutkan kejahatannya, atau dia diberi dengan harapan agar imannya kuat, atau orang yang sepertinya masuk Islam, atau zakat bisa ditarik dari orang yang tidak memberikannya, dia diberi sekedar bisa menarik hatinya dan meraih kemaslahatan. Kelima: Riqab, yaitu hamba sahaya mukatab yang menebus dirinya dari tuan (pemilik)nya, yang berusaha keras agar bisa mem-bebaskan dirinya, maka dia dibantu dari zakat. Membebaskan tawa-nan Muslimin dari tangan orang-orang kafir termasuk di dalamnya, bahkan ia lebih layak. Termasuk dalam hal ini boleh memerdeka-kan hamba sahaya walaupun dia bukan mukatab, karena ia termasuk dalam FirmanNya, ﴾ وَفِي ٱلرِّقَابِ ﴿ "Untuk memerdekakan budak." Keenam: Gharim, jenis ini terbagi menjadi dua: orang yang mengeluarkan harta demi mendamaikan dua kelompok yang ber-tikai dan berselisih, lalu seseorang menengahi untuk mendamaikan dengan mengeluarkan harta untuk salah satu kelompok atau untuk keduanya, maka dia diberi bagian dari zakat agar hal itu menjadi peneguh dan penyemangat bagi tekadnya, dia diberi walaupun dia kaya. Yang kedua adalah orang yang berhutang harta untuk dirinya sendiri, kemudian dia bangkrut (tidak bisa melunasi hutang), dia diberi apa yang cukup untuk menutupi hutangnya. Ketujuh: Orang yang berperang di jalan Allah, yang berpe-rang dengan suka rela tanpa ada departemen yang membawahinya. Dia diberi zakat secukupnya untuk membantunya berperang, untuk mendapatkan senjata atau kendaraan atau nafkah untuknya dan keluarganya, agar dia fokus dengan tenang dalam jihadnya. Banyak fuqaha yang menyatakan, "Jika orang yang mampu bekerja memu-tuskan untuk berkonsentrasi mencari ilmu, maka dia diberi dari zakat, karena menuntut ilmu termasuk ke dalam jihad di jalan Allah." Mereka juga berkata, "Orang miskin diberi zakat untuk haji." Namun pendapat ini perlu dikaji kembali. Kedelapan: Ibnu Sabil, yaitu orang asing yang kehabisan be-kal dan sedang tidak di negerinya, dia diberi dari zakat yang dapat menyampaikannya ke negerinya. Mereka inilah delapan golongan yang mana zakat diberikan kepada mereka saja. ﴾ فَرِيضَةٗ مِّنَ ٱللَّهِۗ ﴿ "Sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah." Allah mewajibkannya dan menentukan kadarnya sesuai dengan ilmu dan hikmahNya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." Ketahuilah, bahwa delapan golongan ini kembali kepada dua hal, pertama: yang diberi karena kebutuhan dan keperluannya se-perti fakir miskin dan semisalnya. Dan yang kedua adalah yang diberi karena memang dibutuhkan dan untuk kepentingan Islam. Allah mewajibkan bagian ini atas harta orang-orang kaya un-tuk menutupi kebutuhan khusus dan umum bagi Islam dan kaum Muslimin. Seandainya orang-orang kaya itu mau membayarkan zakatnya sesuai dengan ketentuan syar'i, niscaya tidak ada lagi orang fakir dari kalangan kaum Muslimin, niscaya akan terkumpul harta untuk mengamankan perbatasan dan melawan orang-orang kafir serta terwujudnya seluruh kepentingan agama.

At-Taubah 9:61

"Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menya-kiti Nabi dan mengatakan, 'Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.' Katakanlah, 'Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang Mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara ka-mu.' Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. Mereka bersumpah kepada kamu dengan (Nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan RasulNya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang Mukmin. Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Neraka Jahanamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar." (At-Taubah: 61-63). (61) Yakni di antara orang-orang munafik itu ﴾ ٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱلنَّبِيَّ ﴿ "Ada yang menyakiti Nabi", dengan ucapan buruk, mencelanya dan mencela agamanya. ﴾ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٞۚ ﴿ "Dan mengatakan, 'Nabi memper-cayai semua apa yang didengarnya." Yakni mereka tidak peduli dengan hinaan yang mereka katakan kepada Nabi, kata mereka, "Jika ada ucapan kita yang sampai kepadanya maka kita minta maaf ke-padanya, pasti dia akan memaafkan, karena dia menerima apa saja yang dikatakan kepadanya, tanpa membedakan antara yang benar dan yang dusta. Maksud mereka –semoga Allah menimpakan keburukan ke-pada mereka–, bahwa mereka tidak mempedulikan dan memper-hatikan hal itu, karena jika ucapan itu tidak didengar Nabi, maka inilah yang mereka cari, jika ia sampai, maka cukuplah dengan meminta maaf dengan cara yang batil. Me-reka telah melakukan keburukan dari banyak sisi: Yang paling besar adalah, menyakiti Nabi yang hadir untuk memberi hidayah kepada mereka dan mengeluarkan mereka dari kesengsaraan dan kebinasaan kepada hidayah dan kebahagiaan. Di antaranya adalah, ketidakpedulian mereka dalam hal itu, ia tidak sekedar menyakiti, tapi lebih dari itu. Di antaranya juga adalah, cibiran mereka terhadap akal Nabi ﷺ yang –kata mereka– tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang dusta, padahal Nabi ﷺ adalah orang yang memiliki akal paling sempurna, ilmu paling lengkap, dan pandangan yang paling tajam. Oleh karena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أُذُنُ خَيۡرٖ لَّكُمۡ ﴿ "Katakan-lah, 'Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu'." Yakni menerima siapa yang berkata benar dan baik kepadanya. Adapun berpaling-nya Nabi ﷺ dan tidak menyalahkan kebanyakan orang munafik yang meminta maaf dengan alasan-alasan yang dusta, maka hal itu karena kelapangan akhlaknya, ketidakpeduliannya kepada mereka dan karena mengamalkan Firman Allah تعالى, ﴾ سَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمۡ إِذَا ٱنقَلَبۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡ لِتُعۡرِضُواْ عَنۡهُمۡۖ فَأَعۡرِضُواْ عَنۡهُمۡۖ إِنَّهُمۡ رِجۡسٞۖ ﴿ "Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan Nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis." (At-Taubah: 95). Adapun hakikat apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, maka Allah berfirman tentangnya, ﴾ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَيُؤۡمِنُ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dia ber-iman kepada Allah, mempercayai orang-orang Mukmin", yang benar dan membenarkan, dia mengetahui yang jujur dan yang dusta meskipun dia sering berpaling dari orang-orang yang diketahui kebohongan-nya dan kedustaannya, ﴾ وَرَحۡمَةٞ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡۚ ﴿ "dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu." Karena mereka mengambil petunjuk darinya dan meneladani akhlaknya. Adapun orang-orang yang tidak beriman, maka mereka tidak mau menerima rahmat ini, bahkan mereka menolaknya, maka mereka rugi dunia dan akhirat. ﴾ وَٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ رَسُولَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu", dengan perkataan dan perbuatan ﴾ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "bagi mereka azab yang pedih", di dunia dan di akhirat, dan di antara azab yang pedih ada-lah dibunuhnya orang yang menyakiti Nabi dan mencelanya. (62) ﴾ يَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمۡ لِيُرۡضُوكُمۡ ﴿ "Mereka bersumpah kepada kamu dengan (Nama) Allah untuk mencari keridhaanmu." Lalu mereka meng-klaim berlepas diri dari menyakiti Nabi dan lainnya yang mereka lakukan. Tujuan mereka adalah agar kamu ridha kepada mereka. ﴾ وَٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَحَقُّ أَن يُرۡضُوهُ إِن كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Padahal Allah dan RasulNya itu-lah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang Mukmin." Karena seorang Mukmin tidak mendahulukan sesuatu pun di atas ridha Allah dan RasulNya. Ini menunjukkan bahwa iman mereka tidak ada, di mana mereka mendahulukan ridha selain Allah dan RasulNya. (63) Ini adalah penentangan dan permusuhan kepada Allah, dan Allah telah mengancam orang yang menentangnya dengan FirmanNya, ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّهُۥ مَن يُحَادِدِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan RasulNya," di mana dia berada di jalur dan jalan yang menjauhkan-nya dari Allah dan RasulNya, dengan meremehkan perintah Allah dan melakukan laranganNya, ﴾ فَأَنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدٗا فِيهَاۚ ﴿ "maka sesung-guhnya Neraka Jahanamlah baginya, dia kekal di dalamnya," dan ﴾ ذَٰلِكَ ٱلۡخِزۡيُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "itu adalah kehinaan yang besar", yang tiada kehinaan yang lebih buruk dan lebih jelek daripadanya, di mana mereka ke-hilangan nikmat yang kekal, dan meraih azab Neraka Jahim. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan mereka.

At-Taubah 9:62

"Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menya-kiti Nabi dan mengatakan, 'Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.' Katakanlah, 'Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang Mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara ka-mu.' Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. Mereka bersumpah kepada kamu dengan (Nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan RasulNya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang Mukmin. Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Neraka Jahanamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar." (At-Taubah: 61-63). (61) Yakni di antara orang-orang munafik itu ﴾ ٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱلنَّبِيَّ ﴿ "Ada yang menyakiti Nabi", dengan ucapan buruk, mencelanya dan mencela agamanya. ﴾ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٞۚ ﴿ "Dan mengatakan, 'Nabi memper-cayai semua apa yang didengarnya." Yakni mereka tidak peduli dengan hinaan yang mereka katakan kepada Nabi, kata mereka, "Jika ada ucapan kita yang sampai kepadanya maka kita minta maaf ke-padanya, pasti dia akan memaafkan, karena dia menerima apa saja yang dikatakan kepadanya, tanpa membedakan antara yang benar dan yang dusta. Maksud mereka –semoga Allah menimpakan keburukan ke-pada mereka–, bahwa mereka tidak mempedulikan dan memper-hatikan hal itu, karena jika ucapan itu tidak didengar Nabi, maka inilah yang mereka cari, jika ia sampai, maka cukuplah dengan meminta maaf dengan cara yang batil. Me-reka telah melakukan keburukan dari banyak sisi: Yang paling besar adalah, menyakiti Nabi yang hadir untuk memberi hidayah kepada mereka dan mengeluarkan mereka dari kesengsaraan dan kebinasaan kepada hidayah dan kebahagiaan. Di antaranya adalah, ketidakpedulian mereka dalam hal itu, ia tidak sekedar menyakiti, tapi lebih dari itu. Di antaranya juga adalah, cibiran mereka terhadap akal Nabi ﷺ yang –kata mereka– tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang dusta, padahal Nabi ﷺ adalah orang yang memiliki akal paling sempurna, ilmu paling lengkap, dan pandangan yang paling tajam. Oleh karena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أُذُنُ خَيۡرٖ لَّكُمۡ ﴿ "Katakan-lah, 'Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu'." Yakni menerima siapa yang berkata benar dan baik kepadanya. Adapun berpaling-nya Nabi ﷺ dan tidak menyalahkan kebanyakan orang munafik yang meminta maaf dengan alasan-alasan yang dusta, maka hal itu karena kelapangan akhlaknya, ketidakpeduliannya kepada mereka dan karena mengamalkan Firman Allah تعالى, ﴾ سَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمۡ إِذَا ٱنقَلَبۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡ لِتُعۡرِضُواْ عَنۡهُمۡۖ فَأَعۡرِضُواْ عَنۡهُمۡۖ إِنَّهُمۡ رِجۡسٞۖ ﴿ "Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan Nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis." (At-Taubah: 95). Adapun hakikat apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, maka Allah berfirman tentangnya, ﴾ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَيُؤۡمِنُ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dia ber-iman kepada Allah, mempercayai orang-orang Mukmin", yang benar dan membenarkan, dia mengetahui yang jujur dan yang dusta meskipun dia sering berpaling dari orang-orang yang diketahui kebohongan-nya dan kedustaannya, ﴾ وَرَحۡمَةٞ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡۚ ﴿ "dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu." Karena mereka mengambil petunjuk darinya dan meneladani akhlaknya. Adapun orang-orang yang tidak beriman, maka mereka tidak mau menerima rahmat ini, bahkan mereka menolaknya, maka mereka rugi dunia dan akhirat. ﴾ وَٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ رَسُولَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu", dengan perkataan dan perbuatan ﴾ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "bagi mereka azab yang pedih", di dunia dan di akhirat, dan di antara azab yang pedih ada-lah dibunuhnya orang yang menyakiti Nabi dan mencelanya. (62) ﴾ يَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمۡ لِيُرۡضُوكُمۡ ﴿ "Mereka bersumpah kepada kamu dengan (Nama) Allah untuk mencari keridhaanmu." Lalu mereka meng-klaim berlepas diri dari menyakiti Nabi dan lainnya yang mereka lakukan. Tujuan mereka adalah agar kamu ridha kepada mereka. ﴾ وَٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَحَقُّ أَن يُرۡضُوهُ إِن كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Padahal Allah dan RasulNya itu-lah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang Mukmin." Karena seorang Mukmin tidak mendahulukan sesuatu pun di atas ridha Allah dan RasulNya. Ini menunjukkan bahwa iman mereka tidak ada, di mana mereka mendahulukan ridha selain Allah dan RasulNya. (63) Ini adalah penentangan dan permusuhan kepada Allah, dan Allah telah mengancam orang yang menentangnya dengan FirmanNya, ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّهُۥ مَن يُحَادِدِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan RasulNya," di mana dia berada di jalur dan jalan yang menjauhkan-nya dari Allah dan RasulNya, dengan meremehkan perintah Allah dan melakukan laranganNya, ﴾ فَأَنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدٗا فِيهَاۚ ﴿ "maka sesung-guhnya Neraka Jahanamlah baginya, dia kekal di dalamnya," dan ﴾ ذَٰلِكَ ٱلۡخِزۡيُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "itu adalah kehinaan yang besar", yang tiada kehinaan yang lebih buruk dan lebih jelek daripadanya, di mana mereka ke-hilangan nikmat yang kekal, dan meraih azab Neraka Jahim. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan mereka.

At-Taubah 9:63

"Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menya-kiti Nabi dan mengatakan, 'Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.' Katakanlah, 'Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang Mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara ka-mu.' Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. Mereka bersumpah kepada kamu dengan (Nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan RasulNya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang Mukmin. Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Neraka Jahanamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar." (At-Taubah: 61-63). (61) Yakni di antara orang-orang munafik itu ﴾ ٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱلنَّبِيَّ ﴿ "Ada yang menyakiti Nabi", dengan ucapan buruk, mencelanya dan mencela agamanya. ﴾ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٞۚ ﴿ "Dan mengatakan, 'Nabi memper-cayai semua apa yang didengarnya." Yakni mereka tidak peduli dengan hinaan yang mereka katakan kepada Nabi, kata mereka, "Jika ada ucapan kita yang sampai kepadanya maka kita minta maaf ke-padanya, pasti dia akan memaafkan, karena dia menerima apa saja yang dikatakan kepadanya, tanpa membedakan antara yang benar dan yang dusta. Maksud mereka –semoga Allah menimpakan keburukan ke-pada mereka–, bahwa mereka tidak mempedulikan dan memper-hatikan hal itu, karena jika ucapan itu tidak didengar Nabi, maka inilah yang mereka cari, jika ia sampai, maka cukuplah dengan meminta maaf dengan cara yang batil. Me-reka telah melakukan keburukan dari banyak sisi: Yang paling besar adalah, menyakiti Nabi yang hadir untuk memberi hidayah kepada mereka dan mengeluarkan mereka dari kesengsaraan dan kebinasaan kepada hidayah dan kebahagiaan. Di antaranya adalah, ketidakpedulian mereka dalam hal itu, ia tidak sekedar menyakiti, tapi lebih dari itu. Di antaranya juga adalah, cibiran mereka terhadap akal Nabi ﷺ yang –kata mereka– tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang dusta, padahal Nabi ﷺ adalah orang yang memiliki akal paling sempurna, ilmu paling lengkap, dan pandangan yang paling tajam. Oleh karena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أُذُنُ خَيۡرٖ لَّكُمۡ ﴿ "Katakan-lah, 'Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu'." Yakni menerima siapa yang berkata benar dan baik kepadanya. Adapun berpaling-nya Nabi ﷺ dan tidak menyalahkan kebanyakan orang munafik yang meminta maaf dengan alasan-alasan yang dusta, maka hal itu karena kelapangan akhlaknya, ketidakpeduliannya kepada mereka dan karena mengamalkan Firman Allah تعالى, ﴾ سَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمۡ إِذَا ٱنقَلَبۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡ لِتُعۡرِضُواْ عَنۡهُمۡۖ فَأَعۡرِضُواْ عَنۡهُمۡۖ إِنَّهُمۡ رِجۡسٞۖ ﴿ "Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan Nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis." (At-Taubah: 95). Adapun hakikat apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, maka Allah berfirman tentangnya, ﴾ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَيُؤۡمِنُ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dia ber-iman kepada Allah, mempercayai orang-orang Mukmin", yang benar dan membenarkan, dia mengetahui yang jujur dan yang dusta meskipun dia sering berpaling dari orang-orang yang diketahui kebohongan-nya dan kedustaannya, ﴾ وَرَحۡمَةٞ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡۚ ﴿ "dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu." Karena mereka mengambil petunjuk darinya dan meneladani akhlaknya. Adapun orang-orang yang tidak beriman, maka mereka tidak mau menerima rahmat ini, bahkan mereka menolaknya, maka mereka rugi dunia dan akhirat. ﴾ وَٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ رَسُولَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu", dengan perkataan dan perbuatan ﴾ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "bagi mereka azab yang pedih", di dunia dan di akhirat, dan di antara azab yang pedih ada-lah dibunuhnya orang yang menyakiti Nabi dan mencelanya. (62) ﴾ يَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمۡ لِيُرۡضُوكُمۡ ﴿ "Mereka bersumpah kepada kamu dengan (Nama) Allah untuk mencari keridhaanmu." Lalu mereka meng-klaim berlepas diri dari menyakiti Nabi dan lainnya yang mereka lakukan. Tujuan mereka adalah agar kamu ridha kepada mereka. ﴾ وَٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَحَقُّ أَن يُرۡضُوهُ إِن كَانُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Padahal Allah dan RasulNya itu-lah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang Mukmin." Karena seorang Mukmin tidak mendahulukan sesuatu pun di atas ridha Allah dan RasulNya. Ini menunjukkan bahwa iman mereka tidak ada, di mana mereka mendahulukan ridha selain Allah dan RasulNya. (63) Ini adalah penentangan dan permusuhan kepada Allah, dan Allah telah mengancam orang yang menentangnya dengan FirmanNya, ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّهُۥ مَن يُحَادِدِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan RasulNya," di mana dia berada di jalur dan jalan yang menjauhkan-nya dari Allah dan RasulNya, dengan meremehkan perintah Allah dan melakukan laranganNya, ﴾ فَأَنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدٗا فِيهَاۚ ﴿ "maka sesung-guhnya Neraka Jahanamlah baginya, dia kekal di dalamnya," dan ﴾ ذَٰلِكَ ٱلۡخِزۡيُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "itu adalah kehinaan yang besar", yang tiada kehinaan yang lebih buruk dan lebih jelek daripadanya, di mana mereka ke-hilangan nikmat yang kekal, dan meraih azab Neraka Jahim. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan mereka.

At-Taubah 9:64

"Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan ter-hadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembu-nyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka, 'Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya).' Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.' Katakanlah, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa." (At-Taubah: 64-66). (64) Surat yang mulia ini dulunya dinamakan al-Fadhihah karena ia membongkar rahasia orang-orang munafik dan membuka kedok mereka. Allah berfirman, "Di antara mereka, di antara me-reka…" dan menjelaskan sifat-sifat mereka. Hanya saja Dia tidak menyebut perindividu mereka karena dua faidah: Pertama: Allah Maha Menutupi, Dia menyukai menutup aib hambaNya. Kedua: Bahwa celaannya ditujukan kepada siapa saja yang memiliki sifat tersebut, baik dari kalangan orang-orang munafik di mana Firman Allah pertama kali tertuju kepadanya dan juga kepada selain mereka sampai Hari Kiamat. Maka menyebut sifat (tanpa pelakunya) lebih umum dan lebih sesuai agar mereka benar-benar takut. Allah تعالى berfirman, ﴾ لَّئِن لَّمۡ يَنتَهِ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ وَٱلۡمُرۡجِفُونَ فِي ٱلۡمَدِينَةِ لَنُغۡرِيَنَّكَ بِهِمۡ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَآ إِلَّا قَلِيلٗا 60 مَّلۡعُونِينَۖ أَيۡنَمَا ثُقِفُوٓاْ أُخِذُواْ وَقُتِّلُواْ تَقۡتِيلٗا 61 ﴿ "Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetang-gamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya." (Al-Ahzab: 60-61). Dia berfirman di sini, ﴾ يَحۡذَرُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيۡهِمۡ سُورَةٞ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمۡۚ ﴿ "Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka." Yakni yang memberitakan dan membuka kedok serta menjelaskan rahasia-rahasia mereka sehingga ia menjadi terbuka bagi hamba-hamba Allah dan menjadi pelajaran bagi orang yang mengambil pelajaran. ﴾ قُلِ ٱسۡتَهۡزِءُوٓاْ ﴿ "Katakanlah kepada mereka, 'Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya)'." Yakni lanjutkan ejekanmu dan hinaanmu yang kamu lakukan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مُخۡرِجٞ مَّا تَحۡذَرُونَ ﴿ "Sesung-guhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu." Allah تعالى telah memenuhi janjiNya. Dia menurunkan surat yang menjelaskan keadaan mereka dan membongkar aib mereka serta membuka kedok mereka. (65-66) ﴾ وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ ﴿ "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu)", tentang hinaan mereka terha-dap kaum Muslimin dan agama mereka. Sekelompok dari mereka berkata di perang Tabuk, "Kami tidak melihat seperti para qari kami itu –maksudnya adalah Nabi ﷺ dan sahabat-sahabatnya– paling besar perutnya, paling dusta ucapannya, dan paling penakut pada saat perang … dan ejekan-ejekan lain semisalnya.[94] Ketika mereka mengetahui bahwa Nabi ﷺ telah mengetahui apa yang mereka katakan, mereka datang meminta maaf dan berkata, ﴾ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ ﴿ "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Yakni kami mengatakan ucapan yang kami tidak bermaksud mengatakannya, kami pun tidak bermaksud mencela dan menghina. Allah تعالى membantah dengan menjelaskan ketidakbenaran alasan mereka dan kebohongan mereka dalam hal itu. ﴾ قُلۡ ﴿ "Kata-kanlah", kepada mereka, ﴾ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ 65 لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ ﴿ ' A p a k a h dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesu-dah beriman." Karena mengolok-olok Allah dan RasulNya adalah kekufuran yang mengeluarkan dari Islam, karena pondasi Islam terbangun di atas sikap pengagungan kepada Allah, agama dan RasulNya, sementara memperolok-olok sesuatu darinya sangat ber-tentangan dan bertabrakan dengan pondasi utama ini, oleh karena itu, begitu mereka datang kepada Rasul untuk meminta maaf dengan ucapan itu, Rasul hanya menjawab,﴾ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ 65 لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ ﴿ "Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman." FirmanNya, ﴾ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ ﴿ "Jika Kami memaafkan sego-longan dari kamu (lantaran mereka taubat)", menyesal dan memohon ampun kepada Allah, ﴾ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ ﴿ "niscaya Kami akan mengazab go-longan (yang lain)," dari kalian disebabkan mereka ﴾ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ﴿ "adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa", selalu berdiri di atas kekufuran dan kemunafikan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa menyimpan rahasia buruk, khususnya rahasia makar terhadap agamaNya, meng-olok-olokNya, ayat-ayatNya, serta RasulNya, maka Allah تعالى akan menampakkannya, membeberkannya, dan menghukum pelakunya dengan keras. Dan bahwa barangsiapa yang menghina sesuatu dari Kitabullah atau Sunnah Rasul yang shahih darinya atau mencela-nya atau merendahkannya atau memperolok-olok Rasul atau me-rendahkannya, maka dia adalah kafir kepada Allah yang Maha-agung, dan bahwa taubat akan diterima dari segala dosa, meskipun dosa itu besar.

At-Taubah 9:65

"Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan ter-hadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembu-nyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka, 'Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya).' Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.' Katakanlah, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa." (At-Taubah: 64-66). (64) Surat yang mulia ini dulunya dinamakan al-Fadhihah karena ia membongkar rahasia orang-orang munafik dan membuka kedok mereka. Allah berfirman, "Di antara mereka, di antara me-reka…" dan menjelaskan sifat-sifat mereka. Hanya saja Dia tidak menyebut perindividu mereka karena dua faidah: Pertama: Allah Maha Menutupi, Dia menyukai menutup aib hambaNya. Kedua: Bahwa celaannya ditujukan kepada siapa saja yang memiliki sifat tersebut, baik dari kalangan orang-orang munafik di mana Firman Allah pertama kali tertuju kepadanya dan juga kepada selain mereka sampai Hari Kiamat. Maka menyebut sifat (tanpa pelakunya) lebih umum dan lebih sesuai agar mereka benar-benar takut. Allah تعالى berfirman, ﴾ لَّئِن لَّمۡ يَنتَهِ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ وَٱلۡمُرۡجِفُونَ فِي ٱلۡمَدِينَةِ لَنُغۡرِيَنَّكَ بِهِمۡ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَآ إِلَّا قَلِيلٗا 60 مَّلۡعُونِينَۖ أَيۡنَمَا ثُقِفُوٓاْ أُخِذُواْ وَقُتِّلُواْ تَقۡتِيلٗا 61 ﴿ "Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetang-gamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya." (Al-Ahzab: 60-61). Dia berfirman di sini, ﴾ يَحۡذَرُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيۡهِمۡ سُورَةٞ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمۡۚ ﴿ "Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka." Yakni yang memberitakan dan membuka kedok serta menjelaskan rahasia-rahasia mereka sehingga ia menjadi terbuka bagi hamba-hamba Allah dan menjadi pelajaran bagi orang yang mengambil pelajaran. ﴾ قُلِ ٱسۡتَهۡزِءُوٓاْ ﴿ "Katakanlah kepada mereka, 'Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya)'." Yakni lanjutkan ejekanmu dan hinaanmu yang kamu lakukan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مُخۡرِجٞ مَّا تَحۡذَرُونَ ﴿ "Sesung-guhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu." Allah تعالى telah memenuhi janjiNya. Dia menurunkan surat yang menjelaskan keadaan mereka dan membongkar aib mereka serta membuka kedok mereka. (65-66) ﴾ وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ ﴿ "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu)", tentang hinaan mereka terha-dap kaum Muslimin dan agama mereka. Sekelompok dari mereka berkata di perang Tabuk, "Kami tidak melihat seperti para qari kami itu –maksudnya adalah Nabi ﷺ dan sahabat-sahabatnya– paling besar perutnya, paling dusta ucapannya, dan paling penakut pada saat perang … dan ejekan-ejekan lain semisalnya.[94] Ketika mereka mengetahui bahwa Nabi ﷺ telah mengetahui apa yang mereka katakan, mereka datang meminta maaf dan berkata, ﴾ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ ﴿ "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Yakni kami mengatakan ucapan yang kami tidak bermaksud mengatakannya, kami pun tidak bermaksud mencela dan menghina. Allah تعالى membantah dengan menjelaskan ketidakbenaran alasan mereka dan kebohongan mereka dalam hal itu. ﴾ قُلۡ ﴿ "Kata-kanlah", kepada mereka, ﴾ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ 65 لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ ﴿ ' A p a k a h dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesu-dah beriman." Karena mengolok-olok Allah dan RasulNya adalah kekufuran yang mengeluarkan dari Islam, karena pondasi Islam terbangun di atas sikap pengagungan kepada Allah, agama dan RasulNya, sementara memperolok-olok sesuatu darinya sangat ber-tentangan dan bertabrakan dengan pondasi utama ini, oleh karena itu, begitu mereka datang kepada Rasul untuk meminta maaf dengan ucapan itu, Rasul hanya menjawab,﴾ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ 65 لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ ﴿ "Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman." FirmanNya, ﴾ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ ﴿ "Jika Kami memaafkan sego-longan dari kamu (lantaran mereka taubat)", menyesal dan memohon ampun kepada Allah, ﴾ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ ﴿ "niscaya Kami akan mengazab go-longan (yang lain)," dari kalian disebabkan mereka ﴾ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ﴿ "adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa", selalu berdiri di atas kekufuran dan kemunafikan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa menyimpan rahasia buruk, khususnya rahasia makar terhadap agamaNya, meng-olok-olokNya, ayat-ayatNya, serta RasulNya, maka Allah تعالى akan menampakkannya, membeberkannya, dan menghukum pelakunya dengan keras. Dan bahwa barangsiapa yang menghina sesuatu dari Kitabullah atau Sunnah Rasul yang shahih darinya atau mencela-nya atau merendahkannya atau memperolok-olok Rasul atau me-rendahkannya, maka dia adalah kafir kepada Allah yang Maha-agung, dan bahwa taubat akan diterima dari segala dosa, meskipun dosa itu besar.

At-Taubah 9:66

"Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan ter-hadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembu-nyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka, 'Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya).' Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.' Katakanlah, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa." (At-Taubah: 64-66). (64) Surat yang mulia ini dulunya dinamakan al-Fadhihah karena ia membongkar rahasia orang-orang munafik dan membuka kedok mereka. Allah berfirman, "Di antara mereka, di antara me-reka…" dan menjelaskan sifat-sifat mereka. Hanya saja Dia tidak menyebut perindividu mereka karena dua faidah: Pertama: Allah Maha Menutupi, Dia menyukai menutup aib hambaNya. Kedua: Bahwa celaannya ditujukan kepada siapa saja yang memiliki sifat tersebut, baik dari kalangan orang-orang munafik di mana Firman Allah pertama kali tertuju kepadanya dan juga kepada selain mereka sampai Hari Kiamat. Maka menyebut sifat (tanpa pelakunya) lebih umum dan lebih sesuai agar mereka benar-benar takut. Allah تعالى berfirman, ﴾ لَّئِن لَّمۡ يَنتَهِ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ وَٱلۡمُرۡجِفُونَ فِي ٱلۡمَدِينَةِ لَنُغۡرِيَنَّكَ بِهِمۡ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَآ إِلَّا قَلِيلٗا 60 مَّلۡعُونِينَۖ أَيۡنَمَا ثُقِفُوٓاْ أُخِذُواْ وَقُتِّلُواْ تَقۡتِيلٗا 61 ﴿ "Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetang-gamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya." (Al-Ahzab: 60-61). Dia berfirman di sini, ﴾ يَحۡذَرُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيۡهِمۡ سُورَةٞ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمۡۚ ﴿ "Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka." Yakni yang memberitakan dan membuka kedok serta menjelaskan rahasia-rahasia mereka sehingga ia menjadi terbuka bagi hamba-hamba Allah dan menjadi pelajaran bagi orang yang mengambil pelajaran. ﴾ قُلِ ٱسۡتَهۡزِءُوٓاْ ﴿ "Katakanlah kepada mereka, 'Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya)'." Yakni lanjutkan ejekanmu dan hinaanmu yang kamu lakukan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ مُخۡرِجٞ مَّا تَحۡذَرُونَ ﴿ "Sesung-guhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu." Allah تعالى telah memenuhi janjiNya. Dia menurunkan surat yang menjelaskan keadaan mereka dan membongkar aib mereka serta membuka kedok mereka. (65-66) ﴾ وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ ﴿ "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu)", tentang hinaan mereka terha-dap kaum Muslimin dan agama mereka. Sekelompok dari mereka berkata di perang Tabuk, "Kami tidak melihat seperti para qari kami itu –maksudnya adalah Nabi ﷺ dan sahabat-sahabatnya– paling besar perutnya, paling dusta ucapannya, dan paling penakut pada saat perang … dan ejekan-ejekan lain semisalnya.[94] Ketika mereka mengetahui bahwa Nabi ﷺ telah mengetahui apa yang mereka katakan, mereka datang meminta maaf dan berkata, ﴾ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ ﴿ "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Yakni kami mengatakan ucapan yang kami tidak bermaksud mengatakannya, kami pun tidak bermaksud mencela dan menghina. Allah تعالى membantah dengan menjelaskan ketidakbenaran alasan mereka dan kebohongan mereka dalam hal itu. ﴾ قُلۡ ﴿ "Kata-kanlah", kepada mereka, ﴾ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ 65 لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ ﴿ ' A p a k a h dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesu-dah beriman." Karena mengolok-olok Allah dan RasulNya adalah kekufuran yang mengeluarkan dari Islam, karena pondasi Islam terbangun di atas sikap pengagungan kepada Allah, agama dan RasulNya, sementara memperolok-olok sesuatu darinya sangat ber-tentangan dan bertabrakan dengan pondasi utama ini, oleh karena itu, begitu mereka datang kepada Rasul untuk meminta maaf dengan ucapan itu, Rasul hanya menjawab,﴾ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ 65 لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ ﴿ "Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman." FirmanNya, ﴾ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ ﴿ "Jika Kami memaafkan sego-longan dari kamu (lantaran mereka taubat)", menyesal dan memohon ampun kepada Allah, ﴾ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ ﴿ "niscaya Kami akan mengazab go-longan (yang lain)," dari kalian disebabkan mereka ﴾ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ﴿ "adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa", selalu berdiri di atas kekufuran dan kemunafikan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa menyimpan rahasia buruk, khususnya rahasia makar terhadap agamaNya, meng-olok-olokNya, ayat-ayatNya, serta RasulNya, maka Allah تعالى akan menampakkannya, membeberkannya, dan menghukum pelakunya dengan keras. Dan bahwa barangsiapa yang menghina sesuatu dari Kitabullah atau Sunnah Rasul yang shahih darinya atau mencela-nya atau merendahkannya atau memperolok-olok Rasul atau me-rendahkannya, maka dia adalah kafir kepada Allah yang Maha-agung, dan bahwa taubat akan diterima dari segala dosa, meskipun dosa itu besar.

At-Taubah 9:67

"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka meng-genggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu-lah orang-orang yang fasik. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya, cukuplah Neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal." (At-Taubah: 67-68). (67) Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٖۚ ﴿ "Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain", karena mereka bersekutu dalam kemunafikan, maka mereka pun saling mendukung. Ini adalah pemutusan bagi orang-orang yang beriman dari pengangkatan mereka menjadi teman. Kemudian Allah menyebutkan sifat umum orang munafik yang tidak keluar darinya orang besar dan orang kecil dari kalangan mereka. Dia ber-firman, ﴾ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنكَرِ ﴿ "Mereka menyuruh berbuat yang mungkar." Yaitu kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. ﴾ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Dan melarang berbuat yang ma'ruf", yaitu iman, akhlak yang mulia, amal shalih, dan adab-adab yang luhur. ﴾ وَيَقۡبِضُونَ أَيۡدِيَهُمۡۚ ﴿ "Dan mereka meng-genggamkan tangannya," dari sedekah dan jalan-jalan kebaikan, ciri mereka adalah kekikiran. ﴾ نَسُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Mereka telah lupa kepada Allah", tidak mengingatNya kecuali sedikit, ﴾ فَنَسِيَهُمۡۚ ﴿ "maka Allah melupakan mereka", dari rahmatNya, Dia tidak membimbing mereka kepada kebaikan dan tidak memasukkannya ke dalam Surga, akan tetapi membiarkannya di lapisan neraka terbawah, kekal dan dikekalkan di dalamnya. ﴾ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik." Kefasikan dibatasi pada mereka karena kefasikan mereka lebih besar daripada kefasikan selain mereka, buktinya adalah azab mereka lebih berat daripada azab orang lain dan bahwa orang Mukmin sangat disulitkan oleh mereka jika mereka hidup di kalangan orang-orang Mukmin dan untuk menghindari mereka sangat sulit. (68) ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ هِيَ حَسۡبُهُمۡۚ وَلَعَنَهُمُ ٱللَّهُۖ وَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّقِيمٞ ﴿ "Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya, cukuplah Neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati me-reka, dan bagi mereka azab yang kekal."Allah menggabungkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di Neraka Jahanam, laknat dan kekekalan di dalamnya, karena di dunia mereka sama-sama kafir, memusuhi Allah dan RasulNya serta mengingkari ayat-ayatNya.

At-Taubah 9:68

"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka meng-genggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu-lah orang-orang yang fasik. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya, cukuplah Neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal." (At-Taubah: 67-68). (67) Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٖۚ ﴿ "Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain", karena mereka bersekutu dalam kemunafikan, maka mereka pun saling mendukung. Ini adalah pemutusan bagi orang-orang yang beriman dari pengangkatan mereka menjadi teman. Kemudian Allah menyebutkan sifat umum orang munafik yang tidak keluar darinya orang besar dan orang kecil dari kalangan mereka. Dia ber-firman, ﴾ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنكَرِ ﴿ "Mereka menyuruh berbuat yang mungkar." Yaitu kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. ﴾ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Dan melarang berbuat yang ma'ruf", yaitu iman, akhlak yang mulia, amal shalih, dan adab-adab yang luhur. ﴾ وَيَقۡبِضُونَ أَيۡدِيَهُمۡۚ ﴿ "Dan mereka meng-genggamkan tangannya," dari sedekah dan jalan-jalan kebaikan, ciri mereka adalah kekikiran. ﴾ نَسُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Mereka telah lupa kepada Allah", tidak mengingatNya kecuali sedikit, ﴾ فَنَسِيَهُمۡۚ ﴿ "maka Allah melupakan mereka", dari rahmatNya, Dia tidak membimbing mereka kepada kebaikan dan tidak memasukkannya ke dalam Surga, akan tetapi membiarkannya di lapisan neraka terbawah, kekal dan dikekalkan di dalamnya. ﴾ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik." Kefasikan dibatasi pada mereka karena kefasikan mereka lebih besar daripada kefasikan selain mereka, buktinya adalah azab mereka lebih berat daripada azab orang lain dan bahwa orang Mukmin sangat disulitkan oleh mereka jika mereka hidup di kalangan orang-orang Mukmin dan untuk menghindari mereka sangat sulit. (68) ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ هِيَ حَسۡبُهُمۡۚ وَلَعَنَهُمُ ٱللَّهُۖ وَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّقِيمٞ ﴿ "Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya, cukuplah Neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati me-reka, dan bagi mereka azab yang kekal."Allah menggabungkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di Neraka Jahanam, laknat dan kekekalan di dalamnya, karena di dunia mereka sama-sama kafir, memusuhi Allah dan RasulNya serta mengingkari ayat-ayatNya.

At-Taubah 9:69

"(Keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu memperca-kapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah orang-orang yang merugi. Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang ke-pada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (At-Taubah: 69-70). (69-70) Allah تعالى berfirman memperingatkan orang-orang munafik dari azab yang akan menimpa mereka seperti yang telah menimpa umat-umat pendusta sebelumnya,﴾ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَقَوۡمِ إِبۡرَٰهِيمَ وَأَصۡحَٰبِ مَدۡيَنَ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَٰتِۚ ﴿ "(yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah?" Yakni desa-desa kaum Luth, semuanya ﴾ أَتَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِۖ ﴿ "telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata." Yakni dengan kebenaran yang nyata, jelas, terang, yang menjelaskan kebenaran perkara-perkara, namun mereka mendus-takannya, maka terjadilah pada mereka apa yang Allah ceritakan kepada kita. Perbuatanmu mirip dengan perbuatan mereka, ﴾ فَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِخَلَٰقِكُمۡ ﴿ "Dan kamu menikmati bagianmu" dari dunia, kamu mengam-bilnya dengan penuh kelezatan dan kenikmatan tanpa memperha-tikan tujuannya, kamu memakainya untuk bermaksiat kepada Allah. Keinginan dan perhatianmu hanyalah untuk mendapatkan nikmat tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang sebelummu. ﴾ وَخُضۡتُمۡ كَٱلَّذِي خَاضُوٓاْۚ ﴿ "Dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagai-mana mereka mempercakapkannya." Yakni kamu membahas kebatilan, kedustaan, kamu membantah dengan kebatilan demi melenyapkan kebenaran. Inilah perbuatan dan ilmu mereka: menikmati bagian hidup dan bercakap dengan kebatilan, maka mereka pun berhak dibinasa-kan dan dihukum seperti orang-orang sebelum mereka yang mela-kukan perbuatan-perbuatan yang sama dengan mereka. Adapun orang-orang yang beriman, walaupun mereka menik-mati jatah hidup dan nikmat dunia yang diberikan kepada mereka, namun itu digunakan sebagai sarana penunjang untuk ketaatan ke-pada Allah. Adapun ilmu mereka maka ia adalah ilmu para rasul, yaitu meraih keyakinan dalam seluruh tuntutan luhur dan berdebat dengan kebenaran untuk melenyapkan kebatilan. FirmanNya,﴾ فَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ ﴿ "Maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka", jika Dia menimpakan hukuman yang Dia timpakan.﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." Di mana mereka berani bermaksiat kepadaNya, bermaksiat kepada rasul-rasul mereka, dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran).

At-Taubah 9:70

"(Keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu memperca-kapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah orang-orang yang merugi. Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang ke-pada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (At-Taubah: 69-70). (69-70) Allah تعالى berfirman memperingatkan orang-orang munafik dari azab yang akan menimpa mereka seperti yang telah menimpa umat-umat pendusta sebelumnya,﴾ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَقَوۡمِ إِبۡرَٰهِيمَ وَأَصۡحَٰبِ مَدۡيَنَ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَٰتِۚ ﴿ "(yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah?" Yakni desa-desa kaum Luth, semuanya ﴾ أَتَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِۖ ﴿ "telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata." Yakni dengan kebenaran yang nyata, jelas, terang, yang menjelaskan kebenaran perkara-perkara, namun mereka mendus-takannya, maka terjadilah pada mereka apa yang Allah ceritakan kepada kita. Perbuatanmu mirip dengan perbuatan mereka, ﴾ فَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِخَلَٰقِكُمۡ ﴿ "Dan kamu menikmati bagianmu" dari dunia, kamu mengam-bilnya dengan penuh kelezatan dan kenikmatan tanpa memperha-tikan tujuannya, kamu memakainya untuk bermaksiat kepada Allah. Keinginan dan perhatianmu hanyalah untuk mendapatkan nikmat tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang sebelummu. ﴾ وَخُضۡتُمۡ كَٱلَّذِي خَاضُوٓاْۚ ﴿ "Dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagai-mana mereka mempercakapkannya." Yakni kamu membahas kebatilan, kedustaan, kamu membantah dengan kebatilan demi melenyapkan kebenaran. Inilah perbuatan dan ilmu mereka: menikmati bagian hidup dan bercakap dengan kebatilan, maka mereka pun berhak dibinasa-kan dan dihukum seperti orang-orang sebelum mereka yang mela-kukan perbuatan-perbuatan yang sama dengan mereka. Adapun orang-orang yang beriman, walaupun mereka menik-mati jatah hidup dan nikmat dunia yang diberikan kepada mereka, namun itu digunakan sebagai sarana penunjang untuk ketaatan ke-pada Allah. Adapun ilmu mereka maka ia adalah ilmu para rasul, yaitu meraih keyakinan dalam seluruh tuntutan luhur dan berdebat dengan kebenaran untuk melenyapkan kebatilan. FirmanNya,﴾ فَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ ﴿ "Maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka", jika Dia menimpakan hukuman yang Dia timpakan.﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." Di mana mereka berani bermaksiat kepadaNya, bermaksiat kepada rasul-rasul mereka, dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran).

At-Taubah 9:71

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, seba-gian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang Mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di Surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar." (At-Taubah: 71-72). (71) Manakala Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik, sebagian dengan yang lain adalah sama saja, Dia menye-butkan bahwa orang-orang Mukmin sebagian dari mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain, Allah menyifati mereka dengan sifat yang bertentangan dengan sifat orang-orang munafik. Allah berfirman, ﴾ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain", dalam kecintaan, loyalitas, dukungan, dan ban-tuan. ﴾ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf." Ma'ruf adalah sebuah nama yang mencakup semua yang diketahui kebaikannya, berupa akidah yang lurus, amal yang shalih, dan akhlak yang luhur, dan yang masuk pertama kali ke dalam perkara mereka adalah diri mereka sendiri. ﴾ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "Dan mencegah dari yang mungkar", yaitu semua yang bertentangan dan bertabrakan dengan yang ma'ruf, berupa akidah yang batil, amal yang buruk, dan akhlak yang tercela. ﴾ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ ﴿ "Dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya." Yakni mereka selalu taat kepada Allah dan RasulNya secara terus menerus. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ ﴿ "Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah." Yakni, Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmatNya dan menaunginya dengan kebaikanNya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Yakni Mahakuat dan Mahakuasa, walau begitu Dia Mahabijaksana, meletakkan segala sesuatu pada tempatnya yang sesuai, yang Dia dipuji atas apa yang Dia ciptakan dan Dia perintahkan. (72) Kemudian Allah menyebutkan pahala yang Dia sedia-kan untuk mereka, Dia berfirman,﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Allah menjanjikan kepada orang-orang yang Mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai", yang mengumpulkan seluruh kenikmatan dan kebahagiaan, bebas dari gangguan dan kesedihan, di bawah istana-istananya dan pohonnya mengalir sungai-sungai yang deras, yang mengairi ke-bun-kebun yang indah, di mana kebaikan dan keberkahan padanya tidak ada yang mengetahui kecuali Allah, ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا ﴿ "mereka kekal di dalamnya." Mereka tidak ingin berpindah darinya.﴾ وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ ﴿ "Dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di Surga 'Adn." Yang indah dan dihiasi dengan berbagai macam perhiasan yang disediakan bagi hamba-hamba Allah yang bertakwa, indah dilihat, nyaman ditinggali dan dihuni, tersedia di dalamnya perabot-pera-bot tempat tinggal elit yang orang-orang tidak lagi berharap lebih dari itu. Allah telah menyediakan untuk mereka ruangan-ruangan yang sangat indah dan bagus, bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luarnya. Inilah tem-pat-tempat tinggal yang indah yang membuat jiwa kerasan, hati menjadi betah, dan rohani pun mengharapkannya, karena ia ﴾ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ ﴿ "di Surga 'Adn." Yakni tempat tinggal, tidak pergi dan tidak berpindah darinya. ﴾ وَرِضۡوَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan keridhaan Allah", yang Dia berikan kepada penghuni Surga ﴾ أَكۡبَرُۚ ﴿ "adalah lebih besar", dari-pada nikmat Allah yang mereka rasakan, karena nikmat mereka belum sempurna sebelum mereka melihat Allah dan mendapatkan ridhaNya, karena ia adalah target yang dicari oleh orang-orang yang beribadah, titik akhir yang dicari oleh orang-orang yang mencintai. Keridhaan Allah Rabb langit dan bumi adalah lebih besar daripada nikmat Surga. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Itu adalah keberuntungan yang besar", yang mana mereka mendapat semua yang dicari dan selamat dari setiap yang tidak diinginkan, segala perkara dari mereka baik dan indah. Kita memohon kepada Allah agar Allah menjadikan kita bersama mereka dengan kemurahanNya.

At-Taubah 9:72

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, seba-gian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang Mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di Surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar." (At-Taubah: 71-72). (71) Manakala Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik, sebagian dengan yang lain adalah sama saja, Dia menye-butkan bahwa orang-orang Mukmin sebagian dari mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain, Allah menyifati mereka dengan sifat yang bertentangan dengan sifat orang-orang munafik. Allah berfirman, ﴾ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain", dalam kecintaan, loyalitas, dukungan, dan ban-tuan. ﴾ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf." Ma'ruf adalah sebuah nama yang mencakup semua yang diketahui kebaikannya, berupa akidah yang lurus, amal yang shalih, dan akhlak yang luhur, dan yang masuk pertama kali ke dalam perkara mereka adalah diri mereka sendiri. ﴾ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "Dan mencegah dari yang mungkar", yaitu semua yang bertentangan dan bertabrakan dengan yang ma'ruf, berupa akidah yang batil, amal yang buruk, dan akhlak yang tercela. ﴾ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ ﴿ "Dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya." Yakni mereka selalu taat kepada Allah dan RasulNya secara terus menerus. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ ﴿ "Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah." Yakni, Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmatNya dan menaunginya dengan kebaikanNya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Yakni Mahakuat dan Mahakuasa, walau begitu Dia Mahabijaksana, meletakkan segala sesuatu pada tempatnya yang sesuai, yang Dia dipuji atas apa yang Dia ciptakan dan Dia perintahkan. (72) Kemudian Allah menyebutkan pahala yang Dia sedia-kan untuk mereka, Dia berfirman,﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Allah menjanjikan kepada orang-orang yang Mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai", yang mengumpulkan seluruh kenikmatan dan kebahagiaan, bebas dari gangguan dan kesedihan, di bawah istana-istananya dan pohonnya mengalir sungai-sungai yang deras, yang mengairi ke-bun-kebun yang indah, di mana kebaikan dan keberkahan padanya tidak ada yang mengetahui kecuali Allah, ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا ﴿ "mereka kekal di dalamnya." Mereka tidak ingin berpindah darinya.﴾ وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ ﴿ "Dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di Surga 'Adn." Yang indah dan dihiasi dengan berbagai macam perhiasan yang disediakan bagi hamba-hamba Allah yang bertakwa, indah dilihat, nyaman ditinggali dan dihuni, tersedia di dalamnya perabot-pera-bot tempat tinggal elit yang orang-orang tidak lagi berharap lebih dari itu. Allah telah menyediakan untuk mereka ruangan-ruangan yang sangat indah dan bagus, bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luarnya. Inilah tem-pat-tempat tinggal yang indah yang membuat jiwa kerasan, hati menjadi betah, dan rohani pun mengharapkannya, karena ia ﴾ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ ﴿ "di Surga 'Adn." Yakni tempat tinggal, tidak pergi dan tidak berpindah darinya. ﴾ وَرِضۡوَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan keridhaan Allah", yang Dia berikan kepada penghuni Surga ﴾ أَكۡبَرُۚ ﴿ "adalah lebih besar", dari-pada nikmat Allah yang mereka rasakan, karena nikmat mereka belum sempurna sebelum mereka melihat Allah dan mendapatkan ridhaNya, karena ia adalah target yang dicari oleh orang-orang yang beribadah, titik akhir yang dicari oleh orang-orang yang mencintai. Keridhaan Allah Rabb langit dan bumi adalah lebih besar daripada nikmat Surga. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Itu adalah keberuntungan yang besar", yang mana mereka mendapat semua yang dicari dan selamat dari setiap yang tidak diinginkan, segala perkara dari mereka baik dan indah. Kita memohon kepada Allah agar Allah menjadikan kita bersama mereka dengan kemurahanNya.

At-Taubah 9:73

"Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. Mereka (orang-orang munafik itu) ber-sumpah dengan (Nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucap-kan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan RasulNya), kecuali karena Allah dan RasulNya telah melimpahkan karuniaNya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi." (At-Taubah: 73-74). (73) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya ﷺ, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ جَٰهِدِ ٱلۡكُفَّارَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu." Yakni bersungguh-sungguhlah dalam ber-jihad melawan mereka dan bersikap keras kepada mereka jika me-mang kondisinya menuntut itu, termasuk dalam jihad ini adalah jihad dengan tangan dan jihad dengan hujjah dan argumentasi. Siapa di antara mereka yang terang-terangan memerangi, maka dia di-jihadi dengan tangan, lisan, pedang dan tombak, dan barangsiapa tunduk kepada Islam dengan perjanjian damai (dengan membayar jizyah) maka dia dijihadi dengan argumen dan hujjah, dijelaskan kepadanya kebaikan Islam dan keburukan, kesyirikan, dan keku-furan. Ini yang mereka dapatkan di dunia. (وَ) "Dan" adapun di akhirat maka tempat mereka ialah, ﴾ جَهَنَّمُۖ ﴿ "Neraka Jahanam." Dan mereka tidak keluar darinya. ﴾ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya." (74) ﴾ يَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ مَا قَالُواْ وَلَقَدۡ قَالُواْ كَلِمَةَ ٱلۡكُفۡرِ ﴿ "Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (Nama) Allah, bahwa mereka tidak menga-takan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengu-capkan perkataan kekafiran." Yakni jika mereka mengucapkan ucapan seperti ucapan sebagian mereka, ﴾ لَيُخۡرِجَنَّ ٱلۡأَعَزُّ مِنۡهَا ٱلۡأَذَلَّۚ ﴿ "Orang yang mulia pasti akan mengeluarkan orang yang hina da-rinya." (Al-Munafiqun: 8). Dan perkataan yang mereka katakan satu demi satu yang menghina Rasulullah dan agamanya, jika dia mengetahui bahwa Nabi ﷺ telah mendengar apa yang diucapkannya, maka dia datang kepada beliau bersumpah bahwa dia tidak mengatakannya, maka Allah membantah ucapan mereka, ﴾ وَلَقَدۡ قَالُواْ كَلِمَةَ ٱلۡكُفۡرِ وَكَفَرُواْ بَعۡدَ إِسۡلَٰمِهِمۡ ﴿ "Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran dan telah menjadi kafir sesudah Islam." Islam mereka yang lalu secara lahir me-mang mengentaskan mereka dari lingkaran kekufuran, akan tetapi ucapan mereka yang akhir membatalkan Islam mereka dan mema-sukkan mereka ke dalam kekufuran. ﴾ وَهَمُّواْ بِمَا لَمۡ يَنَالُواْۚ ﴿ "Dan mereka menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya." Hal itu ketika mereka ingin mencelakai Nabi ﷺ di perang Tabuk, Allah mencerita-kan perihal mereka kepada Nabi ﷺ, maka beliau pun memerintah-kan sebagian sahabat untuk menghalang-halangi maksud mereka. (وَ) "Dan" keadaan mereka sesungguhnya adalah ﴾ م َ ا نَقَمُوٓاْ ﴿ "mereka tidak mencela (Allah dan RasulNya)", dan menjelek-jelekkan Rasulullah ﷺ, ﴾ إِلَّآ أَنۡ أَغۡنَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ مِن فَضۡلِهِۦۚ ﴿ "kecuali karena Allah dan RasulNya telah melimpahkan karuniaNya kepada mereka." Setelah se-belumnya mereka adalah orang-orang miskin papa, ini termasuk perkara yang mengherankan, di mana mereka melecehkan orang yang menjadi penyebab keluarnya mereka dari kegelapan menuju cahaya dan penyebab kekayaan mereka setelah sebelumnya miskin. Padahal yang seharusnya mereka lakukan adalah menghormatinya, memuliakannya, dan beriman kepadanya, sehingga terkumpul fak-tor pendorang kekuatan (beragama) dan keluhuran kemanusiaan. Kemudian Allah menawarkan taubat kepada mereka, Dia berfirman, ﴾ فَإِن يَتُوبُواْ يَكُ خَيۡرٗا لَّهُمۡۖ ﴿ "Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka", karena taubat adalah dasar kebahagiaan dunia dan akhirat. ﴾ وَإِن يَتَوَلَّوۡاْ ﴿ "Dan jika mereka berpaling", dari taubat dan dari kembali kepada Allah ﴾ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ عَذَابًا أَلِيمٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat." Di dunia dengan kesedihan, kecemasan, dan kemarahan atas pertolongan Allah terhadap agamaNya dan dukunganNya kepada NabiNya serta kegagalan mereka meraih apa yang mereka inginkan, dan di akhirat adalah dengan azab yang membakar. ﴾ وَمَا لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung di muka bumi", yang mengurusi perkara-perkara mereka dan mewu-judkan keinginan mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "dan tidak (pula) penolong", yang menolak perkara yang tidak diinginkan. Apabila mereka telah ter-putus dari pertolongan Allah تعالى, maka yang ada adalah kesengsa-raan, kerugian, keburukan, dan kemelaratan.

At-Taubah 9:74

"Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. Mereka (orang-orang munafik itu) ber-sumpah dengan (Nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucap-kan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan RasulNya), kecuali karena Allah dan RasulNya telah melimpahkan karuniaNya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi." (At-Taubah: 73-74). (73) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya ﷺ, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ جَٰهِدِ ٱلۡكُفَّارَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu." Yakni bersungguh-sungguhlah dalam ber-jihad melawan mereka dan bersikap keras kepada mereka jika me-mang kondisinya menuntut itu, termasuk dalam jihad ini adalah jihad dengan tangan dan jihad dengan hujjah dan argumentasi. Siapa di antara mereka yang terang-terangan memerangi, maka dia di-jihadi dengan tangan, lisan, pedang dan tombak, dan barangsiapa tunduk kepada Islam dengan perjanjian damai (dengan membayar jizyah) maka dia dijihadi dengan argumen dan hujjah, dijelaskan kepadanya kebaikan Islam dan keburukan, kesyirikan, dan keku-furan. Ini yang mereka dapatkan di dunia. (وَ) "Dan" adapun di akhirat maka tempat mereka ialah, ﴾ جَهَنَّمُۖ ﴿ "Neraka Jahanam." Dan mereka tidak keluar darinya. ﴾ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya." (74) ﴾ يَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ مَا قَالُواْ وَلَقَدۡ قَالُواْ كَلِمَةَ ٱلۡكُفۡرِ ﴿ "Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (Nama) Allah, bahwa mereka tidak menga-takan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengu-capkan perkataan kekafiran." Yakni jika mereka mengucapkan ucapan seperti ucapan sebagian mereka, ﴾ لَيُخۡرِجَنَّ ٱلۡأَعَزُّ مِنۡهَا ٱلۡأَذَلَّۚ ﴿ "Orang yang mulia pasti akan mengeluarkan orang yang hina da-rinya." (Al-Munafiqun: 8). Dan perkataan yang mereka katakan satu demi satu yang menghina Rasulullah dan agamanya, jika dia mengetahui bahwa Nabi ﷺ telah mendengar apa yang diucapkannya, maka dia datang kepada beliau bersumpah bahwa dia tidak mengatakannya, maka Allah membantah ucapan mereka, ﴾ وَلَقَدۡ قَالُواْ كَلِمَةَ ٱلۡكُفۡرِ وَكَفَرُواْ بَعۡدَ إِسۡلَٰمِهِمۡ ﴿ "Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran dan telah menjadi kafir sesudah Islam." Islam mereka yang lalu secara lahir me-mang mengentaskan mereka dari lingkaran kekufuran, akan tetapi ucapan mereka yang akhir membatalkan Islam mereka dan mema-sukkan mereka ke dalam kekufuran. ﴾ وَهَمُّواْ بِمَا لَمۡ يَنَالُواْۚ ﴿ "Dan mereka menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya." Hal itu ketika mereka ingin mencelakai Nabi ﷺ di perang Tabuk, Allah mencerita-kan perihal mereka kepada Nabi ﷺ, maka beliau pun memerintah-kan sebagian sahabat untuk menghalang-halangi maksud mereka. (وَ) "Dan" keadaan mereka sesungguhnya adalah ﴾ م َ ا نَقَمُوٓاْ ﴿ "mereka tidak mencela (Allah dan RasulNya)", dan menjelek-jelekkan Rasulullah ﷺ, ﴾ إِلَّآ أَنۡ أَغۡنَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ مِن فَضۡلِهِۦۚ ﴿ "kecuali karena Allah dan RasulNya telah melimpahkan karuniaNya kepada mereka." Setelah se-belumnya mereka adalah orang-orang miskin papa, ini termasuk perkara yang mengherankan, di mana mereka melecehkan orang yang menjadi penyebab keluarnya mereka dari kegelapan menuju cahaya dan penyebab kekayaan mereka setelah sebelumnya miskin. Padahal yang seharusnya mereka lakukan adalah menghormatinya, memuliakannya, dan beriman kepadanya, sehingga terkumpul fak-tor pendorang kekuatan (beragama) dan keluhuran kemanusiaan. Kemudian Allah menawarkan taubat kepada mereka, Dia berfirman, ﴾ فَإِن يَتُوبُواْ يَكُ خَيۡرٗا لَّهُمۡۖ ﴿ "Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka", karena taubat adalah dasar kebahagiaan dunia dan akhirat. ﴾ وَإِن يَتَوَلَّوۡاْ ﴿ "Dan jika mereka berpaling", dari taubat dan dari kembali kepada Allah ﴾ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ عَذَابًا أَلِيمٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat." Di dunia dengan kesedihan, kecemasan, dan kemarahan atas pertolongan Allah terhadap agamaNya dan dukunganNya kepada NabiNya serta kegagalan mereka meraih apa yang mereka inginkan, dan di akhirat adalah dengan azab yang membakar. ﴾ وَمَا لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung di muka bumi", yang mengurusi perkara-perkara mereka dan mewu-judkan keinginan mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "dan tidak (pula) penolong", yang menolak perkara yang tidak diinginkan. Apabila mereka telah ter-putus dari pertolongan Allah تعالى, maka yang ada adalah kesengsa-raan, kerugian, keburukan, dan kemelaratan.

At-Taubah 9:75

"Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih.' Maka setelah Allah memberi-kan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka me-nemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah menge-tahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?" (At-Taubah: 75-78). (75) Yakni, di antara orang-orang munafik itu ada yang berjanji kepada Allah ﴾ لَئِنۡ ءَاتَىٰنَا مِن فَضۡلِهِۦ ﴿ "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami", dari dunia, lalu Dia melapangkannya dan membentangkannya untuk kami, ﴾ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih." Kami akan bersilaturahim, menjamu tamu, membantu orang yang mendapatkan musibah, dan melakukan amalan-amalan yang baik lagi shalih. (76) ﴾ فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضۡلِهِۦ ﴿ "Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya", mereka ingkari ucapan mereka sendiri, bahkan mereka ﴾ بَخِلُواْ ﴿ "kikir" dan ﴾ وَتَوَلَّواْ ﴿ "berpaling", dari ketaatan dan ketundukan, ﴾ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)", yakni tidak melihat kebenaran. (77) Karena mereka tidak menepati apa yang mereka janji-kan kepada Allah, Allah menghukum mereka dan ﴾ فَأَعۡقَبَهُمۡ نِفَاقٗا فِي قُلُوبِهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ يَلۡقَوۡنَهُۥ بِمَآ أَخۡلَفُواْ ٱللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ﴿ "Allah menimbulkan kemu-nafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta." Maka hendaknya seorang Mukmin mewaspadai sifat buruk ini, yaitu ber-janji kepada Allah jika maksudnya yang begini dan begini tercapai, maka dia akan melakukan ini dan itu, kemudian dia tidak menepati, karena bisa jadi Allah menghukumnya dengan kemunafikan se-perti mereka. Nabi ﷺ telah bersabda di dalam hadits yang tsabit dalam ash-Shahihain[95], آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ. "Tanda orang munafik ada tiga: Jika berbicara berdusta, jika mela-kukan suatu perjanjian ia berkhianat dan jika berjanji tidak menepati." Munafik ini berjanji kepada Allah jika Dia memberikan karu-niaNya kepadanya niscaya dia akan bersedekah dan menjadi orang yang shalih, dia berbicara lalu berdusta, dia melakukan suatu per-janjian lalu mengkhianati, dan dia berjanji lalu tidak menepati. (78) Karena itu Allah mengancam orang yang melakukan hal ini dengan FirmanNya, ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوَىٰهُمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ﴿ "Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?" Allah akan membalas mereka atas apa yang mereka kerja-kan yang diketahui oleh Allah تعالى. Ayat-ayat ini turun mengenai seorang munafik yang bernama Tsa'labah, dia datang kepada Nabi ﷺ memohon kepadanya untuk berdoa kepada Allah agar memberinya karunia, dan bahwa jika Allah memberinya maka dia akan bersedekah, bersilaturahim, dan menolong orang yang dalam musibah, maka Nabi ﷺ mendoakan-nya. Dia memiliki kambing, kambingnya itu terus berkembang biak sehingga dia menggembalakannya sampai ke luar Madinah, akibatnya dia tidak menghadiri kecuali sebagian shalat lima waktu, lalu dia semakin menjauh, akibatnya dia tidak menghadiri kecuali Shalat Jum'at, kambingnya bertambah banyak maka dia semakin jauh menggembalakannya, akibatnya adalah dia tidak menghadiri jamaah dan Jum'at. Nabi ﷺ merasa kehilangan dia, beliau diberi tahu tentang keadaannya, maka Nabi ﷺ mengutus orang untuk mengambil zakat dari orang-orang yang wajib zakat. Ketika mereka mendatangi Tsa'labah, maka Tsa'labah berkata, "Ini tidak lain kecuali jizyah. Ini tidak lain kecuali saudaranya jizyah." Ketika Tsa'labah tidak mau membayar zakat, mereka datang kepada Nabi ﷺ dan menyampaikan hal itu. Nabi bersabda, يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ، يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ، يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ. "Celaka Tsa'labah. Celaka Tsa'labah. Celaka Tsa'labah."[96] Ketika ayat ini turun padanya dan pada orang yang semisal-nya, maka sebagian keluarganya menyampaikannya kepada Tsa'-labah. Dia pun datang membawa zakatnya kepada Nabi ﷺ, tetapi Nabi tidak mau menerimanya. Setelah Nabi wafat, zakatnya dibawa kepada Abu Bakar, Abu Bakar juga tidak mau menerimanya, lalu kepada Umar setelah Abu Bakar, dan Umar pun tidak mau meneri-manya. Dikatakan bahwa Tsa'labah meninggal pada masa Utsman.

At-Taubah 9:76

"Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih.' Maka setelah Allah memberi-kan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka me-nemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah menge-tahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?" (At-Taubah: 75-78). (75) Yakni, di antara orang-orang munafik itu ada yang berjanji kepada Allah ﴾ لَئِنۡ ءَاتَىٰنَا مِن فَضۡلِهِۦ ﴿ "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami", dari dunia, lalu Dia melapangkannya dan membentangkannya untuk kami, ﴾ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih." Kami akan bersilaturahim, menjamu tamu, membantu orang yang mendapatkan musibah, dan melakukan amalan-amalan yang baik lagi shalih. (76) ﴾ فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضۡلِهِۦ ﴿ "Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya", mereka ingkari ucapan mereka sendiri, bahkan mereka ﴾ بَخِلُواْ ﴿ "kikir" dan ﴾ وَتَوَلَّواْ ﴿ "berpaling", dari ketaatan dan ketundukan, ﴾ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)", yakni tidak melihat kebenaran. (77) Karena mereka tidak menepati apa yang mereka janji-kan kepada Allah, Allah menghukum mereka dan ﴾ فَأَعۡقَبَهُمۡ نِفَاقٗا فِي قُلُوبِهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ يَلۡقَوۡنَهُۥ بِمَآ أَخۡلَفُواْ ٱللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ﴿ "Allah menimbulkan kemu-nafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta." Maka hendaknya seorang Mukmin mewaspadai sifat buruk ini, yaitu ber-janji kepada Allah jika maksudnya yang begini dan begini tercapai, maka dia akan melakukan ini dan itu, kemudian dia tidak menepati, karena bisa jadi Allah menghukumnya dengan kemunafikan se-perti mereka. Nabi ﷺ telah bersabda di dalam hadits yang tsabit dalam ash-Shahihain[95], آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ. "Tanda orang munafik ada tiga: Jika berbicara berdusta, jika mela-kukan suatu perjanjian ia berkhianat dan jika berjanji tidak menepati." Munafik ini berjanji kepada Allah jika Dia memberikan karu-niaNya kepadanya niscaya dia akan bersedekah dan menjadi orang yang shalih, dia berbicara lalu berdusta, dia melakukan suatu per-janjian lalu mengkhianati, dan dia berjanji lalu tidak menepati. (78) Karena itu Allah mengancam orang yang melakukan hal ini dengan FirmanNya, ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوَىٰهُمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ﴿ "Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?" Allah akan membalas mereka atas apa yang mereka kerja-kan yang diketahui oleh Allah تعالى. Ayat-ayat ini turun mengenai seorang munafik yang bernama Tsa'labah, dia datang kepada Nabi ﷺ memohon kepadanya untuk berdoa kepada Allah agar memberinya karunia, dan bahwa jika Allah memberinya maka dia akan bersedekah, bersilaturahim, dan menolong orang yang dalam musibah, maka Nabi ﷺ mendoakan-nya. Dia memiliki kambing, kambingnya itu terus berkembang biak sehingga dia menggembalakannya sampai ke luar Madinah, akibatnya dia tidak menghadiri kecuali sebagian shalat lima waktu, lalu dia semakin menjauh, akibatnya dia tidak menghadiri kecuali Shalat Jum'at, kambingnya bertambah banyak maka dia semakin jauh menggembalakannya, akibatnya adalah dia tidak menghadiri jamaah dan Jum'at. Nabi ﷺ merasa kehilangan dia, beliau diberi tahu tentang keadaannya, maka Nabi ﷺ mengutus orang untuk mengambil zakat dari orang-orang yang wajib zakat. Ketika mereka mendatangi Tsa'labah, maka Tsa'labah berkata, "Ini tidak lain kecuali jizyah. Ini tidak lain kecuali saudaranya jizyah." Ketika Tsa'labah tidak mau membayar zakat, mereka datang kepada Nabi ﷺ dan menyampaikan hal itu. Nabi bersabda, يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ، يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ، يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ. "Celaka Tsa'labah. Celaka Tsa'labah. Celaka Tsa'labah."[96] Ketika ayat ini turun padanya dan pada orang yang semisal-nya, maka sebagian keluarganya menyampaikannya kepada Tsa'-labah. Dia pun datang membawa zakatnya kepada Nabi ﷺ, tetapi Nabi tidak mau menerimanya. Setelah Nabi wafat, zakatnya dibawa kepada Abu Bakar, Abu Bakar juga tidak mau menerimanya, lalu kepada Umar setelah Abu Bakar, dan Umar pun tidak mau meneri-manya. Dikatakan bahwa Tsa'labah meninggal pada masa Utsman.

At-Taubah 9:77

"Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih.' Maka setelah Allah memberi-kan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka me-nemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah menge-tahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?" (At-Taubah: 75-78). (75) Yakni, di antara orang-orang munafik itu ada yang berjanji kepada Allah ﴾ لَئِنۡ ءَاتَىٰنَا مِن فَضۡلِهِۦ ﴿ "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami", dari dunia, lalu Dia melapangkannya dan membentangkannya untuk kami, ﴾ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih." Kami akan bersilaturahim, menjamu tamu, membantu orang yang mendapatkan musibah, dan melakukan amalan-amalan yang baik lagi shalih. (76) ﴾ فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضۡلِهِۦ ﴿ "Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya", mereka ingkari ucapan mereka sendiri, bahkan mereka ﴾ بَخِلُواْ ﴿ "kikir" dan ﴾ وَتَوَلَّواْ ﴿ "berpaling", dari ketaatan dan ketundukan, ﴾ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)", yakni tidak melihat kebenaran. (77) Karena mereka tidak menepati apa yang mereka janji-kan kepada Allah, Allah menghukum mereka dan ﴾ فَأَعۡقَبَهُمۡ نِفَاقٗا فِي قُلُوبِهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ يَلۡقَوۡنَهُۥ بِمَآ أَخۡلَفُواْ ٱللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ﴿ "Allah menimbulkan kemu-nafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta." Maka hendaknya seorang Mukmin mewaspadai sifat buruk ini, yaitu ber-janji kepada Allah jika maksudnya yang begini dan begini tercapai, maka dia akan melakukan ini dan itu, kemudian dia tidak menepati, karena bisa jadi Allah menghukumnya dengan kemunafikan se-perti mereka. Nabi ﷺ telah bersabda di dalam hadits yang tsabit dalam ash-Shahihain[95], آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ. "Tanda orang munafik ada tiga: Jika berbicara berdusta, jika mela-kukan suatu perjanjian ia berkhianat dan jika berjanji tidak menepati." Munafik ini berjanji kepada Allah jika Dia memberikan karu-niaNya kepadanya niscaya dia akan bersedekah dan menjadi orang yang shalih, dia berbicara lalu berdusta, dia melakukan suatu per-janjian lalu mengkhianati, dan dia berjanji lalu tidak menepati. (78) Karena itu Allah mengancam orang yang melakukan hal ini dengan FirmanNya, ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوَىٰهُمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ﴿ "Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?" Allah akan membalas mereka atas apa yang mereka kerja-kan yang diketahui oleh Allah تعالى. Ayat-ayat ini turun mengenai seorang munafik yang bernama Tsa'labah, dia datang kepada Nabi ﷺ memohon kepadanya untuk berdoa kepada Allah agar memberinya karunia, dan bahwa jika Allah memberinya maka dia akan bersedekah, bersilaturahim, dan menolong orang yang dalam musibah, maka Nabi ﷺ mendoakan-nya. Dia memiliki kambing, kambingnya itu terus berkembang biak sehingga dia menggembalakannya sampai ke luar Madinah, akibatnya dia tidak menghadiri kecuali sebagian shalat lima waktu, lalu dia semakin menjauh, akibatnya dia tidak menghadiri kecuali Shalat Jum'at, kambingnya bertambah banyak maka dia semakin jauh menggembalakannya, akibatnya adalah dia tidak menghadiri jamaah dan Jum'at. Nabi ﷺ merasa kehilangan dia, beliau diberi tahu tentang keadaannya, maka Nabi ﷺ mengutus orang untuk mengambil zakat dari orang-orang yang wajib zakat. Ketika mereka mendatangi Tsa'labah, maka Tsa'labah berkata, "Ini tidak lain kecuali jizyah. Ini tidak lain kecuali saudaranya jizyah." Ketika Tsa'labah tidak mau membayar zakat, mereka datang kepada Nabi ﷺ dan menyampaikan hal itu. Nabi bersabda, يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ، يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ، يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ. "Celaka Tsa'labah. Celaka Tsa'labah. Celaka Tsa'labah."[96] Ketika ayat ini turun padanya dan pada orang yang semisal-nya, maka sebagian keluarganya menyampaikannya kepada Tsa'-labah. Dia pun datang membawa zakatnya kepada Nabi ﷺ, tetapi Nabi tidak mau menerimanya. Setelah Nabi wafat, zakatnya dibawa kepada Abu Bakar, Abu Bakar juga tidak mau menerimanya, lalu kepada Umar setelah Abu Bakar, dan Umar pun tidak mau meneri-manya. Dikatakan bahwa Tsa'labah meninggal pada masa Utsman.

At-Taubah 9:78

"Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih.' Maka setelah Allah memberi-kan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka me-nemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah menge-tahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?" (At-Taubah: 75-78). (75) Yakni, di antara orang-orang munafik itu ada yang berjanji kepada Allah ﴾ لَئِنۡ ءَاتَىٰنَا مِن فَضۡلِهِۦ ﴿ "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karuniaNya kepada kami", dari dunia, lalu Dia melapangkannya dan membentangkannya untuk kami, ﴾ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih." Kami akan bersilaturahim, menjamu tamu, membantu orang yang mendapatkan musibah, dan melakukan amalan-amalan yang baik lagi shalih. (76) ﴾ فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضۡلِهِۦ ﴿ "Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya", mereka ingkari ucapan mereka sendiri, bahkan mereka ﴾ بَخِلُواْ ﴿ "kikir" dan ﴾ وَتَوَلَّواْ ﴿ "berpaling", dari ketaatan dan ketundukan, ﴾ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)", yakni tidak melihat kebenaran. (77) Karena mereka tidak menepati apa yang mereka janji-kan kepada Allah, Allah menghukum mereka dan ﴾ فَأَعۡقَبَهُمۡ نِفَاقٗا فِي قُلُوبِهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ يَلۡقَوۡنَهُۥ بِمَآ أَخۡلَفُواْ ٱللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ﴿ "Allah menimbulkan kemu-nafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta." Maka hendaknya seorang Mukmin mewaspadai sifat buruk ini, yaitu ber-janji kepada Allah jika maksudnya yang begini dan begini tercapai, maka dia akan melakukan ini dan itu, kemudian dia tidak menepati, karena bisa jadi Allah menghukumnya dengan kemunafikan se-perti mereka. Nabi ﷺ telah bersabda di dalam hadits yang tsabit dalam ash-Shahihain[95], آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ. "Tanda orang munafik ada tiga: Jika berbicara berdusta, jika mela-kukan suatu perjanjian ia berkhianat dan jika berjanji tidak menepati." Munafik ini berjanji kepada Allah jika Dia memberikan karu-niaNya kepadanya niscaya dia akan bersedekah dan menjadi orang yang shalih, dia berbicara lalu berdusta, dia melakukan suatu per-janjian lalu mengkhianati, dan dia berjanji lalu tidak menepati. (78) Karena itu Allah mengancam orang yang melakukan hal ini dengan FirmanNya, ﴾ أَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوَىٰهُمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ﴿ "Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?" Allah akan membalas mereka atas apa yang mereka kerja-kan yang diketahui oleh Allah تعالى. Ayat-ayat ini turun mengenai seorang munafik yang bernama Tsa'labah, dia datang kepada Nabi ﷺ memohon kepadanya untuk berdoa kepada Allah agar memberinya karunia, dan bahwa jika Allah memberinya maka dia akan bersedekah, bersilaturahim, dan menolong orang yang dalam musibah, maka Nabi ﷺ mendoakan-nya. Dia memiliki kambing, kambingnya itu terus berkembang biak sehingga dia menggembalakannya sampai ke luar Madinah, akibatnya dia tidak menghadiri kecuali sebagian shalat lima waktu, lalu dia semakin menjauh, akibatnya dia tidak menghadiri kecuali Shalat Jum'at, kambingnya bertambah banyak maka dia semakin jauh menggembalakannya, akibatnya adalah dia tidak menghadiri jamaah dan Jum'at. Nabi ﷺ merasa kehilangan dia, beliau diberi tahu tentang keadaannya, maka Nabi ﷺ mengutus orang untuk mengambil zakat dari orang-orang yang wajib zakat. Ketika mereka mendatangi Tsa'labah, maka Tsa'labah berkata, "Ini tidak lain kecuali jizyah. Ini tidak lain kecuali saudaranya jizyah." Ketika Tsa'labah tidak mau membayar zakat, mereka datang kepada Nabi ﷺ dan menyampaikan hal itu. Nabi bersabda, يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ، يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ، يَا وَيْحَ ثَعْلَبَةَ. "Celaka Tsa'labah. Celaka Tsa'labah. Celaka Tsa'labah."[96] Ketika ayat ini turun padanya dan pada orang yang semisal-nya, maka sebagian keluarganya menyampaikannya kepada Tsa'-labah. Dia pun datang membawa zakatnya kepada Nabi ﷺ, tetapi Nabi tidak mau menerimanya. Setelah Nabi wafat, zakatnya dibawa kepada Abu Bakar, Abu Bakar juga tidak mau menerimanya, lalu kepada Umar setelah Abu Bakar, dan Umar pun tidak mau meneri-manya. Dikatakan bahwa Tsa'labah meninggal pada masa Utsman.

At-Taubah 9:79

"(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekah-kan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih. Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (ada-lah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi am-pun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (At-Taubah: 79-80). (79) Ini juga termasuk keburukan orang-orang munafik, me-reka –semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka– tidak membiarkan perkara apa pun dalam Islam dan kaum Muslimin yang mungkin mereka bicarakan, kecuali mereka membicarakan-nya dan mencelanya dengan landasan kezhaliman dan kedengkian. Ketika Allah dan RasulNya mengajak bersedekah, kaum Muslimin bersegera melakukannya. Mereka memberikan hartanya masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Ada yang memberi banyak, ada pula yang sedikit. Maka orang-orang munafik itu mencela orang Mukmin yang bersedekah banyak dengan mengatakan bahwa mak-sudnya adalah riya dan sum'ah. Sementara kepada yang bersede-kah sedikit mereka mengatakan bahwa Allah tidak memerlukan sedekah ini, maka Allah menurunkan FirmanNya,﴾ ٱلَّذِينَ يَلۡمِزُونَ ٱلۡمُطَّوِّعِينَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ فِي ٱلصَّدَقَٰتِ ﴿ "(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela." Orang-orang munafik berkata, mereka adalah orang-orang yang pamer, maksud mereka bersedekah adalah riya dan kesom-bongan. (وَ) "Dan" mencela, ﴾ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهۡدَهُمۡ ﴿ orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya", sehingga mereka bersedekah dengan apa yang mampu mereka berikan, maka orang-orang munafik itu berkata, "Allah tidak mem-butuhkan sedekahnya." ﴾ فَيَسۡخَرُونَ مِنۡهُمۡ ﴿ "Maka orang-orang munafik itu menghina mereka." Maka Allah membalas mereka dengan hal yang sama, yaitu dengan menghina mereka. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "Dan untuk me-reka azab yang pedih." Karena sesungguhnya mereka mengumpulkan dalam ucapan mereka banyak larangan: Di antaranya adalah, memata-matai kehidupan kaum Mus-limin untuk memperoleh peluang memperolok-olok mereka. Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih." (An-Nur: 19). Di antaranya, celaan mereka terhadap orang-orang yang ber-iman hanya karena mereka beriman, hal itu dilandasi oleh keku-furan kepada Allah dan kebencian kepada Islam. Di antaranya, bahwa mencela adalah haram, bahkan dalam perkara dunia ia termasuk dosa besar, adapun dalam perkara ke-taatan, maka ia lebih buruk lagi. Di antaranya, bahwa barangsiapa yang menaati Allah dan melakukan salah satu kebaikan dengan sukarela, semestinya dia dibantu dan disemangati, sementara orang-orang munafik itu ber-maksud menggembosi mereka dengan celaan tersebut. Di antaranya juga, bahwa pernyataan mereka bahwa orang yang berinfak banyak adalah orang-orang yang riya adalah kesa-lahan fatal, vonis yang berdasar kepada ketidaktahuan dan hanya dugaan semata. Adakah keburukan yang lebih besar dari ini? Di antaranya juga, ucapan mereka kepada orang yang bersede-kah sedikit, bahwa Allah tidak memerlukan sedekah ini. Ini adalah ucapan yang tujuannya adalah kebatilan, karena pada hakikatnya Allah memang tidak memerlukan sedekah seseorang, yang sedikit maupun yang banyak, bahkan Dia tidak memerlukan penduduk langit dan bumi, akan tetapi Allah تعالى memerintahkan hamba-ham-baNya kepada apa yang mereka sendiri butuhkan, meskipun Allah tidak memerlukan, akan tetapi merekalah yang memerlukan, ﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ 7 ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, nis-caya dia akan melihat (balasan)nya." (Az-Zalzalah: 7). Ucapan ini jelas sekali mengandung penggembosan dari ber-buat baik. Oleh karena itu balasan mereka adalah Allah menghina-kan mereka dan ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "untuk mereka azab yang pedih." (80) ﴾ ٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ أَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ إِن تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِينَ مَرَّةٗ ﴿ "Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (ada-lah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali", ini menunjukkan pernyataan berlebihan, jika tidak demi-kian, maka sebenarnya ia tidak memiliki arti, ﴾ فَلَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka." Sebagaimana Allah berfirman di ayat yang lain, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ أَسۡتَغۡفَرۡتَ لَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ لَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka." (Al-Munafiqun: 6). Kemudian Allah menyebutkan sebab yang menghalangi me-reka diampuni. Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَفَرُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۗ ﴿ "Yang demi-kian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya." Istighfar dan amal tidak berguna bagi orang kafir selama dia kafir. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." Orang-orang yang kefasikan telah menjadi sifat mereka, di mana mereka tidak memilih apa pun selainnya dan tidak mau mencari gantinya, kebenaran yang jelas telah datang kepada mereka namun mereka tolak, maka Allah تعالى menghukum mereka dengan tidak memberi taufik kepada mereka sesudah itu.

At-Taubah 9:80

"(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekah-kan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih. Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (ada-lah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi am-pun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (At-Taubah: 79-80). (79) Ini juga termasuk keburukan orang-orang munafik, me-reka –semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka– tidak membiarkan perkara apa pun dalam Islam dan kaum Muslimin yang mungkin mereka bicarakan, kecuali mereka membicarakan-nya dan mencelanya dengan landasan kezhaliman dan kedengkian. Ketika Allah dan RasulNya mengajak bersedekah, kaum Muslimin bersegera melakukannya. Mereka memberikan hartanya masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Ada yang memberi banyak, ada pula yang sedikit. Maka orang-orang munafik itu mencela orang Mukmin yang bersedekah banyak dengan mengatakan bahwa mak-sudnya adalah riya dan sum'ah. Sementara kepada yang bersede-kah sedikit mereka mengatakan bahwa Allah tidak memerlukan sedekah ini, maka Allah menurunkan FirmanNya,﴾ ٱلَّذِينَ يَلۡمِزُونَ ٱلۡمُطَّوِّعِينَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ فِي ٱلصَّدَقَٰتِ ﴿ "(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela." Orang-orang munafik berkata, mereka adalah orang-orang yang pamer, maksud mereka bersedekah adalah riya dan kesom-bongan. (وَ) "Dan" mencela, ﴾ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهۡدَهُمۡ ﴿ orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya", sehingga mereka bersedekah dengan apa yang mampu mereka berikan, maka orang-orang munafik itu berkata, "Allah tidak mem-butuhkan sedekahnya." ﴾ فَيَسۡخَرُونَ مِنۡهُمۡ ﴿ "Maka orang-orang munafik itu menghina mereka." Maka Allah membalas mereka dengan hal yang sama, yaitu dengan menghina mereka. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "Dan untuk me-reka azab yang pedih." Karena sesungguhnya mereka mengumpulkan dalam ucapan mereka banyak larangan: Di antaranya adalah, memata-matai kehidupan kaum Mus-limin untuk memperoleh peluang memperolok-olok mereka. Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih." (An-Nur: 19). Di antaranya, celaan mereka terhadap orang-orang yang ber-iman hanya karena mereka beriman, hal itu dilandasi oleh keku-furan kepada Allah dan kebencian kepada Islam. Di antaranya, bahwa mencela adalah haram, bahkan dalam perkara dunia ia termasuk dosa besar, adapun dalam perkara ke-taatan, maka ia lebih buruk lagi. Di antaranya, bahwa barangsiapa yang menaati Allah dan melakukan salah satu kebaikan dengan sukarela, semestinya dia dibantu dan disemangati, sementara orang-orang munafik itu ber-maksud menggembosi mereka dengan celaan tersebut. Di antaranya juga, bahwa pernyataan mereka bahwa orang yang berinfak banyak adalah orang-orang yang riya adalah kesa-lahan fatal, vonis yang berdasar kepada ketidaktahuan dan hanya dugaan semata. Adakah keburukan yang lebih besar dari ini? Di antaranya juga, ucapan mereka kepada orang yang bersede-kah sedikit, bahwa Allah tidak memerlukan sedekah ini. Ini adalah ucapan yang tujuannya adalah kebatilan, karena pada hakikatnya Allah memang tidak memerlukan sedekah seseorang, yang sedikit maupun yang banyak, bahkan Dia tidak memerlukan penduduk langit dan bumi, akan tetapi Allah تعالى memerintahkan hamba-ham-baNya kepada apa yang mereka sendiri butuhkan, meskipun Allah tidak memerlukan, akan tetapi merekalah yang memerlukan, ﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ 7 ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, nis-caya dia akan melihat (balasan)nya." (Az-Zalzalah: 7). Ucapan ini jelas sekali mengandung penggembosan dari ber-buat baik. Oleh karena itu balasan mereka adalah Allah menghina-kan mereka dan ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "untuk mereka azab yang pedih." (80) ﴾ ٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ أَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ إِن تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِينَ مَرَّةٗ ﴿ "Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (ada-lah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali", ini menunjukkan pernyataan berlebihan, jika tidak demi-kian, maka sebenarnya ia tidak memiliki arti, ﴾ فَلَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka." Sebagaimana Allah berfirman di ayat yang lain, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ أَسۡتَغۡفَرۡتَ لَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ لَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka." (Al-Munafiqun: 6). Kemudian Allah menyebutkan sebab yang menghalangi me-reka diampuni. Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَفَرُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۗ ﴿ "Yang demi-kian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya." Istighfar dan amal tidak berguna bagi orang kafir selama dia kafir. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." Orang-orang yang kefasikan telah menjadi sifat mereka, di mana mereka tidak memilih apa pun selainnya dan tidak mau mencari gantinya, kebenaran yang jelas telah datang kepada mereka namun mereka tolak, maka Allah تعالى menghukum mereka dengan tidak memberi taufik kepada mereka sesudah itu.

At-Taubah 9:81

"Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata, 'Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.' Katakanlah, 'Api Neraka Jaha-nam itu lebih sangat panas(nya),' jikalau mereka mengetahui. Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. Maka jika Allah mengembalikanmu kepada satu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, 'Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lama-nya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang'." (At-Taubah: 81-83). (81) Allah تعالى berfirman menjelaskan kekurangajaran orang-orang munafik dengan tidak berangkat berjihad dan tidak adanya perhatian mereka dalam hal itu, yang menunjukkan tidak adanya iman pada mereka dan bahwa mereka memilih kekufuran di atas keimanan. ﴾ فَرِحَ ٱلۡمُخَلَّفُونَ بِمَقۡعَدِهِمۡ خِلَٰفَ رَسُولِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang yang di-tinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah." Ini tidak sekedar tidak mau berang-kat perang, akan tetapi ia lebih dari itu, tidak berangkat berperang ini adalah haram hukumnya, dan lebih dari itu ia menunjukkan kerelaan dengan perbuatan dosa dan membanggakannya.﴾ وَكَرِهُوٓاْ أَن يُجَٰهِدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah." Lain halnya dengan orang-orang yang beriman, yang jika tidak bisa ikut berperang –meski dengan alasan yang benar– mereka pasti bersedih dan menyesali dengan kesedihan dan penyesalan yang dalam, orang-orang Mukmin me-nyukai berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, karena hati mereka yang diselimuti oleh keimanan dan mereka berharap karunia Allah, kebaikan, nikmat, dan rizkiNya. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", yakni orang-orang munafik,﴾ لَا تَنفِرُواْ فِي ٱلۡحَرِّۗ ﴿ "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Yakni mereka berkata bahwa berangkat berjihad adalah kesulitan atas kami karena terik matahari, mereka mendahulukan istirahat yang pendek yang pasti habis daripada istirahat yang abadi lagi sempurna, mereka lebih takut panas yang bisa dilindungi oleh naungan dan lenyap oleh pagi dan petang hari daripada panas yang panasnya tidak terukur yaitu neraka yang menyala-nyala. Oleh ka-rena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ قُلۡ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّٗاۚ لَّوۡ كَانُواْ يَفۡقَهُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Api Neraka Jahanam itu lebih sangat panas(nya),' jikalau mereka menge-tahui." (82) Manakala mereka lebih mendahulukan yang fana dari-pada yang kekal, manakala mereka lari dari kesulitan yang ringan yang berujung kepada kesulitan yang berat yang tak berujung, maka Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلۡيَضۡحَكُواْ قَلِيلٗا وَلۡيَبۡكُواْ كَثِيرٗا ﴿ "Maka hendaklah mereka se-dikit tertawa dan banyak menangis." Yakni silahkan mereka bersuka cita di dunia yang pasti fana ini, berbahagia dengan kenikmatannya, dan bermain dengan permainannya, karena mereka akan menangis panjang di azab yang pedih ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan", berupa kekufuran, kemunafikan, dan ketidaktundukan kepada perintah Allah, Rabb mereka. (83) ﴾ فَإِن رَّجَعَكَ ٱللَّهُ إِلَىٰ طَآئِفَةٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Maka jika Allah mengembalikan-mu kepada satu golongan dari mereka", yaitu orang-orang yang tidak berjihad tanpa alasan dan tidak menyesalinya, ﴾ فَٱسۡتَـٔۡذَنُوكَ لِلۡخُرُوجِ ﴿ "ke-mudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang)", untuk perang yang lain yang mungkin lebih mudah, ﴾ فَقُل ﴿ "maka katakanlah", kepada mereka sebagai hukuman,﴾ لَّن تَخۡرُجُواْ مَعِيَ أَبَدٗا وَلَن تُقَٰتِلُواْ مَعِيَ عَدُوًّاۖ ﴿ "kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku," karena Allah akan mencukup-kanku darimu. ﴾ إِنَّكُمۡ رَضِيتُم بِٱلۡقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٖ فَٱقۡعُدُواْ مَعَ ٱلۡخَٰلِفِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang." Ini seperti yang difirmankan Allah تعالى, ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan me-reka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permulaannya." (Al-An'am: 110). Orang yang bermalas-malasan yang tidak melakukan apa yang diperintahkan, pada saat kesempatan itu terbuka, dia tidak akan diberi taufik kepadanya dan pada kesempatan berikutnya dia akan dihalangi darinya, ini sekaligus sebagai hukuman ta'zir bagi mere-ka, karena jika terbukti di kalangan kaum Muslimin bahwa mereka itu termasuk orang-orang yang dicekal untuk berangkat berjihad karena kedurhakaan mereka, maka hal itu merupakan tamparan, aib dan celaan bagi mereka, dan agar tidak ada seorang pun yang melakukan seperti yang mereka lakukan.

At-Taubah 9:82

"Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata, 'Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.' Katakanlah, 'Api Neraka Jaha-nam itu lebih sangat panas(nya),' jikalau mereka mengetahui. Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. Maka jika Allah mengembalikanmu kepada satu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, 'Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lama-nya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang'." (At-Taubah: 81-83). (81) Allah تعالى berfirman menjelaskan kekurangajaran orang-orang munafik dengan tidak berangkat berjihad dan tidak adanya perhatian mereka dalam hal itu, yang menunjukkan tidak adanya iman pada mereka dan bahwa mereka memilih kekufuran di atas keimanan. ﴾ فَرِحَ ٱلۡمُخَلَّفُونَ بِمَقۡعَدِهِمۡ خِلَٰفَ رَسُولِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang yang di-tinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah." Ini tidak sekedar tidak mau berang-kat perang, akan tetapi ia lebih dari itu, tidak berangkat berperang ini adalah haram hukumnya, dan lebih dari itu ia menunjukkan kerelaan dengan perbuatan dosa dan membanggakannya.﴾ وَكَرِهُوٓاْ أَن يُجَٰهِدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah." Lain halnya dengan orang-orang yang beriman, yang jika tidak bisa ikut berperang –meski dengan alasan yang benar– mereka pasti bersedih dan menyesali dengan kesedihan dan penyesalan yang dalam, orang-orang Mukmin me-nyukai berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, karena hati mereka yang diselimuti oleh keimanan dan mereka berharap karunia Allah, kebaikan, nikmat, dan rizkiNya. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", yakni orang-orang munafik,﴾ لَا تَنفِرُواْ فِي ٱلۡحَرِّۗ ﴿ "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Yakni mereka berkata bahwa berangkat berjihad adalah kesulitan atas kami karena terik matahari, mereka mendahulukan istirahat yang pendek yang pasti habis daripada istirahat yang abadi lagi sempurna, mereka lebih takut panas yang bisa dilindungi oleh naungan dan lenyap oleh pagi dan petang hari daripada panas yang panasnya tidak terukur yaitu neraka yang menyala-nyala. Oleh ka-rena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ قُلۡ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّٗاۚ لَّوۡ كَانُواْ يَفۡقَهُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Api Neraka Jahanam itu lebih sangat panas(nya),' jikalau mereka menge-tahui." (82) Manakala mereka lebih mendahulukan yang fana dari-pada yang kekal, manakala mereka lari dari kesulitan yang ringan yang berujung kepada kesulitan yang berat yang tak berujung, maka Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلۡيَضۡحَكُواْ قَلِيلٗا وَلۡيَبۡكُواْ كَثِيرٗا ﴿ "Maka hendaklah mereka se-dikit tertawa dan banyak menangis." Yakni silahkan mereka bersuka cita di dunia yang pasti fana ini, berbahagia dengan kenikmatannya, dan bermain dengan permainannya, karena mereka akan menangis panjang di azab yang pedih ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan", berupa kekufuran, kemunafikan, dan ketidaktundukan kepada perintah Allah, Rabb mereka. (83) ﴾ فَإِن رَّجَعَكَ ٱللَّهُ إِلَىٰ طَآئِفَةٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Maka jika Allah mengembalikan-mu kepada satu golongan dari mereka", yaitu orang-orang yang tidak berjihad tanpa alasan dan tidak menyesalinya, ﴾ فَٱسۡتَـٔۡذَنُوكَ لِلۡخُرُوجِ ﴿ "ke-mudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang)", untuk perang yang lain yang mungkin lebih mudah, ﴾ فَقُل ﴿ "maka katakanlah", kepada mereka sebagai hukuman,﴾ لَّن تَخۡرُجُواْ مَعِيَ أَبَدٗا وَلَن تُقَٰتِلُواْ مَعِيَ عَدُوًّاۖ ﴿ "kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku," karena Allah akan mencukup-kanku darimu. ﴾ إِنَّكُمۡ رَضِيتُم بِٱلۡقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٖ فَٱقۡعُدُواْ مَعَ ٱلۡخَٰلِفِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang." Ini seperti yang difirmankan Allah تعالى, ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan me-reka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permulaannya." (Al-An'am: 110). Orang yang bermalas-malasan yang tidak melakukan apa yang diperintahkan, pada saat kesempatan itu terbuka, dia tidak akan diberi taufik kepadanya dan pada kesempatan berikutnya dia akan dihalangi darinya, ini sekaligus sebagai hukuman ta'zir bagi mere-ka, karena jika terbukti di kalangan kaum Muslimin bahwa mereka itu termasuk orang-orang yang dicekal untuk berangkat berjihad karena kedurhakaan mereka, maka hal itu merupakan tamparan, aib dan celaan bagi mereka, dan agar tidak ada seorang pun yang melakukan seperti yang mereka lakukan.