Tafsir As-Saadi - Indonesian — At-Taubah 9:83 – Yunus 10:82
Daftar isi
- At-Taubah 9:83
- At-Taubah 9:84
- At-Taubah 9:85
- At-Taubah 9:86
- At-Taubah 9:87
- At-Taubah 9:88
- At-Taubah 9:89
- At-Taubah 9:90
- At-Taubah 9:91
- At-Taubah 9:92
- At-Taubah 9:93
- At-Taubah 9:94
- At-Taubah 9:95
- At-Taubah 9:96
- At-Taubah 9:97
- At-Taubah 9:98
- At-Taubah 9:99
- At-Taubah 9:100
- At-Taubah 9:101
- At-Taubah 9:102
- At-Taubah 9:103
- At-Taubah 9:104
- At-Taubah 9:105
- At-Taubah 9:106
- At-Taubah 9:107
- At-Taubah 9:108
- At-Taubah 9:109
- At-Taubah 9:110
- At-Taubah 9:111
- At-Taubah 9:112
- At-Taubah 9:113
- At-Taubah 9:114
- At-Taubah 9:115
- At-Taubah 9:116
- At-Taubah 9:117
- At-Taubah 9:118
- At-Taubah 9:119
- At-Taubah 9:120
- At-Taubah 9:121
- At-Taubah 9:122
- At-Taubah 9:123
- At-Taubah 9:124
- At-Taubah 9:125
- At-Taubah 9:126
- At-Taubah 9:127
- At-Taubah 9:128
- At-Taubah 9:129
- Yunus 10:1
- Yunus 10:2
- Yunus 10:3
- Yunus 10:4
- Yunus 10:5
- Yunus 10:6
- Yunus 10:7
- Yunus 10:8
- Yunus 10:9
- Yunus 10:10
- Yunus 10:11
- Yunus 10:12
- Yunus 10:13
- Yunus 10:14
- Yunus 10:15
- Yunus 10:16
- Yunus 10:17
- Yunus 10:18
- Yunus 10:19
- Yunus 10:20
- Yunus 10:21
- Yunus 10:22
- Yunus 10:23
- Yunus 10:24
- Yunus 10:25
- Yunus 10:26
- Yunus 10:27
- Yunus 10:28
- Yunus 10:29
- Yunus 10:30
- Yunus 10:31
- Yunus 10:32
- Yunus 10:33
- Yunus 10:34
- Yunus 10:35
- Yunus 10:36
- Yunus 10:37
- Yunus 10:38
- Yunus 10:39
- Yunus 10:40
- Yunus 10:41
- Yunus 10:42
- Yunus 10:43
- Yunus 10:44
- Yunus 10:45
- Yunus 10:46
- Yunus 10:47
- Yunus 10:48
- Yunus 10:49
- Yunus 10:50
- Yunus 10:51
- Yunus 10:52
- Yunus 10:53
- Yunus 10:54
- Yunus 10:55
- Yunus 10:56
- Yunus 10:57
- Yunus 10:58
- Yunus 10:59
- Yunus 10:60
- Yunus 10:61
- Yunus 10:62
- Yunus 10:63
- Yunus 10:64
- Yunus 10:65
- Yunus 10:66
- Yunus 10:67
- Yunus 10:68
- Yunus 10:69
- Yunus 10:70
- Yunus 10:71
- Yunus 10:72
- Yunus 10:73
- Yunus 10:74
- Yunus 10:75
- Yunus 10:76
- Yunus 10:77
- Yunus 10:78
- Yunus 10:79
- Yunus 10:80
- Yunus 10:81
- Yunus 10:82
At-Taubah 9:83
"Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata, 'Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.' Katakanlah, 'Api Neraka Jaha-nam itu lebih sangat panas(nya),' jikalau mereka mengetahui. Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. Maka jika Allah mengembalikanmu kepada satu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, 'Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lama-nya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang'." (At-Taubah: 81-83).
(81) Allah تعالى berfirman menjelaskan kekurangajaran orang-orang munafik dengan tidak berangkat berjihad dan tidak adanya perhatian mereka dalam hal itu, yang menunjukkan tidak adanya iman pada mereka dan bahwa mereka memilih kekufuran di atas keimanan. ﴾ فَرِحَ ٱلۡمُخَلَّفُونَ بِمَقۡعَدِهِمۡ خِلَٰفَ رَسُولِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang yang di-tinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah." Ini tidak sekedar tidak mau berang-kat perang, akan tetapi ia lebih dari itu, tidak berangkat berperang ini adalah haram hukumnya, dan lebih dari itu ia menunjukkan kerelaan dengan perbuatan dosa dan membanggakannya.﴾ وَكَرِهُوٓاْ أَن يُجَٰهِدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah." Lain halnya dengan orang-orang yang beriman, yang jika tidak bisa ikut berperang –meski dengan alasan yang benar– mereka pasti bersedih dan menyesali dengan kesedihan dan penyesalan yang dalam, orang-orang Mukmin me-nyukai berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, karena hati mereka yang diselimuti oleh keimanan dan mereka berharap karunia Allah, kebaikan, nikmat, dan rizkiNya. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata", yakni orang-orang munafik,﴾ لَا تَنفِرُواْ فِي ٱلۡحَرِّۗ ﴿ "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Yakni mereka berkata bahwa berangkat berjihad adalah kesulitan atas kami karena terik matahari, mereka mendahulukan istirahat yang pendek yang pasti habis daripada istirahat yang abadi lagi sempurna, mereka lebih takut panas yang bisa dilindungi oleh naungan dan lenyap oleh pagi dan petang hari daripada panas yang panasnya tidak terukur yaitu neraka yang menyala-nyala. Oleh ka-rena itu Allah تعالى berfirman, ﴾ قُلۡ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّٗاۚ لَّوۡ كَانُواْ يَفۡقَهُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Api Neraka Jahanam itu lebih sangat panas(nya),' jikalau mereka menge-tahui."
(82) Manakala mereka lebih mendahulukan yang fana dari-pada yang kekal, manakala mereka lari dari kesulitan yang ringan yang berujung kepada kesulitan yang berat yang tak berujung, maka Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلۡيَضۡحَكُواْ قَلِيلٗا وَلۡيَبۡكُواْ كَثِيرٗا ﴿ "Maka hendaklah mereka se-dikit tertawa dan banyak menangis." Yakni silahkan mereka bersuka cita di dunia yang pasti fana ini, berbahagia dengan kenikmatannya, dan bermain dengan permainannya, karena mereka akan menangis panjang di azab yang pedih ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan", berupa kekufuran, kemunafikan, dan ketidaktundukan kepada perintah Allah, Rabb mereka.
(83) ﴾ فَإِن رَّجَعَكَ ٱللَّهُ إِلَىٰ طَآئِفَةٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Maka jika Allah mengembalikan-mu kepada satu golongan dari mereka", yaitu orang-orang yang tidak berjihad tanpa alasan dan tidak menyesalinya, ﴾ فَٱسۡتَـٔۡذَنُوكَ لِلۡخُرُوجِ ﴿ "ke-mudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang)", untuk perang yang lain yang mungkin lebih mudah, ﴾ فَقُل ﴿ "maka katakanlah", kepada mereka sebagai hukuman,﴾ لَّن تَخۡرُجُواْ مَعِيَ أَبَدٗا وَلَن تُقَٰتِلُواْ مَعِيَ عَدُوًّاۖ ﴿ "kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku," karena Allah akan mencukup-kanku darimu. ﴾ إِنَّكُمۡ رَضِيتُم بِٱلۡقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٖ فَٱقۡعُدُواْ مَعَ ٱلۡخَٰلِفِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang." Ini seperti yang difirmankan Allah تعالى, ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan me-reka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permulaannya." (Al-An'am: 110). Orang yang bermalas-malasan yang tidak melakukan apa yang diperintahkan, pada saat kesempatan itu terbuka, dia tidak akan diberi taufik kepadanya dan pada kesempatan berikutnya dia akan dihalangi darinya, ini sekaligus sebagai hukuman ta'zir bagi mere-ka, karena jika terbukti di kalangan kaum Muslimin bahwa mereka itu termasuk orang-orang yang dicekal untuk berangkat berjihad karena kedurhakaan mereka, maka hal itu merupakan tamparan, aib dan celaan bagi mereka, dan agar tidak ada seorang pun yang melakukan seperti yang mereka lakukan.
At-Taubah 9:84
"Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka mati dalam keadaan fasik." (At-Taubah: 84).
(84) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰٓ أَحَدٖ مِّنۡهُم مَّاتَ ﴿ "Dan jangan-lah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka", orang-orang munafik. ﴾ وَلَا تَقُمۡ عَلَىٰ قَبۡرِهِۦٓۖ ﴿ "Dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya," setelah dikubur untuk mendoakan-nya, karena doa dan berdiri di atas kubur mereka adalah syafa'at darinya kepada mereka, sementara tak berguna lagi syafa'at bagi mereka. ﴾ إِنَّهُمۡ كَفَرُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَمَاتُواْ وَهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka mati dalam keadaan fasik." Barangsiapa yang kafir dan mati di atas kekufuran, maka syafa'at pemberi syafa'at tidak berguna baginya. Di dalam hal tersebut ter-dapat pelajaran bagi selain mereka, dan hardikan serta peringatan bagi mereka. Begitulah, siapa pun yang diketahui bahwa dia adalah kafir dan munafik, maka dia tidak dishalatkan (ketika mati). Di dalam ayat ini terdapat dalil disyariatkannya shalat jenazah atas orang-orang yang beriman dan berdiri di atas kubur mereka untuk mendoakan mereka, sebagaimana Nabi ﷺ melakukan hal itu kepada orang-orang yang beriman, karena pembatasan larangan pada orang-orang munafik menunjukkan bahwa hal itu dibolehkan untuk orang-orang yang beriman.[97]
At-Taubah 9:85
"Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nya-wa mereka dalam keadaan kafir." (At-Taubah: 85).
(85) Yakni, janganlah kamu silau dengan harta dan anak-anak yang Allah berikan kepada mereka di dunia, karena hal itu bukan karena mereka mulia di sisiNya, akan tetapi hal itu justru penghinaan dariNya untuk mereka. ﴾ يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Sesung-guhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu." Mereka lelah dalam mendapatkannya, takut ke-hilangan, dan tidak tenang karenanya. Bahkan mereka senantiasa mendapatkan kesulitan dan kesengsaraan karenanya, ia melalaikan mereka dari Allah dan alam akhirat sampai mereka berpindah dari dunia. ﴾ وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir." Kecintaan terhadap segala sesuatu telah membinasa-kan mereka, dan mereka pun mati sementara hati mereka terkait padanya dengan penuh nafsu.
At-Taubah 9:86
"Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu), 'Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta RasulNya,' niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata, 'Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk.' Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad)." (At-Tau-bah: 86-87).
(86) Allah تعالى berfirman menjelaskan sikap orang-orang munafik yang terus menerus merasa berat dalam melaksanakan ketaatan, dan bahwa surat-surat dan ayat-ayat tidak berpengaruh pada mereka, ﴾ وَإِذَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٌ ﴿ "dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu)", yang padanya me-reka diminta untuk beriman kepada Allah dan berjihad di jalanNya, ﴾ ٱسۡتَـٔۡذَنَكَ أُوْلُواْ ٱلطَّوۡلِ مِنۡهُمۡ ﴿ "niscaya orang-orang yang sanggup di antara me-reka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad)." Yakni orang-orang yang berharta yang tidak berudzur, padahal Allah telah memberi mereka harta dan anak-anak, mengapa mereka tidak bersyukur kepada Allah, memujiNya, dan melakukan apa yang diwajibkan-Nya dan yang telah dimudahkan atas mereka? Akan tetapi mereka enggan kecuali bermalas-malasan dan meminta izin untuk tidak berangkat. ﴾ وَقَالُواْ ذَرۡنَا نَكُن مَّعَ ٱلۡقَٰعِدِينَ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk'."
(87) Allah تعالى berfirman, ﴾ رَضُواْ بِأَن يَكُونُواْ مَعَ ٱلۡخَوَالِفِ ﴿ "Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang." Yakni, bagai-mana mereka rela diri mereka tetap bersama para wanita yang tidak berangkat berjihad? Apakah mereka itu memiliki akal dan penger-tian yang menunjukkan mereka untuk ikut berperang ataukah ﴾ ط ُ ب ِ ع َ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "hati mereka telah dikunci mati", hingga hati itu tidak mema-hami kebaikan, tidak terdapat keinginan untuk melakukan kebaikan dan meraih keberuntungan, sehingga mereka tidak mengerti kemas-lahatan mereka. Jika mereka benar-benar mengerti, niscaya mereka tidak rela terhadap keadaan ini yang menurunkan harkat mereka sebagai laki-laki.
At-Taubah 9:87
"Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu), 'Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta RasulNya,' niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata, 'Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk.' Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad)." (At-Tau-bah: 86-87).
(86) Allah تعالى berfirman menjelaskan sikap orang-orang munafik yang terus menerus merasa berat dalam melaksanakan ketaatan, dan bahwa surat-surat dan ayat-ayat tidak berpengaruh pada mereka, ﴾ وَإِذَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٌ ﴿ "dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu)", yang padanya me-reka diminta untuk beriman kepada Allah dan berjihad di jalanNya, ﴾ ٱسۡتَـٔۡذَنَكَ أُوْلُواْ ٱلطَّوۡلِ مِنۡهُمۡ ﴿ "niscaya orang-orang yang sanggup di antara me-reka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad)." Yakni orang-orang yang berharta yang tidak berudzur, padahal Allah telah memberi mereka harta dan anak-anak, mengapa mereka tidak bersyukur kepada Allah, memujiNya, dan melakukan apa yang diwajibkan-Nya dan yang telah dimudahkan atas mereka? Akan tetapi mereka enggan kecuali bermalas-malasan dan meminta izin untuk tidak berangkat. ﴾ وَقَالُواْ ذَرۡنَا نَكُن مَّعَ ٱلۡقَٰعِدِينَ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk'."
(87) Allah تعالى berfirman, ﴾ رَضُواْ بِأَن يَكُونُواْ مَعَ ٱلۡخَوَالِفِ ﴿ "Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang." Yakni, bagai-mana mereka rela diri mereka tetap bersama para wanita yang tidak berangkat berjihad? Apakah mereka itu memiliki akal dan penger-tian yang menunjukkan mereka untuk ikut berperang ataukah ﴾ ط ُ ب ِ ع َ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "hati mereka telah dikunci mati", hingga hati itu tidak mema-hami kebaikan, tidak terdapat keinginan untuk melakukan kebaikan dan meraih keberuntungan, sehingga mereka tidak mengerti kemas-lahatan mereka. Jika mereka benar-benar mengerti, niscaya mereka tidak rela terhadap keadaan ini yang menurunkan harkat mereka sebagai laki-laki.
At-Taubah 9:88
"Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 88-89).
(88) Allah تعالى berfirman, Jika orang-orang munafik itu tidak berangkat jihad, maka Allah tidak membutuhkan mereka, Allah memiliki hamba-hamba khusus yang dikhususkanNya dengan ka-runiaNya yang melaksanakan perkara ini, mereka adalah ﴾ ٱلرَّسُولُ ﴿ "Rasul" Muhammad ﷺ ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ ﴿ "dan orang-orang yang ber-iman bersamanya", mereka berjihad ﴾ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡۚ ﴿ "dengan harta dan diri mereka," tanpa merasa berat dan malas, bahkan mereka berba-hagia dan optimis, mereka itu adalah ﴾ لَهُمُ ٱلۡخَيۡرَٰتُۖ ﴿ "orang-orang yang memperoleh kebaikan", yang banyak di dunia dan akhirat. Dan me-reka itu adalah ﴾ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "orang-orang yang beruntung", yang me-raih keinginan tertinggi dan impian yang mulia.
(89) ﴾ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Allah telah menyediakan bagi mereka Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." Cela-kalah orang yang tidak berminat kepada apa yang mereka minati, dia merugi agama, dunia, dan akhiratnya. Ini mirip dengan Firman Allah تعالى, ﴾ قُلۡ ءَامِنُواْ بِهِۦٓ أَوۡ لَا تُؤۡمِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهِۦٓ إِذَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ يَخِرُّونَۤ لِلۡأَذۡقَانِۤ سُجَّدٗاۤ 107 ﴿ "Katakanlah, 'Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).' Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengeta-huan sebelumnya apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud." (Al-Isra`: 107). Dan FirmanNya, ﴾ فَإِن يَكۡفُرۡ بِهَا هَٰٓؤُلَآءِ فَقَدۡ وَكَّلۡنَا بِهَا قَوۡمٗا لَّيۡسُواْ بِهَا بِكَٰفِرِينَ 89 ﴿ "Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya." (Al-An'am: 89).
At-Taubah 9:89
"Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 88-89).
(88) Allah تعالى berfirman, Jika orang-orang munafik itu tidak berangkat jihad, maka Allah tidak membutuhkan mereka, Allah memiliki hamba-hamba khusus yang dikhususkanNya dengan ka-runiaNya yang melaksanakan perkara ini, mereka adalah ﴾ ٱلرَّسُولُ ﴿ "Rasul" Muhammad ﷺ ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ ﴿ "dan orang-orang yang ber-iman bersamanya", mereka berjihad ﴾ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡۚ ﴿ "dengan harta dan diri mereka," tanpa merasa berat dan malas, bahkan mereka berba-hagia dan optimis, mereka itu adalah ﴾ لَهُمُ ٱلۡخَيۡرَٰتُۖ ﴿ "orang-orang yang memperoleh kebaikan", yang banyak di dunia dan akhirat. Dan me-reka itu adalah ﴾ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "orang-orang yang beruntung", yang me-raih keinginan tertinggi dan impian yang mulia.
(89) ﴾ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Allah telah menyediakan bagi mereka Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." Cela-kalah orang yang tidak berminat kepada apa yang mereka minati, dia merugi agama, dunia, dan akhiratnya. Ini mirip dengan Firman Allah تعالى, ﴾ قُلۡ ءَامِنُواْ بِهِۦٓ أَوۡ لَا تُؤۡمِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهِۦٓ إِذَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ يَخِرُّونَۤ لِلۡأَذۡقَانِۤ سُجَّدٗاۤ 107 ﴿ "Katakanlah, 'Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).' Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengeta-huan sebelumnya apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud." (Al-Isra`: 107). Dan FirmanNya, ﴾ فَإِن يَكۡفُرۡ بِهَا هَٰٓؤُلَآءِ فَقَدۡ وَكَّلۡنَا بِهَا قَوۡمٗا لَّيۡسُواْ بِهَا بِكَٰفِرِينَ 89 ﴿ "Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya." (Al-An'am: 89).
At-Taubah 9:90
"Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan udzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih. Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila me-reka berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,' lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kese-dihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka)." (At-Taubah: 90-93).
(90) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجَآءَ ٱلۡمُعَذِّرُونَ مِنَ ٱلۡأَعۡرَابِ لِيُؤۡذَنَ لَهُمۡ ﴿ "Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan udzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad)." Yakni orang-orang yang meremehkan dan melalaikan jihad datang agar mereka diizinkan untuk tidak berperang, tanpa mempedulikan apa alasannya karena mereka memang berhati keras, tidak tahu malu, dan karena keimanan mereka yang lemah. Adapun orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya, maka mereka sama sekali tidak berangkat berperang dan tidak pula mengajukan udzur. Ada kemungkinan makna Firman Allah, ﴾ ٱلۡمُعَذِّرُونَ ﴿ "Orang-orang yang mengemukakan udzur", adalah orang-orang yang berudzur, mereka datang kepada Nabi ﷺ agar dimaklumi, dan kebiasaan Nabi ﷺ adalah memaklumi orang yang berudzur. ﴾ وَقَعَدَ ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۚ ﴿ "Sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya, duduk berdiam diri saja", padahal mereka mengklaim beriman yang seha-rusnya menuntut mereka untuk berjihad namun mereka tidak meng-amalkannya. Kemudian Allah mengancam mereka dengan Firman-Nya, ﴾ سَيُصِيبُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih", di dunia dan akhirat.
(91) Manakala Allah menyebutkan orang-orang yang menge-mukakan udzur untuk tidak ikut berjihad, mereka ada dua golongan: golongan yang alasannya diterima oleh syariat dan golongan yang alasannya ditolak, maka hal itu dijelaskan dengan FirmanNya, ﴾ لَّيۡسَ عَلَى ٱلضُّعَفَآءِ ﴿ "Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah", jasmani dan penglihatannya, tidak mempunyai ke-mampuan untuk pergi berperang ﴾ وَلَا عَلَى ٱلۡمَرۡضَىٰ ﴿ "atas orang-orang yang sakit." Ini mencakup seluruh jenis sakit yang mana penderitanya tidak mampu keluar berjihad, seperti pincang, buta, demam, radang selaput dara, mati separuh dan lain-lain. ﴾ وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنفِقُونَ ﴿ "Dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka naf-kahkan." Yakni mereka tidak mendapatkan bekal dan kendaraan untuk menempuh perjalanan jihad. Mereka itu tiada berdosa dengan syarat berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya, yaitu beriman dengan iman yang benar, dengan niat dan tekad jika sean-dainya mereka mampu niscaya mereka akan berjihad, dan mereka melakukan apa yang mereka mempu, yaitu memberikan dorongan, ajaran, serta semangat kepada orang lain untuk berjihad. ﴾ مَا عَلَى ٱلۡمُحۡسِنِينَ مِن سَبِيلٖۚ ﴿ "Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik." Yakni jalan untuk disalahkan, karena dengan kebaikan mereka terkait dengan hak Allah dan hak para hamba membuat mereka tidak disalahkan, jika seorang hamba melakukan apa yang dia mampu dengan baik, maka gugurlah kesalahan pada apa yang dia tidak mampu. Ayat ini dijadikan sebagai dalil atas sebuah kaidah, yaitu bahwa barangsiapa yang berbuat kebaikan kepada orang lain pada jiwanya atau pada hartanya dan lainnya, lalu kebaikannya itu menimbulkan kekurangan atau kerusakan, maka dia tidak bertanggung jawab (menanggung) karena dia berbuat baik, dan tidak ada jalan untuk menyalahkan orang yang berbuat baik. Sebagaimana ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang berbuat buruk seperti orang yang lalai, maka dia harus menanggungnya. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Di antara ampunan dan rahmatNya adalah bahwa Dia memaafkan orang-orang yang lemah dan memberi mereka pahala dengan niat kuat mereka, sama dengan pahala orang-orang yang mampu melakukan.
(92) ﴾ وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوۡكَ لِتَحۡمِلَهُمۡ ﴿ "Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan", ternyata kamu tidak memiliki apa pun. ﴾ قُلۡتَ ﴿ "Lalu kamu berkata", dalam rangka meminta maaf. ﴾ لَآ أَجِدُ مَآ أَحۡمِلُكُمۡ عَلَيۡهِ تَوَلَّواْ وَّأَعۡيُنُهُمۡ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمۡعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُواْ مَا يُنفِقُونَ ﴿ "'Aku tidak memperoleh ken-daraan untuk membawamu,' lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." Mereka adalah orang-orang yang tidak mampu tetapi mereka bersedia mengorbankan dirinya, bah-kan mereka bersedih dan sangat berat hati sebagaimana yang Allah sebutkan. Mereka itu tiada dosa atasnya, dan jika dosa telah gugur dari mereka, maka perkaranya kembali kepada asalnya, yaitu bah-wa siapa yang berniat melakukan kebaikan, dan niat kuatnya telah diikuti dengan usaha sebatas kemampuannya kemudian dia tidak mampu maka dia disamakan dengan orang yang melakukannya dengan sempurna.
(93) ﴾ إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ ﴿ "Sesungguhnya jalan" untuk menyalahkan, ﴾ ٱلَّذِينَ يَسۡتَـٔۡذِنُونَكَ وَهُمۡ أَغۡنِيَآءُۚ ﴿ "orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya," yang mampu untuk pergi ber-perang, dan tidak memiliki udzur. ﴾ رَضُواْ ﴿ "Mereka rela", untuk diri mereka dan agama mereka ﴾ أَن يَكُونُواْ مَعَ ٱلۡخَوَالِفِ ﴿ "berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang", seperti wanita, anak-anak dan semisalnya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" mereka rela dengan keadaan itu karena Allah telah mengunci mati ﴾ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ " hati mereka." Yakni menstem-pel hati mereka, sehingga tiada kebaikan yang masuk kepadanya dan tidak merasakan kemaslahatan mereka di dunia dan akhirat. ﴾ فَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka)", sebagai hukuman atas apa yang mereka lakukan.
At-Taubah 9:91
"Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan udzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih. Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila me-reka berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,' lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kese-dihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka)." (At-Taubah: 90-93).
(90) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجَآءَ ٱلۡمُعَذِّرُونَ مِنَ ٱلۡأَعۡرَابِ لِيُؤۡذَنَ لَهُمۡ ﴿ "Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan udzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad)." Yakni orang-orang yang meremehkan dan melalaikan jihad datang agar mereka diizinkan untuk tidak berperang, tanpa mempedulikan apa alasannya karena mereka memang berhati keras, tidak tahu malu, dan karena keimanan mereka yang lemah. Adapun orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya, maka mereka sama sekali tidak berangkat berperang dan tidak pula mengajukan udzur. Ada kemungkinan makna Firman Allah, ﴾ ٱلۡمُعَذِّرُونَ ﴿ "Orang-orang yang mengemukakan udzur", adalah orang-orang yang berudzur, mereka datang kepada Nabi ﷺ agar dimaklumi, dan kebiasaan Nabi ﷺ adalah memaklumi orang yang berudzur. ﴾ وَقَعَدَ ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۚ ﴿ "Sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya, duduk berdiam diri saja", padahal mereka mengklaim beriman yang seha-rusnya menuntut mereka untuk berjihad namun mereka tidak meng-amalkannya. Kemudian Allah mengancam mereka dengan Firman-Nya, ﴾ سَيُصِيبُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih", di dunia dan akhirat.
(91) Manakala Allah menyebutkan orang-orang yang menge-mukakan udzur untuk tidak ikut berjihad, mereka ada dua golongan: golongan yang alasannya diterima oleh syariat dan golongan yang alasannya ditolak, maka hal itu dijelaskan dengan FirmanNya, ﴾ لَّيۡسَ عَلَى ٱلضُّعَفَآءِ ﴿ "Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah", jasmani dan penglihatannya, tidak mempunyai ke-mampuan untuk pergi berperang ﴾ وَلَا عَلَى ٱلۡمَرۡضَىٰ ﴿ "atas orang-orang yang sakit." Ini mencakup seluruh jenis sakit yang mana penderitanya tidak mampu keluar berjihad, seperti pincang, buta, demam, radang selaput dara, mati separuh dan lain-lain. ﴾ وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنفِقُونَ ﴿ "Dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka naf-kahkan." Yakni mereka tidak mendapatkan bekal dan kendaraan untuk menempuh perjalanan jihad. Mereka itu tiada berdosa dengan syarat berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya, yaitu beriman dengan iman yang benar, dengan niat dan tekad jika sean-dainya mereka mampu niscaya mereka akan berjihad, dan mereka melakukan apa yang mereka mempu, yaitu memberikan dorongan, ajaran, serta semangat kepada orang lain untuk berjihad. ﴾ مَا عَلَى ٱلۡمُحۡسِنِينَ مِن سَبِيلٖۚ ﴿ "Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik." Yakni jalan untuk disalahkan, karena dengan kebaikan mereka terkait dengan hak Allah dan hak para hamba membuat mereka tidak disalahkan, jika seorang hamba melakukan apa yang dia mampu dengan baik, maka gugurlah kesalahan pada apa yang dia tidak mampu. Ayat ini dijadikan sebagai dalil atas sebuah kaidah, yaitu bahwa barangsiapa yang berbuat kebaikan kepada orang lain pada jiwanya atau pada hartanya dan lainnya, lalu kebaikannya itu menimbulkan kekurangan atau kerusakan, maka dia tidak bertanggung jawab (menanggung) karena dia berbuat baik, dan tidak ada jalan untuk menyalahkan orang yang berbuat baik. Sebagaimana ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang berbuat buruk seperti orang yang lalai, maka dia harus menanggungnya. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Di antara ampunan dan rahmatNya adalah bahwa Dia memaafkan orang-orang yang lemah dan memberi mereka pahala dengan niat kuat mereka, sama dengan pahala orang-orang yang mampu melakukan.
(92) ﴾ وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوۡكَ لِتَحۡمِلَهُمۡ ﴿ "Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan", ternyata kamu tidak memiliki apa pun. ﴾ قُلۡتَ ﴿ "Lalu kamu berkata", dalam rangka meminta maaf. ﴾ لَآ أَجِدُ مَآ أَحۡمِلُكُمۡ عَلَيۡهِ تَوَلَّواْ وَّأَعۡيُنُهُمۡ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمۡعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُواْ مَا يُنفِقُونَ ﴿ "'Aku tidak memperoleh ken-daraan untuk membawamu,' lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." Mereka adalah orang-orang yang tidak mampu tetapi mereka bersedia mengorbankan dirinya, bah-kan mereka bersedih dan sangat berat hati sebagaimana yang Allah sebutkan. Mereka itu tiada dosa atasnya, dan jika dosa telah gugur dari mereka, maka perkaranya kembali kepada asalnya, yaitu bah-wa siapa yang berniat melakukan kebaikan, dan niat kuatnya telah diikuti dengan usaha sebatas kemampuannya kemudian dia tidak mampu maka dia disamakan dengan orang yang melakukannya dengan sempurna.
(93) ﴾ إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ ﴿ "Sesungguhnya jalan" untuk menyalahkan, ﴾ ٱلَّذِينَ يَسۡتَـٔۡذِنُونَكَ وَهُمۡ أَغۡنِيَآءُۚ ﴿ "orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya," yang mampu untuk pergi ber-perang, dan tidak memiliki udzur. ﴾ رَضُواْ ﴿ "Mereka rela", untuk diri mereka dan agama mereka ﴾ أَن يَكُونُواْ مَعَ ٱلۡخَوَالِفِ ﴿ "berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang", seperti wanita, anak-anak dan semisalnya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" mereka rela dengan keadaan itu karena Allah telah mengunci mati ﴾ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ " hati mereka." Yakni menstem-pel hati mereka, sehingga tiada kebaikan yang masuk kepadanya dan tidak merasakan kemaslahatan mereka di dunia dan akhirat. ﴾ فَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka)", sebagai hukuman atas apa yang mereka lakukan.
At-Taubah 9:92
"Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan udzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih. Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila me-reka berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,' lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kese-dihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka)." (At-Taubah: 90-93).
(90) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجَآءَ ٱلۡمُعَذِّرُونَ مِنَ ٱلۡأَعۡرَابِ لِيُؤۡذَنَ لَهُمۡ ﴿ "Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan udzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad)." Yakni orang-orang yang meremehkan dan melalaikan jihad datang agar mereka diizinkan untuk tidak berperang, tanpa mempedulikan apa alasannya karena mereka memang berhati keras, tidak tahu malu, dan karena keimanan mereka yang lemah. Adapun orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya, maka mereka sama sekali tidak berangkat berperang dan tidak pula mengajukan udzur. Ada kemungkinan makna Firman Allah, ﴾ ٱلۡمُعَذِّرُونَ ﴿ "Orang-orang yang mengemukakan udzur", adalah orang-orang yang berudzur, mereka datang kepada Nabi ﷺ agar dimaklumi, dan kebiasaan Nabi ﷺ adalah memaklumi orang yang berudzur. ﴾ وَقَعَدَ ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۚ ﴿ "Sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya, duduk berdiam diri saja", padahal mereka mengklaim beriman yang seha-rusnya menuntut mereka untuk berjihad namun mereka tidak meng-amalkannya. Kemudian Allah mengancam mereka dengan Firman-Nya, ﴾ سَيُصِيبُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih", di dunia dan akhirat.
(91) Manakala Allah menyebutkan orang-orang yang menge-mukakan udzur untuk tidak ikut berjihad, mereka ada dua golongan: golongan yang alasannya diterima oleh syariat dan golongan yang alasannya ditolak, maka hal itu dijelaskan dengan FirmanNya, ﴾ لَّيۡسَ عَلَى ٱلضُّعَفَآءِ ﴿ "Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah", jasmani dan penglihatannya, tidak mempunyai ke-mampuan untuk pergi berperang ﴾ وَلَا عَلَى ٱلۡمَرۡضَىٰ ﴿ "atas orang-orang yang sakit." Ini mencakup seluruh jenis sakit yang mana penderitanya tidak mampu keluar berjihad, seperti pincang, buta, demam, radang selaput dara, mati separuh dan lain-lain. ﴾ وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنفِقُونَ ﴿ "Dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka naf-kahkan." Yakni mereka tidak mendapatkan bekal dan kendaraan untuk menempuh perjalanan jihad. Mereka itu tiada berdosa dengan syarat berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya, yaitu beriman dengan iman yang benar, dengan niat dan tekad jika sean-dainya mereka mampu niscaya mereka akan berjihad, dan mereka melakukan apa yang mereka mempu, yaitu memberikan dorongan, ajaran, serta semangat kepada orang lain untuk berjihad. ﴾ مَا عَلَى ٱلۡمُحۡسِنِينَ مِن سَبِيلٖۚ ﴿ "Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik." Yakni jalan untuk disalahkan, karena dengan kebaikan mereka terkait dengan hak Allah dan hak para hamba membuat mereka tidak disalahkan, jika seorang hamba melakukan apa yang dia mampu dengan baik, maka gugurlah kesalahan pada apa yang dia tidak mampu. Ayat ini dijadikan sebagai dalil atas sebuah kaidah, yaitu bahwa barangsiapa yang berbuat kebaikan kepada orang lain pada jiwanya atau pada hartanya dan lainnya, lalu kebaikannya itu menimbulkan kekurangan atau kerusakan, maka dia tidak bertanggung jawab (menanggung) karena dia berbuat baik, dan tidak ada jalan untuk menyalahkan orang yang berbuat baik. Sebagaimana ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang berbuat buruk seperti orang yang lalai, maka dia harus menanggungnya. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Di antara ampunan dan rahmatNya adalah bahwa Dia memaafkan orang-orang yang lemah dan memberi mereka pahala dengan niat kuat mereka, sama dengan pahala orang-orang yang mampu melakukan.
(92) ﴾ وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوۡكَ لِتَحۡمِلَهُمۡ ﴿ "Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan", ternyata kamu tidak memiliki apa pun. ﴾ قُلۡتَ ﴿ "Lalu kamu berkata", dalam rangka meminta maaf. ﴾ لَآ أَجِدُ مَآ أَحۡمِلُكُمۡ عَلَيۡهِ تَوَلَّواْ وَّأَعۡيُنُهُمۡ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمۡعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُواْ مَا يُنفِقُونَ ﴿ "'Aku tidak memperoleh ken-daraan untuk membawamu,' lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." Mereka adalah orang-orang yang tidak mampu tetapi mereka bersedia mengorbankan dirinya, bah-kan mereka bersedih dan sangat berat hati sebagaimana yang Allah sebutkan. Mereka itu tiada dosa atasnya, dan jika dosa telah gugur dari mereka, maka perkaranya kembali kepada asalnya, yaitu bah-wa siapa yang berniat melakukan kebaikan, dan niat kuatnya telah diikuti dengan usaha sebatas kemampuannya kemudian dia tidak mampu maka dia disamakan dengan orang yang melakukannya dengan sempurna.
(93) ﴾ إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ ﴿ "Sesungguhnya jalan" untuk menyalahkan, ﴾ ٱلَّذِينَ يَسۡتَـٔۡذِنُونَكَ وَهُمۡ أَغۡنِيَآءُۚ ﴿ "orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya," yang mampu untuk pergi ber-perang, dan tidak memiliki udzur. ﴾ رَضُواْ ﴿ "Mereka rela", untuk diri mereka dan agama mereka ﴾ أَن يَكُونُواْ مَعَ ٱلۡخَوَالِفِ ﴿ "berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang", seperti wanita, anak-anak dan semisalnya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" mereka rela dengan keadaan itu karena Allah telah mengunci mati ﴾ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ " hati mereka." Yakni menstem-pel hati mereka, sehingga tiada kebaikan yang masuk kepadanya dan tidak merasakan kemaslahatan mereka di dunia dan akhirat. ﴾ فَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka)", sebagai hukuman atas apa yang mereka lakukan.
At-Taubah 9:93
"Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan udzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih. Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila me-reka berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,' lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kese-dihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka)." (At-Taubah: 90-93).
(90) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجَآءَ ٱلۡمُعَذِّرُونَ مِنَ ٱلۡأَعۡرَابِ لِيُؤۡذَنَ لَهُمۡ ﴿ "Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan udzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad)." Yakni orang-orang yang meremehkan dan melalaikan jihad datang agar mereka diizinkan untuk tidak berperang, tanpa mempedulikan apa alasannya karena mereka memang berhati keras, tidak tahu malu, dan karena keimanan mereka yang lemah. Adapun orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya, maka mereka sama sekali tidak berangkat berperang dan tidak pula mengajukan udzur. Ada kemungkinan makna Firman Allah, ﴾ ٱلۡمُعَذِّرُونَ ﴿ "Orang-orang yang mengemukakan udzur", adalah orang-orang yang berudzur, mereka datang kepada Nabi ﷺ agar dimaklumi, dan kebiasaan Nabi ﷺ adalah memaklumi orang yang berudzur. ﴾ وَقَعَدَ ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۚ ﴿ "Sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan RasulNya, duduk berdiam diri saja", padahal mereka mengklaim beriman yang seha-rusnya menuntut mereka untuk berjihad namun mereka tidak meng-amalkannya. Kemudian Allah mengancam mereka dengan Firman-Nya, ﴾ سَيُصِيبُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih", di dunia dan akhirat.
(91) Manakala Allah menyebutkan orang-orang yang menge-mukakan udzur untuk tidak ikut berjihad, mereka ada dua golongan: golongan yang alasannya diterima oleh syariat dan golongan yang alasannya ditolak, maka hal itu dijelaskan dengan FirmanNya, ﴾ لَّيۡسَ عَلَى ٱلضُّعَفَآءِ ﴿ "Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah", jasmani dan penglihatannya, tidak mempunyai ke-mampuan untuk pergi berperang ﴾ وَلَا عَلَى ٱلۡمَرۡضَىٰ ﴿ "atas orang-orang yang sakit." Ini mencakup seluruh jenis sakit yang mana penderitanya tidak mampu keluar berjihad, seperti pincang, buta, demam, radang selaput dara, mati separuh dan lain-lain. ﴾ وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنفِقُونَ ﴿ "Dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka naf-kahkan." Yakni mereka tidak mendapatkan bekal dan kendaraan untuk menempuh perjalanan jihad. Mereka itu tiada berdosa dengan syarat berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya, yaitu beriman dengan iman yang benar, dengan niat dan tekad jika sean-dainya mereka mampu niscaya mereka akan berjihad, dan mereka melakukan apa yang mereka mempu, yaitu memberikan dorongan, ajaran, serta semangat kepada orang lain untuk berjihad. ﴾ مَا عَلَى ٱلۡمُحۡسِنِينَ مِن سَبِيلٖۚ ﴿ "Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik." Yakni jalan untuk disalahkan, karena dengan kebaikan mereka terkait dengan hak Allah dan hak para hamba membuat mereka tidak disalahkan, jika seorang hamba melakukan apa yang dia mampu dengan baik, maka gugurlah kesalahan pada apa yang dia tidak mampu. Ayat ini dijadikan sebagai dalil atas sebuah kaidah, yaitu bahwa barangsiapa yang berbuat kebaikan kepada orang lain pada jiwanya atau pada hartanya dan lainnya, lalu kebaikannya itu menimbulkan kekurangan atau kerusakan, maka dia tidak bertanggung jawab (menanggung) karena dia berbuat baik, dan tidak ada jalan untuk menyalahkan orang yang berbuat baik. Sebagaimana ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang berbuat buruk seperti orang yang lalai, maka dia harus menanggungnya. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Di antara ampunan dan rahmatNya adalah bahwa Dia memaafkan orang-orang yang lemah dan memberi mereka pahala dengan niat kuat mereka, sama dengan pahala orang-orang yang mampu melakukan.
(92) ﴾ وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوۡكَ لِتَحۡمِلَهُمۡ ﴿ "Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan", ternyata kamu tidak memiliki apa pun. ﴾ قُلۡتَ ﴿ "Lalu kamu berkata", dalam rangka meminta maaf. ﴾ لَآ أَجِدُ مَآ أَحۡمِلُكُمۡ عَلَيۡهِ تَوَلَّواْ وَّأَعۡيُنُهُمۡ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمۡعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُواْ مَا يُنفِقُونَ ﴿ "'Aku tidak memperoleh ken-daraan untuk membawamu,' lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." Mereka adalah orang-orang yang tidak mampu tetapi mereka bersedia mengorbankan dirinya, bah-kan mereka bersedih dan sangat berat hati sebagaimana yang Allah sebutkan. Mereka itu tiada dosa atasnya, dan jika dosa telah gugur dari mereka, maka perkaranya kembali kepada asalnya, yaitu bah-wa siapa yang berniat melakukan kebaikan, dan niat kuatnya telah diikuti dengan usaha sebatas kemampuannya kemudian dia tidak mampu maka dia disamakan dengan orang yang melakukannya dengan sempurna.
(93) ﴾ إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ ﴿ "Sesungguhnya jalan" untuk menyalahkan, ﴾ ٱلَّذِينَ يَسۡتَـٔۡذِنُونَكَ وَهُمۡ أَغۡنِيَآءُۚ ﴿ "orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya," yang mampu untuk pergi ber-perang, dan tidak memiliki udzur. ﴾ رَضُواْ ﴿ "Mereka rela", untuk diri mereka dan agama mereka ﴾ أَن يَكُونُواْ مَعَ ٱلۡخَوَالِفِ ﴿ "berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang", seperti wanita, anak-anak dan semisalnya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" mereka rela dengan keadaan itu karena Allah telah mengunci mati ﴾ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ " hati mereka." Yakni menstem-pel hati mereka, sehingga tiada kebaikan yang masuk kepadanya dan tidak merasakan kemaslahatan mereka di dunia dan akhirat. ﴾ فَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka)", sebagai hukuman atas apa yang mereka lakukan.
At-Taubah 9:94
"Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan udzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah, 'Janganlah kamu mengemukakan udzur, kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya. Dan Allah serta RasulNya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.' Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apa-bila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya me-reka itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepa-damu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu." (At-Taubah: 94-96).
(94) Manakala Allah menyebutkan orang-orang munafik yang mampu tetapi tidak mau pergi berperang, dan bahwa mereka tidak memiliki alasan, maka kemudian Dia menyampaikan bahwa mereka akan mengemukakan alasannya ﴾ إِلَيۡكُمۡ إِذَا رَجَعۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡۚ ﴿ "kepada-mu, apabila kamu telah kembali kepada mereka", dari medan perang. ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah", kepada mereka, ﴾ لَّا تَعۡتَذِرُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكُمۡ ﴿ "Janganlah kamu mengemukakan udzur, kami tidak percaya lagi kepadamu", yakni Kami tidak akan mempercayai alasan dustamu. ﴾ قَدۡ نَبَّأَنَا ٱللَّهُ مِنۡ أَخۡبَارِكُمۡۚ ﴿ "(Karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami berita-mu yang sebenarnya." Dan Dia Mahabenar dalam perkataanNya, jadi tiada berguna lagi alasan kalian, karena mereka mengemukakan alasan yang bertentangan dengan apa yang dinyatakan oleh Allah, dan mustahil mereka benar dalam perkara di mana mereka menye-lisihi berita Allah yang merupakan tingkatan paling tinggi dalam hal kebenaran. ﴾ وَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "Dan Allah serta RasulNya akan melihat pekerjaanmu", di dunia, karena timbangan kebenaran dan kedustaan adalah amal perbuatan, adapun ucapan saja tidak me-nunjukkan hal tersebut. ﴾ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ﴿ "Kemudian kamu dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata", yang tiada sesuatu pun yang samar bagiNya. ﴾ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan," baik dan buruknya, Dia akan membalasnya dengan keadilan dan karu-niaNya tanpa menzhalimimu sedikit pun.
(95) Ketahuilah, bahwa orang yang berbuat salah dan dosa mempunyai tiga kemungkinan: Bisa jadi ucapan dan alasannya diterima secara lahir dan batin, lantas dia dimaafkan di mana se-olah-olah dia tidak berdosa [keadaan inilah yang disebutkan di sini terkait dengan orang-orang munafik bahwa alasan mereka tidak diterima dan bahwa telah terbukti keadaan mereka yang busuk dan perbuatan mereka yang buruk].[98] Bisa jadi mereka diberi hukuman dan ta'zir secara fisik atas dosa mereka. Bisa pula mereka tidak di-hiraukan dan tidak diberi hukuman atas perbuatan mereka secara fisik. Kemungkinan yang ketiga inilah yang diperintahkan oleh Allah dalam menyikapi terhadap orang-orang munafik, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ سَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمۡ إِذَا ٱنقَلَبۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡ لِتُعۡرِضُواْ عَنۡهُمۡۖ فَأَعۡرِضُواْ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Ke-lak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka." Jangan salahkan mereka, jangan dicambuk dan jangan dibunuh. ﴾ إِنَّهُمۡ رِجۡسٞۖ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka itu adalah najis." Mereka itu adalah kotoran dan sampah, tidak layak untuk diperhatikan, nasihat dan hukuman tidak berguna bagi mereka. ﴾ وَ﴿ "Dan", cukuplah sebagai hukuman ﴾ جَهَنَّمُ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "tempat mereka Jahanam, seba-gai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."
(96) FirmanNya, ﴾ يَحۡلِفُونَ لَكُمۡ لِتَرۡضَوۡاْ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Mereka akan bersum-pah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka." Yakni mereka juga mempunyai maksud yang lain darimu di samping agar kamu ber-paling dari mereka, yaitu mereka ingin agar kamu meridhai mereka seolah-olah mereka itu tidak melakukan dosa apa-apa. ﴾ فَإِن تَرۡضَوۡاْ عَنۡهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَرۡضَىٰ عَنِ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu." Yakni, maka tidak sepantasnya bagimu hai orang-orang yang beriman meridhai orang yang tidak diridhai Allah, bahkan kamu harus mengikuti Rabbmu dalam sikap ridha dan marah. Perhatikanlah bagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَرۡضَىٰ عَنِ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu." Dan tidak berkata, "Maka sesungguhnya Allah tidak me-ridhai mereka." Ini untuk menunjukkan bahwa pintu taubat masih tetap terbuka, selama mereka atau siapa pun bertaubat, maka Allah akan mengampuni dan meridhai mereka. Akan tetapi selama me-reka itu tetap fasik, selama itu Allah tidak meridhai mereka karena adanya penghalang bagi ridhaNya, yaitu menyimpangnya mereka dari iman dan ketaatan yang diridhai Allah kepada syirik, nifak, dan maksiat yang dibenci Allah. Alhasil dari apa yang disebutkan oleh Allah adalah bahwa orang-orang munafik yang tidak berangkat berjihad tanpa alasan, jika mereka meminta maaf kepada orang-orang Mukmin dan me-reka mengaku mempunyai alasan dalam ketidakberangkatannya, maksud orang-orang munafik adalah agar kamu berpaling dari mereka (yakni, membiarkan mereka) dan meridhai serta menerima alasan mereka. Adapun memaklumi dan meridhai mereka, maka janganlah dilakukan, karena mereka tidak memiliki kecintaan dan kehormatan. Adapun berpaling dari mereka, maka orang-orang yang beriman berpaling dari mereka seperti orang-orang Mukmin berpaling dari perkara-perkara buruk dan kotor. Ayat-ayat ini mengandung penetapan sifat Kalam bagi Allah تعالى pada FirmanNya, ﴾ قَدۡ نَبَّأَنَا ٱللَّهُ مِنۡ أَخۡبَارِكُمۡۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya." (At-Taubah: 94). Ayat-ayat ini juga mengandung penetapan perbuatan ikhtiari bagi Allah yang terlaksana dengan kodrat dan kehendakNya, seba-gaimana terkandung dalam Firman Allah di atas dan dalam Fir-manNya, ﴾ وَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "Dan Allah serta RasulNya akan melihat pekerjaanmu." (At-Tau-bah: 94). Allah memberitahukan bahwa Allah dan RasulNya akan me-lihatnya setelah ia terjadi. Dan di dalam ayat ini juga terdapat pe-netapan sifat ridha bagi Allah kepada orang-orang yang baik dan sifat marah serta murkaNya kepada orang-orang fasik.
At-Taubah 9:95
"Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan udzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah, 'Janganlah kamu mengemukakan udzur, kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya. Dan Allah serta RasulNya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.' Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apa-bila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya me-reka itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepa-damu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu." (At-Taubah: 94-96).
(94) Manakala Allah menyebutkan orang-orang munafik yang mampu tetapi tidak mau pergi berperang, dan bahwa mereka tidak memiliki alasan, maka kemudian Dia menyampaikan bahwa mereka akan mengemukakan alasannya ﴾ إِلَيۡكُمۡ إِذَا رَجَعۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡۚ ﴿ "kepada-mu, apabila kamu telah kembali kepada mereka", dari medan perang. ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah", kepada mereka, ﴾ لَّا تَعۡتَذِرُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكُمۡ ﴿ "Janganlah kamu mengemukakan udzur, kami tidak percaya lagi kepadamu", yakni Kami tidak akan mempercayai alasan dustamu. ﴾ قَدۡ نَبَّأَنَا ٱللَّهُ مِنۡ أَخۡبَارِكُمۡۚ ﴿ "(Karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami berita-mu yang sebenarnya." Dan Dia Mahabenar dalam perkataanNya, jadi tiada berguna lagi alasan kalian, karena mereka mengemukakan alasan yang bertentangan dengan apa yang dinyatakan oleh Allah, dan mustahil mereka benar dalam perkara di mana mereka menye-lisihi berita Allah yang merupakan tingkatan paling tinggi dalam hal kebenaran. ﴾ وَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "Dan Allah serta RasulNya akan melihat pekerjaanmu", di dunia, karena timbangan kebenaran dan kedustaan adalah amal perbuatan, adapun ucapan saja tidak me-nunjukkan hal tersebut. ﴾ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ﴿ "Kemudian kamu dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata", yang tiada sesuatu pun yang samar bagiNya. ﴾ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan," baik dan buruknya, Dia akan membalasnya dengan keadilan dan karu-niaNya tanpa menzhalimimu sedikit pun.
(95) Ketahuilah, bahwa orang yang berbuat salah dan dosa mempunyai tiga kemungkinan: Bisa jadi ucapan dan alasannya diterima secara lahir dan batin, lantas dia dimaafkan di mana se-olah-olah dia tidak berdosa [keadaan inilah yang disebutkan di sini terkait dengan orang-orang munafik bahwa alasan mereka tidak diterima dan bahwa telah terbukti keadaan mereka yang busuk dan perbuatan mereka yang buruk].[98] Bisa jadi mereka diberi hukuman dan ta'zir secara fisik atas dosa mereka. Bisa pula mereka tidak di-hiraukan dan tidak diberi hukuman atas perbuatan mereka secara fisik. Kemungkinan yang ketiga inilah yang diperintahkan oleh Allah dalam menyikapi terhadap orang-orang munafik, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ سَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمۡ إِذَا ٱنقَلَبۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡ لِتُعۡرِضُواْ عَنۡهُمۡۖ فَأَعۡرِضُواْ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Ke-lak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka." Jangan salahkan mereka, jangan dicambuk dan jangan dibunuh. ﴾ إِنَّهُمۡ رِجۡسٞۖ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka itu adalah najis." Mereka itu adalah kotoran dan sampah, tidak layak untuk diperhatikan, nasihat dan hukuman tidak berguna bagi mereka. ﴾ وَ﴿ "Dan", cukuplah sebagai hukuman ﴾ جَهَنَّمُ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "tempat mereka Jahanam, seba-gai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."
(96) FirmanNya, ﴾ يَحۡلِفُونَ لَكُمۡ لِتَرۡضَوۡاْ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Mereka akan bersum-pah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka." Yakni mereka juga mempunyai maksud yang lain darimu di samping agar kamu ber-paling dari mereka, yaitu mereka ingin agar kamu meridhai mereka seolah-olah mereka itu tidak melakukan dosa apa-apa. ﴾ فَإِن تَرۡضَوۡاْ عَنۡهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَرۡضَىٰ عَنِ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu." Yakni, maka tidak sepantasnya bagimu hai orang-orang yang beriman meridhai orang yang tidak diridhai Allah, bahkan kamu harus mengikuti Rabbmu dalam sikap ridha dan marah. Perhatikanlah bagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَرۡضَىٰ عَنِ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu." Dan tidak berkata, "Maka sesungguhnya Allah tidak me-ridhai mereka." Ini untuk menunjukkan bahwa pintu taubat masih tetap terbuka, selama mereka atau siapa pun bertaubat, maka Allah akan mengampuni dan meridhai mereka. Akan tetapi selama me-reka itu tetap fasik, selama itu Allah tidak meridhai mereka karena adanya penghalang bagi ridhaNya, yaitu menyimpangnya mereka dari iman dan ketaatan yang diridhai Allah kepada syirik, nifak, dan maksiat yang dibenci Allah. Alhasil dari apa yang disebutkan oleh Allah adalah bahwa orang-orang munafik yang tidak berangkat berjihad tanpa alasan, jika mereka meminta maaf kepada orang-orang Mukmin dan me-reka mengaku mempunyai alasan dalam ketidakberangkatannya, maksud orang-orang munafik adalah agar kamu berpaling dari mereka (yakni, membiarkan mereka) dan meridhai serta menerima alasan mereka. Adapun memaklumi dan meridhai mereka, maka janganlah dilakukan, karena mereka tidak memiliki kecintaan dan kehormatan. Adapun berpaling dari mereka, maka orang-orang yang beriman berpaling dari mereka seperti orang-orang Mukmin berpaling dari perkara-perkara buruk dan kotor. Ayat-ayat ini mengandung penetapan sifat Kalam bagi Allah تعالى pada FirmanNya, ﴾ قَدۡ نَبَّأَنَا ٱللَّهُ مِنۡ أَخۡبَارِكُمۡۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya." (At-Taubah: 94). Ayat-ayat ini juga mengandung penetapan perbuatan ikhtiari bagi Allah yang terlaksana dengan kodrat dan kehendakNya, seba-gaimana terkandung dalam Firman Allah di atas dan dalam Fir-manNya, ﴾ وَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "Dan Allah serta RasulNya akan melihat pekerjaanmu." (At-Tau-bah: 94). Allah memberitahukan bahwa Allah dan RasulNya akan me-lihatnya setelah ia terjadi. Dan di dalam ayat ini juga terdapat pe-netapan sifat ridha bagi Allah kepada orang-orang yang baik dan sifat marah serta murkaNya kepada orang-orang fasik.
At-Taubah 9:96
"Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan udzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah, 'Janganlah kamu mengemukakan udzur, kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya. Dan Allah serta RasulNya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.' Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apa-bila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya me-reka itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepa-damu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu." (At-Taubah: 94-96).
(94) Manakala Allah menyebutkan orang-orang munafik yang mampu tetapi tidak mau pergi berperang, dan bahwa mereka tidak memiliki alasan, maka kemudian Dia menyampaikan bahwa mereka akan mengemukakan alasannya ﴾ إِلَيۡكُمۡ إِذَا رَجَعۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡۚ ﴿ "kepada-mu, apabila kamu telah kembali kepada mereka", dari medan perang. ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah", kepada mereka, ﴾ لَّا تَعۡتَذِرُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكُمۡ ﴿ "Janganlah kamu mengemukakan udzur, kami tidak percaya lagi kepadamu", yakni Kami tidak akan mempercayai alasan dustamu. ﴾ قَدۡ نَبَّأَنَا ٱللَّهُ مِنۡ أَخۡبَارِكُمۡۚ ﴿ "(Karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami berita-mu yang sebenarnya." Dan Dia Mahabenar dalam perkataanNya, jadi tiada berguna lagi alasan kalian, karena mereka mengemukakan alasan yang bertentangan dengan apa yang dinyatakan oleh Allah, dan mustahil mereka benar dalam perkara di mana mereka menye-lisihi berita Allah yang merupakan tingkatan paling tinggi dalam hal kebenaran. ﴾ وَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "Dan Allah serta RasulNya akan melihat pekerjaanmu", di dunia, karena timbangan kebenaran dan kedustaan adalah amal perbuatan, adapun ucapan saja tidak me-nunjukkan hal tersebut. ﴾ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ﴿ "Kemudian kamu dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata", yang tiada sesuatu pun yang samar bagiNya. ﴾ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan," baik dan buruknya, Dia akan membalasnya dengan keadilan dan karu-niaNya tanpa menzhalimimu sedikit pun.
(95) Ketahuilah, bahwa orang yang berbuat salah dan dosa mempunyai tiga kemungkinan: Bisa jadi ucapan dan alasannya diterima secara lahir dan batin, lantas dia dimaafkan di mana se-olah-olah dia tidak berdosa [keadaan inilah yang disebutkan di sini terkait dengan orang-orang munafik bahwa alasan mereka tidak diterima dan bahwa telah terbukti keadaan mereka yang busuk dan perbuatan mereka yang buruk].[98] Bisa jadi mereka diberi hukuman dan ta'zir secara fisik atas dosa mereka. Bisa pula mereka tidak di-hiraukan dan tidak diberi hukuman atas perbuatan mereka secara fisik. Kemungkinan yang ketiga inilah yang diperintahkan oleh Allah dalam menyikapi terhadap orang-orang munafik, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ سَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَكُمۡ إِذَا ٱنقَلَبۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡ لِتُعۡرِضُواْ عَنۡهُمۡۖ فَأَعۡرِضُواْ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Ke-lak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka." Jangan salahkan mereka, jangan dicambuk dan jangan dibunuh. ﴾ إِنَّهُمۡ رِجۡسٞۖ ﴿ "Karena sesungguhnya mereka itu adalah najis." Mereka itu adalah kotoran dan sampah, tidak layak untuk diperhatikan, nasihat dan hukuman tidak berguna bagi mereka. ﴾ وَ﴿ "Dan", cukuplah sebagai hukuman ﴾ جَهَنَّمُ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "tempat mereka Jahanam, seba-gai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."
(96) FirmanNya, ﴾ يَحۡلِفُونَ لَكُمۡ لِتَرۡضَوۡاْ عَنۡهُمۡۖ ﴿ "Mereka akan bersum-pah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka." Yakni mereka juga mempunyai maksud yang lain darimu di samping agar kamu ber-paling dari mereka, yaitu mereka ingin agar kamu meridhai mereka seolah-olah mereka itu tidak melakukan dosa apa-apa. ﴾ فَإِن تَرۡضَوۡاْ عَنۡهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَرۡضَىٰ عَنِ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu." Yakni, maka tidak sepantasnya bagimu hai orang-orang yang beriman meridhai orang yang tidak diridhai Allah, bahkan kamu harus mengikuti Rabbmu dalam sikap ridha dan marah. Perhatikanlah bagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَرۡضَىٰ عَنِ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu." Dan tidak berkata, "Maka sesungguhnya Allah tidak me-ridhai mereka." Ini untuk menunjukkan bahwa pintu taubat masih tetap terbuka, selama mereka atau siapa pun bertaubat, maka Allah akan mengampuni dan meridhai mereka. Akan tetapi selama me-reka itu tetap fasik, selama itu Allah tidak meridhai mereka karena adanya penghalang bagi ridhaNya, yaitu menyimpangnya mereka dari iman dan ketaatan yang diridhai Allah kepada syirik, nifak, dan maksiat yang dibenci Allah. Alhasil dari apa yang disebutkan oleh Allah adalah bahwa orang-orang munafik yang tidak berangkat berjihad tanpa alasan, jika mereka meminta maaf kepada orang-orang Mukmin dan me-reka mengaku mempunyai alasan dalam ketidakberangkatannya, maksud orang-orang munafik adalah agar kamu berpaling dari mereka (yakni, membiarkan mereka) dan meridhai serta menerima alasan mereka. Adapun memaklumi dan meridhai mereka, maka janganlah dilakukan, karena mereka tidak memiliki kecintaan dan kehormatan. Adapun berpaling dari mereka, maka orang-orang yang beriman berpaling dari mereka seperti orang-orang Mukmin berpaling dari perkara-perkara buruk dan kotor. Ayat-ayat ini mengandung penetapan sifat Kalam bagi Allah تعالى pada FirmanNya, ﴾ قَدۡ نَبَّأَنَا ٱللَّهُ مِنۡ أَخۡبَارِكُمۡۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya." (At-Taubah: 94). Ayat-ayat ini juga mengandung penetapan perbuatan ikhtiari bagi Allah yang terlaksana dengan kodrat dan kehendakNya, seba-gaimana terkandung dalam Firman Allah di atas dan dalam Fir-manNya, ﴾ وَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "Dan Allah serta RasulNya akan melihat pekerjaanmu." (At-Tau-bah: 94). Allah memberitahukan bahwa Allah dan RasulNya akan me-lihatnya setelah ia terjadi. Dan di dalam ayat ini juga terdapat pe-netapan sifat ridha bagi Allah kepada orang-orang yang baik dan sifat marah serta murkaNya kepada orang-orang fasik.
At-Taubah 9:97
"Orang-orang Arab Badui itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNya. Dan Allah Maha Menge-tahui lagi Mahabijaksana. Di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesung-guhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mende-katkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (Surga)Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang." (At-Taubah: 97-99).
(97) Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱلۡأَعۡرَابُ ﴿ "Orang-orang Arab Badui itu", yaitu mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman ﴾ أَشَدُّ كُفۡرٗا وَنِفَاقٗا ﴿ "lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya", daripada orang-orang kota meskipun mereka juga ada yang kafir dan munafik, hal itu karena beberapa sebab, di antaranya adalah jauhnya mereka dari pengetahuan tentang syariat-syariat agama, amal perbuatan dan hukum-hukum, maka mereka lebih layak, ﴾ وَأَجۡدَرُ أَلَّا يَعۡلَمُواْ حُدُودَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦۗ ﴿ "dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNya," berupa dasar-dasar iman dan hukum-hukum perintah dan larangan. Lain halnya dengan orang-orang yang tinggal di kota, mereka lebih mungkin mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNya. Dengan ilmu ini, muncul pada mereka gambaran-gambaran yang baik dan keinginan kepada kebaikan yang mereka ketahui hal mana itu ti-dak ada di pedalaman. Pada orang-orang kota juga terdapat tabiat yang lembut dan ketundukan kepada penyeru yang mana hal itu tidak terdapat pada orang-orang pedalaman. Orang-orang kota juga bergaul dengan ahli iman dan berinteraksi lebih banyak daripada orang yang tinggal di pedalaman. Oleh karenanya orang-orang kota lebih layak mengetahui kebaikan daripada orang-orang di pe-dalaman, meski di kota dan di desa tetap ada orang-orang munafik dan kafir, hanya saja yang di pedalaman lebih keras dan lebih sangat.
(98) Di antara sebab yang lain juga adalah bahwa orang-orang Arab Badui lebih kikir dan lebih berambisi dalam urusan harta, di antara mereka terdapat ﴾ مَن يَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ ﴿ "orang yang meman-dang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah)", berupa zakat, nafkah di jalan Allah, dan lain-lain ﴾ مَغۡرَمٗا ﴿ "sebagai suatu kerugian." Yakni dia memandangnya sebagai kerugian dan kekurangan, tidak ber-harap pahala dari Allah, tidak berharap dengannya Wajah Allah, dan hampir tidak dilaksanakan kecuali dengan terpaksa. ﴾ وَيَتَرَبَّصُ بِكُمُ ٱلدَّوَآئِرَۚ ﴿ "Dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu." Yakni di an-tara bukti permusuhan dan kebencian mereka kepada orang-orang yang beriman adalah bahwa mereka menginginkan dan menanti-nantikan musibah dan marabahaya yang ditimpakan kepada orang-orang Mukmin. Justru yang terjadi sebaliknya. ﴾ عَلَيۡهِمۡ دَآئِرَةُ ٱلسَّوۡءِۗ ﴿ "Me-rekalah yang akan ditimpa marabahaya." Adapun orang-orang Mukmin, maka mereka akan meraih hasil baik atas musuhnya dan akibat yang menggembirakan. ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Mengetahui niat manusia dan amal yang dilakukannya, apakah ia ikhlas atau tidak.
(99) Namun tidak semua orang-orang Arab Badui itu tercela, di antara mereka ﴾ مَن يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ ﴿ "ada orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian." Maka dia selamat dari kekufuran dan kemunafikan dan melakukan tuntutan iman. ﴾ وَيَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ قُرُبَٰتٍ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah." Yakni, dia berharap pa-hala dari Allah dengan infaknya dan mencari Wajah Allah serta ke-dekatan kepadaNya. ﴾ وَ﴿ "Dan" menjadikannya sebagai jalan untuk memperoleh doa ﴾ ٱلرَّسُولِۚ ﴿ "Rasul." Dan permohonan keberkahan (kepada Allah) untuk mereka. Allah berfirman menjelaskan manfaat doa Rasul. ﴾ أَلَآ إِنَّهَا قُرۡبَةٞ لَّهُمۡۚ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi me-reka untuk mendekatkan diri (kepada Allah)." Mendekatkan mereka kepada Allah, mengembangkan harta mereka dan memberkahinya. ﴾ سَيُدۡخِلُهُمُ ٱللَّهُ فِي رَحۡمَتِهِۦٓۚ ﴿ "Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (Surga)Nya", dalam golongan hamba-hambaNya yang shalih. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pe-nyayang." Dia mengampuni dosa-dosa besar bagi yang bertaubat kepadaNya, menaungi hamba-hambaNya dengan rahmatNya yang meliputi segala sesuatu dan mengkhususkan hamba-hambaNya yang beriman dengan rahmatNya yang membimbing mereka kepada kebaikan, melindungi mereka dari penyimpangan, serta memberi mereka balasan yang besar. Ayat ini mengandung dalil bahwa orang-orang Arab Badui sama dengan orang-orang kota. Di antara mereka ada yang tercela dan ada yang terpuji. Allah tidak mencela mereka hanya karena mereka arab badui, akan tetapi karena meninggalkan perintah-pe-rintah Allah dan mereka kemungkinan besar melakukan itu. Di antaranya: Bahwa kekufuran dan kemunafikan dapat ber-tambah dan berkurang, menguat dan melemah, berdasarkan kondisi. Di antaranya: Keutamaan ilmu, dan bahwa orang yang tidak berilmu lebih dekat kepada keburukan daripada orang yang ber-ilmu, karena Allah mencela orang-orang Arab Badui dan menya-takan bahwa mereka lebih keras kekufuran dan kemunafikannya serta menjelaskan penyebabnya dan bahwa mereka layak untuk tidak mengetahui hukum-hukum yang Allah turunkan kepada Ra-sulNya. Di antaranya: Bahwa ilmu bermanfaat yang merupakan ilmu yang paling bermanfaat adalah mengetahui hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya yang meliputi dasar-dasar dan cabang agama seperti mengetahui batasan-batasan Iman, Islam, Ihsan, takwa, keberuntungan, ketaatan, kebaikan, berbuat baik, si-laturahim, kekufuran, kemunafikan, kefasikan, kemaksiatan, zina, khamar, riba dan lain-lain, karena dengan mengetahuinya ia bisa dilaksanakan jika ia diperintahkan dan dijauhi jika ia adalah lara-ngan, serta memungkinkan pula untuk memerintahkannya atau melarangnya. Di antaranya juga: Hendaknya seorang hamba yang beriman melaksanakan hak-haknya dengan lapang dada, jiwa tentram, ber-usaha meraih untung dan tidak merugi.
At-Taubah 9:98
"Orang-orang Arab Badui itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNya. Dan Allah Maha Menge-tahui lagi Mahabijaksana. Di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesung-guhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mende-katkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (Surga)Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang." (At-Taubah: 97-99).
(97) Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱلۡأَعۡرَابُ ﴿ "Orang-orang Arab Badui itu", yaitu mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman ﴾ أَشَدُّ كُفۡرٗا وَنِفَاقٗا ﴿ "lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya", daripada orang-orang kota meskipun mereka juga ada yang kafir dan munafik, hal itu karena beberapa sebab, di antaranya adalah jauhnya mereka dari pengetahuan tentang syariat-syariat agama, amal perbuatan dan hukum-hukum, maka mereka lebih layak, ﴾ وَأَجۡدَرُ أَلَّا يَعۡلَمُواْ حُدُودَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦۗ ﴿ "dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNya," berupa dasar-dasar iman dan hukum-hukum perintah dan larangan. Lain halnya dengan orang-orang yang tinggal di kota, mereka lebih mungkin mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNya. Dengan ilmu ini, muncul pada mereka gambaran-gambaran yang baik dan keinginan kepada kebaikan yang mereka ketahui hal mana itu ti-dak ada di pedalaman. Pada orang-orang kota juga terdapat tabiat yang lembut dan ketundukan kepada penyeru yang mana hal itu tidak terdapat pada orang-orang pedalaman. Orang-orang kota juga bergaul dengan ahli iman dan berinteraksi lebih banyak daripada orang yang tinggal di pedalaman. Oleh karenanya orang-orang kota lebih layak mengetahui kebaikan daripada orang-orang di pe-dalaman, meski di kota dan di desa tetap ada orang-orang munafik dan kafir, hanya saja yang di pedalaman lebih keras dan lebih sangat.
(98) Di antara sebab yang lain juga adalah bahwa orang-orang Arab Badui lebih kikir dan lebih berambisi dalam urusan harta, di antara mereka terdapat ﴾ مَن يَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ ﴿ "orang yang meman-dang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah)", berupa zakat, nafkah di jalan Allah, dan lain-lain ﴾ مَغۡرَمٗا ﴿ "sebagai suatu kerugian." Yakni dia memandangnya sebagai kerugian dan kekurangan, tidak ber-harap pahala dari Allah, tidak berharap dengannya Wajah Allah, dan hampir tidak dilaksanakan kecuali dengan terpaksa. ﴾ وَيَتَرَبَّصُ بِكُمُ ٱلدَّوَآئِرَۚ ﴿ "Dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu." Yakni di an-tara bukti permusuhan dan kebencian mereka kepada orang-orang yang beriman adalah bahwa mereka menginginkan dan menanti-nantikan musibah dan marabahaya yang ditimpakan kepada orang-orang Mukmin. Justru yang terjadi sebaliknya. ﴾ عَلَيۡهِمۡ دَآئِرَةُ ٱلسَّوۡءِۗ ﴿ "Me-rekalah yang akan ditimpa marabahaya." Adapun orang-orang Mukmin, maka mereka akan meraih hasil baik atas musuhnya dan akibat yang menggembirakan. ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Mengetahui niat manusia dan amal yang dilakukannya, apakah ia ikhlas atau tidak.
(99) Namun tidak semua orang-orang Arab Badui itu tercela, di antara mereka ﴾ مَن يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ ﴿ "ada orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian." Maka dia selamat dari kekufuran dan kemunafikan dan melakukan tuntutan iman. ﴾ وَيَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ قُرُبَٰتٍ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah." Yakni, dia berharap pa-hala dari Allah dengan infaknya dan mencari Wajah Allah serta ke-dekatan kepadaNya. ﴾ وَ﴿ "Dan" menjadikannya sebagai jalan untuk memperoleh doa ﴾ ٱلرَّسُولِۚ ﴿ "Rasul." Dan permohonan keberkahan (kepada Allah) untuk mereka. Allah berfirman menjelaskan manfaat doa Rasul. ﴾ أَلَآ إِنَّهَا قُرۡبَةٞ لَّهُمۡۚ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi me-reka untuk mendekatkan diri (kepada Allah)." Mendekatkan mereka kepada Allah, mengembangkan harta mereka dan memberkahinya. ﴾ سَيُدۡخِلُهُمُ ٱللَّهُ فِي رَحۡمَتِهِۦٓۚ ﴿ "Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (Surga)Nya", dalam golongan hamba-hambaNya yang shalih. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pe-nyayang." Dia mengampuni dosa-dosa besar bagi yang bertaubat kepadaNya, menaungi hamba-hambaNya dengan rahmatNya yang meliputi segala sesuatu dan mengkhususkan hamba-hambaNya yang beriman dengan rahmatNya yang membimbing mereka kepada kebaikan, melindungi mereka dari penyimpangan, serta memberi mereka balasan yang besar. Ayat ini mengandung dalil bahwa orang-orang Arab Badui sama dengan orang-orang kota. Di antara mereka ada yang tercela dan ada yang terpuji. Allah tidak mencela mereka hanya karena mereka arab badui, akan tetapi karena meninggalkan perintah-pe-rintah Allah dan mereka kemungkinan besar melakukan itu. Di antaranya: Bahwa kekufuran dan kemunafikan dapat ber-tambah dan berkurang, menguat dan melemah, berdasarkan kondisi. Di antaranya: Keutamaan ilmu, dan bahwa orang yang tidak berilmu lebih dekat kepada keburukan daripada orang yang ber-ilmu, karena Allah mencela orang-orang Arab Badui dan menya-takan bahwa mereka lebih keras kekufuran dan kemunafikannya serta menjelaskan penyebabnya dan bahwa mereka layak untuk tidak mengetahui hukum-hukum yang Allah turunkan kepada Ra-sulNya. Di antaranya: Bahwa ilmu bermanfaat yang merupakan ilmu yang paling bermanfaat adalah mengetahui hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya yang meliputi dasar-dasar dan cabang agama seperti mengetahui batasan-batasan Iman, Islam, Ihsan, takwa, keberuntungan, ketaatan, kebaikan, berbuat baik, si-laturahim, kekufuran, kemunafikan, kefasikan, kemaksiatan, zina, khamar, riba dan lain-lain, karena dengan mengetahuinya ia bisa dilaksanakan jika ia diperintahkan dan dijauhi jika ia adalah lara-ngan, serta memungkinkan pula untuk memerintahkannya atau melarangnya. Di antaranya juga: Hendaknya seorang hamba yang beriman melaksanakan hak-haknya dengan lapang dada, jiwa tentram, ber-usaha meraih untung dan tidak merugi.
At-Taubah 9:99
"Orang-orang Arab Badui itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNya. Dan Allah Maha Menge-tahui lagi Mahabijaksana. Di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesung-guhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mende-katkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (Surga)Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang." (At-Taubah: 97-99).
(97) Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱلۡأَعۡرَابُ ﴿ "Orang-orang Arab Badui itu", yaitu mereka yang tinggal di pelosok dan pedalaman ﴾ أَشَدُّ كُفۡرٗا وَنِفَاقٗا ﴿ "lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya", daripada orang-orang kota meskipun mereka juga ada yang kafir dan munafik, hal itu karena beberapa sebab, di antaranya adalah jauhnya mereka dari pengetahuan tentang syariat-syariat agama, amal perbuatan dan hukum-hukum, maka mereka lebih layak, ﴾ وَأَجۡدَرُ أَلَّا يَعۡلَمُواْ حُدُودَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦۗ ﴿ "dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNya," berupa dasar-dasar iman dan hukum-hukum perintah dan larangan. Lain halnya dengan orang-orang yang tinggal di kota, mereka lebih mungkin mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNya. Dengan ilmu ini, muncul pada mereka gambaran-gambaran yang baik dan keinginan kepada kebaikan yang mereka ketahui hal mana itu ti-dak ada di pedalaman. Pada orang-orang kota juga terdapat tabiat yang lembut dan ketundukan kepada penyeru yang mana hal itu tidak terdapat pada orang-orang pedalaman. Orang-orang kota juga bergaul dengan ahli iman dan berinteraksi lebih banyak daripada orang yang tinggal di pedalaman. Oleh karenanya orang-orang kota lebih layak mengetahui kebaikan daripada orang-orang di pe-dalaman, meski di kota dan di desa tetap ada orang-orang munafik dan kafir, hanya saja yang di pedalaman lebih keras dan lebih sangat.
(98) Di antara sebab yang lain juga adalah bahwa orang-orang Arab Badui lebih kikir dan lebih berambisi dalam urusan harta, di antara mereka terdapat ﴾ مَن يَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ ﴿ "orang yang meman-dang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah)", berupa zakat, nafkah di jalan Allah, dan lain-lain ﴾ مَغۡرَمٗا ﴿ "sebagai suatu kerugian." Yakni dia memandangnya sebagai kerugian dan kekurangan, tidak ber-harap pahala dari Allah, tidak berharap dengannya Wajah Allah, dan hampir tidak dilaksanakan kecuali dengan terpaksa. ﴾ وَيَتَرَبَّصُ بِكُمُ ٱلدَّوَآئِرَۚ ﴿ "Dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu." Yakni di an-tara bukti permusuhan dan kebencian mereka kepada orang-orang yang beriman adalah bahwa mereka menginginkan dan menanti-nantikan musibah dan marabahaya yang ditimpakan kepada orang-orang Mukmin. Justru yang terjadi sebaliknya. ﴾ عَلَيۡهِمۡ دَآئِرَةُ ٱلسَّوۡءِۗ ﴿ "Me-rekalah yang akan ditimpa marabahaya." Adapun orang-orang Mukmin, maka mereka akan meraih hasil baik atas musuhnya dan akibat yang menggembirakan. ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Mengetahui niat manusia dan amal yang dilakukannya, apakah ia ikhlas atau tidak.
(99) Namun tidak semua orang-orang Arab Badui itu tercela, di antara mereka ﴾ مَن يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ ﴿ "ada orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian." Maka dia selamat dari kekufuran dan kemunafikan dan melakukan tuntutan iman. ﴾ وَيَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ قُرُبَٰتٍ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah." Yakni, dia berharap pa-hala dari Allah dengan infaknya dan mencari Wajah Allah serta ke-dekatan kepadaNya. ﴾ وَ﴿ "Dan" menjadikannya sebagai jalan untuk memperoleh doa ﴾ ٱلرَّسُولِۚ ﴿ "Rasul." Dan permohonan keberkahan (kepada Allah) untuk mereka. Allah berfirman menjelaskan manfaat doa Rasul. ﴾ أَلَآ إِنَّهَا قُرۡبَةٞ لَّهُمۡۚ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi me-reka untuk mendekatkan diri (kepada Allah)." Mendekatkan mereka kepada Allah, mengembangkan harta mereka dan memberkahinya. ﴾ سَيُدۡخِلُهُمُ ٱللَّهُ فِي رَحۡمَتِهِۦٓۚ ﴿ "Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (Surga)Nya", dalam golongan hamba-hambaNya yang shalih. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pe-nyayang." Dia mengampuni dosa-dosa besar bagi yang bertaubat kepadaNya, menaungi hamba-hambaNya dengan rahmatNya yang meliputi segala sesuatu dan mengkhususkan hamba-hambaNya yang beriman dengan rahmatNya yang membimbing mereka kepada kebaikan, melindungi mereka dari penyimpangan, serta memberi mereka balasan yang besar. Ayat ini mengandung dalil bahwa orang-orang Arab Badui sama dengan orang-orang kota. Di antara mereka ada yang tercela dan ada yang terpuji. Allah tidak mencela mereka hanya karena mereka arab badui, akan tetapi karena meninggalkan perintah-pe-rintah Allah dan mereka kemungkinan besar melakukan itu. Di antaranya: Bahwa kekufuran dan kemunafikan dapat ber-tambah dan berkurang, menguat dan melemah, berdasarkan kondisi. Di antaranya: Keutamaan ilmu, dan bahwa orang yang tidak berilmu lebih dekat kepada keburukan daripada orang yang ber-ilmu, karena Allah mencela orang-orang Arab Badui dan menya-takan bahwa mereka lebih keras kekufuran dan kemunafikannya serta menjelaskan penyebabnya dan bahwa mereka layak untuk tidak mengetahui hukum-hukum yang Allah turunkan kepada Ra-sulNya. Di antaranya: Bahwa ilmu bermanfaat yang merupakan ilmu yang paling bermanfaat adalah mengetahui hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya yang meliputi dasar-dasar dan cabang agama seperti mengetahui batasan-batasan Iman, Islam, Ihsan, takwa, keberuntungan, ketaatan, kebaikan, berbuat baik, si-laturahim, kekufuran, kemunafikan, kefasikan, kemaksiatan, zina, khamar, riba dan lain-lain, karena dengan mengetahuinya ia bisa dilaksanakan jika ia diperintahkan dan dijauhi jika ia adalah lara-ngan, serta memungkinkan pula untuk memerintahkannya atau melarangnya. Di antaranya juga: Hendaknya seorang hamba yang beriman melaksanakan hak-haknya dengan lapang dada, jiwa tentram, ber-usaha meraih untung dan tidak merugi.
At-Taubah 9:100
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada me-reka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 100).
(100) As-Sabiqun adalah orang-orang yang mendahului umat ini kepada iman, hijrah, jihad, dan menegakkan Agama Allah, ﴾ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ ﴿ "di antara orang-orang Muhajirin", ﴾ ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِمۡ وَأَمۡوَٰلِهِمۡ يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ 8 ﴿ "Yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka me-nolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar." (Al-Hasyr: 8). ﴾ وَٱلۡأَنصَارِ ﴿ "dan orang-orang Anshar", ﴾ ٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah ber-iman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka men-cintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang-orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." (Al-Hasyr: 9). ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ ﴿ "Dan orang-orang yang mengikuti mereka de-ngan baik", dalam akidah, perkataan, dan perbuatan. Mereka itulah yang selamat dari celaan, mendapatkan pujian yang tinggi, dan ke-muliaan terbaik dari Allah. ﴾ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ ﴿ "Allah ridha kepada mereka." Dan Ridha Allah تعالى lebih besar daripada nikmat Surga. ﴾ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya", yang mengalir ke pangkal-pangkal pohon dan kebun yang elok lagi indah dan taman yang mempesona. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Mereka tidak ingin ber-pindah darinya, dan tidak mencari penggantinya, karena apa pun yang mereka inginkan akan mereka dapatkan dan apa yang mereka harapkan pasti terlaksana. ﴾ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Itulah kemenangan yang besar", yang padanya terwujud bagi mereka semua yang disukai oleh jiwa, yang dinikmati oleh ruh, yang diinginkan oleh hati dan yang dihasrati oleh jasmani serta tertolak dari mereka segala yang tidak diinginkan.
At-Taubah 9:101
"Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik, dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui me-reka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar." (At-Taubah: 101).
(101) Allah تعالى berfirman,﴾ وَمِمَّنۡ حَوۡلَكُم مِّنَ ٱلۡأَعۡرَابِ مُنَٰفِقُونَۖ وَمِنۡ أَهۡلِ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik, dan (juga) di antara penduduk Madinah", juga ter-dapat orang-orang munafik. ﴾ مَرَدُواْ عَلَى ٱلنِّفَاقِ ﴿ "Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya." Yakni, mereka terbiasa di atasnya (terus menerus) dan bertambah kuat kemunafikannya. ﴾ لَا تَعۡلَمُهُمۡۖ ﴿ "Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka", yaitu nama-nama mereka sehingga kamu bisa menghukum mereka atau kamu memperlakukan mereka sesuai dengan kemunafikannya, karena dalam hal itu Allah mempunyai hikmah yang mengagum-kan. ﴾ نَحۡنُ نَعۡلَمُهُمۡۚ سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيۡنِ ﴿ "(Tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali." Ada kemungkinan dua kali itu adalah dua kali yang sebenarnya yaitu di dunia dan di akhirat. Di dunia dalam bentuk kecemasan, kesedihan, dan kebencian ter-hadap kemenangan dan keunggulan yang diraih oleh orang-orang Mukmin, dan di akhirat adalah azab neraka yang merupakan tem-pat terburuk. Ada kemungkinan bahwa maksudnya adalah Kami akan memberatkan azab atas mereka, melipatgandakannya dan mengulang-ulangnya atas mereka.
At-Taubah 9:102
"Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur-baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Menge-tahui." (At-Taubah: 102-103).
(102) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَءَاخَرُونَ ﴿ "Dan (ada pula) orang-orang lain", yang di Madinah dan sekitarnya bahkan di negeri-ne-geri Islam yang lain ﴾ ٱعۡتَرَفُواْ بِذُنُوبِهِمۡ ﴿ "yang mengakui dosa-dosa mereka." Yakni, mereka mengakuinya, menyesalinya, berusaha bertaubat darinya dan menyucikan dari kotorannya. ﴾ خَلَطُواْ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَءَاخَرَ سَيِّئًا ﴿ "Mereka mencampur-baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk." Dan suatu amal bukanlah amal shalih kecuali jika se-orang hamba mempunyai dasar tauhid dan iman yang mengeluar-kan dari kekufuran dan kesyirikan yang merupakan syarat bagi seluruh amal shalih, mereka mencampuradukkan antara amal yang baik dengan amal yang buruk dalam bentuk keberaniannya mela-kukan sebagian yang diharamkan dan kelalaian melakukan sebagian kewajiban. Namun bersamaan dengan itu mereka mengakui itu dan berharap Allah mengampuninya. Mereka itu ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "mu-dah-mudahan Allah menerima taubat mereka." Taubat Allah kepada hambaNya ada dua: pertama, memberi taufik kepada mereka untuk taubat, kedua, menerimanya setelah taubat itu dilakukan mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang", yakni sifatNya adalah maghfirah dan rahmat di mana tidak ada makhluk yang terlepas darinya, bahkan tidak ada keberadaan alam langit dan bumi kecuali dengan keduanya. Seandainya Allah menyiksa manusia karena kezhaliman mereka, niscaya Dia tidak membiarkan satu pun binatang melata di muka bumi ini. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا 41 ﴿ "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap, dan sungguh jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (Fathir: 41). Di antara ampunanNya adalah bahwa orang-orang yang ber-sikap berlebih-lebihan terhadap diri mereka, yang menghabiskan umur mereka dengan amal-amal buruk, jika mereka bertaubat dan kembali kepadaNya meski hanya sesaat sebelum mati, maka Allah akan memaafkan mereka dan mengampuni kesalahan mereka. Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang mencampuradukkan antara keburukan dengan kebaikan, yang mengakui dan menyesali dosa-dosanya namun tidak bertaubat dengan taubat yang nasuha, maka dia berada di antara ketakutan dan harapan, dan dia lebih dekat kepada keselamatan. Adapun orang yang mencampuradukkan antara kebaikan dan keburukan yang tidak mengakui dan tidak menyesali kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan, bahkan dia masih terus melakukan dosanya, maka sangat dikhawatirkan dia akan diazab.
(103) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya dan kepada orang yang menempati kedudukannya (pemimpin) seraya meme-rintahkannya dengan apa yang dapat menyucikan orang-orang Mukmin dan menyempurnakan iman mereka, ﴾ خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ ﴿ "am-billah zakat dari sebagian harta mereka", yakni zakat yang diwajibkan, ﴾ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا ﴿ "dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka", yakni membersihkan mereka dari dosa-dosa dan akhlak-akhlak tercela. ﴾ وَتُزَكِّيهِم ﴿ "Dan menyucikan mereka," yakni, menum-buhkan dan menambahkan akhlak-akhlak mereka yang baik dan amal mereka yang shalih, menambah pahala mereka di dunia dan di akhirat, menyuburkan harta mereka. ﴾ وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ ﴿ "Dan berdoalah untuk mereka." Yakni untuk orang-orang Mukmin secara umum dan secara khusus pada waktu mereka membayarkan zakatnya kepada-mu. ﴾ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ ﴿ "Sesungguhnya doamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka." Yakni ketenangan bagi hati mereka dan kegem-biraan bagi mereka. ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar", doamu dengan menerima dan mengabulkan, ﴾ عَلِيمٌ ﴿ "lagi Maha Mengeta-hui", tentang keadaan dan niat hamba-hambaNya, kemudian Dia akan membalas masing-masing pelaku sesuai dengan amalnya dan niatnya. Nabi ﷺ melaksanakan perintah Allah, memerintahkan me-reka bersedekah, serta mengutus amil-amil untuk mengambilnya, dan jika ada yang datang membawa zakatnya, maka Nabi ﷺ men-doakan kebaikan untuknya dan mendoakan keberkahan atasnya. Ayat ini mengandung dalil diwajibkannya zakat pada semua harta. Jika harta tersebut diperdagangkan, maka ini jelas, karena ia adalah harta yang tumbuh dan menghasilkan, maka termasuk ke-adilan jika ia digunakan untuk menghibur orang-orang miskin de-ngan menunaikan zakat yang diwajibkan Allah kepadanya. Adapun selain harta perniagaan, jika harta itu berkembang seperti biji-bijian, buah-buahan, binatang ternak yang dimiliki agar ia beranak pinak, maka ia terkena wajib zakat, jika tidak, maka tidak wajib zakat, ka-rena jika hanya sekedar untuk dimiliki, maka ia tidak sama dengan harta yang biasanya dimiliki seseorang dengan tujuan-tujuan ter-tentu yang bersifat finansial, jadi ia dipalingkan dari tujuan tersebut kepada tujuan kepemilikan murni. Dalam ayat ini juga terkandung dalil bahwa seorang hamba tidak mungkin menyucikan dan membersihkan diri sebelum dia mengeluarkan zakat hartanya, dan tidak ada yang menggantikan-nya kecuali dengan membayarnya, karena kesucian dan kebersihan bergantung kepada mengeluarkannya. Dalam ayat ini juga terkandung dalil dianjurkannya bagi imam atau wakilnya agar mendoakan orang yang berzakat dengan keber-kahan dan hendaknya doa tersebut diucapkan dengan suara keras di mana pembayar zakat itu dapat mendengarnya sehingga dia pun tenang. Dipahami suatu faidah dari makna ayat bahwa hendaknya kita memberikan kebahagiaan kepada seorang Mukmin dengan ucapan yang lembut, mendoakan kebaikan untuknya, dan hal lain semisalnya yang menyebabkan ketenangan jiwa dan ketentraman-nya. (Hendaknya menyemangati orang yang berinfak dan melaku-kan amal baik dengan mendoakannya, memujinya, dan semisalnya).
At-Taubah 9:103
"Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur-baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Menge-tahui." (At-Taubah: 102-103).
(102) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَءَاخَرُونَ ﴿ "Dan (ada pula) orang-orang lain", yang di Madinah dan sekitarnya bahkan di negeri-ne-geri Islam yang lain ﴾ ٱعۡتَرَفُواْ بِذُنُوبِهِمۡ ﴿ "yang mengakui dosa-dosa mereka." Yakni, mereka mengakuinya, menyesalinya, berusaha bertaubat darinya dan menyucikan dari kotorannya. ﴾ خَلَطُواْ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَءَاخَرَ سَيِّئًا ﴿ "Mereka mencampur-baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk." Dan suatu amal bukanlah amal shalih kecuali jika se-orang hamba mempunyai dasar tauhid dan iman yang mengeluar-kan dari kekufuran dan kesyirikan yang merupakan syarat bagi seluruh amal shalih, mereka mencampuradukkan antara amal yang baik dengan amal yang buruk dalam bentuk keberaniannya mela-kukan sebagian yang diharamkan dan kelalaian melakukan sebagian kewajiban. Namun bersamaan dengan itu mereka mengakui itu dan berharap Allah mengampuninya. Mereka itu ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "mu-dah-mudahan Allah menerima taubat mereka." Taubat Allah kepada hambaNya ada dua: pertama, memberi taufik kepada mereka untuk taubat, kedua, menerimanya setelah taubat itu dilakukan mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang", yakni sifatNya adalah maghfirah dan rahmat di mana tidak ada makhluk yang terlepas darinya, bahkan tidak ada keberadaan alam langit dan bumi kecuali dengan keduanya. Seandainya Allah menyiksa manusia karena kezhaliman mereka, niscaya Dia tidak membiarkan satu pun binatang melata di muka bumi ini. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا 41 ﴿ "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap, dan sungguh jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (Fathir: 41). Di antara ampunanNya adalah bahwa orang-orang yang ber-sikap berlebih-lebihan terhadap diri mereka, yang menghabiskan umur mereka dengan amal-amal buruk, jika mereka bertaubat dan kembali kepadaNya meski hanya sesaat sebelum mati, maka Allah akan memaafkan mereka dan mengampuni kesalahan mereka. Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang mencampuradukkan antara keburukan dengan kebaikan, yang mengakui dan menyesali dosa-dosanya namun tidak bertaubat dengan taubat yang nasuha, maka dia berada di antara ketakutan dan harapan, dan dia lebih dekat kepada keselamatan. Adapun orang yang mencampuradukkan antara kebaikan dan keburukan yang tidak mengakui dan tidak menyesali kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan, bahkan dia masih terus melakukan dosanya, maka sangat dikhawatirkan dia akan diazab.
(103) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya dan kepada orang yang menempati kedudukannya (pemimpin) seraya meme-rintahkannya dengan apa yang dapat menyucikan orang-orang Mukmin dan menyempurnakan iman mereka, ﴾ خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ ﴿ "am-billah zakat dari sebagian harta mereka", yakni zakat yang diwajibkan, ﴾ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا ﴿ "dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka", yakni membersihkan mereka dari dosa-dosa dan akhlak-akhlak tercela. ﴾ وَتُزَكِّيهِم ﴿ "Dan menyucikan mereka," yakni, menum-buhkan dan menambahkan akhlak-akhlak mereka yang baik dan amal mereka yang shalih, menambah pahala mereka di dunia dan di akhirat, menyuburkan harta mereka. ﴾ وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ ﴿ "Dan berdoalah untuk mereka." Yakni untuk orang-orang Mukmin secara umum dan secara khusus pada waktu mereka membayarkan zakatnya kepada-mu. ﴾ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ ﴿ "Sesungguhnya doamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka." Yakni ketenangan bagi hati mereka dan kegem-biraan bagi mereka. ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar", doamu dengan menerima dan mengabulkan, ﴾ عَلِيمٌ ﴿ "lagi Maha Mengeta-hui", tentang keadaan dan niat hamba-hambaNya, kemudian Dia akan membalas masing-masing pelaku sesuai dengan amalnya dan niatnya. Nabi ﷺ melaksanakan perintah Allah, memerintahkan me-reka bersedekah, serta mengutus amil-amil untuk mengambilnya, dan jika ada yang datang membawa zakatnya, maka Nabi ﷺ men-doakan kebaikan untuknya dan mendoakan keberkahan atasnya. Ayat ini mengandung dalil diwajibkannya zakat pada semua harta. Jika harta tersebut diperdagangkan, maka ini jelas, karena ia adalah harta yang tumbuh dan menghasilkan, maka termasuk ke-adilan jika ia digunakan untuk menghibur orang-orang miskin de-ngan menunaikan zakat yang diwajibkan Allah kepadanya. Adapun selain harta perniagaan, jika harta itu berkembang seperti biji-bijian, buah-buahan, binatang ternak yang dimiliki agar ia beranak pinak, maka ia terkena wajib zakat, jika tidak, maka tidak wajib zakat, ka-rena jika hanya sekedar untuk dimiliki, maka ia tidak sama dengan harta yang biasanya dimiliki seseorang dengan tujuan-tujuan ter-tentu yang bersifat finansial, jadi ia dipalingkan dari tujuan tersebut kepada tujuan kepemilikan murni. Dalam ayat ini juga terkandung dalil bahwa seorang hamba tidak mungkin menyucikan dan membersihkan diri sebelum dia mengeluarkan zakat hartanya, dan tidak ada yang menggantikan-nya kecuali dengan membayarnya, karena kesucian dan kebersihan bergantung kepada mengeluarkannya. Dalam ayat ini juga terkandung dalil dianjurkannya bagi imam atau wakilnya agar mendoakan orang yang berzakat dengan keber-kahan dan hendaknya doa tersebut diucapkan dengan suara keras di mana pembayar zakat itu dapat mendengarnya sehingga dia pun tenang. Dipahami suatu faidah dari makna ayat bahwa hendaknya kita memberikan kebahagiaan kepada seorang Mukmin dengan ucapan yang lembut, mendoakan kebaikan untuknya, dan hal lain semisalnya yang menyebabkan ketenangan jiwa dan ketentraman-nya. (Hendaknya menyemangati orang yang berinfak dan melaku-kan amal baik dengan mendoakannya, memujinya, dan semisalnya).
At-Taubah 9:104
"Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan menerima zakat, dan bahwa-sanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?" (At-Taubah: 104).
(104) Yakni, apakah mereka tidak mengetahui rahmat Allah yang luas dan karuniaNya yang menyeluruh, dan bahwa Dia ﴾ يَقۡبَلُ ٱلتَّوۡبَةَ عَنۡ عِبَادِهِۦ ﴿ "menerima taubat dari hamba-hambaNya", yang bertaubat dari dosa apa pun, bahkan Dia تعالى berbahagia karena taubat ham-baNya jika dia bertaubat dengan kebahagiaan yang besar,﴾ وَيَأۡخُذُ ٱلصَّدَقَٰتِ ﴿ "dan menerima zakat", dari mereka, yakni menerima, dan mengambilnya dengan Tangan KananNya. Maka Dia menumbuh-kannya seperti seorang laki-laki menumbuhkan anak kudanya, sehingga satu biji kurma bisa menjadi seperti gunung yang besar. Lalu, bagaimana dengan yang lebih besar dan lebih banyak dari itu? ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?" Yakni banyak mengampuni orang-orang yang bertaubat. Siapa yang bertaubat kepadaNya, maka Allah akan me-nerima taubatnya, meskipun kemaksiatan yang dilakukannya ber-ulang-ulang. Dan Allah tidak akan merasa bosan memberi ampun kepada hamba-hambaNya sehingga mereka sendiri yang merasa bosan dan menolak kecuali menjauh dan menghindar dari pintuNya sambil berkawan dengan musuh mereka. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Maha Penyayang", yang rahmatNya meliputi segala sesuatu dan Dia menetapkannya untuk orang-orang yang bertakwa, membayar zakat, beriman kepada ayat-ayatNya, dan mengikuti RasulNya.
At-Taubah 9:105
"Dan katakanlah, 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan'." (At-Taubah: 105).
(105) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَقُل ﴿ "Dan katakanlah", kepada orang-orang munafik itu, ﴾ ٱعۡمَلُواْ ﴿ "bekerjalah kamu", dengan peker-jaan yang menurutmu sesuai, teruskan kebatilanmu, jangan mengira bahwa amalanmu itu akan samar atas Allah, ﴾ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ ﴿ "maka Allah dan RasulNya serta orang-orang Mukmin akan melihat pe-kerjaanmu itu." Yakni, pekerjaanmu pasti akan terlihat dan terbukti. ﴾ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan," yang baik maupun yang buruk. Ini mengandung ancaman yang keras terhadap orang yang meneruskan kebatilannya, kezhalimannya, kesesatannya dan penyimpangannya. Ada kemungkinan maknanya adalah bah-wa apa pun yang kamu lakukan, baik maupun buruk, maka Allah akan melihatmu dan Dia akan menunjukkannya kepada RasulNya dan hamba-hambaNya yang beriman, meskipun ia adalah amalan batin.
At-Taubah 9:106
"Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah, adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (At-Taubah: 106).
(106) ﴾ وَءَاخَرُونَ ﴿ "Dan ada (pula) orang-orang lain", yang ti-dak berangkat berjihad, yang ditangguhkan ﴾ لِأَمۡرِ ٱللَّهِ إِمَّا يُعَذِّبُهُمۡ وَإِمَّا يَتُوبُ عَلَيۡهِمۡۗ ﴿ "sampai ada keputusan Allah, adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka." Ini mengandung ancaman yang keras bagi orang-orang yang tidak berangkat berjihad dan anjuran kepada mereka agar menyesal dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui", keadaan dan niat hamba-hambaNya, ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "lagi Mahabijaksana." Dia meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan mendudukkannya pada posisinya. Jika hikmahNya menuntut mengampuni dan menerima taubat mereka, maka Dia akan mengampuni dan menerima taubat mereka, namun jika hik-mahNya menuntut tidak memberi mereka taufik kepada taubat, maka Dia akan melakukan itu.
At-Taubah 9:107
"Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang Mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, 'Kami tidak menghendaki selain kebaikan.' Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang di-dirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam? Dan Allah tidak mem-berikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (At-Taubah: 107-110).
(107) Ada beberapa orang munafik dari penduduk Quba membangun masjid dekat masjid Quba dengan maksud memecah belah dan menanamkan benih fitnah di antara orang-orang yang beriman, dan mereka menyiapkannya untuk orang-orang yang me-reka harapkan memerangi Allah dan RasulNya, sekaligus sebagai benteng mereka jika ia diperlukan. Maka Allah تعالى membuka kebu-sukannya dan menampakkan rahasia mereka. ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مَسۡجِدٗا ضِرَارٗا ﴿ "Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendiri-kan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang Mukmin)." Yakni, kemudaratan kepada orang-orang Mukmin dan masjid yang mereka gunakan untuk berkumpul kepadanya, ﴾ وَكُفۡرٗا ﴿ "untuk kekafiran." Yakni maksud mereka adalah kekufuran, jika maksud selain mereka adalah untuk keimanan, ﴾ وَتَفۡرِيقَۢا بَيۡنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin." Yakni agar orang-orang Mukmin berpecah belah, berselisih, dan bersengketa, ﴾ وَإِرۡصَادٗا ﴿ "dan menunggu kedatangan", ﴾ لِّمَنۡ حَارَبَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu." Yakni untuk membantu orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya yang telah lama memusuhi dengan keras, seperti Abu Amir ar-Rahib, salah seorang penduduk Madinah. Ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, Abu Amir ini menolak beriman kepadanya, dia adalah orang ahli ibadah pada masa jahiliyah, maka dia pergi kepada orang-orang musyrik untuk meminta tolong kepada mereka memerangi Rasulullah ﷺ, ketika keinginannya pada orang-orang musyrik tidak terpenuhi, maka dia berangkat ke Kaisar Romawi dengan anggapan dia mau me-nolongnya, tetapi orang yang terlaknat ini mati di jalan, padahal sebelumnya dia dengan orang-orang munafik telah berjanji dan bersekutu (untuk menghancurkan kaum Muslimin). Di antara yang mereka siapkan untuknya adalah masjid dhirar, maka wahyu turun menyampaikan hal itu, lalu Nabi ﷺ mengutus orang-orang untuk merobohkannya dan membakarnya.[99] Masjid itu pun kemudian di-robohkan dan dibakar, dan setelah itu menjadi tempat pembuangan sampah. Allah تعالى berfirman setelah menjelaskan tujuan buruk mereka pada masjid itu. ﴾ وَلَيَحۡلِفُنَّ إِنۡ أَرَدۡنَآ ﴿ "Mereka sesungguhnya bersumpah, 'Kami tidak menghendaki", dalam membangunnya ﴾ إِلَّا ٱلۡحُسۡنَىٰۖ ﴿ "selain kebaik-an." Yakni, membantu orang yang lemah dan buta. ﴾ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)." Kesaksian Allah lebih benar daripada sumpah mereka.
(108) ﴾ لَا تَقُمۡ فِيهِ أَبَدٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu shalat di dalam masjid itu selama-lamanya." Janganlah kamu shalat di masjid yang dibangun untuk dhirar tersebut selama-lamanya, karena Allah telah mencu-kupimu darinya dan kamu tidaklah memerlukannya. ﴾ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ ﴿ "Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama", munculnya Islam di Quba, ia adalah masjid Quba yang didirikan di atas dasar keikhlasan menja-lankan ketaatan kepada Allah, menegakkan dzikir kepadaNya, dan menegakkan syiar-syiar agamaNya, ia adalah masjid tua yang ter-kenal dengan itu. Masjid yang utama ini ﴾ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ ﴿ "adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya," juga beribadah dan berdzikir kepada Allah تعالى. Ia adalah masjid mulia, dan orang-orangnya juga mulia. Oleh ka-rena itu Allah memuji mereka dengan FirmanNya,﴾ فِيهِ رِجَالٞ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْۚ ﴿ "Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri", dari dosa, menyucikan diri dari kotoran, najis, dan hadats. Dan se-perti yang telah diketahui bahwa siapa yang menginginkan sesuatu, maka dia akan berusaha dan bersungguh-sungguh dalam apa yang dicintai, mereka pasti berusaha dengan sungguh-sungguh bersuci dari dosa-dosa, kotoran, dan hadats. Oleh karena itu mereka terma-suk golongan pendahulu dalam Islam, mereka adalah orang-orang yang mendirikan shalat, memelihara jihad bersama Rasulullah ﷺ, menegakkan syariat agama dan mereka termasuk orang-orang yang tidak menyelisihi Allah dan RasulNya. Setelah ayat ini turun yang berisi pujian atas bersucinya mereka, maka Nabi bertanya kepada mereka tentang cara mereka bersuci,[100] mereka menjawab bahwa mereka memakai air (dalam bersuci) setelah sebelumnya mereka memakai batu, maka Allah memuji perbuatan mereka. ﴾ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِينَ ﴿ "Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih", bersih secara maknawi seperti menjauhi kesyirikan dan akhlak-akhlak yang buruk, bersih secara materi seperti menghilangkan najis dan mengangkat hadats.
(109) Kemudian Allah membandingkan antara masjid-mas-jid sesuai dengan maksud para penghuninya dan kesesuaiannya dengan keridhaan Allah. Dia berfirman, ﴾ أَفَمَنۡ أَسَّسَ بُنۡيَٰنَهُۥ عَلَىٰ تَقۡوَىٰ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah," yakni di atas niat baik dan ikhlas, ﴾ وَرِضۡوَٰنٍ ﴿ "dan keridhaan(Nya)," yakni ia sesuai dengan perintahNya, dia mengga-bungkan antara ikhlas dan mutaba'ah dalam amalnya,﴾ خَيۡرٌ أَم مَّنۡ أَسَّسَ بُنۡيَٰنَهُۥ عَلَىٰ شَفَا ﴿ "itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan ba-ngunannya di tepi", yakni di ujung, ﴾ جُرُفٍ هَارٖ ﴿ "jurang yang runtuh", yakni yang rapuh, hampir-hampir roboh,﴾ فَٱنۡهَارَ بِهِۦ فِي نَارِ جَهَنَّمَۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim", yakni, Allah tidak memberi petunjuk ke-pada apa yang menjadi kemaslahatan agama dan dunia.
(110) ﴾ لَا يَزَالُ بُنۡيَٰنُهُمُ ٱلَّذِي بَنَوۡاْ رِيبَةٗ فِي قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati me-reka", yakni kebimbangan yang bersemayam di dalam hati mereka. ﴾ إِلَّآ أَن تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "Kecuali bila hati mereka itu telah hancur", dengan penyesalan yang paripurna, bertaubat kepada Allah, dan takut kepa-daNya dengan sangat. Dengan itu Allah akan memaafkan mereka, namun jika tidak, maka bangunan mereka tidak menambah kecuali keraguan di atas keraguan mereka, dan kemunafikan di atas kemu-nafikan mereka. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui", segala hal, yang lahir dan yang batin, yang samar dan yang terang, serta apa yang dirahasiakan dan ditampakkan oleh hamba-hambaNya. ﴾ حَكِيمٌ ﴿ "Lagi Mahabijaksana." Dia tidak melakukan, tidak menciptakan, ti-dak memerintahkan, dan tidak melarang kecuali apa yang menjadi tuntutan hikmahNya dan Dia memerintahkannya. Oleh karena itu segala puji hanya milik Allah. Di dalam ayat-ayat ini terkandung beberapa faidah: Di antaranya: Haram membangun masjid dengan tujuan me-mudaratkan masjid lain yang di dekatnya, dan wajib merobohkan masjid dhirar tersebut jika maksud orang-orang yang membangun-nya telah diketahui. Di antaranya: Walaupun suatu amal itu adalah baik, ia bisa dirubah oleh niat sehingga berubah menjadi dilarang, sebagaimana niat orang-orang yang membangun masjid dhirar telah merubah amal mereka seperti yang Anda lihat. Di antaranya: Bahwa segala hal yang menyebabkan perpe-cahan di antara orang-orang yang beriman adalah termasuk ke-maksiatan yang harus ditinggalkan dan dilenyapkan, sebagaimana segala hal yang menyebabkan persatuan dan kekompakan kaum Muslimin haruslah diikuti, diperintahkan, dan didorong, karena Allah menjelaskan alasan pembangunan masjid dhirar dengan tujuan yang harus dilarang ini, sebagaimana hal itu mewajibkan kekufuran dan peperangan melawan Allah dan RasulNya. Di antaranya: Larangan shalat di tempat kemaksiatan dan kewajiban menjauhinya. Di antaranya: Bahwa kemaksiatan dapat mempengaruhi tem-pat, sebagaimana kemaksiatan orang-orang munafik mempengaruhi masjid dhirar, sehingga turun larangan shalat di dalamnya. Begitu pula ketaatan berpengaruh pada tempat, sebagaimana ia berpenga-ruh pada masjid Quba, sehingga Allah berfirman tentangnya, ﴾ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ ﴿ "Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya." Oleh karenanya masjid Quba memiliki keutamaan yang tidak dimiliki selainnya, bahkan Nabi ﷺ selalu mengunjungi masjid Quba setiap Hari Sabtu untuk shalat di dalamnya[101] dan Nabi ﷺ mengan-jurkan shalat di dalamnya.[102] Di antaranya: Disimpulkan dari pernyataan illat-illat yang disebutkan di dalam ayat ini, empat kaidah penting yakni; semua perbuatan yang memudaratkan orang Muslim, atau padanya terda-pat kemaksiatan kepada Allah, karena kemaksiatan adalah cabang dari kekufuran, atau menimbulkan perpecahan di kalangan orang-orang yang beriman, atau mengandung dukungan kepada kelom-pok yang memusuhi Allah dan RasulNya, maka ia haram dan di-larang, dan begitu sebaliknya. Di antaranya: Bahwa amalan-amalan lahir yang timbul karena kemaksiatan kepada Allah, akan senantiasa menjauhkan pelakunya dari Allah, ia sama dengan terus menerus melakukan kemaksiatan, sehingga dia menyingkirkannya dan bertaubat darinya dengan tau-bat yang sempurna, di mana hatinya terasa hancur karena menyesal dan bersedih. Di antaranya: Jika masjid Quba adalah masjid yang didirikan di atas dasar takwa, maka masjid Nabawi yang beliau dirikan de-ngan tangannya yang penuh berkah, dan Nabi ﷺ bekerja di dalam-nya serta Allah memilihnya untuknya, adalah lebih utama dan lebih layak (untuk dinyatakan bahwa ia didirikan di atas dasar takwa). Di antaranya: Bahwa amal yang dilandasi oleh keikhlasan dan mutaba'ah adalah amal yang dibangun di atas takwa yang membawa pelakunya kepada Surga yang penuh kenikmatan. Dan amal yang dilandasi maksud yang buruk, bid'ah, dan kesesatan, adalah amal yang dibangun di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.
At-Taubah 9:108
"Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang Mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, 'Kami tidak menghendaki selain kebaikan.' Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang di-dirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam? Dan Allah tidak mem-berikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (At-Taubah: 107-110).
(107) Ada beberapa orang munafik dari penduduk Quba membangun masjid dekat masjid Quba dengan maksud memecah belah dan menanamkan benih fitnah di antara orang-orang yang beriman, dan mereka menyiapkannya untuk orang-orang yang me-reka harapkan memerangi Allah dan RasulNya, sekaligus sebagai benteng mereka jika ia diperlukan. Maka Allah تعالى membuka kebu-sukannya dan menampakkan rahasia mereka. ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مَسۡجِدٗا ضِرَارٗا ﴿ "Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendiri-kan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang Mukmin)." Yakni, kemudaratan kepada orang-orang Mukmin dan masjid yang mereka gunakan untuk berkumpul kepadanya, ﴾ وَكُفۡرٗا ﴿ "untuk kekafiran." Yakni maksud mereka adalah kekufuran, jika maksud selain mereka adalah untuk keimanan, ﴾ وَتَفۡرِيقَۢا بَيۡنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin." Yakni agar orang-orang Mukmin berpecah belah, berselisih, dan bersengketa, ﴾ وَإِرۡصَادٗا ﴿ "dan menunggu kedatangan", ﴾ لِّمَنۡ حَارَبَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu." Yakni untuk membantu orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya yang telah lama memusuhi dengan keras, seperti Abu Amir ar-Rahib, salah seorang penduduk Madinah. Ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, Abu Amir ini menolak beriman kepadanya, dia adalah orang ahli ibadah pada masa jahiliyah, maka dia pergi kepada orang-orang musyrik untuk meminta tolong kepada mereka memerangi Rasulullah ﷺ, ketika keinginannya pada orang-orang musyrik tidak terpenuhi, maka dia berangkat ke Kaisar Romawi dengan anggapan dia mau me-nolongnya, tetapi orang yang terlaknat ini mati di jalan, padahal sebelumnya dia dengan orang-orang munafik telah berjanji dan bersekutu (untuk menghancurkan kaum Muslimin). Di antara yang mereka siapkan untuknya adalah masjid dhirar, maka wahyu turun menyampaikan hal itu, lalu Nabi ﷺ mengutus orang-orang untuk merobohkannya dan membakarnya.[99] Masjid itu pun kemudian di-robohkan dan dibakar, dan setelah itu menjadi tempat pembuangan sampah. Allah تعالى berfirman setelah menjelaskan tujuan buruk mereka pada masjid itu. ﴾ وَلَيَحۡلِفُنَّ إِنۡ أَرَدۡنَآ ﴿ "Mereka sesungguhnya bersumpah, 'Kami tidak menghendaki", dalam membangunnya ﴾ إِلَّا ٱلۡحُسۡنَىٰۖ ﴿ "selain kebaik-an." Yakni, membantu orang yang lemah dan buta. ﴾ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)." Kesaksian Allah lebih benar daripada sumpah mereka.
(108) ﴾ لَا تَقُمۡ فِيهِ أَبَدٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu shalat di dalam masjid itu selama-lamanya." Janganlah kamu shalat di masjid yang dibangun untuk dhirar tersebut selama-lamanya, karena Allah telah mencu-kupimu darinya dan kamu tidaklah memerlukannya. ﴾ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ ﴿ "Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama", munculnya Islam di Quba, ia adalah masjid Quba yang didirikan di atas dasar keikhlasan menja-lankan ketaatan kepada Allah, menegakkan dzikir kepadaNya, dan menegakkan syiar-syiar agamaNya, ia adalah masjid tua yang ter-kenal dengan itu. Masjid yang utama ini ﴾ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ ﴿ "adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya," juga beribadah dan berdzikir kepada Allah تعالى. Ia adalah masjid mulia, dan orang-orangnya juga mulia. Oleh ka-rena itu Allah memuji mereka dengan FirmanNya,﴾ فِيهِ رِجَالٞ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْۚ ﴿ "Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri", dari dosa, menyucikan diri dari kotoran, najis, dan hadats. Dan se-perti yang telah diketahui bahwa siapa yang menginginkan sesuatu, maka dia akan berusaha dan bersungguh-sungguh dalam apa yang dicintai, mereka pasti berusaha dengan sungguh-sungguh bersuci dari dosa-dosa, kotoran, dan hadats. Oleh karena itu mereka terma-suk golongan pendahulu dalam Islam, mereka adalah orang-orang yang mendirikan shalat, memelihara jihad bersama Rasulullah ﷺ, menegakkan syariat agama dan mereka termasuk orang-orang yang tidak menyelisihi Allah dan RasulNya. Setelah ayat ini turun yang berisi pujian atas bersucinya mereka, maka Nabi bertanya kepada mereka tentang cara mereka bersuci,[100] mereka menjawab bahwa mereka memakai air (dalam bersuci) setelah sebelumnya mereka memakai batu, maka Allah memuji perbuatan mereka. ﴾ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِينَ ﴿ "Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih", bersih secara maknawi seperti menjauhi kesyirikan dan akhlak-akhlak yang buruk, bersih secara materi seperti menghilangkan najis dan mengangkat hadats.
(109) Kemudian Allah membandingkan antara masjid-mas-jid sesuai dengan maksud para penghuninya dan kesesuaiannya dengan keridhaan Allah. Dia berfirman, ﴾ أَفَمَنۡ أَسَّسَ بُنۡيَٰنَهُۥ عَلَىٰ تَقۡوَىٰ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah," yakni di atas niat baik dan ikhlas, ﴾ وَرِضۡوَٰنٍ ﴿ "dan keridhaan(Nya)," yakni ia sesuai dengan perintahNya, dia mengga-bungkan antara ikhlas dan mutaba'ah dalam amalnya,﴾ خَيۡرٌ أَم مَّنۡ أَسَّسَ بُنۡيَٰنَهُۥ عَلَىٰ شَفَا ﴿ "itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan ba-ngunannya di tepi", yakni di ujung, ﴾ جُرُفٍ هَارٖ ﴿ "jurang yang runtuh", yakni yang rapuh, hampir-hampir roboh,﴾ فَٱنۡهَارَ بِهِۦ فِي نَارِ جَهَنَّمَۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim", yakni, Allah tidak memberi petunjuk ke-pada apa yang menjadi kemaslahatan agama dan dunia.
(110) ﴾ لَا يَزَالُ بُنۡيَٰنُهُمُ ٱلَّذِي بَنَوۡاْ رِيبَةٗ فِي قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati me-reka", yakni kebimbangan yang bersemayam di dalam hati mereka. ﴾ إِلَّآ أَن تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "Kecuali bila hati mereka itu telah hancur", dengan penyesalan yang paripurna, bertaubat kepada Allah, dan takut kepa-daNya dengan sangat. Dengan itu Allah akan memaafkan mereka, namun jika tidak, maka bangunan mereka tidak menambah kecuali keraguan di atas keraguan mereka, dan kemunafikan di atas kemu-nafikan mereka. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui", segala hal, yang lahir dan yang batin, yang samar dan yang terang, serta apa yang dirahasiakan dan ditampakkan oleh hamba-hambaNya. ﴾ حَكِيمٌ ﴿ "Lagi Mahabijaksana." Dia tidak melakukan, tidak menciptakan, ti-dak memerintahkan, dan tidak melarang kecuali apa yang menjadi tuntutan hikmahNya dan Dia memerintahkannya. Oleh karena itu segala puji hanya milik Allah. Di dalam ayat-ayat ini terkandung beberapa faidah: Di antaranya: Haram membangun masjid dengan tujuan me-mudaratkan masjid lain yang di dekatnya, dan wajib merobohkan masjid dhirar tersebut jika maksud orang-orang yang membangun-nya telah diketahui. Di antaranya: Walaupun suatu amal itu adalah baik, ia bisa dirubah oleh niat sehingga berubah menjadi dilarang, sebagaimana niat orang-orang yang membangun masjid dhirar telah merubah amal mereka seperti yang Anda lihat. Di antaranya: Bahwa segala hal yang menyebabkan perpe-cahan di antara orang-orang yang beriman adalah termasuk ke-maksiatan yang harus ditinggalkan dan dilenyapkan, sebagaimana segala hal yang menyebabkan persatuan dan kekompakan kaum Muslimin haruslah diikuti, diperintahkan, dan didorong, karena Allah menjelaskan alasan pembangunan masjid dhirar dengan tujuan yang harus dilarang ini, sebagaimana hal itu mewajibkan kekufuran dan peperangan melawan Allah dan RasulNya. Di antaranya: Larangan shalat di tempat kemaksiatan dan kewajiban menjauhinya. Di antaranya: Bahwa kemaksiatan dapat mempengaruhi tem-pat, sebagaimana kemaksiatan orang-orang munafik mempengaruhi masjid dhirar, sehingga turun larangan shalat di dalamnya. Begitu pula ketaatan berpengaruh pada tempat, sebagaimana ia berpenga-ruh pada masjid Quba, sehingga Allah berfirman tentangnya, ﴾ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ ﴿ "Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya." Oleh karenanya masjid Quba memiliki keutamaan yang tidak dimiliki selainnya, bahkan Nabi ﷺ selalu mengunjungi masjid Quba setiap Hari Sabtu untuk shalat di dalamnya[101] dan Nabi ﷺ mengan-jurkan shalat di dalamnya.[102] Di antaranya: Disimpulkan dari pernyataan illat-illat yang disebutkan di dalam ayat ini, empat kaidah penting yakni; semua perbuatan yang memudaratkan orang Muslim, atau padanya terda-pat kemaksiatan kepada Allah, karena kemaksiatan adalah cabang dari kekufuran, atau menimbulkan perpecahan di kalangan orang-orang yang beriman, atau mengandung dukungan kepada kelom-pok yang memusuhi Allah dan RasulNya, maka ia haram dan di-larang, dan begitu sebaliknya. Di antaranya: Bahwa amalan-amalan lahir yang timbul karena kemaksiatan kepada Allah, akan senantiasa menjauhkan pelakunya dari Allah, ia sama dengan terus menerus melakukan kemaksiatan, sehingga dia menyingkirkannya dan bertaubat darinya dengan tau-bat yang sempurna, di mana hatinya terasa hancur karena menyesal dan bersedih. Di antaranya: Jika masjid Quba adalah masjid yang didirikan di atas dasar takwa, maka masjid Nabawi yang beliau dirikan de-ngan tangannya yang penuh berkah, dan Nabi ﷺ bekerja di dalam-nya serta Allah memilihnya untuknya, adalah lebih utama dan lebih layak (untuk dinyatakan bahwa ia didirikan di atas dasar takwa). Di antaranya: Bahwa amal yang dilandasi oleh keikhlasan dan mutaba'ah adalah amal yang dibangun di atas takwa yang membawa pelakunya kepada Surga yang penuh kenikmatan. Dan amal yang dilandasi maksud yang buruk, bid'ah, dan kesesatan, adalah amal yang dibangun di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.
At-Taubah 9:109
"Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang Mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, 'Kami tidak menghendaki selain kebaikan.' Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang di-dirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam? Dan Allah tidak mem-berikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (At-Taubah: 107-110).
(107) Ada beberapa orang munafik dari penduduk Quba membangun masjid dekat masjid Quba dengan maksud memecah belah dan menanamkan benih fitnah di antara orang-orang yang beriman, dan mereka menyiapkannya untuk orang-orang yang me-reka harapkan memerangi Allah dan RasulNya, sekaligus sebagai benteng mereka jika ia diperlukan. Maka Allah تعالى membuka kebu-sukannya dan menampakkan rahasia mereka. ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مَسۡجِدٗا ضِرَارٗا ﴿ "Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendiri-kan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang Mukmin)." Yakni, kemudaratan kepada orang-orang Mukmin dan masjid yang mereka gunakan untuk berkumpul kepadanya, ﴾ وَكُفۡرٗا ﴿ "untuk kekafiran." Yakni maksud mereka adalah kekufuran, jika maksud selain mereka adalah untuk keimanan, ﴾ وَتَفۡرِيقَۢا بَيۡنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin." Yakni agar orang-orang Mukmin berpecah belah, berselisih, dan bersengketa, ﴾ وَإِرۡصَادٗا ﴿ "dan menunggu kedatangan", ﴾ لِّمَنۡ حَارَبَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu." Yakni untuk membantu orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya yang telah lama memusuhi dengan keras, seperti Abu Amir ar-Rahib, salah seorang penduduk Madinah. Ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, Abu Amir ini menolak beriman kepadanya, dia adalah orang ahli ibadah pada masa jahiliyah, maka dia pergi kepada orang-orang musyrik untuk meminta tolong kepada mereka memerangi Rasulullah ﷺ, ketika keinginannya pada orang-orang musyrik tidak terpenuhi, maka dia berangkat ke Kaisar Romawi dengan anggapan dia mau me-nolongnya, tetapi orang yang terlaknat ini mati di jalan, padahal sebelumnya dia dengan orang-orang munafik telah berjanji dan bersekutu (untuk menghancurkan kaum Muslimin). Di antara yang mereka siapkan untuknya adalah masjid dhirar, maka wahyu turun menyampaikan hal itu, lalu Nabi ﷺ mengutus orang-orang untuk merobohkannya dan membakarnya.[99] Masjid itu pun kemudian di-robohkan dan dibakar, dan setelah itu menjadi tempat pembuangan sampah. Allah تعالى berfirman setelah menjelaskan tujuan buruk mereka pada masjid itu. ﴾ وَلَيَحۡلِفُنَّ إِنۡ أَرَدۡنَآ ﴿ "Mereka sesungguhnya bersumpah, 'Kami tidak menghendaki", dalam membangunnya ﴾ إِلَّا ٱلۡحُسۡنَىٰۖ ﴿ "selain kebaik-an." Yakni, membantu orang yang lemah dan buta. ﴾ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)." Kesaksian Allah lebih benar daripada sumpah mereka.
(108) ﴾ لَا تَقُمۡ فِيهِ أَبَدٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu shalat di dalam masjid itu selama-lamanya." Janganlah kamu shalat di masjid yang dibangun untuk dhirar tersebut selama-lamanya, karena Allah telah mencu-kupimu darinya dan kamu tidaklah memerlukannya. ﴾ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ ﴿ "Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama", munculnya Islam di Quba, ia adalah masjid Quba yang didirikan di atas dasar keikhlasan menja-lankan ketaatan kepada Allah, menegakkan dzikir kepadaNya, dan menegakkan syiar-syiar agamaNya, ia adalah masjid tua yang ter-kenal dengan itu. Masjid yang utama ini ﴾ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ ﴿ "adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya," juga beribadah dan berdzikir kepada Allah تعالى. Ia adalah masjid mulia, dan orang-orangnya juga mulia. Oleh ka-rena itu Allah memuji mereka dengan FirmanNya,﴾ فِيهِ رِجَالٞ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْۚ ﴿ "Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri", dari dosa, menyucikan diri dari kotoran, najis, dan hadats. Dan se-perti yang telah diketahui bahwa siapa yang menginginkan sesuatu, maka dia akan berusaha dan bersungguh-sungguh dalam apa yang dicintai, mereka pasti berusaha dengan sungguh-sungguh bersuci dari dosa-dosa, kotoran, dan hadats. Oleh karena itu mereka terma-suk golongan pendahulu dalam Islam, mereka adalah orang-orang yang mendirikan shalat, memelihara jihad bersama Rasulullah ﷺ, menegakkan syariat agama dan mereka termasuk orang-orang yang tidak menyelisihi Allah dan RasulNya. Setelah ayat ini turun yang berisi pujian atas bersucinya mereka, maka Nabi bertanya kepada mereka tentang cara mereka bersuci,[100] mereka menjawab bahwa mereka memakai air (dalam bersuci) setelah sebelumnya mereka memakai batu, maka Allah memuji perbuatan mereka. ﴾ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِينَ ﴿ "Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih", bersih secara maknawi seperti menjauhi kesyirikan dan akhlak-akhlak yang buruk, bersih secara materi seperti menghilangkan najis dan mengangkat hadats.
(109) Kemudian Allah membandingkan antara masjid-mas-jid sesuai dengan maksud para penghuninya dan kesesuaiannya dengan keridhaan Allah. Dia berfirman, ﴾ أَفَمَنۡ أَسَّسَ بُنۡيَٰنَهُۥ عَلَىٰ تَقۡوَىٰ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah," yakni di atas niat baik dan ikhlas, ﴾ وَرِضۡوَٰنٍ ﴿ "dan keridhaan(Nya)," yakni ia sesuai dengan perintahNya, dia mengga-bungkan antara ikhlas dan mutaba'ah dalam amalnya,﴾ خَيۡرٌ أَم مَّنۡ أَسَّسَ بُنۡيَٰنَهُۥ عَلَىٰ شَفَا ﴿ "itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan ba-ngunannya di tepi", yakni di ujung, ﴾ جُرُفٍ هَارٖ ﴿ "jurang yang runtuh", yakni yang rapuh, hampir-hampir roboh,﴾ فَٱنۡهَارَ بِهِۦ فِي نَارِ جَهَنَّمَۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim", yakni, Allah tidak memberi petunjuk ke-pada apa yang menjadi kemaslahatan agama dan dunia.
(110) ﴾ لَا يَزَالُ بُنۡيَٰنُهُمُ ٱلَّذِي بَنَوۡاْ رِيبَةٗ فِي قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati me-reka", yakni kebimbangan yang bersemayam di dalam hati mereka. ﴾ إِلَّآ أَن تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "Kecuali bila hati mereka itu telah hancur", dengan penyesalan yang paripurna, bertaubat kepada Allah, dan takut kepa-daNya dengan sangat. Dengan itu Allah akan memaafkan mereka, namun jika tidak, maka bangunan mereka tidak menambah kecuali keraguan di atas keraguan mereka, dan kemunafikan di atas kemu-nafikan mereka. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui", segala hal, yang lahir dan yang batin, yang samar dan yang terang, serta apa yang dirahasiakan dan ditampakkan oleh hamba-hambaNya. ﴾ حَكِيمٌ ﴿ "Lagi Mahabijaksana." Dia tidak melakukan, tidak menciptakan, ti-dak memerintahkan, dan tidak melarang kecuali apa yang menjadi tuntutan hikmahNya dan Dia memerintahkannya. Oleh karena itu segala puji hanya milik Allah. Di dalam ayat-ayat ini terkandung beberapa faidah: Di antaranya: Haram membangun masjid dengan tujuan me-mudaratkan masjid lain yang di dekatnya, dan wajib merobohkan masjid dhirar tersebut jika maksud orang-orang yang membangun-nya telah diketahui. Di antaranya: Walaupun suatu amal itu adalah baik, ia bisa dirubah oleh niat sehingga berubah menjadi dilarang, sebagaimana niat orang-orang yang membangun masjid dhirar telah merubah amal mereka seperti yang Anda lihat. Di antaranya: Bahwa segala hal yang menyebabkan perpe-cahan di antara orang-orang yang beriman adalah termasuk ke-maksiatan yang harus ditinggalkan dan dilenyapkan, sebagaimana segala hal yang menyebabkan persatuan dan kekompakan kaum Muslimin haruslah diikuti, diperintahkan, dan didorong, karena Allah menjelaskan alasan pembangunan masjid dhirar dengan tujuan yang harus dilarang ini, sebagaimana hal itu mewajibkan kekufuran dan peperangan melawan Allah dan RasulNya. Di antaranya: Larangan shalat di tempat kemaksiatan dan kewajiban menjauhinya. Di antaranya: Bahwa kemaksiatan dapat mempengaruhi tem-pat, sebagaimana kemaksiatan orang-orang munafik mempengaruhi masjid dhirar, sehingga turun larangan shalat di dalamnya. Begitu pula ketaatan berpengaruh pada tempat, sebagaimana ia berpenga-ruh pada masjid Quba, sehingga Allah berfirman tentangnya, ﴾ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ ﴿ "Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya." Oleh karenanya masjid Quba memiliki keutamaan yang tidak dimiliki selainnya, bahkan Nabi ﷺ selalu mengunjungi masjid Quba setiap Hari Sabtu untuk shalat di dalamnya[101] dan Nabi ﷺ mengan-jurkan shalat di dalamnya.[102] Di antaranya: Disimpulkan dari pernyataan illat-illat yang disebutkan di dalam ayat ini, empat kaidah penting yakni; semua perbuatan yang memudaratkan orang Muslim, atau padanya terda-pat kemaksiatan kepada Allah, karena kemaksiatan adalah cabang dari kekufuran, atau menimbulkan perpecahan di kalangan orang-orang yang beriman, atau mengandung dukungan kepada kelom-pok yang memusuhi Allah dan RasulNya, maka ia haram dan di-larang, dan begitu sebaliknya. Di antaranya: Bahwa amalan-amalan lahir yang timbul karena kemaksiatan kepada Allah, akan senantiasa menjauhkan pelakunya dari Allah, ia sama dengan terus menerus melakukan kemaksiatan, sehingga dia menyingkirkannya dan bertaubat darinya dengan tau-bat yang sempurna, di mana hatinya terasa hancur karena menyesal dan bersedih. Di antaranya: Jika masjid Quba adalah masjid yang didirikan di atas dasar takwa, maka masjid Nabawi yang beliau dirikan de-ngan tangannya yang penuh berkah, dan Nabi ﷺ bekerja di dalam-nya serta Allah memilihnya untuknya, adalah lebih utama dan lebih layak (untuk dinyatakan bahwa ia didirikan di atas dasar takwa). Di antaranya: Bahwa amal yang dilandasi oleh keikhlasan dan mutaba'ah adalah amal yang dibangun di atas takwa yang membawa pelakunya kepada Surga yang penuh kenikmatan. Dan amal yang dilandasi maksud yang buruk, bid'ah, dan kesesatan, adalah amal yang dibangun di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.
At-Taubah 9:110
"Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang Mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, 'Kami tidak menghendaki selain kebaikan.' Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang di-dirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam? Dan Allah tidak mem-berikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (At-Taubah: 107-110).
(107) Ada beberapa orang munafik dari penduduk Quba membangun masjid dekat masjid Quba dengan maksud memecah belah dan menanamkan benih fitnah di antara orang-orang yang beriman, dan mereka menyiapkannya untuk orang-orang yang me-reka harapkan memerangi Allah dan RasulNya, sekaligus sebagai benteng mereka jika ia diperlukan. Maka Allah تعالى membuka kebu-sukannya dan menampakkan rahasia mereka. ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مَسۡجِدٗا ضِرَارٗا ﴿ "Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendiri-kan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang Mukmin)." Yakni, kemudaratan kepada orang-orang Mukmin dan masjid yang mereka gunakan untuk berkumpul kepadanya, ﴾ وَكُفۡرٗا ﴿ "untuk kekafiran." Yakni maksud mereka adalah kekufuran, jika maksud selain mereka adalah untuk keimanan, ﴾ وَتَفۡرِيقَۢا بَيۡنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin." Yakni agar orang-orang Mukmin berpecah belah, berselisih, dan bersengketa, ﴾ وَإِرۡصَادٗا ﴿ "dan menunggu kedatangan", ﴾ لِّمَنۡ حَارَبَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu." Yakni untuk membantu orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya yang telah lama memusuhi dengan keras, seperti Abu Amir ar-Rahib, salah seorang penduduk Madinah. Ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, Abu Amir ini menolak beriman kepadanya, dia adalah orang ahli ibadah pada masa jahiliyah, maka dia pergi kepada orang-orang musyrik untuk meminta tolong kepada mereka memerangi Rasulullah ﷺ, ketika keinginannya pada orang-orang musyrik tidak terpenuhi, maka dia berangkat ke Kaisar Romawi dengan anggapan dia mau me-nolongnya, tetapi orang yang terlaknat ini mati di jalan, padahal sebelumnya dia dengan orang-orang munafik telah berjanji dan bersekutu (untuk menghancurkan kaum Muslimin). Di antara yang mereka siapkan untuknya adalah masjid dhirar, maka wahyu turun menyampaikan hal itu, lalu Nabi ﷺ mengutus orang-orang untuk merobohkannya dan membakarnya.[99] Masjid itu pun kemudian di-robohkan dan dibakar, dan setelah itu menjadi tempat pembuangan sampah. Allah تعالى berfirman setelah menjelaskan tujuan buruk mereka pada masjid itu. ﴾ وَلَيَحۡلِفُنَّ إِنۡ أَرَدۡنَآ ﴿ "Mereka sesungguhnya bersumpah, 'Kami tidak menghendaki", dalam membangunnya ﴾ إِلَّا ٱلۡحُسۡنَىٰۖ ﴿ "selain kebaik-an." Yakni, membantu orang yang lemah dan buta. ﴾ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)." Kesaksian Allah lebih benar daripada sumpah mereka.
(108) ﴾ لَا تَقُمۡ فِيهِ أَبَدٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu shalat di dalam masjid itu selama-lamanya." Janganlah kamu shalat di masjid yang dibangun untuk dhirar tersebut selama-lamanya, karena Allah telah mencu-kupimu darinya dan kamu tidaklah memerlukannya. ﴾ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ ﴿ "Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama", munculnya Islam di Quba, ia adalah masjid Quba yang didirikan di atas dasar keikhlasan menja-lankan ketaatan kepada Allah, menegakkan dzikir kepadaNya, dan menegakkan syiar-syiar agamaNya, ia adalah masjid tua yang ter-kenal dengan itu. Masjid yang utama ini ﴾ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ ﴿ "adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya," juga beribadah dan berdzikir kepada Allah تعالى. Ia adalah masjid mulia, dan orang-orangnya juga mulia. Oleh ka-rena itu Allah memuji mereka dengan FirmanNya,﴾ فِيهِ رِجَالٞ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْۚ ﴿ "Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri", dari dosa, menyucikan diri dari kotoran, najis, dan hadats. Dan se-perti yang telah diketahui bahwa siapa yang menginginkan sesuatu, maka dia akan berusaha dan bersungguh-sungguh dalam apa yang dicintai, mereka pasti berusaha dengan sungguh-sungguh bersuci dari dosa-dosa, kotoran, dan hadats. Oleh karena itu mereka terma-suk golongan pendahulu dalam Islam, mereka adalah orang-orang yang mendirikan shalat, memelihara jihad bersama Rasulullah ﷺ, menegakkan syariat agama dan mereka termasuk orang-orang yang tidak menyelisihi Allah dan RasulNya. Setelah ayat ini turun yang berisi pujian atas bersucinya mereka, maka Nabi bertanya kepada mereka tentang cara mereka bersuci,[100] mereka menjawab bahwa mereka memakai air (dalam bersuci) setelah sebelumnya mereka memakai batu, maka Allah memuji perbuatan mereka. ﴾ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِينَ ﴿ "Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih", bersih secara maknawi seperti menjauhi kesyirikan dan akhlak-akhlak yang buruk, bersih secara materi seperti menghilangkan najis dan mengangkat hadats.
(109) Kemudian Allah membandingkan antara masjid-mas-jid sesuai dengan maksud para penghuninya dan kesesuaiannya dengan keridhaan Allah. Dia berfirman, ﴾ أَفَمَنۡ أَسَّسَ بُنۡيَٰنَهُۥ عَلَىٰ تَقۡوَىٰ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah," yakni di atas niat baik dan ikhlas, ﴾ وَرِضۡوَٰنٍ ﴿ "dan keridhaan(Nya)," yakni ia sesuai dengan perintahNya, dia mengga-bungkan antara ikhlas dan mutaba'ah dalam amalnya,﴾ خَيۡرٌ أَم مَّنۡ أَسَّسَ بُنۡيَٰنَهُۥ عَلَىٰ شَفَا ﴿ "itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan ba-ngunannya di tepi", yakni di ujung, ﴾ جُرُفٍ هَارٖ ﴿ "jurang yang runtuh", yakni yang rapuh, hampir-hampir roboh,﴾ فَٱنۡهَارَ بِهِۦ فِي نَارِ جَهَنَّمَۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim", yakni, Allah tidak memberi petunjuk ke-pada apa yang menjadi kemaslahatan agama dan dunia.
(110) ﴾ لَا يَزَالُ بُنۡيَٰنُهُمُ ٱلَّذِي بَنَوۡاْ رِيبَةٗ فِي قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati me-reka", yakni kebimbangan yang bersemayam di dalam hati mereka. ﴾ إِلَّآ أَن تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "Kecuali bila hati mereka itu telah hancur", dengan penyesalan yang paripurna, bertaubat kepada Allah, dan takut kepa-daNya dengan sangat. Dengan itu Allah akan memaafkan mereka, namun jika tidak, maka bangunan mereka tidak menambah kecuali keraguan di atas keraguan mereka, dan kemunafikan di atas kemu-nafikan mereka. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui", segala hal, yang lahir dan yang batin, yang samar dan yang terang, serta apa yang dirahasiakan dan ditampakkan oleh hamba-hambaNya. ﴾ حَكِيمٌ ﴿ "Lagi Mahabijaksana." Dia tidak melakukan, tidak menciptakan, ti-dak memerintahkan, dan tidak melarang kecuali apa yang menjadi tuntutan hikmahNya dan Dia memerintahkannya. Oleh karena itu segala puji hanya milik Allah. Di dalam ayat-ayat ini terkandung beberapa faidah: Di antaranya: Haram membangun masjid dengan tujuan me-mudaratkan masjid lain yang di dekatnya, dan wajib merobohkan masjid dhirar tersebut jika maksud orang-orang yang membangun-nya telah diketahui. Di antaranya: Walaupun suatu amal itu adalah baik, ia bisa dirubah oleh niat sehingga berubah menjadi dilarang, sebagaimana niat orang-orang yang membangun masjid dhirar telah merubah amal mereka seperti yang Anda lihat. Di antaranya: Bahwa segala hal yang menyebabkan perpe-cahan di antara orang-orang yang beriman adalah termasuk ke-maksiatan yang harus ditinggalkan dan dilenyapkan, sebagaimana segala hal yang menyebabkan persatuan dan kekompakan kaum Muslimin haruslah diikuti, diperintahkan, dan didorong, karena Allah menjelaskan alasan pembangunan masjid dhirar dengan tujuan yang harus dilarang ini, sebagaimana hal itu mewajibkan kekufuran dan peperangan melawan Allah dan RasulNya. Di antaranya: Larangan shalat di tempat kemaksiatan dan kewajiban menjauhinya. Di antaranya: Bahwa kemaksiatan dapat mempengaruhi tem-pat, sebagaimana kemaksiatan orang-orang munafik mempengaruhi masjid dhirar, sehingga turun larangan shalat di dalamnya. Begitu pula ketaatan berpengaruh pada tempat, sebagaimana ia berpenga-ruh pada masjid Quba, sehingga Allah berfirman tentangnya, ﴾ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ ﴿ "Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya." Oleh karenanya masjid Quba memiliki keutamaan yang tidak dimiliki selainnya, bahkan Nabi ﷺ selalu mengunjungi masjid Quba setiap Hari Sabtu untuk shalat di dalamnya[101] dan Nabi ﷺ mengan-jurkan shalat di dalamnya.[102] Di antaranya: Disimpulkan dari pernyataan illat-illat yang disebutkan di dalam ayat ini, empat kaidah penting yakni; semua perbuatan yang memudaratkan orang Muslim, atau padanya terda-pat kemaksiatan kepada Allah, karena kemaksiatan adalah cabang dari kekufuran, atau menimbulkan perpecahan di kalangan orang-orang yang beriman, atau mengandung dukungan kepada kelom-pok yang memusuhi Allah dan RasulNya, maka ia haram dan di-larang, dan begitu sebaliknya. Di antaranya: Bahwa amalan-amalan lahir yang timbul karena kemaksiatan kepada Allah, akan senantiasa menjauhkan pelakunya dari Allah, ia sama dengan terus menerus melakukan kemaksiatan, sehingga dia menyingkirkannya dan bertaubat darinya dengan tau-bat yang sempurna, di mana hatinya terasa hancur karena menyesal dan bersedih. Di antaranya: Jika masjid Quba adalah masjid yang didirikan di atas dasar takwa, maka masjid Nabawi yang beliau dirikan de-ngan tangannya yang penuh berkah, dan Nabi ﷺ bekerja di dalam-nya serta Allah memilihnya untuknya, adalah lebih utama dan lebih layak (untuk dinyatakan bahwa ia didirikan di atas dasar takwa). Di antaranya: Bahwa amal yang dilandasi oleh keikhlasan dan mutaba'ah adalah amal yang dibangun di atas takwa yang membawa pelakunya kepada Surga yang penuh kenikmatan. Dan amal yang dilandasi maksud yang buruk, bid'ah, dan kesesatan, adalah amal yang dibangun di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.
At-Taubah 9:111
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Muk-min, diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 111).
(111) Allah تعالى mengabarkan suatu berita yang benar dan menjanjikan janji yang benar dengan jual beli dan tukar menukar yang agung, yaitu bahwa Dia ﴾ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم ﴿ "membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka." Diri dan harta ter-sebut adalah harga dan barang yang dijual ﴾ بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ ﴿ "dengan memberikan Surga untuk mereka", yang di dalamnya terdapat segala yang diinginkan oleh jiwa dan yang dinikmati oleh mata, dari ber-bagai bentuk kenikmatan, kesenangan, kebahagiaan, bidadari-bida-dari yang jelita, dan tempat tinggal yang indah. Bentuk akad dan jual belinya adalah hendaknya mereka mengorbankan jiwa dan harta mereka untuk Allah dalam berjihad melawan musuh-musuh-Nya, untuk meninggikan kalimatNya dan menampakkan agama-Nya. ﴾ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ ﴿ "Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh." Akad dan jual beli ini dinyatakan Allah dengan ditegaskan dengan berbagai penegasan. ﴾ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ وَٱلۡقُرۡءَانِۚ ﴿ "(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur`an." Yang merupa-kan kitab paling mulia, paling sempurna, dan paling tinggi, yang hadir di dunia, ia dibawa oleh para rasul ulul azmi paling sempurna, dan semuanya sepakat di atas janji yang benar ini.﴾ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِعَهۡدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِۚ فَٱسۡتَبۡشِرُواْ ﴿ "Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah", wahai orang-orang Mukmin yang me-laksanakan apa yang telah Allah janjikan ﴾ بِبَيۡعِكُمُ ٱلَّذِي بَايَعۡتُم بِهِۦۚ ﴿ "dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu", yakni agar kamu berbahagia dengan itu, agar sebagian menyampaikan berita kepada sebagian yang lain, dan sebagian mendorong sebagian yang lain. ﴾ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Dan itulah kemenangan yang besar", yang tidak ada ke-beruntungan yang lebih besar dan lebih mulia darinya, karena ia mengandung kebahagiaan abadi dan nikmat yang langgeng, serta keridhaan Allah yang lebih besar daripada kenikmatan Surga. Jika kamu ingin mengetahui kadar transaksi perdagangan ter-sebut, maka lihatlah kepada pembeli, siapa dia? Dia-lah Allah r, lihatlah gantinya, yaitu ganti yang paling agung dan paling mulia, Surga yang penuh dengan segala kenikmatan, lihatlah kepada harga yang dibayarkan padanya, yaitu jiwa dan harta yang merupakan sesuatu yang paling dicintai oleh manusia, lihatlah kepada orang yang mana jual beli ini terjadi melalui kedua tangannya, yaitu Rasul paling mulia, dengan kitab apa ia dicatat? Dengan Kitab Allah yang termulia yang dibawa oleh makhluk termulia.
At-Taubah 9:112
"Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beriba-dah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat mungkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan berilah kabar gem-bira orang-orang Mukmin itu." (At-Taubah: 112).
(112) Sepertinya dikatakan, siapakah orang-orang Mukmin yang memperoleh berita gembira dari Allah dengan surga dan ke-muliaan? Mereka itu adalah ﴾ ٱلتَّٰٓئِبُونَ ﴿ "orang-orang yang bertaubat", yaitu orang-orang yang selalu bertaubat dari seluruh kesalahan da-lam setiap waktu ﴾ ٱلۡعَٰبِدُونَ ﴿ "yang beribadah", yang memiliki sifat ubudiyah kepada Allah, terus menerus menaatiNya dengan mela-kukan perkara-perkara yang wajib dan yang dianjurkan setiap saat. Dengan itu seorang hamba termasuk orang-orang yang beribadah ﴾ ٱلۡحَٰمِدُونَ ﴿ "yang memuji (Allah)", dalam keadaan susah, senang, mudah maupun sulit, mengakui nikmat-nikmat Allah atasnya, baik yang lahir dan yang batin, yang memuji Allah dengan menyebut nikmat dan menyebut Pemberi nikmat di malam dan siang hari ﴾ ٱلسَّٰٓئِحُونَ ﴿ "yang melawat", ia ditafsirkan dengan puasa atau dengan menuntut ilmu, ditafsirkan pula dengan melawatnya hati untuk mengetahui Allah, mencintaiNya, dan selalu kembali kepadaNya. Dan yang benar adalah bahwa ia adalah bepergian untuk ibadah seperti haji, umrah, jihad, mencari ilmu, silaturahim dan lain-lain. ﴾ ٱلرَّٰكِعُونَ ٱلسَّٰجِدُونَ ﴿ "Yang rukuk, yang sujud." Yakni orang-orang yang memperbanyak shalat yang berisi rukuk dan sujud ﴾ ٱلۡأٓمِرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "yang menyuruh berbuat ma'ruf," termasuk di dalam-nya adalah yang wajib dan yang dianjurkan ﴾ وَٱلنَّاهُونَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan mencegah berbuat mungkar", yaitu semua yang dilarang oleh Allah dan RasulNya. ﴾ وَٱلۡحَٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِۗ ﴿ "Dan yang memelihara hukum-hukum Allah", dengan mempelajari hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNya dan apa yang masuk ke dalam perintah, larangan, dan hukum-hukum yang lain, serta apa yang tidak masuk ke dalam perkara tersebut, dan mereka senantiasa melakukan (yang diperintahkan) dan meninggalkan (yang dilarang). ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berilah kabar gembira orang-orang Mukmin itu." Tidak disebut-kan dengan apa mereka digembirakan, agar ia mencakup pahala dunia, agama, dan akhirat yang merupakan buah dari iman. Berita gembira ini meliputi setiap Mukmin. Adapun kadar dan sifatnya, maka ia sesuai dengan keadaan dan keimanan seorang Mukmin dari segi lemah, kuat, dan penerapan terhadap konsekuensinya.
At-Taubah 9:113
"Tidaklah patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni Neraka Jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah ka-rena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah mu-suh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibra-him adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 113-114).
(113) Yakni, tidak layak dan tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman kepadanya ﴾ أَن يَسۡتَغۡفِرُواْ لِلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "memin-takan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik", yakni orang yang kafir kepadaNya dan menyembah selainNya bersamaNya ﴾ وَلَوۡ كَانُوٓاْ أُوْلِي قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "walaupun orang-orang musy-rik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni Neraka Jahanam." Karena memintakan ampun untuk mereka dalam keadaan ini adalah salah dan tidak berguna, maka ia tidak patut dilakukan Nabi dan orang-orang yang beriman, karena jika mereka mati di atas kesyirikan, atau diketahui bahwa mereka mati di atasnya, maka telah wajib atasnya siksa, wajib atasnya kekal di dalam Neraka, syafa'at pemberi syafa'at dan permohonan ampunan orang-orang yang meminta ampunan tidak berguna baginya. Di samping itu, Nabi dan orang-orang yang beriman harus menyesuaikan diri dengan Allah dalam kecintaan dan kemarahan, mencintai orang yang dicintai oleh Allah, dan memusuhi orang yang dimusuhi oleh Allah, sedangkan memo-hon ampun bagi orang yang jelas bahwa mereka adalah penghuni Neraka adalah bertentangan dan bertabrakan dengan itu.
(114) Kalaupun ada istighfar dari Khalil ar-Rahman, Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya, maka itu ﴾ عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ ﴿ "tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapak-nya itu." Yaitu perkataannya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Hal itu sebelum Ibrahim mengetahui akhir hidup bapaknya. ﴾ فَلَمَّا تَبَيَّنَ ﴿ "Maka tatkala jelas" bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu, ﴾ عَدُوّٞ لِّلَّهِ ﴿ "adalah musuh Allah", mati di atas kekufuran, dan nasihat serta peringatan tidak berguna baginya, ﴾ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ ﴿ "maka Ibrahim berlepas diri darinya." Menyesuaikan diri dengan Rabbnya dan beradab di ha-dapanNya. ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya", yakni yang selalu kembali kepada Allah dalam segala perkara, banyak berdzikir, berdoa, istighfar, dan ber-taubat kepadaNya. ﴾ حَلِيمٞ ﴿ "Lagi penyantun." Yakni, memiliki sifat kasih sayang kepada makhluk, memaafkan kesalahan mereka ke-padanya, tidak terpicu oleh perbuatan bodoh orang yang bodoh, dan tidak membalas orang yang berbuat jahat kepadanya dengan kejahatan. Bapaknya berkata kepadanya, ﴾ لَأَرۡجُمَنَّكَۖ ﴿ "Niscaya kamu akan kurajam." (Maryam: 46). Sedangkan Ibrahim menjawab, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكَۖ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ ﴿ "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku." (Maryam: 47). Maka kamu harus mengikuti dan meneladani agama Ibrahim dalam segala sesuatu, kecuali ucapan Ibrahim kepada bapaknya, ﴾ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ ﴿ "Aku benar-benar akan memohonkan ampunan (kepada Allah) un-tukmu." (Al-Mumtahanah: 4) Sebagaimana Allah telah memperingatkan itu dan yang lain-nya. Oleh karena itu Dia berfirman,
At-Taubah 9:114
"Tidaklah patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni Neraka Jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah ka-rena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah mu-suh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibra-him adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 113-114).
(113) Yakni, tidak layak dan tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman kepadanya ﴾ أَن يَسۡتَغۡفِرُواْ لِلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "memin-takan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik", yakni orang yang kafir kepadaNya dan menyembah selainNya bersamaNya ﴾ وَلَوۡ كَانُوٓاْ أُوْلِي قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "walaupun orang-orang musy-rik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni Neraka Jahanam." Karena memintakan ampun untuk mereka dalam keadaan ini adalah salah dan tidak berguna, maka ia tidak patut dilakukan Nabi dan orang-orang yang beriman, karena jika mereka mati di atas kesyirikan, atau diketahui bahwa mereka mati di atasnya, maka telah wajib atasnya siksa, wajib atasnya kekal di dalam Neraka, syafa'at pemberi syafa'at dan permohonan ampunan orang-orang yang meminta ampunan tidak berguna baginya. Di samping itu, Nabi dan orang-orang yang beriman harus menyesuaikan diri dengan Allah dalam kecintaan dan kemarahan, mencintai orang yang dicintai oleh Allah, dan memusuhi orang yang dimusuhi oleh Allah, sedangkan memo-hon ampun bagi orang yang jelas bahwa mereka adalah penghuni Neraka adalah bertentangan dan bertabrakan dengan itu.
(114) Kalaupun ada istighfar dari Khalil ar-Rahman, Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya, maka itu ﴾ عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ ﴿ "tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapak-nya itu." Yaitu perkataannya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Hal itu sebelum Ibrahim mengetahui akhir hidup bapaknya. ﴾ فَلَمَّا تَبَيَّنَ ﴿ "Maka tatkala jelas" bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu, ﴾ عَدُوّٞ لِّلَّهِ ﴿ "adalah musuh Allah", mati di atas kekufuran, dan nasihat serta peringatan tidak berguna baginya, ﴾ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ ﴿ "maka Ibrahim berlepas diri darinya." Menyesuaikan diri dengan Rabbnya dan beradab di ha-dapanNya. ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya", yakni yang selalu kembali kepada Allah dalam segala perkara, banyak berdzikir, berdoa, istighfar, dan ber-taubat kepadaNya. ﴾ حَلِيمٞ ﴿ "Lagi penyantun." Yakni, memiliki sifat kasih sayang kepada makhluk, memaafkan kesalahan mereka ke-padanya, tidak terpicu oleh perbuatan bodoh orang yang bodoh, dan tidak membalas orang yang berbuat jahat kepadanya dengan kejahatan. Bapaknya berkata kepadanya, ﴾ لَأَرۡجُمَنَّكَۖ ﴿ "Niscaya kamu akan kurajam." (Maryam: 46). Sedangkan Ibrahim menjawab, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكَۖ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ ﴿ "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku." (Maryam: 47). Maka kamu harus mengikuti dan meneladani agama Ibrahim dalam segala sesuatu, kecuali ucapan Ibrahim kepada bapaknya, ﴾ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ ﴿ "Aku benar-benar akan memohonkan ampunan (kepada Allah) un-tukmu." (Al-Mumtahanah: 4) Sebagaimana Allah telah memperingatkan itu dan yang lain-nya. Oleh karena itu Dia berfirman,
At-Taubah 9:115
"Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mema-tikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah." (At-Taubah: 115-116).
(115) Yakni, bahwa Allah تعالى jika memberi nikmat hidayah kepada suatu kaum, dan Dia memerintahkan mereka meniti jalan yang lurus, maka Dia تعالى menyempurnakan kebaikanNya kepada mereka, serta menjelaskan kepada mereka segala apa yang mereka perlukan dan butuhkan. Dia tidak membiarkan mereka dalam ke-adaan sesat dan tidak mengetahui perkara agama mereka. Ini me-ngandung dalil atas kesempurnaan rahmatNya dan bahwa syariat-Nya meliputi segala apa yang dibutuhkan oleh manusia dalam ma-salah pokok-pokok maupun cabang-cabangnya. Ada kemungkinan bahwa maksud dari hal itu adalah, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِلَّ قَوۡمَۢا بَعۡدَ إِذۡ هَدَىٰهُمۡ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَۚ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi." Jika Allah menjelas-kan apa yang mesti mereka hindari, lalu mereka tidak tunduk kepa-daNya, maka Dia menghukum mereka dengan kesesatan sebagai balasan atas penolakan mereka terhadap kebenaran yang jelas. Na-mun kemungkinan tafsir yang pertama itu lebih utama. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Karena ilmuNya yang sempurna dan menyeluruh, Dia mengajarkan kepa-damu apa yang tidak kamu ketahui dan menjelaskan apa yang bermanfaat bagimu.
(116) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۚ ﴿ "Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan." Yakni, Dia-lah Pemiliknya, yang mengatur hamba-hambaNya de-ngan menghidupkan dan mematikan serta aturan-aturan ilahiyah yang lain. Jika tidak ada aturan takdirNya yang cacat maka bagai-mana mungkin ada aturan agamaNya yang cacat, yang berkaitan dengan uluhiyahNya dan Dia membiarkan hamba-hambaNya begitu saja atau membiarkan mereka tersesat dan bodoh, padahal itu adalah perhatian terbesar dariNya kepada hamba-hambaNya, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah." Yakni pelindung yang melindungimu dengan mendatangkan manfaat bagimu atau penolong yang menolak mudarat darimu.
At-Taubah 9:116
"Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mema-tikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah." (At-Taubah: 115-116).
(115) Yakni, bahwa Allah تعالى jika memberi nikmat hidayah kepada suatu kaum, dan Dia memerintahkan mereka meniti jalan yang lurus, maka Dia تعالى menyempurnakan kebaikanNya kepada mereka, serta menjelaskan kepada mereka segala apa yang mereka perlukan dan butuhkan. Dia tidak membiarkan mereka dalam ke-adaan sesat dan tidak mengetahui perkara agama mereka. Ini me-ngandung dalil atas kesempurnaan rahmatNya dan bahwa syariat-Nya meliputi segala apa yang dibutuhkan oleh manusia dalam ma-salah pokok-pokok maupun cabang-cabangnya. Ada kemungkinan bahwa maksud dari hal itu adalah, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِلَّ قَوۡمَۢا بَعۡدَ إِذۡ هَدَىٰهُمۡ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَۚ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi." Jika Allah menjelas-kan apa yang mesti mereka hindari, lalu mereka tidak tunduk kepa-daNya, maka Dia menghukum mereka dengan kesesatan sebagai balasan atas penolakan mereka terhadap kebenaran yang jelas. Na-mun kemungkinan tafsir yang pertama itu lebih utama. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Karena ilmuNya yang sempurna dan menyeluruh, Dia mengajarkan kepa-damu apa yang tidak kamu ketahui dan menjelaskan apa yang bermanfaat bagimu.
(116) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۚ ﴿ "Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan." Yakni, Dia-lah Pemiliknya, yang mengatur hamba-hambaNya de-ngan menghidupkan dan mematikan serta aturan-aturan ilahiyah yang lain. Jika tidak ada aturan takdirNya yang cacat maka bagai-mana mungkin ada aturan agamaNya yang cacat, yang berkaitan dengan uluhiyahNya dan Dia membiarkan hamba-hambaNya begitu saja atau membiarkan mereka tersesat dan bodoh, padahal itu adalah perhatian terbesar dariNya kepada hamba-hambaNya, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah." Yakni pelindung yang melindungimu dengan mendatangkan manfaat bagimu atau penolong yang menolak mudarat darimu.
At-Taubah 9:117
"Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguh-nya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, pa-dahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tem-pat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja, kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang." (At-Taubah: 117-118).
(117) Allah تعالى mengabarkan bahwa termasuk kebaikan dan kasih sayangNya, ﴾ تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِيِّ ﴿ "Allah telah menerima taubat Nabi", Muhammad ﴾ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ ﴿ "dan orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar." Dia mengampuni kesalahan mereka, memu-dahkan kebaikan bagi mereka, dan mengangkat mereka ke derajat tertinggi, hal itu karena mereka melakukan amal yang sangat sulit dan sangat berat, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ ٱلۡعُسۡرَةِ ﴿ "Yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan", yakni, berangkat bersama beliau untuk memerangi musuh di perang Tabuk, di mana ia terjadi pada saat yang sangat panas, bekal dan kendaraan sedikit, dan banyaknya jumlah musuh, hal mana itu mendorong orang untuk enggan berangkat perang, namun kemudian mereka memo-hon pertolongan kepada Allah تعالى dan tetap melakukan jihad terse-but, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling", yakni hati mereka berbalik dan cenderung kepada ketenangan dan kenyamanan, akan tetapi Allah meneguhkan, men-dukung, dan menguatkan mereka. Berpalingnya hati adalah penyelewengannya dari jalan yang lurus, jika penyelewengannya pada dasar agama, maka ia adalah kekufuran, jika pada syariatnya, maka hal itu menurut syariat di mana dia menyimpang darinya. Bisa dalam bentuk dia lalai dalam menunaikannya, atau menunaikannya secara tidak syar'i. Firman-Nya, ﴾ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Kemudian Allah menerima taubat mereka itu." ﴾ إِنَّهُۥ بِهِمۡ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penya-yang kepada mereka." Di antara kasih sayangNya adalah memberi mereka nikmat taubat dan menerimanya dari mereka serta mene-guhkan mereka di atasnya.
(118) ﴾ و َ ﴿ "Dan" begitu pula Allah telah menerima taubat ﴾ ع َ ل َ ى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُواْ ﴿ "tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka", mereka tidak berangkat berperang bersama kaum Musli-min di perang itu. Mereka adalah Ka'ab bin Malik dan kedua rekan-nya. Kisah mereka masyhur tercantum di kitab-kitab Shahih dan Sunan.[103] ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا ﴿ "Hingga apabila", mereka sangat bersedih, ﴾ ضَاقَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ﴿ "bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, ﴾ وَضَاقَتۡ عَلَيۡهِمۡ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka", yang merupakan sesuatu yang paling mereka cintai dari segala apa pun, bumi yang luas dan sesuatu yang dicintai se-rasa sempit padahal biasanya ia tidak demikian, hal itu tidak lain kecuali karena perkara yang berat yang telah sampai pada puncak beratnya dan sulitnya, sehingga ia sulit untuk diungkapkan, hal itu karena mereka mendahulukan ridha Allah dan ridha RasulNya daripada segala sesuatu. ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَن لَّا مَلۡجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيۡهِ ﴿ "Mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja." Yakni, mereka yakin dan mengetahui keadaan mereka bahwa tidak ada keselamatan dan perlindungan dari kesulitan kecuali hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Terputuslah ketergan-tungan mereka dengan makhluk, mereka bergantung hanya kepada Allah, Rabb mereka, dan kembali kepadaNya. Mereka mengalami kesulitan ini selama lima puluh malam. ﴾ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Kemudian Allah menerima taubat mereka." Yakni mengizinkan dan membimbing mereka untuk taubat kepadaNya ﴾ لِيَتُوبُوٓاْۚ ﴿ "agar mereka tetap dalam taubatnya." Yakni, agar taubat ter-sebut dilakukan oleh mereka, sehinga kemudia Dia akan menerima taubat mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ﴿ "Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat." Yakni banyak memaafkan, mengampuni, dan menerima taubat dan dari kesalahan-kesalahan dan berbagai ke-kurangan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha penyayang." SifatNya adalah rahmat yang agung yang selalu turun kepada hamba setiap saat dan waktu, di segala kesempatan yang menyebabkan perkara agama dan dunia mereka berdiri tegak dengannya. Dalam ayat-ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penerimaan taubat oleh Allah kepada seorang hamba adalah tujuan dan sasaran paling mulia dan paling tinggi, karena Allah menjadi-kannya sebagai akhir bagi hamba-hambaNya yang khusus, dan memberi mereka nikmat dengannya ketika mereka melakukan amalan-amalan yang dicintai dan diridhaiNya. Di antaranya: Kasih sayang Allah kepada mereka, serta pe-neguhan iman mereka pada waktu kesulitan dan musibah yang mencemaskan. Di antaranya: Bahwa ibadah yang berat bagi jiwa memiliki keistimewaan dan keutamaan di atas selainnya. Semakin berat ke-sulitannya maka akan semakin besar pahalanya. Di antaranya: Bahwa penerimaan taubat oleh Allah kepada hambaNya adalah berdasarkan penyesalannya yang mendalam. Sedangkan orang yang tidak peduli dengan dosa dan tidak merasa bersalah jika melakukannya, maka taubatnya pasti gagal, meski dia menyangkanya diterima. Di antaranya: Bahwa tanda kebaikan dan lenyapnya kesulitan adalah jika hati seorang hamba hanya bergantung kepada Allah تعالى secara sempurna dan terputus dari (mengharap kepada) makhluk. Di antaranya: Di antara kasih sayang Allah kepada tiga orang sahabat tersebut adalah Allah menyifati mereka dengan sifat yang bukan aib bagi mereka, Dia berfirman, ﴾ خُلِّفُواْ ﴿ "Mereka ditangguh-kan." Sebagai isyarat bahwa orang-orang Mukmin meninggalkan mereka atau ditunda dari orang yang taubatnya dipastikan ditolak atau diterima, dan bahwa mereka tidak berangkat bukan karena tidak menginginkan kebaikan. Oleh karena itu Allah tidak berfir-man, تَخَلَّفُوْا (tidak berangkat). Di antaranya: Allah تعالى memberi nikmat kejujuran kepada me-reka. Oleh karena itu Allah memerintahkan agar mereka diteladani. Dia berfirman,
At-Taubah 9:118
"Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguh-nya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, pa-dahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tem-pat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja, kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang." (At-Taubah: 117-118).
(117) Allah تعالى mengabarkan bahwa termasuk kebaikan dan kasih sayangNya, ﴾ تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِيِّ ﴿ "Allah telah menerima taubat Nabi", Muhammad ﴾ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ ﴿ "dan orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar." Dia mengampuni kesalahan mereka, memu-dahkan kebaikan bagi mereka, dan mengangkat mereka ke derajat tertinggi, hal itu karena mereka melakukan amal yang sangat sulit dan sangat berat, oleh karena itu Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ ٱلۡعُسۡرَةِ ﴿ "Yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan", yakni, berangkat bersama beliau untuk memerangi musuh di perang Tabuk, di mana ia terjadi pada saat yang sangat panas, bekal dan kendaraan sedikit, dan banyaknya jumlah musuh, hal mana itu mendorong orang untuk enggan berangkat perang, namun kemudian mereka memo-hon pertolongan kepada Allah تعالى dan tetap melakukan jihad terse-but, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling", yakni hati mereka berbalik dan cenderung kepada ketenangan dan kenyamanan, akan tetapi Allah meneguhkan, men-dukung, dan menguatkan mereka. Berpalingnya hati adalah penyelewengannya dari jalan yang lurus, jika penyelewengannya pada dasar agama, maka ia adalah kekufuran, jika pada syariatnya, maka hal itu menurut syariat di mana dia menyimpang darinya. Bisa dalam bentuk dia lalai dalam menunaikannya, atau menunaikannya secara tidak syar'i. Firman-Nya, ﴾ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Kemudian Allah menerima taubat mereka itu." ﴾ إِنَّهُۥ بِهِمۡ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penya-yang kepada mereka." Di antara kasih sayangNya adalah memberi mereka nikmat taubat dan menerimanya dari mereka serta mene-guhkan mereka di atasnya.
(118) ﴾ و َ ﴿ "Dan" begitu pula Allah telah menerima taubat ﴾ ع َ ل َ ى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُواْ ﴿ "tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka", mereka tidak berangkat berperang bersama kaum Musli-min di perang itu. Mereka adalah Ka'ab bin Malik dan kedua rekan-nya. Kisah mereka masyhur tercantum di kitab-kitab Shahih dan Sunan.[103] ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا ﴿ "Hingga apabila", mereka sangat bersedih, ﴾ ضَاقَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ﴿ "bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, ﴾ وَضَاقَتۡ عَلَيۡهِمۡ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka", yang merupakan sesuatu yang paling mereka cintai dari segala apa pun, bumi yang luas dan sesuatu yang dicintai se-rasa sempit padahal biasanya ia tidak demikian, hal itu tidak lain kecuali karena perkara yang berat yang telah sampai pada puncak beratnya dan sulitnya, sehingga ia sulit untuk diungkapkan, hal itu karena mereka mendahulukan ridha Allah dan ridha RasulNya daripada segala sesuatu. ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَن لَّا مَلۡجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيۡهِ ﴿ "Mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja." Yakni, mereka yakin dan mengetahui keadaan mereka bahwa tidak ada keselamatan dan perlindungan dari kesulitan kecuali hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Terputuslah ketergan-tungan mereka dengan makhluk, mereka bergantung hanya kepada Allah, Rabb mereka, dan kembali kepadaNya. Mereka mengalami kesulitan ini selama lima puluh malam. ﴾ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Kemudian Allah menerima taubat mereka." Yakni mengizinkan dan membimbing mereka untuk taubat kepadaNya ﴾ لِيَتُوبُوٓاْۚ ﴿ "agar mereka tetap dalam taubatnya." Yakni, agar taubat ter-sebut dilakukan oleh mereka, sehinga kemudia Dia akan menerima taubat mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ﴿ "Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat." Yakni banyak memaafkan, mengampuni, dan menerima taubat dan dari kesalahan-kesalahan dan berbagai ke-kurangan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha penyayang." SifatNya adalah rahmat yang agung yang selalu turun kepada hamba setiap saat dan waktu, di segala kesempatan yang menyebabkan perkara agama dan dunia mereka berdiri tegak dengannya. Dalam ayat-ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penerimaan taubat oleh Allah kepada seorang hamba adalah tujuan dan sasaran paling mulia dan paling tinggi, karena Allah menjadi-kannya sebagai akhir bagi hamba-hambaNya yang khusus, dan memberi mereka nikmat dengannya ketika mereka melakukan amalan-amalan yang dicintai dan diridhaiNya. Di antaranya: Kasih sayang Allah kepada mereka, serta pe-neguhan iman mereka pada waktu kesulitan dan musibah yang mencemaskan. Di antaranya: Bahwa ibadah yang berat bagi jiwa memiliki keistimewaan dan keutamaan di atas selainnya. Semakin berat ke-sulitannya maka akan semakin besar pahalanya. Di antaranya: Bahwa penerimaan taubat oleh Allah kepada hambaNya adalah berdasarkan penyesalannya yang mendalam. Sedangkan orang yang tidak peduli dengan dosa dan tidak merasa bersalah jika melakukannya, maka taubatnya pasti gagal, meski dia menyangkanya diterima. Di antaranya: Bahwa tanda kebaikan dan lenyapnya kesulitan adalah jika hati seorang hamba hanya bergantung kepada Allah تعالى secara sempurna dan terputus dari (mengharap kepada) makhluk. Di antaranya: Di antara kasih sayang Allah kepada tiga orang sahabat tersebut adalah Allah menyifati mereka dengan sifat yang bukan aib bagi mereka, Dia berfirman, ﴾ خُلِّفُواْ ﴿ "Mereka ditangguh-kan." Sebagai isyarat bahwa orang-orang Mukmin meninggalkan mereka atau ditunda dari orang yang taubatnya dipastikan ditolak atau diterima, dan bahwa mereka tidak berangkat bukan karena tidak menginginkan kebaikan. Oleh karena itu Allah tidak berfir-man, تَخَلَّفُوْا (tidak berangkat). Di antaranya: Allah تعالى memberi nikmat kejujuran kepada me-reka. Oleh karena itu Allah memerintahkan agar mereka diteladani. Dia berfirman,
At-Taubah 9:119
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (At-Tau-bah: 119).
(119) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman", kepada Allah dan kepada apa yang diperintahkan oleh Allah agar diimani, jalankan apa yang menjadi konsekuensi iman, yaitu bertakwa ke-pada Allah تعالى, dengan menjauhi dan meninggalkan apa yang Dia larang. ﴾ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar", dalam ucapan, perbuatan, dan keadaan mereka, orang-orang yang perkataannya adalah benar, perbuatannya dan keada-annya tidak lain kecuali benar, bebas dari kemalasan dan kelesuan, selamat dari maksud-maksud buruk, mengandung keikhlasan dan niat yang baik, karena kejujuran mengantar kepada kebaikan, dan kebaikan mengantar kepada Surga. Allah تعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ...﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka…" (Al-Ma`idah: 119).
At-Taubah 9:120
"Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut me-nyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidaklah ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) meng-injak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan tidaklah mereka menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal shalih pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (At-Taubah: 120-121).
(120) Allah تعالى berfirman mendorong penduduk Madinah dari orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang Arab Badui yang telah masuk Islam dengan baik, ﴾ مَا كَانَ لِأَهۡلِ ٱلۡمَدِينَةِ وَمَنۡ حَوۡلَهُم مِّنَ ٱلۡأَعۡرَابِ أَن يَتَخَلَّفُواْ عَن رَّسُولِ ٱللَّهِ ﴿ "Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang)." Yakni hal itu tidak layak dan tidak sesuai dengan keadaan mereka. ﴾ وَلَا يَرۡغَبُواْ بِأَنفُسِهِمۡ ﴿ "Dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka", dalam keberadaannya, ketenangannya, dan ketentramannya ﴾ عَن نَّفۡسِهِۦۚ ﴿ "daripada mencintai diri Rasul", yang mulia lagi suci, akan tetapi Nabi ﷺ lebih berhak untuk dicintai orang-orang Mukmin daripada diri mereka sendiri, maka wajib atas setiap Muslim menebus dirinya untuk Nabi ﷺ dan mendahulukan beliau di atas dirinya. Tanda penghormatan, kecin-taan, dan keimanan yang sempurna kepada Rasul adalah selalu menyertai beliau pergi berperang. Kemudian Allah menyebutkan pahala yang mendorong kaum Mukminin untuk pergi berperang, maka Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ ﴿ "Yang demikian itu ialah karena mereka", yaitu orang-orang yang ber-jihad di jalan Allah ﴾ لَا يُصِيبُهُمۡ ظَمَأٞ وَلَا نَصَبٞ ﴿ "tidaklah ditimpa kehausan, kepayahan", yakni kesulitan dan kesengsaraan, ﴾ وَلَا مَخۡمَصَةٞ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dan kelaparan pada jalan Allah." ﴾ وَلَا يَطَـُٔونَ مَوۡطِئٗا يَغِيظُ ٱلۡكُفَّارَ ﴿ "Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir", dengan menyerang daerah mereka dan menguasai negeri mereka ﴾ وَلَا يَنَالُونَ مِنۡ عَدُوّٖ نَّيۡلًا ﴿ "dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh," seperti kemenangan atas pasukan musuh atau bala tentara atau harta rampasan perang, ﴾ إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِۦ عَمَلٞ صَٰلِحٌۚ ﴿ "melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih." Karena ini adalah akibat yang timbul dari amal mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik," yaitu orang-orang yang berbuat baik de-ngan bersegera menjalankan perintah Allah, melaksanakan apa yang menjadi hakNya dan hak makhlukNya. Perbuatan-perbuatan ini adalah akibat dari amal mereka.
(121) Kemudian Dia berfirman, ﴾ وَلَا يُنفِقُونَ نَفَقَةٗ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةٗ وَلَا يَقۡطَعُونَ وَادِيًا ﴿ "Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah", pada waktu mereka pergi untuk memerangi musuh ﴾ إِلَّا كُتِبَ لَهُمۡ لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan dituliskan bagi mereka (amal shalih pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan", dan dari amal-amal ini jika ia diikhlaskan dan dimurnikan hanya untuk Allah. Ayat-ayat ini mengandung dorongan dan anjuran yang kuat bagi jiwa agar pergi berjihad di jalan Allah dan berharap pahala dari kesulitan-kesulitan yang dialami padanya. Dengannya mereka akan mendapatkan kemuliaan dan ketinggian dan akibat yang di-timbulkan oleh amal seorang hamba adalah mendapatkan pahala yang besar.
At-Taubah 9:121
"Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut me-nyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidaklah ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) meng-injak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan tidaklah mereka menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal shalih pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (At-Taubah: 120-121).
(120) Allah تعالى berfirman mendorong penduduk Madinah dari orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang Arab Badui yang telah masuk Islam dengan baik, ﴾ مَا كَانَ لِأَهۡلِ ٱلۡمَدِينَةِ وَمَنۡ حَوۡلَهُم مِّنَ ٱلۡأَعۡرَابِ أَن يَتَخَلَّفُواْ عَن رَّسُولِ ٱللَّهِ ﴿ "Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang)." Yakni hal itu tidak layak dan tidak sesuai dengan keadaan mereka. ﴾ وَلَا يَرۡغَبُواْ بِأَنفُسِهِمۡ ﴿ "Dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka", dalam keberadaannya, ketenangannya, dan ketentramannya ﴾ عَن نَّفۡسِهِۦۚ ﴿ "daripada mencintai diri Rasul", yang mulia lagi suci, akan tetapi Nabi ﷺ lebih berhak untuk dicintai orang-orang Mukmin daripada diri mereka sendiri, maka wajib atas setiap Muslim menebus dirinya untuk Nabi ﷺ dan mendahulukan beliau di atas dirinya. Tanda penghormatan, kecin-taan, dan keimanan yang sempurna kepada Rasul adalah selalu menyertai beliau pergi berperang. Kemudian Allah menyebutkan pahala yang mendorong kaum Mukminin untuk pergi berperang, maka Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ ﴿ "Yang demikian itu ialah karena mereka", yaitu orang-orang yang ber-jihad di jalan Allah ﴾ لَا يُصِيبُهُمۡ ظَمَأٞ وَلَا نَصَبٞ ﴿ "tidaklah ditimpa kehausan, kepayahan", yakni kesulitan dan kesengsaraan, ﴾ وَلَا مَخۡمَصَةٞ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dan kelaparan pada jalan Allah." ﴾ وَلَا يَطَـُٔونَ مَوۡطِئٗا يَغِيظُ ٱلۡكُفَّارَ ﴿ "Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir", dengan menyerang daerah mereka dan menguasai negeri mereka ﴾ وَلَا يَنَالُونَ مِنۡ عَدُوّٖ نَّيۡلًا ﴿ "dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh," seperti kemenangan atas pasukan musuh atau bala tentara atau harta rampasan perang, ﴾ إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِۦ عَمَلٞ صَٰلِحٌۚ ﴿ "melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih." Karena ini adalah akibat yang timbul dari amal mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik," yaitu orang-orang yang berbuat baik de-ngan bersegera menjalankan perintah Allah, melaksanakan apa yang menjadi hakNya dan hak makhlukNya. Perbuatan-perbuatan ini adalah akibat dari amal mereka.
(121) Kemudian Dia berfirman, ﴾ وَلَا يُنفِقُونَ نَفَقَةٗ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةٗ وَلَا يَقۡطَعُونَ وَادِيًا ﴿ "Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah", pada waktu mereka pergi untuk memerangi musuh ﴾ إِلَّا كُتِبَ لَهُمۡ لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan dituliskan bagi mereka (amal shalih pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan", dan dari amal-amal ini jika ia diikhlaskan dan dimurnikan hanya untuk Allah. Ayat-ayat ini mengandung dorongan dan anjuran yang kuat bagi jiwa agar pergi berjihad di jalan Allah dan berharap pahala dari kesulitan-kesulitan yang dialami padanya. Dengannya mereka akan mendapatkan kemuliaan dan ketinggian dan akibat yang di-timbulkan oleh amal seorang hamba adalah mendapatkan pahala yang besar.
At-Taubah 9:122
"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (At-Taubah: 122).
(122) Allah تعالى berfirman memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang apa yang semestinya mereka lakukan, ﴾ وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةٗۚ ﴿ "Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang)." Yakni semuanya untuk memerangi musuh mereka. Karena hal itu sangat menyulitkan me-reka dan mengakibatkan terbengkalainya kepentingan-kepentingan yang lain. ﴾ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap go-longan di antara mereka," yakni dari kota-kota, kabilah-kabilah, dan suku-suku, ﴾ طَآئِفَةٞ ﴿ "beberapa orang", yang dengannya maksud yang diinginkan tercapai, niscaya itu lebih baik. Kemudian Allah mengingatkan bahwa menetapnya sebagian dari mereka dengan tidak berangkat berperang mengandung ke-maslahatan lain yang tidak terwujud jika mereka semua berangkat perang, Dia berfirman, ﴾ لِّيَتَفَقَّهُواْ ﴿ "Untuk memperdalam pengetahuan mereka", yakni orang-orang yang tidak berangkat ﴾ فِي ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaum-nya apabila mereka telah kembali kepadanya." Yakni agar mereka belajar ilmu syar'i, mengetahui makna-maknanya, memahami rahasia-ra-hasianya, dan mengajarkan kepada selain mereka, dan agar mereka dapat memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka kembali kepadanya. Ini mengandung keterangan tentang keutamaan ilmu, khu-susnya pemahaman dalam agama, dan bahwa ia adalah perkara terpenting, bahwa siapa yang mempelajari ilmu, maka dia harus menyebarkannya dan mengajarkannya kepada manusia serta mem-beri nasihat kepada mereka dengannya, karena menyebarnya ilmu dari seorang alim adalah termasuk keberkahannya dan pahalanya yang berkembang. Adapun seorang alim yang hanya membatasi ilmu pada dirinya, tidak mendakwakannya kepada jalan Allah de-ngan hikmah dan nasihat yang baik, serta tidak mengajarkannya kepada orang-orang bodoh yang tidak mengerti, maka manfaat apa yang didapat oleh kaum Muslimin darinya? Apa hasil dari ilmu-nya? Akhirnya dia mati dan ilmunya pun mati bersamanya, dan ini adalah hasil dari orang yang diberi ilmu dan pemahaman oleh Allah tetapi tidak mau mengajarkannya. Ayat ini juga mengandung dalil, petunjuk, dan arahan yang sangat halus kepada satu faidah penting, yaitu bahwa hendaknya kaum Muslimin menyediakan orang-orang khusus yang dapat me-nunaikan setiap kepentingan umum mereka, yang berkonsentrasi dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya, tanpa mene-ngok kepada selainnya, agar kepentingan kaum Muslimin bisa ter-laksana dan kebaikan mereka bisa terpenuhi, dan agar arah pandang serta target yang mereka tuju adalah satu, yaitu menegakkan ke-maslahatan agama dan dunia mereka, walaupun jalanNya berbeda-beda, dan caranya bermacam-macam. Jadi, perbuatannya beraneka ragam, namun targetnya adalah satu, dan ini termasuk hikmah yang bersifat umum yang berguna dalam segala urusan. 9
At-Taubah 9:123
"Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (At-Taubah: 123).
(123) Ini adalah petunjuk lain: Setelah Allah membimbing mereka untuk mengatur orang-orang yang terjun berperang, Dia kemudian membimbing mereka agar memulai memerangi orang-orang kafir yang paling dekat, lalu yang terdekat berikutnya, ber-sikap keras kepada mereka, tegas, berani, dan kokoh dalam meme-rangi mereka. ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." Yakni hendaknya kamu mengeta-hui bahwa pertolongan dari Allah datang sesuai dengan ketakwaan, maka pegang teguhlah takwa secara terus menerus, niscaya Dia menolongmu dan membantumu melawan musuhmu. Keumuman pada Firman Allah, ﴾ قَٰتِلُواْ ٱلَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ ٱلۡكُفَّارِ ﴿ "perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu," dikhususkan dari ayat ini dengan suatu keadaan ketika kemaslahatan ada pada memerangi orang-orang kafir yang jauh, dan jenis-jenis kemaslahatan (itu sendiri) sangat-lah banyak.
At-Taubah 9:124
"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" (At-Taubah: 124-126).
(124) Allah تعالى berfirman menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan orang-orang Mukmin pada saat turunnya al-Qur`an dan perbedaan antara kedua kelompok, Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ ﴿ "Dan apabila diturunkan suatu surat", yang berisi suatu perintah, larangan, berita tentang DiriNya yang mulia, dan tentang perkara-perkara ghaib, serta dorongan kepada jihad, ﴾ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ ﴿ "maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Yakni muncul pertanyaan tentang siapa yang bertambah imannya dari kedua kelompok itu. Allah berfirman menjelaskan kondisi yang sebenarnya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا ﴿ "adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya", dengan me-ngetahui, memahami, meyakini, dan mengamalkannya, serta ke-inginan kepada perbuatan baik dan menahan diri dari perbuatan buruk, ﴾ وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "sedang mereka merasa gembira." Yakni sebagian mereka menyampaikan berita gembira kepada sebagian yang lain dengan nikmat Allah kepada mereka dalam bentuk diturunkannya ayat-ayatNya, bimbingan kepada memahaminya dan mengamal-kannya. Ini menunjukkan kelapangan dada mereka terhadap ayat-ayat Allah, ketenangan hati mereka, dan bersegeranya kepatuhan mereka dalam menanggapi ajakanNya.
(125) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit", yakni, kebimbangan dan kemuna-fikan ﴾ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ ﴿ "maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada)." Yakni menambah-kan penyakit pada penyakit mereka (yang sudah ada), keraguan pada keraguan mereka (yang sudah ada), di mana mereka kufur kepadanya, menentangnya, dan berpaling darinya. Oleh karena itu penyakit mereka bertambah, yang menghantarkan mereka kepada kebinasaan, dan menjadikan hati mereka terkunci, sehingga ﴾ مَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "mereka mati dalam keadaan kafir." Ini adalah hukuman bagi mereka karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah, dan men-durhakai RasulNya, maka Dia menimpakan kemunafikan ke dalam hati mereka sampai hari di mana mereka bertemu denganNya.
(126) Allah تعالى berfirman mencela mereka yang terus me-nerus berpegang kepada kekufuran dan kemunafikan, ﴾ أَوَلَا يَرَوۡنَ أَنَّهُمۡ يُفۡتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٖ مَّرَّةً أَوۡ مَرَّتَيۡنِ ﴿ "Dan tidakkah mereka (orang-orang muna-fik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun", dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka dan dengan perintah-perintah ilahiyah yang maksudnya adalah menguji mereka. ﴾ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ ﴿ "Kemudian mereka tidak (juga) bertaubat", dari keburukan yang mereka pegang. ﴾ وَلَا هُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "Dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" Apa yang berguna bagi mereka maka mereka melaku-kannya dan apa yang merugikan mereka maka mereka menjauhi-nya. Allah تعالى menguji mereka sebagaimana ia adalah sunnahNya pada umat-umat lain dengan kemakmuran dan kesulitan, serta dengan perintah dan larangan, agar mereka kembali kepadaNya, namun mereka tidak bertaubat dan tidak pula mengambil pelajaran. Ayat-ayat ini mengandung dalil bahwa iman itu bertambah dan berkurang, bahwa seorang hamba harus memupuk imannya dan menjaganya serta menumbuhkannya dan memperbaharuinya agar ia selalu meningkat.
At-Taubah 9:125
"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" (At-Taubah: 124-126).
(124) Allah تعالى berfirman menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan orang-orang Mukmin pada saat turunnya al-Qur`an dan perbedaan antara kedua kelompok, Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ ﴿ "Dan apabila diturunkan suatu surat", yang berisi suatu perintah, larangan, berita tentang DiriNya yang mulia, dan tentang perkara-perkara ghaib, serta dorongan kepada jihad, ﴾ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ ﴿ "maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Yakni muncul pertanyaan tentang siapa yang bertambah imannya dari kedua kelompok itu. Allah berfirman menjelaskan kondisi yang sebenarnya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا ﴿ "adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya", dengan me-ngetahui, memahami, meyakini, dan mengamalkannya, serta ke-inginan kepada perbuatan baik dan menahan diri dari perbuatan buruk, ﴾ وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "sedang mereka merasa gembira." Yakni sebagian mereka menyampaikan berita gembira kepada sebagian yang lain dengan nikmat Allah kepada mereka dalam bentuk diturunkannya ayat-ayatNya, bimbingan kepada memahaminya dan mengamal-kannya. Ini menunjukkan kelapangan dada mereka terhadap ayat-ayat Allah, ketenangan hati mereka, dan bersegeranya kepatuhan mereka dalam menanggapi ajakanNya.
(125) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit", yakni, kebimbangan dan kemuna-fikan ﴾ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ ﴿ "maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada)." Yakni menambah-kan penyakit pada penyakit mereka (yang sudah ada), keraguan pada keraguan mereka (yang sudah ada), di mana mereka kufur kepadanya, menentangnya, dan berpaling darinya. Oleh karena itu penyakit mereka bertambah, yang menghantarkan mereka kepada kebinasaan, dan menjadikan hati mereka terkunci, sehingga ﴾ مَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "mereka mati dalam keadaan kafir." Ini adalah hukuman bagi mereka karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah, dan men-durhakai RasulNya, maka Dia menimpakan kemunafikan ke dalam hati mereka sampai hari di mana mereka bertemu denganNya.
(126) Allah تعالى berfirman mencela mereka yang terus me-nerus berpegang kepada kekufuran dan kemunafikan, ﴾ أَوَلَا يَرَوۡنَ أَنَّهُمۡ يُفۡتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٖ مَّرَّةً أَوۡ مَرَّتَيۡنِ ﴿ "Dan tidakkah mereka (orang-orang muna-fik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun", dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka dan dengan perintah-perintah ilahiyah yang maksudnya adalah menguji mereka. ﴾ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ ﴿ "Kemudian mereka tidak (juga) bertaubat", dari keburukan yang mereka pegang. ﴾ وَلَا هُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "Dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" Apa yang berguna bagi mereka maka mereka melaku-kannya dan apa yang merugikan mereka maka mereka menjauhi-nya. Allah تعالى menguji mereka sebagaimana ia adalah sunnahNya pada umat-umat lain dengan kemakmuran dan kesulitan, serta dengan perintah dan larangan, agar mereka kembali kepadaNya, namun mereka tidak bertaubat dan tidak pula mengambil pelajaran. Ayat-ayat ini mengandung dalil bahwa iman itu bertambah dan berkurang, bahwa seorang hamba harus memupuk imannya dan menjaganya serta menumbuhkannya dan memperbaharuinya agar ia selalu meningkat.
At-Taubah 9:126
"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" (At-Taubah: 124-126).
(124) Allah تعالى berfirman menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan orang-orang Mukmin pada saat turunnya al-Qur`an dan perbedaan antara kedua kelompok, Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ ﴿ "Dan apabila diturunkan suatu surat", yang berisi suatu perintah, larangan, berita tentang DiriNya yang mulia, dan tentang perkara-perkara ghaib, serta dorongan kepada jihad, ﴾ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ ﴿ "maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Yakni muncul pertanyaan tentang siapa yang bertambah imannya dari kedua kelompok itu. Allah berfirman menjelaskan kondisi yang sebenarnya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا ﴿ "adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya", dengan me-ngetahui, memahami, meyakini, dan mengamalkannya, serta ke-inginan kepada perbuatan baik dan menahan diri dari perbuatan buruk, ﴾ وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "sedang mereka merasa gembira." Yakni sebagian mereka menyampaikan berita gembira kepada sebagian yang lain dengan nikmat Allah kepada mereka dalam bentuk diturunkannya ayat-ayatNya, bimbingan kepada memahaminya dan mengamal-kannya. Ini menunjukkan kelapangan dada mereka terhadap ayat-ayat Allah, ketenangan hati mereka, dan bersegeranya kepatuhan mereka dalam menanggapi ajakanNya.
(125) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit", yakni, kebimbangan dan kemuna-fikan ﴾ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ ﴿ "maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada)." Yakni menambah-kan penyakit pada penyakit mereka (yang sudah ada), keraguan pada keraguan mereka (yang sudah ada), di mana mereka kufur kepadanya, menentangnya, dan berpaling darinya. Oleh karena itu penyakit mereka bertambah, yang menghantarkan mereka kepada kebinasaan, dan menjadikan hati mereka terkunci, sehingga ﴾ مَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "mereka mati dalam keadaan kafir." Ini adalah hukuman bagi mereka karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah, dan men-durhakai RasulNya, maka Dia menimpakan kemunafikan ke dalam hati mereka sampai hari di mana mereka bertemu denganNya.
(126) Allah تعالى berfirman mencela mereka yang terus me-nerus berpegang kepada kekufuran dan kemunafikan, ﴾ أَوَلَا يَرَوۡنَ أَنَّهُمۡ يُفۡتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٖ مَّرَّةً أَوۡ مَرَّتَيۡنِ ﴿ "Dan tidakkah mereka (orang-orang muna-fik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun", dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka dan dengan perintah-perintah ilahiyah yang maksudnya adalah menguji mereka. ﴾ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ ﴿ "Kemudian mereka tidak (juga) bertaubat", dari keburukan yang mereka pegang. ﴾ وَلَا هُمۡ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "Dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" Apa yang berguna bagi mereka maka mereka melaku-kannya dan apa yang merugikan mereka maka mereka menjauhi-nya. Allah تعالى menguji mereka sebagaimana ia adalah sunnahNya pada umat-umat lain dengan kemakmuran dan kesulitan, serta dengan perintah dan larangan, agar mereka kembali kepadaNya, namun mereka tidak bertaubat dan tidak pula mengambil pelajaran. Ayat-ayat ini mengandung dalil bahwa iman itu bertambah dan berkurang, bahwa seorang hamba harus memupuk imannya dan menjaganya serta menumbuhkannya dan memperbaharuinya agar ia selalu meningkat.
At-Taubah 9:127
"Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka me-mandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata), 'Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?' Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebab-kan mereka adalah kaum yang tidak mengerti." (At-Taubah: 127).
(127) Yakni, bahwa orang-orang munafik yang mewaspadai turunnya surat atas mereka, telah memberitahukan isi hati mereka, bahwa jika sebuah surat turun agar mereka beriman kepadanya dan mengamalkan isinya, ﴾ نَّظَرَ بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ ﴿ "sebagian mereka meman-dang kepada sebagian yang lain", dengan ketetapan hati untuk tidak mengamalkannya, mereka menunggu kesempatan bersembunyi dari pandangan orang-orang beriman, dan mereka berkata, ﴾ هَلۡ يَرَىٰكُم مِّنۡ أَحَدٖ ثُمَّ ٱنصَرَفُواْۚ ﴿ "'Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?' Sesudah itu mereka pun pergi", dengan sembunyi-sembunyi pulang dalam keadaan berpaling, maka Allah membalas mereka dengan hukuman sesuai dengan amal mereka. Sebagaima-na mereka berpaling dari amal maka ﴾ صَرَفَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُم ﴿ "Allah telah memalingkan hati mereka," yakni menghalanginya dari kebenaran ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti", dengan pemahaman yang berguna bagi mereka, karena jika mereka itu memahami, niscaya mereka beriman kepada surat yang ditu-runkan dan tunduk kepada perintahnya. Yang dimaksud di sini adalah keengganan mereka yang sangat terhadap jihad dan syariat-syariat iman yang lain, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ فَإِذَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ مُّحۡكَمَةٞ وَذُكِرَ فِيهَا ٱلۡقِتَالُ رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ نَظَرَ ٱلۡمَغۡشِيِّ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati." (Muhammad: 20).
At-Taubah 9:128
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat meng-inginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin. Jika mereka berpa-ling (dari keimanan), maka katakanlah, 'Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki Arasy yang agung'." (At-Taubah: 128-129).
(128) Allah تعالى memberi nikmat kepada hamba-hambaNya yang beriman dalam bentuk diutusnya seorang Nabi yang ummi, yang termasuk dari kalangan mereka, mereka mengetahui keadaan-nya, memungkinkan mereka untuk mengambil keteladanan darinya, dan mereka tidak merasa rendah diri untuk tunduk kepadanya, dia sangat mengasihi mereka dan berusaha mewujudkan kebaikan mereka. ﴾ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ ﴿ "Berat terasa olehnya penderitaanmu." Yakni perkara yang memberatkan dan menyulitkanmu juga memberat-kannya. ﴾ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم ﴿ "Sangat menginginkan (keimanan dan kese-lamatan) bagimu." Dia menyukai kebaikan bagimu, berusaha keras menyampaikannya kepadamu, bersungguh-sungguh memberimu hidayah kepada iman, membenci keburukan menimpamu, dan ber-usaha keras menjauhkannya darimu. ﴾ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." Yakni sangat belas kasih, dan sangat sayang kepada mereka melebihi ayah ibu mereka. Oleh karena itu haknya didahulukan di atas hak makh-luk yang lain. Wajib atas umat ini untuk beriman kepadanya, meng-hormatinya, menghargainya dan mendukungnya.
(129) ﴾ فَإِن ﴿ "Jika" mereka beriman, maka itu adalah taufik untuk mereka dan jika ﴾ تَوَلَّوۡاْ ﴿ "mereka berpaling " dari keimanan dan amal, maka tetaplah berjalan di atas jalanmu, teruslah berdakwah dan katakan, ﴾ حَسۡبِيَ ٱللَّهُ ﴿ "Cukuplah Allah bagiku." Yakni Allah yang mencukupiku segala apa yang aku perlukan. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia." Yakni, tiada yang disembah dengan benar selainNya. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ ﴿ "Hanya kepadaNya aku berta-wakal." Yakni aku bersandar dan percaya kepadaNya dalam meraih apa yang bermanfaat dan menolak apa yang mudarat. ﴾ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Dia adalah Rabb yang memiliki Arasy yang agung," yang merupakan makhluk terbesar, jika Dia adalah Rabb bagi Arasy yang agung yang meliputi seluruh makhluk, maka Dia pasti Rabb bagi makhluk selainnya.
Selesai tafsir surat at-Taubah dengan pertolongan dan karunia Allah. Segala puji bagi Allah yang pertama dan yang terakhir, yang lahir dan yang batin.
At-Taubah 9:129
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat meng-inginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin. Jika mereka berpa-ling (dari keimanan), maka katakanlah, 'Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki Arasy yang agung'." (At-Taubah: 128-129).
(128) Allah تعالى memberi nikmat kepada hamba-hambaNya yang beriman dalam bentuk diutusnya seorang Nabi yang ummi, yang termasuk dari kalangan mereka, mereka mengetahui keadaan-nya, memungkinkan mereka untuk mengambil keteladanan darinya, dan mereka tidak merasa rendah diri untuk tunduk kepadanya, dia sangat mengasihi mereka dan berusaha mewujudkan kebaikan mereka. ﴾ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ ﴿ "Berat terasa olehnya penderitaanmu." Yakni perkara yang memberatkan dan menyulitkanmu juga memberat-kannya. ﴾ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم ﴿ "Sangat menginginkan (keimanan dan kese-lamatan) bagimu." Dia menyukai kebaikan bagimu, berusaha keras menyampaikannya kepadamu, bersungguh-sungguh memberimu hidayah kepada iman, membenci keburukan menimpamu, dan ber-usaha keras menjauhkannya darimu. ﴾ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." Yakni sangat belas kasih, dan sangat sayang kepada mereka melebihi ayah ibu mereka. Oleh karena itu haknya didahulukan di atas hak makh-luk yang lain. Wajib atas umat ini untuk beriman kepadanya, meng-hormatinya, menghargainya dan mendukungnya.
(129) ﴾ فَإِن ﴿ "Jika" mereka beriman, maka itu adalah taufik untuk mereka dan jika ﴾ تَوَلَّوۡاْ ﴿ "mereka berpaling " dari keimanan dan amal, maka tetaplah berjalan di atas jalanmu, teruslah berdakwah dan katakan, ﴾ حَسۡبِيَ ٱللَّهُ ﴿ "Cukuplah Allah bagiku." Yakni Allah yang mencukupiku segala apa yang aku perlukan. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia." Yakni, tiada yang disembah dengan benar selainNya. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ ﴿ "Hanya kepadaNya aku berta-wakal." Yakni aku bersandar dan percaya kepadaNya dalam meraih apa yang bermanfaat dan menolak apa yang mudarat. ﴾ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Dia adalah Rabb yang memiliki Arasy yang agung," yang merupakan makhluk terbesar, jika Dia adalah Rabb bagi Arasy yang agung yang meliputi seluruh makhluk, maka Dia pasti Rabb bagi makhluk selainnya.
Selesai tafsir surat at-Taubah dengan pertolongan dan karunia Allah. Segala puji bagi Allah yang pertama dan yang terakhir, yang lahir dan yang batin.
Yunus 10:1
"Alif lam ra. Inilah ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmah. Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, 'Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang ber-iman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Rabb mereka.' Orang-orang kafir berkata, 'Sesungguhnya orang ini (Mu-hammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata'." (Yunus: 1-2).
Makkiyah
(1) Allah تعالى berfirman, ﴾ الٓرۚ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡحَكِيمِ ﴿ "Alif lam ra. Ini-lah ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmah." Ia adalah al-Qur`an yang berisi hikmah dan hukum, ayat-ayatNya menunjukkan haki-kat-hakikat iman, larangan-larangan dan perintah-perintah syar'i yang wajib diterima dengan kerelaan dan sambutan serta ketun-dukan oleh seluruh umat.
(2) Meskipun demikian, kebanyakan mereka berpaling, maka mereka tidak mengetahui, mereka heran, ﴾ أَنۡ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ رَجُلٖ مِّنۡهُمۡ أَنۡ أَنذِرِ ٱلنَّاسَ ﴿ "bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, 'Be-rilah peringatan kepada manusia," terhadap azab Allah, takut-takutilah mereka dengan siksaNya dan ingatkanlah mereka dengan ayat-ayat Allah, ﴾ وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "dan gembirakanlah orang-orang beriman", dengan iman yang benar, ﴾ أَنَّ لَهُمۡ قَدَمَ صِدۡقٍ عِندَ رَبِّهِمۡۗ ﴿ "bahwa mereka mempunyai ke-dudukan yang tinggi di sisi Rabb mereka." Maksudnya mereka mem-punyai balasan yang melimpah dan pahala yang tersimpan di sisi Allah karena amal-amal shalih yang benar yang mereka kerjakan dahulu. Orang-orang kafir merasa heran terhadap orang agung ini dengan keheranan yang membuat mereka mengingkarinya. ﴾ قَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Orang-orang kafir berkata," yaitu tentangnya ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَسَٰحِرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata." Yakni dengan sihir yang jelas, tidak samar bagi siapa pun menurut mereka. Ini adalah kebodohan dan pengingkaran mereka. Mereka merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak layak dianggap suatu keheranan dan keanehan. Padahal seharus-nya yang dianggap suatu yang mengherankan itu justru kebodohan mereka terhadap kemaslahatan mereka, bagaimana (mungkin bisa terjadi) mereka tidak beriman kepada Rasulullah yang mulia yang diutus oleh Allah dari kalangan mereka sendiri. Mereka benar-benar mengenalnya, akan tetapi menentang dakwahnya dan berusaha membatalkan agamanya. Allah akan tetap menyempurnakan caha-yaNya meskipun orang-orang kafir membencinya. 9
Yunus 10:2
"Alif lam ra. Inilah ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmah. Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, 'Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang ber-iman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Rabb mereka.' Orang-orang kafir berkata, 'Sesungguhnya orang ini (Mu-hammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata'." (Yunus: 1-2).
Makkiyah
(1) Allah تعالى berfirman, ﴾ الٓرۚ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡحَكِيمِ ﴿ "Alif lam ra. Ini-lah ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmah." Ia adalah al-Qur`an yang berisi hikmah dan hukum, ayat-ayatNya menunjukkan haki-kat-hakikat iman, larangan-larangan dan perintah-perintah syar'i yang wajib diterima dengan kerelaan dan sambutan serta ketun-dukan oleh seluruh umat.
(2) Meskipun demikian, kebanyakan mereka berpaling, maka mereka tidak mengetahui, mereka heran, ﴾ أَنۡ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ رَجُلٖ مِّنۡهُمۡ أَنۡ أَنذِرِ ٱلنَّاسَ ﴿ "bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, 'Be-rilah peringatan kepada manusia," terhadap azab Allah, takut-takutilah mereka dengan siksaNya dan ingatkanlah mereka dengan ayat-ayat Allah, ﴾ وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "dan gembirakanlah orang-orang beriman", dengan iman yang benar, ﴾ أَنَّ لَهُمۡ قَدَمَ صِدۡقٍ عِندَ رَبِّهِمۡۗ ﴿ "bahwa mereka mempunyai ke-dudukan yang tinggi di sisi Rabb mereka." Maksudnya mereka mem-punyai balasan yang melimpah dan pahala yang tersimpan di sisi Allah karena amal-amal shalih yang benar yang mereka kerjakan dahulu. Orang-orang kafir merasa heran terhadap orang agung ini dengan keheranan yang membuat mereka mengingkarinya. ﴾ قَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Orang-orang kafir berkata," yaitu tentangnya ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَسَٰحِرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata." Yakni dengan sihir yang jelas, tidak samar bagi siapa pun menurut mereka. Ini adalah kebodohan dan pengingkaran mereka. Mereka merasa heran terhadap suatu perkara yang tidak layak dianggap suatu keheranan dan keanehan. Padahal seharus-nya yang dianggap suatu yang mengherankan itu justru kebodohan mereka terhadap kemaslahatan mereka, bagaimana (mungkin bisa terjadi) mereka tidak beriman kepada Rasulullah yang mulia yang diutus oleh Allah dari kalangan mereka sendiri. Mereka benar-benar mengenalnya, akan tetapi menentang dakwahnya dan berusaha membatalkan agamanya. Allah akan tetap menyempurnakan caha-yaNya meskipun orang-orang kafir membencinya. 9
Yunus 10:3
"Sesungguhnya Rabbmu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izinNya. (Dzat) yang demi-kian itulah Allah, Rabbmu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? Hanya kepadaNya-lah kamu se-muanya akan kembali, sebagai janji yang benar dari Allah, sesung-guhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih dengan adil. Sedangkan orang-orang kafir mendapatkan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka." (Yunus: 3-4).
(3) Allah تعالى berfirman menjelaskan rububiyah, uluhiyah dan kebesaranNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari," padahal Dia mampu menciptakannya dalam sekejap, akan tetapi (hal itu Dia lakukan) karena Dia mempunyai hikmah ilahiyah di dalamnya, dan karena Dia lembut dalam perbuatanNya. Dan di antara hikmahNya padanya adalah bahwa Dia menciptakannya dengan kebenaran dan untuk kebenaran, dan agar Dia dikenal de-ngan nama-nama dan sifatNya, serta diesakan dengan ibadah, ﴾ ثُمَّ ﴿ "kemudian" setelah penciptaan langit dan bumi. ﴾ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "Dia bersemayam di atas Arasy", dengan bersemayam yang sesuai dengan kebesaranNya ﴾ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۖ ﴿ "untuk mengatur segala urusan", di langit dan di bumi, berupa menghidupkan dan mematikan, menurunkan rizki, memutar hari di antara manusia, mengangkat kesulitan dari orang-orang yang tertimpa kesulitan, menjawab permohonan orang-orang yang memohon kepadaNya. Segala macam penataan turun dariNya dan naik kepadaNya. Seluruh makhluk tunduk kepada keperkasaanNya, patuh kepada kebesaran dan kekuasaanNya. ﴾ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ إِذۡنِهِۦۚ ﴿ "Tiada seorang pun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izinNya." Tiada seorang pun dari mereka berani memberi syafa'at meski dia adalah makhluk terbaik sehingga Allah mengizinkannya, dan Dia tidak mengizinkan kecuali kepada orang yang diridhaiNya, dan Dia tidak ridha kecuali kepada ahli tauhid dan keikhlasan kepadaNya. ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "(Dzat) yang demikian itulah", yang keadaanNya seperti ini adalah ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ ﴿ "Allah, Rabbmu." Dia-lah Allah yang memiliki sifat ilahiyah yang meliputi seluruh sifat-sifat kesempurnaan dan sifat rububiyah yang meliputi seluruh sifat-sifat perbuatan. ﴾ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia." Esakanlah da-lam segala bentuk ibadah yang kamu mampu. ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?" dari dalil-dalil yang menun-jukkan bahwa hanya Dia yang berhak disembah, dipuji, pemilik kebesaran dan kemuliaan?
(4) Manakala Dia menyebutkan hukumNya yang bersifat Qadari yaitu penataan yang umum dan hukumNya yang bersifat diniyah yaitu syariatNya di mana kandungan dan maksudnya ada-lah ibadah kepadaNya semata, tidak ada sekutu bagiNya, maka Dia menyebutkan hukum jaza'i yaitu pembalasanNya terhadap amal sesudah mati. Dia berfirman, ﴾ إِلَيۡهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗاۖ ﴿ "Hanya kepadaNya-lah kamu semuanya akan kembali." Maksudnya Dia akan mengumpulkan sesudah matimu pada hari pertemuan yang ditentukan. ﴾ إِنَّهُۥ يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ ﴿ "Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbang-kit)." Dzat yang mampu menciptakan makhluk dari permulaan pas-tilah mampu mengembalikannya. Orang yang melihat penciptaan dari permulaan kemudian mengingkari pembangkitan makhluk kembali adalah orang yang tak berakal, dia mengingkari satu dari dua hal yang sama persis dengan menetapkan sesuatu yang lebih layak daripadanya. Ini adalah dalil aqli yang jelas atas hari kebang-kitan. Kemudian Allah menyebutkan dalil naqli, maka Dia berfir-man,[1] ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقًّاۚ ﴿ "Sebagai janji yang benar dari Allah." Maksudnya janjiNya adalah benar, ia pasti disempurnakan, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman", dengan hati mereka kepada sesuatu yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan yang mengerjakan amal shalih", meliputi yang wajib dan yang dianjurkan dengan anggota badan mereka ﴾ بِٱلۡقِسۡطِۚ ﴿ "dengan adil." Yakni dengan iman dan amal mereka sebagai balasan yang telah Dia jelaskan dan sampaikan kepada hamba-ham-baNya bahwa ia adalah kenikmatan yang rahasianya tidak diketahui oleh jiwa. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sedangkan orang-orang kafir", kepada ayat-ayat Allah dan mendustakan rasul-rasul Allah, ﴾ لَهُمۡ شَرَابٞ مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "me-reka mendapatkan minuman air yang panas", yang membakar wajah dan menghancurkan isi perut, ﴾ وَعَذَابٌ أَلِيمُۢ ﴿ "dan azab yang pedih", berupa berbagai macam bentuk azab ﴾ بِمَا كَانُواْ يَكۡفُرُونَ ﴿ "disebabkan kekafiran mereka", maksudnya disebabkan kekafiran dan kezhaliman mereka, Allah tidak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.
Yunus 10:4
"Sesungguhnya Rabbmu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izinNya. (Dzat) yang demi-kian itulah Allah, Rabbmu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? Hanya kepadaNya-lah kamu se-muanya akan kembali, sebagai janji yang benar dari Allah, sesung-guhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih dengan adil. Sedangkan orang-orang kafir mendapatkan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka." (Yunus: 3-4).
(3) Allah تعالى berfirman menjelaskan rububiyah, uluhiyah dan kebesaranNya, ﴾ إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari," padahal Dia mampu menciptakannya dalam sekejap, akan tetapi (hal itu Dia lakukan) karena Dia mempunyai hikmah ilahiyah di dalamnya, dan karena Dia lembut dalam perbuatanNya. Dan di antara hikmahNya padanya adalah bahwa Dia menciptakannya dengan kebenaran dan untuk kebenaran, dan agar Dia dikenal de-ngan nama-nama dan sifatNya, serta diesakan dengan ibadah, ﴾ ثُمَّ ﴿ "kemudian" setelah penciptaan langit dan bumi. ﴾ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "Dia bersemayam di atas Arasy", dengan bersemayam yang sesuai dengan kebesaranNya ﴾ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۖ ﴿ "untuk mengatur segala urusan", di langit dan di bumi, berupa menghidupkan dan mematikan, menurunkan rizki, memutar hari di antara manusia, mengangkat kesulitan dari orang-orang yang tertimpa kesulitan, menjawab permohonan orang-orang yang memohon kepadaNya. Segala macam penataan turun dariNya dan naik kepadaNya. Seluruh makhluk tunduk kepada keperkasaanNya, patuh kepada kebesaran dan kekuasaanNya. ﴾ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ إِذۡنِهِۦۚ ﴿ "Tiada seorang pun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izinNya." Tiada seorang pun dari mereka berani memberi syafa'at meski dia adalah makhluk terbaik sehingga Allah mengizinkannya, dan Dia tidak mengizinkan kecuali kepada orang yang diridhaiNya, dan Dia tidak ridha kecuali kepada ahli tauhid dan keikhlasan kepadaNya. ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "(Dzat) yang demikian itulah", yang keadaanNya seperti ini adalah ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ ﴿ "Allah, Rabbmu." Dia-lah Allah yang memiliki sifat ilahiyah yang meliputi seluruh sifat-sifat kesempurnaan dan sifat rububiyah yang meliputi seluruh sifat-sifat perbuatan. ﴾ فَٱعۡبُدُوهُۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia." Esakanlah da-lam segala bentuk ibadah yang kamu mampu. ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?" dari dalil-dalil yang menun-jukkan bahwa hanya Dia yang berhak disembah, dipuji, pemilik kebesaran dan kemuliaan?
(4) Manakala Dia menyebutkan hukumNya yang bersifat Qadari yaitu penataan yang umum dan hukumNya yang bersifat diniyah yaitu syariatNya di mana kandungan dan maksudnya ada-lah ibadah kepadaNya semata, tidak ada sekutu bagiNya, maka Dia menyebutkan hukum jaza'i yaitu pembalasanNya terhadap amal sesudah mati. Dia berfirman, ﴾ إِلَيۡهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗاۖ ﴿ "Hanya kepadaNya-lah kamu semuanya akan kembali." Maksudnya Dia akan mengumpulkan sesudah matimu pada hari pertemuan yang ditentukan. ﴾ إِنَّهُۥ يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ ﴿ "Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbang-kit)." Dzat yang mampu menciptakan makhluk dari permulaan pas-tilah mampu mengembalikannya. Orang yang melihat penciptaan dari permulaan kemudian mengingkari pembangkitan makhluk kembali adalah orang yang tak berakal, dia mengingkari satu dari dua hal yang sama persis dengan menetapkan sesuatu yang lebih layak daripadanya. Ini adalah dalil aqli yang jelas atas hari kebang-kitan. Kemudian Allah menyebutkan dalil naqli, maka Dia berfir-man,[1] ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقًّاۚ ﴿ "Sebagai janji yang benar dari Allah." Maksudnya janjiNya adalah benar, ia pasti disempurnakan, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman", dengan hati mereka kepada sesuatu yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan yang mengerjakan amal shalih", meliputi yang wajib dan yang dianjurkan dengan anggota badan mereka ﴾ بِٱلۡقِسۡطِۚ ﴿ "dengan adil." Yakni dengan iman dan amal mereka sebagai balasan yang telah Dia jelaskan dan sampaikan kepada hamba-ham-baNya bahwa ia adalah kenikmatan yang rahasianya tidak diketahui oleh jiwa. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sedangkan orang-orang kafir", kepada ayat-ayat Allah dan mendustakan rasul-rasul Allah, ﴾ لَهُمۡ شَرَابٞ مِّنۡ حَمِيمٖ ﴿ "me-reka mendapatkan minuman air yang panas", yang membakar wajah dan menghancurkan isi perut, ﴾ وَعَذَابٌ أَلِيمُۢ ﴿ "dan azab yang pedih", berupa berbagai macam bentuk azab ﴾ بِمَا كَانُواْ يَكۡفُرُونَ ﴿ "disebabkan kekafiran mereka", maksudnya disebabkan kekafiran dan kezhaliman mereka, Allah tidak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.
Yunus 10:5
"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan ber-cahaya dan Dia menetapkan manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan haq. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada sesuatu yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaanNya) bagi orang-orang yang bertakwa." (Yunus: 5-6).
(5-6) Manakala Allah menetapkan rububiyah dan uluhiyah-Nya, maka Dia menjelaskan dalil-dalil aqli dan ufuki yang menun-jukkan hal itu, dan menunjukkan kesempurnaanNya dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, berupa matahari, rembulan, langit dan bumi serta segala sesuatu yang Dia ciptakan padanya dalam bentuk berbagai macam makhluk, lalu Dia menyatakan bahwa itu adalah tanda-tanda kebesaranNya ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "bagi kaum yang mengetahui", dan ﴾ لِّقَوۡمٖ يَتَّقُونَ ﴿ "bagi kaum yang bertakwa." Sesungguhnya ilmu membimbing kepada pengetahuan tentang indikasi padanya dan bagaimana mengambil kesimpulan dari indikasi tersebut dengan jalan yang paling mudah. Takwa memunculkan keinginan di dalam hati kepada kebaikan dan rasa takut kepada keburukan yang mun-cul dari dalil-dalil dan bukti-bukti, serta dari ilmu dan keyakinan. Hasil dari itu adalah bahwa hanya dengan penciptaan makh-luk-makhluk dengan kriteria seperti ini saja telah menunjukkan kesempurnaan kodrat Allah, ilmuNya, kehidupanNya, dan keman-dirianNya, sedangkan sesuatu yang dikandungnya berupa kebaikan, ketepatan, kecanggihan dan kerapian adalah menunjukkan kesem-purnaan hikmah Allah, kebaikan penciptaanNya dan keluasan ilmuNya, sedangkan sesuatu yang dikandung di dalamnya berupa berbagai macam manfaat dan kemaslahatan -seperti menjadikan matahari bersinar, bulan bercahaya yang dengannya terwujud ke-gunaan mendasar seperti yang telah terwujud-, itu menunjukkan rahmat Allah, perhatianNya kepada hamba-hambaNya, keluasan kebaikanNya. Sedangkan sesuatu yang dikandung di dalamnya berupa kekhususan-kekhususan yang menunjukkan kehendak Allah yang pasti terjadi, hal itu menunjukkan bahwa hanya Dia yang di-sembah yang dicintai yang dipuji, pemilik keagungan, kemuliaan dan sifat-sifat yang agung yang mana tidak sepatutnya ada cinta dan takut kecuali kepadaNya. Doa murni tidak diberikan secara tulus kecuali kepadaNya bukan kepada makhluk yang dipelihara yang memerlukan Allah dalam seluruh urusannya. Ayat-ayat ini mengandung dorongan dan ajakan untuk me-renungkan makhluk-makhluk Allah, melihatnya untuk mengambil pelajaran, karena dengan itu bashirah bisa meluas, iman dan akal bertambah dan daya pikir menguat. Tidak melakukan itu berarti meremehkan apa yang diperintahkan oleh Allah, menutup pintu bertambahnya iman, menyebabkan kebekuan akal dan pikiran.
Yunus 10:6
"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan ber-cahaya dan Dia menetapkan manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan haq. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada sesuatu yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaanNya) bagi orang-orang yang bertakwa." (Yunus: 5-6).
(5-6) Manakala Allah menetapkan rububiyah dan uluhiyah-Nya, maka Dia menjelaskan dalil-dalil aqli dan ufuki yang menun-jukkan hal itu, dan menunjukkan kesempurnaanNya dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, berupa matahari, rembulan, langit dan bumi serta segala sesuatu yang Dia ciptakan padanya dalam bentuk berbagai macam makhluk, lalu Dia menyatakan bahwa itu adalah tanda-tanda kebesaranNya ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "bagi kaum yang mengetahui", dan ﴾ لِّقَوۡمٖ يَتَّقُونَ ﴿ "bagi kaum yang bertakwa." Sesungguhnya ilmu membimbing kepada pengetahuan tentang indikasi padanya dan bagaimana mengambil kesimpulan dari indikasi tersebut dengan jalan yang paling mudah. Takwa memunculkan keinginan di dalam hati kepada kebaikan dan rasa takut kepada keburukan yang mun-cul dari dalil-dalil dan bukti-bukti, serta dari ilmu dan keyakinan. Hasil dari itu adalah bahwa hanya dengan penciptaan makh-luk-makhluk dengan kriteria seperti ini saja telah menunjukkan kesempurnaan kodrat Allah, ilmuNya, kehidupanNya, dan keman-dirianNya, sedangkan sesuatu yang dikandungnya berupa kebaikan, ketepatan, kecanggihan dan kerapian adalah menunjukkan kesem-purnaan hikmah Allah, kebaikan penciptaanNya dan keluasan ilmuNya, sedangkan sesuatu yang dikandung di dalamnya berupa berbagai macam manfaat dan kemaslahatan -seperti menjadikan matahari bersinar, bulan bercahaya yang dengannya terwujud ke-gunaan mendasar seperti yang telah terwujud-, itu menunjukkan rahmat Allah, perhatianNya kepada hamba-hambaNya, keluasan kebaikanNya. Sedangkan sesuatu yang dikandung di dalamnya berupa kekhususan-kekhususan yang menunjukkan kehendak Allah yang pasti terjadi, hal itu menunjukkan bahwa hanya Dia yang di-sembah yang dicintai yang dipuji, pemilik keagungan, kemuliaan dan sifat-sifat yang agung yang mana tidak sepatutnya ada cinta dan takut kecuali kepadaNya. Doa murni tidak diberikan secara tulus kecuali kepadaNya bukan kepada makhluk yang dipelihara yang memerlukan Allah dalam seluruh urusannya. Ayat-ayat ini mengandung dorongan dan ajakan untuk me-renungkan makhluk-makhluk Allah, melihatnya untuk mengambil pelajaran, karena dengan itu bashirah bisa meluas, iman dan akal bertambah dan daya pikir menguat. Tidak melakukan itu berarti meremehkan apa yang diperintahkan oleh Allah, menutup pintu bertambahnya iman, menyebabkan kebekuan akal dan pikiran.
Yunus 10:7
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempat-nya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan." (Yunus: 7-8).
(7) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami." Maksudnya tidak ingin bertemu Allah yang meru-pakan keinginan terbesar yang diinginkan oleh orang-orang yang ingin, harapan tertinggi yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap, mereka justru berpaling darinya bahkan mendustakannya, ﴾ وَرَضُواْ بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "dan merasa puas dengan kehidupan dunia", sebagai ganti kehidupan akhirat, ﴾ وَٱطۡمَأَنُّواْ بِهَا ﴿ "serta merasa tenteram dengan kehidupan itu", maksudnya mereka bersandar kepadanya, menja-dikannya sebagai target dan sasaran akhir mereka, maka mereka berusaha untuknya, tenggelam di dalam kenikmatan dan syahwat-nya, dengan cara apa pun dia mendapatkannya, dari arah mana pun ia muncul, maka dengan segera ia disambarnya. Mereka memfokus-kan keinginan, niat, pikiran dan pekerjaan mereka kepadanya, se-akan-akan mereka diciptakan agar kekal di dalamnya, seakan-akan ia bukanlah alam singgahan yang mana orang-orang musafir ber-bekal darinya menuju kampung yang kekal yang mana orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian berangkat kepada kenikmatan dan kelezatannya. Orang-orang yang diberi taufik menyingsingkan lengan baju (untuk mendapatkannya). ﴾ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِنَا غَٰفِلُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami," mereka tidak mengambil manfaat dari ayat-ayat al-Qur`an, tidak pula dari ayat-ayat yang ada di dalam diri dan cakrawala, padahal berpaling dari dalil berarti berpaling dan lalai dari apa yang menjadi maksud dari dalil itu.
(8) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu", dengan sifat-sifat tersebut ﴾ مَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "tempatnya ialah neraka." Yakni tempat tinggalnya untuk selama-lamanya yang tidak mereka tinggalkan ﴾ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "disebab-kan apa yang selalu mereka kerjakan", berupa kekufuran, kesyirikan dan berbagai macam kemaksiatan.
Manakala Dia menyebutkan hukuman mereka, maka Dia me-nyebutkan pahala orang-orang yang taat, Dia berfirman,
Yunus 10:8
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempat-nya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan." (Yunus: 7-8).
(7) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami." Maksudnya tidak ingin bertemu Allah yang meru-pakan keinginan terbesar yang diinginkan oleh orang-orang yang ingin, harapan tertinggi yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap, mereka justru berpaling darinya bahkan mendustakannya, ﴾ وَرَضُواْ بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "dan merasa puas dengan kehidupan dunia", sebagai ganti kehidupan akhirat, ﴾ وَٱطۡمَأَنُّواْ بِهَا ﴿ "serta merasa tenteram dengan kehidupan itu", maksudnya mereka bersandar kepadanya, menja-dikannya sebagai target dan sasaran akhir mereka, maka mereka berusaha untuknya, tenggelam di dalam kenikmatan dan syahwat-nya, dengan cara apa pun dia mendapatkannya, dari arah mana pun ia muncul, maka dengan segera ia disambarnya. Mereka memfokus-kan keinginan, niat, pikiran dan pekerjaan mereka kepadanya, se-akan-akan mereka diciptakan agar kekal di dalamnya, seakan-akan ia bukanlah alam singgahan yang mana orang-orang musafir ber-bekal darinya menuju kampung yang kekal yang mana orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian berangkat kepada kenikmatan dan kelezatannya. Orang-orang yang diberi taufik menyingsingkan lengan baju (untuk mendapatkannya). ﴾ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِنَا غَٰفِلُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami," mereka tidak mengambil manfaat dari ayat-ayat al-Qur`an, tidak pula dari ayat-ayat yang ada di dalam diri dan cakrawala, padahal berpaling dari dalil berarti berpaling dan lalai dari apa yang menjadi maksud dari dalil itu.
(8) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu", dengan sifat-sifat tersebut ﴾ مَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "tempatnya ialah neraka." Yakni tempat tinggalnya untuk selama-lamanya yang tidak mereka tinggalkan ﴾ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "disebab-kan apa yang selalu mereka kerjakan", berupa kekufuran, kesyirikan dan berbagai macam kemaksiatan.
Manakala Dia menyebutkan hukuman mereka, maka Dia me-nyebutkan pahala orang-orang yang taat, Dia berfirman,
Yunus 10:9
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam Surga yang penuh kenikmatan. Doa mereka di dalamnya ialah, 'Subhanakallahumma', dan salam penghormatan mereka ialah, 'Salam.' Dan penutup doa mereka ialah, 'Alhamdulillahi Rabbil alamin'." (Yunus: 9-10).
(9) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih." Maksudnya, mereka menggabungkan antara iman dan pelaksanaan terhadap amal shalih yang merupakan konsekuensi dan tuntutannya yang mencakup amal hati dan anggota badan dengan keikhlasan dan mengikuti tuntunan Rasul, ﴾ يَهۡدِيهِمۡ رَبُّهُم بِإِيمَٰنِهِمۡۖ ﴿ "mereka diberi pe-tunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya." Maksudnya karena keimanannya, maka Allah membalas mereka dengan pahala yang besar yaitu hidayah. Dia mengajarkan kepada mereka sesuatu yang berguna bagi mereka, memberi mereka nikmat dengan amal yang timbul dari hidayah, memberi petunjuk kepada mereka untuk meng-kaji ayat-ayatNya, memberi mereka petunjuk di alam ini kepada jalan yang lurus dan pada saat berada di jalan yang lurus serta (petunjuk) di alam pembalasan kepada jalan yang mengantarkan kepada Surga kenikmatan. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "di bawah mereka mengalir sungai-sungai", yang terus me-nerus mengalir ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "di dalam Surga yang penuh kenikmatan." Allah menisbatkannya kepada kenikmatan karena ia mengandung kenikmatan yang sempurna; kenikmatan hati dengan kebahagiaan, kesenangan, kelezatan, melihat Allah, menyimak FirmanNya, ber-bangga dengan ridhaNya dan kedekatan kepadaNya, bertemu saudara-saudara dan orang-orang terkasih, berkumpul dengan mereka, mendengar suara yang menyenangkan, alunan yang merdu dan pemandangan yang menenangkan. Juga nikmat jasmani de-ngan berbagai macam minuman, makanan, pernikahan dan lain-lain yang tidak diketahui oleh jiwa dan tidak terlintas di benak siapa pun atau ada yang mampu untuk menyifatinya.
(10) ﴾ دَعۡوَىٰهُمۡ فِيهَا سُبۡحَٰنَكَ ٱللَّهُمَّ ﴿ "Doa mereka di dalamnya ialah, 'Subha-nakallahumma', maksudnya ibadah mereka di dalamnya kepada Allah yang pertama adalah tasbih dan menyucikan Allah dari keku-rangan, dan yang terakhir adalah tahmid kepada Allah. Beban taklif gugur dari mereka di alam pembalasan. Yang tersisa bagi mereka adalah kenikmatan yang sempurna, yang lebih lezat bagi mereka daripada makanan yang lezat yaitu dzikrullah yang dengannya hati menjadi tenang, dan ruh menjadi bahagia. Ia bagi mereka sama dengan bernafas tanpa usaha dan kesulitan. ﴾ و َ ﴿ "Dan," adapun penghormatan mereka dalam perkara di antara mereka pada saat saling berkunjung dan bertemu adalah salam, yaitu ucapan yang bebas dari dosa dan hal yang tak berguna yang disifati bahwa ia adalah ﴾ سَلَٰمٞۚ ﴿ "salam". Ada yang menafsirkan Firman Allah, ﴾ دَعۡوَىٰهُمۡ فِيهَا سُبۡحَٰنَكَ ٱللَّهُمَّ ﴿ "Doa mereka di dalamnya ialah, 'Subhanakallahumma'… dan seterusnya," bahwa jika penduduk Surga menginginkan makanan, minuman dan lain-lain lalu mereka mengucapkan subhanakallahumma, maka ia dihadirkan saat itu juga, jika mereka selesai, maka mereka meng-ucapkan, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Segala puji hanya bagi Allah Rabb alam semesta."
Yunus 10:10
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam Surga yang penuh kenikmatan. Doa mereka di dalamnya ialah, 'Subhanakallahumma', dan salam penghormatan mereka ialah, 'Salam.' Dan penutup doa mereka ialah, 'Alhamdulillahi Rabbil alamin'." (Yunus: 9-10).
(9) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih." Maksudnya, mereka menggabungkan antara iman dan pelaksanaan terhadap amal shalih yang merupakan konsekuensi dan tuntutannya yang mencakup amal hati dan anggota badan dengan keikhlasan dan mengikuti tuntunan Rasul, ﴾ يَهۡدِيهِمۡ رَبُّهُم بِإِيمَٰنِهِمۡۖ ﴿ "mereka diberi pe-tunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya." Maksudnya karena keimanannya, maka Allah membalas mereka dengan pahala yang besar yaitu hidayah. Dia mengajarkan kepada mereka sesuatu yang berguna bagi mereka, memberi mereka nikmat dengan amal yang timbul dari hidayah, memberi petunjuk kepada mereka untuk meng-kaji ayat-ayatNya, memberi mereka petunjuk di alam ini kepada jalan yang lurus dan pada saat berada di jalan yang lurus serta (petunjuk) di alam pembalasan kepada jalan yang mengantarkan kepada Surga kenikmatan. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "di bawah mereka mengalir sungai-sungai", yang terus me-nerus mengalir ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "di dalam Surga yang penuh kenikmatan." Allah menisbatkannya kepada kenikmatan karena ia mengandung kenikmatan yang sempurna; kenikmatan hati dengan kebahagiaan, kesenangan, kelezatan, melihat Allah, menyimak FirmanNya, ber-bangga dengan ridhaNya dan kedekatan kepadaNya, bertemu saudara-saudara dan orang-orang terkasih, berkumpul dengan mereka, mendengar suara yang menyenangkan, alunan yang merdu dan pemandangan yang menenangkan. Juga nikmat jasmani de-ngan berbagai macam minuman, makanan, pernikahan dan lain-lain yang tidak diketahui oleh jiwa dan tidak terlintas di benak siapa pun atau ada yang mampu untuk menyifatinya.
(10) ﴾ دَعۡوَىٰهُمۡ فِيهَا سُبۡحَٰنَكَ ٱللَّهُمَّ ﴿ "Doa mereka di dalamnya ialah, 'Subha-nakallahumma', maksudnya ibadah mereka di dalamnya kepada Allah yang pertama adalah tasbih dan menyucikan Allah dari keku-rangan, dan yang terakhir adalah tahmid kepada Allah. Beban taklif gugur dari mereka di alam pembalasan. Yang tersisa bagi mereka adalah kenikmatan yang sempurna, yang lebih lezat bagi mereka daripada makanan yang lezat yaitu dzikrullah yang dengannya hati menjadi tenang, dan ruh menjadi bahagia. Ia bagi mereka sama dengan bernafas tanpa usaha dan kesulitan. ﴾ و َ ﴿ "Dan," adapun penghormatan mereka dalam perkara di antara mereka pada saat saling berkunjung dan bertemu adalah salam, yaitu ucapan yang bebas dari dosa dan hal yang tak berguna yang disifati bahwa ia adalah ﴾ سَلَٰمٞۚ ﴿ "salam". Ada yang menafsirkan Firman Allah, ﴾ دَعۡوَىٰهُمۡ فِيهَا سُبۡحَٰنَكَ ٱللَّهُمَّ ﴿ "Doa mereka di dalamnya ialah, 'Subhanakallahumma'… dan seterusnya," bahwa jika penduduk Surga menginginkan makanan, minuman dan lain-lain lalu mereka mengucapkan subhanakallahumma, maka ia dihadirkan saat itu juga, jika mereka selesai, maka mereka meng-ucapkan, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Segala puji hanya bagi Allah Rabb alam semesta."
Yunus 10:11
"Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia sebagaimana permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bingung di dalam kesesatan mereka." (Yunus: 11).
(11) Ini termasuk kasih sayang dan kebaikan Allah kepada hamba-hambaNya bahwa seandainya Dia menyegerakan keburukan dan hukuman kepada mereka jika mereka melakukan sebab-sebab-nya sebagaimana Dia menyegerakan kebaikan kepada mereka jika mereka melakukan sebab-sebabnya ﴾ لَقُضِيَ إِلَيۡهِمۡ أَجَلُهُمۡۖ ﴿ "pastilah diakhiri umur mereka." Yakni hukuman itu akan membinasakan mereka, akan tetapi Allah memberi tempo kepada mereka dan tidak melalaikan mereka, Dia memaafkan banyak hak-hakNya, seandainya Dia meng-hukum manusia karena kezhalimannya, pastilah Dia tidak mem-biarkan seorang pun di muka bumi, termasuk dalam hal ini adalah bahwa seorang hamba jika dia marah kepada anak-anaknya atau keluarganya atau hartanya bisa saja dia mendoakan tidak baik yang mungkin saja jika dikabulkan pastilah mereka binasa, dan hal itu sangat merugikannya, akan tetapi Allah Mahabijaksana dan Maha-lembut. FirmanNya, ﴾ فَنَذَرُ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا ﴿ "Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami," yakni tidak beriman kepada akhirat, oleh karena itu dia tidak bersiap-siap un-tuknya dan melakukan apa yang menyelamatkan mereka dari azab Allah. FirmanNya ﴾ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "bingung di dalam kesesatan mereka", yakni kebatilan di mana mereka melebihi batas-batas kebenaran. ﴾ يَعۡمَهُونَ ﴿ "bingung", mondar-mandir kebingungan, tidak mengetahui jalan, tidak dibimbing kepada jalan yang lurus. Hal itu sebagai hu-kuman kepada mereka atas kezhaliman dan kekufuran mereka kepada ayat-ayat Allah.
Yunus 10:12
"Dan apabila manusia ditimpa bahaya, maka dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi tatkala Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Be-gitulah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas itu apa yang selalu mereka kerjakan." (Yunus: 12).
(12) Ini adalah penjelasan tentang tabiat dasar manusia, bahwa jika ditimpa kesulitan berupa penyakit atau musibah, maka dia bersungguh-sungguh berdoa, memohon kepada Allah di setiap keadaannya dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring, dia terus menerus berdoa agar Allah mengangkat kesulitannya. ﴾ فَلَمَّا كَشَفۡنَا عَنۡهُ ضُرَّهُۥ مَرَّ كَأَن لَّمۡ يَدۡعُنَآ إِلَىٰ ضُرّٖ مَّسَّهُۥۚ ﴿ "Tetapi tatkala Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya." Maksudnya terus dalam kelalaiannya, berpaling dari Rabbnya seolah-olah dia tidak ditimpa kesulitan yang telah Allah hilangkan. Kezhaliman mana yang lebih besar daripada ini? Dia meminta kepada Rabbnya agar mewujudkan maksudnya, lalu ketika Dia memberikannya, maka hamba itu tidak memperhatikan hak Rabbnya seolah-olah Rabbnya tidak memiliki hak atasnya. Ini ada-lah bentuk pemberian rasa indah dari setan, dia menjadikan apa yang buruk dan busuk menurut akal dan fitrah sebagai sesuatu yang baik. ﴾ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلۡمُسۡرِفِينَ ﴿ "Begitulah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas itu", yaitu yang melanggar aturan-aturan Allah, ﴾ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ apa yang selalu mereka kerjakan."
Yunus 10:13
"Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezhaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. Kemudian Kami menjadikanmu sebagai pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat." (Yunus: 13-14).
(13) Allah memberitahukan bahwa Dia membinasakan umat-umat yang telah lampau karena kezhaliman dan kekufuran mereka setelah datangnya keterangan yang jelas kepada mereka melalui tangan para rasul untuk menjelaskan kebenaran, tetapi me-reka menolak tunduk kepadanya dan tidak beriman, maka Allah menurunkan siksanya yang tidak bisa ditolak yang menimpa semua pendosa yang berani melanggar batasan-batasan Allah. Ini adalah sunnatullah pada seluruh umat.
(14) ﴾ ثُمَّ جَعَلۡنَٰكُمۡ ﴿ "Kemudian Kami menjadikanmu." Yaitu, orang-orang yang ayat ini ditujukan kepadanya. ﴾ خَلَٰٓئِفَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ لِنَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sebagai pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat." Jika ka-mu mengambil pelajaran dan nasihat dari orang-orang sebelummu, mengikuti ayat-ayat Allah, membenarkan rasul-rasulNya, niscaya kamu selamat di dunia dan akhirat. Jika kamu berbuat seperti apa yang diperbuat oleh orang-orang zhalim sebelummu, niscaya Dia menurunkan kepadamu azab yang telah Dia turunkan kepada me-reka, dan siapa yang memberi peringatan maka dia telah memiliki (alasan) udzur (di hadapan Allah).
Yunus 10:14
"Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezhaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. Kemudian Kami menjadikanmu sebagai pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat." (Yunus: 13-14).
(13) Allah memberitahukan bahwa Dia membinasakan umat-umat yang telah lampau karena kezhaliman dan kekufuran mereka setelah datangnya keterangan yang jelas kepada mereka melalui tangan para rasul untuk menjelaskan kebenaran, tetapi me-reka menolak tunduk kepadanya dan tidak beriman, maka Allah menurunkan siksanya yang tidak bisa ditolak yang menimpa semua pendosa yang berani melanggar batasan-batasan Allah. Ini adalah sunnatullah pada seluruh umat.
(14) ﴾ ثُمَّ جَعَلۡنَٰكُمۡ ﴿ "Kemudian Kami menjadikanmu." Yaitu, orang-orang yang ayat ini ditujukan kepadanya. ﴾ خَلَٰٓئِفَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ لِنَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sebagai pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat." Jika ka-mu mengambil pelajaran dan nasihat dari orang-orang sebelummu, mengikuti ayat-ayat Allah, membenarkan rasul-rasulNya, niscaya kamu selamat di dunia dan akhirat. Jika kamu berbuat seperti apa yang diperbuat oleh orang-orang zhalim sebelummu, niscaya Dia menurunkan kepadamu azab yang telah Dia turunkan kepada me-reka, dan siapa yang memberi peringatan maka dia telah memiliki (alasan) udzur (di hadapan Allah).
Yunus 10:15
"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, maka orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, 'Datangkanlah al-Qur`an yang lain dari ini atau gantilah ia.' Katakanlah (wahai Muhammad), 'Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Rabbku kepada siksa hari yang besar (Kiamat).' Katakanlah (wahai Muhammad), 'Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu, dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu.' Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya (al-Qur`an turun). Maka apakah kamu tidak memikirkannya? Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa." (Yunus: 15-17).
(15) Allah menyebutkan penentangan orang-orang yang mendustakan RasulNya, Muhammad bahwa jika ayat-ayat Allah yang ada di dalam al-Qur`an yang menjelaskan kebenaran dibacakan kepada mereka, maka mereka berpaling darinya, mereka menun-jukkan penentangan, dengan keberanian dan kezhaliman mereka berkata, ﴾ ٱئۡتِ بِقُرۡءَانٍ غَيۡرِ هَٰذَآ أَوۡ بَدِّلۡهُۚ ﴿ "Datangkanlah al-Qur`an yang lain dari ini atau gantilah ia." Semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka, betapa beraninya mereka kepada Allah, betapa besarnya kezhaliman dan penolakan mereka terhadap ayat-ayatNya. Maka Allah memerintahkan Rasulullah yang agung agar menjawab me-reka, ﴾ قُلۡ مَا يَكُونُ لِيٓ ﴿ "Katakanlah (wahai Muhammad), 'Tidaklah patut bagiku", yakni tidak pantas dan tidak layak ﴾ أَنۡ أُبَدِّلَهُۥ مِن تِلۡقَآيِٕ نَفۡسِيٓۖ ﴿ "meng-gantinya dari pihak diriku sendiri." Aku hanya seorang Rasul murni, aku tidak memiliki sesuatu hak pun dari perkara ini,﴾ إِنۡ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّۖ ﴿ "aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku." Aku tidak memiliki (hak) selain itu karena aku hanyalah seorang hamba yang tunduk. ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّي عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Rabbku kepada siksa hari yang besar (Kiamat)." Ini ada-lah ucapan dan adab makhluk terbaik kepada wahyu dan perintah Rabbnya. Lalu bagaimana dengan orang-orang bodoh yang sesat yang mengumpulkan antara kebodohan, kesesatan, kezhaliman, penentangan, pengingkaran dan pelemahan terhadap Rabbul 'alamin. Apakah mereka tidak takut azab hari yang besar? Jika mereka meng-klaim bahwa maksud mereka adalah agar tersibak kebenaran dengan ayat-ayat yang mereka tuntut maka mereka telah berdusta dalam hal ini, karena Allah telah menjelaskan ayat-ayat yang semestinya membuat orang beriman, Dia-lah yang mengaturnya bagaimana Dia berkehendak yang mengikuti kepada hikmah Rabbaniyah dan rahmatNya kepada hamba-hambaNya.
(16) ﴾ قُل لَّوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا تَلَوۡتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَدۡرَىٰكُم بِهِۦۖ فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِيكُمۡ عُمُرٗا ﴿ "Katakanlah (wahai Muhammad), 'Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahu-kannya kepadamu.' Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama." Dengan waktu yang cukup panjang ﴾ مِّن قَبۡلِهِۦٓۚ ﴿ "sebelumnya (al-Qur`an turun)." Yakni sebelum membacakannya dan sebelum kamu mengetahuinya sementara aku sendiri tidak terlintas di benakku dan tidak terpikir di pikiranku. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkannya?" Bahwa aku tidak mengada-adakannya seumur hidupku dan tidak pula bersumber dariku apa yang menunjukkan hal itu, lalu bagaimana mungkin aku mengada-adakannya sesudah itu, sementara aku te-lah hidup lama di lingkunganmu, kamu mengenal keadaanku yang sebenarnya bahwa aku adalah ummi tak membaca, tak menulis, tak belajar dari siapa pun, lalu aku hadir kepadamu dengan kitab yang agung yang melemahkan orang-orang yang fasih dan melelahkan para ulama. Apakah dengan itu masih mungkin bahwa ia adalah bersumber dariku sendiri? Atau justru ia adalah dalil yang pasti bahwa ia adalah diturunkan dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji? Jika kamu memakai pikiran dan akalmu, kamu me-renungkan keadaanku dan keadaan kitab ini niscaya kamu pasti memastikan tanpa keraguan bahwa ia adalah benar, bahwa ia ada-lah kebenaran yang tidak ada (sesuatu) setelahnya melainkan ke-sesatan, akan tetapi kamu hanya menginginkan pendustaan dan penentangan, tanpa ragu kamu adalah orang-orang yang zhalim.
(17) Dan ﴾ مَن أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِـَٔايَٰتِهِۦٓۚ ﴿ "siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terha-dap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya?" Kalau aku mengada-ada, maka aku adalah orang yang paling zhalim, keberuntungan lenyap dariku dan keadaanku pun tidak samar bagimu, akan tetapi aku datang kepadamu dengan ayat-ayat Allah lalu kamu mendustakan-nya maka kezhaliman terpastikan ada padamu, perkaramu harus lenyap dan kamu tidak akan mendapatkan keberuntungan selama kamu sebagaimana demikian. Firman Allah, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا ﴿ "Orang-orang yang tidak berharap pertemuan dengan kami berkata", me-nunjukkan bahwa faktor pendorong penentangan yang bersumber dari mereka adalah kekufuran mereka kepada pertemuan dengan Allah dan tidak mengharapkannya, dan bahwa siapa yang beriman kepada pertemuan dengan Allah, maka dia pasti tunduk kepada kitab ini, beriman kepadanya, karena tujuannya baik.
Yunus 10:16
"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, maka orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, 'Datangkanlah al-Qur`an yang lain dari ini atau gantilah ia.' Katakanlah (wahai Muhammad), 'Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Rabbku kepada siksa hari yang besar (Kiamat).' Katakanlah (wahai Muhammad), 'Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu, dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu.' Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya (al-Qur`an turun). Maka apakah kamu tidak memikirkannya? Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa." (Yunus: 15-17).
(15) Allah menyebutkan penentangan orang-orang yang mendustakan RasulNya, Muhammad bahwa jika ayat-ayat Allah yang ada di dalam al-Qur`an yang menjelaskan kebenaran dibacakan kepada mereka, maka mereka berpaling darinya, mereka menun-jukkan penentangan, dengan keberanian dan kezhaliman mereka berkata, ﴾ ٱئۡتِ بِقُرۡءَانٍ غَيۡرِ هَٰذَآ أَوۡ بَدِّلۡهُۚ ﴿ "Datangkanlah al-Qur`an yang lain dari ini atau gantilah ia." Semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka, betapa beraninya mereka kepada Allah, betapa besarnya kezhaliman dan penolakan mereka terhadap ayat-ayatNya. Maka Allah memerintahkan Rasulullah yang agung agar menjawab me-reka, ﴾ قُلۡ مَا يَكُونُ لِيٓ ﴿ "Katakanlah (wahai Muhammad), 'Tidaklah patut bagiku", yakni tidak pantas dan tidak layak ﴾ أَنۡ أُبَدِّلَهُۥ مِن تِلۡقَآيِٕ نَفۡسِيٓۖ ﴿ "meng-gantinya dari pihak diriku sendiri." Aku hanya seorang Rasul murni, aku tidak memiliki sesuatu hak pun dari perkara ini,﴾ إِنۡ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّۖ ﴿ "aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku." Aku tidak memiliki (hak) selain itu karena aku hanyalah seorang hamba yang tunduk. ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّي عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Rabbku kepada siksa hari yang besar (Kiamat)." Ini ada-lah ucapan dan adab makhluk terbaik kepada wahyu dan perintah Rabbnya. Lalu bagaimana dengan orang-orang bodoh yang sesat yang mengumpulkan antara kebodohan, kesesatan, kezhaliman, penentangan, pengingkaran dan pelemahan terhadap Rabbul 'alamin. Apakah mereka tidak takut azab hari yang besar? Jika mereka meng-klaim bahwa maksud mereka adalah agar tersibak kebenaran dengan ayat-ayat yang mereka tuntut maka mereka telah berdusta dalam hal ini, karena Allah telah menjelaskan ayat-ayat yang semestinya membuat orang beriman, Dia-lah yang mengaturnya bagaimana Dia berkehendak yang mengikuti kepada hikmah Rabbaniyah dan rahmatNya kepada hamba-hambaNya.
(16) ﴾ قُل لَّوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا تَلَوۡتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَدۡرَىٰكُم بِهِۦۖ فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِيكُمۡ عُمُرٗا ﴿ "Katakanlah (wahai Muhammad), 'Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahu-kannya kepadamu.' Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama." Dengan waktu yang cukup panjang ﴾ مِّن قَبۡلِهِۦٓۚ ﴿ "sebelumnya (al-Qur`an turun)." Yakni sebelum membacakannya dan sebelum kamu mengetahuinya sementara aku sendiri tidak terlintas di benakku dan tidak terpikir di pikiranku. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkannya?" Bahwa aku tidak mengada-adakannya seumur hidupku dan tidak pula bersumber dariku apa yang menunjukkan hal itu, lalu bagaimana mungkin aku mengada-adakannya sesudah itu, sementara aku te-lah hidup lama di lingkunganmu, kamu mengenal keadaanku yang sebenarnya bahwa aku adalah ummi tak membaca, tak menulis, tak belajar dari siapa pun, lalu aku hadir kepadamu dengan kitab yang agung yang melemahkan orang-orang yang fasih dan melelahkan para ulama. Apakah dengan itu masih mungkin bahwa ia adalah bersumber dariku sendiri? Atau justru ia adalah dalil yang pasti bahwa ia adalah diturunkan dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji? Jika kamu memakai pikiran dan akalmu, kamu me-renungkan keadaanku dan keadaan kitab ini niscaya kamu pasti memastikan tanpa keraguan bahwa ia adalah benar, bahwa ia ada-lah kebenaran yang tidak ada (sesuatu) setelahnya melainkan ke-sesatan, akan tetapi kamu hanya menginginkan pendustaan dan penentangan, tanpa ragu kamu adalah orang-orang yang zhalim.
(17) Dan ﴾ مَن أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِـَٔايَٰتِهِۦٓۚ ﴿ "siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terha-dap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya?" Kalau aku mengada-ada, maka aku adalah orang yang paling zhalim, keberuntungan lenyap dariku dan keadaanku pun tidak samar bagimu, akan tetapi aku datang kepadamu dengan ayat-ayat Allah lalu kamu mendustakan-nya maka kezhaliman terpastikan ada padamu, perkaramu harus lenyap dan kamu tidak akan mendapatkan keberuntungan selama kamu sebagaimana demikian. Firman Allah, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا ﴿ "Orang-orang yang tidak berharap pertemuan dengan kami berkata", me-nunjukkan bahwa faktor pendorong penentangan yang bersumber dari mereka adalah kekufuran mereka kepada pertemuan dengan Allah dan tidak mengharapkannya, dan bahwa siapa yang beriman kepada pertemuan dengan Allah, maka dia pasti tunduk kepada kitab ini, beriman kepadanya, karena tujuannya baik.
Yunus 10:17
"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, maka orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, 'Datangkanlah al-Qur`an yang lain dari ini atau gantilah ia.' Katakanlah (wahai Muhammad), 'Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Rabbku kepada siksa hari yang besar (Kiamat).' Katakanlah (wahai Muhammad), 'Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu, dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu.' Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya (al-Qur`an turun). Maka apakah kamu tidak memikirkannya? Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa." (Yunus: 15-17).
(15) Allah menyebutkan penentangan orang-orang yang mendustakan RasulNya, Muhammad bahwa jika ayat-ayat Allah yang ada di dalam al-Qur`an yang menjelaskan kebenaran dibacakan kepada mereka, maka mereka berpaling darinya, mereka menun-jukkan penentangan, dengan keberanian dan kezhaliman mereka berkata, ﴾ ٱئۡتِ بِقُرۡءَانٍ غَيۡرِ هَٰذَآ أَوۡ بَدِّلۡهُۚ ﴿ "Datangkanlah al-Qur`an yang lain dari ini atau gantilah ia." Semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka, betapa beraninya mereka kepada Allah, betapa besarnya kezhaliman dan penolakan mereka terhadap ayat-ayatNya. Maka Allah memerintahkan Rasulullah yang agung agar menjawab me-reka, ﴾ قُلۡ مَا يَكُونُ لِيٓ ﴿ "Katakanlah (wahai Muhammad), 'Tidaklah patut bagiku", yakni tidak pantas dan tidak layak ﴾ أَنۡ أُبَدِّلَهُۥ مِن تِلۡقَآيِٕ نَفۡسِيٓۖ ﴿ "meng-gantinya dari pihak diriku sendiri." Aku hanya seorang Rasul murni, aku tidak memiliki sesuatu hak pun dari perkara ini,﴾ إِنۡ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّۖ ﴿ "aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku." Aku tidak memiliki (hak) selain itu karena aku hanyalah seorang hamba yang tunduk. ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّي عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Rabbku kepada siksa hari yang besar (Kiamat)." Ini ada-lah ucapan dan adab makhluk terbaik kepada wahyu dan perintah Rabbnya. Lalu bagaimana dengan orang-orang bodoh yang sesat yang mengumpulkan antara kebodohan, kesesatan, kezhaliman, penentangan, pengingkaran dan pelemahan terhadap Rabbul 'alamin. Apakah mereka tidak takut azab hari yang besar? Jika mereka meng-klaim bahwa maksud mereka adalah agar tersibak kebenaran dengan ayat-ayat yang mereka tuntut maka mereka telah berdusta dalam hal ini, karena Allah telah menjelaskan ayat-ayat yang semestinya membuat orang beriman, Dia-lah yang mengaturnya bagaimana Dia berkehendak yang mengikuti kepada hikmah Rabbaniyah dan rahmatNya kepada hamba-hambaNya.
(16) ﴾ قُل لَّوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا تَلَوۡتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَدۡرَىٰكُم بِهِۦۖ فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِيكُمۡ عُمُرٗا ﴿ "Katakanlah (wahai Muhammad), 'Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahu-kannya kepadamu.' Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama." Dengan waktu yang cukup panjang ﴾ مِّن قَبۡلِهِۦٓۚ ﴿ "sebelumnya (al-Qur`an turun)." Yakni sebelum membacakannya dan sebelum kamu mengetahuinya sementara aku sendiri tidak terlintas di benakku dan tidak terpikir di pikiranku. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkannya?" Bahwa aku tidak mengada-adakannya seumur hidupku dan tidak pula bersumber dariku apa yang menunjukkan hal itu, lalu bagaimana mungkin aku mengada-adakannya sesudah itu, sementara aku te-lah hidup lama di lingkunganmu, kamu mengenal keadaanku yang sebenarnya bahwa aku adalah ummi tak membaca, tak menulis, tak belajar dari siapa pun, lalu aku hadir kepadamu dengan kitab yang agung yang melemahkan orang-orang yang fasih dan melelahkan para ulama. Apakah dengan itu masih mungkin bahwa ia adalah bersumber dariku sendiri? Atau justru ia adalah dalil yang pasti bahwa ia adalah diturunkan dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji? Jika kamu memakai pikiran dan akalmu, kamu me-renungkan keadaanku dan keadaan kitab ini niscaya kamu pasti memastikan tanpa keraguan bahwa ia adalah benar, bahwa ia ada-lah kebenaran yang tidak ada (sesuatu) setelahnya melainkan ke-sesatan, akan tetapi kamu hanya menginginkan pendustaan dan penentangan, tanpa ragu kamu adalah orang-orang yang zhalim.
(17) Dan ﴾ مَن أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِـَٔايَٰتِهِۦٓۚ ﴿ "siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terha-dap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya?" Kalau aku mengada-ada, maka aku adalah orang yang paling zhalim, keberuntungan lenyap dariku dan keadaanku pun tidak samar bagimu, akan tetapi aku datang kepadamu dengan ayat-ayat Allah lalu kamu mendustakan-nya maka kezhaliman terpastikan ada padamu, perkaramu harus lenyap dan kamu tidak akan mendapatkan keberuntungan selama kamu sebagaimana demikian. Firman Allah, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا ﴿ "Orang-orang yang tidak berharap pertemuan dengan kami berkata", me-nunjukkan bahwa faktor pendorong penentangan yang bersumber dari mereka adalah kekufuran mereka kepada pertemuan dengan Allah dan tidak mengharapkannya, dan bahwa siapa yang beriman kepada pertemuan dengan Allah, maka dia pasti tunduk kepada kitab ini, beriman kepadanya, karena tujuannya baik.
Yunus 10:18
"Dan mereka menyembah selain dari Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, 'Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah.' Katakanlah, 'Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya, baik di langit dan tidak (pula) di bumi?' Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu)." (Yunus: 18).
(18) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيَعۡبُدُونَ ﴿ "Dan mereka menyem-bah", yaitu orang-orang musyrik yang mendustakan Rasulullah ﴾ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ ﴿ "selain dari Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan." Yakni ia tidak memiliki sedikit pun manfaat untuk mereka dan tidak menolak apa pun dari mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata", de-ngan ucapan kosong tanpa bukti, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah." Mereka menyembah-nya agar bisa mendekatkannya kepada Allah dan memberi syafa'at kepada mereka di sisiNya. Ini adalah ucapan yang mereka ada-ada-kan dari diri mereka sendiri, ucapan yang mereka buat-buat. Oleh karena itu, Allah berfirman membatalkan ucapan tersebut, ﴾ قُلۡ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Katakanlah, 'Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya, baik di langit dan tidak (pula) di bumi?'" Maksudnya, Allah Maha Mengetahui dengan ilmu yang meliputi apa yang ada di langit dan di bumi, Dia telah mengabar-kan kepadamu bahwa Dia tidak memiliki sekutu dan bahwa tidak ada Rabb bersamaNya. Kamu wahai orang-orang musyrik meng-klaim bahwa Dia memiliki sekutu di alam ini, apakah kamu me-nyampaikan berita yang samar padahal kamu mengetahuinya? Siapa yang lebih tahu, Allah ataukah kamu? Adakah ucapan yang lebih batil daripada ucapan yang mengandung kesimpulan bahwa orang-orang bodoh lagi sesat itu lebih tahu daripada Allah Rabbul 'alamin? Cukuplah bagi orang yang berakal dengan hanya membayangkan pendapat ini, karena ia dipastikan batil dan rusak. ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka perseku-tukan (itu)." Maksudnya, Mahasuci Allah, Dia tidak memiliki partner atau sekutu, akan tetapi Dia adalah Maha Esa, tempat bergantung para makhluk, tiada Rabb di langit dan di bumi melainkan Dia, se-mua yang disembah di langit dan di bumi selainNya adalah batil secara akal, syara' dan fitrah, ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ 62 ﴿ "(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (Rabb) Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar." (Al-Hajj: 62).
Yunus 10:19
"Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau bukanlah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu keterangan (mukjizat) dari Rabbnya?' Maka katakanlah, 'Sesung-guhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah, sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersamamu termasuk orang-orang yang menunggu'." (Yunus: 19-20).
(19) ﴾ وَمَا كَانَ ٱلنَّاسُ إِلَّآ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Manusia dahulunya hanyalah satu umat", mereka bersepakat pada agama yang benar, akan tetapi (setelah itu) mereka berselisih. ﴾ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِۚ ﴿ "Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang per-kara yang mereka perselisihkan." (Al-Baqarah: 213). ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةٞ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Kalau bukanlah karena suatu ketetap-an yang telah ada dari Rabbmu dahulu", dengan memberikan tempo kepada orang-orang yang durhaka dan tidak menyegerakan azab kepada mereka, ﴾ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "pastilah telah diberi keputusan di antara mereka", dengan menyelamatkan orang-orang Mukmin dan mem-binasakan orang-orang kafir yang mendustakan, dan itu menjadi pembeda antara mereka ﴾ فِيمَا فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "tentang apa yang mereka perselisihkan itu." Akan tetapi Dia ingin menguji sebagian dari me-reka dengan sebagian yang lain agar jelas mana yang benar dan mana yang dusta.
(20) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata", yakni orang-orang yang mendustakan lagi menentang, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ ءَايَةٞ مِّن رَّبِّهِۦۖ ﴿ "mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu keterangan (mukjizat) dari Rabbnya?" Mereka memaksudkan ayat-ayat yang mereka usulkan seperti ucapan mereka, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا 7 ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malai-kat itu memberikan peringatan bersama-sama dengannya?" (Al-Furqan: 7). Dan perkataan mereka, ﴾ وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنۢبُوعًا 90 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami'." (Al-Isra`: 90). ﴾ فَقُلۡ ﴿ "Maka katakanlah", kepada mereka jika mereka menun-tut ayat-ayat kepadamu, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡغَيۡبُ لِلَّهِ ﴿ "sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah." Maksudnya, Dia-lah yang ilmuNya meliputi sega-la keadaan manusia, Dia mengatur mereka sesuai dengan tuntutan ilmuNya dan hikmahNya yang indah, tak seorang pun memiliki hak mengatur hukum, dalil, tujuan akhir dan penjelasan alasan hu-kum. ﴾ فَٱنتَظِرُوٓاْ إِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِينَ ﴿ "Sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersamamu termasuk orang-orang yang menunggu." Maksudnya, masing-masing menunggu apa yang akan diperoleh oleh kawannya, lihatlah siapa pemilik akibat (baik).
Yunus 10:20
"Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau bukanlah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu keterangan (mukjizat) dari Rabbnya?' Maka katakanlah, 'Sesung-guhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah, sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersamamu termasuk orang-orang yang menunggu'." (Yunus: 19-20).
(19) ﴾ وَمَا كَانَ ٱلنَّاسُ إِلَّآ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Manusia dahulunya hanyalah satu umat", mereka bersepakat pada agama yang benar, akan tetapi (setelah itu) mereka berselisih. ﴾ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِۚ ﴿ "Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang per-kara yang mereka perselisihkan." (Al-Baqarah: 213). ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةٞ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Kalau bukanlah karena suatu ketetap-an yang telah ada dari Rabbmu dahulu", dengan memberikan tempo kepada orang-orang yang durhaka dan tidak menyegerakan azab kepada mereka, ﴾ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "pastilah telah diberi keputusan di antara mereka", dengan menyelamatkan orang-orang Mukmin dan mem-binasakan orang-orang kafir yang mendustakan, dan itu menjadi pembeda antara mereka ﴾ فِيمَا فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "tentang apa yang mereka perselisihkan itu." Akan tetapi Dia ingin menguji sebagian dari me-reka dengan sebagian yang lain agar jelas mana yang benar dan mana yang dusta.
(20) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata", yakni orang-orang yang mendustakan lagi menentang, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ ءَايَةٞ مِّن رَّبِّهِۦۖ ﴿ "mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu keterangan (mukjizat) dari Rabbnya?" Mereka memaksudkan ayat-ayat yang mereka usulkan seperti ucapan mereka, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا 7 ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malai-kat itu memberikan peringatan bersama-sama dengannya?" (Al-Furqan: 7). Dan perkataan mereka, ﴾ وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنۢبُوعًا 90 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami'." (Al-Isra`: 90). ﴾ فَقُلۡ ﴿ "Maka katakanlah", kepada mereka jika mereka menun-tut ayat-ayat kepadamu, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡغَيۡبُ لِلَّهِ ﴿ "sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah." Maksudnya, Dia-lah yang ilmuNya meliputi sega-la keadaan manusia, Dia mengatur mereka sesuai dengan tuntutan ilmuNya dan hikmahNya yang indah, tak seorang pun memiliki hak mengatur hukum, dalil, tujuan akhir dan penjelasan alasan hu-kum. ﴾ فَٱنتَظِرُوٓاْ إِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِينَ ﴿ "Sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersamamu termasuk orang-orang yang menunggu." Maksudnya, masing-masing menunggu apa yang akan diperoleh oleh kawannya, lihatlah siapa pemilik akibat (baik).
Yunus 10:21
"Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datangnya) bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam (menentang) tanda-tanda kekuasaan Kami. Katakanlah, 'Allah lebih cepat pembalasannya (atas tipu daya itu).' Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami mencatat tipu dayamu." (Yunus: 21).
(21) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذَآ أَذَقۡنَا ٱلنَّاسَ رَحۡمَةٗ مِّنۢ بَعۡدِ ضَرَّآءَ مَسَّتۡهُمۡ ﴿ "Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datang-nya) bahaya menimpa mereka", seperti kesembuhan setelah sakit, ke-kayaan setelah kemiskinan, rasa aman setelah rasa takut, mereka melupakan kesulitan yang menimpa, mereka tidak mensyukuri Allah atas rahmat dan kemakmuran, mereka justru terus berjalan di atas penyelewengan dan makar. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ إِذَا لَهُم مَّكۡرٞ فِيٓ ءَايَاتِنَاۚ ﴿ "Tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam (menen-tang) tanda-tanda kekuasaan Kami." Mereka berusaha membatalkan kebenaran dengan kebatilan. ﴾ قُلِ ٱللَّهُ أَسۡرَعُ مَكۡرًاۚ ﴿ "Katakanlah, 'Allah lebih cepat pembalasannya (atas tipu daya itu)'." Karena makar yang buruk hanya akan menimpa pemiliknya, senjata makan tuan, mereka tidak terbebas dari resiko buruk, para malaikat mencatat apa yang mereka kerjakan, lalu Allah menghitungnya atas mereka, kemudian Allah membalas mereka dengan balasan yang setimpal.
Yunus 10:22
"Dia-lah Rabb yang menjadikanmu dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka ber-gembira karenanya, lalu datanglah angin badai, dan (apabila) ge-lombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya semata-mata. (Mereka berkata), 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamat-kan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.' Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezhaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezhalimanmu akan menimpa dirimu sendiri, (hasil kezhalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kamilah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Yunus: 22-23).
(22-23) Manakala Allah menetapkan kaidah umum ten-tang keadaan manusia pada saat mendapatkan kemudahan setelah kesulitan, kebahagiaan setelah kesedihan, maka Dia menyebutkan keadaan yang mendukung hal tersebut yaitu keadaan mereka di laut yang bergejolak dan ketakutan mereka terhadap akibatnya. Dia berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِي يُسَيِّرُكُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۖ ﴿ "Dia-lah Rabb yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, dan (berlayar) di lautan." Dengan sebab-sebab yang Dia menunjukkannya kepadamu dan memudahkannya untukmu. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا كُنتُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera", yaitu kapal laut, ﴾ وَجَرَيۡنَ بِهِم بِرِيحٖ طَيِّبَةٖ ﴿ "dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik", yang sesuai dengan keinginan mereka tanpa gejolak dan kesulitan, ﴾ وَفَرِحُواْ بِهَا ﴿ "dan mereka bergembira karenanya", dan mereka tenang kepadanya, manakala mereka dalam kondisi tersebut, tiba-tiba datang kepada mereka ﴾ رِيحٌ عَاصِفٞ ﴿ "angin badai", yang sangat kencang. ﴾ وَجَآءَهُمُ ٱلۡمَوۡجُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُمۡ أُحِيطَ بِهِمۡ ﴿ "Dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah ter-kepung (bahaya)." Maksudnya, mereka mengetahui bahwa itu adalah kematian, maka ketika itu terputus sudah ketergantungan mereka dengan makhluk. Mereka menyadari bahwa yang bisa menyelamat-kan mereka dari kesulitan ini hanyalah Allah semata, maka mereka memohon kepadaNya ﴾ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya semata-mata." Mereka berjanji kepada diri mereka sendiri dengan pasti. ﴾ لَئِنۡ أَنجَيۡتَنَا مِنۡ هَٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ 22 فَلَمَّآ أَنجَىٰهُمۡ إِذَا هُمۡ يَبۡغُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّۗ ﴿ "(Mereka berkata), 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang ber-syukur'. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka mem-buat kezhaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar." Maksudnya, mereka melupakan kesulitan dan doa tersebut serta apa yang me-reka wajibkan atas diri mereka sendiri, lalu mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang dia sendiri mengakui bahwa dia tidak mampu menepis kesulitan dan mengangkat musibah. Mengapa mereka tidak mengikhlaskan ibadah kepada Allah dalam keadaan senang sebagaimana mengikhlaskannya dalam keadaan sulit? Akan tetapi akibat dari kezhalimannya akan kembali menimpa dirinya sendiri. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّمَا بَغۡيُكُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۖ مَّتَٰعَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezhalimanmu akan menim-pa dirimu sendiri, (hasil kezhalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi." Maksudnya, paling-paling yang kamu harapkan dan kamu dapatkan dari kezhalimanmu dan penyimpanganmu dari keikhlasan kepada Allah hanyalah bagian kecil dari dunia dan kedudukannya yang rendah yang akan lenyap dengan cepat dan berlalu dengan segera lalu kamu pun meninggalkannya walaupun kamu tidak meng-inginkannya. ﴾ ثُمَّ إِلَيۡنَا مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian kepada Kamilah kembalimu", pada Hari Kiamat ﴾ فَنُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." Ini adalah peringatan keras kepada mereka agar tidak terus menerus berjalan di atas perbuatan mereka.
Yunus 10:23
"Dia-lah Rabb yang menjadikanmu dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka ber-gembira karenanya, lalu datanglah angin badai, dan (apabila) ge-lombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya semata-mata. (Mereka berkata), 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamat-kan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.' Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezhaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezhalimanmu akan menimpa dirimu sendiri, (hasil kezhalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kamilah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Yunus: 22-23).
(22-23) Manakala Allah menetapkan kaidah umum ten-tang keadaan manusia pada saat mendapatkan kemudahan setelah kesulitan, kebahagiaan setelah kesedihan, maka Dia menyebutkan keadaan yang mendukung hal tersebut yaitu keadaan mereka di laut yang bergejolak dan ketakutan mereka terhadap akibatnya. Dia berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِي يُسَيِّرُكُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۖ ﴿ "Dia-lah Rabb yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, dan (berlayar) di lautan." Dengan sebab-sebab yang Dia menunjukkannya kepadamu dan memudahkannya untukmu. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا كُنتُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera", yaitu kapal laut, ﴾ وَجَرَيۡنَ بِهِم بِرِيحٖ طَيِّبَةٖ ﴿ "dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik", yang sesuai dengan keinginan mereka tanpa gejolak dan kesulitan, ﴾ وَفَرِحُواْ بِهَا ﴿ "dan mereka bergembira karenanya", dan mereka tenang kepadanya, manakala mereka dalam kondisi tersebut, tiba-tiba datang kepada mereka ﴾ رِيحٌ عَاصِفٞ ﴿ "angin badai", yang sangat kencang. ﴾ وَجَآءَهُمُ ٱلۡمَوۡجُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُمۡ أُحِيطَ بِهِمۡ ﴿ "Dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah ter-kepung (bahaya)." Maksudnya, mereka mengetahui bahwa itu adalah kematian, maka ketika itu terputus sudah ketergantungan mereka dengan makhluk. Mereka menyadari bahwa yang bisa menyelamat-kan mereka dari kesulitan ini hanyalah Allah semata, maka mereka memohon kepadaNya ﴾ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴿ "dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya semata-mata." Mereka berjanji kepada diri mereka sendiri dengan pasti. ﴾ لَئِنۡ أَنجَيۡتَنَا مِنۡ هَٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ 22 فَلَمَّآ أَنجَىٰهُمۡ إِذَا هُمۡ يَبۡغُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّۗ ﴿ "(Mereka berkata), 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang ber-syukur'. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka mem-buat kezhaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar." Maksudnya, mereka melupakan kesulitan dan doa tersebut serta apa yang me-reka wajibkan atas diri mereka sendiri, lalu mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang dia sendiri mengakui bahwa dia tidak mampu menepis kesulitan dan mengangkat musibah. Mengapa mereka tidak mengikhlaskan ibadah kepada Allah dalam keadaan senang sebagaimana mengikhlaskannya dalam keadaan sulit? Akan tetapi akibat dari kezhalimannya akan kembali menimpa dirinya sendiri. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّمَا بَغۡيُكُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۖ مَّتَٰعَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezhalimanmu akan menim-pa dirimu sendiri, (hasil kezhalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi." Maksudnya, paling-paling yang kamu harapkan dan kamu dapatkan dari kezhalimanmu dan penyimpanganmu dari keikhlasan kepada Allah hanyalah bagian kecil dari dunia dan kedudukannya yang rendah yang akan lenyap dengan cepat dan berlalu dengan segera lalu kamu pun meninggalkannya walaupun kamu tidak meng-inginkannya. ﴾ ثُمَّ إِلَيۡنَا مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian kepada Kamilah kembalimu", pada Hari Kiamat ﴾ فَنُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." Ini adalah peringatan keras kepada mereka agar tidak terus menerus berjalan di atas perbuatan mereka.
Yunus 10:24
"Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu karena air itu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) per-hiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah azab Kami kepadanya di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) lak-sana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir." (Yu-nus: 24).
(24) Ini adalah perumpamaan yang merupakan salah satu perumpamaan yang terbaik, pas dengan keadaan dunia, karena kenikmatan, syahwat, kedudukannya dan lain-lain menjadi indah –jika ia menjadi indah dalam waktu singkat-, jika ia telah lengkap dan sempurna maka ia terkikis dan terlepas dari pemiliknya atau pemiliknya terlepas darinya, maka kedua tangannya hampa, hati-nya penuh dengan kecemasan, kesedihan dan penyesalan karena-nya, hal itu seperti ﴾ كَمَآءٍ أَنزَلۡنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخۡتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu karena air itu tumbuhlah tanaman-ta-naman bumi dengan subur." Maksudnya, tumbuh padanya dari segala jenis dan pasangan yang indah. ﴾ مِمَّا يَأۡكُلُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Di antaranya ada yang dimakan manusia", seperti biji-bijian dan buah-buahan, ﴾ و َ ﴿ "dan" apa yang dimakan oleh ﴾ وَٱلۡأَنۡعَٰمُ ﴿ "binatang ternak." Seperti rerumputan dan daun-daunan yang beraneka ragam. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَخَذَتِ ٱلۡأَرۡضُ زُخۡرُفَهَا وَٱزَّيَّنَتۡ ﴿ "Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pu-la) perhiasannya." Maksudnya, indah pemandangannya, ia berhias dengan daun-daunnya maka ia menjadi kebahagiaan bagi orang-orang yang memandang, ketenangan bagi orang yang membuang penat dan tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang merenung-kan. Kamu pun melihat pemandangan yang unik, hijau, kuning putih dan lain-lain. ﴾ وَظَنَّ أَهۡلُهَآ أَنَّهُمۡ قَٰدِرُونَ عَلَيۡهَآ ﴿ "Dan pemilik-pemilik-nya mengira bahwa mereka pasti menguasainya." Maksudnya, mereka ingin itu berlangsung terus menerus karena memang itulah yang mereka cari dan inginkan, akan tetapi manakala mereka dalam kon-disi tersebut, datanglah keputusan Allah, ﴾ لَيۡلًا أَوۡ نَهَارٗا فَجَعَلۡنَٰهَا حَصِيدٗا كَأَن لَّمۡ تَغۡنَ بِٱلۡأَمۡسِۚ ﴿ "di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanaman-nya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin." Maksudnya, seolah-olah tak pernah ada. Ini ada-lah keadaan dunia, sama persis. ﴾ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami)." Maksudnya, Kami mene-rangkannya dengan mendekatkan makna-maknanya kepada akal dengan membuat perumpamaan ﴾ لِقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "kepada orang-orang yang berpikir", memakai akal mereka untuk yang bermanfaat bagi mereka. Adapun orang yang lalai dan berpaling, maka tanda-tanda kebesaran Allah tidak berguna baginya, keterangan tidak mengikis keraguannya.
Manakala Allah menyebutkan keadaan dunia dan hasil dari kenikmatannya, maka Dia menanamkan kecintaan manusia kepada alam akhirat yang kekal.
Yunus 10:25
"Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan menun-juki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam). Orang-orang yang berbuat baik mendapatkan pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya." (Yunus: 25-26).
(25) Allah mengajak, mendorong dan menganjurkan hamba-hambaNya secara umum kepada Darussalam, dan Dia mengkhusus-kan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki untuk dipilih dan diangkatNya. Ini adalah karunia dan kebaikanNya, dan Allah meng-khususkan rahmatNya kepada hambaNya yang Dia kehendaki. Itu adalah keadilan dan hikmahNya, tidak ada seorang pun yang memiliki hujjah setelah adanya penjelasan dan diutusnya Rasul. Allah menamankan Surga dengan Darussalam karena ia selamat dari segala cacat dan kekurangan, dan hal itu karena kesempurnaan nikmatnya, kelengkapannya, kekekalannya dan keindahannya dari segala segi.
(26) Manakala Dia mengajak kepada Darussalam maka se-akan-akan jiwa itu berhasrat kepada amal perbuatan yang mengan-tarkan kepada surga, maka Dia menyampaikannya dengan Firman-Nya, ﴾ لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٞۖ ﴿ "Orang-orang yang berbuat baik mendapatkan pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya." Maksudnya, orang-orang yang berbuat baik dalam beribadah kepada Allah hendaklah beribadah kepadaNya dengan pijakan muraqabah (merasa diawasi), dan ketulusan dalam beribadah, serta melaksanakan apa yang dia mampu darinya. Mereka juga berbuat baik kepada hamba-hamba Allah dengan apa yang mereka mampu, berupa perbuatan baik yang bersifat perkataan, dan perbuatan: memberikan kebaikan materi, kebaikan jasmani, amar ma'ruf, nahi mungkar, mengajar orang-orang bodoh, memberi nasihat kepada orang-orang yang berpaling dan kebaikan-kebaikan yang lain. Orang-orang yang berbuat baik itulah yang mendapatkan kebaikan yaitu Surga yang sempurna kebaikannya dan sebuah tambahan yaitu melihat Wajah Allah yang mulia, mendengar FirmanNya, meraih ridhaNya, berbahagia dengan kedekatan kepadaNya. Dengan ini terwujudlah harapan tertinggi yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap dan sesuatu yang dimohon oleh orang-orang yang memohon. Kemudian Dia menyebutkan lenyapnya ketakutan mereka, Dia berfirman, ﴾ وَلَا يَرۡهَقُ وُجُوهَهُمۡ قَتَرٞ وَلَا ذِلَّةٌۚ ﴿ "Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan." Maksudnya, mereka tidak di-timpa sesuatu yang tidak diinginkan dari segi apa pun, karena jika sesuatu yang tidak diinginkan menimpa manusia, maka hal itu akan terbaca di wajahnya, ia akan kusut dan suram. Adapun mereka (yang beramal shalih), maka Allah berfirman tentang mereka, ﴾ تَعۡرِفُ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ 24 ﴿ "Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan." (Al-Muthaffifin: 24). Mereka itu adalah penduduk surga yang tinggal kekal di dalamnya, tidak berpindah, tidak lenyap dan tidak akan berubah.
Yunus 10:26
"Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan menun-juki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam). Orang-orang yang berbuat baik mendapatkan pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya." (Yunus: 25-26).
(25) Allah mengajak, mendorong dan menganjurkan hamba-hambaNya secara umum kepada Darussalam, dan Dia mengkhusus-kan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki untuk dipilih dan diangkatNya. Ini adalah karunia dan kebaikanNya, dan Allah meng-khususkan rahmatNya kepada hambaNya yang Dia kehendaki. Itu adalah keadilan dan hikmahNya, tidak ada seorang pun yang memiliki hujjah setelah adanya penjelasan dan diutusnya Rasul. Allah menamankan Surga dengan Darussalam karena ia selamat dari segala cacat dan kekurangan, dan hal itu karena kesempurnaan nikmatnya, kelengkapannya, kekekalannya dan keindahannya dari segala segi.
(26) Manakala Dia mengajak kepada Darussalam maka se-akan-akan jiwa itu berhasrat kepada amal perbuatan yang mengan-tarkan kepada surga, maka Dia menyampaikannya dengan Firman-Nya, ﴾ لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٞۖ ﴿ "Orang-orang yang berbuat baik mendapatkan pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya." Maksudnya, orang-orang yang berbuat baik dalam beribadah kepada Allah hendaklah beribadah kepadaNya dengan pijakan muraqabah (merasa diawasi), dan ketulusan dalam beribadah, serta melaksanakan apa yang dia mampu darinya. Mereka juga berbuat baik kepada hamba-hamba Allah dengan apa yang mereka mampu, berupa perbuatan baik yang bersifat perkataan, dan perbuatan: memberikan kebaikan materi, kebaikan jasmani, amar ma'ruf, nahi mungkar, mengajar orang-orang bodoh, memberi nasihat kepada orang-orang yang berpaling dan kebaikan-kebaikan yang lain. Orang-orang yang berbuat baik itulah yang mendapatkan kebaikan yaitu Surga yang sempurna kebaikannya dan sebuah tambahan yaitu melihat Wajah Allah yang mulia, mendengar FirmanNya, meraih ridhaNya, berbahagia dengan kedekatan kepadaNya. Dengan ini terwujudlah harapan tertinggi yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap dan sesuatu yang dimohon oleh orang-orang yang memohon. Kemudian Dia menyebutkan lenyapnya ketakutan mereka, Dia berfirman, ﴾ وَلَا يَرۡهَقُ وُجُوهَهُمۡ قَتَرٞ وَلَا ذِلَّةٌۚ ﴿ "Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan." Maksudnya, mereka tidak di-timpa sesuatu yang tidak diinginkan dari segi apa pun, karena jika sesuatu yang tidak diinginkan menimpa manusia, maka hal itu akan terbaca di wajahnya, ia akan kusut dan suram. Adapun mereka (yang beramal shalih), maka Allah berfirman tentang mereka, ﴾ تَعۡرِفُ فِي وُجُوهِهِمۡ نَضۡرَةَ ٱلنَّعِيمِ 24 ﴿ "Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan." (Al-Muthaffifin: 24). Mereka itu adalah penduduk surga yang tinggal kekal di dalamnya, tidak berpindah, tidak lenyap dan tidak akan berubah.
Yunus 10:27
"Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Mereka tidak memiliki seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang ge-lap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalam-nya." (Yunus: 27).
(27) Manakala Allah menyebutkan penduduk Surga, maka Dia menyebutkan penghuni Neraka, lalu Dia menyebutkan bahwa barang dagangan mereka yang mereka dapatkan di dunia adalah amal-amal buruk yang mengundang murka Allah berupa berbagai macam kekufuran, pendustaan dan kemaksiatan, maka balasan mereka adalah keburukan sepertinya yakni balasan yang menye-dihkan mereka menurut keburukan yang mereka lakukan sesuai dengan perbedaan keadaan mereka, ﴾ وَتَرۡهَقُهُمۡ ﴿ "Dan mereka ditutupi", maksudnya dinaungi ﴾ ذِلَّةٞۖ ﴿ "kehinaan" di hati mereka dan ketakutan terhadap azab Allah, tidak ada yang melindungi mereka darinya dan tidak ada yang membentengi. Kehinaan batin itu merembet kepada lahir mereka, maka wajah mereka menghitam,﴾ كَأَنَّمَآ أُغۡشِيَتۡ وُجُوهُهُمۡ قِطَعٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مُظۡلِمًاۚ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah peng-huni Neraka, mereka kekal di dalamnya." Berapa (jauh) beda antara kedua golongan? Betapa jauhnya jurang antara keduanya. ﴾ وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ 22 إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ 23 وَوُجُوهٞ يَوۡمَئِذِۭ بَاسِرَةٞ 24 تَظُنُّ أَن يُفۡعَلَ بِهَا فَاقِرَةٞ 25 ﴿ "Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnya-lah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang-orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (Al-Qiyamah: 22-25). ﴾ وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ مُّسۡفِرَةٞ 38 ضَاحِكَةٞ مُّسۡتَبۡشِرَةٞ 39 وَوُجُوهٞ يَوۡمَئِذٍ عَلَيۡهَا غَبَرَةٞ 40 تَرۡهَقُهَا قَتَرَةٌ 41 أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ 42 ﴿ "Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria. Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka." ('Abasa: 38-42).
Yunus 10:28
"(Ingatlah) suatu hari (ketika itu) Kami mengumpulkan me-reka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Rabb), 'Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu.' Lalu Kami pisahkan mereka, dan berkatalah se-kutu-sekutu mereka, 'Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami. Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, bahwa kami tidak tahu menahu tentang penyembahanmu (kepada kami).' Di tempat itu (Padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu, dan mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan." (Yunus: 28-30).
(28) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ نَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "(Ingatlah) suatu hari (ketika itu) Kami mengumpulkan mereka semuanya." Maksudnya, kami mengumpulkan seluruh makhluk untuk pertemuan pada hari yang telah ditentukan, Kami hadirkan orang-orang musyrik dan tuhan yang mereka sembah selain Allah, ﴾ ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ مَكَانَكُمۡ أَنتُمۡ وَشُرَكَآؤُكُمۡۚ ﴿ "kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Rabb), 'Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu'." Mak-sudnya, tetaplah di tempatmu agar bisa diambil keputusan antara dirinya dengan dirimu. ﴾ فَزَيَّلۡنَا بَيۡنَهُمۡۖ ﴿ "Lalu Kami pisahkan mereka", yakni Kami pisahkan mereka secara fisik dan hati, maka terjadilah di antara mereka permusuhan yang kuat setelah sebelumnya di dunia mereka memberikan cinta dan kasih yang tulus. Kecintaan dan pertemanan itu berubah menjadi permusuhan dan kebencian. Sekutu-sekutu mereka berlepas diri dari mereka dan berkata, ﴾ مَّا كُنتُمۡ إِيَّانَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami", karena kami menyucikan Allah dari sekutu atau rekanan.
(29) ﴾ فَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدَۢا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ إِن كُنَّا عَنۡ عِبَادَتِكُمۡ لَغَٰفِلِينَ ﴿ , "Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, bahwa kami tidak tahu menahu tentang penyembahanmu (kepada kami)." Kami tidak meme-rintahkanmu dengannya dan kami pun tidak mengajakmu kepa-danya. Kamu hanyalah menyembah makhluk yang mengajakmu kepada itu, yaitu setan sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ 60 ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu." (Yasin: 60). Dan Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ثُمَّ يَقُولُ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَهَٰٓؤُلَآءِ إِيَّاكُمۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ 40 قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِمۖ بَلۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ ٱلۡجِنَّۖ أَكۡثَرُهُم بِهِم مُّؤۡمِنُونَ 41 ﴿ "Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Dia berfirman kepada para malaikat, 'Apakah mereka dahulu menyembah kepadamu?' Malaikat-malaikat itu menjawab, 'Maha-suci Engkau, Engkau-lah Pelindung kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu'." (Saba': 40-41). Para malaikat yang mulia, para Nabi, para wali dan lain-lain pada Hari Kiamat berlepas diri dari siapa yang menyembahnya. Mereka tidak mengakui bahwa mereka telah mengajak manusia agar menyembahnya, dan mereka itu adalah orang yang benar lagi baik dalam hal itu.
(30) Pada saat itu, orang-orang musyrik menyesal dengan penyesalan yang tidak mungkin digambarkan. Mereka mengetahui kadar amal yang mereka lakukan dan sifat buruk yang mereka be-rikan. Pada hari itu jelaslah bagi mereka bahwa mereka adalah para pendusta dan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengada-ada atas nama Allah. Ibadah mereka sesat, sesembahan mereka terkikis, segala sebab dan sarana telah terputus. Oleh karena itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ هُنَالِكَ ﴿ "Di tempat itu", maksudnya pada hari itu ﴾ تَبۡلُواْ كُلُّ نَفۡسٖ مَّآ أَسۡلَفَتۡۚ ﴿ "tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu." Mereka mencari-cari amal perbuatan dan hasil usahanya lalu menantikan balasan. Ia dibalas dengan balasan yang sesuai, jika baik maka baik, jika buruk maka buruk.﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan." Yaitu ucapan mereka tentang kebenaran syirik yang mereka pegang, dan bahwa tuhan yang mereka sembah selain Allah memberi me-reka manfaat dan menangkis azab dari mereka.
Yunus 10:29
"(Ingatlah) suatu hari (ketika itu) Kami mengumpulkan me-reka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Rabb), 'Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu.' Lalu Kami pisahkan mereka, dan berkatalah se-kutu-sekutu mereka, 'Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami. Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, bahwa kami tidak tahu menahu tentang penyembahanmu (kepada kami).' Di tempat itu (Padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu, dan mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan." (Yunus: 28-30).
(28) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ نَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "(Ingatlah) suatu hari (ketika itu) Kami mengumpulkan mereka semuanya." Maksudnya, kami mengumpulkan seluruh makhluk untuk pertemuan pada hari yang telah ditentukan, Kami hadirkan orang-orang musyrik dan tuhan yang mereka sembah selain Allah, ﴾ ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ مَكَانَكُمۡ أَنتُمۡ وَشُرَكَآؤُكُمۡۚ ﴿ "kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Rabb), 'Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu'." Mak-sudnya, tetaplah di tempatmu agar bisa diambil keputusan antara dirinya dengan dirimu. ﴾ فَزَيَّلۡنَا بَيۡنَهُمۡۖ ﴿ "Lalu Kami pisahkan mereka", yakni Kami pisahkan mereka secara fisik dan hati, maka terjadilah di antara mereka permusuhan yang kuat setelah sebelumnya di dunia mereka memberikan cinta dan kasih yang tulus. Kecintaan dan pertemanan itu berubah menjadi permusuhan dan kebencian. Sekutu-sekutu mereka berlepas diri dari mereka dan berkata, ﴾ مَّا كُنتُمۡ إِيَّانَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami", karena kami menyucikan Allah dari sekutu atau rekanan.
(29) ﴾ فَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدَۢا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ إِن كُنَّا عَنۡ عِبَادَتِكُمۡ لَغَٰفِلِينَ ﴿ , "Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, bahwa kami tidak tahu menahu tentang penyembahanmu (kepada kami)." Kami tidak meme-rintahkanmu dengannya dan kami pun tidak mengajakmu kepa-danya. Kamu hanyalah menyembah makhluk yang mengajakmu kepada itu, yaitu setan sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ 60 ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu." (Yasin: 60). Dan Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ثُمَّ يَقُولُ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَهَٰٓؤُلَآءِ إِيَّاكُمۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ 40 قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِمۖ بَلۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ ٱلۡجِنَّۖ أَكۡثَرُهُم بِهِم مُّؤۡمِنُونَ 41 ﴿ "Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Dia berfirman kepada para malaikat, 'Apakah mereka dahulu menyembah kepadamu?' Malaikat-malaikat itu menjawab, 'Maha-suci Engkau, Engkau-lah Pelindung kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu'." (Saba': 40-41). Para malaikat yang mulia, para Nabi, para wali dan lain-lain pada Hari Kiamat berlepas diri dari siapa yang menyembahnya. Mereka tidak mengakui bahwa mereka telah mengajak manusia agar menyembahnya, dan mereka itu adalah orang yang benar lagi baik dalam hal itu.
(30) Pada saat itu, orang-orang musyrik menyesal dengan penyesalan yang tidak mungkin digambarkan. Mereka mengetahui kadar amal yang mereka lakukan dan sifat buruk yang mereka be-rikan. Pada hari itu jelaslah bagi mereka bahwa mereka adalah para pendusta dan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengada-ada atas nama Allah. Ibadah mereka sesat, sesembahan mereka terkikis, segala sebab dan sarana telah terputus. Oleh karena itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ هُنَالِكَ ﴿ "Di tempat itu", maksudnya pada hari itu ﴾ تَبۡلُواْ كُلُّ نَفۡسٖ مَّآ أَسۡلَفَتۡۚ ﴿ "tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu." Mereka mencari-cari amal perbuatan dan hasil usahanya lalu menantikan balasan. Ia dibalas dengan balasan yang sesuai, jika baik maka baik, jika buruk maka buruk.﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan." Yaitu ucapan mereka tentang kebenaran syirik yang mereka pegang, dan bahwa tuhan yang mereka sembah selain Allah memberi me-reka manfaat dan menangkis azab dari mereka.
Yunus 10:30
"(Ingatlah) suatu hari (ketika itu) Kami mengumpulkan me-reka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Rabb), 'Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu.' Lalu Kami pisahkan mereka, dan berkatalah se-kutu-sekutu mereka, 'Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami. Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, bahwa kami tidak tahu menahu tentang penyembahanmu (kepada kami).' Di tempat itu (Padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu, dan mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan." (Yunus: 28-30).
(28) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ نَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "(Ingatlah) suatu hari (ketika itu) Kami mengumpulkan mereka semuanya." Maksudnya, kami mengumpulkan seluruh makhluk untuk pertemuan pada hari yang telah ditentukan, Kami hadirkan orang-orang musyrik dan tuhan yang mereka sembah selain Allah, ﴾ ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ مَكَانَكُمۡ أَنتُمۡ وَشُرَكَآؤُكُمۡۚ ﴿ "kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Rabb), 'Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempatmu itu'." Mak-sudnya, tetaplah di tempatmu agar bisa diambil keputusan antara dirinya dengan dirimu. ﴾ فَزَيَّلۡنَا بَيۡنَهُمۡۖ ﴿ "Lalu Kami pisahkan mereka", yakni Kami pisahkan mereka secara fisik dan hati, maka terjadilah di antara mereka permusuhan yang kuat setelah sebelumnya di dunia mereka memberikan cinta dan kasih yang tulus. Kecintaan dan pertemanan itu berubah menjadi permusuhan dan kebencian. Sekutu-sekutu mereka berlepas diri dari mereka dan berkata, ﴾ مَّا كُنتُمۡ إِيَّانَا تَعۡبُدُونَ ﴿ "Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami", karena kami menyucikan Allah dari sekutu atau rekanan.
(29) ﴾ فَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدَۢا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ إِن كُنَّا عَنۡ عِبَادَتِكُمۡ لَغَٰفِلِينَ ﴿ , "Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, bahwa kami tidak tahu menahu tentang penyembahanmu (kepada kami)." Kami tidak meme-rintahkanmu dengannya dan kami pun tidak mengajakmu kepa-danya. Kamu hanyalah menyembah makhluk yang mengajakmu kepada itu, yaitu setan sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ 60 ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu." (Yasin: 60). Dan Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ثُمَّ يَقُولُ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَهَٰٓؤُلَآءِ إِيَّاكُمۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ 40 قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِمۖ بَلۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ ٱلۡجِنَّۖ أَكۡثَرُهُم بِهِم مُّؤۡمِنُونَ 41 ﴿ "Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Dia berfirman kepada para malaikat, 'Apakah mereka dahulu menyembah kepadamu?' Malaikat-malaikat itu menjawab, 'Maha-suci Engkau, Engkau-lah Pelindung kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu'." (Saba': 40-41). Para malaikat yang mulia, para Nabi, para wali dan lain-lain pada Hari Kiamat berlepas diri dari siapa yang menyembahnya. Mereka tidak mengakui bahwa mereka telah mengajak manusia agar menyembahnya, dan mereka itu adalah orang yang benar lagi baik dalam hal itu.
(30) Pada saat itu, orang-orang musyrik menyesal dengan penyesalan yang tidak mungkin digambarkan. Mereka mengetahui kadar amal yang mereka lakukan dan sifat buruk yang mereka be-rikan. Pada hari itu jelaslah bagi mereka bahwa mereka adalah para pendusta dan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengada-ada atas nama Allah. Ibadah mereka sesat, sesembahan mereka terkikis, segala sebab dan sarana telah terputus. Oleh karena itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ هُنَالِكَ ﴿ "Di tempat itu", maksudnya pada hari itu ﴾ تَبۡلُواْ كُلُّ نَفۡسٖ مَّآ أَسۡلَفَتۡۚ ﴿ "tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu." Mereka mencari-cari amal perbuatan dan hasil usahanya lalu menantikan balasan. Ia dibalas dengan balasan yang sesuai, jika baik maka baik, jika buruk maka buruk.﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan." Yaitu ucapan mereka tentang kebenaran syirik yang mereka pegang, dan bahwa tuhan yang mereka sembah selain Allah memberi me-reka manfaat dan menangkis azab dari mereka.
Yunus 10:31
"Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pende-ngaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka katakanlah, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa (kepadaNya)?' Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? Demikianlah telah tetap kalimat (hukuman) Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman." (Yunus: 31-33).
(31) Maksudnya, katakan kepada mereka yang menyeku-tukan Allah dengan sesuatu yang mana Dia (sendiri) tidak menu-runkan hujjah yang bisa dijadikan alasan atas mereka pada tauhid rububiyah yang mereka akui atas tauhid uluhiyah yang mereka ing-kari. ﴾ قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi'," dengan menurunkan rizki dari langit dan mengeluarkan macam-macamnya dari bumi dan memu-dahkan sebab-sebabnya padanya? ﴾ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ ﴿ "Atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan." Maksudnya, siapa yang menciptakan keduanya dan Dia sekaligus pemiliknya? Keduanya disebut secara khusus untuk mengingatkan yang lebih utama dengan yang utama dan karena kemuliaan dan manfaatnya yang sempurna. ﴾ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati." Seperti menumbuhkan bermacam-macam pohon dan tumbuh-tumbuhan dari biji-bijian, mengeluarkan orang Mukmin dari kafir, burung dari telur dan lain-lain? ﴾ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ ﴿ "Dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup." Kebalikan dari yang sebelumnya? ﴾ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ ﴿ "Dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Di langit dan di bumi? Ini mencakup seluruh bentuk pengaturan Ilahiyah. Jika kamu menanyakan itu kepada mereka, ﴾ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ ﴿ "maka mereka akan menjawab, 'Allah'." Karena mereka mengakui semua itu bahwa Allah tidak memiliki sekutu dalam segala hal tersebut. ﴾ فَقُلۡ ﴿ "Maka katakanlah", kepada mereka sebagai pelaziman argumentasi-mu, ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?" Apakah demi Allah kamu mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya tanpa sekutu bagiNya dan membuang sekutu-sekutu dan Rabb-rabb lain yang kamu sembah selain Allah?
(32) ﴾ فَذَٰلِكُمُ ﴿ "Maka (Dzat yang demikian) itu", yang menyifati diriNya dengan sifat yang disebutkan, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ﴿ "itulah Allah Rabb-mu." Yakni yang dipertuhankan lagi disembah, yang dipuji, yang melindungi semua makhluk dengan nikmatNya. Dia adalah ﴾ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ ﴿ "yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan." Karena Allah yang memegang hak Pencip-taan dan Pengaturan terhadap segala sesuatu. Tidak ada satu nikmat pun pada manusia melainkan dariNya. Tidak ada yang mendatang-kan kebaikan kecuali Dia. Tidak ada yang menolak keburukan ke-cuali Dia, Pemilik Asma`ul Husna dan sifat-sifat yang sempurna yang agung lagi mulia dan terpuji. ﴾ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ ﴿ "Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?" Dari penghambaan kepada Dzat yang sifatNya demikian kepada penghambaan kepada yang tidak memiliki -dari keberadaannya- kecuali ketiadaan. Tidak memiliki (untuk dirinya sendiri) manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan kebangkitan, tidak memiliki kekuasaan sedikit pun, tidak memiliki sekutu dari segi manapun dan tidak ada syafa'at di sisiNya kecuali dengan izin dariNya.
(33) Celakalah orang yang menyekutukan sesuatu dengan-Nya. Binasalah orang yang kafir kepadaNya, mereka kehilangan akal setelah kehilangan agama, bahkan kehilangan dunia dan akhi-ratNya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ حَقَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى ٱلَّذِينَ فَسَقُوٓاْ أَنَّهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Demikianlah telah tetap kalimat (hukuman) Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman", setelah Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang gamblang yang cukup menjadi pelajaran bagi ulil albab, nasihat bagi orang-orang yang bertakwa dan petunjuk bagi alam semesta.
Yunus 10:32
"Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pende-ngaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka katakanlah, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa (kepadaNya)?' Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? Demikianlah telah tetap kalimat (hukuman) Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman." (Yunus: 31-33).
(31) Maksudnya, katakan kepada mereka yang menyeku-tukan Allah dengan sesuatu yang mana Dia (sendiri) tidak menu-runkan hujjah yang bisa dijadikan alasan atas mereka pada tauhid rububiyah yang mereka akui atas tauhid uluhiyah yang mereka ing-kari. ﴾ قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi'," dengan menurunkan rizki dari langit dan mengeluarkan macam-macamnya dari bumi dan memu-dahkan sebab-sebabnya padanya? ﴾ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ ﴿ "Atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan." Maksudnya, siapa yang menciptakan keduanya dan Dia sekaligus pemiliknya? Keduanya disebut secara khusus untuk mengingatkan yang lebih utama dengan yang utama dan karena kemuliaan dan manfaatnya yang sempurna. ﴾ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati." Seperti menumbuhkan bermacam-macam pohon dan tumbuh-tumbuhan dari biji-bijian, mengeluarkan orang Mukmin dari kafir, burung dari telur dan lain-lain? ﴾ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ ﴿ "Dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup." Kebalikan dari yang sebelumnya? ﴾ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ ﴿ "Dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Di langit dan di bumi? Ini mencakup seluruh bentuk pengaturan Ilahiyah. Jika kamu menanyakan itu kepada mereka, ﴾ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ ﴿ "maka mereka akan menjawab, 'Allah'." Karena mereka mengakui semua itu bahwa Allah tidak memiliki sekutu dalam segala hal tersebut. ﴾ فَقُلۡ ﴿ "Maka katakanlah", kepada mereka sebagai pelaziman argumentasi-mu, ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?" Apakah demi Allah kamu mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya tanpa sekutu bagiNya dan membuang sekutu-sekutu dan Rabb-rabb lain yang kamu sembah selain Allah?
(32) ﴾ فَذَٰلِكُمُ ﴿ "Maka (Dzat yang demikian) itu", yang menyifati diriNya dengan sifat yang disebutkan, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ﴿ "itulah Allah Rabb-mu." Yakni yang dipertuhankan lagi disembah, yang dipuji, yang melindungi semua makhluk dengan nikmatNya. Dia adalah ﴾ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ ﴿ "yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan." Karena Allah yang memegang hak Pencip-taan dan Pengaturan terhadap segala sesuatu. Tidak ada satu nikmat pun pada manusia melainkan dariNya. Tidak ada yang mendatang-kan kebaikan kecuali Dia. Tidak ada yang menolak keburukan ke-cuali Dia, Pemilik Asma`ul Husna dan sifat-sifat yang sempurna yang agung lagi mulia dan terpuji. ﴾ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ ﴿ "Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?" Dari penghambaan kepada Dzat yang sifatNya demikian kepada penghambaan kepada yang tidak memiliki -dari keberadaannya- kecuali ketiadaan. Tidak memiliki (untuk dirinya sendiri) manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan kebangkitan, tidak memiliki kekuasaan sedikit pun, tidak memiliki sekutu dari segi manapun dan tidak ada syafa'at di sisiNya kecuali dengan izin dariNya.
(33) Celakalah orang yang menyekutukan sesuatu dengan-Nya. Binasalah orang yang kafir kepadaNya, mereka kehilangan akal setelah kehilangan agama, bahkan kehilangan dunia dan akhi-ratNya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ حَقَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى ٱلَّذِينَ فَسَقُوٓاْ أَنَّهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Demikianlah telah tetap kalimat (hukuman) Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman", setelah Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang gamblang yang cukup menjadi pelajaran bagi ulil albab, nasihat bagi orang-orang yang bertakwa dan petunjuk bagi alam semesta.
Yunus 10:33
"Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pende-ngaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka katakanlah, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa (kepadaNya)?' Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? Demikianlah telah tetap kalimat (hukuman) Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman." (Yunus: 31-33).
(31) Maksudnya, katakan kepada mereka yang menyeku-tukan Allah dengan sesuatu yang mana Dia (sendiri) tidak menu-runkan hujjah yang bisa dijadikan alasan atas mereka pada tauhid rububiyah yang mereka akui atas tauhid uluhiyah yang mereka ing-kari. ﴾ قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi'," dengan menurunkan rizki dari langit dan mengeluarkan macam-macamnya dari bumi dan memu-dahkan sebab-sebabnya padanya? ﴾ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ ﴿ "Atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan." Maksudnya, siapa yang menciptakan keduanya dan Dia sekaligus pemiliknya? Keduanya disebut secara khusus untuk mengingatkan yang lebih utama dengan yang utama dan karena kemuliaan dan manfaatnya yang sempurna. ﴾ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati." Seperti menumbuhkan bermacam-macam pohon dan tumbuh-tumbuhan dari biji-bijian, mengeluarkan orang Mukmin dari kafir, burung dari telur dan lain-lain? ﴾ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ ﴿ "Dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup." Kebalikan dari yang sebelumnya? ﴾ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ ﴿ "Dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Di langit dan di bumi? Ini mencakup seluruh bentuk pengaturan Ilahiyah. Jika kamu menanyakan itu kepada mereka, ﴾ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ ﴿ "maka mereka akan menjawab, 'Allah'." Karena mereka mengakui semua itu bahwa Allah tidak memiliki sekutu dalam segala hal tersebut. ﴾ فَقُلۡ ﴿ "Maka katakanlah", kepada mereka sebagai pelaziman argumentasi-mu, ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?" Apakah demi Allah kamu mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya tanpa sekutu bagiNya dan membuang sekutu-sekutu dan Rabb-rabb lain yang kamu sembah selain Allah?
(32) ﴾ فَذَٰلِكُمُ ﴿ "Maka (Dzat yang demikian) itu", yang menyifati diriNya dengan sifat yang disebutkan, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ﴿ "itulah Allah Rabb-mu." Yakni yang dipertuhankan lagi disembah, yang dipuji, yang melindungi semua makhluk dengan nikmatNya. Dia adalah ﴾ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ ﴿ "yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan." Karena Allah yang memegang hak Pencip-taan dan Pengaturan terhadap segala sesuatu. Tidak ada satu nikmat pun pada manusia melainkan dariNya. Tidak ada yang mendatang-kan kebaikan kecuali Dia. Tidak ada yang menolak keburukan ke-cuali Dia, Pemilik Asma`ul Husna dan sifat-sifat yang sempurna yang agung lagi mulia dan terpuji. ﴾ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ ﴿ "Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?" Dari penghambaan kepada Dzat yang sifatNya demikian kepada penghambaan kepada yang tidak memiliki -dari keberadaannya- kecuali ketiadaan. Tidak memiliki (untuk dirinya sendiri) manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan kebangkitan, tidak memiliki kekuasaan sedikit pun, tidak memiliki sekutu dari segi manapun dan tidak ada syafa'at di sisiNya kecuali dengan izin dariNya.
(33) Celakalah orang yang menyekutukan sesuatu dengan-Nya. Binasalah orang yang kafir kepadaNya, mereka kehilangan akal setelah kehilangan agama, bahkan kehilangan dunia dan akhi-ratNya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ حَقَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى ٱلَّذِينَ فَسَقُوٓاْ أَنَّهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Demikianlah telah tetap kalimat (hukuman) Rabbmu terhadap orang-orang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman", setelah Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang gamblang yang cukup menjadi pelajaran bagi ulil albab, nasihat bagi orang-orang yang bertakwa dan petunjuk bagi alam semesta.
Yunus 10:34
"Katakanlah, 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?' Katakanlah, 'Allah-lah yang memulai Penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali, maka bagaimana bisa (terjadi) kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?' Katakanlah, 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?' Kata-kanlah, 'Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran.' Maka apa-kah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagai-manakah kamu mengambil keputusan? Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persang-kaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." (Yunus: 34-36).
(34) Allah تعالى berfirman menjelaskan kelemahan tuhan-tuhan orang musyrik, dan bahwa ia tidak memiliki sifat-sifat yang membuatnya layak dipertuhankan bersama Allah, ﴾ قُلۡ هَلۡ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ﴿ "Katakanlah, 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk'," yakni menciptakannya ﴾ ثُمَّ يُعِيدُهُۥۚ ﴿ kemu-dian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?" Ini adalah perta-nyaan dengan makna penetapan dan penafian, maksudnya tak satu pun dari mereka yang menciptakan dan mengembalikan makhluk, ia lebih lemah dan lebih tidak mampu daripada itu. ﴾ قُلِ ٱللَّهُ يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥۖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah-lah yang memulai Penciptaan makhluk, ke-mudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali'," tanpa sekutu dan tanpa pembantu dalam hal itu. ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?" Yakni kamu di-palingkan dan dibelokkan dari penghambaan kepada Dzat yang memulai penciptaan dan mengembalikanNya kepada yang tidak menciptakan apa pun bahkan ia yang diciptakan.
(35) ﴾ قُلۡ هَلۡ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Katakanlah, 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?'" Dengan men-jelaskannya, menunjukkannya, mengilhamkannya dan memberikan taufik kepadanya. ﴾ قُلِ ٱللَّهُ ﴿ "Katakanlah, 'Allah-lah'," hanya Dia semata, ﴾ يَهۡدِي ﴿ "yang menunjuki", kepada kebenaran dengan dalil-dalil, bukti-bukti, ilham, taufik dan pertolongan untuk meniti jalan yang lurus. ﴾ أَمَّن لَّا يَهِدِّيٓ إِلَّآ أَن يُهۡدَىٰۖ ﴿ "Ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk?" Karena kebodohan dan kesesatannya, ia adalah sekutu-sekutu mereka yang tidak mendapat petunjuk dan tidak memberi petunjuk kecuali jika ia diberi petunjuk. ﴾ فَمَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ ﴿ "Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaima-nakah kamu mengambil keputusan?" Maksudnya apa yang membuat-mu mengambil keputusan batil ini dengan menetapkan kebenaran beribadah kepada seseorang bersama Allah setelah munculnya hujjah dan bukti bahwa tidak ada yang berhak atas ibadah kecuali hanya Allah semata? Jika telah terbukti bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah tidak memiliki sifat-sifat ma'nawi dan fi'li yang membuatnya berhak untuk disembah bersama Allah, justru ia me-miliki kekurangan-kekurangan yang membuktikan kebatilan ke-tuhanannya, maka dengan dasar apa ia dijadikan sebagai tuhan bersama Allah?
(36) Jawabannya adalah bahwa itu termasuk bisikan setan kepada manusia, ia menghiasi kedustaan terburuk dan kesesatan tersesat sampai manusia meyakini hal itu, mengakrabinya dan men-duganya benar, padahal ia bukan apa-apa. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan)." (Yunus: 66). Maksudnya, sebenarnya mereka tidak mengikuti sekutu-se-kutu bagi Allah, karena pada dasarnya Allah tidak memiliki sekutu sama sekali baik secara aql maupun naql, mereka hanyalah mengikuti dugaan. ﴾ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِي مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran." Mereka menamakan-nya Rabb dan menyembahnya bersama Allah. ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyang-mu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu." (An-Najm: 23). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." Dia akan membalas mereka dengan hukuman yang berat.
Yunus 10:35
"Katakanlah, 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?' Katakanlah, 'Allah-lah yang memulai Penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali, maka bagaimana bisa (terjadi) kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?' Katakanlah, 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?' Kata-kanlah, 'Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran.' Maka apa-kah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagai-manakah kamu mengambil keputusan? Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persang-kaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." (Yunus: 34-36).
(34) Allah تعالى berfirman menjelaskan kelemahan tuhan-tuhan orang musyrik, dan bahwa ia tidak memiliki sifat-sifat yang membuatnya layak dipertuhankan bersama Allah, ﴾ قُلۡ هَلۡ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ﴿ "Katakanlah, 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk'," yakni menciptakannya ﴾ ثُمَّ يُعِيدُهُۥۚ ﴿ kemu-dian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?" Ini adalah perta-nyaan dengan makna penetapan dan penafian, maksudnya tak satu pun dari mereka yang menciptakan dan mengembalikan makhluk, ia lebih lemah dan lebih tidak mampu daripada itu. ﴾ قُلِ ٱللَّهُ يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥۖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah-lah yang memulai Penciptaan makhluk, ke-mudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali'," tanpa sekutu dan tanpa pembantu dalam hal itu. ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?" Yakni kamu di-palingkan dan dibelokkan dari penghambaan kepada Dzat yang memulai penciptaan dan mengembalikanNya kepada yang tidak menciptakan apa pun bahkan ia yang diciptakan.
(35) ﴾ قُلۡ هَلۡ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Katakanlah, 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?'" Dengan men-jelaskannya, menunjukkannya, mengilhamkannya dan memberikan taufik kepadanya. ﴾ قُلِ ٱللَّهُ ﴿ "Katakanlah, 'Allah-lah'," hanya Dia semata, ﴾ يَهۡدِي ﴿ "yang menunjuki", kepada kebenaran dengan dalil-dalil, bukti-bukti, ilham, taufik dan pertolongan untuk meniti jalan yang lurus. ﴾ أَمَّن لَّا يَهِدِّيٓ إِلَّآ أَن يُهۡدَىٰۖ ﴿ "Ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk?" Karena kebodohan dan kesesatannya, ia adalah sekutu-sekutu mereka yang tidak mendapat petunjuk dan tidak memberi petunjuk kecuali jika ia diberi petunjuk. ﴾ فَمَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ ﴿ "Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaima-nakah kamu mengambil keputusan?" Maksudnya apa yang membuat-mu mengambil keputusan batil ini dengan menetapkan kebenaran beribadah kepada seseorang bersama Allah setelah munculnya hujjah dan bukti bahwa tidak ada yang berhak atas ibadah kecuali hanya Allah semata? Jika telah terbukti bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah tidak memiliki sifat-sifat ma'nawi dan fi'li yang membuatnya berhak untuk disembah bersama Allah, justru ia me-miliki kekurangan-kekurangan yang membuktikan kebatilan ke-tuhanannya, maka dengan dasar apa ia dijadikan sebagai tuhan bersama Allah?
(36) Jawabannya adalah bahwa itu termasuk bisikan setan kepada manusia, ia menghiasi kedustaan terburuk dan kesesatan tersesat sampai manusia meyakini hal itu, mengakrabinya dan men-duganya benar, padahal ia bukan apa-apa. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan)." (Yunus: 66). Maksudnya, sebenarnya mereka tidak mengikuti sekutu-se-kutu bagi Allah, karena pada dasarnya Allah tidak memiliki sekutu sama sekali baik secara aql maupun naql, mereka hanyalah mengikuti dugaan. ﴾ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِي مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran." Mereka menamakan-nya Rabb dan menyembahnya bersama Allah. ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyang-mu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu." (An-Najm: 23). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." Dia akan membalas mereka dengan hukuman yang berat.
Yunus 10:36
"Katakanlah, 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?' Katakanlah, 'Allah-lah yang memulai Penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali, maka bagaimana bisa (terjadi) kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?' Katakanlah, 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?' Kata-kanlah, 'Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran.' Maka apa-kah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagai-manakah kamu mengambil keputusan? Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persang-kaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." (Yunus: 34-36).
(34) Allah تعالى berfirman menjelaskan kelemahan tuhan-tuhan orang musyrik, dan bahwa ia tidak memiliki sifat-sifat yang membuatnya layak dipertuhankan bersama Allah, ﴾ قُلۡ هَلۡ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ﴿ "Katakanlah, 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk'," yakni menciptakannya ﴾ ثُمَّ يُعِيدُهُۥۚ ﴿ kemu-dian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?" Ini adalah perta-nyaan dengan makna penetapan dan penafian, maksudnya tak satu pun dari mereka yang menciptakan dan mengembalikan makhluk, ia lebih lemah dan lebih tidak mampu daripada itu. ﴾ قُلِ ٱللَّهُ يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥۖ ﴿ "Katakanlah, 'Allah-lah yang memulai Penciptaan makhluk, ke-mudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali'," tanpa sekutu dan tanpa pembantu dalam hal itu. ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?" Yakni kamu di-palingkan dan dibelokkan dari penghambaan kepada Dzat yang memulai penciptaan dan mengembalikanNya kepada yang tidak menciptakan apa pun bahkan ia yang diciptakan.
(35) ﴾ قُلۡ هَلۡ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Katakanlah, 'Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?'" Dengan men-jelaskannya, menunjukkannya, mengilhamkannya dan memberikan taufik kepadanya. ﴾ قُلِ ٱللَّهُ ﴿ "Katakanlah, 'Allah-lah'," hanya Dia semata, ﴾ يَهۡدِي ﴿ "yang menunjuki", kepada kebenaran dengan dalil-dalil, bukti-bukti, ilham, taufik dan pertolongan untuk meniti jalan yang lurus. ﴾ أَمَّن لَّا يَهِدِّيٓ إِلَّآ أَن يُهۡدَىٰۖ ﴿ "Ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk?" Karena kebodohan dan kesesatannya, ia adalah sekutu-sekutu mereka yang tidak mendapat petunjuk dan tidak memberi petunjuk kecuali jika ia diberi petunjuk. ﴾ فَمَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ ﴿ "Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaima-nakah kamu mengambil keputusan?" Maksudnya apa yang membuat-mu mengambil keputusan batil ini dengan menetapkan kebenaran beribadah kepada seseorang bersama Allah setelah munculnya hujjah dan bukti bahwa tidak ada yang berhak atas ibadah kecuali hanya Allah semata? Jika telah terbukti bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah tidak memiliki sifat-sifat ma'nawi dan fi'li yang membuatnya berhak untuk disembah bersama Allah, justru ia me-miliki kekurangan-kekurangan yang membuktikan kebatilan ke-tuhanannya, maka dengan dasar apa ia dijadikan sebagai tuhan bersama Allah?
(36) Jawabannya adalah bahwa itu termasuk bisikan setan kepada manusia, ia menghiasi kedustaan terburuk dan kesesatan tersesat sampai manusia meyakini hal itu, mengakrabinya dan men-duganya benar, padahal ia bukan apa-apa. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan)." (Yunus: 66). Maksudnya, sebenarnya mereka tidak mengikuti sekutu-se-kutu bagi Allah, karena pada dasarnya Allah tidak memiliki sekutu sama sekali baik secara aql maupun naql, mereka hanyalah mengikuti dugaan. ﴾ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِي مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran." Mereka menamakan-nya Rabb dan menyembahnya bersama Allah. ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyang-mu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu." (An-Najm: 23). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." Dia akan membalas mereka dengan hukuman yang berat.
Yunus 10:37
"Tidaklah mungkin al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah, akan tetapi (al-Qur`an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebe-lumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, 'Muhammad membuat-buatnya.' Katakanlah, '(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.' Bahkan yang sebenar-nya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal penjelasannya belum datang kepada mereka. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah men-dustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim itu. Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur`an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka men-dustakanmu, maka katakanlah, 'Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan'." (Yu-nus: 37-41).
(37) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ أَن يُفۡتَرَىٰ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Tidaklah mungkin al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah", maksudnya mustahil, tidak bisa dibayangkan al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah karena ia adalah kitab yang agung, tiada kebatilan yang hadir dari depan dan belakangnya. Ia diturunkan dari Allah Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji, ia adalah kitab di mana seandainya jin dan manusia berkumpul untuk membuat yang sepertinya niscaya mereka tidak mampu membuat yang sepertinya meskipun sebagian dari mereka menolong sebagian yang lain, ia adalah kitab yang dengannya Rabbul 'alamin berfirman, bagaimana mungkin ada makhluk yang bisa berbicara sepertinya atau yang mendekatinya sementara ucapan itu menginduk kepada kebesaran dan sifat pembicara? Jika ada se-seorang yang menandingi Allah dalam kebesaranNya dan sifat-sifat kesempurnaanNya, maka dia mungkin menghadirkan seperti al-Qur`an ini. Seandainya kita berandai-andai bahwa ada orang yang berdusta atas nama Allah Rabbul 'alamin, niscaya Dia akan segera menghukum dan mengazabnya. Akan tetapi Allah menurunkan kitab ini sebagai rahmat bagi alam semesta dan sebagai hujjah atas seluruh manusia. Dia menu-runkannya ﴾ تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "untuk membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya", dari kitab-kitab Samawi yakni dengan menyetujui dan membenarkan kesaksian dan berita gembira tentang turunnya maka ia pun terjadi seperti yang diberitakan, ﴾ وَتَفۡصِيلَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dan menjelas-kan hukum-hukum yang telah ditetapkannya;" halal, haram, hukum-hukum diniyah, qadariyah dan berita-berita yang benar.﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِ مِن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb se-mesta alam", tanpa sedikit pun kebimbangan di dalamnya dari sudut pandang apa pun, ia adalah kebenaran yang yakin, diturunkan dari Rabbul 'alamin yang mengatur seluruh makhluk dengan nikmatNya. Dan di antara pengaturanNya yang besar adalah diturunkanNya kitab yang berisi kemaslahatan diniyah dan duniawiyah mereka yang mengandung kesempurnaan akhlak dan kebaikan amal.
(38) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ ﴿ "Atau (patutkah) mereka mengatakan", yakni orang-orang yang mendustakannya dengan kesombongan dan pe-nentangan, ﴾ ٱفۡتَرَىٰهُۖ ﴿ "Muhammad membuat-buatnya", dengan berdusta atas nama Allah. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", dengan menyuruh sesuatu kepada mereka, jika mereka mampu maka apa yang mereka klaim itu memungkinkan, jika tidak maka ucapan mereka adalah kebatilan. ﴾ فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar," yang membantumu menghadirkan satu surat yang sama dengannya. Ini mustahil, kalau mungkin tentulah mereka telah menyatakan mampu melakukan itu dan tentulah mereka menghadirkan sepertinya, akan tetapi ketika ketidakmampuan mereka terbukti, maka terbuktilah bahwa yang mereka katakan itu adalah batil tanpa berdasar sama sekali.
(39) Yang membuat mereka mendustakan al-Qur`an yang mengandung kebenaran yang tiada kebenaran di atasnya adalah bahwa mereka belum mengetahui dengan sempurna. Seandainya mereka mengetahuinya dengan sempurna dan memahaminya dengan baik niscaya mereka akan membenarkannya. Begitu pula sampai sekarang penjelasannya belum datang kepada mereka di mana Allah menjanjikan akan menurunkan azabNya dan menimpa-kan siksaNya kepada mereka, pendustaan yang keluar dari mereka ini sama dengan pendustaan orang-orang yang sebelum mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman,﴾ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendus-takan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim itu." Yaitu kebinasaan yang tak menyisakan seorang pun dari mereka, hendaklah mereka mewaspadai jika mereka terus menerus mendustakannya yang akibatnya adalah turunnya azab kepada mereka seperti yang telah turun kepada orang-orang yang mendus-takan sebelum mereka. Ini mengandung dalil atas anjuran berhati-hati dalam setiap perkara, bahwa setiap orang jangan menerima atau menolak sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik.
(40) ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يُؤۡمِنُ بِهِۦ ﴿ "Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur`an", maksudnya beriman dengan al-Qur`an dan sesuatu yang dibawanya. ﴾ وَمِنۡهُم مَّن لَّا يُؤۡمِنُ بِهِۦۚ وَرَبُّكَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabb-mu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan." Yaitu orang-orang yang tidak beriman kepadanya dengan dasar kezha-liman, penentangan dan kerusakan, maka Dia akan membalas ke-rusakan mereka dengan azab yang paling berat.
(41) ﴾ وَإِن كَذَّبُوكَ ﴿ "Jika mereka mendustakan kamu", maka terus-lah berdakwah, urusan mereka bukan tanggunganmu, urusanmu pun bukan tanggung jawab mereka, masing-masing mempunyai pekerjaan sendiri-sendiri. ﴾ فَقُل لِّي عَمَلِي وَلَكُمۡ عَمَلُكُمۡۖ أَنتُم بَرِيٓـُٔونَ مِمَّآ أَعۡمَلُ وَأَنَا۠ بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka katakan-lah, 'Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap sesuatu yang aku kerjakan, dan aku pun berlepas diri terhadap sesuatu yang kamu kerjakan'." Seperti Firman Allah, ﴾ مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri." (Fushshilat: 46).
Yunus 10:38
"Tidaklah mungkin al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah, akan tetapi (al-Qur`an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebe-lumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, 'Muhammad membuat-buatnya.' Katakanlah, '(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.' Bahkan yang sebenar-nya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal penjelasannya belum datang kepada mereka. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah men-dustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim itu. Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur`an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka men-dustakanmu, maka katakanlah, 'Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan'." (Yu-nus: 37-41).
(37) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ أَن يُفۡتَرَىٰ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Tidaklah mungkin al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah", maksudnya mustahil, tidak bisa dibayangkan al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah karena ia adalah kitab yang agung, tiada kebatilan yang hadir dari depan dan belakangnya. Ia diturunkan dari Allah Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji, ia adalah kitab di mana seandainya jin dan manusia berkumpul untuk membuat yang sepertinya niscaya mereka tidak mampu membuat yang sepertinya meskipun sebagian dari mereka menolong sebagian yang lain, ia adalah kitab yang dengannya Rabbul 'alamin berfirman, bagaimana mungkin ada makhluk yang bisa berbicara sepertinya atau yang mendekatinya sementara ucapan itu menginduk kepada kebesaran dan sifat pembicara? Jika ada se-seorang yang menandingi Allah dalam kebesaranNya dan sifat-sifat kesempurnaanNya, maka dia mungkin menghadirkan seperti al-Qur`an ini. Seandainya kita berandai-andai bahwa ada orang yang berdusta atas nama Allah Rabbul 'alamin, niscaya Dia akan segera menghukum dan mengazabnya. Akan tetapi Allah menurunkan kitab ini sebagai rahmat bagi alam semesta dan sebagai hujjah atas seluruh manusia. Dia menu-runkannya ﴾ تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "untuk membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya", dari kitab-kitab Samawi yakni dengan menyetujui dan membenarkan kesaksian dan berita gembira tentang turunnya maka ia pun terjadi seperti yang diberitakan, ﴾ وَتَفۡصِيلَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dan menjelas-kan hukum-hukum yang telah ditetapkannya;" halal, haram, hukum-hukum diniyah, qadariyah dan berita-berita yang benar.﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِ مِن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb se-mesta alam", tanpa sedikit pun kebimbangan di dalamnya dari sudut pandang apa pun, ia adalah kebenaran yang yakin, diturunkan dari Rabbul 'alamin yang mengatur seluruh makhluk dengan nikmatNya. Dan di antara pengaturanNya yang besar adalah diturunkanNya kitab yang berisi kemaslahatan diniyah dan duniawiyah mereka yang mengandung kesempurnaan akhlak dan kebaikan amal.
(38) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ ﴿ "Atau (patutkah) mereka mengatakan", yakni orang-orang yang mendustakannya dengan kesombongan dan pe-nentangan, ﴾ ٱفۡتَرَىٰهُۖ ﴿ "Muhammad membuat-buatnya", dengan berdusta atas nama Allah. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", dengan menyuruh sesuatu kepada mereka, jika mereka mampu maka apa yang mereka klaim itu memungkinkan, jika tidak maka ucapan mereka adalah kebatilan. ﴾ فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar," yang membantumu menghadirkan satu surat yang sama dengannya. Ini mustahil, kalau mungkin tentulah mereka telah menyatakan mampu melakukan itu dan tentulah mereka menghadirkan sepertinya, akan tetapi ketika ketidakmampuan mereka terbukti, maka terbuktilah bahwa yang mereka katakan itu adalah batil tanpa berdasar sama sekali.
(39) Yang membuat mereka mendustakan al-Qur`an yang mengandung kebenaran yang tiada kebenaran di atasnya adalah bahwa mereka belum mengetahui dengan sempurna. Seandainya mereka mengetahuinya dengan sempurna dan memahaminya dengan baik niscaya mereka akan membenarkannya. Begitu pula sampai sekarang penjelasannya belum datang kepada mereka di mana Allah menjanjikan akan menurunkan azabNya dan menimpa-kan siksaNya kepada mereka, pendustaan yang keluar dari mereka ini sama dengan pendustaan orang-orang yang sebelum mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman,﴾ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendus-takan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim itu." Yaitu kebinasaan yang tak menyisakan seorang pun dari mereka, hendaklah mereka mewaspadai jika mereka terus menerus mendustakannya yang akibatnya adalah turunnya azab kepada mereka seperti yang telah turun kepada orang-orang yang mendus-takan sebelum mereka. Ini mengandung dalil atas anjuran berhati-hati dalam setiap perkara, bahwa setiap orang jangan menerima atau menolak sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik.
(40) ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يُؤۡمِنُ بِهِۦ ﴿ "Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur`an", maksudnya beriman dengan al-Qur`an dan sesuatu yang dibawanya. ﴾ وَمِنۡهُم مَّن لَّا يُؤۡمِنُ بِهِۦۚ وَرَبُّكَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabb-mu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan." Yaitu orang-orang yang tidak beriman kepadanya dengan dasar kezha-liman, penentangan dan kerusakan, maka Dia akan membalas ke-rusakan mereka dengan azab yang paling berat.
(41) ﴾ وَإِن كَذَّبُوكَ ﴿ "Jika mereka mendustakan kamu", maka terus-lah berdakwah, urusan mereka bukan tanggunganmu, urusanmu pun bukan tanggung jawab mereka, masing-masing mempunyai pekerjaan sendiri-sendiri. ﴾ فَقُل لِّي عَمَلِي وَلَكُمۡ عَمَلُكُمۡۖ أَنتُم بَرِيٓـُٔونَ مِمَّآ أَعۡمَلُ وَأَنَا۠ بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka katakan-lah, 'Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap sesuatu yang aku kerjakan, dan aku pun berlepas diri terhadap sesuatu yang kamu kerjakan'." Seperti Firman Allah, ﴾ مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri." (Fushshilat: 46).
Yunus 10:39
"Tidaklah mungkin al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah, akan tetapi (al-Qur`an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebe-lumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, 'Muhammad membuat-buatnya.' Katakanlah, '(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.' Bahkan yang sebenar-nya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal penjelasannya belum datang kepada mereka. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah men-dustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim itu. Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur`an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka men-dustakanmu, maka katakanlah, 'Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan'." (Yu-nus: 37-41).
(37) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ أَن يُفۡتَرَىٰ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Tidaklah mungkin al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah", maksudnya mustahil, tidak bisa dibayangkan al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah karena ia adalah kitab yang agung, tiada kebatilan yang hadir dari depan dan belakangnya. Ia diturunkan dari Allah Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji, ia adalah kitab di mana seandainya jin dan manusia berkumpul untuk membuat yang sepertinya niscaya mereka tidak mampu membuat yang sepertinya meskipun sebagian dari mereka menolong sebagian yang lain, ia adalah kitab yang dengannya Rabbul 'alamin berfirman, bagaimana mungkin ada makhluk yang bisa berbicara sepertinya atau yang mendekatinya sementara ucapan itu menginduk kepada kebesaran dan sifat pembicara? Jika ada se-seorang yang menandingi Allah dalam kebesaranNya dan sifat-sifat kesempurnaanNya, maka dia mungkin menghadirkan seperti al-Qur`an ini. Seandainya kita berandai-andai bahwa ada orang yang berdusta atas nama Allah Rabbul 'alamin, niscaya Dia akan segera menghukum dan mengazabnya. Akan tetapi Allah menurunkan kitab ini sebagai rahmat bagi alam semesta dan sebagai hujjah atas seluruh manusia. Dia menu-runkannya ﴾ تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "untuk membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya", dari kitab-kitab Samawi yakni dengan menyetujui dan membenarkan kesaksian dan berita gembira tentang turunnya maka ia pun terjadi seperti yang diberitakan, ﴾ وَتَفۡصِيلَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dan menjelas-kan hukum-hukum yang telah ditetapkannya;" halal, haram, hukum-hukum diniyah, qadariyah dan berita-berita yang benar.﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِ مِن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb se-mesta alam", tanpa sedikit pun kebimbangan di dalamnya dari sudut pandang apa pun, ia adalah kebenaran yang yakin, diturunkan dari Rabbul 'alamin yang mengatur seluruh makhluk dengan nikmatNya. Dan di antara pengaturanNya yang besar adalah diturunkanNya kitab yang berisi kemaslahatan diniyah dan duniawiyah mereka yang mengandung kesempurnaan akhlak dan kebaikan amal.
(38) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ ﴿ "Atau (patutkah) mereka mengatakan", yakni orang-orang yang mendustakannya dengan kesombongan dan pe-nentangan, ﴾ ٱفۡتَرَىٰهُۖ ﴿ "Muhammad membuat-buatnya", dengan berdusta atas nama Allah. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", dengan menyuruh sesuatu kepada mereka, jika mereka mampu maka apa yang mereka klaim itu memungkinkan, jika tidak maka ucapan mereka adalah kebatilan. ﴾ فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar," yang membantumu menghadirkan satu surat yang sama dengannya. Ini mustahil, kalau mungkin tentulah mereka telah menyatakan mampu melakukan itu dan tentulah mereka menghadirkan sepertinya, akan tetapi ketika ketidakmampuan mereka terbukti, maka terbuktilah bahwa yang mereka katakan itu adalah batil tanpa berdasar sama sekali.
(39) Yang membuat mereka mendustakan al-Qur`an yang mengandung kebenaran yang tiada kebenaran di atasnya adalah bahwa mereka belum mengetahui dengan sempurna. Seandainya mereka mengetahuinya dengan sempurna dan memahaminya dengan baik niscaya mereka akan membenarkannya. Begitu pula sampai sekarang penjelasannya belum datang kepada mereka di mana Allah menjanjikan akan menurunkan azabNya dan menimpa-kan siksaNya kepada mereka, pendustaan yang keluar dari mereka ini sama dengan pendustaan orang-orang yang sebelum mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman,﴾ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendus-takan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim itu." Yaitu kebinasaan yang tak menyisakan seorang pun dari mereka, hendaklah mereka mewaspadai jika mereka terus menerus mendustakannya yang akibatnya adalah turunnya azab kepada mereka seperti yang telah turun kepada orang-orang yang mendus-takan sebelum mereka. Ini mengandung dalil atas anjuran berhati-hati dalam setiap perkara, bahwa setiap orang jangan menerima atau menolak sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik.
(40) ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يُؤۡمِنُ بِهِۦ ﴿ "Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur`an", maksudnya beriman dengan al-Qur`an dan sesuatu yang dibawanya. ﴾ وَمِنۡهُم مَّن لَّا يُؤۡمِنُ بِهِۦۚ وَرَبُّكَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabb-mu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan." Yaitu orang-orang yang tidak beriman kepadanya dengan dasar kezha-liman, penentangan dan kerusakan, maka Dia akan membalas ke-rusakan mereka dengan azab yang paling berat.
(41) ﴾ وَإِن كَذَّبُوكَ ﴿ "Jika mereka mendustakan kamu", maka terus-lah berdakwah, urusan mereka bukan tanggunganmu, urusanmu pun bukan tanggung jawab mereka, masing-masing mempunyai pekerjaan sendiri-sendiri. ﴾ فَقُل لِّي عَمَلِي وَلَكُمۡ عَمَلُكُمۡۖ أَنتُم بَرِيٓـُٔونَ مِمَّآ أَعۡمَلُ وَأَنَا۠ بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka katakan-lah, 'Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap sesuatu yang aku kerjakan, dan aku pun berlepas diri terhadap sesuatu yang kamu kerjakan'." Seperti Firman Allah, ﴾ مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri." (Fushshilat: 46).
Yunus 10:40
"Tidaklah mungkin al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah, akan tetapi (al-Qur`an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebe-lumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, 'Muhammad membuat-buatnya.' Katakanlah, '(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.' Bahkan yang sebenar-nya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal penjelasannya belum datang kepada mereka. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah men-dustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim itu. Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur`an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka men-dustakanmu, maka katakanlah, 'Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan'." (Yu-nus: 37-41).
(37) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ أَن يُفۡتَرَىٰ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Tidaklah mungkin al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah", maksudnya mustahil, tidak bisa dibayangkan al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah karena ia adalah kitab yang agung, tiada kebatilan yang hadir dari depan dan belakangnya. Ia diturunkan dari Allah Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji, ia adalah kitab di mana seandainya jin dan manusia berkumpul untuk membuat yang sepertinya niscaya mereka tidak mampu membuat yang sepertinya meskipun sebagian dari mereka menolong sebagian yang lain, ia adalah kitab yang dengannya Rabbul 'alamin berfirman, bagaimana mungkin ada makhluk yang bisa berbicara sepertinya atau yang mendekatinya sementara ucapan itu menginduk kepada kebesaran dan sifat pembicara? Jika ada se-seorang yang menandingi Allah dalam kebesaranNya dan sifat-sifat kesempurnaanNya, maka dia mungkin menghadirkan seperti al-Qur`an ini. Seandainya kita berandai-andai bahwa ada orang yang berdusta atas nama Allah Rabbul 'alamin, niscaya Dia akan segera menghukum dan mengazabnya. Akan tetapi Allah menurunkan kitab ini sebagai rahmat bagi alam semesta dan sebagai hujjah atas seluruh manusia. Dia menu-runkannya ﴾ تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "untuk membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya", dari kitab-kitab Samawi yakni dengan menyetujui dan membenarkan kesaksian dan berita gembira tentang turunnya maka ia pun terjadi seperti yang diberitakan, ﴾ وَتَفۡصِيلَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dan menjelas-kan hukum-hukum yang telah ditetapkannya;" halal, haram, hukum-hukum diniyah, qadariyah dan berita-berita yang benar.﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِ مِن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb se-mesta alam", tanpa sedikit pun kebimbangan di dalamnya dari sudut pandang apa pun, ia adalah kebenaran yang yakin, diturunkan dari Rabbul 'alamin yang mengatur seluruh makhluk dengan nikmatNya. Dan di antara pengaturanNya yang besar adalah diturunkanNya kitab yang berisi kemaslahatan diniyah dan duniawiyah mereka yang mengandung kesempurnaan akhlak dan kebaikan amal.
(38) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ ﴿ "Atau (patutkah) mereka mengatakan", yakni orang-orang yang mendustakannya dengan kesombongan dan pe-nentangan, ﴾ ٱفۡتَرَىٰهُۖ ﴿ "Muhammad membuat-buatnya", dengan berdusta atas nama Allah. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", dengan menyuruh sesuatu kepada mereka, jika mereka mampu maka apa yang mereka klaim itu memungkinkan, jika tidak maka ucapan mereka adalah kebatilan. ﴾ فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar," yang membantumu menghadirkan satu surat yang sama dengannya. Ini mustahil, kalau mungkin tentulah mereka telah menyatakan mampu melakukan itu dan tentulah mereka menghadirkan sepertinya, akan tetapi ketika ketidakmampuan mereka terbukti, maka terbuktilah bahwa yang mereka katakan itu adalah batil tanpa berdasar sama sekali.
(39) Yang membuat mereka mendustakan al-Qur`an yang mengandung kebenaran yang tiada kebenaran di atasnya adalah bahwa mereka belum mengetahui dengan sempurna. Seandainya mereka mengetahuinya dengan sempurna dan memahaminya dengan baik niscaya mereka akan membenarkannya. Begitu pula sampai sekarang penjelasannya belum datang kepada mereka di mana Allah menjanjikan akan menurunkan azabNya dan menimpa-kan siksaNya kepada mereka, pendustaan yang keluar dari mereka ini sama dengan pendustaan orang-orang yang sebelum mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman,﴾ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendus-takan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim itu." Yaitu kebinasaan yang tak menyisakan seorang pun dari mereka, hendaklah mereka mewaspadai jika mereka terus menerus mendustakannya yang akibatnya adalah turunnya azab kepada mereka seperti yang telah turun kepada orang-orang yang mendus-takan sebelum mereka. Ini mengandung dalil atas anjuran berhati-hati dalam setiap perkara, bahwa setiap orang jangan menerima atau menolak sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik.
(40) ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يُؤۡمِنُ بِهِۦ ﴿ "Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur`an", maksudnya beriman dengan al-Qur`an dan sesuatu yang dibawanya. ﴾ وَمِنۡهُم مَّن لَّا يُؤۡمِنُ بِهِۦۚ وَرَبُّكَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabb-mu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan." Yaitu orang-orang yang tidak beriman kepadanya dengan dasar kezha-liman, penentangan dan kerusakan, maka Dia akan membalas ke-rusakan mereka dengan azab yang paling berat.
(41) ﴾ وَإِن كَذَّبُوكَ ﴿ "Jika mereka mendustakan kamu", maka terus-lah berdakwah, urusan mereka bukan tanggunganmu, urusanmu pun bukan tanggung jawab mereka, masing-masing mempunyai pekerjaan sendiri-sendiri. ﴾ فَقُل لِّي عَمَلِي وَلَكُمۡ عَمَلُكُمۡۖ أَنتُم بَرِيٓـُٔونَ مِمَّآ أَعۡمَلُ وَأَنَا۠ بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka katakan-lah, 'Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap sesuatu yang aku kerjakan, dan aku pun berlepas diri terhadap sesuatu yang kamu kerjakan'." Seperti Firman Allah, ﴾ مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri." (Fushshilat: 46).
Yunus 10:41
"Tidaklah mungkin al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah, akan tetapi (al-Qur`an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebe-lumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, 'Muhammad membuat-buatnya.' Katakanlah, '(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.' Bahkan yang sebenar-nya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal penjelasannya belum datang kepada mereka. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah men-dustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim itu. Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur`an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabbmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka men-dustakanmu, maka katakanlah, 'Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan'." (Yu-nus: 37-41).
(37) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ أَن يُفۡتَرَىٰ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Tidaklah mungkin al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah", maksudnya mustahil, tidak bisa dibayangkan al-Qur`an ini dibuat oleh selain Allah karena ia adalah kitab yang agung, tiada kebatilan yang hadir dari depan dan belakangnya. Ia diturunkan dari Allah Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji, ia adalah kitab di mana seandainya jin dan manusia berkumpul untuk membuat yang sepertinya niscaya mereka tidak mampu membuat yang sepertinya meskipun sebagian dari mereka menolong sebagian yang lain, ia adalah kitab yang dengannya Rabbul 'alamin berfirman, bagaimana mungkin ada makhluk yang bisa berbicara sepertinya atau yang mendekatinya sementara ucapan itu menginduk kepada kebesaran dan sifat pembicara? Jika ada se-seorang yang menandingi Allah dalam kebesaranNya dan sifat-sifat kesempurnaanNya, maka dia mungkin menghadirkan seperti al-Qur`an ini. Seandainya kita berandai-andai bahwa ada orang yang berdusta atas nama Allah Rabbul 'alamin, niscaya Dia akan segera menghukum dan mengazabnya. Akan tetapi Allah menurunkan kitab ini sebagai rahmat bagi alam semesta dan sebagai hujjah atas seluruh manusia. Dia menu-runkannya ﴾ تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "untuk membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya", dari kitab-kitab Samawi yakni dengan menyetujui dan membenarkan kesaksian dan berita gembira tentang turunnya maka ia pun terjadi seperti yang diberitakan, ﴾ وَتَفۡصِيلَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dan menjelas-kan hukum-hukum yang telah ditetapkannya;" halal, haram, hukum-hukum diniyah, qadariyah dan berita-berita yang benar.﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِ مِن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb se-mesta alam", tanpa sedikit pun kebimbangan di dalamnya dari sudut pandang apa pun, ia adalah kebenaran yang yakin, diturunkan dari Rabbul 'alamin yang mengatur seluruh makhluk dengan nikmatNya. Dan di antara pengaturanNya yang besar adalah diturunkanNya kitab yang berisi kemaslahatan diniyah dan duniawiyah mereka yang mengandung kesempurnaan akhlak dan kebaikan amal.
(38) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ ﴿ "Atau (patutkah) mereka mengatakan", yakni orang-orang yang mendustakannya dengan kesombongan dan pe-nentangan, ﴾ ٱفۡتَرَىٰهُۖ ﴿ "Muhammad membuat-buatnya", dengan berdusta atas nama Allah. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", dengan menyuruh sesuatu kepada mereka, jika mereka mampu maka apa yang mereka klaim itu memungkinkan, jika tidak maka ucapan mereka adalah kebatilan. ﴾ فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar," yang membantumu menghadirkan satu surat yang sama dengannya. Ini mustahil, kalau mungkin tentulah mereka telah menyatakan mampu melakukan itu dan tentulah mereka menghadirkan sepertinya, akan tetapi ketika ketidakmampuan mereka terbukti, maka terbuktilah bahwa yang mereka katakan itu adalah batil tanpa berdasar sama sekali.
(39) Yang membuat mereka mendustakan al-Qur`an yang mengandung kebenaran yang tiada kebenaran di atasnya adalah bahwa mereka belum mengetahui dengan sempurna. Seandainya mereka mengetahuinya dengan sempurna dan memahaminya dengan baik niscaya mereka akan membenarkannya. Begitu pula sampai sekarang penjelasannya belum datang kepada mereka di mana Allah menjanjikan akan menurunkan azabNya dan menimpa-kan siksaNya kepada mereka, pendustaan yang keluar dari mereka ini sama dengan pendustaan orang-orang yang sebelum mereka. Oleh karena itu, Dia berfirman,﴾ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendus-takan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim itu." Yaitu kebinasaan yang tak menyisakan seorang pun dari mereka, hendaklah mereka mewaspadai jika mereka terus menerus mendustakannya yang akibatnya adalah turunnya azab kepada mereka seperti yang telah turun kepada orang-orang yang mendus-takan sebelum mereka. Ini mengandung dalil atas anjuran berhati-hati dalam setiap perkara, bahwa setiap orang jangan menerima atau menolak sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik.
(40) ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يُؤۡمِنُ بِهِۦ ﴿ "Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada al-Qur`an", maksudnya beriman dengan al-Qur`an dan sesuatu yang dibawanya. ﴾ وَمِنۡهُم مَّن لَّا يُؤۡمِنُ بِهِۦۚ وَرَبُّكَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Rabb-mu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan." Yaitu orang-orang yang tidak beriman kepadanya dengan dasar kezha-liman, penentangan dan kerusakan, maka Dia akan membalas ke-rusakan mereka dengan azab yang paling berat.
(41) ﴾ وَإِن كَذَّبُوكَ ﴿ "Jika mereka mendustakan kamu", maka terus-lah berdakwah, urusan mereka bukan tanggunganmu, urusanmu pun bukan tanggung jawab mereka, masing-masing mempunyai pekerjaan sendiri-sendiri. ﴾ فَقُل لِّي عَمَلِي وَلَكُمۡ عَمَلُكُمۡۖ أَنتُم بَرِيٓـُٔونَ مِمَّآ أَعۡمَلُ وَأَنَا۠ بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka katakan-lah, 'Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap sesuatu yang aku kerjakan, dan aku pun berlepas diri terhadap sesuatu yang kamu kerjakan'." Seperti Firman Allah, ﴾ مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri." (Fushshilat: 46).
Yunus 10:42
"Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti. Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu. Apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan. Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zha-lim kepada diri mereka sendiri." (Yunus: 42-44).
(42) Allah mengabarkan sebagian dari para pendusta Ra-sulullah dan sesuatu yang dia bawa. ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَسۡتَمِعُونَ ﴿ "Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu." Maksudnya, mendengarkan kepada Nabi pada saat membaca wahyu, bukan untuk mengambil petunjuk, akan tetapi untuk mencari celah (kesalahan), mendusta-kan dan mencari-cari ketergelinciran. Mendengar seperti ini tidak berguna sedikit pun dan pelakunya tidak akan mendapatkan ke-baikan, maka tidak aneh jika pintu taufik tertutup bagi mereka, dan mereka tidak mendapatkan faidah mendengar. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَأَنتَ تُسۡمِعُ ٱلصُّمَّ وَلَوۡ كَانُواْ لَا يَعۡقِلُونَ ﴿ "Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti." Per-tanyaan ini berarti penafian yang menetapkan, yakni kamu tidak dapat membuat orang yang tuli itu mendengarmu meski kamu bisa mengeraskan suaramu, lebih-lebih jika dia kehilangan akalnya. Jika tidak mungkin bisa membuat orang tuli yang tidak memahami Ka-lamullah untuk mendengar, maka orang-orang yang mendustakan itupun demikian. Kamu tidak akan mampu membuat mereka men-dengar dengan pendengaran yang bermanfaat. Adapun sekedar kamu memperdengarkan tegaknya hujjah, maka mereka telah men-dengar sesuatu yang dengannya hujjah Allah yang mendalam bisa tegak. Ini adalah jalan ilmu yang agung yang telah tertutup dari mereka yaitu jalan mendengar yang berkaitan dengan berita.
(43) Kemudian Allah menyebutkan tertutupnya jalan yang kedua yaitu jalan penglihatan, Dia berfirman, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنظُرُ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu", tetapi penglihatan-nya kepadamu tidak berguna baginya dan tidak mengungkap apa pun dari keadaanmu. Sebagaimana kamu tidak memberi petunjuk kepada orang buta yang tidak bisa melihat maka kamu pun tidak bisa memberi petunjuk kepada mereka. Jika akal, pendengaran dan penglihatan mereka rusak yang mana semua itu adalah jalan yang mengantarkan kepada ilmu dan pengetahuan tentang hakikat, maka di manakah jalan yang mengantarkan mereka kepada kebenaran? FirmanNya, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنظُرُ إِلَيۡكَۚ أَفَأَنتَ تَهۡدِي ٱلۡعُمۡيَ وَلَوۡ كَانُواْ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu, apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan", menunjukkan bahwa melihat keadaan, petun-juk, akhlak, perbuatan dan dakwah Nabi adalah salah satu bukti terbesar atas kebenarannya dan kebenaran sesuatu yang dibawanya, ia cukup bagi orang yang melek dari melihat dalil yang lainnya.
(44) FirmanNya, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ ٱلنَّاسَ شَيۡـٔٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikit pun", tidak menambah keburukannya dan tidak mengurangi kebaikannya. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلنَّاسَ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Akan tetapi manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri me-reka sendiri." Kebenaran datang kepada mereka tetapi mereka meno-laknya maka setelah itu Allah menghukumnya dengan mengunci hatinya, menutup pendengaran dan penglihatannya.
Yunus 10:43
"Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti. Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu. Apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan. Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zha-lim kepada diri mereka sendiri." (Yunus: 42-44).
(42) Allah mengabarkan sebagian dari para pendusta Ra-sulullah dan sesuatu yang dia bawa. ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَسۡتَمِعُونَ ﴿ "Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu." Maksudnya, mendengarkan kepada Nabi pada saat membaca wahyu, bukan untuk mengambil petunjuk, akan tetapi untuk mencari celah (kesalahan), mendusta-kan dan mencari-cari ketergelinciran. Mendengar seperti ini tidak berguna sedikit pun dan pelakunya tidak akan mendapatkan ke-baikan, maka tidak aneh jika pintu taufik tertutup bagi mereka, dan mereka tidak mendapatkan faidah mendengar. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَأَنتَ تُسۡمِعُ ٱلصُّمَّ وَلَوۡ كَانُواْ لَا يَعۡقِلُونَ ﴿ "Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti." Per-tanyaan ini berarti penafian yang menetapkan, yakni kamu tidak dapat membuat orang yang tuli itu mendengarmu meski kamu bisa mengeraskan suaramu, lebih-lebih jika dia kehilangan akalnya. Jika tidak mungkin bisa membuat orang tuli yang tidak memahami Ka-lamullah untuk mendengar, maka orang-orang yang mendustakan itupun demikian. Kamu tidak akan mampu membuat mereka men-dengar dengan pendengaran yang bermanfaat. Adapun sekedar kamu memperdengarkan tegaknya hujjah, maka mereka telah men-dengar sesuatu yang dengannya hujjah Allah yang mendalam bisa tegak. Ini adalah jalan ilmu yang agung yang telah tertutup dari mereka yaitu jalan mendengar yang berkaitan dengan berita.
(43) Kemudian Allah menyebutkan tertutupnya jalan yang kedua yaitu jalan penglihatan, Dia berfirman, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنظُرُ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu", tetapi penglihatan-nya kepadamu tidak berguna baginya dan tidak mengungkap apa pun dari keadaanmu. Sebagaimana kamu tidak memberi petunjuk kepada orang buta yang tidak bisa melihat maka kamu pun tidak bisa memberi petunjuk kepada mereka. Jika akal, pendengaran dan penglihatan mereka rusak yang mana semua itu adalah jalan yang mengantarkan kepada ilmu dan pengetahuan tentang hakikat, maka di manakah jalan yang mengantarkan mereka kepada kebenaran? FirmanNya, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنظُرُ إِلَيۡكَۚ أَفَأَنتَ تَهۡدِي ٱلۡعُمۡيَ وَلَوۡ كَانُواْ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu, apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan", menunjukkan bahwa melihat keadaan, petun-juk, akhlak, perbuatan dan dakwah Nabi adalah salah satu bukti terbesar atas kebenarannya dan kebenaran sesuatu yang dibawanya, ia cukup bagi orang yang melek dari melihat dalil yang lainnya.
(44) FirmanNya, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ ٱلنَّاسَ شَيۡـٔٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikit pun", tidak menambah keburukannya dan tidak mengurangi kebaikannya. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلنَّاسَ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Akan tetapi manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri me-reka sendiri." Kebenaran datang kepada mereka tetapi mereka meno-laknya maka setelah itu Allah menghukumnya dengan mengunci hatinya, menutup pendengaran dan penglihatannya.
Yunus 10:44
"Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti. Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu. Apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan. Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zha-lim kepada diri mereka sendiri." (Yunus: 42-44).
(42) Allah mengabarkan sebagian dari para pendusta Ra-sulullah dan sesuatu yang dia bawa. ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَسۡتَمِعُونَ ﴿ "Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu." Maksudnya, mendengarkan kepada Nabi pada saat membaca wahyu, bukan untuk mengambil petunjuk, akan tetapi untuk mencari celah (kesalahan), mendusta-kan dan mencari-cari ketergelinciran. Mendengar seperti ini tidak berguna sedikit pun dan pelakunya tidak akan mendapatkan ke-baikan, maka tidak aneh jika pintu taufik tertutup bagi mereka, dan mereka tidak mendapatkan faidah mendengar. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَأَنتَ تُسۡمِعُ ٱلصُّمَّ وَلَوۡ كَانُواْ لَا يَعۡقِلُونَ ﴿ "Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti." Per-tanyaan ini berarti penafian yang menetapkan, yakni kamu tidak dapat membuat orang yang tuli itu mendengarmu meski kamu bisa mengeraskan suaramu, lebih-lebih jika dia kehilangan akalnya. Jika tidak mungkin bisa membuat orang tuli yang tidak memahami Ka-lamullah untuk mendengar, maka orang-orang yang mendustakan itupun demikian. Kamu tidak akan mampu membuat mereka men-dengar dengan pendengaran yang bermanfaat. Adapun sekedar kamu memperdengarkan tegaknya hujjah, maka mereka telah men-dengar sesuatu yang dengannya hujjah Allah yang mendalam bisa tegak. Ini adalah jalan ilmu yang agung yang telah tertutup dari mereka yaitu jalan mendengar yang berkaitan dengan berita.
(43) Kemudian Allah menyebutkan tertutupnya jalan yang kedua yaitu jalan penglihatan, Dia berfirman, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنظُرُ إِلَيۡكَۚ ﴿ "Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu", tetapi penglihatan-nya kepadamu tidak berguna baginya dan tidak mengungkap apa pun dari keadaanmu. Sebagaimana kamu tidak memberi petunjuk kepada orang buta yang tidak bisa melihat maka kamu pun tidak bisa memberi petunjuk kepada mereka. Jika akal, pendengaran dan penglihatan mereka rusak yang mana semua itu adalah jalan yang mengantarkan kepada ilmu dan pengetahuan tentang hakikat, maka di manakah jalan yang mengantarkan mereka kepada kebenaran? FirmanNya, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنظُرُ إِلَيۡكَۚ أَفَأَنتَ تَهۡدِي ٱلۡعُمۡيَ وَلَوۡ كَانُواْ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu, apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan", menunjukkan bahwa melihat keadaan, petun-juk, akhlak, perbuatan dan dakwah Nabi adalah salah satu bukti terbesar atas kebenarannya dan kebenaran sesuatu yang dibawanya, ia cukup bagi orang yang melek dari melihat dalil yang lainnya.
(44) FirmanNya, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ ٱلنَّاسَ شَيۡـٔٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikit pun", tidak menambah keburukannya dan tidak mengurangi kebaikannya. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلنَّاسَ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "Akan tetapi manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri me-reka sendiri." Kebenaran datang kepada mereka tetapi mereka meno-laknya maka setelah itu Allah menghukumnya dengan mengunci hatinya, menutup pendengaran dan penglihatannya.
Yunus 10:45
"Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengum-pulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, dan mereka tidak mendapat petunjuk." (Yunus: 45).
(45) Allah mengabarkan tentang cepatnya dunia berakhir, bahwa jika Allah membangkitkan dan mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya maka mereka seolah-olah tidak hidup kecuali hanya sesaat saja di siang hari. Seolah-olah mereka tidak merasakan nikmat atau kesengsaraan, mereka saling mengenal seperti keadaan mereka di dunia. Pada hari itu, orang-orang yang bertakwa beruntung, dan merugilah ﴾ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ ﴿ "orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, dan mereka tidak mendapat petunjuk", kepada jalan yang lurus dan agama yang benar di mana mereka kehilangan nikmat dan berhak masuk neraka.
Yunus 10:46
"Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka, (tentulah kamu akan me-lihatnya), atau (jika) Kami wafatkan kamu (sebelum itu), maka kepada Kami jualah mereka kembali, dan Allah menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan." (Yunus: 46).
(46) Yakni jangan bersedih wahai Rasulullah terhadap orang-orang yang mendustakan itu, jangan terburu-buru karena mereka pasti akan ditimpa azab yang Kami janjikan, bisa di dunia yang kamu melihatnya dan membuat jiwamu tetap tenang, bisa di akhirat sesudah wafat, karena tempat kembali mereka adalah ke-pada Allah, dan Dia memberitahukan apa yang mereka lakukan. Allah mencatatnya walaupun mereka telah melupakannya, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ini mengandung ancaman yang berat kepada mereka dan sekaligus hiburan kepada Rasul yang didustakan dan ditentang kaumnya.
Yunus 10:47
"Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah da-tang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil, dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. Mereka mengatakan, 'Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?' Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa mendatangkan ke-mudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.' Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat meng-undurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan-(nya)." (Yunus: 47-49).
(47) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلِكُلِّ أُمَّةٖ ﴿ "Tiap-tiap umat", dari umat-umat yang telah berlalu ﴾ رَّسُولٞۖ ﴿ "mempunyai rasul", yang meng-ajak kepada tauhid dan agamaNya. Jika ﴾ رَسُولُهُمۡ ﴿ "Rasul mereka" telah datang dengan ayat-ayat Allah, maka ada yang membenarkan dan ada pula yang mendustakan, maka Allah memutuskan di antara mereka dengan adil dengan menyelamatkan orang-orang Mukmin dan membinasakan orang-orang yang mendustakan. ﴾ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya", dengan disiksa sebelum diutusnya Rasul dan penegakan hujjah atau mereka diazab tanpa ada dosa.
(48-49) Hendaknya orang-orang yang mendustakanmu mewaspadai sikap menyerupai umat-umat yang dibinasakan se-hingga mereka bisa ditimpa azab yang telah menimpa mereka (yang terdahulu), janganlah menantang azab Allah dan mengatakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?" Karena ini adalah kezhaliman dari mereka di mana mereka menuntutnya dari Nabi, padahal dia tidak sedikit pun memiliki hak dalam urusan ini, tugasnya hanyalah menyam-paikan dan menjelaskan kepada manusia. Adapun hisab mereka dan penurunan azab atas mereka maka ia dari Allah, Dia menurun-kannya kepada mereka jika tiba waktu dan saat yang ditentukan dan diletakkan olehNya yang sesuai dengan hikmah Ilahiyah. Jika waktu tersebut telah hadir maka mereka tidak bisa menunda dan memajukannya sesaat pun. Orang-orang yang mendustakan hen-daklah mewaspadai sikap menuntut turunnya azab karena mereka menuntut disegerakannya azab Allah yang mana jika ia turun maka azabnya tidak tertolak dari orang-orang yang berdosa. Oleh karena itu, Dia berfirman,
Yunus 10:48
"Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah da-tang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil, dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. Mereka mengatakan, 'Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?' Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa mendatangkan ke-mudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.' Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat meng-undurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan-(nya)." (Yunus: 47-49).
(47) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلِكُلِّ أُمَّةٖ ﴿ "Tiap-tiap umat", dari umat-umat yang telah berlalu ﴾ رَّسُولٞۖ ﴿ "mempunyai rasul", yang meng-ajak kepada tauhid dan agamaNya. Jika ﴾ رَسُولُهُمۡ ﴿ "Rasul mereka" telah datang dengan ayat-ayat Allah, maka ada yang membenarkan dan ada pula yang mendustakan, maka Allah memutuskan di antara mereka dengan adil dengan menyelamatkan orang-orang Mukmin dan membinasakan orang-orang yang mendustakan. ﴾ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya", dengan disiksa sebelum diutusnya Rasul dan penegakan hujjah atau mereka diazab tanpa ada dosa.
(48-49) Hendaknya orang-orang yang mendustakanmu mewaspadai sikap menyerupai umat-umat yang dibinasakan se-hingga mereka bisa ditimpa azab yang telah menimpa mereka (yang terdahulu), janganlah menantang azab Allah dan mengatakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?" Karena ini adalah kezhaliman dari mereka di mana mereka menuntutnya dari Nabi, padahal dia tidak sedikit pun memiliki hak dalam urusan ini, tugasnya hanyalah menyam-paikan dan menjelaskan kepada manusia. Adapun hisab mereka dan penurunan azab atas mereka maka ia dari Allah, Dia menurun-kannya kepada mereka jika tiba waktu dan saat yang ditentukan dan diletakkan olehNya yang sesuai dengan hikmah Ilahiyah. Jika waktu tersebut telah hadir maka mereka tidak bisa menunda dan memajukannya sesaat pun. Orang-orang yang mendustakan hen-daklah mewaspadai sikap menuntut turunnya azab karena mereka menuntut disegerakannya azab Allah yang mana jika ia turun maka azabnya tidak tertolak dari orang-orang yang berdosa. Oleh karena itu, Dia berfirman,
Yunus 10:49
"Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah da-tang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil, dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. Mereka mengatakan, 'Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?' Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa mendatangkan ke-mudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.' Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat meng-undurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan-(nya)." (Yunus: 47-49).
(47) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلِكُلِّ أُمَّةٖ ﴿ "Tiap-tiap umat", dari umat-umat yang telah berlalu ﴾ رَّسُولٞۖ ﴿ "mempunyai rasul", yang meng-ajak kepada tauhid dan agamaNya. Jika ﴾ رَسُولُهُمۡ ﴿ "Rasul mereka" telah datang dengan ayat-ayat Allah, maka ada yang membenarkan dan ada pula yang mendustakan, maka Allah memutuskan di antara mereka dengan adil dengan menyelamatkan orang-orang Mukmin dan membinasakan orang-orang yang mendustakan. ﴾ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya", dengan disiksa sebelum diutusnya Rasul dan penegakan hujjah atau mereka diazab tanpa ada dosa.
(48-49) Hendaknya orang-orang yang mendustakanmu mewaspadai sikap menyerupai umat-umat yang dibinasakan se-hingga mereka bisa ditimpa azab yang telah menimpa mereka (yang terdahulu), janganlah menantang azab Allah dan mengatakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?" Karena ini adalah kezhaliman dari mereka di mana mereka menuntutnya dari Nabi, padahal dia tidak sedikit pun memiliki hak dalam urusan ini, tugasnya hanyalah menyam-paikan dan menjelaskan kepada manusia. Adapun hisab mereka dan penurunan azab atas mereka maka ia dari Allah, Dia menurun-kannya kepada mereka jika tiba waktu dan saat yang ditentukan dan diletakkan olehNya yang sesuai dengan hikmah Ilahiyah. Jika waktu tersebut telah hadir maka mereka tidak bisa menunda dan memajukannya sesaat pun. Orang-orang yang mendustakan hen-daklah mewaspadai sikap menuntut turunnya azab karena mereka menuntut disegerakannya azab Allah yang mana jika ia turun maka azabnya tidak tertolak dari orang-orang yang berdosa. Oleh karena itu, Dia berfirman,
Yunus 10:50
"Katakanlah, 'Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaanNya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?' Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kamu baru mempercayainya? Apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan? Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zhalim (musyrik) itu, 'Rasakanlah oleh-mu siksaan yang kekal, tidaklah kamu diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan'." (Yunus: 50-52).
(50) Allah تعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَتَىٰكُمۡ عَذَابُهُۥ بَيَٰتًا ﴿ "Katakanlah, 'Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaanNya di waktu malam," pada waktu kamu tidur di malam hari. ﴾ أَوۡ نَهَارٗا ﴿ "Atau di siang hari", pada waktu kamu lalai. ﴾ مَّاذَا يَسۡتَعۡجِلُ مِنۡهُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?" Maksudnya berita apa yang ingin mereka segerakan kehadirannya, dan azab apa yang mereka inginkan?
(51) ﴾ أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ ءَامَنتُم بِهِۦٓۚ ﴿ "Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kamu baru mempercayainya?" Iman tidak lagi berguna pada waktu azab Allah turun. Dikatakan kepada mereka sebagai bentuk penyalahan dan pencacian dalam kondisi tersebut yang mana me-reka mengaku beriman. ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Apakah sekarang", kamu beriman dalam kondisi sulit dan susah. ﴾ وَقَدۡ كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ﴿ "Padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?" Karena Sunnah Allah yang berlaku bagi hamba-hambaNya adalah bahwa Dia memperingat-kan mereka ketika mereka minta diturunkan peringatan sebelum azab itu turun dan jika azab telah turun, maka iman seseorang tidak lagi berguna sebagaimana Firman Allah tentang Fir'aun pada saat dia tenggelam. ﴾ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 90 ﴿ "Berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada Rabb melainkan Rabb yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Yunus: 90). Maka dikatakan kepadanya, ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 91 ﴿ "Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" (Yunus: 91). Dan Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ إِيمَٰنُهُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَاۖ سُنَّتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي قَدۡ خَلَتۡ فِي عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah Sunnah Allah yang telah berlaku terhadap ham-ba-hambaNya." (Al-Mu`min: 85). Di sini Allah تعالى berfirman, ﴾ أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ ءَامَنتُم بِهِۦٓۚ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kamu baru mempercayainya? Apa-kah sekarang", kamu mengaku beriman ﴾ وَقَدۡ كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ﴿ "padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?" Ini adalah akibat perbuatanmu, inilah yang kamu tuntut agar ia disegerakan.
(52) ﴾ ثُمَّ قِيلَ لِلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zhalim (musyrik) itu", manakala amal mereka dibalas pada Hari Kiamat, ﴾ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal", yakni azab di mana kamu kekal di dalamnya tidak terhenti sesaat pun da-rimu. ﴾ هَلۡ تُجۡزَوۡنَ إِلَّا بِمَا كُنتُمۡ تَكۡسِبُونَ ﴿ "Tidaklah kamu diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan", dari kekufuran, pendustaan, dan kemaksiatan.
Yunus 10:51
"Katakanlah, 'Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaanNya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?' Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kamu baru mempercayainya? Apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan? Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zhalim (musyrik) itu, 'Rasakanlah oleh-mu siksaan yang kekal, tidaklah kamu diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan'." (Yunus: 50-52).
(50) Allah تعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَتَىٰكُمۡ عَذَابُهُۥ بَيَٰتًا ﴿ "Katakanlah, 'Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaanNya di waktu malam," pada waktu kamu tidur di malam hari. ﴾ أَوۡ نَهَارٗا ﴿ "Atau di siang hari", pada waktu kamu lalai. ﴾ مَّاذَا يَسۡتَعۡجِلُ مِنۡهُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?" Maksudnya berita apa yang ingin mereka segerakan kehadirannya, dan azab apa yang mereka inginkan?
(51) ﴾ أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ ءَامَنتُم بِهِۦٓۚ ﴿ "Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kamu baru mempercayainya?" Iman tidak lagi berguna pada waktu azab Allah turun. Dikatakan kepada mereka sebagai bentuk penyalahan dan pencacian dalam kondisi tersebut yang mana me-reka mengaku beriman. ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Apakah sekarang", kamu beriman dalam kondisi sulit dan susah. ﴾ وَقَدۡ كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ﴿ "Padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?" Karena Sunnah Allah yang berlaku bagi hamba-hambaNya adalah bahwa Dia memperingat-kan mereka ketika mereka minta diturunkan peringatan sebelum azab itu turun dan jika azab telah turun, maka iman seseorang tidak lagi berguna sebagaimana Firman Allah tentang Fir'aun pada saat dia tenggelam. ﴾ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 90 ﴿ "Berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada Rabb melainkan Rabb yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Yunus: 90). Maka dikatakan kepadanya, ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 91 ﴿ "Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" (Yunus: 91). Dan Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ إِيمَٰنُهُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَاۖ سُنَّتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي قَدۡ خَلَتۡ فِي عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah Sunnah Allah yang telah berlaku terhadap ham-ba-hambaNya." (Al-Mu`min: 85). Di sini Allah تعالى berfirman, ﴾ أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ ءَامَنتُم بِهِۦٓۚ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kamu baru mempercayainya? Apa-kah sekarang", kamu mengaku beriman ﴾ وَقَدۡ كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ﴿ "padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?" Ini adalah akibat perbuatanmu, inilah yang kamu tuntut agar ia disegerakan.
(52) ﴾ ثُمَّ قِيلَ لِلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zhalim (musyrik) itu", manakala amal mereka dibalas pada Hari Kiamat, ﴾ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal", yakni azab di mana kamu kekal di dalamnya tidak terhenti sesaat pun da-rimu. ﴾ هَلۡ تُجۡزَوۡنَ إِلَّا بِمَا كُنتُمۡ تَكۡسِبُونَ ﴿ "Tidaklah kamu diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan", dari kekufuran, pendustaan, dan kemaksiatan.
Yunus 10:52
"Katakanlah, 'Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaanNya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?' Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kamu baru mempercayainya? Apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan? Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zhalim (musyrik) itu, 'Rasakanlah oleh-mu siksaan yang kekal, tidaklah kamu diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan'." (Yunus: 50-52).
(50) Allah تعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَتَىٰكُمۡ عَذَابُهُۥ بَيَٰتًا ﴿ "Katakanlah, 'Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaanNya di waktu malam," pada waktu kamu tidur di malam hari. ﴾ أَوۡ نَهَارٗا ﴿ "Atau di siang hari", pada waktu kamu lalai. ﴾ مَّاذَا يَسۡتَعۡجِلُ مِنۡهُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?" Maksudnya berita apa yang ingin mereka segerakan kehadirannya, dan azab apa yang mereka inginkan?
(51) ﴾ أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ ءَامَنتُم بِهِۦٓۚ ﴿ "Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kamu baru mempercayainya?" Iman tidak lagi berguna pada waktu azab Allah turun. Dikatakan kepada mereka sebagai bentuk penyalahan dan pencacian dalam kondisi tersebut yang mana me-reka mengaku beriman. ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Apakah sekarang", kamu beriman dalam kondisi sulit dan susah. ﴾ وَقَدۡ كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ﴿ "Padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?" Karena Sunnah Allah yang berlaku bagi hamba-hambaNya adalah bahwa Dia memperingat-kan mereka ketika mereka minta diturunkan peringatan sebelum azab itu turun dan jika azab telah turun, maka iman seseorang tidak lagi berguna sebagaimana Firman Allah tentang Fir'aun pada saat dia tenggelam. ﴾ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 90 ﴿ "Berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada Rabb melainkan Rabb yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Yunus: 90). Maka dikatakan kepadanya, ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 91 ﴿ "Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" (Yunus: 91). Dan Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ إِيمَٰنُهُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَاۖ سُنَّتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي قَدۡ خَلَتۡ فِي عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah Sunnah Allah yang telah berlaku terhadap ham-ba-hambaNya." (Al-Mu`min: 85). Di sini Allah تعالى berfirman, ﴾ أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ ءَامَنتُم بِهِۦٓۚ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kamu baru mempercayainya? Apa-kah sekarang", kamu mengaku beriman ﴾ وَقَدۡ كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ ﴿ "padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?" Ini adalah akibat perbuatanmu, inilah yang kamu tuntut agar ia disegerakan.
(52) ﴾ ثُمَّ قِيلَ لِلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zhalim (musyrik) itu", manakala amal mereka dibalas pada Hari Kiamat, ﴾ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal", yakni azab di mana kamu kekal di dalamnya tidak terhenti sesaat pun da-rimu. ﴾ هَلۡ تُجۡزَوۡنَ إِلَّا بِمَا كُنتُمۡ تَكۡسِبُونَ ﴿ "Tidaklah kamu diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan", dari kekufuran, pendustaan, dan kemaksiatan.
Yunus 10:53
"Dan mereka menanyakan kepadamu, 'Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?' Katakanlah, 'Ya demi Rabbku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (darinya).' Dan kalau setiap diri yang zhalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya. Ingatlah, sesungguh-nya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya). Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan." (Yunus: 53-56).
(53) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, ﴾ وَيَسۡتَنۢبِـُٔونَكَ أَحَقٌّ هُوَۖ ﴿ "Dan mereka menanyakan kepadamu, 'Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?" Maksudnya, orang-orang yang mendustakan menanyakan kepadamu dengan dasar penentangan dan penolakan bukan dengan dasar mencari kejelasan dan petunjuk. ﴾ أَحَقٌّ هُوَۖ ﴿ "Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?" Maksudnya, apakah benar kebangkitan manusia dari kubur dan dikumpulkannya mereka untuk hari pembalasan kepada hamba-hamba sesuai dengan amal mereka, jika baik maka baik jika buruk maka buruk? ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", kepada mereka dengan bersumpah atas kebenarannya dengan berdalil kepada dalil yang jelas dan bukti yang kuat. ﴾ إِي وَرَبِّيٓ إِنَّهُۥ لَحَقّٞۖ ﴿ "Ya demi Rabbku, se-sungguhnya azab itu adalah benar", tanpa ada keraguan dan kebim-bangan di dalamnya. ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (darinya)." Maksudnya, kamu tidak mampu menghalangi Allah untuk membangkitkanmu, sebagaimana Dia menciptakanmu per-tama kali sementara kamu belum menjadi apa pun maka Dia pun akan mengembalikanmu sekali lagi untuk membalas perbuatanmu.
(54)(وَ) "Dan" pada Hari Kiamat kalau ﴾ أَنَّ لِكُلِّ نَفۡسٖ ظَلَمَتۡ ﴿ "se-tiap diri yang zhalim (musyrik) itu memiliki", dengan kekufuran dan kemaksiatan ﴾ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "segala sesuatu yang ada di bumi ini", dalam bentuk emas, perak dan lainnya untuk digunakan menebus azab Allah, ﴾ لَٱفۡتَدَتۡ بِهِۦۗ ﴿ "tentu dia menebus dirinya dengan itu." Namun itu semua tidaklah berguna baginya karena manfaat dan mudarat, pahala dan hukuman berdasarkan pada perbuatan baik atau buruk. ﴾ وَأَسَرُّواْ ﴿ "Dan mereka menyembunyikan" yakni mereka orang-orang yang zhalim, ﴾ ٱلنَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَۖ ﴿ "penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu." Mereka menyesal atas apa yang mereka la-kukan, dan pada waktu itu tidak ada lagi tempat aman. ﴾ وَقُضِيَ بَيۡنَهُم بِٱلۡقِسۡطِ ﴿ "Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil." Ke-adilan yang sempurna yang tidak ada kezhaliman padanya dari segi apa pun.
(55) ﴾ أَلَآ إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi." Dia menetapkan hukum pada mereka dengan hukum diniyah dan qadariyah, dan Dia akan menetapkan hukum pada mereka dengan hukum jaza'i. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Ingatlah, sesungguh-nya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui-(nya)." Oleh karena itu, mereka tidak bersiap-siap untuk bertemu Allah bahkan mungkin mereka tidak beriman kepadanya, padahal dalil-dalil yang pasti dan bukti-bukti aqli dan naqli telah mendu-kungnya.
(56) ﴾ هُوَ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُ ﴿ "Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan." Maksudnya Dia-lah Allah yang memiliki otoritas menghidupkan, mematikan dan aturan-aturan lainnya. Dalam hal itu Dia tidak ber-sekutu. ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan," pada Hari Kiamat, maka Dia membalasmu sesuai dengan amalmu baik dan buruknya.
Yunus 10:54
"Dan mereka menanyakan kepadamu, 'Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?' Katakanlah, 'Ya demi Rabbku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (darinya).' Dan kalau setiap diri yang zhalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya. Ingatlah, sesungguh-nya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya). Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan." (Yunus: 53-56).
(53) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, ﴾ وَيَسۡتَنۢبِـُٔونَكَ أَحَقٌّ هُوَۖ ﴿ "Dan mereka menanyakan kepadamu, 'Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?" Maksudnya, orang-orang yang mendustakan menanyakan kepadamu dengan dasar penentangan dan penolakan bukan dengan dasar mencari kejelasan dan petunjuk. ﴾ أَحَقٌّ هُوَۖ ﴿ "Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?" Maksudnya, apakah benar kebangkitan manusia dari kubur dan dikumpulkannya mereka untuk hari pembalasan kepada hamba-hamba sesuai dengan amal mereka, jika baik maka baik jika buruk maka buruk? ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", kepada mereka dengan bersumpah atas kebenarannya dengan berdalil kepada dalil yang jelas dan bukti yang kuat. ﴾ إِي وَرَبِّيٓ إِنَّهُۥ لَحَقّٞۖ ﴿ "Ya demi Rabbku, se-sungguhnya azab itu adalah benar", tanpa ada keraguan dan kebim-bangan di dalamnya. ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (darinya)." Maksudnya, kamu tidak mampu menghalangi Allah untuk membangkitkanmu, sebagaimana Dia menciptakanmu per-tama kali sementara kamu belum menjadi apa pun maka Dia pun akan mengembalikanmu sekali lagi untuk membalas perbuatanmu.
(54)(وَ) "Dan" pada Hari Kiamat kalau ﴾ أَنَّ لِكُلِّ نَفۡسٖ ظَلَمَتۡ ﴿ "se-tiap diri yang zhalim (musyrik) itu memiliki", dengan kekufuran dan kemaksiatan ﴾ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "segala sesuatu yang ada di bumi ini", dalam bentuk emas, perak dan lainnya untuk digunakan menebus azab Allah, ﴾ لَٱفۡتَدَتۡ بِهِۦۗ ﴿ "tentu dia menebus dirinya dengan itu." Namun itu semua tidaklah berguna baginya karena manfaat dan mudarat, pahala dan hukuman berdasarkan pada perbuatan baik atau buruk. ﴾ وَأَسَرُّواْ ﴿ "Dan mereka menyembunyikan" yakni mereka orang-orang yang zhalim, ﴾ ٱلنَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَۖ ﴿ "penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu." Mereka menyesal atas apa yang mereka la-kukan, dan pada waktu itu tidak ada lagi tempat aman. ﴾ وَقُضِيَ بَيۡنَهُم بِٱلۡقِسۡطِ ﴿ "Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil." Ke-adilan yang sempurna yang tidak ada kezhaliman padanya dari segi apa pun.
(55) ﴾ أَلَآ إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi." Dia menetapkan hukum pada mereka dengan hukum diniyah dan qadariyah, dan Dia akan menetapkan hukum pada mereka dengan hukum jaza'i. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Ingatlah, sesungguh-nya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui-(nya)." Oleh karena itu, mereka tidak bersiap-siap untuk bertemu Allah bahkan mungkin mereka tidak beriman kepadanya, padahal dalil-dalil yang pasti dan bukti-bukti aqli dan naqli telah mendu-kungnya.
(56) ﴾ هُوَ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُ ﴿ "Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan." Maksudnya Dia-lah Allah yang memiliki otoritas menghidupkan, mematikan dan aturan-aturan lainnya. Dalam hal itu Dia tidak ber-sekutu. ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan," pada Hari Kiamat, maka Dia membalasmu sesuai dengan amalmu baik dan buruknya.
Yunus 10:55
"Dan mereka menanyakan kepadamu, 'Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?' Katakanlah, 'Ya demi Rabbku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (darinya).' Dan kalau setiap diri yang zhalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya. Ingatlah, sesungguh-nya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya). Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan." (Yunus: 53-56).
(53) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, ﴾ وَيَسۡتَنۢبِـُٔونَكَ أَحَقٌّ هُوَۖ ﴿ "Dan mereka menanyakan kepadamu, 'Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?" Maksudnya, orang-orang yang mendustakan menanyakan kepadamu dengan dasar penentangan dan penolakan bukan dengan dasar mencari kejelasan dan petunjuk. ﴾ أَحَقٌّ هُوَۖ ﴿ "Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?" Maksudnya, apakah benar kebangkitan manusia dari kubur dan dikumpulkannya mereka untuk hari pembalasan kepada hamba-hamba sesuai dengan amal mereka, jika baik maka baik jika buruk maka buruk? ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", kepada mereka dengan bersumpah atas kebenarannya dengan berdalil kepada dalil yang jelas dan bukti yang kuat. ﴾ إِي وَرَبِّيٓ إِنَّهُۥ لَحَقّٞۖ ﴿ "Ya demi Rabbku, se-sungguhnya azab itu adalah benar", tanpa ada keraguan dan kebim-bangan di dalamnya. ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (darinya)." Maksudnya, kamu tidak mampu menghalangi Allah untuk membangkitkanmu, sebagaimana Dia menciptakanmu per-tama kali sementara kamu belum menjadi apa pun maka Dia pun akan mengembalikanmu sekali lagi untuk membalas perbuatanmu.
(54)(وَ) "Dan" pada Hari Kiamat kalau ﴾ أَنَّ لِكُلِّ نَفۡسٖ ظَلَمَتۡ ﴿ "se-tiap diri yang zhalim (musyrik) itu memiliki", dengan kekufuran dan kemaksiatan ﴾ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "segala sesuatu yang ada di bumi ini", dalam bentuk emas, perak dan lainnya untuk digunakan menebus azab Allah, ﴾ لَٱفۡتَدَتۡ بِهِۦۗ ﴿ "tentu dia menebus dirinya dengan itu." Namun itu semua tidaklah berguna baginya karena manfaat dan mudarat, pahala dan hukuman berdasarkan pada perbuatan baik atau buruk. ﴾ وَأَسَرُّواْ ﴿ "Dan mereka menyembunyikan" yakni mereka orang-orang yang zhalim, ﴾ ٱلنَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَۖ ﴿ "penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu." Mereka menyesal atas apa yang mereka la-kukan, dan pada waktu itu tidak ada lagi tempat aman. ﴾ وَقُضِيَ بَيۡنَهُم بِٱلۡقِسۡطِ ﴿ "Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil." Ke-adilan yang sempurna yang tidak ada kezhaliman padanya dari segi apa pun.
(55) ﴾ أَلَآ إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi." Dia menetapkan hukum pada mereka dengan hukum diniyah dan qadariyah, dan Dia akan menetapkan hukum pada mereka dengan hukum jaza'i. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Ingatlah, sesungguh-nya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui-(nya)." Oleh karena itu, mereka tidak bersiap-siap untuk bertemu Allah bahkan mungkin mereka tidak beriman kepadanya, padahal dalil-dalil yang pasti dan bukti-bukti aqli dan naqli telah mendu-kungnya.
(56) ﴾ هُوَ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُ ﴿ "Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan." Maksudnya Dia-lah Allah yang memiliki otoritas menghidupkan, mematikan dan aturan-aturan lainnya. Dalam hal itu Dia tidak ber-sekutu. ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan," pada Hari Kiamat, maka Dia membalasmu sesuai dengan amalmu baik dan buruknya.
Yunus 10:56
"Dan mereka menanyakan kepadamu, 'Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?' Katakanlah, 'Ya demi Rabbku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (darinya).' Dan kalau setiap diri yang zhalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya. Ingatlah, sesungguh-nya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya). Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan." (Yunus: 53-56).
(53) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, ﴾ وَيَسۡتَنۢبِـُٔونَكَ أَحَقٌّ هُوَۖ ﴿ "Dan mereka menanyakan kepadamu, 'Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?" Maksudnya, orang-orang yang mendustakan menanyakan kepadamu dengan dasar penentangan dan penolakan bukan dengan dasar mencari kejelasan dan petunjuk. ﴾ أَحَقٌّ هُوَۖ ﴿ "Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?" Maksudnya, apakah benar kebangkitan manusia dari kubur dan dikumpulkannya mereka untuk hari pembalasan kepada hamba-hamba sesuai dengan amal mereka, jika baik maka baik jika buruk maka buruk? ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", kepada mereka dengan bersumpah atas kebenarannya dengan berdalil kepada dalil yang jelas dan bukti yang kuat. ﴾ إِي وَرَبِّيٓ إِنَّهُۥ لَحَقّٞۖ ﴿ "Ya demi Rabbku, se-sungguhnya azab itu adalah benar", tanpa ada keraguan dan kebim-bangan di dalamnya. ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (darinya)." Maksudnya, kamu tidak mampu menghalangi Allah untuk membangkitkanmu, sebagaimana Dia menciptakanmu per-tama kali sementara kamu belum menjadi apa pun maka Dia pun akan mengembalikanmu sekali lagi untuk membalas perbuatanmu.
(54)(وَ) "Dan" pada Hari Kiamat kalau ﴾ أَنَّ لِكُلِّ نَفۡسٖ ظَلَمَتۡ ﴿ "se-tiap diri yang zhalim (musyrik) itu memiliki", dengan kekufuran dan kemaksiatan ﴾ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "segala sesuatu yang ada di bumi ini", dalam bentuk emas, perak dan lainnya untuk digunakan menebus azab Allah, ﴾ لَٱفۡتَدَتۡ بِهِۦۗ ﴿ "tentu dia menebus dirinya dengan itu." Namun itu semua tidaklah berguna baginya karena manfaat dan mudarat, pahala dan hukuman berdasarkan pada perbuatan baik atau buruk. ﴾ وَأَسَرُّواْ ﴿ "Dan mereka menyembunyikan" yakni mereka orang-orang yang zhalim, ﴾ ٱلنَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَۖ ﴿ "penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu." Mereka menyesal atas apa yang mereka la-kukan, dan pada waktu itu tidak ada lagi tempat aman. ﴾ وَقُضِيَ بَيۡنَهُم بِٱلۡقِسۡطِ ﴿ "Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil." Ke-adilan yang sempurna yang tidak ada kezhaliman padanya dari segi apa pun.
(55) ﴾ أَلَآ إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi." Dia menetapkan hukum pada mereka dengan hukum diniyah dan qadariyah, dan Dia akan menetapkan hukum pada mereka dengan hukum jaza'i. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ أَلَآ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Ingatlah, sesungguh-nya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui-(nya)." Oleh karena itu, mereka tidak bersiap-siap untuk bertemu Allah bahkan mungkin mereka tidak beriman kepadanya, padahal dalil-dalil yang pasti dan bukti-bukti aqli dan naqli telah mendu-kungnya.
(56) ﴾ هُوَ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُ ﴿ "Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan." Maksudnya Dia-lah Allah yang memiliki otoritas menghidupkan, mematikan dan aturan-aturan lainnya. Dalam hal itu Dia tidak ber-sekutu. ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan," pada Hari Kiamat, maka Dia membalasmu sesuai dengan amalmu baik dan buruknya.
Yunus 10:57
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pela-jaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya itu adalah lebih baik daripada sesuatu yang mereka kumpulkan'." (Yunus: 57-58).
(57) Allah تعالى menganjurkan manusia agar memperhatikan kitab yang mulia ini dengan menyebutkan sifat-sifatnya yang baik yang dibutuhkan bagi manusia, seraya Dia berfirman,﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu", yang menasehatimu dan memperingatkan-mu dari amalan yang mendatangkan murka Allah yang menyebab-kan siksaNya, ia memperingatkanmu dengan menjelaskan akibat buruknya, ﴾ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada", ia adalah al-Qur`an ini, penyembuh bagi sesuatu yang ada di dalam dada berupa penyakit hawa nafsu yang menghalangi ketundukan kepada syariat dan penyakit-penyakit syubhat yang menodai ilm al-Yaqin, karena apa yang dikandungnya berupa targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman), janji pahala dan an-caman siksa, membuat seorang hamba merasa cinta dan takut. Jika pada diri hamba terdapat kacintaan kepada kebaikan dan rasa takut kepada keburukan dan keduanya tumbuh berdasarkan makna-makna al-Qur`an yang merasuk padanya, maka hal itu akan mendo-rongnya mendahulukan keinginan Allah di atas keinginan dirinya, dan apa yang menyebabkan ridha Allah lebih dipentingkan dari-pada syahwat dirinya sendiri. Begitu pula bukti-bukti dan dalil yang dikandungnya yang dipaparkan oleh Allah yang sangat baik dan dijelaskan olehNya dengan sangat jelas yang mengikis syubhat yang menodai kebenaran dan mengantarkan hati kepada derajat yakin tertinggi, jika hati sehat, tidak sakit, dan ia dihiasi dengan pakaian keselamatan, maka seluruh anggota tubuh mengikutinya, karena anggota tubuh akan baik disebabkan oleh baiknya hati dan akan buruk disebabkan buruknya hati. ﴾ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." Petunjuk adalah ilmu tentang kebenaran dan peng-amalannya. Rahmat adalah kebaikan dan pahala dunia dan akhirat yang didapatkan oleh orang yang mendapatkan petunjuk, sedang-kan hidayah adalah sarana paling mulia dan rahmat adalah sasaran dan target paling sempurna, akan tetapi hidayah dan rahmat itu tidak berlaku kecuali pada orang-orang yang beriman, jika hidayah telah didapatkan dan rahmat yang timbul darinya juga telah diraih, maka terwujudlah kebahagiaan, keberuntungan, keberhasilan, dan ketentraman.
(58) Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar berbahagia dengan itu seraya berfirman, ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ ﴿ "Katakanlah, 'Dengan Karunia Allah'." Yaitu al-Qur`an yang merupakan nikmat, karunia, pembe-rian dan keutamaan terbesar yang Allah limpahkan kepada hamba-hambaNya. RahmatNya adalah agama, iman, ibadah kepada Allah, mencintaiNya, dan mengetahuiNya. ﴾ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ ﴿ "Hen-daklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya itu adalah lebih baik daripada sesuatu yang mereka kumpulkan," dalam bentuk kenikmatan dunia dan kelezatannya. Nikmat agama yang berkaitan dengan kebahagiaan dunia dan akhirat tidak bisa diban-dingkan dengan apa yang dikumpulkan di dunia yang dalam waktu dekat akan lenyap dan menghilang. Allah memerintahkan berba-hagia dengan karunia dan rahmatNya karena hal itu memang me-nyebabkan kebahagiaan, semangat, kekuatan serta keinginan kuat bagi jiwa untuk meraih ilmu dan iman dan meningkatkan keduanya serta bersyukur kepada Allah, ini adalah kebahagiaan yang dipuji. Lain halnya berbahagia dengan syahwat, kenikmatan dunia atau berbahagia dengan kebatilan. Ini adalah tercela sebagaimana Fir-man Allah tentang ucapan kaum Qarun kepadanya. ﴾ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ 76 ﴿ "Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (Al-Qashash: 76). Dan sebagaimana Firman Allah tentang orang-orang yang berbahagia dengan kebatilan yang mereka ikuti yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh para rasul, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepa-da) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, maka mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka." (Al-Mu`min: 83).
Yunus 10:58
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pela-jaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya itu adalah lebih baik daripada sesuatu yang mereka kumpulkan'." (Yunus: 57-58).
(57) Allah تعالى menganjurkan manusia agar memperhatikan kitab yang mulia ini dengan menyebutkan sifat-sifatnya yang baik yang dibutuhkan bagi manusia, seraya Dia berfirman,﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu", yang menasehatimu dan memperingatkan-mu dari amalan yang mendatangkan murka Allah yang menyebab-kan siksaNya, ia memperingatkanmu dengan menjelaskan akibat buruknya, ﴾ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada", ia adalah al-Qur`an ini, penyembuh bagi sesuatu yang ada di dalam dada berupa penyakit hawa nafsu yang menghalangi ketundukan kepada syariat dan penyakit-penyakit syubhat yang menodai ilm al-Yaqin, karena apa yang dikandungnya berupa targhib (anjuran) dan tarhib (ancaman), janji pahala dan an-caman siksa, membuat seorang hamba merasa cinta dan takut. Jika pada diri hamba terdapat kacintaan kepada kebaikan dan rasa takut kepada keburukan dan keduanya tumbuh berdasarkan makna-makna al-Qur`an yang merasuk padanya, maka hal itu akan mendo-rongnya mendahulukan keinginan Allah di atas keinginan dirinya, dan apa yang menyebabkan ridha Allah lebih dipentingkan dari-pada syahwat dirinya sendiri. Begitu pula bukti-bukti dan dalil yang dikandungnya yang dipaparkan oleh Allah yang sangat baik dan dijelaskan olehNya dengan sangat jelas yang mengikis syubhat yang menodai kebenaran dan mengantarkan hati kepada derajat yakin tertinggi, jika hati sehat, tidak sakit, dan ia dihiasi dengan pakaian keselamatan, maka seluruh anggota tubuh mengikutinya, karena anggota tubuh akan baik disebabkan oleh baiknya hati dan akan buruk disebabkan buruknya hati. ﴾ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." Petunjuk adalah ilmu tentang kebenaran dan peng-amalannya. Rahmat adalah kebaikan dan pahala dunia dan akhirat yang didapatkan oleh orang yang mendapatkan petunjuk, sedang-kan hidayah adalah sarana paling mulia dan rahmat adalah sasaran dan target paling sempurna, akan tetapi hidayah dan rahmat itu tidak berlaku kecuali pada orang-orang yang beriman, jika hidayah telah didapatkan dan rahmat yang timbul darinya juga telah diraih, maka terwujudlah kebahagiaan, keberuntungan, keberhasilan, dan ketentraman.
(58) Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar berbahagia dengan itu seraya berfirman, ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ ﴿ "Katakanlah, 'Dengan Karunia Allah'." Yaitu al-Qur`an yang merupakan nikmat, karunia, pembe-rian dan keutamaan terbesar yang Allah limpahkan kepada hamba-hambaNya. RahmatNya adalah agama, iman, ibadah kepada Allah, mencintaiNya, dan mengetahuiNya. ﴾ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ ﴿ "Hen-daklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya itu adalah lebih baik daripada sesuatu yang mereka kumpulkan," dalam bentuk kenikmatan dunia dan kelezatannya. Nikmat agama yang berkaitan dengan kebahagiaan dunia dan akhirat tidak bisa diban-dingkan dengan apa yang dikumpulkan di dunia yang dalam waktu dekat akan lenyap dan menghilang. Allah memerintahkan berba-hagia dengan karunia dan rahmatNya karena hal itu memang me-nyebabkan kebahagiaan, semangat, kekuatan serta keinginan kuat bagi jiwa untuk meraih ilmu dan iman dan meningkatkan keduanya serta bersyukur kepada Allah, ini adalah kebahagiaan yang dipuji. Lain halnya berbahagia dengan syahwat, kenikmatan dunia atau berbahagia dengan kebatilan. Ini adalah tercela sebagaimana Fir-man Allah tentang ucapan kaum Qarun kepadanya. ﴾ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ 76 ﴿ "Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (Al-Qashash: 76). Dan sebagaimana Firman Allah tentang orang-orang yang berbahagia dengan kebatilan yang mereka ikuti yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh para rasul, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepa-da) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, maka mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka." (Al-Mu`min: 83).
Yunus 10:59
"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang di-turunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.' Katakanlah, 'Apakah Allah telah mem-berikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?' Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada Hari Kiamat? Sesungguh-nya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya)." (Yunus: 59-60).
(59) Allah تعالى berfirman mengingkari orang-orang musyrikin yang melakukan bid'ah dengan mengharamkan apa yang dihalal-kan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah,﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ لَكُم مِّن رِّزۡقٖ ﴿ "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu'." Yakni bermacam-macam hewan yang dihalalkan yang Allah jadikan sebagai rizki dan karunia bagi mereka, katakanlah kepada mereka dengan mencela pendapat yang rusak tersebut, ﴾ ءَآللَّهُ أَذِنَ لَكُمۡۖ أَمۡ عَلَى ٱللَّهِ تَفۡتَرُونَ ﴿ "Apakah Allah telah mem-berikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja ter-hadap Allah?" Sebagaimana diketahui bahwa Allah tidak mengizinkan mereka, maka diketahuilah bahwa mereka telah melakukan kebo-hongan.
(60) ﴾ وَمَا ظَنُّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ ﴿ "Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada Hari Kia-mat?" Azab dan siksa apa yang akan Allah timpakan kepada mereka. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ تَرَى ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى ٱللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسۡوَدَّةٌۚ ﴿ "Dan pada Hari Kiamat, kamu akan melihat orang-orang yang ber-buat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam." (Az-Zumar: 60). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar mempu-nyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia." Dia adalah Pemilik ke-baikan yang besar dan karunia yang luas, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur, bisa jadi mereka sama sekali tidak men-syukurinya, bisa pula ia digunakan untuk bermaksiat kepadaNya, bisa dengan mengharamkannya dan menolak sesuatu yang Allah limpahkan kepada hamba-hambaNya, hanya sedikit dari mereka yang bersyukur yang mengakui nikmat dan memuji Allah dan menggunakannya dalam ketaatan kepadaNya. Ayat ini dijadikan dalil bahwa pada dasarnya seluruh maka-nan itu adalah halal kecuali yang ada pengharamannya dari syara'. Karena itu Allah mengingkari orang-orang yang mengharamkan rizkiNya yang diturunkan untuk hamba-hambaNya.
Yunus 10:60
"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang di-turunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.' Katakanlah, 'Apakah Allah telah mem-berikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?' Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada Hari Kiamat? Sesungguh-nya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya)." (Yunus: 59-60).
(59) Allah تعالى berfirman mengingkari orang-orang musyrikin yang melakukan bid'ah dengan mengharamkan apa yang dihalal-kan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah,﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ لَكُم مِّن رِّزۡقٖ ﴿ "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu'." Yakni bermacam-macam hewan yang dihalalkan yang Allah jadikan sebagai rizki dan karunia bagi mereka, katakanlah kepada mereka dengan mencela pendapat yang rusak tersebut, ﴾ ءَآللَّهُ أَذِنَ لَكُمۡۖ أَمۡ عَلَى ٱللَّهِ تَفۡتَرُونَ ﴿ "Apakah Allah telah mem-berikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja ter-hadap Allah?" Sebagaimana diketahui bahwa Allah tidak mengizinkan mereka, maka diketahuilah bahwa mereka telah melakukan kebo-hongan.
(60) ﴾ وَمَا ظَنُّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ ﴿ "Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada Hari Kia-mat?" Azab dan siksa apa yang akan Allah timpakan kepada mereka. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ تَرَى ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى ٱللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسۡوَدَّةٌۚ ﴿ "Dan pada Hari Kiamat, kamu akan melihat orang-orang yang ber-buat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam." (Az-Zumar: 60). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar mempu-nyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia." Dia adalah Pemilik ke-baikan yang besar dan karunia yang luas, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur, bisa jadi mereka sama sekali tidak men-syukurinya, bisa pula ia digunakan untuk bermaksiat kepadaNya, bisa dengan mengharamkannya dan menolak sesuatu yang Allah limpahkan kepada hamba-hambaNya, hanya sedikit dari mereka yang bersyukur yang mengakui nikmat dan memuji Allah dan menggunakannya dalam ketaatan kepadaNya. Ayat ini dijadikan dalil bahwa pada dasarnya seluruh maka-nan itu adalah halal kecuali yang ada pengharamannya dari syara'. Karena itu Allah mengingkari orang-orang yang mengharamkan rizkiNya yang diturunkan untuk hamba-hambaNya.
Yunus 10:61
"Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Qur`an dan kamu tidak mengerjakan suatu pe-kerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Rabbmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Yunus: 61).
(61) Allah mengabarkan tentang luasnya pengetahuan dan penglihatanNya terhadap segala keadaan manusia dalam gerakan dan diam mereka. Termasuk dalam pembahasan ini adalah dak-wah pada muraqabahnya Allah secara terus-menerus, ﴾ وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡنٖ ﴿ "Kamu tidak berada dalam suatu keadaan." Yakni, keadaan diniyah dan duniawiyah ﴾ وَمَا تَتۡلُواْ مِنۡهُ مِن قُرۡءَانٖ ﴿ "dan tidak membaca suatu ayat dari al-Qur`an." Yakni apa yang kamu baca dari al-Qur`an yang Allah wahyukan kepadamu, ﴾ وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ ﴿ "dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan", besar atau kecil ﴾ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِۚ ﴿ "melain-kan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya." Yakni di waktu kamu memulai mengerjakannya dan dalam keadaan terus melakukannya, hendaknya kamu merasa Allah mengawasimu dalam perbuatanmu, maka lakukanlah dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. Jauhilah sesuatu yang dibenci Allah karena Dia melihat dan mengawasi lahir dan batinmu. ﴾ وَمَا يَعۡزُبُ عَن رَّبِّكَ ﴿ "Dan tidak luput dari pengetahuan Rabbmu." Yakni tidak ada yang samar dari ilmu, pendengaran, penglihatan dan pengawasan Allah, ﴾ مِن مِّثۡقَالِ ذَرَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصۡغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡبَرَ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٍ ﴿ "biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." IlmuNya telah mencakupnya dan penaNya telah mencatatnya. Kedua tingkatan ini adalah termasuk tingkatan qadha dan qadar yang sering Allah sandingkan yaitu ilmu yang meliputi segala sesuatu dan kitabah (tulisan) yang meliputi segala peristiwa, seperti FirmanNya, ﴾ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 70 ﴿ "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah menge-tahui apa saja yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya yang demi-kian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah." (Al-Hajj: 70).
Yunus 10:62
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada ke-khawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Mereka mendapatkan berita gembira dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Yunus: 62-64).
(62) Allah mengabarkan tentang wali-waliNya dan orang-orang yang dicintaiNya dengan menyebutkan perbuatan, sifat dan pahala mereka, ﴾ أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka", dalam hal ketakutan dan kekhawatiran yang ada di depan mereka yang mereka hadapi, ﴾ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka bersedih hati", atas apa yang telah berlalu karena masa lalu mereka hanyalah amal kebaikan. Jika mereka tidak takut dan tidak bersedih, maka yang ada untuk mereka adalah rasa aman, kebahagiaan yang melimpah yang hanya diketahui oleh Allah.
(63) Kemudian Allah menyebutkan sifat mereka, seraya Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang beriman", kepada Allah, malaikatNya, kitabNya, RasulNya, Hari Akhir, takdir baik dan buruknya, mereka membuktikan amal mereka dengan mema-kai ketakwaan dengan menaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Semua orang Mukmin yang bertakwa, maka dia adalah wali Allah.
(64) ﴾ لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "Mereka mendapatkan be-rita gembira dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat." Adapun berita gembira di dunia maka ia adalah pujian yang baik, kecintaan di hati orang-orang Mukmin, mimpi yang baik dan apa yang dirasakan oleh seorang hamba dalam bentuk kasih sayang Allah kepadanya, kemudahanNya kepada amal dan akhlak yang terbaik dan penghindaranNya dari akhlak yang buruk. Sedangkan di akhirat maka yang pertama adalah berita gembira pada saat ar-wah mereka diambil sebagaimana Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ 30 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami ialah Allah', kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu'." (Fushshilat: 30). Dan di dalam kubur ada berita gembira untuknya berupa ridha Allah dan nikmat yang dirasakan, dan di akhirat ada berita gembira yang sempurna dengan masuk surga dan selamat dari azab neraka. ﴾ لَا تَبۡدِيلَ لِكَلِمَٰتِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah." Akan tetapi apa yang Allah janjikan maka itulah kebenaran yang tidak mungkin dirubah dan diganti karena Dia Mahabenar dalam FirmanNya yang tidak seorang pun mampu menyelisihiNya dalam takdir dan keputusanNya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." Karena ia mengan-dung keselamatan dari yang dikhawatirkan, kemenangan meraih apa yang diinginkan, keberuntungan dibatasi padanya karena tidak ada keberuntungan untuk selain ahli iman dan takwa. Alhasil bahwa berita gembira meliputi seluruh kebaikan dan pahala yang dikaitkan oleh Allah di dunia dan akhirat dengan iman dan takwa. Oleh karenanya, Dia menyebutkannya secara mutlak dan tidak membatasinya.
Yunus 10:63
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada ke-khawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Mereka mendapatkan berita gembira dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Yunus: 62-64).
(62) Allah mengabarkan tentang wali-waliNya dan orang-orang yang dicintaiNya dengan menyebutkan perbuatan, sifat dan pahala mereka, ﴾ أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka", dalam hal ketakutan dan kekhawatiran yang ada di depan mereka yang mereka hadapi, ﴾ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka bersedih hati", atas apa yang telah berlalu karena masa lalu mereka hanyalah amal kebaikan. Jika mereka tidak takut dan tidak bersedih, maka yang ada untuk mereka adalah rasa aman, kebahagiaan yang melimpah yang hanya diketahui oleh Allah.
(63) Kemudian Allah menyebutkan sifat mereka, seraya Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang beriman", kepada Allah, malaikatNya, kitabNya, RasulNya, Hari Akhir, takdir baik dan buruknya, mereka membuktikan amal mereka dengan mema-kai ketakwaan dengan menaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Semua orang Mukmin yang bertakwa, maka dia adalah wali Allah.
(64) ﴾ لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "Mereka mendapatkan be-rita gembira dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat." Adapun berita gembira di dunia maka ia adalah pujian yang baik, kecintaan di hati orang-orang Mukmin, mimpi yang baik dan apa yang dirasakan oleh seorang hamba dalam bentuk kasih sayang Allah kepadanya, kemudahanNya kepada amal dan akhlak yang terbaik dan penghindaranNya dari akhlak yang buruk. Sedangkan di akhirat maka yang pertama adalah berita gembira pada saat ar-wah mereka diambil sebagaimana Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ 30 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami ialah Allah', kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu'." (Fushshilat: 30). Dan di dalam kubur ada berita gembira untuknya berupa ridha Allah dan nikmat yang dirasakan, dan di akhirat ada berita gembira yang sempurna dengan masuk surga dan selamat dari azab neraka. ﴾ لَا تَبۡدِيلَ لِكَلِمَٰتِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah." Akan tetapi apa yang Allah janjikan maka itulah kebenaran yang tidak mungkin dirubah dan diganti karena Dia Mahabenar dalam FirmanNya yang tidak seorang pun mampu menyelisihiNya dalam takdir dan keputusanNya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." Karena ia mengan-dung keselamatan dari yang dikhawatirkan, kemenangan meraih apa yang diinginkan, keberuntungan dibatasi padanya karena tidak ada keberuntungan untuk selain ahli iman dan takwa. Alhasil bahwa berita gembira meliputi seluruh kebaikan dan pahala yang dikaitkan oleh Allah di dunia dan akhirat dengan iman dan takwa. Oleh karenanya, Dia menyebutkannya secara mutlak dan tidak membatasinya.
Yunus 10:64
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada ke-khawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Mereka mendapatkan berita gembira dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Yunus: 62-64).
(62) Allah mengabarkan tentang wali-waliNya dan orang-orang yang dicintaiNya dengan menyebutkan perbuatan, sifat dan pahala mereka, ﴾ أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka", dalam hal ketakutan dan kekhawatiran yang ada di depan mereka yang mereka hadapi, ﴾ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka bersedih hati", atas apa yang telah berlalu karena masa lalu mereka hanyalah amal kebaikan. Jika mereka tidak takut dan tidak bersedih, maka yang ada untuk mereka adalah rasa aman, kebahagiaan yang melimpah yang hanya diketahui oleh Allah.
(63) Kemudian Allah menyebutkan sifat mereka, seraya Dia berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang beriman", kepada Allah, malaikatNya, kitabNya, RasulNya, Hari Akhir, takdir baik dan buruknya, mereka membuktikan amal mereka dengan mema-kai ketakwaan dengan menaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Semua orang Mukmin yang bertakwa, maka dia adalah wali Allah.
(64) ﴾ لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "Mereka mendapatkan be-rita gembira dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat." Adapun berita gembira di dunia maka ia adalah pujian yang baik, kecintaan di hati orang-orang Mukmin, mimpi yang baik dan apa yang dirasakan oleh seorang hamba dalam bentuk kasih sayang Allah kepadanya, kemudahanNya kepada amal dan akhlak yang terbaik dan penghindaranNya dari akhlak yang buruk. Sedangkan di akhirat maka yang pertama adalah berita gembira pada saat ar-wah mereka diambil sebagaimana Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ 30 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami ialah Allah', kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu'." (Fushshilat: 30). Dan di dalam kubur ada berita gembira untuknya berupa ridha Allah dan nikmat yang dirasakan, dan di akhirat ada berita gembira yang sempurna dengan masuk surga dan selamat dari azab neraka. ﴾ لَا تَبۡدِيلَ لِكَلِمَٰتِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah." Akan tetapi apa yang Allah janjikan maka itulah kebenaran yang tidak mungkin dirubah dan diganti karena Dia Mahabenar dalam FirmanNya yang tidak seorang pun mampu menyelisihiNya dalam takdir dan keputusanNya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." Karena ia mengan-dung keselamatan dari yang dikhawatirkan, kemenangan meraih apa yang diinginkan, keberuntungan dibatasi padanya karena tidak ada keberuntungan untuk selain ahli iman dan takwa. Alhasil bahwa berita gembira meliputi seluruh kebaikan dan pahala yang dikaitkan oleh Allah di dunia dan akhirat dengan iman dan takwa. Oleh karenanya, Dia menyebutkannya secara mutlak dan tidak membatasinya.
Yunus 10:65
"Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Yunus: 65).
(65) Maksudnya, ucapan orang-orang yang mendustakan-mu itu jangan membuatmu bersedih yaitu ucapan-ucapan yang mengandung penghinaan kepadamu dan kepada agamamu karena ucapan-ucapan mereka itu tidak membuat mereka mulia dan tidak membuatmu merugi. ﴾ إِنَّ ٱلۡعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًاۚ ﴿ "Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah." Dia berikan kepada orang yang Dia kehendaki dan tidak Dia berikan kepada orang yang Dia ke-hendaki, Firman Allah, ﴾ مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ جَمِيعًاۚ ﴿ "Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya." (Fathir: 10). Carilah ia dengan ketaatan kepadaNya dengan dalil Firman-Nya sesudahnya, ﴾ إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ ﴿ "KepadaNya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkannya." (Fathir: 10). Seperti yang telah diketahui bahwa kamu di atas ketaatan kepada Allah, dan bahwa kemuliaanmu dan pengikutmu adalah dari Allah. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang Mukmin." (Al-Munafiqun: 8). FirmanNya, ﴾ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Maksudnya, pendengarannya meliputi segala suara, tak sedikit pun darinya yang samar bagiNya, ilmuNya meli-puti yang lahir dan yang batin, tidak luput dariNya sebesar dzarrah pun, di langit dan di bumi, tidak lebih kecil darinya dan tidak lebih besar. Allah mendengar ucapanmu dan ucapan musuh-musuhmu tentangmu. Dia mengetahui itu secara terperinci. Cukuplah untuk-mu ilmu dan perlindungan Allah, dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Dia akan mencukupkannya.
Yunus 10:66
"Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang me-nyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyaki-nan). Tidaklah mereka mengikuti melainkan prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga. Dia-lah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Se-sungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekua-saan Allah) bagi orang-orang yang mendengar." (Yunus: 66-67).
(66) Allah mengabarkan bahwa Dia-lah pemilik segala yang ada di langit dan di bumi sebagai makhluk dan hambaNya. Dia bertindak pada mereka dengan hukum-hukum yang dikehendaki-Nya. Semuanya adalah di bawah kepemilikan Allah, mereka tunduk dan diatur (oleh Allah), tidak berhak disembah sedikit pun dan bu-kanlah sekutu-sekutu bagi Allah sedikit pun. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Tidaklah mereka mengikuti melainkan prasangka be-laka", yang tidak berguna sedikit pun untuk kebenaran. ﴾ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ ﴿ "Dan mereka hanyalah menduga-duga." Hal itu mengandung prasangka, dusta dan kepalsuan. Jika mereka benar bahwa yang mereka sembah itu adalah sekutu bagi Allah, maka hendaknya mereka menunjukkan sifat-sifatnya yang dengannya ia memang la-yak disembah, sedikit saja, dan mereka tidak akan mampu. Adakah di antara mereka yang mampu menciptakan sesuatu atau memberi rizki atau menguasai makhluk sedikit saja atau mengatur malam dan siang yang dijadikan oleh Allah sebagai tiang kehidupan ma-nusia?
(67) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ ﴿ "Dia-lah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya", maksudnya, pada tidur dan istirahat karena kegelapan yang menyelimuti wajah bumi, kalau siang itu berlangsung terus maka mereka tidak dapat istirahat dan tidak tenang. (وَ) "Dan" Allah menjadikan ﴾ ٱلنَّهَارَ مُبۡصِرًاۚ ﴿ "siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah)." Dengannya makhluk bisa melihat, maka mereka melakukan aktivitas hidup me-reka dan mewujudkan kepentingan agama dan dunia mereka.﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَسۡمَعُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar", dari Allah dengan pendengaran yang dilandasi oleh pemahaman, pene-rimaan dan keinginan mendapatkan petunjuk, bukan pendengaran untuk menentang dan melawan, karena pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengar, mereka berdalil dengannya berdasarkan bahwa hanya Allah-lah yang berhak untuk disembah, Dia-lah tuhan yang benar dan bahwa ketuhanan selain-Nya adalah batil dan bahwa Dia adalah Dzat yang Maha Pengasih, Penyayang, Mengetahui lagi Bijaksana.
Yunus 10:67
"Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang me-nyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyaki-nan). Tidaklah mereka mengikuti melainkan prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga. Dia-lah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Se-sungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekua-saan Allah) bagi orang-orang yang mendengar." (Yunus: 66-67).
(66) Allah mengabarkan bahwa Dia-lah pemilik segala yang ada di langit dan di bumi sebagai makhluk dan hambaNya. Dia bertindak pada mereka dengan hukum-hukum yang dikehendaki-Nya. Semuanya adalah di bawah kepemilikan Allah, mereka tunduk dan diatur (oleh Allah), tidak berhak disembah sedikit pun dan bu-kanlah sekutu-sekutu bagi Allah sedikit pun. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Tidaklah mereka mengikuti melainkan prasangka be-laka", yang tidak berguna sedikit pun untuk kebenaran. ﴾ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ ﴿ "Dan mereka hanyalah menduga-duga." Hal itu mengandung prasangka, dusta dan kepalsuan. Jika mereka benar bahwa yang mereka sembah itu adalah sekutu bagi Allah, maka hendaknya mereka menunjukkan sifat-sifatnya yang dengannya ia memang la-yak disembah, sedikit saja, dan mereka tidak akan mampu. Adakah di antara mereka yang mampu menciptakan sesuatu atau memberi rizki atau menguasai makhluk sedikit saja atau mengatur malam dan siang yang dijadikan oleh Allah sebagai tiang kehidupan ma-nusia?
(67) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ ﴿ "Dia-lah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya", maksudnya, pada tidur dan istirahat karena kegelapan yang menyelimuti wajah bumi, kalau siang itu berlangsung terus maka mereka tidak dapat istirahat dan tidak tenang. (وَ) "Dan" Allah menjadikan ﴾ ٱلنَّهَارَ مُبۡصِرًاۚ ﴿ "siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah)." Dengannya makhluk bisa melihat, maka mereka melakukan aktivitas hidup me-reka dan mewujudkan kepentingan agama dan dunia mereka.﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَسۡمَعُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar", dari Allah dengan pendengaran yang dilandasi oleh pemahaman, pene-rimaan dan keinginan mendapatkan petunjuk, bukan pendengaran untuk menentang dan melawan, karena pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengar, mereka berdalil dengannya berdasarkan bahwa hanya Allah-lah yang berhak untuk disembah, Dia-lah tuhan yang benar dan bahwa ketuhanan selain-Nya adalah batil dan bahwa Dia adalah Dzat yang Maha Pengasih, Penyayang, Mengetahui lagi Bijaksana.
Yunus 10:68
"Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Allah mempunyai anak.' Mahasuci Allah, Dia-lah Yang Mahakaya, kepu-nyaanNya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak-lah kamu mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu menga-takan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? Katakanlah, 'Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung.' (Bagi mereka) kesenangan (se-mentara) di dunia, kemudian kepada Kamilah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebab-kan kekafiran mereka." (Yunus: 68-70).@
(68) Allah berfirman mengabarkan kedustaan orang-orang musyrik kepada Allah Rabbul 'alamin. ﴾ قَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدٗاۗ ﴿ "Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Allah mempunyai anak'." Maka Allah menyucikan diriNya dengan ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥۖ ﴿ "Mahasuci Allah." Yakni dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim dengan menisbatkan kekurangan kepadaNya dan Mahatinggi Allah dari hal itu. Kemudian Allah menyodorkan beberapa bukti. Pertama: FirmanNya, ﴾ هُوَ ٱلۡغَنِيُّۖ ﴿ "Dia-lah Yang Mahakaya", yakni kekayaan terbatas padaNya, macam-macam kekayaan hanya ada padaNya, Dia-lah Yang Mahakaya dengan kekayaan yang sempurna dari segala segi dan pandangan, jika Dia Mahakaya dari segala segi maka untuk apa Dia memiliki anak? Apakah karena Dia membu-tuhkan kepada anak? Ini jelas bertentangan dengan kekayaanNya dan tidak ada seorang pun yang memiliki anak kecuali karena ada-nya kekurangan pada kekayaannya. Bukti kedua: FirmanNya, ﴾ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi." Ini adalah kalimat yang umum lagi menyeluruh tidak ada sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi yang keluar darinya, semuanya adalah makhluk lagi hamba yang dikuasai dan seperti yang sudah dimaklumi bahwa sifat umum ini bertentangan dengan kepemilikan anak dari mereka karena anak dari jenis orang tuanya, dia bukan makhluk bukan pula yang dimiliki, kepemilikan Allah terhadap apa yang ada di langit dan di bumi bertentangan dengan keperanakan. Bukti ketiga: ﴾ إِنۡ عِندَكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭ بِهَٰذَآۚ ﴿ "Tidaklah kamu mempunyai hujjah tentang ini." Yakni apakah kamu mempunyai bukti dan dalil bahwa Allah mempunyai anak? Seandainya mereka memiliki dalil niscaya mereka pasti menyodorkannya, maka ketika Allah menen-tang mereka dan mereka pun tidak mampu menegakkan dalil maka diketahuilah kebatilan apa yang mereka ucapkan dan bahwa hal itu adalah ucapan tanpa ilmu, oleh karena itu Dia berfirman,﴾ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" Ini adalah termasuk perkara yang besar.
(69-70) ﴾ قُلۡ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Se-sungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung'." Maksudnya, mereka tidak meraih keinginan mereka dan maksud mereka tidak terwujud. Mereka hanya menik-mati kekufuran dan kedustaan mereka sedikit di dunia kemudian mereka berpindah dan kembali kepada Allah maka Dia menimpa-kan kepada mereka, ﴾ ٱلۡعَذَابَ ٱلشَّدِيدَ بِمَا كَانُواْ يَكۡفُرُونَ ﴿ "siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka." Dan Allah tidak menzhalimi mereka, tetapi merekalah yang menzhalimi diri sendiri.
Yunus 10:69
"Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Allah mempunyai anak.' Mahasuci Allah, Dia-lah Yang Mahakaya, kepu-nyaanNya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak-lah kamu mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu menga-takan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? Katakanlah, 'Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung.' (Bagi mereka) kesenangan (se-mentara) di dunia, kemudian kepada Kamilah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebab-kan kekafiran mereka." (Yunus: 68-70).@
(68) Allah berfirman mengabarkan kedustaan orang-orang musyrik kepada Allah Rabbul 'alamin. ﴾ قَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدٗاۗ ﴿ "Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Allah mempunyai anak'." Maka Allah menyucikan diriNya dengan ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥۖ ﴿ "Mahasuci Allah." Yakni dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim dengan menisbatkan kekurangan kepadaNya dan Mahatinggi Allah dari hal itu. Kemudian Allah menyodorkan beberapa bukti. Pertama: FirmanNya, ﴾ هُوَ ٱلۡغَنِيُّۖ ﴿ "Dia-lah Yang Mahakaya", yakni kekayaan terbatas padaNya, macam-macam kekayaan hanya ada padaNya, Dia-lah Yang Mahakaya dengan kekayaan yang sempurna dari segala segi dan pandangan, jika Dia Mahakaya dari segala segi maka untuk apa Dia memiliki anak? Apakah karena Dia membu-tuhkan kepada anak? Ini jelas bertentangan dengan kekayaanNya dan tidak ada seorang pun yang memiliki anak kecuali karena ada-nya kekurangan pada kekayaannya. Bukti kedua: FirmanNya, ﴾ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi." Ini adalah kalimat yang umum lagi menyeluruh tidak ada sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi yang keluar darinya, semuanya adalah makhluk lagi hamba yang dikuasai dan seperti yang sudah dimaklumi bahwa sifat umum ini bertentangan dengan kepemilikan anak dari mereka karena anak dari jenis orang tuanya, dia bukan makhluk bukan pula yang dimiliki, kepemilikan Allah terhadap apa yang ada di langit dan di bumi bertentangan dengan keperanakan. Bukti ketiga: ﴾ إِنۡ عِندَكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭ بِهَٰذَآۚ ﴿ "Tidaklah kamu mempunyai hujjah tentang ini." Yakni apakah kamu mempunyai bukti dan dalil bahwa Allah mempunyai anak? Seandainya mereka memiliki dalil niscaya mereka pasti menyodorkannya, maka ketika Allah menen-tang mereka dan mereka pun tidak mampu menegakkan dalil maka diketahuilah kebatilan apa yang mereka ucapkan dan bahwa hal itu adalah ucapan tanpa ilmu, oleh karena itu Dia berfirman,﴾ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" Ini adalah termasuk perkara yang besar.
(69-70) ﴾ قُلۡ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Se-sungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung'." Maksudnya, mereka tidak meraih keinginan mereka dan maksud mereka tidak terwujud. Mereka hanya menik-mati kekufuran dan kedustaan mereka sedikit di dunia kemudian mereka berpindah dan kembali kepada Allah maka Dia menimpa-kan kepada mereka, ﴾ ٱلۡعَذَابَ ٱلشَّدِيدَ بِمَا كَانُواْ يَكۡفُرُونَ ﴿ "siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka." Dan Allah tidak menzhalimi mereka, tetapi merekalah yang menzhalimi diri sendiri.
Yunus 10:70
"Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Allah mempunyai anak.' Mahasuci Allah, Dia-lah Yang Mahakaya, kepu-nyaanNya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak-lah kamu mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu menga-takan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? Katakanlah, 'Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung.' (Bagi mereka) kesenangan (se-mentara) di dunia, kemudian kepada Kamilah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebab-kan kekafiran mereka." (Yunus: 68-70).@
(68) Allah berfirman mengabarkan kedustaan orang-orang musyrik kepada Allah Rabbul 'alamin. ﴾ قَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدٗاۗ ﴿ "Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Allah mempunyai anak'." Maka Allah menyucikan diriNya dengan ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥۖ ﴿ "Mahasuci Allah." Yakni dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim dengan menisbatkan kekurangan kepadaNya dan Mahatinggi Allah dari hal itu. Kemudian Allah menyodorkan beberapa bukti. Pertama: FirmanNya, ﴾ هُوَ ٱلۡغَنِيُّۖ ﴿ "Dia-lah Yang Mahakaya", yakni kekayaan terbatas padaNya, macam-macam kekayaan hanya ada padaNya, Dia-lah Yang Mahakaya dengan kekayaan yang sempurna dari segala segi dan pandangan, jika Dia Mahakaya dari segala segi maka untuk apa Dia memiliki anak? Apakah karena Dia membu-tuhkan kepada anak? Ini jelas bertentangan dengan kekayaanNya dan tidak ada seorang pun yang memiliki anak kecuali karena ada-nya kekurangan pada kekayaannya. Bukti kedua: FirmanNya, ﴾ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi." Ini adalah kalimat yang umum lagi menyeluruh tidak ada sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi yang keluar darinya, semuanya adalah makhluk lagi hamba yang dikuasai dan seperti yang sudah dimaklumi bahwa sifat umum ini bertentangan dengan kepemilikan anak dari mereka karena anak dari jenis orang tuanya, dia bukan makhluk bukan pula yang dimiliki, kepemilikan Allah terhadap apa yang ada di langit dan di bumi bertentangan dengan keperanakan. Bukti ketiga: ﴾ إِنۡ عِندَكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭ بِهَٰذَآۚ ﴿ "Tidaklah kamu mempunyai hujjah tentang ini." Yakni apakah kamu mempunyai bukti dan dalil bahwa Allah mempunyai anak? Seandainya mereka memiliki dalil niscaya mereka pasti menyodorkannya, maka ketika Allah menen-tang mereka dan mereka pun tidak mampu menegakkan dalil maka diketahuilah kebatilan apa yang mereka ucapkan dan bahwa hal itu adalah ucapan tanpa ilmu, oleh karena itu Dia berfirman,﴾ أَتَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" Ini adalah termasuk perkara yang besar.
(69-70) ﴾ قُلۡ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Se-sungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung'." Maksudnya, mereka tidak meraih keinginan mereka dan maksud mereka tidak terwujud. Mereka hanya menik-mati kekufuran dan kedustaan mereka sedikit di dunia kemudian mereka berpindah dan kembali kepada Allah maka Dia menimpa-kan kepada mereka, ﴾ ٱلۡعَذَابَ ٱلشَّدِيدَ بِمَا كَانُواْ يَكۡفُرُونَ ﴿ "siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka." Dan Allah tidak menzhalimi mereka, tetapi merekalah yang menzhalimi diri sendiri.
Yunus 10:71
"Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah kepu-tusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepadaNya).' Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami menye-lamatkannya dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu memegang kekuasaan, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang di-beri peringatan itu." (Yunus: 71-73).
(71) Allah berfirman kepada NabiNya, "Bacakanlah kepada kaummu, ﴾ نَبَأَ نُوحٍ ﴿ "berita penting tentang Nuh", tentang dakwahnya kepada kaumnya ketika dia mengajak kepada Allah dalam jangka waktu yang panjang, dia tinggal pada mereka selama 950 tahun, akan tetapi dakwahnya tidak menambahkan (keimanan) untuk me-reka melainkan pelampauan batas, mereka jenuh dan bosan darinya padahal Nuh bukanlah orang yang malas dan asal-asalan dalam berdakwah kepada mereka, dia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكُم مَّقَامِي وَتَذۡكِيرِي بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah." Maksudnya, jika keberadaanku dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah yang merupakan dalil yang jelas lagi terang itu tidak berguna bagimu, memberatkan dan menyusahkanmu lalu kamu ingin me-nimpakan keburukan kepadaku atau kamu ingin menolak kebenar-an, ﴾ فَعَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "maka kepada Allah-lah aku bertawakal." Maksud-nya, aku bersandar kepada Allah dalam melawan keburukan yang hendak ditimpakan kepadaku dan kepada dakwahku. Ini adalah tentara dan senjataku sementara kamu silakan saja menghadirkan sejumlah (kekuatan) dan senjata yang kamu kehendaki. ﴾ فَأَجۡمِعُوٓاْ أَمۡرَكُمۡ ﴿ "Karena itu bulatkanlah keputusanmu," semuanya, dan tak seorang pun yang tertinggal serta jangan simpan sedikit pun dayamu. ﴾ و َ ﴿ "Dan" hadirkanlah, ﴾ شُرَكَآءَكُمۡ ﴿ "sekutu-sekutumu (untuk membinasakan-ku)," yang mana kamu menyembah dan bersikap loyal kepada mereka, yaitu selain Allah Rabb semesta alam. ﴾ ثُمَّ لَا يَكُنۡ أَمۡرُكُمۡ عَلَيۡكُمۡ غُمَّةٗ ﴿ "Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan." Yakni samar dan rancu, akan tetapi hendaknya ia jelas lagi terang. ﴾ ثُمَّ ٱقۡضُوٓاْ إِلَيَّ ﴿ "Lalu lakukanlah terhadap diriku", dengan menimpakan hukuman dan kebu-rukan yang kamu mampu. ﴾ وَلَا تُنظِرُونِ ﴿ "Dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." Maksudnya, jangan menundaku walaupun sesaat. Ini adalah bukti yang pasti dan ayat yang agung atas kebena-ran risalah dan ajaran yang dibawanya di mana dia sendirian, tanpa keluarga yang melindunginya dan tidak ada tentara yang mem-belanya walaupun begitu Nuh berani secara terbuka menyatakan bodohnya pendapat mereka, rusaknya ajaran mereka, dan aibnya tuhan-tuhan mereka. Mereka menyimpan kebencian dan permu-suhan kepada Nuh lebih besar daripada gunung yang tegak menju-lang, dan mereka adalah kaum yang kuat lagi mampu, tetapi Nuh berkata kepada mereka, "Berkumpullah kamu dengan sekutu-se-kutumu serta siapa pun yang kamu mampu (meminta bantuannya), perlihatkanlah tipu daya apa saja yang kamu bisa, lalu timpakan itu kepadaku kalau kamu mampu melakukan hal itu, tapi kamu tidak akan bisa melakukan itu kepadaku." Maka terbuktilah bahwa Nuh benar, dan mereka adalah pendusta dalam apa yang mereka klaim.
(72) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ ﴿ "Jika kamu ber-paling (dari peringatanku)", dari apa yang aku serukan kepadamu, maka kamu tidak memiliki alasan dalam keberpalinganmu itu ka-rena terbukti bahwa kamu tidak berpaling dari kebatilan kepada kebenaran, akan tetapi kamu berpaling dari kebenaran di mana dalil-dalil telah membuktikan kebenarannya kepada kebatilan di mana dalil-dalil telah membuktikan kebatilannya, meskipun begitu ﴾ فَمَا سَأَلۡتُكُم مِّنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "aku tidak meminta upah sedikit pun darimu", atas dak-wahku dan jawabanmu, akibatnya kamu akan berkata, "Orang ini datang untuk mengambil harta kami." Akibatnya kamu menolakku karenanya. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka", maksudnya, aku tidak menginginkan pahala dan balasan kecuali dari Allah. Dan juga aku tidak memerintahkanmu lalu aku menyelisihinya, akan tetapi ﴾ وَأُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "aku disuruh su-paya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepadaNya)." Aku adalah orang pertama yang masuk dan melakukan apa yang aku perintahkan kepada kalian.
(73) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Lalu mereka mendustakan Nuh", setelah dia me-nyeru mereka siang dan malam, diam-diam dan terang-terangan, dan seruannya hanya menyebabkan mereka semakin menjauh. ﴾ فَنَجَّيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami menyelamatkannya dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera", yang Kami perintahkan kepada-nya agar dia membuatnya dengan mata (pengawasan) Kami, dan Kami katakan kepadanya, "Jika dapur pengapian telah mendidih maka angkutlah dari masing-masing jenis binatang satu pasang dan keluargamu (kecuali orang yang terkena ketetapan (takdir) terdahulu) serta orang-orang yang beriman," maka Nuh melaksa-nakannya lalu Allah menurunkan hujan deras, memancarkan mata air lalu air itu bertemu sesuai dengan perintah yang ditakdirkan, maka Kami membawanya di atas bahtera yang berjalan dengan mata (pengawasan) Kami. ﴾ وَجَعَلۡنَٰهُمۡ خَلَٰٓئِفَ ﴿ "Dan Kami jadikan mereka itu memegang kekua-saan", di bumi setelah orang-orang yang mendustakan dibinasakan kemudian Allah memberkahi anak cucunya dan menjadikan anak cucunya yang tersisa serta menebarkan mereka di muka bumi.﴾ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ ﴿ "Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami," setelah penjelasan itu dan penegakan bukti.﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Yakni kebinasaan yang menghinakan dan laknat yang terus menerus atas mereka pada setiap abad yang da-tang sesudah mereka. Kamu tidak mendengar pada mereka kecuali cercaan dan kamu tidak melihat kecuali celaan dan cibiran. Hen-daknya orang-orang yang mendustakan itu mewaspadai azab siksa dan kebinasaan yang bisa menimpa mereka, sebagaimana azab telah menimpa orang-orang yang mendustakan.
Yunus 10:72
"Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah kepu-tusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepadaNya).' Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami menye-lamatkannya dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu memegang kekuasaan, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang di-beri peringatan itu." (Yunus: 71-73).
(71) Allah berfirman kepada NabiNya, "Bacakanlah kepada kaummu, ﴾ نَبَأَ نُوحٍ ﴿ "berita penting tentang Nuh", tentang dakwahnya kepada kaumnya ketika dia mengajak kepada Allah dalam jangka waktu yang panjang, dia tinggal pada mereka selama 950 tahun, akan tetapi dakwahnya tidak menambahkan (keimanan) untuk me-reka melainkan pelampauan batas, mereka jenuh dan bosan darinya padahal Nuh bukanlah orang yang malas dan asal-asalan dalam berdakwah kepada mereka, dia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكُم مَّقَامِي وَتَذۡكِيرِي بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah." Maksudnya, jika keberadaanku dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah yang merupakan dalil yang jelas lagi terang itu tidak berguna bagimu, memberatkan dan menyusahkanmu lalu kamu ingin me-nimpakan keburukan kepadaku atau kamu ingin menolak kebenar-an, ﴾ فَعَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "maka kepada Allah-lah aku bertawakal." Maksud-nya, aku bersandar kepada Allah dalam melawan keburukan yang hendak ditimpakan kepadaku dan kepada dakwahku. Ini adalah tentara dan senjataku sementara kamu silakan saja menghadirkan sejumlah (kekuatan) dan senjata yang kamu kehendaki. ﴾ فَأَجۡمِعُوٓاْ أَمۡرَكُمۡ ﴿ "Karena itu bulatkanlah keputusanmu," semuanya, dan tak seorang pun yang tertinggal serta jangan simpan sedikit pun dayamu. ﴾ و َ ﴿ "Dan" hadirkanlah, ﴾ شُرَكَآءَكُمۡ ﴿ "sekutu-sekutumu (untuk membinasakan-ku)," yang mana kamu menyembah dan bersikap loyal kepada mereka, yaitu selain Allah Rabb semesta alam. ﴾ ثُمَّ لَا يَكُنۡ أَمۡرُكُمۡ عَلَيۡكُمۡ غُمَّةٗ ﴿ "Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan." Yakni samar dan rancu, akan tetapi hendaknya ia jelas lagi terang. ﴾ ثُمَّ ٱقۡضُوٓاْ إِلَيَّ ﴿ "Lalu lakukanlah terhadap diriku", dengan menimpakan hukuman dan kebu-rukan yang kamu mampu. ﴾ وَلَا تُنظِرُونِ ﴿ "Dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." Maksudnya, jangan menundaku walaupun sesaat. Ini adalah bukti yang pasti dan ayat yang agung atas kebena-ran risalah dan ajaran yang dibawanya di mana dia sendirian, tanpa keluarga yang melindunginya dan tidak ada tentara yang mem-belanya walaupun begitu Nuh berani secara terbuka menyatakan bodohnya pendapat mereka, rusaknya ajaran mereka, dan aibnya tuhan-tuhan mereka. Mereka menyimpan kebencian dan permu-suhan kepada Nuh lebih besar daripada gunung yang tegak menju-lang, dan mereka adalah kaum yang kuat lagi mampu, tetapi Nuh berkata kepada mereka, "Berkumpullah kamu dengan sekutu-se-kutumu serta siapa pun yang kamu mampu (meminta bantuannya), perlihatkanlah tipu daya apa saja yang kamu bisa, lalu timpakan itu kepadaku kalau kamu mampu melakukan hal itu, tapi kamu tidak akan bisa melakukan itu kepadaku." Maka terbuktilah bahwa Nuh benar, dan mereka adalah pendusta dalam apa yang mereka klaim.
(72) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ ﴿ "Jika kamu ber-paling (dari peringatanku)", dari apa yang aku serukan kepadamu, maka kamu tidak memiliki alasan dalam keberpalinganmu itu ka-rena terbukti bahwa kamu tidak berpaling dari kebatilan kepada kebenaran, akan tetapi kamu berpaling dari kebenaran di mana dalil-dalil telah membuktikan kebenarannya kepada kebatilan di mana dalil-dalil telah membuktikan kebatilannya, meskipun begitu ﴾ فَمَا سَأَلۡتُكُم مِّنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "aku tidak meminta upah sedikit pun darimu", atas dak-wahku dan jawabanmu, akibatnya kamu akan berkata, "Orang ini datang untuk mengambil harta kami." Akibatnya kamu menolakku karenanya. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka", maksudnya, aku tidak menginginkan pahala dan balasan kecuali dari Allah. Dan juga aku tidak memerintahkanmu lalu aku menyelisihinya, akan tetapi ﴾ وَأُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "aku disuruh su-paya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepadaNya)." Aku adalah orang pertama yang masuk dan melakukan apa yang aku perintahkan kepada kalian.
(73) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Lalu mereka mendustakan Nuh", setelah dia me-nyeru mereka siang dan malam, diam-diam dan terang-terangan, dan seruannya hanya menyebabkan mereka semakin menjauh. ﴾ فَنَجَّيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami menyelamatkannya dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera", yang Kami perintahkan kepada-nya agar dia membuatnya dengan mata (pengawasan) Kami, dan Kami katakan kepadanya, "Jika dapur pengapian telah mendidih maka angkutlah dari masing-masing jenis binatang satu pasang dan keluargamu (kecuali orang yang terkena ketetapan (takdir) terdahulu) serta orang-orang yang beriman," maka Nuh melaksa-nakannya lalu Allah menurunkan hujan deras, memancarkan mata air lalu air itu bertemu sesuai dengan perintah yang ditakdirkan, maka Kami membawanya di atas bahtera yang berjalan dengan mata (pengawasan) Kami. ﴾ وَجَعَلۡنَٰهُمۡ خَلَٰٓئِفَ ﴿ "Dan Kami jadikan mereka itu memegang kekua-saan", di bumi setelah orang-orang yang mendustakan dibinasakan kemudian Allah memberkahi anak cucunya dan menjadikan anak cucunya yang tersisa serta menebarkan mereka di muka bumi.﴾ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ ﴿ "Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami," setelah penjelasan itu dan penegakan bukti.﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Yakni kebinasaan yang menghinakan dan laknat yang terus menerus atas mereka pada setiap abad yang da-tang sesudah mereka. Kamu tidak mendengar pada mereka kecuali cercaan dan kamu tidak melihat kecuali celaan dan cibiran. Hen-daknya orang-orang yang mendustakan itu mewaspadai azab siksa dan kebinasaan yang bisa menimpa mereka, sebagaimana azab telah menimpa orang-orang yang mendustakan.
Yunus 10:73
"Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah kepu-tusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepadaNya).' Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami menye-lamatkannya dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu memegang kekuasaan, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang di-beri peringatan itu." (Yunus: 71-73).
(71) Allah berfirman kepada NabiNya, "Bacakanlah kepada kaummu, ﴾ نَبَأَ نُوحٍ ﴿ "berita penting tentang Nuh", tentang dakwahnya kepada kaumnya ketika dia mengajak kepada Allah dalam jangka waktu yang panjang, dia tinggal pada mereka selama 950 tahun, akan tetapi dakwahnya tidak menambahkan (keimanan) untuk me-reka melainkan pelampauan batas, mereka jenuh dan bosan darinya padahal Nuh bukanlah orang yang malas dan asal-asalan dalam berdakwah kepada mereka, dia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكُم مَّقَامِي وَتَذۡكِيرِي بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah." Maksudnya, jika keberadaanku dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah yang merupakan dalil yang jelas lagi terang itu tidak berguna bagimu, memberatkan dan menyusahkanmu lalu kamu ingin me-nimpakan keburukan kepadaku atau kamu ingin menolak kebenar-an, ﴾ فَعَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "maka kepada Allah-lah aku bertawakal." Maksud-nya, aku bersandar kepada Allah dalam melawan keburukan yang hendak ditimpakan kepadaku dan kepada dakwahku. Ini adalah tentara dan senjataku sementara kamu silakan saja menghadirkan sejumlah (kekuatan) dan senjata yang kamu kehendaki. ﴾ فَأَجۡمِعُوٓاْ أَمۡرَكُمۡ ﴿ "Karena itu bulatkanlah keputusanmu," semuanya, dan tak seorang pun yang tertinggal serta jangan simpan sedikit pun dayamu. ﴾ و َ ﴿ "Dan" hadirkanlah, ﴾ شُرَكَآءَكُمۡ ﴿ "sekutu-sekutumu (untuk membinasakan-ku)," yang mana kamu menyembah dan bersikap loyal kepada mereka, yaitu selain Allah Rabb semesta alam. ﴾ ثُمَّ لَا يَكُنۡ أَمۡرُكُمۡ عَلَيۡكُمۡ غُمَّةٗ ﴿ "Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan." Yakni samar dan rancu, akan tetapi hendaknya ia jelas lagi terang. ﴾ ثُمَّ ٱقۡضُوٓاْ إِلَيَّ ﴿ "Lalu lakukanlah terhadap diriku", dengan menimpakan hukuman dan kebu-rukan yang kamu mampu. ﴾ وَلَا تُنظِرُونِ ﴿ "Dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." Maksudnya, jangan menundaku walaupun sesaat. Ini adalah bukti yang pasti dan ayat yang agung atas kebena-ran risalah dan ajaran yang dibawanya di mana dia sendirian, tanpa keluarga yang melindunginya dan tidak ada tentara yang mem-belanya walaupun begitu Nuh berani secara terbuka menyatakan bodohnya pendapat mereka, rusaknya ajaran mereka, dan aibnya tuhan-tuhan mereka. Mereka menyimpan kebencian dan permu-suhan kepada Nuh lebih besar daripada gunung yang tegak menju-lang, dan mereka adalah kaum yang kuat lagi mampu, tetapi Nuh berkata kepada mereka, "Berkumpullah kamu dengan sekutu-se-kutumu serta siapa pun yang kamu mampu (meminta bantuannya), perlihatkanlah tipu daya apa saja yang kamu bisa, lalu timpakan itu kepadaku kalau kamu mampu melakukan hal itu, tapi kamu tidak akan bisa melakukan itu kepadaku." Maka terbuktilah bahwa Nuh benar, dan mereka adalah pendusta dalam apa yang mereka klaim.
(72) Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ ﴿ "Jika kamu ber-paling (dari peringatanku)", dari apa yang aku serukan kepadamu, maka kamu tidak memiliki alasan dalam keberpalinganmu itu ka-rena terbukti bahwa kamu tidak berpaling dari kebatilan kepada kebenaran, akan tetapi kamu berpaling dari kebenaran di mana dalil-dalil telah membuktikan kebenarannya kepada kebatilan di mana dalil-dalil telah membuktikan kebatilannya, meskipun begitu ﴾ فَمَا سَأَلۡتُكُم مِّنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "aku tidak meminta upah sedikit pun darimu", atas dak-wahku dan jawabanmu, akibatnya kamu akan berkata, "Orang ini datang untuk mengambil harta kami." Akibatnya kamu menolakku karenanya. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka", maksudnya, aku tidak menginginkan pahala dan balasan kecuali dari Allah. Dan juga aku tidak memerintahkanmu lalu aku menyelisihinya, akan tetapi ﴾ وَأُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "aku disuruh su-paya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepadaNya)." Aku adalah orang pertama yang masuk dan melakukan apa yang aku perintahkan kepada kalian.
(73) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Lalu mereka mendustakan Nuh", setelah dia me-nyeru mereka siang dan malam, diam-diam dan terang-terangan, dan seruannya hanya menyebabkan mereka semakin menjauh. ﴾ فَنَجَّيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami menyelamatkannya dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera", yang Kami perintahkan kepada-nya agar dia membuatnya dengan mata (pengawasan) Kami, dan Kami katakan kepadanya, "Jika dapur pengapian telah mendidih maka angkutlah dari masing-masing jenis binatang satu pasang dan keluargamu (kecuali orang yang terkena ketetapan (takdir) terdahulu) serta orang-orang yang beriman," maka Nuh melaksa-nakannya lalu Allah menurunkan hujan deras, memancarkan mata air lalu air itu bertemu sesuai dengan perintah yang ditakdirkan, maka Kami membawanya di atas bahtera yang berjalan dengan mata (pengawasan) Kami. ﴾ وَجَعَلۡنَٰهُمۡ خَلَٰٓئِفَ ﴿ "Dan Kami jadikan mereka itu memegang kekua-saan", di bumi setelah orang-orang yang mendustakan dibinasakan kemudian Allah memberkahi anak cucunya dan menjadikan anak cucunya yang tersisa serta menebarkan mereka di muka bumi.﴾ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَاۖ ﴿ "Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami," setelah penjelasan itu dan penegakan bukti.﴾ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ ﴿ "Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." Yakni kebinasaan yang menghinakan dan laknat yang terus menerus atas mereka pada setiap abad yang da-tang sesudah mereka. Kamu tidak mendengar pada mereka kecuali cercaan dan kamu tidak melihat kecuali celaan dan cibiran. Hen-daknya orang-orang yang mendustakan itu mewaspadai azab siksa dan kebinasaan yang bisa menimpa mereka, sebagaimana azab telah menimpa orang-orang yang mendustakan.
Yunus 10:74
"Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang ke-pada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas." (Yunus: 74).
(74) Maksudnya, kemudian Kami mengutus sesudah Nuh عليه السلام ﴾ رُسُلًا إِلَىٰ قَوۡمِهِمۡ ﴿ "beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing)", yang mendustakan (ajaran Nuh), kemudian rasul-rasul itu menyeru kepada hidayah dan memperingatkan sebab-sebab kebinasaan.﴾ فَجَآءُوهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata." Maksudnya semua Nabi meno-pang dakwahnya dengan ayat-ayat yang menunjukkan kebenaran sesuatu yang didakwahkannya, ﴾ فَمَا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُواْ بِمَا كَذَّبُواْ بِهِۦ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "tetapi mereka tidak hendak beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakan-nya." Maksudnya, bahwa Allah menghukum mereka di mana mereka didatangi oleh seorang rasul tetapi mereka segera menyambutnya dengan pendustaan, Allah mengunci hati mereka dan menghalangi keimanan setelah sebelumnya mereka masih mungkin mendapat-kannya, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permulaannya." (Al-An'am: 110). Oleh karena itu, Allah berfirman di sini ﴾ كَذَٰلِكَ نَطۡبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِ ٱلۡمُعۡتَدِينَ ﴿ "Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas." Maksudnya, Kami menutupnya dengan rapat sehingga tidak ada kebaikan yang sampai kepadanya. Allah tidak menzhalimi me-reka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka dengan menolak dan mendustakan kebenaran yang datang kepada mereka pertama kali.
Yunus 10:75
"Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (mem-bawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka me-nyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata.' Musa berkata, 'Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu, sihirkah ini? Padahal ahli-ahli sihir itu tidak-lah mendapat kemenangan.' Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan memper-cayai kamu berdua.' Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), 'Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!' Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." (Yunus: 75-80) "Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata kepada me-reka, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya.' Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya). Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-we-nang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. Musa berkata, 'Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepadaNya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.' Lalu mereka berkata, 'Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Rabb kami, janganlah Eng-kau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim'." (Yunus: 81-85) "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, 'Kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat serta gembira-kanlah orang-orang yang beriman.' Musa berkata, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu. Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui'." (Yunus: 86-89) "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya ter-masuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).' Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang ber-buat kerusakan? Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang da-tang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia le-ngah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka per-selisihkan itu." (Yunus: 90-93)
(75) Maksudnya, kemudian Kami mengutus (setelah para rasul yang Allah utus kepada kaum yang mendustakan yang di-binasakan) ﴾ مُّوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, Rasul yang berbicara kepada Allah (Kalimurrahman), salah seorang rasul Ulul Azmi, salah seorang Rasul besar yang diteladani oleh mereka yang mana syariat yang agung lagi luas diturunkan kepadanya, dan Kami menjadikan Harun saudaranya sebagai pendukungnya. Kami mengutus keduanya, ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya." Yakni para pemimpin dan pembesar kaumnya, karena mayoritas mereka mengikuti para pemimpin ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami", yang menunjukkan ajaran yang dibawa-nya yaitu tauhid dan larangan menyembah selainNya. ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Maka mereka menyombongkan diri", darinya sebagai bentuk kezha-liman dan tinggi hati setelah meyakininya. ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa." Allah telah memvonis me-reka sebagai orang-orang yang (bergelimang) dosa dan mendusta-kan (ajaran Nuh).
(76) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُمُ ٱلۡحَقُّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Dan tatkala telah datang kepada me-reka kebenaran dari sisi Kami", yang merupakan kebenaran terbesar dan teragung. Ia dari sisi Allah yang mana seluruh leher tunduk kepada keagunganNya. Dia adalah Rabb semesta alam yang men-didik makhlukNya dengan nikmat-nikmatNya. Tatkala kebenaran dari Allah datang kepada mereka melalui Musa, maka mereka me-nolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّ هَٰذَا لَسِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata'." Mereka merasa tidak cukup –semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka– dengan berpaling dan menolak lebih dari itu, mereka menjadikan-nya sebagai kebatilan yang paling batil yaitu sihir yang hakikat sebenarnya adalah bualan, bahkan mereka menjadikannya sebagai sihir yang jelas lagi nyata padahal sebenarnya ia adalah kebenaran yang nyata.
(77) Oleh karena itu, ﴾ قَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Musa berkata", kepada me-reka sebagai bentuk pencelaan atas penolakan terhadap kebenaran yang tidak ditolak kecuali oleh orang yang paling zhalim.﴾ أَتَقُولُونَ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu." Maksudnya, apakah kamu berkata bahwa ia adalah sihir yang nyata, ﴾ أَسِحۡرٌ هَٰذَا ﴿ "sihirkah ini?" Maksudnya, lihatlah sifatnya dan apa yang dikandungnya maka hanya dengan itu bisa dipastikan bahwa ia adalah kebenaran, ﴾ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّٰحِرُونَ ﴿ "padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan." Tidak di dunia dan tidak di akhirat. Lihatlah siapakah yang meraih akibat yang baik, siapa yang ber-untung, siapa yang berhasil, setelah itu mereka mengetahui dan setiap orang melihat bahwa Musalah yang menang dan beruntung dengan keberuntungan dunia dan akhirat.
(78) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa, sebagai bentuk penolakan ucapannya dengan apa yang mana dia tidak mampu untuk menolaknya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتَلۡفِتَنَا عَمَّا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَا ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya." Maksudnya, apakah kamu datang kepada kami untuk menghalangi kami dari syirik dan ibadah kepada selain Allah yang kami dapati turun temurun dari nenek moyang kami dan memerintahkan kami agar menyembah Allah semata tanpa sekutu bagiNya. Mereka menjadikan ucapan nenek moyang mereka yang sesat sebagai hujjah yang dengannya mereka menolak kebenaran yang dibawa oleh Musa عليه السلام. Dan FirmanNya, ﴾ وَتَكُونَ لَكُمَا ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan supaya kamu ber-dua mempunyai kekuasaan di muka bumi?" Maksudnya, kamu datang kepada kami agar kamu menjadi pemimpin dan mengusir kami dari tanah air kami? Ini adalah tipuan dari mereka, promosi terhadap kebodohan mereka dan provokasi kepada orang awam agar me-musuhi Musa dan tidak beriman kepadanya. Ini tidak dijadikan sebagai hujjah oleh orang yang mengetahui hakikat dan mampu membedakan perkara-perkara, karena hujjah tidak ditolak kecuali dengan hujjah dan bukti. Adapun orang yang hadir membawa kebenaran lalu kebena-rannya ditolak dengan ucapan yang seperti ini maka itu menunjuk-kan kelemahan orang yang menghadirkannya untuk mendatangkan argumen yang bisa menolak pendapat lawan dialognya, karena seandainya dia mempunyai hujjah, niscaya dia menurunkannya dan tidak mengucapkan, "Tujuanmu adalah begini-begini, atau targetmu adalah ini dan ini." Sama saja dia jujur atau dusta dalam ucapannya dan pemberitaannya tentang maksud lawannya, padahal setiap orang yang mengetahui keadaan Musa dan ajaran yang didakwah-kannya, niscaya dia akan mengetahui bahwa dia sama sekali tidak memiliki tujuan berkuasa di muka bumi, tujuan Musa sama dengan tujuan para rasul yang lain: memberi petunjuk dan membimbing manusia kepada apa yang bermanfaat bagi mereka. Akan tetapi perkara sebenarnya adalah apa yang mereka ungkapkan sendiri dengan ucapannya, ﴾ وَمَا نَحۡنُ لَكُمَا بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kami tidak akan mempercayai kamu berdua." Sebagai bentuk pengingkaran dan kesombongan bu-kan karena kebatilan apa yang dibawa oleh Musa dan Harun, tidak pula karena kerancuan padanya dan tidak pula karena makna-makna lainnya kecuali karena kezhaliman, permusuhan dan kekuasaan yang mereka tuduhkan kepada Musa dan Harun.
(79) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya)", sebagai bentuk penentangan kepada kebenaran yang dibawa oleh Musa dan menunjukkan kekuatannya di depan kaum dan pengi-kutnya, ﴾ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٖ ﴿ "Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai." Yakni ahli dan mumpuni dalam urusan sihir, maka Fir'aun meminta agar para penyihir yang mahir dalam berbagai jenis dan bentuknya dihadirkan dari seluruh penjuru Mesir.
(80) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang", untuk bertarung melawan Musa, ﴾ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ ﴿ "Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." Yakni apa pun yang kamu inginkan tanpa harus aku tentukan, hal itu karena Musa yakin dapat mengalahkan mereka, tak peduli mereka dan apa yang mereka hadirkan. @
(81) ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka lemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka, maka seolah-olah ia adalah ular yang merayap. ﴾ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ ﴿ "Musa berkata, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir'." Ini adalah sihir yang besar, walau-pun ia besar, akan tetapi ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "sesung-guhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan." Karena mereka menginginkan (dengan hal tersebut) untuk mendukung kebatilan di atas kebenaran, adakah kerusakan yang lebih besar daripada ini? Begitulah setiap perusak melakukan sesuatu lalu dia membuat tipu daya dan makar, per-buatannya pasti batal dan terkikis, meskipun dalam waktu tertentu apa yang dilakukannya cukup laris, akan tetapi ujung-ujungnya adalah habis dan lenyap. Adapun orang-orang yang memperbaiki diri yang mana tujuan dari perbuatan mereka adalah Wajah Allah dan ia adalah perbuatan-perbuatan dan sarana-sarana yang berguna yang diperintahkan, maka Allah memperbaiki perbuatan mereka, menjunjungnya dan menumbuhkannya selalu.
(82) Musa melempar tongkatnya, ia pun melahap semua apa yang mereka bikin lalu batallah sihir mereka, lenyaplah kebatilan mereka. ﴾ وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya)." Maka ahli sihir itu tunduk kepada Musa ketika jelas bagi mereka kebenaran, Fir'aun mengancam mereka akan menyalib dan memotong tangan dan kaki mereka, tetapi mereka tidak gentar dan tetap teguh beriman.
(83) Adapun Fir'aun dengan kaum dan pembesarnya serta pengikut mereka maka tidak seorang pun dari mereka yang ber-iman bahkan mereka terus terlelap di dalam kesesatan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَمَآ ءَامَنَ لِمُوسَىٰٓ إِلَّا ذُرِّيَّةٞ مِّن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa)." Yakni anak-anak muda Bani Israil yang sabar dalam meng-hadapi rasa takut karena iman yang bercokol di dalam hatinya ﴾ عَلَىٰ خَوۡفٖ مِّن فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِمۡ أَن يَفۡتِنَهُمۡۚ ﴿ "dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pe-muka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka", karena agama mereka. ﴾ وَإِنَّ فِرۡعَوۡنَ لَعَالٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat semena-mena di muka bumi", maksudnya dia mempunyai kekuasaan dan kekuatan maka pantas mereka takut terhadap ancamannya, lebih-lebih karena dia ﴾ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang melampaui batas." Mak-sudnya, dia termasuk orang-orang yang melamapui batas dalam urusan melanggar dan menganiaya. Hikmah –wallahu a'lam– dari berimannya anak-anak muda dari Bani Israil kepada Musa adalah karena anak-anak muda lebih bisa menerima dan menaati kebenar-an, lain halnya dengan orang-orang tua yang hidup di atas kekufur-an, mereka lebih jauh dari kebenaran disebabkan karena keyakinan yang rusak yang ada di dalam hati mereka.
(84) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa berkata", dalam keadaan mewasiatkan kaumnya supaya bersabar, mengingatkan mereka dengan apa me-reka meminta pertolongan dalam hal itu, dia berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah," maka lakukanlah konsekuensi iman, ﴾ تَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِينَ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya saja jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." Maksudnya, berpe-ganglah kepadaNya, kembalilah kepadaNya dan mohonlah perto-longan kepadaNya.
(85) ﴾ فَقَالُواْ ﴿ "Lalu mereka berkata", sebagai bentuk ketaatan dalam hal ini, ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَا رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Kepada Allah-lah kami bertawakal ! Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim." Maksudnya, janganlah Engkau men-jadikan mereka berkuasa atas kami yang akibatnya mereka akan menyiksa dan mengalahkan kami. Maka Bani Israil pun terfitnah oleh hal itu, dan mereka berkata, "Kalau mereka berpegang teguh pada kebenaran, niscaya mereka tidak dikalahkan."
(86) ﴾ وَنَجِّنَا بِرَحۡمَتِكَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir." Agar kami selamat dari kejahatan mereka dan agar kami berdiri tegak di atas agama kami dengan baik sehingga kami mampu menegakkan dan menam-pakkan syariat tanpa penentang dan pelawan.
(87) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya", ketika keadaan pada kaumnya semakin sulit akibat ulah Fir'aun dan kaumnya, dan mereka berusaha memfitnah me-reka dari agama mereka, ﴾ أَن تَبَوَّءَا لِقَوۡمِكُمَا بِمِصۡرَ بُيُوتٗا ﴿ "kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu." Maksudnya, perintahkan mereka agar mendirikan rumah yang bisa mereka pakai untuk bersembunyi di dalamnya. ﴾ وَٱجۡعَلُواْ بُيُوتَكُمۡ قِبۡلَةٗ ﴿ "Dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat." Maksudnya, ja-dikan rumahmu tempat untuk shalat di mana kamu tidak mampu melakukannya di tempat-tempat ibadah umum. ﴾ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَۗ ﴿ "Dan dirikanlah shalat," karena ia adalah penolong dalam segala urusan. ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "Serta gembirakanlah orang-orang yang beriman," dengan kemenangan, dukungan dan unggulnya agama mereka, karena akan selalu ada kemudahan di balik kesulitan-kesulitan, sesung-guhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, ketika keadaannya semakin sulit dan susah maka Allah akan menghilangkan dan me-mudahkannya.
(88) Tatkala Musa melihat Fir'aun dan kaumnya semakin keras dan menentang, maka dia mendoakan kejelekan atas mereka dan Harun mengamini doanya, dia berkata,﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَأَهُۥ زِينَةٗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan", yang mereka pakai dari ber-bagai jenis perhiasan, pakaian, istana-istana yang indah, kendaraan yang mewah dan pelayan-pelayan. ﴾ وَأَمۡوَٰلٗا ﴿ "dan harta", yang ba-nyak, ﴾ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَۖ ﴿ "dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu." Mereka tidak memakai harta mereka kecuali untuk menyesatkan orang-orang dari jalanMu, maka mereka sesat dan menyesatkan. ﴾ رَبَّنَا ٱطۡمِسۡ عَلَىٰٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ ﴿ "Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka", maksudnya lenyapkanlah harta mereka dengan cara diludeskan atau ia dijadi-kan batu yang tidak berguna. ﴾ وَٱشۡدُدۡ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Dan kunci matilah hati mereka." Yakni jadikanlah ia keras. ﴾ فَلَا يُؤۡمِنُواْ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih." Musa mengatakan ini karena marah kepada mereka di mana mereka berani melanggar hal-hal yang diharamkan Allah, merusak hamba-hamba Allah dan menghalang-halangi dari jalanNya, karena Musa tahu betul bahwa Allah akan menghukum mereka atas perbuatan mereka dengan menutup pintu iman atas mereka.
(89) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا ﴿ 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua." Ini adalah dalil bahwa Musa berdoa sedangkan Harun mengamini doanya, dan bahwa orang yang mengamini doa adalah rekan orang yang berdoa dalam doa itu, ﴾ فَٱسۡتَقِيمَا ﴿ "sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus", di atas agama kamu berdua dan teruslah berdakwah. ﴾ وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui." Maksudnya, jangan mengikuti orang-orang bodoh yang sesat yang menyimpang dari jalan yang lurus yang mengikuti jalan Neraka Jahim.
(90) Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil pergi di waktu malam. Allah mengabarkan bahwa mereka akan mengikutinya. Fir'aun membuat pengumuman di seluruh penjuru negeri bahwa mereka itu –Musa dan kaumnya– hanyalah segelintir orang pinggiran. Mereka marah kepada kami dan kita mewaspadai mereka. Fir'aun mengumpulkan bala tentaranya dari atasan sampai bawahan. Dia dengan bala tentaranya mengejar Bani Israil dengan kesombongan dan permusuhan, mereka hendak menangkap Musa dan membuat kerusakan di bumi. Jika kekejian telah memuncak dan dosa telah menguat maka tunggulah azab dari Allah. ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut." Hal itu karena Allah mewahyukan kepada Musa tatkala dia sampai di laut agar memukul laut dengan tongkatnya. Musa memukulnya, maka terbelahlah dua belas jalan, Bani Israil melaluinya, Fir'aun te-rus menguntit dengan bala tentaranya di belakangnya. Ketika Musa dan kaumnya telah sampai di daratan ujung sedangkan Fir'aun dengan bala tentaranya masih di tengah laut, maka Allah memerin-tahkan kepada laut untuk menelan Fir'aun dan bala tentaranya, maka ia pun memakan Fir'aun dan bala tentaranya. Mereka teng-gelam dengan dilihat oleh Bani Israil. Manakala Fir'aun tenggelam dan dia yakin akan mati, ﴾ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan (Rabb) yang diperca-yai oleh Bani Israil'." Yaitu Allah Rabb Yang Mahabenar, yang tiada Rabb melainkan Dia, ﴾ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." Yakni tunduk kepada agama Allah dan ajaran yang dibawa Musa.
(91) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa iman dalam kondisi seperti ini tidaklah berguna baginya. ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Apakah sekarang (baru kamu percaya)", beriman dan mengakui Rasul Allah,﴾ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ ﴿ "padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu." Maksud-nya, kamu terang-terangan bermaksiat, mengingkari dan mendus-takan, ﴾ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" Iman tidak berguna bagimu sebagaimana Sunnatullah yang berlaku bahwa jika orang kafir telah sampai kepada keadaan darurat ini, maka imannya tidak berguna baginya karena imannya adalah iman kepada sesuatu yang terlihat sebagaimana iman orang pada saat Kiamat tiba. Iman yang berguna itu adalah iman kepada yang ghaib.
(92) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةٗۚ ﴿ "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu." Ahli tafsir menyatakan bahwa Bani Israil ketika di dalam hatinya terdapat ketakutan yang sangat ter-hadap Fir'aun, maka mereka sepertinya tidak percaya kalau Fir'aun telah tenggelam, mereka meragukan itu. Maka Allah memerintah-kan laut agar melemparkan Fir'aun ke atas agar ia menjadi tanda dan pelajaran bagi mereka. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ ﴿ "Dan sesung-guhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." Oleh karena itu, tanda-tanda tersebut lewat berulang-ulang tetapi mereka tidak mengambil manfaat darinya karena mereka tidak memperhatikannya. Adapun orang dengan akal dan hati yang hadir[2] maka dia dapat melihat ayat-ayat Allah sebagai dalil terbesar atas kebenaran sesuatu yang diberitakan oleh para rasul.
(93) ﴾ وَلَقَدۡ بَوَّأۡنَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ مُبَوَّأَ صِدۡقٖ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus." Maksudnya, Allah menempatkan mereka di kediaman keluarga Fir'aun dan menjadikan Bani Israil sebagai pewaris negeri dan tempat tinggal mereka. ﴾ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ﴿ "Dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik", berupa makanan, minuman dan lain-lain, ﴾ فَمَا ٱخۡتَلَفُواْ ﴿ "maka mereka tidak berselisih", tentang kebenaran, ﴾ حَتَّىٰ جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُۚ ﴿ "kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat)." Yang membuat mereka bersatu dan bersepakat, akan tetapi seba-gian berbuat aniaya kepada sebagian yang lain, banyak dari mereka mempunyai ambisi dan tendensi yang menyelisihi kebenaran, maka terjadilah banyak perselisihan di kalangan mereka.﴾ إِنَّ رَبَّكَ يَقۡضِي بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka perselisihkan itu", dengan keputusanNya yang adil yang dilandasi ilmuNya yang sem-purna dan kodratNya yang menyeluruh. Inilah penyakit yang menimpa pengikut agama yang benar yaitu ketika setan telah berputus asa untuk mereka taati secara ke-seluruhan maka dia berusaha memprovokasi dan memicu sikap kebencian dan permusuhan di antara mereka, maka terjadilah per-selisihan yang merupakan akibat dari itu. Selanjutnya sebagian me-nyatakan sebagian yang lain sesat, sebagian memusuhi sebagian yang lain, dan hal itu membuat setan yang terlaknat berbahagia, karena jika tidak (berselisih maka dia akan berduka), lalu apabila Rabb mereka adalah satu, Rasul mereka adalah satu, agama mereka adalah satu dan kepentingan umum mereka adalah satu, maka atas dasar apa mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang memecah kesatuan mereka, memporak-porandakan barisan mereka, mem-bongkar ikatan dan tatanan mereka. Akibatnya adalah terbengka-lainya kemaslahatan mereka baik diniyah maupun duniawiyah dan matinya sebagian dari agama mereka? Kami memohon kepada-Mu ya Allah kasih sayang kepada hamba-hambaMu yang beriman, agar Engkau menyatukan barisan mereka, memperbaiki celah me-reka dan mengembalikan yang jauh kepada yang dekat dari mereka wahai pemilik kemuliaan dan kebesaran.
Yunus 10:76
"Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (mem-bawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka me-nyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata.' Musa berkata, 'Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu, sihirkah ini? Padahal ahli-ahli sihir itu tidak-lah mendapat kemenangan.' Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan memper-cayai kamu berdua.' Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), 'Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!' Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." (Yunus: 75-80) "Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata kepada me-reka, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya.' Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya). Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-we-nang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. Musa berkata, 'Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepadaNya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.' Lalu mereka berkata, 'Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Rabb kami, janganlah Eng-kau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim'." (Yunus: 81-85) "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, 'Kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat serta gembira-kanlah orang-orang yang beriman.' Musa berkata, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu. Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui'." (Yunus: 86-89) "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya ter-masuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).' Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang ber-buat kerusakan? Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang da-tang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia le-ngah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka per-selisihkan itu." (Yunus: 90-93)
(75) Maksudnya, kemudian Kami mengutus (setelah para rasul yang Allah utus kepada kaum yang mendustakan yang di-binasakan) ﴾ مُّوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, Rasul yang berbicara kepada Allah (Kalimurrahman), salah seorang rasul Ulul Azmi, salah seorang Rasul besar yang diteladani oleh mereka yang mana syariat yang agung lagi luas diturunkan kepadanya, dan Kami menjadikan Harun saudaranya sebagai pendukungnya. Kami mengutus keduanya, ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya." Yakni para pemimpin dan pembesar kaumnya, karena mayoritas mereka mengikuti para pemimpin ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami", yang menunjukkan ajaran yang dibawa-nya yaitu tauhid dan larangan menyembah selainNya. ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Maka mereka menyombongkan diri", darinya sebagai bentuk kezha-liman dan tinggi hati setelah meyakininya. ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa." Allah telah memvonis me-reka sebagai orang-orang yang (bergelimang) dosa dan mendusta-kan (ajaran Nuh).
(76) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُمُ ٱلۡحَقُّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Dan tatkala telah datang kepada me-reka kebenaran dari sisi Kami", yang merupakan kebenaran terbesar dan teragung. Ia dari sisi Allah yang mana seluruh leher tunduk kepada keagunganNya. Dia adalah Rabb semesta alam yang men-didik makhlukNya dengan nikmat-nikmatNya. Tatkala kebenaran dari Allah datang kepada mereka melalui Musa, maka mereka me-nolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّ هَٰذَا لَسِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata'." Mereka merasa tidak cukup –semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka– dengan berpaling dan menolak lebih dari itu, mereka menjadikan-nya sebagai kebatilan yang paling batil yaitu sihir yang hakikat sebenarnya adalah bualan, bahkan mereka menjadikannya sebagai sihir yang jelas lagi nyata padahal sebenarnya ia adalah kebenaran yang nyata.
(77) Oleh karena itu, ﴾ قَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Musa berkata", kepada me-reka sebagai bentuk pencelaan atas penolakan terhadap kebenaran yang tidak ditolak kecuali oleh orang yang paling zhalim.﴾ أَتَقُولُونَ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu." Maksudnya, apakah kamu berkata bahwa ia adalah sihir yang nyata, ﴾ أَسِحۡرٌ هَٰذَا ﴿ "sihirkah ini?" Maksudnya, lihatlah sifatnya dan apa yang dikandungnya maka hanya dengan itu bisa dipastikan bahwa ia adalah kebenaran, ﴾ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّٰحِرُونَ ﴿ "padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan." Tidak di dunia dan tidak di akhirat. Lihatlah siapakah yang meraih akibat yang baik, siapa yang ber-untung, siapa yang berhasil, setelah itu mereka mengetahui dan setiap orang melihat bahwa Musalah yang menang dan beruntung dengan keberuntungan dunia dan akhirat.
(78) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa, sebagai bentuk penolakan ucapannya dengan apa yang mana dia tidak mampu untuk menolaknya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتَلۡفِتَنَا عَمَّا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَا ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya." Maksudnya, apakah kamu datang kepada kami untuk menghalangi kami dari syirik dan ibadah kepada selain Allah yang kami dapati turun temurun dari nenek moyang kami dan memerintahkan kami agar menyembah Allah semata tanpa sekutu bagiNya. Mereka menjadikan ucapan nenek moyang mereka yang sesat sebagai hujjah yang dengannya mereka menolak kebenaran yang dibawa oleh Musa عليه السلام. Dan FirmanNya, ﴾ وَتَكُونَ لَكُمَا ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan supaya kamu ber-dua mempunyai kekuasaan di muka bumi?" Maksudnya, kamu datang kepada kami agar kamu menjadi pemimpin dan mengusir kami dari tanah air kami? Ini adalah tipuan dari mereka, promosi terhadap kebodohan mereka dan provokasi kepada orang awam agar me-musuhi Musa dan tidak beriman kepadanya. Ini tidak dijadikan sebagai hujjah oleh orang yang mengetahui hakikat dan mampu membedakan perkara-perkara, karena hujjah tidak ditolak kecuali dengan hujjah dan bukti. Adapun orang yang hadir membawa kebenaran lalu kebena-rannya ditolak dengan ucapan yang seperti ini maka itu menunjuk-kan kelemahan orang yang menghadirkannya untuk mendatangkan argumen yang bisa menolak pendapat lawan dialognya, karena seandainya dia mempunyai hujjah, niscaya dia menurunkannya dan tidak mengucapkan, "Tujuanmu adalah begini-begini, atau targetmu adalah ini dan ini." Sama saja dia jujur atau dusta dalam ucapannya dan pemberitaannya tentang maksud lawannya, padahal setiap orang yang mengetahui keadaan Musa dan ajaran yang didakwah-kannya, niscaya dia akan mengetahui bahwa dia sama sekali tidak memiliki tujuan berkuasa di muka bumi, tujuan Musa sama dengan tujuan para rasul yang lain: memberi petunjuk dan membimbing manusia kepada apa yang bermanfaat bagi mereka. Akan tetapi perkara sebenarnya adalah apa yang mereka ungkapkan sendiri dengan ucapannya, ﴾ وَمَا نَحۡنُ لَكُمَا بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kami tidak akan mempercayai kamu berdua." Sebagai bentuk pengingkaran dan kesombongan bu-kan karena kebatilan apa yang dibawa oleh Musa dan Harun, tidak pula karena kerancuan padanya dan tidak pula karena makna-makna lainnya kecuali karena kezhaliman, permusuhan dan kekuasaan yang mereka tuduhkan kepada Musa dan Harun.
(79) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya)", sebagai bentuk penentangan kepada kebenaran yang dibawa oleh Musa dan menunjukkan kekuatannya di depan kaum dan pengi-kutnya, ﴾ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٖ ﴿ "Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai." Yakni ahli dan mumpuni dalam urusan sihir, maka Fir'aun meminta agar para penyihir yang mahir dalam berbagai jenis dan bentuknya dihadirkan dari seluruh penjuru Mesir.
(80) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang", untuk bertarung melawan Musa, ﴾ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ ﴿ "Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." Yakni apa pun yang kamu inginkan tanpa harus aku tentukan, hal itu karena Musa yakin dapat mengalahkan mereka, tak peduli mereka dan apa yang mereka hadirkan. @
(81) ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka lemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka, maka seolah-olah ia adalah ular yang merayap. ﴾ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ ﴿ "Musa berkata, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir'." Ini adalah sihir yang besar, walau-pun ia besar, akan tetapi ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "sesung-guhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan." Karena mereka menginginkan (dengan hal tersebut) untuk mendukung kebatilan di atas kebenaran, adakah kerusakan yang lebih besar daripada ini? Begitulah setiap perusak melakukan sesuatu lalu dia membuat tipu daya dan makar, per-buatannya pasti batal dan terkikis, meskipun dalam waktu tertentu apa yang dilakukannya cukup laris, akan tetapi ujung-ujungnya adalah habis dan lenyap. Adapun orang-orang yang memperbaiki diri yang mana tujuan dari perbuatan mereka adalah Wajah Allah dan ia adalah perbuatan-perbuatan dan sarana-sarana yang berguna yang diperintahkan, maka Allah memperbaiki perbuatan mereka, menjunjungnya dan menumbuhkannya selalu.
(82) Musa melempar tongkatnya, ia pun melahap semua apa yang mereka bikin lalu batallah sihir mereka, lenyaplah kebatilan mereka. ﴾ وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya)." Maka ahli sihir itu tunduk kepada Musa ketika jelas bagi mereka kebenaran, Fir'aun mengancam mereka akan menyalib dan memotong tangan dan kaki mereka, tetapi mereka tidak gentar dan tetap teguh beriman.
(83) Adapun Fir'aun dengan kaum dan pembesarnya serta pengikut mereka maka tidak seorang pun dari mereka yang ber-iman bahkan mereka terus terlelap di dalam kesesatan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَمَآ ءَامَنَ لِمُوسَىٰٓ إِلَّا ذُرِّيَّةٞ مِّن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa)." Yakni anak-anak muda Bani Israil yang sabar dalam meng-hadapi rasa takut karena iman yang bercokol di dalam hatinya ﴾ عَلَىٰ خَوۡفٖ مِّن فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِمۡ أَن يَفۡتِنَهُمۡۚ ﴿ "dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pe-muka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka", karena agama mereka. ﴾ وَإِنَّ فِرۡعَوۡنَ لَعَالٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat semena-mena di muka bumi", maksudnya dia mempunyai kekuasaan dan kekuatan maka pantas mereka takut terhadap ancamannya, lebih-lebih karena dia ﴾ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang melampaui batas." Mak-sudnya, dia termasuk orang-orang yang melamapui batas dalam urusan melanggar dan menganiaya. Hikmah –wallahu a'lam– dari berimannya anak-anak muda dari Bani Israil kepada Musa adalah karena anak-anak muda lebih bisa menerima dan menaati kebenar-an, lain halnya dengan orang-orang tua yang hidup di atas kekufur-an, mereka lebih jauh dari kebenaran disebabkan karena keyakinan yang rusak yang ada di dalam hati mereka.
(84) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa berkata", dalam keadaan mewasiatkan kaumnya supaya bersabar, mengingatkan mereka dengan apa me-reka meminta pertolongan dalam hal itu, dia berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah," maka lakukanlah konsekuensi iman, ﴾ تَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِينَ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya saja jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." Maksudnya, berpe-ganglah kepadaNya, kembalilah kepadaNya dan mohonlah perto-longan kepadaNya.
(85) ﴾ فَقَالُواْ ﴿ "Lalu mereka berkata", sebagai bentuk ketaatan dalam hal ini, ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَا رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Kepada Allah-lah kami bertawakal ! Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim." Maksudnya, janganlah Engkau men-jadikan mereka berkuasa atas kami yang akibatnya mereka akan menyiksa dan mengalahkan kami. Maka Bani Israil pun terfitnah oleh hal itu, dan mereka berkata, "Kalau mereka berpegang teguh pada kebenaran, niscaya mereka tidak dikalahkan."
(86) ﴾ وَنَجِّنَا بِرَحۡمَتِكَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir." Agar kami selamat dari kejahatan mereka dan agar kami berdiri tegak di atas agama kami dengan baik sehingga kami mampu menegakkan dan menam-pakkan syariat tanpa penentang dan pelawan.
(87) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya", ketika keadaan pada kaumnya semakin sulit akibat ulah Fir'aun dan kaumnya, dan mereka berusaha memfitnah me-reka dari agama mereka, ﴾ أَن تَبَوَّءَا لِقَوۡمِكُمَا بِمِصۡرَ بُيُوتٗا ﴿ "kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu." Maksudnya, perintahkan mereka agar mendirikan rumah yang bisa mereka pakai untuk bersembunyi di dalamnya. ﴾ وَٱجۡعَلُواْ بُيُوتَكُمۡ قِبۡلَةٗ ﴿ "Dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat." Maksudnya, ja-dikan rumahmu tempat untuk shalat di mana kamu tidak mampu melakukannya di tempat-tempat ibadah umum. ﴾ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَۗ ﴿ "Dan dirikanlah shalat," karena ia adalah penolong dalam segala urusan. ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "Serta gembirakanlah orang-orang yang beriman," dengan kemenangan, dukungan dan unggulnya agama mereka, karena akan selalu ada kemudahan di balik kesulitan-kesulitan, sesung-guhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, ketika keadaannya semakin sulit dan susah maka Allah akan menghilangkan dan me-mudahkannya.
(88) Tatkala Musa melihat Fir'aun dan kaumnya semakin keras dan menentang, maka dia mendoakan kejelekan atas mereka dan Harun mengamini doanya, dia berkata,﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَأَهُۥ زِينَةٗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan", yang mereka pakai dari ber-bagai jenis perhiasan, pakaian, istana-istana yang indah, kendaraan yang mewah dan pelayan-pelayan. ﴾ وَأَمۡوَٰلٗا ﴿ "dan harta", yang ba-nyak, ﴾ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَۖ ﴿ "dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu." Mereka tidak memakai harta mereka kecuali untuk menyesatkan orang-orang dari jalanMu, maka mereka sesat dan menyesatkan. ﴾ رَبَّنَا ٱطۡمِسۡ عَلَىٰٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ ﴿ "Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka", maksudnya lenyapkanlah harta mereka dengan cara diludeskan atau ia dijadi-kan batu yang tidak berguna. ﴾ وَٱشۡدُدۡ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Dan kunci matilah hati mereka." Yakni jadikanlah ia keras. ﴾ فَلَا يُؤۡمِنُواْ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih." Musa mengatakan ini karena marah kepada mereka di mana mereka berani melanggar hal-hal yang diharamkan Allah, merusak hamba-hamba Allah dan menghalang-halangi dari jalanNya, karena Musa tahu betul bahwa Allah akan menghukum mereka atas perbuatan mereka dengan menutup pintu iman atas mereka.
(89) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا ﴿ 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua." Ini adalah dalil bahwa Musa berdoa sedangkan Harun mengamini doanya, dan bahwa orang yang mengamini doa adalah rekan orang yang berdoa dalam doa itu, ﴾ فَٱسۡتَقِيمَا ﴿ "sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus", di atas agama kamu berdua dan teruslah berdakwah. ﴾ وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui." Maksudnya, jangan mengikuti orang-orang bodoh yang sesat yang menyimpang dari jalan yang lurus yang mengikuti jalan Neraka Jahim.
(90) Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil pergi di waktu malam. Allah mengabarkan bahwa mereka akan mengikutinya. Fir'aun membuat pengumuman di seluruh penjuru negeri bahwa mereka itu –Musa dan kaumnya– hanyalah segelintir orang pinggiran. Mereka marah kepada kami dan kita mewaspadai mereka. Fir'aun mengumpulkan bala tentaranya dari atasan sampai bawahan. Dia dengan bala tentaranya mengejar Bani Israil dengan kesombongan dan permusuhan, mereka hendak menangkap Musa dan membuat kerusakan di bumi. Jika kekejian telah memuncak dan dosa telah menguat maka tunggulah azab dari Allah. ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut." Hal itu karena Allah mewahyukan kepada Musa tatkala dia sampai di laut agar memukul laut dengan tongkatnya. Musa memukulnya, maka terbelahlah dua belas jalan, Bani Israil melaluinya, Fir'aun te-rus menguntit dengan bala tentaranya di belakangnya. Ketika Musa dan kaumnya telah sampai di daratan ujung sedangkan Fir'aun dengan bala tentaranya masih di tengah laut, maka Allah memerin-tahkan kepada laut untuk menelan Fir'aun dan bala tentaranya, maka ia pun memakan Fir'aun dan bala tentaranya. Mereka teng-gelam dengan dilihat oleh Bani Israil. Manakala Fir'aun tenggelam dan dia yakin akan mati, ﴾ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan (Rabb) yang diperca-yai oleh Bani Israil'." Yaitu Allah Rabb Yang Mahabenar, yang tiada Rabb melainkan Dia, ﴾ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." Yakni tunduk kepada agama Allah dan ajaran yang dibawa Musa.
(91) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa iman dalam kondisi seperti ini tidaklah berguna baginya. ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Apakah sekarang (baru kamu percaya)", beriman dan mengakui Rasul Allah,﴾ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ ﴿ "padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu." Maksud-nya, kamu terang-terangan bermaksiat, mengingkari dan mendus-takan, ﴾ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" Iman tidak berguna bagimu sebagaimana Sunnatullah yang berlaku bahwa jika orang kafir telah sampai kepada keadaan darurat ini, maka imannya tidak berguna baginya karena imannya adalah iman kepada sesuatu yang terlihat sebagaimana iman orang pada saat Kiamat tiba. Iman yang berguna itu adalah iman kepada yang ghaib.
(92) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةٗۚ ﴿ "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu." Ahli tafsir menyatakan bahwa Bani Israil ketika di dalam hatinya terdapat ketakutan yang sangat ter-hadap Fir'aun, maka mereka sepertinya tidak percaya kalau Fir'aun telah tenggelam, mereka meragukan itu. Maka Allah memerintah-kan laut agar melemparkan Fir'aun ke atas agar ia menjadi tanda dan pelajaran bagi mereka. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ ﴿ "Dan sesung-guhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." Oleh karena itu, tanda-tanda tersebut lewat berulang-ulang tetapi mereka tidak mengambil manfaat darinya karena mereka tidak memperhatikannya. Adapun orang dengan akal dan hati yang hadir[2] maka dia dapat melihat ayat-ayat Allah sebagai dalil terbesar atas kebenaran sesuatu yang diberitakan oleh para rasul.
(93) ﴾ وَلَقَدۡ بَوَّأۡنَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ مُبَوَّأَ صِدۡقٖ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus." Maksudnya, Allah menempatkan mereka di kediaman keluarga Fir'aun dan menjadikan Bani Israil sebagai pewaris negeri dan tempat tinggal mereka. ﴾ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ﴿ "Dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik", berupa makanan, minuman dan lain-lain, ﴾ فَمَا ٱخۡتَلَفُواْ ﴿ "maka mereka tidak berselisih", tentang kebenaran, ﴾ حَتَّىٰ جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُۚ ﴿ "kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat)." Yang membuat mereka bersatu dan bersepakat, akan tetapi seba-gian berbuat aniaya kepada sebagian yang lain, banyak dari mereka mempunyai ambisi dan tendensi yang menyelisihi kebenaran, maka terjadilah banyak perselisihan di kalangan mereka.﴾ إِنَّ رَبَّكَ يَقۡضِي بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka perselisihkan itu", dengan keputusanNya yang adil yang dilandasi ilmuNya yang sem-purna dan kodratNya yang menyeluruh. Inilah penyakit yang menimpa pengikut agama yang benar yaitu ketika setan telah berputus asa untuk mereka taati secara ke-seluruhan maka dia berusaha memprovokasi dan memicu sikap kebencian dan permusuhan di antara mereka, maka terjadilah per-selisihan yang merupakan akibat dari itu. Selanjutnya sebagian me-nyatakan sebagian yang lain sesat, sebagian memusuhi sebagian yang lain, dan hal itu membuat setan yang terlaknat berbahagia, karena jika tidak (berselisih maka dia akan berduka), lalu apabila Rabb mereka adalah satu, Rasul mereka adalah satu, agama mereka adalah satu dan kepentingan umum mereka adalah satu, maka atas dasar apa mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang memecah kesatuan mereka, memporak-porandakan barisan mereka, mem-bongkar ikatan dan tatanan mereka. Akibatnya adalah terbengka-lainya kemaslahatan mereka baik diniyah maupun duniawiyah dan matinya sebagian dari agama mereka? Kami memohon kepada-Mu ya Allah kasih sayang kepada hamba-hambaMu yang beriman, agar Engkau menyatukan barisan mereka, memperbaiki celah me-reka dan mengembalikan yang jauh kepada yang dekat dari mereka wahai pemilik kemuliaan dan kebesaran.
Yunus 10:77
"Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (mem-bawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka me-nyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata.' Musa berkata, 'Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu, sihirkah ini? Padahal ahli-ahli sihir itu tidak-lah mendapat kemenangan.' Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan memper-cayai kamu berdua.' Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), 'Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!' Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." (Yunus: 75-80) "Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata kepada me-reka, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya.' Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya). Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-we-nang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. Musa berkata, 'Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepadaNya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.' Lalu mereka berkata, 'Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Rabb kami, janganlah Eng-kau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim'." (Yunus: 81-85) "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, 'Kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat serta gembira-kanlah orang-orang yang beriman.' Musa berkata, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu. Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui'." (Yunus: 86-89) "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya ter-masuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).' Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang ber-buat kerusakan? Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang da-tang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia le-ngah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka per-selisihkan itu." (Yunus: 90-93)
(75) Maksudnya, kemudian Kami mengutus (setelah para rasul yang Allah utus kepada kaum yang mendustakan yang di-binasakan) ﴾ مُّوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, Rasul yang berbicara kepada Allah (Kalimurrahman), salah seorang rasul Ulul Azmi, salah seorang Rasul besar yang diteladani oleh mereka yang mana syariat yang agung lagi luas diturunkan kepadanya, dan Kami menjadikan Harun saudaranya sebagai pendukungnya. Kami mengutus keduanya, ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya." Yakni para pemimpin dan pembesar kaumnya, karena mayoritas mereka mengikuti para pemimpin ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami", yang menunjukkan ajaran yang dibawa-nya yaitu tauhid dan larangan menyembah selainNya. ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Maka mereka menyombongkan diri", darinya sebagai bentuk kezha-liman dan tinggi hati setelah meyakininya. ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa." Allah telah memvonis me-reka sebagai orang-orang yang (bergelimang) dosa dan mendusta-kan (ajaran Nuh).
(76) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُمُ ٱلۡحَقُّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Dan tatkala telah datang kepada me-reka kebenaran dari sisi Kami", yang merupakan kebenaran terbesar dan teragung. Ia dari sisi Allah yang mana seluruh leher tunduk kepada keagunganNya. Dia adalah Rabb semesta alam yang men-didik makhlukNya dengan nikmat-nikmatNya. Tatkala kebenaran dari Allah datang kepada mereka melalui Musa, maka mereka me-nolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّ هَٰذَا لَسِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata'." Mereka merasa tidak cukup –semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka– dengan berpaling dan menolak lebih dari itu, mereka menjadikan-nya sebagai kebatilan yang paling batil yaitu sihir yang hakikat sebenarnya adalah bualan, bahkan mereka menjadikannya sebagai sihir yang jelas lagi nyata padahal sebenarnya ia adalah kebenaran yang nyata.
(77) Oleh karena itu, ﴾ قَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Musa berkata", kepada me-reka sebagai bentuk pencelaan atas penolakan terhadap kebenaran yang tidak ditolak kecuali oleh orang yang paling zhalim.﴾ أَتَقُولُونَ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu." Maksudnya, apakah kamu berkata bahwa ia adalah sihir yang nyata, ﴾ أَسِحۡرٌ هَٰذَا ﴿ "sihirkah ini?" Maksudnya, lihatlah sifatnya dan apa yang dikandungnya maka hanya dengan itu bisa dipastikan bahwa ia adalah kebenaran, ﴾ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّٰحِرُونَ ﴿ "padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan." Tidak di dunia dan tidak di akhirat. Lihatlah siapakah yang meraih akibat yang baik, siapa yang ber-untung, siapa yang berhasil, setelah itu mereka mengetahui dan setiap orang melihat bahwa Musalah yang menang dan beruntung dengan keberuntungan dunia dan akhirat.
(78) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa, sebagai bentuk penolakan ucapannya dengan apa yang mana dia tidak mampu untuk menolaknya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتَلۡفِتَنَا عَمَّا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَا ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya." Maksudnya, apakah kamu datang kepada kami untuk menghalangi kami dari syirik dan ibadah kepada selain Allah yang kami dapati turun temurun dari nenek moyang kami dan memerintahkan kami agar menyembah Allah semata tanpa sekutu bagiNya. Mereka menjadikan ucapan nenek moyang mereka yang sesat sebagai hujjah yang dengannya mereka menolak kebenaran yang dibawa oleh Musa عليه السلام. Dan FirmanNya, ﴾ وَتَكُونَ لَكُمَا ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan supaya kamu ber-dua mempunyai kekuasaan di muka bumi?" Maksudnya, kamu datang kepada kami agar kamu menjadi pemimpin dan mengusir kami dari tanah air kami? Ini adalah tipuan dari mereka, promosi terhadap kebodohan mereka dan provokasi kepada orang awam agar me-musuhi Musa dan tidak beriman kepadanya. Ini tidak dijadikan sebagai hujjah oleh orang yang mengetahui hakikat dan mampu membedakan perkara-perkara, karena hujjah tidak ditolak kecuali dengan hujjah dan bukti. Adapun orang yang hadir membawa kebenaran lalu kebena-rannya ditolak dengan ucapan yang seperti ini maka itu menunjuk-kan kelemahan orang yang menghadirkannya untuk mendatangkan argumen yang bisa menolak pendapat lawan dialognya, karena seandainya dia mempunyai hujjah, niscaya dia menurunkannya dan tidak mengucapkan, "Tujuanmu adalah begini-begini, atau targetmu adalah ini dan ini." Sama saja dia jujur atau dusta dalam ucapannya dan pemberitaannya tentang maksud lawannya, padahal setiap orang yang mengetahui keadaan Musa dan ajaran yang didakwah-kannya, niscaya dia akan mengetahui bahwa dia sama sekali tidak memiliki tujuan berkuasa di muka bumi, tujuan Musa sama dengan tujuan para rasul yang lain: memberi petunjuk dan membimbing manusia kepada apa yang bermanfaat bagi mereka. Akan tetapi perkara sebenarnya adalah apa yang mereka ungkapkan sendiri dengan ucapannya, ﴾ وَمَا نَحۡنُ لَكُمَا بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kami tidak akan mempercayai kamu berdua." Sebagai bentuk pengingkaran dan kesombongan bu-kan karena kebatilan apa yang dibawa oleh Musa dan Harun, tidak pula karena kerancuan padanya dan tidak pula karena makna-makna lainnya kecuali karena kezhaliman, permusuhan dan kekuasaan yang mereka tuduhkan kepada Musa dan Harun.
(79) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya)", sebagai bentuk penentangan kepada kebenaran yang dibawa oleh Musa dan menunjukkan kekuatannya di depan kaum dan pengi-kutnya, ﴾ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٖ ﴿ "Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai." Yakni ahli dan mumpuni dalam urusan sihir, maka Fir'aun meminta agar para penyihir yang mahir dalam berbagai jenis dan bentuknya dihadirkan dari seluruh penjuru Mesir.
(80) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang", untuk bertarung melawan Musa, ﴾ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ ﴿ "Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." Yakni apa pun yang kamu inginkan tanpa harus aku tentukan, hal itu karena Musa yakin dapat mengalahkan mereka, tak peduli mereka dan apa yang mereka hadirkan. @
(81) ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka lemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka, maka seolah-olah ia adalah ular yang merayap. ﴾ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ ﴿ "Musa berkata, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir'." Ini adalah sihir yang besar, walau-pun ia besar, akan tetapi ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "sesung-guhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan." Karena mereka menginginkan (dengan hal tersebut) untuk mendukung kebatilan di atas kebenaran, adakah kerusakan yang lebih besar daripada ini? Begitulah setiap perusak melakukan sesuatu lalu dia membuat tipu daya dan makar, per-buatannya pasti batal dan terkikis, meskipun dalam waktu tertentu apa yang dilakukannya cukup laris, akan tetapi ujung-ujungnya adalah habis dan lenyap. Adapun orang-orang yang memperbaiki diri yang mana tujuan dari perbuatan mereka adalah Wajah Allah dan ia adalah perbuatan-perbuatan dan sarana-sarana yang berguna yang diperintahkan, maka Allah memperbaiki perbuatan mereka, menjunjungnya dan menumbuhkannya selalu.
(82) Musa melempar tongkatnya, ia pun melahap semua apa yang mereka bikin lalu batallah sihir mereka, lenyaplah kebatilan mereka. ﴾ وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya)." Maka ahli sihir itu tunduk kepada Musa ketika jelas bagi mereka kebenaran, Fir'aun mengancam mereka akan menyalib dan memotong tangan dan kaki mereka, tetapi mereka tidak gentar dan tetap teguh beriman.
(83) Adapun Fir'aun dengan kaum dan pembesarnya serta pengikut mereka maka tidak seorang pun dari mereka yang ber-iman bahkan mereka terus terlelap di dalam kesesatan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَمَآ ءَامَنَ لِمُوسَىٰٓ إِلَّا ذُرِّيَّةٞ مِّن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa)." Yakni anak-anak muda Bani Israil yang sabar dalam meng-hadapi rasa takut karena iman yang bercokol di dalam hatinya ﴾ عَلَىٰ خَوۡفٖ مِّن فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِمۡ أَن يَفۡتِنَهُمۡۚ ﴿ "dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pe-muka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka", karena agama mereka. ﴾ وَإِنَّ فِرۡعَوۡنَ لَعَالٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat semena-mena di muka bumi", maksudnya dia mempunyai kekuasaan dan kekuatan maka pantas mereka takut terhadap ancamannya, lebih-lebih karena dia ﴾ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang melampaui batas." Mak-sudnya, dia termasuk orang-orang yang melamapui batas dalam urusan melanggar dan menganiaya. Hikmah –wallahu a'lam– dari berimannya anak-anak muda dari Bani Israil kepada Musa adalah karena anak-anak muda lebih bisa menerima dan menaati kebenar-an, lain halnya dengan orang-orang tua yang hidup di atas kekufur-an, mereka lebih jauh dari kebenaran disebabkan karena keyakinan yang rusak yang ada di dalam hati mereka.
(84) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa berkata", dalam keadaan mewasiatkan kaumnya supaya bersabar, mengingatkan mereka dengan apa me-reka meminta pertolongan dalam hal itu, dia berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah," maka lakukanlah konsekuensi iman, ﴾ تَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِينَ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya saja jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." Maksudnya, berpe-ganglah kepadaNya, kembalilah kepadaNya dan mohonlah perto-longan kepadaNya.
(85) ﴾ فَقَالُواْ ﴿ "Lalu mereka berkata", sebagai bentuk ketaatan dalam hal ini, ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَا رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Kepada Allah-lah kami bertawakal ! Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim." Maksudnya, janganlah Engkau men-jadikan mereka berkuasa atas kami yang akibatnya mereka akan menyiksa dan mengalahkan kami. Maka Bani Israil pun terfitnah oleh hal itu, dan mereka berkata, "Kalau mereka berpegang teguh pada kebenaran, niscaya mereka tidak dikalahkan."
(86) ﴾ وَنَجِّنَا بِرَحۡمَتِكَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir." Agar kami selamat dari kejahatan mereka dan agar kami berdiri tegak di atas agama kami dengan baik sehingga kami mampu menegakkan dan menam-pakkan syariat tanpa penentang dan pelawan.
(87) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya", ketika keadaan pada kaumnya semakin sulit akibat ulah Fir'aun dan kaumnya, dan mereka berusaha memfitnah me-reka dari agama mereka, ﴾ أَن تَبَوَّءَا لِقَوۡمِكُمَا بِمِصۡرَ بُيُوتٗا ﴿ "kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu." Maksudnya, perintahkan mereka agar mendirikan rumah yang bisa mereka pakai untuk bersembunyi di dalamnya. ﴾ وَٱجۡعَلُواْ بُيُوتَكُمۡ قِبۡلَةٗ ﴿ "Dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat." Maksudnya, ja-dikan rumahmu tempat untuk shalat di mana kamu tidak mampu melakukannya di tempat-tempat ibadah umum. ﴾ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَۗ ﴿ "Dan dirikanlah shalat," karena ia adalah penolong dalam segala urusan. ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "Serta gembirakanlah orang-orang yang beriman," dengan kemenangan, dukungan dan unggulnya agama mereka, karena akan selalu ada kemudahan di balik kesulitan-kesulitan, sesung-guhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, ketika keadaannya semakin sulit dan susah maka Allah akan menghilangkan dan me-mudahkannya.
(88) Tatkala Musa melihat Fir'aun dan kaumnya semakin keras dan menentang, maka dia mendoakan kejelekan atas mereka dan Harun mengamini doanya, dia berkata,﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَأَهُۥ زِينَةٗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan", yang mereka pakai dari ber-bagai jenis perhiasan, pakaian, istana-istana yang indah, kendaraan yang mewah dan pelayan-pelayan. ﴾ وَأَمۡوَٰلٗا ﴿ "dan harta", yang ba-nyak, ﴾ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَۖ ﴿ "dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu." Mereka tidak memakai harta mereka kecuali untuk menyesatkan orang-orang dari jalanMu, maka mereka sesat dan menyesatkan. ﴾ رَبَّنَا ٱطۡمِسۡ عَلَىٰٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ ﴿ "Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka", maksudnya lenyapkanlah harta mereka dengan cara diludeskan atau ia dijadi-kan batu yang tidak berguna. ﴾ وَٱشۡدُدۡ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Dan kunci matilah hati mereka." Yakni jadikanlah ia keras. ﴾ فَلَا يُؤۡمِنُواْ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih." Musa mengatakan ini karena marah kepada mereka di mana mereka berani melanggar hal-hal yang diharamkan Allah, merusak hamba-hamba Allah dan menghalang-halangi dari jalanNya, karena Musa tahu betul bahwa Allah akan menghukum mereka atas perbuatan mereka dengan menutup pintu iman atas mereka.
(89) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا ﴿ 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua." Ini adalah dalil bahwa Musa berdoa sedangkan Harun mengamini doanya, dan bahwa orang yang mengamini doa adalah rekan orang yang berdoa dalam doa itu, ﴾ فَٱسۡتَقِيمَا ﴿ "sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus", di atas agama kamu berdua dan teruslah berdakwah. ﴾ وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui." Maksudnya, jangan mengikuti orang-orang bodoh yang sesat yang menyimpang dari jalan yang lurus yang mengikuti jalan Neraka Jahim.
(90) Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil pergi di waktu malam. Allah mengabarkan bahwa mereka akan mengikutinya. Fir'aun membuat pengumuman di seluruh penjuru negeri bahwa mereka itu –Musa dan kaumnya– hanyalah segelintir orang pinggiran. Mereka marah kepada kami dan kita mewaspadai mereka. Fir'aun mengumpulkan bala tentaranya dari atasan sampai bawahan. Dia dengan bala tentaranya mengejar Bani Israil dengan kesombongan dan permusuhan, mereka hendak menangkap Musa dan membuat kerusakan di bumi. Jika kekejian telah memuncak dan dosa telah menguat maka tunggulah azab dari Allah. ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut." Hal itu karena Allah mewahyukan kepada Musa tatkala dia sampai di laut agar memukul laut dengan tongkatnya. Musa memukulnya, maka terbelahlah dua belas jalan, Bani Israil melaluinya, Fir'aun te-rus menguntit dengan bala tentaranya di belakangnya. Ketika Musa dan kaumnya telah sampai di daratan ujung sedangkan Fir'aun dengan bala tentaranya masih di tengah laut, maka Allah memerin-tahkan kepada laut untuk menelan Fir'aun dan bala tentaranya, maka ia pun memakan Fir'aun dan bala tentaranya. Mereka teng-gelam dengan dilihat oleh Bani Israil. Manakala Fir'aun tenggelam dan dia yakin akan mati, ﴾ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan (Rabb) yang diperca-yai oleh Bani Israil'." Yaitu Allah Rabb Yang Mahabenar, yang tiada Rabb melainkan Dia, ﴾ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." Yakni tunduk kepada agama Allah dan ajaran yang dibawa Musa.
(91) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa iman dalam kondisi seperti ini tidaklah berguna baginya. ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Apakah sekarang (baru kamu percaya)", beriman dan mengakui Rasul Allah,﴾ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ ﴿ "padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu." Maksud-nya, kamu terang-terangan bermaksiat, mengingkari dan mendus-takan, ﴾ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" Iman tidak berguna bagimu sebagaimana Sunnatullah yang berlaku bahwa jika orang kafir telah sampai kepada keadaan darurat ini, maka imannya tidak berguna baginya karena imannya adalah iman kepada sesuatu yang terlihat sebagaimana iman orang pada saat Kiamat tiba. Iman yang berguna itu adalah iman kepada yang ghaib.
(92) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةٗۚ ﴿ "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu." Ahli tafsir menyatakan bahwa Bani Israil ketika di dalam hatinya terdapat ketakutan yang sangat ter-hadap Fir'aun, maka mereka sepertinya tidak percaya kalau Fir'aun telah tenggelam, mereka meragukan itu. Maka Allah memerintah-kan laut agar melemparkan Fir'aun ke atas agar ia menjadi tanda dan pelajaran bagi mereka. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ ﴿ "Dan sesung-guhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." Oleh karena itu, tanda-tanda tersebut lewat berulang-ulang tetapi mereka tidak mengambil manfaat darinya karena mereka tidak memperhatikannya. Adapun orang dengan akal dan hati yang hadir[2] maka dia dapat melihat ayat-ayat Allah sebagai dalil terbesar atas kebenaran sesuatu yang diberitakan oleh para rasul.
(93) ﴾ وَلَقَدۡ بَوَّأۡنَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ مُبَوَّأَ صِدۡقٖ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus." Maksudnya, Allah menempatkan mereka di kediaman keluarga Fir'aun dan menjadikan Bani Israil sebagai pewaris negeri dan tempat tinggal mereka. ﴾ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ﴿ "Dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik", berupa makanan, minuman dan lain-lain, ﴾ فَمَا ٱخۡتَلَفُواْ ﴿ "maka mereka tidak berselisih", tentang kebenaran, ﴾ حَتَّىٰ جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُۚ ﴿ "kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat)." Yang membuat mereka bersatu dan bersepakat, akan tetapi seba-gian berbuat aniaya kepada sebagian yang lain, banyak dari mereka mempunyai ambisi dan tendensi yang menyelisihi kebenaran, maka terjadilah banyak perselisihan di kalangan mereka.﴾ إِنَّ رَبَّكَ يَقۡضِي بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka perselisihkan itu", dengan keputusanNya yang adil yang dilandasi ilmuNya yang sem-purna dan kodratNya yang menyeluruh. Inilah penyakit yang menimpa pengikut agama yang benar yaitu ketika setan telah berputus asa untuk mereka taati secara ke-seluruhan maka dia berusaha memprovokasi dan memicu sikap kebencian dan permusuhan di antara mereka, maka terjadilah per-selisihan yang merupakan akibat dari itu. Selanjutnya sebagian me-nyatakan sebagian yang lain sesat, sebagian memusuhi sebagian yang lain, dan hal itu membuat setan yang terlaknat berbahagia, karena jika tidak (berselisih maka dia akan berduka), lalu apabila Rabb mereka adalah satu, Rasul mereka adalah satu, agama mereka adalah satu dan kepentingan umum mereka adalah satu, maka atas dasar apa mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang memecah kesatuan mereka, memporak-porandakan barisan mereka, mem-bongkar ikatan dan tatanan mereka. Akibatnya adalah terbengka-lainya kemaslahatan mereka baik diniyah maupun duniawiyah dan matinya sebagian dari agama mereka? Kami memohon kepada-Mu ya Allah kasih sayang kepada hamba-hambaMu yang beriman, agar Engkau menyatukan barisan mereka, memperbaiki celah me-reka dan mengembalikan yang jauh kepada yang dekat dari mereka wahai pemilik kemuliaan dan kebesaran.
Yunus 10:78
"Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (mem-bawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka me-nyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata.' Musa berkata, 'Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu, sihirkah ini? Padahal ahli-ahli sihir itu tidak-lah mendapat kemenangan.' Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan memper-cayai kamu berdua.' Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), 'Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!' Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." (Yunus: 75-80) "Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata kepada me-reka, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya.' Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya). Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-we-nang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. Musa berkata, 'Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepadaNya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.' Lalu mereka berkata, 'Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Rabb kami, janganlah Eng-kau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim'." (Yunus: 81-85) "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, 'Kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat serta gembira-kanlah orang-orang yang beriman.' Musa berkata, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu. Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui'." (Yunus: 86-89) "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya ter-masuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).' Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang ber-buat kerusakan? Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang da-tang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia le-ngah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka per-selisihkan itu." (Yunus: 90-93)
(75) Maksudnya, kemudian Kami mengutus (setelah para rasul yang Allah utus kepada kaum yang mendustakan yang di-binasakan) ﴾ مُّوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, Rasul yang berbicara kepada Allah (Kalimurrahman), salah seorang rasul Ulul Azmi, salah seorang Rasul besar yang diteladani oleh mereka yang mana syariat yang agung lagi luas diturunkan kepadanya, dan Kami menjadikan Harun saudaranya sebagai pendukungnya. Kami mengutus keduanya, ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya." Yakni para pemimpin dan pembesar kaumnya, karena mayoritas mereka mengikuti para pemimpin ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami", yang menunjukkan ajaran yang dibawa-nya yaitu tauhid dan larangan menyembah selainNya. ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Maka mereka menyombongkan diri", darinya sebagai bentuk kezha-liman dan tinggi hati setelah meyakininya. ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa." Allah telah memvonis me-reka sebagai orang-orang yang (bergelimang) dosa dan mendusta-kan (ajaran Nuh).
(76) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُمُ ٱلۡحَقُّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Dan tatkala telah datang kepada me-reka kebenaran dari sisi Kami", yang merupakan kebenaran terbesar dan teragung. Ia dari sisi Allah yang mana seluruh leher tunduk kepada keagunganNya. Dia adalah Rabb semesta alam yang men-didik makhlukNya dengan nikmat-nikmatNya. Tatkala kebenaran dari Allah datang kepada mereka melalui Musa, maka mereka me-nolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّ هَٰذَا لَسِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata'." Mereka merasa tidak cukup –semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka– dengan berpaling dan menolak lebih dari itu, mereka menjadikan-nya sebagai kebatilan yang paling batil yaitu sihir yang hakikat sebenarnya adalah bualan, bahkan mereka menjadikannya sebagai sihir yang jelas lagi nyata padahal sebenarnya ia adalah kebenaran yang nyata.
(77) Oleh karena itu, ﴾ قَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Musa berkata", kepada me-reka sebagai bentuk pencelaan atas penolakan terhadap kebenaran yang tidak ditolak kecuali oleh orang yang paling zhalim.﴾ أَتَقُولُونَ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu." Maksudnya, apakah kamu berkata bahwa ia adalah sihir yang nyata, ﴾ أَسِحۡرٌ هَٰذَا ﴿ "sihirkah ini?" Maksudnya, lihatlah sifatnya dan apa yang dikandungnya maka hanya dengan itu bisa dipastikan bahwa ia adalah kebenaran, ﴾ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّٰحِرُونَ ﴿ "padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan." Tidak di dunia dan tidak di akhirat. Lihatlah siapakah yang meraih akibat yang baik, siapa yang ber-untung, siapa yang berhasil, setelah itu mereka mengetahui dan setiap orang melihat bahwa Musalah yang menang dan beruntung dengan keberuntungan dunia dan akhirat.
(78) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa, sebagai bentuk penolakan ucapannya dengan apa yang mana dia tidak mampu untuk menolaknya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتَلۡفِتَنَا عَمَّا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَا ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya." Maksudnya, apakah kamu datang kepada kami untuk menghalangi kami dari syirik dan ibadah kepada selain Allah yang kami dapati turun temurun dari nenek moyang kami dan memerintahkan kami agar menyembah Allah semata tanpa sekutu bagiNya. Mereka menjadikan ucapan nenek moyang mereka yang sesat sebagai hujjah yang dengannya mereka menolak kebenaran yang dibawa oleh Musa عليه السلام. Dan FirmanNya, ﴾ وَتَكُونَ لَكُمَا ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan supaya kamu ber-dua mempunyai kekuasaan di muka bumi?" Maksudnya, kamu datang kepada kami agar kamu menjadi pemimpin dan mengusir kami dari tanah air kami? Ini adalah tipuan dari mereka, promosi terhadap kebodohan mereka dan provokasi kepada orang awam agar me-musuhi Musa dan tidak beriman kepadanya. Ini tidak dijadikan sebagai hujjah oleh orang yang mengetahui hakikat dan mampu membedakan perkara-perkara, karena hujjah tidak ditolak kecuali dengan hujjah dan bukti. Adapun orang yang hadir membawa kebenaran lalu kebena-rannya ditolak dengan ucapan yang seperti ini maka itu menunjuk-kan kelemahan orang yang menghadirkannya untuk mendatangkan argumen yang bisa menolak pendapat lawan dialognya, karena seandainya dia mempunyai hujjah, niscaya dia menurunkannya dan tidak mengucapkan, "Tujuanmu adalah begini-begini, atau targetmu adalah ini dan ini." Sama saja dia jujur atau dusta dalam ucapannya dan pemberitaannya tentang maksud lawannya, padahal setiap orang yang mengetahui keadaan Musa dan ajaran yang didakwah-kannya, niscaya dia akan mengetahui bahwa dia sama sekali tidak memiliki tujuan berkuasa di muka bumi, tujuan Musa sama dengan tujuan para rasul yang lain: memberi petunjuk dan membimbing manusia kepada apa yang bermanfaat bagi mereka. Akan tetapi perkara sebenarnya adalah apa yang mereka ungkapkan sendiri dengan ucapannya, ﴾ وَمَا نَحۡنُ لَكُمَا بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kami tidak akan mempercayai kamu berdua." Sebagai bentuk pengingkaran dan kesombongan bu-kan karena kebatilan apa yang dibawa oleh Musa dan Harun, tidak pula karena kerancuan padanya dan tidak pula karena makna-makna lainnya kecuali karena kezhaliman, permusuhan dan kekuasaan yang mereka tuduhkan kepada Musa dan Harun.
(79) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya)", sebagai bentuk penentangan kepada kebenaran yang dibawa oleh Musa dan menunjukkan kekuatannya di depan kaum dan pengi-kutnya, ﴾ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٖ ﴿ "Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai." Yakni ahli dan mumpuni dalam urusan sihir, maka Fir'aun meminta agar para penyihir yang mahir dalam berbagai jenis dan bentuknya dihadirkan dari seluruh penjuru Mesir.
(80) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang", untuk bertarung melawan Musa, ﴾ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ ﴿ "Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." Yakni apa pun yang kamu inginkan tanpa harus aku tentukan, hal itu karena Musa yakin dapat mengalahkan mereka, tak peduli mereka dan apa yang mereka hadirkan. @
(81) ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka lemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka, maka seolah-olah ia adalah ular yang merayap. ﴾ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ ﴿ "Musa berkata, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir'." Ini adalah sihir yang besar, walau-pun ia besar, akan tetapi ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "sesung-guhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan." Karena mereka menginginkan (dengan hal tersebut) untuk mendukung kebatilan di atas kebenaran, adakah kerusakan yang lebih besar daripada ini? Begitulah setiap perusak melakukan sesuatu lalu dia membuat tipu daya dan makar, per-buatannya pasti batal dan terkikis, meskipun dalam waktu tertentu apa yang dilakukannya cukup laris, akan tetapi ujung-ujungnya adalah habis dan lenyap. Adapun orang-orang yang memperbaiki diri yang mana tujuan dari perbuatan mereka adalah Wajah Allah dan ia adalah perbuatan-perbuatan dan sarana-sarana yang berguna yang diperintahkan, maka Allah memperbaiki perbuatan mereka, menjunjungnya dan menumbuhkannya selalu.
(82) Musa melempar tongkatnya, ia pun melahap semua apa yang mereka bikin lalu batallah sihir mereka, lenyaplah kebatilan mereka. ﴾ وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya)." Maka ahli sihir itu tunduk kepada Musa ketika jelas bagi mereka kebenaran, Fir'aun mengancam mereka akan menyalib dan memotong tangan dan kaki mereka, tetapi mereka tidak gentar dan tetap teguh beriman.
(83) Adapun Fir'aun dengan kaum dan pembesarnya serta pengikut mereka maka tidak seorang pun dari mereka yang ber-iman bahkan mereka terus terlelap di dalam kesesatan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَمَآ ءَامَنَ لِمُوسَىٰٓ إِلَّا ذُرِّيَّةٞ مِّن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa)." Yakni anak-anak muda Bani Israil yang sabar dalam meng-hadapi rasa takut karena iman yang bercokol di dalam hatinya ﴾ عَلَىٰ خَوۡفٖ مِّن فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِمۡ أَن يَفۡتِنَهُمۡۚ ﴿ "dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pe-muka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka", karena agama mereka. ﴾ وَإِنَّ فِرۡعَوۡنَ لَعَالٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat semena-mena di muka bumi", maksudnya dia mempunyai kekuasaan dan kekuatan maka pantas mereka takut terhadap ancamannya, lebih-lebih karena dia ﴾ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang melampaui batas." Mak-sudnya, dia termasuk orang-orang yang melamapui batas dalam urusan melanggar dan menganiaya. Hikmah –wallahu a'lam– dari berimannya anak-anak muda dari Bani Israil kepada Musa adalah karena anak-anak muda lebih bisa menerima dan menaati kebenar-an, lain halnya dengan orang-orang tua yang hidup di atas kekufur-an, mereka lebih jauh dari kebenaran disebabkan karena keyakinan yang rusak yang ada di dalam hati mereka.
(84) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa berkata", dalam keadaan mewasiatkan kaumnya supaya bersabar, mengingatkan mereka dengan apa me-reka meminta pertolongan dalam hal itu, dia berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah," maka lakukanlah konsekuensi iman, ﴾ تَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِينَ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya saja jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." Maksudnya, berpe-ganglah kepadaNya, kembalilah kepadaNya dan mohonlah perto-longan kepadaNya.
(85) ﴾ فَقَالُواْ ﴿ "Lalu mereka berkata", sebagai bentuk ketaatan dalam hal ini, ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَا رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Kepada Allah-lah kami bertawakal ! Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim." Maksudnya, janganlah Engkau men-jadikan mereka berkuasa atas kami yang akibatnya mereka akan menyiksa dan mengalahkan kami. Maka Bani Israil pun terfitnah oleh hal itu, dan mereka berkata, "Kalau mereka berpegang teguh pada kebenaran, niscaya mereka tidak dikalahkan."
(86) ﴾ وَنَجِّنَا بِرَحۡمَتِكَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir." Agar kami selamat dari kejahatan mereka dan agar kami berdiri tegak di atas agama kami dengan baik sehingga kami mampu menegakkan dan menam-pakkan syariat tanpa penentang dan pelawan.
(87) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya", ketika keadaan pada kaumnya semakin sulit akibat ulah Fir'aun dan kaumnya, dan mereka berusaha memfitnah me-reka dari agama mereka, ﴾ أَن تَبَوَّءَا لِقَوۡمِكُمَا بِمِصۡرَ بُيُوتٗا ﴿ "kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu." Maksudnya, perintahkan mereka agar mendirikan rumah yang bisa mereka pakai untuk bersembunyi di dalamnya. ﴾ وَٱجۡعَلُواْ بُيُوتَكُمۡ قِبۡلَةٗ ﴿ "Dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat." Maksudnya, ja-dikan rumahmu tempat untuk shalat di mana kamu tidak mampu melakukannya di tempat-tempat ibadah umum. ﴾ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَۗ ﴿ "Dan dirikanlah shalat," karena ia adalah penolong dalam segala urusan. ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "Serta gembirakanlah orang-orang yang beriman," dengan kemenangan, dukungan dan unggulnya agama mereka, karena akan selalu ada kemudahan di balik kesulitan-kesulitan, sesung-guhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, ketika keadaannya semakin sulit dan susah maka Allah akan menghilangkan dan me-mudahkannya.
(88) Tatkala Musa melihat Fir'aun dan kaumnya semakin keras dan menentang, maka dia mendoakan kejelekan atas mereka dan Harun mengamini doanya, dia berkata,﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَأَهُۥ زِينَةٗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan", yang mereka pakai dari ber-bagai jenis perhiasan, pakaian, istana-istana yang indah, kendaraan yang mewah dan pelayan-pelayan. ﴾ وَأَمۡوَٰلٗا ﴿ "dan harta", yang ba-nyak, ﴾ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَۖ ﴿ "dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu." Mereka tidak memakai harta mereka kecuali untuk menyesatkan orang-orang dari jalanMu, maka mereka sesat dan menyesatkan. ﴾ رَبَّنَا ٱطۡمِسۡ عَلَىٰٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ ﴿ "Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka", maksudnya lenyapkanlah harta mereka dengan cara diludeskan atau ia dijadi-kan batu yang tidak berguna. ﴾ وَٱشۡدُدۡ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Dan kunci matilah hati mereka." Yakni jadikanlah ia keras. ﴾ فَلَا يُؤۡمِنُواْ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih." Musa mengatakan ini karena marah kepada mereka di mana mereka berani melanggar hal-hal yang diharamkan Allah, merusak hamba-hamba Allah dan menghalang-halangi dari jalanNya, karena Musa tahu betul bahwa Allah akan menghukum mereka atas perbuatan mereka dengan menutup pintu iman atas mereka.
(89) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا ﴿ 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua." Ini adalah dalil bahwa Musa berdoa sedangkan Harun mengamini doanya, dan bahwa orang yang mengamini doa adalah rekan orang yang berdoa dalam doa itu, ﴾ فَٱسۡتَقِيمَا ﴿ "sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus", di atas agama kamu berdua dan teruslah berdakwah. ﴾ وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui." Maksudnya, jangan mengikuti orang-orang bodoh yang sesat yang menyimpang dari jalan yang lurus yang mengikuti jalan Neraka Jahim.
(90) Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil pergi di waktu malam. Allah mengabarkan bahwa mereka akan mengikutinya. Fir'aun membuat pengumuman di seluruh penjuru negeri bahwa mereka itu –Musa dan kaumnya– hanyalah segelintir orang pinggiran. Mereka marah kepada kami dan kita mewaspadai mereka. Fir'aun mengumpulkan bala tentaranya dari atasan sampai bawahan. Dia dengan bala tentaranya mengejar Bani Israil dengan kesombongan dan permusuhan, mereka hendak menangkap Musa dan membuat kerusakan di bumi. Jika kekejian telah memuncak dan dosa telah menguat maka tunggulah azab dari Allah. ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut." Hal itu karena Allah mewahyukan kepada Musa tatkala dia sampai di laut agar memukul laut dengan tongkatnya. Musa memukulnya, maka terbelahlah dua belas jalan, Bani Israil melaluinya, Fir'aun te-rus menguntit dengan bala tentaranya di belakangnya. Ketika Musa dan kaumnya telah sampai di daratan ujung sedangkan Fir'aun dengan bala tentaranya masih di tengah laut, maka Allah memerin-tahkan kepada laut untuk menelan Fir'aun dan bala tentaranya, maka ia pun memakan Fir'aun dan bala tentaranya. Mereka teng-gelam dengan dilihat oleh Bani Israil. Manakala Fir'aun tenggelam dan dia yakin akan mati, ﴾ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan (Rabb) yang diperca-yai oleh Bani Israil'." Yaitu Allah Rabb Yang Mahabenar, yang tiada Rabb melainkan Dia, ﴾ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." Yakni tunduk kepada agama Allah dan ajaran yang dibawa Musa.
(91) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa iman dalam kondisi seperti ini tidaklah berguna baginya. ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Apakah sekarang (baru kamu percaya)", beriman dan mengakui Rasul Allah,﴾ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ ﴿ "padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu." Maksud-nya, kamu terang-terangan bermaksiat, mengingkari dan mendus-takan, ﴾ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" Iman tidak berguna bagimu sebagaimana Sunnatullah yang berlaku bahwa jika orang kafir telah sampai kepada keadaan darurat ini, maka imannya tidak berguna baginya karena imannya adalah iman kepada sesuatu yang terlihat sebagaimana iman orang pada saat Kiamat tiba. Iman yang berguna itu adalah iman kepada yang ghaib.
(92) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةٗۚ ﴿ "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu." Ahli tafsir menyatakan bahwa Bani Israil ketika di dalam hatinya terdapat ketakutan yang sangat ter-hadap Fir'aun, maka mereka sepertinya tidak percaya kalau Fir'aun telah tenggelam, mereka meragukan itu. Maka Allah memerintah-kan laut agar melemparkan Fir'aun ke atas agar ia menjadi tanda dan pelajaran bagi mereka. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ ﴿ "Dan sesung-guhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." Oleh karena itu, tanda-tanda tersebut lewat berulang-ulang tetapi mereka tidak mengambil manfaat darinya karena mereka tidak memperhatikannya. Adapun orang dengan akal dan hati yang hadir[2] maka dia dapat melihat ayat-ayat Allah sebagai dalil terbesar atas kebenaran sesuatu yang diberitakan oleh para rasul.
(93) ﴾ وَلَقَدۡ بَوَّأۡنَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ مُبَوَّأَ صِدۡقٖ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus." Maksudnya, Allah menempatkan mereka di kediaman keluarga Fir'aun dan menjadikan Bani Israil sebagai pewaris negeri dan tempat tinggal mereka. ﴾ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ﴿ "Dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik", berupa makanan, minuman dan lain-lain, ﴾ فَمَا ٱخۡتَلَفُواْ ﴿ "maka mereka tidak berselisih", tentang kebenaran, ﴾ حَتَّىٰ جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُۚ ﴿ "kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat)." Yang membuat mereka bersatu dan bersepakat, akan tetapi seba-gian berbuat aniaya kepada sebagian yang lain, banyak dari mereka mempunyai ambisi dan tendensi yang menyelisihi kebenaran, maka terjadilah banyak perselisihan di kalangan mereka.﴾ إِنَّ رَبَّكَ يَقۡضِي بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka perselisihkan itu", dengan keputusanNya yang adil yang dilandasi ilmuNya yang sem-purna dan kodratNya yang menyeluruh. Inilah penyakit yang menimpa pengikut agama yang benar yaitu ketika setan telah berputus asa untuk mereka taati secara ke-seluruhan maka dia berusaha memprovokasi dan memicu sikap kebencian dan permusuhan di antara mereka, maka terjadilah per-selisihan yang merupakan akibat dari itu. Selanjutnya sebagian me-nyatakan sebagian yang lain sesat, sebagian memusuhi sebagian yang lain, dan hal itu membuat setan yang terlaknat berbahagia, karena jika tidak (berselisih maka dia akan berduka), lalu apabila Rabb mereka adalah satu, Rasul mereka adalah satu, agama mereka adalah satu dan kepentingan umum mereka adalah satu, maka atas dasar apa mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang memecah kesatuan mereka, memporak-porandakan barisan mereka, mem-bongkar ikatan dan tatanan mereka. Akibatnya adalah terbengka-lainya kemaslahatan mereka baik diniyah maupun duniawiyah dan matinya sebagian dari agama mereka? Kami memohon kepada-Mu ya Allah kasih sayang kepada hamba-hambaMu yang beriman, agar Engkau menyatukan barisan mereka, memperbaiki celah me-reka dan mengembalikan yang jauh kepada yang dekat dari mereka wahai pemilik kemuliaan dan kebesaran.
Yunus 10:79
"Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (mem-bawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka me-nyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata.' Musa berkata, 'Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu, sihirkah ini? Padahal ahli-ahli sihir itu tidak-lah mendapat kemenangan.' Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan memper-cayai kamu berdua.' Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), 'Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!' Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." (Yunus: 75-80) "Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata kepada me-reka, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya.' Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya). Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-we-nang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. Musa berkata, 'Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepadaNya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.' Lalu mereka berkata, 'Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Rabb kami, janganlah Eng-kau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim'." (Yunus: 81-85) "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, 'Kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat serta gembira-kanlah orang-orang yang beriman.' Musa berkata, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu. Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui'." (Yunus: 86-89) "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya ter-masuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).' Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang ber-buat kerusakan? Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang da-tang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia le-ngah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka per-selisihkan itu." (Yunus: 90-93)
(75) Maksudnya, kemudian Kami mengutus (setelah para rasul yang Allah utus kepada kaum yang mendustakan yang di-binasakan) ﴾ مُّوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, Rasul yang berbicara kepada Allah (Kalimurrahman), salah seorang rasul Ulul Azmi, salah seorang Rasul besar yang diteladani oleh mereka yang mana syariat yang agung lagi luas diturunkan kepadanya, dan Kami menjadikan Harun saudaranya sebagai pendukungnya. Kami mengutus keduanya, ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya." Yakni para pemimpin dan pembesar kaumnya, karena mayoritas mereka mengikuti para pemimpin ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami", yang menunjukkan ajaran yang dibawa-nya yaitu tauhid dan larangan menyembah selainNya. ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Maka mereka menyombongkan diri", darinya sebagai bentuk kezha-liman dan tinggi hati setelah meyakininya. ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa." Allah telah memvonis me-reka sebagai orang-orang yang (bergelimang) dosa dan mendusta-kan (ajaran Nuh).
(76) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُمُ ٱلۡحَقُّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Dan tatkala telah datang kepada me-reka kebenaran dari sisi Kami", yang merupakan kebenaran terbesar dan teragung. Ia dari sisi Allah yang mana seluruh leher tunduk kepada keagunganNya. Dia adalah Rabb semesta alam yang men-didik makhlukNya dengan nikmat-nikmatNya. Tatkala kebenaran dari Allah datang kepada mereka melalui Musa, maka mereka me-nolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّ هَٰذَا لَسِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata'." Mereka merasa tidak cukup –semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka– dengan berpaling dan menolak lebih dari itu, mereka menjadikan-nya sebagai kebatilan yang paling batil yaitu sihir yang hakikat sebenarnya adalah bualan, bahkan mereka menjadikannya sebagai sihir yang jelas lagi nyata padahal sebenarnya ia adalah kebenaran yang nyata.
(77) Oleh karena itu, ﴾ قَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Musa berkata", kepada me-reka sebagai bentuk pencelaan atas penolakan terhadap kebenaran yang tidak ditolak kecuali oleh orang yang paling zhalim.﴾ أَتَقُولُونَ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu." Maksudnya, apakah kamu berkata bahwa ia adalah sihir yang nyata, ﴾ أَسِحۡرٌ هَٰذَا ﴿ "sihirkah ini?" Maksudnya, lihatlah sifatnya dan apa yang dikandungnya maka hanya dengan itu bisa dipastikan bahwa ia adalah kebenaran, ﴾ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّٰحِرُونَ ﴿ "padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan." Tidak di dunia dan tidak di akhirat. Lihatlah siapakah yang meraih akibat yang baik, siapa yang ber-untung, siapa yang berhasil, setelah itu mereka mengetahui dan setiap orang melihat bahwa Musalah yang menang dan beruntung dengan keberuntungan dunia dan akhirat.
(78) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa, sebagai bentuk penolakan ucapannya dengan apa yang mana dia tidak mampu untuk menolaknya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتَلۡفِتَنَا عَمَّا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَا ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya." Maksudnya, apakah kamu datang kepada kami untuk menghalangi kami dari syirik dan ibadah kepada selain Allah yang kami dapati turun temurun dari nenek moyang kami dan memerintahkan kami agar menyembah Allah semata tanpa sekutu bagiNya. Mereka menjadikan ucapan nenek moyang mereka yang sesat sebagai hujjah yang dengannya mereka menolak kebenaran yang dibawa oleh Musa عليه السلام. Dan FirmanNya, ﴾ وَتَكُونَ لَكُمَا ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan supaya kamu ber-dua mempunyai kekuasaan di muka bumi?" Maksudnya, kamu datang kepada kami agar kamu menjadi pemimpin dan mengusir kami dari tanah air kami? Ini adalah tipuan dari mereka, promosi terhadap kebodohan mereka dan provokasi kepada orang awam agar me-musuhi Musa dan tidak beriman kepadanya. Ini tidak dijadikan sebagai hujjah oleh orang yang mengetahui hakikat dan mampu membedakan perkara-perkara, karena hujjah tidak ditolak kecuali dengan hujjah dan bukti. Adapun orang yang hadir membawa kebenaran lalu kebena-rannya ditolak dengan ucapan yang seperti ini maka itu menunjuk-kan kelemahan orang yang menghadirkannya untuk mendatangkan argumen yang bisa menolak pendapat lawan dialognya, karena seandainya dia mempunyai hujjah, niscaya dia menurunkannya dan tidak mengucapkan, "Tujuanmu adalah begini-begini, atau targetmu adalah ini dan ini." Sama saja dia jujur atau dusta dalam ucapannya dan pemberitaannya tentang maksud lawannya, padahal setiap orang yang mengetahui keadaan Musa dan ajaran yang didakwah-kannya, niscaya dia akan mengetahui bahwa dia sama sekali tidak memiliki tujuan berkuasa di muka bumi, tujuan Musa sama dengan tujuan para rasul yang lain: memberi petunjuk dan membimbing manusia kepada apa yang bermanfaat bagi mereka. Akan tetapi perkara sebenarnya adalah apa yang mereka ungkapkan sendiri dengan ucapannya, ﴾ وَمَا نَحۡنُ لَكُمَا بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kami tidak akan mempercayai kamu berdua." Sebagai bentuk pengingkaran dan kesombongan bu-kan karena kebatilan apa yang dibawa oleh Musa dan Harun, tidak pula karena kerancuan padanya dan tidak pula karena makna-makna lainnya kecuali karena kezhaliman, permusuhan dan kekuasaan yang mereka tuduhkan kepada Musa dan Harun.
(79) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya)", sebagai bentuk penentangan kepada kebenaran yang dibawa oleh Musa dan menunjukkan kekuatannya di depan kaum dan pengi-kutnya, ﴾ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٖ ﴿ "Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai." Yakni ahli dan mumpuni dalam urusan sihir, maka Fir'aun meminta agar para penyihir yang mahir dalam berbagai jenis dan bentuknya dihadirkan dari seluruh penjuru Mesir.
(80) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang", untuk bertarung melawan Musa, ﴾ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ ﴿ "Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." Yakni apa pun yang kamu inginkan tanpa harus aku tentukan, hal itu karena Musa yakin dapat mengalahkan mereka, tak peduli mereka dan apa yang mereka hadirkan. @
(81) ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka lemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka, maka seolah-olah ia adalah ular yang merayap. ﴾ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ ﴿ "Musa berkata, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir'." Ini adalah sihir yang besar, walau-pun ia besar, akan tetapi ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "sesung-guhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan." Karena mereka menginginkan (dengan hal tersebut) untuk mendukung kebatilan di atas kebenaran, adakah kerusakan yang lebih besar daripada ini? Begitulah setiap perusak melakukan sesuatu lalu dia membuat tipu daya dan makar, per-buatannya pasti batal dan terkikis, meskipun dalam waktu tertentu apa yang dilakukannya cukup laris, akan tetapi ujung-ujungnya adalah habis dan lenyap. Adapun orang-orang yang memperbaiki diri yang mana tujuan dari perbuatan mereka adalah Wajah Allah dan ia adalah perbuatan-perbuatan dan sarana-sarana yang berguna yang diperintahkan, maka Allah memperbaiki perbuatan mereka, menjunjungnya dan menumbuhkannya selalu.
(82) Musa melempar tongkatnya, ia pun melahap semua apa yang mereka bikin lalu batallah sihir mereka, lenyaplah kebatilan mereka. ﴾ وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya)." Maka ahli sihir itu tunduk kepada Musa ketika jelas bagi mereka kebenaran, Fir'aun mengancam mereka akan menyalib dan memotong tangan dan kaki mereka, tetapi mereka tidak gentar dan tetap teguh beriman.
(83) Adapun Fir'aun dengan kaum dan pembesarnya serta pengikut mereka maka tidak seorang pun dari mereka yang ber-iman bahkan mereka terus terlelap di dalam kesesatan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَمَآ ءَامَنَ لِمُوسَىٰٓ إِلَّا ذُرِّيَّةٞ مِّن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa)." Yakni anak-anak muda Bani Israil yang sabar dalam meng-hadapi rasa takut karena iman yang bercokol di dalam hatinya ﴾ عَلَىٰ خَوۡفٖ مِّن فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِمۡ أَن يَفۡتِنَهُمۡۚ ﴿ "dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pe-muka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka", karena agama mereka. ﴾ وَإِنَّ فِرۡعَوۡنَ لَعَالٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat semena-mena di muka bumi", maksudnya dia mempunyai kekuasaan dan kekuatan maka pantas mereka takut terhadap ancamannya, lebih-lebih karena dia ﴾ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang melampaui batas." Mak-sudnya, dia termasuk orang-orang yang melamapui batas dalam urusan melanggar dan menganiaya. Hikmah –wallahu a'lam– dari berimannya anak-anak muda dari Bani Israil kepada Musa adalah karena anak-anak muda lebih bisa menerima dan menaati kebenar-an, lain halnya dengan orang-orang tua yang hidup di atas kekufur-an, mereka lebih jauh dari kebenaran disebabkan karena keyakinan yang rusak yang ada di dalam hati mereka.
(84) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa berkata", dalam keadaan mewasiatkan kaumnya supaya bersabar, mengingatkan mereka dengan apa me-reka meminta pertolongan dalam hal itu, dia berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah," maka lakukanlah konsekuensi iman, ﴾ تَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِينَ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya saja jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." Maksudnya, berpe-ganglah kepadaNya, kembalilah kepadaNya dan mohonlah perto-longan kepadaNya.
(85) ﴾ فَقَالُواْ ﴿ "Lalu mereka berkata", sebagai bentuk ketaatan dalam hal ini, ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَا رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Kepada Allah-lah kami bertawakal ! Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim." Maksudnya, janganlah Engkau men-jadikan mereka berkuasa atas kami yang akibatnya mereka akan menyiksa dan mengalahkan kami. Maka Bani Israil pun terfitnah oleh hal itu, dan mereka berkata, "Kalau mereka berpegang teguh pada kebenaran, niscaya mereka tidak dikalahkan."
(86) ﴾ وَنَجِّنَا بِرَحۡمَتِكَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir." Agar kami selamat dari kejahatan mereka dan agar kami berdiri tegak di atas agama kami dengan baik sehingga kami mampu menegakkan dan menam-pakkan syariat tanpa penentang dan pelawan.
(87) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya", ketika keadaan pada kaumnya semakin sulit akibat ulah Fir'aun dan kaumnya, dan mereka berusaha memfitnah me-reka dari agama mereka, ﴾ أَن تَبَوَّءَا لِقَوۡمِكُمَا بِمِصۡرَ بُيُوتٗا ﴿ "kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu." Maksudnya, perintahkan mereka agar mendirikan rumah yang bisa mereka pakai untuk bersembunyi di dalamnya. ﴾ وَٱجۡعَلُواْ بُيُوتَكُمۡ قِبۡلَةٗ ﴿ "Dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat." Maksudnya, ja-dikan rumahmu tempat untuk shalat di mana kamu tidak mampu melakukannya di tempat-tempat ibadah umum. ﴾ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَۗ ﴿ "Dan dirikanlah shalat," karena ia adalah penolong dalam segala urusan. ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "Serta gembirakanlah orang-orang yang beriman," dengan kemenangan, dukungan dan unggulnya agama mereka, karena akan selalu ada kemudahan di balik kesulitan-kesulitan, sesung-guhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, ketika keadaannya semakin sulit dan susah maka Allah akan menghilangkan dan me-mudahkannya.
(88) Tatkala Musa melihat Fir'aun dan kaumnya semakin keras dan menentang, maka dia mendoakan kejelekan atas mereka dan Harun mengamini doanya, dia berkata,﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَأَهُۥ زِينَةٗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan", yang mereka pakai dari ber-bagai jenis perhiasan, pakaian, istana-istana yang indah, kendaraan yang mewah dan pelayan-pelayan. ﴾ وَأَمۡوَٰلٗا ﴿ "dan harta", yang ba-nyak, ﴾ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَۖ ﴿ "dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu." Mereka tidak memakai harta mereka kecuali untuk menyesatkan orang-orang dari jalanMu, maka mereka sesat dan menyesatkan. ﴾ رَبَّنَا ٱطۡمِسۡ عَلَىٰٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ ﴿ "Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka", maksudnya lenyapkanlah harta mereka dengan cara diludeskan atau ia dijadi-kan batu yang tidak berguna. ﴾ وَٱشۡدُدۡ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Dan kunci matilah hati mereka." Yakni jadikanlah ia keras. ﴾ فَلَا يُؤۡمِنُواْ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih." Musa mengatakan ini karena marah kepada mereka di mana mereka berani melanggar hal-hal yang diharamkan Allah, merusak hamba-hamba Allah dan menghalang-halangi dari jalanNya, karena Musa tahu betul bahwa Allah akan menghukum mereka atas perbuatan mereka dengan menutup pintu iman atas mereka.
(89) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا ﴿ 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua." Ini adalah dalil bahwa Musa berdoa sedangkan Harun mengamini doanya, dan bahwa orang yang mengamini doa adalah rekan orang yang berdoa dalam doa itu, ﴾ فَٱسۡتَقِيمَا ﴿ "sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus", di atas agama kamu berdua dan teruslah berdakwah. ﴾ وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui." Maksudnya, jangan mengikuti orang-orang bodoh yang sesat yang menyimpang dari jalan yang lurus yang mengikuti jalan Neraka Jahim.
(90) Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil pergi di waktu malam. Allah mengabarkan bahwa mereka akan mengikutinya. Fir'aun membuat pengumuman di seluruh penjuru negeri bahwa mereka itu –Musa dan kaumnya– hanyalah segelintir orang pinggiran. Mereka marah kepada kami dan kita mewaspadai mereka. Fir'aun mengumpulkan bala tentaranya dari atasan sampai bawahan. Dia dengan bala tentaranya mengejar Bani Israil dengan kesombongan dan permusuhan, mereka hendak menangkap Musa dan membuat kerusakan di bumi. Jika kekejian telah memuncak dan dosa telah menguat maka tunggulah azab dari Allah. ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut." Hal itu karena Allah mewahyukan kepada Musa tatkala dia sampai di laut agar memukul laut dengan tongkatnya. Musa memukulnya, maka terbelahlah dua belas jalan, Bani Israil melaluinya, Fir'aun te-rus menguntit dengan bala tentaranya di belakangnya. Ketika Musa dan kaumnya telah sampai di daratan ujung sedangkan Fir'aun dengan bala tentaranya masih di tengah laut, maka Allah memerin-tahkan kepada laut untuk menelan Fir'aun dan bala tentaranya, maka ia pun memakan Fir'aun dan bala tentaranya. Mereka teng-gelam dengan dilihat oleh Bani Israil. Manakala Fir'aun tenggelam dan dia yakin akan mati, ﴾ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan (Rabb) yang diperca-yai oleh Bani Israil'." Yaitu Allah Rabb Yang Mahabenar, yang tiada Rabb melainkan Dia, ﴾ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." Yakni tunduk kepada agama Allah dan ajaran yang dibawa Musa.
(91) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa iman dalam kondisi seperti ini tidaklah berguna baginya. ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Apakah sekarang (baru kamu percaya)", beriman dan mengakui Rasul Allah,﴾ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ ﴿ "padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu." Maksud-nya, kamu terang-terangan bermaksiat, mengingkari dan mendus-takan, ﴾ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" Iman tidak berguna bagimu sebagaimana Sunnatullah yang berlaku bahwa jika orang kafir telah sampai kepada keadaan darurat ini, maka imannya tidak berguna baginya karena imannya adalah iman kepada sesuatu yang terlihat sebagaimana iman orang pada saat Kiamat tiba. Iman yang berguna itu adalah iman kepada yang ghaib.
(92) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةٗۚ ﴿ "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu." Ahli tafsir menyatakan bahwa Bani Israil ketika di dalam hatinya terdapat ketakutan yang sangat ter-hadap Fir'aun, maka mereka sepertinya tidak percaya kalau Fir'aun telah tenggelam, mereka meragukan itu. Maka Allah memerintah-kan laut agar melemparkan Fir'aun ke atas agar ia menjadi tanda dan pelajaran bagi mereka. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ ﴿ "Dan sesung-guhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." Oleh karena itu, tanda-tanda tersebut lewat berulang-ulang tetapi mereka tidak mengambil manfaat darinya karena mereka tidak memperhatikannya. Adapun orang dengan akal dan hati yang hadir[2] maka dia dapat melihat ayat-ayat Allah sebagai dalil terbesar atas kebenaran sesuatu yang diberitakan oleh para rasul.
(93) ﴾ وَلَقَدۡ بَوَّأۡنَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ مُبَوَّأَ صِدۡقٖ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus." Maksudnya, Allah menempatkan mereka di kediaman keluarga Fir'aun dan menjadikan Bani Israil sebagai pewaris negeri dan tempat tinggal mereka. ﴾ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ﴿ "Dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik", berupa makanan, minuman dan lain-lain, ﴾ فَمَا ٱخۡتَلَفُواْ ﴿ "maka mereka tidak berselisih", tentang kebenaran, ﴾ حَتَّىٰ جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُۚ ﴿ "kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat)." Yang membuat mereka bersatu dan bersepakat, akan tetapi seba-gian berbuat aniaya kepada sebagian yang lain, banyak dari mereka mempunyai ambisi dan tendensi yang menyelisihi kebenaran, maka terjadilah banyak perselisihan di kalangan mereka.﴾ إِنَّ رَبَّكَ يَقۡضِي بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka perselisihkan itu", dengan keputusanNya yang adil yang dilandasi ilmuNya yang sem-purna dan kodratNya yang menyeluruh. Inilah penyakit yang menimpa pengikut agama yang benar yaitu ketika setan telah berputus asa untuk mereka taati secara ke-seluruhan maka dia berusaha memprovokasi dan memicu sikap kebencian dan permusuhan di antara mereka, maka terjadilah per-selisihan yang merupakan akibat dari itu. Selanjutnya sebagian me-nyatakan sebagian yang lain sesat, sebagian memusuhi sebagian yang lain, dan hal itu membuat setan yang terlaknat berbahagia, karena jika tidak (berselisih maka dia akan berduka), lalu apabila Rabb mereka adalah satu, Rasul mereka adalah satu, agama mereka adalah satu dan kepentingan umum mereka adalah satu, maka atas dasar apa mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang memecah kesatuan mereka, memporak-porandakan barisan mereka, mem-bongkar ikatan dan tatanan mereka. Akibatnya adalah terbengka-lainya kemaslahatan mereka baik diniyah maupun duniawiyah dan matinya sebagian dari agama mereka? Kami memohon kepada-Mu ya Allah kasih sayang kepada hamba-hambaMu yang beriman, agar Engkau menyatukan barisan mereka, memperbaiki celah me-reka dan mengembalikan yang jauh kepada yang dekat dari mereka wahai pemilik kemuliaan dan kebesaran.
Yunus 10:80
"Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (mem-bawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka me-nyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata.' Musa berkata, 'Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu, sihirkah ini? Padahal ahli-ahli sihir itu tidak-lah mendapat kemenangan.' Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan memper-cayai kamu berdua.' Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), 'Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!' Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." (Yunus: 75-80) "Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata kepada me-reka, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya.' Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya). Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-we-nang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. Musa berkata, 'Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepadaNya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.' Lalu mereka berkata, 'Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Rabb kami, janganlah Eng-kau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim'." (Yunus: 81-85) "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, 'Kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat serta gembira-kanlah orang-orang yang beriman.' Musa berkata, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu. Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui'." (Yunus: 86-89) "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya ter-masuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).' Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang ber-buat kerusakan? Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang da-tang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia le-ngah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka per-selisihkan itu." (Yunus: 90-93)
(75) Maksudnya, kemudian Kami mengutus (setelah para rasul yang Allah utus kepada kaum yang mendustakan yang di-binasakan) ﴾ مُّوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, Rasul yang berbicara kepada Allah (Kalimurrahman), salah seorang rasul Ulul Azmi, salah seorang Rasul besar yang diteladani oleh mereka yang mana syariat yang agung lagi luas diturunkan kepadanya, dan Kami menjadikan Harun saudaranya sebagai pendukungnya. Kami mengutus keduanya, ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya." Yakni para pemimpin dan pembesar kaumnya, karena mayoritas mereka mengikuti para pemimpin ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami", yang menunjukkan ajaran yang dibawa-nya yaitu tauhid dan larangan menyembah selainNya. ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Maka mereka menyombongkan diri", darinya sebagai bentuk kezha-liman dan tinggi hati setelah meyakininya. ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa." Allah telah memvonis me-reka sebagai orang-orang yang (bergelimang) dosa dan mendusta-kan (ajaran Nuh).
(76) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُمُ ٱلۡحَقُّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Dan tatkala telah datang kepada me-reka kebenaran dari sisi Kami", yang merupakan kebenaran terbesar dan teragung. Ia dari sisi Allah yang mana seluruh leher tunduk kepada keagunganNya. Dia adalah Rabb semesta alam yang men-didik makhlukNya dengan nikmat-nikmatNya. Tatkala kebenaran dari Allah datang kepada mereka melalui Musa, maka mereka me-nolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّ هَٰذَا لَسِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata'." Mereka merasa tidak cukup –semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka– dengan berpaling dan menolak lebih dari itu, mereka menjadikan-nya sebagai kebatilan yang paling batil yaitu sihir yang hakikat sebenarnya adalah bualan, bahkan mereka menjadikannya sebagai sihir yang jelas lagi nyata padahal sebenarnya ia adalah kebenaran yang nyata.
(77) Oleh karena itu, ﴾ قَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Musa berkata", kepada me-reka sebagai bentuk pencelaan atas penolakan terhadap kebenaran yang tidak ditolak kecuali oleh orang yang paling zhalim.﴾ أَتَقُولُونَ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu." Maksudnya, apakah kamu berkata bahwa ia adalah sihir yang nyata, ﴾ أَسِحۡرٌ هَٰذَا ﴿ "sihirkah ini?" Maksudnya, lihatlah sifatnya dan apa yang dikandungnya maka hanya dengan itu bisa dipastikan bahwa ia adalah kebenaran, ﴾ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّٰحِرُونَ ﴿ "padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan." Tidak di dunia dan tidak di akhirat. Lihatlah siapakah yang meraih akibat yang baik, siapa yang ber-untung, siapa yang berhasil, setelah itu mereka mengetahui dan setiap orang melihat bahwa Musalah yang menang dan beruntung dengan keberuntungan dunia dan akhirat.
(78) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa, sebagai bentuk penolakan ucapannya dengan apa yang mana dia tidak mampu untuk menolaknya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتَلۡفِتَنَا عَمَّا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَا ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya." Maksudnya, apakah kamu datang kepada kami untuk menghalangi kami dari syirik dan ibadah kepada selain Allah yang kami dapati turun temurun dari nenek moyang kami dan memerintahkan kami agar menyembah Allah semata tanpa sekutu bagiNya. Mereka menjadikan ucapan nenek moyang mereka yang sesat sebagai hujjah yang dengannya mereka menolak kebenaran yang dibawa oleh Musa عليه السلام. Dan FirmanNya, ﴾ وَتَكُونَ لَكُمَا ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan supaya kamu ber-dua mempunyai kekuasaan di muka bumi?" Maksudnya, kamu datang kepada kami agar kamu menjadi pemimpin dan mengusir kami dari tanah air kami? Ini adalah tipuan dari mereka, promosi terhadap kebodohan mereka dan provokasi kepada orang awam agar me-musuhi Musa dan tidak beriman kepadanya. Ini tidak dijadikan sebagai hujjah oleh orang yang mengetahui hakikat dan mampu membedakan perkara-perkara, karena hujjah tidak ditolak kecuali dengan hujjah dan bukti. Adapun orang yang hadir membawa kebenaran lalu kebena-rannya ditolak dengan ucapan yang seperti ini maka itu menunjuk-kan kelemahan orang yang menghadirkannya untuk mendatangkan argumen yang bisa menolak pendapat lawan dialognya, karena seandainya dia mempunyai hujjah, niscaya dia menurunkannya dan tidak mengucapkan, "Tujuanmu adalah begini-begini, atau targetmu adalah ini dan ini." Sama saja dia jujur atau dusta dalam ucapannya dan pemberitaannya tentang maksud lawannya, padahal setiap orang yang mengetahui keadaan Musa dan ajaran yang didakwah-kannya, niscaya dia akan mengetahui bahwa dia sama sekali tidak memiliki tujuan berkuasa di muka bumi, tujuan Musa sama dengan tujuan para rasul yang lain: memberi petunjuk dan membimbing manusia kepada apa yang bermanfaat bagi mereka. Akan tetapi perkara sebenarnya adalah apa yang mereka ungkapkan sendiri dengan ucapannya, ﴾ وَمَا نَحۡنُ لَكُمَا بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kami tidak akan mempercayai kamu berdua." Sebagai bentuk pengingkaran dan kesombongan bu-kan karena kebatilan apa yang dibawa oleh Musa dan Harun, tidak pula karena kerancuan padanya dan tidak pula karena makna-makna lainnya kecuali karena kezhaliman, permusuhan dan kekuasaan yang mereka tuduhkan kepada Musa dan Harun.
(79) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya)", sebagai bentuk penentangan kepada kebenaran yang dibawa oleh Musa dan menunjukkan kekuatannya di depan kaum dan pengi-kutnya, ﴾ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٖ ﴿ "Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai." Yakni ahli dan mumpuni dalam urusan sihir, maka Fir'aun meminta agar para penyihir yang mahir dalam berbagai jenis dan bentuknya dihadirkan dari seluruh penjuru Mesir.
(80) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang", untuk bertarung melawan Musa, ﴾ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ ﴿ "Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." Yakni apa pun yang kamu inginkan tanpa harus aku tentukan, hal itu karena Musa yakin dapat mengalahkan mereka, tak peduli mereka dan apa yang mereka hadirkan. @
(81) ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka lemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka, maka seolah-olah ia adalah ular yang merayap. ﴾ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ ﴿ "Musa berkata, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir'." Ini adalah sihir yang besar, walau-pun ia besar, akan tetapi ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "sesung-guhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan." Karena mereka menginginkan (dengan hal tersebut) untuk mendukung kebatilan di atas kebenaran, adakah kerusakan yang lebih besar daripada ini? Begitulah setiap perusak melakukan sesuatu lalu dia membuat tipu daya dan makar, per-buatannya pasti batal dan terkikis, meskipun dalam waktu tertentu apa yang dilakukannya cukup laris, akan tetapi ujung-ujungnya adalah habis dan lenyap. Adapun orang-orang yang memperbaiki diri yang mana tujuan dari perbuatan mereka adalah Wajah Allah dan ia adalah perbuatan-perbuatan dan sarana-sarana yang berguna yang diperintahkan, maka Allah memperbaiki perbuatan mereka, menjunjungnya dan menumbuhkannya selalu.
(82) Musa melempar tongkatnya, ia pun melahap semua apa yang mereka bikin lalu batallah sihir mereka, lenyaplah kebatilan mereka. ﴾ وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya)." Maka ahli sihir itu tunduk kepada Musa ketika jelas bagi mereka kebenaran, Fir'aun mengancam mereka akan menyalib dan memotong tangan dan kaki mereka, tetapi mereka tidak gentar dan tetap teguh beriman.
(83) Adapun Fir'aun dengan kaum dan pembesarnya serta pengikut mereka maka tidak seorang pun dari mereka yang ber-iman bahkan mereka terus terlelap di dalam kesesatan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَمَآ ءَامَنَ لِمُوسَىٰٓ إِلَّا ذُرِّيَّةٞ مِّن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa)." Yakni anak-anak muda Bani Israil yang sabar dalam meng-hadapi rasa takut karena iman yang bercokol di dalam hatinya ﴾ عَلَىٰ خَوۡفٖ مِّن فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِمۡ أَن يَفۡتِنَهُمۡۚ ﴿ "dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pe-muka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka", karena agama mereka. ﴾ وَإِنَّ فِرۡعَوۡنَ لَعَالٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat semena-mena di muka bumi", maksudnya dia mempunyai kekuasaan dan kekuatan maka pantas mereka takut terhadap ancamannya, lebih-lebih karena dia ﴾ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang melampaui batas." Mak-sudnya, dia termasuk orang-orang yang melamapui batas dalam urusan melanggar dan menganiaya. Hikmah –wallahu a'lam– dari berimannya anak-anak muda dari Bani Israil kepada Musa adalah karena anak-anak muda lebih bisa menerima dan menaati kebenar-an, lain halnya dengan orang-orang tua yang hidup di atas kekufur-an, mereka lebih jauh dari kebenaran disebabkan karena keyakinan yang rusak yang ada di dalam hati mereka.
(84) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa berkata", dalam keadaan mewasiatkan kaumnya supaya bersabar, mengingatkan mereka dengan apa me-reka meminta pertolongan dalam hal itu, dia berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah," maka lakukanlah konsekuensi iman, ﴾ تَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِينَ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya saja jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." Maksudnya, berpe-ganglah kepadaNya, kembalilah kepadaNya dan mohonlah perto-longan kepadaNya.
(85) ﴾ فَقَالُواْ ﴿ "Lalu mereka berkata", sebagai bentuk ketaatan dalam hal ini, ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَا رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Kepada Allah-lah kami bertawakal ! Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim." Maksudnya, janganlah Engkau men-jadikan mereka berkuasa atas kami yang akibatnya mereka akan menyiksa dan mengalahkan kami. Maka Bani Israil pun terfitnah oleh hal itu, dan mereka berkata, "Kalau mereka berpegang teguh pada kebenaran, niscaya mereka tidak dikalahkan."
(86) ﴾ وَنَجِّنَا بِرَحۡمَتِكَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir." Agar kami selamat dari kejahatan mereka dan agar kami berdiri tegak di atas agama kami dengan baik sehingga kami mampu menegakkan dan menam-pakkan syariat tanpa penentang dan pelawan.
(87) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya", ketika keadaan pada kaumnya semakin sulit akibat ulah Fir'aun dan kaumnya, dan mereka berusaha memfitnah me-reka dari agama mereka, ﴾ أَن تَبَوَّءَا لِقَوۡمِكُمَا بِمِصۡرَ بُيُوتٗا ﴿ "kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu." Maksudnya, perintahkan mereka agar mendirikan rumah yang bisa mereka pakai untuk bersembunyi di dalamnya. ﴾ وَٱجۡعَلُواْ بُيُوتَكُمۡ قِبۡلَةٗ ﴿ "Dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat." Maksudnya, ja-dikan rumahmu tempat untuk shalat di mana kamu tidak mampu melakukannya di tempat-tempat ibadah umum. ﴾ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَۗ ﴿ "Dan dirikanlah shalat," karena ia adalah penolong dalam segala urusan. ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "Serta gembirakanlah orang-orang yang beriman," dengan kemenangan, dukungan dan unggulnya agama mereka, karena akan selalu ada kemudahan di balik kesulitan-kesulitan, sesung-guhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, ketika keadaannya semakin sulit dan susah maka Allah akan menghilangkan dan me-mudahkannya.
(88) Tatkala Musa melihat Fir'aun dan kaumnya semakin keras dan menentang, maka dia mendoakan kejelekan atas mereka dan Harun mengamini doanya, dia berkata,﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَأَهُۥ زِينَةٗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan", yang mereka pakai dari ber-bagai jenis perhiasan, pakaian, istana-istana yang indah, kendaraan yang mewah dan pelayan-pelayan. ﴾ وَأَمۡوَٰلٗا ﴿ "dan harta", yang ba-nyak, ﴾ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَۖ ﴿ "dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu." Mereka tidak memakai harta mereka kecuali untuk menyesatkan orang-orang dari jalanMu, maka mereka sesat dan menyesatkan. ﴾ رَبَّنَا ٱطۡمِسۡ عَلَىٰٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ ﴿ "Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka", maksudnya lenyapkanlah harta mereka dengan cara diludeskan atau ia dijadi-kan batu yang tidak berguna. ﴾ وَٱشۡدُدۡ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Dan kunci matilah hati mereka." Yakni jadikanlah ia keras. ﴾ فَلَا يُؤۡمِنُواْ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih." Musa mengatakan ini karena marah kepada mereka di mana mereka berani melanggar hal-hal yang diharamkan Allah, merusak hamba-hamba Allah dan menghalang-halangi dari jalanNya, karena Musa tahu betul bahwa Allah akan menghukum mereka atas perbuatan mereka dengan menutup pintu iman atas mereka.
(89) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا ﴿ 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua." Ini adalah dalil bahwa Musa berdoa sedangkan Harun mengamini doanya, dan bahwa orang yang mengamini doa adalah rekan orang yang berdoa dalam doa itu, ﴾ فَٱسۡتَقِيمَا ﴿ "sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus", di atas agama kamu berdua dan teruslah berdakwah. ﴾ وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui." Maksudnya, jangan mengikuti orang-orang bodoh yang sesat yang menyimpang dari jalan yang lurus yang mengikuti jalan Neraka Jahim.
(90) Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil pergi di waktu malam. Allah mengabarkan bahwa mereka akan mengikutinya. Fir'aun membuat pengumuman di seluruh penjuru negeri bahwa mereka itu –Musa dan kaumnya– hanyalah segelintir orang pinggiran. Mereka marah kepada kami dan kita mewaspadai mereka. Fir'aun mengumpulkan bala tentaranya dari atasan sampai bawahan. Dia dengan bala tentaranya mengejar Bani Israil dengan kesombongan dan permusuhan, mereka hendak menangkap Musa dan membuat kerusakan di bumi. Jika kekejian telah memuncak dan dosa telah menguat maka tunggulah azab dari Allah. ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut." Hal itu karena Allah mewahyukan kepada Musa tatkala dia sampai di laut agar memukul laut dengan tongkatnya. Musa memukulnya, maka terbelahlah dua belas jalan, Bani Israil melaluinya, Fir'aun te-rus menguntit dengan bala tentaranya di belakangnya. Ketika Musa dan kaumnya telah sampai di daratan ujung sedangkan Fir'aun dengan bala tentaranya masih di tengah laut, maka Allah memerin-tahkan kepada laut untuk menelan Fir'aun dan bala tentaranya, maka ia pun memakan Fir'aun dan bala tentaranya. Mereka teng-gelam dengan dilihat oleh Bani Israil. Manakala Fir'aun tenggelam dan dia yakin akan mati, ﴾ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan (Rabb) yang diperca-yai oleh Bani Israil'." Yaitu Allah Rabb Yang Mahabenar, yang tiada Rabb melainkan Dia, ﴾ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." Yakni tunduk kepada agama Allah dan ajaran yang dibawa Musa.
(91) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa iman dalam kondisi seperti ini tidaklah berguna baginya. ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Apakah sekarang (baru kamu percaya)", beriman dan mengakui Rasul Allah,﴾ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ ﴿ "padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu." Maksud-nya, kamu terang-terangan bermaksiat, mengingkari dan mendus-takan, ﴾ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" Iman tidak berguna bagimu sebagaimana Sunnatullah yang berlaku bahwa jika orang kafir telah sampai kepada keadaan darurat ini, maka imannya tidak berguna baginya karena imannya adalah iman kepada sesuatu yang terlihat sebagaimana iman orang pada saat Kiamat tiba. Iman yang berguna itu adalah iman kepada yang ghaib.
(92) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةٗۚ ﴿ "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu." Ahli tafsir menyatakan bahwa Bani Israil ketika di dalam hatinya terdapat ketakutan yang sangat ter-hadap Fir'aun, maka mereka sepertinya tidak percaya kalau Fir'aun telah tenggelam, mereka meragukan itu. Maka Allah memerintah-kan laut agar melemparkan Fir'aun ke atas agar ia menjadi tanda dan pelajaran bagi mereka. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ ﴿ "Dan sesung-guhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." Oleh karena itu, tanda-tanda tersebut lewat berulang-ulang tetapi mereka tidak mengambil manfaat darinya karena mereka tidak memperhatikannya. Adapun orang dengan akal dan hati yang hadir[2] maka dia dapat melihat ayat-ayat Allah sebagai dalil terbesar atas kebenaran sesuatu yang diberitakan oleh para rasul.
(93) ﴾ وَلَقَدۡ بَوَّأۡنَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ مُبَوَّأَ صِدۡقٖ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus." Maksudnya, Allah menempatkan mereka di kediaman keluarga Fir'aun dan menjadikan Bani Israil sebagai pewaris negeri dan tempat tinggal mereka. ﴾ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ﴿ "Dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik", berupa makanan, minuman dan lain-lain, ﴾ فَمَا ٱخۡتَلَفُواْ ﴿ "maka mereka tidak berselisih", tentang kebenaran, ﴾ حَتَّىٰ جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُۚ ﴿ "kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat)." Yang membuat mereka bersatu dan bersepakat, akan tetapi seba-gian berbuat aniaya kepada sebagian yang lain, banyak dari mereka mempunyai ambisi dan tendensi yang menyelisihi kebenaran, maka terjadilah banyak perselisihan di kalangan mereka.﴾ إِنَّ رَبَّكَ يَقۡضِي بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka perselisihkan itu", dengan keputusanNya yang adil yang dilandasi ilmuNya yang sem-purna dan kodratNya yang menyeluruh. Inilah penyakit yang menimpa pengikut agama yang benar yaitu ketika setan telah berputus asa untuk mereka taati secara ke-seluruhan maka dia berusaha memprovokasi dan memicu sikap kebencian dan permusuhan di antara mereka, maka terjadilah per-selisihan yang merupakan akibat dari itu. Selanjutnya sebagian me-nyatakan sebagian yang lain sesat, sebagian memusuhi sebagian yang lain, dan hal itu membuat setan yang terlaknat berbahagia, karena jika tidak (berselisih maka dia akan berduka), lalu apabila Rabb mereka adalah satu, Rasul mereka adalah satu, agama mereka adalah satu dan kepentingan umum mereka adalah satu, maka atas dasar apa mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang memecah kesatuan mereka, memporak-porandakan barisan mereka, mem-bongkar ikatan dan tatanan mereka. Akibatnya adalah terbengka-lainya kemaslahatan mereka baik diniyah maupun duniawiyah dan matinya sebagian dari agama mereka? Kami memohon kepada-Mu ya Allah kasih sayang kepada hamba-hambaMu yang beriman, agar Engkau menyatukan barisan mereka, memperbaiki celah me-reka dan mengembalikan yang jauh kepada yang dekat dari mereka wahai pemilik kemuliaan dan kebesaran.
Yunus 10:81
"Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (mem-bawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka me-nyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata.' Musa berkata, 'Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu, sihirkah ini? Padahal ahli-ahli sihir itu tidak-lah mendapat kemenangan.' Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan memper-cayai kamu berdua.' Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), 'Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!' Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." (Yunus: 75-80) "Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata kepada me-reka, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya.' Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya). Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-we-nang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. Musa berkata, 'Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepadaNya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.' Lalu mereka berkata, 'Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Rabb kami, janganlah Eng-kau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim'." (Yunus: 81-85) "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, 'Kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat serta gembira-kanlah orang-orang yang beriman.' Musa berkata, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu. Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui'." (Yunus: 86-89) "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya ter-masuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).' Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang ber-buat kerusakan? Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang da-tang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia le-ngah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka per-selisihkan itu." (Yunus: 90-93)
(75) Maksudnya, kemudian Kami mengutus (setelah para rasul yang Allah utus kepada kaum yang mendustakan yang di-binasakan) ﴾ مُّوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, Rasul yang berbicara kepada Allah (Kalimurrahman), salah seorang rasul Ulul Azmi, salah seorang Rasul besar yang diteladani oleh mereka yang mana syariat yang agung lagi luas diturunkan kepadanya, dan Kami menjadikan Harun saudaranya sebagai pendukungnya. Kami mengutus keduanya, ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya." Yakni para pemimpin dan pembesar kaumnya, karena mayoritas mereka mengikuti para pemimpin ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami", yang menunjukkan ajaran yang dibawa-nya yaitu tauhid dan larangan menyembah selainNya. ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Maka mereka menyombongkan diri", darinya sebagai bentuk kezha-liman dan tinggi hati setelah meyakininya. ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa." Allah telah memvonis me-reka sebagai orang-orang yang (bergelimang) dosa dan mendusta-kan (ajaran Nuh).
(76) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُمُ ٱلۡحَقُّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Dan tatkala telah datang kepada me-reka kebenaran dari sisi Kami", yang merupakan kebenaran terbesar dan teragung. Ia dari sisi Allah yang mana seluruh leher tunduk kepada keagunganNya. Dia adalah Rabb semesta alam yang men-didik makhlukNya dengan nikmat-nikmatNya. Tatkala kebenaran dari Allah datang kepada mereka melalui Musa, maka mereka me-nolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّ هَٰذَا لَسِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata'." Mereka merasa tidak cukup –semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka– dengan berpaling dan menolak lebih dari itu, mereka menjadikan-nya sebagai kebatilan yang paling batil yaitu sihir yang hakikat sebenarnya adalah bualan, bahkan mereka menjadikannya sebagai sihir yang jelas lagi nyata padahal sebenarnya ia adalah kebenaran yang nyata.
(77) Oleh karena itu, ﴾ قَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Musa berkata", kepada me-reka sebagai bentuk pencelaan atas penolakan terhadap kebenaran yang tidak ditolak kecuali oleh orang yang paling zhalim.﴾ أَتَقُولُونَ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu." Maksudnya, apakah kamu berkata bahwa ia adalah sihir yang nyata, ﴾ أَسِحۡرٌ هَٰذَا ﴿ "sihirkah ini?" Maksudnya, lihatlah sifatnya dan apa yang dikandungnya maka hanya dengan itu bisa dipastikan bahwa ia adalah kebenaran, ﴾ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّٰحِرُونَ ﴿ "padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan." Tidak di dunia dan tidak di akhirat. Lihatlah siapakah yang meraih akibat yang baik, siapa yang ber-untung, siapa yang berhasil, setelah itu mereka mengetahui dan setiap orang melihat bahwa Musalah yang menang dan beruntung dengan keberuntungan dunia dan akhirat.
(78) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa, sebagai bentuk penolakan ucapannya dengan apa yang mana dia tidak mampu untuk menolaknya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتَلۡفِتَنَا عَمَّا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَا ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya." Maksudnya, apakah kamu datang kepada kami untuk menghalangi kami dari syirik dan ibadah kepada selain Allah yang kami dapati turun temurun dari nenek moyang kami dan memerintahkan kami agar menyembah Allah semata tanpa sekutu bagiNya. Mereka menjadikan ucapan nenek moyang mereka yang sesat sebagai hujjah yang dengannya mereka menolak kebenaran yang dibawa oleh Musa عليه السلام. Dan FirmanNya, ﴾ وَتَكُونَ لَكُمَا ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan supaya kamu ber-dua mempunyai kekuasaan di muka bumi?" Maksudnya, kamu datang kepada kami agar kamu menjadi pemimpin dan mengusir kami dari tanah air kami? Ini adalah tipuan dari mereka, promosi terhadap kebodohan mereka dan provokasi kepada orang awam agar me-musuhi Musa dan tidak beriman kepadanya. Ini tidak dijadikan sebagai hujjah oleh orang yang mengetahui hakikat dan mampu membedakan perkara-perkara, karena hujjah tidak ditolak kecuali dengan hujjah dan bukti. Adapun orang yang hadir membawa kebenaran lalu kebena-rannya ditolak dengan ucapan yang seperti ini maka itu menunjuk-kan kelemahan orang yang menghadirkannya untuk mendatangkan argumen yang bisa menolak pendapat lawan dialognya, karena seandainya dia mempunyai hujjah, niscaya dia menurunkannya dan tidak mengucapkan, "Tujuanmu adalah begini-begini, atau targetmu adalah ini dan ini." Sama saja dia jujur atau dusta dalam ucapannya dan pemberitaannya tentang maksud lawannya, padahal setiap orang yang mengetahui keadaan Musa dan ajaran yang didakwah-kannya, niscaya dia akan mengetahui bahwa dia sama sekali tidak memiliki tujuan berkuasa di muka bumi, tujuan Musa sama dengan tujuan para rasul yang lain: memberi petunjuk dan membimbing manusia kepada apa yang bermanfaat bagi mereka. Akan tetapi perkara sebenarnya adalah apa yang mereka ungkapkan sendiri dengan ucapannya, ﴾ وَمَا نَحۡنُ لَكُمَا بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kami tidak akan mempercayai kamu berdua." Sebagai bentuk pengingkaran dan kesombongan bu-kan karena kebatilan apa yang dibawa oleh Musa dan Harun, tidak pula karena kerancuan padanya dan tidak pula karena makna-makna lainnya kecuali karena kezhaliman, permusuhan dan kekuasaan yang mereka tuduhkan kepada Musa dan Harun.
(79) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya)", sebagai bentuk penentangan kepada kebenaran yang dibawa oleh Musa dan menunjukkan kekuatannya di depan kaum dan pengi-kutnya, ﴾ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٖ ﴿ "Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai." Yakni ahli dan mumpuni dalam urusan sihir, maka Fir'aun meminta agar para penyihir yang mahir dalam berbagai jenis dan bentuknya dihadirkan dari seluruh penjuru Mesir.
(80) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang", untuk bertarung melawan Musa, ﴾ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ ﴿ "Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." Yakni apa pun yang kamu inginkan tanpa harus aku tentukan, hal itu karena Musa yakin dapat mengalahkan mereka, tak peduli mereka dan apa yang mereka hadirkan. @
(81) ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka lemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka, maka seolah-olah ia adalah ular yang merayap. ﴾ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ ﴿ "Musa berkata, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir'." Ini adalah sihir yang besar, walau-pun ia besar, akan tetapi ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "sesung-guhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan." Karena mereka menginginkan (dengan hal tersebut) untuk mendukung kebatilan di atas kebenaran, adakah kerusakan yang lebih besar daripada ini? Begitulah setiap perusak melakukan sesuatu lalu dia membuat tipu daya dan makar, per-buatannya pasti batal dan terkikis, meskipun dalam waktu tertentu apa yang dilakukannya cukup laris, akan tetapi ujung-ujungnya adalah habis dan lenyap. Adapun orang-orang yang memperbaiki diri yang mana tujuan dari perbuatan mereka adalah Wajah Allah dan ia adalah perbuatan-perbuatan dan sarana-sarana yang berguna yang diperintahkan, maka Allah memperbaiki perbuatan mereka, menjunjungnya dan menumbuhkannya selalu.
(82) Musa melempar tongkatnya, ia pun melahap semua apa yang mereka bikin lalu batallah sihir mereka, lenyaplah kebatilan mereka. ﴾ وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya)." Maka ahli sihir itu tunduk kepada Musa ketika jelas bagi mereka kebenaran, Fir'aun mengancam mereka akan menyalib dan memotong tangan dan kaki mereka, tetapi mereka tidak gentar dan tetap teguh beriman.
(83) Adapun Fir'aun dengan kaum dan pembesarnya serta pengikut mereka maka tidak seorang pun dari mereka yang ber-iman bahkan mereka terus terlelap di dalam kesesatan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَمَآ ءَامَنَ لِمُوسَىٰٓ إِلَّا ذُرِّيَّةٞ مِّن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa)." Yakni anak-anak muda Bani Israil yang sabar dalam meng-hadapi rasa takut karena iman yang bercokol di dalam hatinya ﴾ عَلَىٰ خَوۡفٖ مِّن فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِمۡ أَن يَفۡتِنَهُمۡۚ ﴿ "dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pe-muka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka", karena agama mereka. ﴾ وَإِنَّ فِرۡعَوۡنَ لَعَالٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat semena-mena di muka bumi", maksudnya dia mempunyai kekuasaan dan kekuatan maka pantas mereka takut terhadap ancamannya, lebih-lebih karena dia ﴾ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang melampaui batas." Mak-sudnya, dia termasuk orang-orang yang melamapui batas dalam urusan melanggar dan menganiaya. Hikmah –wallahu a'lam– dari berimannya anak-anak muda dari Bani Israil kepada Musa adalah karena anak-anak muda lebih bisa menerima dan menaati kebenar-an, lain halnya dengan orang-orang tua yang hidup di atas kekufur-an, mereka lebih jauh dari kebenaran disebabkan karena keyakinan yang rusak yang ada di dalam hati mereka.
(84) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa berkata", dalam keadaan mewasiatkan kaumnya supaya bersabar, mengingatkan mereka dengan apa me-reka meminta pertolongan dalam hal itu, dia berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah," maka lakukanlah konsekuensi iman, ﴾ تَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِينَ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya saja jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." Maksudnya, berpe-ganglah kepadaNya, kembalilah kepadaNya dan mohonlah perto-longan kepadaNya.
(85) ﴾ فَقَالُواْ ﴿ "Lalu mereka berkata", sebagai bentuk ketaatan dalam hal ini, ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَا رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Kepada Allah-lah kami bertawakal ! Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim." Maksudnya, janganlah Engkau men-jadikan mereka berkuasa atas kami yang akibatnya mereka akan menyiksa dan mengalahkan kami. Maka Bani Israil pun terfitnah oleh hal itu, dan mereka berkata, "Kalau mereka berpegang teguh pada kebenaran, niscaya mereka tidak dikalahkan."
(86) ﴾ وَنَجِّنَا بِرَحۡمَتِكَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir." Agar kami selamat dari kejahatan mereka dan agar kami berdiri tegak di atas agama kami dengan baik sehingga kami mampu menegakkan dan menam-pakkan syariat tanpa penentang dan pelawan.
(87) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya", ketika keadaan pada kaumnya semakin sulit akibat ulah Fir'aun dan kaumnya, dan mereka berusaha memfitnah me-reka dari agama mereka, ﴾ أَن تَبَوَّءَا لِقَوۡمِكُمَا بِمِصۡرَ بُيُوتٗا ﴿ "kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu." Maksudnya, perintahkan mereka agar mendirikan rumah yang bisa mereka pakai untuk bersembunyi di dalamnya. ﴾ وَٱجۡعَلُواْ بُيُوتَكُمۡ قِبۡلَةٗ ﴿ "Dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat." Maksudnya, ja-dikan rumahmu tempat untuk shalat di mana kamu tidak mampu melakukannya di tempat-tempat ibadah umum. ﴾ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَۗ ﴿ "Dan dirikanlah shalat," karena ia adalah penolong dalam segala urusan. ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "Serta gembirakanlah orang-orang yang beriman," dengan kemenangan, dukungan dan unggulnya agama mereka, karena akan selalu ada kemudahan di balik kesulitan-kesulitan, sesung-guhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, ketika keadaannya semakin sulit dan susah maka Allah akan menghilangkan dan me-mudahkannya.
(88) Tatkala Musa melihat Fir'aun dan kaumnya semakin keras dan menentang, maka dia mendoakan kejelekan atas mereka dan Harun mengamini doanya, dia berkata,﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَأَهُۥ زِينَةٗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan", yang mereka pakai dari ber-bagai jenis perhiasan, pakaian, istana-istana yang indah, kendaraan yang mewah dan pelayan-pelayan. ﴾ وَأَمۡوَٰلٗا ﴿ "dan harta", yang ba-nyak, ﴾ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَۖ ﴿ "dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu." Mereka tidak memakai harta mereka kecuali untuk menyesatkan orang-orang dari jalanMu, maka mereka sesat dan menyesatkan. ﴾ رَبَّنَا ٱطۡمِسۡ عَلَىٰٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ ﴿ "Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka", maksudnya lenyapkanlah harta mereka dengan cara diludeskan atau ia dijadi-kan batu yang tidak berguna. ﴾ وَٱشۡدُدۡ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Dan kunci matilah hati mereka." Yakni jadikanlah ia keras. ﴾ فَلَا يُؤۡمِنُواْ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih." Musa mengatakan ini karena marah kepada mereka di mana mereka berani melanggar hal-hal yang diharamkan Allah, merusak hamba-hamba Allah dan menghalang-halangi dari jalanNya, karena Musa tahu betul bahwa Allah akan menghukum mereka atas perbuatan mereka dengan menutup pintu iman atas mereka.
(89) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا ﴿ 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua." Ini adalah dalil bahwa Musa berdoa sedangkan Harun mengamini doanya, dan bahwa orang yang mengamini doa adalah rekan orang yang berdoa dalam doa itu, ﴾ فَٱسۡتَقِيمَا ﴿ "sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus", di atas agama kamu berdua dan teruslah berdakwah. ﴾ وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui." Maksudnya, jangan mengikuti orang-orang bodoh yang sesat yang menyimpang dari jalan yang lurus yang mengikuti jalan Neraka Jahim.
(90) Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil pergi di waktu malam. Allah mengabarkan bahwa mereka akan mengikutinya. Fir'aun membuat pengumuman di seluruh penjuru negeri bahwa mereka itu –Musa dan kaumnya– hanyalah segelintir orang pinggiran. Mereka marah kepada kami dan kita mewaspadai mereka. Fir'aun mengumpulkan bala tentaranya dari atasan sampai bawahan. Dia dengan bala tentaranya mengejar Bani Israil dengan kesombongan dan permusuhan, mereka hendak menangkap Musa dan membuat kerusakan di bumi. Jika kekejian telah memuncak dan dosa telah menguat maka tunggulah azab dari Allah. ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut." Hal itu karena Allah mewahyukan kepada Musa tatkala dia sampai di laut agar memukul laut dengan tongkatnya. Musa memukulnya, maka terbelahlah dua belas jalan, Bani Israil melaluinya, Fir'aun te-rus menguntit dengan bala tentaranya di belakangnya. Ketika Musa dan kaumnya telah sampai di daratan ujung sedangkan Fir'aun dengan bala tentaranya masih di tengah laut, maka Allah memerin-tahkan kepada laut untuk menelan Fir'aun dan bala tentaranya, maka ia pun memakan Fir'aun dan bala tentaranya. Mereka teng-gelam dengan dilihat oleh Bani Israil. Manakala Fir'aun tenggelam dan dia yakin akan mati, ﴾ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan (Rabb) yang diperca-yai oleh Bani Israil'." Yaitu Allah Rabb Yang Mahabenar, yang tiada Rabb melainkan Dia, ﴾ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." Yakni tunduk kepada agama Allah dan ajaran yang dibawa Musa.
(91) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa iman dalam kondisi seperti ini tidaklah berguna baginya. ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Apakah sekarang (baru kamu percaya)", beriman dan mengakui Rasul Allah,﴾ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ ﴿ "padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu." Maksud-nya, kamu terang-terangan bermaksiat, mengingkari dan mendus-takan, ﴾ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" Iman tidak berguna bagimu sebagaimana Sunnatullah yang berlaku bahwa jika orang kafir telah sampai kepada keadaan darurat ini, maka imannya tidak berguna baginya karena imannya adalah iman kepada sesuatu yang terlihat sebagaimana iman orang pada saat Kiamat tiba. Iman yang berguna itu adalah iman kepada yang ghaib.
(92) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةٗۚ ﴿ "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu." Ahli tafsir menyatakan bahwa Bani Israil ketika di dalam hatinya terdapat ketakutan yang sangat ter-hadap Fir'aun, maka mereka sepertinya tidak percaya kalau Fir'aun telah tenggelam, mereka meragukan itu. Maka Allah memerintah-kan laut agar melemparkan Fir'aun ke atas agar ia menjadi tanda dan pelajaran bagi mereka. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ ﴿ "Dan sesung-guhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." Oleh karena itu, tanda-tanda tersebut lewat berulang-ulang tetapi mereka tidak mengambil manfaat darinya karena mereka tidak memperhatikannya. Adapun orang dengan akal dan hati yang hadir[2] maka dia dapat melihat ayat-ayat Allah sebagai dalil terbesar atas kebenaran sesuatu yang diberitakan oleh para rasul.
(93) ﴾ وَلَقَدۡ بَوَّأۡنَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ مُبَوَّأَ صِدۡقٖ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus." Maksudnya, Allah menempatkan mereka di kediaman keluarga Fir'aun dan menjadikan Bani Israil sebagai pewaris negeri dan tempat tinggal mereka. ﴾ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ﴿ "Dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik", berupa makanan, minuman dan lain-lain, ﴾ فَمَا ٱخۡتَلَفُواْ ﴿ "maka mereka tidak berselisih", tentang kebenaran, ﴾ حَتَّىٰ جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُۚ ﴿ "kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat)." Yang membuat mereka bersatu dan bersepakat, akan tetapi seba-gian berbuat aniaya kepada sebagian yang lain, banyak dari mereka mempunyai ambisi dan tendensi yang menyelisihi kebenaran, maka terjadilah banyak perselisihan di kalangan mereka.﴾ إِنَّ رَبَّكَ يَقۡضِي بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka perselisihkan itu", dengan keputusanNya yang adil yang dilandasi ilmuNya yang sem-purna dan kodratNya yang menyeluruh. Inilah penyakit yang menimpa pengikut agama yang benar yaitu ketika setan telah berputus asa untuk mereka taati secara ke-seluruhan maka dia berusaha memprovokasi dan memicu sikap kebencian dan permusuhan di antara mereka, maka terjadilah per-selisihan yang merupakan akibat dari itu. Selanjutnya sebagian me-nyatakan sebagian yang lain sesat, sebagian memusuhi sebagian yang lain, dan hal itu membuat setan yang terlaknat berbahagia, karena jika tidak (berselisih maka dia akan berduka), lalu apabila Rabb mereka adalah satu, Rasul mereka adalah satu, agama mereka adalah satu dan kepentingan umum mereka adalah satu, maka atas dasar apa mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang memecah kesatuan mereka, memporak-porandakan barisan mereka, mem-bongkar ikatan dan tatanan mereka. Akibatnya adalah terbengka-lainya kemaslahatan mereka baik diniyah maupun duniawiyah dan matinya sebagian dari agama mereka? Kami memohon kepada-Mu ya Allah kasih sayang kepada hamba-hambaMu yang beriman, agar Engkau menyatukan barisan mereka, memperbaiki celah me-reka dan mengembalikan yang jauh kepada yang dekat dari mereka wahai pemilik kemuliaan dan kebesaran.
Yunus 10:82
"Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (mem-bawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka me-nyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata.' Musa berkata, 'Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu, sihirkah ini? Padahal ahli-ahli sihir itu tidak-lah mendapat kemenangan.' Mereka berkata, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan memper-cayai kamu berdua.' Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), 'Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!' Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." (Yunus: 75-80) "Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata kepada me-reka, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya.' Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya). Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-we-nang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. Musa berkata, 'Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepadaNya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.' Lalu mereka berkata, 'Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Rabb kami, janganlah Eng-kau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim'." (Yunus: 81-85) "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, 'Kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat serta gembira-kanlah orang-orang yang beriman.' Musa berkata, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu. Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui'." (Yunus: 86-89) "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya ter-masuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).' Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang ber-buat kerusakan? Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang da-tang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia le-ngah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka per-selisihkan itu." (Yunus: 90-93)
(75) Maksudnya, kemudian Kami mengutus (setelah para rasul yang Allah utus kepada kaum yang mendustakan yang di-binasakan) ﴾ مُّوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, Rasul yang berbicara kepada Allah (Kalimurrahman), salah seorang rasul Ulul Azmi, salah seorang Rasul besar yang diteladani oleh mereka yang mana syariat yang agung lagi luas diturunkan kepadanya, dan Kami menjadikan Harun saudaranya sebagai pendukungnya. Kami mengutus keduanya, ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya." Yakni para pemimpin dan pembesar kaumnya, karena mayoritas mereka mengikuti para pemimpin ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami", yang menunjukkan ajaran yang dibawa-nya yaitu tauhid dan larangan menyembah selainNya. ﴾ فَٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Maka mereka menyombongkan diri", darinya sebagai bentuk kezha-liman dan tinggi hati setelah meyakininya. ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمٗا مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa." Allah telah memvonis me-reka sebagai orang-orang yang (bergelimang) dosa dan mendusta-kan (ajaran Nuh).
(76) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُمُ ٱلۡحَقُّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Dan tatkala telah datang kepada me-reka kebenaran dari sisi Kami", yang merupakan kebenaran terbesar dan teragung. Ia dari sisi Allah yang mana seluruh leher tunduk kepada keagunganNya. Dia adalah Rabb semesta alam yang men-didik makhlukNya dengan nikmat-nikmatNya. Tatkala kebenaran dari Allah datang kepada mereka melalui Musa, maka mereka me-nolaknya dan tidak menerimanya. ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّ هَٰذَا لَسِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Mereka berkata, 'Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata'." Mereka merasa tidak cukup –semoga Allah menimpakan keburukan kepada mereka– dengan berpaling dan menolak lebih dari itu, mereka menjadikan-nya sebagai kebatilan yang paling batil yaitu sihir yang hakikat sebenarnya adalah bualan, bahkan mereka menjadikannya sebagai sihir yang jelas lagi nyata padahal sebenarnya ia adalah kebenaran yang nyata.
(77) Oleh karena itu, ﴾ قَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Musa berkata", kepada me-reka sebagai bentuk pencelaan atas penolakan terhadap kebenaran yang tidak ditolak kecuali oleh orang yang paling zhalim.﴾ أَتَقُولُونَ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu." Maksudnya, apakah kamu berkata bahwa ia adalah sihir yang nyata, ﴾ أَسِحۡرٌ هَٰذَا ﴿ "sihirkah ini?" Maksudnya, lihatlah sifatnya dan apa yang dikandungnya maka hanya dengan itu bisa dipastikan bahwa ia adalah kebenaran, ﴾ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّٰحِرُونَ ﴿ "padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan." Tidak di dunia dan tidak di akhirat. Lihatlah siapakah yang meraih akibat yang baik, siapa yang ber-untung, siapa yang berhasil, setelah itu mereka mengetahui dan setiap orang melihat bahwa Musalah yang menang dan beruntung dengan keberuntungan dunia dan akhirat.
(78) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata", kepada Musa, sebagai bentuk penolakan ucapannya dengan apa yang mana dia tidak mampu untuk menolaknya. ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتَلۡفِتَنَا عَمَّا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَا ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya." Maksudnya, apakah kamu datang kepada kami untuk menghalangi kami dari syirik dan ibadah kepada selain Allah yang kami dapati turun temurun dari nenek moyang kami dan memerintahkan kami agar menyembah Allah semata tanpa sekutu bagiNya. Mereka menjadikan ucapan nenek moyang mereka yang sesat sebagai hujjah yang dengannya mereka menolak kebenaran yang dibawa oleh Musa عليه السلام. Dan FirmanNya, ﴾ وَتَكُونَ لَكُمَا ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan supaya kamu ber-dua mempunyai kekuasaan di muka bumi?" Maksudnya, kamu datang kepada kami agar kamu menjadi pemimpin dan mengusir kami dari tanah air kami? Ini adalah tipuan dari mereka, promosi terhadap kebodohan mereka dan provokasi kepada orang awam agar me-musuhi Musa dan tidak beriman kepadanya. Ini tidak dijadikan sebagai hujjah oleh orang yang mengetahui hakikat dan mampu membedakan perkara-perkara, karena hujjah tidak ditolak kecuali dengan hujjah dan bukti. Adapun orang yang hadir membawa kebenaran lalu kebena-rannya ditolak dengan ucapan yang seperti ini maka itu menunjuk-kan kelemahan orang yang menghadirkannya untuk mendatangkan argumen yang bisa menolak pendapat lawan dialognya, karena seandainya dia mempunyai hujjah, niscaya dia menurunkannya dan tidak mengucapkan, "Tujuanmu adalah begini-begini, atau targetmu adalah ini dan ini." Sama saja dia jujur atau dusta dalam ucapannya dan pemberitaannya tentang maksud lawannya, padahal setiap orang yang mengetahui keadaan Musa dan ajaran yang didakwah-kannya, niscaya dia akan mengetahui bahwa dia sama sekali tidak memiliki tujuan berkuasa di muka bumi, tujuan Musa sama dengan tujuan para rasul yang lain: memberi petunjuk dan membimbing manusia kepada apa yang bermanfaat bagi mereka. Akan tetapi perkara sebenarnya adalah apa yang mereka ungkapkan sendiri dengan ucapannya, ﴾ وَمَا نَحۡنُ لَكُمَا بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kami tidak akan mempercayai kamu berdua." Sebagai bentuk pengingkaran dan kesombongan bu-kan karena kebatilan apa yang dibawa oleh Musa dan Harun, tidak pula karena kerancuan padanya dan tidak pula karena makna-makna lainnya kecuali karena kezhaliman, permusuhan dan kekuasaan yang mereka tuduhkan kepada Musa dan Harun.
(79) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya)", sebagai bentuk penentangan kepada kebenaran yang dibawa oleh Musa dan menunjukkan kekuatannya di depan kaum dan pengi-kutnya, ﴾ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٖ ﴿ "Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai." Yakni ahli dan mumpuni dalam urusan sihir, maka Fir'aun meminta agar para penyihir yang mahir dalam berbagai jenis dan bentuknya dihadirkan dari seluruh penjuru Mesir.
(80) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang", untuk bertarung melawan Musa, ﴾ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ ﴿ "Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan'." Yakni apa pun yang kamu inginkan tanpa harus aku tentukan, hal itu karena Musa yakin dapat mengalahkan mereka, tak peduli mereka dan apa yang mereka hadirkan. @
(81) ﴾ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ ﴿ "Maka setelah mereka lemparkan", tambang-tambang dan tongkat-tongkat mereka, maka seolah-olah ia adalah ular yang merayap. ﴾ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ ﴿ "Musa berkata, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir'." Ini adalah sihir yang besar, walau-pun ia besar, akan tetapi ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "sesung-guhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan." Karena mereka menginginkan (dengan hal tersebut) untuk mendukung kebatilan di atas kebenaran, adakah kerusakan yang lebih besar daripada ini? Begitulah setiap perusak melakukan sesuatu lalu dia membuat tipu daya dan makar, per-buatannya pasti batal dan terkikis, meskipun dalam waktu tertentu apa yang dilakukannya cukup laris, akan tetapi ujung-ujungnya adalah habis dan lenyap. Adapun orang-orang yang memperbaiki diri yang mana tujuan dari perbuatan mereka adalah Wajah Allah dan ia adalah perbuatan-perbuatan dan sarana-sarana yang berguna yang diperintahkan, maka Allah memperbaiki perbuatan mereka, menjunjungnya dan menumbuhkannya selalu.
(82) Musa melempar tongkatnya, ia pun melahap semua apa yang mereka bikin lalu batallah sihir mereka, lenyaplah kebatilan mereka. ﴾ وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya)." Maka ahli sihir itu tunduk kepada Musa ketika jelas bagi mereka kebenaran, Fir'aun mengancam mereka akan menyalib dan memotong tangan dan kaki mereka, tetapi mereka tidak gentar dan tetap teguh beriman.
(83) Adapun Fir'aun dengan kaum dan pembesarnya serta pengikut mereka maka tidak seorang pun dari mereka yang ber-iman bahkan mereka terus terlelap di dalam kesesatan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, ﴾ فَمَآ ءَامَنَ لِمُوسَىٰٓ إِلَّا ذُرِّيَّةٞ مِّن قَوۡمِهِۦ ﴿ "Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa)." Yakni anak-anak muda Bani Israil yang sabar dalam meng-hadapi rasa takut karena iman yang bercokol di dalam hatinya ﴾ عَلَىٰ خَوۡفٖ مِّن فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِمۡ أَن يَفۡتِنَهُمۡۚ ﴿ "dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pe-muka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka", karena agama mereka. ﴾ وَإِنَّ فِرۡعَوۡنَ لَعَالٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat semena-mena di muka bumi", maksudnya dia mempunyai kekuasaan dan kekuatan maka pantas mereka takut terhadap ancamannya, lebih-lebih karena dia ﴾ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ﴿ "termasuk orang-orang yang melampaui batas." Mak-sudnya, dia termasuk orang-orang yang melamapui batas dalam urusan melanggar dan menganiaya. Hikmah –wallahu a'lam– dari berimannya anak-anak muda dari Bani Israil kepada Musa adalah karena anak-anak muda lebih bisa menerima dan menaati kebenar-an, lain halnya dengan orang-orang tua yang hidup di atas kekufur-an, mereka lebih jauh dari kebenaran disebabkan karena keyakinan yang rusak yang ada di dalam hati mereka.
(84) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰ ﴿ "Musa berkata", dalam keadaan mewasiatkan kaumnya supaya bersabar, mengingatkan mereka dengan apa me-reka meminta pertolongan dalam hal itu, dia berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah," maka lakukanlah konsekuensi iman, ﴾ تَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّسۡلِمِينَ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya saja jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." Maksudnya, berpe-ganglah kepadaNya, kembalilah kepadaNya dan mohonlah perto-longan kepadaNya.
(85) ﴾ فَقَالُواْ ﴿ "Lalu mereka berkata", sebagai bentuk ketaatan dalam hal ini, ﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَا رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Kepada Allah-lah kami bertawakal ! Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim." Maksudnya, janganlah Engkau men-jadikan mereka berkuasa atas kami yang akibatnya mereka akan menyiksa dan mengalahkan kami. Maka Bani Israil pun terfitnah oleh hal itu, dan mereka berkata, "Kalau mereka berpegang teguh pada kebenaran, niscaya mereka tidak dikalahkan."
(86) ﴾ وَنَجِّنَا بِرَحۡمَتِكَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah kami dengan rahmatMu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir." Agar kami selamat dari kejahatan mereka dan agar kami berdiri tegak di atas agama kami dengan baik sehingga kami mampu menegakkan dan menam-pakkan syariat tanpa penentang dan pelawan.
(87) ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ ﴿ "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya", ketika keadaan pada kaumnya semakin sulit akibat ulah Fir'aun dan kaumnya, dan mereka berusaha memfitnah me-reka dari agama mereka, ﴾ أَن تَبَوَّءَا لِقَوۡمِكُمَا بِمِصۡرَ بُيُوتٗا ﴿ "kalian berdua ambillah beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu." Maksudnya, perintahkan mereka agar mendirikan rumah yang bisa mereka pakai untuk bersembunyi di dalamnya. ﴾ وَٱجۡعَلُواْ بُيُوتَكُمۡ قِبۡلَةٗ ﴿ "Dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat." Maksudnya, ja-dikan rumahmu tempat untuk shalat di mana kamu tidak mampu melakukannya di tempat-tempat ibadah umum. ﴾ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَۗ ﴿ "Dan dirikanlah shalat," karena ia adalah penolong dalam segala urusan. ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "Serta gembirakanlah orang-orang yang beriman," dengan kemenangan, dukungan dan unggulnya agama mereka, karena akan selalu ada kemudahan di balik kesulitan-kesulitan, sesung-guhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, ketika keadaannya semakin sulit dan susah maka Allah akan menghilangkan dan me-mudahkannya.
(88) Tatkala Musa melihat Fir'aun dan kaumnya semakin keras dan menentang, maka dia mendoakan kejelekan atas mereka dan Harun mengamini doanya, dia berkata,﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَأَهُۥ زِينَةٗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan", yang mereka pakai dari ber-bagai jenis perhiasan, pakaian, istana-istana yang indah, kendaraan yang mewah dan pelayan-pelayan. ﴾ وَأَمۡوَٰلٗا ﴿ "dan harta", yang ba-nyak, ﴾ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَۖ ﴿ "dalam kehidupan dunia. Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanMu." Mereka tidak memakai harta mereka kecuali untuk menyesatkan orang-orang dari jalanMu, maka mereka sesat dan menyesatkan. ﴾ رَبَّنَا ٱطۡمِسۡ عَلَىٰٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ ﴿ "Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka", maksudnya lenyapkanlah harta mereka dengan cara diludeskan atau ia dijadi-kan batu yang tidak berguna. ﴾ وَٱشۡدُدۡ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Dan kunci matilah hati mereka." Yakni jadikanlah ia keras. ﴾ فَلَا يُؤۡمِنُواْ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ﴿ "Sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih." Musa mengatakan ini karena marah kepada mereka di mana mereka berani melanggar hal-hal yang diharamkan Allah, merusak hamba-hamba Allah dan menghalang-halangi dari jalanNya, karena Musa tahu betul bahwa Allah akan menghukum mereka atas perbuatan mereka dengan menutup pintu iman atas mereka.
(89) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا ﴿ 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua." Ini adalah dalil bahwa Musa berdoa sedangkan Harun mengamini doanya, dan bahwa orang yang mengamini doa adalah rekan orang yang berdoa dalam doa itu, ﴾ فَٱسۡتَقِيمَا ﴿ "sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus", di atas agama kamu berdua dan teruslah berdakwah. ﴾ وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui." Maksudnya, jangan mengikuti orang-orang bodoh yang sesat yang menyimpang dari jalan yang lurus yang mengikuti jalan Neraka Jahim.
(90) Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil pergi di waktu malam. Allah mengabarkan bahwa mereka akan mengikutinya. Fir'aun membuat pengumuman di seluruh penjuru negeri bahwa mereka itu –Musa dan kaumnya– hanyalah segelintir orang pinggiran. Mereka marah kepada kami dan kita mewaspadai mereka. Fir'aun mengumpulkan bala tentaranya dari atasan sampai bawahan. Dia dengan bala tentaranya mengejar Bani Israil dengan kesombongan dan permusuhan, mereka hendak menangkap Musa dan membuat kerusakan di bumi. Jika kekejian telah memuncak dan dosa telah menguat maka tunggulah azab dari Allah. ﴾ وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut." Hal itu karena Allah mewahyukan kepada Musa tatkala dia sampai di laut agar memukul laut dengan tongkatnya. Musa memukulnya, maka terbelahlah dua belas jalan, Bani Israil melaluinya, Fir'aun te-rus menguntit dengan bala tentaranya di belakangnya. Ketika Musa dan kaumnya telah sampai di daratan ujung sedangkan Fir'aun dengan bala tentaranya masih di tengah laut, maka Allah memerin-tahkan kepada laut untuk menelan Fir'aun dan bala tentaranya, maka ia pun memakan Fir'aun dan bala tentaranya. Mereka teng-gelam dengan dilihat oleh Bani Israil. Manakala Fir'aun tenggelam dan dia yakin akan mati, ﴾ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "berkatalah dia, 'Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan (Rabb) yang diperca-yai oleh Bani Israil'." Yaitu Allah Rabb Yang Mahabenar, yang tiada Rabb melainkan Dia, ﴾ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." Yakni tunduk kepada agama Allah dan ajaran yang dibawa Musa.
(91) Allah تعالى berfirman menjelaskan bahwa iman dalam kondisi seperti ini tidaklah berguna baginya. ﴾ ءَآلۡـَٰٔنَ ﴿ "Apakah sekarang (baru kamu percaya)", beriman dan mengakui Rasul Allah,﴾ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ ﴿ "padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu." Maksud-nya, kamu terang-terangan bermaksiat, mengingkari dan mendus-takan, ﴾ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" Iman tidak berguna bagimu sebagaimana Sunnatullah yang berlaku bahwa jika orang kafir telah sampai kepada keadaan darurat ini, maka imannya tidak berguna baginya karena imannya adalah iman kepada sesuatu yang terlihat sebagaimana iman orang pada saat Kiamat tiba. Iman yang berguna itu adalah iman kepada yang ghaib.
(92) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةٗۚ ﴿ "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu." Ahli tafsir menyatakan bahwa Bani Israil ketika di dalam hatinya terdapat ketakutan yang sangat ter-hadap Fir'aun, maka mereka sepertinya tidak percaya kalau Fir'aun telah tenggelam, mereka meragukan itu. Maka Allah memerintah-kan laut agar melemparkan Fir'aun ke atas agar ia menjadi tanda dan pelajaran bagi mereka. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ ﴿ "Dan sesung-guhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." Oleh karena itu, tanda-tanda tersebut lewat berulang-ulang tetapi mereka tidak mengambil manfaat darinya karena mereka tidak memperhatikannya. Adapun orang dengan akal dan hati yang hadir[2] maka dia dapat melihat ayat-ayat Allah sebagai dalil terbesar atas kebenaran sesuatu yang diberitakan oleh para rasul.
(93) ﴾ وَلَقَدۡ بَوَّأۡنَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ مُبَوَّأَ صِدۡقٖ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus." Maksudnya, Allah menempatkan mereka di kediaman keluarga Fir'aun dan menjadikan Bani Israil sebagai pewaris negeri dan tempat tinggal mereka. ﴾ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ﴿ "Dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik", berupa makanan, minuman dan lain-lain, ﴾ فَمَا ٱخۡتَلَفُواْ ﴿ "maka mereka tidak berselisih", tentang kebenaran, ﴾ حَتَّىٰ جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُۚ ﴿ "kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat)." Yang membuat mereka bersatu dan bersepakat, akan tetapi seba-gian berbuat aniaya kepada sebagian yang lain, banyak dari mereka mempunyai ambisi dan tendensi yang menyelisihi kebenaran, maka terjadilah banyak perselisihan di kalangan mereka.﴾ إِنَّ رَبَّكَ يَقۡضِي بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang sesuatu yang mereka perselisihkan itu", dengan keputusanNya yang adil yang dilandasi ilmuNya yang sem-purna dan kodratNya yang menyeluruh. Inilah penyakit yang menimpa pengikut agama yang benar yaitu ketika setan telah berputus asa untuk mereka taati secara ke-seluruhan maka dia berusaha memprovokasi dan memicu sikap kebencian dan permusuhan di antara mereka, maka terjadilah per-selisihan yang merupakan akibat dari itu. Selanjutnya sebagian me-nyatakan sebagian yang lain sesat, sebagian memusuhi sebagian yang lain, dan hal itu membuat setan yang terlaknat berbahagia, karena jika tidak (berselisih maka dia akan berduka), lalu apabila Rabb mereka adalah satu, Rasul mereka adalah satu, agama mereka adalah satu dan kepentingan umum mereka adalah satu, maka atas dasar apa mereka berbeda-beda dengan perbedaan yang memecah kesatuan mereka, memporak-porandakan barisan mereka, mem-bongkar ikatan dan tatanan mereka. Akibatnya adalah terbengka-lainya kemaslahatan mereka baik diniyah maupun duniawiyah dan matinya sebagian dari agama mereka? Kami memohon kepada-Mu ya Allah kasih sayang kepada hamba-hambaMu yang beriman, agar Engkau menyatukan barisan mereka, memperbaiki celah me-reka dan mengembalikan yang jauh kepada yang dekat dari mereka wahai pemilik kemuliaan dan kebesaran.