Tafsir As-Saadi - Indonesian — Hud 11:67 – Hud 11:123
Daftar isi
- Hud 11:67
- Hud 11:68
- Hud 11:69
- Hud 11:70
- Hud 11:71
- Hud 11:72
- Hud 11:73
- Hud 11:74
- Hud 11:75
- Hud 11:76
- Hud 11:77
- Hud 11:78
- Hud 11:79
- Hud 11:80
- Hud 11:81
- Hud 11:82
- Hud 11:83
- Hud 11:84
- Hud 11:85
- Hud 11:86
- Hud 11:87
- Hud 11:88
- Hud 11:89
- Hud 11:90
- Hud 11:91
- Hud 11:92
- Hud 11:93
- Hud 11:94
- Hud 11:95
- Hud 11:96
- Hud 11:97
- Hud 11:98
- Hud 11:99
- Hud 11:100
- Hud 11:101
- Hud 11:102
- Hud 11:103
- Hud 11:104
- Hud 11:105
- Hud 11:106
- Hud 11:107
- Hud 11:108
- Hud 11:109
- Hud 11:110
- Hud 11:111
- Hud 11:112
- Hud 11:113
- Hud 11:114
- Hud 11:115
- Hud 11:116
- Hud 11:117
- Hud 11:118
- Hud 11:119
- Hud 11:120
- Hud 11:121
- Hud 11:122
- Hud 11:123
Hud 11:67
"Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya, karena itu mohonlah am-punanNya kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku amat dekat (rahmatNya) lagi memperkenankan (doa ham-baNya).' Kaum Tsamud berkata, 'Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah tuhan yang disem-bah oleh bapak-bapak kami, dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami'." (Hud: 61-62). "Shaleh berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia memberi-ku rahmat dari padaNya, maka siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mendurhakaiNya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain dari pada kerugian. Hai kaum-ku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjuk-kan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa-pun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat'. Mereka membunuh unta itu, maka Shaleh berkata, 'Bersu-karialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.' Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami dan (kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah Yang Maha-kuat lagi Mahaperkasa. Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zhalim itu, lalu mereka mati bergelim-pangan di tempat tinggal mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud meng-ingkari Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud." (Hud: 63-68)
(61)(وَ) "Dan" Kami utus, ﴾ إِلَىٰ ثَمُودَ ﴿ "kepada Tsamud", mereka adalah 'Ad yang kedua yang terkenal yang tinggal di Hijr dan Wadil Qura ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka" dalam nasab ﴾ صَٰلِحٗاۚ ﴿ "Shaleh." Hamba Allah dan RasulNya yang menyeru mereka kepada beribadah hanya kepada Allah. Dia berkata, ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah." Tauhidkanlah Dia dan ikhlaskanlah agama untukNya. ﴾ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Sekali-kali tidak ada bagimu tuhan selain Dia." Tidak dari penduduk langit atau bumi. ﴾ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia telah menciptakan-mu dari bumi (tanah)," yakni menciptakan kamu di dalamnya, ﴾ وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا ﴿ "dan menjadikan kamu pemakmurnya." Menjadikanmu sebagai khalifah di dalamnya dan memberimu nikmat lahir dan batin, dan menempatkanmu di bumi. Kamu membangun, menanam sesuka-mu, mengambil manfaatnya dan mengeruk keuntungannya. Karena Dia tidak memiliki sekutu dalam semua itu, maka janganlah kamu menyekutukanNya dengan sesuatu. ﴾ فَٱسۡتَغۡفِرُوهُ ﴿ "Karena itu mohonlah ampunanNya", dari kekufuran, kesyirikan, kemaksiatan yang telah kamu lakukan. Tinggalkanlah semua itu ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian ber-taubatlah kepadaNya." Yakni kembalilah kepadaNya dengan bertaubat yang nasuhah. ﴾ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٞ مُّجِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku amat dekat (rah-matNya) lagi memperkenankan (doa hambaNya)." Yakni dekat kepada orang yang berdoa kepadaNya dengan doa permintaan dan doa ibadah, menjawabNya dengan mengabulkan permintaannya, me-nerima ibadahnya dan memberinya pahala yang besar. Ketahuilah bahwa kedekatan Allah ada dua macam: umum dan khusus. Yang pertama adalah kedekatan umum, yaitu kede-katan dengan ilmuNya dari seluruh makhlukNya, kedekatan ini tersebut dalam Firman Allah, ﴾ وَنَحۡنُ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ 16 ﴿ "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (Qaf: 16). Yang kedua adalah kedekatan khusus yaitu, kedekatanNya kepada orang-orang yang beribadah, memohon dan mencintaiNya. Ia tersebut dalam Firman Allah, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ وَٱقۡتَرِب۩ 19 ﴿ "Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabb)." (Al-Alaq: 19), dan dalam Firman Allah تعالى, ﴾ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ ﴿ "Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan per-mohonan orang yang berdoa." (Al-Baqarah: 186). Kedekatan ini adalah kedekatan yang menuntut kasih sayang Allah (kepada hamba-hambaNya), jawabanNya terhadap doa-doa mereka, dan mewujudkan keinginan-keinginan mereka. Oleh karena itu, nama al-Qarib disandingkan dengan nama al-Mujib.
(62) Tatkala Nabi mereka, Shaleh عليه السلام memerintahkan dan mendorong mereka kepada keikhlasan hanya kepada Allah semata maka mereka menolak dakwahnya dan menyambutnya dengan sambutan yang buruk. ﴾ قَالُواْ يَٰصَٰلِحُ قَدۡ كُنتَ فِينَا مَرۡجُوّٗا قَبۡلَ هَٰذَآۖ ﴿ "Kaum Tsamud berkata, 'Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan." Kami mengharapkan dan menung-gu-nunggu manfaat dan pendapat yang baik darimu. Ini adalah kesaksian dari mereka kepada Nabi mereka, Shaleh, bahwa dia masih terkenal dengan kemuliaan akhlak dan kebaikan sifat, bahwa dia termasuk orang terpilih dari kaumnya, akan tetapi ketika Shaleh hadir dengan perkara yang tidak sesuai hawa nafsu mereka yang rusak, maka mereka mengucapkan kata-kata ini yang isinya adalah bahwa kamu –hai Shaleh– adalah orang yang sempurna sebelum-nya, tetapi sekarang kamu menyelisihi dugaan kami padamu, kamu sekarang dalam keadaan tidak lagi diharapkan kebaikannya. Dosa-Shaleh adalah apa yang mereka katakan tentangnya [ini merupakan perkataan mereka] yaitu, ﴾ أَتَنۡهَىٰنَآ أَن نَّعۡبُدَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Apakah kamu me-larang kami untuk menyembah tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami?" Menurut mereka, ini adalah perkara terbesar yang menco-reng Shaleh. Bagaimana dia mencela akal mereka dan akal nenek moyang mereka yang tersesat? Bagaimana dia melarang mereka menyembah yang tidak bermanfaat dan tidak bermudarat serta tidak berguna sedikit pun dari batu, pohon dan lain-lain, dan dia memerintahkan mereka mengikhlaskan agama hanya kepada Allah, Rabb mereka yang senantiasa melimpahkan nikmat-nikmat kepada mereka terus menerus, kebaikanNya kepada mereka selalu turun, yang mana tiada nikmat pada mereka kecuali dariNya dan tiada yang menangkal keburukan kecuali Dia? ﴾ وَإِنَّنَا لَفِي شَكّٖ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ مُرِيبٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisah-kan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami." Yakni kami masih ragu terhadap dakwahmu dengan keraguan yang berpengaruh pada hati kami.
(63) Mereka mengklaim bahwa seandainya mereka menge-tahui kebenaran dakwahnya niscaya mereka akan mengikutinya, padahal sebenarnya mereka berdusta dalam hal ini. Oleh karena itu, Shaleh menjelaskan kedustaan mereka dengan ucapannya. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Shaleh berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni dalil dan keyakinan dariku. ﴾ وَءَاتَىٰنِي مِنۡهُ رَحۡمَةٗ ﴿ "Dan Dia memberiku rahmat (kenabian) dariNya." Maksudnya, Dia memberiku nikmat wahyu dan kerasulan lalu apakah aku mengikuti keyakinanmu dan dakwahmu? ﴾ فَمَن يَنصُرُنِي مِنَ ٱللَّهِ إِنۡ عَصَيۡتُهُۥۖ فَمَا تَزِيدُونَنِي غَيۡرَ تَخۡسِيرٖ ﴿ "Maka siapakah yang akan meno-longku dari (azab) Allah jika aku mendurhakaiNya. Sebab itu kamu tidak menambah apa pun kepadaku selain dari kerugian." Yakni selain keka-lahan, kesialan, dan kemudaratan.
(64) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمۡ ءَايَةٗۖ ﴿ "Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu", ia memiliki hari untuk minum dari sumur kemudian mereka me-merah air susunya, dan mereka pun memiliki hari untuk minum pula. ﴾ فَذَرُوهَا تَأۡكُلۡ فِيٓ أَرۡضِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Sebab itu biarkanlah ia makan di bumi Allah", perawatan dan makanannya bukan tanggung jawabmu se-dikit pun. ﴾ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوٓءٖ ﴿ "Dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun." Yakni menyembelihnya ﴾ فَيَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٞ قَرِيبٞ ﴿ "yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat."
(65) ﴾ فَعَقَرُوهَا فَقَالَ ﴿ "Mereka membunuh unta itu, maka Shaleh berkata", kepada mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ذَٰلِكَ وَعۡدٌ غَيۡرُ مَكۡذُوبٖ ﴿ "Ber-sukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan." Ia pasti terjadi.
(66) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang urusan kami, dengan terjadinya azab, ﴾ نَجَّيۡنَا صَٰلِحٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَمِنۡ خِزۡيِ يَوۡمِئِذٍۚ ﴿ "Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami, dan (Kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu." Yakni Kami menyelamatkan mereka dari azab, kehinaan dan kenistaan. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa." Termasuk kekuatan dan keperkasaanNya adalah Dia membinasakan umat-umat yang melampaui batas dan menye-lamatkan para rasul dan pengikutnya.
(67) ﴾ وَأَخَذَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ ﴿ "Dan satu suara keras yang meng-guntur menimpa orang-orang yang zhalim itu", ia memutuskan jantung mereka, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya." Tergeletak bertumbangan tanpa bergerak.
(68) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, ketika azab datang kepada mereka seolah-olah mereka tidak bernikmat ria di negeri mereka, tidak tenteram padanya dan tidak bersuka ria sesaat pun. Nikmat telah berpisah dari mereka, azab yang terus menerus tak terhenti telah mencaplok mereka, seolah-olah ia masih terasa. ﴾ أَلَآ إِنَّ ثَمُودَاْ كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari tuhan mereka." Maksudnya, mereka ingkar setelah ayat-ayat Allah yang terang datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّثَمُودَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud", be-tapa hina dan sengsaranya mereka. Kita berlindung kepada Allah dari azab dan kehinaan dunia.
Hud 11:68
"Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya, karena itu mohonlah am-punanNya kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku amat dekat (rahmatNya) lagi memperkenankan (doa ham-baNya).' Kaum Tsamud berkata, 'Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah tuhan yang disem-bah oleh bapak-bapak kami, dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami'." (Hud: 61-62). "Shaleh berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia memberi-ku rahmat dari padaNya, maka siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mendurhakaiNya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain dari pada kerugian. Hai kaum-ku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjuk-kan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa-pun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat'. Mereka membunuh unta itu, maka Shaleh berkata, 'Bersu-karialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.' Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami dan (kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah Yang Maha-kuat lagi Mahaperkasa. Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zhalim itu, lalu mereka mati bergelim-pangan di tempat tinggal mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud meng-ingkari Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud." (Hud: 63-68)
(61)(وَ) "Dan" Kami utus, ﴾ إِلَىٰ ثَمُودَ ﴿ "kepada Tsamud", mereka adalah 'Ad yang kedua yang terkenal yang tinggal di Hijr dan Wadil Qura ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka" dalam nasab ﴾ صَٰلِحٗاۚ ﴿ "Shaleh." Hamba Allah dan RasulNya yang menyeru mereka kepada beribadah hanya kepada Allah. Dia berkata, ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah." Tauhidkanlah Dia dan ikhlaskanlah agama untukNya. ﴾ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Sekali-kali tidak ada bagimu tuhan selain Dia." Tidak dari penduduk langit atau bumi. ﴾ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia telah menciptakan-mu dari bumi (tanah)," yakni menciptakan kamu di dalamnya, ﴾ وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا ﴿ "dan menjadikan kamu pemakmurnya." Menjadikanmu sebagai khalifah di dalamnya dan memberimu nikmat lahir dan batin, dan menempatkanmu di bumi. Kamu membangun, menanam sesuka-mu, mengambil manfaatnya dan mengeruk keuntungannya. Karena Dia tidak memiliki sekutu dalam semua itu, maka janganlah kamu menyekutukanNya dengan sesuatu. ﴾ فَٱسۡتَغۡفِرُوهُ ﴿ "Karena itu mohonlah ampunanNya", dari kekufuran, kesyirikan, kemaksiatan yang telah kamu lakukan. Tinggalkanlah semua itu ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian ber-taubatlah kepadaNya." Yakni kembalilah kepadaNya dengan bertaubat yang nasuhah. ﴾ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٞ مُّجِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku amat dekat (rah-matNya) lagi memperkenankan (doa hambaNya)." Yakni dekat kepada orang yang berdoa kepadaNya dengan doa permintaan dan doa ibadah, menjawabNya dengan mengabulkan permintaannya, me-nerima ibadahnya dan memberinya pahala yang besar. Ketahuilah bahwa kedekatan Allah ada dua macam: umum dan khusus. Yang pertama adalah kedekatan umum, yaitu kede-katan dengan ilmuNya dari seluruh makhlukNya, kedekatan ini tersebut dalam Firman Allah, ﴾ وَنَحۡنُ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ 16 ﴿ "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (Qaf: 16). Yang kedua adalah kedekatan khusus yaitu, kedekatanNya kepada orang-orang yang beribadah, memohon dan mencintaiNya. Ia tersebut dalam Firman Allah, ﴾ وَٱسۡجُدۡۤ وَٱقۡتَرِب۩ 19 ﴿ "Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabb)." (Al-Alaq: 19), dan dalam Firman Allah تعالى, ﴾ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ ﴿ "Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan per-mohonan orang yang berdoa." (Al-Baqarah: 186). Kedekatan ini adalah kedekatan yang menuntut kasih sayang Allah (kepada hamba-hambaNya), jawabanNya terhadap doa-doa mereka, dan mewujudkan keinginan-keinginan mereka. Oleh karena itu, nama al-Qarib disandingkan dengan nama al-Mujib.
(62) Tatkala Nabi mereka, Shaleh عليه السلام memerintahkan dan mendorong mereka kepada keikhlasan hanya kepada Allah semata maka mereka menolak dakwahnya dan menyambutnya dengan sambutan yang buruk. ﴾ قَالُواْ يَٰصَٰلِحُ قَدۡ كُنتَ فِينَا مَرۡجُوّٗا قَبۡلَ هَٰذَآۖ ﴿ "Kaum Tsamud berkata, 'Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan." Kami mengharapkan dan menung-gu-nunggu manfaat dan pendapat yang baik darimu. Ini adalah kesaksian dari mereka kepada Nabi mereka, Shaleh, bahwa dia masih terkenal dengan kemuliaan akhlak dan kebaikan sifat, bahwa dia termasuk orang terpilih dari kaumnya, akan tetapi ketika Shaleh hadir dengan perkara yang tidak sesuai hawa nafsu mereka yang rusak, maka mereka mengucapkan kata-kata ini yang isinya adalah bahwa kamu –hai Shaleh– adalah orang yang sempurna sebelum-nya, tetapi sekarang kamu menyelisihi dugaan kami padamu, kamu sekarang dalam keadaan tidak lagi diharapkan kebaikannya. Dosa-Shaleh adalah apa yang mereka katakan tentangnya [ini merupakan perkataan mereka] yaitu, ﴾ أَتَنۡهَىٰنَآ أَن نَّعۡبُدَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Apakah kamu me-larang kami untuk menyembah tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami?" Menurut mereka, ini adalah perkara terbesar yang menco-reng Shaleh. Bagaimana dia mencela akal mereka dan akal nenek moyang mereka yang tersesat? Bagaimana dia melarang mereka menyembah yang tidak bermanfaat dan tidak bermudarat serta tidak berguna sedikit pun dari batu, pohon dan lain-lain, dan dia memerintahkan mereka mengikhlaskan agama hanya kepada Allah, Rabb mereka yang senantiasa melimpahkan nikmat-nikmat kepada mereka terus menerus, kebaikanNya kepada mereka selalu turun, yang mana tiada nikmat pada mereka kecuali dariNya dan tiada yang menangkal keburukan kecuali Dia? ﴾ وَإِنَّنَا لَفِي شَكّٖ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ مُرِيبٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisah-kan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami." Yakni kami masih ragu terhadap dakwahmu dengan keraguan yang berpengaruh pada hati kami.
(63) Mereka mengklaim bahwa seandainya mereka menge-tahui kebenaran dakwahnya niscaya mereka akan mengikutinya, padahal sebenarnya mereka berdusta dalam hal ini. Oleh karena itu, Shaleh menjelaskan kedustaan mereka dengan ucapannya. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Shaleh berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni dalil dan keyakinan dariku. ﴾ وَءَاتَىٰنِي مِنۡهُ رَحۡمَةٗ ﴿ "Dan Dia memberiku rahmat (kenabian) dariNya." Maksudnya, Dia memberiku nikmat wahyu dan kerasulan lalu apakah aku mengikuti keyakinanmu dan dakwahmu? ﴾ فَمَن يَنصُرُنِي مِنَ ٱللَّهِ إِنۡ عَصَيۡتُهُۥۖ فَمَا تَزِيدُونَنِي غَيۡرَ تَخۡسِيرٖ ﴿ "Maka siapakah yang akan meno-longku dari (azab) Allah jika aku mendurhakaiNya. Sebab itu kamu tidak menambah apa pun kepadaku selain dari kerugian." Yakni selain keka-lahan, kesialan, dan kemudaratan.
(64) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمۡ ءَايَةٗۖ ﴿ "Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu", ia memiliki hari untuk minum dari sumur kemudian mereka me-merah air susunya, dan mereka pun memiliki hari untuk minum pula. ﴾ فَذَرُوهَا تَأۡكُلۡ فِيٓ أَرۡضِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Sebab itu biarkanlah ia makan di bumi Allah", perawatan dan makanannya bukan tanggung jawabmu se-dikit pun. ﴾ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوٓءٖ ﴿ "Dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun." Yakni menyembelihnya ﴾ فَيَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٞ قَرِيبٞ ﴿ "yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat."
(65) ﴾ فَعَقَرُوهَا فَقَالَ ﴿ "Mereka membunuh unta itu, maka Shaleh berkata", kepada mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ فِي دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٖۖ ذَٰلِكَ وَعۡدٌ غَيۡرُ مَكۡذُوبٖ ﴿ "Ber-sukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan." Ia pasti terjadi.
(66) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang urusan kami, dengan terjadinya azab, ﴾ نَجَّيۡنَا صَٰلِحٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَمِنۡ خِزۡيِ يَوۡمِئِذٍۚ ﴿ "Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami, dan (Kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu." Yakni Kami menyelamatkan mereka dari azab, kehinaan dan kenistaan. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa." Termasuk kekuatan dan keperkasaanNya adalah Dia membinasakan umat-umat yang melampaui batas dan menye-lamatkan para rasul dan pengikutnya.
(67) ﴾ وَأَخَذَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ ﴿ "Dan satu suara keras yang meng-guntur menimpa orang-orang yang zhalim itu", ia memutuskan jantung mereka, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya." Tergeletak bertumbangan tanpa bergerak.
(68) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, ketika azab datang kepada mereka seolah-olah mereka tidak bernikmat ria di negeri mereka, tidak tenteram padanya dan tidak bersuka ria sesaat pun. Nikmat telah berpisah dari mereka, azab yang terus menerus tak terhenti telah mencaplok mereka, seolah-olah ia masih terasa. ﴾ أَلَآ إِنَّ ثَمُودَاْ كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari tuhan mereka." Maksudnya, mereka ingkar setelah ayat-ayat Allah yang terang datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّثَمُودَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud", be-tapa hina dan sengsaranya mereka. Kita berlindung kepada Allah dari azab dan kehinaan dunia.
Hud 11:69
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:70
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:71
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:72
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:73
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:74
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:75
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:76
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:77
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:78
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:79
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:80
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:81
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:82
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:83
" Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamatlah,' maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang." (Hud:69) "Maka tatkala dia melihat tangan mereka tidak menjamah-nya, Ibrahim mencurigai perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, 'Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.' Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub. Istrinya ber-kata, 'Sungguh mengherankan, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.' Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah. (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlul Bait! Sesung-guhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.' Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah." (Hud: 70-75) "Hai Ibrahim, tinggalkanlah tanya jawab ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu. Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepa-danya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemar-kan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.' Mereka menjawab, 'Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'." (Hud: 76-79) "Luth berkata, 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).' Para utusan (malaikat) berkata, 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam, dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh, bukankah Shubuh itu sudah dekat. Maka tatkala datang azab Kami, maka Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 80-83)
(69) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَتۡ رُسُلُنَآ ﴿ "Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada", ﴾ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ Ibrahim", al-Khalil Rasul Kami, ﴾ بِٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dengan membawa kabar gembira." Yakni kabar gembira seorang anak, ketika Allah mengutus mereka untuk mem-binasakan kaum Luth. Allah memerintahkan mereka agar singgah pada Ibrahim untuk menyampaikan berita gembira dengan lahir-nya Ishaq. Ketika para malaikat itu datang kepada Ibrahim, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞۖ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Salaman' (selamat). Ibrahim menjawab, 'Salamun' (selamatlah)." Maksudnya para malaikat itu mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawab salamnya. Ini menunjukkan disya-riatkannya memberi salam. Ia adalah syariat agama Ibrahim عليه السلام, ia diucapkan sebelum berbicara. Hendaknya jawaban salam lebih mendalam daripada memberi salam, karena salam mereka meng-gunakan jumlah fi'liyah (kalimat verbal) yang menunjukkan peru-bahan kepada yang baru, dan jawabannya menggunakan kalimat ismiyah (kalimat non verbal) yang menunjukkan ketetapan dan ke-langgengan. Terdapat perbedaan besar di antara keduanya sebagai-mana hal itu diketahui dalam ilmu bahasa Arab. ﴾ فَمَا لَبِثَ ﴿ "Maka tidak lama", setelah mereka, datanglah Ibrahim ﴾ أَن جَآءَ بِعِجۡلٍ حَنِيذٖ ﴿ "menyu-guhkan daging anak sapi yang dipanggang." Maksudnya dia langsung menghadirkan untuk tamu-tamunya daging anak sapi yang gemuk yang dibakar di atas batu panas. Ibrahim menyuguhkannya seraya berkata, "Makanlah."
(70) ﴾ فَلَمَّا رَءَآ أَيۡدِيَهُمۡ لَا تَصِلُ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya", yakni hidangan tersebut ﴾ نَكِرَهُمۡ وَأَوۡجَسَ مِنۡهُمۡ خِيفَةٗۚ ﴿ "Ibrahim mencurigai perbuatan mereka." Ibrahim mengira mereka ha-dir dengan tujuan buruk, itu sebelum dia mengetahui siapa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمِ لُوطٖ ﴿ "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth." Maksudnya, kami adalah utusan Allah, Allah mengutus kami untuk membinasakan kaum Luth.
(71) ﴾ وَٱمۡرَأَتُهُۥ قَآئِمَةٞ ﴿ "Dan istrinya berdiri (di balik tirai)", melayani tamu. ﴾ فَضَحِكَتۡ ﴿ "Lalu dia tersenyum." Takjub ketika mendengar kata-kata mereka dan tugas yang mereka bawa. ﴾ فَبَشَّرۡنَٰهَا بِإِسۡحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ ﴿ "Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya), Ya'qub."
(72) Istri Ibrahim kaget dengan hal itu, d a n ﴾ قَالَتۡ يَٰوَيۡلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٞ وَهَٰذَا بَعۡلِي شَيۡخًاۖ ﴿ "Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, mungkin-kah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula?" Kedua per-kara ini menghalangi lahirnya anak. ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عَجِيبٞ ﴿ "Sesungguh-nya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
(73) ﴾ قَالُوٓاْ أَتَعۡجَبِينَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Para malaikat itu berkata, 'Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?" KetetapanNya tidaklah meng-herankan karena keinginanNya pada segala sesuatu pasti terlaksana, tidak ada yang mengherankan sedikit pun pada kodratNya khu-susnya sesuatu yang Dia atur dan tetapkan untuk penghuni rumah yang penuh berkah ini. ﴾ رَحۡمَتُ ٱللَّهِ وَبَرَكَٰتُهُۥ عَلَيۡكُمۡ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِۚ ﴿ "(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, terlimpahkan atas kalian hai Ahlul Bait," mak-sudnya, senantiasa rahmatNya, kebaikanNya dan keberkahanNya yang merupakan tambahan dari kebaikanNya dan turunnya ke-baikan Ilahi kepada hamba (semua itu) selalu dicurahkan kepadamu hai Ahlul Bait. ﴾ إِنَّهُۥ حَمِيدٞ مَّجِيدٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." Dzat yang sifat-sifatNya terpuji karena sifat-sifat-Nya adalah sifat kesempurnaan, Dzat yang perbuatanNya terpuji karena perbuatanNya adalah kebaikan, kemuliaan, kemurahan, hikmah dan keadilan serta keberimbangan. ﴾ مَّجِيدٞ ﴿ "Lagi Maha Pemu-rah." Al-Majdu adalah keagungan dan keluasan sifat, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia memiliki dari sifat-sifat kesem-purnaan itu sifat yang tersempurna dan terluas.
(74) ﴾ فَلَمَّا ذَهَبَ عَنۡ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلرَّوۡعُ ﴿ "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim", ketakutan yang menghinggapinya karena tamu-tamunya, ﴾ وَجَآءَتۡهُ ٱلۡبُشۡرَىٰ ﴿ "dan berita gembira telah datang kepadanya", yaitu berita kelahiran anak, maka Ibrahim pada saat itu beralih kepada tema dialog kerasulan (dengan para malaikat itu) tentang dibinasakan-nya umat Luth, dia berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ قَالُواْ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَن فِيهَاۖ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya." (Al-An-kabut: 32).
(75) ﴾ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar se-orang yang penyantun." Yakni pemilik akhlak yang baik, dada yang lapang dan tidak marah ketika terjadi kejahilan dari orang-orang yang jahil. ﴾ أَوَّٰهٞ ﴿ "Lagi penghiba." Yakni orang yang merendahkan diri kepada Allah dalam setiap waktu, ﴾ مُّنِيبٞ ﴿ "dan suka kembali ke-pada Allah," dengan mengetahuiNya, mencintaiNya, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Oleh karena itu, dia men-debat orang yang ditetapkan binasa oleh Allah.
(76) Dikatakan kepada Ibrahim, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ ﴿ "Hai Ibra-him, tinggalkanlah tanya jawab ini, yakni berdebat, ﴾ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu", untuk membinasakan mereka. ﴾ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka itu akan dida-tangi azab yang tidak dapat ditolak." Sehingga debatmu tidak berguna.
(77) ﴾ وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا ﴿ "Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu." Para malaikat yang sebelumnya hadir kepada Ibrahim, ketika mereka datang kepada ﴾ لُوطٗا سِيٓءَ بِهِمۡ ﴿ "Luth, dia merasa susah." Yakni kedatangan mereka membuatnya berat.﴾ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعٗا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ ﴿ "Dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'." Yakni benar-benar sulit karena dia tahu pasti bahwa kaumnya tidak membiarkan mereka, karena mereka hadir dalam bentuk pemuda yang mulus tak ber-kumis dan berjanggut dan sangat tampan.
(78) Oleh karena itu, apa yang terlintas di benaknya benar-benar terjadi maka ﴾ وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas." Yakni dengan cepat dan tergesa-gesa meng-inginkan perbuatan keji yang mereka lakukan kepada tamu-tamu-nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." Yaitu perbuatan keji yang tidak seorang pun di dunia ini yang men-dahului mereka dalam hal tersebut. ﴾ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ ﴿ "Luth berkata, 'Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku, mereka lebih suci bagimu'," daripada tamu-tamuku –ini seperti Sulaiman yang mena-warkan kepada dua orang wanita yang bersengketa pada seorang anak agar anak itu dibelah menjadi dua untuk menyingkap kebe-naran– dan karena Luth mengetahui bahwa putri-putri (negeri)nya tidak akan mereka dapatkan dan mereka tidak berhak pada mereka, dan tujuan besar dari Luth adalah menolak perbuatan keji yang besar ini. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini." Yaitu dengan cara jagalah ketakwaan kepada Allah atau hargailah tamu-tamuku, jangan kalian membuatku malu di hadapan mereka.﴾ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٞ رَّشِيدٞ ﴿ "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Yang melarang dan mencegahmu. Ini adalah dalil atas pengabaian dan penyimpangan mereka dari kebaikan dan karakter pribadi.
(79) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab", kepadanya. ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقّٖ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ﴿ "Sungguh kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki." Maksudnya, kami hanya menginginkan laki-laki, kami tidak menginginkan pe-rempuan.
(80) Luth عليه السلام semakin cemas saja, maka dia berkata, ﴾ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٖ شَدِيدٖ 80 ﴿ "Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." Seperti kabilah yang tangguh, niscaya aku akan melarang kalian. Ini adalah berdasarkan sebab-sebab yang kongkret, jika tidak, maka dia berlindung kepada tempat sandaran terkuat, yaitu Allah yang tak seorang pun mampu melawanNya.
(81) Oleh karena itu, ketika urusannya telah memuncak dan perkaranya bertambah sulit, ﴾ قَالُواْ ﴿ "para utusan (malaikat) berkata" kepada Luth, ﴾ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu." Maksudnya, mereka membuka identitas mereka agar Luth tenang hatinya. ﴾ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ ﴿ "Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu", dengan keburukan, kemudian Jibril berkata dengan menggerakkan sayapnya, lalu dia menyapu mata mereka. Lalu mereka beranjak pergi dengan mengancam Luth (untuk mem-balas) pada waktu hadirnya Shubuh. Para malaikat memerintahkan Luth agar membawa keluarganya pergi ﴾ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di akhir malam," jauh sebelum Shubuh (tiba) agar bisa menjauhi desa mereka. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang." Yakni cepat-cepatlah pergi, yang penting kamu selamat, janganlah menengok ke belakang. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا ﴿ "Kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa" azab ﴾ مَآ أَصَابَهُمۡۚ ﴿ "yang menimpa mere-ka." Karena dia berserikat dalam dosanya bersama kaumnya, dialah yang mengabarkan kepada kaumnya tentang kehadiran tamu-tamu kepada Luth. ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu Shubuh", seakan-akan Luth menginginkannya cepat, maka dikatakan kepadanya, ﴾ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ ﴿ "Bukankah Shubuh itu sudah dekat?"
(82) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Maka tatkala datang azab Kami", menimpa mereka, ﴾ جَعَلۡنَا ﴿ "Kami jadikan" negeri kaum Luth, ﴾ عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "yang di atas ke bawah (Kami balikkan)", maksudnya kami balikkan atas mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar", dari batu api yang sangat panas ﴾ مَّنضُودٖ ﴿ "dengan bertubi-tubi", maksudnya bertubi-tubi mengejar orang yang kabur dari negeri itu.
(83) ﴾ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ ﴿ "Yang diberi tanda oleh Rabbmu," maksud-nya diberi alamat dengan alamat azab dan murka. ﴾ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٖ ﴿ "Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim," yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Maka hendaknya manusia berhati-hati dengan tidak melakukannya agar tidak diazab seperti azab mereka.
Hud 11:84
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
Hud 11:85
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
Hud 11:86
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
Hud 11:87
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
Hud 11:88
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
Hud 11:89
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
Hud 11:90
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
Hud 11:91
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
Hud 11:92
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
Hud 11:93
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
Hud 11:94
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
Hud 11:95
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara me-reka, Syu'aib. Dia berkata, 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu), dan sesungguhnya aku khawatir terha-dapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).' (Dan Syu'aib berkata), 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami mem-perbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguh-nya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'." (Hud: 84-87) "Syu'aib berkata, 'Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan Dia menganu-gerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahNya). Dan aku tidak berkehendak menyalahimu (dengan mengerjakan) sesuatu yang aku larangkan untukmu. Tidaklah aku bermaksud melainkan (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah per-tentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.' Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu, tentu-lah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'." (Hud: 88-91). "Syu'aib menjawab, 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.' Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesung-guhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang ber-dusta. Dan tunggulah azab (Rabb), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.' Dan tatkala datang azab Kami, maka Kami se-lamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi pen-duduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (Hud: 92:95)
(84)(وَ) "Dan" Kami utus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada (penduduk) Mad-yan", Madyan adalah kabilah yang terkenal yang tinggal di Madyan, dekat Palestina, ﴾ أَخَاهُمۡ ﴿ "saudara mereka", senasab, yaitu ﴾ شُعَيۡبٗاۚ ﴿ "Syu'aib." Karena mereka mengenalnya dan bisa mengambil agama darinya. Syu'aib berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ ﴿ "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia." Maksudnya, ikhlaskanlah ibadah kepadaNya, karena mereka ketika itu menyekutukanNya dengan sesuatu, di samping itu me-reka berlaku culas dalam timbangan dan takaran. Oleh karena itu, Syu'aib melarang mereka melakukan itu, dia berkata,﴾ وَلَا تَنقُصُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَۖ ﴿ "Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan", akan tetapi penuhilah timbangan dan takaran dengan adil. ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)." Maksudnya, berada dalam kenikmatan yang melimpah, kesehatan dan harta serta anak-anak, maka bersyukurlah kepada Allah atas pemberianNya kepadamu. Jangan kufur terhadap nikmat Allah karena Dia bisa mencabutnya darimu. ﴾ وَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ مُّحِيطٖ ﴿ "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang mem-binasakan (Kiamat)." Yakni azab yang mengelilingimu dan tidak menyisakan apa pun.
(85) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "Hai kaumku, cukupkan-lah takaran dan timbangan dengan adil", yang mana kamu rela agar diperlakukan demikian. ﴾ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka." Maksudnya, janganlah mengurangi hak-hak manusia dengan melakukan kecurangan de-ngan mengurangi timbangan dan takaran. ﴾ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat ke-rusakan." Karena terus-menerus berbuat maksiat akan merusak agama, akidah, dunia, dan membinasakan tanaman dan ternak.
(86) ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." Maksudnya, sesuatu yang disisakan untukmu dari kebaikan dan sesuatu yang ada padamu adalah cukup bagimu. Ja-ngan tamak kepada sesuatu yang kamu tidak memerlukannya dan justru merugikanmu. ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَۚ ﴿ "Jika kamu orang-orang yang beriman," maka lakukanlah sesuai dengan tuntutan iman. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ ﴿ "Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Aku bukanlah penjaga dan penanggung jawab amalmu. Yang menjaganya adalah Allah, aku cuma menyampaikan risalah yang diamanatkan kepa-daku.
(87) ﴾ قَالُوٓاْ يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَن نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan tuhan yang disembah oleh bapak-bapak kami." Maksudnya, mereka mengatakan itu sebagai ejekan terhadap nabi mereka dan ketidak-mungkinan mengikutinya. Makna dari apa yang mereka katakan adalah bahwa laranganmu untuk kami, hanyalah mewajibkan agar kamu shalat dan beribadah kepada Allah (semata), jika kamu me-mang demikian maka apakah itu mengharuskan kami meninggal-kan tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami karena suatu ucapan yang tak berdalil, melainkan hanya karena ia sesuai dengan-mu? Bagaimana kami mengikutimu dan meninggalkan nenek mo-yang kami orang-orang yang berakal dan berpemikiran? Begitu pula kata-katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami berupa memenuhi takaran timbangan dan menunaikan hak-hak yang wajib padanya, akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehen-daki karena ia adalah harta kami, kamu tak memiliki hak apa pun. Oleh karena itu, mereka mengejeknya dengan berkata, ﴾ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Maksudnya, bukankah kamu adalah orang dengan kelembutan, kasih sayang dan ketenangan yang telah menjadi sifat dan pembawaaanmu, tidak ada yang kamu lakukan kecuali kebaik-an, kamu tidak memerintahkan kecuali kebaikan dan kamu tidak melarang kecuali keburukan? Yakni perkaranya tidak begitu, mak-sud mereka adalah bahwa Syu'aib memiliki sifat yang bertentangan dengan dua sifat tersebut yaitu kebodohan dan kesesatan, jadi mak-sudnya adalah: bagaimana kamu menjadi orang yang penyantun lagi berakal sedangkan nenek moyang kami adalah orang-orang bodoh yang sesat? Kata-kata yang mereka lontarkan adalah dengan nada mengejek dan bahwa perkaranya adalah sebaliknya, tidaklah seperti yang mereka kira, justru perkaranya seperti yang mereka katakan bahwa shalatnya memintanya melarang kaumnya menyem-bah tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka yang sesat dan (melarang) memperbuat apa yang mereka inginkan pada harta mereka karena shalat melarang perbuatan keji dan mungkar. Ada-kah kemungkaran dan perbuatan keji yang lebih besar daripada penyembahan kepada selain Allah dan daripada mencurangi hak hamba-hamba Allah atau mencurinya dengan timbangan dan ta-karan. Syu'aiblah orang yang penyantun lagi berakal.
(88) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib berkata", kepada mereka,﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٖ مِّن رَّبِّي ﴿ "Hai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku." Yakni keyakinan dan ketenangan ten-tang kebenaran agama yang aku bawakan, ﴾ وَرَزَقَنِي مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "dan Dia menganugerahiku dari padaNya rizki yang baik (patutkah aku menya-lahi perintahNya)?" Yakni Allah memberiku berbagai macam harta kekayaan. ﴾ و َ ﴿ "Dan" aku tidak ﴾ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "berke-hendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larangkan untukmu." Aku tidak ingin melarangmu dari perbuatan curang da-lam timbangan dan takaran sedangkan aku melakukannya sehingga akibatnya adalah aku dituduh dalam hal itu, justru tidaklah aku melarang suatu perkara melainkan akulah orang pertama yang meninggalkannya. ﴾ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا ٱلۡإِصۡلَٰحَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُۚ ﴿ "Tidaklah aku bermaksud melainkan (men-datangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan." Aku tidak me-miliki tujuan melainkan agar keadaanmu baik dan kemanfaatanmu lurus, aku tidak memiliki sedikit tujuan pribadi menurut kesang-gupanku. Ketika ini mengandung pujian terhadap diri sendiri maka dia menepisnya dengan ucapan, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah." Maksudnya, taufik yang aku dapatkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keja-hatan, tidak lain kecuali dari Allah, bukan karena daya dan kekuat-anku. ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "Hanya kepada Allah aku bertawakal." Aku bersandar kepadaNya dalam urusanku, dan aku percaya dengan jaminanNya. ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "Dan hanya kepadaNya-lah aku kembali," dalam menunaikan ibadah yang Dia perintahkan kepadaku. Dalam hal ini terdapat makna usaha mendekatkan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan baik. Dengan dua perkara ini, segala urusan seorang hamba menjadi lurus yaitu meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepadaNya sebagaimana FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya."(Hud: 123), Dan Dia berfirman, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5).
(89) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيٓ ﴿ "Hai kaumku, janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat." Yakni, pertentangan dan perselisihan antara kita, jangan memicumu ber-laku tidak baik ﴾ أَن يُصِيبَكُم ﴿ "hingga kamu ditimpa" azab,﴾ مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٖۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٖ مِّنكُم بِبَعِيدٖ ﴿ "seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tem-patnya) dari kamu." Tidak jauh tempatnya dan tidak pula masanya.
(90) ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu", dari dosa-dosa yang kamu lakukan, ﴾ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ ﴿ "kemudian bertaubat-lah kepadaNya," dalam sisa umurmu dengan taubat nasuhah, kembali kepadaNya dengan menaatiNya dan tidak menyelisihiNya.﴾ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih," bagi yang bertaubat dan kembali kepadaNya, Dia merahmatinya, mengampuninya, mencintainya dan menerima taubatnya. Al-Wadud adalah Nama Allah. Makna wadud adalah bahwa Allah mencintai hamba-hamba yang beriman, dan mereka pun men-cintaiNya. Ia adalah bentuk فَعُوْلٌ dengan makna فَاعِلٌ dan مَفْعُوْلٌ.
(91) ﴾ قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." Mereka gerah dengan nasihat-nasihat dan wejangan-wejangannya kepada mereka, mereka pun berkata, "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan." Itu karena kebencian mereka dan ketidak-senangannya terhadap kata-kata Syu'aib. ﴾ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفٗاۖ ﴿ "Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami", kamu bukan seorang pemimpin besar, kamu hanya-lah orang rendahan. ﴾ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ ﴿ "Kalau tidaklah karena keluargamu." Yakni kabilahmu dan orang-orangmu ﴾ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيزٖ ﴿ "tentulah kami telah merajammu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwi-bawa di sisi kami." Kamu tidak memiliki harga di hati kami dan ke-hormatan pada diri kami, kami membiarkanmu karena kami me-mandang kabilahmu.
(92) ﴾ قَالَ ﴿ "Syu'aib menjawab", kepada mereka dengan lem-but, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah." Yakni, bagaimana bisa kamu memperhatikanku demi kaumku dan bukan memperha-tikanku demi Allah sehingga kaumku lebih mulia daripada Allah. ﴾ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ ﴿ "Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?" Yakni kamu membuang perintah Allah di belakang punggungmu, tak mempedulikannya dan kamu tidak takut kepa-daNya. ﴾ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ﴿ "Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan." Tidak ada sekecil pun amalmu yang di langit dan di bumi yang samar dariNya, sehingga Dia akan mem-balasmu sesuai dengan perbuatanmu dengan sempurna.
(93) Manakala mereka membuatnya lelah dan dia pun ber-putus asa dari mereka, maka Syu'aib berkata kepada mereka,﴾ وَيَٰقَوۡمِ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu." Yakni sesuai dengan keadaan dan keyakinanmu. ﴾ إِنِّي عَٰمِلٞۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن يَأۡتِيهِ عَذَابٞ يُخۡزِيهِ ﴿ "Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya", azab yang kekal menimpanya, apakah aku atau kamu. Mereka me-ngetahui itu ketika azab benar-benar menimpa mereka. ﴾ وَٱرۡتَقِبُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah azab (Rabb)", yang akan menimpaku. ﴾ إِنِّي مَعَكُمۡ رَقِيبٞ ﴿ "Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu," apa yang akan menimpamu.
(94) ﴾ وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا ﴿ "Dan tatkala datang azab Kami", yang mem-binasakan kaum Syu'aib, ﴾ نَجَّيۡنَا شُعَيۡبٗا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٖ مِّنَّا وَأَخَذَتِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (Sehingga) kamu tidak lagi mendengar suara mereka, dan tidak melihat gerakan mereka.
(95) ﴾ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ ﴿ "Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu." Maksudnya, seakan-akan mereka tidak pernah tinggal di kampung mereka itu dan tidak merasakan kemakmuran di da-lamnya ketika azab datang kepada mereka. ﴾ أَلَا بُعۡدٗا لِّمَدۡيَنَ ﴿ "Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan." Ketika Allah membinasakan dan menghinakan mereka. ﴾ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُودُ ﴿ "Sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." Kedua kabilah ini sama-sama berserikat dalam kemur-kaan, laknat dan kebinasaan. Syu'aib عليه السلام terkenal dengan julukan, Khatibul Anbiya` karena dialognya yang bagus kepada kaumnya. Pada kisahnya terdapat banyak faidah dan pelajaran. Di antaranya: kaum kafir diazab dan diberi khitab tentang aki-dah Islam, demikian pula syariat dan cabang-cabang Islam karena Syu'aib menyeru kaumnya kepada tauhid dan kepada pemenuhan timbangan dan takaran, dan Syu'aib menyatakan bahwa ancaman Allah berkait dengan kedua hal tersebut. Di antaranya: Mengurangi takaran dan timbangan termasuk dosa besar. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dikhawatirkan ditimpa azab dunia, hal itu termasuk mencuri harta orang-orang. Jika mencuri lewat takaran dan timbangan mengundang azab, maka mengambil dengan paksa dan terang-terangan adalah lebih meng-undang dan lebih layak mendapat azab. Di antaranya: balasan itu berasal dari jenis perbuatan. Barang-siapa yang mengurangi harta manusia untuk menambah hartanya maka dia akan dibalas dengan sebaliknya. Itu menjadi penyebab lenyapnya kebaikan dari rizki yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan ucapan Syu'aib, ﴾ إِنِّيٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٖ ﴿ "Sesungguhnya aku melihatmu dalam kebaikan." (Hud: 84). Maksudnya, maka kamu jangan menjadi penyebab hilangnya kebaikan itu karena perbuatanmu. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba merasa cukup de-ngan rizki Allah, merasa cukup dengan halal tanpa haram. Cukup dengan usaha-usaha yang halal tanpa usaha-usaha yang haram. Hal itu adalah lebih baik baginya berdasarkan ucapan Syu'aib, ﴾ بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu." (Hud: 86). Hal itu mengandung keberkahan dan tambahan rizki yang tidak terkandung pada sikap rakus atas usaha-usaha yang haram yang mencabut keberkahan rizki. Di antaranya: Bahwa hal itu termasuk tuntutan dan buah iman, karena dia mengkaitkan hal itu dengan keberadaan iman, ini me-nunjukkan bahwa apabila amal perbuatan tidak ada, maka iman itu berkurang atau tidak ada. Di antaranya: Shalat senantiasa disyariatkan kepada para nabi terdahulu, ia termasuk amal perbuatan yang paling utama, sam-pai-sampai orang-orang kafir pun mengakui keutamaannya dan keunggulannya di atas amal-amal yang lain. Shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah timbangan bagi iman dan syariat-syariatnya. Dengan menegakkannya, keadaan seorang hamba menjadi sempurna dan dengan meninggalkannya, keadaan agamanya menjadi berantakan. Di antaranya: Harta yang Allah rizkikan kepada manusia, meskipun Allah telah memberikannya kepadanya, dia tetap tidak boleh berbuat pada harta itu sesukanya karena ia adalah amanat di tangannya. Dia harus menunaikan hak Allah pada harta itu de-ngan menunaikan kewajiban-kewajiban yang terkait dengannya, menjauhi usaha-usaha yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, tidak sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan yang seperti mereka bahwa mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai pada harta mereka, menyelarasi hukum Allah atau menye-lisihinya. Di antaranya: Termasuk kelengkapan dan kesempurnaan dakwah seorang da'i adalah hendaknya dia menjadi orang pertama yang melakukan perintahnya sendiri ketika dia memerintahkannya kepada orang lain, dan orang pertama yang meninggalkan larang-annya sendiri yang mana dia larangkan untuk orang lain sebagai-mana Syu'aib عليه السلام berkata, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak menyalahimu dengan melakukan apa yang aku larang." (Hud: 88) Sebagaimana Firman Allah, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 2 كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ 3 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Ash-Shaf: 2-3). Di antaranya: Tugas, agama dan Sunnah Rasul adalah berkehen-dak untuk memperbaiki menurut kemampuan dan kemungkinan, mereka berusaha mewujudkan kebaikan dan menyempurnakannya atau mewujudkan sesuatu yang mereka mampu untuk mewujud-kannya, menolak dan meminimalkan kerusakan serta menjaga kepentingan umum di atas kepentingan khusus. Hakikat kemaslahatan itu adalah sesuatu yang dengannya kemaslahatan manusia bisa diwujudkan, urusan agama dan dunia mereka menjadi lurus. Di antaranya: Barangsiapa melakukan perbaikan sebatas ke-mampuannya, maka dia tidak dicela dan disalahkan pada bagian yang dia tidak lakukan karena dia tidak mampu. Seorang hamba harus melakukan perbaikan pada diri dan orang lain semampunya. Di antaranya: Hendaknya seorang hamba tidak bergantung kepada dirinya sekejap pun, tetapi hendaklah dia senantiasa me-minta tolong kepada Rabbnya, bertawakal kepadaNya dan meminta taufik, jika dia mendapatkan taufik, maka hendaknya dia menis-batkannya kepada Pemberinya, dan jangan ujub terhadap dirinya sendiri sebagaimana Syu'aib berkata, ﴾ وَمَا تَوۡفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ 88 ﴿ "Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal, dan hanya kepadaNya-lah aku kem-bali." (Hud: 88) Di antaranya: Mewaspadai azab-azab yang menimpa umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, hendaknya kisah-kisah tentang azab para pelaku dosa disampaikan untuk memberi nasihat dan peringatan, sebagaimana kisah-kisah tentang balasan Allah kepada orang-orang yang bertakwa disampaikan untuk me-macu dan mendorong kepada ketakwaan. Di antaranya: Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana dosanya dimaafkan dan diampuni, maka dia juga dicintai dan disu-kai oleh Allah, tidak perlu memandang ucapan orang yang berkata, "Bahwa orang yang bertaubat sudah cukup baginya kalau diampuni dan dimaafkan." Masalah dicintai dan disukai oleh Allah, maka itu tidak terjadi, (yang benar adalah yang pertama) karena Allah ber-firman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٞ وَدُودٞ 90 ﴿ "Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih." (Hud: 90) Di antaranya: Allah membela orang-orang Mukmin dengan banyak sebab, mereka mungkin mengetahui sebagian sebab dari-nya, dan mungkin pula tidak mengetahui sedikit pun darinya, dan mungkin saja Allah membelanya melalui kabilahnya dan penduduk negerinya yang kafir, sebagaimana Allah menjaga Syu'aib dari rajam kaumnya dengan sebab kabilahnya. Sesungguhnya hubungan seperti ini yang dengannya pem-belaan kepada Islam bisa diwujudkan boleh-boleh saja dilakukan, bahkan bisa jadi harus dilakukan, karena usaha perbaikan selalu dituntut berdasarkan kemungkinan dan kemampuan. Berdasarkan hal ini, seandainya kaum Muslimin yang berada di bawah kepemim-pinan orang-orang kafir berpartisipasi dan berusaha menjadikan pemerintahan dalam bentuk republik (atas dasar demokrasi, pent.) yang dengannya pribadi dan masyarakat Muslimin bisa menda-patkan hak-hak agama dan dunia, niscaya itu lebih baik daripada tunduk kepada negara yang membunuh hak-hak agama dan dunia mereka, dan berusaha memberangus mereka, menjadikan mereka hanya sebagai kuli dan pembantu untuk mereka. Benar, jika me-mungkinkan negara itu dipegang oleh kaum Muslimin dan kaum Musliminlah yang menjadi pemimpinnya, maka itu harus dipilih, akan tetapi jika ini tidak mungkin, maka tingkatan di bawahnya yang memberi perlindungan bagi agama dan dunia harus didahu-lukan. Wallahu a'lam.
Hud 11:96
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata, kepada Fir'aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikuti perin-tah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perin-tah) yang benar. Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. Dan mereka selalu diikuti dengan ku-tukan di dunia dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Laknat itu sebu-ruk-buruk tempat yang didatangi. Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang kami ceritakan kepa-damu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. Dan kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang meng-aniaya diri mereka sendiri, karena tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang. Dan sembahan-sembahan itu ti-daklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." (Hud: 96-101)
(96) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa", bin Imran ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami", yang menunjukkan kebenaran agama yang dibawanya seperti tongkat, tangan dan tanda-tanda yang lain yang Allah berlakukan melalui tangan Musa, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan mukjizat yang nyata." Yakni hujjah yang jelas dan gamblang yang muncul seperti matahari.
(97) ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "Kepada Fir'aun dan pemimpin-pemim-pin kaumnya", maksudnya tokoh kaumnya, karena mereka diikuti, sedangkan selain mereka adalah pengikut bagi mereka. Mereka tidak tunduk pada mukjizat yang dibawa oleh Musa dan ditunjuk-kannya kepada mereka seperti yang telah dirinci di surat al-A'raf, mereka justru ﴾ فَٱتَّبَعُوٓاْ أَمۡرَ فِرۡعَوۡنَۖ وَمَآ أَمۡرُ فِرۡعَوۡنَ بِرَشِيدٖ ﴿ "mengikuti perintah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar." Fir'aun adalah sesat dan menyimpang, dia tidak memerintahkan kecuali kepada kemudaratan murni.
(98) Tidak aneh ketika kaumnya mengikutinya, maka Fir'aun mencelakakan dan membinasakan mereka. ﴾ يَقۡدُمُ قَوۡمَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَأَوۡرَدَهُمُ ٱلنَّارَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡوِرۡدُ ٱلۡمَوۡرُودُ ﴿ "Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi."
(99) ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِۦ ﴿ "Dan mereka selalu diikuti" di dunia ini ﴾ لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "dengan kutukan dan (begitu pula) di Hari Kiamat." Allah, malaikat, dan semua manusia melaknat mereka di dunia dan akhirat. ﴾ بِئۡسَ ٱلرِّفۡدُ ٱلۡمَرۡفُودُ ﴿ "Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan." Maksudnya, ia adalah sejelek-jelek sesuatu yang terkumpul untuk mereka. Azab Allah dan laknat dunia dan akhirat menumpuk pada mereka.
(100) Tatkala Allah menyebutkan kisah-kisah umat dengan rasul-rasul mereka, maka Allah berfirman kepada RasulNya,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡقُرَىٰ نَقُصُّهُۥ عَلَيۡكَۖ ﴿ "Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad)", agar kamu memperingatkan manusia dengannya, sebagai bukti kerasulanmu, nasihat dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. ﴾ مِنۡهَا قَآئِمٞ ﴿ "Di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya", belum hilang sama sekali, masih ada bekas-bekas negeri yang me-nunjukkannya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" darinya ﴾ ح َ ص ِ ي ْ د ٌ ﴿ "ada (pula) yang telah musnah." Tempat tinggal mereka terkikis habis, tak berbekas dan tidak ada tanda-tandanya.
(101) ﴾ وَمَا ظَلَمۡنَٰهُمۡ ﴿ "Dan Kami tidaklah menganiaya mereka", de-ngan menimpakan berbagai azab kepada mereka, ﴾ وَلَٰكِن ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡۖ ﴿ "tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri", dengan syirik, kufur dan penentangan. ﴾ فَمَآ أَغۡنَتۡ عَنۡهُمۡ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِي يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ لَّمَّا جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ "Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sem-bahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang." Begitulah semua orang yang berlindung kepada selain Allah, ia tidak dapat melindunginya pada waktu azab itu turun. ﴾ وَمَا زَادُوهُمۡ غَيۡرَ تَتۡبِيبٖ ﴿ "Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." Kerugian dan kebinasaan, tidak seperti yang terlintas di benak mereka.
Hud 11:97
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata, kepada Fir'aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikuti perin-tah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perin-tah) yang benar. Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. Dan mereka selalu diikuti dengan ku-tukan di dunia dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Laknat itu sebu-ruk-buruk tempat yang didatangi. Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang kami ceritakan kepa-damu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. Dan kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang meng-aniaya diri mereka sendiri, karena tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang. Dan sembahan-sembahan itu ti-daklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." (Hud: 96-101)
(96) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa", bin Imran ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami", yang menunjukkan kebenaran agama yang dibawanya seperti tongkat, tangan dan tanda-tanda yang lain yang Allah berlakukan melalui tangan Musa, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan mukjizat yang nyata." Yakni hujjah yang jelas dan gamblang yang muncul seperti matahari.
(97) ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "Kepada Fir'aun dan pemimpin-pemim-pin kaumnya", maksudnya tokoh kaumnya, karena mereka diikuti, sedangkan selain mereka adalah pengikut bagi mereka. Mereka tidak tunduk pada mukjizat yang dibawa oleh Musa dan ditunjuk-kannya kepada mereka seperti yang telah dirinci di surat al-A'raf, mereka justru ﴾ فَٱتَّبَعُوٓاْ أَمۡرَ فِرۡعَوۡنَۖ وَمَآ أَمۡرُ فِرۡعَوۡنَ بِرَشِيدٖ ﴿ "mengikuti perintah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar." Fir'aun adalah sesat dan menyimpang, dia tidak memerintahkan kecuali kepada kemudaratan murni.
(98) Tidak aneh ketika kaumnya mengikutinya, maka Fir'aun mencelakakan dan membinasakan mereka. ﴾ يَقۡدُمُ قَوۡمَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَأَوۡرَدَهُمُ ٱلنَّارَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡوِرۡدُ ٱلۡمَوۡرُودُ ﴿ "Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi."
(99) ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِۦ ﴿ "Dan mereka selalu diikuti" di dunia ini ﴾ لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "dengan kutukan dan (begitu pula) di Hari Kiamat." Allah, malaikat, dan semua manusia melaknat mereka di dunia dan akhirat. ﴾ بِئۡسَ ٱلرِّفۡدُ ٱلۡمَرۡفُودُ ﴿ "Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan." Maksudnya, ia adalah sejelek-jelek sesuatu yang terkumpul untuk mereka. Azab Allah dan laknat dunia dan akhirat menumpuk pada mereka.
(100) Tatkala Allah menyebutkan kisah-kisah umat dengan rasul-rasul mereka, maka Allah berfirman kepada RasulNya,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡقُرَىٰ نَقُصُّهُۥ عَلَيۡكَۖ ﴿ "Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad)", agar kamu memperingatkan manusia dengannya, sebagai bukti kerasulanmu, nasihat dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. ﴾ مِنۡهَا قَآئِمٞ ﴿ "Di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya", belum hilang sama sekali, masih ada bekas-bekas negeri yang me-nunjukkannya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" darinya ﴾ ح َ ص ِ ي ْ د ٌ ﴿ "ada (pula) yang telah musnah." Tempat tinggal mereka terkikis habis, tak berbekas dan tidak ada tanda-tandanya.
(101) ﴾ وَمَا ظَلَمۡنَٰهُمۡ ﴿ "Dan Kami tidaklah menganiaya mereka", de-ngan menimpakan berbagai azab kepada mereka, ﴾ وَلَٰكِن ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡۖ ﴿ "tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri", dengan syirik, kufur dan penentangan. ﴾ فَمَآ أَغۡنَتۡ عَنۡهُمۡ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِي يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ لَّمَّا جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ "Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sem-bahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang." Begitulah semua orang yang berlindung kepada selain Allah, ia tidak dapat melindunginya pada waktu azab itu turun. ﴾ وَمَا زَادُوهُمۡ غَيۡرَ تَتۡبِيبٖ ﴿ "Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." Kerugian dan kebinasaan, tidak seperti yang terlintas di benak mereka.
Hud 11:98
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata, kepada Fir'aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikuti perin-tah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perin-tah) yang benar. Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. Dan mereka selalu diikuti dengan ku-tukan di dunia dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Laknat itu sebu-ruk-buruk tempat yang didatangi. Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang kami ceritakan kepa-damu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. Dan kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang meng-aniaya diri mereka sendiri, karena tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang. Dan sembahan-sembahan itu ti-daklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." (Hud: 96-101)
(96) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa", bin Imran ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami", yang menunjukkan kebenaran agama yang dibawanya seperti tongkat, tangan dan tanda-tanda yang lain yang Allah berlakukan melalui tangan Musa, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan mukjizat yang nyata." Yakni hujjah yang jelas dan gamblang yang muncul seperti matahari.
(97) ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "Kepada Fir'aun dan pemimpin-pemim-pin kaumnya", maksudnya tokoh kaumnya, karena mereka diikuti, sedangkan selain mereka adalah pengikut bagi mereka. Mereka tidak tunduk pada mukjizat yang dibawa oleh Musa dan ditunjuk-kannya kepada mereka seperti yang telah dirinci di surat al-A'raf, mereka justru ﴾ فَٱتَّبَعُوٓاْ أَمۡرَ فِرۡعَوۡنَۖ وَمَآ أَمۡرُ فِرۡعَوۡنَ بِرَشِيدٖ ﴿ "mengikuti perintah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar." Fir'aun adalah sesat dan menyimpang, dia tidak memerintahkan kecuali kepada kemudaratan murni.
(98) Tidak aneh ketika kaumnya mengikutinya, maka Fir'aun mencelakakan dan membinasakan mereka. ﴾ يَقۡدُمُ قَوۡمَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَأَوۡرَدَهُمُ ٱلنَّارَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡوِرۡدُ ٱلۡمَوۡرُودُ ﴿ "Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi."
(99) ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِۦ ﴿ "Dan mereka selalu diikuti" di dunia ini ﴾ لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "dengan kutukan dan (begitu pula) di Hari Kiamat." Allah, malaikat, dan semua manusia melaknat mereka di dunia dan akhirat. ﴾ بِئۡسَ ٱلرِّفۡدُ ٱلۡمَرۡفُودُ ﴿ "Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan." Maksudnya, ia adalah sejelek-jelek sesuatu yang terkumpul untuk mereka. Azab Allah dan laknat dunia dan akhirat menumpuk pada mereka.
(100) Tatkala Allah menyebutkan kisah-kisah umat dengan rasul-rasul mereka, maka Allah berfirman kepada RasulNya,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡقُرَىٰ نَقُصُّهُۥ عَلَيۡكَۖ ﴿ "Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad)", agar kamu memperingatkan manusia dengannya, sebagai bukti kerasulanmu, nasihat dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. ﴾ مِنۡهَا قَآئِمٞ ﴿ "Di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya", belum hilang sama sekali, masih ada bekas-bekas negeri yang me-nunjukkannya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" darinya ﴾ ح َ ص ِ ي ْ د ٌ ﴿ "ada (pula) yang telah musnah." Tempat tinggal mereka terkikis habis, tak berbekas dan tidak ada tanda-tandanya.
(101) ﴾ وَمَا ظَلَمۡنَٰهُمۡ ﴿ "Dan Kami tidaklah menganiaya mereka", de-ngan menimpakan berbagai azab kepada mereka, ﴾ وَلَٰكِن ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡۖ ﴿ "tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri", dengan syirik, kufur dan penentangan. ﴾ فَمَآ أَغۡنَتۡ عَنۡهُمۡ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِي يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ لَّمَّا جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ "Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sem-bahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang." Begitulah semua orang yang berlindung kepada selain Allah, ia tidak dapat melindunginya pada waktu azab itu turun. ﴾ وَمَا زَادُوهُمۡ غَيۡرَ تَتۡبِيبٖ ﴿ "Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." Kerugian dan kebinasaan, tidak seperti yang terlintas di benak mereka.
Hud 11:99
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata, kepada Fir'aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikuti perin-tah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perin-tah) yang benar. Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. Dan mereka selalu diikuti dengan ku-tukan di dunia dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Laknat itu sebu-ruk-buruk tempat yang didatangi. Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang kami ceritakan kepa-damu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. Dan kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang meng-aniaya diri mereka sendiri, karena tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang. Dan sembahan-sembahan itu ti-daklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." (Hud: 96-101)
(96) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa", bin Imran ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami", yang menunjukkan kebenaran agama yang dibawanya seperti tongkat, tangan dan tanda-tanda yang lain yang Allah berlakukan melalui tangan Musa, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan mukjizat yang nyata." Yakni hujjah yang jelas dan gamblang yang muncul seperti matahari.
(97) ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "Kepada Fir'aun dan pemimpin-pemim-pin kaumnya", maksudnya tokoh kaumnya, karena mereka diikuti, sedangkan selain mereka adalah pengikut bagi mereka. Mereka tidak tunduk pada mukjizat yang dibawa oleh Musa dan ditunjuk-kannya kepada mereka seperti yang telah dirinci di surat al-A'raf, mereka justru ﴾ فَٱتَّبَعُوٓاْ أَمۡرَ فِرۡعَوۡنَۖ وَمَآ أَمۡرُ فِرۡعَوۡنَ بِرَشِيدٖ ﴿ "mengikuti perintah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar." Fir'aun adalah sesat dan menyimpang, dia tidak memerintahkan kecuali kepada kemudaratan murni.
(98) Tidak aneh ketika kaumnya mengikutinya, maka Fir'aun mencelakakan dan membinasakan mereka. ﴾ يَقۡدُمُ قَوۡمَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَأَوۡرَدَهُمُ ٱلنَّارَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡوِرۡدُ ٱلۡمَوۡرُودُ ﴿ "Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi."
(99) ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِۦ ﴿ "Dan mereka selalu diikuti" di dunia ini ﴾ لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "dengan kutukan dan (begitu pula) di Hari Kiamat." Allah, malaikat, dan semua manusia melaknat mereka di dunia dan akhirat. ﴾ بِئۡسَ ٱلرِّفۡدُ ٱلۡمَرۡفُودُ ﴿ "Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan." Maksudnya, ia adalah sejelek-jelek sesuatu yang terkumpul untuk mereka. Azab Allah dan laknat dunia dan akhirat menumpuk pada mereka.
(100) Tatkala Allah menyebutkan kisah-kisah umat dengan rasul-rasul mereka, maka Allah berfirman kepada RasulNya,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡقُرَىٰ نَقُصُّهُۥ عَلَيۡكَۖ ﴿ "Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad)", agar kamu memperingatkan manusia dengannya, sebagai bukti kerasulanmu, nasihat dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. ﴾ مِنۡهَا قَآئِمٞ ﴿ "Di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya", belum hilang sama sekali, masih ada bekas-bekas negeri yang me-nunjukkannya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" darinya ﴾ ح َ ص ِ ي ْ د ٌ ﴿ "ada (pula) yang telah musnah." Tempat tinggal mereka terkikis habis, tak berbekas dan tidak ada tanda-tandanya.
(101) ﴾ وَمَا ظَلَمۡنَٰهُمۡ ﴿ "Dan Kami tidaklah menganiaya mereka", de-ngan menimpakan berbagai azab kepada mereka, ﴾ وَلَٰكِن ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡۖ ﴿ "tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri", dengan syirik, kufur dan penentangan. ﴾ فَمَآ أَغۡنَتۡ عَنۡهُمۡ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِي يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ لَّمَّا جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ "Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sem-bahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang." Begitulah semua orang yang berlindung kepada selain Allah, ia tidak dapat melindunginya pada waktu azab itu turun. ﴾ وَمَا زَادُوهُمۡ غَيۡرَ تَتۡبِيبٖ ﴿ "Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." Kerugian dan kebinasaan, tidak seperti yang terlintas di benak mereka.
Hud 11:100
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata, kepada Fir'aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikuti perin-tah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perin-tah) yang benar. Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. Dan mereka selalu diikuti dengan ku-tukan di dunia dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Laknat itu sebu-ruk-buruk tempat yang didatangi. Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang kami ceritakan kepa-damu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. Dan kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang meng-aniaya diri mereka sendiri, karena tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang. Dan sembahan-sembahan itu ti-daklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." (Hud: 96-101)
(96) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa", bin Imran ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami", yang menunjukkan kebenaran agama yang dibawanya seperti tongkat, tangan dan tanda-tanda yang lain yang Allah berlakukan melalui tangan Musa, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan mukjizat yang nyata." Yakni hujjah yang jelas dan gamblang yang muncul seperti matahari.
(97) ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "Kepada Fir'aun dan pemimpin-pemim-pin kaumnya", maksudnya tokoh kaumnya, karena mereka diikuti, sedangkan selain mereka adalah pengikut bagi mereka. Mereka tidak tunduk pada mukjizat yang dibawa oleh Musa dan ditunjuk-kannya kepada mereka seperti yang telah dirinci di surat al-A'raf, mereka justru ﴾ فَٱتَّبَعُوٓاْ أَمۡرَ فِرۡعَوۡنَۖ وَمَآ أَمۡرُ فِرۡعَوۡنَ بِرَشِيدٖ ﴿ "mengikuti perintah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar." Fir'aun adalah sesat dan menyimpang, dia tidak memerintahkan kecuali kepada kemudaratan murni.
(98) Tidak aneh ketika kaumnya mengikutinya, maka Fir'aun mencelakakan dan membinasakan mereka. ﴾ يَقۡدُمُ قَوۡمَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَأَوۡرَدَهُمُ ٱلنَّارَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡوِرۡدُ ٱلۡمَوۡرُودُ ﴿ "Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi."
(99) ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِۦ ﴿ "Dan mereka selalu diikuti" di dunia ini ﴾ لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "dengan kutukan dan (begitu pula) di Hari Kiamat." Allah, malaikat, dan semua manusia melaknat mereka di dunia dan akhirat. ﴾ بِئۡسَ ٱلرِّفۡدُ ٱلۡمَرۡفُودُ ﴿ "Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan." Maksudnya, ia adalah sejelek-jelek sesuatu yang terkumpul untuk mereka. Azab Allah dan laknat dunia dan akhirat menumpuk pada mereka.
(100) Tatkala Allah menyebutkan kisah-kisah umat dengan rasul-rasul mereka, maka Allah berfirman kepada RasulNya,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡقُرَىٰ نَقُصُّهُۥ عَلَيۡكَۖ ﴿ "Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad)", agar kamu memperingatkan manusia dengannya, sebagai bukti kerasulanmu, nasihat dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. ﴾ مِنۡهَا قَآئِمٞ ﴿ "Di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya", belum hilang sama sekali, masih ada bekas-bekas negeri yang me-nunjukkannya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" darinya ﴾ ح َ ص ِ ي ْ د ٌ ﴿ "ada (pula) yang telah musnah." Tempat tinggal mereka terkikis habis, tak berbekas dan tidak ada tanda-tandanya.
(101) ﴾ وَمَا ظَلَمۡنَٰهُمۡ ﴿ "Dan Kami tidaklah menganiaya mereka", de-ngan menimpakan berbagai azab kepada mereka, ﴾ وَلَٰكِن ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡۖ ﴿ "tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri", dengan syirik, kufur dan penentangan. ﴾ فَمَآ أَغۡنَتۡ عَنۡهُمۡ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِي يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ لَّمَّا جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ "Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sem-bahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang." Begitulah semua orang yang berlindung kepada selain Allah, ia tidak dapat melindunginya pada waktu azab itu turun. ﴾ وَمَا زَادُوهُمۡ غَيۡرَ تَتۡبِيبٖ ﴿ "Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." Kerugian dan kebinasaan, tidak seperti yang terlintas di benak mereka.
Hud 11:101
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata, kepada Fir'aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikuti perin-tah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perin-tah) yang benar. Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. Dan mereka selalu diikuti dengan ku-tukan di dunia dan (begitu pula) di Hari Kiamat. Laknat itu sebu-ruk-buruk tempat yang didatangi. Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang kami ceritakan kepa-damu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. Dan kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang meng-aniaya diri mereka sendiri, karena tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang. Dan sembahan-sembahan itu ti-daklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." (Hud: 96-101)
(96) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا مُوسَىٰ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa", bin Imran ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami", yang menunjukkan kebenaran agama yang dibawanya seperti tongkat, tangan dan tanda-tanda yang lain yang Allah berlakukan melalui tangan Musa, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan mukjizat yang nyata." Yakni hujjah yang jelas dan gamblang yang muncul seperti matahari.
(97) ﴾ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦ ﴿ "Kepada Fir'aun dan pemimpin-pemim-pin kaumnya", maksudnya tokoh kaumnya, karena mereka diikuti, sedangkan selain mereka adalah pengikut bagi mereka. Mereka tidak tunduk pada mukjizat yang dibawa oleh Musa dan ditunjuk-kannya kepada mereka seperti yang telah dirinci di surat al-A'raf, mereka justru ﴾ فَٱتَّبَعُوٓاْ أَمۡرَ فِرۡعَوۡنَۖ وَمَآ أَمۡرُ فِرۡعَوۡنَ بِرَشِيدٖ ﴿ "mengikuti perintah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar." Fir'aun adalah sesat dan menyimpang, dia tidak memerintahkan kecuali kepada kemudaratan murni.
(98) Tidak aneh ketika kaumnya mengikutinya, maka Fir'aun mencelakakan dan membinasakan mereka. ﴾ يَقۡدُمُ قَوۡمَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَأَوۡرَدَهُمُ ٱلنَّارَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡوِرۡدُ ٱلۡمَوۡرُودُ ﴿ "Ia berjalan di muka kaumnya di Hari Kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi."
(99) ﴾ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِۦ ﴿ "Dan mereka selalu diikuti" di dunia ini ﴾ لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "dengan kutukan dan (begitu pula) di Hari Kiamat." Allah, malaikat, dan semua manusia melaknat mereka di dunia dan akhirat. ﴾ بِئۡسَ ٱلرِّفۡدُ ٱلۡمَرۡفُودُ ﴿ "Laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan." Maksudnya, ia adalah sejelek-jelek sesuatu yang terkumpul untuk mereka. Azab Allah dan laknat dunia dan akhirat menumpuk pada mereka.
(100) Tatkala Allah menyebutkan kisah-kisah umat dengan rasul-rasul mereka, maka Allah berfirman kepada RasulNya,﴾ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡقُرَىٰ نَقُصُّهُۥ عَلَيۡكَۖ ﴿ "Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad)", agar kamu memperingatkan manusia dengannya, sebagai bukti kerasulanmu, nasihat dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. ﴾ مِنۡهَا قَآئِمٞ ﴿ "Di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya", belum hilang sama sekali, masih ada bekas-bekas negeri yang me-nunjukkannya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" darinya ﴾ ح َ ص ِ ي ْ د ٌ ﴿ "ada (pula) yang telah musnah." Tempat tinggal mereka terkikis habis, tak berbekas dan tidak ada tanda-tandanya.
(101) ﴾ وَمَا ظَلَمۡنَٰهُمۡ ﴿ "Dan Kami tidaklah menganiaya mereka", de-ngan menimpakan berbagai azab kepada mereka, ﴾ وَلَٰكِن ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡۖ ﴿ "tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri", dengan syirik, kufur dan penentangan. ﴾ فَمَآ أَغۡنَتۡ عَنۡهُمۡ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِي يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ لَّمَّا جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ ﴿ "Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sem-bahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang." Begitulah semua orang yang berlindung kepada selain Allah, ia tidak dapat melindunginya pada waktu azab itu turun. ﴾ وَمَا زَادُوهُمۡ غَيۡرَ تَتۡبِيبٖ ﴿ "Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka melainkan kebinasaan belaka." Kerugian dan kebinasaan, tidak seperti yang terlintas di benak mereka.
Hud 11:102
"Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab pendu-duk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu sangat pedih lagi keras." (Hud: 102).
(102) Maksudnya, azab meluluhlantakkan dan menghancur-kan mereka. Tuhan yang mereka sembah selain Allah tidak berguna sedikit pun bagi mereka.
Hud 11:103
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disak-sikan (oleh segala sesuatu). Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam ne-raka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabb-mu Maha Pelaksana terhadap sesuatu yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." (Hud: 103-108).
(103) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu", azab Allah yang disebutkan yang menghancurkan orang-orang yang zhalim itu, ﴾ لَأٓيَةٗ لِّمَنۡ خَافَ عَذَابَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat." Maksudnya, sungguh me-ngandung pelajaran dan dalil bahwa orang-orang zhalim dan para pelaku kejahatan akan ditimpa hukuman dunia dan akhirat. Ke-mudian Allah berpindah dari pembahasan ini kepada penjelasan akhirat. Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّجۡمُوعٞ لَّهُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya." Maksudnya, mereka dikumpulkan pada hari itu untuk mendapat-kan balasan dan untuk memperlihatkan kepada mereka kebesaran dan keagungan serta keadilan Allah yang besar yang dengannya mereka akan mengenalNya dengan sebenarnya. ﴾ وَذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّشۡهُودٞ ﴿ "Dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala sesuatu)." Yakni disaksikan oleh Allah, malaikat, dan seluruh makhluk.
(104) ﴾ وَمَا نُؤَخِّرُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami tiadalah mengundurkannya." Yakni kedatangan Hari Kiamat, ﴾ إِلَّا لِأَجَلٖ مَّعۡدُودٖ ﴿ "melainkan sampai waktu yang tertentu." Jika masa dunia telah habis dan penciptaan di dalamnya yang telah ditakdirkan oleh Allah (telah selesai), maka pada saat itu Dia memindahkan mereka ke alam akhirat dan memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya yang jaza`iyah (balasan) seba-gaimana di dunia Dia telah memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya syar'iyyah.
(105) ﴾ يَوۡمَ يَأۡتِ ﴿ "Di kala datang hari itu", di mana seluruh makhluk berkumpul, ﴾ لَا تَكَلَّمُ نَفۡسٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ ﴿ "tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya", bahkan para malaikat, para nabi yang mulia tidak memberi syafa'at kecuali dengan izinNya. ﴾ فَمِنۡهُمۡ شَقِيّٞ وَسَعِيدٞ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." Orang-orang yang celaka adalah orang-orang yang kafir kepada Allah, mendustakan rasul-rasulNya dan menyelisihi perintahNya, sedangkan orang-orang yang berbahagia adalah orang-orang Mukmin yang bertakwa.
(106) Mengenai balasan mereka. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُواْ ﴿ "adapun orang-orang yang celaka", kesengsaraan, kehinaan dan rasa malu terjadi pada mereka, ﴾ فَفِي ٱلنَّارِ ﴿ "maka (tempatnya) di dalam neraka", terbenam di dalam azabnya dengan hukuman yang berat di dalamnya. ﴾ لَهُمۡ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya mereka", karena beratnya siksa ﴾ زَفِيرٞ وَشَهِيقٌ ﴿ "mengeluar-kan dan menarik nafas (dengan merintih)", suara yang paling jelek dan paling buruk.
(107) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا ﴿ "Mereka kekal di dalamnya", yakni, di neraka dengan azab yang demikian ﴾ مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۚ ﴿ "selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)." Yakni, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali batas waktu yang dikehendaki Allah agar mereka tidak berada di dalamnya. Hal itu sebelum mereka masuk ke dalamnya sebagaimana yang dikatakan oleh mayoritas ahli tafsir. Jadi pengecualian atas hal ini kembali kepada sebelum mereka memasukinya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali waktu di mana mereka belum memasukinya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu Maha Pelak-sana terhadap apa yang Dia kehendaki." Semua yang diinginkan oleh Allah untuk dilakukan dan dituntut oleh hikmahNya maka Allah pasti melakukannya, tiada seorang pun yang menghalangi Allah dari keinginanNya.
(108) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang berbahagia", yang meraih kebahagiaan, kemenangan, dan keberuntungan,﴾ فَفِي ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۖ ﴿ "maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)", kemudian Dia menegaskannya dengan FirmanNya, ﴾ عَطَآءً غَيۡرَ مَجۡذُوذٖ ﴿ "sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." Nikmat yang kekal dan kelezatan yang tinggi yang Allah berikan kepada mereka akan berlangsung terus, tak terputus sesaat pun. Kita memohon kepada Allah dari karuniaNya.
Hud 11:104
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disak-sikan (oleh segala sesuatu). Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam ne-raka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabb-mu Maha Pelaksana terhadap sesuatu yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." (Hud: 103-108).
(103) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu", azab Allah yang disebutkan yang menghancurkan orang-orang yang zhalim itu, ﴾ لَأٓيَةٗ لِّمَنۡ خَافَ عَذَابَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat." Maksudnya, sungguh me-ngandung pelajaran dan dalil bahwa orang-orang zhalim dan para pelaku kejahatan akan ditimpa hukuman dunia dan akhirat. Ke-mudian Allah berpindah dari pembahasan ini kepada penjelasan akhirat. Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّجۡمُوعٞ لَّهُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya." Maksudnya, mereka dikumpulkan pada hari itu untuk mendapat-kan balasan dan untuk memperlihatkan kepada mereka kebesaran dan keagungan serta keadilan Allah yang besar yang dengannya mereka akan mengenalNya dengan sebenarnya. ﴾ وَذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّشۡهُودٞ ﴿ "Dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala sesuatu)." Yakni disaksikan oleh Allah, malaikat, dan seluruh makhluk.
(104) ﴾ وَمَا نُؤَخِّرُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami tiadalah mengundurkannya." Yakni kedatangan Hari Kiamat, ﴾ إِلَّا لِأَجَلٖ مَّعۡدُودٖ ﴿ "melainkan sampai waktu yang tertentu." Jika masa dunia telah habis dan penciptaan di dalamnya yang telah ditakdirkan oleh Allah (telah selesai), maka pada saat itu Dia memindahkan mereka ke alam akhirat dan memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya yang jaza`iyah (balasan) seba-gaimana di dunia Dia telah memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya syar'iyyah.
(105) ﴾ يَوۡمَ يَأۡتِ ﴿ "Di kala datang hari itu", di mana seluruh makhluk berkumpul, ﴾ لَا تَكَلَّمُ نَفۡسٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ ﴿ "tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya", bahkan para malaikat, para nabi yang mulia tidak memberi syafa'at kecuali dengan izinNya. ﴾ فَمِنۡهُمۡ شَقِيّٞ وَسَعِيدٞ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." Orang-orang yang celaka adalah orang-orang yang kafir kepada Allah, mendustakan rasul-rasulNya dan menyelisihi perintahNya, sedangkan orang-orang yang berbahagia adalah orang-orang Mukmin yang bertakwa.
(106) Mengenai balasan mereka. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُواْ ﴿ "adapun orang-orang yang celaka", kesengsaraan, kehinaan dan rasa malu terjadi pada mereka, ﴾ فَفِي ٱلنَّارِ ﴿ "maka (tempatnya) di dalam neraka", terbenam di dalam azabnya dengan hukuman yang berat di dalamnya. ﴾ لَهُمۡ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya mereka", karena beratnya siksa ﴾ زَفِيرٞ وَشَهِيقٌ ﴿ "mengeluar-kan dan menarik nafas (dengan merintih)", suara yang paling jelek dan paling buruk.
(107) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا ﴿ "Mereka kekal di dalamnya", yakni, di neraka dengan azab yang demikian ﴾ مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۚ ﴿ "selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)." Yakni, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali batas waktu yang dikehendaki Allah agar mereka tidak berada di dalamnya. Hal itu sebelum mereka masuk ke dalamnya sebagaimana yang dikatakan oleh mayoritas ahli tafsir. Jadi pengecualian atas hal ini kembali kepada sebelum mereka memasukinya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali waktu di mana mereka belum memasukinya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu Maha Pelak-sana terhadap apa yang Dia kehendaki." Semua yang diinginkan oleh Allah untuk dilakukan dan dituntut oleh hikmahNya maka Allah pasti melakukannya, tiada seorang pun yang menghalangi Allah dari keinginanNya.
(108) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang berbahagia", yang meraih kebahagiaan, kemenangan, dan keberuntungan,﴾ فَفِي ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۖ ﴿ "maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)", kemudian Dia menegaskannya dengan FirmanNya, ﴾ عَطَآءً غَيۡرَ مَجۡذُوذٖ ﴿ "sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." Nikmat yang kekal dan kelezatan yang tinggi yang Allah berikan kepada mereka akan berlangsung terus, tak terputus sesaat pun. Kita memohon kepada Allah dari karuniaNya.
Hud 11:105
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disak-sikan (oleh segala sesuatu). Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam ne-raka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabb-mu Maha Pelaksana terhadap sesuatu yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." (Hud: 103-108).
(103) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu", azab Allah yang disebutkan yang menghancurkan orang-orang yang zhalim itu, ﴾ لَأٓيَةٗ لِّمَنۡ خَافَ عَذَابَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat." Maksudnya, sungguh me-ngandung pelajaran dan dalil bahwa orang-orang zhalim dan para pelaku kejahatan akan ditimpa hukuman dunia dan akhirat. Ke-mudian Allah berpindah dari pembahasan ini kepada penjelasan akhirat. Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّجۡمُوعٞ لَّهُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya." Maksudnya, mereka dikumpulkan pada hari itu untuk mendapat-kan balasan dan untuk memperlihatkan kepada mereka kebesaran dan keagungan serta keadilan Allah yang besar yang dengannya mereka akan mengenalNya dengan sebenarnya. ﴾ وَذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّشۡهُودٞ ﴿ "Dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala sesuatu)." Yakni disaksikan oleh Allah, malaikat, dan seluruh makhluk.
(104) ﴾ وَمَا نُؤَخِّرُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami tiadalah mengundurkannya." Yakni kedatangan Hari Kiamat, ﴾ إِلَّا لِأَجَلٖ مَّعۡدُودٖ ﴿ "melainkan sampai waktu yang tertentu." Jika masa dunia telah habis dan penciptaan di dalamnya yang telah ditakdirkan oleh Allah (telah selesai), maka pada saat itu Dia memindahkan mereka ke alam akhirat dan memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya yang jaza`iyah (balasan) seba-gaimana di dunia Dia telah memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya syar'iyyah.
(105) ﴾ يَوۡمَ يَأۡتِ ﴿ "Di kala datang hari itu", di mana seluruh makhluk berkumpul, ﴾ لَا تَكَلَّمُ نَفۡسٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ ﴿ "tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya", bahkan para malaikat, para nabi yang mulia tidak memberi syafa'at kecuali dengan izinNya. ﴾ فَمِنۡهُمۡ شَقِيّٞ وَسَعِيدٞ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." Orang-orang yang celaka adalah orang-orang yang kafir kepada Allah, mendustakan rasul-rasulNya dan menyelisihi perintahNya, sedangkan orang-orang yang berbahagia adalah orang-orang Mukmin yang bertakwa.
(106) Mengenai balasan mereka. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُواْ ﴿ "adapun orang-orang yang celaka", kesengsaraan, kehinaan dan rasa malu terjadi pada mereka, ﴾ فَفِي ٱلنَّارِ ﴿ "maka (tempatnya) di dalam neraka", terbenam di dalam azabnya dengan hukuman yang berat di dalamnya. ﴾ لَهُمۡ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya mereka", karena beratnya siksa ﴾ زَفِيرٞ وَشَهِيقٌ ﴿ "mengeluar-kan dan menarik nafas (dengan merintih)", suara yang paling jelek dan paling buruk.
(107) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا ﴿ "Mereka kekal di dalamnya", yakni, di neraka dengan azab yang demikian ﴾ مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۚ ﴿ "selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)." Yakni, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali batas waktu yang dikehendaki Allah agar mereka tidak berada di dalamnya. Hal itu sebelum mereka masuk ke dalamnya sebagaimana yang dikatakan oleh mayoritas ahli tafsir. Jadi pengecualian atas hal ini kembali kepada sebelum mereka memasukinya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali waktu di mana mereka belum memasukinya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu Maha Pelak-sana terhadap apa yang Dia kehendaki." Semua yang diinginkan oleh Allah untuk dilakukan dan dituntut oleh hikmahNya maka Allah pasti melakukannya, tiada seorang pun yang menghalangi Allah dari keinginanNya.
(108) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang berbahagia", yang meraih kebahagiaan, kemenangan, dan keberuntungan,﴾ فَفِي ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۖ ﴿ "maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)", kemudian Dia menegaskannya dengan FirmanNya, ﴾ عَطَآءً غَيۡرَ مَجۡذُوذٖ ﴿ "sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." Nikmat yang kekal dan kelezatan yang tinggi yang Allah berikan kepada mereka akan berlangsung terus, tak terputus sesaat pun. Kita memohon kepada Allah dari karuniaNya.
Hud 11:106
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disak-sikan (oleh segala sesuatu). Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam ne-raka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabb-mu Maha Pelaksana terhadap sesuatu yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." (Hud: 103-108).
(103) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu", azab Allah yang disebutkan yang menghancurkan orang-orang yang zhalim itu, ﴾ لَأٓيَةٗ لِّمَنۡ خَافَ عَذَابَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat." Maksudnya, sungguh me-ngandung pelajaran dan dalil bahwa orang-orang zhalim dan para pelaku kejahatan akan ditimpa hukuman dunia dan akhirat. Ke-mudian Allah berpindah dari pembahasan ini kepada penjelasan akhirat. Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّجۡمُوعٞ لَّهُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya." Maksudnya, mereka dikumpulkan pada hari itu untuk mendapat-kan balasan dan untuk memperlihatkan kepada mereka kebesaran dan keagungan serta keadilan Allah yang besar yang dengannya mereka akan mengenalNya dengan sebenarnya. ﴾ وَذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّشۡهُودٞ ﴿ "Dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala sesuatu)." Yakni disaksikan oleh Allah, malaikat, dan seluruh makhluk.
(104) ﴾ وَمَا نُؤَخِّرُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami tiadalah mengundurkannya." Yakni kedatangan Hari Kiamat, ﴾ إِلَّا لِأَجَلٖ مَّعۡدُودٖ ﴿ "melainkan sampai waktu yang tertentu." Jika masa dunia telah habis dan penciptaan di dalamnya yang telah ditakdirkan oleh Allah (telah selesai), maka pada saat itu Dia memindahkan mereka ke alam akhirat dan memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya yang jaza`iyah (balasan) seba-gaimana di dunia Dia telah memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya syar'iyyah.
(105) ﴾ يَوۡمَ يَأۡتِ ﴿ "Di kala datang hari itu", di mana seluruh makhluk berkumpul, ﴾ لَا تَكَلَّمُ نَفۡسٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ ﴿ "tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya", bahkan para malaikat, para nabi yang mulia tidak memberi syafa'at kecuali dengan izinNya. ﴾ فَمِنۡهُمۡ شَقِيّٞ وَسَعِيدٞ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." Orang-orang yang celaka adalah orang-orang yang kafir kepada Allah, mendustakan rasul-rasulNya dan menyelisihi perintahNya, sedangkan orang-orang yang berbahagia adalah orang-orang Mukmin yang bertakwa.
(106) Mengenai balasan mereka. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُواْ ﴿ "adapun orang-orang yang celaka", kesengsaraan, kehinaan dan rasa malu terjadi pada mereka, ﴾ فَفِي ٱلنَّارِ ﴿ "maka (tempatnya) di dalam neraka", terbenam di dalam azabnya dengan hukuman yang berat di dalamnya. ﴾ لَهُمۡ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya mereka", karena beratnya siksa ﴾ زَفِيرٞ وَشَهِيقٌ ﴿ "mengeluar-kan dan menarik nafas (dengan merintih)", suara yang paling jelek dan paling buruk.
(107) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا ﴿ "Mereka kekal di dalamnya", yakni, di neraka dengan azab yang demikian ﴾ مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۚ ﴿ "selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)." Yakni, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali batas waktu yang dikehendaki Allah agar mereka tidak berada di dalamnya. Hal itu sebelum mereka masuk ke dalamnya sebagaimana yang dikatakan oleh mayoritas ahli tafsir. Jadi pengecualian atas hal ini kembali kepada sebelum mereka memasukinya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali waktu di mana mereka belum memasukinya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu Maha Pelak-sana terhadap apa yang Dia kehendaki." Semua yang diinginkan oleh Allah untuk dilakukan dan dituntut oleh hikmahNya maka Allah pasti melakukannya, tiada seorang pun yang menghalangi Allah dari keinginanNya.
(108) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang berbahagia", yang meraih kebahagiaan, kemenangan, dan keberuntungan,﴾ فَفِي ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۖ ﴿ "maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)", kemudian Dia menegaskannya dengan FirmanNya, ﴾ عَطَآءً غَيۡرَ مَجۡذُوذٖ ﴿ "sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." Nikmat yang kekal dan kelezatan yang tinggi yang Allah berikan kepada mereka akan berlangsung terus, tak terputus sesaat pun. Kita memohon kepada Allah dari karuniaNya.
Hud 11:107
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disak-sikan (oleh segala sesuatu). Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam ne-raka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabb-mu Maha Pelaksana terhadap sesuatu yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." (Hud: 103-108).
(103) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu", azab Allah yang disebutkan yang menghancurkan orang-orang yang zhalim itu, ﴾ لَأٓيَةٗ لِّمَنۡ خَافَ عَذَابَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat." Maksudnya, sungguh me-ngandung pelajaran dan dalil bahwa orang-orang zhalim dan para pelaku kejahatan akan ditimpa hukuman dunia dan akhirat. Ke-mudian Allah berpindah dari pembahasan ini kepada penjelasan akhirat. Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّجۡمُوعٞ لَّهُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya." Maksudnya, mereka dikumpulkan pada hari itu untuk mendapat-kan balasan dan untuk memperlihatkan kepada mereka kebesaran dan keagungan serta keadilan Allah yang besar yang dengannya mereka akan mengenalNya dengan sebenarnya. ﴾ وَذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّشۡهُودٞ ﴿ "Dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala sesuatu)." Yakni disaksikan oleh Allah, malaikat, dan seluruh makhluk.
(104) ﴾ وَمَا نُؤَخِّرُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami tiadalah mengundurkannya." Yakni kedatangan Hari Kiamat, ﴾ إِلَّا لِأَجَلٖ مَّعۡدُودٖ ﴿ "melainkan sampai waktu yang tertentu." Jika masa dunia telah habis dan penciptaan di dalamnya yang telah ditakdirkan oleh Allah (telah selesai), maka pada saat itu Dia memindahkan mereka ke alam akhirat dan memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya yang jaza`iyah (balasan) seba-gaimana di dunia Dia telah memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya syar'iyyah.
(105) ﴾ يَوۡمَ يَأۡتِ ﴿ "Di kala datang hari itu", di mana seluruh makhluk berkumpul, ﴾ لَا تَكَلَّمُ نَفۡسٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ ﴿ "tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya", bahkan para malaikat, para nabi yang mulia tidak memberi syafa'at kecuali dengan izinNya. ﴾ فَمِنۡهُمۡ شَقِيّٞ وَسَعِيدٞ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." Orang-orang yang celaka adalah orang-orang yang kafir kepada Allah, mendustakan rasul-rasulNya dan menyelisihi perintahNya, sedangkan orang-orang yang berbahagia adalah orang-orang Mukmin yang bertakwa.
(106) Mengenai balasan mereka. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُواْ ﴿ "adapun orang-orang yang celaka", kesengsaraan, kehinaan dan rasa malu terjadi pada mereka, ﴾ فَفِي ٱلنَّارِ ﴿ "maka (tempatnya) di dalam neraka", terbenam di dalam azabnya dengan hukuman yang berat di dalamnya. ﴾ لَهُمۡ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya mereka", karena beratnya siksa ﴾ زَفِيرٞ وَشَهِيقٌ ﴿ "mengeluar-kan dan menarik nafas (dengan merintih)", suara yang paling jelek dan paling buruk.
(107) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا ﴿ "Mereka kekal di dalamnya", yakni, di neraka dengan azab yang demikian ﴾ مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۚ ﴿ "selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)." Yakni, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali batas waktu yang dikehendaki Allah agar mereka tidak berada di dalamnya. Hal itu sebelum mereka masuk ke dalamnya sebagaimana yang dikatakan oleh mayoritas ahli tafsir. Jadi pengecualian atas hal ini kembali kepada sebelum mereka memasukinya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali waktu di mana mereka belum memasukinya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu Maha Pelak-sana terhadap apa yang Dia kehendaki." Semua yang diinginkan oleh Allah untuk dilakukan dan dituntut oleh hikmahNya maka Allah pasti melakukannya, tiada seorang pun yang menghalangi Allah dari keinginanNya.
(108) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang berbahagia", yang meraih kebahagiaan, kemenangan, dan keberuntungan,﴾ فَفِي ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۖ ﴿ "maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)", kemudian Dia menegaskannya dengan FirmanNya, ﴾ عَطَآءً غَيۡرَ مَجۡذُوذٖ ﴿ "sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." Nikmat yang kekal dan kelezatan yang tinggi yang Allah berikan kepada mereka akan berlangsung terus, tak terputus sesaat pun. Kita memohon kepada Allah dari karuniaNya.
Hud 11:108
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disak-sikan (oleh segala sesuatu). Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam ne-raka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabb-mu Maha Pelaksana terhadap sesuatu yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." (Hud: 103-108).
(103) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu", azab Allah yang disebutkan yang menghancurkan orang-orang yang zhalim itu, ﴾ لَأٓيَةٗ لِّمَنۡ خَافَ عَذَابَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ ﴿ "benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat." Maksudnya, sungguh me-ngandung pelajaran dan dalil bahwa orang-orang zhalim dan para pelaku kejahatan akan ditimpa hukuman dunia dan akhirat. Ke-mudian Allah berpindah dari pembahasan ini kepada penjelasan akhirat. Dia berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّجۡمُوعٞ لَّهُ ٱلنَّاسُ ﴿ "Hari Kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya." Maksudnya, mereka dikumpulkan pada hari itu untuk mendapat-kan balasan dan untuk memperlihatkan kepada mereka kebesaran dan keagungan serta keadilan Allah yang besar yang dengannya mereka akan mengenalNya dengan sebenarnya. ﴾ وَذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّشۡهُودٞ ﴿ "Dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala sesuatu)." Yakni disaksikan oleh Allah, malaikat, dan seluruh makhluk.
(104) ﴾ وَمَا نُؤَخِّرُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami tiadalah mengundurkannya." Yakni kedatangan Hari Kiamat, ﴾ إِلَّا لِأَجَلٖ مَّعۡدُودٖ ﴿ "melainkan sampai waktu yang tertentu." Jika masa dunia telah habis dan penciptaan di dalamnya yang telah ditakdirkan oleh Allah (telah selesai), maka pada saat itu Dia memindahkan mereka ke alam akhirat dan memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya yang jaza`iyah (balasan) seba-gaimana di dunia Dia telah memberlakukan kepada mereka hukum-hukumNya syar'iyyah.
(105) ﴾ يَوۡمَ يَأۡتِ ﴿ "Di kala datang hari itu", di mana seluruh makhluk berkumpul, ﴾ لَا تَكَلَّمُ نَفۡسٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ ﴿ "tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izinNya", bahkan para malaikat, para nabi yang mulia tidak memberi syafa'at kecuali dengan izinNya. ﴾ فَمِنۡهُمۡ شَقِيّٞ وَسَعِيدٞ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." Orang-orang yang celaka adalah orang-orang yang kafir kepada Allah, mendustakan rasul-rasulNya dan menyelisihi perintahNya, sedangkan orang-orang yang berbahagia adalah orang-orang Mukmin yang bertakwa.
(106) Mengenai balasan mereka. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُواْ ﴿ "adapun orang-orang yang celaka", kesengsaraan, kehinaan dan rasa malu terjadi pada mereka, ﴾ فَفِي ٱلنَّارِ ﴿ "maka (tempatnya) di dalam neraka", terbenam di dalam azabnya dengan hukuman yang berat di dalamnya. ﴾ لَهُمۡ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya mereka", karena beratnya siksa ﴾ زَفِيرٞ وَشَهِيقٌ ﴿ "mengeluar-kan dan menarik nafas (dengan merintih)", suara yang paling jelek dan paling buruk.
(107) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا ﴿ "Mereka kekal di dalamnya", yakni, di neraka dengan azab yang demikian ﴾ مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۚ ﴿ "selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)." Yakni, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali batas waktu yang dikehendaki Allah agar mereka tidak berada di dalamnya. Hal itu sebelum mereka masuk ke dalamnya sebagaimana yang dikatakan oleh mayoritas ahli tafsir. Jadi pengecualian atas hal ini kembali kepada sebelum mereka memasukinya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya kecuali waktu di mana mereka belum memasukinya. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu Maha Pelak-sana terhadap apa yang Dia kehendaki." Semua yang diinginkan oleh Allah untuk dilakukan dan dituntut oleh hikmahNya maka Allah pasti melakukannya, tiada seorang pun yang menghalangi Allah dari keinginanNya.
(108) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang berbahagia", yang meraih kebahagiaan, kemenangan, dan keberuntungan,﴾ فَفِي ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۖ ﴿ "maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki (yang lain)", kemudian Dia menegaskannya dengan FirmanNya, ﴾ عَطَآءً غَيۡرَ مَجۡذُوذٖ ﴿ "sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." Nikmat yang kekal dan kelezatan yang tinggi yang Allah berikan kepada mereka akan berlangsung terus, tak terputus sesaat pun. Kita memohon kepada Allah dari karuniaNya.
Hud 11:109
"Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka. Mereka tidaklah menyembah me-lainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikit pun." (Hud: 109).
(109) Allah berfirman kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ فَلَا تَكُ فِي مِرۡيَةٖ مِّمَّا يَعۡبُدُ هَٰٓؤُلَآءِۚ ﴿ "Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka." Yaitu orang-orang musyrik, maksudnya jangan meragukan mereka, dan bahwa apa yang mereka kerjakan itu adalah kebatilan. Mereka tidak memiliki dalil aqli dan tidak pula syar'i. Dalil dan syubhat mereka adalah terbatas pada tindakan mereka mengikuti nenek moyang mereka saja, maka me-reka menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang mereka sebelumnya, dan termasuk hal yang sudah dimaklumi bahwa ini bukanlah syubhat, terlebih lagi menjadi dalil, karena ucapan selain Nabi bukanlah dalil, khususnya (ucapan) semisal orang-orang yang sesat itu yang kesalahannya banyak, pendapat mereka rusak dalam perkara pokok agama, karena pendapat mereka, meskipun mereka bersepakat, ia tetap salah dan sesat. ﴾ وَإِنَّا لَمُوَفُّوهُمۡ نَصِيبَهُمۡ غَيۡرَ مَنقُوصٖ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukup-nya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikit pun." Maksudnya, mereka pasti mendapatkan bagian mereka di dunia dari apa yang telah ditulis untuk mereka meskipun bagian tersebut melimpah ruah dalam pandanganmu, karena ia tidak menunjukkan kebaikan mereka, karena Allah memberikan dunia kepada orang yang dicintaiNya dan yang tidak dicintaiNya, sementara Dia tidak memberikan iman dan agama yang benar kecuali kepada yang di-cintaiNya. Alhasil, jangan terkecoh dengan kesepakatan orang-orang sesat atas perkataan orang-orang yang sesat dari kalangan nenek moyang, dan jangan pula (terkecoh) dengan sesuatu yang Allah berikan kepada mereka di dunia ini.
Hud 11:110
"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan tentang kitab itu. Dan seandai-nya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Makkah) dalam keraguan yang mengge-lisahkan terhadap al-Qur`an. Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Rabbmu akan menyem-purnakan dengan cukup (balasan) pekerjaan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepada-mu dan (juga) orang yang telah bertaubat besertamu, dan jangan-lah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim sehingga kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari pada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan." (Hud: 110-113).
(110) Allah mengabarkan bahwa Dia telah memberi Musa kitab Taurat yang mewajibkan kesepakatan atas perintah-perintah dan larangan-laranganNya, akan tetapi meskipun begitu, orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya berselisih dengan perseli-sihan yang merugikan akidah mereka dan kesatuan agama mereka. ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةٞ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu", dengan menangguhkan mereka dan tidak menyegerakan azab kepada mereka, ﴾ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "niscaya telah ditetap-kan hukuman di antara mereka," dengan ditimpakannya azab kepada orang zhalim akan tetapi hikmah Allah menuntut ditundanya ke-putusan di antara mereka sampai Hari Kiamat dan mereka diam dalam keraguan pertanyaan. Jika begini sikap mereka terhadap kitab mereka, bersama al-Qur`an yang Allah wahyukan kepadamu, maka tidaklah aneh jika ada sebagian dari orang-orang Yahudi yang tidak beriman kepadanya dan mereka selalu meragukannya.
(111) ﴾ وَإِنَّ كُلّٗا لَّمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمۡ رَبُّكَ أَعۡمَٰلَهُمۡۚ ﴿ "Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Rabbmu akan menyem-purnakan dengan cukup (balasan) pekerjaan mereka." Maksudnya, Allah pasti akan memutuskan di antara mereka pada Hari Kiamat dengan hukumNya yang adil, lalu masing-masing dibalas dengan sesuatu yang menjadi haknya. ﴾ إِنَّهُۥ بِمَا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Dia terhadap apa yang mereka kerjakan", dari yang baik dan yang buruk, ﴾ خَبِيرٞ ﴿ "Maha Mengetahui," tidak sedikit pun dari amal mereka yang samar bagi-Nya, kecil dan besarnya.
(112) Manakala Allah mengabarkan tidak istiqamahnya mereka yang menjadi penyebab perselisihan dan perpecahan mereka, maka Allah memerintahkan NabiNya dan orang-orang Mukmin yang bersamanya agar beristiqamah sebagaimana yang diperintah-kan kepada mereka, maka mereka meniti syariat-syariat yang telah Allah syariatkan, meyakini akidah-akidah yang benar yang dika-barkan oleh Allah, tidak menyimpang dari hal tersebut ke kanan atau ke kiri dan hendaknya mereka selalu begitu, tidak melampaui batas dari istiqamah yang telah diletakkan oleh Allah. FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Tidak sedikit pun dari amalmu yang samar bagiNya, Dia akan membalasmu atasnya. Ayat ini mengandung dorongan untuk beristiqamah dan melarang sebaliknya.
(113) Oleh karena itu, Allah memperingatkan mereka dari kecenderungan kepada orang yang melewati batas istiqamah, Dia berfirman, ﴾ وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim", karena jika kamu cenderung kepada me-reka, maka kamu menyepakati kezhaliman mereka atau rela terha-dap kezhaliman mereka. ﴾ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Sehingga kamu disentuh api neraka", jika kamu melakukan itu. ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari pada Allah", yang bisa melindungimu dari azab Allah, dan tidak ada pe-nolong yang membuatmu memperoleh pahala Allah sedikit pun. ﴾ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ﴿ "Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan", azab tidak dihalangi darimu jika ia menimpamu. Ayat ini berisi peringatan terhadap sikap rukun kepada orang zhalim, dan yang dimaksud dengan rukun adalah kecenderungan, bergabung kepadanya dalam kezhalimannya, menyetujuinya dan rela dengan kezhalimannya. Jika ini adalah ancaman terhadap rukun kepada orang-orang zhalim lalu bagaimana (parahnya) keadaan orang-orang zhalim itu sendiri? Semoga Allah menyelamatkan kita dari kezhaliman.
Hud 11:111
"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan tentang kitab itu. Dan seandai-nya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Makkah) dalam keraguan yang mengge-lisahkan terhadap al-Qur`an. Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Rabbmu akan menyem-purnakan dengan cukup (balasan) pekerjaan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepada-mu dan (juga) orang yang telah bertaubat besertamu, dan jangan-lah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim sehingga kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari pada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan." (Hud: 110-113).
(110) Allah mengabarkan bahwa Dia telah memberi Musa kitab Taurat yang mewajibkan kesepakatan atas perintah-perintah dan larangan-laranganNya, akan tetapi meskipun begitu, orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya berselisih dengan perseli-sihan yang merugikan akidah mereka dan kesatuan agama mereka. ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةٞ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu", dengan menangguhkan mereka dan tidak menyegerakan azab kepada mereka, ﴾ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "niscaya telah ditetap-kan hukuman di antara mereka," dengan ditimpakannya azab kepada orang zhalim akan tetapi hikmah Allah menuntut ditundanya ke-putusan di antara mereka sampai Hari Kiamat dan mereka diam dalam keraguan pertanyaan. Jika begini sikap mereka terhadap kitab mereka, bersama al-Qur`an yang Allah wahyukan kepadamu, maka tidaklah aneh jika ada sebagian dari orang-orang Yahudi yang tidak beriman kepadanya dan mereka selalu meragukannya.
(111) ﴾ وَإِنَّ كُلّٗا لَّمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمۡ رَبُّكَ أَعۡمَٰلَهُمۡۚ ﴿ "Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Rabbmu akan menyem-purnakan dengan cukup (balasan) pekerjaan mereka." Maksudnya, Allah pasti akan memutuskan di antara mereka pada Hari Kiamat dengan hukumNya yang adil, lalu masing-masing dibalas dengan sesuatu yang menjadi haknya. ﴾ إِنَّهُۥ بِمَا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Dia terhadap apa yang mereka kerjakan", dari yang baik dan yang buruk, ﴾ خَبِيرٞ ﴿ "Maha Mengetahui," tidak sedikit pun dari amal mereka yang samar bagi-Nya, kecil dan besarnya.
(112) Manakala Allah mengabarkan tidak istiqamahnya mereka yang menjadi penyebab perselisihan dan perpecahan mereka, maka Allah memerintahkan NabiNya dan orang-orang Mukmin yang bersamanya agar beristiqamah sebagaimana yang diperintah-kan kepada mereka, maka mereka meniti syariat-syariat yang telah Allah syariatkan, meyakini akidah-akidah yang benar yang dika-barkan oleh Allah, tidak menyimpang dari hal tersebut ke kanan atau ke kiri dan hendaknya mereka selalu begitu, tidak melampaui batas dari istiqamah yang telah diletakkan oleh Allah. FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Tidak sedikit pun dari amalmu yang samar bagiNya, Dia akan membalasmu atasnya. Ayat ini mengandung dorongan untuk beristiqamah dan melarang sebaliknya.
(113) Oleh karena itu, Allah memperingatkan mereka dari kecenderungan kepada orang yang melewati batas istiqamah, Dia berfirman, ﴾ وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim", karena jika kamu cenderung kepada me-reka, maka kamu menyepakati kezhaliman mereka atau rela terha-dap kezhaliman mereka. ﴾ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Sehingga kamu disentuh api neraka", jika kamu melakukan itu. ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari pada Allah", yang bisa melindungimu dari azab Allah, dan tidak ada pe-nolong yang membuatmu memperoleh pahala Allah sedikit pun. ﴾ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ﴿ "Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan", azab tidak dihalangi darimu jika ia menimpamu. Ayat ini berisi peringatan terhadap sikap rukun kepada orang zhalim, dan yang dimaksud dengan rukun adalah kecenderungan, bergabung kepadanya dalam kezhalimannya, menyetujuinya dan rela dengan kezhalimannya. Jika ini adalah ancaman terhadap rukun kepada orang-orang zhalim lalu bagaimana (parahnya) keadaan orang-orang zhalim itu sendiri? Semoga Allah menyelamatkan kita dari kezhaliman.
Hud 11:112
"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan tentang kitab itu. Dan seandai-nya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Makkah) dalam keraguan yang mengge-lisahkan terhadap al-Qur`an. Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Rabbmu akan menyem-purnakan dengan cukup (balasan) pekerjaan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepada-mu dan (juga) orang yang telah bertaubat besertamu, dan jangan-lah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim sehingga kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari pada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan." (Hud: 110-113).
(110) Allah mengabarkan bahwa Dia telah memberi Musa kitab Taurat yang mewajibkan kesepakatan atas perintah-perintah dan larangan-laranganNya, akan tetapi meskipun begitu, orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya berselisih dengan perseli-sihan yang merugikan akidah mereka dan kesatuan agama mereka. ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةٞ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu", dengan menangguhkan mereka dan tidak menyegerakan azab kepada mereka, ﴾ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "niscaya telah ditetap-kan hukuman di antara mereka," dengan ditimpakannya azab kepada orang zhalim akan tetapi hikmah Allah menuntut ditundanya ke-putusan di antara mereka sampai Hari Kiamat dan mereka diam dalam keraguan pertanyaan. Jika begini sikap mereka terhadap kitab mereka, bersama al-Qur`an yang Allah wahyukan kepadamu, maka tidaklah aneh jika ada sebagian dari orang-orang Yahudi yang tidak beriman kepadanya dan mereka selalu meragukannya.
(111) ﴾ وَإِنَّ كُلّٗا لَّمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمۡ رَبُّكَ أَعۡمَٰلَهُمۡۚ ﴿ "Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Rabbmu akan menyem-purnakan dengan cukup (balasan) pekerjaan mereka." Maksudnya, Allah pasti akan memutuskan di antara mereka pada Hari Kiamat dengan hukumNya yang adil, lalu masing-masing dibalas dengan sesuatu yang menjadi haknya. ﴾ إِنَّهُۥ بِمَا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Dia terhadap apa yang mereka kerjakan", dari yang baik dan yang buruk, ﴾ خَبِيرٞ ﴿ "Maha Mengetahui," tidak sedikit pun dari amal mereka yang samar bagi-Nya, kecil dan besarnya.
(112) Manakala Allah mengabarkan tidak istiqamahnya mereka yang menjadi penyebab perselisihan dan perpecahan mereka, maka Allah memerintahkan NabiNya dan orang-orang Mukmin yang bersamanya agar beristiqamah sebagaimana yang diperintah-kan kepada mereka, maka mereka meniti syariat-syariat yang telah Allah syariatkan, meyakini akidah-akidah yang benar yang dika-barkan oleh Allah, tidak menyimpang dari hal tersebut ke kanan atau ke kiri dan hendaknya mereka selalu begitu, tidak melampaui batas dari istiqamah yang telah diletakkan oleh Allah. FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Tidak sedikit pun dari amalmu yang samar bagiNya, Dia akan membalasmu atasnya. Ayat ini mengandung dorongan untuk beristiqamah dan melarang sebaliknya.
(113) Oleh karena itu, Allah memperingatkan mereka dari kecenderungan kepada orang yang melewati batas istiqamah, Dia berfirman, ﴾ وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim", karena jika kamu cenderung kepada me-reka, maka kamu menyepakati kezhaliman mereka atau rela terha-dap kezhaliman mereka. ﴾ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Sehingga kamu disentuh api neraka", jika kamu melakukan itu. ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari pada Allah", yang bisa melindungimu dari azab Allah, dan tidak ada pe-nolong yang membuatmu memperoleh pahala Allah sedikit pun. ﴾ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ﴿ "Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan", azab tidak dihalangi darimu jika ia menimpamu. Ayat ini berisi peringatan terhadap sikap rukun kepada orang zhalim, dan yang dimaksud dengan rukun adalah kecenderungan, bergabung kepadanya dalam kezhalimannya, menyetujuinya dan rela dengan kezhalimannya. Jika ini adalah ancaman terhadap rukun kepada orang-orang zhalim lalu bagaimana (parahnya) keadaan orang-orang zhalim itu sendiri? Semoga Allah menyelamatkan kita dari kezhaliman.
Hud 11:113
"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan tentang kitab itu. Dan seandai-nya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Makkah) dalam keraguan yang mengge-lisahkan terhadap al-Qur`an. Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Rabbmu akan menyem-purnakan dengan cukup (balasan) pekerjaan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepada-mu dan (juga) orang yang telah bertaubat besertamu, dan jangan-lah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim sehingga kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari pada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan." (Hud: 110-113).
(110) Allah mengabarkan bahwa Dia telah memberi Musa kitab Taurat yang mewajibkan kesepakatan atas perintah-perintah dan larangan-laranganNya, akan tetapi meskipun begitu, orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya berselisih dengan perseli-sihan yang merugikan akidah mereka dan kesatuan agama mereka. ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةٞ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu", dengan menangguhkan mereka dan tidak menyegerakan azab kepada mereka, ﴾ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "niscaya telah ditetap-kan hukuman di antara mereka," dengan ditimpakannya azab kepada orang zhalim akan tetapi hikmah Allah menuntut ditundanya ke-putusan di antara mereka sampai Hari Kiamat dan mereka diam dalam keraguan pertanyaan. Jika begini sikap mereka terhadap kitab mereka, bersama al-Qur`an yang Allah wahyukan kepadamu, maka tidaklah aneh jika ada sebagian dari orang-orang Yahudi yang tidak beriman kepadanya dan mereka selalu meragukannya.
(111) ﴾ وَإِنَّ كُلّٗا لَّمَّا لَيُوَفِّيَنَّهُمۡ رَبُّكَ أَعۡمَٰلَهُمۡۚ ﴿ "Dan sesungguhnya kepada masing-masing (mereka yang berselisih itu) pasti Rabbmu akan menyem-purnakan dengan cukup (balasan) pekerjaan mereka." Maksudnya, Allah pasti akan memutuskan di antara mereka pada Hari Kiamat dengan hukumNya yang adil, lalu masing-masing dibalas dengan sesuatu yang menjadi haknya. ﴾ إِنَّهُۥ بِمَا يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Dia terhadap apa yang mereka kerjakan", dari yang baik dan yang buruk, ﴾ خَبِيرٞ ﴿ "Maha Mengetahui," tidak sedikit pun dari amal mereka yang samar bagi-Nya, kecil dan besarnya.
(112) Manakala Allah mengabarkan tidak istiqamahnya mereka yang menjadi penyebab perselisihan dan perpecahan mereka, maka Allah memerintahkan NabiNya dan orang-orang Mukmin yang bersamanya agar beristiqamah sebagaimana yang diperintah-kan kepada mereka, maka mereka meniti syariat-syariat yang telah Allah syariatkan, meyakini akidah-akidah yang benar yang dika-barkan oleh Allah, tidak menyimpang dari hal tersebut ke kanan atau ke kiri dan hendaknya mereka selalu begitu, tidak melampaui batas dari istiqamah yang telah diletakkan oleh Allah. FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Tidak sedikit pun dari amalmu yang samar bagiNya, Dia akan membalasmu atasnya. Ayat ini mengandung dorongan untuk beristiqamah dan melarang sebaliknya.
(113) Oleh karena itu, Allah memperingatkan mereka dari kecenderungan kepada orang yang melewati batas istiqamah, Dia berfirman, ﴾ وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim", karena jika kamu cenderung kepada me-reka, maka kamu menyepakati kezhaliman mereka atau rela terha-dap kezhaliman mereka. ﴾ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Sehingga kamu disentuh api neraka", jika kamu melakukan itu. ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari pada Allah", yang bisa melindungimu dari azab Allah, dan tidak ada pe-nolong yang membuatmu memperoleh pahala Allah sedikit pun. ﴾ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ﴿ "Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan", azab tidak dihalangi darimu jika ia menimpamu. Ayat ini berisi peringatan terhadap sikap rukun kepada orang zhalim, dan yang dimaksud dengan rukun adalah kecenderungan, bergabung kepadanya dalam kezhalimannya, menyetujuinya dan rela dengan kezhalimannya. Jika ini adalah ancaman terhadap rukun kepada orang-orang zhalim lalu bagaimana (parahnya) keadaan orang-orang zhalim itu sendiri? Semoga Allah menyelamatkan kita dari kezhaliman.
Hud 11:114
"Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan." (Hud: 114-115).
(114) Allah تعالى memerintahkan untuk mendirikan shalat secara sempurna, ﴾ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ ﴿ "pada kedua tepi siang (pagi dan petang)." Yakni di awal dan di akhirnya, termasuk dalam hal ini Shalat Shu-buh, Zhuhur dan Ashar. ﴾ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ ﴿ "Dan pada bagian permulaan dari malam." Termasuk di dalamnya Shalat Maghrib dan Isya`, dan itu juga mencakup shalat malam karena ia termasuk yang mendekat-kan seorang hamba kepada Allah. ﴾ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Sesungguh-nya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk." Maksudnya, shalat lima waktu ini dan shalat-shalat sunnah yang mengikutinya adalah termasuk kebaikan yang paling besar, di samping ia adalah kebaikan yang mendekatkan kepada Allah dan mengundang pahala Allah, ia juga menghapus keburukan dan menghilangkannya, yang dimaksud dengan itu adalah dosa-dosa kecil sebagaimana hadits-hadits shahih dari Nabi membatasinya demikian. Seperti sabda Nabi, اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ. "Shalat lima waktu, Shalat Jum'at ke Jum'at (berikutnya), Ramadhan ke Ramadhan (berikutnya) adalah pelebur (dosa) yang terletak di antara-nya, selama dosa-dosa besar dijauhi."[4] Bahkan seperti yang dibatasi oleh ayat yang ada di surat an-Nisa` yaitu FirmanNya, ﴾ إِن تَجۡتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلٗا كَرِيمٗا 31 ﴿ "Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang mana kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan-mu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (An-Nisa`: 31). ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah" bisa jadi isyaratnya kembali kepada semua yang disebutkan berupa istiqamah di atas jalan yang lurus, tidak melang-gar dan melampaui batasnya, tidak rukun kepada orang-orang zha-lim, perintah menegakkan shalat dan penjelasan bahwa kebaikan itu melenyapkan keburukan, semua itu adalah, ﴾ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ ﴿ "peri-ngatan bagi orang-orang yang ingat." Mereka memahami apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah dengannya, dan menaati perintah yang baik itu yang membuahkan kebaikan yang menangkal keburukan dan kejahatan.
(115) Akan tetapi perkara-perkara tersebut membutuhkan keteguhan dan kesabaran jiwa. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَٱصۡبِرۡ ﴿ "Dan bersabarlah", yakni tahanlah dirimu atas ketaatan kepada Allah dan tahanlah dari kemaksiatan kepadaNya. Teguh-kanlah dirimu, teruskanlah atas hal itu dan jangan mengeluh,﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan." Akan tetapi Dia menerima dari mereka sesuatu yang terbaik yang mereka kerjakan, dan mem-balas mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. Ini mengandung dorongan yang besar kepada kesabaran de-ngan cara membuat jiwa yang lemah rindu kepada pahala setiap kali ia jenuh dan bosan.
Hud 11:115
"Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan." (Hud: 114-115).
(114) Allah تعالى memerintahkan untuk mendirikan shalat secara sempurna, ﴾ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ ﴿ "pada kedua tepi siang (pagi dan petang)." Yakni di awal dan di akhirnya, termasuk dalam hal ini Shalat Shu-buh, Zhuhur dan Ashar. ﴾ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ ﴿ "Dan pada bagian permulaan dari malam." Termasuk di dalamnya Shalat Maghrib dan Isya`, dan itu juga mencakup shalat malam karena ia termasuk yang mendekat-kan seorang hamba kepada Allah. ﴾ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Sesungguh-nya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk." Maksudnya, shalat lima waktu ini dan shalat-shalat sunnah yang mengikutinya adalah termasuk kebaikan yang paling besar, di samping ia adalah kebaikan yang mendekatkan kepada Allah dan mengundang pahala Allah, ia juga menghapus keburukan dan menghilangkannya, yang dimaksud dengan itu adalah dosa-dosa kecil sebagaimana hadits-hadits shahih dari Nabi membatasinya demikian. Seperti sabda Nabi, اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ. "Shalat lima waktu, Shalat Jum'at ke Jum'at (berikutnya), Ramadhan ke Ramadhan (berikutnya) adalah pelebur (dosa) yang terletak di antara-nya, selama dosa-dosa besar dijauhi."[4] Bahkan seperti yang dibatasi oleh ayat yang ada di surat an-Nisa` yaitu FirmanNya, ﴾ إِن تَجۡتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلٗا كَرِيمٗا 31 ﴿ "Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang mana kalian dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan-mu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (An-Nisa`: 31). ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah" bisa jadi isyaratnya kembali kepada semua yang disebutkan berupa istiqamah di atas jalan yang lurus, tidak melang-gar dan melampaui batasnya, tidak rukun kepada orang-orang zha-lim, perintah menegakkan shalat dan penjelasan bahwa kebaikan itu melenyapkan keburukan, semua itu adalah, ﴾ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ ﴿ "peri-ngatan bagi orang-orang yang ingat." Mereka memahami apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah dengannya, dan menaati perintah yang baik itu yang membuahkan kebaikan yang menangkal keburukan dan kejahatan.
(115) Akan tetapi perkara-perkara tersebut membutuhkan keteguhan dan kesabaran jiwa. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَٱصۡبِرۡ ﴿ "Dan bersabarlah", yakni tahanlah dirimu atas ketaatan kepada Allah dan tahanlah dari kemaksiatan kepadaNya. Teguh-kanlah dirimu, teruskanlah atas hal itu dan jangan mengeluh,﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan." Akan tetapi Dia menerima dari mereka sesuatu yang terbaik yang mereka kerjakan, dan mem-balas mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. Ini mengandung dorongan yang besar kepada kesabaran de-ngan cara membuat jiwa yang lemah rindu kepada pahala setiap kali ia jenuh dan bosan.
Hud 11:116
"Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari pada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, sedangkan orang-orang yang zhalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka ada-lah orang-orang yang berdosa." (Hud: 116).
(116) Tatkala Allah تعالى menyebutkan pembinasaan umat-umat yang mendustakan para rasul dan bahwa kebanyakan dari mereka menyimpang dari Ahli Kitab Ilahiyah, dan semua itu me-matikan dan melenyapkan agama-agama, maka Dia menyebutkan bahwa mengapa tidak dijadikan (dari umat-umat yang telah berlalu) sisa-sisa orang yang baik yang menyeru kepada petunjuk, melarang kerusakan dan penyimpangan sehingga terwujudlah manfaat me-reka yang dengannya agama-agama terpelihara? akan tetapi mereka sangat sedikit sekali.[5] Intinya mereka itu selamat karena mengikuti rasul-rasul, dan mereka melaksanakan ajaran agama mereka, dan ia adalah hujjah Allah yang Allah berlakukan melalui tangan mereka agar orang yang binasa menjadi binasa dengan kejelasan, dan orang yang hidup menjadi hidup dengan kejelasan, ﴾ و َ ﴿ "dan" akan tetapi ﴾ ا ت ّ َ ب َ ع َ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَآ أُتۡرِفُواْ فِيهِ ﴿ "orang-orang yang zhalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka", maksudnya mereka mempertu-rutkan kenikmatan dan kemewahan yang mereka rasakan, dan ti-dak menginginkan penggantinya. ﴾ وَكَانُواْ مُجۡرِمِينَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang berdosa", lagi zhalim dengan mengikuti kemewahan. Oleh karena itu, mereka ditimpa dan dibinasakan oleh siksa dan azab. Ini mengandung dorongan bagi umat ini agar tetap ada sisa-sisa orang yang memperbaiki apa yang dirusak oleh manusia, me-reka tegak berpegang teguh dengan agama Allah, menyeru orang yang sesat kepada petunjuk, bersabar atas gangguan dari mereka, mengentaskan mereka dari ketidaktahuan. Ini adalah posisi tertinggi yang diminati oleh orang yang berminat, pemilik kedudukan ini adalah seorang imam dalam agama, apabila perbuatannya diikh-laskan kepada Allah, Rabb semesta alam.
Hud 11:117
"Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedang penduduknya orang-orang yang ber-buat kebaikan." (Hud: 117).
(117) Maksudnya, Allah tidak patut membinasakan sebuah negeri secara zhalim, padahal mereka itu ﴾ مُصۡلِحُونَ ﴿ "berbuat kebaik-an." Yakni mereka berjalan di atas kebaikan dengan terus menerus, maka Allah tidak patut membinasakannya kecuali jika mereka ber-buat zhalim dan hujjah Allah telah tegak atasnya. Bisa jadi maknanya adalah bahwa Allah tidak akan membina-sakan negeri karena kezhalimannya terdahulu, jika mereka bertau-bat dan memperbaiki amal perbuatannya, karena Allah memaafkan mereka dan menghapus kezhaliman mereka yang telah lalu.
Hud 11:118
"Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manu-sia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan. Sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya." (Hud: 118-119).
(118) Allah mengabarkan bahwa kalau Dia berkehendak, niscaya Dia menjadikan manusia umat yang satu, berpegang teguh pada agama Islam karena kehendak Allah tiada berbatas, tak ada satu pun yang menghalangiNya, akan tetapi hikmahNya menuntut mereka terus berselisih, menyelisihi jalan yang lurus, mengikuti jalan yang mengantarkan kepada neraka. Masing-masing melihat kebenaran pada dirinya dan kesesatan pada orang lain.
(119) ﴾ إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَۚ ﴿ "Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu." Lalu Dia membimbing mereka kepada ilmu tentang kebenaran, mengamalkannya dan bersepakat di atasnya. Mereka itu telah ditakdirkan kebahagiaan bagi mereka dan memperoleh perhatian Rabbani dan taufik Ilahi. Adapun selain mereka, maka mereka adalah orang-orang yang tertipu yang bersandar kepada dirinya sendiri, FirmanNya, ﴾ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمۡۗ ﴿ "Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka." Maksudnya hikmahNya menuntut bahwa Dia menciptakan mereka agar ada di antara mereka yang berbahagia dan ada yang sengsara, yang sepakat dan yang berselisih, ada ke-lompok yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada kelompok yang ditakdirkan untuknya kesesatan agar keadilan dan hikmahNya diketahui oleh manusia, dan agar apa yang tersimpan dalam tabiat manusia dari kebaikan dan keburukan diketahui, serta agar medan jihad dan ibadah menjadi tegak yang mana ia tidak terlaksana dan tercapai kecuali dengan ujian. ﴾ و َ ﴿ "Dan" karenanya, ﴾ ت َ م ّ َ ت ْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Kalimat Rabbmu (keputusanNya) telah ditetap-kan. Sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya", pasti Dia akan memudahkan penghuni neraka yang melakukan perbuatan neraka untuk meng-antarkan kepadanya.
Hud 11:119
"Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manu-sia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan. Sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya." (Hud: 118-119).
(118) Allah mengabarkan bahwa kalau Dia berkehendak, niscaya Dia menjadikan manusia umat yang satu, berpegang teguh pada agama Islam karena kehendak Allah tiada berbatas, tak ada satu pun yang menghalangiNya, akan tetapi hikmahNya menuntut mereka terus berselisih, menyelisihi jalan yang lurus, mengikuti jalan yang mengantarkan kepada neraka. Masing-masing melihat kebenaran pada dirinya dan kesesatan pada orang lain.
(119) ﴾ إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَۚ ﴿ "Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu." Lalu Dia membimbing mereka kepada ilmu tentang kebenaran, mengamalkannya dan bersepakat di atasnya. Mereka itu telah ditakdirkan kebahagiaan bagi mereka dan memperoleh perhatian Rabbani dan taufik Ilahi. Adapun selain mereka, maka mereka adalah orang-orang yang tertipu yang bersandar kepada dirinya sendiri, FirmanNya, ﴾ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمۡۗ ﴿ "Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka." Maksudnya hikmahNya menuntut bahwa Dia menciptakan mereka agar ada di antara mereka yang berbahagia dan ada yang sengsara, yang sepakat dan yang berselisih, ada ke-lompok yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada kelompok yang ditakdirkan untuknya kesesatan agar keadilan dan hikmahNya diketahui oleh manusia, dan agar apa yang tersimpan dalam tabiat manusia dari kebaikan dan keburukan diketahui, serta agar medan jihad dan ibadah menjadi tegak yang mana ia tidak terlaksana dan tercapai kecuali dengan ujian. ﴾ و َ ﴿ "Dan" karenanya, ﴾ ت َ م ّ َ ت ْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Kalimat Rabbmu (keputusanNya) telah ditetap-kan. Sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya", pasti Dia akan memudahkan penghuni neraka yang melakukan perbuatan neraka untuk meng-antarkan kepadanya.
Hud 11:120
"Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hati-mu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman, 'Berbuatlah menurut kedudukanmu, sesungguhnya kami pun berbuat (pula). Dan tunggulah (akibat perbuatanmu), sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).' Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan bumi, dan kepadaNya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya. Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (Hud: 120-123).
(120) Tatkala Allah menyebutkan di surat ini berita-berita tentang para Nabi, maka Dia menyebutkan hikmah dari itu semua seraya berfirman, ﴾ وَكُلّٗا نَّقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَۚ ﴿ "Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu", agar hatimu teguh, tenang dan bersabar sebagaimana kesabaran rasul-rasul ulul azmi karena jiwa itu merasa tenang dengan meneladani dan menjadi giat untuk ber-amal, serta ingin menyaingi yang lain, dan kebenaran menjadi kuat dengan menyebutkan saksi-saksinya dan banyaknya pendukung. ﴾ وَجَآءَكَ فِي هَٰذِهِ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran", yang yakin tanpa ada sedikit pun keraguan dari sisi mana pun. Ilmu tentang hal itu termasuk ilmu tentang kebenaran yang merupakan keutamaan jiwa yang paling besar ﴾ وَمَوۡعِظَةٞ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "serta peng-ajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." Maksudnya, mereka mengambil pelajaran darinya, maka mereka menahan diri dari perkara-perkara yang buruk dan mengingat perkara yang di-cintai Allah lalu mereka melakukannya.
(121) Adapun orang yang bukan termasuk ahli iman, maka nasihat dan peringatan yang bermacam-macam tidaklah berguna bagi mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَقُل لِّلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman", setelah ayat-ayat tegak atas mereka, ﴾ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "berbuatlah menurut kedudukan-mu." Yakni keadaanmu di mana kamu berada di atasnya. ﴾ إِنَّا عَٰمِلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami pun berbuat (pula)." Di atas apa yang kami yakini.
(122) ﴾ وَٱنتَظِرُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah (akibat perbuatanmu)", apa yang akan menimpamu. ﴾ إِنَّا مُنتَظِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami pun menunggu (pula)" apa yang akan menimpamu.
(123) Allah telah membedakan kedua kelompok tersebut, Dia menunjukkan pertolonganNya kepada hamba-hambaNya yang beriman dan hukumanNya kepada musuh-musuhNya yang men-dustakan. ﴾ وَلِلَّهِ غَيۡبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan bumi." Yakni perkara-perkara yang ghaib dan perkara-perkara yang samar pada keduanya. ﴾ وَإِلَيۡهِ يُرۡجَعُ ٱلۡأَمۡرُ كُلُّهُۥ ﴿ "Dan kepadaNya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya", dari amal per-buatan dan pelakunya sehingga dibedakanlah antara yang baik dan yang buruk. ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya." Yakni lakukanlah ibadah kepadaNya yaitu seluruh apa yang Allah perintahkan yang kamu mampu untuk melakukannya. ﴾ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan bertawakallah kepadaNya", dalam hal itu. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan", berupa kebaikan dan keburukan. IlmuNya meliputi semua itu, pe-naNya telah mencatatnya, hikmah dan balasanNya akan berlaku atas itu.
Selesai tafsir surat Hud. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurahkan atas Nabi Muhammad ﷺ. Selesai ditulis pada Sabtu, 21 Rabiul Akhir 1347 H.
Hud 11:121
"Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hati-mu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman, 'Berbuatlah menurut kedudukanmu, sesungguhnya kami pun berbuat (pula). Dan tunggulah (akibat perbuatanmu), sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).' Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan bumi, dan kepadaNya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya. Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (Hud: 120-123).
(120) Tatkala Allah menyebutkan di surat ini berita-berita tentang para Nabi, maka Dia menyebutkan hikmah dari itu semua seraya berfirman, ﴾ وَكُلّٗا نَّقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَۚ ﴿ "Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu", agar hatimu teguh, tenang dan bersabar sebagaimana kesabaran rasul-rasul ulul azmi karena jiwa itu merasa tenang dengan meneladani dan menjadi giat untuk ber-amal, serta ingin menyaingi yang lain, dan kebenaran menjadi kuat dengan menyebutkan saksi-saksinya dan banyaknya pendukung. ﴾ وَجَآءَكَ فِي هَٰذِهِ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran", yang yakin tanpa ada sedikit pun keraguan dari sisi mana pun. Ilmu tentang hal itu termasuk ilmu tentang kebenaran yang merupakan keutamaan jiwa yang paling besar ﴾ وَمَوۡعِظَةٞ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "serta peng-ajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." Maksudnya, mereka mengambil pelajaran darinya, maka mereka menahan diri dari perkara-perkara yang buruk dan mengingat perkara yang di-cintai Allah lalu mereka melakukannya.
(121) Adapun orang yang bukan termasuk ahli iman, maka nasihat dan peringatan yang bermacam-macam tidaklah berguna bagi mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَقُل لِّلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman", setelah ayat-ayat tegak atas mereka, ﴾ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "berbuatlah menurut kedudukan-mu." Yakni keadaanmu di mana kamu berada di atasnya. ﴾ إِنَّا عَٰمِلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami pun berbuat (pula)." Di atas apa yang kami yakini.
(122) ﴾ وَٱنتَظِرُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah (akibat perbuatanmu)", apa yang akan menimpamu. ﴾ إِنَّا مُنتَظِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami pun menunggu (pula)" apa yang akan menimpamu.
(123) Allah telah membedakan kedua kelompok tersebut, Dia menunjukkan pertolonganNya kepada hamba-hambaNya yang beriman dan hukumanNya kepada musuh-musuhNya yang men-dustakan. ﴾ وَلِلَّهِ غَيۡبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan bumi." Yakni perkara-perkara yang ghaib dan perkara-perkara yang samar pada keduanya. ﴾ وَإِلَيۡهِ يُرۡجَعُ ٱلۡأَمۡرُ كُلُّهُۥ ﴿ "Dan kepadaNya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya", dari amal per-buatan dan pelakunya sehingga dibedakanlah antara yang baik dan yang buruk. ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya." Yakni lakukanlah ibadah kepadaNya yaitu seluruh apa yang Allah perintahkan yang kamu mampu untuk melakukannya. ﴾ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan bertawakallah kepadaNya", dalam hal itu. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan", berupa kebaikan dan keburukan. IlmuNya meliputi semua itu, pe-naNya telah mencatatnya, hikmah dan balasanNya akan berlaku atas itu.
Selesai tafsir surat Hud. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurahkan atas Nabi Muhammad ﷺ. Selesai ditulis pada Sabtu, 21 Rabiul Akhir 1347 H.
Hud 11:122
"Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hati-mu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman, 'Berbuatlah menurut kedudukanmu, sesungguhnya kami pun berbuat (pula). Dan tunggulah (akibat perbuatanmu), sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).' Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan bumi, dan kepadaNya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya. Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (Hud: 120-123).
(120) Tatkala Allah menyebutkan di surat ini berita-berita tentang para Nabi, maka Dia menyebutkan hikmah dari itu semua seraya berfirman, ﴾ وَكُلّٗا نَّقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَۚ ﴿ "Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu", agar hatimu teguh, tenang dan bersabar sebagaimana kesabaran rasul-rasul ulul azmi karena jiwa itu merasa tenang dengan meneladani dan menjadi giat untuk ber-amal, serta ingin menyaingi yang lain, dan kebenaran menjadi kuat dengan menyebutkan saksi-saksinya dan banyaknya pendukung. ﴾ وَجَآءَكَ فِي هَٰذِهِ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran", yang yakin tanpa ada sedikit pun keraguan dari sisi mana pun. Ilmu tentang hal itu termasuk ilmu tentang kebenaran yang merupakan keutamaan jiwa yang paling besar ﴾ وَمَوۡعِظَةٞ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "serta peng-ajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." Maksudnya, mereka mengambil pelajaran darinya, maka mereka menahan diri dari perkara-perkara yang buruk dan mengingat perkara yang di-cintai Allah lalu mereka melakukannya.
(121) Adapun orang yang bukan termasuk ahli iman, maka nasihat dan peringatan yang bermacam-macam tidaklah berguna bagi mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَقُل لِّلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman", setelah ayat-ayat tegak atas mereka, ﴾ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "berbuatlah menurut kedudukan-mu." Yakni keadaanmu di mana kamu berada di atasnya. ﴾ إِنَّا عَٰمِلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami pun berbuat (pula)." Di atas apa yang kami yakini.
(122) ﴾ وَٱنتَظِرُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah (akibat perbuatanmu)", apa yang akan menimpamu. ﴾ إِنَّا مُنتَظِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami pun menunggu (pula)" apa yang akan menimpamu.
(123) Allah telah membedakan kedua kelompok tersebut, Dia menunjukkan pertolonganNya kepada hamba-hambaNya yang beriman dan hukumanNya kepada musuh-musuhNya yang men-dustakan. ﴾ وَلِلَّهِ غَيۡبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan bumi." Yakni perkara-perkara yang ghaib dan perkara-perkara yang samar pada keduanya. ﴾ وَإِلَيۡهِ يُرۡجَعُ ٱلۡأَمۡرُ كُلُّهُۥ ﴿ "Dan kepadaNya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya", dari amal per-buatan dan pelakunya sehingga dibedakanlah antara yang baik dan yang buruk. ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya." Yakni lakukanlah ibadah kepadaNya yaitu seluruh apa yang Allah perintahkan yang kamu mampu untuk melakukannya. ﴾ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan bertawakallah kepadaNya", dalam hal itu. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan", berupa kebaikan dan keburukan. IlmuNya meliputi semua itu, pe-naNya telah mencatatnya, hikmah dan balasanNya akan berlaku atas itu.
Selesai tafsir surat Hud. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurahkan atas Nabi Muhammad ﷺ. Selesai ditulis pada Sabtu, 21 Rabiul Akhir 1347 H.
Hud 11:123
"Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hati-mu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman, 'Berbuatlah menurut kedudukanmu, sesungguhnya kami pun berbuat (pula). Dan tunggulah (akibat perbuatanmu), sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).' Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan bumi, dan kepadaNya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya. Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (Hud: 120-123).
(120) Tatkala Allah menyebutkan di surat ini berita-berita tentang para Nabi, maka Dia menyebutkan hikmah dari itu semua seraya berfirman, ﴾ وَكُلّٗا نَّقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَۚ ﴿ "Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu", agar hatimu teguh, tenang dan bersabar sebagaimana kesabaran rasul-rasul ulul azmi karena jiwa itu merasa tenang dengan meneladani dan menjadi giat untuk ber-amal, serta ingin menyaingi yang lain, dan kebenaran menjadi kuat dengan menyebutkan saksi-saksinya dan banyaknya pendukung. ﴾ وَجَآءَكَ فِي هَٰذِهِ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran", yang yakin tanpa ada sedikit pun keraguan dari sisi mana pun. Ilmu tentang hal itu termasuk ilmu tentang kebenaran yang merupakan keutamaan jiwa yang paling besar ﴾ وَمَوۡعِظَةٞ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "serta peng-ajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." Maksudnya, mereka mengambil pelajaran darinya, maka mereka menahan diri dari perkara-perkara yang buruk dan mengingat perkara yang di-cintai Allah lalu mereka melakukannya.
(121) Adapun orang yang bukan termasuk ahli iman, maka nasihat dan peringatan yang bermacam-macam tidaklah berguna bagi mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَقُل لِّلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman", setelah ayat-ayat tegak atas mereka, ﴾ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ ﴿ "berbuatlah menurut kedudukan-mu." Yakni keadaanmu di mana kamu berada di atasnya. ﴾ إِنَّا عَٰمِلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami pun berbuat (pula)." Di atas apa yang kami yakini.
(122) ﴾ وَٱنتَظِرُوٓاْ ﴿ "Dan tunggulah (akibat perbuatanmu)", apa yang akan menimpamu. ﴾ إِنَّا مُنتَظِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami pun menunggu (pula)" apa yang akan menimpamu.
(123) Allah telah membedakan kedua kelompok tersebut, Dia menunjukkan pertolonganNya kepada hamba-hambaNya yang beriman dan hukumanNya kepada musuh-musuhNya yang men-dustakan. ﴾ وَلِلَّهِ غَيۡبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan bumi." Yakni perkara-perkara yang ghaib dan perkara-perkara yang samar pada keduanya. ﴾ وَإِلَيۡهِ يُرۡجَعُ ٱلۡأَمۡرُ كُلُّهُۥ ﴿ "Dan kepadaNya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya", dari amal per-buatan dan pelakunya sehingga dibedakanlah antara yang baik dan yang buruk. ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepadaNya." Yakni lakukanlah ibadah kepadaNya yaitu seluruh apa yang Allah perintahkan yang kamu mampu untuk melakukannya. ﴾ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan bertawakallah kepadaNya", dalam hal itu. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan", berupa kebaikan dan keburukan. IlmuNya meliputi semua itu, pe-naNya telah mencatatnya, hikmah dan balasanNya akan berlaku atas itu.
Selesai tafsir surat Hud. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurahkan atas Nabi Muhammad ﷺ. Selesai ditulis pada Sabtu, 21 Rabiul Akhir 1347 H.