Tafsir As-Saadi - Indonesian — Yusuf 12:80 – Ar-Ra'd 13:43
Daftar isi
- Yusuf 12:80
- Yusuf 12:81
- Yusuf 12:82
- Yusuf 12:83
- Yusuf 12:84
- Yusuf 12:85
- Yusuf 12:86
- Yusuf 12:87
- Yusuf 12:88
- Yusuf 12:89
- Yusuf 12:90
- Yusuf 12:91
- Yusuf 12:92
- Yusuf 12:93
- Yusuf 12:94
- Yusuf 12:95
- Yusuf 12:96
- Yusuf 12:97
- Yusuf 12:98
- Yusuf 12:99
- Yusuf 12:100
- Yusuf 12:101
- Yusuf 12:102
- Yusuf 12:103
- Yusuf 12:104
- Yusuf 12:105
- Yusuf 12:106
- Yusuf 12:107
- Yusuf 12:108
- Yusuf 12:109
- Yusuf 12:110
- Yusuf 12:111
- Ar-Ra'd 13:1
- Ar-Ra'd 13:2
- Ar-Ra'd 13:3
- Ar-Ra'd 13:4
- Ar-Ra'd 13:5
- Ar-Ra'd 13:6
- Ar-Ra'd 13:7
- Ar-Ra'd 13:8
- Ar-Ra'd 13:9
- Ar-Ra'd 13:10
- Ar-Ra'd 13:11
- Ar-Ra'd 13:12
- Ar-Ra'd 13:13
- Ar-Ra'd 13:14
- Ar-Ra'd 13:15
- Ar-Ra'd 13:16
- Ar-Ra'd 13:17
- Ar-Ra'd 13:18
- Ar-Ra'd 13:19
- Ar-Ra'd 13:20
- Ar-Ra'd 13:21
- Ar-Ra'd 13:22
- Ar-Ra'd 13:23
- Ar-Ra'd 13:24
- Ar-Ra'd 13:25
- Ar-Ra'd 13:26
- Ar-Ra'd 13:27
- Ar-Ra'd 13:28
- Ar-Ra'd 13:29
- Ar-Ra'd 13:30
- Ar-Ra'd 13:31
- Ar-Ra'd 13:32
- Ar-Ra'd 13:33
- Ar-Ra'd 13:34
- Ar-Ra'd 13:35
- Ar-Ra'd 13:36
- Ar-Ra'd 13:37
- Ar-Ra'd 13:38
- Ar-Ra'd 13:39
- Ar-Ra'd 13:40
- Ar-Ra'd 13:41
- Ar-Ra'd 13:42
- Ar-Ra'd 13:43
Yusuf 12:80
"Maka tatkala mereka berputus asa dari (putusan) Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berka-talah yang tertua di antara mereka, 'Tidakkah kamu ketahui bahwa ayahmu telah mengambil janji darimu dengan nama Allah dan se-belum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu, aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepa-daku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya. Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah, 'Wahai ayah kami! Sesungguhnya anak-mu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan se-sungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.' Ya'qub berkata, 'Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mu-dah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksa-na'." (Yusuf: 80-83).
(80) Maka tatkala para saudara berputus asa dari (putusan) Yusuf agar sudi memaafkan saudara mereka (Bunyamin) ﴾ خَلَصُواْ نَجِيّٗاۖ ﴿ "mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik", mak-sudnya, mereka berkumpul menyendiri tanpa disertai orang lain lantas mulai berbisik-bisik di antara mereka. Maka, ﴾ قَالَ كَبِيرُهُمۡ أَلَمۡ تَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ أَبَاكُمۡ قَدۡ أَخَذَ عَلَيۡكُم مَّوۡثِقٗا مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "berkatalah yang tertua di antara mereka, 'Tidakkah kamu ketahui bahwa ayahmu telah mengambil janji darimu dengan Nama Allah", dalam melindungi Bunyamin, dan bahwa ka-lian akan membawanya (pulang) kecuali musuh mengepung kalian. ﴾ وَمِن قَبۡلُ مَا فَرَّطتُمۡ فِي يُوسُفَۖ ﴿ "Dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf", maka pada diri kalian telah menyatu dua permasalahan: penyia-nyiaan kalian terhadap Yusuf di waktu silam, dan kalian tidak membawa pulang saudaranya pada saat berikutnya. Aku ti-dak punya alasan untuk aku haturkan kepada ayah. ﴾ فَلَنۡ أَبۡرَحَ ٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Sebab itu, aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir", aku akan tinggal di negeri ini dan akan terus di sini ﴾ حَتَّىٰ يَأۡذَنَ لِيٓ أَبِيٓ أَوۡ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ لِيۖ ﴿ "sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi kepu-tusan terhadapku", maksudnya menakdirkan aku bisa pulang, baik sendirian atau bersama saudaraku ﴾ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya".
(81) Kemudian ia (saudara tertua) berpesan kepada yang lain tentang apa yang harus dikatakan kepada ayah mereka. Dia berkata, ﴾ ٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَبِيكُمۡ فَقُولُواْ يَٰٓأَبَانَآ إِنَّ ٱبۡنَكَ سَرَقَ ﴿ "Kembalilah kepada ayahmu lalu katakanlah, 'Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri'," maksudnya dia ditahan karena perbuatan pencuriannya. Kami ti-dak berhasil membawanya pulang, meskipun sudah mengerahkan upaya untuk itu. Faktanya, sungguh kami tidaklah bersaksi dengan sesuatu yang tidak kami ketahui. Akan tetapi kami bersaksi atas apa yang kami ketahui saja. Karena kami menyaksikan piala raja dikeluarkan dari karungnya. ﴾ وَمَا كُنَّا لِلۡغَيۡبِ حَٰفِظِينَ ﴿ "Dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib", maksudnya se-kiranya kami mengetahui ilmu ghaib, tentu kami tidak akan ber-semangat dan mengerahkan upaya untuk kepergiannya bersama kami. Dan ketika kami telah memberikan janji dan jaminan, ternyata kami tidak pernah mengira kalau kejadiannya sampai seperti itu.
(82) ﴾ وَسۡـَٔلِ ﴿ "Dan tanyalah", jika engkau meragukan ucapan kami ﴾ ٱلۡقَرۡيَةَ ٱلَّتِي كُنَّا فِيهَا وَٱلۡعِيرَ ٱلَّتِيٓ أَقۡبَلۡنَا فِيهَاۖ ﴿ "(penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya", mereka mengetahui apa yang kami beritahukan kepadamu ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesung-guhnya kami adalah orang-orang yang benar", kami tidak berbohong, tidak merubah dan tidak memutarbalikkan fakta. Itulah realita yang terjadi.
(83) Tatkala mereka kembali kepada ayah mereka dan me-ngabarkan berita ini, maka kesedihannya pun semakin dahsyat, kepiluannya pun menjadi-jadi, dan menuduh mereka dalam keja-dian ini sebagaimana tuduhan yang beliau alamatkan kepada me-reka pada peristiwa yang pertama. ﴾ قَالَ بَلۡ سَوَّلَتۡ لَكُمۡ أَنفُسُكُمۡ أَمۡرٗاۖ فَصَبۡرٞ جَمِيلٌۖ ﴿ "Dia berkata, 'Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku)'," mak-sudnya dalam masalah ini, beliau membentengi diri dengan kesa-baran yang baik yang tidak disertai oleh kemurkaan, keluh-kesah juga pengaduan kepada manusia. Selanjutnya, beliau mengharap-kan datangnya jalan keluar saat menyaksikan persoalan semakin pelik dan kesulitan sudah di ambang batas. Beliau berkata, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَنِي بِهِمۡ جَمِيعًاۚ ﴿ "Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua-nya kepadaku", maksudnya Yusuf, Bunyamin, dan saudara tertua mereka yang tinggal di Mesir. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui", Dzat Yang Mengetahui keadaan dan kebu-tuhanku terhadap solusi masalah, karuniaNya dan (mengetahui) keperluan mendesakku kepada curahan kebaikanNya, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana", Dzat yang menjadikan bagi segala sesuatu ka-dar batasnya, (menjadikan) bagi segala perkara batas penyelesaian-nya sesuai dengan kandungan hikmah rabbaniNya.
Yusuf 12:81
"Maka tatkala mereka berputus asa dari (putusan) Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berka-talah yang tertua di antara mereka, 'Tidakkah kamu ketahui bahwa ayahmu telah mengambil janji darimu dengan nama Allah dan se-belum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu, aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepa-daku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya. Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah, 'Wahai ayah kami! Sesungguhnya anak-mu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan se-sungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.' Ya'qub berkata, 'Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mu-dah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksa-na'." (Yusuf: 80-83).
(80) Maka tatkala para saudara berputus asa dari (putusan) Yusuf agar sudi memaafkan saudara mereka (Bunyamin) ﴾ خَلَصُواْ نَجِيّٗاۖ ﴿ "mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik", mak-sudnya, mereka berkumpul menyendiri tanpa disertai orang lain lantas mulai berbisik-bisik di antara mereka. Maka, ﴾ قَالَ كَبِيرُهُمۡ أَلَمۡ تَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ أَبَاكُمۡ قَدۡ أَخَذَ عَلَيۡكُم مَّوۡثِقٗا مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "berkatalah yang tertua di antara mereka, 'Tidakkah kamu ketahui bahwa ayahmu telah mengambil janji darimu dengan Nama Allah", dalam melindungi Bunyamin, dan bahwa ka-lian akan membawanya (pulang) kecuali musuh mengepung kalian. ﴾ وَمِن قَبۡلُ مَا فَرَّطتُمۡ فِي يُوسُفَۖ ﴿ "Dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf", maka pada diri kalian telah menyatu dua permasalahan: penyia-nyiaan kalian terhadap Yusuf di waktu silam, dan kalian tidak membawa pulang saudaranya pada saat berikutnya. Aku ti-dak punya alasan untuk aku haturkan kepada ayah. ﴾ فَلَنۡ أَبۡرَحَ ٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Sebab itu, aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir", aku akan tinggal di negeri ini dan akan terus di sini ﴾ حَتَّىٰ يَأۡذَنَ لِيٓ أَبِيٓ أَوۡ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ لِيۖ ﴿ "sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi kepu-tusan terhadapku", maksudnya menakdirkan aku bisa pulang, baik sendirian atau bersama saudaraku ﴾ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya".
(81) Kemudian ia (saudara tertua) berpesan kepada yang lain tentang apa yang harus dikatakan kepada ayah mereka. Dia berkata, ﴾ ٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَبِيكُمۡ فَقُولُواْ يَٰٓأَبَانَآ إِنَّ ٱبۡنَكَ سَرَقَ ﴿ "Kembalilah kepada ayahmu lalu katakanlah, 'Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri'," maksudnya dia ditahan karena perbuatan pencuriannya. Kami ti-dak berhasil membawanya pulang, meskipun sudah mengerahkan upaya untuk itu. Faktanya, sungguh kami tidaklah bersaksi dengan sesuatu yang tidak kami ketahui. Akan tetapi kami bersaksi atas apa yang kami ketahui saja. Karena kami menyaksikan piala raja dikeluarkan dari karungnya. ﴾ وَمَا كُنَّا لِلۡغَيۡبِ حَٰفِظِينَ ﴿ "Dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib", maksudnya se-kiranya kami mengetahui ilmu ghaib, tentu kami tidak akan ber-semangat dan mengerahkan upaya untuk kepergiannya bersama kami. Dan ketika kami telah memberikan janji dan jaminan, ternyata kami tidak pernah mengira kalau kejadiannya sampai seperti itu.
(82) ﴾ وَسۡـَٔلِ ﴿ "Dan tanyalah", jika engkau meragukan ucapan kami ﴾ ٱلۡقَرۡيَةَ ٱلَّتِي كُنَّا فِيهَا وَٱلۡعِيرَ ٱلَّتِيٓ أَقۡبَلۡنَا فِيهَاۖ ﴿ "(penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya", mereka mengetahui apa yang kami beritahukan kepadamu ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesung-guhnya kami adalah orang-orang yang benar", kami tidak berbohong, tidak merubah dan tidak memutarbalikkan fakta. Itulah realita yang terjadi.
(83) Tatkala mereka kembali kepada ayah mereka dan me-ngabarkan berita ini, maka kesedihannya pun semakin dahsyat, kepiluannya pun menjadi-jadi, dan menuduh mereka dalam keja-dian ini sebagaimana tuduhan yang beliau alamatkan kepada me-reka pada peristiwa yang pertama. ﴾ قَالَ بَلۡ سَوَّلَتۡ لَكُمۡ أَنفُسُكُمۡ أَمۡرٗاۖ فَصَبۡرٞ جَمِيلٌۖ ﴿ "Dia berkata, 'Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku)'," mak-sudnya dalam masalah ini, beliau membentengi diri dengan kesa-baran yang baik yang tidak disertai oleh kemurkaan, keluh-kesah juga pengaduan kepada manusia. Selanjutnya, beliau mengharap-kan datangnya jalan keluar saat menyaksikan persoalan semakin pelik dan kesulitan sudah di ambang batas. Beliau berkata, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَنِي بِهِمۡ جَمِيعًاۚ ﴿ "Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua-nya kepadaku", maksudnya Yusuf, Bunyamin, dan saudara tertua mereka yang tinggal di Mesir. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui", Dzat Yang Mengetahui keadaan dan kebu-tuhanku terhadap solusi masalah, karuniaNya dan (mengetahui) keperluan mendesakku kepada curahan kebaikanNya, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana", Dzat yang menjadikan bagi segala sesuatu ka-dar batasnya, (menjadikan) bagi segala perkara batas penyelesaian-nya sesuai dengan kandungan hikmah rabbaniNya.
Yusuf 12:82
"Maka tatkala mereka berputus asa dari (putusan) Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berka-talah yang tertua di antara mereka, 'Tidakkah kamu ketahui bahwa ayahmu telah mengambil janji darimu dengan nama Allah dan se-belum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu, aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepa-daku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya. Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah, 'Wahai ayah kami! Sesungguhnya anak-mu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan se-sungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.' Ya'qub berkata, 'Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mu-dah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksa-na'." (Yusuf: 80-83).
(80) Maka tatkala para saudara berputus asa dari (putusan) Yusuf agar sudi memaafkan saudara mereka (Bunyamin) ﴾ خَلَصُواْ نَجِيّٗاۖ ﴿ "mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik", mak-sudnya, mereka berkumpul menyendiri tanpa disertai orang lain lantas mulai berbisik-bisik di antara mereka. Maka, ﴾ قَالَ كَبِيرُهُمۡ أَلَمۡ تَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ أَبَاكُمۡ قَدۡ أَخَذَ عَلَيۡكُم مَّوۡثِقٗا مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "berkatalah yang tertua di antara mereka, 'Tidakkah kamu ketahui bahwa ayahmu telah mengambil janji darimu dengan Nama Allah", dalam melindungi Bunyamin, dan bahwa ka-lian akan membawanya (pulang) kecuali musuh mengepung kalian. ﴾ وَمِن قَبۡلُ مَا فَرَّطتُمۡ فِي يُوسُفَۖ ﴿ "Dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf", maka pada diri kalian telah menyatu dua permasalahan: penyia-nyiaan kalian terhadap Yusuf di waktu silam, dan kalian tidak membawa pulang saudaranya pada saat berikutnya. Aku ti-dak punya alasan untuk aku haturkan kepada ayah. ﴾ فَلَنۡ أَبۡرَحَ ٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Sebab itu, aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir", aku akan tinggal di negeri ini dan akan terus di sini ﴾ حَتَّىٰ يَأۡذَنَ لِيٓ أَبِيٓ أَوۡ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ لِيۖ ﴿ "sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi kepu-tusan terhadapku", maksudnya menakdirkan aku bisa pulang, baik sendirian atau bersama saudaraku ﴾ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya".
(81) Kemudian ia (saudara tertua) berpesan kepada yang lain tentang apa yang harus dikatakan kepada ayah mereka. Dia berkata, ﴾ ٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَبِيكُمۡ فَقُولُواْ يَٰٓأَبَانَآ إِنَّ ٱبۡنَكَ سَرَقَ ﴿ "Kembalilah kepada ayahmu lalu katakanlah, 'Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri'," maksudnya dia ditahan karena perbuatan pencuriannya. Kami ti-dak berhasil membawanya pulang, meskipun sudah mengerahkan upaya untuk itu. Faktanya, sungguh kami tidaklah bersaksi dengan sesuatu yang tidak kami ketahui. Akan tetapi kami bersaksi atas apa yang kami ketahui saja. Karena kami menyaksikan piala raja dikeluarkan dari karungnya. ﴾ وَمَا كُنَّا لِلۡغَيۡبِ حَٰفِظِينَ ﴿ "Dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib", maksudnya se-kiranya kami mengetahui ilmu ghaib, tentu kami tidak akan ber-semangat dan mengerahkan upaya untuk kepergiannya bersama kami. Dan ketika kami telah memberikan janji dan jaminan, ternyata kami tidak pernah mengira kalau kejadiannya sampai seperti itu.
(82) ﴾ وَسۡـَٔلِ ﴿ "Dan tanyalah", jika engkau meragukan ucapan kami ﴾ ٱلۡقَرۡيَةَ ٱلَّتِي كُنَّا فِيهَا وَٱلۡعِيرَ ٱلَّتِيٓ أَقۡبَلۡنَا فِيهَاۖ ﴿ "(penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya", mereka mengetahui apa yang kami beritahukan kepadamu ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesung-guhnya kami adalah orang-orang yang benar", kami tidak berbohong, tidak merubah dan tidak memutarbalikkan fakta. Itulah realita yang terjadi.
(83) Tatkala mereka kembali kepada ayah mereka dan me-ngabarkan berita ini, maka kesedihannya pun semakin dahsyat, kepiluannya pun menjadi-jadi, dan menuduh mereka dalam keja-dian ini sebagaimana tuduhan yang beliau alamatkan kepada me-reka pada peristiwa yang pertama. ﴾ قَالَ بَلۡ سَوَّلَتۡ لَكُمۡ أَنفُسُكُمۡ أَمۡرٗاۖ فَصَبۡرٞ جَمِيلٌۖ ﴿ "Dia berkata, 'Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku)'," mak-sudnya dalam masalah ini, beliau membentengi diri dengan kesa-baran yang baik yang tidak disertai oleh kemurkaan, keluh-kesah juga pengaduan kepada manusia. Selanjutnya, beliau mengharap-kan datangnya jalan keluar saat menyaksikan persoalan semakin pelik dan kesulitan sudah di ambang batas. Beliau berkata, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَنِي بِهِمۡ جَمِيعًاۚ ﴿ "Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua-nya kepadaku", maksudnya Yusuf, Bunyamin, dan saudara tertua mereka yang tinggal di Mesir. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui", Dzat Yang Mengetahui keadaan dan kebu-tuhanku terhadap solusi masalah, karuniaNya dan (mengetahui) keperluan mendesakku kepada curahan kebaikanNya, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana", Dzat yang menjadikan bagi segala sesuatu ka-dar batasnya, (menjadikan) bagi segala perkara batas penyelesaian-nya sesuai dengan kandungan hikmah rabbaniNya.
Yusuf 12:83
"Maka tatkala mereka berputus asa dari (putusan) Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berka-talah yang tertua di antara mereka, 'Tidakkah kamu ketahui bahwa ayahmu telah mengambil janji darimu dengan nama Allah dan se-belum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu, aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepa-daku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya. Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah, 'Wahai ayah kami! Sesungguhnya anak-mu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan se-sungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.' Ya'qub berkata, 'Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mu-dah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksa-na'." (Yusuf: 80-83).
(80) Maka tatkala para saudara berputus asa dari (putusan) Yusuf agar sudi memaafkan saudara mereka (Bunyamin) ﴾ خَلَصُواْ نَجِيّٗاۖ ﴿ "mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik", mak-sudnya, mereka berkumpul menyendiri tanpa disertai orang lain lantas mulai berbisik-bisik di antara mereka. Maka, ﴾ قَالَ كَبِيرُهُمۡ أَلَمۡ تَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ أَبَاكُمۡ قَدۡ أَخَذَ عَلَيۡكُم مَّوۡثِقٗا مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "berkatalah yang tertua di antara mereka, 'Tidakkah kamu ketahui bahwa ayahmu telah mengambil janji darimu dengan Nama Allah", dalam melindungi Bunyamin, dan bahwa ka-lian akan membawanya (pulang) kecuali musuh mengepung kalian. ﴾ وَمِن قَبۡلُ مَا فَرَّطتُمۡ فِي يُوسُفَۖ ﴿ "Dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf", maka pada diri kalian telah menyatu dua permasalahan: penyia-nyiaan kalian terhadap Yusuf di waktu silam, dan kalian tidak membawa pulang saudaranya pada saat berikutnya. Aku ti-dak punya alasan untuk aku haturkan kepada ayah. ﴾ فَلَنۡ أَبۡرَحَ ٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Sebab itu, aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir", aku akan tinggal di negeri ini dan akan terus di sini ﴾ حَتَّىٰ يَأۡذَنَ لِيٓ أَبِيٓ أَوۡ يَحۡكُمَ ٱللَّهُ لِيۖ ﴿ "sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi kepu-tusan terhadapku", maksudnya menakdirkan aku bisa pulang, baik sendirian atau bersama saudaraku ﴾ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ﴿ "Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya".
(81) Kemudian ia (saudara tertua) berpesan kepada yang lain tentang apa yang harus dikatakan kepada ayah mereka. Dia berkata, ﴾ ٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَبِيكُمۡ فَقُولُواْ يَٰٓأَبَانَآ إِنَّ ٱبۡنَكَ سَرَقَ ﴿ "Kembalilah kepada ayahmu lalu katakanlah, 'Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri'," maksudnya dia ditahan karena perbuatan pencuriannya. Kami ti-dak berhasil membawanya pulang, meskipun sudah mengerahkan upaya untuk itu. Faktanya, sungguh kami tidaklah bersaksi dengan sesuatu yang tidak kami ketahui. Akan tetapi kami bersaksi atas apa yang kami ketahui saja. Karena kami menyaksikan piala raja dikeluarkan dari karungnya. ﴾ وَمَا كُنَّا لِلۡغَيۡبِ حَٰفِظِينَ ﴿ "Dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib", maksudnya se-kiranya kami mengetahui ilmu ghaib, tentu kami tidak akan ber-semangat dan mengerahkan upaya untuk kepergiannya bersama kami. Dan ketika kami telah memberikan janji dan jaminan, ternyata kami tidak pernah mengira kalau kejadiannya sampai seperti itu.
(82) ﴾ وَسۡـَٔلِ ﴿ "Dan tanyalah", jika engkau meragukan ucapan kami ﴾ ٱلۡقَرۡيَةَ ٱلَّتِي كُنَّا فِيهَا وَٱلۡعِيرَ ٱلَّتِيٓ أَقۡبَلۡنَا فِيهَاۖ ﴿ "(penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya", mereka mengetahui apa yang kami beritahukan kepadamu ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesung-guhnya kami adalah orang-orang yang benar", kami tidak berbohong, tidak merubah dan tidak memutarbalikkan fakta. Itulah realita yang terjadi.
(83) Tatkala mereka kembali kepada ayah mereka dan me-ngabarkan berita ini, maka kesedihannya pun semakin dahsyat, kepiluannya pun menjadi-jadi, dan menuduh mereka dalam keja-dian ini sebagaimana tuduhan yang beliau alamatkan kepada me-reka pada peristiwa yang pertama. ﴾ قَالَ بَلۡ سَوَّلَتۡ لَكُمۡ أَنفُسُكُمۡ أَمۡرٗاۖ فَصَبۡرٞ جَمِيلٌۖ ﴿ "Dia berkata, 'Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku)'," mak-sudnya dalam masalah ini, beliau membentengi diri dengan kesa-baran yang baik yang tidak disertai oleh kemurkaan, keluh-kesah juga pengaduan kepada manusia. Selanjutnya, beliau mengharap-kan datangnya jalan keluar saat menyaksikan persoalan semakin pelik dan kesulitan sudah di ambang batas. Beliau berkata, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَنِي بِهِمۡ جَمِيعًاۚ ﴿ "Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua-nya kepadaku", maksudnya Yusuf, Bunyamin, dan saudara tertua mereka yang tinggal di Mesir. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui", Dzat Yang Mengetahui keadaan dan kebu-tuhanku terhadap solusi masalah, karuniaNya dan (mengetahui) keperluan mendesakku kepada curahan kebaikanNya, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana", Dzat yang menjadikan bagi segala sesuatu ka-dar batasnya, (menjadikan) bagi segala perkara batas penyelesaian-nya sesuai dengan kandungan hikmah rabbaniNya.
Yusuf 12:84
"Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, 'Aduhai duka citaku terhadap Yusuf', dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata, 'Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau kamu termasuk orang-orang yang binasa.' Ya'qub menjawab, 'Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tiada mengetahuinya'." (Yusuf: 84-86).
(84) Ya'qub عليه السلام berpaling dari anak-anaknya usai mereka mengabarkan berita ini. Kesedihan dan dukanya semakin besar. Dua matanya memutih lantaran deraan kesedihan di kalbu, dan kepilu-annya yang membuat beliau sering menangis di mana dua matanya menjadi putih. ﴾ فَهُوَ كَظِيمٞ ﴿ "Dan dia adalah seorang yang menahan ama-rahnya (terhadap anak-anaknya)", maksudnya, hatinya penuh dengan kesedihan yang menyayat ﴾ وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai duka citaku terhadap Yusuf'," maksudnya tampak pada beliau perasaan yang tersembunyi (di hatinya) berupa kesedihan yang sudah lama dan kerinduan yang selalu menghampiri. Musibah yang ringan ini -ditilik dari (beratnya) musibah pertama- mengingatkan memori beliau terhadap musibah yang pertama (hilangnya Yusuf dari beliau).
(85) Maka lantaran keheranan melihat keadaan beliau, putra-putra beliau berkomentar, ﴾ تَٱللَّهِ تَفۡتَؤُاْ تَذۡكُرُ يُوسُفَ ﴿ "Demi Allah, senan-tiasa kamu mengingati Yusuf", engkau masih saja mengingat Yusuf di setiap kondisimu ﴾ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا ﴿ "sehingga kamu mengidap penyakit yang berat", maksudnya sampai engkau tua renta, tidak punya ge-rakan dan juga kekuatan untuk berucap, ﴾ أَوۡ تَكُونَ مِنَ ٱلۡهَٰلِكِينَ ﴿ "atau kamu termasuk orang-orang yang binasa", maksudnya kamu tidak akan melupakannya selama kamu mampu mengingatnya selama-lamanya.
(86) Ya'qub berkata, ﴾ إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي ﴿ "Sesungguhnya aku menga-dukan kesusahanku", yaitu perkataan yang aku munculkan ﴾ وَحُزۡنِيٓ ﴿ "dan kesedihanku" yang berada dalam hati ﴾ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "hanya kepada Allah", semata, tidak kepada kalian, dan tidak pula kepada orang lain. Berbicaralah sekehendak kalian ﴾ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya", bahwa Dia akan memulangkan mereka semua kepadaku dan menyejuk-kan pandanganku dengan berkumpul kembali dengan mereka.
Yusuf 12:85
"Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, 'Aduhai duka citaku terhadap Yusuf', dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata, 'Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau kamu termasuk orang-orang yang binasa.' Ya'qub menjawab, 'Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tiada mengetahuinya'." (Yusuf: 84-86).
(84) Ya'qub عليه السلام berpaling dari anak-anaknya usai mereka mengabarkan berita ini. Kesedihan dan dukanya semakin besar. Dua matanya memutih lantaran deraan kesedihan di kalbu, dan kepilu-annya yang membuat beliau sering menangis di mana dua matanya menjadi putih. ﴾ فَهُوَ كَظِيمٞ ﴿ "Dan dia adalah seorang yang menahan ama-rahnya (terhadap anak-anaknya)", maksudnya, hatinya penuh dengan kesedihan yang menyayat ﴾ وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai duka citaku terhadap Yusuf'," maksudnya tampak pada beliau perasaan yang tersembunyi (di hatinya) berupa kesedihan yang sudah lama dan kerinduan yang selalu menghampiri. Musibah yang ringan ini -ditilik dari (beratnya) musibah pertama- mengingatkan memori beliau terhadap musibah yang pertama (hilangnya Yusuf dari beliau).
(85) Maka lantaran keheranan melihat keadaan beliau, putra-putra beliau berkomentar, ﴾ تَٱللَّهِ تَفۡتَؤُاْ تَذۡكُرُ يُوسُفَ ﴿ "Demi Allah, senan-tiasa kamu mengingati Yusuf", engkau masih saja mengingat Yusuf di setiap kondisimu ﴾ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا ﴿ "sehingga kamu mengidap penyakit yang berat", maksudnya sampai engkau tua renta, tidak punya ge-rakan dan juga kekuatan untuk berucap, ﴾ أَوۡ تَكُونَ مِنَ ٱلۡهَٰلِكِينَ ﴿ "atau kamu termasuk orang-orang yang binasa", maksudnya kamu tidak akan melupakannya selama kamu mampu mengingatnya selama-lamanya.
(86) Ya'qub berkata, ﴾ إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي ﴿ "Sesungguhnya aku menga-dukan kesusahanku", yaitu perkataan yang aku munculkan ﴾ وَحُزۡنِيٓ ﴿ "dan kesedihanku" yang berada dalam hati ﴾ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "hanya kepada Allah", semata, tidak kepada kalian, dan tidak pula kepada orang lain. Berbicaralah sekehendak kalian ﴾ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya", bahwa Dia akan memulangkan mereka semua kepadaku dan menyejuk-kan pandanganku dengan berkumpul kembali dengan mereka.
Yusuf 12:86
"Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, 'Aduhai duka citaku terhadap Yusuf', dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata, 'Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau kamu termasuk orang-orang yang binasa.' Ya'qub menjawab, 'Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tiada mengetahuinya'." (Yusuf: 84-86).
(84) Ya'qub عليه السلام berpaling dari anak-anaknya usai mereka mengabarkan berita ini. Kesedihan dan dukanya semakin besar. Dua matanya memutih lantaran deraan kesedihan di kalbu, dan kepilu-annya yang membuat beliau sering menangis di mana dua matanya menjadi putih. ﴾ فَهُوَ كَظِيمٞ ﴿ "Dan dia adalah seorang yang menahan ama-rahnya (terhadap anak-anaknya)", maksudnya, hatinya penuh dengan kesedihan yang menyayat ﴾ وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ ﴿ "Dia berkata, 'Aduhai duka citaku terhadap Yusuf'," maksudnya tampak pada beliau perasaan yang tersembunyi (di hatinya) berupa kesedihan yang sudah lama dan kerinduan yang selalu menghampiri. Musibah yang ringan ini -ditilik dari (beratnya) musibah pertama- mengingatkan memori beliau terhadap musibah yang pertama (hilangnya Yusuf dari beliau).
(85) Maka lantaran keheranan melihat keadaan beliau, putra-putra beliau berkomentar, ﴾ تَٱللَّهِ تَفۡتَؤُاْ تَذۡكُرُ يُوسُفَ ﴿ "Demi Allah, senan-tiasa kamu mengingati Yusuf", engkau masih saja mengingat Yusuf di setiap kondisimu ﴾ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا ﴿ "sehingga kamu mengidap penyakit yang berat", maksudnya sampai engkau tua renta, tidak punya ge-rakan dan juga kekuatan untuk berucap, ﴾ أَوۡ تَكُونَ مِنَ ٱلۡهَٰلِكِينَ ﴿ "atau kamu termasuk orang-orang yang binasa", maksudnya kamu tidak akan melupakannya selama kamu mampu mengingatnya selama-lamanya.
(86) Ya'qub berkata, ﴾ إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي ﴿ "Sesungguhnya aku menga-dukan kesusahanku", yaitu perkataan yang aku munculkan ﴾ وَحُزۡنِيٓ ﴿ "dan kesedihanku" yang berada dalam hati ﴾ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "hanya kepada Allah", semata, tidak kepada kalian, dan tidak pula kepada orang lain. Berbicaralah sekehendak kalian ﴾ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya", bahwa Dia akan memulangkan mereka semua kepadaku dan menyejuk-kan pandanganku dengan berkumpul kembali dengan mereka.
Yusuf 12:87
"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita ten-tang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." Maka ketika mereka masuk ke (tem-pat) Yusuf, mereka berkata, "Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah mem-beri balasan kepada orang-orang yang bersedekah." Yusuf berkata, "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu laku-kan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu." Mereka berkata, "Apakah kamu ini be-nar-benar Yusuf.' Yusuf menjawab, 'Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka se-sungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." Mereka berkata, "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Dia (Yusuf) berkata, "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (Yusuf: 87-92).
(87) Maksudnya, Ya'qub berkata kepada anak-anaknya, ﴾ يَٰبَنِيَّ ٱذۡهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ ﴿ "Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya" maksudnya, bersemangat dan bersungguh-sungguhlah dalam mencari mereka berdua ﴾ وَلَا تَاْيۡـَٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ ﴿ "dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah", karena opti-misme akan mendorong seorang hamba kepada usaha dan keteku-nan serius untuk mencapai apa yang diharapkannya. Sedangkan putus asa, hanya akan mengakibatkan perasaan berat dan berma-las-malasan baginya. Pengharapan yang paling utama diinginkan seorang hamba ialah kemurahan dan curahan kebaikan Allah, rah-mat dan kasihNya. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡـَٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir", karena kekafiran mereka, maka mereka menjauhi rahmatNya dari diri me-reka. Dan (memang) rahmat Allah jauh dari mereka. Maka jangan-lah kalian menyerupai orang-orang kafir. Ayat ini menunjukkan bahwa sesuai kadar keimanan seorang hamba (kepada Allah), maka level pengharapannya kepada rahmat Allah dan kasihNya berada (pada kadar itu).
(88) Mereka pun bertolak berangkat. Ketika mereka masuk untuk menjumpai Yusuf, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata", dengan mengiba kepadanya, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهۡلَنَا ٱلضُّرُّ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ وَتَصَدَّقۡ عَلَيۡنَآۖ ﴿ "Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempur-nakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami", maksud-nya, kami dan keluarga telah terhimpit kesulitan ﴾ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ ﴿ "dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga", yaitu pembayaran yang tidak disukai, karena jumlahnya yang sedikit lagi tidak sesuai ﴾ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ ﴿ "maka sempurnakanlah sukatan kami", meskipun barternya tidak sepadan dan bersedekahlah kepada kami melebihi kadar yang semestinya ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَجۡزِي ٱلۡمُتَصَدِّقِينَ ﴿ "sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah", dengan balasan di dunia dan akhirat.
(89) Ketika permasalahan menjadi genting dan mencapai puncaknya, Yusuf betul-betul merasa iba terhadap mereka, dan memperkenalkan dirinya kepada mereka sambil menegur mereka, ﴾ هَلۡ عَلِمۡتُم مَّا فَعَلۡتُم بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ ﴿ "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya", adapun tindakan mereka kepada Yusuf, maka sudah jelas. Sedangkan tentang sauda-ranya, maka boleh jadi (karena) –wallahu a'lam- perkataan mereka, ﴾ إِن يَسۡرِقۡ فَقَدۡ سَرَقَ أَخٞ لَّهُۥ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "Jika dia mencuri, maka sungguh telah pernah mencuri pula sauda-ranya sebelum ini."(Yusuf: 77). Atau, faktor penyebab terpisahnya Bunyamin dari ayahnya dan sumber kejadian itu adalah mereka ﴾ إِذۡ أَنتُمۡ جَٰهِلُونَ ﴿ "ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu", ini semacam bentuk to-leransi bagi mereka yang disebabkan oleh tindakan bodoh mereka, atau merupakan upaya menjelek-jelekkan mereka lantaran melaku-kan perbuatan orang-orang yang bodoh, meskipun perbuatan itu tidak pantas dan tidak layak bagi mereka.
(90) Mereka menyadari bahwa orang yang berbicara dengan mereka adalah Yusuf. Lantas mereka bertanya-tanya, ﴾ أَءِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُۖ قَالَ أَنَا۠ يُوسُفُ وَهَٰذَآ أَخِيۖ قَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَآۖ ﴿ "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf." Yusuf menjawab, "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami", dengan keimanan, ketak-waan, memegang kekuasaan di dunia. Karunia itu disebabkan oleh kesabaran dan ketakwaan. ﴾ إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصۡبِرۡ ﴿ "Sesungguhnya barang-siapa yang bertakwa dan bersabar", yakni menjaga diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan bersabar terhadap hal-hal yang menyakitkan dan musibah-musibah serta bersabar atas perintah-perintah Allah dan dalam menaatinya ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik", ini termasuk sifat perbuatan ihsan, dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang telah berbuat kebaikan.
(91) ﴾ قَالُواْ تَٱللَّهِ لَقَدۡ ءَاثَرَكَ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami'," maksudnya, Allah telah mengutamakanmu daripada kami dengan budi pekerti yang mulia serta perilaku yang baik, padahal kami telah melakukan perbuatan terburuk pada dirimu dan berapi-api untuk melancarkan gangguan kepadamu, dan menjauhkanmu dari ayah. Ternyata Allah تعالى melebihkanmu dan menempatkanmu pada kedudukan yang engkau inginkan [dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa): ini adalah pengakuan yang mendalam dari me-reka atas perbuatan jahat yang berasal dari mereka terhadap Yusuf].
(92) Maka Yusuf عليه السلام menjawab mereka dengan kemuliaan dan kemurahan hatinya, ﴾ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ ﴿ "Pada hari ini tak ada cer-caaan terhadap kamu", maksudnya aku tidak memaki dan tidak pula mencela kalian ﴾ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang", Yusuf memaafkan mereka dengan sepenuhnya tanpa disertai men-diskreditkan mereka dengan menyebutkan kejahatan yang pernah mereka perbuat. Ia memohon ampunan dan rahmat bagi mereka. Ini adalah puncak sifat kebaikan yang tidak akan muncul kecuali dari orang-orang istimewa dan orang-orang terpilih dari kalangan orang-orang pilihan.
Yusuf 12:88
"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita ten-tang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." Maka ketika mereka masuk ke (tem-pat) Yusuf, mereka berkata, "Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah mem-beri balasan kepada orang-orang yang bersedekah." Yusuf berkata, "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu laku-kan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu." Mereka berkata, "Apakah kamu ini be-nar-benar Yusuf.' Yusuf menjawab, 'Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka se-sungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." Mereka berkata, "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Dia (Yusuf) berkata, "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (Yusuf: 87-92).
(87) Maksudnya, Ya'qub berkata kepada anak-anaknya, ﴾ يَٰبَنِيَّ ٱذۡهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ ﴿ "Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya" maksudnya, bersemangat dan bersungguh-sungguhlah dalam mencari mereka berdua ﴾ وَلَا تَاْيۡـَٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ ﴿ "dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah", karena opti-misme akan mendorong seorang hamba kepada usaha dan keteku-nan serius untuk mencapai apa yang diharapkannya. Sedangkan putus asa, hanya akan mengakibatkan perasaan berat dan berma-las-malasan baginya. Pengharapan yang paling utama diinginkan seorang hamba ialah kemurahan dan curahan kebaikan Allah, rah-mat dan kasihNya. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡـَٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir", karena kekafiran mereka, maka mereka menjauhi rahmatNya dari diri me-reka. Dan (memang) rahmat Allah jauh dari mereka. Maka jangan-lah kalian menyerupai orang-orang kafir. Ayat ini menunjukkan bahwa sesuai kadar keimanan seorang hamba (kepada Allah), maka level pengharapannya kepada rahmat Allah dan kasihNya berada (pada kadar itu).
(88) Mereka pun bertolak berangkat. Ketika mereka masuk untuk menjumpai Yusuf, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata", dengan mengiba kepadanya, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهۡلَنَا ٱلضُّرُّ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ وَتَصَدَّقۡ عَلَيۡنَآۖ ﴿ "Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempur-nakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami", maksud-nya, kami dan keluarga telah terhimpit kesulitan ﴾ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ ﴿ "dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga", yaitu pembayaran yang tidak disukai, karena jumlahnya yang sedikit lagi tidak sesuai ﴾ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ ﴿ "maka sempurnakanlah sukatan kami", meskipun barternya tidak sepadan dan bersedekahlah kepada kami melebihi kadar yang semestinya ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَجۡزِي ٱلۡمُتَصَدِّقِينَ ﴿ "sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah", dengan balasan di dunia dan akhirat.
(89) Ketika permasalahan menjadi genting dan mencapai puncaknya, Yusuf betul-betul merasa iba terhadap mereka, dan memperkenalkan dirinya kepada mereka sambil menegur mereka, ﴾ هَلۡ عَلِمۡتُم مَّا فَعَلۡتُم بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ ﴿ "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya", adapun tindakan mereka kepada Yusuf, maka sudah jelas. Sedangkan tentang sauda-ranya, maka boleh jadi (karena) –wallahu a'lam- perkataan mereka, ﴾ إِن يَسۡرِقۡ فَقَدۡ سَرَقَ أَخٞ لَّهُۥ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "Jika dia mencuri, maka sungguh telah pernah mencuri pula sauda-ranya sebelum ini."(Yusuf: 77). Atau, faktor penyebab terpisahnya Bunyamin dari ayahnya dan sumber kejadian itu adalah mereka ﴾ إِذۡ أَنتُمۡ جَٰهِلُونَ ﴿ "ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu", ini semacam bentuk to-leransi bagi mereka yang disebabkan oleh tindakan bodoh mereka, atau merupakan upaya menjelek-jelekkan mereka lantaran melaku-kan perbuatan orang-orang yang bodoh, meskipun perbuatan itu tidak pantas dan tidak layak bagi mereka.
(90) Mereka menyadari bahwa orang yang berbicara dengan mereka adalah Yusuf. Lantas mereka bertanya-tanya, ﴾ أَءِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُۖ قَالَ أَنَا۠ يُوسُفُ وَهَٰذَآ أَخِيۖ قَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَآۖ ﴿ "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf." Yusuf menjawab, "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami", dengan keimanan, ketak-waan, memegang kekuasaan di dunia. Karunia itu disebabkan oleh kesabaran dan ketakwaan. ﴾ إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصۡبِرۡ ﴿ "Sesungguhnya barang-siapa yang bertakwa dan bersabar", yakni menjaga diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan bersabar terhadap hal-hal yang menyakitkan dan musibah-musibah serta bersabar atas perintah-perintah Allah dan dalam menaatinya ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik", ini termasuk sifat perbuatan ihsan, dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang telah berbuat kebaikan.
(91) ﴾ قَالُواْ تَٱللَّهِ لَقَدۡ ءَاثَرَكَ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami'," maksudnya, Allah telah mengutamakanmu daripada kami dengan budi pekerti yang mulia serta perilaku yang baik, padahal kami telah melakukan perbuatan terburuk pada dirimu dan berapi-api untuk melancarkan gangguan kepadamu, dan menjauhkanmu dari ayah. Ternyata Allah تعالى melebihkanmu dan menempatkanmu pada kedudukan yang engkau inginkan [dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa): ini adalah pengakuan yang mendalam dari me-reka atas perbuatan jahat yang berasal dari mereka terhadap Yusuf].
(92) Maka Yusuf عليه السلام menjawab mereka dengan kemuliaan dan kemurahan hatinya, ﴾ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ ﴿ "Pada hari ini tak ada cer-caaan terhadap kamu", maksudnya aku tidak memaki dan tidak pula mencela kalian ﴾ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang", Yusuf memaafkan mereka dengan sepenuhnya tanpa disertai men-diskreditkan mereka dengan menyebutkan kejahatan yang pernah mereka perbuat. Ia memohon ampunan dan rahmat bagi mereka. Ini adalah puncak sifat kebaikan yang tidak akan muncul kecuali dari orang-orang istimewa dan orang-orang terpilih dari kalangan orang-orang pilihan.
Yusuf 12:89
"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita ten-tang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." Maka ketika mereka masuk ke (tem-pat) Yusuf, mereka berkata, "Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah mem-beri balasan kepada orang-orang yang bersedekah." Yusuf berkata, "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu laku-kan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu." Mereka berkata, "Apakah kamu ini be-nar-benar Yusuf.' Yusuf menjawab, 'Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka se-sungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." Mereka berkata, "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Dia (Yusuf) berkata, "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (Yusuf: 87-92).
(87) Maksudnya, Ya'qub berkata kepada anak-anaknya, ﴾ يَٰبَنِيَّ ٱذۡهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ ﴿ "Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya" maksudnya, bersemangat dan bersungguh-sungguhlah dalam mencari mereka berdua ﴾ وَلَا تَاْيۡـَٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ ﴿ "dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah", karena opti-misme akan mendorong seorang hamba kepada usaha dan keteku-nan serius untuk mencapai apa yang diharapkannya. Sedangkan putus asa, hanya akan mengakibatkan perasaan berat dan berma-las-malasan baginya. Pengharapan yang paling utama diinginkan seorang hamba ialah kemurahan dan curahan kebaikan Allah, rah-mat dan kasihNya. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡـَٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir", karena kekafiran mereka, maka mereka menjauhi rahmatNya dari diri me-reka. Dan (memang) rahmat Allah jauh dari mereka. Maka jangan-lah kalian menyerupai orang-orang kafir. Ayat ini menunjukkan bahwa sesuai kadar keimanan seorang hamba (kepada Allah), maka level pengharapannya kepada rahmat Allah dan kasihNya berada (pada kadar itu).
(88) Mereka pun bertolak berangkat. Ketika mereka masuk untuk menjumpai Yusuf, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata", dengan mengiba kepadanya, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهۡلَنَا ٱلضُّرُّ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ وَتَصَدَّقۡ عَلَيۡنَآۖ ﴿ "Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempur-nakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami", maksud-nya, kami dan keluarga telah terhimpit kesulitan ﴾ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ ﴿ "dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga", yaitu pembayaran yang tidak disukai, karena jumlahnya yang sedikit lagi tidak sesuai ﴾ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ ﴿ "maka sempurnakanlah sukatan kami", meskipun barternya tidak sepadan dan bersedekahlah kepada kami melebihi kadar yang semestinya ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَجۡزِي ٱلۡمُتَصَدِّقِينَ ﴿ "sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah", dengan balasan di dunia dan akhirat.
(89) Ketika permasalahan menjadi genting dan mencapai puncaknya, Yusuf betul-betul merasa iba terhadap mereka, dan memperkenalkan dirinya kepada mereka sambil menegur mereka, ﴾ هَلۡ عَلِمۡتُم مَّا فَعَلۡتُم بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ ﴿ "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya", adapun tindakan mereka kepada Yusuf, maka sudah jelas. Sedangkan tentang sauda-ranya, maka boleh jadi (karena) –wallahu a'lam- perkataan mereka, ﴾ إِن يَسۡرِقۡ فَقَدۡ سَرَقَ أَخٞ لَّهُۥ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "Jika dia mencuri, maka sungguh telah pernah mencuri pula sauda-ranya sebelum ini."(Yusuf: 77). Atau, faktor penyebab terpisahnya Bunyamin dari ayahnya dan sumber kejadian itu adalah mereka ﴾ إِذۡ أَنتُمۡ جَٰهِلُونَ ﴿ "ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu", ini semacam bentuk to-leransi bagi mereka yang disebabkan oleh tindakan bodoh mereka, atau merupakan upaya menjelek-jelekkan mereka lantaran melaku-kan perbuatan orang-orang yang bodoh, meskipun perbuatan itu tidak pantas dan tidak layak bagi mereka.
(90) Mereka menyadari bahwa orang yang berbicara dengan mereka adalah Yusuf. Lantas mereka bertanya-tanya, ﴾ أَءِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُۖ قَالَ أَنَا۠ يُوسُفُ وَهَٰذَآ أَخِيۖ قَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَآۖ ﴿ "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf." Yusuf menjawab, "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami", dengan keimanan, ketak-waan, memegang kekuasaan di dunia. Karunia itu disebabkan oleh kesabaran dan ketakwaan. ﴾ إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصۡبِرۡ ﴿ "Sesungguhnya barang-siapa yang bertakwa dan bersabar", yakni menjaga diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan bersabar terhadap hal-hal yang menyakitkan dan musibah-musibah serta bersabar atas perintah-perintah Allah dan dalam menaatinya ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik", ini termasuk sifat perbuatan ihsan, dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang telah berbuat kebaikan.
(91) ﴾ قَالُواْ تَٱللَّهِ لَقَدۡ ءَاثَرَكَ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami'," maksudnya, Allah telah mengutamakanmu daripada kami dengan budi pekerti yang mulia serta perilaku yang baik, padahal kami telah melakukan perbuatan terburuk pada dirimu dan berapi-api untuk melancarkan gangguan kepadamu, dan menjauhkanmu dari ayah. Ternyata Allah تعالى melebihkanmu dan menempatkanmu pada kedudukan yang engkau inginkan [dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa): ini adalah pengakuan yang mendalam dari me-reka atas perbuatan jahat yang berasal dari mereka terhadap Yusuf].
(92) Maka Yusuf عليه السلام menjawab mereka dengan kemuliaan dan kemurahan hatinya, ﴾ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ ﴿ "Pada hari ini tak ada cer-caaan terhadap kamu", maksudnya aku tidak memaki dan tidak pula mencela kalian ﴾ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang", Yusuf memaafkan mereka dengan sepenuhnya tanpa disertai men-diskreditkan mereka dengan menyebutkan kejahatan yang pernah mereka perbuat. Ia memohon ampunan dan rahmat bagi mereka. Ini adalah puncak sifat kebaikan yang tidak akan muncul kecuali dari orang-orang istimewa dan orang-orang terpilih dari kalangan orang-orang pilihan.
Yusuf 12:90
"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita ten-tang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." Maka ketika mereka masuk ke (tem-pat) Yusuf, mereka berkata, "Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah mem-beri balasan kepada orang-orang yang bersedekah." Yusuf berkata, "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu laku-kan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu." Mereka berkata, "Apakah kamu ini be-nar-benar Yusuf.' Yusuf menjawab, 'Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka se-sungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." Mereka berkata, "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Dia (Yusuf) berkata, "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (Yusuf: 87-92).
(87) Maksudnya, Ya'qub berkata kepada anak-anaknya, ﴾ يَٰبَنِيَّ ٱذۡهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ ﴿ "Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya" maksudnya, bersemangat dan bersungguh-sungguhlah dalam mencari mereka berdua ﴾ وَلَا تَاْيۡـَٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ ﴿ "dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah", karena opti-misme akan mendorong seorang hamba kepada usaha dan keteku-nan serius untuk mencapai apa yang diharapkannya. Sedangkan putus asa, hanya akan mengakibatkan perasaan berat dan berma-las-malasan baginya. Pengharapan yang paling utama diinginkan seorang hamba ialah kemurahan dan curahan kebaikan Allah, rah-mat dan kasihNya. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡـَٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir", karena kekafiran mereka, maka mereka menjauhi rahmatNya dari diri me-reka. Dan (memang) rahmat Allah jauh dari mereka. Maka jangan-lah kalian menyerupai orang-orang kafir. Ayat ini menunjukkan bahwa sesuai kadar keimanan seorang hamba (kepada Allah), maka level pengharapannya kepada rahmat Allah dan kasihNya berada (pada kadar itu).
(88) Mereka pun bertolak berangkat. Ketika mereka masuk untuk menjumpai Yusuf, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata", dengan mengiba kepadanya, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهۡلَنَا ٱلضُّرُّ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ وَتَصَدَّقۡ عَلَيۡنَآۖ ﴿ "Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempur-nakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami", maksud-nya, kami dan keluarga telah terhimpit kesulitan ﴾ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ ﴿ "dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga", yaitu pembayaran yang tidak disukai, karena jumlahnya yang sedikit lagi tidak sesuai ﴾ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ ﴿ "maka sempurnakanlah sukatan kami", meskipun barternya tidak sepadan dan bersedekahlah kepada kami melebihi kadar yang semestinya ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَجۡزِي ٱلۡمُتَصَدِّقِينَ ﴿ "sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah", dengan balasan di dunia dan akhirat.
(89) Ketika permasalahan menjadi genting dan mencapai puncaknya, Yusuf betul-betul merasa iba terhadap mereka, dan memperkenalkan dirinya kepada mereka sambil menegur mereka, ﴾ هَلۡ عَلِمۡتُم مَّا فَعَلۡتُم بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ ﴿ "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya", adapun tindakan mereka kepada Yusuf, maka sudah jelas. Sedangkan tentang sauda-ranya, maka boleh jadi (karena) –wallahu a'lam- perkataan mereka, ﴾ إِن يَسۡرِقۡ فَقَدۡ سَرَقَ أَخٞ لَّهُۥ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "Jika dia mencuri, maka sungguh telah pernah mencuri pula sauda-ranya sebelum ini."(Yusuf: 77). Atau, faktor penyebab terpisahnya Bunyamin dari ayahnya dan sumber kejadian itu adalah mereka ﴾ إِذۡ أَنتُمۡ جَٰهِلُونَ ﴿ "ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu", ini semacam bentuk to-leransi bagi mereka yang disebabkan oleh tindakan bodoh mereka, atau merupakan upaya menjelek-jelekkan mereka lantaran melaku-kan perbuatan orang-orang yang bodoh, meskipun perbuatan itu tidak pantas dan tidak layak bagi mereka.
(90) Mereka menyadari bahwa orang yang berbicara dengan mereka adalah Yusuf. Lantas mereka bertanya-tanya, ﴾ أَءِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُۖ قَالَ أَنَا۠ يُوسُفُ وَهَٰذَآ أَخِيۖ قَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَآۖ ﴿ "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf." Yusuf menjawab, "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami", dengan keimanan, ketak-waan, memegang kekuasaan di dunia. Karunia itu disebabkan oleh kesabaran dan ketakwaan. ﴾ إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصۡبِرۡ ﴿ "Sesungguhnya barang-siapa yang bertakwa dan bersabar", yakni menjaga diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan bersabar terhadap hal-hal yang menyakitkan dan musibah-musibah serta bersabar atas perintah-perintah Allah dan dalam menaatinya ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik", ini termasuk sifat perbuatan ihsan, dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang telah berbuat kebaikan.
(91) ﴾ قَالُواْ تَٱللَّهِ لَقَدۡ ءَاثَرَكَ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami'," maksudnya, Allah telah mengutamakanmu daripada kami dengan budi pekerti yang mulia serta perilaku yang baik, padahal kami telah melakukan perbuatan terburuk pada dirimu dan berapi-api untuk melancarkan gangguan kepadamu, dan menjauhkanmu dari ayah. Ternyata Allah تعالى melebihkanmu dan menempatkanmu pada kedudukan yang engkau inginkan [dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa): ini adalah pengakuan yang mendalam dari me-reka atas perbuatan jahat yang berasal dari mereka terhadap Yusuf].
(92) Maka Yusuf عليه السلام menjawab mereka dengan kemuliaan dan kemurahan hatinya, ﴾ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ ﴿ "Pada hari ini tak ada cer-caaan terhadap kamu", maksudnya aku tidak memaki dan tidak pula mencela kalian ﴾ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang", Yusuf memaafkan mereka dengan sepenuhnya tanpa disertai men-diskreditkan mereka dengan menyebutkan kejahatan yang pernah mereka perbuat. Ia memohon ampunan dan rahmat bagi mereka. Ini adalah puncak sifat kebaikan yang tidak akan muncul kecuali dari orang-orang istimewa dan orang-orang terpilih dari kalangan orang-orang pilihan.
Yusuf 12:91
"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita ten-tang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." Maka ketika mereka masuk ke (tem-pat) Yusuf, mereka berkata, "Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah mem-beri balasan kepada orang-orang yang bersedekah." Yusuf berkata, "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu laku-kan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu." Mereka berkata, "Apakah kamu ini be-nar-benar Yusuf.' Yusuf menjawab, 'Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka se-sungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." Mereka berkata, "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Dia (Yusuf) berkata, "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (Yusuf: 87-92).
(87) Maksudnya, Ya'qub berkata kepada anak-anaknya, ﴾ يَٰبَنِيَّ ٱذۡهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ ﴿ "Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya" maksudnya, bersemangat dan bersungguh-sungguhlah dalam mencari mereka berdua ﴾ وَلَا تَاْيۡـَٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ ﴿ "dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah", karena opti-misme akan mendorong seorang hamba kepada usaha dan keteku-nan serius untuk mencapai apa yang diharapkannya. Sedangkan putus asa, hanya akan mengakibatkan perasaan berat dan berma-las-malasan baginya. Pengharapan yang paling utama diinginkan seorang hamba ialah kemurahan dan curahan kebaikan Allah, rah-mat dan kasihNya. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡـَٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir", karena kekafiran mereka, maka mereka menjauhi rahmatNya dari diri me-reka. Dan (memang) rahmat Allah jauh dari mereka. Maka jangan-lah kalian menyerupai orang-orang kafir. Ayat ini menunjukkan bahwa sesuai kadar keimanan seorang hamba (kepada Allah), maka level pengharapannya kepada rahmat Allah dan kasihNya berada (pada kadar itu).
(88) Mereka pun bertolak berangkat. Ketika mereka masuk untuk menjumpai Yusuf, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata", dengan mengiba kepadanya, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهۡلَنَا ٱلضُّرُّ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ وَتَصَدَّقۡ عَلَيۡنَآۖ ﴿ "Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempur-nakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami", maksud-nya, kami dan keluarga telah terhimpit kesulitan ﴾ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ ﴿ "dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga", yaitu pembayaran yang tidak disukai, karena jumlahnya yang sedikit lagi tidak sesuai ﴾ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ ﴿ "maka sempurnakanlah sukatan kami", meskipun barternya tidak sepadan dan bersedekahlah kepada kami melebihi kadar yang semestinya ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَجۡزِي ٱلۡمُتَصَدِّقِينَ ﴿ "sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah", dengan balasan di dunia dan akhirat.
(89) Ketika permasalahan menjadi genting dan mencapai puncaknya, Yusuf betul-betul merasa iba terhadap mereka, dan memperkenalkan dirinya kepada mereka sambil menegur mereka, ﴾ هَلۡ عَلِمۡتُم مَّا فَعَلۡتُم بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ ﴿ "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya", adapun tindakan mereka kepada Yusuf, maka sudah jelas. Sedangkan tentang sauda-ranya, maka boleh jadi (karena) –wallahu a'lam- perkataan mereka, ﴾ إِن يَسۡرِقۡ فَقَدۡ سَرَقَ أَخٞ لَّهُۥ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "Jika dia mencuri, maka sungguh telah pernah mencuri pula sauda-ranya sebelum ini."(Yusuf: 77). Atau, faktor penyebab terpisahnya Bunyamin dari ayahnya dan sumber kejadian itu adalah mereka ﴾ إِذۡ أَنتُمۡ جَٰهِلُونَ ﴿ "ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu", ini semacam bentuk to-leransi bagi mereka yang disebabkan oleh tindakan bodoh mereka, atau merupakan upaya menjelek-jelekkan mereka lantaran melaku-kan perbuatan orang-orang yang bodoh, meskipun perbuatan itu tidak pantas dan tidak layak bagi mereka.
(90) Mereka menyadari bahwa orang yang berbicara dengan mereka adalah Yusuf. Lantas mereka bertanya-tanya, ﴾ أَءِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُۖ قَالَ أَنَا۠ يُوسُفُ وَهَٰذَآ أَخِيۖ قَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَآۖ ﴿ "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf." Yusuf menjawab, "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami", dengan keimanan, ketak-waan, memegang kekuasaan di dunia. Karunia itu disebabkan oleh kesabaran dan ketakwaan. ﴾ إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصۡبِرۡ ﴿ "Sesungguhnya barang-siapa yang bertakwa dan bersabar", yakni menjaga diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan bersabar terhadap hal-hal yang menyakitkan dan musibah-musibah serta bersabar atas perintah-perintah Allah dan dalam menaatinya ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik", ini termasuk sifat perbuatan ihsan, dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang telah berbuat kebaikan.
(91) ﴾ قَالُواْ تَٱللَّهِ لَقَدۡ ءَاثَرَكَ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami'," maksudnya, Allah telah mengutamakanmu daripada kami dengan budi pekerti yang mulia serta perilaku yang baik, padahal kami telah melakukan perbuatan terburuk pada dirimu dan berapi-api untuk melancarkan gangguan kepadamu, dan menjauhkanmu dari ayah. Ternyata Allah تعالى melebihkanmu dan menempatkanmu pada kedudukan yang engkau inginkan [dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa): ini adalah pengakuan yang mendalam dari me-reka atas perbuatan jahat yang berasal dari mereka terhadap Yusuf].
(92) Maka Yusuf عليه السلام menjawab mereka dengan kemuliaan dan kemurahan hatinya, ﴾ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ ﴿ "Pada hari ini tak ada cer-caaan terhadap kamu", maksudnya aku tidak memaki dan tidak pula mencela kalian ﴾ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang", Yusuf memaafkan mereka dengan sepenuhnya tanpa disertai men-diskreditkan mereka dengan menyebutkan kejahatan yang pernah mereka perbuat. Ia memohon ampunan dan rahmat bagi mereka. Ini adalah puncak sifat kebaikan yang tidak akan muncul kecuali dari orang-orang istimewa dan orang-orang terpilih dari kalangan orang-orang pilihan.
Yusuf 12:92
"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita ten-tang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." Maka ketika mereka masuk ke (tem-pat) Yusuf, mereka berkata, "Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah mem-beri balasan kepada orang-orang yang bersedekah." Yusuf berkata, "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu laku-kan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu." Mereka berkata, "Apakah kamu ini be-nar-benar Yusuf.' Yusuf menjawab, 'Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka se-sungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." Mereka berkata, "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Dia (Yusuf) berkata, "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (Yusuf: 87-92).
(87) Maksudnya, Ya'qub berkata kepada anak-anaknya, ﴾ يَٰبَنِيَّ ٱذۡهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ ﴿ "Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya" maksudnya, bersemangat dan bersungguh-sungguhlah dalam mencari mereka berdua ﴾ وَلَا تَاْيۡـَٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ ﴿ "dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah", karena opti-misme akan mendorong seorang hamba kepada usaha dan keteku-nan serius untuk mencapai apa yang diharapkannya. Sedangkan putus asa, hanya akan mengakibatkan perasaan berat dan berma-las-malasan baginya. Pengharapan yang paling utama diinginkan seorang hamba ialah kemurahan dan curahan kebaikan Allah, rah-mat dan kasihNya. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡـَٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir", karena kekafiran mereka, maka mereka menjauhi rahmatNya dari diri me-reka. Dan (memang) rahmat Allah jauh dari mereka. Maka jangan-lah kalian menyerupai orang-orang kafir. Ayat ini menunjukkan bahwa sesuai kadar keimanan seorang hamba (kepada Allah), maka level pengharapannya kepada rahmat Allah dan kasihNya berada (pada kadar itu).
(88) Mereka pun bertolak berangkat. Ketika mereka masuk untuk menjumpai Yusuf, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata", dengan mengiba kepadanya, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهۡلَنَا ٱلضُّرُّ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ وَتَصَدَّقۡ عَلَيۡنَآۖ ﴿ "Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempur-nakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami", maksud-nya, kami dan keluarga telah terhimpit kesulitan ﴾ وَجِئۡنَا بِبِضَٰعَةٖ مُّزۡجَىٰةٖ ﴿ "dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga", yaitu pembayaran yang tidak disukai, karena jumlahnya yang sedikit lagi tidak sesuai ﴾ فَأَوۡفِ لَنَا ٱلۡكَيۡلَ ﴿ "maka sempurnakanlah sukatan kami", meskipun barternya tidak sepadan dan bersedekahlah kepada kami melebihi kadar yang semestinya ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَجۡزِي ٱلۡمُتَصَدِّقِينَ ﴿ "sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah", dengan balasan di dunia dan akhirat.
(89) Ketika permasalahan menjadi genting dan mencapai puncaknya, Yusuf betul-betul merasa iba terhadap mereka, dan memperkenalkan dirinya kepada mereka sambil menegur mereka, ﴾ هَلۡ عَلِمۡتُم مَّا فَعَلۡتُم بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ ﴿ "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya", adapun tindakan mereka kepada Yusuf, maka sudah jelas. Sedangkan tentang sauda-ranya, maka boleh jadi (karena) –wallahu a'lam- perkataan mereka, ﴾ إِن يَسۡرِقۡ فَقَدۡ سَرَقَ أَخٞ لَّهُۥ مِن قَبۡلُۚ ﴿ "Jika dia mencuri, maka sungguh telah pernah mencuri pula sauda-ranya sebelum ini."(Yusuf: 77). Atau, faktor penyebab terpisahnya Bunyamin dari ayahnya dan sumber kejadian itu adalah mereka ﴾ إِذۡ أَنتُمۡ جَٰهِلُونَ ﴿ "ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu", ini semacam bentuk to-leransi bagi mereka yang disebabkan oleh tindakan bodoh mereka, atau merupakan upaya menjelek-jelekkan mereka lantaran melaku-kan perbuatan orang-orang yang bodoh, meskipun perbuatan itu tidak pantas dan tidak layak bagi mereka.
(90) Mereka menyadari bahwa orang yang berbicara dengan mereka adalah Yusuf. Lantas mereka bertanya-tanya, ﴾ أَءِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُۖ قَالَ أَنَا۠ يُوسُفُ وَهَٰذَآ أَخِيۖ قَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَآۖ ﴿ "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf." Yusuf menjawab, "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami", dengan keimanan, ketak-waan, memegang kekuasaan di dunia. Karunia itu disebabkan oleh kesabaran dan ketakwaan. ﴾ إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصۡبِرۡ ﴿ "Sesungguhnya barang-siapa yang bertakwa dan bersabar", yakni menjaga diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan bersabar terhadap hal-hal yang menyakitkan dan musibah-musibah serta bersabar atas perintah-perintah Allah dan dalam menaatinya ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik", ini termasuk sifat perbuatan ihsan, dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang telah berbuat kebaikan.
(91) ﴾ قَالُواْ تَٱللَّهِ لَقَدۡ ءَاثَرَكَ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami'," maksudnya, Allah telah mengutamakanmu daripada kami dengan budi pekerti yang mulia serta perilaku yang baik, padahal kami telah melakukan perbuatan terburuk pada dirimu dan berapi-api untuk melancarkan gangguan kepadamu, dan menjauhkanmu dari ayah. Ternyata Allah تعالى melebihkanmu dan menempatkanmu pada kedudukan yang engkau inginkan [dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa): ini adalah pengakuan yang mendalam dari me-reka atas perbuatan jahat yang berasal dari mereka terhadap Yusuf].
(92) Maka Yusuf عليه السلام menjawab mereka dengan kemuliaan dan kemurahan hatinya, ﴾ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ ﴿ "Pada hari ini tak ada cer-caaan terhadap kamu", maksudnya aku tidak memaki dan tidak pula mencela kalian ﴾ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang", Yusuf memaafkan mereka dengan sepenuhnya tanpa disertai men-diskreditkan mereka dengan menyebutkan kejahatan yang pernah mereka perbuat. Ia memohon ampunan dan rahmat bagi mereka. Ini adalah puncak sifat kebaikan yang tidak akan muncul kecuali dari orang-orang istimewa dan orang-orang terpilih dari kalangan orang-orang pilihan.
Yusuf 12:93
"Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letak-kanlah ia ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku." Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) maka berkatalah ayah mereka, "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)." Keluar-ganya berkata, "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam ke-keliruanmu yang dahulu." Tatkala telah tiba pembawa kabar gem-bira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Ya'qub berkata, "Tidakkah aku ka-takan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya." Mereka berkata, "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesung-guhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang." (Yusuf: 93-98).
(93) Yusuf berkata kepada para saudaranya, ﴾ ٱذۡهَبُواْ بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلۡقُوهُ عَلَىٰ وَجۡهِ أَبِي يَأۡتِ بَصِيرٗا ﴿ "Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah ia ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali", karena setiap penyakit dapat disembuhkan dengan penangkalnya. Baju ini –karena di dalamnya terdapat aroma (tubuh) Yusuf yang mana dia telah memasukkan kesedihan dan kerinduan pada hati ayahnya yang mana hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui- maka Yusuf ingin agar ayahnya mencium aromanya, hingga semangat kembali dan jiwanya pun tergugah serta penglihatannya menjadi normal. Bagi Allah ada sejumlah hikmah dan rahasia ilahi dalam kejadian ini yang tidak dapat dideteksi oleh manusia. Sementara Yusuf sanggup mengetahuinya dari kejadian tersebut.﴾ وَأۡتُونِي بِأَهۡلِكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku", anak-anak kalian, keluarga kalian serta orang-orang yang ikut dengan kalian, agar terwujud pertemuan yang menyeluruh serta lenyap dari kalian kesulitan hidup dan kesempitan rizki.
(94) ﴾ وَلَمَّا فَصَلَتِ ٱلۡعِيرُ ﴿ "Tatkala kafilah itu telah keluar", dari negeri Mesir mengarah ke negeri Palestina, Ya'qub telah mencium aroma baju Yusuf. Beliau berkata, ﴾ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَۖ لَوۡلَآ أَن تُفَنِّدُونِ ﴿ "Sesungguh-nya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)", maksudnya mengolok-olok diriku dan kalian mengklaim bahwa ucapan ini muncul dari diriku tanpa kesadaran. Karena beliau melihat mereka begitu terheran-heran de-ngan kondisinya hingga menyebabkan munculnya perkataan itu.
(95) Maka terjadilah apa yang beliau perkirakan pada me-reka, lalu keluarganya berkata, ﴾ تَٱللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَٰلِكَ ٱلۡقَدِيمِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu", maksud-nya engkau masih saja bingung di laut yang bergelombang, tidak sadar apa yang engkau ucapkan.
(96) ﴾ فَلَمَّآ أَن جَآءَ ٱلۡبَشِيرُ ﴿ "Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu", dekat dengan waktu berkumpulnya Yusuf, saudara-saudara dan ayah mereka ﴾ أَلۡقَىٰهُ ﴿ "maka ia meletakkannya", baju gamis itu ﴾ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ فَٱرۡتَدَّ بَصِيرٗاۖ ﴿ "ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat", maksudnya beliau kembali ke keadaan semula, dapat melihat dengan matanya, setelah dua bola mata beliau memutih karena kesedihan (yang mendalam). Beliau berkata kepada orang-orang yang hadir, dari kalangan anak-anak dan keluarganya yang tadi menuduh be-liau lemah akal, mereka pun tercengang oleh kejadian tersebut dan beliau menang atas mereka sambil mengulang-ulang penyebutan nikmat Allah pada beliau, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya." Sebelumnya aku benar-benar berharap bisa berjumpa dengan Yusuf, menunggu-nunggu(nya) agar kegun-dahan, kegelisahan, dan kesedihanku hilang.
(97) Mereka mengakui kesalahan mereka dan sadar dengan itu. ﴾ قَالُواْ يَٰٓأَبَانَا ٱسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَآ إِنَّا كُنَّا خَٰطِـِٔينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)'," atas perlakuan kami kepadamu.
(98) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "Ya'qub berkata" untuk menyambut permin-taan mereka lagi bersegera meresponnya,﴾ سَوۡفَ أَسۡتَغۡفِرُ لَكُمۡ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", harapanku kepadaNya, adalah agar Dia mengampuni kalian dan mencurahkan rahmat kepada kalian serta menaungi kalian dengan rahmatNya. Ada yang mengatakan, bahwa beliau menunda per-mohonan ampunan bagi mereka sampai waktu sahur yang utama, supaya lebih sempurna untuk memohonkan ampunan dan lebih dekat untuk dikabulkan.
Yusuf 12:94
"Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letak-kanlah ia ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku." Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) maka berkatalah ayah mereka, "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)." Keluar-ganya berkata, "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam ke-keliruanmu yang dahulu." Tatkala telah tiba pembawa kabar gem-bira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Ya'qub berkata, "Tidakkah aku ka-takan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya." Mereka berkata, "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesung-guhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang." (Yusuf: 93-98).
(93) Yusuf berkata kepada para saudaranya, ﴾ ٱذۡهَبُواْ بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلۡقُوهُ عَلَىٰ وَجۡهِ أَبِي يَأۡتِ بَصِيرٗا ﴿ "Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah ia ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali", karena setiap penyakit dapat disembuhkan dengan penangkalnya. Baju ini –karena di dalamnya terdapat aroma (tubuh) Yusuf yang mana dia telah memasukkan kesedihan dan kerinduan pada hati ayahnya yang mana hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui- maka Yusuf ingin agar ayahnya mencium aromanya, hingga semangat kembali dan jiwanya pun tergugah serta penglihatannya menjadi normal. Bagi Allah ada sejumlah hikmah dan rahasia ilahi dalam kejadian ini yang tidak dapat dideteksi oleh manusia. Sementara Yusuf sanggup mengetahuinya dari kejadian tersebut.﴾ وَأۡتُونِي بِأَهۡلِكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku", anak-anak kalian, keluarga kalian serta orang-orang yang ikut dengan kalian, agar terwujud pertemuan yang menyeluruh serta lenyap dari kalian kesulitan hidup dan kesempitan rizki.
(94) ﴾ وَلَمَّا فَصَلَتِ ٱلۡعِيرُ ﴿ "Tatkala kafilah itu telah keluar", dari negeri Mesir mengarah ke negeri Palestina, Ya'qub telah mencium aroma baju Yusuf. Beliau berkata, ﴾ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَۖ لَوۡلَآ أَن تُفَنِّدُونِ ﴿ "Sesungguh-nya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)", maksudnya mengolok-olok diriku dan kalian mengklaim bahwa ucapan ini muncul dari diriku tanpa kesadaran. Karena beliau melihat mereka begitu terheran-heran de-ngan kondisinya hingga menyebabkan munculnya perkataan itu.
(95) Maka terjadilah apa yang beliau perkirakan pada me-reka, lalu keluarganya berkata, ﴾ تَٱللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَٰلِكَ ٱلۡقَدِيمِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu", maksud-nya engkau masih saja bingung di laut yang bergelombang, tidak sadar apa yang engkau ucapkan.
(96) ﴾ فَلَمَّآ أَن جَآءَ ٱلۡبَشِيرُ ﴿ "Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu", dekat dengan waktu berkumpulnya Yusuf, saudara-saudara dan ayah mereka ﴾ أَلۡقَىٰهُ ﴿ "maka ia meletakkannya", baju gamis itu ﴾ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ فَٱرۡتَدَّ بَصِيرٗاۖ ﴿ "ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat", maksudnya beliau kembali ke keadaan semula, dapat melihat dengan matanya, setelah dua bola mata beliau memutih karena kesedihan (yang mendalam). Beliau berkata kepada orang-orang yang hadir, dari kalangan anak-anak dan keluarganya yang tadi menuduh be-liau lemah akal, mereka pun tercengang oleh kejadian tersebut dan beliau menang atas mereka sambil mengulang-ulang penyebutan nikmat Allah pada beliau, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya." Sebelumnya aku benar-benar berharap bisa berjumpa dengan Yusuf, menunggu-nunggu(nya) agar kegun-dahan, kegelisahan, dan kesedihanku hilang.
(97) Mereka mengakui kesalahan mereka dan sadar dengan itu. ﴾ قَالُواْ يَٰٓأَبَانَا ٱسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَآ إِنَّا كُنَّا خَٰطِـِٔينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)'," atas perlakuan kami kepadamu.
(98) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "Ya'qub berkata" untuk menyambut permin-taan mereka lagi bersegera meresponnya,﴾ سَوۡفَ أَسۡتَغۡفِرُ لَكُمۡ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", harapanku kepadaNya, adalah agar Dia mengampuni kalian dan mencurahkan rahmat kepada kalian serta menaungi kalian dengan rahmatNya. Ada yang mengatakan, bahwa beliau menunda per-mohonan ampunan bagi mereka sampai waktu sahur yang utama, supaya lebih sempurna untuk memohonkan ampunan dan lebih dekat untuk dikabulkan.
Yusuf 12:95
"Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letak-kanlah ia ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku." Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) maka berkatalah ayah mereka, "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)." Keluar-ganya berkata, "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam ke-keliruanmu yang dahulu." Tatkala telah tiba pembawa kabar gem-bira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Ya'qub berkata, "Tidakkah aku ka-takan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya." Mereka berkata, "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesung-guhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang." (Yusuf: 93-98).
(93) Yusuf berkata kepada para saudaranya, ﴾ ٱذۡهَبُواْ بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلۡقُوهُ عَلَىٰ وَجۡهِ أَبِي يَأۡتِ بَصِيرٗا ﴿ "Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah ia ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali", karena setiap penyakit dapat disembuhkan dengan penangkalnya. Baju ini –karena di dalamnya terdapat aroma (tubuh) Yusuf yang mana dia telah memasukkan kesedihan dan kerinduan pada hati ayahnya yang mana hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui- maka Yusuf ingin agar ayahnya mencium aromanya, hingga semangat kembali dan jiwanya pun tergugah serta penglihatannya menjadi normal. Bagi Allah ada sejumlah hikmah dan rahasia ilahi dalam kejadian ini yang tidak dapat dideteksi oleh manusia. Sementara Yusuf sanggup mengetahuinya dari kejadian tersebut.﴾ وَأۡتُونِي بِأَهۡلِكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku", anak-anak kalian, keluarga kalian serta orang-orang yang ikut dengan kalian, agar terwujud pertemuan yang menyeluruh serta lenyap dari kalian kesulitan hidup dan kesempitan rizki.
(94) ﴾ وَلَمَّا فَصَلَتِ ٱلۡعِيرُ ﴿ "Tatkala kafilah itu telah keluar", dari negeri Mesir mengarah ke negeri Palestina, Ya'qub telah mencium aroma baju Yusuf. Beliau berkata, ﴾ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَۖ لَوۡلَآ أَن تُفَنِّدُونِ ﴿ "Sesungguh-nya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)", maksudnya mengolok-olok diriku dan kalian mengklaim bahwa ucapan ini muncul dari diriku tanpa kesadaran. Karena beliau melihat mereka begitu terheran-heran de-ngan kondisinya hingga menyebabkan munculnya perkataan itu.
(95) Maka terjadilah apa yang beliau perkirakan pada me-reka, lalu keluarganya berkata, ﴾ تَٱللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَٰلِكَ ٱلۡقَدِيمِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu", maksud-nya engkau masih saja bingung di laut yang bergelombang, tidak sadar apa yang engkau ucapkan.
(96) ﴾ فَلَمَّآ أَن جَآءَ ٱلۡبَشِيرُ ﴿ "Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu", dekat dengan waktu berkumpulnya Yusuf, saudara-saudara dan ayah mereka ﴾ أَلۡقَىٰهُ ﴿ "maka ia meletakkannya", baju gamis itu ﴾ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ فَٱرۡتَدَّ بَصِيرٗاۖ ﴿ "ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat", maksudnya beliau kembali ke keadaan semula, dapat melihat dengan matanya, setelah dua bola mata beliau memutih karena kesedihan (yang mendalam). Beliau berkata kepada orang-orang yang hadir, dari kalangan anak-anak dan keluarganya yang tadi menuduh be-liau lemah akal, mereka pun tercengang oleh kejadian tersebut dan beliau menang atas mereka sambil mengulang-ulang penyebutan nikmat Allah pada beliau, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya." Sebelumnya aku benar-benar berharap bisa berjumpa dengan Yusuf, menunggu-nunggu(nya) agar kegun-dahan, kegelisahan, dan kesedihanku hilang.
(97) Mereka mengakui kesalahan mereka dan sadar dengan itu. ﴾ قَالُواْ يَٰٓأَبَانَا ٱسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَآ إِنَّا كُنَّا خَٰطِـِٔينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)'," atas perlakuan kami kepadamu.
(98) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "Ya'qub berkata" untuk menyambut permin-taan mereka lagi bersegera meresponnya,﴾ سَوۡفَ أَسۡتَغۡفِرُ لَكُمۡ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", harapanku kepadaNya, adalah agar Dia mengampuni kalian dan mencurahkan rahmat kepada kalian serta menaungi kalian dengan rahmatNya. Ada yang mengatakan, bahwa beliau menunda per-mohonan ampunan bagi mereka sampai waktu sahur yang utama, supaya lebih sempurna untuk memohonkan ampunan dan lebih dekat untuk dikabulkan.
Yusuf 12:96
"Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letak-kanlah ia ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku." Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) maka berkatalah ayah mereka, "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)." Keluar-ganya berkata, "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam ke-keliruanmu yang dahulu." Tatkala telah tiba pembawa kabar gem-bira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Ya'qub berkata, "Tidakkah aku ka-takan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya." Mereka berkata, "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesung-guhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang." (Yusuf: 93-98).
(93) Yusuf berkata kepada para saudaranya, ﴾ ٱذۡهَبُواْ بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلۡقُوهُ عَلَىٰ وَجۡهِ أَبِي يَأۡتِ بَصِيرٗا ﴿ "Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah ia ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali", karena setiap penyakit dapat disembuhkan dengan penangkalnya. Baju ini –karena di dalamnya terdapat aroma (tubuh) Yusuf yang mana dia telah memasukkan kesedihan dan kerinduan pada hati ayahnya yang mana hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui- maka Yusuf ingin agar ayahnya mencium aromanya, hingga semangat kembali dan jiwanya pun tergugah serta penglihatannya menjadi normal. Bagi Allah ada sejumlah hikmah dan rahasia ilahi dalam kejadian ini yang tidak dapat dideteksi oleh manusia. Sementara Yusuf sanggup mengetahuinya dari kejadian tersebut.﴾ وَأۡتُونِي بِأَهۡلِكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku", anak-anak kalian, keluarga kalian serta orang-orang yang ikut dengan kalian, agar terwujud pertemuan yang menyeluruh serta lenyap dari kalian kesulitan hidup dan kesempitan rizki.
(94) ﴾ وَلَمَّا فَصَلَتِ ٱلۡعِيرُ ﴿ "Tatkala kafilah itu telah keluar", dari negeri Mesir mengarah ke negeri Palestina, Ya'qub telah mencium aroma baju Yusuf. Beliau berkata, ﴾ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَۖ لَوۡلَآ أَن تُفَنِّدُونِ ﴿ "Sesungguh-nya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)", maksudnya mengolok-olok diriku dan kalian mengklaim bahwa ucapan ini muncul dari diriku tanpa kesadaran. Karena beliau melihat mereka begitu terheran-heran de-ngan kondisinya hingga menyebabkan munculnya perkataan itu.
(95) Maka terjadilah apa yang beliau perkirakan pada me-reka, lalu keluarganya berkata, ﴾ تَٱللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَٰلِكَ ٱلۡقَدِيمِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu", maksud-nya engkau masih saja bingung di laut yang bergelombang, tidak sadar apa yang engkau ucapkan.
(96) ﴾ فَلَمَّآ أَن جَآءَ ٱلۡبَشِيرُ ﴿ "Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu", dekat dengan waktu berkumpulnya Yusuf, saudara-saudara dan ayah mereka ﴾ أَلۡقَىٰهُ ﴿ "maka ia meletakkannya", baju gamis itu ﴾ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ فَٱرۡتَدَّ بَصِيرٗاۖ ﴿ "ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat", maksudnya beliau kembali ke keadaan semula, dapat melihat dengan matanya, setelah dua bola mata beliau memutih karena kesedihan (yang mendalam). Beliau berkata kepada orang-orang yang hadir, dari kalangan anak-anak dan keluarganya yang tadi menuduh be-liau lemah akal, mereka pun tercengang oleh kejadian tersebut dan beliau menang atas mereka sambil mengulang-ulang penyebutan nikmat Allah pada beliau, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya." Sebelumnya aku benar-benar berharap bisa berjumpa dengan Yusuf, menunggu-nunggu(nya) agar kegun-dahan, kegelisahan, dan kesedihanku hilang.
(97) Mereka mengakui kesalahan mereka dan sadar dengan itu. ﴾ قَالُواْ يَٰٓأَبَانَا ٱسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَآ إِنَّا كُنَّا خَٰطِـِٔينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)'," atas perlakuan kami kepadamu.
(98) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "Ya'qub berkata" untuk menyambut permin-taan mereka lagi bersegera meresponnya,﴾ سَوۡفَ أَسۡتَغۡفِرُ لَكُمۡ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", harapanku kepadaNya, adalah agar Dia mengampuni kalian dan mencurahkan rahmat kepada kalian serta menaungi kalian dengan rahmatNya. Ada yang mengatakan, bahwa beliau menunda per-mohonan ampunan bagi mereka sampai waktu sahur yang utama, supaya lebih sempurna untuk memohonkan ampunan dan lebih dekat untuk dikabulkan.
Yusuf 12:97
"Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letak-kanlah ia ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku." Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) maka berkatalah ayah mereka, "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)." Keluar-ganya berkata, "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam ke-keliruanmu yang dahulu." Tatkala telah tiba pembawa kabar gem-bira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Ya'qub berkata, "Tidakkah aku ka-takan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya." Mereka berkata, "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesung-guhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang." (Yusuf: 93-98).
(93) Yusuf berkata kepada para saudaranya, ﴾ ٱذۡهَبُواْ بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلۡقُوهُ عَلَىٰ وَجۡهِ أَبِي يَأۡتِ بَصِيرٗا ﴿ "Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah ia ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali", karena setiap penyakit dapat disembuhkan dengan penangkalnya. Baju ini –karena di dalamnya terdapat aroma (tubuh) Yusuf yang mana dia telah memasukkan kesedihan dan kerinduan pada hati ayahnya yang mana hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui- maka Yusuf ingin agar ayahnya mencium aromanya, hingga semangat kembali dan jiwanya pun tergugah serta penglihatannya menjadi normal. Bagi Allah ada sejumlah hikmah dan rahasia ilahi dalam kejadian ini yang tidak dapat dideteksi oleh manusia. Sementara Yusuf sanggup mengetahuinya dari kejadian tersebut.﴾ وَأۡتُونِي بِأَهۡلِكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku", anak-anak kalian, keluarga kalian serta orang-orang yang ikut dengan kalian, agar terwujud pertemuan yang menyeluruh serta lenyap dari kalian kesulitan hidup dan kesempitan rizki.
(94) ﴾ وَلَمَّا فَصَلَتِ ٱلۡعِيرُ ﴿ "Tatkala kafilah itu telah keluar", dari negeri Mesir mengarah ke negeri Palestina, Ya'qub telah mencium aroma baju Yusuf. Beliau berkata, ﴾ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَۖ لَوۡلَآ أَن تُفَنِّدُونِ ﴿ "Sesungguh-nya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)", maksudnya mengolok-olok diriku dan kalian mengklaim bahwa ucapan ini muncul dari diriku tanpa kesadaran. Karena beliau melihat mereka begitu terheran-heran de-ngan kondisinya hingga menyebabkan munculnya perkataan itu.
(95) Maka terjadilah apa yang beliau perkirakan pada me-reka, lalu keluarganya berkata, ﴾ تَٱللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَٰلِكَ ٱلۡقَدِيمِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu", maksud-nya engkau masih saja bingung di laut yang bergelombang, tidak sadar apa yang engkau ucapkan.
(96) ﴾ فَلَمَّآ أَن جَآءَ ٱلۡبَشِيرُ ﴿ "Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu", dekat dengan waktu berkumpulnya Yusuf, saudara-saudara dan ayah mereka ﴾ أَلۡقَىٰهُ ﴿ "maka ia meletakkannya", baju gamis itu ﴾ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ فَٱرۡتَدَّ بَصِيرٗاۖ ﴿ "ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat", maksudnya beliau kembali ke keadaan semula, dapat melihat dengan matanya, setelah dua bola mata beliau memutih karena kesedihan (yang mendalam). Beliau berkata kepada orang-orang yang hadir, dari kalangan anak-anak dan keluarganya yang tadi menuduh be-liau lemah akal, mereka pun tercengang oleh kejadian tersebut dan beliau menang atas mereka sambil mengulang-ulang penyebutan nikmat Allah pada beliau, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya." Sebelumnya aku benar-benar berharap bisa berjumpa dengan Yusuf, menunggu-nunggu(nya) agar kegun-dahan, kegelisahan, dan kesedihanku hilang.
(97) Mereka mengakui kesalahan mereka dan sadar dengan itu. ﴾ قَالُواْ يَٰٓأَبَانَا ٱسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَآ إِنَّا كُنَّا خَٰطِـِٔينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)'," atas perlakuan kami kepadamu.
(98) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "Ya'qub berkata" untuk menyambut permin-taan mereka lagi bersegera meresponnya,﴾ سَوۡفَ أَسۡتَغۡفِرُ لَكُمۡ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", harapanku kepadaNya, adalah agar Dia mengampuni kalian dan mencurahkan rahmat kepada kalian serta menaungi kalian dengan rahmatNya. Ada yang mengatakan, bahwa beliau menunda per-mohonan ampunan bagi mereka sampai waktu sahur yang utama, supaya lebih sempurna untuk memohonkan ampunan dan lebih dekat untuk dikabulkan.
Yusuf 12:98
"Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letak-kanlah ia ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku." Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) maka berkatalah ayah mereka, "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)." Keluar-ganya berkata, "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam ke-keliruanmu yang dahulu." Tatkala telah tiba pembawa kabar gem-bira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Ya'qub berkata, "Tidakkah aku ka-takan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya." Mereka berkata, "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesung-guhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang." (Yusuf: 93-98).
(93) Yusuf berkata kepada para saudaranya, ﴾ ٱذۡهَبُواْ بِقَمِيصِي هَٰذَا فَأَلۡقُوهُ عَلَىٰ وَجۡهِ أَبِي يَأۡتِ بَصِيرٗا ﴿ "Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah ia ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali", karena setiap penyakit dapat disembuhkan dengan penangkalnya. Baju ini –karena di dalamnya terdapat aroma (tubuh) Yusuf yang mana dia telah memasukkan kesedihan dan kerinduan pada hati ayahnya yang mana hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui- maka Yusuf ingin agar ayahnya mencium aromanya, hingga semangat kembali dan jiwanya pun tergugah serta penglihatannya menjadi normal. Bagi Allah ada sejumlah hikmah dan rahasia ilahi dalam kejadian ini yang tidak dapat dideteksi oleh manusia. Sementara Yusuf sanggup mengetahuinya dari kejadian tersebut.﴾ وَأۡتُونِي بِأَهۡلِكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku", anak-anak kalian, keluarga kalian serta orang-orang yang ikut dengan kalian, agar terwujud pertemuan yang menyeluruh serta lenyap dari kalian kesulitan hidup dan kesempitan rizki.
(94) ﴾ وَلَمَّا فَصَلَتِ ٱلۡعِيرُ ﴿ "Tatkala kafilah itu telah keluar", dari negeri Mesir mengarah ke negeri Palestina, Ya'qub telah mencium aroma baju Yusuf. Beliau berkata, ﴾ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَۖ لَوۡلَآ أَن تُفَنِّدُونِ ﴿ "Sesungguh-nya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)", maksudnya mengolok-olok diriku dan kalian mengklaim bahwa ucapan ini muncul dari diriku tanpa kesadaran. Karena beliau melihat mereka begitu terheran-heran de-ngan kondisinya hingga menyebabkan munculnya perkataan itu.
(95) Maka terjadilah apa yang beliau perkirakan pada me-reka, lalu keluarganya berkata, ﴾ تَٱللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَٰلِكَ ٱلۡقَدِيمِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu", maksud-nya engkau masih saja bingung di laut yang bergelombang, tidak sadar apa yang engkau ucapkan.
(96) ﴾ فَلَمَّآ أَن جَآءَ ٱلۡبَشِيرُ ﴿ "Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu", dekat dengan waktu berkumpulnya Yusuf, saudara-saudara dan ayah mereka ﴾ أَلۡقَىٰهُ ﴿ "maka ia meletakkannya", baju gamis itu ﴾ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ فَٱرۡتَدَّ بَصِيرٗاۖ ﴿ "ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat", maksudnya beliau kembali ke keadaan semula, dapat melihat dengan matanya, setelah dua bola mata beliau memutih karena kesedihan (yang mendalam). Beliau berkata kepada orang-orang yang hadir, dari kalangan anak-anak dan keluarganya yang tadi menuduh be-liau lemah akal, mereka pun tercengang oleh kejadian tersebut dan beliau menang atas mereka sambil mengulang-ulang penyebutan nikmat Allah pada beliau, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya." Sebelumnya aku benar-benar berharap bisa berjumpa dengan Yusuf, menunggu-nunggu(nya) agar kegun-dahan, kegelisahan, dan kesedihanku hilang.
(97) Mereka mengakui kesalahan mereka dan sadar dengan itu. ﴾ قَالُواْ يَٰٓأَبَانَا ٱسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَآ إِنَّا كُنَّا خَٰطِـِٔينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)'," atas perlakuan kami kepadamu.
(98) Maka ﴾ قَالَ ﴿ "Ya'qub berkata" untuk menyambut permin-taan mereka lagi bersegera meresponnya,﴾ سَوۡفَ أَسۡتَغۡفِرُ لَكُمۡ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", harapanku kepadaNya, adalah agar Dia mengampuni kalian dan mencurahkan rahmat kepada kalian serta menaungi kalian dengan rahmatNya. Ada yang mengatakan, bahwa beliau menunda per-mohonan ampunan bagi mereka sampai waktu sahur yang utama, supaya lebih sempurna untuk memohonkan ampunan dan lebih dekat untuk dikabulkan.
Yusuf 12:99
"Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf me-rangkul ibu bapaknya, dan dia berkata, 'Masuklah kamu sekalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.' Dan dia me-naikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (se-muanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan Yusuf berkata, 'Wahai ayahku, inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Rabbku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskanku dari rumah penjara dan ketika (Dia) membawamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Rabbku Maha-lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana'." (Yusuf: 99-100).
(99) ﴾ فَلَمَّا ﴿ "Maka tatkala", Ya'qub, anak-anak beliau dan ke-luarga mereka telah berangkat meninggalkan negeri mereka menuju ke tempat Yusuf di Mesir dan pemukimannya, dan ketika mereka telah sampai ﴾ دَخَلُواْ عَلَىٰ يُوسُفَ ءَاوَىٰٓ إِلَيۡهِ أَبَوَيۡهِ ﴿ "mereka masuk ke (tempat) Yusuf. Yusuf merangkul ibu bapaknya", mendekatkan mereka berdua kepada dirinya dan mengistimewakan mereka dengan mendekatkannya, serta memperlihatkan kebaktian, kebaikan, penghormatan, dan pengagungan yang besar kepada kedua orang tuanya ﴾ وَقَالَ ﴿ "dan dia berkata", kepada seluruh anggota keluarganya, ﴾ ٱدۡخُلُواْ مِصۡرَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ ءَامِنِينَ ﴿ "Masuklah kamu sekalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman", dari segala yang dibenci dan menakutkan. Mereka masuk dalam suasana yang menyenangkan. Kelelahan dan kesusah-an penghidupan mereka pun pupus, dan terwujudlah kebahagiaan dan keceriaan.
(100) ﴾ وَرَفَعَ أَبَوَيۡهِ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "Dan dia menaikkan kedua ibu bapak-nya ke atas singgasana", di atas tahta raja dan tempat duduk al-Aziz ﴾ وَخَرُّواْ لَهُۥ سُجَّدٗاۖ ﴿ "dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud ke-pada Yusuf", maksudnya ayah dan ibunya, serta para saudaranya bersujud kepada Yusuf dalam rangka mengagungkan, menghor-mati, dan memuliakan Yusuf. ﴾ وَقَالَ ﴿ "Dan berkatalah Yusuf", ketika menyaksikan pemandangan ini dan melihat sujud mereka kepada dirinya, ﴾ يَٰٓأَبَتِ هَٰذَا تَأۡوِيلُ رُءۡيَٰيَ مِن قَبۡلُ ﴿ "Wahai ayahku, inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu", saat bermimpi melihat sebelas bintang beserta matahari dan bulan bersujud kepadanya. Inilah kejadian nyata dari mimpinya yang kembali kepada dirinya sendiri dan sampai ke-padanya. ﴾ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّي حَقّٗاۖ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan", Allah tidak menjadikannya hanya mimpi-mimpi kosong semata, ﴾ وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِيٓ ﴿ "dan sesungguhnya Rabbku telah berbuat baik kepadaku", dengan kebaikan yang sangat besar ﴾ إِذۡ أَخۡرَجَنِي مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَآءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ ﴿ "ketika Dia membebaskanku dari rumah penjara dan ketika Dia membawamu dari dusun padang pasir", ini termasuk cerminan sikap lembut dan keelokan gayanya عليه السلام dalam berbicara, di mana dia hanya menyebutkan kisah saat di penjara, tanpa menyinggung kondisi saat berada di dasar sumur, karena ketulusan maafnya bagi para saudaranya, dia tidak menyinggung kesalahan itu. Dan keda-tangan kalian dari dusun termasuk karena kebaikan Allah kepada diriku. Dia tidak berkata, "Dia membawa kalian dari kondisi kela-paran dan kesulitan", juga tidak mengatakan, "Dia telah berbuat baik kepada kalian semua", akan tetapi mengatakan, "Dia telah mencurahkan kebaikan kepadaku", akan tetapi Yusuf menjadikan kebaikan Allah kembali kepadanya. Mahaberkah Allah, Dzat yang telah mengistimewakan (dengan curahan rahmatNya) kepada orang yang Dia kehendaki dari kalangan para hambaNya dan memberi rahmat kepada mereka dari sisiNya, sesungguhnya Dia Dzat Yang Maha Memberi, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بَيۡنِي وَبَيۡنَ إِخۡوَتِيٓۚ ﴿ "setelah setan meru-sakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku", dia pun tidak mengatakan, "Setelah setan merusak saudara-saudaraku," akan tetapi menganggap seakan-akan keteledoran dan dosa berasal dari kedua pihak. Maka segala puji bagi Allah yang telah menghinakan setan dan mengusirnya, dan mengumpulkan kita setelah perpe-cahan yang mencerai-beraikan. ﴾ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٞ لِّمَا يَشَآءُۚ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki", Dia menyalurkan kebajikan dan kebaikan-Nya kepada seorang hamba tanpa dia (hamba itu) sadari dan me-nempatkannya pada kedudukan yang tinggi yang bebas dari segala urusan yang dibencinya. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui", segenap perkara yang zahir dan batin, rahasia-rahasia para hambaNya serta bisikan hati mereka. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Lagi Mahabijaksana", dalam meletakkan urusan-urusan pada tempat se-mestinya dan mengerahkan perkara-perkara pada waktunya yang telah ditentukan.
Yusuf 12:100
"Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf me-rangkul ibu bapaknya, dan dia berkata, 'Masuklah kamu sekalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.' Dan dia me-naikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (se-muanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan Yusuf berkata, 'Wahai ayahku, inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Rabbku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskanku dari rumah penjara dan ketika (Dia) membawamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Rabbku Maha-lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana'." (Yusuf: 99-100).
(99) ﴾ فَلَمَّا ﴿ "Maka tatkala", Ya'qub, anak-anak beliau dan ke-luarga mereka telah berangkat meninggalkan negeri mereka menuju ke tempat Yusuf di Mesir dan pemukimannya, dan ketika mereka telah sampai ﴾ دَخَلُواْ عَلَىٰ يُوسُفَ ءَاوَىٰٓ إِلَيۡهِ أَبَوَيۡهِ ﴿ "mereka masuk ke (tempat) Yusuf. Yusuf merangkul ibu bapaknya", mendekatkan mereka berdua kepada dirinya dan mengistimewakan mereka dengan mendekatkannya, serta memperlihatkan kebaktian, kebaikan, penghormatan, dan pengagungan yang besar kepada kedua orang tuanya ﴾ وَقَالَ ﴿ "dan dia berkata", kepada seluruh anggota keluarganya, ﴾ ٱدۡخُلُواْ مِصۡرَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ ءَامِنِينَ ﴿ "Masuklah kamu sekalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman", dari segala yang dibenci dan menakutkan. Mereka masuk dalam suasana yang menyenangkan. Kelelahan dan kesusah-an penghidupan mereka pun pupus, dan terwujudlah kebahagiaan dan keceriaan.
(100) ﴾ وَرَفَعَ أَبَوَيۡهِ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "Dan dia menaikkan kedua ibu bapak-nya ke atas singgasana", di atas tahta raja dan tempat duduk al-Aziz ﴾ وَخَرُّواْ لَهُۥ سُجَّدٗاۖ ﴿ "dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud ke-pada Yusuf", maksudnya ayah dan ibunya, serta para saudaranya bersujud kepada Yusuf dalam rangka mengagungkan, menghor-mati, dan memuliakan Yusuf. ﴾ وَقَالَ ﴿ "Dan berkatalah Yusuf", ketika menyaksikan pemandangan ini dan melihat sujud mereka kepada dirinya, ﴾ يَٰٓأَبَتِ هَٰذَا تَأۡوِيلُ رُءۡيَٰيَ مِن قَبۡلُ ﴿ "Wahai ayahku, inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu", saat bermimpi melihat sebelas bintang beserta matahari dan bulan bersujud kepadanya. Inilah kejadian nyata dari mimpinya yang kembali kepada dirinya sendiri dan sampai ke-padanya. ﴾ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّي حَقّٗاۖ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan", Allah tidak menjadikannya hanya mimpi-mimpi kosong semata, ﴾ وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِيٓ ﴿ "dan sesungguhnya Rabbku telah berbuat baik kepadaku", dengan kebaikan yang sangat besar ﴾ إِذۡ أَخۡرَجَنِي مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَآءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ ﴿ "ketika Dia membebaskanku dari rumah penjara dan ketika Dia membawamu dari dusun padang pasir", ini termasuk cerminan sikap lembut dan keelokan gayanya عليه السلام dalam berbicara, di mana dia hanya menyebutkan kisah saat di penjara, tanpa menyinggung kondisi saat berada di dasar sumur, karena ketulusan maafnya bagi para saudaranya, dia tidak menyinggung kesalahan itu. Dan keda-tangan kalian dari dusun termasuk karena kebaikan Allah kepada diriku. Dia tidak berkata, "Dia membawa kalian dari kondisi kela-paran dan kesulitan", juga tidak mengatakan, "Dia telah berbuat baik kepada kalian semua", akan tetapi mengatakan, "Dia telah mencurahkan kebaikan kepadaku", akan tetapi Yusuf menjadikan kebaikan Allah kembali kepadanya. Mahaberkah Allah, Dzat yang telah mengistimewakan (dengan curahan rahmatNya) kepada orang yang Dia kehendaki dari kalangan para hambaNya dan memberi rahmat kepada mereka dari sisiNya, sesungguhnya Dia Dzat Yang Maha Memberi, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّيۡطَٰنُ بَيۡنِي وَبَيۡنَ إِخۡوَتِيٓۚ ﴿ "setelah setan meru-sakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku", dia pun tidak mengatakan, "Setelah setan merusak saudara-saudaraku," akan tetapi menganggap seakan-akan keteledoran dan dosa berasal dari kedua pihak. Maka segala puji bagi Allah yang telah menghinakan setan dan mengusirnya, dan mengumpulkan kita setelah perpe-cahan yang mencerai-beraikan. ﴾ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٞ لِّمَا يَشَآءُۚ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki", Dia menyalurkan kebajikan dan kebaikan-Nya kepada seorang hamba tanpa dia (hamba itu) sadari dan me-nempatkannya pada kedudukan yang tinggi yang bebas dari segala urusan yang dibencinya. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui", segenap perkara yang zahir dan batin, rahasia-rahasia para hambaNya serta bisikan hati mereka. ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Lagi Mahabijaksana", dalam meletakkan urusan-urusan pada tempat se-mestinya dan mengerahkan perkara-perkara pada waktunya yang telah ditentukan.
Yusuf 12:101
"Ya Rabbku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta'bir mimpi. (Ya Rabb) Pencipta langit dan bumi. Eng-kaulah Pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih." (Yusuf: 101).
(101) Tatkala Allah menyempurnakan karuniaNya bagi Yusuf berupa pengendalian kekuasaan di bumi, dan sebagian kera-jaan serta menentramkan pandangan matanya dengan berkumpul bersama kedua orang tuanya dan para saudaranya dan setelah per-olehan ilmu agung yang Allah berikan kepadanya, maka dia ber-kata untuk mengakui nikmat Allah sebagai bentuk kesyukuran dan ajakan agar tetap istiqamah di atas Islam, ﴾ رَبِّ قَدۡ ءَاتَيۡتَنِي مِنَ ٱلۡمُلۡكِ ﴿ "Ya Rabbku, Sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku seba-gian kerajaan", lantaran dia memegang kendali dan pengaturan per-bendaharaan bumi (Mesir), serta menjadi menteri besar bagi raja ﴾ وَعَلَّمۡتَنِي مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِۚ ﴿ "dan Engkau telah mengajarkan kepadaku sebagian ta'bir mimpi", berupa penakwilan makna kisah-kisah yang ada di kitab-kitab yang diturunkan (oleh Allah) dan penakwilan mimpi dan ilmu lainnya. ﴾ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِيِّۦ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ تَوَفَّنِي مُسۡلِمٗا ﴿ "(Ya Rabb) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam", maksudnya lestarikan akidah Islam pada diriku dan teguhkanlah hatiku di atasnya hingga Engkau mewafatkanku dalam keadaan berpegang teguh padanya. Permohonan ini bukanlah doa permintaan agar kematian dipercepat untuknya ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih", dari kalangan para nabi yang berbakti kepadaMu dan orang-orang yang terbaik lagi terpilih.
Yusuf 12:102
"Demikian itu (adalah) di antara berita-berita yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya." (Yusuf: 102).
(102) Tatkala Allah menceritakan kisah ini kepada Muham-mad, Allah berfirman kepada beliau, ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikian itu", yaitu (para nabi) yang Kami beritahukan kepadamu ﴾ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ ﴿ "(adalah) di antara berita-berita yang ghaib", yang bila tidak Kami wahyukan kepadamu, tentulah kisah agung tersebut tidak akan sampai kepa-damu. Sesungguhnya engkau tidak hadir ﴾ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ أَجۡمَعُوٓاْ أَمۡرَهُمۡ ﴿ "di sisi mereka ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur)", yakni para saudara Yusuf ﴾ وَهُمۡ يَمۡكُرُونَ ﴿ "dan mereka sedang mengatur tipu daya", kepadanya, ketika mereka telah saling bertekad untuk memisahkannya dari sang ayah dalam kondisi yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah تعالى saja, dan tidak mungkin ada orang yang sanggup mengetahuinya kecuali dengan pemberitahuan dari Allah kepadanya. Sebagaimana halnya Allah menceritakan kisah Musa dan peristiwa yang terjadi pada beliau. Dia menyebutkan sebuah keadaan yang tidak ada cara bagi manu-sia untuk mengetahuinya melainkan dengan melalui wahyu. Allah berfirman, ﴾ وَمَا كُنتَ بِجَانِبِ ٱلۡغَرۡبِيِّ إِذۡ قَضَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَى ٱلۡأَمۡرَ وَمَا كُنتَ مِنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 44 ﴿ "Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan." (Al-Qashash: 44), ini merupakan petunjuk yang sangat tajam bahwa risalah yang di-bawa oleh Rasulullah adalah benar adanya.
Yusuf 12:103
"Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. Dan kamu sekali-kali tidak me-minta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya. Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan memperse-kutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan Kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?" (Yusuf: 103-107).
(103) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad ﴾ وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ ﴿ "Dan sebagian besar manusia walaupun kamu sangat menginginkannya", yaitu menginginkan keimanan mereka, mereka ﴾ بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "tidak akan beriman", karena daya tangkap dan orientasi-orientasi mereka sungguh telah mengalami kerusakan. Hasrat besar para pemberi nasihat kepada mereka tidaklah berguna, walaupun sama sekali tidak ada penghalang dan pengganjal. Para pemberi nasihat itu telah mengajari dan menyeru mereka kepada hal-hal yang mengandung kebaikan bagi mereka dan menolak kejelekan dari mereka, tanpa meminta upah maupun timbal-balik. Walaupun para da'i tersebut telah menunjukkan bukti-bukti dan tanda-tanda kebenaran kepada mereka yang menunjukkan kebe-naran mereka, namun segala sesuatu yang sudah mereka tunjuk-kan, tetap tidak bermanfaat.
(104) Karena itu, Allah berfirman ﴾ وَمَا تَسۡـَٔلُهُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۚ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam." Dengan itu, mereka akan mengingat-ingat apa saja yang berguna bagi mereka agar (hendaknya) mereka melaksanakannya dan apa saja yang berbahaya hendaklah mereka meninggalkannya.
(105) ﴾ وَكَأَيِّن ﴿ "Dan banyak sekali", berapa b a n y a k ﴾ مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا ﴿ "tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui", yang menandakan keesaan Allah (tauhidullah) ﴾ وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ﴿ "sedang mereka berpaling darinya."
(106) Kendatipun demikian, jika dijumpai ada sebagian ke-imanan dari mereka ﴾ وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ ﴿ "dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mem-persekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)", mereka itu, meski mengakui rububiyah Allah تعالى dan bahwa Dia-lah al-Khaliq (Pencipta), ar-Raziq (Pemberi rizki), Pengatur seluruh urusan, maka mereka tetap menyekutukan Allah dalam uluhiyah dan tauhidNya.
(107) Mereka itu yang sudah sampai pada kondisi demikian, tidaklah tersisa bagi mereka melainkan azab yang akan menimpa mereka dan hukuman akan mendatangi mereka secara tiba-tiba ke-tika mereka merasa aman (dari ancaman itu semua sebelumnya). Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَأَمِنُوٓاْ ﴿ "Apakah mereka merasa aman", yaitu orang-orang yang melakukan perbuatan di atas, yang berpa-ling dari ayat-ayat Allah ﴾ أَن تَأۡتِيَهُمۡ غَٰشِيَةٞ مِّنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ ﴿ "dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka", yaitu siksa yang menyelimuti mereka, merata menimpa mereka semua dan menghabisi mereka sampai tuntas. ﴾ أَوۡ تَأۡتِيَهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةٗ ﴿ "atau (merasa aman dari) kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak", tiba-tiba ﴾ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "sedang mereka tidak menyadarinya?" Karena mereka itu memang pantas untuk di-perlakukan demikian. Hendaknya mereka bertaubat kepada Allah dan meninggalkan segala perkara yang menjadi penyebab datang-nya hukuman.
Yusuf 12:104
"Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. Dan kamu sekali-kali tidak me-minta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya. Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan memperse-kutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan Kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?" (Yusuf: 103-107).
(103) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad ﴾ وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ ﴿ "Dan sebagian besar manusia walaupun kamu sangat menginginkannya", yaitu menginginkan keimanan mereka, mereka ﴾ بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "tidak akan beriman", karena daya tangkap dan orientasi-orientasi mereka sungguh telah mengalami kerusakan. Hasrat besar para pemberi nasihat kepada mereka tidaklah berguna, walaupun sama sekali tidak ada penghalang dan pengganjal. Para pemberi nasihat itu telah mengajari dan menyeru mereka kepada hal-hal yang mengandung kebaikan bagi mereka dan menolak kejelekan dari mereka, tanpa meminta upah maupun timbal-balik. Walaupun para da'i tersebut telah menunjukkan bukti-bukti dan tanda-tanda kebenaran kepada mereka yang menunjukkan kebe-naran mereka, namun segala sesuatu yang sudah mereka tunjuk-kan, tetap tidak bermanfaat.
(104) Karena itu, Allah berfirman ﴾ وَمَا تَسۡـَٔلُهُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۚ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam." Dengan itu, mereka akan mengingat-ingat apa saja yang berguna bagi mereka agar (hendaknya) mereka melaksanakannya dan apa saja yang berbahaya hendaklah mereka meninggalkannya.
(105) ﴾ وَكَأَيِّن ﴿ "Dan banyak sekali", berapa b a n y a k ﴾ مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا ﴿ "tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui", yang menandakan keesaan Allah (tauhidullah) ﴾ وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ﴿ "sedang mereka berpaling darinya."
(106) Kendatipun demikian, jika dijumpai ada sebagian ke-imanan dari mereka ﴾ وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ ﴿ "dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mem-persekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)", mereka itu, meski mengakui rububiyah Allah تعالى dan bahwa Dia-lah al-Khaliq (Pencipta), ar-Raziq (Pemberi rizki), Pengatur seluruh urusan, maka mereka tetap menyekutukan Allah dalam uluhiyah dan tauhidNya.
(107) Mereka itu yang sudah sampai pada kondisi demikian, tidaklah tersisa bagi mereka melainkan azab yang akan menimpa mereka dan hukuman akan mendatangi mereka secara tiba-tiba ke-tika mereka merasa aman (dari ancaman itu semua sebelumnya). Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَأَمِنُوٓاْ ﴿ "Apakah mereka merasa aman", yaitu orang-orang yang melakukan perbuatan di atas, yang berpa-ling dari ayat-ayat Allah ﴾ أَن تَأۡتِيَهُمۡ غَٰشِيَةٞ مِّنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ ﴿ "dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka", yaitu siksa yang menyelimuti mereka, merata menimpa mereka semua dan menghabisi mereka sampai tuntas. ﴾ أَوۡ تَأۡتِيَهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةٗ ﴿ "atau (merasa aman dari) kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak", tiba-tiba ﴾ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "sedang mereka tidak menyadarinya?" Karena mereka itu memang pantas untuk di-perlakukan demikian. Hendaknya mereka bertaubat kepada Allah dan meninggalkan segala perkara yang menjadi penyebab datang-nya hukuman.
Yusuf 12:105
"Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. Dan kamu sekali-kali tidak me-minta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya. Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan memperse-kutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan Kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?" (Yusuf: 103-107).
(103) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad ﴾ وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ ﴿ "Dan sebagian besar manusia walaupun kamu sangat menginginkannya", yaitu menginginkan keimanan mereka, mereka ﴾ بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "tidak akan beriman", karena daya tangkap dan orientasi-orientasi mereka sungguh telah mengalami kerusakan. Hasrat besar para pemberi nasihat kepada mereka tidaklah berguna, walaupun sama sekali tidak ada penghalang dan pengganjal. Para pemberi nasihat itu telah mengajari dan menyeru mereka kepada hal-hal yang mengandung kebaikan bagi mereka dan menolak kejelekan dari mereka, tanpa meminta upah maupun timbal-balik. Walaupun para da'i tersebut telah menunjukkan bukti-bukti dan tanda-tanda kebenaran kepada mereka yang menunjukkan kebe-naran mereka, namun segala sesuatu yang sudah mereka tunjuk-kan, tetap tidak bermanfaat.
(104) Karena itu, Allah berfirman ﴾ وَمَا تَسۡـَٔلُهُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۚ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam." Dengan itu, mereka akan mengingat-ingat apa saja yang berguna bagi mereka agar (hendaknya) mereka melaksanakannya dan apa saja yang berbahaya hendaklah mereka meninggalkannya.
(105) ﴾ وَكَأَيِّن ﴿ "Dan banyak sekali", berapa b a n y a k ﴾ مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا ﴿ "tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui", yang menandakan keesaan Allah (tauhidullah) ﴾ وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ﴿ "sedang mereka berpaling darinya."
(106) Kendatipun demikian, jika dijumpai ada sebagian ke-imanan dari mereka ﴾ وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ ﴿ "dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mem-persekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)", mereka itu, meski mengakui rububiyah Allah تعالى dan bahwa Dia-lah al-Khaliq (Pencipta), ar-Raziq (Pemberi rizki), Pengatur seluruh urusan, maka mereka tetap menyekutukan Allah dalam uluhiyah dan tauhidNya.
(107) Mereka itu yang sudah sampai pada kondisi demikian, tidaklah tersisa bagi mereka melainkan azab yang akan menimpa mereka dan hukuman akan mendatangi mereka secara tiba-tiba ke-tika mereka merasa aman (dari ancaman itu semua sebelumnya). Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَأَمِنُوٓاْ ﴿ "Apakah mereka merasa aman", yaitu orang-orang yang melakukan perbuatan di atas, yang berpa-ling dari ayat-ayat Allah ﴾ أَن تَأۡتِيَهُمۡ غَٰشِيَةٞ مِّنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ ﴿ "dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka", yaitu siksa yang menyelimuti mereka, merata menimpa mereka semua dan menghabisi mereka sampai tuntas. ﴾ أَوۡ تَأۡتِيَهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةٗ ﴿ "atau (merasa aman dari) kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak", tiba-tiba ﴾ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "sedang mereka tidak menyadarinya?" Karena mereka itu memang pantas untuk di-perlakukan demikian. Hendaknya mereka bertaubat kepada Allah dan meninggalkan segala perkara yang menjadi penyebab datang-nya hukuman.
Yusuf 12:106
"Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. Dan kamu sekali-kali tidak me-minta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya. Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan memperse-kutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan Kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?" (Yusuf: 103-107).
(103) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad ﴾ وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ ﴿ "Dan sebagian besar manusia walaupun kamu sangat menginginkannya", yaitu menginginkan keimanan mereka, mereka ﴾ بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "tidak akan beriman", karena daya tangkap dan orientasi-orientasi mereka sungguh telah mengalami kerusakan. Hasrat besar para pemberi nasihat kepada mereka tidaklah berguna, walaupun sama sekali tidak ada penghalang dan pengganjal. Para pemberi nasihat itu telah mengajari dan menyeru mereka kepada hal-hal yang mengandung kebaikan bagi mereka dan menolak kejelekan dari mereka, tanpa meminta upah maupun timbal-balik. Walaupun para da'i tersebut telah menunjukkan bukti-bukti dan tanda-tanda kebenaran kepada mereka yang menunjukkan kebe-naran mereka, namun segala sesuatu yang sudah mereka tunjuk-kan, tetap tidak bermanfaat.
(104) Karena itu, Allah berfirman ﴾ وَمَا تَسۡـَٔلُهُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۚ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam." Dengan itu, mereka akan mengingat-ingat apa saja yang berguna bagi mereka agar (hendaknya) mereka melaksanakannya dan apa saja yang berbahaya hendaklah mereka meninggalkannya.
(105) ﴾ وَكَأَيِّن ﴿ "Dan banyak sekali", berapa b a n y a k ﴾ مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا ﴿ "tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui", yang menandakan keesaan Allah (tauhidullah) ﴾ وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ﴿ "sedang mereka berpaling darinya."
(106) Kendatipun demikian, jika dijumpai ada sebagian ke-imanan dari mereka ﴾ وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ ﴿ "dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mem-persekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)", mereka itu, meski mengakui rububiyah Allah تعالى dan bahwa Dia-lah al-Khaliq (Pencipta), ar-Raziq (Pemberi rizki), Pengatur seluruh urusan, maka mereka tetap menyekutukan Allah dalam uluhiyah dan tauhidNya.
(107) Mereka itu yang sudah sampai pada kondisi demikian, tidaklah tersisa bagi mereka melainkan azab yang akan menimpa mereka dan hukuman akan mendatangi mereka secara tiba-tiba ke-tika mereka merasa aman (dari ancaman itu semua sebelumnya). Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَأَمِنُوٓاْ ﴿ "Apakah mereka merasa aman", yaitu orang-orang yang melakukan perbuatan di atas, yang berpa-ling dari ayat-ayat Allah ﴾ أَن تَأۡتِيَهُمۡ غَٰشِيَةٞ مِّنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ ﴿ "dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka", yaitu siksa yang menyelimuti mereka, merata menimpa mereka semua dan menghabisi mereka sampai tuntas. ﴾ أَوۡ تَأۡتِيَهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةٗ ﴿ "atau (merasa aman dari) kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak", tiba-tiba ﴾ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "sedang mereka tidak menyadarinya?" Karena mereka itu memang pantas untuk di-perlakukan demikian. Hendaknya mereka bertaubat kepada Allah dan meninggalkan segala perkara yang menjadi penyebab datang-nya hukuman.
Yusuf 12:107
"Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. Dan kamu sekali-kali tidak me-minta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya. Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan memperse-kutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan Kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?" (Yusuf: 103-107).
(103) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad ﴾ وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ ﴿ "Dan sebagian besar manusia walaupun kamu sangat menginginkannya", yaitu menginginkan keimanan mereka, mereka ﴾ بِمُؤۡمِنِينَ ﴿ "tidak akan beriman", karena daya tangkap dan orientasi-orientasi mereka sungguh telah mengalami kerusakan. Hasrat besar para pemberi nasihat kepada mereka tidaklah berguna, walaupun sama sekali tidak ada penghalang dan pengganjal. Para pemberi nasihat itu telah mengajari dan menyeru mereka kepada hal-hal yang mengandung kebaikan bagi mereka dan menolak kejelekan dari mereka, tanpa meminta upah maupun timbal-balik. Walaupun para da'i tersebut telah menunjukkan bukti-bukti dan tanda-tanda kebenaran kepada mereka yang menunjukkan kebe-naran mereka, namun segala sesuatu yang sudah mereka tunjuk-kan, tetap tidak bermanfaat.
(104) Karena itu, Allah berfirman ﴾ وَمَا تَسۡـَٔلُهُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۚ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam." Dengan itu, mereka akan mengingat-ingat apa saja yang berguna bagi mereka agar (hendaknya) mereka melaksanakannya dan apa saja yang berbahaya hendaklah mereka meninggalkannya.
(105) ﴾ وَكَأَيِّن ﴿ "Dan banyak sekali", berapa b a n y a k ﴾ مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا ﴿ "tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui", yang menandakan keesaan Allah (tauhidullah) ﴾ وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ﴿ "sedang mereka berpaling darinya."
(106) Kendatipun demikian, jika dijumpai ada sebagian ke-imanan dari mereka ﴾ وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ ﴿ "dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mem-persekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)", mereka itu, meski mengakui rububiyah Allah تعالى dan bahwa Dia-lah al-Khaliq (Pencipta), ar-Raziq (Pemberi rizki), Pengatur seluruh urusan, maka mereka tetap menyekutukan Allah dalam uluhiyah dan tauhidNya.
(107) Mereka itu yang sudah sampai pada kondisi demikian, tidaklah tersisa bagi mereka melainkan azab yang akan menimpa mereka dan hukuman akan mendatangi mereka secara tiba-tiba ke-tika mereka merasa aman (dari ancaman itu semua sebelumnya). Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَأَمِنُوٓاْ ﴿ "Apakah mereka merasa aman", yaitu orang-orang yang melakukan perbuatan di atas, yang berpa-ling dari ayat-ayat Allah ﴾ أَن تَأۡتِيَهُمۡ غَٰشِيَةٞ مِّنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ ﴿ "dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka", yaitu siksa yang menyelimuti mereka, merata menimpa mereka semua dan menghabisi mereka sampai tuntas. ﴾ أَوۡ تَأۡتِيَهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةٗ ﴿ "atau (merasa aman dari) kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak", tiba-tiba ﴾ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "sedang mereka tidak menyadarinya?" Karena mereka itu memang pantas untuk di-perlakukan demikian. Hendaknya mereka bertaubat kepada Allah dan meninggalkan segala perkara yang menjadi penyebab datang-nya hukuman.
Yusuf 12:108
"Katakanlah, 'Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.' Kami tidak mengutus sebelum kamu, melain-kan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepada mereka di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?" (Yusuf: 108-109).
(108) Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", kepada manusia ﴾ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ ﴿ "Inilah jalanku (agamaku)", yaitu jalanku yang aku mengajak (orang) ke sana. Ia adalah lintasan yang mengantarkan menuju kepada Allah dan menuju tempat ke-muliaanNya, yang mengandung adanya pengetahuan tentang ke-benaran dan pengamalannya serta lebih mendahulukan kebenaran itu (daripada segala sesuatu), memurnikan agama hanya untuk Allah semata, tiada sekutu bagiNya. ﴾ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Aku mengajak (kamu) kepada Allah", maksudnya aku menganjurkan umat manusia dan para hamba untuk berjalan menuju Rabb mereka, dan aku meng-himbau mereka untuk me-nyambutnya dan memperingatkan mereka dari perkara-perkara yang menjauhkan mereka dariNya. Ditambah lagi, bahwa aku ﴾ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ ﴿ "(mengajak) dengan hujjah yang nyata", yang berasal dari aga-maku. Maksudnya, aku bertumpu pada ilmu dan keyakinan tanpa ada unsur syak, kebimbangan dan keraguan. Begitu pula, ﴾ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ ﴿ "orang-orang yang mengikutiku", mereka mengajak kepada Allah se-bagaimana aku mengajak berdasarkan hujjah yang nyata tentang urusan (yang mereka dakwahkan). ﴾ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ ﴿ "Mahasuci Allah", dari hal-hal yang dinisbatkan kepada Allah dari sesuatu yang tidak pantas dengan keagungannya atau menafikan kesempurnaanNya. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik", pada semua urusanku. Bahkan aku hanya menyembah Allah dengan memurnikan agama bagiNya.
(109) Selanjutnya Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا ﴿ "Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki", mak-sudnya Kami tidak mengutus dari golongan malaikat dan tidak pula selain mereka dari golongan makhluk-makhluk lainnya. Mengapa kaummu menganggap aneh risalah (yang engkau bawa) dan meng-klaim bahwa dirimu tidak memiliki keutamaan apa pun atas me-reka. Engkau memiliki teladan yang baik dari para rasul yang diutus sebelummu, ﴾ نُّوحِيٓ إِلَيۡهِم مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰٓۗ ﴿ "yang Kami berikan wahyu kepada me-reka di antara penduduk negeri", maksudnya bukan dari perdusunan. Justru dari penduduk negeri yang mana mereka itu akal-akalnya lebih sempurna dan pikirannya pun lebih akurat, supaya urusan mereka menjadi jelas dan kepentingan mereka menjadi terang. ﴾ أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi", jika mereka tidak mempercayai perkataanmu, ﴾ فَيَنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۗ ﴿ "lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul)", bagaimana Allah membinasakan mereka atas pendustaan yang mereka lakukan. Maka berhati-hati-lah, (jangan sampai) kalian berkubang pada kebiasaan yang mereka kerjakan, akibatnya kalian akan ditimpa azab yang telah menimpa mereka ﴾ وَلَدَارُ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dan sesungguhnya kampung akhirat", surga de-ngan seisinya berupa kenikmatan yang lestari ﴾ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْۚ ﴿ "adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa", kepada Allah dengan me-naati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Karena kenikmatan dunia menyusahkan, menyulitkan, dan pasti akan berhenti. Sedangkan kenikmatan akhirat adalah sempurna, paripurna tidak lenyap selamanya. Bahkan abadi dengan selalu mengalami pertambahan dan kontinyu, dan pemberian yang tiada pernah terputus. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka tidakkah kamu memikirkannya?" Tidakkah kalian mempunyai akal sehat yang mau mengedepankan sesuatu yang lebih baik daripada yang kenikmatan yang lebih rendah?
Yusuf 12:109
"Katakanlah, 'Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.' Kami tidak mengutus sebelum kamu, melain-kan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepada mereka di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?" (Yusuf: 108-109).
(108) Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", kepada manusia ﴾ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ ﴿ "Inilah jalanku (agamaku)", yaitu jalanku yang aku mengajak (orang) ke sana. Ia adalah lintasan yang mengantarkan menuju kepada Allah dan menuju tempat ke-muliaanNya, yang mengandung adanya pengetahuan tentang ke-benaran dan pengamalannya serta lebih mendahulukan kebenaran itu (daripada segala sesuatu), memurnikan agama hanya untuk Allah semata, tiada sekutu bagiNya. ﴾ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Aku mengajak (kamu) kepada Allah", maksudnya aku menganjurkan umat manusia dan para hamba untuk berjalan menuju Rabb mereka, dan aku meng-himbau mereka untuk me-nyambutnya dan memperingatkan mereka dari perkara-perkara yang menjauhkan mereka dariNya. Ditambah lagi, bahwa aku ﴾ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ ﴿ "(mengajak) dengan hujjah yang nyata", yang berasal dari aga-maku. Maksudnya, aku bertumpu pada ilmu dan keyakinan tanpa ada unsur syak, kebimbangan dan keraguan. Begitu pula, ﴾ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ ﴿ "orang-orang yang mengikutiku", mereka mengajak kepada Allah se-bagaimana aku mengajak berdasarkan hujjah yang nyata tentang urusan (yang mereka dakwahkan). ﴾ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ ﴿ "Mahasuci Allah", dari hal-hal yang dinisbatkan kepada Allah dari sesuatu yang tidak pantas dengan keagungannya atau menafikan kesempurnaanNya. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik", pada semua urusanku. Bahkan aku hanya menyembah Allah dengan memurnikan agama bagiNya.
(109) Selanjutnya Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا ﴿ "Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki", mak-sudnya Kami tidak mengutus dari golongan malaikat dan tidak pula selain mereka dari golongan makhluk-makhluk lainnya. Mengapa kaummu menganggap aneh risalah (yang engkau bawa) dan meng-klaim bahwa dirimu tidak memiliki keutamaan apa pun atas me-reka. Engkau memiliki teladan yang baik dari para rasul yang diutus sebelummu, ﴾ نُّوحِيٓ إِلَيۡهِم مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰٓۗ ﴿ "yang Kami berikan wahyu kepada me-reka di antara penduduk negeri", maksudnya bukan dari perdusunan. Justru dari penduduk negeri yang mana mereka itu akal-akalnya lebih sempurna dan pikirannya pun lebih akurat, supaya urusan mereka menjadi jelas dan kepentingan mereka menjadi terang. ﴾ أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi", jika mereka tidak mempercayai perkataanmu, ﴾ فَيَنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۗ ﴿ "lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul)", bagaimana Allah membinasakan mereka atas pendustaan yang mereka lakukan. Maka berhati-hati-lah, (jangan sampai) kalian berkubang pada kebiasaan yang mereka kerjakan, akibatnya kalian akan ditimpa azab yang telah menimpa mereka ﴾ وَلَدَارُ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dan sesungguhnya kampung akhirat", surga de-ngan seisinya berupa kenikmatan yang lestari ﴾ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْۚ ﴿ "adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa", kepada Allah dengan me-naati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Karena kenikmatan dunia menyusahkan, menyulitkan, dan pasti akan berhenti. Sedangkan kenikmatan akhirat adalah sempurna, paripurna tidak lenyap selamanya. Bahkan abadi dengan selalu mengalami pertambahan dan kontinyu, dan pemberian yang tiada pernah terputus. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka tidakkah kamu memikirkannya?" Tidakkah kalian mempunyai akal sehat yang mau mengedepankan sesuatu yang lebih baik daripada yang kenikmatan yang lebih rendah?
Yusuf 12:110
"Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka te-lah didustakan, maka datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari orang-orang yang berdosa. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Ia (al-Qur`an itu) bukan-lah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (Yusuf: 110-111).
(110) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia mengutus para rasul yang mulia. Namum kaum yang jahat lagi pencela mendus-takan mereka. Allah masih menyediakan tempo bagi mereka agar kembali menuju kebenaran. Allah senantiasa menangguhkan mereka sampai pada level kekerasan sikap mereka yang dahsyat terhadap para rasul. Sampai-sampai para rasul meski memiliki keyakinan yang sempurna dan kekuatan kepercayaan mereka kepada janji Allah dan ancamanNya, boleh jadi terlintas pada hati mereka ke-putusasaan dan kelemahan dalam ilmu dan kepercayaan. Apabila kondisi mereka sudah mencapai tingkat ini ﴾ جَآءَهُمۡ نَصۡرُنَا فَنُجِّيَ مَن نَّشَآءُۖ ﴿ "datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki." Mereka itu adalah para rasul dan penganut mereka ﴾ وَلَا يُرَدُّ بَأۡسُنَا عَنِ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari orang-orang yang berdosa", maksudnya siksaan Kami tidak bisa ditampik dari orang-orang yang berbuat dosa dan nekat (berbuat buruk) terhadap Allah. Tiada kekuatan dan penolong bagi mereka.
(111) ﴾ لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ ﴿ "Sesungguhnya pada kisah-kisah mere-ka itu", yaitu kisah-kisah para nabi dan rasul bersama kaum mereka ﴾ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ ﴿ "terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempu-nyai akal", maksudnya orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat akan memetik pelajaran darinya, dan bahwa siapa saja yang melakukan perbuatan seperti yang mereka kerjakan, maka dia pasti akan menuai kemuliaan atau penghinaan. Mereka juga dapat meng-ambil pelajaran berkaitan dengan sifat-sifat milik Allah yang sem-purna dan hikmah yang agung. Dan bahwasanya Dia-lah Allah yang tidak sepantasnya peribadahan dilakukan melainkan untuk-Nya semata, tidak ada sekutu bagiNya. Firman A l l a h ﴾ مَا كَانَ حَدِيثٗا يُفۡتَرَىٰ ﴿ "ia (al-Qur`an itu) bukanlah cerita yang dibuat-buat", maksudnya, al-Qur`an (yang Allah menceritakan berita-berita ghaib melaluinya kepada kalian) bukanlah termasuk cerita-cerita rekaan yang dibuat-buat. ﴾ وَلَٰكِن ﴿ "akan tetapi", ia ﴾ تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya", yaitu kitab-kitab terdahulu (yang diturunkan oleh Allah), al-Qur`an menyelarasi dan mempersaksikan kebenaran kitab-kitab tersebut ﴾ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "dan menjelaskan segala sesuatu", yang dibutuhkan oleh para hamba, berupa ushuluddin (pokok-pokok agama) dan cabang-cabangnya yang berupa dalil-dalil dan petunjuk-petunjuk. ﴾ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman", karena mereka melalui sebab perolehan ilmu tentang al-haq dan sikap pengutamaannya, menjadikan mereka meraih hidayah. Dan lantaran perolehan pahala yang disegerakan (di dunia ini) dan balasan nantinya (di akhirat), maka mereka pun memper-oleh rahmat (Allah).
PASAL (Pelajaran-pelajaran dari surat Yusuf)(Pembahasan ini) berkaitan dengan penjabaran beberapa pe-lajaran dan faidah yang terkandung oleh kisah yang agung ini, yang mana Allah menyebut di permulaannya, ﴾ نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ أَحۡسَنَ ٱلۡقَصَصِ ﴿ "Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik." (Yusuf: 3). Dan Dia berfirman, ﴾ لَّقَدۡ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخۡوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٞ لِّلسَّآئِلِينَ 7 ﴿ "Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya." (Yusuf: 7). Dan di penutupnya Dia berfirman, ﴾ لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ ﴿ "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal." (Yusuf: 111), selain faidah yang telah berlalu di sela-sela penjelasan surat. Di antaranya, b Sesungguhnya, kisah ini merupakan kisah terbaik dan paling jelas serta paling nyata, lantaran memuat fase-fase kehidupan, dari satu keadaan menuju keadaan lainnya, dari satu cobaan kepada cobaan lainnya, dari ujian ke pemberian, dari kehinaan menuju ke-muliaan, dari status sebagai budak menjadi penguasa, dari kondisi perselisihan dan cerai-berai menuju kondisi kesatuan dan keutuhan, dari kesedihan menuju kebahagiaan, dari keadaan yang makmur menuju kondisi paceklik, dari kondisi paceklik menuju kondisi ke-makmuran (lagi), dari kesempitan menuju kelapangan, dari peng-ingkaran yang berakhir dengan pengakuan. Mahaberkah Allah Dzat yang mengisahkannya dengan sebaik-baiknya, mendeskripsikan-nya dan menjelaskannya. b Dalam kisah ini, terdapat dasar legalitas pena'biran mimpi. Sesungguhnya ilmu penakwilan mimpi termasuk pengetahuan yang penting yang dianugerahkan Allah kepada hambaNya yang dikehendakiNya. Sesungguhnya kebanyakan pena'biran mimpi bertumpu pada munasabah (relevansi dengan realita) dan musyaba-hah (keserupaan) dalam nama dan sifat. Sesungguhnya mimpi Yusuf yang berupa melihat matahari dan bulan serta sebelas bintang yang sujud kepadanya, tinjauan relevansi dalam mimpi itu adalah, bahwa semua yang bersinar ter-sebut merupakan perhiasan langit, (sumber) keindahan dan keman-faatan. Begitu pula, para nabi dan ulama merupakan perhiasan dan pesona bagi bumi. Dalam kegelapan, mereka menjadi petunjuk se-bagaimana benda-benda yang bersinar bermanfaat menjadi petunjuk arah. Dan (selain itu) karena intinya yaitu ayah dan ibunya. Semen-tara para saudaranya adalah keturunannya. Di antara aspek kore-lasinya adalah inti lebih terang pancaran cahayanya dan lebih besar bentuknya dibandingkan keturunannya. Oleh karena itu, matahari mewakili ibunya, bulan mewakili ayahnya, sedangkan bintang-bin-tang merepresentasikan saudara-saudaranya. Aspek korelasi lainnya, kata asy-Syamsu (matahari) berbentuk mu`annats (perempuan), karena itu mewakili ibunya. Sedangkan qamar (bulan) dan kaukab (bintang) berbentuk mudzakkar (laki-laki), untuk mewakili ayah dan para saudara Yusuf. Sisi relevansi lainnya, orang yang bersujud mengagungkan dan menghormati orang yang disujudi. Orang yang dihormati de-ngan sujud, merupakan sosok yang diagungkan dan dimuliakan. Oleh karenanya, ini menunjukkan bahwa Yusuf akan menjadi anak yang diagungkan dan dimuliakan oleh kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. Maka di antara kelazimannya adalah bahwa dia akan menjadi seorang yang terpilih dan terdepan dalam ilmu, keutamaan-keutamaan yang mengantarnya ke arah sana. Karena-nya, ayah beliau berkata, ﴾ وَكَذَٰلِكَ يَجۡتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ ﴿ "Dan demikianlah Rabbmu memilih kamu (untuk menjadi nabi) dan mengajarimu sebagian dari ta'bir mimpi-mimpi." (Yusuf: 6). Di antara hubungan kesesuaiannya (al-Munasabah) pada mimpi fatayain (dua pemuda): Mimpi pertama yang disaksikan, yaitu orang yang melihat dirinya memeras anggur untuk dijadikan khamar bahwa orang yang membuat khamar, biasanya menjadi pelayan bagi orang lain. Memeras (buah biasanya) untuk orang lain. Kare-nanya, Yusuf mena'birkannya dengan pekerjaan yang akan pemuda alami nantinya, yaitu memberi minuman tuannya. Keterangan ini mengandung makna ia akan bebas dari penjara. Dan beliau menakwilkan mimpi orang yang melihat dirinya memanggul roti di atas kepalanya (yang sebagian dipatuk oleh seekor burung), dengan penjelasan bahwa kulit kepala dan daging serta otak dari pembawa roti itu akan tampak terlihat oleh burung-burung di sebuah tempat sehingga memungkinkan bagi burung-burung itu untuk mematuk kepalanya. Beliau melihat melalui kondisinya, ia akan terbunuh dan disalib setelah kematiannya. Se-lanjutnya dia akan tampak oleh burung-burung itu, sehingga akan mematuki kepalanya. Itu tidak terjadi kecuali dengan cara menya-libnya setelah terbunuh. Beliau menakwilkan mimpi sang raja, (yang melihat) sapi-sa-pi betina dan bulir-bulir tanaman dengan tahun-tahun yang subur dan masa-masa yang kering kerontang. Sisi relevansinya, bahwa kondisi rakyat dan kemaslahatan mereka berhubungan dengan raja (penguasa). Dengan keshalihannya, keadaan akan menjadi baik, dan (sebaliknya) kondisi akan memburuk dengan keburukan perilaku-nya. Begitu pula, musim-musim menjadi faktor penyebab kebaikan kondisi rakyat dan stabilitas persoalan mata pencaharian mereka atau sebaliknya. Tentang sapi, hewan ini menjadi alat untuk mem-bajak tanah dan menimba air. Apabila kondisi satu tahun subur, maka akan gemuk-gemuk. Apabila sedang mengalami kekeringan, maka akan kurus-kurus. Demikian pula, bulir-bulir tanaman akan tumbuh banyak dan menghijau saat musim subur. Dan dalam kon-disi kekeringan, jumlahnya akan sedikit dan mengering. Dan itu merupakan hasil bumi yang paling bagus. b Adanya bukti-bukti pembenaran tentang kenabian Muham-mad, di mana beliau dapat menceritakan kisah yang panjang ini kepada kaumnya, padahal beliau tidak membaca kitab-kitab umat terdahulu, juga tidak belajar bersama seseorang pun. Kaumnya (Qu-raisy) menyaksikan keberadaan beliau pagi dan petang dalam ke-adaan buta huruf, tidak bisa menulis dan tidak bisa membaca. Se-mentara kisah yang beliau sampaikan persis dengan kronologi yang terdapat di kitab-kitab terdahulu. Beliau tidak bersama mereka, saat mereka membulatkan keputusan untuk memperdayai Yusuf. b Seyogyanya seorang hamba menjauhi faktor-faktor penye-bab yang mendatangkan keburukan dan menyembunyikan perkara yang dikhawatirkan memunculkan bahaya. Ini berdasarkan pernya-taan Ya'qub kepada Yusuf, ﴾ يَٰبُنَيَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡيَاكَ عَلَىٰٓ إِخۡوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيۡدًاۖ ﴿ "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu ini kepada sau-dara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakanmu)." (Yusuf: 5). b Sesungguhnya diperbolehkan menyebut seseorang dengan sesuatu yang dia benci dalam rangka pemberian nasihat untuk orang lain, berdasarkan Firman Allah, ﴾ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيۡدًاۖ ﴿ "Maka mereka membuat makar (untuk membinasakanmu)." (Yu-suf: 5). b Sesungguhnya kenikmatan Allah bagi hambaNya merupa-kan kenikmatan juga bagi orang-orang yang terkait dengannya, yaitu keluarganya, kaum kerabatnya dan kawan-kawannya. Ka-dang kala, kenikmatan itu mencakup mereka semua, mereka men-dapatkan apa yang diraih oleh seseorang melalui perantaraannya. Seperti yang dikatakan Ya'qub saat menakwilkan mimpi Yusuf, ﴾ وَكَذَٰلِكَ يَجۡتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ وَعَلَىٰٓ ءَالِ يَعۡقُوبَ ﴿ "Dan demikianlah Rabbmu memilihmu (untuk menjadi nabi) dan mengajarimu sebagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub." (Yusuf: 6). Tatkala anugerah itu telah terwujud bagi Yusuf, maka keluarga Ya'qub merengkuh kemuliaan dan kekuasaan di bumi, kebahagiaan dan qhibthah terhadap sesuatu yang didapatkan disebabkan Yusuf. b Sesungguhnya perwujudan keadilan dituntut dalam setiap masalah, tidak hanya dalam level interaksi antara penguasa dengan rakyat dan hubungan lain di tingkat bawahnya, bahkan sampai pada etika pergaulan antara seorang ayah dengan anak-anaknya dalam aspek kecintaan, ekstra perhatian dan lainnya. Keteledoran dalam masalah ini akan mengakibatkan urusan menjadi cacat dan keadaan berubah menjadi rusak. Oleh karenanya, ketika Ya'qub lebih mencintai Yusuf dan mengistimewakannya daripada saudara-saudaranya, maka terjadilah pada diri mereka, ayah mereka dan saudara mereka sesuatu yang telah berlalu. b Keharusan mewaspadai efek buruk dosa-dosa, dan bahwa-sanya dosa satu saja akan menyeret munculnya dosa-dosa lainnya yang bermacam-macam, yang mana pelakunya tidak merasa sem-purna melainkan dengan berbagai tindak kejahatan. b Saudara-saudara Yusuf, tatkala hendak memisahkannya dari sang ayah, mereka mengupayakan berbagai rekayasa untuk itu dan menyampaikan pernyataan dusta berulang kali, dan memalsukan baju dan darah yang dilumurinya di hadapan sang ayah, serta datang di malam hari dengan isak tangisan. Tidak mustahil, bahwa sudah banyak usaha yang direncanakan di waktu tersebut. Bahkan mungkin saja, hal itu berlangsung hingga saat mereka berkumpul bersama dengan Yusuf. Semakin banyak rencana, maka semakin banyak pula kedustaan dalam berbicara dan pemalsuan kabar. Ini-lah implikasi bahaya dosa dan efek-efek (buruknya) yang mengiri-nginya, yang telah berlalu dan akan muncul nantinya. b Parameter untuk menilai kondisi seseorang bertumpu pada kesempurnaan di penghujung hayatnya, bukan pada permulaan kehidupannya yang masih ada kekurangannya. Sesungguhnya, anak-anak Ya'qub عليه السلام, melewati peristiwa yang telah terjadi di awalnya, yang termasuk menjadi penyebab penting kekurangan dan celaan pada mereka. Selanjutnya, perjalanan hidup mereka berakhir dengan taubat nashuha dan pemberian maaf penuh dari Yusuf dan ayah mereka (atas kesalahan-kesalahan mereka), panja-tan doa ampunan dan curahan rahmat bagi mereka. Bila seseorang sudah memberikan (maaf) atas haknya (tidak menuntutnya), maka Allah adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Oleh karenanya, atas dasar pendapat yang paling shahih, mereka (juga) berstatus nabi, berdasarkan Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ ﴿ "Dan Kami memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya`qub dan anak-cucunya." (An-Nisa`: 163) Mereka adalah anak-anak Ya'qub yang berjumlah dua belas orang dan keturunannya. Di antara indikasi yang menunjukkan ke arah sana, bahwa dalam mimpi Yusuf, ia menyaksikan mereka menjelma bintang-bintang yang gemerlapan. Bintang-bintang itu mempunyai cahaya dan bisa dijadikan petunjuk (jalan), yang me-rupakan ciri khas para nabi. Apabila mereka bukan para nabi, maka mereka (paling tidak) adalah para ulama yang menunjukkan jalan kepada kebenaran. b Penjelasan tentang karunia yang Allah curahkan kepada Yusuf عليه السلام, yang berbentuk ilmu, perilaku bijak, dan budi pekerti yang luhur, serta komitmen untuk berdakwah kepada Allah, mu-dah memaafkan para saudaranya yang berbuat salah kepadanya sebelum mereka meminta maaf. Beliau menyempurnakan sikap ini dengan tidak mencaci dan mencela mereka atas perbuatan yang pernah dilakukan, juga tentang bakti beliau yang besar terhadap kedua orang tuanya, mencurahkan kebaikan kepada saudara-sau-daranya, bahkan kepada seluruh manusia. b Bahwa sebagian kejelekan itu lebih ringan daripada kejelek-an yang lain. Menerjang kejelekan yang kandungan bahayanya lebih ringan lebih baik ketimbang melakukan yang lebih berat baha-yanya. Karena, para saudara Yusuf tatkala bersepakat bulat untuk membunuh Yusuf atau membuangnya di suatu tempat, salah se-orang dari mereka mengusulkan, ﴾ لَا تَقۡتُلُواْ يُوسُفَ وَأَلۡقُوهُ فِي غَيَٰبَتِ ٱلۡجُبِّ ﴿ "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur." (Yusuf: 10). Usulannya lebih baik dan lebih ringan (bahayanya) daripada gagasan mereka. Karena itu, menjadi ringanlah dosa besar yang ditanggung para saudaranya. b Segala sesuatu yang telah berpindah tangan dan berubah menjadi bagian dari harta kekayaan, tanpa diketahui bahwa cara perolehannya tidak dibenarkan oleh syariat, maka tidak ada dosa bagi orang yang memperjualbelikan, mempekerjakan, memanfaat-kan atau memakainya secara langsung. Sesungguhnya Yusuf dijual oleh para saudaranya dengan cara yang haram, yang tidak boleh dilakukan. Sesudah itu, kafilah (yang membelinya) membawanya menuju Mesir dan menjualnya di sana. Maka, dia pun tinggal ber-sama tuannya sebagai seorang anak yang terpasung (budak sahaya). Namun Allah menyebut beliau sebagai sayyid (tuan). Bersama me-reka, beliau layaknya budak kecil yang terhormat. b Peringatan (bahaya) berduaan dengan kaum wanita yang dikhawatirkan timbul fitnah dari mereka, demikian juga peringatan akan bahaya getaran cinta yang ditakutkan memantik bahaya. Se-sungguhnya istri al-Aziz telah mengalami peristiwa tersebut lan-taran bersendirian bersama Yusuf, dan rasa cintanya kepada Yusuf yang sangat mendalam, yang menyebabkan Yusuf tidak berkutik untuk meninggalkannya sampai akhirnya wanita itu membujuknya dengan model seperti itu, berdusta atas namanya, hingga dipenja-rakan dalam waktu yang panjang. b Hasrat yang muncul pada Yusuf terhadap wanita tersebut yang kemudian dia singkirkan karena Allah, menjadi salah satu tangga yang mengangkatnya kepada Allah menuju kedudukan yang dekat denganNya. Sebab dorongan hasrat merupakan bagian dari bisikan jiwa yang mengajak kepada kejelekan. Hal tersebut sudah menjadi perkara yang lumrah bagi kebanyakan orang. Saat beliau membandingkannya dengan mahabbatullah (rasa cinta kepada Allah) dan rasa takut kepadaNya, ternyata kecintaan dan ketakutan-nya kepada Allah mampu menumbangkan godaan jiwa dan hawa nafsu. Maka beliau termasuk kalangan orang-orang, ﴾ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ 40 ﴿ "yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari ke-inginan hawa nafsunya," (An-Nazi'at: 40), dan masuk kategori tujuh golongan yang akan Allah naungi di ba-wah naungan ArasyNya, pada hari yang tiada naungan melainkan naunganNya. Salah satu dari mereka, yakni seorang lelaki yang di-ajak oleh seorang wanita cantik lagi berkedudukan (untuk berbuat zina), tapi dia menjawab, "Saya takut kepada Allah."[8] Bentuk keinginan yang dicela dari seorang hamba, yaitu ke-inginan yang terus menguntitnya dan berubah menjadi tekad bulat. Terkadang diiringi dengan tindakan nyata. b Insan yang sudah dimasuki keimanan pada hatinya, di mana dia seorang yang ikhlas karena Allah pada semua tindak-tanduk-nya, maka Allah akan menyingkirkan berbagai macam kejelekan, perbuatan keji dan maksiat (dari dirinya) dengan kekuatan iman-nya dan kemurnian ikhlasnya, sebagai balasan baik bagi keimanan dan keikhlasannya. Hal ini berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ 24 ﴿ "Dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Rabbnya. Demikianlah agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih," (Yusuf: 24), ayat ini bermakna ikhlash dengan mendasarkan pada bacaan qira`ah imam yang membacanya dengan mengkasrahkan huruf lam (minal mukhlishin). Sedangkan bila bertumpu pada bacaan imam yang membacanya dengan fathah (mukhlash: yang dipilih, yang dikhusus-kan), maka itu berasal dari keikhlasan yang Allah limpahkan kepa-danya. Karunia ini memuat potensi keikhlasan pada dirinya. Tatkala dia mengikhlaskan amalannya hanya untuk Allah semata, maka Allah menjadikannya ikhlas dan membebaskannya dari segala ke-jelekan dan kekejian. b Sepatutnya seorang hamba jika menyaksikan suatu tempat yang mengandung fitnah dan faktor-faktor penggoda untuk berbuat maksiat agar bergegas pergi dan lari (darinya) sekuat mungkin, su-paya dia dapat terbebaskan dari maksiat itu. Sebab Yusuf عليه السلام tatkala wanita yang berada di dalam rumah menggodanya, maka beliau lari untuk mencari pintu keluar, agar selamat dari kejelekannya. b Bahwa qarinah (konteks) dipraktikkan ketika ada kemiripan. Jika suami istri bertikai memperebutkan tentang perkakas rumah, maka barang yang pantas dimiliki seorang lelaki, menjadi miliknya. Dan barang yang sepantasnya dimiliki seorang wanita, menjadi haknya. Ketetapan ini dilakukan bila tidak ada bukti. Begitu pula, bila seorang tukang kayu berselisih dengan tukang besi mengenai hak kepemilikan suatu alat kerja tanpa ada bukti, maka pengecekan berdasarkan kemiripan dan bekas pengaruhnya adalah termasuk dalam pembahasan ini. Sesungguhnya saksi (ahli yang membela) Yusuf, dia bersaksi berdasarkan konteks yang menyertai dan mengambil keputusan atas dasar itu melalui robeknya baju Yusuf. Ia mengambil petunjuk robeknya baju Yusuf di bagian belakang atas kejujuran Yusuf dan kedustaan wanita itu. Di antara petunjuk yang memperkuat kaidah ini, bahwa Yusuf mengambil petunjuk dengan keberadaan piala raja di karung saudaranya (Bunyamin) untuk menetapkan perbuatan pencurian pada dirinya tanpa menyertakan bukti persaksian atau pengakuan. Atas dasar ini, bila barang curian ditemukan di tangan pencuri, khususnya orang itu terkenal suka mencuri, maka dihu-kumi sebagai pelaku pencurian. Keputusan berdasarkan ini lebih tuntas dibandingkan persaksian. Begitu pula, jika ada seorang lelaki yang muntah-muntah me-ngeluarkan arak, atau wanita hamil tanpa suami atau tuan, maka dengan dasar semacam ini, hukuman pidana dilangsungkan selama tidak ada faktor yang menghalangi pelaksanaannya. Oleh karena-nya, Allah menyebut hukum itu sebagai syahid (saksi). Allah ber-firman, ﴾ وَشَهِدَ شَاهِدٞ مِّنۡ أَهۡلِهَآ ﴿ "Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberi kesaksian." (Yusuf: 26). b (Pembuktian) kekuatan pesona keelokan Yusuf secara lahir dan batin. Ketampanan fisiknya mengakibatkan peristiwa itu terjadi pada wanita itu di dalam rumahnya, dan (peristiwa) pada para wanita yang telah Zulaikha kumpulkan usai mereka mencelanya atas kejadian itu, sampai mereka mengiris-iris tangan mereka sen-diri. Mereka berkata, ﴾ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا مَلَكٞ كَرِيمٞ 31 ﴿ "Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah ma-laikat yang mulia." (Yusuf: 31). Keindahan batin beliau, yaitu sifat iffah (penjagaan kehormatan diri) yang besar dari godaan maksiat, kendatipun terdapat banyak faktor yang dapat menyeretnya terjerumus kepada maksiat itu dan persaksian istri al-Aziz dan para wanita mengenai kesuciannya setelah itu. Karena itu, istri al-Aziz berkata, ﴾ وَلَقَدۡ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفۡسِهِۦ فَٱسۡتَعۡصَمَۖ ﴿ "Sesungguhnya aku telah menggodanya untuk menundukkan di-rinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak" (Yusuf: 32). Setelah itu, dia mengatakan, ﴾ ٱلۡـَٰٔنَ حَصۡحَصَ ٱلۡحَقُّ أَنَا۠ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفۡسِهِۦ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ 51 ﴿ "Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar." (Yusuf: 51). Sedangkan para wanita itu menyatakan, ﴾ حَٰشَ لِلَّهِ مَا عَلِمۡنَا عَلَيۡهِ مِن سُوٓءٖۚ ﴿ "Mahasempurna Allah, kami tiada mengetahui suatu keburukan pun padanya." (Yusuf: 51). b Bahwa Yusuf عليه السلام lebih memilih menghuni penjara daripada berbuat maksiat. Memang demikianlah seharusnya seorang hamba, bila dihadapkan pada dua pilihan ujian: berbuat maksiat atau hu-kuman duniawi, maka hendaklah dia memilih sanksi duniawi ke-timbang menerjang dosa yang akan mendatangkan hukuman berat di dunia dan akhirat. Karena itulah, termasuk dari tanda keimanan dari seorang hamba adalah benci kembali kepada kekufuran setelah dia diselamatkan Allah darinya sebagaimana dia benci dicampak-kan ke dalam api. b Seharusnya seorang hamba selalu mencari perlindungan kepada Allah dan bernaung di bawah naunganNya saat pemicu-pemicu maksiat dan berlepas diri dari (kepercayaan) pada daya dan kekuatan pribadinya (tanpa campur tangan Allah). Hal ini berda-sarkan perkataan Yusuf, ﴾ وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّي كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ 33 ﴿ "Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (Yusuf: 33). b Sesungguhnya ilmu dan akal akan mengajak pemiliknya ke-pada kebaikan dan menahannya dari kejelekan. Dan (sebaliknya) kebodohan akan menyeret orang untuk mengikuti bisikan hawa nafsunya, walaupun merupakan maksiat yang berbahaya bagi pe-lakunya. b Bahwasanya, sebagaimana seorang hamba berkewajiban menghambakan diri kepada Allah di masa-masa senang, maka dia pun berkewajiban mengabdikan dirinya kepada Allah di masa-masa sulit. Yusuf tetap saja memanjatkan doa kepada Allah. Tatkala beliau masuk penjara, beliau tetap konsisten melakukannya. Beliau pun mendakwahi dua remaja (yang bersamanya di dalam penjara) ke-pada tauhid dan melarang mereka berdua dari praktik syirik. Ter-masuk cerminan kecerdasan beliau adalah ketika beliau menyaksi-kan adanya respon positif mereka terhadap dakwah, dalam wujud persangkaan baik mereka terhadap beliau, dan keduanya berkata kepada beliau, ﴾ إِنَّا نَرَىٰكَ مِنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ 36 ﴿ "Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi)." (Yusuf: 36). Keduanya mendatangi beliau untuk tujuan pena'biran mimpi yang mereka alami lalu sangat antusias menyimaknya, beliau me-mandang indikasi ini sebagai kesempatan yang harus dimanfaat-kan. Selanjutnya beliau menyeru mereka kepada Allah تعالى sebelum mena'birkan mimpi mereka. Supaya lebih sukses untuk merealisa-sikan tujuan dan lebih mendekatkan kepada tercapainya sasaran yang diinginkan. Pertama-tama, beliau menjelaskan bahwa aspek yang meng-antarkannya sampai pada level yang mereka saksikan pada beliau, berupa kesempurnaan jiwa dan ilmu ialah keimanan, dan tauhid beliau serta antipati beliau terhadap ajaran agama orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Pernyataan ini (sejatinya) merupakan dakwah kepada mereka melalui tindakan konkret. Be-rikutnya beliau mendakwahi mereka dengan bahasa verbal. Beliau menjelaskan keburukan syirik disertai bukti-bukti penguatnya, dan (memaparkan) hakikat tauhid dan bukti-bukti penguatnya. b Sesungguhnya Yusuf memulai dengan perkara yang penting lalu kepada yang paling penting. Seorang mufti bila ditanya oleh seseorang, yang mempunyai kebutuhan yang lebih mendesak dari-pada muatan pertanyaannya, maka hendaklah dia mengajari hal-hal yang diperlukan orang tersebut sebelum menjawab pertanyaan-nya. Ini menjadi tanda ketulusan hati pendidik, dan kecerdikannya, serta kecakapannya dalam mengarahkan dan mendidik. Sesungguh-nya Yusuf ketika ditanya tentang mimpi oleh dua pemuda, maka beliau mengawali dengan dakwah seruan kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya kepada mereka. b Orang yang terjerumus dalam perkara yang tidak baik dan kesulitan, tidak masalah baginya untuk meminta pertolongan ke-pada orang yang mempunyai kemampuan membebaskannya (dari masalah itu) atau memberitahukan keadaannya. Ini bukan bagian menyampaikan keluhan kepada manusia. Akan tetapi, termasuk perkara-perkara lumrah, sudah menjadi kebiasaan saling tolong menolong antar sesama manusia satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara dua pemuda itu, ﴾ ٱذۡكُرۡنِي عِندَ رَبِّكَ ﴿ "Terangkan keadaanku kepada tuanmu." (Yusuf: 42). b Seyogyanya dan lebih ditekankan lagi pada seorang guru adalah aspek realisasi ikhlas yang sempurna dalam proses penga-jaran. Jangan sampai ia menjadikannya sebagai sarana untuk meng-harapkan timbal-balik dari seseorang, baik berkaitan dengan harta, jabatan dan jasa. Dan janganlah ia menolak untuk mengajar atau menasihati, bila penanya tidak mengerjakan beban yang dipikulkan padanya oleh sang pendidik. Sesungguhnya Yusuf عليه السلام telah menga-takan dan berpesan kepada salah seorang pemuda (yang bersama-nya di penjara) untuk menerangkan kondisinya kepada tuannya. Akan tetapi, ia tidak ingat dan lupa. Ketika muncul kebutuhan me-reka untuk bertanya kepada Yusuf, mereka pun mengutus pemuda itu, dia datang dengan bertanya, meminta fatwa tentang mimpi raja. Yusuf tidak mencercanya, tidak menjelek-jelekkannya lantaran meninggalkan pesannya (kepada tuannya). Justru beliau langsung menjawabnya dengan komplet dari seluruh sisi. b Seyogyanya orang yang ditanya menuntun penanya akan perkara yang berguna baginya, yang bertalian dengan inti pertanya-annya dan mengarahkannya kepada jalan yang akan bermanfaat baginya dalam agama maupun dunianya. Sesungguhnya tindakan ini termasuk sebagian dari kesempurnaan ketulusan hatinya, kecer-dikan dan kecakapan dalam pengarahan. Sesungguhnya Yusuf عليه السلام tidak hanya sebatas menakwilkan mimpi raja. Bahkan dia –bersama dengan itu- menunjukkan kebijakan yang mesti mereka kerjakan pada tahun-tahun yang subur, dengan memperbanyak penanaman dan pemungutan hasil. b Seseorang tidak (layak) dicela dalam usaha menepis tuduhan dari dirinya dan mencari kebebasan diri darinya. Bahkan upaya itu terpuji. Seperti penolakan Yusuf untuk keluar dari penjara sehingga jelaslah bersihnya reputasi namanya bagi mereka dari keterlibatan dengan para wanita yang memotong-motong tangan mereka. b Penjelasan keutamaan ilmu, (yaitu) ilmu hukum-hukum dan syariat, dan ilmu penakwilan mimpi, serta ilmu manajemen dan pendidikan. (Penguasaan) ilmu-ilmu itu lebih utama bagi seseorang ketimbang penampilan lahiriah, meskipun ketampanannya menya-mai ketampanan Yusuf. Sesungguhnya Yusuf malah mengalami ujian dan dijebloskan penjara karena ketampanannya. Sementara itu, karena ilmunya, dia memperoleh kemuliaan, ketinggian derajat dan memegang kekuasaan di bumi. Sesungguhnya setiap kebaikan di dunia dan akhirat adalah atas pengaruh ilmu dan faktor-faktor pendukungnya. b Sesungguhnya ilmu penakwilan mimpi termasuk ilmu syar'i, pemiliknya memperoleh pahala atas (ketekunannya) dalam mem-pelajari dan mengajarkannya, dan bahwa penakwilan mimpi terma-suk ke dalam ranah pemberian fatwa. Hal ini berdasarkan perkataan Yusuf kepada pemuda itu, ﴾ قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ٱلَّذِي فِيهِ تَسۡتَفۡتِيَانِ 41 ﴿ "Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan (kepadaku)." (Yusuf: 41). Dan raja berkata, ﴾ أَفۡتُونِي فِي رُءۡيَٰيَ ﴿ "Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu." (Yusuf: 43). Dan pemuda itu berkata kepada Yusuf, ﴾ أَفۡتِنَا فِي سَبۡعِ بَقَرَٰتٖ ﴿ "Terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi…." (Yusuf: 46). Maka tidak boleh lancang mena'birkan mimpi tanpa dasar ilmu. b Sesungguhnya tidak masalah seseorang memberitahukan tentang (kecakapan) dirinya yang berbentuk sifat-sifat yang sem-purna, berupa ilmu dan amal jika menyebabkan kemaslahatan. Se-lama hamba tersebut tidak berniat untuk riya (pamer) dan selamat dari kedustaan, berdasarkan perkataaan Yusuf, ﴾ ٱجۡعَلۡنِي عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلۡأَرۡضِۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٞ 55 ﴿ "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan." (Yusuf: 55). Begitu pula, (memegang) jabatan tidak tercela, jika pemegang-nya melaksanakan sesuai dengan kemampuannya yang berkaitan dengan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia, dan bahwa tidak masalah memintanya bila dia adalah orang yang paling besar kecakapannya daripada orang lain. Sisi celaannya muncul, bila tidak ada kecakapan pada dirinya atau masih ada orang lain yang sebanding dengannya atau bahkan lebih tinggi (keahliannya) dari-padanya, atau dia tidak berniat untuk menegakkan perintah Allah. Dengan sebab-sebab ini, meminta jabatan dan menawarkan diri padanya adalah dilarang (dalam agama). b Sesungguhnya Allah Mahaluas kemurahan dan kemuliaan-Nya, bermurah hati kepada hambaNya dengan (mengucurkan) kebaikan dunia dan akhirat, dan bahwa kebaikan akhirat itu mem-punyai dua faktor (yang mendatangkannya): keimanan dan ketak-waan, dan bahwa ia lebih baik dibandingkan balasan duniawi dan kerajaannya, dan bahwa seorang hamba seharusnya mendakwahi dirinya, dan menjadikannya merindukan balasan dari Allah. Jangan membiarkan dirinya dirundung kesedihan ketika menyaksikan hamba dunia bergelimang dengan nikmat dunia dan kelezatannya, sementara dia tidak mampu melakukannya. Akan tetapi, hendak-lah dia menghibur hatinya dengan pahala Allah di akhirat dan ke-utamaannya yang agung, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَلَأَجۡرُ ٱلۡأٓخِرَةِ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ 57 ﴿ "Dan pahala akhirat lebih baik bagi orang-orang yang beriman sedang mereka dalam keadaan bertakwa." (Yusuf: 57). b Sesungguhnya pungutan pajak kekayaan jika dimaksudkan untuk memberikan kelonggaran (ekonomi) bagi manusia tanpa me-nimbulkan bahaya yang dapat mengenai mereka, tidaklah masalah. Yusuf memerintahkan mereka untuk mengambil pajak kekayaan dan makanan-makanan di musim-musim subur sebagai persiapan menghadapi tahun-tahun paceklik. Kebijakan ini tidak bertentangan dengan tawakal kepada Allah. Bahkan seorang hamba harus berta-wakal kepada Allah dan menempuh sebab-sebab yang mendatang-kan manfaat dalam agama dan duniawinya. b Kecakapan Yusuf dalam pengelolaan. Beliau memegang kendali perbendaharaan negara sehingga kekayaan menjadi melim-pah bagi mereka. Akibatnya, orang-orang dari berbagai tempat ber-bondong-bondong ke Mesir untuk mencari bahan makanan. Karena mereka tahu adanya suplai berlimpah padanya. Bahkan kecakapan beliau, sampai tingkat bahwa beliau tidaklah menimbangkan bagi seseorang kecuali sesuai kadar kebutuhannya atau kurang darinya. Setiap yang datang tidak menerima lebih dari timbangan unta dan beban yang bisa diangkatnya. b Disyariatkannya menyambut tamu, dan penyambutan itu termasuk kebiasaan para rasul dan cara menghormati tamu. Hal ini berdasarkan perkataan Yusuf kepada para saudaranya, ﴾ أَلَا تَرَوۡنَ أَنِّيٓ أُوفِي ٱلۡكَيۡلَ وَأَنَا۠ خَيۡرُ ٱلۡمُنزِلِينَ 59 ﴿ "Tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan, dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?" (Yusuf: 59). b Sesungguhnya berprasangka buruk karena keberadaan qa-rinah yang mendukungnya, bukanlah tindakan yang terlarang maupun diharamkan. Karena Ya'qub berkata kepada anak-anaknya setelah enggan melepaskan Yusuf bersama mereka, sampai akhir-nya mereka berusaha membujuknya dengan usaha yang sangat gi-gih. Setelah itu, beliau berkata kepada mereka setelah mereka tidak membawanya kembali (pulang) dan berdusta bahwa serigala telah memangsanya, ﴾ بَلۡ سَوَّلَتۡ لَكُمۡ أَنفُسُكُمۡ أَمۡرٗاۖ ﴿ "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu." (Yusuf: 83). Beliau berkata kepada mereka mengenai saudaranya yang lain, ﴾ هَلۡ ءَامَنُكُمۡ عَلَيۡهِ إِلَّا كَمَآ أَمِنتُكُمۡ عَلَىٰٓ أَخِيهِ مِن قَبۡلُ ﴿ "Bagaimana (mungkin) aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu melainkan sebagaimana aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu." (Yusuf: 64). Berikutnya, ketika Yusuf menahannya (Bunyamin) lalu sau-dara-saudaranya menghampiri ayah mereka, maka Ya'qub berkata, ﴾ بَلۡ سَوَّلَتۡ لَكُمۡ أَنفُسُكُمۡ أَمۡرٗاۖ ﴿ "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu." (Yusuf: 83). Pada kejadian yang terakhir –walaupun mereka tidak mela-kukan keteledoran–, sungguh telah terjadi peristiwa yang mengaki-batkan ayah mereka mengatakan perkataan yang sudah terlontar-kan, tanpa menyebabkan dosa ataupun kesalahan. b Menggunakan faktor penyebab yang dapat menangkal pe-ngaruh buruk al-'ain (penyakit pandangan mata yang hasad) atau kejelekan lainnya atau yang dapat menyelesaikan masalah itu sete-lah terjadi bukanlah perbuatan yang terlarang, bahkan hukumnya jaiz (boleh). Meskipun sesuatu itu tidaklah terjadi melainkan karena ketetapan dan takdir Allah. Hanya saja, usaha-usaha tersebut juga masuk dalam ketetapan dan takdir Allah, ini berdasarkan perintah Ya'qub di mana beliau berkata, ﴾ يَٰبَنِيَّ لَا تَدۡخُلُواْ مِنۢ بَابٖ وَٰحِدٖ وَٱدۡخُلُواْ مِنۡ أَبۡوَٰبٖ مُّتَفَرِّقَةٖۖ ﴿ "Hai anak-anakku, janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan." (Yusuf: 67). b Bolehnya memanfaatkan tipu daya yang dapat mengantar-kan pada peraihan hak-hak dan bahwa mengetahui cara-cara raha-sia yang dapat merealisasikan tujuan-tujuan adalah termasuk aspek yang membuat seorang hamba dipuji. Yang terlarang ialah, me-munculkan rekayasa untuk menggugurkan kewajiban atau berbuat haram. b Seyogyanya seseorang yang ingin mengalihkan perhatian orang lain pada sebuah masalah yang tidak ingin diketahui (oleh orang lain), agar menggunakan ucapan atau perbuatan kiasan (al-ma'aridh) yang menjaganya dari k
Yusuf 12:111
"Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka te-lah didustakan, maka datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari orang-orang yang berdosa. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Ia (al-Qur`an itu) bukan-lah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (Yusuf: 110-111).
(110) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia mengutus para rasul yang mulia. Namum kaum yang jahat lagi pencela mendus-takan mereka. Allah masih menyediakan tempo bagi mereka agar kembali menuju kebenaran. Allah senantiasa menangguhkan mereka sampai pada level kekerasan sikap mereka yang dahsyat terhadap para rasul. Sampai-sampai para rasul meski memiliki keyakinan yang sempurna dan kekuatan kepercayaan mereka kepada janji Allah dan ancamanNya, boleh jadi terlintas pada hati mereka ke-putusasaan dan kelemahan dalam ilmu dan kepercayaan. Apabila kondisi mereka sudah mencapai tingkat ini ﴾ جَآءَهُمۡ نَصۡرُنَا فَنُجِّيَ مَن نَّشَآءُۖ ﴿ "datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki." Mereka itu adalah para rasul dan penganut mereka ﴾ وَلَا يُرَدُّ بَأۡسُنَا عَنِ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari orang-orang yang berdosa", maksudnya siksaan Kami tidak bisa ditampik dari orang-orang yang berbuat dosa dan nekat (berbuat buruk) terhadap Allah. Tiada kekuatan dan penolong bagi mereka.
(111) ﴾ لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ ﴿ "Sesungguhnya pada kisah-kisah mere-ka itu", yaitu kisah-kisah para nabi dan rasul bersama kaum mereka ﴾ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ ﴿ "terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempu-nyai akal", maksudnya orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat akan memetik pelajaran darinya, dan bahwa siapa saja yang melakukan perbuatan seperti yang mereka kerjakan, maka dia pasti akan menuai kemuliaan atau penghinaan. Mereka juga dapat meng-ambil pelajaran berkaitan dengan sifat-sifat milik Allah yang sem-purna dan hikmah yang agung. Dan bahwasanya Dia-lah Allah yang tidak sepantasnya peribadahan dilakukan melainkan untuk-Nya semata, tidak ada sekutu bagiNya. Firman A l l a h ﴾ مَا كَانَ حَدِيثٗا يُفۡتَرَىٰ ﴿ "ia (al-Qur`an itu) bukanlah cerita yang dibuat-buat", maksudnya, al-Qur`an (yang Allah menceritakan berita-berita ghaib melaluinya kepada kalian) bukanlah termasuk cerita-cerita rekaan yang dibuat-buat. ﴾ وَلَٰكِن ﴿ "akan tetapi", ia ﴾ تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ ﴿ "membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya", yaitu kitab-kitab terdahulu (yang diturunkan oleh Allah), al-Qur`an menyelarasi dan mempersaksikan kebenaran kitab-kitab tersebut ﴾ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "dan menjelaskan segala sesuatu", yang dibutuhkan oleh para hamba, berupa ushuluddin (pokok-pokok agama) dan cabang-cabangnya yang berupa dalil-dalil dan petunjuk-petunjuk. ﴾ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman", karena mereka melalui sebab perolehan ilmu tentang al-haq dan sikap pengutamaannya, menjadikan mereka meraih hidayah. Dan lantaran perolehan pahala yang disegerakan (di dunia ini) dan balasan nantinya (di akhirat), maka mereka pun memper-oleh rahmat (Allah).
PASAL (Pelajaran-pelajaran dari surat Yusuf)(Pembahasan ini) berkaitan dengan penjabaran beberapa pe-lajaran dan faidah yang terkandung oleh kisah yang agung ini, yang mana Allah menyebut di permulaannya, ﴾ نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ أَحۡسَنَ ٱلۡقَصَصِ ﴿ "Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik." (Yusuf: 3). Dan Dia berfirman, ﴾ لَّقَدۡ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخۡوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٞ لِّلسَّآئِلِينَ 7 ﴿ "Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya." (Yusuf: 7). Dan di penutupnya Dia berfirman, ﴾ لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ ﴿ "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal." (Yusuf: 111), selain faidah yang telah berlalu di sela-sela penjelasan surat. Di antaranya, b Sesungguhnya, kisah ini merupakan kisah terbaik dan paling jelas serta paling nyata, lantaran memuat fase-fase kehidupan, dari satu keadaan menuju keadaan lainnya, dari satu cobaan kepada cobaan lainnya, dari ujian ke pemberian, dari kehinaan menuju ke-muliaan, dari status sebagai budak menjadi penguasa, dari kondisi perselisihan dan cerai-berai menuju kondisi kesatuan dan keutuhan, dari kesedihan menuju kebahagiaan, dari keadaan yang makmur menuju kondisi paceklik, dari kondisi paceklik menuju kondisi ke-makmuran (lagi), dari kesempitan menuju kelapangan, dari peng-ingkaran yang berakhir dengan pengakuan. Mahaberkah Allah Dzat yang mengisahkannya dengan sebaik-baiknya, mendeskripsikan-nya dan menjelaskannya. b Dalam kisah ini, terdapat dasar legalitas pena'biran mimpi. Sesungguhnya ilmu penakwilan mimpi termasuk pengetahuan yang penting yang dianugerahkan Allah kepada hambaNya yang dikehendakiNya. Sesungguhnya kebanyakan pena'biran mimpi bertumpu pada munasabah (relevansi dengan realita) dan musyaba-hah (keserupaan) dalam nama dan sifat. Sesungguhnya mimpi Yusuf yang berupa melihat matahari dan bulan serta sebelas bintang yang sujud kepadanya, tinjauan relevansi dalam mimpi itu adalah, bahwa semua yang bersinar ter-sebut merupakan perhiasan langit, (sumber) keindahan dan keman-faatan. Begitu pula, para nabi dan ulama merupakan perhiasan dan pesona bagi bumi. Dalam kegelapan, mereka menjadi petunjuk se-bagaimana benda-benda yang bersinar bermanfaat menjadi petunjuk arah. Dan (selain itu) karena intinya yaitu ayah dan ibunya. Semen-tara para saudaranya adalah keturunannya. Di antara aspek kore-lasinya adalah inti lebih terang pancaran cahayanya dan lebih besar bentuknya dibandingkan keturunannya. Oleh karena itu, matahari mewakili ibunya, bulan mewakili ayahnya, sedangkan bintang-bin-tang merepresentasikan saudara-saudaranya. Aspek korelasi lainnya, kata asy-Syamsu (matahari) berbentuk mu`annats (perempuan), karena itu mewakili ibunya. Sedangkan qamar (bulan) dan kaukab (bintang) berbentuk mudzakkar (laki-laki), untuk mewakili ayah dan para saudara Yusuf. Sisi relevansi lainnya, orang yang bersujud mengagungkan dan menghormati orang yang disujudi. Orang yang dihormati de-ngan sujud, merupakan sosok yang diagungkan dan dimuliakan. Oleh karenanya, ini menunjukkan bahwa Yusuf akan menjadi anak yang diagungkan dan dimuliakan oleh kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. Maka di antara kelazimannya adalah bahwa dia akan menjadi seorang yang terpilih dan terdepan dalam ilmu, keutamaan-keutamaan yang mengantarnya ke arah sana. Karena-nya, ayah beliau berkata, ﴾ وَكَذَٰلِكَ يَجۡتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ ﴿ "Dan demikianlah Rabbmu memilih kamu (untuk menjadi nabi) dan mengajarimu sebagian dari ta'bir mimpi-mimpi." (Yusuf: 6). Di antara hubungan kesesuaiannya (al-Munasabah) pada mimpi fatayain (dua pemuda): Mimpi pertama yang disaksikan, yaitu orang yang melihat dirinya memeras anggur untuk dijadikan khamar bahwa orang yang membuat khamar, biasanya menjadi pelayan bagi orang lain. Memeras (buah biasanya) untuk orang lain. Kare-nanya, Yusuf mena'birkannya dengan pekerjaan yang akan pemuda alami nantinya, yaitu memberi minuman tuannya. Keterangan ini mengandung makna ia akan bebas dari penjara. Dan beliau menakwilkan mimpi orang yang melihat dirinya memanggul roti di atas kepalanya (yang sebagian dipatuk oleh seekor burung), dengan penjelasan bahwa kulit kepala dan daging serta otak dari pembawa roti itu akan tampak terlihat oleh burung-burung di sebuah tempat sehingga memungkinkan bagi burung-burung itu untuk mematuk kepalanya. Beliau melihat melalui kondisinya, ia akan terbunuh dan disalib setelah kematiannya. Se-lanjutnya dia akan tampak oleh burung-burung itu, sehingga akan mematuki kepalanya. Itu tidak terjadi kecuali dengan cara menya-libnya setelah terbunuh. Beliau menakwilkan mimpi sang raja, (yang melihat) sapi-sa-pi betina dan bulir-bulir tanaman dengan tahun-tahun yang subur dan masa-masa yang kering kerontang. Sisi relevansinya, bahwa kondisi rakyat dan kemaslahatan mereka berhubungan dengan raja (penguasa). Dengan keshalihannya, keadaan akan menjadi baik, dan (sebaliknya) kondisi akan memburuk dengan keburukan perilaku-nya. Begitu pula, musim-musim menjadi faktor penyebab kebaikan kondisi rakyat dan stabilitas persoalan mata pencaharian mereka atau sebaliknya. Tentang sapi, hewan ini menjadi alat untuk mem-bajak tanah dan menimba air. Apabila kondisi satu tahun subur, maka akan gemuk-gemuk. Apabila sedang mengalami kekeringan, maka akan kurus-kurus. Demikian pula, bulir-bulir tanaman akan tumbuh banyak dan menghijau saat musim subur. Dan dalam kon-disi kekeringan, jumlahnya akan sedikit dan mengering. Dan itu merupakan hasil bumi yang paling bagus. b Adanya bukti-bukti pembenaran tentang kenabian Muham-mad, di mana beliau dapat menceritakan kisah yang panjang ini kepada kaumnya, padahal beliau tidak membaca kitab-kitab umat terdahulu, juga tidak belajar bersama seseorang pun. Kaumnya (Qu-raisy) menyaksikan keberadaan beliau pagi dan petang dalam ke-adaan buta huruf, tidak bisa menulis dan tidak bisa membaca. Se-mentara kisah yang beliau sampaikan persis dengan kronologi yang terdapat di kitab-kitab terdahulu. Beliau tidak bersama mereka, saat mereka membulatkan keputusan untuk memperdayai Yusuf. b Seyogyanya seorang hamba menjauhi faktor-faktor penye-bab yang mendatangkan keburukan dan menyembunyikan perkara yang dikhawatirkan memunculkan bahaya. Ini berdasarkan pernya-taan Ya'qub kepada Yusuf, ﴾ يَٰبُنَيَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡيَاكَ عَلَىٰٓ إِخۡوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيۡدًاۖ ﴿ "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu ini kepada sau-dara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakanmu)." (Yusuf: 5). b Sesungguhnya diperbolehkan menyebut seseorang dengan sesuatu yang dia benci dalam rangka pemberian nasihat untuk orang lain, berdasarkan Firman Allah, ﴾ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيۡدًاۖ ﴿ "Maka mereka membuat makar (untuk membinasakanmu)." (Yu-suf: 5). b Sesungguhnya kenikmatan Allah bagi hambaNya merupa-kan kenikmatan juga bagi orang-orang yang terkait dengannya, yaitu keluarganya, kaum kerabatnya dan kawan-kawannya. Ka-dang kala, kenikmatan itu mencakup mereka semua, mereka men-dapatkan apa yang diraih oleh seseorang melalui perantaraannya. Seperti yang dikatakan Ya'qub saat menakwilkan mimpi Yusuf, ﴾ وَكَذَٰلِكَ يَجۡتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ وَعَلَىٰٓ ءَالِ يَعۡقُوبَ ﴿ "Dan demikianlah Rabbmu memilihmu (untuk menjadi nabi) dan mengajarimu sebagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub." (Yusuf: 6). Tatkala anugerah itu telah terwujud bagi Yusuf, maka keluarga Ya'qub merengkuh kemuliaan dan kekuasaan di bumi, kebahagiaan dan qhibthah terhadap sesuatu yang didapatkan disebabkan Yusuf. b Sesungguhnya perwujudan keadilan dituntut dalam setiap masalah, tidak hanya dalam level interaksi antara penguasa dengan rakyat dan hubungan lain di tingkat bawahnya, bahkan sampai pada etika pergaulan antara seorang ayah dengan anak-anaknya dalam aspek kecintaan, ekstra perhatian dan lainnya. Keteledoran dalam masalah ini akan mengakibatkan urusan menjadi cacat dan keadaan berubah menjadi rusak. Oleh karenanya, ketika Ya'qub lebih mencintai Yusuf dan mengistimewakannya daripada saudara-saudaranya, maka terjadilah pada diri mereka, ayah mereka dan saudara mereka sesuatu yang telah berlalu. b Keharusan mewaspadai efek buruk dosa-dosa, dan bahwa-sanya dosa satu saja akan menyeret munculnya dosa-dosa lainnya yang bermacam-macam, yang mana pelakunya tidak merasa sem-purna melainkan dengan berbagai tindak kejahatan. b Saudara-saudara Yusuf, tatkala hendak memisahkannya dari sang ayah, mereka mengupayakan berbagai rekayasa untuk itu dan menyampaikan pernyataan dusta berulang kali, dan memalsukan baju dan darah yang dilumurinya di hadapan sang ayah, serta datang di malam hari dengan isak tangisan. Tidak mustahil, bahwa sudah banyak usaha yang direncanakan di waktu tersebut. Bahkan mungkin saja, hal itu berlangsung hingga saat mereka berkumpul bersama dengan Yusuf. Semakin banyak rencana, maka semakin banyak pula kedustaan dalam berbicara dan pemalsuan kabar. Ini-lah implikasi bahaya dosa dan efek-efek (buruknya) yang mengiri-nginya, yang telah berlalu dan akan muncul nantinya. b Parameter untuk menilai kondisi seseorang bertumpu pada kesempurnaan di penghujung hayatnya, bukan pada permulaan kehidupannya yang masih ada kekurangannya. Sesungguhnya, anak-anak Ya'qub عليه السلام, melewati peristiwa yang telah terjadi di awalnya, yang termasuk menjadi penyebab penting kekurangan dan celaan pada mereka. Selanjutnya, perjalanan hidup mereka berakhir dengan taubat nashuha dan pemberian maaf penuh dari Yusuf dan ayah mereka (atas kesalahan-kesalahan mereka), panja-tan doa ampunan dan curahan rahmat bagi mereka. Bila seseorang sudah memberikan (maaf) atas haknya (tidak menuntutnya), maka Allah adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Oleh karenanya, atas dasar pendapat yang paling shahih, mereka (juga) berstatus nabi, berdasarkan Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ ﴿ "Dan Kami memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya`qub dan anak-cucunya." (An-Nisa`: 163) Mereka adalah anak-anak Ya'qub yang berjumlah dua belas orang dan keturunannya. Di antara indikasi yang menunjukkan ke arah sana, bahwa dalam mimpi Yusuf, ia menyaksikan mereka menjelma bintang-bintang yang gemerlapan. Bintang-bintang itu mempunyai cahaya dan bisa dijadikan petunjuk (jalan), yang me-rupakan ciri khas para nabi. Apabila mereka bukan para nabi, maka mereka (paling tidak) adalah para ulama yang menunjukkan jalan kepada kebenaran. b Penjelasan tentang karunia yang Allah curahkan kepada Yusuf عليه السلام, yang berbentuk ilmu, perilaku bijak, dan budi pekerti yang luhur, serta komitmen untuk berdakwah kepada Allah, mu-dah memaafkan para saudaranya yang berbuat salah kepadanya sebelum mereka meminta maaf. Beliau menyempurnakan sikap ini dengan tidak mencaci dan mencela mereka atas perbuatan yang pernah dilakukan, juga tentang bakti beliau yang besar terhadap kedua orang tuanya, mencurahkan kebaikan kepada saudara-sau-daranya, bahkan kepada seluruh manusia. b Bahwa sebagian kejelekan itu lebih ringan daripada kejelek-an yang lain. Menerjang kejelekan yang kandungan bahayanya lebih ringan lebih baik ketimbang melakukan yang lebih berat baha-yanya. Karena, para saudara Yusuf tatkala bersepakat bulat untuk membunuh Yusuf atau membuangnya di suatu tempat, salah se-orang dari mereka mengusulkan, ﴾ لَا تَقۡتُلُواْ يُوسُفَ وَأَلۡقُوهُ فِي غَيَٰبَتِ ٱلۡجُبِّ ﴿ "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur." (Yusuf: 10). Usulannya lebih baik dan lebih ringan (bahayanya) daripada gagasan mereka. Karena itu, menjadi ringanlah dosa besar yang ditanggung para saudaranya. b Segala sesuatu yang telah berpindah tangan dan berubah menjadi bagian dari harta kekayaan, tanpa diketahui bahwa cara perolehannya tidak dibenarkan oleh syariat, maka tidak ada dosa bagi orang yang memperjualbelikan, mempekerjakan, memanfaat-kan atau memakainya secara langsung. Sesungguhnya Yusuf dijual oleh para saudaranya dengan cara yang haram, yang tidak boleh dilakukan. Sesudah itu, kafilah (yang membelinya) membawanya menuju Mesir dan menjualnya di sana. Maka, dia pun tinggal ber-sama tuannya sebagai seorang anak yang terpasung (budak sahaya). Namun Allah menyebut beliau sebagai sayyid (tuan). Bersama me-reka, beliau layaknya budak kecil yang terhormat. b Peringatan (bahaya) berduaan dengan kaum wanita yang dikhawatirkan timbul fitnah dari mereka, demikian juga peringatan akan bahaya getaran cinta yang ditakutkan memantik bahaya. Se-sungguhnya istri al-Aziz telah mengalami peristiwa tersebut lan-taran bersendirian bersama Yusuf, dan rasa cintanya kepada Yusuf yang sangat mendalam, yang menyebabkan Yusuf tidak berkutik untuk meninggalkannya sampai akhirnya wanita itu membujuknya dengan model seperti itu, berdusta atas namanya, hingga dipenja-rakan dalam waktu yang panjang. b Hasrat yang muncul pada Yusuf terhadap wanita tersebut yang kemudian dia singkirkan karena Allah, menjadi salah satu tangga yang mengangkatnya kepada Allah menuju kedudukan yang dekat denganNya. Sebab dorongan hasrat merupakan bagian dari bisikan jiwa yang mengajak kepada kejelekan. Hal tersebut sudah menjadi perkara yang lumrah bagi kebanyakan orang. Saat beliau membandingkannya dengan mahabbatullah (rasa cinta kepada Allah) dan rasa takut kepadaNya, ternyata kecintaan dan ketakutan-nya kepada Allah mampu menumbangkan godaan jiwa dan hawa nafsu. Maka beliau termasuk kalangan orang-orang, ﴾ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ 40 ﴿ "yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari ke-inginan hawa nafsunya," (An-Nazi'at: 40), dan masuk kategori tujuh golongan yang akan Allah naungi di ba-wah naungan ArasyNya, pada hari yang tiada naungan melainkan naunganNya. Salah satu dari mereka, yakni seorang lelaki yang di-ajak oleh seorang wanita cantik lagi berkedudukan (untuk berbuat zina), tapi dia menjawab, "Saya takut kepada Allah."[8] Bentuk keinginan yang dicela dari seorang hamba, yaitu ke-inginan yang terus menguntitnya dan berubah menjadi tekad bulat. Terkadang diiringi dengan tindakan nyata. b Insan yang sudah dimasuki keimanan pada hatinya, di mana dia seorang yang ikhlas karena Allah pada semua tindak-tanduk-nya, maka Allah akan menyingkirkan berbagai macam kejelekan, perbuatan keji dan maksiat (dari dirinya) dengan kekuatan iman-nya dan kemurnian ikhlasnya, sebagai balasan baik bagi keimanan dan keikhlasannya. Hal ini berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ 24 ﴿ "Dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Rabbnya. Demikianlah agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih," (Yusuf: 24), ayat ini bermakna ikhlash dengan mendasarkan pada bacaan qira`ah imam yang membacanya dengan mengkasrahkan huruf lam (minal mukhlishin). Sedangkan bila bertumpu pada bacaan imam yang membacanya dengan fathah (mukhlash: yang dipilih, yang dikhusus-kan), maka itu berasal dari keikhlasan yang Allah limpahkan kepa-danya. Karunia ini memuat potensi keikhlasan pada dirinya. Tatkala dia mengikhlaskan amalannya hanya untuk Allah semata, maka Allah menjadikannya ikhlas dan membebaskannya dari segala ke-jelekan dan kekejian. b Sepatutnya seorang hamba jika menyaksikan suatu tempat yang mengandung fitnah dan faktor-faktor penggoda untuk berbuat maksiat agar bergegas pergi dan lari (darinya) sekuat mungkin, su-paya dia dapat terbebaskan dari maksiat itu. Sebab Yusuf عليه السلام tatkala wanita yang berada di dalam rumah menggodanya, maka beliau lari untuk mencari pintu keluar, agar selamat dari kejelekannya. b Bahwa qarinah (konteks) dipraktikkan ketika ada kemiripan. Jika suami istri bertikai memperebutkan tentang perkakas rumah, maka barang yang pantas dimiliki seorang lelaki, menjadi miliknya. Dan barang yang sepantasnya dimiliki seorang wanita, menjadi haknya. Ketetapan ini dilakukan bila tidak ada bukti. Begitu pula, bila seorang tukang kayu berselisih dengan tukang besi mengenai hak kepemilikan suatu alat kerja tanpa ada bukti, maka pengecekan berdasarkan kemiripan dan bekas pengaruhnya adalah termasuk dalam pembahasan ini. Sesungguhnya saksi (ahli yang membela) Yusuf, dia bersaksi berdasarkan konteks yang menyertai dan mengambil keputusan atas dasar itu melalui robeknya baju Yusuf. Ia mengambil petunjuk robeknya baju Yusuf di bagian belakang atas kejujuran Yusuf dan kedustaan wanita itu. Di antara petunjuk yang memperkuat kaidah ini, bahwa Yusuf mengambil petunjuk dengan keberadaan piala raja di karung saudaranya (Bunyamin) untuk menetapkan perbuatan pencurian pada dirinya tanpa menyertakan bukti persaksian atau pengakuan. Atas dasar ini, bila barang curian ditemukan di tangan pencuri, khususnya orang itu terkenal suka mencuri, maka dihu-kumi sebagai pelaku pencurian. Keputusan berdasarkan ini lebih tuntas dibandingkan persaksian. Begitu pula, jika ada seorang lelaki yang muntah-muntah me-ngeluarkan arak, atau wanita hamil tanpa suami atau tuan, maka dengan dasar semacam ini, hukuman pidana dilangsungkan selama tidak ada faktor yang menghalangi pelaksanaannya. Oleh karena-nya, Allah menyebut hukum itu sebagai syahid (saksi). Allah ber-firman, ﴾ وَشَهِدَ شَاهِدٞ مِّنۡ أَهۡلِهَآ ﴿ "Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberi kesaksian." (Yusuf: 26). b (Pembuktian) kekuatan pesona keelokan Yusuf secara lahir dan batin. Ketampanan fisiknya mengakibatkan peristiwa itu terjadi pada wanita itu di dalam rumahnya, dan (peristiwa) pada para wanita yang telah Zulaikha kumpulkan usai mereka mencelanya atas kejadian itu, sampai mereka mengiris-iris tangan mereka sen-diri. Mereka berkata, ﴾ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا مَلَكٞ كَرِيمٞ 31 ﴿ "Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah ma-laikat yang mulia." (Yusuf: 31). Keindahan batin beliau, yaitu sifat iffah (penjagaan kehormatan diri) yang besar dari godaan maksiat, kendatipun terdapat banyak faktor yang dapat menyeretnya terjerumus kepada maksiat itu dan persaksian istri al-Aziz dan para wanita mengenai kesuciannya setelah itu. Karena itu, istri al-Aziz berkata, ﴾ وَلَقَدۡ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفۡسِهِۦ فَٱسۡتَعۡصَمَۖ ﴿ "Sesungguhnya aku telah menggodanya untuk menundukkan di-rinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak" (Yusuf: 32). Setelah itu, dia mengatakan, ﴾ ٱلۡـَٰٔنَ حَصۡحَصَ ٱلۡحَقُّ أَنَا۠ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفۡسِهِۦ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ 51 ﴿ "Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar." (Yusuf: 51). Sedangkan para wanita itu menyatakan, ﴾ حَٰشَ لِلَّهِ مَا عَلِمۡنَا عَلَيۡهِ مِن سُوٓءٖۚ ﴿ "Mahasempurna Allah, kami tiada mengetahui suatu keburukan pun padanya." (Yusuf: 51). b Bahwa Yusuf عليه السلام lebih memilih menghuni penjara daripada berbuat maksiat. Memang demikianlah seharusnya seorang hamba, bila dihadapkan pada dua pilihan ujian: berbuat maksiat atau hu-kuman duniawi, maka hendaklah dia memilih sanksi duniawi ke-timbang menerjang dosa yang akan mendatangkan hukuman berat di dunia dan akhirat. Karena itulah, termasuk dari tanda keimanan dari seorang hamba adalah benci kembali kepada kekufuran setelah dia diselamatkan Allah darinya sebagaimana dia benci dicampak-kan ke dalam api. b Seharusnya seorang hamba selalu mencari perlindungan kepada Allah dan bernaung di bawah naunganNya saat pemicu-pemicu maksiat dan berlepas diri dari (kepercayaan) pada daya dan kekuatan pribadinya (tanpa campur tangan Allah). Hal ini berda-sarkan perkataan Yusuf, ﴾ وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّي كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ 33 ﴿ "Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (Yusuf: 33). b Sesungguhnya ilmu dan akal akan mengajak pemiliknya ke-pada kebaikan dan menahannya dari kejelekan. Dan (sebaliknya) kebodohan akan menyeret orang untuk mengikuti bisikan hawa nafsunya, walaupun merupakan maksiat yang berbahaya bagi pe-lakunya. b Bahwasanya, sebagaimana seorang hamba berkewajiban menghambakan diri kepada Allah di masa-masa senang, maka dia pun berkewajiban mengabdikan dirinya kepada Allah di masa-masa sulit. Yusuf tetap saja memanjatkan doa kepada Allah. Tatkala beliau masuk penjara, beliau tetap konsisten melakukannya. Beliau pun mendakwahi dua remaja (yang bersamanya di dalam penjara) ke-pada tauhid dan melarang mereka berdua dari praktik syirik. Ter-masuk cerminan kecerdasan beliau adalah ketika beliau menyaksi-kan adanya respon positif mereka terhadap dakwah, dalam wujud persangkaan baik mereka terhadap beliau, dan keduanya berkata kepada beliau, ﴾ إِنَّا نَرَىٰكَ مِنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ 36 ﴿ "Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi)." (Yusuf: 36). Keduanya mendatangi beliau untuk tujuan pena'biran mimpi yang mereka alami lalu sangat antusias menyimaknya, beliau me-mandang indikasi ini sebagai kesempatan yang harus dimanfaat-kan. Selanjutnya beliau menyeru mereka kepada Allah تعالى sebelum mena'birkan mimpi mereka. Supaya lebih sukses untuk merealisa-sikan tujuan dan lebih mendekatkan kepada tercapainya sasaran yang diinginkan. Pertama-tama, beliau menjelaskan bahwa aspek yang meng-antarkannya sampai pada level yang mereka saksikan pada beliau, berupa kesempurnaan jiwa dan ilmu ialah keimanan, dan tauhid beliau serta antipati beliau terhadap ajaran agama orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Pernyataan ini (sejatinya) merupakan dakwah kepada mereka melalui tindakan konkret. Be-rikutnya beliau mendakwahi mereka dengan bahasa verbal. Beliau menjelaskan keburukan syirik disertai bukti-bukti penguatnya, dan (memaparkan) hakikat tauhid dan bukti-bukti penguatnya. b Sesungguhnya Yusuf memulai dengan perkara yang penting lalu kepada yang paling penting. Seorang mufti bila ditanya oleh seseorang, yang mempunyai kebutuhan yang lebih mendesak dari-pada muatan pertanyaannya, maka hendaklah dia mengajari hal-hal yang diperlukan orang tersebut sebelum menjawab pertanyaan-nya. Ini menjadi tanda ketulusan hati pendidik, dan kecerdikannya, serta kecakapannya dalam mengarahkan dan mendidik. Sesungguh-nya Yusuf ketika ditanya tentang mimpi oleh dua pemuda, maka beliau mengawali dengan dakwah seruan kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya kepada mereka. b Orang yang terjerumus dalam perkara yang tidak baik dan kesulitan, tidak masalah baginya untuk meminta pertolongan ke-pada orang yang mempunyai kemampuan membebaskannya (dari masalah itu) atau memberitahukan keadaannya. Ini bukan bagian menyampaikan keluhan kepada manusia. Akan tetapi, termasuk perkara-perkara lumrah, sudah menjadi kebiasaan saling tolong menolong antar sesama manusia satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara dua pemuda itu, ﴾ ٱذۡكُرۡنِي عِندَ رَبِّكَ ﴿ "Terangkan keadaanku kepada tuanmu." (Yusuf: 42). b Seyogyanya dan lebih ditekankan lagi pada seorang guru adalah aspek realisasi ikhlas yang sempurna dalam proses penga-jaran. Jangan sampai ia menjadikannya sebagai sarana untuk meng-harapkan timbal-balik dari seseorang, baik berkaitan dengan harta, jabatan dan jasa. Dan janganlah ia menolak untuk mengajar atau menasihati, bila penanya tidak mengerjakan beban yang dipikulkan padanya oleh sang pendidik. Sesungguhnya Yusuf عليه السلام telah menga-takan dan berpesan kepada salah seorang pemuda (yang bersama-nya di penjara) untuk menerangkan kondisinya kepada tuannya. Akan tetapi, ia tidak ingat dan lupa. Ketika muncul kebutuhan me-reka untuk bertanya kepada Yusuf, mereka pun mengutus pemuda itu, dia datang dengan bertanya, meminta fatwa tentang mimpi raja. Yusuf tidak mencercanya, tidak menjelek-jelekkannya lantaran meninggalkan pesannya (kepada tuannya). Justru beliau langsung menjawabnya dengan komplet dari seluruh sisi. b Seyogyanya orang yang ditanya menuntun penanya akan perkara yang berguna baginya, yang bertalian dengan inti pertanya-annya dan mengarahkannya kepada jalan yang akan bermanfaat baginya dalam agama maupun dunianya. Sesungguhnya tindakan ini termasuk sebagian dari kesempurnaan ketulusan hatinya, kecer-dikan dan kecakapan dalam pengarahan. Sesungguhnya Yusuf عليه السلام tidak hanya sebatas menakwilkan mimpi raja. Bahkan dia –bersama dengan itu- menunjukkan kebijakan yang mesti mereka kerjakan pada tahun-tahun yang subur, dengan memperbanyak penanaman dan pemungutan hasil. b Seseorang tidak (layak) dicela dalam usaha menepis tuduhan dari dirinya dan mencari kebebasan diri darinya. Bahkan upaya itu terpuji. Seperti penolakan Yusuf untuk keluar dari penjara sehingga jelaslah bersihnya reputasi namanya bagi mereka dari keterlibatan dengan para wanita yang memotong-motong tangan mereka. b Penjelasan keutamaan ilmu, (yaitu) ilmu hukum-hukum dan syariat, dan ilmu penakwilan mimpi, serta ilmu manajemen dan pendidikan. (Penguasaan) ilmu-ilmu itu lebih utama bagi seseorang ketimbang penampilan lahiriah, meskipun ketampanannya menya-mai ketampanan Yusuf. Sesungguhnya Yusuf malah mengalami ujian dan dijebloskan penjara karena ketampanannya. Sementara itu, karena ilmunya, dia memperoleh kemuliaan, ketinggian derajat dan memegang kekuasaan di bumi. Sesungguhnya setiap kebaikan di dunia dan akhirat adalah atas pengaruh ilmu dan faktor-faktor pendukungnya. b Sesungguhnya ilmu penakwilan mimpi termasuk ilmu syar'i, pemiliknya memperoleh pahala atas (ketekunannya) dalam mem-pelajari dan mengajarkannya, dan bahwa penakwilan mimpi terma-suk ke dalam ranah pemberian fatwa. Hal ini berdasarkan perkataan Yusuf kepada pemuda itu, ﴾ قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ٱلَّذِي فِيهِ تَسۡتَفۡتِيَانِ 41 ﴿ "Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan (kepadaku)." (Yusuf: 41). Dan raja berkata, ﴾ أَفۡتُونِي فِي رُءۡيَٰيَ ﴿ "Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu." (Yusuf: 43). Dan pemuda itu berkata kepada Yusuf, ﴾ أَفۡتِنَا فِي سَبۡعِ بَقَرَٰتٖ ﴿ "Terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi…." (Yusuf: 46). Maka tidak boleh lancang mena'birkan mimpi tanpa dasar ilmu. b Sesungguhnya tidak masalah seseorang memberitahukan tentang (kecakapan) dirinya yang berbentuk sifat-sifat yang sem-purna, berupa ilmu dan amal jika menyebabkan kemaslahatan. Se-lama hamba tersebut tidak berniat untuk riya (pamer) dan selamat dari kedustaan, berdasarkan perkataaan Yusuf, ﴾ ٱجۡعَلۡنِي عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلۡأَرۡضِۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٞ 55 ﴿ "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan." (Yusuf: 55). Begitu pula, (memegang) jabatan tidak tercela, jika pemegang-nya melaksanakan sesuai dengan kemampuannya yang berkaitan dengan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia, dan bahwa tidak masalah memintanya bila dia adalah orang yang paling besar kecakapannya daripada orang lain. Sisi celaannya muncul, bila tidak ada kecakapan pada dirinya atau masih ada orang lain yang sebanding dengannya atau bahkan lebih tinggi (keahliannya) dari-padanya, atau dia tidak berniat untuk menegakkan perintah Allah. Dengan sebab-sebab ini, meminta jabatan dan menawarkan diri padanya adalah dilarang (dalam agama). b Sesungguhnya Allah Mahaluas kemurahan dan kemuliaan-Nya, bermurah hati kepada hambaNya dengan (mengucurkan) kebaikan dunia dan akhirat, dan bahwa kebaikan akhirat itu mem-punyai dua faktor (yang mendatangkannya): keimanan dan ketak-waan, dan bahwa ia lebih baik dibandingkan balasan duniawi dan kerajaannya, dan bahwa seorang hamba seharusnya mendakwahi dirinya, dan menjadikannya merindukan balasan dari Allah. Jangan membiarkan dirinya dirundung kesedihan ketika menyaksikan hamba dunia bergelimang dengan nikmat dunia dan kelezatannya, sementara dia tidak mampu melakukannya. Akan tetapi, hendak-lah dia menghibur hatinya dengan pahala Allah di akhirat dan ke-utamaannya yang agung, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَلَأَجۡرُ ٱلۡأٓخِرَةِ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ 57 ﴿ "Dan pahala akhirat lebih baik bagi orang-orang yang beriman sedang mereka dalam keadaan bertakwa." (Yusuf: 57). b Sesungguhnya pungutan pajak kekayaan jika dimaksudkan untuk memberikan kelonggaran (ekonomi) bagi manusia tanpa me-nimbulkan bahaya yang dapat mengenai mereka, tidaklah masalah. Yusuf memerintahkan mereka untuk mengambil pajak kekayaan dan makanan-makanan di musim-musim subur sebagai persiapan menghadapi tahun-tahun paceklik. Kebijakan ini tidak bertentangan dengan tawakal kepada Allah. Bahkan seorang hamba harus berta-wakal kepada Allah dan menempuh sebab-sebab yang mendatang-kan manfaat dalam agama dan duniawinya. b Kecakapan Yusuf dalam pengelolaan. Beliau memegang kendali perbendaharaan negara sehingga kekayaan menjadi melim-pah bagi mereka. Akibatnya, orang-orang dari berbagai tempat ber-bondong-bondong ke Mesir untuk mencari bahan makanan. Karena mereka tahu adanya suplai berlimpah padanya. Bahkan kecakapan beliau, sampai tingkat bahwa beliau tidaklah menimbangkan bagi seseorang kecuali sesuai kadar kebutuhannya atau kurang darinya. Setiap yang datang tidak menerima lebih dari timbangan unta dan beban yang bisa diangkatnya. b Disyariatkannya menyambut tamu, dan penyambutan itu termasuk kebiasaan para rasul dan cara menghormati tamu. Hal ini berdasarkan perkataan Yusuf kepada para saudaranya, ﴾ أَلَا تَرَوۡنَ أَنِّيٓ أُوفِي ٱلۡكَيۡلَ وَأَنَا۠ خَيۡرُ ٱلۡمُنزِلِينَ 59 ﴿ "Tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan, dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?" (Yusuf: 59). b Sesungguhnya berprasangka buruk karena keberadaan qa-rinah yang mendukungnya, bukanlah tindakan yang terlarang maupun diharamkan. Karena Ya'qub berkata kepada anak-anaknya setelah enggan melepaskan Yusuf bersama mereka, sampai akhir-nya mereka berusaha membujuknya dengan usaha yang sangat gi-gih. Setelah itu, beliau berkata kepada mereka setelah mereka tidak membawanya kembali (pulang) dan berdusta bahwa serigala telah memangsanya, ﴾ بَلۡ سَوَّلَتۡ لَكُمۡ أَنفُسُكُمۡ أَمۡرٗاۖ ﴿ "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu." (Yusuf: 83). Beliau berkata kepada mereka mengenai saudaranya yang lain, ﴾ هَلۡ ءَامَنُكُمۡ عَلَيۡهِ إِلَّا كَمَآ أَمِنتُكُمۡ عَلَىٰٓ أَخِيهِ مِن قَبۡلُ ﴿ "Bagaimana (mungkin) aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu melainkan sebagaimana aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu." (Yusuf: 64). Berikutnya, ketika Yusuf menahannya (Bunyamin) lalu sau-dara-saudaranya menghampiri ayah mereka, maka Ya'qub berkata, ﴾ بَلۡ سَوَّلَتۡ لَكُمۡ أَنفُسُكُمۡ أَمۡرٗاۖ ﴿ "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu." (Yusuf: 83). Pada kejadian yang terakhir –walaupun mereka tidak mela-kukan keteledoran–, sungguh telah terjadi peristiwa yang mengaki-batkan ayah mereka mengatakan perkataan yang sudah terlontar-kan, tanpa menyebabkan dosa ataupun kesalahan. b Menggunakan faktor penyebab yang dapat menangkal pe-ngaruh buruk al-'ain (penyakit pandangan mata yang hasad) atau kejelekan lainnya atau yang dapat menyelesaikan masalah itu sete-lah terjadi bukanlah perbuatan yang terlarang, bahkan hukumnya jaiz (boleh). Meskipun sesuatu itu tidaklah terjadi melainkan karena ketetapan dan takdir Allah. Hanya saja, usaha-usaha tersebut juga masuk dalam ketetapan dan takdir Allah, ini berdasarkan perintah Ya'qub di mana beliau berkata, ﴾ يَٰبَنِيَّ لَا تَدۡخُلُواْ مِنۢ بَابٖ وَٰحِدٖ وَٱدۡخُلُواْ مِنۡ أَبۡوَٰبٖ مُّتَفَرِّقَةٖۖ ﴿ "Hai anak-anakku, janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan." (Yusuf: 67). b Bolehnya memanfaatkan tipu daya yang dapat mengantar-kan pada peraihan hak-hak dan bahwa mengetahui cara-cara raha-sia yang dapat merealisasikan tujuan-tujuan adalah termasuk aspek yang membuat seorang hamba dipuji. Yang terlarang ialah, me-munculkan rekayasa untuk menggugurkan kewajiban atau berbuat haram. b Seyogyanya seseorang yang ingin mengalihkan perhatian orang lain pada sebuah masalah yang tidak ingin diketahui (oleh orang lain), agar menggunakan ucapan atau perbuatan kiasan (al-ma'aridh) yang menjaganya dari k
Ar-Ra'd 13:1
"Alif lam mim ra. Ini adalah ayat-ayat al-Kitab (al-Qur`an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu adalah benar, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepada-nya)." (Ar-Ra'd: 1).
Madaniyah –Versi Lain- Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"
(1) Allah تعالى mengabarkan bahwa al-Qur`an merupakan himpunan ayat-ayat yang dapat menunjukkan kebutuhan manusia, berupa prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya. (Juga mem-beritahukan) bahwa wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah dari Rabbnya adalah kebenaran yang nyata. Sebab, berita-beritanya merupakan kebenaran, seluruh perintah dan larangannya mencer-minkan keadilan, dengan didukung oleh berbagai dalil dan petunjuk yang pasti. Barangsiapa yang menyambutnya dan merengkuh ilmunya, maka dia termasuk dari orang-orang yang menguasai kebenaran. Ilmu mereka akan mewajibkan mereka untuk mengamalkan hal-hal yang dicintai oleh Allah. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Akan tetapi kebanya-kan manusia tidak beriman (kepadanya)," yaitu beriman kepada al-Qur`-an, baik karena kebodohan mereka, sikap antipati, tidak peduli atau lantaran sikap penentangan dan kezhaliman. Oleh karena itu, mayo-ritas manusia tidak mengambil manfaat dengannya, lantaran tidak ada faktor yang mendukung untuk menerima manfaat dengannya.
Ar-Ra'd 13:2
"Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagai-mana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya), supaya kamu me-yakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu. Dan Dia-lah Rabb yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan ber-pasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat ba-gian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-an-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan se-bagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasa-nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (Ar-Ra'd: 2-4).
(2) Allah تعالى memberitahukan tentang keesaanNya dalam penciptaan, pengaturan, dan keagungan, serta kekuasaan yang me-nandakan bahwa Dia-lah Dzat satu-satunya yang berhak disembah, tidak sepantasnya ibadah dilakukan kecuali untukNya saja. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي رَفَعَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "Allah-lah Yang meninggikan langit," sesuai dengan bentuknya yang besar dan begitu luas dengan (menggunakan) kekuasaanNya yang agung ﴾ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ ﴿ "tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat," maksudnya tidak ada tiang dari arah bawahnya. Karena seandainya langit mempunyai tiang, niscaya kalian akan benar-benar menyaksikannya. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" usai menciptakan langit dan bumi ﴾ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "Dia bersemayam di atas 'Arasy," yang agung yang merupakan makhluk Allah yang berada di tempat paling tinggi, dengan cara istiwa` (bersemayam) yang selaras dengan keagunganNya dan sesuai dengan kesempurnaanNya. ﴾ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ ﴿ "Dan menundukkan ma-tahari dan bulan," bagi kepentingan manusia dan kemaslahatan bagi hewan-hewan ternak serta tanaman-tanaman mereka. ﴾ كُلّٞ ﴿ "Ma-sing-masing," dari matahari dan bulan ﴾ يَجۡرِي ﴿ "beredar," atas dasar pengaturan al-'Aziz al-'Alim (Yang Mahaperkasa lagi Maha Menge-tahui) ﴾ لِأَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ ﴿ "hingga waktu yang ditentukan," dengan bentuk perjalanan yang teratur, tidak lamban dan tidak melemah, sampai datang masa yang telah ditentukan, yaitu saat Allah melipat alam semesta ini dan mengalihkan mereka ke kampung akhirat, yang merupakan tempat hunian abadi. Pada waktu itu, Allah melipat langit-langit dan bulan, serta merubah bumi dan menggantikannya. Matahari dan bulan terbelah dan [disatukan], selanjutnya keduanya dilemparkan di neraka, agar orang yang menyembah keduanya (matahari dan bulan) menyaksi-kan bahwa keduanya (matahari dan bulan) tidak sepantasnya me-nerima ibadah (dari manusia). Dengan kejadian itu, dia akan mera-sakan penyesalan yang tiada taranya, dan supaya orang-orang kafir mengetahui bahwa mereka sebenarnya telah berbohong. Firman Allah, ﴾ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ يُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Allah mengatur urusan (makh-lukNya) dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya)," keterangan ini berbentuk kombinasi antara al-Khalqu (kekuasaan dalam mencip-takan) dan al-amru (perintah). Maksudnya, Allah al-'Azhim (Yang Mahaagung) bersemayam di singgasana kerajaan, mengendalikan segala urusan di alam semesta bagian atas dan di bagian bawah. Dia menciptakan dan memberi rizki, membuat orang menjadi ke-cukupan dan kekurangan, mengangkat derajat sejumlah orang dan menghinakan yang lain. Dia memuliakan dan merendahkan, me-nurunkan dan mengangkat (tingkatan makhlukNya), memberikan toleransi pada kekeliruan-kekeliruan (makhluk), mengentaskan ber-bagai permasalahan pelik, mengaktualisasikan berbagai ketentuan takdir di waktu-waktunya yang telah diketahui sebelumnya oleh Allah dan ditulis dengan al-Qalam (penaNya). Allah mendelegasikan para malaikat yang mulia untuk meng-atur segala sesuatu, sehingga semua makhluk berada di bawah peng-aturanNya. Dia menurunkan kitab-kitab ilahiyah (yang berasal dari-Nya) kepada para rasulNya, menerangkan apa saja yang mereka butuhkan, berupa hukum-hukum syariat, perintah-perintah dan larangan-larangan. Dia memaparkannya dengan sangat gamblang, melalui keterangan dan penjelasan dan pemilah-milahannya. ﴾ لَعَلَّكُم ﴿ "Supaya kamu," disebabkan berbagai tanda-tanda ke-kuasaan alam dan ayat-ayat al-Qur`an yang sudah ditampilkan ﴾ بِلِقَآءِ رَبِّكُمۡ تُوقِنُونَ ﴿ "meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu". Karena kuantitas dalil yang banyak, keterangan dan kejelasannya termasuk sebab kausalitas yang bisa menghadirkan keyakinan dalam perkara-per-kara ilahiyah (yang berhubungan dengan Allah), terutama dalam perkara-perkara akidah yang sangat prinsipil, seperti Hari Kebangkit-an, hari Penyebaran dan keluar dari kubur. Begitu pula, telah diketahui bahwa Allah تعالى Mahabijaksana, tidak menciptakan makhluk tanpa tujuan pasti, tidak membiarkan mereka (dalam permainan) yang sia-sia. Sebagaimana Dia telah meng-utus para rasulNya dan menurunkan kitab-kitabNya untuk memerin-tahkan para hamba dan melarang mereka, maka pasti Dia juga me-mindahkan mereka menuju tempat pembalasan bagi mereka. Dia akan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan balasan ter-baik dan membalas orang-orang yang berbuat buruk sesuai keburuk-an mereka.
(3) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي مَدَّ ٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Dan Dia-lah Rabb yang membentangkan bumi," Dia menciptakannya bagi manusia dan melebarkannya serta mencurahkan berkah padanya. Dia mempersiapkannya sebagai pijakan bagi manusia serta memasukkan ke dalamnya segala sesuatu yang menjadi maslahat bagi mereka. ﴾ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِيَ ﴿ "Dan menjadikan gunung-gunung padanya," yaitu gunung-gunung yang besar, supaya bumi tidak bergoncang disebab-kan penghuninya. Bila wujud gunung-gunung tidak ada, sudah tentu bumi akan bergoncang beserta isinya. Sebab, bumi berada di atas aliran air, sehingga tidak ada kekokohan dan tidak ada kestabilan kecuali dengan sebab keberadaan gunung-gunung yang besar yang Allah jadikan sebagai pasak-pasaknya. ﴾ و َ ﴿ "dan" menjadikan di dalamnya ﴾ أ َ ن ْ ه َ ا ر ً ا ﴿ "sungai-sungai," yang menyediakan air minum bagi manusia dan hewan-hewan ternak serta tanaman pertanian mereka. Dengan air itu, Dia mengeluarkan berbagai kebaikan yang banyak dalam bentuk pepohonan, tanaman, buah-buahan. Oleh karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَمِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ جَعَلَ فِيهَا زَوۡجَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِۖ ﴿ "dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan," dua jenis yang dibutuhkan manusia. ﴾ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَۚ ﴿ "Dia menutupkan malam kepada siang," sehingga cakrawala menjadi gelap dan setiap binatang berteduh kepada tempat bermalamnya. Manusia beristirahat dari rasa capek dan kelelahan di siang hari. Lantas, bila mereka telah menuntaskan kebutuhan-kebutuhan mereka berupa tidur, maka siang akan menutupi malam. Kemudian mereka akan berada di pagi hari untuk [bertebaran] kembali memenuhi kepentingan-ke-pentingan dan pekerjaan-pekerjaan mereka di siang hari. ﴾ وَمِن رَّحۡمَتِهِۦ جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ 73 ﴿ "Dan karena rahmatNya, Dia menjadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu men-cari sebagian dari karuniaNya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepadaNya." (Al-Qashash: 73). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)," yang menunjukkan orientasi-orientasi ilahiyah ﴾ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "bagi kaum yang memikirkan," tentangnya, dan mencermatinya dengan pandangan kognitif yang menunjukkan bahwa Dzat yang menciptakan, mengatur, dan mengendalikannya adalah Allah, yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Dia, tidak ada sesembahan selainNya. Dia mengetahui alam ghaib dan alam nyata, ar-Rahman ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, al-Hakim (Maha-bijaksana) dalam segala urusan, al-Mahmud (Yang Maha Terpuji) atas seluruh yang diciptakan dan diperintahkanNya Yang Mahasuci lagi Mahatinggi.
(4) ﴾ و َ ﴿ "Dan," di antara tanda kebesaran Allah yang menun-jukkan kesempurnaan kekuasaan dan keistimewaan ciptaanNya, Dia menjadikan ﴾ ف ِ ي ٱلۡأَرۡضِ قِطَعٞ مُّتَجَٰوِرَٰتٞ وَجَنَّٰتٞ ﴿ "di bumi ini bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun," di dalamnya terdapat berbagai macam pepohonan, berupa pohon anggur, kurma, biji-bijian dan lain-lain. Ada pohon kurma yang sebagiannya ﴾ صِنۡوَانٞ ﴿ "bercabang-cabang," artinya beberapa batang pohon berada di atas satu pongkol tanaman ﴾ وَغَيۡرُ صِنۡوَانٖ ﴿ "yang tidak bercabang-cabang," maksudnya setiap pohon berada pada pongkolnya masing-masing. Semuanya ﴾ يُسۡقَىٰ بِمَآءٖ وَٰحِدٖ ﴿ "disirami dengan air yang sama," dan tanahnya pun sejenis. ﴾ وَنُفَضِّلُ بَعۡضَهَا عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلۡأُكُلِۚ ﴿ "Kami melebihkan sebagian tanaman itu di atas sebagian tanaman yang lain tentang rasanya," dalam aspek warna, cita rasa, manfaat, dan tingkat kelezatan. Ada jenis tanah yang baik (subur), bisa menumbuhkan ilalang dan rerumputan yang banyak, bermacam pohon dan tanaman. Ada tanah yang berada di dekat tanah tadi, (namun) tidak bisa menumbuhkan tanaman atau-pun menyimpan cadangan air. Ada tanah yang mampu menyimpan suplai air, namun tidak mampu menumbuhkan ilalang. Ada tanah yang lain mampu menumbuhkan tanaman biji-bijian dan berbagai pepohonan, namun tidak menumbuhkan rumput ilalang. Buah ini begitu manis, sementara buah itu pahit. Dan buah yang lain rasanya sedang-sedang saja. Apakah keanekaragaman ini muncul dari dzat-nya itu sendiri dan karakteristiknya, ataukah merupakan ketentuan dari al-Aziz ar-Rahim (Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang)? ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir," mak-sudnya bagi orang-orang yang mempunyai akal pikiran yang meng-antarkan mereka menuju hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan mengajak mereka kepada kematangan hidayah dan berpikir tentang Allah, berupa pesan-pesan, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Adapun orang-orang yang kerap berpaling dan orang-orang yang berpikiran tumpul, maka mereka berada dalam kubangan ke-gelapan tanpa mengetahui apa-apa, berjalan mondar-mandir dalam kesesatan mereka, tidak mendapatkan jalan petunjuk kepada Rabb mereka, dan tidak memahami ucapan-ucapanNya. 9
Ar-Ra'd 13:3
"Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagai-mana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya), supaya kamu me-yakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu. Dan Dia-lah Rabb yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan ber-pasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat ba-gian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-an-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan se-bagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasa-nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (Ar-Ra'd: 2-4).
(2) Allah تعالى memberitahukan tentang keesaanNya dalam penciptaan, pengaturan, dan keagungan, serta kekuasaan yang me-nandakan bahwa Dia-lah Dzat satu-satunya yang berhak disembah, tidak sepantasnya ibadah dilakukan kecuali untukNya saja. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي رَفَعَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "Allah-lah Yang meninggikan langit," sesuai dengan bentuknya yang besar dan begitu luas dengan (menggunakan) kekuasaanNya yang agung ﴾ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ ﴿ "tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat," maksudnya tidak ada tiang dari arah bawahnya. Karena seandainya langit mempunyai tiang, niscaya kalian akan benar-benar menyaksikannya. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" usai menciptakan langit dan bumi ﴾ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "Dia bersemayam di atas 'Arasy," yang agung yang merupakan makhluk Allah yang berada di tempat paling tinggi, dengan cara istiwa` (bersemayam) yang selaras dengan keagunganNya dan sesuai dengan kesempurnaanNya. ﴾ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ ﴿ "Dan menundukkan ma-tahari dan bulan," bagi kepentingan manusia dan kemaslahatan bagi hewan-hewan ternak serta tanaman-tanaman mereka. ﴾ كُلّٞ ﴿ "Ma-sing-masing," dari matahari dan bulan ﴾ يَجۡرِي ﴿ "beredar," atas dasar pengaturan al-'Aziz al-'Alim (Yang Mahaperkasa lagi Maha Menge-tahui) ﴾ لِأَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ ﴿ "hingga waktu yang ditentukan," dengan bentuk perjalanan yang teratur, tidak lamban dan tidak melemah, sampai datang masa yang telah ditentukan, yaitu saat Allah melipat alam semesta ini dan mengalihkan mereka ke kampung akhirat, yang merupakan tempat hunian abadi. Pada waktu itu, Allah melipat langit-langit dan bulan, serta merubah bumi dan menggantikannya. Matahari dan bulan terbelah dan [disatukan], selanjutnya keduanya dilemparkan di neraka, agar orang yang menyembah keduanya (matahari dan bulan) menyaksi-kan bahwa keduanya (matahari dan bulan) tidak sepantasnya me-nerima ibadah (dari manusia). Dengan kejadian itu, dia akan mera-sakan penyesalan yang tiada taranya, dan supaya orang-orang kafir mengetahui bahwa mereka sebenarnya telah berbohong. Firman Allah, ﴾ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ يُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Allah mengatur urusan (makh-lukNya) dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya)," keterangan ini berbentuk kombinasi antara al-Khalqu (kekuasaan dalam mencip-takan) dan al-amru (perintah). Maksudnya, Allah al-'Azhim (Yang Mahaagung) bersemayam di singgasana kerajaan, mengendalikan segala urusan di alam semesta bagian atas dan di bagian bawah. Dia menciptakan dan memberi rizki, membuat orang menjadi ke-cukupan dan kekurangan, mengangkat derajat sejumlah orang dan menghinakan yang lain. Dia memuliakan dan merendahkan, me-nurunkan dan mengangkat (tingkatan makhlukNya), memberikan toleransi pada kekeliruan-kekeliruan (makhluk), mengentaskan ber-bagai permasalahan pelik, mengaktualisasikan berbagai ketentuan takdir di waktu-waktunya yang telah diketahui sebelumnya oleh Allah dan ditulis dengan al-Qalam (penaNya). Allah mendelegasikan para malaikat yang mulia untuk meng-atur segala sesuatu, sehingga semua makhluk berada di bawah peng-aturanNya. Dia menurunkan kitab-kitab ilahiyah (yang berasal dari-Nya) kepada para rasulNya, menerangkan apa saja yang mereka butuhkan, berupa hukum-hukum syariat, perintah-perintah dan larangan-larangan. Dia memaparkannya dengan sangat gamblang, melalui keterangan dan penjelasan dan pemilah-milahannya. ﴾ لَعَلَّكُم ﴿ "Supaya kamu," disebabkan berbagai tanda-tanda ke-kuasaan alam dan ayat-ayat al-Qur`an yang sudah ditampilkan ﴾ بِلِقَآءِ رَبِّكُمۡ تُوقِنُونَ ﴿ "meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu". Karena kuantitas dalil yang banyak, keterangan dan kejelasannya termasuk sebab kausalitas yang bisa menghadirkan keyakinan dalam perkara-per-kara ilahiyah (yang berhubungan dengan Allah), terutama dalam perkara-perkara akidah yang sangat prinsipil, seperti Hari Kebangkit-an, hari Penyebaran dan keluar dari kubur. Begitu pula, telah diketahui bahwa Allah تعالى Mahabijaksana, tidak menciptakan makhluk tanpa tujuan pasti, tidak membiarkan mereka (dalam permainan) yang sia-sia. Sebagaimana Dia telah meng-utus para rasulNya dan menurunkan kitab-kitabNya untuk memerin-tahkan para hamba dan melarang mereka, maka pasti Dia juga me-mindahkan mereka menuju tempat pembalasan bagi mereka. Dia akan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan balasan ter-baik dan membalas orang-orang yang berbuat buruk sesuai keburuk-an mereka.
(3) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي مَدَّ ٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Dan Dia-lah Rabb yang membentangkan bumi," Dia menciptakannya bagi manusia dan melebarkannya serta mencurahkan berkah padanya. Dia mempersiapkannya sebagai pijakan bagi manusia serta memasukkan ke dalamnya segala sesuatu yang menjadi maslahat bagi mereka. ﴾ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِيَ ﴿ "Dan menjadikan gunung-gunung padanya," yaitu gunung-gunung yang besar, supaya bumi tidak bergoncang disebab-kan penghuninya. Bila wujud gunung-gunung tidak ada, sudah tentu bumi akan bergoncang beserta isinya. Sebab, bumi berada di atas aliran air, sehingga tidak ada kekokohan dan tidak ada kestabilan kecuali dengan sebab keberadaan gunung-gunung yang besar yang Allah jadikan sebagai pasak-pasaknya. ﴾ و َ ﴿ "dan" menjadikan di dalamnya ﴾ أ َ ن ْ ه َ ا ر ً ا ﴿ "sungai-sungai," yang menyediakan air minum bagi manusia dan hewan-hewan ternak serta tanaman pertanian mereka. Dengan air itu, Dia mengeluarkan berbagai kebaikan yang banyak dalam bentuk pepohonan, tanaman, buah-buahan. Oleh karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَمِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ جَعَلَ فِيهَا زَوۡجَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِۖ ﴿ "dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan," dua jenis yang dibutuhkan manusia. ﴾ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَۚ ﴿ "Dia menutupkan malam kepada siang," sehingga cakrawala menjadi gelap dan setiap binatang berteduh kepada tempat bermalamnya. Manusia beristirahat dari rasa capek dan kelelahan di siang hari. Lantas, bila mereka telah menuntaskan kebutuhan-kebutuhan mereka berupa tidur, maka siang akan menutupi malam. Kemudian mereka akan berada di pagi hari untuk [bertebaran] kembali memenuhi kepentingan-ke-pentingan dan pekerjaan-pekerjaan mereka di siang hari. ﴾ وَمِن رَّحۡمَتِهِۦ جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ 73 ﴿ "Dan karena rahmatNya, Dia menjadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu men-cari sebagian dari karuniaNya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepadaNya." (Al-Qashash: 73). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)," yang menunjukkan orientasi-orientasi ilahiyah ﴾ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "bagi kaum yang memikirkan," tentangnya, dan mencermatinya dengan pandangan kognitif yang menunjukkan bahwa Dzat yang menciptakan, mengatur, dan mengendalikannya adalah Allah, yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Dia, tidak ada sesembahan selainNya. Dia mengetahui alam ghaib dan alam nyata, ar-Rahman ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, al-Hakim (Maha-bijaksana) dalam segala urusan, al-Mahmud (Yang Maha Terpuji) atas seluruh yang diciptakan dan diperintahkanNya Yang Mahasuci lagi Mahatinggi.
(4) ﴾ و َ ﴿ "Dan," di antara tanda kebesaran Allah yang menun-jukkan kesempurnaan kekuasaan dan keistimewaan ciptaanNya, Dia menjadikan ﴾ ف ِ ي ٱلۡأَرۡضِ قِطَعٞ مُّتَجَٰوِرَٰتٞ وَجَنَّٰتٞ ﴿ "di bumi ini bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun," di dalamnya terdapat berbagai macam pepohonan, berupa pohon anggur, kurma, biji-bijian dan lain-lain. Ada pohon kurma yang sebagiannya ﴾ صِنۡوَانٞ ﴿ "bercabang-cabang," artinya beberapa batang pohon berada di atas satu pongkol tanaman ﴾ وَغَيۡرُ صِنۡوَانٖ ﴿ "yang tidak bercabang-cabang," maksudnya setiap pohon berada pada pongkolnya masing-masing. Semuanya ﴾ يُسۡقَىٰ بِمَآءٖ وَٰحِدٖ ﴿ "disirami dengan air yang sama," dan tanahnya pun sejenis. ﴾ وَنُفَضِّلُ بَعۡضَهَا عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلۡأُكُلِۚ ﴿ "Kami melebihkan sebagian tanaman itu di atas sebagian tanaman yang lain tentang rasanya," dalam aspek warna, cita rasa, manfaat, dan tingkat kelezatan. Ada jenis tanah yang baik (subur), bisa menumbuhkan ilalang dan rerumputan yang banyak, bermacam pohon dan tanaman. Ada tanah yang berada di dekat tanah tadi, (namun) tidak bisa menumbuhkan tanaman atau-pun menyimpan cadangan air. Ada tanah yang mampu menyimpan suplai air, namun tidak mampu menumbuhkan ilalang. Ada tanah yang lain mampu menumbuhkan tanaman biji-bijian dan berbagai pepohonan, namun tidak menumbuhkan rumput ilalang. Buah ini begitu manis, sementara buah itu pahit. Dan buah yang lain rasanya sedang-sedang saja. Apakah keanekaragaman ini muncul dari dzat-nya itu sendiri dan karakteristiknya, ataukah merupakan ketentuan dari al-Aziz ar-Rahim (Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang)? ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir," mak-sudnya bagi orang-orang yang mempunyai akal pikiran yang meng-antarkan mereka menuju hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan mengajak mereka kepada kematangan hidayah dan berpikir tentang Allah, berupa pesan-pesan, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Adapun orang-orang yang kerap berpaling dan orang-orang yang berpikiran tumpul, maka mereka berada dalam kubangan ke-gelapan tanpa mengetahui apa-apa, berjalan mondar-mandir dalam kesesatan mereka, tidak mendapatkan jalan petunjuk kepada Rabb mereka, dan tidak memahami ucapan-ucapanNya. 9
Ar-Ra'd 13:4
"Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagai-mana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya), supaya kamu me-yakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu. Dan Dia-lah Rabb yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan ber-pasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesung-guhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat ba-gian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-an-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan se-bagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasa-nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (Ar-Ra'd: 2-4).
(2) Allah تعالى memberitahukan tentang keesaanNya dalam penciptaan, pengaturan, dan keagungan, serta kekuasaan yang me-nandakan bahwa Dia-lah Dzat satu-satunya yang berhak disembah, tidak sepantasnya ibadah dilakukan kecuali untukNya saja. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي رَفَعَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "Allah-lah Yang meninggikan langit," sesuai dengan bentuknya yang besar dan begitu luas dengan (menggunakan) kekuasaanNya yang agung ﴾ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ ﴿ "tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat," maksudnya tidak ada tiang dari arah bawahnya. Karena seandainya langit mempunyai tiang, niscaya kalian akan benar-benar menyaksikannya. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" usai menciptakan langit dan bumi ﴾ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "Dia bersemayam di atas 'Arasy," yang agung yang merupakan makhluk Allah yang berada di tempat paling tinggi, dengan cara istiwa` (bersemayam) yang selaras dengan keagunganNya dan sesuai dengan kesempurnaanNya. ﴾ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ ﴿ "Dan menundukkan ma-tahari dan bulan," bagi kepentingan manusia dan kemaslahatan bagi hewan-hewan ternak serta tanaman-tanaman mereka. ﴾ كُلّٞ ﴿ "Ma-sing-masing," dari matahari dan bulan ﴾ يَجۡرِي ﴿ "beredar," atas dasar pengaturan al-'Aziz al-'Alim (Yang Mahaperkasa lagi Maha Menge-tahui) ﴾ لِأَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ ﴿ "hingga waktu yang ditentukan," dengan bentuk perjalanan yang teratur, tidak lamban dan tidak melemah, sampai datang masa yang telah ditentukan, yaitu saat Allah melipat alam semesta ini dan mengalihkan mereka ke kampung akhirat, yang merupakan tempat hunian abadi. Pada waktu itu, Allah melipat langit-langit dan bulan, serta merubah bumi dan menggantikannya. Matahari dan bulan terbelah dan [disatukan], selanjutnya keduanya dilemparkan di neraka, agar orang yang menyembah keduanya (matahari dan bulan) menyaksi-kan bahwa keduanya (matahari dan bulan) tidak sepantasnya me-nerima ibadah (dari manusia). Dengan kejadian itu, dia akan mera-sakan penyesalan yang tiada taranya, dan supaya orang-orang kafir mengetahui bahwa mereka sebenarnya telah berbohong. Firman Allah, ﴾ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ يُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Allah mengatur urusan (makh-lukNya) dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya)," keterangan ini berbentuk kombinasi antara al-Khalqu (kekuasaan dalam mencip-takan) dan al-amru (perintah). Maksudnya, Allah al-'Azhim (Yang Mahaagung) bersemayam di singgasana kerajaan, mengendalikan segala urusan di alam semesta bagian atas dan di bagian bawah. Dia menciptakan dan memberi rizki, membuat orang menjadi ke-cukupan dan kekurangan, mengangkat derajat sejumlah orang dan menghinakan yang lain. Dia memuliakan dan merendahkan, me-nurunkan dan mengangkat (tingkatan makhlukNya), memberikan toleransi pada kekeliruan-kekeliruan (makhluk), mengentaskan ber-bagai permasalahan pelik, mengaktualisasikan berbagai ketentuan takdir di waktu-waktunya yang telah diketahui sebelumnya oleh Allah dan ditulis dengan al-Qalam (penaNya). Allah mendelegasikan para malaikat yang mulia untuk meng-atur segala sesuatu, sehingga semua makhluk berada di bawah peng-aturanNya. Dia menurunkan kitab-kitab ilahiyah (yang berasal dari-Nya) kepada para rasulNya, menerangkan apa saja yang mereka butuhkan, berupa hukum-hukum syariat, perintah-perintah dan larangan-larangan. Dia memaparkannya dengan sangat gamblang, melalui keterangan dan penjelasan dan pemilah-milahannya. ﴾ لَعَلَّكُم ﴿ "Supaya kamu," disebabkan berbagai tanda-tanda ke-kuasaan alam dan ayat-ayat al-Qur`an yang sudah ditampilkan ﴾ بِلِقَآءِ رَبِّكُمۡ تُوقِنُونَ ﴿ "meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu". Karena kuantitas dalil yang banyak, keterangan dan kejelasannya termasuk sebab kausalitas yang bisa menghadirkan keyakinan dalam perkara-per-kara ilahiyah (yang berhubungan dengan Allah), terutama dalam perkara-perkara akidah yang sangat prinsipil, seperti Hari Kebangkit-an, hari Penyebaran dan keluar dari kubur. Begitu pula, telah diketahui bahwa Allah تعالى Mahabijaksana, tidak menciptakan makhluk tanpa tujuan pasti, tidak membiarkan mereka (dalam permainan) yang sia-sia. Sebagaimana Dia telah meng-utus para rasulNya dan menurunkan kitab-kitabNya untuk memerin-tahkan para hamba dan melarang mereka, maka pasti Dia juga me-mindahkan mereka menuju tempat pembalasan bagi mereka. Dia akan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan balasan ter-baik dan membalas orang-orang yang berbuat buruk sesuai keburuk-an mereka.
(3) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي مَدَّ ٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Dan Dia-lah Rabb yang membentangkan bumi," Dia menciptakannya bagi manusia dan melebarkannya serta mencurahkan berkah padanya. Dia mempersiapkannya sebagai pijakan bagi manusia serta memasukkan ke dalamnya segala sesuatu yang menjadi maslahat bagi mereka. ﴾ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِيَ ﴿ "Dan menjadikan gunung-gunung padanya," yaitu gunung-gunung yang besar, supaya bumi tidak bergoncang disebab-kan penghuninya. Bila wujud gunung-gunung tidak ada, sudah tentu bumi akan bergoncang beserta isinya. Sebab, bumi berada di atas aliran air, sehingga tidak ada kekokohan dan tidak ada kestabilan kecuali dengan sebab keberadaan gunung-gunung yang besar yang Allah jadikan sebagai pasak-pasaknya. ﴾ و َ ﴿ "dan" menjadikan di dalamnya ﴾ أ َ ن ْ ه َ ا ر ً ا ﴿ "sungai-sungai," yang menyediakan air minum bagi manusia dan hewan-hewan ternak serta tanaman pertanian mereka. Dengan air itu, Dia mengeluarkan berbagai kebaikan yang banyak dalam bentuk pepohonan, tanaman, buah-buahan. Oleh karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَمِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ جَعَلَ فِيهَا زَوۡجَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِۖ ﴿ "dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan," dua jenis yang dibutuhkan manusia. ﴾ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَۚ ﴿ "Dia menutupkan malam kepada siang," sehingga cakrawala menjadi gelap dan setiap binatang berteduh kepada tempat bermalamnya. Manusia beristirahat dari rasa capek dan kelelahan di siang hari. Lantas, bila mereka telah menuntaskan kebutuhan-kebutuhan mereka berupa tidur, maka siang akan menutupi malam. Kemudian mereka akan berada di pagi hari untuk [bertebaran] kembali memenuhi kepentingan-ke-pentingan dan pekerjaan-pekerjaan mereka di siang hari. ﴾ وَمِن رَّحۡمَتِهِۦ جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ 73 ﴿ "Dan karena rahmatNya, Dia menjadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu men-cari sebagian dari karuniaNya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepadaNya." (Al-Qashash: 73). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)," yang menunjukkan orientasi-orientasi ilahiyah ﴾ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "bagi kaum yang memikirkan," tentangnya, dan mencermatinya dengan pandangan kognitif yang menunjukkan bahwa Dzat yang menciptakan, mengatur, dan mengendalikannya adalah Allah, yang tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Dia, tidak ada sesembahan selainNya. Dia mengetahui alam ghaib dan alam nyata, ar-Rahman ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, al-Hakim (Maha-bijaksana) dalam segala urusan, al-Mahmud (Yang Maha Terpuji) atas seluruh yang diciptakan dan diperintahkanNya Yang Mahasuci lagi Mahatinggi.
(4) ﴾ و َ ﴿ "Dan," di antara tanda kebesaran Allah yang menun-jukkan kesempurnaan kekuasaan dan keistimewaan ciptaanNya, Dia menjadikan ﴾ ف ِ ي ٱلۡأَرۡضِ قِطَعٞ مُّتَجَٰوِرَٰتٞ وَجَنَّٰتٞ ﴿ "di bumi ini bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun," di dalamnya terdapat berbagai macam pepohonan, berupa pohon anggur, kurma, biji-bijian dan lain-lain. Ada pohon kurma yang sebagiannya ﴾ صِنۡوَانٞ ﴿ "bercabang-cabang," artinya beberapa batang pohon berada di atas satu pongkol tanaman ﴾ وَغَيۡرُ صِنۡوَانٖ ﴿ "yang tidak bercabang-cabang," maksudnya setiap pohon berada pada pongkolnya masing-masing. Semuanya ﴾ يُسۡقَىٰ بِمَآءٖ وَٰحِدٖ ﴿ "disirami dengan air yang sama," dan tanahnya pun sejenis. ﴾ وَنُفَضِّلُ بَعۡضَهَا عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلۡأُكُلِۚ ﴿ "Kami melebihkan sebagian tanaman itu di atas sebagian tanaman yang lain tentang rasanya," dalam aspek warna, cita rasa, manfaat, dan tingkat kelezatan. Ada jenis tanah yang baik (subur), bisa menumbuhkan ilalang dan rerumputan yang banyak, bermacam pohon dan tanaman. Ada tanah yang berada di dekat tanah tadi, (namun) tidak bisa menumbuhkan tanaman atau-pun menyimpan cadangan air. Ada tanah yang mampu menyimpan suplai air, namun tidak mampu menumbuhkan ilalang. Ada tanah yang lain mampu menumbuhkan tanaman biji-bijian dan berbagai pepohonan, namun tidak menumbuhkan rumput ilalang. Buah ini begitu manis, sementara buah itu pahit. Dan buah yang lain rasanya sedang-sedang saja. Apakah keanekaragaman ini muncul dari dzat-nya itu sendiri dan karakteristiknya, ataukah merupakan ketentuan dari al-Aziz ar-Rahim (Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang)? ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir," mak-sudnya bagi orang-orang yang mempunyai akal pikiran yang meng-antarkan mereka menuju hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan mengajak mereka kepada kematangan hidayah dan berpikir tentang Allah, berupa pesan-pesan, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Adapun orang-orang yang kerap berpaling dan orang-orang yang berpikiran tumpul, maka mereka berada dalam kubangan ke-gelapan tanpa mengetahui apa-apa, berjalan mondar-mandir dalam kesesatan mereka, tidak mendapatkan jalan petunjuk kepada Rabb mereka, dan tidak memahami ucapan-ucapanNya. 9
Ar-Ra'd 13:5
"Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka, 'Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?' Orang-orang itulah yang kafir kepada Rabb-nya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di leher-nya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (Ar-Ra'd: 5).
(5) Firman Allah tersebut mengandung kemungkinan penger-tian, ﴾ وَإِن تَعۡجَبۡ ﴿ "Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan," karena keagungan Allah تعالى dan banyaknya jumlah petunjuk tentang ke-esaanNya, maka sesungguhnya keheranan yang bersama ini adalah sikap pengingkaran para pendusta serta pengingkaran mereka ter-hadap Hari Kebangkitan, dan komentar mereka, ﴾ أَءِذَا كُنَّا تُرَٰبًا أَءِنَّا لَفِي خَلۡقٖ جَدِيدٍۗ ﴿ "Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?" maksudnya bahwa setelah mereka menjadi tanah, lalu Allah akan mengembalikan mereka (hidup kembali), maka ini terlalu mustahil untuk terjadi menurut anggapan mereka. Karena sebagian tanda kebodohan mereka adalah mereka menganalogikan kekuasaan Allah al-Khaliq (Sang Pencipta) dengan kekuatan makhluk. Ketika mereka menyaksikan hal tersebut mustahil dalam koridor kemampuan makhluk, maka mereka berasumsi bah-wa kejadian itu juga tidak mungkin terjadi dengan kekuasaan Allah. Mereka lupa bahwa Allah telah menciptakan mereka pertama kali saat mereka tidak berwujud apa-apa. Pengertian ayat ini juga bisa diarahkan kepada makna, kalau engkau keheranan terhadap ucapan dan pendustaan mereka ter-hadap Hari Kebangkitan, maka sungguh itu merupakan salah satu keajaiban. Sesungguhnya orang yang telah menerima penjelasan tentang berbagai tanda kebesaran Allah dan menyaksikan berbagai bukti pasti yang menunjukkan kedatangan Hari Kebangkitan, dengan keterangan yang tidak menimbulkan keraguan dan rasa syak pun, kemudian dia mengingkarinya, maka perkataan itu termasuk ke-ajaiban. Namun (sebenarnya) hal itu tidak perlu menjadi bahan ke-heranan pada ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡۖ ﴿ "orang-orang yang kafir kepada Rabbnya," dan mereka menentang keesaanNya, padahal merupakan hakikat yang sangat jelas lagi paling tampak terang. ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلۡأَغۡلَٰلُ ﴿ "Dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu," yang memasung mereka dari petunjuk Allah ﴾ فِيٓ أَعۡنَاقِهِمۡۖ ﴿ "di lehernya," di mana mereka diseru kepada keimanan namun tidak menyambut, ditawarkan kepada mereka hidayah, namun mereka tidak berhasil mendapatkan hidayah. Maka hati dan kalbu mereka terombang-ambing, sebagai bentuk hukuman bagi mereka karena tidak ber-iman kepadaNya secara langsung ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya," mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya.
Ar-Ra'd 13:6
"Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manu-sia atas kezhaliman mereka, dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar sangat keras siksanya." (Ar-Ra'd: 6)
(6) Allah تعالى mengabarkan tentang kebodohan orang-orang yang mendustakan rasulNya lagi menyekutukanNya. Mereka diberi nasihat tetapi mereka tidak mengambil nasihat itu. Bermacam-ma-cam dalil disampaikan kepada mereka, namun mereka tidak tunduk kepadanya. Justru terang-terangan melakukan pengingkaran dan (membela diri) berdalih dengan kelembutan Allah al-Wahid al-Qahhar (kepada mereka) dan tidak mengobati dosa-dosa mereka dengan alasan bahwa mereka berada di atas kebenaran. Mereka pun me-mulai meminta kepada rasul untuk menyegerakan siksaan. Ada yang berkata, ﴾ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا هُوَ ٱلۡحَقَّ مِنۡ عِندِكَ فَأَمۡطِرۡ عَلَيۡنَا حِجَارَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ أَوِ ٱئۡتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٖ 32 ﴿ "Ya Allah, jika (al-Qur`an) ini adalah benar dari sisiMu, maka hu-janilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih." (Al-Anfal: 32), padahal mereka itu ﴾ وَقَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِمُ ٱلۡمَثُلَٰتُۗ ﴿ "padahal telah terjadi bermacam-macam siksa sebelum mereka," maksud-nya berbagai peristiwa dan sejarah yang menimpa umat-umat pen-dusta. Apakah mereka tidak merenungi kondisi orang-orang itu dan meninggalkan kebodohan mereka? ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةٖ لِّلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلۡمِهِمۡۖ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia atas kezhaliman mereka," maksudnya senantiasa kebaikan, kebajikan dan maafNya tercurah kepada para hamba. Sementara, praktik syirik dan maksiat mereka masih saja melaju kepada Allah. Mereka bermaksiat kepada-Nya, tetapi Allah menyuruh mereka menuju pintuNya. Mereka ber-buat jahat, tetapi Dia tetap tidak menghalangi kebaikanNya bagi mereka. Bila mereka bertaubat kepadaNya, niscaya Dia menjadi kekasih mereka, sebab Dia mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri. Bila mereka tidak bertaubat, maka Dia akan memberikan terapi penyembuhan bagi mereka dengan menimpakan berbagai musibah atas mereka untuk membersihkan mereka dari keburukan-keburukan. ﴾ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ 53 ﴿ "Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesung-guhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Az Zumar: 53). ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar sangat keras siksaanNya," terhadap orang yang kontinyu berulang-berulang dalam bermaksiat. Ia sudah benar-benar enggan bertaubat, beristighfar, dan kembali kepada al-Aziz al-Ghaffar (Yang Mahaper-kasa lagi Maha Pengampun). Hendaknya para hamba berhati-hati terhadap siksa-siksaNya (yang menimpa) orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya siksaNya sangat pedih lagi keras.
Ar-Ra'd 13:7
"Orang-orang yang kafir berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Rabbnya?' Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk." (Ar-Ra'd: 7).
(7) Maksudnya, orang-orang kafir melontarkan usulan ke-padamu tentang tanda-tanda kebenaran (adanya Hari Kebangkitan) sesuai yang mereka tentukan sendiri. Mereka menyatakan, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ ءَايَةٞ مِّن رَّبِّهِۦٓۗ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Rabbnya?" Pernyataan ini, mereka jadikan se-bagai alasan untuk menjastifikasi sikap penolakan mereka terhadap Rasul. Padahal, beliau hanyalah seorang pemberi peringatan, tidak memiliki wewenang atas sesuatu pun. Allah-lah yang menurunkan tanda-tanda kebenaran risalah. Dia telah mendukung beliau dengan beraneka bukti kebenaran yang tidak tersembunyi bagi orang-orang yang berakal. Dengan itu, orang yang niatnya mencari kebenaran akan mendapatkan petunjuk. Adapun orang kafir, dikarenakan kezhaliman dan kebodohannya, maka akan melontarkan usulan kepada Allah tentang tanda-tanda kebenaran (yang mesti diturun-kan). Itu me-rupakan pengajuan usulan yang batil, kedustaan, dan mengada-ada. Sesungguhnya bila datang sebuah ayat (tanda ke-benaran) apa pun itu, niscaya dia tidak akan beriman dan tidak akan tunduk kepadanya. Dia menampik beriman bukan lantaran tidak ada yang menunjukkannya kepada kebenaran, tapi karena hawa nafsu dan menuruti syahwat belaka. ﴾ وَلِكُلِّ قَوۡمٍ هَادٍ ﴿ "Dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk," maksudnya mem-punyai penyeru yang mengajak mereka menuju hidayah, dari ka-langan para rasul dan pengikut-pengikut mereka. Mereka dibekali bermacam-macam dalil dan bukti kebenaran yang menunjukkan kebenaran hidayah yang ada pada mereka.
Ar-Ra'd 13:8
"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perem-puan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang ber-tambah. Dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya. Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Mahabesar lagi Mahatinggi. Sama saja (bagi Allah), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Se-sungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Ar-Ra'd: 8-11).
(8-9) Allah تعالى memberitahukan tentang cakupan ilmuNya yang merata dan luasnya pengetahuan dan penguasaanNya yang meliputi segala sesuatu, Dia berfirman, ﴾ ٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَحۡمِلُ كُلُّ أُنثَىٰ ﴿ "Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan," baik pada ka-langan anak Adam dan lainnya ﴾ وَمَا تَغِيضُ ٱلۡأَرۡحَامُ ﴿ "dan kandungan rahim yang kurang sempurna," yang mengalami penyusutan apa yang ada di dalamnya, baik kandungannya rusak atau mengecil ataupun mengerut, ﴾ وَمَا تَزۡدَادُۚ ﴿ "dan (kandungan rahim) yang bertambah," pada rahim-rahim wanita, dan (proses) besarnya janin di dalamnya. ﴾ وَكُلُّ شَيۡءٍ عِندَهُۥ بِمِقۡدَارٍ ﴿ "Dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya," tidak maju maupun mundur, tidak bertambah ataupun berkurang kecuali berdasarkan tuntutan hikmah dan ilmuNya. Sesungguhnya Allah, ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "Dzat yang menge-tahui semua yang ghaib dan yang nampak, Yang Mahabesar," dalam Dzat, Nama dan SifatNya, ﴾ ٱلۡمُتَعَالِ ﴿ "Yang Mahatinggi," di atas se-luruh makhlukNya dengan Dzat, kekuasaan dan KeperkasaanNya.
(10) ﴾ سَوَآءٞ ﴿ "Sama saja (bagi Allah),"pada ilmu, pendengaran, dan pandanganNya ﴾ مَّنۡ أَسَرَّ ٱلۡقَوۡلَ وَمَن جَهَرَ بِهِۦ وَمَنۡ هُوَ مُسۡتَخۡفِۭ بِٱلَّيۡلِ ﴿ "siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari," berdiam di suatu tempat, tersembunyi. ﴾ وَسَارِبُۢ بِٱلنَّهَارِ ﴿ "Dan yang berjalan (menam-pakkan diri) di siang hari," maksudnya berada dalam tempat tinggal-nya di siang hari. Yang dimaksud dengan اَلسِّرْبُ, ialah tempat yang dijadikan oleh seseorang sebagai tempat persembunyian, baik di tengah rumahnya, gua, atau lubang persembunyian dan lain-lain.
(11) ﴾ لَهُۥ ﴿ "Baginya," yaitu bagi manusia ﴾ مُعَقِّبَٰتٞ ﴿ "ada yang selalu mengikutinya bergiliran," dari kalangan malaikat, mereka silih berganti di malam dan siang hari ﴾ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ ﴿ "di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah," mak-sudnya memelihara jasmani dan nyawanya dari setiap orang yang ingin berbuat buruk padanya. Mereka memelihara amalan-amalan-nya, selalu menyertainya terus-menerus. Sebagaimana juga ilmu Allah meliputinya, maka Allah pun telah mengutus para malaikat penjaga kepada hamba-hambaNya, di mana hal itu menjadikan kondisi-kondisi dan amalan-amalan mereka tidak tersembunyi, juga tidak dilupakan sedikit pun darinya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum," berupa kenikmatan, curahan kebaikan, dan kehidupan yang enak, ﴾ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ ﴿ "sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri," dengan beralih dari keimanan kepada kekufuran, dari ketaatan menuju maksiat atau dari mensyukuri nikmat-nikmat Allah kepada mengingkarinya, maka Allah akan mencabut semua kenikmatan itu dari mereka. Begitu pula, jikalau para hamba merubah kondisi mereka, dari maksiat menuju ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan merubah kondisi yang menyelimuti mereka sebelumnya berupa kesengsaraan menuju kepada kebaikan, kebahagiaan, dan ghibthah (semangat iri dalam kebaikan) serta rahmat. ﴾ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا ﴿ "Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum," berupa siksa, perkara yang berat, serta hal yang mereka benci, maka sesungguhnya kehendakNya pasti ter-laksana pada mereka. Karena ﴾ ل َ ا مَرَدَّ لَهُۥۚ ﴿ "tidak ada yang dapat menolak-nya," tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkan mereka darinya. ﴾ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ ﴿ "Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi me-reka selain Dia," yang menangani urusan-urusan mereka, mendatang-kan hal-hal yang disukai bagi mereka dan menyingkirkan hal-hal yang dibenci dari mereka. Maka, hendaklah mereka berhati-hati agar tidak berkutat pada perkara-perkara yang dibenci oleh Allah, karena dikhawatirkan siksa Allah akan menimpa mereka, yang tidak bisa ditolak dari kaum yang telah berbuat jahat.
Ar-Ra'd 13:9
"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perem-puan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang ber-tambah. Dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya. Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Mahabesar lagi Mahatinggi. Sama saja (bagi Allah), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Se-sungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Ar-Ra'd: 8-11).
(8-9) Allah تعالى memberitahukan tentang cakupan ilmuNya yang merata dan luasnya pengetahuan dan penguasaanNya yang meliputi segala sesuatu, Dia berfirman, ﴾ ٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَحۡمِلُ كُلُّ أُنثَىٰ ﴿ "Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan," baik pada ka-langan anak Adam dan lainnya ﴾ وَمَا تَغِيضُ ٱلۡأَرۡحَامُ ﴿ "dan kandungan rahim yang kurang sempurna," yang mengalami penyusutan apa yang ada di dalamnya, baik kandungannya rusak atau mengecil ataupun mengerut, ﴾ وَمَا تَزۡدَادُۚ ﴿ "dan (kandungan rahim) yang bertambah," pada rahim-rahim wanita, dan (proses) besarnya janin di dalamnya. ﴾ وَكُلُّ شَيۡءٍ عِندَهُۥ بِمِقۡدَارٍ ﴿ "Dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya," tidak maju maupun mundur, tidak bertambah ataupun berkurang kecuali berdasarkan tuntutan hikmah dan ilmuNya. Sesungguhnya Allah, ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "Dzat yang menge-tahui semua yang ghaib dan yang nampak, Yang Mahabesar," dalam Dzat, Nama dan SifatNya, ﴾ ٱلۡمُتَعَالِ ﴿ "Yang Mahatinggi," di atas se-luruh makhlukNya dengan Dzat, kekuasaan dan KeperkasaanNya.
(10) ﴾ سَوَآءٞ ﴿ "Sama saja (bagi Allah),"pada ilmu, pendengaran, dan pandanganNya ﴾ مَّنۡ أَسَرَّ ٱلۡقَوۡلَ وَمَن جَهَرَ بِهِۦ وَمَنۡ هُوَ مُسۡتَخۡفِۭ بِٱلَّيۡلِ ﴿ "siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari," berdiam di suatu tempat, tersembunyi. ﴾ وَسَارِبُۢ بِٱلنَّهَارِ ﴿ "Dan yang berjalan (menam-pakkan diri) di siang hari," maksudnya berada dalam tempat tinggal-nya di siang hari. Yang dimaksud dengan اَلسِّرْبُ, ialah tempat yang dijadikan oleh seseorang sebagai tempat persembunyian, baik di tengah rumahnya, gua, atau lubang persembunyian dan lain-lain.
(11) ﴾ لَهُۥ ﴿ "Baginya," yaitu bagi manusia ﴾ مُعَقِّبَٰتٞ ﴿ "ada yang selalu mengikutinya bergiliran," dari kalangan malaikat, mereka silih berganti di malam dan siang hari ﴾ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ ﴿ "di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah," mak-sudnya memelihara jasmani dan nyawanya dari setiap orang yang ingin berbuat buruk padanya. Mereka memelihara amalan-amalan-nya, selalu menyertainya terus-menerus. Sebagaimana juga ilmu Allah meliputinya, maka Allah pun telah mengutus para malaikat penjaga kepada hamba-hambaNya, di mana hal itu menjadikan kondisi-kondisi dan amalan-amalan mereka tidak tersembunyi, juga tidak dilupakan sedikit pun darinya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum," berupa kenikmatan, curahan kebaikan, dan kehidupan yang enak, ﴾ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ ﴿ "sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri," dengan beralih dari keimanan kepada kekufuran, dari ketaatan menuju maksiat atau dari mensyukuri nikmat-nikmat Allah kepada mengingkarinya, maka Allah akan mencabut semua kenikmatan itu dari mereka. Begitu pula, jikalau para hamba merubah kondisi mereka, dari maksiat menuju ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan merubah kondisi yang menyelimuti mereka sebelumnya berupa kesengsaraan menuju kepada kebaikan, kebahagiaan, dan ghibthah (semangat iri dalam kebaikan) serta rahmat. ﴾ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا ﴿ "Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum," berupa siksa, perkara yang berat, serta hal yang mereka benci, maka sesungguhnya kehendakNya pasti ter-laksana pada mereka. Karena ﴾ ل َ ا مَرَدَّ لَهُۥۚ ﴿ "tidak ada yang dapat menolak-nya," tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkan mereka darinya. ﴾ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ ﴿ "Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi me-reka selain Dia," yang menangani urusan-urusan mereka, mendatang-kan hal-hal yang disukai bagi mereka dan menyingkirkan hal-hal yang dibenci dari mereka. Maka, hendaklah mereka berhati-hati agar tidak berkutat pada perkara-perkara yang dibenci oleh Allah, karena dikhawatirkan siksa Allah akan menimpa mereka, yang tidak bisa ditolak dari kaum yang telah berbuat jahat.
Ar-Ra'd 13:10
"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perem-puan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang ber-tambah. Dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya. Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Mahabesar lagi Mahatinggi. Sama saja (bagi Allah), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Se-sungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Ar-Ra'd: 8-11).
(8-9) Allah تعالى memberitahukan tentang cakupan ilmuNya yang merata dan luasnya pengetahuan dan penguasaanNya yang meliputi segala sesuatu, Dia berfirman, ﴾ ٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَحۡمِلُ كُلُّ أُنثَىٰ ﴿ "Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan," baik pada ka-langan anak Adam dan lainnya ﴾ وَمَا تَغِيضُ ٱلۡأَرۡحَامُ ﴿ "dan kandungan rahim yang kurang sempurna," yang mengalami penyusutan apa yang ada di dalamnya, baik kandungannya rusak atau mengecil ataupun mengerut, ﴾ وَمَا تَزۡدَادُۚ ﴿ "dan (kandungan rahim) yang bertambah," pada rahim-rahim wanita, dan (proses) besarnya janin di dalamnya. ﴾ وَكُلُّ شَيۡءٍ عِندَهُۥ بِمِقۡدَارٍ ﴿ "Dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya," tidak maju maupun mundur, tidak bertambah ataupun berkurang kecuali berdasarkan tuntutan hikmah dan ilmuNya. Sesungguhnya Allah, ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "Dzat yang menge-tahui semua yang ghaib dan yang nampak, Yang Mahabesar," dalam Dzat, Nama dan SifatNya, ﴾ ٱلۡمُتَعَالِ ﴿ "Yang Mahatinggi," di atas se-luruh makhlukNya dengan Dzat, kekuasaan dan KeperkasaanNya.
(10) ﴾ سَوَآءٞ ﴿ "Sama saja (bagi Allah),"pada ilmu, pendengaran, dan pandanganNya ﴾ مَّنۡ أَسَرَّ ٱلۡقَوۡلَ وَمَن جَهَرَ بِهِۦ وَمَنۡ هُوَ مُسۡتَخۡفِۭ بِٱلَّيۡلِ ﴿ "siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari," berdiam di suatu tempat, tersembunyi. ﴾ وَسَارِبُۢ بِٱلنَّهَارِ ﴿ "Dan yang berjalan (menam-pakkan diri) di siang hari," maksudnya berada dalam tempat tinggal-nya di siang hari. Yang dimaksud dengan اَلسِّرْبُ, ialah tempat yang dijadikan oleh seseorang sebagai tempat persembunyian, baik di tengah rumahnya, gua, atau lubang persembunyian dan lain-lain.
(11) ﴾ لَهُۥ ﴿ "Baginya," yaitu bagi manusia ﴾ مُعَقِّبَٰتٞ ﴿ "ada yang selalu mengikutinya bergiliran," dari kalangan malaikat, mereka silih berganti di malam dan siang hari ﴾ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ ﴿ "di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah," mak-sudnya memelihara jasmani dan nyawanya dari setiap orang yang ingin berbuat buruk padanya. Mereka memelihara amalan-amalan-nya, selalu menyertainya terus-menerus. Sebagaimana juga ilmu Allah meliputinya, maka Allah pun telah mengutus para malaikat penjaga kepada hamba-hambaNya, di mana hal itu menjadikan kondisi-kondisi dan amalan-amalan mereka tidak tersembunyi, juga tidak dilupakan sedikit pun darinya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum," berupa kenikmatan, curahan kebaikan, dan kehidupan yang enak, ﴾ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ ﴿ "sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri," dengan beralih dari keimanan kepada kekufuran, dari ketaatan menuju maksiat atau dari mensyukuri nikmat-nikmat Allah kepada mengingkarinya, maka Allah akan mencabut semua kenikmatan itu dari mereka. Begitu pula, jikalau para hamba merubah kondisi mereka, dari maksiat menuju ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan merubah kondisi yang menyelimuti mereka sebelumnya berupa kesengsaraan menuju kepada kebaikan, kebahagiaan, dan ghibthah (semangat iri dalam kebaikan) serta rahmat. ﴾ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا ﴿ "Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum," berupa siksa, perkara yang berat, serta hal yang mereka benci, maka sesungguhnya kehendakNya pasti ter-laksana pada mereka. Karena ﴾ ل َ ا مَرَدَّ لَهُۥۚ ﴿ "tidak ada yang dapat menolak-nya," tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkan mereka darinya. ﴾ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ ﴿ "Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi me-reka selain Dia," yang menangani urusan-urusan mereka, mendatang-kan hal-hal yang disukai bagi mereka dan menyingkirkan hal-hal yang dibenci dari mereka. Maka, hendaklah mereka berhati-hati agar tidak berkutat pada perkara-perkara yang dibenci oleh Allah, karena dikhawatirkan siksa Allah akan menimpa mereka, yang tidak bisa ditolak dari kaum yang telah berbuat jahat.
Ar-Ra'd 13:11
"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perem-puan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang ber-tambah. Dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya. Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Mahabesar lagi Mahatinggi. Sama saja (bagi Allah), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Se-sungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Ar-Ra'd: 8-11).
(8-9) Allah تعالى memberitahukan tentang cakupan ilmuNya yang merata dan luasnya pengetahuan dan penguasaanNya yang meliputi segala sesuatu, Dia berfirman, ﴾ ٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَحۡمِلُ كُلُّ أُنثَىٰ ﴿ "Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan," baik pada ka-langan anak Adam dan lainnya ﴾ وَمَا تَغِيضُ ٱلۡأَرۡحَامُ ﴿ "dan kandungan rahim yang kurang sempurna," yang mengalami penyusutan apa yang ada di dalamnya, baik kandungannya rusak atau mengecil ataupun mengerut, ﴾ وَمَا تَزۡدَادُۚ ﴿ "dan (kandungan rahim) yang bertambah," pada rahim-rahim wanita, dan (proses) besarnya janin di dalamnya. ﴾ وَكُلُّ شَيۡءٍ عِندَهُۥ بِمِقۡدَارٍ ﴿ "Dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya," tidak maju maupun mundur, tidak bertambah ataupun berkurang kecuali berdasarkan tuntutan hikmah dan ilmuNya. Sesungguhnya Allah, ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "Dzat yang menge-tahui semua yang ghaib dan yang nampak, Yang Mahabesar," dalam Dzat, Nama dan SifatNya, ﴾ ٱلۡمُتَعَالِ ﴿ "Yang Mahatinggi," di atas se-luruh makhlukNya dengan Dzat, kekuasaan dan KeperkasaanNya.
(10) ﴾ سَوَآءٞ ﴿ "Sama saja (bagi Allah),"pada ilmu, pendengaran, dan pandanganNya ﴾ مَّنۡ أَسَرَّ ٱلۡقَوۡلَ وَمَن جَهَرَ بِهِۦ وَمَنۡ هُوَ مُسۡتَخۡفِۭ بِٱلَّيۡلِ ﴿ "siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari," berdiam di suatu tempat, tersembunyi. ﴾ وَسَارِبُۢ بِٱلنَّهَارِ ﴿ "Dan yang berjalan (menam-pakkan diri) di siang hari," maksudnya berada dalam tempat tinggal-nya di siang hari. Yang dimaksud dengan اَلسِّرْبُ, ialah tempat yang dijadikan oleh seseorang sebagai tempat persembunyian, baik di tengah rumahnya, gua, atau lubang persembunyian dan lain-lain.
(11) ﴾ لَهُۥ ﴿ "Baginya," yaitu bagi manusia ﴾ مُعَقِّبَٰتٞ ﴿ "ada yang selalu mengikutinya bergiliran," dari kalangan malaikat, mereka silih berganti di malam dan siang hari ﴾ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ ﴿ "di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah," mak-sudnya memelihara jasmani dan nyawanya dari setiap orang yang ingin berbuat buruk padanya. Mereka memelihara amalan-amalan-nya, selalu menyertainya terus-menerus. Sebagaimana juga ilmu Allah meliputinya, maka Allah pun telah mengutus para malaikat penjaga kepada hamba-hambaNya, di mana hal itu menjadikan kondisi-kondisi dan amalan-amalan mereka tidak tersembunyi, juga tidak dilupakan sedikit pun darinya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum," berupa kenikmatan, curahan kebaikan, dan kehidupan yang enak, ﴾ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ ﴿ "sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri," dengan beralih dari keimanan kepada kekufuran, dari ketaatan menuju maksiat atau dari mensyukuri nikmat-nikmat Allah kepada mengingkarinya, maka Allah akan mencabut semua kenikmatan itu dari mereka. Begitu pula, jikalau para hamba merubah kondisi mereka, dari maksiat menuju ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan merubah kondisi yang menyelimuti mereka sebelumnya berupa kesengsaraan menuju kepada kebaikan, kebahagiaan, dan ghibthah (semangat iri dalam kebaikan) serta rahmat. ﴾ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا ﴿ "Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum," berupa siksa, perkara yang berat, serta hal yang mereka benci, maka sesungguhnya kehendakNya pasti ter-laksana pada mereka. Karena ﴾ ل َ ا مَرَدَّ لَهُۥۚ ﴿ "tidak ada yang dapat menolak-nya," tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkan mereka darinya. ﴾ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ ﴿ "Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi me-reka selain Dia," yang menangani urusan-urusan mereka, mendatang-kan hal-hal yang disukai bagi mereka dan menyingkirkan hal-hal yang dibenci dari mereka. Maka, hendaklah mereka berhati-hati agar tidak berkutat pada perkara-perkara yang dibenci oleh Allah, karena dikhawatirkan siksa Allah akan menimpa mereka, yang tidak bisa ditolak dari kaum yang telah berbuat jahat.
Ar-Ra'd 13:12
"Dia-lah Rabb yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepadaNya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Rabb Yang Mahakeras siksaNya." (Ar-Ra'd: 12-13).
(12) Allah تعالى berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِي يُرِيكُمُ ٱلۡبَرۡقَ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا ﴿ "Dia-lah Rabb yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ke-takutan dan harapan," menjadi sumber ketakutan karena kemunculan suara-suara guruh, kehancuran dan berbagai macam bahaya yang bisa menimpa sebagian buah-buahan dan lainnya, dan (menjadi sumber harapan) kebaikan dan manfaatnya darinya. ﴾ وَيُنشِئُ ٱلسَّحَابَ ٱلثِّقَالَ ﴿ "Dan Dia mengadakan awan mendung," dengan curahan hujan lebat yang mengandung manfaat bagi umat manusia dan negeri-negeri.
(13) ﴾ وَيُسَبِّحُ ٱلرَّعۡدُ ﴿ "Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah," yaitu suara yang terdengar dari mendung, yang mengagetkan ma-nusia. Ia tunduk kepada Rabbnya, melantunkan tasbih dengan me-mujiNya ﴾ و َ ﴿ "dan" bertasbih ﴾ ا ل ْ م َ ل َ ا ئ ِ ك َ ة ُ مِنۡ خِيفَتِهِۦ ﴿ "para malaikat karena takut kepadaNya," dalam keadaan khusyu' kepada Rabb mereka dan takut dari kemurkaanNya ﴾ وَيُرۡسِلُ ٱلصَّوَٰعِقَ ﴿ "dan Allah melepaskan hali-lintar," yaitu percikan api yang muncul dari sela-sela awan mendung ﴾ فَيُصِيبُ بِهَا مَن يَشَآءُ ﴿ "lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki," dari kalangan manusia, tergantung pada kehendak dan iradahNya. ﴾ وَهُوَ شَدِيدُ ٱلۡمِحَالِ ﴿ "Dan Dia-lah Rabb Yang Mahakeras siksaNya," maksud-nya Dia sangat dahsyat daya dan kekuatanNya. Tidaklah Dia ber-kehendak berbuat sesuatu melainkan pasti merealisasikannya. Tidak ada urusan yang sulit bagiNya. Tidak terlewatkan dariNya obyek yang telah melarikan diri. Apabila Allah semata yang mendatang-kan hujan bagi hamba-hambaNya, dan mendung yang berisi sumber rizki mereka, (dan Dia-lah yang mengatur segala urusan, semua makhluk yang besar yang ditakuti dan membuat orang-orang terusik, semuanya sangat tunduk patuh kepadaNya, Dia sangat dahsyat kekuatanNya), maka Dia-lah yang berhak untuk diibadahi semata, tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu, Allah berfirman,
Ar-Ra'd 13:13
"Dia-lah Rabb yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepadaNya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Rabb Yang Mahakeras siksaNya." (Ar-Ra'd: 12-13).
(12) Allah تعالى berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِي يُرِيكُمُ ٱلۡبَرۡقَ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا ﴿ "Dia-lah Rabb yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ke-takutan dan harapan," menjadi sumber ketakutan karena kemunculan suara-suara guruh, kehancuran dan berbagai macam bahaya yang bisa menimpa sebagian buah-buahan dan lainnya, dan (menjadi sumber harapan) kebaikan dan manfaatnya darinya. ﴾ وَيُنشِئُ ٱلسَّحَابَ ٱلثِّقَالَ ﴿ "Dan Dia mengadakan awan mendung," dengan curahan hujan lebat yang mengandung manfaat bagi umat manusia dan negeri-negeri.
(13) ﴾ وَيُسَبِّحُ ٱلرَّعۡدُ ﴿ "Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah," yaitu suara yang terdengar dari mendung, yang mengagetkan ma-nusia. Ia tunduk kepada Rabbnya, melantunkan tasbih dengan me-mujiNya ﴾ و َ ﴿ "dan" bertasbih ﴾ ا ل ْ م َ ل َ ا ئ ِ ك َ ة ُ مِنۡ خِيفَتِهِۦ ﴿ "para malaikat karena takut kepadaNya," dalam keadaan khusyu' kepada Rabb mereka dan takut dari kemurkaanNya ﴾ وَيُرۡسِلُ ٱلصَّوَٰعِقَ ﴿ "dan Allah melepaskan hali-lintar," yaitu percikan api yang muncul dari sela-sela awan mendung ﴾ فَيُصِيبُ بِهَا مَن يَشَآءُ ﴿ "lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki," dari kalangan manusia, tergantung pada kehendak dan iradahNya. ﴾ وَهُوَ شَدِيدُ ٱلۡمِحَالِ ﴿ "Dan Dia-lah Rabb Yang Mahakeras siksaNya," maksud-nya Dia sangat dahsyat daya dan kekuatanNya. Tidaklah Dia ber-kehendak berbuat sesuatu melainkan pasti merealisasikannya. Tidak ada urusan yang sulit bagiNya. Tidak terlewatkan dariNya obyek yang telah melarikan diri. Apabila Allah semata yang mendatang-kan hujan bagi hamba-hambaNya, dan mendung yang berisi sumber rizki mereka, (dan Dia-lah yang mengatur segala urusan, semua makhluk yang besar yang ditakuti dan membuat orang-orang terusik, semuanya sangat tunduk patuh kepadaNya, Dia sangat dahsyat kekuatanNya), maka Dia-lah yang berhak untuk diibadahi semata, tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu, Allah berfirman,
Ar-Ra'd 13:14
"Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya air sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sam-pai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka." (Ar-Ra'd: 14).
(14) Maksudnya, hanya bagi Allah semata (hak mengabul-kan) ﴾ دَعۡوَةُ ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "doa yang benar," yaitu beribadah kepadaNya saja, tidak ada sekutu bagiNya serta mengikhlaskan doa ibadah dan doa permintaan kepadaNya تعالى. Maksudnya, sepatutnya seluruh ibadah doa, khauf (rasa takut), raja` (rasa berharap), kecintaan, ke-inginan dan kekhawatiran serta taubah diarahkan hanya kepada-Nya. Sebab aspek ketuhananNya adalah benar. Sementara sisi ke-tuhanan selainNya adalah batil. Maka, ﴾ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ ﴿ "berhala-ber-hala yang mereka sembah selain Allah," yang berupa patung-patung dan tandingan-tandingan yang mereka jadikan sebagai sekutu bagi Allah, ﴾ لَا يَسۡتَجِيبُونَ لَهُم ﴿ "tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi me-reka," yaitu bagi orang yang menyeru dan menyembahnya, dengan (memberikan jawaban) yang sedikit atau banyak, baik berkaitan de-ngan urusan duniawi maupun urusan ukhrawi, ﴾ إِلَّا كَبَٰسِطِ كَفَّيۡهِ إِلَى ٱلۡمَآءِ ﴿ "melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air," yang tidak bisa dijangkau oleh dua telapak tangannya karena letaknya yang jauh. ﴾ لِيَبۡلُغَ ﴿ "Supaya sampai," dengan memben-tangkan tangannya ke air ﴾ فَاهُ ﴿ "ke mulutnya," karena dia sedang kehausan. Saking hausnya, dia menyodorkan telapak tangan dan membukanya ke arah air yang mustahil sampai kepadanya. Maka air itu pun tidak bisa sampai kepadanya. Demikian juga, orang-orang kafir yang menyembah sesembahan lain bersama Allah, me-reka (sesembahan-sesembahan itu) tidak bisa merealisasikan apa pun bagi mereka, tidak bermanfaat bagi mereka pada kondisi-kon-disi yang mana mereka benar-benar membutuhkannya. Sebab me-reka makhluk-makhluk yang tidak memiliki apa pun, begitu pula orang-orang yang menyeru mereka dalam keadaan kekurangan. ﴾ لَا يَمۡلِكُونَ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا لَهُمۡ فِيهِمَا مِن شِرۡكٖ وَمَا لَهُۥ مِنۡهُم مِّن ظَهِيرٖ 22 ﴿ "Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (pen-ciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagiNya." (Saba`: 22). ﴾ وَمَا دُعَآءُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu hanya-lah sia-sia belaka," karena kebatilan sesuatu yang mereka seru, selain Allah. Maka, ibadah dan doa mereka pun batil (sia-sia). Sebab, peran-taranya pun (wasilah) batil disebabkan kebatilan tujuannya. Karena Allah adalah Raja, Pemilik kebenaran yang nyata, maka beribadah kepadaNya merupakan perkara yang benar, manfaatnya benar-benar mengalir kepada pelakunya di dunia dan akhirat. Permisalan doa orang-orang kafir kepada selain Allah dengan (permisalan) orang yang membentangkan dua telapak tangannya ke arah air agar supaya mencapai mulutnya adalah termasuk analogi yang terbaik. Itu merupakan permisalan dengan perkara yang muhal terjadi. Sebagaimana hal itu mustahil terjadi, maka perkara yang dianalogikan dengannya pun tidak mungkin terwujud. Pengaitan kepada perkara yang mustahil terjadi adalah termasuk cara penafian masalah yang paling mengena. Seperti yang diungkapkan Allah تعالى, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُواْ عَنۡهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَٰبُ ٱلسَّمَآءِ وَلَا يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِي سَمِّ ٱلۡخِيَاطِۚ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum." (Al A'raf: 40).
Ar-Ra'd 13:15
"Hanya kepada Allah-lah, segala apa yang di langit dan di bumi sujud (patuh), baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa, dan bayang-bayangnya di waktu pagi dan waktu petang sujud pula." (Ar-Ra'd: 15).
(15) Segala sesuatu yang berada di dalam langit dan bumi tunduk patuh kepada Rabbnya, sujud kepadaNya ﴾ طَوۡعٗا وَكَرۡهٗا ﴿ "baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa," maka sikap sukarela adalah bagi orang yang melakukan sujud dan tunduk patuh atas keinginan sendiri sebagaimana (tunduknya) kaum Mukminin. Sementara ke-terpaksaan adalah bagi orang yang menyombongkan diri dari ber-ibadah kepada Rabbnya. Padahal kondisi dan fitrahnya mendusta-kannya dalam hal tersebut. ﴾ وَظِلَٰلُهُم بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ۩ ﴿ "Dan bayang-bayang-nya di waktu pagi dan waktu petang sujud pula," dan bayang-bayang para makhluk di permulaan hari dan penghujungnya bersujud pula. Cara bersujud masing-masing makhluk sesuai dengan kondisinya sebagaimana yang difirmankan oleh Allah تعالى, ﴾ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ ﴿ "Dan tiada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, akan tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka." (Al-Isra`: 44). Apabila setiap makhluk telah bersujud kepada Rabbnya, baik dengan sukarela atau terpaksa, maka Dia-lah sesembahan yang benar, Dzat yang disembah lagi terpuji dengan sebenarnya. Maka, label ketuhanan bagi selainnya adalah batil. 9 Oleh karenanya, Dia menyebutkan kebatilan ketuhanan bagi selainNya, dan mengetengahkan sejumlah buktinya dengan berfirman,
Ar-Ra'd 13:16
"Katakanlah, 'Siapakah Rabb langit dan bumi?' Jawablah, 'Allah.' Katakanlah, 'Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan bagi diri mereka sen-diri?' Katakanlah, 'Adakah sama orang buta dan yang dapat me-lihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat mencip-takan seperti ciptaanNya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?' Katakanlah, 'Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Rabb Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa'." (Ar-Ra'd: 16).
(16) Maksudnya, 'Katakanlah kepada orang-orang yang me-nyekutukan berhala-berhala dan sesembahan-sesembahan tandingan lainnya dengan Allah, yang mana mereka mencintai sesembahan-sesembahan itu layaknya kecintaan mereka kepada Allah, mem-persembahkan bermacam-macam bentuk qurbah (untuk mendekat-kan diri kepada Allah) dan ibadah baginya. Apakah akal pikiran kalian telah tumpul sehingga mendaulat selain Allah sebagai wali (penolong) yang mereka agungkan dengan ibadah, padahal mereka itu tidak patut untuk diperlakukan demikian? Mereka (sesembahan selain Allah) itu ﴾ لَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ نَفۡعٗا وَلَا ضَرّٗاۚ ﴿ "mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri," dan kalian mengenyampingkan pertolongan dari Dzat yang sempurna Nama-nama dan Sifat-sifatNya, Pemilik semua makhluk hidup dan benda yang mati. Di TanganNya-lah hak penciptaan, pengaturan, pemberian manfaat dan pengarahan bahaya. Maka tidak sama, ibadah kepada Allah semata dengan ibadah kepada tuhan yang disekutukan dengan Allah, sebagaimana tidak sama orang buta dengan orang yang bisa melihat, juga sebagai-mana tidak ﴾ تَسۡتَوِي ٱلظُّلُمَٰتُ وَٱلنُّورُۗ ﴿ "sama gelap gulita dengan terang bende-rang." Apabila mereka mempunyai unsur keragu-raguan serta ke-tidakjelasan sehingga mengangkat beberapa sekutu bagiNya, dengan beranggapan bahwa sekutu-sekutu itu mampu menciptakan seperti penciptaan Allah, dan sanggup berbuat apa saja seperti yang di-perbuat Allah, maka singkirkanlah kesimpangsiuran dan kerancuan ini dari mereka dengan bukti yang menunjukkan ketauhidan Allah dengan keesaanNya dan katakanlah kepada mereka, "Allah-lah pencipta segala sesuatu." Sungguh merupakan perkara mustahil, sesuatu bisa mencipta-kan dirinya sendiri. Begitu pula, termasuk hal yang tidak mungkin terjadi, sesuatu muncul tanpa pencipta. Maka akan teridentifikasilah bahwa makhluk itu memiliki Pencipta yang menciptakan, tidak ada sekutu bagiNya dalam penciptaan. Karena Dia-lah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Tidak ada keesaan dan keperkasaan kecuali bagi Allah semata. Seluruh makhluk, masing-masing saling menundukkan makhluk lainnya dengan kegagahannya. Kemudian di atas sang penakluk tadi terdapat Dzat Yang Maha Penakluk yang lebih kuat darinya, sampai berakhir kepada keperkasaan Dzat Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Keperkasaan dan keesaan, dua sifat yang saling berkorelasi yang mesti dimiliki oleh Allah saja, maka jelaslah sebuah keniscayaan, ditinjau dari sudut nalar akal bahwa segala sesuatu yang diseru selain Allah, tidak mempunyai sedikit pun andil dalam penciptaan makhluk-makhluk. Dengan berdasarkan itu, maka ibadah kepadanya menjadi sebuah kebatilan. 9
Ar-Ra'd 13:17
"Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka me-ngalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah mem-buat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan." (Ar-Ra'd: 17).
(17) Allah تعالى menyerupakan hidayah yang diturunkan ke-pada RasulNya bagi kehidupan kalbu dan ruh manusia dengan air yang diturunkan bagi kehidupan pepohonan. Allah menganalogikan manfaat luas lagi melimpah yang terkandung dalam hidayah yang sangat dibutuhkan oleh manusia dengan hal-hal yang dikandung oleh hujan, berupa manfaat-manfaat makro yang mendesak. Allah mempermisalkan hati yang berhasil mengemas hidayah dan ting-katan-tingkatannya dengan lembah-lembah yang menjadi muara aliran air. Lembah yang luas, mampu menampung air yang banyak ada-lah ibarat hati lapang, yang memuat ilmu yang banyak. Sedangkan lembah kecil yang hanya membutuhkan sedikit air seperti halnya hati yang sempit yang hanya memuat ilmu yang sedikit….dan de-mikianlah seterusnya. Selanjutnya, Allah mengumpamakan nafsu syahwat dan syu-bhat (kerancuan) pada hati manusia saat kebenaran datang kepada-nya dengan buih yang berada di atas permukaan air, dan benda yang dipanaskan di atas api berupa perhiasan yang akan dimurnikan dan dilebur untuk dimasukkan dalam cetakan. Ia akan tetap di atas air dalam keadaan mengambang menyebabkannya keruh sampai akhir-nya hilang dan lenyap. Dan akan tersisa hal-hal yang berguna bagi manusia dalam wujud air jernih dan perhiasan yang murni. Demikian pula keadaan dengan syahwat dan syubhat, karena hati akan senantiasa membenci dan berusaha menaklukkannya me-lalui bukti-bukti yang benar dan tekad-tekad yang bulat agar pergi dan lenyap. Hati pun menjadi bersih lagi murni, di dalamnya hanya ada hal-hal yang bermanfaat bagi manusia berupa ilmu dan kebenar-an serta tindakan untuk mengutamakan dan mencintainya. Kebatil-an akan lenyap, dan kebenaranlah yang menyirnakannya. ﴾ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا 81 ﴿ "Sesungguhnya kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (Al-Isra`: 81). Di sini, Allah berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ ﴿ "Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan," tujuannya agar kebenaran menjadi jelas dan terbedakan dari kebatilan, dan hidayah terbeda-kan dari kesesatan.
Ar-Ra'd 13:18
"Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Rabbnya, (disedia-kan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Rabbnya, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi beserta-nya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk, dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman." (Ar-Ra'd: 18).
(18) Ketika Allah menerangkan kebenaran untuk menyisih-kannya dari kebatilan, maka Allah تعالى menyebutkan bahwa manusia terkualifikasi menjadi dua golongan: Golongan yang menyambut seruan Rabbnya lalu disebutkan balasan baiknya, dan golongan yang tidak menyambut lalu disebutkan hukumannya. Allah berfirman, ﴾ لِلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمُ ﴿ "Bagi orang-orang yang meme-nuhi seruan Rabbnya," maksudnya orang-orang yang hatinya tunduk kepada ilmu dan keimanan, dan anggota tubuh mereka patuh pada perintah dan larangan, maka mereka menjadi insan-insan yang se-jalan dengan Rabb mereka dalam hal-hal yang diinginkanNya dari mereka. Maka bagi mereka ﴾ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "(disediakan) pembalasan yang baik," yaitu kondisi yang baik dan pahala yang bagus. Mereka memiliki sifat yang termulia dan budi pekerti yang paling luhur, serta balasan segera (di dunia ini) dan balasan yang akan datang, yang tidak pernah disaksikan pandangan, tidak pernah didengar pendengaran serta tidak pernah terbetik di dalam hati manusia. ﴾ وَٱلَّذِينَ لَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُۥ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak memenuhi se-ruan Rabbnya," sesudah Allah membuat permisalan-permisalan dan menjelaskan kebenaran kepada mereka, maka mereka mendapatkan kondisi yang tidak baik. ﴾ لَوۡ أَنَّ لَهُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Sekiranya mereka mem-punyai semua (kekayaan) yang ada di bumi," berupa emas, perak, dan lain-lain, ﴾ وَمِثۡلَهُۥ مَعَهُۥ لَٱفۡتَدَوۡاْ بِهِۦٓۚ ﴿ "dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu," dari siksa pada Hari Kiamat. Semua itu tidak akan diterima dari mereka. Dan dari mana mereka memiliki itu semua? ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ سُوٓءُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk," yaitu proses hisab (perhitungan amal) yang akan berlaku bagi semua perkara yang pernah mereka kerjakan, yang berbentuk amalan yang buruk, dan hak-hak Allah serta hak-hak manusia yang telah mereka sepelekan. Hal tersebut telah ditulis dan digariskan pada mereka, ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka mengatakan, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melain-kan ia mencatat semuanya,' dan mereka mendapati apa yang mereka ker-jakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang pun".( Al-Kahfi: 49) ﴾ و َ ﴿ "Dan" pasca perhitungan (amal) yang buruk ini ﴾ م َ أ ْ و َ ا ه ُ م ْ جَهَنَّمُۖ ﴿ "tempat kediaman mereka ialah Jahanam," yang menghimpun ber-bagai macam siksaan, berupa kelaparan yang dahsyat, rasa haus yang menyakitkan, serta api yang menyala-nyala, buah zaqqum, hawa dingin yang sangat menusuk, dan makanan dari pohon yang berduri dan seluruh macam siksaan yang telah Allah sebutkan. ﴾ وَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ ﴿ "Dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman," yaitu seburuk-buruk hunian dan tempat tinggal adalah tempat mereka.
Ar-Ra'd 13:19
"Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang di-turunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat meng-ambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang menghubung-kan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan me-reka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari Wajah Rabbnya, men-dirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga 'Adn yang mereka ma-suk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 19-24).
(19-20) Allah تعالى berfirman untuk membedakan antara orang-orang yang berilmu dan mengamalkannya dengan orang yang tidak demikian adanya, ﴾ أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar," lalu dia memahami dan mengamalkannya ﴾ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓۚ ﴿ "sama dengan orang yang buta," yang tidak mengetahui kebenaran sehingga tidak mengamalkannya? Perbedaan antara keduanya bak perbedaan antara langit dan bumi. Oleh karenanya, sudah semesti-nya seorang hamba mengingat dan berpikir, siapakah di antara dua macam orang itu yang paling bagus kondisinya dan terbaik peng-hujung kehidupannya, sehingga jalannya diikuti dan dititi di be-lakang golongannya. Namun, tidak setiap orang mengingat-ingat hal yang bermanfaat dan berbahaya baginya. ﴾ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran," yaitu orang-orang yang mempunyai akal yang matang dan pemikiran yang sempurna, yang merupakan un-sur penting alam semesta dan keturunan Adam yang terpilih. Jika engkau menanyakan tentang karakteristik mereka, maka engkau tidak akan menjumpai sifat yang lebih baik dari sebutan Allah bagi mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang me-menuhi janji Allah," yang telah Allah amanatkan kepada mereka dan mengikat mereka dengan janji itu, berupa pelaksanaan hak-hakNya secara sempurna lagi komplet. Yang dimaksud dengan menepatinya ialah memenuhi hak-haknya dalam bentuk menyem-purnakan dan bersikap tulus terhadapnya. Dan termasuk indikasi pemenuhan hak tersebut, bahwa mereka ﴾ ل َ ا يَنقُضُونَ ٱلۡمِيثَٰقَ ﴿ "tidak merusak perjanjian," perjanjian yang telah mereka tetapkan sendiri dengan Allah. Seluruh akad, perjanjian, sumpah dan nadzar yang telah di-ikrarkan seseorang masuk ke dalamnya. Seseorang tidak termasuk dalam kategori 'ulul albab' (orang-orang yang berakal) yang men-dapatkan pahala besar kecuali dengan melaksanakannya secara utuh, tidak membatalkan dan menguranginya.
(21) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ ﴿ "Dan orang-orang yang meng-hubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan," Hal ini bersifat umum, mencakup seluruh perkara yang diperintahkan oleh Allah untuk dijalin, berupa iman kepadaNya dan kepada Rasul-Nya, mencintaiNya dan mencintai RasulNya, tunduk patuh untuk beribadah kepadaNya semata tanpa menyekutukanNya dengan apa pun, taat kepada RasulNya, menjalin hubungan dengan ayah dan ibu mereka, melalui bakti kepada mereka dengan ucapan dan tindakan, tidak berbuat durhaka kepada mereka, menyambung tali silaturahim dengan kerabat dekat dan handai taulan melalui curah-an sikap baik kepada mereka dalam bentuk ucapan maupun per-buatan, menyambung tali silaturahim antara mereka dengan istri-istri, teman-teman, budak belian dengan memenuhi hak mereka secara penuh lagi sempurna, baik hak agama ataupun hak duniawi. Faktor sebab yang menjadikan seorang hamba menjalin hubungan yang Allah perintahkan untuk diretas, adalah khasyyatullah (rasa takut kepada Allah) dan khawatir terhadap Hari Perhitungan. Atas dasar itu, Allah berfirman, ﴾ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ ﴿ "Dan mereka takut kepada Rabb mereka," maksudnya mereka takut kepadaNya. Rasa takut mereka kepada Allah dan kekhawatiran terhadap Hari Perhitungan amalan menghalangi mereka untuk berbuat seenaknya dalam ber-maksiat kepada Allah, atau menyepelekan sebagian dari perintah Allah, lantaran takut terhadap siksaan dan mengharapkan pahala-Nya.
(22) ﴾ وَٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang sabar," terhadap segala perintah dengan menaatinya dan semua larangan dengan menahan diri darinya dan menjauhinya, dan (sabar) terhadap seluruh keten-tuan Allah yang menyakitkan dengan tidak geram terhadapnya, tapi dengan syarat, sabar tersebut mesti ﴾ ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ ﴿ "karena mencari Wajah Rabbnya," tidak didorong oleh tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan yang rusak, karena jenis sabar yang bermanfaat ini, yang seorang hamba berusaha mengekang jiwanya karena mencari ridha Rabbnya, berharap dekat kepadaNya serta berhasil menggapai pahalaNya, itulah sabar yang merupakan ciri spesifik orang-orang yang beriman. Adapun kesabaran yang telah mengalami percampuran yang tujuannya untuk penempaan diri dan bermuara kepada kebangga-an diri, maka ini bisa muncul dari orang yang baik dan orang yang buruk, orang Mukmin dan orang kafir. Kesabaran demikian ini se-cara hakikat tidak terpuji. ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "mendirikan shalat," dengan memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, serta hal-hal yang menyempurnakan-nya, baik secara lahiriyah maupun batiniyah. ﴾ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ ﴿ "dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, se-cara sembunyi dan terang-terangan," termasuk di dalamnya infak-infak (pembayaran-pembayaran) yang wajib, seperti zakat, kaffarah, dan infak-infak yang sunnah. Mereka mengeluarkan nafkah di saat dibutuhkan, dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, ﴾ وَيَدۡرَءُونَ بِٱلۡحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ ﴿ "serta menolak kejahatan dengan kebaikan," barang-siapa yang berulah buruk kepada mereka, melalui ucapan atau per-buatan, maka mereka tidak membalas orang itu dengan hal yang sama, justru menyikapinya dengan berbuat baik kepadanya. Mem-beri kepada orang yang bakhil kepada mereka, memaafkan orang yang berbuat aniaya kepada mereka, menjalin hubungan dengan orang yang mengucilkan mereka dan bersikap baik kepada orang yang jahat dengan mereka. Kalau mereka membalas orang yang berbuat jelek kepada mereka dengan kebaikan, maka menurutmu, bagaimana (sikap mereka) dengan orang yang tidak berbuat jelek (kepada mereka)? ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka," adalah orang-orang yang diberi sifat mulia dan perangai yang indah ﴾ لَهُمۡ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)".
(23-24) Allah menjelaskannya (tempat kesudahan yang baik) dengan FirmanNya ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "(yaitu) surga 'Adn," artinya surga tempat menetap, mereka tidak akan terpisahkan darinya, dan me-reka tidak mengharapkan relokasi ke tempat lain sebagai gantinya. Sebab, mereka tidak menyaksikan ada tempat lain yang lebih baik, lantaran sarat dengan kenikmatan dan kebahagiaan, yang menjadi puncak segala obsesi dan tujuan. Termasuk bagian dari kesem-purnaan kenikmatan dan kebahagiaan pandangan mereka, bahwa ﴾ يَدۡخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡۖ ﴿ "mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak-cucunya," dari kaum lelaki, perempuan dan pasangan-pasangan mereka, maksudnya suami atau istri mereka. Begitu pula orang-orang semisal mereka, orang yang menyerupai mereka, dan kawan, serta orang-orang yang mereka cintai, semua masuk dalam makna 'pasangan-pasangan dan keturunan-keturunan mereka.' ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ ﴿ "Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu," untuk menyambut mereka dengan ucapan selamat dan (menyampaikan) karamah Allah untuk mereka. Para malaikat itu mengucapkan, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم ﴿ "Keselamatan atasmu," ke-selamatan dan penghormatan dari Allah telah menghampiri kalian dan menjadi milik kalian. Kondisi demikian ini, berimplikasi lenyap-nya segala hal yang dibenci dan munculnya semua yang disukai ﴾ بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ ﴿ "berkat kesabaranmu," kesabaran kalianlah yang mengan-tarkan kalian menuju kedudukan nan tinggi dan surga yang sangat bernilai, ﴾ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu," maka sepatutnya orang yang menuluskan dirinya, -dan menurut pandangannya surga mempunyai nilai tinggi-, untuk memperoleh-nya dengan usaha keras, semoga ia ikut meng-ambil bagian dari karakteristik orang-orang yang berakal itu. Semoga, ia bisa beruntung mendapatkan tempat kesudahan tersebut yang menjadi impian manusia dan kebahagiaan jiwa, yang menyatukan berbagai kelezat-an dan kesenangan. Dan untuk hal semacam itu, hendaknya orang-orang beramal dan berlomba-lomba.
Ar-Ra'd 13:20
"Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang di-turunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat meng-ambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang menghubung-kan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan me-reka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari Wajah Rabbnya, men-dirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga 'Adn yang mereka ma-suk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 19-24).
(19-20) Allah تعالى berfirman untuk membedakan antara orang-orang yang berilmu dan mengamalkannya dengan orang yang tidak demikian adanya, ﴾ أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar," lalu dia memahami dan mengamalkannya ﴾ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓۚ ﴿ "sama dengan orang yang buta," yang tidak mengetahui kebenaran sehingga tidak mengamalkannya? Perbedaan antara keduanya bak perbedaan antara langit dan bumi. Oleh karenanya, sudah semesti-nya seorang hamba mengingat dan berpikir, siapakah di antara dua macam orang itu yang paling bagus kondisinya dan terbaik peng-hujung kehidupannya, sehingga jalannya diikuti dan dititi di be-lakang golongannya. Namun, tidak setiap orang mengingat-ingat hal yang bermanfaat dan berbahaya baginya. ﴾ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran," yaitu orang-orang yang mempunyai akal yang matang dan pemikiran yang sempurna, yang merupakan un-sur penting alam semesta dan keturunan Adam yang terpilih. Jika engkau menanyakan tentang karakteristik mereka, maka engkau tidak akan menjumpai sifat yang lebih baik dari sebutan Allah bagi mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang me-menuhi janji Allah," yang telah Allah amanatkan kepada mereka dan mengikat mereka dengan janji itu, berupa pelaksanaan hak-hakNya secara sempurna lagi komplet. Yang dimaksud dengan menepatinya ialah memenuhi hak-haknya dalam bentuk menyem-purnakan dan bersikap tulus terhadapnya. Dan termasuk indikasi pemenuhan hak tersebut, bahwa mereka ﴾ ل َ ا يَنقُضُونَ ٱلۡمِيثَٰقَ ﴿ "tidak merusak perjanjian," perjanjian yang telah mereka tetapkan sendiri dengan Allah. Seluruh akad, perjanjian, sumpah dan nadzar yang telah di-ikrarkan seseorang masuk ke dalamnya. Seseorang tidak termasuk dalam kategori 'ulul albab' (orang-orang yang berakal) yang men-dapatkan pahala besar kecuali dengan melaksanakannya secara utuh, tidak membatalkan dan menguranginya.
(21) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ ﴿ "Dan orang-orang yang meng-hubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan," Hal ini bersifat umum, mencakup seluruh perkara yang diperintahkan oleh Allah untuk dijalin, berupa iman kepadaNya dan kepada Rasul-Nya, mencintaiNya dan mencintai RasulNya, tunduk patuh untuk beribadah kepadaNya semata tanpa menyekutukanNya dengan apa pun, taat kepada RasulNya, menjalin hubungan dengan ayah dan ibu mereka, melalui bakti kepada mereka dengan ucapan dan tindakan, tidak berbuat durhaka kepada mereka, menyambung tali silaturahim dengan kerabat dekat dan handai taulan melalui curah-an sikap baik kepada mereka dalam bentuk ucapan maupun per-buatan, menyambung tali silaturahim antara mereka dengan istri-istri, teman-teman, budak belian dengan memenuhi hak mereka secara penuh lagi sempurna, baik hak agama ataupun hak duniawi. Faktor sebab yang menjadikan seorang hamba menjalin hubungan yang Allah perintahkan untuk diretas, adalah khasyyatullah (rasa takut kepada Allah) dan khawatir terhadap Hari Perhitungan. Atas dasar itu, Allah berfirman, ﴾ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ ﴿ "Dan mereka takut kepada Rabb mereka," maksudnya mereka takut kepadaNya. Rasa takut mereka kepada Allah dan kekhawatiran terhadap Hari Perhitungan amalan menghalangi mereka untuk berbuat seenaknya dalam ber-maksiat kepada Allah, atau menyepelekan sebagian dari perintah Allah, lantaran takut terhadap siksaan dan mengharapkan pahala-Nya.
(22) ﴾ وَٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang sabar," terhadap segala perintah dengan menaatinya dan semua larangan dengan menahan diri darinya dan menjauhinya, dan (sabar) terhadap seluruh keten-tuan Allah yang menyakitkan dengan tidak geram terhadapnya, tapi dengan syarat, sabar tersebut mesti ﴾ ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ ﴿ "karena mencari Wajah Rabbnya," tidak didorong oleh tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan yang rusak, karena jenis sabar yang bermanfaat ini, yang seorang hamba berusaha mengekang jiwanya karena mencari ridha Rabbnya, berharap dekat kepadaNya serta berhasil menggapai pahalaNya, itulah sabar yang merupakan ciri spesifik orang-orang yang beriman. Adapun kesabaran yang telah mengalami percampuran yang tujuannya untuk penempaan diri dan bermuara kepada kebangga-an diri, maka ini bisa muncul dari orang yang baik dan orang yang buruk, orang Mukmin dan orang kafir. Kesabaran demikian ini se-cara hakikat tidak terpuji. ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "mendirikan shalat," dengan memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, serta hal-hal yang menyempurnakan-nya, baik secara lahiriyah maupun batiniyah. ﴾ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ ﴿ "dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, se-cara sembunyi dan terang-terangan," termasuk di dalamnya infak-infak (pembayaran-pembayaran) yang wajib, seperti zakat, kaffarah, dan infak-infak yang sunnah. Mereka mengeluarkan nafkah di saat dibutuhkan, dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, ﴾ وَيَدۡرَءُونَ بِٱلۡحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ ﴿ "serta menolak kejahatan dengan kebaikan," barang-siapa yang berulah buruk kepada mereka, melalui ucapan atau per-buatan, maka mereka tidak membalas orang itu dengan hal yang sama, justru menyikapinya dengan berbuat baik kepadanya. Mem-beri kepada orang yang bakhil kepada mereka, memaafkan orang yang berbuat aniaya kepada mereka, menjalin hubungan dengan orang yang mengucilkan mereka dan bersikap baik kepada orang yang jahat dengan mereka. Kalau mereka membalas orang yang berbuat jelek kepada mereka dengan kebaikan, maka menurutmu, bagaimana (sikap mereka) dengan orang yang tidak berbuat jelek (kepada mereka)? ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka," adalah orang-orang yang diberi sifat mulia dan perangai yang indah ﴾ لَهُمۡ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)".
(23-24) Allah menjelaskannya (tempat kesudahan yang baik) dengan FirmanNya ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "(yaitu) surga 'Adn," artinya surga tempat menetap, mereka tidak akan terpisahkan darinya, dan me-reka tidak mengharapkan relokasi ke tempat lain sebagai gantinya. Sebab, mereka tidak menyaksikan ada tempat lain yang lebih baik, lantaran sarat dengan kenikmatan dan kebahagiaan, yang menjadi puncak segala obsesi dan tujuan. Termasuk bagian dari kesem-purnaan kenikmatan dan kebahagiaan pandangan mereka, bahwa ﴾ يَدۡخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡۖ ﴿ "mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak-cucunya," dari kaum lelaki, perempuan dan pasangan-pasangan mereka, maksudnya suami atau istri mereka. Begitu pula orang-orang semisal mereka, orang yang menyerupai mereka, dan kawan, serta orang-orang yang mereka cintai, semua masuk dalam makna 'pasangan-pasangan dan keturunan-keturunan mereka.' ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ ﴿ "Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu," untuk menyambut mereka dengan ucapan selamat dan (menyampaikan) karamah Allah untuk mereka. Para malaikat itu mengucapkan, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم ﴿ "Keselamatan atasmu," ke-selamatan dan penghormatan dari Allah telah menghampiri kalian dan menjadi milik kalian. Kondisi demikian ini, berimplikasi lenyap-nya segala hal yang dibenci dan munculnya semua yang disukai ﴾ بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ ﴿ "berkat kesabaranmu," kesabaran kalianlah yang mengan-tarkan kalian menuju kedudukan nan tinggi dan surga yang sangat bernilai, ﴾ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu," maka sepatutnya orang yang menuluskan dirinya, -dan menurut pandangannya surga mempunyai nilai tinggi-, untuk memperoleh-nya dengan usaha keras, semoga ia ikut meng-ambil bagian dari karakteristik orang-orang yang berakal itu. Semoga, ia bisa beruntung mendapatkan tempat kesudahan tersebut yang menjadi impian manusia dan kebahagiaan jiwa, yang menyatukan berbagai kelezat-an dan kesenangan. Dan untuk hal semacam itu, hendaknya orang-orang beramal dan berlomba-lomba.
Ar-Ra'd 13:21
"Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang di-turunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat meng-ambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang menghubung-kan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan me-reka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari Wajah Rabbnya, men-dirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga 'Adn yang mereka ma-suk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 19-24).
(19-20) Allah تعالى berfirman untuk membedakan antara orang-orang yang berilmu dan mengamalkannya dengan orang yang tidak demikian adanya, ﴾ أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar," lalu dia memahami dan mengamalkannya ﴾ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓۚ ﴿ "sama dengan orang yang buta," yang tidak mengetahui kebenaran sehingga tidak mengamalkannya? Perbedaan antara keduanya bak perbedaan antara langit dan bumi. Oleh karenanya, sudah semesti-nya seorang hamba mengingat dan berpikir, siapakah di antara dua macam orang itu yang paling bagus kondisinya dan terbaik peng-hujung kehidupannya, sehingga jalannya diikuti dan dititi di be-lakang golongannya. Namun, tidak setiap orang mengingat-ingat hal yang bermanfaat dan berbahaya baginya. ﴾ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran," yaitu orang-orang yang mempunyai akal yang matang dan pemikiran yang sempurna, yang merupakan un-sur penting alam semesta dan keturunan Adam yang terpilih. Jika engkau menanyakan tentang karakteristik mereka, maka engkau tidak akan menjumpai sifat yang lebih baik dari sebutan Allah bagi mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang me-menuhi janji Allah," yang telah Allah amanatkan kepada mereka dan mengikat mereka dengan janji itu, berupa pelaksanaan hak-hakNya secara sempurna lagi komplet. Yang dimaksud dengan menepatinya ialah memenuhi hak-haknya dalam bentuk menyem-purnakan dan bersikap tulus terhadapnya. Dan termasuk indikasi pemenuhan hak tersebut, bahwa mereka ﴾ ل َ ا يَنقُضُونَ ٱلۡمِيثَٰقَ ﴿ "tidak merusak perjanjian," perjanjian yang telah mereka tetapkan sendiri dengan Allah. Seluruh akad, perjanjian, sumpah dan nadzar yang telah di-ikrarkan seseorang masuk ke dalamnya. Seseorang tidak termasuk dalam kategori 'ulul albab' (orang-orang yang berakal) yang men-dapatkan pahala besar kecuali dengan melaksanakannya secara utuh, tidak membatalkan dan menguranginya.
(21) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ ﴿ "Dan orang-orang yang meng-hubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan," Hal ini bersifat umum, mencakup seluruh perkara yang diperintahkan oleh Allah untuk dijalin, berupa iman kepadaNya dan kepada Rasul-Nya, mencintaiNya dan mencintai RasulNya, tunduk patuh untuk beribadah kepadaNya semata tanpa menyekutukanNya dengan apa pun, taat kepada RasulNya, menjalin hubungan dengan ayah dan ibu mereka, melalui bakti kepada mereka dengan ucapan dan tindakan, tidak berbuat durhaka kepada mereka, menyambung tali silaturahim dengan kerabat dekat dan handai taulan melalui curah-an sikap baik kepada mereka dalam bentuk ucapan maupun per-buatan, menyambung tali silaturahim antara mereka dengan istri-istri, teman-teman, budak belian dengan memenuhi hak mereka secara penuh lagi sempurna, baik hak agama ataupun hak duniawi. Faktor sebab yang menjadikan seorang hamba menjalin hubungan yang Allah perintahkan untuk diretas, adalah khasyyatullah (rasa takut kepada Allah) dan khawatir terhadap Hari Perhitungan. Atas dasar itu, Allah berfirman, ﴾ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ ﴿ "Dan mereka takut kepada Rabb mereka," maksudnya mereka takut kepadaNya. Rasa takut mereka kepada Allah dan kekhawatiran terhadap Hari Perhitungan amalan menghalangi mereka untuk berbuat seenaknya dalam ber-maksiat kepada Allah, atau menyepelekan sebagian dari perintah Allah, lantaran takut terhadap siksaan dan mengharapkan pahala-Nya.
(22) ﴾ وَٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang sabar," terhadap segala perintah dengan menaatinya dan semua larangan dengan menahan diri darinya dan menjauhinya, dan (sabar) terhadap seluruh keten-tuan Allah yang menyakitkan dengan tidak geram terhadapnya, tapi dengan syarat, sabar tersebut mesti ﴾ ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ ﴿ "karena mencari Wajah Rabbnya," tidak didorong oleh tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan yang rusak, karena jenis sabar yang bermanfaat ini, yang seorang hamba berusaha mengekang jiwanya karena mencari ridha Rabbnya, berharap dekat kepadaNya serta berhasil menggapai pahalaNya, itulah sabar yang merupakan ciri spesifik orang-orang yang beriman. Adapun kesabaran yang telah mengalami percampuran yang tujuannya untuk penempaan diri dan bermuara kepada kebangga-an diri, maka ini bisa muncul dari orang yang baik dan orang yang buruk, orang Mukmin dan orang kafir. Kesabaran demikian ini se-cara hakikat tidak terpuji. ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "mendirikan shalat," dengan memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, serta hal-hal yang menyempurnakan-nya, baik secara lahiriyah maupun batiniyah. ﴾ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ ﴿ "dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, se-cara sembunyi dan terang-terangan," termasuk di dalamnya infak-infak (pembayaran-pembayaran) yang wajib, seperti zakat, kaffarah, dan infak-infak yang sunnah. Mereka mengeluarkan nafkah di saat dibutuhkan, dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, ﴾ وَيَدۡرَءُونَ بِٱلۡحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ ﴿ "serta menolak kejahatan dengan kebaikan," barang-siapa yang berulah buruk kepada mereka, melalui ucapan atau per-buatan, maka mereka tidak membalas orang itu dengan hal yang sama, justru menyikapinya dengan berbuat baik kepadanya. Mem-beri kepada orang yang bakhil kepada mereka, memaafkan orang yang berbuat aniaya kepada mereka, menjalin hubungan dengan orang yang mengucilkan mereka dan bersikap baik kepada orang yang jahat dengan mereka. Kalau mereka membalas orang yang berbuat jelek kepada mereka dengan kebaikan, maka menurutmu, bagaimana (sikap mereka) dengan orang yang tidak berbuat jelek (kepada mereka)? ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka," adalah orang-orang yang diberi sifat mulia dan perangai yang indah ﴾ لَهُمۡ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)".
(23-24) Allah menjelaskannya (tempat kesudahan yang baik) dengan FirmanNya ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "(yaitu) surga 'Adn," artinya surga tempat menetap, mereka tidak akan terpisahkan darinya, dan me-reka tidak mengharapkan relokasi ke tempat lain sebagai gantinya. Sebab, mereka tidak menyaksikan ada tempat lain yang lebih baik, lantaran sarat dengan kenikmatan dan kebahagiaan, yang menjadi puncak segala obsesi dan tujuan. Termasuk bagian dari kesem-purnaan kenikmatan dan kebahagiaan pandangan mereka, bahwa ﴾ يَدۡخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡۖ ﴿ "mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak-cucunya," dari kaum lelaki, perempuan dan pasangan-pasangan mereka, maksudnya suami atau istri mereka. Begitu pula orang-orang semisal mereka, orang yang menyerupai mereka, dan kawan, serta orang-orang yang mereka cintai, semua masuk dalam makna 'pasangan-pasangan dan keturunan-keturunan mereka.' ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ ﴿ "Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu," untuk menyambut mereka dengan ucapan selamat dan (menyampaikan) karamah Allah untuk mereka. Para malaikat itu mengucapkan, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم ﴿ "Keselamatan atasmu," ke-selamatan dan penghormatan dari Allah telah menghampiri kalian dan menjadi milik kalian. Kondisi demikian ini, berimplikasi lenyap-nya segala hal yang dibenci dan munculnya semua yang disukai ﴾ بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ ﴿ "berkat kesabaranmu," kesabaran kalianlah yang mengan-tarkan kalian menuju kedudukan nan tinggi dan surga yang sangat bernilai, ﴾ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu," maka sepatutnya orang yang menuluskan dirinya, -dan menurut pandangannya surga mempunyai nilai tinggi-, untuk memperoleh-nya dengan usaha keras, semoga ia ikut meng-ambil bagian dari karakteristik orang-orang yang berakal itu. Semoga, ia bisa beruntung mendapatkan tempat kesudahan tersebut yang menjadi impian manusia dan kebahagiaan jiwa, yang menyatukan berbagai kelezat-an dan kesenangan. Dan untuk hal semacam itu, hendaknya orang-orang beramal dan berlomba-lomba.
Ar-Ra'd 13:22
"Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang di-turunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat meng-ambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang menghubung-kan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan me-reka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari Wajah Rabbnya, men-dirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga 'Adn yang mereka ma-suk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 19-24).
(19-20) Allah تعالى berfirman untuk membedakan antara orang-orang yang berilmu dan mengamalkannya dengan orang yang tidak demikian adanya, ﴾ أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar," lalu dia memahami dan mengamalkannya ﴾ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓۚ ﴿ "sama dengan orang yang buta," yang tidak mengetahui kebenaran sehingga tidak mengamalkannya? Perbedaan antara keduanya bak perbedaan antara langit dan bumi. Oleh karenanya, sudah semesti-nya seorang hamba mengingat dan berpikir, siapakah di antara dua macam orang itu yang paling bagus kondisinya dan terbaik peng-hujung kehidupannya, sehingga jalannya diikuti dan dititi di be-lakang golongannya. Namun, tidak setiap orang mengingat-ingat hal yang bermanfaat dan berbahaya baginya. ﴾ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran," yaitu orang-orang yang mempunyai akal yang matang dan pemikiran yang sempurna, yang merupakan un-sur penting alam semesta dan keturunan Adam yang terpilih. Jika engkau menanyakan tentang karakteristik mereka, maka engkau tidak akan menjumpai sifat yang lebih baik dari sebutan Allah bagi mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang me-menuhi janji Allah," yang telah Allah amanatkan kepada mereka dan mengikat mereka dengan janji itu, berupa pelaksanaan hak-hakNya secara sempurna lagi komplet. Yang dimaksud dengan menepatinya ialah memenuhi hak-haknya dalam bentuk menyem-purnakan dan bersikap tulus terhadapnya. Dan termasuk indikasi pemenuhan hak tersebut, bahwa mereka ﴾ ل َ ا يَنقُضُونَ ٱلۡمِيثَٰقَ ﴿ "tidak merusak perjanjian," perjanjian yang telah mereka tetapkan sendiri dengan Allah. Seluruh akad, perjanjian, sumpah dan nadzar yang telah di-ikrarkan seseorang masuk ke dalamnya. Seseorang tidak termasuk dalam kategori 'ulul albab' (orang-orang yang berakal) yang men-dapatkan pahala besar kecuali dengan melaksanakannya secara utuh, tidak membatalkan dan menguranginya.
(21) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ ﴿ "Dan orang-orang yang meng-hubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan," Hal ini bersifat umum, mencakup seluruh perkara yang diperintahkan oleh Allah untuk dijalin, berupa iman kepadaNya dan kepada Rasul-Nya, mencintaiNya dan mencintai RasulNya, tunduk patuh untuk beribadah kepadaNya semata tanpa menyekutukanNya dengan apa pun, taat kepada RasulNya, menjalin hubungan dengan ayah dan ibu mereka, melalui bakti kepada mereka dengan ucapan dan tindakan, tidak berbuat durhaka kepada mereka, menyambung tali silaturahim dengan kerabat dekat dan handai taulan melalui curah-an sikap baik kepada mereka dalam bentuk ucapan maupun per-buatan, menyambung tali silaturahim antara mereka dengan istri-istri, teman-teman, budak belian dengan memenuhi hak mereka secara penuh lagi sempurna, baik hak agama ataupun hak duniawi. Faktor sebab yang menjadikan seorang hamba menjalin hubungan yang Allah perintahkan untuk diretas, adalah khasyyatullah (rasa takut kepada Allah) dan khawatir terhadap Hari Perhitungan. Atas dasar itu, Allah berfirman, ﴾ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ ﴿ "Dan mereka takut kepada Rabb mereka," maksudnya mereka takut kepadaNya. Rasa takut mereka kepada Allah dan kekhawatiran terhadap Hari Perhitungan amalan menghalangi mereka untuk berbuat seenaknya dalam ber-maksiat kepada Allah, atau menyepelekan sebagian dari perintah Allah, lantaran takut terhadap siksaan dan mengharapkan pahala-Nya.
(22) ﴾ وَٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang sabar," terhadap segala perintah dengan menaatinya dan semua larangan dengan menahan diri darinya dan menjauhinya, dan (sabar) terhadap seluruh keten-tuan Allah yang menyakitkan dengan tidak geram terhadapnya, tapi dengan syarat, sabar tersebut mesti ﴾ ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ ﴿ "karena mencari Wajah Rabbnya," tidak didorong oleh tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan yang rusak, karena jenis sabar yang bermanfaat ini, yang seorang hamba berusaha mengekang jiwanya karena mencari ridha Rabbnya, berharap dekat kepadaNya serta berhasil menggapai pahalaNya, itulah sabar yang merupakan ciri spesifik orang-orang yang beriman. Adapun kesabaran yang telah mengalami percampuran yang tujuannya untuk penempaan diri dan bermuara kepada kebangga-an diri, maka ini bisa muncul dari orang yang baik dan orang yang buruk, orang Mukmin dan orang kafir. Kesabaran demikian ini se-cara hakikat tidak terpuji. ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "mendirikan shalat," dengan memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, serta hal-hal yang menyempurnakan-nya, baik secara lahiriyah maupun batiniyah. ﴾ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ ﴿ "dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, se-cara sembunyi dan terang-terangan," termasuk di dalamnya infak-infak (pembayaran-pembayaran) yang wajib, seperti zakat, kaffarah, dan infak-infak yang sunnah. Mereka mengeluarkan nafkah di saat dibutuhkan, dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, ﴾ وَيَدۡرَءُونَ بِٱلۡحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ ﴿ "serta menolak kejahatan dengan kebaikan," barang-siapa yang berulah buruk kepada mereka, melalui ucapan atau per-buatan, maka mereka tidak membalas orang itu dengan hal yang sama, justru menyikapinya dengan berbuat baik kepadanya. Mem-beri kepada orang yang bakhil kepada mereka, memaafkan orang yang berbuat aniaya kepada mereka, menjalin hubungan dengan orang yang mengucilkan mereka dan bersikap baik kepada orang yang jahat dengan mereka. Kalau mereka membalas orang yang berbuat jelek kepada mereka dengan kebaikan, maka menurutmu, bagaimana (sikap mereka) dengan orang yang tidak berbuat jelek (kepada mereka)? ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka," adalah orang-orang yang diberi sifat mulia dan perangai yang indah ﴾ لَهُمۡ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)".
(23-24) Allah menjelaskannya (tempat kesudahan yang baik) dengan FirmanNya ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "(yaitu) surga 'Adn," artinya surga tempat menetap, mereka tidak akan terpisahkan darinya, dan me-reka tidak mengharapkan relokasi ke tempat lain sebagai gantinya. Sebab, mereka tidak menyaksikan ada tempat lain yang lebih baik, lantaran sarat dengan kenikmatan dan kebahagiaan, yang menjadi puncak segala obsesi dan tujuan. Termasuk bagian dari kesem-purnaan kenikmatan dan kebahagiaan pandangan mereka, bahwa ﴾ يَدۡخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡۖ ﴿ "mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak-cucunya," dari kaum lelaki, perempuan dan pasangan-pasangan mereka, maksudnya suami atau istri mereka. Begitu pula orang-orang semisal mereka, orang yang menyerupai mereka, dan kawan, serta orang-orang yang mereka cintai, semua masuk dalam makna 'pasangan-pasangan dan keturunan-keturunan mereka.' ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ ﴿ "Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu," untuk menyambut mereka dengan ucapan selamat dan (menyampaikan) karamah Allah untuk mereka. Para malaikat itu mengucapkan, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم ﴿ "Keselamatan atasmu," ke-selamatan dan penghormatan dari Allah telah menghampiri kalian dan menjadi milik kalian. Kondisi demikian ini, berimplikasi lenyap-nya segala hal yang dibenci dan munculnya semua yang disukai ﴾ بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ ﴿ "berkat kesabaranmu," kesabaran kalianlah yang mengan-tarkan kalian menuju kedudukan nan tinggi dan surga yang sangat bernilai, ﴾ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu," maka sepatutnya orang yang menuluskan dirinya, -dan menurut pandangannya surga mempunyai nilai tinggi-, untuk memperoleh-nya dengan usaha keras, semoga ia ikut meng-ambil bagian dari karakteristik orang-orang yang berakal itu. Semoga, ia bisa beruntung mendapatkan tempat kesudahan tersebut yang menjadi impian manusia dan kebahagiaan jiwa, yang menyatukan berbagai kelezat-an dan kesenangan. Dan untuk hal semacam itu, hendaknya orang-orang beramal dan berlomba-lomba.
Ar-Ra'd 13:23
"Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang di-turunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat meng-ambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang menghubung-kan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan me-reka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari Wajah Rabbnya, men-dirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga 'Adn yang mereka ma-suk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 19-24).
(19-20) Allah تعالى berfirman untuk membedakan antara orang-orang yang berilmu dan mengamalkannya dengan orang yang tidak demikian adanya, ﴾ أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar," lalu dia memahami dan mengamalkannya ﴾ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓۚ ﴿ "sama dengan orang yang buta," yang tidak mengetahui kebenaran sehingga tidak mengamalkannya? Perbedaan antara keduanya bak perbedaan antara langit dan bumi. Oleh karenanya, sudah semesti-nya seorang hamba mengingat dan berpikir, siapakah di antara dua macam orang itu yang paling bagus kondisinya dan terbaik peng-hujung kehidupannya, sehingga jalannya diikuti dan dititi di be-lakang golongannya. Namun, tidak setiap orang mengingat-ingat hal yang bermanfaat dan berbahaya baginya. ﴾ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran," yaitu orang-orang yang mempunyai akal yang matang dan pemikiran yang sempurna, yang merupakan un-sur penting alam semesta dan keturunan Adam yang terpilih. Jika engkau menanyakan tentang karakteristik mereka, maka engkau tidak akan menjumpai sifat yang lebih baik dari sebutan Allah bagi mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang me-menuhi janji Allah," yang telah Allah amanatkan kepada mereka dan mengikat mereka dengan janji itu, berupa pelaksanaan hak-hakNya secara sempurna lagi komplet. Yang dimaksud dengan menepatinya ialah memenuhi hak-haknya dalam bentuk menyem-purnakan dan bersikap tulus terhadapnya. Dan termasuk indikasi pemenuhan hak tersebut, bahwa mereka ﴾ ل َ ا يَنقُضُونَ ٱلۡمِيثَٰقَ ﴿ "tidak merusak perjanjian," perjanjian yang telah mereka tetapkan sendiri dengan Allah. Seluruh akad, perjanjian, sumpah dan nadzar yang telah di-ikrarkan seseorang masuk ke dalamnya. Seseorang tidak termasuk dalam kategori 'ulul albab' (orang-orang yang berakal) yang men-dapatkan pahala besar kecuali dengan melaksanakannya secara utuh, tidak membatalkan dan menguranginya.
(21) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ ﴿ "Dan orang-orang yang meng-hubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan," Hal ini bersifat umum, mencakup seluruh perkara yang diperintahkan oleh Allah untuk dijalin, berupa iman kepadaNya dan kepada Rasul-Nya, mencintaiNya dan mencintai RasulNya, tunduk patuh untuk beribadah kepadaNya semata tanpa menyekutukanNya dengan apa pun, taat kepada RasulNya, menjalin hubungan dengan ayah dan ibu mereka, melalui bakti kepada mereka dengan ucapan dan tindakan, tidak berbuat durhaka kepada mereka, menyambung tali silaturahim dengan kerabat dekat dan handai taulan melalui curah-an sikap baik kepada mereka dalam bentuk ucapan maupun per-buatan, menyambung tali silaturahim antara mereka dengan istri-istri, teman-teman, budak belian dengan memenuhi hak mereka secara penuh lagi sempurna, baik hak agama ataupun hak duniawi. Faktor sebab yang menjadikan seorang hamba menjalin hubungan yang Allah perintahkan untuk diretas, adalah khasyyatullah (rasa takut kepada Allah) dan khawatir terhadap Hari Perhitungan. Atas dasar itu, Allah berfirman, ﴾ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ ﴿ "Dan mereka takut kepada Rabb mereka," maksudnya mereka takut kepadaNya. Rasa takut mereka kepada Allah dan kekhawatiran terhadap Hari Perhitungan amalan menghalangi mereka untuk berbuat seenaknya dalam ber-maksiat kepada Allah, atau menyepelekan sebagian dari perintah Allah, lantaran takut terhadap siksaan dan mengharapkan pahala-Nya.
(22) ﴾ وَٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang sabar," terhadap segala perintah dengan menaatinya dan semua larangan dengan menahan diri darinya dan menjauhinya, dan (sabar) terhadap seluruh keten-tuan Allah yang menyakitkan dengan tidak geram terhadapnya, tapi dengan syarat, sabar tersebut mesti ﴾ ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ ﴿ "karena mencari Wajah Rabbnya," tidak didorong oleh tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan yang rusak, karena jenis sabar yang bermanfaat ini, yang seorang hamba berusaha mengekang jiwanya karena mencari ridha Rabbnya, berharap dekat kepadaNya serta berhasil menggapai pahalaNya, itulah sabar yang merupakan ciri spesifik orang-orang yang beriman. Adapun kesabaran yang telah mengalami percampuran yang tujuannya untuk penempaan diri dan bermuara kepada kebangga-an diri, maka ini bisa muncul dari orang yang baik dan orang yang buruk, orang Mukmin dan orang kafir. Kesabaran demikian ini se-cara hakikat tidak terpuji. ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "mendirikan shalat," dengan memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, serta hal-hal yang menyempurnakan-nya, baik secara lahiriyah maupun batiniyah. ﴾ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ ﴿ "dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, se-cara sembunyi dan terang-terangan," termasuk di dalamnya infak-infak (pembayaran-pembayaran) yang wajib, seperti zakat, kaffarah, dan infak-infak yang sunnah. Mereka mengeluarkan nafkah di saat dibutuhkan, dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, ﴾ وَيَدۡرَءُونَ بِٱلۡحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ ﴿ "serta menolak kejahatan dengan kebaikan," barang-siapa yang berulah buruk kepada mereka, melalui ucapan atau per-buatan, maka mereka tidak membalas orang itu dengan hal yang sama, justru menyikapinya dengan berbuat baik kepadanya. Mem-beri kepada orang yang bakhil kepada mereka, memaafkan orang yang berbuat aniaya kepada mereka, menjalin hubungan dengan orang yang mengucilkan mereka dan bersikap baik kepada orang yang jahat dengan mereka. Kalau mereka membalas orang yang berbuat jelek kepada mereka dengan kebaikan, maka menurutmu, bagaimana (sikap mereka) dengan orang yang tidak berbuat jelek (kepada mereka)? ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka," adalah orang-orang yang diberi sifat mulia dan perangai yang indah ﴾ لَهُمۡ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)".
(23-24) Allah menjelaskannya (tempat kesudahan yang baik) dengan FirmanNya ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "(yaitu) surga 'Adn," artinya surga tempat menetap, mereka tidak akan terpisahkan darinya, dan me-reka tidak mengharapkan relokasi ke tempat lain sebagai gantinya. Sebab, mereka tidak menyaksikan ada tempat lain yang lebih baik, lantaran sarat dengan kenikmatan dan kebahagiaan, yang menjadi puncak segala obsesi dan tujuan. Termasuk bagian dari kesem-purnaan kenikmatan dan kebahagiaan pandangan mereka, bahwa ﴾ يَدۡخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡۖ ﴿ "mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak-cucunya," dari kaum lelaki, perempuan dan pasangan-pasangan mereka, maksudnya suami atau istri mereka. Begitu pula orang-orang semisal mereka, orang yang menyerupai mereka, dan kawan, serta orang-orang yang mereka cintai, semua masuk dalam makna 'pasangan-pasangan dan keturunan-keturunan mereka.' ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ ﴿ "Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu," untuk menyambut mereka dengan ucapan selamat dan (menyampaikan) karamah Allah untuk mereka. Para malaikat itu mengucapkan, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم ﴿ "Keselamatan atasmu," ke-selamatan dan penghormatan dari Allah telah menghampiri kalian dan menjadi milik kalian. Kondisi demikian ini, berimplikasi lenyap-nya segala hal yang dibenci dan munculnya semua yang disukai ﴾ بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ ﴿ "berkat kesabaranmu," kesabaran kalianlah yang mengan-tarkan kalian menuju kedudukan nan tinggi dan surga yang sangat bernilai, ﴾ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu," maka sepatutnya orang yang menuluskan dirinya, -dan menurut pandangannya surga mempunyai nilai tinggi-, untuk memperoleh-nya dengan usaha keras, semoga ia ikut meng-ambil bagian dari karakteristik orang-orang yang berakal itu. Semoga, ia bisa beruntung mendapatkan tempat kesudahan tersebut yang menjadi impian manusia dan kebahagiaan jiwa, yang menyatukan berbagai kelezat-an dan kesenangan. Dan untuk hal semacam itu, hendaknya orang-orang beramal dan berlomba-lomba.
Ar-Ra'd 13:24
"Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang di-turunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat meng-ambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang menghubung-kan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan me-reka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari Wajah Rabbnya, men-dirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga 'Adn yang mereka ma-suk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 19-24).
(19-20) Allah تعالى berfirman untuk membedakan antara orang-orang yang berilmu dan mengamalkannya dengan orang yang tidak demikian adanya, ﴾ أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar," lalu dia memahami dan mengamalkannya ﴾ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓۚ ﴿ "sama dengan orang yang buta," yang tidak mengetahui kebenaran sehingga tidak mengamalkannya? Perbedaan antara keduanya bak perbedaan antara langit dan bumi. Oleh karenanya, sudah semesti-nya seorang hamba mengingat dan berpikir, siapakah di antara dua macam orang itu yang paling bagus kondisinya dan terbaik peng-hujung kehidupannya, sehingga jalannya diikuti dan dititi di be-lakang golongannya. Namun, tidak setiap orang mengingat-ingat hal yang bermanfaat dan berbahaya baginya. ﴾ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran," yaitu orang-orang yang mempunyai akal yang matang dan pemikiran yang sempurna, yang merupakan un-sur penting alam semesta dan keturunan Adam yang terpilih. Jika engkau menanyakan tentang karakteristik mereka, maka engkau tidak akan menjumpai sifat yang lebih baik dari sebutan Allah bagi mereka dengan FirmanNya, ﴾ ٱلَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang me-menuhi janji Allah," yang telah Allah amanatkan kepada mereka dan mengikat mereka dengan janji itu, berupa pelaksanaan hak-hakNya secara sempurna lagi komplet. Yang dimaksud dengan menepatinya ialah memenuhi hak-haknya dalam bentuk menyem-purnakan dan bersikap tulus terhadapnya. Dan termasuk indikasi pemenuhan hak tersebut, bahwa mereka ﴾ ل َ ا يَنقُضُونَ ٱلۡمِيثَٰقَ ﴿ "tidak merusak perjanjian," perjanjian yang telah mereka tetapkan sendiri dengan Allah. Seluruh akad, perjanjian, sumpah dan nadzar yang telah di-ikrarkan seseorang masuk ke dalamnya. Seseorang tidak termasuk dalam kategori 'ulul albab' (orang-orang yang berakal) yang men-dapatkan pahala besar kecuali dengan melaksanakannya secara utuh, tidak membatalkan dan menguranginya.
(21) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ ﴿ "Dan orang-orang yang meng-hubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan," Hal ini bersifat umum, mencakup seluruh perkara yang diperintahkan oleh Allah untuk dijalin, berupa iman kepadaNya dan kepada Rasul-Nya, mencintaiNya dan mencintai RasulNya, tunduk patuh untuk beribadah kepadaNya semata tanpa menyekutukanNya dengan apa pun, taat kepada RasulNya, menjalin hubungan dengan ayah dan ibu mereka, melalui bakti kepada mereka dengan ucapan dan tindakan, tidak berbuat durhaka kepada mereka, menyambung tali silaturahim dengan kerabat dekat dan handai taulan melalui curah-an sikap baik kepada mereka dalam bentuk ucapan maupun per-buatan, menyambung tali silaturahim antara mereka dengan istri-istri, teman-teman, budak belian dengan memenuhi hak mereka secara penuh lagi sempurna, baik hak agama ataupun hak duniawi. Faktor sebab yang menjadikan seorang hamba menjalin hubungan yang Allah perintahkan untuk diretas, adalah khasyyatullah (rasa takut kepada Allah) dan khawatir terhadap Hari Perhitungan. Atas dasar itu, Allah berfirman, ﴾ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ ﴿ "Dan mereka takut kepada Rabb mereka," maksudnya mereka takut kepadaNya. Rasa takut mereka kepada Allah dan kekhawatiran terhadap Hari Perhitungan amalan menghalangi mereka untuk berbuat seenaknya dalam ber-maksiat kepada Allah, atau menyepelekan sebagian dari perintah Allah, lantaran takut terhadap siksaan dan mengharapkan pahala-Nya.
(22) ﴾ وَٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang sabar," terhadap segala perintah dengan menaatinya dan semua larangan dengan menahan diri darinya dan menjauhinya, dan (sabar) terhadap seluruh keten-tuan Allah yang menyakitkan dengan tidak geram terhadapnya, tapi dengan syarat, sabar tersebut mesti ﴾ ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ ﴿ "karena mencari Wajah Rabbnya," tidak didorong oleh tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan yang rusak, karena jenis sabar yang bermanfaat ini, yang seorang hamba berusaha mengekang jiwanya karena mencari ridha Rabbnya, berharap dekat kepadaNya serta berhasil menggapai pahalaNya, itulah sabar yang merupakan ciri spesifik orang-orang yang beriman. Adapun kesabaran yang telah mengalami percampuran yang tujuannya untuk penempaan diri dan bermuara kepada kebangga-an diri, maka ini bisa muncul dari orang yang baik dan orang yang buruk, orang Mukmin dan orang kafir. Kesabaran demikian ini se-cara hakikat tidak terpuji. ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "mendirikan shalat," dengan memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, serta hal-hal yang menyempurnakan-nya, baik secara lahiriyah maupun batiniyah. ﴾ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ ﴿ "dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, se-cara sembunyi dan terang-terangan," termasuk di dalamnya infak-infak (pembayaran-pembayaran) yang wajib, seperti zakat, kaffarah, dan infak-infak yang sunnah. Mereka mengeluarkan nafkah di saat dibutuhkan, dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, ﴾ وَيَدۡرَءُونَ بِٱلۡحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ ﴿ "serta menolak kejahatan dengan kebaikan," barang-siapa yang berulah buruk kepada mereka, melalui ucapan atau per-buatan, maka mereka tidak membalas orang itu dengan hal yang sama, justru menyikapinya dengan berbuat baik kepadanya. Mem-beri kepada orang yang bakhil kepada mereka, memaafkan orang yang berbuat aniaya kepada mereka, menjalin hubungan dengan orang yang mengucilkan mereka dan bersikap baik kepada orang yang jahat dengan mereka. Kalau mereka membalas orang yang berbuat jelek kepada mereka dengan kebaikan, maka menurutmu, bagaimana (sikap mereka) dengan orang yang tidak berbuat jelek (kepada mereka)? ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka," adalah orang-orang yang diberi sifat mulia dan perangai yang indah ﴾ لَهُمۡ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)".
(23-24) Allah menjelaskannya (tempat kesudahan yang baik) dengan FirmanNya ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ ﴿ "(yaitu) surga 'Adn," artinya surga tempat menetap, mereka tidak akan terpisahkan darinya, dan me-reka tidak mengharapkan relokasi ke tempat lain sebagai gantinya. Sebab, mereka tidak menyaksikan ada tempat lain yang lebih baik, lantaran sarat dengan kenikmatan dan kebahagiaan, yang menjadi puncak segala obsesi dan tujuan. Termasuk bagian dari kesem-purnaan kenikmatan dan kebahagiaan pandangan mereka, bahwa ﴾ يَدۡخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡۖ ﴿ "mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak-cucunya," dari kaum lelaki, perempuan dan pasangan-pasangan mereka, maksudnya suami atau istri mereka. Begitu pula orang-orang semisal mereka, orang yang menyerupai mereka, dan kawan, serta orang-orang yang mereka cintai, semua masuk dalam makna 'pasangan-pasangan dan keturunan-keturunan mereka.' ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ ﴿ "Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu," untuk menyambut mereka dengan ucapan selamat dan (menyampaikan) karamah Allah untuk mereka. Para malaikat itu mengucapkan, ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم ﴿ "Keselamatan atasmu," ke-selamatan dan penghormatan dari Allah telah menghampiri kalian dan menjadi milik kalian. Kondisi demikian ini, berimplikasi lenyap-nya segala hal yang dibenci dan munculnya semua yang disukai ﴾ بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ ﴿ "berkat kesabaranmu," kesabaran kalianlah yang mengan-tarkan kalian menuju kedudukan nan tinggi dan surga yang sangat bernilai, ﴾ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu," maka sepatutnya orang yang menuluskan dirinya, -dan menurut pandangannya surga mempunyai nilai tinggi-, untuk memperoleh-nya dengan usaha keras, semoga ia ikut meng-ambil bagian dari karakteristik orang-orang yang berakal itu. Semoga, ia bisa beruntung mendapatkan tempat kesudahan tersebut yang menjadi impian manusia dan kebahagiaan jiwa, yang menyatukan berbagai kelezat-an dan kesenangan. Dan untuk hal semacam itu, hendaknya orang-orang beramal dan berlomba-lomba.
Ar-Ra'd 13:25
"Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan, dan mereka mendapatkan tempat kediaman yang buruk (Jahanam)." (Ar-Ra'd: 25).
(25) Usai menceritakan mengenai sifat-sifat penduduk surga, Allah menyebutkan bahwa penduduk neraka berada dalam karak-ter yang berlawanan dengan sifat-sifat yang Allah ceritakan me-ngenai para penghuni surga. Allah berfirman tentang mereka, ﴾ وَٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِيثَٰقِهِۦ ﴿ "Orang-orang yang merusak janji Allah se-telah diikrarkan dengan teguh,"sesudah ditekankan dan ditegaskan oleh Allah atas mereka melalui kehadiran para RasulNya, maka mereka tidak menyikapinya dengan kesetiaan dan penyerahan diri. Justru menghadapinya dengan sikap berpaling dan mencampakkan-nya. ﴾ وَيَقۡطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ ﴿ "dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan," mereka itu tidak sudi menyambung hubungan antara mereka dengan Rabb mereka dengan keimanan dan amalan shalih, tidak juga menjalin hubungan dengan handai taulan, tidak melaksanakan hak-hak (orang-orang). Justru mela-kukan kerusakan di dunia dengan kekufuran, maksiat dan meng-halangi orang dari jalan Allah serta mengharapkannya (jalan itu) menjadi bengkok. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱللَّعۡنَةُ ﴿ "Orang-orang itulah yang memper-oleh kutukan" maksudnya pengusiran dan celaan dari Allah, para malaikat dan kaum Mukminin. ﴾ وَلَهُمۡ سُوٓءُ ٱلدَّارِ ﴿ "Dan mereka mendapatkan tempat kediaman yang buruk," yaitu Neraka Jahim dengan segala siksaan yang pedih di dalamnya.
Ar-Ra'd 13:26
"Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)." (Ar-Ra'd: 26).
(26) Allah semata-lah yang meluaskan dan melapangkan rizki bagi orang-orang yang dikehendakiNya dan menentukan ta-karannya, menyusahkan dan mempersempitnya bagi orang yang dikehendakiNya. ﴾ وَفَرِحُواْ ﴿ "Mereka bergembira," yakni orang-orang kafir ﴾ بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "dengan kehidupan dunia," dengan kegembiraan yang menyebabkan mereka merasa nyaman dengannya dan melalaikan akhirat. Hal itu sebabnya adalah kekurangan akal pada mereka, ﴾ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا مَتَٰعٞ ﴿ "padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)," merupakan sesuatu yang hina, dinikmati dalam waktu sekejap, kemudian ber-pisah dari pemiliknya dan orang-orang yang menggenggamnya, dan akhirnya akan melahirkan banyak kesulitan bagi mereka.
Ar-Ra'd 13:27
"Orang-orang kafir berkata, 'Mengapa tidak diturunkan ke-padanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Rabbnya?' Katakan-lah, 'Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepadaNya.' (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka mendapatkan kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (Ar-Ra'd: 27-29).
(27) Allah تعالى memberitahukan bahwa orang-orang yang men-dustakan ayat-ayat Allah, mereka bersikap keras kepala kepada Ra-sulullah dan melontarkan usulan dengan berkata, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ ءَايَةٞ مِّن رَّبِّهِۦۚ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Rabbnya?" Klaim mereka bahwa, bila datang sebuah ayat (bukti kekuasaan Allah), niscaya mereka akan beriman. Maka Allah men-jawab pernyataan mereka dengan berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَنۡ أَنَابَ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepadaNya'," yaitu orang yang mencari keridhaanNya. Hidayah dan kesesatan bukan berada di tangan mereka hingga mereka bisa menjadikan (keputus-an keimanan mereka) itu tergantung dengan kemunculan tanda (mukjizat) Allah. Kendatipun demikian, mereka sebenarnya berdusta, ﴾ وَلَوۡ أَنَّنَا نَزَّلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَحَشَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ كُلَّ شَيۡءٖ قُبُلٗا مَّا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُوٓاْ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَجۡهَلُونَ 111 ﴿ "Kalau sekiranya, Kami menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami kumpul-kan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al An'am: 111). Rasulullah ﷺ tidak terikat suatu kelaziman untuk mendatang-kan ayat (bukti kebesaran Allah) yang sudah mereka tentukan dan usulkan. Tetapi, bila beliau mendatangi mereka dengan (hanya) membawa sebuah ayat pun yang menjelaskan kebenaran yang beliau emban, itu sudah cukup dan telah merealisasikan tujuan. Demikian ini lebih bermanfaat bagi mereka daripada mereka menuntut di-hadirkannya ayat-ayat yang mereka inginkan. Seandainya ayat-ayat itu datang menghampiri mereka sesuai dengan apa yang mereka usulkan, maka pasti mereka tetap saja tidak beriman, lalu Allah akan menimpakan siksa pada mereka dengan segera.
(28) Berikutnya, Allah تعالى menyebutkan tanda kaum Muk-minin. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah," maksudnya, kegundahan dan kegelisahannya (hati mereka) lenyap dan berganti dengan kebahagiaan hati dan kenikmatan-kenikmatannya. ﴾ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ﴿ "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram," maksudnya semestinya dan sudah seyogyanya, kalbu-kalbu itu tidak menjadi tenang dengan sesuatu selain dengan mengingatNya. Karena tidak ada sesuatu pun yang lebih nikmat, lebih memikat dan lebih manis bagi kalbu ketimbang (kenikmatan dalam) mencintai Penciptanya, berdekatan dan me-ngenalNya. Berdasarkan tingkat ma'rifah (pengenalan)nya dan ke-cintaannya kepada Allah-lah tingkat intensitas dzikirnya kepada Allah. Demikian ini, merujuk keterangan bahwa dzikrullah yang dimaksud adalah seorang hamba yang mengingat Allah dengan lantunan tasbih, tahlil, takbir dan lain-lain. Ada yang menafsirkan bahwa 'dzikrullah' maksudnya kitabNya yang diturunkan sebagai dzikra (peringatan) bagi kaum Mukminin. Atas dasar ini, maka thuma`ninah al-Qalbi (ketenangan hati) dengan dzikrullah yakni ketika mengenal makna-makna al-Qur`an dan hukum-hukumnya, hati menjadi tenang dengannya. Sebab, hal-hal itu akan menunjukkan-nya kepada kebenaran yang nyata yang didukung oleh dalil-dalil dan bukti-bukti. Dengan itu, hati akan menjadi tentram. Sungguh, hati tidak akan tenang kecuali dengan sebuah keyakinan dan ilmu. Hal ini sudah dijamin dalam Kitabullah dengan jaminan dalam bentuk yang paling sempurna dan paripurna. Sedangkan kitab-kitab lain-nya yang tidak mengacu kepada dzikir, maka hati tidak merasa-kan ketentraman dengannya. Bahkan akan senantiasa dilanda ke-bingungan karena adanya kontradiksi antar dalil dan unsur per-tentangan antar hukum yang ada. ﴾ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا 82 ﴿ "Kalau sekiranya al-Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah me-reka menjumpai pertentangan yang banyak di dalamnya." (An-Nisa`: 82). Masalah ini hanya diketahui oleh orang-orang yang menguasai seluk-beluk Kitabullah, menghayatinya dan mencermati kitab-kitab lainnya yang mengandung berbagai jenis ilmu (untuk memper-bandingkannya), niscaya dia akan menjumpai perbedaan tajam antara al-Qur`an dan kitab-kitab lainnya.
(29) Kemudian Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan beramal shalih," yaitu orang-orang yang beriman dengan sepenuh hati mereka kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya dan Hari Akhir, mem-buktikan keimanannya dengan amalan-amalan shalih; berupa amalan-amalan hati seperti cinta Allah, rasa takut dan pengharapan kepadaNya dan amalan-amalan anggota tubuh seperti shalat dan lainnya. ﴾ طُوبَىٰ لَهُمۡ وَحُسۡنُ مَـَٔابٖ ﴿ "Mereka mendapatkan kebahagiaan dan tempat kembali yang baik," mereka mendapatkan kondisi yang baik dan tempat kembali yang bagus. Balasan demikian itu, lantaran mereka mendapatkan keridhaan Allah dan kemuliaan dariNya di dunia dan akhirat. Mereka juga memperoleh kesempurnaan dalam menik-mati kenyamanan istirahat dan ketentraman yang utuh. Termasuk hal itu adalah, pohon Thuba yang berada di surga, yang mana na-ungannya yang panjang tidak bisa ditempuh oleh seseorang yang berkendaraan di bawahnya selama seratus tahun lamanya, sebagai-mana keterangannya tertuang dalam hadits-hadits shahih.[9]
Ar-Ra'd 13:28
"Orang-orang kafir berkata, 'Mengapa tidak diturunkan ke-padanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Rabbnya?' Katakan-lah, 'Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepadaNya.' (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka mendapatkan kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (Ar-Ra'd: 27-29).
(27) Allah تعالى memberitahukan bahwa orang-orang yang men-dustakan ayat-ayat Allah, mereka bersikap keras kepala kepada Ra-sulullah dan melontarkan usulan dengan berkata, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ ءَايَةٞ مِّن رَّبِّهِۦۚ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Rabbnya?" Klaim mereka bahwa, bila datang sebuah ayat (bukti kekuasaan Allah), niscaya mereka akan beriman. Maka Allah men-jawab pernyataan mereka dengan berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَنۡ أَنَابَ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepadaNya'," yaitu orang yang mencari keridhaanNya. Hidayah dan kesesatan bukan berada di tangan mereka hingga mereka bisa menjadikan (keputus-an keimanan mereka) itu tergantung dengan kemunculan tanda (mukjizat) Allah. Kendatipun demikian, mereka sebenarnya berdusta, ﴾ وَلَوۡ أَنَّنَا نَزَّلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَحَشَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ كُلَّ شَيۡءٖ قُبُلٗا مَّا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُوٓاْ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَجۡهَلُونَ 111 ﴿ "Kalau sekiranya, Kami menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami kumpul-kan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al An'am: 111). Rasulullah ﷺ tidak terikat suatu kelaziman untuk mendatang-kan ayat (bukti kebesaran Allah) yang sudah mereka tentukan dan usulkan. Tetapi, bila beliau mendatangi mereka dengan (hanya) membawa sebuah ayat pun yang menjelaskan kebenaran yang beliau emban, itu sudah cukup dan telah merealisasikan tujuan. Demikian ini lebih bermanfaat bagi mereka daripada mereka menuntut di-hadirkannya ayat-ayat yang mereka inginkan. Seandainya ayat-ayat itu datang menghampiri mereka sesuai dengan apa yang mereka usulkan, maka pasti mereka tetap saja tidak beriman, lalu Allah akan menimpakan siksa pada mereka dengan segera.
(28) Berikutnya, Allah تعالى menyebutkan tanda kaum Muk-minin. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah," maksudnya, kegundahan dan kegelisahannya (hati mereka) lenyap dan berganti dengan kebahagiaan hati dan kenikmatan-kenikmatannya. ﴾ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ﴿ "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram," maksudnya semestinya dan sudah seyogyanya, kalbu-kalbu itu tidak menjadi tenang dengan sesuatu selain dengan mengingatNya. Karena tidak ada sesuatu pun yang lebih nikmat, lebih memikat dan lebih manis bagi kalbu ketimbang (kenikmatan dalam) mencintai Penciptanya, berdekatan dan me-ngenalNya. Berdasarkan tingkat ma'rifah (pengenalan)nya dan ke-cintaannya kepada Allah-lah tingkat intensitas dzikirnya kepada Allah. Demikian ini, merujuk keterangan bahwa dzikrullah yang dimaksud adalah seorang hamba yang mengingat Allah dengan lantunan tasbih, tahlil, takbir dan lain-lain. Ada yang menafsirkan bahwa 'dzikrullah' maksudnya kitabNya yang diturunkan sebagai dzikra (peringatan) bagi kaum Mukminin. Atas dasar ini, maka thuma`ninah al-Qalbi (ketenangan hati) dengan dzikrullah yakni ketika mengenal makna-makna al-Qur`an dan hukum-hukumnya, hati menjadi tenang dengannya. Sebab, hal-hal itu akan menunjukkan-nya kepada kebenaran yang nyata yang didukung oleh dalil-dalil dan bukti-bukti. Dengan itu, hati akan menjadi tentram. Sungguh, hati tidak akan tenang kecuali dengan sebuah keyakinan dan ilmu. Hal ini sudah dijamin dalam Kitabullah dengan jaminan dalam bentuk yang paling sempurna dan paripurna. Sedangkan kitab-kitab lain-nya yang tidak mengacu kepada dzikir, maka hati tidak merasa-kan ketentraman dengannya. Bahkan akan senantiasa dilanda ke-bingungan karena adanya kontradiksi antar dalil dan unsur per-tentangan antar hukum yang ada. ﴾ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا 82 ﴿ "Kalau sekiranya al-Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah me-reka menjumpai pertentangan yang banyak di dalamnya." (An-Nisa`: 82). Masalah ini hanya diketahui oleh orang-orang yang menguasai seluk-beluk Kitabullah, menghayatinya dan mencermati kitab-kitab lainnya yang mengandung berbagai jenis ilmu (untuk memper-bandingkannya), niscaya dia akan menjumpai perbedaan tajam antara al-Qur`an dan kitab-kitab lainnya.
(29) Kemudian Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan beramal shalih," yaitu orang-orang yang beriman dengan sepenuh hati mereka kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya dan Hari Akhir, mem-buktikan keimanannya dengan amalan-amalan shalih; berupa amalan-amalan hati seperti cinta Allah, rasa takut dan pengharapan kepadaNya dan amalan-amalan anggota tubuh seperti shalat dan lainnya. ﴾ طُوبَىٰ لَهُمۡ وَحُسۡنُ مَـَٔابٖ ﴿ "Mereka mendapatkan kebahagiaan dan tempat kembali yang baik," mereka mendapatkan kondisi yang baik dan tempat kembali yang bagus. Balasan demikian itu, lantaran mereka mendapatkan keridhaan Allah dan kemuliaan dariNya di dunia dan akhirat. Mereka juga memperoleh kesempurnaan dalam menik-mati kenyamanan istirahat dan ketentraman yang utuh. Termasuk hal itu adalah, pohon Thuba yang berada di surga, yang mana na-ungannya yang panjang tidak bisa ditempuh oleh seseorang yang berkendaraan di bawahnya selama seratus tahun lamanya, sebagai-mana keterangannya tertuang dalam hadits-hadits shahih.[9]
Ar-Ra'd 13:29
"Orang-orang kafir berkata, 'Mengapa tidak diturunkan ke-padanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Rabbnya?' Katakan-lah, 'Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepadaNya.' (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka mendapatkan kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (Ar-Ra'd: 27-29).
(27) Allah تعالى memberitahukan bahwa orang-orang yang men-dustakan ayat-ayat Allah, mereka bersikap keras kepala kepada Ra-sulullah dan melontarkan usulan dengan berkata, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ ءَايَةٞ مِّن رَّبِّهِۦۚ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Rabbnya?" Klaim mereka bahwa, bila datang sebuah ayat (bukti kekuasaan Allah), niscaya mereka akan beriman. Maka Allah men-jawab pernyataan mereka dengan berfirman, ﴾ قُلۡ إِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَنۡ أَنَابَ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepadaNya'," yaitu orang yang mencari keridhaanNya. Hidayah dan kesesatan bukan berada di tangan mereka hingga mereka bisa menjadikan (keputus-an keimanan mereka) itu tergantung dengan kemunculan tanda (mukjizat) Allah. Kendatipun demikian, mereka sebenarnya berdusta, ﴾ وَلَوۡ أَنَّنَا نَزَّلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَحَشَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ كُلَّ شَيۡءٖ قُبُلٗا مَّا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُوٓاْ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَجۡهَلُونَ 111 ﴿ "Kalau sekiranya, Kami menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami kumpul-kan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al An'am: 111). Rasulullah ﷺ tidak terikat suatu kelaziman untuk mendatang-kan ayat (bukti kebesaran Allah) yang sudah mereka tentukan dan usulkan. Tetapi, bila beliau mendatangi mereka dengan (hanya) membawa sebuah ayat pun yang menjelaskan kebenaran yang beliau emban, itu sudah cukup dan telah merealisasikan tujuan. Demikian ini lebih bermanfaat bagi mereka daripada mereka menuntut di-hadirkannya ayat-ayat yang mereka inginkan. Seandainya ayat-ayat itu datang menghampiri mereka sesuai dengan apa yang mereka usulkan, maka pasti mereka tetap saja tidak beriman, lalu Allah akan menimpakan siksa pada mereka dengan segera.
(28) Berikutnya, Allah تعالى menyebutkan tanda kaum Muk-minin. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah," maksudnya, kegundahan dan kegelisahannya (hati mereka) lenyap dan berganti dengan kebahagiaan hati dan kenikmatan-kenikmatannya. ﴾ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ﴿ "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram," maksudnya semestinya dan sudah seyogyanya, kalbu-kalbu itu tidak menjadi tenang dengan sesuatu selain dengan mengingatNya. Karena tidak ada sesuatu pun yang lebih nikmat, lebih memikat dan lebih manis bagi kalbu ketimbang (kenikmatan dalam) mencintai Penciptanya, berdekatan dan me-ngenalNya. Berdasarkan tingkat ma'rifah (pengenalan)nya dan ke-cintaannya kepada Allah-lah tingkat intensitas dzikirnya kepada Allah. Demikian ini, merujuk keterangan bahwa dzikrullah yang dimaksud adalah seorang hamba yang mengingat Allah dengan lantunan tasbih, tahlil, takbir dan lain-lain. Ada yang menafsirkan bahwa 'dzikrullah' maksudnya kitabNya yang diturunkan sebagai dzikra (peringatan) bagi kaum Mukminin. Atas dasar ini, maka thuma`ninah al-Qalbi (ketenangan hati) dengan dzikrullah yakni ketika mengenal makna-makna al-Qur`an dan hukum-hukumnya, hati menjadi tenang dengannya. Sebab, hal-hal itu akan menunjukkan-nya kepada kebenaran yang nyata yang didukung oleh dalil-dalil dan bukti-bukti. Dengan itu, hati akan menjadi tentram. Sungguh, hati tidak akan tenang kecuali dengan sebuah keyakinan dan ilmu. Hal ini sudah dijamin dalam Kitabullah dengan jaminan dalam bentuk yang paling sempurna dan paripurna. Sedangkan kitab-kitab lain-nya yang tidak mengacu kepada dzikir, maka hati tidak merasa-kan ketentraman dengannya. Bahkan akan senantiasa dilanda ke-bingungan karena adanya kontradiksi antar dalil dan unsur per-tentangan antar hukum yang ada. ﴾ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا 82 ﴿ "Kalau sekiranya al-Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah me-reka menjumpai pertentangan yang banyak di dalamnya." (An-Nisa`: 82). Masalah ini hanya diketahui oleh orang-orang yang menguasai seluk-beluk Kitabullah, menghayatinya dan mencermati kitab-kitab lainnya yang mengandung berbagai jenis ilmu (untuk memper-bandingkannya), niscaya dia akan menjumpai perbedaan tajam antara al-Qur`an dan kitab-kitab lainnya.
(29) Kemudian Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Orang-orang yang beriman dan beramal shalih," yaitu orang-orang yang beriman dengan sepenuh hati mereka kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya dan Hari Akhir, mem-buktikan keimanannya dengan amalan-amalan shalih; berupa amalan-amalan hati seperti cinta Allah, rasa takut dan pengharapan kepadaNya dan amalan-amalan anggota tubuh seperti shalat dan lainnya. ﴾ طُوبَىٰ لَهُمۡ وَحُسۡنُ مَـَٔابٖ ﴿ "Mereka mendapatkan kebahagiaan dan tempat kembali yang baik," mereka mendapatkan kondisi yang baik dan tempat kembali yang bagus. Balasan demikian itu, lantaran mereka mendapatkan keridhaan Allah dan kemuliaan dariNya di dunia dan akhirat. Mereka juga memperoleh kesempurnaan dalam menik-mati kenyamanan istirahat dan ketentraman yang utuh. Termasuk hal itu adalah, pohon Thuba yang berada di surga, yang mana na-ungannya yang panjang tidak bisa ditempuh oleh seseorang yang berkendaraan di bawahnya selama seratus tahun lamanya, sebagai-mana keterangannya tertuang dalam hadits-hadits shahih.[9]
Ar-Ra'd 13:30
"Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (al-Qur`an) yang Kami wahyu-kan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Rabb Yang Maha Pemurah. Katakanlah, 'Dia-lah Rabbku, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia; hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepadaNya aku bertaubat'." (Ar-Ra'd: 30).
(30) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad, ﴾ كَذَٰلِكَ أَرۡسَلۡنَٰكَ ﴿ "Demikianlah, Kami telah mengutus kamu," kepada kaum-mu, untuk menyeru mereka kepada hidayah ﴾ فِيٓ أُمَّةٖ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهَآ أُمَمٞ ﴿ "pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya," Kami telah mengutus kepada mereka para rasul Kami. Engkau bukanlah seorang rasul yang pertama dari para rasul yang ada, hingga mereka merasa perlu mengingkari risalahmu. Dan engkau pun tidak mengatakan sesuatu dari dirimu sendiri. Bahkan engkau itu membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka yang Allah wahyu-kan kepadamu, yang akan membersihkan hati dan menyucikan jiwa. Dan sebenarnya, kaummu itu mengingkari ar-Rahman. Mereka tidak membalas rahmat dan kebaikanNya –yang paling besar ada-lah, Kami mengutus dirimu kepada mereka sebagai rasul dan me-nurunkan kitab kepadamu– dengan sambutan dan rasa syukur. Justru mereka menyikapinya dengan pengingkaran dan penolakan. Tidakkah mereka mengambil pelajaran dengan orang-orang yang telah berlalu dari umat-umat yang telah mendustakan, bagaimana Allah menyiksa mereka lantaran dosa-dosa mereka? ﴾ قُلۡ هُوَ رَبِّي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Katakanlah, 'Dia-lah Rabbku, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia," ayat ini mengandung [dua bentuk tauhid]: tauhid ulu-hiyah dan tauhid rububiyah. Dia adalah Rabbku yang telah mendi-dikku dan memeliharaku dengan berbagai nikmatNya semenjak Dia menciptakanku. Dia-lah Ilahku (sesembahanku) yang ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "hanya kepadaNya aku bertawakal," di seluruh urusanku, dan kepada-Nya-lah aku berinabah[10] maksudnya aku kembali kepadaNya dalam ibadahku dan kebutuhan-kebutuhanku.
Ar-Ra'd 13:31
"Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi ter-belah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah al-Qur`an itulah ia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya? Dan orang-orang yang kafir senantiasa di-timpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. " (Ar-Ra'd: 31).
(31) Allah تعالى berfirman untuk menjelaskan keutamaan al-Qur`an al-Karim atas seluruh kitab yang diturunkan. ﴾ وَلَوۡ أَنَّ قُرۡءَانٗا ﴿ "Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci)," dari kitab-kitab Allah ﴾ سُيِّرَتۡ بِهِ ٱلۡجِبَالُ ﴿ "yang dengan itu gunung-gunung dapat digoncangkan," dari tempat-tempatnya dan ﴾ قُطِّعَتۡ بِهِ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "dan bumi jadi terbelah," menjadi bentuk kebun-kebun dan sungai-sungai, dan ﴾ كُلِّمَ بِهِ ٱلۡمَوۡتَىٰۗ ﴿ "karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara," maka kitab itu tentulah al-Qur`an. ﴾ بَل لِّلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ جَمِيعًاۗ ﴿ "Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah," Dia membawakan ayat-ayat yang dituntut oleh hikmahNya. Mengapa orang-orang yang mendustakan saling mengusulkan ayat-ayat (yang mesti diturunkan)? Apakah mereka dan orang lain mempunyai hak pengaturan? ﴾ أَفَلَمۡ يَاْيۡـَٔسِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَهَدَى ٱلنَّاسَ جَمِيعٗاۗ ﴿ "Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya," sehingga mereka mengetahui bahwa Allah Mahakuasa untuk memberikan hidayah kepada mereka semua? Akan tetapi Dia tidak menghendakinya. Allah mencurahkan hidayah kepada orang yang dikehendakiNya dan menyesatkan orang yang dikehen-dakiNya. ﴾ وَلَا يَزَالُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan orang-orang yang kafir senantiasa," berada dalam kekufuran mereka, tidak sudi mengambil 'ibrah (pelajaran) dan tidak menyambut nasihat. Allah تعالى akan menuangkan bahaya besar dengan bertubi-tubi yang akan menimpa mereka di kampung-kampung mereka atau muncul di dekatnya, dalam keadaan mereka tetap bersikeras berpegang teguh pada kekufuran, ﴾ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ وَعۡدُ ٱللَّهِۚ ﴿ "sehingga datanglah janji Allah," yang mana Allah menjanjikan mereka dengannya, untuk menurunkan siksaan yang berkelanjutan yang tidak mungkin diberhentikan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji." Ini merupakan ancaman dan peringatan yang menakutkan bagi mereka, dalam bentuk turunnya sesuatu yang telah Allah janjikan sebagai balasan kekufuran dan penentangan serta tindak kezhaliman mereka.
Ar-Ra'd 13:32
" Dan se-sungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka Aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu, kemudian Aku binasakan mereka. Alangkah hebatnya siksaanKu itu!" (Ar-Ra'd: 32).
(32) Allah تعالى berfirman kepada RasulNya untuk meneguhkan hati dan menghiburnya, ﴾ وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu," engkau bukan-lah rasul pertama yang didustakan dan disakiti ﴾ فَأَمۡلَيۡتُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "maka Aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu," (yang mengingkari) rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Maksudnya, Aku memberi-kan penangguhan tempo bagi mereka sampai mereka mengira tidak akan disiksa. ﴾ ثُمَّ أَخَذۡتُهُمۡۖ ﴿ "Kemudian Aku binasakan mereka," dengan berbagai macam siksaan. ﴾ فَكَيۡفَ كَانَ عِقَابِ ﴿ "Alangkah hebatnya siksaanKu itu," hal ini merupakan hukuman yang keras dan siksaan yang menyakit-kan, maka jangan sampai orang-orang yang mendustakan dan mem-perolokmu itu tertipu daya dengan penangguhan siksaan dari Kami. Mereka mempunyai cermin pada (kisah) orang-orang yang telah berlalu. Hendaknya mereka berhati-hati, jangan sampai hal itu di-wujudkan kepada mereka sebagaimana telah ditimpakan kepada mereka (yang terdahulu kisahnya).
Ar-Ra'd 13:33
"Maka apakah Rabb yang menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah, 'Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu.' Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekedar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tak ada seorang pun yang akan memberinya petunjuk. Mereka men-dapatkan azab dalam kehidupan dunia, dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras, dan tak ada bagi mereka seorang pe-lindung pun dari (azab) Allah." (Ar-Ra'd: 33-34)
(33) Allah تعالى berfirman, ﴾ أَفَمَنۡ هُوَ قَآئِمٌ عَلَىٰ كُلِّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡۗ ﴿ "Maka apakah Rabb yang menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?" Dengan balasan cepat dan balasan yang ditunda dengan pertimbangan keadilan dan ke-seimbangan. Dan Dia-lah Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi, (apakah) sama dengan Dzat yang tidak melakukan demikian. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ شُرَكَآءَ ﴿ "Mereka menjadikan be-berapa sekutu bagi Allah," Dia-lah Allah Yang Mahasatu lagi Esa dan ash-Shamad (menjadi tempat bergantung (segala sesuatu)), yang tidak ada sekutu bagiNya, juga tidak ada tandingan dan padanan bagiNya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka jika mereka mau jujur ﴾ سَمُّوهُمۡۚ ﴿ "Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu," agar engkau mengetahui kondisi-kondisi mereka (sekutu-sekutu) ﴾ أَمۡ تُنَبِّـُٔونَهُۥ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "atau apakah kamu hendak memberitahukan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya di bumi," apabila Allah Maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata namun Dia tidak mengetahui adanya sekutu bagi-Nya, maka dapat diketahui batilnya klaim adanya sekutu bagiNya, dan kalian laksana orang yang memberitahukan kepada Allah bahwa Dia mempunyai sekutu yang tidak diketahui olehNya. Ini merupakan kebatilan yang tiada taranya! Karenanya, Allah berfirman, ﴾ أَم بِظَٰهِرٖ مِّنَ ٱلۡقَوۡلِۗ ﴿ "Atau kamu menga-takan (tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja". Maksudnya, kemungkinan maksimal dari klaim keberadaan sekutu bagi Allah bahwa ia adalah sekedar perkataan pada lahirnya saja. Adapun faktanya, maka tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada seorang makhluk pun yang berhak untuk disembah. Tetapi, ﴾ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُواْمَكۡرُهُمۡ ﴿ "(Sebenarnya) orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka" yang telah mereka rencanakan, yaitu kekufuran, kesyirikan, dan kedustaan mereka kepada ayat-ayat Allah ﴾ وَصُدُّواْ عَنِ ٱلسَّبِيلِۗ ﴿ "dan dihalanginya dari jalan (yang benar)," yakni dari jalan lurus yang menghubungkan kepada Allah dan ke tempat kemuliaanNya ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ﴿ "Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tak ada seorang pun yang akan memberinya petunjuk," sebab, tidak ada seorang makhluk pun yang memegang kendali pengaturan.
(34) ﴾ لَّهُمۡ عَذَابٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَشَقُّۖ ﴿ "Mereka mendapatkan azab dalam kehidupan dunia, dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras," daripada siksaan dunia karena kedahsyatan dan kontinyui-tasnya ﴾ وَمَا لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن وَاقٖ ﴿ "dan tak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah," yang akan melindungi mereka dari siksa [Allah]. SiksaNya bila sudah diarahkan kepada mereka, maka tidak ada seorang pun yang mampu menghalanginya.
Ar-Ra'd 13:34
"Maka apakah Rabb yang menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah, 'Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu.' Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekedar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tak ada seorang pun yang akan memberinya petunjuk. Mereka men-dapatkan azab dalam kehidupan dunia, dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras, dan tak ada bagi mereka seorang pe-lindung pun dari (azab) Allah." (Ar-Ra'd: 33-34)
(33) Allah تعالى berfirman, ﴾ أَفَمَنۡ هُوَ قَآئِمٌ عَلَىٰ كُلِّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡۗ ﴿ "Maka apakah Rabb yang menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?" Dengan balasan cepat dan balasan yang ditunda dengan pertimbangan keadilan dan ke-seimbangan. Dan Dia-lah Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi, (apakah) sama dengan Dzat yang tidak melakukan demikian. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ شُرَكَآءَ ﴿ "Mereka menjadikan be-berapa sekutu bagi Allah," Dia-lah Allah Yang Mahasatu lagi Esa dan ash-Shamad (menjadi tempat bergantung (segala sesuatu)), yang tidak ada sekutu bagiNya, juga tidak ada tandingan dan padanan bagiNya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka jika mereka mau jujur ﴾ سَمُّوهُمۡۚ ﴿ "Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu," agar engkau mengetahui kondisi-kondisi mereka (sekutu-sekutu) ﴾ أَمۡ تُنَبِّـُٔونَهُۥ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "atau apakah kamu hendak memberitahukan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya di bumi," apabila Allah Maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata namun Dia tidak mengetahui adanya sekutu bagi-Nya, maka dapat diketahui batilnya klaim adanya sekutu bagiNya, dan kalian laksana orang yang memberitahukan kepada Allah bahwa Dia mempunyai sekutu yang tidak diketahui olehNya. Ini merupakan kebatilan yang tiada taranya! Karenanya, Allah berfirman, ﴾ أَم بِظَٰهِرٖ مِّنَ ٱلۡقَوۡلِۗ ﴿ "Atau kamu menga-takan (tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja". Maksudnya, kemungkinan maksimal dari klaim keberadaan sekutu bagi Allah bahwa ia adalah sekedar perkataan pada lahirnya saja. Adapun faktanya, maka tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada seorang makhluk pun yang berhak untuk disembah. Tetapi, ﴾ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُواْمَكۡرُهُمۡ ﴿ "(Sebenarnya) orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka" yang telah mereka rencanakan, yaitu kekufuran, kesyirikan, dan kedustaan mereka kepada ayat-ayat Allah ﴾ وَصُدُّواْ عَنِ ٱلسَّبِيلِۗ ﴿ "dan dihalanginya dari jalan (yang benar)," yakni dari jalan lurus yang menghubungkan kepada Allah dan ke tempat kemuliaanNya ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ﴿ "Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tak ada seorang pun yang akan memberinya petunjuk," sebab, tidak ada seorang makhluk pun yang memegang kendali pengaturan.
(34) ﴾ لَّهُمۡ عَذَابٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَشَقُّۖ ﴿ "Mereka mendapatkan azab dalam kehidupan dunia, dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras," daripada siksaan dunia karena kedahsyatan dan kontinyui-tasnya ﴾ وَمَا لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن وَاقٖ ﴿ "dan tak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah," yang akan melindungi mereka dari siksa [Allah]. SiksaNya bila sudah diarahkan kepada mereka, maka tidak ada seorang pun yang mampu menghalanginya.
Ar-Ra'd 13:35
"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa ialah (seperti taman) yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; buahnya tak henti-henti, dan naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka." (Ar-Ra'd: 35).
(35) Allah تعالى mengatakan, ﴾ مَّثَلُ ٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَۖ ﴿ "Perumpa-maan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa," orang-orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah, tidak me-nyepelekan perintah-perintahNya; maksudnya sifat dan hakikat surga itu ﴾ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ ﴿ "ialah (seperti taman yang) mengalir sungai-sungai di bawahnya," yakni, sungai-sungai madu, sungai-sungai khamar, sungai-sungai susu, dan sungai-sungai air tawar yang mengalir pada selain parit, mengairi kebun-kebun dan pepohonan, sehingga menjadi sarat dengan berbagai macam buah-buahan. ﴾ أُكُلُهَا دَآئِمٞ وَظِلُّهَاۚ ﴿ "Buahnya tak henti-henti, dan naungannya (demikian pula)," yakni, juga abadi. ﴾ تِلۡكَ عُقۡبَى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْۚ ﴿ "Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa," yaitu tempat kesudahan dan tempat kembali yang mana mereka menuju kepadanya. ﴾ وَّعُقۡبَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٱلنَّارُ ﴿ "Sedang tempat ke-sudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka," betapa besar perbedaan antara dua golongan tersebut!
Ar-Ra'd 13:36
"Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebagiannya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia. Hanya kepadaNya aku menyeru (manusia), dan hanya kepadaNya aku kembali." (Ar-Ra'd: 36)
(36) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka," yang Kami berikan ke-nikmatan dengannya disertai penguasaan pengetahuan tentangnya, ﴾ يَفۡرَحُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَۖ ﴿ "bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu," sehingga mereka beriman dengannya, dan membenarkannya serta bergembira dengan adanya sinkronisasi antara satu kitab dengan kitab lainnya. Demikian ini adalah kondisi orang-orang yang ber-iman dari kalangan ahli kitab. ﴾ وَمِنَ ٱلۡأَحۡزَابِ مَن يُنكِرُ بَعۡضَهُۥۚ ﴿ "dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu ada yang mengingkari sebagiannya," mak-sudnya dan di antara golongan orang kafir yang memusuhi kebe-naran, ada yang mengingkari sebagian al-Qur`an dan tidak mem-benarkannya. Barangsiapa mendapatkan hidayah, maka (manfaat) itu adalah bagi dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang tersesat, maka dia menyesatkan dirinya atas hal itu. Engkau, sesungguhnya wahai Muhammad hanyalah seorang pemberi peringatan yang menyeru kepada Allah. ﴾ قُلۡ إِنَّمَآ أُمِرۡتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَلَآ أُشۡرِكَ بِهِۦٓۚ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia," yaitu dengan memurnikan agama bagi Allah semata, ﴾ إِلَيۡهِ أَدۡعُواْ وَإِلَيۡهِ مَـَٔابِ ﴿ "hanya kepadaNya aku menyeru (manusia), dan hanya kepadaNya aku kembali," tempat kembaliku yang mana aku akan menuju kepadaNya melaluinya. Maka, Allah akan membalasku dengan apa yang telah aku kerjakan, berupa dakwah untuk menyeru kepada agamaNya dan melaksanakan perintah-perintahNya.
Ar-Ra'd 13:37
" Dan demikianlah, Kami telah menurunkan al-Qur`an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam Bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu dari (siksa) Allah." (Ar-Ra'd: 37)
(37) Sungguh Kami telah menurunkan al-Qur`an dan al-Kitab ﴾ حُكۡمًا عَرَبِيّٗاۚ ﴿ "sebagai peraturan (yang benar) dalam Bahasa Arab," maksudnya yang menetapkan hukum dan sempurna dengan ung-kapan yang paling jelas dan bahasa yang paling fasih, agar tidak timbul keragu-raguan dan kesamaran serta untuk mendorong agar kitab itu (al-Qur`an) menjadi satu-satunya kitab yang diikuti, tidak ada unsur penipuan di dalamnya dan tidak mengikuti hal-hal yang bertentangan dan berlawanan dengannya seperti hawa nafsu orang-orang yang tidak berilmu. Oleh karena itu, Allah mengancam RasulNya –meskipun beliau seorang yang ma'shum– untuk mengo-kohkan beliau dengan menjaganya. Supaya umat Islam meniru beliau dalam hukum-hukum agama. Allah berfirman, ﴾ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu," yang jelas yang melarangmu dari mengikuti hawa nafsu mereka ﴾ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "maka sekali-kali tidak ada pelindung bagimu dari (siksa) Allah," yang akan memelihara dirimu sehingga hal-hal yang menyenangkan terwujud untukmu. ﴾ وَلَا وَاقٖ ﴿ "Dan pemelihara," yang melindungimu dari perkara yang tidak mengenakkan.
Ar-Ra'd 13:38
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu, dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatang-kan suatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Tiap-tiap masa memiliki Kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki, dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisiNya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh)." (Ar-Ra'd: 38-39)
(38) Maksudnya, engkau bukan seorang rasul pertama yang diutus kepada umat manusia sehingga mereka pantas untuk merasa asing dengan risalahmu. Sungguh ﴾ أَرۡسَلۡنَا رُسُلٗا مِّن قَبۡلِكَ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَذُرِّيَّةٗۚ ﴿ "Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu, dan Kami mem-berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan," maka jangan sampai musuh-musuhmu melancarkan celaan pada dirimu lantaran engkau memiliki istri-istri dan keturunan sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudaramu, para rasul untuk tujuan mencelamu dengan itu, padahal mereka mengetahui bahwa sesungguhnya para rasul sebelumnya pun sama saja, selain (untuk mewujudkan) kepenti-ngan-kepentingan busuk dan dorongan hawa nafsu mereka saja. Apabila mereka menginginkan suatu ayat (tanda kebenaran) yang mereka usulkan, engkau tidak memiliki hak sedikit pun tentang itu. Tidaklah ﴾ كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأۡتِيَ بِـَٔايَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ ﴿ "ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan suatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah," Allah tidak mengizinkan untuk mendatangkan suatu ayat kecuali pada waktunya yang telah ditentukan dan ditetapkanNya. ﴾ لِكُلِّ أَجَلٖ كِتَابٞ ﴿ "Tiap-tiap masa memiliki Kitab (yang tertentu)," tidak maju dan tidak mundur darinya. Tuntutan mereka untuk menyegerakan turunnya ayat-ayat (mukjizat) atau siksa tidak mengharuskan Allah untuk menyegerakan sesuatu yang telah Dia tetapkan agar diakhirkan, meskipun Allah تعالى Mahakuasa berbuat apa saja yang diinginkan-Nya.
(39) ﴾ يَمۡحُواْ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ ﴿ "Allah menghapuskan apa yang Dia kehen-daki," dari takdir-takdirNya ﴾ وَيُثۡبِتُۖ ﴿ "dan menetapkan," apa yang dikehendakiNya dari yang sudah ditetapkan. Penghapusan dan perubahan ini bukan pada hal-hal yang mana ilmu Allah telah men-dahului (bahwa akan terjadi dan Pena Allah telah menuliskan tak-dirnya). Sesungguhnya, hal itu tidak mengalami perubahan dan pergantian. Karena, menjadi suatu perkara yang mustahil bagi Allah jika terjadi suatu kekurangan dan kekeliruan pada ilmu Allah (ten-tang segala sesuatu yang akan terjadi). Oleh karena itu, Allah berfirman ﴾ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dan di sisiNya terdapat Ummul Kitab," yaitu Lauh Mahfuzh yang menjadi buku rujukan bagi segala sesuatu. Itu adalah intinya, ia mempunyai cabang dan sisi. Perubahan dan pergantian terjadi pada cabang dan sisinya. Misalnya, amalan pagi dan siang hari yang dicatat oleh malaikat, dan Allah menciptakan sebab kausalitas yang bisa me-netapkannya dan sebab-sebab yang bisa menghapuskannya. Sebab-sebab tersebut tidak akan melampaui batas dengan apa yang telah digariskan di Lauh Mahfuzh. Sebagaimana Allah menjadikan ke-baikan, silaturahim, dan perbuatan baik sebagai sebab kausalitas yang bisa memanjangkan usia dan meluaskan rizki. Sebagaimana Allah menjadikan maksiat-maksiat sebagai sebab yang menghilang-kan berkah rizki dan usia. Sebagaimana Allah menetapkan beberapa sebab kausalitas keselamatan dari berbagai kebinasaan dan kehan-curan sebagai jalan menuju keselamatan, dan menjadikan sebab kausalitas penghalang keselamatan sebagai penyebab kehancuran. Dia-lah yang mengatur segala urusan sesuai dengan kekuasaan dan kehendakNya. Hal-hal yang Allah atur tidak bertentangan dengan apa yang sudah diketahui Allah (akan terjadi) dan dituliskan di Lauh Mahfuzh.
Ar-Ra'd 13:39
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu, dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatang-kan suatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Tiap-tiap masa memiliki Kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki, dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisiNya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh)." (Ar-Ra'd: 38-39)
(38) Maksudnya, engkau bukan seorang rasul pertama yang diutus kepada umat manusia sehingga mereka pantas untuk merasa asing dengan risalahmu. Sungguh ﴾ أَرۡسَلۡنَا رُسُلٗا مِّن قَبۡلِكَ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَذُرِّيَّةٗۚ ﴿ "Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu, dan Kami mem-berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan," maka jangan sampai musuh-musuhmu melancarkan celaan pada dirimu lantaran engkau memiliki istri-istri dan keturunan sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudaramu, para rasul untuk tujuan mencelamu dengan itu, padahal mereka mengetahui bahwa sesungguhnya para rasul sebelumnya pun sama saja, selain (untuk mewujudkan) kepenti-ngan-kepentingan busuk dan dorongan hawa nafsu mereka saja. Apabila mereka menginginkan suatu ayat (tanda kebenaran) yang mereka usulkan, engkau tidak memiliki hak sedikit pun tentang itu. Tidaklah ﴾ كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأۡتِيَ بِـَٔايَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ ﴿ "ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan suatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah," Allah tidak mengizinkan untuk mendatangkan suatu ayat kecuali pada waktunya yang telah ditentukan dan ditetapkanNya. ﴾ لِكُلِّ أَجَلٖ كِتَابٞ ﴿ "Tiap-tiap masa memiliki Kitab (yang tertentu)," tidak maju dan tidak mundur darinya. Tuntutan mereka untuk menyegerakan turunnya ayat-ayat (mukjizat) atau siksa tidak mengharuskan Allah untuk menyegerakan sesuatu yang telah Dia tetapkan agar diakhirkan, meskipun Allah تعالى Mahakuasa berbuat apa saja yang diinginkan-Nya.
(39) ﴾ يَمۡحُواْ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ ﴿ "Allah menghapuskan apa yang Dia kehen-daki," dari takdir-takdirNya ﴾ وَيُثۡبِتُۖ ﴿ "dan menetapkan," apa yang dikehendakiNya dari yang sudah ditetapkan. Penghapusan dan perubahan ini bukan pada hal-hal yang mana ilmu Allah telah men-dahului (bahwa akan terjadi dan Pena Allah telah menuliskan tak-dirnya). Sesungguhnya, hal itu tidak mengalami perubahan dan pergantian. Karena, menjadi suatu perkara yang mustahil bagi Allah jika terjadi suatu kekurangan dan kekeliruan pada ilmu Allah (ten-tang segala sesuatu yang akan terjadi). Oleh karena itu, Allah berfirman ﴾ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dan di sisiNya terdapat Ummul Kitab," yaitu Lauh Mahfuzh yang menjadi buku rujukan bagi segala sesuatu. Itu adalah intinya, ia mempunyai cabang dan sisi. Perubahan dan pergantian terjadi pada cabang dan sisinya. Misalnya, amalan pagi dan siang hari yang dicatat oleh malaikat, dan Allah menciptakan sebab kausalitas yang bisa me-netapkannya dan sebab-sebab yang bisa menghapuskannya. Sebab-sebab tersebut tidak akan melampaui batas dengan apa yang telah digariskan di Lauh Mahfuzh. Sebagaimana Allah menjadikan ke-baikan, silaturahim, dan perbuatan baik sebagai sebab kausalitas yang bisa memanjangkan usia dan meluaskan rizki. Sebagaimana Allah menjadikan maksiat-maksiat sebagai sebab yang menghilang-kan berkah rizki dan usia. Sebagaimana Allah menetapkan beberapa sebab kausalitas keselamatan dari berbagai kebinasaan dan kehan-curan sebagai jalan menuju keselamatan, dan menjadikan sebab kausalitas penghalang keselamatan sebagai penyebab kehancuran. Dia-lah yang mengatur segala urusan sesuai dengan kekuasaan dan kehendakNya. Hal-hal yang Allah atur tidak bertentangan dengan apa yang sudah diketahui Allah (akan terjadi) dan dituliskan di Lauh Mahfuzh.
Ar-Ra'd 13:40
"Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka, atau Kami wafatkan kamu (se-belum siksa itu terjadi, maka hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka. Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendakNya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Mahacepat hisabNya." (Ar-Ra'd: 40-41).
(40) Allah berfirman kepada NabiNya, "Janganlah engkau bersegera menimpakan apa yang telah diancamkan kepada mereka yang berbentuk siksaan. Mereka bila melampaui batas dan kufur secara terus-menerus, maka pasti akan dilanda azab yang diancam-kan kepada mereka, baik Kami akan memperlihatkannya kepadamu agar pandanganmu menjadi sejuk dengannya, atau mewafatkanmu sebelum menimpakan (siksaan) mereka, maka itu bukanlah urusan yang merepotkanmu. ﴾ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ ﴿ "Karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja," dan menjelaskan kepada manusia ﴾ وَعَلَيۡنَا ٱلۡحِسَابُ ﴿ "sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka," Kami akan memperhitungkan amalan makhluk-makhluk berdasarkan apa yang telah mereka perbuat dan kewajiban yang mereka sepelekan serta Kami akan memberi pahala atau menghukumi mereka.
(41) Kemudian Allah mengancam orang-orang yang men-dustakan, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّا نَأۡتِي ٱلۡأَرۡضَ نَنقُصُهَا مِنۡ أَطۡرَافِهَاۚ ﴿ "Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?" Ada pendapat yang menyatakan, "Dengan cara membinasakan orang-orang yang mendustakan dan menghabisi orang-orang yang zhalim sampai tuntas." Pendapat lain, dengan menaklukkan wilayah-wilayah kaum musyrikin dan pengurangan pada harta-benda mereka dan jasmani mereka." Dan masih ada pen-dapat-pendapat lain dalam masalah ini. Pendapat yang tampak ke-benarannya –wallahu a'lam– maksudnya; bahwa Allah akan memulai menaklukkan tanah-tanah milik orang-orang yang mendustakan itu dan menguasainya serta menimpakan berbagai musibah di se-gala sisinya sebagai pengingat bagi mereka sebelum mereka meng-alami kekurangan, dan Allah menimpakan musibah-musibah yang tidak bisa ditampik oleh siapa pun. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ يَحۡكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendakNya), tidak ada yang dapat menolak ketetapanNya," termasuk dalam maknanya, ketetapan hukum-Nya yang bersifat syar'i, takdir dan balasanNya. Ketetapan-kete-tapan ini, (yang dijadikan Allah sebagai hukum di dalamnya), ter-lihat sangat mengandung puncak hikmah dan kerapian. Tidak ada kekeliruan atau kekurangan padanya. Bahkan berbasis keadilan dan keseimbangan serta pujian. Tidak ada seorang pun yang bisa mengkritiknya, dan tidak ada cara untuk mencelanya, berbeda de-ngan ketetapan hukum selainNya. Kadang-kadang benar, namun suatu waktu mengalami kekeliruan. ﴾ وَهُوَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahacepat hisabNya," janganlah meminta disegerakan (datang-nya) siksaan. Sesungguhnya segala sesuatu yang akan tiba itu dekat.
Ar-Ra'd 13:41
"Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka, atau Kami wafatkan kamu (se-belum siksa itu terjadi, maka hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka. Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendakNya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Mahacepat hisabNya." (Ar-Ra'd: 40-41).
(40) Allah berfirman kepada NabiNya, "Janganlah engkau bersegera menimpakan apa yang telah diancamkan kepada mereka yang berbentuk siksaan. Mereka bila melampaui batas dan kufur secara terus-menerus, maka pasti akan dilanda azab yang diancam-kan kepada mereka, baik Kami akan memperlihatkannya kepadamu agar pandanganmu menjadi sejuk dengannya, atau mewafatkanmu sebelum menimpakan (siksaan) mereka, maka itu bukanlah urusan yang merepotkanmu. ﴾ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ ﴿ "Karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja," dan menjelaskan kepada manusia ﴾ وَعَلَيۡنَا ٱلۡحِسَابُ ﴿ "sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka," Kami akan memperhitungkan amalan makhluk-makhluk berdasarkan apa yang telah mereka perbuat dan kewajiban yang mereka sepelekan serta Kami akan memberi pahala atau menghukumi mereka.
(41) Kemudian Allah mengancam orang-orang yang men-dustakan, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّا نَأۡتِي ٱلۡأَرۡضَ نَنقُصُهَا مِنۡ أَطۡرَافِهَاۚ ﴿ "Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?" Ada pendapat yang menyatakan, "Dengan cara membinasakan orang-orang yang mendustakan dan menghabisi orang-orang yang zhalim sampai tuntas." Pendapat lain, dengan menaklukkan wilayah-wilayah kaum musyrikin dan pengurangan pada harta-benda mereka dan jasmani mereka." Dan masih ada pen-dapat-pendapat lain dalam masalah ini. Pendapat yang tampak ke-benarannya –wallahu a'lam– maksudnya; bahwa Allah akan memulai menaklukkan tanah-tanah milik orang-orang yang mendustakan itu dan menguasainya serta menimpakan berbagai musibah di se-gala sisinya sebagai pengingat bagi mereka sebelum mereka meng-alami kekurangan, dan Allah menimpakan musibah-musibah yang tidak bisa ditampik oleh siapa pun. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ يَحۡكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendakNya), tidak ada yang dapat menolak ketetapanNya," termasuk dalam maknanya, ketetapan hukum-Nya yang bersifat syar'i, takdir dan balasanNya. Ketetapan-kete-tapan ini, (yang dijadikan Allah sebagai hukum di dalamnya), ter-lihat sangat mengandung puncak hikmah dan kerapian. Tidak ada kekeliruan atau kekurangan padanya. Bahkan berbasis keadilan dan keseimbangan serta pujian. Tidak ada seorang pun yang bisa mengkritiknya, dan tidak ada cara untuk mencelanya, berbeda de-ngan ketetapan hukum selainNya. Kadang-kadang benar, namun suatu waktu mengalami kekeliruan. ﴾ وَهُوَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahacepat hisabNya," janganlah meminta disegerakan (datang-nya) siksaan. Sesungguhnya segala sesuatu yang akan tiba itu dekat.
Ar-Ra'd 13:42
"Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (yaitu kafir Makkah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang di-usahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu. Orang-orang kafir berkata, 'Kamu bukan orang yang dijadikan Rasul.' Katakanlah, 'Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu al-Kitab'." (Ar-Ra'd: 42-43)
(42) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَقَدۡ مَكَرَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ ﴿ "Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (yaitu kafir Makkah) telah meng-adakan tipu daya," kepada para rasul (yang diutus kepada) mereka dan kepada kebenaran yang dibawa oleh para rasul. Rencana makar mereka tidak berguna, dan mereka tidak berkutik sedikit pun. Me-reka memusuhi Allah dan menentangNya. ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡمَكۡرُ جَمِيعٗاۖ ﴿ "Tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah," tidak ada seorang pun yang bisa menciptakan makar kecuali dengan izinNya dan di bawah ketentuan dan takdirNya. Apabila mereka ingin berbuat makar terhadap agamaNya, niscaya (dampak) makar mereka akan berbalik kepada mereka dengan kegagalan dan penyesalan. Sesungguhnya Allah ﴾ يَعۡلَمُ مَا تَكۡسِبُ كُلُّ نَفۡسٖۗ ﴿ "Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri," yaitu mengetahui pikiran-pikiran-nya, kehendak dan amalan-amalan lahiriyah dan batiniahnya. Dan tindakan makar itu mesti muncul dari usahanya, sehingga makar mereka tidak tersembunyi di hadapan Allah. Tidak akan terjadi (tindakan) mereka melancarkan makar yang akan membahayakan kebenaran dan para pengikutnya dan (tidak akan terjadi) keman-faatan bagi mereka sama sekali. ﴾ وَسَيَعۡلَمُ ٱلۡكُفَّٰرُ لِمَنۡ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "Dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu," apakah bagi mereka atau para rasul? Dan sudah diketahui, bahwa akibat yang baik adalah diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa, bukan untuk kekufuran dan ahli kufur itu.
(43) ﴾ وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَسۡتَ مُرۡسَلٗاۚ ﴿ "Orang-orang kafir berkata, "Kamu bukan orang yang dijadikan Rasul," maksudnya, mereka men-dustakanmu dan mendustakan risalahmu ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka bila mereka meminta saksi ﴾ كَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدَۢا بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡ ﴿ "Cu-kuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu," dan persaksian Allah itu dengan ucapan, tindakan, dan penetapanNya. Adapun (persaksi-an) ucapanNya, maka dengan segala berita yang diwahyukan ke-pada makhlukNya yang paling jujur yang menguatkan risalahNya. Sedangkan (persaksian) tindakanNya, maka dengan cara Allah telah mendukung RasulNya dan menolongnya dengan pertolongan yang di luar jangkauan kemampuannya dan kemampuan para sahabat serta para pengikutnya. Ini adalah persaksianNya melalui tindakan dan dukungan. Sedangkan penetapanNya, maka (perwujudannya adalah bahwa) Rasulullah telah memberitahukan tentang dirinya bahwa ia seorang rasul (Allah), dan memerintahkan orang-orang untuk mengikutinya. Barangsiapa yang mengikutinya, maka akan meraih kemuliaan dan keridhaanNya. Barangsiapa yang tidak meng-ikutinya, maka dia mendapatkan neraka dan murka. Harta dan nyawanya halal. Dan Allah menetapkannya atas hal tersebut. Se-andainya, beliau berbicara macam-macam, niscaya beliau akan segera dikenakan hukuman. ﴾ وَمَنۡ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Dan antara orang yang mempunyai ilmu al- Kitab," ini mencakup semua ulama ahli kitab dari dua golongannya (Yahudi dan Nasrani). Karena mereka bersaksi atas (kebenaran) Rasulullah. Barangsiapa yang beriman dan mengikuti kebenaran, niscaya akan menyampaikan kesaksian yang menjadi kewajibannya. Sedangkan orang yang menyembunyikannya, maka pemberitahuan Allah tentang dirinya, bahwa dia mempunyai persaksian adalah lebih gamblang daripada pernyataannya (dari dirinya sendiri). Se-andainya dia tidak memiliki kesaksian, maka kesaksiannya akan tertolak dengan petunjuk bukti. Karena itu, sikap diamnya menun-jukkan bahwa dia mempunyai kesaksian yang disembunyikan. Allah memerintahkan beliau untuk meminta persaksian ahli kitab, sebab mereka orang-orang yang berkompeten dalam masalah ini. Dan setiap perkara, maka hanya para ahlinyalah yang dimintai keterangan dan orang-orang yang lebih tahu daripada orang lain tentang itu. Berbeda dengan orang yang tidak tahu sama sekali tentangnya, misalnya bangsa yang buta huruf, dari kalangan kaum musyrikin Arab dan lainnya, maka tidak ada manfaatnya untuk memintai keterangan dari mereka. Karena mereka tidak mengetahui dan tidak mengerti. Wallahu a'lam.
Sudah tuntas tafsir Surat ar-Ra'd. Walhamdulillahi Rabbil 'Alamin.
Ar-Ra'd 13:43
"Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (yaitu kafir Makkah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang di-usahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu. Orang-orang kafir berkata, 'Kamu bukan orang yang dijadikan Rasul.' Katakanlah, 'Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu al-Kitab'." (Ar-Ra'd: 42-43)
(42) Allah تعالى berfirman, ﴾ وَقَدۡ مَكَرَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ ﴿ "Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (yaitu kafir Makkah) telah meng-adakan tipu daya," kepada para rasul (yang diutus kepada) mereka dan kepada kebenaran yang dibawa oleh para rasul. Rencana makar mereka tidak berguna, dan mereka tidak berkutik sedikit pun. Me-reka memusuhi Allah dan menentangNya. ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡمَكۡرُ جَمِيعٗاۖ ﴿ "Tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah," tidak ada seorang pun yang bisa menciptakan makar kecuali dengan izinNya dan di bawah ketentuan dan takdirNya. Apabila mereka ingin berbuat makar terhadap agamaNya, niscaya (dampak) makar mereka akan berbalik kepada mereka dengan kegagalan dan penyesalan. Sesungguhnya Allah ﴾ يَعۡلَمُ مَا تَكۡسِبُ كُلُّ نَفۡسٖۗ ﴿ "Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri," yaitu mengetahui pikiran-pikiran-nya, kehendak dan amalan-amalan lahiriyah dan batiniahnya. Dan tindakan makar itu mesti muncul dari usahanya, sehingga makar mereka tidak tersembunyi di hadapan Allah. Tidak akan terjadi (tindakan) mereka melancarkan makar yang akan membahayakan kebenaran dan para pengikutnya dan (tidak akan terjadi) keman-faatan bagi mereka sama sekali. ﴾ وَسَيَعۡلَمُ ٱلۡكُفَّٰرُ لِمَنۡ عُقۡبَى ٱلدَّارِ ﴿ "Dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu," apakah bagi mereka atau para rasul? Dan sudah diketahui, bahwa akibat yang baik adalah diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa, bukan untuk kekufuran dan ahli kufur itu.
(43) ﴾ وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَسۡتَ مُرۡسَلٗاۚ ﴿ "Orang-orang kafir berkata, "Kamu bukan orang yang dijadikan Rasul," maksudnya, mereka men-dustakanmu dan mendustakan risalahmu ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka bila mereka meminta saksi ﴾ كَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدَۢا بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡ ﴿ "Cu-kuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu," dan persaksian Allah itu dengan ucapan, tindakan, dan penetapanNya. Adapun (persaksi-an) ucapanNya, maka dengan segala berita yang diwahyukan ke-pada makhlukNya yang paling jujur yang menguatkan risalahNya. Sedangkan (persaksian) tindakanNya, maka dengan cara Allah telah mendukung RasulNya dan menolongnya dengan pertolongan yang di luar jangkauan kemampuannya dan kemampuan para sahabat serta para pengikutnya. Ini adalah persaksianNya melalui tindakan dan dukungan. Sedangkan penetapanNya, maka (perwujudannya adalah bahwa) Rasulullah telah memberitahukan tentang dirinya bahwa ia seorang rasul (Allah), dan memerintahkan orang-orang untuk mengikutinya. Barangsiapa yang mengikutinya, maka akan meraih kemuliaan dan keridhaanNya. Barangsiapa yang tidak meng-ikutinya, maka dia mendapatkan neraka dan murka. Harta dan nyawanya halal. Dan Allah menetapkannya atas hal tersebut. Se-andainya, beliau berbicara macam-macam, niscaya beliau akan segera dikenakan hukuman. ﴾ وَمَنۡ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Dan antara orang yang mempunyai ilmu al- Kitab," ini mencakup semua ulama ahli kitab dari dua golongannya (Yahudi dan Nasrani). Karena mereka bersaksi atas (kebenaran) Rasulullah. Barangsiapa yang beriman dan mengikuti kebenaran, niscaya akan menyampaikan kesaksian yang menjadi kewajibannya. Sedangkan orang yang menyembunyikannya, maka pemberitahuan Allah tentang dirinya, bahwa dia mempunyai persaksian adalah lebih gamblang daripada pernyataannya (dari dirinya sendiri). Se-andainya dia tidak memiliki kesaksian, maka kesaksiannya akan tertolak dengan petunjuk bukti. Karena itu, sikap diamnya menun-jukkan bahwa dia mempunyai kesaksian yang disembunyikan. Allah memerintahkan beliau untuk meminta persaksian ahli kitab, sebab mereka orang-orang yang berkompeten dalam masalah ini. Dan setiap perkara, maka hanya para ahlinyalah yang dimintai keterangan dan orang-orang yang lebih tahu daripada orang lain tentang itu. Berbeda dengan orang yang tidak tahu sama sekali tentangnya, misalnya bangsa yang buta huruf, dari kalangan kaum musyrikin Arab dan lainnya, maka tidak ada manfaatnya untuk memintai keterangan dari mereka. Karena mereka tidak mengetahui dan tidak mengerti. Wallahu a'lam.
Sudah tuntas tafsir Surat ar-Ra'd. Walhamdulillahi Rabbil 'Alamin.