Tafsir As-Saadi - Indonesian — Ibrahim 14:1 – Al-Hijr 15:63
Daftar isi
- Ibrahim 14:1
- Ibrahim 14:2
- Ibrahim 14:3
- Ibrahim 14:4
- Ibrahim 14:5
- Ibrahim 14:6
- Ibrahim 14:7
- Ibrahim 14:8
- Ibrahim 14:9
- Ibrahim 14:10
- Ibrahim 14:11
- Ibrahim 14:12
- Ibrahim 14:13
- Ibrahim 14:14
- Ibrahim 14:15
- Ibrahim 14:16
- Ibrahim 14:17
- Ibrahim 14:18
- Ibrahim 14:19
- Ibrahim 14:20
- Ibrahim 14:21
- Ibrahim 14:22
- Ibrahim 14:23
- Ibrahim 14:24
- Ibrahim 14:25
- Ibrahim 14:26
- Ibrahim 14:27
- Ibrahim 14:28
- Ibrahim 14:29
- Ibrahim 14:30
- Ibrahim 14:31
- Ibrahim 14:32
- Ibrahim 14:33
- Ibrahim 14:34
- Ibrahim 14:35
- Ibrahim 14:36
- Ibrahim 14:37
- Ibrahim 14:38
- Ibrahim 14:39
- Ibrahim 14:40
- Ibrahim 14:41
- Ibrahim 14:42
- Ibrahim 14:43
- Ibrahim 14:44
- Ibrahim 14:45
- Ibrahim 14:46
- Ibrahim 14:47
- Ibrahim 14:48
- Ibrahim 14:49
- Ibrahim 14:50
- Ibrahim 14:51
- Ibrahim 14:52
- Al-Hijr 15:1
- Al-Hijr 15:2
- Al-Hijr 15:3
- Al-Hijr 15:4
- Al-Hijr 15:5
- Al-Hijr 15:6
- Al-Hijr 15:7
- Al-Hijr 15:8
- Al-Hijr 15:9
- Al-Hijr 15:10
- Al-Hijr 15:11
- Al-Hijr 15:12
- Al-Hijr 15:13
- Al-Hijr 15:14
- Al-Hijr 15:15
- Al-Hijr 15:16
- Al-Hijr 15:17
- Al-Hijr 15:18
- Al-Hijr 15:19
- Al-Hijr 15:20
- Al-Hijr 15:21
- Al-Hijr 15:22
- Al-Hijr 15:23
- Al-Hijr 15:24
- Al-Hijr 15:25
- Al-Hijr 15:26
- Al-Hijr 15:27
- Al-Hijr 15:28
- Al-Hijr 15:29
- Al-Hijr 15:30
- Al-Hijr 15:31
- Al-Hijr 15:32
- Al-Hijr 15:33
- Al-Hijr 15:34
- Al-Hijr 15:35
- Al-Hijr 15:36
- Al-Hijr 15:37
- Al-Hijr 15:38
- Al-Hijr 15:39
- Al-Hijr 15:40
- Al-Hijr 15:41
- Al-Hijr 15:42
- Al-Hijr 15:43
- Al-Hijr 15:44
- Al-Hijr 15:45
- Al-Hijr 15:46
- Al-Hijr 15:47
- Al-Hijr 15:48
- Al-Hijr 15:49
- Al-Hijr 15:50
- Al-Hijr 15:51
- Al-Hijr 15:52
- Al-Hijr 15:53
- Al-Hijr 15:54
- Al-Hijr 15:55
- Al-Hijr 15:56
- Al-Hijr 15:57
- Al-Hijr 15:58
- Al-Hijr 15:59
- Al-Hijr 15:60
- Al-Hijr 15:61
- Al-Hijr 15:62
- Al-Hijr 15:63
Ibrahim 14:1
"Alif, lam ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang, dengan izin Rabb mereka (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Allah yang me-miliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan mengingin-kan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kese-satan yang jauh." (Ibrahim: 1-3).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"
(1-2) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah menurunkan kitabNya kepada RasulNya Muhammad, demi kemaslahatan para makhluk. Yaitu untuk mengentaskan manusia dari kegelapan ke-bodohan, kekufuran, dan perangai-perangai yang buruk serta be-ragam maksiat menuju cahaya ilmu, iman dan akhlak yang baik. Firman Allah ﴾ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ ﴿ "dengan izin Rabb mereka", maksud-nya tidak akan terwujud hal yang mereka sukai karena (mencari ridha) Allah, melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah. Hal ini mengandung anjuran bagi para hamba untuk meminta bantuan kepada Rabb mereka. Kemudian Allah menerangkan arti 'cahaya' yang mana kitab ini memberi petunjuk mereka kepada cahaya itu seraya berfirman, ﴾ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "(yaitu) menuju jalan Rabb Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," maksudnya jalan yang menghubungkan kepadaNya dan ke kampung kemuliaan-Nya, yang mencakup penguasaan ilmu kebenaran dan pengamalan-nya. Dalam penyebutan nama Allah al-'Aziz dan al-Hamid (Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji) sesudah penyebutan jalan yang menghubungkan menuju kemuliaanNya secara implisit, terkandung isyarat bahwa siapa saja yang menelusurinya (jalan tersebut), maka dia akan menjadi orang yang penuh kemuliaan dengan kemuliaan dari Allah, insan yang kuat meskipun tanpa pendukung kecuali Allah, terpuji dalam segala urusannya, dan akhir hidupnya pun baik. Itu semua sungguh membuktikan bahwa jalan Allah menjadi salah satu bukti kuat tentang kepemilikan Allah atas sifat-sifat yang sem-purna dan agung, dan bahwa Dzat yang menegakkan jembatan tersebut adalah Dzat yang mempunyai kekuasaan yang kuat, terpuji dalam setiap ucapan, tindakan dan ketetapan hukumNya, dan bah-wa Dia diibadahi dengan berbagai jenis ibadah yang merupakan anak tangga menuju Sirath al-Mustaqim. Dan bahwa sebagaimana Allah menguasai kerajaan langit dan bumi, dalam aspek penciptaan, pemberian rizki dan pengaturan, maka Dia juga menguasai hak penetapan hukum atas hamba-hambaNya dengan hukum-hukum agama. Sebab mereka adalah milikNya, dan tidak sepantasnya bagi Allah membiarkan mereka begitu saja dengan sia-sia. Usai menerangkan dalil dan buktinya, maka Allah mengan-cam orang-orang yang tidak patuh terhadap ketentuan tersebut. Allah berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ مِنۡ عَذَابٖ شَدِيدٍ ﴿ "Dan celakalah orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih", yang tidak bisa diper-kirakan kadar tingkat (kepedihan)nya dan tidak bisa dideskripsi-kan hakikat siksaanNya.
(3) Berikutnya, Allah menceritakan sifat-sifat mereka. Me-reka adalah orang-orang yang menyukai ﴾ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا عَلَى ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "ke-hidupan dunia daripada kehidupan akhirat." Mereka begitu gandrung kepadanya dan merasa tentram dengannya serta melalaikan akhirat. ﴾ وَيَصُدُّونَ ﴿ "Dan menghalang-halangi", orang-orang ﴾ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dari jalan Allah", yang mana Allah telah menentukannya bagi hamba-hambaNya dan menjelaskannya di dalam kitab-kitabNya melalui penjelasan para RasulNya. Mereka itu telah menentang Pelindung mereka dengan perseteruan dan peperangan ﴾ وَيَبۡغُونَهَا ﴿ "dan mengingin-kan agar jalan itu" yaitu jalan Allah ﴾ عِوَجًاۚ ﴿ "bengkok." Mereka begitu semangat berupaya memperburuk citranya dan mendiskreditkan-nya untuk tujuan menjauhkan (orang-orang) darinya. Tetapi Allah enggan (berkehendak) kecuali untuk menyempurnakan cahaya-Nya, kendatipun orang-orang kafir benci. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu", orang-orang yang telah disebutkan karakteristiknya ﴾ فِي ضَلَٰلِۭ بَعِيدٖ ﴿ "berada dalam kesesatan yang jauh", karena mereka telah sesat dan menyesatkan (orang lain) serta menantang dan memusuhi Allah dan RasulNya. Apakah ada bentuk kesesatan yang lebih parah dari ini? Sedangkan orang-orang yang beriman, jelas berbeda dengan mereka, mereka mengimani Allah dan ayat-ayatNya, lebih mencintai akhirat daripada dunia, menyeru kepada jalan Allah serta berupaya menggambarkannya dengan citra yang baik semampu mereka dan menjelaskan unsur konsistensinya.
Ibrahim 14:2
"Alif, lam ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang, dengan izin Rabb mereka (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Allah yang me-miliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan mengingin-kan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kese-satan yang jauh." (Ibrahim: 1-3).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"
(1-2) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah menurunkan kitabNya kepada RasulNya Muhammad, demi kemaslahatan para makhluk. Yaitu untuk mengentaskan manusia dari kegelapan ke-bodohan, kekufuran, dan perangai-perangai yang buruk serta be-ragam maksiat menuju cahaya ilmu, iman dan akhlak yang baik. Firman Allah ﴾ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ ﴿ "dengan izin Rabb mereka", maksud-nya tidak akan terwujud hal yang mereka sukai karena (mencari ridha) Allah, melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah. Hal ini mengandung anjuran bagi para hamba untuk meminta bantuan kepada Rabb mereka. Kemudian Allah menerangkan arti 'cahaya' yang mana kitab ini memberi petunjuk mereka kepada cahaya itu seraya berfirman, ﴾ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "(yaitu) menuju jalan Rabb Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," maksudnya jalan yang menghubungkan kepadaNya dan ke kampung kemuliaan-Nya, yang mencakup penguasaan ilmu kebenaran dan pengamalan-nya. Dalam penyebutan nama Allah al-'Aziz dan al-Hamid (Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji) sesudah penyebutan jalan yang menghubungkan menuju kemuliaanNya secara implisit, terkandung isyarat bahwa siapa saja yang menelusurinya (jalan tersebut), maka dia akan menjadi orang yang penuh kemuliaan dengan kemuliaan dari Allah, insan yang kuat meskipun tanpa pendukung kecuali Allah, terpuji dalam segala urusannya, dan akhir hidupnya pun baik. Itu semua sungguh membuktikan bahwa jalan Allah menjadi salah satu bukti kuat tentang kepemilikan Allah atas sifat-sifat yang sem-purna dan agung, dan bahwa Dzat yang menegakkan jembatan tersebut adalah Dzat yang mempunyai kekuasaan yang kuat, terpuji dalam setiap ucapan, tindakan dan ketetapan hukumNya, dan bah-wa Dia diibadahi dengan berbagai jenis ibadah yang merupakan anak tangga menuju Sirath al-Mustaqim. Dan bahwa sebagaimana Allah menguasai kerajaan langit dan bumi, dalam aspek penciptaan, pemberian rizki dan pengaturan, maka Dia juga menguasai hak penetapan hukum atas hamba-hambaNya dengan hukum-hukum agama. Sebab mereka adalah milikNya, dan tidak sepantasnya bagi Allah membiarkan mereka begitu saja dengan sia-sia. Usai menerangkan dalil dan buktinya, maka Allah mengan-cam orang-orang yang tidak patuh terhadap ketentuan tersebut. Allah berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ مِنۡ عَذَابٖ شَدِيدٍ ﴿ "Dan celakalah orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih", yang tidak bisa diper-kirakan kadar tingkat (kepedihan)nya dan tidak bisa dideskripsi-kan hakikat siksaanNya.
(3) Berikutnya, Allah menceritakan sifat-sifat mereka. Me-reka adalah orang-orang yang menyukai ﴾ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا عَلَى ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "ke-hidupan dunia daripada kehidupan akhirat." Mereka begitu gandrung kepadanya dan merasa tentram dengannya serta melalaikan akhirat. ﴾ وَيَصُدُّونَ ﴿ "Dan menghalang-halangi", orang-orang ﴾ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dari jalan Allah", yang mana Allah telah menentukannya bagi hamba-hambaNya dan menjelaskannya di dalam kitab-kitabNya melalui penjelasan para RasulNya. Mereka itu telah menentang Pelindung mereka dengan perseteruan dan peperangan ﴾ وَيَبۡغُونَهَا ﴿ "dan mengingin-kan agar jalan itu" yaitu jalan Allah ﴾ عِوَجًاۚ ﴿ "bengkok." Mereka begitu semangat berupaya memperburuk citranya dan mendiskreditkan-nya untuk tujuan menjauhkan (orang-orang) darinya. Tetapi Allah enggan (berkehendak) kecuali untuk menyempurnakan cahaya-Nya, kendatipun orang-orang kafir benci. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu", orang-orang yang telah disebutkan karakteristiknya ﴾ فِي ضَلَٰلِۭ بَعِيدٖ ﴿ "berada dalam kesesatan yang jauh", karena mereka telah sesat dan menyesatkan (orang lain) serta menantang dan memusuhi Allah dan RasulNya. Apakah ada bentuk kesesatan yang lebih parah dari ini? Sedangkan orang-orang yang beriman, jelas berbeda dengan mereka, mereka mengimani Allah dan ayat-ayatNya, lebih mencintai akhirat daripada dunia, menyeru kepada jalan Allah serta berupaya menggambarkannya dengan citra yang baik semampu mereka dan menjelaskan unsur konsistensinya.
Ibrahim 14:3
"Alif, lam ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang, dengan izin Rabb mereka (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Allah yang me-miliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan mengingin-kan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kese-satan yang jauh." (Ibrahim: 1-3).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"
(1-2) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah menurunkan kitabNya kepada RasulNya Muhammad, demi kemaslahatan para makhluk. Yaitu untuk mengentaskan manusia dari kegelapan ke-bodohan, kekufuran, dan perangai-perangai yang buruk serta be-ragam maksiat menuju cahaya ilmu, iman dan akhlak yang baik. Firman Allah ﴾ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ ﴿ "dengan izin Rabb mereka", maksud-nya tidak akan terwujud hal yang mereka sukai karena (mencari ridha) Allah, melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah. Hal ini mengandung anjuran bagi para hamba untuk meminta bantuan kepada Rabb mereka. Kemudian Allah menerangkan arti 'cahaya' yang mana kitab ini memberi petunjuk mereka kepada cahaya itu seraya berfirman, ﴾ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ﴿ "(yaitu) menuju jalan Rabb Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji," maksudnya jalan yang menghubungkan kepadaNya dan ke kampung kemuliaan-Nya, yang mencakup penguasaan ilmu kebenaran dan pengamalan-nya. Dalam penyebutan nama Allah al-'Aziz dan al-Hamid (Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji) sesudah penyebutan jalan yang menghubungkan menuju kemuliaanNya secara implisit, terkandung isyarat bahwa siapa saja yang menelusurinya (jalan tersebut), maka dia akan menjadi orang yang penuh kemuliaan dengan kemuliaan dari Allah, insan yang kuat meskipun tanpa pendukung kecuali Allah, terpuji dalam segala urusannya, dan akhir hidupnya pun baik. Itu semua sungguh membuktikan bahwa jalan Allah menjadi salah satu bukti kuat tentang kepemilikan Allah atas sifat-sifat yang sem-purna dan agung, dan bahwa Dzat yang menegakkan jembatan tersebut adalah Dzat yang mempunyai kekuasaan yang kuat, terpuji dalam setiap ucapan, tindakan dan ketetapan hukumNya, dan bah-wa Dia diibadahi dengan berbagai jenis ibadah yang merupakan anak tangga menuju Sirath al-Mustaqim. Dan bahwa sebagaimana Allah menguasai kerajaan langit dan bumi, dalam aspek penciptaan, pemberian rizki dan pengaturan, maka Dia juga menguasai hak penetapan hukum atas hamba-hambaNya dengan hukum-hukum agama. Sebab mereka adalah milikNya, dan tidak sepantasnya bagi Allah membiarkan mereka begitu saja dengan sia-sia. Usai menerangkan dalil dan buktinya, maka Allah mengan-cam orang-orang yang tidak patuh terhadap ketentuan tersebut. Allah berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ مِنۡ عَذَابٖ شَدِيدٍ ﴿ "Dan celakalah orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih", yang tidak bisa diper-kirakan kadar tingkat (kepedihan)nya dan tidak bisa dideskripsi-kan hakikat siksaanNya.
(3) Berikutnya, Allah menceritakan sifat-sifat mereka. Me-reka adalah orang-orang yang menyukai ﴾ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا عَلَى ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "ke-hidupan dunia daripada kehidupan akhirat." Mereka begitu gandrung kepadanya dan merasa tentram dengannya serta melalaikan akhirat. ﴾ وَيَصُدُّونَ ﴿ "Dan menghalang-halangi", orang-orang ﴾ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dari jalan Allah", yang mana Allah telah menentukannya bagi hamba-hambaNya dan menjelaskannya di dalam kitab-kitabNya melalui penjelasan para RasulNya. Mereka itu telah menentang Pelindung mereka dengan perseteruan dan peperangan ﴾ وَيَبۡغُونَهَا ﴿ "dan mengingin-kan agar jalan itu" yaitu jalan Allah ﴾ عِوَجًاۚ ﴿ "bengkok." Mereka begitu semangat berupaya memperburuk citranya dan mendiskreditkan-nya untuk tujuan menjauhkan (orang-orang) darinya. Tetapi Allah enggan (berkehendak) kecuali untuk menyempurnakan cahaya-Nya, kendatipun orang-orang kafir benci. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu", orang-orang yang telah disebutkan karakteristiknya ﴾ فِي ضَلَٰلِۭ بَعِيدٖ ﴿ "berada dalam kesesatan yang jauh", karena mereka telah sesat dan menyesatkan (orang lain) serta menantang dan memusuhi Allah dan RasulNya. Apakah ada bentuk kesesatan yang lebih parah dari ini? Sedangkan orang-orang yang beriman, jelas berbeda dengan mereka, mereka mengimani Allah dan ayat-ayatNya, lebih mencintai akhirat daripada dunia, menyeru kepada jalan Allah serta berupaya menggambarkannya dengan citra yang baik semampu mereka dan menjelaskan unsur konsistensinya.
Ibrahim 14:4
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan de-ngan bahasa kaumnya, supaya dia dapat memberi penjelasan de-ngan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehen-daki. Dan Dia-lah Rabb Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Ibrahim: 4).
(4) Ini salah satu bentuk sifat kelembutan Allah kepada hamba-hambaNya, yaitu Allah tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, untuk menjelaskan kepada mereka tentang hal-hal yang mereka butuhkan, dan membuat mereka mampu mempelajari risalah yang dia bawa. Berbeda halnya, bila datang bukan dengan bahasa (komunikasi) mereka, maka tentu mereka akan memerlukan proses pembelajaran bahasa yang dipakai-nya dalam berkomunikasi, baru kemudian bisa memahaminya. Jika rasul tersebut telah menjelaskan [bagi mereka] tentang perintah dan larangan yang terarah kepada mereka, dan sudah tegak hujjah Allah di hadapan mereka ﴾ فَيُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ ﴿ "maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki", dari orang-orang yang tidak tunduk ke-pada hidayahNya ﴾ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki", dari orang-orang yang Allah istimewakan de-ngan rahmatNya ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "dan Dia-lah Rabb Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana," yang mana termasuk dari keperkasaan Allah, bahwa Dia-lah Dzat satu-satunya yang memiliki kekuasaan memberi hidayah dan menyesatkan serta membolak-balikkan hati kepada kondisi yang Dia kehendaki. Termasuk dari hikmahNya adalah, Dia tidak menempatkan hidayah dan ketetapan sesatNya kecuali pada tempat yang pantas. Ayat yang mulia ini bisa dijadikan sebagai dalil, bahwa (mem-pelajari) ilmu-ilmu bahasa Arab yang akan membantu menjelas-kan Firman Allah dan ucapan RasulNya merupakan tuntutan dan perkara yang disukai Allah. Sebab pengetahuan tentang wahyu yang Allah turunkan kepada RasulNya hanya tercapai dengannya, kecuali bila orang-orang dalam kondisi tidak membutuhkannya. Hal itu bisa diwujudkan apabila mereka telah terlatih dengan ba-hasa Arab, dan anak-anak mereka tumbuh dengannya serta sudah menjadi kebiasaan mereka. Saat itulah, mereka telah menuntaskan masalah dan layak bisa langsung menerima dari Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana yang dilakukan para sahabat رضي الله عنهم.
Ibrahim 14:5
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan mem-bawa ayat-ayat Kami, dan Kami perintahkan kepadanya, 'Keluar-kanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.' Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) peng-ikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Rabbmu.' Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.' Dan Musa berkata, 'Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi se-muanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji'." (Ibrahim: 5-8).
(5) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia mengirim Musa dengan dibekali ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang agung, yang menunjukkan kejujuran dan kebenaran misi yang dia bawa. Dan Allah telah memerintahkan Musa dengan sesuatu yang juga Dia perintahkan kepada RasulNya Muhammad, bahkan ke-pada seluruh RasulNya dan kaum mereka, yaitu ﴾ أَنۡ أَخۡرِجۡ قَوۡمَكَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ﴿ "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang", dari kegelapan kebodohan, kekufuran dan cabang-cabangnya menuju cahaya ilmu, iman, dan ranting-rantingnya. ﴾ وَذَكِّرۡهُم بِأَيَّىٰمِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah", dengan nikmat-nikmatNya serta curahan kebaikanNya pada mereka, mengingatkan sejarah-sejarah tentang umat-umat yang mendustakan (ajaran Allah) serta peristiwa-peristiwa yang Allah (timpakan) kepada orang-orang kafir. Tujuannya, agar mereka mensyukuri nikmat-nikmatNya dan berhati-hati dari siksaNya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu", sejarah-sejarah ketentuan Allah terhadap hamba-hambaNya, ﴾ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ﴿ "terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang penyabar lagi banyak bersyukur," yaitu orang yang sangat sabar ter-hadap kesengsaraan, kesulitan, dan himpitan hidup, bersyukur atas kesenangan dan kenikmatanNya. Sesungguhnya kejadian-ke-jadian (yang telah Allah tentukan) bisa dijadikan bukti kesempur-naan kekuasaanNya dan luasnya kebaikanNya serta paripurnanya sifat keadilan dan kebijaksanaanNya.
(6) Oleh karenanya, Musa menaati perintah Rabbnya. Dia mengingatkan mereka tentang nikmat-nikmatNya pada mereka. Ia berkata, ﴾ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Ingatlah nikmat Allah atasmu", dengan hati dan lisan kalian ﴾ إِذۡ أَنجَىٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ يَسُومُونَكُمۡ ﴿ "ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu," mereka menimpakan pada kalian ﴾ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "siksa yang pedih," maksudnya yang paling keras. Musa menjelaskannya dengan berkata, ﴾ وَيُذَبِّحُونَ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ ﴿ "Mereka menyem-belih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu", membiarkan mereka (para wanita), tidak membunuhi mereka. ﴾ وَفِي ذَٰلِكُم ﴿ "Dan pada yang demikian itu", penyelamatan bagi mereka ﴾ بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ ﴿ "ada cobaan yang besar dari Rabbmu", yaitu kenikmatan agung atau maksudnya dalam siksaan (yang ka-lian teruji dengannya yang berasal dari Fir'aun dan para pembesar-nya) terdapat ujian besar dari Allah, untuk melihat apakah kalian bersabar ataukah tidak?
(7) Dia berkata kepada kaumnya untuk menghimbau mereka supaya mensyukuri nikmat-nikmat Allah, ﴾ وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan", maksudnya memberi-tahukan dan menjanjikan ﴾ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu", dari nikmat-nikmatKu. ﴾ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ﴿ "Dan jika kamu menging-kari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih", dan di antara bentuk siksaNya, adalah Allah akan melenyapkan nikmat yang telah Allah curahkan dari mereka. Bersyukur hakikatnya, pe-ngakuan hati terhadap nikmat-nikmat Allah dan menyanjung Allah karenanya, serta mempergunakannya dalam keridhaan Allah. Se-mentara, pengingkaran terhadap nikmat Allah mempunyai penger-tian yang berlawanan dengannya.
(8) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِن تَكۡفُرُوٓاْ أَنتُمۡ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Dan Musa berkata, 'Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah)", maka kalian tidak akan pernah bisa membahayakan Allah sedikit pun. Sesungguhnya, Allah Mahakaya lagi Terpuji. Ketaatan-ketaatan (yang dikerjakan makhluk) tidak menambah apa pun dalam kerajaanNya. Demikian juga maksiat-maksiat (mereka) tidak mengurangi keutuhan kerajaanNya. Dia sempurna kekayaan-Nya, terpuji dalam dzat, nama-nama, sifat-sifat, serta perbuatan-perbuatanNya. Dia tidak mempunyai sifat melainkan segala sifat yang mengandung pujian dan kesempurnaan, dan tidak memiliki nama kecuali segala nama yang baik, dan tidak bertindak kecuali segala tindakan yang baik.
Ibrahim 14:6
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan mem-bawa ayat-ayat Kami, dan Kami perintahkan kepadanya, 'Keluar-kanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.' Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) peng-ikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Rabbmu.' Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.' Dan Musa berkata, 'Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi se-muanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji'." (Ibrahim: 5-8).
(5) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia mengirim Musa dengan dibekali ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang agung, yang menunjukkan kejujuran dan kebenaran misi yang dia bawa. Dan Allah telah memerintahkan Musa dengan sesuatu yang juga Dia perintahkan kepada RasulNya Muhammad, bahkan ke-pada seluruh RasulNya dan kaum mereka, yaitu ﴾ أَنۡ أَخۡرِجۡ قَوۡمَكَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ﴿ "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang", dari kegelapan kebodohan, kekufuran dan cabang-cabangnya menuju cahaya ilmu, iman, dan ranting-rantingnya. ﴾ وَذَكِّرۡهُم بِأَيَّىٰمِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah", dengan nikmat-nikmatNya serta curahan kebaikanNya pada mereka, mengingatkan sejarah-sejarah tentang umat-umat yang mendustakan (ajaran Allah) serta peristiwa-peristiwa yang Allah (timpakan) kepada orang-orang kafir. Tujuannya, agar mereka mensyukuri nikmat-nikmatNya dan berhati-hati dari siksaNya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu", sejarah-sejarah ketentuan Allah terhadap hamba-hambaNya, ﴾ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ﴿ "terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang penyabar lagi banyak bersyukur," yaitu orang yang sangat sabar ter-hadap kesengsaraan, kesulitan, dan himpitan hidup, bersyukur atas kesenangan dan kenikmatanNya. Sesungguhnya kejadian-ke-jadian (yang telah Allah tentukan) bisa dijadikan bukti kesempur-naan kekuasaanNya dan luasnya kebaikanNya serta paripurnanya sifat keadilan dan kebijaksanaanNya.
(6) Oleh karenanya, Musa menaati perintah Rabbnya. Dia mengingatkan mereka tentang nikmat-nikmatNya pada mereka. Ia berkata, ﴾ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Ingatlah nikmat Allah atasmu", dengan hati dan lisan kalian ﴾ إِذۡ أَنجَىٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ يَسُومُونَكُمۡ ﴿ "ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu," mereka menimpakan pada kalian ﴾ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "siksa yang pedih," maksudnya yang paling keras. Musa menjelaskannya dengan berkata, ﴾ وَيُذَبِّحُونَ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ ﴿ "Mereka menyem-belih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu", membiarkan mereka (para wanita), tidak membunuhi mereka. ﴾ وَفِي ذَٰلِكُم ﴿ "Dan pada yang demikian itu", penyelamatan bagi mereka ﴾ بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ ﴿ "ada cobaan yang besar dari Rabbmu", yaitu kenikmatan agung atau maksudnya dalam siksaan (yang ka-lian teruji dengannya yang berasal dari Fir'aun dan para pembesar-nya) terdapat ujian besar dari Allah, untuk melihat apakah kalian bersabar ataukah tidak?
(7) Dia berkata kepada kaumnya untuk menghimbau mereka supaya mensyukuri nikmat-nikmat Allah, ﴾ وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan", maksudnya memberi-tahukan dan menjanjikan ﴾ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu", dari nikmat-nikmatKu. ﴾ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ﴿ "Dan jika kamu menging-kari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih", dan di antara bentuk siksaNya, adalah Allah akan melenyapkan nikmat yang telah Allah curahkan dari mereka. Bersyukur hakikatnya, pe-ngakuan hati terhadap nikmat-nikmat Allah dan menyanjung Allah karenanya, serta mempergunakannya dalam keridhaan Allah. Se-mentara, pengingkaran terhadap nikmat Allah mempunyai penger-tian yang berlawanan dengannya.
(8) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِن تَكۡفُرُوٓاْ أَنتُمۡ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Dan Musa berkata, 'Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah)", maka kalian tidak akan pernah bisa membahayakan Allah sedikit pun. Sesungguhnya, Allah Mahakaya lagi Terpuji. Ketaatan-ketaatan (yang dikerjakan makhluk) tidak menambah apa pun dalam kerajaanNya. Demikian juga maksiat-maksiat (mereka) tidak mengurangi keutuhan kerajaanNya. Dia sempurna kekayaan-Nya, terpuji dalam dzat, nama-nama, sifat-sifat, serta perbuatan-perbuatanNya. Dia tidak mempunyai sifat melainkan segala sifat yang mengandung pujian dan kesempurnaan, dan tidak memiliki nama kecuali segala nama yang baik, dan tidak bertindak kecuali segala tindakan yang baik.
Ibrahim 14:7
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan mem-bawa ayat-ayat Kami, dan Kami perintahkan kepadanya, 'Keluar-kanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.' Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) peng-ikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Rabbmu.' Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.' Dan Musa berkata, 'Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi se-muanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji'." (Ibrahim: 5-8).
(5) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia mengirim Musa dengan dibekali ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang agung, yang menunjukkan kejujuran dan kebenaran misi yang dia bawa. Dan Allah telah memerintahkan Musa dengan sesuatu yang juga Dia perintahkan kepada RasulNya Muhammad, bahkan ke-pada seluruh RasulNya dan kaum mereka, yaitu ﴾ أَنۡ أَخۡرِجۡ قَوۡمَكَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ﴿ "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang", dari kegelapan kebodohan, kekufuran dan cabang-cabangnya menuju cahaya ilmu, iman, dan ranting-rantingnya. ﴾ وَذَكِّرۡهُم بِأَيَّىٰمِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah", dengan nikmat-nikmatNya serta curahan kebaikanNya pada mereka, mengingatkan sejarah-sejarah tentang umat-umat yang mendustakan (ajaran Allah) serta peristiwa-peristiwa yang Allah (timpakan) kepada orang-orang kafir. Tujuannya, agar mereka mensyukuri nikmat-nikmatNya dan berhati-hati dari siksaNya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu", sejarah-sejarah ketentuan Allah terhadap hamba-hambaNya, ﴾ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ﴿ "terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang penyabar lagi banyak bersyukur," yaitu orang yang sangat sabar ter-hadap kesengsaraan, kesulitan, dan himpitan hidup, bersyukur atas kesenangan dan kenikmatanNya. Sesungguhnya kejadian-ke-jadian (yang telah Allah tentukan) bisa dijadikan bukti kesempur-naan kekuasaanNya dan luasnya kebaikanNya serta paripurnanya sifat keadilan dan kebijaksanaanNya.
(6) Oleh karenanya, Musa menaati perintah Rabbnya. Dia mengingatkan mereka tentang nikmat-nikmatNya pada mereka. Ia berkata, ﴾ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Ingatlah nikmat Allah atasmu", dengan hati dan lisan kalian ﴾ إِذۡ أَنجَىٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ يَسُومُونَكُمۡ ﴿ "ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu," mereka menimpakan pada kalian ﴾ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "siksa yang pedih," maksudnya yang paling keras. Musa menjelaskannya dengan berkata, ﴾ وَيُذَبِّحُونَ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ ﴿ "Mereka menyem-belih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu", membiarkan mereka (para wanita), tidak membunuhi mereka. ﴾ وَفِي ذَٰلِكُم ﴿ "Dan pada yang demikian itu", penyelamatan bagi mereka ﴾ بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ ﴿ "ada cobaan yang besar dari Rabbmu", yaitu kenikmatan agung atau maksudnya dalam siksaan (yang ka-lian teruji dengannya yang berasal dari Fir'aun dan para pembesar-nya) terdapat ujian besar dari Allah, untuk melihat apakah kalian bersabar ataukah tidak?
(7) Dia berkata kepada kaumnya untuk menghimbau mereka supaya mensyukuri nikmat-nikmat Allah, ﴾ وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan", maksudnya memberi-tahukan dan menjanjikan ﴾ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu", dari nikmat-nikmatKu. ﴾ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ﴿ "Dan jika kamu menging-kari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih", dan di antara bentuk siksaNya, adalah Allah akan melenyapkan nikmat yang telah Allah curahkan dari mereka. Bersyukur hakikatnya, pe-ngakuan hati terhadap nikmat-nikmat Allah dan menyanjung Allah karenanya, serta mempergunakannya dalam keridhaan Allah. Se-mentara, pengingkaran terhadap nikmat Allah mempunyai penger-tian yang berlawanan dengannya.
(8) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِن تَكۡفُرُوٓاْ أَنتُمۡ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Dan Musa berkata, 'Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah)", maka kalian tidak akan pernah bisa membahayakan Allah sedikit pun. Sesungguhnya, Allah Mahakaya lagi Terpuji. Ketaatan-ketaatan (yang dikerjakan makhluk) tidak menambah apa pun dalam kerajaanNya. Demikian juga maksiat-maksiat (mereka) tidak mengurangi keutuhan kerajaanNya. Dia sempurna kekayaan-Nya, terpuji dalam dzat, nama-nama, sifat-sifat, serta perbuatan-perbuatanNya. Dia tidak mempunyai sifat melainkan segala sifat yang mengandung pujian dan kesempurnaan, dan tidak memiliki nama kecuali segala nama yang baik, dan tidak bertindak kecuali segala tindakan yang baik.
Ibrahim 14:8
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan mem-bawa ayat-ayat Kami, dan Kami perintahkan kepadanya, 'Keluar-kanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.' Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) peng-ikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Rabbmu.' Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.' Dan Musa berkata, 'Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi se-muanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji'." (Ibrahim: 5-8).
(5) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia mengirim Musa dengan dibekali ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang agung, yang menunjukkan kejujuran dan kebenaran misi yang dia bawa. Dan Allah telah memerintahkan Musa dengan sesuatu yang juga Dia perintahkan kepada RasulNya Muhammad, bahkan ke-pada seluruh RasulNya dan kaum mereka, yaitu ﴾ أَنۡ أَخۡرِجۡ قَوۡمَكَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ﴿ "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang", dari kegelapan kebodohan, kekufuran dan cabang-cabangnya menuju cahaya ilmu, iman, dan ranting-rantingnya. ﴾ وَذَكِّرۡهُم بِأَيَّىٰمِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah", dengan nikmat-nikmatNya serta curahan kebaikanNya pada mereka, mengingatkan sejarah-sejarah tentang umat-umat yang mendustakan (ajaran Allah) serta peristiwa-peristiwa yang Allah (timpakan) kepada orang-orang kafir. Tujuannya, agar mereka mensyukuri nikmat-nikmatNya dan berhati-hati dari siksaNya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu", sejarah-sejarah ketentuan Allah terhadap hamba-hambaNya, ﴾ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ﴿ "terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang penyabar lagi banyak bersyukur," yaitu orang yang sangat sabar ter-hadap kesengsaraan, kesulitan, dan himpitan hidup, bersyukur atas kesenangan dan kenikmatanNya. Sesungguhnya kejadian-ke-jadian (yang telah Allah tentukan) bisa dijadikan bukti kesempur-naan kekuasaanNya dan luasnya kebaikanNya serta paripurnanya sifat keadilan dan kebijaksanaanNya.
(6) Oleh karenanya, Musa menaati perintah Rabbnya. Dia mengingatkan mereka tentang nikmat-nikmatNya pada mereka. Ia berkata, ﴾ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Ingatlah nikmat Allah atasmu", dengan hati dan lisan kalian ﴾ إِذۡ أَنجَىٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ يَسُومُونَكُمۡ ﴿ "ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu," mereka menimpakan pada kalian ﴾ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "siksa yang pedih," maksudnya yang paling keras. Musa menjelaskannya dengan berkata, ﴾ وَيُذَبِّحُونَ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ ﴿ "Mereka menyem-belih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu", membiarkan mereka (para wanita), tidak membunuhi mereka. ﴾ وَفِي ذَٰلِكُم ﴿ "Dan pada yang demikian itu", penyelamatan bagi mereka ﴾ بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ ﴿ "ada cobaan yang besar dari Rabbmu", yaitu kenikmatan agung atau maksudnya dalam siksaan (yang ka-lian teruji dengannya yang berasal dari Fir'aun dan para pembesar-nya) terdapat ujian besar dari Allah, untuk melihat apakah kalian bersabar ataukah tidak?
(7) Dia berkata kepada kaumnya untuk menghimbau mereka supaya mensyukuri nikmat-nikmat Allah, ﴾ وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan", maksudnya memberi-tahukan dan menjanjikan ﴾ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu", dari nikmat-nikmatKu. ﴾ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ﴿ "Dan jika kamu menging-kari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih", dan di antara bentuk siksaNya, adalah Allah akan melenyapkan nikmat yang telah Allah curahkan dari mereka. Bersyukur hakikatnya, pe-ngakuan hati terhadap nikmat-nikmat Allah dan menyanjung Allah karenanya, serta mempergunakannya dalam keridhaan Allah. Se-mentara, pengingkaran terhadap nikmat Allah mempunyai penger-tian yang berlawanan dengannya.
(8) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِن تَكۡفُرُوٓاْ أَنتُمۡ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Dan Musa berkata, 'Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah)", maka kalian tidak akan pernah bisa membahayakan Allah sedikit pun. Sesungguhnya, Allah Mahakaya lagi Terpuji. Ketaatan-ketaatan (yang dikerjakan makhluk) tidak menambah apa pun dalam kerajaanNya. Demikian juga maksiat-maksiat (mereka) tidak mengurangi keutuhan kerajaanNya. Dia sempurna kekayaan-Nya, terpuji dalam dzat, nama-nama, sifat-sifat, serta perbuatan-perbuatanNya. Dia tidak mempunyai sifat melainkan segala sifat yang mengandung pujian dan kesempurnaan, dan tidak memiliki nama kecuali segala nama yang baik, dan tidak bertindak kecuali segala tindakan yang baik.
Ibrahim 14:9
"Belumkah sampai (kepada kamu) berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Allah. Telah datang rasul-rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata, 'Sesungguhnya kami mengingkari sesuatu yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesung-guhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisah-kan terhadap sesuatu yang kamu ajak kami kepadanya.' Rasul-rasul mereka berkata, 'Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi, Dia menyeru kamu untuk memberi am-punan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)-mu sampai masa yang ditentukan.' Mereka berkata, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari sesuatu yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.' Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, 'Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. Dan tidak patut bagi kami mendatang-kan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakal. Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami.' Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri." (Ibrahim: 9-12).
(9) Allah berkata untuk menakut-nakuti para hambaNya dengan azab yang telah Dia timpakan kepada bangsa-bangsa yang mendustakan ketika telah didatangi oleh para rasul lalu mereka justru mengingkari para rasul. Maka Allah menghukumi mereka dengan siksaan cepat yang dapat disaksikan dan didengar oleh orang-orang. Allah berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَبَؤُاْ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ ﴿ "Belumkah sampai (kepada kamu) berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud", sungguh Allah telah mengetengahkan cerita-cerita tentang mereka di dalam kitabNya dan menerangkan-nya dengan panjang lebar. ﴾ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ لَا يَعۡلَمُهُمۡ إِلَّا ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Allah", karena jumlah mereka banyak dan karena sejarah-sejarah tentang mereka telah tertelan oleh masa. Mereka semua ﴾ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "para rasul telah datang kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata", dengan bermacam-macam bukti tentang kebenaran yang mereka bawa. Allah tidaklah mengutus seorang rasul melainkan pasti dibekali dengan bukti-bukti yang menjadikan orang-orang beriman dengan mukjizat semacam itu. Ketika para rasul telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan, tapi mereka belum tunduk kepadanya (bukti-bukti tersebut), justru malah bersikap sombong terhadapnya ﴾ فَرَدُّوٓاْ أَيۡدِيَهُمۡ فِيٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian)", maksudnya mereka tidak beriman dengan risalah yang dibawa oleh para rasul, tidak mengatakan sedikit pun yang menunjukkan keimanan. Seperti FirmanNya, ﴾ يَجۡعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِۚ ﴿ "Mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (men-dengar suara) petir, sebab takut akan mati." (Al-Baqarah: 19) ﴾ وَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan mereka berkata", kepada para rasul dengan te-rang-terangan, ﴾ إِنَّا كَفَرۡنَا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ وَإِنَّا لَفِي شَكّٖ مِّمَّا تَدۡعُونَنَآ إِلَيۡهِ مُرِيبٖ ﴿ "Sesungguh-nya kami mengingkari sesuatu yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap sesuatu yang kamu ajak kami kepadanya", maksudnya pada posisi ragu-ragu.
(10) Dan sungguh mereka telah mendustakannya dan telah berbuat kezhaliman. Oleh karenanya, ﴾ قَالَتۡ رُسُلُهُمۡ ﴿ "para rasul ber-kata", kepada mereka, ﴾ أَفِي ٱللَّهِ شَكّٞ ﴿ "Apakah ada keragu-raguan tentang Allah", sesungguhnya itu merupakan sebuah perkara yang sangat jelas dan terang. Siapa saja yang meragukan tentang Allah ﴾ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Pencipta langit dan bumi", yang keberadaan segala sesuatu tergantung pada wujudNya. Tidak ada seorang makhluk hebat pun di sisi Allah yang memiliki pengetahuan hingga pada hal-hal yang bisa dicerna dengan panca indera. Karenanya, para rasul mengajak bicara mereka sebagaimana komunikasi kepada orang yang tidak syak lagi tentangNya, dan tidak pantas untuk terjadinya keraguan padaNya. ﴾ يَدۡعُوكُمۡ ﴿ "Dia menyeru kamu", kepada beragam kemanfaat-an dan kemaslahatan bagi kalian ﴾ لِيَغۡفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُؤَخِّرَكُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ ﴿ "untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan me-nangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan", maksudnya agar Allah memberikan pahala yang bersifat segera dan yang ter-tunda atas sambutan kalian terhadap seruanNya. Allah menyeru kalian bukan untuk (kepentingan) mencari manfaat dari ibadah kalian, justru nilai manfaatnya berbalik kembali kepada kalian. Maka mereka membantah para rasul dengan bantahan yang biasa dilon-tarkan orang-orang bodoh lagi tidak berakal, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata" kepada para rasul, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga", maksudnya bagaimana bisa, kalian mengungguli kami dengan nubuwwat (kenabian) dan risalah (kerasulan)? ﴾ تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Kamu menghendaki untuk meng-halang-halangi (membelokkan) kami dari sesuatu yang selalu disembah nenek moyang kami", bagaimana mungkin kami bisa meninggalkan ideologi nenek moyang kami dan sejarah mereka karena jalan pi-kiran nalarmu? Bagaimana kami menaatimu padahal kamu itu ma-nusia juga seperti kami? ﴾ فَأۡتُونَا بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ﴿ "Karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata", yaitu dengan hujah yang terang lagi jelas. Yang dimaksud dengan bukti adalah bukti yang mereka minta. Kalau tidak demikian yang dimaksud, maka seperti sudah dikemu-kakan, bahwa para rasul telah membawa bukti-bukti kebenaran kepada mereka.
(11) ﴾ قَالَتۡ لَهُمۡ رُسُلُهُمۡ ﴿ "Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka", untuk menjawab usulan dan sanggahan mereka ﴾ إِن نَّحۡنُ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ ﴿ "kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu", memang benar, dan demikianlah hakikatnya, kami adalah manusia (biasa) seperti kalian, ﴾ وَلَٰكِنَّ ﴿ "akan tetapi", bukan berarti kondisi itu menyebabkan penolakan terhadap risalah yang kami bawa yang berbentuk kebe-naran. Sesungguhnya ﴾ ٱللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya", apabila Allah telah menganugerahkan karunia kepada kami dengan memberi wahyu dan risalahNya, maka itu merupakan keutamaan dan kebaikan Allah bagi kami. Tidak ada seorang pun yang berhak membatasi Allah dalam mencurahkan keutamaan dan kebaikan-Nya, dan menghalanginya dari mengalirkan keutamaan dariNya. Maka, perhatikanlah risalah yang kami bawa kepada kalian. Jika merupakan kebenaran, maka terimalah. Jika memang bukan, maka tampiklah. Janganlah kalian menjadikan kondisi kami sebagai ala-san buat kalian untuk menampik risalah yang kami bawa kepada kalian. Ucapan kalian, ﴾ فَأۡتُونَا بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ﴿ "karena itu, datangkanlah kepada kami bukti yang nyata", sesungguhnya wewenang itu bukan berada di tangan kami, kami tidak mempunyai hak pengaturan se-dikit pun. ﴾ وَمَا كَانَ لَنَآ أَن نَّأۡتِيَكُم بِسُلۡطَٰنٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah", Dia-lah, Dzat yang bila berkehendak, niscaya akan mendatangkan-nya kepada kalian. Dan bila (tidak) berkehendak, maka tidak mem-bawakannya kepada kalian. Dia tidak bertindak kecuali dengan tindakan yang menuntut hikmah dan rahmat. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah", tidak kepada selainNya ﴾ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "maka hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakal", mereka bergan-tung kepadaNya dalam memperoleh kebaikan-kebaikan dan mene-pis bahaya. Karena, mereka mengetahui tentang kesempurnaan penanganan dan kekuasaanNya, dan luasnya cakupan kebaikan-Nya. Maka, mereka begitu percaya kepadaNya dalam memudahkan urusan tersebut. Tergantung pada tingkat keimanan yang ada pada merekalah, kualitas tawakal mereka kepada Allah. Dengan ini, dapat diketahui, wajibnya bertawakal kepada Allah, dan bahwa ia ter-masuk kelaziman dari keimanan, dan juga termasuk ibadah besar yang dicintai dan diridhai oleh Allah, lantaran segenap ibadah ter-paku dengannya.
(12) ﴾ وَمَا لَنَآ أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنَا سُبُلَنَاۚ ﴿ "Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami", apakah yang menghalangi kami untuk bertawakal kepada Allah? Sementara kondisi kami berada di atas kebenaran dan hidayah. Barangsiapa berada di atas kebenaran dan petunjuk, maka hidayah (yang dia genggam) akan mengarahkannya menuju kesempurnaan dalam bertawakal. Begitu pula yang telah diketahui, bahwa Allah akan menjamin untuk menolong dan menangani urusan orang yang mendapatkan hidayah, yang menyeru kepadanya. Berbeda halnya dengan orang yang tidak berdiri di atas kebenaran dan hidayah, maka dia bukan orang yang dijamin oleh Allah. Sepak terjangnya berlawanan dengan karakter orang yang bertawakal. Dalam ucapan ini, sepertinya terdapat sinyal dari para rasul k kepada kaumnya dengan sebuah ayat yang agung, yaitu bahwa kaum mereka pada umumnya, mempunyai hegemoni dan penguasa-an atas para rasul. Maka para rasul itu menantang mereka (dengan bertawakal kepada Allah) dalam menghadapi tipu daya dan makar orang-orang yang mendustakan. Para rasul merasa benar-benar yakin dengan pertolongan Allah bagi mereka. Sungguh, Allah telah membebaskan mereka dari kejahatan kaumnya, padahal mereka begitu semangat dalam menghabisi para rasul dan memadamkan cahaya kebenaran yang mereka bawa. Sehingga ini laksana perkata-an Nuh kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكُم مَّقَامِي وَتَذۡكِيرِي بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَعَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡتُ فَأَجۡمِعُوٓاْ أَمۡرَكُمۡ وَشُرَكَآءَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُنۡ أَمۡرُكُمۡ عَلَيۡكُمۡ غُمَّةٗ ثُمَّ ٱقۡضُوٓاْ إِلَيَّ وَلَا تُنظِرُونِ 71 ﴿ "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal. Karena itu bulatkanlah keputusanmu (untuk membinasa-kanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (Yu-nus: 71). Dan seperti perkataan Hud عليه السلام, ﴾ قَالَ إِنِّيٓ أُشۡهِدُ ٱللَّهَ وَٱشۡهَدُوٓاْ أَنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ 54 مِن دُونِهِۦۖ فَكِيدُونِي جَمِيعٗا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ 55 ﴿ "Dia berkata, 'Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selainNya. Sebab itu, jalankanlah tipu dayamu semua-nya terhadapku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (Hud: 54-55). ﴾ وَلَنَصۡبِرَنَّ عَلَىٰ مَآ ءَاذَيۡتُمُونَاۚ ﴿ "Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami", kami akan (tetap) melanjutkan dakwah kepada kalian dan menasihati serta mengingatkan kalian. Kami tidak peduli dengan gangguan yang kalian gencarkan kepada kami. Kami akan menempa diri kami untuk menghadapi siksaan yang kami peroleh dari kalian, karena mengharapkan pahala dari Allah, dan demi untuk menasihati ka-lian. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian melalui banyaknya peringatan. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah", ke-padaNya semata, bukan selainNya ﴾ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ ﴿ "orang-orang yang bertawakal itu berserah diri", karena bertawakal kepadaNya merupa-kan kunci segala kebaikan. Ketahuilah, bahwa tingkatan tawakal para rasul k itu sudah berada di level paling atas dan kedudukan paling mulia. Yakni ta-wakal kepada Allah dalam menegakkan agamaNya, membela dan memberi hidayah kepada para hambaNya, serta dalam upaya peng-hapusan kesesatan dari mereka. Ini merupakan bentuk tawakal yang paling sempurna.
Ibrahim 14:10
"Belumkah sampai (kepada kamu) berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Allah. Telah datang rasul-rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata, 'Sesungguhnya kami mengingkari sesuatu yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesung-guhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisah-kan terhadap sesuatu yang kamu ajak kami kepadanya.' Rasul-rasul mereka berkata, 'Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi, Dia menyeru kamu untuk memberi am-punan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)-mu sampai masa yang ditentukan.' Mereka berkata, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari sesuatu yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.' Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, 'Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. Dan tidak patut bagi kami mendatang-kan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakal. Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami.' Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri." (Ibrahim: 9-12).
(9) Allah berkata untuk menakut-nakuti para hambaNya dengan azab yang telah Dia timpakan kepada bangsa-bangsa yang mendustakan ketika telah didatangi oleh para rasul lalu mereka justru mengingkari para rasul. Maka Allah menghukumi mereka dengan siksaan cepat yang dapat disaksikan dan didengar oleh orang-orang. Allah berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَبَؤُاْ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ ﴿ "Belumkah sampai (kepada kamu) berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud", sungguh Allah telah mengetengahkan cerita-cerita tentang mereka di dalam kitabNya dan menerangkan-nya dengan panjang lebar. ﴾ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ لَا يَعۡلَمُهُمۡ إِلَّا ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Allah", karena jumlah mereka banyak dan karena sejarah-sejarah tentang mereka telah tertelan oleh masa. Mereka semua ﴾ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "para rasul telah datang kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata", dengan bermacam-macam bukti tentang kebenaran yang mereka bawa. Allah tidaklah mengutus seorang rasul melainkan pasti dibekali dengan bukti-bukti yang menjadikan orang-orang beriman dengan mukjizat semacam itu. Ketika para rasul telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan, tapi mereka belum tunduk kepadanya (bukti-bukti tersebut), justru malah bersikap sombong terhadapnya ﴾ فَرَدُّوٓاْ أَيۡدِيَهُمۡ فِيٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian)", maksudnya mereka tidak beriman dengan risalah yang dibawa oleh para rasul, tidak mengatakan sedikit pun yang menunjukkan keimanan. Seperti FirmanNya, ﴾ يَجۡعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِۚ ﴿ "Mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (men-dengar suara) petir, sebab takut akan mati." (Al-Baqarah: 19) ﴾ وَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan mereka berkata", kepada para rasul dengan te-rang-terangan, ﴾ إِنَّا كَفَرۡنَا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ وَإِنَّا لَفِي شَكّٖ مِّمَّا تَدۡعُونَنَآ إِلَيۡهِ مُرِيبٖ ﴿ "Sesungguh-nya kami mengingkari sesuatu yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap sesuatu yang kamu ajak kami kepadanya", maksudnya pada posisi ragu-ragu.
(10) Dan sungguh mereka telah mendustakannya dan telah berbuat kezhaliman. Oleh karenanya, ﴾ قَالَتۡ رُسُلُهُمۡ ﴿ "para rasul ber-kata", kepada mereka, ﴾ أَفِي ٱللَّهِ شَكّٞ ﴿ "Apakah ada keragu-raguan tentang Allah", sesungguhnya itu merupakan sebuah perkara yang sangat jelas dan terang. Siapa saja yang meragukan tentang Allah ﴾ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Pencipta langit dan bumi", yang keberadaan segala sesuatu tergantung pada wujudNya. Tidak ada seorang makhluk hebat pun di sisi Allah yang memiliki pengetahuan hingga pada hal-hal yang bisa dicerna dengan panca indera. Karenanya, para rasul mengajak bicara mereka sebagaimana komunikasi kepada orang yang tidak syak lagi tentangNya, dan tidak pantas untuk terjadinya keraguan padaNya. ﴾ يَدۡعُوكُمۡ ﴿ "Dia menyeru kamu", kepada beragam kemanfaat-an dan kemaslahatan bagi kalian ﴾ لِيَغۡفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُؤَخِّرَكُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ ﴿ "untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan me-nangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan", maksudnya agar Allah memberikan pahala yang bersifat segera dan yang ter-tunda atas sambutan kalian terhadap seruanNya. Allah menyeru kalian bukan untuk (kepentingan) mencari manfaat dari ibadah kalian, justru nilai manfaatnya berbalik kembali kepada kalian. Maka mereka membantah para rasul dengan bantahan yang biasa dilon-tarkan orang-orang bodoh lagi tidak berakal, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata" kepada para rasul, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga", maksudnya bagaimana bisa, kalian mengungguli kami dengan nubuwwat (kenabian) dan risalah (kerasulan)? ﴾ تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Kamu menghendaki untuk meng-halang-halangi (membelokkan) kami dari sesuatu yang selalu disembah nenek moyang kami", bagaimana mungkin kami bisa meninggalkan ideologi nenek moyang kami dan sejarah mereka karena jalan pi-kiran nalarmu? Bagaimana kami menaatimu padahal kamu itu ma-nusia juga seperti kami? ﴾ فَأۡتُونَا بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ﴿ "Karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata", yaitu dengan hujah yang terang lagi jelas. Yang dimaksud dengan bukti adalah bukti yang mereka minta. Kalau tidak demikian yang dimaksud, maka seperti sudah dikemu-kakan, bahwa para rasul telah membawa bukti-bukti kebenaran kepada mereka.
(11) ﴾ قَالَتۡ لَهُمۡ رُسُلُهُمۡ ﴿ "Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka", untuk menjawab usulan dan sanggahan mereka ﴾ إِن نَّحۡنُ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ ﴿ "kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu", memang benar, dan demikianlah hakikatnya, kami adalah manusia (biasa) seperti kalian, ﴾ وَلَٰكِنَّ ﴿ "akan tetapi", bukan berarti kondisi itu menyebabkan penolakan terhadap risalah yang kami bawa yang berbentuk kebe-naran. Sesungguhnya ﴾ ٱللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya", apabila Allah telah menganugerahkan karunia kepada kami dengan memberi wahyu dan risalahNya, maka itu merupakan keutamaan dan kebaikan Allah bagi kami. Tidak ada seorang pun yang berhak membatasi Allah dalam mencurahkan keutamaan dan kebaikan-Nya, dan menghalanginya dari mengalirkan keutamaan dariNya. Maka, perhatikanlah risalah yang kami bawa kepada kalian. Jika merupakan kebenaran, maka terimalah. Jika memang bukan, maka tampiklah. Janganlah kalian menjadikan kondisi kami sebagai ala-san buat kalian untuk menampik risalah yang kami bawa kepada kalian. Ucapan kalian, ﴾ فَأۡتُونَا بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ﴿ "karena itu, datangkanlah kepada kami bukti yang nyata", sesungguhnya wewenang itu bukan berada di tangan kami, kami tidak mempunyai hak pengaturan se-dikit pun. ﴾ وَمَا كَانَ لَنَآ أَن نَّأۡتِيَكُم بِسُلۡطَٰنٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah", Dia-lah, Dzat yang bila berkehendak, niscaya akan mendatangkan-nya kepada kalian. Dan bila (tidak) berkehendak, maka tidak mem-bawakannya kepada kalian. Dia tidak bertindak kecuali dengan tindakan yang menuntut hikmah dan rahmat. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah", tidak kepada selainNya ﴾ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "maka hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakal", mereka bergan-tung kepadaNya dalam memperoleh kebaikan-kebaikan dan mene-pis bahaya. Karena, mereka mengetahui tentang kesempurnaan penanganan dan kekuasaanNya, dan luasnya cakupan kebaikan-Nya. Maka, mereka begitu percaya kepadaNya dalam memudahkan urusan tersebut. Tergantung pada tingkat keimanan yang ada pada merekalah, kualitas tawakal mereka kepada Allah. Dengan ini, dapat diketahui, wajibnya bertawakal kepada Allah, dan bahwa ia ter-masuk kelaziman dari keimanan, dan juga termasuk ibadah besar yang dicintai dan diridhai oleh Allah, lantaran segenap ibadah ter-paku dengannya.
(12) ﴾ وَمَا لَنَآ أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنَا سُبُلَنَاۚ ﴿ "Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami", apakah yang menghalangi kami untuk bertawakal kepada Allah? Sementara kondisi kami berada di atas kebenaran dan hidayah. Barangsiapa berada di atas kebenaran dan petunjuk, maka hidayah (yang dia genggam) akan mengarahkannya menuju kesempurnaan dalam bertawakal. Begitu pula yang telah diketahui, bahwa Allah akan menjamin untuk menolong dan menangani urusan orang yang mendapatkan hidayah, yang menyeru kepadanya. Berbeda halnya dengan orang yang tidak berdiri di atas kebenaran dan hidayah, maka dia bukan orang yang dijamin oleh Allah. Sepak terjangnya berlawanan dengan karakter orang yang bertawakal. Dalam ucapan ini, sepertinya terdapat sinyal dari para rasul k kepada kaumnya dengan sebuah ayat yang agung, yaitu bahwa kaum mereka pada umumnya, mempunyai hegemoni dan penguasa-an atas para rasul. Maka para rasul itu menantang mereka (dengan bertawakal kepada Allah) dalam menghadapi tipu daya dan makar orang-orang yang mendustakan. Para rasul merasa benar-benar yakin dengan pertolongan Allah bagi mereka. Sungguh, Allah telah membebaskan mereka dari kejahatan kaumnya, padahal mereka begitu semangat dalam menghabisi para rasul dan memadamkan cahaya kebenaran yang mereka bawa. Sehingga ini laksana perkata-an Nuh kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكُم مَّقَامِي وَتَذۡكِيرِي بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَعَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡتُ فَأَجۡمِعُوٓاْ أَمۡرَكُمۡ وَشُرَكَآءَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُنۡ أَمۡرُكُمۡ عَلَيۡكُمۡ غُمَّةٗ ثُمَّ ٱقۡضُوٓاْ إِلَيَّ وَلَا تُنظِرُونِ 71 ﴿ "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal. Karena itu bulatkanlah keputusanmu (untuk membinasa-kanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (Yu-nus: 71). Dan seperti perkataan Hud عليه السلام, ﴾ قَالَ إِنِّيٓ أُشۡهِدُ ٱللَّهَ وَٱشۡهَدُوٓاْ أَنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ 54 مِن دُونِهِۦۖ فَكِيدُونِي جَمِيعٗا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ 55 ﴿ "Dia berkata, 'Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selainNya. Sebab itu, jalankanlah tipu dayamu semua-nya terhadapku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (Hud: 54-55). ﴾ وَلَنَصۡبِرَنَّ عَلَىٰ مَآ ءَاذَيۡتُمُونَاۚ ﴿ "Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami", kami akan (tetap) melanjutkan dakwah kepada kalian dan menasihati serta mengingatkan kalian. Kami tidak peduli dengan gangguan yang kalian gencarkan kepada kami. Kami akan menempa diri kami untuk menghadapi siksaan yang kami peroleh dari kalian, karena mengharapkan pahala dari Allah, dan demi untuk menasihati ka-lian. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian melalui banyaknya peringatan. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah", ke-padaNya semata, bukan selainNya ﴾ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ ﴿ "orang-orang yang bertawakal itu berserah diri", karena bertawakal kepadaNya merupa-kan kunci segala kebaikan. Ketahuilah, bahwa tingkatan tawakal para rasul k itu sudah berada di level paling atas dan kedudukan paling mulia. Yakni ta-wakal kepada Allah dalam menegakkan agamaNya, membela dan memberi hidayah kepada para hambaNya, serta dalam upaya peng-hapusan kesesatan dari mereka. Ini merupakan bentuk tawakal yang paling sempurna.
Ibrahim 14:11
"Belumkah sampai (kepada kamu) berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Allah. Telah datang rasul-rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata, 'Sesungguhnya kami mengingkari sesuatu yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesung-guhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisah-kan terhadap sesuatu yang kamu ajak kami kepadanya.' Rasul-rasul mereka berkata, 'Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi, Dia menyeru kamu untuk memberi am-punan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)-mu sampai masa yang ditentukan.' Mereka berkata, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari sesuatu yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.' Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, 'Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. Dan tidak patut bagi kami mendatang-kan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakal. Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami.' Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri." (Ibrahim: 9-12).
(9) Allah berkata untuk menakut-nakuti para hambaNya dengan azab yang telah Dia timpakan kepada bangsa-bangsa yang mendustakan ketika telah didatangi oleh para rasul lalu mereka justru mengingkari para rasul. Maka Allah menghukumi mereka dengan siksaan cepat yang dapat disaksikan dan didengar oleh orang-orang. Allah berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَبَؤُاْ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ ﴿ "Belumkah sampai (kepada kamu) berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud", sungguh Allah telah mengetengahkan cerita-cerita tentang mereka di dalam kitabNya dan menerangkan-nya dengan panjang lebar. ﴾ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ لَا يَعۡلَمُهُمۡ إِلَّا ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Allah", karena jumlah mereka banyak dan karena sejarah-sejarah tentang mereka telah tertelan oleh masa. Mereka semua ﴾ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "para rasul telah datang kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata", dengan bermacam-macam bukti tentang kebenaran yang mereka bawa. Allah tidaklah mengutus seorang rasul melainkan pasti dibekali dengan bukti-bukti yang menjadikan orang-orang beriman dengan mukjizat semacam itu. Ketika para rasul telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan, tapi mereka belum tunduk kepadanya (bukti-bukti tersebut), justru malah bersikap sombong terhadapnya ﴾ فَرَدُّوٓاْ أَيۡدِيَهُمۡ فِيٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian)", maksudnya mereka tidak beriman dengan risalah yang dibawa oleh para rasul, tidak mengatakan sedikit pun yang menunjukkan keimanan. Seperti FirmanNya, ﴾ يَجۡعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِۚ ﴿ "Mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (men-dengar suara) petir, sebab takut akan mati." (Al-Baqarah: 19) ﴾ وَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan mereka berkata", kepada para rasul dengan te-rang-terangan, ﴾ إِنَّا كَفَرۡنَا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ وَإِنَّا لَفِي شَكّٖ مِّمَّا تَدۡعُونَنَآ إِلَيۡهِ مُرِيبٖ ﴿ "Sesungguh-nya kami mengingkari sesuatu yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap sesuatu yang kamu ajak kami kepadanya", maksudnya pada posisi ragu-ragu.
(10) Dan sungguh mereka telah mendustakannya dan telah berbuat kezhaliman. Oleh karenanya, ﴾ قَالَتۡ رُسُلُهُمۡ ﴿ "para rasul ber-kata", kepada mereka, ﴾ أَفِي ٱللَّهِ شَكّٞ ﴿ "Apakah ada keragu-raguan tentang Allah", sesungguhnya itu merupakan sebuah perkara yang sangat jelas dan terang. Siapa saja yang meragukan tentang Allah ﴾ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Pencipta langit dan bumi", yang keberadaan segala sesuatu tergantung pada wujudNya. Tidak ada seorang makhluk hebat pun di sisi Allah yang memiliki pengetahuan hingga pada hal-hal yang bisa dicerna dengan panca indera. Karenanya, para rasul mengajak bicara mereka sebagaimana komunikasi kepada orang yang tidak syak lagi tentangNya, dan tidak pantas untuk terjadinya keraguan padaNya. ﴾ يَدۡعُوكُمۡ ﴿ "Dia menyeru kamu", kepada beragam kemanfaat-an dan kemaslahatan bagi kalian ﴾ لِيَغۡفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُؤَخِّرَكُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ ﴿ "untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan me-nangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan", maksudnya agar Allah memberikan pahala yang bersifat segera dan yang ter-tunda atas sambutan kalian terhadap seruanNya. Allah menyeru kalian bukan untuk (kepentingan) mencari manfaat dari ibadah kalian, justru nilai manfaatnya berbalik kembali kepada kalian. Maka mereka membantah para rasul dengan bantahan yang biasa dilon-tarkan orang-orang bodoh lagi tidak berakal, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata" kepada para rasul, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga", maksudnya bagaimana bisa, kalian mengungguli kami dengan nubuwwat (kenabian) dan risalah (kerasulan)? ﴾ تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Kamu menghendaki untuk meng-halang-halangi (membelokkan) kami dari sesuatu yang selalu disembah nenek moyang kami", bagaimana mungkin kami bisa meninggalkan ideologi nenek moyang kami dan sejarah mereka karena jalan pi-kiran nalarmu? Bagaimana kami menaatimu padahal kamu itu ma-nusia juga seperti kami? ﴾ فَأۡتُونَا بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ﴿ "Karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata", yaitu dengan hujah yang terang lagi jelas. Yang dimaksud dengan bukti adalah bukti yang mereka minta. Kalau tidak demikian yang dimaksud, maka seperti sudah dikemu-kakan, bahwa para rasul telah membawa bukti-bukti kebenaran kepada mereka.
(11) ﴾ قَالَتۡ لَهُمۡ رُسُلُهُمۡ ﴿ "Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka", untuk menjawab usulan dan sanggahan mereka ﴾ إِن نَّحۡنُ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ ﴿ "kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu", memang benar, dan demikianlah hakikatnya, kami adalah manusia (biasa) seperti kalian, ﴾ وَلَٰكِنَّ ﴿ "akan tetapi", bukan berarti kondisi itu menyebabkan penolakan terhadap risalah yang kami bawa yang berbentuk kebe-naran. Sesungguhnya ﴾ ٱللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya", apabila Allah telah menganugerahkan karunia kepada kami dengan memberi wahyu dan risalahNya, maka itu merupakan keutamaan dan kebaikan Allah bagi kami. Tidak ada seorang pun yang berhak membatasi Allah dalam mencurahkan keutamaan dan kebaikan-Nya, dan menghalanginya dari mengalirkan keutamaan dariNya. Maka, perhatikanlah risalah yang kami bawa kepada kalian. Jika merupakan kebenaran, maka terimalah. Jika memang bukan, maka tampiklah. Janganlah kalian menjadikan kondisi kami sebagai ala-san buat kalian untuk menampik risalah yang kami bawa kepada kalian. Ucapan kalian, ﴾ فَأۡتُونَا بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ﴿ "karena itu, datangkanlah kepada kami bukti yang nyata", sesungguhnya wewenang itu bukan berada di tangan kami, kami tidak mempunyai hak pengaturan se-dikit pun. ﴾ وَمَا كَانَ لَنَآ أَن نَّأۡتِيَكُم بِسُلۡطَٰنٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah", Dia-lah, Dzat yang bila berkehendak, niscaya akan mendatangkan-nya kepada kalian. Dan bila (tidak) berkehendak, maka tidak mem-bawakannya kepada kalian. Dia tidak bertindak kecuali dengan tindakan yang menuntut hikmah dan rahmat. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah", tidak kepada selainNya ﴾ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "maka hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakal", mereka bergan-tung kepadaNya dalam memperoleh kebaikan-kebaikan dan mene-pis bahaya. Karena, mereka mengetahui tentang kesempurnaan penanganan dan kekuasaanNya, dan luasnya cakupan kebaikan-Nya. Maka, mereka begitu percaya kepadaNya dalam memudahkan urusan tersebut. Tergantung pada tingkat keimanan yang ada pada merekalah, kualitas tawakal mereka kepada Allah. Dengan ini, dapat diketahui, wajibnya bertawakal kepada Allah, dan bahwa ia ter-masuk kelaziman dari keimanan, dan juga termasuk ibadah besar yang dicintai dan diridhai oleh Allah, lantaran segenap ibadah ter-paku dengannya.
(12) ﴾ وَمَا لَنَآ أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنَا سُبُلَنَاۚ ﴿ "Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami", apakah yang menghalangi kami untuk bertawakal kepada Allah? Sementara kondisi kami berada di atas kebenaran dan hidayah. Barangsiapa berada di atas kebenaran dan petunjuk, maka hidayah (yang dia genggam) akan mengarahkannya menuju kesempurnaan dalam bertawakal. Begitu pula yang telah diketahui, bahwa Allah akan menjamin untuk menolong dan menangani urusan orang yang mendapatkan hidayah, yang menyeru kepadanya. Berbeda halnya dengan orang yang tidak berdiri di atas kebenaran dan hidayah, maka dia bukan orang yang dijamin oleh Allah. Sepak terjangnya berlawanan dengan karakter orang yang bertawakal. Dalam ucapan ini, sepertinya terdapat sinyal dari para rasul k kepada kaumnya dengan sebuah ayat yang agung, yaitu bahwa kaum mereka pada umumnya, mempunyai hegemoni dan penguasa-an atas para rasul. Maka para rasul itu menantang mereka (dengan bertawakal kepada Allah) dalam menghadapi tipu daya dan makar orang-orang yang mendustakan. Para rasul merasa benar-benar yakin dengan pertolongan Allah bagi mereka. Sungguh, Allah telah membebaskan mereka dari kejahatan kaumnya, padahal mereka begitu semangat dalam menghabisi para rasul dan memadamkan cahaya kebenaran yang mereka bawa. Sehingga ini laksana perkata-an Nuh kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكُم مَّقَامِي وَتَذۡكِيرِي بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَعَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡتُ فَأَجۡمِعُوٓاْ أَمۡرَكُمۡ وَشُرَكَآءَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُنۡ أَمۡرُكُمۡ عَلَيۡكُمۡ غُمَّةٗ ثُمَّ ٱقۡضُوٓاْ إِلَيَّ وَلَا تُنظِرُونِ 71 ﴿ "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal. Karena itu bulatkanlah keputusanmu (untuk membinasa-kanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (Yu-nus: 71). Dan seperti perkataan Hud عليه السلام, ﴾ قَالَ إِنِّيٓ أُشۡهِدُ ٱللَّهَ وَٱشۡهَدُوٓاْ أَنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ 54 مِن دُونِهِۦۖ فَكِيدُونِي جَمِيعٗا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ 55 ﴿ "Dia berkata, 'Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selainNya. Sebab itu, jalankanlah tipu dayamu semua-nya terhadapku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (Hud: 54-55). ﴾ وَلَنَصۡبِرَنَّ عَلَىٰ مَآ ءَاذَيۡتُمُونَاۚ ﴿ "Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami", kami akan (tetap) melanjutkan dakwah kepada kalian dan menasihati serta mengingatkan kalian. Kami tidak peduli dengan gangguan yang kalian gencarkan kepada kami. Kami akan menempa diri kami untuk menghadapi siksaan yang kami peroleh dari kalian, karena mengharapkan pahala dari Allah, dan demi untuk menasihati ka-lian. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian melalui banyaknya peringatan. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah", ke-padaNya semata, bukan selainNya ﴾ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ ﴿ "orang-orang yang bertawakal itu berserah diri", karena bertawakal kepadaNya merupa-kan kunci segala kebaikan. Ketahuilah, bahwa tingkatan tawakal para rasul k itu sudah berada di level paling atas dan kedudukan paling mulia. Yakni ta-wakal kepada Allah dalam menegakkan agamaNya, membela dan memberi hidayah kepada para hambaNya, serta dalam upaya peng-hapusan kesesatan dari mereka. Ini merupakan bentuk tawakal yang paling sempurna.
Ibrahim 14:12
"Belumkah sampai (kepada kamu) berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Allah. Telah datang rasul-rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata, 'Sesungguhnya kami mengingkari sesuatu yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesung-guhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisah-kan terhadap sesuatu yang kamu ajak kami kepadanya.' Rasul-rasul mereka berkata, 'Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi, Dia menyeru kamu untuk memberi am-punan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)-mu sampai masa yang ditentukan.' Mereka berkata, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari sesuatu yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.' Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, 'Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. Dan tidak patut bagi kami mendatang-kan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakal. Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami.' Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri." (Ibrahim: 9-12).
(9) Allah berkata untuk menakut-nakuti para hambaNya dengan azab yang telah Dia timpakan kepada bangsa-bangsa yang mendustakan ketika telah didatangi oleh para rasul lalu mereka justru mengingkari para rasul. Maka Allah menghukumi mereka dengan siksaan cepat yang dapat disaksikan dan didengar oleh orang-orang. Allah berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَبَؤُاْ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ ﴿ "Belumkah sampai (kepada kamu) berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud", sungguh Allah telah mengetengahkan cerita-cerita tentang mereka di dalam kitabNya dan menerangkan-nya dengan panjang lebar. ﴾ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ لَا يَعۡلَمُهُمۡ إِلَّا ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Allah", karena jumlah mereka banyak dan karena sejarah-sejarah tentang mereka telah tertelan oleh masa. Mereka semua ﴾ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "para rasul telah datang kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata", dengan bermacam-macam bukti tentang kebenaran yang mereka bawa. Allah tidaklah mengutus seorang rasul melainkan pasti dibekali dengan bukti-bukti yang menjadikan orang-orang beriman dengan mukjizat semacam itu. Ketika para rasul telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan, tapi mereka belum tunduk kepadanya (bukti-bukti tersebut), justru malah bersikap sombong terhadapnya ﴾ فَرَدُّوٓاْ أَيۡدِيَهُمۡ فِيٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian)", maksudnya mereka tidak beriman dengan risalah yang dibawa oleh para rasul, tidak mengatakan sedikit pun yang menunjukkan keimanan. Seperti FirmanNya, ﴾ يَجۡعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِۚ ﴿ "Mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (men-dengar suara) petir, sebab takut akan mati." (Al-Baqarah: 19) ﴾ وَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan mereka berkata", kepada para rasul dengan te-rang-terangan, ﴾ إِنَّا كَفَرۡنَا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ وَإِنَّا لَفِي شَكّٖ مِّمَّا تَدۡعُونَنَآ إِلَيۡهِ مُرِيبٖ ﴿ "Sesungguh-nya kami mengingkari sesuatu yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap sesuatu yang kamu ajak kami kepadanya", maksudnya pada posisi ragu-ragu.
(10) Dan sungguh mereka telah mendustakannya dan telah berbuat kezhaliman. Oleh karenanya, ﴾ قَالَتۡ رُسُلُهُمۡ ﴿ "para rasul ber-kata", kepada mereka, ﴾ أَفِي ٱللَّهِ شَكّٞ ﴿ "Apakah ada keragu-raguan tentang Allah", sesungguhnya itu merupakan sebuah perkara yang sangat jelas dan terang. Siapa saja yang meragukan tentang Allah ﴾ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Pencipta langit dan bumi", yang keberadaan segala sesuatu tergantung pada wujudNya. Tidak ada seorang makhluk hebat pun di sisi Allah yang memiliki pengetahuan hingga pada hal-hal yang bisa dicerna dengan panca indera. Karenanya, para rasul mengajak bicara mereka sebagaimana komunikasi kepada orang yang tidak syak lagi tentangNya, dan tidak pantas untuk terjadinya keraguan padaNya. ﴾ يَدۡعُوكُمۡ ﴿ "Dia menyeru kamu", kepada beragam kemanfaat-an dan kemaslahatan bagi kalian ﴾ لِيَغۡفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُؤَخِّرَكُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ ﴿ "untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan me-nangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan", maksudnya agar Allah memberikan pahala yang bersifat segera dan yang ter-tunda atas sambutan kalian terhadap seruanNya. Allah menyeru kalian bukan untuk (kepentingan) mencari manfaat dari ibadah kalian, justru nilai manfaatnya berbalik kembali kepada kalian. Maka mereka membantah para rasul dengan bantahan yang biasa dilon-tarkan orang-orang bodoh lagi tidak berakal, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata" kepada para rasul, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga", maksudnya bagaimana bisa, kalian mengungguli kami dengan nubuwwat (kenabian) dan risalah (kerasulan)? ﴾ تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا ﴿ "Kamu menghendaki untuk meng-halang-halangi (membelokkan) kami dari sesuatu yang selalu disembah nenek moyang kami", bagaimana mungkin kami bisa meninggalkan ideologi nenek moyang kami dan sejarah mereka karena jalan pi-kiran nalarmu? Bagaimana kami menaatimu padahal kamu itu ma-nusia juga seperti kami? ﴾ فَأۡتُونَا بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ﴿ "Karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata", yaitu dengan hujah yang terang lagi jelas. Yang dimaksud dengan bukti adalah bukti yang mereka minta. Kalau tidak demikian yang dimaksud, maka seperti sudah dikemu-kakan, bahwa para rasul telah membawa bukti-bukti kebenaran kepada mereka.
(11) ﴾ قَالَتۡ لَهُمۡ رُسُلُهُمۡ ﴿ "Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka", untuk menjawab usulan dan sanggahan mereka ﴾ إِن نَّحۡنُ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ ﴿ "kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu", memang benar, dan demikianlah hakikatnya, kami adalah manusia (biasa) seperti kalian, ﴾ وَلَٰكِنَّ ﴿ "akan tetapi", bukan berarti kondisi itu menyebabkan penolakan terhadap risalah yang kami bawa yang berbentuk kebe-naran. Sesungguhnya ﴾ ٱللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ ﴿ "Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya", apabila Allah telah menganugerahkan karunia kepada kami dengan memberi wahyu dan risalahNya, maka itu merupakan keutamaan dan kebaikan Allah bagi kami. Tidak ada seorang pun yang berhak membatasi Allah dalam mencurahkan keutamaan dan kebaikan-Nya, dan menghalanginya dari mengalirkan keutamaan dariNya. Maka, perhatikanlah risalah yang kami bawa kepada kalian. Jika merupakan kebenaran, maka terimalah. Jika memang bukan, maka tampiklah. Janganlah kalian menjadikan kondisi kami sebagai ala-san buat kalian untuk menampik risalah yang kami bawa kepada kalian. Ucapan kalian, ﴾ فَأۡتُونَا بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ﴿ "karena itu, datangkanlah kepada kami bukti yang nyata", sesungguhnya wewenang itu bukan berada di tangan kami, kami tidak mempunyai hak pengaturan se-dikit pun. ﴾ وَمَا كَانَ لَنَآ أَن نَّأۡتِيَكُم بِسُلۡطَٰنٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah", Dia-lah, Dzat yang bila berkehendak, niscaya akan mendatangkan-nya kepada kalian. Dan bila (tidak) berkehendak, maka tidak mem-bawakannya kepada kalian. Dia tidak bertindak kecuali dengan tindakan yang menuntut hikmah dan rahmat. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah", tidak kepada selainNya ﴾ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "maka hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakal", mereka bergan-tung kepadaNya dalam memperoleh kebaikan-kebaikan dan mene-pis bahaya. Karena, mereka mengetahui tentang kesempurnaan penanganan dan kekuasaanNya, dan luasnya cakupan kebaikan-Nya. Maka, mereka begitu percaya kepadaNya dalam memudahkan urusan tersebut. Tergantung pada tingkat keimanan yang ada pada merekalah, kualitas tawakal mereka kepada Allah. Dengan ini, dapat diketahui, wajibnya bertawakal kepada Allah, dan bahwa ia ter-masuk kelaziman dari keimanan, dan juga termasuk ibadah besar yang dicintai dan diridhai oleh Allah, lantaran segenap ibadah ter-paku dengannya.
(12) ﴾ وَمَا لَنَآ أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنَا سُبُلَنَاۚ ﴿ "Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami", apakah yang menghalangi kami untuk bertawakal kepada Allah? Sementara kondisi kami berada di atas kebenaran dan hidayah. Barangsiapa berada di atas kebenaran dan petunjuk, maka hidayah (yang dia genggam) akan mengarahkannya menuju kesempurnaan dalam bertawakal. Begitu pula yang telah diketahui, bahwa Allah akan menjamin untuk menolong dan menangani urusan orang yang mendapatkan hidayah, yang menyeru kepadanya. Berbeda halnya dengan orang yang tidak berdiri di atas kebenaran dan hidayah, maka dia bukan orang yang dijamin oleh Allah. Sepak terjangnya berlawanan dengan karakter orang yang bertawakal. Dalam ucapan ini, sepertinya terdapat sinyal dari para rasul k kepada kaumnya dengan sebuah ayat yang agung, yaitu bahwa kaum mereka pada umumnya, mempunyai hegemoni dan penguasa-an atas para rasul. Maka para rasul itu menantang mereka (dengan bertawakal kepada Allah) dalam menghadapi tipu daya dan makar orang-orang yang mendustakan. Para rasul merasa benar-benar yakin dengan pertolongan Allah bagi mereka. Sungguh, Allah telah membebaskan mereka dari kejahatan kaumnya, padahal mereka begitu semangat dalam menghabisi para rasul dan memadamkan cahaya kebenaran yang mereka bawa. Sehingga ini laksana perkata-an Nuh kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكُم مَّقَامِي وَتَذۡكِيرِي بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَعَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡتُ فَأَجۡمِعُوٓاْ أَمۡرَكُمۡ وَشُرَكَآءَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُنۡ أَمۡرُكُمۡ عَلَيۡكُمۡ غُمَّةٗ ثُمَّ ٱقۡضُوٓاْ إِلَيَّ وَلَا تُنظِرُونِ 71 ﴿ "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal. Karena itu bulatkanlah keputusanmu (untuk membinasa-kanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (Yu-nus: 71). Dan seperti perkataan Hud عليه السلام, ﴾ قَالَ إِنِّيٓ أُشۡهِدُ ٱللَّهَ وَٱشۡهَدُوٓاْ أَنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ 54 مِن دُونِهِۦۖ فَكِيدُونِي جَمِيعٗا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ 55 ﴿ "Dia berkata, 'Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selainNya. Sebab itu, jalankanlah tipu dayamu semua-nya terhadapku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (Hud: 54-55). ﴾ وَلَنَصۡبِرَنَّ عَلَىٰ مَآ ءَاذَيۡتُمُونَاۚ ﴿ "Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami", kami akan (tetap) melanjutkan dakwah kepada kalian dan menasihati serta mengingatkan kalian. Kami tidak peduli dengan gangguan yang kalian gencarkan kepada kami. Kami akan menempa diri kami untuk menghadapi siksaan yang kami peroleh dari kalian, karena mengharapkan pahala dari Allah, dan demi untuk menasihati ka-lian. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian melalui banyaknya peringatan. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah", ke-padaNya semata, bukan selainNya ﴾ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ ﴿ "orang-orang yang bertawakal itu berserah diri", karena bertawakal kepadaNya merupa-kan kunci segala kebaikan. Ketahuilah, bahwa tingkatan tawakal para rasul k itu sudah berada di level paling atas dan kedudukan paling mulia. Yakni ta-wakal kepada Allah dalam menegakkan agamaNya, membela dan memberi hidayah kepada para hambaNya, serta dalam upaya peng-hapusan kesesatan dari mereka. Ini merupakan bentuk tawakal yang paling sempurna.
Ibrahim 14:13
"Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, 'Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.' Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, 'Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu. Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.' Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka), dan binasalah semua orang-orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala. Di hadapannya ada Jahanam, dan dia akan diberi minuman dengan air nanah. Diminumnya air nanah itu, dan hampir dia tidak bisa menelannya, dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan di hadapannya masih ada azab yang berat." (Ibra-him: 13-17).
(13) Ketika Allah menyebutkan dakwah para rasul kepada kaum mereka dan konsistensi mereka dalam menjalankannya tanpa bosan, maka Allah menyebutkan kondisi akhir yang mereka alami bersama kaum mereka. Allah berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِرُسُلِهِمۡ ﴿ "Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka", mereka mengancam para rasul, ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكُم مِّنۡ أَرۡضِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۖ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami", ini merupakan bentuk penolakan yang sangat jelas, tidak ada lagi keinginan kuat pada mereka. Mereka tidak hanya merasa cukup untuk berpaling dari petunjuk, bahkan melancarkan ancaman kepada para rasul dalam bentuk pengusiran dari kampung hala-man mereka. Mereka mengklaim bahwa tanah itu milik mereka, sementara para rasul sama sekali tidak memiliki hak atas tanah. Ini termasuk tindak kezhaliman yang besar. Allah menempat-kan para hambaNya di bumi ini dan memerintahkan mereka untuk beribadah kepadaNya serta menundukkan bumi bagi mereka dan kekayaan yang ada padanya untuk dijadikan sebagai sarana pen-dukung dalam beribadah kepadaNya. Barangsiapa yang meman-faatkannya untuk tujuan beribadah, maka dia boleh melakukannya dan terlepas dari akibat buruk. Dan barangsiapa menjadikannya sebagai pendukung kekufuran, bermacam-macam maksiat, maka (sebenarnya) kenikmatan tersebut bukan miliknya secara murni, dan tidak halal baginya. Hingga dapat diketahui, bahwa para mu-suh rasul, pada hakikatnya mereka tidak mempunyai hak kepemilik-an tanah yang mana mereka mengancam para rasul dengan peng-usiran dari sana. Kalau kita kembalikan pada hukum normatif, maka para rasul (biasanya) termasuk penduduk asli wilayah itu dan ba-gian dari mereka. Atas dasar apa mereka menghalangi para rasul dari sebuah hak kepemilikan yang jelas lagi pasti? Tidaklah tinda-kan ini melainkan disebabkan tidak adanya agama dan kehormatan sama sekali (pada mereka). Oleh karenanya, ketika makar mereka terhadap rasul berujung demikian, maka pada saat itu, tidak ada yang tersisa kecuali Allah melaksanakan ketentuanNya dan menolong para pembelaNya, ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ إِلَيۡهِمۡ رَبُّهُمۡ لَنُهۡلِكَنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, 'Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu'."
(14) ﴾ وَلَنُسۡكِنَنَّكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka", kesudahan yang baik yang Allah gariskan bagi para rasul dan para pengikutnya sebagai ba-lasan bagi mereka ﴾ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِي ﴿ "yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadiratKu", takut kepada-Nya di dunia, dan dia bersikap muraqabah terhadap Allah (merasa diawasi oleh Allah) layaknya muraqabah orang yang meyakini bahwa Dia melihatnya. ﴾ وَخَافَ وَعِيدِ ﴿ "Dan yang takut kepada ancamanKu", an-caman yang Aku layangkan kepada orang yang bermaksiat kepada-Ku. Maka hal itu menuntutnya untuk menahan diri dari perkara-perkara yang dibenci oleh Allah dan bersegera melaksanakan per-kara-perkara yang dicintaiNya.
(15) ﴾ وَٱسۡتَفۡتَحُواْ ﴿ "Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka )", yaitu orang-orang kafir. Mereka itu adalah orang-orang yang meminta dan memohon dipercepatnya kemenangan dari Allah dan (hari) yang membedakan antara para pembelaNya dan musuh-musuhNya. Maka datanglah apa yang mereka minta. Apabila tidak demikian, maka sesungguhnya Allah Mahalembut, Dia tidak akan menyegerakan siksaan bagi orang yang bermaksiat kepadaNya ﴾ وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٖ ﴿ "dan binasalah semua orang-orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala", maksudnya merugi di dunia dan akhirat, orang yang arogan di hadapan Allah dan ter-hadap kebenaran serta kepada para hambaNya [menyombongkan diri] di bumi, menentang para rasul dan memusuhi mereka.
(16) ﴾ مِّن وَرَآئِهِۦ جَهَنَّمُ ﴿ "di hadapannya ada jahanam", maksudnya jahanam mengintai orang yang arogan lagi penentang tadi. Ia pasti memasukinya, maka dia akan ditimpa siksaan yang keras. ﴾ وَيُسۡقَىٰ مِن مَّآءٖ صَدِيدٖ ﴿ "Dan dia akan diberi minuman dengan air nanah", dengan warna, rasa, dan bau yang menjijikkan, dan minuman ini berada dalam suhu yang sangat tinggi.
(17) ﴾ يَتَجَرَّعُهُۥ ﴿ "diminumnya air nanah itu", lantaran kehausan yang dahsyat ﴾ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُۥ ﴿ "dan hampir dia tidak bisa menelannya", karena apabila mendekati wajahnya, maka ia membakarnya. Jika sampai ke perut, maka ia memotong-motong usus-usus yang dilin-tasinya. ﴾ وَيَأۡتِيهِ ٱلۡمَوۡتُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٖۖ ﴿ "Dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati", mak-sudnya siksaan pedih menghampirinya dengan berbagai jenisnya. Dan setiap jenis siksaan itu, lantaran sangat dahsyat, menyeretnya kepada kematian. Tetapi, Allah menetapkan mereka tidak akan mati, sebagaimana yang difirmankanNya, ﴾ لَا يُقۡضَىٰ عَلَيۡهِمۡ فَيَمُوتُواْ وَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُم مِّنۡ عَذَابِهَاۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي كُلَّ كَفُورٖ 36 وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azab mereka. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang kafir. Mereka berteriak di dalam neraka itu." (Fathir: 36-37). Dan FirmanNya, ﴾ وَمِن وَرَآئِهِۦ ﴿ "Dan di hadapannya", yaitu di hadapan orang arogan lagi penentang tadi ﴾ عَذَابٌ غَلِيظٞ ﴿ "masih ada azab yang berat", yaitu yang kuat dan pedih, tidak ada yang mengetahui bentuk dan kengeriannya kecuali Allah تعالى.
Ibrahim 14:14
"Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, 'Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.' Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, 'Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu. Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.' Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka), dan binasalah semua orang-orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala. Di hadapannya ada Jahanam, dan dia akan diberi minuman dengan air nanah. Diminumnya air nanah itu, dan hampir dia tidak bisa menelannya, dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan di hadapannya masih ada azab yang berat." (Ibra-him: 13-17).
(13) Ketika Allah menyebutkan dakwah para rasul kepada kaum mereka dan konsistensi mereka dalam menjalankannya tanpa bosan, maka Allah menyebutkan kondisi akhir yang mereka alami bersama kaum mereka. Allah berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِرُسُلِهِمۡ ﴿ "Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka", mereka mengancam para rasul, ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكُم مِّنۡ أَرۡضِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۖ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami", ini merupakan bentuk penolakan yang sangat jelas, tidak ada lagi keinginan kuat pada mereka. Mereka tidak hanya merasa cukup untuk berpaling dari petunjuk, bahkan melancarkan ancaman kepada para rasul dalam bentuk pengusiran dari kampung hala-man mereka. Mereka mengklaim bahwa tanah itu milik mereka, sementara para rasul sama sekali tidak memiliki hak atas tanah. Ini termasuk tindak kezhaliman yang besar. Allah menempat-kan para hambaNya di bumi ini dan memerintahkan mereka untuk beribadah kepadaNya serta menundukkan bumi bagi mereka dan kekayaan yang ada padanya untuk dijadikan sebagai sarana pen-dukung dalam beribadah kepadaNya. Barangsiapa yang meman-faatkannya untuk tujuan beribadah, maka dia boleh melakukannya dan terlepas dari akibat buruk. Dan barangsiapa menjadikannya sebagai pendukung kekufuran, bermacam-macam maksiat, maka (sebenarnya) kenikmatan tersebut bukan miliknya secara murni, dan tidak halal baginya. Hingga dapat diketahui, bahwa para mu-suh rasul, pada hakikatnya mereka tidak mempunyai hak kepemilik-an tanah yang mana mereka mengancam para rasul dengan peng-usiran dari sana. Kalau kita kembalikan pada hukum normatif, maka para rasul (biasanya) termasuk penduduk asli wilayah itu dan ba-gian dari mereka. Atas dasar apa mereka menghalangi para rasul dari sebuah hak kepemilikan yang jelas lagi pasti? Tidaklah tinda-kan ini melainkan disebabkan tidak adanya agama dan kehormatan sama sekali (pada mereka). Oleh karenanya, ketika makar mereka terhadap rasul berujung demikian, maka pada saat itu, tidak ada yang tersisa kecuali Allah melaksanakan ketentuanNya dan menolong para pembelaNya, ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ إِلَيۡهِمۡ رَبُّهُمۡ لَنُهۡلِكَنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, 'Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu'."
(14) ﴾ وَلَنُسۡكِنَنَّكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka", kesudahan yang baik yang Allah gariskan bagi para rasul dan para pengikutnya sebagai ba-lasan bagi mereka ﴾ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِي ﴿ "yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadiratKu", takut kepada-Nya di dunia, dan dia bersikap muraqabah terhadap Allah (merasa diawasi oleh Allah) layaknya muraqabah orang yang meyakini bahwa Dia melihatnya. ﴾ وَخَافَ وَعِيدِ ﴿ "Dan yang takut kepada ancamanKu", an-caman yang Aku layangkan kepada orang yang bermaksiat kepada-Ku. Maka hal itu menuntutnya untuk menahan diri dari perkara-perkara yang dibenci oleh Allah dan bersegera melaksanakan per-kara-perkara yang dicintaiNya.
(15) ﴾ وَٱسۡتَفۡتَحُواْ ﴿ "Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka )", yaitu orang-orang kafir. Mereka itu adalah orang-orang yang meminta dan memohon dipercepatnya kemenangan dari Allah dan (hari) yang membedakan antara para pembelaNya dan musuh-musuhNya. Maka datanglah apa yang mereka minta. Apabila tidak demikian, maka sesungguhnya Allah Mahalembut, Dia tidak akan menyegerakan siksaan bagi orang yang bermaksiat kepadaNya ﴾ وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٖ ﴿ "dan binasalah semua orang-orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala", maksudnya merugi di dunia dan akhirat, orang yang arogan di hadapan Allah dan ter-hadap kebenaran serta kepada para hambaNya [menyombongkan diri] di bumi, menentang para rasul dan memusuhi mereka.
(16) ﴾ مِّن وَرَآئِهِۦ جَهَنَّمُ ﴿ "di hadapannya ada jahanam", maksudnya jahanam mengintai orang yang arogan lagi penentang tadi. Ia pasti memasukinya, maka dia akan ditimpa siksaan yang keras. ﴾ وَيُسۡقَىٰ مِن مَّآءٖ صَدِيدٖ ﴿ "Dan dia akan diberi minuman dengan air nanah", dengan warna, rasa, dan bau yang menjijikkan, dan minuman ini berada dalam suhu yang sangat tinggi.
(17) ﴾ يَتَجَرَّعُهُۥ ﴿ "diminumnya air nanah itu", lantaran kehausan yang dahsyat ﴾ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُۥ ﴿ "dan hampir dia tidak bisa menelannya", karena apabila mendekati wajahnya, maka ia membakarnya. Jika sampai ke perut, maka ia memotong-motong usus-usus yang dilin-tasinya. ﴾ وَيَأۡتِيهِ ٱلۡمَوۡتُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٖۖ ﴿ "Dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati", mak-sudnya siksaan pedih menghampirinya dengan berbagai jenisnya. Dan setiap jenis siksaan itu, lantaran sangat dahsyat, menyeretnya kepada kematian. Tetapi, Allah menetapkan mereka tidak akan mati, sebagaimana yang difirmankanNya, ﴾ لَا يُقۡضَىٰ عَلَيۡهِمۡ فَيَمُوتُواْ وَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُم مِّنۡ عَذَابِهَاۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي كُلَّ كَفُورٖ 36 وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azab mereka. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang kafir. Mereka berteriak di dalam neraka itu." (Fathir: 36-37). Dan FirmanNya, ﴾ وَمِن وَرَآئِهِۦ ﴿ "Dan di hadapannya", yaitu di hadapan orang arogan lagi penentang tadi ﴾ عَذَابٌ غَلِيظٞ ﴿ "masih ada azab yang berat", yaitu yang kuat dan pedih, tidak ada yang mengetahui bentuk dan kengeriannya kecuali Allah تعالى.
Ibrahim 14:15
"Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, 'Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.' Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, 'Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu. Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.' Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka), dan binasalah semua orang-orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala. Di hadapannya ada Jahanam, dan dia akan diberi minuman dengan air nanah. Diminumnya air nanah itu, dan hampir dia tidak bisa menelannya, dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan di hadapannya masih ada azab yang berat." (Ibra-him: 13-17).
(13) Ketika Allah menyebutkan dakwah para rasul kepada kaum mereka dan konsistensi mereka dalam menjalankannya tanpa bosan, maka Allah menyebutkan kondisi akhir yang mereka alami bersama kaum mereka. Allah berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِرُسُلِهِمۡ ﴿ "Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka", mereka mengancam para rasul, ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكُم مِّنۡ أَرۡضِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۖ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami", ini merupakan bentuk penolakan yang sangat jelas, tidak ada lagi keinginan kuat pada mereka. Mereka tidak hanya merasa cukup untuk berpaling dari petunjuk, bahkan melancarkan ancaman kepada para rasul dalam bentuk pengusiran dari kampung hala-man mereka. Mereka mengklaim bahwa tanah itu milik mereka, sementara para rasul sama sekali tidak memiliki hak atas tanah. Ini termasuk tindak kezhaliman yang besar. Allah menempat-kan para hambaNya di bumi ini dan memerintahkan mereka untuk beribadah kepadaNya serta menundukkan bumi bagi mereka dan kekayaan yang ada padanya untuk dijadikan sebagai sarana pen-dukung dalam beribadah kepadaNya. Barangsiapa yang meman-faatkannya untuk tujuan beribadah, maka dia boleh melakukannya dan terlepas dari akibat buruk. Dan barangsiapa menjadikannya sebagai pendukung kekufuran, bermacam-macam maksiat, maka (sebenarnya) kenikmatan tersebut bukan miliknya secara murni, dan tidak halal baginya. Hingga dapat diketahui, bahwa para mu-suh rasul, pada hakikatnya mereka tidak mempunyai hak kepemilik-an tanah yang mana mereka mengancam para rasul dengan peng-usiran dari sana. Kalau kita kembalikan pada hukum normatif, maka para rasul (biasanya) termasuk penduduk asli wilayah itu dan ba-gian dari mereka. Atas dasar apa mereka menghalangi para rasul dari sebuah hak kepemilikan yang jelas lagi pasti? Tidaklah tinda-kan ini melainkan disebabkan tidak adanya agama dan kehormatan sama sekali (pada mereka). Oleh karenanya, ketika makar mereka terhadap rasul berujung demikian, maka pada saat itu, tidak ada yang tersisa kecuali Allah melaksanakan ketentuanNya dan menolong para pembelaNya, ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ إِلَيۡهِمۡ رَبُّهُمۡ لَنُهۡلِكَنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, 'Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu'."
(14) ﴾ وَلَنُسۡكِنَنَّكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka", kesudahan yang baik yang Allah gariskan bagi para rasul dan para pengikutnya sebagai ba-lasan bagi mereka ﴾ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِي ﴿ "yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadiratKu", takut kepada-Nya di dunia, dan dia bersikap muraqabah terhadap Allah (merasa diawasi oleh Allah) layaknya muraqabah orang yang meyakini bahwa Dia melihatnya. ﴾ وَخَافَ وَعِيدِ ﴿ "Dan yang takut kepada ancamanKu", an-caman yang Aku layangkan kepada orang yang bermaksiat kepada-Ku. Maka hal itu menuntutnya untuk menahan diri dari perkara-perkara yang dibenci oleh Allah dan bersegera melaksanakan per-kara-perkara yang dicintaiNya.
(15) ﴾ وَٱسۡتَفۡتَحُواْ ﴿ "Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka )", yaitu orang-orang kafir. Mereka itu adalah orang-orang yang meminta dan memohon dipercepatnya kemenangan dari Allah dan (hari) yang membedakan antara para pembelaNya dan musuh-musuhNya. Maka datanglah apa yang mereka minta. Apabila tidak demikian, maka sesungguhnya Allah Mahalembut, Dia tidak akan menyegerakan siksaan bagi orang yang bermaksiat kepadaNya ﴾ وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٖ ﴿ "dan binasalah semua orang-orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala", maksudnya merugi di dunia dan akhirat, orang yang arogan di hadapan Allah dan ter-hadap kebenaran serta kepada para hambaNya [menyombongkan diri] di bumi, menentang para rasul dan memusuhi mereka.
(16) ﴾ مِّن وَرَآئِهِۦ جَهَنَّمُ ﴿ "di hadapannya ada jahanam", maksudnya jahanam mengintai orang yang arogan lagi penentang tadi. Ia pasti memasukinya, maka dia akan ditimpa siksaan yang keras. ﴾ وَيُسۡقَىٰ مِن مَّآءٖ صَدِيدٖ ﴿ "Dan dia akan diberi minuman dengan air nanah", dengan warna, rasa, dan bau yang menjijikkan, dan minuman ini berada dalam suhu yang sangat tinggi.
(17) ﴾ يَتَجَرَّعُهُۥ ﴿ "diminumnya air nanah itu", lantaran kehausan yang dahsyat ﴾ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُۥ ﴿ "dan hampir dia tidak bisa menelannya", karena apabila mendekati wajahnya, maka ia membakarnya. Jika sampai ke perut, maka ia memotong-motong usus-usus yang dilin-tasinya. ﴾ وَيَأۡتِيهِ ٱلۡمَوۡتُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٖۖ ﴿ "Dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati", mak-sudnya siksaan pedih menghampirinya dengan berbagai jenisnya. Dan setiap jenis siksaan itu, lantaran sangat dahsyat, menyeretnya kepada kematian. Tetapi, Allah menetapkan mereka tidak akan mati, sebagaimana yang difirmankanNya, ﴾ لَا يُقۡضَىٰ عَلَيۡهِمۡ فَيَمُوتُواْ وَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُم مِّنۡ عَذَابِهَاۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي كُلَّ كَفُورٖ 36 وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azab mereka. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang kafir. Mereka berteriak di dalam neraka itu." (Fathir: 36-37). Dan FirmanNya, ﴾ وَمِن وَرَآئِهِۦ ﴿ "Dan di hadapannya", yaitu di hadapan orang arogan lagi penentang tadi ﴾ عَذَابٌ غَلِيظٞ ﴿ "masih ada azab yang berat", yaitu yang kuat dan pedih, tidak ada yang mengetahui bentuk dan kengeriannya kecuali Allah تعالى.
Ibrahim 14:16
"Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, 'Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.' Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, 'Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu. Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.' Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka), dan binasalah semua orang-orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala. Di hadapannya ada Jahanam, dan dia akan diberi minuman dengan air nanah. Diminumnya air nanah itu, dan hampir dia tidak bisa menelannya, dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan di hadapannya masih ada azab yang berat." (Ibra-him: 13-17).
(13) Ketika Allah menyebutkan dakwah para rasul kepada kaum mereka dan konsistensi mereka dalam menjalankannya tanpa bosan, maka Allah menyebutkan kondisi akhir yang mereka alami bersama kaum mereka. Allah berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِرُسُلِهِمۡ ﴿ "Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka", mereka mengancam para rasul, ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكُم مِّنۡ أَرۡضِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۖ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami", ini merupakan bentuk penolakan yang sangat jelas, tidak ada lagi keinginan kuat pada mereka. Mereka tidak hanya merasa cukup untuk berpaling dari petunjuk, bahkan melancarkan ancaman kepada para rasul dalam bentuk pengusiran dari kampung hala-man mereka. Mereka mengklaim bahwa tanah itu milik mereka, sementara para rasul sama sekali tidak memiliki hak atas tanah. Ini termasuk tindak kezhaliman yang besar. Allah menempat-kan para hambaNya di bumi ini dan memerintahkan mereka untuk beribadah kepadaNya serta menundukkan bumi bagi mereka dan kekayaan yang ada padanya untuk dijadikan sebagai sarana pen-dukung dalam beribadah kepadaNya. Barangsiapa yang meman-faatkannya untuk tujuan beribadah, maka dia boleh melakukannya dan terlepas dari akibat buruk. Dan barangsiapa menjadikannya sebagai pendukung kekufuran, bermacam-macam maksiat, maka (sebenarnya) kenikmatan tersebut bukan miliknya secara murni, dan tidak halal baginya. Hingga dapat diketahui, bahwa para mu-suh rasul, pada hakikatnya mereka tidak mempunyai hak kepemilik-an tanah yang mana mereka mengancam para rasul dengan peng-usiran dari sana. Kalau kita kembalikan pada hukum normatif, maka para rasul (biasanya) termasuk penduduk asli wilayah itu dan ba-gian dari mereka. Atas dasar apa mereka menghalangi para rasul dari sebuah hak kepemilikan yang jelas lagi pasti? Tidaklah tinda-kan ini melainkan disebabkan tidak adanya agama dan kehormatan sama sekali (pada mereka). Oleh karenanya, ketika makar mereka terhadap rasul berujung demikian, maka pada saat itu, tidak ada yang tersisa kecuali Allah melaksanakan ketentuanNya dan menolong para pembelaNya, ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ إِلَيۡهِمۡ رَبُّهُمۡ لَنُهۡلِكَنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, 'Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu'."
(14) ﴾ وَلَنُسۡكِنَنَّكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka", kesudahan yang baik yang Allah gariskan bagi para rasul dan para pengikutnya sebagai ba-lasan bagi mereka ﴾ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِي ﴿ "yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadiratKu", takut kepada-Nya di dunia, dan dia bersikap muraqabah terhadap Allah (merasa diawasi oleh Allah) layaknya muraqabah orang yang meyakini bahwa Dia melihatnya. ﴾ وَخَافَ وَعِيدِ ﴿ "Dan yang takut kepada ancamanKu", an-caman yang Aku layangkan kepada orang yang bermaksiat kepada-Ku. Maka hal itu menuntutnya untuk menahan diri dari perkara-perkara yang dibenci oleh Allah dan bersegera melaksanakan per-kara-perkara yang dicintaiNya.
(15) ﴾ وَٱسۡتَفۡتَحُواْ ﴿ "Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka )", yaitu orang-orang kafir. Mereka itu adalah orang-orang yang meminta dan memohon dipercepatnya kemenangan dari Allah dan (hari) yang membedakan antara para pembelaNya dan musuh-musuhNya. Maka datanglah apa yang mereka minta. Apabila tidak demikian, maka sesungguhnya Allah Mahalembut, Dia tidak akan menyegerakan siksaan bagi orang yang bermaksiat kepadaNya ﴾ وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٖ ﴿ "dan binasalah semua orang-orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala", maksudnya merugi di dunia dan akhirat, orang yang arogan di hadapan Allah dan ter-hadap kebenaran serta kepada para hambaNya [menyombongkan diri] di bumi, menentang para rasul dan memusuhi mereka.
(16) ﴾ مِّن وَرَآئِهِۦ جَهَنَّمُ ﴿ "di hadapannya ada jahanam", maksudnya jahanam mengintai orang yang arogan lagi penentang tadi. Ia pasti memasukinya, maka dia akan ditimpa siksaan yang keras. ﴾ وَيُسۡقَىٰ مِن مَّآءٖ صَدِيدٖ ﴿ "Dan dia akan diberi minuman dengan air nanah", dengan warna, rasa, dan bau yang menjijikkan, dan minuman ini berada dalam suhu yang sangat tinggi.
(17) ﴾ يَتَجَرَّعُهُۥ ﴿ "diminumnya air nanah itu", lantaran kehausan yang dahsyat ﴾ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُۥ ﴿ "dan hampir dia tidak bisa menelannya", karena apabila mendekati wajahnya, maka ia membakarnya. Jika sampai ke perut, maka ia memotong-motong usus-usus yang dilin-tasinya. ﴾ وَيَأۡتِيهِ ٱلۡمَوۡتُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٖۖ ﴿ "Dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati", mak-sudnya siksaan pedih menghampirinya dengan berbagai jenisnya. Dan setiap jenis siksaan itu, lantaran sangat dahsyat, menyeretnya kepada kematian. Tetapi, Allah menetapkan mereka tidak akan mati, sebagaimana yang difirmankanNya, ﴾ لَا يُقۡضَىٰ عَلَيۡهِمۡ فَيَمُوتُواْ وَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُم مِّنۡ عَذَابِهَاۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي كُلَّ كَفُورٖ 36 وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azab mereka. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang kafir. Mereka berteriak di dalam neraka itu." (Fathir: 36-37). Dan FirmanNya, ﴾ وَمِن وَرَآئِهِۦ ﴿ "Dan di hadapannya", yaitu di hadapan orang arogan lagi penentang tadi ﴾ عَذَابٌ غَلِيظٞ ﴿ "masih ada azab yang berat", yaitu yang kuat dan pedih, tidak ada yang mengetahui bentuk dan kengeriannya kecuali Allah تعالى.
Ibrahim 14:17
"Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, 'Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami.' Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, 'Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu. Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.' Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka), dan binasalah semua orang-orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala. Di hadapannya ada Jahanam, dan dia akan diberi minuman dengan air nanah. Diminumnya air nanah itu, dan hampir dia tidak bisa menelannya, dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan di hadapannya masih ada azab yang berat." (Ibra-him: 13-17).
(13) Ketika Allah menyebutkan dakwah para rasul kepada kaum mereka dan konsistensi mereka dalam menjalankannya tanpa bosan, maka Allah menyebutkan kondisi akhir yang mereka alami bersama kaum mereka. Allah berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِرُسُلِهِمۡ ﴿ "Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka", mereka mengancam para rasul, ﴾ لَنُخۡرِجَنَّكُم مِّنۡ أَرۡضِنَآ أَوۡ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَاۖ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami", ini merupakan bentuk penolakan yang sangat jelas, tidak ada lagi keinginan kuat pada mereka. Mereka tidak hanya merasa cukup untuk berpaling dari petunjuk, bahkan melancarkan ancaman kepada para rasul dalam bentuk pengusiran dari kampung hala-man mereka. Mereka mengklaim bahwa tanah itu milik mereka, sementara para rasul sama sekali tidak memiliki hak atas tanah. Ini termasuk tindak kezhaliman yang besar. Allah menempat-kan para hambaNya di bumi ini dan memerintahkan mereka untuk beribadah kepadaNya serta menundukkan bumi bagi mereka dan kekayaan yang ada padanya untuk dijadikan sebagai sarana pen-dukung dalam beribadah kepadaNya. Barangsiapa yang meman-faatkannya untuk tujuan beribadah, maka dia boleh melakukannya dan terlepas dari akibat buruk. Dan barangsiapa menjadikannya sebagai pendukung kekufuran, bermacam-macam maksiat, maka (sebenarnya) kenikmatan tersebut bukan miliknya secara murni, dan tidak halal baginya. Hingga dapat diketahui, bahwa para mu-suh rasul, pada hakikatnya mereka tidak mempunyai hak kepemilik-an tanah yang mana mereka mengancam para rasul dengan peng-usiran dari sana. Kalau kita kembalikan pada hukum normatif, maka para rasul (biasanya) termasuk penduduk asli wilayah itu dan ba-gian dari mereka. Atas dasar apa mereka menghalangi para rasul dari sebuah hak kepemilikan yang jelas lagi pasti? Tidaklah tinda-kan ini melainkan disebabkan tidak adanya agama dan kehormatan sama sekali (pada mereka). Oleh karenanya, ketika makar mereka terhadap rasul berujung demikian, maka pada saat itu, tidak ada yang tersisa kecuali Allah melaksanakan ketentuanNya dan menolong para pembelaNya, ﴾ فَأَوۡحَىٰٓ إِلَيۡهِمۡ رَبُّهُمۡ لَنُهۡلِكَنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, 'Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu'."
(14) ﴾ وَلَنُسۡكِنَنَّكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka", kesudahan yang baik yang Allah gariskan bagi para rasul dan para pengikutnya sebagai ba-lasan bagi mereka ﴾ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِي ﴿ "yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadiratKu", takut kepada-Nya di dunia, dan dia bersikap muraqabah terhadap Allah (merasa diawasi oleh Allah) layaknya muraqabah orang yang meyakini bahwa Dia melihatnya. ﴾ وَخَافَ وَعِيدِ ﴿ "Dan yang takut kepada ancamanKu", an-caman yang Aku layangkan kepada orang yang bermaksiat kepada-Ku. Maka hal itu menuntutnya untuk menahan diri dari perkara-perkara yang dibenci oleh Allah dan bersegera melaksanakan per-kara-perkara yang dicintaiNya.
(15) ﴾ وَٱسۡتَفۡتَحُواْ ﴿ "Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka )", yaitu orang-orang kafir. Mereka itu adalah orang-orang yang meminta dan memohon dipercepatnya kemenangan dari Allah dan (hari) yang membedakan antara para pembelaNya dan musuh-musuhNya. Maka datanglah apa yang mereka minta. Apabila tidak demikian, maka sesungguhnya Allah Mahalembut, Dia tidak akan menyegerakan siksaan bagi orang yang bermaksiat kepadaNya ﴾ وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٖ ﴿ "dan binasalah semua orang-orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala", maksudnya merugi di dunia dan akhirat, orang yang arogan di hadapan Allah dan ter-hadap kebenaran serta kepada para hambaNya [menyombongkan diri] di bumi, menentang para rasul dan memusuhi mereka.
(16) ﴾ مِّن وَرَآئِهِۦ جَهَنَّمُ ﴿ "di hadapannya ada jahanam", maksudnya jahanam mengintai orang yang arogan lagi penentang tadi. Ia pasti memasukinya, maka dia akan ditimpa siksaan yang keras. ﴾ وَيُسۡقَىٰ مِن مَّآءٖ صَدِيدٖ ﴿ "Dan dia akan diberi minuman dengan air nanah", dengan warna, rasa, dan bau yang menjijikkan, dan minuman ini berada dalam suhu yang sangat tinggi.
(17) ﴾ يَتَجَرَّعُهُۥ ﴿ "diminumnya air nanah itu", lantaran kehausan yang dahsyat ﴾ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُۥ ﴿ "dan hampir dia tidak bisa menelannya", karena apabila mendekati wajahnya, maka ia membakarnya. Jika sampai ke perut, maka ia memotong-motong usus-usus yang dilin-tasinya. ﴾ وَيَأۡتِيهِ ٱلۡمَوۡتُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٖۖ ﴿ "Dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati", mak-sudnya siksaan pedih menghampirinya dengan berbagai jenisnya. Dan setiap jenis siksaan itu, lantaran sangat dahsyat, menyeretnya kepada kematian. Tetapi, Allah menetapkan mereka tidak akan mati, sebagaimana yang difirmankanNya, ﴾ لَا يُقۡضَىٰ عَلَيۡهِمۡ فَيَمُوتُواْ وَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُم مِّنۡ عَذَابِهَاۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي كُلَّ كَفُورٖ 36 وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيهَا ﴿ "Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati, dan tidak (pula) diringankan dari mereka azab mereka. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang kafir. Mereka berteriak di dalam neraka itu." (Fathir: 36-37). Dan FirmanNya, ﴾ وَمِن وَرَآئِهِۦ ﴿ "Dan di hadapannya", yaitu di hadapan orang arogan lagi penentang tadi ﴾ عَذَابٌ غَلِيظٞ ﴿ "masih ada azab yang berat", yaitu yang kuat dan pedih, tidak ada yang mengetahui bentuk dan kengeriannya kecuali Allah تعالى.
Ibrahim 14:18
"Perumpamaan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin de-ngan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh." (Ibrahim: 18).
(18) Allah تعالى mengabarkan tentang amalan-amalan yang diperbuat oleh kaum kafir, baik yang dimaksud adalah amalan yang mereka kerjakan untuk Allah, amalan tersebut ditinjau dari aspek hilangnya manfaat, kebatilan dan kepudaran amalan mereka ibarat melayangnya abu yang merupakan obyek paling lembut dan paling ringan ketika angin bertiup kencang di hari yang angin-nya sangat kencang. Ia tidak menyisakan apa pun, dan tidak dimung-kinkan untuk menangkap sesuatu yang telah lenyap dan kabur. Begitu pula amalan-amalan orang-orang kafir, ﴾ لَّا يَقۡدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ عَلَىٰ شَيۡءٖۚ ﴿ "mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia)", bahkan tidak (mampu mendapat-kan manfaat) sebesar biji dzarrah pun dari amalannya. Pasalnya, amalan tersebut berpondasi kekufuran dan pendustaan. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلۡبَعِيدُ ﴿ "Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh", di mana usaha mereka menjadi batil (sia-sia) dan amalan mereka menjadi musnah. Atau bisa juga yang dimaksud adalah usaha-usaha orang kafir yang mereka tempuh untuk menipu daya kebenaran. Mereka benar-benar berupaya dan kelelahan untuk itu. Padahal makar orang-orang kafir itu berubah menjelma bumerang bagi mereka sendiri, tidak membahayakan Allah dan RasulNya, pasukanNya dan kebenaran yang mereka sampaikan.
Ibrahim 14:19
"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Allah telah mencipta-kan langit dan bumi dengan haq. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah. Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul meng-hadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong, 'Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindar-kan dari kami azab Allah (walaupun) sedikit saja,' Mereka menja-wab, 'Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri'." (Ibrahim: 19-21).
(19) Allah تعالى mengingatkan para hambaNya bahwasanya Dia ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "telah menciptakan langit dan bumi dengan haq", agar makhluk-makhlukNya beribadah kepadaNya, mengenal-Nya, serta memerintahkan dan melarang mereka. Juga supaya me-reka menjadikan keduanya (langit dan bumi) dan seisinya sebagai bukti atas kesempurnaan sifatNya, dan supaya mereka mengetahui bahwa Dzat yang menciptakan langit dan bumi –padahal begitu besar dan luas– mampu untuk mengembalikan mereka kepada ciptaan yang baru, untuk membalas mereka atas kebaikan dan ke-burukan mereka, dan (memberitahukan bahwa) kekuasaan Allah dan kehendakNya tidak kerepotan untuk melakukannya. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَأۡتِ بِخَلۡقٖ جَدِيدٖ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakanmu, dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru", ayat itu mengandung suatu pengertian, bila Allah menghendaki, niscaya Allah melenyapkan kalian dan mendatangkan umat yang baru selain kalian, yang akan menjadi makhluk yang lebih taat kepada Allah daripada kalian. Dan juga memuat pengertian, jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan me-musnahkan kalian lantas mengembalikan wujud kalian dengan membangkitkan kalian (dari kubur) dalam wujud manusia baru. Dua pengertian ini ditunjukkan pada pembahasan Hari Kiamat yang disebutkan Allah nanti.
(20) ﴾ وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ بِعَزِيزٖ ﴿ "Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah", maksudnya, tidak mustahil, bahkan merupakan perkara mudah sekali bagiNya. ﴾ مَّا خَلۡقُكُمۡ وَلَا بَعۡثُكُمۡ إِلَّا كَنَفۡسٖ وَٰحِدَةٍۚ ﴿ "Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja." (Luqman: 28) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Ar-Rum: 27).
(21) ﴾ وَبَرَزُواْ ﴿ "Dan mereka akan berkumpul", yaitu makhluk-makhluk ﴾ لِلَّهِ جَمِيعٗا ﴿ "semuanya menghadap ke hadirat Allah", ketika sangkakala ditiup. Mereka pun bangkit dari kubur-kubur menuju Rabb mereka, berdiri di permukaan bumi yang rata, datar sama sekali, tiada sedikit pun kamu melihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi. Mereka berdiri menghadap ke hadirat Allah, tidak ada sesuatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi atasNya. Ketika berhadapan, maka mereka melakukan perdebatan mencari-cari alasan. Setiap orang membebaskan dirinya dan berupaya mem-bela diri sebisanya. Tetapi, apakah itu bisa mereka lakukan? Maka berkatalah, ﴾ ٱلضُّعَفَٰٓؤُاْ ﴿ "orang-orang yang lemah", yaitu yang mengekor dan mengedepankan fanatisme buta ﴾ لِلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ ﴿ "kepada orang-orang yang sombong", mereka adalah para panutan mereka yang menjadi lokomotif dalam kesesatan, ﴾ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعٗا ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu", di dunia, kalian memerintahkan kami untuk berbuat kesesatan dan menyo-dorkannya kepada kami dalam keadaan memikat sehingga kalian pun menjerumuskan kami dalam kesesatan. ﴾ فَهَلۡ أَنتُم ﴿ "Maka dapatkah kamu", pada hari ini ﴾ مُّغۡنُونَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۚ ﴿ "menghindarkan dari kami azab Allah (walaupun) sedikit saja", meski hanya siksaan seberat biji dzarrah saja. Seandainya ﴾ قَالُواْ ﴿ "me-reka mengatakan", yaitu para panutan dan pimpinan, "Kami menyesat-kan kalian sebagaimana kami telah sesat, maka ﴾ لَوۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ لَهَدَيۡنَٰكُمۡۖ ﴿ "seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu", sehingga tidak ada seorang pun yang bisa menolong orang lain. ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَجَزِعۡنَآ ﴿ "Sama saja bagi kita apa-kah kita mengeluh", karena siksaan ﴾ أَمۡ صَبَرۡنَا ﴿ "ataukah sabar" mengha-dapinya ﴾ مَا لَنَا مِن مَّحِيصٖ ﴿ "sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri", (yaitu berupa) tempat perlindungan yang kami bersembunyi di sana, juga tidak ada tempat melarikan diri bagi kami dari siksaan Allah.
Ibrahim 14:20
"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Allah telah mencipta-kan langit dan bumi dengan haq. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah. Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul meng-hadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong, 'Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindar-kan dari kami azab Allah (walaupun) sedikit saja,' Mereka menja-wab, 'Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri'." (Ibrahim: 19-21).
(19) Allah تعالى mengingatkan para hambaNya bahwasanya Dia ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "telah menciptakan langit dan bumi dengan haq", agar makhluk-makhlukNya beribadah kepadaNya, mengenal-Nya, serta memerintahkan dan melarang mereka. Juga supaya me-reka menjadikan keduanya (langit dan bumi) dan seisinya sebagai bukti atas kesempurnaan sifatNya, dan supaya mereka mengetahui bahwa Dzat yang menciptakan langit dan bumi –padahal begitu besar dan luas– mampu untuk mengembalikan mereka kepada ciptaan yang baru, untuk membalas mereka atas kebaikan dan ke-burukan mereka, dan (memberitahukan bahwa) kekuasaan Allah dan kehendakNya tidak kerepotan untuk melakukannya. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَأۡتِ بِخَلۡقٖ جَدِيدٖ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakanmu, dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru", ayat itu mengandung suatu pengertian, bila Allah menghendaki, niscaya Allah melenyapkan kalian dan mendatangkan umat yang baru selain kalian, yang akan menjadi makhluk yang lebih taat kepada Allah daripada kalian. Dan juga memuat pengertian, jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan me-musnahkan kalian lantas mengembalikan wujud kalian dengan membangkitkan kalian (dari kubur) dalam wujud manusia baru. Dua pengertian ini ditunjukkan pada pembahasan Hari Kiamat yang disebutkan Allah nanti.
(20) ﴾ وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ بِعَزِيزٖ ﴿ "Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah", maksudnya, tidak mustahil, bahkan merupakan perkara mudah sekali bagiNya. ﴾ مَّا خَلۡقُكُمۡ وَلَا بَعۡثُكُمۡ إِلَّا كَنَفۡسٖ وَٰحِدَةٍۚ ﴿ "Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja." (Luqman: 28) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Ar-Rum: 27).
(21) ﴾ وَبَرَزُواْ ﴿ "Dan mereka akan berkumpul", yaitu makhluk-makhluk ﴾ لِلَّهِ جَمِيعٗا ﴿ "semuanya menghadap ke hadirat Allah", ketika sangkakala ditiup. Mereka pun bangkit dari kubur-kubur menuju Rabb mereka, berdiri di permukaan bumi yang rata, datar sama sekali, tiada sedikit pun kamu melihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi. Mereka berdiri menghadap ke hadirat Allah, tidak ada sesuatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi atasNya. Ketika berhadapan, maka mereka melakukan perdebatan mencari-cari alasan. Setiap orang membebaskan dirinya dan berupaya mem-bela diri sebisanya. Tetapi, apakah itu bisa mereka lakukan? Maka berkatalah, ﴾ ٱلضُّعَفَٰٓؤُاْ ﴿ "orang-orang yang lemah", yaitu yang mengekor dan mengedepankan fanatisme buta ﴾ لِلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ ﴿ "kepada orang-orang yang sombong", mereka adalah para panutan mereka yang menjadi lokomotif dalam kesesatan, ﴾ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعٗا ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu", di dunia, kalian memerintahkan kami untuk berbuat kesesatan dan menyo-dorkannya kepada kami dalam keadaan memikat sehingga kalian pun menjerumuskan kami dalam kesesatan. ﴾ فَهَلۡ أَنتُم ﴿ "Maka dapatkah kamu", pada hari ini ﴾ مُّغۡنُونَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۚ ﴿ "menghindarkan dari kami azab Allah (walaupun) sedikit saja", meski hanya siksaan seberat biji dzarrah saja. Seandainya ﴾ قَالُواْ ﴿ "me-reka mengatakan", yaitu para panutan dan pimpinan, "Kami menyesat-kan kalian sebagaimana kami telah sesat, maka ﴾ لَوۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ لَهَدَيۡنَٰكُمۡۖ ﴿ "seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu", sehingga tidak ada seorang pun yang bisa menolong orang lain. ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَجَزِعۡنَآ ﴿ "Sama saja bagi kita apa-kah kita mengeluh", karena siksaan ﴾ أَمۡ صَبَرۡنَا ﴿ "ataukah sabar" mengha-dapinya ﴾ مَا لَنَا مِن مَّحِيصٖ ﴿ "sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri", (yaitu berupa) tempat perlindungan yang kami bersembunyi di sana, juga tidak ada tempat melarikan diri bagi kami dari siksaan Allah.
Ibrahim 14:21
"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Allah telah mencipta-kan langit dan bumi dengan haq. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah. Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul meng-hadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong, 'Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindar-kan dari kami azab Allah (walaupun) sedikit saja,' Mereka menja-wab, 'Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri'." (Ibrahim: 19-21).
(19) Allah تعالى mengingatkan para hambaNya bahwasanya Dia ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "telah menciptakan langit dan bumi dengan haq", agar makhluk-makhlukNya beribadah kepadaNya, mengenal-Nya, serta memerintahkan dan melarang mereka. Juga supaya me-reka menjadikan keduanya (langit dan bumi) dan seisinya sebagai bukti atas kesempurnaan sifatNya, dan supaya mereka mengetahui bahwa Dzat yang menciptakan langit dan bumi –padahal begitu besar dan luas– mampu untuk mengembalikan mereka kepada ciptaan yang baru, untuk membalas mereka atas kebaikan dan ke-burukan mereka, dan (memberitahukan bahwa) kekuasaan Allah dan kehendakNya tidak kerepotan untuk melakukannya. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَأۡتِ بِخَلۡقٖ جَدِيدٖ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakanmu, dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru", ayat itu mengandung suatu pengertian, bila Allah menghendaki, niscaya Allah melenyapkan kalian dan mendatangkan umat yang baru selain kalian, yang akan menjadi makhluk yang lebih taat kepada Allah daripada kalian. Dan juga memuat pengertian, jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan me-musnahkan kalian lantas mengembalikan wujud kalian dengan membangkitkan kalian (dari kubur) dalam wujud manusia baru. Dua pengertian ini ditunjukkan pada pembahasan Hari Kiamat yang disebutkan Allah nanti.
(20) ﴾ وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ بِعَزِيزٖ ﴿ "Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah", maksudnya, tidak mustahil, bahkan merupakan perkara mudah sekali bagiNya. ﴾ مَّا خَلۡقُكُمۡ وَلَا بَعۡثُكُمۡ إِلَّا كَنَفۡسٖ وَٰحِدَةٍۚ ﴿ "Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja." (Luqman: 28) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Ar-Rum: 27).
(21) ﴾ وَبَرَزُواْ ﴿ "Dan mereka akan berkumpul", yaitu makhluk-makhluk ﴾ لِلَّهِ جَمِيعٗا ﴿ "semuanya menghadap ke hadirat Allah", ketika sangkakala ditiup. Mereka pun bangkit dari kubur-kubur menuju Rabb mereka, berdiri di permukaan bumi yang rata, datar sama sekali, tiada sedikit pun kamu melihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi. Mereka berdiri menghadap ke hadirat Allah, tidak ada sesuatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi atasNya. Ketika berhadapan, maka mereka melakukan perdebatan mencari-cari alasan. Setiap orang membebaskan dirinya dan berupaya mem-bela diri sebisanya. Tetapi, apakah itu bisa mereka lakukan? Maka berkatalah, ﴾ ٱلضُّعَفَٰٓؤُاْ ﴿ "orang-orang yang lemah", yaitu yang mengekor dan mengedepankan fanatisme buta ﴾ لِلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ ﴿ "kepada orang-orang yang sombong", mereka adalah para panutan mereka yang menjadi lokomotif dalam kesesatan, ﴾ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعٗا ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu", di dunia, kalian memerintahkan kami untuk berbuat kesesatan dan menyo-dorkannya kepada kami dalam keadaan memikat sehingga kalian pun menjerumuskan kami dalam kesesatan. ﴾ فَهَلۡ أَنتُم ﴿ "Maka dapatkah kamu", pada hari ini ﴾ مُّغۡنُونَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۚ ﴿ "menghindarkan dari kami azab Allah (walaupun) sedikit saja", meski hanya siksaan seberat biji dzarrah saja. Seandainya ﴾ قَالُواْ ﴿ "me-reka mengatakan", yaitu para panutan dan pimpinan, "Kami menyesat-kan kalian sebagaimana kami telah sesat, maka ﴾ لَوۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ لَهَدَيۡنَٰكُمۡۖ ﴿ "seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu", sehingga tidak ada seorang pun yang bisa menolong orang lain. ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَجَزِعۡنَآ ﴿ "Sama saja bagi kita apa-kah kita mengeluh", karena siksaan ﴾ أَمۡ صَبَرۡنَا ﴿ "ataukah sabar" mengha-dapinya ﴾ مَا لَنَا مِن مَّحِيصٖ ﴿ "sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri", (yaitu berupa) tempat perlindungan yang kami bersembunyi di sana, juga tidak ada tempat melarikan diri bagi kami dari siksaan Allah.
Ibrahim 14:22
"Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah disele-saikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap-mu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencercaku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu, dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (de-ngan Allah) sejak dahulu.' Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih. Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Rabb mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah, 'Salam'." (Ibrahim: 22-23).
(22) Artinya ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan berkatalah setan", yang men-jadi faktor pemicu segala keburukan yang terjadi di alam semesta, sedang berbicara kepada para penghuni neraka, dalam rangka men-cuci tangannya dari tanggung jawab kepada mereka ﴾ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ﴿ "tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan", penghuni surga memasuki surga dan penghuni neraka masuk ke dalam neraka, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar", melalui lisan para RasulNya, namun kalian tidak menaati-nya. Jikalau kalian mau menaatinya, niscaya kalian benar-benar akan menjumpai kemenangan besar, ﴾ وَوَعَدتُّكُمۡ ﴿ "dan aku pun telah menjanjikan kepadamu", dengan kebaikan ﴾ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ ﴿ "tetapi aku me-nyalahinya", tapi (janji tersebut) tidak terealisasikan, dan harapan yang aku janjikan kepada kalian yang berupa impian-impian yang batil tidak pernah terwujud. ﴾ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ ﴿ "Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku ter-hadapmu", tidak ada kekuatan hujjah yang mendukung ucapanku, ﴾ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ ﴿ "melainkan (sekedar) aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku", maksudnya, inilah puncak (tujuan) yang aku canangkan, yaitu aku menyeru kalian kepada keinginanku dan aku mengkondisikannya agar nampak indah di mata kalian, lantas kalian menyambut (seruan)ku, lantaran kalian mengikuti hawa nafsu dan dorongan syahwat kalian. Kalau faktanya demikian ﴾ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ ﴿ "oleh sebab itu, janganlah kamu mencercaku. Akan tetapi cerca-lah dirimu sendiri", kalianlah yang menjadi penyebab, dan pada kalianlah inti penyebab hukuman, ﴾ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ ﴿ "aku sekali-kali tidak dapat menolongmu", aku bukan penolong kalian dari kesulitan yang kalian alami ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ ﴿ "dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku", setiap pihak menerima siksanya masing-masing. ﴾ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ ﴿ "Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah ) sejak dulu", maksud-nya aku berlepas diri dari tindakan kalian mempersekutukanku denganNya. Aku bukan sekutu bagi Allah, dan tidak wajib (sese-orang) taat kepadaku. ﴾ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu", (ber-buat zhalim) kepada diri mereka sendiri dengan taat kepada setan ﴾ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "mereka mendapat siksaan yang pedih", kekal abadi di dalamnya selamanya. Ini termasuk cerminan sifat kelembutan Allah kepada para hambaNya, dengan memperingatkan mereka dari bahaya taat kepada setan dan memberitahukan celah-celah yang digunakan setan untuk mengintervensi manusia dan (memberitahu-kan) maksud setan terhadap seorang manusia. Tujuannya adalah menjerumuskan manusia ke dalam api neraka. Di sini, Allah menjelaskan kepada kita bahwa setan dan pung-gawanya bila telah masuk neraka, maka mereka akan berkilah de-ngan pernyataan tersebut, mengingkari praktik kesyirikan mereka. ﴾ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِيرٖ 14 ﴿ "Dan tidak ada yang memberi berita kepadamu seperti yang dilaku-kan Dzat yang Maha Mengetahui." (Fathir: 14). Ketahuilah, di ayat ini, Allah menerangkan bahwa setan tidak mempunyai kekuasaan. Sementara di dalam ayat lain Allah berfir-man, ﴾ إِنَّمَا سُلۡطَٰنُهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَوَلَّوۡنَهُۥ وَٱلَّذِينَ هُم بِهِۦ مُشۡرِكُونَ 100 ﴿ "Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya menjadi pemimpin dan atas orang-orang yang mem-persekutukannya dengan Allah." (An-Nahl: 100). Kekuasaan yang Allah tepis darinya adalah kekuatan hujjah dan dalil. Pada dasarnya, ia tidak mempunyai hujjah yang men-dukung seruannya. Kemampuannya yang paling tinggi hanyalah, melontarkan berbagai macam syubhat dan tipudaya kepada mereka, yang membuat mereka nekad dalam berbuat maksiat. Sedangkan kekuasaan yang Allah tetapkan baginya, adalah kemampuan melan-carkan tipuan kepada para pengikutnya untuk berbuat maksiat yang benar-benar menyeret mereka ke dalamnya dengan kuat. Mereka itu adalah orang-orang yang mendudukkannya sebagai penguasa atas diri mereka melalui pemberian loyalitas dan bergabung dengan kelompoknya. Oleh karenanya, ia tidak mempunyai kekuasaan (ke-kuatan) atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah.
(23) Ketika Allah menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang berbuat zhalim, lantas menyebutkan pahala bagi orang-orang yang taat. Dia berfirman, ﴾ وَأُدۡخِلَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih", yaitu mereka yang melaksanakan agama dalam bentuk ucapan, amalan, dan keyakinan ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai", di dalamnya terdapat berbagai kenikmat-an dan kesenangan yang tidak pernah disaksikan mata, tidak ter-dengar oleh pendengaran, dan tidak terlintas pada benak siapa pun. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya dengan seizin Rabb mereka", bukan karena daya dan kekuatan mereka, tapi dengan daya dan kekuatan Allah. ﴾ تَحِيَّتُهُمۡ فِيهَا سَلَٰمٌ ﴿ "Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah, 'Salam'," mereka saling menyampai-kan ucapan selamat, sambutan dan perkataan yang baik kepada yang lain.
Ibrahim 14:23
"Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah disele-saikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap-mu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencercaku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu, dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (de-ngan Allah) sejak dahulu.' Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih. Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Rabb mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah, 'Salam'." (Ibrahim: 22-23).
(22) Artinya ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Dan berkatalah setan", yang men-jadi faktor pemicu segala keburukan yang terjadi di alam semesta, sedang berbicara kepada para penghuni neraka, dalam rangka men-cuci tangannya dari tanggung jawab kepada mereka ﴾ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ﴿ "tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan", penghuni surga memasuki surga dan penghuni neraka masuk ke dalam neraka, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar", melalui lisan para RasulNya, namun kalian tidak menaati-nya. Jikalau kalian mau menaatinya, niscaya kalian benar-benar akan menjumpai kemenangan besar, ﴾ وَوَعَدتُّكُمۡ ﴿ "dan aku pun telah menjanjikan kepadamu", dengan kebaikan ﴾ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ ﴿ "tetapi aku me-nyalahinya", tapi (janji tersebut) tidak terealisasikan, dan harapan yang aku janjikan kepada kalian yang berupa impian-impian yang batil tidak pernah terwujud. ﴾ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ ﴿ "Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku ter-hadapmu", tidak ada kekuatan hujjah yang mendukung ucapanku, ﴾ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ ﴿ "melainkan (sekedar) aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku", maksudnya, inilah puncak (tujuan) yang aku canangkan, yaitu aku menyeru kalian kepada keinginanku dan aku mengkondisikannya agar nampak indah di mata kalian, lantas kalian menyambut (seruan)ku, lantaran kalian mengikuti hawa nafsu dan dorongan syahwat kalian. Kalau faktanya demikian ﴾ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ ﴿ "oleh sebab itu, janganlah kamu mencercaku. Akan tetapi cerca-lah dirimu sendiri", kalianlah yang menjadi penyebab, dan pada kalianlah inti penyebab hukuman, ﴾ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ ﴿ "aku sekali-kali tidak dapat menolongmu", aku bukan penolong kalian dari kesulitan yang kalian alami ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ ﴿ "dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku", setiap pihak menerima siksanya masing-masing. ﴾ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ ﴿ "Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah ) sejak dulu", maksud-nya aku berlepas diri dari tindakan kalian mempersekutukanku denganNya. Aku bukan sekutu bagi Allah, dan tidak wajib (sese-orang) taat kepadaku. ﴾ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu", (ber-buat zhalim) kepada diri mereka sendiri dengan taat kepada setan ﴾ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "mereka mendapat siksaan yang pedih", kekal abadi di dalamnya selamanya. Ini termasuk cerminan sifat kelembutan Allah kepada para hambaNya, dengan memperingatkan mereka dari bahaya taat kepada setan dan memberitahukan celah-celah yang digunakan setan untuk mengintervensi manusia dan (memberitahu-kan) maksud setan terhadap seorang manusia. Tujuannya adalah menjerumuskan manusia ke dalam api neraka. Di sini, Allah menjelaskan kepada kita bahwa setan dan pung-gawanya bila telah masuk neraka, maka mereka akan berkilah de-ngan pernyataan tersebut, mengingkari praktik kesyirikan mereka. ﴾ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِيرٖ 14 ﴿ "Dan tidak ada yang memberi berita kepadamu seperti yang dilaku-kan Dzat yang Maha Mengetahui." (Fathir: 14). Ketahuilah, di ayat ini, Allah menerangkan bahwa setan tidak mempunyai kekuasaan. Sementara di dalam ayat lain Allah berfir-man, ﴾ إِنَّمَا سُلۡطَٰنُهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَوَلَّوۡنَهُۥ وَٱلَّذِينَ هُم بِهِۦ مُشۡرِكُونَ 100 ﴿ "Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya menjadi pemimpin dan atas orang-orang yang mem-persekutukannya dengan Allah." (An-Nahl: 100). Kekuasaan yang Allah tepis darinya adalah kekuatan hujjah dan dalil. Pada dasarnya, ia tidak mempunyai hujjah yang men-dukung seruannya. Kemampuannya yang paling tinggi hanyalah, melontarkan berbagai macam syubhat dan tipudaya kepada mereka, yang membuat mereka nekad dalam berbuat maksiat. Sedangkan kekuasaan yang Allah tetapkan baginya, adalah kemampuan melan-carkan tipuan kepada para pengikutnya untuk berbuat maksiat yang benar-benar menyeret mereka ke dalamnya dengan kuat. Mereka itu adalah orang-orang yang mendudukkannya sebagai penguasa atas diri mereka melalui pemberian loyalitas dan bergabung dengan kelompoknya. Oleh karenanya, ia tidak mempunyai kekuasaan (ke-kuatan) atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah.
(23) Ketika Allah menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang berbuat zhalim, lantas menyebutkan pahala bagi orang-orang yang taat. Dia berfirman, ﴾ وَأُدۡخِلَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih", yaitu mereka yang melaksanakan agama dalam bentuk ucapan, amalan, dan keyakinan ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai", di dalamnya terdapat berbagai kenikmat-an dan kesenangan yang tidak pernah disaksikan mata, tidak ter-dengar oleh pendengaran, dan tidak terlintas pada benak siapa pun. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya dengan seizin Rabb mereka", bukan karena daya dan kekuatan mereka, tapi dengan daya dan kekuatan Allah. ﴾ تَحِيَّتُهُمۡ فِيهَا سَلَٰمٌ ﴿ "Ucapan penghormatan mereka dalam surga itu ialah, 'Salam'," mereka saling menyampai-kan ucapan selamat, sambutan dan perkataan yang baik kepada yang lain.
Ibrahim 14:24
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk adalah seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun." (Ibrahim: 24-26).
(24) Allah تعالى berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ ﴿ "Tidak-kah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan ka-limat yang baik", yaitu persaksian tidak ada sesembahan (yang ber-hak disembah) kecuali Allah, dan cabang-cabangnya adalah ﴾ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ ﴿ "seperti pohon yang baik", yaitu pohon kurma ﴾ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ ﴿ "akar-nya teguh" ke dalam tanah ﴾ وَفَرۡعُهَا ﴿ "dan cabangnya", menjulang ﴾ فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "ke langit", selalu banyak manfaatnya.
(25) ﴾ تُؤۡتِيٓ أُكُلَهَا ﴿ "Pohon itu memberikan buahnya", hasil buah-buahnya ﴾ كُلَّ حِينِۭ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ ﴿ "pada setiap musim dengan seizin Rabbnya", demikian pula pohon iman, akarnya teguh di hati seorang Mukmin dalam bentuk ilmu dan keyakinan. Cabangnya berbentuk perkataan baik, amal shalih, akhlak yang disukai dan etika-etika yang bagus selalu berada di langit, menuju kepada Allah dari dirinya berupa amalan-amalan dan ucapan-ucapan yang dihasilkan oleh pohon iman, yang menorehkan manfaat bagi seorang Mukmin dan orang lain. ﴾ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Allah membuat perumpa-maan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat", ke-pada hal-hal yang diperintahkan dan dilarang. Karena di dalam penetapan permisalan terdapat (makna) pendekatan untuk makna yang logis dari permisalan yang dapat dicerna oleh panca indera. Dan makna yang diinginkan Allah menjadi benar-benar terang dan betul-betul jelas. Ini salah satu bentuk rahmat dan keindahan pem-binaanNya (kepada para makhluk). Bagi Allah pujian yang paling sempurna dan paling paripurna serta paling luas. Sifat ini merupa-kan karakteristik kalimat tauhid dan keteguhannya di hati seorang Mukmin.
(26) Kemudian Allah menyebutkan lawannya, yaitu kalimat al-Kufr (perkataan kekufuran) dan cabang-cabangnya. Allah berfir-man, ﴾ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٖ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ ﴿ "Dan perumpamaan kalimat yang buruk adalah seperti pohon yang buruk", untuk dimakan dan dirasakan, ia merupakan pohon Handzhal dan pohon yang serupa lainnya ﴾ ٱجۡتُثَّتۡ ﴿ "yang telah dicabut dengan akar-akarnya", yakni pohon ini (telah dicabut) ﴾ مِن فَوۡقِ ٱلۡأَرۡضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٖ ﴿ "dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun", tidak ada keteguhan, tidak ada akar yang menahannya dan tidak ada buah bagus yang dihasilkannya. Bahkan kalaupun ada buahnya, tapi jenis buah yang jelek. Demikian pula kalimat kekufuran dan kemaksiatan. Tidak ada keteguhan yang bermanfaat dalam hati, tidak menghasilkan melainkan ucapan buruk, dan amalan keji. Orangnya pun justru terancam bahaya olehnya. Tidak mendapatkan manfaat darinya. Amalan shalih darinya tidak melaju naik kepada Allah. Tidak memberinya manfaat kepada dirinya, dan orang lain pun tidak merasakan manfaatnya.
Ibrahim 14:25
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk adalah seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun." (Ibrahim: 24-26).
(24) Allah تعالى berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ ﴿ "Tidak-kah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan ka-limat yang baik", yaitu persaksian tidak ada sesembahan (yang ber-hak disembah) kecuali Allah, dan cabang-cabangnya adalah ﴾ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ ﴿ "seperti pohon yang baik", yaitu pohon kurma ﴾ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ ﴿ "akar-nya teguh" ke dalam tanah ﴾ وَفَرۡعُهَا ﴿ "dan cabangnya", menjulang ﴾ فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "ke langit", selalu banyak manfaatnya.
(25) ﴾ تُؤۡتِيٓ أُكُلَهَا ﴿ "Pohon itu memberikan buahnya", hasil buah-buahnya ﴾ كُلَّ حِينِۭ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ ﴿ "pada setiap musim dengan seizin Rabbnya", demikian pula pohon iman, akarnya teguh di hati seorang Mukmin dalam bentuk ilmu dan keyakinan. Cabangnya berbentuk perkataan baik, amal shalih, akhlak yang disukai dan etika-etika yang bagus selalu berada di langit, menuju kepada Allah dari dirinya berupa amalan-amalan dan ucapan-ucapan yang dihasilkan oleh pohon iman, yang menorehkan manfaat bagi seorang Mukmin dan orang lain. ﴾ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Allah membuat perumpa-maan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat", ke-pada hal-hal yang diperintahkan dan dilarang. Karena di dalam penetapan permisalan terdapat (makna) pendekatan untuk makna yang logis dari permisalan yang dapat dicerna oleh panca indera. Dan makna yang diinginkan Allah menjadi benar-benar terang dan betul-betul jelas. Ini salah satu bentuk rahmat dan keindahan pem-binaanNya (kepada para makhluk). Bagi Allah pujian yang paling sempurna dan paling paripurna serta paling luas. Sifat ini merupa-kan karakteristik kalimat tauhid dan keteguhannya di hati seorang Mukmin.
(26) Kemudian Allah menyebutkan lawannya, yaitu kalimat al-Kufr (perkataan kekufuran) dan cabang-cabangnya. Allah berfir-man, ﴾ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٖ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ ﴿ "Dan perumpamaan kalimat yang buruk adalah seperti pohon yang buruk", untuk dimakan dan dirasakan, ia merupakan pohon Handzhal dan pohon yang serupa lainnya ﴾ ٱجۡتُثَّتۡ ﴿ "yang telah dicabut dengan akar-akarnya", yakni pohon ini (telah dicabut) ﴾ مِن فَوۡقِ ٱلۡأَرۡضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٖ ﴿ "dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun", tidak ada keteguhan, tidak ada akar yang menahannya dan tidak ada buah bagus yang dihasilkannya. Bahkan kalaupun ada buahnya, tapi jenis buah yang jelek. Demikian pula kalimat kekufuran dan kemaksiatan. Tidak ada keteguhan yang bermanfaat dalam hati, tidak menghasilkan melainkan ucapan buruk, dan amalan keji. Orangnya pun justru terancam bahaya olehnya. Tidak mendapatkan manfaat darinya. Amalan shalih darinya tidak melaju naik kepada Allah. Tidak memberinya manfaat kepada dirinya, dan orang lain pun tidak merasakan manfaatnya.
Ibrahim 14:26
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk adalah seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun." (Ibrahim: 24-26).
(24) Allah تعالى berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ ﴿ "Tidak-kah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan ka-limat yang baik", yaitu persaksian tidak ada sesembahan (yang ber-hak disembah) kecuali Allah, dan cabang-cabangnya adalah ﴾ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ ﴿ "seperti pohon yang baik", yaitu pohon kurma ﴾ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ ﴿ "akar-nya teguh" ke dalam tanah ﴾ وَفَرۡعُهَا ﴿ "dan cabangnya", menjulang ﴾ فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "ke langit", selalu banyak manfaatnya.
(25) ﴾ تُؤۡتِيٓ أُكُلَهَا ﴿ "Pohon itu memberikan buahnya", hasil buah-buahnya ﴾ كُلَّ حِينِۭ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ ﴿ "pada setiap musim dengan seizin Rabbnya", demikian pula pohon iman, akarnya teguh di hati seorang Mukmin dalam bentuk ilmu dan keyakinan. Cabangnya berbentuk perkataan baik, amal shalih, akhlak yang disukai dan etika-etika yang bagus selalu berada di langit, menuju kepada Allah dari dirinya berupa amalan-amalan dan ucapan-ucapan yang dihasilkan oleh pohon iman, yang menorehkan manfaat bagi seorang Mukmin dan orang lain. ﴾ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Allah membuat perumpa-maan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat", ke-pada hal-hal yang diperintahkan dan dilarang. Karena di dalam penetapan permisalan terdapat (makna) pendekatan untuk makna yang logis dari permisalan yang dapat dicerna oleh panca indera. Dan makna yang diinginkan Allah menjadi benar-benar terang dan betul-betul jelas. Ini salah satu bentuk rahmat dan keindahan pem-binaanNya (kepada para makhluk). Bagi Allah pujian yang paling sempurna dan paling paripurna serta paling luas. Sifat ini merupa-kan karakteristik kalimat tauhid dan keteguhannya di hati seorang Mukmin.
(26) Kemudian Allah menyebutkan lawannya, yaitu kalimat al-Kufr (perkataan kekufuran) dan cabang-cabangnya. Allah berfir-man, ﴾ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٖ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ ﴿ "Dan perumpamaan kalimat yang buruk adalah seperti pohon yang buruk", untuk dimakan dan dirasakan, ia merupakan pohon Handzhal dan pohon yang serupa lainnya ﴾ ٱجۡتُثَّتۡ ﴿ "yang telah dicabut dengan akar-akarnya", yakni pohon ini (telah dicabut) ﴾ مِن فَوۡقِ ٱلۡأَرۡضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٖ ﴿ "dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun", tidak ada keteguhan, tidak ada akar yang menahannya dan tidak ada buah bagus yang dihasilkannya. Bahkan kalaupun ada buahnya, tapi jenis buah yang jelek. Demikian pula kalimat kekufuran dan kemaksiatan. Tidak ada keteguhan yang bermanfaat dalam hati, tidak menghasilkan melainkan ucapan buruk, dan amalan keji. Orangnya pun justru terancam bahaya olehnya. Tidak mendapatkan manfaat darinya. Amalan shalih darinya tidak melaju naik kepada Allah. Tidak memberinya manfaat kepada dirinya, dan orang lain pun tidak merasakan manfaatnya.
Ibrahim 14:27
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan berbuat apa yang Dia kehendaki." (Ibrahim: 27).
(27) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia meneguhkan (hati) para hambaNya yang beriman, yaitu orang-orang yang melaksana-kan kewajiban mereka berupa keimanan hati yang sempurna, yang berkonsekuensi pelaksanaan amalan-amalan fisik dan mengembang-kannya. Maka Allah menetapkan hati mereka di kehidupan dunia saat gencarnya syubhat-syubhat dengan kekuatan hidayah menuju keyakinan, dan saat bermunculannya syahwat-syahwat melalui tekad baja untuk lebih mengutamakan hal-hal yang dicintai Allah daripada bisikan hawa nafsu dan hasratnya. Sementara itu, di akhi-rat kelak, ketika kematian datang, (Dia menetapkan hati) dengan keteguhan berpedoman pada agama Islam dan husnul khatimah. Sedangkan di kubur nanti, saat menghadapi pertanyaan dua ma-laikat (maka Allah meneguhkannya) dengan (memudahkannya untuk) menjawabnya dengan jawaban yang benar, ketika dilontar-kan kepada mayat: Siapakah Rabbmu? Apakah agamamu? Dan siapakah nabimu? Allah memberikan hidayah kepada mereka untuk menjawab dengan benar, dengan menjawab, "Allah Rabbku, Islam agamaku dan Muhammad Nabiku." ﴾ وَيُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلظَّٰلِمِينَۚ ﴿ "Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim", dari jalan kebenaran di dunia dan akhirat. Allah tidak ber-buat kezhaliman kepada mereka. Mereka sendirilah yang telah meng-aniaya diri mereka sendiri. Dalam ayat ini, terkandung petunjuk tentang wujud fitnah kubur, siksaan dan kenikmatan padanya, sebagaimana tertuang dalam banyak nash dari Nabi tentang fitnah dan bentuknya, kenik-matan kubur dan siksanya.
Ibrahim 14:28
"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nik-mat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan. Yaitu Neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanNya. Katakanlah, 'Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka'." (Ibrahim: 28-30).
(28) Allah تعالى berfirman menjelaskan kondisi riil orang-orang yang mendustakan RasulNya, dari kalangan orang-orang kafir Quraisy dan kesudahan ulah mereka. ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ بَدَّلُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ كُفۡرٗا ﴿ "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran", kenikmatan dari Allah yakni pengutusan Mu-hammad kepada mereka untuk menyeru mereka kepada pencapaian kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat, dan (menyeru) kepada keselamatan dari macam-macam kejelekan dunia dan akhirat. Mereka menggantikan nikmat ini dengan menampiknya dan mengingkari-nya serta berpaling darinya dengan tindakan diri mereka sendiri dan menghalangi orang lain sehingga ﴾ أ َ ح َ ل ّ ُ و ْ ا قَوۡمَهُمۡ دَارَ ٱلۡبَوَارِ ﴿ "dan men-jatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan", yaitu neraka. Mereka menjadi faktor penyebab kesesatan mereka sendiri, hingga menjelma sebagai malapetaka bagi kaum mereka, padahal diperkirakan memberikan manfaat bagi mereka. Di antaranya, mereka berhasil membujuk kaum mereka untuk keluar menuju perang Badar guna memerangi Allah dan RasulNya. Maka, terjadilah apa yang sudah dibukukan sejarah. Banyak pembesar dan tokoh mereka yang terbunuh dalam pertempuran tersebut.
(29) ﴾ جَهَنَّمَ يَصۡلَوۡنَهَاۖ ﴿ "Yaitu Neraka Jahanam, mereka masuk ke dalamnya", panasnya akan mengitari diri mereka dari semua sisi. ﴾ وَبِئۡسَ ٱلۡقَرَارُ ﴿ "Dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman."
(30) ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا ﴿ "Dan orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah", tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu ﴾ لِّيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِهِۦۗ ﴿ "supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanNya", untuk menyesatkan para hamba dari jalan Allah melalui tandingan-tandingan yang telah mereka tetapkan bagi Allah dan menyeru orang-orang untuk menyembahnya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", untuk meng-ancam mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ ﴿ "Bersenang-senanglah", dengan kekufuran dan kesesatan kalian sejenak. Kesempatan itu tidaklah bermanfaat bagi kalian ﴾ فَإِنَّ مَصِيرَكُمۡ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "karena sesungguhnya tempat kembali-mu ialah neraka", tempat kembali dan tempat kesudahan mereka adalah di dalamnya. Dan neraka itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali.
Ibrahim 14:29
"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nik-mat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan. Yaitu Neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanNya. Katakanlah, 'Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka'." (Ibrahim: 28-30).
(28) Allah تعالى berfirman menjelaskan kondisi riil orang-orang yang mendustakan RasulNya, dari kalangan orang-orang kafir Quraisy dan kesudahan ulah mereka. ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ بَدَّلُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ كُفۡرٗا ﴿ "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran", kenikmatan dari Allah yakni pengutusan Mu-hammad kepada mereka untuk menyeru mereka kepada pencapaian kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat, dan (menyeru) kepada keselamatan dari macam-macam kejelekan dunia dan akhirat. Mereka menggantikan nikmat ini dengan menampiknya dan mengingkari-nya serta berpaling darinya dengan tindakan diri mereka sendiri dan menghalangi orang lain sehingga ﴾ أ َ ح َ ل ّ ُ و ْ ا قَوۡمَهُمۡ دَارَ ٱلۡبَوَارِ ﴿ "dan men-jatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan", yaitu neraka. Mereka menjadi faktor penyebab kesesatan mereka sendiri, hingga menjelma sebagai malapetaka bagi kaum mereka, padahal diperkirakan memberikan manfaat bagi mereka. Di antaranya, mereka berhasil membujuk kaum mereka untuk keluar menuju perang Badar guna memerangi Allah dan RasulNya. Maka, terjadilah apa yang sudah dibukukan sejarah. Banyak pembesar dan tokoh mereka yang terbunuh dalam pertempuran tersebut.
(29) ﴾ جَهَنَّمَ يَصۡلَوۡنَهَاۖ ﴿ "Yaitu Neraka Jahanam, mereka masuk ke dalamnya", panasnya akan mengitari diri mereka dari semua sisi. ﴾ وَبِئۡسَ ٱلۡقَرَارُ ﴿ "Dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman."
(30) ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا ﴿ "Dan orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah", tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu ﴾ لِّيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِهِۦۗ ﴿ "supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanNya", untuk menyesatkan para hamba dari jalan Allah melalui tandingan-tandingan yang telah mereka tetapkan bagi Allah dan menyeru orang-orang untuk menyembahnya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", untuk meng-ancam mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ ﴿ "Bersenang-senanglah", dengan kekufuran dan kesesatan kalian sejenak. Kesempatan itu tidaklah bermanfaat bagi kalian ﴾ فَإِنَّ مَصِيرَكُمۡ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "karena sesungguhnya tempat kembali-mu ialah neraka", tempat kembali dan tempat kesudahan mereka adalah di dalamnya. Dan neraka itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali.
Ibrahim 14:30
"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nik-mat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan. Yaitu Neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanNya. Katakanlah, 'Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka'." (Ibrahim: 28-30).
(28) Allah تعالى berfirman menjelaskan kondisi riil orang-orang yang mendustakan RasulNya, dari kalangan orang-orang kafir Quraisy dan kesudahan ulah mereka. ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ بَدَّلُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ كُفۡرٗا ﴿ "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran", kenikmatan dari Allah yakni pengutusan Mu-hammad kepada mereka untuk menyeru mereka kepada pencapaian kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat, dan (menyeru) kepada keselamatan dari macam-macam kejelekan dunia dan akhirat. Mereka menggantikan nikmat ini dengan menampiknya dan mengingkari-nya serta berpaling darinya dengan tindakan diri mereka sendiri dan menghalangi orang lain sehingga ﴾ أ َ ح َ ل ّ ُ و ْ ا قَوۡمَهُمۡ دَارَ ٱلۡبَوَارِ ﴿ "dan men-jatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan", yaitu neraka. Mereka menjadi faktor penyebab kesesatan mereka sendiri, hingga menjelma sebagai malapetaka bagi kaum mereka, padahal diperkirakan memberikan manfaat bagi mereka. Di antaranya, mereka berhasil membujuk kaum mereka untuk keluar menuju perang Badar guna memerangi Allah dan RasulNya. Maka, terjadilah apa yang sudah dibukukan sejarah. Banyak pembesar dan tokoh mereka yang terbunuh dalam pertempuran tersebut.
(29) ﴾ جَهَنَّمَ يَصۡلَوۡنَهَاۖ ﴿ "Yaitu Neraka Jahanam, mereka masuk ke dalamnya", panasnya akan mengitari diri mereka dari semua sisi. ﴾ وَبِئۡسَ ٱلۡقَرَارُ ﴿ "Dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman."
(30) ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا ﴿ "Dan orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah", tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu ﴾ لِّيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِهِۦۗ ﴿ "supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalanNya", untuk menyesatkan para hamba dari jalan Allah melalui tandingan-tandingan yang telah mereka tetapkan bagi Allah dan menyeru orang-orang untuk menyembahnya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah", untuk meng-ancam mereka, ﴾ تَمَتَّعُواْ ﴿ "Bersenang-senanglah", dengan kekufuran dan kesesatan kalian sejenak. Kesempatan itu tidaklah bermanfaat bagi kalian ﴾ فَإِنَّ مَصِيرَكُمۡ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "karena sesungguhnya tempat kembali-mu ialah neraka", tempat kembali dan tempat kesudahan mereka adalah di dalamnya. Dan neraka itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali.
Ibrahim 14:31
"Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang telah beriman, 'Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun te-rang-terangan sebelum datang hari (Kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan'." (Ibrahim: 31).
(31) Artinya, katakanlah kepada para hambaKu yang beriman untuk memerintahkan mereka dengan perintah yang berisi puncak kemaslahatan bagi mereka dan sepatutnya mempergunakan kesem-patan sebelum mereka tidak mampu berbuat apa-apa. ﴾ يُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Hendaklah mereka mendirikan shalat", secara zahir dan batin ﴾ وَيُنفِقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan", dalam ben-tuk kenikmatan yang telah Kami curahkan kepada mereka, sedikit atau banyak ﴾ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ ﴿ "secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan", infak ini mencakup infak wajib, misalnya zakat, dan me-nafkahi orang yang wajib dinafkahi oleh seseorang, juga mencakup nafkah yang mustahab seperti sedekah-sedekah dan lainnya. ﴾ مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٞ لَّا بَيۡعٞ فِيهِ وَلَا خِلَٰلٌ ﴿ "sebelum datang hari (Kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan", tidak ada sesuatu pun yang ber-guna pada waktu itu, dan tidak ada cara untuk mengejar sesuatu yang telah terlewatkan, tidak terbeli melalui praktik transaksi jual beli, atau dengan pemberian hibah (hadiah) dari orang terkasih atau teman akrab. Setiap insan mempunyai urusan sendiri-sendiri yang menyibukkannya. Hendaklah seorang hamba mempersembahkan (amalan) bagi dirinya dan memperhatikan apa yang telah dia per-siapkan untuk hari esok. Hendaklah dia memantau aktifitas-aktifitas-nya, mengintrospeksi diri sebelum datangnya hari perhitungan yang agung.
Ibrahim 14:32
"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menu-runkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan -dengan air hujan itu- berbagai buah-buahan menjadi rizki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagi-mu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbit-nya); dan Dia telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya tidaklah kamu dapat menghitungnya. Se-sungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (Ibrahim: 32-34).
(32) Allah تعالى memberitakan bahwa Dia-lah semata ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "yang telah menciptakan langit dan bumi", dengan segala bentuknya yang luas lagi besar ﴾ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ ﴿ "dan menurunkan air hujan dari langit", air hujan yang Allah turunkan dari gumpalan mendung, lantas mengeluarkan dengan air itu ﴾ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ ﴿ "berbagai buah-buahan", yang bermacam-macam jenisnya ﴾ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ ﴿ "menjadi rizki bagi dirimu", dan sebagai rizki bagi hewan ternak kalian ﴾ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡفُلۡكَ ﴿ "dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu", kapal-kapal dan perahu-perahu ﴾ لِتَجۡرِيَ فِي ٱلۡبَحۡرِ بِأَمۡرِهِۦۖ ﴿ "supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya", Dia-lah Dzat yang memudahkan proses pembuatannya bagi kalian dan memberikan kemampuan bagi kalian untuk mengerjakannya dan menjaganya (tetap mengambang) di atas aliran air. Gunanya, untuk membawa kalian dan benda pernia-gaan kalian serta barang-barang kalian menuju tempat yang kalian tuju. ﴾ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡأَنۡهَٰرَ ﴿ "Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai", untuk mengairi sawah pertanian kalian dan pepo-honan, dan untuk kalian minum sebagiannya.
(33) ﴾ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ دَآئِبَيۡنِۖ ﴿ "Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya)", tidak lamban dan tidak tersendat-sendat, melaju guna menciptakan kemaslahatan bagi kalian seperti perhitungan waktu-waktu dan maslahat bagi fisik, hewan ternak, dan tanaman serta buah-buahan milik kalian. ﴾ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ ﴿ "Dan Dia telah menundukkan bagimu malam" agar kalian dapat tidur padanya ﴾ وَٱلنَّهَارَ ﴿ "dan siang", penuh cahaya agar kalian bisa mencari sebagian dari keutamaan-Nya.
(34) ﴾ وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُۚ ﴿ "Dan Dia telah memberikan kepada-mu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya", Allah memberikan kepada kalian segala hal yang berhubungan dengan angan-angan dan kebutuhan kalian yang kalian mohon-kan kepadaNya, baik melalui gerak-gerik kalian atau dengan per-nyataan verbal berupa hewan-hewan ternak, alat-alat (piranti), produk-produk dan lain sebagainya. ﴾ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ ﴿ "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitung-nya", apalagi berkaitan dengan pelaksanaan syukur kalian terha-dapnya ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٞ كَفَّارٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)", maksudnya sifat ini merupakan tabiat manusia, di mana dia berbuat zhalim dan nekad melakukan maksiat-maksiat, lalai dalam memenuhi hak-hak Allah, sering mengingkari nikmat-nikmat Allah, tidak mensyukurinya, tidak mengakuinya, kecuali orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah, hingga mau bersyukur atas nikmat-nikmatNya, dan menya-dari hak Rabbnya (atas dirinya) dan menjalankannya. Pada beberapa ayat ini, terdapat keterangan mengenai berba-gai macam nikmat Allah yang banyak kepada hamba, baik terpe-rinci ataupun global. Allah mengajak para hambaNya untuk berbuat syukur kepadaNya dan mengingatNya serta menganjurkan mereka untuk itu, mendorong untuk meminta dan berdoa kepadaNya di waktu-waktu malam dan siang hari, sebagaimana (timbal baliknya) bahwa nikmatNya akan datang berulang-ulang di segala waktu.
Ibrahim 14:33
"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menu-runkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan -dengan air hujan itu- berbagai buah-buahan menjadi rizki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagi-mu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbit-nya); dan Dia telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya tidaklah kamu dapat menghitungnya. Se-sungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (Ibrahim: 32-34).
(32) Allah تعالى memberitakan bahwa Dia-lah semata ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "yang telah menciptakan langit dan bumi", dengan segala bentuknya yang luas lagi besar ﴾ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ ﴿ "dan menurunkan air hujan dari langit", air hujan yang Allah turunkan dari gumpalan mendung, lantas mengeluarkan dengan air itu ﴾ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ ﴿ "berbagai buah-buahan", yang bermacam-macam jenisnya ﴾ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ ﴿ "menjadi rizki bagi dirimu", dan sebagai rizki bagi hewan ternak kalian ﴾ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡفُلۡكَ ﴿ "dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu", kapal-kapal dan perahu-perahu ﴾ لِتَجۡرِيَ فِي ٱلۡبَحۡرِ بِأَمۡرِهِۦۖ ﴿ "supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya", Dia-lah Dzat yang memudahkan proses pembuatannya bagi kalian dan memberikan kemampuan bagi kalian untuk mengerjakannya dan menjaganya (tetap mengambang) di atas aliran air. Gunanya, untuk membawa kalian dan benda pernia-gaan kalian serta barang-barang kalian menuju tempat yang kalian tuju. ﴾ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡأَنۡهَٰرَ ﴿ "Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai", untuk mengairi sawah pertanian kalian dan pepo-honan, dan untuk kalian minum sebagiannya.
(33) ﴾ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ دَآئِبَيۡنِۖ ﴿ "Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya)", tidak lamban dan tidak tersendat-sendat, melaju guna menciptakan kemaslahatan bagi kalian seperti perhitungan waktu-waktu dan maslahat bagi fisik, hewan ternak, dan tanaman serta buah-buahan milik kalian. ﴾ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ ﴿ "Dan Dia telah menundukkan bagimu malam" agar kalian dapat tidur padanya ﴾ وَٱلنَّهَارَ ﴿ "dan siang", penuh cahaya agar kalian bisa mencari sebagian dari keutamaan-Nya.
(34) ﴾ وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُۚ ﴿ "Dan Dia telah memberikan kepada-mu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya", Allah memberikan kepada kalian segala hal yang berhubungan dengan angan-angan dan kebutuhan kalian yang kalian mohon-kan kepadaNya, baik melalui gerak-gerik kalian atau dengan per-nyataan verbal berupa hewan-hewan ternak, alat-alat (piranti), produk-produk dan lain sebagainya. ﴾ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ ﴿ "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitung-nya", apalagi berkaitan dengan pelaksanaan syukur kalian terha-dapnya ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٞ كَفَّارٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)", maksudnya sifat ini merupakan tabiat manusia, di mana dia berbuat zhalim dan nekad melakukan maksiat-maksiat, lalai dalam memenuhi hak-hak Allah, sering mengingkari nikmat-nikmat Allah, tidak mensyukurinya, tidak mengakuinya, kecuali orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah, hingga mau bersyukur atas nikmat-nikmatNya, dan menya-dari hak Rabbnya (atas dirinya) dan menjalankannya. Pada beberapa ayat ini, terdapat keterangan mengenai berba-gai macam nikmat Allah yang banyak kepada hamba, baik terpe-rinci ataupun global. Allah mengajak para hambaNya untuk berbuat syukur kepadaNya dan mengingatNya serta menganjurkan mereka untuk itu, mendorong untuk meminta dan berdoa kepadaNya di waktu-waktu malam dan siang hari, sebagaimana (timbal baliknya) bahwa nikmatNya akan datang berulang-ulang di segala waktu.
Ibrahim 14:34
"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menu-runkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan -dengan air hujan itu- berbagai buah-buahan menjadi rizki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagi-mu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbit-nya); dan Dia telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya tidaklah kamu dapat menghitungnya. Se-sungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (Ibrahim: 32-34).
(32) Allah تعالى memberitakan bahwa Dia-lah semata ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "yang telah menciptakan langit dan bumi", dengan segala bentuknya yang luas lagi besar ﴾ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ ﴿ "dan menurunkan air hujan dari langit", air hujan yang Allah turunkan dari gumpalan mendung, lantas mengeluarkan dengan air itu ﴾ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ ﴿ "berbagai buah-buahan", yang bermacam-macam jenisnya ﴾ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ ﴿ "menjadi rizki bagi dirimu", dan sebagai rizki bagi hewan ternak kalian ﴾ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡفُلۡكَ ﴿ "dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu", kapal-kapal dan perahu-perahu ﴾ لِتَجۡرِيَ فِي ٱلۡبَحۡرِ بِأَمۡرِهِۦۖ ﴿ "supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya", Dia-lah Dzat yang memudahkan proses pembuatannya bagi kalian dan memberikan kemampuan bagi kalian untuk mengerjakannya dan menjaganya (tetap mengambang) di atas aliran air. Gunanya, untuk membawa kalian dan benda pernia-gaan kalian serta barang-barang kalian menuju tempat yang kalian tuju. ﴾ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡأَنۡهَٰرَ ﴿ "Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai", untuk mengairi sawah pertanian kalian dan pepo-honan, dan untuk kalian minum sebagiannya.
(33) ﴾ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ دَآئِبَيۡنِۖ ﴿ "Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya)", tidak lamban dan tidak tersendat-sendat, melaju guna menciptakan kemaslahatan bagi kalian seperti perhitungan waktu-waktu dan maslahat bagi fisik, hewan ternak, dan tanaman serta buah-buahan milik kalian. ﴾ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ ﴿ "Dan Dia telah menundukkan bagimu malam" agar kalian dapat tidur padanya ﴾ وَٱلنَّهَارَ ﴿ "dan siang", penuh cahaya agar kalian bisa mencari sebagian dari keutamaan-Nya.
(34) ﴾ وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُۚ ﴿ "Dan Dia telah memberikan kepada-mu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya", Allah memberikan kepada kalian segala hal yang berhubungan dengan angan-angan dan kebutuhan kalian yang kalian mohon-kan kepadaNya, baik melalui gerak-gerik kalian atau dengan per-nyataan verbal berupa hewan-hewan ternak, alat-alat (piranti), produk-produk dan lain sebagainya. ﴾ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ ﴿ "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitung-nya", apalagi berkaitan dengan pelaksanaan syukur kalian terha-dapnya ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٞ كَفَّارٞ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)", maksudnya sifat ini merupakan tabiat manusia, di mana dia berbuat zhalim dan nekad melakukan maksiat-maksiat, lalai dalam memenuhi hak-hak Allah, sering mengingkari nikmat-nikmat Allah, tidak mensyukurinya, tidak mengakuinya, kecuali orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah, hingga mau bersyukur atas nikmat-nikmatNya, dan menya-dari hak Rabbnya (atas dirinya) dan menjalankannya. Pada beberapa ayat ini, terdapat keterangan mengenai berba-gai macam nikmat Allah yang banyak kepada hamba, baik terpe-rinci ataupun global. Allah mengajak para hambaNya untuk berbuat syukur kepadaNya dan mengingatNya serta menganjurkan mereka untuk itu, mendorong untuk meminta dan berdoa kepadaNya di waktu-waktu malam dan siang hari, sebagaimana (timbal baliknya) bahwa nikmatNya akan datang berulang-ulang di segala waktu.
Ibrahim 14:35
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikan-lah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesung-guhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang men-durhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menem-patkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahMu (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan me-reka bersyukur. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Se-sungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenan-kan) doa. Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)'." (Ibrahim: 35-41).
(35) Artinya ﴾ و َ ﴿ "Dan", ingatlah Ibrahim عليه السلام pada momen-tum yang bagus ini ﴾ إ ِ ذ ْ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ﴿ "ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah)'," tanah Haram ﴾ ءَامِنٗا ﴿ "ne-geri yang aman", kemudian Allah mengabulkan doanya, sebagai ketentuan syariat dan takdirNya. Lalu Allah menjadikannya tanah haram (suci) dalam syariat Islam dan membuat mudah faktor-fak-tor yang (memelihara) kesuciannya berdasarkan ketentuan takdir-Nya, seperti yang telah diketahui, hingga tidaklah ada orang zhalim yang berhasrat melancarkan keburukan padanya melainkan Allah membinasakannya. Sebagaimana yang dialami tentara gajah dan lain-lain. Ketika beliau memohon terciptanya keamanan baginya (tanah haram), maka beliau memohon jaminan keamanan bagi diri-nya dan keturunannya. Beliau berkata, ﴾ وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ﴿ "Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala", jadikanlah kami dan mereka berada di posisi yang jauh dari beribadah dan berkonsentrasi dengannya.
(36) Kemudian Allah menyebutkan alasan kekhawatiran Nabi Ibrahim terhadap praktik kesyirikan pada diri dan anak-keturunan-nya, yaitu banyaknya orang yang terfitnah dan tergoda oleh per-ibadahan syirik. Dia berkata, ﴾ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضۡلَلۡنَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِۖ ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia", mereka tersesat disebabkannya ﴾ فَمَن تَبِعَنِي ﴿ "maka barang-siapa mengikutiku", sesuai kandungan risalah yang aku bawa, berupa tauhid dan ikhlas kepada Allah Rabb semesta alam ﴾ فَإِنَّهُۥ مِنِّيۖ ﴿ "maka sesungguhnya dia termasuk golonganku", lantaran integritasnya dalam mengikuti. Barangsiapa mencintai suatu kaum, niscaya akan meng-ikuti mereka, dan bergabung dengan mereka. ﴾ وَمَنۡ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", ungkapan ini menjadi bukti rasa iba Ibrahim عليه السلام (kepada anak cucunya) di mana beliau ber-doa bagi orang yang bermaksiat agar mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah. Allah سبحانه وتعالى lebih sayang daripada Ibrahim kepada para hamba Allah, tidak menyiksa kecuali orang yang keras kepala (dalam maksiat).
(37) ﴾ رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati", kisahnya, beliau membawa Hajar, ibu Isma'il bersama putranya, Isma'il عليه السلام saat masih dalam masa susu-an dari wilayah Syam hingga menempatkannya di Makkah. Pada waktu itu, kota Makkah tidak berpenghuni, tiada orang yang me-manggil maupun yang menjawab. Ketika Ibrahim menaruh mereka di sana, maka beliau memanjatkan doa ini. Beliau memohon dengan ketundukan lagi bertawakal kepadaNya, wahai Rabbku, ﴾ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي ﴿ "sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku", tidak semua keturunanku. Karena Ishaq masih berada di negeri Syam. Demikian pula anak-anaknya yang lain. Beliau hanya menem-patkan Isma'il dan keturunannya di kota Makkah. FirmanNya, ﴾ بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ ﴿ "di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman", karena tanah kota Makkah tidak cocok untuk lahan pertanian. ﴾ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka men-dirikan shalat", maksudnya jadikanlah mereka orang-orang yang bertauhid lagi mendirikan shalat. Sebab menegakkan shalat ter-masuk ibadah agama yang paling istimewa lagi utama. Siapa saja yang menegakkannya, maka sungguh dia telah menegakkan Agama-nya. ﴾ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka jadikanlah hati sebagian ma-nusia cenderung kepada mereka", maksudnya mencintai mereka dan menyenangi tempat yang mereka huni. Allah mengabulkan doa beliau. Allah melahirkan Muhammad dari keturunan Isma'il yang mengajak umat keturunan beliau kepada agama Islam dan ajaran agama Ibrahim. Mereka pun menyambut dakwah nabi Muhammad dan menjadi orang-orang yang menegakkan shalat. Dan Allah mewajibkan berhaji ke Baitullah yang mana Ibrahim telah menem-patkan (sebagian) keturunannya di dalamnya, dan menciptakan rahasia yang menakjubkan di sana, memikat kalbu-kalbu (manusia). Keturunan- keturunan beliau senantiasa berangkat haji ke sana tanpa pernah menghapuskan niatan ini. Bahkan, semakin sering seorang hamba bolak-balik ke sana, semakin tinggi rasa kerinduan dan semakin besar kecintaan dan hasrat untuk ke sana. Inilah ra-hasia kenapa lafazh "bait (rumah)" dinisbatkan kepada DzatNya yang suci (menjadi rumah Allah). ﴾ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ ﴿ "Dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur", Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Maka berubahlah keadaan, berbagai buah-buahan didatangkan ke sana. Engkau dapat melihat kota Makkah setiap saat, dalam keadaan dipenuhi bermacam-ma-cam buah yang melimpah dan rizki datang silih-berganti dari segala penjuru.
(38) ﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ تَعۡلَمُ مَا نُخۡفِي وَمَا نُعۡلِنُۗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Eng-kau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan", maksudnya, Engkau lebih mengetahui diri kami daripada kami sendiri. Karena itu, kami memohon melalui pengaturan dan pembi-naanMu terhadap kami untuk memudahkan urusan-urusan yang kami mengerti dan yang kami tiada mengetahuinya, sebagai bias kandungan sifat ilmu dan rahmatMu. ﴾ وَمَا يَخۡفَىٰ عَلَى ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit", termasuk dalam konteks ini, doa yang mana tidaklah didedikasikan oleh sang Khalilur Rahman (kekasih Dzat Yang Maha Penyayang) melainkan untuk meraih kebaikan dan memperbanyak frekuensi syukur kepada Allah, Pe-nguasa alam semesta.
(39) Berikutnya, beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya, dengan berkata, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى ٱلۡكِبَرِ إِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq", karunia dalam bentuk mereka adalah termasuk kenikmatan yang paling besar. Kelahiran mereka di usia tua beliau dalam kondisi yang sudah tiada harapan lagi untuk men-dapatkan anak keturunan merupakan kenikmatan agung yang lain. Dan status mereka sebagai para nabi yang shalih adalah kenikmat-an yang paling besar lagi utama. ﴾ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doaku," mak-sudnya, sangat dekat pengabulanNya dari orang yang berdoa ke-padaNya. Aku telah berdoa kepadaNya, namun Dia tidak pernah memupuskan harapanku.
(40-41) Kemudian beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya dengan berkata, ﴾ رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ 40 رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ 41 ﴿ "Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)", Allah menyambut seluruh permohonan beliau, kecuali doa (permohonan ampunan) bagi ayahnya yang mana be-liau panjatkan sekedar hanya untuk pemenuhan janji yang beliau sampaikan kepada ayahnya. Ketika telah jelas bahwa dia adalah musuh Allah, maka dia berlepas diri darinya.
Selanjutnya, Allah تعالى berfirman,
Ibrahim 14:36
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikan-lah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesung-guhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang men-durhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menem-patkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahMu (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan me-reka bersyukur. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Se-sungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenan-kan) doa. Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)'." (Ibrahim: 35-41).
(35) Artinya ﴾ و َ ﴿ "Dan", ingatlah Ibrahim عليه السلام pada momen-tum yang bagus ini ﴾ إ ِ ذ ْ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ﴿ "ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah)'," tanah Haram ﴾ ءَامِنٗا ﴿ "ne-geri yang aman", kemudian Allah mengabulkan doanya, sebagai ketentuan syariat dan takdirNya. Lalu Allah menjadikannya tanah haram (suci) dalam syariat Islam dan membuat mudah faktor-fak-tor yang (memelihara) kesuciannya berdasarkan ketentuan takdir-Nya, seperti yang telah diketahui, hingga tidaklah ada orang zhalim yang berhasrat melancarkan keburukan padanya melainkan Allah membinasakannya. Sebagaimana yang dialami tentara gajah dan lain-lain. Ketika beliau memohon terciptanya keamanan baginya (tanah haram), maka beliau memohon jaminan keamanan bagi diri-nya dan keturunannya. Beliau berkata, ﴾ وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ﴿ "Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala", jadikanlah kami dan mereka berada di posisi yang jauh dari beribadah dan berkonsentrasi dengannya.
(36) Kemudian Allah menyebutkan alasan kekhawatiran Nabi Ibrahim terhadap praktik kesyirikan pada diri dan anak-keturunan-nya, yaitu banyaknya orang yang terfitnah dan tergoda oleh per-ibadahan syirik. Dia berkata, ﴾ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضۡلَلۡنَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِۖ ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia", mereka tersesat disebabkannya ﴾ فَمَن تَبِعَنِي ﴿ "maka barang-siapa mengikutiku", sesuai kandungan risalah yang aku bawa, berupa tauhid dan ikhlas kepada Allah Rabb semesta alam ﴾ فَإِنَّهُۥ مِنِّيۖ ﴿ "maka sesungguhnya dia termasuk golonganku", lantaran integritasnya dalam mengikuti. Barangsiapa mencintai suatu kaum, niscaya akan meng-ikuti mereka, dan bergabung dengan mereka. ﴾ وَمَنۡ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", ungkapan ini menjadi bukti rasa iba Ibrahim عليه السلام (kepada anak cucunya) di mana beliau ber-doa bagi orang yang bermaksiat agar mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah. Allah سبحانه وتعالى lebih sayang daripada Ibrahim kepada para hamba Allah, tidak menyiksa kecuali orang yang keras kepala (dalam maksiat).
(37) ﴾ رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati", kisahnya, beliau membawa Hajar, ibu Isma'il bersama putranya, Isma'il عليه السلام saat masih dalam masa susu-an dari wilayah Syam hingga menempatkannya di Makkah. Pada waktu itu, kota Makkah tidak berpenghuni, tiada orang yang me-manggil maupun yang menjawab. Ketika Ibrahim menaruh mereka di sana, maka beliau memanjatkan doa ini. Beliau memohon dengan ketundukan lagi bertawakal kepadaNya, wahai Rabbku, ﴾ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي ﴿ "sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku", tidak semua keturunanku. Karena Ishaq masih berada di negeri Syam. Demikian pula anak-anaknya yang lain. Beliau hanya menem-patkan Isma'il dan keturunannya di kota Makkah. FirmanNya, ﴾ بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ ﴿ "di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman", karena tanah kota Makkah tidak cocok untuk lahan pertanian. ﴾ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka men-dirikan shalat", maksudnya jadikanlah mereka orang-orang yang bertauhid lagi mendirikan shalat. Sebab menegakkan shalat ter-masuk ibadah agama yang paling istimewa lagi utama. Siapa saja yang menegakkannya, maka sungguh dia telah menegakkan Agama-nya. ﴾ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka jadikanlah hati sebagian ma-nusia cenderung kepada mereka", maksudnya mencintai mereka dan menyenangi tempat yang mereka huni. Allah mengabulkan doa beliau. Allah melahirkan Muhammad dari keturunan Isma'il yang mengajak umat keturunan beliau kepada agama Islam dan ajaran agama Ibrahim. Mereka pun menyambut dakwah nabi Muhammad dan menjadi orang-orang yang menegakkan shalat. Dan Allah mewajibkan berhaji ke Baitullah yang mana Ibrahim telah menem-patkan (sebagian) keturunannya di dalamnya, dan menciptakan rahasia yang menakjubkan di sana, memikat kalbu-kalbu (manusia). Keturunan- keturunan beliau senantiasa berangkat haji ke sana tanpa pernah menghapuskan niatan ini. Bahkan, semakin sering seorang hamba bolak-balik ke sana, semakin tinggi rasa kerinduan dan semakin besar kecintaan dan hasrat untuk ke sana. Inilah ra-hasia kenapa lafazh "bait (rumah)" dinisbatkan kepada DzatNya yang suci (menjadi rumah Allah). ﴾ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ ﴿ "Dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur", Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Maka berubahlah keadaan, berbagai buah-buahan didatangkan ke sana. Engkau dapat melihat kota Makkah setiap saat, dalam keadaan dipenuhi bermacam-ma-cam buah yang melimpah dan rizki datang silih-berganti dari segala penjuru.
(38) ﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ تَعۡلَمُ مَا نُخۡفِي وَمَا نُعۡلِنُۗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Eng-kau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan", maksudnya, Engkau lebih mengetahui diri kami daripada kami sendiri. Karena itu, kami memohon melalui pengaturan dan pembi-naanMu terhadap kami untuk memudahkan urusan-urusan yang kami mengerti dan yang kami tiada mengetahuinya, sebagai bias kandungan sifat ilmu dan rahmatMu. ﴾ وَمَا يَخۡفَىٰ عَلَى ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit", termasuk dalam konteks ini, doa yang mana tidaklah didedikasikan oleh sang Khalilur Rahman (kekasih Dzat Yang Maha Penyayang) melainkan untuk meraih kebaikan dan memperbanyak frekuensi syukur kepada Allah, Pe-nguasa alam semesta.
(39) Berikutnya, beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya, dengan berkata, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى ٱلۡكِبَرِ إِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq", karunia dalam bentuk mereka adalah termasuk kenikmatan yang paling besar. Kelahiran mereka di usia tua beliau dalam kondisi yang sudah tiada harapan lagi untuk men-dapatkan anak keturunan merupakan kenikmatan agung yang lain. Dan status mereka sebagai para nabi yang shalih adalah kenikmat-an yang paling besar lagi utama. ﴾ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doaku," mak-sudnya, sangat dekat pengabulanNya dari orang yang berdoa ke-padaNya. Aku telah berdoa kepadaNya, namun Dia tidak pernah memupuskan harapanku.
(40-41) Kemudian beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya dengan berkata, ﴾ رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ 40 رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ 41 ﴿ "Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)", Allah menyambut seluruh permohonan beliau, kecuali doa (permohonan ampunan) bagi ayahnya yang mana be-liau panjatkan sekedar hanya untuk pemenuhan janji yang beliau sampaikan kepada ayahnya. Ketika telah jelas bahwa dia adalah musuh Allah, maka dia berlepas diri darinya.
Selanjutnya, Allah تعالى berfirman,
Ibrahim 14:37
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikan-lah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesung-guhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang men-durhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menem-patkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahMu (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan me-reka bersyukur. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Se-sungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenan-kan) doa. Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)'." (Ibrahim: 35-41).
(35) Artinya ﴾ و َ ﴿ "Dan", ingatlah Ibrahim عليه السلام pada momen-tum yang bagus ini ﴾ إ ِ ذ ْ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ﴿ "ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah)'," tanah Haram ﴾ ءَامِنٗا ﴿ "ne-geri yang aman", kemudian Allah mengabulkan doanya, sebagai ketentuan syariat dan takdirNya. Lalu Allah menjadikannya tanah haram (suci) dalam syariat Islam dan membuat mudah faktor-fak-tor yang (memelihara) kesuciannya berdasarkan ketentuan takdir-Nya, seperti yang telah diketahui, hingga tidaklah ada orang zhalim yang berhasrat melancarkan keburukan padanya melainkan Allah membinasakannya. Sebagaimana yang dialami tentara gajah dan lain-lain. Ketika beliau memohon terciptanya keamanan baginya (tanah haram), maka beliau memohon jaminan keamanan bagi diri-nya dan keturunannya. Beliau berkata, ﴾ وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ﴿ "Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala", jadikanlah kami dan mereka berada di posisi yang jauh dari beribadah dan berkonsentrasi dengannya.
(36) Kemudian Allah menyebutkan alasan kekhawatiran Nabi Ibrahim terhadap praktik kesyirikan pada diri dan anak-keturunan-nya, yaitu banyaknya orang yang terfitnah dan tergoda oleh per-ibadahan syirik. Dia berkata, ﴾ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضۡلَلۡنَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِۖ ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia", mereka tersesat disebabkannya ﴾ فَمَن تَبِعَنِي ﴿ "maka barang-siapa mengikutiku", sesuai kandungan risalah yang aku bawa, berupa tauhid dan ikhlas kepada Allah Rabb semesta alam ﴾ فَإِنَّهُۥ مِنِّيۖ ﴿ "maka sesungguhnya dia termasuk golonganku", lantaran integritasnya dalam mengikuti. Barangsiapa mencintai suatu kaum, niscaya akan meng-ikuti mereka, dan bergabung dengan mereka. ﴾ وَمَنۡ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", ungkapan ini menjadi bukti rasa iba Ibrahim عليه السلام (kepada anak cucunya) di mana beliau ber-doa bagi orang yang bermaksiat agar mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah. Allah سبحانه وتعالى lebih sayang daripada Ibrahim kepada para hamba Allah, tidak menyiksa kecuali orang yang keras kepala (dalam maksiat).
(37) ﴾ رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati", kisahnya, beliau membawa Hajar, ibu Isma'il bersama putranya, Isma'il عليه السلام saat masih dalam masa susu-an dari wilayah Syam hingga menempatkannya di Makkah. Pada waktu itu, kota Makkah tidak berpenghuni, tiada orang yang me-manggil maupun yang menjawab. Ketika Ibrahim menaruh mereka di sana, maka beliau memanjatkan doa ini. Beliau memohon dengan ketundukan lagi bertawakal kepadaNya, wahai Rabbku, ﴾ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي ﴿ "sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku", tidak semua keturunanku. Karena Ishaq masih berada di negeri Syam. Demikian pula anak-anaknya yang lain. Beliau hanya menem-patkan Isma'il dan keturunannya di kota Makkah. FirmanNya, ﴾ بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ ﴿ "di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman", karena tanah kota Makkah tidak cocok untuk lahan pertanian. ﴾ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka men-dirikan shalat", maksudnya jadikanlah mereka orang-orang yang bertauhid lagi mendirikan shalat. Sebab menegakkan shalat ter-masuk ibadah agama yang paling istimewa lagi utama. Siapa saja yang menegakkannya, maka sungguh dia telah menegakkan Agama-nya. ﴾ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka jadikanlah hati sebagian ma-nusia cenderung kepada mereka", maksudnya mencintai mereka dan menyenangi tempat yang mereka huni. Allah mengabulkan doa beliau. Allah melahirkan Muhammad dari keturunan Isma'il yang mengajak umat keturunan beliau kepada agama Islam dan ajaran agama Ibrahim. Mereka pun menyambut dakwah nabi Muhammad dan menjadi orang-orang yang menegakkan shalat. Dan Allah mewajibkan berhaji ke Baitullah yang mana Ibrahim telah menem-patkan (sebagian) keturunannya di dalamnya, dan menciptakan rahasia yang menakjubkan di sana, memikat kalbu-kalbu (manusia). Keturunan- keturunan beliau senantiasa berangkat haji ke sana tanpa pernah menghapuskan niatan ini. Bahkan, semakin sering seorang hamba bolak-balik ke sana, semakin tinggi rasa kerinduan dan semakin besar kecintaan dan hasrat untuk ke sana. Inilah ra-hasia kenapa lafazh "bait (rumah)" dinisbatkan kepada DzatNya yang suci (menjadi rumah Allah). ﴾ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ ﴿ "Dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur", Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Maka berubahlah keadaan, berbagai buah-buahan didatangkan ke sana. Engkau dapat melihat kota Makkah setiap saat, dalam keadaan dipenuhi bermacam-ma-cam buah yang melimpah dan rizki datang silih-berganti dari segala penjuru.
(38) ﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ تَعۡلَمُ مَا نُخۡفِي وَمَا نُعۡلِنُۗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Eng-kau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan", maksudnya, Engkau lebih mengetahui diri kami daripada kami sendiri. Karena itu, kami memohon melalui pengaturan dan pembi-naanMu terhadap kami untuk memudahkan urusan-urusan yang kami mengerti dan yang kami tiada mengetahuinya, sebagai bias kandungan sifat ilmu dan rahmatMu. ﴾ وَمَا يَخۡفَىٰ عَلَى ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit", termasuk dalam konteks ini, doa yang mana tidaklah didedikasikan oleh sang Khalilur Rahman (kekasih Dzat Yang Maha Penyayang) melainkan untuk meraih kebaikan dan memperbanyak frekuensi syukur kepada Allah, Pe-nguasa alam semesta.
(39) Berikutnya, beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya, dengan berkata, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى ٱلۡكِبَرِ إِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq", karunia dalam bentuk mereka adalah termasuk kenikmatan yang paling besar. Kelahiran mereka di usia tua beliau dalam kondisi yang sudah tiada harapan lagi untuk men-dapatkan anak keturunan merupakan kenikmatan agung yang lain. Dan status mereka sebagai para nabi yang shalih adalah kenikmat-an yang paling besar lagi utama. ﴾ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doaku," mak-sudnya, sangat dekat pengabulanNya dari orang yang berdoa ke-padaNya. Aku telah berdoa kepadaNya, namun Dia tidak pernah memupuskan harapanku.
(40-41) Kemudian beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya dengan berkata, ﴾ رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ 40 رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ 41 ﴿ "Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)", Allah menyambut seluruh permohonan beliau, kecuali doa (permohonan ampunan) bagi ayahnya yang mana be-liau panjatkan sekedar hanya untuk pemenuhan janji yang beliau sampaikan kepada ayahnya. Ketika telah jelas bahwa dia adalah musuh Allah, maka dia berlepas diri darinya.
Selanjutnya, Allah تعالى berfirman,
Ibrahim 14:38
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikan-lah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesung-guhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang men-durhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menem-patkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahMu (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan me-reka bersyukur. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Se-sungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenan-kan) doa. Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)'." (Ibrahim: 35-41).
(35) Artinya ﴾ و َ ﴿ "Dan", ingatlah Ibrahim عليه السلام pada momen-tum yang bagus ini ﴾ إ ِ ذ ْ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ﴿ "ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah)'," tanah Haram ﴾ ءَامِنٗا ﴿ "ne-geri yang aman", kemudian Allah mengabulkan doanya, sebagai ketentuan syariat dan takdirNya. Lalu Allah menjadikannya tanah haram (suci) dalam syariat Islam dan membuat mudah faktor-fak-tor yang (memelihara) kesuciannya berdasarkan ketentuan takdir-Nya, seperti yang telah diketahui, hingga tidaklah ada orang zhalim yang berhasrat melancarkan keburukan padanya melainkan Allah membinasakannya. Sebagaimana yang dialami tentara gajah dan lain-lain. Ketika beliau memohon terciptanya keamanan baginya (tanah haram), maka beliau memohon jaminan keamanan bagi diri-nya dan keturunannya. Beliau berkata, ﴾ وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ﴿ "Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala", jadikanlah kami dan mereka berada di posisi yang jauh dari beribadah dan berkonsentrasi dengannya.
(36) Kemudian Allah menyebutkan alasan kekhawatiran Nabi Ibrahim terhadap praktik kesyirikan pada diri dan anak-keturunan-nya, yaitu banyaknya orang yang terfitnah dan tergoda oleh per-ibadahan syirik. Dia berkata, ﴾ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضۡلَلۡنَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِۖ ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia", mereka tersesat disebabkannya ﴾ فَمَن تَبِعَنِي ﴿ "maka barang-siapa mengikutiku", sesuai kandungan risalah yang aku bawa, berupa tauhid dan ikhlas kepada Allah Rabb semesta alam ﴾ فَإِنَّهُۥ مِنِّيۖ ﴿ "maka sesungguhnya dia termasuk golonganku", lantaran integritasnya dalam mengikuti. Barangsiapa mencintai suatu kaum, niscaya akan meng-ikuti mereka, dan bergabung dengan mereka. ﴾ وَمَنۡ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", ungkapan ini menjadi bukti rasa iba Ibrahim عليه السلام (kepada anak cucunya) di mana beliau ber-doa bagi orang yang bermaksiat agar mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah. Allah سبحانه وتعالى lebih sayang daripada Ibrahim kepada para hamba Allah, tidak menyiksa kecuali orang yang keras kepala (dalam maksiat).
(37) ﴾ رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati", kisahnya, beliau membawa Hajar, ibu Isma'il bersama putranya, Isma'il عليه السلام saat masih dalam masa susu-an dari wilayah Syam hingga menempatkannya di Makkah. Pada waktu itu, kota Makkah tidak berpenghuni, tiada orang yang me-manggil maupun yang menjawab. Ketika Ibrahim menaruh mereka di sana, maka beliau memanjatkan doa ini. Beliau memohon dengan ketundukan lagi bertawakal kepadaNya, wahai Rabbku, ﴾ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي ﴿ "sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku", tidak semua keturunanku. Karena Ishaq masih berada di negeri Syam. Demikian pula anak-anaknya yang lain. Beliau hanya menem-patkan Isma'il dan keturunannya di kota Makkah. FirmanNya, ﴾ بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ ﴿ "di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman", karena tanah kota Makkah tidak cocok untuk lahan pertanian. ﴾ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka men-dirikan shalat", maksudnya jadikanlah mereka orang-orang yang bertauhid lagi mendirikan shalat. Sebab menegakkan shalat ter-masuk ibadah agama yang paling istimewa lagi utama. Siapa saja yang menegakkannya, maka sungguh dia telah menegakkan Agama-nya. ﴾ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka jadikanlah hati sebagian ma-nusia cenderung kepada mereka", maksudnya mencintai mereka dan menyenangi tempat yang mereka huni. Allah mengabulkan doa beliau. Allah melahirkan Muhammad dari keturunan Isma'il yang mengajak umat keturunan beliau kepada agama Islam dan ajaran agama Ibrahim. Mereka pun menyambut dakwah nabi Muhammad dan menjadi orang-orang yang menegakkan shalat. Dan Allah mewajibkan berhaji ke Baitullah yang mana Ibrahim telah menem-patkan (sebagian) keturunannya di dalamnya, dan menciptakan rahasia yang menakjubkan di sana, memikat kalbu-kalbu (manusia). Keturunan- keturunan beliau senantiasa berangkat haji ke sana tanpa pernah menghapuskan niatan ini. Bahkan, semakin sering seorang hamba bolak-balik ke sana, semakin tinggi rasa kerinduan dan semakin besar kecintaan dan hasrat untuk ke sana. Inilah ra-hasia kenapa lafazh "bait (rumah)" dinisbatkan kepada DzatNya yang suci (menjadi rumah Allah). ﴾ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ ﴿ "Dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur", Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Maka berubahlah keadaan, berbagai buah-buahan didatangkan ke sana. Engkau dapat melihat kota Makkah setiap saat, dalam keadaan dipenuhi bermacam-ma-cam buah yang melimpah dan rizki datang silih-berganti dari segala penjuru.
(38) ﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ تَعۡلَمُ مَا نُخۡفِي وَمَا نُعۡلِنُۗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Eng-kau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan", maksudnya, Engkau lebih mengetahui diri kami daripada kami sendiri. Karena itu, kami memohon melalui pengaturan dan pembi-naanMu terhadap kami untuk memudahkan urusan-urusan yang kami mengerti dan yang kami tiada mengetahuinya, sebagai bias kandungan sifat ilmu dan rahmatMu. ﴾ وَمَا يَخۡفَىٰ عَلَى ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit", termasuk dalam konteks ini, doa yang mana tidaklah didedikasikan oleh sang Khalilur Rahman (kekasih Dzat Yang Maha Penyayang) melainkan untuk meraih kebaikan dan memperbanyak frekuensi syukur kepada Allah, Pe-nguasa alam semesta.
(39) Berikutnya, beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya, dengan berkata, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى ٱلۡكِبَرِ إِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq", karunia dalam bentuk mereka adalah termasuk kenikmatan yang paling besar. Kelahiran mereka di usia tua beliau dalam kondisi yang sudah tiada harapan lagi untuk men-dapatkan anak keturunan merupakan kenikmatan agung yang lain. Dan status mereka sebagai para nabi yang shalih adalah kenikmat-an yang paling besar lagi utama. ﴾ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doaku," mak-sudnya, sangat dekat pengabulanNya dari orang yang berdoa ke-padaNya. Aku telah berdoa kepadaNya, namun Dia tidak pernah memupuskan harapanku.
(40-41) Kemudian beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya dengan berkata, ﴾ رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ 40 رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ 41 ﴿ "Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)", Allah menyambut seluruh permohonan beliau, kecuali doa (permohonan ampunan) bagi ayahnya yang mana be-liau panjatkan sekedar hanya untuk pemenuhan janji yang beliau sampaikan kepada ayahnya. Ketika telah jelas bahwa dia adalah musuh Allah, maka dia berlepas diri darinya.
Selanjutnya, Allah تعالى berfirman,
Ibrahim 14:39
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikan-lah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesung-guhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang men-durhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menem-patkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahMu (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan me-reka bersyukur. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Se-sungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenan-kan) doa. Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)'." (Ibrahim: 35-41).
(35) Artinya ﴾ و َ ﴿ "Dan", ingatlah Ibrahim عليه السلام pada momen-tum yang bagus ini ﴾ إ ِ ذ ْ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ﴿ "ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah)'," tanah Haram ﴾ ءَامِنٗا ﴿ "ne-geri yang aman", kemudian Allah mengabulkan doanya, sebagai ketentuan syariat dan takdirNya. Lalu Allah menjadikannya tanah haram (suci) dalam syariat Islam dan membuat mudah faktor-fak-tor yang (memelihara) kesuciannya berdasarkan ketentuan takdir-Nya, seperti yang telah diketahui, hingga tidaklah ada orang zhalim yang berhasrat melancarkan keburukan padanya melainkan Allah membinasakannya. Sebagaimana yang dialami tentara gajah dan lain-lain. Ketika beliau memohon terciptanya keamanan baginya (tanah haram), maka beliau memohon jaminan keamanan bagi diri-nya dan keturunannya. Beliau berkata, ﴾ وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ﴿ "Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala", jadikanlah kami dan mereka berada di posisi yang jauh dari beribadah dan berkonsentrasi dengannya.
(36) Kemudian Allah menyebutkan alasan kekhawatiran Nabi Ibrahim terhadap praktik kesyirikan pada diri dan anak-keturunan-nya, yaitu banyaknya orang yang terfitnah dan tergoda oleh per-ibadahan syirik. Dia berkata, ﴾ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضۡلَلۡنَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِۖ ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia", mereka tersesat disebabkannya ﴾ فَمَن تَبِعَنِي ﴿ "maka barang-siapa mengikutiku", sesuai kandungan risalah yang aku bawa, berupa tauhid dan ikhlas kepada Allah Rabb semesta alam ﴾ فَإِنَّهُۥ مِنِّيۖ ﴿ "maka sesungguhnya dia termasuk golonganku", lantaran integritasnya dalam mengikuti. Barangsiapa mencintai suatu kaum, niscaya akan meng-ikuti mereka, dan bergabung dengan mereka. ﴾ وَمَنۡ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", ungkapan ini menjadi bukti rasa iba Ibrahim عليه السلام (kepada anak cucunya) di mana beliau ber-doa bagi orang yang bermaksiat agar mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah. Allah سبحانه وتعالى lebih sayang daripada Ibrahim kepada para hamba Allah, tidak menyiksa kecuali orang yang keras kepala (dalam maksiat).
(37) ﴾ رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati", kisahnya, beliau membawa Hajar, ibu Isma'il bersama putranya, Isma'il عليه السلام saat masih dalam masa susu-an dari wilayah Syam hingga menempatkannya di Makkah. Pada waktu itu, kota Makkah tidak berpenghuni, tiada orang yang me-manggil maupun yang menjawab. Ketika Ibrahim menaruh mereka di sana, maka beliau memanjatkan doa ini. Beliau memohon dengan ketundukan lagi bertawakal kepadaNya, wahai Rabbku, ﴾ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي ﴿ "sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku", tidak semua keturunanku. Karena Ishaq masih berada di negeri Syam. Demikian pula anak-anaknya yang lain. Beliau hanya menem-patkan Isma'il dan keturunannya di kota Makkah. FirmanNya, ﴾ بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ ﴿ "di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman", karena tanah kota Makkah tidak cocok untuk lahan pertanian. ﴾ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka men-dirikan shalat", maksudnya jadikanlah mereka orang-orang yang bertauhid lagi mendirikan shalat. Sebab menegakkan shalat ter-masuk ibadah agama yang paling istimewa lagi utama. Siapa saja yang menegakkannya, maka sungguh dia telah menegakkan Agama-nya. ﴾ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka jadikanlah hati sebagian ma-nusia cenderung kepada mereka", maksudnya mencintai mereka dan menyenangi tempat yang mereka huni. Allah mengabulkan doa beliau. Allah melahirkan Muhammad dari keturunan Isma'il yang mengajak umat keturunan beliau kepada agama Islam dan ajaran agama Ibrahim. Mereka pun menyambut dakwah nabi Muhammad dan menjadi orang-orang yang menegakkan shalat. Dan Allah mewajibkan berhaji ke Baitullah yang mana Ibrahim telah menem-patkan (sebagian) keturunannya di dalamnya, dan menciptakan rahasia yang menakjubkan di sana, memikat kalbu-kalbu (manusia). Keturunan- keturunan beliau senantiasa berangkat haji ke sana tanpa pernah menghapuskan niatan ini. Bahkan, semakin sering seorang hamba bolak-balik ke sana, semakin tinggi rasa kerinduan dan semakin besar kecintaan dan hasrat untuk ke sana. Inilah ra-hasia kenapa lafazh "bait (rumah)" dinisbatkan kepada DzatNya yang suci (menjadi rumah Allah). ﴾ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ ﴿ "Dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur", Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Maka berubahlah keadaan, berbagai buah-buahan didatangkan ke sana. Engkau dapat melihat kota Makkah setiap saat, dalam keadaan dipenuhi bermacam-ma-cam buah yang melimpah dan rizki datang silih-berganti dari segala penjuru.
(38) ﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ تَعۡلَمُ مَا نُخۡفِي وَمَا نُعۡلِنُۗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Eng-kau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan", maksudnya, Engkau lebih mengetahui diri kami daripada kami sendiri. Karena itu, kami memohon melalui pengaturan dan pembi-naanMu terhadap kami untuk memudahkan urusan-urusan yang kami mengerti dan yang kami tiada mengetahuinya, sebagai bias kandungan sifat ilmu dan rahmatMu. ﴾ وَمَا يَخۡفَىٰ عَلَى ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit", termasuk dalam konteks ini, doa yang mana tidaklah didedikasikan oleh sang Khalilur Rahman (kekasih Dzat Yang Maha Penyayang) melainkan untuk meraih kebaikan dan memperbanyak frekuensi syukur kepada Allah, Pe-nguasa alam semesta.
(39) Berikutnya, beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya, dengan berkata, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى ٱلۡكِبَرِ إِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq", karunia dalam bentuk mereka adalah termasuk kenikmatan yang paling besar. Kelahiran mereka di usia tua beliau dalam kondisi yang sudah tiada harapan lagi untuk men-dapatkan anak keturunan merupakan kenikmatan agung yang lain. Dan status mereka sebagai para nabi yang shalih adalah kenikmat-an yang paling besar lagi utama. ﴾ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doaku," mak-sudnya, sangat dekat pengabulanNya dari orang yang berdoa ke-padaNya. Aku telah berdoa kepadaNya, namun Dia tidak pernah memupuskan harapanku.
(40-41) Kemudian beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya dengan berkata, ﴾ رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ 40 رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ 41 ﴿ "Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)", Allah menyambut seluruh permohonan beliau, kecuali doa (permohonan ampunan) bagi ayahnya yang mana be-liau panjatkan sekedar hanya untuk pemenuhan janji yang beliau sampaikan kepada ayahnya. Ketika telah jelas bahwa dia adalah musuh Allah, maka dia berlepas diri darinya.
Selanjutnya, Allah تعالى berfirman,
Ibrahim 14:40
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikan-lah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesung-guhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang men-durhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menem-patkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahMu (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan me-reka bersyukur. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Se-sungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenan-kan) doa. Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)'." (Ibrahim: 35-41).
(35) Artinya ﴾ و َ ﴿ "Dan", ingatlah Ibrahim عليه السلام pada momen-tum yang bagus ini ﴾ إ ِ ذ ْ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ﴿ "ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah)'," tanah Haram ﴾ ءَامِنٗا ﴿ "ne-geri yang aman", kemudian Allah mengabulkan doanya, sebagai ketentuan syariat dan takdirNya. Lalu Allah menjadikannya tanah haram (suci) dalam syariat Islam dan membuat mudah faktor-fak-tor yang (memelihara) kesuciannya berdasarkan ketentuan takdir-Nya, seperti yang telah diketahui, hingga tidaklah ada orang zhalim yang berhasrat melancarkan keburukan padanya melainkan Allah membinasakannya. Sebagaimana yang dialami tentara gajah dan lain-lain. Ketika beliau memohon terciptanya keamanan baginya (tanah haram), maka beliau memohon jaminan keamanan bagi diri-nya dan keturunannya. Beliau berkata, ﴾ وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ﴿ "Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala", jadikanlah kami dan mereka berada di posisi yang jauh dari beribadah dan berkonsentrasi dengannya.
(36) Kemudian Allah menyebutkan alasan kekhawatiran Nabi Ibrahim terhadap praktik kesyirikan pada diri dan anak-keturunan-nya, yaitu banyaknya orang yang terfitnah dan tergoda oleh per-ibadahan syirik. Dia berkata, ﴾ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضۡلَلۡنَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِۖ ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia", mereka tersesat disebabkannya ﴾ فَمَن تَبِعَنِي ﴿ "maka barang-siapa mengikutiku", sesuai kandungan risalah yang aku bawa, berupa tauhid dan ikhlas kepada Allah Rabb semesta alam ﴾ فَإِنَّهُۥ مِنِّيۖ ﴿ "maka sesungguhnya dia termasuk golonganku", lantaran integritasnya dalam mengikuti. Barangsiapa mencintai suatu kaum, niscaya akan meng-ikuti mereka, dan bergabung dengan mereka. ﴾ وَمَنۡ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", ungkapan ini menjadi bukti rasa iba Ibrahim عليه السلام (kepada anak cucunya) di mana beliau ber-doa bagi orang yang bermaksiat agar mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah. Allah سبحانه وتعالى lebih sayang daripada Ibrahim kepada para hamba Allah, tidak menyiksa kecuali orang yang keras kepala (dalam maksiat).
(37) ﴾ رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati", kisahnya, beliau membawa Hajar, ibu Isma'il bersama putranya, Isma'il عليه السلام saat masih dalam masa susu-an dari wilayah Syam hingga menempatkannya di Makkah. Pada waktu itu, kota Makkah tidak berpenghuni, tiada orang yang me-manggil maupun yang menjawab. Ketika Ibrahim menaruh mereka di sana, maka beliau memanjatkan doa ini. Beliau memohon dengan ketundukan lagi bertawakal kepadaNya, wahai Rabbku, ﴾ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي ﴿ "sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku", tidak semua keturunanku. Karena Ishaq masih berada di negeri Syam. Demikian pula anak-anaknya yang lain. Beliau hanya menem-patkan Isma'il dan keturunannya di kota Makkah. FirmanNya, ﴾ بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ ﴿ "di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman", karena tanah kota Makkah tidak cocok untuk lahan pertanian. ﴾ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka men-dirikan shalat", maksudnya jadikanlah mereka orang-orang yang bertauhid lagi mendirikan shalat. Sebab menegakkan shalat ter-masuk ibadah agama yang paling istimewa lagi utama. Siapa saja yang menegakkannya, maka sungguh dia telah menegakkan Agama-nya. ﴾ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka jadikanlah hati sebagian ma-nusia cenderung kepada mereka", maksudnya mencintai mereka dan menyenangi tempat yang mereka huni. Allah mengabulkan doa beliau. Allah melahirkan Muhammad dari keturunan Isma'il yang mengajak umat keturunan beliau kepada agama Islam dan ajaran agama Ibrahim. Mereka pun menyambut dakwah nabi Muhammad dan menjadi orang-orang yang menegakkan shalat. Dan Allah mewajibkan berhaji ke Baitullah yang mana Ibrahim telah menem-patkan (sebagian) keturunannya di dalamnya, dan menciptakan rahasia yang menakjubkan di sana, memikat kalbu-kalbu (manusia). Keturunan- keturunan beliau senantiasa berangkat haji ke sana tanpa pernah menghapuskan niatan ini. Bahkan, semakin sering seorang hamba bolak-balik ke sana, semakin tinggi rasa kerinduan dan semakin besar kecintaan dan hasrat untuk ke sana. Inilah ra-hasia kenapa lafazh "bait (rumah)" dinisbatkan kepada DzatNya yang suci (menjadi rumah Allah). ﴾ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ ﴿ "Dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur", Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Maka berubahlah keadaan, berbagai buah-buahan didatangkan ke sana. Engkau dapat melihat kota Makkah setiap saat, dalam keadaan dipenuhi bermacam-ma-cam buah yang melimpah dan rizki datang silih-berganti dari segala penjuru.
(38) ﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ تَعۡلَمُ مَا نُخۡفِي وَمَا نُعۡلِنُۗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Eng-kau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan", maksudnya, Engkau lebih mengetahui diri kami daripada kami sendiri. Karena itu, kami memohon melalui pengaturan dan pembi-naanMu terhadap kami untuk memudahkan urusan-urusan yang kami mengerti dan yang kami tiada mengetahuinya, sebagai bias kandungan sifat ilmu dan rahmatMu. ﴾ وَمَا يَخۡفَىٰ عَلَى ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit", termasuk dalam konteks ini, doa yang mana tidaklah didedikasikan oleh sang Khalilur Rahman (kekasih Dzat Yang Maha Penyayang) melainkan untuk meraih kebaikan dan memperbanyak frekuensi syukur kepada Allah, Pe-nguasa alam semesta.
(39) Berikutnya, beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya, dengan berkata, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى ٱلۡكِبَرِ إِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq", karunia dalam bentuk mereka adalah termasuk kenikmatan yang paling besar. Kelahiran mereka di usia tua beliau dalam kondisi yang sudah tiada harapan lagi untuk men-dapatkan anak keturunan merupakan kenikmatan agung yang lain. Dan status mereka sebagai para nabi yang shalih adalah kenikmat-an yang paling besar lagi utama. ﴾ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doaku," mak-sudnya, sangat dekat pengabulanNya dari orang yang berdoa ke-padaNya. Aku telah berdoa kepadaNya, namun Dia tidak pernah memupuskan harapanku.
(40-41) Kemudian beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya dengan berkata, ﴾ رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ 40 رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ 41 ﴿ "Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)", Allah menyambut seluruh permohonan beliau, kecuali doa (permohonan ampunan) bagi ayahnya yang mana be-liau panjatkan sekedar hanya untuk pemenuhan janji yang beliau sampaikan kepada ayahnya. Ketika telah jelas bahwa dia adalah musuh Allah, maka dia berlepas diri darinya.
Selanjutnya, Allah تعالى berfirman,
Ibrahim 14:41
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikan-lah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesung-guhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang men-durhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menem-patkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahMu (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan me-reka bersyukur. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Se-sungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenan-kan) doa. Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)'." (Ibrahim: 35-41).
(35) Artinya ﴾ و َ ﴿ "Dan", ingatlah Ibrahim عليه السلام pada momen-tum yang bagus ini ﴾ إ ِ ذ ْ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ﴿ "ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah)'," tanah Haram ﴾ ءَامِنٗا ﴿ "ne-geri yang aman", kemudian Allah mengabulkan doanya, sebagai ketentuan syariat dan takdirNya. Lalu Allah menjadikannya tanah haram (suci) dalam syariat Islam dan membuat mudah faktor-fak-tor yang (memelihara) kesuciannya berdasarkan ketentuan takdir-Nya, seperti yang telah diketahui, hingga tidaklah ada orang zhalim yang berhasrat melancarkan keburukan padanya melainkan Allah membinasakannya. Sebagaimana yang dialami tentara gajah dan lain-lain. Ketika beliau memohon terciptanya keamanan baginya (tanah haram), maka beliau memohon jaminan keamanan bagi diri-nya dan keturunannya. Beliau berkata, ﴾ وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ﴿ "Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala", jadikanlah kami dan mereka berada di posisi yang jauh dari beribadah dan berkonsentrasi dengannya.
(36) Kemudian Allah menyebutkan alasan kekhawatiran Nabi Ibrahim terhadap praktik kesyirikan pada diri dan anak-keturunan-nya, yaitu banyaknya orang yang terfitnah dan tergoda oleh per-ibadahan syirik. Dia berkata, ﴾ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضۡلَلۡنَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِۖ ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia", mereka tersesat disebabkannya ﴾ فَمَن تَبِعَنِي ﴿ "maka barang-siapa mengikutiku", sesuai kandungan risalah yang aku bawa, berupa tauhid dan ikhlas kepada Allah Rabb semesta alam ﴾ فَإِنَّهُۥ مِنِّيۖ ﴿ "maka sesungguhnya dia termasuk golonganku", lantaran integritasnya dalam mengikuti. Barangsiapa mencintai suatu kaum, niscaya akan meng-ikuti mereka, dan bergabung dengan mereka. ﴾ وَمَنۡ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", ungkapan ini menjadi bukti rasa iba Ibrahim عليه السلام (kepada anak cucunya) di mana beliau ber-doa bagi orang yang bermaksiat agar mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah. Allah سبحانه وتعالى lebih sayang daripada Ibrahim kepada para hamba Allah, tidak menyiksa kecuali orang yang keras kepala (dalam maksiat).
(37) ﴾ رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati", kisahnya, beliau membawa Hajar, ibu Isma'il bersama putranya, Isma'il عليه السلام saat masih dalam masa susu-an dari wilayah Syam hingga menempatkannya di Makkah. Pada waktu itu, kota Makkah tidak berpenghuni, tiada orang yang me-manggil maupun yang menjawab. Ketika Ibrahim menaruh mereka di sana, maka beliau memanjatkan doa ini. Beliau memohon dengan ketundukan lagi bertawakal kepadaNya, wahai Rabbku, ﴾ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي ﴿ "sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku", tidak semua keturunanku. Karena Ishaq masih berada di negeri Syam. Demikian pula anak-anaknya yang lain. Beliau hanya menem-patkan Isma'il dan keturunannya di kota Makkah. FirmanNya, ﴾ بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ ﴿ "di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman", karena tanah kota Makkah tidak cocok untuk lahan pertanian. ﴾ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka men-dirikan shalat", maksudnya jadikanlah mereka orang-orang yang bertauhid lagi mendirikan shalat. Sebab menegakkan shalat ter-masuk ibadah agama yang paling istimewa lagi utama. Siapa saja yang menegakkannya, maka sungguh dia telah menegakkan Agama-nya. ﴾ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Maka jadikanlah hati sebagian ma-nusia cenderung kepada mereka", maksudnya mencintai mereka dan menyenangi tempat yang mereka huni. Allah mengabulkan doa beliau. Allah melahirkan Muhammad dari keturunan Isma'il yang mengajak umat keturunan beliau kepada agama Islam dan ajaran agama Ibrahim. Mereka pun menyambut dakwah nabi Muhammad dan menjadi orang-orang yang menegakkan shalat. Dan Allah mewajibkan berhaji ke Baitullah yang mana Ibrahim telah menem-patkan (sebagian) keturunannya di dalamnya, dan menciptakan rahasia yang menakjubkan di sana, memikat kalbu-kalbu (manusia). Keturunan- keturunan beliau senantiasa berangkat haji ke sana tanpa pernah menghapuskan niatan ini. Bahkan, semakin sering seorang hamba bolak-balik ke sana, semakin tinggi rasa kerinduan dan semakin besar kecintaan dan hasrat untuk ke sana. Inilah ra-hasia kenapa lafazh "bait (rumah)" dinisbatkan kepada DzatNya yang suci (menjadi rumah Allah). ﴾ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ ﴿ "Dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur", Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Maka berubahlah keadaan, berbagai buah-buahan didatangkan ke sana. Engkau dapat melihat kota Makkah setiap saat, dalam keadaan dipenuhi bermacam-ma-cam buah yang melimpah dan rizki datang silih-berganti dari segala penjuru.
(38) ﴾ رَبَّنَآ إِنَّكَ تَعۡلَمُ مَا نُخۡفِي وَمَا نُعۡلِنُۗ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Eng-kau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan", maksudnya, Engkau lebih mengetahui diri kami daripada kami sendiri. Karena itu, kami memohon melalui pengaturan dan pembi-naanMu terhadap kami untuk memudahkan urusan-urusan yang kami mengerti dan yang kami tiada mengetahuinya, sebagai bias kandungan sifat ilmu dan rahmatMu. ﴾ وَمَا يَخۡفَىٰ عَلَى ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit", termasuk dalam konteks ini, doa yang mana tidaklah didedikasikan oleh sang Khalilur Rahman (kekasih Dzat Yang Maha Penyayang) melainkan untuk meraih kebaikan dan memperbanyak frekuensi syukur kepada Allah, Pe-nguasa alam semesta.
(39) Berikutnya, beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya, dengan berkata, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى ٱلۡكِبَرِ إِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَۚ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq", karunia dalam bentuk mereka adalah termasuk kenikmatan yang paling besar. Kelahiran mereka di usia tua beliau dalam kondisi yang sudah tiada harapan lagi untuk men-dapatkan anak keturunan merupakan kenikmatan agung yang lain. Dan status mereka sebagai para nabi yang shalih adalah kenikmat-an yang paling besar lagi utama. ﴾ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ﴿ "Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doaku," mak-sudnya, sangat dekat pengabulanNya dari orang yang berdoa ke-padaNya. Aku telah berdoa kepadaNya, namun Dia tidak pernah memupuskan harapanku.
(40-41) Kemudian beliau mendoakan kebaikan bagi dirinya dan keturunannya dengan berkata, ﴾ رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ 40 رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ 41 ﴿ "Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat)", Allah menyambut seluruh permohonan beliau, kecuali doa (permohonan ampunan) bagi ayahnya yang mana be-liau panjatkan sekedar hanya untuk pemenuhan janji yang beliau sampaikan kepada ayahnya. Ketika telah jelas bahwa dia adalah musuh Allah, maka dia berlepas diri darinya.
Selanjutnya, Allah تعالى berfirman,
Ibrahim 14:42
"Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira bah-wa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah hanya memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." (Ibrahim: 42-43).
(42) Ini adalah ancaman keras bagi orang-orang yang berbuat aniaya sekaligus sebagai penghibur hati bagi orang-orang yang men-jadi obyek penganiayaan. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ غَٰفِلًا عَمَّا يَعۡمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَۚ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim", (fakta menyatakan) Allah masih memberikan kesempatan bagi mereka, dan mencurahkan berbagai jenis rizki, serta membiarkan mereka bebas bergerak di negeri-negeri dalam keadaan aman lagi tenang. Hal itu bukan menjadi pertanda baiknya kondisi mereka. Karena Allah sedang menunda waktu dan memberikan kesempatan bagi orang yang berbuat aniaya, agar dosanya semakin menumpuk. Sampai akhirnya, ketika Allah menyiksanya, maka dia tidak dapat berkutik lagi. ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk ne-geri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102) Kezhaliman di sini mencakup setiap bentuk kezhaliman antara seorang hamba dengan Rabbnya dan kezhalimannya kepada sesama. ﴾ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ ﴿ "Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak", maksudnya matanya tidak bergerak sekalipun karena dahsyatnya keadaan yang dia lihat, berupa kengerian-kengerian. Betapa meri-saukan malapateka di sana!
(43) ﴾ مُهۡطِعِينَ ﴿ "Mereka datang bergegas-gegas", maksudnya mereka bersegera merangsek ke arah penyeru ketika meminta me-reka untuk datang di hadapan Allah untuk menjalani proses hisab (perhitungan amal). Tidak ada penolakan pada mereka, dan tiada tempat lari maupun tempat bersembunyi ﴾ مُقۡنِعِي رُءُوسِهِمۡ ﴿ "dengan meng-ngkat kepalanya" maksudnya menengadahkannya. Dua tangan mereka telah dirantai sampai menyentuh dagu-dagu mereka. Karenanya, kepala-kepala mereka terangkat ﴾ لَا يَرۡتَدُّ إِلَيۡهِمۡ طَرۡفُهُمۡۖ وَأَفۡـِٔدَتُهُمۡ هَوَآءٞ ﴿ "sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong", maksudnya hati-hati mereka kosong dari dada mereka, karena telah naik ke arah kerongkongan. Akan tetapi, begitu tersesaki oleh kegelisahan, kerisauan, kesedihan, dan kegundahan.
Ibrahim 14:43
"Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira bah-wa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah hanya memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." (Ibrahim: 42-43).
(42) Ini adalah ancaman keras bagi orang-orang yang berbuat aniaya sekaligus sebagai penghibur hati bagi orang-orang yang men-jadi obyek penganiayaan. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ غَٰفِلًا عَمَّا يَعۡمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَۚ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim", (fakta menyatakan) Allah masih memberikan kesempatan bagi mereka, dan mencurahkan berbagai jenis rizki, serta membiarkan mereka bebas bergerak di negeri-negeri dalam keadaan aman lagi tenang. Hal itu bukan menjadi pertanda baiknya kondisi mereka. Karena Allah sedang menunda waktu dan memberikan kesempatan bagi orang yang berbuat aniaya, agar dosanya semakin menumpuk. Sampai akhirnya, ketika Allah menyiksanya, maka dia tidak dapat berkutik lagi. ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ 102 ﴿ "Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk ne-geri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Hud: 102) Kezhaliman di sini mencakup setiap bentuk kezhaliman antara seorang hamba dengan Rabbnya dan kezhalimannya kepada sesama. ﴾ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمۡ لِيَوۡمٖ تَشۡخَصُ فِيهِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ ﴿ "Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak", maksudnya matanya tidak bergerak sekalipun karena dahsyatnya keadaan yang dia lihat, berupa kengerian-kengerian. Betapa meri-saukan malapateka di sana!
(43) ﴾ مُهۡطِعِينَ ﴿ "Mereka datang bergegas-gegas", maksudnya mereka bersegera merangsek ke arah penyeru ketika meminta me-reka untuk datang di hadapan Allah untuk menjalani proses hisab (perhitungan amal). Tidak ada penolakan pada mereka, dan tiada tempat lari maupun tempat bersembunyi ﴾ مُقۡنِعِي رُءُوسِهِمۡ ﴿ "dengan meng-ngkat kepalanya" maksudnya menengadahkannya. Dua tangan mereka telah dirantai sampai menyentuh dagu-dagu mereka. Karenanya, kepala-kepala mereka terangkat ﴾ لَا يَرۡتَدُّ إِلَيۡهِمۡ طَرۡفُهُمۡۖ وَأَفۡـِٔدَتُهُمۡ هَوَآءٞ ﴿ "sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong", maksudnya hati-hati mereka kosong dari dada mereka, karena telah naik ke arah kerongkongan. Akan tetapi, begitu tersesaki oleh kegelisahan, kerisauan, kesedihan, dan kegundahan.
Ibrahim 14:44
"Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkata-lah orang-orang yang zhalim, 'Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruanMu dan akan mengikuti rasul-rasul.' (Kepada mereka dikatakan), 'Bukankah kamu telah bersum-pah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa. Dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu ba-gaimana Kami telah berbuat terhadap mereka, dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan.' Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar, padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya." (Ibrahim: 44-46).
(44) Allah berfirman kepada NabiNya, M u h a m m a d ﴾ وَأَنذِرِ ٱلنَّاسَ يَوۡمَ يَأۡتِيهِمُ ٱلۡعَذَابُ ﴿ "Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka", maksudnya deskripsikanlah kondisinya dan peringatkanlah mereka dari amalan-amalan yang mendatangkan siksa, yang jika telah tiba membawa kesengsaraan dan malapetaka, maka berkatalah orang-orang yang berbuat kezhaliman dalam bentuk kekufuran dan pendustaan serta macam-macam maksiat dalam perasaan sesal atas tindakan mereka, permohonan untuk kembali (ke dunia) yang sudah bukan waktunya lagi, ﴾ رَبَّنَآ أَخِّرۡنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ ﴿ "Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kem-balikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit", maksudnya tolong kembalikanlah kami ke alam dunia. Sungguh kami telah menyaksikan (kebenaran yang kami dustakan) ﴾ نُّجِبۡ دَعۡوَتَكَ ﴿ "niscaya kami akan mematuhi seruanMu", dan Allah menyeru ke Darussalam (tempat keselamatan, surga) ﴾ وَنَتَّبِعِ ٱلرُّسُلَۗ ﴿ "dan kami akan mengikuti rasul-rasul", semua omongan ini hanyalah untuk terbebaskan dari siksaan yang pedih. Apabila tidak demikian, maka sebetulnya me-reka itu berbohong saja dalam janji ini. Bila mereka dikembalikan (ke dunia lagi), tentulah mereka kembali menerjang larangan-la-rangan. Oleh sebab itu, cercaan dialamatkan kepada mereka. Dikatakan kepada mereka ﴾ أَوَلَمۡ تَكُونُوٓاْ أَقۡسَمۡتُم مِّن قَبۡلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٖ ﴿ "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa", dari dunia dan berpindah ke alam akhirat. Sekarang ini, telah jelas bagi kalian batalnya sumpah kalian dan kedustaan kalian yang kalian klaim.
(45) ﴾ و َ ﴿ "Dan" kalian tidak terpasung di dunia untuk men-cerna ayat-ayat dan bukti-bukti nyata (tentang kebenaran akhirat). Bahkan ﴾ س َ ك َ ن ْ ت ُ م ْ فِي مَسَٰكِنِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ وَتَبَيَّنَ لَكُمۡ كَيۡفَ فَعَلۡنَا بِهِمۡ ﴿ "kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka", yang berbentuk menimpakan macam-macam hukum-an, dan bagaimana Allah menjatuhkan siksaan-siksaan pada mereka ketika berbuat pendustaan terhadap ayat-ayat (tanda-tanda kebesar-an Allah) yang sudah jelas. ﴾ وَضَرَبۡنَا لَكُمُ ٱلۡأَمۡثَالَ ﴿ "Dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan", yang terang, yang mana tidaklah dia meninggalkan satu unsur keraguan sedikit pun dalam hati seseorang melainkan dia pasti menyingkirkannya. Ayat-ayat itu tidak berfaidah bagi kalian. Justru kalian berpaling dan tetap berkubang dalam kebatilan kalian. Maka, terjadilah peristiwa yang menimpa mereka. Dan kalian sudah sampai ke momentum hari ini yang mana pengajuan alasan dengan (disertai) kebatilan padanya tidak efektif.
(46) ﴾ وَقَدۡ مَكَرُواْ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka telah membuat ma-kar", yaitu kaum yang mendustakan para rasul ﴾ مَكۡرَهُمۡ ﴿ "makar yang besar", yang telah didukung oleh kehendak dan kemampuan mereka ﴾ وَعِندَ ٱللَّهِ مَكۡرُهُمۡ ﴿ "padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu", maksudnya ilmu dan kekuasaan Allah meliputinya, karena ulah makar mereka akan berbalik menyerang mereka. Dan tidaklah makar yang buruk itu menerjang melainkan kepada pencetusnya saja. ﴾ وَإِن كَانَ مَكۡرُهُمۡ لِتَزُولَ مِنۡهُ ٱلۡجِبَالُ ﴿ "Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya", mak-sudnya sungguh, usaha makar kaum kafir yang mendustakan para rasul yang haq dan orang-orang yang membawa kebenaran –karena besarnya- sehingga bisa menyebabkan gunung-gunung yang men-julang tinggi hilang dari tempat-tempatnya. Maksudnya, mereka telah menggerakkan makar yang begitu besar, yang tidak bisa diukur tingkatannya. Akan tetapi, Allah membalikkan pengaruh makar itu ke leher-leher mereka. Termasuk dalam konteks ini, setiap orang yang menciptakan makar dari kalangan orang-orang yang menyalahi para rasul, untuk membela kebatilan atau melumpuhkan kebenar-an. Jadi, maksud ayat ini, bahwa makar mereka tidak bermanfaat bagi mereka sedikit pun, dan tidak menimbulkan bahaya apa pun bagi Allah. Justru mereka sedang menciptakan bahaya bagi diri mereka sendiri.
Ibrahim 14:45
"Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkata-lah orang-orang yang zhalim, 'Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruanMu dan akan mengikuti rasul-rasul.' (Kepada mereka dikatakan), 'Bukankah kamu telah bersum-pah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa. Dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu ba-gaimana Kami telah berbuat terhadap mereka, dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan.' Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar, padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya." (Ibrahim: 44-46).
(44) Allah berfirman kepada NabiNya, M u h a m m a d ﴾ وَأَنذِرِ ٱلنَّاسَ يَوۡمَ يَأۡتِيهِمُ ٱلۡعَذَابُ ﴿ "Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka", maksudnya deskripsikanlah kondisinya dan peringatkanlah mereka dari amalan-amalan yang mendatangkan siksa, yang jika telah tiba membawa kesengsaraan dan malapetaka, maka berkatalah orang-orang yang berbuat kezhaliman dalam bentuk kekufuran dan pendustaan serta macam-macam maksiat dalam perasaan sesal atas tindakan mereka, permohonan untuk kembali (ke dunia) yang sudah bukan waktunya lagi, ﴾ رَبَّنَآ أَخِّرۡنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ ﴿ "Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kem-balikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit", maksudnya tolong kembalikanlah kami ke alam dunia. Sungguh kami telah menyaksikan (kebenaran yang kami dustakan) ﴾ نُّجِبۡ دَعۡوَتَكَ ﴿ "niscaya kami akan mematuhi seruanMu", dan Allah menyeru ke Darussalam (tempat keselamatan, surga) ﴾ وَنَتَّبِعِ ٱلرُّسُلَۗ ﴿ "dan kami akan mengikuti rasul-rasul", semua omongan ini hanyalah untuk terbebaskan dari siksaan yang pedih. Apabila tidak demikian, maka sebetulnya me-reka itu berbohong saja dalam janji ini. Bila mereka dikembalikan (ke dunia lagi), tentulah mereka kembali menerjang larangan-la-rangan. Oleh sebab itu, cercaan dialamatkan kepada mereka. Dikatakan kepada mereka ﴾ أَوَلَمۡ تَكُونُوٓاْ أَقۡسَمۡتُم مِّن قَبۡلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٖ ﴿ "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa", dari dunia dan berpindah ke alam akhirat. Sekarang ini, telah jelas bagi kalian batalnya sumpah kalian dan kedustaan kalian yang kalian klaim.
(45) ﴾ و َ ﴿ "Dan" kalian tidak terpasung di dunia untuk men-cerna ayat-ayat dan bukti-bukti nyata (tentang kebenaran akhirat). Bahkan ﴾ س َ ك َ ن ْ ت ُ م ْ فِي مَسَٰكِنِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ وَتَبَيَّنَ لَكُمۡ كَيۡفَ فَعَلۡنَا بِهِمۡ ﴿ "kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka", yang berbentuk menimpakan macam-macam hukum-an, dan bagaimana Allah menjatuhkan siksaan-siksaan pada mereka ketika berbuat pendustaan terhadap ayat-ayat (tanda-tanda kebesar-an Allah) yang sudah jelas. ﴾ وَضَرَبۡنَا لَكُمُ ٱلۡأَمۡثَالَ ﴿ "Dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan", yang terang, yang mana tidaklah dia meninggalkan satu unsur keraguan sedikit pun dalam hati seseorang melainkan dia pasti menyingkirkannya. Ayat-ayat itu tidak berfaidah bagi kalian. Justru kalian berpaling dan tetap berkubang dalam kebatilan kalian. Maka, terjadilah peristiwa yang menimpa mereka. Dan kalian sudah sampai ke momentum hari ini yang mana pengajuan alasan dengan (disertai) kebatilan padanya tidak efektif.
(46) ﴾ وَقَدۡ مَكَرُواْ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka telah membuat ma-kar", yaitu kaum yang mendustakan para rasul ﴾ مَكۡرَهُمۡ ﴿ "makar yang besar", yang telah didukung oleh kehendak dan kemampuan mereka ﴾ وَعِندَ ٱللَّهِ مَكۡرُهُمۡ ﴿ "padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu", maksudnya ilmu dan kekuasaan Allah meliputinya, karena ulah makar mereka akan berbalik menyerang mereka. Dan tidaklah makar yang buruk itu menerjang melainkan kepada pencetusnya saja. ﴾ وَإِن كَانَ مَكۡرُهُمۡ لِتَزُولَ مِنۡهُ ٱلۡجِبَالُ ﴿ "Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya", mak-sudnya sungguh, usaha makar kaum kafir yang mendustakan para rasul yang haq dan orang-orang yang membawa kebenaran –karena besarnya- sehingga bisa menyebabkan gunung-gunung yang men-julang tinggi hilang dari tempat-tempatnya. Maksudnya, mereka telah menggerakkan makar yang begitu besar, yang tidak bisa diukur tingkatannya. Akan tetapi, Allah membalikkan pengaruh makar itu ke leher-leher mereka. Termasuk dalam konteks ini, setiap orang yang menciptakan makar dari kalangan orang-orang yang menyalahi para rasul, untuk membela kebatilan atau melumpuhkan kebenar-an. Jadi, maksud ayat ini, bahwa makar mereka tidak bermanfaat bagi mereka sedikit pun, dan tidak menimbulkan bahaya apa pun bagi Allah. Justru mereka sedang menciptakan bahaya bagi diri mereka sendiri.
Ibrahim 14:46
"Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkata-lah orang-orang yang zhalim, 'Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruanMu dan akan mengikuti rasul-rasul.' (Kepada mereka dikatakan), 'Bukankah kamu telah bersum-pah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa. Dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu ba-gaimana Kami telah berbuat terhadap mereka, dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan.' Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar, padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya." (Ibrahim: 44-46).
(44) Allah berfirman kepada NabiNya, M u h a m m a d ﴾ وَأَنذِرِ ٱلنَّاسَ يَوۡمَ يَأۡتِيهِمُ ٱلۡعَذَابُ ﴿ "Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka", maksudnya deskripsikanlah kondisinya dan peringatkanlah mereka dari amalan-amalan yang mendatangkan siksa, yang jika telah tiba membawa kesengsaraan dan malapetaka, maka berkatalah orang-orang yang berbuat kezhaliman dalam bentuk kekufuran dan pendustaan serta macam-macam maksiat dalam perasaan sesal atas tindakan mereka, permohonan untuk kembali (ke dunia) yang sudah bukan waktunya lagi, ﴾ رَبَّنَآ أَخِّرۡنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ ﴿ "Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kem-balikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit", maksudnya tolong kembalikanlah kami ke alam dunia. Sungguh kami telah menyaksikan (kebenaran yang kami dustakan) ﴾ نُّجِبۡ دَعۡوَتَكَ ﴿ "niscaya kami akan mematuhi seruanMu", dan Allah menyeru ke Darussalam (tempat keselamatan, surga) ﴾ وَنَتَّبِعِ ٱلرُّسُلَۗ ﴿ "dan kami akan mengikuti rasul-rasul", semua omongan ini hanyalah untuk terbebaskan dari siksaan yang pedih. Apabila tidak demikian, maka sebetulnya me-reka itu berbohong saja dalam janji ini. Bila mereka dikembalikan (ke dunia lagi), tentulah mereka kembali menerjang larangan-la-rangan. Oleh sebab itu, cercaan dialamatkan kepada mereka. Dikatakan kepada mereka ﴾ أَوَلَمۡ تَكُونُوٓاْ أَقۡسَمۡتُم مِّن قَبۡلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٖ ﴿ "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa", dari dunia dan berpindah ke alam akhirat. Sekarang ini, telah jelas bagi kalian batalnya sumpah kalian dan kedustaan kalian yang kalian klaim.
(45) ﴾ و َ ﴿ "Dan" kalian tidak terpasung di dunia untuk men-cerna ayat-ayat dan bukti-bukti nyata (tentang kebenaran akhirat). Bahkan ﴾ س َ ك َ ن ْ ت ُ م ْ فِي مَسَٰكِنِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ وَتَبَيَّنَ لَكُمۡ كَيۡفَ فَعَلۡنَا بِهِمۡ ﴿ "kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka", yang berbentuk menimpakan macam-macam hukum-an, dan bagaimana Allah menjatuhkan siksaan-siksaan pada mereka ketika berbuat pendustaan terhadap ayat-ayat (tanda-tanda kebesar-an Allah) yang sudah jelas. ﴾ وَضَرَبۡنَا لَكُمُ ٱلۡأَمۡثَالَ ﴿ "Dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan", yang terang, yang mana tidaklah dia meninggalkan satu unsur keraguan sedikit pun dalam hati seseorang melainkan dia pasti menyingkirkannya. Ayat-ayat itu tidak berfaidah bagi kalian. Justru kalian berpaling dan tetap berkubang dalam kebatilan kalian. Maka, terjadilah peristiwa yang menimpa mereka. Dan kalian sudah sampai ke momentum hari ini yang mana pengajuan alasan dengan (disertai) kebatilan padanya tidak efektif.
(46) ﴾ وَقَدۡ مَكَرُواْ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka telah membuat ma-kar", yaitu kaum yang mendustakan para rasul ﴾ مَكۡرَهُمۡ ﴿ "makar yang besar", yang telah didukung oleh kehendak dan kemampuan mereka ﴾ وَعِندَ ٱللَّهِ مَكۡرُهُمۡ ﴿ "padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu", maksudnya ilmu dan kekuasaan Allah meliputinya, karena ulah makar mereka akan berbalik menyerang mereka. Dan tidaklah makar yang buruk itu menerjang melainkan kepada pencetusnya saja. ﴾ وَإِن كَانَ مَكۡرُهُمۡ لِتَزُولَ مِنۡهُ ٱلۡجِبَالُ ﴿ "Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya", mak-sudnya sungguh, usaha makar kaum kafir yang mendustakan para rasul yang haq dan orang-orang yang membawa kebenaran –karena besarnya- sehingga bisa menyebabkan gunung-gunung yang men-julang tinggi hilang dari tempat-tempatnya. Maksudnya, mereka telah menggerakkan makar yang begitu besar, yang tidak bisa diukur tingkatannya. Akan tetapi, Allah membalikkan pengaruh makar itu ke leher-leher mereka. Termasuk dalam konteks ini, setiap orang yang menciptakan makar dari kalangan orang-orang yang menyalahi para rasul, untuk membela kebatilan atau melumpuhkan kebenar-an. Jadi, maksud ayat ini, bahwa makar mereka tidak bermanfaat bagi mereka sedikit pun, dan tidak menimbulkan bahaya apa pun bagi Allah. Justru mereka sedang menciptakan bahaya bagi diri mereka sendiri.
Ibrahim 14:47
"Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janjiNya kepada rasul-rasulNya; sesungguhnya Allah Mahaperkasa, lagi mempunyai pembalasan. (Yaitu) pada hari (ke-tika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) la-ngit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul meng-hadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari cair-an ter, dan muka mereka ditutup oleh api neraka, agar Allah mem-beri pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya. (Al-Qur`an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, supaya mereka diberi peringatan dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." (Ibrahim: 47-52).
(47) Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ مُخۡلِفَ وَعۡدِهِۦ رُسُلَهُۥٓۚ ﴿ "Karena itu, janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janjiNya kepada rasul-rasulNya", dengan menyelamatkan mereka dan para pengikut mereka, dan menjadikan mereka bahagia, lalu memusnah-kan musuh-musuh mereka serta menelantarkan para musuh itu (tanpa bimbingan dariNya) dan mengenakan hukuman bagi mereka di akhirat. Kejadian ini pasti terealisasikan, karena merupakan janji yang telah disampaikan oleh Dzat yang Jujur melalui lisan insan yang paling jujur. Mereka itu adalah para rasul. Informasi ini sebuah berita yang paling tinggi (tingkatan keakurasiannya). Apalagi, kabar itu sejalan dengan hikmah ilahiyah dan ketetapan-ketetapan Rabbani serta akal-akal yang sehat. Tiada sesuatu pun yang sanggup melemah-kan Allah تعالى. Sesungguhnya Dia ﴾ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٖ ﴿ "Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan", maksudnya jika Allah ingin menimpakan balasan kepada seseorang, maka tidak ada sesuatu pun yang mem-buatnya lolos dan lemah (tidak setimpal). Peristiwa tersebut pasti terjadi di Hari Kiamat.
(48) ﴾ يَوۡمَ تُبَدَّلُ ٱلۡأَرۡضُ غَيۡرَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُۖ ﴿ "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit", langit pun diganti dengan rupa langit yang lain. Perubahan ini hanya pada karakteristiknya saja, bukan perubahan wujudnya. Karena bumi pada Hari Kiamat akan diratakan dan dihamparkan ibarat permukaan lapangan yang datar. Seluruh isinya, seperti gunung dan dataran-dataran yang menonjol diletakkan pada permukaan-nya. Jadilah bumi dataran yang rata. Engkau tidak melihat tempat yang rendah maupun yang tinggi. Langit bagaikan luluhan perak lantaran kedahsyatan keadaan hari itu. Lantas, Allah تعالى menggu-lungnya dengan Tangan KananNya ﴾ وَبَرَزُواْ ﴿ "dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul", seluruh makhluk (bangkit) dari kubur-kubur mereka menuju hari kebangkitan dan mereka bangkit di tempat yang mana tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi pada pandangan Allah. ﴾ لِلَّهِ ٱلۡوَٰحِدِ ٱلۡقَهَّارِ ﴿ "Menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa", Satu-satunya Dzat Yang mempunyai keagungan, nama-nama dan sifat, serta perbuatan yang agung. Dan keperkasaanNya atas seluruh alam semesta. Semuanya berada di bawah penanganan dan pengaturanNya. Tidak ada yang bergerak dan tidak ada yang tetap diam kecuali dengan seizinNya.
(49) ﴾ وَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa", yaitu orang-orang yang melekat padanya ciri kejahatan dan banyak dosa pada hari itu ﴾ مُّقَرَّنِينَ فِي ٱلۡأَصۡفَادِ ﴿ "diikat bersama-sama dengan belenggu", maksudnya setiap orang yang berbuat dosa di-rantai dengan belenggu dari neraka. Mereka pun digiring menuju siksaan dalam kondisi yang sangat nista, buruk, lagi menjijikkan.
(50) ﴾ سَرَابِيلُهُم ﴿ "Pakaian mereka", yaitu pakaian-pakaian mereka ﴾ مِّن قَطِرَانٖ ﴿ "adalah dari cairan ter", hal itu karena begitu dah-syatnya nyala neraka di tengah mereka, tingkat suhu panasnya, serta kebusukan bau, ﴾ وَتَغۡشَىٰ وُجُوهَهُمُ ﴿ "dan muka mereka ditutup", yang merupakan bagian yang paling mulia pada raga mereka ﴾ ٱلنَّارُ ﴿ "oleh api neraka", api mengitarinya, membakarnya dari segala sisi. Sudah tentu, bagian selain wajah akan lebih parah.
(51) Penyiksaan itu bukanlah bentuk tindak kezhaliman Allah (terhadap mereka). Itu hanyalah bentuk balasan atas amalan yang mereka kerjakan dan usahakan. Oleh karena itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱللَّهُ كُلَّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡۚ ﴿ "agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan", berupa amalan yang baik maupun yang jelek dengan keadilan dan tidak berat sebelah, yang tidak berisi kezhaliman dalam kondisi apa pun. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya", seperti Firman Allah, ﴾ ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ 1 ﴿ "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya)." (Al-An-biya`: 1). Pengertian ayat ini juga bisa (mengarah pada realita) bahwa Allah sangat cepat perhitunganNya. Mampu menjalankan (perhi-tungan amalan) semua makhluk dalam satu waktu, sebagaimana Allah mencurahkan rizki, mengatur mereka dengan berbagai aturan dalam sekejap saja. Tidak ada urusan yang menyibukkan kepen-tingan urusan lain. Yang demikian itu tidaklah sukar bagi Allah.
(52) Setelah menjelaskan keterangan yang nyata tentang al-Qur`an ini, Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ ﴿ "(Al-Qur`an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia", mereka mempersiapkan dan membekali diri dengannya menuju tingkatan tertinggi dan kemulia-an teristimewa. Karena al-Qur`an memuat prinsip-prinsip (al-Ushul), cabang-cabang, dan seluruh pengetahuan yang diperlukan oleh para hamba. ﴾ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ ﴿ "Supaya mereka diberi peringatan", karena di dalamnya mengandung peringatan dari tindakan-tindakan buruk dan siksaan yang Allah persiapkan bagi para pelakunya. ﴾ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa", di mana Allah telah menguraikan dalam al-Qur`an dalil-dalil dan bukti-bukti nyata mengenai ulu-hiyah (hak disembah) dan wihdaniyah (keesaan)Nya hingga telah menciptakan sebuah keyakinan yang haq. ﴾ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran", yaitu akal-akal yang sempurna. (Yaitu) orang-orang yang berhasil mengingat hal-hal yang bermanfaat bagi mereka (darinya), lantas mengerjakannya sedangkan hal-hal yang membahayakan mereka maka (segera) mereka tinggalkan. Dengan tindakan ini, mereka menjadi orang-orang yang berakal dan bermata hati jernih. Pasalnya, melalui al-Qur`an itu, pengetahuan dan pikiran-pikiran mereka semakin me-ningkat, pola pikir mereka bersinar lantaran memetiknya langsung dalam keadaan utuh masih segar. Sesungguhnya al-Qur`an itu tidaklah mengajak kecuali kepada akhlak yang paling luhur dan amalan yang paling utama. Tidak menguatkan pandangan itu ke-cuali dengan bukti yang paling kuat dan paling jelas. Kaidah ini, jika seseorang yang cerdik melatih diri dengannya, maka dia akan se-nantiasa berada di tangga atas dan selalu menanjak naik selama-nya dalam setiap budi pekerti. Walhamdu lillahi Rabbil 'alamin.
Ibrahim 14:48
"Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janjiNya kepada rasul-rasulNya; sesungguhnya Allah Mahaperkasa, lagi mempunyai pembalasan. (Yaitu) pada hari (ke-tika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) la-ngit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul meng-hadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari cair-an ter, dan muka mereka ditutup oleh api neraka, agar Allah mem-beri pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya. (Al-Qur`an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, supaya mereka diberi peringatan dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." (Ibrahim: 47-52).
(47) Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ مُخۡلِفَ وَعۡدِهِۦ رُسُلَهُۥٓۚ ﴿ "Karena itu, janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janjiNya kepada rasul-rasulNya", dengan menyelamatkan mereka dan para pengikut mereka, dan menjadikan mereka bahagia, lalu memusnah-kan musuh-musuh mereka serta menelantarkan para musuh itu (tanpa bimbingan dariNya) dan mengenakan hukuman bagi mereka di akhirat. Kejadian ini pasti terealisasikan, karena merupakan janji yang telah disampaikan oleh Dzat yang Jujur melalui lisan insan yang paling jujur. Mereka itu adalah para rasul. Informasi ini sebuah berita yang paling tinggi (tingkatan keakurasiannya). Apalagi, kabar itu sejalan dengan hikmah ilahiyah dan ketetapan-ketetapan Rabbani serta akal-akal yang sehat. Tiada sesuatu pun yang sanggup melemah-kan Allah تعالى. Sesungguhnya Dia ﴾ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٖ ﴿ "Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan", maksudnya jika Allah ingin menimpakan balasan kepada seseorang, maka tidak ada sesuatu pun yang mem-buatnya lolos dan lemah (tidak setimpal). Peristiwa tersebut pasti terjadi di Hari Kiamat.
(48) ﴾ يَوۡمَ تُبَدَّلُ ٱلۡأَرۡضُ غَيۡرَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُۖ ﴿ "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit", langit pun diganti dengan rupa langit yang lain. Perubahan ini hanya pada karakteristiknya saja, bukan perubahan wujudnya. Karena bumi pada Hari Kiamat akan diratakan dan dihamparkan ibarat permukaan lapangan yang datar. Seluruh isinya, seperti gunung dan dataran-dataran yang menonjol diletakkan pada permukaan-nya. Jadilah bumi dataran yang rata. Engkau tidak melihat tempat yang rendah maupun yang tinggi. Langit bagaikan luluhan perak lantaran kedahsyatan keadaan hari itu. Lantas, Allah تعالى menggu-lungnya dengan Tangan KananNya ﴾ وَبَرَزُواْ ﴿ "dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul", seluruh makhluk (bangkit) dari kubur-kubur mereka menuju hari kebangkitan dan mereka bangkit di tempat yang mana tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi pada pandangan Allah. ﴾ لِلَّهِ ٱلۡوَٰحِدِ ٱلۡقَهَّارِ ﴿ "Menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa", Satu-satunya Dzat Yang mempunyai keagungan, nama-nama dan sifat, serta perbuatan yang agung. Dan keperkasaanNya atas seluruh alam semesta. Semuanya berada di bawah penanganan dan pengaturanNya. Tidak ada yang bergerak dan tidak ada yang tetap diam kecuali dengan seizinNya.
(49) ﴾ وَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa", yaitu orang-orang yang melekat padanya ciri kejahatan dan banyak dosa pada hari itu ﴾ مُّقَرَّنِينَ فِي ٱلۡأَصۡفَادِ ﴿ "diikat bersama-sama dengan belenggu", maksudnya setiap orang yang berbuat dosa di-rantai dengan belenggu dari neraka. Mereka pun digiring menuju siksaan dalam kondisi yang sangat nista, buruk, lagi menjijikkan.
(50) ﴾ سَرَابِيلُهُم ﴿ "Pakaian mereka", yaitu pakaian-pakaian mereka ﴾ مِّن قَطِرَانٖ ﴿ "adalah dari cairan ter", hal itu karena begitu dah-syatnya nyala neraka di tengah mereka, tingkat suhu panasnya, serta kebusukan bau, ﴾ وَتَغۡشَىٰ وُجُوهَهُمُ ﴿ "dan muka mereka ditutup", yang merupakan bagian yang paling mulia pada raga mereka ﴾ ٱلنَّارُ ﴿ "oleh api neraka", api mengitarinya, membakarnya dari segala sisi. Sudah tentu, bagian selain wajah akan lebih parah.
(51) Penyiksaan itu bukanlah bentuk tindak kezhaliman Allah (terhadap mereka). Itu hanyalah bentuk balasan atas amalan yang mereka kerjakan dan usahakan. Oleh karena itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱللَّهُ كُلَّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡۚ ﴿ "agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan", berupa amalan yang baik maupun yang jelek dengan keadilan dan tidak berat sebelah, yang tidak berisi kezhaliman dalam kondisi apa pun. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya", seperti Firman Allah, ﴾ ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ 1 ﴿ "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya)." (Al-An-biya`: 1). Pengertian ayat ini juga bisa (mengarah pada realita) bahwa Allah sangat cepat perhitunganNya. Mampu menjalankan (perhi-tungan amalan) semua makhluk dalam satu waktu, sebagaimana Allah mencurahkan rizki, mengatur mereka dengan berbagai aturan dalam sekejap saja. Tidak ada urusan yang menyibukkan kepen-tingan urusan lain. Yang demikian itu tidaklah sukar bagi Allah.
(52) Setelah menjelaskan keterangan yang nyata tentang al-Qur`an ini, Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ ﴿ "(Al-Qur`an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia", mereka mempersiapkan dan membekali diri dengannya menuju tingkatan tertinggi dan kemulia-an teristimewa. Karena al-Qur`an memuat prinsip-prinsip (al-Ushul), cabang-cabang, dan seluruh pengetahuan yang diperlukan oleh para hamba. ﴾ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ ﴿ "Supaya mereka diberi peringatan", karena di dalamnya mengandung peringatan dari tindakan-tindakan buruk dan siksaan yang Allah persiapkan bagi para pelakunya. ﴾ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa", di mana Allah telah menguraikan dalam al-Qur`an dalil-dalil dan bukti-bukti nyata mengenai ulu-hiyah (hak disembah) dan wihdaniyah (keesaan)Nya hingga telah menciptakan sebuah keyakinan yang haq. ﴾ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran", yaitu akal-akal yang sempurna. (Yaitu) orang-orang yang berhasil mengingat hal-hal yang bermanfaat bagi mereka (darinya), lantas mengerjakannya sedangkan hal-hal yang membahayakan mereka maka (segera) mereka tinggalkan. Dengan tindakan ini, mereka menjadi orang-orang yang berakal dan bermata hati jernih. Pasalnya, melalui al-Qur`an itu, pengetahuan dan pikiran-pikiran mereka semakin me-ningkat, pola pikir mereka bersinar lantaran memetiknya langsung dalam keadaan utuh masih segar. Sesungguhnya al-Qur`an itu tidaklah mengajak kecuali kepada akhlak yang paling luhur dan amalan yang paling utama. Tidak menguatkan pandangan itu ke-cuali dengan bukti yang paling kuat dan paling jelas. Kaidah ini, jika seseorang yang cerdik melatih diri dengannya, maka dia akan se-nantiasa berada di tangga atas dan selalu menanjak naik selama-nya dalam setiap budi pekerti. Walhamdu lillahi Rabbil 'alamin.
Ibrahim 14:49
"Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janjiNya kepada rasul-rasulNya; sesungguhnya Allah Mahaperkasa, lagi mempunyai pembalasan. (Yaitu) pada hari (ke-tika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) la-ngit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul meng-hadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari cair-an ter, dan muka mereka ditutup oleh api neraka, agar Allah mem-beri pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya. (Al-Qur`an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, supaya mereka diberi peringatan dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." (Ibrahim: 47-52).
(47) Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ مُخۡلِفَ وَعۡدِهِۦ رُسُلَهُۥٓۚ ﴿ "Karena itu, janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janjiNya kepada rasul-rasulNya", dengan menyelamatkan mereka dan para pengikut mereka, dan menjadikan mereka bahagia, lalu memusnah-kan musuh-musuh mereka serta menelantarkan para musuh itu (tanpa bimbingan dariNya) dan mengenakan hukuman bagi mereka di akhirat. Kejadian ini pasti terealisasikan, karena merupakan janji yang telah disampaikan oleh Dzat yang Jujur melalui lisan insan yang paling jujur. Mereka itu adalah para rasul. Informasi ini sebuah berita yang paling tinggi (tingkatan keakurasiannya). Apalagi, kabar itu sejalan dengan hikmah ilahiyah dan ketetapan-ketetapan Rabbani serta akal-akal yang sehat. Tiada sesuatu pun yang sanggup melemah-kan Allah تعالى. Sesungguhnya Dia ﴾ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٖ ﴿ "Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan", maksudnya jika Allah ingin menimpakan balasan kepada seseorang, maka tidak ada sesuatu pun yang mem-buatnya lolos dan lemah (tidak setimpal). Peristiwa tersebut pasti terjadi di Hari Kiamat.
(48) ﴾ يَوۡمَ تُبَدَّلُ ٱلۡأَرۡضُ غَيۡرَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُۖ ﴿ "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit", langit pun diganti dengan rupa langit yang lain. Perubahan ini hanya pada karakteristiknya saja, bukan perubahan wujudnya. Karena bumi pada Hari Kiamat akan diratakan dan dihamparkan ibarat permukaan lapangan yang datar. Seluruh isinya, seperti gunung dan dataran-dataran yang menonjol diletakkan pada permukaan-nya. Jadilah bumi dataran yang rata. Engkau tidak melihat tempat yang rendah maupun yang tinggi. Langit bagaikan luluhan perak lantaran kedahsyatan keadaan hari itu. Lantas, Allah تعالى menggu-lungnya dengan Tangan KananNya ﴾ وَبَرَزُواْ ﴿ "dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul", seluruh makhluk (bangkit) dari kubur-kubur mereka menuju hari kebangkitan dan mereka bangkit di tempat yang mana tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi pada pandangan Allah. ﴾ لِلَّهِ ٱلۡوَٰحِدِ ٱلۡقَهَّارِ ﴿ "Menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa", Satu-satunya Dzat Yang mempunyai keagungan, nama-nama dan sifat, serta perbuatan yang agung. Dan keperkasaanNya atas seluruh alam semesta. Semuanya berada di bawah penanganan dan pengaturanNya. Tidak ada yang bergerak dan tidak ada yang tetap diam kecuali dengan seizinNya.
(49) ﴾ وَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa", yaitu orang-orang yang melekat padanya ciri kejahatan dan banyak dosa pada hari itu ﴾ مُّقَرَّنِينَ فِي ٱلۡأَصۡفَادِ ﴿ "diikat bersama-sama dengan belenggu", maksudnya setiap orang yang berbuat dosa di-rantai dengan belenggu dari neraka. Mereka pun digiring menuju siksaan dalam kondisi yang sangat nista, buruk, lagi menjijikkan.
(50) ﴾ سَرَابِيلُهُم ﴿ "Pakaian mereka", yaitu pakaian-pakaian mereka ﴾ مِّن قَطِرَانٖ ﴿ "adalah dari cairan ter", hal itu karena begitu dah-syatnya nyala neraka di tengah mereka, tingkat suhu panasnya, serta kebusukan bau, ﴾ وَتَغۡشَىٰ وُجُوهَهُمُ ﴿ "dan muka mereka ditutup", yang merupakan bagian yang paling mulia pada raga mereka ﴾ ٱلنَّارُ ﴿ "oleh api neraka", api mengitarinya, membakarnya dari segala sisi. Sudah tentu, bagian selain wajah akan lebih parah.
(51) Penyiksaan itu bukanlah bentuk tindak kezhaliman Allah (terhadap mereka). Itu hanyalah bentuk balasan atas amalan yang mereka kerjakan dan usahakan. Oleh karena itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱللَّهُ كُلَّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡۚ ﴿ "agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan", berupa amalan yang baik maupun yang jelek dengan keadilan dan tidak berat sebelah, yang tidak berisi kezhaliman dalam kondisi apa pun. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya", seperti Firman Allah, ﴾ ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ 1 ﴿ "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya)." (Al-An-biya`: 1). Pengertian ayat ini juga bisa (mengarah pada realita) bahwa Allah sangat cepat perhitunganNya. Mampu menjalankan (perhi-tungan amalan) semua makhluk dalam satu waktu, sebagaimana Allah mencurahkan rizki, mengatur mereka dengan berbagai aturan dalam sekejap saja. Tidak ada urusan yang menyibukkan kepen-tingan urusan lain. Yang demikian itu tidaklah sukar bagi Allah.
(52) Setelah menjelaskan keterangan yang nyata tentang al-Qur`an ini, Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ ﴿ "(Al-Qur`an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia", mereka mempersiapkan dan membekali diri dengannya menuju tingkatan tertinggi dan kemulia-an teristimewa. Karena al-Qur`an memuat prinsip-prinsip (al-Ushul), cabang-cabang, dan seluruh pengetahuan yang diperlukan oleh para hamba. ﴾ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ ﴿ "Supaya mereka diberi peringatan", karena di dalamnya mengandung peringatan dari tindakan-tindakan buruk dan siksaan yang Allah persiapkan bagi para pelakunya. ﴾ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa", di mana Allah telah menguraikan dalam al-Qur`an dalil-dalil dan bukti-bukti nyata mengenai ulu-hiyah (hak disembah) dan wihdaniyah (keesaan)Nya hingga telah menciptakan sebuah keyakinan yang haq. ﴾ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran", yaitu akal-akal yang sempurna. (Yaitu) orang-orang yang berhasil mengingat hal-hal yang bermanfaat bagi mereka (darinya), lantas mengerjakannya sedangkan hal-hal yang membahayakan mereka maka (segera) mereka tinggalkan. Dengan tindakan ini, mereka menjadi orang-orang yang berakal dan bermata hati jernih. Pasalnya, melalui al-Qur`an itu, pengetahuan dan pikiran-pikiran mereka semakin me-ningkat, pola pikir mereka bersinar lantaran memetiknya langsung dalam keadaan utuh masih segar. Sesungguhnya al-Qur`an itu tidaklah mengajak kecuali kepada akhlak yang paling luhur dan amalan yang paling utama. Tidak menguatkan pandangan itu ke-cuali dengan bukti yang paling kuat dan paling jelas. Kaidah ini, jika seseorang yang cerdik melatih diri dengannya, maka dia akan se-nantiasa berada di tangga atas dan selalu menanjak naik selama-nya dalam setiap budi pekerti. Walhamdu lillahi Rabbil 'alamin.
Ibrahim 14:50
"Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janjiNya kepada rasul-rasulNya; sesungguhnya Allah Mahaperkasa, lagi mempunyai pembalasan. (Yaitu) pada hari (ke-tika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) la-ngit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul meng-hadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari cair-an ter, dan muka mereka ditutup oleh api neraka, agar Allah mem-beri pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya. (Al-Qur`an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, supaya mereka diberi peringatan dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." (Ibrahim: 47-52).
(47) Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ مُخۡلِفَ وَعۡدِهِۦ رُسُلَهُۥٓۚ ﴿ "Karena itu, janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janjiNya kepada rasul-rasulNya", dengan menyelamatkan mereka dan para pengikut mereka, dan menjadikan mereka bahagia, lalu memusnah-kan musuh-musuh mereka serta menelantarkan para musuh itu (tanpa bimbingan dariNya) dan mengenakan hukuman bagi mereka di akhirat. Kejadian ini pasti terealisasikan, karena merupakan janji yang telah disampaikan oleh Dzat yang Jujur melalui lisan insan yang paling jujur. Mereka itu adalah para rasul. Informasi ini sebuah berita yang paling tinggi (tingkatan keakurasiannya). Apalagi, kabar itu sejalan dengan hikmah ilahiyah dan ketetapan-ketetapan Rabbani serta akal-akal yang sehat. Tiada sesuatu pun yang sanggup melemah-kan Allah تعالى. Sesungguhnya Dia ﴾ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٖ ﴿ "Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan", maksudnya jika Allah ingin menimpakan balasan kepada seseorang, maka tidak ada sesuatu pun yang mem-buatnya lolos dan lemah (tidak setimpal). Peristiwa tersebut pasti terjadi di Hari Kiamat.
(48) ﴾ يَوۡمَ تُبَدَّلُ ٱلۡأَرۡضُ غَيۡرَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُۖ ﴿ "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit", langit pun diganti dengan rupa langit yang lain. Perubahan ini hanya pada karakteristiknya saja, bukan perubahan wujudnya. Karena bumi pada Hari Kiamat akan diratakan dan dihamparkan ibarat permukaan lapangan yang datar. Seluruh isinya, seperti gunung dan dataran-dataran yang menonjol diletakkan pada permukaan-nya. Jadilah bumi dataran yang rata. Engkau tidak melihat tempat yang rendah maupun yang tinggi. Langit bagaikan luluhan perak lantaran kedahsyatan keadaan hari itu. Lantas, Allah تعالى menggu-lungnya dengan Tangan KananNya ﴾ وَبَرَزُواْ ﴿ "dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul", seluruh makhluk (bangkit) dari kubur-kubur mereka menuju hari kebangkitan dan mereka bangkit di tempat yang mana tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi pada pandangan Allah. ﴾ لِلَّهِ ٱلۡوَٰحِدِ ٱلۡقَهَّارِ ﴿ "Menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa", Satu-satunya Dzat Yang mempunyai keagungan, nama-nama dan sifat, serta perbuatan yang agung. Dan keperkasaanNya atas seluruh alam semesta. Semuanya berada di bawah penanganan dan pengaturanNya. Tidak ada yang bergerak dan tidak ada yang tetap diam kecuali dengan seizinNya.
(49) ﴾ وَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa", yaitu orang-orang yang melekat padanya ciri kejahatan dan banyak dosa pada hari itu ﴾ مُّقَرَّنِينَ فِي ٱلۡأَصۡفَادِ ﴿ "diikat bersama-sama dengan belenggu", maksudnya setiap orang yang berbuat dosa di-rantai dengan belenggu dari neraka. Mereka pun digiring menuju siksaan dalam kondisi yang sangat nista, buruk, lagi menjijikkan.
(50) ﴾ سَرَابِيلُهُم ﴿ "Pakaian mereka", yaitu pakaian-pakaian mereka ﴾ مِّن قَطِرَانٖ ﴿ "adalah dari cairan ter", hal itu karena begitu dah-syatnya nyala neraka di tengah mereka, tingkat suhu panasnya, serta kebusukan bau, ﴾ وَتَغۡشَىٰ وُجُوهَهُمُ ﴿ "dan muka mereka ditutup", yang merupakan bagian yang paling mulia pada raga mereka ﴾ ٱلنَّارُ ﴿ "oleh api neraka", api mengitarinya, membakarnya dari segala sisi. Sudah tentu, bagian selain wajah akan lebih parah.
(51) Penyiksaan itu bukanlah bentuk tindak kezhaliman Allah (terhadap mereka). Itu hanyalah bentuk balasan atas amalan yang mereka kerjakan dan usahakan. Oleh karena itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱللَّهُ كُلَّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡۚ ﴿ "agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan", berupa amalan yang baik maupun yang jelek dengan keadilan dan tidak berat sebelah, yang tidak berisi kezhaliman dalam kondisi apa pun. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya", seperti Firman Allah, ﴾ ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ 1 ﴿ "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya)." (Al-An-biya`: 1). Pengertian ayat ini juga bisa (mengarah pada realita) bahwa Allah sangat cepat perhitunganNya. Mampu menjalankan (perhi-tungan amalan) semua makhluk dalam satu waktu, sebagaimana Allah mencurahkan rizki, mengatur mereka dengan berbagai aturan dalam sekejap saja. Tidak ada urusan yang menyibukkan kepen-tingan urusan lain. Yang demikian itu tidaklah sukar bagi Allah.
(52) Setelah menjelaskan keterangan yang nyata tentang al-Qur`an ini, Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ ﴿ "(Al-Qur`an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia", mereka mempersiapkan dan membekali diri dengannya menuju tingkatan tertinggi dan kemulia-an teristimewa. Karena al-Qur`an memuat prinsip-prinsip (al-Ushul), cabang-cabang, dan seluruh pengetahuan yang diperlukan oleh para hamba. ﴾ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ ﴿ "Supaya mereka diberi peringatan", karena di dalamnya mengandung peringatan dari tindakan-tindakan buruk dan siksaan yang Allah persiapkan bagi para pelakunya. ﴾ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa", di mana Allah telah menguraikan dalam al-Qur`an dalil-dalil dan bukti-bukti nyata mengenai ulu-hiyah (hak disembah) dan wihdaniyah (keesaan)Nya hingga telah menciptakan sebuah keyakinan yang haq. ﴾ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran", yaitu akal-akal yang sempurna. (Yaitu) orang-orang yang berhasil mengingat hal-hal yang bermanfaat bagi mereka (darinya), lantas mengerjakannya sedangkan hal-hal yang membahayakan mereka maka (segera) mereka tinggalkan. Dengan tindakan ini, mereka menjadi orang-orang yang berakal dan bermata hati jernih. Pasalnya, melalui al-Qur`an itu, pengetahuan dan pikiran-pikiran mereka semakin me-ningkat, pola pikir mereka bersinar lantaran memetiknya langsung dalam keadaan utuh masih segar. Sesungguhnya al-Qur`an itu tidaklah mengajak kecuali kepada akhlak yang paling luhur dan amalan yang paling utama. Tidak menguatkan pandangan itu ke-cuali dengan bukti yang paling kuat dan paling jelas. Kaidah ini, jika seseorang yang cerdik melatih diri dengannya, maka dia akan se-nantiasa berada di tangga atas dan selalu menanjak naik selama-nya dalam setiap budi pekerti. Walhamdu lillahi Rabbil 'alamin.
Ibrahim 14:51
"Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janjiNya kepada rasul-rasulNya; sesungguhnya Allah Mahaperkasa, lagi mempunyai pembalasan. (Yaitu) pada hari (ke-tika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) la-ngit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul meng-hadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari cair-an ter, dan muka mereka ditutup oleh api neraka, agar Allah mem-beri pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya. (Al-Qur`an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, supaya mereka diberi peringatan dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." (Ibrahim: 47-52).
(47) Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ مُخۡلِفَ وَعۡدِهِۦ رُسُلَهُۥٓۚ ﴿ "Karena itu, janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janjiNya kepada rasul-rasulNya", dengan menyelamatkan mereka dan para pengikut mereka, dan menjadikan mereka bahagia, lalu memusnah-kan musuh-musuh mereka serta menelantarkan para musuh itu (tanpa bimbingan dariNya) dan mengenakan hukuman bagi mereka di akhirat. Kejadian ini pasti terealisasikan, karena merupakan janji yang telah disampaikan oleh Dzat yang Jujur melalui lisan insan yang paling jujur. Mereka itu adalah para rasul. Informasi ini sebuah berita yang paling tinggi (tingkatan keakurasiannya). Apalagi, kabar itu sejalan dengan hikmah ilahiyah dan ketetapan-ketetapan Rabbani serta akal-akal yang sehat. Tiada sesuatu pun yang sanggup melemah-kan Allah تعالى. Sesungguhnya Dia ﴾ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٖ ﴿ "Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan", maksudnya jika Allah ingin menimpakan balasan kepada seseorang, maka tidak ada sesuatu pun yang mem-buatnya lolos dan lemah (tidak setimpal). Peristiwa tersebut pasti terjadi di Hari Kiamat.
(48) ﴾ يَوۡمَ تُبَدَّلُ ٱلۡأَرۡضُ غَيۡرَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُۖ ﴿ "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit", langit pun diganti dengan rupa langit yang lain. Perubahan ini hanya pada karakteristiknya saja, bukan perubahan wujudnya. Karena bumi pada Hari Kiamat akan diratakan dan dihamparkan ibarat permukaan lapangan yang datar. Seluruh isinya, seperti gunung dan dataran-dataran yang menonjol diletakkan pada permukaan-nya. Jadilah bumi dataran yang rata. Engkau tidak melihat tempat yang rendah maupun yang tinggi. Langit bagaikan luluhan perak lantaran kedahsyatan keadaan hari itu. Lantas, Allah تعالى menggu-lungnya dengan Tangan KananNya ﴾ وَبَرَزُواْ ﴿ "dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul", seluruh makhluk (bangkit) dari kubur-kubur mereka menuju hari kebangkitan dan mereka bangkit di tempat yang mana tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi pada pandangan Allah. ﴾ لِلَّهِ ٱلۡوَٰحِدِ ٱلۡقَهَّارِ ﴿ "Menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa", Satu-satunya Dzat Yang mempunyai keagungan, nama-nama dan sifat, serta perbuatan yang agung. Dan keperkasaanNya atas seluruh alam semesta. Semuanya berada di bawah penanganan dan pengaturanNya. Tidak ada yang bergerak dan tidak ada yang tetap diam kecuali dengan seizinNya.
(49) ﴾ وَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa", yaitu orang-orang yang melekat padanya ciri kejahatan dan banyak dosa pada hari itu ﴾ مُّقَرَّنِينَ فِي ٱلۡأَصۡفَادِ ﴿ "diikat bersama-sama dengan belenggu", maksudnya setiap orang yang berbuat dosa di-rantai dengan belenggu dari neraka. Mereka pun digiring menuju siksaan dalam kondisi yang sangat nista, buruk, lagi menjijikkan.
(50) ﴾ سَرَابِيلُهُم ﴿ "Pakaian mereka", yaitu pakaian-pakaian mereka ﴾ مِّن قَطِرَانٖ ﴿ "adalah dari cairan ter", hal itu karena begitu dah-syatnya nyala neraka di tengah mereka, tingkat suhu panasnya, serta kebusukan bau, ﴾ وَتَغۡشَىٰ وُجُوهَهُمُ ﴿ "dan muka mereka ditutup", yang merupakan bagian yang paling mulia pada raga mereka ﴾ ٱلنَّارُ ﴿ "oleh api neraka", api mengitarinya, membakarnya dari segala sisi. Sudah tentu, bagian selain wajah akan lebih parah.
(51) Penyiksaan itu bukanlah bentuk tindak kezhaliman Allah (terhadap mereka). Itu hanyalah bentuk balasan atas amalan yang mereka kerjakan dan usahakan. Oleh karena itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱللَّهُ كُلَّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡۚ ﴿ "agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan", berupa amalan yang baik maupun yang jelek dengan keadilan dan tidak berat sebelah, yang tidak berisi kezhaliman dalam kondisi apa pun. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya", seperti Firman Allah, ﴾ ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ 1 ﴿ "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya)." (Al-An-biya`: 1). Pengertian ayat ini juga bisa (mengarah pada realita) bahwa Allah sangat cepat perhitunganNya. Mampu menjalankan (perhi-tungan amalan) semua makhluk dalam satu waktu, sebagaimana Allah mencurahkan rizki, mengatur mereka dengan berbagai aturan dalam sekejap saja. Tidak ada urusan yang menyibukkan kepen-tingan urusan lain. Yang demikian itu tidaklah sukar bagi Allah.
(52) Setelah menjelaskan keterangan yang nyata tentang al-Qur`an ini, Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ ﴿ "(Al-Qur`an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia", mereka mempersiapkan dan membekali diri dengannya menuju tingkatan tertinggi dan kemulia-an teristimewa. Karena al-Qur`an memuat prinsip-prinsip (al-Ushul), cabang-cabang, dan seluruh pengetahuan yang diperlukan oleh para hamba. ﴾ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ ﴿ "Supaya mereka diberi peringatan", karena di dalamnya mengandung peringatan dari tindakan-tindakan buruk dan siksaan yang Allah persiapkan bagi para pelakunya. ﴾ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa", di mana Allah telah menguraikan dalam al-Qur`an dalil-dalil dan bukti-bukti nyata mengenai ulu-hiyah (hak disembah) dan wihdaniyah (keesaan)Nya hingga telah menciptakan sebuah keyakinan yang haq. ﴾ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran", yaitu akal-akal yang sempurna. (Yaitu) orang-orang yang berhasil mengingat hal-hal yang bermanfaat bagi mereka (darinya), lantas mengerjakannya sedangkan hal-hal yang membahayakan mereka maka (segera) mereka tinggalkan. Dengan tindakan ini, mereka menjadi orang-orang yang berakal dan bermata hati jernih. Pasalnya, melalui al-Qur`an itu, pengetahuan dan pikiran-pikiran mereka semakin me-ningkat, pola pikir mereka bersinar lantaran memetiknya langsung dalam keadaan utuh masih segar. Sesungguhnya al-Qur`an itu tidaklah mengajak kecuali kepada akhlak yang paling luhur dan amalan yang paling utama. Tidak menguatkan pandangan itu ke-cuali dengan bukti yang paling kuat dan paling jelas. Kaidah ini, jika seseorang yang cerdik melatih diri dengannya, maka dia akan se-nantiasa berada di tangga atas dan selalu menanjak naik selama-nya dalam setiap budi pekerti. Walhamdu lillahi Rabbil 'alamin.
Ibrahim 14:52
"Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janjiNya kepada rasul-rasulNya; sesungguhnya Allah Mahaperkasa, lagi mempunyai pembalasan. (Yaitu) pada hari (ke-tika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) la-ngit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul meng-hadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari cair-an ter, dan muka mereka ditutup oleh api neraka, agar Allah mem-beri pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan. Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya. (Al-Qur`an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, supaya mereka diberi peringatan dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." (Ibrahim: 47-52).
(47) Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ مُخۡلِفَ وَعۡدِهِۦ رُسُلَهُۥٓۚ ﴿ "Karena itu, janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janjiNya kepada rasul-rasulNya", dengan menyelamatkan mereka dan para pengikut mereka, dan menjadikan mereka bahagia, lalu memusnah-kan musuh-musuh mereka serta menelantarkan para musuh itu (tanpa bimbingan dariNya) dan mengenakan hukuman bagi mereka di akhirat. Kejadian ini pasti terealisasikan, karena merupakan janji yang telah disampaikan oleh Dzat yang Jujur melalui lisan insan yang paling jujur. Mereka itu adalah para rasul. Informasi ini sebuah berita yang paling tinggi (tingkatan keakurasiannya). Apalagi, kabar itu sejalan dengan hikmah ilahiyah dan ketetapan-ketetapan Rabbani serta akal-akal yang sehat. Tiada sesuatu pun yang sanggup melemah-kan Allah تعالى. Sesungguhnya Dia ﴾ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٖ ﴿ "Mahaperkasa lagi mempunyai pembalasan", maksudnya jika Allah ingin menimpakan balasan kepada seseorang, maka tidak ada sesuatu pun yang mem-buatnya lolos dan lemah (tidak setimpal). Peristiwa tersebut pasti terjadi di Hari Kiamat.
(48) ﴾ يَوۡمَ تُبَدَّلُ ٱلۡأَرۡضُ غَيۡرَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُۖ ﴿ "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit", langit pun diganti dengan rupa langit yang lain. Perubahan ini hanya pada karakteristiknya saja, bukan perubahan wujudnya. Karena bumi pada Hari Kiamat akan diratakan dan dihamparkan ibarat permukaan lapangan yang datar. Seluruh isinya, seperti gunung dan dataran-dataran yang menonjol diletakkan pada permukaan-nya. Jadilah bumi dataran yang rata. Engkau tidak melihat tempat yang rendah maupun yang tinggi. Langit bagaikan luluhan perak lantaran kedahsyatan keadaan hari itu. Lantas, Allah تعالى menggu-lungnya dengan Tangan KananNya ﴾ وَبَرَزُواْ ﴿ "dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul", seluruh makhluk (bangkit) dari kubur-kubur mereka menuju hari kebangkitan dan mereka bangkit di tempat yang mana tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi pada pandangan Allah. ﴾ لِلَّهِ ٱلۡوَٰحِدِ ٱلۡقَهَّارِ ﴿ "Menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa", Satu-satunya Dzat Yang mempunyai keagungan, nama-nama dan sifat, serta perbuatan yang agung. Dan keperkasaanNya atas seluruh alam semesta. Semuanya berada di bawah penanganan dan pengaturanNya. Tidak ada yang bergerak dan tidak ada yang tetap diam kecuali dengan seizinNya.
(49) ﴾ وَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa", yaitu orang-orang yang melekat padanya ciri kejahatan dan banyak dosa pada hari itu ﴾ مُّقَرَّنِينَ فِي ٱلۡأَصۡفَادِ ﴿ "diikat bersama-sama dengan belenggu", maksudnya setiap orang yang berbuat dosa di-rantai dengan belenggu dari neraka. Mereka pun digiring menuju siksaan dalam kondisi yang sangat nista, buruk, lagi menjijikkan.
(50) ﴾ سَرَابِيلُهُم ﴿ "Pakaian mereka", yaitu pakaian-pakaian mereka ﴾ مِّن قَطِرَانٖ ﴿ "adalah dari cairan ter", hal itu karena begitu dah-syatnya nyala neraka di tengah mereka, tingkat suhu panasnya, serta kebusukan bau, ﴾ وَتَغۡشَىٰ وُجُوهَهُمُ ﴿ "dan muka mereka ditutup", yang merupakan bagian yang paling mulia pada raga mereka ﴾ ٱلنَّارُ ﴿ "oleh api neraka", api mengitarinya, membakarnya dari segala sisi. Sudah tentu, bagian selain wajah akan lebih parah.
(51) Penyiksaan itu bukanlah bentuk tindak kezhaliman Allah (terhadap mereka). Itu hanyalah bentuk balasan atas amalan yang mereka kerjakan dan usahakan. Oleh karena itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱللَّهُ كُلَّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡۚ ﴿ "agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang dia usahakan", berupa amalan yang baik maupun yang jelek dengan keadilan dan tidak berat sebelah, yang tidak berisi kezhaliman dalam kondisi apa pun. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahacepat hisabNya", seperti Firman Allah, ﴾ ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ 1 ﴿ "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya)." (Al-An-biya`: 1). Pengertian ayat ini juga bisa (mengarah pada realita) bahwa Allah sangat cepat perhitunganNya. Mampu menjalankan (perhi-tungan amalan) semua makhluk dalam satu waktu, sebagaimana Allah mencurahkan rizki, mengatur mereka dengan berbagai aturan dalam sekejap saja. Tidak ada urusan yang menyibukkan kepen-tingan urusan lain. Yang demikian itu tidaklah sukar bagi Allah.
(52) Setelah menjelaskan keterangan yang nyata tentang al-Qur`an ini, Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ ﴿ "(Al-Qur`an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia", mereka mempersiapkan dan membekali diri dengannya menuju tingkatan tertinggi dan kemulia-an teristimewa. Karena al-Qur`an memuat prinsip-prinsip (al-Ushul), cabang-cabang, dan seluruh pengetahuan yang diperlukan oleh para hamba. ﴾ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ ﴿ "Supaya mereka diberi peringatan", karena di dalamnya mengandung peringatan dari tindakan-tindakan buruk dan siksaan yang Allah persiapkan bagi para pelakunya. ﴾ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa", di mana Allah telah menguraikan dalam al-Qur`an dalil-dalil dan bukti-bukti nyata mengenai ulu-hiyah (hak disembah) dan wihdaniyah (keesaan)Nya hingga telah menciptakan sebuah keyakinan yang haq. ﴾ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran", yaitu akal-akal yang sempurna. (Yaitu) orang-orang yang berhasil mengingat hal-hal yang bermanfaat bagi mereka (darinya), lantas mengerjakannya sedangkan hal-hal yang membahayakan mereka maka (segera) mereka tinggalkan. Dengan tindakan ini, mereka menjadi orang-orang yang berakal dan bermata hati jernih. Pasalnya, melalui al-Qur`an itu, pengetahuan dan pikiran-pikiran mereka semakin me-ningkat, pola pikir mereka bersinar lantaran memetiknya langsung dalam keadaan utuh masih segar. Sesungguhnya al-Qur`an itu tidaklah mengajak kecuali kepada akhlak yang paling luhur dan amalan yang paling utama. Tidak menguatkan pandangan itu ke-cuali dengan bukti yang paling kuat dan paling jelas. Kaidah ini, jika seseorang yang cerdik melatih diri dengannya, maka dia akan se-nantiasa berada di tangga atas dan selalu menanjak naik selama-nya dalam setiap budi pekerti. Walhamdu lillahi Rabbil 'alamin.
Al-Hijr 15:1
"Alif, lam, ra. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) al-Qur`an yang mem-beri penjelasan. Orang-orang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan ber-senang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan kosong , maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri pun melainkan telah ditentukan masa kebinasaannya. Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan-(nya)." (Al-Hijr: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk mengagungkan kitabNya lagi untuk memujinya, ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "(Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat al-Kitab (yang sempurna)", ayat-ayat yang menunjukkan makna-makna yang paling bagus dan tuntutan yang paling mulia, ﴾ وَقُرۡءَانٖ مُّبِينٖ ﴿ "yaitu (ayat-ayat) al-Qur`an yang memberi penjelasan", untuk fakta-fakta dengan lafazh yang terindah dan paling jelas ser-ta lebih mengarah kepada maksud pembicaraan.
(2) Ini merupakan salah satu faktor yang mengharuskan para makhluk untuk tunduk patuh kepadaNya, berserah diri terhadap hukumNya, dan menanggapinya dengan tangan terbuka, riang dan gembira. Sedangkan orang yang menyikapi nikmat agung ini dengan menampik dan mengingkarinya, maka dia termasuk orang-orang yang mendustakan lagi sesat. Mereka akan kedatangan satu waktu, yang nantinya mereka akan berandai-andai untuk menjadi orang-orang Muslim. Maksudnya, tunduk patuh kepada hukum-hukum-Nya. Peristiwa itu terjadi tatkala tabir penutup tersingkap dan tan-da-tanda datangnya Hari Akhirat serta gejala-gejala permulaan tibanya ajal tampak. Saat berada dalam suasana akhirat kelak, mereka berharap menjadi orang-orang yang berserah diri, namun kesem-patan sudah hilang. Tapi memang mereka di dunia ini, tertipu.
(3) ﴾ ذَرۡهُمۡ يَأۡكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ ﴿ "Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang", dengan kelezatan-kelezatan (hidup) mereka ﴾ وَيُلۡهِهِمُ ٱلۡأَمَلُۖ ﴿ "dan dilalaikan oleh angan-angan kosong", maksudnya mengimpikan keabadian hidup di dunia sehingga melalaikan me-reka dari akhirat. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)" mereka akan mengetahui bahwa keyakin-an yang mereka pegangi adalah batil, amalan-amalan mereka akan lenyap menjelma kerugian yang mesti mereka tanggung. Janganlah mereka terperdaya dengan penangguhan tempo oleh Allah (bagi mereka). Ini sudah menjadi ketetapan Allah pada umat-umat ma-nusia.
(4) ﴾ وَمَآ أَهۡلَكۡنَا مِن قَرۡيَةٍ ﴿ "Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri pun", umat manusia yang pantas untuk ditimpa siksaan, ﴾ إِلَّا وَلَهَا كِتَابٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "melainkan telah ditentukan masa kebinasaannya", sudah ditentukan waktu pemusnahannya.
(5) ﴾ مَّا تَسۡبِقُ مِنۡ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ ﴿ "Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan-(nya)", (semua sudah ditentukan waktunya), kalau tidak demikian, dosa-dosa pasti memperlihatkan pengaruh (buruk)nya, kendati-pun tidak langsung muncul (berupa siksaan).
Al-Hijr 15:2
"Alif, lam, ra. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) al-Qur`an yang mem-beri penjelasan. Orang-orang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan ber-senang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan kosong , maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri pun melainkan telah ditentukan masa kebinasaannya. Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan-(nya)." (Al-Hijr: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk mengagungkan kitabNya lagi untuk memujinya, ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "(Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat al-Kitab (yang sempurna)", ayat-ayat yang menunjukkan makna-makna yang paling bagus dan tuntutan yang paling mulia, ﴾ وَقُرۡءَانٖ مُّبِينٖ ﴿ "yaitu (ayat-ayat) al-Qur`an yang memberi penjelasan", untuk fakta-fakta dengan lafazh yang terindah dan paling jelas ser-ta lebih mengarah kepada maksud pembicaraan.
(2) Ini merupakan salah satu faktor yang mengharuskan para makhluk untuk tunduk patuh kepadaNya, berserah diri terhadap hukumNya, dan menanggapinya dengan tangan terbuka, riang dan gembira. Sedangkan orang yang menyikapi nikmat agung ini dengan menampik dan mengingkarinya, maka dia termasuk orang-orang yang mendustakan lagi sesat. Mereka akan kedatangan satu waktu, yang nantinya mereka akan berandai-andai untuk menjadi orang-orang Muslim. Maksudnya, tunduk patuh kepada hukum-hukum-Nya. Peristiwa itu terjadi tatkala tabir penutup tersingkap dan tan-da-tanda datangnya Hari Akhirat serta gejala-gejala permulaan tibanya ajal tampak. Saat berada dalam suasana akhirat kelak, mereka berharap menjadi orang-orang yang berserah diri, namun kesem-patan sudah hilang. Tapi memang mereka di dunia ini, tertipu.
(3) ﴾ ذَرۡهُمۡ يَأۡكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ ﴿ "Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang", dengan kelezatan-kelezatan (hidup) mereka ﴾ وَيُلۡهِهِمُ ٱلۡأَمَلُۖ ﴿ "dan dilalaikan oleh angan-angan kosong", maksudnya mengimpikan keabadian hidup di dunia sehingga melalaikan me-reka dari akhirat. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)" mereka akan mengetahui bahwa keyakin-an yang mereka pegangi adalah batil, amalan-amalan mereka akan lenyap menjelma kerugian yang mesti mereka tanggung. Janganlah mereka terperdaya dengan penangguhan tempo oleh Allah (bagi mereka). Ini sudah menjadi ketetapan Allah pada umat-umat ma-nusia.
(4) ﴾ وَمَآ أَهۡلَكۡنَا مِن قَرۡيَةٍ ﴿ "Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri pun", umat manusia yang pantas untuk ditimpa siksaan, ﴾ إِلَّا وَلَهَا كِتَابٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "melainkan telah ditentukan masa kebinasaannya", sudah ditentukan waktu pemusnahannya.
(5) ﴾ مَّا تَسۡبِقُ مِنۡ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ ﴿ "Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan-(nya)", (semua sudah ditentukan waktunya), kalau tidak demikian, dosa-dosa pasti memperlihatkan pengaruh (buruk)nya, kendati-pun tidak langsung muncul (berupa siksaan).
Al-Hijr 15:3
"Alif, lam, ra. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) al-Qur`an yang mem-beri penjelasan. Orang-orang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan ber-senang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan kosong , maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri pun melainkan telah ditentukan masa kebinasaannya. Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan-(nya)." (Al-Hijr: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk mengagungkan kitabNya lagi untuk memujinya, ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "(Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat al-Kitab (yang sempurna)", ayat-ayat yang menunjukkan makna-makna yang paling bagus dan tuntutan yang paling mulia, ﴾ وَقُرۡءَانٖ مُّبِينٖ ﴿ "yaitu (ayat-ayat) al-Qur`an yang memberi penjelasan", untuk fakta-fakta dengan lafazh yang terindah dan paling jelas ser-ta lebih mengarah kepada maksud pembicaraan.
(2) Ini merupakan salah satu faktor yang mengharuskan para makhluk untuk tunduk patuh kepadaNya, berserah diri terhadap hukumNya, dan menanggapinya dengan tangan terbuka, riang dan gembira. Sedangkan orang yang menyikapi nikmat agung ini dengan menampik dan mengingkarinya, maka dia termasuk orang-orang yang mendustakan lagi sesat. Mereka akan kedatangan satu waktu, yang nantinya mereka akan berandai-andai untuk menjadi orang-orang Muslim. Maksudnya, tunduk patuh kepada hukum-hukum-Nya. Peristiwa itu terjadi tatkala tabir penutup tersingkap dan tan-da-tanda datangnya Hari Akhirat serta gejala-gejala permulaan tibanya ajal tampak. Saat berada dalam suasana akhirat kelak, mereka berharap menjadi orang-orang yang berserah diri, namun kesem-patan sudah hilang. Tapi memang mereka di dunia ini, tertipu.
(3) ﴾ ذَرۡهُمۡ يَأۡكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ ﴿ "Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang", dengan kelezatan-kelezatan (hidup) mereka ﴾ وَيُلۡهِهِمُ ٱلۡأَمَلُۖ ﴿ "dan dilalaikan oleh angan-angan kosong", maksudnya mengimpikan keabadian hidup di dunia sehingga melalaikan me-reka dari akhirat. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)" mereka akan mengetahui bahwa keyakin-an yang mereka pegangi adalah batil, amalan-amalan mereka akan lenyap menjelma kerugian yang mesti mereka tanggung. Janganlah mereka terperdaya dengan penangguhan tempo oleh Allah (bagi mereka). Ini sudah menjadi ketetapan Allah pada umat-umat ma-nusia.
(4) ﴾ وَمَآ أَهۡلَكۡنَا مِن قَرۡيَةٍ ﴿ "Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri pun", umat manusia yang pantas untuk ditimpa siksaan, ﴾ إِلَّا وَلَهَا كِتَابٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "melainkan telah ditentukan masa kebinasaannya", sudah ditentukan waktu pemusnahannya.
(5) ﴾ مَّا تَسۡبِقُ مِنۡ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ ﴿ "Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan-(nya)", (semua sudah ditentukan waktunya), kalau tidak demikian, dosa-dosa pasti memperlihatkan pengaruh (buruk)nya, kendati-pun tidak langsung muncul (berupa siksaan).
Al-Hijr 15:4
"Alif, lam, ra. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) al-Qur`an yang mem-beri penjelasan. Orang-orang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan ber-senang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan kosong , maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri pun melainkan telah ditentukan masa kebinasaannya. Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan-(nya)." (Al-Hijr: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk mengagungkan kitabNya lagi untuk memujinya, ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "(Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat al-Kitab (yang sempurna)", ayat-ayat yang menunjukkan makna-makna yang paling bagus dan tuntutan yang paling mulia, ﴾ وَقُرۡءَانٖ مُّبِينٖ ﴿ "yaitu (ayat-ayat) al-Qur`an yang memberi penjelasan", untuk fakta-fakta dengan lafazh yang terindah dan paling jelas ser-ta lebih mengarah kepada maksud pembicaraan.
(2) Ini merupakan salah satu faktor yang mengharuskan para makhluk untuk tunduk patuh kepadaNya, berserah diri terhadap hukumNya, dan menanggapinya dengan tangan terbuka, riang dan gembira. Sedangkan orang yang menyikapi nikmat agung ini dengan menampik dan mengingkarinya, maka dia termasuk orang-orang yang mendustakan lagi sesat. Mereka akan kedatangan satu waktu, yang nantinya mereka akan berandai-andai untuk menjadi orang-orang Muslim. Maksudnya, tunduk patuh kepada hukum-hukum-Nya. Peristiwa itu terjadi tatkala tabir penutup tersingkap dan tan-da-tanda datangnya Hari Akhirat serta gejala-gejala permulaan tibanya ajal tampak. Saat berada dalam suasana akhirat kelak, mereka berharap menjadi orang-orang yang berserah diri, namun kesem-patan sudah hilang. Tapi memang mereka di dunia ini, tertipu.
(3) ﴾ ذَرۡهُمۡ يَأۡكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ ﴿ "Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang", dengan kelezatan-kelezatan (hidup) mereka ﴾ وَيُلۡهِهِمُ ٱلۡأَمَلُۖ ﴿ "dan dilalaikan oleh angan-angan kosong", maksudnya mengimpikan keabadian hidup di dunia sehingga melalaikan me-reka dari akhirat. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)" mereka akan mengetahui bahwa keyakin-an yang mereka pegangi adalah batil, amalan-amalan mereka akan lenyap menjelma kerugian yang mesti mereka tanggung. Janganlah mereka terperdaya dengan penangguhan tempo oleh Allah (bagi mereka). Ini sudah menjadi ketetapan Allah pada umat-umat ma-nusia.
(4) ﴾ وَمَآ أَهۡلَكۡنَا مِن قَرۡيَةٍ ﴿ "Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri pun", umat manusia yang pantas untuk ditimpa siksaan, ﴾ إِلَّا وَلَهَا كِتَابٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "melainkan telah ditentukan masa kebinasaannya", sudah ditentukan waktu pemusnahannya.
(5) ﴾ مَّا تَسۡبِقُ مِنۡ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ ﴿ "Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan-(nya)", (semua sudah ditentukan waktunya), kalau tidak demikian, dosa-dosa pasti memperlihatkan pengaruh (buruk)nya, kendati-pun tidak langsung muncul (berupa siksaan).
Al-Hijr 15:5
"Alif, lam, ra. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) al-Qur`an yang mem-beri penjelasan. Orang-orang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan ber-senang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan kosong , maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri pun melainkan telah ditentukan masa kebinasaannya. Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan-(nya)." (Al-Hijr: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk mengagungkan kitabNya lagi untuk memujinya, ﴾ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "(Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat al-Kitab (yang sempurna)", ayat-ayat yang menunjukkan makna-makna yang paling bagus dan tuntutan yang paling mulia, ﴾ وَقُرۡءَانٖ مُّبِينٖ ﴿ "yaitu (ayat-ayat) al-Qur`an yang memberi penjelasan", untuk fakta-fakta dengan lafazh yang terindah dan paling jelas ser-ta lebih mengarah kepada maksud pembicaraan.
(2) Ini merupakan salah satu faktor yang mengharuskan para makhluk untuk tunduk patuh kepadaNya, berserah diri terhadap hukumNya, dan menanggapinya dengan tangan terbuka, riang dan gembira. Sedangkan orang yang menyikapi nikmat agung ini dengan menampik dan mengingkarinya, maka dia termasuk orang-orang yang mendustakan lagi sesat. Mereka akan kedatangan satu waktu, yang nantinya mereka akan berandai-andai untuk menjadi orang-orang Muslim. Maksudnya, tunduk patuh kepada hukum-hukum-Nya. Peristiwa itu terjadi tatkala tabir penutup tersingkap dan tan-da-tanda datangnya Hari Akhirat serta gejala-gejala permulaan tibanya ajal tampak. Saat berada dalam suasana akhirat kelak, mereka berharap menjadi orang-orang yang berserah diri, namun kesem-patan sudah hilang. Tapi memang mereka di dunia ini, tertipu.
(3) ﴾ ذَرۡهُمۡ يَأۡكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ ﴿ "Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang", dengan kelezatan-kelezatan (hidup) mereka ﴾ وَيُلۡهِهِمُ ٱلۡأَمَلُۖ ﴿ "dan dilalaikan oleh angan-angan kosong", maksudnya mengimpikan keabadian hidup di dunia sehingga melalaikan me-reka dari akhirat. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)" mereka akan mengetahui bahwa keyakin-an yang mereka pegangi adalah batil, amalan-amalan mereka akan lenyap menjelma kerugian yang mesti mereka tanggung. Janganlah mereka terperdaya dengan penangguhan tempo oleh Allah (bagi mereka). Ini sudah menjadi ketetapan Allah pada umat-umat ma-nusia.
(4) ﴾ وَمَآ أَهۡلَكۡنَا مِن قَرۡيَةٍ ﴿ "Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri pun", umat manusia yang pantas untuk ditimpa siksaan, ﴾ إِلَّا وَلَهَا كِتَابٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "melainkan telah ditentukan masa kebinasaannya", sudah ditentukan waktu pemusnahannya.
(5) ﴾ مَّا تَسۡبِقُ مِنۡ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ ﴿ "Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan-(nya)", (semua sudah ditentukan waktunya), kalau tidak demikian, dosa-dosa pasti memperlihatkan pengaruh (buruk)nya, kendati-pun tidak langsung muncul (berupa siksaan).
Al-Hijr 15:6
"Mereka berkata, 'Hai orang yang diturunkan al-Qur`an ke-padanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Menga-pa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar?' Kami tidak menurunkan ma-laikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiada-lah mereka ketika itu diberi tangguh. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar me-meliharanya." (Al-Hijr: 6-9).
(6) Maksudnya, orang-orang mukadzdzibin (yang mendusta-kan) berkata kepada Muhammad dalam rangka untuk mengejek dan memperolok beliau, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِي نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ ﴿ "Hai orang yang di-turunkan al-Qur`an kepadanya", menurut persangkaanmu, ﴾ إِنَّكَ لَمَجۡنُونٞ ﴿ "sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila", sebab engkau me-ngira kami akan mengikutimu dan menyingkirkan kebudayaan-kebudayaan nenek moyang kami hanya dengan ucapanmu saja.
(7-8) ﴾ لَّوۡ مَا تَأۡتِينَا بِٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ ﴿ "Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami", yang bersaksi bagi dirimu atas kebenaran risalah yang engkau bawa, ﴾ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "jika kamu termasuk orang-orang yang benar", ketika engkau tidak bisa mendatangkan malaikat, berarti kamu bukan orang yang jujur. Ini adalah termasuk bentuk kezhaliman dan kebodohan yang parah. Tentang tindak kezhaliman (mereka), maka sudah tampak jelas. Sesungguhnya sikap itu merupakan bentuk kelancangan dan keras kepala mereka ter-hadap Allah dengan meminta datangnya tanda-tanda bukti kebe-naran (Nabi) yang mana Allah belum memilihnya (untuk diturun-kan). Padahal, tujuan dan petunjuk yang mengarah ke sana sudah tercapai tanpa menggunakannya, melalui tanda-tanda kebenaran (lain) yang banyak yang menandakan kebenaran risalah yang beliau bawa. Berkaitan dengan aspek kebodohan mereka, maka sebenarnya mereka tidak bisa membedakan maslahat bagi mereka sendiri dari bahaya. Kedatangan para malaikat kepada mereka tidak berarti kebaikan bagi mereka. Justru, Allah tidak mengirimkan malaikat kecuali dengan al-haq (siksaan) yang sudah tidak ada penundaan lagi bagi orang yang tidak mengikuti dan taat kepada beliau. ﴾ وَمَا كَانُوٓاْ إِذٗا ﴿ "Dan tiadalah mereka ketika itu", maksudnya mereka itu ke-tika para malaikat datang, bila mereka tidak beriman dan tidak akan beriman ﴾ مُّنظَرِينَ ﴿ "diberi tangguh", maksudnya mereka tidak akan mendapatkan kesempatan lagi (untuk bertaubat dan selamat). Maka, permintaan mereka agar malaikat datang, hanya akan me-nyegerakan kebinasaan dan kehancuran bagi diri mereka sendiri. Keimanan tidak berada di tangan mereka, tapi di Tangan Allah. Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّنَا نَزَّلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَحَشَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ كُلَّ شَيۡءٖ قُبُلٗا مَّا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُوٓاْ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَجۡهَلُونَ 111 ﴿ "Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-An'am:111).
(9) Jika mereka jujur (dalam omongannya) cukuplah keber-adaan al-Qur`an al-Azhim sebagai tanda bukti kebenarannya bagi mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman di sini, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ ﴿ "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an", yakni al-Qur`-an yang memuat peringatan bagi segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan dan petunjuk-petunjuk yang jelas. Dalam al-Qur`an ini terdapat peringatan bagi orang yang menginginkan peringatan. ﴾ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya", yaitu pada waktu diturunkan dan pasca diturunkannya. Dalam masa diturunkannya, Kami menjaganya dari pencurian dengar yang dilakukan setan yang terkutuk. Pasca diturunkannya, Kami memeliharanya dengan meletakkannya di kalbu RasulNya dan menempatkannya di hati-hati umatnya. Dia memelihara lafazh-lafazhnya dari pengubahan, penambahan atau pengurangan, dan memelihara makna-maknanya dari perubahan. Sehingga tidak ada orang yang berkeinginan menyelewengkan mak-nanya, melainkan Allah pasti mengerahkan orang-orang yang akan memaparkan kebenaran yang hakiki. Ini adalah termasuk tanda kebesaran Allah dan anugerah kenikmatan yang paling agung bagi para hambaNya yang beriman. Orang yang menjaganya, niscaya Allah akan memelihara keluarganya dari musuh-musuh mereka, dan tidak akan menguasakan musuh yang membinasakan mereka.
Al-Hijr 15:7
"Mereka berkata, 'Hai orang yang diturunkan al-Qur`an ke-padanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Menga-pa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar?' Kami tidak menurunkan ma-laikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiada-lah mereka ketika itu diberi tangguh. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar me-meliharanya." (Al-Hijr: 6-9).
(6) Maksudnya, orang-orang mukadzdzibin (yang mendusta-kan) berkata kepada Muhammad dalam rangka untuk mengejek dan memperolok beliau, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِي نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ ﴿ "Hai orang yang di-turunkan al-Qur`an kepadanya", menurut persangkaanmu, ﴾ إِنَّكَ لَمَجۡنُونٞ ﴿ "sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila", sebab engkau me-ngira kami akan mengikutimu dan menyingkirkan kebudayaan-kebudayaan nenek moyang kami hanya dengan ucapanmu saja.
(7-8) ﴾ لَّوۡ مَا تَأۡتِينَا بِٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ ﴿ "Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami", yang bersaksi bagi dirimu atas kebenaran risalah yang engkau bawa, ﴾ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "jika kamu termasuk orang-orang yang benar", ketika engkau tidak bisa mendatangkan malaikat, berarti kamu bukan orang yang jujur. Ini adalah termasuk bentuk kezhaliman dan kebodohan yang parah. Tentang tindak kezhaliman (mereka), maka sudah tampak jelas. Sesungguhnya sikap itu merupakan bentuk kelancangan dan keras kepala mereka ter-hadap Allah dengan meminta datangnya tanda-tanda bukti kebe-naran (Nabi) yang mana Allah belum memilihnya (untuk diturun-kan). Padahal, tujuan dan petunjuk yang mengarah ke sana sudah tercapai tanpa menggunakannya, melalui tanda-tanda kebenaran (lain) yang banyak yang menandakan kebenaran risalah yang beliau bawa. Berkaitan dengan aspek kebodohan mereka, maka sebenarnya mereka tidak bisa membedakan maslahat bagi mereka sendiri dari bahaya. Kedatangan para malaikat kepada mereka tidak berarti kebaikan bagi mereka. Justru, Allah tidak mengirimkan malaikat kecuali dengan al-haq (siksaan) yang sudah tidak ada penundaan lagi bagi orang yang tidak mengikuti dan taat kepada beliau. ﴾ وَمَا كَانُوٓاْ إِذٗا ﴿ "Dan tiadalah mereka ketika itu", maksudnya mereka itu ke-tika para malaikat datang, bila mereka tidak beriman dan tidak akan beriman ﴾ مُّنظَرِينَ ﴿ "diberi tangguh", maksudnya mereka tidak akan mendapatkan kesempatan lagi (untuk bertaubat dan selamat). Maka, permintaan mereka agar malaikat datang, hanya akan me-nyegerakan kebinasaan dan kehancuran bagi diri mereka sendiri. Keimanan tidak berada di tangan mereka, tapi di Tangan Allah. Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّنَا نَزَّلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَحَشَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ كُلَّ شَيۡءٖ قُبُلٗا مَّا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُوٓاْ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَجۡهَلُونَ 111 ﴿ "Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-An'am:111).
(9) Jika mereka jujur (dalam omongannya) cukuplah keber-adaan al-Qur`an al-Azhim sebagai tanda bukti kebenarannya bagi mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman di sini, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ ﴿ "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an", yakni al-Qur`-an yang memuat peringatan bagi segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan dan petunjuk-petunjuk yang jelas. Dalam al-Qur`an ini terdapat peringatan bagi orang yang menginginkan peringatan. ﴾ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya", yaitu pada waktu diturunkan dan pasca diturunkannya. Dalam masa diturunkannya, Kami menjaganya dari pencurian dengar yang dilakukan setan yang terkutuk. Pasca diturunkannya, Kami memeliharanya dengan meletakkannya di kalbu RasulNya dan menempatkannya di hati-hati umatnya. Dia memelihara lafazh-lafazhnya dari pengubahan, penambahan atau pengurangan, dan memelihara makna-maknanya dari perubahan. Sehingga tidak ada orang yang berkeinginan menyelewengkan mak-nanya, melainkan Allah pasti mengerahkan orang-orang yang akan memaparkan kebenaran yang hakiki. Ini adalah termasuk tanda kebesaran Allah dan anugerah kenikmatan yang paling agung bagi para hambaNya yang beriman. Orang yang menjaganya, niscaya Allah akan memelihara keluarganya dari musuh-musuh mereka, dan tidak akan menguasakan musuh yang membinasakan mereka.
Al-Hijr 15:8
"Mereka berkata, 'Hai orang yang diturunkan al-Qur`an ke-padanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Menga-pa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar?' Kami tidak menurunkan ma-laikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiada-lah mereka ketika itu diberi tangguh. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar me-meliharanya." (Al-Hijr: 6-9).
(6) Maksudnya, orang-orang mukadzdzibin (yang mendusta-kan) berkata kepada Muhammad dalam rangka untuk mengejek dan memperolok beliau, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِي نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ ﴿ "Hai orang yang di-turunkan al-Qur`an kepadanya", menurut persangkaanmu, ﴾ إِنَّكَ لَمَجۡنُونٞ ﴿ "sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila", sebab engkau me-ngira kami akan mengikutimu dan menyingkirkan kebudayaan-kebudayaan nenek moyang kami hanya dengan ucapanmu saja.
(7-8) ﴾ لَّوۡ مَا تَأۡتِينَا بِٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ ﴿ "Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami", yang bersaksi bagi dirimu atas kebenaran risalah yang engkau bawa, ﴾ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "jika kamu termasuk orang-orang yang benar", ketika engkau tidak bisa mendatangkan malaikat, berarti kamu bukan orang yang jujur. Ini adalah termasuk bentuk kezhaliman dan kebodohan yang parah. Tentang tindak kezhaliman (mereka), maka sudah tampak jelas. Sesungguhnya sikap itu merupakan bentuk kelancangan dan keras kepala mereka ter-hadap Allah dengan meminta datangnya tanda-tanda bukti kebe-naran (Nabi) yang mana Allah belum memilihnya (untuk diturun-kan). Padahal, tujuan dan petunjuk yang mengarah ke sana sudah tercapai tanpa menggunakannya, melalui tanda-tanda kebenaran (lain) yang banyak yang menandakan kebenaran risalah yang beliau bawa. Berkaitan dengan aspek kebodohan mereka, maka sebenarnya mereka tidak bisa membedakan maslahat bagi mereka sendiri dari bahaya. Kedatangan para malaikat kepada mereka tidak berarti kebaikan bagi mereka. Justru, Allah tidak mengirimkan malaikat kecuali dengan al-haq (siksaan) yang sudah tidak ada penundaan lagi bagi orang yang tidak mengikuti dan taat kepada beliau. ﴾ وَمَا كَانُوٓاْ إِذٗا ﴿ "Dan tiadalah mereka ketika itu", maksudnya mereka itu ke-tika para malaikat datang, bila mereka tidak beriman dan tidak akan beriman ﴾ مُّنظَرِينَ ﴿ "diberi tangguh", maksudnya mereka tidak akan mendapatkan kesempatan lagi (untuk bertaubat dan selamat). Maka, permintaan mereka agar malaikat datang, hanya akan me-nyegerakan kebinasaan dan kehancuran bagi diri mereka sendiri. Keimanan tidak berada di tangan mereka, tapi di Tangan Allah. Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّنَا نَزَّلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَحَشَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ كُلَّ شَيۡءٖ قُبُلٗا مَّا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُوٓاْ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَجۡهَلُونَ 111 ﴿ "Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-An'am:111).
(9) Jika mereka jujur (dalam omongannya) cukuplah keber-adaan al-Qur`an al-Azhim sebagai tanda bukti kebenarannya bagi mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman di sini, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ ﴿ "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an", yakni al-Qur`-an yang memuat peringatan bagi segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan dan petunjuk-petunjuk yang jelas. Dalam al-Qur`an ini terdapat peringatan bagi orang yang menginginkan peringatan. ﴾ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya", yaitu pada waktu diturunkan dan pasca diturunkannya. Dalam masa diturunkannya, Kami menjaganya dari pencurian dengar yang dilakukan setan yang terkutuk. Pasca diturunkannya, Kami memeliharanya dengan meletakkannya di kalbu RasulNya dan menempatkannya di hati-hati umatnya. Dia memelihara lafazh-lafazhnya dari pengubahan, penambahan atau pengurangan, dan memelihara makna-maknanya dari perubahan. Sehingga tidak ada orang yang berkeinginan menyelewengkan mak-nanya, melainkan Allah pasti mengerahkan orang-orang yang akan memaparkan kebenaran yang hakiki. Ini adalah termasuk tanda kebesaran Allah dan anugerah kenikmatan yang paling agung bagi para hambaNya yang beriman. Orang yang menjaganya, niscaya Allah akan memelihara keluarganya dari musuh-musuh mereka, dan tidak akan menguasakan musuh yang membinasakan mereka.
Al-Hijr 15:9
"Mereka berkata, 'Hai orang yang diturunkan al-Qur`an ke-padanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Menga-pa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar?' Kami tidak menurunkan ma-laikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiada-lah mereka ketika itu diberi tangguh. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar me-meliharanya." (Al-Hijr: 6-9).
(6) Maksudnya, orang-orang mukadzdzibin (yang mendusta-kan) berkata kepada Muhammad dalam rangka untuk mengejek dan memperolok beliau, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِي نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلذِّكۡرُ ﴿ "Hai orang yang di-turunkan al-Qur`an kepadanya", menurut persangkaanmu, ﴾ إِنَّكَ لَمَجۡنُونٞ ﴿ "sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila", sebab engkau me-ngira kami akan mengikutimu dan menyingkirkan kebudayaan-kebudayaan nenek moyang kami hanya dengan ucapanmu saja.
(7-8) ﴾ لَّوۡ مَا تَأۡتِينَا بِٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ ﴿ "Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami", yang bersaksi bagi dirimu atas kebenaran risalah yang engkau bawa, ﴾ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "jika kamu termasuk orang-orang yang benar", ketika engkau tidak bisa mendatangkan malaikat, berarti kamu bukan orang yang jujur. Ini adalah termasuk bentuk kezhaliman dan kebodohan yang parah. Tentang tindak kezhaliman (mereka), maka sudah tampak jelas. Sesungguhnya sikap itu merupakan bentuk kelancangan dan keras kepala mereka ter-hadap Allah dengan meminta datangnya tanda-tanda bukti kebe-naran (Nabi) yang mana Allah belum memilihnya (untuk diturun-kan). Padahal, tujuan dan petunjuk yang mengarah ke sana sudah tercapai tanpa menggunakannya, melalui tanda-tanda kebenaran (lain) yang banyak yang menandakan kebenaran risalah yang beliau bawa. Berkaitan dengan aspek kebodohan mereka, maka sebenarnya mereka tidak bisa membedakan maslahat bagi mereka sendiri dari bahaya. Kedatangan para malaikat kepada mereka tidak berarti kebaikan bagi mereka. Justru, Allah tidak mengirimkan malaikat kecuali dengan al-haq (siksaan) yang sudah tidak ada penundaan lagi bagi orang yang tidak mengikuti dan taat kepada beliau. ﴾ وَمَا كَانُوٓاْ إِذٗا ﴿ "Dan tiadalah mereka ketika itu", maksudnya mereka itu ke-tika para malaikat datang, bila mereka tidak beriman dan tidak akan beriman ﴾ مُّنظَرِينَ ﴿ "diberi tangguh", maksudnya mereka tidak akan mendapatkan kesempatan lagi (untuk bertaubat dan selamat). Maka, permintaan mereka agar malaikat datang, hanya akan me-nyegerakan kebinasaan dan kehancuran bagi diri mereka sendiri. Keimanan tidak berada di tangan mereka, tapi di Tangan Allah. Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّنَا نَزَّلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَحَشَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ كُلَّ شَيۡءٖ قُبُلٗا مَّا كَانُواْ لِيُؤۡمِنُوٓاْ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَجۡهَلُونَ 111 ﴿ "Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-An'am:111).
(9) Jika mereka jujur (dalam omongannya) cukuplah keber-adaan al-Qur`an al-Azhim sebagai tanda bukti kebenarannya bagi mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman di sini, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ ﴿ "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an", yakni al-Qur`-an yang memuat peringatan bagi segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan dan petunjuk-petunjuk yang jelas. Dalam al-Qur`an ini terdapat peringatan bagi orang yang menginginkan peringatan. ﴾ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya", yaitu pada waktu diturunkan dan pasca diturunkannya. Dalam masa diturunkannya, Kami menjaganya dari pencurian dengar yang dilakukan setan yang terkutuk. Pasca diturunkannya, Kami memeliharanya dengan meletakkannya di kalbu RasulNya dan menempatkannya di hati-hati umatnya. Dia memelihara lafazh-lafazhnya dari pengubahan, penambahan atau pengurangan, dan memelihara makna-maknanya dari perubahan. Sehingga tidak ada orang yang berkeinginan menyelewengkan mak-nanya, melainkan Allah pasti mengerahkan orang-orang yang akan memaparkan kebenaran yang hakiki. Ini adalah termasuk tanda kebesaran Allah dan anugerah kenikmatan yang paling agung bagi para hambaNya yang beriman. Orang yang menjaganya, niscaya Allah akan memelihara keluarganya dari musuh-musuh mereka, dan tidak akan menguasakan musuh yang membinasakan mereka.
Al-Hijr 15:10
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa rasul) sebelum kamu kepada umat-umat terdahulu. Dan tidak datang se-orang rasul pun kepada mereka, melainkan mereka selalu memper-olok-olokkannya. Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) ke dalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir). Mereka tidak beriman kepadanya (al-Qur`an), dan sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu." (Al-Hijr: 10-13).
(10) Allah تعالى berkata kepada NabiNya tatkala kaum musy-rikin menyatakannya dusta, "Itu merupakan kebiasaan umat-umat terdahulu dan (orang-orang di) masa-masa silam. Sungguh Kami telah mengutus ﴾ قَبۡلِكَ فِي شِيَعِ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "(beberapa rasul) sebelum kamu ke-pada umat-umat terdahulu", yaitu beberapa rasul kepada golongan dan kelompok mereka."
(11) ﴾ وَمَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ ﴿ "Dan tidak datang seorang rasul pun kepada mereka", yang menyeru mereka kepada kebenaran dan hidayah ﴾ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya."
(12-13) ﴾ كَذَٰلِكَ نَسۡلُكُهُۥ ﴿ "Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu)", maksudnya Kami memasukkan sikap pendustaan ﴾ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "ke dalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir )", yaitu orang-orang yang karakter khas pada mereka adalah kezhaliman dan kedustaan. Kami menghukum mereka karena hati mereka mirip dengan kekufuran dan pendusta-an, maka (respon) mereka kepada para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka pun berujud mirip dengan ejekan dan olokan serta tidak beriman. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهِۦ وَقَدۡ خَلَتۡ سُنَّةُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Mereka tidak beriman kepadanya (al-Qur`an), dan sesungguh-nya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu", maksud-nya ketetapan umum dari Allah berkaitan dengan mereka adalah dengan memusnahkan orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah.
Al-Hijr 15:11
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa rasul) sebelum kamu kepada umat-umat terdahulu. Dan tidak datang se-orang rasul pun kepada mereka, melainkan mereka selalu memper-olok-olokkannya. Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) ke dalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir). Mereka tidak beriman kepadanya (al-Qur`an), dan sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu." (Al-Hijr: 10-13).
(10) Allah تعالى berkata kepada NabiNya tatkala kaum musy-rikin menyatakannya dusta, "Itu merupakan kebiasaan umat-umat terdahulu dan (orang-orang di) masa-masa silam. Sungguh Kami telah mengutus ﴾ قَبۡلِكَ فِي شِيَعِ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "(beberapa rasul) sebelum kamu ke-pada umat-umat terdahulu", yaitu beberapa rasul kepada golongan dan kelompok mereka."
(11) ﴾ وَمَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ ﴿ "Dan tidak datang seorang rasul pun kepada mereka", yang menyeru mereka kepada kebenaran dan hidayah ﴾ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya."
(12-13) ﴾ كَذَٰلِكَ نَسۡلُكُهُۥ ﴿ "Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu)", maksudnya Kami memasukkan sikap pendustaan ﴾ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "ke dalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir )", yaitu orang-orang yang karakter khas pada mereka adalah kezhaliman dan kedustaan. Kami menghukum mereka karena hati mereka mirip dengan kekufuran dan pendusta-an, maka (respon) mereka kepada para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka pun berujud mirip dengan ejekan dan olokan serta tidak beriman. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهِۦ وَقَدۡ خَلَتۡ سُنَّةُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Mereka tidak beriman kepadanya (al-Qur`an), dan sesungguh-nya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu", maksud-nya ketetapan umum dari Allah berkaitan dengan mereka adalah dengan memusnahkan orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah.
Al-Hijr 15:12
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa rasul) sebelum kamu kepada umat-umat terdahulu. Dan tidak datang se-orang rasul pun kepada mereka, melainkan mereka selalu memper-olok-olokkannya. Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) ke dalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir). Mereka tidak beriman kepadanya (al-Qur`an), dan sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu." (Al-Hijr: 10-13).
(10) Allah تعالى berkata kepada NabiNya tatkala kaum musy-rikin menyatakannya dusta, "Itu merupakan kebiasaan umat-umat terdahulu dan (orang-orang di) masa-masa silam. Sungguh Kami telah mengutus ﴾ قَبۡلِكَ فِي شِيَعِ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "(beberapa rasul) sebelum kamu ke-pada umat-umat terdahulu", yaitu beberapa rasul kepada golongan dan kelompok mereka."
(11) ﴾ وَمَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ ﴿ "Dan tidak datang seorang rasul pun kepada mereka", yang menyeru mereka kepada kebenaran dan hidayah ﴾ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya."
(12-13) ﴾ كَذَٰلِكَ نَسۡلُكُهُۥ ﴿ "Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu)", maksudnya Kami memasukkan sikap pendustaan ﴾ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "ke dalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir )", yaitu orang-orang yang karakter khas pada mereka adalah kezhaliman dan kedustaan. Kami menghukum mereka karena hati mereka mirip dengan kekufuran dan pendusta-an, maka (respon) mereka kepada para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka pun berujud mirip dengan ejekan dan olokan serta tidak beriman. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهِۦ وَقَدۡ خَلَتۡ سُنَّةُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Mereka tidak beriman kepadanya (al-Qur`an), dan sesungguh-nya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu", maksud-nya ketetapan umum dari Allah berkaitan dengan mereka adalah dengan memusnahkan orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah.
Al-Hijr 15:13
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa rasul) sebelum kamu kepada umat-umat terdahulu. Dan tidak datang se-orang rasul pun kepada mereka, melainkan mereka selalu memper-olok-olokkannya. Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) ke dalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir). Mereka tidak beriman kepadanya (al-Qur`an), dan sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu." (Al-Hijr: 10-13).
(10) Allah تعالى berkata kepada NabiNya tatkala kaum musy-rikin menyatakannya dusta, "Itu merupakan kebiasaan umat-umat terdahulu dan (orang-orang di) masa-masa silam. Sungguh Kami telah mengutus ﴾ قَبۡلِكَ فِي شِيَعِ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "(beberapa rasul) sebelum kamu ke-pada umat-umat terdahulu", yaitu beberapa rasul kepada golongan dan kelompok mereka."
(11) ﴾ وَمَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ ﴿ "Dan tidak datang seorang rasul pun kepada mereka", yang menyeru mereka kepada kebenaran dan hidayah ﴾ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya."
(12-13) ﴾ كَذَٰلِكَ نَسۡلُكُهُۥ ﴿ "Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu)", maksudnya Kami memasukkan sikap pendustaan ﴾ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "ke dalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir )", yaitu orang-orang yang karakter khas pada mereka adalah kezhaliman dan kedustaan. Kami menghukum mereka karena hati mereka mirip dengan kekufuran dan pendusta-an, maka (respon) mereka kepada para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka pun berujud mirip dengan ejekan dan olokan serta tidak beriman. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهِۦ وَقَدۡ خَلَتۡ سُنَّةُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Mereka tidak beriman kepadanya (al-Qur`an), dan sesungguh-nya telah berlalu sunnatullah terhadap orang-orang dahulu", maksud-nya ketetapan umum dari Allah berkaitan dengan mereka adalah dengan memusnahkan orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah.
Al-Hijr 15:14
"Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, 'Sesungguhnya panda-ngan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir'." (Al-Hijr: 14-15).
(14-15) Maksudnya, seandainya setiap ayat (tanda kekuasa-an Allah) yang agung datang kepada mereka, niscaya mereka tetap saja enggan beriman dan malah bersikap arogan terhadapnya. Dan ﴾ لَوۡ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَابٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "jika seandainya Kami membukakan kepada me-reka salah satu dari (pintu-pintu) langit", sehingga mereka bisa menaiki-nya dan menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, niscaya mereka akan berkata atas dorongan sifat zhalim dan keras kepala mereka untuk mengingkarinya, ﴾ إِنَّمَا سُكِّرَتۡ أَبۡصَٰرُنَا ﴿ "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan", maksudnya pandangan-pandangan mata kami tertimpa oleh kekaburan dan tabir pekat se-hingga melihat sesuatu yang tidak terlihat. ﴾ بَلۡ نَحۡنُ قَوۡمٞ مَّسۡحُورُونَ ﴿ "Bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir", maksudnya itu bukan realita, tapi sebuah bentuk sihir. Suatu kaum yang sudah sedemikian level pengingkaran mereka, maka sudah tentu sulit diinginkan dan di-harapkan (keimanannya).
Kemudian Allah mengetengahkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang menunjukkan kebenaran risalah yang diemban oleh para rasul Allah.
Al-Hijr 15:15
"Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, 'Sesungguhnya panda-ngan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir'." (Al-Hijr: 14-15).
(14-15) Maksudnya, seandainya setiap ayat (tanda kekuasa-an Allah) yang agung datang kepada mereka, niscaya mereka tetap saja enggan beriman dan malah bersikap arogan terhadapnya. Dan ﴾ لَوۡ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَابٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "jika seandainya Kami membukakan kepada me-reka salah satu dari (pintu-pintu) langit", sehingga mereka bisa menaiki-nya dan menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, niscaya mereka akan berkata atas dorongan sifat zhalim dan keras kepala mereka untuk mengingkarinya, ﴾ إِنَّمَا سُكِّرَتۡ أَبۡصَٰرُنَا ﴿ "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan", maksudnya pandangan-pandangan mata kami tertimpa oleh kekaburan dan tabir pekat se-hingga melihat sesuatu yang tidak terlihat. ﴾ بَلۡ نَحۡنُ قَوۡمٞ مَّسۡحُورُونَ ﴿ "Bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir", maksudnya itu bukan realita, tapi sebuah bentuk sihir. Suatu kaum yang sudah sedemikian level pengingkaran mereka, maka sudah tentu sulit diinginkan dan di-harapkan (keimanannya).
Kemudian Allah mengetengahkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang menunjukkan kebenaran risalah yang diemban oleh para rasul Allah.
Al-Hijr 15:16
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar semburan api yang terang. Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rizki kepadanya. (Al-Hijr: 16-20).
(16) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan kesem-purnaan kekuasaan dan rahmatNya kepada para makhlukNya, ﴾ وَلَقَدۡ جَعَلۡنَا فِي ٱلسَّمَآءِ بُرُوجٗا ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gu-gusan bintang-bintang (di langit)", bintang-bintang bagaikan menara dan simbol yang besar dipakai sebagai (kompas) penunjuk arah pada kegelapan di daratan dan lautan. ﴾ وَزَيَّنَّٰهَا لِلنَّٰظِرِينَ ﴿ "Dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya)", ka-rena kalau tidak ada bintang-bintang, maka langit tidak mempunyai pemandangan memikat dan bentuk yang mengagumkan. Hal ini termasuk fenomena yang mengundang perenungan bagi orang-orang yang menyaksikan dan pencermatan terhadap makna-makna yang dikandungnya serta (mengantarkannya) mencari petunjuk menuju Penciptanya.
(17) ﴾ وَحَفِظۡنَٰهَا مِن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٍ ﴿ "Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk", saat dia mencuri pendengaran, niscaya sulut api yang berpijar mengejarnya. Dari luar, langit pun terlihat berhiaskan bintang-bintang yang bersinar. Dan bagian dalamnya, terpelihara dan terhindar dari berbagai kehancuran.
(18) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱسۡتَرَقَ ٱلسَّمۡعَ ﴿ "Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat)", maksudnya [kecuali] pada se-bagian waktu, terkadang setan-setan berhasil mencuri-curi pende-ngaran dengan sembunyi-sembunyi dan licik, ﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ مُّبِينٞ ﴿ "lalu ia dikejar oleh semburan api yang terang", yaitu yang terang memancar, akan membunuh atau mengikatnya. Kadang-kadang semburan api menangkapnya sebelum bisa mentransfernya ke para pemujanya, sehingga beritanya terputus dari bumi. Dan suatu waktu dia mampu menyampaikannya kepada mitranya, sebelum semburan api menge-nainya. Ia menyampaikannya dan menambahkan bersamanya seratus buah kedustaan serta menjadikan kalimat yang didengar dari langit sebagai petunjuk baginya.
(19) ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ مَدَدۡنَٰهَا ﴿ "Dan Kami telah menghamparkan bumi", maksudnya Kami melapangkan bumi sedemikian luasnya, supaya manusia dan bangsa binatang dapat menelusuri sampai penjuru-penjurunya dan mengais rizki-rizkinya dan tinggal di sudut-sudut-nya. ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا فِيهَا رَوَٰسِيَ ﴿ "Dan menjadikan padanya gunung-gunung", yaitu gunung-gunung yang besar yang menjaga (keseimbangan) bumi dengan izin Allah (dari goncangan) agar memancangkan dan mengo-kohkannya sehingga tidak hancur. ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَيۡءٖ مَّوۡزُونٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran", yang bermanfaat lagi berharga, (sehingga) manusia dan tanah pasti membutuhkannya berupa pohon korma, anggur, dan bermacam-macam pohon dan beraneka ragam tanaman serta bahan tambang.
(20) ﴾ وَجَعَلۡنَا لَكُمۡ فِيهَا مَعَٰيِشَ ﴿ "Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup", berupa lahan pertanian dan hewan ternak juga beragam penghidupan dan kerajinan, ﴾ وَمَن لَّسۡتُمۡ لَهُۥ بِرَٰزِقِينَ ﴿ "dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rizki kepadanya", Kami memberikan anugerah kepada kalian berupa budak belian laki-laki dan perempuan, dan binatang ternak untuk kepentingan dan kebaikan kalian. Rizki mereka bukan menjadi tanggungan kalian. Allah-lah yang menyuguhkannya ke-pada kalian dan menjamin rizki-rizkinya.
Al-Hijr 15:17
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar semburan api yang terang. Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rizki kepadanya. (Al-Hijr: 16-20).
(16) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan kesem-purnaan kekuasaan dan rahmatNya kepada para makhlukNya, ﴾ وَلَقَدۡ جَعَلۡنَا فِي ٱلسَّمَآءِ بُرُوجٗا ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gu-gusan bintang-bintang (di langit)", bintang-bintang bagaikan menara dan simbol yang besar dipakai sebagai (kompas) penunjuk arah pada kegelapan di daratan dan lautan. ﴾ وَزَيَّنَّٰهَا لِلنَّٰظِرِينَ ﴿ "Dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya)", ka-rena kalau tidak ada bintang-bintang, maka langit tidak mempunyai pemandangan memikat dan bentuk yang mengagumkan. Hal ini termasuk fenomena yang mengundang perenungan bagi orang-orang yang menyaksikan dan pencermatan terhadap makna-makna yang dikandungnya serta (mengantarkannya) mencari petunjuk menuju Penciptanya.
(17) ﴾ وَحَفِظۡنَٰهَا مِن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٍ ﴿ "Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk", saat dia mencuri pendengaran, niscaya sulut api yang berpijar mengejarnya. Dari luar, langit pun terlihat berhiaskan bintang-bintang yang bersinar. Dan bagian dalamnya, terpelihara dan terhindar dari berbagai kehancuran.
(18) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱسۡتَرَقَ ٱلسَّمۡعَ ﴿ "Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat)", maksudnya [kecuali] pada se-bagian waktu, terkadang setan-setan berhasil mencuri-curi pende-ngaran dengan sembunyi-sembunyi dan licik, ﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ مُّبِينٞ ﴿ "lalu ia dikejar oleh semburan api yang terang", yaitu yang terang memancar, akan membunuh atau mengikatnya. Kadang-kadang semburan api menangkapnya sebelum bisa mentransfernya ke para pemujanya, sehingga beritanya terputus dari bumi. Dan suatu waktu dia mampu menyampaikannya kepada mitranya, sebelum semburan api menge-nainya. Ia menyampaikannya dan menambahkan bersamanya seratus buah kedustaan serta menjadikan kalimat yang didengar dari langit sebagai petunjuk baginya.
(19) ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ مَدَدۡنَٰهَا ﴿ "Dan Kami telah menghamparkan bumi", maksudnya Kami melapangkan bumi sedemikian luasnya, supaya manusia dan bangsa binatang dapat menelusuri sampai penjuru-penjurunya dan mengais rizki-rizkinya dan tinggal di sudut-sudut-nya. ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا فِيهَا رَوَٰسِيَ ﴿ "Dan menjadikan padanya gunung-gunung", yaitu gunung-gunung yang besar yang menjaga (keseimbangan) bumi dengan izin Allah (dari goncangan) agar memancangkan dan mengo-kohkannya sehingga tidak hancur. ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَيۡءٖ مَّوۡزُونٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran", yang bermanfaat lagi berharga, (sehingga) manusia dan tanah pasti membutuhkannya berupa pohon korma, anggur, dan bermacam-macam pohon dan beraneka ragam tanaman serta bahan tambang.
(20) ﴾ وَجَعَلۡنَا لَكُمۡ فِيهَا مَعَٰيِشَ ﴿ "Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup", berupa lahan pertanian dan hewan ternak juga beragam penghidupan dan kerajinan, ﴾ وَمَن لَّسۡتُمۡ لَهُۥ بِرَٰزِقِينَ ﴿ "dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rizki kepadanya", Kami memberikan anugerah kepada kalian berupa budak belian laki-laki dan perempuan, dan binatang ternak untuk kepentingan dan kebaikan kalian. Rizki mereka bukan menjadi tanggungan kalian. Allah-lah yang menyuguhkannya ke-pada kalian dan menjamin rizki-rizkinya.
Al-Hijr 15:18
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar semburan api yang terang. Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rizki kepadanya. (Al-Hijr: 16-20).
(16) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan kesem-purnaan kekuasaan dan rahmatNya kepada para makhlukNya, ﴾ وَلَقَدۡ جَعَلۡنَا فِي ٱلسَّمَآءِ بُرُوجٗا ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gu-gusan bintang-bintang (di langit)", bintang-bintang bagaikan menara dan simbol yang besar dipakai sebagai (kompas) penunjuk arah pada kegelapan di daratan dan lautan. ﴾ وَزَيَّنَّٰهَا لِلنَّٰظِرِينَ ﴿ "Dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya)", ka-rena kalau tidak ada bintang-bintang, maka langit tidak mempunyai pemandangan memikat dan bentuk yang mengagumkan. Hal ini termasuk fenomena yang mengundang perenungan bagi orang-orang yang menyaksikan dan pencermatan terhadap makna-makna yang dikandungnya serta (mengantarkannya) mencari petunjuk menuju Penciptanya.
(17) ﴾ وَحَفِظۡنَٰهَا مِن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٍ ﴿ "Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk", saat dia mencuri pendengaran, niscaya sulut api yang berpijar mengejarnya. Dari luar, langit pun terlihat berhiaskan bintang-bintang yang bersinar. Dan bagian dalamnya, terpelihara dan terhindar dari berbagai kehancuran.
(18) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱسۡتَرَقَ ٱلسَّمۡعَ ﴿ "Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat)", maksudnya [kecuali] pada se-bagian waktu, terkadang setan-setan berhasil mencuri-curi pende-ngaran dengan sembunyi-sembunyi dan licik, ﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ مُّبِينٞ ﴿ "lalu ia dikejar oleh semburan api yang terang", yaitu yang terang memancar, akan membunuh atau mengikatnya. Kadang-kadang semburan api menangkapnya sebelum bisa mentransfernya ke para pemujanya, sehingga beritanya terputus dari bumi. Dan suatu waktu dia mampu menyampaikannya kepada mitranya, sebelum semburan api menge-nainya. Ia menyampaikannya dan menambahkan bersamanya seratus buah kedustaan serta menjadikan kalimat yang didengar dari langit sebagai petunjuk baginya.
(19) ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ مَدَدۡنَٰهَا ﴿ "Dan Kami telah menghamparkan bumi", maksudnya Kami melapangkan bumi sedemikian luasnya, supaya manusia dan bangsa binatang dapat menelusuri sampai penjuru-penjurunya dan mengais rizki-rizkinya dan tinggal di sudut-sudut-nya. ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا فِيهَا رَوَٰسِيَ ﴿ "Dan menjadikan padanya gunung-gunung", yaitu gunung-gunung yang besar yang menjaga (keseimbangan) bumi dengan izin Allah (dari goncangan) agar memancangkan dan mengo-kohkannya sehingga tidak hancur. ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَيۡءٖ مَّوۡزُونٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran", yang bermanfaat lagi berharga, (sehingga) manusia dan tanah pasti membutuhkannya berupa pohon korma, anggur, dan bermacam-macam pohon dan beraneka ragam tanaman serta bahan tambang.
(20) ﴾ وَجَعَلۡنَا لَكُمۡ فِيهَا مَعَٰيِشَ ﴿ "Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup", berupa lahan pertanian dan hewan ternak juga beragam penghidupan dan kerajinan, ﴾ وَمَن لَّسۡتُمۡ لَهُۥ بِرَٰزِقِينَ ﴿ "dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rizki kepadanya", Kami memberikan anugerah kepada kalian berupa budak belian laki-laki dan perempuan, dan binatang ternak untuk kepentingan dan kebaikan kalian. Rizki mereka bukan menjadi tanggungan kalian. Allah-lah yang menyuguhkannya ke-pada kalian dan menjamin rizki-rizkinya.
Al-Hijr 15:19
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar semburan api yang terang. Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rizki kepadanya. (Al-Hijr: 16-20).
(16) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan kesem-purnaan kekuasaan dan rahmatNya kepada para makhlukNya, ﴾ وَلَقَدۡ جَعَلۡنَا فِي ٱلسَّمَآءِ بُرُوجٗا ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gu-gusan bintang-bintang (di langit)", bintang-bintang bagaikan menara dan simbol yang besar dipakai sebagai (kompas) penunjuk arah pada kegelapan di daratan dan lautan. ﴾ وَزَيَّنَّٰهَا لِلنَّٰظِرِينَ ﴿ "Dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya)", ka-rena kalau tidak ada bintang-bintang, maka langit tidak mempunyai pemandangan memikat dan bentuk yang mengagumkan. Hal ini termasuk fenomena yang mengundang perenungan bagi orang-orang yang menyaksikan dan pencermatan terhadap makna-makna yang dikandungnya serta (mengantarkannya) mencari petunjuk menuju Penciptanya.
(17) ﴾ وَحَفِظۡنَٰهَا مِن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٍ ﴿ "Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk", saat dia mencuri pendengaran, niscaya sulut api yang berpijar mengejarnya. Dari luar, langit pun terlihat berhiaskan bintang-bintang yang bersinar. Dan bagian dalamnya, terpelihara dan terhindar dari berbagai kehancuran.
(18) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱسۡتَرَقَ ٱلسَّمۡعَ ﴿ "Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat)", maksudnya [kecuali] pada se-bagian waktu, terkadang setan-setan berhasil mencuri-curi pende-ngaran dengan sembunyi-sembunyi dan licik, ﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ مُّبِينٞ ﴿ "lalu ia dikejar oleh semburan api yang terang", yaitu yang terang memancar, akan membunuh atau mengikatnya. Kadang-kadang semburan api menangkapnya sebelum bisa mentransfernya ke para pemujanya, sehingga beritanya terputus dari bumi. Dan suatu waktu dia mampu menyampaikannya kepada mitranya, sebelum semburan api menge-nainya. Ia menyampaikannya dan menambahkan bersamanya seratus buah kedustaan serta menjadikan kalimat yang didengar dari langit sebagai petunjuk baginya.
(19) ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ مَدَدۡنَٰهَا ﴿ "Dan Kami telah menghamparkan bumi", maksudnya Kami melapangkan bumi sedemikian luasnya, supaya manusia dan bangsa binatang dapat menelusuri sampai penjuru-penjurunya dan mengais rizki-rizkinya dan tinggal di sudut-sudut-nya. ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا فِيهَا رَوَٰسِيَ ﴿ "Dan menjadikan padanya gunung-gunung", yaitu gunung-gunung yang besar yang menjaga (keseimbangan) bumi dengan izin Allah (dari goncangan) agar memancangkan dan mengo-kohkannya sehingga tidak hancur. ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَيۡءٖ مَّوۡزُونٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran", yang bermanfaat lagi berharga, (sehingga) manusia dan tanah pasti membutuhkannya berupa pohon korma, anggur, dan bermacam-macam pohon dan beraneka ragam tanaman serta bahan tambang.
(20) ﴾ وَجَعَلۡنَا لَكُمۡ فِيهَا مَعَٰيِشَ ﴿ "Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup", berupa lahan pertanian dan hewan ternak juga beragam penghidupan dan kerajinan, ﴾ وَمَن لَّسۡتُمۡ لَهُۥ بِرَٰزِقِينَ ﴿ "dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rizki kepadanya", Kami memberikan anugerah kepada kalian berupa budak belian laki-laki dan perempuan, dan binatang ternak untuk kepentingan dan kebaikan kalian. Rizki mereka bukan menjadi tanggungan kalian. Allah-lah yang menyuguhkannya ke-pada kalian dan menjamin rizki-rizkinya.
Al-Hijr 15:20
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar semburan api yang terang. Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rizki kepadanya. (Al-Hijr: 16-20).
(16) Allah تعالى berfirman dalam rangka menjelaskan kesem-purnaan kekuasaan dan rahmatNya kepada para makhlukNya, ﴾ وَلَقَدۡ جَعَلۡنَا فِي ٱلسَّمَآءِ بُرُوجٗا ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gu-gusan bintang-bintang (di langit)", bintang-bintang bagaikan menara dan simbol yang besar dipakai sebagai (kompas) penunjuk arah pada kegelapan di daratan dan lautan. ﴾ وَزَيَّنَّٰهَا لِلنَّٰظِرِينَ ﴿ "Dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya)", ka-rena kalau tidak ada bintang-bintang, maka langit tidak mempunyai pemandangan memikat dan bentuk yang mengagumkan. Hal ini termasuk fenomena yang mengundang perenungan bagi orang-orang yang menyaksikan dan pencermatan terhadap makna-makna yang dikandungnya serta (mengantarkannya) mencari petunjuk menuju Penciptanya.
(17) ﴾ وَحَفِظۡنَٰهَا مِن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ رَّجِيمٍ ﴿ "Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk", saat dia mencuri pendengaran, niscaya sulut api yang berpijar mengejarnya. Dari luar, langit pun terlihat berhiaskan bintang-bintang yang bersinar. Dan bagian dalamnya, terpelihara dan terhindar dari berbagai kehancuran.
(18) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱسۡتَرَقَ ٱلسَّمۡعَ ﴿ "Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat)", maksudnya [kecuali] pada se-bagian waktu, terkadang setan-setan berhasil mencuri-curi pende-ngaran dengan sembunyi-sembunyi dan licik, ﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ مُّبِينٞ ﴿ "lalu ia dikejar oleh semburan api yang terang", yaitu yang terang memancar, akan membunuh atau mengikatnya. Kadang-kadang semburan api menangkapnya sebelum bisa mentransfernya ke para pemujanya, sehingga beritanya terputus dari bumi. Dan suatu waktu dia mampu menyampaikannya kepada mitranya, sebelum semburan api menge-nainya. Ia menyampaikannya dan menambahkan bersamanya seratus buah kedustaan serta menjadikan kalimat yang didengar dari langit sebagai petunjuk baginya.
(19) ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ مَدَدۡنَٰهَا ﴿ "Dan Kami telah menghamparkan bumi", maksudnya Kami melapangkan bumi sedemikian luasnya, supaya manusia dan bangsa binatang dapat menelusuri sampai penjuru-penjurunya dan mengais rizki-rizkinya dan tinggal di sudut-sudut-nya. ﴾ وَأَلۡقَيۡنَا فِيهَا رَوَٰسِيَ ﴿ "Dan menjadikan padanya gunung-gunung", yaitu gunung-gunung yang besar yang menjaga (keseimbangan) bumi dengan izin Allah (dari goncangan) agar memancangkan dan mengo-kohkannya sehingga tidak hancur. ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَيۡءٖ مَّوۡزُونٖ ﴿ "Dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran", yang bermanfaat lagi berharga, (sehingga) manusia dan tanah pasti membutuhkannya berupa pohon korma, anggur, dan bermacam-macam pohon dan beraneka ragam tanaman serta bahan tambang.
(20) ﴾ وَجَعَلۡنَا لَكُمۡ فِيهَا مَعَٰيِشَ ﴿ "Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup", berupa lahan pertanian dan hewan ternak juga beragam penghidupan dan kerajinan, ﴾ وَمَن لَّسۡتُمۡ لَهُۥ بِرَٰزِقِينَ ﴿ "dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rizki kepadanya", Kami memberikan anugerah kepada kalian berupa budak belian laki-laki dan perempuan, dan binatang ternak untuk kepentingan dan kebaikan kalian. Rizki mereka bukan menjadi tanggungan kalian. Allah-lah yang menyuguhkannya ke-pada kalian dan menjamin rizki-rizkinya.
Al-Hijr 15:21
"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu." (Al-Hijr: 21).
(21) Maksudnya, seluruh rizki dan macam-macam takdir, tidak ada seorang pun yang mengendalikannya kecuali Allah. Per-bendaharaan kekayaan ada di TanganNya, Allah memberi kepada orang yang dikehendaki dan menahan (rizki) dari orang yang di-kehendakiNya, tergantung pada sifat hikmah dan rahmatNya yang luas. ﴾ وَمَا نُنَزِّلُهُۥٓ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkannya", yaitu seluruh per-kara yang telah ditetapkan, misalnya hujan dan lainnya, ﴾ إِلَّا بِقَدَرٖ مَّعۡلُومٖ ﴿ "melainkan dengan ukuran tertentu", sehingga tidak melebihi kapasitas yang telah ditentukan Allah dan tidak pula menyusut dari-nya.
Al-Hijr 15:22
"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tum-buh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya." (Al-Hijr: 22).
(22) Maksudnya Kami menundukkan angin; angin (yang mendatangkan) rahmat yang membuahi awan sebagaimana bunga jantan membuahi bunga betina. Dari situ, muncullah air dengan izin Allah. Maka Allah memberi minum kepada manusia, binatang-binatang ternak mereka serta (menyirami) tanah-tanah mereka. Dan Dia menyisakan air dalam perut bumi sebagai simpanan untuk kebutuhan dan kepentingan mereka, sebagai implikasi kekuasaan dan rahmatNya. ﴾ وَمَآ أَنتُمۡ لَهُۥ بِخَٰزِنِينَ ﴿ "Dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya", maksudnya tidak ada kemampuan atas kalian untuk menampung dan menyimpannya. Tapi, Allah-lah yang me-nampungnya untuk kemaslahatan kalian dan memunculkan mata air-mata air di tanah sebagai cerminan rahmat dan kebaikanNya kepada kalian. 9
Al-Hijr 15:23
"Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidup-kan dan mematikan, dan Kami (pulalah) yang mewarisi. Dan se-sungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu dari padamu, dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (dari padamu). Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang akan menghimpunkan mereka. Sesungguhnya Dia Mahabijak-sana lagi Maha Mengetahui." (Al-Hijr: 23-25).
(23-25) Dia-lah, satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya, yang menghidupkan para makhluk dari ketiadaan wujud, setelah sebelumnya mereka bukanlah sesuatu yang bisa disebut, Dia me-wafatkan mereka sesuai dengan ajal-ajal mereka yang telah Dia tentukan. ﴾ وَنَحۡنُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ﴿ "Dan Kami (pulalah) yang mewarisi", seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَرِثُ ٱلۡأَرۡضَ وَمَنۡ عَلَيۡهَا وَإِلَيۡنَا يُرۡجَعُونَ 40 ﴿ "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan." (Maryam: 40). Perkara tersebut tidaklah sulit, dan tidak mustahil bagi Allah. Sesungguhnya Allah تعالى mengetahui para makhluk yang telah ber-lalu dan yang akan datang, mengetahui sesuatu yang menyusut pada mereka dan bagian tubuh mereka yang tercerai-berai oleh tanah. Dia-lah yang kekuasaanNya tidak terlumpuhkan oleh pe-milik kekuatan mana pun. Dia mampu mengembalikan para hamba-Nya dalam rupa penciptaan yang baru lagi dan menghimpun mereka semua ke hadapanNya. ﴾ إِنَّهُۥ حَكِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Dia Mahabijaksana", meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan menempatkannya pada kedudukannya, membalas setiap pelaku perbuatan dengan dasar amalannya. Jika baik, maka (balasannya) baik, bila buruk, maka (balasannya) buruk (juga).
Allah تعالى memberitahukan kenikmatan dan curahan kebaikan-Nya kepada ayah kita, Nabi Adam عليه السلام dan sepak terjang yang mun-cul dari musuhnya, iblis. Dari pemaparan ini, terselip peringatan bagi kita sekalian (untuk berhati-hati) dari kejahatan dan fitnahnya. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:24
"Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidup-kan dan mematikan, dan Kami (pulalah) yang mewarisi. Dan se-sungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu dari padamu, dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (dari padamu). Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang akan menghimpunkan mereka. Sesungguhnya Dia Mahabijak-sana lagi Maha Mengetahui." (Al-Hijr: 23-25).
(23-25) Dia-lah, satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya, yang menghidupkan para makhluk dari ketiadaan wujud, setelah sebelumnya mereka bukanlah sesuatu yang bisa disebut, Dia me-wafatkan mereka sesuai dengan ajal-ajal mereka yang telah Dia tentukan. ﴾ وَنَحۡنُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ﴿ "Dan Kami (pulalah) yang mewarisi", seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَرِثُ ٱلۡأَرۡضَ وَمَنۡ عَلَيۡهَا وَإِلَيۡنَا يُرۡجَعُونَ 40 ﴿ "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan." (Maryam: 40). Perkara tersebut tidaklah sulit, dan tidak mustahil bagi Allah. Sesungguhnya Allah تعالى mengetahui para makhluk yang telah ber-lalu dan yang akan datang, mengetahui sesuatu yang menyusut pada mereka dan bagian tubuh mereka yang tercerai-berai oleh tanah. Dia-lah yang kekuasaanNya tidak terlumpuhkan oleh pe-milik kekuatan mana pun. Dia mampu mengembalikan para hamba-Nya dalam rupa penciptaan yang baru lagi dan menghimpun mereka semua ke hadapanNya. ﴾ إِنَّهُۥ حَكِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Dia Mahabijaksana", meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan menempatkannya pada kedudukannya, membalas setiap pelaku perbuatan dengan dasar amalannya. Jika baik, maka (balasannya) baik, bila buruk, maka (balasannya) buruk (juga).
Allah تعالى memberitahukan kenikmatan dan curahan kebaikan-Nya kepada ayah kita, Nabi Adam عليه السلام dan sepak terjang yang mun-cul dari musuhnya, iblis. Dari pemaparan ini, terselip peringatan bagi kita sekalian (untuk berhati-hati) dari kejahatan dan fitnahnya. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:25
"Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidup-kan dan mematikan, dan Kami (pulalah) yang mewarisi. Dan se-sungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu dari padamu, dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (dari padamu). Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang akan menghimpunkan mereka. Sesungguhnya Dia Mahabijak-sana lagi Maha Mengetahui." (Al-Hijr: 23-25).
(23-25) Dia-lah, satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya, yang menghidupkan para makhluk dari ketiadaan wujud, setelah sebelumnya mereka bukanlah sesuatu yang bisa disebut, Dia me-wafatkan mereka sesuai dengan ajal-ajal mereka yang telah Dia tentukan. ﴾ وَنَحۡنُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ﴿ "Dan Kami (pulalah) yang mewarisi", seperti FirmanNya, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَرِثُ ٱلۡأَرۡضَ وَمَنۡ عَلَيۡهَا وَإِلَيۡنَا يُرۡجَعُونَ 40 ﴿ "Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan." (Maryam: 40). Perkara tersebut tidaklah sulit, dan tidak mustahil bagi Allah. Sesungguhnya Allah تعالى mengetahui para makhluk yang telah ber-lalu dan yang akan datang, mengetahui sesuatu yang menyusut pada mereka dan bagian tubuh mereka yang tercerai-berai oleh tanah. Dia-lah yang kekuasaanNya tidak terlumpuhkan oleh pe-milik kekuatan mana pun. Dia mampu mengembalikan para hamba-Nya dalam rupa penciptaan yang baru lagi dan menghimpun mereka semua ke hadapanNya. ﴾ إِنَّهُۥ حَكِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Dia Mahabijaksana", meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan menempatkannya pada kedudukannya, membalas setiap pelaku perbuatan dengan dasar amalannya. Jika baik, maka (balasannya) baik, bila buruk, maka (balasannya) buruk (juga).
Allah تعالى memberitahukan kenikmatan dan curahan kebaikan-Nya kepada ayah kita, Nabi Adam عليه السلام dan sepak terjang yang mun-cul dari musuhnya, iblis. Dari pemaparan ini, terselip peringatan bagi kita sekalian (untuk berhati-hati) dari kejahatan dan fitnahnya. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:26
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:27
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:28
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:29
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:30
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:31
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:32
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:33
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:34
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:35
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:36
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:37
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:38
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:39
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:40
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:41
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:42
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:43
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:44
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman ke-pada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan ke-jadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.' Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, 'Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu.' Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.' Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai Hari Kiamat.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah berfirman, '(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah diten-tukan.' Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memu-tuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka meman-dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, 'Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancam-kan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 26-44).
(26) ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia", yaitu Adam عليه السلام, ﴾ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ﴿ "dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", maksudnya dari tanah yang telah mengering setelah ditutupi, hingga memiliki bunyi dan suara bagaikan tembikar. Makna اَلْحَمَأُ الْمَسْنُوْنُ yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah terlalu lama di-endapkan.
(27) ﴾ وَٱلۡجَآنَّ ﴿ "Dan jin", dedengkot jin, yaitu iblis ﴾ خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ ﴿ "Kami menciptakannya sebelum (Adam)", sebelum penciptaan Adam ﴾ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ ﴿ "dari api yang sangat panas", dari api yang sangat panas suhunya.
(28-29) Ketika hendak menciptakan Adam, Allah berkata kepada para malaikat, ﴾ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 28 فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ ﴿ "Se-sungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya", dalam bentuk raga yang sem-purna, ﴾ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ﴿ "dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(30-31) Mereka menaati perintah Rabb mereka, ﴾ فَسَجَدَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ كُلُّهُمۡ أَجۡمَعُونَ ﴿ "maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama", terdapat lafazh penguatan setelah lafazh penguatan sebelumnya, untuk menandakan bahwa tidak ada satu malaikat pun yang enggan. Hal tersebut sebagai bentuk pengagungan (mereka) kepada perintah Allah dan pemuliaan kepada Adam, karena beliau mengetahui se-suatu yang tidak diketahui oleh para malaikat. ﴾ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰٓ أَن يَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu", ini adalah permusuhan pertamanya kepada Adam dan keturunan beliau.
(32-33) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berfirman", yaitu Allah yang berkata, ﴾ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ 32 قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 33 ﴿ "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu. Iblis berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk", lalu dia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan memperlihatkan permusuhannya kepada Adam dan keturunan beliau, dan mengagumi diri atas (keunggulan) unsur penciptaannya seraya berkata, "Aku lebih baik darinya."
(34-35) ﴾ قَالَ ﴿ "Allah berfirman", Allah berfirman untuk meng-hukum atas kekufuran dan kesombongannya, ﴾ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ﴿ "keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk", maksudnya terusir lagi dijauhkan dari segala kebaikan ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ ﴿ "Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu", yaitu celaan, cercaan, dan jauh dari kebaikan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "sampai Hari Kiamat", pada ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna terdapat petunjuk bahwa iblis akan tetap berada dalam kekufuran dan jauh dari kebaikan.
(36-38) ﴾ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku'," berilah aku kesempatan ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 36 قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 37 إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡوَقۡتِ ٱلۡمَعۡلُومِ 38 ﴿ "Sampai hari (manusia) dibang-kitkan." Allah berfirman, "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu ter-masuk orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan," pengabulan Allah terhadap permintaannya bukanlah bentuk pemuliaan pada dirinya. Itu hanya sekedar ujian dan cobaan dari Allah baginya dan para hambaNya. Agar menjadi jelas siapa orang yang jujur, yang menaati Allah, bukan kepada musuhNya, dari orang yang tidak demikian. Karena itu, Allah telah memper-ingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras dan memaparkan apa saja yang iblis inginkan dari kita.
(39-40) ﴾ قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Iblis berkata, 'Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi'," kami akan menggambarkan dunia menjadi indah pada pandangan mereka dan mengajak mereka untuk mendahulukannya dibanding-kan akhirat. Agar mereka menjadi manusia-manusia yang setia terhadap setiap kemaksiatan ﴾ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "dan pasti aku akan me-nyesatkan mereka semuanya", aku akan menghalang-halangi mereka semua dari jalan yang lurus ﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka", yaitu orang-orang yang telah Engkau jadikan mereka berlaku ikhlas (kepadaMu) dan Eng-kau pilih karena keikhlasan, keimanan, dan ketakwaan mereka.
(41) Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا صِرَٰطٌ عَلَيَّ مُسۡتَقِيمٌ ﴿ "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya)", maksudnya jalan yang per-tengahan, mengantarkan kepadaKu dan menuju ke tempat kemu-liaanKu.
(42) ﴾ إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ ﴿ "Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka", untuk memikat mereka kepada perkara-perkara yang engkau kehendaki, berupa berbagai macam kesesatan karena pengabdian diri mereka kepada Rabb mereka dan kepatuhan mereka kepada perintah-perintahNya. Allah telah menolong mereka dan memelihara mereka dari (jeratan) setan. ﴾ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ ﴿ "Kecuali orang-orang yang mengikutimu", lalu dia ridha dengan kepemimpinan, dan taat kepadamu sebagai ganti dari ke-taatan kepada ar- Rahman ﴾ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ﴿ "yaitu orang-orang yang sesat", kata اَلْغَاوِيْ lawan dari kataاَلرَّاشِدُ (yang mendapat petunjuk), yaitu orang yang mengetahui kebenaran tapi meninggalkannya. Semen-tara kata اَلضَّالُّ maknanya orang yang meninggalkan kebenaran tan-pa tahu sebelumnya.
(43) ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوۡعِدُهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya", yaitu iblis dan para pengikutnya.
(44) ﴾ لَهَا سَبۡعَةُ أَبۡوَٰبٖ ﴿ "Jahanam itu mempunyai tujuh pintu", setiap pintu berada di bawah pintu lainnya. ﴾ لِّكُلِّ بَابٖ مِّنۡهُمۡ ﴿ "Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) dari mereka", yaitu dari para pengikut iblis ﴾ جُزۡءٞ مَّقۡسُومٌ ﴿ "untuk golongan yang tertentu", sesuai dengan tingkatan ulah (buruknya). Allah تعالى berfirman, ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا هُمۡ وَٱلۡغَاوُۥنَ 94 وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ 95 ﴿ "Hati mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya." (Asy-Syu'ara`:94-95).
Usai Allah menjelaskan apa yang dipersiapkanNya bagi para musuhNya, para pengikut iblis, berupa hukuman dan siksa yang dahsyat, maka Dia mengungkapkan apa saja yang Dia sediakan bagi para waliNya, berupa kemurahan yang besar dan kenikmatan yang lestari. Allah تعالى berfirman,
Al-Hijr 15:45
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang meng-alir). (Dikatakan kepada mereka), 'Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman.' Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya. Kabarkan kepada hamba-hambaKu, bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguh-nya azabKu adalah azab yang sangat pedih'." (Al-Hijr: 45-50).
(45) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa", yaitu orang-orang yang khawatir (terjerumus) taat kepada setan dan ajakan-ajakan yang ia serukan kepada mereka, dari segala jenis dosa dan kemaksiatan ﴾ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ ﴿ "berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)", taman-taman itu telah mencakup seluruh tanaman dan semua buah-buahannya yang lezat-lezat yang masak di setiap saat.
(46) Dikatakan kepada mereka ketika hendak memasukinya, ﴾ ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ءَامِنِينَ ﴿ "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman", dari kematian, tidur, kelelahan, dan kelesuan serta putusnya aliran kenikmatan yang mana mereka sedang larut di dalamnya atau ber-kurangnya kenikmatan, dan juga (aman) dari penyakit, kesedihan, kerisauan, dan seluruh persoalan yang mengeruhkan pikiran."
(47) ﴾ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ ﴿ "Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka", maka hati mereka senantiasa selamat dari setiap dendam, kedengkian, bersih lagi saling men-cintai kepada sesama ﴾ إِخۡوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٖ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "sedang mereka merasa ber-saudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan", hal ini menunjuk-kan tentang terjadinya saling berkunjung dan bertemu serta keso-panan etika di antara mereka karena setiap orang saling berhadapan dengan yang lain, tidak membelakanginya, duduk bertelekan pada dipan-dipan yang berhiaskan kasur, permata, dan berbagai batu-batu mulia.
(48) ﴾ لَا يَمَسُّهُمۡ فِيهَا نَصَبٞ ﴿ "Mereka tidak merasa lelah di dalamnya", baik lahir maupun batin. Keadaan demikian karena Allah telah men-ciptakan mereka dalam bentuk dan kehidupan yang sempurna, yang menolak semua kehancuran. ﴾ وَمَا هُم مِّنۡهَا بِمُخۡرَجِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari padanya", di segenap waktu.
(49) Sesudah Allah menceritakan kabar-kabar yang dapat membangkitkan rasa cinta dan takut dari sesuatu yang dibuat oleh Allah, berupa surga dan neraka, maka Allah menyebutkan (dalam ayat ini) sesuatu yang membangkitkan perasaan tersebut, dengan menyebutkan sifat-sifatNya تعالى. Allah berfirman, ﴾ نَبِّئۡ عِبَادِيٓ ﴿ "Kabar-kan kepada hamba-hambaKu", beritahukanlah kepada mereka dengan kepastian dan didukung oleh bukti-bukti nyata, ﴾ أَنِّيٓ أَنَا ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", sesung-guhnya mereka itu jika mengetahui kesempurnaan rahmat dan ampunan Allah, tentu akan berusaha menempuh langkah-langkah yang mengantarkan mereka menuju rahmatNya, dan meninggalkan dosa-dosa dan bertaubat darinya, supaya dapat meraih ampunan Allah.
(50) Meskipun demikian, tidak sepatutnya gurat harapan (raja`) terus menerus membuat mereka merasa dalam naungan rasa aman dan keterlenaan. Maka, beritahukanlah kepada mereka ﴾ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ ٱلۡعَذَابُ ٱلۡأَلِيمُ ﴿ "bahwa azabKu adalah azab yang sangat pedih", maksudnya (sebenarnya) tidak ada siksaan (yang nyata) kecuali siksa Allah yang tidak terukur tingkatannya dan tidak terdeteksi gambarannya. Kami berlindung kepada Allah dari siksaNya. Se-sungguhnya mereka itu bila mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menimpakan siksaan seperti siksaNya dan tidak ada yang mampu mengikat seperti ikatanNya, maka mereka akan berhati-hati dan menjauhkan diri dari segala faktor yang mendatang-kan hukuman pada mereka. Maka, seyogyanya seorang hamba, hatinya selalu berada di antara khauf (rasa takut), raja` (pengharapan), motivasi dan ancaman. Bila ia memandang rahmat Rabbnya, ampunan dan kemurahan serta kebaikanNya, maka hal itu akan menumbuhkan sikap raja` dan motivasi (terhadap kebaikan). Dan bila ia merenungi dosa-dosa-nya, dan kekurangannya pada pemenuhan hak-hak Rabb, maka hal itu akan melahirkan rasa takut dan kekhawatiran serta melepas-kan diri dari dosa-dosa itu.
Al-Hijr 15:46
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang meng-alir). (Dikatakan kepada mereka), 'Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman.' Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya. Kabarkan kepada hamba-hambaKu, bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguh-nya azabKu adalah azab yang sangat pedih'." (Al-Hijr: 45-50).
(45) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa", yaitu orang-orang yang khawatir (terjerumus) taat kepada setan dan ajakan-ajakan yang ia serukan kepada mereka, dari segala jenis dosa dan kemaksiatan ﴾ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ ﴿ "berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)", taman-taman itu telah mencakup seluruh tanaman dan semua buah-buahannya yang lezat-lezat yang masak di setiap saat.
(46) Dikatakan kepada mereka ketika hendak memasukinya, ﴾ ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ءَامِنِينَ ﴿ "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman", dari kematian, tidur, kelelahan, dan kelesuan serta putusnya aliran kenikmatan yang mana mereka sedang larut di dalamnya atau ber-kurangnya kenikmatan, dan juga (aman) dari penyakit, kesedihan, kerisauan, dan seluruh persoalan yang mengeruhkan pikiran."
(47) ﴾ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ ﴿ "Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka", maka hati mereka senantiasa selamat dari setiap dendam, kedengkian, bersih lagi saling men-cintai kepada sesama ﴾ إِخۡوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٖ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "sedang mereka merasa ber-saudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan", hal ini menunjuk-kan tentang terjadinya saling berkunjung dan bertemu serta keso-panan etika di antara mereka karena setiap orang saling berhadapan dengan yang lain, tidak membelakanginya, duduk bertelekan pada dipan-dipan yang berhiaskan kasur, permata, dan berbagai batu-batu mulia.
(48) ﴾ لَا يَمَسُّهُمۡ فِيهَا نَصَبٞ ﴿ "Mereka tidak merasa lelah di dalamnya", baik lahir maupun batin. Keadaan demikian karena Allah telah men-ciptakan mereka dalam bentuk dan kehidupan yang sempurna, yang menolak semua kehancuran. ﴾ وَمَا هُم مِّنۡهَا بِمُخۡرَجِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari padanya", di segenap waktu.
(49) Sesudah Allah menceritakan kabar-kabar yang dapat membangkitkan rasa cinta dan takut dari sesuatu yang dibuat oleh Allah, berupa surga dan neraka, maka Allah menyebutkan (dalam ayat ini) sesuatu yang membangkitkan perasaan tersebut, dengan menyebutkan sifat-sifatNya تعالى. Allah berfirman, ﴾ نَبِّئۡ عِبَادِيٓ ﴿ "Kabar-kan kepada hamba-hambaKu", beritahukanlah kepada mereka dengan kepastian dan didukung oleh bukti-bukti nyata, ﴾ أَنِّيٓ أَنَا ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", sesung-guhnya mereka itu jika mengetahui kesempurnaan rahmat dan ampunan Allah, tentu akan berusaha menempuh langkah-langkah yang mengantarkan mereka menuju rahmatNya, dan meninggalkan dosa-dosa dan bertaubat darinya, supaya dapat meraih ampunan Allah.
(50) Meskipun demikian, tidak sepatutnya gurat harapan (raja`) terus menerus membuat mereka merasa dalam naungan rasa aman dan keterlenaan. Maka, beritahukanlah kepada mereka ﴾ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ ٱلۡعَذَابُ ٱلۡأَلِيمُ ﴿ "bahwa azabKu adalah azab yang sangat pedih", maksudnya (sebenarnya) tidak ada siksaan (yang nyata) kecuali siksa Allah yang tidak terukur tingkatannya dan tidak terdeteksi gambarannya. Kami berlindung kepada Allah dari siksaNya. Se-sungguhnya mereka itu bila mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menimpakan siksaan seperti siksaNya dan tidak ada yang mampu mengikat seperti ikatanNya, maka mereka akan berhati-hati dan menjauhkan diri dari segala faktor yang mendatang-kan hukuman pada mereka. Maka, seyogyanya seorang hamba, hatinya selalu berada di antara khauf (rasa takut), raja` (pengharapan), motivasi dan ancaman. Bila ia memandang rahmat Rabbnya, ampunan dan kemurahan serta kebaikanNya, maka hal itu akan menumbuhkan sikap raja` dan motivasi (terhadap kebaikan). Dan bila ia merenungi dosa-dosa-nya, dan kekurangannya pada pemenuhan hak-hak Rabb, maka hal itu akan melahirkan rasa takut dan kekhawatiran serta melepas-kan diri dari dosa-dosa itu.
Al-Hijr 15:47
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang meng-alir). (Dikatakan kepada mereka), 'Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman.' Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya. Kabarkan kepada hamba-hambaKu, bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguh-nya azabKu adalah azab yang sangat pedih'." (Al-Hijr: 45-50).
(45) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa", yaitu orang-orang yang khawatir (terjerumus) taat kepada setan dan ajakan-ajakan yang ia serukan kepada mereka, dari segala jenis dosa dan kemaksiatan ﴾ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ ﴿ "berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)", taman-taman itu telah mencakup seluruh tanaman dan semua buah-buahannya yang lezat-lezat yang masak di setiap saat.
(46) Dikatakan kepada mereka ketika hendak memasukinya, ﴾ ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ءَامِنِينَ ﴿ "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman", dari kematian, tidur, kelelahan, dan kelesuan serta putusnya aliran kenikmatan yang mana mereka sedang larut di dalamnya atau ber-kurangnya kenikmatan, dan juga (aman) dari penyakit, kesedihan, kerisauan, dan seluruh persoalan yang mengeruhkan pikiran."
(47) ﴾ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ ﴿ "Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka", maka hati mereka senantiasa selamat dari setiap dendam, kedengkian, bersih lagi saling men-cintai kepada sesama ﴾ إِخۡوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٖ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "sedang mereka merasa ber-saudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan", hal ini menunjuk-kan tentang terjadinya saling berkunjung dan bertemu serta keso-panan etika di antara mereka karena setiap orang saling berhadapan dengan yang lain, tidak membelakanginya, duduk bertelekan pada dipan-dipan yang berhiaskan kasur, permata, dan berbagai batu-batu mulia.
(48) ﴾ لَا يَمَسُّهُمۡ فِيهَا نَصَبٞ ﴿ "Mereka tidak merasa lelah di dalamnya", baik lahir maupun batin. Keadaan demikian karena Allah telah men-ciptakan mereka dalam bentuk dan kehidupan yang sempurna, yang menolak semua kehancuran. ﴾ وَمَا هُم مِّنۡهَا بِمُخۡرَجِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari padanya", di segenap waktu.
(49) Sesudah Allah menceritakan kabar-kabar yang dapat membangkitkan rasa cinta dan takut dari sesuatu yang dibuat oleh Allah, berupa surga dan neraka, maka Allah menyebutkan (dalam ayat ini) sesuatu yang membangkitkan perasaan tersebut, dengan menyebutkan sifat-sifatNya تعالى. Allah berfirman, ﴾ نَبِّئۡ عِبَادِيٓ ﴿ "Kabar-kan kepada hamba-hambaKu", beritahukanlah kepada mereka dengan kepastian dan didukung oleh bukti-bukti nyata, ﴾ أَنِّيٓ أَنَا ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", sesung-guhnya mereka itu jika mengetahui kesempurnaan rahmat dan ampunan Allah, tentu akan berusaha menempuh langkah-langkah yang mengantarkan mereka menuju rahmatNya, dan meninggalkan dosa-dosa dan bertaubat darinya, supaya dapat meraih ampunan Allah.
(50) Meskipun demikian, tidak sepatutnya gurat harapan (raja`) terus menerus membuat mereka merasa dalam naungan rasa aman dan keterlenaan. Maka, beritahukanlah kepada mereka ﴾ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ ٱلۡعَذَابُ ٱلۡأَلِيمُ ﴿ "bahwa azabKu adalah azab yang sangat pedih", maksudnya (sebenarnya) tidak ada siksaan (yang nyata) kecuali siksa Allah yang tidak terukur tingkatannya dan tidak terdeteksi gambarannya. Kami berlindung kepada Allah dari siksaNya. Se-sungguhnya mereka itu bila mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menimpakan siksaan seperti siksaNya dan tidak ada yang mampu mengikat seperti ikatanNya, maka mereka akan berhati-hati dan menjauhkan diri dari segala faktor yang mendatang-kan hukuman pada mereka. Maka, seyogyanya seorang hamba, hatinya selalu berada di antara khauf (rasa takut), raja` (pengharapan), motivasi dan ancaman. Bila ia memandang rahmat Rabbnya, ampunan dan kemurahan serta kebaikanNya, maka hal itu akan menumbuhkan sikap raja` dan motivasi (terhadap kebaikan). Dan bila ia merenungi dosa-dosa-nya, dan kekurangannya pada pemenuhan hak-hak Rabb, maka hal itu akan melahirkan rasa takut dan kekhawatiran serta melepas-kan diri dari dosa-dosa itu.
Al-Hijr 15:48
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang meng-alir). (Dikatakan kepada mereka), 'Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman.' Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya. Kabarkan kepada hamba-hambaKu, bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguh-nya azabKu adalah azab yang sangat pedih'." (Al-Hijr: 45-50).
(45) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa", yaitu orang-orang yang khawatir (terjerumus) taat kepada setan dan ajakan-ajakan yang ia serukan kepada mereka, dari segala jenis dosa dan kemaksiatan ﴾ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ ﴿ "berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)", taman-taman itu telah mencakup seluruh tanaman dan semua buah-buahannya yang lezat-lezat yang masak di setiap saat.
(46) Dikatakan kepada mereka ketika hendak memasukinya, ﴾ ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ءَامِنِينَ ﴿ "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman", dari kematian, tidur, kelelahan, dan kelesuan serta putusnya aliran kenikmatan yang mana mereka sedang larut di dalamnya atau ber-kurangnya kenikmatan, dan juga (aman) dari penyakit, kesedihan, kerisauan, dan seluruh persoalan yang mengeruhkan pikiran."
(47) ﴾ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ ﴿ "Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka", maka hati mereka senantiasa selamat dari setiap dendam, kedengkian, bersih lagi saling men-cintai kepada sesama ﴾ إِخۡوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٖ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "sedang mereka merasa ber-saudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan", hal ini menunjuk-kan tentang terjadinya saling berkunjung dan bertemu serta keso-panan etika di antara mereka karena setiap orang saling berhadapan dengan yang lain, tidak membelakanginya, duduk bertelekan pada dipan-dipan yang berhiaskan kasur, permata, dan berbagai batu-batu mulia.
(48) ﴾ لَا يَمَسُّهُمۡ فِيهَا نَصَبٞ ﴿ "Mereka tidak merasa lelah di dalamnya", baik lahir maupun batin. Keadaan demikian karena Allah telah men-ciptakan mereka dalam bentuk dan kehidupan yang sempurna, yang menolak semua kehancuran. ﴾ وَمَا هُم مِّنۡهَا بِمُخۡرَجِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari padanya", di segenap waktu.
(49) Sesudah Allah menceritakan kabar-kabar yang dapat membangkitkan rasa cinta dan takut dari sesuatu yang dibuat oleh Allah, berupa surga dan neraka, maka Allah menyebutkan (dalam ayat ini) sesuatu yang membangkitkan perasaan tersebut, dengan menyebutkan sifat-sifatNya تعالى. Allah berfirman, ﴾ نَبِّئۡ عِبَادِيٓ ﴿ "Kabar-kan kepada hamba-hambaKu", beritahukanlah kepada mereka dengan kepastian dan didukung oleh bukti-bukti nyata, ﴾ أَنِّيٓ أَنَا ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", sesung-guhnya mereka itu jika mengetahui kesempurnaan rahmat dan ampunan Allah, tentu akan berusaha menempuh langkah-langkah yang mengantarkan mereka menuju rahmatNya, dan meninggalkan dosa-dosa dan bertaubat darinya, supaya dapat meraih ampunan Allah.
(50) Meskipun demikian, tidak sepatutnya gurat harapan (raja`) terus menerus membuat mereka merasa dalam naungan rasa aman dan keterlenaan. Maka, beritahukanlah kepada mereka ﴾ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ ٱلۡعَذَابُ ٱلۡأَلِيمُ ﴿ "bahwa azabKu adalah azab yang sangat pedih", maksudnya (sebenarnya) tidak ada siksaan (yang nyata) kecuali siksa Allah yang tidak terukur tingkatannya dan tidak terdeteksi gambarannya. Kami berlindung kepada Allah dari siksaNya. Se-sungguhnya mereka itu bila mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menimpakan siksaan seperti siksaNya dan tidak ada yang mampu mengikat seperti ikatanNya, maka mereka akan berhati-hati dan menjauhkan diri dari segala faktor yang mendatang-kan hukuman pada mereka. Maka, seyogyanya seorang hamba, hatinya selalu berada di antara khauf (rasa takut), raja` (pengharapan), motivasi dan ancaman. Bila ia memandang rahmat Rabbnya, ampunan dan kemurahan serta kebaikanNya, maka hal itu akan menumbuhkan sikap raja` dan motivasi (terhadap kebaikan). Dan bila ia merenungi dosa-dosa-nya, dan kekurangannya pada pemenuhan hak-hak Rabb, maka hal itu akan melahirkan rasa takut dan kekhawatiran serta melepas-kan diri dari dosa-dosa itu.
Al-Hijr 15:49
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang meng-alir). (Dikatakan kepada mereka), 'Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman.' Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya. Kabarkan kepada hamba-hambaKu, bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguh-nya azabKu adalah azab yang sangat pedih'." (Al-Hijr: 45-50).
(45) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa", yaitu orang-orang yang khawatir (terjerumus) taat kepada setan dan ajakan-ajakan yang ia serukan kepada mereka, dari segala jenis dosa dan kemaksiatan ﴾ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ ﴿ "berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)", taman-taman itu telah mencakup seluruh tanaman dan semua buah-buahannya yang lezat-lezat yang masak di setiap saat.
(46) Dikatakan kepada mereka ketika hendak memasukinya, ﴾ ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ءَامِنِينَ ﴿ "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman", dari kematian, tidur, kelelahan, dan kelesuan serta putusnya aliran kenikmatan yang mana mereka sedang larut di dalamnya atau ber-kurangnya kenikmatan, dan juga (aman) dari penyakit, kesedihan, kerisauan, dan seluruh persoalan yang mengeruhkan pikiran."
(47) ﴾ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ ﴿ "Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka", maka hati mereka senantiasa selamat dari setiap dendam, kedengkian, bersih lagi saling men-cintai kepada sesama ﴾ إِخۡوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٖ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "sedang mereka merasa ber-saudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan", hal ini menunjuk-kan tentang terjadinya saling berkunjung dan bertemu serta keso-panan etika di antara mereka karena setiap orang saling berhadapan dengan yang lain, tidak membelakanginya, duduk bertelekan pada dipan-dipan yang berhiaskan kasur, permata, dan berbagai batu-batu mulia.
(48) ﴾ لَا يَمَسُّهُمۡ فِيهَا نَصَبٞ ﴿ "Mereka tidak merasa lelah di dalamnya", baik lahir maupun batin. Keadaan demikian karena Allah telah men-ciptakan mereka dalam bentuk dan kehidupan yang sempurna, yang menolak semua kehancuran. ﴾ وَمَا هُم مِّنۡهَا بِمُخۡرَجِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari padanya", di segenap waktu.
(49) Sesudah Allah menceritakan kabar-kabar yang dapat membangkitkan rasa cinta dan takut dari sesuatu yang dibuat oleh Allah, berupa surga dan neraka, maka Allah menyebutkan (dalam ayat ini) sesuatu yang membangkitkan perasaan tersebut, dengan menyebutkan sifat-sifatNya تعالى. Allah berfirman, ﴾ نَبِّئۡ عِبَادِيٓ ﴿ "Kabar-kan kepada hamba-hambaKu", beritahukanlah kepada mereka dengan kepastian dan didukung oleh bukti-bukti nyata, ﴾ أَنِّيٓ أَنَا ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", sesung-guhnya mereka itu jika mengetahui kesempurnaan rahmat dan ampunan Allah, tentu akan berusaha menempuh langkah-langkah yang mengantarkan mereka menuju rahmatNya, dan meninggalkan dosa-dosa dan bertaubat darinya, supaya dapat meraih ampunan Allah.
(50) Meskipun demikian, tidak sepatutnya gurat harapan (raja`) terus menerus membuat mereka merasa dalam naungan rasa aman dan keterlenaan. Maka, beritahukanlah kepada mereka ﴾ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ ٱلۡعَذَابُ ٱلۡأَلِيمُ ﴿ "bahwa azabKu adalah azab yang sangat pedih", maksudnya (sebenarnya) tidak ada siksaan (yang nyata) kecuali siksa Allah yang tidak terukur tingkatannya dan tidak terdeteksi gambarannya. Kami berlindung kepada Allah dari siksaNya. Se-sungguhnya mereka itu bila mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menimpakan siksaan seperti siksaNya dan tidak ada yang mampu mengikat seperti ikatanNya, maka mereka akan berhati-hati dan menjauhkan diri dari segala faktor yang mendatang-kan hukuman pada mereka. Maka, seyogyanya seorang hamba, hatinya selalu berada di antara khauf (rasa takut), raja` (pengharapan), motivasi dan ancaman. Bila ia memandang rahmat Rabbnya, ampunan dan kemurahan serta kebaikanNya, maka hal itu akan menumbuhkan sikap raja` dan motivasi (terhadap kebaikan). Dan bila ia merenungi dosa-dosa-nya, dan kekurangannya pada pemenuhan hak-hak Rabb, maka hal itu akan melahirkan rasa takut dan kekhawatiran serta melepas-kan diri dari dosa-dosa itu.
Al-Hijr 15:50
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang meng-alir). (Dikatakan kepada mereka), 'Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman.' Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya. Kabarkan kepada hamba-hambaKu, bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguh-nya azabKu adalah azab yang sangat pedih'." (Al-Hijr: 45-50).
(45) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa", yaitu orang-orang yang khawatir (terjerumus) taat kepada setan dan ajakan-ajakan yang ia serukan kepada mereka, dari segala jenis dosa dan kemaksiatan ﴾ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ ﴿ "berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)", taman-taman itu telah mencakup seluruh tanaman dan semua buah-buahannya yang lezat-lezat yang masak di setiap saat.
(46) Dikatakan kepada mereka ketika hendak memasukinya, ﴾ ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ءَامِنِينَ ﴿ "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman", dari kematian, tidur, kelelahan, dan kelesuan serta putusnya aliran kenikmatan yang mana mereka sedang larut di dalamnya atau ber-kurangnya kenikmatan, dan juga (aman) dari penyakit, kesedihan, kerisauan, dan seluruh persoalan yang mengeruhkan pikiran."
(47) ﴾ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ ﴿ "Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka", maka hati mereka senantiasa selamat dari setiap dendam, kedengkian, bersih lagi saling men-cintai kepada sesama ﴾ إِخۡوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٖ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "sedang mereka merasa ber-saudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan", hal ini menunjuk-kan tentang terjadinya saling berkunjung dan bertemu serta keso-panan etika di antara mereka karena setiap orang saling berhadapan dengan yang lain, tidak membelakanginya, duduk bertelekan pada dipan-dipan yang berhiaskan kasur, permata, dan berbagai batu-batu mulia.
(48) ﴾ لَا يَمَسُّهُمۡ فِيهَا نَصَبٞ ﴿ "Mereka tidak merasa lelah di dalamnya", baik lahir maupun batin. Keadaan demikian karena Allah telah men-ciptakan mereka dalam bentuk dan kehidupan yang sempurna, yang menolak semua kehancuran. ﴾ وَمَا هُم مِّنۡهَا بِمُخۡرَجِينَ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari padanya", di segenap waktu.
(49) Sesudah Allah menceritakan kabar-kabar yang dapat membangkitkan rasa cinta dan takut dari sesuatu yang dibuat oleh Allah, berupa surga dan neraka, maka Allah menyebutkan (dalam ayat ini) sesuatu yang membangkitkan perasaan tersebut, dengan menyebutkan sifat-sifatNya تعالى. Allah berfirman, ﴾ نَبِّئۡ عِبَادِيٓ ﴿ "Kabar-kan kepada hamba-hambaKu", beritahukanlah kepada mereka dengan kepastian dan didukung oleh bukti-bukti nyata, ﴾ أَنِّيٓ أَنَا ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", sesung-guhnya mereka itu jika mengetahui kesempurnaan rahmat dan ampunan Allah, tentu akan berusaha menempuh langkah-langkah yang mengantarkan mereka menuju rahmatNya, dan meninggalkan dosa-dosa dan bertaubat darinya, supaya dapat meraih ampunan Allah.
(50) Meskipun demikian, tidak sepatutnya gurat harapan (raja`) terus menerus membuat mereka merasa dalam naungan rasa aman dan keterlenaan. Maka, beritahukanlah kepada mereka ﴾ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ ٱلۡعَذَابُ ٱلۡأَلِيمُ ﴿ "bahwa azabKu adalah azab yang sangat pedih", maksudnya (sebenarnya) tidak ada siksaan (yang nyata) kecuali siksa Allah yang tidak terukur tingkatannya dan tidak terdeteksi gambarannya. Kami berlindung kepada Allah dari siksaNya. Se-sungguhnya mereka itu bila mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menimpakan siksaan seperti siksaNya dan tidak ada yang mampu mengikat seperti ikatanNya, maka mereka akan berhati-hati dan menjauhkan diri dari segala faktor yang mendatang-kan hukuman pada mereka. Maka, seyogyanya seorang hamba, hatinya selalu berada di antara khauf (rasa takut), raja` (pengharapan), motivasi dan ancaman. Bila ia memandang rahmat Rabbnya, ampunan dan kemurahan serta kebaikanNya, maka hal itu akan menumbuhkan sikap raja` dan motivasi (terhadap kebaikan). Dan bila ia merenungi dosa-dosa-nya, dan kekurangannya pada pemenuhan hak-hak Rabb, maka hal itu akan melahirkan rasa takut dan kekhawatiran serta melepas-kan diri dari dosa-dosa itu.
Al-Hijr 15:51
"Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibra-him. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucap-kan, 'Salam.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.' Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut, se-sungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (ke-lahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang alim.' Ibrahim berkata, 'Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (ter-laksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini.' Mereka men-jawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.' Ibrahim berkata, 'Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat'." (Al-Hijr: 51-56).
(51) Allah berkata kepada NabiNya, Muhammad, ﴾ وَنَبِّئۡهُمۡ عَن ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim", yaitu tentang kisah yang ajaib. Sesungguhnya, di dalam ceritamu kepada mereka tentang kisah-kisah para rasul dan peristiwa-peris-tiwa yang terjadi pada mereka terdapat sesuatu yang akan men-datangkan pelajaran dan peneladanan kepada para rasul itu bagi mereka (kaummu). Apalagi kisah tentang Nabi Ibrahim al-Khalil (kekasih Allah) yang mana Allah memerintahkan kepada kita untuk mengikuti ajarannya. Sedangkan tamunya ialah para malaikat yang mulia. Allah telah memuliakan Nabi Ibrahim dengan menjadikan para malaikat sebagai tamu-tamu beliau.
(52) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗا ﴿ "Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan, 'Salam'," maksudnya para malaikat melon-tarkan salam kepada beliau. Lantas beliau menjawab salam mereka. ﴾ قَالَ إِنَّا مِنكُمۡ وَجِلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu'," maksudnya kami merasa takut. Pasalnya, ketika mereka masuk menemui beliau, dan beliau menduga mereka sebagai tamu, maka beliau lantas bersegera menuju rumahnya dan menyiapkan jamuan bagi mereka berupa daging sapi yang empuk dan menyu-guhkannya kepada mereka, saat melihat tangan-tangan mereka tidak menyentuhnya, maka beliau merasa takut kepada mereka, kalau mereka adalah para pencuri atau orang-orang semacam itu. Maka mereka berkata kepada beliau,
(53) ﴾ لَا تَوۡجَلۡ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "Janganlah kamu merasa takut, se-sungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang alim'," yaitu Ishaq عليه السلام. Kabar gembira ini mengandung keterangan bahwa ia adalah se-orang lelaki, bukan seorang wanita ﴾ عَلِيمٖ ﴿ "(yang akan menjadi) orang alim", maksudnya ilmunya banyak. Dalam ayat lainnya, Allah ber-firman, ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ 112 ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." (Ash-Shaffat: 112).
(54) ﴾ قَالَ ﴿ "Ibrahim berkata," maksudnya Ibrahim berkata kepada mereka dengan nada keheranan atas berita menggembira-kan ini, ﴾ أَبَشَّرۡتُمُونِي ﴿ "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku", dengan (kelahiran) seorang anak ﴾ عَلَىٰٓ أَن مَّسَّنِيَ ٱلۡكِبَرُ ﴿ "padahal usiaku telah lanjut", ada unsur perasaan putus asa dari beliau, ﴾ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ ﴿ "maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini", maksudnya bagaimana kalian memberikan kabar gembira padahal faktor sebab kausalitas sudah tidak ada?
(55) ﴾ قَالُواْ بَشَّرۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar'," yang tidak mengandung ke-raguan padanya. Sebab, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Sedangkan kamu teristimewakan (oleh Allah) wahai pemilik rumah ini, rahmat Allah dan keberkahanNya semoga selalu ter-curahkan pada kalian. Maka, janganlah dianggap aneh kucuran kemurahan dan kebaikan Allah kepada kalian. ﴾ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡقَٰنِطِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa", yaitu orang-orang yang menganggap mustahil kedatangan kebaikan ke-pada mereka. Bahkan, engkau mesti senantiasa mengharapkan cu-rahan kebaikan, kebajikan, dan kenikmatanNya.
(56) Maka Ibrahim menjawab mereka dengan menuturkan, ﴾ وَمَن يَقۡنَطُ مِن رَّحۡمَةِ رَبِّهِۦٓ إِلَّا ٱلضَّآلُّونَ ﴿ "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat." Yaitu orang-orang yang tidak mempunyai bekal ilmu apa pun tentang Rabb mereka dan kesempurnaan kekuasaanNya. Sementara itu, orang yang telah Allah karuniai hidayah dan ilmu yang agung, maka tidak ada celah baginya untuk berputus asa kepadaNya. Pasalnya, ia mengetahui dengan porsi banyak mengenai berbagai macam sebab kausalitas dan prasarana, serta jalur-jalur menuju Rahmat Allah. Berikutnya, pasca menyampaikan kabar gembira ini, Ibrahim mengetahui bahwa para malaikat itu diutus untuk sebuah misi yang penting.
Al-Hijr 15:52
"Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibra-him. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucap-kan, 'Salam.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.' Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut, se-sungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (ke-lahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang alim.' Ibrahim berkata, 'Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (ter-laksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini.' Mereka men-jawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.' Ibrahim berkata, 'Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat'." (Al-Hijr: 51-56).
(51) Allah berkata kepada NabiNya, Muhammad, ﴾ وَنَبِّئۡهُمۡ عَن ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim", yaitu tentang kisah yang ajaib. Sesungguhnya, di dalam ceritamu kepada mereka tentang kisah-kisah para rasul dan peristiwa-peris-tiwa yang terjadi pada mereka terdapat sesuatu yang akan men-datangkan pelajaran dan peneladanan kepada para rasul itu bagi mereka (kaummu). Apalagi kisah tentang Nabi Ibrahim al-Khalil (kekasih Allah) yang mana Allah memerintahkan kepada kita untuk mengikuti ajarannya. Sedangkan tamunya ialah para malaikat yang mulia. Allah telah memuliakan Nabi Ibrahim dengan menjadikan para malaikat sebagai tamu-tamu beliau.
(52) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗا ﴿ "Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan, 'Salam'," maksudnya para malaikat melon-tarkan salam kepada beliau. Lantas beliau menjawab salam mereka. ﴾ قَالَ إِنَّا مِنكُمۡ وَجِلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu'," maksudnya kami merasa takut. Pasalnya, ketika mereka masuk menemui beliau, dan beliau menduga mereka sebagai tamu, maka beliau lantas bersegera menuju rumahnya dan menyiapkan jamuan bagi mereka berupa daging sapi yang empuk dan menyu-guhkannya kepada mereka, saat melihat tangan-tangan mereka tidak menyentuhnya, maka beliau merasa takut kepada mereka, kalau mereka adalah para pencuri atau orang-orang semacam itu. Maka mereka berkata kepada beliau,
(53) ﴾ لَا تَوۡجَلۡ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "Janganlah kamu merasa takut, se-sungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang alim'," yaitu Ishaq عليه السلام. Kabar gembira ini mengandung keterangan bahwa ia adalah se-orang lelaki, bukan seorang wanita ﴾ عَلِيمٖ ﴿ "(yang akan menjadi) orang alim", maksudnya ilmunya banyak. Dalam ayat lainnya, Allah ber-firman, ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ 112 ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." (Ash-Shaffat: 112).
(54) ﴾ قَالَ ﴿ "Ibrahim berkata," maksudnya Ibrahim berkata kepada mereka dengan nada keheranan atas berita menggembira-kan ini, ﴾ أَبَشَّرۡتُمُونِي ﴿ "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku", dengan (kelahiran) seorang anak ﴾ عَلَىٰٓ أَن مَّسَّنِيَ ٱلۡكِبَرُ ﴿ "padahal usiaku telah lanjut", ada unsur perasaan putus asa dari beliau, ﴾ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ ﴿ "maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini", maksudnya bagaimana kalian memberikan kabar gembira padahal faktor sebab kausalitas sudah tidak ada?
(55) ﴾ قَالُواْ بَشَّرۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar'," yang tidak mengandung ke-raguan padanya. Sebab, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Sedangkan kamu teristimewakan (oleh Allah) wahai pemilik rumah ini, rahmat Allah dan keberkahanNya semoga selalu ter-curahkan pada kalian. Maka, janganlah dianggap aneh kucuran kemurahan dan kebaikan Allah kepada kalian. ﴾ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡقَٰنِطِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa", yaitu orang-orang yang menganggap mustahil kedatangan kebaikan ke-pada mereka. Bahkan, engkau mesti senantiasa mengharapkan cu-rahan kebaikan, kebajikan, dan kenikmatanNya.
(56) Maka Ibrahim menjawab mereka dengan menuturkan, ﴾ وَمَن يَقۡنَطُ مِن رَّحۡمَةِ رَبِّهِۦٓ إِلَّا ٱلضَّآلُّونَ ﴿ "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat." Yaitu orang-orang yang tidak mempunyai bekal ilmu apa pun tentang Rabb mereka dan kesempurnaan kekuasaanNya. Sementara itu, orang yang telah Allah karuniai hidayah dan ilmu yang agung, maka tidak ada celah baginya untuk berputus asa kepadaNya. Pasalnya, ia mengetahui dengan porsi banyak mengenai berbagai macam sebab kausalitas dan prasarana, serta jalur-jalur menuju Rahmat Allah. Berikutnya, pasca menyampaikan kabar gembira ini, Ibrahim mengetahui bahwa para malaikat itu diutus untuk sebuah misi yang penting.
Al-Hijr 15:53
"Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibra-him. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucap-kan, 'Salam.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.' Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut, se-sungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (ke-lahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang alim.' Ibrahim berkata, 'Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (ter-laksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini.' Mereka men-jawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.' Ibrahim berkata, 'Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat'." (Al-Hijr: 51-56).
(51) Allah berkata kepada NabiNya, Muhammad, ﴾ وَنَبِّئۡهُمۡ عَن ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim", yaitu tentang kisah yang ajaib. Sesungguhnya, di dalam ceritamu kepada mereka tentang kisah-kisah para rasul dan peristiwa-peris-tiwa yang terjadi pada mereka terdapat sesuatu yang akan men-datangkan pelajaran dan peneladanan kepada para rasul itu bagi mereka (kaummu). Apalagi kisah tentang Nabi Ibrahim al-Khalil (kekasih Allah) yang mana Allah memerintahkan kepada kita untuk mengikuti ajarannya. Sedangkan tamunya ialah para malaikat yang mulia. Allah telah memuliakan Nabi Ibrahim dengan menjadikan para malaikat sebagai tamu-tamu beliau.
(52) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗا ﴿ "Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan, 'Salam'," maksudnya para malaikat melon-tarkan salam kepada beliau. Lantas beliau menjawab salam mereka. ﴾ قَالَ إِنَّا مِنكُمۡ وَجِلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu'," maksudnya kami merasa takut. Pasalnya, ketika mereka masuk menemui beliau, dan beliau menduga mereka sebagai tamu, maka beliau lantas bersegera menuju rumahnya dan menyiapkan jamuan bagi mereka berupa daging sapi yang empuk dan menyu-guhkannya kepada mereka, saat melihat tangan-tangan mereka tidak menyentuhnya, maka beliau merasa takut kepada mereka, kalau mereka adalah para pencuri atau orang-orang semacam itu. Maka mereka berkata kepada beliau,
(53) ﴾ لَا تَوۡجَلۡ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "Janganlah kamu merasa takut, se-sungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang alim'," yaitu Ishaq عليه السلام. Kabar gembira ini mengandung keterangan bahwa ia adalah se-orang lelaki, bukan seorang wanita ﴾ عَلِيمٖ ﴿ "(yang akan menjadi) orang alim", maksudnya ilmunya banyak. Dalam ayat lainnya, Allah ber-firman, ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ 112 ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." (Ash-Shaffat: 112).
(54) ﴾ قَالَ ﴿ "Ibrahim berkata," maksudnya Ibrahim berkata kepada mereka dengan nada keheranan atas berita menggembira-kan ini, ﴾ أَبَشَّرۡتُمُونِي ﴿ "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku", dengan (kelahiran) seorang anak ﴾ عَلَىٰٓ أَن مَّسَّنِيَ ٱلۡكِبَرُ ﴿ "padahal usiaku telah lanjut", ada unsur perasaan putus asa dari beliau, ﴾ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ ﴿ "maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini", maksudnya bagaimana kalian memberikan kabar gembira padahal faktor sebab kausalitas sudah tidak ada?
(55) ﴾ قَالُواْ بَشَّرۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar'," yang tidak mengandung ke-raguan padanya. Sebab, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Sedangkan kamu teristimewakan (oleh Allah) wahai pemilik rumah ini, rahmat Allah dan keberkahanNya semoga selalu ter-curahkan pada kalian. Maka, janganlah dianggap aneh kucuran kemurahan dan kebaikan Allah kepada kalian. ﴾ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡقَٰنِطِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa", yaitu orang-orang yang menganggap mustahil kedatangan kebaikan ke-pada mereka. Bahkan, engkau mesti senantiasa mengharapkan cu-rahan kebaikan, kebajikan, dan kenikmatanNya.
(56) Maka Ibrahim menjawab mereka dengan menuturkan, ﴾ وَمَن يَقۡنَطُ مِن رَّحۡمَةِ رَبِّهِۦٓ إِلَّا ٱلضَّآلُّونَ ﴿ "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat." Yaitu orang-orang yang tidak mempunyai bekal ilmu apa pun tentang Rabb mereka dan kesempurnaan kekuasaanNya. Sementara itu, orang yang telah Allah karuniai hidayah dan ilmu yang agung, maka tidak ada celah baginya untuk berputus asa kepadaNya. Pasalnya, ia mengetahui dengan porsi banyak mengenai berbagai macam sebab kausalitas dan prasarana, serta jalur-jalur menuju Rahmat Allah. Berikutnya, pasca menyampaikan kabar gembira ini, Ibrahim mengetahui bahwa para malaikat itu diutus untuk sebuah misi yang penting.
Al-Hijr 15:54
"Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibra-him. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucap-kan, 'Salam.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.' Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut, se-sungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (ke-lahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang alim.' Ibrahim berkata, 'Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (ter-laksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini.' Mereka men-jawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.' Ibrahim berkata, 'Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat'." (Al-Hijr: 51-56).
(51) Allah berkata kepada NabiNya, Muhammad, ﴾ وَنَبِّئۡهُمۡ عَن ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim", yaitu tentang kisah yang ajaib. Sesungguhnya, di dalam ceritamu kepada mereka tentang kisah-kisah para rasul dan peristiwa-peris-tiwa yang terjadi pada mereka terdapat sesuatu yang akan men-datangkan pelajaran dan peneladanan kepada para rasul itu bagi mereka (kaummu). Apalagi kisah tentang Nabi Ibrahim al-Khalil (kekasih Allah) yang mana Allah memerintahkan kepada kita untuk mengikuti ajarannya. Sedangkan tamunya ialah para malaikat yang mulia. Allah telah memuliakan Nabi Ibrahim dengan menjadikan para malaikat sebagai tamu-tamu beliau.
(52) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗا ﴿ "Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan, 'Salam'," maksudnya para malaikat melon-tarkan salam kepada beliau. Lantas beliau menjawab salam mereka. ﴾ قَالَ إِنَّا مِنكُمۡ وَجِلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu'," maksudnya kami merasa takut. Pasalnya, ketika mereka masuk menemui beliau, dan beliau menduga mereka sebagai tamu, maka beliau lantas bersegera menuju rumahnya dan menyiapkan jamuan bagi mereka berupa daging sapi yang empuk dan menyu-guhkannya kepada mereka, saat melihat tangan-tangan mereka tidak menyentuhnya, maka beliau merasa takut kepada mereka, kalau mereka adalah para pencuri atau orang-orang semacam itu. Maka mereka berkata kepada beliau,
(53) ﴾ لَا تَوۡجَلۡ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "Janganlah kamu merasa takut, se-sungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang alim'," yaitu Ishaq عليه السلام. Kabar gembira ini mengandung keterangan bahwa ia adalah se-orang lelaki, bukan seorang wanita ﴾ عَلِيمٖ ﴿ "(yang akan menjadi) orang alim", maksudnya ilmunya banyak. Dalam ayat lainnya, Allah ber-firman, ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ 112 ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." (Ash-Shaffat: 112).
(54) ﴾ قَالَ ﴿ "Ibrahim berkata," maksudnya Ibrahim berkata kepada mereka dengan nada keheranan atas berita menggembira-kan ini, ﴾ أَبَشَّرۡتُمُونِي ﴿ "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku", dengan (kelahiran) seorang anak ﴾ عَلَىٰٓ أَن مَّسَّنِيَ ٱلۡكِبَرُ ﴿ "padahal usiaku telah lanjut", ada unsur perasaan putus asa dari beliau, ﴾ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ ﴿ "maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini", maksudnya bagaimana kalian memberikan kabar gembira padahal faktor sebab kausalitas sudah tidak ada?
(55) ﴾ قَالُواْ بَشَّرۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar'," yang tidak mengandung ke-raguan padanya. Sebab, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Sedangkan kamu teristimewakan (oleh Allah) wahai pemilik rumah ini, rahmat Allah dan keberkahanNya semoga selalu ter-curahkan pada kalian. Maka, janganlah dianggap aneh kucuran kemurahan dan kebaikan Allah kepada kalian. ﴾ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡقَٰنِطِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa", yaitu orang-orang yang menganggap mustahil kedatangan kebaikan ke-pada mereka. Bahkan, engkau mesti senantiasa mengharapkan cu-rahan kebaikan, kebajikan, dan kenikmatanNya.
(56) Maka Ibrahim menjawab mereka dengan menuturkan, ﴾ وَمَن يَقۡنَطُ مِن رَّحۡمَةِ رَبِّهِۦٓ إِلَّا ٱلضَّآلُّونَ ﴿ "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat." Yaitu orang-orang yang tidak mempunyai bekal ilmu apa pun tentang Rabb mereka dan kesempurnaan kekuasaanNya. Sementara itu, orang yang telah Allah karuniai hidayah dan ilmu yang agung, maka tidak ada celah baginya untuk berputus asa kepadaNya. Pasalnya, ia mengetahui dengan porsi banyak mengenai berbagai macam sebab kausalitas dan prasarana, serta jalur-jalur menuju Rahmat Allah. Berikutnya, pasca menyampaikan kabar gembira ini, Ibrahim mengetahui bahwa para malaikat itu diutus untuk sebuah misi yang penting.
Al-Hijr 15:55
"Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibra-him. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucap-kan, 'Salam.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.' Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut, se-sungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (ke-lahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang alim.' Ibrahim berkata, 'Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (ter-laksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini.' Mereka men-jawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.' Ibrahim berkata, 'Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat'." (Al-Hijr: 51-56).
(51) Allah berkata kepada NabiNya, Muhammad, ﴾ وَنَبِّئۡهُمۡ عَن ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim", yaitu tentang kisah yang ajaib. Sesungguhnya, di dalam ceritamu kepada mereka tentang kisah-kisah para rasul dan peristiwa-peris-tiwa yang terjadi pada mereka terdapat sesuatu yang akan men-datangkan pelajaran dan peneladanan kepada para rasul itu bagi mereka (kaummu). Apalagi kisah tentang Nabi Ibrahim al-Khalil (kekasih Allah) yang mana Allah memerintahkan kepada kita untuk mengikuti ajarannya. Sedangkan tamunya ialah para malaikat yang mulia. Allah telah memuliakan Nabi Ibrahim dengan menjadikan para malaikat sebagai tamu-tamu beliau.
(52) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗا ﴿ "Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan, 'Salam'," maksudnya para malaikat melon-tarkan salam kepada beliau. Lantas beliau menjawab salam mereka. ﴾ قَالَ إِنَّا مِنكُمۡ وَجِلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu'," maksudnya kami merasa takut. Pasalnya, ketika mereka masuk menemui beliau, dan beliau menduga mereka sebagai tamu, maka beliau lantas bersegera menuju rumahnya dan menyiapkan jamuan bagi mereka berupa daging sapi yang empuk dan menyu-guhkannya kepada mereka, saat melihat tangan-tangan mereka tidak menyentuhnya, maka beliau merasa takut kepada mereka, kalau mereka adalah para pencuri atau orang-orang semacam itu. Maka mereka berkata kepada beliau,
(53) ﴾ لَا تَوۡجَلۡ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "Janganlah kamu merasa takut, se-sungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang alim'," yaitu Ishaq عليه السلام. Kabar gembira ini mengandung keterangan bahwa ia adalah se-orang lelaki, bukan seorang wanita ﴾ عَلِيمٖ ﴿ "(yang akan menjadi) orang alim", maksudnya ilmunya banyak. Dalam ayat lainnya, Allah ber-firman, ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ 112 ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." (Ash-Shaffat: 112).
(54) ﴾ قَالَ ﴿ "Ibrahim berkata," maksudnya Ibrahim berkata kepada mereka dengan nada keheranan atas berita menggembira-kan ini, ﴾ أَبَشَّرۡتُمُونِي ﴿ "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku", dengan (kelahiran) seorang anak ﴾ عَلَىٰٓ أَن مَّسَّنِيَ ٱلۡكِبَرُ ﴿ "padahal usiaku telah lanjut", ada unsur perasaan putus asa dari beliau, ﴾ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ ﴿ "maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini", maksudnya bagaimana kalian memberikan kabar gembira padahal faktor sebab kausalitas sudah tidak ada?
(55) ﴾ قَالُواْ بَشَّرۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar'," yang tidak mengandung ke-raguan padanya. Sebab, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Sedangkan kamu teristimewakan (oleh Allah) wahai pemilik rumah ini, rahmat Allah dan keberkahanNya semoga selalu ter-curahkan pada kalian. Maka, janganlah dianggap aneh kucuran kemurahan dan kebaikan Allah kepada kalian. ﴾ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡقَٰنِطِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa", yaitu orang-orang yang menganggap mustahil kedatangan kebaikan ke-pada mereka. Bahkan, engkau mesti senantiasa mengharapkan cu-rahan kebaikan, kebajikan, dan kenikmatanNya.
(56) Maka Ibrahim menjawab mereka dengan menuturkan, ﴾ وَمَن يَقۡنَطُ مِن رَّحۡمَةِ رَبِّهِۦٓ إِلَّا ٱلضَّآلُّونَ ﴿ "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat." Yaitu orang-orang yang tidak mempunyai bekal ilmu apa pun tentang Rabb mereka dan kesempurnaan kekuasaanNya. Sementara itu, orang yang telah Allah karuniai hidayah dan ilmu yang agung, maka tidak ada celah baginya untuk berputus asa kepadaNya. Pasalnya, ia mengetahui dengan porsi banyak mengenai berbagai macam sebab kausalitas dan prasarana, serta jalur-jalur menuju Rahmat Allah. Berikutnya, pasca menyampaikan kabar gembira ini, Ibrahim mengetahui bahwa para malaikat itu diutus untuk sebuah misi yang penting.
Al-Hijr 15:56
"Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibra-him. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucap-kan, 'Salam.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.' Mereka berkata, 'Janganlah kamu merasa takut, se-sungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (ke-lahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang alim.' Ibrahim berkata, 'Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (ter-laksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini.' Mereka men-jawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.' Ibrahim berkata, 'Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat'." (Al-Hijr: 51-56).
(51) Allah berkata kepada NabiNya, Muhammad, ﴾ وَنَبِّئۡهُمۡ عَن ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ﴿ "Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim", yaitu tentang kisah yang ajaib. Sesungguhnya, di dalam ceritamu kepada mereka tentang kisah-kisah para rasul dan peristiwa-peris-tiwa yang terjadi pada mereka terdapat sesuatu yang akan men-datangkan pelajaran dan peneladanan kepada para rasul itu bagi mereka (kaummu). Apalagi kisah tentang Nabi Ibrahim al-Khalil (kekasih Allah) yang mana Allah memerintahkan kepada kita untuk mengikuti ajarannya. Sedangkan tamunya ialah para malaikat yang mulia. Allah telah memuliakan Nabi Ibrahim dengan menjadikan para malaikat sebagai tamu-tamu beliau.
(52) ﴾ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗا ﴿ "Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan, 'Salam'," maksudnya para malaikat melon-tarkan salam kepada beliau. Lantas beliau menjawab salam mereka. ﴾ قَالَ إِنَّا مِنكُمۡ وَجِلُونَ ﴿ "Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu'," maksudnya kami merasa takut. Pasalnya, ketika mereka masuk menemui beliau, dan beliau menduga mereka sebagai tamu, maka beliau lantas bersegera menuju rumahnya dan menyiapkan jamuan bagi mereka berupa daging sapi yang empuk dan menyu-guhkannya kepada mereka, saat melihat tangan-tangan mereka tidak menyentuhnya, maka beliau merasa takut kepada mereka, kalau mereka adalah para pencuri atau orang-orang semacam itu. Maka mereka berkata kepada beliau,
(53) ﴾ لَا تَوۡجَلۡ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ﴿ "Janganlah kamu merasa takut, se-sungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang alim'," yaitu Ishaq عليه السلام. Kabar gembira ini mengandung keterangan bahwa ia adalah se-orang lelaki, bukan seorang wanita ﴾ عَلِيمٖ ﴿ "(yang akan menjadi) orang alim", maksudnya ilmunya banyak. Dalam ayat lainnya, Allah ber-firman, ﴾ وَبَشَّرۡنَٰهُ بِإِسۡحَٰقَ نَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ 112 ﴿ "Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq sebagai seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih." (Ash-Shaffat: 112).
(54) ﴾ قَالَ ﴿ "Ibrahim berkata," maksudnya Ibrahim berkata kepada mereka dengan nada keheranan atas berita menggembira-kan ini, ﴾ أَبَشَّرۡتُمُونِي ﴿ "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku", dengan (kelahiran) seorang anak ﴾ عَلَىٰٓ أَن مَّسَّنِيَ ٱلۡكِبَرُ ﴿ "padahal usiaku telah lanjut", ada unsur perasaan putus asa dari beliau, ﴾ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ ﴿ "maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini", maksudnya bagaimana kalian memberikan kabar gembira padahal faktor sebab kausalitas sudah tidak ada?
(55) ﴾ قَالُواْ بَشَّرۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar'," yang tidak mengandung ke-raguan padanya. Sebab, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Sedangkan kamu teristimewakan (oleh Allah) wahai pemilik rumah ini, rahmat Allah dan keberkahanNya semoga selalu ter-curahkan pada kalian. Maka, janganlah dianggap aneh kucuran kemurahan dan kebaikan Allah kepada kalian. ﴾ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡقَٰنِطِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa", yaitu orang-orang yang menganggap mustahil kedatangan kebaikan ke-pada mereka. Bahkan, engkau mesti senantiasa mengharapkan cu-rahan kebaikan, kebajikan, dan kenikmatanNya.
(56) Maka Ibrahim menjawab mereka dengan menuturkan, ﴾ وَمَن يَقۡنَطُ مِن رَّحۡمَةِ رَبِّهِۦٓ إِلَّا ٱلضَّآلُّونَ ﴿ "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat." Yaitu orang-orang yang tidak mempunyai bekal ilmu apa pun tentang Rabb mereka dan kesempurnaan kekuasaanNya. Sementara itu, orang yang telah Allah karuniai hidayah dan ilmu yang agung, maka tidak ada celah baginya untuk berputus asa kepadaNya. Pasalnya, ia mengetahui dengan porsi banyak mengenai berbagai macam sebab kausalitas dan prasarana, serta jalur-jalur menuju Rahmat Allah. Berikutnya, pasca menyampaikan kabar gembira ini, Ibrahim mengetahui bahwa para malaikat itu diutus untuk sebuah misi yang penting.
Al-Hijr 15:57
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:58
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:59
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:60
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:61
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:62
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:63
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.