Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Hijr 15:64 – An-Nahl 16:90
Daftar isi
- Al-Hijr 15:64
- Al-Hijr 15:65
- Al-Hijr 15:66
- Al-Hijr 15:67
- Al-Hijr 15:68
- Al-Hijr 15:69
- Al-Hijr 15:70
- Al-Hijr 15:71
- Al-Hijr 15:72
- Al-Hijr 15:73
- Al-Hijr 15:74
- Al-Hijr 15:75
- Al-Hijr 15:76
- Al-Hijr 15:77
- Al-Hijr 15:78
- Al-Hijr 15:79
- Al-Hijr 15:80
- Al-Hijr 15:81
- Al-Hijr 15:82
- Al-Hijr 15:83
- Al-Hijr 15:84
- Al-Hijr 15:85
- Al-Hijr 15:86
- Al-Hijr 15:87
- Al-Hijr 15:88
- Al-Hijr 15:89
- Al-Hijr 15:90
- Al-Hijr 15:91
- Al-Hijr 15:92
- Al-Hijr 15:93
- Al-Hijr 15:94
- Al-Hijr 15:95
- Al-Hijr 15:96
- Al-Hijr 15:97
- Al-Hijr 15:98
- Al-Hijr 15:99
- An-Nahl 16:1
- An-Nahl 16:2
- An-Nahl 16:3
- An-Nahl 16:4
- An-Nahl 16:5
- An-Nahl 16:6
- An-Nahl 16:7
- An-Nahl 16:8
- An-Nahl 16:9
- An-Nahl 16:10
- An-Nahl 16:11
- An-Nahl 16:12
- An-Nahl 16:13
- An-Nahl 16:14
- An-Nahl 16:15
- An-Nahl 16:16
- An-Nahl 16:17
- An-Nahl 16:18
- An-Nahl 16:19
- An-Nahl 16:20
- An-Nahl 16:21
- An-Nahl 16:22
- An-Nahl 16:23
- An-Nahl 16:24
- An-Nahl 16:25
- An-Nahl 16:26
- An-Nahl 16:27
- An-Nahl 16:28
- An-Nahl 16:29
- An-Nahl 16:30
- An-Nahl 16:31
- An-Nahl 16:32
- An-Nahl 16:33
- An-Nahl 16:34
- An-Nahl 16:35
- An-Nahl 16:36
- An-Nahl 16:37
- An-Nahl 16:38
- An-Nahl 16:39
- An-Nahl 16:40
- An-Nahl 16:41
- An-Nahl 16:42
- An-Nahl 16:43
- An-Nahl 16:44
- An-Nahl 16:45
- An-Nahl 16:46
- An-Nahl 16:47
- An-Nahl 16:48
- An-Nahl 16:49
- An-Nahl 16:50
- An-Nahl 16:51
- An-Nahl 16:52
- An-Nahl 16:53
- An-Nahl 16:54
- An-Nahl 16:55
- An-Nahl 16:56
- An-Nahl 16:57
- An-Nahl 16:58
- An-Nahl 16:59
- An-Nahl 16:60
- An-Nahl 16:61
- An-Nahl 16:62
- An-Nahl 16:63
- An-Nahl 16:64
- An-Nahl 16:65
- An-Nahl 16:66
- An-Nahl 16:67
- An-Nahl 16:68
- An-Nahl 16:69
- An-Nahl 16:70
- An-Nahl 16:71
- An-Nahl 16:72
- An-Nahl 16:73
- An-Nahl 16:74
- An-Nahl 16:75
- An-Nahl 16:76
- An-Nahl 16:77
- An-Nahl 16:78
- An-Nahl 16:79
- An-Nahl 16:80
- An-Nahl 16:81
- An-Nahl 16:82
- An-Nahl 16:83
- An-Nahl 16:84
- An-Nahl 16:85
- An-Nahl 16:86
- An-Nahl 16:87
- An-Nahl 16:88
- An-Nahl 16:89
- An-Nahl 16:90
Al-Hijr 15:64
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:65
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:66
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:67
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:68
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:69
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:70
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:71
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:72
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:73
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:74
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:75
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:76
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:77
"Ibrahim berkata, 'Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali Luth beserta pengikut-peng-ikutnya. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua-nya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya).' Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya, ia berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.' Para utusan menjawab, 'Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu mem-bawa kebenaran, dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.' Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, 'Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwa-lah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina'. Mereka berkata, 'Dan bukankah kami telah melarangmu dari (me-lindungi ) manusia?' Luth berkata, 'Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).' (Allah berfirman), 'Demi umurmu (Muhammad), sesungguh-nya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).' Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (Al-Hijr: 57-77).
(57) ﴾ قَالَ ﴿ "Dia berkata", Ibrahim al-Khalil عليه السلام berkata kepada para malaikat, ﴾ فَمَا خَطۡبُكُمۡ أَيُّهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Apakah urusanmu yang penting (selain itu) hai para utusan", apakah kepentingan kalian? Mengapa kalian diutus?
(58) ﴾ قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرۡسِلۡنَآ إِلَىٰ قَوۡمٖ مُّجۡرِمِينَ ﴿ "Mereka menjawab, 'Kami sesung-guhnya diutus kepada kaum yang berdosa'," yaitu kepada kaum yang kerusakannya sudah merajalela dan keburukannya sudah besar, agar kami timpakan siksa dan hukuman atas mereka.
(59-60) ﴾ إِلَّآ ءَالَ لُوطٍ ﴿ "Kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya", maksudnya kecuali Nabi Luth dan keluarganya. ﴾ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ قَدَّرۡنَآ إِنَّهَا لَمِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kecuali istrinya, Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya", maksudnya termasuk orang-orang yang tetap dirun-dung oleh siksa. Adapun Nabi Luth, maka kami benar-benar menge-luarkannya dan anggota keluarganya, dan menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Maka mulailah Ibrahim beradu argumentasi de-ngan para utusan itu (malaikat) mengenai pemusnahan kaum Nabi Luth, dan beliau melakukan lobby (agar siksaan itu tidak terealisasi). Maka dikatakan kepada beliau, ﴾ يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ أَعۡرِضۡ عَنۡ هَٰذَآۖ إِنَّهُۥ قَدۡ جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَإِنَّهُمۡ ءَاتِيهِمۡ عَذَابٌ غَيۡرُ مَرۡدُودٖ 76 ﴿ "Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi oleh azab yang tidak dapat ditolak." (Hud: 76). Maka para malaikat itu meninggalkan beliau.
(61-62) ﴾ فَلَمَّا جَآءَ ءَالَ لُوطٍ ٱلۡمُرۡسَلُونَ 61 قَالَ ﴿ "Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut-pengikutnya. Ia berkata", maka Luth berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal", maksudnya aku tidak mengenal kalian dan tidak mengetahui siapakah gerangan kalian itu.
(63) ﴾ قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ ﴿ "Para utusan menjawab, 'Se-benarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan'," maksudnya, kami mendatangi kalian untuk me-nyiksa mereka, yaitu orang-orang yang meragukan kedatangan siksa dan mendustakan dirimu ketika engkau menjanjikan kepada mereka tentang kedatangannya.
(64) ﴾ وَأَتَيۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan kami datang kepadamu membawa kebe-naran", bukan barang guyonan ﴾ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ ﴿ "dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar", atas apa yang kami ucapkan.
(65) ﴾ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٖ مِّنَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu", yaitu di tengah malam, saat mata-mata terlelap, dan tidak ada seorang pun mengetahui perjalanan kalian di malam hari. ﴾ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٞ ﴿ "Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang", maksudnya, bahkan bergegas dan cepatlah ﴾ وَٱمۡضُواْ حَيۡثُ تُؤۡمَرُونَ ﴿ "dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu." Seakan-akan mereka disertai oleh seorang pemandu jalan yang menunjukkan ke mana mereka harus mengarahkan langkah.
(66) ﴾ وَقَضَيۡنَآ إِلَيۡهِ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu", maksudnya Kami telah menyampaikan kepadanya se-buah berita yang tidak ada duanya ﴾ أَنَّ دَابِرَ هَٰٓؤُلَآءِ مَقۡطُوعٞ مُّصۡبِحِينَ ﴿ "yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Shubuh." Siksa akan men-datangi mereka di waktu Shubuh, yang akan menimpa dan meng-habisi mereka secara tuntas.
(67-69) ﴾ وَجَآءَ أَهۡلُ ٱلۡمَدِينَةِ ﴿ "Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth)", yaitu kota tempat Nabi Luth berada[11] ﴾ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "dengan gembira (karena kedatangan tamu-tamu itu)," maksudnya mereka sa-ling menyampaikan kabar gembira kepada sebagian lainnya ten-tang tamu-tamu Nabi Luth, ketampanan wajah mereka dan kemam-puan mereka untuk dapat menguasai para tamu itu. Hal itu, lantaran mereka berniat untuk melangsungkan perbuatan keji terhadap para tamu itu. Orang-orang itu datang dan sampai ke rumah Nabi Luth. Mereka mulai membujuk Nabi Luth supaya menyerahkan tamu-tamunya. Sedangkan Nabi Luth benar-benar memohon perlindungan (kepada Allah) dari mereka seraya berkata, ﴾ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيۡفِي فَلَا تَفۡضَحُونِ 68 وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ 69 ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka jangan-lah kamu memberi malu (kepadaku). Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu membuat aku terhina," maksudnya yakinilah pertama-tama bahwa Allah itu mengawasi kalian. Jika memang tidak ada rasa takut pada kalian kepada Allah, maka janganlah kalian mem-permalukan aku di hadapan tamu-tamuku dan selanjutnya kalian melakukan perbuatan yang bejat dengan mereka.
(70) Maka ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata", untuk menjawab perka-taan Luth yang berbunyi, ﴾ وَلَا تُخۡزُونِ ﴿ "dan janganlah kalian membuat aku terhina", ini saja (permintaanku). ﴾ أَوَلَمۡ نَنۡهَكَ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan bukan-kah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?", menerima mereka sebagai tamu. Padahal kami telah memperingatkan engkau, dan barangsiapa yang memperingatkan, maka sungguh ia sudah memberikan toleransi.
(71-72) ﴾ قَالَ ﴿ "Luth berkata", kepada mereka lantaran se-makin gentingnya keadaan yang menghimpitnya, ﴾ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِيٓ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ﴿ "Inilah putri-putri (negeri)ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)", mereka tidak mempedulikan penuturan-nya. Karena itu, Allah berkata kepada RasulNya, Muhammad, ﴾ لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴿ "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)", kemabukan (mereka) ini, adalah mabuk cinta untuk melakukan perbuatan keji yang mana mereka itu sudah tidak mempedulikan cercaan dan cela-an atas perbuatan itu.
(73) Maka, setelah para utusan itu menjelaskan jati diri me-reka kepada Luth, hilanglah apa yang dirasakan olehnya, berupa kesempitan dan kesulitan. Dia pun menaati perintah Rabbnya dan berjalan di malam hari bersama para pengikutnya. Mereka pun akhirnya selamat. Sementara itu, penduduk daerah tersebut, ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ﴿ "maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit," yaitu ketika matahari terbit, hukuman semakin dahsyat atas diri mereka.
(74) ﴾ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا ﴿ "Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah", maksudnya Kami telah menjungkirbalikkan kota mereka, ﴾ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٍ ﴿ "dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras", batu-batu itu menguntit orang-orang yang berlarian (tanpa arah) di tempat itu.
(75) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّلۡمُتَوَسِّمِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda," yaitu bagi orang-orang yang mere-nung lagi berpikir yang mereka itu memiliki daya tangkap pikiran, ketenangan dan firasat yang menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami misi (hikmah) yang dimaksudkan pada kejadian tersebut, yaitu bahwa orang-orang yang lancang untuk berbuat maksiat ke-pada Allah, terutama praktik keji yang fatal ini, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang me-ngerikan, sebagaimana mereka telah berbuat lancang mengerjakan kesalahan yang sangat bejat.
(76) ﴾ وَإِنَّهَا ﴿ "Dan sesungguhnya kota itu", yaitu kota Nabi Luth, ﴾ لَبِسَبِيلٖ مُّقِيمٍ ﴿ "benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui ma-nusia)," pada (jalan) yang dilewati orang-orang. Setiap orang yang suka mondar-mandir akan melewati kota tersebut akan mengetahui.
(77) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." Dalam kisah ini terkandung berbagai macam pela-jaran penting, (di antaranya): Perhatian Allah تعالى kepada kekasih-Nya, Ibrahim, karena Nabi Luth عليه السلام termasuk pengikut beliau, dan orang yang beriman kepada beliau. Seolah-olah menjadi muridnya. Maka, ketika Allah berkehendak untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, saat mereka berhak mendapatkan balasan itu, maka Allah memerintahkan para utusanNya (malaikat) untuk mampir ke Nabi Ibrahim عليه السلام guna menyampaikan kabar gembira (mengenai kela-hiran) seorang anak dan memberitahukan kepada beliau misi peng-utusan mereka, hingga akhirnya beliau mempersoalkan kepada mereka tentang pemusnahan kaum Luth. Sampai akhirnya, para malaikat berhasil menyampaikan jawaban yang memuaskan kepada beliau, dan jiwa beliau pun lega. Begitu pula Luth 'عليه السلام. Saat mereka itu (kaum yang akan ditimpa siksa) adalah penduduk negerinya, mungkin saja rasa iba dan kasihan kepada mereka mengendalikan perasaannya. Maka, Allah menakdirkan sebab kausalitas yang mem-buatnya semakin marah dan geram (terhadap kaumnya), sampai beliau pun menganggap waktu kedatangan pemusnahan mereka terlalu lama, ketika disampaikan kepada beliau bahwa, ﴾ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٖ 81 ﴿ "Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah waktu Shubuh. Bukankah waktu Shubuh itu sudah dekat?" (Hud: 81). Pelajaran yang lain, bahwasanya Allah تعالى jika berkehendak untuk membinasakan suatu daerah, maka keburukan dan sifat me-lampaui batas mereka semakin menggila. Jika sudah sampai ambang batas, maka Allah menjatuhkan hukuman-hukuman yang pantas mereka terima.
Al-Hijr 15:78
"Dan sesungguhnya dahulu penduduk Aikah itu benar-benar kaum yang zhalim. Maka Kami membinasakan mereka. Dan sesung-guhnya kedua kota itu benar-benar terletak di jalan umum yang terang." (Al-Hijr: 78-79).
(78) Mereka adalah kaum Nabi Syu'aib, Allah menceritakan potret mereka dan menisbatkan mereka dengan nama al-Aikah. Yaitu, sebuah kebun yang banyak pepohonannya. Tujuannya, untuk mengingatkan mereka tentang kenikmatan Allah pada mereka dan (mengingatkan bahwa) mereka belum menjalankannya. Bahkan telah datang kepada mereka Nabi Syu'aib. Dia menyeru mereka kepada tauhid dan meninggalkan praktik kezhaliman kepada sesama manusia dalam takaran-takaran dan penimbangan-penimbangan. Dia mengobati mereka di atas dakwah itu dengan intensif. Namun, mereka tetap saja berkutat pada kezhaliman mereka terhadap hak Pencipta mereka dan hak sesama manusia. Oleh karena itu, di sini Allah melekatkan sifat zhalim pada diri mereka.
(79) ﴾ فَٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ ﴿ "Maka Kami membinasakan mereka", maka azab dari (Allah) membinasakan mereka pada hari yang dinaungi oleh mendung. Sesungguhnya itu adalah siksa pada hari yang dahsyat. ﴾ وَإِنَّهُمَا ﴿ "Sesungguhnya kedua kota itu", perkampungan kaum Luth dan para pemilik al-Aikah ﴾ لَبِإِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "benar-benar terletak di jalan umum yang terang", maksudnya berada di jalan yang jelas, dilalui oleh para musafir setiap saat. Di antara peninggalan mereka ter-dapat obyek yang jelas dapat disaksikan oleh mata penglihatan, sehingga orang-orang yang berakal (dapat) mengambil pelajaran dengannya.
Al-Hijr 15:79
"Dan sesungguhnya dahulu penduduk Aikah itu benar-benar kaum yang zhalim. Maka Kami membinasakan mereka. Dan sesung-guhnya kedua kota itu benar-benar terletak di jalan umum yang terang." (Al-Hijr: 78-79).
(78) Mereka adalah kaum Nabi Syu'aib, Allah menceritakan potret mereka dan menisbatkan mereka dengan nama al-Aikah. Yaitu, sebuah kebun yang banyak pepohonannya. Tujuannya, untuk mengingatkan mereka tentang kenikmatan Allah pada mereka dan (mengingatkan bahwa) mereka belum menjalankannya. Bahkan telah datang kepada mereka Nabi Syu'aib. Dia menyeru mereka kepada tauhid dan meninggalkan praktik kezhaliman kepada sesama manusia dalam takaran-takaran dan penimbangan-penimbangan. Dia mengobati mereka di atas dakwah itu dengan intensif. Namun, mereka tetap saja berkutat pada kezhaliman mereka terhadap hak Pencipta mereka dan hak sesama manusia. Oleh karena itu, di sini Allah melekatkan sifat zhalim pada diri mereka.
(79) ﴾ فَٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ ﴿ "Maka Kami membinasakan mereka", maka azab dari (Allah) membinasakan mereka pada hari yang dinaungi oleh mendung. Sesungguhnya itu adalah siksa pada hari yang dahsyat. ﴾ وَإِنَّهُمَا ﴿ "Sesungguhnya kedua kota itu", perkampungan kaum Luth dan para pemilik al-Aikah ﴾ لَبِإِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "benar-benar terletak di jalan umum yang terang", maksudnya berada di jalan yang jelas, dilalui oleh para musafir setiap saat. Di antara peninggalan mereka ter-dapat obyek yang jelas dapat disaksikan oleh mata penglihatan, sehingga orang-orang yang berakal (dapat) mengambil pelajaran dengannya.
Al-Hijr 15:80
"Dan sesungguhnya penduduk kota al-Hijr telah mendustakan rasul-rasul, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling darinya, dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi. Maka apa yang telah mereka usa-hakan tak dapat menolong mereka." (Al-Hijr: 80-84).
(80) Allah تعالى memberitahukan tentang penduduk kota al-Hijr.[12] Mereka adalah kaum Nabi Shaleh, yang tinggal di al-Hijr yang sudah tidak asing lagi di daerah Hijaz. Mereka itu telah mendustakan para rasul. Maksudnya, mendustakan Nabi Shaleh. Barangsiapa telah mendustakan seorang rasul, maka sungguh ia telah mendustakan semua rasul, lantaran kesesuaian (substansi) dakwah mereka. Pendustaan mereka bukan kepada personelnya, akan tetapi terhadap kebenaran yang mereka bawa yang seluruh rasul ikut serta berpartisipasi mengembannya.
(81) ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُمۡ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami", yang menjadi bukti petunjuk akan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Shaleh kepada mereka, terma-suk dalam contohnya, seekor unta yang menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah yang agung. ﴾ فَكَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Tetapi mereka selalu berpaling darinya", karena sifat takabur dan arogansi kepada Allah.
(82) ﴾ وَكَانُواْ ﴿ "Dan mereka", karena melimpahnya kenikmatan Allah pada mereka, ﴾ يَنۡحِتُونَ مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتًا ءَامِنِينَ ﴿ "memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman", dari segala yang menakutkan, mereka tentram di kediaman-kediaman mereka. Sekiranya mereka mensyukuri nikmat Allah dan membenarkan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, tentu Allah mengguyurkan rizki pada mereka, dan pasti memuliakan mereka dengan aneka pahala cepat (di dunia) dan pahala yang ditangguhkan (di akhirat). Akan tetapi, mereka justru mendustakan (Shaleh) dan (nekat) menyembelih unta serta semakin menentang perintah Rabb mereka. Seraya berkata, ﴾ يَٰصَٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 77 ﴿ "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." (Al-A'raf: 77).
(83) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُصۡبِحِينَ ﴿ "Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi", hati-hati mereka hancur-lebur di rongga-rongga lambung mereka. Pagi hari itu, mereka binasa, disertai dengan kehinaan dan laknat pada mereka.[13]
(84) ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Maka apa yang telah mereka usahakan tak dapat menolong mereka," karena keputusan Allah, jika sudah da-tang, tidak bisa ditolak oleh pasukan yang banyak ataupun kekuat-an para pendukung maupun melimpahnya harta kekayaan.
Al-Hijr 15:81
"Dan sesungguhnya penduduk kota al-Hijr telah mendustakan rasul-rasul, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling darinya, dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi. Maka apa yang telah mereka usa-hakan tak dapat menolong mereka." (Al-Hijr: 80-84).
(80) Allah تعالى memberitahukan tentang penduduk kota al-Hijr.[12] Mereka adalah kaum Nabi Shaleh, yang tinggal di al-Hijr yang sudah tidak asing lagi di daerah Hijaz. Mereka itu telah mendustakan para rasul. Maksudnya, mendustakan Nabi Shaleh. Barangsiapa telah mendustakan seorang rasul, maka sungguh ia telah mendustakan semua rasul, lantaran kesesuaian (substansi) dakwah mereka. Pendustaan mereka bukan kepada personelnya, akan tetapi terhadap kebenaran yang mereka bawa yang seluruh rasul ikut serta berpartisipasi mengembannya.
(81) ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُمۡ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami", yang menjadi bukti petunjuk akan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Shaleh kepada mereka, terma-suk dalam contohnya, seekor unta yang menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah yang agung. ﴾ فَكَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Tetapi mereka selalu berpaling darinya", karena sifat takabur dan arogansi kepada Allah.
(82) ﴾ وَكَانُواْ ﴿ "Dan mereka", karena melimpahnya kenikmatan Allah pada mereka, ﴾ يَنۡحِتُونَ مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتًا ءَامِنِينَ ﴿ "memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman", dari segala yang menakutkan, mereka tentram di kediaman-kediaman mereka. Sekiranya mereka mensyukuri nikmat Allah dan membenarkan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, tentu Allah mengguyurkan rizki pada mereka, dan pasti memuliakan mereka dengan aneka pahala cepat (di dunia) dan pahala yang ditangguhkan (di akhirat). Akan tetapi, mereka justru mendustakan (Shaleh) dan (nekat) menyembelih unta serta semakin menentang perintah Rabb mereka. Seraya berkata, ﴾ يَٰصَٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 77 ﴿ "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." (Al-A'raf: 77).
(83) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُصۡبِحِينَ ﴿ "Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi", hati-hati mereka hancur-lebur di rongga-rongga lambung mereka. Pagi hari itu, mereka binasa, disertai dengan kehinaan dan laknat pada mereka.[13]
(84) ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Maka apa yang telah mereka usahakan tak dapat menolong mereka," karena keputusan Allah, jika sudah da-tang, tidak bisa ditolak oleh pasukan yang banyak ataupun kekuat-an para pendukung maupun melimpahnya harta kekayaan.
Al-Hijr 15:82
"Dan sesungguhnya penduduk kota al-Hijr telah mendustakan rasul-rasul, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling darinya, dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi. Maka apa yang telah mereka usa-hakan tak dapat menolong mereka." (Al-Hijr: 80-84).
(80) Allah تعالى memberitahukan tentang penduduk kota al-Hijr.[12] Mereka adalah kaum Nabi Shaleh, yang tinggal di al-Hijr yang sudah tidak asing lagi di daerah Hijaz. Mereka itu telah mendustakan para rasul. Maksudnya, mendustakan Nabi Shaleh. Barangsiapa telah mendustakan seorang rasul, maka sungguh ia telah mendustakan semua rasul, lantaran kesesuaian (substansi) dakwah mereka. Pendustaan mereka bukan kepada personelnya, akan tetapi terhadap kebenaran yang mereka bawa yang seluruh rasul ikut serta berpartisipasi mengembannya.
(81) ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُمۡ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami", yang menjadi bukti petunjuk akan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Shaleh kepada mereka, terma-suk dalam contohnya, seekor unta yang menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah yang agung. ﴾ فَكَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Tetapi mereka selalu berpaling darinya", karena sifat takabur dan arogansi kepada Allah.
(82) ﴾ وَكَانُواْ ﴿ "Dan mereka", karena melimpahnya kenikmatan Allah pada mereka, ﴾ يَنۡحِتُونَ مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتًا ءَامِنِينَ ﴿ "memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman", dari segala yang menakutkan, mereka tentram di kediaman-kediaman mereka. Sekiranya mereka mensyukuri nikmat Allah dan membenarkan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, tentu Allah mengguyurkan rizki pada mereka, dan pasti memuliakan mereka dengan aneka pahala cepat (di dunia) dan pahala yang ditangguhkan (di akhirat). Akan tetapi, mereka justru mendustakan (Shaleh) dan (nekat) menyembelih unta serta semakin menentang perintah Rabb mereka. Seraya berkata, ﴾ يَٰصَٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 77 ﴿ "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." (Al-A'raf: 77).
(83) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُصۡبِحِينَ ﴿ "Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi", hati-hati mereka hancur-lebur di rongga-rongga lambung mereka. Pagi hari itu, mereka binasa, disertai dengan kehinaan dan laknat pada mereka.[13]
(84) ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Maka apa yang telah mereka usahakan tak dapat menolong mereka," karena keputusan Allah, jika sudah da-tang, tidak bisa ditolak oleh pasukan yang banyak ataupun kekuat-an para pendukung maupun melimpahnya harta kekayaan.
Al-Hijr 15:83
"Dan sesungguhnya penduduk kota al-Hijr telah mendustakan rasul-rasul, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling darinya, dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi. Maka apa yang telah mereka usa-hakan tak dapat menolong mereka." (Al-Hijr: 80-84).
(80) Allah تعالى memberitahukan tentang penduduk kota al-Hijr.[12] Mereka adalah kaum Nabi Shaleh, yang tinggal di al-Hijr yang sudah tidak asing lagi di daerah Hijaz. Mereka itu telah mendustakan para rasul. Maksudnya, mendustakan Nabi Shaleh. Barangsiapa telah mendustakan seorang rasul, maka sungguh ia telah mendustakan semua rasul, lantaran kesesuaian (substansi) dakwah mereka. Pendustaan mereka bukan kepada personelnya, akan tetapi terhadap kebenaran yang mereka bawa yang seluruh rasul ikut serta berpartisipasi mengembannya.
(81) ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُمۡ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami", yang menjadi bukti petunjuk akan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Shaleh kepada mereka, terma-suk dalam contohnya, seekor unta yang menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah yang agung. ﴾ فَكَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Tetapi mereka selalu berpaling darinya", karena sifat takabur dan arogansi kepada Allah.
(82) ﴾ وَكَانُواْ ﴿ "Dan mereka", karena melimpahnya kenikmatan Allah pada mereka, ﴾ يَنۡحِتُونَ مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتًا ءَامِنِينَ ﴿ "memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman", dari segala yang menakutkan, mereka tentram di kediaman-kediaman mereka. Sekiranya mereka mensyukuri nikmat Allah dan membenarkan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, tentu Allah mengguyurkan rizki pada mereka, dan pasti memuliakan mereka dengan aneka pahala cepat (di dunia) dan pahala yang ditangguhkan (di akhirat). Akan tetapi, mereka justru mendustakan (Shaleh) dan (nekat) menyembelih unta serta semakin menentang perintah Rabb mereka. Seraya berkata, ﴾ يَٰصَٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 77 ﴿ "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." (Al-A'raf: 77).
(83) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُصۡبِحِينَ ﴿ "Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi", hati-hati mereka hancur-lebur di rongga-rongga lambung mereka. Pagi hari itu, mereka binasa, disertai dengan kehinaan dan laknat pada mereka.[13]
(84) ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Maka apa yang telah mereka usahakan tak dapat menolong mereka," karena keputusan Allah, jika sudah da-tang, tidak bisa ditolak oleh pasukan yang banyak ataupun kekuat-an para pendukung maupun melimpahnya harta kekayaan.
Al-Hijr 15:84
"Dan sesungguhnya penduduk kota al-Hijr telah mendustakan rasul-rasul, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling darinya, dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi. Maka apa yang telah mereka usa-hakan tak dapat menolong mereka." (Al-Hijr: 80-84).
(80) Allah تعالى memberitahukan tentang penduduk kota al-Hijr.[12] Mereka adalah kaum Nabi Shaleh, yang tinggal di al-Hijr yang sudah tidak asing lagi di daerah Hijaz. Mereka itu telah mendustakan para rasul. Maksudnya, mendustakan Nabi Shaleh. Barangsiapa telah mendustakan seorang rasul, maka sungguh ia telah mendustakan semua rasul, lantaran kesesuaian (substansi) dakwah mereka. Pendustaan mereka bukan kepada personelnya, akan tetapi terhadap kebenaran yang mereka bawa yang seluruh rasul ikut serta berpartisipasi mengembannya.
(81) ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُمۡ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami", yang menjadi bukti petunjuk akan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Shaleh kepada mereka, terma-suk dalam contohnya, seekor unta yang menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah yang agung. ﴾ فَكَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Tetapi mereka selalu berpaling darinya", karena sifat takabur dan arogansi kepada Allah.
(82) ﴾ وَكَانُواْ ﴿ "Dan mereka", karena melimpahnya kenikmatan Allah pada mereka, ﴾ يَنۡحِتُونَ مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتًا ءَامِنِينَ ﴿ "memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman", dari segala yang menakutkan, mereka tentram di kediaman-kediaman mereka. Sekiranya mereka mensyukuri nikmat Allah dan membenarkan nabi mereka, Shaleh عليه السلام, tentu Allah mengguyurkan rizki pada mereka, dan pasti memuliakan mereka dengan aneka pahala cepat (di dunia) dan pahala yang ditangguhkan (di akhirat). Akan tetapi, mereka justru mendustakan (Shaleh) dan (nekat) menyembelih unta serta semakin menentang perintah Rabb mereka. Seraya berkata, ﴾ يَٰصَٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 77 ﴿ "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." (Al-A'raf: 77).
(83) ﴾ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُصۡبِحِينَ ﴿ "Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi", hati-hati mereka hancur-lebur di rongga-rongga lambung mereka. Pagi hari itu, mereka binasa, disertai dengan kehinaan dan laknat pada mereka.[13]
(84) ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Maka apa yang telah mereka usahakan tak dapat menolong mereka," karena keputusan Allah, jika sudah da-tang, tidak bisa ditolak oleh pasukan yang banyak ataupun kekuat-an para pendukung maupun melimpahnya harta kekayaan.
Al-Hijr 15:85
"Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar-benar. Dan sesungguhnya saat (Kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkan-lah (mereka) dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui." (Al-Hijr: 85-86).
(85) Maksudnya, Kami tidaklah menciptakan keduanya dengan sia-sia lagi batil, sebagaimana persangkaan para musuh Allah. Bahkan Kami tidaklah menciptakan keduanya ﴾ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۗ ﴿ "me-lainkan dengan benar-benar", yang dari kebenaran itu (diharapkan) agar keduanya dan seisinya menjadi petunjuk atas kesempurnaan Pencipta keduanya, kekuasaanNya serta keluasan rahmatNya, hik-mahNya, dan ilmuNya yang meliputi (segala sesuatu). Dan (menun-jukkan) bahwa Dia-lah yang tidak sepatutnya ibadah dikerjakan kecuali untukNya, tiada sekutu bagiNya. ﴾ وَإِنَّ ٱلسَّاعَةَ لَأٓتِيَةٞۖ ﴿ "Dan sesungguhnya saat (Kiamat) itu pasti akan datang", tidak disangsikan lagi, sungguh penciptaan langit dan bumi lebih dahsyat dibandingkan sekedar penciptaan manusia. ﴾ فَٱصۡفَحِ ٱلصَّفۡحَ ٱلۡجَمِيلَ ﴿ "Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik", yaitu pemberian maaf yang tidak dibuntuti tindakan menyakiti (si penerima). Justru membalas sikap buruk orang dengan kebaikan, dosa dengan ampunan, agar engkau dapat menggapai pahala dan ganjaran besar dari Rabbmu. Sesungguhnya setiap sesuatu yang (pasti) datang berarti sudah dekat. Telah tersibak sebuah pengertian yang lebih baik dari pada yang sudah saya sebutkan (di atas), yakni perkara yang diperintah-kan adalah memberi maaf dengan cara yang baik. Artinya cara yang elegan yang terbebas dari unsur kedengkian dan gangguan dalam bentuk ucapan maupun tindakan, bukan pemberian maaf yang tidak baik. Yaitu pemberian maaf yang tidak pada tempatnya. Maka, tidak boleh diberikan maaf ketika keadaan menuntut penerapan hukuman. Semisal menghukum orang-orang yang melampaui batas, lagi berbuat aniaya yang tidak ada terapi yang bermanfaat bagi mereka kecuali penjatuhan hukuman (pada diri mereka). Inilah mak-na yang saya maksud.
(86) ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta", yang menciptakan segala makhluk ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "lagi Maha Mengetahui", segala sesuatu. Tidak ada seorang pun yang sanggup menghalangi Allah dari segala yang diliputi oleh ilmuNya, dan berjalan di atas penciptaanNya. Itu berlaku pada seluruh benda yang ada.
Al-Hijr 15:86
"Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar-benar. Dan sesungguhnya saat (Kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkan-lah (mereka) dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui." (Al-Hijr: 85-86).
(85) Maksudnya, Kami tidaklah menciptakan keduanya dengan sia-sia lagi batil, sebagaimana persangkaan para musuh Allah. Bahkan Kami tidaklah menciptakan keduanya ﴾ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۗ ﴿ "me-lainkan dengan benar-benar", yang dari kebenaran itu (diharapkan) agar keduanya dan seisinya menjadi petunjuk atas kesempurnaan Pencipta keduanya, kekuasaanNya serta keluasan rahmatNya, hik-mahNya, dan ilmuNya yang meliputi (segala sesuatu). Dan (menun-jukkan) bahwa Dia-lah yang tidak sepatutnya ibadah dikerjakan kecuali untukNya, tiada sekutu bagiNya. ﴾ وَإِنَّ ٱلسَّاعَةَ لَأٓتِيَةٞۖ ﴿ "Dan sesungguhnya saat (Kiamat) itu pasti akan datang", tidak disangsikan lagi, sungguh penciptaan langit dan bumi lebih dahsyat dibandingkan sekedar penciptaan manusia. ﴾ فَٱصۡفَحِ ٱلصَّفۡحَ ٱلۡجَمِيلَ ﴿ "Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik", yaitu pemberian maaf yang tidak dibuntuti tindakan menyakiti (si penerima). Justru membalas sikap buruk orang dengan kebaikan, dosa dengan ampunan, agar engkau dapat menggapai pahala dan ganjaran besar dari Rabbmu. Sesungguhnya setiap sesuatu yang (pasti) datang berarti sudah dekat. Telah tersibak sebuah pengertian yang lebih baik dari pada yang sudah saya sebutkan (di atas), yakni perkara yang diperintah-kan adalah memberi maaf dengan cara yang baik. Artinya cara yang elegan yang terbebas dari unsur kedengkian dan gangguan dalam bentuk ucapan maupun tindakan, bukan pemberian maaf yang tidak baik. Yaitu pemberian maaf yang tidak pada tempatnya. Maka, tidak boleh diberikan maaf ketika keadaan menuntut penerapan hukuman. Semisal menghukum orang-orang yang melampaui batas, lagi berbuat aniaya yang tidak ada terapi yang bermanfaat bagi mereka kecuali penjatuhan hukuman (pada diri mereka). Inilah mak-na yang saya maksud.
(86) ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta", yang menciptakan segala makhluk ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "lagi Maha Mengetahui", segala sesuatu. Tidak ada seorang pun yang sanggup menghalangi Allah dari segala yang diliputi oleh ilmuNya, dan berjalan di atas penciptaanNya. Itu berlaku pada seluruh benda yang ada.
Al-Hijr 15:87
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Al-Hijr 15:88
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Al-Hijr 15:89
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Al-Hijr 15:90
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Al-Hijr 15:91
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Al-Hijr 15:92
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Al-Hijr 15:93
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Al-Hijr 15:94
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Al-Hijr 15:95
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Al-Hijr 15:96
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Al-Hijr 15:97
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Al-Hijr 15:98
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Al-Hijr 15:99
"Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur`an yang agung. Dan jangan-lah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.' Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi. Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (keja-hatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit di-sebabkan perkataan yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah de-ngan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin (ajal)." (Al-Hijr: 87-99).
(87) Allah تعالى menyebutkan kenikmatanNya yang tercurah-kan kepada RasulNya, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang", yang dimaksud dengan tujuh ini menurut pendapat yang shahih adalah tujuh surat yang terpanjang yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa`, al-Ma`idah, al-An'am, al-A'raf, al-Anfal dan at-Taubah. Atau maksudnya surat al-Fatihah, karena berjumlah tujuh ayat. Maka, kata penghubung pada ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ ﴿ "dan al-Qur`an yang agung", termasuk kategori pengaitan lafazh yang umum (al-Qur`an) pada kata yang lebih khusus, lantaran di dalam "Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang" terdapat banyak muatan tauhid, ilmu-ilmu ghaib dan hukum-hukum yang agung serta pengulangan-pengulangannya. Sedangkan menurut pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itulah sab'u al-matsani, maka maknanya ia berjumlah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dalam setiap rakaat.
(88) Jika Allah telah memberikan kepada beliau karunia berupa al-Qur`an yang agung beserta sab'ul matsani, berarti sungguh Allah telah menganugerahkan anugerah paling utama yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang yang berlomba (dalam kebaikan) dan karunia terbesar yang membuat kaum Mukminin riang-gembira. ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ 58 ﴿ "Dan katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya,' hendak-lah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Yunus: 58). Oleh karena itu, berikutnya Allah berfirman, ﴾ لَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan panda-nganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka (orang-orang kafir itu)", janganlah engkau terpa-nah dengan ketakjuban yang mendorongmu menyibukkan diri untuk berpikir tentang godaan syahwat duniawi yang sedang di-nikmati oleh kaum hedonisme dan menjadikan orang-orang bodoh tertipu (dengan mereka). Merasa cukuplah dengan pemberian Allah bagimu, berupa matsani dan al-Qur`an yang agung. ﴾ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka", karena tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka dan tiada faidah yang bisa ditunggu-tunggu dari mereka. Engkau mendapatkan ganti dari kalangan kaum Mukminin yang lebih baik dan lebih utama. ﴾ وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman", lembutkanlah sikapmu pada mereka dan perbaikilah perilakumu dengan mereka sebagai bentuk kecintaan, pemuliaan, dan kasih sayang.
(89) ﴾ وَقُلۡ إِنِّيٓ أَنَا ٱلنَّذِيرُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan katakanlah, 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan'," maksudnya laksanakan kewajibanmu berupa memberi peringatan, menjalankan risalah, menyampaikan kepada orang terdekat dan jauh, musuh dan kawan baik. Karena engkau jika mengerjakannya, maka tidak ada tanggu-ngan sedikit pun tentang mereka atas dirimu, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu.
(90) FirmanNya, ﴾ كَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَى ٱلۡمُقۡتَسِمِينَ ﴿ "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), maka Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah)," maksudnya sebagaimana Kami telah menurunkan hukuman kepada orang-orang yang mem-bagi-bagi (kitab Allah) untuk menggugurkan risalah yang engkau bawa dan berusaha mengganjal orang-orang dari jalan Allah.
(91) ﴾ ٱلَّذِينَ جَعَلُواْ ٱلۡقُرۡءَانَ عِضِينَ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah men-jadikan al-Qur`an itu terbagi-bagi," yaitu menjadi berbagai jenis, ba-gian, potongan-potongan, mereka mengotak-atiknya sesuai keingin-an mereka. Di antara mereka ada yang berkomentar itu adalah sihir. Sebagian mengatakan, "Itu adalah mantra perdukunan." Sebagian yang lain menilai sebagai perkataan yang dibuat-buat… dan omo-ngan-omongan orang-orang kafir yang lain yang mendustakan al-Qur`an yang menuangkan celaan mereka pada al-Qur`an, untuk menghalangi manusia dari petunjuk.
(92-93) ﴾ فَوَرَبِّكَ لَنَسۡـَٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua," yaitu seluruh orang yang mencercanya, mencelanya, dan mengotak-atik serta merubahnya. ﴾ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Ten-tang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." Dalam ayat ini, terdapat ancaman dan celaan keras terhadap mereka dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
(94) Kemudian, Allah memerintahkan RasulNya untuk tidak mempedulikan mereka dan selain mereka. Allah memerintahkan untuk menerangkan risalah yang diperintahkan olehNya dan men-sosialisasikannya kepada setiap orang, sehingga tidak ada penghalang yang menghadang beliau untuk menyampaikan perintahNya dan tidak ada komentar-komentar kaum yang melampaui batas yang menghentikan beliau ﴾ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik," maksudnya janganlah engkau memperhatikan mereka. Tinggalkan celaan dan cercaan kepada mereka untuk kon-sentrasi pada tugasmu.
(95) ﴾ إِنَّا كَفَيۡنَٰكَ ٱلۡمُسۡتَهۡزِءِينَ ﴿ "Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan", terhadapmu dan Risalah yang engkau bawa. Ini menjadi janji dari Allah bagi rasulNya, bahwa kaum yang mencemooh beliau tidak akan mem-bahayakan beliau, dan cukuplah Allah yang akan menangani mereka untukmu dengan cara hukuman yang Dia kehendaki. Sungguh Allah تعالى telah melakukannya, karena tidak ada seorang pun yang menampakkan penghinaan kepada diri Rasulullah dan risalah yang beliau bawa melainkan pasti Allah membinasakannya dan meng-habisinya dengan cara yang mengerikan.
(96) Kemudian Allah menceritakan karakteristik mereka, bah-wa sebagaimana mereka itu melancarkan gangguan kepada engkau wahai Rasulullah, maka mereka itu juga menyakiti A l l a h ﴾ ٱلَّذِينَ يَجۡعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَۚ ﴿ "yaitu orang-orang yang menganggap adanya ilah yang lain di samping Allah", padahal Dia-lah Rabb mereka, Pencipta me-reka dan Pengatur mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka mereka kelak akan mengetahui", akibat-akibat ulah mereka saat berada di Hari Kiamat.
(97) ﴾ وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ ﴿ "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan perkataan yang mereka ucapkan", tentang dirimu berupa pendustaan dan olokan. Kami mampu untuk menghabisi mereka sampai tuntas dengan sik-saan dan sanggup menyegerakan hukuman bagi mereka dengan hukuman yang pantas mereka dapatkan. Akan tetapi, Allah sedang memberikan penangguhan bagi mereka, tetapi tidak melupakan mereka.
(98) Wahai Muhammad, ﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ ﴿ "maka ber-tasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat)," perbanyaklah mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid dan bershalawat. Sesungguhnya itu akan melapang-kan dadamu dan melebarkannya serta membantumu dalam men-jalankan urusan-urusanmu.
(99) ﴾ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ ﴿ "Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-Yaqin,' yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, konti-nyulah engkau untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah di setiap waktu. Maka, beliau menaati perintah Rabb-nya dan senantiasa membiasakan beribadah sampai datang al-Yaqin (ajal) dari Rabbnya. Semoga salam selalu tercurahkan kepada beliau dengan melimpah.
Tafsir surat al-Hijr sudah tuntas. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
An-Nahl 16:1
"Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta-minta agar disegerakan (datang)nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan. Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintahNya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, yaitu, 'Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka hendak-lah kamu bertakwa kepadaKu'." (An-Nahl: 1-2).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"
(1) Allah تعالى berfirman dalam rangka mendekatkan (waktu) kedatangan ketetapanNya yang telah Dia janjikan dan memastikan kejadiannya, ﴾ أَتَىٰٓ أَمۡرُ ٱللَّهِ فَلَا تَسۡتَعۡجِلُوهُۚ ﴿ "Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta-minta agar disegerakan (datang)nya," sesungguhnya ia akan tiba. Dan setiap sesuatu yang pasti datang, berarti dekat. ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan," yang berbentuk penisbatan sekutu, anak, istri, padanan, dan lain sebagainya, yang dilekatkan oleh kaum musyrikin kepada Allah, yang tidak pantas dengan keagungan Allah dan menafikan kesempurnaanNya.
(2) Sesudah Allah menyucikan diriNya dari sifat-sifat yang disandangkan oleh para musuhNya bagiNya, maka Allah menye-butkan wahyu yang Dia turunkan kepada para nabiNya, yang mesti diikuti dalam aspek penyebutan sifat-sifat kesempurnaan yang dinisbatkan kepada Allah. Allah berfirman, ﴾ يُنَزِّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ بِٱلرُّوحِ مِنۡ أَمۡرِهِۦ ﴿ "Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan pe-rintahNya" yaitu dengan wahyu yang menjadi sumber kehidupan jiwa-jiwa manusia, ﴾ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ ﴿ "kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya," yaitu insan-insan yang Allah ketahui layak mengemban risalahNya. Dan substansi dakwah dan protes para rasul secara keseluruh-an tertuang pada FirmanNya, ﴾ أَنۡ أَنذِرُوٓاْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ ﴿ "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku," yaitu bertumpu pada ma'rifatullah (pengenalan Allah) تعالى, pengesaanNya dalam sifat-sifat keagungan yang meru-pakan sifat-sifat uluhiyah (ketuhanan), dan peribadahan kepadaNya semata tidak ada sekutu bagiNya. Inilah alasan mengapa Allah menurunkan kitab-kitabNya, mengutus para rasul dan menggaris-kan (aturan-aturan) seluruh syariat yang menyeru dan mengarah-kan kepadanya, melawan pihak-pihak yang memerangi dan melan-carkan perlawanan terhadapnya. 9
Berikutnya, Allah menerangkan bukti-bukti yang menguatkan hal itu. Allah berfirman,
Surat ini dinamakan juga dengan nama surat an-Ni'am (nikmat-nikmat). Karena Allah menyebutkan inti-inti kenikmatan dan pon-dasi-pondasinya di bagian awalnya. Sementara di penghujung surat, Dia (memerinci) pelengkap dan penyempurna kenikmatan itu.
An-Nahl 16:2
"Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta-minta agar disegerakan (datang)nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan. Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintahNya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, yaitu, 'Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka hendak-lah kamu bertakwa kepadaKu'." (An-Nahl: 1-2).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"
(1) Allah تعالى berfirman dalam rangka mendekatkan (waktu) kedatangan ketetapanNya yang telah Dia janjikan dan memastikan kejadiannya, ﴾ أَتَىٰٓ أَمۡرُ ٱللَّهِ فَلَا تَسۡتَعۡجِلُوهُۚ ﴿ "Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta-minta agar disegerakan (datang)nya," sesungguhnya ia akan tiba. Dan setiap sesuatu yang pasti datang, berarti dekat. ﴾ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan," yang berbentuk penisbatan sekutu, anak, istri, padanan, dan lain sebagainya, yang dilekatkan oleh kaum musyrikin kepada Allah, yang tidak pantas dengan keagungan Allah dan menafikan kesempurnaanNya.
(2) Sesudah Allah menyucikan diriNya dari sifat-sifat yang disandangkan oleh para musuhNya bagiNya, maka Allah menye-butkan wahyu yang Dia turunkan kepada para nabiNya, yang mesti diikuti dalam aspek penyebutan sifat-sifat kesempurnaan yang dinisbatkan kepada Allah. Allah berfirman, ﴾ يُنَزِّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ بِٱلرُّوحِ مِنۡ أَمۡرِهِۦ ﴿ "Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan pe-rintahNya" yaitu dengan wahyu yang menjadi sumber kehidupan jiwa-jiwa manusia, ﴾ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ ﴿ "kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya," yaitu insan-insan yang Allah ketahui layak mengemban risalahNya. Dan substansi dakwah dan protes para rasul secara keseluruh-an tertuang pada FirmanNya, ﴾ أَنۡ أَنذِرُوٓاْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ ﴿ "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku," yaitu bertumpu pada ma'rifatullah (pengenalan Allah) تعالى, pengesaanNya dalam sifat-sifat keagungan yang meru-pakan sifat-sifat uluhiyah (ketuhanan), dan peribadahan kepadaNya semata tidak ada sekutu bagiNya. Inilah alasan mengapa Allah menurunkan kitab-kitabNya, mengutus para rasul dan menggaris-kan (aturan-aturan) seluruh syariat yang menyeru dan mengarah-kan kepadanya, melawan pihak-pihak yang memerangi dan melan-carkan perlawanan terhadapnya. 9
Berikutnya, Allah menerangkan bukti-bukti yang menguatkan hal itu. Allah berfirman,
Surat ini dinamakan juga dengan nama surat an-Ni'am (nikmat-nikmat). Karena Allah menyebutkan inti-inti kenikmatan dan pon-dasi-pondasinya di bagian awalnya. Sementara di penghujung surat, Dia (memerinci) pelengkap dan penyempurna kenikmatan itu.
An-Nahl 16:3
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Mahatinggi Allah daripada sesuatu yang mereka persekutukan. Dia telah men-ciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kan-dang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukar-an (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan (Dia telah mencipta-kan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui. Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjuk kamu semuanya (ke-pada jalan yang benar)." (An-Nahl: 3-9).
(3) Allah memberitahukan bahwasanya, ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq," supaya hamba-hambaNya menjadikan keduanya sebagai bukti keagungan Sang Pencipta keduanya, dan sifat-sifat kesempurnaan milikNya, serta agar mereka mengetahui bahwa Dia menciptakan keduanya untuk tempat kediaman bagi hamba-hambaNya yang menyembahNya berdasarkan sesuatu yang Allah titahkan kepada mereka, berupa aturan-aturan syariat yang Allah turunkan melalui keterangan para RasulNya. Untuk itu, Dia menyucikan diriNya dari bentuk syirik kaum yang musyrikin yang menyekutukan (sesuatu) denganNya. Allah berfirman, ﴾ تَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahatinggi Allah daripada se-suatu yang mereka persekutukan," maksudnya Allah berlepas diri dan Mahaagung dari kesyirikan mereka. Sesungguhnya Dia adalah tuhan yang sebenarnya. Tidak seyogyanya peribadahan, mahabbah (rasa kecintaan), dan ketundukan diperuntukkan melainkan kepada-Nya تعالى.
(4) Usai membicarakan penciptaan langit (dan bumi), Allah menyebutkan penciptaan segenap makhluk yang menghuni kedua-nya. Dia mengawalinya dengan ciptaan yang termulia, yaitu ma-nusia. Allah berfirman, ﴾ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "Dia telah menciptakan manusia dari mani," Allah senantiasa mengatur, menumbuhkan dan mengembangkan (nuthfah tersebut) sampai menjadi manusia yang sempurna, lengkap anggota-anggota tubuh luar ataupun dalam-nya. Dia telah memolesnya dengan beragam karunia yang melimpah. Sampai manakala ia telah menjelma manusia dewasa, maka ia mem-banggakan diri dan terpesona dengan dirinya. ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata." Maksud ayat ini bisa meng-arah kepada pengertian, yaitu tiba-tiba ia memusuhi Rabbnya, mengingkariNya, menyanggah para RasulNya dan mendustakan ayat-ayatNya serta melupakan penciptaan dirinya pertama kali serta curahan kenikmatan Allah padanya. Ia justru memanfaatkan-nya untuk bermaksiat kepadaNya. Ayat tersebut juga mengandung pengertian makna, bahwasa-nya Allah menciptakan seorang manusia dari cairan mani. Selanjut-nya, Dia senantiasa mentransfernya dari satu fase menuju fase be-rikutnya sampai terbentuk manusia yang berakal lagi dapat berbicara, mempunyai akal dan pemikiran, yang bisa menentang dan mem-bantah. Maka hendaknya seorang hamba bersyukur kepada Rabb-nya yang telah mengantarkannya menuju kondisi demikian ini, yang sedikit pun dia tidak mempunyai kemampuan melakukan-nya sendiri.
(5) ﴾ وَٱلۡأَنۡعَٰمَ خَلَقَهَاۖ لَكُمۡ ﴿ "Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu," maksudnya bagi kalian dan untuk kemanfaatan dan kebaikan kalian. Di antara bentuk kegunaannya yang penting, ﴾ لَكُمۡ فِيهَا دِفۡءٞ ﴿ "padanya ada (bulu) yang menghangatkan," kalian mem-buat pakaian-pakaian, permadani dan rumah yang (bahan-bahan-nya) berasal dari bulu-bulu domba, kapas, rambut dan kulit-kulit-nya ﴾ و َ ﴿ "dan" bagi kalian ﴾ مَنَٰفِعَ ﴿ "berbagai jenis manfaat" yang lain-nya ﴾ وَمِنۡهَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "dan sebagiannya kamu makan."
(6) ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسۡرَحُونَ ﴿ "Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan", maksudnya pada waktu sore hari, saat istirahat dan diamnya serta waktu aktifitas dan berkeliarannya di tempat gembalaan. Lantaran pandangan yang indah itu tidak dirasakan oleh binatang tersebut sedikit pun. Kalianlah pihak yang memperindah diri dengannya sebagaimana kalian menghiasi diri dengan aneka pakaian, keber-adaan anak-anak dan harta kekayaan dan kalian terpesona dengan-nya.[14]
(7) ﴾ وَتَحۡمِلُ أَثۡقَالَكُمۡ ﴿ "Dan ia memikul beban-bebanmu," yaitu beban-beban yang berat, bahkan (juga) membawa kalian, ﴾ إِلَىٰ بَلَدٖ لَّمۡ تَكُونُواْ بَٰلِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ ٱلۡأَنفُسِۚ ﴿ "ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri," akan tetapi Allah menundukkan binatang-binatang tersebut bagi kalian. Di antaranya, terdapat binatang yang kalian tunggangi (sebagai kendaraan), dan ada pula yang kalian beri beban dengan barang-barang berat yang kalian inginkan, menuju negeri-negeri yang jauh dan wilayah-wilayah yang luas. ﴾ إِنَّ رَبَّكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang," lantaran menundukkan (fasilitas) bagi kalian yang memang sangat kalian perlukan dan butuhkan. BagiNya sanjungan, sesuai dengan keagungan WajahNya dan be-sarnya kekuasaanNya serta atas luasnya kemurahan dan kebaikan-Nya.
(8) ﴾ وَٱلۡخَيۡلَ وَٱلۡبِغَالَ وَٱلۡحَمِيرَ ﴿ "Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai," Kami menundukkannya bagi kalian ﴾ لِتَرۡكَبُوهَا وَزِينَةٗۚ ﴿ "agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan," maksudnya suatu waktu, kalian menggunakannya untuk keperluan tunggangan, kadang-kadang memfungsikannya untuk keindahan dan perhiasan. Manfaat konsumsi tidak disebutkan (oleh Allah) karena bagal (per-anakan kuda dan keledai) dan keledai haram dikonsumsi. Sedang-kan kuda, pada umumnya tidak dimanfaatkan untuk di konsumsi. Bahkan muncul larangan penyembelihannya untuk tujuan konsumsi, karena dikhawatirkan akan menyebabkan kelangkaannya. Dan bila bukan karena (alasan ini), maka sebetulnya terdapat riwayat dalam ash-Shahihain, bahwasanya Nabi mengizinkan (mengonsumsi) daging-daging kuda (sebagai dispensasi).[15] ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan apa yang kamu tidak ke-tahui," yang muncul setelah al-Qur`an turun, berupa jenis-jenis alat transportasi yang dikendarai manusia di daratan, lautan, dan udara, dan mereka mempergunakannya untuk kepentingan-kepentingan dan kemaslahatan mereka. Sesungguhnya, jenis-jenis alat transportasi itu belum disebutkan oleh Allah satu-persatu. Sebab, Allah hanya mengungkapkan dalam KitabNya hal-hal yang diketahui oleh para hambaNya atau mereka mengerti obyek yang serupa dengannya. Tentang obyek yang tidak ada padanannya, maka bila disampaikan, niscaya mereka tidak mengenalnya dan tidak memahami maksud yang terkandung di dalamnya. Maka, Allah menyebutkan satu kaidah dasar yang menyeluruh, sehingga tercakup di dalamnya segala yang mereka ketahui dan yang tidak mereka ketahui. Seba-gaimana Allah menyebutkan kenikmatan di surga. Dia menyebutkan –dari surga– hal-hal yang kita ketahui dan dapat menyaksikan obyek yang serupa dengannya, seperti pohon kurma, anggur dan delima. Dan Dia menyebutkan secara global obyek-obyek yang kita tidak mengenal padanannya. Hal ini tertuang pada Firman Allah, ﴾ فِيهِمَا مِن كُلِّ فَٰكِهَةٖ زَوۡجَانِ 52 ﴿ "Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan." (Ar-Rahman: 52). Begitu pula di sini, Allah memerinci aneka tunggangan yang kita mengenalnya, seperti kuda, bagal, keledai dan unta serta kapal laut. Dan Dia menyebutkan (alat transportasi lain) secara global dalam FirmanNya, ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui."
(9) Setelah Allah menceritakan jalan hissi (inderawi) dan Dia telah menciptakan –bagi para hambaNya– sarana untuk menempuh-nya, berupa binatang unta dan hewan tunggangan lainnya, maka Dia menyebutkan jalan maknawi (abstrak), yang akan mengantar-kan kepadaNya, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ قَصۡدُ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus," yaitu jalan yang lurus, yang merupakan lintasan paling pintas dan pendek, menuju kepada Allah dan ke tempat kemuliaanNya. Tentang jalan yang menyimpang dari akidah dan amalannya, maka itu adalah setiap jalan yang bertentangan dengan jalan yang lurus. Jalan ini memutuskan akses menuju kepada Allah, menyeret ke tempat kebinasaan. Orang-orang yang telah meraih hidayah, menelusuri jalan yang lurus dengan izin Rabb mereka, sementara orang-orang yang sesat mengalami salah jalan darinya dan berjalan di atas jalan-jalan yang menyimpang. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ لَهَدَىٰكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjunk kamu semuanya (kepada jalan yang benar)," akan tetapi, Dia hanya memberikan hidayah bagi sebagian manusia, sebagai bentuk pemuliaan dan pengutamaan (dariNya), dan tidak mencurahkan hidayah kepada sebagian lain lantaran terkandung unsur hikmah dan keadilan dariNya.
An-Nahl 16:4
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Mahatinggi Allah daripada sesuatu yang mereka persekutukan. Dia telah men-ciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kan-dang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukar-an (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan (Dia telah mencipta-kan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui. Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjuk kamu semuanya (ke-pada jalan yang benar)." (An-Nahl: 3-9).
(3) Allah memberitahukan bahwasanya, ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq," supaya hamba-hambaNya menjadikan keduanya sebagai bukti keagungan Sang Pencipta keduanya, dan sifat-sifat kesempurnaan milikNya, serta agar mereka mengetahui bahwa Dia menciptakan keduanya untuk tempat kediaman bagi hamba-hambaNya yang menyembahNya berdasarkan sesuatu yang Allah titahkan kepada mereka, berupa aturan-aturan syariat yang Allah turunkan melalui keterangan para RasulNya. Untuk itu, Dia menyucikan diriNya dari bentuk syirik kaum yang musyrikin yang menyekutukan (sesuatu) denganNya. Allah berfirman, ﴾ تَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahatinggi Allah daripada se-suatu yang mereka persekutukan," maksudnya Allah berlepas diri dan Mahaagung dari kesyirikan mereka. Sesungguhnya Dia adalah tuhan yang sebenarnya. Tidak seyogyanya peribadahan, mahabbah (rasa kecintaan), dan ketundukan diperuntukkan melainkan kepada-Nya تعالى.
(4) Usai membicarakan penciptaan langit (dan bumi), Allah menyebutkan penciptaan segenap makhluk yang menghuni kedua-nya. Dia mengawalinya dengan ciptaan yang termulia, yaitu ma-nusia. Allah berfirman, ﴾ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "Dia telah menciptakan manusia dari mani," Allah senantiasa mengatur, menumbuhkan dan mengembangkan (nuthfah tersebut) sampai menjadi manusia yang sempurna, lengkap anggota-anggota tubuh luar ataupun dalam-nya. Dia telah memolesnya dengan beragam karunia yang melimpah. Sampai manakala ia telah menjelma manusia dewasa, maka ia mem-banggakan diri dan terpesona dengan dirinya. ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata." Maksud ayat ini bisa meng-arah kepada pengertian, yaitu tiba-tiba ia memusuhi Rabbnya, mengingkariNya, menyanggah para RasulNya dan mendustakan ayat-ayatNya serta melupakan penciptaan dirinya pertama kali serta curahan kenikmatan Allah padanya. Ia justru memanfaatkan-nya untuk bermaksiat kepadaNya. Ayat tersebut juga mengandung pengertian makna, bahwasa-nya Allah menciptakan seorang manusia dari cairan mani. Selanjut-nya, Dia senantiasa mentransfernya dari satu fase menuju fase be-rikutnya sampai terbentuk manusia yang berakal lagi dapat berbicara, mempunyai akal dan pemikiran, yang bisa menentang dan mem-bantah. Maka hendaknya seorang hamba bersyukur kepada Rabb-nya yang telah mengantarkannya menuju kondisi demikian ini, yang sedikit pun dia tidak mempunyai kemampuan melakukan-nya sendiri.
(5) ﴾ وَٱلۡأَنۡعَٰمَ خَلَقَهَاۖ لَكُمۡ ﴿ "Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu," maksudnya bagi kalian dan untuk kemanfaatan dan kebaikan kalian. Di antara bentuk kegunaannya yang penting, ﴾ لَكُمۡ فِيهَا دِفۡءٞ ﴿ "padanya ada (bulu) yang menghangatkan," kalian mem-buat pakaian-pakaian, permadani dan rumah yang (bahan-bahan-nya) berasal dari bulu-bulu domba, kapas, rambut dan kulit-kulit-nya ﴾ و َ ﴿ "dan" bagi kalian ﴾ مَنَٰفِعَ ﴿ "berbagai jenis manfaat" yang lain-nya ﴾ وَمِنۡهَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "dan sebagiannya kamu makan."
(6) ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسۡرَحُونَ ﴿ "Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan", maksudnya pada waktu sore hari, saat istirahat dan diamnya serta waktu aktifitas dan berkeliarannya di tempat gembalaan. Lantaran pandangan yang indah itu tidak dirasakan oleh binatang tersebut sedikit pun. Kalianlah pihak yang memperindah diri dengannya sebagaimana kalian menghiasi diri dengan aneka pakaian, keber-adaan anak-anak dan harta kekayaan dan kalian terpesona dengan-nya.[14]
(7) ﴾ وَتَحۡمِلُ أَثۡقَالَكُمۡ ﴿ "Dan ia memikul beban-bebanmu," yaitu beban-beban yang berat, bahkan (juga) membawa kalian, ﴾ إِلَىٰ بَلَدٖ لَّمۡ تَكُونُواْ بَٰلِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ ٱلۡأَنفُسِۚ ﴿ "ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri," akan tetapi Allah menundukkan binatang-binatang tersebut bagi kalian. Di antaranya, terdapat binatang yang kalian tunggangi (sebagai kendaraan), dan ada pula yang kalian beri beban dengan barang-barang berat yang kalian inginkan, menuju negeri-negeri yang jauh dan wilayah-wilayah yang luas. ﴾ إِنَّ رَبَّكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang," lantaran menundukkan (fasilitas) bagi kalian yang memang sangat kalian perlukan dan butuhkan. BagiNya sanjungan, sesuai dengan keagungan WajahNya dan be-sarnya kekuasaanNya serta atas luasnya kemurahan dan kebaikan-Nya.
(8) ﴾ وَٱلۡخَيۡلَ وَٱلۡبِغَالَ وَٱلۡحَمِيرَ ﴿ "Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai," Kami menundukkannya bagi kalian ﴾ لِتَرۡكَبُوهَا وَزِينَةٗۚ ﴿ "agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan," maksudnya suatu waktu, kalian menggunakannya untuk keperluan tunggangan, kadang-kadang memfungsikannya untuk keindahan dan perhiasan. Manfaat konsumsi tidak disebutkan (oleh Allah) karena bagal (per-anakan kuda dan keledai) dan keledai haram dikonsumsi. Sedang-kan kuda, pada umumnya tidak dimanfaatkan untuk di konsumsi. Bahkan muncul larangan penyembelihannya untuk tujuan konsumsi, karena dikhawatirkan akan menyebabkan kelangkaannya. Dan bila bukan karena (alasan ini), maka sebetulnya terdapat riwayat dalam ash-Shahihain, bahwasanya Nabi mengizinkan (mengonsumsi) daging-daging kuda (sebagai dispensasi).[15] ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan apa yang kamu tidak ke-tahui," yang muncul setelah al-Qur`an turun, berupa jenis-jenis alat transportasi yang dikendarai manusia di daratan, lautan, dan udara, dan mereka mempergunakannya untuk kepentingan-kepentingan dan kemaslahatan mereka. Sesungguhnya, jenis-jenis alat transportasi itu belum disebutkan oleh Allah satu-persatu. Sebab, Allah hanya mengungkapkan dalam KitabNya hal-hal yang diketahui oleh para hambaNya atau mereka mengerti obyek yang serupa dengannya. Tentang obyek yang tidak ada padanannya, maka bila disampaikan, niscaya mereka tidak mengenalnya dan tidak memahami maksud yang terkandung di dalamnya. Maka, Allah menyebutkan satu kaidah dasar yang menyeluruh, sehingga tercakup di dalamnya segala yang mereka ketahui dan yang tidak mereka ketahui. Seba-gaimana Allah menyebutkan kenikmatan di surga. Dia menyebutkan –dari surga– hal-hal yang kita ketahui dan dapat menyaksikan obyek yang serupa dengannya, seperti pohon kurma, anggur dan delima. Dan Dia menyebutkan secara global obyek-obyek yang kita tidak mengenal padanannya. Hal ini tertuang pada Firman Allah, ﴾ فِيهِمَا مِن كُلِّ فَٰكِهَةٖ زَوۡجَانِ 52 ﴿ "Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan." (Ar-Rahman: 52). Begitu pula di sini, Allah memerinci aneka tunggangan yang kita mengenalnya, seperti kuda, bagal, keledai dan unta serta kapal laut. Dan Dia menyebutkan (alat transportasi lain) secara global dalam FirmanNya, ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui."
(9) Setelah Allah menceritakan jalan hissi (inderawi) dan Dia telah menciptakan –bagi para hambaNya– sarana untuk menempuh-nya, berupa binatang unta dan hewan tunggangan lainnya, maka Dia menyebutkan jalan maknawi (abstrak), yang akan mengantar-kan kepadaNya, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ قَصۡدُ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus," yaitu jalan yang lurus, yang merupakan lintasan paling pintas dan pendek, menuju kepada Allah dan ke tempat kemuliaanNya. Tentang jalan yang menyimpang dari akidah dan amalannya, maka itu adalah setiap jalan yang bertentangan dengan jalan yang lurus. Jalan ini memutuskan akses menuju kepada Allah, menyeret ke tempat kebinasaan. Orang-orang yang telah meraih hidayah, menelusuri jalan yang lurus dengan izin Rabb mereka, sementara orang-orang yang sesat mengalami salah jalan darinya dan berjalan di atas jalan-jalan yang menyimpang. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ لَهَدَىٰكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjunk kamu semuanya (kepada jalan yang benar)," akan tetapi, Dia hanya memberikan hidayah bagi sebagian manusia, sebagai bentuk pemuliaan dan pengutamaan (dariNya), dan tidak mencurahkan hidayah kepada sebagian lain lantaran terkandung unsur hikmah dan keadilan dariNya.
An-Nahl 16:5
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Mahatinggi Allah daripada sesuatu yang mereka persekutukan. Dia telah men-ciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kan-dang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukar-an (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan (Dia telah mencipta-kan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui. Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjuk kamu semuanya (ke-pada jalan yang benar)." (An-Nahl: 3-9).
(3) Allah memberitahukan bahwasanya, ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq," supaya hamba-hambaNya menjadikan keduanya sebagai bukti keagungan Sang Pencipta keduanya, dan sifat-sifat kesempurnaan milikNya, serta agar mereka mengetahui bahwa Dia menciptakan keduanya untuk tempat kediaman bagi hamba-hambaNya yang menyembahNya berdasarkan sesuatu yang Allah titahkan kepada mereka, berupa aturan-aturan syariat yang Allah turunkan melalui keterangan para RasulNya. Untuk itu, Dia menyucikan diriNya dari bentuk syirik kaum yang musyrikin yang menyekutukan (sesuatu) denganNya. Allah berfirman, ﴾ تَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahatinggi Allah daripada se-suatu yang mereka persekutukan," maksudnya Allah berlepas diri dan Mahaagung dari kesyirikan mereka. Sesungguhnya Dia adalah tuhan yang sebenarnya. Tidak seyogyanya peribadahan, mahabbah (rasa kecintaan), dan ketundukan diperuntukkan melainkan kepada-Nya تعالى.
(4) Usai membicarakan penciptaan langit (dan bumi), Allah menyebutkan penciptaan segenap makhluk yang menghuni kedua-nya. Dia mengawalinya dengan ciptaan yang termulia, yaitu ma-nusia. Allah berfirman, ﴾ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "Dia telah menciptakan manusia dari mani," Allah senantiasa mengatur, menumbuhkan dan mengembangkan (nuthfah tersebut) sampai menjadi manusia yang sempurna, lengkap anggota-anggota tubuh luar ataupun dalam-nya. Dia telah memolesnya dengan beragam karunia yang melimpah. Sampai manakala ia telah menjelma manusia dewasa, maka ia mem-banggakan diri dan terpesona dengan dirinya. ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata." Maksud ayat ini bisa meng-arah kepada pengertian, yaitu tiba-tiba ia memusuhi Rabbnya, mengingkariNya, menyanggah para RasulNya dan mendustakan ayat-ayatNya serta melupakan penciptaan dirinya pertama kali serta curahan kenikmatan Allah padanya. Ia justru memanfaatkan-nya untuk bermaksiat kepadaNya. Ayat tersebut juga mengandung pengertian makna, bahwasa-nya Allah menciptakan seorang manusia dari cairan mani. Selanjut-nya, Dia senantiasa mentransfernya dari satu fase menuju fase be-rikutnya sampai terbentuk manusia yang berakal lagi dapat berbicara, mempunyai akal dan pemikiran, yang bisa menentang dan mem-bantah. Maka hendaknya seorang hamba bersyukur kepada Rabb-nya yang telah mengantarkannya menuju kondisi demikian ini, yang sedikit pun dia tidak mempunyai kemampuan melakukan-nya sendiri.
(5) ﴾ وَٱلۡأَنۡعَٰمَ خَلَقَهَاۖ لَكُمۡ ﴿ "Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu," maksudnya bagi kalian dan untuk kemanfaatan dan kebaikan kalian. Di antara bentuk kegunaannya yang penting, ﴾ لَكُمۡ فِيهَا دِفۡءٞ ﴿ "padanya ada (bulu) yang menghangatkan," kalian mem-buat pakaian-pakaian, permadani dan rumah yang (bahan-bahan-nya) berasal dari bulu-bulu domba, kapas, rambut dan kulit-kulit-nya ﴾ و َ ﴿ "dan" bagi kalian ﴾ مَنَٰفِعَ ﴿ "berbagai jenis manfaat" yang lain-nya ﴾ وَمِنۡهَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "dan sebagiannya kamu makan."
(6) ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسۡرَحُونَ ﴿ "Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan", maksudnya pada waktu sore hari, saat istirahat dan diamnya serta waktu aktifitas dan berkeliarannya di tempat gembalaan. Lantaran pandangan yang indah itu tidak dirasakan oleh binatang tersebut sedikit pun. Kalianlah pihak yang memperindah diri dengannya sebagaimana kalian menghiasi diri dengan aneka pakaian, keber-adaan anak-anak dan harta kekayaan dan kalian terpesona dengan-nya.[14]
(7) ﴾ وَتَحۡمِلُ أَثۡقَالَكُمۡ ﴿ "Dan ia memikul beban-bebanmu," yaitu beban-beban yang berat, bahkan (juga) membawa kalian, ﴾ إِلَىٰ بَلَدٖ لَّمۡ تَكُونُواْ بَٰلِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ ٱلۡأَنفُسِۚ ﴿ "ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri," akan tetapi Allah menundukkan binatang-binatang tersebut bagi kalian. Di antaranya, terdapat binatang yang kalian tunggangi (sebagai kendaraan), dan ada pula yang kalian beri beban dengan barang-barang berat yang kalian inginkan, menuju negeri-negeri yang jauh dan wilayah-wilayah yang luas. ﴾ إِنَّ رَبَّكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang," lantaran menundukkan (fasilitas) bagi kalian yang memang sangat kalian perlukan dan butuhkan. BagiNya sanjungan, sesuai dengan keagungan WajahNya dan be-sarnya kekuasaanNya serta atas luasnya kemurahan dan kebaikan-Nya.
(8) ﴾ وَٱلۡخَيۡلَ وَٱلۡبِغَالَ وَٱلۡحَمِيرَ ﴿ "Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai," Kami menundukkannya bagi kalian ﴾ لِتَرۡكَبُوهَا وَزِينَةٗۚ ﴿ "agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan," maksudnya suatu waktu, kalian menggunakannya untuk keperluan tunggangan, kadang-kadang memfungsikannya untuk keindahan dan perhiasan. Manfaat konsumsi tidak disebutkan (oleh Allah) karena bagal (per-anakan kuda dan keledai) dan keledai haram dikonsumsi. Sedang-kan kuda, pada umumnya tidak dimanfaatkan untuk di konsumsi. Bahkan muncul larangan penyembelihannya untuk tujuan konsumsi, karena dikhawatirkan akan menyebabkan kelangkaannya. Dan bila bukan karena (alasan ini), maka sebetulnya terdapat riwayat dalam ash-Shahihain, bahwasanya Nabi mengizinkan (mengonsumsi) daging-daging kuda (sebagai dispensasi).[15] ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan apa yang kamu tidak ke-tahui," yang muncul setelah al-Qur`an turun, berupa jenis-jenis alat transportasi yang dikendarai manusia di daratan, lautan, dan udara, dan mereka mempergunakannya untuk kepentingan-kepentingan dan kemaslahatan mereka. Sesungguhnya, jenis-jenis alat transportasi itu belum disebutkan oleh Allah satu-persatu. Sebab, Allah hanya mengungkapkan dalam KitabNya hal-hal yang diketahui oleh para hambaNya atau mereka mengerti obyek yang serupa dengannya. Tentang obyek yang tidak ada padanannya, maka bila disampaikan, niscaya mereka tidak mengenalnya dan tidak memahami maksud yang terkandung di dalamnya. Maka, Allah menyebutkan satu kaidah dasar yang menyeluruh, sehingga tercakup di dalamnya segala yang mereka ketahui dan yang tidak mereka ketahui. Seba-gaimana Allah menyebutkan kenikmatan di surga. Dia menyebutkan –dari surga– hal-hal yang kita ketahui dan dapat menyaksikan obyek yang serupa dengannya, seperti pohon kurma, anggur dan delima. Dan Dia menyebutkan secara global obyek-obyek yang kita tidak mengenal padanannya. Hal ini tertuang pada Firman Allah, ﴾ فِيهِمَا مِن كُلِّ فَٰكِهَةٖ زَوۡجَانِ 52 ﴿ "Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan." (Ar-Rahman: 52). Begitu pula di sini, Allah memerinci aneka tunggangan yang kita mengenalnya, seperti kuda, bagal, keledai dan unta serta kapal laut. Dan Dia menyebutkan (alat transportasi lain) secara global dalam FirmanNya, ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui."
(9) Setelah Allah menceritakan jalan hissi (inderawi) dan Dia telah menciptakan –bagi para hambaNya– sarana untuk menempuh-nya, berupa binatang unta dan hewan tunggangan lainnya, maka Dia menyebutkan jalan maknawi (abstrak), yang akan mengantar-kan kepadaNya, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ قَصۡدُ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus," yaitu jalan yang lurus, yang merupakan lintasan paling pintas dan pendek, menuju kepada Allah dan ke tempat kemuliaanNya. Tentang jalan yang menyimpang dari akidah dan amalannya, maka itu adalah setiap jalan yang bertentangan dengan jalan yang lurus. Jalan ini memutuskan akses menuju kepada Allah, menyeret ke tempat kebinasaan. Orang-orang yang telah meraih hidayah, menelusuri jalan yang lurus dengan izin Rabb mereka, sementara orang-orang yang sesat mengalami salah jalan darinya dan berjalan di atas jalan-jalan yang menyimpang. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ لَهَدَىٰكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjunk kamu semuanya (kepada jalan yang benar)," akan tetapi, Dia hanya memberikan hidayah bagi sebagian manusia, sebagai bentuk pemuliaan dan pengutamaan (dariNya), dan tidak mencurahkan hidayah kepada sebagian lain lantaran terkandung unsur hikmah dan keadilan dariNya.
An-Nahl 16:6
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Mahatinggi Allah daripada sesuatu yang mereka persekutukan. Dia telah men-ciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kan-dang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukar-an (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan (Dia telah mencipta-kan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui. Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjuk kamu semuanya (ke-pada jalan yang benar)." (An-Nahl: 3-9).
(3) Allah memberitahukan bahwasanya, ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq," supaya hamba-hambaNya menjadikan keduanya sebagai bukti keagungan Sang Pencipta keduanya, dan sifat-sifat kesempurnaan milikNya, serta agar mereka mengetahui bahwa Dia menciptakan keduanya untuk tempat kediaman bagi hamba-hambaNya yang menyembahNya berdasarkan sesuatu yang Allah titahkan kepada mereka, berupa aturan-aturan syariat yang Allah turunkan melalui keterangan para RasulNya. Untuk itu, Dia menyucikan diriNya dari bentuk syirik kaum yang musyrikin yang menyekutukan (sesuatu) denganNya. Allah berfirman, ﴾ تَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahatinggi Allah daripada se-suatu yang mereka persekutukan," maksudnya Allah berlepas diri dan Mahaagung dari kesyirikan mereka. Sesungguhnya Dia adalah tuhan yang sebenarnya. Tidak seyogyanya peribadahan, mahabbah (rasa kecintaan), dan ketundukan diperuntukkan melainkan kepada-Nya تعالى.
(4) Usai membicarakan penciptaan langit (dan bumi), Allah menyebutkan penciptaan segenap makhluk yang menghuni kedua-nya. Dia mengawalinya dengan ciptaan yang termulia, yaitu ma-nusia. Allah berfirman, ﴾ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "Dia telah menciptakan manusia dari mani," Allah senantiasa mengatur, menumbuhkan dan mengembangkan (nuthfah tersebut) sampai menjadi manusia yang sempurna, lengkap anggota-anggota tubuh luar ataupun dalam-nya. Dia telah memolesnya dengan beragam karunia yang melimpah. Sampai manakala ia telah menjelma manusia dewasa, maka ia mem-banggakan diri dan terpesona dengan dirinya. ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata." Maksud ayat ini bisa meng-arah kepada pengertian, yaitu tiba-tiba ia memusuhi Rabbnya, mengingkariNya, menyanggah para RasulNya dan mendustakan ayat-ayatNya serta melupakan penciptaan dirinya pertama kali serta curahan kenikmatan Allah padanya. Ia justru memanfaatkan-nya untuk bermaksiat kepadaNya. Ayat tersebut juga mengandung pengertian makna, bahwasa-nya Allah menciptakan seorang manusia dari cairan mani. Selanjut-nya, Dia senantiasa mentransfernya dari satu fase menuju fase be-rikutnya sampai terbentuk manusia yang berakal lagi dapat berbicara, mempunyai akal dan pemikiran, yang bisa menentang dan mem-bantah. Maka hendaknya seorang hamba bersyukur kepada Rabb-nya yang telah mengantarkannya menuju kondisi demikian ini, yang sedikit pun dia tidak mempunyai kemampuan melakukan-nya sendiri.
(5) ﴾ وَٱلۡأَنۡعَٰمَ خَلَقَهَاۖ لَكُمۡ ﴿ "Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu," maksudnya bagi kalian dan untuk kemanfaatan dan kebaikan kalian. Di antara bentuk kegunaannya yang penting, ﴾ لَكُمۡ فِيهَا دِفۡءٞ ﴿ "padanya ada (bulu) yang menghangatkan," kalian mem-buat pakaian-pakaian, permadani dan rumah yang (bahan-bahan-nya) berasal dari bulu-bulu domba, kapas, rambut dan kulit-kulit-nya ﴾ و َ ﴿ "dan" bagi kalian ﴾ مَنَٰفِعَ ﴿ "berbagai jenis manfaat" yang lain-nya ﴾ وَمِنۡهَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "dan sebagiannya kamu makan."
(6) ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسۡرَحُونَ ﴿ "Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan", maksudnya pada waktu sore hari, saat istirahat dan diamnya serta waktu aktifitas dan berkeliarannya di tempat gembalaan. Lantaran pandangan yang indah itu tidak dirasakan oleh binatang tersebut sedikit pun. Kalianlah pihak yang memperindah diri dengannya sebagaimana kalian menghiasi diri dengan aneka pakaian, keber-adaan anak-anak dan harta kekayaan dan kalian terpesona dengan-nya.[14]
(7) ﴾ وَتَحۡمِلُ أَثۡقَالَكُمۡ ﴿ "Dan ia memikul beban-bebanmu," yaitu beban-beban yang berat, bahkan (juga) membawa kalian, ﴾ إِلَىٰ بَلَدٖ لَّمۡ تَكُونُواْ بَٰلِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ ٱلۡأَنفُسِۚ ﴿ "ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri," akan tetapi Allah menundukkan binatang-binatang tersebut bagi kalian. Di antaranya, terdapat binatang yang kalian tunggangi (sebagai kendaraan), dan ada pula yang kalian beri beban dengan barang-barang berat yang kalian inginkan, menuju negeri-negeri yang jauh dan wilayah-wilayah yang luas. ﴾ إِنَّ رَبَّكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang," lantaran menundukkan (fasilitas) bagi kalian yang memang sangat kalian perlukan dan butuhkan. BagiNya sanjungan, sesuai dengan keagungan WajahNya dan be-sarnya kekuasaanNya serta atas luasnya kemurahan dan kebaikan-Nya.
(8) ﴾ وَٱلۡخَيۡلَ وَٱلۡبِغَالَ وَٱلۡحَمِيرَ ﴿ "Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai," Kami menundukkannya bagi kalian ﴾ لِتَرۡكَبُوهَا وَزِينَةٗۚ ﴿ "agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan," maksudnya suatu waktu, kalian menggunakannya untuk keperluan tunggangan, kadang-kadang memfungsikannya untuk keindahan dan perhiasan. Manfaat konsumsi tidak disebutkan (oleh Allah) karena bagal (per-anakan kuda dan keledai) dan keledai haram dikonsumsi. Sedang-kan kuda, pada umumnya tidak dimanfaatkan untuk di konsumsi. Bahkan muncul larangan penyembelihannya untuk tujuan konsumsi, karena dikhawatirkan akan menyebabkan kelangkaannya. Dan bila bukan karena (alasan ini), maka sebetulnya terdapat riwayat dalam ash-Shahihain, bahwasanya Nabi mengizinkan (mengonsumsi) daging-daging kuda (sebagai dispensasi).[15] ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan apa yang kamu tidak ke-tahui," yang muncul setelah al-Qur`an turun, berupa jenis-jenis alat transportasi yang dikendarai manusia di daratan, lautan, dan udara, dan mereka mempergunakannya untuk kepentingan-kepentingan dan kemaslahatan mereka. Sesungguhnya, jenis-jenis alat transportasi itu belum disebutkan oleh Allah satu-persatu. Sebab, Allah hanya mengungkapkan dalam KitabNya hal-hal yang diketahui oleh para hambaNya atau mereka mengerti obyek yang serupa dengannya. Tentang obyek yang tidak ada padanannya, maka bila disampaikan, niscaya mereka tidak mengenalnya dan tidak memahami maksud yang terkandung di dalamnya. Maka, Allah menyebutkan satu kaidah dasar yang menyeluruh, sehingga tercakup di dalamnya segala yang mereka ketahui dan yang tidak mereka ketahui. Seba-gaimana Allah menyebutkan kenikmatan di surga. Dia menyebutkan –dari surga– hal-hal yang kita ketahui dan dapat menyaksikan obyek yang serupa dengannya, seperti pohon kurma, anggur dan delima. Dan Dia menyebutkan secara global obyek-obyek yang kita tidak mengenal padanannya. Hal ini tertuang pada Firman Allah, ﴾ فِيهِمَا مِن كُلِّ فَٰكِهَةٖ زَوۡجَانِ 52 ﴿ "Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan." (Ar-Rahman: 52). Begitu pula di sini, Allah memerinci aneka tunggangan yang kita mengenalnya, seperti kuda, bagal, keledai dan unta serta kapal laut. Dan Dia menyebutkan (alat transportasi lain) secara global dalam FirmanNya, ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui."
(9) Setelah Allah menceritakan jalan hissi (inderawi) dan Dia telah menciptakan –bagi para hambaNya– sarana untuk menempuh-nya, berupa binatang unta dan hewan tunggangan lainnya, maka Dia menyebutkan jalan maknawi (abstrak), yang akan mengantar-kan kepadaNya, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ قَصۡدُ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus," yaitu jalan yang lurus, yang merupakan lintasan paling pintas dan pendek, menuju kepada Allah dan ke tempat kemuliaanNya. Tentang jalan yang menyimpang dari akidah dan amalannya, maka itu adalah setiap jalan yang bertentangan dengan jalan yang lurus. Jalan ini memutuskan akses menuju kepada Allah, menyeret ke tempat kebinasaan. Orang-orang yang telah meraih hidayah, menelusuri jalan yang lurus dengan izin Rabb mereka, sementara orang-orang yang sesat mengalami salah jalan darinya dan berjalan di atas jalan-jalan yang menyimpang. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ لَهَدَىٰكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjunk kamu semuanya (kepada jalan yang benar)," akan tetapi, Dia hanya memberikan hidayah bagi sebagian manusia, sebagai bentuk pemuliaan dan pengutamaan (dariNya), dan tidak mencurahkan hidayah kepada sebagian lain lantaran terkandung unsur hikmah dan keadilan dariNya.
An-Nahl 16:7
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Mahatinggi Allah daripada sesuatu yang mereka persekutukan. Dia telah men-ciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kan-dang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukar-an (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan (Dia telah mencipta-kan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui. Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjuk kamu semuanya (ke-pada jalan yang benar)." (An-Nahl: 3-9).
(3) Allah memberitahukan bahwasanya, ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq," supaya hamba-hambaNya menjadikan keduanya sebagai bukti keagungan Sang Pencipta keduanya, dan sifat-sifat kesempurnaan milikNya, serta agar mereka mengetahui bahwa Dia menciptakan keduanya untuk tempat kediaman bagi hamba-hambaNya yang menyembahNya berdasarkan sesuatu yang Allah titahkan kepada mereka, berupa aturan-aturan syariat yang Allah turunkan melalui keterangan para RasulNya. Untuk itu, Dia menyucikan diriNya dari bentuk syirik kaum yang musyrikin yang menyekutukan (sesuatu) denganNya. Allah berfirman, ﴾ تَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahatinggi Allah daripada se-suatu yang mereka persekutukan," maksudnya Allah berlepas diri dan Mahaagung dari kesyirikan mereka. Sesungguhnya Dia adalah tuhan yang sebenarnya. Tidak seyogyanya peribadahan, mahabbah (rasa kecintaan), dan ketundukan diperuntukkan melainkan kepada-Nya تعالى.
(4) Usai membicarakan penciptaan langit (dan bumi), Allah menyebutkan penciptaan segenap makhluk yang menghuni kedua-nya. Dia mengawalinya dengan ciptaan yang termulia, yaitu ma-nusia. Allah berfirman, ﴾ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "Dia telah menciptakan manusia dari mani," Allah senantiasa mengatur, menumbuhkan dan mengembangkan (nuthfah tersebut) sampai menjadi manusia yang sempurna, lengkap anggota-anggota tubuh luar ataupun dalam-nya. Dia telah memolesnya dengan beragam karunia yang melimpah. Sampai manakala ia telah menjelma manusia dewasa, maka ia mem-banggakan diri dan terpesona dengan dirinya. ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata." Maksud ayat ini bisa meng-arah kepada pengertian, yaitu tiba-tiba ia memusuhi Rabbnya, mengingkariNya, menyanggah para RasulNya dan mendustakan ayat-ayatNya serta melupakan penciptaan dirinya pertama kali serta curahan kenikmatan Allah padanya. Ia justru memanfaatkan-nya untuk bermaksiat kepadaNya. Ayat tersebut juga mengandung pengertian makna, bahwasa-nya Allah menciptakan seorang manusia dari cairan mani. Selanjut-nya, Dia senantiasa mentransfernya dari satu fase menuju fase be-rikutnya sampai terbentuk manusia yang berakal lagi dapat berbicara, mempunyai akal dan pemikiran, yang bisa menentang dan mem-bantah. Maka hendaknya seorang hamba bersyukur kepada Rabb-nya yang telah mengantarkannya menuju kondisi demikian ini, yang sedikit pun dia tidak mempunyai kemampuan melakukan-nya sendiri.
(5) ﴾ وَٱلۡأَنۡعَٰمَ خَلَقَهَاۖ لَكُمۡ ﴿ "Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu," maksudnya bagi kalian dan untuk kemanfaatan dan kebaikan kalian. Di antara bentuk kegunaannya yang penting, ﴾ لَكُمۡ فِيهَا دِفۡءٞ ﴿ "padanya ada (bulu) yang menghangatkan," kalian mem-buat pakaian-pakaian, permadani dan rumah yang (bahan-bahan-nya) berasal dari bulu-bulu domba, kapas, rambut dan kulit-kulit-nya ﴾ و َ ﴿ "dan" bagi kalian ﴾ مَنَٰفِعَ ﴿ "berbagai jenis manfaat" yang lain-nya ﴾ وَمِنۡهَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "dan sebagiannya kamu makan."
(6) ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسۡرَحُونَ ﴿ "Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan", maksudnya pada waktu sore hari, saat istirahat dan diamnya serta waktu aktifitas dan berkeliarannya di tempat gembalaan. Lantaran pandangan yang indah itu tidak dirasakan oleh binatang tersebut sedikit pun. Kalianlah pihak yang memperindah diri dengannya sebagaimana kalian menghiasi diri dengan aneka pakaian, keber-adaan anak-anak dan harta kekayaan dan kalian terpesona dengan-nya.[14]
(7) ﴾ وَتَحۡمِلُ أَثۡقَالَكُمۡ ﴿ "Dan ia memikul beban-bebanmu," yaitu beban-beban yang berat, bahkan (juga) membawa kalian, ﴾ إِلَىٰ بَلَدٖ لَّمۡ تَكُونُواْ بَٰلِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ ٱلۡأَنفُسِۚ ﴿ "ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri," akan tetapi Allah menundukkan binatang-binatang tersebut bagi kalian. Di antaranya, terdapat binatang yang kalian tunggangi (sebagai kendaraan), dan ada pula yang kalian beri beban dengan barang-barang berat yang kalian inginkan, menuju negeri-negeri yang jauh dan wilayah-wilayah yang luas. ﴾ إِنَّ رَبَّكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang," lantaran menundukkan (fasilitas) bagi kalian yang memang sangat kalian perlukan dan butuhkan. BagiNya sanjungan, sesuai dengan keagungan WajahNya dan be-sarnya kekuasaanNya serta atas luasnya kemurahan dan kebaikan-Nya.
(8) ﴾ وَٱلۡخَيۡلَ وَٱلۡبِغَالَ وَٱلۡحَمِيرَ ﴿ "Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai," Kami menundukkannya bagi kalian ﴾ لِتَرۡكَبُوهَا وَزِينَةٗۚ ﴿ "agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan," maksudnya suatu waktu, kalian menggunakannya untuk keperluan tunggangan, kadang-kadang memfungsikannya untuk keindahan dan perhiasan. Manfaat konsumsi tidak disebutkan (oleh Allah) karena bagal (per-anakan kuda dan keledai) dan keledai haram dikonsumsi. Sedang-kan kuda, pada umumnya tidak dimanfaatkan untuk di konsumsi. Bahkan muncul larangan penyembelihannya untuk tujuan konsumsi, karena dikhawatirkan akan menyebabkan kelangkaannya. Dan bila bukan karena (alasan ini), maka sebetulnya terdapat riwayat dalam ash-Shahihain, bahwasanya Nabi mengizinkan (mengonsumsi) daging-daging kuda (sebagai dispensasi).[15] ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan apa yang kamu tidak ke-tahui," yang muncul setelah al-Qur`an turun, berupa jenis-jenis alat transportasi yang dikendarai manusia di daratan, lautan, dan udara, dan mereka mempergunakannya untuk kepentingan-kepentingan dan kemaslahatan mereka. Sesungguhnya, jenis-jenis alat transportasi itu belum disebutkan oleh Allah satu-persatu. Sebab, Allah hanya mengungkapkan dalam KitabNya hal-hal yang diketahui oleh para hambaNya atau mereka mengerti obyek yang serupa dengannya. Tentang obyek yang tidak ada padanannya, maka bila disampaikan, niscaya mereka tidak mengenalnya dan tidak memahami maksud yang terkandung di dalamnya. Maka, Allah menyebutkan satu kaidah dasar yang menyeluruh, sehingga tercakup di dalamnya segala yang mereka ketahui dan yang tidak mereka ketahui. Seba-gaimana Allah menyebutkan kenikmatan di surga. Dia menyebutkan –dari surga– hal-hal yang kita ketahui dan dapat menyaksikan obyek yang serupa dengannya, seperti pohon kurma, anggur dan delima. Dan Dia menyebutkan secara global obyek-obyek yang kita tidak mengenal padanannya. Hal ini tertuang pada Firman Allah, ﴾ فِيهِمَا مِن كُلِّ فَٰكِهَةٖ زَوۡجَانِ 52 ﴿ "Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan." (Ar-Rahman: 52). Begitu pula di sini, Allah memerinci aneka tunggangan yang kita mengenalnya, seperti kuda, bagal, keledai dan unta serta kapal laut. Dan Dia menyebutkan (alat transportasi lain) secara global dalam FirmanNya, ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui."
(9) Setelah Allah menceritakan jalan hissi (inderawi) dan Dia telah menciptakan –bagi para hambaNya– sarana untuk menempuh-nya, berupa binatang unta dan hewan tunggangan lainnya, maka Dia menyebutkan jalan maknawi (abstrak), yang akan mengantar-kan kepadaNya, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ قَصۡدُ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus," yaitu jalan yang lurus, yang merupakan lintasan paling pintas dan pendek, menuju kepada Allah dan ke tempat kemuliaanNya. Tentang jalan yang menyimpang dari akidah dan amalannya, maka itu adalah setiap jalan yang bertentangan dengan jalan yang lurus. Jalan ini memutuskan akses menuju kepada Allah, menyeret ke tempat kebinasaan. Orang-orang yang telah meraih hidayah, menelusuri jalan yang lurus dengan izin Rabb mereka, sementara orang-orang yang sesat mengalami salah jalan darinya dan berjalan di atas jalan-jalan yang menyimpang. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ لَهَدَىٰكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjunk kamu semuanya (kepada jalan yang benar)," akan tetapi, Dia hanya memberikan hidayah bagi sebagian manusia, sebagai bentuk pemuliaan dan pengutamaan (dariNya), dan tidak mencurahkan hidayah kepada sebagian lain lantaran terkandung unsur hikmah dan keadilan dariNya.
An-Nahl 16:8
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Mahatinggi Allah daripada sesuatu yang mereka persekutukan. Dia telah men-ciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kan-dang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukar-an (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan (Dia telah mencipta-kan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui. Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjuk kamu semuanya (ke-pada jalan yang benar)." (An-Nahl: 3-9).
(3) Allah memberitahukan bahwasanya, ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq," supaya hamba-hambaNya menjadikan keduanya sebagai bukti keagungan Sang Pencipta keduanya, dan sifat-sifat kesempurnaan milikNya, serta agar mereka mengetahui bahwa Dia menciptakan keduanya untuk tempat kediaman bagi hamba-hambaNya yang menyembahNya berdasarkan sesuatu yang Allah titahkan kepada mereka, berupa aturan-aturan syariat yang Allah turunkan melalui keterangan para RasulNya. Untuk itu, Dia menyucikan diriNya dari bentuk syirik kaum yang musyrikin yang menyekutukan (sesuatu) denganNya. Allah berfirman, ﴾ تَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahatinggi Allah daripada se-suatu yang mereka persekutukan," maksudnya Allah berlepas diri dan Mahaagung dari kesyirikan mereka. Sesungguhnya Dia adalah tuhan yang sebenarnya. Tidak seyogyanya peribadahan, mahabbah (rasa kecintaan), dan ketundukan diperuntukkan melainkan kepada-Nya تعالى.
(4) Usai membicarakan penciptaan langit (dan bumi), Allah menyebutkan penciptaan segenap makhluk yang menghuni kedua-nya. Dia mengawalinya dengan ciptaan yang termulia, yaitu ma-nusia. Allah berfirman, ﴾ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "Dia telah menciptakan manusia dari mani," Allah senantiasa mengatur, menumbuhkan dan mengembangkan (nuthfah tersebut) sampai menjadi manusia yang sempurna, lengkap anggota-anggota tubuh luar ataupun dalam-nya. Dia telah memolesnya dengan beragam karunia yang melimpah. Sampai manakala ia telah menjelma manusia dewasa, maka ia mem-banggakan diri dan terpesona dengan dirinya. ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata." Maksud ayat ini bisa meng-arah kepada pengertian, yaitu tiba-tiba ia memusuhi Rabbnya, mengingkariNya, menyanggah para RasulNya dan mendustakan ayat-ayatNya serta melupakan penciptaan dirinya pertama kali serta curahan kenikmatan Allah padanya. Ia justru memanfaatkan-nya untuk bermaksiat kepadaNya. Ayat tersebut juga mengandung pengertian makna, bahwasa-nya Allah menciptakan seorang manusia dari cairan mani. Selanjut-nya, Dia senantiasa mentransfernya dari satu fase menuju fase be-rikutnya sampai terbentuk manusia yang berakal lagi dapat berbicara, mempunyai akal dan pemikiran, yang bisa menentang dan mem-bantah. Maka hendaknya seorang hamba bersyukur kepada Rabb-nya yang telah mengantarkannya menuju kondisi demikian ini, yang sedikit pun dia tidak mempunyai kemampuan melakukan-nya sendiri.
(5) ﴾ وَٱلۡأَنۡعَٰمَ خَلَقَهَاۖ لَكُمۡ ﴿ "Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu," maksudnya bagi kalian dan untuk kemanfaatan dan kebaikan kalian. Di antara bentuk kegunaannya yang penting, ﴾ لَكُمۡ فِيهَا دِفۡءٞ ﴿ "padanya ada (bulu) yang menghangatkan," kalian mem-buat pakaian-pakaian, permadani dan rumah yang (bahan-bahan-nya) berasal dari bulu-bulu domba, kapas, rambut dan kulit-kulit-nya ﴾ و َ ﴿ "dan" bagi kalian ﴾ مَنَٰفِعَ ﴿ "berbagai jenis manfaat" yang lain-nya ﴾ وَمِنۡهَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "dan sebagiannya kamu makan."
(6) ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسۡرَحُونَ ﴿ "Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan", maksudnya pada waktu sore hari, saat istirahat dan diamnya serta waktu aktifitas dan berkeliarannya di tempat gembalaan. Lantaran pandangan yang indah itu tidak dirasakan oleh binatang tersebut sedikit pun. Kalianlah pihak yang memperindah diri dengannya sebagaimana kalian menghiasi diri dengan aneka pakaian, keber-adaan anak-anak dan harta kekayaan dan kalian terpesona dengan-nya.[14]
(7) ﴾ وَتَحۡمِلُ أَثۡقَالَكُمۡ ﴿ "Dan ia memikul beban-bebanmu," yaitu beban-beban yang berat, bahkan (juga) membawa kalian, ﴾ إِلَىٰ بَلَدٖ لَّمۡ تَكُونُواْ بَٰلِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ ٱلۡأَنفُسِۚ ﴿ "ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri," akan tetapi Allah menundukkan binatang-binatang tersebut bagi kalian. Di antaranya, terdapat binatang yang kalian tunggangi (sebagai kendaraan), dan ada pula yang kalian beri beban dengan barang-barang berat yang kalian inginkan, menuju negeri-negeri yang jauh dan wilayah-wilayah yang luas. ﴾ إِنَّ رَبَّكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang," lantaran menundukkan (fasilitas) bagi kalian yang memang sangat kalian perlukan dan butuhkan. BagiNya sanjungan, sesuai dengan keagungan WajahNya dan be-sarnya kekuasaanNya serta atas luasnya kemurahan dan kebaikan-Nya.
(8) ﴾ وَٱلۡخَيۡلَ وَٱلۡبِغَالَ وَٱلۡحَمِيرَ ﴿ "Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai," Kami menundukkannya bagi kalian ﴾ لِتَرۡكَبُوهَا وَزِينَةٗۚ ﴿ "agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan," maksudnya suatu waktu, kalian menggunakannya untuk keperluan tunggangan, kadang-kadang memfungsikannya untuk keindahan dan perhiasan. Manfaat konsumsi tidak disebutkan (oleh Allah) karena bagal (per-anakan kuda dan keledai) dan keledai haram dikonsumsi. Sedang-kan kuda, pada umumnya tidak dimanfaatkan untuk di konsumsi. Bahkan muncul larangan penyembelihannya untuk tujuan konsumsi, karena dikhawatirkan akan menyebabkan kelangkaannya. Dan bila bukan karena (alasan ini), maka sebetulnya terdapat riwayat dalam ash-Shahihain, bahwasanya Nabi mengizinkan (mengonsumsi) daging-daging kuda (sebagai dispensasi).[15] ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan apa yang kamu tidak ke-tahui," yang muncul setelah al-Qur`an turun, berupa jenis-jenis alat transportasi yang dikendarai manusia di daratan, lautan, dan udara, dan mereka mempergunakannya untuk kepentingan-kepentingan dan kemaslahatan mereka. Sesungguhnya, jenis-jenis alat transportasi itu belum disebutkan oleh Allah satu-persatu. Sebab, Allah hanya mengungkapkan dalam KitabNya hal-hal yang diketahui oleh para hambaNya atau mereka mengerti obyek yang serupa dengannya. Tentang obyek yang tidak ada padanannya, maka bila disampaikan, niscaya mereka tidak mengenalnya dan tidak memahami maksud yang terkandung di dalamnya. Maka, Allah menyebutkan satu kaidah dasar yang menyeluruh, sehingga tercakup di dalamnya segala yang mereka ketahui dan yang tidak mereka ketahui. Seba-gaimana Allah menyebutkan kenikmatan di surga. Dia menyebutkan –dari surga– hal-hal yang kita ketahui dan dapat menyaksikan obyek yang serupa dengannya, seperti pohon kurma, anggur dan delima. Dan Dia menyebutkan secara global obyek-obyek yang kita tidak mengenal padanannya. Hal ini tertuang pada Firman Allah, ﴾ فِيهِمَا مِن كُلِّ فَٰكِهَةٖ زَوۡجَانِ 52 ﴿ "Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan." (Ar-Rahman: 52). Begitu pula di sini, Allah memerinci aneka tunggangan yang kita mengenalnya, seperti kuda, bagal, keledai dan unta serta kapal laut. Dan Dia menyebutkan (alat transportasi lain) secara global dalam FirmanNya, ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui."
(9) Setelah Allah menceritakan jalan hissi (inderawi) dan Dia telah menciptakan –bagi para hambaNya– sarana untuk menempuh-nya, berupa binatang unta dan hewan tunggangan lainnya, maka Dia menyebutkan jalan maknawi (abstrak), yang akan mengantar-kan kepadaNya, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ قَصۡدُ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus," yaitu jalan yang lurus, yang merupakan lintasan paling pintas dan pendek, menuju kepada Allah dan ke tempat kemuliaanNya. Tentang jalan yang menyimpang dari akidah dan amalannya, maka itu adalah setiap jalan yang bertentangan dengan jalan yang lurus. Jalan ini memutuskan akses menuju kepada Allah, menyeret ke tempat kebinasaan. Orang-orang yang telah meraih hidayah, menelusuri jalan yang lurus dengan izin Rabb mereka, sementara orang-orang yang sesat mengalami salah jalan darinya dan berjalan di atas jalan-jalan yang menyimpang. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ لَهَدَىٰكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjunk kamu semuanya (kepada jalan yang benar)," akan tetapi, Dia hanya memberikan hidayah bagi sebagian manusia, sebagai bentuk pemuliaan dan pengutamaan (dariNya), dan tidak mencurahkan hidayah kepada sebagian lain lantaran terkandung unsur hikmah dan keadilan dariNya.
An-Nahl 16:9
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Mahatinggi Allah daripada sesuatu yang mereka persekutukan. Dia telah men-ciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kan-dang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukar-an (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan (Dia telah mencipta-kan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui. Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjuk kamu semuanya (ke-pada jalan yang benar)." (An-Nahl: 3-9).
(3) Allah memberitahukan bahwasanya, ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq," supaya hamba-hambaNya menjadikan keduanya sebagai bukti keagungan Sang Pencipta keduanya, dan sifat-sifat kesempurnaan milikNya, serta agar mereka mengetahui bahwa Dia menciptakan keduanya untuk tempat kediaman bagi hamba-hambaNya yang menyembahNya berdasarkan sesuatu yang Allah titahkan kepada mereka, berupa aturan-aturan syariat yang Allah turunkan melalui keterangan para RasulNya. Untuk itu, Dia menyucikan diriNya dari bentuk syirik kaum yang musyrikin yang menyekutukan (sesuatu) denganNya. Allah berfirman, ﴾ تَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahatinggi Allah daripada se-suatu yang mereka persekutukan," maksudnya Allah berlepas diri dan Mahaagung dari kesyirikan mereka. Sesungguhnya Dia adalah tuhan yang sebenarnya. Tidak seyogyanya peribadahan, mahabbah (rasa kecintaan), dan ketundukan diperuntukkan melainkan kepada-Nya تعالى.
(4) Usai membicarakan penciptaan langit (dan bumi), Allah menyebutkan penciptaan segenap makhluk yang menghuni kedua-nya. Dia mengawalinya dengan ciptaan yang termulia, yaitu ma-nusia. Allah berfirman, ﴾ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "Dia telah menciptakan manusia dari mani," Allah senantiasa mengatur, menumbuhkan dan mengembangkan (nuthfah tersebut) sampai menjadi manusia yang sempurna, lengkap anggota-anggota tubuh luar ataupun dalam-nya. Dia telah memolesnya dengan beragam karunia yang melimpah. Sampai manakala ia telah menjelma manusia dewasa, maka ia mem-banggakan diri dan terpesona dengan dirinya. ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata." Maksud ayat ini bisa meng-arah kepada pengertian, yaitu tiba-tiba ia memusuhi Rabbnya, mengingkariNya, menyanggah para RasulNya dan mendustakan ayat-ayatNya serta melupakan penciptaan dirinya pertama kali serta curahan kenikmatan Allah padanya. Ia justru memanfaatkan-nya untuk bermaksiat kepadaNya. Ayat tersebut juga mengandung pengertian makna, bahwasa-nya Allah menciptakan seorang manusia dari cairan mani. Selanjut-nya, Dia senantiasa mentransfernya dari satu fase menuju fase be-rikutnya sampai terbentuk manusia yang berakal lagi dapat berbicara, mempunyai akal dan pemikiran, yang bisa menentang dan mem-bantah. Maka hendaknya seorang hamba bersyukur kepada Rabb-nya yang telah mengantarkannya menuju kondisi demikian ini, yang sedikit pun dia tidak mempunyai kemampuan melakukan-nya sendiri.
(5) ﴾ وَٱلۡأَنۡعَٰمَ خَلَقَهَاۖ لَكُمۡ ﴿ "Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu," maksudnya bagi kalian dan untuk kemanfaatan dan kebaikan kalian. Di antara bentuk kegunaannya yang penting, ﴾ لَكُمۡ فِيهَا دِفۡءٞ ﴿ "padanya ada (bulu) yang menghangatkan," kalian mem-buat pakaian-pakaian, permadani dan rumah yang (bahan-bahan-nya) berasal dari bulu-bulu domba, kapas, rambut dan kulit-kulit-nya ﴾ و َ ﴿ "dan" bagi kalian ﴾ مَنَٰفِعَ ﴿ "berbagai jenis manfaat" yang lain-nya ﴾ وَمِنۡهَا تَأۡكُلُونَ ﴿ "dan sebagiannya kamu makan."
(6) ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسۡرَحُونَ ﴿ "Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan", maksudnya pada waktu sore hari, saat istirahat dan diamnya serta waktu aktifitas dan berkeliarannya di tempat gembalaan. Lantaran pandangan yang indah itu tidak dirasakan oleh binatang tersebut sedikit pun. Kalianlah pihak yang memperindah diri dengannya sebagaimana kalian menghiasi diri dengan aneka pakaian, keber-adaan anak-anak dan harta kekayaan dan kalian terpesona dengan-nya.[14]
(7) ﴾ وَتَحۡمِلُ أَثۡقَالَكُمۡ ﴿ "Dan ia memikul beban-bebanmu," yaitu beban-beban yang berat, bahkan (juga) membawa kalian, ﴾ إِلَىٰ بَلَدٖ لَّمۡ تَكُونُواْ بَٰلِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ ٱلۡأَنفُسِۚ ﴿ "ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri," akan tetapi Allah menundukkan binatang-binatang tersebut bagi kalian. Di antaranya, terdapat binatang yang kalian tunggangi (sebagai kendaraan), dan ada pula yang kalian beri beban dengan barang-barang berat yang kalian inginkan, menuju negeri-negeri yang jauh dan wilayah-wilayah yang luas. ﴾ إِنَّ رَبَّكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang," lantaran menundukkan (fasilitas) bagi kalian yang memang sangat kalian perlukan dan butuhkan. BagiNya sanjungan, sesuai dengan keagungan WajahNya dan be-sarnya kekuasaanNya serta atas luasnya kemurahan dan kebaikan-Nya.
(8) ﴾ وَٱلۡخَيۡلَ وَٱلۡبِغَالَ وَٱلۡحَمِيرَ ﴿ "Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai," Kami menundukkannya bagi kalian ﴾ لِتَرۡكَبُوهَا وَزِينَةٗۚ ﴿ "agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan," maksudnya suatu waktu, kalian menggunakannya untuk keperluan tunggangan, kadang-kadang memfungsikannya untuk keindahan dan perhiasan. Manfaat konsumsi tidak disebutkan (oleh Allah) karena bagal (per-anakan kuda dan keledai) dan keledai haram dikonsumsi. Sedang-kan kuda, pada umumnya tidak dimanfaatkan untuk di konsumsi. Bahkan muncul larangan penyembelihannya untuk tujuan konsumsi, karena dikhawatirkan akan menyebabkan kelangkaannya. Dan bila bukan karena (alasan ini), maka sebetulnya terdapat riwayat dalam ash-Shahihain, bahwasanya Nabi mengizinkan (mengonsumsi) daging-daging kuda (sebagai dispensasi).[15] ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan apa yang kamu tidak ke-tahui," yang muncul setelah al-Qur`an turun, berupa jenis-jenis alat transportasi yang dikendarai manusia di daratan, lautan, dan udara, dan mereka mempergunakannya untuk kepentingan-kepentingan dan kemaslahatan mereka. Sesungguhnya, jenis-jenis alat transportasi itu belum disebutkan oleh Allah satu-persatu. Sebab, Allah hanya mengungkapkan dalam KitabNya hal-hal yang diketahui oleh para hambaNya atau mereka mengerti obyek yang serupa dengannya. Tentang obyek yang tidak ada padanannya, maka bila disampaikan, niscaya mereka tidak mengenalnya dan tidak memahami maksud yang terkandung di dalamnya. Maka, Allah menyebutkan satu kaidah dasar yang menyeluruh, sehingga tercakup di dalamnya segala yang mereka ketahui dan yang tidak mereka ketahui. Seba-gaimana Allah menyebutkan kenikmatan di surga. Dia menyebutkan –dari surga– hal-hal yang kita ketahui dan dapat menyaksikan obyek yang serupa dengannya, seperti pohon kurma, anggur dan delima. Dan Dia menyebutkan secara global obyek-obyek yang kita tidak mengenal padanannya. Hal ini tertuang pada Firman Allah, ﴾ فِيهِمَا مِن كُلِّ فَٰكِهَةٖ زَوۡجَانِ 52 ﴿ "Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan." (Ar-Rahman: 52). Begitu pula di sini, Allah memerinci aneka tunggangan yang kita mengenalnya, seperti kuda, bagal, keledai dan unta serta kapal laut. Dan Dia menyebutkan (alat transportasi lain) secara global dalam FirmanNya, ﴾ وَيَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Dia menciptakan sesuatu yang kamu tidak ketahui."
(9) Setelah Allah menceritakan jalan hissi (inderawi) dan Dia telah menciptakan –bagi para hambaNya– sarana untuk menempuh-nya, berupa binatang unta dan hewan tunggangan lainnya, maka Dia menyebutkan jalan maknawi (abstrak), yang akan mengantar-kan kepadaNya, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ قَصۡدُ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus," yaitu jalan yang lurus, yang merupakan lintasan paling pintas dan pendek, menuju kepada Allah dan ke tempat kemuliaanNya. Tentang jalan yang menyimpang dari akidah dan amalannya, maka itu adalah setiap jalan yang bertentangan dengan jalan yang lurus. Jalan ini memutuskan akses menuju kepada Allah, menyeret ke tempat kebinasaan. Orang-orang yang telah meraih hidayah, menelusuri jalan yang lurus dengan izin Rabb mereka, sementara orang-orang yang sesat mengalami salah jalan darinya dan berjalan di atas jalan-jalan yang menyimpang. ﴾ وَلَوۡ شَآءَ لَهَدَىٰكُمۡ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memberi petunjunk kamu semuanya (kepada jalan yang benar)," akan tetapi, Dia hanya memberikan hidayah bagi sebagian manusia, sebagai bentuk pemuliaan dan pengutamaan (dariNya), dan tidak mencurahkan hidayah kepada sebagian lain lantaran terkandung unsur hikmah dan keadilan dariNya.
An-Nahl 16:10
"Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyubur-kan tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (An-Nahl: 10-11).
(10-11)(Kalian memikirkan) dengan itu, tentang sempurna-nya kekuasaan Allah yang telah menurunkan air ini dari awan yang tipis lagi lembut, dan (tentang sempurnanya) rahmatNya. Buktinya, Allah menjadikannya air yang tercurah banyak, mereka minum darinya, dan binatang-binatang ternak mereka pun minum darinya. Mereka mengairi tanah-tanah pertanian mereka dengan sebagian-nya. Sehingga keluarlah buah-buahan yang banyak dan kenikmatan-kenikmatan yang melimpah.
An-Nahl 16:11
"Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyubur-kan tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (An-Nahl: 10-11).
(10-11)(Kalian memikirkan) dengan itu, tentang sempurna-nya kekuasaan Allah yang telah menurunkan air ini dari awan yang tipis lagi lembut, dan (tentang sempurnanya) rahmatNya. Buktinya, Allah menjadikannya air yang tercurah banyak, mereka minum darinya, dan binatang-binatang ternak mereka pun minum darinya. Mereka mengairi tanah-tanah pertanian mereka dengan sebagian-nya. Sehingga keluarlah buah-buahan yang banyak dan kenikmatan-kenikmatan yang melimpah.
An-Nahl 16:12
"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mema-hami(nya)." (An-Nahl: 12).
(12) Maksudnya, Dia menundukkan hal-hal tersebut bagi kalian, semata-mata untuk berbagai macam kepentingan dan jenis-jenis kemaslahatan kalian, yang kalian tidak mungkin mengesam-pingkannya sama sekali. Di malam hari, kalian berada dalam ke-tenangan, tidur dan beristirahat. Di siang hari, kalian bertebaran untuk mengais mata pencaharian dan kebaikan agama dan duniawi. Dan dengan keberadaan matahari dan bulan, (kalian menikmati) pancaran cahaya dan sinar, kehangatan di pagi hari, (dapat mela-kukan) reboisasi pada pohon-pohon, tanaman-tanaman dan tumbuh-tumbuhan, mengeringkan benda-benda yang basah, menghilangkan kelembaban yang membahayakan tanah dan tubuh dan lain seba-gainya, yang merupakan bagian dari kebutuhan-kebutuhan primer dan sekunder, yang tergantung sekali dengan eksistensi matahari dan bulan. Pada matahari, bulan dan bintang-bintang terdapat unsur keindahan bagi langit, petunjuk arah dalam kegelapan di daratan maupun lautan, mengetahui waktu dan perhitungan masa, yang mana kandungan petunjuk dan tanda-tandanya sangat beragam. Untuk itu, Allah menyatukannya dalam FirmanNya, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya)," yaitu bagi mereka yang mempunyai akal-akal yang mereka manfaatkan untuk merenungi dan memikirkan segala sesuatu yang telah disiap-kan untuknya, dia bisa memikirkan segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya. Bukan seperti pandangan kaum yang lalai yang porsi analisanya adalah sebagaimana analisa hewan yang tidak berakal.
An-Nahl 16:13
"Dan Dia (menundukkan pula) sesuatu yang Dia ciptakan un-tuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguh-nya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasa-an Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran." (An-Nahl: 13).
(13) Maksudnya, pada benda-benda yang Allah ciptakan dan tebar bagi para hambaNya, berupa semua wujud yang berada di permukaan bumi, seperti binatang-binatang, pepohonan, tanam-tanaman dan lain sebagainya, yang berbeda-beda warnanya dan bervariasi kegunaannya terdapat bukti kesempurnaan kekuasaan Allah dan meratanya curahan kebaikan dan luasnya kebajikannya, dan bahwa Dia-lah Dzat yang tidak sepatutnya ibadah (dikerjakan) kecuali bagiNya semata, tiada sekutu bagiNya. ﴾ لِّقَوۡمٖ يَذَّكَّرُونَ ﴿ "Bagi kaum yang mengambil pelajaran," yaitu yang membayangkan dalam ingatan mereka hal-hal yang bermanfaat bagi mereka, berupa ilmu yang berguna dan merenungkan obyek-obyek yang Allah mengajak mereka untuk merenunginya. Dengan itu, mereka memikirkan hal-hal yang menjadi bukti tentang Allah.
An-Nahl 16:14
"Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu men-cari (keuntungan) dari karuniaNya, dan supaya kamu bersyukur." (An-Nahl: 14).
(14) Maknanya, [وَ] "Dan" Dia-lah Dzat yang sendiri, tidak ada sekutu bagiNya ﴾ ٱلَّذِي سَخَّرَ ٱلۡبَحۡرَ ﴿ "yang menundukkan lautan (untuk-mu)," dan menyediakannya demi kemanfaatan-kemanfaatan kalian yang variatif, ﴾ لِتَأۡكُلُواْ مِنۡهُ لَحۡمٗا طَرِيّٗا ﴿ "agar kamu dapat memakan dari-nya daging yang segar (ikan)," yaitu ikan-ikan dan binatang air yang kalian buru, ﴾ وَتَسۡتَخۡرِجُواْ مِنۡهُ حِلۡيَةٗ تَلۡبَسُونَهَاۖ ﴿ "dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai," sehingga menambah keindahan dan keelokan pada kalian atas pesona yang sudah melekat pada kalian. ﴾ وَتَرَى ٱلۡفُلۡكَ ﴿ "Dan kamu melihat bahtera," yaitu kapal-kapal dan perahu-perahu, ﴾ مَوَاخِرَ فِيهِ ﴿ "berlayar padanya," yaitu membelah lautan yang bergelombang lagi menakutkan, dengan moncong bagian depannya sehingga dapat berlalu di atasnya dari satu wi-layah ke tempat lain, membawa para penumpang, hasil-hasil rizki mereka, barang bawaan serta perniagaan mereka yang mereka jadi-kan sarana untuk mengais rizki-rizki dan kemurahan Allah atas mereka. ﴾ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ﴿ "Dan supaya kamu bersyukur," (kepada Dzat) yang telah memudahkan semua ini bagi kalian dan menyuguhkan-nya, dan menyanjung Allah atas karuniaNya atas kalian. Bagi Allah تعالى segala pujian, syukur dan sanjungan. Pasalnya, Allah telah mem-berikan bagi hamba-hambaNya hal-hal yang menjadi kemaslahatan dan kepentingan mereka, melebihi apa yang mereka cari dan lebih tinggi daripada sesuatu yang mereka harapkan. Dia menganugerahi mereka segala yang mereka minta. Kita tidak dapat menghitung sanjungan atasNya, akan tetapi Dia adalah sebagaimana Dia menyan-jung diriNya.
An-Nahl 16:15
"Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. Dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah, mereka mendapat petunjuk." (An-Nahl: 15-16).
(15-16) ﴾ وَأَلۡقَىٰ ﴿ "Dan Dia menancapkan," Allah تعالى yang me-nancapkan untuk (kebaikan) para hambaNya, ﴾ فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ ﴿"gu-nung-gunung di bumi," yaitu gunung-gunung yang besar, supaya bumi tidak bergerak-gerak dan tergoncang bersama manusia. Hingga mereka mampu bercocok tanam, membangun rumah dan berjalan di atas permukaannya. Di antara rahmat Allah تعالى, adalah Dia men-jadikan sungai-sungai yang digiring dari wilayah yang jauh menuju tanah yang membutuhkannya, sebagai minuman mereka dan bina-tang-binatang mereka serta (pengairan) tanaman-tanaman pertani-an mereka; sungai-sungai itu (ada yang berada di permukaan tanah dan (ada) sungai-sungai yang terpendam di dalamnya (artesis). Mereka mengeksplorasinya dengan menggalinya (terlebih dahulu) hingga menemukannya dengan bantuan penggerek-penggerek tim-ba dan alat-alat lainnya. Bukti rahmatNya yang lain, Allah mencipta-kan jalur-jalur di bumi, yaitu jalan-jalan yang menghubungkan ke perkampungan yang saling berjauhan, ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ﴿ "agar kamu mendapat petunjuk," jalan menuju ke arahnya. Sampai-sampai eng-kau akan menjumpai daratan yang bergandengan dengan gunung-gunung, yang membentuk barisan padanya, dan Allah telah mem-buatkan celah-celah dan lintasan-lintasan di tengah-tengahnya bagi para peniti jalan.
An-Nahl 16:16
"Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. Dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah, mereka mendapat petunjuk." (An-Nahl: 15-16).
(15-16) ﴾ وَأَلۡقَىٰ ﴿ "Dan Dia menancapkan," Allah تعالى yang me-nancapkan untuk (kebaikan) para hambaNya, ﴾ فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ ﴿"gu-nung-gunung di bumi," yaitu gunung-gunung yang besar, supaya bumi tidak bergerak-gerak dan tergoncang bersama manusia. Hingga mereka mampu bercocok tanam, membangun rumah dan berjalan di atas permukaannya. Di antara rahmat Allah تعالى, adalah Dia men-jadikan sungai-sungai yang digiring dari wilayah yang jauh menuju tanah yang membutuhkannya, sebagai minuman mereka dan bina-tang-binatang mereka serta (pengairan) tanaman-tanaman pertani-an mereka; sungai-sungai itu (ada yang berada di permukaan tanah dan (ada) sungai-sungai yang terpendam di dalamnya (artesis). Mereka mengeksplorasinya dengan menggalinya (terlebih dahulu) hingga menemukannya dengan bantuan penggerek-penggerek tim-ba dan alat-alat lainnya. Bukti rahmatNya yang lain, Allah mencipta-kan jalur-jalur di bumi, yaitu jalan-jalan yang menghubungkan ke perkampungan yang saling berjauhan, ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ﴿ "agar kamu mendapat petunjuk," jalan menuju ke arahnya. Sampai-sampai eng-kau akan menjumpai daratan yang bergandengan dengan gunung-gunung, yang membentuk barisan padanya, dan Allah telah mem-buatkan celah-celah dan lintasan-lintasan di tengah-tengahnya bagi para peniti jalan.
An-Nahl 16:17
"Maka, apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa), maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong." (An-Nahl: 17-23).
(17) Setelah Allah تعالى menyampaikan tentang makhluk-makhluk ciptaanNya yang besar dan kenikmatan-kenikmatan yang Allah limpahkan, maka Dia menyebutkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang menyerupaiNya, tiada padanan dan tandingan bagiNya. Dia berfirman, ﴾ أَفَمَن يَخۡلُقُ ﴿ "Maka, apakah (Allah) yang men-ciptakan," seluruh makhluk ciptaan, dan Dia Mahakuasa melaksa-nakan apa yang dikehendakiNya, ﴾ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ ﴿ "sama dengan yang tidak dapat menciptakan," apa pun, sedikit mau pun banyak. ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran," sehingga kalian pun menyadari bahwa satu-satunya Dzat yang menciptakan itu adalah Dzat yang paling berhak menerima seluruh ibadah. Se-bagaimana halnya Allah Maha Esa dalam penciptaan dan pengatur-an, maka Dia juga Maha Esa dalam penyembahan, pengesaan, dan peribadahan. Seperti halnya, Dia tidak memiliki sekutu, saat men-ciptakan kalian dan orang lainnya, maka jangan sekali-kali kalian menjadikan tandingan-tandingan bagiNya dalam peribadahan kepadaNya. Bahkan, murnikanlah ibadah bagiNya semata.
(18) ﴾ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah," (menghitung) jumlahnya tanpa disertai rasa syukur ﴾ لَا تُحۡصُوهَآۗ ﴿ "niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya" apalagi bila (ter-gerak) untuk mensyukurinya. Sungguh, nikmat-nikmatNya yang lahiriah dan batiniah bagi hamba-hambaNya adalah sebanyak jum-lah tarikan nafas dan detik-detik waktu dari segala macam kenik-matan, yang diketahui oleh mereka dan yang tidak mereka ketahui, dan keburukan-keburukan yang telah Allah singkirkan dari mereka, maka terlalu banyak bila akan diperhitungkan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang" Dia ridha dengan rasa syukur kalian yang sedikit, meskipun curahan nikmatNya sangat banyak.
(19-20) Sebagaimana rahmatNya luas, kebaikanNya merata, dan ampunanNya menghampiri seluruh hambaNya, maka ilmu-Nya pun meliputi mereka semua. Dia mengetahui ungkapan yang mereka sembunyikan dan ucapan yang mereka nyatakan. Berbeda halnya dengan obyek yang disembah selain Allah, sesungguhnya mereka ini, ﴾ لَا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا ﴿ "tidak dapat membuat sesuatu apa pun," sedikit ataupun banyak. ﴾ وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ ﴿ "Sedang berhala-berhala itu (sendiri) di-buat orang." Bagaimana mungkin mereka bisa membuat sesuatu, kalau masih membutuhkan Allah تعالى untuk mengadakan wujud mereka?
(21-22) Kendatipun demikian, tidak ada sifat kesempurnaan yang melekat pada mereka, tidak ilmu dan tidak pula sesuatu lain-nya. ﴾ أَمۡوَٰتٌ غَيۡرُ أَحۡيَآءٖۖ ﴿ "(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup," tidak bisa mendengar, tidak mampu melihat dan tidak dapat memahami sedikit pun. Apakah makhluk semacam ini patut dijadikan sesem-bahan selain Rabb semesta alam? Kecelakaanlah bagi akal-akal kaum musyrikin, alangkah sesat dan rusaknya. Ia mengalami kesesatan pada masalah yang sangat nyata kepincangannya, ia menyamakan antara benda yang mempunyai kekurangan dari segala segi, tidak memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan tidak memiliki (kemampuan) berbuat apa pun, dibandingkan dengan Yang Mahasempurna di-pandang dari segala aspek, yang mempunyai setiap sifat kesempur-naan. Dia memiliki kesempurnaan dan keagungan yang puncak pada sifat-sifat tersebut. Dia mempunyai ilmu yang meliputi segala sesuatu, kekuasaan yang merata, rahmat yang luas (yang melingkupi seluruh sisi alam semesta), pujian, kemuliaan, kesombongan dan keagungan yang tidak ada satu makhluk pun yang berkutik untuk meliputi pada sebagian sifat-sifatNya itu. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ ﴿ "Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa," Dia-lah Allah, al-Ahad (Yang Mahasatu), al-Fard (Yang Mahatunggal) lagi tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tiada diperanak-kan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya. Orang-orang yang beriman dan mempunyai akal-akal sehat, kalbu-kalbu mereka memuliakan dan mengagungkan Allah, serta mencintai-Nya dengan kecintaan yang besar. Mereka mengarahkan bagiNya seluruh apa yang mereka bisa lakukan, berupa ibadah-ibadah bada-niyyah (fisik) dan maliyyah (dengan pengeluaran materi), amalan-amalan hati dan anggota tubuh lainnya, dan menyanjung Allah dengan nama-namaNya yang baik dan sifat-sifatNya yang suci. ﴾ فَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٞ ﴿ "Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah)," untuk perkara yang besar ini, yang tidak diingkari kecuali oleh makhluk ciptaan yang paling parah kebodohan dan pertentangannya, yaitu mengenai tauhidullah (keesaan Allah). ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "Sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong," untuk beribadah kepada-Nya.
(23) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Tidak diragukan lagi," dengan seyakin-yakin-nya, pasti ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعۡلِنُونَۚ ﴿ "bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.," berupa amalan-amalan yang buruk. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡتَكۡبِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," bahkan Dia sangat membenci mereka dan akan memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang serupa dengan tingkah-polah mereka. (Yaitu), ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 60 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari me-nyembahKu akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Al-Mu`min: 60).
An-Nahl 16:18
"Maka, apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa), maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong." (An-Nahl: 17-23).
(17) Setelah Allah تعالى menyampaikan tentang makhluk-makhluk ciptaanNya yang besar dan kenikmatan-kenikmatan yang Allah limpahkan, maka Dia menyebutkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang menyerupaiNya, tiada padanan dan tandingan bagiNya. Dia berfirman, ﴾ أَفَمَن يَخۡلُقُ ﴿ "Maka, apakah (Allah) yang men-ciptakan," seluruh makhluk ciptaan, dan Dia Mahakuasa melaksa-nakan apa yang dikehendakiNya, ﴾ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ ﴿ "sama dengan yang tidak dapat menciptakan," apa pun, sedikit mau pun banyak. ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran," sehingga kalian pun menyadari bahwa satu-satunya Dzat yang menciptakan itu adalah Dzat yang paling berhak menerima seluruh ibadah. Se-bagaimana halnya Allah Maha Esa dalam penciptaan dan pengatur-an, maka Dia juga Maha Esa dalam penyembahan, pengesaan, dan peribadahan. Seperti halnya, Dia tidak memiliki sekutu, saat men-ciptakan kalian dan orang lainnya, maka jangan sekali-kali kalian menjadikan tandingan-tandingan bagiNya dalam peribadahan kepadaNya. Bahkan, murnikanlah ibadah bagiNya semata.
(18) ﴾ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah," (menghitung) jumlahnya tanpa disertai rasa syukur ﴾ لَا تُحۡصُوهَآۗ ﴿ "niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya" apalagi bila (ter-gerak) untuk mensyukurinya. Sungguh, nikmat-nikmatNya yang lahiriah dan batiniah bagi hamba-hambaNya adalah sebanyak jum-lah tarikan nafas dan detik-detik waktu dari segala macam kenik-matan, yang diketahui oleh mereka dan yang tidak mereka ketahui, dan keburukan-keburukan yang telah Allah singkirkan dari mereka, maka terlalu banyak bila akan diperhitungkan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang" Dia ridha dengan rasa syukur kalian yang sedikit, meskipun curahan nikmatNya sangat banyak.
(19-20) Sebagaimana rahmatNya luas, kebaikanNya merata, dan ampunanNya menghampiri seluruh hambaNya, maka ilmu-Nya pun meliputi mereka semua. Dia mengetahui ungkapan yang mereka sembunyikan dan ucapan yang mereka nyatakan. Berbeda halnya dengan obyek yang disembah selain Allah, sesungguhnya mereka ini, ﴾ لَا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا ﴿ "tidak dapat membuat sesuatu apa pun," sedikit ataupun banyak. ﴾ وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ ﴿ "Sedang berhala-berhala itu (sendiri) di-buat orang." Bagaimana mungkin mereka bisa membuat sesuatu, kalau masih membutuhkan Allah تعالى untuk mengadakan wujud mereka?
(21-22) Kendatipun demikian, tidak ada sifat kesempurnaan yang melekat pada mereka, tidak ilmu dan tidak pula sesuatu lain-nya. ﴾ أَمۡوَٰتٌ غَيۡرُ أَحۡيَآءٖۖ ﴿ "(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup," tidak bisa mendengar, tidak mampu melihat dan tidak dapat memahami sedikit pun. Apakah makhluk semacam ini patut dijadikan sesem-bahan selain Rabb semesta alam? Kecelakaanlah bagi akal-akal kaum musyrikin, alangkah sesat dan rusaknya. Ia mengalami kesesatan pada masalah yang sangat nyata kepincangannya, ia menyamakan antara benda yang mempunyai kekurangan dari segala segi, tidak memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan tidak memiliki (kemampuan) berbuat apa pun, dibandingkan dengan Yang Mahasempurna di-pandang dari segala aspek, yang mempunyai setiap sifat kesempur-naan. Dia memiliki kesempurnaan dan keagungan yang puncak pada sifat-sifat tersebut. Dia mempunyai ilmu yang meliputi segala sesuatu, kekuasaan yang merata, rahmat yang luas (yang melingkupi seluruh sisi alam semesta), pujian, kemuliaan, kesombongan dan keagungan yang tidak ada satu makhluk pun yang berkutik untuk meliputi pada sebagian sifat-sifatNya itu. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ ﴿ "Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa," Dia-lah Allah, al-Ahad (Yang Mahasatu), al-Fard (Yang Mahatunggal) lagi tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tiada diperanak-kan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya. Orang-orang yang beriman dan mempunyai akal-akal sehat, kalbu-kalbu mereka memuliakan dan mengagungkan Allah, serta mencintai-Nya dengan kecintaan yang besar. Mereka mengarahkan bagiNya seluruh apa yang mereka bisa lakukan, berupa ibadah-ibadah bada-niyyah (fisik) dan maliyyah (dengan pengeluaran materi), amalan-amalan hati dan anggota tubuh lainnya, dan menyanjung Allah dengan nama-namaNya yang baik dan sifat-sifatNya yang suci. ﴾ فَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٞ ﴿ "Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah)," untuk perkara yang besar ini, yang tidak diingkari kecuali oleh makhluk ciptaan yang paling parah kebodohan dan pertentangannya, yaitu mengenai tauhidullah (keesaan Allah). ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "Sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong," untuk beribadah kepada-Nya.
(23) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Tidak diragukan lagi," dengan seyakin-yakin-nya, pasti ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعۡلِنُونَۚ ﴿ "bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.," berupa amalan-amalan yang buruk. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡتَكۡبِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," bahkan Dia sangat membenci mereka dan akan memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang serupa dengan tingkah-polah mereka. (Yaitu), ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 60 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari me-nyembahKu akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Al-Mu`min: 60).
An-Nahl 16:19
"Maka, apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa), maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong." (An-Nahl: 17-23).
(17) Setelah Allah تعالى menyampaikan tentang makhluk-makhluk ciptaanNya yang besar dan kenikmatan-kenikmatan yang Allah limpahkan, maka Dia menyebutkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang menyerupaiNya, tiada padanan dan tandingan bagiNya. Dia berfirman, ﴾ أَفَمَن يَخۡلُقُ ﴿ "Maka, apakah (Allah) yang men-ciptakan," seluruh makhluk ciptaan, dan Dia Mahakuasa melaksa-nakan apa yang dikehendakiNya, ﴾ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ ﴿ "sama dengan yang tidak dapat menciptakan," apa pun, sedikit mau pun banyak. ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran," sehingga kalian pun menyadari bahwa satu-satunya Dzat yang menciptakan itu adalah Dzat yang paling berhak menerima seluruh ibadah. Se-bagaimana halnya Allah Maha Esa dalam penciptaan dan pengatur-an, maka Dia juga Maha Esa dalam penyembahan, pengesaan, dan peribadahan. Seperti halnya, Dia tidak memiliki sekutu, saat men-ciptakan kalian dan orang lainnya, maka jangan sekali-kali kalian menjadikan tandingan-tandingan bagiNya dalam peribadahan kepadaNya. Bahkan, murnikanlah ibadah bagiNya semata.
(18) ﴾ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah," (menghitung) jumlahnya tanpa disertai rasa syukur ﴾ لَا تُحۡصُوهَآۗ ﴿ "niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya" apalagi bila (ter-gerak) untuk mensyukurinya. Sungguh, nikmat-nikmatNya yang lahiriah dan batiniah bagi hamba-hambaNya adalah sebanyak jum-lah tarikan nafas dan detik-detik waktu dari segala macam kenik-matan, yang diketahui oleh mereka dan yang tidak mereka ketahui, dan keburukan-keburukan yang telah Allah singkirkan dari mereka, maka terlalu banyak bila akan diperhitungkan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang" Dia ridha dengan rasa syukur kalian yang sedikit, meskipun curahan nikmatNya sangat banyak.
(19-20) Sebagaimana rahmatNya luas, kebaikanNya merata, dan ampunanNya menghampiri seluruh hambaNya, maka ilmu-Nya pun meliputi mereka semua. Dia mengetahui ungkapan yang mereka sembunyikan dan ucapan yang mereka nyatakan. Berbeda halnya dengan obyek yang disembah selain Allah, sesungguhnya mereka ini, ﴾ لَا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا ﴿ "tidak dapat membuat sesuatu apa pun," sedikit ataupun banyak. ﴾ وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ ﴿ "Sedang berhala-berhala itu (sendiri) di-buat orang." Bagaimana mungkin mereka bisa membuat sesuatu, kalau masih membutuhkan Allah تعالى untuk mengadakan wujud mereka?
(21-22) Kendatipun demikian, tidak ada sifat kesempurnaan yang melekat pada mereka, tidak ilmu dan tidak pula sesuatu lain-nya. ﴾ أَمۡوَٰتٌ غَيۡرُ أَحۡيَآءٖۖ ﴿ "(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup," tidak bisa mendengar, tidak mampu melihat dan tidak dapat memahami sedikit pun. Apakah makhluk semacam ini patut dijadikan sesem-bahan selain Rabb semesta alam? Kecelakaanlah bagi akal-akal kaum musyrikin, alangkah sesat dan rusaknya. Ia mengalami kesesatan pada masalah yang sangat nyata kepincangannya, ia menyamakan antara benda yang mempunyai kekurangan dari segala segi, tidak memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan tidak memiliki (kemampuan) berbuat apa pun, dibandingkan dengan Yang Mahasempurna di-pandang dari segala aspek, yang mempunyai setiap sifat kesempur-naan. Dia memiliki kesempurnaan dan keagungan yang puncak pada sifat-sifat tersebut. Dia mempunyai ilmu yang meliputi segala sesuatu, kekuasaan yang merata, rahmat yang luas (yang melingkupi seluruh sisi alam semesta), pujian, kemuliaan, kesombongan dan keagungan yang tidak ada satu makhluk pun yang berkutik untuk meliputi pada sebagian sifat-sifatNya itu. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ ﴿ "Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa," Dia-lah Allah, al-Ahad (Yang Mahasatu), al-Fard (Yang Mahatunggal) lagi tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tiada diperanak-kan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya. Orang-orang yang beriman dan mempunyai akal-akal sehat, kalbu-kalbu mereka memuliakan dan mengagungkan Allah, serta mencintai-Nya dengan kecintaan yang besar. Mereka mengarahkan bagiNya seluruh apa yang mereka bisa lakukan, berupa ibadah-ibadah bada-niyyah (fisik) dan maliyyah (dengan pengeluaran materi), amalan-amalan hati dan anggota tubuh lainnya, dan menyanjung Allah dengan nama-namaNya yang baik dan sifat-sifatNya yang suci. ﴾ فَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٞ ﴿ "Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah)," untuk perkara yang besar ini, yang tidak diingkari kecuali oleh makhluk ciptaan yang paling parah kebodohan dan pertentangannya, yaitu mengenai tauhidullah (keesaan Allah). ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "Sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong," untuk beribadah kepada-Nya.
(23) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Tidak diragukan lagi," dengan seyakin-yakin-nya, pasti ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعۡلِنُونَۚ ﴿ "bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.," berupa amalan-amalan yang buruk. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡتَكۡبِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," bahkan Dia sangat membenci mereka dan akan memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang serupa dengan tingkah-polah mereka. (Yaitu), ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 60 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari me-nyembahKu akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Al-Mu`min: 60).
An-Nahl 16:20
"Maka, apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa), maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong." (An-Nahl: 17-23).
(17) Setelah Allah تعالى menyampaikan tentang makhluk-makhluk ciptaanNya yang besar dan kenikmatan-kenikmatan yang Allah limpahkan, maka Dia menyebutkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang menyerupaiNya, tiada padanan dan tandingan bagiNya. Dia berfirman, ﴾ أَفَمَن يَخۡلُقُ ﴿ "Maka, apakah (Allah) yang men-ciptakan," seluruh makhluk ciptaan, dan Dia Mahakuasa melaksa-nakan apa yang dikehendakiNya, ﴾ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ ﴿ "sama dengan yang tidak dapat menciptakan," apa pun, sedikit mau pun banyak. ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran," sehingga kalian pun menyadari bahwa satu-satunya Dzat yang menciptakan itu adalah Dzat yang paling berhak menerima seluruh ibadah. Se-bagaimana halnya Allah Maha Esa dalam penciptaan dan pengatur-an, maka Dia juga Maha Esa dalam penyembahan, pengesaan, dan peribadahan. Seperti halnya, Dia tidak memiliki sekutu, saat men-ciptakan kalian dan orang lainnya, maka jangan sekali-kali kalian menjadikan tandingan-tandingan bagiNya dalam peribadahan kepadaNya. Bahkan, murnikanlah ibadah bagiNya semata.
(18) ﴾ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah," (menghitung) jumlahnya tanpa disertai rasa syukur ﴾ لَا تُحۡصُوهَآۗ ﴿ "niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya" apalagi bila (ter-gerak) untuk mensyukurinya. Sungguh, nikmat-nikmatNya yang lahiriah dan batiniah bagi hamba-hambaNya adalah sebanyak jum-lah tarikan nafas dan detik-detik waktu dari segala macam kenik-matan, yang diketahui oleh mereka dan yang tidak mereka ketahui, dan keburukan-keburukan yang telah Allah singkirkan dari mereka, maka terlalu banyak bila akan diperhitungkan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang" Dia ridha dengan rasa syukur kalian yang sedikit, meskipun curahan nikmatNya sangat banyak.
(19-20) Sebagaimana rahmatNya luas, kebaikanNya merata, dan ampunanNya menghampiri seluruh hambaNya, maka ilmu-Nya pun meliputi mereka semua. Dia mengetahui ungkapan yang mereka sembunyikan dan ucapan yang mereka nyatakan. Berbeda halnya dengan obyek yang disembah selain Allah, sesungguhnya mereka ini, ﴾ لَا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا ﴿ "tidak dapat membuat sesuatu apa pun," sedikit ataupun banyak. ﴾ وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ ﴿ "Sedang berhala-berhala itu (sendiri) di-buat orang." Bagaimana mungkin mereka bisa membuat sesuatu, kalau masih membutuhkan Allah تعالى untuk mengadakan wujud mereka?
(21-22) Kendatipun demikian, tidak ada sifat kesempurnaan yang melekat pada mereka, tidak ilmu dan tidak pula sesuatu lain-nya. ﴾ أَمۡوَٰتٌ غَيۡرُ أَحۡيَآءٖۖ ﴿ "(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup," tidak bisa mendengar, tidak mampu melihat dan tidak dapat memahami sedikit pun. Apakah makhluk semacam ini patut dijadikan sesem-bahan selain Rabb semesta alam? Kecelakaanlah bagi akal-akal kaum musyrikin, alangkah sesat dan rusaknya. Ia mengalami kesesatan pada masalah yang sangat nyata kepincangannya, ia menyamakan antara benda yang mempunyai kekurangan dari segala segi, tidak memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan tidak memiliki (kemampuan) berbuat apa pun, dibandingkan dengan Yang Mahasempurna di-pandang dari segala aspek, yang mempunyai setiap sifat kesempur-naan. Dia memiliki kesempurnaan dan keagungan yang puncak pada sifat-sifat tersebut. Dia mempunyai ilmu yang meliputi segala sesuatu, kekuasaan yang merata, rahmat yang luas (yang melingkupi seluruh sisi alam semesta), pujian, kemuliaan, kesombongan dan keagungan yang tidak ada satu makhluk pun yang berkutik untuk meliputi pada sebagian sifat-sifatNya itu. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ ﴿ "Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa," Dia-lah Allah, al-Ahad (Yang Mahasatu), al-Fard (Yang Mahatunggal) lagi tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tiada diperanak-kan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya. Orang-orang yang beriman dan mempunyai akal-akal sehat, kalbu-kalbu mereka memuliakan dan mengagungkan Allah, serta mencintai-Nya dengan kecintaan yang besar. Mereka mengarahkan bagiNya seluruh apa yang mereka bisa lakukan, berupa ibadah-ibadah bada-niyyah (fisik) dan maliyyah (dengan pengeluaran materi), amalan-amalan hati dan anggota tubuh lainnya, dan menyanjung Allah dengan nama-namaNya yang baik dan sifat-sifatNya yang suci. ﴾ فَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٞ ﴿ "Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah)," untuk perkara yang besar ini, yang tidak diingkari kecuali oleh makhluk ciptaan yang paling parah kebodohan dan pertentangannya, yaitu mengenai tauhidullah (keesaan Allah). ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "Sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong," untuk beribadah kepada-Nya.
(23) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Tidak diragukan lagi," dengan seyakin-yakin-nya, pasti ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعۡلِنُونَۚ ﴿ "bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.," berupa amalan-amalan yang buruk. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡتَكۡبِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," bahkan Dia sangat membenci mereka dan akan memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang serupa dengan tingkah-polah mereka. (Yaitu), ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 60 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari me-nyembahKu akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Al-Mu`min: 60).
An-Nahl 16:21
"Maka, apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa), maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong." (An-Nahl: 17-23).
(17) Setelah Allah تعالى menyampaikan tentang makhluk-makhluk ciptaanNya yang besar dan kenikmatan-kenikmatan yang Allah limpahkan, maka Dia menyebutkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang menyerupaiNya, tiada padanan dan tandingan bagiNya. Dia berfirman, ﴾ أَفَمَن يَخۡلُقُ ﴿ "Maka, apakah (Allah) yang men-ciptakan," seluruh makhluk ciptaan, dan Dia Mahakuasa melaksa-nakan apa yang dikehendakiNya, ﴾ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ ﴿ "sama dengan yang tidak dapat menciptakan," apa pun, sedikit mau pun banyak. ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran," sehingga kalian pun menyadari bahwa satu-satunya Dzat yang menciptakan itu adalah Dzat yang paling berhak menerima seluruh ibadah. Se-bagaimana halnya Allah Maha Esa dalam penciptaan dan pengatur-an, maka Dia juga Maha Esa dalam penyembahan, pengesaan, dan peribadahan. Seperti halnya, Dia tidak memiliki sekutu, saat men-ciptakan kalian dan orang lainnya, maka jangan sekali-kali kalian menjadikan tandingan-tandingan bagiNya dalam peribadahan kepadaNya. Bahkan, murnikanlah ibadah bagiNya semata.
(18) ﴾ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah," (menghitung) jumlahnya tanpa disertai rasa syukur ﴾ لَا تُحۡصُوهَآۗ ﴿ "niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya" apalagi bila (ter-gerak) untuk mensyukurinya. Sungguh, nikmat-nikmatNya yang lahiriah dan batiniah bagi hamba-hambaNya adalah sebanyak jum-lah tarikan nafas dan detik-detik waktu dari segala macam kenik-matan, yang diketahui oleh mereka dan yang tidak mereka ketahui, dan keburukan-keburukan yang telah Allah singkirkan dari mereka, maka terlalu banyak bila akan diperhitungkan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang" Dia ridha dengan rasa syukur kalian yang sedikit, meskipun curahan nikmatNya sangat banyak.
(19-20) Sebagaimana rahmatNya luas, kebaikanNya merata, dan ampunanNya menghampiri seluruh hambaNya, maka ilmu-Nya pun meliputi mereka semua. Dia mengetahui ungkapan yang mereka sembunyikan dan ucapan yang mereka nyatakan. Berbeda halnya dengan obyek yang disembah selain Allah, sesungguhnya mereka ini, ﴾ لَا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا ﴿ "tidak dapat membuat sesuatu apa pun," sedikit ataupun banyak. ﴾ وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ ﴿ "Sedang berhala-berhala itu (sendiri) di-buat orang." Bagaimana mungkin mereka bisa membuat sesuatu, kalau masih membutuhkan Allah تعالى untuk mengadakan wujud mereka?
(21-22) Kendatipun demikian, tidak ada sifat kesempurnaan yang melekat pada mereka, tidak ilmu dan tidak pula sesuatu lain-nya. ﴾ أَمۡوَٰتٌ غَيۡرُ أَحۡيَآءٖۖ ﴿ "(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup," tidak bisa mendengar, tidak mampu melihat dan tidak dapat memahami sedikit pun. Apakah makhluk semacam ini patut dijadikan sesem-bahan selain Rabb semesta alam? Kecelakaanlah bagi akal-akal kaum musyrikin, alangkah sesat dan rusaknya. Ia mengalami kesesatan pada masalah yang sangat nyata kepincangannya, ia menyamakan antara benda yang mempunyai kekurangan dari segala segi, tidak memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan tidak memiliki (kemampuan) berbuat apa pun, dibandingkan dengan Yang Mahasempurna di-pandang dari segala aspek, yang mempunyai setiap sifat kesempur-naan. Dia memiliki kesempurnaan dan keagungan yang puncak pada sifat-sifat tersebut. Dia mempunyai ilmu yang meliputi segala sesuatu, kekuasaan yang merata, rahmat yang luas (yang melingkupi seluruh sisi alam semesta), pujian, kemuliaan, kesombongan dan keagungan yang tidak ada satu makhluk pun yang berkutik untuk meliputi pada sebagian sifat-sifatNya itu. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ ﴿ "Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa," Dia-lah Allah, al-Ahad (Yang Mahasatu), al-Fard (Yang Mahatunggal) lagi tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tiada diperanak-kan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya. Orang-orang yang beriman dan mempunyai akal-akal sehat, kalbu-kalbu mereka memuliakan dan mengagungkan Allah, serta mencintai-Nya dengan kecintaan yang besar. Mereka mengarahkan bagiNya seluruh apa yang mereka bisa lakukan, berupa ibadah-ibadah bada-niyyah (fisik) dan maliyyah (dengan pengeluaran materi), amalan-amalan hati dan anggota tubuh lainnya, dan menyanjung Allah dengan nama-namaNya yang baik dan sifat-sifatNya yang suci. ﴾ فَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٞ ﴿ "Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah)," untuk perkara yang besar ini, yang tidak diingkari kecuali oleh makhluk ciptaan yang paling parah kebodohan dan pertentangannya, yaitu mengenai tauhidullah (keesaan Allah). ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "Sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong," untuk beribadah kepada-Nya.
(23) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Tidak diragukan lagi," dengan seyakin-yakin-nya, pasti ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعۡلِنُونَۚ ﴿ "bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.," berupa amalan-amalan yang buruk. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡتَكۡبِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," bahkan Dia sangat membenci mereka dan akan memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang serupa dengan tingkah-polah mereka. (Yaitu), ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 60 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari me-nyembahKu akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Al-Mu`min: 60).
An-Nahl 16:22
"Maka, apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa), maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong." (An-Nahl: 17-23).
(17) Setelah Allah تعالى menyampaikan tentang makhluk-makhluk ciptaanNya yang besar dan kenikmatan-kenikmatan yang Allah limpahkan, maka Dia menyebutkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang menyerupaiNya, tiada padanan dan tandingan bagiNya. Dia berfirman, ﴾ أَفَمَن يَخۡلُقُ ﴿ "Maka, apakah (Allah) yang men-ciptakan," seluruh makhluk ciptaan, dan Dia Mahakuasa melaksa-nakan apa yang dikehendakiNya, ﴾ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ ﴿ "sama dengan yang tidak dapat menciptakan," apa pun, sedikit mau pun banyak. ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran," sehingga kalian pun menyadari bahwa satu-satunya Dzat yang menciptakan itu adalah Dzat yang paling berhak menerima seluruh ibadah. Se-bagaimana halnya Allah Maha Esa dalam penciptaan dan pengatur-an, maka Dia juga Maha Esa dalam penyembahan, pengesaan, dan peribadahan. Seperti halnya, Dia tidak memiliki sekutu, saat men-ciptakan kalian dan orang lainnya, maka jangan sekali-kali kalian menjadikan tandingan-tandingan bagiNya dalam peribadahan kepadaNya. Bahkan, murnikanlah ibadah bagiNya semata.
(18) ﴾ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah," (menghitung) jumlahnya tanpa disertai rasa syukur ﴾ لَا تُحۡصُوهَآۗ ﴿ "niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya" apalagi bila (ter-gerak) untuk mensyukurinya. Sungguh, nikmat-nikmatNya yang lahiriah dan batiniah bagi hamba-hambaNya adalah sebanyak jum-lah tarikan nafas dan detik-detik waktu dari segala macam kenik-matan, yang diketahui oleh mereka dan yang tidak mereka ketahui, dan keburukan-keburukan yang telah Allah singkirkan dari mereka, maka terlalu banyak bila akan diperhitungkan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang" Dia ridha dengan rasa syukur kalian yang sedikit, meskipun curahan nikmatNya sangat banyak.
(19-20) Sebagaimana rahmatNya luas, kebaikanNya merata, dan ampunanNya menghampiri seluruh hambaNya, maka ilmu-Nya pun meliputi mereka semua. Dia mengetahui ungkapan yang mereka sembunyikan dan ucapan yang mereka nyatakan. Berbeda halnya dengan obyek yang disembah selain Allah, sesungguhnya mereka ini, ﴾ لَا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا ﴿ "tidak dapat membuat sesuatu apa pun," sedikit ataupun banyak. ﴾ وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ ﴿ "Sedang berhala-berhala itu (sendiri) di-buat orang." Bagaimana mungkin mereka bisa membuat sesuatu, kalau masih membutuhkan Allah تعالى untuk mengadakan wujud mereka?
(21-22) Kendatipun demikian, tidak ada sifat kesempurnaan yang melekat pada mereka, tidak ilmu dan tidak pula sesuatu lain-nya. ﴾ أَمۡوَٰتٌ غَيۡرُ أَحۡيَآءٖۖ ﴿ "(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup," tidak bisa mendengar, tidak mampu melihat dan tidak dapat memahami sedikit pun. Apakah makhluk semacam ini patut dijadikan sesem-bahan selain Rabb semesta alam? Kecelakaanlah bagi akal-akal kaum musyrikin, alangkah sesat dan rusaknya. Ia mengalami kesesatan pada masalah yang sangat nyata kepincangannya, ia menyamakan antara benda yang mempunyai kekurangan dari segala segi, tidak memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan tidak memiliki (kemampuan) berbuat apa pun, dibandingkan dengan Yang Mahasempurna di-pandang dari segala aspek, yang mempunyai setiap sifat kesempur-naan. Dia memiliki kesempurnaan dan keagungan yang puncak pada sifat-sifat tersebut. Dia mempunyai ilmu yang meliputi segala sesuatu, kekuasaan yang merata, rahmat yang luas (yang melingkupi seluruh sisi alam semesta), pujian, kemuliaan, kesombongan dan keagungan yang tidak ada satu makhluk pun yang berkutik untuk meliputi pada sebagian sifat-sifatNya itu. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ ﴿ "Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa," Dia-lah Allah, al-Ahad (Yang Mahasatu), al-Fard (Yang Mahatunggal) lagi tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tiada diperanak-kan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya. Orang-orang yang beriman dan mempunyai akal-akal sehat, kalbu-kalbu mereka memuliakan dan mengagungkan Allah, serta mencintai-Nya dengan kecintaan yang besar. Mereka mengarahkan bagiNya seluruh apa yang mereka bisa lakukan, berupa ibadah-ibadah bada-niyyah (fisik) dan maliyyah (dengan pengeluaran materi), amalan-amalan hati dan anggota tubuh lainnya, dan menyanjung Allah dengan nama-namaNya yang baik dan sifat-sifatNya yang suci. ﴾ فَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٞ ﴿ "Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah)," untuk perkara yang besar ini, yang tidak diingkari kecuali oleh makhluk ciptaan yang paling parah kebodohan dan pertentangannya, yaitu mengenai tauhidullah (keesaan Allah). ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "Sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong," untuk beribadah kepada-Nya.
(23) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Tidak diragukan lagi," dengan seyakin-yakin-nya, pasti ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعۡلِنُونَۚ ﴿ "bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.," berupa amalan-amalan yang buruk. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡتَكۡبِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," bahkan Dia sangat membenci mereka dan akan memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang serupa dengan tingkah-polah mereka. (Yaitu), ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 60 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari me-nyembahKu akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Al-Mu`min: 60).
An-Nahl 16:23
"Maka, apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa), maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong." (An-Nahl: 17-23).
(17) Setelah Allah تعالى menyampaikan tentang makhluk-makhluk ciptaanNya yang besar dan kenikmatan-kenikmatan yang Allah limpahkan, maka Dia menyebutkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang menyerupaiNya, tiada padanan dan tandingan bagiNya. Dia berfirman, ﴾ أَفَمَن يَخۡلُقُ ﴿ "Maka, apakah (Allah) yang men-ciptakan," seluruh makhluk ciptaan, dan Dia Mahakuasa melaksa-nakan apa yang dikehendakiNya, ﴾ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ ﴿ "sama dengan yang tidak dapat menciptakan," apa pun, sedikit mau pun banyak. ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran," sehingga kalian pun menyadari bahwa satu-satunya Dzat yang menciptakan itu adalah Dzat yang paling berhak menerima seluruh ibadah. Se-bagaimana halnya Allah Maha Esa dalam penciptaan dan pengatur-an, maka Dia juga Maha Esa dalam penyembahan, pengesaan, dan peribadahan. Seperti halnya, Dia tidak memiliki sekutu, saat men-ciptakan kalian dan orang lainnya, maka jangan sekali-kali kalian menjadikan tandingan-tandingan bagiNya dalam peribadahan kepadaNya. Bahkan, murnikanlah ibadah bagiNya semata.
(18) ﴾ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah," (menghitung) jumlahnya tanpa disertai rasa syukur ﴾ لَا تُحۡصُوهَآۗ ﴿ "niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya" apalagi bila (ter-gerak) untuk mensyukurinya. Sungguh, nikmat-nikmatNya yang lahiriah dan batiniah bagi hamba-hambaNya adalah sebanyak jum-lah tarikan nafas dan detik-detik waktu dari segala macam kenik-matan, yang diketahui oleh mereka dan yang tidak mereka ketahui, dan keburukan-keburukan yang telah Allah singkirkan dari mereka, maka terlalu banyak bila akan diperhitungkan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang" Dia ridha dengan rasa syukur kalian yang sedikit, meskipun curahan nikmatNya sangat banyak.
(19-20) Sebagaimana rahmatNya luas, kebaikanNya merata, dan ampunanNya menghampiri seluruh hambaNya, maka ilmu-Nya pun meliputi mereka semua. Dia mengetahui ungkapan yang mereka sembunyikan dan ucapan yang mereka nyatakan. Berbeda halnya dengan obyek yang disembah selain Allah, sesungguhnya mereka ini, ﴾ لَا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا ﴿ "tidak dapat membuat sesuatu apa pun," sedikit ataupun banyak. ﴾ وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ ﴿ "Sedang berhala-berhala itu (sendiri) di-buat orang." Bagaimana mungkin mereka bisa membuat sesuatu, kalau masih membutuhkan Allah تعالى untuk mengadakan wujud mereka?
(21-22) Kendatipun demikian, tidak ada sifat kesempurnaan yang melekat pada mereka, tidak ilmu dan tidak pula sesuatu lain-nya. ﴾ أَمۡوَٰتٌ غَيۡرُ أَحۡيَآءٖۖ ﴿ "(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup," tidak bisa mendengar, tidak mampu melihat dan tidak dapat memahami sedikit pun. Apakah makhluk semacam ini patut dijadikan sesem-bahan selain Rabb semesta alam? Kecelakaanlah bagi akal-akal kaum musyrikin, alangkah sesat dan rusaknya. Ia mengalami kesesatan pada masalah yang sangat nyata kepincangannya, ia menyamakan antara benda yang mempunyai kekurangan dari segala segi, tidak memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan tidak memiliki (kemampuan) berbuat apa pun, dibandingkan dengan Yang Mahasempurna di-pandang dari segala aspek, yang mempunyai setiap sifat kesempur-naan. Dia memiliki kesempurnaan dan keagungan yang puncak pada sifat-sifat tersebut. Dia mempunyai ilmu yang meliputi segala sesuatu, kekuasaan yang merata, rahmat yang luas (yang melingkupi seluruh sisi alam semesta), pujian, kemuliaan, kesombongan dan keagungan yang tidak ada satu makhluk pun yang berkutik untuk meliputi pada sebagian sifat-sifatNya itu. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ ﴿ "Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa," Dia-lah Allah, al-Ahad (Yang Mahasatu), al-Fard (Yang Mahatunggal) lagi tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tiada diperanak-kan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya. Orang-orang yang beriman dan mempunyai akal-akal sehat, kalbu-kalbu mereka memuliakan dan mengagungkan Allah, serta mencintai-Nya dengan kecintaan yang besar. Mereka mengarahkan bagiNya seluruh apa yang mereka bisa lakukan, berupa ibadah-ibadah bada-niyyah (fisik) dan maliyyah (dengan pengeluaran materi), amalan-amalan hati dan anggota tubuh lainnya, dan menyanjung Allah dengan nama-namaNya yang baik dan sifat-sifatNya yang suci. ﴾ فَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٞ ﴿ "Maka orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah)," untuk perkara yang besar ini, yang tidak diingkari kecuali oleh makhluk ciptaan yang paling parah kebodohan dan pertentangannya, yaitu mengenai tauhidullah (keesaan Allah). ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "Sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong," untuk beribadah kepada-Nya.
(23) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Tidak diragukan lagi," dengan seyakin-yakin-nya, pasti ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعۡلِنُونَۚ ﴿ "bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.," berupa amalan-amalan yang buruk. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡتَكۡبِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," bahkan Dia sangat membenci mereka dan akan memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang serupa dengan tingkah-polah mereka. (Yaitu), ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 60 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari me-nyembahKu akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (Al-Mu`min: 60).
An-Nahl 16:24
"Dan apabila dikatakan terhadap mereka 'Apakah yang telah diturunkan Rabbmu?' Mereka menjawab, 'Dongeng-dongengan orang-orang dahulu.' (Ucapan mereka) menyebabkan mereka me-mikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada Hari Kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah meng-hancurkan rumah-rumah mereka dari pondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu ke-pada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. Kemudian Allah menghinakan mereka di Hari Kiamat, dan berfirman, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang Mukmin).' Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu, 'Sesungguhnya ke-hinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir.' (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); 'Kami sekali-kali tidak menger-jakan suatu kejahatan pun.' (Malaikat menjawab), 'Ada, sesung-guhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan.' Maka masukilah pintu-pintu Neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyom-bongkan diri itu." (An-Nahl: 24-29).
(24) Allah تعالى berfirman untuk mengabarkan tentang dahsyat-nya pendustaan kaum musyrikin terhadap ayat-ayat Allah, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُم مَّاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan terhadap mereka, 'Apakah yang telah diturunkan Rabbmu'." Maksudnya, bila mereka disodori per-tanyaan mengenai al-Qur`an dan wahyu yang merupakan anugerah terbesar yang dicurahkan oleh Allah kepada para hambaNya, "Apa-kah komentar kalian tentangnya? Apakah kalian akan mensyukuri karunia ini dan mengakuinya, ataukah mengingkari dan memerangi-nya?" Ternyata, jawaban mereka merupakan respon terburuk dan paling kasar. Mereka mengatakan, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Dongeng-dongeng-an orang-orang dahulu." Maksudnya, merupakan kebohongan yang direkayasa oleh Muhammad atas nama Allah. Tidaklah al-Qur`an itu melainkan hanya kumpulan kisah orang-orang terdahulu yang tersebar di kalangan orang-orang dari generasi ke generasi, sebagian kisahnya nyata dan dan sebagian lagi (hanya) dusta.
(25) Mereka melontarkan omongan ini dan membujuk para pengikut mereka untuk membenarkannya serta (nekat) memikul dosa-dosa orang-orang yang patuh kepada mereka sampai Hari Kiamat. Firman Allah, ﴾ وَمِنۡ أَوۡزَارِ ٱلَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيۡرِ عِلۡمٍۗ ﴿ "Dan sebagian dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan)," yaitu sebagian dosa-dosa orang-orang yang meng-ikuti mereka (muqallidin), yang tidak berbekal ilmu apa pun kecuali hanya mengikuti ajakan mereka. Akibatnya, mereka harus memikul dosa ajakan yang mereka arahkan kepada muqallidin. Adapun orang-orang yang mengetahui persoalan ini, maka masing-masing bertang-gungjawab atas kesalahannya, lantaran dia telah mengetahui apa yang mereka ketahui. ﴾ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ ﴿ "Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu," maksudnya betapa buruknya beban dosa yang memayahkan punggung-punggung mereka yang mesti mereka pikul, yang terdiri dari dosa-dosa mereka sendiri dan dosa-dosa dari orang-orang yang telah berhasil mereka sesatkan.
(26-27) ﴾ قَدۡ مَكَرَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar," terhadap para rasul mereka dan ingin mengecoh dengan berbagai rekayasa untuk me-nolak risalah yang dibawa oleh para rasul kepada mereka. Di an-tara bentuk makar mereka adalah, membangun istana-istana yang luar biasa besarnya ﴾ فَأَتَى ٱللَّهُ بُنۡيَٰنَهُم مِّنَ ٱلۡقَوَاعِدِ ﴿ "maka Allah menghancur-kan rumah-rumah mereka dari pondasinya," maksudnya, Allah men-datangkan hukuman bencana yang menerjang rumah-rumah itu dari dasar dan pondasinya, ﴾ فَخَرَّ عَلَيۡهِمُ ٱلسَّقۡفُ مِن فَوۡقِهِمۡ ﴿ "lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas," maka gedung yang mereka bangun berubah menjadi siksaan, mereka tersiksa karenanya, ﴾ وَأَتَىٰهُمُ ٱلۡعَذَابُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari," demikian itu, lantaran mereka menyangka bahwa bangunan itu akan bermanfaat bagi mereka dan melindungi mereka dari azab. Akhirnya, siksaan (yang menimpa) mereka bersumber dari rumah yang mereka bangun dan mereka dirikan sendiri. Ini termasuk bentuk perumpamaan terbaik perihal Allah menggugurkan makar para musuhNya. Mereka telah memeras pikiran dan memperkirakan tentang risalah yang disampaikan oleh para rasul ketika mereka mendustakannya. Untuk menghadapi para rasul, mereka membuat asas-asas dan kaidah-kaidah yang batil, yang mereka jadikan rujukan untuk menolak risalah yang dibawa oleh para rasul. Mereka juga menerapkan siasat untuk me-nimpakan hal-hal buruk dan bahaya pada para rasul dan para peng-ikut mereka. Maka, usaha makar mereka ini justru berubah menjadi bencana bagi mereka, strategi yang mereka susun menjadi sumber kehancuran mereka. Hal ini karena usaha makar mereka sungguh tidak baik, dan tidaklah tindakan makar itu melainkan akan kembali menimpa pelakunya. Ini akibat buruk mereka di dunia, dan sung-guh siksaan akhirat lebih menghinakan lagi. Untuk itu, Allah ber-firman, ﴾ ثُمَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يُخۡزِيهِمۡ ﴿ "Kemudian Allah menghinakan mereka di Hari Kiamat," maksudnya mempermalukan mereka di hadapan seluruh makhluk dan menjelaskan kedustaan dan kebohongan mereka yang mengatas-namakan Allah. ﴾ وَيَقُولُ أَيۡنَ شُرَكَآءِيَ ٱلَّذِينَ كُنتُمۡ تُشَٰٓقُّونَ فِيهِمۡۚ ﴿ "Dan berfirman, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang Mukmin)'," maksudnya kalian memerangi dan memusuhi Allah dan golonganNya. Karena mereka (sekutu-sekutu itu), kalian mempunyai asumsi bahwa mereka merupakan sekutu-sekutu bagi Allah. Apabila Allah menanyakan hal ini kepada mereka, niscaya mereka tidak mempunyai jawaban selain pengakuan atas kesesatan dan permusuhan mereka. Mereka mengakui, ﴾ ضَلُّواْ عَنَّا وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ 37 ﴿ "Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami, dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." (Al-A'raf: 37). ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ ﴿ "Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu," yaitu para ulama rabbani, ﴾ إِنَّ ٱلۡخِزۡيَ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Sesungguhnya kehinaan pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ وَٱلسُّوٓءَ ﴿ "dan keburukan," yaitu azab ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "ditimpakan atas orang-orang yang kafir." Dalam ayat ini termuat keterangan tentang keutamaan para ulama, dan bahwa mereka adalah para juru bicara yang menyampaikan kebenaran di dunia ini dan pada hari ketika para saksi hadir, dan ucapan mereka memiliki tempat di sisi Allah dan para makhluk.
(28) Berikutnya, dibeberkan kejadian-kejadian yang ditimpa-kan kepada mereka di saat kematian dan Hari Kiamat ﴾ ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡۖ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri," maksudnya orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam kondisi ter-sebut, adalah orang yang sarat dengan tindak kezhaliman dan ke-sesatan mereka. Dan sungguh, sudah dimaklumi bersama segala sesuatu yang mendera orang-orang yang berbuat aniaya pada momen itu, berupa aneka macam bentuk siksa, kehinaan, dan kenistaan. ﴾ فَأَلۡقَوُاْ ٱلسَّلَمَ ﴿ "lalu mereka menyerah diri," maksudnya mereka ber-pasrah diri dan mengingkari sesembahan yang dahulu mereka sembah selain Allah. Mereka berkata, ﴾ مَا كُنَّا نَعۡمَلُ مِن سُوٓءِۭۚ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengerjakan suatu kejahatan pun." Maka dikatakan kepada mereka ﴾ بَلَىٰٓۚ ﴿ "Ya, ada," kalian memang pernah berbuat kejelekan. Maka ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan," pengingkaran kalian tidak berguna sama sekali. Dialog ini terjadi pada sebagian peristiwa di Hari Kiamat, mereka tidak mengakui apa yang mereka perbuat di dunia, dengan asumsi akan bermanfaat bagi mereka. Manakala anggota-anggota tubuh bersaksi buruk atas mereka, maka menjadi jelaslah fakta tindakan mereka terdahulu. Mereka (akhirnya) meng-amini dan mengakui(nya). Oleh karena itu, mereka tidak dimasuk-kan neraka sampai mengeluarkan pengakuan atas dosa-dosa mereka.
(29) Apabila mereka memasuki pintu-pintu Neraka Jahanam, maka setiap orang yang mengamalkan suatu amalan akan mema-suki pintunya yang sesuai dengan kondisinya. Maka, itu adalah sejelek-jelek, ﴾ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "tempat orang-orang yang menyombong-kan diri," yaitu Neraka Jahanam. Sesungguhnya ia merupakan tem-pat kesedihan dan penyesalan, hunian (yang sarat) kesengsaraan dan kepedihan, sumber kegelisahan dan kerisauan, pusat kemurka-an dari Dzat Yang Mahahidup kekal lagi terus mengurusi (makhluk-Nya). Siksaan tidak dikendorkan atas mereka, dan kepedihan hu-kumannya tidak pernah dihentikan bagi mereka. Rabb yang Maha Penyayang telah berpaling dari mereka, dan menimpakan siksaan berat pada mereka.
An-Nahl 16:25
"Dan apabila dikatakan terhadap mereka 'Apakah yang telah diturunkan Rabbmu?' Mereka menjawab, 'Dongeng-dongengan orang-orang dahulu.' (Ucapan mereka) menyebabkan mereka me-mikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada Hari Kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah meng-hancurkan rumah-rumah mereka dari pondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu ke-pada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. Kemudian Allah menghinakan mereka di Hari Kiamat, dan berfirman, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang Mukmin).' Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu, 'Sesungguhnya ke-hinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir.' (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); 'Kami sekali-kali tidak menger-jakan suatu kejahatan pun.' (Malaikat menjawab), 'Ada, sesung-guhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan.' Maka masukilah pintu-pintu Neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyom-bongkan diri itu." (An-Nahl: 24-29).
(24) Allah تعالى berfirman untuk mengabarkan tentang dahsyat-nya pendustaan kaum musyrikin terhadap ayat-ayat Allah, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُم مَّاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan terhadap mereka, 'Apakah yang telah diturunkan Rabbmu'." Maksudnya, bila mereka disodori per-tanyaan mengenai al-Qur`an dan wahyu yang merupakan anugerah terbesar yang dicurahkan oleh Allah kepada para hambaNya, "Apa-kah komentar kalian tentangnya? Apakah kalian akan mensyukuri karunia ini dan mengakuinya, ataukah mengingkari dan memerangi-nya?" Ternyata, jawaban mereka merupakan respon terburuk dan paling kasar. Mereka mengatakan, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Dongeng-dongeng-an orang-orang dahulu." Maksudnya, merupakan kebohongan yang direkayasa oleh Muhammad atas nama Allah. Tidaklah al-Qur`an itu melainkan hanya kumpulan kisah orang-orang terdahulu yang tersebar di kalangan orang-orang dari generasi ke generasi, sebagian kisahnya nyata dan dan sebagian lagi (hanya) dusta.
(25) Mereka melontarkan omongan ini dan membujuk para pengikut mereka untuk membenarkannya serta (nekat) memikul dosa-dosa orang-orang yang patuh kepada mereka sampai Hari Kiamat. Firman Allah, ﴾ وَمِنۡ أَوۡزَارِ ٱلَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيۡرِ عِلۡمٍۗ ﴿ "Dan sebagian dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan)," yaitu sebagian dosa-dosa orang-orang yang meng-ikuti mereka (muqallidin), yang tidak berbekal ilmu apa pun kecuali hanya mengikuti ajakan mereka. Akibatnya, mereka harus memikul dosa ajakan yang mereka arahkan kepada muqallidin. Adapun orang-orang yang mengetahui persoalan ini, maka masing-masing bertang-gungjawab atas kesalahannya, lantaran dia telah mengetahui apa yang mereka ketahui. ﴾ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ ﴿ "Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu," maksudnya betapa buruknya beban dosa yang memayahkan punggung-punggung mereka yang mesti mereka pikul, yang terdiri dari dosa-dosa mereka sendiri dan dosa-dosa dari orang-orang yang telah berhasil mereka sesatkan.
(26-27) ﴾ قَدۡ مَكَرَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar," terhadap para rasul mereka dan ingin mengecoh dengan berbagai rekayasa untuk me-nolak risalah yang dibawa oleh para rasul kepada mereka. Di an-tara bentuk makar mereka adalah, membangun istana-istana yang luar biasa besarnya ﴾ فَأَتَى ٱللَّهُ بُنۡيَٰنَهُم مِّنَ ٱلۡقَوَاعِدِ ﴿ "maka Allah menghancur-kan rumah-rumah mereka dari pondasinya," maksudnya, Allah men-datangkan hukuman bencana yang menerjang rumah-rumah itu dari dasar dan pondasinya, ﴾ فَخَرَّ عَلَيۡهِمُ ٱلسَّقۡفُ مِن فَوۡقِهِمۡ ﴿ "lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas," maka gedung yang mereka bangun berubah menjadi siksaan, mereka tersiksa karenanya, ﴾ وَأَتَىٰهُمُ ٱلۡعَذَابُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari," demikian itu, lantaran mereka menyangka bahwa bangunan itu akan bermanfaat bagi mereka dan melindungi mereka dari azab. Akhirnya, siksaan (yang menimpa) mereka bersumber dari rumah yang mereka bangun dan mereka dirikan sendiri. Ini termasuk bentuk perumpamaan terbaik perihal Allah menggugurkan makar para musuhNya. Mereka telah memeras pikiran dan memperkirakan tentang risalah yang disampaikan oleh para rasul ketika mereka mendustakannya. Untuk menghadapi para rasul, mereka membuat asas-asas dan kaidah-kaidah yang batil, yang mereka jadikan rujukan untuk menolak risalah yang dibawa oleh para rasul. Mereka juga menerapkan siasat untuk me-nimpakan hal-hal buruk dan bahaya pada para rasul dan para peng-ikut mereka. Maka, usaha makar mereka ini justru berubah menjadi bencana bagi mereka, strategi yang mereka susun menjadi sumber kehancuran mereka. Hal ini karena usaha makar mereka sungguh tidak baik, dan tidaklah tindakan makar itu melainkan akan kembali menimpa pelakunya. Ini akibat buruk mereka di dunia, dan sung-guh siksaan akhirat lebih menghinakan lagi. Untuk itu, Allah ber-firman, ﴾ ثُمَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يُخۡزِيهِمۡ ﴿ "Kemudian Allah menghinakan mereka di Hari Kiamat," maksudnya mempermalukan mereka di hadapan seluruh makhluk dan menjelaskan kedustaan dan kebohongan mereka yang mengatas-namakan Allah. ﴾ وَيَقُولُ أَيۡنَ شُرَكَآءِيَ ٱلَّذِينَ كُنتُمۡ تُشَٰٓقُّونَ فِيهِمۡۚ ﴿ "Dan berfirman, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang Mukmin)'," maksudnya kalian memerangi dan memusuhi Allah dan golonganNya. Karena mereka (sekutu-sekutu itu), kalian mempunyai asumsi bahwa mereka merupakan sekutu-sekutu bagi Allah. Apabila Allah menanyakan hal ini kepada mereka, niscaya mereka tidak mempunyai jawaban selain pengakuan atas kesesatan dan permusuhan mereka. Mereka mengakui, ﴾ ضَلُّواْ عَنَّا وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ 37 ﴿ "Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami, dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." (Al-A'raf: 37). ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ ﴿ "Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu," yaitu para ulama rabbani, ﴾ إِنَّ ٱلۡخِزۡيَ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Sesungguhnya kehinaan pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ وَٱلسُّوٓءَ ﴿ "dan keburukan," yaitu azab ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "ditimpakan atas orang-orang yang kafir." Dalam ayat ini termuat keterangan tentang keutamaan para ulama, dan bahwa mereka adalah para juru bicara yang menyampaikan kebenaran di dunia ini dan pada hari ketika para saksi hadir, dan ucapan mereka memiliki tempat di sisi Allah dan para makhluk.
(28) Berikutnya, dibeberkan kejadian-kejadian yang ditimpa-kan kepada mereka di saat kematian dan Hari Kiamat ﴾ ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡۖ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri," maksudnya orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam kondisi ter-sebut, adalah orang yang sarat dengan tindak kezhaliman dan ke-sesatan mereka. Dan sungguh, sudah dimaklumi bersama segala sesuatu yang mendera orang-orang yang berbuat aniaya pada momen itu, berupa aneka macam bentuk siksa, kehinaan, dan kenistaan. ﴾ فَأَلۡقَوُاْ ٱلسَّلَمَ ﴿ "lalu mereka menyerah diri," maksudnya mereka ber-pasrah diri dan mengingkari sesembahan yang dahulu mereka sembah selain Allah. Mereka berkata, ﴾ مَا كُنَّا نَعۡمَلُ مِن سُوٓءِۭۚ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengerjakan suatu kejahatan pun." Maka dikatakan kepada mereka ﴾ بَلَىٰٓۚ ﴿ "Ya, ada," kalian memang pernah berbuat kejelekan. Maka ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan," pengingkaran kalian tidak berguna sama sekali. Dialog ini terjadi pada sebagian peristiwa di Hari Kiamat, mereka tidak mengakui apa yang mereka perbuat di dunia, dengan asumsi akan bermanfaat bagi mereka. Manakala anggota-anggota tubuh bersaksi buruk atas mereka, maka menjadi jelaslah fakta tindakan mereka terdahulu. Mereka (akhirnya) meng-amini dan mengakui(nya). Oleh karena itu, mereka tidak dimasuk-kan neraka sampai mengeluarkan pengakuan atas dosa-dosa mereka.
(29) Apabila mereka memasuki pintu-pintu Neraka Jahanam, maka setiap orang yang mengamalkan suatu amalan akan mema-suki pintunya yang sesuai dengan kondisinya. Maka, itu adalah sejelek-jelek, ﴾ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "tempat orang-orang yang menyombong-kan diri," yaitu Neraka Jahanam. Sesungguhnya ia merupakan tem-pat kesedihan dan penyesalan, hunian (yang sarat) kesengsaraan dan kepedihan, sumber kegelisahan dan kerisauan, pusat kemurka-an dari Dzat Yang Mahahidup kekal lagi terus mengurusi (makhluk-Nya). Siksaan tidak dikendorkan atas mereka, dan kepedihan hu-kumannya tidak pernah dihentikan bagi mereka. Rabb yang Maha Penyayang telah berpaling dari mereka, dan menimpakan siksaan berat pada mereka.
An-Nahl 16:26
"Dan apabila dikatakan terhadap mereka 'Apakah yang telah diturunkan Rabbmu?' Mereka menjawab, 'Dongeng-dongengan orang-orang dahulu.' (Ucapan mereka) menyebabkan mereka me-mikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada Hari Kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah meng-hancurkan rumah-rumah mereka dari pondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu ke-pada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. Kemudian Allah menghinakan mereka di Hari Kiamat, dan berfirman, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang Mukmin).' Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu, 'Sesungguhnya ke-hinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir.' (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); 'Kami sekali-kali tidak menger-jakan suatu kejahatan pun.' (Malaikat menjawab), 'Ada, sesung-guhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan.' Maka masukilah pintu-pintu Neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyom-bongkan diri itu." (An-Nahl: 24-29).
(24) Allah تعالى berfirman untuk mengabarkan tentang dahsyat-nya pendustaan kaum musyrikin terhadap ayat-ayat Allah, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُم مَّاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan terhadap mereka, 'Apakah yang telah diturunkan Rabbmu'." Maksudnya, bila mereka disodori per-tanyaan mengenai al-Qur`an dan wahyu yang merupakan anugerah terbesar yang dicurahkan oleh Allah kepada para hambaNya, "Apa-kah komentar kalian tentangnya? Apakah kalian akan mensyukuri karunia ini dan mengakuinya, ataukah mengingkari dan memerangi-nya?" Ternyata, jawaban mereka merupakan respon terburuk dan paling kasar. Mereka mengatakan, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Dongeng-dongeng-an orang-orang dahulu." Maksudnya, merupakan kebohongan yang direkayasa oleh Muhammad atas nama Allah. Tidaklah al-Qur`an itu melainkan hanya kumpulan kisah orang-orang terdahulu yang tersebar di kalangan orang-orang dari generasi ke generasi, sebagian kisahnya nyata dan dan sebagian lagi (hanya) dusta.
(25) Mereka melontarkan omongan ini dan membujuk para pengikut mereka untuk membenarkannya serta (nekat) memikul dosa-dosa orang-orang yang patuh kepada mereka sampai Hari Kiamat. Firman Allah, ﴾ وَمِنۡ أَوۡزَارِ ٱلَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيۡرِ عِلۡمٍۗ ﴿ "Dan sebagian dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan)," yaitu sebagian dosa-dosa orang-orang yang meng-ikuti mereka (muqallidin), yang tidak berbekal ilmu apa pun kecuali hanya mengikuti ajakan mereka. Akibatnya, mereka harus memikul dosa ajakan yang mereka arahkan kepada muqallidin. Adapun orang-orang yang mengetahui persoalan ini, maka masing-masing bertang-gungjawab atas kesalahannya, lantaran dia telah mengetahui apa yang mereka ketahui. ﴾ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ ﴿ "Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu," maksudnya betapa buruknya beban dosa yang memayahkan punggung-punggung mereka yang mesti mereka pikul, yang terdiri dari dosa-dosa mereka sendiri dan dosa-dosa dari orang-orang yang telah berhasil mereka sesatkan.
(26-27) ﴾ قَدۡ مَكَرَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar," terhadap para rasul mereka dan ingin mengecoh dengan berbagai rekayasa untuk me-nolak risalah yang dibawa oleh para rasul kepada mereka. Di an-tara bentuk makar mereka adalah, membangun istana-istana yang luar biasa besarnya ﴾ فَأَتَى ٱللَّهُ بُنۡيَٰنَهُم مِّنَ ٱلۡقَوَاعِدِ ﴿ "maka Allah menghancur-kan rumah-rumah mereka dari pondasinya," maksudnya, Allah men-datangkan hukuman bencana yang menerjang rumah-rumah itu dari dasar dan pondasinya, ﴾ فَخَرَّ عَلَيۡهِمُ ٱلسَّقۡفُ مِن فَوۡقِهِمۡ ﴿ "lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas," maka gedung yang mereka bangun berubah menjadi siksaan, mereka tersiksa karenanya, ﴾ وَأَتَىٰهُمُ ٱلۡعَذَابُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari," demikian itu, lantaran mereka menyangka bahwa bangunan itu akan bermanfaat bagi mereka dan melindungi mereka dari azab. Akhirnya, siksaan (yang menimpa) mereka bersumber dari rumah yang mereka bangun dan mereka dirikan sendiri. Ini termasuk bentuk perumpamaan terbaik perihal Allah menggugurkan makar para musuhNya. Mereka telah memeras pikiran dan memperkirakan tentang risalah yang disampaikan oleh para rasul ketika mereka mendustakannya. Untuk menghadapi para rasul, mereka membuat asas-asas dan kaidah-kaidah yang batil, yang mereka jadikan rujukan untuk menolak risalah yang dibawa oleh para rasul. Mereka juga menerapkan siasat untuk me-nimpakan hal-hal buruk dan bahaya pada para rasul dan para peng-ikut mereka. Maka, usaha makar mereka ini justru berubah menjadi bencana bagi mereka, strategi yang mereka susun menjadi sumber kehancuran mereka. Hal ini karena usaha makar mereka sungguh tidak baik, dan tidaklah tindakan makar itu melainkan akan kembali menimpa pelakunya. Ini akibat buruk mereka di dunia, dan sung-guh siksaan akhirat lebih menghinakan lagi. Untuk itu, Allah ber-firman, ﴾ ثُمَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يُخۡزِيهِمۡ ﴿ "Kemudian Allah menghinakan mereka di Hari Kiamat," maksudnya mempermalukan mereka di hadapan seluruh makhluk dan menjelaskan kedustaan dan kebohongan mereka yang mengatas-namakan Allah. ﴾ وَيَقُولُ أَيۡنَ شُرَكَآءِيَ ٱلَّذِينَ كُنتُمۡ تُشَٰٓقُّونَ فِيهِمۡۚ ﴿ "Dan berfirman, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang Mukmin)'," maksudnya kalian memerangi dan memusuhi Allah dan golonganNya. Karena mereka (sekutu-sekutu itu), kalian mempunyai asumsi bahwa mereka merupakan sekutu-sekutu bagi Allah. Apabila Allah menanyakan hal ini kepada mereka, niscaya mereka tidak mempunyai jawaban selain pengakuan atas kesesatan dan permusuhan mereka. Mereka mengakui, ﴾ ضَلُّواْ عَنَّا وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ 37 ﴿ "Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami, dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." (Al-A'raf: 37). ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ ﴿ "Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu," yaitu para ulama rabbani, ﴾ إِنَّ ٱلۡخِزۡيَ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Sesungguhnya kehinaan pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ وَٱلسُّوٓءَ ﴿ "dan keburukan," yaitu azab ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "ditimpakan atas orang-orang yang kafir." Dalam ayat ini termuat keterangan tentang keutamaan para ulama, dan bahwa mereka adalah para juru bicara yang menyampaikan kebenaran di dunia ini dan pada hari ketika para saksi hadir, dan ucapan mereka memiliki tempat di sisi Allah dan para makhluk.
(28) Berikutnya, dibeberkan kejadian-kejadian yang ditimpa-kan kepada mereka di saat kematian dan Hari Kiamat ﴾ ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡۖ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri," maksudnya orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam kondisi ter-sebut, adalah orang yang sarat dengan tindak kezhaliman dan ke-sesatan mereka. Dan sungguh, sudah dimaklumi bersama segala sesuatu yang mendera orang-orang yang berbuat aniaya pada momen itu, berupa aneka macam bentuk siksa, kehinaan, dan kenistaan. ﴾ فَأَلۡقَوُاْ ٱلسَّلَمَ ﴿ "lalu mereka menyerah diri," maksudnya mereka ber-pasrah diri dan mengingkari sesembahan yang dahulu mereka sembah selain Allah. Mereka berkata, ﴾ مَا كُنَّا نَعۡمَلُ مِن سُوٓءِۭۚ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengerjakan suatu kejahatan pun." Maka dikatakan kepada mereka ﴾ بَلَىٰٓۚ ﴿ "Ya, ada," kalian memang pernah berbuat kejelekan. Maka ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan," pengingkaran kalian tidak berguna sama sekali. Dialog ini terjadi pada sebagian peristiwa di Hari Kiamat, mereka tidak mengakui apa yang mereka perbuat di dunia, dengan asumsi akan bermanfaat bagi mereka. Manakala anggota-anggota tubuh bersaksi buruk atas mereka, maka menjadi jelaslah fakta tindakan mereka terdahulu. Mereka (akhirnya) meng-amini dan mengakui(nya). Oleh karena itu, mereka tidak dimasuk-kan neraka sampai mengeluarkan pengakuan atas dosa-dosa mereka.
(29) Apabila mereka memasuki pintu-pintu Neraka Jahanam, maka setiap orang yang mengamalkan suatu amalan akan mema-suki pintunya yang sesuai dengan kondisinya. Maka, itu adalah sejelek-jelek, ﴾ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "tempat orang-orang yang menyombong-kan diri," yaitu Neraka Jahanam. Sesungguhnya ia merupakan tem-pat kesedihan dan penyesalan, hunian (yang sarat) kesengsaraan dan kepedihan, sumber kegelisahan dan kerisauan, pusat kemurka-an dari Dzat Yang Mahahidup kekal lagi terus mengurusi (makhluk-Nya). Siksaan tidak dikendorkan atas mereka, dan kepedihan hu-kumannya tidak pernah dihentikan bagi mereka. Rabb yang Maha Penyayang telah berpaling dari mereka, dan menimpakan siksaan berat pada mereka.
An-Nahl 16:27
"Dan apabila dikatakan terhadap mereka 'Apakah yang telah diturunkan Rabbmu?' Mereka menjawab, 'Dongeng-dongengan orang-orang dahulu.' (Ucapan mereka) menyebabkan mereka me-mikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada Hari Kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah meng-hancurkan rumah-rumah mereka dari pondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu ke-pada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. Kemudian Allah menghinakan mereka di Hari Kiamat, dan berfirman, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang Mukmin).' Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu, 'Sesungguhnya ke-hinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir.' (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); 'Kami sekali-kali tidak menger-jakan suatu kejahatan pun.' (Malaikat menjawab), 'Ada, sesung-guhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan.' Maka masukilah pintu-pintu Neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyom-bongkan diri itu." (An-Nahl: 24-29).
(24) Allah تعالى berfirman untuk mengabarkan tentang dahsyat-nya pendustaan kaum musyrikin terhadap ayat-ayat Allah, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُم مَّاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan terhadap mereka, 'Apakah yang telah diturunkan Rabbmu'." Maksudnya, bila mereka disodori per-tanyaan mengenai al-Qur`an dan wahyu yang merupakan anugerah terbesar yang dicurahkan oleh Allah kepada para hambaNya, "Apa-kah komentar kalian tentangnya? Apakah kalian akan mensyukuri karunia ini dan mengakuinya, ataukah mengingkari dan memerangi-nya?" Ternyata, jawaban mereka merupakan respon terburuk dan paling kasar. Mereka mengatakan, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Dongeng-dongeng-an orang-orang dahulu." Maksudnya, merupakan kebohongan yang direkayasa oleh Muhammad atas nama Allah. Tidaklah al-Qur`an itu melainkan hanya kumpulan kisah orang-orang terdahulu yang tersebar di kalangan orang-orang dari generasi ke generasi, sebagian kisahnya nyata dan dan sebagian lagi (hanya) dusta.
(25) Mereka melontarkan omongan ini dan membujuk para pengikut mereka untuk membenarkannya serta (nekat) memikul dosa-dosa orang-orang yang patuh kepada mereka sampai Hari Kiamat. Firman Allah, ﴾ وَمِنۡ أَوۡزَارِ ٱلَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيۡرِ عِلۡمٍۗ ﴿ "Dan sebagian dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan)," yaitu sebagian dosa-dosa orang-orang yang meng-ikuti mereka (muqallidin), yang tidak berbekal ilmu apa pun kecuali hanya mengikuti ajakan mereka. Akibatnya, mereka harus memikul dosa ajakan yang mereka arahkan kepada muqallidin. Adapun orang-orang yang mengetahui persoalan ini, maka masing-masing bertang-gungjawab atas kesalahannya, lantaran dia telah mengetahui apa yang mereka ketahui. ﴾ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ ﴿ "Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu," maksudnya betapa buruknya beban dosa yang memayahkan punggung-punggung mereka yang mesti mereka pikul, yang terdiri dari dosa-dosa mereka sendiri dan dosa-dosa dari orang-orang yang telah berhasil mereka sesatkan.
(26-27) ﴾ قَدۡ مَكَرَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar," terhadap para rasul mereka dan ingin mengecoh dengan berbagai rekayasa untuk me-nolak risalah yang dibawa oleh para rasul kepada mereka. Di an-tara bentuk makar mereka adalah, membangun istana-istana yang luar biasa besarnya ﴾ فَأَتَى ٱللَّهُ بُنۡيَٰنَهُم مِّنَ ٱلۡقَوَاعِدِ ﴿ "maka Allah menghancur-kan rumah-rumah mereka dari pondasinya," maksudnya, Allah men-datangkan hukuman bencana yang menerjang rumah-rumah itu dari dasar dan pondasinya, ﴾ فَخَرَّ عَلَيۡهِمُ ٱلسَّقۡفُ مِن فَوۡقِهِمۡ ﴿ "lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas," maka gedung yang mereka bangun berubah menjadi siksaan, mereka tersiksa karenanya, ﴾ وَأَتَىٰهُمُ ٱلۡعَذَابُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari," demikian itu, lantaran mereka menyangka bahwa bangunan itu akan bermanfaat bagi mereka dan melindungi mereka dari azab. Akhirnya, siksaan (yang menimpa) mereka bersumber dari rumah yang mereka bangun dan mereka dirikan sendiri. Ini termasuk bentuk perumpamaan terbaik perihal Allah menggugurkan makar para musuhNya. Mereka telah memeras pikiran dan memperkirakan tentang risalah yang disampaikan oleh para rasul ketika mereka mendustakannya. Untuk menghadapi para rasul, mereka membuat asas-asas dan kaidah-kaidah yang batil, yang mereka jadikan rujukan untuk menolak risalah yang dibawa oleh para rasul. Mereka juga menerapkan siasat untuk me-nimpakan hal-hal buruk dan bahaya pada para rasul dan para peng-ikut mereka. Maka, usaha makar mereka ini justru berubah menjadi bencana bagi mereka, strategi yang mereka susun menjadi sumber kehancuran mereka. Hal ini karena usaha makar mereka sungguh tidak baik, dan tidaklah tindakan makar itu melainkan akan kembali menimpa pelakunya. Ini akibat buruk mereka di dunia, dan sung-guh siksaan akhirat lebih menghinakan lagi. Untuk itu, Allah ber-firman, ﴾ ثُمَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يُخۡزِيهِمۡ ﴿ "Kemudian Allah menghinakan mereka di Hari Kiamat," maksudnya mempermalukan mereka di hadapan seluruh makhluk dan menjelaskan kedustaan dan kebohongan mereka yang mengatas-namakan Allah. ﴾ وَيَقُولُ أَيۡنَ شُرَكَآءِيَ ٱلَّذِينَ كُنتُمۡ تُشَٰٓقُّونَ فِيهِمۡۚ ﴿ "Dan berfirman, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang Mukmin)'," maksudnya kalian memerangi dan memusuhi Allah dan golonganNya. Karena mereka (sekutu-sekutu itu), kalian mempunyai asumsi bahwa mereka merupakan sekutu-sekutu bagi Allah. Apabila Allah menanyakan hal ini kepada mereka, niscaya mereka tidak mempunyai jawaban selain pengakuan atas kesesatan dan permusuhan mereka. Mereka mengakui, ﴾ ضَلُّواْ عَنَّا وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ 37 ﴿ "Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami, dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." (Al-A'raf: 37). ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ ﴿ "Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu," yaitu para ulama rabbani, ﴾ إِنَّ ٱلۡخِزۡيَ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Sesungguhnya kehinaan pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ وَٱلسُّوٓءَ ﴿ "dan keburukan," yaitu azab ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "ditimpakan atas orang-orang yang kafir." Dalam ayat ini termuat keterangan tentang keutamaan para ulama, dan bahwa mereka adalah para juru bicara yang menyampaikan kebenaran di dunia ini dan pada hari ketika para saksi hadir, dan ucapan mereka memiliki tempat di sisi Allah dan para makhluk.
(28) Berikutnya, dibeberkan kejadian-kejadian yang ditimpa-kan kepada mereka di saat kematian dan Hari Kiamat ﴾ ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡۖ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri," maksudnya orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam kondisi ter-sebut, adalah orang yang sarat dengan tindak kezhaliman dan ke-sesatan mereka. Dan sungguh, sudah dimaklumi bersama segala sesuatu yang mendera orang-orang yang berbuat aniaya pada momen itu, berupa aneka macam bentuk siksa, kehinaan, dan kenistaan. ﴾ فَأَلۡقَوُاْ ٱلسَّلَمَ ﴿ "lalu mereka menyerah diri," maksudnya mereka ber-pasrah diri dan mengingkari sesembahan yang dahulu mereka sembah selain Allah. Mereka berkata, ﴾ مَا كُنَّا نَعۡمَلُ مِن سُوٓءِۭۚ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengerjakan suatu kejahatan pun." Maka dikatakan kepada mereka ﴾ بَلَىٰٓۚ ﴿ "Ya, ada," kalian memang pernah berbuat kejelekan. Maka ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan," pengingkaran kalian tidak berguna sama sekali. Dialog ini terjadi pada sebagian peristiwa di Hari Kiamat, mereka tidak mengakui apa yang mereka perbuat di dunia, dengan asumsi akan bermanfaat bagi mereka. Manakala anggota-anggota tubuh bersaksi buruk atas mereka, maka menjadi jelaslah fakta tindakan mereka terdahulu. Mereka (akhirnya) meng-amini dan mengakui(nya). Oleh karena itu, mereka tidak dimasuk-kan neraka sampai mengeluarkan pengakuan atas dosa-dosa mereka.
(29) Apabila mereka memasuki pintu-pintu Neraka Jahanam, maka setiap orang yang mengamalkan suatu amalan akan mema-suki pintunya yang sesuai dengan kondisinya. Maka, itu adalah sejelek-jelek, ﴾ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "tempat orang-orang yang menyombong-kan diri," yaitu Neraka Jahanam. Sesungguhnya ia merupakan tem-pat kesedihan dan penyesalan, hunian (yang sarat) kesengsaraan dan kepedihan, sumber kegelisahan dan kerisauan, pusat kemurka-an dari Dzat Yang Mahahidup kekal lagi terus mengurusi (makhluk-Nya). Siksaan tidak dikendorkan atas mereka, dan kepedihan hu-kumannya tidak pernah dihentikan bagi mereka. Rabb yang Maha Penyayang telah berpaling dari mereka, dan menimpakan siksaan berat pada mereka.
An-Nahl 16:28
"Dan apabila dikatakan terhadap mereka 'Apakah yang telah diturunkan Rabbmu?' Mereka menjawab, 'Dongeng-dongengan orang-orang dahulu.' (Ucapan mereka) menyebabkan mereka me-mikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada Hari Kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah meng-hancurkan rumah-rumah mereka dari pondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu ke-pada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. Kemudian Allah menghinakan mereka di Hari Kiamat, dan berfirman, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang Mukmin).' Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu, 'Sesungguhnya ke-hinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir.' (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); 'Kami sekali-kali tidak menger-jakan suatu kejahatan pun.' (Malaikat menjawab), 'Ada, sesung-guhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan.' Maka masukilah pintu-pintu Neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyom-bongkan diri itu." (An-Nahl: 24-29).
(24) Allah تعالى berfirman untuk mengabarkan tentang dahsyat-nya pendustaan kaum musyrikin terhadap ayat-ayat Allah, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُم مَّاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan terhadap mereka, 'Apakah yang telah diturunkan Rabbmu'." Maksudnya, bila mereka disodori per-tanyaan mengenai al-Qur`an dan wahyu yang merupakan anugerah terbesar yang dicurahkan oleh Allah kepada para hambaNya, "Apa-kah komentar kalian tentangnya? Apakah kalian akan mensyukuri karunia ini dan mengakuinya, ataukah mengingkari dan memerangi-nya?" Ternyata, jawaban mereka merupakan respon terburuk dan paling kasar. Mereka mengatakan, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Dongeng-dongeng-an orang-orang dahulu." Maksudnya, merupakan kebohongan yang direkayasa oleh Muhammad atas nama Allah. Tidaklah al-Qur`an itu melainkan hanya kumpulan kisah orang-orang terdahulu yang tersebar di kalangan orang-orang dari generasi ke generasi, sebagian kisahnya nyata dan dan sebagian lagi (hanya) dusta.
(25) Mereka melontarkan omongan ini dan membujuk para pengikut mereka untuk membenarkannya serta (nekat) memikul dosa-dosa orang-orang yang patuh kepada mereka sampai Hari Kiamat. Firman Allah, ﴾ وَمِنۡ أَوۡزَارِ ٱلَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيۡرِ عِلۡمٍۗ ﴿ "Dan sebagian dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan)," yaitu sebagian dosa-dosa orang-orang yang meng-ikuti mereka (muqallidin), yang tidak berbekal ilmu apa pun kecuali hanya mengikuti ajakan mereka. Akibatnya, mereka harus memikul dosa ajakan yang mereka arahkan kepada muqallidin. Adapun orang-orang yang mengetahui persoalan ini, maka masing-masing bertang-gungjawab atas kesalahannya, lantaran dia telah mengetahui apa yang mereka ketahui. ﴾ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ ﴿ "Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu," maksudnya betapa buruknya beban dosa yang memayahkan punggung-punggung mereka yang mesti mereka pikul, yang terdiri dari dosa-dosa mereka sendiri dan dosa-dosa dari orang-orang yang telah berhasil mereka sesatkan.
(26-27) ﴾ قَدۡ مَكَرَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar," terhadap para rasul mereka dan ingin mengecoh dengan berbagai rekayasa untuk me-nolak risalah yang dibawa oleh para rasul kepada mereka. Di an-tara bentuk makar mereka adalah, membangun istana-istana yang luar biasa besarnya ﴾ فَأَتَى ٱللَّهُ بُنۡيَٰنَهُم مِّنَ ٱلۡقَوَاعِدِ ﴿ "maka Allah menghancur-kan rumah-rumah mereka dari pondasinya," maksudnya, Allah men-datangkan hukuman bencana yang menerjang rumah-rumah itu dari dasar dan pondasinya, ﴾ فَخَرَّ عَلَيۡهِمُ ٱلسَّقۡفُ مِن فَوۡقِهِمۡ ﴿ "lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas," maka gedung yang mereka bangun berubah menjadi siksaan, mereka tersiksa karenanya, ﴾ وَأَتَىٰهُمُ ٱلۡعَذَابُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari," demikian itu, lantaran mereka menyangka bahwa bangunan itu akan bermanfaat bagi mereka dan melindungi mereka dari azab. Akhirnya, siksaan (yang menimpa) mereka bersumber dari rumah yang mereka bangun dan mereka dirikan sendiri. Ini termasuk bentuk perumpamaan terbaik perihal Allah menggugurkan makar para musuhNya. Mereka telah memeras pikiran dan memperkirakan tentang risalah yang disampaikan oleh para rasul ketika mereka mendustakannya. Untuk menghadapi para rasul, mereka membuat asas-asas dan kaidah-kaidah yang batil, yang mereka jadikan rujukan untuk menolak risalah yang dibawa oleh para rasul. Mereka juga menerapkan siasat untuk me-nimpakan hal-hal buruk dan bahaya pada para rasul dan para peng-ikut mereka. Maka, usaha makar mereka ini justru berubah menjadi bencana bagi mereka, strategi yang mereka susun menjadi sumber kehancuran mereka. Hal ini karena usaha makar mereka sungguh tidak baik, dan tidaklah tindakan makar itu melainkan akan kembali menimpa pelakunya. Ini akibat buruk mereka di dunia, dan sung-guh siksaan akhirat lebih menghinakan lagi. Untuk itu, Allah ber-firman, ﴾ ثُمَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يُخۡزِيهِمۡ ﴿ "Kemudian Allah menghinakan mereka di Hari Kiamat," maksudnya mempermalukan mereka di hadapan seluruh makhluk dan menjelaskan kedustaan dan kebohongan mereka yang mengatas-namakan Allah. ﴾ وَيَقُولُ أَيۡنَ شُرَكَآءِيَ ٱلَّذِينَ كُنتُمۡ تُشَٰٓقُّونَ فِيهِمۡۚ ﴿ "Dan berfirman, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang Mukmin)'," maksudnya kalian memerangi dan memusuhi Allah dan golonganNya. Karena mereka (sekutu-sekutu itu), kalian mempunyai asumsi bahwa mereka merupakan sekutu-sekutu bagi Allah. Apabila Allah menanyakan hal ini kepada mereka, niscaya mereka tidak mempunyai jawaban selain pengakuan atas kesesatan dan permusuhan mereka. Mereka mengakui, ﴾ ضَلُّواْ عَنَّا وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ 37 ﴿ "Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami, dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." (Al-A'raf: 37). ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ ﴿ "Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu," yaitu para ulama rabbani, ﴾ إِنَّ ٱلۡخِزۡيَ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Sesungguhnya kehinaan pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ وَٱلسُّوٓءَ ﴿ "dan keburukan," yaitu azab ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "ditimpakan atas orang-orang yang kafir." Dalam ayat ini termuat keterangan tentang keutamaan para ulama, dan bahwa mereka adalah para juru bicara yang menyampaikan kebenaran di dunia ini dan pada hari ketika para saksi hadir, dan ucapan mereka memiliki tempat di sisi Allah dan para makhluk.
(28) Berikutnya, dibeberkan kejadian-kejadian yang ditimpa-kan kepada mereka di saat kematian dan Hari Kiamat ﴾ ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡۖ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri," maksudnya orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam kondisi ter-sebut, adalah orang yang sarat dengan tindak kezhaliman dan ke-sesatan mereka. Dan sungguh, sudah dimaklumi bersama segala sesuatu yang mendera orang-orang yang berbuat aniaya pada momen itu, berupa aneka macam bentuk siksa, kehinaan, dan kenistaan. ﴾ فَأَلۡقَوُاْ ٱلسَّلَمَ ﴿ "lalu mereka menyerah diri," maksudnya mereka ber-pasrah diri dan mengingkari sesembahan yang dahulu mereka sembah selain Allah. Mereka berkata, ﴾ مَا كُنَّا نَعۡمَلُ مِن سُوٓءِۭۚ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengerjakan suatu kejahatan pun." Maka dikatakan kepada mereka ﴾ بَلَىٰٓۚ ﴿ "Ya, ada," kalian memang pernah berbuat kejelekan. Maka ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan," pengingkaran kalian tidak berguna sama sekali. Dialog ini terjadi pada sebagian peristiwa di Hari Kiamat, mereka tidak mengakui apa yang mereka perbuat di dunia, dengan asumsi akan bermanfaat bagi mereka. Manakala anggota-anggota tubuh bersaksi buruk atas mereka, maka menjadi jelaslah fakta tindakan mereka terdahulu. Mereka (akhirnya) meng-amini dan mengakui(nya). Oleh karena itu, mereka tidak dimasuk-kan neraka sampai mengeluarkan pengakuan atas dosa-dosa mereka.
(29) Apabila mereka memasuki pintu-pintu Neraka Jahanam, maka setiap orang yang mengamalkan suatu amalan akan mema-suki pintunya yang sesuai dengan kondisinya. Maka, itu adalah sejelek-jelek, ﴾ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "tempat orang-orang yang menyombong-kan diri," yaitu Neraka Jahanam. Sesungguhnya ia merupakan tem-pat kesedihan dan penyesalan, hunian (yang sarat) kesengsaraan dan kepedihan, sumber kegelisahan dan kerisauan, pusat kemurka-an dari Dzat Yang Mahahidup kekal lagi terus mengurusi (makhluk-Nya). Siksaan tidak dikendorkan atas mereka, dan kepedihan hu-kumannya tidak pernah dihentikan bagi mereka. Rabb yang Maha Penyayang telah berpaling dari mereka, dan menimpakan siksaan berat pada mereka.
An-Nahl 16:29
"Dan apabila dikatakan terhadap mereka 'Apakah yang telah diturunkan Rabbmu?' Mereka menjawab, 'Dongeng-dongengan orang-orang dahulu.' (Ucapan mereka) menyebabkan mereka me-mikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada Hari Kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah meng-hancurkan rumah-rumah mereka dari pondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu ke-pada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. Kemudian Allah menghinakan mereka di Hari Kiamat, dan berfirman, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang Mukmin).' Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu, 'Sesungguhnya ke-hinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir.' (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); 'Kami sekali-kali tidak menger-jakan suatu kejahatan pun.' (Malaikat menjawab), 'Ada, sesung-guhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan.' Maka masukilah pintu-pintu Neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyom-bongkan diri itu." (An-Nahl: 24-29).
(24) Allah تعالى berfirman untuk mengabarkan tentang dahsyat-nya pendustaan kaum musyrikin terhadap ayat-ayat Allah, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُم مَّاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan terhadap mereka, 'Apakah yang telah diturunkan Rabbmu'." Maksudnya, bila mereka disodori per-tanyaan mengenai al-Qur`an dan wahyu yang merupakan anugerah terbesar yang dicurahkan oleh Allah kepada para hambaNya, "Apa-kah komentar kalian tentangnya? Apakah kalian akan mensyukuri karunia ini dan mengakuinya, ataukah mengingkari dan memerangi-nya?" Ternyata, jawaban mereka merupakan respon terburuk dan paling kasar. Mereka mengatakan, ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Dongeng-dongeng-an orang-orang dahulu." Maksudnya, merupakan kebohongan yang direkayasa oleh Muhammad atas nama Allah. Tidaklah al-Qur`an itu melainkan hanya kumpulan kisah orang-orang terdahulu yang tersebar di kalangan orang-orang dari generasi ke generasi, sebagian kisahnya nyata dan dan sebagian lagi (hanya) dusta.
(25) Mereka melontarkan omongan ini dan membujuk para pengikut mereka untuk membenarkannya serta (nekat) memikul dosa-dosa orang-orang yang patuh kepada mereka sampai Hari Kiamat. Firman Allah, ﴾ وَمِنۡ أَوۡزَارِ ٱلَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيۡرِ عِلۡمٍۗ ﴿ "Dan sebagian dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan)," yaitu sebagian dosa-dosa orang-orang yang meng-ikuti mereka (muqallidin), yang tidak berbekal ilmu apa pun kecuali hanya mengikuti ajakan mereka. Akibatnya, mereka harus memikul dosa ajakan yang mereka arahkan kepada muqallidin. Adapun orang-orang yang mengetahui persoalan ini, maka masing-masing bertang-gungjawab atas kesalahannya, lantaran dia telah mengetahui apa yang mereka ketahui. ﴾ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ ﴿ "Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu," maksudnya betapa buruknya beban dosa yang memayahkan punggung-punggung mereka yang mesti mereka pikul, yang terdiri dari dosa-dosa mereka sendiri dan dosa-dosa dari orang-orang yang telah berhasil mereka sesatkan.
(26-27) ﴾ قَدۡ مَكَرَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar," terhadap para rasul mereka dan ingin mengecoh dengan berbagai rekayasa untuk me-nolak risalah yang dibawa oleh para rasul kepada mereka. Di an-tara bentuk makar mereka adalah, membangun istana-istana yang luar biasa besarnya ﴾ فَأَتَى ٱللَّهُ بُنۡيَٰنَهُم مِّنَ ٱلۡقَوَاعِدِ ﴿ "maka Allah menghancur-kan rumah-rumah mereka dari pondasinya," maksudnya, Allah men-datangkan hukuman bencana yang menerjang rumah-rumah itu dari dasar dan pondasinya, ﴾ فَخَرَّ عَلَيۡهِمُ ٱلسَّقۡفُ مِن فَوۡقِهِمۡ ﴿ "lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas," maka gedung yang mereka bangun berubah menjadi siksaan, mereka tersiksa karenanya, ﴾ وَأَتَىٰهُمُ ٱلۡعَذَابُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari," demikian itu, lantaran mereka menyangka bahwa bangunan itu akan bermanfaat bagi mereka dan melindungi mereka dari azab. Akhirnya, siksaan (yang menimpa) mereka bersumber dari rumah yang mereka bangun dan mereka dirikan sendiri. Ini termasuk bentuk perumpamaan terbaik perihal Allah menggugurkan makar para musuhNya. Mereka telah memeras pikiran dan memperkirakan tentang risalah yang disampaikan oleh para rasul ketika mereka mendustakannya. Untuk menghadapi para rasul, mereka membuat asas-asas dan kaidah-kaidah yang batil, yang mereka jadikan rujukan untuk menolak risalah yang dibawa oleh para rasul. Mereka juga menerapkan siasat untuk me-nimpakan hal-hal buruk dan bahaya pada para rasul dan para peng-ikut mereka. Maka, usaha makar mereka ini justru berubah menjadi bencana bagi mereka, strategi yang mereka susun menjadi sumber kehancuran mereka. Hal ini karena usaha makar mereka sungguh tidak baik, dan tidaklah tindakan makar itu melainkan akan kembali menimpa pelakunya. Ini akibat buruk mereka di dunia, dan sung-guh siksaan akhirat lebih menghinakan lagi. Untuk itu, Allah ber-firman, ﴾ ثُمَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يُخۡزِيهِمۡ ﴿ "Kemudian Allah menghinakan mereka di Hari Kiamat," maksudnya mempermalukan mereka di hadapan seluruh makhluk dan menjelaskan kedustaan dan kebohongan mereka yang mengatas-namakan Allah. ﴾ وَيَقُولُ أَيۡنَ شُرَكَآءِيَ ٱلَّذِينَ كُنتُمۡ تُشَٰٓقُّونَ فِيهِمۡۚ ﴿ "Dan berfirman, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang Mukmin)'," maksudnya kalian memerangi dan memusuhi Allah dan golonganNya. Karena mereka (sekutu-sekutu itu), kalian mempunyai asumsi bahwa mereka merupakan sekutu-sekutu bagi Allah. Apabila Allah menanyakan hal ini kepada mereka, niscaya mereka tidak mempunyai jawaban selain pengakuan atas kesesatan dan permusuhan mereka. Mereka mengakui, ﴾ ضَلُّواْ عَنَّا وَشَهِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰفِرِينَ 37 ﴿ "Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami, dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." (Al-A'raf: 37). ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ ﴿ "Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu," yaitu para ulama rabbani, ﴾ إِنَّ ٱلۡخِزۡيَ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Sesungguhnya kehinaan pada hari ini," yaitu Hari Kiamat, ﴾ وَٱلسُّوٓءَ ﴿ "dan keburukan," yaitu azab ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "ditimpakan atas orang-orang yang kafir." Dalam ayat ini termuat keterangan tentang keutamaan para ulama, dan bahwa mereka adalah para juru bicara yang menyampaikan kebenaran di dunia ini dan pada hari ketika para saksi hadir, dan ucapan mereka memiliki tempat di sisi Allah dan para makhluk.
(28) Berikutnya, dibeberkan kejadian-kejadian yang ditimpa-kan kepada mereka di saat kematian dan Hari Kiamat ﴾ ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡۖ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri," maksudnya orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam kondisi ter-sebut, adalah orang yang sarat dengan tindak kezhaliman dan ke-sesatan mereka. Dan sungguh, sudah dimaklumi bersama segala sesuatu yang mendera orang-orang yang berbuat aniaya pada momen itu, berupa aneka macam bentuk siksa, kehinaan, dan kenistaan. ﴾ فَأَلۡقَوُاْ ٱلسَّلَمَ ﴿ "lalu mereka menyerah diri," maksudnya mereka ber-pasrah diri dan mengingkari sesembahan yang dahulu mereka sembah selain Allah. Mereka berkata, ﴾ مَا كُنَّا نَعۡمَلُ مِن سُوٓءِۭۚ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengerjakan suatu kejahatan pun." Maka dikatakan kepada mereka ﴾ بَلَىٰٓۚ ﴿ "Ya, ada," kalian memang pernah berbuat kejelekan. Maka ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan," pengingkaran kalian tidak berguna sama sekali. Dialog ini terjadi pada sebagian peristiwa di Hari Kiamat, mereka tidak mengakui apa yang mereka perbuat di dunia, dengan asumsi akan bermanfaat bagi mereka. Manakala anggota-anggota tubuh bersaksi buruk atas mereka, maka menjadi jelaslah fakta tindakan mereka terdahulu. Mereka (akhirnya) meng-amini dan mengakui(nya). Oleh karena itu, mereka tidak dimasuk-kan neraka sampai mengeluarkan pengakuan atas dosa-dosa mereka.
(29) Apabila mereka memasuki pintu-pintu Neraka Jahanam, maka setiap orang yang mengamalkan suatu amalan akan mema-suki pintunya yang sesuai dengan kondisinya. Maka, itu adalah sejelek-jelek, ﴾ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "tempat orang-orang yang menyombong-kan diri," yaitu Neraka Jahanam. Sesungguhnya ia merupakan tem-pat kesedihan dan penyesalan, hunian (yang sarat) kesengsaraan dan kepedihan, sumber kegelisahan dan kerisauan, pusat kemurka-an dari Dzat Yang Mahahidup kekal lagi terus mengurusi (makhluk-Nya). Siksaan tidak dikendorkan atas mereka, dan kepedihan hu-kumannya tidak pernah dihentikan bagi mereka. Rabb yang Maha Penyayang telah berpaling dari mereka, dan menimpakan siksaan berat pada mereka.
An-Nahl 16:30
"Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, 'Apakah yang telah diturunkan oleh Rabbmu?' Mereka menjawab, '(Allah telah menurunkan) kebaikan.' Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa. (Yaitu) Surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikian-lah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), 'Semoga ke-selamatan terlimpahkan kepada kalian, masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan'." (An-Nahl: 30-32).
(30) Ketika Allah mengemukakan komentar orang-orang yang mendustakan risalah yang Allah turunkan, maka Allah me-nyebutkan ungkapan kaum muttaqin (orang-orang yang bertakwa), bahwa mereka mengakui dan menetapkan bahwa risalah yang di-turunkan oleh Allah merupakan anugerah besar dan kebaikan yang agung, yang Allah limpahkan kepada para hambaNya. Mereka menerima karunia itu, merengkuhnya dengan tulus dan kepatuhan, dan mereka mensyukurinya. Mereka menyadari kenikmatan itu dan mengaplikasikan ajarannya. ﴾ لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ﴿ "Orang-orang yang berbuat baik mendapat," mak-sudnya, di dalam beribadah kepada Allah, orang-orang yang ber-buat baik mendapatkan, ﴾ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۚ ﴿ "di dunia ini (pembalasan) yang baik," yaitu rizki yang lapang, kehidupan yang nyaman, keten-traman hati, dan rasa aman serta kebahagiaan. ﴾ وَلَدَارُ ٱلۡأٓخِرَةِ خَيۡرٞۚ ﴿ "Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik," daripada kampung (dunia) ini dan seluruh isinya yang berupa kelezatan-kelezatan dan hal-hal yang mengasyikkan. Sesungguhnya kenikmatan dunia cuma sedikit, penuh dengan kerusakan, lagi bersifat terputus (fana). Ber-beda halnya dengan kenikmatan akhirat. Karena itu, Allah ber-firman, ﴾ وَلَنِعۡمَ دَارُ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa."
(31-32) ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ لَهُمۡ فِيهَا مَا يَشَآءُونَۚ ﴿ "(Yaitu) Surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai. Di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang me-reka kehendaki," maksudnya apa pun yang mereka angan-angankan dan kehendak mereka telah terpaku dengannya, niscaya akan te-realisasikan bagi mereka dalam bentuk yang paling sempurna lagi lengkap. Tidaklah mereka mencari suatu jenis kenikmatan yang membekaskan kesenangan hati dan kebahagiaan jiwa melainkan pasti muncul di hadapan mereka. Oleh sebab itu, Allah memberi kepada para penghuni surga apa saja yang mereka idam-idamkan. Sampai-sampai Allah mengingatkan mereka sekian banyak kenik-matan yang tidak pernah terbetik dalam hati mereka. Mahaberkah Allah yang tiada penghujung bagi kemurahanNya dan tiada batas bagi kedermawananNya, yang tiada sesuatu pun yang serupa de-nganNya dalam sifat-sifat DzatNya, sifat-sifat perbuatanNya dan pengaruh-pengaruh sifat-sifat tersebut serta keagungan kepemilikan dan kerajaanNya. ﴾ كَذَٰلِكَ يَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa," (yang memelihara diri) dari kemurkaan Allah dan siksaNya dengan cara mengerjakan ke-wajiban-kewajiban dan kefardhuan-kefardhuan yang Allah tetapkan pada mereka, yang berhubungan dengan hati, jasmani, dan lisan yang menjadi hak Allah dan hak sesama manusia, dan meninggal-kan hal-hal yang dilarang oleh Allah. ﴾ ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat," senantiasa menjaga ketakwaan mereka ﴾ طَيِّبِينَ ﴿ "dalam keadaan baik," maksudnya, suci dan menyucikan dari segala aib dan kotoran yang mengenai mereka dan menorehkan dampak buruk pada iman mereka. Hati mereka menjadi baik karena ma'rifatullah dan kecintaan kepadaNya, lisan-lisan mereka menjadi baik lantar-an mengingat Allah dan memujiNya, dan anggota tubuh mereka baik dengan ketaatan dan menghadapkan wajah kepadaNya. ﴾ يَقُولُونَ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمُ ﴿ "Dengan mengatakan (kepada mereka), 'Semoga keselamatan tercurahkan kepada kalian'," maksudnya ucapan penghor-matan yang sempurna diperuntukkan bagi kalian dan keselamatan dari setiap gangguan. Sungguh, kalian telah bebas dari segala yang kalian benci. ﴾ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan," dalam bentuk keiman-an kepada Allah, kepatuhan kepada perintahNya. Sesungguhnya amalan merupakan penyebab, materi dan asas untuk masuk surga dan selamat dari api neraka. Amalan itu bisa terlaksana bagi mereka atas dasar rahmat Allah dan karuniaNya, bukan atas daya dan ke-kuatan mereka.
An-Nahl 16:31
"Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, 'Apakah yang telah diturunkan oleh Rabbmu?' Mereka menjawab, '(Allah telah menurunkan) kebaikan.' Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa. (Yaitu) Surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikian-lah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), 'Semoga ke-selamatan terlimpahkan kepada kalian, masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan'." (An-Nahl: 30-32).
(30) Ketika Allah mengemukakan komentar orang-orang yang mendustakan risalah yang Allah turunkan, maka Allah me-nyebutkan ungkapan kaum muttaqin (orang-orang yang bertakwa), bahwa mereka mengakui dan menetapkan bahwa risalah yang di-turunkan oleh Allah merupakan anugerah besar dan kebaikan yang agung, yang Allah limpahkan kepada para hambaNya. Mereka menerima karunia itu, merengkuhnya dengan tulus dan kepatuhan, dan mereka mensyukurinya. Mereka menyadari kenikmatan itu dan mengaplikasikan ajarannya. ﴾ لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ﴿ "Orang-orang yang berbuat baik mendapat," mak-sudnya, di dalam beribadah kepada Allah, orang-orang yang ber-buat baik mendapatkan, ﴾ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۚ ﴿ "di dunia ini (pembalasan) yang baik," yaitu rizki yang lapang, kehidupan yang nyaman, keten-traman hati, dan rasa aman serta kebahagiaan. ﴾ وَلَدَارُ ٱلۡأٓخِرَةِ خَيۡرٞۚ ﴿ "Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik," daripada kampung (dunia) ini dan seluruh isinya yang berupa kelezatan-kelezatan dan hal-hal yang mengasyikkan. Sesungguhnya kenikmatan dunia cuma sedikit, penuh dengan kerusakan, lagi bersifat terputus (fana). Ber-beda halnya dengan kenikmatan akhirat. Karena itu, Allah ber-firman, ﴾ وَلَنِعۡمَ دَارُ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa."
(31-32) ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ لَهُمۡ فِيهَا مَا يَشَآءُونَۚ ﴿ "(Yaitu) Surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai. Di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang me-reka kehendaki," maksudnya apa pun yang mereka angan-angankan dan kehendak mereka telah terpaku dengannya, niscaya akan te-realisasikan bagi mereka dalam bentuk yang paling sempurna lagi lengkap. Tidaklah mereka mencari suatu jenis kenikmatan yang membekaskan kesenangan hati dan kebahagiaan jiwa melainkan pasti muncul di hadapan mereka. Oleh sebab itu, Allah memberi kepada para penghuni surga apa saja yang mereka idam-idamkan. Sampai-sampai Allah mengingatkan mereka sekian banyak kenik-matan yang tidak pernah terbetik dalam hati mereka. Mahaberkah Allah yang tiada penghujung bagi kemurahanNya dan tiada batas bagi kedermawananNya, yang tiada sesuatu pun yang serupa de-nganNya dalam sifat-sifat DzatNya, sifat-sifat perbuatanNya dan pengaruh-pengaruh sifat-sifat tersebut serta keagungan kepemilikan dan kerajaanNya. ﴾ كَذَٰلِكَ يَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa," (yang memelihara diri) dari kemurkaan Allah dan siksaNya dengan cara mengerjakan ke-wajiban-kewajiban dan kefardhuan-kefardhuan yang Allah tetapkan pada mereka, yang berhubungan dengan hati, jasmani, dan lisan yang menjadi hak Allah dan hak sesama manusia, dan meninggal-kan hal-hal yang dilarang oleh Allah. ﴾ ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat," senantiasa menjaga ketakwaan mereka ﴾ طَيِّبِينَ ﴿ "dalam keadaan baik," maksudnya, suci dan menyucikan dari segala aib dan kotoran yang mengenai mereka dan menorehkan dampak buruk pada iman mereka. Hati mereka menjadi baik karena ma'rifatullah dan kecintaan kepadaNya, lisan-lisan mereka menjadi baik lantar-an mengingat Allah dan memujiNya, dan anggota tubuh mereka baik dengan ketaatan dan menghadapkan wajah kepadaNya. ﴾ يَقُولُونَ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمُ ﴿ "Dengan mengatakan (kepada mereka), 'Semoga keselamatan tercurahkan kepada kalian'," maksudnya ucapan penghor-matan yang sempurna diperuntukkan bagi kalian dan keselamatan dari setiap gangguan. Sungguh, kalian telah bebas dari segala yang kalian benci. ﴾ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan," dalam bentuk keiman-an kepada Allah, kepatuhan kepada perintahNya. Sesungguhnya amalan merupakan penyebab, materi dan asas untuk masuk surga dan selamat dari api neraka. Amalan itu bisa terlaksana bagi mereka atas dasar rahmat Allah dan karuniaNya, bukan atas daya dan ke-kuatan mereka.
An-Nahl 16:32
"Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, 'Apakah yang telah diturunkan oleh Rabbmu?' Mereka menjawab, '(Allah telah menurunkan) kebaikan.' Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa. (Yaitu) Surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikian-lah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), 'Semoga ke-selamatan terlimpahkan kepada kalian, masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan'." (An-Nahl: 30-32).
(30) Ketika Allah mengemukakan komentar orang-orang yang mendustakan risalah yang Allah turunkan, maka Allah me-nyebutkan ungkapan kaum muttaqin (orang-orang yang bertakwa), bahwa mereka mengakui dan menetapkan bahwa risalah yang di-turunkan oleh Allah merupakan anugerah besar dan kebaikan yang agung, yang Allah limpahkan kepada para hambaNya. Mereka menerima karunia itu, merengkuhnya dengan tulus dan kepatuhan, dan mereka mensyukurinya. Mereka menyadari kenikmatan itu dan mengaplikasikan ajarannya. ﴾ لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ﴿ "Orang-orang yang berbuat baik mendapat," mak-sudnya, di dalam beribadah kepada Allah, orang-orang yang ber-buat baik mendapatkan, ﴾ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۚ ﴿ "di dunia ini (pembalasan) yang baik," yaitu rizki yang lapang, kehidupan yang nyaman, keten-traman hati, dan rasa aman serta kebahagiaan. ﴾ وَلَدَارُ ٱلۡأٓخِرَةِ خَيۡرٞۚ ﴿ "Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik," daripada kampung (dunia) ini dan seluruh isinya yang berupa kelezatan-kelezatan dan hal-hal yang mengasyikkan. Sesungguhnya kenikmatan dunia cuma sedikit, penuh dengan kerusakan, lagi bersifat terputus (fana). Ber-beda halnya dengan kenikmatan akhirat. Karena itu, Allah ber-firman, ﴾ وَلَنِعۡمَ دَارُ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa."
(31-32) ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ لَهُمۡ فِيهَا مَا يَشَآءُونَۚ ﴿ "(Yaitu) Surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai. Di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang me-reka kehendaki," maksudnya apa pun yang mereka angan-angankan dan kehendak mereka telah terpaku dengannya, niscaya akan te-realisasikan bagi mereka dalam bentuk yang paling sempurna lagi lengkap. Tidaklah mereka mencari suatu jenis kenikmatan yang membekaskan kesenangan hati dan kebahagiaan jiwa melainkan pasti muncul di hadapan mereka. Oleh sebab itu, Allah memberi kepada para penghuni surga apa saja yang mereka idam-idamkan. Sampai-sampai Allah mengingatkan mereka sekian banyak kenik-matan yang tidak pernah terbetik dalam hati mereka. Mahaberkah Allah yang tiada penghujung bagi kemurahanNya dan tiada batas bagi kedermawananNya, yang tiada sesuatu pun yang serupa de-nganNya dalam sifat-sifat DzatNya, sifat-sifat perbuatanNya dan pengaruh-pengaruh sifat-sifat tersebut serta keagungan kepemilikan dan kerajaanNya. ﴾ كَذَٰلِكَ يَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa," (yang memelihara diri) dari kemurkaan Allah dan siksaNya dengan cara mengerjakan ke-wajiban-kewajiban dan kefardhuan-kefardhuan yang Allah tetapkan pada mereka, yang berhubungan dengan hati, jasmani, dan lisan yang menjadi hak Allah dan hak sesama manusia, dan meninggal-kan hal-hal yang dilarang oleh Allah. ﴾ ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat," senantiasa menjaga ketakwaan mereka ﴾ طَيِّبِينَ ﴿ "dalam keadaan baik," maksudnya, suci dan menyucikan dari segala aib dan kotoran yang mengenai mereka dan menorehkan dampak buruk pada iman mereka. Hati mereka menjadi baik karena ma'rifatullah dan kecintaan kepadaNya, lisan-lisan mereka menjadi baik lantar-an mengingat Allah dan memujiNya, dan anggota tubuh mereka baik dengan ketaatan dan menghadapkan wajah kepadaNya. ﴾ يَقُولُونَ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمُ ﴿ "Dengan mengatakan (kepada mereka), 'Semoga keselamatan tercurahkan kepada kalian'," maksudnya ucapan penghor-matan yang sempurna diperuntukkan bagi kalian dan keselamatan dari setiap gangguan. Sungguh, kalian telah bebas dari segala yang kalian benci. ﴾ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan," dalam bentuk keiman-an kepada Allah, kepatuhan kepada perintahNya. Sesungguhnya amalan merupakan penyebab, materi dan asas untuk masuk surga dan selamat dari api neraka. Amalan itu bisa terlaksana bagi mereka atas dasar rahmat Allah dan karuniaNya, bukan atas daya dan ke-kuatan mereka.
An-Nahl 16:33
"Tidaklah yang ditunggu-tunggu orang kafir melainkan da-tangnya para malaikat kepada mereka atau datangnya perintah Rabbmu. Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang (kafir) sebelum mereka. Dan Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri. Maka mereka ditimpa oleh (akibat) kejahatan perbuatan mereka, dan mereka di-liputi oleh azab yang selalu mereka perolok-olokkan." (An-Nahl: 33-34).
(33) Allah تعالى berkata, "Tidaklah mereka (yang didatangi oleh ayat-ayat, namun mereka tidak beriman dan telah diingatkan, na-mun tidak sudi mengambil pelajaran) menunggu, ﴾ إِلَّآ أَن تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "selain dari datangnya para malaikat kepada mereka," untuk mencabut nyawa-nyawa mereka, ﴾ أَوۡ يَأۡتِيَ أَمۡرُ رَبِّكَۚ ﴿ "atau datangnya perintah Rabb-mu," dengan membawa siksa yang akan menghampiri mereka. Se-sungguhnya mereka sudah pantas untuk diberi siksa. ﴾ كَذَٰلِكَ فَعَلَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ ﴿ "Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang (kafir) se-belum mereka," mereka mendustakan dan mengingkari. Lantas tidak sudi beriman sampai siksaan turun menerjang mereka, ﴾ وَمَا ظَلَمَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "dan Allah tidak menganiaya mereka," ketika menimpakan siksaan pada mereka, ﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri," karena mereka itu diciptakan untuk misi beribadah kepada Allah, agar tempat kembalinya di tempat kemuliaan Allah. Mereka telah berbuat aniaya kepada jiwa-jiwa mereka, mengesampingkan tujuan penciptaannya dan me-nyodorkannya di bawah ancaman kehinaan yang abadi dan ke-sengsaraan yang selalu membuntuti.
(34) ﴾ فَأَصَابَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Maka mereka ditimpa oleh (akibat) kejahatan perbuatan mereka," yaitu hukuman-hukuman atas amalan-amalan mereka dan dampak buruknya, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka di-liputi oleh azab," yaitu petaka ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "yang selalu mereka perolok-olokkan," mereka itu bila menerima informasi tentang azab dari para rasul, niscaya mereka melontarkan ejekan kepadanya dan mencemooh orang yang memberitahukannya. Akibatnya, perkara yang mereka cemoohkan melanda mereka.
An-Nahl 16:34
"Tidaklah yang ditunggu-tunggu orang kafir melainkan da-tangnya para malaikat kepada mereka atau datangnya perintah Rabbmu. Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang (kafir) sebelum mereka. Dan Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri. Maka mereka ditimpa oleh (akibat) kejahatan perbuatan mereka, dan mereka di-liputi oleh azab yang selalu mereka perolok-olokkan." (An-Nahl: 33-34).
(33) Allah تعالى berkata, "Tidaklah mereka (yang didatangi oleh ayat-ayat, namun mereka tidak beriman dan telah diingatkan, na-mun tidak sudi mengambil pelajaran) menunggu, ﴾ إِلَّآ أَن تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "selain dari datangnya para malaikat kepada mereka," untuk mencabut nyawa-nyawa mereka, ﴾ أَوۡ يَأۡتِيَ أَمۡرُ رَبِّكَۚ ﴿ "atau datangnya perintah Rabb-mu," dengan membawa siksa yang akan menghampiri mereka. Se-sungguhnya mereka sudah pantas untuk diberi siksa. ﴾ كَذَٰلِكَ فَعَلَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ ﴿ "Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang (kafir) se-belum mereka," mereka mendustakan dan mengingkari. Lantas tidak sudi beriman sampai siksaan turun menerjang mereka, ﴾ وَمَا ظَلَمَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "dan Allah tidak menganiaya mereka," ketika menimpakan siksaan pada mereka, ﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri," karena mereka itu diciptakan untuk misi beribadah kepada Allah, agar tempat kembalinya di tempat kemuliaan Allah. Mereka telah berbuat aniaya kepada jiwa-jiwa mereka, mengesampingkan tujuan penciptaannya dan me-nyodorkannya di bawah ancaman kehinaan yang abadi dan ke-sengsaraan yang selalu membuntuti.
(34) ﴾ فَأَصَابَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Maka mereka ditimpa oleh (akibat) kejahatan perbuatan mereka," yaitu hukuman-hukuman atas amalan-amalan mereka dan dampak buruknya, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka di-liputi oleh azab," yaitu petaka ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "yang selalu mereka perolok-olokkan," mereka itu bila menerima informasi tentang azab dari para rasul, niscaya mereka melontarkan ejekan kepadanya dan mencemooh orang yang memberitahukannya. Akibatnya, perkara yang mereka cemoohkan melanda mereka.
An-Nahl 16:35
"Dan berkatalah orang-orang musyrik, 'Jika Allah menghen-daki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)Nya.' Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidaklah kewajiban atas para rasul, melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." (An-Nahl: 35).
(35) Kaum musyrikin membela diri atas tindakan syirik mereka dengan (dalih) masyi`atullah (kehendak Allah). Bahwa, se-kiranya Allah tidak menghendaki, niscaya mereka tidak akan ber-buat syirik dan tidak mengharamkan sesuatu apa pun dari binatang-binatang ternak yang Allah halalkan. Seperti mengharamkan bahi-rah[16], washilah[17], ham[18] dan binatang lain bukan karena Allah. Ini me-rupakan argumentasi yang batil. Sekiranya pembelaan jenis ini tepat, niscaya Allah tidak akan menghukum orang-orang sebelum mereka yang telah menyekutukan suatu obyek denganNya. Allah meng-hukum mereka dengan siksa yang sangat berat. Seandainya Allah menyukai praktik itu, maka Dia tidak menyiksa mereka. Tidaklah maksud mereka dengan ungkapan itu melainkan untuk menampik kebenaran yang dibawa oleh para rasul. Kalau tidak untuk tujuan demikian, sebetulnya mereka itu mengetahui bahwa tidak ada hujjah (pembelaan diri) bagi mereka untuk meng-gugat Allah. Allah sudah memerintahkan dan melarang mereka, serta memudahkan mereka untuk menjalankan beban yang mesti mereka pikul. Dia telah menciptakan kekuatan dan kehendak bagi mereka yang menjadi sumber perbuatan mereka. Gugatan mereka dengan menggunakan (dalih) ketentuan qadha dan qadar adalah termasuk kebatilan yang fatal. Demikianlah, dengan inderanya, se-tiap orang mengetahui kemampuan orang lain untuk mengerjakan sebuah perbuatan yang ia inginkan tanpa ada pihak yang mengham-batnya. Maka, mereka telah menggabungkan antara sikap pendus-taan kepada Allah dan pendustaan terhadap para rasul dan pen-dustaan terhadap perkara-perkara yang dapat dicerna oleh akal dan indera. ﴾ فَهَلۡ عَلَى ٱلرُّسُلِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Maka tidaklah kewajiban atas para rasul, melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang," yaitu yang jelas lagi tampak yang sampai menembus ke dalam hati, dan yang tidak menyisakan alasan bagi seseorang di hadapan Allah. Apabila para rasul telah menyampaikan kepada mereka perintah dan lara-ngan yang berasal dari Rabb mereka, -sementara mereka mengelak di hadapan para rasul dengan argumentasi bahwa takdir telah ter-tuliskan– maka tidak ada wewenang bagi para rasul sedikit pun. Perhitungan tentang mereka di sisi Allah r.
An-Nahl 16:36
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu,' maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak mem-beri petunjuk kepada orang yang disesatkanNya, dan sekali-kali mereka tidak mempunyai penolong." (An-Nahl: 36-37).
(36) Allah تعالى memberitahukan bahwa hujjahNya telah tegak di hadapan seluruh umat manusia, dan bahwa tidaklah ada sebuah umat yang telah berlalu atau datang belakangan, melainkan Allah pasti telah mengutus seorang rasul di tengah mereka. Mereka se-mua sepakat pada satu dakwah dan satu ajaran, yaitu beribadah ke-pada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. ﴾ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ ﴿ "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu," maka, umat manusia terbagi-bagi berdasarkan sambutan baiknya kepada para rasul atau tidak, menjadi dua golongan: ﴾ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ ﴿ "Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah," mereka mengikuti para utusan Allah dalam aspek ilmu dan amalan, ﴾ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ ٱلضَّلَٰلَةُۚ ﴿ "dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesat-an baginya," lalu dia menelusuri jalan kesesatan, ﴾ فَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "maka berjalanlah kamu di muka bumi," dengan raga dan hati kalian, ﴾ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)," karena kalian bakal menyaksikan keanehan-keanehan. Tidaklah engkau jumpai orang yang mendusta-kan (rasul) melainkan pasti kesudahannya adalah kebinasaan.
(37) ﴾ إِن تَحۡرِصۡ عَلَىٰ هُدَىٰهُمۡ ﴿ "Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk," dan kamu mengerahkan kemampuan-mu dalam usaha itu ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَن يُضِلُّۖ ﴿ "maka sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang disesatkanNya," meskipun rasul telah melakukan berbagai usaha sebab (kausalitas), tidak ada yang memberinya petunjuk kecuali Allah. ﴾ وَمَا لَهُم مِّن نَّٰصِرِينَ 37 ﴿ "Dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong," yang akan mengentas-kan mereka dari azab Allah dan melindungi mereka dari siksaNya.
An-Nahl 16:37
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu,' maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak mem-beri petunjuk kepada orang yang disesatkanNya, dan sekali-kali mereka tidak mempunyai penolong." (An-Nahl: 36-37).
(36) Allah تعالى memberitahukan bahwa hujjahNya telah tegak di hadapan seluruh umat manusia, dan bahwa tidaklah ada sebuah umat yang telah berlalu atau datang belakangan, melainkan Allah pasti telah mengutus seorang rasul di tengah mereka. Mereka se-mua sepakat pada satu dakwah dan satu ajaran, yaitu beribadah ke-pada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. ﴾ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ ﴿ "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu," maka, umat manusia terbagi-bagi berdasarkan sambutan baiknya kepada para rasul atau tidak, menjadi dua golongan: ﴾ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ ﴿ "Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah," mereka mengikuti para utusan Allah dalam aspek ilmu dan amalan, ﴾ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ ٱلضَّلَٰلَةُۚ ﴿ "dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesat-an baginya," lalu dia menelusuri jalan kesesatan, ﴾ فَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "maka berjalanlah kamu di muka bumi," dengan raga dan hati kalian, ﴾ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)," karena kalian bakal menyaksikan keanehan-keanehan. Tidaklah engkau jumpai orang yang mendusta-kan (rasul) melainkan pasti kesudahannya adalah kebinasaan.
(37) ﴾ إِن تَحۡرِصۡ عَلَىٰ هُدَىٰهُمۡ ﴿ "Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk," dan kamu mengerahkan kemampuan-mu dalam usaha itu ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَن يُضِلُّۖ ﴿ "maka sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang disesatkanNya," meskipun rasul telah melakukan berbagai usaha sebab (kausalitas), tidak ada yang memberinya petunjuk kecuali Allah. ﴾ وَمَا لَهُم مِّن نَّٰصِرِينَ 37 ﴿ "Dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong," yang akan mengentas-kan mereka dari azab Allah dan melindungi mereka dari siksaNya.
An-Nahl 16:38
"Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh, 'Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.' (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkit-kannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepada-nya, 'Kun (jadilah),' maka jadilah ia." (An-Nahl: 38-40).
(38) Allah تعالى memberitahukan kondisi kaum musyrikin yang mendustakan RasulNya bahwasanya mereka, ﴾ وَأَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ ﴿ "bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sung-guh," maksudnya mereka bersumpah dengan berbagai bentuk sum-pah yang kuat lagi tegas untuk mendustakan Allah, bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang-orang yang sudah mati, lagi tidak mampu menghidupkan mereka sesudah menjadi debu. Allah ber-firman untuk menampik pernyataan dusta mereka, ﴾ بَلَىٰ ﴿ "(Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya)," Dia akan mem-bangkitkan mereka dan menghimpun mereka di hari yang tidak diragukan lagi (kedatangannya). ﴾ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا ﴿ "Sebagai suatu janji yang benar dari Allah," Dia tidak mengingkari dan merubahnya, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "akan tetapi kebanyakan manusia tiada menge-tahui," di antara contoh kebodohan mereka yang parah, adalah peng-ingkaran mereka terhadap Hari Kebangkitan dan Pembalasan.
(39-40) Kemudian Allah menyebutkan hikmah kenapa di-adakan Hari Pembalasan dan Hari Kebangkitan. Allah berfirman, ﴾ لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي يَخۡتَلِفُونَ فِيهِ ﴿ "Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu," berupa persoalan-persoalan yang besar dan kecil. Allah menjelaskan hakikat (kebenarannya) dan memaparkan-nya, ﴾ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰذِبِينَ ﴿ "dan agar orang-orang kafir itu me-ngetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta," sampai akhirnya mereka menyaksikan amalan-amalan mereka sebagai pe-nyesalan bagi diri mereka. Tuhan-tuhan sesembahan mereka yang dahulu mereka seru (diibadahi) bersama dengan Allah tidaklah ber-manfaat sama sekali ketika telah datang keputusan Rabbmu. Dan tatkala mereka menyaksikan sesembahan-sesembahan mereka men-jadi kayu bakar bagi Neraka Jahanam, saat matahari dan bulan di-gulung, dan bintang-bintang berhamburan dan saat sesembahan itu telah jelas bahwa ia adalah hamba yang tunduk lagi membutuh-kan bantuan Allah dalam setiap kondisi –sementara hal itu bukan merupakan perkara yang sulit atau pelik bagi Allah– maka di sisi yang lain, apabila Dia menghendaki sesuatu, niscaya Dia (cukup) berfirman, ﴾ كُن فَيَكُونُ ﴿ 'Jadilah, maka akan terjadi' tanpa ada ada per-lawanan atau pencegahan. Bahkan benar-benar akan terjadi persis seperti yang diinginkan dan dikehendakiNya.
An-Nahl 16:39
"Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh, 'Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.' (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkit-kannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepada-nya, 'Kun (jadilah),' maka jadilah ia." (An-Nahl: 38-40).
(38) Allah تعالى memberitahukan kondisi kaum musyrikin yang mendustakan RasulNya bahwasanya mereka, ﴾ وَأَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ ﴿ "bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sung-guh," maksudnya mereka bersumpah dengan berbagai bentuk sum-pah yang kuat lagi tegas untuk mendustakan Allah, bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang-orang yang sudah mati, lagi tidak mampu menghidupkan mereka sesudah menjadi debu. Allah ber-firman untuk menampik pernyataan dusta mereka, ﴾ بَلَىٰ ﴿ "(Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya)," Dia akan mem-bangkitkan mereka dan menghimpun mereka di hari yang tidak diragukan lagi (kedatangannya). ﴾ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا ﴿ "Sebagai suatu janji yang benar dari Allah," Dia tidak mengingkari dan merubahnya, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "akan tetapi kebanyakan manusia tiada menge-tahui," di antara contoh kebodohan mereka yang parah, adalah peng-ingkaran mereka terhadap Hari Kebangkitan dan Pembalasan.
(39-40) Kemudian Allah menyebutkan hikmah kenapa di-adakan Hari Pembalasan dan Hari Kebangkitan. Allah berfirman, ﴾ لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي يَخۡتَلِفُونَ فِيهِ ﴿ "Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu," berupa persoalan-persoalan yang besar dan kecil. Allah menjelaskan hakikat (kebenarannya) dan memaparkan-nya, ﴾ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰذِبِينَ ﴿ "dan agar orang-orang kafir itu me-ngetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta," sampai akhirnya mereka menyaksikan amalan-amalan mereka sebagai pe-nyesalan bagi diri mereka. Tuhan-tuhan sesembahan mereka yang dahulu mereka seru (diibadahi) bersama dengan Allah tidaklah ber-manfaat sama sekali ketika telah datang keputusan Rabbmu. Dan tatkala mereka menyaksikan sesembahan-sesembahan mereka men-jadi kayu bakar bagi Neraka Jahanam, saat matahari dan bulan di-gulung, dan bintang-bintang berhamburan dan saat sesembahan itu telah jelas bahwa ia adalah hamba yang tunduk lagi membutuh-kan bantuan Allah dalam setiap kondisi –sementara hal itu bukan merupakan perkara yang sulit atau pelik bagi Allah– maka di sisi yang lain, apabila Dia menghendaki sesuatu, niscaya Dia (cukup) berfirman, ﴾ كُن فَيَكُونُ ﴿ 'Jadilah, maka akan terjadi' tanpa ada ada per-lawanan atau pencegahan. Bahkan benar-benar akan terjadi persis seperti yang diinginkan dan dikehendakiNya.
An-Nahl 16:40
"Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh, 'Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.' (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkit-kannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepada-nya, 'Kun (jadilah),' maka jadilah ia." (An-Nahl: 38-40).
(38) Allah تعالى memberitahukan kondisi kaum musyrikin yang mendustakan RasulNya bahwasanya mereka, ﴾ وَأَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ ﴿ "bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sung-guh," maksudnya mereka bersumpah dengan berbagai bentuk sum-pah yang kuat lagi tegas untuk mendustakan Allah, bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang-orang yang sudah mati, lagi tidak mampu menghidupkan mereka sesudah menjadi debu. Allah ber-firman untuk menampik pernyataan dusta mereka, ﴾ بَلَىٰ ﴿ "(Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya)," Dia akan mem-bangkitkan mereka dan menghimpun mereka di hari yang tidak diragukan lagi (kedatangannya). ﴾ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا ﴿ "Sebagai suatu janji yang benar dari Allah," Dia tidak mengingkari dan merubahnya, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "akan tetapi kebanyakan manusia tiada menge-tahui," di antara contoh kebodohan mereka yang parah, adalah peng-ingkaran mereka terhadap Hari Kebangkitan dan Pembalasan.
(39-40) Kemudian Allah menyebutkan hikmah kenapa di-adakan Hari Pembalasan dan Hari Kebangkitan. Allah berfirman, ﴾ لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي يَخۡتَلِفُونَ فِيهِ ﴿ "Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu," berupa persoalan-persoalan yang besar dan kecil. Allah menjelaskan hakikat (kebenarannya) dan memaparkan-nya, ﴾ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰذِبِينَ ﴿ "dan agar orang-orang kafir itu me-ngetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta," sampai akhirnya mereka menyaksikan amalan-amalan mereka sebagai pe-nyesalan bagi diri mereka. Tuhan-tuhan sesembahan mereka yang dahulu mereka seru (diibadahi) bersama dengan Allah tidaklah ber-manfaat sama sekali ketika telah datang keputusan Rabbmu. Dan tatkala mereka menyaksikan sesembahan-sesembahan mereka men-jadi kayu bakar bagi Neraka Jahanam, saat matahari dan bulan di-gulung, dan bintang-bintang berhamburan dan saat sesembahan itu telah jelas bahwa ia adalah hamba yang tunduk lagi membutuh-kan bantuan Allah dalam setiap kondisi –sementara hal itu bukan merupakan perkara yang sulit atau pelik bagi Allah– maka di sisi yang lain, apabila Dia menghendaki sesuatu, niscaya Dia (cukup) berfirman, ﴾ كُن فَيَكُونُ ﴿ 'Jadilah, maka akan terjadi' tanpa ada ada per-lawanan atau pencegahan. Bahkan benar-benar akan terjadi persis seperti yang diinginkan dan dikehendakiNya.
An-Nahl 16:41
"Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar, dan (hanya) kepada Rabb saja mereka bertawakal." (An-Nahl: 41-42).
(41) Allah تعالى memberitahukan keutamaan orang-orang Muk-minin yang telah diuji, ﴾ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ فِي ٱللَّهِ ﴿ "dan orang-orang yang ber-hijrah karena Allah," di jalanNya dan dalam upaya mencari keridhaan-Nya, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُواْ ﴿ "sesudah mereka dianiaya," dengan gangguan dan ujian dari kaum mereka, yang melancarkan gangguan kepada me-reka untuk mengembalikan mereka ke dalam kekufuran dan ke-syirikan. Lalu mereka rela meninggalkan kampung halaman dan orang-orang tercinta, pindah meninggalkannya demi ketaatan ke-pada ar-Rahman, maka Allah menyebutkan bagi mereka dua pahala; (pertama) pahala yang bersifat segera di dunia, berupa rizki yang luas, penghidupan yang enak yang telah mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri setelah berhijrah, menang atas para musuh mereka dan mampu menaklukkan berbagai wilayah negeri, serta mendapatkan berbagai harta rampasan yang banyak sehingga mereka mempunyai harta yang berlimpah. Allah pun menganugerahi mereka kebaikan di dunia ini. (Kedua), ﴾ وَلَأَجۡرُ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dan sesung-guhnya pahala di akhirat," yang sudah Allah janjikan bagi mereka melalui lisan RasulNya adalah lebih baik dan, ﴾ أَكۡبَرُۚ ﴿ " lebih besar" daripada pahala duniawi. Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ 20 يُبَشِّرُهُمۡ رَبُّهُم بِرَحۡمَةٖ مِّنۡهُ وَرِضۡوَٰنٖ وَجَنَّٰتٖ لَّهُمۡ فِيهَا نَعِيمٞ مُّقِيمٌ 21 خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ 22 ﴿ "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridhaan dan surga dariNya, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (At-Taubah: 20-22). Sedangkan Firman Allah, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau mereka mengetahui," maksudnya, seandainya mereka memiliki ilmu dan keyakinan ten-tang kenikmatan yang ada di sisi Allah berupa ganjaran dan pahala buat orang yang beriman kepadaNya dan berhijrah di jalanNya, maka tidak akan ada seorang pun yang mengurungkan diri darinya.
(42) Kemudian Allah menyebutkan sifat-sifat para kekasih-Nya (para waliNya) dengan berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang sabar," dalam (melaksanakan) perintah-perintah Allah dan larangan-laranganNya, sabar atas takdir-takdir Allah yang tidak mengenakkan dan bersabar atas gangguan dan cobaan-cobaan. ﴾ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "Dan hanya kepada Rabb saja mereka bertawakal," mak-sudnya bersandar kepadaNya dalam menjalankan hal-hal yang di-cintaiNya, tidak bersandar pada diri mereka sendiri. Dengan ini, urusan-urusan mereka lancar dan kondisi-kondisi mereka stabil. Sesungguhnya kesabaran dan tawakal adalah kekuatan segala per-kara. Tidaklah ada kebaikan yang lepas dari seseorang melainkan pasti lantaran ketidaksabarannya dan tidak adanya pengerahan kemampuan untuk mewujudkan apa yang diinginkannya atau tidak bertawakal dan berserah diri kepadaNya.
An-Nahl 16:42
"Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar, dan (hanya) kepada Rabb saja mereka bertawakal." (An-Nahl: 41-42).
(41) Allah تعالى memberitahukan keutamaan orang-orang Muk-minin yang telah diuji, ﴾ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ فِي ٱللَّهِ ﴿ "dan orang-orang yang ber-hijrah karena Allah," di jalanNya dan dalam upaya mencari keridhaan-Nya, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُواْ ﴿ "sesudah mereka dianiaya," dengan gangguan dan ujian dari kaum mereka, yang melancarkan gangguan kepada me-reka untuk mengembalikan mereka ke dalam kekufuran dan ke-syirikan. Lalu mereka rela meninggalkan kampung halaman dan orang-orang tercinta, pindah meninggalkannya demi ketaatan ke-pada ar-Rahman, maka Allah menyebutkan bagi mereka dua pahala; (pertama) pahala yang bersifat segera di dunia, berupa rizki yang luas, penghidupan yang enak yang telah mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri setelah berhijrah, menang atas para musuh mereka dan mampu menaklukkan berbagai wilayah negeri, serta mendapatkan berbagai harta rampasan yang banyak sehingga mereka mempunyai harta yang berlimpah. Allah pun menganugerahi mereka kebaikan di dunia ini. (Kedua), ﴾ وَلَأَجۡرُ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "dan sesung-guhnya pahala di akhirat," yang sudah Allah janjikan bagi mereka melalui lisan RasulNya adalah lebih baik dan, ﴾ أَكۡبَرُۚ ﴿ " lebih besar" daripada pahala duniawi. Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ 20 يُبَشِّرُهُمۡ رَبُّهُم بِرَحۡمَةٖ مِّنۡهُ وَرِضۡوَٰنٖ وَجَنَّٰتٖ لَّهُمۡ فِيهَا نَعِيمٞ مُّقِيمٌ 21 خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ 22 ﴿ "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridhaan dan surga dariNya, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (At-Taubah: 20-22). Sedangkan Firman Allah, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau mereka mengetahui," maksudnya, seandainya mereka memiliki ilmu dan keyakinan ten-tang kenikmatan yang ada di sisi Allah berupa ganjaran dan pahala buat orang yang beriman kepadaNya dan berhijrah di jalanNya, maka tidak akan ada seorang pun yang mengurungkan diri darinya.
(42) Kemudian Allah menyebutkan sifat-sifat para kekasih-Nya (para waliNya) dengan berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ﴿ "(yaitu) orang-orang yang sabar," dalam (melaksanakan) perintah-perintah Allah dan larangan-laranganNya, sabar atas takdir-takdir Allah yang tidak mengenakkan dan bersabar atas gangguan dan cobaan-cobaan. ﴾ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "Dan hanya kepada Rabb saja mereka bertawakal," mak-sudnya bersandar kepadaNya dalam menjalankan hal-hal yang di-cintaiNya, tidak bersandar pada diri mereka sendiri. Dengan ini, urusan-urusan mereka lancar dan kondisi-kondisi mereka stabil. Sesungguhnya kesabaran dan tawakal adalah kekuatan segala per-kara. Tidaklah ada kebaikan yang lepas dari seseorang melainkan pasti lantaran ketidaksabarannya dan tidak adanya pengerahan kemampuan untuk mewujudkan apa yang diinginkannya atau tidak bertawakal dan berserah diri kepadaNya.
An-Nahl 16:43
"Dan Kami tidaklah mengutus sebelum kamu, melainkan orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur`an, agar kamu me-nerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, supaya mereka memikirkan." (An-Nahl: 43-44).
(43) Allah تعالى berkata kepada NabiNya, Muhammad ﷺ, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا ﴿ "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, ke-cuali orang-orang lelaki," maksudnya engkau bukanlah orang baru dari kalangan rasul. Kami tidak pernah mengutus malaikat sebelum-mu, tetapi kaum lelaki yang sempurna, bukan kalangan wanita, ﴾ نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ ﴿ "yang Kami beri wahyu kepada mereka," berupa syariat-syariat dan hukum-hukum yang menjadi bagian kemurahan dan curahan kebaikan Allah kepada para hambaNya, tanpa menyodor-kan sesuatu dari diri mereka pribadi, ﴾ فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ ﴿ "maka bertanya-lah kepada orang yang mempunyai pengetahuan," maksudnya orang-orang yang mempunyai pengetahuan mengenai kitab-kitab terdahulu. ﴾ إِن كُنتُمۡ ل َ ا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Jika kamu tidak mengetahui," sejarah orang-orang terdahulu dan kalian dihinggapi keraguan, apakah Allah itu meng-utus kaum lelaki (dari bangsa manusia)? Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang berpengetahuan mengenai itu, yang mana kitab-kitab dan bukti-bukti yang nyata telah diturunkan kepada mereka, lalu mereka mengetahui dan memahaminya. Sesungguhnya telah mapan pada keyakinan mereka bahwasanya Allah tidak mengutus kecuali kaum lelaki yang telah diwahyukan kepada mereka (wahyu) dari kalangan penduduk kampung setempat. Di dalam kandungan umum ayat ini, terdapat pujian bagi para ahli ilmu, dan bahwasanya jenis ilmu yang paling tinggi kedudukan-nya, ialah ilmu tentang Kitabullah yang diturunkan. Sesungguhnya Allah telah menyuruh orang yang tidak berilmu (tidak tahu) untuk mendatangi para ahli ilmu dalam semua permasalahan. Dalam keterangan ini, termuat ta'dil (penetapan citra baik) bagi ahli ilmu dan tazkiyah (rekomendasi baik) bagi mereka, lantaran Allah meme-rintahkan untuk bertanya kepada mereka. Dengan tindakan ini, seorang yang jahil (tidak tahu) akan keluar dari lingkaran ikut-ikut-an saja. Maka, hal ini menunjukkan bahwa Allah mempercayakan mereka atas wahyu dan kitab yang diturunkanNya, dan (menanda-kan) bahwa mereka diperintah untuk membersihkan jiwa-jiwa me-reka dan menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik.
(44) Orang berpengetahuan yang paling utama, ialah orang yang menguasai al-Qur`an yang agung. Sesungguhnya mereka itu orang yang berpengetahuan dengan sebenarnya, dan lebih pantas menyandang predikat ini dibandingkan pihak lain. Oleh karena itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr," yaitu al-Qur`an yang berisikan peringatan tentang apa saja yang dibutuhkan para hamba, yang bertalian dengan urusan agama dan duniawi mereka, yang zahir maupun yang batin. ﴾ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka," tujuan ini mencakup penjelasan la-fazh-lafazh dan makna-maknanya, ﴾ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "dan supaya mereka memikirkan," memikirkannya, hingga berhasil mengeksplorasi segala perbendaharaan (manfaat) dan ilmu-ilmunya sesuai dengan bekal dan atensi mereka kepada al-Qur`an.
An-Nahl 16:44
"Dan Kami tidaklah mengutus sebelum kamu, melainkan orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur`an, agar kamu me-nerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, supaya mereka memikirkan." (An-Nahl: 43-44).
(43) Allah تعالى berkata kepada NabiNya, Muhammad ﷺ, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا ﴿ "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, ke-cuali orang-orang lelaki," maksudnya engkau bukanlah orang baru dari kalangan rasul. Kami tidak pernah mengutus malaikat sebelum-mu, tetapi kaum lelaki yang sempurna, bukan kalangan wanita, ﴾ نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ ﴿ "yang Kami beri wahyu kepada mereka," berupa syariat-syariat dan hukum-hukum yang menjadi bagian kemurahan dan curahan kebaikan Allah kepada para hambaNya, tanpa menyodor-kan sesuatu dari diri mereka pribadi, ﴾ فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ ﴿ "maka bertanya-lah kepada orang yang mempunyai pengetahuan," maksudnya orang-orang yang mempunyai pengetahuan mengenai kitab-kitab terdahulu. ﴾ إِن كُنتُمۡ ل َ ا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Jika kamu tidak mengetahui," sejarah orang-orang terdahulu dan kalian dihinggapi keraguan, apakah Allah itu meng-utus kaum lelaki (dari bangsa manusia)? Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang berpengetahuan mengenai itu, yang mana kitab-kitab dan bukti-bukti yang nyata telah diturunkan kepada mereka, lalu mereka mengetahui dan memahaminya. Sesungguhnya telah mapan pada keyakinan mereka bahwasanya Allah tidak mengutus kecuali kaum lelaki yang telah diwahyukan kepada mereka (wahyu) dari kalangan penduduk kampung setempat. Di dalam kandungan umum ayat ini, terdapat pujian bagi para ahli ilmu, dan bahwasanya jenis ilmu yang paling tinggi kedudukan-nya, ialah ilmu tentang Kitabullah yang diturunkan. Sesungguhnya Allah telah menyuruh orang yang tidak berilmu (tidak tahu) untuk mendatangi para ahli ilmu dalam semua permasalahan. Dalam keterangan ini, termuat ta'dil (penetapan citra baik) bagi ahli ilmu dan tazkiyah (rekomendasi baik) bagi mereka, lantaran Allah meme-rintahkan untuk bertanya kepada mereka. Dengan tindakan ini, seorang yang jahil (tidak tahu) akan keluar dari lingkaran ikut-ikut-an saja. Maka, hal ini menunjukkan bahwa Allah mempercayakan mereka atas wahyu dan kitab yang diturunkanNya, dan (menanda-kan) bahwa mereka diperintah untuk membersihkan jiwa-jiwa me-reka dan menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik.
(44) Orang berpengetahuan yang paling utama, ialah orang yang menguasai al-Qur`an yang agung. Sesungguhnya mereka itu orang yang berpengetahuan dengan sebenarnya, dan lebih pantas menyandang predikat ini dibandingkan pihak lain. Oleh karena itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr," yaitu al-Qur`an yang berisikan peringatan tentang apa saja yang dibutuhkan para hamba, yang bertalian dengan urusan agama dan duniawi mereka, yang zahir maupun yang batin. ﴾ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "Agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka," tujuan ini mencakup penjelasan la-fazh-lafazh dan makna-maknanya, ﴾ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "dan supaya mereka memikirkan," memikirkannya, hingga berhasil mengeksplorasi segala perbendaharaan (manfaat) dan ilmu-ilmunya sesuai dengan bekal dan atensi mereka kepada al-Qur`an.
An-Nahl 16:45
"Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, atau Allah mengazab mereka di waktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu), atau Allah mengazab mereka dalam ke-adaan takut (dari azab). Maka sesungguhnya Rabbmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (An-Nahl: 45-47).
(45-47) Ini adalah intimidasi dari Allah terhadap orang-orang yang kufur, mendustakan dan suka berbuat berbagai jenis maksiat berupa siksaan yang Allah timpakan kepada mereka dalam kelengahan mereka tanpa mereka sadari, baik dengan menimpakan siksa pada mereka dari arah atas atau dari arah bawah mereka dengan cara menenggelamkan bumi atau bentuk lainnya. Atau saat mereka mondar-mandir, sibuk, tanpa terbetik datangnya siksaan pada benak mereka. Atau manakala mereka dirundung rasa takut oleh siksa. Mereka tidak mampu melumpuh-kan Allah dalam setiap kondisi di atas. Mereka itu berada di bawah genggamanNya. Ubun-ubun mereka berada di TanganNya. Akan tetapi, Dia Maha Pemurah lagi Penyayang, tidak menyegerakan siksa pada orang-orang yang berbuat maksiat. Bahkan memberikan penangguhan bagi mereka dan memaafkan mereka dan tetap men-curahkan rizki kepada mereka. Sementara itu, mereka masih saja menyakiti Allah dan mengganggu wali-waliNya. Walaupun de-mikian (sepak-terjang mereka), Allah masih membukakan pintu taubat bagi mereka, mengajak mereka untuk meninggalkan per-buatan-perbuatan jelek yang membahayakan mereka, dan memberi-kan janji kepada mereka dengan kemuliaan yang paling tinggi dan ampunan atas dosa-dosa yang berasal dari mereka. Hendaknya orang-orang jahat malu kepada Rabbnya, ketika nikmat-nikmat-Nya senantiasa terkucurkan pada dirinya setiap (detik), sedangkan maksiat-maksiatnya selalu mengarah kepada Rabbnya setiap waktu. Hendaknya dia mengetahui bahwasanya Allah sedang memberikan penangguhan, bukan mengesampingkannya. Bila Allah mulai menyiksa orang yang bermaksiat, maka Dia menyiksanya dengan siksaan Dzat Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa. Mestinya dia bertaubat kepadaNya dan kembali dalam seluruh urusannya kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bersegeralah, bersegeralah menjemput rahmat Allah yang luas dan kebaikanNya yang merata, dan meniti jalan-jalan yang meng-hubungkan kepada kemurahan Allah, Rabb Yang Maha Pengasih. Ketahuilah, itu adalah ketakwaan kepadaNya dan mengamalkan amalan yang Dia cintai dan ridhai.
An-Nahl 16:46
"Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, atau Allah mengazab mereka di waktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu), atau Allah mengazab mereka dalam ke-adaan takut (dari azab). Maka sesungguhnya Rabbmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (An-Nahl: 45-47).
(45-47) Ini adalah intimidasi dari Allah terhadap orang-orang yang kufur, mendustakan dan suka berbuat berbagai jenis maksiat berupa siksaan yang Allah timpakan kepada mereka dalam kelengahan mereka tanpa mereka sadari, baik dengan menimpakan siksa pada mereka dari arah atas atau dari arah bawah mereka dengan cara menenggelamkan bumi atau bentuk lainnya. Atau saat mereka mondar-mandir, sibuk, tanpa terbetik datangnya siksaan pada benak mereka. Atau manakala mereka dirundung rasa takut oleh siksa. Mereka tidak mampu melumpuh-kan Allah dalam setiap kondisi di atas. Mereka itu berada di bawah genggamanNya. Ubun-ubun mereka berada di TanganNya. Akan tetapi, Dia Maha Pemurah lagi Penyayang, tidak menyegerakan siksa pada orang-orang yang berbuat maksiat. Bahkan memberikan penangguhan bagi mereka dan memaafkan mereka dan tetap men-curahkan rizki kepada mereka. Sementara itu, mereka masih saja menyakiti Allah dan mengganggu wali-waliNya. Walaupun de-mikian (sepak-terjang mereka), Allah masih membukakan pintu taubat bagi mereka, mengajak mereka untuk meninggalkan per-buatan-perbuatan jelek yang membahayakan mereka, dan memberi-kan janji kepada mereka dengan kemuliaan yang paling tinggi dan ampunan atas dosa-dosa yang berasal dari mereka. Hendaknya orang-orang jahat malu kepada Rabbnya, ketika nikmat-nikmat-Nya senantiasa terkucurkan pada dirinya setiap (detik), sedangkan maksiat-maksiatnya selalu mengarah kepada Rabbnya setiap waktu. Hendaknya dia mengetahui bahwasanya Allah sedang memberikan penangguhan, bukan mengesampingkannya. Bila Allah mulai menyiksa orang yang bermaksiat, maka Dia menyiksanya dengan siksaan Dzat Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa. Mestinya dia bertaubat kepadaNya dan kembali dalam seluruh urusannya kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bersegeralah, bersegeralah menjemput rahmat Allah yang luas dan kebaikanNya yang merata, dan meniti jalan-jalan yang meng-hubungkan kepada kemurahan Allah, Rabb Yang Maha Pengasih. Ketahuilah, itu adalah ketakwaan kepadaNya dan mengamalkan amalan yang Dia cintai dan ridhai.
An-Nahl 16:47
"Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, atau Allah mengazab mereka di waktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu), atau Allah mengazab mereka dalam ke-adaan takut (dari azab). Maka sesungguhnya Rabbmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (An-Nahl: 45-47).
(45-47) Ini adalah intimidasi dari Allah terhadap orang-orang yang kufur, mendustakan dan suka berbuat berbagai jenis maksiat berupa siksaan yang Allah timpakan kepada mereka dalam kelengahan mereka tanpa mereka sadari, baik dengan menimpakan siksa pada mereka dari arah atas atau dari arah bawah mereka dengan cara menenggelamkan bumi atau bentuk lainnya. Atau saat mereka mondar-mandir, sibuk, tanpa terbetik datangnya siksaan pada benak mereka. Atau manakala mereka dirundung rasa takut oleh siksa. Mereka tidak mampu melumpuh-kan Allah dalam setiap kondisi di atas. Mereka itu berada di bawah genggamanNya. Ubun-ubun mereka berada di TanganNya. Akan tetapi, Dia Maha Pemurah lagi Penyayang, tidak menyegerakan siksa pada orang-orang yang berbuat maksiat. Bahkan memberikan penangguhan bagi mereka dan memaafkan mereka dan tetap men-curahkan rizki kepada mereka. Sementara itu, mereka masih saja menyakiti Allah dan mengganggu wali-waliNya. Walaupun de-mikian (sepak-terjang mereka), Allah masih membukakan pintu taubat bagi mereka, mengajak mereka untuk meninggalkan per-buatan-perbuatan jelek yang membahayakan mereka, dan memberi-kan janji kepada mereka dengan kemuliaan yang paling tinggi dan ampunan atas dosa-dosa yang berasal dari mereka. Hendaknya orang-orang jahat malu kepada Rabbnya, ketika nikmat-nikmat-Nya senantiasa terkucurkan pada dirinya setiap (detik), sedangkan maksiat-maksiatnya selalu mengarah kepada Rabbnya setiap waktu. Hendaknya dia mengetahui bahwasanya Allah sedang memberikan penangguhan, bukan mengesampingkannya. Bila Allah mulai menyiksa orang yang bermaksiat, maka Dia menyiksanya dengan siksaan Dzat Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa. Mestinya dia bertaubat kepadaNya dan kembali dalam seluruh urusannya kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bersegeralah, bersegeralah menjemput rahmat Allah yang luas dan kebaikanNya yang merata, dan meniti jalan-jalan yang meng-hubungkan kepada kemurahan Allah, Rabb Yang Maha Pengasih. Ketahuilah, itu adalah ketakwaan kepadaNya dan mengamalkan amalan yang Dia cintai dan ridhai.
An-Nahl 16:48
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kepada segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, se-dang mereka berendah diri. Dan kepada Allah sajalah bersujud se-gala sesuatu yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Rabb mereka yang ber-kuasa atas mereka, dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)." (An-Nahl: 48-50).
(48) Allah تعالى berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan," yaitu orang-orang yang dilanda keraguan tentang keesaan Rabb mereka, dan keagungan serta kesempurnaanNya, ﴾ إِلَىٰ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٖ ﴿ "kepada segala sesuatu yang telah diciptakan Allah," maksudnya, kepada seluruh makhlukNya dan bagaimana bayangan-nya berbolak-balik, ﴾ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَٱلشَّمَآئِلِ سُجَّدٗا لِّلَّهِ ﴿ "ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah," maksudnya semua bersujud kepada Rabbnya, tunduk kepada keagungan dan kebesaranNya, ﴾ وَهُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "sedang mereka berendah diri," maksudnya, dalam keadaan hina-dina, berada di bawah pengendalian, pengaturan dan kekuatan-(Nya). Tiada seorang pun dari mereka kecuali ubun-ubunnya ber-ada di Tangan Allah, dan pengaturannya berada di sisiNya.
(49) ﴾ وَلِلَّهِۤ يَسۡجُدُۤ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن دَآبَّةٖ ﴿ "Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi," dari bangsa makhluk yang bisa berkomunikasi mau-pun yang tidak bisa berbicara, ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "dan (juga) para malaikat," yang mulia. Allah menyebutkan mereka secara khusus setelah kon-teks yang umum, lantaran keutamaan dan kemuliaan serta tinggi-nya intensitas ibadah mereka. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri," dari ber-ibadah kepadaNya, meski mereka berjumlah banyak, berakhlak agung dan berkekuatan (penuh), ﴾ لَّن يَسۡتَنكِفَ ٱلۡمَسِيحُ أَن يَكُونَ عَبۡدٗا لِّلَّهِ وَلَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ٱلۡمُقَرَّبُونَۚ وَمَن يَسۡتَنكِفۡ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَيَسۡتَكۡبِرۡ فَسَيَحۡشُرُهُمۡ إِلَيۡهِ جَمِيعٗا 172 ﴿ "Al-Masih sama sekali tidak enggan menjadi hamba Allah, dan be-gitu pula para malaikat yang terdekat (kepada Allah). Dan barangsiapa enggan menyembahNya dan menyombongkan diri, maka Allah akan me-ngumpulkan mereka semua kepadaNya." (An-Nisa`: 172).
(50) ﴾ يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوۡقِهِمۡ ﴿ "Mereka takut kepada Rabb mereka yang berkuasa atas mereka." Setelah Allah menyanjung mereka atas banyak-nya amalan ketaatan mereka dan ketundukan mereka kepada Allah, maka Allah juga memuji mereka atas rasa takut mereka kepada Allah yang berada di atas mereka, dengan DzatNya, kekuasaanNya dan kesempurnaan sifat-sifatNya. Mereka itu makhluk-makhluk lemah di bawah kekuasaanNya. ﴾ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ۩ ﴿ "Dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)," maksudnya apa pun yang Allah تعالى perintahkan kepada mereka, maka mereka menaati pe-rintahNya, dengan kerelaan dan kemauan sendiri. Dan sujud para makhluk pada Allah تعالى terbagi menjadi dua: Sujud terpaksa dan tunduk atas sifat-sifat kesempurnaanNya. Sujud jenis ini bersifat umum, mencakup seluruh makhluk, baik seorang Mukmin maupun kafir, orang baik dan jelek, makhluk yang ber-bicara atau tidak. Dan (kedua) sujud (dengan kerelaan) berdasar-kan pilihannya, yang khusus terjadi pada wali-waliNya dan hamba-hambaNya yang beriman dari kalangan malaikat dan makhluk lainnya.
An-Nahl 16:49
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kepada segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, se-dang mereka berendah diri. Dan kepada Allah sajalah bersujud se-gala sesuatu yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Rabb mereka yang ber-kuasa atas mereka, dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)." (An-Nahl: 48-50).
(48) Allah تعالى berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan," yaitu orang-orang yang dilanda keraguan tentang keesaan Rabb mereka, dan keagungan serta kesempurnaanNya, ﴾ إِلَىٰ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٖ ﴿ "kepada segala sesuatu yang telah diciptakan Allah," maksudnya, kepada seluruh makhlukNya dan bagaimana bayangan-nya berbolak-balik, ﴾ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَٱلشَّمَآئِلِ سُجَّدٗا لِّلَّهِ ﴿ "ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah," maksudnya semua bersujud kepada Rabbnya, tunduk kepada keagungan dan kebesaranNya, ﴾ وَهُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "sedang mereka berendah diri," maksudnya, dalam keadaan hina-dina, berada di bawah pengendalian, pengaturan dan kekuatan-(Nya). Tiada seorang pun dari mereka kecuali ubun-ubunnya ber-ada di Tangan Allah, dan pengaturannya berada di sisiNya.
(49) ﴾ وَلِلَّهِۤ يَسۡجُدُۤ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن دَآبَّةٖ ﴿ "Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi," dari bangsa makhluk yang bisa berkomunikasi mau-pun yang tidak bisa berbicara, ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "dan (juga) para malaikat," yang mulia. Allah menyebutkan mereka secara khusus setelah kon-teks yang umum, lantaran keutamaan dan kemuliaan serta tinggi-nya intensitas ibadah mereka. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri," dari ber-ibadah kepadaNya, meski mereka berjumlah banyak, berakhlak agung dan berkekuatan (penuh), ﴾ لَّن يَسۡتَنكِفَ ٱلۡمَسِيحُ أَن يَكُونَ عَبۡدٗا لِّلَّهِ وَلَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ٱلۡمُقَرَّبُونَۚ وَمَن يَسۡتَنكِفۡ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَيَسۡتَكۡبِرۡ فَسَيَحۡشُرُهُمۡ إِلَيۡهِ جَمِيعٗا 172 ﴿ "Al-Masih sama sekali tidak enggan menjadi hamba Allah, dan be-gitu pula para malaikat yang terdekat (kepada Allah). Dan barangsiapa enggan menyembahNya dan menyombongkan diri, maka Allah akan me-ngumpulkan mereka semua kepadaNya." (An-Nisa`: 172).
(50) ﴾ يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوۡقِهِمۡ ﴿ "Mereka takut kepada Rabb mereka yang berkuasa atas mereka." Setelah Allah menyanjung mereka atas banyak-nya amalan ketaatan mereka dan ketundukan mereka kepada Allah, maka Allah juga memuji mereka atas rasa takut mereka kepada Allah yang berada di atas mereka, dengan DzatNya, kekuasaanNya dan kesempurnaan sifat-sifatNya. Mereka itu makhluk-makhluk lemah di bawah kekuasaanNya. ﴾ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ۩ ﴿ "Dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)," maksudnya apa pun yang Allah تعالى perintahkan kepada mereka, maka mereka menaati pe-rintahNya, dengan kerelaan dan kemauan sendiri. Dan sujud para makhluk pada Allah تعالى terbagi menjadi dua: Sujud terpaksa dan tunduk atas sifat-sifat kesempurnaanNya. Sujud jenis ini bersifat umum, mencakup seluruh makhluk, baik seorang Mukmin maupun kafir, orang baik dan jelek, makhluk yang ber-bicara atau tidak. Dan (kedua) sujud (dengan kerelaan) berdasar-kan pilihannya, yang khusus terjadi pada wali-waliNya dan hamba-hambaNya yang beriman dari kalangan malaikat dan makhluk lainnya.
An-Nahl 16:50
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kepada segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, se-dang mereka berendah diri. Dan kepada Allah sajalah bersujud se-gala sesuatu yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Rabb mereka yang ber-kuasa atas mereka, dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)." (An-Nahl: 48-50).
(48) Allah تعالى berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan," yaitu orang-orang yang dilanda keraguan tentang keesaan Rabb mereka, dan keagungan serta kesempurnaanNya, ﴾ إِلَىٰ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٖ ﴿ "kepada segala sesuatu yang telah diciptakan Allah," maksudnya, kepada seluruh makhlukNya dan bagaimana bayangan-nya berbolak-balik, ﴾ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَٱلشَّمَآئِلِ سُجَّدٗا لِّلَّهِ ﴿ "ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah," maksudnya semua bersujud kepada Rabbnya, tunduk kepada keagungan dan kebesaranNya, ﴾ وَهُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "sedang mereka berendah diri," maksudnya, dalam keadaan hina-dina, berada di bawah pengendalian, pengaturan dan kekuatan-(Nya). Tiada seorang pun dari mereka kecuali ubun-ubunnya ber-ada di Tangan Allah, dan pengaturannya berada di sisiNya.
(49) ﴾ وَلِلَّهِۤ يَسۡجُدُۤ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن دَآبَّةٖ ﴿ "Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi," dari bangsa makhluk yang bisa berkomunikasi mau-pun yang tidak bisa berbicara, ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "dan (juga) para malaikat," yang mulia. Allah menyebutkan mereka secara khusus setelah kon-teks yang umum, lantaran keutamaan dan kemuliaan serta tinggi-nya intensitas ibadah mereka. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri," dari ber-ibadah kepadaNya, meski mereka berjumlah banyak, berakhlak agung dan berkekuatan (penuh), ﴾ لَّن يَسۡتَنكِفَ ٱلۡمَسِيحُ أَن يَكُونَ عَبۡدٗا لِّلَّهِ وَلَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ٱلۡمُقَرَّبُونَۚ وَمَن يَسۡتَنكِفۡ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَيَسۡتَكۡبِرۡ فَسَيَحۡشُرُهُمۡ إِلَيۡهِ جَمِيعٗا 172 ﴿ "Al-Masih sama sekali tidak enggan menjadi hamba Allah, dan be-gitu pula para malaikat yang terdekat (kepada Allah). Dan barangsiapa enggan menyembahNya dan menyombongkan diri, maka Allah akan me-ngumpulkan mereka semua kepadaNya." (An-Nisa`: 172).
(50) ﴾ يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوۡقِهِمۡ ﴿ "Mereka takut kepada Rabb mereka yang berkuasa atas mereka." Setelah Allah menyanjung mereka atas banyak-nya amalan ketaatan mereka dan ketundukan mereka kepada Allah, maka Allah juga memuji mereka atas rasa takut mereka kepada Allah yang berada di atas mereka, dengan DzatNya, kekuasaanNya dan kesempurnaan sifat-sifatNya. Mereka itu makhluk-makhluk lemah di bawah kekuasaanNya. ﴾ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ۩ ﴿ "Dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)," maksudnya apa pun yang Allah تعالى perintahkan kepada mereka, maka mereka menaati pe-rintahNya, dengan kerelaan dan kemauan sendiri. Dan sujud para makhluk pada Allah تعالى terbagi menjadi dua: Sujud terpaksa dan tunduk atas sifat-sifat kesempurnaanNya. Sujud jenis ini bersifat umum, mencakup seluruh makhluk, baik seorang Mukmin maupun kafir, orang baik dan jelek, makhluk yang ber-bicara atau tidak. Dan (kedua) sujud (dengan kerelaan) berdasar-kan pilihannya, yang khusus terjadi pada wali-waliNya dan hamba-hambaNya yang beriman dari kalangan malaikat dan makhluk lainnya.
An-Nahl 16:51
"Allah berfirman, 'Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepadaKu saja kamu takut. Dan kepunyaanNya-lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, dan untukNya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah. Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), kemudian bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan. Kemu-dian apabila Dia telah menghilangkan kemudaratan itu darimu, tiba-tiba sebahagian darimu mempersekutukan Rabbnya dengan (yang lain), biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)'." (An-Nahl: 51-55).
(51) Allah تعالى memerintahkan (para makhluk) untuk beriba-dah kepadaNya saja, tiada sekutu bagiNya. Dia menunjukkan bukti petunjuk dengan kemampuanNya mencurahkan kenikmatan sendirian (tanpa bantuan orang lain) dan (keesaanNya). Lalu Allah berfirman, ﴾ لَا تَتَّخِذُوٓاْ إِلَٰهَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِۖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah dua tuhan," maksudnya engkau menjadikan sekutu bagiNya dalam uluhiyah-Nya, padahal, ﴾ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa," esa dalam sifat-sifat keagunganNya dan tunggal dengan semua perbuatanNya. Sebagaimana Dia Esa dalam DzatNya, nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan-perbuatanNya, maka esakanlah Dia dalam ibadah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَإِيَّٰيَ فَٱرۡهَبُونِ ﴿ "Maka hendak-lah kepadaKu saja kamu takut." Maksudnya, takutlah kepadaKu, taati-lah perintahKu, jauhilah laranganKu, tanpa menyekutukanKu de-ngan suatu makhluk pun, karena ia semuanya adalah makhlukKu
(52) ﴾ وَلَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَهُ ٱلدِّينُ وَاصِبًاۚ ﴿ "Dan kepunyaanNya-lah segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, dan untukNya-lah ketaatan itu se-lama-lamanya," maksudnya agama, ibadah, perendahan diri di se-luruh waktu adalah bagi Allah semata. Kewajiban para makhluk untuk memurnikannya bagi Allah, dan tenggelam dalam berubudi-yah kepadaNya. ﴾ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ تَتَّقُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah," dari kalangan penghuni bumi atau penghuni langit. Sesungguhnya mereka itu tidak memegang kendali bahaya dan kemanfaatan bagi kalian. Allah-lah, satu-satunya Dzat yang memberi dan mencurahkan kebaikan.
(53) ﴾ وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ ﴿ "Dan apa saja nikmat yang ada padamu," nikmat lahiriah ataupun batiniah, ﴾ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ﴿ "maka dari Allah-lah (da-tangnya)," tiada seorang pun yang menyertai Allah di dalamnya, ﴾ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ ﴿ "kemudian bila kamu ditimpa oleh kemudaratan," baik berupa kemiskinan, penyakit, dan keadaan yang menyulitkan, ﴾ فَإِلَيۡهِ تَجۡـَٔرُونَ ﴿ "maka hanya kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan," maksudnya mendengung-dengungkan doa dan permohonan, karena kalian mengetahui, bahwa tidak ada yang sanggup menyingkirkan keburukan dan kesengsaraan selain Dia. Dia-lah satu-satunya Dzat yang memegang kendali pencurahan karunia kepada kalian berupa apa saja yang kalian inginkan, dan membelokkan apa saja yang kalian benci. Dia-lah Dzat yang tidak sepatutnya ibadah dikerjakan kecuali diarahkan kepadaNya.
(54-55) Namun, kebanyakan orang masih berbuat aniaya kepada diri sendiri dan mengingkari nikmat Allah pada mereka, bila telah diselamatkan oleh Allah dari kondisi buruk mereka. Lalu ketika dalam suasana kegembiraan, mereka menjadi orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sebagian makhluk yang tiada punya apa-apa. Untuk itu Allah berfirman, ﴾ لِيَكۡفُرُواْ بِمَآ ءَاتَيۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka," mak-sudnya sesuatu yang Kami berikan kepada mereka di mana kami menyelamatkan mereka dari kesengsaraan dan membebaskan mereka dari kesulitan, ﴾ فَتَمَتَّعُواْ ﴿ "maka bersenang-senanglah kamu," sejenak di dunia kalian, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)," yaitu akibat kekufuran mereka.
An-Nahl 16:52
"Allah berfirman, 'Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepadaKu saja kamu takut. Dan kepunyaanNya-lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, dan untukNya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah. Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), kemudian bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan. Kemu-dian apabila Dia telah menghilangkan kemudaratan itu darimu, tiba-tiba sebahagian darimu mempersekutukan Rabbnya dengan (yang lain), biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)'." (An-Nahl: 51-55).
(51) Allah تعالى memerintahkan (para makhluk) untuk beriba-dah kepadaNya saja, tiada sekutu bagiNya. Dia menunjukkan bukti petunjuk dengan kemampuanNya mencurahkan kenikmatan sendirian (tanpa bantuan orang lain) dan (keesaanNya). Lalu Allah berfirman, ﴾ لَا تَتَّخِذُوٓاْ إِلَٰهَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِۖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah dua tuhan," maksudnya engkau menjadikan sekutu bagiNya dalam uluhiyah-Nya, padahal, ﴾ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa," esa dalam sifat-sifat keagunganNya dan tunggal dengan semua perbuatanNya. Sebagaimana Dia Esa dalam DzatNya, nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan-perbuatanNya, maka esakanlah Dia dalam ibadah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَإِيَّٰيَ فَٱرۡهَبُونِ ﴿ "Maka hendak-lah kepadaKu saja kamu takut." Maksudnya, takutlah kepadaKu, taati-lah perintahKu, jauhilah laranganKu, tanpa menyekutukanKu de-ngan suatu makhluk pun, karena ia semuanya adalah makhlukKu
(52) ﴾ وَلَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَهُ ٱلدِّينُ وَاصِبًاۚ ﴿ "Dan kepunyaanNya-lah segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, dan untukNya-lah ketaatan itu se-lama-lamanya," maksudnya agama, ibadah, perendahan diri di se-luruh waktu adalah bagi Allah semata. Kewajiban para makhluk untuk memurnikannya bagi Allah, dan tenggelam dalam berubudi-yah kepadaNya. ﴾ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ تَتَّقُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah," dari kalangan penghuni bumi atau penghuni langit. Sesungguhnya mereka itu tidak memegang kendali bahaya dan kemanfaatan bagi kalian. Allah-lah, satu-satunya Dzat yang memberi dan mencurahkan kebaikan.
(53) ﴾ وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ ﴿ "Dan apa saja nikmat yang ada padamu," nikmat lahiriah ataupun batiniah, ﴾ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ﴿ "maka dari Allah-lah (da-tangnya)," tiada seorang pun yang menyertai Allah di dalamnya, ﴾ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ ﴿ "kemudian bila kamu ditimpa oleh kemudaratan," baik berupa kemiskinan, penyakit, dan keadaan yang menyulitkan, ﴾ فَإِلَيۡهِ تَجۡـَٔرُونَ ﴿ "maka hanya kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan," maksudnya mendengung-dengungkan doa dan permohonan, karena kalian mengetahui, bahwa tidak ada yang sanggup menyingkirkan keburukan dan kesengsaraan selain Dia. Dia-lah satu-satunya Dzat yang memegang kendali pencurahan karunia kepada kalian berupa apa saja yang kalian inginkan, dan membelokkan apa saja yang kalian benci. Dia-lah Dzat yang tidak sepatutnya ibadah dikerjakan kecuali diarahkan kepadaNya.
(54-55) Namun, kebanyakan orang masih berbuat aniaya kepada diri sendiri dan mengingkari nikmat Allah pada mereka, bila telah diselamatkan oleh Allah dari kondisi buruk mereka. Lalu ketika dalam suasana kegembiraan, mereka menjadi orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sebagian makhluk yang tiada punya apa-apa. Untuk itu Allah berfirman, ﴾ لِيَكۡفُرُواْ بِمَآ ءَاتَيۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka," mak-sudnya sesuatu yang Kami berikan kepada mereka di mana kami menyelamatkan mereka dari kesengsaraan dan membebaskan mereka dari kesulitan, ﴾ فَتَمَتَّعُواْ ﴿ "maka bersenang-senanglah kamu," sejenak di dunia kalian, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)," yaitu akibat kekufuran mereka.
An-Nahl 16:53
"Allah berfirman, 'Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepadaKu saja kamu takut. Dan kepunyaanNya-lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, dan untukNya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah. Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), kemudian bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan. Kemu-dian apabila Dia telah menghilangkan kemudaratan itu darimu, tiba-tiba sebahagian darimu mempersekutukan Rabbnya dengan (yang lain), biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)'." (An-Nahl: 51-55).
(51) Allah تعالى memerintahkan (para makhluk) untuk beriba-dah kepadaNya saja, tiada sekutu bagiNya. Dia menunjukkan bukti petunjuk dengan kemampuanNya mencurahkan kenikmatan sendirian (tanpa bantuan orang lain) dan (keesaanNya). Lalu Allah berfirman, ﴾ لَا تَتَّخِذُوٓاْ إِلَٰهَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِۖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah dua tuhan," maksudnya engkau menjadikan sekutu bagiNya dalam uluhiyah-Nya, padahal, ﴾ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa," esa dalam sifat-sifat keagunganNya dan tunggal dengan semua perbuatanNya. Sebagaimana Dia Esa dalam DzatNya, nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan-perbuatanNya, maka esakanlah Dia dalam ibadah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَإِيَّٰيَ فَٱرۡهَبُونِ ﴿ "Maka hendak-lah kepadaKu saja kamu takut." Maksudnya, takutlah kepadaKu, taati-lah perintahKu, jauhilah laranganKu, tanpa menyekutukanKu de-ngan suatu makhluk pun, karena ia semuanya adalah makhlukKu
(52) ﴾ وَلَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَهُ ٱلدِّينُ وَاصِبًاۚ ﴿ "Dan kepunyaanNya-lah segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, dan untukNya-lah ketaatan itu se-lama-lamanya," maksudnya agama, ibadah, perendahan diri di se-luruh waktu adalah bagi Allah semata. Kewajiban para makhluk untuk memurnikannya bagi Allah, dan tenggelam dalam berubudi-yah kepadaNya. ﴾ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ تَتَّقُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah," dari kalangan penghuni bumi atau penghuni langit. Sesungguhnya mereka itu tidak memegang kendali bahaya dan kemanfaatan bagi kalian. Allah-lah, satu-satunya Dzat yang memberi dan mencurahkan kebaikan.
(53) ﴾ وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ ﴿ "Dan apa saja nikmat yang ada padamu," nikmat lahiriah ataupun batiniah, ﴾ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ﴿ "maka dari Allah-lah (da-tangnya)," tiada seorang pun yang menyertai Allah di dalamnya, ﴾ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ ﴿ "kemudian bila kamu ditimpa oleh kemudaratan," baik berupa kemiskinan, penyakit, dan keadaan yang menyulitkan, ﴾ فَإِلَيۡهِ تَجۡـَٔرُونَ ﴿ "maka hanya kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan," maksudnya mendengung-dengungkan doa dan permohonan, karena kalian mengetahui, bahwa tidak ada yang sanggup menyingkirkan keburukan dan kesengsaraan selain Dia. Dia-lah satu-satunya Dzat yang memegang kendali pencurahan karunia kepada kalian berupa apa saja yang kalian inginkan, dan membelokkan apa saja yang kalian benci. Dia-lah Dzat yang tidak sepatutnya ibadah dikerjakan kecuali diarahkan kepadaNya.
(54-55) Namun, kebanyakan orang masih berbuat aniaya kepada diri sendiri dan mengingkari nikmat Allah pada mereka, bila telah diselamatkan oleh Allah dari kondisi buruk mereka. Lalu ketika dalam suasana kegembiraan, mereka menjadi orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sebagian makhluk yang tiada punya apa-apa. Untuk itu Allah berfirman, ﴾ لِيَكۡفُرُواْ بِمَآ ءَاتَيۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka," mak-sudnya sesuatu yang Kami berikan kepada mereka di mana kami menyelamatkan mereka dari kesengsaraan dan membebaskan mereka dari kesulitan, ﴾ فَتَمَتَّعُواْ ﴿ "maka bersenang-senanglah kamu," sejenak di dunia kalian, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)," yaitu akibat kekufuran mereka.
An-Nahl 16:54
"Allah berfirman, 'Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepadaKu saja kamu takut. Dan kepunyaanNya-lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, dan untukNya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah. Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), kemudian bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan. Kemu-dian apabila Dia telah menghilangkan kemudaratan itu darimu, tiba-tiba sebahagian darimu mempersekutukan Rabbnya dengan (yang lain), biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)'." (An-Nahl: 51-55).
(51) Allah تعالى memerintahkan (para makhluk) untuk beriba-dah kepadaNya saja, tiada sekutu bagiNya. Dia menunjukkan bukti petunjuk dengan kemampuanNya mencurahkan kenikmatan sendirian (tanpa bantuan orang lain) dan (keesaanNya). Lalu Allah berfirman, ﴾ لَا تَتَّخِذُوٓاْ إِلَٰهَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِۖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah dua tuhan," maksudnya engkau menjadikan sekutu bagiNya dalam uluhiyah-Nya, padahal, ﴾ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa," esa dalam sifat-sifat keagunganNya dan tunggal dengan semua perbuatanNya. Sebagaimana Dia Esa dalam DzatNya, nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan-perbuatanNya, maka esakanlah Dia dalam ibadah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَإِيَّٰيَ فَٱرۡهَبُونِ ﴿ "Maka hendak-lah kepadaKu saja kamu takut." Maksudnya, takutlah kepadaKu, taati-lah perintahKu, jauhilah laranganKu, tanpa menyekutukanKu de-ngan suatu makhluk pun, karena ia semuanya adalah makhlukKu
(52) ﴾ وَلَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَهُ ٱلدِّينُ وَاصِبًاۚ ﴿ "Dan kepunyaanNya-lah segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, dan untukNya-lah ketaatan itu se-lama-lamanya," maksudnya agama, ibadah, perendahan diri di se-luruh waktu adalah bagi Allah semata. Kewajiban para makhluk untuk memurnikannya bagi Allah, dan tenggelam dalam berubudi-yah kepadaNya. ﴾ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ تَتَّقُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah," dari kalangan penghuni bumi atau penghuni langit. Sesungguhnya mereka itu tidak memegang kendali bahaya dan kemanfaatan bagi kalian. Allah-lah, satu-satunya Dzat yang memberi dan mencurahkan kebaikan.
(53) ﴾ وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ ﴿ "Dan apa saja nikmat yang ada padamu," nikmat lahiriah ataupun batiniah, ﴾ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ﴿ "maka dari Allah-lah (da-tangnya)," tiada seorang pun yang menyertai Allah di dalamnya, ﴾ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ ﴿ "kemudian bila kamu ditimpa oleh kemudaratan," baik berupa kemiskinan, penyakit, dan keadaan yang menyulitkan, ﴾ فَإِلَيۡهِ تَجۡـَٔرُونَ ﴿ "maka hanya kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan," maksudnya mendengung-dengungkan doa dan permohonan, karena kalian mengetahui, bahwa tidak ada yang sanggup menyingkirkan keburukan dan kesengsaraan selain Dia. Dia-lah satu-satunya Dzat yang memegang kendali pencurahan karunia kepada kalian berupa apa saja yang kalian inginkan, dan membelokkan apa saja yang kalian benci. Dia-lah Dzat yang tidak sepatutnya ibadah dikerjakan kecuali diarahkan kepadaNya.
(54-55) Namun, kebanyakan orang masih berbuat aniaya kepada diri sendiri dan mengingkari nikmat Allah pada mereka, bila telah diselamatkan oleh Allah dari kondisi buruk mereka. Lalu ketika dalam suasana kegembiraan, mereka menjadi orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sebagian makhluk yang tiada punya apa-apa. Untuk itu Allah berfirman, ﴾ لِيَكۡفُرُواْ بِمَآ ءَاتَيۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka," mak-sudnya sesuatu yang Kami berikan kepada mereka di mana kami menyelamatkan mereka dari kesengsaraan dan membebaskan mereka dari kesulitan, ﴾ فَتَمَتَّعُواْ ﴿ "maka bersenang-senanglah kamu," sejenak di dunia kalian, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)," yaitu akibat kekufuran mereka.
An-Nahl 16:55
"Allah berfirman, 'Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepadaKu saja kamu takut. Dan kepunyaanNya-lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, dan untukNya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah. Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), kemudian bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan. Kemu-dian apabila Dia telah menghilangkan kemudaratan itu darimu, tiba-tiba sebahagian darimu mempersekutukan Rabbnya dengan (yang lain), biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)'." (An-Nahl: 51-55).
(51) Allah تعالى memerintahkan (para makhluk) untuk beriba-dah kepadaNya saja, tiada sekutu bagiNya. Dia menunjukkan bukti petunjuk dengan kemampuanNya mencurahkan kenikmatan sendirian (tanpa bantuan orang lain) dan (keesaanNya). Lalu Allah berfirman, ﴾ لَا تَتَّخِذُوٓاْ إِلَٰهَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِۖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah dua tuhan," maksudnya engkau menjadikan sekutu bagiNya dalam uluhiyah-Nya, padahal, ﴾ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa," esa dalam sifat-sifat keagunganNya dan tunggal dengan semua perbuatanNya. Sebagaimana Dia Esa dalam DzatNya, nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan-perbuatanNya, maka esakanlah Dia dalam ibadah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَإِيَّٰيَ فَٱرۡهَبُونِ ﴿ "Maka hendak-lah kepadaKu saja kamu takut." Maksudnya, takutlah kepadaKu, taati-lah perintahKu, jauhilah laranganKu, tanpa menyekutukanKu de-ngan suatu makhluk pun, karena ia semuanya adalah makhlukKu
(52) ﴾ وَلَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَهُ ٱلدِّينُ وَاصِبًاۚ ﴿ "Dan kepunyaanNya-lah segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, dan untukNya-lah ketaatan itu se-lama-lamanya," maksudnya agama, ibadah, perendahan diri di se-luruh waktu adalah bagi Allah semata. Kewajiban para makhluk untuk memurnikannya bagi Allah, dan tenggelam dalam berubudi-yah kepadaNya. ﴾ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ تَتَّقُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah," dari kalangan penghuni bumi atau penghuni langit. Sesungguhnya mereka itu tidak memegang kendali bahaya dan kemanfaatan bagi kalian. Allah-lah, satu-satunya Dzat yang memberi dan mencurahkan kebaikan.
(53) ﴾ وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ ﴿ "Dan apa saja nikmat yang ada padamu," nikmat lahiriah ataupun batiniah, ﴾ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ﴿ "maka dari Allah-lah (da-tangnya)," tiada seorang pun yang menyertai Allah di dalamnya, ﴾ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ ﴿ "kemudian bila kamu ditimpa oleh kemudaratan," baik berupa kemiskinan, penyakit, dan keadaan yang menyulitkan, ﴾ فَإِلَيۡهِ تَجۡـَٔرُونَ ﴿ "maka hanya kepadaNya-lah kamu meminta pertolongan," maksudnya mendengung-dengungkan doa dan permohonan, karena kalian mengetahui, bahwa tidak ada yang sanggup menyingkirkan keburukan dan kesengsaraan selain Dia. Dia-lah satu-satunya Dzat yang memegang kendali pencurahan karunia kepada kalian berupa apa saja yang kalian inginkan, dan membelokkan apa saja yang kalian benci. Dia-lah Dzat yang tidak sepatutnya ibadah dikerjakan kecuali diarahkan kepadaNya.
(54-55) Namun, kebanyakan orang masih berbuat aniaya kepada diri sendiri dan mengingkari nikmat Allah pada mereka, bila telah diselamatkan oleh Allah dari kondisi buruk mereka. Lalu ketika dalam suasana kegembiraan, mereka menjadi orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sebagian makhluk yang tiada punya apa-apa. Untuk itu Allah berfirman, ﴾ لِيَكۡفُرُواْ بِمَآ ءَاتَيۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka," mak-sudnya sesuatu yang Kami berikan kepada mereka di mana kami menyelamatkan mereka dari kesengsaraan dan membebaskan mereka dari kesulitan, ﴾ فَتَمَتَّعُواْ ﴿ "maka bersenang-senanglah kamu," sejenak di dunia kalian, ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya)," yaitu akibat kekufuran mereka.
An-Nahl 16:56
"Dan mereka menyediakan untuk berhala-berhala yang me-reka tiada mengetahui (kekuasaannya), satu bagian dari rizki yang telah Kami berikan kepada mereka. Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan. Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Mahasuci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hi-tamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia me-nyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara-nya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mem-punyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (An-Nahl: 56-60).
(56) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin dan tindakan kezhaliman mereka serta kedustaan mereka atas nama Allah. Mereka itu telah menyediakan bagian rizki yang Allah berikan dan karuniakan kepada mereka untuk berhala-ber-hala yang tidak dapat mengetahui, tidak sanggup memberi manfaat dan kemudaratan. Jadi, mereka menggunakan (fasilitas) rizkiNya untuk berbuat syirik kepadaNya dan mendekatkan diri dengan-nya kepada berhala-berhala yang berpahat, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ ٱلۡحَرۡثِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ نَصِيبٗا فَقَالُواْ هَٰذَا لِلَّهِ بِزَعۡمِهِمۡ وَهَٰذَا لِشُرَكَآئِنَاۖ فَمَا كَانَ لِشُرَكَآئِهِمۡ فَلَا يَصِلُ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, 'Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.' Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah." (Al-An'am: 136). ﴾ تَٱللَّهِ لَتُسۡـَٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمۡ تَفۡتَرُونَ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan," akan dikatakan ke-pada mereka, ﴾ ءَآللَّهُ أَذِنَ لَكُمۡۖ أَمۡ عَلَى ٱللَّهِ تَفۡتَرُونَ 59 ﴿ "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" (Yunus: 59). Apakah dugaan orang-orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah pada Hari Kiamat? Akibatnya, Allah menyiksa me-reka dengan hukuman yang sangat dahsyat.
(57-59) ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan," yang mana mengatakan tentang malaikat, para penyembah lagi yang dekat (dengan Allah), mereka itu putri-putri Allah, ﴾ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) sesuatu yang mereka sukai," yaitu anak-anak laki-laki bagi diri mereka. Sampai membuat mereka membenci anak-anak perempuan dengan kebencian yang besar. Salah seorang dari mereka pun bersikap, ﴾ وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدّٗا ﴿ "apabila seseorang dari mereka diberi ka-bar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) muka-nya," karena kerisauan yang menimpanya, ﴾ وَهُوَ كَظِيمٞ ﴿ "dan dia sangat marah," yaitu marah lantaran kesedihan dan penyesalan karena mendapat kabar (kelahiran) anak perempuan. Kejadian ini bahkan sampai berakibat dia (merasa) reputasinya dicemari di hadapan kaumnya, dan dia pun menyembunyikan diri dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Lantas, ia mengerahkan pikiran dan nalarnya yang sudah rusak mengenai tindakan apa yang akan ia perbuat berkaitan dengan anak perem-puannya yang mana dia mendapat kabar dalam (wujud) itu. ﴾ أَيُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ ﴿ "Apakah dia akan memeliharanya dengan menang-gung kehinaan," maksudnya membiarkannya tanpa menghabisi nya-wanya dengan menanggung kehinaan dan kenistaan, ﴾ أَمۡ يَدُسُّهُۥ فِي ٱلتُّرَابِۗ ﴿ "ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)," mengu-burnya dalam keadaan hidup. Tindakan itulah yang disebut pengu-buran (al-Wa`du) yang dicela oleh Allah pada kaum musyrikin. ﴾ أَلَا سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ ﴿ "Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetap-kan itu," lantaran mereka menyandangkan sifat kepada Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas dengan kebesaranNya, berupa penis-batan anak kepadaNya. Kemudian, tidak berhenti di sini, bahkan mereka menisbatkan jenis anak yang terburuk (menurut mereka) yaitu anak-anak perempuan yang mereka sangat antipati dan mem-bencinya (kepada Allah). Mengapa mereka menisbatkannya kepada Allah تعالى? Maka sejelek-jelek ketetapan adalah ketetapan mereka.
(60) Manakala ini termasuk perumpamaan buruk yang di-lekatkan kepada Allah oleh para musuhNya dari kalangan kaum musyrikin, maka Allah berfirman, ﴾ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ مَثَلُ ٱلسَّوۡءِۖ ﴿ "Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk," yaitu sifat negatif dan aib yang klimaks, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰۚ ﴿ "dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi," maksudnya setiap sifat kesempurnaan. Dan setiap kesempurnaan di alam semesta ini, maka Allah lebih berhak dengannya tanpa mengakibatkan efek kekura-ngan dari sisi manapun. Dan Allah mempunyai sifat yang Maha-tinggi di hati para waliNya, berupa pengagungan, penghormatan, kecintaan, inabah dan ma'rifah, ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha-perkasa," yang mengalahkan segala sesuatu, dan semua makhluk tunduk kepadaNya secara keseluruhan, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksa-na," yang telah meletakkan segala sesuatu (persis) pada tempatnya, tidak menetapkan perintah atau berbuat kecuali yang berdampak pujian dan sanjungan atas kesempurnaanNya dalam urusan itu.
An-Nahl 16:57
"Dan mereka menyediakan untuk berhala-berhala yang me-reka tiada mengetahui (kekuasaannya), satu bagian dari rizki yang telah Kami berikan kepada mereka. Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan. Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Mahasuci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hi-tamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia me-nyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara-nya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mem-punyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (An-Nahl: 56-60).
(56) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin dan tindakan kezhaliman mereka serta kedustaan mereka atas nama Allah. Mereka itu telah menyediakan bagian rizki yang Allah berikan dan karuniakan kepada mereka untuk berhala-ber-hala yang tidak dapat mengetahui, tidak sanggup memberi manfaat dan kemudaratan. Jadi, mereka menggunakan (fasilitas) rizkiNya untuk berbuat syirik kepadaNya dan mendekatkan diri dengan-nya kepada berhala-berhala yang berpahat, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ ٱلۡحَرۡثِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ نَصِيبٗا فَقَالُواْ هَٰذَا لِلَّهِ بِزَعۡمِهِمۡ وَهَٰذَا لِشُرَكَآئِنَاۖ فَمَا كَانَ لِشُرَكَآئِهِمۡ فَلَا يَصِلُ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, 'Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.' Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah." (Al-An'am: 136). ﴾ تَٱللَّهِ لَتُسۡـَٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمۡ تَفۡتَرُونَ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan," akan dikatakan ke-pada mereka, ﴾ ءَآللَّهُ أَذِنَ لَكُمۡۖ أَمۡ عَلَى ٱللَّهِ تَفۡتَرُونَ 59 ﴿ "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" (Yunus: 59). Apakah dugaan orang-orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah pada Hari Kiamat? Akibatnya, Allah menyiksa me-reka dengan hukuman yang sangat dahsyat.
(57-59) ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan," yang mana mengatakan tentang malaikat, para penyembah lagi yang dekat (dengan Allah), mereka itu putri-putri Allah, ﴾ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) sesuatu yang mereka sukai," yaitu anak-anak laki-laki bagi diri mereka. Sampai membuat mereka membenci anak-anak perempuan dengan kebencian yang besar. Salah seorang dari mereka pun bersikap, ﴾ وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدّٗا ﴿ "apabila seseorang dari mereka diberi ka-bar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) muka-nya," karena kerisauan yang menimpanya, ﴾ وَهُوَ كَظِيمٞ ﴿ "dan dia sangat marah," yaitu marah lantaran kesedihan dan penyesalan karena mendapat kabar (kelahiran) anak perempuan. Kejadian ini bahkan sampai berakibat dia (merasa) reputasinya dicemari di hadapan kaumnya, dan dia pun menyembunyikan diri dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Lantas, ia mengerahkan pikiran dan nalarnya yang sudah rusak mengenai tindakan apa yang akan ia perbuat berkaitan dengan anak perem-puannya yang mana dia mendapat kabar dalam (wujud) itu. ﴾ أَيُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ ﴿ "Apakah dia akan memeliharanya dengan menang-gung kehinaan," maksudnya membiarkannya tanpa menghabisi nya-wanya dengan menanggung kehinaan dan kenistaan, ﴾ أَمۡ يَدُسُّهُۥ فِي ٱلتُّرَابِۗ ﴿ "ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)," mengu-burnya dalam keadaan hidup. Tindakan itulah yang disebut pengu-buran (al-Wa`du) yang dicela oleh Allah pada kaum musyrikin. ﴾ أَلَا سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ ﴿ "Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetap-kan itu," lantaran mereka menyandangkan sifat kepada Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas dengan kebesaranNya, berupa penis-batan anak kepadaNya. Kemudian, tidak berhenti di sini, bahkan mereka menisbatkan jenis anak yang terburuk (menurut mereka) yaitu anak-anak perempuan yang mereka sangat antipati dan mem-bencinya (kepada Allah). Mengapa mereka menisbatkannya kepada Allah تعالى? Maka sejelek-jelek ketetapan adalah ketetapan mereka.
(60) Manakala ini termasuk perumpamaan buruk yang di-lekatkan kepada Allah oleh para musuhNya dari kalangan kaum musyrikin, maka Allah berfirman, ﴾ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ مَثَلُ ٱلسَّوۡءِۖ ﴿ "Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk," yaitu sifat negatif dan aib yang klimaks, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰۚ ﴿ "dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi," maksudnya setiap sifat kesempurnaan. Dan setiap kesempurnaan di alam semesta ini, maka Allah lebih berhak dengannya tanpa mengakibatkan efek kekura-ngan dari sisi manapun. Dan Allah mempunyai sifat yang Maha-tinggi di hati para waliNya, berupa pengagungan, penghormatan, kecintaan, inabah dan ma'rifah, ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha-perkasa," yang mengalahkan segala sesuatu, dan semua makhluk tunduk kepadaNya secara keseluruhan, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksa-na," yang telah meletakkan segala sesuatu (persis) pada tempatnya, tidak menetapkan perintah atau berbuat kecuali yang berdampak pujian dan sanjungan atas kesempurnaanNya dalam urusan itu.
An-Nahl 16:58
"Dan mereka menyediakan untuk berhala-berhala yang me-reka tiada mengetahui (kekuasaannya), satu bagian dari rizki yang telah Kami berikan kepada mereka. Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan. Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Mahasuci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hi-tamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia me-nyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara-nya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mem-punyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (An-Nahl: 56-60).
(56) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin dan tindakan kezhaliman mereka serta kedustaan mereka atas nama Allah. Mereka itu telah menyediakan bagian rizki yang Allah berikan dan karuniakan kepada mereka untuk berhala-ber-hala yang tidak dapat mengetahui, tidak sanggup memberi manfaat dan kemudaratan. Jadi, mereka menggunakan (fasilitas) rizkiNya untuk berbuat syirik kepadaNya dan mendekatkan diri dengan-nya kepada berhala-berhala yang berpahat, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ ٱلۡحَرۡثِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ نَصِيبٗا فَقَالُواْ هَٰذَا لِلَّهِ بِزَعۡمِهِمۡ وَهَٰذَا لِشُرَكَآئِنَاۖ فَمَا كَانَ لِشُرَكَآئِهِمۡ فَلَا يَصِلُ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, 'Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.' Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah." (Al-An'am: 136). ﴾ تَٱللَّهِ لَتُسۡـَٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمۡ تَفۡتَرُونَ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan," akan dikatakan ke-pada mereka, ﴾ ءَآللَّهُ أَذِنَ لَكُمۡۖ أَمۡ عَلَى ٱللَّهِ تَفۡتَرُونَ 59 ﴿ "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" (Yunus: 59). Apakah dugaan orang-orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah pada Hari Kiamat? Akibatnya, Allah menyiksa me-reka dengan hukuman yang sangat dahsyat.
(57-59) ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan," yang mana mengatakan tentang malaikat, para penyembah lagi yang dekat (dengan Allah), mereka itu putri-putri Allah, ﴾ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) sesuatu yang mereka sukai," yaitu anak-anak laki-laki bagi diri mereka. Sampai membuat mereka membenci anak-anak perempuan dengan kebencian yang besar. Salah seorang dari mereka pun bersikap, ﴾ وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدّٗا ﴿ "apabila seseorang dari mereka diberi ka-bar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) muka-nya," karena kerisauan yang menimpanya, ﴾ وَهُوَ كَظِيمٞ ﴿ "dan dia sangat marah," yaitu marah lantaran kesedihan dan penyesalan karena mendapat kabar (kelahiran) anak perempuan. Kejadian ini bahkan sampai berakibat dia (merasa) reputasinya dicemari di hadapan kaumnya, dan dia pun menyembunyikan diri dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Lantas, ia mengerahkan pikiran dan nalarnya yang sudah rusak mengenai tindakan apa yang akan ia perbuat berkaitan dengan anak perem-puannya yang mana dia mendapat kabar dalam (wujud) itu. ﴾ أَيُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ ﴿ "Apakah dia akan memeliharanya dengan menang-gung kehinaan," maksudnya membiarkannya tanpa menghabisi nya-wanya dengan menanggung kehinaan dan kenistaan, ﴾ أَمۡ يَدُسُّهُۥ فِي ٱلتُّرَابِۗ ﴿ "ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)," mengu-burnya dalam keadaan hidup. Tindakan itulah yang disebut pengu-buran (al-Wa`du) yang dicela oleh Allah pada kaum musyrikin. ﴾ أَلَا سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ ﴿ "Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetap-kan itu," lantaran mereka menyandangkan sifat kepada Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas dengan kebesaranNya, berupa penis-batan anak kepadaNya. Kemudian, tidak berhenti di sini, bahkan mereka menisbatkan jenis anak yang terburuk (menurut mereka) yaitu anak-anak perempuan yang mereka sangat antipati dan mem-bencinya (kepada Allah). Mengapa mereka menisbatkannya kepada Allah تعالى? Maka sejelek-jelek ketetapan adalah ketetapan mereka.
(60) Manakala ini termasuk perumpamaan buruk yang di-lekatkan kepada Allah oleh para musuhNya dari kalangan kaum musyrikin, maka Allah berfirman, ﴾ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ مَثَلُ ٱلسَّوۡءِۖ ﴿ "Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk," yaitu sifat negatif dan aib yang klimaks, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰۚ ﴿ "dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi," maksudnya setiap sifat kesempurnaan. Dan setiap kesempurnaan di alam semesta ini, maka Allah lebih berhak dengannya tanpa mengakibatkan efek kekura-ngan dari sisi manapun. Dan Allah mempunyai sifat yang Maha-tinggi di hati para waliNya, berupa pengagungan, penghormatan, kecintaan, inabah dan ma'rifah, ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha-perkasa," yang mengalahkan segala sesuatu, dan semua makhluk tunduk kepadaNya secara keseluruhan, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksa-na," yang telah meletakkan segala sesuatu (persis) pada tempatnya, tidak menetapkan perintah atau berbuat kecuali yang berdampak pujian dan sanjungan atas kesempurnaanNya dalam urusan itu.
An-Nahl 16:59
"Dan mereka menyediakan untuk berhala-berhala yang me-reka tiada mengetahui (kekuasaannya), satu bagian dari rizki yang telah Kami berikan kepada mereka. Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan. Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Mahasuci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hi-tamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia me-nyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara-nya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mem-punyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (An-Nahl: 56-60).
(56) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin dan tindakan kezhaliman mereka serta kedustaan mereka atas nama Allah. Mereka itu telah menyediakan bagian rizki yang Allah berikan dan karuniakan kepada mereka untuk berhala-ber-hala yang tidak dapat mengetahui, tidak sanggup memberi manfaat dan kemudaratan. Jadi, mereka menggunakan (fasilitas) rizkiNya untuk berbuat syirik kepadaNya dan mendekatkan diri dengan-nya kepada berhala-berhala yang berpahat, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ ٱلۡحَرۡثِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ نَصِيبٗا فَقَالُواْ هَٰذَا لِلَّهِ بِزَعۡمِهِمۡ وَهَٰذَا لِشُرَكَآئِنَاۖ فَمَا كَانَ لِشُرَكَآئِهِمۡ فَلَا يَصِلُ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, 'Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.' Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah." (Al-An'am: 136). ﴾ تَٱللَّهِ لَتُسۡـَٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمۡ تَفۡتَرُونَ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan," akan dikatakan ke-pada mereka, ﴾ ءَآللَّهُ أَذِنَ لَكُمۡۖ أَمۡ عَلَى ٱللَّهِ تَفۡتَرُونَ 59 ﴿ "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" (Yunus: 59). Apakah dugaan orang-orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah pada Hari Kiamat? Akibatnya, Allah menyiksa me-reka dengan hukuman yang sangat dahsyat.
(57-59) ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan," yang mana mengatakan tentang malaikat, para penyembah lagi yang dekat (dengan Allah), mereka itu putri-putri Allah, ﴾ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) sesuatu yang mereka sukai," yaitu anak-anak laki-laki bagi diri mereka. Sampai membuat mereka membenci anak-anak perempuan dengan kebencian yang besar. Salah seorang dari mereka pun bersikap, ﴾ وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدّٗا ﴿ "apabila seseorang dari mereka diberi ka-bar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) muka-nya," karena kerisauan yang menimpanya, ﴾ وَهُوَ كَظِيمٞ ﴿ "dan dia sangat marah," yaitu marah lantaran kesedihan dan penyesalan karena mendapat kabar (kelahiran) anak perempuan. Kejadian ini bahkan sampai berakibat dia (merasa) reputasinya dicemari di hadapan kaumnya, dan dia pun menyembunyikan diri dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Lantas, ia mengerahkan pikiran dan nalarnya yang sudah rusak mengenai tindakan apa yang akan ia perbuat berkaitan dengan anak perem-puannya yang mana dia mendapat kabar dalam (wujud) itu. ﴾ أَيُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ ﴿ "Apakah dia akan memeliharanya dengan menang-gung kehinaan," maksudnya membiarkannya tanpa menghabisi nya-wanya dengan menanggung kehinaan dan kenistaan, ﴾ أَمۡ يَدُسُّهُۥ فِي ٱلتُّرَابِۗ ﴿ "ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)," mengu-burnya dalam keadaan hidup. Tindakan itulah yang disebut pengu-buran (al-Wa`du) yang dicela oleh Allah pada kaum musyrikin. ﴾ أَلَا سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ ﴿ "Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetap-kan itu," lantaran mereka menyandangkan sifat kepada Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas dengan kebesaranNya, berupa penis-batan anak kepadaNya. Kemudian, tidak berhenti di sini, bahkan mereka menisbatkan jenis anak yang terburuk (menurut mereka) yaitu anak-anak perempuan yang mereka sangat antipati dan mem-bencinya (kepada Allah). Mengapa mereka menisbatkannya kepada Allah تعالى? Maka sejelek-jelek ketetapan adalah ketetapan mereka.
(60) Manakala ini termasuk perumpamaan buruk yang di-lekatkan kepada Allah oleh para musuhNya dari kalangan kaum musyrikin, maka Allah berfirman, ﴾ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ مَثَلُ ٱلسَّوۡءِۖ ﴿ "Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk," yaitu sifat negatif dan aib yang klimaks, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰۚ ﴿ "dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi," maksudnya setiap sifat kesempurnaan. Dan setiap kesempurnaan di alam semesta ini, maka Allah lebih berhak dengannya tanpa mengakibatkan efek kekura-ngan dari sisi manapun. Dan Allah mempunyai sifat yang Maha-tinggi di hati para waliNya, berupa pengagungan, penghormatan, kecintaan, inabah dan ma'rifah, ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha-perkasa," yang mengalahkan segala sesuatu, dan semua makhluk tunduk kepadaNya secara keseluruhan, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksa-na," yang telah meletakkan segala sesuatu (persis) pada tempatnya, tidak menetapkan perintah atau berbuat kecuali yang berdampak pujian dan sanjungan atas kesempurnaanNya dalam urusan itu.
An-Nahl 16:60
"Dan mereka menyediakan untuk berhala-berhala yang me-reka tiada mengetahui (kekuasaannya), satu bagian dari rizki yang telah Kami berikan kepada mereka. Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan. Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Mahasuci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hi-tamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia me-nyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara-nya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mem-punyai sifat yang Mahatinggi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (An-Nahl: 56-60).
(56) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin dan tindakan kezhaliman mereka serta kedustaan mereka atas nama Allah. Mereka itu telah menyediakan bagian rizki yang Allah berikan dan karuniakan kepada mereka untuk berhala-ber-hala yang tidak dapat mengetahui, tidak sanggup memberi manfaat dan kemudaratan. Jadi, mereka menggunakan (fasilitas) rizkiNya untuk berbuat syirik kepadaNya dan mendekatkan diri dengan-nya kepada berhala-berhala yang berpahat, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَجَعَلُواْ لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ ٱلۡحَرۡثِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ نَصِيبٗا فَقَالُواْ هَٰذَا لِلَّهِ بِزَعۡمِهِمۡ وَهَٰذَا لِشُرَكَآئِنَاۖ فَمَا كَانَ لِشُرَكَآئِهِمۡ فَلَا يَصِلُ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, 'Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.' Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah." (Al-An'am: 136). ﴾ تَٱللَّهِ لَتُسۡـَٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمۡ تَفۡتَرُونَ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan," akan dikatakan ke-pada mereka, ﴾ ءَآللَّهُ أَذِنَ لَكُمۡۖ أَمۡ عَلَى ٱللَّهِ تَفۡتَرُونَ 59 ﴿ "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" (Yunus: 59). Apakah dugaan orang-orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah pada Hari Kiamat? Akibatnya, Allah menyiksa me-reka dengan hukuman yang sangat dahsyat.
(57-59) ﴾ وَيَجۡعَلُونَ لِلَّهِ ٱلۡبَنَٰتِ ﴿ "Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan," yang mana mengatakan tentang malaikat, para penyembah lagi yang dekat (dengan Allah), mereka itu putri-putri Allah, ﴾ وَلَهُم مَّا يَشۡتَهُونَ ﴿ "sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) sesuatu yang mereka sukai," yaitu anak-anak laki-laki bagi diri mereka. Sampai membuat mereka membenci anak-anak perempuan dengan kebencian yang besar. Salah seorang dari mereka pun bersikap, ﴾ وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدّٗا ﴿ "apabila seseorang dari mereka diberi ka-bar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) muka-nya," karena kerisauan yang menimpanya, ﴾ وَهُوَ كَظِيمٞ ﴿ "dan dia sangat marah," yaitu marah lantaran kesedihan dan penyesalan karena mendapat kabar (kelahiran) anak perempuan. Kejadian ini bahkan sampai berakibat dia (merasa) reputasinya dicemari di hadapan kaumnya, dan dia pun menyembunyikan diri dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Lantas, ia mengerahkan pikiran dan nalarnya yang sudah rusak mengenai tindakan apa yang akan ia perbuat berkaitan dengan anak perem-puannya yang mana dia mendapat kabar dalam (wujud) itu. ﴾ أَيُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ ﴿ "Apakah dia akan memeliharanya dengan menang-gung kehinaan," maksudnya membiarkannya tanpa menghabisi nya-wanya dengan menanggung kehinaan dan kenistaan, ﴾ أَمۡ يَدُسُّهُۥ فِي ٱلتُّرَابِۗ ﴿ "ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)," mengu-burnya dalam keadaan hidup. Tindakan itulah yang disebut pengu-buran (al-Wa`du) yang dicela oleh Allah pada kaum musyrikin. ﴾ أَلَا سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ ﴿ "Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetap-kan itu," lantaran mereka menyandangkan sifat kepada Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas dengan kebesaranNya, berupa penis-batan anak kepadaNya. Kemudian, tidak berhenti di sini, bahkan mereka menisbatkan jenis anak yang terburuk (menurut mereka) yaitu anak-anak perempuan yang mereka sangat antipati dan mem-bencinya (kepada Allah). Mengapa mereka menisbatkannya kepada Allah تعالى? Maka sejelek-jelek ketetapan adalah ketetapan mereka.
(60) Manakala ini termasuk perumpamaan buruk yang di-lekatkan kepada Allah oleh para musuhNya dari kalangan kaum musyrikin, maka Allah berfirman, ﴾ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ مَثَلُ ٱلسَّوۡءِۖ ﴿ "Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk," yaitu sifat negatif dan aib yang klimaks, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰۚ ﴿ "dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi," maksudnya setiap sifat kesempurnaan. Dan setiap kesempurnaan di alam semesta ini, maka Allah lebih berhak dengannya tanpa mengakibatkan efek kekura-ngan dari sisi manapun. Dan Allah mempunyai sifat yang Maha-tinggi di hati para waliNya, berupa pengagungan, penghormatan, kecintaan, inabah dan ma'rifah, ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha-perkasa," yang mengalahkan segala sesuatu, dan semua makhluk tunduk kepadaNya secara keseluruhan, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksa-na," yang telah meletakkan segala sesuatu (persis) pada tempatnya, tidak menetapkan perintah atau berbuat kecuali yang berdampak pujian dan sanjungan atas kesempurnaanNya dalam urusan itu.
An-Nahl 16:61
"Jikalau Allah menghukum manusia karena kezhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkanNya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat meng-undurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya." (An-Nahl: 61).
(61) Usai menyebutkan kebohongan yang diadakan oleh orang-orang yang zhalim terhadap Allah, maka Allah تعالى menyebut-kan kesempurnaan sifat santun dan sabarNya. Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِظُلۡمِهِم ﴿ "Jikalau Allah menghukum manusia karena kezha-limannya," tanpa penambahan maupun pengurangan ﴾ مَّا تَرَكَ ﴿ "nis-caya tidak akan ditinggalkanNya," di muka bumi ﴾ مِن دَآبَّةٖ ﴿ "sesuatu pun dari makhluk yang melata," maksudnya pasti Allah membinasakan orang-orang yang berbuat kemaksiatan dan lainnya, dari kalangan hewan melata dan binatang-binatang. Sesungguhnya, efek buruk kemaksiatan bisa mengakibatkan kehancuran tanaman dan kelang-sungan makhluk hidup. ﴾ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ ﴿ "Tetapi Allah menangguhkan me-reka," dari penyegeraan hukuman pada mereka ﴾ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ ﴿ "sam-pai kepada waktu yang ditentukan," yaitu Hari Kiamat ﴾ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ ﴿ "Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya," maka hendaklah mereka berhati-hati selama masih dalam masa penangguhan, sebelum datangnya waktu yang tiada penundaan lagi di dalamnya.
An-Nahl 16:62
"Dan mereka menetapkan bagi Allah sesuatu yang mereka sendiri membencinya, dan lidah mereka mengucapkan kedustaan, yaitu bahwa merekalah yang akan mendapat kebaikan. Tiadalah diragukan bahwa nerakalah bagi mereka, dan bahwa mereka segera dimasukkan (ke dalamnya). Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan me-reka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu, dan mereka mendapatkan azab yang pedih." (An-Nahl: 62-63).
(62) Allah تعالى mengabarkan bahwasanya kaum musyrikin ﴾ يَجۡعَلُونَ لِلَّهِ مَا يَكۡرَهُونَۚ ﴿ " menetapkan bagi Allah sesuatu yang mereka sendiri membencinya," berupa (penisbatan) anak perempuan dan sifat-sifat buruk (kepadaNya), yaitu perbuatan syirik dengan mengarahkan sebagian dari peribadahan kepada sejumlah makhluk yang sebenar-nya merupakan hamba Allah. Sebagaimana mereka itu benci dan tidak rela kalau budak mereka –padahal mereka sejenis– menjadi sekutu mereka dalam rizki yang Allah berikan kepada mereka, lalu kenapa mereka menetapkan beberapa sekutu bagi Allah yang ber-asal dari hambaNya? ﴾ و َ ﴿ "Dan," mereka bersama perbuatan buruk yang besar ini ﴾ ت َ ص ِ ف ُ أَلۡسِنَتُهُمُ ٱلۡكَذِبَ أَنَّ لَهُمُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "lidah mereka mengucap-kan kedustaan, yaitu bahwa merekalah yang akan mendapat kebaikan," maksudnya bahwa mereka akan menjumpai keadaan yang baik di dunia dan akhirat. Maka Allah membantah mereka dengan ber-firman, ﴾ لَا جَرَمَ أَنَّ لَهُمُ ٱلنَّارَ وَأَنَّهُم مُّفۡرَطُونَ ﴿ "Tiadalah diragukan bahwa nerakalah bagi mereka, dan bahwa mereka segera dimasukkan (ke dalamnya)," mereka didahulukan masuk ke neraka, tinggal di dalamnya, tidak keluar darinya selamanya.
(63) Allah تعالى menerangkan kepada RasulNya bahwa dia bukanlah utusan Allah yang pertama kali yang didustakan. Allah berfirman, ﴾ تَٱللَّهِ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu," be-berapa rasul yang menyeru mereka kepada tauhid ﴾ فَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuat-an mereka (yang buruk)," sehingga mereka (berani) mendustakan para rasul, dan mengklaim bahwa keyakinan yang mereka pegangi itulah yang benar yang akan menyelamatkan dari setiap bencana, sedangkan dakwah yang diserukan oleh para rasul, menyelisihi hal itu. Ketika setan berhasil menjadikan mereka memandang baik per-buatan (yang buruk), maka jadilah setan itu ﴾ وَلِيُّهُمُ ﴿ "pemimpin me-reka," di dunia. Mereka menaati setan, mengikuti dan mengangkat-nya sebagai pimpinan. ﴾ أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِي وَهُمۡ لَكُمۡ عَدُوُّۢۚ بِئۡسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلٗا 50 ﴿ "Patutkah kamu menjadikan dia dan keturunan-keturunannya se-bagai pemimpin selainKu. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim." (Al-Kahfi: 50) ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Dan mereka mendapatkan azab yang pedih," di akhi-rat (kelak), lantaran berbelok arah dari kepemimpinan ar-Rahman, dan rela dengan komando setan. Karena itu, mereka pantas untuk dihukum dengan siksaan kehinaan.
An-Nahl 16:63
"Dan mereka menetapkan bagi Allah sesuatu yang mereka sendiri membencinya, dan lidah mereka mengucapkan kedustaan, yaitu bahwa merekalah yang akan mendapat kebaikan. Tiadalah diragukan bahwa nerakalah bagi mereka, dan bahwa mereka segera dimasukkan (ke dalamnya). Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan me-reka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu, dan mereka mendapatkan azab yang pedih." (An-Nahl: 62-63).
(62) Allah تعالى mengabarkan bahwasanya kaum musyrikin ﴾ يَجۡعَلُونَ لِلَّهِ مَا يَكۡرَهُونَۚ ﴿ " menetapkan bagi Allah sesuatu yang mereka sendiri membencinya," berupa (penisbatan) anak perempuan dan sifat-sifat buruk (kepadaNya), yaitu perbuatan syirik dengan mengarahkan sebagian dari peribadahan kepada sejumlah makhluk yang sebenar-nya merupakan hamba Allah. Sebagaimana mereka itu benci dan tidak rela kalau budak mereka –padahal mereka sejenis– menjadi sekutu mereka dalam rizki yang Allah berikan kepada mereka, lalu kenapa mereka menetapkan beberapa sekutu bagi Allah yang ber-asal dari hambaNya? ﴾ و َ ﴿ "Dan," mereka bersama perbuatan buruk yang besar ini ﴾ ت َ ص ِ ف ُ أَلۡسِنَتُهُمُ ٱلۡكَذِبَ أَنَّ لَهُمُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "lidah mereka mengucap-kan kedustaan, yaitu bahwa merekalah yang akan mendapat kebaikan," maksudnya bahwa mereka akan menjumpai keadaan yang baik di dunia dan akhirat. Maka Allah membantah mereka dengan ber-firman, ﴾ لَا جَرَمَ أَنَّ لَهُمُ ٱلنَّارَ وَأَنَّهُم مُّفۡرَطُونَ ﴿ "Tiadalah diragukan bahwa nerakalah bagi mereka, dan bahwa mereka segera dimasukkan (ke dalamnya)," mereka didahulukan masuk ke neraka, tinggal di dalamnya, tidak keluar darinya selamanya.
(63) Allah تعالى menerangkan kepada RasulNya bahwa dia bukanlah utusan Allah yang pertama kali yang didustakan. Allah berfirman, ﴾ تَٱللَّهِ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu," be-berapa rasul yang menyeru mereka kepada tauhid ﴾ فَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuat-an mereka (yang buruk)," sehingga mereka (berani) mendustakan para rasul, dan mengklaim bahwa keyakinan yang mereka pegangi itulah yang benar yang akan menyelamatkan dari setiap bencana, sedangkan dakwah yang diserukan oleh para rasul, menyelisihi hal itu. Ketika setan berhasil menjadikan mereka memandang baik per-buatan (yang buruk), maka jadilah setan itu ﴾ وَلِيُّهُمُ ﴿ "pemimpin me-reka," di dunia. Mereka menaati setan, mengikuti dan mengangkat-nya sebagai pimpinan. ﴾ أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِي وَهُمۡ لَكُمۡ عَدُوُّۢۚ بِئۡسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلٗا 50 ﴿ "Patutkah kamu menjadikan dia dan keturunan-keturunannya se-bagai pemimpin selainKu. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim." (Al-Kahfi: 50) ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Dan mereka mendapatkan azab yang pedih," di akhi-rat (kelak), lantaran berbelok arah dari kepemimpinan ar-Rahman, dan rela dengan komando setan. Karena itu, mereka pantas untuk dihukum dengan siksaan kehinaan.
An-Nahl 16:64
"Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.[19] Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan), dan dengan air itu dihidupkanNya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)." (An-Nahl: 64-65).
(64-65) Mengenai Allah, melalui curahan nasihat-nasihat dan peringatan-peringatanNya, maka orang-orang mengambilnya se-bagai dalil bahwasanya Allah, Dia-lah Dzat Yang disembah, yang peribadahan itu tidak patut dikerjakan kecuali bagiNya semata. Sebab, Dia-lah Dzat yang mencurahkan kenikmatan dengan turun-nya hujan, tumbuhnya seluruh jenis tanaman (dan sebagai dalil) bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Dzat yang menghidupkan bumi setelah kematiannya, sanggup untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati, dan bahwa Dzat yang menebarkan kebaikan ini betul-betul mempunyai rahmat yang luas dan kemurahan yang agung.
An-Nahl 16:65
"Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.[19] Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan), dan dengan air itu dihidupkanNya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)." (An-Nahl: 64-65).
(64-65) Mengenai Allah, melalui curahan nasihat-nasihat dan peringatan-peringatanNya, maka orang-orang mengambilnya se-bagai dalil bahwasanya Allah, Dia-lah Dzat Yang disembah, yang peribadahan itu tidak patut dikerjakan kecuali bagiNya semata. Sebab, Dia-lah Dzat yang mencurahkan kenikmatan dengan turun-nya hujan, tumbuhnya seluruh jenis tanaman (dan sebagai dalil) bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Dzat yang menghidupkan bumi setelah kematiannya, sanggup untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati, dan bahwa Dzat yang menebarkan kebaikan ini betul-betul mempunyai rahmat yang luas dan kemurahan yang agung.
An-Nahl 16:66
"Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar ter-dapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari sesuatu yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminum-nya. Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan yang baik. Sesungguhnya pada yang demi-kian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan." (An-Nahl: 66-67).
(66) Maksudnya, ﴾ وَإِنَّ لَكُمۡ فِي ٱلۡأَنۡعَٰمِ ﴿ "Dan sesungguhnya bagimu pada binatang ternak itu," yang Allah tundukkan bagi kepentingan-kepentingan kalian ﴾ لَعِبۡرَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat pelajaran," dengan itu, engkau membuktikan kesempurnaan kekuasaan Allah dan luas-nya kebaikan Allah, lantaran Allah memberikan minuman bagi kalian dari perut-perut binatang-binatang tersebut yang berisi ko-toran dan darah. Allah mengalirkan dari tempat antara keduanya air susu yang bersih dari kekeruhan sehingga mudah ditelan oleh orang-orang yang meminumnya untuk kesenangan. Susu ini mem-berikan cairan dan nutrisi. Bukankah kejadian ini tiada lain meru-pakan kekuasaan ilahi, bukan kejadian-kejadian alam belaka? Ke-kuatan alamiah apakah yang dapat menjelmakan pakan ternak yang dimakan oleh binatang ternak dan minuman yang ia minum, ber-asal dari air yang tawar dan zat asin menjadi air susu yang murni, mudah dikonsumsi oleh orang-orang yang meminumnya?
(67) Dan Allah menciptakan bagi para hambaNya dari buah-buah kurma dan anggur berbagai macam kegunaan dan kemasla-hatan bagi mereka, yang berbentuk rizki yang baik yang dikonsumsi oleh para manusia dalam keadaan segar, matang, siap saji dan bisa disimpan dan sebagai makanan dan minuman yang bisa dijadikan jus dan fermentasinya dan minuman keras yang sebelumnya halal diperbolehkan. Kemudian Allah menaskh (menghapus) halalnya minuman yang memabukkan dan menggantikannya dengan ba-rang-barang yang baik seperti jenis-jenis nabidz (hasil fermentasi dari buah) dan berbagai macam minuman yang lezat dan diperbo-lehkan. Oleh karena itu ada orang yang berpendapat, "Maksud 'memabukkan' di sini adalah makanan dan minuman yang nikmat." Pendapat ini lebih utama daripada pendapat yang pertama. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikir-kan," yaitu memikirkan tentang kesempurnaan kekuasaan Allah, karena Dia mengeluarkannya dari pepohonan yang mirip dengan kayu bakar, kemudian berubah menjadi buah-buahan yang lezat, enak dimakan dan baik. Dan (itu membuktikan) meratanya cakupan rahmatNya, karena ia merata pada seluruh hambaNya, memudah-kannya bagi mereka, (menunjukkan) bahwa Dia-lah sesembahan yang (berhak) diibadahi semata, sebab Allah satu-satunya Dzat yang (mampu) melakukan itu.
An-Nahl 16:67
"Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar ter-dapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari sesuatu yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminum-nya. Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan yang baik. Sesungguhnya pada yang demi-kian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan." (An-Nahl: 66-67).
(66) Maksudnya, ﴾ وَإِنَّ لَكُمۡ فِي ٱلۡأَنۡعَٰمِ ﴿ "Dan sesungguhnya bagimu pada binatang ternak itu," yang Allah tundukkan bagi kepentingan-kepentingan kalian ﴾ لَعِبۡرَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat pelajaran," dengan itu, engkau membuktikan kesempurnaan kekuasaan Allah dan luas-nya kebaikan Allah, lantaran Allah memberikan minuman bagi kalian dari perut-perut binatang-binatang tersebut yang berisi ko-toran dan darah. Allah mengalirkan dari tempat antara keduanya air susu yang bersih dari kekeruhan sehingga mudah ditelan oleh orang-orang yang meminumnya untuk kesenangan. Susu ini mem-berikan cairan dan nutrisi. Bukankah kejadian ini tiada lain meru-pakan kekuasaan ilahi, bukan kejadian-kejadian alam belaka? Ke-kuatan alamiah apakah yang dapat menjelmakan pakan ternak yang dimakan oleh binatang ternak dan minuman yang ia minum, ber-asal dari air yang tawar dan zat asin menjadi air susu yang murni, mudah dikonsumsi oleh orang-orang yang meminumnya?
(67) Dan Allah menciptakan bagi para hambaNya dari buah-buah kurma dan anggur berbagai macam kegunaan dan kemasla-hatan bagi mereka, yang berbentuk rizki yang baik yang dikonsumsi oleh para manusia dalam keadaan segar, matang, siap saji dan bisa disimpan dan sebagai makanan dan minuman yang bisa dijadikan jus dan fermentasinya dan minuman keras yang sebelumnya halal diperbolehkan. Kemudian Allah menaskh (menghapus) halalnya minuman yang memabukkan dan menggantikannya dengan ba-rang-barang yang baik seperti jenis-jenis nabidz (hasil fermentasi dari buah) dan berbagai macam minuman yang lezat dan diperbo-lehkan. Oleh karena itu ada orang yang berpendapat, "Maksud 'memabukkan' di sini adalah makanan dan minuman yang nikmat." Pendapat ini lebih utama daripada pendapat yang pertama. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikir-kan," yaitu memikirkan tentang kesempurnaan kekuasaan Allah, karena Dia mengeluarkannya dari pepohonan yang mirip dengan kayu bakar, kemudian berubah menjadi buah-buahan yang lezat, enak dimakan dan baik. Dan (itu membuktikan) meratanya cakupan rahmatNya, karena ia merata pada seluruh hambaNya, memudah-kannya bagi mereka, (menunjukkan) bahwa Dia-lah sesembahan yang (berhak) diibadahi semata, sebab Allah satu-satunya Dzat yang (mampu) melakukan itu.
An-Nahl 16:68
"Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudah-kan (bagimu).' Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang me-nyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan." (An-Nahl: 68-69).
(68-69) Pada penciptaan binatang lebah yang mungil ini, yang Allah berikan petunjuk kepadanya dengan petunjuk yang mengagumkan, dan Dia memudahkan habitat makanannya, lantas kembali ke sarang-sarangnya yang ia renovasi berdasarkan arahan dan petunjuk dari Allah kepadanya, kemudian mengeluarkan dari perut-perutnya madu lezat yang beraneka warna, sesuai dengan latar belakang tanah dan habitatnya, yang mana pada madu itu terdapat penyembuh bagi umat manusia dari banyak penyakit, maka semua ini menjadi bukti kesempurnaan perhatian Allah تعالى dan kesempurnaan sifat kelembutanNya kepada para hambaNya, dan bahwa Dia-lah Dzat yang tidak patut ada pihak selainNya yang dicinta dan diseru dalam doa.
An-Nahl 16:69
"Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudah-kan (bagimu).' Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang me-nyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan." (An-Nahl: 68-69).
(68-69) Pada penciptaan binatang lebah yang mungil ini, yang Allah berikan petunjuk kepadanya dengan petunjuk yang mengagumkan, dan Dia memudahkan habitat makanannya, lantas kembali ke sarang-sarangnya yang ia renovasi berdasarkan arahan dan petunjuk dari Allah kepadanya, kemudian mengeluarkan dari perut-perutnya madu lezat yang beraneka warna, sesuai dengan latar belakang tanah dan habitatnya, yang mana pada madu itu terdapat penyembuh bagi umat manusia dari banyak penyakit, maka semua ini menjadi bukti kesempurnaan perhatian Allah تعالى dan kesempurnaan sifat kelembutanNya kepada para hambaNya, dan bahwa Dia-lah Dzat yang tidak patut ada pihak selainNya yang dicinta dan diseru dalam doa.
An-Nahl 16:70
"Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha-kuasa." (An-Nahl: 70).
(70) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia-lah Dzat yang menciptakan manusia dan mentransfer mereka dalam proses pen-ciptaan dari satu fase ke fase berikutnya. Selanjutnya, ketika mereka telah menepati semua ajal-ajal, maka Allah mewafatkan mereka. Di antara mereka ada yang dipanjangkan usianya, sampai dikembali-kan, ﴾ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ ﴿ "kepada umur yang paling lemah (pikun)," yaitu usia yang paling nista. Yang mana pada usia itu, manusia mencapai batas kelemahan dari kekuatan fisik zahir dan batin. Bahkan akal yang menjadi permata manusia pun mengalami pertambahan kelemah-an. Hingga dia pun lupa apa saja yang dahulu ia ketahui. Daya tang-kap akalnya ibarat daya tangkap seorang anak kecil. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ لِكَيۡ لَا يَعۡلَمَ بَعۡدَ عِلۡمٖ شَيۡـًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٞ قَدِيرٞ ﴿ "supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa," maksudnya ilmu dan kekuasaan Allah meliputi seluruh perkara. Termasuk dalam kategori itu ada-lah, keadaan yang memindahkan seorang anak manusia dari proses penciptaan ke proses penciptaan berikutnya. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٖ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٖ قُوَّةٗ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٖ ضَعۡفٗا وَشَيۡبَةٗۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ 54 ﴿ "Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemu-dian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya, dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." (Ar-Rum: 54).
An-Nahl 16:71
"Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rizki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rizkinya itu) tidak mau memberikan rizki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rizki itu. Maka me-ngapa mereka mengingkari nikmat Allah?" (An-Nahl: 71).
(71) Ini bagian dari dalil-dalil tauhid dan buruknya syirik kepada Allah. Allah berfirman, sebagaimana kalian sama dengan yang lain, makhluk ciptaan dan mendapat kucuran rizki. Hanya saja, Allah تعالى ﴾ فَضَّلَ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلرِّزۡقِۚ ﴿ "melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rizki," Dia menjadikan sebagian kalian orang-orang yang merdeka, mempunyai uang dan harta. Sebagian lagi, budak belian, tidak memiliki hak milik terhadap dunia sedikit pun. Sebagaimana para tuan yang telah Kami utamakan atas mereka dengan (kucuran) rizki, (tapi) mereka itu tidak mau, ﴾ بِرَآدِّي رِزۡقِهِمۡ عَلَىٰ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَهُمۡ فِيهِ سَوَآءٌۚ ﴿ "memberikan rizki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rizki itu," para tuan itu memandang santunan ini termasuk perkara yang dilarang. Maka, begitu pula, makhluk yang engkau sekutukan bersama Allah, karena ia hanyalah budak, tidak memegang kendali kerajaan sebesar biji dzarrah sekali pun. Mengapa kalian menjadikannya sebagai seku-tu-sekutu bagi Allah تعالى? Tidaklah perbuatan itu melainkan termasuk kezhaliman yang paling besar dan pengingkaran terhadap kenik-matan-kenikmatan Allah. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ ﴿ "Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?," Seki-ranya mereka itu mau mengakui nikmat Allah dan menisbatkan-nya kepada Dzat yang memberikannya, niscaya mereka tidak akan menyekutukan sesuatu pun dengan Allah.
An-Nahl 16:72
"Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rizki dari yang baik-baik. Maka menga-pakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?" (An-Nahl: 72).
(72) Allah تعالى mengabarkan tentang anugerahNya yang agung kepada para hambaNya. Dia telah menjadikan istri-istri bagi mereka supaya mereka merasa tentram kepada mereka, dan menjadikan bagi mereka dari istri-istri mereka itu anak-anak yang membuat pandangan mata mereka menjadi sejuk, anak-anak itu pun melayani orang tua dan menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan orang tua dan dapat berguna bagi orang tua dari sisi yang banyak. Allah memberikan rizki yang baik-baik bagi mereka, berupa makan-an-makanan dan minuman-minuman serta beraneka kenikmatan lahiriah yang tidak mampu dihitung oleh para hamba. ﴾ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil," maksudnya apakah mereka justru mengimani kebatilan yang sebelumnya bukan menjadi sesuatu yang pernah disebut-sebut. Kemudian Allah menciptakannya di saat ia tidak memiliki wujud kecuali ketiadaan? Sesembahan-sesembahan itu tidak mampu men-ciptakan, memberi rizki, dan tidak mengatur urusanurusan sedikit pun. Hukum ini umum pada semua obyek yang disembah selain Allah, karena ia batil. Mengapa kaum musyrikin menjadikannya sebagai tuhan selain Allah, ﴾ وَبِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ هُمۡ يَكۡفُرُونَ ﴿ "dan mengingkari nikmat Allah," mengingkarinya dan malah menggunakannya untuk ber-maksiat kepada Allah dan berbuat kufur kepadaNya? Tidaklah ini melainkan termasuk kezhaliman yang paling besar, tindakan ke-jahatan yang paling parah dan kebodohan yang paling fatal.
An-Nahl 16:73
"Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rizki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit pun). Maka janganlah kamu meng-adakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Allah membuat perumpamaan de-ngan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat ber-tindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rizki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rizki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan. Adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah. Tetapi kebanyakan mereka tidak me-ngetahui. Dan Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang le-laki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun, dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja ia disuruh oleh penanggungnya itu, niscaya dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?" (An-Nahl: 73-76).
(73-74) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin dan kezhaliman mereka, bahwa mereka itu menyembah sesembahan selain Allah, yang mereka daulat sebagai sekutu bagi Allah. Padahal, realitanya, sesembahan-sesembahan tersebut tidak dapat memberikan rizki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, tidak sanggup menurunkan hujan dan rizki, tidak menumbuh-kan tanaman apa pun dari tanah, tidak mempunyai (kekuasaan) seukuran biji dzarrah sekalipun di langit maupun di bumi, mereka itu tidak berdaya, sekiranya mau melakukannya. Sesungguhnya, orang yang bukan pemilik (dari) sesuatu, boleh jadi dia mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk menyalurkan manfaat bagi orang yang berhubungan dengan dirinya. Akan tetapi, sesembahan-sesem-bahan itu tidak mempunyai (kekuasaan) dan tidak berkuasa. Inilah karakter sesembahan mereka. Bagaimana bisa mereka menjadikan-nya (sekutu) bersama Allah dan menyerupakannya dengan Pemilik bumi dan langit, yang mana Dia memiliki seluruh kerajaan dan se-mua sanjungan dan segenap kekuatan? Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ فَلَا تَضۡرِبُواْ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡثَالَۚ ﴿ "Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah," yang memuat unsur mak-na penyerupaan antara Allah dengan makhlukNya." ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," kewajiban kita, adalah tidak berkata atas namaNya tanpa ilmu, dan (kewajiban kita) adalah mendengarkan perumpamaan yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Karena itu, Allah menetapkan dua permisalan bagiNya dan obyek yang disembah selainNya.
(75) Pertama, budak yang dimiliki (orang): Yaitu orang yang tidak merdeka, tidak memiliki dirinya sendiri dan juga tidak bisa memiliki hak kepemilikan harta maupun dunia sedikit pun. Kedua, orang yang merdeka lagi mempunyai kekayaan. Ia telah menerima rizki yang baik-baik dari Allah dari berbagai bentuk kekayaan. Orang ini, dermawan, suka berbuat baik, menyumbang secara sem-bunyi-sembunyi dan terang-terangan. Apakah dua orang ini sama? Tidak sama, padahal keduanya adalah makhluk yang tidak menu-tup kemungkinan terjadinya sifat persamaan antara keduanya. Apa-bila dua obyek ini saja tidak sama, lalu bagaimana bisa seorang makhluk yang dimiliki, yang tidak mempunyai kerajaan, kekuasa-an dan kemampuan, bahkan makhluk itu sangat membutuhkan (pertolongan pihak lain) dari segala aspek, disamakan dengan Rabb, Pencipta, Pemilik segenap kerajaan dan Mahakuasa atas segala sesuatu? Karena itu, Allah menyanjung DzatNya dan memegang sendiri keistimewaan pujian dengan segala jenisnya. Allah berfirman, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ ﴿ "Segala puji hanya bagi Allah," jadi, seolah-olah dikatakan, "Bila faktanya demikian, mengapa kaum musyrikin menyamakan sesembahan-sesembahan mereka dengan Allah?" Allah berfirman, ﴾ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui," seki-ranya mereka mengetahui dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak akan berani berbuat kesyirikan yang besar.
(76) Perumpamaan kedua; yaitu permisalan ﴾ رَّجُلَيۡنِ أَحَدُهُمَآ أَبۡكَمُ ﴿ "dua orang lelaki yang seorang bisu," tidak dapat mendengar lagi tidak dapat berbicara, ﴾ لَا يَقۡدِرُ عَلَىٰ شَيۡءٖ ﴿ "tidak dapat berbuat sesuatu pun," per-buatan yang sedikit maupun yang banyak ﴾ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوۡلَىٰهُ ﴿ "dan dia menjadi beban atas penanggungnya," sang tuan justru melayaninya, ia tidak mampu mengurus diri sendiri, mempunyai kekurangan dalam setiap aspek. Apakah sama orang ini dengan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "orang yang menyuruh berbuat keadilan dan dia berada di jalan yang lurus," ucapan-ucapannya adil dan perbuatan-perbuat-annya lurus. Sebagaimana dua orang ini tidak sama, maka tidak sama pula obyek yang disembah selain Allah, padahal ia tidak mampu berbuat sesuatu untuk memenuhi kemaslahatan-kemaslahat-annya. Kalau bukan karena bantuan dari Allah, niscaya dia tidak bisa melakukan apa pun, tidak bisa menjadi penyetara maupun tandingan bagi Dzat yang tidak berbicara melainkan dengan kebenar-an dan tidak berbuat melainkan perbuatan yang terpuji.
An-Nahl 16:74
"Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rizki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit pun). Maka janganlah kamu meng-adakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Allah membuat perumpamaan de-ngan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat ber-tindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rizki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rizki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan. Adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah. Tetapi kebanyakan mereka tidak me-ngetahui. Dan Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang le-laki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun, dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja ia disuruh oleh penanggungnya itu, niscaya dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?" (An-Nahl: 73-76).
(73-74) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin dan kezhaliman mereka, bahwa mereka itu menyembah sesembahan selain Allah, yang mereka daulat sebagai sekutu bagi Allah. Padahal, realitanya, sesembahan-sesembahan tersebut tidak dapat memberikan rizki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, tidak sanggup menurunkan hujan dan rizki, tidak menumbuh-kan tanaman apa pun dari tanah, tidak mempunyai (kekuasaan) seukuran biji dzarrah sekalipun di langit maupun di bumi, mereka itu tidak berdaya, sekiranya mau melakukannya. Sesungguhnya, orang yang bukan pemilik (dari) sesuatu, boleh jadi dia mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk menyalurkan manfaat bagi orang yang berhubungan dengan dirinya. Akan tetapi, sesembahan-sesem-bahan itu tidak mempunyai (kekuasaan) dan tidak berkuasa. Inilah karakter sesembahan mereka. Bagaimana bisa mereka menjadikan-nya (sekutu) bersama Allah dan menyerupakannya dengan Pemilik bumi dan langit, yang mana Dia memiliki seluruh kerajaan dan se-mua sanjungan dan segenap kekuatan? Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ فَلَا تَضۡرِبُواْ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡثَالَۚ ﴿ "Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah," yang memuat unsur mak-na penyerupaan antara Allah dengan makhlukNya." ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," kewajiban kita, adalah tidak berkata atas namaNya tanpa ilmu, dan (kewajiban kita) adalah mendengarkan perumpamaan yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Karena itu, Allah menetapkan dua permisalan bagiNya dan obyek yang disembah selainNya.
(75) Pertama, budak yang dimiliki (orang): Yaitu orang yang tidak merdeka, tidak memiliki dirinya sendiri dan juga tidak bisa memiliki hak kepemilikan harta maupun dunia sedikit pun. Kedua, orang yang merdeka lagi mempunyai kekayaan. Ia telah menerima rizki yang baik-baik dari Allah dari berbagai bentuk kekayaan. Orang ini, dermawan, suka berbuat baik, menyumbang secara sem-bunyi-sembunyi dan terang-terangan. Apakah dua orang ini sama? Tidak sama, padahal keduanya adalah makhluk yang tidak menu-tup kemungkinan terjadinya sifat persamaan antara keduanya. Apa-bila dua obyek ini saja tidak sama, lalu bagaimana bisa seorang makhluk yang dimiliki, yang tidak mempunyai kerajaan, kekuasa-an dan kemampuan, bahkan makhluk itu sangat membutuhkan (pertolongan pihak lain) dari segala aspek, disamakan dengan Rabb, Pencipta, Pemilik segenap kerajaan dan Mahakuasa atas segala sesuatu? Karena itu, Allah menyanjung DzatNya dan memegang sendiri keistimewaan pujian dengan segala jenisnya. Allah berfirman, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ ﴿ "Segala puji hanya bagi Allah," jadi, seolah-olah dikatakan, "Bila faktanya demikian, mengapa kaum musyrikin menyamakan sesembahan-sesembahan mereka dengan Allah?" Allah berfirman, ﴾ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui," seki-ranya mereka mengetahui dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak akan berani berbuat kesyirikan yang besar.
(76) Perumpamaan kedua; yaitu permisalan ﴾ رَّجُلَيۡنِ أَحَدُهُمَآ أَبۡكَمُ ﴿ "dua orang lelaki yang seorang bisu," tidak dapat mendengar lagi tidak dapat berbicara, ﴾ لَا يَقۡدِرُ عَلَىٰ شَيۡءٖ ﴿ "tidak dapat berbuat sesuatu pun," per-buatan yang sedikit maupun yang banyak ﴾ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوۡلَىٰهُ ﴿ "dan dia menjadi beban atas penanggungnya," sang tuan justru melayaninya, ia tidak mampu mengurus diri sendiri, mempunyai kekurangan dalam setiap aspek. Apakah sama orang ini dengan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "orang yang menyuruh berbuat keadilan dan dia berada di jalan yang lurus," ucapan-ucapannya adil dan perbuatan-perbuat-annya lurus. Sebagaimana dua orang ini tidak sama, maka tidak sama pula obyek yang disembah selain Allah, padahal ia tidak mampu berbuat sesuatu untuk memenuhi kemaslahatan-kemaslahat-annya. Kalau bukan karena bantuan dari Allah, niscaya dia tidak bisa melakukan apa pun, tidak bisa menjadi penyetara maupun tandingan bagi Dzat yang tidak berbicara melainkan dengan kebenar-an dan tidak berbuat melainkan perbuatan yang terpuji.
An-Nahl 16:75
"Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rizki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit pun). Maka janganlah kamu meng-adakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Allah membuat perumpamaan de-ngan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat ber-tindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rizki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rizki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan. Adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah. Tetapi kebanyakan mereka tidak me-ngetahui. Dan Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang le-laki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun, dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja ia disuruh oleh penanggungnya itu, niscaya dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?" (An-Nahl: 73-76).
(73-74) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin dan kezhaliman mereka, bahwa mereka itu menyembah sesembahan selain Allah, yang mereka daulat sebagai sekutu bagi Allah. Padahal, realitanya, sesembahan-sesembahan tersebut tidak dapat memberikan rizki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, tidak sanggup menurunkan hujan dan rizki, tidak menumbuh-kan tanaman apa pun dari tanah, tidak mempunyai (kekuasaan) seukuran biji dzarrah sekalipun di langit maupun di bumi, mereka itu tidak berdaya, sekiranya mau melakukannya. Sesungguhnya, orang yang bukan pemilik (dari) sesuatu, boleh jadi dia mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk menyalurkan manfaat bagi orang yang berhubungan dengan dirinya. Akan tetapi, sesembahan-sesem-bahan itu tidak mempunyai (kekuasaan) dan tidak berkuasa. Inilah karakter sesembahan mereka. Bagaimana bisa mereka menjadikan-nya (sekutu) bersama Allah dan menyerupakannya dengan Pemilik bumi dan langit, yang mana Dia memiliki seluruh kerajaan dan se-mua sanjungan dan segenap kekuatan? Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ فَلَا تَضۡرِبُواْ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡثَالَۚ ﴿ "Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah," yang memuat unsur mak-na penyerupaan antara Allah dengan makhlukNya." ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," kewajiban kita, adalah tidak berkata atas namaNya tanpa ilmu, dan (kewajiban kita) adalah mendengarkan perumpamaan yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Karena itu, Allah menetapkan dua permisalan bagiNya dan obyek yang disembah selainNya.
(75) Pertama, budak yang dimiliki (orang): Yaitu orang yang tidak merdeka, tidak memiliki dirinya sendiri dan juga tidak bisa memiliki hak kepemilikan harta maupun dunia sedikit pun. Kedua, orang yang merdeka lagi mempunyai kekayaan. Ia telah menerima rizki yang baik-baik dari Allah dari berbagai bentuk kekayaan. Orang ini, dermawan, suka berbuat baik, menyumbang secara sem-bunyi-sembunyi dan terang-terangan. Apakah dua orang ini sama? Tidak sama, padahal keduanya adalah makhluk yang tidak menu-tup kemungkinan terjadinya sifat persamaan antara keduanya. Apa-bila dua obyek ini saja tidak sama, lalu bagaimana bisa seorang makhluk yang dimiliki, yang tidak mempunyai kerajaan, kekuasa-an dan kemampuan, bahkan makhluk itu sangat membutuhkan (pertolongan pihak lain) dari segala aspek, disamakan dengan Rabb, Pencipta, Pemilik segenap kerajaan dan Mahakuasa atas segala sesuatu? Karena itu, Allah menyanjung DzatNya dan memegang sendiri keistimewaan pujian dengan segala jenisnya. Allah berfirman, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ ﴿ "Segala puji hanya bagi Allah," jadi, seolah-olah dikatakan, "Bila faktanya demikian, mengapa kaum musyrikin menyamakan sesembahan-sesembahan mereka dengan Allah?" Allah berfirman, ﴾ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui," seki-ranya mereka mengetahui dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak akan berani berbuat kesyirikan yang besar.
(76) Perumpamaan kedua; yaitu permisalan ﴾ رَّجُلَيۡنِ أَحَدُهُمَآ أَبۡكَمُ ﴿ "dua orang lelaki yang seorang bisu," tidak dapat mendengar lagi tidak dapat berbicara, ﴾ لَا يَقۡدِرُ عَلَىٰ شَيۡءٖ ﴿ "tidak dapat berbuat sesuatu pun," per-buatan yang sedikit maupun yang banyak ﴾ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوۡلَىٰهُ ﴿ "dan dia menjadi beban atas penanggungnya," sang tuan justru melayaninya, ia tidak mampu mengurus diri sendiri, mempunyai kekurangan dalam setiap aspek. Apakah sama orang ini dengan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "orang yang menyuruh berbuat keadilan dan dia berada di jalan yang lurus," ucapan-ucapannya adil dan perbuatan-perbuat-annya lurus. Sebagaimana dua orang ini tidak sama, maka tidak sama pula obyek yang disembah selain Allah, padahal ia tidak mampu berbuat sesuatu untuk memenuhi kemaslahatan-kemaslahat-annya. Kalau bukan karena bantuan dari Allah, niscaya dia tidak bisa melakukan apa pun, tidak bisa menjadi penyetara maupun tandingan bagi Dzat yang tidak berbicara melainkan dengan kebenar-an dan tidak berbuat melainkan perbuatan yang terpuji.
An-Nahl 16:76
"Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rizki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit pun). Maka janganlah kamu meng-adakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Allah membuat perumpamaan de-ngan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat ber-tindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rizki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rizki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan. Adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah. Tetapi kebanyakan mereka tidak me-ngetahui. Dan Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang le-laki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun, dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja ia disuruh oleh penanggungnya itu, niscaya dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?" (An-Nahl: 73-76).
(73-74) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin dan kezhaliman mereka, bahwa mereka itu menyembah sesembahan selain Allah, yang mereka daulat sebagai sekutu bagi Allah. Padahal, realitanya, sesembahan-sesembahan tersebut tidak dapat memberikan rizki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, tidak sanggup menurunkan hujan dan rizki, tidak menumbuh-kan tanaman apa pun dari tanah, tidak mempunyai (kekuasaan) seukuran biji dzarrah sekalipun di langit maupun di bumi, mereka itu tidak berdaya, sekiranya mau melakukannya. Sesungguhnya, orang yang bukan pemilik (dari) sesuatu, boleh jadi dia mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk menyalurkan manfaat bagi orang yang berhubungan dengan dirinya. Akan tetapi, sesembahan-sesem-bahan itu tidak mempunyai (kekuasaan) dan tidak berkuasa. Inilah karakter sesembahan mereka. Bagaimana bisa mereka menjadikan-nya (sekutu) bersama Allah dan menyerupakannya dengan Pemilik bumi dan langit, yang mana Dia memiliki seluruh kerajaan dan se-mua sanjungan dan segenap kekuatan? Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ فَلَا تَضۡرِبُواْ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡثَالَۚ ﴿ "Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah," yang memuat unsur mak-na penyerupaan antara Allah dengan makhlukNya." ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," kewajiban kita, adalah tidak berkata atas namaNya tanpa ilmu, dan (kewajiban kita) adalah mendengarkan perumpamaan yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Karena itu, Allah menetapkan dua permisalan bagiNya dan obyek yang disembah selainNya.
(75) Pertama, budak yang dimiliki (orang): Yaitu orang yang tidak merdeka, tidak memiliki dirinya sendiri dan juga tidak bisa memiliki hak kepemilikan harta maupun dunia sedikit pun. Kedua, orang yang merdeka lagi mempunyai kekayaan. Ia telah menerima rizki yang baik-baik dari Allah dari berbagai bentuk kekayaan. Orang ini, dermawan, suka berbuat baik, menyumbang secara sem-bunyi-sembunyi dan terang-terangan. Apakah dua orang ini sama? Tidak sama, padahal keduanya adalah makhluk yang tidak menu-tup kemungkinan terjadinya sifat persamaan antara keduanya. Apa-bila dua obyek ini saja tidak sama, lalu bagaimana bisa seorang makhluk yang dimiliki, yang tidak mempunyai kerajaan, kekuasa-an dan kemampuan, bahkan makhluk itu sangat membutuhkan (pertolongan pihak lain) dari segala aspek, disamakan dengan Rabb, Pencipta, Pemilik segenap kerajaan dan Mahakuasa atas segala sesuatu? Karena itu, Allah menyanjung DzatNya dan memegang sendiri keistimewaan pujian dengan segala jenisnya. Allah berfirman, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ ﴿ "Segala puji hanya bagi Allah," jadi, seolah-olah dikatakan, "Bila faktanya demikian, mengapa kaum musyrikin menyamakan sesembahan-sesembahan mereka dengan Allah?" Allah berfirman, ﴾ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui," seki-ranya mereka mengetahui dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak akan berani berbuat kesyirikan yang besar.
(76) Perumpamaan kedua; yaitu permisalan ﴾ رَّجُلَيۡنِ أَحَدُهُمَآ أَبۡكَمُ ﴿ "dua orang lelaki yang seorang bisu," tidak dapat mendengar lagi tidak dapat berbicara, ﴾ لَا يَقۡدِرُ عَلَىٰ شَيۡءٖ ﴿ "tidak dapat berbuat sesuatu pun," per-buatan yang sedikit maupun yang banyak ﴾ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوۡلَىٰهُ ﴿ "dan dia menjadi beban atas penanggungnya," sang tuan justru melayaninya, ia tidak mampu mengurus diri sendiri, mempunyai kekurangan dalam setiap aspek. Apakah sama orang ini dengan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "orang yang menyuruh berbuat keadilan dan dia berada di jalan yang lurus," ucapan-ucapannya adil dan perbuatan-perbuat-annya lurus. Sebagaimana dua orang ini tidak sama, maka tidak sama pula obyek yang disembah selain Allah, padahal ia tidak mampu berbuat sesuatu untuk memenuhi kemaslahatan-kemaslahat-annya. Kalau bukan karena bantuan dari Allah, niscaya dia tidak bisa melakukan apa pun, tidak bisa menjadi penyetara maupun tandingan bagi Dzat yang tidak berbicara melainkan dengan kebenar-an dan tidak berbuat melainkan perbuatan yang terpuji.
An-Nahl 16:77
"Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan bumi. Tidaklah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu." (An-Nahl: 77).
(77) Maksudnya, Dia-lah Dzat satu-satunya yang mengetahui alam ghaib di langit dan bumi. Tidak ada yang mengetahui hal-hal yang tersembunyi, sesuatu yang batin dan rahasia kecuali Dia. Ter-masuk juga ilmu tentang Hari Kiamat, tiada seorang pun yang me-ngetahui kapan datang masanya kecuali Allah. Jika telah tiba dan muncul, maka tidaklah kejadian kiamat itu, ﴾ إِلَّا كَلَمۡحِ ٱلۡبَصَرِ أَوۡ هُوَ أَقۡرَبُۚ ﴿ "melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi)," dari kedipan mata. Orang-orang bangkit dari kubur-kubur mereka pada hari kebangkitan dan penyebaran mereka, dan kesempatan sudah hilang bagi orang yang menginginkan penangguhan waktu lagi. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu," maka jangan dianggap aneh kekuasaanNya yang sempur-na untuk menghidupkan orang-orang yang telah mati.
An-Nahl 16:78
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam ke-adaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pen-dengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (An-Nahl: 78).
(78) Dia-lah Dzat satu-satunya yang mencurahkan kenikmat-an-kenikmatan ini, yang mana, ﴾ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡـٔٗا ﴿ "me-ngeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui se-suatu pun," tidak berdaya untuk berbuat apa pun. Kemudian Dia ﴾ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ ﴿ "memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati," secara khusus, Allah menyebutkan tiga anggota tubuh ini, karena nilai kemuliaan dan keutamaannya (yang lebih), dan karena ketiganya merupakan kunci pembuka ilmu. Tidak ada ilmu yang sampai kepada seorang hamba melainkan melalui salah satu dari tiga pintu itu. Apabila tidak demikian, maka seluruh anggota tubuh dan kekuatan lahiriah dan batiniah, Allah-lah yang memberikannya kepada mereka. Dia senantiasa menumbuhkannya sedikit demi sedikit, sampai seseorang berada dalam kondisinya yang ideal. Hal itu, tujuannya agar mereka bersyukur kepada Allah dengan cara memakai piranti anggota tubuh yang Allah berikan kepada mereka dalam rangka ketaatan kepada Allah. Siapa saja yang menggunakan-nya untuk tujuan selain itu, maka anggota tubuh itu akan menjadi penggugat buruk atas dirinya yang telah membalas kenikmatan dengan timbal balik yang buruk.
An-Nahl 16:79
"Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimu-dahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya melainkan Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang beriman." (An-Nahl: 79).
(79) Maksudnya, mereka itulah kaum yang bisa meraih man-faat dengan ayat-ayat Allah, yang memikirkan tentang ayat-ayat yang dijadikan petunjuk kepadaNya. Sementara itu, selain kaum Mukminin, maka sesungguhnya pandangan mereka itu adalah pan-dangan main-main dan kelalaian. Korelasinya dengan ayat ini, bah-wa Allah telah menciptakan burung dalam rupa penciptaan yang mendukungnya untuk terbang. Kemudian Allah mengondisikan angin yang lembut untuknya. Selanjutnya memasang kekuatan ge-rakan pada burung itu yang bisa membuatnya terbang. Ini meru-pakan petunjuk atas hikmah dan ilmu Allah yang luas serta perhati-an rabbaniNya terhadap seluruh makhluk dan (pertanda) kesem-purnaan kekuasaanNya, Mahaberkah Allah, Penguasa alam semesta.
An-Nahl 16:80
"Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tem-pat tinggal, dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (mem-bawa)nya di waktu kamu bepergian dan di waktu kamu bermukim, dan (dijadikanNya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kam-bing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari sesuatu yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memeliharamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmatNya atasmu agar kamu berserah diri (ke-padaNya). Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewa-jiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampai-kan (amanat Allah) dengan terang. Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir." (An-Nahl: 80-83).
(80) Allah تعالى mengingatkan para hambaNya kepada nikmat-nikmatNya dan mengundang mereka untuk mensyukuri dan meng-akuinya. Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنۢ بُيُوتِكُمۡ سَكَنٗا ﴿ "Dan Allah men-jadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal," di apartemen-aparteman, istana-istana dan tempat tinggal lain yang serupa yang melindungi kalian dari sengatan panas dan dingin, dan menutupi kalian, anak-anak dan harta-benda kalian. Di sana, kalian membuat rumah-rumah dan kamar-kamar. Rumah fungsinya untuk berbagai macam kepentingan dan kemaslahatan kalian. Di dalamnya kekayaan dan istri-istri kalian terlindung, dan fungsi-fungsi lainnya yang da-pat disaksikan bersama. ﴾ وَجَعَلَ لَكُم مِّن جُلُودِ ٱلۡأَنۡعَٰمِ ﴿ "Dan Dia menjadikan bagimu dari kulit bina-tang ternak," baik dari kulit itu sendiri atau dari bulu yang tumbuh darinya, seperti bulu domba, bulu unta maupun bulu kambing ﴾ بُيُوتٗا تَسۡتَخِفُّونَهَا ﴿ "rumah-rumah (kemah-kemah) yang kamu merasa ringan (membawa)nya," maksudnya membawanya sangat ringan saat kalian dalam perjalanan jauh, dan di tempat-tempat tinggal yang kalian tidak berniat untuk menetap di sana. Maka kemah itu mampu me-lindungi kalian dari panas dan dingin, serta hujan, dan melindungi barang-barang kalian dari air hujan, ﴾ و َ ﴿ "dan" menjadikan bagi kalian ﴾ م ِ ن ْ أَصۡوَافِهَا ﴿ "dari bulu domba," yaitu binatang-binatang ternak ﴾ وَأَوۡبَارِهَا وَأَشۡعَارِهَآ أَثَٰثٗا ﴿ "bulu unta dan bulu kambing alat-alat rumah tangga," ini umum, mencakup semua peralatan yang digunakan, seperti bejana, kantung-kantung, kasur-kasur, pakaian-pakaian dan lain-lain. ﴾ وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (ter-tentu)," maksudnya kalian menikmatinya di kehidupan dunia ini dan meraih kemanfaatan darinya. Ini termasuk yang Allah kerah-kan bagi para hambaNya untuk diproduksi dan dibuat.
(81) ﴾ وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّمَّا خَلَقَ ﴿ "Dan Allah menjadikan bagimu dari sesuatu yang telah Dia ciptakan," yaitu dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya, tidak ada andil tangan kalian padanya ﴾ ظِلَٰلٗا ﴿ "tempat ber-naung," seperti naungan pepohonan, gunung-gunung, perbukitan dan lain-lain ﴾ وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡجِبَالِ أَكۡنَٰنٗا ﴿ "dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung," yaitu gua-gua yang melin-dungi kalian dari sengatan panas, dingin, dan hujan-hujan serta para musuh ﴾ وَجَعَلَ لَكُمۡ سَرَٰبِيلَ ﴿ "dan Dia jadikan bagimu pakaian," yaitu pakaian-pakaian dan baju-baju ﴾ تَقِيكُمُ ٱلۡحَرَّ ﴿ "yang memeliharamu dari panas," Allah tidak menyebutkan dingin (dalam konteks ini) karena pada ayat sudah berlalu menyebutkan bahwasanya surat ini dari permulaannya terfokuskan pada penjelasan inti-inti kenikmat-an, sedangkan penghujung surat, berbicara tentang pelengkap dan penyempurnanya, dan perlindungan diri dari hawa dingin termasuk inti dari kenikmatan. Karena itu termasuk kebutuhan yang men-desak, sementara Allah telah menyebutkannya di awal surat ini de-ngan berfirman, ﴾ لَكُمۡ فِيهَا دِفۡءٞ وَمَنَٰفِعُ ﴿ "Padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat." (An-Nahl: 5). ﴾ وَسَرَٰبِيلَ تَقِيكُم بَأۡسَكُمۡۚ ﴿ "Dan pakaian (baju besi) yang memeliharamu dalam peperangan," maksudnya melindungi kalian dari senjata saat terjadinya pertempuran dan peperangan, berupa persenjataan, pa-kaian besi yang berantai dan lain-lain. ﴾ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Demikianlah Allah menyempurnakan nik-matNya atasmu," dengan menyempurnakan nikmat-nikmatNya pada kalian, yang tidak bisa dibatasi, ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "agar kalian," jika kalian mengingat nikmat Allah dan menyaksikannya begitu berlimpah bagi kalian dari semua sisi ﴾ تُسۡلِمُونَ ﴿ "berserah diri (kepadaNya)," kepada keagunganNya, dan patuh terhadap perintahNya dan mempergunakannya dalam ketaatan kepada Dzat yang memberi dan mencurahkannya. Banyaknya kenikmatan Allah termasuk faktor penyebab yang mendatangkan tambahan syukur dan pujian-nya kepada Allah تعالى atas nikmat tersebut dari hamba-hambaNya.
(82) Akan tetapi, kaum yang berbuat zhalim enggan melaku-kan syukur kecuali pelanggaran dan penentangan. Karena itu, Allah berfirman tentang mereka, ﴾ فَإِن تَوَلَّوۡاْ ﴿ "Jika mereka tetap berpaling," dari Allah dan dari ketaatan kepadaNya setelah diingatkan dengan ke-nikmatan-kenikmatan serta ayat-ayatNya, ﴾ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang," tiada tanggungan apa pun atas dirimu untuk memberikan hidayah dan taufik bagi mereka. Engkau hanya dituntut untuk menasihati, mengingatkan, memberi peringatan dan ancaman.
(83) Apabila engkau menjalankan kewajibanmu maka kamu tidak berdosa, lalu perhitungan tentang mereka adalah menjadi urusan Allah. Padahal mereka itu menyaksikan curahan kebaikan dan mengetahui kenikmatan Allah. Akan tetapi, mereka menging-kari dan menampik (pengakuan)nya ﴾ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "dan ke-banyakan mereka adalah orang-orang yang kafir," tidak ada kebaikan pada mereka, tanda-tanda kebesaran Allah yang datang bergantian tidak bermanfaat bagi mereka, lantaran rusaknya perasaan mereka dan buruknya niatan mereka. Mereka akan menghadapi balasan Allah bagi setiap orang yang sombong, sangat keras kepala dan sangat mengingkari nikmat-nikmatNya serta menentang Allah dan para RasulNya.
An-Nahl 16:81
"Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tem-pat tinggal, dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (mem-bawa)nya di waktu kamu bepergian dan di waktu kamu bermukim, dan (dijadikanNya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kam-bing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari sesuatu yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memeliharamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmatNya atasmu agar kamu berserah diri (ke-padaNya). Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewa-jiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampai-kan (amanat Allah) dengan terang. Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir." (An-Nahl: 80-83).
(80) Allah تعالى mengingatkan para hambaNya kepada nikmat-nikmatNya dan mengundang mereka untuk mensyukuri dan meng-akuinya. Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنۢ بُيُوتِكُمۡ سَكَنٗا ﴿ "Dan Allah men-jadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal," di apartemen-aparteman, istana-istana dan tempat tinggal lain yang serupa yang melindungi kalian dari sengatan panas dan dingin, dan menutupi kalian, anak-anak dan harta-benda kalian. Di sana, kalian membuat rumah-rumah dan kamar-kamar. Rumah fungsinya untuk berbagai macam kepentingan dan kemaslahatan kalian. Di dalamnya kekayaan dan istri-istri kalian terlindung, dan fungsi-fungsi lainnya yang da-pat disaksikan bersama. ﴾ وَجَعَلَ لَكُم مِّن جُلُودِ ٱلۡأَنۡعَٰمِ ﴿ "Dan Dia menjadikan bagimu dari kulit bina-tang ternak," baik dari kulit itu sendiri atau dari bulu yang tumbuh darinya, seperti bulu domba, bulu unta maupun bulu kambing ﴾ بُيُوتٗا تَسۡتَخِفُّونَهَا ﴿ "rumah-rumah (kemah-kemah) yang kamu merasa ringan (membawa)nya," maksudnya membawanya sangat ringan saat kalian dalam perjalanan jauh, dan di tempat-tempat tinggal yang kalian tidak berniat untuk menetap di sana. Maka kemah itu mampu me-lindungi kalian dari panas dan dingin, serta hujan, dan melindungi barang-barang kalian dari air hujan, ﴾ و َ ﴿ "dan" menjadikan bagi kalian ﴾ م ِ ن ْ أَصۡوَافِهَا ﴿ "dari bulu domba," yaitu binatang-binatang ternak ﴾ وَأَوۡبَارِهَا وَأَشۡعَارِهَآ أَثَٰثٗا ﴿ "bulu unta dan bulu kambing alat-alat rumah tangga," ini umum, mencakup semua peralatan yang digunakan, seperti bejana, kantung-kantung, kasur-kasur, pakaian-pakaian dan lain-lain. ﴾ وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (ter-tentu)," maksudnya kalian menikmatinya di kehidupan dunia ini dan meraih kemanfaatan darinya. Ini termasuk yang Allah kerah-kan bagi para hambaNya untuk diproduksi dan dibuat.
(81) ﴾ وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّمَّا خَلَقَ ﴿ "Dan Allah menjadikan bagimu dari sesuatu yang telah Dia ciptakan," yaitu dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya, tidak ada andil tangan kalian padanya ﴾ ظِلَٰلٗا ﴿ "tempat ber-naung," seperti naungan pepohonan, gunung-gunung, perbukitan dan lain-lain ﴾ وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡجِبَالِ أَكۡنَٰنٗا ﴿ "dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung," yaitu gua-gua yang melin-dungi kalian dari sengatan panas, dingin, dan hujan-hujan serta para musuh ﴾ وَجَعَلَ لَكُمۡ سَرَٰبِيلَ ﴿ "dan Dia jadikan bagimu pakaian," yaitu pakaian-pakaian dan baju-baju ﴾ تَقِيكُمُ ٱلۡحَرَّ ﴿ "yang memeliharamu dari panas," Allah tidak menyebutkan dingin (dalam konteks ini) karena pada ayat sudah berlalu menyebutkan bahwasanya surat ini dari permulaannya terfokuskan pada penjelasan inti-inti kenikmat-an, sedangkan penghujung surat, berbicara tentang pelengkap dan penyempurnanya, dan perlindungan diri dari hawa dingin termasuk inti dari kenikmatan. Karena itu termasuk kebutuhan yang men-desak, sementara Allah telah menyebutkannya di awal surat ini de-ngan berfirman, ﴾ لَكُمۡ فِيهَا دِفۡءٞ وَمَنَٰفِعُ ﴿ "Padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat." (An-Nahl: 5). ﴾ وَسَرَٰبِيلَ تَقِيكُم بَأۡسَكُمۡۚ ﴿ "Dan pakaian (baju besi) yang memeliharamu dalam peperangan," maksudnya melindungi kalian dari senjata saat terjadinya pertempuran dan peperangan, berupa persenjataan, pa-kaian besi yang berantai dan lain-lain. ﴾ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Demikianlah Allah menyempurnakan nik-matNya atasmu," dengan menyempurnakan nikmat-nikmatNya pada kalian, yang tidak bisa dibatasi, ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "agar kalian," jika kalian mengingat nikmat Allah dan menyaksikannya begitu berlimpah bagi kalian dari semua sisi ﴾ تُسۡلِمُونَ ﴿ "berserah diri (kepadaNya)," kepada keagunganNya, dan patuh terhadap perintahNya dan mempergunakannya dalam ketaatan kepada Dzat yang memberi dan mencurahkannya. Banyaknya kenikmatan Allah termasuk faktor penyebab yang mendatangkan tambahan syukur dan pujian-nya kepada Allah تعالى atas nikmat tersebut dari hamba-hambaNya.
(82) Akan tetapi, kaum yang berbuat zhalim enggan melaku-kan syukur kecuali pelanggaran dan penentangan. Karena itu, Allah berfirman tentang mereka, ﴾ فَإِن تَوَلَّوۡاْ ﴿ "Jika mereka tetap berpaling," dari Allah dan dari ketaatan kepadaNya setelah diingatkan dengan ke-nikmatan-kenikmatan serta ayat-ayatNya, ﴾ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang," tiada tanggungan apa pun atas dirimu untuk memberikan hidayah dan taufik bagi mereka. Engkau hanya dituntut untuk menasihati, mengingatkan, memberi peringatan dan ancaman.
(83) Apabila engkau menjalankan kewajibanmu maka kamu tidak berdosa, lalu perhitungan tentang mereka adalah menjadi urusan Allah. Padahal mereka itu menyaksikan curahan kebaikan dan mengetahui kenikmatan Allah. Akan tetapi, mereka menging-kari dan menampik (pengakuan)nya ﴾ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "dan ke-banyakan mereka adalah orang-orang yang kafir," tidak ada kebaikan pada mereka, tanda-tanda kebesaran Allah yang datang bergantian tidak bermanfaat bagi mereka, lantaran rusaknya perasaan mereka dan buruknya niatan mereka. Mereka akan menghadapi balasan Allah bagi setiap orang yang sombong, sangat keras kepala dan sangat mengingkari nikmat-nikmatNya serta menentang Allah dan para RasulNya.
An-Nahl 16:82
"Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tem-pat tinggal, dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (mem-bawa)nya di waktu kamu bepergian dan di waktu kamu bermukim, dan (dijadikanNya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kam-bing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari sesuatu yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memeliharamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmatNya atasmu agar kamu berserah diri (ke-padaNya). Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewa-jiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampai-kan (amanat Allah) dengan terang. Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir." (An-Nahl: 80-83).
(80) Allah تعالى mengingatkan para hambaNya kepada nikmat-nikmatNya dan mengundang mereka untuk mensyukuri dan meng-akuinya. Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنۢ بُيُوتِكُمۡ سَكَنٗا ﴿ "Dan Allah men-jadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal," di apartemen-aparteman, istana-istana dan tempat tinggal lain yang serupa yang melindungi kalian dari sengatan panas dan dingin, dan menutupi kalian, anak-anak dan harta-benda kalian. Di sana, kalian membuat rumah-rumah dan kamar-kamar. Rumah fungsinya untuk berbagai macam kepentingan dan kemaslahatan kalian. Di dalamnya kekayaan dan istri-istri kalian terlindung, dan fungsi-fungsi lainnya yang da-pat disaksikan bersama. ﴾ وَجَعَلَ لَكُم مِّن جُلُودِ ٱلۡأَنۡعَٰمِ ﴿ "Dan Dia menjadikan bagimu dari kulit bina-tang ternak," baik dari kulit itu sendiri atau dari bulu yang tumbuh darinya, seperti bulu domba, bulu unta maupun bulu kambing ﴾ بُيُوتٗا تَسۡتَخِفُّونَهَا ﴿ "rumah-rumah (kemah-kemah) yang kamu merasa ringan (membawa)nya," maksudnya membawanya sangat ringan saat kalian dalam perjalanan jauh, dan di tempat-tempat tinggal yang kalian tidak berniat untuk menetap di sana. Maka kemah itu mampu me-lindungi kalian dari panas dan dingin, serta hujan, dan melindungi barang-barang kalian dari air hujan, ﴾ و َ ﴿ "dan" menjadikan bagi kalian ﴾ م ِ ن ْ أَصۡوَافِهَا ﴿ "dari bulu domba," yaitu binatang-binatang ternak ﴾ وَأَوۡبَارِهَا وَأَشۡعَارِهَآ أَثَٰثٗا ﴿ "bulu unta dan bulu kambing alat-alat rumah tangga," ini umum, mencakup semua peralatan yang digunakan, seperti bejana, kantung-kantung, kasur-kasur, pakaian-pakaian dan lain-lain. ﴾ وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (ter-tentu)," maksudnya kalian menikmatinya di kehidupan dunia ini dan meraih kemanfaatan darinya. Ini termasuk yang Allah kerah-kan bagi para hambaNya untuk diproduksi dan dibuat.
(81) ﴾ وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّمَّا خَلَقَ ﴿ "Dan Allah menjadikan bagimu dari sesuatu yang telah Dia ciptakan," yaitu dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya, tidak ada andil tangan kalian padanya ﴾ ظِلَٰلٗا ﴿ "tempat ber-naung," seperti naungan pepohonan, gunung-gunung, perbukitan dan lain-lain ﴾ وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡجِبَالِ أَكۡنَٰنٗا ﴿ "dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung," yaitu gua-gua yang melin-dungi kalian dari sengatan panas, dingin, dan hujan-hujan serta para musuh ﴾ وَجَعَلَ لَكُمۡ سَرَٰبِيلَ ﴿ "dan Dia jadikan bagimu pakaian," yaitu pakaian-pakaian dan baju-baju ﴾ تَقِيكُمُ ٱلۡحَرَّ ﴿ "yang memeliharamu dari panas," Allah tidak menyebutkan dingin (dalam konteks ini) karena pada ayat sudah berlalu menyebutkan bahwasanya surat ini dari permulaannya terfokuskan pada penjelasan inti-inti kenikmat-an, sedangkan penghujung surat, berbicara tentang pelengkap dan penyempurnanya, dan perlindungan diri dari hawa dingin termasuk inti dari kenikmatan. Karena itu termasuk kebutuhan yang men-desak, sementara Allah telah menyebutkannya di awal surat ini de-ngan berfirman, ﴾ لَكُمۡ فِيهَا دِفۡءٞ وَمَنَٰفِعُ ﴿ "Padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat." (An-Nahl: 5). ﴾ وَسَرَٰبِيلَ تَقِيكُم بَأۡسَكُمۡۚ ﴿ "Dan pakaian (baju besi) yang memeliharamu dalam peperangan," maksudnya melindungi kalian dari senjata saat terjadinya pertempuran dan peperangan, berupa persenjataan, pa-kaian besi yang berantai dan lain-lain. ﴾ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Demikianlah Allah menyempurnakan nik-matNya atasmu," dengan menyempurnakan nikmat-nikmatNya pada kalian, yang tidak bisa dibatasi, ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "agar kalian," jika kalian mengingat nikmat Allah dan menyaksikannya begitu berlimpah bagi kalian dari semua sisi ﴾ تُسۡلِمُونَ ﴿ "berserah diri (kepadaNya)," kepada keagunganNya, dan patuh terhadap perintahNya dan mempergunakannya dalam ketaatan kepada Dzat yang memberi dan mencurahkannya. Banyaknya kenikmatan Allah termasuk faktor penyebab yang mendatangkan tambahan syukur dan pujian-nya kepada Allah تعالى atas nikmat tersebut dari hamba-hambaNya.
(82) Akan tetapi, kaum yang berbuat zhalim enggan melaku-kan syukur kecuali pelanggaran dan penentangan. Karena itu, Allah berfirman tentang mereka, ﴾ فَإِن تَوَلَّوۡاْ ﴿ "Jika mereka tetap berpaling," dari Allah dan dari ketaatan kepadaNya setelah diingatkan dengan ke-nikmatan-kenikmatan serta ayat-ayatNya, ﴾ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang," tiada tanggungan apa pun atas dirimu untuk memberikan hidayah dan taufik bagi mereka. Engkau hanya dituntut untuk menasihati, mengingatkan, memberi peringatan dan ancaman.
(83) Apabila engkau menjalankan kewajibanmu maka kamu tidak berdosa, lalu perhitungan tentang mereka adalah menjadi urusan Allah. Padahal mereka itu menyaksikan curahan kebaikan dan mengetahui kenikmatan Allah. Akan tetapi, mereka menging-kari dan menampik (pengakuan)nya ﴾ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "dan ke-banyakan mereka adalah orang-orang yang kafir," tidak ada kebaikan pada mereka, tanda-tanda kebesaran Allah yang datang bergantian tidak bermanfaat bagi mereka, lantaran rusaknya perasaan mereka dan buruknya niatan mereka. Mereka akan menghadapi balasan Allah bagi setiap orang yang sombong, sangat keras kepala dan sangat mengingkari nikmat-nikmatNya serta menentang Allah dan para RasulNya.
An-Nahl 16:83
"Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tem-pat tinggal, dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (mem-bawa)nya di waktu kamu bepergian dan di waktu kamu bermukim, dan (dijadikanNya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kam-bing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari sesuatu yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memeliharamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmatNya atasmu agar kamu berserah diri (ke-padaNya). Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewa-jiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampai-kan (amanat Allah) dengan terang. Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir." (An-Nahl: 80-83).
(80) Allah تعالى mengingatkan para hambaNya kepada nikmat-nikmatNya dan mengundang mereka untuk mensyukuri dan meng-akuinya. Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنۢ بُيُوتِكُمۡ سَكَنٗا ﴿ "Dan Allah men-jadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal," di apartemen-aparteman, istana-istana dan tempat tinggal lain yang serupa yang melindungi kalian dari sengatan panas dan dingin, dan menutupi kalian, anak-anak dan harta-benda kalian. Di sana, kalian membuat rumah-rumah dan kamar-kamar. Rumah fungsinya untuk berbagai macam kepentingan dan kemaslahatan kalian. Di dalamnya kekayaan dan istri-istri kalian terlindung, dan fungsi-fungsi lainnya yang da-pat disaksikan bersama. ﴾ وَجَعَلَ لَكُم مِّن جُلُودِ ٱلۡأَنۡعَٰمِ ﴿ "Dan Dia menjadikan bagimu dari kulit bina-tang ternak," baik dari kulit itu sendiri atau dari bulu yang tumbuh darinya, seperti bulu domba, bulu unta maupun bulu kambing ﴾ بُيُوتٗا تَسۡتَخِفُّونَهَا ﴿ "rumah-rumah (kemah-kemah) yang kamu merasa ringan (membawa)nya," maksudnya membawanya sangat ringan saat kalian dalam perjalanan jauh, dan di tempat-tempat tinggal yang kalian tidak berniat untuk menetap di sana. Maka kemah itu mampu me-lindungi kalian dari panas dan dingin, serta hujan, dan melindungi barang-barang kalian dari air hujan, ﴾ و َ ﴿ "dan" menjadikan bagi kalian ﴾ م ِ ن ْ أَصۡوَافِهَا ﴿ "dari bulu domba," yaitu binatang-binatang ternak ﴾ وَأَوۡبَارِهَا وَأَشۡعَارِهَآ أَثَٰثٗا ﴿ "bulu unta dan bulu kambing alat-alat rumah tangga," ini umum, mencakup semua peralatan yang digunakan, seperti bejana, kantung-kantung, kasur-kasur, pakaian-pakaian dan lain-lain. ﴾ وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (ter-tentu)," maksudnya kalian menikmatinya di kehidupan dunia ini dan meraih kemanfaatan darinya. Ini termasuk yang Allah kerah-kan bagi para hambaNya untuk diproduksi dan dibuat.
(81) ﴾ وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّمَّا خَلَقَ ﴿ "Dan Allah menjadikan bagimu dari sesuatu yang telah Dia ciptakan," yaitu dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya, tidak ada andil tangan kalian padanya ﴾ ظِلَٰلٗا ﴿ "tempat ber-naung," seperti naungan pepohonan, gunung-gunung, perbukitan dan lain-lain ﴾ وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡجِبَالِ أَكۡنَٰنٗا ﴿ "dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung," yaitu gua-gua yang melin-dungi kalian dari sengatan panas, dingin, dan hujan-hujan serta para musuh ﴾ وَجَعَلَ لَكُمۡ سَرَٰبِيلَ ﴿ "dan Dia jadikan bagimu pakaian," yaitu pakaian-pakaian dan baju-baju ﴾ تَقِيكُمُ ٱلۡحَرَّ ﴿ "yang memeliharamu dari panas," Allah tidak menyebutkan dingin (dalam konteks ini) karena pada ayat sudah berlalu menyebutkan bahwasanya surat ini dari permulaannya terfokuskan pada penjelasan inti-inti kenikmat-an, sedangkan penghujung surat, berbicara tentang pelengkap dan penyempurnanya, dan perlindungan diri dari hawa dingin termasuk inti dari kenikmatan. Karena itu termasuk kebutuhan yang men-desak, sementara Allah telah menyebutkannya di awal surat ini de-ngan berfirman, ﴾ لَكُمۡ فِيهَا دِفۡءٞ وَمَنَٰفِعُ ﴿ "Padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat." (An-Nahl: 5). ﴾ وَسَرَٰبِيلَ تَقِيكُم بَأۡسَكُمۡۚ ﴿ "Dan pakaian (baju besi) yang memeliharamu dalam peperangan," maksudnya melindungi kalian dari senjata saat terjadinya pertempuran dan peperangan, berupa persenjataan, pa-kaian besi yang berantai dan lain-lain. ﴾ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Demikianlah Allah menyempurnakan nik-matNya atasmu," dengan menyempurnakan nikmat-nikmatNya pada kalian, yang tidak bisa dibatasi, ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "agar kalian," jika kalian mengingat nikmat Allah dan menyaksikannya begitu berlimpah bagi kalian dari semua sisi ﴾ تُسۡلِمُونَ ﴿ "berserah diri (kepadaNya)," kepada keagunganNya, dan patuh terhadap perintahNya dan mempergunakannya dalam ketaatan kepada Dzat yang memberi dan mencurahkannya. Banyaknya kenikmatan Allah termasuk faktor penyebab yang mendatangkan tambahan syukur dan pujian-nya kepada Allah تعالى atas nikmat tersebut dari hamba-hambaNya.
(82) Akan tetapi, kaum yang berbuat zhalim enggan melaku-kan syukur kecuali pelanggaran dan penentangan. Karena itu, Allah berfirman tentang mereka, ﴾ فَإِن تَوَلَّوۡاْ ﴿ "Jika mereka tetap berpaling," dari Allah dan dari ketaatan kepadaNya setelah diingatkan dengan ke-nikmatan-kenikmatan serta ayat-ayatNya, ﴾ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang," tiada tanggungan apa pun atas dirimu untuk memberikan hidayah dan taufik bagi mereka. Engkau hanya dituntut untuk menasihati, mengingatkan, memberi peringatan dan ancaman.
(83) Apabila engkau menjalankan kewajibanmu maka kamu tidak berdosa, lalu perhitungan tentang mereka adalah menjadi urusan Allah. Padahal mereka itu menyaksikan curahan kebaikan dan mengetahui kenikmatan Allah. Akan tetapi, mereka menging-kari dan menampik (pengakuan)nya ﴾ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "dan ke-banyakan mereka adalah orang-orang yang kafir," tidak ada kebaikan pada mereka, tanda-tanda kebesaran Allah yang datang bergantian tidak bermanfaat bagi mereka, lantaran rusaknya perasaan mereka dan buruknya niatan mereka. Mereka akan menghadapi balasan Allah bagi setiap orang yang sombong, sangat keras kepala dan sangat mengingkari nikmat-nikmatNya serta menentang Allah dan para RasulNya.
An-Nahl 16:84
"Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri), dan tidak (pula) me-reka dibolehkan meminta maaf. Dan apabila orang-orang zhalim telah menyaksikan azab, maka tidaklah diringankan azab bagi mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh. Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu me-reka, mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dariMu.' Lalu seku-tu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta.' Dan mereka menyatakan ketunduk-annya kepada Allah pada hari itu, dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan." (An-Nahl: 84-87).
(84-85) Allah تعالى mengabarkan mengenai kondisi orang-orang kafir di Hari Kiamat, dan bahwa dalih alasan tidak diterima dari mereka dan tidak (pula) dihilangkan hukuman dari mereka, para sekutu mereka berlepas diri dari mereka (para penyembahnya) dan mengakui bahwa mereka berbuat kekufuran dan mengadakan kedustaan kepada Allah. Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدٗا ﴿ "Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul)," yang akan bersaksi atas mereka terhadap amal perbuatan mereka, dan apakah jawaban yang mereka sampaikan terhadap penyeru kepada hidayah. Saksi tersebut yang Allah bang-kitkan adalah saksi yang terbersih lagi paling adil. Mereka itu ada-lah para rasul yang bila telah mengeluarkan persaksian mereka, maka jatuhlah keputusan atas orang-orang kafir tersebut. ﴾ ثُمَّ لَا يُؤۡذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir," untuk mengajukan alasan. Sebab pengajuan alasan pasca mereka mengetahui kebatilan keyakinan yang mereka pegangi, merupakan alasan yang dusta, tiada berguna bagi mereka sama sekali. Seandainya mereka meminta untuk (diberi kesempatan) kem-bali ke dunia lagi, untuk mengoreksi diri, niscaya tidak akan di-kabulkan dan tidak diberi masa penundaan. Akan tetapi, siksa yang dahsyat akan segera menghampiri mereka, tidak diringankan atas mereka, tanpa ada masa penungguan maupun penangguhan sejak pertama kali mereka melihat siksa itu. Karena mereka tidak mem-punyai kebaikan. Amal perbuatan (buruk) mereka akan dihitung. Mereka disuruh berdiri mempertanggungjawabkan amalan-amalan-nya, (disebutkan satu-persatu) agar mereka dibuat mengakuinya lalu dipermalukan.
(86) ﴾ وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ شُرَكَآءَهُمۡ ﴿ "Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka," pada Hari Kiamat, dan mereka menyadari kebatilannya, tanpa mampu meng-ingkarinya, ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ شُرَكَآؤُنَا ٱلَّذِينَ كُنَّا نَدۡعُواْ مِن دُونِكَۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dariMu'." Mereka itu tidak mempunyai keman-faatan dan bantuan pertolongan. Mereka mengisyaratkan pada (aspek) kebatilannya dan mengingkarinya. Mulailah benih kebencian dan permusuhan antara mereka dan sekutu-sekutu itu. ﴾ فَأَلۡقَوۡاْ إِلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلَ ﴿ "Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka," maksud-nya para sekutu itu pun membantah perkataan mereka, dan berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta," lantaran menjadikan kami sebagai sekutu bagi Allah dan menyembah kami bersamaNya. Kami tidak pernah me-nyuruh kalian untuk melakukannya, dan kami pun tidak pernah mengklaim bahwa kami pantas menyandang uluhiyah. Celaan itu hanya tertuju pada kalian (saja).
(87) Pada saat itulah, mereka pasrah kepada Allah, tunduk terhadap keputusanNya, meyakini bahwa mereka pantas menerima siksa ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan," maksudnya mereka masuk neraka, dalam ke-adaan hati mereka tersesak kegeraman terhadap diri sendiri, dan sarat dengan pujian kepada Rabb mereka, dan bahwa Dia tidak menghukum kecuali disebabkan perbuatan mereka.
An-Nahl 16:85
"Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri), dan tidak (pula) me-reka dibolehkan meminta maaf. Dan apabila orang-orang zhalim telah menyaksikan azab, maka tidaklah diringankan azab bagi mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh. Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu me-reka, mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dariMu.' Lalu seku-tu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta.' Dan mereka menyatakan ketunduk-annya kepada Allah pada hari itu, dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan." (An-Nahl: 84-87).
(84-85) Allah تعالى mengabarkan mengenai kondisi orang-orang kafir di Hari Kiamat, dan bahwa dalih alasan tidak diterima dari mereka dan tidak (pula) dihilangkan hukuman dari mereka, para sekutu mereka berlepas diri dari mereka (para penyembahnya) dan mengakui bahwa mereka berbuat kekufuran dan mengadakan kedustaan kepada Allah. Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدٗا ﴿ "Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul)," yang akan bersaksi atas mereka terhadap amal perbuatan mereka, dan apakah jawaban yang mereka sampaikan terhadap penyeru kepada hidayah. Saksi tersebut yang Allah bang-kitkan adalah saksi yang terbersih lagi paling adil. Mereka itu ada-lah para rasul yang bila telah mengeluarkan persaksian mereka, maka jatuhlah keputusan atas orang-orang kafir tersebut. ﴾ ثُمَّ لَا يُؤۡذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir," untuk mengajukan alasan. Sebab pengajuan alasan pasca mereka mengetahui kebatilan keyakinan yang mereka pegangi, merupakan alasan yang dusta, tiada berguna bagi mereka sama sekali. Seandainya mereka meminta untuk (diberi kesempatan) kem-bali ke dunia lagi, untuk mengoreksi diri, niscaya tidak akan di-kabulkan dan tidak diberi masa penundaan. Akan tetapi, siksa yang dahsyat akan segera menghampiri mereka, tidak diringankan atas mereka, tanpa ada masa penungguan maupun penangguhan sejak pertama kali mereka melihat siksa itu. Karena mereka tidak mem-punyai kebaikan. Amal perbuatan (buruk) mereka akan dihitung. Mereka disuruh berdiri mempertanggungjawabkan amalan-amalan-nya, (disebutkan satu-persatu) agar mereka dibuat mengakuinya lalu dipermalukan.
(86) ﴾ وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ شُرَكَآءَهُمۡ ﴿ "Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka," pada Hari Kiamat, dan mereka menyadari kebatilannya, tanpa mampu meng-ingkarinya, ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ شُرَكَآؤُنَا ٱلَّذِينَ كُنَّا نَدۡعُواْ مِن دُونِكَۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dariMu'." Mereka itu tidak mempunyai keman-faatan dan bantuan pertolongan. Mereka mengisyaratkan pada (aspek) kebatilannya dan mengingkarinya. Mulailah benih kebencian dan permusuhan antara mereka dan sekutu-sekutu itu. ﴾ فَأَلۡقَوۡاْ إِلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلَ ﴿ "Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka," maksud-nya para sekutu itu pun membantah perkataan mereka, dan berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta," lantaran menjadikan kami sebagai sekutu bagi Allah dan menyembah kami bersamaNya. Kami tidak pernah me-nyuruh kalian untuk melakukannya, dan kami pun tidak pernah mengklaim bahwa kami pantas menyandang uluhiyah. Celaan itu hanya tertuju pada kalian (saja).
(87) Pada saat itulah, mereka pasrah kepada Allah, tunduk terhadap keputusanNya, meyakini bahwa mereka pantas menerima siksa ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan," maksudnya mereka masuk neraka, dalam ke-adaan hati mereka tersesak kegeraman terhadap diri sendiri, dan sarat dengan pujian kepada Rabb mereka, dan bahwa Dia tidak menghukum kecuali disebabkan perbuatan mereka.
An-Nahl 16:86
"Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri), dan tidak (pula) me-reka dibolehkan meminta maaf. Dan apabila orang-orang zhalim telah menyaksikan azab, maka tidaklah diringankan azab bagi mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh. Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu me-reka, mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dariMu.' Lalu seku-tu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta.' Dan mereka menyatakan ketunduk-annya kepada Allah pada hari itu, dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan." (An-Nahl: 84-87).
(84-85) Allah تعالى mengabarkan mengenai kondisi orang-orang kafir di Hari Kiamat, dan bahwa dalih alasan tidak diterima dari mereka dan tidak (pula) dihilangkan hukuman dari mereka, para sekutu mereka berlepas diri dari mereka (para penyembahnya) dan mengakui bahwa mereka berbuat kekufuran dan mengadakan kedustaan kepada Allah. Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدٗا ﴿ "Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul)," yang akan bersaksi atas mereka terhadap amal perbuatan mereka, dan apakah jawaban yang mereka sampaikan terhadap penyeru kepada hidayah. Saksi tersebut yang Allah bang-kitkan adalah saksi yang terbersih lagi paling adil. Mereka itu ada-lah para rasul yang bila telah mengeluarkan persaksian mereka, maka jatuhlah keputusan atas orang-orang kafir tersebut. ﴾ ثُمَّ لَا يُؤۡذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir," untuk mengajukan alasan. Sebab pengajuan alasan pasca mereka mengetahui kebatilan keyakinan yang mereka pegangi, merupakan alasan yang dusta, tiada berguna bagi mereka sama sekali. Seandainya mereka meminta untuk (diberi kesempatan) kem-bali ke dunia lagi, untuk mengoreksi diri, niscaya tidak akan di-kabulkan dan tidak diberi masa penundaan. Akan tetapi, siksa yang dahsyat akan segera menghampiri mereka, tidak diringankan atas mereka, tanpa ada masa penungguan maupun penangguhan sejak pertama kali mereka melihat siksa itu. Karena mereka tidak mem-punyai kebaikan. Amal perbuatan (buruk) mereka akan dihitung. Mereka disuruh berdiri mempertanggungjawabkan amalan-amalan-nya, (disebutkan satu-persatu) agar mereka dibuat mengakuinya lalu dipermalukan.
(86) ﴾ وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ شُرَكَآءَهُمۡ ﴿ "Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka," pada Hari Kiamat, dan mereka menyadari kebatilannya, tanpa mampu meng-ingkarinya, ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ شُرَكَآؤُنَا ٱلَّذِينَ كُنَّا نَدۡعُواْ مِن دُونِكَۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dariMu'." Mereka itu tidak mempunyai keman-faatan dan bantuan pertolongan. Mereka mengisyaratkan pada (aspek) kebatilannya dan mengingkarinya. Mulailah benih kebencian dan permusuhan antara mereka dan sekutu-sekutu itu. ﴾ فَأَلۡقَوۡاْ إِلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلَ ﴿ "Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka," maksud-nya para sekutu itu pun membantah perkataan mereka, dan berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta," lantaran menjadikan kami sebagai sekutu bagi Allah dan menyembah kami bersamaNya. Kami tidak pernah me-nyuruh kalian untuk melakukannya, dan kami pun tidak pernah mengklaim bahwa kami pantas menyandang uluhiyah. Celaan itu hanya tertuju pada kalian (saja).
(87) Pada saat itulah, mereka pasrah kepada Allah, tunduk terhadap keputusanNya, meyakini bahwa mereka pantas menerima siksa ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan," maksudnya mereka masuk neraka, dalam ke-adaan hati mereka tersesak kegeraman terhadap diri sendiri, dan sarat dengan pujian kepada Rabb mereka, dan bahwa Dia tidak menghukum kecuali disebabkan perbuatan mereka.
An-Nahl 16:87
"Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri), dan tidak (pula) me-reka dibolehkan meminta maaf. Dan apabila orang-orang zhalim telah menyaksikan azab, maka tidaklah diringankan azab bagi mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh. Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu me-reka, mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dariMu.' Lalu seku-tu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta.' Dan mereka menyatakan ketunduk-annya kepada Allah pada hari itu, dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan." (An-Nahl: 84-87).
(84-85) Allah تعالى mengabarkan mengenai kondisi orang-orang kafir di Hari Kiamat, dan bahwa dalih alasan tidak diterima dari mereka dan tidak (pula) dihilangkan hukuman dari mereka, para sekutu mereka berlepas diri dari mereka (para penyembahnya) dan mengakui bahwa mereka berbuat kekufuran dan mengadakan kedustaan kepada Allah. Allah berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدٗا ﴿ "Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul)," yang akan bersaksi atas mereka terhadap amal perbuatan mereka, dan apakah jawaban yang mereka sampaikan terhadap penyeru kepada hidayah. Saksi tersebut yang Allah bang-kitkan adalah saksi yang terbersih lagi paling adil. Mereka itu ada-lah para rasul yang bila telah mengeluarkan persaksian mereka, maka jatuhlah keputusan atas orang-orang kafir tersebut. ﴾ ثُمَّ لَا يُؤۡذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir," untuk mengajukan alasan. Sebab pengajuan alasan pasca mereka mengetahui kebatilan keyakinan yang mereka pegangi, merupakan alasan yang dusta, tiada berguna bagi mereka sama sekali. Seandainya mereka meminta untuk (diberi kesempatan) kem-bali ke dunia lagi, untuk mengoreksi diri, niscaya tidak akan di-kabulkan dan tidak diberi masa penundaan. Akan tetapi, siksa yang dahsyat akan segera menghampiri mereka, tidak diringankan atas mereka, tanpa ada masa penungguan maupun penangguhan sejak pertama kali mereka melihat siksa itu. Karena mereka tidak mem-punyai kebaikan. Amal perbuatan (buruk) mereka akan dihitung. Mereka disuruh berdiri mempertanggungjawabkan amalan-amalan-nya, (disebutkan satu-persatu) agar mereka dibuat mengakuinya lalu dipermalukan.
(86) ﴾ وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ شُرَكَآءَهُمۡ ﴿ "Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka," pada Hari Kiamat, dan mereka menyadari kebatilannya, tanpa mampu meng-ingkarinya, ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ شُرَكَآؤُنَا ٱلَّذِينَ كُنَّا نَدۡعُواْ مِن دُونِكَۖ ﴿ "mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dariMu'." Mereka itu tidak mempunyai keman-faatan dan bantuan pertolongan. Mereka mengisyaratkan pada (aspek) kebatilannya dan mengingkarinya. Mulailah benih kebencian dan permusuhan antara mereka dan sekutu-sekutu itu. ﴾ فَأَلۡقَوۡاْ إِلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلَ ﴿ "Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka," maksud-nya para sekutu itu pun membantah perkataan mereka, dan berkata kepada mereka, ﴾ إِنَّكُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta," lantaran menjadikan kami sebagai sekutu bagi Allah dan menyembah kami bersamaNya. Kami tidak pernah me-nyuruh kalian untuk melakukannya, dan kami pun tidak pernah mengklaim bahwa kami pantas menyandang uluhiyah. Celaan itu hanya tertuju pada kalian (saja).
(87) Pada saat itulah, mereka pasrah kepada Allah, tunduk terhadap keputusanNya, meyakini bahwa mereka pantas menerima siksa ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan," maksudnya mereka masuk neraka, dalam ke-adaan hati mereka tersesak kegeraman terhadap diri sendiri, dan sarat dengan pujian kepada Rabb mereka, dan bahwa Dia tidak menghukum kecuali disebabkan perbuatan mereka.
An-Nahl 16:88
"Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, niscaya Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan." (An-Nahl: 88).
(88) Lantaran mereka sendiri berbuat kekufuran, mendusta-kan ayat-ayat Allah dan memerangi para RasulNya serta mengha-lang-halangi orang dari jalan Allah, dengan itu, mereka menjadi para penyeru kepada kesesatan, hingga berhak untuk menerima siksaan yang berlipatganda sebagaimana kejahatan mereka juga bertumpuk-tumpuk dan sebagaimana mereka telah melakukan ke-rusakan di bumi Allah.
An-Nahl 16:89
"(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri." (An-Nahl: 89).
(89) Setelah Allah menyampaikan pada keterangan sebelum-nya, bahwa Dia membangkitkan seorang saksi pada setiap umat manusia, maka di sini Allah juga menyebutkan perihal tersebut. Secara khusus Allah membicarakan RasulNya yang mulia (Muham-mad). Allah berfirman, ﴾ وَجِئۡنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ ﴿ "Dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas (seluruh) umat manusia," maksud-nya atas umatmu, bersaksi atas mereka dengan kebaikan dan ke-burukan. Ini termasuk kesempurnaan sifat keadilan Allah تعالى, bahwa setiap rasul bersaksi atas umatnya (sendiri). Pasalnya, dia adalah orang yang paling mengetahui amalan perbuatan umatnya daripada rasul lainnya, dan lebih adil lagi lebih sayang untuk (tidak) bersaksi atas mereka kecuali yang sesuai dengan apa yang berhak mereka terima. Keterangan ini seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ ﴿ "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (Al-Baqarah: 143). Dan Allah تعالى juga berfirman, ﴾ فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۭ بِشَهِيدٖ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدٗا 41 يَوۡمَئِذٖ يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَعَصَوُاْ ٱلرَّسُولَ لَوۡ تُسَوَّىٰ بِهِمُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami men-datangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatang-kan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu. Pada hari itu, orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka diratakan dengan tanah." (An-Nisa`: 41-42). FirmanNya, ﴾ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu," dalam masalah prinsip-prinsip agama atau cabang-cabangnya, tentang hukum-hukum di dunia dan akhirat serta segala yang diperlukan oleh para hamba. Ia benar-benar telah dijelaskan dengan paripurna, dengan teks-teks yang jelas dan makna-makna yang terang. Bahkan Allah kerap mengulang-ulang persoalan-persoalan besar yang di-butuhkan oleh hati karena (sering) bersentuhan dengannya setiap saat dan bolak-balik (mengerjakannya) setiap waktu, dan (Dia) me-nyuguhkan kembali dan memperlihatkannya dengan lafazh-lafazh yang berbeda-beda dan bukti-bukti (nyata) yang beraneka ragam, agar meresap dalam hati, sehingga membuahkan kebaikan dan kebajikan sesuai dengan kekonsistenannya di dalam hati. Bahkan Allah juga menyatukan dalam sebuah ungkapan ringan yang jelas, maknanya banyak, sehingga lafazh tersebut berperan sebagai kaidah dan dasar. Masuk dalam kategori ini, yaitu ayat-ayat yang datang setelah ayat ini, yang mengandung berbagai macam perintah dan larangan yang tidak terhitung banyaknya. Ketika al-Qur`an adalah penjelas bagi segala sesuatu, maka ia menjadi hujjah Allah di hadapan para hambaNya seluruhnya. Aki-batnya, hujjah-hujjah orang-orang yang berbuat aniaya terlumpuh-kan. Sementara kaum Muslimin mereguk kemanfaatan darinya, hingga menjadi sumber hidayah bagi mereka, menuntun dalam masalah agama dan dunia, dan sebagai rahmat yang mengantarkan mereka dapat menggapai kebaikan dunia dan akhirat. Hidayah yang mereka rengkuh berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Se-dangkan bentuk rahmahnya adalah dampak (baik) dari hidayah tersebut, berupa pahala dunia dan akhirat, seperti keshalihan, ke-baikan dan ketenangan hati, kematangan akal yang tidak terwujud kecuali dengan membinanya berdasarkan nilai-nilainya yang me-rupakan nilai-nilai yang paling agung dan luhur, perbuatan-perbuat-an yang mulia, akhlak yang utama, rizki yang lapang, kemenangan atas para musuh dengan ucapan dan perbuatan, dan menggapai keridhaan Allah تعالى serta (suguhan) kemuliaanNya yang agung yang kenikmatan abadi di dalamnya tidak diketahui kecuali oleh Allah, Rabb Yang Maha Penyayang.
An-Nahl 16:90
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan ber-buat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (An-Nahl: 90).
(90) Sikap keadilan yang Allah perintahkan, mencakup ke-adilan terhadap hakNya dan hak para hambaNya. Sikap keadilan dalam masalah itu, dengan cara menjalankan hak-hak yang ada secara komplet lagi utuh. Caranya, seorang hamba melaksanakan apa yang Allah wajibkan atas dirinya, berupa hak-hak yang berkait-an dengan kekayaan, fisik dan kombinasi antara keduanya berhu-bungan dengan hakNya dan hak-hak para hambaNya, bergaul de-ngan manusia dengan keadilan yang utuh. Setiap pemegang tang-gung jawab harus menjalankan kewajiban yang berada di bawah tanggungannya, baik ia memegang kekuasaan tertinggi atau kekuasa-an peradilan, atau wakil penguasa maupun wakil hakim. Jadi, ke-adilan hakikatnya adalah segala yang Allah wajibkan atas para hamba dalam kitabNya melalui lisan RasulNya dan memerintahkan mereka untuk menjalankannya. Termasuk (cermin) keadilan dalam bermuamalah, adalah engkau berinteraksi dengan mereka pada transaksi jual-beli dan transaksi timbal balik lainnya dengan meme-nuhi segala yang menjadi kewajibanmu. Jangan sekali-kali mengu-rangi hak mereka, jangan menipu mereka, atau memperdayai me-reka dan jangan pula menzhalimi mereka. Keadilan wajib (ditegak-kan). Perbuatan ihsan (baik) merupakan perilaku luhur lagi dianjur-kan. Misalnya, memberi bantuan kepada orang lain dalam bentuk uang, bantuan fisik, ilmu dan faidah lainnya. Masuk dalam penger-tian ini, berbuat baik kepada binatang, yang bisu dan dikonsumsi serta makhluk lainnya. Secara khusus Allah menyinggung pemberian kepada kaum kerabat, kendatipun sudah masuk dalam konteks umum, untuk menekankan tentang hak mereka dan keharusan untuk menjalin hubungan dengan mereka dan bersikap baik kepada mereka serta bersemangat untuk memenuhinya. Masuk dalam pengertian ini, seluruh kaum kerabat, yang dekat ataupun yang jauh. Akan tetapi, semakin dekat hubungan (darah)nya (dengan kita), maka ia semakin berhak menerima kebaikan. Firman Allah, ﴾ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "Dan Allah melarang dari perbuat-an keji," yaitu seluruh perbuatan dosa besar yang dinilai bejat oleh syariat dan fitrah manusia, semisal perbuatan syirik kepada Allah, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, zina, pencurian, bangga diri, sombong, menghinakan orang lain dan perbuatan keji lainnya. Termasuk dalam makna kemungkaran adalah, setiap dosa dan maksiat yang berkaitan dengan hak Allah تعالى. Sedangkan tin-dakan permusuhan yaitu setiap permusuhan terhadap sesama me-nyangkut darah, harta, dan kehormatan. Maka, ayat ini menghim-pun seluruh perintah dan larangan, tidak ada yang tersisa melain-kan pasti masuk ke dalamnya. Ini merupakan kaidah yang menjadi acuan dalam perkara-perkara parsial lainnya. Setiap persoalan yang menyangkut keadil-an, kebaikan atau pemberian kepada kaum kerabat, maka itu ter-masuk perkara yang Allah perintahkan. (Sebaliknya), setiap masalah yang memuat unsur kekejian, kemungkaran atau permusuhan, maka termasuk perkara yang Allah larang. Melalui ayat ini, dapat diketahui keindahan perintah yang Allah tetapkan, dan keburukan sesuatu yang Allah larang. Dengan dasar ayat ini pula, ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan yang ada pada orang-orang diperhitungkan dan diacukan kepadanya di se-tiap kondisi. Mahaberkah Allah, Dzat yang menjadikan pada Fir-man-firmanNya unsur hidayah, penyembuh dan cahaya serta pem-beda antara segala sesuatu. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ يَعِظُكُمۡ ﴿ "Dia memberi pengajaran kepadamu," dengannya. Maksudnya dengan penjelasan yang disampaikan olehNya kepada kalian dalam Kitab-Nya, maka Dia memerintahkan kalian perkara yang berisi kebaikan bagi kalian dan melarang kalian dari perbuatan yang mengandung bahaya bagi kalian ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "agar kamu dapat mengambil pelajaran," yaitu sesuatu yang memberimu pelajaran, sehingga kamu memahami dan menyerapnya. Sesungguhnya kalian jika dapat me-ngambil pelajaran dan memahaminya dan mengetahui isi kandu-ngannya, maka kalian pun akan berbahagia dengan kebahagiaan yang tidak disertai oleh celaka.
Setelah memerintahkan perkara yang wajib dalam substansi syariat, maka Allah memerintahkan untuk memenuhi apa yang di-wajibkan seorang hamba pada dirinya. Allah berfirman,