Tafsir As-Saadi - Indonesian — Taha 20:1 – Taha 20:68
Daftar isi
- Taha 20:1
- Taha 20:2
- Taha 20:3
- Taha 20:4
- Taha 20:5
- Taha 20:6
- Taha 20:7
- Taha 20:8
- Taha 20:9
- Taha 20:10
- Taha 20:11
- Taha 20:12
- Taha 20:13
- Taha 20:14
- Taha 20:15
- Taha 20:16
- Taha 20:17
- Taha 20:18
- Taha 20:19
- Taha 20:20
- Taha 20:21
- Taha 20:22
- Taha 20:23
- Taha 20:24
- Taha 20:25
- Taha 20:26
- Taha 20:27
- Taha 20:28
- Taha 20:29
- Taha 20:30
- Taha 20:31
- Taha 20:32
- Taha 20:33
- Taha 20:34
- Taha 20:35
- Taha 20:36
- Taha 20:37
- Taha 20:38
- Taha 20:39
- Taha 20:40
- Taha 20:41
- Taha 20:42
- Taha 20:43
- Taha 20:44
- Taha 20:45
- Taha 20:46
- Taha 20:47
- Taha 20:48
- Taha 20:49
- Taha 20:50
- Taha 20:51
- Taha 20:52
- Taha 20:53
- Taha 20:54
- Taha 20:55
- Taha 20:56
- Taha 20:57
- Taha 20:58
- Taha 20:59
- Taha 20:60
- Taha 20:61
- Taha 20:62
- Taha 20:63
- Taha 20:64
- Taha 20:65
- Taha 20:66
- Taha 20:67
- Taha 20:68
Taha 20:1
"Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang men-ciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arasy. KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi. Dia-lah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Dia mempunyai al-Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)." (Thaha: 1-8).
Makkiyah
(1-2) ﴾ طه 1 ﴿ "Thaha," termasuk dalam kategori huruf-huruf abjad yang terputus untuk membuka sejumlah surat (dalam al-Qur`an), kata ini bukanlah nama bagi Nabi. ﴾ مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ 2 ﴿ "Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu men-jadi susah," maksudnya bukanlah tujuan adanya wahyu dan di-turunkannya al-Qur`an kepadamu serta penetapan syariat adalah agar engkau menjadi susah karenanya, sehingga dalam kandungan syariat terdapat pembebanan (taklif) yang memberatkan orang-orang mukallaf dan melemahkan kekuatan orang-orang yang meng-amalkan, akan tetapi ia merupakan wahyu dan al-Qur`an serta syariat yang disyariatkan oleh Dzat ar-Rahim ar-Rahman dan dijadi-kan sebagai jembatan pengantar menuju kebahagiaan, kesuksesan, dan kemenangan. Dia benar-benar menyederhanakannya dan me-mudahkan setiap pintu dan jalan-jalan aksesnya. Dia menjadikan-nya sebagai nutrisi bagi hati, jiwa, dan pencipta ketenangan bagi badan. Fitrah-fitrah yang normal dan akal-akal yang lurus me-nyambutnya dengan tulus dan ketundukan. Karena ia mengetahui muatan kebaikan yang berada di dalamnya di dunia dan akhirat.
(3) Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ 3 ﴿ "Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)," melain-kan supaya orang-orang yang takut kepada Allah تعالى mengingat-ingat (hakikat kehidupan) sedangkan dia pun mengerti kandungan-nya berupa himbauan untuk menggapai kebaikan-kebaikan lalu mengamalkannya, dan mengetahui peringatan dari kecelakaan dan kerugian sehingga dia pun menjauhkan diri darinya. Dengan al-Qur`an dia bisa mengenal hukum-hukum yang baik, yang ditetap-kan oleh syariat secara detail yang sisi keindahannya sudah mapan di akalnya secara global. Maka, penjabaran hukum-hukum sejalan dengan apa yang dijumpainya dalam fitrah dan akal sehatnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan al-Qur`an sebagai tadzkirah (pengingat). Sebagai pengingat sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Hanya saja pemiliknya melalaikannya, atau tidak mengingat-ingat pen-jelasannya. Allah mengkhususkan peringatan ini bagi orang-orang yang takut (khasyyah) kepadaNya, pasalnya selain mereka tidak mau memanfaatkannya. Bagaimana mungkin orang yang tidak beriman kepada surga dan neraka, serta tidak ada unsur ketakutan kepada Allah di hatinya sekecil biji sawi pun dapat memperoleh manfaat dengannya?! Ini tidak mungkin terjadi. ﴾ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ 10 وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى 11 ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ 12 ﴿ "Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)." (Al-A'la: 10-12).
(4) Selanjutnya, Allah menyebutkan kebesaran al-Qur`an yang agung ini. Ia merupakan wahyu yang diturunkan Pencipta bumi dan langit, yang mengatur semua makhluk. Maksudnya, teri-malah wahyu yang diturunkan ini dengan sikap ketundukan yang penuh, kecintaan, dan penerimaan yang total. Agungkanlah wahyu itu dengan sebaik-baiknya. Acapkali Allah menyatukan antara sifat al-Khalqu (penciptaan) dan al-Amru (penetapan syariat). Seba-gaimana tertuang di dalam ayat ini. Juga seperti dalam FirmanNya, ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah." (Al-A'raf: 54), juga dalam FirmanNya, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ ﴿ "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya." (Ath-Thalaq: 12). Demikian ini, karena Allah adalah Dzat yang menciptakan, yang menetapkan perintah dan larangan. Sebagaimana tidak ada pencipta selain Allah, maka tidak ada kewajiban, perintah, dan larangan yang harus dilaksanakan oleh makhluk kecuali dari Pen-cipta mereka. Begitu pula bahwa penciptaan yang Allah lakukan terhadap makhlukNya di dalamnya termasuk pengaturan takdir kauni (yang tidak berkaitan dengan mahabbah Allah dan mesti terjadi). Sedangkan penetapan perintah di dalamnya mengandung pengaturan takdir syar'i (yang berkaitan dengan mahabbah Allah, tapi tidak mesti terjadi). Sebagaimana penciptaan makhluk tidak akan terlepas dari hikmah, maka Allah tidak menciptakan mereka untuk tujuan yang mengada-ada, begitu pula, Allah tidak meme-rintahkan dan tidak melarang kecuali pasti dengan sebab yang mana ia merupakan sebuah keadilan, hikmah, dan kebaikan.
(5) Setelah Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Sang Pencipta, Pengatur, Pembuat perintah dan larangan, maka Dia memberitahukan mengenai keagungan dan kebesaranNya. Allah berfirman, ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "(Yaitu) Dzat Yang Maha Pemurah di atas 'Arasy," yang merupakan makhluk paling tinggi dan paling besar serta paling luas ﴾ ٱسۡتَوَىٰ 5 ﴿ "bersemayam," dalam bentuk istiwa' (bersemayam) yang sesuai dengan bentuk keagunganNya, dan sesuai dengan kebesaran dan keindahanNya. Dia bersemayam di atas 'Arasy dan menguasai kerajaan.
(6) ﴾ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا ﴿ "KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, dan semua yang di antara kedua-nya," berupa malaikat, manusia, jin, binatang, benda-benda mati, tanaman ﴾ وَمَا تَحۡتَ ٱلثَّرَىٰ 6 ﴿ "dan apa yang berada di bawah tanah," di bawah bumi, semuanya milik Allah تعالى, sebagai hamba yang diatur tunduk di bawah keputusan dan aturanNya. Tidak ada secuil pun hak kepemilikan bagi mereka. Mereka tidak mempunyai daya untuk menciptakan kebaikan, bahaya, kematian, kehidupan, dan kebangkitan bagi diri mereka sendiri.
(7) ﴾ وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ ﴿ "Dan jika kamu mengeraskan ucapan-mu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia," maksudnya perka-taan yang lirih ﴾ وَأَخۡفَى 7 ﴿ "dan yang tersembunyi," dari sesuatu yang rahasia, yang bermakna rahasia yang berada di hati, dan belum diucapkan. Atau اَلسِّرُّ ialah segala sesuatu yang terbetik di hati. Sedangkan أَخْفَى merupakan segala sesuatu yang belum muncul di benak. Allah تعالى Maha mengetahui segala sesuatu yang terbetik pada waktunya dan segala bentuknya. Maksudnya, ilmu Allah تعالى meliputi segala sesuatu, yang samar maupun yang jelas, yang ter-sembunyi ataupun yang terlihat, sama saja, baik engkau mengeras-kan suara atau melirihkannya. Semuanya menurut ilmu Allah تعالى sama saja.
(8) Sesudah menetapkan kesempurnaanNya yang mutlak dengan keumuman penciptaanNya, dan ketetapan perintah dan laranganNya yang umum (bagi semua makhluk), keumuman rahmatNya, besarnya keagunganNya, keberadaanNya yang tinggi di atas 'Arasy, luasnya wilayah kekuasaan dan ilmuNya, dapat diambil kesimpulan bahwa Dia-lah yang berhak untuk diibadahi, peribadahan kepadaNya ialah yang benar, yang sejalan oleh aturan syariat, nalar, dan fitrah. Sementara menyembah selainNya meru-pakan kebatilan. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "Dia-lah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Dia," maksudnya tidak ada sesembahan dan tuhan yang berhak disembah dengan penuh kecintaan dan menghinakan diri, rasa takut, pengharapan, mahabbah, inabah, dan doa kecuali Dia. ﴾ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ 8 ﴿ "Dia mempunyai Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)," Allah mempunyai nama-nama yang banyak yang sempurna lagi paling baik. Di antara sisi keindahannya, semua nama itu merupakan nama-nama yang menunjukkan pujian. Tidak ada nama yang tidak menunjukkan pujian dan sanjungan. Sebagian dari sisi keindahan-nya, bahwa nama-nama itu bukan sekedar nama-nama semata, akan tetapi nama-nama dan sekaligus (menunjukkan) sifat-sifat yang terkandung di dalamnya. Aspek keindahan lainnya, nama-nama itu menunjukkan sifat-sifat yang sempurna. Dan pada sifat-sifat itu bila dibandingkan dengan sifat lainnya menempati ting-katan yang paling sempurna, umum lagi agung. Aspek keelokannya, Allah memerintahkan para hambaNya untuk berdoa kepadaNya dengannya. Karena nama-nama itu termasuk (piranti) untuk ber-tawasul yang mendekatkan diri kepada Allah. Allah mencintainya (nama-nama itu), dan para pecintanya juga menyukainya dan menghafalnya. Dan Allah mencintai orang-orang yang mendalami makna-maknanya dan menghambakan diri kepada Allah dengan-nya. Allah berfirman, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ ﴿ "Hanya milik Allah-lah Asma` al-Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma` al-Husna tersebut." (Al-A'raf: 180).
Taha 20:2
"Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang men-ciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arasy. KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi. Dia-lah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Dia mempunyai al-Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)." (Thaha: 1-8).
Makkiyah
(1-2) ﴾ طه 1 ﴿ "Thaha," termasuk dalam kategori huruf-huruf abjad yang terputus untuk membuka sejumlah surat (dalam al-Qur`an), kata ini bukanlah nama bagi Nabi. ﴾ مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ 2 ﴿ "Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu men-jadi susah," maksudnya bukanlah tujuan adanya wahyu dan di-turunkannya al-Qur`an kepadamu serta penetapan syariat adalah agar engkau menjadi susah karenanya, sehingga dalam kandungan syariat terdapat pembebanan (taklif) yang memberatkan orang-orang mukallaf dan melemahkan kekuatan orang-orang yang meng-amalkan, akan tetapi ia merupakan wahyu dan al-Qur`an serta syariat yang disyariatkan oleh Dzat ar-Rahim ar-Rahman dan dijadi-kan sebagai jembatan pengantar menuju kebahagiaan, kesuksesan, dan kemenangan. Dia benar-benar menyederhanakannya dan me-mudahkan setiap pintu dan jalan-jalan aksesnya. Dia menjadikan-nya sebagai nutrisi bagi hati, jiwa, dan pencipta ketenangan bagi badan. Fitrah-fitrah yang normal dan akal-akal yang lurus me-nyambutnya dengan tulus dan ketundukan. Karena ia mengetahui muatan kebaikan yang berada di dalamnya di dunia dan akhirat.
(3) Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ 3 ﴿ "Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)," melain-kan supaya orang-orang yang takut kepada Allah تعالى mengingat-ingat (hakikat kehidupan) sedangkan dia pun mengerti kandungan-nya berupa himbauan untuk menggapai kebaikan-kebaikan lalu mengamalkannya, dan mengetahui peringatan dari kecelakaan dan kerugian sehingga dia pun menjauhkan diri darinya. Dengan al-Qur`an dia bisa mengenal hukum-hukum yang baik, yang ditetap-kan oleh syariat secara detail yang sisi keindahannya sudah mapan di akalnya secara global. Maka, penjabaran hukum-hukum sejalan dengan apa yang dijumpainya dalam fitrah dan akal sehatnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan al-Qur`an sebagai tadzkirah (pengingat). Sebagai pengingat sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Hanya saja pemiliknya melalaikannya, atau tidak mengingat-ingat pen-jelasannya. Allah mengkhususkan peringatan ini bagi orang-orang yang takut (khasyyah) kepadaNya, pasalnya selain mereka tidak mau memanfaatkannya. Bagaimana mungkin orang yang tidak beriman kepada surga dan neraka, serta tidak ada unsur ketakutan kepada Allah di hatinya sekecil biji sawi pun dapat memperoleh manfaat dengannya?! Ini tidak mungkin terjadi. ﴾ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ 10 وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى 11 ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ 12 ﴿ "Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)." (Al-A'la: 10-12).
(4) Selanjutnya, Allah menyebutkan kebesaran al-Qur`an yang agung ini. Ia merupakan wahyu yang diturunkan Pencipta bumi dan langit, yang mengatur semua makhluk. Maksudnya, teri-malah wahyu yang diturunkan ini dengan sikap ketundukan yang penuh, kecintaan, dan penerimaan yang total. Agungkanlah wahyu itu dengan sebaik-baiknya. Acapkali Allah menyatukan antara sifat al-Khalqu (penciptaan) dan al-Amru (penetapan syariat). Seba-gaimana tertuang di dalam ayat ini. Juga seperti dalam FirmanNya, ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah." (Al-A'raf: 54), juga dalam FirmanNya, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ ﴿ "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya." (Ath-Thalaq: 12). Demikian ini, karena Allah adalah Dzat yang menciptakan, yang menetapkan perintah dan larangan. Sebagaimana tidak ada pencipta selain Allah, maka tidak ada kewajiban, perintah, dan larangan yang harus dilaksanakan oleh makhluk kecuali dari Pen-cipta mereka. Begitu pula bahwa penciptaan yang Allah lakukan terhadap makhlukNya di dalamnya termasuk pengaturan takdir kauni (yang tidak berkaitan dengan mahabbah Allah dan mesti terjadi). Sedangkan penetapan perintah di dalamnya mengandung pengaturan takdir syar'i (yang berkaitan dengan mahabbah Allah, tapi tidak mesti terjadi). Sebagaimana penciptaan makhluk tidak akan terlepas dari hikmah, maka Allah tidak menciptakan mereka untuk tujuan yang mengada-ada, begitu pula, Allah tidak meme-rintahkan dan tidak melarang kecuali pasti dengan sebab yang mana ia merupakan sebuah keadilan, hikmah, dan kebaikan.
(5) Setelah Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Sang Pencipta, Pengatur, Pembuat perintah dan larangan, maka Dia memberitahukan mengenai keagungan dan kebesaranNya. Allah berfirman, ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "(Yaitu) Dzat Yang Maha Pemurah di atas 'Arasy," yang merupakan makhluk paling tinggi dan paling besar serta paling luas ﴾ ٱسۡتَوَىٰ 5 ﴿ "bersemayam," dalam bentuk istiwa' (bersemayam) yang sesuai dengan bentuk keagunganNya, dan sesuai dengan kebesaran dan keindahanNya. Dia bersemayam di atas 'Arasy dan menguasai kerajaan.
(6) ﴾ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا ﴿ "KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, dan semua yang di antara kedua-nya," berupa malaikat, manusia, jin, binatang, benda-benda mati, tanaman ﴾ وَمَا تَحۡتَ ٱلثَّرَىٰ 6 ﴿ "dan apa yang berada di bawah tanah," di bawah bumi, semuanya milik Allah تعالى, sebagai hamba yang diatur tunduk di bawah keputusan dan aturanNya. Tidak ada secuil pun hak kepemilikan bagi mereka. Mereka tidak mempunyai daya untuk menciptakan kebaikan, bahaya, kematian, kehidupan, dan kebangkitan bagi diri mereka sendiri.
(7) ﴾ وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ ﴿ "Dan jika kamu mengeraskan ucapan-mu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia," maksudnya perka-taan yang lirih ﴾ وَأَخۡفَى 7 ﴿ "dan yang tersembunyi," dari sesuatu yang rahasia, yang bermakna rahasia yang berada di hati, dan belum diucapkan. Atau اَلسِّرُّ ialah segala sesuatu yang terbetik di hati. Sedangkan أَخْفَى merupakan segala sesuatu yang belum muncul di benak. Allah تعالى Maha mengetahui segala sesuatu yang terbetik pada waktunya dan segala bentuknya. Maksudnya, ilmu Allah تعالى meliputi segala sesuatu, yang samar maupun yang jelas, yang ter-sembunyi ataupun yang terlihat, sama saja, baik engkau mengeras-kan suara atau melirihkannya. Semuanya menurut ilmu Allah تعالى sama saja.
(8) Sesudah menetapkan kesempurnaanNya yang mutlak dengan keumuman penciptaanNya, dan ketetapan perintah dan laranganNya yang umum (bagi semua makhluk), keumuman rahmatNya, besarnya keagunganNya, keberadaanNya yang tinggi di atas 'Arasy, luasnya wilayah kekuasaan dan ilmuNya, dapat diambil kesimpulan bahwa Dia-lah yang berhak untuk diibadahi, peribadahan kepadaNya ialah yang benar, yang sejalan oleh aturan syariat, nalar, dan fitrah. Sementara menyembah selainNya meru-pakan kebatilan. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "Dia-lah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Dia," maksudnya tidak ada sesembahan dan tuhan yang berhak disembah dengan penuh kecintaan dan menghinakan diri, rasa takut, pengharapan, mahabbah, inabah, dan doa kecuali Dia. ﴾ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ 8 ﴿ "Dia mempunyai Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)," Allah mempunyai nama-nama yang banyak yang sempurna lagi paling baik. Di antara sisi keindahannya, semua nama itu merupakan nama-nama yang menunjukkan pujian. Tidak ada nama yang tidak menunjukkan pujian dan sanjungan. Sebagian dari sisi keindahan-nya, bahwa nama-nama itu bukan sekedar nama-nama semata, akan tetapi nama-nama dan sekaligus (menunjukkan) sifat-sifat yang terkandung di dalamnya. Aspek keindahan lainnya, nama-nama itu menunjukkan sifat-sifat yang sempurna. Dan pada sifat-sifat itu bila dibandingkan dengan sifat lainnya menempati ting-katan yang paling sempurna, umum lagi agung. Aspek keelokannya, Allah memerintahkan para hambaNya untuk berdoa kepadaNya dengannya. Karena nama-nama itu termasuk (piranti) untuk ber-tawasul yang mendekatkan diri kepada Allah. Allah mencintainya (nama-nama itu), dan para pecintanya juga menyukainya dan menghafalnya. Dan Allah mencintai orang-orang yang mendalami makna-maknanya dan menghambakan diri kepada Allah dengan-nya. Allah berfirman, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ ﴿ "Hanya milik Allah-lah Asma` al-Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma` al-Husna tersebut." (Al-A'raf: 180).
Taha 20:3
"Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang men-ciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arasy. KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi. Dia-lah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Dia mempunyai al-Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)." (Thaha: 1-8).
Makkiyah
(1-2) ﴾ طه 1 ﴿ "Thaha," termasuk dalam kategori huruf-huruf abjad yang terputus untuk membuka sejumlah surat (dalam al-Qur`an), kata ini bukanlah nama bagi Nabi. ﴾ مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ 2 ﴿ "Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu men-jadi susah," maksudnya bukanlah tujuan adanya wahyu dan di-turunkannya al-Qur`an kepadamu serta penetapan syariat adalah agar engkau menjadi susah karenanya, sehingga dalam kandungan syariat terdapat pembebanan (taklif) yang memberatkan orang-orang mukallaf dan melemahkan kekuatan orang-orang yang meng-amalkan, akan tetapi ia merupakan wahyu dan al-Qur`an serta syariat yang disyariatkan oleh Dzat ar-Rahim ar-Rahman dan dijadi-kan sebagai jembatan pengantar menuju kebahagiaan, kesuksesan, dan kemenangan. Dia benar-benar menyederhanakannya dan me-mudahkan setiap pintu dan jalan-jalan aksesnya. Dia menjadikan-nya sebagai nutrisi bagi hati, jiwa, dan pencipta ketenangan bagi badan. Fitrah-fitrah yang normal dan akal-akal yang lurus me-nyambutnya dengan tulus dan ketundukan. Karena ia mengetahui muatan kebaikan yang berada di dalamnya di dunia dan akhirat.
(3) Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ 3 ﴿ "Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)," melain-kan supaya orang-orang yang takut kepada Allah تعالى mengingat-ingat (hakikat kehidupan) sedangkan dia pun mengerti kandungan-nya berupa himbauan untuk menggapai kebaikan-kebaikan lalu mengamalkannya, dan mengetahui peringatan dari kecelakaan dan kerugian sehingga dia pun menjauhkan diri darinya. Dengan al-Qur`an dia bisa mengenal hukum-hukum yang baik, yang ditetap-kan oleh syariat secara detail yang sisi keindahannya sudah mapan di akalnya secara global. Maka, penjabaran hukum-hukum sejalan dengan apa yang dijumpainya dalam fitrah dan akal sehatnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan al-Qur`an sebagai tadzkirah (pengingat). Sebagai pengingat sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Hanya saja pemiliknya melalaikannya, atau tidak mengingat-ingat pen-jelasannya. Allah mengkhususkan peringatan ini bagi orang-orang yang takut (khasyyah) kepadaNya, pasalnya selain mereka tidak mau memanfaatkannya. Bagaimana mungkin orang yang tidak beriman kepada surga dan neraka, serta tidak ada unsur ketakutan kepada Allah di hatinya sekecil biji sawi pun dapat memperoleh manfaat dengannya?! Ini tidak mungkin terjadi. ﴾ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ 10 وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى 11 ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ 12 ﴿ "Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)." (Al-A'la: 10-12).
(4) Selanjutnya, Allah menyebutkan kebesaran al-Qur`an yang agung ini. Ia merupakan wahyu yang diturunkan Pencipta bumi dan langit, yang mengatur semua makhluk. Maksudnya, teri-malah wahyu yang diturunkan ini dengan sikap ketundukan yang penuh, kecintaan, dan penerimaan yang total. Agungkanlah wahyu itu dengan sebaik-baiknya. Acapkali Allah menyatukan antara sifat al-Khalqu (penciptaan) dan al-Amru (penetapan syariat). Seba-gaimana tertuang di dalam ayat ini. Juga seperti dalam FirmanNya, ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah." (Al-A'raf: 54), juga dalam FirmanNya, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ ﴿ "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya." (Ath-Thalaq: 12). Demikian ini, karena Allah adalah Dzat yang menciptakan, yang menetapkan perintah dan larangan. Sebagaimana tidak ada pencipta selain Allah, maka tidak ada kewajiban, perintah, dan larangan yang harus dilaksanakan oleh makhluk kecuali dari Pen-cipta mereka. Begitu pula bahwa penciptaan yang Allah lakukan terhadap makhlukNya di dalamnya termasuk pengaturan takdir kauni (yang tidak berkaitan dengan mahabbah Allah dan mesti terjadi). Sedangkan penetapan perintah di dalamnya mengandung pengaturan takdir syar'i (yang berkaitan dengan mahabbah Allah, tapi tidak mesti terjadi). Sebagaimana penciptaan makhluk tidak akan terlepas dari hikmah, maka Allah tidak menciptakan mereka untuk tujuan yang mengada-ada, begitu pula, Allah tidak meme-rintahkan dan tidak melarang kecuali pasti dengan sebab yang mana ia merupakan sebuah keadilan, hikmah, dan kebaikan.
(5) Setelah Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Sang Pencipta, Pengatur, Pembuat perintah dan larangan, maka Dia memberitahukan mengenai keagungan dan kebesaranNya. Allah berfirman, ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "(Yaitu) Dzat Yang Maha Pemurah di atas 'Arasy," yang merupakan makhluk paling tinggi dan paling besar serta paling luas ﴾ ٱسۡتَوَىٰ 5 ﴿ "bersemayam," dalam bentuk istiwa' (bersemayam) yang sesuai dengan bentuk keagunganNya, dan sesuai dengan kebesaran dan keindahanNya. Dia bersemayam di atas 'Arasy dan menguasai kerajaan.
(6) ﴾ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا ﴿ "KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, dan semua yang di antara kedua-nya," berupa malaikat, manusia, jin, binatang, benda-benda mati, tanaman ﴾ وَمَا تَحۡتَ ٱلثَّرَىٰ 6 ﴿ "dan apa yang berada di bawah tanah," di bawah bumi, semuanya milik Allah تعالى, sebagai hamba yang diatur tunduk di bawah keputusan dan aturanNya. Tidak ada secuil pun hak kepemilikan bagi mereka. Mereka tidak mempunyai daya untuk menciptakan kebaikan, bahaya, kematian, kehidupan, dan kebangkitan bagi diri mereka sendiri.
(7) ﴾ وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ ﴿ "Dan jika kamu mengeraskan ucapan-mu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia," maksudnya perka-taan yang lirih ﴾ وَأَخۡفَى 7 ﴿ "dan yang tersembunyi," dari sesuatu yang rahasia, yang bermakna rahasia yang berada di hati, dan belum diucapkan. Atau اَلسِّرُّ ialah segala sesuatu yang terbetik di hati. Sedangkan أَخْفَى merupakan segala sesuatu yang belum muncul di benak. Allah تعالى Maha mengetahui segala sesuatu yang terbetik pada waktunya dan segala bentuknya. Maksudnya, ilmu Allah تعالى meliputi segala sesuatu, yang samar maupun yang jelas, yang ter-sembunyi ataupun yang terlihat, sama saja, baik engkau mengeras-kan suara atau melirihkannya. Semuanya menurut ilmu Allah تعالى sama saja.
(8) Sesudah menetapkan kesempurnaanNya yang mutlak dengan keumuman penciptaanNya, dan ketetapan perintah dan laranganNya yang umum (bagi semua makhluk), keumuman rahmatNya, besarnya keagunganNya, keberadaanNya yang tinggi di atas 'Arasy, luasnya wilayah kekuasaan dan ilmuNya, dapat diambil kesimpulan bahwa Dia-lah yang berhak untuk diibadahi, peribadahan kepadaNya ialah yang benar, yang sejalan oleh aturan syariat, nalar, dan fitrah. Sementara menyembah selainNya meru-pakan kebatilan. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "Dia-lah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Dia," maksudnya tidak ada sesembahan dan tuhan yang berhak disembah dengan penuh kecintaan dan menghinakan diri, rasa takut, pengharapan, mahabbah, inabah, dan doa kecuali Dia. ﴾ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ 8 ﴿ "Dia mempunyai Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)," Allah mempunyai nama-nama yang banyak yang sempurna lagi paling baik. Di antara sisi keindahannya, semua nama itu merupakan nama-nama yang menunjukkan pujian. Tidak ada nama yang tidak menunjukkan pujian dan sanjungan. Sebagian dari sisi keindahan-nya, bahwa nama-nama itu bukan sekedar nama-nama semata, akan tetapi nama-nama dan sekaligus (menunjukkan) sifat-sifat yang terkandung di dalamnya. Aspek keindahan lainnya, nama-nama itu menunjukkan sifat-sifat yang sempurna. Dan pada sifat-sifat itu bila dibandingkan dengan sifat lainnya menempati ting-katan yang paling sempurna, umum lagi agung. Aspek keelokannya, Allah memerintahkan para hambaNya untuk berdoa kepadaNya dengannya. Karena nama-nama itu termasuk (piranti) untuk ber-tawasul yang mendekatkan diri kepada Allah. Allah mencintainya (nama-nama itu), dan para pecintanya juga menyukainya dan menghafalnya. Dan Allah mencintai orang-orang yang mendalami makna-maknanya dan menghambakan diri kepada Allah dengan-nya. Allah berfirman, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ ﴿ "Hanya milik Allah-lah Asma` al-Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma` al-Husna tersebut." (Al-A'raf: 180).
Taha 20:4
"Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang men-ciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arasy. KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi. Dia-lah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Dia mempunyai al-Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)." (Thaha: 1-8).
Makkiyah
(1-2) ﴾ طه 1 ﴿ "Thaha," termasuk dalam kategori huruf-huruf abjad yang terputus untuk membuka sejumlah surat (dalam al-Qur`an), kata ini bukanlah nama bagi Nabi. ﴾ مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ 2 ﴿ "Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu men-jadi susah," maksudnya bukanlah tujuan adanya wahyu dan di-turunkannya al-Qur`an kepadamu serta penetapan syariat adalah agar engkau menjadi susah karenanya, sehingga dalam kandungan syariat terdapat pembebanan (taklif) yang memberatkan orang-orang mukallaf dan melemahkan kekuatan orang-orang yang meng-amalkan, akan tetapi ia merupakan wahyu dan al-Qur`an serta syariat yang disyariatkan oleh Dzat ar-Rahim ar-Rahman dan dijadi-kan sebagai jembatan pengantar menuju kebahagiaan, kesuksesan, dan kemenangan. Dia benar-benar menyederhanakannya dan me-mudahkan setiap pintu dan jalan-jalan aksesnya. Dia menjadikan-nya sebagai nutrisi bagi hati, jiwa, dan pencipta ketenangan bagi badan. Fitrah-fitrah yang normal dan akal-akal yang lurus me-nyambutnya dengan tulus dan ketundukan. Karena ia mengetahui muatan kebaikan yang berada di dalamnya di dunia dan akhirat.
(3) Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ 3 ﴿ "Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)," melain-kan supaya orang-orang yang takut kepada Allah تعالى mengingat-ingat (hakikat kehidupan) sedangkan dia pun mengerti kandungan-nya berupa himbauan untuk menggapai kebaikan-kebaikan lalu mengamalkannya, dan mengetahui peringatan dari kecelakaan dan kerugian sehingga dia pun menjauhkan diri darinya. Dengan al-Qur`an dia bisa mengenal hukum-hukum yang baik, yang ditetap-kan oleh syariat secara detail yang sisi keindahannya sudah mapan di akalnya secara global. Maka, penjabaran hukum-hukum sejalan dengan apa yang dijumpainya dalam fitrah dan akal sehatnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan al-Qur`an sebagai tadzkirah (pengingat). Sebagai pengingat sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Hanya saja pemiliknya melalaikannya, atau tidak mengingat-ingat pen-jelasannya. Allah mengkhususkan peringatan ini bagi orang-orang yang takut (khasyyah) kepadaNya, pasalnya selain mereka tidak mau memanfaatkannya. Bagaimana mungkin orang yang tidak beriman kepada surga dan neraka, serta tidak ada unsur ketakutan kepada Allah di hatinya sekecil biji sawi pun dapat memperoleh manfaat dengannya?! Ini tidak mungkin terjadi. ﴾ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ 10 وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى 11 ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ 12 ﴿ "Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)." (Al-A'la: 10-12).
(4) Selanjutnya, Allah menyebutkan kebesaran al-Qur`an yang agung ini. Ia merupakan wahyu yang diturunkan Pencipta bumi dan langit, yang mengatur semua makhluk. Maksudnya, teri-malah wahyu yang diturunkan ini dengan sikap ketundukan yang penuh, kecintaan, dan penerimaan yang total. Agungkanlah wahyu itu dengan sebaik-baiknya. Acapkali Allah menyatukan antara sifat al-Khalqu (penciptaan) dan al-Amru (penetapan syariat). Seba-gaimana tertuang di dalam ayat ini. Juga seperti dalam FirmanNya, ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah." (Al-A'raf: 54), juga dalam FirmanNya, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ ﴿ "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya." (Ath-Thalaq: 12). Demikian ini, karena Allah adalah Dzat yang menciptakan, yang menetapkan perintah dan larangan. Sebagaimana tidak ada pencipta selain Allah, maka tidak ada kewajiban, perintah, dan larangan yang harus dilaksanakan oleh makhluk kecuali dari Pen-cipta mereka. Begitu pula bahwa penciptaan yang Allah lakukan terhadap makhlukNya di dalamnya termasuk pengaturan takdir kauni (yang tidak berkaitan dengan mahabbah Allah dan mesti terjadi). Sedangkan penetapan perintah di dalamnya mengandung pengaturan takdir syar'i (yang berkaitan dengan mahabbah Allah, tapi tidak mesti terjadi). Sebagaimana penciptaan makhluk tidak akan terlepas dari hikmah, maka Allah tidak menciptakan mereka untuk tujuan yang mengada-ada, begitu pula, Allah tidak meme-rintahkan dan tidak melarang kecuali pasti dengan sebab yang mana ia merupakan sebuah keadilan, hikmah, dan kebaikan.
(5) Setelah Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Sang Pencipta, Pengatur, Pembuat perintah dan larangan, maka Dia memberitahukan mengenai keagungan dan kebesaranNya. Allah berfirman, ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "(Yaitu) Dzat Yang Maha Pemurah di atas 'Arasy," yang merupakan makhluk paling tinggi dan paling besar serta paling luas ﴾ ٱسۡتَوَىٰ 5 ﴿ "bersemayam," dalam bentuk istiwa' (bersemayam) yang sesuai dengan bentuk keagunganNya, dan sesuai dengan kebesaran dan keindahanNya. Dia bersemayam di atas 'Arasy dan menguasai kerajaan.
(6) ﴾ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا ﴿ "KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, dan semua yang di antara kedua-nya," berupa malaikat, manusia, jin, binatang, benda-benda mati, tanaman ﴾ وَمَا تَحۡتَ ٱلثَّرَىٰ 6 ﴿ "dan apa yang berada di bawah tanah," di bawah bumi, semuanya milik Allah تعالى, sebagai hamba yang diatur tunduk di bawah keputusan dan aturanNya. Tidak ada secuil pun hak kepemilikan bagi mereka. Mereka tidak mempunyai daya untuk menciptakan kebaikan, bahaya, kematian, kehidupan, dan kebangkitan bagi diri mereka sendiri.
(7) ﴾ وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ ﴿ "Dan jika kamu mengeraskan ucapan-mu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia," maksudnya perka-taan yang lirih ﴾ وَأَخۡفَى 7 ﴿ "dan yang tersembunyi," dari sesuatu yang rahasia, yang bermakna rahasia yang berada di hati, dan belum diucapkan. Atau اَلسِّرُّ ialah segala sesuatu yang terbetik di hati. Sedangkan أَخْفَى merupakan segala sesuatu yang belum muncul di benak. Allah تعالى Maha mengetahui segala sesuatu yang terbetik pada waktunya dan segala bentuknya. Maksudnya, ilmu Allah تعالى meliputi segala sesuatu, yang samar maupun yang jelas, yang ter-sembunyi ataupun yang terlihat, sama saja, baik engkau mengeras-kan suara atau melirihkannya. Semuanya menurut ilmu Allah تعالى sama saja.
(8) Sesudah menetapkan kesempurnaanNya yang mutlak dengan keumuman penciptaanNya, dan ketetapan perintah dan laranganNya yang umum (bagi semua makhluk), keumuman rahmatNya, besarnya keagunganNya, keberadaanNya yang tinggi di atas 'Arasy, luasnya wilayah kekuasaan dan ilmuNya, dapat diambil kesimpulan bahwa Dia-lah yang berhak untuk diibadahi, peribadahan kepadaNya ialah yang benar, yang sejalan oleh aturan syariat, nalar, dan fitrah. Sementara menyembah selainNya meru-pakan kebatilan. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "Dia-lah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Dia," maksudnya tidak ada sesembahan dan tuhan yang berhak disembah dengan penuh kecintaan dan menghinakan diri, rasa takut, pengharapan, mahabbah, inabah, dan doa kecuali Dia. ﴾ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ 8 ﴿ "Dia mempunyai Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)," Allah mempunyai nama-nama yang banyak yang sempurna lagi paling baik. Di antara sisi keindahannya, semua nama itu merupakan nama-nama yang menunjukkan pujian. Tidak ada nama yang tidak menunjukkan pujian dan sanjungan. Sebagian dari sisi keindahan-nya, bahwa nama-nama itu bukan sekedar nama-nama semata, akan tetapi nama-nama dan sekaligus (menunjukkan) sifat-sifat yang terkandung di dalamnya. Aspek keindahan lainnya, nama-nama itu menunjukkan sifat-sifat yang sempurna. Dan pada sifat-sifat itu bila dibandingkan dengan sifat lainnya menempati ting-katan yang paling sempurna, umum lagi agung. Aspek keelokannya, Allah memerintahkan para hambaNya untuk berdoa kepadaNya dengannya. Karena nama-nama itu termasuk (piranti) untuk ber-tawasul yang mendekatkan diri kepada Allah. Allah mencintainya (nama-nama itu), dan para pecintanya juga menyukainya dan menghafalnya. Dan Allah mencintai orang-orang yang mendalami makna-maknanya dan menghambakan diri kepada Allah dengan-nya. Allah berfirman, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ ﴿ "Hanya milik Allah-lah Asma` al-Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma` al-Husna tersebut." (Al-A'raf: 180).
Taha 20:5
"Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang men-ciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arasy. KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi. Dia-lah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Dia mempunyai al-Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)." (Thaha: 1-8).
Makkiyah
(1-2) ﴾ طه 1 ﴿ "Thaha," termasuk dalam kategori huruf-huruf abjad yang terputus untuk membuka sejumlah surat (dalam al-Qur`an), kata ini bukanlah nama bagi Nabi. ﴾ مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ 2 ﴿ "Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu men-jadi susah," maksudnya bukanlah tujuan adanya wahyu dan di-turunkannya al-Qur`an kepadamu serta penetapan syariat adalah agar engkau menjadi susah karenanya, sehingga dalam kandungan syariat terdapat pembebanan (taklif) yang memberatkan orang-orang mukallaf dan melemahkan kekuatan orang-orang yang meng-amalkan, akan tetapi ia merupakan wahyu dan al-Qur`an serta syariat yang disyariatkan oleh Dzat ar-Rahim ar-Rahman dan dijadi-kan sebagai jembatan pengantar menuju kebahagiaan, kesuksesan, dan kemenangan. Dia benar-benar menyederhanakannya dan me-mudahkan setiap pintu dan jalan-jalan aksesnya. Dia menjadikan-nya sebagai nutrisi bagi hati, jiwa, dan pencipta ketenangan bagi badan. Fitrah-fitrah yang normal dan akal-akal yang lurus me-nyambutnya dengan tulus dan ketundukan. Karena ia mengetahui muatan kebaikan yang berada di dalamnya di dunia dan akhirat.
(3) Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ 3 ﴿ "Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)," melain-kan supaya orang-orang yang takut kepada Allah تعالى mengingat-ingat (hakikat kehidupan) sedangkan dia pun mengerti kandungan-nya berupa himbauan untuk menggapai kebaikan-kebaikan lalu mengamalkannya, dan mengetahui peringatan dari kecelakaan dan kerugian sehingga dia pun menjauhkan diri darinya. Dengan al-Qur`an dia bisa mengenal hukum-hukum yang baik, yang ditetap-kan oleh syariat secara detail yang sisi keindahannya sudah mapan di akalnya secara global. Maka, penjabaran hukum-hukum sejalan dengan apa yang dijumpainya dalam fitrah dan akal sehatnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan al-Qur`an sebagai tadzkirah (pengingat). Sebagai pengingat sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Hanya saja pemiliknya melalaikannya, atau tidak mengingat-ingat pen-jelasannya. Allah mengkhususkan peringatan ini bagi orang-orang yang takut (khasyyah) kepadaNya, pasalnya selain mereka tidak mau memanfaatkannya. Bagaimana mungkin orang yang tidak beriman kepada surga dan neraka, serta tidak ada unsur ketakutan kepada Allah di hatinya sekecil biji sawi pun dapat memperoleh manfaat dengannya?! Ini tidak mungkin terjadi. ﴾ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ 10 وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى 11 ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ 12 ﴿ "Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)." (Al-A'la: 10-12).
(4) Selanjutnya, Allah menyebutkan kebesaran al-Qur`an yang agung ini. Ia merupakan wahyu yang diturunkan Pencipta bumi dan langit, yang mengatur semua makhluk. Maksudnya, teri-malah wahyu yang diturunkan ini dengan sikap ketundukan yang penuh, kecintaan, dan penerimaan yang total. Agungkanlah wahyu itu dengan sebaik-baiknya. Acapkali Allah menyatukan antara sifat al-Khalqu (penciptaan) dan al-Amru (penetapan syariat). Seba-gaimana tertuang di dalam ayat ini. Juga seperti dalam FirmanNya, ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah." (Al-A'raf: 54), juga dalam FirmanNya, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ ﴿ "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya." (Ath-Thalaq: 12). Demikian ini, karena Allah adalah Dzat yang menciptakan, yang menetapkan perintah dan larangan. Sebagaimana tidak ada pencipta selain Allah, maka tidak ada kewajiban, perintah, dan larangan yang harus dilaksanakan oleh makhluk kecuali dari Pen-cipta mereka. Begitu pula bahwa penciptaan yang Allah lakukan terhadap makhlukNya di dalamnya termasuk pengaturan takdir kauni (yang tidak berkaitan dengan mahabbah Allah dan mesti terjadi). Sedangkan penetapan perintah di dalamnya mengandung pengaturan takdir syar'i (yang berkaitan dengan mahabbah Allah, tapi tidak mesti terjadi). Sebagaimana penciptaan makhluk tidak akan terlepas dari hikmah, maka Allah tidak menciptakan mereka untuk tujuan yang mengada-ada, begitu pula, Allah tidak meme-rintahkan dan tidak melarang kecuali pasti dengan sebab yang mana ia merupakan sebuah keadilan, hikmah, dan kebaikan.
(5) Setelah Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Sang Pencipta, Pengatur, Pembuat perintah dan larangan, maka Dia memberitahukan mengenai keagungan dan kebesaranNya. Allah berfirman, ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "(Yaitu) Dzat Yang Maha Pemurah di atas 'Arasy," yang merupakan makhluk paling tinggi dan paling besar serta paling luas ﴾ ٱسۡتَوَىٰ 5 ﴿ "bersemayam," dalam bentuk istiwa' (bersemayam) yang sesuai dengan bentuk keagunganNya, dan sesuai dengan kebesaran dan keindahanNya. Dia bersemayam di atas 'Arasy dan menguasai kerajaan.
(6) ﴾ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا ﴿ "KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, dan semua yang di antara kedua-nya," berupa malaikat, manusia, jin, binatang, benda-benda mati, tanaman ﴾ وَمَا تَحۡتَ ٱلثَّرَىٰ 6 ﴿ "dan apa yang berada di bawah tanah," di bawah bumi, semuanya milik Allah تعالى, sebagai hamba yang diatur tunduk di bawah keputusan dan aturanNya. Tidak ada secuil pun hak kepemilikan bagi mereka. Mereka tidak mempunyai daya untuk menciptakan kebaikan, bahaya, kematian, kehidupan, dan kebangkitan bagi diri mereka sendiri.
(7) ﴾ وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ ﴿ "Dan jika kamu mengeraskan ucapan-mu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia," maksudnya perka-taan yang lirih ﴾ وَأَخۡفَى 7 ﴿ "dan yang tersembunyi," dari sesuatu yang rahasia, yang bermakna rahasia yang berada di hati, dan belum diucapkan. Atau اَلسِّرُّ ialah segala sesuatu yang terbetik di hati. Sedangkan أَخْفَى merupakan segala sesuatu yang belum muncul di benak. Allah تعالى Maha mengetahui segala sesuatu yang terbetik pada waktunya dan segala bentuknya. Maksudnya, ilmu Allah تعالى meliputi segala sesuatu, yang samar maupun yang jelas, yang ter-sembunyi ataupun yang terlihat, sama saja, baik engkau mengeras-kan suara atau melirihkannya. Semuanya menurut ilmu Allah تعالى sama saja.
(8) Sesudah menetapkan kesempurnaanNya yang mutlak dengan keumuman penciptaanNya, dan ketetapan perintah dan laranganNya yang umum (bagi semua makhluk), keumuman rahmatNya, besarnya keagunganNya, keberadaanNya yang tinggi di atas 'Arasy, luasnya wilayah kekuasaan dan ilmuNya, dapat diambil kesimpulan bahwa Dia-lah yang berhak untuk diibadahi, peribadahan kepadaNya ialah yang benar, yang sejalan oleh aturan syariat, nalar, dan fitrah. Sementara menyembah selainNya meru-pakan kebatilan. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "Dia-lah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Dia," maksudnya tidak ada sesembahan dan tuhan yang berhak disembah dengan penuh kecintaan dan menghinakan diri, rasa takut, pengharapan, mahabbah, inabah, dan doa kecuali Dia. ﴾ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ 8 ﴿ "Dia mempunyai Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)," Allah mempunyai nama-nama yang banyak yang sempurna lagi paling baik. Di antara sisi keindahannya, semua nama itu merupakan nama-nama yang menunjukkan pujian. Tidak ada nama yang tidak menunjukkan pujian dan sanjungan. Sebagian dari sisi keindahan-nya, bahwa nama-nama itu bukan sekedar nama-nama semata, akan tetapi nama-nama dan sekaligus (menunjukkan) sifat-sifat yang terkandung di dalamnya. Aspek keindahan lainnya, nama-nama itu menunjukkan sifat-sifat yang sempurna. Dan pada sifat-sifat itu bila dibandingkan dengan sifat lainnya menempati ting-katan yang paling sempurna, umum lagi agung. Aspek keelokannya, Allah memerintahkan para hambaNya untuk berdoa kepadaNya dengannya. Karena nama-nama itu termasuk (piranti) untuk ber-tawasul yang mendekatkan diri kepada Allah. Allah mencintainya (nama-nama itu), dan para pecintanya juga menyukainya dan menghafalnya. Dan Allah mencintai orang-orang yang mendalami makna-maknanya dan menghambakan diri kepada Allah dengan-nya. Allah berfirman, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ ﴿ "Hanya milik Allah-lah Asma` al-Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma` al-Husna tersebut." (Al-A'raf: 180).
Taha 20:6
"Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang men-ciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arasy. KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi. Dia-lah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Dia mempunyai al-Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)." (Thaha: 1-8).
Makkiyah
(1-2) ﴾ طه 1 ﴿ "Thaha," termasuk dalam kategori huruf-huruf abjad yang terputus untuk membuka sejumlah surat (dalam al-Qur`an), kata ini bukanlah nama bagi Nabi. ﴾ مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ 2 ﴿ "Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu men-jadi susah," maksudnya bukanlah tujuan adanya wahyu dan di-turunkannya al-Qur`an kepadamu serta penetapan syariat adalah agar engkau menjadi susah karenanya, sehingga dalam kandungan syariat terdapat pembebanan (taklif) yang memberatkan orang-orang mukallaf dan melemahkan kekuatan orang-orang yang meng-amalkan, akan tetapi ia merupakan wahyu dan al-Qur`an serta syariat yang disyariatkan oleh Dzat ar-Rahim ar-Rahman dan dijadi-kan sebagai jembatan pengantar menuju kebahagiaan, kesuksesan, dan kemenangan. Dia benar-benar menyederhanakannya dan me-mudahkan setiap pintu dan jalan-jalan aksesnya. Dia menjadikan-nya sebagai nutrisi bagi hati, jiwa, dan pencipta ketenangan bagi badan. Fitrah-fitrah yang normal dan akal-akal yang lurus me-nyambutnya dengan tulus dan ketundukan. Karena ia mengetahui muatan kebaikan yang berada di dalamnya di dunia dan akhirat.
(3) Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ 3 ﴿ "Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)," melain-kan supaya orang-orang yang takut kepada Allah تعالى mengingat-ingat (hakikat kehidupan) sedangkan dia pun mengerti kandungan-nya berupa himbauan untuk menggapai kebaikan-kebaikan lalu mengamalkannya, dan mengetahui peringatan dari kecelakaan dan kerugian sehingga dia pun menjauhkan diri darinya. Dengan al-Qur`an dia bisa mengenal hukum-hukum yang baik, yang ditetap-kan oleh syariat secara detail yang sisi keindahannya sudah mapan di akalnya secara global. Maka, penjabaran hukum-hukum sejalan dengan apa yang dijumpainya dalam fitrah dan akal sehatnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan al-Qur`an sebagai tadzkirah (pengingat). Sebagai pengingat sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Hanya saja pemiliknya melalaikannya, atau tidak mengingat-ingat pen-jelasannya. Allah mengkhususkan peringatan ini bagi orang-orang yang takut (khasyyah) kepadaNya, pasalnya selain mereka tidak mau memanfaatkannya. Bagaimana mungkin orang yang tidak beriman kepada surga dan neraka, serta tidak ada unsur ketakutan kepada Allah di hatinya sekecil biji sawi pun dapat memperoleh manfaat dengannya?! Ini tidak mungkin terjadi. ﴾ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ 10 وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى 11 ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ 12 ﴿ "Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)." (Al-A'la: 10-12).
(4) Selanjutnya, Allah menyebutkan kebesaran al-Qur`an yang agung ini. Ia merupakan wahyu yang diturunkan Pencipta bumi dan langit, yang mengatur semua makhluk. Maksudnya, teri-malah wahyu yang diturunkan ini dengan sikap ketundukan yang penuh, kecintaan, dan penerimaan yang total. Agungkanlah wahyu itu dengan sebaik-baiknya. Acapkali Allah menyatukan antara sifat al-Khalqu (penciptaan) dan al-Amru (penetapan syariat). Seba-gaimana tertuang di dalam ayat ini. Juga seperti dalam FirmanNya, ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah." (Al-A'raf: 54), juga dalam FirmanNya, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ ﴿ "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya." (Ath-Thalaq: 12). Demikian ini, karena Allah adalah Dzat yang menciptakan, yang menetapkan perintah dan larangan. Sebagaimana tidak ada pencipta selain Allah, maka tidak ada kewajiban, perintah, dan larangan yang harus dilaksanakan oleh makhluk kecuali dari Pen-cipta mereka. Begitu pula bahwa penciptaan yang Allah lakukan terhadap makhlukNya di dalamnya termasuk pengaturan takdir kauni (yang tidak berkaitan dengan mahabbah Allah dan mesti terjadi). Sedangkan penetapan perintah di dalamnya mengandung pengaturan takdir syar'i (yang berkaitan dengan mahabbah Allah, tapi tidak mesti terjadi). Sebagaimana penciptaan makhluk tidak akan terlepas dari hikmah, maka Allah tidak menciptakan mereka untuk tujuan yang mengada-ada, begitu pula, Allah tidak meme-rintahkan dan tidak melarang kecuali pasti dengan sebab yang mana ia merupakan sebuah keadilan, hikmah, dan kebaikan.
(5) Setelah Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Sang Pencipta, Pengatur, Pembuat perintah dan larangan, maka Dia memberitahukan mengenai keagungan dan kebesaranNya. Allah berfirman, ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "(Yaitu) Dzat Yang Maha Pemurah di atas 'Arasy," yang merupakan makhluk paling tinggi dan paling besar serta paling luas ﴾ ٱسۡتَوَىٰ 5 ﴿ "bersemayam," dalam bentuk istiwa' (bersemayam) yang sesuai dengan bentuk keagunganNya, dan sesuai dengan kebesaran dan keindahanNya. Dia bersemayam di atas 'Arasy dan menguasai kerajaan.
(6) ﴾ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا ﴿ "KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, dan semua yang di antara kedua-nya," berupa malaikat, manusia, jin, binatang, benda-benda mati, tanaman ﴾ وَمَا تَحۡتَ ٱلثَّرَىٰ 6 ﴿ "dan apa yang berada di bawah tanah," di bawah bumi, semuanya milik Allah تعالى, sebagai hamba yang diatur tunduk di bawah keputusan dan aturanNya. Tidak ada secuil pun hak kepemilikan bagi mereka. Mereka tidak mempunyai daya untuk menciptakan kebaikan, bahaya, kematian, kehidupan, dan kebangkitan bagi diri mereka sendiri.
(7) ﴾ وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ ﴿ "Dan jika kamu mengeraskan ucapan-mu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia," maksudnya perka-taan yang lirih ﴾ وَأَخۡفَى 7 ﴿ "dan yang tersembunyi," dari sesuatu yang rahasia, yang bermakna rahasia yang berada di hati, dan belum diucapkan. Atau اَلسِّرُّ ialah segala sesuatu yang terbetik di hati. Sedangkan أَخْفَى merupakan segala sesuatu yang belum muncul di benak. Allah تعالى Maha mengetahui segala sesuatu yang terbetik pada waktunya dan segala bentuknya. Maksudnya, ilmu Allah تعالى meliputi segala sesuatu, yang samar maupun yang jelas, yang ter-sembunyi ataupun yang terlihat, sama saja, baik engkau mengeras-kan suara atau melirihkannya. Semuanya menurut ilmu Allah تعالى sama saja.
(8) Sesudah menetapkan kesempurnaanNya yang mutlak dengan keumuman penciptaanNya, dan ketetapan perintah dan laranganNya yang umum (bagi semua makhluk), keumuman rahmatNya, besarnya keagunganNya, keberadaanNya yang tinggi di atas 'Arasy, luasnya wilayah kekuasaan dan ilmuNya, dapat diambil kesimpulan bahwa Dia-lah yang berhak untuk diibadahi, peribadahan kepadaNya ialah yang benar, yang sejalan oleh aturan syariat, nalar, dan fitrah. Sementara menyembah selainNya meru-pakan kebatilan. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "Dia-lah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Dia," maksudnya tidak ada sesembahan dan tuhan yang berhak disembah dengan penuh kecintaan dan menghinakan diri, rasa takut, pengharapan, mahabbah, inabah, dan doa kecuali Dia. ﴾ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ 8 ﴿ "Dia mempunyai Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)," Allah mempunyai nama-nama yang banyak yang sempurna lagi paling baik. Di antara sisi keindahannya, semua nama itu merupakan nama-nama yang menunjukkan pujian. Tidak ada nama yang tidak menunjukkan pujian dan sanjungan. Sebagian dari sisi keindahan-nya, bahwa nama-nama itu bukan sekedar nama-nama semata, akan tetapi nama-nama dan sekaligus (menunjukkan) sifat-sifat yang terkandung di dalamnya. Aspek keindahan lainnya, nama-nama itu menunjukkan sifat-sifat yang sempurna. Dan pada sifat-sifat itu bila dibandingkan dengan sifat lainnya menempati ting-katan yang paling sempurna, umum lagi agung. Aspek keelokannya, Allah memerintahkan para hambaNya untuk berdoa kepadaNya dengannya. Karena nama-nama itu termasuk (piranti) untuk ber-tawasul yang mendekatkan diri kepada Allah. Allah mencintainya (nama-nama itu), dan para pecintanya juga menyukainya dan menghafalnya. Dan Allah mencintai orang-orang yang mendalami makna-maknanya dan menghambakan diri kepada Allah dengan-nya. Allah berfirman, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ ﴿ "Hanya milik Allah-lah Asma` al-Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma` al-Husna tersebut." (Al-A'raf: 180).
Taha 20:7
"Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang men-ciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arasy. KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi. Dia-lah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Dia mempunyai al-Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)." (Thaha: 1-8).
Makkiyah
(1-2) ﴾ طه 1 ﴿ "Thaha," termasuk dalam kategori huruf-huruf abjad yang terputus untuk membuka sejumlah surat (dalam al-Qur`an), kata ini bukanlah nama bagi Nabi. ﴾ مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ 2 ﴿ "Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu men-jadi susah," maksudnya bukanlah tujuan adanya wahyu dan di-turunkannya al-Qur`an kepadamu serta penetapan syariat adalah agar engkau menjadi susah karenanya, sehingga dalam kandungan syariat terdapat pembebanan (taklif) yang memberatkan orang-orang mukallaf dan melemahkan kekuatan orang-orang yang meng-amalkan, akan tetapi ia merupakan wahyu dan al-Qur`an serta syariat yang disyariatkan oleh Dzat ar-Rahim ar-Rahman dan dijadi-kan sebagai jembatan pengantar menuju kebahagiaan, kesuksesan, dan kemenangan. Dia benar-benar menyederhanakannya dan me-mudahkan setiap pintu dan jalan-jalan aksesnya. Dia menjadikan-nya sebagai nutrisi bagi hati, jiwa, dan pencipta ketenangan bagi badan. Fitrah-fitrah yang normal dan akal-akal yang lurus me-nyambutnya dengan tulus dan ketundukan. Karena ia mengetahui muatan kebaikan yang berada di dalamnya di dunia dan akhirat.
(3) Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ 3 ﴿ "Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)," melain-kan supaya orang-orang yang takut kepada Allah تعالى mengingat-ingat (hakikat kehidupan) sedangkan dia pun mengerti kandungan-nya berupa himbauan untuk menggapai kebaikan-kebaikan lalu mengamalkannya, dan mengetahui peringatan dari kecelakaan dan kerugian sehingga dia pun menjauhkan diri darinya. Dengan al-Qur`an dia bisa mengenal hukum-hukum yang baik, yang ditetap-kan oleh syariat secara detail yang sisi keindahannya sudah mapan di akalnya secara global. Maka, penjabaran hukum-hukum sejalan dengan apa yang dijumpainya dalam fitrah dan akal sehatnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan al-Qur`an sebagai tadzkirah (pengingat). Sebagai pengingat sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Hanya saja pemiliknya melalaikannya, atau tidak mengingat-ingat pen-jelasannya. Allah mengkhususkan peringatan ini bagi orang-orang yang takut (khasyyah) kepadaNya, pasalnya selain mereka tidak mau memanfaatkannya. Bagaimana mungkin orang yang tidak beriman kepada surga dan neraka, serta tidak ada unsur ketakutan kepada Allah di hatinya sekecil biji sawi pun dapat memperoleh manfaat dengannya?! Ini tidak mungkin terjadi. ﴾ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ 10 وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى 11 ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ 12 ﴿ "Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)." (Al-A'la: 10-12).
(4) Selanjutnya, Allah menyebutkan kebesaran al-Qur`an yang agung ini. Ia merupakan wahyu yang diturunkan Pencipta bumi dan langit, yang mengatur semua makhluk. Maksudnya, teri-malah wahyu yang diturunkan ini dengan sikap ketundukan yang penuh, kecintaan, dan penerimaan yang total. Agungkanlah wahyu itu dengan sebaik-baiknya. Acapkali Allah menyatukan antara sifat al-Khalqu (penciptaan) dan al-Amru (penetapan syariat). Seba-gaimana tertuang di dalam ayat ini. Juga seperti dalam FirmanNya, ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah." (Al-A'raf: 54), juga dalam FirmanNya, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ ﴿ "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya." (Ath-Thalaq: 12). Demikian ini, karena Allah adalah Dzat yang menciptakan, yang menetapkan perintah dan larangan. Sebagaimana tidak ada pencipta selain Allah, maka tidak ada kewajiban, perintah, dan larangan yang harus dilaksanakan oleh makhluk kecuali dari Pen-cipta mereka. Begitu pula bahwa penciptaan yang Allah lakukan terhadap makhlukNya di dalamnya termasuk pengaturan takdir kauni (yang tidak berkaitan dengan mahabbah Allah dan mesti terjadi). Sedangkan penetapan perintah di dalamnya mengandung pengaturan takdir syar'i (yang berkaitan dengan mahabbah Allah, tapi tidak mesti terjadi). Sebagaimana penciptaan makhluk tidak akan terlepas dari hikmah, maka Allah tidak menciptakan mereka untuk tujuan yang mengada-ada, begitu pula, Allah tidak meme-rintahkan dan tidak melarang kecuali pasti dengan sebab yang mana ia merupakan sebuah keadilan, hikmah, dan kebaikan.
(5) Setelah Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Sang Pencipta, Pengatur, Pembuat perintah dan larangan, maka Dia memberitahukan mengenai keagungan dan kebesaranNya. Allah berfirman, ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "(Yaitu) Dzat Yang Maha Pemurah di atas 'Arasy," yang merupakan makhluk paling tinggi dan paling besar serta paling luas ﴾ ٱسۡتَوَىٰ 5 ﴿ "bersemayam," dalam bentuk istiwa' (bersemayam) yang sesuai dengan bentuk keagunganNya, dan sesuai dengan kebesaran dan keindahanNya. Dia bersemayam di atas 'Arasy dan menguasai kerajaan.
(6) ﴾ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا ﴿ "KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, dan semua yang di antara kedua-nya," berupa malaikat, manusia, jin, binatang, benda-benda mati, tanaman ﴾ وَمَا تَحۡتَ ٱلثَّرَىٰ 6 ﴿ "dan apa yang berada di bawah tanah," di bawah bumi, semuanya milik Allah تعالى, sebagai hamba yang diatur tunduk di bawah keputusan dan aturanNya. Tidak ada secuil pun hak kepemilikan bagi mereka. Mereka tidak mempunyai daya untuk menciptakan kebaikan, bahaya, kematian, kehidupan, dan kebangkitan bagi diri mereka sendiri.
(7) ﴾ وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ ﴿ "Dan jika kamu mengeraskan ucapan-mu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia," maksudnya perka-taan yang lirih ﴾ وَأَخۡفَى 7 ﴿ "dan yang tersembunyi," dari sesuatu yang rahasia, yang bermakna rahasia yang berada di hati, dan belum diucapkan. Atau اَلسِّرُّ ialah segala sesuatu yang terbetik di hati. Sedangkan أَخْفَى merupakan segala sesuatu yang belum muncul di benak. Allah تعالى Maha mengetahui segala sesuatu yang terbetik pada waktunya dan segala bentuknya. Maksudnya, ilmu Allah تعالى meliputi segala sesuatu, yang samar maupun yang jelas, yang ter-sembunyi ataupun yang terlihat, sama saja, baik engkau mengeras-kan suara atau melirihkannya. Semuanya menurut ilmu Allah تعالى sama saja.
(8) Sesudah menetapkan kesempurnaanNya yang mutlak dengan keumuman penciptaanNya, dan ketetapan perintah dan laranganNya yang umum (bagi semua makhluk), keumuman rahmatNya, besarnya keagunganNya, keberadaanNya yang tinggi di atas 'Arasy, luasnya wilayah kekuasaan dan ilmuNya, dapat diambil kesimpulan bahwa Dia-lah yang berhak untuk diibadahi, peribadahan kepadaNya ialah yang benar, yang sejalan oleh aturan syariat, nalar, dan fitrah. Sementara menyembah selainNya meru-pakan kebatilan. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "Dia-lah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Dia," maksudnya tidak ada sesembahan dan tuhan yang berhak disembah dengan penuh kecintaan dan menghinakan diri, rasa takut, pengharapan, mahabbah, inabah, dan doa kecuali Dia. ﴾ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ 8 ﴿ "Dia mempunyai Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)," Allah mempunyai nama-nama yang banyak yang sempurna lagi paling baik. Di antara sisi keindahannya, semua nama itu merupakan nama-nama yang menunjukkan pujian. Tidak ada nama yang tidak menunjukkan pujian dan sanjungan. Sebagian dari sisi keindahan-nya, bahwa nama-nama itu bukan sekedar nama-nama semata, akan tetapi nama-nama dan sekaligus (menunjukkan) sifat-sifat yang terkandung di dalamnya. Aspek keindahan lainnya, nama-nama itu menunjukkan sifat-sifat yang sempurna. Dan pada sifat-sifat itu bila dibandingkan dengan sifat lainnya menempati ting-katan yang paling sempurna, umum lagi agung. Aspek keelokannya, Allah memerintahkan para hambaNya untuk berdoa kepadaNya dengannya. Karena nama-nama itu termasuk (piranti) untuk ber-tawasul yang mendekatkan diri kepada Allah. Allah mencintainya (nama-nama itu), dan para pecintanya juga menyukainya dan menghafalnya. Dan Allah mencintai orang-orang yang mendalami makna-maknanya dan menghambakan diri kepada Allah dengan-nya. Allah berfirman, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ ﴿ "Hanya milik Allah-lah Asma` al-Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma` al-Husna tersebut." (Al-A'raf: 180).
Taha 20:8
"Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang men-ciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arasy. KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi. Dia-lah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Dia mempunyai al-Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)." (Thaha: 1-8).
Makkiyah
(1-2) ﴾ طه 1 ﴿ "Thaha," termasuk dalam kategori huruf-huruf abjad yang terputus untuk membuka sejumlah surat (dalam al-Qur`an), kata ini bukanlah nama bagi Nabi. ﴾ مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ 2 ﴿ "Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu men-jadi susah," maksudnya bukanlah tujuan adanya wahyu dan di-turunkannya al-Qur`an kepadamu serta penetapan syariat adalah agar engkau menjadi susah karenanya, sehingga dalam kandungan syariat terdapat pembebanan (taklif) yang memberatkan orang-orang mukallaf dan melemahkan kekuatan orang-orang yang meng-amalkan, akan tetapi ia merupakan wahyu dan al-Qur`an serta syariat yang disyariatkan oleh Dzat ar-Rahim ar-Rahman dan dijadi-kan sebagai jembatan pengantar menuju kebahagiaan, kesuksesan, dan kemenangan. Dia benar-benar menyederhanakannya dan me-mudahkan setiap pintu dan jalan-jalan aksesnya. Dia menjadikan-nya sebagai nutrisi bagi hati, jiwa, dan pencipta ketenangan bagi badan. Fitrah-fitrah yang normal dan akal-akal yang lurus me-nyambutnya dengan tulus dan ketundukan. Karena ia mengetahui muatan kebaikan yang berada di dalamnya di dunia dan akhirat.
(3) Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ 3 ﴿ "Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)," melain-kan supaya orang-orang yang takut kepada Allah تعالى mengingat-ingat (hakikat kehidupan) sedangkan dia pun mengerti kandungan-nya berupa himbauan untuk menggapai kebaikan-kebaikan lalu mengamalkannya, dan mengetahui peringatan dari kecelakaan dan kerugian sehingga dia pun menjauhkan diri darinya. Dengan al-Qur`an dia bisa mengenal hukum-hukum yang baik, yang ditetap-kan oleh syariat secara detail yang sisi keindahannya sudah mapan di akalnya secara global. Maka, penjabaran hukum-hukum sejalan dengan apa yang dijumpainya dalam fitrah dan akal sehatnya. Oleh sebab itu, Allah menamakan al-Qur`an sebagai tadzkirah (pengingat). Sebagai pengingat sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Hanya saja pemiliknya melalaikannya, atau tidak mengingat-ingat pen-jelasannya. Allah mengkhususkan peringatan ini bagi orang-orang yang takut (khasyyah) kepadaNya, pasalnya selain mereka tidak mau memanfaatkannya. Bagaimana mungkin orang yang tidak beriman kepada surga dan neraka, serta tidak ada unsur ketakutan kepada Allah di hatinya sekecil biji sawi pun dapat memperoleh manfaat dengannya?! Ini tidak mungkin terjadi. ﴾ سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ 10 وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى 11 ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ 12 ﴿ "Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)." (Al-A'la: 10-12).
(4) Selanjutnya, Allah menyebutkan kebesaran al-Qur`an yang agung ini. Ia merupakan wahyu yang diturunkan Pencipta bumi dan langit, yang mengatur semua makhluk. Maksudnya, teri-malah wahyu yang diturunkan ini dengan sikap ketundukan yang penuh, kecintaan, dan penerimaan yang total. Agungkanlah wahyu itu dengan sebaik-baiknya. Acapkali Allah menyatukan antara sifat al-Khalqu (penciptaan) dan al-Amru (penetapan syariat). Seba-gaimana tertuang di dalam ayat ini. Juga seperti dalam FirmanNya, ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah." (Al-A'raf: 54), juga dalam FirmanNya, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ ﴿ "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya." (Ath-Thalaq: 12). Demikian ini, karena Allah adalah Dzat yang menciptakan, yang menetapkan perintah dan larangan. Sebagaimana tidak ada pencipta selain Allah, maka tidak ada kewajiban, perintah, dan larangan yang harus dilaksanakan oleh makhluk kecuali dari Pen-cipta mereka. Begitu pula bahwa penciptaan yang Allah lakukan terhadap makhlukNya di dalamnya termasuk pengaturan takdir kauni (yang tidak berkaitan dengan mahabbah Allah dan mesti terjadi). Sedangkan penetapan perintah di dalamnya mengandung pengaturan takdir syar'i (yang berkaitan dengan mahabbah Allah, tapi tidak mesti terjadi). Sebagaimana penciptaan makhluk tidak akan terlepas dari hikmah, maka Allah tidak menciptakan mereka untuk tujuan yang mengada-ada, begitu pula, Allah tidak meme-rintahkan dan tidak melarang kecuali pasti dengan sebab yang mana ia merupakan sebuah keadilan, hikmah, dan kebaikan.
(5) Setelah Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Sang Pencipta, Pengatur, Pembuat perintah dan larangan, maka Dia memberitahukan mengenai keagungan dan kebesaranNya. Allah berfirman, ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "(Yaitu) Dzat Yang Maha Pemurah di atas 'Arasy," yang merupakan makhluk paling tinggi dan paling besar serta paling luas ﴾ ٱسۡتَوَىٰ 5 ﴿ "bersemayam," dalam bentuk istiwa' (bersemayam) yang sesuai dengan bentuk keagunganNya, dan sesuai dengan kebesaran dan keindahanNya. Dia bersemayam di atas 'Arasy dan menguasai kerajaan.
(6) ﴾ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا ﴿ "KepunyaanNya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, dan semua yang di antara kedua-nya," berupa malaikat, manusia, jin, binatang, benda-benda mati, tanaman ﴾ وَمَا تَحۡتَ ٱلثَّرَىٰ 6 ﴿ "dan apa yang berada di bawah tanah," di bawah bumi, semuanya milik Allah تعالى, sebagai hamba yang diatur tunduk di bawah keputusan dan aturanNya. Tidak ada secuil pun hak kepemilikan bagi mereka. Mereka tidak mempunyai daya untuk menciptakan kebaikan, bahaya, kematian, kehidupan, dan kebangkitan bagi diri mereka sendiri.
(7) ﴾ وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ ﴿ "Dan jika kamu mengeraskan ucapan-mu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia," maksudnya perka-taan yang lirih ﴾ وَأَخۡفَى 7 ﴿ "dan yang tersembunyi," dari sesuatu yang rahasia, yang bermakna rahasia yang berada di hati, dan belum diucapkan. Atau اَلسِّرُّ ialah segala sesuatu yang terbetik di hati. Sedangkan أَخْفَى merupakan segala sesuatu yang belum muncul di benak. Allah تعالى Maha mengetahui segala sesuatu yang terbetik pada waktunya dan segala bentuknya. Maksudnya, ilmu Allah تعالى meliputi segala sesuatu, yang samar maupun yang jelas, yang ter-sembunyi ataupun yang terlihat, sama saja, baik engkau mengeras-kan suara atau melirihkannya. Semuanya menurut ilmu Allah تعالى sama saja.
(8) Sesudah menetapkan kesempurnaanNya yang mutlak dengan keumuman penciptaanNya, dan ketetapan perintah dan laranganNya yang umum (bagi semua makhluk), keumuman rahmatNya, besarnya keagunganNya, keberadaanNya yang tinggi di atas 'Arasy, luasnya wilayah kekuasaan dan ilmuNya, dapat diambil kesimpulan bahwa Dia-lah yang berhak untuk diibadahi, peribadahan kepadaNya ialah yang benar, yang sejalan oleh aturan syariat, nalar, dan fitrah. Sementara menyembah selainNya meru-pakan kebatilan. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "Dia-lah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Dia," maksudnya tidak ada sesembahan dan tuhan yang berhak disembah dengan penuh kecintaan dan menghinakan diri, rasa takut, pengharapan, mahabbah, inabah, dan doa kecuali Dia. ﴾ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ 8 ﴿ "Dia mempunyai Asma` al-Husna (nama-nama yang paling baik)," Allah mempunyai nama-nama yang banyak yang sempurna lagi paling baik. Di antara sisi keindahannya, semua nama itu merupakan nama-nama yang menunjukkan pujian. Tidak ada nama yang tidak menunjukkan pujian dan sanjungan. Sebagian dari sisi keindahan-nya, bahwa nama-nama itu bukan sekedar nama-nama semata, akan tetapi nama-nama dan sekaligus (menunjukkan) sifat-sifat yang terkandung di dalamnya. Aspek keindahan lainnya, nama-nama itu menunjukkan sifat-sifat yang sempurna. Dan pada sifat-sifat itu bila dibandingkan dengan sifat lainnya menempati ting-katan yang paling sempurna, umum lagi agung. Aspek keelokannya, Allah memerintahkan para hambaNya untuk berdoa kepadaNya dengannya. Karena nama-nama itu termasuk (piranti) untuk ber-tawasul yang mendekatkan diri kepada Allah. Allah mencintainya (nama-nama itu), dan para pecintanya juga menyukainya dan menghafalnya. Dan Allah mencintai orang-orang yang mendalami makna-maknanya dan menghambakan diri kepada Allah dengan-nya. Allah berfirman, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ ﴿ "Hanya milik Allah-lah Asma` al-Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma` al-Husna tersebut." (Al-A'raf: 180).
Taha 20:9
"Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika dia melihat api, lalu berkatalah dia kepada keluarganya, 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.' Maka ketika dia datang ke tempat api itu dia dipanggil, 'Hai Musa, sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) kecuali Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang, (hampir saja) Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan." (Thaha: 9-15).
(9-10) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad da-lam bentuk pertanyaan yang bersifat penetapan dan pengagungan serta membesarkan kisah ini ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ 9 ﴿ "Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?" Mengenai keadaannya yang meru-pakan pangkal kebahagiaan dan tempat penetapan kenabiannya, beliau melihat api dari kejauhan. Sebelumnya beliau pernah tersesat dalam perjalanannya, kemudian didera oleh hawa dingin, tanpa memiliki sesuatu pun yang dapat menghangatkan tubuhnya dalam perjalanan. Maka beliau berkata kepada istrinya, ﴾ إِنِّيٓ ءَانَسۡتُ ﴿ "Sesung-guhnya aku melihat," aku menyaksikan ﴾ نَارٗا ﴿ "api." Peristiwa ini ter-jadi di bagian kanan gunung Thur. ﴾ لَّعَلِّيٓ ءَاتِيكُم مِّنۡهَا بِقَبَسٍ ﴿ "Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu," untuk menghangatkan diri dengannya ﴾ أَوۡ أَجِدُ عَلَى ٱلنَّارِ هُدٗى 10 ﴿ "atau aku akan mendapat petun-juk di tempat api itu," maksudnya orang yang menunjukkan jalan kepada kita. Yang beliau cari adalah cahaya yang bersifat inderawi dan petunjuk biasa. Akan tetapi, beliau menjumpai cahaya makna-wi, cahaya wahyu yang akan membuat jiwa-jiwa dan hati bersinar karenanya, serta hidayah yang sejati. Yaitu petunjuk menuju shirath al-Mustaqim yang mengantarkan ke Surga Na'im. Terjadilah peris-tiwa yang tidak pernah beliau perhitungkan dan tak pernah terbetik di benak beliau.
(11) ﴾ فَلَمَّآ أَتَىٰهَا ﴿ "Maka ketika dia datang ke tempat itu," yaitu api yang beliau saksikan dari kejauhan. Sebenarnya, api itu berupa cahaya, ia dapat membakar dan tersulut. Indikasinya adalah sabda Nabi, حِجَابُهُ النُّوْرُ أَوِ النَّارُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ [مِنْ خَلْقِهِ]. "PenutupNya adalah cahaya atau api. Seandainya Allah menyibak-nya, niscaya pancaran WajahNya akan membakar apa saja [dari makhluk-nya] sampai sejauh jarak pandanganNya."[30] Sesampainya di sana, beliau dipanggil. Maksudnya, Allah memanggilnya. Sebagaimana FirmanNya, ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ ٱلۡأَيۡمَنِ وَقَرَّبۡنَٰهُ نَجِيّٗا 52 ﴿ "Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur, dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia bermunajat." (Maryam: 52).
(12) ﴾ إِنِّيٓ أَنَا۠ رَبُّكَ فَٱخۡلَعۡ نَعۡلَيۡكَ إِنَّكَ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوٗى 12 ﴿ "Sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa." Allah mengabarkan kepada beliau bahwa Dia adalah Rabbnya, dan memerintahkan beliau untuk bersiap sedia melakukan munajat kepadaNya dan memperhatikannya. Beliau melepaskan dua sandalnya, karena berada di lembah yang disucikan, bersih lagi diagungkan. Sean-dainya tidak ada (petunjuk) tentang (keharusan) menyucikan lembah itu kecuali (petunjuk) bahwa Allah memilihnya untuk tempat bermunajat dengan Musa, KalimNya, maka sudahlah cukup (sebagai tanda kesuciannya). Banyak ahli tafsir mengatakan, "Sesungguhnya Allah memerintahkan beliau untuk melepaskan dua sandalnya. Karena keduanya terbuat dari kulit keledai."[31] Wal-lahu a'lam.
(13) ﴾ وَأَنَا ٱخۡتَرۡتُكَ ﴿ "Dan Aku telah memilihmu," maksudnya Aku telah memilih dan menyeleksimu dari orang-orang. Ini merupakan kenikmatan dan karunia paling besar yang Allah curahkan kepada-nya, yang menuntut untuk disyukuri dengan semestinya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱسۡتَمِعۡ لِمَا يُوحَىٰٓ 13 ﴿ "Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)," maksudnya, arahkan pende-ngaranmu kepada wahyu yang disampaikan kepadamu. Sesung-guhnya sikap itu sudah sepantasnya. Sebab, ia merupakan prinsip agama dan landasannya, serta tiang dakwah Islamiyah.
(14) Kemudian Allah menjelaskan wahyu yang disampai-kan kepadanya dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ ﴿ "Sesungguh-nya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Aku," maksudnya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi, dan Dzat yang melekat padaNya sifat tersebut. Sebab, Dia yang Mahasempurna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, Esa dengan perbuatan-perbuatanNya, tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada bandingan, padanan, dan dzat yang sama denganNya. ﴾ فَٱعۡبُدۡنِي ﴿ "Maka sembahlah Aku," dalam segala macam ibadah, yang zahir maupun yang batin, ibadah yang prinsip ataupun yang bersifat sekunder. Selanjutnya, Allah menyebutkan shalat secara khusus, meskipun sudah termasuk dalam bingkai ibadah, karena ke-utamaan dan kemuliaannya serta muatannya yang mengandung penghambaan hati, lisan dan anggota tubuh lainnya. Firman Allah, ﴾ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ 14 ﴿ "Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu," huruf lam berfungsi sebagai ta'lil (penyebutan sebab). Maksudnya, tegakkanlah shalat untuk tujuan mengingat-Ku. Sebab mengingat nama Allah merupakan tujuan yang paling agung. Dengan itulah hati menghambakan diri kepada Allah. De-ngan itu pula, kebahagiaan tergapai. Hati yang kosong dari dzikir kepada Allah, niscaya akan menjadi kosong dari segala kebaikan. Ia benar-benar telah mengalami kerusakan yang parah, maka Allah menggariskan berbagai macam ibadah yang ditujukan untuk meng-ingatNya, terutama pada shalat. Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ ﴿ "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur`an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain)." (Al-Ankabut: 45), maksudnya, kandungannya berupa dzikrullah lebih besar daripada (fungsinya) mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran. Jenis ini, disebut tauhid ilahiyah (uluhiyah) dan tauhid ibadah. Uluhiyah (hak disembah) merupakan sifat Allah تعالى. Sementara ubudiyah (menghambakan diri) merupakan sifat makhlukNya.
(15) ﴾ إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ ﴿ "Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang," maksudnya pasti terjadi ﴾ أَكَادُ أُخۡفِيهَا ﴿ "(hampir saja) Aku merahasiakan (waktu)nya," yaitu dari diriKu Sendiri, sebagaimana termaktub pada salah satu versi qira`ah. Seperti Firman Allah, ﴾ يَسۡـَٔلُكَ ٱلنَّاسُ عَنِ ٱلسَّاعَةِۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah'." (Al-Ahzab: 63). Allah تعالى berfirman, ﴾ وَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ ﴿ "Dan di sisiNya-lah pengetahuan tentang Hari Kiamat." (Az- Zukhruf: 85). Pengetahuan mengenai waktu terjadinya sudah Allah sembu-nyikan dari para makhluk semuanya. Malaikat yang dekat dengan Allah dan nabi yang diutus pun tidak mengetahuinya. Hikmah di-hadirkannya Hari Kiamat ﴾ لِتُجۡزَىٰ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا تَسۡعَىٰ ﴿ "supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan," yang baik ataupun yang buruk. Hari Kiamat adalah pintu menuju akhirat, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى 31 ﴿ "Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap amal yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (An-Najm: 31).
Taha 20:10
"Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika dia melihat api, lalu berkatalah dia kepada keluarganya, 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.' Maka ketika dia datang ke tempat api itu dia dipanggil, 'Hai Musa, sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) kecuali Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang, (hampir saja) Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan." (Thaha: 9-15).
(9-10) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad da-lam bentuk pertanyaan yang bersifat penetapan dan pengagungan serta membesarkan kisah ini ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ 9 ﴿ "Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?" Mengenai keadaannya yang meru-pakan pangkal kebahagiaan dan tempat penetapan kenabiannya, beliau melihat api dari kejauhan. Sebelumnya beliau pernah tersesat dalam perjalanannya, kemudian didera oleh hawa dingin, tanpa memiliki sesuatu pun yang dapat menghangatkan tubuhnya dalam perjalanan. Maka beliau berkata kepada istrinya, ﴾ إِنِّيٓ ءَانَسۡتُ ﴿ "Sesung-guhnya aku melihat," aku menyaksikan ﴾ نَارٗا ﴿ "api." Peristiwa ini ter-jadi di bagian kanan gunung Thur. ﴾ لَّعَلِّيٓ ءَاتِيكُم مِّنۡهَا بِقَبَسٍ ﴿ "Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu," untuk menghangatkan diri dengannya ﴾ أَوۡ أَجِدُ عَلَى ٱلنَّارِ هُدٗى 10 ﴿ "atau aku akan mendapat petun-juk di tempat api itu," maksudnya orang yang menunjukkan jalan kepada kita. Yang beliau cari adalah cahaya yang bersifat inderawi dan petunjuk biasa. Akan tetapi, beliau menjumpai cahaya makna-wi, cahaya wahyu yang akan membuat jiwa-jiwa dan hati bersinar karenanya, serta hidayah yang sejati. Yaitu petunjuk menuju shirath al-Mustaqim yang mengantarkan ke Surga Na'im. Terjadilah peris-tiwa yang tidak pernah beliau perhitungkan dan tak pernah terbetik di benak beliau.
(11) ﴾ فَلَمَّآ أَتَىٰهَا ﴿ "Maka ketika dia datang ke tempat itu," yaitu api yang beliau saksikan dari kejauhan. Sebenarnya, api itu berupa cahaya, ia dapat membakar dan tersulut. Indikasinya adalah sabda Nabi, حِجَابُهُ النُّوْرُ أَوِ النَّارُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ [مِنْ خَلْقِهِ]. "PenutupNya adalah cahaya atau api. Seandainya Allah menyibak-nya, niscaya pancaran WajahNya akan membakar apa saja [dari makhluk-nya] sampai sejauh jarak pandanganNya."[30] Sesampainya di sana, beliau dipanggil. Maksudnya, Allah memanggilnya. Sebagaimana FirmanNya, ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ ٱلۡأَيۡمَنِ وَقَرَّبۡنَٰهُ نَجِيّٗا 52 ﴿ "Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur, dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia bermunajat." (Maryam: 52).
(12) ﴾ إِنِّيٓ أَنَا۠ رَبُّكَ فَٱخۡلَعۡ نَعۡلَيۡكَ إِنَّكَ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوٗى 12 ﴿ "Sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa." Allah mengabarkan kepada beliau bahwa Dia adalah Rabbnya, dan memerintahkan beliau untuk bersiap sedia melakukan munajat kepadaNya dan memperhatikannya. Beliau melepaskan dua sandalnya, karena berada di lembah yang disucikan, bersih lagi diagungkan. Sean-dainya tidak ada (petunjuk) tentang (keharusan) menyucikan lembah itu kecuali (petunjuk) bahwa Allah memilihnya untuk tempat bermunajat dengan Musa, KalimNya, maka sudahlah cukup (sebagai tanda kesuciannya). Banyak ahli tafsir mengatakan, "Sesungguhnya Allah memerintahkan beliau untuk melepaskan dua sandalnya. Karena keduanya terbuat dari kulit keledai."[31] Wal-lahu a'lam.
(13) ﴾ وَأَنَا ٱخۡتَرۡتُكَ ﴿ "Dan Aku telah memilihmu," maksudnya Aku telah memilih dan menyeleksimu dari orang-orang. Ini merupakan kenikmatan dan karunia paling besar yang Allah curahkan kepada-nya, yang menuntut untuk disyukuri dengan semestinya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱسۡتَمِعۡ لِمَا يُوحَىٰٓ 13 ﴿ "Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)," maksudnya, arahkan pende-ngaranmu kepada wahyu yang disampaikan kepadamu. Sesung-guhnya sikap itu sudah sepantasnya. Sebab, ia merupakan prinsip agama dan landasannya, serta tiang dakwah Islamiyah.
(14) Kemudian Allah menjelaskan wahyu yang disampai-kan kepadanya dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ ﴿ "Sesungguh-nya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Aku," maksudnya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi, dan Dzat yang melekat padaNya sifat tersebut. Sebab, Dia yang Mahasempurna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, Esa dengan perbuatan-perbuatanNya, tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada bandingan, padanan, dan dzat yang sama denganNya. ﴾ فَٱعۡبُدۡنِي ﴿ "Maka sembahlah Aku," dalam segala macam ibadah, yang zahir maupun yang batin, ibadah yang prinsip ataupun yang bersifat sekunder. Selanjutnya, Allah menyebutkan shalat secara khusus, meskipun sudah termasuk dalam bingkai ibadah, karena ke-utamaan dan kemuliaannya serta muatannya yang mengandung penghambaan hati, lisan dan anggota tubuh lainnya. Firman Allah, ﴾ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ 14 ﴿ "Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu," huruf lam berfungsi sebagai ta'lil (penyebutan sebab). Maksudnya, tegakkanlah shalat untuk tujuan mengingat-Ku. Sebab mengingat nama Allah merupakan tujuan yang paling agung. Dengan itulah hati menghambakan diri kepada Allah. De-ngan itu pula, kebahagiaan tergapai. Hati yang kosong dari dzikir kepada Allah, niscaya akan menjadi kosong dari segala kebaikan. Ia benar-benar telah mengalami kerusakan yang parah, maka Allah menggariskan berbagai macam ibadah yang ditujukan untuk meng-ingatNya, terutama pada shalat. Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ ﴿ "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur`an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain)." (Al-Ankabut: 45), maksudnya, kandungannya berupa dzikrullah lebih besar daripada (fungsinya) mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran. Jenis ini, disebut tauhid ilahiyah (uluhiyah) dan tauhid ibadah. Uluhiyah (hak disembah) merupakan sifat Allah تعالى. Sementara ubudiyah (menghambakan diri) merupakan sifat makhlukNya.
(15) ﴾ إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ ﴿ "Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang," maksudnya pasti terjadi ﴾ أَكَادُ أُخۡفِيهَا ﴿ "(hampir saja) Aku merahasiakan (waktu)nya," yaitu dari diriKu Sendiri, sebagaimana termaktub pada salah satu versi qira`ah. Seperti Firman Allah, ﴾ يَسۡـَٔلُكَ ٱلنَّاسُ عَنِ ٱلسَّاعَةِۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah'." (Al-Ahzab: 63). Allah تعالى berfirman, ﴾ وَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ ﴿ "Dan di sisiNya-lah pengetahuan tentang Hari Kiamat." (Az- Zukhruf: 85). Pengetahuan mengenai waktu terjadinya sudah Allah sembu-nyikan dari para makhluk semuanya. Malaikat yang dekat dengan Allah dan nabi yang diutus pun tidak mengetahuinya. Hikmah di-hadirkannya Hari Kiamat ﴾ لِتُجۡزَىٰ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا تَسۡعَىٰ ﴿ "supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan," yang baik ataupun yang buruk. Hari Kiamat adalah pintu menuju akhirat, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى 31 ﴿ "Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap amal yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (An-Najm: 31).
Taha 20:11
"Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika dia melihat api, lalu berkatalah dia kepada keluarganya, 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.' Maka ketika dia datang ke tempat api itu dia dipanggil, 'Hai Musa, sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) kecuali Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang, (hampir saja) Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan." (Thaha: 9-15).
(9-10) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad da-lam bentuk pertanyaan yang bersifat penetapan dan pengagungan serta membesarkan kisah ini ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ 9 ﴿ "Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?" Mengenai keadaannya yang meru-pakan pangkal kebahagiaan dan tempat penetapan kenabiannya, beliau melihat api dari kejauhan. Sebelumnya beliau pernah tersesat dalam perjalanannya, kemudian didera oleh hawa dingin, tanpa memiliki sesuatu pun yang dapat menghangatkan tubuhnya dalam perjalanan. Maka beliau berkata kepada istrinya, ﴾ إِنِّيٓ ءَانَسۡتُ ﴿ "Sesung-guhnya aku melihat," aku menyaksikan ﴾ نَارٗا ﴿ "api." Peristiwa ini ter-jadi di bagian kanan gunung Thur. ﴾ لَّعَلِّيٓ ءَاتِيكُم مِّنۡهَا بِقَبَسٍ ﴿ "Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu," untuk menghangatkan diri dengannya ﴾ أَوۡ أَجِدُ عَلَى ٱلنَّارِ هُدٗى 10 ﴿ "atau aku akan mendapat petun-juk di tempat api itu," maksudnya orang yang menunjukkan jalan kepada kita. Yang beliau cari adalah cahaya yang bersifat inderawi dan petunjuk biasa. Akan tetapi, beliau menjumpai cahaya makna-wi, cahaya wahyu yang akan membuat jiwa-jiwa dan hati bersinar karenanya, serta hidayah yang sejati. Yaitu petunjuk menuju shirath al-Mustaqim yang mengantarkan ke Surga Na'im. Terjadilah peris-tiwa yang tidak pernah beliau perhitungkan dan tak pernah terbetik di benak beliau.
(11) ﴾ فَلَمَّآ أَتَىٰهَا ﴿ "Maka ketika dia datang ke tempat itu," yaitu api yang beliau saksikan dari kejauhan. Sebenarnya, api itu berupa cahaya, ia dapat membakar dan tersulut. Indikasinya adalah sabda Nabi, حِجَابُهُ النُّوْرُ أَوِ النَّارُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ [مِنْ خَلْقِهِ]. "PenutupNya adalah cahaya atau api. Seandainya Allah menyibak-nya, niscaya pancaran WajahNya akan membakar apa saja [dari makhluk-nya] sampai sejauh jarak pandanganNya."[30] Sesampainya di sana, beliau dipanggil. Maksudnya, Allah memanggilnya. Sebagaimana FirmanNya, ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ ٱلۡأَيۡمَنِ وَقَرَّبۡنَٰهُ نَجِيّٗا 52 ﴿ "Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur, dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia bermunajat." (Maryam: 52).
(12) ﴾ إِنِّيٓ أَنَا۠ رَبُّكَ فَٱخۡلَعۡ نَعۡلَيۡكَ إِنَّكَ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوٗى 12 ﴿ "Sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa." Allah mengabarkan kepada beliau bahwa Dia adalah Rabbnya, dan memerintahkan beliau untuk bersiap sedia melakukan munajat kepadaNya dan memperhatikannya. Beliau melepaskan dua sandalnya, karena berada di lembah yang disucikan, bersih lagi diagungkan. Sean-dainya tidak ada (petunjuk) tentang (keharusan) menyucikan lembah itu kecuali (petunjuk) bahwa Allah memilihnya untuk tempat bermunajat dengan Musa, KalimNya, maka sudahlah cukup (sebagai tanda kesuciannya). Banyak ahli tafsir mengatakan, "Sesungguhnya Allah memerintahkan beliau untuk melepaskan dua sandalnya. Karena keduanya terbuat dari kulit keledai."[31] Wal-lahu a'lam.
(13) ﴾ وَأَنَا ٱخۡتَرۡتُكَ ﴿ "Dan Aku telah memilihmu," maksudnya Aku telah memilih dan menyeleksimu dari orang-orang. Ini merupakan kenikmatan dan karunia paling besar yang Allah curahkan kepada-nya, yang menuntut untuk disyukuri dengan semestinya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱسۡتَمِعۡ لِمَا يُوحَىٰٓ 13 ﴿ "Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)," maksudnya, arahkan pende-ngaranmu kepada wahyu yang disampaikan kepadamu. Sesung-guhnya sikap itu sudah sepantasnya. Sebab, ia merupakan prinsip agama dan landasannya, serta tiang dakwah Islamiyah.
(14) Kemudian Allah menjelaskan wahyu yang disampai-kan kepadanya dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ ﴿ "Sesungguh-nya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Aku," maksudnya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi, dan Dzat yang melekat padaNya sifat tersebut. Sebab, Dia yang Mahasempurna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, Esa dengan perbuatan-perbuatanNya, tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada bandingan, padanan, dan dzat yang sama denganNya. ﴾ فَٱعۡبُدۡنِي ﴿ "Maka sembahlah Aku," dalam segala macam ibadah, yang zahir maupun yang batin, ibadah yang prinsip ataupun yang bersifat sekunder. Selanjutnya, Allah menyebutkan shalat secara khusus, meskipun sudah termasuk dalam bingkai ibadah, karena ke-utamaan dan kemuliaannya serta muatannya yang mengandung penghambaan hati, lisan dan anggota tubuh lainnya. Firman Allah, ﴾ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ 14 ﴿ "Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu," huruf lam berfungsi sebagai ta'lil (penyebutan sebab). Maksudnya, tegakkanlah shalat untuk tujuan mengingat-Ku. Sebab mengingat nama Allah merupakan tujuan yang paling agung. Dengan itulah hati menghambakan diri kepada Allah. De-ngan itu pula, kebahagiaan tergapai. Hati yang kosong dari dzikir kepada Allah, niscaya akan menjadi kosong dari segala kebaikan. Ia benar-benar telah mengalami kerusakan yang parah, maka Allah menggariskan berbagai macam ibadah yang ditujukan untuk meng-ingatNya, terutama pada shalat. Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ ﴿ "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur`an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain)." (Al-Ankabut: 45), maksudnya, kandungannya berupa dzikrullah lebih besar daripada (fungsinya) mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran. Jenis ini, disebut tauhid ilahiyah (uluhiyah) dan tauhid ibadah. Uluhiyah (hak disembah) merupakan sifat Allah تعالى. Sementara ubudiyah (menghambakan diri) merupakan sifat makhlukNya.
(15) ﴾ إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ ﴿ "Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang," maksudnya pasti terjadi ﴾ أَكَادُ أُخۡفِيهَا ﴿ "(hampir saja) Aku merahasiakan (waktu)nya," yaitu dari diriKu Sendiri, sebagaimana termaktub pada salah satu versi qira`ah. Seperti Firman Allah, ﴾ يَسۡـَٔلُكَ ٱلنَّاسُ عَنِ ٱلسَّاعَةِۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah'." (Al-Ahzab: 63). Allah تعالى berfirman, ﴾ وَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ ﴿ "Dan di sisiNya-lah pengetahuan tentang Hari Kiamat." (Az- Zukhruf: 85). Pengetahuan mengenai waktu terjadinya sudah Allah sembu-nyikan dari para makhluk semuanya. Malaikat yang dekat dengan Allah dan nabi yang diutus pun tidak mengetahuinya. Hikmah di-hadirkannya Hari Kiamat ﴾ لِتُجۡزَىٰ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا تَسۡعَىٰ ﴿ "supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan," yang baik ataupun yang buruk. Hari Kiamat adalah pintu menuju akhirat, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى 31 ﴿ "Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap amal yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (An-Najm: 31).
Taha 20:12
"Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika dia melihat api, lalu berkatalah dia kepada keluarganya, 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.' Maka ketika dia datang ke tempat api itu dia dipanggil, 'Hai Musa, sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) kecuali Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang, (hampir saja) Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan." (Thaha: 9-15).
(9-10) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad da-lam bentuk pertanyaan yang bersifat penetapan dan pengagungan serta membesarkan kisah ini ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ 9 ﴿ "Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?" Mengenai keadaannya yang meru-pakan pangkal kebahagiaan dan tempat penetapan kenabiannya, beliau melihat api dari kejauhan. Sebelumnya beliau pernah tersesat dalam perjalanannya, kemudian didera oleh hawa dingin, tanpa memiliki sesuatu pun yang dapat menghangatkan tubuhnya dalam perjalanan. Maka beliau berkata kepada istrinya, ﴾ إِنِّيٓ ءَانَسۡتُ ﴿ "Sesung-guhnya aku melihat," aku menyaksikan ﴾ نَارٗا ﴿ "api." Peristiwa ini ter-jadi di bagian kanan gunung Thur. ﴾ لَّعَلِّيٓ ءَاتِيكُم مِّنۡهَا بِقَبَسٍ ﴿ "Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu," untuk menghangatkan diri dengannya ﴾ أَوۡ أَجِدُ عَلَى ٱلنَّارِ هُدٗى 10 ﴿ "atau aku akan mendapat petun-juk di tempat api itu," maksudnya orang yang menunjukkan jalan kepada kita. Yang beliau cari adalah cahaya yang bersifat inderawi dan petunjuk biasa. Akan tetapi, beliau menjumpai cahaya makna-wi, cahaya wahyu yang akan membuat jiwa-jiwa dan hati bersinar karenanya, serta hidayah yang sejati. Yaitu petunjuk menuju shirath al-Mustaqim yang mengantarkan ke Surga Na'im. Terjadilah peris-tiwa yang tidak pernah beliau perhitungkan dan tak pernah terbetik di benak beliau.
(11) ﴾ فَلَمَّآ أَتَىٰهَا ﴿ "Maka ketika dia datang ke tempat itu," yaitu api yang beliau saksikan dari kejauhan. Sebenarnya, api itu berupa cahaya, ia dapat membakar dan tersulut. Indikasinya adalah sabda Nabi, حِجَابُهُ النُّوْرُ أَوِ النَّارُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ [مِنْ خَلْقِهِ]. "PenutupNya adalah cahaya atau api. Seandainya Allah menyibak-nya, niscaya pancaran WajahNya akan membakar apa saja [dari makhluk-nya] sampai sejauh jarak pandanganNya."[30] Sesampainya di sana, beliau dipanggil. Maksudnya, Allah memanggilnya. Sebagaimana FirmanNya, ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ ٱلۡأَيۡمَنِ وَقَرَّبۡنَٰهُ نَجِيّٗا 52 ﴿ "Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur, dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia bermunajat." (Maryam: 52).
(12) ﴾ إِنِّيٓ أَنَا۠ رَبُّكَ فَٱخۡلَعۡ نَعۡلَيۡكَ إِنَّكَ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوٗى 12 ﴿ "Sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa." Allah mengabarkan kepada beliau bahwa Dia adalah Rabbnya, dan memerintahkan beliau untuk bersiap sedia melakukan munajat kepadaNya dan memperhatikannya. Beliau melepaskan dua sandalnya, karena berada di lembah yang disucikan, bersih lagi diagungkan. Sean-dainya tidak ada (petunjuk) tentang (keharusan) menyucikan lembah itu kecuali (petunjuk) bahwa Allah memilihnya untuk tempat bermunajat dengan Musa, KalimNya, maka sudahlah cukup (sebagai tanda kesuciannya). Banyak ahli tafsir mengatakan, "Sesungguhnya Allah memerintahkan beliau untuk melepaskan dua sandalnya. Karena keduanya terbuat dari kulit keledai."[31] Wal-lahu a'lam.
(13) ﴾ وَأَنَا ٱخۡتَرۡتُكَ ﴿ "Dan Aku telah memilihmu," maksudnya Aku telah memilih dan menyeleksimu dari orang-orang. Ini merupakan kenikmatan dan karunia paling besar yang Allah curahkan kepada-nya, yang menuntut untuk disyukuri dengan semestinya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱسۡتَمِعۡ لِمَا يُوحَىٰٓ 13 ﴿ "Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)," maksudnya, arahkan pende-ngaranmu kepada wahyu yang disampaikan kepadamu. Sesung-guhnya sikap itu sudah sepantasnya. Sebab, ia merupakan prinsip agama dan landasannya, serta tiang dakwah Islamiyah.
(14) Kemudian Allah menjelaskan wahyu yang disampai-kan kepadanya dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ ﴿ "Sesungguh-nya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Aku," maksudnya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi, dan Dzat yang melekat padaNya sifat tersebut. Sebab, Dia yang Mahasempurna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, Esa dengan perbuatan-perbuatanNya, tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada bandingan, padanan, dan dzat yang sama denganNya. ﴾ فَٱعۡبُدۡنِي ﴿ "Maka sembahlah Aku," dalam segala macam ibadah, yang zahir maupun yang batin, ibadah yang prinsip ataupun yang bersifat sekunder. Selanjutnya, Allah menyebutkan shalat secara khusus, meskipun sudah termasuk dalam bingkai ibadah, karena ke-utamaan dan kemuliaannya serta muatannya yang mengandung penghambaan hati, lisan dan anggota tubuh lainnya. Firman Allah, ﴾ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ 14 ﴿ "Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu," huruf lam berfungsi sebagai ta'lil (penyebutan sebab). Maksudnya, tegakkanlah shalat untuk tujuan mengingat-Ku. Sebab mengingat nama Allah merupakan tujuan yang paling agung. Dengan itulah hati menghambakan diri kepada Allah. De-ngan itu pula, kebahagiaan tergapai. Hati yang kosong dari dzikir kepada Allah, niscaya akan menjadi kosong dari segala kebaikan. Ia benar-benar telah mengalami kerusakan yang parah, maka Allah menggariskan berbagai macam ibadah yang ditujukan untuk meng-ingatNya, terutama pada shalat. Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ ﴿ "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur`an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain)." (Al-Ankabut: 45), maksudnya, kandungannya berupa dzikrullah lebih besar daripada (fungsinya) mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran. Jenis ini, disebut tauhid ilahiyah (uluhiyah) dan tauhid ibadah. Uluhiyah (hak disembah) merupakan sifat Allah تعالى. Sementara ubudiyah (menghambakan diri) merupakan sifat makhlukNya.
(15) ﴾ إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ ﴿ "Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang," maksudnya pasti terjadi ﴾ أَكَادُ أُخۡفِيهَا ﴿ "(hampir saja) Aku merahasiakan (waktu)nya," yaitu dari diriKu Sendiri, sebagaimana termaktub pada salah satu versi qira`ah. Seperti Firman Allah, ﴾ يَسۡـَٔلُكَ ٱلنَّاسُ عَنِ ٱلسَّاعَةِۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah'." (Al-Ahzab: 63). Allah تعالى berfirman, ﴾ وَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ ﴿ "Dan di sisiNya-lah pengetahuan tentang Hari Kiamat." (Az- Zukhruf: 85). Pengetahuan mengenai waktu terjadinya sudah Allah sembu-nyikan dari para makhluk semuanya. Malaikat yang dekat dengan Allah dan nabi yang diutus pun tidak mengetahuinya. Hikmah di-hadirkannya Hari Kiamat ﴾ لِتُجۡزَىٰ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا تَسۡعَىٰ ﴿ "supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan," yang baik ataupun yang buruk. Hari Kiamat adalah pintu menuju akhirat, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى 31 ﴿ "Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap amal yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (An-Najm: 31).
Taha 20:13
"Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika dia melihat api, lalu berkatalah dia kepada keluarganya, 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.' Maka ketika dia datang ke tempat api itu dia dipanggil, 'Hai Musa, sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) kecuali Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang, (hampir saja) Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan." (Thaha: 9-15).
(9-10) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad da-lam bentuk pertanyaan yang bersifat penetapan dan pengagungan serta membesarkan kisah ini ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ 9 ﴿ "Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?" Mengenai keadaannya yang meru-pakan pangkal kebahagiaan dan tempat penetapan kenabiannya, beliau melihat api dari kejauhan. Sebelumnya beliau pernah tersesat dalam perjalanannya, kemudian didera oleh hawa dingin, tanpa memiliki sesuatu pun yang dapat menghangatkan tubuhnya dalam perjalanan. Maka beliau berkata kepada istrinya, ﴾ إِنِّيٓ ءَانَسۡتُ ﴿ "Sesung-guhnya aku melihat," aku menyaksikan ﴾ نَارٗا ﴿ "api." Peristiwa ini ter-jadi di bagian kanan gunung Thur. ﴾ لَّعَلِّيٓ ءَاتِيكُم مِّنۡهَا بِقَبَسٍ ﴿ "Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu," untuk menghangatkan diri dengannya ﴾ أَوۡ أَجِدُ عَلَى ٱلنَّارِ هُدٗى 10 ﴿ "atau aku akan mendapat petun-juk di tempat api itu," maksudnya orang yang menunjukkan jalan kepada kita. Yang beliau cari adalah cahaya yang bersifat inderawi dan petunjuk biasa. Akan tetapi, beliau menjumpai cahaya makna-wi, cahaya wahyu yang akan membuat jiwa-jiwa dan hati bersinar karenanya, serta hidayah yang sejati. Yaitu petunjuk menuju shirath al-Mustaqim yang mengantarkan ke Surga Na'im. Terjadilah peris-tiwa yang tidak pernah beliau perhitungkan dan tak pernah terbetik di benak beliau.
(11) ﴾ فَلَمَّآ أَتَىٰهَا ﴿ "Maka ketika dia datang ke tempat itu," yaitu api yang beliau saksikan dari kejauhan. Sebenarnya, api itu berupa cahaya, ia dapat membakar dan tersulut. Indikasinya adalah sabda Nabi, حِجَابُهُ النُّوْرُ أَوِ النَّارُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ [مِنْ خَلْقِهِ]. "PenutupNya adalah cahaya atau api. Seandainya Allah menyibak-nya, niscaya pancaran WajahNya akan membakar apa saja [dari makhluk-nya] sampai sejauh jarak pandanganNya."[30] Sesampainya di sana, beliau dipanggil. Maksudnya, Allah memanggilnya. Sebagaimana FirmanNya, ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ ٱلۡأَيۡمَنِ وَقَرَّبۡنَٰهُ نَجِيّٗا 52 ﴿ "Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur, dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia bermunajat." (Maryam: 52).
(12) ﴾ إِنِّيٓ أَنَا۠ رَبُّكَ فَٱخۡلَعۡ نَعۡلَيۡكَ إِنَّكَ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوٗى 12 ﴿ "Sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa." Allah mengabarkan kepada beliau bahwa Dia adalah Rabbnya, dan memerintahkan beliau untuk bersiap sedia melakukan munajat kepadaNya dan memperhatikannya. Beliau melepaskan dua sandalnya, karena berada di lembah yang disucikan, bersih lagi diagungkan. Sean-dainya tidak ada (petunjuk) tentang (keharusan) menyucikan lembah itu kecuali (petunjuk) bahwa Allah memilihnya untuk tempat bermunajat dengan Musa, KalimNya, maka sudahlah cukup (sebagai tanda kesuciannya). Banyak ahli tafsir mengatakan, "Sesungguhnya Allah memerintahkan beliau untuk melepaskan dua sandalnya. Karena keduanya terbuat dari kulit keledai."[31] Wal-lahu a'lam.
(13) ﴾ وَأَنَا ٱخۡتَرۡتُكَ ﴿ "Dan Aku telah memilihmu," maksudnya Aku telah memilih dan menyeleksimu dari orang-orang. Ini merupakan kenikmatan dan karunia paling besar yang Allah curahkan kepada-nya, yang menuntut untuk disyukuri dengan semestinya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱسۡتَمِعۡ لِمَا يُوحَىٰٓ 13 ﴿ "Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)," maksudnya, arahkan pende-ngaranmu kepada wahyu yang disampaikan kepadamu. Sesung-guhnya sikap itu sudah sepantasnya. Sebab, ia merupakan prinsip agama dan landasannya, serta tiang dakwah Islamiyah.
(14) Kemudian Allah menjelaskan wahyu yang disampai-kan kepadanya dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ ﴿ "Sesungguh-nya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Aku," maksudnya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi, dan Dzat yang melekat padaNya sifat tersebut. Sebab, Dia yang Mahasempurna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, Esa dengan perbuatan-perbuatanNya, tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada bandingan, padanan, dan dzat yang sama denganNya. ﴾ فَٱعۡبُدۡنِي ﴿ "Maka sembahlah Aku," dalam segala macam ibadah, yang zahir maupun yang batin, ibadah yang prinsip ataupun yang bersifat sekunder. Selanjutnya, Allah menyebutkan shalat secara khusus, meskipun sudah termasuk dalam bingkai ibadah, karena ke-utamaan dan kemuliaannya serta muatannya yang mengandung penghambaan hati, lisan dan anggota tubuh lainnya. Firman Allah, ﴾ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ 14 ﴿ "Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu," huruf lam berfungsi sebagai ta'lil (penyebutan sebab). Maksudnya, tegakkanlah shalat untuk tujuan mengingat-Ku. Sebab mengingat nama Allah merupakan tujuan yang paling agung. Dengan itulah hati menghambakan diri kepada Allah. De-ngan itu pula, kebahagiaan tergapai. Hati yang kosong dari dzikir kepada Allah, niscaya akan menjadi kosong dari segala kebaikan. Ia benar-benar telah mengalami kerusakan yang parah, maka Allah menggariskan berbagai macam ibadah yang ditujukan untuk meng-ingatNya, terutama pada shalat. Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ ﴿ "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur`an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain)." (Al-Ankabut: 45), maksudnya, kandungannya berupa dzikrullah lebih besar daripada (fungsinya) mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran. Jenis ini, disebut tauhid ilahiyah (uluhiyah) dan tauhid ibadah. Uluhiyah (hak disembah) merupakan sifat Allah تعالى. Sementara ubudiyah (menghambakan diri) merupakan sifat makhlukNya.
(15) ﴾ إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ ﴿ "Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang," maksudnya pasti terjadi ﴾ أَكَادُ أُخۡفِيهَا ﴿ "(hampir saja) Aku merahasiakan (waktu)nya," yaitu dari diriKu Sendiri, sebagaimana termaktub pada salah satu versi qira`ah. Seperti Firman Allah, ﴾ يَسۡـَٔلُكَ ٱلنَّاسُ عَنِ ٱلسَّاعَةِۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah'." (Al-Ahzab: 63). Allah تعالى berfirman, ﴾ وَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ ﴿ "Dan di sisiNya-lah pengetahuan tentang Hari Kiamat." (Az- Zukhruf: 85). Pengetahuan mengenai waktu terjadinya sudah Allah sembu-nyikan dari para makhluk semuanya. Malaikat yang dekat dengan Allah dan nabi yang diutus pun tidak mengetahuinya. Hikmah di-hadirkannya Hari Kiamat ﴾ لِتُجۡزَىٰ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا تَسۡعَىٰ ﴿ "supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan," yang baik ataupun yang buruk. Hari Kiamat adalah pintu menuju akhirat, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى 31 ﴿ "Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap amal yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (An-Najm: 31).
Taha 20:14
"Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika dia melihat api, lalu berkatalah dia kepada keluarganya, 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.' Maka ketika dia datang ke tempat api itu dia dipanggil, 'Hai Musa, sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) kecuali Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang, (hampir saja) Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan." (Thaha: 9-15).
(9-10) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad da-lam bentuk pertanyaan yang bersifat penetapan dan pengagungan serta membesarkan kisah ini ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ 9 ﴿ "Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?" Mengenai keadaannya yang meru-pakan pangkal kebahagiaan dan tempat penetapan kenabiannya, beliau melihat api dari kejauhan. Sebelumnya beliau pernah tersesat dalam perjalanannya, kemudian didera oleh hawa dingin, tanpa memiliki sesuatu pun yang dapat menghangatkan tubuhnya dalam perjalanan. Maka beliau berkata kepada istrinya, ﴾ إِنِّيٓ ءَانَسۡتُ ﴿ "Sesung-guhnya aku melihat," aku menyaksikan ﴾ نَارٗا ﴿ "api." Peristiwa ini ter-jadi di bagian kanan gunung Thur. ﴾ لَّعَلِّيٓ ءَاتِيكُم مِّنۡهَا بِقَبَسٍ ﴿ "Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu," untuk menghangatkan diri dengannya ﴾ أَوۡ أَجِدُ عَلَى ٱلنَّارِ هُدٗى 10 ﴿ "atau aku akan mendapat petun-juk di tempat api itu," maksudnya orang yang menunjukkan jalan kepada kita. Yang beliau cari adalah cahaya yang bersifat inderawi dan petunjuk biasa. Akan tetapi, beliau menjumpai cahaya makna-wi, cahaya wahyu yang akan membuat jiwa-jiwa dan hati bersinar karenanya, serta hidayah yang sejati. Yaitu petunjuk menuju shirath al-Mustaqim yang mengantarkan ke Surga Na'im. Terjadilah peris-tiwa yang tidak pernah beliau perhitungkan dan tak pernah terbetik di benak beliau.
(11) ﴾ فَلَمَّآ أَتَىٰهَا ﴿ "Maka ketika dia datang ke tempat itu," yaitu api yang beliau saksikan dari kejauhan. Sebenarnya, api itu berupa cahaya, ia dapat membakar dan tersulut. Indikasinya adalah sabda Nabi, حِجَابُهُ النُّوْرُ أَوِ النَّارُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ [مِنْ خَلْقِهِ]. "PenutupNya adalah cahaya atau api. Seandainya Allah menyibak-nya, niscaya pancaran WajahNya akan membakar apa saja [dari makhluk-nya] sampai sejauh jarak pandanganNya."[30] Sesampainya di sana, beliau dipanggil. Maksudnya, Allah memanggilnya. Sebagaimana FirmanNya, ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ ٱلۡأَيۡمَنِ وَقَرَّبۡنَٰهُ نَجِيّٗا 52 ﴿ "Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur, dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia bermunajat." (Maryam: 52).
(12) ﴾ إِنِّيٓ أَنَا۠ رَبُّكَ فَٱخۡلَعۡ نَعۡلَيۡكَ إِنَّكَ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوٗى 12 ﴿ "Sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa." Allah mengabarkan kepada beliau bahwa Dia adalah Rabbnya, dan memerintahkan beliau untuk bersiap sedia melakukan munajat kepadaNya dan memperhatikannya. Beliau melepaskan dua sandalnya, karena berada di lembah yang disucikan, bersih lagi diagungkan. Sean-dainya tidak ada (petunjuk) tentang (keharusan) menyucikan lembah itu kecuali (petunjuk) bahwa Allah memilihnya untuk tempat bermunajat dengan Musa, KalimNya, maka sudahlah cukup (sebagai tanda kesuciannya). Banyak ahli tafsir mengatakan, "Sesungguhnya Allah memerintahkan beliau untuk melepaskan dua sandalnya. Karena keduanya terbuat dari kulit keledai."[31] Wal-lahu a'lam.
(13) ﴾ وَأَنَا ٱخۡتَرۡتُكَ ﴿ "Dan Aku telah memilihmu," maksudnya Aku telah memilih dan menyeleksimu dari orang-orang. Ini merupakan kenikmatan dan karunia paling besar yang Allah curahkan kepada-nya, yang menuntut untuk disyukuri dengan semestinya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱسۡتَمِعۡ لِمَا يُوحَىٰٓ 13 ﴿ "Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)," maksudnya, arahkan pende-ngaranmu kepada wahyu yang disampaikan kepadamu. Sesung-guhnya sikap itu sudah sepantasnya. Sebab, ia merupakan prinsip agama dan landasannya, serta tiang dakwah Islamiyah.
(14) Kemudian Allah menjelaskan wahyu yang disampai-kan kepadanya dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ ﴿ "Sesungguh-nya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Aku," maksudnya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi, dan Dzat yang melekat padaNya sifat tersebut. Sebab, Dia yang Mahasempurna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, Esa dengan perbuatan-perbuatanNya, tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada bandingan, padanan, dan dzat yang sama denganNya. ﴾ فَٱعۡبُدۡنِي ﴿ "Maka sembahlah Aku," dalam segala macam ibadah, yang zahir maupun yang batin, ibadah yang prinsip ataupun yang bersifat sekunder. Selanjutnya, Allah menyebutkan shalat secara khusus, meskipun sudah termasuk dalam bingkai ibadah, karena ke-utamaan dan kemuliaannya serta muatannya yang mengandung penghambaan hati, lisan dan anggota tubuh lainnya. Firman Allah, ﴾ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ 14 ﴿ "Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu," huruf lam berfungsi sebagai ta'lil (penyebutan sebab). Maksudnya, tegakkanlah shalat untuk tujuan mengingat-Ku. Sebab mengingat nama Allah merupakan tujuan yang paling agung. Dengan itulah hati menghambakan diri kepada Allah. De-ngan itu pula, kebahagiaan tergapai. Hati yang kosong dari dzikir kepada Allah, niscaya akan menjadi kosong dari segala kebaikan. Ia benar-benar telah mengalami kerusakan yang parah, maka Allah menggariskan berbagai macam ibadah yang ditujukan untuk meng-ingatNya, terutama pada shalat. Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ ﴿ "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur`an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain)." (Al-Ankabut: 45), maksudnya, kandungannya berupa dzikrullah lebih besar daripada (fungsinya) mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran. Jenis ini, disebut tauhid ilahiyah (uluhiyah) dan tauhid ibadah. Uluhiyah (hak disembah) merupakan sifat Allah تعالى. Sementara ubudiyah (menghambakan diri) merupakan sifat makhlukNya.
(15) ﴾ إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ ﴿ "Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang," maksudnya pasti terjadi ﴾ أَكَادُ أُخۡفِيهَا ﴿ "(hampir saja) Aku merahasiakan (waktu)nya," yaitu dari diriKu Sendiri, sebagaimana termaktub pada salah satu versi qira`ah. Seperti Firman Allah, ﴾ يَسۡـَٔلُكَ ٱلنَّاسُ عَنِ ٱلسَّاعَةِۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah'." (Al-Ahzab: 63). Allah تعالى berfirman, ﴾ وَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ ﴿ "Dan di sisiNya-lah pengetahuan tentang Hari Kiamat." (Az- Zukhruf: 85). Pengetahuan mengenai waktu terjadinya sudah Allah sembu-nyikan dari para makhluk semuanya. Malaikat yang dekat dengan Allah dan nabi yang diutus pun tidak mengetahuinya. Hikmah di-hadirkannya Hari Kiamat ﴾ لِتُجۡزَىٰ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا تَسۡعَىٰ ﴿ "supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan," yang baik ataupun yang buruk. Hari Kiamat adalah pintu menuju akhirat, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى 31 ﴿ "Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap amal yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (An-Najm: 31).
Taha 20:15
"Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika dia melihat api, lalu berkatalah dia kepada keluarganya, 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.' Maka ketika dia datang ke tempat api itu dia dipanggil, 'Hai Musa, sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) kecuali Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang, (hampir saja) Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan." (Thaha: 9-15).
(9-10) Allah berfirman kepada NabiNya, Muhammad da-lam bentuk pertanyaan yang bersifat penetapan dan pengagungan serta membesarkan kisah ini ﴾ هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ 9 ﴿ "Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?" Mengenai keadaannya yang meru-pakan pangkal kebahagiaan dan tempat penetapan kenabiannya, beliau melihat api dari kejauhan. Sebelumnya beliau pernah tersesat dalam perjalanannya, kemudian didera oleh hawa dingin, tanpa memiliki sesuatu pun yang dapat menghangatkan tubuhnya dalam perjalanan. Maka beliau berkata kepada istrinya, ﴾ إِنِّيٓ ءَانَسۡتُ ﴿ "Sesung-guhnya aku melihat," aku menyaksikan ﴾ نَارٗا ﴿ "api." Peristiwa ini ter-jadi di bagian kanan gunung Thur. ﴾ لَّعَلِّيٓ ءَاتِيكُم مِّنۡهَا بِقَبَسٍ ﴿ "Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu," untuk menghangatkan diri dengannya ﴾ أَوۡ أَجِدُ عَلَى ٱلنَّارِ هُدٗى 10 ﴿ "atau aku akan mendapat petun-juk di tempat api itu," maksudnya orang yang menunjukkan jalan kepada kita. Yang beliau cari adalah cahaya yang bersifat inderawi dan petunjuk biasa. Akan tetapi, beliau menjumpai cahaya makna-wi, cahaya wahyu yang akan membuat jiwa-jiwa dan hati bersinar karenanya, serta hidayah yang sejati. Yaitu petunjuk menuju shirath al-Mustaqim yang mengantarkan ke Surga Na'im. Terjadilah peris-tiwa yang tidak pernah beliau perhitungkan dan tak pernah terbetik di benak beliau.
(11) ﴾ فَلَمَّآ أَتَىٰهَا ﴿ "Maka ketika dia datang ke tempat itu," yaitu api yang beliau saksikan dari kejauhan. Sebenarnya, api itu berupa cahaya, ia dapat membakar dan tersulut. Indikasinya adalah sabda Nabi, حِجَابُهُ النُّوْرُ أَوِ النَّارُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ [مِنْ خَلْقِهِ]. "PenutupNya adalah cahaya atau api. Seandainya Allah menyibak-nya, niscaya pancaran WajahNya akan membakar apa saja [dari makhluk-nya] sampai sejauh jarak pandanganNya."[30] Sesampainya di sana, beliau dipanggil. Maksudnya, Allah memanggilnya. Sebagaimana FirmanNya, ﴾ وَنَٰدَيۡنَٰهُ مِن جَانِبِ ٱلطُّورِ ٱلۡأَيۡمَنِ وَقَرَّبۡنَٰهُ نَجِيّٗا 52 ﴿ "Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur, dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia bermunajat." (Maryam: 52).
(12) ﴾ إِنِّيٓ أَنَا۠ رَبُّكَ فَٱخۡلَعۡ نَعۡلَيۡكَ إِنَّكَ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوٗى 12 ﴿ "Sesungguhnya Aku ini adalah Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesung-guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa." Allah mengabarkan kepada beliau bahwa Dia adalah Rabbnya, dan memerintahkan beliau untuk bersiap sedia melakukan munajat kepadaNya dan memperhatikannya. Beliau melepaskan dua sandalnya, karena berada di lembah yang disucikan, bersih lagi diagungkan. Sean-dainya tidak ada (petunjuk) tentang (keharusan) menyucikan lembah itu kecuali (petunjuk) bahwa Allah memilihnya untuk tempat bermunajat dengan Musa, KalimNya, maka sudahlah cukup (sebagai tanda kesuciannya). Banyak ahli tafsir mengatakan, "Sesungguhnya Allah memerintahkan beliau untuk melepaskan dua sandalnya. Karena keduanya terbuat dari kulit keledai."[31] Wal-lahu a'lam.
(13) ﴾ وَأَنَا ٱخۡتَرۡتُكَ ﴿ "Dan Aku telah memilihmu," maksudnya Aku telah memilih dan menyeleksimu dari orang-orang. Ini merupakan kenikmatan dan karunia paling besar yang Allah curahkan kepada-nya, yang menuntut untuk disyukuri dengan semestinya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱسۡتَمِعۡ لِمَا يُوحَىٰٓ 13 ﴿ "Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)," maksudnya, arahkan pende-ngaranmu kepada wahyu yang disampaikan kepadamu. Sesung-guhnya sikap itu sudah sepantasnya. Sebab, ia merupakan prinsip agama dan landasannya, serta tiang dakwah Islamiyah.
(14) Kemudian Allah menjelaskan wahyu yang disampai-kan kepadanya dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ ﴿ "Sesungguh-nya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Aku," maksudnya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi, dan Dzat yang melekat padaNya sifat tersebut. Sebab, Dia yang Mahasempurna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, Esa dengan perbuatan-perbuatanNya, tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada bandingan, padanan, dan dzat yang sama denganNya. ﴾ فَٱعۡبُدۡنِي ﴿ "Maka sembahlah Aku," dalam segala macam ibadah, yang zahir maupun yang batin, ibadah yang prinsip ataupun yang bersifat sekunder. Selanjutnya, Allah menyebutkan shalat secara khusus, meskipun sudah termasuk dalam bingkai ibadah, karena ke-utamaan dan kemuliaannya serta muatannya yang mengandung penghambaan hati, lisan dan anggota tubuh lainnya. Firman Allah, ﴾ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ 14 ﴿ "Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu," huruf lam berfungsi sebagai ta'lil (penyebutan sebab). Maksudnya, tegakkanlah shalat untuk tujuan mengingat-Ku. Sebab mengingat nama Allah merupakan tujuan yang paling agung. Dengan itulah hati menghambakan diri kepada Allah. De-ngan itu pula, kebahagiaan tergapai. Hati yang kosong dari dzikir kepada Allah, niscaya akan menjadi kosong dari segala kebaikan. Ia benar-benar telah mengalami kerusakan yang parah, maka Allah menggariskan berbagai macam ibadah yang ditujukan untuk meng-ingatNya, terutama pada shalat. Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ ﴿ "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur`an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain)." (Al-Ankabut: 45), maksudnya, kandungannya berupa dzikrullah lebih besar daripada (fungsinya) mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran. Jenis ini, disebut tauhid ilahiyah (uluhiyah) dan tauhid ibadah. Uluhiyah (hak disembah) merupakan sifat Allah تعالى. Sementara ubudiyah (menghambakan diri) merupakan sifat makhlukNya.
(15) ﴾ إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ ﴿ "Sesungguhnya Hari Kiamat itu akan datang," maksudnya pasti terjadi ﴾ أَكَادُ أُخۡفِيهَا ﴿ "(hampir saja) Aku merahasiakan (waktu)nya," yaitu dari diriKu Sendiri, sebagaimana termaktub pada salah satu versi qira`ah. Seperti Firman Allah, ﴾ يَسۡـَٔلُكَ ٱلنَّاسُ عَنِ ٱلسَّاعَةِۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah'." (Al-Ahzab: 63). Allah تعالى berfirman, ﴾ وَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ ﴿ "Dan di sisiNya-lah pengetahuan tentang Hari Kiamat." (Az- Zukhruf: 85). Pengetahuan mengenai waktu terjadinya sudah Allah sembu-nyikan dari para makhluk semuanya. Malaikat yang dekat dengan Allah dan nabi yang diutus pun tidak mengetahuinya. Hikmah di-hadirkannya Hari Kiamat ﴾ لِتُجۡزَىٰ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا تَسۡعَىٰ ﴿ "supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan amal yang dia usahakan," yang baik ataupun yang buruk. Hari Kiamat adalah pintu menuju akhirat, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى 31 ﴿ "Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap amal yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (An-Najm: 31).
Taha 20:16
"Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan darinya oleh yang tidak beriman kepadanya, dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa." (Thaha: 16).
(16) Maksudnya, jangan sampai orang itu berhasil meng-halang-halangi dan menyibukkan dirimu dari keimanan kepada Hari Kiamat, pembalasan, dan beramal untuk persiapan menyong-songnya, yaitu orang kafir yang mengingkarinya, tidak meyakini bakal terjadi, dan berusaha agar tetap ragu dan menciptakan ke-ragu-raguan (bagi orang lain), menyanggahnya atas dasar kebatilan, melontarkan syubhat-syubhat (kerancuan berpikir) yang bisa dia lakukan dalam keadaan memperturuti bisikan hawa nafsunya dalam usahanya itu. Niatannya bukan untuk sampai kepada titik kebenaran. Akan tetapi, sasarannya ialah mengikuti hawa nafsu. Maka jangan sekali-kali engkau mencondongkan pendengar-anmu kepada orang yang kondisinya semacam ini, atau menerima sebagian dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatannya yang mencegah (manusia) dari keimanan kepada Hari Kiamat dan persiapan diri untuk menyongsongnya. Allah memperingatkan dari orang model ini, karena termasuk perkara yang sangat meng-khawatirkan yang (bisa) terjadi pada seorang Mukmin adalah (ter-goda) melalui bisikan dan tipuannya, juga (lantaran) jiwa tercipta dengan pembawaan karakter suka meniru-niru dan mengikuti orang-orang yang berasal dari kalangannya sendiri. Dalam keterangan ini, terdapat catatan penting dan isyarat untuk memperingatkan dari segala pihak yang menyeru kepada kebatilan, menghalang-halangi dari keimanan yang wajib atau dari kesempurnaan iman, atau melemparkan syubhat ke dalam hati, serta (mengandung peringatan dari) melihat buku-buku yang memuat muatan seperti itu. Di sini, Allah menyebutkan keimanan kepadaNya, ibadah kepadaNya dan beriman kepada Hari Akhir. Sebab, tiga hal ini merupakan prinsip-prinsip keimanan dan rukun agama. Jika sudah sempurna, maka agama menjadi sempurna. Kekurangan atau hi-langnya keimanan itu disebabkan oleh kurangnya atau hilangnya sebagian darinya. Ayat ini senada dengan Firman Allah yang ber-hubungan dengan pemberitahuan tentang tolok ukur kebahagiaan dan kecelakaan golongan-golongan yang menerima kitab, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلصَّٰبِـُٔونَ وَٱلنَّصَٰرَىٰ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ 69 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, Shabi`in dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, Hari Kemudian, dan beramal shalih, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih." (Al-Ma`idah: 69). FirmanNya, ﴾ فَتَرۡدَىٰ 16 ﴿ "Yang menyebabkan kamu binasa," mak-sudnya hancur dan celaka, jika kamu menapaki jalan orang-orang yang menghalang-halangi manusia darinya. Firman Allah تعالى,
Taha 20:17
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?" Musa berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya." Allah berfirman, "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepada-mu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar." (Thaha: 17-23).
(17) Usai menjelaskan prinsip keimanan kepada Musa, Allah ingin memaparkan dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang akan menyebabkan hatinya tenang dan pandangannya sejuk dengannya, dan keimanan menjadi kokoh dengan dukungan dari Allah baginya di hadapan musuh. Lalu Allah berfirman, ﴾ وَمَا تِلۡكَ بِيَمِينِكَ يَٰمُوسَىٰ 17 ﴿ "Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa," Pertanyaan ini (disampaikan), kendatipun Allah تعالى sudah mengetahuinya. Namun, agar lebih menarik perhatian pada momentum ini, pembicaraan dimulai melalui cara pertanyaan.
(18) Musa berkata, ﴾ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّؤُاْ عَلَيۡهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي ﴿ "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengan-nya untuk kambingku." Beliau menyebutkan dua kegunaannya. Satu manfaat bagi manusia, yaitu beliau bersandar padanya saat berdiri dan berjalan. Padanya terdapat bantuan dan manfaat bagi bina-tang-binatang ternak. Yaitu, saat beliau sedang menggembalakan kambing, jika sedang menggembalakannya di pepohonan Khabath (yang berdaun rimbun) atau pohon lain yang serupa, beliau meng-gerak-gerakkannya. Maksudnya, beliau memukuli pohon itu, supaya daun-daunnya rontok. Kambing pun memakannya. Ini perilaku yang baik dari Musa عليه السلام yang di antara pengaruhnya, adalah kecakapan dalam menggembalakan binatang ternak dan bersikap baik kepadanya yang menandakan inayah (perhatian) Allah, peng-istimewaan dan pengkhususan baginya yang dituntut oleh rahmat Allah dan hikmahNya (padanya). ﴾ وَلِيَ فِيهَا مَـَٔارِبُ ﴿ "Dan bagiku ada lagi keperluan padanya," maksudnya fungsi-fungsi ﴾ أُخۡرَىٰ ﴿ "yang lain," selain dua kegunaan ini. Di antara etika Nabi Musa عليه السلام, bahwa Allah, ketika bertanya kepadanya tentang apa yang ada di tangan kanannya dengan per-tanyaan yang mungkin mengarah kepada tangan itu sendiri atau manfaatnya, maka beliau menjawab dengan keterangan tentang tangan itu sendiri dan manfaatnya.
(19-20) Allah berfirman kepadanya, ﴾ أَلۡقِهَا يَٰمُوسَىٰ 19 فَأَلۡقَىٰهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٞ تَسۡعَىٰ 20 ﴿ "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat," berubah dengan izin Allah menjadi seekor ular yang besar, maka, Musa berpaling melarikan diri (darinya) dengan rasa takut, tanpa menoleh ke belakang lagi. Penyebutan sifat ia (ular itu) merayap cepat untuk menangkis prasangka yang mungkin muncul. Yakni, prasangka bahwa kejadian itu merupakan takhyil (penipuan mata saja) tidak ada kenyataan-nya. Jadi, sifatnya "merayap dengan cepat" dapat menepis prasangka itu.
(21) Allah berkata kepada Musa, ﴾ خُذۡهَا وَلَا تَخَفۡۖ ﴿ "Peganglah ia dan jangan takut," tidak ada bahaya bagimu pada ular itu ﴾ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا ٱلۡأُولَىٰ 21 ﴿ "Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula," yaitu bentuk dan sifat (aslinya). Sebab, sebelumnya adalah tongkat. Maka Musa menaati perintah Allah sebagai (cermin) keimanan dan penyerahan diri beliau kepadaNya. Lalu beliau mengambilnya. Tongkatnya kembali seperti semula yang ia kenal. Ini salah satu tanda kekuasaan Allah.
(22) Kemudian Allah menyebutkan tanda kekuasaanNya yang lain. Allah berfirman, ﴾ وَٱضۡمُمۡ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ ﴿ "Dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu," maksudnya masukkanlah tanganmu ke ketiakmu. Dan kempitkanlah lengan tanganmu yang merupakan sisi (sayap) pada manusia, ﴾ تَخۡرُجۡ بَيۡضَآءَ مِنۡ غَيۡرِ سُوٓءٍ ﴿ "niscaya ia keluar men-jadi putih cemerlang tanpa cacat," yaitu berwarna putih mengkilap tanpa cacat maupun sopak ﴾ ءَايَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "sebagai mukjizat lain."
(23) Allah berfirman, ﴾ فَذَٰنِكَ بُرۡهَٰنَانِ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ﴿ "Maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Rabbmu (yang akan kamu hadapkan) kepada Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. Se-sungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Qashash: 32), ﴾ لِنُرِيَكَ مِنۡ ءَايَٰتِنَا ٱلۡكُبۡرَى 23 ﴿ "Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar," maksudnya Kami me-lakukan apa yang telah Kami sebutkan, berupa perubahan tongkat menjelma seekor ular yang merayap cepat, keluarnya tangan ber-warna putih pada pandangan orang-orang yang melihatnya, ber-tujuan agar Kami memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar yang menunjukkan kebenaran risalahmu dan hakikat ajaran yang engkau bawa. Sehingga kalbumu menjadi tenang, ilmumu bertambah dan engkau percaya kepada janji Allah kepa-damu berupa pemeliharaan dan pertolongan. Dan supaya menjadi hujjah dan bukti bagi kaum yang mana engkau diutus kepada mereka.
Taha 20:18
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?" Musa berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya." Allah berfirman, "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepada-mu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar." (Thaha: 17-23).
(17) Usai menjelaskan prinsip keimanan kepada Musa, Allah ingin memaparkan dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang akan menyebabkan hatinya tenang dan pandangannya sejuk dengannya, dan keimanan menjadi kokoh dengan dukungan dari Allah baginya di hadapan musuh. Lalu Allah berfirman, ﴾ وَمَا تِلۡكَ بِيَمِينِكَ يَٰمُوسَىٰ 17 ﴿ "Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa," Pertanyaan ini (disampaikan), kendatipun Allah تعالى sudah mengetahuinya. Namun, agar lebih menarik perhatian pada momentum ini, pembicaraan dimulai melalui cara pertanyaan.
(18) Musa berkata, ﴾ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّؤُاْ عَلَيۡهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي ﴿ "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengan-nya untuk kambingku." Beliau menyebutkan dua kegunaannya. Satu manfaat bagi manusia, yaitu beliau bersandar padanya saat berdiri dan berjalan. Padanya terdapat bantuan dan manfaat bagi bina-tang-binatang ternak. Yaitu, saat beliau sedang menggembalakan kambing, jika sedang menggembalakannya di pepohonan Khabath (yang berdaun rimbun) atau pohon lain yang serupa, beliau meng-gerak-gerakkannya. Maksudnya, beliau memukuli pohon itu, supaya daun-daunnya rontok. Kambing pun memakannya. Ini perilaku yang baik dari Musa عليه السلام yang di antara pengaruhnya, adalah kecakapan dalam menggembalakan binatang ternak dan bersikap baik kepadanya yang menandakan inayah (perhatian) Allah, peng-istimewaan dan pengkhususan baginya yang dituntut oleh rahmat Allah dan hikmahNya (padanya). ﴾ وَلِيَ فِيهَا مَـَٔارِبُ ﴿ "Dan bagiku ada lagi keperluan padanya," maksudnya fungsi-fungsi ﴾ أُخۡرَىٰ ﴿ "yang lain," selain dua kegunaan ini. Di antara etika Nabi Musa عليه السلام, bahwa Allah, ketika bertanya kepadanya tentang apa yang ada di tangan kanannya dengan per-tanyaan yang mungkin mengarah kepada tangan itu sendiri atau manfaatnya, maka beliau menjawab dengan keterangan tentang tangan itu sendiri dan manfaatnya.
(19-20) Allah berfirman kepadanya, ﴾ أَلۡقِهَا يَٰمُوسَىٰ 19 فَأَلۡقَىٰهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٞ تَسۡعَىٰ 20 ﴿ "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat," berubah dengan izin Allah menjadi seekor ular yang besar, maka, Musa berpaling melarikan diri (darinya) dengan rasa takut, tanpa menoleh ke belakang lagi. Penyebutan sifat ia (ular itu) merayap cepat untuk menangkis prasangka yang mungkin muncul. Yakni, prasangka bahwa kejadian itu merupakan takhyil (penipuan mata saja) tidak ada kenyataan-nya. Jadi, sifatnya "merayap dengan cepat" dapat menepis prasangka itu.
(21) Allah berkata kepada Musa, ﴾ خُذۡهَا وَلَا تَخَفۡۖ ﴿ "Peganglah ia dan jangan takut," tidak ada bahaya bagimu pada ular itu ﴾ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا ٱلۡأُولَىٰ 21 ﴿ "Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula," yaitu bentuk dan sifat (aslinya). Sebab, sebelumnya adalah tongkat. Maka Musa menaati perintah Allah sebagai (cermin) keimanan dan penyerahan diri beliau kepadaNya. Lalu beliau mengambilnya. Tongkatnya kembali seperti semula yang ia kenal. Ini salah satu tanda kekuasaan Allah.
(22) Kemudian Allah menyebutkan tanda kekuasaanNya yang lain. Allah berfirman, ﴾ وَٱضۡمُمۡ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ ﴿ "Dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu," maksudnya masukkanlah tanganmu ke ketiakmu. Dan kempitkanlah lengan tanganmu yang merupakan sisi (sayap) pada manusia, ﴾ تَخۡرُجۡ بَيۡضَآءَ مِنۡ غَيۡرِ سُوٓءٍ ﴿ "niscaya ia keluar men-jadi putih cemerlang tanpa cacat," yaitu berwarna putih mengkilap tanpa cacat maupun sopak ﴾ ءَايَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "sebagai mukjizat lain."
(23) Allah berfirman, ﴾ فَذَٰنِكَ بُرۡهَٰنَانِ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ﴿ "Maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Rabbmu (yang akan kamu hadapkan) kepada Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. Se-sungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Qashash: 32), ﴾ لِنُرِيَكَ مِنۡ ءَايَٰتِنَا ٱلۡكُبۡرَى 23 ﴿ "Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar," maksudnya Kami me-lakukan apa yang telah Kami sebutkan, berupa perubahan tongkat menjelma seekor ular yang merayap cepat, keluarnya tangan ber-warna putih pada pandangan orang-orang yang melihatnya, ber-tujuan agar Kami memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar yang menunjukkan kebenaran risalahmu dan hakikat ajaran yang engkau bawa. Sehingga kalbumu menjadi tenang, ilmumu bertambah dan engkau percaya kepada janji Allah kepa-damu berupa pemeliharaan dan pertolongan. Dan supaya menjadi hujjah dan bukti bagi kaum yang mana engkau diutus kepada mereka.
Taha 20:19
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?" Musa berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya." Allah berfirman, "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepada-mu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar." (Thaha: 17-23).
(17) Usai menjelaskan prinsip keimanan kepada Musa, Allah ingin memaparkan dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang akan menyebabkan hatinya tenang dan pandangannya sejuk dengannya, dan keimanan menjadi kokoh dengan dukungan dari Allah baginya di hadapan musuh. Lalu Allah berfirman, ﴾ وَمَا تِلۡكَ بِيَمِينِكَ يَٰمُوسَىٰ 17 ﴿ "Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa," Pertanyaan ini (disampaikan), kendatipun Allah تعالى sudah mengetahuinya. Namun, agar lebih menarik perhatian pada momentum ini, pembicaraan dimulai melalui cara pertanyaan.
(18) Musa berkata, ﴾ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّؤُاْ عَلَيۡهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي ﴿ "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengan-nya untuk kambingku." Beliau menyebutkan dua kegunaannya. Satu manfaat bagi manusia, yaitu beliau bersandar padanya saat berdiri dan berjalan. Padanya terdapat bantuan dan manfaat bagi bina-tang-binatang ternak. Yaitu, saat beliau sedang menggembalakan kambing, jika sedang menggembalakannya di pepohonan Khabath (yang berdaun rimbun) atau pohon lain yang serupa, beliau meng-gerak-gerakkannya. Maksudnya, beliau memukuli pohon itu, supaya daun-daunnya rontok. Kambing pun memakannya. Ini perilaku yang baik dari Musa عليه السلام yang di antara pengaruhnya, adalah kecakapan dalam menggembalakan binatang ternak dan bersikap baik kepadanya yang menandakan inayah (perhatian) Allah, peng-istimewaan dan pengkhususan baginya yang dituntut oleh rahmat Allah dan hikmahNya (padanya). ﴾ وَلِيَ فِيهَا مَـَٔارِبُ ﴿ "Dan bagiku ada lagi keperluan padanya," maksudnya fungsi-fungsi ﴾ أُخۡرَىٰ ﴿ "yang lain," selain dua kegunaan ini. Di antara etika Nabi Musa عليه السلام, bahwa Allah, ketika bertanya kepadanya tentang apa yang ada di tangan kanannya dengan per-tanyaan yang mungkin mengarah kepada tangan itu sendiri atau manfaatnya, maka beliau menjawab dengan keterangan tentang tangan itu sendiri dan manfaatnya.
(19-20) Allah berfirman kepadanya, ﴾ أَلۡقِهَا يَٰمُوسَىٰ 19 فَأَلۡقَىٰهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٞ تَسۡعَىٰ 20 ﴿ "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat," berubah dengan izin Allah menjadi seekor ular yang besar, maka, Musa berpaling melarikan diri (darinya) dengan rasa takut, tanpa menoleh ke belakang lagi. Penyebutan sifat ia (ular itu) merayap cepat untuk menangkis prasangka yang mungkin muncul. Yakni, prasangka bahwa kejadian itu merupakan takhyil (penipuan mata saja) tidak ada kenyataan-nya. Jadi, sifatnya "merayap dengan cepat" dapat menepis prasangka itu.
(21) Allah berkata kepada Musa, ﴾ خُذۡهَا وَلَا تَخَفۡۖ ﴿ "Peganglah ia dan jangan takut," tidak ada bahaya bagimu pada ular itu ﴾ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا ٱلۡأُولَىٰ 21 ﴿ "Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula," yaitu bentuk dan sifat (aslinya). Sebab, sebelumnya adalah tongkat. Maka Musa menaati perintah Allah sebagai (cermin) keimanan dan penyerahan diri beliau kepadaNya. Lalu beliau mengambilnya. Tongkatnya kembali seperti semula yang ia kenal. Ini salah satu tanda kekuasaan Allah.
(22) Kemudian Allah menyebutkan tanda kekuasaanNya yang lain. Allah berfirman, ﴾ وَٱضۡمُمۡ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ ﴿ "Dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu," maksudnya masukkanlah tanganmu ke ketiakmu. Dan kempitkanlah lengan tanganmu yang merupakan sisi (sayap) pada manusia, ﴾ تَخۡرُجۡ بَيۡضَآءَ مِنۡ غَيۡرِ سُوٓءٍ ﴿ "niscaya ia keluar men-jadi putih cemerlang tanpa cacat," yaitu berwarna putih mengkilap tanpa cacat maupun sopak ﴾ ءَايَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "sebagai mukjizat lain."
(23) Allah berfirman, ﴾ فَذَٰنِكَ بُرۡهَٰنَانِ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ﴿ "Maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Rabbmu (yang akan kamu hadapkan) kepada Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. Se-sungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Qashash: 32), ﴾ لِنُرِيَكَ مِنۡ ءَايَٰتِنَا ٱلۡكُبۡرَى 23 ﴿ "Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar," maksudnya Kami me-lakukan apa yang telah Kami sebutkan, berupa perubahan tongkat menjelma seekor ular yang merayap cepat, keluarnya tangan ber-warna putih pada pandangan orang-orang yang melihatnya, ber-tujuan agar Kami memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar yang menunjukkan kebenaran risalahmu dan hakikat ajaran yang engkau bawa. Sehingga kalbumu menjadi tenang, ilmumu bertambah dan engkau percaya kepada janji Allah kepa-damu berupa pemeliharaan dan pertolongan. Dan supaya menjadi hujjah dan bukti bagi kaum yang mana engkau diutus kepada mereka.
Taha 20:20
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?" Musa berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya." Allah berfirman, "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepada-mu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar." (Thaha: 17-23).
(17) Usai menjelaskan prinsip keimanan kepada Musa, Allah ingin memaparkan dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang akan menyebabkan hatinya tenang dan pandangannya sejuk dengannya, dan keimanan menjadi kokoh dengan dukungan dari Allah baginya di hadapan musuh. Lalu Allah berfirman, ﴾ وَمَا تِلۡكَ بِيَمِينِكَ يَٰمُوسَىٰ 17 ﴿ "Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa," Pertanyaan ini (disampaikan), kendatipun Allah تعالى sudah mengetahuinya. Namun, agar lebih menarik perhatian pada momentum ini, pembicaraan dimulai melalui cara pertanyaan.
(18) Musa berkata, ﴾ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّؤُاْ عَلَيۡهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي ﴿ "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengan-nya untuk kambingku." Beliau menyebutkan dua kegunaannya. Satu manfaat bagi manusia, yaitu beliau bersandar padanya saat berdiri dan berjalan. Padanya terdapat bantuan dan manfaat bagi bina-tang-binatang ternak. Yaitu, saat beliau sedang menggembalakan kambing, jika sedang menggembalakannya di pepohonan Khabath (yang berdaun rimbun) atau pohon lain yang serupa, beliau meng-gerak-gerakkannya. Maksudnya, beliau memukuli pohon itu, supaya daun-daunnya rontok. Kambing pun memakannya. Ini perilaku yang baik dari Musa عليه السلام yang di antara pengaruhnya, adalah kecakapan dalam menggembalakan binatang ternak dan bersikap baik kepadanya yang menandakan inayah (perhatian) Allah, peng-istimewaan dan pengkhususan baginya yang dituntut oleh rahmat Allah dan hikmahNya (padanya). ﴾ وَلِيَ فِيهَا مَـَٔارِبُ ﴿ "Dan bagiku ada lagi keperluan padanya," maksudnya fungsi-fungsi ﴾ أُخۡرَىٰ ﴿ "yang lain," selain dua kegunaan ini. Di antara etika Nabi Musa عليه السلام, bahwa Allah, ketika bertanya kepadanya tentang apa yang ada di tangan kanannya dengan per-tanyaan yang mungkin mengarah kepada tangan itu sendiri atau manfaatnya, maka beliau menjawab dengan keterangan tentang tangan itu sendiri dan manfaatnya.
(19-20) Allah berfirman kepadanya, ﴾ أَلۡقِهَا يَٰمُوسَىٰ 19 فَأَلۡقَىٰهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٞ تَسۡعَىٰ 20 ﴿ "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat," berubah dengan izin Allah menjadi seekor ular yang besar, maka, Musa berpaling melarikan diri (darinya) dengan rasa takut, tanpa menoleh ke belakang lagi. Penyebutan sifat ia (ular itu) merayap cepat untuk menangkis prasangka yang mungkin muncul. Yakni, prasangka bahwa kejadian itu merupakan takhyil (penipuan mata saja) tidak ada kenyataan-nya. Jadi, sifatnya "merayap dengan cepat" dapat menepis prasangka itu.
(21) Allah berkata kepada Musa, ﴾ خُذۡهَا وَلَا تَخَفۡۖ ﴿ "Peganglah ia dan jangan takut," tidak ada bahaya bagimu pada ular itu ﴾ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا ٱلۡأُولَىٰ 21 ﴿ "Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula," yaitu bentuk dan sifat (aslinya). Sebab, sebelumnya adalah tongkat. Maka Musa menaati perintah Allah sebagai (cermin) keimanan dan penyerahan diri beliau kepadaNya. Lalu beliau mengambilnya. Tongkatnya kembali seperti semula yang ia kenal. Ini salah satu tanda kekuasaan Allah.
(22) Kemudian Allah menyebutkan tanda kekuasaanNya yang lain. Allah berfirman, ﴾ وَٱضۡمُمۡ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ ﴿ "Dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu," maksudnya masukkanlah tanganmu ke ketiakmu. Dan kempitkanlah lengan tanganmu yang merupakan sisi (sayap) pada manusia, ﴾ تَخۡرُجۡ بَيۡضَآءَ مِنۡ غَيۡرِ سُوٓءٍ ﴿ "niscaya ia keluar men-jadi putih cemerlang tanpa cacat," yaitu berwarna putih mengkilap tanpa cacat maupun sopak ﴾ ءَايَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "sebagai mukjizat lain."
(23) Allah berfirman, ﴾ فَذَٰنِكَ بُرۡهَٰنَانِ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ﴿ "Maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Rabbmu (yang akan kamu hadapkan) kepada Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. Se-sungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Qashash: 32), ﴾ لِنُرِيَكَ مِنۡ ءَايَٰتِنَا ٱلۡكُبۡرَى 23 ﴿ "Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar," maksudnya Kami me-lakukan apa yang telah Kami sebutkan, berupa perubahan tongkat menjelma seekor ular yang merayap cepat, keluarnya tangan ber-warna putih pada pandangan orang-orang yang melihatnya, ber-tujuan agar Kami memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar yang menunjukkan kebenaran risalahmu dan hakikat ajaran yang engkau bawa. Sehingga kalbumu menjadi tenang, ilmumu bertambah dan engkau percaya kepada janji Allah kepa-damu berupa pemeliharaan dan pertolongan. Dan supaya menjadi hujjah dan bukti bagi kaum yang mana engkau diutus kepada mereka.
Taha 20:21
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?" Musa berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya." Allah berfirman, "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepada-mu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar." (Thaha: 17-23).
(17) Usai menjelaskan prinsip keimanan kepada Musa, Allah ingin memaparkan dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang akan menyebabkan hatinya tenang dan pandangannya sejuk dengannya, dan keimanan menjadi kokoh dengan dukungan dari Allah baginya di hadapan musuh. Lalu Allah berfirman, ﴾ وَمَا تِلۡكَ بِيَمِينِكَ يَٰمُوسَىٰ 17 ﴿ "Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa," Pertanyaan ini (disampaikan), kendatipun Allah تعالى sudah mengetahuinya. Namun, agar lebih menarik perhatian pada momentum ini, pembicaraan dimulai melalui cara pertanyaan.
(18) Musa berkata, ﴾ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّؤُاْ عَلَيۡهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي ﴿ "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengan-nya untuk kambingku." Beliau menyebutkan dua kegunaannya. Satu manfaat bagi manusia, yaitu beliau bersandar padanya saat berdiri dan berjalan. Padanya terdapat bantuan dan manfaat bagi bina-tang-binatang ternak. Yaitu, saat beliau sedang menggembalakan kambing, jika sedang menggembalakannya di pepohonan Khabath (yang berdaun rimbun) atau pohon lain yang serupa, beliau meng-gerak-gerakkannya. Maksudnya, beliau memukuli pohon itu, supaya daun-daunnya rontok. Kambing pun memakannya. Ini perilaku yang baik dari Musa عليه السلام yang di antara pengaruhnya, adalah kecakapan dalam menggembalakan binatang ternak dan bersikap baik kepadanya yang menandakan inayah (perhatian) Allah, peng-istimewaan dan pengkhususan baginya yang dituntut oleh rahmat Allah dan hikmahNya (padanya). ﴾ وَلِيَ فِيهَا مَـَٔارِبُ ﴿ "Dan bagiku ada lagi keperluan padanya," maksudnya fungsi-fungsi ﴾ أُخۡرَىٰ ﴿ "yang lain," selain dua kegunaan ini. Di antara etika Nabi Musa عليه السلام, bahwa Allah, ketika bertanya kepadanya tentang apa yang ada di tangan kanannya dengan per-tanyaan yang mungkin mengarah kepada tangan itu sendiri atau manfaatnya, maka beliau menjawab dengan keterangan tentang tangan itu sendiri dan manfaatnya.
(19-20) Allah berfirman kepadanya, ﴾ أَلۡقِهَا يَٰمُوسَىٰ 19 فَأَلۡقَىٰهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٞ تَسۡعَىٰ 20 ﴿ "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat," berubah dengan izin Allah menjadi seekor ular yang besar, maka, Musa berpaling melarikan diri (darinya) dengan rasa takut, tanpa menoleh ke belakang lagi. Penyebutan sifat ia (ular itu) merayap cepat untuk menangkis prasangka yang mungkin muncul. Yakni, prasangka bahwa kejadian itu merupakan takhyil (penipuan mata saja) tidak ada kenyataan-nya. Jadi, sifatnya "merayap dengan cepat" dapat menepis prasangka itu.
(21) Allah berkata kepada Musa, ﴾ خُذۡهَا وَلَا تَخَفۡۖ ﴿ "Peganglah ia dan jangan takut," tidak ada bahaya bagimu pada ular itu ﴾ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا ٱلۡأُولَىٰ 21 ﴿ "Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula," yaitu bentuk dan sifat (aslinya). Sebab, sebelumnya adalah tongkat. Maka Musa menaati perintah Allah sebagai (cermin) keimanan dan penyerahan diri beliau kepadaNya. Lalu beliau mengambilnya. Tongkatnya kembali seperti semula yang ia kenal. Ini salah satu tanda kekuasaan Allah.
(22) Kemudian Allah menyebutkan tanda kekuasaanNya yang lain. Allah berfirman, ﴾ وَٱضۡمُمۡ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ ﴿ "Dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu," maksudnya masukkanlah tanganmu ke ketiakmu. Dan kempitkanlah lengan tanganmu yang merupakan sisi (sayap) pada manusia, ﴾ تَخۡرُجۡ بَيۡضَآءَ مِنۡ غَيۡرِ سُوٓءٍ ﴿ "niscaya ia keluar men-jadi putih cemerlang tanpa cacat," yaitu berwarna putih mengkilap tanpa cacat maupun sopak ﴾ ءَايَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "sebagai mukjizat lain."
(23) Allah berfirman, ﴾ فَذَٰنِكَ بُرۡهَٰنَانِ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ﴿ "Maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Rabbmu (yang akan kamu hadapkan) kepada Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. Se-sungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Qashash: 32), ﴾ لِنُرِيَكَ مِنۡ ءَايَٰتِنَا ٱلۡكُبۡرَى 23 ﴿ "Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar," maksudnya Kami me-lakukan apa yang telah Kami sebutkan, berupa perubahan tongkat menjelma seekor ular yang merayap cepat, keluarnya tangan ber-warna putih pada pandangan orang-orang yang melihatnya, ber-tujuan agar Kami memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar yang menunjukkan kebenaran risalahmu dan hakikat ajaran yang engkau bawa. Sehingga kalbumu menjadi tenang, ilmumu bertambah dan engkau percaya kepada janji Allah kepa-damu berupa pemeliharaan dan pertolongan. Dan supaya menjadi hujjah dan bukti bagi kaum yang mana engkau diutus kepada mereka.
Taha 20:22
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?" Musa berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya." Allah berfirman, "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepada-mu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar." (Thaha: 17-23).
(17) Usai menjelaskan prinsip keimanan kepada Musa, Allah ingin memaparkan dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang akan menyebabkan hatinya tenang dan pandangannya sejuk dengannya, dan keimanan menjadi kokoh dengan dukungan dari Allah baginya di hadapan musuh. Lalu Allah berfirman, ﴾ وَمَا تِلۡكَ بِيَمِينِكَ يَٰمُوسَىٰ 17 ﴿ "Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa," Pertanyaan ini (disampaikan), kendatipun Allah تعالى sudah mengetahuinya. Namun, agar lebih menarik perhatian pada momentum ini, pembicaraan dimulai melalui cara pertanyaan.
(18) Musa berkata, ﴾ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّؤُاْ عَلَيۡهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي ﴿ "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengan-nya untuk kambingku." Beliau menyebutkan dua kegunaannya. Satu manfaat bagi manusia, yaitu beliau bersandar padanya saat berdiri dan berjalan. Padanya terdapat bantuan dan manfaat bagi bina-tang-binatang ternak. Yaitu, saat beliau sedang menggembalakan kambing, jika sedang menggembalakannya di pepohonan Khabath (yang berdaun rimbun) atau pohon lain yang serupa, beliau meng-gerak-gerakkannya. Maksudnya, beliau memukuli pohon itu, supaya daun-daunnya rontok. Kambing pun memakannya. Ini perilaku yang baik dari Musa عليه السلام yang di antara pengaruhnya, adalah kecakapan dalam menggembalakan binatang ternak dan bersikap baik kepadanya yang menandakan inayah (perhatian) Allah, peng-istimewaan dan pengkhususan baginya yang dituntut oleh rahmat Allah dan hikmahNya (padanya). ﴾ وَلِيَ فِيهَا مَـَٔارِبُ ﴿ "Dan bagiku ada lagi keperluan padanya," maksudnya fungsi-fungsi ﴾ أُخۡرَىٰ ﴿ "yang lain," selain dua kegunaan ini. Di antara etika Nabi Musa عليه السلام, bahwa Allah, ketika bertanya kepadanya tentang apa yang ada di tangan kanannya dengan per-tanyaan yang mungkin mengarah kepada tangan itu sendiri atau manfaatnya, maka beliau menjawab dengan keterangan tentang tangan itu sendiri dan manfaatnya.
(19-20) Allah berfirman kepadanya, ﴾ أَلۡقِهَا يَٰمُوسَىٰ 19 فَأَلۡقَىٰهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٞ تَسۡعَىٰ 20 ﴿ "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat," berubah dengan izin Allah menjadi seekor ular yang besar, maka, Musa berpaling melarikan diri (darinya) dengan rasa takut, tanpa menoleh ke belakang lagi. Penyebutan sifat ia (ular itu) merayap cepat untuk menangkis prasangka yang mungkin muncul. Yakni, prasangka bahwa kejadian itu merupakan takhyil (penipuan mata saja) tidak ada kenyataan-nya. Jadi, sifatnya "merayap dengan cepat" dapat menepis prasangka itu.
(21) Allah berkata kepada Musa, ﴾ خُذۡهَا وَلَا تَخَفۡۖ ﴿ "Peganglah ia dan jangan takut," tidak ada bahaya bagimu pada ular itu ﴾ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا ٱلۡأُولَىٰ 21 ﴿ "Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula," yaitu bentuk dan sifat (aslinya). Sebab, sebelumnya adalah tongkat. Maka Musa menaati perintah Allah sebagai (cermin) keimanan dan penyerahan diri beliau kepadaNya. Lalu beliau mengambilnya. Tongkatnya kembali seperti semula yang ia kenal. Ini salah satu tanda kekuasaan Allah.
(22) Kemudian Allah menyebutkan tanda kekuasaanNya yang lain. Allah berfirman, ﴾ وَٱضۡمُمۡ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ ﴿ "Dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu," maksudnya masukkanlah tanganmu ke ketiakmu. Dan kempitkanlah lengan tanganmu yang merupakan sisi (sayap) pada manusia, ﴾ تَخۡرُجۡ بَيۡضَآءَ مِنۡ غَيۡرِ سُوٓءٍ ﴿ "niscaya ia keluar men-jadi putih cemerlang tanpa cacat," yaitu berwarna putih mengkilap tanpa cacat maupun sopak ﴾ ءَايَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "sebagai mukjizat lain."
(23) Allah berfirman, ﴾ فَذَٰنِكَ بُرۡهَٰنَانِ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ﴿ "Maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Rabbmu (yang akan kamu hadapkan) kepada Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. Se-sungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Qashash: 32), ﴾ لِنُرِيَكَ مِنۡ ءَايَٰتِنَا ٱلۡكُبۡرَى 23 ﴿ "Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar," maksudnya Kami me-lakukan apa yang telah Kami sebutkan, berupa perubahan tongkat menjelma seekor ular yang merayap cepat, keluarnya tangan ber-warna putih pada pandangan orang-orang yang melihatnya, ber-tujuan agar Kami memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar yang menunjukkan kebenaran risalahmu dan hakikat ajaran yang engkau bawa. Sehingga kalbumu menjadi tenang, ilmumu bertambah dan engkau percaya kepada janji Allah kepa-damu berupa pemeliharaan dan pertolongan. Dan supaya menjadi hujjah dan bukti bagi kaum yang mana engkau diutus kepada mereka.
Taha 20:23
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?" Musa berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya." Allah berfirman, "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepada-mu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar." (Thaha: 17-23).
(17) Usai menjelaskan prinsip keimanan kepada Musa, Allah ingin memaparkan dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang akan menyebabkan hatinya tenang dan pandangannya sejuk dengannya, dan keimanan menjadi kokoh dengan dukungan dari Allah baginya di hadapan musuh. Lalu Allah berfirman, ﴾ وَمَا تِلۡكَ بِيَمِينِكَ يَٰمُوسَىٰ 17 ﴿ "Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa," Pertanyaan ini (disampaikan), kendatipun Allah تعالى sudah mengetahuinya. Namun, agar lebih menarik perhatian pada momentum ini, pembicaraan dimulai melalui cara pertanyaan.
(18) Musa berkata, ﴾ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّؤُاْ عَلَيۡهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي ﴿ "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengan-nya untuk kambingku." Beliau menyebutkan dua kegunaannya. Satu manfaat bagi manusia, yaitu beliau bersandar padanya saat berdiri dan berjalan. Padanya terdapat bantuan dan manfaat bagi bina-tang-binatang ternak. Yaitu, saat beliau sedang menggembalakan kambing, jika sedang menggembalakannya di pepohonan Khabath (yang berdaun rimbun) atau pohon lain yang serupa, beliau meng-gerak-gerakkannya. Maksudnya, beliau memukuli pohon itu, supaya daun-daunnya rontok. Kambing pun memakannya. Ini perilaku yang baik dari Musa عليه السلام yang di antara pengaruhnya, adalah kecakapan dalam menggembalakan binatang ternak dan bersikap baik kepadanya yang menandakan inayah (perhatian) Allah, peng-istimewaan dan pengkhususan baginya yang dituntut oleh rahmat Allah dan hikmahNya (padanya). ﴾ وَلِيَ فِيهَا مَـَٔارِبُ ﴿ "Dan bagiku ada lagi keperluan padanya," maksudnya fungsi-fungsi ﴾ أُخۡرَىٰ ﴿ "yang lain," selain dua kegunaan ini. Di antara etika Nabi Musa عليه السلام, bahwa Allah, ketika bertanya kepadanya tentang apa yang ada di tangan kanannya dengan per-tanyaan yang mungkin mengarah kepada tangan itu sendiri atau manfaatnya, maka beliau menjawab dengan keterangan tentang tangan itu sendiri dan manfaatnya.
(19-20) Allah berfirman kepadanya, ﴾ أَلۡقِهَا يَٰمُوسَىٰ 19 فَأَلۡقَىٰهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٞ تَسۡعَىٰ 20 ﴿ "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat," berubah dengan izin Allah menjadi seekor ular yang besar, maka, Musa berpaling melarikan diri (darinya) dengan rasa takut, tanpa menoleh ke belakang lagi. Penyebutan sifat ia (ular itu) merayap cepat untuk menangkis prasangka yang mungkin muncul. Yakni, prasangka bahwa kejadian itu merupakan takhyil (penipuan mata saja) tidak ada kenyataan-nya. Jadi, sifatnya "merayap dengan cepat" dapat menepis prasangka itu.
(21) Allah berkata kepada Musa, ﴾ خُذۡهَا وَلَا تَخَفۡۖ ﴿ "Peganglah ia dan jangan takut," tidak ada bahaya bagimu pada ular itu ﴾ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا ٱلۡأُولَىٰ 21 ﴿ "Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula," yaitu bentuk dan sifat (aslinya). Sebab, sebelumnya adalah tongkat. Maka Musa menaati perintah Allah sebagai (cermin) keimanan dan penyerahan diri beliau kepadaNya. Lalu beliau mengambilnya. Tongkatnya kembali seperti semula yang ia kenal. Ini salah satu tanda kekuasaan Allah.
(22) Kemudian Allah menyebutkan tanda kekuasaanNya yang lain. Allah berfirman, ﴾ وَٱضۡمُمۡ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ ﴿ "Dan kempitkanlah tanganmu ke ketiakmu," maksudnya masukkanlah tanganmu ke ketiakmu. Dan kempitkanlah lengan tanganmu yang merupakan sisi (sayap) pada manusia, ﴾ تَخۡرُجۡ بَيۡضَآءَ مِنۡ غَيۡرِ سُوٓءٍ ﴿ "niscaya ia keluar men-jadi putih cemerlang tanpa cacat," yaitu berwarna putih mengkilap tanpa cacat maupun sopak ﴾ ءَايَةً أُخۡرَىٰ ﴿ "sebagai mukjizat lain."
(23) Allah berfirman, ﴾ فَذَٰنِكَ بُرۡهَٰنَانِ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَإِيْهِۦٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ﴿ "Maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Rabbmu (yang akan kamu hadapkan) kepada Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. Se-sungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Qashash: 32), ﴾ لِنُرِيَكَ مِنۡ ءَايَٰتِنَا ٱلۡكُبۡرَى 23 ﴿ "Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar," maksudnya Kami me-lakukan apa yang telah Kami sebutkan, berupa perubahan tongkat menjelma seekor ular yang merayap cepat, keluarnya tangan ber-warna putih pada pandangan orang-orang yang melihatnya, ber-tujuan agar Kami memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar yang menunjukkan kebenaran risalahmu dan hakikat ajaran yang engkau bawa. Sehingga kalbumu menjadi tenang, ilmumu bertambah dan engkau percaya kepada janji Allah kepa-damu berupa pemeliharaan dan pertolongan. Dan supaya menjadi hujjah dan bukti bagi kaum yang mana engkau diutus kepada mereka.
Taha 20:24
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:25
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:26
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:27
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:28
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:29
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:30
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:31
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:32
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:33
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:34
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:35
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:36
"Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas." Musa berkata, "Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun sau-daraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Allah berfirman, "Sungguh telah diper-kenankan permintaanmu, hai Musa." (24-36).
(24) Setelah mengirimkan wahyu kepada Musa dan mene-tapkan kenabiannya serta memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaanNya yang mencengangkan pandangan, Allah mengutus-nya ke Fir'aun, raja Mesir. Allah berfirman, ﴾ ٱذۡهَبۡ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 24 ﴿ "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya, keras kepala dan melampaui batas dalam kekufuran, kemaksiatan, dan kecongkakan di bumi serta tindakan kediktatoran terhadap kaum yang lemah. Bahkan sampai mengklaim sifat ru-bubiyah dan uluhiyah. Semoga Allah memburukkan kondisinya. Artinya, tindakannya yang melampaui batas menjadi penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, termasuk (cermin) rahmat Allah, hikmah, dan keadilanNya, Dia tidak menyiksa siapapun kecuali setelah tegaknya hujjah kepada mereka melalui pengiriman para rasul.
(25) Saat itulah Musa mengetahui bahwa dia telah me-ngemban beban yang sangat berat sekali, diutus ke penguasa yang bertangan besi lagi keras kepala ini, yang tidak mempunyai tan-dingan di Mesir. Sementara Musa hanya seorang diri saja, dan pernah menjadi penyebab kematian (seseorang di sana). Kemudian, beliau menyambut perintah Rabbnya dan menerimanya dengan hati terbuka dan tulus. Beliau memohon pertolongan kepadaNya dan kemudahan sebab kausalitas yang menjadi kesempurnaan dakwahnya. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي 25 ﴿ "Ya Rabbku, lapang-kanlah untukku dadaku," maksudnya luaskan dan lapangkanlah dadaku untuk menanggung beban perkataan dan tindakan yang tidak baik dan hatiku tidak menjadi kacau karenanya serta tidak merasa sempit. Sesungguhnya hati bila telah menyempit, niscaya pemiliknya tidak pantas mengemban misi memberi petunjuk dan mendakwahi manusia. Allah berfirman kepada NabiNya Muhammad, ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkankan diri dari sekelilingmu." (Ali Imran: 159), semoga manusia menerima kebenaran melalui kelembutan sikap dan kelapangan dada serta keterbukaannya bersama mereka.
(26) ﴾ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي 26 ﴿ "Dan mudahkanlah untukku urusanku," maksudnya, mudahkanlah bagiku segala urusan yang aku kerjakan dan setiap cara yang aku tempuh dalam misiku. Dan ringankanlah kesulitan-kesulitan yang ada di hadapanku. Di antara bentuk kemudahan dari Allah adalah Dia memudahkan bagi seorang da'i untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan caranya yang benar, mengajak bicara manusia dengan gaya bicara yang sesuai dengannya, dan mendakwahi mereka dengan cara yang paling efektif mengantarkan pada sikap menerima perkataannya.
(27-28) ﴾ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي 27 يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي 28 ﴿ "Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku," pada bagian lidahnya terdapat kekeluan untuk berkomunikasi, hampir-hampir perkataan itu tidak terpahami darinya, seperti yang dipaparkan para ahli tafsir. Sebagaimana Firman Allah mengenai dirinya, dia berkata, ﴾ وَأَخِي هَٰرُونُ هُوَ أَفۡصَحُ مِنِّي لِسَانٗا ﴿ "Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya dariku." (Al-Qa-shash: 34). Beliau memohon kepada Allah agar melenyapkan kekakuan pada lidahnya, agar mereka dapat memahami apa yang beliau sampaikan. Dan terealisasikanlah tujuan yang sempurna dari proses komunikasi, perdebatan, dan penjelasan tentang hakikat-hakikat.
(29-30) ﴾ وَٱجۡعَل لِّي وَزِيرٗا مِّنۡ أَهۡلِي 29 ﴿ "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku," maksudnya, jadikanlah untukku pembantu yang menolong dan mendukung serta membantuku menjalankan misi pengutusanku kepada mereka. Beliau meminta agar pen-dukung itu dari keluarga sendiri. Karena tergolong dalam konteks pencurahan kebaikan, dan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan dari seseorang yaitu kaum kerabatnya sendiri. Kemudian beliau menentukan sosok tersebut dalam permohonannya ﴾ هَٰرُونَ أَخِي ﴿ "(yaitu) Harun saudaraku."
(31-32) ﴾ ٱشۡدُدۡ بِهِۦٓ أَزۡرِي 31 ﴿ "Teguhkanlah dengannya kekuatanku," maksudnya kuatkanlah aku dengannya dan kokohkan punggungku dengannya, Allah تعالى berfirman, ﴾ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Kami akan membantu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepa-damu berdua kekuasaan yang besar." (Al-Qashash: 35), ﴾ وَأَشۡرِكۡهُ فِيٓ أَمۡرِي 32 ﴿ "dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," maksud-nya dalam kenabian, dengan cara Engkau mengangkatnya sebagai nabi lagi rasul, sebagaimana Engkau telah menjadikanku demikian.
(33-34) Kemudian Allah menyampaikan faidah berkaitan dengan itu. Allah berfirman, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "Supaya kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu." Beliau mengetahui bahwa intisari dari semua ibadah dan agama adalah untuk dzikrullah (mengingat Allah). Beliau meminta Allah untuk menjadikan saudaranya bersama beliau, agar dapat saling bekerja-sama dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Hasilnya, akan semakin banyak lantunan dzikrullah dari mereka berdua, berupa tasbih, tahlil, dan ibadah-ibadah lainnya.
(35) ﴾ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرٗا 35 ﴿ "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami." Engkau mengetahui keadaan, kelemahan, dan ketidakberdayaan kami, serta kebutuhan kami pada (perto-longan)Mu dalam setiap urusan. Engkau lebih memahami dan lebih mengasihi kami daripada diri kami sendiri. Maka, curahkanlah kepada kami karunia yang kami panjatkan kepadaMu dan kabul-kanlah untuk kami segala sesuatu yang kami panjatkan.
(36) Allah berfirman, ﴾ قَدۡ أُوتِيتَ سُؤۡلَكَ يَٰمُوسَىٰ 36 ﴿ "Sungguh telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa," maksudnya engkau telah diberi segala yang engkau minta. Kami akan melapangkan dadamu, memudahkan urusanmu dan melepaskan kekakuan pada lidahmu, sehingga mereka akan memahami apa yang engkau kemukakan. Dan Kami akan meneguhkan, ﴾ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجۡعَلُ لَكُمَا سُلۡطَٰنٗا فَلَا يَصِلُونَ إِلَيۡكُمَا بِـَٔايَٰتِنَآۚ أَنتُمَا وَمَنِ ٱتَّبَعَكُمَا ٱلۡغَٰلِبُونَ 35 ﴿ "Kekuatanmu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang." (Al-Qashash: 35). Permohonan dari Musa ini عليه السلام menunjukkan kesempurnaan ma'rifah beliau terhadap Allah, kesempurnaan kecerdikan dan penguasaan beliau terhadap urusan-urusan dan kesempurnaan ketulusannya. Hal tersebut karena; seorang juru dakwah yang menyeru kepada Allah, yang menunjukkan jalan bagi manusia yang lain, terutama bila obyek dakwah dari kalangan orang-orang yang suka menentang, sombong dan berbuat melampaui batas, maka dia membutuhkan lapangnya dada, dan kelembutan yang penuh untuk menghadapi gangguan yang akan menimpanya, serta lisan yang fasih, yang sanggup mengungkapkan dengannya apa yang diinginkan dan dimaksud. Bahkan kelincahan berbicara dan penggunaan gaya bahasa yang menarik termasuk perkara yang sangat dituntut, karena banyaknya terjadi pertukaran pandangan dan saling mendebat serta karena unsur kebutuhannya terhadap (kemampuan) untuk memperindah potret kebenaran dan meng-hiasinya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Gunanya, biar dapat menyulap jiwa-jiwa mereka untuk bersimpati, juga untuk memperburuk gambaran kebatilan dan mencoreng-corengnya supaya lari darinya. Selain itu, seorang da'i berkepentingan agar urusannya menjadi mudah, maka dia memasuki 'rumah melalui pintu-pintunya' (menjalankan urusan melalui jalur yang tepat), mendakwahi dengan cara hikmah, nasihat yang baik dan mujadalah (adu argumentasi) dengan cara yang terbaik, berinteraksi dengan orang-orang yang sesuai dengan kondisinya. Lebih sempurna lagi, orang yang statusnya demikian seharusnya mempunyai pendu-kung-pendukung dan pembantu-pembantu yang akan meringan-kannya menjalankan misinya. Pasalnya, suara-suara bila berjumlah banyak akan berpengaruh. Karena itu, beliau عليه السلام memohon hal-hal ini, lalu Allah langsung memberinya. Kalau Anda memperhatikan kondisi para nabi yang diutus kepada umat manusia, maka Anda akan menyaksikan mereka ber-karakter demikian sesuai dengan kondisinya, terutama nabi penu-tup mereka dan yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya beliau berada di puncak tertinggi di setiap sifat kesempurnaan. Beliau mempunyai kelapangan dada, kemudahan urusan-urusan, kemampuan bicara yang bagus, keindahan pengungkapan dan tutur kata, serta memiliki para pendukung atas kebenaran dari kalangan sahabat dan orang-orang setelah mereka, yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Taha 20:37
"Dan sungguh Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu, 'Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah dia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu akan membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuhKu dan musuhnya; Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu; dan supaya kamu diasuh di bawah (pengawasan) MataKu. (Yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu dia berkata kepada (keluarga Fir'aun), 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeli-haranya?' Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membu-nuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan, dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk diriKu'." (Thaha: 37-41).
(37-39) Setelah menyebutkan karuniaNya yang tercurah-kan kepada hamba dan RasulNya, Musa bin Imran dalam bentuk penguasaan agama, menerima wahyu dan risalah serta menjawab permohonannya, Allah mengingatkan kenikmatanNya yang ter-limpahkan kepadanya pada masa pertumbuhan fisik dan perkem-bangan tahapan-tahapannya. Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ مَنَنَّا عَلَيۡكَ مَرَّةً أُخۡرَىٰٓ 37 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain," saat itu Kami mengilhamkan ibumu untuk meletakkanmu ke dalam sebuah peti (untuk dihanyutkan ke sungai) pada saat engkau masih berada di masa persusuan lantaran takut kepada Fir'aun. Karena ia (Fir'aun) menitahkan penyembelihan anak laki-laki Bani Isra`il. Maka si ibu menyembunyikannya, dan benar-benar mengkhawatirkan (keadaan)-nya. Ia pun meletakkannya di peti itu, selanjutnya, mengapungkan-nya di sungai, yaitu sisi sungai Nil Mesir. Allah memerintahkan sungai itu agar melontarkannya ke tepian dan mengondisikannya agar diambil oleh orang yang paling bengis permusuhannya kepada Allah dan Musa. Ia (Musa) tumbuh berkembang di tengah anak-anaknya. Menjadi buah hati bagi orang yang melihatnya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَأَلۡقَيۡتُ عَلَيۡكَ مَحَبَّةٗ مِّنِّي ﴿ "dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu." Setiap orang yang melihat beliau, langsung menyukainya. ﴾ وَلِتُصۡنَعَ عَلَىٰ عَيۡنِيٓ 39 ﴿ "Dan supaya kamu diasuh di bawah (pengawasan) MataKu," maksudnya engkau tumbuh di bawah pengawasan, penjagaan, dan pemeliha-raanKu. Manakah pengawasan dan jaminan yang lebih agung dan lebih sempurna daripada perlindungan Dzat Yang Mahabaik, Maha Penyayang dan Mahakuasa untuk mendistribusikan kemaslahatan-kemaslahatan bagi hambaNya dan menyingkirkan bahaya-bahaya dariNya? Tidaklah beliau melewati satu kondisi ke kondisi berikut-nya melainkan pasti Allah-lah yang mengatur semua urusan itu untuk kebaikan Musa.
(40) Di antara bukti baiknya pengaturan Allah, adalah bahwa Musa ketika terjatuh di tangan musuhnya, maka ibu beliau sangat mengalami kegundahan. Hatinya kosong. Hampir saja ber-bicara tentangnya, seandainya Allah tidak meneguhkan sang ibu dan memantapkan hatinya. Dalam kondisi ini, Allah menghalang-halangi wanita-wanita yang ingin menyusui Musa. Ia tidak mau menerima susuan wanita mana pun, supaya tempat kembalinya adalah ibunya (sendiri) se-hingga dia bisa menyusuinya. Ia pun berada di sisi sang ibu, hingga (ibunya) menjadi tenang, tentram dan suka cita. Mereka mulai menawarkan beberapa wanita yang ingin menyusui Musa. Akan tetapi dia tidak mau menerima (susuan) satu tetek pun. Kemudian saudara perempuan Musa datang menawarkan, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ مَن يَكۡفُلُهُۥۖ ﴿ "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya," kepada sebuah keluarga yang akan menanganinya untuk meng-gantikan kalian, mereka sungguh-sungguh akan memperhatikan-nya. ﴾ فَرَجَعۡنَٰكَ إِلَىٰٓ أُمِّكَ كَيۡ تَقَرَّ عَيۡنُهَا وَلَا تَحۡزَنَۚ وَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا ﴿ "Maka Kami mengembali-kanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia," yaitu orang Qibthi. Ketika beliau memasuki perkotaan pada waktu orang-orang terlena, beliau menjumpai dua orang lelaki bertikai. Salah satunya berasal dari sukunya. Sementara itu, yang lain berasal dari suku yang memu-suhi, suku Qibthi, maka lelaki yang berasal dari kaumnya meminta pertolongan untuk menghadapi lawannya. Musa memukulnya, dan seketika itu langsung menewaskannya. Beliau berdoa kepada Allah dan memohon ampunan (dari tindakan tadi). Maka Allah mengampuninya. Setelah itu, beliau melarikan diri, tatkala mene-rima berita bahwa orang-orang mencarinya untuk membunuhnya. ﴾ فَنَجَّيۡنَٰكَ مِنَ ٱلۡغَمِّ ﴿ "Kami selamatkan kamu dari kesusahan," dari hukuman dosa dan pembunuhan. ﴾ وَفَتَنَّٰكَ فُتُونٗاۚ ﴿ "Dan Kami telah men-cobamu dengan beberapa cobaan," Kami telah menguji dan menderamu dengan musibah. Lalu Kami melihatmu dalam keadaan istiqamah (konsisten) di seluruh keadaan. Atau Kami telah memindah-min-dahkan dirimu dalam seluruh kondisi dan tahapan hidup sampai engkau meraih keberhasilan. ﴾ فَلَبِثۡتَ سِنِينَ فِيٓ أَهۡلِ مَدۡيَنَ ﴿ "Maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan," saat melarikan diri dari kejaran Fir'aun dan pasukannya, yang berupaya membunuhmu. Setelah itu, engkau berjalan menuju Madyan dan sampai ke tempat itu dan menikah (dengan wanita) di sana. Engkau menetap di sana selama sepuluh tahun atau delapan tahun. ﴾ ثُمَّ جِئۡتَ عَلَىٰ قَدَرٖ يَٰمُوسَىٰ 40 ﴿ "Kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa," maksudnya kemudian engkau tiba de-ngan kedatangan yang bukan kebetulan terjadi, tanpa disengaja atau pengaturan (dari Kami). Bahkan kehadiranmu itu bermula dari ketentuan takdir dan kelembutan Kami. Hal ini menunjukkan kesempurnaan perhatian Allah terhadap KalimNya (orang yang diajak bicara secara langsung), Musa عليه السلام.
(41) Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَٱصۡطَنَعۡتُكَ لِنَفۡسِي 41 ﴿ "Dan Aku telah memilihmu untuk diriKu," maksudnya Aku telah mencurah-kan segala perbuatan, kenikmatan, kebaikan fasilitas dan pemeli-haraanKu kepadamu. Tujuannya, agar engkau menjadi insan yang tercinta dan istimewa bagiKu, mencapai tingkatan dalam anugerah ini, yang tidak dapat digapai oleh orang lain dari makhlukKu kecuali sedikit dari mereka. Apabila ada orang yang mencintai, ingin mengistimewakan kekasihnya dari kalangan manusia, menginginkannya meraih kesempurnaan setinggi-tingginya, maka dia rela mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki dan mengusahakan semaksimal mungkin untuk merealisasikan kehendak tersebut, lalu bagaimana pandanganmu tentang usaha-usaha Rabb yang Mahakuasa (atas segala sesuatu) lagi Mahamulia?! Apa yang ada di benakmu tentang (tindakan-tindakan) Dzat yang menginginkan seseorang (untuk dipilih) bagi diriNya sendiri dan memilihnya dari makhluk-makh-lukNya?
Taha 20:38
"Dan sungguh Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu, 'Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah dia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu akan membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuhKu dan musuhnya; Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu; dan supaya kamu diasuh di bawah (pengawasan) MataKu. (Yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu dia berkata kepada (keluarga Fir'aun), 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeli-haranya?' Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membu-nuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan, dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk diriKu'." (Thaha: 37-41).
(37-39) Setelah menyebutkan karuniaNya yang tercurah-kan kepada hamba dan RasulNya, Musa bin Imran dalam bentuk penguasaan agama, menerima wahyu dan risalah serta menjawab permohonannya, Allah mengingatkan kenikmatanNya yang ter-limpahkan kepadanya pada masa pertumbuhan fisik dan perkem-bangan tahapan-tahapannya. Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ مَنَنَّا عَلَيۡكَ مَرَّةً أُخۡرَىٰٓ 37 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain," saat itu Kami mengilhamkan ibumu untuk meletakkanmu ke dalam sebuah peti (untuk dihanyutkan ke sungai) pada saat engkau masih berada di masa persusuan lantaran takut kepada Fir'aun. Karena ia (Fir'aun) menitahkan penyembelihan anak laki-laki Bani Isra`il. Maka si ibu menyembunyikannya, dan benar-benar mengkhawatirkan (keadaan)-nya. Ia pun meletakkannya di peti itu, selanjutnya, mengapungkan-nya di sungai, yaitu sisi sungai Nil Mesir. Allah memerintahkan sungai itu agar melontarkannya ke tepian dan mengondisikannya agar diambil oleh orang yang paling bengis permusuhannya kepada Allah dan Musa. Ia (Musa) tumbuh berkembang di tengah anak-anaknya. Menjadi buah hati bagi orang yang melihatnya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَأَلۡقَيۡتُ عَلَيۡكَ مَحَبَّةٗ مِّنِّي ﴿ "dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu." Setiap orang yang melihat beliau, langsung menyukainya. ﴾ وَلِتُصۡنَعَ عَلَىٰ عَيۡنِيٓ 39 ﴿ "Dan supaya kamu diasuh di bawah (pengawasan) MataKu," maksudnya engkau tumbuh di bawah pengawasan, penjagaan, dan pemeliha-raanKu. Manakah pengawasan dan jaminan yang lebih agung dan lebih sempurna daripada perlindungan Dzat Yang Mahabaik, Maha Penyayang dan Mahakuasa untuk mendistribusikan kemaslahatan-kemaslahatan bagi hambaNya dan menyingkirkan bahaya-bahaya dariNya? Tidaklah beliau melewati satu kondisi ke kondisi berikut-nya melainkan pasti Allah-lah yang mengatur semua urusan itu untuk kebaikan Musa.
(40) Di antara bukti baiknya pengaturan Allah, adalah bahwa Musa ketika terjatuh di tangan musuhnya, maka ibu beliau sangat mengalami kegundahan. Hatinya kosong. Hampir saja ber-bicara tentangnya, seandainya Allah tidak meneguhkan sang ibu dan memantapkan hatinya. Dalam kondisi ini, Allah menghalang-halangi wanita-wanita yang ingin menyusui Musa. Ia tidak mau menerima susuan wanita mana pun, supaya tempat kembalinya adalah ibunya (sendiri) se-hingga dia bisa menyusuinya. Ia pun berada di sisi sang ibu, hingga (ibunya) menjadi tenang, tentram dan suka cita. Mereka mulai menawarkan beberapa wanita yang ingin menyusui Musa. Akan tetapi dia tidak mau menerima (susuan) satu tetek pun. Kemudian saudara perempuan Musa datang menawarkan, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ مَن يَكۡفُلُهُۥۖ ﴿ "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya," kepada sebuah keluarga yang akan menanganinya untuk meng-gantikan kalian, mereka sungguh-sungguh akan memperhatikan-nya. ﴾ فَرَجَعۡنَٰكَ إِلَىٰٓ أُمِّكَ كَيۡ تَقَرَّ عَيۡنُهَا وَلَا تَحۡزَنَۚ وَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا ﴿ "Maka Kami mengembali-kanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia," yaitu orang Qibthi. Ketika beliau memasuki perkotaan pada waktu orang-orang terlena, beliau menjumpai dua orang lelaki bertikai. Salah satunya berasal dari sukunya. Sementara itu, yang lain berasal dari suku yang memu-suhi, suku Qibthi, maka lelaki yang berasal dari kaumnya meminta pertolongan untuk menghadapi lawannya. Musa memukulnya, dan seketika itu langsung menewaskannya. Beliau berdoa kepada Allah dan memohon ampunan (dari tindakan tadi). Maka Allah mengampuninya. Setelah itu, beliau melarikan diri, tatkala mene-rima berita bahwa orang-orang mencarinya untuk membunuhnya. ﴾ فَنَجَّيۡنَٰكَ مِنَ ٱلۡغَمِّ ﴿ "Kami selamatkan kamu dari kesusahan," dari hukuman dosa dan pembunuhan. ﴾ وَفَتَنَّٰكَ فُتُونٗاۚ ﴿ "Dan Kami telah men-cobamu dengan beberapa cobaan," Kami telah menguji dan menderamu dengan musibah. Lalu Kami melihatmu dalam keadaan istiqamah (konsisten) di seluruh keadaan. Atau Kami telah memindah-min-dahkan dirimu dalam seluruh kondisi dan tahapan hidup sampai engkau meraih keberhasilan. ﴾ فَلَبِثۡتَ سِنِينَ فِيٓ أَهۡلِ مَدۡيَنَ ﴿ "Maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan," saat melarikan diri dari kejaran Fir'aun dan pasukannya, yang berupaya membunuhmu. Setelah itu, engkau berjalan menuju Madyan dan sampai ke tempat itu dan menikah (dengan wanita) di sana. Engkau menetap di sana selama sepuluh tahun atau delapan tahun. ﴾ ثُمَّ جِئۡتَ عَلَىٰ قَدَرٖ يَٰمُوسَىٰ 40 ﴿ "Kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa," maksudnya kemudian engkau tiba de-ngan kedatangan yang bukan kebetulan terjadi, tanpa disengaja atau pengaturan (dari Kami). Bahkan kehadiranmu itu bermula dari ketentuan takdir dan kelembutan Kami. Hal ini menunjukkan kesempurnaan perhatian Allah terhadap KalimNya (orang yang diajak bicara secara langsung), Musa عليه السلام.
(41) Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَٱصۡطَنَعۡتُكَ لِنَفۡسِي 41 ﴿ "Dan Aku telah memilihmu untuk diriKu," maksudnya Aku telah mencurah-kan segala perbuatan, kenikmatan, kebaikan fasilitas dan pemeli-haraanKu kepadamu. Tujuannya, agar engkau menjadi insan yang tercinta dan istimewa bagiKu, mencapai tingkatan dalam anugerah ini, yang tidak dapat digapai oleh orang lain dari makhlukKu kecuali sedikit dari mereka. Apabila ada orang yang mencintai, ingin mengistimewakan kekasihnya dari kalangan manusia, menginginkannya meraih kesempurnaan setinggi-tingginya, maka dia rela mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki dan mengusahakan semaksimal mungkin untuk merealisasikan kehendak tersebut, lalu bagaimana pandanganmu tentang usaha-usaha Rabb yang Mahakuasa (atas segala sesuatu) lagi Mahamulia?! Apa yang ada di benakmu tentang (tindakan-tindakan) Dzat yang menginginkan seseorang (untuk dipilih) bagi diriNya sendiri dan memilihnya dari makhluk-makh-lukNya?
Taha 20:39
"Dan sungguh Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu, 'Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah dia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu akan membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuhKu dan musuhnya; Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu; dan supaya kamu diasuh di bawah (pengawasan) MataKu. (Yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu dia berkata kepada (keluarga Fir'aun), 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeli-haranya?' Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membu-nuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan, dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk diriKu'." (Thaha: 37-41).
(37-39) Setelah menyebutkan karuniaNya yang tercurah-kan kepada hamba dan RasulNya, Musa bin Imran dalam bentuk penguasaan agama, menerima wahyu dan risalah serta menjawab permohonannya, Allah mengingatkan kenikmatanNya yang ter-limpahkan kepadanya pada masa pertumbuhan fisik dan perkem-bangan tahapan-tahapannya. Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ مَنَنَّا عَلَيۡكَ مَرَّةً أُخۡرَىٰٓ 37 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain," saat itu Kami mengilhamkan ibumu untuk meletakkanmu ke dalam sebuah peti (untuk dihanyutkan ke sungai) pada saat engkau masih berada di masa persusuan lantaran takut kepada Fir'aun. Karena ia (Fir'aun) menitahkan penyembelihan anak laki-laki Bani Isra`il. Maka si ibu menyembunyikannya, dan benar-benar mengkhawatirkan (keadaan)-nya. Ia pun meletakkannya di peti itu, selanjutnya, mengapungkan-nya di sungai, yaitu sisi sungai Nil Mesir. Allah memerintahkan sungai itu agar melontarkannya ke tepian dan mengondisikannya agar diambil oleh orang yang paling bengis permusuhannya kepada Allah dan Musa. Ia (Musa) tumbuh berkembang di tengah anak-anaknya. Menjadi buah hati bagi orang yang melihatnya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَأَلۡقَيۡتُ عَلَيۡكَ مَحَبَّةٗ مِّنِّي ﴿ "dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu." Setiap orang yang melihat beliau, langsung menyukainya. ﴾ وَلِتُصۡنَعَ عَلَىٰ عَيۡنِيٓ 39 ﴿ "Dan supaya kamu diasuh di bawah (pengawasan) MataKu," maksudnya engkau tumbuh di bawah pengawasan, penjagaan, dan pemeliha-raanKu. Manakah pengawasan dan jaminan yang lebih agung dan lebih sempurna daripada perlindungan Dzat Yang Mahabaik, Maha Penyayang dan Mahakuasa untuk mendistribusikan kemaslahatan-kemaslahatan bagi hambaNya dan menyingkirkan bahaya-bahaya dariNya? Tidaklah beliau melewati satu kondisi ke kondisi berikut-nya melainkan pasti Allah-lah yang mengatur semua urusan itu untuk kebaikan Musa.
(40) Di antara bukti baiknya pengaturan Allah, adalah bahwa Musa ketika terjatuh di tangan musuhnya, maka ibu beliau sangat mengalami kegundahan. Hatinya kosong. Hampir saja ber-bicara tentangnya, seandainya Allah tidak meneguhkan sang ibu dan memantapkan hatinya. Dalam kondisi ini, Allah menghalang-halangi wanita-wanita yang ingin menyusui Musa. Ia tidak mau menerima susuan wanita mana pun, supaya tempat kembalinya adalah ibunya (sendiri) se-hingga dia bisa menyusuinya. Ia pun berada di sisi sang ibu, hingga (ibunya) menjadi tenang, tentram dan suka cita. Mereka mulai menawarkan beberapa wanita yang ingin menyusui Musa. Akan tetapi dia tidak mau menerima (susuan) satu tetek pun. Kemudian saudara perempuan Musa datang menawarkan, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ مَن يَكۡفُلُهُۥۖ ﴿ "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya," kepada sebuah keluarga yang akan menanganinya untuk meng-gantikan kalian, mereka sungguh-sungguh akan memperhatikan-nya. ﴾ فَرَجَعۡنَٰكَ إِلَىٰٓ أُمِّكَ كَيۡ تَقَرَّ عَيۡنُهَا وَلَا تَحۡزَنَۚ وَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا ﴿ "Maka Kami mengembali-kanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia," yaitu orang Qibthi. Ketika beliau memasuki perkotaan pada waktu orang-orang terlena, beliau menjumpai dua orang lelaki bertikai. Salah satunya berasal dari sukunya. Sementara itu, yang lain berasal dari suku yang memu-suhi, suku Qibthi, maka lelaki yang berasal dari kaumnya meminta pertolongan untuk menghadapi lawannya. Musa memukulnya, dan seketika itu langsung menewaskannya. Beliau berdoa kepada Allah dan memohon ampunan (dari tindakan tadi). Maka Allah mengampuninya. Setelah itu, beliau melarikan diri, tatkala mene-rima berita bahwa orang-orang mencarinya untuk membunuhnya. ﴾ فَنَجَّيۡنَٰكَ مِنَ ٱلۡغَمِّ ﴿ "Kami selamatkan kamu dari kesusahan," dari hukuman dosa dan pembunuhan. ﴾ وَفَتَنَّٰكَ فُتُونٗاۚ ﴿ "Dan Kami telah men-cobamu dengan beberapa cobaan," Kami telah menguji dan menderamu dengan musibah. Lalu Kami melihatmu dalam keadaan istiqamah (konsisten) di seluruh keadaan. Atau Kami telah memindah-min-dahkan dirimu dalam seluruh kondisi dan tahapan hidup sampai engkau meraih keberhasilan. ﴾ فَلَبِثۡتَ سِنِينَ فِيٓ أَهۡلِ مَدۡيَنَ ﴿ "Maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan," saat melarikan diri dari kejaran Fir'aun dan pasukannya, yang berupaya membunuhmu. Setelah itu, engkau berjalan menuju Madyan dan sampai ke tempat itu dan menikah (dengan wanita) di sana. Engkau menetap di sana selama sepuluh tahun atau delapan tahun. ﴾ ثُمَّ جِئۡتَ عَلَىٰ قَدَرٖ يَٰمُوسَىٰ 40 ﴿ "Kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa," maksudnya kemudian engkau tiba de-ngan kedatangan yang bukan kebetulan terjadi, tanpa disengaja atau pengaturan (dari Kami). Bahkan kehadiranmu itu bermula dari ketentuan takdir dan kelembutan Kami. Hal ini menunjukkan kesempurnaan perhatian Allah terhadap KalimNya (orang yang diajak bicara secara langsung), Musa عليه السلام.
(41) Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَٱصۡطَنَعۡتُكَ لِنَفۡسِي 41 ﴿ "Dan Aku telah memilihmu untuk diriKu," maksudnya Aku telah mencurah-kan segala perbuatan, kenikmatan, kebaikan fasilitas dan pemeli-haraanKu kepadamu. Tujuannya, agar engkau menjadi insan yang tercinta dan istimewa bagiKu, mencapai tingkatan dalam anugerah ini, yang tidak dapat digapai oleh orang lain dari makhlukKu kecuali sedikit dari mereka. Apabila ada orang yang mencintai, ingin mengistimewakan kekasihnya dari kalangan manusia, menginginkannya meraih kesempurnaan setinggi-tingginya, maka dia rela mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki dan mengusahakan semaksimal mungkin untuk merealisasikan kehendak tersebut, lalu bagaimana pandanganmu tentang usaha-usaha Rabb yang Mahakuasa (atas segala sesuatu) lagi Mahamulia?! Apa yang ada di benakmu tentang (tindakan-tindakan) Dzat yang menginginkan seseorang (untuk dipilih) bagi diriNya sendiri dan memilihnya dari makhluk-makh-lukNya?
Taha 20:40
"Dan sungguh Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu, 'Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah dia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu akan membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuhKu dan musuhnya; Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu; dan supaya kamu diasuh di bawah (pengawasan) MataKu. (Yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu dia berkata kepada (keluarga Fir'aun), 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeli-haranya?' Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membu-nuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan, dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk diriKu'." (Thaha: 37-41).
(37-39) Setelah menyebutkan karuniaNya yang tercurah-kan kepada hamba dan RasulNya, Musa bin Imran dalam bentuk penguasaan agama, menerima wahyu dan risalah serta menjawab permohonannya, Allah mengingatkan kenikmatanNya yang ter-limpahkan kepadanya pada masa pertumbuhan fisik dan perkem-bangan tahapan-tahapannya. Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ مَنَنَّا عَلَيۡكَ مَرَّةً أُخۡرَىٰٓ 37 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain," saat itu Kami mengilhamkan ibumu untuk meletakkanmu ke dalam sebuah peti (untuk dihanyutkan ke sungai) pada saat engkau masih berada di masa persusuan lantaran takut kepada Fir'aun. Karena ia (Fir'aun) menitahkan penyembelihan anak laki-laki Bani Isra`il. Maka si ibu menyembunyikannya, dan benar-benar mengkhawatirkan (keadaan)-nya. Ia pun meletakkannya di peti itu, selanjutnya, mengapungkan-nya di sungai, yaitu sisi sungai Nil Mesir. Allah memerintahkan sungai itu agar melontarkannya ke tepian dan mengondisikannya agar diambil oleh orang yang paling bengis permusuhannya kepada Allah dan Musa. Ia (Musa) tumbuh berkembang di tengah anak-anaknya. Menjadi buah hati bagi orang yang melihatnya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَأَلۡقَيۡتُ عَلَيۡكَ مَحَبَّةٗ مِّنِّي ﴿ "dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu." Setiap orang yang melihat beliau, langsung menyukainya. ﴾ وَلِتُصۡنَعَ عَلَىٰ عَيۡنِيٓ 39 ﴿ "Dan supaya kamu diasuh di bawah (pengawasan) MataKu," maksudnya engkau tumbuh di bawah pengawasan, penjagaan, dan pemeliha-raanKu. Manakah pengawasan dan jaminan yang lebih agung dan lebih sempurna daripada perlindungan Dzat Yang Mahabaik, Maha Penyayang dan Mahakuasa untuk mendistribusikan kemaslahatan-kemaslahatan bagi hambaNya dan menyingkirkan bahaya-bahaya dariNya? Tidaklah beliau melewati satu kondisi ke kondisi berikut-nya melainkan pasti Allah-lah yang mengatur semua urusan itu untuk kebaikan Musa.
(40) Di antara bukti baiknya pengaturan Allah, adalah bahwa Musa ketika terjatuh di tangan musuhnya, maka ibu beliau sangat mengalami kegundahan. Hatinya kosong. Hampir saja ber-bicara tentangnya, seandainya Allah tidak meneguhkan sang ibu dan memantapkan hatinya. Dalam kondisi ini, Allah menghalang-halangi wanita-wanita yang ingin menyusui Musa. Ia tidak mau menerima susuan wanita mana pun, supaya tempat kembalinya adalah ibunya (sendiri) se-hingga dia bisa menyusuinya. Ia pun berada di sisi sang ibu, hingga (ibunya) menjadi tenang, tentram dan suka cita. Mereka mulai menawarkan beberapa wanita yang ingin menyusui Musa. Akan tetapi dia tidak mau menerima (susuan) satu tetek pun. Kemudian saudara perempuan Musa datang menawarkan, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ مَن يَكۡفُلُهُۥۖ ﴿ "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya," kepada sebuah keluarga yang akan menanganinya untuk meng-gantikan kalian, mereka sungguh-sungguh akan memperhatikan-nya. ﴾ فَرَجَعۡنَٰكَ إِلَىٰٓ أُمِّكَ كَيۡ تَقَرَّ عَيۡنُهَا وَلَا تَحۡزَنَۚ وَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا ﴿ "Maka Kami mengembali-kanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia," yaitu orang Qibthi. Ketika beliau memasuki perkotaan pada waktu orang-orang terlena, beliau menjumpai dua orang lelaki bertikai. Salah satunya berasal dari sukunya. Sementara itu, yang lain berasal dari suku yang memu-suhi, suku Qibthi, maka lelaki yang berasal dari kaumnya meminta pertolongan untuk menghadapi lawannya. Musa memukulnya, dan seketika itu langsung menewaskannya. Beliau berdoa kepada Allah dan memohon ampunan (dari tindakan tadi). Maka Allah mengampuninya. Setelah itu, beliau melarikan diri, tatkala mene-rima berita bahwa orang-orang mencarinya untuk membunuhnya. ﴾ فَنَجَّيۡنَٰكَ مِنَ ٱلۡغَمِّ ﴿ "Kami selamatkan kamu dari kesusahan," dari hukuman dosa dan pembunuhan. ﴾ وَفَتَنَّٰكَ فُتُونٗاۚ ﴿ "Dan Kami telah men-cobamu dengan beberapa cobaan," Kami telah menguji dan menderamu dengan musibah. Lalu Kami melihatmu dalam keadaan istiqamah (konsisten) di seluruh keadaan. Atau Kami telah memindah-min-dahkan dirimu dalam seluruh kondisi dan tahapan hidup sampai engkau meraih keberhasilan. ﴾ فَلَبِثۡتَ سِنِينَ فِيٓ أَهۡلِ مَدۡيَنَ ﴿ "Maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan," saat melarikan diri dari kejaran Fir'aun dan pasukannya, yang berupaya membunuhmu. Setelah itu, engkau berjalan menuju Madyan dan sampai ke tempat itu dan menikah (dengan wanita) di sana. Engkau menetap di sana selama sepuluh tahun atau delapan tahun. ﴾ ثُمَّ جِئۡتَ عَلَىٰ قَدَرٖ يَٰمُوسَىٰ 40 ﴿ "Kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa," maksudnya kemudian engkau tiba de-ngan kedatangan yang bukan kebetulan terjadi, tanpa disengaja atau pengaturan (dari Kami). Bahkan kehadiranmu itu bermula dari ketentuan takdir dan kelembutan Kami. Hal ini menunjukkan kesempurnaan perhatian Allah terhadap KalimNya (orang yang diajak bicara secara langsung), Musa عليه السلام.
(41) Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَٱصۡطَنَعۡتُكَ لِنَفۡسِي 41 ﴿ "Dan Aku telah memilihmu untuk diriKu," maksudnya Aku telah mencurah-kan segala perbuatan, kenikmatan, kebaikan fasilitas dan pemeli-haraanKu kepadamu. Tujuannya, agar engkau menjadi insan yang tercinta dan istimewa bagiKu, mencapai tingkatan dalam anugerah ini, yang tidak dapat digapai oleh orang lain dari makhlukKu kecuali sedikit dari mereka. Apabila ada orang yang mencintai, ingin mengistimewakan kekasihnya dari kalangan manusia, menginginkannya meraih kesempurnaan setinggi-tingginya, maka dia rela mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki dan mengusahakan semaksimal mungkin untuk merealisasikan kehendak tersebut, lalu bagaimana pandanganmu tentang usaha-usaha Rabb yang Mahakuasa (atas segala sesuatu) lagi Mahamulia?! Apa yang ada di benakmu tentang (tindakan-tindakan) Dzat yang menginginkan seseorang (untuk dipilih) bagi diriNya sendiri dan memilihnya dari makhluk-makh-lukNya?
Taha 20:41
"Dan sungguh Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu, 'Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah dia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu akan membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuhKu dan musuhnya; Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu; dan supaya kamu diasuh di bawah (pengawasan) MataKu. (Yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu dia berkata kepada (keluarga Fir'aun), 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeli-haranya?' Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membu-nuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan, dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk diriKu'." (Thaha: 37-41).
(37-39) Setelah menyebutkan karuniaNya yang tercurah-kan kepada hamba dan RasulNya, Musa bin Imran dalam bentuk penguasaan agama, menerima wahyu dan risalah serta menjawab permohonannya, Allah mengingatkan kenikmatanNya yang ter-limpahkan kepadanya pada masa pertumbuhan fisik dan perkem-bangan tahapan-tahapannya. Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ مَنَنَّا عَلَيۡكَ مَرَّةً أُخۡرَىٰٓ 37 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain," saat itu Kami mengilhamkan ibumu untuk meletakkanmu ke dalam sebuah peti (untuk dihanyutkan ke sungai) pada saat engkau masih berada di masa persusuan lantaran takut kepada Fir'aun. Karena ia (Fir'aun) menitahkan penyembelihan anak laki-laki Bani Isra`il. Maka si ibu menyembunyikannya, dan benar-benar mengkhawatirkan (keadaan)-nya. Ia pun meletakkannya di peti itu, selanjutnya, mengapungkan-nya di sungai, yaitu sisi sungai Nil Mesir. Allah memerintahkan sungai itu agar melontarkannya ke tepian dan mengondisikannya agar diambil oleh orang yang paling bengis permusuhannya kepada Allah dan Musa. Ia (Musa) tumbuh berkembang di tengah anak-anaknya. Menjadi buah hati bagi orang yang melihatnya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَأَلۡقَيۡتُ عَلَيۡكَ مَحَبَّةٗ مِّنِّي ﴿ "dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu." Setiap orang yang melihat beliau, langsung menyukainya. ﴾ وَلِتُصۡنَعَ عَلَىٰ عَيۡنِيٓ 39 ﴿ "Dan supaya kamu diasuh di bawah (pengawasan) MataKu," maksudnya engkau tumbuh di bawah pengawasan, penjagaan, dan pemeliha-raanKu. Manakah pengawasan dan jaminan yang lebih agung dan lebih sempurna daripada perlindungan Dzat Yang Mahabaik, Maha Penyayang dan Mahakuasa untuk mendistribusikan kemaslahatan-kemaslahatan bagi hambaNya dan menyingkirkan bahaya-bahaya dariNya? Tidaklah beliau melewati satu kondisi ke kondisi berikut-nya melainkan pasti Allah-lah yang mengatur semua urusan itu untuk kebaikan Musa.
(40) Di antara bukti baiknya pengaturan Allah, adalah bahwa Musa ketika terjatuh di tangan musuhnya, maka ibu beliau sangat mengalami kegundahan. Hatinya kosong. Hampir saja ber-bicara tentangnya, seandainya Allah tidak meneguhkan sang ibu dan memantapkan hatinya. Dalam kondisi ini, Allah menghalang-halangi wanita-wanita yang ingin menyusui Musa. Ia tidak mau menerima susuan wanita mana pun, supaya tempat kembalinya adalah ibunya (sendiri) se-hingga dia bisa menyusuinya. Ia pun berada di sisi sang ibu, hingga (ibunya) menjadi tenang, tentram dan suka cita. Mereka mulai menawarkan beberapa wanita yang ingin menyusui Musa. Akan tetapi dia tidak mau menerima (susuan) satu tetek pun. Kemudian saudara perempuan Musa datang menawarkan, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ مَن يَكۡفُلُهُۥۖ ﴿ "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya," kepada sebuah keluarga yang akan menanganinya untuk meng-gantikan kalian, mereka sungguh-sungguh akan memperhatikan-nya. ﴾ فَرَجَعۡنَٰكَ إِلَىٰٓ أُمِّكَ كَيۡ تَقَرَّ عَيۡنُهَا وَلَا تَحۡزَنَۚ وَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا ﴿ "Maka Kami mengembali-kanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia," yaitu orang Qibthi. Ketika beliau memasuki perkotaan pada waktu orang-orang terlena, beliau menjumpai dua orang lelaki bertikai. Salah satunya berasal dari sukunya. Sementara itu, yang lain berasal dari suku yang memu-suhi, suku Qibthi, maka lelaki yang berasal dari kaumnya meminta pertolongan untuk menghadapi lawannya. Musa memukulnya, dan seketika itu langsung menewaskannya. Beliau berdoa kepada Allah dan memohon ampunan (dari tindakan tadi). Maka Allah mengampuninya. Setelah itu, beliau melarikan diri, tatkala mene-rima berita bahwa orang-orang mencarinya untuk membunuhnya. ﴾ فَنَجَّيۡنَٰكَ مِنَ ٱلۡغَمِّ ﴿ "Kami selamatkan kamu dari kesusahan," dari hukuman dosa dan pembunuhan. ﴾ وَفَتَنَّٰكَ فُتُونٗاۚ ﴿ "Dan Kami telah men-cobamu dengan beberapa cobaan," Kami telah menguji dan menderamu dengan musibah. Lalu Kami melihatmu dalam keadaan istiqamah (konsisten) di seluruh keadaan. Atau Kami telah memindah-min-dahkan dirimu dalam seluruh kondisi dan tahapan hidup sampai engkau meraih keberhasilan. ﴾ فَلَبِثۡتَ سِنِينَ فِيٓ أَهۡلِ مَدۡيَنَ ﴿ "Maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan," saat melarikan diri dari kejaran Fir'aun dan pasukannya, yang berupaya membunuhmu. Setelah itu, engkau berjalan menuju Madyan dan sampai ke tempat itu dan menikah (dengan wanita) di sana. Engkau menetap di sana selama sepuluh tahun atau delapan tahun. ﴾ ثُمَّ جِئۡتَ عَلَىٰ قَدَرٖ يَٰمُوسَىٰ 40 ﴿ "Kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa," maksudnya kemudian engkau tiba de-ngan kedatangan yang bukan kebetulan terjadi, tanpa disengaja atau pengaturan (dari Kami). Bahkan kehadiranmu itu bermula dari ketentuan takdir dan kelembutan Kami. Hal ini menunjukkan kesempurnaan perhatian Allah terhadap KalimNya (orang yang diajak bicara secara langsung), Musa عليه السلام.
(41) Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَٱصۡطَنَعۡتُكَ لِنَفۡسِي 41 ﴿ "Dan Aku telah memilihmu untuk diriKu," maksudnya Aku telah mencurah-kan segala perbuatan, kenikmatan, kebaikan fasilitas dan pemeli-haraanKu kepadamu. Tujuannya, agar engkau menjadi insan yang tercinta dan istimewa bagiKu, mencapai tingkatan dalam anugerah ini, yang tidak dapat digapai oleh orang lain dari makhlukKu kecuali sedikit dari mereka. Apabila ada orang yang mencintai, ingin mengistimewakan kekasihnya dari kalangan manusia, menginginkannya meraih kesempurnaan setinggi-tingginya, maka dia rela mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki dan mengusahakan semaksimal mungkin untuk merealisasikan kehendak tersebut, lalu bagaimana pandanganmu tentang usaha-usaha Rabb yang Mahakuasa (atas segala sesuatu) lagi Mahamulia?! Apa yang ada di benakmu tentang (tindakan-tindakan) Dzat yang menginginkan seseorang (untuk dipilih) bagi diriNya sendiri dan memilihnya dari makhluk-makh-lukNya?
Taha 20:42
"Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kalian berdua lalai dalam mengingatKu. Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut." Berkatalah mereka berdua, "Ya Rabb kami, sesung-guhnya kami khawatir bahwa dia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas." Allah berfirman, "Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (Thaha: 42-46).
(42) Ketika Allah menceritakan mengenai kenikmatan yang dilimpahkan kepada Musa, yang bersifat agamis maupun duniawi, Allah berfirman kepadanya, ﴾ ٱذۡهَبۡ أَنتَ وَأَخُوكَ ﴿ "Pergilah kamu beserta saudaramu," yaitu Harun ﴾ بِـَٔايَٰتِي ﴿ "dengan membawa ayat-ayatKu," yaitu tanda-tanda kebesaran yang berasal dariKu yang mengindi-kasikan kepada al-haq, dan keindahannya, serta (mengindikasikan) buruknya rupa kebatilan, seperti tipu daya, tongkat dan lainnya, sejumlah sembilan tanda-tanda kekuasaan menuju Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. ﴾ وَلَا تَنِيَا فِي ذِكۡرِي 42 ﴿ "Dan janganlah kalian ber-dua lalai dalam mengingatKu," maksudnya janganlah kalian kendor semangat dan jangan malas untuk senantiasa berdzikir kepadaKu dengan cara menjaga kontinyuitasnya. Pegangi hal ini terus, seba-gaimana janji kalian berdua untuk selalu melakukannya, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "supaya kami banyak bertasbih kepadaMu dan banyak mengingatMu." Sesungguhnya dzikir kepada Allah mendatangkan kemudahan dalam menangani seluruh urusan, menggampangkan urusan dan meringankan beban tanggungan.
(43) ﴾ ٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 43 ﴿ "Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya telah melebihi batas kenormalannya (sebagai manusia) dalam kekufuran, arogansi, tindak aniaya, dan permusuhan.
(44) ﴾ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا ﴿ "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut," yaitu perkataan yang enak (di-dengar), lunak, dengan kelembutan, persuasif, etika dalam tutur kata, tanpa ada unsur kekejian, pamer kekuatan dan kekerasan dalam perkataan, serta sikap kasar dalam tindakan. ﴾ لَّعَلَّهُۥ ﴿ "Mudah-mudahan," melalui perkataan yang lembut ﴾ يَتَذَكَّرُ ﴿ "dia ingat," ten-tang perkara-perkara yang bermanfaat bagi dirinya hingga ter-gugah untuk mengerjakannya ﴾ أَوۡ يَخۡشَىٰ 44 ﴿ "atau takut," akan segala sesuatu yang membahayakan dirinya sehingga meninggalkannya. Sesungguhnya tutur kata yang lembut akan mengundang peru-bahan itu, dan omongan yang kasar akan melahirkan antipati pada dirinya. Tutur kata yang lunak ini diperjelas dalam Firman Allah, ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ 18 وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ 19 ﴿ "Maka katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar kamu takut kepadaNya'." (An-Nazi'at: 18-19). Sesungguhnya ungkapan di atas memuat sisi kelembutan dan kemudahan tanpa ada unsur keburukan yang sangat jelas sekali bagi orang yang merenunginya. Beliau memulai dengan kata ﴾ هَل ﴿ "Apakah," yang menandakan tawaran dan ajakan diskusi, yang tiada seorang pun membencinya. Beliau mengajaknya untuk me-nyucikan dan membersihkan diri dari kotoran-kotoran (maknawi), yang intinya adalah membersihkan diri dari kesyirikan yang bisa disambut oleh setiap akal yang sehat. Beliau tidak mengatakan, "Aku akan membersihkan dirimu." Akan tetapi berkata, ﴾ تَزَكَّىٰ ﴿ "engkau membersihkan diri," engkaulah orang yang menjalankannya. Selanjutnya, beliau mengajaknya menuju jalan Rabbnya yang telah merawat dan mencurahkan kenikmatan padanya dengan kenik-matan lahiriah dan batiniah, yang sudah sepantasnya timbal balik-nya yaitu rasa syukur dan mengingat nikmat-nikmat itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabb-mu agar kamu takut kepadaNya." Ketika dia tidak mau menerima perkataan yang lembut yang keindahannya sanggup memikat hati, maka dapat diketahui bahwa peringatan sudah tidak mempan lagi baginya. Allah pun menyiksanya dengan siksaan Dzat Yang Maha-perkasa lagi Mahakuasa.
(45) ﴾ قَالَا رَبَّنَآ إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفۡرُطَ عَلَيۡنَآ ﴿ "Berkatalah mereka berdua, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa dia segera menyiksa kami'," maksudnya menyegerakan siksaan dan menimpakannya pada kami sebelum kami menyampaikan risalah-risalahMu kepada-nya dan menegakkan hujah atas dirinya. ﴾ أَوۡ أَن يَطۡغَىٰ 45 ﴿ "Atau akan bertambah melampaui batas," maksudnya semakin angkuh terhadap kebenaran dan melampaui batas dengan kerajaan, kekuasaan, pasukan, dan para pendukungnya.
(46) ﴾ قَالَ لَا تَخَافَآۖ ﴿ "Allah berfirman, 'Jangan kamu berdua khawa-tir'," dia akan menyegerakan siksaan pada kalian berdua, (karena) ﴾ إِنَّنِي مَعَكُمَآ أَسۡمَعُ وَأَرَىٰ 46 ﴿ "sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat," maksudnya kalian berdua di bawah per-lindungan dan perhatianKu dari (kejahatan)nya. Aku mendengar perkataan kalian berdua, dan melihat semua kondisi kalian berdua, maka janganlah kalian takut. Maka rasa takut sirna dari mereka dan hati mereka menjadi tentram dengan janji Rabb mereka.
Taha 20:43
"Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kalian berdua lalai dalam mengingatKu. Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut." Berkatalah mereka berdua, "Ya Rabb kami, sesung-guhnya kami khawatir bahwa dia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas." Allah berfirman, "Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (Thaha: 42-46).
(42) Ketika Allah menceritakan mengenai kenikmatan yang dilimpahkan kepada Musa, yang bersifat agamis maupun duniawi, Allah berfirman kepadanya, ﴾ ٱذۡهَبۡ أَنتَ وَأَخُوكَ ﴿ "Pergilah kamu beserta saudaramu," yaitu Harun ﴾ بِـَٔايَٰتِي ﴿ "dengan membawa ayat-ayatKu," yaitu tanda-tanda kebesaran yang berasal dariKu yang mengindi-kasikan kepada al-haq, dan keindahannya, serta (mengindikasikan) buruknya rupa kebatilan, seperti tipu daya, tongkat dan lainnya, sejumlah sembilan tanda-tanda kekuasaan menuju Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. ﴾ وَلَا تَنِيَا فِي ذِكۡرِي 42 ﴿ "Dan janganlah kalian ber-dua lalai dalam mengingatKu," maksudnya janganlah kalian kendor semangat dan jangan malas untuk senantiasa berdzikir kepadaKu dengan cara menjaga kontinyuitasnya. Pegangi hal ini terus, seba-gaimana janji kalian berdua untuk selalu melakukannya, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "supaya kami banyak bertasbih kepadaMu dan banyak mengingatMu." Sesungguhnya dzikir kepada Allah mendatangkan kemudahan dalam menangani seluruh urusan, menggampangkan urusan dan meringankan beban tanggungan.
(43) ﴾ ٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 43 ﴿ "Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya telah melebihi batas kenormalannya (sebagai manusia) dalam kekufuran, arogansi, tindak aniaya, dan permusuhan.
(44) ﴾ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا ﴿ "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut," yaitu perkataan yang enak (di-dengar), lunak, dengan kelembutan, persuasif, etika dalam tutur kata, tanpa ada unsur kekejian, pamer kekuatan dan kekerasan dalam perkataan, serta sikap kasar dalam tindakan. ﴾ لَّعَلَّهُۥ ﴿ "Mudah-mudahan," melalui perkataan yang lembut ﴾ يَتَذَكَّرُ ﴿ "dia ingat," ten-tang perkara-perkara yang bermanfaat bagi dirinya hingga ter-gugah untuk mengerjakannya ﴾ أَوۡ يَخۡشَىٰ 44 ﴿ "atau takut," akan segala sesuatu yang membahayakan dirinya sehingga meninggalkannya. Sesungguhnya tutur kata yang lembut akan mengundang peru-bahan itu, dan omongan yang kasar akan melahirkan antipati pada dirinya. Tutur kata yang lunak ini diperjelas dalam Firman Allah, ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ 18 وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ 19 ﴿ "Maka katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar kamu takut kepadaNya'." (An-Nazi'at: 18-19). Sesungguhnya ungkapan di atas memuat sisi kelembutan dan kemudahan tanpa ada unsur keburukan yang sangat jelas sekali bagi orang yang merenunginya. Beliau memulai dengan kata ﴾ هَل ﴿ "Apakah," yang menandakan tawaran dan ajakan diskusi, yang tiada seorang pun membencinya. Beliau mengajaknya untuk me-nyucikan dan membersihkan diri dari kotoran-kotoran (maknawi), yang intinya adalah membersihkan diri dari kesyirikan yang bisa disambut oleh setiap akal yang sehat. Beliau tidak mengatakan, "Aku akan membersihkan dirimu." Akan tetapi berkata, ﴾ تَزَكَّىٰ ﴿ "engkau membersihkan diri," engkaulah orang yang menjalankannya. Selanjutnya, beliau mengajaknya menuju jalan Rabbnya yang telah merawat dan mencurahkan kenikmatan padanya dengan kenik-matan lahiriah dan batiniah, yang sudah sepantasnya timbal balik-nya yaitu rasa syukur dan mengingat nikmat-nikmat itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabb-mu agar kamu takut kepadaNya." Ketika dia tidak mau menerima perkataan yang lembut yang keindahannya sanggup memikat hati, maka dapat diketahui bahwa peringatan sudah tidak mempan lagi baginya. Allah pun menyiksanya dengan siksaan Dzat Yang Maha-perkasa lagi Mahakuasa.
(45) ﴾ قَالَا رَبَّنَآ إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفۡرُطَ عَلَيۡنَآ ﴿ "Berkatalah mereka berdua, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa dia segera menyiksa kami'," maksudnya menyegerakan siksaan dan menimpakannya pada kami sebelum kami menyampaikan risalah-risalahMu kepada-nya dan menegakkan hujah atas dirinya. ﴾ أَوۡ أَن يَطۡغَىٰ 45 ﴿ "Atau akan bertambah melampaui batas," maksudnya semakin angkuh terhadap kebenaran dan melampaui batas dengan kerajaan, kekuasaan, pasukan, dan para pendukungnya.
(46) ﴾ قَالَ لَا تَخَافَآۖ ﴿ "Allah berfirman, 'Jangan kamu berdua khawa-tir'," dia akan menyegerakan siksaan pada kalian berdua, (karena) ﴾ إِنَّنِي مَعَكُمَآ أَسۡمَعُ وَأَرَىٰ 46 ﴿ "sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat," maksudnya kalian berdua di bawah per-lindungan dan perhatianKu dari (kejahatan)nya. Aku mendengar perkataan kalian berdua, dan melihat semua kondisi kalian berdua, maka janganlah kalian takut. Maka rasa takut sirna dari mereka dan hati mereka menjadi tentram dengan janji Rabb mereka.
Taha 20:44
"Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kalian berdua lalai dalam mengingatKu. Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut." Berkatalah mereka berdua, "Ya Rabb kami, sesung-guhnya kami khawatir bahwa dia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas." Allah berfirman, "Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (Thaha: 42-46).
(42) Ketika Allah menceritakan mengenai kenikmatan yang dilimpahkan kepada Musa, yang bersifat agamis maupun duniawi, Allah berfirman kepadanya, ﴾ ٱذۡهَبۡ أَنتَ وَأَخُوكَ ﴿ "Pergilah kamu beserta saudaramu," yaitu Harun ﴾ بِـَٔايَٰتِي ﴿ "dengan membawa ayat-ayatKu," yaitu tanda-tanda kebesaran yang berasal dariKu yang mengindi-kasikan kepada al-haq, dan keindahannya, serta (mengindikasikan) buruknya rupa kebatilan, seperti tipu daya, tongkat dan lainnya, sejumlah sembilan tanda-tanda kekuasaan menuju Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. ﴾ وَلَا تَنِيَا فِي ذِكۡرِي 42 ﴿ "Dan janganlah kalian ber-dua lalai dalam mengingatKu," maksudnya janganlah kalian kendor semangat dan jangan malas untuk senantiasa berdzikir kepadaKu dengan cara menjaga kontinyuitasnya. Pegangi hal ini terus, seba-gaimana janji kalian berdua untuk selalu melakukannya, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "supaya kami banyak bertasbih kepadaMu dan banyak mengingatMu." Sesungguhnya dzikir kepada Allah mendatangkan kemudahan dalam menangani seluruh urusan, menggampangkan urusan dan meringankan beban tanggungan.
(43) ﴾ ٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 43 ﴿ "Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya telah melebihi batas kenormalannya (sebagai manusia) dalam kekufuran, arogansi, tindak aniaya, dan permusuhan.
(44) ﴾ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا ﴿ "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut," yaitu perkataan yang enak (di-dengar), lunak, dengan kelembutan, persuasif, etika dalam tutur kata, tanpa ada unsur kekejian, pamer kekuatan dan kekerasan dalam perkataan, serta sikap kasar dalam tindakan. ﴾ لَّعَلَّهُۥ ﴿ "Mudah-mudahan," melalui perkataan yang lembut ﴾ يَتَذَكَّرُ ﴿ "dia ingat," ten-tang perkara-perkara yang bermanfaat bagi dirinya hingga ter-gugah untuk mengerjakannya ﴾ أَوۡ يَخۡشَىٰ 44 ﴿ "atau takut," akan segala sesuatu yang membahayakan dirinya sehingga meninggalkannya. Sesungguhnya tutur kata yang lembut akan mengundang peru-bahan itu, dan omongan yang kasar akan melahirkan antipati pada dirinya. Tutur kata yang lunak ini diperjelas dalam Firman Allah, ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ 18 وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ 19 ﴿ "Maka katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar kamu takut kepadaNya'." (An-Nazi'at: 18-19). Sesungguhnya ungkapan di atas memuat sisi kelembutan dan kemudahan tanpa ada unsur keburukan yang sangat jelas sekali bagi orang yang merenunginya. Beliau memulai dengan kata ﴾ هَل ﴿ "Apakah," yang menandakan tawaran dan ajakan diskusi, yang tiada seorang pun membencinya. Beliau mengajaknya untuk me-nyucikan dan membersihkan diri dari kotoran-kotoran (maknawi), yang intinya adalah membersihkan diri dari kesyirikan yang bisa disambut oleh setiap akal yang sehat. Beliau tidak mengatakan, "Aku akan membersihkan dirimu." Akan tetapi berkata, ﴾ تَزَكَّىٰ ﴿ "engkau membersihkan diri," engkaulah orang yang menjalankannya. Selanjutnya, beliau mengajaknya menuju jalan Rabbnya yang telah merawat dan mencurahkan kenikmatan padanya dengan kenik-matan lahiriah dan batiniah, yang sudah sepantasnya timbal balik-nya yaitu rasa syukur dan mengingat nikmat-nikmat itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabb-mu agar kamu takut kepadaNya." Ketika dia tidak mau menerima perkataan yang lembut yang keindahannya sanggup memikat hati, maka dapat diketahui bahwa peringatan sudah tidak mempan lagi baginya. Allah pun menyiksanya dengan siksaan Dzat Yang Maha-perkasa lagi Mahakuasa.
(45) ﴾ قَالَا رَبَّنَآ إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفۡرُطَ عَلَيۡنَآ ﴿ "Berkatalah mereka berdua, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa dia segera menyiksa kami'," maksudnya menyegerakan siksaan dan menimpakannya pada kami sebelum kami menyampaikan risalah-risalahMu kepada-nya dan menegakkan hujah atas dirinya. ﴾ أَوۡ أَن يَطۡغَىٰ 45 ﴿ "Atau akan bertambah melampaui batas," maksudnya semakin angkuh terhadap kebenaran dan melampaui batas dengan kerajaan, kekuasaan, pasukan, dan para pendukungnya.
(46) ﴾ قَالَ لَا تَخَافَآۖ ﴿ "Allah berfirman, 'Jangan kamu berdua khawa-tir'," dia akan menyegerakan siksaan pada kalian berdua, (karena) ﴾ إِنَّنِي مَعَكُمَآ أَسۡمَعُ وَأَرَىٰ 46 ﴿ "sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat," maksudnya kalian berdua di bawah per-lindungan dan perhatianKu dari (kejahatan)nya. Aku mendengar perkataan kalian berdua, dan melihat semua kondisi kalian berdua, maka janganlah kalian takut. Maka rasa takut sirna dari mereka dan hati mereka menjadi tentram dengan janji Rabb mereka.
Taha 20:45
"Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kalian berdua lalai dalam mengingatKu. Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut." Berkatalah mereka berdua, "Ya Rabb kami, sesung-guhnya kami khawatir bahwa dia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas." Allah berfirman, "Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (Thaha: 42-46).
(42) Ketika Allah menceritakan mengenai kenikmatan yang dilimpahkan kepada Musa, yang bersifat agamis maupun duniawi, Allah berfirman kepadanya, ﴾ ٱذۡهَبۡ أَنتَ وَأَخُوكَ ﴿ "Pergilah kamu beserta saudaramu," yaitu Harun ﴾ بِـَٔايَٰتِي ﴿ "dengan membawa ayat-ayatKu," yaitu tanda-tanda kebesaran yang berasal dariKu yang mengindi-kasikan kepada al-haq, dan keindahannya, serta (mengindikasikan) buruknya rupa kebatilan, seperti tipu daya, tongkat dan lainnya, sejumlah sembilan tanda-tanda kekuasaan menuju Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. ﴾ وَلَا تَنِيَا فِي ذِكۡرِي 42 ﴿ "Dan janganlah kalian ber-dua lalai dalam mengingatKu," maksudnya janganlah kalian kendor semangat dan jangan malas untuk senantiasa berdzikir kepadaKu dengan cara menjaga kontinyuitasnya. Pegangi hal ini terus, seba-gaimana janji kalian berdua untuk selalu melakukannya, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "supaya kami banyak bertasbih kepadaMu dan banyak mengingatMu." Sesungguhnya dzikir kepada Allah mendatangkan kemudahan dalam menangani seluruh urusan, menggampangkan urusan dan meringankan beban tanggungan.
(43) ﴾ ٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 43 ﴿ "Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya telah melebihi batas kenormalannya (sebagai manusia) dalam kekufuran, arogansi, tindak aniaya, dan permusuhan.
(44) ﴾ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا ﴿ "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut," yaitu perkataan yang enak (di-dengar), lunak, dengan kelembutan, persuasif, etika dalam tutur kata, tanpa ada unsur kekejian, pamer kekuatan dan kekerasan dalam perkataan, serta sikap kasar dalam tindakan. ﴾ لَّعَلَّهُۥ ﴿ "Mudah-mudahan," melalui perkataan yang lembut ﴾ يَتَذَكَّرُ ﴿ "dia ingat," ten-tang perkara-perkara yang bermanfaat bagi dirinya hingga ter-gugah untuk mengerjakannya ﴾ أَوۡ يَخۡشَىٰ 44 ﴿ "atau takut," akan segala sesuatu yang membahayakan dirinya sehingga meninggalkannya. Sesungguhnya tutur kata yang lembut akan mengundang peru-bahan itu, dan omongan yang kasar akan melahirkan antipati pada dirinya. Tutur kata yang lunak ini diperjelas dalam Firman Allah, ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ 18 وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ 19 ﴿ "Maka katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar kamu takut kepadaNya'." (An-Nazi'at: 18-19). Sesungguhnya ungkapan di atas memuat sisi kelembutan dan kemudahan tanpa ada unsur keburukan yang sangat jelas sekali bagi orang yang merenunginya. Beliau memulai dengan kata ﴾ هَل ﴿ "Apakah," yang menandakan tawaran dan ajakan diskusi, yang tiada seorang pun membencinya. Beliau mengajaknya untuk me-nyucikan dan membersihkan diri dari kotoran-kotoran (maknawi), yang intinya adalah membersihkan diri dari kesyirikan yang bisa disambut oleh setiap akal yang sehat. Beliau tidak mengatakan, "Aku akan membersihkan dirimu." Akan tetapi berkata, ﴾ تَزَكَّىٰ ﴿ "engkau membersihkan diri," engkaulah orang yang menjalankannya. Selanjutnya, beliau mengajaknya menuju jalan Rabbnya yang telah merawat dan mencurahkan kenikmatan padanya dengan kenik-matan lahiriah dan batiniah, yang sudah sepantasnya timbal balik-nya yaitu rasa syukur dan mengingat nikmat-nikmat itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabb-mu agar kamu takut kepadaNya." Ketika dia tidak mau menerima perkataan yang lembut yang keindahannya sanggup memikat hati, maka dapat diketahui bahwa peringatan sudah tidak mempan lagi baginya. Allah pun menyiksanya dengan siksaan Dzat Yang Maha-perkasa lagi Mahakuasa.
(45) ﴾ قَالَا رَبَّنَآ إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفۡرُطَ عَلَيۡنَآ ﴿ "Berkatalah mereka berdua, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa dia segera menyiksa kami'," maksudnya menyegerakan siksaan dan menimpakannya pada kami sebelum kami menyampaikan risalah-risalahMu kepada-nya dan menegakkan hujah atas dirinya. ﴾ أَوۡ أَن يَطۡغَىٰ 45 ﴿ "Atau akan bertambah melampaui batas," maksudnya semakin angkuh terhadap kebenaran dan melampaui batas dengan kerajaan, kekuasaan, pasukan, dan para pendukungnya.
(46) ﴾ قَالَ لَا تَخَافَآۖ ﴿ "Allah berfirman, 'Jangan kamu berdua khawa-tir'," dia akan menyegerakan siksaan pada kalian berdua, (karena) ﴾ إِنَّنِي مَعَكُمَآ أَسۡمَعُ وَأَرَىٰ 46 ﴿ "sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat," maksudnya kalian berdua di bawah per-lindungan dan perhatianKu dari (kejahatan)nya. Aku mendengar perkataan kalian berdua, dan melihat semua kondisi kalian berdua, maka janganlah kalian takut. Maka rasa takut sirna dari mereka dan hati mereka menjadi tentram dengan janji Rabb mereka.
Taha 20:46
"Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kalian berdua lalai dalam mengingatKu. Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut." Berkatalah mereka berdua, "Ya Rabb kami, sesung-guhnya kami khawatir bahwa dia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas." Allah berfirman, "Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (Thaha: 42-46).
(42) Ketika Allah menceritakan mengenai kenikmatan yang dilimpahkan kepada Musa, yang bersifat agamis maupun duniawi, Allah berfirman kepadanya, ﴾ ٱذۡهَبۡ أَنتَ وَأَخُوكَ ﴿ "Pergilah kamu beserta saudaramu," yaitu Harun ﴾ بِـَٔايَٰتِي ﴿ "dengan membawa ayat-ayatKu," yaitu tanda-tanda kebesaran yang berasal dariKu yang mengindi-kasikan kepada al-haq, dan keindahannya, serta (mengindikasikan) buruknya rupa kebatilan, seperti tipu daya, tongkat dan lainnya, sejumlah sembilan tanda-tanda kekuasaan menuju Fir'aun dan pembesar-pembesarnya. ﴾ وَلَا تَنِيَا فِي ذِكۡرِي 42 ﴿ "Dan janganlah kalian ber-dua lalai dalam mengingatKu," maksudnya janganlah kalian kendor semangat dan jangan malas untuk senantiasa berdzikir kepadaKu dengan cara menjaga kontinyuitasnya. Pegangi hal ini terus, seba-gaimana janji kalian berdua untuk selalu melakukannya, ﴾ كَيۡ نُسَبِّحَكَ كَثِيرٗا 33 وَنَذۡكُرَكَ كَثِيرًا 34 ﴿ "supaya kami banyak bertasbih kepadaMu dan banyak mengingatMu." Sesungguhnya dzikir kepada Allah mendatangkan kemudahan dalam menangani seluruh urusan, menggampangkan urusan dan meringankan beban tanggungan.
(43) ﴾ ٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ 43 ﴿ "Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas," maksudnya telah melebihi batas kenormalannya (sebagai manusia) dalam kekufuran, arogansi, tindak aniaya, dan permusuhan.
(44) ﴾ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا ﴿ "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut," yaitu perkataan yang enak (di-dengar), lunak, dengan kelembutan, persuasif, etika dalam tutur kata, tanpa ada unsur kekejian, pamer kekuatan dan kekerasan dalam perkataan, serta sikap kasar dalam tindakan. ﴾ لَّعَلَّهُۥ ﴿ "Mudah-mudahan," melalui perkataan yang lembut ﴾ يَتَذَكَّرُ ﴿ "dia ingat," ten-tang perkara-perkara yang bermanfaat bagi dirinya hingga ter-gugah untuk mengerjakannya ﴾ أَوۡ يَخۡشَىٰ 44 ﴿ "atau takut," akan segala sesuatu yang membahayakan dirinya sehingga meninggalkannya. Sesungguhnya tutur kata yang lembut akan mengundang peru-bahan itu, dan omongan yang kasar akan melahirkan antipati pada dirinya. Tutur kata yang lunak ini diperjelas dalam Firman Allah, ﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ 18 وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ 19 ﴿ "Maka katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar kamu takut kepadaNya'." (An-Nazi'at: 18-19). Sesungguhnya ungkapan di atas memuat sisi kelembutan dan kemudahan tanpa ada unsur keburukan yang sangat jelas sekali bagi orang yang merenunginya. Beliau memulai dengan kata ﴾ هَل ﴿ "Apakah," yang menandakan tawaran dan ajakan diskusi, yang tiada seorang pun membencinya. Beliau mengajaknya untuk me-nyucikan dan membersihkan diri dari kotoran-kotoran (maknawi), yang intinya adalah membersihkan diri dari kesyirikan yang bisa disambut oleh setiap akal yang sehat. Beliau tidak mengatakan, "Aku akan membersihkan dirimu." Akan tetapi berkata, ﴾ تَزَكَّىٰ ﴿ "engkau membersihkan diri," engkaulah orang yang menjalankannya. Selanjutnya, beliau mengajaknya menuju jalan Rabbnya yang telah merawat dan mencurahkan kenikmatan padanya dengan kenik-matan lahiriah dan batiniah, yang sudah sepantasnya timbal balik-nya yaitu rasa syukur dan mengingat nikmat-nikmat itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabb-mu agar kamu takut kepadaNya." Ketika dia tidak mau menerima perkataan yang lembut yang keindahannya sanggup memikat hati, maka dapat diketahui bahwa peringatan sudah tidak mempan lagi baginya. Allah pun menyiksanya dengan siksaan Dzat Yang Maha-perkasa lagi Mahakuasa.
(45) ﴾ قَالَا رَبَّنَآ إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفۡرُطَ عَلَيۡنَآ ﴿ "Berkatalah mereka berdua, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa dia segera menyiksa kami'," maksudnya menyegerakan siksaan dan menimpakannya pada kami sebelum kami menyampaikan risalah-risalahMu kepada-nya dan menegakkan hujah atas dirinya. ﴾ أَوۡ أَن يَطۡغَىٰ 45 ﴿ "Atau akan bertambah melampaui batas," maksudnya semakin angkuh terhadap kebenaran dan melampaui batas dengan kerajaan, kekuasaan, pasukan, dan para pendukungnya.
(46) ﴾ قَالَ لَا تَخَافَآۖ ﴿ "Allah berfirman, 'Jangan kamu berdua khawa-tir'," dia akan menyegerakan siksaan pada kalian berdua, (karena) ﴾ إِنَّنِي مَعَكُمَآ أَسۡمَعُ وَأَرَىٰ 46 ﴿ "sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat," maksudnya kalian berdua di bawah per-lindungan dan perhatianKu dari (kejahatan)nya. Aku mendengar perkataan kalian berdua, dan melihat semua kondisi kalian berdua, maka janganlah kalian takut. Maka rasa takut sirna dari mereka dan hati mereka menjadi tentram dengan janji Rabb mereka.
Taha 20:47
"Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah, 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Rabbmu, maka lepaskanlah Bani Isra`il bersama kami, dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan Kami) dari Rabbmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petun-juk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling'." (Thaha: 47-48).
(47) Maka datanglah kalian berdua kepadanya dengan dua misi berikut: Menyerunya kepada Islam dan membebaskan bangsa mulia ini, Bani Isra`il dari jeratan dan perbudakan kepada Fir'aun. Agar mereka lepas dan dapat mengatur diri mereka sendiri, serta Musa berkesempatan menegakkan syariat Allah dan agamaNya di tengah mereka. ﴾ قَدۡ جِئۡنَٰكَ بِـَٔايَةٖ ﴿ "Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan Kami)," yang menun-jukkan kebenaran kami. Maka Musa melemparkan tongkatnya. Seketika itu, berubah menjadi ular yang nyata. Beliau lantas mena-rik tangannya (dari kempitan ketiaknya), tiba-tiba menjadi putih cemerlang pada pandangan orang-orang… sampai akhir cerita yang disebutkan oleh Allah tentang mereka berdua. ﴾ وَٱلسَّلَٰمُ عَلَىٰ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلۡهُدَىٰٓ 47 ﴿ "Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang meng-ikuti petunjuk," yaitu orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus dan mendapatkan petunjuk dengan syariat yang jelas ini, maka dia mendapatkan hidayah di dunia dan akhirat.
(48) ﴾ إِنَّا قَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡنَآ ﴿ "Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami," maksudnya berita (yang kami bawa) berasal dari Allah bukan dari saku kami sendiri. ﴾ أَنَّ ٱلۡعَذَابَ عَلَىٰ مَن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ 48 ﴿ "bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling," yaitu orang-orang yang mendustakan berita-berita (wahyu-wahyu) Allah dan kabar-kabar dari RasulNya, memalingkan mukanya dari kepatuhan dan mengikuti para rasul. Dalam ayat ini terdapat bujukan kepada Fir'aun untuk mau beriman dan membenarkan serta mengikuti mereka berdua (Musa dan Harun), (juga) peringatan dari sikap yang berlawanan dengannya. Akan tetapi, nasihat dan peringatan ini tidak membekaskan manfaat padanya. Fir'aun malah mengingkari Rabbnya dan mengkufuri serta mengajak debat dalam masalah ini sebagai (cerminan) sifat kezhaliman dan penentangan-nya.
Taha 20:48
"Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah, 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Rabbmu, maka lepaskanlah Bani Isra`il bersama kami, dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan Kami) dari Rabbmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petun-juk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling'." (Thaha: 47-48).
(47) Maka datanglah kalian berdua kepadanya dengan dua misi berikut: Menyerunya kepada Islam dan membebaskan bangsa mulia ini, Bani Isra`il dari jeratan dan perbudakan kepada Fir'aun. Agar mereka lepas dan dapat mengatur diri mereka sendiri, serta Musa berkesempatan menegakkan syariat Allah dan agamaNya di tengah mereka. ﴾ قَدۡ جِئۡنَٰكَ بِـَٔايَةٖ ﴿ "Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan Kami)," yang menun-jukkan kebenaran kami. Maka Musa melemparkan tongkatnya. Seketika itu, berubah menjadi ular yang nyata. Beliau lantas mena-rik tangannya (dari kempitan ketiaknya), tiba-tiba menjadi putih cemerlang pada pandangan orang-orang… sampai akhir cerita yang disebutkan oleh Allah tentang mereka berdua. ﴾ وَٱلسَّلَٰمُ عَلَىٰ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلۡهُدَىٰٓ 47 ﴿ "Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang meng-ikuti petunjuk," yaitu orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus dan mendapatkan petunjuk dengan syariat yang jelas ini, maka dia mendapatkan hidayah di dunia dan akhirat.
(48) ﴾ إِنَّا قَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡنَآ ﴿ "Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami," maksudnya berita (yang kami bawa) berasal dari Allah bukan dari saku kami sendiri. ﴾ أَنَّ ٱلۡعَذَابَ عَلَىٰ مَن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ 48 ﴿ "bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling," yaitu orang-orang yang mendustakan berita-berita (wahyu-wahyu) Allah dan kabar-kabar dari RasulNya, memalingkan mukanya dari kepatuhan dan mengikuti para rasul. Dalam ayat ini terdapat bujukan kepada Fir'aun untuk mau beriman dan membenarkan serta mengikuti mereka berdua (Musa dan Harun), (juga) peringatan dari sikap yang berlawanan dengannya. Akan tetapi, nasihat dan peringatan ini tidak membekaskan manfaat padanya. Fir'aun malah mengingkari Rabbnya dan mengkufuri serta mengajak debat dalam masalah ini sebagai (cerminan) sifat kezhaliman dan penentangan-nya.
Taha 20:49
"Fir'aun berkata, 'Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?' Musa berkata, 'Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi-nya petunjuk.' Fir'aun berkata, 'Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?' Musa menjawab, 'Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, ter-dapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan menge-luarkan kamu pada kali yang lain'." (Thaha: 49-55).
(49) Maksudnya, Fir'aun berkata kepada Musa dengan nada pengingkaran, ﴾ فَمَن رَّبُّكُمَا يَٰمُوسَىٰ 49 ﴿ "Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?"
(50) Maka Musa menjawab (pertanyaan pengingkaran itu) dengan jawaban yang sempurna, memadai lagi jelas. Dia berkata, ﴾ رَبُّنَا ٱلَّذِيٓ أَعۡطَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ خَلۡقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ 50 ﴿ "Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." Maksudnya Rabb kami, adalah Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memasang bentuk penciptaan pada setiap makhluk sesuai dengan modelnya yang cocok [yang menunjukkan] keelokan buatan Dzat yang menciptanya, baik yang berukuran besar, kecil, dan sedang, serta karakteristiknya secara keseluruhan. Lantas Allah memberikan hidayah setiap makhluk pada tujuan penciptaannya. Inilah hidayah sempurna yang dapat disaksikan pada segenap makhluk. Kamu mendapatkan masing-masing makhluk bergerak melaju pada skenario tujuan pencip-taannya, berupa kemanfaatan-kemanfaatan dan menyingkirkan bahaya-bahaya. Bahkan Allah memberi hewan (yang tidak bisa berkomunikasi) sebagian kemampuan akal yang bisa membantu-nya untuk menjalankan misinya. Ini serupa dengan Firman Allah, ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan." (As-Sajdah: 7). Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memberinya bentuk cipta-an yang indah, yang mana akal-akal pun tidak mampu menggagas rupa yang lebih baik, Dia memberinya hidayah (ilham) kepadanya untuk mencapai kemaslahatan-kemaslahatannya, Dia-lah Rabb yang sebenarnya. Maka pengingkaran Fir'aun, berarti pengingkaran terhadap wujud yang paling agung. Dan itu merupakan bentuk kesombongan dan dusta yang terang-terangan. Bila ditakdirkan ada seseorang mengingkari sebuah fakta yang sudah diketahui (khalayak), niscaya dia tidak akan mengingkarinya, maka penging-karannya kepada Rabb semesta alam tentulah lebih parah lagi.
(51) Untuk itu, lantaran Fir'aun tidak mungkin menentang dalil yang pasti ini, maka dia beralih kepada keributan dan berpa-ling dari fokus semula. Ia berkata kepada Musa, ﴾ فَمَا بَالُ ٱلۡقُرُونِ ٱلۡأُولَىٰ 51 ﴿ "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" Maksudnya, bagaimana kondisi mereka? Bagaimana berita tentang mereka? Bagaimanakah kesudahan mereka, padahal mereka itu telah men-dahului kami dengan sikap pengingkaran, kekufuran, kezhaliman, dan pertentangan. Dan kami hanyalah mengikuti mereka saja?
(52) Musa menjawab, ﴾ عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَٰبٖۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى 52 ﴿ "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa," maksudnya Allah telah menghitung amalan mereka, baik atau buruk dan membukukan-nya dalam KitabNya, Lauhul Mahfuzh. Ilmu dan pengetahuan Allah meliputi isinya. Dia tidak akan salah tentangnya dan (juga) tidak lupa atas perkara yang telah diketahuiNya. Inti dari itu semua, bahwa mereka melakukan sesuatu yang dahulu dilakukan oleh (nenek moyang) mereka dan menjumpai amalan-amalan mereka serta menerima balasan atas dasar itu. Tidak ada artinya pertanyaan dan keingintahuanmu tentang me-reka, wahai Fir'aun. Mereka merupakan umat yang sudah berlalu. Bagi mereka apa yang mereka perbuat dan bagi kalian amalan-amalan yang kalian lakukan. Jika dalil yang sudah kami kemukakan di hadapanmu, dan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang sudah kami pertontonkan kepada dirimu, telah membuktikan kebenaran dan kepastiannya, dan itulah faktanya, maka tunduk patuhlah kepada al-haq. Singkirkanlah kekufuran, tindak kezha-liman, perdebatan dengan dasar kebatilan dari dirimu. Apabila engkau masih meragukannya atau engkau menyaksikannya tidak lurus, maka pintu tetap terbuka, dan kesempatan untuk meneliti-nya belum ditutup. Maka, bantahlah dalil dengan dalil pula, pe-tunjuk dengan petunjuk juga. Engkau tidak akan menemukan cara untuk itu, selama siang dan malam (masih silih berganti). Bagaimana bisa (dia tetap kufur), padahal Allah telah memberitahukan ten-tangnya, dia mengingkarinya meski hati meyakini kebenarannya. Seperti Firman Allah, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14). Musa berkata, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang me-nurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata." (Al-Isra`: 102). Maka dapat diketahui bahwa dia telah berbuat zhalim saat mengajak berdebat. Niatannya hanyalah untuk meraih ketinggian derajat di dunia.
(53) Selanjutnya, Allah mengalihkan tentang dalil yang absolut, dengan menyebutkan kenikmatan dan curahan kebaikan-Nya yang sangat urgens. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مَهۡدٗا ﴿ "(Allah) Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan," yaitu sebagai tempat pijakan yang kalian dapat beristirahat padanya, bertempat tinggal, membangun, menanam, dan membajak tanah untuk lahan pertanian dan fungsi lainnya. Dia telah menundukkan bumi bagi kalian, dan tidak menjadikannya menolak salah satu dari kemaslahatan kalian. ﴾ وَسَلَكَ لَكُمۡ فِيهَا سُبُلٗا ﴿ "Dan yang telah menjadi-kan bagimu di bumi itu jalan-jalan," maksudnya membuka jalur-jalur yang menghubungkan antara satu daerah menuju daerah lain, dari satu wilayah ke wilayah lain. Akhirnya, orang-orang sanggup mencapai seluruh (penjuru) bumi dengan cara yang termudah. Mereka berhasil mendapatkan manfaat-manfaat yang lebih banyak melalui perjalanan jauh (yang mereka tempuh) ketimbang manfaat yang mereka raih saat berada di daerah sendiri. ﴾ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّن نَّبَاتٖ شَتَّىٰ 53 ﴿ "Dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam," maksudnya Dia menurunkan air hujan, kemudian menghidupkan bumi setelah kegersangannya. Dengan air itu, Dia menumbuhkan seluruh jenis tetumbuhan dengan ber-bagai perbedaan ragamnya, bentuk yang bermacam-macam dan perbedaan karakternya. Dia mendatangkan, menetapkan, dan memudahkannya sebagai rizki bagi kita sekalian dan bagi hewan-hewan piaraan kita. Sekiranya tidak ada air hujan, tentulah para penghuni permukaan bumi akan binasa, baik dari kalangan manu-sia maupun hewan.
(54) Karena itu, Allah berfirman, ﴾ كُلُواْ وَٱرۡعَوۡاْ أَنۡعَٰمَكُمۡۚ ﴿ "Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu." Allah mengemukakan perintah ini dalam bentuk penyebutan nikmat-nikmatNya, agar hal tersebut menunjukkan bahwa hukum asal pada segala tanaman adalah ibahah (boleh), sehingga tidaklah haram darinya kecuali hal-hal yang berbahaya, semisal racun dan lainnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلنُّهَىٰ 54 ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal," maksudnya, bagi orang-orang yang memiliki akal-akal yang matang, dan pikiran-pikiran yang lurus, terdapat tanda-tanda keutamaan, limpahan kebaikan, rahmat, luasnya kedermawananNya dan kesempurnaan perhatianNya. (Juga menunjukkan bahwa) Dia-lah Dzat yang menguasai yang berhak disembah, Memiliki lagi Terpuji, yang tiada satu dzat pun yang berhak menerima ibadah selainNya. Juga tidak (berhak) dengan pujian, sanjungan, dan kekaguman kecuali Dzat yang telah mencurahkan nikmat-nikmat ini. (Dan menunjukkan pula bahwa) Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, sebagaimana Dia Dzat Yang Menghidupkan bumi setelah kondisi gersangnya. Sesungguhnya Dzat tersebut benar-benar berkuasa menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Secara khusus, Allah menyinggung orang-orang yang berakal dengan hal itu, karena merekalah orang-orang yang berhasil meraup kemanfaatan dari-nya, yang memandangnya dengan pandangan serius. Sementara itu, orang-orang selain mereka, maka mereka berada dalam level binatang-binatang ternak yang lepas dan hewan-hewan piaraan yang dilepas di tempat gembalaan. Mereka tidak menyaksikannya dengan pandangan orang yang mau berpikir. Hati nurani mereka tidak menembus inti maksudnya. Ciri mereka serupa dengan hewan-hewan ternak; makan, minum (dan sebagainya), akan tetapi hati mereka lalai dan fisik-fisik mereka berpaling, ﴾ وَكَأَيِّن مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ﴿ "Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya." (Yusuf: 105).
(55) Sesudah Allah menceritakan kemuliaan bumi dan bagusnya cara syukurnya, karena Allah telah mencurahkan air hujan di atas permukaannya dan bahwa ia dengan izin Rabbnya mampu mengeluarkan tumbuh-tumbuhan yang beragam jenisnya, maka (dalam ayat ini) Dia memberitahukan bahwa Dia-lah yang menciptakan kita berasal dari tanah, di situ pula, Allah mengem-balikan (penciptaan) kita setelah kita meninggal dunia dan diku-burkan di dalamnya. Dari sanalah Allah membangkitkan kita ﴾ تَارَةً أُخۡرَىٰ 55 ﴿ "pada kali yang lain," sebagaimana Dia telah mengadakan keberadaan kita dari tanah dari ketiadaan wujud (sebelumnya), dan kita sudah mengetahui dan membuktikannya, Dia akan me-ngembalikan kita (lagi) dengan membangkitkan kita darinya pasca kematian kita. Guna memberikan balasan kepada kita berdasarkan amalan-amalan yang kita kerjakan di atas permukaan bumi. Inilah dua dalil logis bagi datangnya saat pengembalian (penciptaan ma-nusia setelah mati): Yaitu Allah mengeluarkan tanaman dari bumi setelah kegersangannya dan mengeluarkan orang-orang mukallaf dari tanah saat menciptakannya.
Taha 20:50
"Fir'aun berkata, 'Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?' Musa berkata, 'Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi-nya petunjuk.' Fir'aun berkata, 'Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?' Musa menjawab, 'Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, ter-dapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan menge-luarkan kamu pada kali yang lain'." (Thaha: 49-55).
(49) Maksudnya, Fir'aun berkata kepada Musa dengan nada pengingkaran, ﴾ فَمَن رَّبُّكُمَا يَٰمُوسَىٰ 49 ﴿ "Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?"
(50) Maka Musa menjawab (pertanyaan pengingkaran itu) dengan jawaban yang sempurna, memadai lagi jelas. Dia berkata, ﴾ رَبُّنَا ٱلَّذِيٓ أَعۡطَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ خَلۡقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ 50 ﴿ "Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." Maksudnya Rabb kami, adalah Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memasang bentuk penciptaan pada setiap makhluk sesuai dengan modelnya yang cocok [yang menunjukkan] keelokan buatan Dzat yang menciptanya, baik yang berukuran besar, kecil, dan sedang, serta karakteristiknya secara keseluruhan. Lantas Allah memberikan hidayah setiap makhluk pada tujuan penciptaannya. Inilah hidayah sempurna yang dapat disaksikan pada segenap makhluk. Kamu mendapatkan masing-masing makhluk bergerak melaju pada skenario tujuan pencip-taannya, berupa kemanfaatan-kemanfaatan dan menyingkirkan bahaya-bahaya. Bahkan Allah memberi hewan (yang tidak bisa berkomunikasi) sebagian kemampuan akal yang bisa membantu-nya untuk menjalankan misinya. Ini serupa dengan Firman Allah, ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan." (As-Sajdah: 7). Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memberinya bentuk cipta-an yang indah, yang mana akal-akal pun tidak mampu menggagas rupa yang lebih baik, Dia memberinya hidayah (ilham) kepadanya untuk mencapai kemaslahatan-kemaslahatannya, Dia-lah Rabb yang sebenarnya. Maka pengingkaran Fir'aun, berarti pengingkaran terhadap wujud yang paling agung. Dan itu merupakan bentuk kesombongan dan dusta yang terang-terangan. Bila ditakdirkan ada seseorang mengingkari sebuah fakta yang sudah diketahui (khalayak), niscaya dia tidak akan mengingkarinya, maka penging-karannya kepada Rabb semesta alam tentulah lebih parah lagi.
(51) Untuk itu, lantaran Fir'aun tidak mungkin menentang dalil yang pasti ini, maka dia beralih kepada keributan dan berpa-ling dari fokus semula. Ia berkata kepada Musa, ﴾ فَمَا بَالُ ٱلۡقُرُونِ ٱلۡأُولَىٰ 51 ﴿ "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" Maksudnya, bagaimana kondisi mereka? Bagaimana berita tentang mereka? Bagaimanakah kesudahan mereka, padahal mereka itu telah men-dahului kami dengan sikap pengingkaran, kekufuran, kezhaliman, dan pertentangan. Dan kami hanyalah mengikuti mereka saja?
(52) Musa menjawab, ﴾ عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَٰبٖۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى 52 ﴿ "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa," maksudnya Allah telah menghitung amalan mereka, baik atau buruk dan membukukan-nya dalam KitabNya, Lauhul Mahfuzh. Ilmu dan pengetahuan Allah meliputi isinya. Dia tidak akan salah tentangnya dan (juga) tidak lupa atas perkara yang telah diketahuiNya. Inti dari itu semua, bahwa mereka melakukan sesuatu yang dahulu dilakukan oleh (nenek moyang) mereka dan menjumpai amalan-amalan mereka serta menerima balasan atas dasar itu. Tidak ada artinya pertanyaan dan keingintahuanmu tentang me-reka, wahai Fir'aun. Mereka merupakan umat yang sudah berlalu. Bagi mereka apa yang mereka perbuat dan bagi kalian amalan-amalan yang kalian lakukan. Jika dalil yang sudah kami kemukakan di hadapanmu, dan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang sudah kami pertontonkan kepada dirimu, telah membuktikan kebenaran dan kepastiannya, dan itulah faktanya, maka tunduk patuhlah kepada al-haq. Singkirkanlah kekufuran, tindak kezha-liman, perdebatan dengan dasar kebatilan dari dirimu. Apabila engkau masih meragukannya atau engkau menyaksikannya tidak lurus, maka pintu tetap terbuka, dan kesempatan untuk meneliti-nya belum ditutup. Maka, bantahlah dalil dengan dalil pula, pe-tunjuk dengan petunjuk juga. Engkau tidak akan menemukan cara untuk itu, selama siang dan malam (masih silih berganti). Bagaimana bisa (dia tetap kufur), padahal Allah telah memberitahukan ten-tangnya, dia mengingkarinya meski hati meyakini kebenarannya. Seperti Firman Allah, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14). Musa berkata, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang me-nurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata." (Al-Isra`: 102). Maka dapat diketahui bahwa dia telah berbuat zhalim saat mengajak berdebat. Niatannya hanyalah untuk meraih ketinggian derajat di dunia.
(53) Selanjutnya, Allah mengalihkan tentang dalil yang absolut, dengan menyebutkan kenikmatan dan curahan kebaikan-Nya yang sangat urgens. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مَهۡدٗا ﴿ "(Allah) Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan," yaitu sebagai tempat pijakan yang kalian dapat beristirahat padanya, bertempat tinggal, membangun, menanam, dan membajak tanah untuk lahan pertanian dan fungsi lainnya. Dia telah menundukkan bumi bagi kalian, dan tidak menjadikannya menolak salah satu dari kemaslahatan kalian. ﴾ وَسَلَكَ لَكُمۡ فِيهَا سُبُلٗا ﴿ "Dan yang telah menjadi-kan bagimu di bumi itu jalan-jalan," maksudnya membuka jalur-jalur yang menghubungkan antara satu daerah menuju daerah lain, dari satu wilayah ke wilayah lain. Akhirnya, orang-orang sanggup mencapai seluruh (penjuru) bumi dengan cara yang termudah. Mereka berhasil mendapatkan manfaat-manfaat yang lebih banyak melalui perjalanan jauh (yang mereka tempuh) ketimbang manfaat yang mereka raih saat berada di daerah sendiri. ﴾ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّن نَّبَاتٖ شَتَّىٰ 53 ﴿ "Dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam," maksudnya Dia menurunkan air hujan, kemudian menghidupkan bumi setelah kegersangannya. Dengan air itu, Dia menumbuhkan seluruh jenis tetumbuhan dengan ber-bagai perbedaan ragamnya, bentuk yang bermacam-macam dan perbedaan karakternya. Dia mendatangkan, menetapkan, dan memudahkannya sebagai rizki bagi kita sekalian dan bagi hewan-hewan piaraan kita. Sekiranya tidak ada air hujan, tentulah para penghuni permukaan bumi akan binasa, baik dari kalangan manu-sia maupun hewan.
(54) Karena itu, Allah berfirman, ﴾ كُلُواْ وَٱرۡعَوۡاْ أَنۡعَٰمَكُمۡۚ ﴿ "Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu." Allah mengemukakan perintah ini dalam bentuk penyebutan nikmat-nikmatNya, agar hal tersebut menunjukkan bahwa hukum asal pada segala tanaman adalah ibahah (boleh), sehingga tidaklah haram darinya kecuali hal-hal yang berbahaya, semisal racun dan lainnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلنُّهَىٰ 54 ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal," maksudnya, bagi orang-orang yang memiliki akal-akal yang matang, dan pikiran-pikiran yang lurus, terdapat tanda-tanda keutamaan, limpahan kebaikan, rahmat, luasnya kedermawananNya dan kesempurnaan perhatianNya. (Juga menunjukkan bahwa) Dia-lah Dzat yang menguasai yang berhak disembah, Memiliki lagi Terpuji, yang tiada satu dzat pun yang berhak menerima ibadah selainNya. Juga tidak (berhak) dengan pujian, sanjungan, dan kekaguman kecuali Dzat yang telah mencurahkan nikmat-nikmat ini. (Dan menunjukkan pula bahwa) Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, sebagaimana Dia Dzat Yang Menghidupkan bumi setelah kondisi gersangnya. Sesungguhnya Dzat tersebut benar-benar berkuasa menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Secara khusus, Allah menyinggung orang-orang yang berakal dengan hal itu, karena merekalah orang-orang yang berhasil meraup kemanfaatan dari-nya, yang memandangnya dengan pandangan serius. Sementara itu, orang-orang selain mereka, maka mereka berada dalam level binatang-binatang ternak yang lepas dan hewan-hewan piaraan yang dilepas di tempat gembalaan. Mereka tidak menyaksikannya dengan pandangan orang yang mau berpikir. Hati nurani mereka tidak menembus inti maksudnya. Ciri mereka serupa dengan hewan-hewan ternak; makan, minum (dan sebagainya), akan tetapi hati mereka lalai dan fisik-fisik mereka berpaling, ﴾ وَكَأَيِّن مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ﴿ "Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya." (Yusuf: 105).
(55) Sesudah Allah menceritakan kemuliaan bumi dan bagusnya cara syukurnya, karena Allah telah mencurahkan air hujan di atas permukaannya dan bahwa ia dengan izin Rabbnya mampu mengeluarkan tumbuh-tumbuhan yang beragam jenisnya, maka (dalam ayat ini) Dia memberitahukan bahwa Dia-lah yang menciptakan kita berasal dari tanah, di situ pula, Allah mengem-balikan (penciptaan) kita setelah kita meninggal dunia dan diku-burkan di dalamnya. Dari sanalah Allah membangkitkan kita ﴾ تَارَةً أُخۡرَىٰ 55 ﴿ "pada kali yang lain," sebagaimana Dia telah mengadakan keberadaan kita dari tanah dari ketiadaan wujud (sebelumnya), dan kita sudah mengetahui dan membuktikannya, Dia akan me-ngembalikan kita (lagi) dengan membangkitkan kita darinya pasca kematian kita. Guna memberikan balasan kepada kita berdasarkan amalan-amalan yang kita kerjakan di atas permukaan bumi. Inilah dua dalil logis bagi datangnya saat pengembalian (penciptaan ma-nusia setelah mati): Yaitu Allah mengeluarkan tanaman dari bumi setelah kegersangannya dan mengeluarkan orang-orang mukallaf dari tanah saat menciptakannya.
Taha 20:51
"Fir'aun berkata, 'Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?' Musa berkata, 'Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi-nya petunjuk.' Fir'aun berkata, 'Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?' Musa menjawab, 'Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, ter-dapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan menge-luarkan kamu pada kali yang lain'." (Thaha: 49-55).
(49) Maksudnya, Fir'aun berkata kepada Musa dengan nada pengingkaran, ﴾ فَمَن رَّبُّكُمَا يَٰمُوسَىٰ 49 ﴿ "Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?"
(50) Maka Musa menjawab (pertanyaan pengingkaran itu) dengan jawaban yang sempurna, memadai lagi jelas. Dia berkata, ﴾ رَبُّنَا ٱلَّذِيٓ أَعۡطَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ خَلۡقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ 50 ﴿ "Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." Maksudnya Rabb kami, adalah Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memasang bentuk penciptaan pada setiap makhluk sesuai dengan modelnya yang cocok [yang menunjukkan] keelokan buatan Dzat yang menciptanya, baik yang berukuran besar, kecil, dan sedang, serta karakteristiknya secara keseluruhan. Lantas Allah memberikan hidayah setiap makhluk pada tujuan penciptaannya. Inilah hidayah sempurna yang dapat disaksikan pada segenap makhluk. Kamu mendapatkan masing-masing makhluk bergerak melaju pada skenario tujuan pencip-taannya, berupa kemanfaatan-kemanfaatan dan menyingkirkan bahaya-bahaya. Bahkan Allah memberi hewan (yang tidak bisa berkomunikasi) sebagian kemampuan akal yang bisa membantu-nya untuk menjalankan misinya. Ini serupa dengan Firman Allah, ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan." (As-Sajdah: 7). Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memberinya bentuk cipta-an yang indah, yang mana akal-akal pun tidak mampu menggagas rupa yang lebih baik, Dia memberinya hidayah (ilham) kepadanya untuk mencapai kemaslahatan-kemaslahatannya, Dia-lah Rabb yang sebenarnya. Maka pengingkaran Fir'aun, berarti pengingkaran terhadap wujud yang paling agung. Dan itu merupakan bentuk kesombongan dan dusta yang terang-terangan. Bila ditakdirkan ada seseorang mengingkari sebuah fakta yang sudah diketahui (khalayak), niscaya dia tidak akan mengingkarinya, maka penging-karannya kepada Rabb semesta alam tentulah lebih parah lagi.
(51) Untuk itu, lantaran Fir'aun tidak mungkin menentang dalil yang pasti ini, maka dia beralih kepada keributan dan berpa-ling dari fokus semula. Ia berkata kepada Musa, ﴾ فَمَا بَالُ ٱلۡقُرُونِ ٱلۡأُولَىٰ 51 ﴿ "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" Maksudnya, bagaimana kondisi mereka? Bagaimana berita tentang mereka? Bagaimanakah kesudahan mereka, padahal mereka itu telah men-dahului kami dengan sikap pengingkaran, kekufuran, kezhaliman, dan pertentangan. Dan kami hanyalah mengikuti mereka saja?
(52) Musa menjawab, ﴾ عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَٰبٖۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى 52 ﴿ "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa," maksudnya Allah telah menghitung amalan mereka, baik atau buruk dan membukukan-nya dalam KitabNya, Lauhul Mahfuzh. Ilmu dan pengetahuan Allah meliputi isinya. Dia tidak akan salah tentangnya dan (juga) tidak lupa atas perkara yang telah diketahuiNya. Inti dari itu semua, bahwa mereka melakukan sesuatu yang dahulu dilakukan oleh (nenek moyang) mereka dan menjumpai amalan-amalan mereka serta menerima balasan atas dasar itu. Tidak ada artinya pertanyaan dan keingintahuanmu tentang me-reka, wahai Fir'aun. Mereka merupakan umat yang sudah berlalu. Bagi mereka apa yang mereka perbuat dan bagi kalian amalan-amalan yang kalian lakukan. Jika dalil yang sudah kami kemukakan di hadapanmu, dan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang sudah kami pertontonkan kepada dirimu, telah membuktikan kebenaran dan kepastiannya, dan itulah faktanya, maka tunduk patuhlah kepada al-haq. Singkirkanlah kekufuran, tindak kezha-liman, perdebatan dengan dasar kebatilan dari dirimu. Apabila engkau masih meragukannya atau engkau menyaksikannya tidak lurus, maka pintu tetap terbuka, dan kesempatan untuk meneliti-nya belum ditutup. Maka, bantahlah dalil dengan dalil pula, pe-tunjuk dengan petunjuk juga. Engkau tidak akan menemukan cara untuk itu, selama siang dan malam (masih silih berganti). Bagaimana bisa (dia tetap kufur), padahal Allah telah memberitahukan ten-tangnya, dia mengingkarinya meski hati meyakini kebenarannya. Seperti Firman Allah, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14). Musa berkata, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang me-nurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata." (Al-Isra`: 102). Maka dapat diketahui bahwa dia telah berbuat zhalim saat mengajak berdebat. Niatannya hanyalah untuk meraih ketinggian derajat di dunia.
(53) Selanjutnya, Allah mengalihkan tentang dalil yang absolut, dengan menyebutkan kenikmatan dan curahan kebaikan-Nya yang sangat urgens. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مَهۡدٗا ﴿ "(Allah) Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan," yaitu sebagai tempat pijakan yang kalian dapat beristirahat padanya, bertempat tinggal, membangun, menanam, dan membajak tanah untuk lahan pertanian dan fungsi lainnya. Dia telah menundukkan bumi bagi kalian, dan tidak menjadikannya menolak salah satu dari kemaslahatan kalian. ﴾ وَسَلَكَ لَكُمۡ فِيهَا سُبُلٗا ﴿ "Dan yang telah menjadi-kan bagimu di bumi itu jalan-jalan," maksudnya membuka jalur-jalur yang menghubungkan antara satu daerah menuju daerah lain, dari satu wilayah ke wilayah lain. Akhirnya, orang-orang sanggup mencapai seluruh (penjuru) bumi dengan cara yang termudah. Mereka berhasil mendapatkan manfaat-manfaat yang lebih banyak melalui perjalanan jauh (yang mereka tempuh) ketimbang manfaat yang mereka raih saat berada di daerah sendiri. ﴾ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّن نَّبَاتٖ شَتَّىٰ 53 ﴿ "Dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam," maksudnya Dia menurunkan air hujan, kemudian menghidupkan bumi setelah kegersangannya. Dengan air itu, Dia menumbuhkan seluruh jenis tetumbuhan dengan ber-bagai perbedaan ragamnya, bentuk yang bermacam-macam dan perbedaan karakternya. Dia mendatangkan, menetapkan, dan memudahkannya sebagai rizki bagi kita sekalian dan bagi hewan-hewan piaraan kita. Sekiranya tidak ada air hujan, tentulah para penghuni permukaan bumi akan binasa, baik dari kalangan manu-sia maupun hewan.
(54) Karena itu, Allah berfirman, ﴾ كُلُواْ وَٱرۡعَوۡاْ أَنۡعَٰمَكُمۡۚ ﴿ "Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu." Allah mengemukakan perintah ini dalam bentuk penyebutan nikmat-nikmatNya, agar hal tersebut menunjukkan bahwa hukum asal pada segala tanaman adalah ibahah (boleh), sehingga tidaklah haram darinya kecuali hal-hal yang berbahaya, semisal racun dan lainnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلنُّهَىٰ 54 ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal," maksudnya, bagi orang-orang yang memiliki akal-akal yang matang, dan pikiran-pikiran yang lurus, terdapat tanda-tanda keutamaan, limpahan kebaikan, rahmat, luasnya kedermawananNya dan kesempurnaan perhatianNya. (Juga menunjukkan bahwa) Dia-lah Dzat yang menguasai yang berhak disembah, Memiliki lagi Terpuji, yang tiada satu dzat pun yang berhak menerima ibadah selainNya. Juga tidak (berhak) dengan pujian, sanjungan, dan kekaguman kecuali Dzat yang telah mencurahkan nikmat-nikmat ini. (Dan menunjukkan pula bahwa) Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, sebagaimana Dia Dzat Yang Menghidupkan bumi setelah kondisi gersangnya. Sesungguhnya Dzat tersebut benar-benar berkuasa menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Secara khusus, Allah menyinggung orang-orang yang berakal dengan hal itu, karena merekalah orang-orang yang berhasil meraup kemanfaatan dari-nya, yang memandangnya dengan pandangan serius. Sementara itu, orang-orang selain mereka, maka mereka berada dalam level binatang-binatang ternak yang lepas dan hewan-hewan piaraan yang dilepas di tempat gembalaan. Mereka tidak menyaksikannya dengan pandangan orang yang mau berpikir. Hati nurani mereka tidak menembus inti maksudnya. Ciri mereka serupa dengan hewan-hewan ternak; makan, minum (dan sebagainya), akan tetapi hati mereka lalai dan fisik-fisik mereka berpaling, ﴾ وَكَأَيِّن مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ﴿ "Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya." (Yusuf: 105).
(55) Sesudah Allah menceritakan kemuliaan bumi dan bagusnya cara syukurnya, karena Allah telah mencurahkan air hujan di atas permukaannya dan bahwa ia dengan izin Rabbnya mampu mengeluarkan tumbuh-tumbuhan yang beragam jenisnya, maka (dalam ayat ini) Dia memberitahukan bahwa Dia-lah yang menciptakan kita berasal dari tanah, di situ pula, Allah mengem-balikan (penciptaan) kita setelah kita meninggal dunia dan diku-burkan di dalamnya. Dari sanalah Allah membangkitkan kita ﴾ تَارَةً أُخۡرَىٰ 55 ﴿ "pada kali yang lain," sebagaimana Dia telah mengadakan keberadaan kita dari tanah dari ketiadaan wujud (sebelumnya), dan kita sudah mengetahui dan membuktikannya, Dia akan me-ngembalikan kita (lagi) dengan membangkitkan kita darinya pasca kematian kita. Guna memberikan balasan kepada kita berdasarkan amalan-amalan yang kita kerjakan di atas permukaan bumi. Inilah dua dalil logis bagi datangnya saat pengembalian (penciptaan ma-nusia setelah mati): Yaitu Allah mengeluarkan tanaman dari bumi setelah kegersangannya dan mengeluarkan orang-orang mukallaf dari tanah saat menciptakannya.
Taha 20:52
"Fir'aun berkata, 'Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?' Musa berkata, 'Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi-nya petunjuk.' Fir'aun berkata, 'Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?' Musa menjawab, 'Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, ter-dapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan menge-luarkan kamu pada kali yang lain'." (Thaha: 49-55).
(49) Maksudnya, Fir'aun berkata kepada Musa dengan nada pengingkaran, ﴾ فَمَن رَّبُّكُمَا يَٰمُوسَىٰ 49 ﴿ "Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?"
(50) Maka Musa menjawab (pertanyaan pengingkaran itu) dengan jawaban yang sempurna, memadai lagi jelas. Dia berkata, ﴾ رَبُّنَا ٱلَّذِيٓ أَعۡطَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ خَلۡقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ 50 ﴿ "Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." Maksudnya Rabb kami, adalah Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memasang bentuk penciptaan pada setiap makhluk sesuai dengan modelnya yang cocok [yang menunjukkan] keelokan buatan Dzat yang menciptanya, baik yang berukuran besar, kecil, dan sedang, serta karakteristiknya secara keseluruhan. Lantas Allah memberikan hidayah setiap makhluk pada tujuan penciptaannya. Inilah hidayah sempurna yang dapat disaksikan pada segenap makhluk. Kamu mendapatkan masing-masing makhluk bergerak melaju pada skenario tujuan pencip-taannya, berupa kemanfaatan-kemanfaatan dan menyingkirkan bahaya-bahaya. Bahkan Allah memberi hewan (yang tidak bisa berkomunikasi) sebagian kemampuan akal yang bisa membantu-nya untuk menjalankan misinya. Ini serupa dengan Firman Allah, ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan." (As-Sajdah: 7). Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memberinya bentuk cipta-an yang indah, yang mana akal-akal pun tidak mampu menggagas rupa yang lebih baik, Dia memberinya hidayah (ilham) kepadanya untuk mencapai kemaslahatan-kemaslahatannya, Dia-lah Rabb yang sebenarnya. Maka pengingkaran Fir'aun, berarti pengingkaran terhadap wujud yang paling agung. Dan itu merupakan bentuk kesombongan dan dusta yang terang-terangan. Bila ditakdirkan ada seseorang mengingkari sebuah fakta yang sudah diketahui (khalayak), niscaya dia tidak akan mengingkarinya, maka penging-karannya kepada Rabb semesta alam tentulah lebih parah lagi.
(51) Untuk itu, lantaran Fir'aun tidak mungkin menentang dalil yang pasti ini, maka dia beralih kepada keributan dan berpa-ling dari fokus semula. Ia berkata kepada Musa, ﴾ فَمَا بَالُ ٱلۡقُرُونِ ٱلۡأُولَىٰ 51 ﴿ "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" Maksudnya, bagaimana kondisi mereka? Bagaimana berita tentang mereka? Bagaimanakah kesudahan mereka, padahal mereka itu telah men-dahului kami dengan sikap pengingkaran, kekufuran, kezhaliman, dan pertentangan. Dan kami hanyalah mengikuti mereka saja?
(52) Musa menjawab, ﴾ عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَٰبٖۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى 52 ﴿ "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa," maksudnya Allah telah menghitung amalan mereka, baik atau buruk dan membukukan-nya dalam KitabNya, Lauhul Mahfuzh. Ilmu dan pengetahuan Allah meliputi isinya. Dia tidak akan salah tentangnya dan (juga) tidak lupa atas perkara yang telah diketahuiNya. Inti dari itu semua, bahwa mereka melakukan sesuatu yang dahulu dilakukan oleh (nenek moyang) mereka dan menjumpai amalan-amalan mereka serta menerima balasan atas dasar itu. Tidak ada artinya pertanyaan dan keingintahuanmu tentang me-reka, wahai Fir'aun. Mereka merupakan umat yang sudah berlalu. Bagi mereka apa yang mereka perbuat dan bagi kalian amalan-amalan yang kalian lakukan. Jika dalil yang sudah kami kemukakan di hadapanmu, dan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang sudah kami pertontonkan kepada dirimu, telah membuktikan kebenaran dan kepastiannya, dan itulah faktanya, maka tunduk patuhlah kepada al-haq. Singkirkanlah kekufuran, tindak kezha-liman, perdebatan dengan dasar kebatilan dari dirimu. Apabila engkau masih meragukannya atau engkau menyaksikannya tidak lurus, maka pintu tetap terbuka, dan kesempatan untuk meneliti-nya belum ditutup. Maka, bantahlah dalil dengan dalil pula, pe-tunjuk dengan petunjuk juga. Engkau tidak akan menemukan cara untuk itu, selama siang dan malam (masih silih berganti). Bagaimana bisa (dia tetap kufur), padahal Allah telah memberitahukan ten-tangnya, dia mengingkarinya meski hati meyakini kebenarannya. Seperti Firman Allah, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14). Musa berkata, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang me-nurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata." (Al-Isra`: 102). Maka dapat diketahui bahwa dia telah berbuat zhalim saat mengajak berdebat. Niatannya hanyalah untuk meraih ketinggian derajat di dunia.
(53) Selanjutnya, Allah mengalihkan tentang dalil yang absolut, dengan menyebutkan kenikmatan dan curahan kebaikan-Nya yang sangat urgens. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مَهۡدٗا ﴿ "(Allah) Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan," yaitu sebagai tempat pijakan yang kalian dapat beristirahat padanya, bertempat tinggal, membangun, menanam, dan membajak tanah untuk lahan pertanian dan fungsi lainnya. Dia telah menundukkan bumi bagi kalian, dan tidak menjadikannya menolak salah satu dari kemaslahatan kalian. ﴾ وَسَلَكَ لَكُمۡ فِيهَا سُبُلٗا ﴿ "Dan yang telah menjadi-kan bagimu di bumi itu jalan-jalan," maksudnya membuka jalur-jalur yang menghubungkan antara satu daerah menuju daerah lain, dari satu wilayah ke wilayah lain. Akhirnya, orang-orang sanggup mencapai seluruh (penjuru) bumi dengan cara yang termudah. Mereka berhasil mendapatkan manfaat-manfaat yang lebih banyak melalui perjalanan jauh (yang mereka tempuh) ketimbang manfaat yang mereka raih saat berada di daerah sendiri. ﴾ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّن نَّبَاتٖ شَتَّىٰ 53 ﴿ "Dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam," maksudnya Dia menurunkan air hujan, kemudian menghidupkan bumi setelah kegersangannya. Dengan air itu, Dia menumbuhkan seluruh jenis tetumbuhan dengan ber-bagai perbedaan ragamnya, bentuk yang bermacam-macam dan perbedaan karakternya. Dia mendatangkan, menetapkan, dan memudahkannya sebagai rizki bagi kita sekalian dan bagi hewan-hewan piaraan kita. Sekiranya tidak ada air hujan, tentulah para penghuni permukaan bumi akan binasa, baik dari kalangan manu-sia maupun hewan.
(54) Karena itu, Allah berfirman, ﴾ كُلُواْ وَٱرۡعَوۡاْ أَنۡعَٰمَكُمۡۚ ﴿ "Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu." Allah mengemukakan perintah ini dalam bentuk penyebutan nikmat-nikmatNya, agar hal tersebut menunjukkan bahwa hukum asal pada segala tanaman adalah ibahah (boleh), sehingga tidaklah haram darinya kecuali hal-hal yang berbahaya, semisal racun dan lainnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلنُّهَىٰ 54 ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal," maksudnya, bagi orang-orang yang memiliki akal-akal yang matang, dan pikiran-pikiran yang lurus, terdapat tanda-tanda keutamaan, limpahan kebaikan, rahmat, luasnya kedermawananNya dan kesempurnaan perhatianNya. (Juga menunjukkan bahwa) Dia-lah Dzat yang menguasai yang berhak disembah, Memiliki lagi Terpuji, yang tiada satu dzat pun yang berhak menerima ibadah selainNya. Juga tidak (berhak) dengan pujian, sanjungan, dan kekaguman kecuali Dzat yang telah mencurahkan nikmat-nikmat ini. (Dan menunjukkan pula bahwa) Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, sebagaimana Dia Dzat Yang Menghidupkan bumi setelah kondisi gersangnya. Sesungguhnya Dzat tersebut benar-benar berkuasa menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Secara khusus, Allah menyinggung orang-orang yang berakal dengan hal itu, karena merekalah orang-orang yang berhasil meraup kemanfaatan dari-nya, yang memandangnya dengan pandangan serius. Sementara itu, orang-orang selain mereka, maka mereka berada dalam level binatang-binatang ternak yang lepas dan hewan-hewan piaraan yang dilepas di tempat gembalaan. Mereka tidak menyaksikannya dengan pandangan orang yang mau berpikir. Hati nurani mereka tidak menembus inti maksudnya. Ciri mereka serupa dengan hewan-hewan ternak; makan, minum (dan sebagainya), akan tetapi hati mereka lalai dan fisik-fisik mereka berpaling, ﴾ وَكَأَيِّن مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ﴿ "Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya." (Yusuf: 105).
(55) Sesudah Allah menceritakan kemuliaan bumi dan bagusnya cara syukurnya, karena Allah telah mencurahkan air hujan di atas permukaannya dan bahwa ia dengan izin Rabbnya mampu mengeluarkan tumbuh-tumbuhan yang beragam jenisnya, maka (dalam ayat ini) Dia memberitahukan bahwa Dia-lah yang menciptakan kita berasal dari tanah, di situ pula, Allah mengem-balikan (penciptaan) kita setelah kita meninggal dunia dan diku-burkan di dalamnya. Dari sanalah Allah membangkitkan kita ﴾ تَارَةً أُخۡرَىٰ 55 ﴿ "pada kali yang lain," sebagaimana Dia telah mengadakan keberadaan kita dari tanah dari ketiadaan wujud (sebelumnya), dan kita sudah mengetahui dan membuktikannya, Dia akan me-ngembalikan kita (lagi) dengan membangkitkan kita darinya pasca kematian kita. Guna memberikan balasan kepada kita berdasarkan amalan-amalan yang kita kerjakan di atas permukaan bumi. Inilah dua dalil logis bagi datangnya saat pengembalian (penciptaan ma-nusia setelah mati): Yaitu Allah mengeluarkan tanaman dari bumi setelah kegersangannya dan mengeluarkan orang-orang mukallaf dari tanah saat menciptakannya.
Taha 20:53
"Fir'aun berkata, 'Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?' Musa berkata, 'Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi-nya petunjuk.' Fir'aun berkata, 'Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?' Musa menjawab, 'Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, ter-dapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan menge-luarkan kamu pada kali yang lain'." (Thaha: 49-55).
(49) Maksudnya, Fir'aun berkata kepada Musa dengan nada pengingkaran, ﴾ فَمَن رَّبُّكُمَا يَٰمُوسَىٰ 49 ﴿ "Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?"
(50) Maka Musa menjawab (pertanyaan pengingkaran itu) dengan jawaban yang sempurna, memadai lagi jelas. Dia berkata, ﴾ رَبُّنَا ٱلَّذِيٓ أَعۡطَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ خَلۡقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ 50 ﴿ "Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." Maksudnya Rabb kami, adalah Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memasang bentuk penciptaan pada setiap makhluk sesuai dengan modelnya yang cocok [yang menunjukkan] keelokan buatan Dzat yang menciptanya, baik yang berukuran besar, kecil, dan sedang, serta karakteristiknya secara keseluruhan. Lantas Allah memberikan hidayah setiap makhluk pada tujuan penciptaannya. Inilah hidayah sempurna yang dapat disaksikan pada segenap makhluk. Kamu mendapatkan masing-masing makhluk bergerak melaju pada skenario tujuan pencip-taannya, berupa kemanfaatan-kemanfaatan dan menyingkirkan bahaya-bahaya. Bahkan Allah memberi hewan (yang tidak bisa berkomunikasi) sebagian kemampuan akal yang bisa membantu-nya untuk menjalankan misinya. Ini serupa dengan Firman Allah, ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan." (As-Sajdah: 7). Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memberinya bentuk cipta-an yang indah, yang mana akal-akal pun tidak mampu menggagas rupa yang lebih baik, Dia memberinya hidayah (ilham) kepadanya untuk mencapai kemaslahatan-kemaslahatannya, Dia-lah Rabb yang sebenarnya. Maka pengingkaran Fir'aun, berarti pengingkaran terhadap wujud yang paling agung. Dan itu merupakan bentuk kesombongan dan dusta yang terang-terangan. Bila ditakdirkan ada seseorang mengingkari sebuah fakta yang sudah diketahui (khalayak), niscaya dia tidak akan mengingkarinya, maka penging-karannya kepada Rabb semesta alam tentulah lebih parah lagi.
(51) Untuk itu, lantaran Fir'aun tidak mungkin menentang dalil yang pasti ini, maka dia beralih kepada keributan dan berpa-ling dari fokus semula. Ia berkata kepada Musa, ﴾ فَمَا بَالُ ٱلۡقُرُونِ ٱلۡأُولَىٰ 51 ﴿ "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" Maksudnya, bagaimana kondisi mereka? Bagaimana berita tentang mereka? Bagaimanakah kesudahan mereka, padahal mereka itu telah men-dahului kami dengan sikap pengingkaran, kekufuran, kezhaliman, dan pertentangan. Dan kami hanyalah mengikuti mereka saja?
(52) Musa menjawab, ﴾ عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَٰبٖۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى 52 ﴿ "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa," maksudnya Allah telah menghitung amalan mereka, baik atau buruk dan membukukan-nya dalam KitabNya, Lauhul Mahfuzh. Ilmu dan pengetahuan Allah meliputi isinya. Dia tidak akan salah tentangnya dan (juga) tidak lupa atas perkara yang telah diketahuiNya. Inti dari itu semua, bahwa mereka melakukan sesuatu yang dahulu dilakukan oleh (nenek moyang) mereka dan menjumpai amalan-amalan mereka serta menerima balasan atas dasar itu. Tidak ada artinya pertanyaan dan keingintahuanmu tentang me-reka, wahai Fir'aun. Mereka merupakan umat yang sudah berlalu. Bagi mereka apa yang mereka perbuat dan bagi kalian amalan-amalan yang kalian lakukan. Jika dalil yang sudah kami kemukakan di hadapanmu, dan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang sudah kami pertontonkan kepada dirimu, telah membuktikan kebenaran dan kepastiannya, dan itulah faktanya, maka tunduk patuhlah kepada al-haq. Singkirkanlah kekufuran, tindak kezha-liman, perdebatan dengan dasar kebatilan dari dirimu. Apabila engkau masih meragukannya atau engkau menyaksikannya tidak lurus, maka pintu tetap terbuka, dan kesempatan untuk meneliti-nya belum ditutup. Maka, bantahlah dalil dengan dalil pula, pe-tunjuk dengan petunjuk juga. Engkau tidak akan menemukan cara untuk itu, selama siang dan malam (masih silih berganti). Bagaimana bisa (dia tetap kufur), padahal Allah telah memberitahukan ten-tangnya, dia mengingkarinya meski hati meyakini kebenarannya. Seperti Firman Allah, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14). Musa berkata, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang me-nurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata." (Al-Isra`: 102). Maka dapat diketahui bahwa dia telah berbuat zhalim saat mengajak berdebat. Niatannya hanyalah untuk meraih ketinggian derajat di dunia.
(53) Selanjutnya, Allah mengalihkan tentang dalil yang absolut, dengan menyebutkan kenikmatan dan curahan kebaikan-Nya yang sangat urgens. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مَهۡدٗا ﴿ "(Allah) Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan," yaitu sebagai tempat pijakan yang kalian dapat beristirahat padanya, bertempat tinggal, membangun, menanam, dan membajak tanah untuk lahan pertanian dan fungsi lainnya. Dia telah menundukkan bumi bagi kalian, dan tidak menjadikannya menolak salah satu dari kemaslahatan kalian. ﴾ وَسَلَكَ لَكُمۡ فِيهَا سُبُلٗا ﴿ "Dan yang telah menjadi-kan bagimu di bumi itu jalan-jalan," maksudnya membuka jalur-jalur yang menghubungkan antara satu daerah menuju daerah lain, dari satu wilayah ke wilayah lain. Akhirnya, orang-orang sanggup mencapai seluruh (penjuru) bumi dengan cara yang termudah. Mereka berhasil mendapatkan manfaat-manfaat yang lebih banyak melalui perjalanan jauh (yang mereka tempuh) ketimbang manfaat yang mereka raih saat berada di daerah sendiri. ﴾ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّن نَّبَاتٖ شَتَّىٰ 53 ﴿ "Dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam," maksudnya Dia menurunkan air hujan, kemudian menghidupkan bumi setelah kegersangannya. Dengan air itu, Dia menumbuhkan seluruh jenis tetumbuhan dengan ber-bagai perbedaan ragamnya, bentuk yang bermacam-macam dan perbedaan karakternya. Dia mendatangkan, menetapkan, dan memudahkannya sebagai rizki bagi kita sekalian dan bagi hewan-hewan piaraan kita. Sekiranya tidak ada air hujan, tentulah para penghuni permukaan bumi akan binasa, baik dari kalangan manu-sia maupun hewan.
(54) Karena itu, Allah berfirman, ﴾ كُلُواْ وَٱرۡعَوۡاْ أَنۡعَٰمَكُمۡۚ ﴿ "Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu." Allah mengemukakan perintah ini dalam bentuk penyebutan nikmat-nikmatNya, agar hal tersebut menunjukkan bahwa hukum asal pada segala tanaman adalah ibahah (boleh), sehingga tidaklah haram darinya kecuali hal-hal yang berbahaya, semisal racun dan lainnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلنُّهَىٰ 54 ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal," maksudnya, bagi orang-orang yang memiliki akal-akal yang matang, dan pikiran-pikiran yang lurus, terdapat tanda-tanda keutamaan, limpahan kebaikan, rahmat, luasnya kedermawananNya dan kesempurnaan perhatianNya. (Juga menunjukkan bahwa) Dia-lah Dzat yang menguasai yang berhak disembah, Memiliki lagi Terpuji, yang tiada satu dzat pun yang berhak menerima ibadah selainNya. Juga tidak (berhak) dengan pujian, sanjungan, dan kekaguman kecuali Dzat yang telah mencurahkan nikmat-nikmat ini. (Dan menunjukkan pula bahwa) Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, sebagaimana Dia Dzat Yang Menghidupkan bumi setelah kondisi gersangnya. Sesungguhnya Dzat tersebut benar-benar berkuasa menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Secara khusus, Allah menyinggung orang-orang yang berakal dengan hal itu, karena merekalah orang-orang yang berhasil meraup kemanfaatan dari-nya, yang memandangnya dengan pandangan serius. Sementara itu, orang-orang selain mereka, maka mereka berada dalam level binatang-binatang ternak yang lepas dan hewan-hewan piaraan yang dilepas di tempat gembalaan. Mereka tidak menyaksikannya dengan pandangan orang yang mau berpikir. Hati nurani mereka tidak menembus inti maksudnya. Ciri mereka serupa dengan hewan-hewan ternak; makan, minum (dan sebagainya), akan tetapi hati mereka lalai dan fisik-fisik mereka berpaling, ﴾ وَكَأَيِّن مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ﴿ "Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya." (Yusuf: 105).
(55) Sesudah Allah menceritakan kemuliaan bumi dan bagusnya cara syukurnya, karena Allah telah mencurahkan air hujan di atas permukaannya dan bahwa ia dengan izin Rabbnya mampu mengeluarkan tumbuh-tumbuhan yang beragam jenisnya, maka (dalam ayat ini) Dia memberitahukan bahwa Dia-lah yang menciptakan kita berasal dari tanah, di situ pula, Allah mengem-balikan (penciptaan) kita setelah kita meninggal dunia dan diku-burkan di dalamnya. Dari sanalah Allah membangkitkan kita ﴾ تَارَةً أُخۡرَىٰ 55 ﴿ "pada kali yang lain," sebagaimana Dia telah mengadakan keberadaan kita dari tanah dari ketiadaan wujud (sebelumnya), dan kita sudah mengetahui dan membuktikannya, Dia akan me-ngembalikan kita (lagi) dengan membangkitkan kita darinya pasca kematian kita. Guna memberikan balasan kepada kita berdasarkan amalan-amalan yang kita kerjakan di atas permukaan bumi. Inilah dua dalil logis bagi datangnya saat pengembalian (penciptaan ma-nusia setelah mati): Yaitu Allah mengeluarkan tanaman dari bumi setelah kegersangannya dan mengeluarkan orang-orang mukallaf dari tanah saat menciptakannya.
Taha 20:54
"Fir'aun berkata, 'Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?' Musa berkata, 'Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi-nya petunjuk.' Fir'aun berkata, 'Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?' Musa menjawab, 'Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, ter-dapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan menge-luarkan kamu pada kali yang lain'." (Thaha: 49-55).
(49) Maksudnya, Fir'aun berkata kepada Musa dengan nada pengingkaran, ﴾ فَمَن رَّبُّكُمَا يَٰمُوسَىٰ 49 ﴿ "Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?"
(50) Maka Musa menjawab (pertanyaan pengingkaran itu) dengan jawaban yang sempurna, memadai lagi jelas. Dia berkata, ﴾ رَبُّنَا ٱلَّذِيٓ أَعۡطَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ خَلۡقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ 50 ﴿ "Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." Maksudnya Rabb kami, adalah Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memasang bentuk penciptaan pada setiap makhluk sesuai dengan modelnya yang cocok [yang menunjukkan] keelokan buatan Dzat yang menciptanya, baik yang berukuran besar, kecil, dan sedang, serta karakteristiknya secara keseluruhan. Lantas Allah memberikan hidayah setiap makhluk pada tujuan penciptaannya. Inilah hidayah sempurna yang dapat disaksikan pada segenap makhluk. Kamu mendapatkan masing-masing makhluk bergerak melaju pada skenario tujuan pencip-taannya, berupa kemanfaatan-kemanfaatan dan menyingkirkan bahaya-bahaya. Bahkan Allah memberi hewan (yang tidak bisa berkomunikasi) sebagian kemampuan akal yang bisa membantu-nya untuk menjalankan misinya. Ini serupa dengan Firman Allah, ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan." (As-Sajdah: 7). Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memberinya bentuk cipta-an yang indah, yang mana akal-akal pun tidak mampu menggagas rupa yang lebih baik, Dia memberinya hidayah (ilham) kepadanya untuk mencapai kemaslahatan-kemaslahatannya, Dia-lah Rabb yang sebenarnya. Maka pengingkaran Fir'aun, berarti pengingkaran terhadap wujud yang paling agung. Dan itu merupakan bentuk kesombongan dan dusta yang terang-terangan. Bila ditakdirkan ada seseorang mengingkari sebuah fakta yang sudah diketahui (khalayak), niscaya dia tidak akan mengingkarinya, maka penging-karannya kepada Rabb semesta alam tentulah lebih parah lagi.
(51) Untuk itu, lantaran Fir'aun tidak mungkin menentang dalil yang pasti ini, maka dia beralih kepada keributan dan berpa-ling dari fokus semula. Ia berkata kepada Musa, ﴾ فَمَا بَالُ ٱلۡقُرُونِ ٱلۡأُولَىٰ 51 ﴿ "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" Maksudnya, bagaimana kondisi mereka? Bagaimana berita tentang mereka? Bagaimanakah kesudahan mereka, padahal mereka itu telah men-dahului kami dengan sikap pengingkaran, kekufuran, kezhaliman, dan pertentangan. Dan kami hanyalah mengikuti mereka saja?
(52) Musa menjawab, ﴾ عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَٰبٖۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى 52 ﴿ "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa," maksudnya Allah telah menghitung amalan mereka, baik atau buruk dan membukukan-nya dalam KitabNya, Lauhul Mahfuzh. Ilmu dan pengetahuan Allah meliputi isinya. Dia tidak akan salah tentangnya dan (juga) tidak lupa atas perkara yang telah diketahuiNya. Inti dari itu semua, bahwa mereka melakukan sesuatu yang dahulu dilakukan oleh (nenek moyang) mereka dan menjumpai amalan-amalan mereka serta menerima balasan atas dasar itu. Tidak ada artinya pertanyaan dan keingintahuanmu tentang me-reka, wahai Fir'aun. Mereka merupakan umat yang sudah berlalu. Bagi mereka apa yang mereka perbuat dan bagi kalian amalan-amalan yang kalian lakukan. Jika dalil yang sudah kami kemukakan di hadapanmu, dan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang sudah kami pertontonkan kepada dirimu, telah membuktikan kebenaran dan kepastiannya, dan itulah faktanya, maka tunduk patuhlah kepada al-haq. Singkirkanlah kekufuran, tindak kezha-liman, perdebatan dengan dasar kebatilan dari dirimu. Apabila engkau masih meragukannya atau engkau menyaksikannya tidak lurus, maka pintu tetap terbuka, dan kesempatan untuk meneliti-nya belum ditutup. Maka, bantahlah dalil dengan dalil pula, pe-tunjuk dengan petunjuk juga. Engkau tidak akan menemukan cara untuk itu, selama siang dan malam (masih silih berganti). Bagaimana bisa (dia tetap kufur), padahal Allah telah memberitahukan ten-tangnya, dia mengingkarinya meski hati meyakini kebenarannya. Seperti Firman Allah, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14). Musa berkata, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang me-nurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata." (Al-Isra`: 102). Maka dapat diketahui bahwa dia telah berbuat zhalim saat mengajak berdebat. Niatannya hanyalah untuk meraih ketinggian derajat di dunia.
(53) Selanjutnya, Allah mengalihkan tentang dalil yang absolut, dengan menyebutkan kenikmatan dan curahan kebaikan-Nya yang sangat urgens. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مَهۡدٗا ﴿ "(Allah) Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan," yaitu sebagai tempat pijakan yang kalian dapat beristirahat padanya, bertempat tinggal, membangun, menanam, dan membajak tanah untuk lahan pertanian dan fungsi lainnya. Dia telah menundukkan bumi bagi kalian, dan tidak menjadikannya menolak salah satu dari kemaslahatan kalian. ﴾ وَسَلَكَ لَكُمۡ فِيهَا سُبُلٗا ﴿ "Dan yang telah menjadi-kan bagimu di bumi itu jalan-jalan," maksudnya membuka jalur-jalur yang menghubungkan antara satu daerah menuju daerah lain, dari satu wilayah ke wilayah lain. Akhirnya, orang-orang sanggup mencapai seluruh (penjuru) bumi dengan cara yang termudah. Mereka berhasil mendapatkan manfaat-manfaat yang lebih banyak melalui perjalanan jauh (yang mereka tempuh) ketimbang manfaat yang mereka raih saat berada di daerah sendiri. ﴾ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّن نَّبَاتٖ شَتَّىٰ 53 ﴿ "Dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam," maksudnya Dia menurunkan air hujan, kemudian menghidupkan bumi setelah kegersangannya. Dengan air itu, Dia menumbuhkan seluruh jenis tetumbuhan dengan ber-bagai perbedaan ragamnya, bentuk yang bermacam-macam dan perbedaan karakternya. Dia mendatangkan, menetapkan, dan memudahkannya sebagai rizki bagi kita sekalian dan bagi hewan-hewan piaraan kita. Sekiranya tidak ada air hujan, tentulah para penghuni permukaan bumi akan binasa, baik dari kalangan manu-sia maupun hewan.
(54) Karena itu, Allah berfirman, ﴾ كُلُواْ وَٱرۡعَوۡاْ أَنۡعَٰمَكُمۡۚ ﴿ "Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu." Allah mengemukakan perintah ini dalam bentuk penyebutan nikmat-nikmatNya, agar hal tersebut menunjukkan bahwa hukum asal pada segala tanaman adalah ibahah (boleh), sehingga tidaklah haram darinya kecuali hal-hal yang berbahaya, semisal racun dan lainnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلنُّهَىٰ 54 ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal," maksudnya, bagi orang-orang yang memiliki akal-akal yang matang, dan pikiran-pikiran yang lurus, terdapat tanda-tanda keutamaan, limpahan kebaikan, rahmat, luasnya kedermawananNya dan kesempurnaan perhatianNya. (Juga menunjukkan bahwa) Dia-lah Dzat yang menguasai yang berhak disembah, Memiliki lagi Terpuji, yang tiada satu dzat pun yang berhak menerima ibadah selainNya. Juga tidak (berhak) dengan pujian, sanjungan, dan kekaguman kecuali Dzat yang telah mencurahkan nikmat-nikmat ini. (Dan menunjukkan pula bahwa) Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, sebagaimana Dia Dzat Yang Menghidupkan bumi setelah kondisi gersangnya. Sesungguhnya Dzat tersebut benar-benar berkuasa menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Secara khusus, Allah menyinggung orang-orang yang berakal dengan hal itu, karena merekalah orang-orang yang berhasil meraup kemanfaatan dari-nya, yang memandangnya dengan pandangan serius. Sementara itu, orang-orang selain mereka, maka mereka berada dalam level binatang-binatang ternak yang lepas dan hewan-hewan piaraan yang dilepas di tempat gembalaan. Mereka tidak menyaksikannya dengan pandangan orang yang mau berpikir. Hati nurani mereka tidak menembus inti maksudnya. Ciri mereka serupa dengan hewan-hewan ternak; makan, minum (dan sebagainya), akan tetapi hati mereka lalai dan fisik-fisik mereka berpaling, ﴾ وَكَأَيِّن مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ﴿ "Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya." (Yusuf: 105).
(55) Sesudah Allah menceritakan kemuliaan bumi dan bagusnya cara syukurnya, karena Allah telah mencurahkan air hujan di atas permukaannya dan bahwa ia dengan izin Rabbnya mampu mengeluarkan tumbuh-tumbuhan yang beragam jenisnya, maka (dalam ayat ini) Dia memberitahukan bahwa Dia-lah yang menciptakan kita berasal dari tanah, di situ pula, Allah mengem-balikan (penciptaan) kita setelah kita meninggal dunia dan diku-burkan di dalamnya. Dari sanalah Allah membangkitkan kita ﴾ تَارَةً أُخۡرَىٰ 55 ﴿ "pada kali yang lain," sebagaimana Dia telah mengadakan keberadaan kita dari tanah dari ketiadaan wujud (sebelumnya), dan kita sudah mengetahui dan membuktikannya, Dia akan me-ngembalikan kita (lagi) dengan membangkitkan kita darinya pasca kematian kita. Guna memberikan balasan kepada kita berdasarkan amalan-amalan yang kita kerjakan di atas permukaan bumi. Inilah dua dalil logis bagi datangnya saat pengembalian (penciptaan ma-nusia setelah mati): Yaitu Allah mengeluarkan tanaman dari bumi setelah kegersangannya dan mengeluarkan orang-orang mukallaf dari tanah saat menciptakannya.
Taha 20:55
"Fir'aun berkata, 'Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?' Musa berkata, 'Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi-nya petunjuk.' Fir'aun berkata, 'Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?' Musa menjawab, 'Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa. Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, ter-dapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan menge-luarkan kamu pada kali yang lain'." (Thaha: 49-55).
(49) Maksudnya, Fir'aun berkata kepada Musa dengan nada pengingkaran, ﴾ فَمَن رَّبُّكُمَا يَٰمُوسَىٰ 49 ﴿ "Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?"
(50) Maka Musa menjawab (pertanyaan pengingkaran itu) dengan jawaban yang sempurna, memadai lagi jelas. Dia berkata, ﴾ رَبُّنَا ٱلَّذِيٓ أَعۡطَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ خَلۡقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ 50 ﴿ "Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." Maksudnya Rabb kami, adalah Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memasang bentuk penciptaan pada setiap makhluk sesuai dengan modelnya yang cocok [yang menunjukkan] keelokan buatan Dzat yang menciptanya, baik yang berukuran besar, kecil, dan sedang, serta karakteristiknya secara keseluruhan. Lantas Allah memberikan hidayah setiap makhluk pada tujuan penciptaannya. Inilah hidayah sempurna yang dapat disaksikan pada segenap makhluk. Kamu mendapatkan masing-masing makhluk bergerak melaju pada skenario tujuan pencip-taannya, berupa kemanfaatan-kemanfaatan dan menyingkirkan bahaya-bahaya. Bahkan Allah memberi hewan (yang tidak bisa berkomunikasi) sebagian kemampuan akal yang bisa membantu-nya untuk menjalankan misinya. Ini serupa dengan Firman Allah, ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan." (As-Sajdah: 7). Dzat yang menciptakan seluruh makhluk dan memberinya bentuk cipta-an yang indah, yang mana akal-akal pun tidak mampu menggagas rupa yang lebih baik, Dia memberinya hidayah (ilham) kepadanya untuk mencapai kemaslahatan-kemaslahatannya, Dia-lah Rabb yang sebenarnya. Maka pengingkaran Fir'aun, berarti pengingkaran terhadap wujud yang paling agung. Dan itu merupakan bentuk kesombongan dan dusta yang terang-terangan. Bila ditakdirkan ada seseorang mengingkari sebuah fakta yang sudah diketahui (khalayak), niscaya dia tidak akan mengingkarinya, maka penging-karannya kepada Rabb semesta alam tentulah lebih parah lagi.
(51) Untuk itu, lantaran Fir'aun tidak mungkin menentang dalil yang pasti ini, maka dia beralih kepada keributan dan berpa-ling dari fokus semula. Ia berkata kepada Musa, ﴾ فَمَا بَالُ ٱلۡقُرُونِ ٱلۡأُولَىٰ 51 ﴿ "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" Maksudnya, bagaimana kondisi mereka? Bagaimana berita tentang mereka? Bagaimanakah kesudahan mereka, padahal mereka itu telah men-dahului kami dengan sikap pengingkaran, kekufuran, kezhaliman, dan pertentangan. Dan kami hanyalah mengikuti mereka saja?
(52) Musa menjawab, ﴾ عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَٰبٖۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى 52 ﴿ "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa," maksudnya Allah telah menghitung amalan mereka, baik atau buruk dan membukukan-nya dalam KitabNya, Lauhul Mahfuzh. Ilmu dan pengetahuan Allah meliputi isinya. Dia tidak akan salah tentangnya dan (juga) tidak lupa atas perkara yang telah diketahuiNya. Inti dari itu semua, bahwa mereka melakukan sesuatu yang dahulu dilakukan oleh (nenek moyang) mereka dan menjumpai amalan-amalan mereka serta menerima balasan atas dasar itu. Tidak ada artinya pertanyaan dan keingintahuanmu tentang me-reka, wahai Fir'aun. Mereka merupakan umat yang sudah berlalu. Bagi mereka apa yang mereka perbuat dan bagi kalian amalan-amalan yang kalian lakukan. Jika dalil yang sudah kami kemukakan di hadapanmu, dan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) yang sudah kami pertontonkan kepada dirimu, telah membuktikan kebenaran dan kepastiannya, dan itulah faktanya, maka tunduk patuhlah kepada al-haq. Singkirkanlah kekufuran, tindak kezha-liman, perdebatan dengan dasar kebatilan dari dirimu. Apabila engkau masih meragukannya atau engkau menyaksikannya tidak lurus, maka pintu tetap terbuka, dan kesempatan untuk meneliti-nya belum ditutup. Maka, bantahlah dalil dengan dalil pula, pe-tunjuk dengan petunjuk juga. Engkau tidak akan menemukan cara untuk itu, selama siang dan malam (masih silih berganti). Bagaimana bisa (dia tetap kufur), padahal Allah telah memberitahukan ten-tangnya, dia mengingkarinya meski hati meyakini kebenarannya. Seperti Firman Allah, ﴾ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ﴿ "Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14). Musa berkata, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang me-nurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang Memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata." (Al-Isra`: 102). Maka dapat diketahui bahwa dia telah berbuat zhalim saat mengajak berdebat. Niatannya hanyalah untuk meraih ketinggian derajat di dunia.
(53) Selanjutnya, Allah mengalihkan tentang dalil yang absolut, dengan menyebutkan kenikmatan dan curahan kebaikan-Nya yang sangat urgens. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مَهۡدٗا ﴿ "(Allah) Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan," yaitu sebagai tempat pijakan yang kalian dapat beristirahat padanya, bertempat tinggal, membangun, menanam, dan membajak tanah untuk lahan pertanian dan fungsi lainnya. Dia telah menundukkan bumi bagi kalian, dan tidak menjadikannya menolak salah satu dari kemaslahatan kalian. ﴾ وَسَلَكَ لَكُمۡ فِيهَا سُبُلٗا ﴿ "Dan yang telah menjadi-kan bagimu di bumi itu jalan-jalan," maksudnya membuka jalur-jalur yang menghubungkan antara satu daerah menuju daerah lain, dari satu wilayah ke wilayah lain. Akhirnya, orang-orang sanggup mencapai seluruh (penjuru) bumi dengan cara yang termudah. Mereka berhasil mendapatkan manfaat-manfaat yang lebih banyak melalui perjalanan jauh (yang mereka tempuh) ketimbang manfaat yang mereka raih saat berada di daerah sendiri. ﴾ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّن نَّبَاتٖ شَتَّىٰ 53 ﴿ "Dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam," maksudnya Dia menurunkan air hujan, kemudian menghidupkan bumi setelah kegersangannya. Dengan air itu, Dia menumbuhkan seluruh jenis tetumbuhan dengan ber-bagai perbedaan ragamnya, bentuk yang bermacam-macam dan perbedaan karakternya. Dia mendatangkan, menetapkan, dan memudahkannya sebagai rizki bagi kita sekalian dan bagi hewan-hewan piaraan kita. Sekiranya tidak ada air hujan, tentulah para penghuni permukaan bumi akan binasa, baik dari kalangan manu-sia maupun hewan.
(54) Karena itu, Allah berfirman, ﴾ كُلُواْ وَٱرۡعَوۡاْ أَنۡعَٰمَكُمۡۚ ﴿ "Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu." Allah mengemukakan perintah ini dalam bentuk penyebutan nikmat-nikmatNya, agar hal tersebut menunjukkan bahwa hukum asal pada segala tanaman adalah ibahah (boleh), sehingga tidaklah haram darinya kecuali hal-hal yang berbahaya, semisal racun dan lainnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلنُّهَىٰ 54 ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal," maksudnya, bagi orang-orang yang memiliki akal-akal yang matang, dan pikiran-pikiran yang lurus, terdapat tanda-tanda keutamaan, limpahan kebaikan, rahmat, luasnya kedermawananNya dan kesempurnaan perhatianNya. (Juga menunjukkan bahwa) Dia-lah Dzat yang menguasai yang berhak disembah, Memiliki lagi Terpuji, yang tiada satu dzat pun yang berhak menerima ibadah selainNya. Juga tidak (berhak) dengan pujian, sanjungan, dan kekaguman kecuali Dzat yang telah mencurahkan nikmat-nikmat ini. (Dan menunjukkan pula bahwa) Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, sebagaimana Dia Dzat Yang Menghidupkan bumi setelah kondisi gersangnya. Sesungguhnya Dzat tersebut benar-benar berkuasa menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Secara khusus, Allah menyinggung orang-orang yang berakal dengan hal itu, karena merekalah orang-orang yang berhasil meraup kemanfaatan dari-nya, yang memandangnya dengan pandangan serius. Sementara itu, orang-orang selain mereka, maka mereka berada dalam level binatang-binatang ternak yang lepas dan hewan-hewan piaraan yang dilepas di tempat gembalaan. Mereka tidak menyaksikannya dengan pandangan orang yang mau berpikir. Hati nurani mereka tidak menembus inti maksudnya. Ciri mereka serupa dengan hewan-hewan ternak; makan, minum (dan sebagainya), akan tetapi hati mereka lalai dan fisik-fisik mereka berpaling, ﴾ وَكَأَيِّن مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ﴿ "Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya." (Yusuf: 105).
(55) Sesudah Allah menceritakan kemuliaan bumi dan bagusnya cara syukurnya, karena Allah telah mencurahkan air hujan di atas permukaannya dan bahwa ia dengan izin Rabbnya mampu mengeluarkan tumbuh-tumbuhan yang beragam jenisnya, maka (dalam ayat ini) Dia memberitahukan bahwa Dia-lah yang menciptakan kita berasal dari tanah, di situ pula, Allah mengem-balikan (penciptaan) kita setelah kita meninggal dunia dan diku-burkan di dalamnya. Dari sanalah Allah membangkitkan kita ﴾ تَارَةً أُخۡرَىٰ 55 ﴿ "pada kali yang lain," sebagaimana Dia telah mengadakan keberadaan kita dari tanah dari ketiadaan wujud (sebelumnya), dan kita sudah mengetahui dan membuktikannya, Dia akan me-ngembalikan kita (lagi) dengan membangkitkan kita darinya pasca kematian kita. Guna memberikan balasan kepada kita berdasarkan amalan-amalan yang kita kerjakan di atas permukaan bumi. Inilah dua dalil logis bagi datangnya saat pengembalian (penciptaan ma-nusia setelah mati): Yaitu Allah mengeluarkan tanaman dari bumi setelah kegersangannya dan mengeluarkan orang-orang mukallaf dari tanah saat menciptakannya.
Taha 20:56
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
Taha 20:57
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
Taha 20:58
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
Taha 20:59
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
Taha 20:60
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
Taha 20:61
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
Taha 20:62
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
Taha 20:63
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
Taha 20:64
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
Taha 20:65
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
Taha 20:66
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
Taha 20:67
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].
Taha 20:68
"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73).
(56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia.
(57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya.
(58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana.
(59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya."
(60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40).
(61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah.
(62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya.
(63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan.
(64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq.
(65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun.
(66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera].
(67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya.
(68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu.
(69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran.
(70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang.
(71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi.
(72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat.
(73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].