Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Taha 20:69 – Taha 20:135

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Taha 20:69
  2. Taha 20:70
  3. Taha 20:71
  4. Taha 20:72
  5. Taha 20:73
  6. Taha 20:74
  7. Taha 20:75
  8. Taha 20:76
  9. Taha 20:77
  10. Taha 20:78
  11. Taha 20:79
  12. Taha 20:80
  13. Taha 20:81
  14. Taha 20:82
  15. Taha 20:83
  16. Taha 20:84
  17. Taha 20:85
  18. Taha 20:86
  19. Taha 20:87
  20. Taha 20:88
  21. Taha 20:89
  22. Taha 20:90
  23. Taha 20:91
  24. Taha 20:92
  25. Taha 20:93
  26. Taha 20:94
  27. Taha 20:95
  28. Taha 20:96
  29. Taha 20:97
  30. Taha 20:98
  31. Taha 20:99
  32. Taha 20:100
  33. Taha 20:101
  34. Taha 20:102
  35. Taha 20:103
  36. Taha 20:104
  37. Taha 20:105
  38. Taha 20:106
  39. Taha 20:107
  40. Taha 20:108
  41. Taha 20:109
  42. Taha 20:110
  43. Taha 20:111
  44. Taha 20:112
  45. Taha 20:113
  46. Taha 20:114
  47. Taha 20:115
  48. Taha 20:116
  49. Taha 20:117
  50. Taha 20:118
  51. Taha 20:119
  52. Taha 20:120
  53. Taha 20:121
  54. Taha 20:122
  55. Taha 20:123
  56. Taha 20:124
  57. Taha 20:125
  58. Taha 20:126
  59. Taha 20:127
  60. Taha 20:128
  61. Taha 20:129
  62. Taha 20:130
  63. Taha 20:131
  64. Taha 20:132
  65. Taha 20:133
  66. Taha 20:134
  67. Taha 20:135

Taha 20:69

"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73). (56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia. (57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya. (58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana. (59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya." (60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40). (61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah. (62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya. (63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan. (64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq. (65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun. (66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera]. (67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya. (68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu. (69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran. (70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang. (71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi. (72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat. (73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].

Taha 20:70

"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73). (56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia. (57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya. (58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana. (59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya." (60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40). (61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah. (62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya. (63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan. (64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq. (65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun. (66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera]. (67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya. (68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu. (69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran. (70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang. (71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi. (72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat. (73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].

Taha 20:71

"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73). (56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia. (57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya. (58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana. (59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya." (60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40). (61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah. (62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya. (63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan. (64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq. (65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun. (66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera]. (67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya. (68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu. (69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran. (70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang. (71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi. (72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat. (73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].

Taha 20:72

"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73). (56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia. (57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya. (58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana. (59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya." (60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40). (61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah. (62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya. (63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan. (64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq. (65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun. (66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera]. (67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya. (68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu. (69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran. (70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang. (71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi. (72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat. (73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].

Taha 20:73

"Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka dia men-dustakan dan enggan (menerima kebenaran). Fir'aun berkata, 'Ada-kah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka tentu-kanlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu) di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Musa berkata, 'Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendak-lah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.' Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan ter-hadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa.' Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedusta-an. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). Mereka berkata, 'Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukanmu yang utama. Maka him-punlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang me-nang pada hari ini.' (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata, 'Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?' Musa berkata, 'Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan.' Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa, seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa me-rasa takut dalam hatinya. Kami berkata, 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lem-parkanlah sesuatu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya sesuatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.' Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya ber-kata, 'Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.' Fir'aun berkata, 'Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemim-pinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesung-guhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesung-guhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.' Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melaku-kannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (azab-Nya)'." (Thaha: 56-73). (56) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia telah memper-tontonkan kepada Fir'aun seluruh jenis ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan pelajaran-pelajaran serta petunjuk-petunjuk yang sangat akurat yang bersifat jasmani, rohani, dan astrologis, (tapi) dia tidak memperbaiki diri dan tidak jera, justru mendusta-kan dan berpaling. Mendustakan berita wahyu dan memalingkan diri dari perintah dan larangan Allah, menyulap kebenaran men-jadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, melancarkan per-debatan untuk menyesatkan umat manusia. (57) Dia berkata, ﴾ أَجِئۡتَنَا لِتُخۡرِجَنَا مِنۡ أَرۡضِنَا بِسِحۡرِكَ ﴿ "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu," dia mengklaim bahwa tanda-tanda kebesaran Allah (muk-jizat-mukjizat itu) yang diperlihatkan Musa kepadanya merupakan bentuk sihir dan kepalsuan belaka, yang ditujukan untuk mengusir mereka dari tanah mereka dan menguasai (tanah)nya, agar perkata-annya menorehkan pengaruh di hati orang-orang. Sesungguhnya tabiat manusia condong menyukai tanah kelahirannya, sulit untuk keluar dan meninggalkannya. Lalu Fir'aun memberitahukan kepada mereka bahwa Musa hendak mewujudkannya, agar mereka mem-benci Musa dan menyiapkan usaha untuk melawannya. (58) ﴾ فَلَنَأۡتِيَنَّكَ بِسِحۡرٖ ﴿ "Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu," serupa dengan sihirmu. Berilah kami kesempatan dan tentukanlah untukku,﴾ مَوۡعِدٗا لَّا نُخۡلِفُهُۥ نَحۡنُ وَلَآ أَنتَ مَكَانٗا سُوٗى 58 ﴿ "suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)," tempat yang netral, pengetahuan kami dan pengetahuanmu sama tentangnya. Atau tempat yang datar lagi rata, supaya kita dapat menyaksikan apa saja yang ada di sana. (59) Musa berkata, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya," hari perayaan mereka yang mereka sedang kosong tanpa pekerjaan dan menghentikan kesibukan-kesibukan mereka padanya ﴾ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik," maksudnya mereka semua dihimpun jadi satu di waktu dhuha. Musa memilih hari raya dan waktu pagi hari, karena banyak-nya kerumunan orang dan penglihatan terhadap segala sesuatu sesuai dengan aslinya, yang tidak terpenuhi pada waktu lainnya." (60) ﴾ فَتَوَلَّىٰ فِرۡعَوۡنُ فَجَمَعَ كَيۡدَهُۥ ﴿ "Maka Fir'aun meninggalkan (tem-pat itu), lalu mengatur tipu dayanya," maksudnya seluruh upaya yang dapat dia tempuh untuk memperdayai Musa dengannya. Maka dia mengutus orang di seluruh kota untuk mengumpulkan tukang-tukang sihir yang piawai dalam keahlian sihirnya. Pada waktu itu, praktik sihir begitu merata, dan pendalamannya sangat diminati. Ia pun berhasil mendatangkan tukang sihir dalam jumlah besar. Kemudian masing-masing dari mereka datang pada waktu yang sudah ditentukan. Pertemuan itu begitu padat, dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, para petinggi, orang-orang bangsawan, rakyat awam, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Mereka menghimbau orang-orang untuk ikut serta berkumpul. Dan mereka berkata, ﴾ وَقِيلَ لِلنَّاسِ هَلۡ أَنتُم مُّجۡتَمِعُونَ 39 لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ ٱلسَّحَرَةَ إِن كَانُواْ هُمُ ٱلۡغَٰلِبِينَ 40 ﴿ "Dan dikatakan kepada orang banyak, 'Berkumpullah kamu seka-lian. Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang'." (Asy-Syu'ara`: 39-40). (61) Setelah tukang-tukang sihir berkumpul dari segenap wilayah, Musa عليه السلام menyampaikan nasihat kepada mereka dan menegakkan hujah di hadapan mereka. Beliau mengatakan, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu meng-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa," maksudnya janganlah kalian dukung kebatilan (yang kalian pegangi) dengan praktik sihir kalian dan berencana mempecun-dangi kebenaran, membuat kedustaan atas nama Allah. Akibatnya Allah akan menghabisi kalian sampai tak tersisa dengan siksa dari sisiNya, dan menggagalkan usaha dan kedustaan kalian. Akhirnya, kalian tidak dapat menggapai sesuatu yang kalian kehendaki berupa kemenangan dan jabatan di sisi Fir'aun dan para pembesar-nya, serta kalian tidak lolos dari siksa Allah. (62) Perkataan yang benar pasti memiliki pengaruh pada hati. Tak ayal lagi, timbullah keributan dan pertentangan di tengah tukang-tukang sihir, manakala mereka mendengarkan perkataan Musa dan terjadilah kegaduhan. Boleh jadi, muara pertentangan (pada mereka) adalah rancunya jati diri Musa, apakah ia berada di atas (rel) kebenaran atau tidak? Akan tetapi, sampai di sini, polemik mereka belum menemui titik terang. Agar Allah menentukan per-kara yang mesti dilaksanakan, yaitu agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan agar hiduplah orang yang hidup dengan keterangan yang nyata. Saat itulah, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka dan bahwa mereka telah menyepakati sebuah pernyataan agar mereka selamat dalam ucapan dan tindakan mereka serta agar orang-orang memegangi doktrin Fir'aun dan orang-orangnya. (63) Perbincangan yang mereka rahasiakan, dijelaskan oleh Firman Allah, ﴾ قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesung-guhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," persis seperti pernyataan Fir'aun sebelumnya, baik ini terjadi secara kebetulan atas pernya-taan ini dari para tukang sihir dan Fir'aun tanpa kesengajaan atau-pun merupakan pendiktean dari Fir'aun kepada mereka yang telah direncanakan dan dipersaksikan oleh Fir'aun di hadapan orang-orang. Para tukang sihir itu mengimbuhi lontaran Fir'aun dengan ungkapan, ﴾ وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ 63 ﴿ "Dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama," yaitu praktik sihir. Ia iri dengki terhadap kalian atas (kedudukan) itu dan berminat untuk mengungguli kalian, agar dia dapat menggenggam kebanggaan, ketenaran, dan popularitas. Itulah sasaran Musa dengan ilmu (sihir) ini, yang mana kalian telah menghabiskan waktu-waktu kalian untuknya dan melenyapkan mata pencaharian kalian yang mana kalian makan darinya dan menghilangkan hal-hal yang mengikutinya berupa jabatan-jabatan. (64) Ini adalah himbauan dari sebagian mereka kepada kelompoknya untuk berusaha keras dalam menumbangkan Musa. Oleh karena itu, mereka berkata, ﴾ فَأَجۡمِعُواْ كَيۡدَكُمۡ ﴿ "Maka himpunlah segala daya (sihir) kamu sekalian," maksudnya, tunjukkanlah (kemam-puan kalian) sekaligus dengan cara bahu-membahu, saling men-dukung, dan menolong dalam keadaan perkataan dan hati kalian bersatu. ﴾ ثُمَّ ٱئۡتُواْ صَفّٗاۚ ﴿ "Kemudian datanglah dengan berbaris," agar kalian lebih leluasa menjalankan pekerjaan kalian dan lebih disegani dalam hati. Dan supaya sebagian kalian tidak menyisihkan kemam-puannya. Ketahuilah, siapa saja yang beruntung hari ini, sukses dan berhasil mengalahkan yang lain, maka sesungguhnya dia menjadi seorang yang beruntung lagi menang. Inilah hari keberuntungan baginya, tiada hari setelah ini. Alangkah teguhnya mereka dalam kebatilan dan betapa dahsyatnya mereka berada di dalamnya! Pasalnya, mereka mengusahakan setiap cara, piranti, dan tipu daya untuk melancarkan makar kepada al-Haq. (65) Dan Allah enggan kecuali (hanya) hendak menyem-purnakan cahayaNya dan mengunggulkan al-Haq di atas kebatilan. Setelah tipu daya mereka komplit, dan motivasi mereka telah me-ngerucut, serta tidak ada yang tertinggal melainkan pelaksanaan-nya saja ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," kepada Musa ﴾ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ ﴿ "(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu)," tongkatmu ﴾ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ 65 ﴿ "atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Mereka mengajukan alternatif pilihan disertai dengan prasangka bahwa mereka pasti akan menang melawan Musa dalam kondisi apa pun. (66) Musa berkata kepada mereka, ﴾ بَلۡ أَلۡقُواْۖ ﴿ "Bahkan silakan kamu sekalian melemparkan," mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka ﴾ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ ﴿ "maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepadanya," yaitu kepada Musa ﴾ مِن سِحۡرِهِمۡ ﴿ "lantaran sihir mereka," yang klimaks ﴾ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ 66 ﴿ "seakan-akan ia merayap cepat," [ular-ular yang datang dengan segera]. (67) Ketika pemandangan itu terbayang pada pandangan Musa, beliau merasakan ketakutan, sebagaimana rasa takut yang manusiawi. Kalau tidak demikian, maka beliau teguh pendirian dengan janji Allah dan pertolonganNya. (68) ﴾ قُلۡنَا ﴿ "Kami berkata," untuk meneguhkan dan mene-nangkan hati, ﴾ لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ 68 ﴿ "Janganlah kamu takut, sesung-guhnya kamulah yang paling unggul (menang)," atas mereka. Maksud-nya engkau akan mengungguli mereka dan mengalahkan mereka hingga mereka patuh dan tunduk di hadapanmu. (69) ﴾ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ ﴿ "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu," yaitu tongkatmu ﴾ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ﴿ "niscaya ia akan menelan sesuatu yang mereka buat. Sesungguhnya se-suatu yang mereka buat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang," maksud-nya tipu daya dan makar mereka tidak membuahkan hasil bagi diri mereka, lagi tidak sukses. Ia sekedar tipu daya dari para tukang sihir yang mengelabui (pandangan) khalayak dan mengaburkan (potret) kebatilan serta mengopinikan bahwa mereka berada di atas kebenaran. (70) Lalu, Musa melemparkan tongkatnya, maka ia menelan segala sesuatu (ular jelmaan) yang mereka buat dan memangsanya. Sementara itu, orang-orang memperhatikan kejadian tersebut. Para tukang sihir pun sadar dengan yakin bahwa itu bukanlah sihir, akan tetapi dari Allah. Maka mereka pun bersegera untuk beriman. ﴾ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ ﴿ "Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur," dengan bersujud, ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 121 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ 122 ﴿ "Seraya berkata, 'Kami telah beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Musa dan Harun'," (Al-A'raf: 121-122), kebenaran pun terkuak, nampak dan mencuat. Sedangkan praktik sihir, tipu daya, dan makar (mereka) tertolak pada tempat perkum-pulan yang ramai itu. Jadilah momentum itu sebagai bukti nyata dan rahmat bagi kaum Mukminin serta menjadi hujjah atas orang-orang yang menentang. (71) Fir'aun berkata kepada para tukang sihir, ﴾ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ ﴿ "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian," maksudnya, bagaimana bisa kalian lancang beriman tanpa konsultasi dan izin denganku. Fir'aun begitu terheran-heran mengapa sikap ini muncul dari mereka lan-taran tata krama mereka kepada dirinya, sikap menghinakan diri dan ketundukan mereka kepadanya pada setiap urusan mereka. Dia ingin agar masalah keimanan para tukang sihir ini termasuk dari bagian perilaku mereka sebelumnya (untuk selalu taat kepada-nya). Kemudian Fir'aun semakin membabi-buta dalam kekufuran dan sikapnya melampaui batas setelah adanya petunjuk kebenaran ini. Dia mengolok-olok kaumnya melalui perkataannya dan menam-pakkan kepada mereka bahwa keunggulan Musa atas para tukang sihir itu, bukan karena syariat yang dibawanya merupakan kebe-naran. Justru (yang terjadi) dia telah menjalin kerja sama dengan para tukang sihir, menyusun tipu daya dan mengatur skenario untuk mengusir Fir'aun dan kaumnya dari negeri mereka. Kaum-nya pun mengiyakan rekayasa jahat ini darinya dan menyangkanya sebagai kebenaran. ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54), padahal pernyataan yang dilontarkan oleh Fir'aun ini tidak bisa menembus akal orang yang mempunyai kecerdasan dan pengeta-huan tentang fakta dalam level terendah sekalipun. Karena Musa datang dari Madyan seorang diri. Saat tiba, dia tidak berinteraksi dengan salah satu dari para tukang sihir atau siapapun selain me-reka. Bahkan yang beliau tempuh, langsung menyerukan dakwah kepada Fir'aun dan kaumnya. Beliau memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada mereka. Kemudian Fir'aun ingin melawan misi yang dibawa oleh Musa. Dia pun berusaha semaksimal mungkin. Mengutus seseorang di seluruh pelosok negeri untuk mendatangkan setiap tukang sihir yang piawai. Mereka pun ber-datangan kepadanya. Fir'aun menjanjikan upah dan kedudukan manakala kemenangan berhasil direngkuh. Para tukang sihir itu begitu antusias dan menyusun tipu daya yang jitu untuk menang atas Musa. Setelah itu, terjadilah pada mereka, peristiwa keimanan kepada Musa. Apakah (dengan fakta-fakta ini semua), mungkin dibayangkan bahwa para tukang sihir itu dan Musa telah mengatur kondisi dan menjalin kesepakatan atas peristiwa yang muncul? Ini termasuk kejadian yang paling mustahil. Selanjutnya, Fir'aun menebar ancaman kepada para tukang sihir dengan berkata, ﴾ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ ﴿ "Maka sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik." Sebagaimana hukuman yang diperlakukan bagi pemberontak yang selalu menimbulkan kerusakan, tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. ﴾ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ ﴿ "Dan sungguh aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma," agar kalian dapat disaksikan orang banyak dan merasakan kehinaan. ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya," tentu atas dasar persang-kaannya dan persangkaan pengikutnya bahwa dia adalah orang yang paling dahsyat siksanya daripada Allah dan lebih kekal, untuk memutarbalikkan fakta dan mengintimidasi orang yang mudah dibodohi. (72) Oleh sebab itu, tatkala para tukang sihir itu mengetahui kebenaran yang nyata, dan Allah telah mencurahkan kemampuan berpikir pada mereka untuk dapat melacak fakta-fakta sesungguh-nya, mereka pun merespon (ancaman Fir'aun) dengan berkata, ﴾ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَآءَنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu dari-pada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami," [maksudnya kami tidak akan mengutamakan engkau dan apa yang engkau janjikan kepada kami berupa upah dan kedekatan posisi denganmu daripada apa yang telah Allah perlihatkan kepada kami yang berupa ayat-ayat yang jelas]: yang menunjukkan bahwa Allah-lah Rabb yang patut disembah, satu-satunya, yang diagungkan dan dihormati, dan bahwa selain Allah merupakan kebatilan, dan kami (tidak akan) mengutamakan dirimu daripada Dzat yang telah menciptakan kami dan mengadakan kami, ini tidak akan terjadi. ﴾ فَٱقۡضِ مَآ أَنتَ قَاضٍۖ ﴿ "Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putus-kan," dari sesuatu yang telah engkau ancamkan kepada kami, be-rupa potong tangan dan kaki, penyaliban jasad kami dan siksaan. ﴾ إِنَّمَا تَقۡضِي هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَآ 72 ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memu-tuskan pada kehidupan di dunia ini saja," maksudnya apa yang kamu ancamkan kepada kami, paling maksimal hanya terjadi di kehidupan dunia ini saja, nanti akan selesai, hilang, dan tidak membahayakan kami (di akhirat kelak). Berbeda halnya dengan azab Allah bagi orang yang tetap berada di atas kekufuran, azab itu kontinyu, lagi dahsyat. Sepertinya inilah jawaban dari mereka terhadap perkataan Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "Dan sungguh kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71). Dalam pembicaraan para tukang sihir ini terdapat petunjuk bahwa seorang yang berakal hendaklah menimbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat dengan azab dunia dan akhirat. (73) ﴾ إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغۡفِرَ لَنَا خَطَٰيَٰنَا ﴿ "Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami," yaitu kekufuran dan maksiat-maksiat kami. Sesungguhnya keiman-an menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan taubat menutup dosa silam. Perkataan mereka, ﴾ وَمَآ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَيۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ ﴿ "Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami untuk melakukannya," yang kami gunakan untuk melawan kebenaran. Ini merupakan dalil bahwa mereka tidak berkehendak sendiri dalam perbuatan mereka tadi. Fir'aun-lah yang memaksa mereka dengan sekuat tenaga. Secara eksplisit nampak -wallahu a'lam– bahwasanya ketika Musa menyampaikan nasihat kepada mereka sebagaimana tertuang pada Firman Allah, ﴾ وَيۡلَكُمۡ لَا تَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا فَيُسۡحِتَكُم بِعَذَابٖۖ ﴿ "Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa." (Thaha: 61), ternyata telah mempengaruhi mereka dan membekas pada diri mereka dengan kuat. Oleh karena itu, mereka saling berbantahan usai mendengarkan perkataan dan nasihat Musa. Kemudian Fir'aun menuntut dan memaksa mereka untuk melakukan makar yang telah mereka perbuat. Karena itu, para tukang sihir itu mengemukakan pernyataan Fir'aun tadi sebe-lum dia mendatangi mereka, di mana mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا ﴿ "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya," (Thaha: 63), jadi mereka berbuat sesuai dengan cara yang sudah digariskan Fir'aun dan dipaksakannya. Boleh jadi goresan yang mengendap di hati-hati mereka ini adalah disebabkan kebencian mereka untuk melawan kebenaran dengan kebatilan, dan tindakan-tindakan yang telah mereka kerjakan dengan menu-tup mata. Itulah yang berpengaruh positif pada mereka, dan Allah merahmati mereka dengan itu dan mencurahkan taufik kepada mereka untuk beriman dan bertaubat. ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرٞ ﴿ "Dan Allah lebih baik (pahalaNya)," dari apa yang engkau janjikan berupa upah, kedudukan, dan jabatan ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 73 ﴿ "dan lebih kekal," ganjaran dan kebaikanNya, tidak seperti yang di-omongkan oleh Fir'aun, ﴾ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ 71 ﴿ "dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya." (Thaha: 71), dia bermaksud bahwa dirinya lebih pedih dan kekal siksaannya. Seluruh yang dikemukakan tentang kisah Musa dan Fir'aun telah disebutkan oleh Allah di dalamnya, yaitu apabila datang berdasarkan kisah para tukang sihir bahwasanya Fir'aun telah mengancam mereka dengan hukuman potong anggota badan dan penyaliban. Namun Allah tidak menyebutkan tentang pelaksana-annya. Begitu pula tidak ada hadits shahih yang menyinggungnya. Kepastian terjadi atau tidaknya tergantung pada keberadaan dalil. Allah-lah Yang Mahatahu tentang kejadian itu dan kejadian lainnya. [Akan tetapi, ancaman Fir'aun kepada para tukang sihir dengan hukuman itu bersamaan dengan kemampuannya untuk melaku-kannya adalah menjadi bukti peristiwa itu terjadi. Pasalnya, bila tidak berlangsung, sudah pasti Allah menyebutkannya dan para ulama yang menyampaikan ilmu pun tentu akan menyepakatinya].

Taha 20:74

"Sesungguhnya barangsiapa yang datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya dia mendapatkan Neraka Jahanam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) Surga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawah-nya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan)." (Thaha: 74-76). (74) Allah تعالى memberitahukan bahwa orang yang men-datangiNya dan menghadapNya dalam keadaan berdosa, –sifat kejahatan menjadi cirinya dari setiap aspek, dan itu bisa menyebab-kan kekufuran dan tetap menjalankannya sampai dia mati–, maka dia mendapatkan Neraka Jahanam yang pedih siksanya, yang besar rantai-rantainya, yang dasarnya sangat dalam, yang hawa panasnya sangat menyakitkan, yang berisi hukuman yang sanggup melumerkan hati dan jantung. Di antara bukti kedahsyatannya, orang yang tersiksa di dalamnya tidak mati juga tidak hidup. Ia tidak mati hingga dapat terbebas (dari deraan siksa) dan tidak juga menikmati hidup yang enak. Kehidupannya hanya sarat dengan siksaan yang mengenai hati, jiwa dan raganya, yang tidak dapat diukur kadarnya dan tidak pernah mengendor sekejap saja. Ia berteriak minta tolong, tapi tidak ditolong. Dia memohon, akan tetapi tidak disambut permin-taannya. Memang benar (ada pertolongan) bila dia meminta perto-longan. Dia ditolong dengan cairan semisal nanah yang membakar wajah-wajah mereka. Dan jika dia memohon, niscaya dijawab (pula dengan perkataan), "Celakalah kamu di dalamnya, janganlah kamu mengajakKu bicara." (75-76) Barangsiapa yang mendatangi Rabbnya dalam keadaan beriman, membenarkan para RasulNya, mengikuti kitab-kitabNya, dan telah beramal shalih yang wajib maupun yang sunnah ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلۡعُلَىٰ 75 ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)," yaitu tempat-tempat yang tinggi di kamar-kamar yang penuh dengan hiasan, kenik-matan-kenikmatan yang berlangsung terus-menerus, sungai-sungai yang mengalir, keabadian yang langgeng, keceriaan yang men-dalam, yang tidak pernah tersaksikan oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak terbetik di hati seseorang pun. ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "Dan itu," pahala ﴾ جَزَآءُ مَن تَزَكَّىٰ 76 ﴿ "adalah balasan bagi orang yang bersih," yaitu bersih dari syirik, kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan, baik dengan cara tidak pernah menjamahnya secara keseluruhan atau telah bertaubat dari apa yang telah dia kerjakan. Dia pun membersihkan jiwanya, dan memupuknya dengan ke-imanan dan amal shalih. Sesungguhnya proses tazkiyah memuat dua makna: Membersihkan dan menghilangkan keburukan serta menambah raihan kebaikan. Kata "zakat" disebut dengan zakat atas dasar dua hal ini.

Taha 20:75

"Sesungguhnya barangsiapa yang datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya dia mendapatkan Neraka Jahanam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) Surga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawah-nya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan)." (Thaha: 74-76). (74) Allah تعالى memberitahukan bahwa orang yang men-datangiNya dan menghadapNya dalam keadaan berdosa, –sifat kejahatan menjadi cirinya dari setiap aspek, dan itu bisa menyebab-kan kekufuran dan tetap menjalankannya sampai dia mati–, maka dia mendapatkan Neraka Jahanam yang pedih siksanya, yang besar rantai-rantainya, yang dasarnya sangat dalam, yang hawa panasnya sangat menyakitkan, yang berisi hukuman yang sanggup melumerkan hati dan jantung. Di antara bukti kedahsyatannya, orang yang tersiksa di dalamnya tidak mati juga tidak hidup. Ia tidak mati hingga dapat terbebas (dari deraan siksa) dan tidak juga menikmati hidup yang enak. Kehidupannya hanya sarat dengan siksaan yang mengenai hati, jiwa dan raganya, yang tidak dapat diukur kadarnya dan tidak pernah mengendor sekejap saja. Ia berteriak minta tolong, tapi tidak ditolong. Dia memohon, akan tetapi tidak disambut permin-taannya. Memang benar (ada pertolongan) bila dia meminta perto-longan. Dia ditolong dengan cairan semisal nanah yang membakar wajah-wajah mereka. Dan jika dia memohon, niscaya dijawab (pula dengan perkataan), "Celakalah kamu di dalamnya, janganlah kamu mengajakKu bicara." (75-76) Barangsiapa yang mendatangi Rabbnya dalam keadaan beriman, membenarkan para RasulNya, mengikuti kitab-kitabNya, dan telah beramal shalih yang wajib maupun yang sunnah ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلۡعُلَىٰ 75 ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)," yaitu tempat-tempat yang tinggi di kamar-kamar yang penuh dengan hiasan, kenik-matan-kenikmatan yang berlangsung terus-menerus, sungai-sungai yang mengalir, keabadian yang langgeng, keceriaan yang men-dalam, yang tidak pernah tersaksikan oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak terbetik di hati seseorang pun. ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "Dan itu," pahala ﴾ جَزَآءُ مَن تَزَكَّىٰ 76 ﴿ "adalah balasan bagi orang yang bersih," yaitu bersih dari syirik, kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan, baik dengan cara tidak pernah menjamahnya secara keseluruhan atau telah bertaubat dari apa yang telah dia kerjakan. Dia pun membersihkan jiwanya, dan memupuknya dengan ke-imanan dan amal shalih. Sesungguhnya proses tazkiyah memuat dua makna: Membersihkan dan menghilangkan keburukan serta menambah raihan kebaikan. Kata "zakat" disebut dengan zakat atas dasar dua hal ini.

Taha 20:76

"Sesungguhnya barangsiapa yang datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya dia mendapatkan Neraka Jahanam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) Surga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawah-nya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan)." (Thaha: 74-76). (74) Allah تعالى memberitahukan bahwa orang yang men-datangiNya dan menghadapNya dalam keadaan berdosa, –sifat kejahatan menjadi cirinya dari setiap aspek, dan itu bisa menyebab-kan kekufuran dan tetap menjalankannya sampai dia mati–, maka dia mendapatkan Neraka Jahanam yang pedih siksanya, yang besar rantai-rantainya, yang dasarnya sangat dalam, yang hawa panasnya sangat menyakitkan, yang berisi hukuman yang sanggup melumerkan hati dan jantung. Di antara bukti kedahsyatannya, orang yang tersiksa di dalamnya tidak mati juga tidak hidup. Ia tidak mati hingga dapat terbebas (dari deraan siksa) dan tidak juga menikmati hidup yang enak. Kehidupannya hanya sarat dengan siksaan yang mengenai hati, jiwa dan raganya, yang tidak dapat diukur kadarnya dan tidak pernah mengendor sekejap saja. Ia berteriak minta tolong, tapi tidak ditolong. Dia memohon, akan tetapi tidak disambut permin-taannya. Memang benar (ada pertolongan) bila dia meminta perto-longan. Dia ditolong dengan cairan semisal nanah yang membakar wajah-wajah mereka. Dan jika dia memohon, niscaya dijawab (pula dengan perkataan), "Celakalah kamu di dalamnya, janganlah kamu mengajakKu bicara." (75-76) Barangsiapa yang mendatangi Rabbnya dalam keadaan beriman, membenarkan para RasulNya, mengikuti kitab-kitabNya, dan telah beramal shalih yang wajib maupun yang sunnah ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلۡعُلَىٰ 75 ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)," yaitu tempat-tempat yang tinggi di kamar-kamar yang penuh dengan hiasan, kenik-matan-kenikmatan yang berlangsung terus-menerus, sungai-sungai yang mengalir, keabadian yang langgeng, keceriaan yang men-dalam, yang tidak pernah tersaksikan oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak terbetik di hati seseorang pun. ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "Dan itu," pahala ﴾ جَزَآءُ مَن تَزَكَّىٰ 76 ﴿ "adalah balasan bagi orang yang bersih," yaitu bersih dari syirik, kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan, baik dengan cara tidak pernah menjamahnya secara keseluruhan atau telah bertaubat dari apa yang telah dia kerjakan. Dia pun membersihkan jiwanya, dan memupuknya dengan ke-imanan dan amal shalih. Sesungguhnya proses tazkiyah memuat dua makna: Membersihkan dan menghilangkan keburukan serta menambah raihan kebaikan. Kata "zakat" disebut dengan zakat atas dasar dua hal ini.

Taha 20:77

"Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa, 'Pergilah kamu dengan hamba-hambaKu (Bani Isra`il) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).' Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar me-reka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi pe-tunjuk." (Thaha: 77-79). (77-79) Setelah Musa unggul dengan bukti-bukti kebe-narannya atas Fir'aun dan kaumnya, maka beliau menetap di Mesir guna menyeru mereka ke pangkuan Islam, mengusahakan penye-lamatan Bani Isra`il dari Fir'aun dan siksanya. Sementara itu, Fir'aun masih dalam penentangan dan antipatinya. Sepak terjangnya mem-beratkan Bani Isra`il. Allah telah memperlihatkan kepada Musa tanda-tanda kebesaranNya dan pelajaran-pelajaran penting yang telah Allah ceritakan kepada kita sekalian dalam al-Qur`an. Adapun Bani Isra`il tidak berdaya untuk memperlihatkan keimanan mereka dan memproklamirkannya. Mereka menjadikan rumah-rumah mereka sebagai tempat ibadah, menahan kesabaran dari bahaya Fir'aun dan gangguannya. Maka, Allah berkehendak menyelamatkan mereka dari musuh mereka dan menempatkan mereka di dunia ini sebagai penguasa. Tujuannya, supaya mereka menyembahNya dengan terang-terangan dan menegakkan perin-tahNya. Maka Allah mewahyukan kepada NabiNya, Musa agar membuat janji kepada Bani Isra`il secara rahasia dan berjalan di awal malam hingga mereka dapat menempuh jarak yang jauh di bumi. Allah (juga) mengabarkan bahwa Fir'aun dan kaumnya akan mengejarnya. Maka mereka pun keluar di permulaan malam, semua orang dari kalangan Bani Isra`il (kaum lelaki), [mereka] dan wanita-wanita serta keturunan-keturunan mereka. Pada pagi harinya, para penduduk Mesir tidak menjumpai di tengah mereka ada orang yang menyeru dan orang yang menja-wab dari kalangan Bani Isra`il. Geramlah musuh mereka, Fir'aun. Maka dia mengutus utusan di Mada`in untuk mengumpulkan orang-orang dan memprovokasi mereka untuk mau mengejar Bani Isra`il, [untuk menimpakan (hukuman) pada Bani Isra`il dan me-lampiaskan kemurkaannya. Namun, Allah mengalahkan ambisinya. Terkumpullah pasukan Fir'aun. Maka Fir'aun merangsek berjalan bersama mereka untuk membuntuti Bani Isra`il]. Mereka berhasil menyusul Bani Isra`il di waktu matahari terbit. Ketika dua kelom-pok sudah dapat saling menyaksikan kelompok lainnya, para pengikut Musa berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar akan ter-susul." Mereka pun dilanda kegelisahan dan ketakutan. Sementara itu, lautanlah yang ada di hadapan mereka, sedangkan Fir'aun (bersama pasukannya) berada di belakang mereka, dengan penuh marah dan murka kepada mereka. Adapun Musa, maka beliau dalam keadaan hati yang tenang, pikiran yang tentram, percaya dengan janji Rabbnya. Beliau berkata, ﴾ كـَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ 62 ﴿ "Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (Asy-Syua'ara: 62). Kemudian Allah mewahyukan kepada beliau untuk memu-kulkan tongkatnya ke lautan. Beliau pun melakukannya. Maka terbelahlah dua belas jalan, air terlihat bagaikan gunung-gunung yang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan. Allah mengeringkan jalan-jalan mereka yang mana air laut menyingkir darinya. Allah meme-rintahkan mereka agar tidak merasa khawatir akan kejaran Fir'aun dan agar tidak takut tenggelam di laut. Kemudian mereka melintasi jalan-jalan itu. Fir'aun dan pasu-kannya tiba lalu mengikuti di belakang mereka. Sampai akhirnya, seluruh kaum Musa telah berhasil keluar dari laut, sedangkan para pengikut Fir'aun masih berada di dalamnya. (Saat itulah) Allah memerintahkan lautan untuk menyatu hingga melumat mereka. Lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Semuanya tenggelam. Tidak ada seorang pun yang selamat. Bani Isra`il menyaksikan (kehancuran) musuh mereka. Allah telah menyejukkan pandangan mereka dengan (melihat) kehancuran musuh. Inilah kesudahan kekufuran, kesesatan, dan keengganan memegangi hidayah Allah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَأَضَلَّ فِرۡعَوۡنُ قَوۡمَهُۥ ﴿ "Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya," dengan cara mempercantik gambaran keku-furan pada mereka dan mencoreng syariat yang dibawa oleh Musa serta pelecehannya terhadap mereka. Fir'aun tidak memberikan hidayah kepada mereka dalam kesempatan apapun. Akibatnya, dia menjerumuskan mereka di lembah-lembah kekeliruan dan kese-satan, lantas menjebloskan mereka ke tempat siksa dan hukuman.

Taha 20:78

"Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa, 'Pergilah kamu dengan hamba-hambaKu (Bani Isra`il) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).' Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar me-reka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi pe-tunjuk." (Thaha: 77-79). (77-79) Setelah Musa unggul dengan bukti-bukti kebe-narannya atas Fir'aun dan kaumnya, maka beliau menetap di Mesir guna menyeru mereka ke pangkuan Islam, mengusahakan penye-lamatan Bani Isra`il dari Fir'aun dan siksanya. Sementara itu, Fir'aun masih dalam penentangan dan antipatinya. Sepak terjangnya mem-beratkan Bani Isra`il. Allah telah memperlihatkan kepada Musa tanda-tanda kebesaranNya dan pelajaran-pelajaran penting yang telah Allah ceritakan kepada kita sekalian dalam al-Qur`an. Adapun Bani Isra`il tidak berdaya untuk memperlihatkan keimanan mereka dan memproklamirkannya. Mereka menjadikan rumah-rumah mereka sebagai tempat ibadah, menahan kesabaran dari bahaya Fir'aun dan gangguannya. Maka, Allah berkehendak menyelamatkan mereka dari musuh mereka dan menempatkan mereka di dunia ini sebagai penguasa. Tujuannya, supaya mereka menyembahNya dengan terang-terangan dan menegakkan perin-tahNya. Maka Allah mewahyukan kepada NabiNya, Musa agar membuat janji kepada Bani Isra`il secara rahasia dan berjalan di awal malam hingga mereka dapat menempuh jarak yang jauh di bumi. Allah (juga) mengabarkan bahwa Fir'aun dan kaumnya akan mengejarnya. Maka mereka pun keluar di permulaan malam, semua orang dari kalangan Bani Isra`il (kaum lelaki), [mereka] dan wanita-wanita serta keturunan-keturunan mereka. Pada pagi harinya, para penduduk Mesir tidak menjumpai di tengah mereka ada orang yang menyeru dan orang yang menja-wab dari kalangan Bani Isra`il. Geramlah musuh mereka, Fir'aun. Maka dia mengutus utusan di Mada`in untuk mengumpulkan orang-orang dan memprovokasi mereka untuk mau mengejar Bani Isra`il, [untuk menimpakan (hukuman) pada Bani Isra`il dan me-lampiaskan kemurkaannya. Namun, Allah mengalahkan ambisinya. Terkumpullah pasukan Fir'aun. Maka Fir'aun merangsek berjalan bersama mereka untuk membuntuti Bani Isra`il]. Mereka berhasil menyusul Bani Isra`il di waktu matahari terbit. Ketika dua kelom-pok sudah dapat saling menyaksikan kelompok lainnya, para pengikut Musa berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar akan ter-susul." Mereka pun dilanda kegelisahan dan ketakutan. Sementara itu, lautanlah yang ada di hadapan mereka, sedangkan Fir'aun (bersama pasukannya) berada di belakang mereka, dengan penuh marah dan murka kepada mereka. Adapun Musa, maka beliau dalam keadaan hati yang tenang, pikiran yang tentram, percaya dengan janji Rabbnya. Beliau berkata, ﴾ كـَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ 62 ﴿ "Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (Asy-Syua'ara: 62). Kemudian Allah mewahyukan kepada beliau untuk memu-kulkan tongkatnya ke lautan. Beliau pun melakukannya. Maka terbelahlah dua belas jalan, air terlihat bagaikan gunung-gunung yang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan. Allah mengeringkan jalan-jalan mereka yang mana air laut menyingkir darinya. Allah meme-rintahkan mereka agar tidak merasa khawatir akan kejaran Fir'aun dan agar tidak takut tenggelam di laut. Kemudian mereka melintasi jalan-jalan itu. Fir'aun dan pasu-kannya tiba lalu mengikuti di belakang mereka. Sampai akhirnya, seluruh kaum Musa telah berhasil keluar dari laut, sedangkan para pengikut Fir'aun masih berada di dalamnya. (Saat itulah) Allah memerintahkan lautan untuk menyatu hingga melumat mereka. Lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Semuanya tenggelam. Tidak ada seorang pun yang selamat. Bani Isra`il menyaksikan (kehancuran) musuh mereka. Allah telah menyejukkan pandangan mereka dengan (melihat) kehancuran musuh. Inilah kesudahan kekufuran, kesesatan, dan keengganan memegangi hidayah Allah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَأَضَلَّ فِرۡعَوۡنُ قَوۡمَهُۥ ﴿ "Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya," dengan cara mempercantik gambaran keku-furan pada mereka dan mencoreng syariat yang dibawa oleh Musa serta pelecehannya terhadap mereka. Fir'aun tidak memberikan hidayah kepada mereka dalam kesempatan apapun. Akibatnya, dia menjerumuskan mereka di lembah-lembah kekeliruan dan kese-satan, lantas menjebloskan mereka ke tempat siksa dan hukuman.

Taha 20:79

"Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa, 'Pergilah kamu dengan hamba-hambaKu (Bani Isra`il) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).' Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar me-reka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi pe-tunjuk." (Thaha: 77-79). (77-79) Setelah Musa unggul dengan bukti-bukti kebe-narannya atas Fir'aun dan kaumnya, maka beliau menetap di Mesir guna menyeru mereka ke pangkuan Islam, mengusahakan penye-lamatan Bani Isra`il dari Fir'aun dan siksanya. Sementara itu, Fir'aun masih dalam penentangan dan antipatinya. Sepak terjangnya mem-beratkan Bani Isra`il. Allah telah memperlihatkan kepada Musa tanda-tanda kebesaranNya dan pelajaran-pelajaran penting yang telah Allah ceritakan kepada kita sekalian dalam al-Qur`an. Adapun Bani Isra`il tidak berdaya untuk memperlihatkan keimanan mereka dan memproklamirkannya. Mereka menjadikan rumah-rumah mereka sebagai tempat ibadah, menahan kesabaran dari bahaya Fir'aun dan gangguannya. Maka, Allah berkehendak menyelamatkan mereka dari musuh mereka dan menempatkan mereka di dunia ini sebagai penguasa. Tujuannya, supaya mereka menyembahNya dengan terang-terangan dan menegakkan perin-tahNya. Maka Allah mewahyukan kepada NabiNya, Musa agar membuat janji kepada Bani Isra`il secara rahasia dan berjalan di awal malam hingga mereka dapat menempuh jarak yang jauh di bumi. Allah (juga) mengabarkan bahwa Fir'aun dan kaumnya akan mengejarnya. Maka mereka pun keluar di permulaan malam, semua orang dari kalangan Bani Isra`il (kaum lelaki), [mereka] dan wanita-wanita serta keturunan-keturunan mereka. Pada pagi harinya, para penduduk Mesir tidak menjumpai di tengah mereka ada orang yang menyeru dan orang yang menja-wab dari kalangan Bani Isra`il. Geramlah musuh mereka, Fir'aun. Maka dia mengutus utusan di Mada`in untuk mengumpulkan orang-orang dan memprovokasi mereka untuk mau mengejar Bani Isra`il, [untuk menimpakan (hukuman) pada Bani Isra`il dan me-lampiaskan kemurkaannya. Namun, Allah mengalahkan ambisinya. Terkumpullah pasukan Fir'aun. Maka Fir'aun merangsek berjalan bersama mereka untuk membuntuti Bani Isra`il]. Mereka berhasil menyusul Bani Isra`il di waktu matahari terbit. Ketika dua kelom-pok sudah dapat saling menyaksikan kelompok lainnya, para pengikut Musa berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar akan ter-susul." Mereka pun dilanda kegelisahan dan ketakutan. Sementara itu, lautanlah yang ada di hadapan mereka, sedangkan Fir'aun (bersama pasukannya) berada di belakang mereka, dengan penuh marah dan murka kepada mereka. Adapun Musa, maka beliau dalam keadaan hati yang tenang, pikiran yang tentram, percaya dengan janji Rabbnya. Beliau berkata, ﴾ كـَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ 62 ﴿ "Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (Asy-Syua'ara: 62). Kemudian Allah mewahyukan kepada beliau untuk memu-kulkan tongkatnya ke lautan. Beliau pun melakukannya. Maka terbelahlah dua belas jalan, air terlihat bagaikan gunung-gunung yang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan. Allah mengeringkan jalan-jalan mereka yang mana air laut menyingkir darinya. Allah meme-rintahkan mereka agar tidak merasa khawatir akan kejaran Fir'aun dan agar tidak takut tenggelam di laut. Kemudian mereka melintasi jalan-jalan itu. Fir'aun dan pasu-kannya tiba lalu mengikuti di belakang mereka. Sampai akhirnya, seluruh kaum Musa telah berhasil keluar dari laut, sedangkan para pengikut Fir'aun masih berada di dalamnya. (Saat itulah) Allah memerintahkan lautan untuk menyatu hingga melumat mereka. Lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. Semuanya tenggelam. Tidak ada seorang pun yang selamat. Bani Isra`il menyaksikan (kehancuran) musuh mereka. Allah telah menyejukkan pandangan mereka dengan (melihat) kehancuran musuh. Inilah kesudahan kekufuran, kesesatan, dan keengganan memegangi hidayah Allah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَأَضَلَّ فِرۡعَوۡنُ قَوۡمَهُۥ ﴿ "Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya," dengan cara mempercantik gambaran keku-furan pada mereka dan mencoreng syariat yang dibawa oleh Musa serta pelecehannya terhadap mereka. Fir'aun tidak memberikan hidayah kepada mereka dalam kesempatan apapun. Akibatnya, dia menjerumuskan mereka di lembah-lembah kekeliruan dan kese-satan, lantas menjebloskan mereka ke tempat siksa dan hukuman.

Taha 20:80

"Hai Bani Isra`il, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kamu sekalian dari musuhmu, dan Kami telah mengadakan per-janjian dengan kamu sekalian (untuk munajat) di sebelah kanan gunung itu, dan Kami telah menurunkan kepada kamu sekalian manna dan salwa. Makanlah di antara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas pada-nya, yang menyebabkan kemurkaanKu menimpamu. Dan barang-siapa ditimpa oleh kemurkaanKu, maka sungguh binasalah ia. Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar." (80-82). (80) Allah mengingatkan Bani Isra`il tentang kenikmatan besar yang tercurahkan pada mereka berupa pembinasaan musuh mereka dan penyelenggaraan perjanjian dengan Musa عليه السلام di sisi kanan gunung Thursina untuk Kami turunkan kitab kepadanya, yang berisi hukum-hukum yang agung dan berita-berita yang baik. Maka lengkaplah kenikmatan agama pada mereka usai pelimpahan nikmat duniawi. Dia juga mengingatkan kenikmatanNya pada mereka saat mereka berada dalam suasana tersesat jalan dengan menurunkan manna dan salwa, serta rizki yang lapang lagi menye-nangkan, yang hadir pada mereka tanpa perlu susah payah. Dan Dia berkata kepada mereka, ﴾ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ ﴿ "Makan-lah di antara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu," mak-sudnya dan syukurilah apa yang telah Allah curahkan kepada kalian dalam bentuk kenikmatan-kenikmatan. ﴾ وَلَا تَطۡغَوۡاْ فِيهِ ﴿ "Dan janganlah kalian melampaui batas padanya," yaitu dalam menyikapi rizkiNya, dengan mempergunakannya untuk bermaksiat dan menolak kenikmatan. Jika kalian melakukannya, niscaya datang kepada kalian kemurkaanKu. Artinya Aku marah kepada kalian kemudian menyiksa kalian. ﴾ وَمَن يَحۡلِلۡ عَلَيۡهِ غَضَبِي فَقَدۡ هَوَىٰ 81 ﴿ "Dan barangsiapa ditimpa oleh kemur-kaanKu, maka sesungguhnya binasalah dia," maksudnya hancur, binasa, menyesal lagi merugi. Lantaran dia tidak memperoleh ridha dan kebaikanNya, ditimpa kemurkaan dan kerugian. (82) Walaupun demikian, kesempatan bertaubat masih di-tawarkan, meskipun seseorang telah berbuat maksiat. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَإِنِّي لَغَفَّارٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun," maksudnya, yang banyak ampunan dan rahmatNya ﴾ لِّمَن تَابَ ﴿ "bagi orang yang bertaubat," dari kekufuran, bid'ah, dan tindakan fasik, ﴾ وَءَامَنَ ﴿ "dan beriman," kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasulNya dan Hari Akhir ﴾ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "dan beramal shalih," dari amalan-amalan hati, jasmani dan ucapan-ucapan lisan, ﴾ ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ 82 ﴿ "kemudian tetap di jalan yang benar," mak-sudnya dia menempuh jalan yang lurus, mengikuti Rasulullah yang mulia dan mengikuti ajaran agama yang lurus. Orang ini, Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya dan memaafkan dosa-dosa dan kenakalannya yang silam. Pasalnya, dia telah memenuhi syarat terpenting untuk meraih ampunan dan rahmatNya. Bahkan semua sebab-sebabnya terfokuskan pada perkara-perkara ini. Sesungguhnya taubat menutup kesalahan sebelumnya. Iman dan Islam menghancurkan dosa-dosa silam. Dan amalan shalih yang merupakan rangkaian kebaikan (dapat) melenyapkan kesa-lahan-kesalahan. Menempuh jalan-jalan hidayah dengan berbagai macamnya, berupa belajar ilmu agama, merenungi ayat atau hadits hingga maknanya jelas baginya adalah dapat memberikan hidayah. Seruan kepada agama yang benar, penolakan bid'ah, kekufuran atau kesesatan dan melaksanakan jihad, hijrah dan lain-lain, yang termasuk bagian terperinci dari hidayah. Semua itu akan meng-hapuskan dosa-dosa dan membuahkan tujuan yang ingin dicapai.

Taha 20:81

"Hai Bani Isra`il, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kamu sekalian dari musuhmu, dan Kami telah mengadakan per-janjian dengan kamu sekalian (untuk munajat) di sebelah kanan gunung itu, dan Kami telah menurunkan kepada kamu sekalian manna dan salwa. Makanlah di antara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas pada-nya, yang menyebabkan kemurkaanKu menimpamu. Dan barang-siapa ditimpa oleh kemurkaanKu, maka sungguh binasalah ia. Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar." (80-82). (80) Allah mengingatkan Bani Isra`il tentang kenikmatan besar yang tercurahkan pada mereka berupa pembinasaan musuh mereka dan penyelenggaraan perjanjian dengan Musa عليه السلام di sisi kanan gunung Thursina untuk Kami turunkan kitab kepadanya, yang berisi hukum-hukum yang agung dan berita-berita yang baik. Maka lengkaplah kenikmatan agama pada mereka usai pelimpahan nikmat duniawi. Dia juga mengingatkan kenikmatanNya pada mereka saat mereka berada dalam suasana tersesat jalan dengan menurunkan manna dan salwa, serta rizki yang lapang lagi menye-nangkan, yang hadir pada mereka tanpa perlu susah payah. Dan Dia berkata kepada mereka, ﴾ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ ﴿ "Makan-lah di antara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu," mak-sudnya dan syukurilah apa yang telah Allah curahkan kepada kalian dalam bentuk kenikmatan-kenikmatan. ﴾ وَلَا تَطۡغَوۡاْ فِيهِ ﴿ "Dan janganlah kalian melampaui batas padanya," yaitu dalam menyikapi rizkiNya, dengan mempergunakannya untuk bermaksiat dan menolak kenikmatan. Jika kalian melakukannya, niscaya datang kepada kalian kemurkaanKu. Artinya Aku marah kepada kalian kemudian menyiksa kalian. ﴾ وَمَن يَحۡلِلۡ عَلَيۡهِ غَضَبِي فَقَدۡ هَوَىٰ 81 ﴿ "Dan barangsiapa ditimpa oleh kemur-kaanKu, maka sesungguhnya binasalah dia," maksudnya hancur, binasa, menyesal lagi merugi. Lantaran dia tidak memperoleh ridha dan kebaikanNya, ditimpa kemurkaan dan kerugian. (82) Walaupun demikian, kesempatan bertaubat masih di-tawarkan, meskipun seseorang telah berbuat maksiat. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَإِنِّي لَغَفَّارٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun," maksudnya, yang banyak ampunan dan rahmatNya ﴾ لِّمَن تَابَ ﴿ "bagi orang yang bertaubat," dari kekufuran, bid'ah, dan tindakan fasik, ﴾ وَءَامَنَ ﴿ "dan beriman," kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasulNya dan Hari Akhir ﴾ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "dan beramal shalih," dari amalan-amalan hati, jasmani dan ucapan-ucapan lisan, ﴾ ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ 82 ﴿ "kemudian tetap di jalan yang benar," mak-sudnya dia menempuh jalan yang lurus, mengikuti Rasulullah yang mulia dan mengikuti ajaran agama yang lurus. Orang ini, Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya dan memaafkan dosa-dosa dan kenakalannya yang silam. Pasalnya, dia telah memenuhi syarat terpenting untuk meraih ampunan dan rahmatNya. Bahkan semua sebab-sebabnya terfokuskan pada perkara-perkara ini. Sesungguhnya taubat menutup kesalahan sebelumnya. Iman dan Islam menghancurkan dosa-dosa silam. Dan amalan shalih yang merupakan rangkaian kebaikan (dapat) melenyapkan kesa-lahan-kesalahan. Menempuh jalan-jalan hidayah dengan berbagai macamnya, berupa belajar ilmu agama, merenungi ayat atau hadits hingga maknanya jelas baginya adalah dapat memberikan hidayah. Seruan kepada agama yang benar, penolakan bid'ah, kekufuran atau kesesatan dan melaksanakan jihad, hijrah dan lain-lain, yang termasuk bagian terperinci dari hidayah. Semua itu akan meng-hapuskan dosa-dosa dan membuahkan tujuan yang ingin dicapai.

Taha 20:82

"Hai Bani Isra`il, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kamu sekalian dari musuhmu, dan Kami telah mengadakan per-janjian dengan kamu sekalian (untuk munajat) di sebelah kanan gunung itu, dan Kami telah menurunkan kepada kamu sekalian manna dan salwa. Makanlah di antara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas pada-nya, yang menyebabkan kemurkaanKu menimpamu. Dan barang-siapa ditimpa oleh kemurkaanKu, maka sungguh binasalah ia. Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar." (80-82). (80) Allah mengingatkan Bani Isra`il tentang kenikmatan besar yang tercurahkan pada mereka berupa pembinasaan musuh mereka dan penyelenggaraan perjanjian dengan Musa عليه السلام di sisi kanan gunung Thursina untuk Kami turunkan kitab kepadanya, yang berisi hukum-hukum yang agung dan berita-berita yang baik. Maka lengkaplah kenikmatan agama pada mereka usai pelimpahan nikmat duniawi. Dia juga mengingatkan kenikmatanNya pada mereka saat mereka berada dalam suasana tersesat jalan dengan menurunkan manna dan salwa, serta rizki yang lapang lagi menye-nangkan, yang hadir pada mereka tanpa perlu susah payah. Dan Dia berkata kepada mereka, ﴾ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ ﴿ "Makan-lah di antara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu," mak-sudnya dan syukurilah apa yang telah Allah curahkan kepada kalian dalam bentuk kenikmatan-kenikmatan. ﴾ وَلَا تَطۡغَوۡاْ فِيهِ ﴿ "Dan janganlah kalian melampaui batas padanya," yaitu dalam menyikapi rizkiNya, dengan mempergunakannya untuk bermaksiat dan menolak kenikmatan. Jika kalian melakukannya, niscaya datang kepada kalian kemurkaanKu. Artinya Aku marah kepada kalian kemudian menyiksa kalian. ﴾ وَمَن يَحۡلِلۡ عَلَيۡهِ غَضَبِي فَقَدۡ هَوَىٰ 81 ﴿ "Dan barangsiapa ditimpa oleh kemur-kaanKu, maka sesungguhnya binasalah dia," maksudnya hancur, binasa, menyesal lagi merugi. Lantaran dia tidak memperoleh ridha dan kebaikanNya, ditimpa kemurkaan dan kerugian. (82) Walaupun demikian, kesempatan bertaubat masih di-tawarkan, meskipun seseorang telah berbuat maksiat. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَإِنِّي لَغَفَّارٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun," maksudnya, yang banyak ampunan dan rahmatNya ﴾ لِّمَن تَابَ ﴿ "bagi orang yang bertaubat," dari kekufuran, bid'ah, dan tindakan fasik, ﴾ وَءَامَنَ ﴿ "dan beriman," kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasulNya dan Hari Akhir ﴾ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "dan beramal shalih," dari amalan-amalan hati, jasmani dan ucapan-ucapan lisan, ﴾ ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ 82 ﴿ "kemudian tetap di jalan yang benar," mak-sudnya dia menempuh jalan yang lurus, mengikuti Rasulullah yang mulia dan mengikuti ajaran agama yang lurus. Orang ini, Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya dan memaafkan dosa-dosa dan kenakalannya yang silam. Pasalnya, dia telah memenuhi syarat terpenting untuk meraih ampunan dan rahmatNya. Bahkan semua sebab-sebabnya terfokuskan pada perkara-perkara ini. Sesungguhnya taubat menutup kesalahan sebelumnya. Iman dan Islam menghancurkan dosa-dosa silam. Dan amalan shalih yang merupakan rangkaian kebaikan (dapat) melenyapkan kesa-lahan-kesalahan. Menempuh jalan-jalan hidayah dengan berbagai macamnya, berupa belajar ilmu agama, merenungi ayat atau hadits hingga maknanya jelas baginya adalah dapat memberikan hidayah. Seruan kepada agama yang benar, penolakan bid'ah, kekufuran atau kesesatan dan melaksanakan jihad, hijrah dan lain-lain, yang termasuk bagian terperinci dari hidayah. Semua itu akan meng-hapuskan dosa-dosa dan membuahkan tujuan yang ingin dicapai.

Taha 20:83

"Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" Musa berkata, "Itulah mereka telah menyusuliku, dan aku bersegera kepadaMu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)." Allah berfirman, "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah di-sesatkan oleh Samiri." Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Musa berkata, "Hai kaumku, bukankah Rabbmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik. Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Rabbmu menimpa-mu, lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku." (Thaha: 83-86). (83) Sebelumnya, Allah telah menjanjikan Musa guna me-nemuiNya untuk menurunkan Taurat kepada beliau selama tiga puluh malam. Beliau menyempurnakannya dalam sepuluh malam. Ketika waktu pertemuan telah tiba, Musa bersegera menghadiri waktu pertemuan lantaran kerinduan dan semangat terhadap apa yang dijanjikan. Allah berfirman kepadanya, ﴾ وَمَآ أَعۡجَلَكَ عَن قَوۡمِكَ يَٰمُوسَىٰ ﴿ "Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" Mak-sudnya, apakah yang mendorongmu lebih bersegera daripada kaummu? Kenapa engkau tidak bersabar saja, hingga datang ber-sama kaummu? (84) ﴾ قَالَ هُمۡ أُوْلَآءِ عَلَىٰٓ أَثَرِي ﴿ "Musa berkata, 'Itulah mereka telah menyusuliku'," maksudnya sudah dekat denganku. Mereka akan menyusul di belakangku. Perkara yang mendorongku wahai Rabb-ku adalah keinginan untuk dekat denganMu dan bersegera untuk meraih ridhaMu dan kerinduan kepadaMu. (85) Allah berfirman kepada beliau, ﴾ فَإِنَّا قَدۡ فَتَنَّا قَوۡمَكَ مِنۢ بَعۡدِكَ ﴿ "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu ting-galkan," yaitu dengan penyembahan kepada anak sapi. Kami men-coba dan menguji mereka, lalu mereka tidak mampu bersabar. Ketika ujian menghampiri, mereka justru berbuat kekufuran ﴾ وَأَضَلَّهُمُ ٱلسَّامِرِيُّ 85 ﴿ "dan mereka telah disesatkan oleh Samiri," dia telah menyo-dorkan sebuah patung anak sapi dan membentuknya hingga me-miliki suara. Dia berkata kepada Bani Isra`il, "Inilah tuhan kalian dan tuhan Musa. Musa telah melupakannya." Bani Isra`il tergoda dengannya. Mereka pun menyembahnya. Harun telah menghalang-halangi mereka, tapi mereka tidak menghentikan diri. (86) Ketika Musa kembali pulang ke kaumnya dalam ke-adaan murka dan prihatin, maksudnya hatinya penuh dengan amarah, murka, dan kesedihan, beliau mengeluarkan pernyataan untuk memburuk-burukkan dan menjelek-jelekkan ulah mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَلَمۡ يَعِدۡكُمۡ رَبُّكُمۡ وَعۡدًا حَسَنًاۚ ﴿ "Hai kaumku, bukankah Rabbmu telah men-janjikan kepadamu suatu janji yang baik," yaitu dengan menurunkan Taurat kepada kalian, ﴾ أَفَطَالَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡعَهۡدُ ﴿ "maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu," yaitu jarak waktu (perjanjian), maka apakah kalian menilai kepergianku terlalu lama, padahal merupa-kan masa yang pendek saja?! Ini adalah keterangan mayoritas ulama tafsir. Kandungan ayat ini juga bisa diarahkan ke pengertian: apakah sudah lama masa kenabian dan kerasulan dari kalian, sehingga kalian tidak mengetahui apa-apa tentang kenabian dan pengaruhnya, sudah lenyap bukti-buktinya dan kalian tidak men-jumpai berita apa pun tentangnya. Bekas-bekasnya pun hilang karena panjangnya kurun waktu darinya, sehingga kalian menyem-bah selain Allah karena dominannya kebodohanmu dan tiadanya ilmu mengenai pengaruh-pengaruh kerasulan? Perkaranya tidak demikian. Bahkan kenabian itu di belakang kalian, sedangkan ilmu itu ada, dan udzur tidak bisa diterima. ﴾ أَمۡ أَرَدتُّمۡ ﴿ "Atau kamu meng-hendaki," dengan tindakan kalian ﴾ أَن يَحِلَّ عَلَيۡكُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "agar kemurkaan dari Rabbmu menimpamu," kalian telah melakukan penye-bab-penyebab yang mendatangkan kemurkaanNya dan kalian menerobos pemicu siksaNya. Inilah realitanya. ﴾ فَأَخۡلَفۡتُم مَّوۡعِدِي 86 ﴿ "Lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku." Tatkala aku memerintahkan kepada kalian untuk beristiqamah, dan berpesan kepada Harun untuk mengawasi kalian. Tapi kalian tidak mau menunggu yang sedang pergi dan tidak menghormati orang yang ada.

Taha 20:84

"Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" Musa berkata, "Itulah mereka telah menyusuliku, dan aku bersegera kepadaMu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)." Allah berfirman, "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah di-sesatkan oleh Samiri." Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Musa berkata, "Hai kaumku, bukankah Rabbmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik. Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Rabbmu menimpa-mu, lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku." (Thaha: 83-86). (83) Sebelumnya, Allah telah menjanjikan Musa guna me-nemuiNya untuk menurunkan Taurat kepada beliau selama tiga puluh malam. Beliau menyempurnakannya dalam sepuluh malam. Ketika waktu pertemuan telah tiba, Musa bersegera menghadiri waktu pertemuan lantaran kerinduan dan semangat terhadap apa yang dijanjikan. Allah berfirman kepadanya, ﴾ وَمَآ أَعۡجَلَكَ عَن قَوۡمِكَ يَٰمُوسَىٰ ﴿ "Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" Mak-sudnya, apakah yang mendorongmu lebih bersegera daripada kaummu? Kenapa engkau tidak bersabar saja, hingga datang ber-sama kaummu? (84) ﴾ قَالَ هُمۡ أُوْلَآءِ عَلَىٰٓ أَثَرِي ﴿ "Musa berkata, 'Itulah mereka telah menyusuliku'," maksudnya sudah dekat denganku. Mereka akan menyusul di belakangku. Perkara yang mendorongku wahai Rabb-ku adalah keinginan untuk dekat denganMu dan bersegera untuk meraih ridhaMu dan kerinduan kepadaMu. (85) Allah berfirman kepada beliau, ﴾ فَإِنَّا قَدۡ فَتَنَّا قَوۡمَكَ مِنۢ بَعۡدِكَ ﴿ "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu ting-galkan," yaitu dengan penyembahan kepada anak sapi. Kami men-coba dan menguji mereka, lalu mereka tidak mampu bersabar. Ketika ujian menghampiri, mereka justru berbuat kekufuran ﴾ وَأَضَلَّهُمُ ٱلسَّامِرِيُّ 85 ﴿ "dan mereka telah disesatkan oleh Samiri," dia telah menyo-dorkan sebuah patung anak sapi dan membentuknya hingga me-miliki suara. Dia berkata kepada Bani Isra`il, "Inilah tuhan kalian dan tuhan Musa. Musa telah melupakannya." Bani Isra`il tergoda dengannya. Mereka pun menyembahnya. Harun telah menghalang-halangi mereka, tapi mereka tidak menghentikan diri. (86) Ketika Musa kembali pulang ke kaumnya dalam ke-adaan murka dan prihatin, maksudnya hatinya penuh dengan amarah, murka, dan kesedihan, beliau mengeluarkan pernyataan untuk memburuk-burukkan dan menjelek-jelekkan ulah mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَلَمۡ يَعِدۡكُمۡ رَبُّكُمۡ وَعۡدًا حَسَنًاۚ ﴿ "Hai kaumku, bukankah Rabbmu telah men-janjikan kepadamu suatu janji yang baik," yaitu dengan menurunkan Taurat kepada kalian, ﴾ أَفَطَالَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡعَهۡدُ ﴿ "maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu," yaitu jarak waktu (perjanjian), maka apakah kalian menilai kepergianku terlalu lama, padahal merupa-kan masa yang pendek saja?! Ini adalah keterangan mayoritas ulama tafsir. Kandungan ayat ini juga bisa diarahkan ke pengertian: apakah sudah lama masa kenabian dan kerasulan dari kalian, sehingga kalian tidak mengetahui apa-apa tentang kenabian dan pengaruhnya, sudah lenyap bukti-buktinya dan kalian tidak men-jumpai berita apa pun tentangnya. Bekas-bekasnya pun hilang karena panjangnya kurun waktu darinya, sehingga kalian menyem-bah selain Allah karena dominannya kebodohanmu dan tiadanya ilmu mengenai pengaruh-pengaruh kerasulan? Perkaranya tidak demikian. Bahkan kenabian itu di belakang kalian, sedangkan ilmu itu ada, dan udzur tidak bisa diterima. ﴾ أَمۡ أَرَدتُّمۡ ﴿ "Atau kamu meng-hendaki," dengan tindakan kalian ﴾ أَن يَحِلَّ عَلَيۡكُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "agar kemurkaan dari Rabbmu menimpamu," kalian telah melakukan penye-bab-penyebab yang mendatangkan kemurkaanNya dan kalian menerobos pemicu siksaNya. Inilah realitanya. ﴾ فَأَخۡلَفۡتُم مَّوۡعِدِي 86 ﴿ "Lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku." Tatkala aku memerintahkan kepada kalian untuk beristiqamah, dan berpesan kepada Harun untuk mengawasi kalian. Tapi kalian tidak mau menunggu yang sedang pergi dan tidak menghormati orang yang ada.

Taha 20:85

"Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" Musa berkata, "Itulah mereka telah menyusuliku, dan aku bersegera kepadaMu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)." Allah berfirman, "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah di-sesatkan oleh Samiri." Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Musa berkata, "Hai kaumku, bukankah Rabbmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik. Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Rabbmu menimpa-mu, lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku." (Thaha: 83-86). (83) Sebelumnya, Allah telah menjanjikan Musa guna me-nemuiNya untuk menurunkan Taurat kepada beliau selama tiga puluh malam. Beliau menyempurnakannya dalam sepuluh malam. Ketika waktu pertemuan telah tiba, Musa bersegera menghadiri waktu pertemuan lantaran kerinduan dan semangat terhadap apa yang dijanjikan. Allah berfirman kepadanya, ﴾ وَمَآ أَعۡجَلَكَ عَن قَوۡمِكَ يَٰمُوسَىٰ ﴿ "Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" Mak-sudnya, apakah yang mendorongmu lebih bersegera daripada kaummu? Kenapa engkau tidak bersabar saja, hingga datang ber-sama kaummu? (84) ﴾ قَالَ هُمۡ أُوْلَآءِ عَلَىٰٓ أَثَرِي ﴿ "Musa berkata, 'Itulah mereka telah menyusuliku'," maksudnya sudah dekat denganku. Mereka akan menyusul di belakangku. Perkara yang mendorongku wahai Rabb-ku adalah keinginan untuk dekat denganMu dan bersegera untuk meraih ridhaMu dan kerinduan kepadaMu. (85) Allah berfirman kepada beliau, ﴾ فَإِنَّا قَدۡ فَتَنَّا قَوۡمَكَ مِنۢ بَعۡدِكَ ﴿ "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu ting-galkan," yaitu dengan penyembahan kepada anak sapi. Kami men-coba dan menguji mereka, lalu mereka tidak mampu bersabar. Ketika ujian menghampiri, mereka justru berbuat kekufuran ﴾ وَأَضَلَّهُمُ ٱلسَّامِرِيُّ 85 ﴿ "dan mereka telah disesatkan oleh Samiri," dia telah menyo-dorkan sebuah patung anak sapi dan membentuknya hingga me-miliki suara. Dia berkata kepada Bani Isra`il, "Inilah tuhan kalian dan tuhan Musa. Musa telah melupakannya." Bani Isra`il tergoda dengannya. Mereka pun menyembahnya. Harun telah menghalang-halangi mereka, tapi mereka tidak menghentikan diri. (86) Ketika Musa kembali pulang ke kaumnya dalam ke-adaan murka dan prihatin, maksudnya hatinya penuh dengan amarah, murka, dan kesedihan, beliau mengeluarkan pernyataan untuk memburuk-burukkan dan menjelek-jelekkan ulah mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَلَمۡ يَعِدۡكُمۡ رَبُّكُمۡ وَعۡدًا حَسَنًاۚ ﴿ "Hai kaumku, bukankah Rabbmu telah men-janjikan kepadamu suatu janji yang baik," yaitu dengan menurunkan Taurat kepada kalian, ﴾ أَفَطَالَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡعَهۡدُ ﴿ "maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu," yaitu jarak waktu (perjanjian), maka apakah kalian menilai kepergianku terlalu lama, padahal merupa-kan masa yang pendek saja?! Ini adalah keterangan mayoritas ulama tafsir. Kandungan ayat ini juga bisa diarahkan ke pengertian: apakah sudah lama masa kenabian dan kerasulan dari kalian, sehingga kalian tidak mengetahui apa-apa tentang kenabian dan pengaruhnya, sudah lenyap bukti-buktinya dan kalian tidak men-jumpai berita apa pun tentangnya. Bekas-bekasnya pun hilang karena panjangnya kurun waktu darinya, sehingga kalian menyem-bah selain Allah karena dominannya kebodohanmu dan tiadanya ilmu mengenai pengaruh-pengaruh kerasulan? Perkaranya tidak demikian. Bahkan kenabian itu di belakang kalian, sedangkan ilmu itu ada, dan udzur tidak bisa diterima. ﴾ أَمۡ أَرَدتُّمۡ ﴿ "Atau kamu meng-hendaki," dengan tindakan kalian ﴾ أَن يَحِلَّ عَلَيۡكُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "agar kemurkaan dari Rabbmu menimpamu," kalian telah melakukan penye-bab-penyebab yang mendatangkan kemurkaanNya dan kalian menerobos pemicu siksaNya. Inilah realitanya. ﴾ فَأَخۡلَفۡتُم مَّوۡعِدِي 86 ﴿ "Lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku." Tatkala aku memerintahkan kepada kalian untuk beristiqamah, dan berpesan kepada Harun untuk mengawasi kalian. Tapi kalian tidak mau menunggu yang sedang pergi dan tidak menghormati orang yang ada.

Taha 20:86

"Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" Musa berkata, "Itulah mereka telah menyusuliku, dan aku bersegera kepadaMu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)." Allah berfirman, "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah di-sesatkan oleh Samiri." Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Musa berkata, "Hai kaumku, bukankah Rabbmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik. Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Rabbmu menimpa-mu, lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku." (Thaha: 83-86). (83) Sebelumnya, Allah telah menjanjikan Musa guna me-nemuiNya untuk menurunkan Taurat kepada beliau selama tiga puluh malam. Beliau menyempurnakannya dalam sepuluh malam. Ketika waktu pertemuan telah tiba, Musa bersegera menghadiri waktu pertemuan lantaran kerinduan dan semangat terhadap apa yang dijanjikan. Allah berfirman kepadanya, ﴾ وَمَآ أَعۡجَلَكَ عَن قَوۡمِكَ يَٰمُوسَىٰ ﴿ "Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" Mak-sudnya, apakah yang mendorongmu lebih bersegera daripada kaummu? Kenapa engkau tidak bersabar saja, hingga datang ber-sama kaummu? (84) ﴾ قَالَ هُمۡ أُوْلَآءِ عَلَىٰٓ أَثَرِي ﴿ "Musa berkata, 'Itulah mereka telah menyusuliku'," maksudnya sudah dekat denganku. Mereka akan menyusul di belakangku. Perkara yang mendorongku wahai Rabb-ku adalah keinginan untuk dekat denganMu dan bersegera untuk meraih ridhaMu dan kerinduan kepadaMu. (85) Allah berfirman kepada beliau, ﴾ فَإِنَّا قَدۡ فَتَنَّا قَوۡمَكَ مِنۢ بَعۡدِكَ ﴿ "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu ting-galkan," yaitu dengan penyembahan kepada anak sapi. Kami men-coba dan menguji mereka, lalu mereka tidak mampu bersabar. Ketika ujian menghampiri, mereka justru berbuat kekufuran ﴾ وَأَضَلَّهُمُ ٱلسَّامِرِيُّ 85 ﴿ "dan mereka telah disesatkan oleh Samiri," dia telah menyo-dorkan sebuah patung anak sapi dan membentuknya hingga me-miliki suara. Dia berkata kepada Bani Isra`il, "Inilah tuhan kalian dan tuhan Musa. Musa telah melupakannya." Bani Isra`il tergoda dengannya. Mereka pun menyembahnya. Harun telah menghalang-halangi mereka, tapi mereka tidak menghentikan diri. (86) Ketika Musa kembali pulang ke kaumnya dalam ke-adaan murka dan prihatin, maksudnya hatinya penuh dengan amarah, murka, dan kesedihan, beliau mengeluarkan pernyataan untuk memburuk-burukkan dan menjelek-jelekkan ulah mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ أَلَمۡ يَعِدۡكُمۡ رَبُّكُمۡ وَعۡدًا حَسَنًاۚ ﴿ "Hai kaumku, bukankah Rabbmu telah men-janjikan kepadamu suatu janji yang baik," yaitu dengan menurunkan Taurat kepada kalian, ﴾ أَفَطَالَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡعَهۡدُ ﴿ "maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu," yaitu jarak waktu (perjanjian), maka apakah kalian menilai kepergianku terlalu lama, padahal merupa-kan masa yang pendek saja?! Ini adalah keterangan mayoritas ulama tafsir. Kandungan ayat ini juga bisa diarahkan ke pengertian: apakah sudah lama masa kenabian dan kerasulan dari kalian, sehingga kalian tidak mengetahui apa-apa tentang kenabian dan pengaruhnya, sudah lenyap bukti-buktinya dan kalian tidak men-jumpai berita apa pun tentangnya. Bekas-bekasnya pun hilang karena panjangnya kurun waktu darinya, sehingga kalian menyem-bah selain Allah karena dominannya kebodohanmu dan tiadanya ilmu mengenai pengaruh-pengaruh kerasulan? Perkaranya tidak demikian. Bahkan kenabian itu di belakang kalian, sedangkan ilmu itu ada, dan udzur tidak bisa diterima. ﴾ أَمۡ أَرَدتُّمۡ ﴿ "Atau kamu meng-hendaki," dengan tindakan kalian ﴾ أَن يَحِلَّ عَلَيۡكُمۡ غَضَبٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "agar kemurkaan dari Rabbmu menimpamu," kalian telah melakukan penye-bab-penyebab yang mendatangkan kemurkaanNya dan kalian menerobos pemicu siksaNya. Inilah realitanya. ﴾ فَأَخۡلَفۡتُم مَّوۡعِدِي 86 ﴿ "Lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku." Tatkala aku memerintahkan kepada kalian untuk beristiqamah, dan berpesan kepada Harun untuk mengawasi kalian. Tapi kalian tidak mau menunggu yang sedang pergi dan tidak menghormati orang yang ada.

Taha 20:87

"Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak melanggar per-janjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya.' Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lubang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata, 'Inilah Rabbmu dan Rabb Musa, tetapi Musa telah lupa.' Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) keman-faatan?" (Thaha: 87-89). (87-88) Maknanya, mereka berkata kepada Musa, "Tidak-lah kami berbuat sesuatu yang telah kami lakukan dengan kesenga-jaan dan kemauan sendiri. Akan tetapi, penyebab yang mendorong kami untuk melakukannya ialah kami sudah berbuat dosa disebab-kan perhiasan-perhiasan kaum itu yang berada pada kami. Mereka itu, menurut keterangan mereka telah meminjam perhiasan yang banyak dari seorang suku Qibthi. Mereka pergi bersamanya, membuangnya (ke dalam lubang api. Ed) dan mengumpulkannya (kembali) ketika Musa pergi untuk mempertanyakan kepadanya bila beliau sudah kembali. Sementara itu, Samiri telah mengetahui peristiwa tenggelam-nya (Fir'aun dan para pengikutnya) melalui jejak Rasul. Maka jiwa-nya memandang baik untuk mengambil satu genggam dari bekas jejak Rasul. Dan bila dia lemparkan pada suatu obyek, niscaya akan menjadi hidup, sebagai bahan fitnah dan ujian. Ia pun melempar-kannya pada (patung anak sapi itu yang telah dia buat dalam bentuk patung) anak sapi. Anak sapi itu pun bergerak-gerak dan memiliki suara dan bunyi. Mereka berkata, "Sesungguhnya Musa sedang mencari Rabbnya, padahal Dia di sini. Tetapi Musa telah melupakannya." (89) Ini termasuk gambaran kedunguan dan kedangkalan akal mereka. (Yaitu) mereka telah menyaksikan benda asing yang menjelma bersuara, padahal sebelumnya merupakan benda mati. Mereka pun menyangka bahwa ia adalah sesembahan yang berhak disembah di bumi dan langit. Apakah mereka tidak memperhati-kan bahwa patung anak lembu itu ﴾ يَرۡجِعُ إِلَيۡهِمۡ قَوۡلٗا ﴿ "tidak dapat memberi jawaban kepada mereka," maksudnya tidak bisa berbicara, yang bisa menjawab mereka, dan mereka pun bisa berkomunikasi dengan-nya ﴾ وَلَا يَمۡلِكُ لَهُمۡ ضَرّٗا وَلَا نَفۡعٗا 89 ﴿ "dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka, dan tidak (pula) kemanfaatan," barang yang kosong dari aspek kesempurnaan, kemampuan berbicara dan berbuat tidaklah berhak untuk disembah. Tingkatannya lebih rendah daripada para penyembahnya. Mereka dapat berkomunikasi, mampu melakukan banyak hal, berupa mendatangkan kemanfaatan dan menolak bahaya (dari diri mereka) dengan takdir Allah.

Taha 20:88

"Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak melanggar per-janjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya.' Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lubang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata, 'Inilah Rabbmu dan Rabb Musa, tetapi Musa telah lupa.' Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) keman-faatan?" (Thaha: 87-89). (87-88) Maknanya, mereka berkata kepada Musa, "Tidak-lah kami berbuat sesuatu yang telah kami lakukan dengan kesenga-jaan dan kemauan sendiri. Akan tetapi, penyebab yang mendorong kami untuk melakukannya ialah kami sudah berbuat dosa disebab-kan perhiasan-perhiasan kaum itu yang berada pada kami. Mereka itu, menurut keterangan mereka telah meminjam perhiasan yang banyak dari seorang suku Qibthi. Mereka pergi bersamanya, membuangnya (ke dalam lubang api. Ed) dan mengumpulkannya (kembali) ketika Musa pergi untuk mempertanyakan kepadanya bila beliau sudah kembali. Sementara itu, Samiri telah mengetahui peristiwa tenggelam-nya (Fir'aun dan para pengikutnya) melalui jejak Rasul. Maka jiwa-nya memandang baik untuk mengambil satu genggam dari bekas jejak Rasul. Dan bila dia lemparkan pada suatu obyek, niscaya akan menjadi hidup, sebagai bahan fitnah dan ujian. Ia pun melempar-kannya pada (patung anak sapi itu yang telah dia buat dalam bentuk patung) anak sapi. Anak sapi itu pun bergerak-gerak dan memiliki suara dan bunyi. Mereka berkata, "Sesungguhnya Musa sedang mencari Rabbnya, padahal Dia di sini. Tetapi Musa telah melupakannya." (89) Ini termasuk gambaran kedunguan dan kedangkalan akal mereka. (Yaitu) mereka telah menyaksikan benda asing yang menjelma bersuara, padahal sebelumnya merupakan benda mati. Mereka pun menyangka bahwa ia adalah sesembahan yang berhak disembah di bumi dan langit. Apakah mereka tidak memperhati-kan bahwa patung anak lembu itu ﴾ يَرۡجِعُ إِلَيۡهِمۡ قَوۡلٗا ﴿ "tidak dapat memberi jawaban kepada mereka," maksudnya tidak bisa berbicara, yang bisa menjawab mereka, dan mereka pun bisa berkomunikasi dengan-nya ﴾ وَلَا يَمۡلِكُ لَهُمۡ ضَرّٗا وَلَا نَفۡعٗا 89 ﴿ "dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka, dan tidak (pula) kemanfaatan," barang yang kosong dari aspek kesempurnaan, kemampuan berbicara dan berbuat tidaklah berhak untuk disembah. Tingkatannya lebih rendah daripada para penyembahnya. Mereka dapat berkomunikasi, mampu melakukan banyak hal, berupa mendatangkan kemanfaatan dan menolak bahaya (dari diri mereka) dengan takdir Allah.

Taha 20:89

"Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak melanggar per-janjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya.' Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lubang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata, 'Inilah Rabbmu dan Rabb Musa, tetapi Musa telah lupa.' Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) keman-faatan?" (Thaha: 87-89). (87-88) Maknanya, mereka berkata kepada Musa, "Tidak-lah kami berbuat sesuatu yang telah kami lakukan dengan kesenga-jaan dan kemauan sendiri. Akan tetapi, penyebab yang mendorong kami untuk melakukannya ialah kami sudah berbuat dosa disebab-kan perhiasan-perhiasan kaum itu yang berada pada kami. Mereka itu, menurut keterangan mereka telah meminjam perhiasan yang banyak dari seorang suku Qibthi. Mereka pergi bersamanya, membuangnya (ke dalam lubang api. Ed) dan mengumpulkannya (kembali) ketika Musa pergi untuk mempertanyakan kepadanya bila beliau sudah kembali. Sementara itu, Samiri telah mengetahui peristiwa tenggelam-nya (Fir'aun dan para pengikutnya) melalui jejak Rasul. Maka jiwa-nya memandang baik untuk mengambil satu genggam dari bekas jejak Rasul. Dan bila dia lemparkan pada suatu obyek, niscaya akan menjadi hidup, sebagai bahan fitnah dan ujian. Ia pun melempar-kannya pada (patung anak sapi itu yang telah dia buat dalam bentuk patung) anak sapi. Anak sapi itu pun bergerak-gerak dan memiliki suara dan bunyi. Mereka berkata, "Sesungguhnya Musa sedang mencari Rabbnya, padahal Dia di sini. Tetapi Musa telah melupakannya." (89) Ini termasuk gambaran kedunguan dan kedangkalan akal mereka. (Yaitu) mereka telah menyaksikan benda asing yang menjelma bersuara, padahal sebelumnya merupakan benda mati. Mereka pun menyangka bahwa ia adalah sesembahan yang berhak disembah di bumi dan langit. Apakah mereka tidak memperhati-kan bahwa patung anak lembu itu ﴾ يَرۡجِعُ إِلَيۡهِمۡ قَوۡلٗا ﴿ "tidak dapat memberi jawaban kepada mereka," maksudnya tidak bisa berbicara, yang bisa menjawab mereka, dan mereka pun bisa berkomunikasi dengan-nya ﴾ وَلَا يَمۡلِكُ لَهُمۡ ضَرّٗا وَلَا نَفۡعٗا 89 ﴿ "dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka, dan tidak (pula) kemanfaatan," barang yang kosong dari aspek kesempurnaan, kemampuan berbicara dan berbuat tidaklah berhak untuk disembah. Tingkatannya lebih rendah daripada para penyembahnya. Mereka dapat berkomunikasi, mampu melakukan banyak hal, berupa mendatangkan kemanfaatan dan menolak bahaya (dari diri mereka) dengan takdir Allah.

Taha 20:90

"Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka se-belumnya, 'Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu, dan sesungguhnya Rabbmu ialah (Rabb) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku, dan taatilah perintahku.' Mereka menjawab, 'Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.' Musa berkata, 'Hai Harun, apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku.' Harun menjawab, 'Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku, dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah antara Bani Isra`il, dan kamu tidak memelihara amanatku'." (Thaha: 90-94). (90-91) Maksudnya: dengan beribadah kepada anak sapi, mereka itu bukanlah orang yang bisa diberi (toleransi) udzur. Sesungguhnya mereka meskipun ada syubhat yang muncul pada mereka tentang penyembahannya, akan tetapi Harun telah mela-rang mereka dari tindakan tersebut, memberitahu mereka bahwa ia merupakan fitnah, dan Rabb mereka ialah (Rabb) Yang Maha Pemurah. DariNya bersumber kenikmatan-kenikmatan yang lahi-riah maupun batiniah, Dzat Yang Berkuasa untuk menyingkirkan malapetaka. Harun memerintahkan mereka untuk mengikuti diri-nya dan meninggalkan anak sapi, namun mereka enggan sembari mengatakan, ﴾ لَن نَّبۡرَحَ عَلَيۡهِ عَٰكِفِينَ حَتَّىٰ يَرۡجِعَ إِلَيۡنَا مُوسَىٰ 91 ﴿ "Kami akan tetap me-nyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami." (92-93) Musa mendatangi saudaranya, Harun dengan mencelanya. Beliau berkata, ﴾ يَٰهَٰرُونُ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ 92 أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ ﴿ "Hai Harun, apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku?" untuk memberitahuku hingga aku pun bersegera untuk kembali menemui mereka, ﴾ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي 93 ﴿ "maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku," yaitu me-ngenai ucapanku, ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 142 ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (Al-A'raf: 142). Maka Musa memegang kepala dan janggut Harun, menarik-nya lantaran marah dan mencelanya. (94) Harun menjawab, ﴾ يَبۡنَؤُمَّ ﴿ "Hai putra ibuku," untuk me-lunakkan hatinya, namun walaupun bukan demikian (tujuannya), dia memang saudara kandungnya. ﴾ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي 94 ﴿ "Janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah belah antara Bani Isra`il, dan kamu tidak memelihara amanatku'." Sesungguhnya engkau memerin-tahkanku untuk menggantikanmu (memimpin) mereka. Jika aku menyusulmu (untuk memberitahukan kejadian tersebut), berarti aku telah meninggalkan apa yang engkau perintahkan kepadaku agar tetap dikonsisteni. (Dengan itu) aku khawatir makianmu (kepadaku) dan komentarmu, "Engkau telah memecah belah antara Bani Isra`il lantaran engkau tinggalkan mereka tanpa pembimbing dan pengganti." Sesungguhnya hal ini telah memecah dan mencerai-beraikan keutuhan mereka. Maka, janganlah engkau mengategori-kanku ke dalam orang-orang yang berbuat aniaya. Dan janganlah menjadikan para musuh menertawakan kita. Musa pun menyesal atas tindakannya kepada saudaranya, padahal dia tidak berhak menerima perlakuan itu. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ 151 ﴿ "Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (Al-A'raf: 151). Kemudian Musa berpaling kepada Samiri,

Taha 20:91

"Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka se-belumnya, 'Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu, dan sesungguhnya Rabbmu ialah (Rabb) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku, dan taatilah perintahku.' Mereka menjawab, 'Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.' Musa berkata, 'Hai Harun, apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku.' Harun menjawab, 'Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku, dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah antara Bani Isra`il, dan kamu tidak memelihara amanatku'." (Thaha: 90-94). (90-91) Maksudnya: dengan beribadah kepada anak sapi, mereka itu bukanlah orang yang bisa diberi (toleransi) udzur. Sesungguhnya mereka meskipun ada syubhat yang muncul pada mereka tentang penyembahannya, akan tetapi Harun telah mela-rang mereka dari tindakan tersebut, memberitahu mereka bahwa ia merupakan fitnah, dan Rabb mereka ialah (Rabb) Yang Maha Pemurah. DariNya bersumber kenikmatan-kenikmatan yang lahi-riah maupun batiniah, Dzat Yang Berkuasa untuk menyingkirkan malapetaka. Harun memerintahkan mereka untuk mengikuti diri-nya dan meninggalkan anak sapi, namun mereka enggan sembari mengatakan, ﴾ لَن نَّبۡرَحَ عَلَيۡهِ عَٰكِفِينَ حَتَّىٰ يَرۡجِعَ إِلَيۡنَا مُوسَىٰ 91 ﴿ "Kami akan tetap me-nyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami." (92-93) Musa mendatangi saudaranya, Harun dengan mencelanya. Beliau berkata, ﴾ يَٰهَٰرُونُ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ 92 أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ ﴿ "Hai Harun, apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku?" untuk memberitahuku hingga aku pun bersegera untuk kembali menemui mereka, ﴾ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي 93 ﴿ "maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku," yaitu me-ngenai ucapanku, ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 142 ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (Al-A'raf: 142). Maka Musa memegang kepala dan janggut Harun, menarik-nya lantaran marah dan mencelanya. (94) Harun menjawab, ﴾ يَبۡنَؤُمَّ ﴿ "Hai putra ibuku," untuk me-lunakkan hatinya, namun walaupun bukan demikian (tujuannya), dia memang saudara kandungnya. ﴾ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي 94 ﴿ "Janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah belah antara Bani Isra`il, dan kamu tidak memelihara amanatku'." Sesungguhnya engkau memerin-tahkanku untuk menggantikanmu (memimpin) mereka. Jika aku menyusulmu (untuk memberitahukan kejadian tersebut), berarti aku telah meninggalkan apa yang engkau perintahkan kepadaku agar tetap dikonsisteni. (Dengan itu) aku khawatir makianmu (kepadaku) dan komentarmu, "Engkau telah memecah belah antara Bani Isra`il lantaran engkau tinggalkan mereka tanpa pembimbing dan pengganti." Sesungguhnya hal ini telah memecah dan mencerai-beraikan keutuhan mereka. Maka, janganlah engkau mengategori-kanku ke dalam orang-orang yang berbuat aniaya. Dan janganlah menjadikan para musuh menertawakan kita. Musa pun menyesal atas tindakannya kepada saudaranya, padahal dia tidak berhak menerima perlakuan itu. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ 151 ﴿ "Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (Al-A'raf: 151). Kemudian Musa berpaling kepada Samiri,

Taha 20:92

"Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka se-belumnya, 'Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu, dan sesungguhnya Rabbmu ialah (Rabb) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku, dan taatilah perintahku.' Mereka menjawab, 'Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.' Musa berkata, 'Hai Harun, apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku.' Harun menjawab, 'Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku, dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah antara Bani Isra`il, dan kamu tidak memelihara amanatku'." (Thaha: 90-94). (90-91) Maksudnya: dengan beribadah kepada anak sapi, mereka itu bukanlah orang yang bisa diberi (toleransi) udzur. Sesungguhnya mereka meskipun ada syubhat yang muncul pada mereka tentang penyembahannya, akan tetapi Harun telah mela-rang mereka dari tindakan tersebut, memberitahu mereka bahwa ia merupakan fitnah, dan Rabb mereka ialah (Rabb) Yang Maha Pemurah. DariNya bersumber kenikmatan-kenikmatan yang lahi-riah maupun batiniah, Dzat Yang Berkuasa untuk menyingkirkan malapetaka. Harun memerintahkan mereka untuk mengikuti diri-nya dan meninggalkan anak sapi, namun mereka enggan sembari mengatakan, ﴾ لَن نَّبۡرَحَ عَلَيۡهِ عَٰكِفِينَ حَتَّىٰ يَرۡجِعَ إِلَيۡنَا مُوسَىٰ 91 ﴿ "Kami akan tetap me-nyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami." (92-93) Musa mendatangi saudaranya, Harun dengan mencelanya. Beliau berkata, ﴾ يَٰهَٰرُونُ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ 92 أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ ﴿ "Hai Harun, apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku?" untuk memberitahuku hingga aku pun bersegera untuk kembali menemui mereka, ﴾ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي 93 ﴿ "maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku," yaitu me-ngenai ucapanku, ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 142 ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (Al-A'raf: 142). Maka Musa memegang kepala dan janggut Harun, menarik-nya lantaran marah dan mencelanya. (94) Harun menjawab, ﴾ يَبۡنَؤُمَّ ﴿ "Hai putra ibuku," untuk me-lunakkan hatinya, namun walaupun bukan demikian (tujuannya), dia memang saudara kandungnya. ﴾ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي 94 ﴿ "Janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah belah antara Bani Isra`il, dan kamu tidak memelihara amanatku'." Sesungguhnya engkau memerin-tahkanku untuk menggantikanmu (memimpin) mereka. Jika aku menyusulmu (untuk memberitahukan kejadian tersebut), berarti aku telah meninggalkan apa yang engkau perintahkan kepadaku agar tetap dikonsisteni. (Dengan itu) aku khawatir makianmu (kepadaku) dan komentarmu, "Engkau telah memecah belah antara Bani Isra`il lantaran engkau tinggalkan mereka tanpa pembimbing dan pengganti." Sesungguhnya hal ini telah memecah dan mencerai-beraikan keutuhan mereka. Maka, janganlah engkau mengategori-kanku ke dalam orang-orang yang berbuat aniaya. Dan janganlah menjadikan para musuh menertawakan kita. Musa pun menyesal atas tindakannya kepada saudaranya, padahal dia tidak berhak menerima perlakuan itu. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ 151 ﴿ "Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (Al-A'raf: 151). Kemudian Musa berpaling kepada Samiri,

Taha 20:93

"Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka se-belumnya, 'Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu, dan sesungguhnya Rabbmu ialah (Rabb) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku, dan taatilah perintahku.' Mereka menjawab, 'Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.' Musa berkata, 'Hai Harun, apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku.' Harun menjawab, 'Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku, dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah antara Bani Isra`il, dan kamu tidak memelihara amanatku'." (Thaha: 90-94). (90-91) Maksudnya: dengan beribadah kepada anak sapi, mereka itu bukanlah orang yang bisa diberi (toleransi) udzur. Sesungguhnya mereka meskipun ada syubhat yang muncul pada mereka tentang penyembahannya, akan tetapi Harun telah mela-rang mereka dari tindakan tersebut, memberitahu mereka bahwa ia merupakan fitnah, dan Rabb mereka ialah (Rabb) Yang Maha Pemurah. DariNya bersumber kenikmatan-kenikmatan yang lahi-riah maupun batiniah, Dzat Yang Berkuasa untuk menyingkirkan malapetaka. Harun memerintahkan mereka untuk mengikuti diri-nya dan meninggalkan anak sapi, namun mereka enggan sembari mengatakan, ﴾ لَن نَّبۡرَحَ عَلَيۡهِ عَٰكِفِينَ حَتَّىٰ يَرۡجِعَ إِلَيۡنَا مُوسَىٰ 91 ﴿ "Kami akan tetap me-nyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami." (92-93) Musa mendatangi saudaranya, Harun dengan mencelanya. Beliau berkata, ﴾ يَٰهَٰرُونُ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ 92 أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ ﴿ "Hai Harun, apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku?" untuk memberitahuku hingga aku pun bersegera untuk kembali menemui mereka, ﴾ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي 93 ﴿ "maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku," yaitu me-ngenai ucapanku, ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 142 ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (Al-A'raf: 142). Maka Musa memegang kepala dan janggut Harun, menarik-nya lantaran marah dan mencelanya. (94) Harun menjawab, ﴾ يَبۡنَؤُمَّ ﴿ "Hai putra ibuku," untuk me-lunakkan hatinya, namun walaupun bukan demikian (tujuannya), dia memang saudara kandungnya. ﴾ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي 94 ﴿ "Janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah belah antara Bani Isra`il, dan kamu tidak memelihara amanatku'." Sesungguhnya engkau memerin-tahkanku untuk menggantikanmu (memimpin) mereka. Jika aku menyusulmu (untuk memberitahukan kejadian tersebut), berarti aku telah meninggalkan apa yang engkau perintahkan kepadaku agar tetap dikonsisteni. (Dengan itu) aku khawatir makianmu (kepadaku) dan komentarmu, "Engkau telah memecah belah antara Bani Isra`il lantaran engkau tinggalkan mereka tanpa pembimbing dan pengganti." Sesungguhnya hal ini telah memecah dan mencerai-beraikan keutuhan mereka. Maka, janganlah engkau mengategori-kanku ke dalam orang-orang yang berbuat aniaya. Dan janganlah menjadikan para musuh menertawakan kita. Musa pun menyesal atas tindakannya kepada saudaranya, padahal dia tidak berhak menerima perlakuan itu. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ 151 ﴿ "Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (Al-A'raf: 151). Kemudian Musa berpaling kepada Samiri,

Taha 20:94

"Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka se-belumnya, 'Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu, dan sesungguhnya Rabbmu ialah (Rabb) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku, dan taatilah perintahku.' Mereka menjawab, 'Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.' Musa berkata, 'Hai Harun, apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku.' Harun menjawab, 'Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku, dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah antara Bani Isra`il, dan kamu tidak memelihara amanatku'." (Thaha: 90-94). (90-91) Maksudnya: dengan beribadah kepada anak sapi, mereka itu bukanlah orang yang bisa diberi (toleransi) udzur. Sesungguhnya mereka meskipun ada syubhat yang muncul pada mereka tentang penyembahannya, akan tetapi Harun telah mela-rang mereka dari tindakan tersebut, memberitahu mereka bahwa ia merupakan fitnah, dan Rabb mereka ialah (Rabb) Yang Maha Pemurah. DariNya bersumber kenikmatan-kenikmatan yang lahi-riah maupun batiniah, Dzat Yang Berkuasa untuk menyingkirkan malapetaka. Harun memerintahkan mereka untuk mengikuti diri-nya dan meninggalkan anak sapi, namun mereka enggan sembari mengatakan, ﴾ لَن نَّبۡرَحَ عَلَيۡهِ عَٰكِفِينَ حَتَّىٰ يَرۡجِعَ إِلَيۡنَا مُوسَىٰ 91 ﴿ "Kami akan tetap me-nyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami." (92-93) Musa mendatangi saudaranya, Harun dengan mencelanya. Beliau berkata, ﴾ يَٰهَٰرُونُ مَا مَنَعَكَ إِذۡ رَأَيۡتَهُمۡ ضَلُّوٓاْ 92 أَلَّا تَتَّبِعَنِۖ ﴿ "Hai Harun, apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku?" untuk memberitahuku hingga aku pun bersegera untuk kembali menemui mereka, ﴾ أَفَعَصَيۡتَ أَمۡرِي 93 ﴿ "maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku," yaitu me-ngenai ucapanku, ﴾ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 142 ﴿ "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan." (Al-A'raf: 142). Maka Musa memegang kepala dan janggut Harun, menarik-nya lantaran marah dan mencelanya. (94) Harun menjawab, ﴾ يَبۡنَؤُمَّ ﴿ "Hai putra ibuku," untuk me-lunakkan hatinya, namun walaupun bukan demikian (tujuannya), dia memang saudara kandungnya. ﴾ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِي 94 ﴿ "Janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), 'Kamu telah memecah belah antara Bani Isra`il, dan kamu tidak memelihara amanatku'." Sesungguhnya engkau memerin-tahkanku untuk menggantikanmu (memimpin) mereka. Jika aku menyusulmu (untuk memberitahukan kejadian tersebut), berarti aku telah meninggalkan apa yang engkau perintahkan kepadaku agar tetap dikonsisteni. (Dengan itu) aku khawatir makianmu (kepadaku) dan komentarmu, "Engkau telah memecah belah antara Bani Isra`il lantaran engkau tinggalkan mereka tanpa pembimbing dan pengganti." Sesungguhnya hal ini telah memecah dan mencerai-beraikan keutuhan mereka. Maka, janganlah engkau mengategori-kanku ke dalam orang-orang yang berbuat aniaya. Dan janganlah menjadikan para musuh menertawakan kita. Musa pun menyesal atas tindakannya kepada saudaranya, padahal dia tidak berhak menerima perlakuan itu. Beliau berkata, ﴾ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ 151 ﴿ "Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (Al-A'raf: 151). Kemudian Musa berpaling kepada Samiri,

Taha 20:95

"Musa berkata, 'Apakah yang mendorongmu (berbuat demi-kian) hai Samiri?' Samiri menjawab, 'Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya. Dan demikianlah nafsuku membujukku.' Musa berkata, 'Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan, 'Janganlah menyentuh(ku).' Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Se-sungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)'." (Thaha: 95-97). (95-96) Ada apa denganmu wahai Samiri hingga berbuat apa yang telah engkau lakukan? Dia menjawab, ﴾ بَصُرۡتُ بِمَا لَمۡ يَبۡصُرُواْ بِهِۦ ﴿ "Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya," yaitu Jibril عليه السلام yang menunggang kuda. Ia sempat menyaksikan Jibril ketika mereka keluar dari laut dan tenggelamnya Fir'aun dan pasu-kannya, berdasarkan pada penjelasan para ulama tafsir.﴾ فَقَبَضۡتُ قَبۡضَةٗ مِّنۡ أَثَرِ ﴿ "Maka aku ambil segenggam dari jejak," telapak kaki kudanya. Lalu aku melemparkan genggaman itu pada anak sapi.﴾ وَكَذَٰلِكَ سَوَّلَتۡ لِي نَفۡسِي 96 ﴿ "Dan demikianlah nafsuku membujukku," agar aku menggenggamnya dan menyebarkannya. Maka jadilah apa yang telah terjadi. (97) Musa berkata, "Pergilah kamu." Maksudnya, menjauh-lah dariku dan menghindarlah dariku, ﴾ فَإِنَّ لَكَ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ أَن تَقُولَ لَا مِسَاسَۖ ﴿ "maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan, 'Janganlah menyentuh(ku)," maksudnya, engkau dikenai hukuman di dunia, berupa tidak boleh ada seorang pun yang mendekatimu atau menyentuhmu, bahkan (jika ada) orang yang ingin mendekatimu, niscaya kami mengatakan kepadanya, "Janganlah menyentuh dan mendekat kepadaku." Sebagai sanksi atas tindakannya, di mana dia menyentuh sesuatu yang tidak disen-tuh oleh selainnya dan mengadakan sesuatu yang tidak diadakan oleh orang lain. ﴾ وَإِنَّ لَكَ مَوۡعِدٗا لَّن تُخۡلَفَهُۥۖ ﴿ "Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya." Engkau diberi balasan atas amalanmu, yang baik dan yang buruk. ﴾ وَٱنظُرۡ إِلَىٰٓ إِلَٰهِكَ ٱلَّذِي ظَلۡتَ عَلَيۡهِ عَاكِفٗاۖ ﴿ "Dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya," yaitu anak sapi, ﴾ لَّنُحَرِّقَنَّهُۥ ثُمَّ لَنَنسِفَنَّهُۥ فِي ٱلۡيَمِّ نَسۡفًا 97 ﴿ "se-sungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)." Musa pun melakukannya. Sekiranya ia benar-benar tuhan, ia pasti dapat membela diri dari orang yang akan berniat mengganggunya dan berusaha menghancurkannya. Sungguh (kecintaan menyem-bah) anak sapi telah meresap pada hati Bani Isra`il. Maka Musa ingin memusnahkannya dalam keadaan mereka menyaksikannya dengan cara yang membuatnya tidak mungkin lagi dikembalikan ke wujudnya semula, yaitu dengan membakar dan menumbuknya serta menyebarkannya ke dalam laut dan menghamburkannya. Supaya cinta yang melekat pada hati mereka lenyap, sebagaimana wujud aslinya pun hilang. Sebab, membiarkannya tetap utuh akan menimbulkan fitnah. Pasalnya, di dalam jiwa terdapat bisikan kuat yang menyeru kepada kebatilan. Manakala sudah menjadi jelas kebatilannya bagi mereka, maka Musa memberitahukan kepada mereka tentang Dzat yang berhak disembah satu-satunya, tiada sekutu bagiNya. Musa berkata,

Taha 20:96

"Musa berkata, 'Apakah yang mendorongmu (berbuat demi-kian) hai Samiri?' Samiri menjawab, 'Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya. Dan demikianlah nafsuku membujukku.' Musa berkata, 'Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan, 'Janganlah menyentuh(ku).' Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Se-sungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)'." (Thaha: 95-97). (95-96) Ada apa denganmu wahai Samiri hingga berbuat apa yang telah engkau lakukan? Dia menjawab, ﴾ بَصُرۡتُ بِمَا لَمۡ يَبۡصُرُواْ بِهِۦ ﴿ "Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya," yaitu Jibril عليه السلام yang menunggang kuda. Ia sempat menyaksikan Jibril ketika mereka keluar dari laut dan tenggelamnya Fir'aun dan pasu-kannya, berdasarkan pada penjelasan para ulama tafsir.﴾ فَقَبَضۡتُ قَبۡضَةٗ مِّنۡ أَثَرِ ﴿ "Maka aku ambil segenggam dari jejak," telapak kaki kudanya. Lalu aku melemparkan genggaman itu pada anak sapi.﴾ وَكَذَٰلِكَ سَوَّلَتۡ لِي نَفۡسِي 96 ﴿ "Dan demikianlah nafsuku membujukku," agar aku menggenggamnya dan menyebarkannya. Maka jadilah apa yang telah terjadi. (97) Musa berkata, "Pergilah kamu." Maksudnya, menjauh-lah dariku dan menghindarlah dariku, ﴾ فَإِنَّ لَكَ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ أَن تَقُولَ لَا مِسَاسَۖ ﴿ "maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan, 'Janganlah menyentuh(ku)," maksudnya, engkau dikenai hukuman di dunia, berupa tidak boleh ada seorang pun yang mendekatimu atau menyentuhmu, bahkan (jika ada) orang yang ingin mendekatimu, niscaya kami mengatakan kepadanya, "Janganlah menyentuh dan mendekat kepadaku." Sebagai sanksi atas tindakannya, di mana dia menyentuh sesuatu yang tidak disen-tuh oleh selainnya dan mengadakan sesuatu yang tidak diadakan oleh orang lain. ﴾ وَإِنَّ لَكَ مَوۡعِدٗا لَّن تُخۡلَفَهُۥۖ ﴿ "Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya." Engkau diberi balasan atas amalanmu, yang baik dan yang buruk. ﴾ وَٱنظُرۡ إِلَىٰٓ إِلَٰهِكَ ٱلَّذِي ظَلۡتَ عَلَيۡهِ عَاكِفٗاۖ ﴿ "Dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya," yaitu anak sapi, ﴾ لَّنُحَرِّقَنَّهُۥ ثُمَّ لَنَنسِفَنَّهُۥ فِي ٱلۡيَمِّ نَسۡفًا 97 ﴿ "se-sungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)." Musa pun melakukannya. Sekiranya ia benar-benar tuhan, ia pasti dapat membela diri dari orang yang akan berniat mengganggunya dan berusaha menghancurkannya. Sungguh (kecintaan menyem-bah) anak sapi telah meresap pada hati Bani Isra`il. Maka Musa ingin memusnahkannya dalam keadaan mereka menyaksikannya dengan cara yang membuatnya tidak mungkin lagi dikembalikan ke wujudnya semula, yaitu dengan membakar dan menumbuknya serta menyebarkannya ke dalam laut dan menghamburkannya. Supaya cinta yang melekat pada hati mereka lenyap, sebagaimana wujud aslinya pun hilang. Sebab, membiarkannya tetap utuh akan menimbulkan fitnah. Pasalnya, di dalam jiwa terdapat bisikan kuat yang menyeru kepada kebatilan. Manakala sudah menjadi jelas kebatilannya bagi mereka, maka Musa memberitahukan kepada mereka tentang Dzat yang berhak disembah satu-satunya, tiada sekutu bagiNya. Musa berkata,

Taha 20:97

"Musa berkata, 'Apakah yang mendorongmu (berbuat demi-kian) hai Samiri?' Samiri menjawab, 'Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya. Dan demikianlah nafsuku membujukku.' Musa berkata, 'Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan, 'Janganlah menyentuh(ku).' Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Se-sungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)'." (Thaha: 95-97). (95-96) Ada apa denganmu wahai Samiri hingga berbuat apa yang telah engkau lakukan? Dia menjawab, ﴾ بَصُرۡتُ بِمَا لَمۡ يَبۡصُرُواْ بِهِۦ ﴿ "Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya," yaitu Jibril عليه السلام yang menunggang kuda. Ia sempat menyaksikan Jibril ketika mereka keluar dari laut dan tenggelamnya Fir'aun dan pasu-kannya, berdasarkan pada penjelasan para ulama tafsir.﴾ فَقَبَضۡتُ قَبۡضَةٗ مِّنۡ أَثَرِ ﴿ "Maka aku ambil segenggam dari jejak," telapak kaki kudanya. Lalu aku melemparkan genggaman itu pada anak sapi.﴾ وَكَذَٰلِكَ سَوَّلَتۡ لِي نَفۡسِي 96 ﴿ "Dan demikianlah nafsuku membujukku," agar aku menggenggamnya dan menyebarkannya. Maka jadilah apa yang telah terjadi. (97) Musa berkata, "Pergilah kamu." Maksudnya, menjauh-lah dariku dan menghindarlah dariku, ﴾ فَإِنَّ لَكَ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ أَن تَقُولَ لَا مِسَاسَۖ ﴿ "maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan, 'Janganlah menyentuh(ku)," maksudnya, engkau dikenai hukuman di dunia, berupa tidak boleh ada seorang pun yang mendekatimu atau menyentuhmu, bahkan (jika ada) orang yang ingin mendekatimu, niscaya kami mengatakan kepadanya, "Janganlah menyentuh dan mendekat kepadaku." Sebagai sanksi atas tindakannya, di mana dia menyentuh sesuatu yang tidak disen-tuh oleh selainnya dan mengadakan sesuatu yang tidak diadakan oleh orang lain. ﴾ وَإِنَّ لَكَ مَوۡعِدٗا لَّن تُخۡلَفَهُۥۖ ﴿ "Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya." Engkau diberi balasan atas amalanmu, yang baik dan yang buruk. ﴾ وَٱنظُرۡ إِلَىٰٓ إِلَٰهِكَ ٱلَّذِي ظَلۡتَ عَلَيۡهِ عَاكِفٗاۖ ﴿ "Dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya," yaitu anak sapi, ﴾ لَّنُحَرِّقَنَّهُۥ ثُمَّ لَنَنسِفَنَّهُۥ فِي ٱلۡيَمِّ نَسۡفًا 97 ﴿ "se-sungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)." Musa pun melakukannya. Sekiranya ia benar-benar tuhan, ia pasti dapat membela diri dari orang yang akan berniat mengganggunya dan berusaha menghancurkannya. Sungguh (kecintaan menyem-bah) anak sapi telah meresap pada hati Bani Isra`il. Maka Musa ingin memusnahkannya dalam keadaan mereka menyaksikannya dengan cara yang membuatnya tidak mungkin lagi dikembalikan ke wujudnya semula, yaitu dengan membakar dan menumbuknya serta menyebarkannya ke dalam laut dan menghamburkannya. Supaya cinta yang melekat pada hati mereka lenyap, sebagaimana wujud aslinya pun hilang. Sebab, membiarkannya tetap utuh akan menimbulkan fitnah. Pasalnya, di dalam jiwa terdapat bisikan kuat yang menyeru kepada kebatilan. Manakala sudah menjadi jelas kebatilannya bagi mereka, maka Musa memberitahukan kepada mereka tentang Dzat yang berhak disembah satu-satunya, tiada sekutu bagiNya. Musa berkata,

Taha 20:98

"Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. PengetahuanNya meli-puti segala sesuatu." (Thaha: 98). (98) Maksudnya, tidak ada sesembahan (yang berhak di-sembah) kecuali WajahNya Yang Mulia. Tidak boleh disembah, dicintai, diharap, ditakuti, diseru kecuali Dia. Dia-lah Dzat yang sempurna yang mempunyai nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang tinggi, yang ilmuNya meliputi segala sesuatu, yang tidak ada satu pun kenikmatan pada manusia melainkan (pasti) bersumber dariNya, tidak sanggup menyingkirkan kejelekan kecuali Dia. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah selainNya.

Taha 20:99

"Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) seba-gian kisah umat yang telah lalu, dan sungguh telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (al-Qur`an). Barang-siapa yang berpaling dari al-Qur`an, maka sesungguhnya dia akan memikul dosa yang besar di Hari Kiamat. Mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di Hari Kiamat." (Thaha: 99-101). (99) Allah تعالى mengabarkan kenikmatan yang dilimpahkan kepada NabiNya (Muhammad) dengan kisah-kisah yang Dia kisahkan kepada beliau tentang berita-berita orang-orang terdahulu dan kabar-kabar orang-orang di masa silam, semisal kisah yang agung ini, yang memuat hukum-hukum dan kandungan lainnya yang tidak diingkari oleh seorang pun dari kalangan Ahli Kitab. Padahal engkau (Muhammad) tidak pernah mempelajari cerita-cerita orang-orang dahulu dan belum pernah mengkaji dari orang yang mengetahuinya. Maka keteranganmu (dengan kebenaran yang yakin) mengenai kisah-kisah mereka itu menjadi dalil bahwa engkau adalah seorang utusan Allah yang sebenarnya dan risalah yang engkau bawa adalah benar. Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ وَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan sesungguh-nya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami," yaitu anugerah yang berharga, karunia yang agung dari sisi Kami, ﴾ ذِكۡرٗا ﴿ "suatu peri-ngatan," yaitu al-Qur`an yang mulia ini. Ia berisi kabar-kabar yang telah berlalu dan akan datang, ia merupakan pengingat nama dan sifat Allah yang sempurna, dan merupakan pengingat yang berguna untuk mengingat perintah, larangan dan hukum-hukum pembalas-an. Ini menjadi indikator bahwa al-Qur`an mencakup hukum yang terbaik yang telah diakui oleh akal-akal (sehat) dan fitrah-fitrah (yang lurus), dan diakui keindahan dan kesempurnaannya. Al-Qur`an ini (juga) menyebutkan kemampuan yang mana Allah memasukkannya padanya. Apabila al-Qur`an berfungsi sebagai peringatan bagi Rasul dan umatnya; maka ia wajib diterima dengan tulus dan pasrah, patuh dan pengagungan, dan dijadikan petunjuk dengan (pedoman) cahayanya menuju jalan yang lurus, serta me-nyikapinya dengan belajar dan mengajarkannya. (100) Adapun bentuk respons (kepadanya) dengan me-malingkan diri atau pengingkaran yang lebih parah kepadanya, maka tindakan itu merupakan kekufuran terhadap anugerah ini (al-Qur`an). Siapa saja yang melakukannya, maka dia pantas me-nerima hukuman. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ مَّنۡ أَعۡرَضَ عَنۡهُ ﴿ "Barang-siapa yang berpaling darinya (al-Qur`an)," tidak mengimaninya, atau menyepelekan perintah-perintah dan larangan-larangannya atau (menyepelekan untuk) mempelajari makna-makna yang wajib, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَحۡمِلُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وِزۡرًا 100 ﴿ "maka sesungguhnya dia akan memikul dosa yang besar di Hari Kiamat," yaitu dosanya yang mana dengan sebab itu, dia berpaling dari al-Qur`an. Utamanya sifat kekufuran dan anti-pati dengannya. (101) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهِۖ ﴿ "Mereka kekal di dalam keadaan itu," yaitu pada dosanya. Karena siksaan itu (disebabkan oleh) jenis amalan itu sendiri, yang berubah wujud menjadi azab bagi para pelakunya, sesuai dengan besar dan kecilnya. ﴾ وَسَآءَ لَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ حِمۡلٗا 101 ﴿ "Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di Hari Kiamat," maksud-nya, alangkah buruk beban yang mereka pikul dan siksaan yang diderakan kepada mereka di Hari Kiamat. Kemudian Allah mengalihkan tema pembicaraan, dengan menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat dan kengerian-kenge-riannya. Allah berfirman,

Taha 20:100

"Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) seba-gian kisah umat yang telah lalu, dan sungguh telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (al-Qur`an). Barang-siapa yang berpaling dari al-Qur`an, maka sesungguhnya dia akan memikul dosa yang besar di Hari Kiamat. Mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di Hari Kiamat." (Thaha: 99-101). (99) Allah تعالى mengabarkan kenikmatan yang dilimpahkan kepada NabiNya (Muhammad) dengan kisah-kisah yang Dia kisahkan kepada beliau tentang berita-berita orang-orang terdahulu dan kabar-kabar orang-orang di masa silam, semisal kisah yang agung ini, yang memuat hukum-hukum dan kandungan lainnya yang tidak diingkari oleh seorang pun dari kalangan Ahli Kitab. Padahal engkau (Muhammad) tidak pernah mempelajari cerita-cerita orang-orang dahulu dan belum pernah mengkaji dari orang yang mengetahuinya. Maka keteranganmu (dengan kebenaran yang yakin) mengenai kisah-kisah mereka itu menjadi dalil bahwa engkau adalah seorang utusan Allah yang sebenarnya dan risalah yang engkau bawa adalah benar. Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ وَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan sesungguh-nya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami," yaitu anugerah yang berharga, karunia yang agung dari sisi Kami, ﴾ ذِكۡرٗا ﴿ "suatu peri-ngatan," yaitu al-Qur`an yang mulia ini. Ia berisi kabar-kabar yang telah berlalu dan akan datang, ia merupakan pengingat nama dan sifat Allah yang sempurna, dan merupakan pengingat yang berguna untuk mengingat perintah, larangan dan hukum-hukum pembalas-an. Ini menjadi indikator bahwa al-Qur`an mencakup hukum yang terbaik yang telah diakui oleh akal-akal (sehat) dan fitrah-fitrah (yang lurus), dan diakui keindahan dan kesempurnaannya. Al-Qur`an ini (juga) menyebutkan kemampuan yang mana Allah memasukkannya padanya. Apabila al-Qur`an berfungsi sebagai peringatan bagi Rasul dan umatnya; maka ia wajib diterima dengan tulus dan pasrah, patuh dan pengagungan, dan dijadikan petunjuk dengan (pedoman) cahayanya menuju jalan yang lurus, serta me-nyikapinya dengan belajar dan mengajarkannya. (100) Adapun bentuk respons (kepadanya) dengan me-malingkan diri atau pengingkaran yang lebih parah kepadanya, maka tindakan itu merupakan kekufuran terhadap anugerah ini (al-Qur`an). Siapa saja yang melakukannya, maka dia pantas me-nerima hukuman. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ مَّنۡ أَعۡرَضَ عَنۡهُ ﴿ "Barang-siapa yang berpaling darinya (al-Qur`an)," tidak mengimaninya, atau menyepelekan perintah-perintah dan larangan-larangannya atau (menyepelekan untuk) mempelajari makna-makna yang wajib, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَحۡمِلُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وِزۡرًا 100 ﴿ "maka sesungguhnya dia akan memikul dosa yang besar di Hari Kiamat," yaitu dosanya yang mana dengan sebab itu, dia berpaling dari al-Qur`an. Utamanya sifat kekufuran dan anti-pati dengannya. (101) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهِۖ ﴿ "Mereka kekal di dalam keadaan itu," yaitu pada dosanya. Karena siksaan itu (disebabkan oleh) jenis amalan itu sendiri, yang berubah wujud menjadi azab bagi para pelakunya, sesuai dengan besar dan kecilnya. ﴾ وَسَآءَ لَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ حِمۡلٗا 101 ﴿ "Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di Hari Kiamat," maksud-nya, alangkah buruk beban yang mereka pikul dan siksaan yang diderakan kepada mereka di Hari Kiamat. Kemudian Allah mengalihkan tema pembicaraan, dengan menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat dan kengerian-kenge-riannya. Allah berfirman,

Taha 20:101

"Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) seba-gian kisah umat yang telah lalu, dan sungguh telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (al-Qur`an). Barang-siapa yang berpaling dari al-Qur`an, maka sesungguhnya dia akan memikul dosa yang besar di Hari Kiamat. Mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di Hari Kiamat." (Thaha: 99-101). (99) Allah تعالى mengabarkan kenikmatan yang dilimpahkan kepada NabiNya (Muhammad) dengan kisah-kisah yang Dia kisahkan kepada beliau tentang berita-berita orang-orang terdahulu dan kabar-kabar orang-orang di masa silam, semisal kisah yang agung ini, yang memuat hukum-hukum dan kandungan lainnya yang tidak diingkari oleh seorang pun dari kalangan Ahli Kitab. Padahal engkau (Muhammad) tidak pernah mempelajari cerita-cerita orang-orang dahulu dan belum pernah mengkaji dari orang yang mengetahuinya. Maka keteranganmu (dengan kebenaran yang yakin) mengenai kisah-kisah mereka itu menjadi dalil bahwa engkau adalah seorang utusan Allah yang sebenarnya dan risalah yang engkau bawa adalah benar. Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ وَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ مِن لَّدُنَّا ﴿ "Dan sesungguh-nya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami," yaitu anugerah yang berharga, karunia yang agung dari sisi Kami, ﴾ ذِكۡرٗا ﴿ "suatu peri-ngatan," yaitu al-Qur`an yang mulia ini. Ia berisi kabar-kabar yang telah berlalu dan akan datang, ia merupakan pengingat nama dan sifat Allah yang sempurna, dan merupakan pengingat yang berguna untuk mengingat perintah, larangan dan hukum-hukum pembalas-an. Ini menjadi indikator bahwa al-Qur`an mencakup hukum yang terbaik yang telah diakui oleh akal-akal (sehat) dan fitrah-fitrah (yang lurus), dan diakui keindahan dan kesempurnaannya. Al-Qur`an ini (juga) menyebutkan kemampuan yang mana Allah memasukkannya padanya. Apabila al-Qur`an berfungsi sebagai peringatan bagi Rasul dan umatnya; maka ia wajib diterima dengan tulus dan pasrah, patuh dan pengagungan, dan dijadikan petunjuk dengan (pedoman) cahayanya menuju jalan yang lurus, serta me-nyikapinya dengan belajar dan mengajarkannya. (100) Adapun bentuk respons (kepadanya) dengan me-malingkan diri atau pengingkaran yang lebih parah kepadanya, maka tindakan itu merupakan kekufuran terhadap anugerah ini (al-Qur`an). Siapa saja yang melakukannya, maka dia pantas me-nerima hukuman. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ مَّنۡ أَعۡرَضَ عَنۡهُ ﴿ "Barang-siapa yang berpaling darinya (al-Qur`an)," tidak mengimaninya, atau menyepelekan perintah-perintah dan larangan-larangannya atau (menyepelekan untuk) mempelajari makna-makna yang wajib, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَحۡمِلُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وِزۡرًا 100 ﴿ "maka sesungguhnya dia akan memikul dosa yang besar di Hari Kiamat," yaitu dosanya yang mana dengan sebab itu, dia berpaling dari al-Qur`an. Utamanya sifat kekufuran dan anti-pati dengannya. (101) ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهِۖ ﴿ "Mereka kekal di dalam keadaan itu," yaitu pada dosanya. Karena siksaan itu (disebabkan oleh) jenis amalan itu sendiri, yang berubah wujud menjadi azab bagi para pelakunya, sesuai dengan besar dan kecilnya. ﴾ وَسَآءَ لَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ حِمۡلٗا 101 ﴿ "Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di Hari Kiamat," maksud-nya, alangkah buruk beban yang mereka pikul dan siksaan yang diderakan kepada mereka di Hari Kiamat. Kemudian Allah mengalihkan tema pembicaraan, dengan menyebutkan kondisi-kondisi Hari Kiamat dan kengerian-kenge-riannya. Allah berfirman,

Taha 20:102

"(Yaitu) di hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru buram. Mereka berbisik-bisik di antara mereka, 'Kami tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepu-luh (hari).' Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika orang yang paling lurus jalannya di antara mereka berkata, 'Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanya sehari saja'." (Thaha: 102-104). (102-104) Maksudnya, jika sangkakala ditiup, dan orang-orang telah bangkit keluar dari kubur-kubur mereka, masing-masing sesuai dengan keadaannya. Orang-orang yang bertakwa dihimpun menuju Dzat Yang Maha Pemurah sebagai delegasi yang terhormat. Sedangkan orang-orang yang berbuat kedurhakaan, dikumpulkan dengan muka berwarna biru yang kusam karena dirundung keta-kutan, kegundahan, dan dahaga. Mereka saling berbicara lirih dan berbisik-bisik mengenai betapa pendeknya masa kehidupan di dunia dan alangkah cepatnya akhirat datang. Sebagian mereka berkata, "Tidaklah kalian berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)." Sebagian lagi menyebutkan bilangan lainnya. Allah Maha Mengetahui bisikan-bisikan mereka dan men-dengar apa yang mereka katakan, ﴾ إِذۡ يَقُولُ أَمۡثَلُهُمۡ طَرِيقَةً ﴿ "ketika orang yang paling lurus jalannya di antara mereka berkata," yaitu, orang yang paling adil dan paling dekat perkiraannya, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا يَوۡمٗا 104 ﴿ "Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanya sehari saja." Yang dimaksud di sini adalah kemunculan penyesalan yang sangat besar. Bagaimana mereka menyia-nyiakan waktu yang pendek, menghabiskannya dalam keadaan lalai, bermain-main, berpaling dari perkara-perkara yang bermanfaat bagi mereka, condong kepada hal-hal yang mem-bahayakan mereka. Inilah, sekarang telah datang waktu pemba-lasan (amalan), ancaman telah pasti, tidak ada yang tersisa kecuali penyesalan, umpatan celaka dan kebinasaan. Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ قَٰلَ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ 113 قَٰلَ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 114 ﴿ "Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung (dengan adil).' Allah berfirman, 'Tidaklah kamu tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sungguh telah mengetahui(nya)'." (Al-Mu`minun: 112-114).

Taha 20:103

"(Yaitu) di hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru buram. Mereka berbisik-bisik di antara mereka, 'Kami tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepu-luh (hari).' Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika orang yang paling lurus jalannya di antara mereka berkata, 'Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanya sehari saja'." (Thaha: 102-104). (102-104) Maksudnya, jika sangkakala ditiup, dan orang-orang telah bangkit keluar dari kubur-kubur mereka, masing-masing sesuai dengan keadaannya. Orang-orang yang bertakwa dihimpun menuju Dzat Yang Maha Pemurah sebagai delegasi yang terhormat. Sedangkan orang-orang yang berbuat kedurhakaan, dikumpulkan dengan muka berwarna biru yang kusam karena dirundung keta-kutan, kegundahan, dan dahaga. Mereka saling berbicara lirih dan berbisik-bisik mengenai betapa pendeknya masa kehidupan di dunia dan alangkah cepatnya akhirat datang. Sebagian mereka berkata, "Tidaklah kalian berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)." Sebagian lagi menyebutkan bilangan lainnya. Allah Maha Mengetahui bisikan-bisikan mereka dan men-dengar apa yang mereka katakan, ﴾ إِذۡ يَقُولُ أَمۡثَلُهُمۡ طَرِيقَةً ﴿ "ketika orang yang paling lurus jalannya di antara mereka berkata," yaitu, orang yang paling adil dan paling dekat perkiraannya, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا يَوۡمٗا 104 ﴿ "Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanya sehari saja." Yang dimaksud di sini adalah kemunculan penyesalan yang sangat besar. Bagaimana mereka menyia-nyiakan waktu yang pendek, menghabiskannya dalam keadaan lalai, bermain-main, berpaling dari perkara-perkara yang bermanfaat bagi mereka, condong kepada hal-hal yang mem-bahayakan mereka. Inilah, sekarang telah datang waktu pemba-lasan (amalan), ancaman telah pasti, tidak ada yang tersisa kecuali penyesalan, umpatan celaka dan kebinasaan. Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ قَٰلَ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ 113 قَٰلَ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 114 ﴿ "Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung (dengan adil).' Allah berfirman, 'Tidaklah kamu tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sungguh telah mengetahui(nya)'." (Al-Mu`minun: 112-114).

Taha 20:104

"(Yaitu) di hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru buram. Mereka berbisik-bisik di antara mereka, 'Kami tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepu-luh (hari).' Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika orang yang paling lurus jalannya di antara mereka berkata, 'Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanya sehari saja'." (Thaha: 102-104). (102-104) Maksudnya, jika sangkakala ditiup, dan orang-orang telah bangkit keluar dari kubur-kubur mereka, masing-masing sesuai dengan keadaannya. Orang-orang yang bertakwa dihimpun menuju Dzat Yang Maha Pemurah sebagai delegasi yang terhormat. Sedangkan orang-orang yang berbuat kedurhakaan, dikumpulkan dengan muka berwarna biru yang kusam karena dirundung keta-kutan, kegundahan, dan dahaga. Mereka saling berbicara lirih dan berbisik-bisik mengenai betapa pendeknya masa kehidupan di dunia dan alangkah cepatnya akhirat datang. Sebagian mereka berkata, "Tidaklah kalian berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)." Sebagian lagi menyebutkan bilangan lainnya. Allah Maha Mengetahui bisikan-bisikan mereka dan men-dengar apa yang mereka katakan, ﴾ إِذۡ يَقُولُ أَمۡثَلُهُمۡ طَرِيقَةً ﴿ "ketika orang yang paling lurus jalannya di antara mereka berkata," yaitu, orang yang paling adil dan paling dekat perkiraannya, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا يَوۡمٗا 104 ﴿ "Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanya sehari saja." Yang dimaksud di sini adalah kemunculan penyesalan yang sangat besar. Bagaimana mereka menyia-nyiakan waktu yang pendek, menghabiskannya dalam keadaan lalai, bermain-main, berpaling dari perkara-perkara yang bermanfaat bagi mereka, condong kepada hal-hal yang mem-bahayakan mereka. Inilah, sekarang telah datang waktu pemba-lasan (amalan), ancaman telah pasti, tidak ada yang tersisa kecuali penyesalan, umpatan celaka dan kebinasaan. Sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ قَٰلَ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ 113 قَٰلَ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 114 ﴿ "Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung (dengan adil).' Allah berfirman, 'Tidaklah kamu tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sungguh telah mengetahui(nya)'." (Al-Mu`minun: 112-114).

Taha 20:105

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.' Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru de-ngan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Dzat Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka, dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya. Dan tunduk-lah semua muka (dengan berendah diri) kepada Dzat Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhlukNya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang telah melakukan kezhaliman. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal-amal shalih dalam keadaan beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadap-nya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya." (Thaha: 105-112). (105-107) Allah تعالى memberitahukan tentang prahara-pra-hara Hari Kiamat beserta peristiwa gempa-gempa dan goncangan-goncangan. Allah berfirman, ﴾ وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡجِبَالِ ﴿ "Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung," yaitu apakah yang terjadi pada-nya di Hari Kiamat? Apakah utuh seperti semula atau tidak? ﴾ فَقُلۡ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسۡفٗا 105 ﴿ "Maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya'," maksudnya, melenyapkan dan mencabutnya dari tempat-tempatnya, sehingga ibarat bulu dan pasir-pasir. Kemudian Allah menumbuknya dan menjadikannya sebagai debu-debu yang beterbangan, semakin lama semakin ter-kikis dan sirna serta diratakan dengan permukaan tanah. Allah menjadikan bumi ﴾ قَاعٗا صَفۡصَفٗا 106 ﴿ "datar sama sekali," rata ﴾ لَّا تَرَىٰ فِيهَا ﴿ "tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya," wahai orang yang melihat ﴾ عِوَجٗا ﴿ "tempat yang rendah," ini bagian dari kesempur-naan datarnya bumi ﴾ وَلَآ أَمۡتٗا 107 ﴿ "dan yang tinggi-tinggi," maksud-nya, (tidak ada) lembah-lembah, tempat-tempat yang rendah, atau tinggi-tinggi. Maka permukaan bumi menjadi nampak, dan (luas-nya) memadai bagi seluruh umat manusia. Allah membentang-kannya sejauh permukaannya. Maka mereka pun berada di satu tempat. Dapat didengar oleh orang yang menyeru dan terlihat oleh pandangan. (108-110) Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَّبِعُونَ ٱلدَّاعِيَ ﴿ "Pada hari itu, manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru." Hal itu terjadi saat umat manusia dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan berdiri darinya. Lalu ada penyeru yang memanggil mereka untuk datang dan berkumpul di Mahsyar. Mereka meng-ikutinya dengan bergegas menuju kepadanya, tidak menoleh ke arah lain dan tidak berbelok ke kanan maupun ke kiri. Firman Allah ﴾ لَا عِوَجَ لَهُۥۖ ﴿ "Dengan tidak berbelok-belok," tidak memiringkan diri dari panggilan penyeru. Seruan (penyeru) itu betul-betul benar bagi seluruh makhluk, memperdengarkan (seruan) kepada semuanya dan berteriak kepada mereka semua. Mereka pun datang menuju tempat pengadilan Kiamat, dengan suara yang merendah kepada Rabb Yang Maha Pemurah. ﴾ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 ﴿ "Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja," selain suara pijakan kaki-kaki atau bisikan-bisikan dengan lirih dengan menggerakkan dua bibirnya saja. Suasana hening, tenang, dan diam menguasai mereka untuk menunggu keputusan hukum Allah Yang Maha Pemurah bagi mereka. Wajah-wajah mereka menunduk, maksudnya hina dan me-runduk. Engkau menyaksikan di tempat pengadilan yang agung ini orang-orang kaya, orang-orang miskin, kaum lelaki, kaum wa-nita, orang-orang merdeka, budak-budak, raja-raja dan rakyat jelata dalam keadaan diam, tutup mulut, pandangan mereka merendah, leher-leher mereka menunduk dengan berlutut, dan wajah-wajah mereka hina. Mereka tidak mengetahui keputusan pasti yang mengenainya, tidak tahu apa yang akan diperbuat pada mereka. Setiap orang sibuk dengan diri dan urusannya sendiri, melupakan ayahnya, saudara kandungnya, kawan akrabnya, dan orang kecin-taannya. Masing-masing orang memiliki urusan yang menyibuk-kannya. [Saat itulah] Dzat Yang Memutuskan lagi Mahaadil Yang Maha memiliki Hari Kiamat menetapkan keputusan padanya dan membalasi orang yang berbuat baik dengan curahan kebaikan dariNya, dan orang yang berbuat buruk dengan menghalangi(nya dari rahmatNya). Harapan yang terpancang pada Rabb yang Mahamulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, adalah untuk memperlihatkan kepada para makhluk sebagian dari keutamaan, kebaikan, maaf, toleransi, dan ampunan yang tidak bisa diungkapkan oleh lisan-lisan dan tidak dapat diimajinasikan oleh akal pikiran. Semua makhluk ketika itu menunggu-nunggu rahmatNya, ketika menyak-sikannya. Orang-orang yang beriman kepadaNya dan kepada para RasulNya mendapatkan rahmatNya secara khusus. Jika dikatakan, "Dari manakah kalian mendapatkan harapan ini?" Jika engkau mau, katakanlah "Dari manakah pengetahuan kalian tentang ini?" Maka kita katakan, "Karena kami mengetahuinya dari do-minannya rahmat Allah daripada kemurkaanNya, dan luasnya kemurahanNya yang merata pada semua makhluk, serta melalui apa yang kami saksikan pada diri-diri kami dan orang lain, berupa kenikmatan-kenikmatan yang melimpah di dunia ini. Terutama keutamaan yang ada di Hari Kiamat. Sesungguhnya Firman Allah, ﴾ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Dan semua suara tunduk merendah kepada Rabb Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik. Pada hari itu tidak berguna syafa'at (pertolongan) kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Rabb Yang Maha Pemurah," dipadukan dengan Firman Allah, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Dzat Yang Maha Pemurah." (Al-Furqan: 26), dipadukan dengan sabda Nabi ﷺ, إِنَّ لِلّٰهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ لِعِبَادِهِ رَحْمَةً، بِهَا يَتَرَاحَمُوْنَ وَيَتَعَاطَفُوْنَ، حَتَّى إِنَّ الْبَهِيْمَةَ تَرْفَعُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تَطَأَهُ. "Sesungguhnya Allah memiliki seratus buah rahmat. Dia menu-runkan satu rahmat bagi para hambaNya. Dengan itu, mereka saling menyayangi dan mengasihi. Bahkan seekor binatang mengangkat telapak kakinya dari anaknya lantaran takut akan menginjaknya"[32][Maksudnya] karena sifat sayang yang diletakkan di hatinya. Di Hari Kiamat, Allah menggabungkan rahmat ini dengan sembilan puluh sembilan rahmat. Dengan itu, Allah mencurahkan kasihNya pada para hambaNya. Ditambah lagi dengan sabda Rasulullah, لَلّٰهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنَ الْوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا. "Allah benar-benar lebih menyayangi para hambaNya daripada si ibu (ini) kepada anaknya."[33] Maka, katakanlah terserah kamu, tentang berapa besarnya rahmat Allah. Sesungguhnya rahmatNya akan lebih besar dari apa yang engkau katakan. Dan imajinasikanlah rahmat Allah pada level yang lebih besar sekehendakmu. Sesungguhnya rahmat Allah lebih besar dari apa yang engkau sampaikan. Mahasuci Allah yang mencurahkan rahmatNya dalam sifat keadilan dan penerapan hu-kumanNya. Sebagaimana Dia merahmati dalam bentuk keutamaan, kebaikan dan pahalaNya. Dan Mahatinggi (Allah) Dzat yang rah-matNya melingkupi segala sesuatu, kemurahanNya merata pada setiap makhluk hidup, dan Dzat Yang Mahakaya tiada membutuh-kan para hambaNya, Maha Penyayang kepada para hambaNya. Mereka itu membutuhkanNya selama-lamanya dalam seluruh kondisi mereka. Tidak mungkin mereka mengenyampingkanNya dalam sekejap mata. FirmanNya, ﴾ يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُۥ قَوۡلٗا 109 ﴿ "Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) dari orang yang (Allah) Yang Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya," maksudnya se-seorang tidak dapat memberikan syafa'at di sisiNya kecuali orang yang sudah diberi izin untuk mengeluarkan syafa'at. Dan Allah tidak mengeluarkan izin kecuali (diperuntukkan) bagi orang yang Dia ridhai ucapannya, maksudnya permohonan syafa'atnya, dari kalangan para nabi, para rasul, hamba-hambaNya yang dekat, bagi orang yang diridhai ucapan dan tindakannya. Yaitu orang Mukmin yang ikhlas. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada cara bagi siapa pun untuk meraih syafa'at dari siapa saja. (111-112) Di tempat Mahsyar, umat manusia tergolong-kan menjadi dua kelompok; orang-orang yang telah berbuat aniaya disebabkan kekufuran dan kejelekan mereka. Orang-orang ini tidak menjumpai kecuali sesal, terhalangi dari rahmat dan siksa yang pedih di Jahanam, serta kemurkaan Allah, Dzat Yang Maha me-miliki Hari Kiamat. Kelompok kedua: Orang-orang yang beriman dengan keimanan yang diperintahkan dan mengamalkan amalan shalih, yang wajib maupun yang sunnah. ﴾ فَلَا يَخَافُ ظُلۡمٗا ﴿ "Maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya)," yaitu penam-bahan pada kesalahan-kesalahannya ﴾ وَلَا هَضۡمٗا 112 ﴿ "dan tidak (pula) akan pengurangan haknya," pengurangan dari kebaikan-kebaikannya. Bahkan dosa-dosanya terampuni dan kekurangan-kekurangannya dibersihkan dan kebaikan-kebaikannya dilipatgandakan. ﴾ وَإِن تَكُ حَسَنَةٗ يُضَٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمٗا 40 ﴿ "Dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan meli-patgandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar." (An-Nisa`: 40).

Taha 20:106

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.' Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru de-ngan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Dzat Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka, dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya. Dan tunduk-lah semua muka (dengan berendah diri) kepada Dzat Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhlukNya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang telah melakukan kezhaliman. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal-amal shalih dalam keadaan beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadap-nya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya." (Thaha: 105-112). (105-107) Allah تعالى memberitahukan tentang prahara-pra-hara Hari Kiamat beserta peristiwa gempa-gempa dan goncangan-goncangan. Allah berfirman, ﴾ وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡجِبَالِ ﴿ "Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung," yaitu apakah yang terjadi pada-nya di Hari Kiamat? Apakah utuh seperti semula atau tidak? ﴾ فَقُلۡ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسۡفٗا 105 ﴿ "Maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya'," maksudnya, melenyapkan dan mencabutnya dari tempat-tempatnya, sehingga ibarat bulu dan pasir-pasir. Kemudian Allah menumbuknya dan menjadikannya sebagai debu-debu yang beterbangan, semakin lama semakin ter-kikis dan sirna serta diratakan dengan permukaan tanah. Allah menjadikan bumi ﴾ قَاعٗا صَفۡصَفٗا 106 ﴿ "datar sama sekali," rata ﴾ لَّا تَرَىٰ فِيهَا ﴿ "tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya," wahai orang yang melihat ﴾ عِوَجٗا ﴿ "tempat yang rendah," ini bagian dari kesempur-naan datarnya bumi ﴾ وَلَآ أَمۡتٗا 107 ﴿ "dan yang tinggi-tinggi," maksud-nya, (tidak ada) lembah-lembah, tempat-tempat yang rendah, atau tinggi-tinggi. Maka permukaan bumi menjadi nampak, dan (luas-nya) memadai bagi seluruh umat manusia. Allah membentang-kannya sejauh permukaannya. Maka mereka pun berada di satu tempat. Dapat didengar oleh orang yang menyeru dan terlihat oleh pandangan. (108-110) Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَّبِعُونَ ٱلدَّاعِيَ ﴿ "Pada hari itu, manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru." Hal itu terjadi saat umat manusia dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan berdiri darinya. Lalu ada penyeru yang memanggil mereka untuk datang dan berkumpul di Mahsyar. Mereka meng-ikutinya dengan bergegas menuju kepadanya, tidak menoleh ke arah lain dan tidak berbelok ke kanan maupun ke kiri. Firman Allah ﴾ لَا عِوَجَ لَهُۥۖ ﴿ "Dengan tidak berbelok-belok," tidak memiringkan diri dari panggilan penyeru. Seruan (penyeru) itu betul-betul benar bagi seluruh makhluk, memperdengarkan (seruan) kepada semuanya dan berteriak kepada mereka semua. Mereka pun datang menuju tempat pengadilan Kiamat, dengan suara yang merendah kepada Rabb Yang Maha Pemurah. ﴾ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 ﴿ "Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja," selain suara pijakan kaki-kaki atau bisikan-bisikan dengan lirih dengan menggerakkan dua bibirnya saja. Suasana hening, tenang, dan diam menguasai mereka untuk menunggu keputusan hukum Allah Yang Maha Pemurah bagi mereka. Wajah-wajah mereka menunduk, maksudnya hina dan me-runduk. Engkau menyaksikan di tempat pengadilan yang agung ini orang-orang kaya, orang-orang miskin, kaum lelaki, kaum wa-nita, orang-orang merdeka, budak-budak, raja-raja dan rakyat jelata dalam keadaan diam, tutup mulut, pandangan mereka merendah, leher-leher mereka menunduk dengan berlutut, dan wajah-wajah mereka hina. Mereka tidak mengetahui keputusan pasti yang mengenainya, tidak tahu apa yang akan diperbuat pada mereka. Setiap orang sibuk dengan diri dan urusannya sendiri, melupakan ayahnya, saudara kandungnya, kawan akrabnya, dan orang kecin-taannya. Masing-masing orang memiliki urusan yang menyibuk-kannya. [Saat itulah] Dzat Yang Memutuskan lagi Mahaadil Yang Maha memiliki Hari Kiamat menetapkan keputusan padanya dan membalasi orang yang berbuat baik dengan curahan kebaikan dariNya, dan orang yang berbuat buruk dengan menghalangi(nya dari rahmatNya). Harapan yang terpancang pada Rabb yang Mahamulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, adalah untuk memperlihatkan kepada para makhluk sebagian dari keutamaan, kebaikan, maaf, toleransi, dan ampunan yang tidak bisa diungkapkan oleh lisan-lisan dan tidak dapat diimajinasikan oleh akal pikiran. Semua makhluk ketika itu menunggu-nunggu rahmatNya, ketika menyak-sikannya. Orang-orang yang beriman kepadaNya dan kepada para RasulNya mendapatkan rahmatNya secara khusus. Jika dikatakan, "Dari manakah kalian mendapatkan harapan ini?" Jika engkau mau, katakanlah "Dari manakah pengetahuan kalian tentang ini?" Maka kita katakan, "Karena kami mengetahuinya dari do-minannya rahmat Allah daripada kemurkaanNya, dan luasnya kemurahanNya yang merata pada semua makhluk, serta melalui apa yang kami saksikan pada diri-diri kami dan orang lain, berupa kenikmatan-kenikmatan yang melimpah di dunia ini. Terutama keutamaan yang ada di Hari Kiamat. Sesungguhnya Firman Allah, ﴾ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Dan semua suara tunduk merendah kepada Rabb Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik. Pada hari itu tidak berguna syafa'at (pertolongan) kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Rabb Yang Maha Pemurah," dipadukan dengan Firman Allah, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Dzat Yang Maha Pemurah." (Al-Furqan: 26), dipadukan dengan sabda Nabi ﷺ, إِنَّ لِلّٰهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ لِعِبَادِهِ رَحْمَةً، بِهَا يَتَرَاحَمُوْنَ وَيَتَعَاطَفُوْنَ، حَتَّى إِنَّ الْبَهِيْمَةَ تَرْفَعُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تَطَأَهُ. "Sesungguhnya Allah memiliki seratus buah rahmat. Dia menu-runkan satu rahmat bagi para hambaNya. Dengan itu, mereka saling menyayangi dan mengasihi. Bahkan seekor binatang mengangkat telapak kakinya dari anaknya lantaran takut akan menginjaknya"[32][Maksudnya] karena sifat sayang yang diletakkan di hatinya. Di Hari Kiamat, Allah menggabungkan rahmat ini dengan sembilan puluh sembilan rahmat. Dengan itu, Allah mencurahkan kasihNya pada para hambaNya. Ditambah lagi dengan sabda Rasulullah, لَلّٰهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنَ الْوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا. "Allah benar-benar lebih menyayangi para hambaNya daripada si ibu (ini) kepada anaknya."[33] Maka, katakanlah terserah kamu, tentang berapa besarnya rahmat Allah. Sesungguhnya rahmatNya akan lebih besar dari apa yang engkau katakan. Dan imajinasikanlah rahmat Allah pada level yang lebih besar sekehendakmu. Sesungguhnya rahmat Allah lebih besar dari apa yang engkau sampaikan. Mahasuci Allah yang mencurahkan rahmatNya dalam sifat keadilan dan penerapan hu-kumanNya. Sebagaimana Dia merahmati dalam bentuk keutamaan, kebaikan dan pahalaNya. Dan Mahatinggi (Allah) Dzat yang rah-matNya melingkupi segala sesuatu, kemurahanNya merata pada setiap makhluk hidup, dan Dzat Yang Mahakaya tiada membutuh-kan para hambaNya, Maha Penyayang kepada para hambaNya. Mereka itu membutuhkanNya selama-lamanya dalam seluruh kondisi mereka. Tidak mungkin mereka mengenyampingkanNya dalam sekejap mata. FirmanNya, ﴾ يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُۥ قَوۡلٗا 109 ﴿ "Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) dari orang yang (Allah) Yang Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya," maksudnya se-seorang tidak dapat memberikan syafa'at di sisiNya kecuali orang yang sudah diberi izin untuk mengeluarkan syafa'at. Dan Allah tidak mengeluarkan izin kecuali (diperuntukkan) bagi orang yang Dia ridhai ucapannya, maksudnya permohonan syafa'atnya, dari kalangan para nabi, para rasul, hamba-hambaNya yang dekat, bagi orang yang diridhai ucapan dan tindakannya. Yaitu orang Mukmin yang ikhlas. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada cara bagi siapa pun untuk meraih syafa'at dari siapa saja. (111-112) Di tempat Mahsyar, umat manusia tergolong-kan menjadi dua kelompok; orang-orang yang telah berbuat aniaya disebabkan kekufuran dan kejelekan mereka. Orang-orang ini tidak menjumpai kecuali sesal, terhalangi dari rahmat dan siksa yang pedih di Jahanam, serta kemurkaan Allah, Dzat Yang Maha me-miliki Hari Kiamat. Kelompok kedua: Orang-orang yang beriman dengan keimanan yang diperintahkan dan mengamalkan amalan shalih, yang wajib maupun yang sunnah. ﴾ فَلَا يَخَافُ ظُلۡمٗا ﴿ "Maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya)," yaitu penam-bahan pada kesalahan-kesalahannya ﴾ وَلَا هَضۡمٗا 112 ﴿ "dan tidak (pula) akan pengurangan haknya," pengurangan dari kebaikan-kebaikannya. Bahkan dosa-dosanya terampuni dan kekurangan-kekurangannya dibersihkan dan kebaikan-kebaikannya dilipatgandakan. ﴾ وَإِن تَكُ حَسَنَةٗ يُضَٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمٗا 40 ﴿ "Dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan meli-patgandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar." (An-Nisa`: 40).

Taha 20:107

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.' Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru de-ngan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Dzat Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka, dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya. Dan tunduk-lah semua muka (dengan berendah diri) kepada Dzat Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhlukNya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang telah melakukan kezhaliman. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal-amal shalih dalam keadaan beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadap-nya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya." (Thaha: 105-112). (105-107) Allah تعالى memberitahukan tentang prahara-pra-hara Hari Kiamat beserta peristiwa gempa-gempa dan goncangan-goncangan. Allah berfirman, ﴾ وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡجِبَالِ ﴿ "Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung," yaitu apakah yang terjadi pada-nya di Hari Kiamat? Apakah utuh seperti semula atau tidak? ﴾ فَقُلۡ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسۡفٗا 105 ﴿ "Maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya'," maksudnya, melenyapkan dan mencabutnya dari tempat-tempatnya, sehingga ibarat bulu dan pasir-pasir. Kemudian Allah menumbuknya dan menjadikannya sebagai debu-debu yang beterbangan, semakin lama semakin ter-kikis dan sirna serta diratakan dengan permukaan tanah. Allah menjadikan bumi ﴾ قَاعٗا صَفۡصَفٗا 106 ﴿ "datar sama sekali," rata ﴾ لَّا تَرَىٰ فِيهَا ﴿ "tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya," wahai orang yang melihat ﴾ عِوَجٗا ﴿ "tempat yang rendah," ini bagian dari kesempur-naan datarnya bumi ﴾ وَلَآ أَمۡتٗا 107 ﴿ "dan yang tinggi-tinggi," maksud-nya, (tidak ada) lembah-lembah, tempat-tempat yang rendah, atau tinggi-tinggi. Maka permukaan bumi menjadi nampak, dan (luas-nya) memadai bagi seluruh umat manusia. Allah membentang-kannya sejauh permukaannya. Maka mereka pun berada di satu tempat. Dapat didengar oleh orang yang menyeru dan terlihat oleh pandangan. (108-110) Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَّبِعُونَ ٱلدَّاعِيَ ﴿ "Pada hari itu, manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru." Hal itu terjadi saat umat manusia dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan berdiri darinya. Lalu ada penyeru yang memanggil mereka untuk datang dan berkumpul di Mahsyar. Mereka meng-ikutinya dengan bergegas menuju kepadanya, tidak menoleh ke arah lain dan tidak berbelok ke kanan maupun ke kiri. Firman Allah ﴾ لَا عِوَجَ لَهُۥۖ ﴿ "Dengan tidak berbelok-belok," tidak memiringkan diri dari panggilan penyeru. Seruan (penyeru) itu betul-betul benar bagi seluruh makhluk, memperdengarkan (seruan) kepada semuanya dan berteriak kepada mereka semua. Mereka pun datang menuju tempat pengadilan Kiamat, dengan suara yang merendah kepada Rabb Yang Maha Pemurah. ﴾ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 ﴿ "Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja," selain suara pijakan kaki-kaki atau bisikan-bisikan dengan lirih dengan menggerakkan dua bibirnya saja. Suasana hening, tenang, dan diam menguasai mereka untuk menunggu keputusan hukum Allah Yang Maha Pemurah bagi mereka. Wajah-wajah mereka menunduk, maksudnya hina dan me-runduk. Engkau menyaksikan di tempat pengadilan yang agung ini orang-orang kaya, orang-orang miskin, kaum lelaki, kaum wa-nita, orang-orang merdeka, budak-budak, raja-raja dan rakyat jelata dalam keadaan diam, tutup mulut, pandangan mereka merendah, leher-leher mereka menunduk dengan berlutut, dan wajah-wajah mereka hina. Mereka tidak mengetahui keputusan pasti yang mengenainya, tidak tahu apa yang akan diperbuat pada mereka. Setiap orang sibuk dengan diri dan urusannya sendiri, melupakan ayahnya, saudara kandungnya, kawan akrabnya, dan orang kecin-taannya. Masing-masing orang memiliki urusan yang menyibuk-kannya. [Saat itulah] Dzat Yang Memutuskan lagi Mahaadil Yang Maha memiliki Hari Kiamat menetapkan keputusan padanya dan membalasi orang yang berbuat baik dengan curahan kebaikan dariNya, dan orang yang berbuat buruk dengan menghalangi(nya dari rahmatNya). Harapan yang terpancang pada Rabb yang Mahamulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, adalah untuk memperlihatkan kepada para makhluk sebagian dari keutamaan, kebaikan, maaf, toleransi, dan ampunan yang tidak bisa diungkapkan oleh lisan-lisan dan tidak dapat diimajinasikan oleh akal pikiran. Semua makhluk ketika itu menunggu-nunggu rahmatNya, ketika menyak-sikannya. Orang-orang yang beriman kepadaNya dan kepada para RasulNya mendapatkan rahmatNya secara khusus. Jika dikatakan, "Dari manakah kalian mendapatkan harapan ini?" Jika engkau mau, katakanlah "Dari manakah pengetahuan kalian tentang ini?" Maka kita katakan, "Karena kami mengetahuinya dari do-minannya rahmat Allah daripada kemurkaanNya, dan luasnya kemurahanNya yang merata pada semua makhluk, serta melalui apa yang kami saksikan pada diri-diri kami dan orang lain, berupa kenikmatan-kenikmatan yang melimpah di dunia ini. Terutama keutamaan yang ada di Hari Kiamat. Sesungguhnya Firman Allah, ﴾ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Dan semua suara tunduk merendah kepada Rabb Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik. Pada hari itu tidak berguna syafa'at (pertolongan) kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Rabb Yang Maha Pemurah," dipadukan dengan Firman Allah, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Dzat Yang Maha Pemurah." (Al-Furqan: 26), dipadukan dengan sabda Nabi ﷺ, إِنَّ لِلّٰهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ لِعِبَادِهِ رَحْمَةً، بِهَا يَتَرَاحَمُوْنَ وَيَتَعَاطَفُوْنَ، حَتَّى إِنَّ الْبَهِيْمَةَ تَرْفَعُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تَطَأَهُ. "Sesungguhnya Allah memiliki seratus buah rahmat. Dia menu-runkan satu rahmat bagi para hambaNya. Dengan itu, mereka saling menyayangi dan mengasihi. Bahkan seekor binatang mengangkat telapak kakinya dari anaknya lantaran takut akan menginjaknya"[32][Maksudnya] karena sifat sayang yang diletakkan di hatinya. Di Hari Kiamat, Allah menggabungkan rahmat ini dengan sembilan puluh sembilan rahmat. Dengan itu, Allah mencurahkan kasihNya pada para hambaNya. Ditambah lagi dengan sabda Rasulullah, لَلّٰهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنَ الْوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا. "Allah benar-benar lebih menyayangi para hambaNya daripada si ibu (ini) kepada anaknya."[33] Maka, katakanlah terserah kamu, tentang berapa besarnya rahmat Allah. Sesungguhnya rahmatNya akan lebih besar dari apa yang engkau katakan. Dan imajinasikanlah rahmat Allah pada level yang lebih besar sekehendakmu. Sesungguhnya rahmat Allah lebih besar dari apa yang engkau sampaikan. Mahasuci Allah yang mencurahkan rahmatNya dalam sifat keadilan dan penerapan hu-kumanNya. Sebagaimana Dia merahmati dalam bentuk keutamaan, kebaikan dan pahalaNya. Dan Mahatinggi (Allah) Dzat yang rah-matNya melingkupi segala sesuatu, kemurahanNya merata pada setiap makhluk hidup, dan Dzat Yang Mahakaya tiada membutuh-kan para hambaNya, Maha Penyayang kepada para hambaNya. Mereka itu membutuhkanNya selama-lamanya dalam seluruh kondisi mereka. Tidak mungkin mereka mengenyampingkanNya dalam sekejap mata. FirmanNya, ﴾ يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُۥ قَوۡلٗا 109 ﴿ "Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) dari orang yang (Allah) Yang Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya," maksudnya se-seorang tidak dapat memberikan syafa'at di sisiNya kecuali orang yang sudah diberi izin untuk mengeluarkan syafa'at. Dan Allah tidak mengeluarkan izin kecuali (diperuntukkan) bagi orang yang Dia ridhai ucapannya, maksudnya permohonan syafa'atnya, dari kalangan para nabi, para rasul, hamba-hambaNya yang dekat, bagi orang yang diridhai ucapan dan tindakannya. Yaitu orang Mukmin yang ikhlas. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada cara bagi siapa pun untuk meraih syafa'at dari siapa saja. (111-112) Di tempat Mahsyar, umat manusia tergolong-kan menjadi dua kelompok; orang-orang yang telah berbuat aniaya disebabkan kekufuran dan kejelekan mereka. Orang-orang ini tidak menjumpai kecuali sesal, terhalangi dari rahmat dan siksa yang pedih di Jahanam, serta kemurkaan Allah, Dzat Yang Maha me-miliki Hari Kiamat. Kelompok kedua: Orang-orang yang beriman dengan keimanan yang diperintahkan dan mengamalkan amalan shalih, yang wajib maupun yang sunnah. ﴾ فَلَا يَخَافُ ظُلۡمٗا ﴿ "Maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya)," yaitu penam-bahan pada kesalahan-kesalahannya ﴾ وَلَا هَضۡمٗا 112 ﴿ "dan tidak (pula) akan pengurangan haknya," pengurangan dari kebaikan-kebaikannya. Bahkan dosa-dosanya terampuni dan kekurangan-kekurangannya dibersihkan dan kebaikan-kebaikannya dilipatgandakan. ﴾ وَإِن تَكُ حَسَنَةٗ يُضَٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمٗا 40 ﴿ "Dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan meli-patgandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar." (An-Nisa`: 40).

Taha 20:108

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.' Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru de-ngan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Dzat Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka, dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya. Dan tunduk-lah semua muka (dengan berendah diri) kepada Dzat Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhlukNya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang telah melakukan kezhaliman. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal-amal shalih dalam keadaan beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadap-nya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya." (Thaha: 105-112). (105-107) Allah تعالى memberitahukan tentang prahara-pra-hara Hari Kiamat beserta peristiwa gempa-gempa dan goncangan-goncangan. Allah berfirman, ﴾ وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡجِبَالِ ﴿ "Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung," yaitu apakah yang terjadi pada-nya di Hari Kiamat? Apakah utuh seperti semula atau tidak? ﴾ فَقُلۡ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسۡفٗا 105 ﴿ "Maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya'," maksudnya, melenyapkan dan mencabutnya dari tempat-tempatnya, sehingga ibarat bulu dan pasir-pasir. Kemudian Allah menumbuknya dan menjadikannya sebagai debu-debu yang beterbangan, semakin lama semakin ter-kikis dan sirna serta diratakan dengan permukaan tanah. Allah menjadikan bumi ﴾ قَاعٗا صَفۡصَفٗا 106 ﴿ "datar sama sekali," rata ﴾ لَّا تَرَىٰ فِيهَا ﴿ "tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya," wahai orang yang melihat ﴾ عِوَجٗا ﴿ "tempat yang rendah," ini bagian dari kesempur-naan datarnya bumi ﴾ وَلَآ أَمۡتٗا 107 ﴿ "dan yang tinggi-tinggi," maksud-nya, (tidak ada) lembah-lembah, tempat-tempat yang rendah, atau tinggi-tinggi. Maka permukaan bumi menjadi nampak, dan (luas-nya) memadai bagi seluruh umat manusia. Allah membentang-kannya sejauh permukaannya. Maka mereka pun berada di satu tempat. Dapat didengar oleh orang yang menyeru dan terlihat oleh pandangan. (108-110) Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَّبِعُونَ ٱلدَّاعِيَ ﴿ "Pada hari itu, manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru." Hal itu terjadi saat umat manusia dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan berdiri darinya. Lalu ada penyeru yang memanggil mereka untuk datang dan berkumpul di Mahsyar. Mereka meng-ikutinya dengan bergegas menuju kepadanya, tidak menoleh ke arah lain dan tidak berbelok ke kanan maupun ke kiri. Firman Allah ﴾ لَا عِوَجَ لَهُۥۖ ﴿ "Dengan tidak berbelok-belok," tidak memiringkan diri dari panggilan penyeru. Seruan (penyeru) itu betul-betul benar bagi seluruh makhluk, memperdengarkan (seruan) kepada semuanya dan berteriak kepada mereka semua. Mereka pun datang menuju tempat pengadilan Kiamat, dengan suara yang merendah kepada Rabb Yang Maha Pemurah. ﴾ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 ﴿ "Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja," selain suara pijakan kaki-kaki atau bisikan-bisikan dengan lirih dengan menggerakkan dua bibirnya saja. Suasana hening, tenang, dan diam menguasai mereka untuk menunggu keputusan hukum Allah Yang Maha Pemurah bagi mereka. Wajah-wajah mereka menunduk, maksudnya hina dan me-runduk. Engkau menyaksikan di tempat pengadilan yang agung ini orang-orang kaya, orang-orang miskin, kaum lelaki, kaum wa-nita, orang-orang merdeka, budak-budak, raja-raja dan rakyat jelata dalam keadaan diam, tutup mulut, pandangan mereka merendah, leher-leher mereka menunduk dengan berlutut, dan wajah-wajah mereka hina. Mereka tidak mengetahui keputusan pasti yang mengenainya, tidak tahu apa yang akan diperbuat pada mereka. Setiap orang sibuk dengan diri dan urusannya sendiri, melupakan ayahnya, saudara kandungnya, kawan akrabnya, dan orang kecin-taannya. Masing-masing orang memiliki urusan yang menyibuk-kannya. [Saat itulah] Dzat Yang Memutuskan lagi Mahaadil Yang Maha memiliki Hari Kiamat menetapkan keputusan padanya dan membalasi orang yang berbuat baik dengan curahan kebaikan dariNya, dan orang yang berbuat buruk dengan menghalangi(nya dari rahmatNya). Harapan yang terpancang pada Rabb yang Mahamulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, adalah untuk memperlihatkan kepada para makhluk sebagian dari keutamaan, kebaikan, maaf, toleransi, dan ampunan yang tidak bisa diungkapkan oleh lisan-lisan dan tidak dapat diimajinasikan oleh akal pikiran. Semua makhluk ketika itu menunggu-nunggu rahmatNya, ketika menyak-sikannya. Orang-orang yang beriman kepadaNya dan kepada para RasulNya mendapatkan rahmatNya secara khusus. Jika dikatakan, "Dari manakah kalian mendapatkan harapan ini?" Jika engkau mau, katakanlah "Dari manakah pengetahuan kalian tentang ini?" Maka kita katakan, "Karena kami mengetahuinya dari do-minannya rahmat Allah daripada kemurkaanNya, dan luasnya kemurahanNya yang merata pada semua makhluk, serta melalui apa yang kami saksikan pada diri-diri kami dan orang lain, berupa kenikmatan-kenikmatan yang melimpah di dunia ini. Terutama keutamaan yang ada di Hari Kiamat. Sesungguhnya Firman Allah, ﴾ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Dan semua suara tunduk merendah kepada Rabb Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik. Pada hari itu tidak berguna syafa'at (pertolongan) kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Rabb Yang Maha Pemurah," dipadukan dengan Firman Allah, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Dzat Yang Maha Pemurah." (Al-Furqan: 26), dipadukan dengan sabda Nabi ﷺ, إِنَّ لِلّٰهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ لِعِبَادِهِ رَحْمَةً، بِهَا يَتَرَاحَمُوْنَ وَيَتَعَاطَفُوْنَ، حَتَّى إِنَّ الْبَهِيْمَةَ تَرْفَعُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تَطَأَهُ. "Sesungguhnya Allah memiliki seratus buah rahmat. Dia menu-runkan satu rahmat bagi para hambaNya. Dengan itu, mereka saling menyayangi dan mengasihi. Bahkan seekor binatang mengangkat telapak kakinya dari anaknya lantaran takut akan menginjaknya"[32][Maksudnya] karena sifat sayang yang diletakkan di hatinya. Di Hari Kiamat, Allah menggabungkan rahmat ini dengan sembilan puluh sembilan rahmat. Dengan itu, Allah mencurahkan kasihNya pada para hambaNya. Ditambah lagi dengan sabda Rasulullah, لَلّٰهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنَ الْوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا. "Allah benar-benar lebih menyayangi para hambaNya daripada si ibu (ini) kepada anaknya."[33] Maka, katakanlah terserah kamu, tentang berapa besarnya rahmat Allah. Sesungguhnya rahmatNya akan lebih besar dari apa yang engkau katakan. Dan imajinasikanlah rahmat Allah pada level yang lebih besar sekehendakmu. Sesungguhnya rahmat Allah lebih besar dari apa yang engkau sampaikan. Mahasuci Allah yang mencurahkan rahmatNya dalam sifat keadilan dan penerapan hu-kumanNya. Sebagaimana Dia merahmati dalam bentuk keutamaan, kebaikan dan pahalaNya. Dan Mahatinggi (Allah) Dzat yang rah-matNya melingkupi segala sesuatu, kemurahanNya merata pada setiap makhluk hidup, dan Dzat Yang Mahakaya tiada membutuh-kan para hambaNya, Maha Penyayang kepada para hambaNya. Mereka itu membutuhkanNya selama-lamanya dalam seluruh kondisi mereka. Tidak mungkin mereka mengenyampingkanNya dalam sekejap mata. FirmanNya, ﴾ يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُۥ قَوۡلٗا 109 ﴿ "Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) dari orang yang (Allah) Yang Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya," maksudnya se-seorang tidak dapat memberikan syafa'at di sisiNya kecuali orang yang sudah diberi izin untuk mengeluarkan syafa'at. Dan Allah tidak mengeluarkan izin kecuali (diperuntukkan) bagi orang yang Dia ridhai ucapannya, maksudnya permohonan syafa'atnya, dari kalangan para nabi, para rasul, hamba-hambaNya yang dekat, bagi orang yang diridhai ucapan dan tindakannya. Yaitu orang Mukmin yang ikhlas. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada cara bagi siapa pun untuk meraih syafa'at dari siapa saja. (111-112) Di tempat Mahsyar, umat manusia tergolong-kan menjadi dua kelompok; orang-orang yang telah berbuat aniaya disebabkan kekufuran dan kejelekan mereka. Orang-orang ini tidak menjumpai kecuali sesal, terhalangi dari rahmat dan siksa yang pedih di Jahanam, serta kemurkaan Allah, Dzat Yang Maha me-miliki Hari Kiamat. Kelompok kedua: Orang-orang yang beriman dengan keimanan yang diperintahkan dan mengamalkan amalan shalih, yang wajib maupun yang sunnah. ﴾ فَلَا يَخَافُ ظُلۡمٗا ﴿ "Maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya)," yaitu penam-bahan pada kesalahan-kesalahannya ﴾ وَلَا هَضۡمٗا 112 ﴿ "dan tidak (pula) akan pengurangan haknya," pengurangan dari kebaikan-kebaikannya. Bahkan dosa-dosanya terampuni dan kekurangan-kekurangannya dibersihkan dan kebaikan-kebaikannya dilipatgandakan. ﴾ وَإِن تَكُ حَسَنَةٗ يُضَٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمٗا 40 ﴿ "Dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan meli-patgandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar." (An-Nisa`: 40).

Taha 20:109

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.' Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru de-ngan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Dzat Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka, dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya. Dan tunduk-lah semua muka (dengan berendah diri) kepada Dzat Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhlukNya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang telah melakukan kezhaliman. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal-amal shalih dalam keadaan beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadap-nya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya." (Thaha: 105-112). (105-107) Allah تعالى memberitahukan tentang prahara-pra-hara Hari Kiamat beserta peristiwa gempa-gempa dan goncangan-goncangan. Allah berfirman, ﴾ وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡجِبَالِ ﴿ "Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung," yaitu apakah yang terjadi pada-nya di Hari Kiamat? Apakah utuh seperti semula atau tidak? ﴾ فَقُلۡ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسۡفٗا 105 ﴿ "Maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya'," maksudnya, melenyapkan dan mencabutnya dari tempat-tempatnya, sehingga ibarat bulu dan pasir-pasir. Kemudian Allah menumbuknya dan menjadikannya sebagai debu-debu yang beterbangan, semakin lama semakin ter-kikis dan sirna serta diratakan dengan permukaan tanah. Allah menjadikan bumi ﴾ قَاعٗا صَفۡصَفٗا 106 ﴿ "datar sama sekali," rata ﴾ لَّا تَرَىٰ فِيهَا ﴿ "tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya," wahai orang yang melihat ﴾ عِوَجٗا ﴿ "tempat yang rendah," ini bagian dari kesempur-naan datarnya bumi ﴾ وَلَآ أَمۡتٗا 107 ﴿ "dan yang tinggi-tinggi," maksud-nya, (tidak ada) lembah-lembah, tempat-tempat yang rendah, atau tinggi-tinggi. Maka permukaan bumi menjadi nampak, dan (luas-nya) memadai bagi seluruh umat manusia. Allah membentang-kannya sejauh permukaannya. Maka mereka pun berada di satu tempat. Dapat didengar oleh orang yang menyeru dan terlihat oleh pandangan. (108-110) Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَّبِعُونَ ٱلدَّاعِيَ ﴿ "Pada hari itu, manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru." Hal itu terjadi saat umat manusia dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan berdiri darinya. Lalu ada penyeru yang memanggil mereka untuk datang dan berkumpul di Mahsyar. Mereka meng-ikutinya dengan bergegas menuju kepadanya, tidak menoleh ke arah lain dan tidak berbelok ke kanan maupun ke kiri. Firman Allah ﴾ لَا عِوَجَ لَهُۥۖ ﴿ "Dengan tidak berbelok-belok," tidak memiringkan diri dari panggilan penyeru. Seruan (penyeru) itu betul-betul benar bagi seluruh makhluk, memperdengarkan (seruan) kepada semuanya dan berteriak kepada mereka semua. Mereka pun datang menuju tempat pengadilan Kiamat, dengan suara yang merendah kepada Rabb Yang Maha Pemurah. ﴾ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 ﴿ "Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja," selain suara pijakan kaki-kaki atau bisikan-bisikan dengan lirih dengan menggerakkan dua bibirnya saja. Suasana hening, tenang, dan diam menguasai mereka untuk menunggu keputusan hukum Allah Yang Maha Pemurah bagi mereka. Wajah-wajah mereka menunduk, maksudnya hina dan me-runduk. Engkau menyaksikan di tempat pengadilan yang agung ini orang-orang kaya, orang-orang miskin, kaum lelaki, kaum wa-nita, orang-orang merdeka, budak-budak, raja-raja dan rakyat jelata dalam keadaan diam, tutup mulut, pandangan mereka merendah, leher-leher mereka menunduk dengan berlutut, dan wajah-wajah mereka hina. Mereka tidak mengetahui keputusan pasti yang mengenainya, tidak tahu apa yang akan diperbuat pada mereka. Setiap orang sibuk dengan diri dan urusannya sendiri, melupakan ayahnya, saudara kandungnya, kawan akrabnya, dan orang kecin-taannya. Masing-masing orang memiliki urusan yang menyibuk-kannya. [Saat itulah] Dzat Yang Memutuskan lagi Mahaadil Yang Maha memiliki Hari Kiamat menetapkan keputusan padanya dan membalasi orang yang berbuat baik dengan curahan kebaikan dariNya, dan orang yang berbuat buruk dengan menghalangi(nya dari rahmatNya). Harapan yang terpancang pada Rabb yang Mahamulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, adalah untuk memperlihatkan kepada para makhluk sebagian dari keutamaan, kebaikan, maaf, toleransi, dan ampunan yang tidak bisa diungkapkan oleh lisan-lisan dan tidak dapat diimajinasikan oleh akal pikiran. Semua makhluk ketika itu menunggu-nunggu rahmatNya, ketika menyak-sikannya. Orang-orang yang beriman kepadaNya dan kepada para RasulNya mendapatkan rahmatNya secara khusus. Jika dikatakan, "Dari manakah kalian mendapatkan harapan ini?" Jika engkau mau, katakanlah "Dari manakah pengetahuan kalian tentang ini?" Maka kita katakan, "Karena kami mengetahuinya dari do-minannya rahmat Allah daripada kemurkaanNya, dan luasnya kemurahanNya yang merata pada semua makhluk, serta melalui apa yang kami saksikan pada diri-diri kami dan orang lain, berupa kenikmatan-kenikmatan yang melimpah di dunia ini. Terutama keutamaan yang ada di Hari Kiamat. Sesungguhnya Firman Allah, ﴾ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Dan semua suara tunduk merendah kepada Rabb Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik. Pada hari itu tidak berguna syafa'at (pertolongan) kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Rabb Yang Maha Pemurah," dipadukan dengan Firman Allah, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Dzat Yang Maha Pemurah." (Al-Furqan: 26), dipadukan dengan sabda Nabi ﷺ, إِنَّ لِلّٰهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ لِعِبَادِهِ رَحْمَةً، بِهَا يَتَرَاحَمُوْنَ وَيَتَعَاطَفُوْنَ، حَتَّى إِنَّ الْبَهِيْمَةَ تَرْفَعُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تَطَأَهُ. "Sesungguhnya Allah memiliki seratus buah rahmat. Dia menu-runkan satu rahmat bagi para hambaNya. Dengan itu, mereka saling menyayangi dan mengasihi. Bahkan seekor binatang mengangkat telapak kakinya dari anaknya lantaran takut akan menginjaknya"[32][Maksudnya] karena sifat sayang yang diletakkan di hatinya. Di Hari Kiamat, Allah menggabungkan rahmat ini dengan sembilan puluh sembilan rahmat. Dengan itu, Allah mencurahkan kasihNya pada para hambaNya. Ditambah lagi dengan sabda Rasulullah, لَلّٰهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنَ الْوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا. "Allah benar-benar lebih menyayangi para hambaNya daripada si ibu (ini) kepada anaknya."[33] Maka, katakanlah terserah kamu, tentang berapa besarnya rahmat Allah. Sesungguhnya rahmatNya akan lebih besar dari apa yang engkau katakan. Dan imajinasikanlah rahmat Allah pada level yang lebih besar sekehendakmu. Sesungguhnya rahmat Allah lebih besar dari apa yang engkau sampaikan. Mahasuci Allah yang mencurahkan rahmatNya dalam sifat keadilan dan penerapan hu-kumanNya. Sebagaimana Dia merahmati dalam bentuk keutamaan, kebaikan dan pahalaNya. Dan Mahatinggi (Allah) Dzat yang rah-matNya melingkupi segala sesuatu, kemurahanNya merata pada setiap makhluk hidup, dan Dzat Yang Mahakaya tiada membutuh-kan para hambaNya, Maha Penyayang kepada para hambaNya. Mereka itu membutuhkanNya selama-lamanya dalam seluruh kondisi mereka. Tidak mungkin mereka mengenyampingkanNya dalam sekejap mata. FirmanNya, ﴾ يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُۥ قَوۡلٗا 109 ﴿ "Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) dari orang yang (Allah) Yang Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya," maksudnya se-seorang tidak dapat memberikan syafa'at di sisiNya kecuali orang yang sudah diberi izin untuk mengeluarkan syafa'at. Dan Allah tidak mengeluarkan izin kecuali (diperuntukkan) bagi orang yang Dia ridhai ucapannya, maksudnya permohonan syafa'atnya, dari kalangan para nabi, para rasul, hamba-hambaNya yang dekat, bagi orang yang diridhai ucapan dan tindakannya. Yaitu orang Mukmin yang ikhlas. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada cara bagi siapa pun untuk meraih syafa'at dari siapa saja. (111-112) Di tempat Mahsyar, umat manusia tergolong-kan menjadi dua kelompok; orang-orang yang telah berbuat aniaya disebabkan kekufuran dan kejelekan mereka. Orang-orang ini tidak menjumpai kecuali sesal, terhalangi dari rahmat dan siksa yang pedih di Jahanam, serta kemurkaan Allah, Dzat Yang Maha me-miliki Hari Kiamat. Kelompok kedua: Orang-orang yang beriman dengan keimanan yang diperintahkan dan mengamalkan amalan shalih, yang wajib maupun yang sunnah. ﴾ فَلَا يَخَافُ ظُلۡمٗا ﴿ "Maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya)," yaitu penam-bahan pada kesalahan-kesalahannya ﴾ وَلَا هَضۡمٗا 112 ﴿ "dan tidak (pula) akan pengurangan haknya," pengurangan dari kebaikan-kebaikannya. Bahkan dosa-dosanya terampuni dan kekurangan-kekurangannya dibersihkan dan kebaikan-kebaikannya dilipatgandakan. ﴾ وَإِن تَكُ حَسَنَةٗ يُضَٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمٗا 40 ﴿ "Dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan meli-patgandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar." (An-Nisa`: 40).

Taha 20:110

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.' Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru de-ngan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Dzat Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka, dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya. Dan tunduk-lah semua muka (dengan berendah diri) kepada Dzat Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhlukNya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang telah melakukan kezhaliman. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal-amal shalih dalam keadaan beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadap-nya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya." (Thaha: 105-112). (105-107) Allah تعالى memberitahukan tentang prahara-pra-hara Hari Kiamat beserta peristiwa gempa-gempa dan goncangan-goncangan. Allah berfirman, ﴾ وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡجِبَالِ ﴿ "Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung," yaitu apakah yang terjadi pada-nya di Hari Kiamat? Apakah utuh seperti semula atau tidak? ﴾ فَقُلۡ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسۡفٗا 105 ﴿ "Maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya'," maksudnya, melenyapkan dan mencabutnya dari tempat-tempatnya, sehingga ibarat bulu dan pasir-pasir. Kemudian Allah menumbuknya dan menjadikannya sebagai debu-debu yang beterbangan, semakin lama semakin ter-kikis dan sirna serta diratakan dengan permukaan tanah. Allah menjadikan bumi ﴾ قَاعٗا صَفۡصَفٗا 106 ﴿ "datar sama sekali," rata ﴾ لَّا تَرَىٰ فِيهَا ﴿ "tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya," wahai orang yang melihat ﴾ عِوَجٗا ﴿ "tempat yang rendah," ini bagian dari kesempur-naan datarnya bumi ﴾ وَلَآ أَمۡتٗا 107 ﴿ "dan yang tinggi-tinggi," maksud-nya, (tidak ada) lembah-lembah, tempat-tempat yang rendah, atau tinggi-tinggi. Maka permukaan bumi menjadi nampak, dan (luas-nya) memadai bagi seluruh umat manusia. Allah membentang-kannya sejauh permukaannya. Maka mereka pun berada di satu tempat. Dapat didengar oleh orang yang menyeru dan terlihat oleh pandangan. (108-110) Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَّبِعُونَ ٱلدَّاعِيَ ﴿ "Pada hari itu, manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru." Hal itu terjadi saat umat manusia dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan berdiri darinya. Lalu ada penyeru yang memanggil mereka untuk datang dan berkumpul di Mahsyar. Mereka meng-ikutinya dengan bergegas menuju kepadanya, tidak menoleh ke arah lain dan tidak berbelok ke kanan maupun ke kiri. Firman Allah ﴾ لَا عِوَجَ لَهُۥۖ ﴿ "Dengan tidak berbelok-belok," tidak memiringkan diri dari panggilan penyeru. Seruan (penyeru) itu betul-betul benar bagi seluruh makhluk, memperdengarkan (seruan) kepada semuanya dan berteriak kepada mereka semua. Mereka pun datang menuju tempat pengadilan Kiamat, dengan suara yang merendah kepada Rabb Yang Maha Pemurah. ﴾ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 ﴿ "Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja," selain suara pijakan kaki-kaki atau bisikan-bisikan dengan lirih dengan menggerakkan dua bibirnya saja. Suasana hening, tenang, dan diam menguasai mereka untuk menunggu keputusan hukum Allah Yang Maha Pemurah bagi mereka. Wajah-wajah mereka menunduk, maksudnya hina dan me-runduk. Engkau menyaksikan di tempat pengadilan yang agung ini orang-orang kaya, orang-orang miskin, kaum lelaki, kaum wa-nita, orang-orang merdeka, budak-budak, raja-raja dan rakyat jelata dalam keadaan diam, tutup mulut, pandangan mereka merendah, leher-leher mereka menunduk dengan berlutut, dan wajah-wajah mereka hina. Mereka tidak mengetahui keputusan pasti yang mengenainya, tidak tahu apa yang akan diperbuat pada mereka. Setiap orang sibuk dengan diri dan urusannya sendiri, melupakan ayahnya, saudara kandungnya, kawan akrabnya, dan orang kecin-taannya. Masing-masing orang memiliki urusan yang menyibuk-kannya. [Saat itulah] Dzat Yang Memutuskan lagi Mahaadil Yang Maha memiliki Hari Kiamat menetapkan keputusan padanya dan membalasi orang yang berbuat baik dengan curahan kebaikan dariNya, dan orang yang berbuat buruk dengan menghalangi(nya dari rahmatNya). Harapan yang terpancang pada Rabb yang Mahamulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, adalah untuk memperlihatkan kepada para makhluk sebagian dari keutamaan, kebaikan, maaf, toleransi, dan ampunan yang tidak bisa diungkapkan oleh lisan-lisan dan tidak dapat diimajinasikan oleh akal pikiran. Semua makhluk ketika itu menunggu-nunggu rahmatNya, ketika menyak-sikannya. Orang-orang yang beriman kepadaNya dan kepada para RasulNya mendapatkan rahmatNya secara khusus. Jika dikatakan, "Dari manakah kalian mendapatkan harapan ini?" Jika engkau mau, katakanlah "Dari manakah pengetahuan kalian tentang ini?" Maka kita katakan, "Karena kami mengetahuinya dari do-minannya rahmat Allah daripada kemurkaanNya, dan luasnya kemurahanNya yang merata pada semua makhluk, serta melalui apa yang kami saksikan pada diri-diri kami dan orang lain, berupa kenikmatan-kenikmatan yang melimpah di dunia ini. Terutama keutamaan yang ada di Hari Kiamat. Sesungguhnya Firman Allah, ﴾ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Dan semua suara tunduk merendah kepada Rabb Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik. Pada hari itu tidak berguna syafa'at (pertolongan) kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Rabb Yang Maha Pemurah," dipadukan dengan Firman Allah, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Dzat Yang Maha Pemurah." (Al-Furqan: 26), dipadukan dengan sabda Nabi ﷺ, إِنَّ لِلّٰهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ لِعِبَادِهِ رَحْمَةً، بِهَا يَتَرَاحَمُوْنَ وَيَتَعَاطَفُوْنَ، حَتَّى إِنَّ الْبَهِيْمَةَ تَرْفَعُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تَطَأَهُ. "Sesungguhnya Allah memiliki seratus buah rahmat. Dia menu-runkan satu rahmat bagi para hambaNya. Dengan itu, mereka saling menyayangi dan mengasihi. Bahkan seekor binatang mengangkat telapak kakinya dari anaknya lantaran takut akan menginjaknya"[32][Maksudnya] karena sifat sayang yang diletakkan di hatinya. Di Hari Kiamat, Allah menggabungkan rahmat ini dengan sembilan puluh sembilan rahmat. Dengan itu, Allah mencurahkan kasihNya pada para hambaNya. Ditambah lagi dengan sabda Rasulullah, لَلّٰهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنَ الْوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا. "Allah benar-benar lebih menyayangi para hambaNya daripada si ibu (ini) kepada anaknya."[33] Maka, katakanlah terserah kamu, tentang berapa besarnya rahmat Allah. Sesungguhnya rahmatNya akan lebih besar dari apa yang engkau katakan. Dan imajinasikanlah rahmat Allah pada level yang lebih besar sekehendakmu. Sesungguhnya rahmat Allah lebih besar dari apa yang engkau sampaikan. Mahasuci Allah yang mencurahkan rahmatNya dalam sifat keadilan dan penerapan hu-kumanNya. Sebagaimana Dia merahmati dalam bentuk keutamaan, kebaikan dan pahalaNya. Dan Mahatinggi (Allah) Dzat yang rah-matNya melingkupi segala sesuatu, kemurahanNya merata pada setiap makhluk hidup, dan Dzat Yang Mahakaya tiada membutuh-kan para hambaNya, Maha Penyayang kepada para hambaNya. Mereka itu membutuhkanNya selama-lamanya dalam seluruh kondisi mereka. Tidak mungkin mereka mengenyampingkanNya dalam sekejap mata. FirmanNya, ﴾ يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُۥ قَوۡلٗا 109 ﴿ "Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) dari orang yang (Allah) Yang Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya," maksudnya se-seorang tidak dapat memberikan syafa'at di sisiNya kecuali orang yang sudah diberi izin untuk mengeluarkan syafa'at. Dan Allah tidak mengeluarkan izin kecuali (diperuntukkan) bagi orang yang Dia ridhai ucapannya, maksudnya permohonan syafa'atnya, dari kalangan para nabi, para rasul, hamba-hambaNya yang dekat, bagi orang yang diridhai ucapan dan tindakannya. Yaitu orang Mukmin yang ikhlas. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada cara bagi siapa pun untuk meraih syafa'at dari siapa saja. (111-112) Di tempat Mahsyar, umat manusia tergolong-kan menjadi dua kelompok; orang-orang yang telah berbuat aniaya disebabkan kekufuran dan kejelekan mereka. Orang-orang ini tidak menjumpai kecuali sesal, terhalangi dari rahmat dan siksa yang pedih di Jahanam, serta kemurkaan Allah, Dzat Yang Maha me-miliki Hari Kiamat. Kelompok kedua: Orang-orang yang beriman dengan keimanan yang diperintahkan dan mengamalkan amalan shalih, yang wajib maupun yang sunnah. ﴾ فَلَا يَخَافُ ظُلۡمٗا ﴿ "Maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya)," yaitu penam-bahan pada kesalahan-kesalahannya ﴾ وَلَا هَضۡمٗا 112 ﴿ "dan tidak (pula) akan pengurangan haknya," pengurangan dari kebaikan-kebaikannya. Bahkan dosa-dosanya terampuni dan kekurangan-kekurangannya dibersihkan dan kebaikan-kebaikannya dilipatgandakan. ﴾ وَإِن تَكُ حَسَنَةٗ يُضَٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمٗا 40 ﴿ "Dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan meli-patgandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar." (An-Nisa`: 40).

Taha 20:111

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.' Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru de-ngan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Dzat Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka, dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya. Dan tunduk-lah semua muka (dengan berendah diri) kepada Dzat Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhlukNya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang telah melakukan kezhaliman. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal-amal shalih dalam keadaan beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadap-nya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya." (Thaha: 105-112). (105-107) Allah تعالى memberitahukan tentang prahara-pra-hara Hari Kiamat beserta peristiwa gempa-gempa dan goncangan-goncangan. Allah berfirman, ﴾ وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡجِبَالِ ﴿ "Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung," yaitu apakah yang terjadi pada-nya di Hari Kiamat? Apakah utuh seperti semula atau tidak? ﴾ فَقُلۡ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسۡفٗا 105 ﴿ "Maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya'," maksudnya, melenyapkan dan mencabutnya dari tempat-tempatnya, sehingga ibarat bulu dan pasir-pasir. Kemudian Allah menumbuknya dan menjadikannya sebagai debu-debu yang beterbangan, semakin lama semakin ter-kikis dan sirna serta diratakan dengan permukaan tanah. Allah menjadikan bumi ﴾ قَاعٗا صَفۡصَفٗا 106 ﴿ "datar sama sekali," rata ﴾ لَّا تَرَىٰ فِيهَا ﴿ "tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya," wahai orang yang melihat ﴾ عِوَجٗا ﴿ "tempat yang rendah," ini bagian dari kesempur-naan datarnya bumi ﴾ وَلَآ أَمۡتٗا 107 ﴿ "dan yang tinggi-tinggi," maksud-nya, (tidak ada) lembah-lembah, tempat-tempat yang rendah, atau tinggi-tinggi. Maka permukaan bumi menjadi nampak, dan (luas-nya) memadai bagi seluruh umat manusia. Allah membentang-kannya sejauh permukaannya. Maka mereka pun berada di satu tempat. Dapat didengar oleh orang yang menyeru dan terlihat oleh pandangan. (108-110) Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَّبِعُونَ ٱلدَّاعِيَ ﴿ "Pada hari itu, manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru." Hal itu terjadi saat umat manusia dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan berdiri darinya. Lalu ada penyeru yang memanggil mereka untuk datang dan berkumpul di Mahsyar. Mereka meng-ikutinya dengan bergegas menuju kepadanya, tidak menoleh ke arah lain dan tidak berbelok ke kanan maupun ke kiri. Firman Allah ﴾ لَا عِوَجَ لَهُۥۖ ﴿ "Dengan tidak berbelok-belok," tidak memiringkan diri dari panggilan penyeru. Seruan (penyeru) itu betul-betul benar bagi seluruh makhluk, memperdengarkan (seruan) kepada semuanya dan berteriak kepada mereka semua. Mereka pun datang menuju tempat pengadilan Kiamat, dengan suara yang merendah kepada Rabb Yang Maha Pemurah. ﴾ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 ﴿ "Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja," selain suara pijakan kaki-kaki atau bisikan-bisikan dengan lirih dengan menggerakkan dua bibirnya saja. Suasana hening, tenang, dan diam menguasai mereka untuk menunggu keputusan hukum Allah Yang Maha Pemurah bagi mereka. Wajah-wajah mereka menunduk, maksudnya hina dan me-runduk. Engkau menyaksikan di tempat pengadilan yang agung ini orang-orang kaya, orang-orang miskin, kaum lelaki, kaum wa-nita, orang-orang merdeka, budak-budak, raja-raja dan rakyat jelata dalam keadaan diam, tutup mulut, pandangan mereka merendah, leher-leher mereka menunduk dengan berlutut, dan wajah-wajah mereka hina. Mereka tidak mengetahui keputusan pasti yang mengenainya, tidak tahu apa yang akan diperbuat pada mereka. Setiap orang sibuk dengan diri dan urusannya sendiri, melupakan ayahnya, saudara kandungnya, kawan akrabnya, dan orang kecin-taannya. Masing-masing orang memiliki urusan yang menyibuk-kannya. [Saat itulah] Dzat Yang Memutuskan lagi Mahaadil Yang Maha memiliki Hari Kiamat menetapkan keputusan padanya dan membalasi orang yang berbuat baik dengan curahan kebaikan dariNya, dan orang yang berbuat buruk dengan menghalangi(nya dari rahmatNya). Harapan yang terpancang pada Rabb yang Mahamulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, adalah untuk memperlihatkan kepada para makhluk sebagian dari keutamaan, kebaikan, maaf, toleransi, dan ampunan yang tidak bisa diungkapkan oleh lisan-lisan dan tidak dapat diimajinasikan oleh akal pikiran. Semua makhluk ketika itu menunggu-nunggu rahmatNya, ketika menyak-sikannya. Orang-orang yang beriman kepadaNya dan kepada para RasulNya mendapatkan rahmatNya secara khusus. Jika dikatakan, "Dari manakah kalian mendapatkan harapan ini?" Jika engkau mau, katakanlah "Dari manakah pengetahuan kalian tentang ini?" Maka kita katakan, "Karena kami mengetahuinya dari do-minannya rahmat Allah daripada kemurkaanNya, dan luasnya kemurahanNya yang merata pada semua makhluk, serta melalui apa yang kami saksikan pada diri-diri kami dan orang lain, berupa kenikmatan-kenikmatan yang melimpah di dunia ini. Terutama keutamaan yang ada di Hari Kiamat. Sesungguhnya Firman Allah, ﴾ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Dan semua suara tunduk merendah kepada Rabb Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik. Pada hari itu tidak berguna syafa'at (pertolongan) kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Rabb Yang Maha Pemurah," dipadukan dengan Firman Allah, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Dzat Yang Maha Pemurah." (Al-Furqan: 26), dipadukan dengan sabda Nabi ﷺ, إِنَّ لِلّٰهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ لِعِبَادِهِ رَحْمَةً، بِهَا يَتَرَاحَمُوْنَ وَيَتَعَاطَفُوْنَ، حَتَّى إِنَّ الْبَهِيْمَةَ تَرْفَعُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تَطَأَهُ. "Sesungguhnya Allah memiliki seratus buah rahmat. Dia menu-runkan satu rahmat bagi para hambaNya. Dengan itu, mereka saling menyayangi dan mengasihi. Bahkan seekor binatang mengangkat telapak kakinya dari anaknya lantaran takut akan menginjaknya"[32][Maksudnya] karena sifat sayang yang diletakkan di hatinya. Di Hari Kiamat, Allah menggabungkan rahmat ini dengan sembilan puluh sembilan rahmat. Dengan itu, Allah mencurahkan kasihNya pada para hambaNya. Ditambah lagi dengan sabda Rasulullah, لَلّٰهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنَ الْوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا. "Allah benar-benar lebih menyayangi para hambaNya daripada si ibu (ini) kepada anaknya."[33] Maka, katakanlah terserah kamu, tentang berapa besarnya rahmat Allah. Sesungguhnya rahmatNya akan lebih besar dari apa yang engkau katakan. Dan imajinasikanlah rahmat Allah pada level yang lebih besar sekehendakmu. Sesungguhnya rahmat Allah lebih besar dari apa yang engkau sampaikan. Mahasuci Allah yang mencurahkan rahmatNya dalam sifat keadilan dan penerapan hu-kumanNya. Sebagaimana Dia merahmati dalam bentuk keutamaan, kebaikan dan pahalaNya. Dan Mahatinggi (Allah) Dzat yang rah-matNya melingkupi segala sesuatu, kemurahanNya merata pada setiap makhluk hidup, dan Dzat Yang Mahakaya tiada membutuh-kan para hambaNya, Maha Penyayang kepada para hambaNya. Mereka itu membutuhkanNya selama-lamanya dalam seluruh kondisi mereka. Tidak mungkin mereka mengenyampingkanNya dalam sekejap mata. FirmanNya, ﴾ يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُۥ قَوۡلٗا 109 ﴿ "Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) dari orang yang (Allah) Yang Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya," maksudnya se-seorang tidak dapat memberikan syafa'at di sisiNya kecuali orang yang sudah diberi izin untuk mengeluarkan syafa'at. Dan Allah tidak mengeluarkan izin kecuali (diperuntukkan) bagi orang yang Dia ridhai ucapannya, maksudnya permohonan syafa'atnya, dari kalangan para nabi, para rasul, hamba-hambaNya yang dekat, bagi orang yang diridhai ucapan dan tindakannya. Yaitu orang Mukmin yang ikhlas. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada cara bagi siapa pun untuk meraih syafa'at dari siapa saja. (111-112) Di tempat Mahsyar, umat manusia tergolong-kan menjadi dua kelompok; orang-orang yang telah berbuat aniaya disebabkan kekufuran dan kejelekan mereka. Orang-orang ini tidak menjumpai kecuali sesal, terhalangi dari rahmat dan siksa yang pedih di Jahanam, serta kemurkaan Allah, Dzat Yang Maha me-miliki Hari Kiamat. Kelompok kedua: Orang-orang yang beriman dengan keimanan yang diperintahkan dan mengamalkan amalan shalih, yang wajib maupun yang sunnah. ﴾ فَلَا يَخَافُ ظُلۡمٗا ﴿ "Maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya)," yaitu penam-bahan pada kesalahan-kesalahannya ﴾ وَلَا هَضۡمٗا 112 ﴿ "dan tidak (pula) akan pengurangan haknya," pengurangan dari kebaikan-kebaikannya. Bahkan dosa-dosanya terampuni dan kekurangan-kekurangannya dibersihkan dan kebaikan-kebaikannya dilipatgandakan. ﴾ وَإِن تَكُ حَسَنَةٗ يُضَٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمٗا 40 ﴿ "Dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan meli-patgandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar." (An-Nisa`: 40).

Taha 20:112

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.' Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru de-ngan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Dzat Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka, dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya. Dan tunduk-lah semua muka (dengan berendah diri) kepada Dzat Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhlukNya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang telah melakukan kezhaliman. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal-amal shalih dalam keadaan beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadap-nya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya." (Thaha: 105-112). (105-107) Allah تعالى memberitahukan tentang prahara-pra-hara Hari Kiamat beserta peristiwa gempa-gempa dan goncangan-goncangan. Allah berfirman, ﴾ وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡجِبَالِ ﴿ "Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung," yaitu apakah yang terjadi pada-nya di Hari Kiamat? Apakah utuh seperti semula atau tidak? ﴾ فَقُلۡ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسۡفٗا 105 ﴿ "Maka katakanlah, 'Rabbku akan menghancurkannya (di Hari Kiamat) sehancur-hancurnya'," maksudnya, melenyapkan dan mencabutnya dari tempat-tempatnya, sehingga ibarat bulu dan pasir-pasir. Kemudian Allah menumbuknya dan menjadikannya sebagai debu-debu yang beterbangan, semakin lama semakin ter-kikis dan sirna serta diratakan dengan permukaan tanah. Allah menjadikan bumi ﴾ قَاعٗا صَفۡصَفٗا 106 ﴿ "datar sama sekali," rata ﴾ لَّا تَرَىٰ فِيهَا ﴿ "tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya," wahai orang yang melihat ﴾ عِوَجٗا ﴿ "tempat yang rendah," ini bagian dari kesempur-naan datarnya bumi ﴾ وَلَآ أَمۡتٗا 107 ﴿ "dan yang tinggi-tinggi," maksud-nya, (tidak ada) lembah-lembah, tempat-tempat yang rendah, atau tinggi-tinggi. Maka permukaan bumi menjadi nampak, dan (luas-nya) memadai bagi seluruh umat manusia. Allah membentang-kannya sejauh permukaannya. Maka mereka pun berada di satu tempat. Dapat didengar oleh orang yang menyeru dan terlihat oleh pandangan. (108-110) Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَتَّبِعُونَ ٱلدَّاعِيَ ﴿ "Pada hari itu, manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru." Hal itu terjadi saat umat manusia dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan berdiri darinya. Lalu ada penyeru yang memanggil mereka untuk datang dan berkumpul di Mahsyar. Mereka meng-ikutinya dengan bergegas menuju kepadanya, tidak menoleh ke arah lain dan tidak berbelok ke kanan maupun ke kiri. Firman Allah ﴾ لَا عِوَجَ لَهُۥۖ ﴿ "Dengan tidak berbelok-belok," tidak memiringkan diri dari panggilan penyeru. Seruan (penyeru) itu betul-betul benar bagi seluruh makhluk, memperdengarkan (seruan) kepada semuanya dan berteriak kepada mereka semua. Mereka pun datang menuju tempat pengadilan Kiamat, dengan suara yang merendah kepada Rabb Yang Maha Pemurah. ﴾ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 ﴿ "Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja," selain suara pijakan kaki-kaki atau bisikan-bisikan dengan lirih dengan menggerakkan dua bibirnya saja. Suasana hening, tenang, dan diam menguasai mereka untuk menunggu keputusan hukum Allah Yang Maha Pemurah bagi mereka. Wajah-wajah mereka menunduk, maksudnya hina dan me-runduk. Engkau menyaksikan di tempat pengadilan yang agung ini orang-orang kaya, orang-orang miskin, kaum lelaki, kaum wa-nita, orang-orang merdeka, budak-budak, raja-raja dan rakyat jelata dalam keadaan diam, tutup mulut, pandangan mereka merendah, leher-leher mereka menunduk dengan berlutut, dan wajah-wajah mereka hina. Mereka tidak mengetahui keputusan pasti yang mengenainya, tidak tahu apa yang akan diperbuat pada mereka. Setiap orang sibuk dengan diri dan urusannya sendiri, melupakan ayahnya, saudara kandungnya, kawan akrabnya, dan orang kecin-taannya. Masing-masing orang memiliki urusan yang menyibuk-kannya. [Saat itulah] Dzat Yang Memutuskan lagi Mahaadil Yang Maha memiliki Hari Kiamat menetapkan keputusan padanya dan membalasi orang yang berbuat baik dengan curahan kebaikan dariNya, dan orang yang berbuat buruk dengan menghalangi(nya dari rahmatNya). Harapan yang terpancang pada Rabb yang Mahamulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, adalah untuk memperlihatkan kepada para makhluk sebagian dari keutamaan, kebaikan, maaf, toleransi, dan ampunan yang tidak bisa diungkapkan oleh lisan-lisan dan tidak dapat diimajinasikan oleh akal pikiran. Semua makhluk ketika itu menunggu-nunggu rahmatNya, ketika menyak-sikannya. Orang-orang yang beriman kepadaNya dan kepada para RasulNya mendapatkan rahmatNya secara khusus. Jika dikatakan, "Dari manakah kalian mendapatkan harapan ini?" Jika engkau mau, katakanlah "Dari manakah pengetahuan kalian tentang ini?" Maka kita katakan, "Karena kami mengetahuinya dari do-minannya rahmat Allah daripada kemurkaanNya, dan luasnya kemurahanNya yang merata pada semua makhluk, serta melalui apa yang kami saksikan pada diri-diri kami dan orang lain, berupa kenikmatan-kenikmatan yang melimpah di dunia ini. Terutama keutamaan yang ada di Hari Kiamat. Sesungguhnya Firman Allah, ﴾ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ إِلَّا هَمۡسٗا 108 يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Dan semua suara tunduk merendah kepada Rabb Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik. Pada hari itu tidak berguna syafa'at (pertolongan) kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Rabb Yang Maha Pemurah," dipadukan dengan Firman Allah, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Dzat Yang Maha Pemurah." (Al-Furqan: 26), dipadukan dengan sabda Nabi ﷺ, إِنَّ لِلّٰهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ لِعِبَادِهِ رَحْمَةً، بِهَا يَتَرَاحَمُوْنَ وَيَتَعَاطَفُوْنَ، حَتَّى إِنَّ الْبَهِيْمَةَ تَرْفَعُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تَطَأَهُ. "Sesungguhnya Allah memiliki seratus buah rahmat. Dia menu-runkan satu rahmat bagi para hambaNya. Dengan itu, mereka saling menyayangi dan mengasihi. Bahkan seekor binatang mengangkat telapak kakinya dari anaknya lantaran takut akan menginjaknya"[32][Maksudnya] karena sifat sayang yang diletakkan di hatinya. Di Hari Kiamat, Allah menggabungkan rahmat ini dengan sembilan puluh sembilan rahmat. Dengan itu, Allah mencurahkan kasihNya pada para hambaNya. Ditambah lagi dengan sabda Rasulullah, لَلّٰهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنَ الْوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا. "Allah benar-benar lebih menyayangi para hambaNya daripada si ibu (ini) kepada anaknya."[33] Maka, katakanlah terserah kamu, tentang berapa besarnya rahmat Allah. Sesungguhnya rahmatNya akan lebih besar dari apa yang engkau katakan. Dan imajinasikanlah rahmat Allah pada level yang lebih besar sekehendakmu. Sesungguhnya rahmat Allah lebih besar dari apa yang engkau sampaikan. Mahasuci Allah yang mencurahkan rahmatNya dalam sifat keadilan dan penerapan hu-kumanNya. Sebagaimana Dia merahmati dalam bentuk keutamaan, kebaikan dan pahalaNya. Dan Mahatinggi (Allah) Dzat yang rah-matNya melingkupi segala sesuatu, kemurahanNya merata pada setiap makhluk hidup, dan Dzat Yang Mahakaya tiada membutuh-kan para hambaNya, Maha Penyayang kepada para hambaNya. Mereka itu membutuhkanNya selama-lamanya dalam seluruh kondisi mereka. Tidak mungkin mereka mengenyampingkanNya dalam sekejap mata. FirmanNya, ﴾ يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُۥ قَوۡلٗا 109 ﴿ "Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) dari orang yang (Allah) Yang Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya," maksudnya se-seorang tidak dapat memberikan syafa'at di sisiNya kecuali orang yang sudah diberi izin untuk mengeluarkan syafa'at. Dan Allah tidak mengeluarkan izin kecuali (diperuntukkan) bagi orang yang Dia ridhai ucapannya, maksudnya permohonan syafa'atnya, dari kalangan para nabi, para rasul, hamba-hambaNya yang dekat, bagi orang yang diridhai ucapan dan tindakannya. Yaitu orang Mukmin yang ikhlas. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada cara bagi siapa pun untuk meraih syafa'at dari siapa saja. (111-112) Di tempat Mahsyar, umat manusia tergolong-kan menjadi dua kelompok; orang-orang yang telah berbuat aniaya disebabkan kekufuran dan kejelekan mereka. Orang-orang ini tidak menjumpai kecuali sesal, terhalangi dari rahmat dan siksa yang pedih di Jahanam, serta kemurkaan Allah, Dzat Yang Maha me-miliki Hari Kiamat. Kelompok kedua: Orang-orang yang beriman dengan keimanan yang diperintahkan dan mengamalkan amalan shalih, yang wajib maupun yang sunnah. ﴾ فَلَا يَخَافُ ظُلۡمٗا ﴿ "Maka dia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya)," yaitu penam-bahan pada kesalahan-kesalahannya ﴾ وَلَا هَضۡمٗا 112 ﴿ "dan tidak (pula) akan pengurangan haknya," pengurangan dari kebaikan-kebaikannya. Bahkan dosa-dosanya terampuni dan kekurangan-kekurangannya dibersihkan dan kebaikan-kebaikannya dilipatgandakan. ﴾ وَإِن تَكُ حَسَنَةٗ يُضَٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمٗا 40 ﴿ "Dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan meli-patgandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar." (An-Nisa`: 40).

Taha 20:113

"Dan demikianlah Kami menurunkan al-Qur`an dalam Bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebagian ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) al-Qur`an itu mengadakan pengajaran bagi mereka." (Thaha: 113). (113) Maksudnya, dan demikianlah, Kami menurunkan Kitab ini dengan Bahasa Arab yang kalian pahami dan mengerti. Tidak ada lafazh maupun maknanya yang kabur pada kalian. ﴾ وَصَرَّفۡنَا فِيهِ مِنَ ٱلۡوَعِيدِ ﴿ "Dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebagian ancaman," maksudnya, Kami memvariasi-kannya dengan jenis yang banyak sekali. Terkadang dengan me-nyebutkan Nama-nama Allah yang menunjukkan keadilan dan sifat membalas dendam. Suatu waktu, dengan menyebutkan ma-lapetaka-malapetaka yang Allah timpakan kepada umat-umat terdahulu. Dan Dia memerintahkan agar umat-umat setelah mereka mengambilnya sebagai pelajaran. Kadang-kadang dengan menge-mukakan pengaruh-pengaruh dosa dan kekurangan-kekurangan yang ditimbulkannya. Kadang, dengan menyebutkan kengerian-kengerian di Hari Kiamat beserta peristiwa-peristiwa yang mena-kutkan dan menggegerkan. Kadang-kadang dengan menceritakan tentang Jahanam beserta berbagai jenis hukuman dan beragam siksaan. Ini semua bukti rahmat Allah pada para hambaNya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ﴿ "Agar mereka bertakwa," bertakwa kepada Allah. Mereka pun meninggalkan kejahatan, dan maksiat-maksiat yang membahayakan mereka. ﴾ أَوۡ يُحۡدِثُ لَهُمۡ ذِكۡرٗا 113 ﴿ "Atau (agar) al-Qur`an itu mengadakan pengajaran bagi mereka," maka kalian mengamalkan amalan-amalan shalih dalam ketaatan dan kebaikan, dan hal-hal yang berguna bagi kalian. Keadaan al-Qur`an yang berbahasa Arab dan "mengulang-ulang penyebutan ancaman" merupakan faktor yang paling dominan dan paling besar mendatangkan ketakwaan dan amalan shalih. Sekiranya, al-Qur`an tidak berbahasa Arab atau tidak terulang-ulang, niscaya ia tidak memberikan pengaruh.

Taha 20:114

"Maka Mahatinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur`an sebelum wahyu-nya disampaikan (secara sempurna) kepadamu, dan katakanlah, 'Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan'." (Thaha: 114). (114) Ketika allah تعالى menyebutkan keputusan pembalasan-Nya pada para hambaNya dan ketetapan perintah agamaNya yang Allah turunkan di dalam KitabNya, -realita ini termasuk bagian dari implikasi kekuasaanNya-, Allah berfirman, ﴾ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ﴿ "Maka Mahatinggi Allah," maksudnya Mahabesar, berada di ketinggian, suci dari segala kekurangan dan kerusakan. ﴾ ٱلۡمَلِكُ ﴿ "Raja," yang kepemilikan kerajaan menjadi ciriNya, dan semua makhluk adalah budak-budakNya. Ketetapan hukum-hukum kekuasaan qadari maupun syar'iNya berlaku pada mereka. ﴾ ٱلۡحَقُّۗ ﴿ "Yang sebenar-benarnya," maksudnya wujudNya, kerajaanNya, dan kesempurna-anNya benar-benar haq. Sifat-sifat kesempurnaan tidaklah hakiki kecuali bagi Dzat Yang Memiliki keagungan. Termasuk hal itu adalah kepemilikan kekuasaan. Sesungguhnya selainNya dari kalangan makhluk, walaupun mempunyai kekuasaan pada waktu-waktu tertentu yang meliputi sebagian aspek, akan tetapi kekuasa-annya adalah kekuasaan yang pendek, batil lagi akan sirna. Adapun (kekuasaan) Allah, maka akan terus eksis dan tidak musnah, karena Dia Raja, Yang Mahahidup, Maha menangani yang lain lagi Maha-agung. ﴾ وَلَا تَعۡجَلۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مِن قَبۡلِ أَن يُقۡضَىٰٓ إِلَيۡكَ وَحۡيُهُۥۖ ﴿ "Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur`an sebelum wahyunya disampaikan (secara sempurna) kepadamu," maksudnya janganlah engkau bersegera untuk menangkap al-Qur`an ketika Jibril sedang membacakannya kepa-damu. Bersabarlah sampai dia menuntaskannya. Jika dia sudah selesai, maka bacalah. Sesungguhnya Allah telah menjamin pe-ngumpulannya bagimu di dadamu dan dalam bacaan al-Qur`anmu. Seperti yang difirmankan Allah تعالى, ﴾ لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ 16 إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ 17 فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ 18 ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ 19 ﴿ "Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tang-gungan Kamilah mengumpulkannya (di dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya." (Al-Qiyamah: 16-19), ketika ketergesaan dan kesegeraan beliau untuk menerima wahyu menunjukkan kecintaan beliau yang utuh kepada ilmu dan keantu-siasan untuk menguasainya, maka Allah memerintahkan beliau untuk meminta tambahan ilmu. Sesungguhnya ilmu itu baik, dan banyak kebaikan itu dituntut, kebaikan itu berasal dari Allah, dan jalan menuju ke sana adalah melalui ketekunan, kerinduan kepada ilmu, memohon dan meminta pertolongan kepadaNya serta duduk bersimpuh kepadaNya di setiap waktu. Bisa diambil pelajaran dari ayat yang mulia ini, mengenai etika dalam menerima ilmu, bahwa orang yang mendengarkan ilmu seyogyanya perlahan-lahan dan bersabar, sampai pendikte dan pengajar selesai dari penjelasannya yang saling berkaitan. Jika ia sudah selesai darinya, pencari ilmu menanyakan(nya) bila dia punya pertanyaan. Janganlah dia bersegera bertanya dan memo-tong keterangan orang yang mengajar. Sesungguhnya sikap ini penyebab terhalangi (dari menguasai ilmu). Demikian juga orang yang ditanya, seharusnya ia meminta penjelasan lebih lanjut tentang pertanyaan penanya dan melacak maksudnya sebelum menjawab. Sesungguhnya sikap ini menjadi penyebab ketepatan dalam men-jawab dengan benar.

Taha 20:115

"Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka dia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat." (Thaha: 115). (115) Maksudnya, Kami sungguh telah berwasiat kepada Adam dan memerintahkannya serta mengikatnya dengan sebuah janji untuk dia laksanakan. Adam memeganginya, tunduk dan patuh, dan bertekad menjalankannya. Meskipun demikian, Adam lupa atas perintah yang terarah kepadanya. Tekad bajanya pun telah hilang. Maka terjadilah peristiwa itu, sehingga menjadi bahan pelajaran bagi keturunan-keturunannya. Dan tabiat-tabiat mereka pun menyerupai tabiat Adam. Beliau lupa, maka keturunannya pun mengalami hal yang sama. Beliau berbuat kekeliruan dan keturunannya juga melakukan kesalahan. Beliau tidak bertahan lama berada dalam ketekadan yang kuat, dan keturunannya pun demikian. Beliau bersegera untuk bertaubat dari kesalahannya, mengiyakan, dan mengakuinya, maka dosanya diampuni. Dan ba-rangsiapa meniru ayahnya, niscaya dia tidak sedang berbuat aniaya.

Taha 20:116

"Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat, 'Su-judlah kamu kepada Adam,' maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. Maka Kami berkata, 'Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan bah-wasanya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.' Kemudian setan membisik-kan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, 'Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.' Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan mem-berinya petunjuk." (Thaha: 116-122). (116) Usai Allah menyempurnakan penciptaan Adam de-ngan TanganNya, mengajarinya seluruh nama, mengutamakan dan memuliakannya, maka Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai tanda pemuliaan dan pengagungan serta penghormatan baginya. Mereka bersegera sujud dalam keadaan taat. Di tengah mereka ada iblis. Ia menyombongkan diri terhadap perintah Rabbnya, enggan bersujud kepada Adam. Ia berkata, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ 12 ﴿ "Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedang Engkau menciptakannya dari tanah." (Al-A'raf: 12). (117-119) Saat itulah, menjadi jelas permusuhan iblis yang memuncak terhadap Adam dan istrinya, ketika dia menjadi musuh bagi Allah. Sudah terlihat kedengkiannya, yang memicu faktor permusuhannya. Maka Allah memperingatkan Adam dan istrinya dari (bahaya) iblis. Allah berfirman, "Jangan sampai dia, ﴾ يُخۡرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلۡجَنَّةِ فَتَشۡقَىٰٓ 117 ﴿ 'mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebab-kan kamu menjadi celaka'." Yaitu jika setan (berhasil) mengeluarkan-mu darinya, padahal di dalamnya kamu mendapatkan rizki yang menyenangkan dan kenyamanan yang sempurna. ﴾ إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ 118 وَأَنَّكَ لَا تَظۡمَؤُاْ فِيهَا وَلَا تَضۡحَىٰ 119 ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan kela-paran di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan bahwa kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya," maksudnya, matahari tidak mengenaimu dengan terik panasnya. Allah menjamin bagi beliau kontinyuitas suplai makanan, mi-numan, sandang, air, tanpa kepayahan dan kecapaian. Akan tetapi, Allah melarangnya dari memakan (buah) pepohonan tertentu. Allah berfirman, ﴾ وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 19 ﴿ "Dan janganlah kalian berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-A'raf: 19). (120) Setan terus-menerus membisikkan (pikiran jahat) kepada mereka berdua dan mempengaruhinya untuk memandang "makan dari pepohonan itu" sebagai hal yang baik. Setan berkata, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi," yaitu [pohon], yang mana siapa saja yang memakan darinya, niscaya dia kekal abadi di surga, ﴾ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴿ "dan kera-jaan yang tidak akan binasa," maksudnya yang tidak terputus, jika engkau mengkonsumsi (sesuatu) darinya. (121) Setan mendatanginya dalam rupa orang yang berniat baik, bertutur kata lembut, maka Adam terpedaya dengannya. Kemudian mereka berdua memakannya. Lalu terjatuhlah sesuatu yang ada di tangannya, dan lenyaplah pakaian mereka, maksiat mereka pun menjadi jelas. Aurat masing-masing terlihat oleh yang lain, yang sebelumnya mereka dalam keadaan tertutup auratnya. Mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun pohon-pohon surga untuk menutupi diri dengannya. Mereka dirundung oleh malu yang hanya Allah saja mengetahui tingkat rasa malu mereka. ﴾ وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ 121 ﴿ "Dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesat-lah ia," mereka berdua pun bersegera bertaubat dan kembali kepa-daNya dengan berkata, (122)(Allah تعالى berfirman), ﴾ قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 23 ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, nis-caya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 23). Kemudian Rabbnya mengistimewakan dan memilihnya serta memudahkan baginya untuk bertaubat. Maka Allah menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Pasca taubat, kondisi beliau lebih baik daripada sebelumnya. Tipu daya musuh kembali ke pemiliknya, usaha makarnya tidak bertaji. Sementara itu, kenikmatan yang tercurahkan kepada Adam dan anak cucunya semakin lengkap. Kewajiban mereka adalah menggunakannya dengan baik dan mengakui (nikmat itu berasal dari Allah), serta selalu waspada terhadap musuh yang tetap meng-intai lagi menunggu mereka siang dan malam. ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ 27 ﴿ "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari (suatu tempat) yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesung-guhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (Al-A'raf: 27).

Taha 20:117

"Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat, 'Su-judlah kamu kepada Adam,' maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. Maka Kami berkata, 'Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan bah-wasanya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.' Kemudian setan membisik-kan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, 'Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.' Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan mem-berinya petunjuk." (Thaha: 116-122). (116) Usai Allah menyempurnakan penciptaan Adam de-ngan TanganNya, mengajarinya seluruh nama, mengutamakan dan memuliakannya, maka Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai tanda pemuliaan dan pengagungan serta penghormatan baginya. Mereka bersegera sujud dalam keadaan taat. Di tengah mereka ada iblis. Ia menyombongkan diri terhadap perintah Rabbnya, enggan bersujud kepada Adam. Ia berkata, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ 12 ﴿ "Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedang Engkau menciptakannya dari tanah." (Al-A'raf: 12). (117-119) Saat itulah, menjadi jelas permusuhan iblis yang memuncak terhadap Adam dan istrinya, ketika dia menjadi musuh bagi Allah. Sudah terlihat kedengkiannya, yang memicu faktor permusuhannya. Maka Allah memperingatkan Adam dan istrinya dari (bahaya) iblis. Allah berfirman, "Jangan sampai dia, ﴾ يُخۡرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلۡجَنَّةِ فَتَشۡقَىٰٓ 117 ﴿ 'mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebab-kan kamu menjadi celaka'." Yaitu jika setan (berhasil) mengeluarkan-mu darinya, padahal di dalamnya kamu mendapatkan rizki yang menyenangkan dan kenyamanan yang sempurna. ﴾ إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ 118 وَأَنَّكَ لَا تَظۡمَؤُاْ فِيهَا وَلَا تَضۡحَىٰ 119 ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan kela-paran di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan bahwa kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya," maksudnya, matahari tidak mengenaimu dengan terik panasnya. Allah menjamin bagi beliau kontinyuitas suplai makanan, mi-numan, sandang, air, tanpa kepayahan dan kecapaian. Akan tetapi, Allah melarangnya dari memakan (buah) pepohonan tertentu. Allah berfirman, ﴾ وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 19 ﴿ "Dan janganlah kalian berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-A'raf: 19). (120) Setan terus-menerus membisikkan (pikiran jahat) kepada mereka berdua dan mempengaruhinya untuk memandang "makan dari pepohonan itu" sebagai hal yang baik. Setan berkata, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi," yaitu [pohon], yang mana siapa saja yang memakan darinya, niscaya dia kekal abadi di surga, ﴾ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴿ "dan kera-jaan yang tidak akan binasa," maksudnya yang tidak terputus, jika engkau mengkonsumsi (sesuatu) darinya. (121) Setan mendatanginya dalam rupa orang yang berniat baik, bertutur kata lembut, maka Adam terpedaya dengannya. Kemudian mereka berdua memakannya. Lalu terjatuhlah sesuatu yang ada di tangannya, dan lenyaplah pakaian mereka, maksiat mereka pun menjadi jelas. Aurat masing-masing terlihat oleh yang lain, yang sebelumnya mereka dalam keadaan tertutup auratnya. Mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun pohon-pohon surga untuk menutupi diri dengannya. Mereka dirundung oleh malu yang hanya Allah saja mengetahui tingkat rasa malu mereka. ﴾ وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ 121 ﴿ "Dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesat-lah ia," mereka berdua pun bersegera bertaubat dan kembali kepa-daNya dengan berkata, (122)(Allah تعالى berfirman), ﴾ قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 23 ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, nis-caya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 23). Kemudian Rabbnya mengistimewakan dan memilihnya serta memudahkan baginya untuk bertaubat. Maka Allah menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Pasca taubat, kondisi beliau lebih baik daripada sebelumnya. Tipu daya musuh kembali ke pemiliknya, usaha makarnya tidak bertaji. Sementara itu, kenikmatan yang tercurahkan kepada Adam dan anak cucunya semakin lengkap. Kewajiban mereka adalah menggunakannya dengan baik dan mengakui (nikmat itu berasal dari Allah), serta selalu waspada terhadap musuh yang tetap meng-intai lagi menunggu mereka siang dan malam. ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ 27 ﴿ "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari (suatu tempat) yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesung-guhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (Al-A'raf: 27).

Taha 20:118

"Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat, 'Su-judlah kamu kepada Adam,' maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. Maka Kami berkata, 'Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan bah-wasanya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.' Kemudian setan membisik-kan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, 'Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.' Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan mem-berinya petunjuk." (Thaha: 116-122). (116) Usai Allah menyempurnakan penciptaan Adam de-ngan TanganNya, mengajarinya seluruh nama, mengutamakan dan memuliakannya, maka Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai tanda pemuliaan dan pengagungan serta penghormatan baginya. Mereka bersegera sujud dalam keadaan taat. Di tengah mereka ada iblis. Ia menyombongkan diri terhadap perintah Rabbnya, enggan bersujud kepada Adam. Ia berkata, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ 12 ﴿ "Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedang Engkau menciptakannya dari tanah." (Al-A'raf: 12). (117-119) Saat itulah, menjadi jelas permusuhan iblis yang memuncak terhadap Adam dan istrinya, ketika dia menjadi musuh bagi Allah. Sudah terlihat kedengkiannya, yang memicu faktor permusuhannya. Maka Allah memperingatkan Adam dan istrinya dari (bahaya) iblis. Allah berfirman, "Jangan sampai dia, ﴾ يُخۡرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلۡجَنَّةِ فَتَشۡقَىٰٓ 117 ﴿ 'mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebab-kan kamu menjadi celaka'." Yaitu jika setan (berhasil) mengeluarkan-mu darinya, padahal di dalamnya kamu mendapatkan rizki yang menyenangkan dan kenyamanan yang sempurna. ﴾ إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ 118 وَأَنَّكَ لَا تَظۡمَؤُاْ فِيهَا وَلَا تَضۡحَىٰ 119 ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan kela-paran di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan bahwa kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya," maksudnya, matahari tidak mengenaimu dengan terik panasnya. Allah menjamin bagi beliau kontinyuitas suplai makanan, mi-numan, sandang, air, tanpa kepayahan dan kecapaian. Akan tetapi, Allah melarangnya dari memakan (buah) pepohonan tertentu. Allah berfirman, ﴾ وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 19 ﴿ "Dan janganlah kalian berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-A'raf: 19). (120) Setan terus-menerus membisikkan (pikiran jahat) kepada mereka berdua dan mempengaruhinya untuk memandang "makan dari pepohonan itu" sebagai hal yang baik. Setan berkata, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi," yaitu [pohon], yang mana siapa saja yang memakan darinya, niscaya dia kekal abadi di surga, ﴾ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴿ "dan kera-jaan yang tidak akan binasa," maksudnya yang tidak terputus, jika engkau mengkonsumsi (sesuatu) darinya. (121) Setan mendatanginya dalam rupa orang yang berniat baik, bertutur kata lembut, maka Adam terpedaya dengannya. Kemudian mereka berdua memakannya. Lalu terjatuhlah sesuatu yang ada di tangannya, dan lenyaplah pakaian mereka, maksiat mereka pun menjadi jelas. Aurat masing-masing terlihat oleh yang lain, yang sebelumnya mereka dalam keadaan tertutup auratnya. Mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun pohon-pohon surga untuk menutupi diri dengannya. Mereka dirundung oleh malu yang hanya Allah saja mengetahui tingkat rasa malu mereka. ﴾ وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ 121 ﴿ "Dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesat-lah ia," mereka berdua pun bersegera bertaubat dan kembali kepa-daNya dengan berkata, (122)(Allah تعالى berfirman), ﴾ قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 23 ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, nis-caya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 23). Kemudian Rabbnya mengistimewakan dan memilihnya serta memudahkan baginya untuk bertaubat. Maka Allah menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Pasca taubat, kondisi beliau lebih baik daripada sebelumnya. Tipu daya musuh kembali ke pemiliknya, usaha makarnya tidak bertaji. Sementara itu, kenikmatan yang tercurahkan kepada Adam dan anak cucunya semakin lengkap. Kewajiban mereka adalah menggunakannya dengan baik dan mengakui (nikmat itu berasal dari Allah), serta selalu waspada terhadap musuh yang tetap meng-intai lagi menunggu mereka siang dan malam. ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ 27 ﴿ "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari (suatu tempat) yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesung-guhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (Al-A'raf: 27).

Taha 20:119

"Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat, 'Su-judlah kamu kepada Adam,' maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. Maka Kami berkata, 'Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan bah-wasanya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.' Kemudian setan membisik-kan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, 'Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.' Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan mem-berinya petunjuk." (Thaha: 116-122). (116) Usai Allah menyempurnakan penciptaan Adam de-ngan TanganNya, mengajarinya seluruh nama, mengutamakan dan memuliakannya, maka Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai tanda pemuliaan dan pengagungan serta penghormatan baginya. Mereka bersegera sujud dalam keadaan taat. Di tengah mereka ada iblis. Ia menyombongkan diri terhadap perintah Rabbnya, enggan bersujud kepada Adam. Ia berkata, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ 12 ﴿ "Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedang Engkau menciptakannya dari tanah." (Al-A'raf: 12). (117-119) Saat itulah, menjadi jelas permusuhan iblis yang memuncak terhadap Adam dan istrinya, ketika dia menjadi musuh bagi Allah. Sudah terlihat kedengkiannya, yang memicu faktor permusuhannya. Maka Allah memperingatkan Adam dan istrinya dari (bahaya) iblis. Allah berfirman, "Jangan sampai dia, ﴾ يُخۡرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلۡجَنَّةِ فَتَشۡقَىٰٓ 117 ﴿ 'mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebab-kan kamu menjadi celaka'." Yaitu jika setan (berhasil) mengeluarkan-mu darinya, padahal di dalamnya kamu mendapatkan rizki yang menyenangkan dan kenyamanan yang sempurna. ﴾ إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ 118 وَأَنَّكَ لَا تَظۡمَؤُاْ فِيهَا وَلَا تَضۡحَىٰ 119 ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan kela-paran di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan bahwa kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya," maksudnya, matahari tidak mengenaimu dengan terik panasnya. Allah menjamin bagi beliau kontinyuitas suplai makanan, mi-numan, sandang, air, tanpa kepayahan dan kecapaian. Akan tetapi, Allah melarangnya dari memakan (buah) pepohonan tertentu. Allah berfirman, ﴾ وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 19 ﴿ "Dan janganlah kalian berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-A'raf: 19). (120) Setan terus-menerus membisikkan (pikiran jahat) kepada mereka berdua dan mempengaruhinya untuk memandang "makan dari pepohonan itu" sebagai hal yang baik. Setan berkata, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi," yaitu [pohon], yang mana siapa saja yang memakan darinya, niscaya dia kekal abadi di surga, ﴾ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴿ "dan kera-jaan yang tidak akan binasa," maksudnya yang tidak terputus, jika engkau mengkonsumsi (sesuatu) darinya. (121) Setan mendatanginya dalam rupa orang yang berniat baik, bertutur kata lembut, maka Adam terpedaya dengannya. Kemudian mereka berdua memakannya. Lalu terjatuhlah sesuatu yang ada di tangannya, dan lenyaplah pakaian mereka, maksiat mereka pun menjadi jelas. Aurat masing-masing terlihat oleh yang lain, yang sebelumnya mereka dalam keadaan tertutup auratnya. Mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun pohon-pohon surga untuk menutupi diri dengannya. Mereka dirundung oleh malu yang hanya Allah saja mengetahui tingkat rasa malu mereka. ﴾ وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ 121 ﴿ "Dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesat-lah ia," mereka berdua pun bersegera bertaubat dan kembali kepa-daNya dengan berkata, (122)(Allah تعالى berfirman), ﴾ قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 23 ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, nis-caya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 23). Kemudian Rabbnya mengistimewakan dan memilihnya serta memudahkan baginya untuk bertaubat. Maka Allah menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Pasca taubat, kondisi beliau lebih baik daripada sebelumnya. Tipu daya musuh kembali ke pemiliknya, usaha makarnya tidak bertaji. Sementara itu, kenikmatan yang tercurahkan kepada Adam dan anak cucunya semakin lengkap. Kewajiban mereka adalah menggunakannya dengan baik dan mengakui (nikmat itu berasal dari Allah), serta selalu waspada terhadap musuh yang tetap meng-intai lagi menunggu mereka siang dan malam. ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ 27 ﴿ "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari (suatu tempat) yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesung-guhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (Al-A'raf: 27).

Taha 20:120

"Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat, 'Su-judlah kamu kepada Adam,' maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. Maka Kami berkata, 'Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan bah-wasanya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.' Kemudian setan membisik-kan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, 'Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.' Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan mem-berinya petunjuk." (Thaha: 116-122). (116) Usai Allah menyempurnakan penciptaan Adam de-ngan TanganNya, mengajarinya seluruh nama, mengutamakan dan memuliakannya, maka Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai tanda pemuliaan dan pengagungan serta penghormatan baginya. Mereka bersegera sujud dalam keadaan taat. Di tengah mereka ada iblis. Ia menyombongkan diri terhadap perintah Rabbnya, enggan bersujud kepada Adam. Ia berkata, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ 12 ﴿ "Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedang Engkau menciptakannya dari tanah." (Al-A'raf: 12). (117-119) Saat itulah, menjadi jelas permusuhan iblis yang memuncak terhadap Adam dan istrinya, ketika dia menjadi musuh bagi Allah. Sudah terlihat kedengkiannya, yang memicu faktor permusuhannya. Maka Allah memperingatkan Adam dan istrinya dari (bahaya) iblis. Allah berfirman, "Jangan sampai dia, ﴾ يُخۡرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلۡجَنَّةِ فَتَشۡقَىٰٓ 117 ﴿ 'mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebab-kan kamu menjadi celaka'." Yaitu jika setan (berhasil) mengeluarkan-mu darinya, padahal di dalamnya kamu mendapatkan rizki yang menyenangkan dan kenyamanan yang sempurna. ﴾ إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ 118 وَأَنَّكَ لَا تَظۡمَؤُاْ فِيهَا وَلَا تَضۡحَىٰ 119 ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan kela-paran di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan bahwa kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya," maksudnya, matahari tidak mengenaimu dengan terik panasnya. Allah menjamin bagi beliau kontinyuitas suplai makanan, mi-numan, sandang, air, tanpa kepayahan dan kecapaian. Akan tetapi, Allah melarangnya dari memakan (buah) pepohonan tertentu. Allah berfirman, ﴾ وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 19 ﴿ "Dan janganlah kalian berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-A'raf: 19). (120) Setan terus-menerus membisikkan (pikiran jahat) kepada mereka berdua dan mempengaruhinya untuk memandang "makan dari pepohonan itu" sebagai hal yang baik. Setan berkata, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi," yaitu [pohon], yang mana siapa saja yang memakan darinya, niscaya dia kekal abadi di surga, ﴾ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴿ "dan kera-jaan yang tidak akan binasa," maksudnya yang tidak terputus, jika engkau mengkonsumsi (sesuatu) darinya. (121) Setan mendatanginya dalam rupa orang yang berniat baik, bertutur kata lembut, maka Adam terpedaya dengannya. Kemudian mereka berdua memakannya. Lalu terjatuhlah sesuatu yang ada di tangannya, dan lenyaplah pakaian mereka, maksiat mereka pun menjadi jelas. Aurat masing-masing terlihat oleh yang lain, yang sebelumnya mereka dalam keadaan tertutup auratnya. Mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun pohon-pohon surga untuk menutupi diri dengannya. Mereka dirundung oleh malu yang hanya Allah saja mengetahui tingkat rasa malu mereka. ﴾ وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ 121 ﴿ "Dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesat-lah ia," mereka berdua pun bersegera bertaubat dan kembali kepa-daNya dengan berkata, (122)(Allah تعالى berfirman), ﴾ قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 23 ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, nis-caya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 23). Kemudian Rabbnya mengistimewakan dan memilihnya serta memudahkan baginya untuk bertaubat. Maka Allah menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Pasca taubat, kondisi beliau lebih baik daripada sebelumnya. Tipu daya musuh kembali ke pemiliknya, usaha makarnya tidak bertaji. Sementara itu, kenikmatan yang tercurahkan kepada Adam dan anak cucunya semakin lengkap. Kewajiban mereka adalah menggunakannya dengan baik dan mengakui (nikmat itu berasal dari Allah), serta selalu waspada terhadap musuh yang tetap meng-intai lagi menunggu mereka siang dan malam. ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ 27 ﴿ "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari (suatu tempat) yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesung-guhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (Al-A'raf: 27).

Taha 20:121

"Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat, 'Su-judlah kamu kepada Adam,' maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. Maka Kami berkata, 'Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan bah-wasanya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.' Kemudian setan membisik-kan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, 'Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.' Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan mem-berinya petunjuk." (Thaha: 116-122). (116) Usai Allah menyempurnakan penciptaan Adam de-ngan TanganNya, mengajarinya seluruh nama, mengutamakan dan memuliakannya, maka Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai tanda pemuliaan dan pengagungan serta penghormatan baginya. Mereka bersegera sujud dalam keadaan taat. Di tengah mereka ada iblis. Ia menyombongkan diri terhadap perintah Rabbnya, enggan bersujud kepada Adam. Ia berkata, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ 12 ﴿ "Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedang Engkau menciptakannya dari tanah." (Al-A'raf: 12). (117-119) Saat itulah, menjadi jelas permusuhan iblis yang memuncak terhadap Adam dan istrinya, ketika dia menjadi musuh bagi Allah. Sudah terlihat kedengkiannya, yang memicu faktor permusuhannya. Maka Allah memperingatkan Adam dan istrinya dari (bahaya) iblis. Allah berfirman, "Jangan sampai dia, ﴾ يُخۡرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلۡجَنَّةِ فَتَشۡقَىٰٓ 117 ﴿ 'mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebab-kan kamu menjadi celaka'." Yaitu jika setan (berhasil) mengeluarkan-mu darinya, padahal di dalamnya kamu mendapatkan rizki yang menyenangkan dan kenyamanan yang sempurna. ﴾ إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ 118 وَأَنَّكَ لَا تَظۡمَؤُاْ فِيهَا وَلَا تَضۡحَىٰ 119 ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan kela-paran di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan bahwa kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya," maksudnya, matahari tidak mengenaimu dengan terik panasnya. Allah menjamin bagi beliau kontinyuitas suplai makanan, mi-numan, sandang, air, tanpa kepayahan dan kecapaian. Akan tetapi, Allah melarangnya dari memakan (buah) pepohonan tertentu. Allah berfirman, ﴾ وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 19 ﴿ "Dan janganlah kalian berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-A'raf: 19). (120) Setan terus-menerus membisikkan (pikiran jahat) kepada mereka berdua dan mempengaruhinya untuk memandang "makan dari pepohonan itu" sebagai hal yang baik. Setan berkata, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi," yaitu [pohon], yang mana siapa saja yang memakan darinya, niscaya dia kekal abadi di surga, ﴾ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴿ "dan kera-jaan yang tidak akan binasa," maksudnya yang tidak terputus, jika engkau mengkonsumsi (sesuatu) darinya. (121) Setan mendatanginya dalam rupa orang yang berniat baik, bertutur kata lembut, maka Adam terpedaya dengannya. Kemudian mereka berdua memakannya. Lalu terjatuhlah sesuatu yang ada di tangannya, dan lenyaplah pakaian mereka, maksiat mereka pun menjadi jelas. Aurat masing-masing terlihat oleh yang lain, yang sebelumnya mereka dalam keadaan tertutup auratnya. Mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun pohon-pohon surga untuk menutupi diri dengannya. Mereka dirundung oleh malu yang hanya Allah saja mengetahui tingkat rasa malu mereka. ﴾ وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ 121 ﴿ "Dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesat-lah ia," mereka berdua pun bersegera bertaubat dan kembali kepa-daNya dengan berkata, (122)(Allah تعالى berfirman), ﴾ قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 23 ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, nis-caya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 23). Kemudian Rabbnya mengistimewakan dan memilihnya serta memudahkan baginya untuk bertaubat. Maka Allah menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Pasca taubat, kondisi beliau lebih baik daripada sebelumnya. Tipu daya musuh kembali ke pemiliknya, usaha makarnya tidak bertaji. Sementara itu, kenikmatan yang tercurahkan kepada Adam dan anak cucunya semakin lengkap. Kewajiban mereka adalah menggunakannya dengan baik dan mengakui (nikmat itu berasal dari Allah), serta selalu waspada terhadap musuh yang tetap meng-intai lagi menunggu mereka siang dan malam. ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ 27 ﴿ "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari (suatu tempat) yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesung-guhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (Al-A'raf: 27).

Taha 20:122

"Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat, 'Su-judlah kamu kepada Adam,' maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. Maka Kami berkata, 'Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan bah-wasanya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.' Kemudian setan membisik-kan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, 'Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.' Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan mem-berinya petunjuk." (Thaha: 116-122). (116) Usai Allah menyempurnakan penciptaan Adam de-ngan TanganNya, mengajarinya seluruh nama, mengutamakan dan memuliakannya, maka Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai tanda pemuliaan dan pengagungan serta penghormatan baginya. Mereka bersegera sujud dalam keadaan taat. Di tengah mereka ada iblis. Ia menyombongkan diri terhadap perintah Rabbnya, enggan bersujud kepada Adam. Ia berkata, ﴾ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ 12 ﴿ "Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedang Engkau menciptakannya dari tanah." (Al-A'raf: 12). (117-119) Saat itulah, menjadi jelas permusuhan iblis yang memuncak terhadap Adam dan istrinya, ketika dia menjadi musuh bagi Allah. Sudah terlihat kedengkiannya, yang memicu faktor permusuhannya. Maka Allah memperingatkan Adam dan istrinya dari (bahaya) iblis. Allah berfirman, "Jangan sampai dia, ﴾ يُخۡرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلۡجَنَّةِ فَتَشۡقَىٰٓ 117 ﴿ 'mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebab-kan kamu menjadi celaka'." Yaitu jika setan (berhasil) mengeluarkan-mu darinya, padahal di dalamnya kamu mendapatkan rizki yang menyenangkan dan kenyamanan yang sempurna. ﴾ إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ 118 وَأَنَّكَ لَا تَظۡمَؤُاْ فِيهَا وَلَا تَضۡحَىٰ 119 ﴿ "Sesungguhnya kamu tidak akan kela-paran di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan bahwa kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya," maksudnya, matahari tidak mengenaimu dengan terik panasnya. Allah menjamin bagi beliau kontinyuitas suplai makanan, mi-numan, sandang, air, tanpa kepayahan dan kecapaian. Akan tetapi, Allah melarangnya dari memakan (buah) pepohonan tertentu. Allah berfirman, ﴾ وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 19 ﴿ "Dan janganlah kalian berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-A'raf: 19). (120) Setan terus-menerus membisikkan (pikiran jahat) kepada mereka berdua dan mempengaruhinya untuk memandang "makan dari pepohonan itu" sebagai hal yang baik. Setan berkata, ﴾ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi," yaitu [pohon], yang mana siapa saja yang memakan darinya, niscaya dia kekal abadi di surga, ﴾ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴿ "dan kera-jaan yang tidak akan binasa," maksudnya yang tidak terputus, jika engkau mengkonsumsi (sesuatu) darinya. (121) Setan mendatanginya dalam rupa orang yang berniat baik, bertutur kata lembut, maka Adam terpedaya dengannya. Kemudian mereka berdua memakannya. Lalu terjatuhlah sesuatu yang ada di tangannya, dan lenyaplah pakaian mereka, maksiat mereka pun menjadi jelas. Aurat masing-masing terlihat oleh yang lain, yang sebelumnya mereka dalam keadaan tertutup auratnya. Mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun pohon-pohon surga untuk menutupi diri dengannya. Mereka dirundung oleh malu yang hanya Allah saja mengetahui tingkat rasa malu mereka. ﴾ وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ 121 ﴿ "Dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesat-lah ia," mereka berdua pun bersegera bertaubat dan kembali kepa-daNya dengan berkata, (122)(Allah تعالى berfirman), ﴾ قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 23 ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, nis-caya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 23). Kemudian Rabbnya mengistimewakan dan memilihnya serta memudahkan baginya untuk bertaubat. Maka Allah menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Pasca taubat, kondisi beliau lebih baik daripada sebelumnya. Tipu daya musuh kembali ke pemiliknya, usaha makarnya tidak bertaji. Sementara itu, kenikmatan yang tercurahkan kepada Adam dan anak cucunya semakin lengkap. Kewajiban mereka adalah menggunakannya dengan baik dan mengakui (nikmat itu berasal dari Allah), serta selalu waspada terhadap musuh yang tetap meng-intai lagi menunggu mereka siang dan malam. ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ 27 ﴿ "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari (suatu tempat) yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesung-guhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (Al-A'raf: 27).

Taha 20:123

"Allah berfirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dariKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, maka dia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya dia mendapatkan penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.' Berkatalah dia, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat.' Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini pun kamu dilupakan. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabbnya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal'." (Thaha: 123-127). (123) Allah تعالى memberitahukan bahwasanya Dia meme-rintahkan Adam dan iblis untuk turun ke bumi, dan hendaknya mereka[34] menganggap setan sebagai musuh bagi mereka dan me-waspadainya, mempersiapkan kesiapan (menghadapinya) dan melawannya. Dan sesungguhnya Allah akan menurunkan kepada mereka kitab-kitab (Allah), dan mengutus para rasulNya untuk menjelaskan jalan yang lurus yang menghubungkan kepadaNya dan surgaNya. Para rasul itu akan memperingatkan mereka dari musuh yang nyata ini. Dan kapan saja petunjuk itu datang kepada mereka, yaitu kitab-kitab dan para rasul, maka sungguh barang-siapa yang mengikutinya, mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya, maka sesungguhnya dia tidak akan tersesat di dunia dan akhirat serta tidak celaka di dua tempat itu. Bahkan dia dipandu menuju jalan yang lurus di dunia dan akhirat. Dia mendapatkan kebahagiaan dan rasa aman di akhirat kelak. Perasaan ketakutan dan kesedihan sudah dihapuskan darinya, tertuang dalam ayat yang lain, ﴾ فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ 38 ﴿ "Maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 38). Mengikuti hidayah adalah dengan cara membenarkan berita wahyu tanpa mengcounternya dengan syubhat-syubhat. Dan menaati perintah adalah melalui sikap tidak melawannya dengan nafsu syahwat. (124) ﴾ وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu," yaitu dari kitabKu yang menjadi sumber pengingat seluruh cita-cita yang tinggi, membiarkannya dengan cara berpaling darinya atau dengan sikap lebih parah dari itu, dengan cara meng-ingkari atau mengkufurinya, ﴾ فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا ﴿ "maka sesungguhnya dia mendapatkan penghidupan yang sempit," maksudnya sesungguh-nya balasannya adalah Kami menjadikan penghidupannya sempit lagi susah. Dan tidaklah hal itu melainkan suatu siksaan. Peng-hidupan yang sempit juga ditafsirkan dengan siksa kubur. Kubur-nya akan dipersempit, terkepung di dalamnya, dan tersiksa sebagai balasan atas sikapnya berpaling dari peringatan Rabbnya. Ini salah satu dalil dari ayat yang menunjukkan keberadaan siksa kubur. Ayat kedua, Firman Allah, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya." (Al-An'am: 93). Ayat ketiga, FirmanNya, ﴾ وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَدۡنَىٰ دُونَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَكۡبَرِ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat)." (As-Sajdah: 21). Ayat keempat, FirmanNya tentang kelompok Fir'aun, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ ﴿ "Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang." (Al-Mu`min: 46). Menurut ulama Salaf yang menafsirkannya dengan siksa kubur saja dan membatasinya pada point itu semata -wallahu a'lam- bagian yang menentukan adalah penghujung ayat ini, dan bahwa Allah menyebutkan siksa Hari Kiamat di akhir ayat. Sebagian ahli tafsir memandang bahwa penghidupan yang sempit itu bersifat umum di dunia ini saja, semisal kesedihan, ke-getiran dan hal-hal yang menyakitkan yang menimpa orang yang berpaling dari peringatan Rabbnya, yang merupakan siksaan yang disegerakan (di dunia ini), di alam Barzakh, dan di akhirat, lantaran lafazhnya mutlak tanpa diikat (dengan sesuatu pun). ﴾ وَنَحۡشُرُهُۥ ﴿ "Dan Kami akan menghimpunkannya," orang yang berpaling dari peringatan Rabbnya ﴾ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ 124 ﴿ "pada Hari Kiamat dalam keadaan buta," maksudnya buta indera matanya menurut pendapat yang shahih. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيٗا وَبُكۡمٗا وَصُمّٗاۖ ﴿ "Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada Hari Kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan tuli." (Al-Isra`: 97). (125) ﴾ قَالَ ﴿ "Ia berkata," dengan deraan kehinaan, meminta-minta dan kepedihan serta kegoncangan batin karena kondisi ini ﴾ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ ﴿ "Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya," di dunia ﴾ بَصِيرٗا ﴿ "se-orang yang melihat." Apakah yang menyebabkan diriku berubah ke keadaan yang mengerikan seperti ini? (126) ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya'," dengan berpaling darinya ﴾ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ 126 ﴿ "dan begitu (pula) pada hari ini pun kamu dilupakan," maksudnya dibiarkan dalam kubangan siksaan. (Permintaannya) dijawab dengan jawaban bahwa itu me-rupakan (balasan) amalanmu. Bentuk balasan itu disebabkan jenis perbuatan itu sendiri. Sebagaimana engkau buta terhadap peringat-an Rabbmu, tidak mau memandang dengan jelas dan melupakan-nya, dan melupakan bagian kewajibanmu darinya, maka Allah membutakan pandanganmu di akhirat. Engkau digiring ke neraka dalam keadaan buta, tuli, dan bisu. Dia berpaling darimu dan melupakan keberadaanmu dalam siksaan. (127) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikanlah," dengan balasan ini Kami membalas ﴾ مَنۡ أَسۡرَفَ ﴿ "orang yang melampaui batas," melewati batas-batas dan melakukan perbuatan-perbuatan haram serta melampaui wilayah yang diperbolehkan baginya ﴾ وَلَمۡ يُؤۡمِنۢ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِۦۚ ﴿ "dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabbnya," yang menunjukkan kepada se-luruh tuntutan keimanan, dengan sejelas-jelasnya lagi tegas. Allah tidaklah menganiayanya dan tidak menjatuhkan hukuman bukan pada tempatnya. Akan tetapi, penyebabnya adalah tindakannya melampaui batas dan tidak beriman. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَشَدُّ ﴿ "Dan sesung-guhnya azab di akhirat itu lebih berat," daripada siksa dunia dengan berlipat ganda ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 127 ﴿ "dan lebih kekal," karena tidak pernah ber-henti. Berbeda dengan siksa dunia, akan berhenti. Maka kewajiban kita adalah takut dan berwaspada dari siksa akhirat.

Taha 20:124

"Allah berfirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dariKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, maka dia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya dia mendapatkan penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.' Berkatalah dia, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat.' Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini pun kamu dilupakan. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabbnya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal'." (Thaha: 123-127). (123) Allah تعالى memberitahukan bahwasanya Dia meme-rintahkan Adam dan iblis untuk turun ke bumi, dan hendaknya mereka[34] menganggap setan sebagai musuh bagi mereka dan me-waspadainya, mempersiapkan kesiapan (menghadapinya) dan melawannya. Dan sesungguhnya Allah akan menurunkan kepada mereka kitab-kitab (Allah), dan mengutus para rasulNya untuk menjelaskan jalan yang lurus yang menghubungkan kepadaNya dan surgaNya. Para rasul itu akan memperingatkan mereka dari musuh yang nyata ini. Dan kapan saja petunjuk itu datang kepada mereka, yaitu kitab-kitab dan para rasul, maka sungguh barang-siapa yang mengikutinya, mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya, maka sesungguhnya dia tidak akan tersesat di dunia dan akhirat serta tidak celaka di dua tempat itu. Bahkan dia dipandu menuju jalan yang lurus di dunia dan akhirat. Dia mendapatkan kebahagiaan dan rasa aman di akhirat kelak. Perasaan ketakutan dan kesedihan sudah dihapuskan darinya, tertuang dalam ayat yang lain, ﴾ فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ 38 ﴿ "Maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 38). Mengikuti hidayah adalah dengan cara membenarkan berita wahyu tanpa mengcounternya dengan syubhat-syubhat. Dan menaati perintah adalah melalui sikap tidak melawannya dengan nafsu syahwat. (124) ﴾ وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu," yaitu dari kitabKu yang menjadi sumber pengingat seluruh cita-cita yang tinggi, membiarkannya dengan cara berpaling darinya atau dengan sikap lebih parah dari itu, dengan cara meng-ingkari atau mengkufurinya, ﴾ فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا ﴿ "maka sesungguhnya dia mendapatkan penghidupan yang sempit," maksudnya sesungguh-nya balasannya adalah Kami menjadikan penghidupannya sempit lagi susah. Dan tidaklah hal itu melainkan suatu siksaan. Peng-hidupan yang sempit juga ditafsirkan dengan siksa kubur. Kubur-nya akan dipersempit, terkepung di dalamnya, dan tersiksa sebagai balasan atas sikapnya berpaling dari peringatan Rabbnya. Ini salah satu dalil dari ayat yang menunjukkan keberadaan siksa kubur. Ayat kedua, Firman Allah, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya." (Al-An'am: 93). Ayat ketiga, FirmanNya, ﴾ وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَدۡنَىٰ دُونَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَكۡبَرِ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat)." (As-Sajdah: 21). Ayat keempat, FirmanNya tentang kelompok Fir'aun, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ ﴿ "Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang." (Al-Mu`min: 46). Menurut ulama Salaf yang menafsirkannya dengan siksa kubur saja dan membatasinya pada point itu semata -wallahu a'lam- bagian yang menentukan adalah penghujung ayat ini, dan bahwa Allah menyebutkan siksa Hari Kiamat di akhir ayat. Sebagian ahli tafsir memandang bahwa penghidupan yang sempit itu bersifat umum di dunia ini saja, semisal kesedihan, ke-getiran dan hal-hal yang menyakitkan yang menimpa orang yang berpaling dari peringatan Rabbnya, yang merupakan siksaan yang disegerakan (di dunia ini), di alam Barzakh, dan di akhirat, lantaran lafazhnya mutlak tanpa diikat (dengan sesuatu pun). ﴾ وَنَحۡشُرُهُۥ ﴿ "Dan Kami akan menghimpunkannya," orang yang berpaling dari peringatan Rabbnya ﴾ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ 124 ﴿ "pada Hari Kiamat dalam keadaan buta," maksudnya buta indera matanya menurut pendapat yang shahih. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيٗا وَبُكۡمٗا وَصُمّٗاۖ ﴿ "Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada Hari Kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan tuli." (Al-Isra`: 97). (125) ﴾ قَالَ ﴿ "Ia berkata," dengan deraan kehinaan, meminta-minta dan kepedihan serta kegoncangan batin karena kondisi ini ﴾ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ ﴿ "Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya," di dunia ﴾ بَصِيرٗا ﴿ "se-orang yang melihat." Apakah yang menyebabkan diriku berubah ke keadaan yang mengerikan seperti ini? (126) ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya'," dengan berpaling darinya ﴾ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ 126 ﴿ "dan begitu (pula) pada hari ini pun kamu dilupakan," maksudnya dibiarkan dalam kubangan siksaan. (Permintaannya) dijawab dengan jawaban bahwa itu me-rupakan (balasan) amalanmu. Bentuk balasan itu disebabkan jenis perbuatan itu sendiri. Sebagaimana engkau buta terhadap peringat-an Rabbmu, tidak mau memandang dengan jelas dan melupakan-nya, dan melupakan bagian kewajibanmu darinya, maka Allah membutakan pandanganmu di akhirat. Engkau digiring ke neraka dalam keadaan buta, tuli, dan bisu. Dia berpaling darimu dan melupakan keberadaanmu dalam siksaan. (127) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikanlah," dengan balasan ini Kami membalas ﴾ مَنۡ أَسۡرَفَ ﴿ "orang yang melampaui batas," melewati batas-batas dan melakukan perbuatan-perbuatan haram serta melampaui wilayah yang diperbolehkan baginya ﴾ وَلَمۡ يُؤۡمِنۢ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِۦۚ ﴿ "dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabbnya," yang menunjukkan kepada se-luruh tuntutan keimanan, dengan sejelas-jelasnya lagi tegas. Allah tidaklah menganiayanya dan tidak menjatuhkan hukuman bukan pada tempatnya. Akan tetapi, penyebabnya adalah tindakannya melampaui batas dan tidak beriman. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَشَدُّ ﴿ "Dan sesung-guhnya azab di akhirat itu lebih berat," daripada siksa dunia dengan berlipat ganda ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 127 ﴿ "dan lebih kekal," karena tidak pernah ber-henti. Berbeda dengan siksa dunia, akan berhenti. Maka kewajiban kita adalah takut dan berwaspada dari siksa akhirat.

Taha 20:125

"Allah berfirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dariKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, maka dia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya dia mendapatkan penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.' Berkatalah dia, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat.' Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini pun kamu dilupakan. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabbnya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal'." (Thaha: 123-127). (123) Allah تعالى memberitahukan bahwasanya Dia meme-rintahkan Adam dan iblis untuk turun ke bumi, dan hendaknya mereka[34] menganggap setan sebagai musuh bagi mereka dan me-waspadainya, mempersiapkan kesiapan (menghadapinya) dan melawannya. Dan sesungguhnya Allah akan menurunkan kepada mereka kitab-kitab (Allah), dan mengutus para rasulNya untuk menjelaskan jalan yang lurus yang menghubungkan kepadaNya dan surgaNya. Para rasul itu akan memperingatkan mereka dari musuh yang nyata ini. Dan kapan saja petunjuk itu datang kepada mereka, yaitu kitab-kitab dan para rasul, maka sungguh barang-siapa yang mengikutinya, mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya, maka sesungguhnya dia tidak akan tersesat di dunia dan akhirat serta tidak celaka di dua tempat itu. Bahkan dia dipandu menuju jalan yang lurus di dunia dan akhirat. Dia mendapatkan kebahagiaan dan rasa aman di akhirat kelak. Perasaan ketakutan dan kesedihan sudah dihapuskan darinya, tertuang dalam ayat yang lain, ﴾ فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ 38 ﴿ "Maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 38). Mengikuti hidayah adalah dengan cara membenarkan berita wahyu tanpa mengcounternya dengan syubhat-syubhat. Dan menaati perintah adalah melalui sikap tidak melawannya dengan nafsu syahwat. (124) ﴾ وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu," yaitu dari kitabKu yang menjadi sumber pengingat seluruh cita-cita yang tinggi, membiarkannya dengan cara berpaling darinya atau dengan sikap lebih parah dari itu, dengan cara meng-ingkari atau mengkufurinya, ﴾ فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا ﴿ "maka sesungguhnya dia mendapatkan penghidupan yang sempit," maksudnya sesungguh-nya balasannya adalah Kami menjadikan penghidupannya sempit lagi susah. Dan tidaklah hal itu melainkan suatu siksaan. Peng-hidupan yang sempit juga ditafsirkan dengan siksa kubur. Kubur-nya akan dipersempit, terkepung di dalamnya, dan tersiksa sebagai balasan atas sikapnya berpaling dari peringatan Rabbnya. Ini salah satu dalil dari ayat yang menunjukkan keberadaan siksa kubur. Ayat kedua, Firman Allah, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya." (Al-An'am: 93). Ayat ketiga, FirmanNya, ﴾ وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَدۡنَىٰ دُونَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَكۡبَرِ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat)." (As-Sajdah: 21). Ayat keempat, FirmanNya tentang kelompok Fir'aun, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ ﴿ "Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang." (Al-Mu`min: 46). Menurut ulama Salaf yang menafsirkannya dengan siksa kubur saja dan membatasinya pada point itu semata -wallahu a'lam- bagian yang menentukan adalah penghujung ayat ini, dan bahwa Allah menyebutkan siksa Hari Kiamat di akhir ayat. Sebagian ahli tafsir memandang bahwa penghidupan yang sempit itu bersifat umum di dunia ini saja, semisal kesedihan, ke-getiran dan hal-hal yang menyakitkan yang menimpa orang yang berpaling dari peringatan Rabbnya, yang merupakan siksaan yang disegerakan (di dunia ini), di alam Barzakh, dan di akhirat, lantaran lafazhnya mutlak tanpa diikat (dengan sesuatu pun). ﴾ وَنَحۡشُرُهُۥ ﴿ "Dan Kami akan menghimpunkannya," orang yang berpaling dari peringatan Rabbnya ﴾ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ 124 ﴿ "pada Hari Kiamat dalam keadaan buta," maksudnya buta indera matanya menurut pendapat yang shahih. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيٗا وَبُكۡمٗا وَصُمّٗاۖ ﴿ "Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada Hari Kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan tuli." (Al-Isra`: 97). (125) ﴾ قَالَ ﴿ "Ia berkata," dengan deraan kehinaan, meminta-minta dan kepedihan serta kegoncangan batin karena kondisi ini ﴾ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ ﴿ "Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya," di dunia ﴾ بَصِيرٗا ﴿ "se-orang yang melihat." Apakah yang menyebabkan diriku berubah ke keadaan yang mengerikan seperti ini? (126) ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya'," dengan berpaling darinya ﴾ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ 126 ﴿ "dan begitu (pula) pada hari ini pun kamu dilupakan," maksudnya dibiarkan dalam kubangan siksaan. (Permintaannya) dijawab dengan jawaban bahwa itu me-rupakan (balasan) amalanmu. Bentuk balasan itu disebabkan jenis perbuatan itu sendiri. Sebagaimana engkau buta terhadap peringat-an Rabbmu, tidak mau memandang dengan jelas dan melupakan-nya, dan melupakan bagian kewajibanmu darinya, maka Allah membutakan pandanganmu di akhirat. Engkau digiring ke neraka dalam keadaan buta, tuli, dan bisu. Dia berpaling darimu dan melupakan keberadaanmu dalam siksaan. (127) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikanlah," dengan balasan ini Kami membalas ﴾ مَنۡ أَسۡرَفَ ﴿ "orang yang melampaui batas," melewati batas-batas dan melakukan perbuatan-perbuatan haram serta melampaui wilayah yang diperbolehkan baginya ﴾ وَلَمۡ يُؤۡمِنۢ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِۦۚ ﴿ "dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabbnya," yang menunjukkan kepada se-luruh tuntutan keimanan, dengan sejelas-jelasnya lagi tegas. Allah tidaklah menganiayanya dan tidak menjatuhkan hukuman bukan pada tempatnya. Akan tetapi, penyebabnya adalah tindakannya melampaui batas dan tidak beriman. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَشَدُّ ﴿ "Dan sesung-guhnya azab di akhirat itu lebih berat," daripada siksa dunia dengan berlipat ganda ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 127 ﴿ "dan lebih kekal," karena tidak pernah ber-henti. Berbeda dengan siksa dunia, akan berhenti. Maka kewajiban kita adalah takut dan berwaspada dari siksa akhirat.

Taha 20:126

"Allah berfirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dariKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, maka dia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya dia mendapatkan penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.' Berkatalah dia, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat.' Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini pun kamu dilupakan. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabbnya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal'." (Thaha: 123-127). (123) Allah تعالى memberitahukan bahwasanya Dia meme-rintahkan Adam dan iblis untuk turun ke bumi, dan hendaknya mereka[34] menganggap setan sebagai musuh bagi mereka dan me-waspadainya, mempersiapkan kesiapan (menghadapinya) dan melawannya. Dan sesungguhnya Allah akan menurunkan kepada mereka kitab-kitab (Allah), dan mengutus para rasulNya untuk menjelaskan jalan yang lurus yang menghubungkan kepadaNya dan surgaNya. Para rasul itu akan memperingatkan mereka dari musuh yang nyata ini. Dan kapan saja petunjuk itu datang kepada mereka, yaitu kitab-kitab dan para rasul, maka sungguh barang-siapa yang mengikutinya, mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya, maka sesungguhnya dia tidak akan tersesat di dunia dan akhirat serta tidak celaka di dua tempat itu. Bahkan dia dipandu menuju jalan yang lurus di dunia dan akhirat. Dia mendapatkan kebahagiaan dan rasa aman di akhirat kelak. Perasaan ketakutan dan kesedihan sudah dihapuskan darinya, tertuang dalam ayat yang lain, ﴾ فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ 38 ﴿ "Maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 38). Mengikuti hidayah adalah dengan cara membenarkan berita wahyu tanpa mengcounternya dengan syubhat-syubhat. Dan menaati perintah adalah melalui sikap tidak melawannya dengan nafsu syahwat. (124) ﴾ وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu," yaitu dari kitabKu yang menjadi sumber pengingat seluruh cita-cita yang tinggi, membiarkannya dengan cara berpaling darinya atau dengan sikap lebih parah dari itu, dengan cara meng-ingkari atau mengkufurinya, ﴾ فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا ﴿ "maka sesungguhnya dia mendapatkan penghidupan yang sempit," maksudnya sesungguh-nya balasannya adalah Kami menjadikan penghidupannya sempit lagi susah. Dan tidaklah hal itu melainkan suatu siksaan. Peng-hidupan yang sempit juga ditafsirkan dengan siksa kubur. Kubur-nya akan dipersempit, terkepung di dalamnya, dan tersiksa sebagai balasan atas sikapnya berpaling dari peringatan Rabbnya. Ini salah satu dalil dari ayat yang menunjukkan keberadaan siksa kubur. Ayat kedua, Firman Allah, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya." (Al-An'am: 93). Ayat ketiga, FirmanNya, ﴾ وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَدۡنَىٰ دُونَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَكۡبَرِ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat)." (As-Sajdah: 21). Ayat keempat, FirmanNya tentang kelompok Fir'aun, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ ﴿ "Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang." (Al-Mu`min: 46). Menurut ulama Salaf yang menafsirkannya dengan siksa kubur saja dan membatasinya pada point itu semata -wallahu a'lam- bagian yang menentukan adalah penghujung ayat ini, dan bahwa Allah menyebutkan siksa Hari Kiamat di akhir ayat. Sebagian ahli tafsir memandang bahwa penghidupan yang sempit itu bersifat umum di dunia ini saja, semisal kesedihan, ke-getiran dan hal-hal yang menyakitkan yang menimpa orang yang berpaling dari peringatan Rabbnya, yang merupakan siksaan yang disegerakan (di dunia ini), di alam Barzakh, dan di akhirat, lantaran lafazhnya mutlak tanpa diikat (dengan sesuatu pun). ﴾ وَنَحۡشُرُهُۥ ﴿ "Dan Kami akan menghimpunkannya," orang yang berpaling dari peringatan Rabbnya ﴾ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ 124 ﴿ "pada Hari Kiamat dalam keadaan buta," maksudnya buta indera matanya menurut pendapat yang shahih. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيٗا وَبُكۡمٗا وَصُمّٗاۖ ﴿ "Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada Hari Kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan tuli." (Al-Isra`: 97). (125) ﴾ قَالَ ﴿ "Ia berkata," dengan deraan kehinaan, meminta-minta dan kepedihan serta kegoncangan batin karena kondisi ini ﴾ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ ﴿ "Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya," di dunia ﴾ بَصِيرٗا ﴿ "se-orang yang melihat." Apakah yang menyebabkan diriku berubah ke keadaan yang mengerikan seperti ini? (126) ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya'," dengan berpaling darinya ﴾ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ 126 ﴿ "dan begitu (pula) pada hari ini pun kamu dilupakan," maksudnya dibiarkan dalam kubangan siksaan. (Permintaannya) dijawab dengan jawaban bahwa itu me-rupakan (balasan) amalanmu. Bentuk balasan itu disebabkan jenis perbuatan itu sendiri. Sebagaimana engkau buta terhadap peringat-an Rabbmu, tidak mau memandang dengan jelas dan melupakan-nya, dan melupakan bagian kewajibanmu darinya, maka Allah membutakan pandanganmu di akhirat. Engkau digiring ke neraka dalam keadaan buta, tuli, dan bisu. Dia berpaling darimu dan melupakan keberadaanmu dalam siksaan. (127) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikanlah," dengan balasan ini Kami membalas ﴾ مَنۡ أَسۡرَفَ ﴿ "orang yang melampaui batas," melewati batas-batas dan melakukan perbuatan-perbuatan haram serta melampaui wilayah yang diperbolehkan baginya ﴾ وَلَمۡ يُؤۡمِنۢ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِۦۚ ﴿ "dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabbnya," yang menunjukkan kepada se-luruh tuntutan keimanan, dengan sejelas-jelasnya lagi tegas. Allah tidaklah menganiayanya dan tidak menjatuhkan hukuman bukan pada tempatnya. Akan tetapi, penyebabnya adalah tindakannya melampaui batas dan tidak beriman. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَشَدُّ ﴿ "Dan sesung-guhnya azab di akhirat itu lebih berat," daripada siksa dunia dengan berlipat ganda ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 127 ﴿ "dan lebih kekal," karena tidak pernah ber-henti. Berbeda dengan siksa dunia, akan berhenti. Maka kewajiban kita adalah takut dan berwaspada dari siksa akhirat.

Taha 20:127

"Allah berfirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dariKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, maka dia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya dia mendapatkan penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.' Berkatalah dia, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat.' Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini pun kamu dilupakan. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabbnya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal'." (Thaha: 123-127). (123) Allah تعالى memberitahukan bahwasanya Dia meme-rintahkan Adam dan iblis untuk turun ke bumi, dan hendaknya mereka[34] menganggap setan sebagai musuh bagi mereka dan me-waspadainya, mempersiapkan kesiapan (menghadapinya) dan melawannya. Dan sesungguhnya Allah akan menurunkan kepada mereka kitab-kitab (Allah), dan mengutus para rasulNya untuk menjelaskan jalan yang lurus yang menghubungkan kepadaNya dan surgaNya. Para rasul itu akan memperingatkan mereka dari musuh yang nyata ini. Dan kapan saja petunjuk itu datang kepada mereka, yaitu kitab-kitab dan para rasul, maka sungguh barang-siapa yang mengikutinya, mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya, maka sesungguhnya dia tidak akan tersesat di dunia dan akhirat serta tidak celaka di dua tempat itu. Bahkan dia dipandu menuju jalan yang lurus di dunia dan akhirat. Dia mendapatkan kebahagiaan dan rasa aman di akhirat kelak. Perasaan ketakutan dan kesedihan sudah dihapuskan darinya, tertuang dalam ayat yang lain, ﴾ فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ 38 ﴿ "Maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 38). Mengikuti hidayah adalah dengan cara membenarkan berita wahyu tanpa mengcounternya dengan syubhat-syubhat. Dan menaati perintah adalah melalui sikap tidak melawannya dengan nafsu syahwat. (124) ﴾ وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu," yaitu dari kitabKu yang menjadi sumber pengingat seluruh cita-cita yang tinggi, membiarkannya dengan cara berpaling darinya atau dengan sikap lebih parah dari itu, dengan cara meng-ingkari atau mengkufurinya, ﴾ فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا ﴿ "maka sesungguhnya dia mendapatkan penghidupan yang sempit," maksudnya sesungguh-nya balasannya adalah Kami menjadikan penghidupannya sempit lagi susah. Dan tidaklah hal itu melainkan suatu siksaan. Peng-hidupan yang sempit juga ditafsirkan dengan siksa kubur. Kubur-nya akan dipersempit, terkepung di dalamnya, dan tersiksa sebagai balasan atas sikapnya berpaling dari peringatan Rabbnya. Ini salah satu dalil dari ayat yang menunjukkan keberadaan siksa kubur. Ayat kedua, Firman Allah, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya." (Al-An'am: 93). Ayat ketiga, FirmanNya, ﴾ وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَدۡنَىٰ دُونَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَكۡبَرِ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat)." (As-Sajdah: 21). Ayat keempat, FirmanNya tentang kelompok Fir'aun, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ ﴿ "Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang." (Al-Mu`min: 46). Menurut ulama Salaf yang menafsirkannya dengan siksa kubur saja dan membatasinya pada point itu semata -wallahu a'lam- bagian yang menentukan adalah penghujung ayat ini, dan bahwa Allah menyebutkan siksa Hari Kiamat di akhir ayat. Sebagian ahli tafsir memandang bahwa penghidupan yang sempit itu bersifat umum di dunia ini saja, semisal kesedihan, ke-getiran dan hal-hal yang menyakitkan yang menimpa orang yang berpaling dari peringatan Rabbnya, yang merupakan siksaan yang disegerakan (di dunia ini), di alam Barzakh, dan di akhirat, lantaran lafazhnya mutlak tanpa diikat (dengan sesuatu pun). ﴾ وَنَحۡشُرُهُۥ ﴿ "Dan Kami akan menghimpunkannya," orang yang berpaling dari peringatan Rabbnya ﴾ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ 124 ﴿ "pada Hari Kiamat dalam keadaan buta," maksudnya buta indera matanya menurut pendapat yang shahih. Seperti Firman Allah تعالى, ﴾ وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيٗا وَبُكۡمٗا وَصُمّٗاۖ ﴿ "Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada Hari Kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan tuli." (Al-Isra`: 97). (125) ﴾ قَالَ ﴿ "Ia berkata," dengan deraan kehinaan, meminta-minta dan kepedihan serta kegoncangan batin karena kondisi ini ﴾ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ ﴿ "Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya," di dunia ﴾ بَصِيرٗا ﴿ "se-orang yang melihat." Apakah yang menyebabkan diriku berubah ke keadaan yang mengerikan seperti ini? (126) ﴾ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ ﴿ "Allah berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya'," dengan berpaling darinya ﴾ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ 126 ﴿ "dan begitu (pula) pada hari ini pun kamu dilupakan," maksudnya dibiarkan dalam kubangan siksaan. (Permintaannya) dijawab dengan jawaban bahwa itu me-rupakan (balasan) amalanmu. Bentuk balasan itu disebabkan jenis perbuatan itu sendiri. Sebagaimana engkau buta terhadap peringat-an Rabbmu, tidak mau memandang dengan jelas dan melupakan-nya, dan melupakan bagian kewajibanmu darinya, maka Allah membutakan pandanganmu di akhirat. Engkau digiring ke neraka dalam keadaan buta, tuli, dan bisu. Dia berpaling darimu dan melupakan keberadaanmu dalam siksaan. (127) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikanlah," dengan balasan ini Kami membalas ﴾ مَنۡ أَسۡرَفَ ﴿ "orang yang melampaui batas," melewati batas-batas dan melakukan perbuatan-perbuatan haram serta melampaui wilayah yang diperbolehkan baginya ﴾ وَلَمۡ يُؤۡمِنۢ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِۦۚ ﴿ "dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabbnya," yang menunjukkan kepada se-luruh tuntutan keimanan, dengan sejelas-jelasnya lagi tegas. Allah tidaklah menganiayanya dan tidak menjatuhkan hukuman bukan pada tempatnya. Akan tetapi, penyebabnya adalah tindakannya melampaui batas dan tidak beriman. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَشَدُّ ﴿ "Dan sesung-guhnya azab di akhirat itu lebih berat," daripada siksa dunia dengan berlipat ganda ﴾ وَأَبۡقَىٰٓ 127 ﴿ "dan lebih kekal," karena tidak pernah ber-henti. Berbeda dengan siksa dunia, akan berhenti. Maka kewajiban kita adalah takut dan berwaspada dari siksa akhirat.

Taha 20:128

"Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musy-rikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal." (Thaha: 128). (128) Maksudnya, ﴾ أَفَلَمۡ يَهۡدِ ﴿ "Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka," yaitu orang-orang yang mendustakan lagi berpaling, lalu mengarahkan mereka untuk melintasi jalan petunjuk dan men-jauhi jalan kesesatan dan kerusakan, yaitu azab yang telah Allah timpakan kepada orang-orang yang mendustakan sebelum mereka dari generasi-generasi terdahulu dan bangsa-bangsa yang silih berganti yang mereka itu mengetahui sejarah-sejarah mereka dan menjadikannya bahan perbincangan mereka di malam hari, serta dapat menyaksikan (dengan mata kepala mereka) bekas-bekas tempat tinggal kaum yang mendustakan itu, semisal kaum Nabi Hud, Shalih, Luth, dan lain-lain. Mereka itu ketika mendustakan para rasul Kami dan berbelok dari kitab-kitab Kami, niscaya Kami menjatuhkan siksa yang pedih pada mereka. Apakah yang mem-buat orang-orang itu merasa aman dari turunnya siksa yang me-ngenai kaum-kaum itu? ﴾ أَكُفَّارُكُمۡ خَيۡرٞ مِّنۡ أُوْلَٰٓئِكُمۡ أَمۡ لَكُم بَرَآءَةٞ فِي ٱلزُّبُرِ 43 أَمۡ يَقُولُونَ نَحۡنُ جَمِيعٞ مُّنتَصِرٞ 44 ﴿ "Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari-pada mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam kitab-kitab yang dahulu. Atau apakah mereka menga-takan, 'Kami adalah satu golongan yang bersatu yang pasti menang'." (Al-Qamar: 43-44). Fakta ini sama sekali tidak ada pada mereka. Orang-orang kafir itu tidak lebih baik daripada mereka (yang sudah dibinasa-kan) hingga siksaan (bisa) disingkirkan dari mereka dengan sebab kebaikan yang mereka punya. Bahkan mereka itu lebih buruk dari kaum-kaum itu. Karena mereka mengingkari utusan Allah yang termulia dan kitab yang terbaik. Mereka pun tidak mempunyai (surat) bebas yang tertulis dan janji (selamat) dari Allah. Dan mereka bukanlah sebagaimana yang mereka ungkapkan, bahwa kesatuan mereka berguna bagi mereka dan sanggup menolak azab dari mereka. Bahkan mereka itu lebih hina dan nista dari itu. Pemusnahan generasi-generasi manusia tempo dulu disebabkan dosa-dosa mereka adalah termasuk salah satu penyebab datangnya hidayah, lantaran ia termasuk tanda-tanda kebesaran Allah yang menandakan kebenaran risalah para rasul yang membawanya kepada mereka dan kebatilan ajaran yang ada pada kaum kuffar. Akan tetapi, tidak setiap orang dapat meraih manfaat dengan tanda-tanda kebesaran Allah itu. Orang yang berhasil merengkuh manfaat dengannya, hanyalah orang-orang berakal, yaitu orang-orang yang mempunyai akal-akal yang sehat lagi fitrah-fitrah yang masih lurus. Sementara al-Albab adalah akal-akal yang mengekang pemiliknya dari hal-hal yang tidak sepantasnya diperbuat.

Taha 20:129

"Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan yang terdahulu dari Rabbmu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka. Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu, sebe-lum terbit matahari dan terbenamnya, dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang." (129-130). (129) Ini adalah hiburan hati bagi Rasulullah dan penahan diri bagi beliau untuk menyegerakan pemusnahan kaum yang men-dustakan lagi berpaling, dan bahwa kekufuran serta pendustaan yang mereka lakukan merupakan penyebab yang pantas menda-tangkan siksaan dan kontinyuitasnya pada mereka. Sebab, Allah menciptakan hukuman-hukuman itu memiliki pemicu dan timbul dari dosa-dosa serta melekat dengannya. Mereka itu sudah mela-kukan ulah yang menjadi penyebab turunnya siksa. Namun, faktor yang menunda azab dari mereka ialah ketetapan Rabbmu yang memuat penundaan dan pengakhiran (siksa) untuk mereka serta pengaturan waktu yang sudah ditentukan. Waktu yang sudah ditentukan dan ketetapan Rabbmu, itulah yang mengundurkan tibanya siksaan pada mereka sampai datanglah waktunya. Boleh jadi mereka kembali memikirkan perintah Allah, hingga Allah me-nerima taubat mereka dan menghilangkan hukuman dari mereka, jika ketetapan Allah tidak jadi mengenai mereka. (130) Untuk itu, Allah memerintahkan RasulNya untuk bersabar menghadapi gangguan mereka yang berbentuk ucapan, dan memerintahkan beliau untuk menahan diri dari itu serta me-nolong diri dengan bertasbih ﴾ بِحَمۡدِ ﴿ "dengan memuji," Rabbnya di waktu-waktu yang utama ini ﴾ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ غُرُوبِهَاۖ ﴿ "sebelum terbit matahari dan terbenamnya," dan di ujung-ujung siang hari, yaitu pada permulaan dan akhir hari. Ini merupakan penyebutan keterangan yang umum setelah ungkapan khusus, dan waktu-waktu ﴾ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di malam hari," dan jam-jamnya. Jika engkau mengerjakannya, pasti engkau akan ridha dengan apa yang Allah berikan kepadamu berupa pahala yang segera dan yang diakhirkan. Hendaklah hatimu tentram, pandanganmu sejuk dengan beribadah kepada Rabbmu serta mencari hiburan hati dengannya dari gangguan-gangguan mereka. Ketika itulah, sikap sabar terasa ringan bagimu.

Taha 20:130

"Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan yang terdahulu dari Rabbmu atau tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (azab itu) menimpa mereka. Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu, sebe-lum terbit matahari dan terbenamnya, dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang." (129-130). (129) Ini adalah hiburan hati bagi Rasulullah dan penahan diri bagi beliau untuk menyegerakan pemusnahan kaum yang men-dustakan lagi berpaling, dan bahwa kekufuran serta pendustaan yang mereka lakukan merupakan penyebab yang pantas menda-tangkan siksaan dan kontinyuitasnya pada mereka. Sebab, Allah menciptakan hukuman-hukuman itu memiliki pemicu dan timbul dari dosa-dosa serta melekat dengannya. Mereka itu sudah mela-kukan ulah yang menjadi penyebab turunnya siksa. Namun, faktor yang menunda azab dari mereka ialah ketetapan Rabbmu yang memuat penundaan dan pengakhiran (siksa) untuk mereka serta pengaturan waktu yang sudah ditentukan. Waktu yang sudah ditentukan dan ketetapan Rabbmu, itulah yang mengundurkan tibanya siksaan pada mereka sampai datanglah waktunya. Boleh jadi mereka kembali memikirkan perintah Allah, hingga Allah me-nerima taubat mereka dan menghilangkan hukuman dari mereka, jika ketetapan Allah tidak jadi mengenai mereka. (130) Untuk itu, Allah memerintahkan RasulNya untuk bersabar menghadapi gangguan mereka yang berbentuk ucapan, dan memerintahkan beliau untuk menahan diri dari itu serta me-nolong diri dengan bertasbih ﴾ بِحَمۡدِ ﴿ "dengan memuji," Rabbnya di waktu-waktu yang utama ini ﴾ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ غُرُوبِهَاۖ ﴿ "sebelum terbit matahari dan terbenamnya," dan di ujung-ujung siang hari, yaitu pada permulaan dan akhir hari. Ini merupakan penyebutan keterangan yang umum setelah ungkapan khusus, dan waktu-waktu ﴾ ٱلَّيۡلِ ﴿ "di malam hari," dan jam-jamnya. Jika engkau mengerjakannya, pasti engkau akan ridha dengan apa yang Allah berikan kepadamu berupa pahala yang segera dan yang diakhirkan. Hendaklah hatimu tentram, pandanganmu sejuk dengan beribadah kepada Rabbmu serta mencari hiburan hati dengannya dari gangguan-gangguan mereka. Ketika itulah, sikap sabar terasa ringan bagimu.

Taha 20:131

"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia agar Kami menguji mereka dengan (kesenangan) itu. Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal." (Thaha: 131). (131) Maka janganlah engkau membelalakkan ﴾ عَيۡنَيۡكَ ﴿ "kedua matamu," dengan penuh keheranan dan janganlah engkau berulang-ulang memandang dengan simpatik ke pernak-pernik dunia dan orang-orang yang larut dalam kemewahan padanya, dalam ma-kanan, minuman yang lezat, pakaian yang mewah, hunian-hunian yang sarat dengan keindahan, dan wanita-wanita yang cantik-cantik. Semua itu merupakan kembang ﴾ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "kehidupan dunia," mak-sudnya jiwa orang-orang yang terperdaya begitu riang dengannya, dan (kehidupan dunia) itu menarik kekaguman orang-orang yang berpaling (dari peringatan). Orang-orang zhalim menikmatinya tanpa menengok kondisi alam akhirat. Kemudian, kembang dunia itu pun hilang dengan begitu cepat dan berlalu semua, membunuhi para pecintanya dan perundungnya. Mereka akan menyesal di saat sesal tidak berguna lagi. Mereka mengetahui tindak-tanduk mereka ketika memasuki Hari Kiamat. Allah hanyalah menjadikannya se-bagai sumber fitnah dan ujian, supaya dapat dideteksi orang-orang yang diam dan terpukau dengannya dan orang-orang yang lebih baik amalannya. Sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةٗ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا 7 وَإِنَّا لَجَٰعِلُونَ مَا عَلَيۡهَا صَعِيدٗا جُرُزًا 8 ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan Kami benar-benar akan menjadikan se-suatu yang di atasnya sebagai tanah yang tandus lagi kering." (Al-Kahfi: 7-8). ﴾ وَرِزۡقُ رَبِّكَ ﴿ "Dan karunia Rabbmu," yang segera (dapat diraih), berupa ilmu, iman, dan hakikat-hakikat amalan yang shalih. Dan karunia yang ditunda (di akhirat) berupa kenikmatan yang lestari dan kehidupan yang nyaman di sisi Rabb Yang Maha Penyayang ﴾ خَيۡرٞ ﴿ "adalah lebih baik," daripada sesuatu yang Kami limpahkan kepada kelompok-kelompok itu pada dzat dan sifat-sifatnya. ﴾ وَأَبۡقَىٰ ﴿ "dan lebih kekal," lantaran tidak pernah terputus. Buah-buahnya dan kesejukannya langgeng. Seperti Firman Allah, ﴾ بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا 16 وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ 17 ﴿ "Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Se-dang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Al-A'la: 16-17). Dalam ayat ini terselip sebuah isyarat bahwa seorang hamba jika menyaksikan pada dirinya terdapat kerakusan terhadap pesona dunia dan sorotan kepadanya, maka dia wajib mengingatkan dirinya dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di depannya (di akhirat) dari karunia Rabbnya, dan dia harus membandingkan antara ini dan itu.

Taha 20:132

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (Thaha: 132). (132) Maksudnya himbaulah keluargamu untuk mendirikan shalat, doronglah mereka untuk shalat, baik yang wajib maupun sunnah. اَلْأَمْرُ بِالشَّيْءِ أَمْرٌ بِجَمِيْعِ مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ (Perintah kepada se-suatu, berarti memerintahkan segala sesuatu yang mana suatu yang wajib tidak akan sempurna kecuali dengannya). Maka ia juga men-jadi perintah mengajari anggota keluarga tentang perkara-perkara yang memperbaiki shalat dan merusaknya serta yang menyempur-nakannya ﴾ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ ﴿ "dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya," yaitu mengerjakan shalat dengan menegakkannya dengan me-nyempurnakan batasan-batasan aturannya, rukun-rukunnya, [adab-adabnya], dan unsur khusyu'nya. Sesungguhnya hal itu berat dirasakan oleh jiwa manusia. Akan tetapi, sepatutnya seseorang memaksakan diri dan berusaha keras untuk mengerjakannya dan selalu bersabar dengan ibadah ini. Sesungguhnya seorang hamba, jika dia benar menegakkan shalatnya sesuai dengan yang diperintahkan, maka dengan urusan agama yang lainnya, niscaya dia akan lebih menjaga dan tekun mengerjakannya. Jika dia menyia-nyiakannya, maka dia akan lebih menyia-nyiakan perintah agama yang lainnya. Kemudian Allah (memberitahukan) tentang jaminan rizki bagi Rasulullah, agar per-hatian kepadanya tidak menyibukkan beliau dari tugas menegak-kan agamaNya. Allah berfirman, ﴾ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ ﴿ "Kamilah yang memberi rizki kepadamu," maksudnya rizkimu menjadi tanggungan Kami. Kami yang menanggung sebagaimana Kami bertanggung jawab atas rizki bagi semua makhluk. Bagaimana dengan orang yang melaksanakan perintah Kami dan sibuk dengan mengingat Kami?! (Sudah tentu Kami lebih menjaminnya). Curahan rizki Allah itu umum, merata bagi orang yang bertakwa dan tidak. Maka, seyog-yanya diperhatikan hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan yang abadi, yaitu ketakwaan. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَٱلۡعَٰقِبَةُ ﴿ "Dan akibat (yang baik)," di dunia dan akhirat ﴾ لِلتَّقۡوَىٰ 132 ﴿ "adalah bagi orang yang bertakwa," yang hakikatnya yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Siapa saja yang merealisasikannya, niscaya dia mendapatkan kesudahan yang baik. Seperti Firman Allah, ﴾ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ 128 ﴿ "Dan akibat (yang baik) bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-A'raf: 128).

Taha 20:133

"Dan mereka berkata, 'Mengapa dia tidak membawa bukti kepada Kami dari Rabbnya? Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu? Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al-Qur`an itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayatMu sebelum kami menjadi hina dan rendah?' Katakanlah, 'Masing-masing (kita) menanti, maka kalian nantikanlah! Maka kalian kelak akan me-ngetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah membawa petunjuk'." (Thaha: 133-135). (133) Maksudnya, orang-orang yang mendustakan Rasu-lullah mengatakan, "Mengapa dia tidak membawa bukti kepada Kami dari Rabbnya?" Yang mereka maksudkan adalah tanda-tanda kebesaran yang sesuai dengan keinginan mereka. Semisal ucapan mereka, ﴾ وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنۢبُوعًا 90 أَوۡ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٞ مِّن نَّخِيلٖ وَعِنَبٖ فَتُفَجِّرَ ٱلۡأَنۡهَٰرَ خِلَٰلَهَا تَفۡجِيرًا 91 أَوۡ تُسۡقِطَ ٱلسَّمَآءَ كَمَا زَعَمۡتَ عَلَيۡنَا كِسَفًا أَوۡ تَأۡتِيَ بِٱللَّهِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ قَبِيلًا 92 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami. Atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya. Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan, atau kamu da-tangkan Allah dan malaikat berhadapan muka dengan kami'." (Al-Isra`: 90-92). Ini (cerminan) sikap kepala batu dan penentangan serta kezhaliman dari mereka. Mereka dan Rasulullah itu (sama) dari kalangan manusia, hamba Allah. Tidak sepantasnya mereka me-lontarkan usulan menurut hawa nafsu mereka. Karena Dzat yang menurunkan dan memilih sekehendaknya sesuai dengan tuntutan hikmah hanyalah Allah semata. Lantaran ucapan mereka i n i ﴾ لَوۡلَا يَأۡتِينَا بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّهِۦٓۚ ﴿ "Mengapa dia tidak membawa bukti kepada Kami dari Rabbnya?" memiliki konsekuensi makna bahwa Rasulullah belum membawakan kepada mereka tanda kebesaran Allah yang menun-jukkan kejujuran beliau atau bukti nyata yang menandakan kepada kebenaran beliau, maka ungkapan ini hanya dusta dan mengada-ada saja. Sesungguhnya beliau sudah memperlihatkan mukjizat yang fantastis dan tanda-tanda kebesaran Allah yang melumpuh-kan, yang sebagiannya saja sudah cukup mewakili substansinya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ تَأۡتِهِم ﴿ "Dan apakah belum datang kepada mereka," jika mereka mau jujur dalam perkataan mereka, bahwa mereka menginginkan kebenaran disertai dalilnya ﴾ بَيِّنَةُ مَا فِي ٱلصُّحُفِ ٱلۡأُولَىٰ 133 ﴿ "bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu?" Yaitu al-Qur`an yang agung, yang membenarkan berita-berita yang termuat pada lembaran-lembaran kitab terdahulu, berupa Taurat, Injil dan kitab-kitab Allah sebelum-nya, dan yang selaras dengannya, yang memberitahukan berita-berita yang disampaikan oleh kitab-kitab itu. (Bahkan) pembenaran al-Qur`an pun termaktub di dalamnya, memberi kabar gembira dengan kedatangan Rasulullah (Muhammad). Ini persis seperti Firman Allah, ﴾ أَوَلَمۡ يَكۡفِهِمۡ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ 51 ﴿ "Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah me-nurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al-Qur`an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman." (Al-Ankabut: 51). Ayat-ayat ini hanya bermanfaat bagi kaum Mukminin. Dengan itu, iman dan keyakinan mereka terdongkrak naik. Sementara itu, kaum yang berpaling darinya lagi menggerakkan perlawanan ke-padanya, maka mereka tidak mengimaninya dan tidak bisa meraup faidah dengannya, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ حَقَّتۡ عَلَيۡهِمۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ 96 وَلَوۡ جَآءَتۡهُمۡ كُلُّ ءَايَةٍ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ 97 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabbmu, tidaklah akan beriman. Meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih." (Yunus: 96-97). (134) Faidah dari (tindakan) mengarahkan ayat-ayat ke-pada mereka dan mengajak bicara mereka dengannya ialah untuk tujuan penegakan hujjah Allah atas mereka. Agar mereka tidak ber-komentar ketika siksaan datang kepada mereka, ﴾ لَوۡلَآ أَرۡسَلۡتَ إِلَيۡنَا رَسُولٗا فَنَتَّبِعَ ءَايَٰتِكَ مِن قَبۡلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخۡزَىٰ 134 ﴿ "Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayatMu sebelum kami menjadi hina dan rendah?" dengan sebab hukuman. Sekarang telah datang kepada kalian utusanKu, yang dibekali dengan ayat-ayat serta petunjuk-petunjuk dariKu. Jika kalian memang sesuai dengan perkataan kalian, maka percayailah dia. (135) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad, untuk me-nyampaikan pembicaraan kepada orang-orang yang mendustakan dirimu, yang mengatakan, "Kalian nantikanlah kematiannya." ﴾ قُلۡ كُلّٞ مُّتَرَبِّصٞ ﴿ "Katakanlah, 'Masing-masing (kita) menanti'," maka kalian nantikanlah kematianku, dan aku menantikan kalian diazab. ﴾ قُلۡ هَلۡ تَرَبَّصُونَ بِنَآ إِلَّآ إِحۡدَى ٱلۡحُسۡنَيَيۡنِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami kecuali salah satu dari dua kebaikan'." (At-Taubah: 52), yaitu kemenangan atau kematian syahid. Kami menunggu Allah menimpakan siksa dari sisiNya (kepada kalian) atau melalui tangan-tangan kami. ﴾ فَتَرَبَّصُواْۖ فَسَتَعۡلَمُونَ مَنۡ أَصۡحَٰبُ ٱلصِّرَٰطِ ٱلسَّوِيِّ ﴿ "Maka kalian nantikanlah! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus," jalan yang lurus dan benar ﴾ وَمَنِ ٱهۡتَدَىٰ 135 ﴿ "dan siapa yang telah membawa petunjuk," dengan menempuhnya, sayakah atau kalian. Sesungguhnya pemilik jalan lurus itulah yang menang, mendapatkan petunjuk, selamat lagi beruntung. Dan siapa yang berbelok darinya, niscaya dia merugi, gagal lagi tersiksa. Dan sung-guh telah diketahui bahwa Rasulullah itulah insan yang bersifat seperti itu. Sementara para musuh beliau, tidak demikian. Wallahu a'lam.

Taha 20:134

"Dan mereka berkata, 'Mengapa dia tidak membawa bukti kepada Kami dari Rabbnya? Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu? Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al-Qur`an itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayatMu sebelum kami menjadi hina dan rendah?' Katakanlah, 'Masing-masing (kita) menanti, maka kalian nantikanlah! Maka kalian kelak akan me-ngetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah membawa petunjuk'." (Thaha: 133-135). (133) Maksudnya, orang-orang yang mendustakan Rasu-lullah mengatakan, "Mengapa dia tidak membawa bukti kepada Kami dari Rabbnya?" Yang mereka maksudkan adalah tanda-tanda kebesaran yang sesuai dengan keinginan mereka. Semisal ucapan mereka, ﴾ وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنۢبُوعًا 90 أَوۡ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٞ مِّن نَّخِيلٖ وَعِنَبٖ فَتُفَجِّرَ ٱلۡأَنۡهَٰرَ خِلَٰلَهَا تَفۡجِيرًا 91 أَوۡ تُسۡقِطَ ٱلسَّمَآءَ كَمَا زَعَمۡتَ عَلَيۡنَا كِسَفًا أَوۡ تَأۡتِيَ بِٱللَّهِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ قَبِيلًا 92 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami. Atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya. Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan, atau kamu da-tangkan Allah dan malaikat berhadapan muka dengan kami'." (Al-Isra`: 90-92). Ini (cerminan) sikap kepala batu dan penentangan serta kezhaliman dari mereka. Mereka dan Rasulullah itu (sama) dari kalangan manusia, hamba Allah. Tidak sepantasnya mereka me-lontarkan usulan menurut hawa nafsu mereka. Karena Dzat yang menurunkan dan memilih sekehendaknya sesuai dengan tuntutan hikmah hanyalah Allah semata. Lantaran ucapan mereka i n i ﴾ لَوۡلَا يَأۡتِينَا بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّهِۦٓۚ ﴿ "Mengapa dia tidak membawa bukti kepada Kami dari Rabbnya?" memiliki konsekuensi makna bahwa Rasulullah belum membawakan kepada mereka tanda kebesaran Allah yang menun-jukkan kejujuran beliau atau bukti nyata yang menandakan kepada kebenaran beliau, maka ungkapan ini hanya dusta dan mengada-ada saja. Sesungguhnya beliau sudah memperlihatkan mukjizat yang fantastis dan tanda-tanda kebesaran Allah yang melumpuh-kan, yang sebagiannya saja sudah cukup mewakili substansinya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ تَأۡتِهِم ﴿ "Dan apakah belum datang kepada mereka," jika mereka mau jujur dalam perkataan mereka, bahwa mereka menginginkan kebenaran disertai dalilnya ﴾ بَيِّنَةُ مَا فِي ٱلصُّحُفِ ٱلۡأُولَىٰ 133 ﴿ "bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu?" Yaitu al-Qur`an yang agung, yang membenarkan berita-berita yang termuat pada lembaran-lembaran kitab terdahulu, berupa Taurat, Injil dan kitab-kitab Allah sebelum-nya, dan yang selaras dengannya, yang memberitahukan berita-berita yang disampaikan oleh kitab-kitab itu. (Bahkan) pembenaran al-Qur`an pun termaktub di dalamnya, memberi kabar gembira dengan kedatangan Rasulullah (Muhammad). Ini persis seperti Firman Allah, ﴾ أَوَلَمۡ يَكۡفِهِمۡ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ 51 ﴿ "Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah me-nurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al-Qur`an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman." (Al-Ankabut: 51). Ayat-ayat ini hanya bermanfaat bagi kaum Mukminin. Dengan itu, iman dan keyakinan mereka terdongkrak naik. Sementara itu, kaum yang berpaling darinya lagi menggerakkan perlawanan ke-padanya, maka mereka tidak mengimaninya dan tidak bisa meraup faidah dengannya, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ حَقَّتۡ عَلَيۡهِمۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ 96 وَلَوۡ جَآءَتۡهُمۡ كُلُّ ءَايَةٍ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ 97 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabbmu, tidaklah akan beriman. Meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih." (Yunus: 96-97). (134) Faidah dari (tindakan) mengarahkan ayat-ayat ke-pada mereka dan mengajak bicara mereka dengannya ialah untuk tujuan penegakan hujjah Allah atas mereka. Agar mereka tidak ber-komentar ketika siksaan datang kepada mereka, ﴾ لَوۡلَآ أَرۡسَلۡتَ إِلَيۡنَا رَسُولٗا فَنَتَّبِعَ ءَايَٰتِكَ مِن قَبۡلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخۡزَىٰ 134 ﴿ "Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayatMu sebelum kami menjadi hina dan rendah?" dengan sebab hukuman. Sekarang telah datang kepada kalian utusanKu, yang dibekali dengan ayat-ayat serta petunjuk-petunjuk dariKu. Jika kalian memang sesuai dengan perkataan kalian, maka percayailah dia. (135) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad, untuk me-nyampaikan pembicaraan kepada orang-orang yang mendustakan dirimu, yang mengatakan, "Kalian nantikanlah kematiannya." ﴾ قُلۡ كُلّٞ مُّتَرَبِّصٞ ﴿ "Katakanlah, 'Masing-masing (kita) menanti'," maka kalian nantikanlah kematianku, dan aku menantikan kalian diazab. ﴾ قُلۡ هَلۡ تَرَبَّصُونَ بِنَآ إِلَّآ إِحۡدَى ٱلۡحُسۡنَيَيۡنِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami kecuali salah satu dari dua kebaikan'." (At-Taubah: 52), yaitu kemenangan atau kematian syahid. Kami menunggu Allah menimpakan siksa dari sisiNya (kepada kalian) atau melalui tangan-tangan kami. ﴾ فَتَرَبَّصُواْۖ فَسَتَعۡلَمُونَ مَنۡ أَصۡحَٰبُ ٱلصِّرَٰطِ ٱلسَّوِيِّ ﴿ "Maka kalian nantikanlah! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus," jalan yang lurus dan benar ﴾ وَمَنِ ٱهۡتَدَىٰ 135 ﴿ "dan siapa yang telah membawa petunjuk," dengan menempuhnya, sayakah atau kalian. Sesungguhnya pemilik jalan lurus itulah yang menang, mendapatkan petunjuk, selamat lagi beruntung. Dan siapa yang berbelok darinya, niscaya dia merugi, gagal lagi tersiksa. Dan sung-guh telah diketahui bahwa Rasulullah itulah insan yang bersifat seperti itu. Sementara para musuh beliau, tidak demikian. Wallahu a'lam.

Taha 20:135

"Dan mereka berkata, 'Mengapa dia tidak membawa bukti kepada Kami dari Rabbnya? Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu? Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al-Qur`an itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, 'Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayatMu sebelum kami menjadi hina dan rendah?' Katakanlah, 'Masing-masing (kita) menanti, maka kalian nantikanlah! Maka kalian kelak akan me-ngetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah membawa petunjuk'." (Thaha: 133-135). (133) Maksudnya, orang-orang yang mendustakan Rasu-lullah mengatakan, "Mengapa dia tidak membawa bukti kepada Kami dari Rabbnya?" Yang mereka maksudkan adalah tanda-tanda kebesaran yang sesuai dengan keinginan mereka. Semisal ucapan mereka, ﴾ وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنۢبُوعًا 90 أَوۡ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٞ مِّن نَّخِيلٖ وَعِنَبٖ فَتُفَجِّرَ ٱلۡأَنۡهَٰرَ خِلَٰلَهَا تَفۡجِيرًا 91 أَوۡ تُسۡقِطَ ٱلسَّمَآءَ كَمَا زَعَمۡتَ عَلَيۡنَا كِسَفًا أَوۡ تَأۡتِيَ بِٱللَّهِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ قَبِيلًا 92 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami. Atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya. Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan, atau kamu da-tangkan Allah dan malaikat berhadapan muka dengan kami'." (Al-Isra`: 90-92). Ini (cerminan) sikap kepala batu dan penentangan serta kezhaliman dari mereka. Mereka dan Rasulullah itu (sama) dari kalangan manusia, hamba Allah. Tidak sepantasnya mereka me-lontarkan usulan menurut hawa nafsu mereka. Karena Dzat yang menurunkan dan memilih sekehendaknya sesuai dengan tuntutan hikmah hanyalah Allah semata. Lantaran ucapan mereka i n i ﴾ لَوۡلَا يَأۡتِينَا بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّهِۦٓۚ ﴿ "Mengapa dia tidak membawa bukti kepada Kami dari Rabbnya?" memiliki konsekuensi makna bahwa Rasulullah belum membawakan kepada mereka tanda kebesaran Allah yang menun-jukkan kejujuran beliau atau bukti nyata yang menandakan kepada kebenaran beliau, maka ungkapan ini hanya dusta dan mengada-ada saja. Sesungguhnya beliau sudah memperlihatkan mukjizat yang fantastis dan tanda-tanda kebesaran Allah yang melumpuh-kan, yang sebagiannya saja sudah cukup mewakili substansinya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ تَأۡتِهِم ﴿ "Dan apakah belum datang kepada mereka," jika mereka mau jujur dalam perkataan mereka, bahwa mereka menginginkan kebenaran disertai dalilnya ﴾ بَيِّنَةُ مَا فِي ٱلصُّحُفِ ٱلۡأُولَىٰ 133 ﴿ "bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu?" Yaitu al-Qur`an yang agung, yang membenarkan berita-berita yang termuat pada lembaran-lembaran kitab terdahulu, berupa Taurat, Injil dan kitab-kitab Allah sebelum-nya, dan yang selaras dengannya, yang memberitahukan berita-berita yang disampaikan oleh kitab-kitab itu. (Bahkan) pembenaran al-Qur`an pun termaktub di dalamnya, memberi kabar gembira dengan kedatangan Rasulullah (Muhammad). Ini persis seperti Firman Allah, ﴾ أَوَلَمۡ يَكۡفِهِمۡ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ 51 ﴿ "Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah me-nurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al-Qur`an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman." (Al-Ankabut: 51). Ayat-ayat ini hanya bermanfaat bagi kaum Mukminin. Dengan itu, iman dan keyakinan mereka terdongkrak naik. Sementara itu, kaum yang berpaling darinya lagi menggerakkan perlawanan ke-padanya, maka mereka tidak mengimaninya dan tidak bisa meraup faidah dengannya, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ حَقَّتۡ عَلَيۡهِمۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ 96 وَلَوۡ جَآءَتۡهُمۡ كُلُّ ءَايَةٍ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ 97 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabbmu, tidaklah akan beriman. Meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih." (Yunus: 96-97). (134) Faidah dari (tindakan) mengarahkan ayat-ayat ke-pada mereka dan mengajak bicara mereka dengannya ialah untuk tujuan penegakan hujjah Allah atas mereka. Agar mereka tidak ber-komentar ketika siksaan datang kepada mereka, ﴾ لَوۡلَآ أَرۡسَلۡتَ إِلَيۡنَا رَسُولٗا فَنَتَّبِعَ ءَايَٰتِكَ مِن قَبۡلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخۡزَىٰ 134 ﴿ "Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayatMu sebelum kami menjadi hina dan rendah?" dengan sebab hukuman. Sekarang telah datang kepada kalian utusanKu, yang dibekali dengan ayat-ayat serta petunjuk-petunjuk dariKu. Jika kalian memang sesuai dengan perkataan kalian, maka percayailah dia. (135) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad, untuk me-nyampaikan pembicaraan kepada orang-orang yang mendustakan dirimu, yang mengatakan, "Kalian nantikanlah kematiannya." ﴾ قُلۡ كُلّٞ مُّتَرَبِّصٞ ﴿ "Katakanlah, 'Masing-masing (kita) menanti'," maka kalian nantikanlah kematianku, dan aku menantikan kalian diazab. ﴾ قُلۡ هَلۡ تَرَبَّصُونَ بِنَآ إِلَّآ إِحۡدَى ٱلۡحُسۡنَيَيۡنِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami kecuali salah satu dari dua kebaikan'." (At-Taubah: 52), yaitu kemenangan atau kematian syahid. Kami menunggu Allah menimpakan siksa dari sisiNya (kepada kalian) atau melalui tangan-tangan kami. ﴾ فَتَرَبَّصُواْۖ فَسَتَعۡلَمُونَ مَنۡ أَصۡحَٰبُ ٱلصِّرَٰطِ ٱلسَّوِيِّ ﴿ "Maka kalian nantikanlah! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus," jalan yang lurus dan benar ﴾ وَمَنِ ٱهۡتَدَىٰ 135 ﴿ "dan siapa yang telah membawa petunjuk," dengan menempuhnya, sayakah atau kalian. Sesungguhnya pemilik jalan lurus itulah yang menang, mendapatkan petunjuk, selamat lagi beruntung. Dan siapa yang berbelok darinya, niscaya dia merugi, gagal lagi tersiksa. Dan sung-guh telah diketahui bahwa Rasulullah itulah insan yang bersifat seperti itu. Sementara para musuh beliau, tidak demikian. Wallahu a'lam.