Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Anbiya' 21:70 – Al-Hajj 22:78

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Al-Anbiya' 21:70
  2. Al-Anbiya' 21:71
  3. Al-Anbiya' 21:72
  4. Al-Anbiya' 21:73
  5. Al-Anbiya' 21:74
  6. Al-Anbiya' 21:75
  7. Al-Anbiya' 21:76
  8. Al-Anbiya' 21:77
  9. Al-Anbiya' 21:78
  10. Al-Anbiya' 21:79
  11. Al-Anbiya' 21:80
  12. Al-Anbiya' 21:81
  13. Al-Anbiya' 21:82
  14. Al-Anbiya' 21:83
  15. Al-Anbiya' 21:84
  16. Al-Anbiya' 21:85
  17. Al-Anbiya' 21:86
  18. Al-Anbiya' 21:87
  19. Al-Anbiya' 21:88
  20. Al-Anbiya' 21:89
  21. Al-Anbiya' 21:90
  22. Al-Anbiya' 21:91
  23. Al-Anbiya' 21:92
  24. Al-Anbiya' 21:93
  25. Al-Anbiya' 21:94
  26. Al-Anbiya' 21:95
  27. Al-Anbiya' 21:96
  28. Al-Anbiya' 21:97
  29. Al-Anbiya' 21:98
  30. Al-Anbiya' 21:99
  31. Al-Anbiya' 21:100
  32. Al-Anbiya' 21:101
  33. Al-Anbiya' 21:102
  34. Al-Anbiya' 21:103
  35. Al-Anbiya' 21:104
  36. Al-Anbiya' 21:105
  37. Al-Anbiya' 21:106
  38. Al-Anbiya' 21:107
  39. Al-Anbiya' 21:108
  40. Al-Anbiya' 21:109
  41. Al-Anbiya' 21:110
  42. Al-Anbiya' 21:111
  43. Al-Anbiya' 21:112
  44. Al-Hajj 22:1
  45. Al-Hajj 22:2
  46. Al-Hajj 22:3
  47. Al-Hajj 22:4
  48. Al-Hajj 22:5
  49. Al-Hajj 22:6
  50. Al-Hajj 22:7
  51. Al-Hajj 22:8
  52. Al-Hajj 22:9
  53. Al-Hajj 22:10
  54. Al-Hajj 22:11
  55. Al-Hajj 22:12
  56. Al-Hajj 22:13
  57. Al-Hajj 22:14
  58. Al-Hajj 22:15
  59. Al-Hajj 22:16
  60. Al-Hajj 22:17
  61. Al-Hajj 22:18
  62. Al-Hajj 22:19
  63. Al-Hajj 22:20
  64. Al-Hajj 22:21
  65. Al-Hajj 22:22
  66. Al-Hajj 22:23
  67. Al-Hajj 22:24
  68. Al-Hajj 22:25
  69. Al-Hajj 22:26
  70. Al-Hajj 22:27
  71. Al-Hajj 22:28
  72. Al-Hajj 22:29
  73. Al-Hajj 22:30
  74. Al-Hajj 22:31
  75. Al-Hajj 22:32
  76. Al-Hajj 22:33
  77. Al-Hajj 22:34
  78. Al-Hajj 22:35
  79. Al-Hajj 22:36
  80. Al-Hajj 22:37
  81. Al-Hajj 22:38
  82. Al-Hajj 22:39
  83. Al-Hajj 22:40
  84. Al-Hajj 22:41
  85. Al-Hajj 22:42
  86. Al-Hajj 22:43
  87. Al-Hajj 22:44
  88. Al-Hajj 22:45
  89. Al-Hajj 22:46
  90. Al-Hajj 22:47
  91. Al-Hajj 22:48
  92. Al-Hajj 22:49
  93. Al-Hajj 22:50
  94. Al-Hajj 22:51
  95. Al-Hajj 22:52
  96. Al-Hajj 22:53
  97. Al-Hajj 22:54
  98. Al-Hajj 22:55
  99. Al-Hajj 22:56
  100. Al-Hajj 22:57
  101. Al-Hajj 22:58
  102. Al-Hajj 22:59
  103. Al-Hajj 22:60
  104. Al-Hajj 22:61
  105. Al-Hajj 22:62
  106. Al-Hajj 22:63
  107. Al-Hajj 22:64
  108. Al-Hajj 22:65
  109. Al-Hajj 22:66
  110. Al-Hajj 22:67
  111. Al-Hajj 22:68
  112. Al-Hajj 22:69
  113. Al-Hajj 22:70
  114. Al-Hajj 22:71
  115. Al-Hajj 22:72
  116. Al-Hajj 22:73
  117. Al-Hajj 22:74
  118. Al-Hajj 22:75
  119. Al-Hajj 22:76
  120. Al-Hajj 22:77
  121. Al-Hajj 22:78

Al-Anbiya' 21:70

"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73). (51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman, (52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri? (53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam. (54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja. (55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya. (56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)? (57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka. (58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64). (59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya. (60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim." (61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59). (62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya? (63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya. (64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman. (65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata? (66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya. (67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian. (68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!! (69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci. (70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya. (71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis. (72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia. (73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.

Al-Anbiya' 21:71

"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73). (51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman, (52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri? (53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam. (54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja. (55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya. (56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)? (57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka. (58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64). (59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya. (60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim." (61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59). (62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya? (63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya. (64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman. (65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata? (66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya. (67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian. (68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!! (69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci. (70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya. (71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis. (72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia. (73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.

Al-Anbiya' 21:72

"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73). (51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman, (52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri? (53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam. (54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja. (55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya. (56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)? (57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka. (58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64). (59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya. (60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim." (61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59). (62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya? (63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya. (64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman. (65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata? (66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya. (67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian. (68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!! (69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci. (70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya. (71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis. (72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia. (73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.

Al-Anbiya' 21:73

"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73). (51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman, (52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri? (53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam. (54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja. (55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya. (56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)? (57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka. (58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64). (59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya. (60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim." (61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59). (62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya? (63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya. (64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman. (65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata? (66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya. (67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian. (68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!! (69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci. (70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya. (71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis. (72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia. (73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.

Al-Anbiya' 21:74

"Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk kota) yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik. Dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang shalih." (Al-Anbiya`: 74-75). (74) Ini adalah sanjungan dari Allah bagi RasulNya, Luth عليه السلام atas kepemilikan ilmu syar'i dan kemampuan menetapkan hukum di tengah manusia dengan benar dan lurus. Dan Allah mengutusnya kepada kaumnya untuk menyeru mereka kepada ibadah kepada Allah dan melarang mereka dari kebiasaan berbuat kekejian. Beliau senantiasa menyeru mereka, tapi mereka tidak menyambutnya. Kemudian Allah membalikkan kampung-kam-pung mereka dan menyiksa mereka sampai penghabisan. Lantaran ﴾ كَانُواْ قَوۡمَ سَوۡءٖ فَٰسِقِينَ 74 ﴿ "mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik," men-dustakan sang penyeru dan mengintimidasinya dengan ancaman pengusiran. Selanjutnya, Allah menyelamatkan Luth dan keluarga-nya. Allah memerintahkan beliau untuk berjalan di malam hari bersama mereka agar menjauh dari kampung halaman mereka. Lalu mereka berjalan dan selamat dengan karunia Allah dan ke-utamaan dariNya. (75) ﴾ وَأَدۡخَلۡنَٰهُ فِي رَحۡمَتِنَآۖ ﴿ "Dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami," yang mana barangsiapa telah memasukinya, maka dia ter-masuk golongan orang-orang yang aman dari segala rasa takut, yang berhasil menggapai segenap macam kebaikan, kebahagiaan, kebajikan, dan kegembiraan, serta pujian. Hal demikian ini, lan-taran dia masuk dalam kalangan orang-orang shalih, yang amalan-amalan mereka telah baik, dan keadaan-keadaan jiwa mereka sudah suci, serta Allah telah memperbaiki orang yang rusak dari kalangan mereka. Keshalihan (jiwa dan amalan) itulah yang men-jadi faktor penyebab masuknya seorang hamba ke dalam rahmat Allah. Sebagaimana halnya, kerusakan (jiwa dan amalan) adalah faktor terhalanginya (seorang hamba) dari rahmat dan kebaikan dari-Nya. Orang yang paling besar keshalihannya, ialah para nabi k. Karena itu, Allah menyifati mereka dengan keshalihan. Sulaiman عليه السلام berkata, ﴾ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ 19 ﴿ "Dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih." (An-Naml:19).

Al-Anbiya' 21:75

"Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk kota) yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik. Dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang shalih." (Al-Anbiya`: 74-75). (74) Ini adalah sanjungan dari Allah bagi RasulNya, Luth عليه السلام atas kepemilikan ilmu syar'i dan kemampuan menetapkan hukum di tengah manusia dengan benar dan lurus. Dan Allah mengutusnya kepada kaumnya untuk menyeru mereka kepada ibadah kepada Allah dan melarang mereka dari kebiasaan berbuat kekejian. Beliau senantiasa menyeru mereka, tapi mereka tidak menyambutnya. Kemudian Allah membalikkan kampung-kam-pung mereka dan menyiksa mereka sampai penghabisan. Lantaran ﴾ كَانُواْ قَوۡمَ سَوۡءٖ فَٰسِقِينَ 74 ﴿ "mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik," men-dustakan sang penyeru dan mengintimidasinya dengan ancaman pengusiran. Selanjutnya, Allah menyelamatkan Luth dan keluarga-nya. Allah memerintahkan beliau untuk berjalan di malam hari bersama mereka agar menjauh dari kampung halaman mereka. Lalu mereka berjalan dan selamat dengan karunia Allah dan ke-utamaan dariNya. (75) ﴾ وَأَدۡخَلۡنَٰهُ فِي رَحۡمَتِنَآۖ ﴿ "Dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami," yang mana barangsiapa telah memasukinya, maka dia ter-masuk golongan orang-orang yang aman dari segala rasa takut, yang berhasil menggapai segenap macam kebaikan, kebahagiaan, kebajikan, dan kegembiraan, serta pujian. Hal demikian ini, lan-taran dia masuk dalam kalangan orang-orang shalih, yang amalan-amalan mereka telah baik, dan keadaan-keadaan jiwa mereka sudah suci, serta Allah telah memperbaiki orang yang rusak dari kalangan mereka. Keshalihan (jiwa dan amalan) itulah yang men-jadi faktor penyebab masuknya seorang hamba ke dalam rahmat Allah. Sebagaimana halnya, kerusakan (jiwa dan amalan) adalah faktor terhalanginya (seorang hamba) dari rahmat dan kebaikan dari-Nya. Orang yang paling besar keshalihannya, ialah para nabi k. Karena itu, Allah menyifati mereka dengan keshalihan. Sulaiman عليه السلام berkata, ﴾ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ 19 ﴿ "Dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih." (An-Naml:19).

Al-Anbiya' 21:76

"Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, lalu Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami teng-gelamkan mereka semuanya." (Al-Anbiya`: 76-77). (76-77) Maksudnya, ingatlah hamba dan rasul Kami, Nuh عليه السلام sambil menyanjung dan memujinya, ketika Allah mengirimnya sebagai rasul kepada kaumnya. Beliau tinggal selama sembilan ratus lima puluh tahun. Menyeru mereka agar beribadah kepada Allah dan melarang mereka dari praktik syirik denganNya. Beliau menyampaikan nasihat kepada mereka dan mengulang-ulangnya. Mendakwahi mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-te-rangan, siang dan malam. Ketika beliau memandang nasihat tidak mempan untuk mereka, larangan tidak bermanfaat bagi mereka, maka beliau memanggil Rabbnya dengan memanjatkan, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 إِنَّكَ إِن تَذَرۡهُمۡ يُضِلُّواْ عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوٓاْ إِلَّا فَاجِرٗا كَفَّارٗا 27 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu dan tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir." (Nuh: 26-27). Allah mengabulkan permohonannya. Maka Allah meneng-gelamkan mereka tanpa menyisakan satu pun dari mereka. Allah menyelamatkan Nuh dan keluarganya serta orang-orang beriman yang bersama beliau dengan kapal yang penuh muatan. Allah menjadikan keturunan Nuh sebagai orang-orang yang menikmati kehidupan selanjutnya dan menolong beliau terhadap bahaya kaumnya yang mengolok-olok.

Al-Anbiya' 21:77

"Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, lalu Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami teng-gelamkan mereka semuanya." (Al-Anbiya`: 76-77). (76-77) Maksudnya, ingatlah hamba dan rasul Kami, Nuh عليه السلام sambil menyanjung dan memujinya, ketika Allah mengirimnya sebagai rasul kepada kaumnya. Beliau tinggal selama sembilan ratus lima puluh tahun. Menyeru mereka agar beribadah kepada Allah dan melarang mereka dari praktik syirik denganNya. Beliau menyampaikan nasihat kepada mereka dan mengulang-ulangnya. Mendakwahi mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-te-rangan, siang dan malam. Ketika beliau memandang nasihat tidak mempan untuk mereka, larangan tidak bermanfaat bagi mereka, maka beliau memanggil Rabbnya dengan memanjatkan, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 إِنَّكَ إِن تَذَرۡهُمۡ يُضِلُّواْ عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوٓاْ إِلَّا فَاجِرٗا كَفَّارٗا 27 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu dan tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir." (Nuh: 26-27). Allah mengabulkan permohonannya. Maka Allah meneng-gelamkan mereka tanpa menyisakan satu pun dari mereka. Allah menyelamatkan Nuh dan keluarganya serta orang-orang beriman yang bersama beliau dengan kapal yang penuh muatan. Allah menjadikan keturunan Nuh sebagai orang-orang yang menikmati kehidupan selanjutnya dan menolong beliau terhadap bahaya kaumnya yang mengolok-olok.

Al-Anbiya' 21:78

"Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, di waktu kedua-nya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gu-nung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kami-lah yang melakukannya. Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperangan. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan Kami Maha Menge-tahui segala sesuatu. Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain dari itu; dan Kami memelihara mereka itu." (Al-Anbiya`: 78-82). (78) Maksudnya, ingatlah dua nabi [yang mulia] ini, Dawud dan Sulaiman untuk menyanjung dan menghormati keduanya; saat Allah menganugerahkan kepada mereka berdua ilmu yang luas, kemampuan menetapkan hukum di tengah manusia, dengan dasar FirmanNya, ﴾ إِذۡ يَحۡكُمَانِ فِي ٱلۡحَرۡثِ إِذۡ نَفَشَتۡ فِيهِ غَنَمُ ٱلۡقَوۡمِ ﴿ "Di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya," maksudnya, ketika ada seorang pemilik tanaman meminta kepastian hukum kepada mereka berdua, mengenai seekor kambing milik seseorang yang memasuki kebun orang lain. Yakni, berkeliaran di malam hari dan memakan segala yang ada di pohon-pohonnya dan merusak tanamannya. Maka Dawud menetapkan keputusan agar kambing tersebut menjadi milik pemilik kebun, karena mempertimbangkan keteledoran pemilik kambing itu. Sehingga dihukum dengan hu-kuman ini. Sementara Sulaiman menetapkan sebuah hukum yang sesuai dengan benar. Yaitu, supaya para pemilik kambing menye-rahkan hewan-hewan mereka kepada pemilik kebun agar dapat memanfaatkan air susu dan bulunya. Sementara para pemilik kambing itu, mengelola ladang yang dimiliki oleh pemilik kebun sampai keadaannya kembali seperti semula. Jika sudah kembali seperti semula, maka kedua belah pihak saling mengembalikan milik orang lain dan masing-masing menerima hartanya kembali. Hasil keputusan ini (cerminan) kesempurnaan daya tangkap dan kecerdasan beliau عليه السلام. (79) Oleh karenanya, Allah berfirman ﴾ فَفَهَّمۡنَٰهَا سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)," maksudnya Kami menjadikannya memahami problematika tersebut. Bukan berarti Allah tidak memahamkan Dawud dalam masalah lainnya. Sebab itu, Allah menyebutkan masalah ini secara khusus. Dalilnya adalah Firman Allah, ﴾ وَكُلًّا ﴿ "Dan kepada masing-masing mereka," yaitu Dawud dan Sulaiman, Kami telah menganugerahkan kepada keduanya ﴾ حُكۡمٗا وَعِلۡمٗاۚ ﴿ "hikmah dan ilmu." Hal ini menjadi dalil bahwa hakim terkadang keputusan-nya benar dan tepat, dan kadang-kadang mengalami kesalahan. Tetapi, dia tidak tercela saat bersikap salah dalam mengambil keputusan jika telah mengerahkan segala daya dan upaya yang dimilikinya. Berikutnya, Allah menyebutkan sisi yang menjadi keistime-waan masing-masing dari mereka berdua. Allah berfirman, ﴾ وَسَخَّرۡنَا مَعَ دَاوُۥدَ ٱلۡجِبَالَ يُسَبِّحۡنَ وَٱلطَّيۡرَۚ ﴿ "Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud." Demikian ini, lantaran beliau termasuk orang yang paling tekun beribadah dan paling sering dalam berdzikir, bertasbih dan mengagungkan Allah. Allah telah memberinya karunia berupa suara yang bagus, lembut dan merdu yang tidak dikaruniakan kepada siapa pun. Dahulu, apabila beliau melantunkan tasbih dan pujian terhadap Allah, niscaya gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak dapat berbicara ikut meresponnya. Ini termasuk bagian dari karunia Allah dan kebaikanNya yang tercurah kepada Dawud. Karenanya, Allah berfirman ﴾ وَكُنَّا فَٰعِلِينَ 79 ﴿ "Dan Kami-lah yang melakukannya." (80) ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ صَنۡعَةَ لَبُوسٖ لَّكُمۡ ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu," maksudnya Allah mengajari Dawud عليه السلام cara membuat baju besi. Beliaulah orang pertama yang menciptakan dan mengetahuinya. Hasil karyanya menyebar ke generasi selanjutnya. Allah melunakkan besi bagi beliau dan me-ngajari bagaimana cara membentuknya. Manfaatnya besar. Yaitu ﴾ لِتُحۡصِنَكُم مِّنۢ بَأۡسِكُمۡۖ ﴿ "guna memelihara kamu dalam peperangan," mak-sudnya baju-baju besi itu berfungsi sebagai pelindung di medan peperangan dan di saat pertarungan sengit. ﴾ فَهَلۡ أَنتُمۡ شَٰكِرُونَ 80 ﴿ "Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)," atas nikmat Allah yang tercurahkan kepada kalian yang Allah praktikkan melalui tangan hambaNya, Dawud! Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَجَعَلَ لَكُمۡ سَرَٰبِيلَ تَقِيكُمُ ٱلۡحَرَّ وَسَرَٰبِيلَ تَقِيكُم بَأۡسَكُمۡۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡلِمُونَ 81 ﴿ "Dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dari peperangan. Demikian-lah Allah menyempurnakan nikmatNya atasmu agar kamu berserah diri (kepadaNya)." (An-Nahl: 81). Mengandung kemungkinan makna bahwa Allah mengajari beliau cara pembuatan baju besi dan proses pelunakannya meru-pakan perkara yang di luar kebiasaan. Dan masuk dalam kategori yang disampaikan para ulama tafsir, "Sesungguhnya Allah melu-nakkan besi baginya sehingga dia dapat memprosesnya layaknya adonan dan tanah liat tanpa harus dilebur terlebih dahulu di atas api." Mengandung kemungkinan makna bahwa pengajaran cara pembuatannya berjalan sewajarnya. Dan proses melunakkan besi dilakukan melalui mekanisme yang diajarkan Allah, berupa cara-cara yang sekarang diketahui untuk meleburnya. Inilah keterangan yang lebih kuat kebenarannya. Pasalnya, Allah menyebut-nyebut [kemampuan untuk melakukannya] sebagai karunia dariNya ke-pada para hambaNya dan memerintahkan mereka untuk mensyu-kurinya. Seandainya masalah pembuatan baju besi tidak termasuk perkara yang dijadikan Allah agar dapat dikerjakan oleh manusia, niscaya Dia tidak akan menyebut-nyebutnya sebagai kenikmatan atas mereka dan tidak akan mengemukakan kegunaannya. Sebab baju-baju besi yang dibuat oleh Dawud عليه السلام, menjadi perkara mus-tahil (bisa dibuat) bila yang dimaksud adalah dzatnya. Anugerah yang diinginkan di sini ialah jenisnya secara umum. Keterangan yang disampaikan oleh para ahli tafsir tidak mempunyai dasarnya sama sekali, kecuali Firman Allah, ﴾ وَأَلَنَّا لَهُ ٱلۡحَدِيدَ 10 ﴿ "Dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (Saba`: 10). Dalam ayat ini tidak ada petunjuk bahwa pelunakan besi ter-jadi tanpa usaha. Wallahu a'lam. (81) ﴾ وَلِسُلَيۡمَٰنَ ٱلرِّيحَ ﴿ "Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin," maksudnya Kami menundukkannya ﴾ عَاصِفَةٗ ﴿ "yang sangat kencang tiupannya," yang begitu cepat lajunya, ﴾ تَجۡرِي بِأَمۡرِهِۦٓ ﴿ "yang ber-hembus dengan perintahNya." Di mana dia bergerak melaju untuk menaati perintahNya. Jarak perjalanan yang ditempuh di pagi hari sejauh satu bulan perjalanan (dengan unta) dan jarak perjalanan yang ditempuh di sore hari sejauh satu bulan perjalanan (dengan unta), ﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَاۚ ﴿ "ke negeri yang Kami telah memberkatinya," yaitu negeri Syam yang menjadi tempat tinggalnya. Beliau menum-pangi angin menuju arah Barat dan Timur. Tempat menetap dan kembalinya adalah ke bumi yang diberkahi (Syam).﴾ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيۡءٍ عَٰلِمِينَ 81 ﴿ "Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu." Pengetahuan Kami meliputi segala sesuatu, dan Kami mengetahui pada diri Dawud dan Sulaiman tingkat kehebatan yang mana Kami telah mengantarkan mereka berdua sampai tingkatan yang telah Kami ceritakan. (82) ﴾ وَمِنَ ٱلشَّيَٰطِينِ مَن يَغُوصُونَ لَهُۥ وَيَعۡمَلُونَ عَمَلٗا دُونَ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain dari pada itu." Kejadian ini juga termasuk keistimewaan Sulaiman عليه السلام. Allah menundukkan setan-setan dan jin-jin ifrit dan menjadi-kan Sulaiman berkuasa atas mereka untuk melaksanakan banyak pekerjaan yang mana golongan lain tidak berkutik menjalankannya. Di antara mereka, ada yang menyelami lautan bagi beliau untuk mengeksploitasi berlian dan permata serta batu-batu mulia lainnya. Di antara mereka ada yang mengerjakan, ﴾ مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٖ كَٱلۡجَوَابِ وَقُدُورٖ رَّاسِيَٰتٍۚ ﴿ "Gedung-gedung yang tinggi, patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tung-kunya)," (Saba`: 13), bagi beliau. Beliau juga memerintahkan sebagian mereka untuk mem-bangun Baitul Maqdis. Sampai beliau meninggal dalam keadaan mereka masih berkutat dalam pekerjaan itu. Mereka tetap men-jalankannya selama setahun lamanya sepeninggal beliau. Hingga akhirnya mereka mengetahui kematiannya, yang akan dijelaskan nanti insya Allah تعالى. ﴾ وَكُنَّا لَهُمۡ حَٰفِظِينَ 82 ﴿ "Dan Kami memelihara mereka itu," maksudnya mereka tidak berdaya untuk menolak dan menampik beliau. Bahkan Allah-lah yang menjaga pengawasan ter-hadap mereka dengan kekuatan, keperkasaan, dan kekuasaanNya.

Al-Anbiya' 21:79

"Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, di waktu kedua-nya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gu-nung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kami-lah yang melakukannya. Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperangan. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan Kami Maha Menge-tahui segala sesuatu. Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain dari itu; dan Kami memelihara mereka itu." (Al-Anbiya`: 78-82). (78) Maksudnya, ingatlah dua nabi [yang mulia] ini, Dawud dan Sulaiman untuk menyanjung dan menghormati keduanya; saat Allah menganugerahkan kepada mereka berdua ilmu yang luas, kemampuan menetapkan hukum di tengah manusia, dengan dasar FirmanNya, ﴾ إِذۡ يَحۡكُمَانِ فِي ٱلۡحَرۡثِ إِذۡ نَفَشَتۡ فِيهِ غَنَمُ ٱلۡقَوۡمِ ﴿ "Di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya," maksudnya, ketika ada seorang pemilik tanaman meminta kepastian hukum kepada mereka berdua, mengenai seekor kambing milik seseorang yang memasuki kebun orang lain. Yakni, berkeliaran di malam hari dan memakan segala yang ada di pohon-pohonnya dan merusak tanamannya. Maka Dawud menetapkan keputusan agar kambing tersebut menjadi milik pemilik kebun, karena mempertimbangkan keteledoran pemilik kambing itu. Sehingga dihukum dengan hu-kuman ini. Sementara Sulaiman menetapkan sebuah hukum yang sesuai dengan benar. Yaitu, supaya para pemilik kambing menye-rahkan hewan-hewan mereka kepada pemilik kebun agar dapat memanfaatkan air susu dan bulunya. Sementara para pemilik kambing itu, mengelola ladang yang dimiliki oleh pemilik kebun sampai keadaannya kembali seperti semula. Jika sudah kembali seperti semula, maka kedua belah pihak saling mengembalikan milik orang lain dan masing-masing menerima hartanya kembali. Hasil keputusan ini (cerminan) kesempurnaan daya tangkap dan kecerdasan beliau عليه السلام. (79) Oleh karenanya, Allah berfirman ﴾ فَفَهَّمۡنَٰهَا سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)," maksudnya Kami menjadikannya memahami problematika tersebut. Bukan berarti Allah tidak memahamkan Dawud dalam masalah lainnya. Sebab itu, Allah menyebutkan masalah ini secara khusus. Dalilnya adalah Firman Allah, ﴾ وَكُلًّا ﴿ "Dan kepada masing-masing mereka," yaitu Dawud dan Sulaiman, Kami telah menganugerahkan kepada keduanya ﴾ حُكۡمٗا وَعِلۡمٗاۚ ﴿ "hikmah dan ilmu." Hal ini menjadi dalil bahwa hakim terkadang keputusan-nya benar dan tepat, dan kadang-kadang mengalami kesalahan. Tetapi, dia tidak tercela saat bersikap salah dalam mengambil keputusan jika telah mengerahkan segala daya dan upaya yang dimilikinya. Berikutnya, Allah menyebutkan sisi yang menjadi keistime-waan masing-masing dari mereka berdua. Allah berfirman, ﴾ وَسَخَّرۡنَا مَعَ دَاوُۥدَ ٱلۡجِبَالَ يُسَبِّحۡنَ وَٱلطَّيۡرَۚ ﴿ "Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud." Demikian ini, lantaran beliau termasuk orang yang paling tekun beribadah dan paling sering dalam berdzikir, bertasbih dan mengagungkan Allah. Allah telah memberinya karunia berupa suara yang bagus, lembut dan merdu yang tidak dikaruniakan kepada siapa pun. Dahulu, apabila beliau melantunkan tasbih dan pujian terhadap Allah, niscaya gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak dapat berbicara ikut meresponnya. Ini termasuk bagian dari karunia Allah dan kebaikanNya yang tercurah kepada Dawud. Karenanya, Allah berfirman ﴾ وَكُنَّا فَٰعِلِينَ 79 ﴿ "Dan Kami-lah yang melakukannya." (80) ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ صَنۡعَةَ لَبُوسٖ لَّكُمۡ ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu," maksudnya Allah mengajari Dawud عليه السلام cara membuat baju besi. Beliaulah orang pertama yang menciptakan dan mengetahuinya. Hasil karyanya menyebar ke generasi selanjutnya. Allah melunakkan besi bagi beliau dan me-ngajari bagaimana cara membentuknya. Manfaatnya besar. Yaitu ﴾ لِتُحۡصِنَكُم مِّنۢ بَأۡسِكُمۡۖ ﴿ "guna memelihara kamu dalam peperangan," mak-sudnya baju-baju besi itu berfungsi sebagai pelindung di medan peperangan dan di saat pertarungan sengit. ﴾ فَهَلۡ أَنتُمۡ شَٰكِرُونَ 80 ﴿ "Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)," atas nikmat Allah yang tercurahkan kepada kalian yang Allah praktikkan melalui tangan hambaNya, Dawud! Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَجَعَلَ لَكُمۡ سَرَٰبِيلَ تَقِيكُمُ ٱلۡحَرَّ وَسَرَٰبِيلَ تَقِيكُم بَأۡسَكُمۡۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡلِمُونَ 81 ﴿ "Dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dari peperangan. Demikian-lah Allah menyempurnakan nikmatNya atasmu agar kamu berserah diri (kepadaNya)." (An-Nahl: 81). Mengandung kemungkinan makna bahwa Allah mengajari beliau cara pembuatan baju besi dan proses pelunakannya meru-pakan perkara yang di luar kebiasaan. Dan masuk dalam kategori yang disampaikan para ulama tafsir, "Sesungguhnya Allah melu-nakkan besi baginya sehingga dia dapat memprosesnya layaknya adonan dan tanah liat tanpa harus dilebur terlebih dahulu di atas api." Mengandung kemungkinan makna bahwa pengajaran cara pembuatannya berjalan sewajarnya. Dan proses melunakkan besi dilakukan melalui mekanisme yang diajarkan Allah, berupa cara-cara yang sekarang diketahui untuk meleburnya. Inilah keterangan yang lebih kuat kebenarannya. Pasalnya, Allah menyebut-nyebut [kemampuan untuk melakukannya] sebagai karunia dariNya ke-pada para hambaNya dan memerintahkan mereka untuk mensyu-kurinya. Seandainya masalah pembuatan baju besi tidak termasuk perkara yang dijadikan Allah agar dapat dikerjakan oleh manusia, niscaya Dia tidak akan menyebut-nyebutnya sebagai kenikmatan atas mereka dan tidak akan mengemukakan kegunaannya. Sebab baju-baju besi yang dibuat oleh Dawud عليه السلام, menjadi perkara mus-tahil (bisa dibuat) bila yang dimaksud adalah dzatnya. Anugerah yang diinginkan di sini ialah jenisnya secara umum. Keterangan yang disampaikan oleh para ahli tafsir tidak mempunyai dasarnya sama sekali, kecuali Firman Allah, ﴾ وَأَلَنَّا لَهُ ٱلۡحَدِيدَ 10 ﴿ "Dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (Saba`: 10). Dalam ayat ini tidak ada petunjuk bahwa pelunakan besi ter-jadi tanpa usaha. Wallahu a'lam. (81) ﴾ وَلِسُلَيۡمَٰنَ ٱلرِّيحَ ﴿ "Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin," maksudnya Kami menundukkannya ﴾ عَاصِفَةٗ ﴿ "yang sangat kencang tiupannya," yang begitu cepat lajunya, ﴾ تَجۡرِي بِأَمۡرِهِۦٓ ﴿ "yang ber-hembus dengan perintahNya." Di mana dia bergerak melaju untuk menaati perintahNya. Jarak perjalanan yang ditempuh di pagi hari sejauh satu bulan perjalanan (dengan unta) dan jarak perjalanan yang ditempuh di sore hari sejauh satu bulan perjalanan (dengan unta), ﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَاۚ ﴿ "ke negeri yang Kami telah memberkatinya," yaitu negeri Syam yang menjadi tempat tinggalnya. Beliau menum-pangi angin menuju arah Barat dan Timur. Tempat menetap dan kembalinya adalah ke bumi yang diberkahi (Syam).﴾ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيۡءٍ عَٰلِمِينَ 81 ﴿ "Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu." Pengetahuan Kami meliputi segala sesuatu, dan Kami mengetahui pada diri Dawud dan Sulaiman tingkat kehebatan yang mana Kami telah mengantarkan mereka berdua sampai tingkatan yang telah Kami ceritakan. (82) ﴾ وَمِنَ ٱلشَّيَٰطِينِ مَن يَغُوصُونَ لَهُۥ وَيَعۡمَلُونَ عَمَلٗا دُونَ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain dari pada itu." Kejadian ini juga termasuk keistimewaan Sulaiman عليه السلام. Allah menundukkan setan-setan dan jin-jin ifrit dan menjadi-kan Sulaiman berkuasa atas mereka untuk melaksanakan banyak pekerjaan yang mana golongan lain tidak berkutik menjalankannya. Di antara mereka, ada yang menyelami lautan bagi beliau untuk mengeksploitasi berlian dan permata serta batu-batu mulia lainnya. Di antara mereka ada yang mengerjakan, ﴾ مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٖ كَٱلۡجَوَابِ وَقُدُورٖ رَّاسِيَٰتٍۚ ﴿ "Gedung-gedung yang tinggi, patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tung-kunya)," (Saba`: 13), bagi beliau. Beliau juga memerintahkan sebagian mereka untuk mem-bangun Baitul Maqdis. Sampai beliau meninggal dalam keadaan mereka masih berkutat dalam pekerjaan itu. Mereka tetap men-jalankannya selama setahun lamanya sepeninggal beliau. Hingga akhirnya mereka mengetahui kematiannya, yang akan dijelaskan nanti insya Allah تعالى. ﴾ وَكُنَّا لَهُمۡ حَٰفِظِينَ 82 ﴿ "Dan Kami memelihara mereka itu," maksudnya mereka tidak berdaya untuk menolak dan menampik beliau. Bahkan Allah-lah yang menjaga pengawasan ter-hadap mereka dengan kekuatan, keperkasaan, dan kekuasaanNya.

Al-Anbiya' 21:80

"Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, di waktu kedua-nya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gu-nung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kami-lah yang melakukannya. Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperangan. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan Kami Maha Menge-tahui segala sesuatu. Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain dari itu; dan Kami memelihara mereka itu." (Al-Anbiya`: 78-82). (78) Maksudnya, ingatlah dua nabi [yang mulia] ini, Dawud dan Sulaiman untuk menyanjung dan menghormati keduanya; saat Allah menganugerahkan kepada mereka berdua ilmu yang luas, kemampuan menetapkan hukum di tengah manusia, dengan dasar FirmanNya, ﴾ إِذۡ يَحۡكُمَانِ فِي ٱلۡحَرۡثِ إِذۡ نَفَشَتۡ فِيهِ غَنَمُ ٱلۡقَوۡمِ ﴿ "Di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya," maksudnya, ketika ada seorang pemilik tanaman meminta kepastian hukum kepada mereka berdua, mengenai seekor kambing milik seseorang yang memasuki kebun orang lain. Yakni, berkeliaran di malam hari dan memakan segala yang ada di pohon-pohonnya dan merusak tanamannya. Maka Dawud menetapkan keputusan agar kambing tersebut menjadi milik pemilik kebun, karena mempertimbangkan keteledoran pemilik kambing itu. Sehingga dihukum dengan hu-kuman ini. Sementara Sulaiman menetapkan sebuah hukum yang sesuai dengan benar. Yaitu, supaya para pemilik kambing menye-rahkan hewan-hewan mereka kepada pemilik kebun agar dapat memanfaatkan air susu dan bulunya. Sementara para pemilik kambing itu, mengelola ladang yang dimiliki oleh pemilik kebun sampai keadaannya kembali seperti semula. Jika sudah kembali seperti semula, maka kedua belah pihak saling mengembalikan milik orang lain dan masing-masing menerima hartanya kembali. Hasil keputusan ini (cerminan) kesempurnaan daya tangkap dan kecerdasan beliau عليه السلام. (79) Oleh karenanya, Allah berfirman ﴾ فَفَهَّمۡنَٰهَا سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)," maksudnya Kami menjadikannya memahami problematika tersebut. Bukan berarti Allah tidak memahamkan Dawud dalam masalah lainnya. Sebab itu, Allah menyebutkan masalah ini secara khusus. Dalilnya adalah Firman Allah, ﴾ وَكُلًّا ﴿ "Dan kepada masing-masing mereka," yaitu Dawud dan Sulaiman, Kami telah menganugerahkan kepada keduanya ﴾ حُكۡمٗا وَعِلۡمٗاۚ ﴿ "hikmah dan ilmu." Hal ini menjadi dalil bahwa hakim terkadang keputusan-nya benar dan tepat, dan kadang-kadang mengalami kesalahan. Tetapi, dia tidak tercela saat bersikap salah dalam mengambil keputusan jika telah mengerahkan segala daya dan upaya yang dimilikinya. Berikutnya, Allah menyebutkan sisi yang menjadi keistime-waan masing-masing dari mereka berdua. Allah berfirman, ﴾ وَسَخَّرۡنَا مَعَ دَاوُۥدَ ٱلۡجِبَالَ يُسَبِّحۡنَ وَٱلطَّيۡرَۚ ﴿ "Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud." Demikian ini, lantaran beliau termasuk orang yang paling tekun beribadah dan paling sering dalam berdzikir, bertasbih dan mengagungkan Allah. Allah telah memberinya karunia berupa suara yang bagus, lembut dan merdu yang tidak dikaruniakan kepada siapa pun. Dahulu, apabila beliau melantunkan tasbih dan pujian terhadap Allah, niscaya gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak dapat berbicara ikut meresponnya. Ini termasuk bagian dari karunia Allah dan kebaikanNya yang tercurah kepada Dawud. Karenanya, Allah berfirman ﴾ وَكُنَّا فَٰعِلِينَ 79 ﴿ "Dan Kami-lah yang melakukannya." (80) ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ صَنۡعَةَ لَبُوسٖ لَّكُمۡ ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu," maksudnya Allah mengajari Dawud عليه السلام cara membuat baju besi. Beliaulah orang pertama yang menciptakan dan mengetahuinya. Hasil karyanya menyebar ke generasi selanjutnya. Allah melunakkan besi bagi beliau dan me-ngajari bagaimana cara membentuknya. Manfaatnya besar. Yaitu ﴾ لِتُحۡصِنَكُم مِّنۢ بَأۡسِكُمۡۖ ﴿ "guna memelihara kamu dalam peperangan," mak-sudnya baju-baju besi itu berfungsi sebagai pelindung di medan peperangan dan di saat pertarungan sengit. ﴾ فَهَلۡ أَنتُمۡ شَٰكِرُونَ 80 ﴿ "Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)," atas nikmat Allah yang tercurahkan kepada kalian yang Allah praktikkan melalui tangan hambaNya, Dawud! Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَجَعَلَ لَكُمۡ سَرَٰبِيلَ تَقِيكُمُ ٱلۡحَرَّ وَسَرَٰبِيلَ تَقِيكُم بَأۡسَكُمۡۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡلِمُونَ 81 ﴿ "Dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dari peperangan. Demikian-lah Allah menyempurnakan nikmatNya atasmu agar kamu berserah diri (kepadaNya)." (An-Nahl: 81). Mengandung kemungkinan makna bahwa Allah mengajari beliau cara pembuatan baju besi dan proses pelunakannya meru-pakan perkara yang di luar kebiasaan. Dan masuk dalam kategori yang disampaikan para ulama tafsir, "Sesungguhnya Allah melu-nakkan besi baginya sehingga dia dapat memprosesnya layaknya adonan dan tanah liat tanpa harus dilebur terlebih dahulu di atas api." Mengandung kemungkinan makna bahwa pengajaran cara pembuatannya berjalan sewajarnya. Dan proses melunakkan besi dilakukan melalui mekanisme yang diajarkan Allah, berupa cara-cara yang sekarang diketahui untuk meleburnya. Inilah keterangan yang lebih kuat kebenarannya. Pasalnya, Allah menyebut-nyebut [kemampuan untuk melakukannya] sebagai karunia dariNya ke-pada para hambaNya dan memerintahkan mereka untuk mensyu-kurinya. Seandainya masalah pembuatan baju besi tidak termasuk perkara yang dijadikan Allah agar dapat dikerjakan oleh manusia, niscaya Dia tidak akan menyebut-nyebutnya sebagai kenikmatan atas mereka dan tidak akan mengemukakan kegunaannya. Sebab baju-baju besi yang dibuat oleh Dawud عليه السلام, menjadi perkara mus-tahil (bisa dibuat) bila yang dimaksud adalah dzatnya. Anugerah yang diinginkan di sini ialah jenisnya secara umum. Keterangan yang disampaikan oleh para ahli tafsir tidak mempunyai dasarnya sama sekali, kecuali Firman Allah, ﴾ وَأَلَنَّا لَهُ ٱلۡحَدِيدَ 10 ﴿ "Dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (Saba`: 10). Dalam ayat ini tidak ada petunjuk bahwa pelunakan besi ter-jadi tanpa usaha. Wallahu a'lam. (81) ﴾ وَلِسُلَيۡمَٰنَ ٱلرِّيحَ ﴿ "Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin," maksudnya Kami menundukkannya ﴾ عَاصِفَةٗ ﴿ "yang sangat kencang tiupannya," yang begitu cepat lajunya, ﴾ تَجۡرِي بِأَمۡرِهِۦٓ ﴿ "yang ber-hembus dengan perintahNya." Di mana dia bergerak melaju untuk menaati perintahNya. Jarak perjalanan yang ditempuh di pagi hari sejauh satu bulan perjalanan (dengan unta) dan jarak perjalanan yang ditempuh di sore hari sejauh satu bulan perjalanan (dengan unta), ﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَاۚ ﴿ "ke negeri yang Kami telah memberkatinya," yaitu negeri Syam yang menjadi tempat tinggalnya. Beliau menum-pangi angin menuju arah Barat dan Timur. Tempat menetap dan kembalinya adalah ke bumi yang diberkahi (Syam).﴾ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيۡءٍ عَٰلِمِينَ 81 ﴿ "Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu." Pengetahuan Kami meliputi segala sesuatu, dan Kami mengetahui pada diri Dawud dan Sulaiman tingkat kehebatan yang mana Kami telah mengantarkan mereka berdua sampai tingkatan yang telah Kami ceritakan. (82) ﴾ وَمِنَ ٱلشَّيَٰطِينِ مَن يَغُوصُونَ لَهُۥ وَيَعۡمَلُونَ عَمَلٗا دُونَ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain dari pada itu." Kejadian ini juga termasuk keistimewaan Sulaiman عليه السلام. Allah menundukkan setan-setan dan jin-jin ifrit dan menjadi-kan Sulaiman berkuasa atas mereka untuk melaksanakan banyak pekerjaan yang mana golongan lain tidak berkutik menjalankannya. Di antara mereka, ada yang menyelami lautan bagi beliau untuk mengeksploitasi berlian dan permata serta batu-batu mulia lainnya. Di antara mereka ada yang mengerjakan, ﴾ مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٖ كَٱلۡجَوَابِ وَقُدُورٖ رَّاسِيَٰتٍۚ ﴿ "Gedung-gedung yang tinggi, patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tung-kunya)," (Saba`: 13), bagi beliau. Beliau juga memerintahkan sebagian mereka untuk mem-bangun Baitul Maqdis. Sampai beliau meninggal dalam keadaan mereka masih berkutat dalam pekerjaan itu. Mereka tetap men-jalankannya selama setahun lamanya sepeninggal beliau. Hingga akhirnya mereka mengetahui kematiannya, yang akan dijelaskan nanti insya Allah تعالى. ﴾ وَكُنَّا لَهُمۡ حَٰفِظِينَ 82 ﴿ "Dan Kami memelihara mereka itu," maksudnya mereka tidak berdaya untuk menolak dan menampik beliau. Bahkan Allah-lah yang menjaga pengawasan ter-hadap mereka dengan kekuatan, keperkasaan, dan kekuasaanNya.

Al-Anbiya' 21:81

"Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, di waktu kedua-nya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gu-nung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kami-lah yang melakukannya. Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperangan. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan Kami Maha Menge-tahui segala sesuatu. Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain dari itu; dan Kami memelihara mereka itu." (Al-Anbiya`: 78-82). (78) Maksudnya, ingatlah dua nabi [yang mulia] ini, Dawud dan Sulaiman untuk menyanjung dan menghormati keduanya; saat Allah menganugerahkan kepada mereka berdua ilmu yang luas, kemampuan menetapkan hukum di tengah manusia, dengan dasar FirmanNya, ﴾ إِذۡ يَحۡكُمَانِ فِي ٱلۡحَرۡثِ إِذۡ نَفَشَتۡ فِيهِ غَنَمُ ٱلۡقَوۡمِ ﴿ "Di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya," maksudnya, ketika ada seorang pemilik tanaman meminta kepastian hukum kepada mereka berdua, mengenai seekor kambing milik seseorang yang memasuki kebun orang lain. Yakni, berkeliaran di malam hari dan memakan segala yang ada di pohon-pohonnya dan merusak tanamannya. Maka Dawud menetapkan keputusan agar kambing tersebut menjadi milik pemilik kebun, karena mempertimbangkan keteledoran pemilik kambing itu. Sehingga dihukum dengan hu-kuman ini. Sementara Sulaiman menetapkan sebuah hukum yang sesuai dengan benar. Yaitu, supaya para pemilik kambing menye-rahkan hewan-hewan mereka kepada pemilik kebun agar dapat memanfaatkan air susu dan bulunya. Sementara para pemilik kambing itu, mengelola ladang yang dimiliki oleh pemilik kebun sampai keadaannya kembali seperti semula. Jika sudah kembali seperti semula, maka kedua belah pihak saling mengembalikan milik orang lain dan masing-masing menerima hartanya kembali. Hasil keputusan ini (cerminan) kesempurnaan daya tangkap dan kecerdasan beliau عليه السلام. (79) Oleh karenanya, Allah berfirman ﴾ فَفَهَّمۡنَٰهَا سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)," maksudnya Kami menjadikannya memahami problematika tersebut. Bukan berarti Allah tidak memahamkan Dawud dalam masalah lainnya. Sebab itu, Allah menyebutkan masalah ini secara khusus. Dalilnya adalah Firman Allah, ﴾ وَكُلًّا ﴿ "Dan kepada masing-masing mereka," yaitu Dawud dan Sulaiman, Kami telah menganugerahkan kepada keduanya ﴾ حُكۡمٗا وَعِلۡمٗاۚ ﴿ "hikmah dan ilmu." Hal ini menjadi dalil bahwa hakim terkadang keputusan-nya benar dan tepat, dan kadang-kadang mengalami kesalahan. Tetapi, dia tidak tercela saat bersikap salah dalam mengambil keputusan jika telah mengerahkan segala daya dan upaya yang dimilikinya. Berikutnya, Allah menyebutkan sisi yang menjadi keistime-waan masing-masing dari mereka berdua. Allah berfirman, ﴾ وَسَخَّرۡنَا مَعَ دَاوُۥدَ ٱلۡجِبَالَ يُسَبِّحۡنَ وَٱلطَّيۡرَۚ ﴿ "Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud." Demikian ini, lantaran beliau termasuk orang yang paling tekun beribadah dan paling sering dalam berdzikir, bertasbih dan mengagungkan Allah. Allah telah memberinya karunia berupa suara yang bagus, lembut dan merdu yang tidak dikaruniakan kepada siapa pun. Dahulu, apabila beliau melantunkan tasbih dan pujian terhadap Allah, niscaya gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak dapat berbicara ikut meresponnya. Ini termasuk bagian dari karunia Allah dan kebaikanNya yang tercurah kepada Dawud. Karenanya, Allah berfirman ﴾ وَكُنَّا فَٰعِلِينَ 79 ﴿ "Dan Kami-lah yang melakukannya." (80) ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ صَنۡعَةَ لَبُوسٖ لَّكُمۡ ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu," maksudnya Allah mengajari Dawud عليه السلام cara membuat baju besi. Beliaulah orang pertama yang menciptakan dan mengetahuinya. Hasil karyanya menyebar ke generasi selanjutnya. Allah melunakkan besi bagi beliau dan me-ngajari bagaimana cara membentuknya. Manfaatnya besar. Yaitu ﴾ لِتُحۡصِنَكُم مِّنۢ بَأۡسِكُمۡۖ ﴿ "guna memelihara kamu dalam peperangan," mak-sudnya baju-baju besi itu berfungsi sebagai pelindung di medan peperangan dan di saat pertarungan sengit. ﴾ فَهَلۡ أَنتُمۡ شَٰكِرُونَ 80 ﴿ "Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)," atas nikmat Allah yang tercurahkan kepada kalian yang Allah praktikkan melalui tangan hambaNya, Dawud! Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَجَعَلَ لَكُمۡ سَرَٰبِيلَ تَقِيكُمُ ٱلۡحَرَّ وَسَرَٰبِيلَ تَقِيكُم بَأۡسَكُمۡۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡلِمُونَ 81 ﴿ "Dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dari peperangan. Demikian-lah Allah menyempurnakan nikmatNya atasmu agar kamu berserah diri (kepadaNya)." (An-Nahl: 81). Mengandung kemungkinan makna bahwa Allah mengajari beliau cara pembuatan baju besi dan proses pelunakannya meru-pakan perkara yang di luar kebiasaan. Dan masuk dalam kategori yang disampaikan para ulama tafsir, "Sesungguhnya Allah melu-nakkan besi baginya sehingga dia dapat memprosesnya layaknya adonan dan tanah liat tanpa harus dilebur terlebih dahulu di atas api." Mengandung kemungkinan makna bahwa pengajaran cara pembuatannya berjalan sewajarnya. Dan proses melunakkan besi dilakukan melalui mekanisme yang diajarkan Allah, berupa cara-cara yang sekarang diketahui untuk meleburnya. Inilah keterangan yang lebih kuat kebenarannya. Pasalnya, Allah menyebut-nyebut [kemampuan untuk melakukannya] sebagai karunia dariNya ke-pada para hambaNya dan memerintahkan mereka untuk mensyu-kurinya. Seandainya masalah pembuatan baju besi tidak termasuk perkara yang dijadikan Allah agar dapat dikerjakan oleh manusia, niscaya Dia tidak akan menyebut-nyebutnya sebagai kenikmatan atas mereka dan tidak akan mengemukakan kegunaannya. Sebab baju-baju besi yang dibuat oleh Dawud عليه السلام, menjadi perkara mus-tahil (bisa dibuat) bila yang dimaksud adalah dzatnya. Anugerah yang diinginkan di sini ialah jenisnya secara umum. Keterangan yang disampaikan oleh para ahli tafsir tidak mempunyai dasarnya sama sekali, kecuali Firman Allah, ﴾ وَأَلَنَّا لَهُ ٱلۡحَدِيدَ 10 ﴿ "Dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (Saba`: 10). Dalam ayat ini tidak ada petunjuk bahwa pelunakan besi ter-jadi tanpa usaha. Wallahu a'lam. (81) ﴾ وَلِسُلَيۡمَٰنَ ٱلرِّيحَ ﴿ "Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin," maksudnya Kami menundukkannya ﴾ عَاصِفَةٗ ﴿ "yang sangat kencang tiupannya," yang begitu cepat lajunya, ﴾ تَجۡرِي بِأَمۡرِهِۦٓ ﴿ "yang ber-hembus dengan perintahNya." Di mana dia bergerak melaju untuk menaati perintahNya. Jarak perjalanan yang ditempuh di pagi hari sejauh satu bulan perjalanan (dengan unta) dan jarak perjalanan yang ditempuh di sore hari sejauh satu bulan perjalanan (dengan unta), ﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَاۚ ﴿ "ke negeri yang Kami telah memberkatinya," yaitu negeri Syam yang menjadi tempat tinggalnya. Beliau menum-pangi angin menuju arah Barat dan Timur. Tempat menetap dan kembalinya adalah ke bumi yang diberkahi (Syam).﴾ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيۡءٍ عَٰلِمِينَ 81 ﴿ "Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu." Pengetahuan Kami meliputi segala sesuatu, dan Kami mengetahui pada diri Dawud dan Sulaiman tingkat kehebatan yang mana Kami telah mengantarkan mereka berdua sampai tingkatan yang telah Kami ceritakan. (82) ﴾ وَمِنَ ٱلشَّيَٰطِينِ مَن يَغُوصُونَ لَهُۥ وَيَعۡمَلُونَ عَمَلٗا دُونَ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain dari pada itu." Kejadian ini juga termasuk keistimewaan Sulaiman عليه السلام. Allah menundukkan setan-setan dan jin-jin ifrit dan menjadi-kan Sulaiman berkuasa atas mereka untuk melaksanakan banyak pekerjaan yang mana golongan lain tidak berkutik menjalankannya. Di antara mereka, ada yang menyelami lautan bagi beliau untuk mengeksploitasi berlian dan permata serta batu-batu mulia lainnya. Di antara mereka ada yang mengerjakan, ﴾ مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٖ كَٱلۡجَوَابِ وَقُدُورٖ رَّاسِيَٰتٍۚ ﴿ "Gedung-gedung yang tinggi, patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tung-kunya)," (Saba`: 13), bagi beliau. Beliau juga memerintahkan sebagian mereka untuk mem-bangun Baitul Maqdis. Sampai beliau meninggal dalam keadaan mereka masih berkutat dalam pekerjaan itu. Mereka tetap men-jalankannya selama setahun lamanya sepeninggal beliau. Hingga akhirnya mereka mengetahui kematiannya, yang akan dijelaskan nanti insya Allah تعالى. ﴾ وَكُنَّا لَهُمۡ حَٰفِظِينَ 82 ﴿ "Dan Kami memelihara mereka itu," maksudnya mereka tidak berdaya untuk menolak dan menampik beliau. Bahkan Allah-lah yang menjaga pengawasan ter-hadap mereka dengan kekuatan, keperkasaan, dan kekuasaanNya.

Al-Anbiya' 21:82

"Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, di waktu kedua-nya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gu-nung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kami-lah yang melakukannya. Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperangan. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan Kami Maha Menge-tahui segala sesuatu. Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain dari itu; dan Kami memelihara mereka itu." (Al-Anbiya`: 78-82). (78) Maksudnya, ingatlah dua nabi [yang mulia] ini, Dawud dan Sulaiman untuk menyanjung dan menghormati keduanya; saat Allah menganugerahkan kepada mereka berdua ilmu yang luas, kemampuan menetapkan hukum di tengah manusia, dengan dasar FirmanNya, ﴾ إِذۡ يَحۡكُمَانِ فِي ٱلۡحَرۡثِ إِذۡ نَفَشَتۡ فِيهِ غَنَمُ ٱلۡقَوۡمِ ﴿ "Di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya," maksudnya, ketika ada seorang pemilik tanaman meminta kepastian hukum kepada mereka berdua, mengenai seekor kambing milik seseorang yang memasuki kebun orang lain. Yakni, berkeliaran di malam hari dan memakan segala yang ada di pohon-pohonnya dan merusak tanamannya. Maka Dawud menetapkan keputusan agar kambing tersebut menjadi milik pemilik kebun, karena mempertimbangkan keteledoran pemilik kambing itu. Sehingga dihukum dengan hu-kuman ini. Sementara Sulaiman menetapkan sebuah hukum yang sesuai dengan benar. Yaitu, supaya para pemilik kambing menye-rahkan hewan-hewan mereka kepada pemilik kebun agar dapat memanfaatkan air susu dan bulunya. Sementara para pemilik kambing itu, mengelola ladang yang dimiliki oleh pemilik kebun sampai keadaannya kembali seperti semula. Jika sudah kembali seperti semula, maka kedua belah pihak saling mengembalikan milik orang lain dan masing-masing menerima hartanya kembali. Hasil keputusan ini (cerminan) kesempurnaan daya tangkap dan kecerdasan beliau عليه السلام. (79) Oleh karenanya, Allah berfirman ﴾ فَفَهَّمۡنَٰهَا سُلَيۡمَٰنَۚ ﴿ "Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)," maksudnya Kami menjadikannya memahami problematika tersebut. Bukan berarti Allah tidak memahamkan Dawud dalam masalah lainnya. Sebab itu, Allah menyebutkan masalah ini secara khusus. Dalilnya adalah Firman Allah, ﴾ وَكُلًّا ﴿ "Dan kepada masing-masing mereka," yaitu Dawud dan Sulaiman, Kami telah menganugerahkan kepada keduanya ﴾ حُكۡمٗا وَعِلۡمٗاۚ ﴿ "hikmah dan ilmu." Hal ini menjadi dalil bahwa hakim terkadang keputusan-nya benar dan tepat, dan kadang-kadang mengalami kesalahan. Tetapi, dia tidak tercela saat bersikap salah dalam mengambil keputusan jika telah mengerahkan segala daya dan upaya yang dimilikinya. Berikutnya, Allah menyebutkan sisi yang menjadi keistime-waan masing-masing dari mereka berdua. Allah berfirman, ﴾ وَسَخَّرۡنَا مَعَ دَاوُۥدَ ٱلۡجِبَالَ يُسَبِّحۡنَ وَٱلطَّيۡرَۚ ﴿ "Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud." Demikian ini, lantaran beliau termasuk orang yang paling tekun beribadah dan paling sering dalam berdzikir, bertasbih dan mengagungkan Allah. Allah telah memberinya karunia berupa suara yang bagus, lembut dan merdu yang tidak dikaruniakan kepada siapa pun. Dahulu, apabila beliau melantunkan tasbih dan pujian terhadap Allah, niscaya gunung-gunung yang bisu dan burung-burung yang tidak dapat berbicara ikut meresponnya. Ini termasuk bagian dari karunia Allah dan kebaikanNya yang tercurah kepada Dawud. Karenanya, Allah berfirman ﴾ وَكُنَّا فَٰعِلِينَ 79 ﴿ "Dan Kami-lah yang melakukannya." (80) ﴾ وَعَلَّمۡنَٰهُ صَنۡعَةَ لَبُوسٖ لَّكُمۡ ﴿ "Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu," maksudnya Allah mengajari Dawud عليه السلام cara membuat baju besi. Beliaulah orang pertama yang menciptakan dan mengetahuinya. Hasil karyanya menyebar ke generasi selanjutnya. Allah melunakkan besi bagi beliau dan me-ngajari bagaimana cara membentuknya. Manfaatnya besar. Yaitu ﴾ لِتُحۡصِنَكُم مِّنۢ بَأۡسِكُمۡۖ ﴿ "guna memelihara kamu dalam peperangan," mak-sudnya baju-baju besi itu berfungsi sebagai pelindung di medan peperangan dan di saat pertarungan sengit. ﴾ فَهَلۡ أَنتُمۡ شَٰكِرُونَ 80 ﴿ "Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)," atas nikmat Allah yang tercurahkan kepada kalian yang Allah praktikkan melalui tangan hambaNya, Dawud! Sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَجَعَلَ لَكُمۡ سَرَٰبِيلَ تَقِيكُمُ ٱلۡحَرَّ وَسَرَٰبِيلَ تَقِيكُم بَأۡسَكُمۡۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡلِمُونَ 81 ﴿ "Dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dari peperangan. Demikian-lah Allah menyempurnakan nikmatNya atasmu agar kamu berserah diri (kepadaNya)." (An-Nahl: 81). Mengandung kemungkinan makna bahwa Allah mengajari beliau cara pembuatan baju besi dan proses pelunakannya meru-pakan perkara yang di luar kebiasaan. Dan masuk dalam kategori yang disampaikan para ulama tafsir, "Sesungguhnya Allah melu-nakkan besi baginya sehingga dia dapat memprosesnya layaknya adonan dan tanah liat tanpa harus dilebur terlebih dahulu di atas api." Mengandung kemungkinan makna bahwa pengajaran cara pembuatannya berjalan sewajarnya. Dan proses melunakkan besi dilakukan melalui mekanisme yang diajarkan Allah, berupa cara-cara yang sekarang diketahui untuk meleburnya. Inilah keterangan yang lebih kuat kebenarannya. Pasalnya, Allah menyebut-nyebut [kemampuan untuk melakukannya] sebagai karunia dariNya ke-pada para hambaNya dan memerintahkan mereka untuk mensyu-kurinya. Seandainya masalah pembuatan baju besi tidak termasuk perkara yang dijadikan Allah agar dapat dikerjakan oleh manusia, niscaya Dia tidak akan menyebut-nyebutnya sebagai kenikmatan atas mereka dan tidak akan mengemukakan kegunaannya. Sebab baju-baju besi yang dibuat oleh Dawud عليه السلام, menjadi perkara mus-tahil (bisa dibuat) bila yang dimaksud adalah dzatnya. Anugerah yang diinginkan di sini ialah jenisnya secara umum. Keterangan yang disampaikan oleh para ahli tafsir tidak mempunyai dasarnya sama sekali, kecuali Firman Allah, ﴾ وَأَلَنَّا لَهُ ٱلۡحَدِيدَ 10 ﴿ "Dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (Saba`: 10). Dalam ayat ini tidak ada petunjuk bahwa pelunakan besi ter-jadi tanpa usaha. Wallahu a'lam. (81) ﴾ وَلِسُلَيۡمَٰنَ ٱلرِّيحَ ﴿ "Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin," maksudnya Kami menundukkannya ﴾ عَاصِفَةٗ ﴿ "yang sangat kencang tiupannya," yang begitu cepat lajunya, ﴾ تَجۡرِي بِأَمۡرِهِۦٓ ﴿ "yang ber-hembus dengan perintahNya." Di mana dia bergerak melaju untuk menaati perintahNya. Jarak perjalanan yang ditempuh di pagi hari sejauh satu bulan perjalanan (dengan unta) dan jarak perjalanan yang ditempuh di sore hari sejauh satu bulan perjalanan (dengan unta), ﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَاۚ ﴿ "ke negeri yang Kami telah memberkatinya," yaitu negeri Syam yang menjadi tempat tinggalnya. Beliau menum-pangi angin menuju arah Barat dan Timur. Tempat menetap dan kembalinya adalah ke bumi yang diberkahi (Syam).﴾ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيۡءٍ عَٰلِمِينَ 81 ﴿ "Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu." Pengetahuan Kami meliputi segala sesuatu, dan Kami mengetahui pada diri Dawud dan Sulaiman tingkat kehebatan yang mana Kami telah mengantarkan mereka berdua sampai tingkatan yang telah Kami ceritakan. (82) ﴾ وَمِنَ ٱلشَّيَٰطِينِ مَن يَغُوصُونَ لَهُۥ وَيَعۡمَلُونَ عَمَلٗا دُونَ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain dari pada itu." Kejadian ini juga termasuk keistimewaan Sulaiman عليه السلام. Allah menundukkan setan-setan dan jin-jin ifrit dan menjadi-kan Sulaiman berkuasa atas mereka untuk melaksanakan banyak pekerjaan yang mana golongan lain tidak berkutik menjalankannya. Di antara mereka, ada yang menyelami lautan bagi beliau untuk mengeksploitasi berlian dan permata serta batu-batu mulia lainnya. Di antara mereka ada yang mengerjakan, ﴾ مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٖ كَٱلۡجَوَابِ وَقُدُورٖ رَّاسِيَٰتٍۚ ﴿ "Gedung-gedung yang tinggi, patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tung-kunya)," (Saba`: 13), bagi beliau. Beliau juga memerintahkan sebagian mereka untuk mem-bangun Baitul Maqdis. Sampai beliau meninggal dalam keadaan mereka masih berkutat dalam pekerjaan itu. Mereka tetap men-jalankannya selama setahun lamanya sepeninggal beliau. Hingga akhirnya mereka mengetahui kematiannya, yang akan dijelaskan nanti insya Allah تعالى. ﴾ وَكُنَّا لَهُمۡ حَٰفِظِينَ 82 ﴿ "Dan Kami memelihara mereka itu," maksudnya mereka tidak berdaya untuk menolak dan menampik beliau. Bahkan Allah-lah yang menjaga pengawasan ter-hadap mereka dengan kekuatan, keperkasaan, dan kekuasaanNya.

Al-Anbiya' 21:83

"Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia menyeru Rabbnya, '(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang dari semua penyayang.' Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penya-kit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepada-nya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (83-84). (83) Maksudnya, ingatlah hamba dan rasul Kami, yaitu Ayyub untuk menyanjung, mengagungkan dan meninggikan dera-jatnya, saat Allah menguji beliau dengan musibah yang sangat berat. Lalu Allah mendapatinya dalam keadaan sabar lagi ridha dengan (ketentuan)Nya. Hal tersebut karena setan diberi kesem-patan untuk menguasai fisiknya, sebagai bentuk musibah dan ujian dari Allah. Ia meniupkan tiupan ke badannya, hingga mengeluar-kan luka-luka bernanah yang hebat. Beliau mengalaminya dalam kurun waktu yang lama. Ujian ini semakin menjadi-jadi. Keluarga-nya meninggal. Harta kekayaannya sirna. Maka beliau memanggil Rabbnya, ﴾ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ 83 ﴿ "(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang dari semua penyayang." Beliau memanjatkan permohonan tawasul kepada Allah dengan menceritakan kondisi pribadinya, dan bahwa dia sudah mengalami kesakitan sampai pada titik puncaknya. Juga memanjatkan tawasul dengan rahmat Allah yang sangat luas lagi menyeluruh. (84) Allah mengabulkan permohonan beliau seraya ber-firman, ﴾ ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَۖ هَٰذَا مُغۡتَسَلُۢ بَارِدٞ وَشَرَابٞ 42 ﴿ "Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum." (Shad: 42). Beliau menghentakkan kakinya. Maka keluarlah sebuah mata air yang dingin dari tempat hentakannya. Lalu beliau mandi dan meminum airnya. Maka Allah menghilangkan penyakit yang ada pada tubuhnya. ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ أَهۡلَهُۥ ﴿ "Dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya," maksudnya Kami mengembalikan keluarga dan harta kekayaannya. ﴾ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ ﴿ "Dan Kami lipat gandakan bilangan me-reka," dengan menganugerahkan karunia yang banyak bagi beliau [bersama] keselamatan keluarga dan hartanya, ﴾ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا ﴿ "sebagai suatu rahmat dari sisi Kami," karena sabar dan mau menerima ke-adaan. Maka Allah membalasinya dengan pahala yang banyak di dunia sebelum datangnya akhirat. ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰبِدِينَ 84 ﴿ "Dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah," maksudnya Kami menjadikannya sebagai pelajaran bagi orang-orang yang beribadah, yang dapat mereguk manfaat dari kesabaran. Ketika mereka menyaksikan musibah yang melanda Ayyub, kemudian balasan kebaikan yang Allah karuniakan kepadanya pasca terang-katnya musibah dan memperhatikan faktor penyebab perolehan-nya, maka mereka menemukannya dalam sikap kesabaran beliau. Oleh karenanya, Allah menyanjungnya dalam FirmanNya, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَٰهُ صَابِرٗاۚ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dia-lah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya)." (Shad: 44). Maka Allah menjadikannya sebagai contoh dan teladan bagi mereka tatkala sedang dirundung musibah.

Al-Anbiya' 21:84

"Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia menyeru Rabbnya, '(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang dari semua penyayang.' Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penya-kit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepada-nya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (83-84). (83) Maksudnya, ingatlah hamba dan rasul Kami, yaitu Ayyub untuk menyanjung, mengagungkan dan meninggikan dera-jatnya, saat Allah menguji beliau dengan musibah yang sangat berat. Lalu Allah mendapatinya dalam keadaan sabar lagi ridha dengan (ketentuan)Nya. Hal tersebut karena setan diberi kesem-patan untuk menguasai fisiknya, sebagai bentuk musibah dan ujian dari Allah. Ia meniupkan tiupan ke badannya, hingga mengeluar-kan luka-luka bernanah yang hebat. Beliau mengalaminya dalam kurun waktu yang lama. Ujian ini semakin menjadi-jadi. Keluarga-nya meninggal. Harta kekayaannya sirna. Maka beliau memanggil Rabbnya, ﴾ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ 83 ﴿ "(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang dari semua penyayang." Beliau memanjatkan permohonan tawasul kepada Allah dengan menceritakan kondisi pribadinya, dan bahwa dia sudah mengalami kesakitan sampai pada titik puncaknya. Juga memanjatkan tawasul dengan rahmat Allah yang sangat luas lagi menyeluruh. (84) Allah mengabulkan permohonan beliau seraya ber-firman, ﴾ ٱرۡكُضۡ بِرِجۡلِكَۖ هَٰذَا مُغۡتَسَلُۢ بَارِدٞ وَشَرَابٞ 42 ﴿ "Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum." (Shad: 42). Beliau menghentakkan kakinya. Maka keluarlah sebuah mata air yang dingin dari tempat hentakannya. Lalu beliau mandi dan meminum airnya. Maka Allah menghilangkan penyakit yang ada pada tubuhnya. ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ أَهۡلَهُۥ ﴿ "Dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya," maksudnya Kami mengembalikan keluarga dan harta kekayaannya. ﴾ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ ﴿ "Dan Kami lipat gandakan bilangan me-reka," dengan menganugerahkan karunia yang banyak bagi beliau [bersama] keselamatan keluarga dan hartanya, ﴾ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا ﴿ "sebagai suatu rahmat dari sisi Kami," karena sabar dan mau menerima ke-adaan. Maka Allah membalasinya dengan pahala yang banyak di dunia sebelum datangnya akhirat. ﴾ وَذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰبِدِينَ 84 ﴿ "Dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah," maksudnya Kami menjadikannya sebagai pelajaran bagi orang-orang yang beribadah, yang dapat mereguk manfaat dari kesabaran. Ketika mereka menyaksikan musibah yang melanda Ayyub, kemudian balasan kebaikan yang Allah karuniakan kepadanya pasca terang-katnya musibah dan memperhatikan faktor penyebab perolehan-nya, maka mereka menemukannya dalam sikap kesabaran beliau. Oleh karenanya, Allah menyanjungnya dalam FirmanNya, ﴾ إِنَّا وَجَدۡنَٰهُ صَابِرٗاۚ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ 44 ﴿ "Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dia-lah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya)." (Shad: 44). Maka Allah menjadikannya sebagai contoh dan teladan bagi mereka tatkala sedang dirundung musibah.

Al-Anbiya' 21:85

"Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang shalih." (Al-Anbiya`: 85-86). (85) Maksudnya dan ingatlah hamba-hamba Kami yang ter-pilih, para nabi kami yang diutus dengan sebaik-baik pengingatan, dan pujilah mereka dengan pujian yang paling tinggi ﴾ إِسۡمَٰعِيلَ ﴿ "Isma'il," putra Nabi Ibrahim ﴾ وَإِدۡرِيسَ وَذَا ٱلۡكِفۡلِۖ ﴿ "Idris dan Dzulkifli," dua nabi dari kalangan Bani Israil ﴾ كُلّٞ ﴿ "semua mereka," dari mereka yang disebutkan ﴾ مِّنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sabar." Hakikat sabar yakni kemampuan menahan dan memasung diri dari perkara-perkara yang disukai secara tabiat. Hal ini mencakup tiga jenis kesabaran: Sabar dalam menjalani ke-taatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi maksiat kepada Allah, dan sabar menyikapi takdir-takdir Allah yang menyakitkan. Seorang hamba tidak berhak menggapai gelar sabar yang sempurna sampai dia berhasil memenuhi hak (tuntutan) jenis-jenis kesabaran yang berjumlah tiga ini. Para nabi itu sudah Allah beri gelar dengan sifat kesabaran. Sehingga menandakan bahwa mereka telah memenuhi hak-haknya dan menjalankannya sebagaimana mestinya. (86) Allah juga menjuluki mereka dengan keshalihan jiwa. Hal ini mencakup keshalihan hati dalam bentuk mengenal Allah, cinta dan selalu kembali kepadaNya dalam setiap detik; dan kesha-lihan lisan, dalam bentuk lisan selalu basah dengan dzikir kepada Allah; serta keshalihan anggota tubuh dalam bentuk sibuk dengan (pelaksanaan) ketaatan kepada Allah dan mengekangnya dari maksiat-maksiat. Lantaran kesabaran dan keshalihan mereka, maka Allah me-masukkan mereka ke dalam rahmatNya, dan menjadikan mereka bersama dengan saudara-saudara mereka dari kalangan para rasul. Allah membalasi mereka dengan pahala di dunia dan akhirat. Se-andainya, tidak ada balasan kebaikan bagi mereka kecuali (balasan) bahwa Allah menyebutkan nama-nama mereka di hadapan para makhluk dan menjadikan mereka penyampai kebenaran bagi generasi belakangan, niscaya hal itu sudah cukup sebagai bentuk kemuliaan dan keutamaan.

Al-Anbiya' 21:86

"Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang shalih." (Al-Anbiya`: 85-86). (85) Maksudnya dan ingatlah hamba-hamba Kami yang ter-pilih, para nabi kami yang diutus dengan sebaik-baik pengingatan, dan pujilah mereka dengan pujian yang paling tinggi ﴾ إِسۡمَٰعِيلَ ﴿ "Isma'il," putra Nabi Ibrahim ﴾ وَإِدۡرِيسَ وَذَا ٱلۡكِفۡلِۖ ﴿ "Idris dan Dzulkifli," dua nabi dari kalangan Bani Israil ﴾ كُلّٞ ﴿ "semua mereka," dari mereka yang disebutkan ﴾ مِّنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿ "termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sabar." Hakikat sabar yakni kemampuan menahan dan memasung diri dari perkara-perkara yang disukai secara tabiat. Hal ini mencakup tiga jenis kesabaran: Sabar dalam menjalani ke-taatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi maksiat kepada Allah, dan sabar menyikapi takdir-takdir Allah yang menyakitkan. Seorang hamba tidak berhak menggapai gelar sabar yang sempurna sampai dia berhasil memenuhi hak (tuntutan) jenis-jenis kesabaran yang berjumlah tiga ini. Para nabi itu sudah Allah beri gelar dengan sifat kesabaran. Sehingga menandakan bahwa mereka telah memenuhi hak-haknya dan menjalankannya sebagaimana mestinya. (86) Allah juga menjuluki mereka dengan keshalihan jiwa. Hal ini mencakup keshalihan hati dalam bentuk mengenal Allah, cinta dan selalu kembali kepadaNya dalam setiap detik; dan kesha-lihan lisan, dalam bentuk lisan selalu basah dengan dzikir kepada Allah; serta keshalihan anggota tubuh dalam bentuk sibuk dengan (pelaksanaan) ketaatan kepada Allah dan mengekangnya dari maksiat-maksiat. Lantaran kesabaran dan keshalihan mereka, maka Allah me-masukkan mereka ke dalam rahmatNya, dan menjadikan mereka bersama dengan saudara-saudara mereka dari kalangan para rasul. Allah membalasi mereka dengan pahala di dunia dan akhirat. Se-andainya, tidak ada balasan kebaikan bagi mereka kecuali (balasan) bahwa Allah menyebutkan nama-nama mereka di hadapan para makhluk dan menjadikan mereka penyampai kebenaran bagi generasi belakangan, niscaya hal itu sudah cukup sebagai bentuk kemuliaan dan keutamaan.

Al-Anbiya' 21:87

"Dan (ingatlah kisah) Dzu an-Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia menyeru dalam keadaan sangat gelap, 'Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim.' Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (Al-Anbiya`: 87-88). (87-88) Maksudnya, dan ingatlah hamba dan rasul Kami (dengan ungkapan yang baik dan sanjungan yang bagus) ﴾ ذ َ ا ٱلنُّونِ ﴿ "Dzu an-Nun," dia adalah Yunus. Maksudnya, orang yang dikaitkan dengan an-Nun yaitu ikan besar. Sesungguhnya Allah telah meng-utusnya kepada kaumnya. Beliau mendakwahi mereka. Namun mereka tidak beriman. Beliau pun mengancam mereka akan turun-nya siksa (Allah) pada waktu yang sudah beliau sampaikan tempo-nya. Maka datanglah siksaan Allah kepada mereka. Mereka dapat menyaksikannya secara langsung. Mereka pun bersegera kembali kepada Allah, berteriak-teriak ketakutan dan bertaubat. Akhirnya, Allah menyingkirkan siksa itu dari mereka. Allah berfirman, ﴾ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 98 ﴿ "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala me-reka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu yang tertentu." (Yunus: 98). Allah berfirman, ﴾ وَأَرۡسَلۡنَٰهُ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ أَوۡ يَزِيدُونَ 147 فَـَٔامَنُواْ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 148 ﴿ "Dan Kami mengutus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (Ash-Shaffat: 147-148). Sejumlah umat yang besar ini yang beriman berkat dakwah Yunus merupakan salah satu dari keutamaan beliau. Akan tetapi, beliau عليه السلام bergegas pergi dalam keadaan murka dan melarikan diri dari Rabbnya karena dosanya yang tidak disebutkan oleh Allah di kitabNya kepada kita. Dan memang kita tidak membutuhkan keterangan pastinya. Hal ini berdasarkan ayat, ﴾ إِذۡ أَبَقَ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ 140 فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ 141 فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٞ 142 ﴿ "(Ingatlah) ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian dia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela." (Ash-Shaffat: 140-142), maksudnya, beliau pelaku perbuatan yang tercela. [Sementara ber-dasarkan pendapat yang lebih kuat, karena ketergesa-gesaan dan kemurkaan beliau terhadap kaumnya serta kepergian beliau dari tengah-tengah mereka sebelum Allah memerintahkannya]. Beliau menyangka Allah tidak mampu menghambatnya. Yaitu membuat-nya kesulitan di dalam perut ikan paus. Atau berprasangka bahwa beliau dapat melewatkan pengawasan Allah تعالى. (Tidak masalah menyampaikan prasangka semacam ini terhadap orang-orang yang sempurna dengan bentuk yang tidak dipastikan dan tidak terus-menerus dilakukan). Selanjutnya beliau menumpangi sebuah kapal bersama sejumlah orang. Mereka kemudian melakukan pengundian mengenai siapa yang harus mereka lemparkan ke laut, karena me-reka takut tenggelam bila semua tetap tinggal (di kapal). Ternyata hasil undian mengenai Yunus. Maka, beliau (dilemparkan dan) di-telan oleh ikan paus. Beliau terbawa sampai ke balutan kegelapan lautan. Dalam kegelapan itu, beliau memanggil Rabbnya,﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 87 ﴿ "Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." Beliau mengungkapkan penga-kuan atas kesempurnaan uluhiyah Allah dan menyucikanNya dari segala kekurangan, cacat dan gangguan, dan pengakuan atas tindak aniaya terhadap dirinya sendiri dan kesalahannya. Allah berfirman, ﴾ فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ 143 لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 144 ﴿ "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." (Ash-Shaffat: 143-144). Oleh karenanya, Allah berfirman di sini,﴾ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَنَجَّيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ ﴿ "Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkan-nya dari kedukaan," yaitu kedahsyatan kondisi yang beliau alami. ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُـۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 88 ﴿ "Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." Ini merupakan janji baik dan kabar gembira bagi setiap insan Mukmin yang sedang mengalami kondisi berat dan kesusahan, bahwa Allah تعالى akan menyelamatkan dirinya dari malapetaka tersebut dan membuangnya dari dirinya serta meringan-kan bebannya karena keimanannya kepada Allah, sebagaimana yang Allah lakukan kepada Yunus عليه السلام.

Al-Anbiya' 21:88

"Dan (ingatlah kisah) Dzu an-Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia menyeru dalam keadaan sangat gelap, 'Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim.' Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (Al-Anbiya`: 87-88). (87-88) Maksudnya, dan ingatlah hamba dan rasul Kami (dengan ungkapan yang baik dan sanjungan yang bagus) ﴾ ذ َ ا ٱلنُّونِ ﴿ "Dzu an-Nun," dia adalah Yunus. Maksudnya, orang yang dikaitkan dengan an-Nun yaitu ikan besar. Sesungguhnya Allah telah meng-utusnya kepada kaumnya. Beliau mendakwahi mereka. Namun mereka tidak beriman. Beliau pun mengancam mereka akan turun-nya siksa (Allah) pada waktu yang sudah beliau sampaikan tempo-nya. Maka datanglah siksaan Allah kepada mereka. Mereka dapat menyaksikannya secara langsung. Mereka pun bersegera kembali kepada Allah, berteriak-teriak ketakutan dan bertaubat. Akhirnya, Allah menyingkirkan siksa itu dari mereka. Allah berfirman, ﴾ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 98 ﴿ "Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala me-reka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu yang tertentu." (Yunus: 98). Allah berfirman, ﴾ وَأَرۡسَلۡنَٰهُ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ أَوۡ يَزِيدُونَ 147 فَـَٔامَنُواْ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ 148 ﴿ "Dan Kami mengutus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (Ash-Shaffat: 147-148). Sejumlah umat yang besar ini yang beriman berkat dakwah Yunus merupakan salah satu dari keutamaan beliau. Akan tetapi, beliau عليه السلام bergegas pergi dalam keadaan murka dan melarikan diri dari Rabbnya karena dosanya yang tidak disebutkan oleh Allah di kitabNya kepada kita. Dan memang kita tidak membutuhkan keterangan pastinya. Hal ini berdasarkan ayat, ﴾ إِذۡ أَبَقَ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ 140 فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ 141 فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٞ 142 ﴿ "(Ingatlah) ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian dia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela." (Ash-Shaffat: 140-142), maksudnya, beliau pelaku perbuatan yang tercela. [Sementara ber-dasarkan pendapat yang lebih kuat, karena ketergesa-gesaan dan kemurkaan beliau terhadap kaumnya serta kepergian beliau dari tengah-tengah mereka sebelum Allah memerintahkannya]. Beliau menyangka Allah tidak mampu menghambatnya. Yaitu membuat-nya kesulitan di dalam perut ikan paus. Atau berprasangka bahwa beliau dapat melewatkan pengawasan Allah تعالى. (Tidak masalah menyampaikan prasangka semacam ini terhadap orang-orang yang sempurna dengan bentuk yang tidak dipastikan dan tidak terus-menerus dilakukan). Selanjutnya beliau menumpangi sebuah kapal bersama sejumlah orang. Mereka kemudian melakukan pengundian mengenai siapa yang harus mereka lemparkan ke laut, karena me-reka takut tenggelam bila semua tetap tinggal (di kapal). Ternyata hasil undian mengenai Yunus. Maka, beliau (dilemparkan dan) di-telan oleh ikan paus. Beliau terbawa sampai ke balutan kegelapan lautan. Dalam kegelapan itu, beliau memanggil Rabbnya,﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 87 ﴿ "Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." Beliau mengungkapkan penga-kuan atas kesempurnaan uluhiyah Allah dan menyucikanNya dari segala kekurangan, cacat dan gangguan, dan pengakuan atas tindak aniaya terhadap dirinya sendiri dan kesalahannya. Allah berfirman, ﴾ فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ 143 لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ 144 ﴿ "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." (Ash-Shaffat: 143-144). Oleh karenanya, Allah berfirman di sini,﴾ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَنَجَّيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ ﴿ "Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkan-nya dari kedukaan," yaitu kedahsyatan kondisi yang beliau alami. ﴾ وَكَذَٰلِكَ نُـۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 88 ﴿ "Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." Ini merupakan janji baik dan kabar gembira bagi setiap insan Mukmin yang sedang mengalami kondisi berat dan kesusahan, bahwa Allah تعالى akan menyelamatkan dirinya dari malapetaka tersebut dan membuangnya dari dirinya serta meringan-kan bebannya karena keimanannya kepada Allah, sebagaimana yang Allah lakukan kepada Yunus عليه السلام.

Al-Anbiya' 21:89

"Dan (ingatlah kisah) Zakariya, tatkala dia menyeru Rabb-nya, 'Ya Rabbku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, sedangkan Engkau-lah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguh-nya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." (Al-Anbiya`: 89-90). (89) Maksudnya, ingatlah hamba dan rasul Kami Zakariya, dengan maksud untuk menyinggung namanya dan menyebarluas-kan tentang kebaikan-kebaikan dan keutamaannya. Termasuk di dalamnya adalah keutamaan besar ini, yang mencakup ketekunan beliau menasihati (memperbaiki) manusia dan curahan rahmat Allah kepadanya. Beliau memanggil Rabbnya, ﴾ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرۡنِي فَرۡدٗا ﴿ "Ya Rabbku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri," mak-sudnya permohonan beliau, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيّٗا 4 وَإِنِّي خِفۡتُ ٱلۡمَوَٰلِيَ مِن وَرَآءِي وَكَانَتِ ٱمۡرَأَتِي عَاقِرٗا فَهَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيّٗا 5 يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنۡ ءَالِ يَعۡقُوبَۖ وَٱجۡعَلۡهُ رَبِّ رَضِيّٗا 6 ﴿ "Dia berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, ya Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisiMu seorang putra. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub dan jadikanlah dia ya Rabbku seorang yang diridhai'." (Maryam: 4-6). Melalui ayat-ayat ini, kita menjadi mengerti bahwa perkataan-nya, ﴾ رَبِّ لَا تَذَرۡنِي فَرۡدٗا ﴿ "Ya Rabbku janganlah Engkau membiarkan aku hidup sendiri," adalah ketika ajalnya sudah mendekat, beliau meng-khawatirkan tidak adanya orang yang menggantikan posisinya sepeninggal beliau untuk berdakwah kepada Allah dan menasihati para hambaNya (dan mengkhawatirkan) keberadaannya yang sen-dirian tanpa keturunan yang akan mendukung dan membantunya dalam menjalankan misinya ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡوَٰرِثِينَ 89 ﴿ "dan Engkau Waris Yang Paling Baik," maksudnya sebaik-baik Dzat yang abadi dan sebaik-baik Dzat yang memberikan keturunan bagiku dengan baik. Dan Engkau lebih menyayangi hamba-hambaMu dibandingkan diriku (menyayangi mereka). Akan tetapi, saya ingin agar hatiku menjadi tentram, jiwaku tenang dan pahalaku tetap mengalir pada timbangan (kebaikan)ku. (90) ﴾ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ يَحۡيَىٰ ﴿ "Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya," yaitu nabi yang mulia yang mana Allah belum pernah menjadikan nama serupa sebelumnya, ﴾ وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُۥٓۚ ﴿ "dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung," yang sebelumnya mengalami kemandulan, rahimnya tidak layak untuk melahirkan anak. Selanjutnya, Allah memper-baiki keadaan rahimnya agar layak untuk mengandung demi nabi-Nya, Zakariya. Ini termasuk (perkara yang menunjukkan) manfaat partner yang baik dan teman yang shalih, serta diberkahi pasangan-nya. Sehingga Yahya menjadi hasil baik milik dua orang tuanya. Setelah Allah menceritakan tentang para nabi dan rasul yang diutus secara terpisah, selanjutnya Allah memuji mereka secara keseluruhan, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik," maksudnya bersegera mengerjakannya, me-laksanakannya pada waktu-waktunya yang utama, menyempur-nakannya dengan cara yang sepatutnya. Mereka tidak pernah meninggalkan sebuah amalan baik yang dapat mereka kerjakan melainkan (pasti) mereka memanfaatkan kesempatan untuk me-ngerjakannya ﴾ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ ﴿ "dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas," maksudnya memohon kepada Kami hal-hal yang mereka inginkan berupa kebaikan-kebaikan duniawi dan ukhrawi, meminta perlindungan kepada Kami dari perkara-perkara yang menakutkan yang berbahaya di dunia dan akhirat. Mereka dalam keadaan berharap dan [merasa cemas], bukan lalai atau malah bermain-main serta tidak berpangku tangan. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ 90 ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami," tunduk, merasa hina diri, lagi memohon. Hal ini lantaran kesempurnaan ma'rifah (ilmu) mereka mengenai Allah.

Al-Anbiya' 21:90

"Dan (ingatlah kisah) Zakariya, tatkala dia menyeru Rabb-nya, 'Ya Rabbku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, sedangkan Engkau-lah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguh-nya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." (Al-Anbiya`: 89-90). (89) Maksudnya, ingatlah hamba dan rasul Kami Zakariya, dengan maksud untuk menyinggung namanya dan menyebarluas-kan tentang kebaikan-kebaikan dan keutamaannya. Termasuk di dalamnya adalah keutamaan besar ini, yang mencakup ketekunan beliau menasihati (memperbaiki) manusia dan curahan rahmat Allah kepadanya. Beliau memanggil Rabbnya, ﴾ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرۡنِي فَرۡدٗا ﴿ "Ya Rabbku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri," mak-sudnya permohonan beliau, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيّٗا 4 وَإِنِّي خِفۡتُ ٱلۡمَوَٰلِيَ مِن وَرَآءِي وَكَانَتِ ٱمۡرَأَتِي عَاقِرٗا فَهَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيّٗا 5 يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنۡ ءَالِ يَعۡقُوبَۖ وَٱجۡعَلۡهُ رَبِّ رَضِيّٗا 6 ﴿ "Dia berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, ya Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisiMu seorang putra. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub dan jadikanlah dia ya Rabbku seorang yang diridhai'." (Maryam: 4-6). Melalui ayat-ayat ini, kita menjadi mengerti bahwa perkataan-nya, ﴾ رَبِّ لَا تَذَرۡنِي فَرۡدٗا ﴿ "Ya Rabbku janganlah Engkau membiarkan aku hidup sendiri," adalah ketika ajalnya sudah mendekat, beliau meng-khawatirkan tidak adanya orang yang menggantikan posisinya sepeninggal beliau untuk berdakwah kepada Allah dan menasihati para hambaNya (dan mengkhawatirkan) keberadaannya yang sen-dirian tanpa keturunan yang akan mendukung dan membantunya dalam menjalankan misinya ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡوَٰرِثِينَ 89 ﴿ "dan Engkau Waris Yang Paling Baik," maksudnya sebaik-baik Dzat yang abadi dan sebaik-baik Dzat yang memberikan keturunan bagiku dengan baik. Dan Engkau lebih menyayangi hamba-hambaMu dibandingkan diriku (menyayangi mereka). Akan tetapi, saya ingin agar hatiku menjadi tentram, jiwaku tenang dan pahalaku tetap mengalir pada timbangan (kebaikan)ku. (90) ﴾ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ يَحۡيَىٰ ﴿ "Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya," yaitu nabi yang mulia yang mana Allah belum pernah menjadikan nama serupa sebelumnya, ﴾ وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُۥٓۚ ﴿ "dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung," yang sebelumnya mengalami kemandulan, rahimnya tidak layak untuk melahirkan anak. Selanjutnya, Allah memper-baiki keadaan rahimnya agar layak untuk mengandung demi nabi-Nya, Zakariya. Ini termasuk (perkara yang menunjukkan) manfaat partner yang baik dan teman yang shalih, serta diberkahi pasangan-nya. Sehingga Yahya menjadi hasil baik milik dua orang tuanya. Setelah Allah menceritakan tentang para nabi dan rasul yang diutus secara terpisah, selanjutnya Allah memuji mereka secara keseluruhan, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik," maksudnya bersegera mengerjakannya, me-laksanakannya pada waktu-waktunya yang utama, menyempur-nakannya dengan cara yang sepatutnya. Mereka tidak pernah meninggalkan sebuah amalan baik yang dapat mereka kerjakan melainkan (pasti) mereka memanfaatkan kesempatan untuk me-ngerjakannya ﴾ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ ﴿ "dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas," maksudnya memohon kepada Kami hal-hal yang mereka inginkan berupa kebaikan-kebaikan duniawi dan ukhrawi, meminta perlindungan kepada Kami dari perkara-perkara yang menakutkan yang berbahaya di dunia dan akhirat. Mereka dalam keadaan berharap dan [merasa cemas], bukan lalai atau malah bermain-main serta tidak berpangku tangan. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ 90 ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami," tunduk, merasa hina diri, lagi memohon. Hal ini lantaran kesempurnaan ma'rifah (ilmu) mereka mengenai Allah.

Al-Anbiya' 21:91

"Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehor-matannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami, dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu, dan Aku adalah Rabbmu, maka sembahlah Aku. Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. Kepada Kami-lah masing-masing golongan itu akan kembali. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, sedang dia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu, dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya." (Al-Anbiya`: 91-94). (91) Dan ingatlah Maryam عليها السلام untuk menyanjung dan menceritakan kedudukan tingginya, serta menyebarluaskan tentang kemuliaannya, ﴾ وَٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا ﴿ "yang telah memelihara kehormatan-nya," memeliharanya dari perbuatan haram dan (dari) mendekati-nya, bahkan dari hal-hal yang dihalalkan sekalipun. Ia belum me-nikah karena menyibukkan diri dengan ibadah dan menghabiskan waktunya untuk mengabdikan diri kepada Rabbnya. Ketika Jibril mendatanginya dalam rupa seorang lelaki yang normal, dengan fisik dan ketampanan yang sempurna, ﴾ قَالَتۡ إِنِّيٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحۡمَٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيّٗا 18 ﴿ "Maryam berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Rabb Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa'." (Maryam: 18). Maka Allah membalasinya dengan balasan yang sesuai dengan amalannya, dan memberinya keturunan tanpa keberadaan suami. Akan tetapi (dengan cara) Jibril meniupkan padanya ruh sehingga hamil dengan izin Allah, ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَا وَٱبۡنَهَآ ءَايَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 91 ﴿ "dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam," di mana beliau mengandung (tanpa suami) dan melahirkan-nya tanpa bantuan penanganan dari orang lain. Lalu si jabang bayi berbicara ketika masih di gendongan, dan Allah merehabilitasi namanya dari tuduhan orang-orang yang menuduhnya dengan tuduhan yang tidak baik. Lalu Allah memberitahukan tentang diri-nya dalam kondisi itu. Selanjutnya, Allah mempraktikkan (melalui-nya) berbagai macam keajaiban dan mukjizat yang sudah diketahui bersama. Maka, Maryam dan putranya menjadi tanda kebesaran Allah bagi sekalian alam. Generasi-generasi bergantian membicara-kannya dan orang-orang pun memetik pelajaran darinya. (92) Saat Allah mengisahkan tentang para nabi k, Dia mengajak komunikasi kepada manusia, ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Se-sungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu," para rasul yang telah disebutkan itu, mereka juga bangsa kalian dan tokoh-tokoh panutan kalian yang kalian ikut berjalan di belakang mereka dan menelusuri petunjuk mereka. Mereka semua berpegang teguh pada agama yang satu dan jalan yang satu, juga mempunyai satu Rabb. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan Aku adalah Rabbmu."Aku-lah yang menciptakan kalian dan merawat kalian dengan nikmatKu yang berkaitan dengan agama ataupun kehidupan duniawi. Jika Rabb (kalian) satu, dan nabi (kalian) satu, agama (kalian) satu, yaitu penyembahan kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dalam seluruh ragam ibadah, maka tugas dan kewajiban yang mesti kalian tunaikan adalah me-laksanakan tugas itu (beribadah kepada Allah semata). Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱعۡبُدُونِ 92 ﴿ "Maka sembahlah Aku." Allah menempatkan urutan perintah beribadah kepadaNya berdasarkan keterangan sebelumnya dengan huruf fa`, yaitu mengurutkan se-buah sebab masalah berdasarkan faktor penyebabnya. (93) Idealnya, bersatu padu pada perkara ini, dan tidak berpecah-belah di dalamnya. Akan tetapi, "(dorongan) bertindak zhalim dan melampaui batas" menolak persatuan, dan hanya mene-rima keadaan terpecah-belah dan terpisah-pisah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَتَقَطَّعُوٓاْ أَمۡرَهُم بَيۡنَهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka," maksudnya golongan-golongan yang mengaku mengikuti para pengikut nabi terpecah-belah dan bercerai-berai. Setiap pihak mengklaim berada di atas kebenaran, sementara kebatilan bersama dengan pihak lainnya. Setiap golongan bangga dengan apa yang mereka miliki. Padahal sudah dimaklumi bersama, pihak yang benar dari kalangan mereka, yaitu yang meniti pada agama yang lurus dan jalan yang lempeng, dengan mengikuti para nabi. Kenyataan ini akan terlihat, bila tabir (kebenaran) sudah tersibak, kegelapan sudah pergi dan Allah mengumpulkan umat manusia untuk mengadili mereka. Saat itu-lah, orang yang benar akan jelas berbeda dari orang yang berdusta. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ كُلٌّ ﴿ "Masing-masing golongan itu," dari setiap kelompok yang bercerai-berai dan selain m e r e k a ﴾ إِلَيۡنَا رَٰجِعُونَ 93 ﴿ "akan kembali kepada Kami," maka Kami membalasi mereka dengan balasan yang sempurna. (94) Sesudah itu, Allah membeberkan balasanNya bagi mereka, secara eksplisit maupun implisit. Allah berfirman,﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِنَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih," yaitu amalan-amalan yang telah disyariatkan oleh para rasul dan dianjur-kan oleh kitab-kitab Allah ﴾ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ ﴿ "sedang dia beriman," kepada Allah dan para RasulNya serta risalah yang mereka emban,﴾ فَلَا كُفۡرَانَ لِسَعۡيِهِۦ ﴿ "maka tidak ada pengingkaran terhadap amalan itu," maksud-nya Kami tidak akan menyia-nyiakan dan menggugurkan usaha-nya. Bahkan Kami akan melipatgandakannya berlipat-lipat.﴾ وَإِنَّا لَهُۥ كَٰتِبُونَ 94 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu un-tuknya," maksudnya Kami menetapkannya di Lauh Mahfuzh dan di lembaran-lembaran amalan yang bersama para malaikat penjaga amalan. Maksudnya, (secara eksplisit) siapa saja yang tidak beramal shalih, atau mengamalkannya tanpa beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia terhalangi (dari pahala kebaikan), merugi dalam agama dan dunianya.

Al-Anbiya' 21:92

"Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehor-matannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami, dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu, dan Aku adalah Rabbmu, maka sembahlah Aku. Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. Kepada Kami-lah masing-masing golongan itu akan kembali. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, sedang dia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu, dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya." (Al-Anbiya`: 91-94). (91) Dan ingatlah Maryam عليها السلام untuk menyanjung dan menceritakan kedudukan tingginya, serta menyebarluaskan tentang kemuliaannya, ﴾ وَٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا ﴿ "yang telah memelihara kehormatan-nya," memeliharanya dari perbuatan haram dan (dari) mendekati-nya, bahkan dari hal-hal yang dihalalkan sekalipun. Ia belum me-nikah karena menyibukkan diri dengan ibadah dan menghabiskan waktunya untuk mengabdikan diri kepada Rabbnya. Ketika Jibril mendatanginya dalam rupa seorang lelaki yang normal, dengan fisik dan ketampanan yang sempurna, ﴾ قَالَتۡ إِنِّيٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحۡمَٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيّٗا 18 ﴿ "Maryam berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Rabb Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa'." (Maryam: 18). Maka Allah membalasinya dengan balasan yang sesuai dengan amalannya, dan memberinya keturunan tanpa keberadaan suami. Akan tetapi (dengan cara) Jibril meniupkan padanya ruh sehingga hamil dengan izin Allah, ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَا وَٱبۡنَهَآ ءَايَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 91 ﴿ "dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam," di mana beliau mengandung (tanpa suami) dan melahirkan-nya tanpa bantuan penanganan dari orang lain. Lalu si jabang bayi berbicara ketika masih di gendongan, dan Allah merehabilitasi namanya dari tuduhan orang-orang yang menuduhnya dengan tuduhan yang tidak baik. Lalu Allah memberitahukan tentang diri-nya dalam kondisi itu. Selanjutnya, Allah mempraktikkan (melalui-nya) berbagai macam keajaiban dan mukjizat yang sudah diketahui bersama. Maka, Maryam dan putranya menjadi tanda kebesaran Allah bagi sekalian alam. Generasi-generasi bergantian membicara-kannya dan orang-orang pun memetik pelajaran darinya. (92) Saat Allah mengisahkan tentang para nabi k, Dia mengajak komunikasi kepada manusia, ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Se-sungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu," para rasul yang telah disebutkan itu, mereka juga bangsa kalian dan tokoh-tokoh panutan kalian yang kalian ikut berjalan di belakang mereka dan menelusuri petunjuk mereka. Mereka semua berpegang teguh pada agama yang satu dan jalan yang satu, juga mempunyai satu Rabb. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan Aku adalah Rabbmu."Aku-lah yang menciptakan kalian dan merawat kalian dengan nikmatKu yang berkaitan dengan agama ataupun kehidupan duniawi. Jika Rabb (kalian) satu, dan nabi (kalian) satu, agama (kalian) satu, yaitu penyembahan kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dalam seluruh ragam ibadah, maka tugas dan kewajiban yang mesti kalian tunaikan adalah me-laksanakan tugas itu (beribadah kepada Allah semata). Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱعۡبُدُونِ 92 ﴿ "Maka sembahlah Aku." Allah menempatkan urutan perintah beribadah kepadaNya berdasarkan keterangan sebelumnya dengan huruf fa`, yaitu mengurutkan se-buah sebab masalah berdasarkan faktor penyebabnya. (93) Idealnya, bersatu padu pada perkara ini, dan tidak berpecah-belah di dalamnya. Akan tetapi, "(dorongan) bertindak zhalim dan melampaui batas" menolak persatuan, dan hanya mene-rima keadaan terpecah-belah dan terpisah-pisah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَتَقَطَّعُوٓاْ أَمۡرَهُم بَيۡنَهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka," maksudnya golongan-golongan yang mengaku mengikuti para pengikut nabi terpecah-belah dan bercerai-berai. Setiap pihak mengklaim berada di atas kebenaran, sementara kebatilan bersama dengan pihak lainnya. Setiap golongan bangga dengan apa yang mereka miliki. Padahal sudah dimaklumi bersama, pihak yang benar dari kalangan mereka, yaitu yang meniti pada agama yang lurus dan jalan yang lempeng, dengan mengikuti para nabi. Kenyataan ini akan terlihat, bila tabir (kebenaran) sudah tersibak, kegelapan sudah pergi dan Allah mengumpulkan umat manusia untuk mengadili mereka. Saat itu-lah, orang yang benar akan jelas berbeda dari orang yang berdusta. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ كُلٌّ ﴿ "Masing-masing golongan itu," dari setiap kelompok yang bercerai-berai dan selain m e r e k a ﴾ إِلَيۡنَا رَٰجِعُونَ 93 ﴿ "akan kembali kepada Kami," maka Kami membalasi mereka dengan balasan yang sempurna. (94) Sesudah itu, Allah membeberkan balasanNya bagi mereka, secara eksplisit maupun implisit. Allah berfirman,﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِنَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih," yaitu amalan-amalan yang telah disyariatkan oleh para rasul dan dianjur-kan oleh kitab-kitab Allah ﴾ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ ﴿ "sedang dia beriman," kepada Allah dan para RasulNya serta risalah yang mereka emban,﴾ فَلَا كُفۡرَانَ لِسَعۡيِهِۦ ﴿ "maka tidak ada pengingkaran terhadap amalan itu," maksud-nya Kami tidak akan menyia-nyiakan dan menggugurkan usaha-nya. Bahkan Kami akan melipatgandakannya berlipat-lipat.﴾ وَإِنَّا لَهُۥ كَٰتِبُونَ 94 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu un-tuknya," maksudnya Kami menetapkannya di Lauh Mahfuzh dan di lembaran-lembaran amalan yang bersama para malaikat penjaga amalan. Maksudnya, (secara eksplisit) siapa saja yang tidak beramal shalih, atau mengamalkannya tanpa beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia terhalangi (dari pahala kebaikan), merugi dalam agama dan dunianya.

Al-Anbiya' 21:93

"Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehor-matannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami, dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu, dan Aku adalah Rabbmu, maka sembahlah Aku. Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. Kepada Kami-lah masing-masing golongan itu akan kembali. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, sedang dia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu, dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya." (Al-Anbiya`: 91-94). (91) Dan ingatlah Maryam عليها السلام untuk menyanjung dan menceritakan kedudukan tingginya, serta menyebarluaskan tentang kemuliaannya, ﴾ وَٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا ﴿ "yang telah memelihara kehormatan-nya," memeliharanya dari perbuatan haram dan (dari) mendekati-nya, bahkan dari hal-hal yang dihalalkan sekalipun. Ia belum me-nikah karena menyibukkan diri dengan ibadah dan menghabiskan waktunya untuk mengabdikan diri kepada Rabbnya. Ketika Jibril mendatanginya dalam rupa seorang lelaki yang normal, dengan fisik dan ketampanan yang sempurna, ﴾ قَالَتۡ إِنِّيٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحۡمَٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيّٗا 18 ﴿ "Maryam berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Rabb Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa'." (Maryam: 18). Maka Allah membalasinya dengan balasan yang sesuai dengan amalannya, dan memberinya keturunan tanpa keberadaan suami. Akan tetapi (dengan cara) Jibril meniupkan padanya ruh sehingga hamil dengan izin Allah, ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَا وَٱبۡنَهَآ ءَايَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 91 ﴿ "dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam," di mana beliau mengandung (tanpa suami) dan melahirkan-nya tanpa bantuan penanganan dari orang lain. Lalu si jabang bayi berbicara ketika masih di gendongan, dan Allah merehabilitasi namanya dari tuduhan orang-orang yang menuduhnya dengan tuduhan yang tidak baik. Lalu Allah memberitahukan tentang diri-nya dalam kondisi itu. Selanjutnya, Allah mempraktikkan (melalui-nya) berbagai macam keajaiban dan mukjizat yang sudah diketahui bersama. Maka, Maryam dan putranya menjadi tanda kebesaran Allah bagi sekalian alam. Generasi-generasi bergantian membicara-kannya dan orang-orang pun memetik pelajaran darinya. (92) Saat Allah mengisahkan tentang para nabi k, Dia mengajak komunikasi kepada manusia, ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Se-sungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu," para rasul yang telah disebutkan itu, mereka juga bangsa kalian dan tokoh-tokoh panutan kalian yang kalian ikut berjalan di belakang mereka dan menelusuri petunjuk mereka. Mereka semua berpegang teguh pada agama yang satu dan jalan yang satu, juga mempunyai satu Rabb. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan Aku adalah Rabbmu."Aku-lah yang menciptakan kalian dan merawat kalian dengan nikmatKu yang berkaitan dengan agama ataupun kehidupan duniawi. Jika Rabb (kalian) satu, dan nabi (kalian) satu, agama (kalian) satu, yaitu penyembahan kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dalam seluruh ragam ibadah, maka tugas dan kewajiban yang mesti kalian tunaikan adalah me-laksanakan tugas itu (beribadah kepada Allah semata). Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱعۡبُدُونِ 92 ﴿ "Maka sembahlah Aku." Allah menempatkan urutan perintah beribadah kepadaNya berdasarkan keterangan sebelumnya dengan huruf fa`, yaitu mengurutkan se-buah sebab masalah berdasarkan faktor penyebabnya. (93) Idealnya, bersatu padu pada perkara ini, dan tidak berpecah-belah di dalamnya. Akan tetapi, "(dorongan) bertindak zhalim dan melampaui batas" menolak persatuan, dan hanya mene-rima keadaan terpecah-belah dan terpisah-pisah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَتَقَطَّعُوٓاْ أَمۡرَهُم بَيۡنَهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka," maksudnya golongan-golongan yang mengaku mengikuti para pengikut nabi terpecah-belah dan bercerai-berai. Setiap pihak mengklaim berada di atas kebenaran, sementara kebatilan bersama dengan pihak lainnya. Setiap golongan bangga dengan apa yang mereka miliki. Padahal sudah dimaklumi bersama, pihak yang benar dari kalangan mereka, yaitu yang meniti pada agama yang lurus dan jalan yang lempeng, dengan mengikuti para nabi. Kenyataan ini akan terlihat, bila tabir (kebenaran) sudah tersibak, kegelapan sudah pergi dan Allah mengumpulkan umat manusia untuk mengadili mereka. Saat itu-lah, orang yang benar akan jelas berbeda dari orang yang berdusta. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ كُلٌّ ﴿ "Masing-masing golongan itu," dari setiap kelompok yang bercerai-berai dan selain m e r e k a ﴾ إِلَيۡنَا رَٰجِعُونَ 93 ﴿ "akan kembali kepada Kami," maka Kami membalasi mereka dengan balasan yang sempurna. (94) Sesudah itu, Allah membeberkan balasanNya bagi mereka, secara eksplisit maupun implisit. Allah berfirman,﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِنَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih," yaitu amalan-amalan yang telah disyariatkan oleh para rasul dan dianjur-kan oleh kitab-kitab Allah ﴾ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ ﴿ "sedang dia beriman," kepada Allah dan para RasulNya serta risalah yang mereka emban,﴾ فَلَا كُفۡرَانَ لِسَعۡيِهِۦ ﴿ "maka tidak ada pengingkaran terhadap amalan itu," maksud-nya Kami tidak akan menyia-nyiakan dan menggugurkan usaha-nya. Bahkan Kami akan melipatgandakannya berlipat-lipat.﴾ وَإِنَّا لَهُۥ كَٰتِبُونَ 94 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu un-tuknya," maksudnya Kami menetapkannya di Lauh Mahfuzh dan di lembaran-lembaran amalan yang bersama para malaikat penjaga amalan. Maksudnya, (secara eksplisit) siapa saja yang tidak beramal shalih, atau mengamalkannya tanpa beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia terhalangi (dari pahala kebaikan), merugi dalam agama dan dunianya.

Al-Anbiya' 21:94

"Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehor-matannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami, dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu, dan Aku adalah Rabbmu, maka sembahlah Aku. Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. Kepada Kami-lah masing-masing golongan itu akan kembali. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, sedang dia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu, dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya." (Al-Anbiya`: 91-94). (91) Dan ingatlah Maryam عليها السلام untuk menyanjung dan menceritakan kedudukan tingginya, serta menyebarluaskan tentang kemuliaannya, ﴾ وَٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا ﴿ "yang telah memelihara kehormatan-nya," memeliharanya dari perbuatan haram dan (dari) mendekati-nya, bahkan dari hal-hal yang dihalalkan sekalipun. Ia belum me-nikah karena menyibukkan diri dengan ibadah dan menghabiskan waktunya untuk mengabdikan diri kepada Rabbnya. Ketika Jibril mendatanginya dalam rupa seorang lelaki yang normal, dengan fisik dan ketampanan yang sempurna, ﴾ قَالَتۡ إِنِّيٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحۡمَٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيّٗا 18 ﴿ "Maryam berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Rabb Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa'." (Maryam: 18). Maka Allah membalasinya dengan balasan yang sesuai dengan amalannya, dan memberinya keturunan tanpa keberadaan suami. Akan tetapi (dengan cara) Jibril meniupkan padanya ruh sehingga hamil dengan izin Allah, ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَا وَٱبۡنَهَآ ءَايَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 91 ﴿ "dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam," di mana beliau mengandung (tanpa suami) dan melahirkan-nya tanpa bantuan penanganan dari orang lain. Lalu si jabang bayi berbicara ketika masih di gendongan, dan Allah merehabilitasi namanya dari tuduhan orang-orang yang menuduhnya dengan tuduhan yang tidak baik. Lalu Allah memberitahukan tentang diri-nya dalam kondisi itu. Selanjutnya, Allah mempraktikkan (melalui-nya) berbagai macam keajaiban dan mukjizat yang sudah diketahui bersama. Maka, Maryam dan putranya menjadi tanda kebesaran Allah bagi sekalian alam. Generasi-generasi bergantian membicara-kannya dan orang-orang pun memetik pelajaran darinya. (92) Saat Allah mengisahkan tentang para nabi k, Dia mengajak komunikasi kepada manusia, ﴾ إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Se-sungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu," para rasul yang telah disebutkan itu, mereka juga bangsa kalian dan tokoh-tokoh panutan kalian yang kalian ikut berjalan di belakang mereka dan menelusuri petunjuk mereka. Mereka semua berpegang teguh pada agama yang satu dan jalan yang satu, juga mempunyai satu Rabb. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ ﴿ "Dan Aku adalah Rabbmu."Aku-lah yang menciptakan kalian dan merawat kalian dengan nikmatKu yang berkaitan dengan agama ataupun kehidupan duniawi. Jika Rabb (kalian) satu, dan nabi (kalian) satu, agama (kalian) satu, yaitu penyembahan kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya dalam seluruh ragam ibadah, maka tugas dan kewajiban yang mesti kalian tunaikan adalah me-laksanakan tugas itu (beribadah kepada Allah semata). Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱعۡبُدُونِ 92 ﴿ "Maka sembahlah Aku." Allah menempatkan urutan perintah beribadah kepadaNya berdasarkan keterangan sebelumnya dengan huruf fa`, yaitu mengurutkan se-buah sebab masalah berdasarkan faktor penyebabnya. (93) Idealnya, bersatu padu pada perkara ini, dan tidak berpecah-belah di dalamnya. Akan tetapi, "(dorongan) bertindak zhalim dan melampaui batas" menolak persatuan, dan hanya mene-rima keadaan terpecah-belah dan terpisah-pisah. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَتَقَطَّعُوٓاْ أَمۡرَهُم بَيۡنَهُمۡۖ ﴿ "Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka," maksudnya golongan-golongan yang mengaku mengikuti para pengikut nabi terpecah-belah dan bercerai-berai. Setiap pihak mengklaim berada di atas kebenaran, sementara kebatilan bersama dengan pihak lainnya. Setiap golongan bangga dengan apa yang mereka miliki. Padahal sudah dimaklumi bersama, pihak yang benar dari kalangan mereka, yaitu yang meniti pada agama yang lurus dan jalan yang lempeng, dengan mengikuti para nabi. Kenyataan ini akan terlihat, bila tabir (kebenaran) sudah tersibak, kegelapan sudah pergi dan Allah mengumpulkan umat manusia untuk mengadili mereka. Saat itu-lah, orang yang benar akan jelas berbeda dari orang yang berdusta. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ كُلٌّ ﴿ "Masing-masing golongan itu," dari setiap kelompok yang bercerai-berai dan selain m e r e k a ﴾ إِلَيۡنَا رَٰجِعُونَ 93 ﴿ "akan kembali kepada Kami," maka Kami membalasi mereka dengan balasan yang sempurna. (94) Sesudah itu, Allah membeberkan balasanNya bagi mereka, secara eksplisit maupun implisit. Allah berfirman,﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِنَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih," yaitu amalan-amalan yang telah disyariatkan oleh para rasul dan dianjur-kan oleh kitab-kitab Allah ﴾ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ ﴿ "sedang dia beriman," kepada Allah dan para RasulNya serta risalah yang mereka emban,﴾ فَلَا كُفۡرَانَ لِسَعۡيِهِۦ ﴿ "maka tidak ada pengingkaran terhadap amalan itu," maksud-nya Kami tidak akan menyia-nyiakan dan menggugurkan usaha-nya. Bahkan Kami akan melipatgandakannya berlipat-lipat.﴾ وَإِنَّا لَهُۥ كَٰتِبُونَ 94 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu un-tuknya," maksudnya Kami menetapkannya di Lauh Mahfuzh dan di lembaran-lembaran amalan yang bersama para malaikat penjaga amalan. Maksudnya, (secara eksplisit) siapa saja yang tidak beramal shalih, atau mengamalkannya tanpa beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia terhalangi (dari pahala kebaikan), merugi dalam agama dan dunianya.

Al-Anbiya' 21:95

"Sungguh tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami)." (Al-Anbiya`: 95). (95) Maksudnya menjadi perkara mustahil, perkampungan-perkampungan yang telah dibinasakan, yang dihujani siksaan (dari Allah) kembali lagi ke dunia untuk memperbaiki keteledoran mereka. Tidak ada jalan untuk kembali bagi orang yang sudah dibinasakan dan ditimpa siksa. Hendaknya, orang-orang (yang sedang diajak bicara oleh ayat ini) berhati-hati agar tidak menerus-kan perkara-perkara yang akan mendatangkan kehancuran hingga nanti benar-benar terjadi sehingga akhirnya tidak dapat ditolak. Tinggalkanlah (itu semua) di waktu yang masih memungkinkan dan kesempatan (untuk memperbaiki diri).

Al-Anbiya' 21:96

"Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari Kebangkitan), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata), 'Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami dalam ke-adaan lalai tentang ini, bahkan kami dahulu adalah orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 96-97). (96) Ini sebuah peringatan dari Allah bagi sekalian manusia agar mereka tidak selalu berada di atas kekufuran dan kubangan maksiat, serta bahwa sudah dekat masa keluarnya Ya'juj dan Ma'juj. Mereka adalah dua suku besar dari kalangan Bani Adam. Dzul Qarnain telah menutup gerbang keluar bagi mereka tatkala sampai kepada beliau (keluhan orang-orang) mengenai sepak-terjang peru-sakan yang mereka perbuat di bumi. Di akhir zaman nanti, pintu akan terbuka. Mereka pun bertebaran menuju orang-orang. Pada kondisi ini, gambaran yang disebutkan Allah adalah (mereka) ber-asal dari tempat yang tinggi, yakni hadb ﴾ يَنسِلُونَ 96 ﴿ "mereka turun dengan cepat," dengan bergegas. Pada ayat ini terkandung pertanda besarnya jumlah mereka yang banyak lagi fantastis, dan kecepatan pergerakan mereka di bumi, baik dengan kemampuan mereka sendiri atau melalui cara-cara yang Allah ciptakan bagi mereka berupa sebab-sebab yang dapat mendekatkan jarak tempuh yang jauh, mempermudah perjalanan yang sulit. Mereka itu menundukkan orang-orang dan menguasai mereka di dunia. Tidak ada seorang pun yang berdaya untuk memerangi mereka. (97) ﴾ وَٱقۡتَرَبَ ٱلۡوَعۡدُ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari Kebangkitan)," yaitu pada Hari Kiamat yang sudah Allah janjikan kedatanganNya. Janji Allah sungguh-sungguh akan terwujud dan benar. Pada hari itu, engkau akan menyaksikan pan-dangan orang-orang kafir terbelalak karena dahsyatnya kekagetan mereka, prahara-prahara yang memiriskan hati dan kegaduhan yang mencekam. Mereka tidak menyadari kejahatan dan dosa-dosa me-reka. Mereka meneriakkan kecelakaan, kebinasaan, dan penyesalan, serta kesedihan atas kesempatan yang telah terlewatkan. Mereka berkata, ﴾ قَدۡ كُنَّا فِي غَفۡلَةٖ مِّنۡ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu dalam kelalaian tentang ini," tentang hari yang agung ini. Kami di dunia terlenakan, asyik dalam permainan dunia sampai saat datangnya keyakinan (ajal), dan kami memasuki Hari Kiamat. Seandainya ada orang yang bisa meninggal gara-gara penyesalan dan kesedihan, niscaya mereka akan mati (karenanya). ﴾ بَلۡ كُنَّا ظَٰلِمِينَ 97 ﴿ "Bahkan kami dahulu adalah orang-orang yang zhalim," mereka mengakui tindak aniaya yang mereka perbuat dan keadilan Allah mengenai mereka. Pada hari itu, diperintahkan agar mereka dan sesembahan-sesem-bahan mereka dicampakkan ke dalam neraka. Karena itu, Allah berfirman,

Al-Anbiya' 21:97

"Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari Kebangkitan), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata), 'Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami dalam ke-adaan lalai tentang ini, bahkan kami dahulu adalah orang-orang yang zhalim'." (Al-Anbiya`: 96-97). (96) Ini sebuah peringatan dari Allah bagi sekalian manusia agar mereka tidak selalu berada di atas kekufuran dan kubangan maksiat, serta bahwa sudah dekat masa keluarnya Ya'juj dan Ma'juj. Mereka adalah dua suku besar dari kalangan Bani Adam. Dzul Qarnain telah menutup gerbang keluar bagi mereka tatkala sampai kepada beliau (keluhan orang-orang) mengenai sepak-terjang peru-sakan yang mereka perbuat di bumi. Di akhir zaman nanti, pintu akan terbuka. Mereka pun bertebaran menuju orang-orang. Pada kondisi ini, gambaran yang disebutkan Allah adalah (mereka) ber-asal dari tempat yang tinggi, yakni hadb ﴾ يَنسِلُونَ 96 ﴿ "mereka turun dengan cepat," dengan bergegas. Pada ayat ini terkandung pertanda besarnya jumlah mereka yang banyak lagi fantastis, dan kecepatan pergerakan mereka di bumi, baik dengan kemampuan mereka sendiri atau melalui cara-cara yang Allah ciptakan bagi mereka berupa sebab-sebab yang dapat mendekatkan jarak tempuh yang jauh, mempermudah perjalanan yang sulit. Mereka itu menundukkan orang-orang dan menguasai mereka di dunia. Tidak ada seorang pun yang berdaya untuk memerangi mereka. (97) ﴾ وَٱقۡتَرَبَ ٱلۡوَعۡدُ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari Kebangkitan)," yaitu pada Hari Kiamat yang sudah Allah janjikan kedatanganNya. Janji Allah sungguh-sungguh akan terwujud dan benar. Pada hari itu, engkau akan menyaksikan pan-dangan orang-orang kafir terbelalak karena dahsyatnya kekagetan mereka, prahara-prahara yang memiriskan hati dan kegaduhan yang mencekam. Mereka tidak menyadari kejahatan dan dosa-dosa me-reka. Mereka meneriakkan kecelakaan, kebinasaan, dan penyesalan, serta kesedihan atas kesempatan yang telah terlewatkan. Mereka berkata, ﴾ قَدۡ كُنَّا فِي غَفۡلَةٖ مِّنۡ هَٰذَا ﴿ "Sesungguhnya kami dahulu dalam kelalaian tentang ini," tentang hari yang agung ini. Kami di dunia terlenakan, asyik dalam permainan dunia sampai saat datangnya keyakinan (ajal), dan kami memasuki Hari Kiamat. Seandainya ada orang yang bisa meninggal gara-gara penyesalan dan kesedihan, niscaya mereka akan mati (karenanya). ﴾ بَلۡ كُنَّا ظَٰلِمِينَ 97 ﴿ "Bahkan kami dahulu adalah orang-orang yang zhalim," mereka mengakui tindak aniaya yang mereka perbuat dan keadilan Allah mengenai mereka. Pada hari itu, diperintahkan agar mereka dan sesembahan-sesem-bahan mereka dicampakkan ke dalam neraka. Karena itu, Allah berfirman,

Al-Anbiya' 21:98

"Sesungguhnya kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalam api, dan mereka di dalamnya tidak bisa men-dengar. Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (untuk mereka) ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka. Mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata), 'Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'." (98-103). (98) Maksudnya, sesungguhnya kalian wahai orang-orang yang menyembah sesembahan lain selain Allah ﴾ حَصَبُ جَهَنَّمَ ﴿ "ada-lah umpan Jahanam," maksudnya menjadi bahan bakar dan kayu bakarnya ﴾ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ 98 ﴿ "kamu pasti masuk ke dalamnya," dan berhala-berhala kalian. (99) Hikmah masuknya berhala-berhala itu ke dalam neraka, padahal merupakan benda-benda mati yang tidak bisa berpikir, tidak punya dosa, adalah untuk menjelaskan kedustaan orang yang mendaulatnya sebagai sesembahan dan agar siksaan mereka semakin berat. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ لَوۡ كَانَ هَٰٓؤُلَآءِ ءَالِهَةٗ مَّا وَرَدُوهَاۖ ﴿ "Andaikata berhala-berhala itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka." Firman ini semakna dengan Firman Allah تعالى, ﴾ لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي يَخۡتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰذِبِينَ 39 ﴿ "Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perseli-sihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang dusta." (An-Nahl: 39). Masing-masing dari pihak yang menyembah dan obyek yang disembah akan kekal abadi di dalamnya, tidak akan pernah keluar darinya dan tidak akan berpindah darinya. (100) ﴾ لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٞ ﴿ "Mereka merintih di dalamnya," lantaran dahsyatnya siksaan (yang menimpa mereka), ﴾ وَهُمۡ فِيهَا لَا يَسۡمَعُونَ 100 ﴿ "dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar," mereka tuli, bisu dan buta. Atau tidak dapat mendengarkan suara-suara selain suara sendiri, karena kerasnya suara didihannya, dahsyatnya rintihan dan kemurkaan neraka. (101-102) Masuknya sesembahan kaum musyrikin ke dalam neraka, hanyalah patung-patung yang mempunyai rupa atau manusia yang disembah dalam keadaan ridha untuk diibadahi. Adapun al-Masih, Uzair, para malaikat dan lainnya yang disembah dari kalangan para wali Allah, maka sesungguhnya mereka tidak akan disiksa di dalamnya (neraka). Mereka justru masuk ke dalam makna Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ سَبَقَتۡ لَهُم مِّنَّا ٱلۡحُسۡنَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (untuk mereka) ketetapan yang baik dari Kami," maksudnya orang-orang yang sudah terlebih dulu ketetapan kebahagiaannya terdapat di dalam ilmu Allah dan Lauh Mahfuzh serta dalam kemudahan yang mereka jumpai di dunia untuk me-lakukan usaha-usaha yang baik dan amalan-amalan shalih. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ عَنۡهَا ﴿ "Mereka itu darinya," yaitu dari neraka ﴾ مُبۡعَدُونَ 101 ﴿ "dijauhkan," mereka tidak memasukinya, dan tidak berada di dekatnya. Bahkan mereka ditempatkan di tempat yang sangat jauh darinya sehingga tidak mendengarkan gemuruhnya dan menyaksikan kondisinya. ﴾ وَهُمۡ فِي مَا ٱشۡتَهَتۡ أَنفُسُهُمۡ خَٰلِدُونَ 102 ﴿ "Dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka," berupa berbagai jenis makanan, minuman, pasangan hidup, panorama indah yang tidak pernah disaksikan oleh mata penglihatan, atau didengar oleh telinga atau-pun terbetik di hati seseorang. Kenikmatan itu berlangsung kon-tinyu untuk mereka, dan akan bertambah indah seiring perjalanan masa. (103) ﴾ لَا يَحۡزُنُهُمُ ٱلۡفَزَعُ ٱلۡأَكۡبَرُ ﴿ "Mereka tidak disusahkan oleh ke-dahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat)," maksudnya tidak membuat mereka tercekam saat manusia mengalami kegalauan yang sangat tinggi. Hal itu terjadi di Hari Kiamat. Saat neraka yang mendekat, begitu murka terhadap orang-orang kafir dan para pelaku maksiat. Orang-orang cemas ketakutan karenanya. Sementara itu, orang-orang tadi, mereka tidak dirundung oleh kesedihan karena tahu kondisi (baik) yang akan mereka jumpai. Allah telah menurunkan rasa aman kepada mereka dari hal-hal yang mereka takutkan. ﴾ وَتَتَلَقَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan mereka disambut oleh para malaikat," tatkala mereka dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan datang menuju tempat kemuliaan sebagai utusan untuk menyambut mereka dengan hangat seraya berkata ﴾ هَٰذَا يَوۡمُكُمُ ٱلَّذِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ 103 ﴿ "Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'." Hendaknya apa yang dijanjikan Allah untuk kalian menjadi ketenangan pada kalian dan rasa senang kalian semakin besar atas kemuliaan yang ada di hadapan kalian. Hendaknya pula kegembiraan dan keceriaan kalian semakin sering lantaran Allah mengamankan kalian dari berbagai macam sumber rasa takut dan gangguan.

Al-Anbiya' 21:99

"Sesungguhnya kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalam api, dan mereka di dalamnya tidak bisa men-dengar. Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (untuk mereka) ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka. Mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata), 'Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'." (98-103). (98) Maksudnya, sesungguhnya kalian wahai orang-orang yang menyembah sesembahan lain selain Allah ﴾ حَصَبُ جَهَنَّمَ ﴿ "ada-lah umpan Jahanam," maksudnya menjadi bahan bakar dan kayu bakarnya ﴾ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ 98 ﴿ "kamu pasti masuk ke dalamnya," dan berhala-berhala kalian. (99) Hikmah masuknya berhala-berhala itu ke dalam neraka, padahal merupakan benda-benda mati yang tidak bisa berpikir, tidak punya dosa, adalah untuk menjelaskan kedustaan orang yang mendaulatnya sebagai sesembahan dan agar siksaan mereka semakin berat. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ لَوۡ كَانَ هَٰٓؤُلَآءِ ءَالِهَةٗ مَّا وَرَدُوهَاۖ ﴿ "Andaikata berhala-berhala itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka." Firman ini semakna dengan Firman Allah تعالى, ﴾ لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي يَخۡتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰذِبِينَ 39 ﴿ "Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perseli-sihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang dusta." (An-Nahl: 39). Masing-masing dari pihak yang menyembah dan obyek yang disembah akan kekal abadi di dalamnya, tidak akan pernah keluar darinya dan tidak akan berpindah darinya. (100) ﴾ لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٞ ﴿ "Mereka merintih di dalamnya," lantaran dahsyatnya siksaan (yang menimpa mereka), ﴾ وَهُمۡ فِيهَا لَا يَسۡمَعُونَ 100 ﴿ "dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar," mereka tuli, bisu dan buta. Atau tidak dapat mendengarkan suara-suara selain suara sendiri, karena kerasnya suara didihannya, dahsyatnya rintihan dan kemurkaan neraka. (101-102) Masuknya sesembahan kaum musyrikin ke dalam neraka, hanyalah patung-patung yang mempunyai rupa atau manusia yang disembah dalam keadaan ridha untuk diibadahi. Adapun al-Masih, Uzair, para malaikat dan lainnya yang disembah dari kalangan para wali Allah, maka sesungguhnya mereka tidak akan disiksa di dalamnya (neraka). Mereka justru masuk ke dalam makna Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ سَبَقَتۡ لَهُم مِّنَّا ٱلۡحُسۡنَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (untuk mereka) ketetapan yang baik dari Kami," maksudnya orang-orang yang sudah terlebih dulu ketetapan kebahagiaannya terdapat di dalam ilmu Allah dan Lauh Mahfuzh serta dalam kemudahan yang mereka jumpai di dunia untuk me-lakukan usaha-usaha yang baik dan amalan-amalan shalih. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ عَنۡهَا ﴿ "Mereka itu darinya," yaitu dari neraka ﴾ مُبۡعَدُونَ 101 ﴿ "dijauhkan," mereka tidak memasukinya, dan tidak berada di dekatnya. Bahkan mereka ditempatkan di tempat yang sangat jauh darinya sehingga tidak mendengarkan gemuruhnya dan menyaksikan kondisinya. ﴾ وَهُمۡ فِي مَا ٱشۡتَهَتۡ أَنفُسُهُمۡ خَٰلِدُونَ 102 ﴿ "Dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka," berupa berbagai jenis makanan, minuman, pasangan hidup, panorama indah yang tidak pernah disaksikan oleh mata penglihatan, atau didengar oleh telinga atau-pun terbetik di hati seseorang. Kenikmatan itu berlangsung kon-tinyu untuk mereka, dan akan bertambah indah seiring perjalanan masa. (103) ﴾ لَا يَحۡزُنُهُمُ ٱلۡفَزَعُ ٱلۡأَكۡبَرُ ﴿ "Mereka tidak disusahkan oleh ke-dahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat)," maksudnya tidak membuat mereka tercekam saat manusia mengalami kegalauan yang sangat tinggi. Hal itu terjadi di Hari Kiamat. Saat neraka yang mendekat, begitu murka terhadap orang-orang kafir dan para pelaku maksiat. Orang-orang cemas ketakutan karenanya. Sementara itu, orang-orang tadi, mereka tidak dirundung oleh kesedihan karena tahu kondisi (baik) yang akan mereka jumpai. Allah telah menurunkan rasa aman kepada mereka dari hal-hal yang mereka takutkan. ﴾ وَتَتَلَقَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan mereka disambut oleh para malaikat," tatkala mereka dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan datang menuju tempat kemuliaan sebagai utusan untuk menyambut mereka dengan hangat seraya berkata ﴾ هَٰذَا يَوۡمُكُمُ ٱلَّذِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ 103 ﴿ "Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'." Hendaknya apa yang dijanjikan Allah untuk kalian menjadi ketenangan pada kalian dan rasa senang kalian semakin besar atas kemuliaan yang ada di hadapan kalian. Hendaknya pula kegembiraan dan keceriaan kalian semakin sering lantaran Allah mengamankan kalian dari berbagai macam sumber rasa takut dan gangguan.

Al-Anbiya' 21:100

"Sesungguhnya kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalam api, dan mereka di dalamnya tidak bisa men-dengar. Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (untuk mereka) ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka. Mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata), 'Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'." (98-103). (98) Maksudnya, sesungguhnya kalian wahai orang-orang yang menyembah sesembahan lain selain Allah ﴾ حَصَبُ جَهَنَّمَ ﴿ "ada-lah umpan Jahanam," maksudnya menjadi bahan bakar dan kayu bakarnya ﴾ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ 98 ﴿ "kamu pasti masuk ke dalamnya," dan berhala-berhala kalian. (99) Hikmah masuknya berhala-berhala itu ke dalam neraka, padahal merupakan benda-benda mati yang tidak bisa berpikir, tidak punya dosa, adalah untuk menjelaskan kedustaan orang yang mendaulatnya sebagai sesembahan dan agar siksaan mereka semakin berat. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ لَوۡ كَانَ هَٰٓؤُلَآءِ ءَالِهَةٗ مَّا وَرَدُوهَاۖ ﴿ "Andaikata berhala-berhala itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka." Firman ini semakna dengan Firman Allah تعالى, ﴾ لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي يَخۡتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰذِبِينَ 39 ﴿ "Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perseli-sihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang dusta." (An-Nahl: 39). Masing-masing dari pihak yang menyembah dan obyek yang disembah akan kekal abadi di dalamnya, tidak akan pernah keluar darinya dan tidak akan berpindah darinya. (100) ﴾ لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٞ ﴿ "Mereka merintih di dalamnya," lantaran dahsyatnya siksaan (yang menimpa mereka), ﴾ وَهُمۡ فِيهَا لَا يَسۡمَعُونَ 100 ﴿ "dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar," mereka tuli, bisu dan buta. Atau tidak dapat mendengarkan suara-suara selain suara sendiri, karena kerasnya suara didihannya, dahsyatnya rintihan dan kemurkaan neraka. (101-102) Masuknya sesembahan kaum musyrikin ke dalam neraka, hanyalah patung-patung yang mempunyai rupa atau manusia yang disembah dalam keadaan ridha untuk diibadahi. Adapun al-Masih, Uzair, para malaikat dan lainnya yang disembah dari kalangan para wali Allah, maka sesungguhnya mereka tidak akan disiksa di dalamnya (neraka). Mereka justru masuk ke dalam makna Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ سَبَقَتۡ لَهُم مِّنَّا ٱلۡحُسۡنَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (untuk mereka) ketetapan yang baik dari Kami," maksudnya orang-orang yang sudah terlebih dulu ketetapan kebahagiaannya terdapat di dalam ilmu Allah dan Lauh Mahfuzh serta dalam kemudahan yang mereka jumpai di dunia untuk me-lakukan usaha-usaha yang baik dan amalan-amalan shalih. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ عَنۡهَا ﴿ "Mereka itu darinya," yaitu dari neraka ﴾ مُبۡعَدُونَ 101 ﴿ "dijauhkan," mereka tidak memasukinya, dan tidak berada di dekatnya. Bahkan mereka ditempatkan di tempat yang sangat jauh darinya sehingga tidak mendengarkan gemuruhnya dan menyaksikan kondisinya. ﴾ وَهُمۡ فِي مَا ٱشۡتَهَتۡ أَنفُسُهُمۡ خَٰلِدُونَ 102 ﴿ "Dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka," berupa berbagai jenis makanan, minuman, pasangan hidup, panorama indah yang tidak pernah disaksikan oleh mata penglihatan, atau didengar oleh telinga atau-pun terbetik di hati seseorang. Kenikmatan itu berlangsung kon-tinyu untuk mereka, dan akan bertambah indah seiring perjalanan masa. (103) ﴾ لَا يَحۡزُنُهُمُ ٱلۡفَزَعُ ٱلۡأَكۡبَرُ ﴿ "Mereka tidak disusahkan oleh ke-dahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat)," maksudnya tidak membuat mereka tercekam saat manusia mengalami kegalauan yang sangat tinggi. Hal itu terjadi di Hari Kiamat. Saat neraka yang mendekat, begitu murka terhadap orang-orang kafir dan para pelaku maksiat. Orang-orang cemas ketakutan karenanya. Sementara itu, orang-orang tadi, mereka tidak dirundung oleh kesedihan karena tahu kondisi (baik) yang akan mereka jumpai. Allah telah menurunkan rasa aman kepada mereka dari hal-hal yang mereka takutkan. ﴾ وَتَتَلَقَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan mereka disambut oleh para malaikat," tatkala mereka dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan datang menuju tempat kemuliaan sebagai utusan untuk menyambut mereka dengan hangat seraya berkata ﴾ هَٰذَا يَوۡمُكُمُ ٱلَّذِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ 103 ﴿ "Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'." Hendaknya apa yang dijanjikan Allah untuk kalian menjadi ketenangan pada kalian dan rasa senang kalian semakin besar atas kemuliaan yang ada di hadapan kalian. Hendaknya pula kegembiraan dan keceriaan kalian semakin sering lantaran Allah mengamankan kalian dari berbagai macam sumber rasa takut dan gangguan.

Al-Anbiya' 21:101

"Sesungguhnya kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalam api, dan mereka di dalamnya tidak bisa men-dengar. Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (untuk mereka) ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka. Mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata), 'Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'." (98-103). (98) Maksudnya, sesungguhnya kalian wahai orang-orang yang menyembah sesembahan lain selain Allah ﴾ حَصَبُ جَهَنَّمَ ﴿ "ada-lah umpan Jahanam," maksudnya menjadi bahan bakar dan kayu bakarnya ﴾ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ 98 ﴿ "kamu pasti masuk ke dalamnya," dan berhala-berhala kalian. (99) Hikmah masuknya berhala-berhala itu ke dalam neraka, padahal merupakan benda-benda mati yang tidak bisa berpikir, tidak punya dosa, adalah untuk menjelaskan kedustaan orang yang mendaulatnya sebagai sesembahan dan agar siksaan mereka semakin berat. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ لَوۡ كَانَ هَٰٓؤُلَآءِ ءَالِهَةٗ مَّا وَرَدُوهَاۖ ﴿ "Andaikata berhala-berhala itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka." Firman ini semakna dengan Firman Allah تعالى, ﴾ لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي يَخۡتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰذِبِينَ 39 ﴿ "Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perseli-sihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang dusta." (An-Nahl: 39). Masing-masing dari pihak yang menyembah dan obyek yang disembah akan kekal abadi di dalamnya, tidak akan pernah keluar darinya dan tidak akan berpindah darinya. (100) ﴾ لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٞ ﴿ "Mereka merintih di dalamnya," lantaran dahsyatnya siksaan (yang menimpa mereka), ﴾ وَهُمۡ فِيهَا لَا يَسۡمَعُونَ 100 ﴿ "dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar," mereka tuli, bisu dan buta. Atau tidak dapat mendengarkan suara-suara selain suara sendiri, karena kerasnya suara didihannya, dahsyatnya rintihan dan kemurkaan neraka. (101-102) Masuknya sesembahan kaum musyrikin ke dalam neraka, hanyalah patung-patung yang mempunyai rupa atau manusia yang disembah dalam keadaan ridha untuk diibadahi. Adapun al-Masih, Uzair, para malaikat dan lainnya yang disembah dari kalangan para wali Allah, maka sesungguhnya mereka tidak akan disiksa di dalamnya (neraka). Mereka justru masuk ke dalam makna Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ سَبَقَتۡ لَهُم مِّنَّا ٱلۡحُسۡنَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (untuk mereka) ketetapan yang baik dari Kami," maksudnya orang-orang yang sudah terlebih dulu ketetapan kebahagiaannya terdapat di dalam ilmu Allah dan Lauh Mahfuzh serta dalam kemudahan yang mereka jumpai di dunia untuk me-lakukan usaha-usaha yang baik dan amalan-amalan shalih. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ عَنۡهَا ﴿ "Mereka itu darinya," yaitu dari neraka ﴾ مُبۡعَدُونَ 101 ﴿ "dijauhkan," mereka tidak memasukinya, dan tidak berada di dekatnya. Bahkan mereka ditempatkan di tempat yang sangat jauh darinya sehingga tidak mendengarkan gemuruhnya dan menyaksikan kondisinya. ﴾ وَهُمۡ فِي مَا ٱشۡتَهَتۡ أَنفُسُهُمۡ خَٰلِدُونَ 102 ﴿ "Dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka," berupa berbagai jenis makanan, minuman, pasangan hidup, panorama indah yang tidak pernah disaksikan oleh mata penglihatan, atau didengar oleh telinga atau-pun terbetik di hati seseorang. Kenikmatan itu berlangsung kon-tinyu untuk mereka, dan akan bertambah indah seiring perjalanan masa. (103) ﴾ لَا يَحۡزُنُهُمُ ٱلۡفَزَعُ ٱلۡأَكۡبَرُ ﴿ "Mereka tidak disusahkan oleh ke-dahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat)," maksudnya tidak membuat mereka tercekam saat manusia mengalami kegalauan yang sangat tinggi. Hal itu terjadi di Hari Kiamat. Saat neraka yang mendekat, begitu murka terhadap orang-orang kafir dan para pelaku maksiat. Orang-orang cemas ketakutan karenanya. Sementara itu, orang-orang tadi, mereka tidak dirundung oleh kesedihan karena tahu kondisi (baik) yang akan mereka jumpai. Allah telah menurunkan rasa aman kepada mereka dari hal-hal yang mereka takutkan. ﴾ وَتَتَلَقَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan mereka disambut oleh para malaikat," tatkala mereka dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan datang menuju tempat kemuliaan sebagai utusan untuk menyambut mereka dengan hangat seraya berkata ﴾ هَٰذَا يَوۡمُكُمُ ٱلَّذِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ 103 ﴿ "Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'." Hendaknya apa yang dijanjikan Allah untuk kalian menjadi ketenangan pada kalian dan rasa senang kalian semakin besar atas kemuliaan yang ada di hadapan kalian. Hendaknya pula kegembiraan dan keceriaan kalian semakin sering lantaran Allah mengamankan kalian dari berbagai macam sumber rasa takut dan gangguan.

Al-Anbiya' 21:102

"Sesungguhnya kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalam api, dan mereka di dalamnya tidak bisa men-dengar. Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (untuk mereka) ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka. Mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata), 'Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'." (98-103). (98) Maksudnya, sesungguhnya kalian wahai orang-orang yang menyembah sesembahan lain selain Allah ﴾ حَصَبُ جَهَنَّمَ ﴿ "ada-lah umpan Jahanam," maksudnya menjadi bahan bakar dan kayu bakarnya ﴾ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ 98 ﴿ "kamu pasti masuk ke dalamnya," dan berhala-berhala kalian. (99) Hikmah masuknya berhala-berhala itu ke dalam neraka, padahal merupakan benda-benda mati yang tidak bisa berpikir, tidak punya dosa, adalah untuk menjelaskan kedustaan orang yang mendaulatnya sebagai sesembahan dan agar siksaan mereka semakin berat. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ لَوۡ كَانَ هَٰٓؤُلَآءِ ءَالِهَةٗ مَّا وَرَدُوهَاۖ ﴿ "Andaikata berhala-berhala itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka." Firman ini semakna dengan Firman Allah تعالى, ﴾ لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي يَخۡتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰذِبِينَ 39 ﴿ "Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perseli-sihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang dusta." (An-Nahl: 39). Masing-masing dari pihak yang menyembah dan obyek yang disembah akan kekal abadi di dalamnya, tidak akan pernah keluar darinya dan tidak akan berpindah darinya. (100) ﴾ لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٞ ﴿ "Mereka merintih di dalamnya," lantaran dahsyatnya siksaan (yang menimpa mereka), ﴾ وَهُمۡ فِيهَا لَا يَسۡمَعُونَ 100 ﴿ "dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar," mereka tuli, bisu dan buta. Atau tidak dapat mendengarkan suara-suara selain suara sendiri, karena kerasnya suara didihannya, dahsyatnya rintihan dan kemurkaan neraka. (101-102) Masuknya sesembahan kaum musyrikin ke dalam neraka, hanyalah patung-patung yang mempunyai rupa atau manusia yang disembah dalam keadaan ridha untuk diibadahi. Adapun al-Masih, Uzair, para malaikat dan lainnya yang disembah dari kalangan para wali Allah, maka sesungguhnya mereka tidak akan disiksa di dalamnya (neraka). Mereka justru masuk ke dalam makna Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ سَبَقَتۡ لَهُم مِّنَّا ٱلۡحُسۡنَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (untuk mereka) ketetapan yang baik dari Kami," maksudnya orang-orang yang sudah terlebih dulu ketetapan kebahagiaannya terdapat di dalam ilmu Allah dan Lauh Mahfuzh serta dalam kemudahan yang mereka jumpai di dunia untuk me-lakukan usaha-usaha yang baik dan amalan-amalan shalih. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ عَنۡهَا ﴿ "Mereka itu darinya," yaitu dari neraka ﴾ مُبۡعَدُونَ 101 ﴿ "dijauhkan," mereka tidak memasukinya, dan tidak berada di dekatnya. Bahkan mereka ditempatkan di tempat yang sangat jauh darinya sehingga tidak mendengarkan gemuruhnya dan menyaksikan kondisinya. ﴾ وَهُمۡ فِي مَا ٱشۡتَهَتۡ أَنفُسُهُمۡ خَٰلِدُونَ 102 ﴿ "Dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka," berupa berbagai jenis makanan, minuman, pasangan hidup, panorama indah yang tidak pernah disaksikan oleh mata penglihatan, atau didengar oleh telinga atau-pun terbetik di hati seseorang. Kenikmatan itu berlangsung kon-tinyu untuk mereka, dan akan bertambah indah seiring perjalanan masa. (103) ﴾ لَا يَحۡزُنُهُمُ ٱلۡفَزَعُ ٱلۡأَكۡبَرُ ﴿ "Mereka tidak disusahkan oleh ke-dahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat)," maksudnya tidak membuat mereka tercekam saat manusia mengalami kegalauan yang sangat tinggi. Hal itu terjadi di Hari Kiamat. Saat neraka yang mendekat, begitu murka terhadap orang-orang kafir dan para pelaku maksiat. Orang-orang cemas ketakutan karenanya. Sementara itu, orang-orang tadi, mereka tidak dirundung oleh kesedihan karena tahu kondisi (baik) yang akan mereka jumpai. Allah telah menurunkan rasa aman kepada mereka dari hal-hal yang mereka takutkan. ﴾ وَتَتَلَقَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan mereka disambut oleh para malaikat," tatkala mereka dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan datang menuju tempat kemuliaan sebagai utusan untuk menyambut mereka dengan hangat seraya berkata ﴾ هَٰذَا يَوۡمُكُمُ ٱلَّذِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ 103 ﴿ "Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'." Hendaknya apa yang dijanjikan Allah untuk kalian menjadi ketenangan pada kalian dan rasa senang kalian semakin besar atas kemuliaan yang ada di hadapan kalian. Hendaknya pula kegembiraan dan keceriaan kalian semakin sering lantaran Allah mengamankan kalian dari berbagai macam sumber rasa takut dan gangguan.

Al-Anbiya' 21:103

"Sesungguhnya kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalam api, dan mereka di dalamnya tidak bisa men-dengar. Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (untuk mereka) ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka. Mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata), 'Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'." (98-103). (98) Maksudnya, sesungguhnya kalian wahai orang-orang yang menyembah sesembahan lain selain Allah ﴾ حَصَبُ جَهَنَّمَ ﴿ "ada-lah umpan Jahanam," maksudnya menjadi bahan bakar dan kayu bakarnya ﴾ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ 98 ﴿ "kamu pasti masuk ke dalamnya," dan berhala-berhala kalian. (99) Hikmah masuknya berhala-berhala itu ke dalam neraka, padahal merupakan benda-benda mati yang tidak bisa berpikir, tidak punya dosa, adalah untuk menjelaskan kedustaan orang yang mendaulatnya sebagai sesembahan dan agar siksaan mereka semakin berat. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ لَوۡ كَانَ هَٰٓؤُلَآءِ ءَالِهَةٗ مَّا وَرَدُوهَاۖ ﴿ "Andaikata berhala-berhala itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka." Firman ini semakna dengan Firman Allah تعالى, ﴾ لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي يَخۡتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّهُمۡ كَانُواْ كَٰذِبِينَ 39 ﴿ "Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perseli-sihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang dusta." (An-Nahl: 39). Masing-masing dari pihak yang menyembah dan obyek yang disembah akan kekal abadi di dalamnya, tidak akan pernah keluar darinya dan tidak akan berpindah darinya. (100) ﴾ لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٞ ﴿ "Mereka merintih di dalamnya," lantaran dahsyatnya siksaan (yang menimpa mereka), ﴾ وَهُمۡ فِيهَا لَا يَسۡمَعُونَ 100 ﴿ "dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar," mereka tuli, bisu dan buta. Atau tidak dapat mendengarkan suara-suara selain suara sendiri, karena kerasnya suara didihannya, dahsyatnya rintihan dan kemurkaan neraka. (101-102) Masuknya sesembahan kaum musyrikin ke dalam neraka, hanyalah patung-patung yang mempunyai rupa atau manusia yang disembah dalam keadaan ridha untuk diibadahi. Adapun al-Masih, Uzair, para malaikat dan lainnya yang disembah dari kalangan para wali Allah, maka sesungguhnya mereka tidak akan disiksa di dalamnya (neraka). Mereka justru masuk ke dalam makna Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ سَبَقَتۡ لَهُم مِّنَّا ٱلۡحُسۡنَىٰٓ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (untuk mereka) ketetapan yang baik dari Kami," maksudnya orang-orang yang sudah terlebih dulu ketetapan kebahagiaannya terdapat di dalam ilmu Allah dan Lauh Mahfuzh serta dalam kemudahan yang mereka jumpai di dunia untuk me-lakukan usaha-usaha yang baik dan amalan-amalan shalih. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ عَنۡهَا ﴿ "Mereka itu darinya," yaitu dari neraka ﴾ مُبۡعَدُونَ 101 ﴿ "dijauhkan," mereka tidak memasukinya, dan tidak berada di dekatnya. Bahkan mereka ditempatkan di tempat yang sangat jauh darinya sehingga tidak mendengarkan gemuruhnya dan menyaksikan kondisinya. ﴾ وَهُمۡ فِي مَا ٱشۡتَهَتۡ أَنفُسُهُمۡ خَٰلِدُونَ 102 ﴿ "Dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka," berupa berbagai jenis makanan, minuman, pasangan hidup, panorama indah yang tidak pernah disaksikan oleh mata penglihatan, atau didengar oleh telinga atau-pun terbetik di hati seseorang. Kenikmatan itu berlangsung kon-tinyu untuk mereka, dan akan bertambah indah seiring perjalanan masa. (103) ﴾ لَا يَحۡزُنُهُمُ ٱلۡفَزَعُ ٱلۡأَكۡبَرُ ﴿ "Mereka tidak disusahkan oleh ke-dahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat)," maksudnya tidak membuat mereka tercekam saat manusia mengalami kegalauan yang sangat tinggi. Hal itu terjadi di Hari Kiamat. Saat neraka yang mendekat, begitu murka terhadap orang-orang kafir dan para pelaku maksiat. Orang-orang cemas ketakutan karenanya. Sementara itu, orang-orang tadi, mereka tidak dirundung oleh kesedihan karena tahu kondisi (baik) yang akan mereka jumpai. Allah telah menurunkan rasa aman kepada mereka dari hal-hal yang mereka takutkan. ﴾ وَتَتَلَقَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan mereka disambut oleh para malaikat," tatkala mereka dibangkitkan dari kubur-kubur mereka dan datang menuju tempat kemuliaan sebagai utusan untuk menyambut mereka dengan hangat seraya berkata ﴾ هَٰذَا يَوۡمُكُمُ ٱلَّذِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ 103 ﴿ "Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'." Hendaknya apa yang dijanjikan Allah untuk kalian menjadi ketenangan pada kalian dan rasa senang kalian semakin besar atas kemuliaan yang ada di hadapan kalian. Hendaknya pula kegembiraan dan keceriaan kalian semakin sering lantaran Allah mengamankan kalian dari berbagai macam sumber rasa takut dan gangguan.

Al-Anbiya' 21:104

"(Yaitu) pada hari Kami menggulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulangi-nya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bah-wasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang shalih." (Al-Anbiya`: 104-105). (104) Allah mengabarkan bahwa pada Hari Kiamat, Dia akan melipat langit-langit kendatipun bentuknya besar dan begitu luas, sebagaimana seorang penulis menutup lembaran-lembaran catatan. Yakni, kertas yang dipakai untuk menulis. Maka, bintang-bintangnya akan jatuh berserakan, matahari dan bulan akan terlipat, tergelincir keluar dari tempat porosnya. ﴾ كَمَا بَدَأۡنَآ أَوَّلَ خَلۡقٖ نُّعِيدُهُۥۚ ﴿ "Sebagaimana Kami telah memulai pen-ciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya." Maksudnya, pengembalian Kami dalam mencipta seperti permulaan Kami dalam mencipta mereka. Sebagaimana Kami (mampu) memulai penciptaan mereka yang sebelumnya mereka belum menjadi apa pun, demikian pula Kami (mampu) mengembalikan mereka (hidup) setelah mati. ﴾ وَعۡدًا عَلَيۡنَآۚ إِنَّا كُنَّا فَٰعِلِينَ 104 ﴿ "Itulah janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya." Kami akan menjalankan janji Kami, karena kesempurnaan kekuatanNya, dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mampu mencegahNya. (105) ﴾ وَلَقَدۡ كَتَبۡنَا فِي ٱلزَّبُورِ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur," yaitu kitab yang tertulis, maksudnya kitab-kitab yang diturunkan, misalnya Taurat dan lainnya, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ ٱلذِّكۡرِ ﴿ "sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh," maksudnya, Kami telah menulis-kannya dalam kitab-kitab yang diturunkan pasca Kami menulis-kannya di kitab terdahulu, yaitu Lauh Mahfuzh dan buku induk yang sesuai dengan seluruh catatan takdir yang berlaku di akhir masa dan yang tertulis di dalamnya, ﴾ أَنَّ ٱلۡأَرۡضَ ﴿ "bahwasanya bumi ini," yaitu hunian surga ﴾ يَرِثُهَا عِبَادِيَ ٱلصَّٰلِحُونَ 105 ﴿ "dipusakai hamba-hambaKu yang shalih," yang melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Mereka itulah orang-orang yang mana Allah akan mewariskan surga-surga kepada mereka. Seperti perkataan para penghuni surga, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini." (Al-A'raf: 43). ﴾ وَأَوۡرَثَنَا ٱلۡأَرۡضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلۡجَنَّةِ حَيۡثُ نَشَآءُۖ ﴿ "Dan Dia telah (memberi) kepada kami tempat ini, sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki." (Az-Zumar: 74). Dan mengandung kemungkinan bahwa maksudnya adalah menjadikan mereka sebagai para khalifah di bumi ini, dan bahwa Allah mendudukkan orang-orang shalih sebagai penguasa di bumi dan menetapkan mereka sebagai pemiliknya. Seperti Firman Allah, ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ …﴿ "Dan Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh akan men-jadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka…." (An-Nur: 55).

Al-Anbiya' 21:105

"(Yaitu) pada hari Kami menggulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulangi-nya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bah-wasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang shalih." (Al-Anbiya`: 104-105). (104) Allah mengabarkan bahwa pada Hari Kiamat, Dia akan melipat langit-langit kendatipun bentuknya besar dan begitu luas, sebagaimana seorang penulis menutup lembaran-lembaran catatan. Yakni, kertas yang dipakai untuk menulis. Maka, bintang-bintangnya akan jatuh berserakan, matahari dan bulan akan terlipat, tergelincir keluar dari tempat porosnya. ﴾ كَمَا بَدَأۡنَآ أَوَّلَ خَلۡقٖ نُّعِيدُهُۥۚ ﴿ "Sebagaimana Kami telah memulai pen-ciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya." Maksudnya, pengembalian Kami dalam mencipta seperti permulaan Kami dalam mencipta mereka. Sebagaimana Kami (mampu) memulai penciptaan mereka yang sebelumnya mereka belum menjadi apa pun, demikian pula Kami (mampu) mengembalikan mereka (hidup) setelah mati. ﴾ وَعۡدًا عَلَيۡنَآۚ إِنَّا كُنَّا فَٰعِلِينَ 104 ﴿ "Itulah janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya." Kami akan menjalankan janji Kami, karena kesempurnaan kekuatanNya, dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mampu mencegahNya. (105) ﴾ وَلَقَدۡ كَتَبۡنَا فِي ٱلزَّبُورِ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur," yaitu kitab yang tertulis, maksudnya kitab-kitab yang diturunkan, misalnya Taurat dan lainnya, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ ٱلذِّكۡرِ ﴿ "sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh," maksudnya, Kami telah menulis-kannya dalam kitab-kitab yang diturunkan pasca Kami menulis-kannya di kitab terdahulu, yaitu Lauh Mahfuzh dan buku induk yang sesuai dengan seluruh catatan takdir yang berlaku di akhir masa dan yang tertulis di dalamnya, ﴾ أَنَّ ٱلۡأَرۡضَ ﴿ "bahwasanya bumi ini," yaitu hunian surga ﴾ يَرِثُهَا عِبَادِيَ ٱلصَّٰلِحُونَ 105 ﴿ "dipusakai hamba-hambaKu yang shalih," yang melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Mereka itulah orang-orang yang mana Allah akan mewariskan surga-surga kepada mereka. Seperti perkataan para penghuni surga, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini." (Al-A'raf: 43). ﴾ وَأَوۡرَثَنَا ٱلۡأَرۡضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلۡجَنَّةِ حَيۡثُ نَشَآءُۖ ﴿ "Dan Dia telah (memberi) kepada kami tempat ini, sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki." (Az-Zumar: 74). Dan mengandung kemungkinan bahwa maksudnya adalah menjadikan mereka sebagai para khalifah di bumi ini, dan bahwa Allah mendudukkan orang-orang shalih sebagai penguasa di bumi dan menetapkan mereka sebagai pemiliknya. Seperti Firman Allah, ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ …﴿ "Dan Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh akan men-jadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka…." (An-Nur: 55).

Al-Anbiya' 21:106

"Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah. Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Katakanlah, 'Sesungguhnya yang di-wahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya).' Jika mereka berpaling maka katakanlah, 'Aku telah menyampai-kan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita), dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh.' Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan. Dan aku tidak mengeta-hui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu. (Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil. Dan Rabb kami adalah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan'." (Al-Anbiya`: 106-112). (106) Allah تعالى memuji kitabNya yang agung, al-Qur`an dan menjelaskan kapasitasnya yang sempurna untuk memenuhi segala sesuatu, dan bahwa ia tidak dapat disepelekan begitu saja. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَٰغٗا لِّقَوۡمٍ عَٰبِدِينَ 106 ﴿ "Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah," maksudnya mereka menjadikannya tangga untuk sampai kepada Rabb mereka dan menuju tempat kemuliaan milikNya. Al-Qur`an mengantarkan mereka menuju cita-cita dan keinginan yang paling penting. Tidak ada tujuan lain bagi kaum abidin (orang-orang yang mengabdikan diri menyembah kepada Allah) yang merupakan makhluk termulia. Karena al-Qur`an telah berperan menangani hal-hal yang mengenai pengetahuan tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, serta perbuatan-per-buatanNya, (menangani) penjelasan tentang berita-berita ghaib yang benar, (menangani) menyeru kepada hakikat-hakikat keimanan dan bukti-bukti keyakinan yang berfungsi menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangan seluruhnya, yang mengenalkan kekurangan-kekurangan jiwa dan amalan serta cara-cara yang seharusnya ditempuh dalam masalah-masalah agama yang pelik maupun yang sudah jelas, dan memperingatkan dari cara-cara tipu daya setan dan celah-celah untuk menerobos manusia. Barang-siapa yang belum tercukupi oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan menjadikannya merasa cukup. Dan barangsiapa yang belum tertangani oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya. (107) Berikutnya, Allah menyanjung RasulNya yang mem-bawa al-Qur`an. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 107 ﴿ "Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." Beliau merupakan rahmat Allah yang dianugerah-kan bagi para hambaNya. Kaum Mukminin menerima bingkisan rahmat ini dan mensyukurinya serta menyikapinya dengan baik. Sementara itu, kalangan lainnya, mereka mengingkarinya dan merubah kenikmatan Allah dengan bentuk kekufuran, enggan untuk menerima rahmat dan kenikmatanNya. (108) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad,﴾ إِنَّمَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ ﴿ "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa'," yang tidak ada sesuatu pun yang berhak disembah kecuali Dia. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ 108 ﴿ "Maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya)?" maksudnya tunduk untuk beribadah kepadaNya, berserah diri terhadap ketuhananNya. Jika mereka melakukannya, hendaknya mereka memuji Rabb mereka atas karunia yang mereka raih yang mengalahkan segala kenikmatan yang lain. (109-110) Dan jika ﴾ تَوَلَّوۡاْ ﴿ "mereka berpaling," dari ketun-dukan untuk mengabdikan diri kepadaNya, maka peringatkanlah mereka dari datangnya bencana-bencana dan turunnya hukuman. ﴾ فَقُلۡ ءَاذَنتُكُمۡ ﴿ "Maka katakanlah, 'Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian'," maksudnya saya telah memberitahukan kedatangan hukuman ﴾ عَلَىٰ سَوَآءٖۖ ﴿ "(ajaran) yang sama (antara kita)," maksudnya pengetahuanku dan pengetahuan kalian tentang itu sama saja; maka jangan sekali-kali mengatakan bila siksaan melanda kalian, "Tidak ada pemberi kabar gembira dan peringatan (seorang rasul) yang datang kepada kami." Akan tetapi, sekarang, ilmuku dan ilmu kalian sama. Karena saya telah memperingatkan dan mewanti-wanti kalian serta memberitahukan kepada kalian tentang akibat buruk dari kekufuran. Saya tidak menyembunyikan apa pun dari kalian. ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٌ أَم بَعِيدٞ مَّا تُوعَدُونَ 109 ﴿ "Dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh," yaitu siksaan. Pasalnya, pengetahuan tentang kapan datangnya siksa, hanya di sisi Allah saja, berada di TanganNya. Saya tidak mempunyai wewenang apa pun. (111) ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِي لَعَلَّهُۥ فِتۡنَةٞ لَّكُمۡ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ 111 ﴿ "Dan aku tidak menge-tahui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu," mungkin saja penundaan datangnya siksaan yang mana kalian meminta untuk disegerakan adalah (menjadi masalah) buruk bagi kalian, dan (aku tidak mengetahui) jika kalian diberi keleluasaan menikmati kemewahan di dunia sampai batas waktu tertentu, selanjutnya datang siksaan yang lebih berat atas kalian (dengan tiba-tiba). (112) ﴾ قَٰلَ رَبِّ ٱحۡكُم بِٱلۡحَقِّۗ ﴿ "(Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil'," yaitu antara kita dan kaum kafirin. Lalu Allah mengabulkan permohonan doa ini. Allah menetapkan keputusan hukuman bagi mereka di dunia sebelum di akhirat, dalam bentuk siksaan yang Allah timpakan kepada kaum kafirin, seperti (kekalahan dalam) peperangan Badr dan lainnya. ﴾ وَرَبُّنَا ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ 112 ﴿ "Dan Rabb kami ialah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan," kami memohon ar-Rahman dan memohon pertolongan kepadaNya atas apa yang kalian deskripsikan, seperti ucapan kalian, "Kami akan mengalahkan kalian, agama kalian akan meredup!" Dalam masalah ini, kami tidak silau dengan kekuatan kami, dan tidak akan bergantung kepada daya dan kekuatan pribadi. Kami hanya-lah memohon pertolongan kepada ar-Rahman yang ubun-ubun setiap makhluk berada di TanganNya. Kami berharap kepadaNya agar sudi menyempurnakan suatu pertolongan yang kami mohon-kan kepadaNya dari sebagian rahmatNya. Allah telah mewujud-kannya. Segala puji bagiNya.

Al-Anbiya' 21:107

"Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah. Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Katakanlah, 'Sesungguhnya yang di-wahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya).' Jika mereka berpaling maka katakanlah, 'Aku telah menyampai-kan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita), dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh.' Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan. Dan aku tidak mengeta-hui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu. (Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil. Dan Rabb kami adalah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan'." (Al-Anbiya`: 106-112). (106) Allah تعالى memuji kitabNya yang agung, al-Qur`an dan menjelaskan kapasitasnya yang sempurna untuk memenuhi segala sesuatu, dan bahwa ia tidak dapat disepelekan begitu saja. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَٰغٗا لِّقَوۡمٍ عَٰبِدِينَ 106 ﴿ "Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah," maksudnya mereka menjadikannya tangga untuk sampai kepada Rabb mereka dan menuju tempat kemuliaan milikNya. Al-Qur`an mengantarkan mereka menuju cita-cita dan keinginan yang paling penting. Tidak ada tujuan lain bagi kaum abidin (orang-orang yang mengabdikan diri menyembah kepada Allah) yang merupakan makhluk termulia. Karena al-Qur`an telah berperan menangani hal-hal yang mengenai pengetahuan tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, serta perbuatan-per-buatanNya, (menangani) penjelasan tentang berita-berita ghaib yang benar, (menangani) menyeru kepada hakikat-hakikat keimanan dan bukti-bukti keyakinan yang berfungsi menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangan seluruhnya, yang mengenalkan kekurangan-kekurangan jiwa dan amalan serta cara-cara yang seharusnya ditempuh dalam masalah-masalah agama yang pelik maupun yang sudah jelas, dan memperingatkan dari cara-cara tipu daya setan dan celah-celah untuk menerobos manusia. Barang-siapa yang belum tercukupi oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan menjadikannya merasa cukup. Dan barangsiapa yang belum tertangani oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya. (107) Berikutnya, Allah menyanjung RasulNya yang mem-bawa al-Qur`an. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 107 ﴿ "Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." Beliau merupakan rahmat Allah yang dianugerah-kan bagi para hambaNya. Kaum Mukminin menerima bingkisan rahmat ini dan mensyukurinya serta menyikapinya dengan baik. Sementara itu, kalangan lainnya, mereka mengingkarinya dan merubah kenikmatan Allah dengan bentuk kekufuran, enggan untuk menerima rahmat dan kenikmatanNya. (108) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad,﴾ إِنَّمَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ ﴿ "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa'," yang tidak ada sesuatu pun yang berhak disembah kecuali Dia. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ 108 ﴿ "Maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya)?" maksudnya tunduk untuk beribadah kepadaNya, berserah diri terhadap ketuhananNya. Jika mereka melakukannya, hendaknya mereka memuji Rabb mereka atas karunia yang mereka raih yang mengalahkan segala kenikmatan yang lain. (109-110) Dan jika ﴾ تَوَلَّوۡاْ ﴿ "mereka berpaling," dari ketun-dukan untuk mengabdikan diri kepadaNya, maka peringatkanlah mereka dari datangnya bencana-bencana dan turunnya hukuman. ﴾ فَقُلۡ ءَاذَنتُكُمۡ ﴿ "Maka katakanlah, 'Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian'," maksudnya saya telah memberitahukan kedatangan hukuman ﴾ عَلَىٰ سَوَآءٖۖ ﴿ "(ajaran) yang sama (antara kita)," maksudnya pengetahuanku dan pengetahuan kalian tentang itu sama saja; maka jangan sekali-kali mengatakan bila siksaan melanda kalian, "Tidak ada pemberi kabar gembira dan peringatan (seorang rasul) yang datang kepada kami." Akan tetapi, sekarang, ilmuku dan ilmu kalian sama. Karena saya telah memperingatkan dan mewanti-wanti kalian serta memberitahukan kepada kalian tentang akibat buruk dari kekufuran. Saya tidak menyembunyikan apa pun dari kalian. ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٌ أَم بَعِيدٞ مَّا تُوعَدُونَ 109 ﴿ "Dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh," yaitu siksaan. Pasalnya, pengetahuan tentang kapan datangnya siksa, hanya di sisi Allah saja, berada di TanganNya. Saya tidak mempunyai wewenang apa pun. (111) ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِي لَعَلَّهُۥ فِتۡنَةٞ لَّكُمۡ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ 111 ﴿ "Dan aku tidak menge-tahui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu," mungkin saja penundaan datangnya siksaan yang mana kalian meminta untuk disegerakan adalah (menjadi masalah) buruk bagi kalian, dan (aku tidak mengetahui) jika kalian diberi keleluasaan menikmati kemewahan di dunia sampai batas waktu tertentu, selanjutnya datang siksaan yang lebih berat atas kalian (dengan tiba-tiba). (112) ﴾ قَٰلَ رَبِّ ٱحۡكُم بِٱلۡحَقِّۗ ﴿ "(Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil'," yaitu antara kita dan kaum kafirin. Lalu Allah mengabulkan permohonan doa ini. Allah menetapkan keputusan hukuman bagi mereka di dunia sebelum di akhirat, dalam bentuk siksaan yang Allah timpakan kepada kaum kafirin, seperti (kekalahan dalam) peperangan Badr dan lainnya. ﴾ وَرَبُّنَا ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ 112 ﴿ "Dan Rabb kami ialah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan," kami memohon ar-Rahman dan memohon pertolongan kepadaNya atas apa yang kalian deskripsikan, seperti ucapan kalian, "Kami akan mengalahkan kalian, agama kalian akan meredup!" Dalam masalah ini, kami tidak silau dengan kekuatan kami, dan tidak akan bergantung kepada daya dan kekuatan pribadi. Kami hanya-lah memohon pertolongan kepada ar-Rahman yang ubun-ubun setiap makhluk berada di TanganNya. Kami berharap kepadaNya agar sudi menyempurnakan suatu pertolongan yang kami mohon-kan kepadaNya dari sebagian rahmatNya. Allah telah mewujud-kannya. Segala puji bagiNya.

Al-Anbiya' 21:108

"Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah. Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Katakanlah, 'Sesungguhnya yang di-wahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya).' Jika mereka berpaling maka katakanlah, 'Aku telah menyampai-kan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita), dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh.' Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan. Dan aku tidak mengeta-hui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu. (Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil. Dan Rabb kami adalah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan'." (Al-Anbiya`: 106-112). (106) Allah تعالى memuji kitabNya yang agung, al-Qur`an dan menjelaskan kapasitasnya yang sempurna untuk memenuhi segala sesuatu, dan bahwa ia tidak dapat disepelekan begitu saja. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَٰغٗا لِّقَوۡمٍ عَٰبِدِينَ 106 ﴿ "Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah," maksudnya mereka menjadikannya tangga untuk sampai kepada Rabb mereka dan menuju tempat kemuliaan milikNya. Al-Qur`an mengantarkan mereka menuju cita-cita dan keinginan yang paling penting. Tidak ada tujuan lain bagi kaum abidin (orang-orang yang mengabdikan diri menyembah kepada Allah) yang merupakan makhluk termulia. Karena al-Qur`an telah berperan menangani hal-hal yang mengenai pengetahuan tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, serta perbuatan-per-buatanNya, (menangani) penjelasan tentang berita-berita ghaib yang benar, (menangani) menyeru kepada hakikat-hakikat keimanan dan bukti-bukti keyakinan yang berfungsi menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangan seluruhnya, yang mengenalkan kekurangan-kekurangan jiwa dan amalan serta cara-cara yang seharusnya ditempuh dalam masalah-masalah agama yang pelik maupun yang sudah jelas, dan memperingatkan dari cara-cara tipu daya setan dan celah-celah untuk menerobos manusia. Barang-siapa yang belum tercukupi oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan menjadikannya merasa cukup. Dan barangsiapa yang belum tertangani oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya. (107) Berikutnya, Allah menyanjung RasulNya yang mem-bawa al-Qur`an. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 107 ﴿ "Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." Beliau merupakan rahmat Allah yang dianugerah-kan bagi para hambaNya. Kaum Mukminin menerima bingkisan rahmat ini dan mensyukurinya serta menyikapinya dengan baik. Sementara itu, kalangan lainnya, mereka mengingkarinya dan merubah kenikmatan Allah dengan bentuk kekufuran, enggan untuk menerima rahmat dan kenikmatanNya. (108) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad,﴾ إِنَّمَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ ﴿ "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa'," yang tidak ada sesuatu pun yang berhak disembah kecuali Dia. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ 108 ﴿ "Maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya)?" maksudnya tunduk untuk beribadah kepadaNya, berserah diri terhadap ketuhananNya. Jika mereka melakukannya, hendaknya mereka memuji Rabb mereka atas karunia yang mereka raih yang mengalahkan segala kenikmatan yang lain. (109-110) Dan jika ﴾ تَوَلَّوۡاْ ﴿ "mereka berpaling," dari ketun-dukan untuk mengabdikan diri kepadaNya, maka peringatkanlah mereka dari datangnya bencana-bencana dan turunnya hukuman. ﴾ فَقُلۡ ءَاذَنتُكُمۡ ﴿ "Maka katakanlah, 'Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian'," maksudnya saya telah memberitahukan kedatangan hukuman ﴾ عَلَىٰ سَوَآءٖۖ ﴿ "(ajaran) yang sama (antara kita)," maksudnya pengetahuanku dan pengetahuan kalian tentang itu sama saja; maka jangan sekali-kali mengatakan bila siksaan melanda kalian, "Tidak ada pemberi kabar gembira dan peringatan (seorang rasul) yang datang kepada kami." Akan tetapi, sekarang, ilmuku dan ilmu kalian sama. Karena saya telah memperingatkan dan mewanti-wanti kalian serta memberitahukan kepada kalian tentang akibat buruk dari kekufuran. Saya tidak menyembunyikan apa pun dari kalian. ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٌ أَم بَعِيدٞ مَّا تُوعَدُونَ 109 ﴿ "Dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh," yaitu siksaan. Pasalnya, pengetahuan tentang kapan datangnya siksa, hanya di sisi Allah saja, berada di TanganNya. Saya tidak mempunyai wewenang apa pun. (111) ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِي لَعَلَّهُۥ فِتۡنَةٞ لَّكُمۡ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ 111 ﴿ "Dan aku tidak menge-tahui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu," mungkin saja penundaan datangnya siksaan yang mana kalian meminta untuk disegerakan adalah (menjadi masalah) buruk bagi kalian, dan (aku tidak mengetahui) jika kalian diberi keleluasaan menikmati kemewahan di dunia sampai batas waktu tertentu, selanjutnya datang siksaan yang lebih berat atas kalian (dengan tiba-tiba). (112) ﴾ قَٰلَ رَبِّ ٱحۡكُم بِٱلۡحَقِّۗ ﴿ "(Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil'," yaitu antara kita dan kaum kafirin. Lalu Allah mengabulkan permohonan doa ini. Allah menetapkan keputusan hukuman bagi mereka di dunia sebelum di akhirat, dalam bentuk siksaan yang Allah timpakan kepada kaum kafirin, seperti (kekalahan dalam) peperangan Badr dan lainnya. ﴾ وَرَبُّنَا ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ 112 ﴿ "Dan Rabb kami ialah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan," kami memohon ar-Rahman dan memohon pertolongan kepadaNya atas apa yang kalian deskripsikan, seperti ucapan kalian, "Kami akan mengalahkan kalian, agama kalian akan meredup!" Dalam masalah ini, kami tidak silau dengan kekuatan kami, dan tidak akan bergantung kepada daya dan kekuatan pribadi. Kami hanya-lah memohon pertolongan kepada ar-Rahman yang ubun-ubun setiap makhluk berada di TanganNya. Kami berharap kepadaNya agar sudi menyempurnakan suatu pertolongan yang kami mohon-kan kepadaNya dari sebagian rahmatNya. Allah telah mewujud-kannya. Segala puji bagiNya.

Al-Anbiya' 21:109

"Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah. Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Katakanlah, 'Sesungguhnya yang di-wahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya).' Jika mereka berpaling maka katakanlah, 'Aku telah menyampai-kan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita), dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh.' Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan. Dan aku tidak mengeta-hui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu. (Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil. Dan Rabb kami adalah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan'." (Al-Anbiya`: 106-112). (106) Allah تعالى memuji kitabNya yang agung, al-Qur`an dan menjelaskan kapasitasnya yang sempurna untuk memenuhi segala sesuatu, dan bahwa ia tidak dapat disepelekan begitu saja. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَٰغٗا لِّقَوۡمٍ عَٰبِدِينَ 106 ﴿ "Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah," maksudnya mereka menjadikannya tangga untuk sampai kepada Rabb mereka dan menuju tempat kemuliaan milikNya. Al-Qur`an mengantarkan mereka menuju cita-cita dan keinginan yang paling penting. Tidak ada tujuan lain bagi kaum abidin (orang-orang yang mengabdikan diri menyembah kepada Allah) yang merupakan makhluk termulia. Karena al-Qur`an telah berperan menangani hal-hal yang mengenai pengetahuan tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, serta perbuatan-per-buatanNya, (menangani) penjelasan tentang berita-berita ghaib yang benar, (menangani) menyeru kepada hakikat-hakikat keimanan dan bukti-bukti keyakinan yang berfungsi menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangan seluruhnya, yang mengenalkan kekurangan-kekurangan jiwa dan amalan serta cara-cara yang seharusnya ditempuh dalam masalah-masalah agama yang pelik maupun yang sudah jelas, dan memperingatkan dari cara-cara tipu daya setan dan celah-celah untuk menerobos manusia. Barang-siapa yang belum tercukupi oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan menjadikannya merasa cukup. Dan barangsiapa yang belum tertangani oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya. (107) Berikutnya, Allah menyanjung RasulNya yang mem-bawa al-Qur`an. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 107 ﴿ "Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." Beliau merupakan rahmat Allah yang dianugerah-kan bagi para hambaNya. Kaum Mukminin menerima bingkisan rahmat ini dan mensyukurinya serta menyikapinya dengan baik. Sementara itu, kalangan lainnya, mereka mengingkarinya dan merubah kenikmatan Allah dengan bentuk kekufuran, enggan untuk menerima rahmat dan kenikmatanNya. (108) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad,﴾ إِنَّمَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ ﴿ "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa'," yang tidak ada sesuatu pun yang berhak disembah kecuali Dia. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ 108 ﴿ "Maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya)?" maksudnya tunduk untuk beribadah kepadaNya, berserah diri terhadap ketuhananNya. Jika mereka melakukannya, hendaknya mereka memuji Rabb mereka atas karunia yang mereka raih yang mengalahkan segala kenikmatan yang lain. (109-110) Dan jika ﴾ تَوَلَّوۡاْ ﴿ "mereka berpaling," dari ketun-dukan untuk mengabdikan diri kepadaNya, maka peringatkanlah mereka dari datangnya bencana-bencana dan turunnya hukuman. ﴾ فَقُلۡ ءَاذَنتُكُمۡ ﴿ "Maka katakanlah, 'Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian'," maksudnya saya telah memberitahukan kedatangan hukuman ﴾ عَلَىٰ سَوَآءٖۖ ﴿ "(ajaran) yang sama (antara kita)," maksudnya pengetahuanku dan pengetahuan kalian tentang itu sama saja; maka jangan sekali-kali mengatakan bila siksaan melanda kalian, "Tidak ada pemberi kabar gembira dan peringatan (seorang rasul) yang datang kepada kami." Akan tetapi, sekarang, ilmuku dan ilmu kalian sama. Karena saya telah memperingatkan dan mewanti-wanti kalian serta memberitahukan kepada kalian tentang akibat buruk dari kekufuran. Saya tidak menyembunyikan apa pun dari kalian. ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٌ أَم بَعِيدٞ مَّا تُوعَدُونَ 109 ﴿ "Dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh," yaitu siksaan. Pasalnya, pengetahuan tentang kapan datangnya siksa, hanya di sisi Allah saja, berada di TanganNya. Saya tidak mempunyai wewenang apa pun. (111) ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِي لَعَلَّهُۥ فِتۡنَةٞ لَّكُمۡ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ 111 ﴿ "Dan aku tidak menge-tahui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu," mungkin saja penundaan datangnya siksaan yang mana kalian meminta untuk disegerakan adalah (menjadi masalah) buruk bagi kalian, dan (aku tidak mengetahui) jika kalian diberi keleluasaan menikmati kemewahan di dunia sampai batas waktu tertentu, selanjutnya datang siksaan yang lebih berat atas kalian (dengan tiba-tiba). (112) ﴾ قَٰلَ رَبِّ ٱحۡكُم بِٱلۡحَقِّۗ ﴿ "(Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil'," yaitu antara kita dan kaum kafirin. Lalu Allah mengabulkan permohonan doa ini. Allah menetapkan keputusan hukuman bagi mereka di dunia sebelum di akhirat, dalam bentuk siksaan yang Allah timpakan kepada kaum kafirin, seperti (kekalahan dalam) peperangan Badr dan lainnya. ﴾ وَرَبُّنَا ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ 112 ﴿ "Dan Rabb kami ialah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan," kami memohon ar-Rahman dan memohon pertolongan kepadaNya atas apa yang kalian deskripsikan, seperti ucapan kalian, "Kami akan mengalahkan kalian, agama kalian akan meredup!" Dalam masalah ini, kami tidak silau dengan kekuatan kami, dan tidak akan bergantung kepada daya dan kekuatan pribadi. Kami hanya-lah memohon pertolongan kepada ar-Rahman yang ubun-ubun setiap makhluk berada di TanganNya. Kami berharap kepadaNya agar sudi menyempurnakan suatu pertolongan yang kami mohon-kan kepadaNya dari sebagian rahmatNya. Allah telah mewujud-kannya. Segala puji bagiNya.

Al-Anbiya' 21:110

"Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah. Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Katakanlah, 'Sesungguhnya yang di-wahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya).' Jika mereka berpaling maka katakanlah, 'Aku telah menyampai-kan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita), dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh.' Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan. Dan aku tidak mengeta-hui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu. (Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil. Dan Rabb kami adalah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan'." (Al-Anbiya`: 106-112). (106) Allah تعالى memuji kitabNya yang agung, al-Qur`an dan menjelaskan kapasitasnya yang sempurna untuk memenuhi segala sesuatu, dan bahwa ia tidak dapat disepelekan begitu saja. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَٰغٗا لِّقَوۡمٍ عَٰبِدِينَ 106 ﴿ "Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah," maksudnya mereka menjadikannya tangga untuk sampai kepada Rabb mereka dan menuju tempat kemuliaan milikNya. Al-Qur`an mengantarkan mereka menuju cita-cita dan keinginan yang paling penting. Tidak ada tujuan lain bagi kaum abidin (orang-orang yang mengabdikan diri menyembah kepada Allah) yang merupakan makhluk termulia. Karena al-Qur`an telah berperan menangani hal-hal yang mengenai pengetahuan tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, serta perbuatan-per-buatanNya, (menangani) penjelasan tentang berita-berita ghaib yang benar, (menangani) menyeru kepada hakikat-hakikat keimanan dan bukti-bukti keyakinan yang berfungsi menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangan seluruhnya, yang mengenalkan kekurangan-kekurangan jiwa dan amalan serta cara-cara yang seharusnya ditempuh dalam masalah-masalah agama yang pelik maupun yang sudah jelas, dan memperingatkan dari cara-cara tipu daya setan dan celah-celah untuk menerobos manusia. Barang-siapa yang belum tercukupi oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan menjadikannya merasa cukup. Dan barangsiapa yang belum tertangani oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya. (107) Berikutnya, Allah menyanjung RasulNya yang mem-bawa al-Qur`an. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 107 ﴿ "Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." Beliau merupakan rahmat Allah yang dianugerah-kan bagi para hambaNya. Kaum Mukminin menerima bingkisan rahmat ini dan mensyukurinya serta menyikapinya dengan baik. Sementara itu, kalangan lainnya, mereka mengingkarinya dan merubah kenikmatan Allah dengan bentuk kekufuran, enggan untuk menerima rahmat dan kenikmatanNya. (108) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad,﴾ إِنَّمَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ ﴿ "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa'," yang tidak ada sesuatu pun yang berhak disembah kecuali Dia. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ 108 ﴿ "Maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya)?" maksudnya tunduk untuk beribadah kepadaNya, berserah diri terhadap ketuhananNya. Jika mereka melakukannya, hendaknya mereka memuji Rabb mereka atas karunia yang mereka raih yang mengalahkan segala kenikmatan yang lain. (109-110) Dan jika ﴾ تَوَلَّوۡاْ ﴿ "mereka berpaling," dari ketun-dukan untuk mengabdikan diri kepadaNya, maka peringatkanlah mereka dari datangnya bencana-bencana dan turunnya hukuman. ﴾ فَقُلۡ ءَاذَنتُكُمۡ ﴿ "Maka katakanlah, 'Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian'," maksudnya saya telah memberitahukan kedatangan hukuman ﴾ عَلَىٰ سَوَآءٖۖ ﴿ "(ajaran) yang sama (antara kita)," maksudnya pengetahuanku dan pengetahuan kalian tentang itu sama saja; maka jangan sekali-kali mengatakan bila siksaan melanda kalian, "Tidak ada pemberi kabar gembira dan peringatan (seorang rasul) yang datang kepada kami." Akan tetapi, sekarang, ilmuku dan ilmu kalian sama. Karena saya telah memperingatkan dan mewanti-wanti kalian serta memberitahukan kepada kalian tentang akibat buruk dari kekufuran. Saya tidak menyembunyikan apa pun dari kalian. ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٌ أَم بَعِيدٞ مَّا تُوعَدُونَ 109 ﴿ "Dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh," yaitu siksaan. Pasalnya, pengetahuan tentang kapan datangnya siksa, hanya di sisi Allah saja, berada di TanganNya. Saya tidak mempunyai wewenang apa pun. (111) ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِي لَعَلَّهُۥ فِتۡنَةٞ لَّكُمۡ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ 111 ﴿ "Dan aku tidak menge-tahui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu," mungkin saja penundaan datangnya siksaan yang mana kalian meminta untuk disegerakan adalah (menjadi masalah) buruk bagi kalian, dan (aku tidak mengetahui) jika kalian diberi keleluasaan menikmati kemewahan di dunia sampai batas waktu tertentu, selanjutnya datang siksaan yang lebih berat atas kalian (dengan tiba-tiba). (112) ﴾ قَٰلَ رَبِّ ٱحۡكُم بِٱلۡحَقِّۗ ﴿ "(Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil'," yaitu antara kita dan kaum kafirin. Lalu Allah mengabulkan permohonan doa ini. Allah menetapkan keputusan hukuman bagi mereka di dunia sebelum di akhirat, dalam bentuk siksaan yang Allah timpakan kepada kaum kafirin, seperti (kekalahan dalam) peperangan Badr dan lainnya. ﴾ وَرَبُّنَا ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ 112 ﴿ "Dan Rabb kami ialah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan," kami memohon ar-Rahman dan memohon pertolongan kepadaNya atas apa yang kalian deskripsikan, seperti ucapan kalian, "Kami akan mengalahkan kalian, agama kalian akan meredup!" Dalam masalah ini, kami tidak silau dengan kekuatan kami, dan tidak akan bergantung kepada daya dan kekuatan pribadi. Kami hanya-lah memohon pertolongan kepada ar-Rahman yang ubun-ubun setiap makhluk berada di TanganNya. Kami berharap kepadaNya agar sudi menyempurnakan suatu pertolongan yang kami mohon-kan kepadaNya dari sebagian rahmatNya. Allah telah mewujud-kannya. Segala puji bagiNya.

Al-Anbiya' 21:111

"Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah. Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Katakanlah, 'Sesungguhnya yang di-wahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya).' Jika mereka berpaling maka katakanlah, 'Aku telah menyampai-kan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita), dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh.' Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan. Dan aku tidak mengeta-hui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu. (Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil. Dan Rabb kami adalah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan'." (Al-Anbiya`: 106-112). (106) Allah تعالى memuji kitabNya yang agung, al-Qur`an dan menjelaskan kapasitasnya yang sempurna untuk memenuhi segala sesuatu, dan bahwa ia tidak dapat disepelekan begitu saja. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَٰغٗا لِّقَوۡمٍ عَٰبِدِينَ 106 ﴿ "Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah," maksudnya mereka menjadikannya tangga untuk sampai kepada Rabb mereka dan menuju tempat kemuliaan milikNya. Al-Qur`an mengantarkan mereka menuju cita-cita dan keinginan yang paling penting. Tidak ada tujuan lain bagi kaum abidin (orang-orang yang mengabdikan diri menyembah kepada Allah) yang merupakan makhluk termulia. Karena al-Qur`an telah berperan menangani hal-hal yang mengenai pengetahuan tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, serta perbuatan-per-buatanNya, (menangani) penjelasan tentang berita-berita ghaib yang benar, (menangani) menyeru kepada hakikat-hakikat keimanan dan bukti-bukti keyakinan yang berfungsi menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangan seluruhnya, yang mengenalkan kekurangan-kekurangan jiwa dan amalan serta cara-cara yang seharusnya ditempuh dalam masalah-masalah agama yang pelik maupun yang sudah jelas, dan memperingatkan dari cara-cara tipu daya setan dan celah-celah untuk menerobos manusia. Barang-siapa yang belum tercukupi oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan menjadikannya merasa cukup. Dan barangsiapa yang belum tertangani oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya. (107) Berikutnya, Allah menyanjung RasulNya yang mem-bawa al-Qur`an. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 107 ﴿ "Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." Beliau merupakan rahmat Allah yang dianugerah-kan bagi para hambaNya. Kaum Mukminin menerima bingkisan rahmat ini dan mensyukurinya serta menyikapinya dengan baik. Sementara itu, kalangan lainnya, mereka mengingkarinya dan merubah kenikmatan Allah dengan bentuk kekufuran, enggan untuk menerima rahmat dan kenikmatanNya. (108) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad,﴾ إِنَّمَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ ﴿ "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa'," yang tidak ada sesuatu pun yang berhak disembah kecuali Dia. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ 108 ﴿ "Maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya)?" maksudnya tunduk untuk beribadah kepadaNya, berserah diri terhadap ketuhananNya. Jika mereka melakukannya, hendaknya mereka memuji Rabb mereka atas karunia yang mereka raih yang mengalahkan segala kenikmatan yang lain. (109-110) Dan jika ﴾ تَوَلَّوۡاْ ﴿ "mereka berpaling," dari ketun-dukan untuk mengabdikan diri kepadaNya, maka peringatkanlah mereka dari datangnya bencana-bencana dan turunnya hukuman. ﴾ فَقُلۡ ءَاذَنتُكُمۡ ﴿ "Maka katakanlah, 'Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian'," maksudnya saya telah memberitahukan kedatangan hukuman ﴾ عَلَىٰ سَوَآءٖۖ ﴿ "(ajaran) yang sama (antara kita)," maksudnya pengetahuanku dan pengetahuan kalian tentang itu sama saja; maka jangan sekali-kali mengatakan bila siksaan melanda kalian, "Tidak ada pemberi kabar gembira dan peringatan (seorang rasul) yang datang kepada kami." Akan tetapi, sekarang, ilmuku dan ilmu kalian sama. Karena saya telah memperingatkan dan mewanti-wanti kalian serta memberitahukan kepada kalian tentang akibat buruk dari kekufuran. Saya tidak menyembunyikan apa pun dari kalian. ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٌ أَم بَعِيدٞ مَّا تُوعَدُونَ 109 ﴿ "Dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh," yaitu siksaan. Pasalnya, pengetahuan tentang kapan datangnya siksa, hanya di sisi Allah saja, berada di TanganNya. Saya tidak mempunyai wewenang apa pun. (111) ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِي لَعَلَّهُۥ فِتۡنَةٞ لَّكُمۡ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ 111 ﴿ "Dan aku tidak menge-tahui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu," mungkin saja penundaan datangnya siksaan yang mana kalian meminta untuk disegerakan adalah (menjadi masalah) buruk bagi kalian, dan (aku tidak mengetahui) jika kalian diberi keleluasaan menikmati kemewahan di dunia sampai batas waktu tertentu, selanjutnya datang siksaan yang lebih berat atas kalian (dengan tiba-tiba). (112) ﴾ قَٰلَ رَبِّ ٱحۡكُم بِٱلۡحَقِّۗ ﴿ "(Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil'," yaitu antara kita dan kaum kafirin. Lalu Allah mengabulkan permohonan doa ini. Allah menetapkan keputusan hukuman bagi mereka di dunia sebelum di akhirat, dalam bentuk siksaan yang Allah timpakan kepada kaum kafirin, seperti (kekalahan dalam) peperangan Badr dan lainnya. ﴾ وَرَبُّنَا ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ 112 ﴿ "Dan Rabb kami ialah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan," kami memohon ar-Rahman dan memohon pertolongan kepadaNya atas apa yang kalian deskripsikan, seperti ucapan kalian, "Kami akan mengalahkan kalian, agama kalian akan meredup!" Dalam masalah ini, kami tidak silau dengan kekuatan kami, dan tidak akan bergantung kepada daya dan kekuatan pribadi. Kami hanya-lah memohon pertolongan kepada ar-Rahman yang ubun-ubun setiap makhluk berada di TanganNya. Kami berharap kepadaNya agar sudi menyempurnakan suatu pertolongan yang kami mohon-kan kepadaNya dari sebagian rahmatNya. Allah telah mewujud-kannya. Segala puji bagiNya.

Al-Anbiya' 21:112

"Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah. Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Katakanlah, 'Sesungguhnya yang di-wahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya).' Jika mereka berpaling maka katakanlah, 'Aku telah menyampai-kan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita), dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh.' Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan. Dan aku tidak mengeta-hui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu. (Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil. Dan Rabb kami adalah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan'." (Al-Anbiya`: 106-112). (106) Allah تعالى memuji kitabNya yang agung, al-Qur`an dan menjelaskan kapasitasnya yang sempurna untuk memenuhi segala sesuatu, dan bahwa ia tidak dapat disepelekan begitu saja. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَٰغٗا لِّقَوۡمٍ عَٰبِدِينَ 106 ﴿ "Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah," maksudnya mereka menjadikannya tangga untuk sampai kepada Rabb mereka dan menuju tempat kemuliaan milikNya. Al-Qur`an mengantarkan mereka menuju cita-cita dan keinginan yang paling penting. Tidak ada tujuan lain bagi kaum abidin (orang-orang yang mengabdikan diri menyembah kepada Allah) yang merupakan makhluk termulia. Karena al-Qur`an telah berperan menangani hal-hal yang mengenai pengetahuan tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, serta perbuatan-per-buatanNya, (menangani) penjelasan tentang berita-berita ghaib yang benar, (menangani) menyeru kepada hakikat-hakikat keimanan dan bukti-bukti keyakinan yang berfungsi menjelaskan perintah-perintah dan larangan-larangan seluruhnya, yang mengenalkan kekurangan-kekurangan jiwa dan amalan serta cara-cara yang seharusnya ditempuh dalam masalah-masalah agama yang pelik maupun yang sudah jelas, dan memperingatkan dari cara-cara tipu daya setan dan celah-celah untuk menerobos manusia. Barang-siapa yang belum tercukupi oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan menjadikannya merasa cukup. Dan barangsiapa yang belum tertangani oleh al-Qur`an, niscaya Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya. (107) Berikutnya, Allah menyanjung RasulNya yang mem-bawa al-Qur`an. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ 107 ﴿ "Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." Beliau merupakan rahmat Allah yang dianugerah-kan bagi para hambaNya. Kaum Mukminin menerima bingkisan rahmat ini dan mensyukurinya serta menyikapinya dengan baik. Sementara itu, kalangan lainnya, mereka mengingkarinya dan merubah kenikmatan Allah dengan bentuk kekufuran, enggan untuk menerima rahmat dan kenikmatanNya. (108) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad,﴾ إِنَّمَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ ﴿ "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa'," yang tidak ada sesuatu pun yang berhak disembah kecuali Dia. Karena itu, Dia berfirman, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ 108 ﴿ "Maka apakah kamu telah berserah diri (kepadaNya)?" maksudnya tunduk untuk beribadah kepadaNya, berserah diri terhadap ketuhananNya. Jika mereka melakukannya, hendaknya mereka memuji Rabb mereka atas karunia yang mereka raih yang mengalahkan segala kenikmatan yang lain. (109-110) Dan jika ﴾ تَوَلَّوۡاْ ﴿ "mereka berpaling," dari ketun-dukan untuk mengabdikan diri kepadaNya, maka peringatkanlah mereka dari datangnya bencana-bencana dan turunnya hukuman. ﴾ فَقُلۡ ءَاذَنتُكُمۡ ﴿ "Maka katakanlah, 'Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian'," maksudnya saya telah memberitahukan kedatangan hukuman ﴾ عَلَىٰ سَوَآءٖۖ ﴿ "(ajaran) yang sama (antara kita)," maksudnya pengetahuanku dan pengetahuan kalian tentang itu sama saja; maka jangan sekali-kali mengatakan bila siksaan melanda kalian, "Tidak ada pemberi kabar gembira dan peringatan (seorang rasul) yang datang kepada kami." Akan tetapi, sekarang, ilmuku dan ilmu kalian sama. Karena saya telah memperingatkan dan mewanti-wanti kalian serta memberitahukan kepada kalian tentang akibat buruk dari kekufuran. Saya tidak menyembunyikan apa pun dari kalian. ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٌ أَم بَعِيدٞ مَّا تُوعَدُونَ 109 ﴿ "Dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh," yaitu siksaan. Pasalnya, pengetahuan tentang kapan datangnya siksa, hanya di sisi Allah saja, berada di TanganNya. Saya tidak mempunyai wewenang apa pun. (111) ﴾ وَإِنۡ أَدۡرِي لَعَلَّهُۥ فِتۡنَةٞ لَّكُمۡ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ 111 ﴿ "Dan aku tidak menge-tahui boleh jadi hal itu cobaan dan kesenangan bagi kamu sampai kepada suatu waktu," mungkin saja penundaan datangnya siksaan yang mana kalian meminta untuk disegerakan adalah (menjadi masalah) buruk bagi kalian, dan (aku tidak mengetahui) jika kalian diberi keleluasaan menikmati kemewahan di dunia sampai batas waktu tertentu, selanjutnya datang siksaan yang lebih berat atas kalian (dengan tiba-tiba). (112) ﴾ قَٰلَ رَبِّ ٱحۡكُم بِٱلۡحَقِّۗ ﴿ "(Muhammad) berkata, 'Ya Rabbku, berilah keputusan dengan adil'," yaitu antara kita dan kaum kafirin. Lalu Allah mengabulkan permohonan doa ini. Allah menetapkan keputusan hukuman bagi mereka di dunia sebelum di akhirat, dalam bentuk siksaan yang Allah timpakan kepada kaum kafirin, seperti (kekalahan dalam) peperangan Badr dan lainnya. ﴾ وَرَبُّنَا ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ 112 ﴿ "Dan Rabb kami ialah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu katakan," kami memohon ar-Rahman dan memohon pertolongan kepadaNya atas apa yang kalian deskripsikan, seperti ucapan kalian, "Kami akan mengalahkan kalian, agama kalian akan meredup!" Dalam masalah ini, kami tidak silau dengan kekuatan kami, dan tidak akan bergantung kepada daya dan kekuatan pribadi. Kami hanya-lah memohon pertolongan kepada ar-Rahman yang ubun-ubun setiap makhluk berada di TanganNya. Kami berharap kepadaNya agar sudi menyempurnakan suatu pertolongan yang kami mohon-kan kepadaNya dari sebagian rahmatNya. Allah telah mewujud-kannya. Segala puji bagiNya.

Al-Hajj 22:1

"Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu. Sesungguhnya kegoncangan Hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat ke-goncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai dari anak yang disusuinya, dan segala kandungan wanita yang hamil menjadi gugur, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras." (Al-Hajj: 1-2). Madaniyah -Versi lain- Makkiyah (1) Allah تعالى mengajak bicara seluruh umat manusia, supaya mereka bertakwa kepada Rabb mereka yang telah merawat mereka dengan beragam kenikmatan, yang terlihat maupun tidak. Sepan-tasnya mereka takut kepadaNya, dengan cara meninggalkan praktik syirik, perbuatan-perbuatan fasik serta maksiat, dan menaati perin-tah-perintahNya, sesuai dengan kemampuan mereka. Selanjutnya, Allah memberitahukan tentang satu faktor yang bisa membantu mereka dalam merealisasikan ketakwaan dan mem-peringatkan mereka agar tidak meninggalkannya. Yaitu, informasi tentang kondisi-kondisi dahsyat di Hari Kiamat. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ زَلۡزَلَةَ ٱلسَّاعَةِ شَيۡءٌ عَظِيمٞ 1 ﴿ "Sesungguhnya kegoncangan Hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat)," tingkat kenge-riannya tidak mampu diperkirakan dan tidak mampu diketahui bagaimana kenyataannya. Yang demikian itu, saat terjadinya Hari Kiamat, bumi mengalami kekeringan, bergetar dan bergerak-gerak, serta digoncang-goncangkan dengan goncangan yang sangat keras. Gunung-gunung terpecah-belah, tercabut (dari pangkalnya) dan menjelma pasir-pasir bertumpukan yang beterbangan. Kemudian menjadi debu-debu yang berhamburan. Berikutnya, manusia terbagi-bagi menjadi tiga golongan. Di saat itulah, langit terbelah, matahari dan bulan digulung, bintang-bintang jatuh berserakan. Kemudian, terjadilah kekacauan dan prahara yang mengerikan kalbu, menggelisahkan hati, memutih-kan rambut anak-anak kecil dan melenyapkan ketulian yang sudah parah. (2) Oleh karenanya, Allah berfirman,﴾ يَوۡمَ تَرَوۡنَهَا تَذۡهَلُ كُلُّ مُرۡضِعَةٍ عَمَّآ أَرۡضَعَتۡ ﴿ "(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai dari anak yang disusuinya," padahal seorang ibu itu tercipta dengan bawaan sangat mencintai anaknya. Terutama dalam kondisi tersebut (masa persusuan) yang ia (bayi) tidak bisa hidup kecuali bersama ibunya.﴾ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمۡلٍ حَمۡلَهَا ﴿ "Dan segala kandungan wanita yang hamil menjadi gugur," karena kerisauan dan ketakutan yang sangat dahsyat.﴾ وَتَرَى ٱلنَّاسَ سُكَٰرَىٰ وَمَا هُم بِسُكَٰرَىٰ ﴿ "Dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk," maksudnya engkau wahai orang yang melihat, mengira mereka sedang mabuk karena minum mi-numan keras. Padahal mereka tidak sedang dilanda mabuk. ﴾ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ ٱللَّهِ شَدِيدٞ 2 ﴿ "Akan tetapi azab Allah itu sangat keras." Oleh sebab itu, azab itu sanggup meniadakan akal-akal sehat me-reka dan mengosongkan hati-hati mereka serta menjejalinya dengan perasaan gelisah. Jantung-jantung sudah sampai ke tenggorokan. Pandangan-pandangan mata menjadi terbelalak. [Dan] pada hari itu, seorang ayah tidak bisa membela anaknya. Demikian juga, anak tidak kuasa membela ayah kandungnya sedikit pun. Pada hari itu, seseorang lari dari saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya dan anak-anaknya serta dari familinya yang melindungi dirinya. Setiap orang pada hari itu, mempunyai urusan yang menyibukkan-nya. Di sana, orang yang zhalim akan menggigit jari seraya berkata, "Aduhai kiranya aku dulu meniti jalan bersama rasul. Aduhai kira-nya aku dahulu tidak menjadikan Fulan sebagai kawan karib." Pada hari itu, ada wajah yang menghitam, dan ada wajah yang berubah putih berseri, timbangan-timbangan yang digunakan untuk menghitung berat biji sawi kebaikan dan kejelekan ditegak-kan. Lembaran-lembaran amalan dengan seluruh kandungan amalan dan ucapan serta niat-niat, kecil atau besar disebarkan (kepada para pemiliknya). Jalan shirath dibentangkan di atas perut Jahanam. Surga didekatkan bagi kaum muttaqin (orang-orang yang bertakwa). Neraka Jahim diperlihatkan bagi orang-orang yang sesat. Bila ia (Neraka Jahim) melihat mereka dari kejauhan, maka mereka akan mendengar kegeraman dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. Dan akan dikatakan kepada mereka, "Jangan kamu sekalian meng-harapkannya satu kebinasaan, (namun) harapkanlah kebinasaan yang banyak." Apabila mereka memanggil-manggil Rabb mereka, supaya sudi mengeluarkan dari neraka, maka Allah berkata, "Hina-lah kalian di dalamnya. Jangan sekali-kali mengajak bicara kepada-Ku." Rabb kalian Yang Maha Penyayang telah murka, dan siksaan yang pedih telah mendatangi kalian. Mereka pun putus asa dari setiap kebaikan. Mereka menjumpai seluruh aktifitas amalan me-reka, tanpa kehilangan sekecil kulit ari atau qithmir (kulit tipis). Begitulah…. Sementara itu, kaum yang bertakwa berada dalam perasaan penuh suka-cita di taman-taman surga. Dan me-reka bergelimang keceriaan dalam beraneka macam kenikmatan. Mereka kekal dalam suasana kenikmatan yang disukai oleh jiwa-jiwa mereka. Sepatutnya bagi orang cerdas yang mengetahui semua peristiwa ini akan datang di hadapannya, maka dia harus mem-persiapkan bekal untuk menyongsongnya, jangan sampai angan-angan kosong melalaikannya, hingga akhirnya dia meninggalkan untuk beramal. Hendaknya ketakwaan kepada Allah merupakan semboyannya, rasa takut kepadaNya menjadi selimut yang menu-tupinya, serta kecintaan dan dzikir kepadaNya menjadi ruh selu-ruh aktifitasnya.

Al-Hajj 22:2

"Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu. Sesungguhnya kegoncangan Hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat ke-goncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai dari anak yang disusuinya, dan segala kandungan wanita yang hamil menjadi gugur, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras." (Al-Hajj: 1-2). Madaniyah -Versi lain- Makkiyah (1) Allah تعالى mengajak bicara seluruh umat manusia, supaya mereka bertakwa kepada Rabb mereka yang telah merawat mereka dengan beragam kenikmatan, yang terlihat maupun tidak. Sepan-tasnya mereka takut kepadaNya, dengan cara meninggalkan praktik syirik, perbuatan-perbuatan fasik serta maksiat, dan menaati perin-tah-perintahNya, sesuai dengan kemampuan mereka. Selanjutnya, Allah memberitahukan tentang satu faktor yang bisa membantu mereka dalam merealisasikan ketakwaan dan mem-peringatkan mereka agar tidak meninggalkannya. Yaitu, informasi tentang kondisi-kondisi dahsyat di Hari Kiamat. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ زَلۡزَلَةَ ٱلسَّاعَةِ شَيۡءٌ عَظِيمٞ 1 ﴿ "Sesungguhnya kegoncangan Hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat)," tingkat kenge-riannya tidak mampu diperkirakan dan tidak mampu diketahui bagaimana kenyataannya. Yang demikian itu, saat terjadinya Hari Kiamat, bumi mengalami kekeringan, bergetar dan bergerak-gerak, serta digoncang-goncangkan dengan goncangan yang sangat keras. Gunung-gunung terpecah-belah, tercabut (dari pangkalnya) dan menjelma pasir-pasir bertumpukan yang beterbangan. Kemudian menjadi debu-debu yang berhamburan. Berikutnya, manusia terbagi-bagi menjadi tiga golongan. Di saat itulah, langit terbelah, matahari dan bulan digulung, bintang-bintang jatuh berserakan. Kemudian, terjadilah kekacauan dan prahara yang mengerikan kalbu, menggelisahkan hati, memutih-kan rambut anak-anak kecil dan melenyapkan ketulian yang sudah parah. (2) Oleh karenanya, Allah berfirman,﴾ يَوۡمَ تَرَوۡنَهَا تَذۡهَلُ كُلُّ مُرۡضِعَةٍ عَمَّآ أَرۡضَعَتۡ ﴿ "(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai dari anak yang disusuinya," padahal seorang ibu itu tercipta dengan bawaan sangat mencintai anaknya. Terutama dalam kondisi tersebut (masa persusuan) yang ia (bayi) tidak bisa hidup kecuali bersama ibunya.﴾ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمۡلٍ حَمۡلَهَا ﴿ "Dan segala kandungan wanita yang hamil menjadi gugur," karena kerisauan dan ketakutan yang sangat dahsyat.﴾ وَتَرَى ٱلنَّاسَ سُكَٰرَىٰ وَمَا هُم بِسُكَٰرَىٰ ﴿ "Dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk," maksudnya engkau wahai orang yang melihat, mengira mereka sedang mabuk karena minum mi-numan keras. Padahal mereka tidak sedang dilanda mabuk. ﴾ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ ٱللَّهِ شَدِيدٞ 2 ﴿ "Akan tetapi azab Allah itu sangat keras." Oleh sebab itu, azab itu sanggup meniadakan akal-akal sehat me-reka dan mengosongkan hati-hati mereka serta menjejalinya dengan perasaan gelisah. Jantung-jantung sudah sampai ke tenggorokan. Pandangan-pandangan mata menjadi terbelalak. [Dan] pada hari itu, seorang ayah tidak bisa membela anaknya. Demikian juga, anak tidak kuasa membela ayah kandungnya sedikit pun. Pada hari itu, seseorang lari dari saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya dan anak-anaknya serta dari familinya yang melindungi dirinya. Setiap orang pada hari itu, mempunyai urusan yang menyibukkan-nya. Di sana, orang yang zhalim akan menggigit jari seraya berkata, "Aduhai kiranya aku dulu meniti jalan bersama rasul. Aduhai kira-nya aku dahulu tidak menjadikan Fulan sebagai kawan karib." Pada hari itu, ada wajah yang menghitam, dan ada wajah yang berubah putih berseri, timbangan-timbangan yang digunakan untuk menghitung berat biji sawi kebaikan dan kejelekan ditegak-kan. Lembaran-lembaran amalan dengan seluruh kandungan amalan dan ucapan serta niat-niat, kecil atau besar disebarkan (kepada para pemiliknya). Jalan shirath dibentangkan di atas perut Jahanam. Surga didekatkan bagi kaum muttaqin (orang-orang yang bertakwa). Neraka Jahim diperlihatkan bagi orang-orang yang sesat. Bila ia (Neraka Jahim) melihat mereka dari kejauhan, maka mereka akan mendengar kegeraman dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. Dan akan dikatakan kepada mereka, "Jangan kamu sekalian meng-harapkannya satu kebinasaan, (namun) harapkanlah kebinasaan yang banyak." Apabila mereka memanggil-manggil Rabb mereka, supaya sudi mengeluarkan dari neraka, maka Allah berkata, "Hina-lah kalian di dalamnya. Jangan sekali-kali mengajak bicara kepada-Ku." Rabb kalian Yang Maha Penyayang telah murka, dan siksaan yang pedih telah mendatangi kalian. Mereka pun putus asa dari setiap kebaikan. Mereka menjumpai seluruh aktifitas amalan me-reka, tanpa kehilangan sekecil kulit ari atau qithmir (kulit tipis). Begitulah…. Sementara itu, kaum yang bertakwa berada dalam perasaan penuh suka-cita di taman-taman surga. Dan me-reka bergelimang keceriaan dalam beraneka macam kenikmatan. Mereka kekal dalam suasana kenikmatan yang disukai oleh jiwa-jiwa mereka. Sepatutnya bagi orang cerdas yang mengetahui semua peristiwa ini akan datang di hadapannya, maka dia harus mem-persiapkan bekal untuk menyongsongnya, jangan sampai angan-angan kosong melalaikannya, hingga akhirnya dia meninggalkan untuk beramal. Hendaknya ketakwaan kepada Allah merupakan semboyannya, rasa takut kepadaNya menjadi selimut yang menu-tupinya, serta kecintaan dan dzikir kepadaNya menjadi ruh selu-ruh aktifitasnya.

Al-Hajj 22:3

"Di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang jahat. Yang telah ditetapkan terhadap setan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengannya, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke dalam azab neraka." (Al-Hajj: 3-4). (3-4) Maksudnya, di antara manusia ada satu golongan dan kelompok. Mereka itu menempuh jalan kesesatan dan mulai menyanggah al-haq dengan kebatilan. Mereka bertujuan untuk memantapkan kebatilan dan memberangus al-haq. Padahal, mereka berada pada puncak kebodohan, tidak mempunyai ilmu sedikit pun. Paling-paling, modal yang mereka miliki hanyalah taklid kepada tokoh-tokoh kesesatan, dari kalangan setan yang jahat, membang-kang kepada Allah dan kepada para utusanNya, lagi memusuhi mereka. Sungguh ia telah menentang Allah dan RasulNya. Dan akhirnya, menjelma seorang tokoh yang mempropagandakan jalan menuju neraka. ﴾ كُتِبَ عَلَيۡهِ ﴿ "Yang telah ditetapkan terhadap setan itu," telah ditakdirkan pada setan yang jahat ini ﴾ أَنَّهُۥ مَن تَوَلَّاهُ ﴿ "bahwa barangsiapa yang berkawan dengannya," maksudnya barangsiapa mengikutinya ﴾ فَأَنَّهُۥ يُضِلُّهُۥ ﴿ "tentu dia akan menyesatkannya," dari jalan kebenaran dan menjauhkan dirinya dari shirathal mustaqim (jalan yang lurus) ﴾ وَيَهۡدِيهِ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ 4 ﴿ "dan membawanya ke dalam azab neraka." Ini adalah tangan kanan iblis secara nyata. Allah telah ber-firman tentang orang semacam ini, ﴾ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). Orang ini, yang berusaha membantah tentang Allah, ia telah memadukan antara kesesatan pribadi dengan upayanya untuk menyesatkan orang-orang. (Dalam melakukannya) ia adalah orang yang hanya mengikuti dan meniru-niru setan yang jahat. Sebuah cerminan berbagai kegelapan yang saling menutupi. Termasuk dalam konteks ini, semua orang-orang kafir dan ahli bid'ah. Sesung-guhnya mayoritas mereka hanya mengikuti semata, membantah tanpa dasar ilmu (yang shahih).

Al-Hajj 22:4

"Di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang jahat. Yang telah ditetapkan terhadap setan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengannya, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke dalam azab neraka." (Al-Hajj: 3-4). (3-4) Maksudnya, di antara manusia ada satu golongan dan kelompok. Mereka itu menempuh jalan kesesatan dan mulai menyanggah al-haq dengan kebatilan. Mereka bertujuan untuk memantapkan kebatilan dan memberangus al-haq. Padahal, mereka berada pada puncak kebodohan, tidak mempunyai ilmu sedikit pun. Paling-paling, modal yang mereka miliki hanyalah taklid kepada tokoh-tokoh kesesatan, dari kalangan setan yang jahat, membang-kang kepada Allah dan kepada para utusanNya, lagi memusuhi mereka. Sungguh ia telah menentang Allah dan RasulNya. Dan akhirnya, menjelma seorang tokoh yang mempropagandakan jalan menuju neraka. ﴾ كُتِبَ عَلَيۡهِ ﴿ "Yang telah ditetapkan terhadap setan itu," telah ditakdirkan pada setan yang jahat ini ﴾ أَنَّهُۥ مَن تَوَلَّاهُ ﴿ "bahwa barangsiapa yang berkawan dengannya," maksudnya barangsiapa mengikutinya ﴾ فَأَنَّهُۥ يُضِلُّهُۥ ﴿ "tentu dia akan menyesatkannya," dari jalan kebenaran dan menjauhkan dirinya dari shirathal mustaqim (jalan yang lurus) ﴾ وَيَهۡدِيهِ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ 4 ﴿ "dan membawanya ke dalam azab neraka." Ini adalah tangan kanan iblis secara nyata. Allah telah ber-firman tentang orang semacam ini, ﴾ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). Orang ini, yang berusaha membantah tentang Allah, ia telah memadukan antara kesesatan pribadi dengan upayanya untuk menyesatkan orang-orang. (Dalam melakukannya) ia adalah orang yang hanya mengikuti dan meniru-niru setan yang jahat. Sebuah cerminan berbagai kegelapan yang saling menutupi. Termasuk dalam konteks ini, semua orang-orang kafir dan ahli bid'ah. Sesung-guhnya mayoritas mereka hanya mengikuti semata, membantah tanpa dasar ilmu (yang shahih).

Al-Hajj 22:5

"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebang-kitan (dari kubur); maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari nuthfah (setetes mani), kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu, dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjang-kan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena Allah, Dia-lah yang haq, dan bahwa Dia-lah yang menghidupkan segala yang mati, dan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Hari Kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." (Al-Hajj: 5-7). (5) Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ ﴿ "Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur)," keragu-raguan, kesangsian, serta ketidakyakinan akan kejadiannya, padahal kewajiban kalian adalah mempercayai Rabb kalian dan membenarkan para RasulNya dalam masalah itu. Akan tetapi, jika kalian menampik segalanya selain sikap ragu-ragu semata, maka ambillah dua bukti logis yang kalian saksikan. Masing-masing menunjukkan dengan bukti yang pasti kepada perkara yang kalian ragu tentangnya dan menghilangkan unsur syak pada hati-hati kalian. Pertama, pengambilan bukti melalui penciptaan manusia pertama kali, dan bahwa Dzat yang memulai penciptaannya akan (bisa) mengulanginya kembali. Allah berfirman mengenai ini,﴾ فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah," maksudnya menciptakan nenek moyang manusia, Adam عليه السلام. ﴾ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "Kemudian dari setetes air mani," yakni dari mani. Inilah per-mulaan proses penciptaan manusia. ﴾ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ﴿ "Kemudian dari segumpal darah," maksudnya air mani itu berubah menjadi darah yang merah dengan izin Allah. ﴾ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٖ ﴿ "Kemudian dari segumpal daging," maksudnya darah itu beralih wujud menjadi mudhghah, yakni segumpal daging dengan ukuran yang bisa dikunyah. Se-gumpal daging tersebut, terkadang ﴾ مُّخَلَّقَةٖ ﴿ "sempurna kejadiannya," maksudnya terbentuk bakal manusia dan terkadang ﴾ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ ﴿ "tidak sempurna," karena rahim mengeluarkannya sebelum diproses pembentukannya ﴾ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ ﴿ "agar Kami jelaskan kepadamu," asal muasal penciptaan kalian, meskipun Allah mampu menyempurna-kan penciptaannya dalam sekejap saja. Hanya saja, untuk menjelas-kan kepada kita sekalian kesempurnaan hikmahNya dan keagungan kekuasaanNya serta keluasan rahmatNya. ﴾ وَنُقِرُّ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ﴿ "Dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan," [mak-sudnya] Kami menetapkan kehamilan dalam rahim yang tidak di-campakkannya yang Kami kehendaki keberlangsungannya sampai waktu yang telah ditentukan, yaitu masa kehamilan. ﴾ ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ ﴿ "Kemudian Kami keluarkan kamu," dari perut-perut ibu kalian ﴾ طِفۡلٗا ﴿ "sebagai bayi," yang mana kalian tidak mengetahui apa pun dan kalian tidak punya kekuatan. Selanjutnya Kami mengerahkan para ibu bagi kalian dan mengadakan rizki bagi kalian melalui air susu-nya. Kemudian kalian tumbuh dari fase ke fase berikutnya sampai memasuki masa kedewasaan. Yaitu masa kematangan kekuatan dan daya pikir. ﴾ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ ﴿ "Dan di antara kamu ada yang diwafatkan," se-belum mencapai usia kedewasaan. Dan di antara kalian ada yang melewati usia tua sehingga ﴾ يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ ﴿ "dipanjangkan umurnya sampai pikun," usia yang mengenaskan dan hina, yaitu masa tua renta dan pikun, yang menyebabkan akal sehat hilang dan ber-kurang. Sebagaimana kekuatan fisiknya yang lain juga hilang dan melemah ﴾ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya," maksudnya agar orang yang dipanjangkan umurnya ini tidak mengetahui perkara-perkara yang mereka ketahui sebelumnya. Lantaran melemahnya kekuatan akal yang dimilikinya. Kekuatan seorang manusia dikeli-lingi oleh dua kelemahan:(1). Kelemahan pada masa kanak-kanak dan kekurangan padanya; (2). Kelemahan masa tua dan kekurangan padanya. Seperti yang difirmankan oleh Allah تعالى, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٖ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٖ قُوَّةٗ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٖ ضَعۡفٗا وَشَيۡبَةٗۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ 54 ﴿ "Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemu-dian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya, dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." (Ar-Rum : 54). Kedua: Menghidupkan bumi setelah mati. Allah berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ ﴿ "Dan kamu lihat bumi ini kering," diam, penuh debu-debu, tidak ada tanaman dan juga tidak ada hijau-hijauan padanya ﴾ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ ﴿ "kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu," maksudnya bergerak-gerak karena ada tumbuh-tumbuhan ﴾ وَرَبَتۡ ﴿ "dan suburlah," maksudnya menjadi semakin tinggi pasca diamnya. Yaitu dengan pertumbuhan ta-namannya ﴾ وَأَنۢبَتَتۡ مِن كُلِّ زَوۡجِۭ ﴿ "dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan," yaitu satu jenis dari jenis-jenis tumbuhan ﴾ بَهِيجٖ 5 ﴿ "yang indah," mengagumkan orang-orang yang melihat-nya dan menyenangkan orang-orang yang memandangnya. (6-7) Dua bukti kuat di atas menunjukkan lima perkara penting. Yaitu, berikut ini: ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu." Dzat yang menciptakan manusia dari bahan yang sudah Allah sebutkan ciri-nya, dan menghidupkan bumi setelah kekeringannya ﴾ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "karena Allah, Dia-lah yang haq," Rabb yang berhak diibadahi yang tidak sepantasnya ibadah diarahkan kepada selainNya. Ibadah kepadaNya-lah yang merupakan tindakan benar. Sementara ber-ibadah kepada selainNya merupakan bentuk kebatilan. ﴾ وَأَنَّهُۥ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Dan bahwa Dia-lah yang menghidupkan segala yang mati," sebagaimana Allah memulai penciptaan makhluk-makhlukNya dan menghidup-kan bumi pasca kekeringannya ﴾ وَأَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ 6 ﴿ "dan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu," sebagaimana Allah telah memper-tontonkan kepada kalian bentuk kekuasaanNya yang spesial, dan ciptaanNya yang agung yang sudah kalian saksikan ﴾ وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٞ لَّا رَيۡبَ فِيهَا ﴿ "dan bahwa Hari Kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya." Tidak ada alasan untuk menganggapnya mustahil ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ يَبۡعَثُ مَن فِي ٱلۡقُبُورِ 7 ﴿ "dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." Dia akan membalasi kalian berdasarkan amalan-amalan kalian, yang baik dan yang buruk.

Al-Hajj 22:6

"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebang-kitan (dari kubur); maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari nuthfah (setetes mani), kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu, dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjang-kan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena Allah, Dia-lah yang haq, dan bahwa Dia-lah yang menghidupkan segala yang mati, dan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Hari Kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." (Al-Hajj: 5-7). (5) Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ ﴿ "Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur)," keragu-raguan, kesangsian, serta ketidakyakinan akan kejadiannya, padahal kewajiban kalian adalah mempercayai Rabb kalian dan membenarkan para RasulNya dalam masalah itu. Akan tetapi, jika kalian menampik segalanya selain sikap ragu-ragu semata, maka ambillah dua bukti logis yang kalian saksikan. Masing-masing menunjukkan dengan bukti yang pasti kepada perkara yang kalian ragu tentangnya dan menghilangkan unsur syak pada hati-hati kalian. Pertama, pengambilan bukti melalui penciptaan manusia pertama kali, dan bahwa Dzat yang memulai penciptaannya akan (bisa) mengulanginya kembali. Allah berfirman mengenai ini,﴾ فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah," maksudnya menciptakan nenek moyang manusia, Adam عليه السلام. ﴾ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "Kemudian dari setetes air mani," yakni dari mani. Inilah per-mulaan proses penciptaan manusia. ﴾ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ﴿ "Kemudian dari segumpal darah," maksudnya air mani itu berubah menjadi darah yang merah dengan izin Allah. ﴾ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٖ ﴿ "Kemudian dari segumpal daging," maksudnya darah itu beralih wujud menjadi mudhghah, yakni segumpal daging dengan ukuran yang bisa dikunyah. Se-gumpal daging tersebut, terkadang ﴾ مُّخَلَّقَةٖ ﴿ "sempurna kejadiannya," maksudnya terbentuk bakal manusia dan terkadang ﴾ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ ﴿ "tidak sempurna," karena rahim mengeluarkannya sebelum diproses pembentukannya ﴾ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ ﴿ "agar Kami jelaskan kepadamu," asal muasal penciptaan kalian, meskipun Allah mampu menyempurna-kan penciptaannya dalam sekejap saja. Hanya saja, untuk menjelas-kan kepada kita sekalian kesempurnaan hikmahNya dan keagungan kekuasaanNya serta keluasan rahmatNya. ﴾ وَنُقِرُّ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ﴿ "Dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan," [mak-sudnya] Kami menetapkan kehamilan dalam rahim yang tidak di-campakkannya yang Kami kehendaki keberlangsungannya sampai waktu yang telah ditentukan, yaitu masa kehamilan. ﴾ ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ ﴿ "Kemudian Kami keluarkan kamu," dari perut-perut ibu kalian ﴾ طِفۡلٗا ﴿ "sebagai bayi," yang mana kalian tidak mengetahui apa pun dan kalian tidak punya kekuatan. Selanjutnya Kami mengerahkan para ibu bagi kalian dan mengadakan rizki bagi kalian melalui air susu-nya. Kemudian kalian tumbuh dari fase ke fase berikutnya sampai memasuki masa kedewasaan. Yaitu masa kematangan kekuatan dan daya pikir. ﴾ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ ﴿ "Dan di antara kamu ada yang diwafatkan," se-belum mencapai usia kedewasaan. Dan di antara kalian ada yang melewati usia tua sehingga ﴾ يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ ﴿ "dipanjangkan umurnya sampai pikun," usia yang mengenaskan dan hina, yaitu masa tua renta dan pikun, yang menyebabkan akal sehat hilang dan ber-kurang. Sebagaimana kekuatan fisiknya yang lain juga hilang dan melemah ﴾ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya," maksudnya agar orang yang dipanjangkan umurnya ini tidak mengetahui perkara-perkara yang mereka ketahui sebelumnya. Lantaran melemahnya kekuatan akal yang dimilikinya. Kekuatan seorang manusia dikeli-lingi oleh dua kelemahan:(1). Kelemahan pada masa kanak-kanak dan kekurangan padanya; (2). Kelemahan masa tua dan kekurangan padanya. Seperti yang difirmankan oleh Allah تعالى, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٖ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٖ قُوَّةٗ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٖ ضَعۡفٗا وَشَيۡبَةٗۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ 54 ﴿ "Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemu-dian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya, dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." (Ar-Rum : 54). Kedua: Menghidupkan bumi setelah mati. Allah berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ ﴿ "Dan kamu lihat bumi ini kering," diam, penuh debu-debu, tidak ada tanaman dan juga tidak ada hijau-hijauan padanya ﴾ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ ﴿ "kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu," maksudnya bergerak-gerak karena ada tumbuh-tumbuhan ﴾ وَرَبَتۡ ﴿ "dan suburlah," maksudnya menjadi semakin tinggi pasca diamnya. Yaitu dengan pertumbuhan ta-namannya ﴾ وَأَنۢبَتَتۡ مِن كُلِّ زَوۡجِۭ ﴿ "dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan," yaitu satu jenis dari jenis-jenis tumbuhan ﴾ بَهِيجٖ 5 ﴿ "yang indah," mengagumkan orang-orang yang melihat-nya dan menyenangkan orang-orang yang memandangnya. (6-7) Dua bukti kuat di atas menunjukkan lima perkara penting. Yaitu, berikut ini: ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu." Dzat yang menciptakan manusia dari bahan yang sudah Allah sebutkan ciri-nya, dan menghidupkan bumi setelah kekeringannya ﴾ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "karena Allah, Dia-lah yang haq," Rabb yang berhak diibadahi yang tidak sepantasnya ibadah diarahkan kepada selainNya. Ibadah kepadaNya-lah yang merupakan tindakan benar. Sementara ber-ibadah kepada selainNya merupakan bentuk kebatilan. ﴾ وَأَنَّهُۥ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Dan bahwa Dia-lah yang menghidupkan segala yang mati," sebagaimana Allah memulai penciptaan makhluk-makhlukNya dan menghidup-kan bumi pasca kekeringannya ﴾ وَأَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ 6 ﴿ "dan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu," sebagaimana Allah telah memper-tontonkan kepada kalian bentuk kekuasaanNya yang spesial, dan ciptaanNya yang agung yang sudah kalian saksikan ﴾ وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٞ لَّا رَيۡبَ فِيهَا ﴿ "dan bahwa Hari Kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya." Tidak ada alasan untuk menganggapnya mustahil ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ يَبۡعَثُ مَن فِي ٱلۡقُبُورِ 7 ﴿ "dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." Dia akan membalasi kalian berdasarkan amalan-amalan kalian, yang baik dan yang buruk.

Al-Hajj 22:7

"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebang-kitan (dari kubur); maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari nuthfah (setetes mani), kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu, dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjang-kan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena Allah, Dia-lah yang haq, dan bahwa Dia-lah yang menghidupkan segala yang mati, dan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Hari Kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." (Al-Hajj: 5-7). (5) Allah تعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ ﴿ "Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur)," keragu-raguan, kesangsian, serta ketidakyakinan akan kejadiannya, padahal kewajiban kalian adalah mempercayai Rabb kalian dan membenarkan para RasulNya dalam masalah itu. Akan tetapi, jika kalian menampik segalanya selain sikap ragu-ragu semata, maka ambillah dua bukti logis yang kalian saksikan. Masing-masing menunjukkan dengan bukti yang pasti kepada perkara yang kalian ragu tentangnya dan menghilangkan unsur syak pada hati-hati kalian. Pertama, pengambilan bukti melalui penciptaan manusia pertama kali, dan bahwa Dzat yang memulai penciptaannya akan (bisa) mengulanginya kembali. Allah berfirman mengenai ini,﴾ فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah," maksudnya menciptakan nenek moyang manusia, Adam عليه السلام. ﴾ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "Kemudian dari setetes air mani," yakni dari mani. Inilah per-mulaan proses penciptaan manusia. ﴾ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ﴿ "Kemudian dari segumpal darah," maksudnya air mani itu berubah menjadi darah yang merah dengan izin Allah. ﴾ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٖ ﴿ "Kemudian dari segumpal daging," maksudnya darah itu beralih wujud menjadi mudhghah, yakni segumpal daging dengan ukuran yang bisa dikunyah. Se-gumpal daging tersebut, terkadang ﴾ مُّخَلَّقَةٖ ﴿ "sempurna kejadiannya," maksudnya terbentuk bakal manusia dan terkadang ﴾ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ ﴿ "tidak sempurna," karena rahim mengeluarkannya sebelum diproses pembentukannya ﴾ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ ﴿ "agar Kami jelaskan kepadamu," asal muasal penciptaan kalian, meskipun Allah mampu menyempurna-kan penciptaannya dalam sekejap saja. Hanya saja, untuk menjelas-kan kepada kita sekalian kesempurnaan hikmahNya dan keagungan kekuasaanNya serta keluasan rahmatNya. ﴾ وَنُقِرُّ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ﴿ "Dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan," [mak-sudnya] Kami menetapkan kehamilan dalam rahim yang tidak di-campakkannya yang Kami kehendaki keberlangsungannya sampai waktu yang telah ditentukan, yaitu masa kehamilan. ﴾ ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ ﴿ "Kemudian Kami keluarkan kamu," dari perut-perut ibu kalian ﴾ طِفۡلٗا ﴿ "sebagai bayi," yang mana kalian tidak mengetahui apa pun dan kalian tidak punya kekuatan. Selanjutnya Kami mengerahkan para ibu bagi kalian dan mengadakan rizki bagi kalian melalui air susu-nya. Kemudian kalian tumbuh dari fase ke fase berikutnya sampai memasuki masa kedewasaan. Yaitu masa kematangan kekuatan dan daya pikir. ﴾ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ ﴿ "Dan di antara kamu ada yang diwafatkan," se-belum mencapai usia kedewasaan. Dan di antara kalian ada yang melewati usia tua sehingga ﴾ يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ ﴿ "dipanjangkan umurnya sampai pikun," usia yang mengenaskan dan hina, yaitu masa tua renta dan pikun, yang menyebabkan akal sehat hilang dan ber-kurang. Sebagaimana kekuatan fisiknya yang lain juga hilang dan melemah ﴾ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya," maksudnya agar orang yang dipanjangkan umurnya ini tidak mengetahui perkara-perkara yang mereka ketahui sebelumnya. Lantaran melemahnya kekuatan akal yang dimilikinya. Kekuatan seorang manusia dikeli-lingi oleh dua kelemahan:(1). Kelemahan pada masa kanak-kanak dan kekurangan padanya; (2). Kelemahan masa tua dan kekurangan padanya. Seperti yang difirmankan oleh Allah تعالى, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٖ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٖ قُوَّةٗ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٖ ضَعۡفٗا وَشَيۡبَةٗۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ 54 ﴿ "Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemu-dian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya, dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." (Ar-Rum : 54). Kedua: Menghidupkan bumi setelah mati. Allah berfirman, ﴾ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ ﴿ "Dan kamu lihat bumi ini kering," diam, penuh debu-debu, tidak ada tanaman dan juga tidak ada hijau-hijauan padanya ﴾ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ ﴿ "kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu," maksudnya bergerak-gerak karena ada tumbuh-tumbuhan ﴾ وَرَبَتۡ ﴿ "dan suburlah," maksudnya menjadi semakin tinggi pasca diamnya. Yaitu dengan pertumbuhan ta-namannya ﴾ وَأَنۢبَتَتۡ مِن كُلِّ زَوۡجِۭ ﴿ "dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan," yaitu satu jenis dari jenis-jenis tumbuhan ﴾ بَهِيجٖ 5 ﴿ "yang indah," mengagumkan orang-orang yang melihat-nya dan menyenangkan orang-orang yang memandangnya. (6-7) Dua bukti kuat di atas menunjukkan lima perkara penting. Yaitu, berikut ini: ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu." Dzat yang menciptakan manusia dari bahan yang sudah Allah sebutkan ciri-nya, dan menghidupkan bumi setelah kekeringannya ﴾ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "karena Allah, Dia-lah yang haq," Rabb yang berhak diibadahi yang tidak sepantasnya ibadah diarahkan kepada selainNya. Ibadah kepadaNya-lah yang merupakan tindakan benar. Sementara ber-ibadah kepada selainNya merupakan bentuk kebatilan. ﴾ وَأَنَّهُۥ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Dan bahwa Dia-lah yang menghidupkan segala yang mati," sebagaimana Allah memulai penciptaan makhluk-makhlukNya dan menghidup-kan bumi pasca kekeringannya ﴾ وَأَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ 6 ﴿ "dan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu," sebagaimana Allah telah memper-tontonkan kepada kalian bentuk kekuasaanNya yang spesial, dan ciptaanNya yang agung yang sudah kalian saksikan ﴾ وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٞ لَّا رَيۡبَ فِيهَا ﴿ "dan bahwa Hari Kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya." Tidak ada alasan untuk menganggapnya mustahil ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ يَبۡعَثُ مَن فِي ٱلۡقُبُورِ 7 ﴿ "dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." Dia akan membalasi kalian berdasarkan amalan-amalan kalian, yang baik dan yang buruk.

Al-Hajj 22:8

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya, dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Dia mendapat ke-hinaan di dunia, dan di Hari Kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka [yang membakar]. [Akan dikatakan kepadanya), 'Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu, dan bahwa Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hambaNya]'." (Al-Hajj: 8-10). (8) Perdebatan yang telah berlalu adalah untuk orang mu-qallid (orang yang hanya mengikuti tanpa arah). Sementara perde-batan yang sekarang ini ditujukan kepada setan jahat yang menyeru kepada bid'ah. Allah memberitahukan bahwa dia ﴾ يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ ﴿ "mem-bantah tentang Allah," maksudnya membantah para utusan Allah dan para pengikut mereka dengan dasar kebatilan untuk meng-hapuskan kebenaran ﴾ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "tanpa ilmu pengetahuan,"yang benar, ﴾ وَلَا هُدٗى ﴿ "tanpa petunjuk," maksudnya dalam perdebatannya, dia tidak mengikuti orang yang memberinya petunjuk, tidak juga mengikuti akal yang akan mengarahkannya. Dia bukanlah seorang pengikut yang mendapatkan petunjuk. ﴾ وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ 8 ﴿ "Dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya," maksudnya jelas lagi terang [artinya] ia tidak mempunyai hujjah yang logis ataupun yang berasal dari dalil naqli. (Argumentasinya) tiada lain hanya rangkaian syubhat yang diwahyukan oleh setan kepadanya. Sesungguhnya setan benar-benar mewahyukan kepada para pengikut mereka untuk mendebat kalian. (9-10) Di samping itu, dia ﴾ ثَانِيَ عِطۡفِهِۦ ﴿ "memalingkan lam-bungnya," memiringkan badan bagian samping dan lehernya. Ini merupakan sebuah kinayah (kiasan) mengenai keangkuhan mereka terhadap al-haq dan pelecehan mereka terhadap sesama manusia. Sungguh, dia merasa gembira dengan ilmunya yang tidak berguna dan merendahkan para pembela kebenaran dan kebenaran yang mereka sandang ﴾ لِيُضِلَّ ﴿ "untuk menyesatkan," orang-orang. Maksud-nya, agar dia menjadi bagian orang-orang yang mempropaganda-kan kesesatan. Termasuk dalam konteks ini, semua tokoh kekufuran dan kesesatan. Selanjutnya, Allah menerangkan hukuman duniawi dan ukhrawi (yang mesti menimpa mereka). Allah berfirman,﴾ لَهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ ﴿ "Ia mendapat kehinaan di dunia," terbukalah kedok buruknya di dunia ini sebelum di akhirat. Peristiwa ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang sangat menakjubkan. Engkau tidak akan menjumpai seorang penyeru dari kalangan propagandis kekufuran dan kesesatan me-lainkan pasti dia menerima kemarahan, kutukan, kebencian dan celaan di tengah kalangan manusia yang pantas dia terima. Masing-masing tergantung dengan keadaannya. ﴾ وَنُذِيقُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَذَابَ [ٱلۡحَرِيقِ] 9 ﴿ "Dan di Hari Kiamat, Kami merasakan kepadanya azab neraka [yang membakar]," maksudnya Kami akan menimpakan kepadanya di Hari Kiamat kelak panasnya neraka yang sangat dahsyat dan nyala apinya yang sangat tinggi. Demikian ini, lantaran amalan yang telah dia perbuat ﴾[وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيۡسَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ] 10 ﴿ "[dan bahwa Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hambaNya]."

Al-Hajj 22:9

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya, dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Dia mendapat ke-hinaan di dunia, dan di Hari Kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka [yang membakar]. [Akan dikatakan kepadanya), 'Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu, dan bahwa Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hambaNya]'." (Al-Hajj: 8-10). (8) Perdebatan yang telah berlalu adalah untuk orang mu-qallid (orang yang hanya mengikuti tanpa arah). Sementara perde-batan yang sekarang ini ditujukan kepada setan jahat yang menyeru kepada bid'ah. Allah memberitahukan bahwa dia ﴾ يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ ﴿ "mem-bantah tentang Allah," maksudnya membantah para utusan Allah dan para pengikut mereka dengan dasar kebatilan untuk meng-hapuskan kebenaran ﴾ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "tanpa ilmu pengetahuan,"yang benar, ﴾ وَلَا هُدٗى ﴿ "tanpa petunjuk," maksudnya dalam perdebatannya, dia tidak mengikuti orang yang memberinya petunjuk, tidak juga mengikuti akal yang akan mengarahkannya. Dia bukanlah seorang pengikut yang mendapatkan petunjuk. ﴾ وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ 8 ﴿ "Dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya," maksudnya jelas lagi terang [artinya] ia tidak mempunyai hujjah yang logis ataupun yang berasal dari dalil naqli. (Argumentasinya) tiada lain hanya rangkaian syubhat yang diwahyukan oleh setan kepadanya. Sesungguhnya setan benar-benar mewahyukan kepada para pengikut mereka untuk mendebat kalian. (9-10) Di samping itu, dia ﴾ ثَانِيَ عِطۡفِهِۦ ﴿ "memalingkan lam-bungnya," memiringkan badan bagian samping dan lehernya. Ini merupakan sebuah kinayah (kiasan) mengenai keangkuhan mereka terhadap al-haq dan pelecehan mereka terhadap sesama manusia. Sungguh, dia merasa gembira dengan ilmunya yang tidak berguna dan merendahkan para pembela kebenaran dan kebenaran yang mereka sandang ﴾ لِيُضِلَّ ﴿ "untuk menyesatkan," orang-orang. Maksud-nya, agar dia menjadi bagian orang-orang yang mempropaganda-kan kesesatan. Termasuk dalam konteks ini, semua tokoh kekufuran dan kesesatan. Selanjutnya, Allah menerangkan hukuman duniawi dan ukhrawi (yang mesti menimpa mereka). Allah berfirman,﴾ لَهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ ﴿ "Ia mendapat kehinaan di dunia," terbukalah kedok buruknya di dunia ini sebelum di akhirat. Peristiwa ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang sangat menakjubkan. Engkau tidak akan menjumpai seorang penyeru dari kalangan propagandis kekufuran dan kesesatan me-lainkan pasti dia menerima kemarahan, kutukan, kebencian dan celaan di tengah kalangan manusia yang pantas dia terima. Masing-masing tergantung dengan keadaannya. ﴾ وَنُذِيقُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَذَابَ [ٱلۡحَرِيقِ] 9 ﴿ "Dan di Hari Kiamat, Kami merasakan kepadanya azab neraka [yang membakar]," maksudnya Kami akan menimpakan kepadanya di Hari Kiamat kelak panasnya neraka yang sangat dahsyat dan nyala apinya yang sangat tinggi. Demikian ini, lantaran amalan yang telah dia perbuat ﴾[وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيۡسَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ] 10 ﴿ "[dan bahwa Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hambaNya]."

Al-Hajj 22:10

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya, dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Dia mendapat ke-hinaan di dunia, dan di Hari Kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka [yang membakar]. [Akan dikatakan kepadanya), 'Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu, dan bahwa Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hambaNya]'." (Al-Hajj: 8-10). (8) Perdebatan yang telah berlalu adalah untuk orang mu-qallid (orang yang hanya mengikuti tanpa arah). Sementara perde-batan yang sekarang ini ditujukan kepada setan jahat yang menyeru kepada bid'ah. Allah memberitahukan bahwa dia ﴾ يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ ﴿ "mem-bantah tentang Allah," maksudnya membantah para utusan Allah dan para pengikut mereka dengan dasar kebatilan untuk meng-hapuskan kebenaran ﴾ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "tanpa ilmu pengetahuan,"yang benar, ﴾ وَلَا هُدٗى ﴿ "tanpa petunjuk," maksudnya dalam perdebatannya, dia tidak mengikuti orang yang memberinya petunjuk, tidak juga mengikuti akal yang akan mengarahkannya. Dia bukanlah seorang pengikut yang mendapatkan petunjuk. ﴾ وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ 8 ﴿ "Dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya," maksudnya jelas lagi terang [artinya] ia tidak mempunyai hujjah yang logis ataupun yang berasal dari dalil naqli. (Argumentasinya) tiada lain hanya rangkaian syubhat yang diwahyukan oleh setan kepadanya. Sesungguhnya setan benar-benar mewahyukan kepada para pengikut mereka untuk mendebat kalian. (9-10) Di samping itu, dia ﴾ ثَانِيَ عِطۡفِهِۦ ﴿ "memalingkan lam-bungnya," memiringkan badan bagian samping dan lehernya. Ini merupakan sebuah kinayah (kiasan) mengenai keangkuhan mereka terhadap al-haq dan pelecehan mereka terhadap sesama manusia. Sungguh, dia merasa gembira dengan ilmunya yang tidak berguna dan merendahkan para pembela kebenaran dan kebenaran yang mereka sandang ﴾ لِيُضِلَّ ﴿ "untuk menyesatkan," orang-orang. Maksud-nya, agar dia menjadi bagian orang-orang yang mempropaganda-kan kesesatan. Termasuk dalam konteks ini, semua tokoh kekufuran dan kesesatan. Selanjutnya, Allah menerangkan hukuman duniawi dan ukhrawi (yang mesti menimpa mereka). Allah berfirman,﴾ لَهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ ﴿ "Ia mendapat kehinaan di dunia," terbukalah kedok buruknya di dunia ini sebelum di akhirat. Peristiwa ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang sangat menakjubkan. Engkau tidak akan menjumpai seorang penyeru dari kalangan propagandis kekufuran dan kesesatan me-lainkan pasti dia menerima kemarahan, kutukan, kebencian dan celaan di tengah kalangan manusia yang pantas dia terima. Masing-masing tergantung dengan keadaannya. ﴾ وَنُذِيقُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَذَابَ [ٱلۡحَرِيقِ] 9 ﴿ "Dan di Hari Kiamat, Kami merasakan kepadanya azab neraka [yang membakar]," maksudnya Kami akan menimpakan kepadanya di Hari Kiamat kelak panasnya neraka yang sangat dahsyat dan nyala apinya yang sangat tinggi. Demikian ini, lantaran amalan yang telah dia perbuat ﴾[وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيۡسَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ] 10 ﴿ "[dan bahwa Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hambaNya]."

Al-Hajj 22:11

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, tetap-lah dia dalam keadaan itu, dan jika dia ditimpa oleh suatu benca-na, berbaliklah dia ke belakang. Rugilah dia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Dia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. Dia menyeru sesuatu yang sebenarnya mudharatnya lebih dekat daripada manfaatnya. Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat penolong dan sejahat-jahat kawan." (Al-Hajj: 11-13). (11) Maksudnya, ada sebagian manusia yang lemah ke-imanannya. Keimanannya belum memasuki relung hatinya, dan pancaran cahayanya belum melapisinya, akan tetapi keimanan ma-suk padanya, baik lantaran rasa takut maupun (biasanya) keadaan imannya tidak teguh saat berhadapan dengan bermacam cobaan. ﴾ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ ﴿ "Maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu." Maksudnya jika (curahan) rizki kontinyu baginya dengan melimpah, tidak terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan (bencana) padanya, maka dia begitu puas dengan kebaikan ter-sebut, bukan (tenang) karena keimanannya. Orang semacam ini, mungkin saja Allah membebaskannya (dari ujian), tidak menebar fitnah baginya yang berpotensi membelokkannya dari agamanya. ﴾ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ﴿ "Dan jika dia ditimpa oleh suatu bencana," berupa peris-tiwa yang tidak baik, atau lenyapnya sesuatu yang dicintai, (maka) ﴾ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ ﴿ "berbaliklah dia ke belakang," maksudnya dia murtad (keluar) dari agamanya. ﴾ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ﴿ "Rugilah ia di dunia dan akhirat." Tentang kerugian di dunia, maka dia tidak meraih apa yang dia idam-idamkan melalui murtadnya, yang mana ia menjadi-kan (sikap) murtadnya sebagai modal dan sebagai barang barter dari angan-angan yang diduganya bisa didapatkan. Usahanya gagal. Tidak ada yang berhasil ia rengkuh melainkan bagian yang telah ditetapkan baginya. Mengenai kerugian di akhirat, maka sangat jelas. Ia terhalangi dari surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Dan dia dipastikan masuk neraka. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ 11 ﴿ "Yang demikian itu adalah ke-rugian yang nyata," yaitu yang jelas dan nyata. (12-13) ﴾ يَدۡعُواْ ﴿ "Dia menyeru," orang yang berpaling ini (menyeru) selain Allah, obyek yang tidak mampu menggulirkan manfaat ataupun mendatangkan mudharat. Inilah karakteristik se-tiap obyek yang diseru dan disembah selain Allah. Ia tidak mampu memberi kemanfaatan dan kemudharatan bagi dirinya sendiri dan pihak lain. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلۡبَعِيدُ 12 ﴿ "Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh," yang penyimpangannya sudah mencapai titik klimaks. Ia telah merubah haluan dari penyembahan terhadap Dzat yang melimpahkan kemanfaatan, yang mampu memberikan mara bahaya, Yang Mahakaya, lagi Maha Mencukupi, dengan beralih kepada penyembahan makhluk seperti dirinya atau lebih rendah dari tingkatannya. Tidak ada wewenang yang digenggam oleh tangannya. Justru dia lebih dekat kepada hasil yang bertolak-bela-kang dengan apa yang menjadi hasratnya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ يَدۡعُواْ لَمَن ضَرُّهُۥٓ أَقۡرَبُ مِن نَّفۡعِهِۦۚ ﴿ "Ia menyeru sesuatu yang sebe-narnya mudharatnya lebih dekat daripada manfaatnya." Sesungguhnya bahayanya pada akal dan jasmani, di dunia dan akhirat sudah diketahui bersama. ﴾ لَبِئۡسَ ٱلۡمَوۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat penolong," yaitu sesembahan itu ﴾ وَلَبِئۡسَ ٱلۡعَشِيرُ 13 ﴿ "dan sejahat-jahat kawan," yaitu kawan akrab yang menemani. Tujuan keberadaan pelindung dan kawan, yaitu teraihnya manfaat dan tertolaknya mudharat. Jika tidak terealisasikan sedikit pun dari hal-hal tersebut, maka hubungan itu menjadi tercela lagi tidak baik.

Al-Hajj 22:12

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, tetap-lah dia dalam keadaan itu, dan jika dia ditimpa oleh suatu benca-na, berbaliklah dia ke belakang. Rugilah dia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Dia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. Dia menyeru sesuatu yang sebenarnya mudharatnya lebih dekat daripada manfaatnya. Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat penolong dan sejahat-jahat kawan." (Al-Hajj: 11-13). (11) Maksudnya, ada sebagian manusia yang lemah ke-imanannya. Keimanannya belum memasuki relung hatinya, dan pancaran cahayanya belum melapisinya, akan tetapi keimanan ma-suk padanya, baik lantaran rasa takut maupun (biasanya) keadaan imannya tidak teguh saat berhadapan dengan bermacam cobaan. ﴾ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ ﴿ "Maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu." Maksudnya jika (curahan) rizki kontinyu baginya dengan melimpah, tidak terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan (bencana) padanya, maka dia begitu puas dengan kebaikan ter-sebut, bukan (tenang) karena keimanannya. Orang semacam ini, mungkin saja Allah membebaskannya (dari ujian), tidak menebar fitnah baginya yang berpotensi membelokkannya dari agamanya. ﴾ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ﴿ "Dan jika dia ditimpa oleh suatu bencana," berupa peris-tiwa yang tidak baik, atau lenyapnya sesuatu yang dicintai, (maka) ﴾ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ ﴿ "berbaliklah dia ke belakang," maksudnya dia murtad (keluar) dari agamanya. ﴾ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ﴿ "Rugilah ia di dunia dan akhirat." Tentang kerugian di dunia, maka dia tidak meraih apa yang dia idam-idamkan melalui murtadnya, yang mana ia menjadi-kan (sikap) murtadnya sebagai modal dan sebagai barang barter dari angan-angan yang diduganya bisa didapatkan. Usahanya gagal. Tidak ada yang berhasil ia rengkuh melainkan bagian yang telah ditetapkan baginya. Mengenai kerugian di akhirat, maka sangat jelas. Ia terhalangi dari surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Dan dia dipastikan masuk neraka. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ 11 ﴿ "Yang demikian itu adalah ke-rugian yang nyata," yaitu yang jelas dan nyata. (12-13) ﴾ يَدۡعُواْ ﴿ "Dia menyeru," orang yang berpaling ini (menyeru) selain Allah, obyek yang tidak mampu menggulirkan manfaat ataupun mendatangkan mudharat. Inilah karakteristik se-tiap obyek yang diseru dan disembah selain Allah. Ia tidak mampu memberi kemanfaatan dan kemudharatan bagi dirinya sendiri dan pihak lain. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلۡبَعِيدُ 12 ﴿ "Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh," yang penyimpangannya sudah mencapai titik klimaks. Ia telah merubah haluan dari penyembahan terhadap Dzat yang melimpahkan kemanfaatan, yang mampu memberikan mara bahaya, Yang Mahakaya, lagi Maha Mencukupi, dengan beralih kepada penyembahan makhluk seperti dirinya atau lebih rendah dari tingkatannya. Tidak ada wewenang yang digenggam oleh tangannya. Justru dia lebih dekat kepada hasil yang bertolak-bela-kang dengan apa yang menjadi hasratnya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ يَدۡعُواْ لَمَن ضَرُّهُۥٓ أَقۡرَبُ مِن نَّفۡعِهِۦۚ ﴿ "Ia menyeru sesuatu yang sebe-narnya mudharatnya lebih dekat daripada manfaatnya." Sesungguhnya bahayanya pada akal dan jasmani, di dunia dan akhirat sudah diketahui bersama. ﴾ لَبِئۡسَ ٱلۡمَوۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat penolong," yaitu sesembahan itu ﴾ وَلَبِئۡسَ ٱلۡعَشِيرُ 13 ﴿ "dan sejahat-jahat kawan," yaitu kawan akrab yang menemani. Tujuan keberadaan pelindung dan kawan, yaitu teraihnya manfaat dan tertolaknya mudharat. Jika tidak terealisasikan sedikit pun dari hal-hal tersebut, maka hubungan itu menjadi tercela lagi tidak baik.

Al-Hajj 22:13

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, tetap-lah dia dalam keadaan itu, dan jika dia ditimpa oleh suatu benca-na, berbaliklah dia ke belakang. Rugilah dia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Dia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. Dia menyeru sesuatu yang sebenarnya mudharatnya lebih dekat daripada manfaatnya. Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat penolong dan sejahat-jahat kawan." (Al-Hajj: 11-13). (11) Maksudnya, ada sebagian manusia yang lemah ke-imanannya. Keimanannya belum memasuki relung hatinya, dan pancaran cahayanya belum melapisinya, akan tetapi keimanan ma-suk padanya, baik lantaran rasa takut maupun (biasanya) keadaan imannya tidak teguh saat berhadapan dengan bermacam cobaan. ﴾ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ ﴿ "Maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu." Maksudnya jika (curahan) rizki kontinyu baginya dengan melimpah, tidak terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan (bencana) padanya, maka dia begitu puas dengan kebaikan ter-sebut, bukan (tenang) karena keimanannya. Orang semacam ini, mungkin saja Allah membebaskannya (dari ujian), tidak menebar fitnah baginya yang berpotensi membelokkannya dari agamanya. ﴾ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ﴿ "Dan jika dia ditimpa oleh suatu bencana," berupa peris-tiwa yang tidak baik, atau lenyapnya sesuatu yang dicintai, (maka) ﴾ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ ﴿ "berbaliklah dia ke belakang," maksudnya dia murtad (keluar) dari agamanya. ﴾ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ﴿ "Rugilah ia di dunia dan akhirat." Tentang kerugian di dunia, maka dia tidak meraih apa yang dia idam-idamkan melalui murtadnya, yang mana ia menjadi-kan (sikap) murtadnya sebagai modal dan sebagai barang barter dari angan-angan yang diduganya bisa didapatkan. Usahanya gagal. Tidak ada yang berhasil ia rengkuh melainkan bagian yang telah ditetapkan baginya. Mengenai kerugian di akhirat, maka sangat jelas. Ia terhalangi dari surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Dan dia dipastikan masuk neraka. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ 11 ﴿ "Yang demikian itu adalah ke-rugian yang nyata," yaitu yang jelas dan nyata. (12-13) ﴾ يَدۡعُواْ ﴿ "Dia menyeru," orang yang berpaling ini (menyeru) selain Allah, obyek yang tidak mampu menggulirkan manfaat ataupun mendatangkan mudharat. Inilah karakteristik se-tiap obyek yang diseru dan disembah selain Allah. Ia tidak mampu memberi kemanfaatan dan kemudharatan bagi dirinya sendiri dan pihak lain. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلضَّلَٰلُ ٱلۡبَعِيدُ 12 ﴿ "Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh," yang penyimpangannya sudah mencapai titik klimaks. Ia telah merubah haluan dari penyembahan terhadap Dzat yang melimpahkan kemanfaatan, yang mampu memberikan mara bahaya, Yang Mahakaya, lagi Maha Mencukupi, dengan beralih kepada penyembahan makhluk seperti dirinya atau lebih rendah dari tingkatannya. Tidak ada wewenang yang digenggam oleh tangannya. Justru dia lebih dekat kepada hasil yang bertolak-bela-kang dengan apa yang menjadi hasratnya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ يَدۡعُواْ لَمَن ضَرُّهُۥٓ أَقۡرَبُ مِن نَّفۡعِهِۦۚ ﴿ "Ia menyeru sesuatu yang sebe-narnya mudharatnya lebih dekat daripada manfaatnya." Sesungguhnya bahayanya pada akal dan jasmani, di dunia dan akhirat sudah diketahui bersama. ﴾ لَبِئۡسَ ٱلۡمَوۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat penolong," yaitu sesembahan itu ﴾ وَلَبِئۡسَ ٱلۡعَشِيرُ 13 ﴿ "dan sejahat-jahat kawan," yaitu kawan akrab yang menemani. Tujuan keberadaan pelindung dan kawan, yaitu teraihnya manfaat dan tertolaknya mudharat. Jika tidak terealisasikan sedikit pun dari hal-hal tersebut, maka hubungan itu menjadi tercela lagi tidak baik.

Al-Hajj 22:14

"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal yang shalih ke surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj: 14). (14) Usai memaparkan seluk-beluk pengumbar argumen-tasi dengan kebatilan, bahwa ia terbagi menjadi dua jenis; seorang yang muqallid (membeo) dan orang yang menyerukannya, maka Allah تعالى menyebutkan bahwa orang yang berjuluk dengan ke-imanan juga terkualifikasi menjadi dua bagian. Satu golongan, ke-imanan belum memasuki hatinya, sebagaimana telah dipaparkan. Dan golongan yang kedua, seorang Mukmin yang sejati. Keimanan-nya dibenarkan dengan (keberadaan) amalan-amalannya yang shalih. Allah memberitahukan bahwa Dia akan memasukkan me-reka ke dalam ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ﴿ "surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai." Surga dinamakan dengan sebutan jannat, karena memuat hunian-hunian, istana-istana, pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang menutupi orang-orang yang berada di bawahnya dan dapat dijadikan perlindungan lantaran kelebatannya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ 14 ﴿ "Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki," apa pun yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi, tanpa ada pihak yang menghalang-halangi atau menentang. Di antara kehendakNya adalah menempatkan penduduk surga di dalam surga. Semoga Allah menjadikan kita sekalian termasuk dari ka-langan mereka dengan karunia dan kemurahanNya.

Al-Hajj 22:15

"Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tidak menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah dia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah dia memutus-nya, kemudian hendaklah dia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya." (Al-Hajj: 15). (15) Maksudnya, barangsiapa yang menyangka Allah tidak menolong RasulNya dan agamaNya akan meredup, (ketahuilah) sesungguhnya kemenangan itu dari Allah, datang dari atas langit [﴾ فَلۡيَمۡدُدۡ بِسَبَبٍ إِلَى ٱلسَّمَآءِ ثُمَّ لۡيَقۡطَعۡ ﴿ "maka hendaklah dia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah dia memutusnya," maksudnya memutus pertolongan kemenangan dari Rasulullah] ﴾ فَلۡيَنظُرۡ هَلۡ يُذۡهِبَنَّ كَيۡدُهُۥ ﴿ "ke-mudian hendaklah dia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyap-kan," maksudnya tipu daya yang dia lancarkan dan perbuat kepada Rasulullah berupa perlawanan terhadap beliau dan ambisi untuk memberangus agama beliau yang mana telah menjadikan orang tersebut geram karena agama beliau tegak berdiri. Ini merupakan bentuk pertanyaan yang bermakna penafian. Dan sesungguhnya tidak ada orang yang bisa mengobati kejengkelannya (terhadap Islam) dengan usaha-usaha yang dia perbuat. Makna ayat yang mulia ini, wahai orang yang menentang Rasulullah, Muhammad a, yang berusaha memadamkan agama-nya, dengan kebodohannya, dia menyangka usahanya akan ber-guna, ketahuilah, bahwa usaha apa pun yang engkau lakukan dan engkau upayakan untuk memperdayai Rasulullah, maka sesung-guhnya usaha itu tidak akan menyirnakan kegeramanmu dan tidak bakal bisa mengobati dukamu. Engkau tidak mempunyai kemampuan untuk itu. Tetapi, Kami ingin mengusulkan sebuah usulan kepadamu, yang bisa memuaskan kegeramanmu terhadap Rasulullah dan memutuskan pertolongan kalau memang mungkin. Yaitu, masuklah ke dalam masalah ini melalui pintunya. Dan daki-lah menuju arahnya dengan tali-tali. Artinya, carilah tali, pelepah kurma atau lainnya, kemudian gantungkan di langit. Lantas, naik-lah sampai engkau mencapai pintu-pintu yang menjadi tempat turunnya pertolongan. Kemudian, tutuplah, kunci dan putuskan-lah. Kondisi ini akan menuntaskan kebencianmu. Inilah gagasan dan tipu daya (yang dimaksud). Sedangkan yang lainnya, jangan sampai terlintas di benakmu akan sanggup menyelesaikan kegeramanmu, kalaupun engkau dibantu oleh selu-ruh makhluk. Ayat yang mulia ini, memuat janji baik dan kabar gembira tentang pertolongan dari Allah bagi agama, RasulNya dan para hamba yang beriman, dengan sangat jelas. Juga mengandung pemangkasan harapan bagi orang-orang kafir yang ingin mema-damkan cahaya Allah melalui lidah-lidah mereka. Allah menyem-purnakan cahayaNya, walaupun orang-orang kafir membenci. Maksudnya, kendatipun mereka mengusahakan upaya-upaya yang mungkin mereka tempuh.

Al-Hajj 22:16

"Dan demikianlah Kami telah menurunkan al-Qur`an yang merupakan ayat-ayat yang nyata; dan bahwasanya Allah mem-berikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj: 16). (16) Maksudnya, begitu pula saat Kami menerangkan dalam al-Qur`an penjelasan-penjelasan yang telah Kami uraikan, Kami menjadikannya sebagai ayat-ayat yang nyata lagi terang, yang menunjukkan kepada segenap kebutuhan-kebutuhan dan permasalahan-permasalahan yang bermanfaat. Hanya saja, hidayah hanya di Tangan Allah. Siapa saja yang dikehendaki oleh Allah untuk dikaruniai hidayah, niscaya dia akan mendapatkan hidayah melalui al-Qur`an. Ia akan menjadikannya sebagai penunjuk arah dan sumber keteladanannya dan ia menerangi diri dengan cahaya-nya. Dan orang yang Allah tidak berkehendak untuk memberinya hidayah, kendatipun setiap ayat telah mendatanginya, niscaya dia tidak akan beriman. Al-Qur`an tidak bermanfaat baginya sedikit pun. Bahkan akan menjadi penggugat baginya.

Al-Hajj 22:17

"Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi'in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan se-gala sesuatu. Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar dari manusia. Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang di-hinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. De-ngan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), 'Rasakanlah azab yang membakar ini.' Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi per-hiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji." (Al-Hajj: 17-24). (17) Allah تعالى memberitahukan mengenai golongan-go-longan penduduk bumi, dari kalangan yang diberi al-Kitab, yaitu dari kalangan kaum Mukminin, Yahudi, Nasrani, kaum Shabi`in dan dari kalangan kaum Majusi serta kaum musyrikin, bahwa Allah akan menghimpun mereka seluruhnya di Hari Kiamat kelak, dan menetapkan keputusan di antara mereka dengan hukumNya yang adil, serta membalasi mereka berdasarkan amalan-amalan yan telah Allah simpan, tulis, dan saksikan. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ 17 ﴿ "Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu." (19-22) Setelah itu, Allah menjelaskan penetapan keputusan ini dengan berfirman, ﴾ هَٰذَانِ خَصۡمَانِ ٱخۡتَصَمُواْ فِي رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka." Setiap pihak mengklaim berada di atas jalan kebenaran. ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Maka orang kafir." Lafazh ini meliputi setiap orang kafir dari bangsa Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabi`in dan kaum musyrikin ﴾ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ ﴿ "akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka," maksudnya dibuatkan baju bagi mereka yang terbuat dari cairan ter, dinyalakan api pada-nya, supaya siksaan mengenai mereka secara merata dari semua sisi. ﴾ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ 19 ﴿ "Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka," yaitu air yang sangat panas sekali. ﴾ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ 20 ﴿ "Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)," seperti daging, lemak serta usus-usus, karena dahsyatnya panas dan kengerian peristiwa-nya. ﴾ وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ ﴿ "Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi," yang berada di tangan para malaikat yang kasar lagi keras. Para malaikat memukuli dan menghantam mereka dengannya. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka, niscaya mereka dikembali-kan ke dalamnya. Sehingga siksaan tidak diredakan dari mereka, dan mereka tidak mendapatkan tempo. Dikatakan kepada mereka sebagai pencelaan ﴾ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ 22 ﴿ "Rasakanlah azab yang membakar ini," yakni siksaan yang akan membakar hati dan tubuh-tubuh mereka. (23) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerja-kan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai." Dan telah diketahui bahwa ciri khas ini tidak cocok disematkan kepada selain kaum Muslimin, yang beriman kepada seluruh kitab Allah dan para RasulNya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas," maksudnya dipakaikan gelang-gelang emas di tangan-tangan mereka, kaum lelaki dan perempuan. ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 23 ﴿ "Dan pakaian mereka adalah sutra," kenikmatan mereka menjadi sempurna melalui penyebutan berbagai makanan yang lezat yang telah ter-cakup oleh makna dari kata surga-surga. Dan penyebutan sungai-sungai yang mengalir, sungai yang berisi air, susu, madu dan khamar, serta beragam sandang dan perhiasan yang mewah. (24) Demikian ini, lantaran mereka ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَى ٱلطَّيِّبِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ ﴿ "diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik," yang paling afdhal dan yang terbaik ialah kalimat ikhlas, disusul dengan perkataan-perkataan baik lain yang memuat dzikrullah atau pencurahan ke-baikan bagi sesama manusia. ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡحَمِيدِ 24 ﴿ "Dan mereka ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji," yaitu jalan yang dipuji. Hal ini karena seluruh syariat mengandung hikmah, pujian, keindahan perkara yang diperintahkan, dan keburukan perkara [yang dilarang]. Itulah agama, yang tidak mengandung ifrath (ekstrimitas) dan tafrith (penyepelean) yang berisikan ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Atau, bermakna mereka dituntun menuju jalan Allah Yang Maha Terpuji. Karena, seringkali Allah mengaitkan kata shirath kepadaNya. Pasalnya, shirath itu mengan-tarkan penitinya kepada Allah. Penyebutan kata al-Hamid (yang terpuji) di sini, untuk menjelaskan bahwa mereka bisa menggapai hidayah melalui jasa kebaikan dari Allah dan karuniaNya yang tercurahkan kepada mereka. Karena itu, mereka mengucapkan di dalam surga, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk." (Al-A'raf: 43). (18) Di tengah ayat-ayat ini, Allah تعالى menyisipkan penjelas-an mengenai sujudnya para makhluk kepadaNya, seluruh makhluk yang berada di langit dan bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, bangsa hewan yang mencakup selu-ruh binatang, dan kebanyakan dari kalangan manusia. Mereka adalah kaum Mukminin ﴾ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُۗ ﴿ "dan banyak dari manusia yang telah ditetapkan azabnya atasnya," maksudnya pasti dan telah ditetapkan lantaran kekufurannya dan tidak beriman. Allah tidak melimpahkan taufik baginya untuk menjadi orang beriman, karena Allah menghinakannya ﴾ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ ﴿ "dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya." Tidak ada yang dapat membendung apa yang diinginkan oleh Allah, dan tidak ada penentang terhadap kehendakNya. Jika semua makhluk bersujud kepada (Allah تعالى), tunduk kepada keagunganNya, merasa tak berdaya di hadapan keperkasaanNya, patuh kepada kekuasaan-Nya, maka hal ini menandakan bahwa Dia-lah semata Rabb yang berhak disembah, Raja yang terpuji (satu-satunya). Dan menunjuk-kan bahwa orang yang berpaling dariNya dengan menyembah kepada selain Allah, maka sungguh dia telah tersesat dengan ke-sesatan yang nyata, dan merugi dengan kerugian yang jelas.

Al-Hajj 22:18

"Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi'in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan se-gala sesuatu. Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar dari manusia. Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang di-hinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. De-ngan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), 'Rasakanlah azab yang membakar ini.' Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi per-hiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji." (Al-Hajj: 17-24). (17) Allah تعالى memberitahukan mengenai golongan-go-longan penduduk bumi, dari kalangan yang diberi al-Kitab, yaitu dari kalangan kaum Mukminin, Yahudi, Nasrani, kaum Shabi`in dan dari kalangan kaum Majusi serta kaum musyrikin, bahwa Allah akan menghimpun mereka seluruhnya di Hari Kiamat kelak, dan menetapkan keputusan di antara mereka dengan hukumNya yang adil, serta membalasi mereka berdasarkan amalan-amalan yan telah Allah simpan, tulis, dan saksikan. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ 17 ﴿ "Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu." (19-22) Setelah itu, Allah menjelaskan penetapan keputusan ini dengan berfirman, ﴾ هَٰذَانِ خَصۡمَانِ ٱخۡتَصَمُواْ فِي رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka." Setiap pihak mengklaim berada di atas jalan kebenaran. ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Maka orang kafir." Lafazh ini meliputi setiap orang kafir dari bangsa Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabi`in dan kaum musyrikin ﴾ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ ﴿ "akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka," maksudnya dibuatkan baju bagi mereka yang terbuat dari cairan ter, dinyalakan api pada-nya, supaya siksaan mengenai mereka secara merata dari semua sisi. ﴾ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ 19 ﴿ "Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka," yaitu air yang sangat panas sekali. ﴾ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ 20 ﴿ "Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)," seperti daging, lemak serta usus-usus, karena dahsyatnya panas dan kengerian peristiwa-nya. ﴾ وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ ﴿ "Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi," yang berada di tangan para malaikat yang kasar lagi keras. Para malaikat memukuli dan menghantam mereka dengannya. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka, niscaya mereka dikembali-kan ke dalamnya. Sehingga siksaan tidak diredakan dari mereka, dan mereka tidak mendapatkan tempo. Dikatakan kepada mereka sebagai pencelaan ﴾ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ 22 ﴿ "Rasakanlah azab yang membakar ini," yakni siksaan yang akan membakar hati dan tubuh-tubuh mereka. (23) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerja-kan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai." Dan telah diketahui bahwa ciri khas ini tidak cocok disematkan kepada selain kaum Muslimin, yang beriman kepada seluruh kitab Allah dan para RasulNya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas," maksudnya dipakaikan gelang-gelang emas di tangan-tangan mereka, kaum lelaki dan perempuan. ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 23 ﴿ "Dan pakaian mereka adalah sutra," kenikmatan mereka menjadi sempurna melalui penyebutan berbagai makanan yang lezat yang telah ter-cakup oleh makna dari kata surga-surga. Dan penyebutan sungai-sungai yang mengalir, sungai yang berisi air, susu, madu dan khamar, serta beragam sandang dan perhiasan yang mewah. (24) Demikian ini, lantaran mereka ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَى ٱلطَّيِّبِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ ﴿ "diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik," yang paling afdhal dan yang terbaik ialah kalimat ikhlas, disusul dengan perkataan-perkataan baik lain yang memuat dzikrullah atau pencurahan ke-baikan bagi sesama manusia. ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡحَمِيدِ 24 ﴿ "Dan mereka ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji," yaitu jalan yang dipuji. Hal ini karena seluruh syariat mengandung hikmah, pujian, keindahan perkara yang diperintahkan, dan keburukan perkara [yang dilarang]. Itulah agama, yang tidak mengandung ifrath (ekstrimitas) dan tafrith (penyepelean) yang berisikan ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Atau, bermakna mereka dituntun menuju jalan Allah Yang Maha Terpuji. Karena, seringkali Allah mengaitkan kata shirath kepadaNya. Pasalnya, shirath itu mengan-tarkan penitinya kepada Allah. Penyebutan kata al-Hamid (yang terpuji) di sini, untuk menjelaskan bahwa mereka bisa menggapai hidayah melalui jasa kebaikan dari Allah dan karuniaNya yang tercurahkan kepada mereka. Karena itu, mereka mengucapkan di dalam surga, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk." (Al-A'raf: 43). (18) Di tengah ayat-ayat ini, Allah تعالى menyisipkan penjelas-an mengenai sujudnya para makhluk kepadaNya, seluruh makhluk yang berada di langit dan bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, bangsa hewan yang mencakup selu-ruh binatang, dan kebanyakan dari kalangan manusia. Mereka adalah kaum Mukminin ﴾ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُۗ ﴿ "dan banyak dari manusia yang telah ditetapkan azabnya atasnya," maksudnya pasti dan telah ditetapkan lantaran kekufurannya dan tidak beriman. Allah tidak melimpahkan taufik baginya untuk menjadi orang beriman, karena Allah menghinakannya ﴾ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ ﴿ "dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya." Tidak ada yang dapat membendung apa yang diinginkan oleh Allah, dan tidak ada penentang terhadap kehendakNya. Jika semua makhluk bersujud kepada (Allah تعالى), tunduk kepada keagunganNya, merasa tak berdaya di hadapan keperkasaanNya, patuh kepada kekuasaan-Nya, maka hal ini menandakan bahwa Dia-lah semata Rabb yang berhak disembah, Raja yang terpuji (satu-satunya). Dan menunjuk-kan bahwa orang yang berpaling dariNya dengan menyembah kepada selain Allah, maka sungguh dia telah tersesat dengan ke-sesatan yang nyata, dan merugi dengan kerugian yang jelas.

Al-Hajj 22:19

"Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi'in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan se-gala sesuatu. Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar dari manusia. Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang di-hinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. De-ngan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), 'Rasakanlah azab yang membakar ini.' Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi per-hiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji." (Al-Hajj: 17-24). (17) Allah تعالى memberitahukan mengenai golongan-go-longan penduduk bumi, dari kalangan yang diberi al-Kitab, yaitu dari kalangan kaum Mukminin, Yahudi, Nasrani, kaum Shabi`in dan dari kalangan kaum Majusi serta kaum musyrikin, bahwa Allah akan menghimpun mereka seluruhnya di Hari Kiamat kelak, dan menetapkan keputusan di antara mereka dengan hukumNya yang adil, serta membalasi mereka berdasarkan amalan-amalan yan telah Allah simpan, tulis, dan saksikan. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ 17 ﴿ "Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu." (19-22) Setelah itu, Allah menjelaskan penetapan keputusan ini dengan berfirman, ﴾ هَٰذَانِ خَصۡمَانِ ٱخۡتَصَمُواْ فِي رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka." Setiap pihak mengklaim berada di atas jalan kebenaran. ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Maka orang kafir." Lafazh ini meliputi setiap orang kafir dari bangsa Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabi`in dan kaum musyrikin ﴾ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ ﴿ "akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka," maksudnya dibuatkan baju bagi mereka yang terbuat dari cairan ter, dinyalakan api pada-nya, supaya siksaan mengenai mereka secara merata dari semua sisi. ﴾ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ 19 ﴿ "Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka," yaitu air yang sangat panas sekali. ﴾ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ 20 ﴿ "Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)," seperti daging, lemak serta usus-usus, karena dahsyatnya panas dan kengerian peristiwa-nya. ﴾ وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ ﴿ "Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi," yang berada di tangan para malaikat yang kasar lagi keras. Para malaikat memukuli dan menghantam mereka dengannya. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka, niscaya mereka dikembali-kan ke dalamnya. Sehingga siksaan tidak diredakan dari mereka, dan mereka tidak mendapatkan tempo. Dikatakan kepada mereka sebagai pencelaan ﴾ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ 22 ﴿ "Rasakanlah azab yang membakar ini," yakni siksaan yang akan membakar hati dan tubuh-tubuh mereka. (23) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerja-kan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai." Dan telah diketahui bahwa ciri khas ini tidak cocok disematkan kepada selain kaum Muslimin, yang beriman kepada seluruh kitab Allah dan para RasulNya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas," maksudnya dipakaikan gelang-gelang emas di tangan-tangan mereka, kaum lelaki dan perempuan. ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 23 ﴿ "Dan pakaian mereka adalah sutra," kenikmatan mereka menjadi sempurna melalui penyebutan berbagai makanan yang lezat yang telah ter-cakup oleh makna dari kata surga-surga. Dan penyebutan sungai-sungai yang mengalir, sungai yang berisi air, susu, madu dan khamar, serta beragam sandang dan perhiasan yang mewah. (24) Demikian ini, lantaran mereka ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَى ٱلطَّيِّبِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ ﴿ "diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik," yang paling afdhal dan yang terbaik ialah kalimat ikhlas, disusul dengan perkataan-perkataan baik lain yang memuat dzikrullah atau pencurahan ke-baikan bagi sesama manusia. ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡحَمِيدِ 24 ﴿ "Dan mereka ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji," yaitu jalan yang dipuji. Hal ini karena seluruh syariat mengandung hikmah, pujian, keindahan perkara yang diperintahkan, dan keburukan perkara [yang dilarang]. Itulah agama, yang tidak mengandung ifrath (ekstrimitas) dan tafrith (penyepelean) yang berisikan ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Atau, bermakna mereka dituntun menuju jalan Allah Yang Maha Terpuji. Karena, seringkali Allah mengaitkan kata shirath kepadaNya. Pasalnya, shirath itu mengan-tarkan penitinya kepada Allah. Penyebutan kata al-Hamid (yang terpuji) di sini, untuk menjelaskan bahwa mereka bisa menggapai hidayah melalui jasa kebaikan dari Allah dan karuniaNya yang tercurahkan kepada mereka. Karena itu, mereka mengucapkan di dalam surga, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk." (Al-A'raf: 43). (18) Di tengah ayat-ayat ini, Allah تعالى menyisipkan penjelas-an mengenai sujudnya para makhluk kepadaNya, seluruh makhluk yang berada di langit dan bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, bangsa hewan yang mencakup selu-ruh binatang, dan kebanyakan dari kalangan manusia. Mereka adalah kaum Mukminin ﴾ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُۗ ﴿ "dan banyak dari manusia yang telah ditetapkan azabnya atasnya," maksudnya pasti dan telah ditetapkan lantaran kekufurannya dan tidak beriman. Allah tidak melimpahkan taufik baginya untuk menjadi orang beriman, karena Allah menghinakannya ﴾ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ ﴿ "dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya." Tidak ada yang dapat membendung apa yang diinginkan oleh Allah, dan tidak ada penentang terhadap kehendakNya. Jika semua makhluk bersujud kepada (Allah تعالى), tunduk kepada keagunganNya, merasa tak berdaya di hadapan keperkasaanNya, patuh kepada kekuasaan-Nya, maka hal ini menandakan bahwa Dia-lah semata Rabb yang berhak disembah, Raja yang terpuji (satu-satunya). Dan menunjuk-kan bahwa orang yang berpaling dariNya dengan menyembah kepada selain Allah, maka sungguh dia telah tersesat dengan ke-sesatan yang nyata, dan merugi dengan kerugian yang jelas.

Al-Hajj 22:20

"Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi'in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan se-gala sesuatu. Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar dari manusia. Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang di-hinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. De-ngan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), 'Rasakanlah azab yang membakar ini.' Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi per-hiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji." (Al-Hajj: 17-24). (17) Allah تعالى memberitahukan mengenai golongan-go-longan penduduk bumi, dari kalangan yang diberi al-Kitab, yaitu dari kalangan kaum Mukminin, Yahudi, Nasrani, kaum Shabi`in dan dari kalangan kaum Majusi serta kaum musyrikin, bahwa Allah akan menghimpun mereka seluruhnya di Hari Kiamat kelak, dan menetapkan keputusan di antara mereka dengan hukumNya yang adil, serta membalasi mereka berdasarkan amalan-amalan yan telah Allah simpan, tulis, dan saksikan. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ 17 ﴿ "Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu." (19-22) Setelah itu, Allah menjelaskan penetapan keputusan ini dengan berfirman, ﴾ هَٰذَانِ خَصۡمَانِ ٱخۡتَصَمُواْ فِي رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka." Setiap pihak mengklaim berada di atas jalan kebenaran. ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Maka orang kafir." Lafazh ini meliputi setiap orang kafir dari bangsa Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabi`in dan kaum musyrikin ﴾ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ ﴿ "akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka," maksudnya dibuatkan baju bagi mereka yang terbuat dari cairan ter, dinyalakan api pada-nya, supaya siksaan mengenai mereka secara merata dari semua sisi. ﴾ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ 19 ﴿ "Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka," yaitu air yang sangat panas sekali. ﴾ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ 20 ﴿ "Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)," seperti daging, lemak serta usus-usus, karena dahsyatnya panas dan kengerian peristiwa-nya. ﴾ وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ ﴿ "Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi," yang berada di tangan para malaikat yang kasar lagi keras. Para malaikat memukuli dan menghantam mereka dengannya. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka, niscaya mereka dikembali-kan ke dalamnya. Sehingga siksaan tidak diredakan dari mereka, dan mereka tidak mendapatkan tempo. Dikatakan kepada mereka sebagai pencelaan ﴾ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ 22 ﴿ "Rasakanlah azab yang membakar ini," yakni siksaan yang akan membakar hati dan tubuh-tubuh mereka. (23) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerja-kan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai." Dan telah diketahui bahwa ciri khas ini tidak cocok disematkan kepada selain kaum Muslimin, yang beriman kepada seluruh kitab Allah dan para RasulNya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas," maksudnya dipakaikan gelang-gelang emas di tangan-tangan mereka, kaum lelaki dan perempuan. ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 23 ﴿ "Dan pakaian mereka adalah sutra," kenikmatan mereka menjadi sempurna melalui penyebutan berbagai makanan yang lezat yang telah ter-cakup oleh makna dari kata surga-surga. Dan penyebutan sungai-sungai yang mengalir, sungai yang berisi air, susu, madu dan khamar, serta beragam sandang dan perhiasan yang mewah. (24) Demikian ini, lantaran mereka ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَى ٱلطَّيِّبِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ ﴿ "diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik," yang paling afdhal dan yang terbaik ialah kalimat ikhlas, disusul dengan perkataan-perkataan baik lain yang memuat dzikrullah atau pencurahan ke-baikan bagi sesama manusia. ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡحَمِيدِ 24 ﴿ "Dan mereka ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji," yaitu jalan yang dipuji. Hal ini karena seluruh syariat mengandung hikmah, pujian, keindahan perkara yang diperintahkan, dan keburukan perkara [yang dilarang]. Itulah agama, yang tidak mengandung ifrath (ekstrimitas) dan tafrith (penyepelean) yang berisikan ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Atau, bermakna mereka dituntun menuju jalan Allah Yang Maha Terpuji. Karena, seringkali Allah mengaitkan kata shirath kepadaNya. Pasalnya, shirath itu mengan-tarkan penitinya kepada Allah. Penyebutan kata al-Hamid (yang terpuji) di sini, untuk menjelaskan bahwa mereka bisa menggapai hidayah melalui jasa kebaikan dari Allah dan karuniaNya yang tercurahkan kepada mereka. Karena itu, mereka mengucapkan di dalam surga, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk." (Al-A'raf: 43). (18) Di tengah ayat-ayat ini, Allah تعالى menyisipkan penjelas-an mengenai sujudnya para makhluk kepadaNya, seluruh makhluk yang berada di langit dan bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, bangsa hewan yang mencakup selu-ruh binatang, dan kebanyakan dari kalangan manusia. Mereka adalah kaum Mukminin ﴾ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُۗ ﴿ "dan banyak dari manusia yang telah ditetapkan azabnya atasnya," maksudnya pasti dan telah ditetapkan lantaran kekufurannya dan tidak beriman. Allah tidak melimpahkan taufik baginya untuk menjadi orang beriman, karena Allah menghinakannya ﴾ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ ﴿ "dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya." Tidak ada yang dapat membendung apa yang diinginkan oleh Allah, dan tidak ada penentang terhadap kehendakNya. Jika semua makhluk bersujud kepada (Allah تعالى), tunduk kepada keagunganNya, merasa tak berdaya di hadapan keperkasaanNya, patuh kepada kekuasaan-Nya, maka hal ini menandakan bahwa Dia-lah semata Rabb yang berhak disembah, Raja yang terpuji (satu-satunya). Dan menunjuk-kan bahwa orang yang berpaling dariNya dengan menyembah kepada selain Allah, maka sungguh dia telah tersesat dengan ke-sesatan yang nyata, dan merugi dengan kerugian yang jelas.

Al-Hajj 22:21

"Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi'in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan se-gala sesuatu. Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar dari manusia. Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang di-hinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. De-ngan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), 'Rasakanlah azab yang membakar ini.' Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi per-hiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji." (Al-Hajj: 17-24). (17) Allah تعالى memberitahukan mengenai golongan-go-longan penduduk bumi, dari kalangan yang diberi al-Kitab, yaitu dari kalangan kaum Mukminin, Yahudi, Nasrani, kaum Shabi`in dan dari kalangan kaum Majusi serta kaum musyrikin, bahwa Allah akan menghimpun mereka seluruhnya di Hari Kiamat kelak, dan menetapkan keputusan di antara mereka dengan hukumNya yang adil, serta membalasi mereka berdasarkan amalan-amalan yan telah Allah simpan, tulis, dan saksikan. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ 17 ﴿ "Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu." (19-22) Setelah itu, Allah menjelaskan penetapan keputusan ini dengan berfirman, ﴾ هَٰذَانِ خَصۡمَانِ ٱخۡتَصَمُواْ فِي رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka." Setiap pihak mengklaim berada di atas jalan kebenaran. ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Maka orang kafir." Lafazh ini meliputi setiap orang kafir dari bangsa Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabi`in dan kaum musyrikin ﴾ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ ﴿ "akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka," maksudnya dibuatkan baju bagi mereka yang terbuat dari cairan ter, dinyalakan api pada-nya, supaya siksaan mengenai mereka secara merata dari semua sisi. ﴾ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ 19 ﴿ "Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka," yaitu air yang sangat panas sekali. ﴾ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ 20 ﴿ "Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)," seperti daging, lemak serta usus-usus, karena dahsyatnya panas dan kengerian peristiwa-nya. ﴾ وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ ﴿ "Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi," yang berada di tangan para malaikat yang kasar lagi keras. Para malaikat memukuli dan menghantam mereka dengannya. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka, niscaya mereka dikembali-kan ke dalamnya. Sehingga siksaan tidak diredakan dari mereka, dan mereka tidak mendapatkan tempo. Dikatakan kepada mereka sebagai pencelaan ﴾ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ 22 ﴿ "Rasakanlah azab yang membakar ini," yakni siksaan yang akan membakar hati dan tubuh-tubuh mereka. (23) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerja-kan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai." Dan telah diketahui bahwa ciri khas ini tidak cocok disematkan kepada selain kaum Muslimin, yang beriman kepada seluruh kitab Allah dan para RasulNya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas," maksudnya dipakaikan gelang-gelang emas di tangan-tangan mereka, kaum lelaki dan perempuan. ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 23 ﴿ "Dan pakaian mereka adalah sutra," kenikmatan mereka menjadi sempurna melalui penyebutan berbagai makanan yang lezat yang telah ter-cakup oleh makna dari kata surga-surga. Dan penyebutan sungai-sungai yang mengalir, sungai yang berisi air, susu, madu dan khamar, serta beragam sandang dan perhiasan yang mewah. (24) Demikian ini, lantaran mereka ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَى ٱلطَّيِّبِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ ﴿ "diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik," yang paling afdhal dan yang terbaik ialah kalimat ikhlas, disusul dengan perkataan-perkataan baik lain yang memuat dzikrullah atau pencurahan ke-baikan bagi sesama manusia. ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡحَمِيدِ 24 ﴿ "Dan mereka ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji," yaitu jalan yang dipuji. Hal ini karena seluruh syariat mengandung hikmah, pujian, keindahan perkara yang diperintahkan, dan keburukan perkara [yang dilarang]. Itulah agama, yang tidak mengandung ifrath (ekstrimitas) dan tafrith (penyepelean) yang berisikan ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Atau, bermakna mereka dituntun menuju jalan Allah Yang Maha Terpuji. Karena, seringkali Allah mengaitkan kata shirath kepadaNya. Pasalnya, shirath itu mengan-tarkan penitinya kepada Allah. Penyebutan kata al-Hamid (yang terpuji) di sini, untuk menjelaskan bahwa mereka bisa menggapai hidayah melalui jasa kebaikan dari Allah dan karuniaNya yang tercurahkan kepada mereka. Karena itu, mereka mengucapkan di dalam surga, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk." (Al-A'raf: 43). (18) Di tengah ayat-ayat ini, Allah تعالى menyisipkan penjelas-an mengenai sujudnya para makhluk kepadaNya, seluruh makhluk yang berada di langit dan bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, bangsa hewan yang mencakup selu-ruh binatang, dan kebanyakan dari kalangan manusia. Mereka adalah kaum Mukminin ﴾ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُۗ ﴿ "dan banyak dari manusia yang telah ditetapkan azabnya atasnya," maksudnya pasti dan telah ditetapkan lantaran kekufurannya dan tidak beriman. Allah tidak melimpahkan taufik baginya untuk menjadi orang beriman, karena Allah menghinakannya ﴾ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ ﴿ "dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya." Tidak ada yang dapat membendung apa yang diinginkan oleh Allah, dan tidak ada penentang terhadap kehendakNya. Jika semua makhluk bersujud kepada (Allah تعالى), tunduk kepada keagunganNya, merasa tak berdaya di hadapan keperkasaanNya, patuh kepada kekuasaan-Nya, maka hal ini menandakan bahwa Dia-lah semata Rabb yang berhak disembah, Raja yang terpuji (satu-satunya). Dan menunjuk-kan bahwa orang yang berpaling dariNya dengan menyembah kepada selain Allah, maka sungguh dia telah tersesat dengan ke-sesatan yang nyata, dan merugi dengan kerugian yang jelas.

Al-Hajj 22:22

"Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi'in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan se-gala sesuatu. Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar dari manusia. Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang di-hinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. De-ngan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), 'Rasakanlah azab yang membakar ini.' Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi per-hiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji." (Al-Hajj: 17-24). (17) Allah تعالى memberitahukan mengenai golongan-go-longan penduduk bumi, dari kalangan yang diberi al-Kitab, yaitu dari kalangan kaum Mukminin, Yahudi, Nasrani, kaum Shabi`in dan dari kalangan kaum Majusi serta kaum musyrikin, bahwa Allah akan menghimpun mereka seluruhnya di Hari Kiamat kelak, dan menetapkan keputusan di antara mereka dengan hukumNya yang adil, serta membalasi mereka berdasarkan amalan-amalan yan telah Allah simpan, tulis, dan saksikan. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ 17 ﴿ "Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu." (19-22) Setelah itu, Allah menjelaskan penetapan keputusan ini dengan berfirman, ﴾ هَٰذَانِ خَصۡمَانِ ٱخۡتَصَمُواْ فِي رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka." Setiap pihak mengklaim berada di atas jalan kebenaran. ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Maka orang kafir." Lafazh ini meliputi setiap orang kafir dari bangsa Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabi`in dan kaum musyrikin ﴾ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ ﴿ "akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka," maksudnya dibuatkan baju bagi mereka yang terbuat dari cairan ter, dinyalakan api pada-nya, supaya siksaan mengenai mereka secara merata dari semua sisi. ﴾ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ 19 ﴿ "Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka," yaitu air yang sangat panas sekali. ﴾ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ 20 ﴿ "Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)," seperti daging, lemak serta usus-usus, karena dahsyatnya panas dan kengerian peristiwa-nya. ﴾ وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ ﴿ "Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi," yang berada di tangan para malaikat yang kasar lagi keras. Para malaikat memukuli dan menghantam mereka dengannya. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka, niscaya mereka dikembali-kan ke dalamnya. Sehingga siksaan tidak diredakan dari mereka, dan mereka tidak mendapatkan tempo. Dikatakan kepada mereka sebagai pencelaan ﴾ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ 22 ﴿ "Rasakanlah azab yang membakar ini," yakni siksaan yang akan membakar hati dan tubuh-tubuh mereka. (23) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerja-kan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai." Dan telah diketahui bahwa ciri khas ini tidak cocok disematkan kepada selain kaum Muslimin, yang beriman kepada seluruh kitab Allah dan para RasulNya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas," maksudnya dipakaikan gelang-gelang emas di tangan-tangan mereka, kaum lelaki dan perempuan. ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 23 ﴿ "Dan pakaian mereka adalah sutra," kenikmatan mereka menjadi sempurna melalui penyebutan berbagai makanan yang lezat yang telah ter-cakup oleh makna dari kata surga-surga. Dan penyebutan sungai-sungai yang mengalir, sungai yang berisi air, susu, madu dan khamar, serta beragam sandang dan perhiasan yang mewah. (24) Demikian ini, lantaran mereka ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَى ٱلطَّيِّبِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ ﴿ "diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik," yang paling afdhal dan yang terbaik ialah kalimat ikhlas, disusul dengan perkataan-perkataan baik lain yang memuat dzikrullah atau pencurahan ke-baikan bagi sesama manusia. ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡحَمِيدِ 24 ﴿ "Dan mereka ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji," yaitu jalan yang dipuji. Hal ini karena seluruh syariat mengandung hikmah, pujian, keindahan perkara yang diperintahkan, dan keburukan perkara [yang dilarang]. Itulah agama, yang tidak mengandung ifrath (ekstrimitas) dan tafrith (penyepelean) yang berisikan ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Atau, bermakna mereka dituntun menuju jalan Allah Yang Maha Terpuji. Karena, seringkali Allah mengaitkan kata shirath kepadaNya. Pasalnya, shirath itu mengan-tarkan penitinya kepada Allah. Penyebutan kata al-Hamid (yang terpuji) di sini, untuk menjelaskan bahwa mereka bisa menggapai hidayah melalui jasa kebaikan dari Allah dan karuniaNya yang tercurahkan kepada mereka. Karena itu, mereka mengucapkan di dalam surga, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk." (Al-A'raf: 43). (18) Di tengah ayat-ayat ini, Allah تعالى menyisipkan penjelas-an mengenai sujudnya para makhluk kepadaNya, seluruh makhluk yang berada di langit dan bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, bangsa hewan yang mencakup selu-ruh binatang, dan kebanyakan dari kalangan manusia. Mereka adalah kaum Mukminin ﴾ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُۗ ﴿ "dan banyak dari manusia yang telah ditetapkan azabnya atasnya," maksudnya pasti dan telah ditetapkan lantaran kekufurannya dan tidak beriman. Allah tidak melimpahkan taufik baginya untuk menjadi orang beriman, karena Allah menghinakannya ﴾ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ ﴿ "dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya." Tidak ada yang dapat membendung apa yang diinginkan oleh Allah, dan tidak ada penentang terhadap kehendakNya. Jika semua makhluk bersujud kepada (Allah تعالى), tunduk kepada keagunganNya, merasa tak berdaya di hadapan keperkasaanNya, patuh kepada kekuasaan-Nya, maka hal ini menandakan bahwa Dia-lah semata Rabb yang berhak disembah, Raja yang terpuji (satu-satunya). Dan menunjuk-kan bahwa orang yang berpaling dariNya dengan menyembah kepada selain Allah, maka sungguh dia telah tersesat dengan ke-sesatan yang nyata, dan merugi dengan kerugian yang jelas.

Al-Hajj 22:23

"Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi'in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan se-gala sesuatu. Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar dari manusia. Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang di-hinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. De-ngan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), 'Rasakanlah azab yang membakar ini.' Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi per-hiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji." (Al-Hajj: 17-24). (17) Allah تعالى memberitahukan mengenai golongan-go-longan penduduk bumi, dari kalangan yang diberi al-Kitab, yaitu dari kalangan kaum Mukminin, Yahudi, Nasrani, kaum Shabi`in dan dari kalangan kaum Majusi serta kaum musyrikin, bahwa Allah akan menghimpun mereka seluruhnya di Hari Kiamat kelak, dan menetapkan keputusan di antara mereka dengan hukumNya yang adil, serta membalasi mereka berdasarkan amalan-amalan yan telah Allah simpan, tulis, dan saksikan. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ 17 ﴿ "Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu." (19-22) Setelah itu, Allah menjelaskan penetapan keputusan ini dengan berfirman, ﴾ هَٰذَانِ خَصۡمَانِ ٱخۡتَصَمُواْ فِي رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka." Setiap pihak mengklaim berada di atas jalan kebenaran. ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Maka orang kafir." Lafazh ini meliputi setiap orang kafir dari bangsa Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabi`in dan kaum musyrikin ﴾ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ ﴿ "akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka," maksudnya dibuatkan baju bagi mereka yang terbuat dari cairan ter, dinyalakan api pada-nya, supaya siksaan mengenai mereka secara merata dari semua sisi. ﴾ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ 19 ﴿ "Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka," yaitu air yang sangat panas sekali. ﴾ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ 20 ﴿ "Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)," seperti daging, lemak serta usus-usus, karena dahsyatnya panas dan kengerian peristiwa-nya. ﴾ وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ ﴿ "Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi," yang berada di tangan para malaikat yang kasar lagi keras. Para malaikat memukuli dan menghantam mereka dengannya. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka, niscaya mereka dikembali-kan ke dalamnya. Sehingga siksaan tidak diredakan dari mereka, dan mereka tidak mendapatkan tempo. Dikatakan kepada mereka sebagai pencelaan ﴾ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ 22 ﴿ "Rasakanlah azab yang membakar ini," yakni siksaan yang akan membakar hati dan tubuh-tubuh mereka. (23) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerja-kan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai." Dan telah diketahui bahwa ciri khas ini tidak cocok disematkan kepada selain kaum Muslimin, yang beriman kepada seluruh kitab Allah dan para RasulNya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas," maksudnya dipakaikan gelang-gelang emas di tangan-tangan mereka, kaum lelaki dan perempuan. ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 23 ﴿ "Dan pakaian mereka adalah sutra," kenikmatan mereka menjadi sempurna melalui penyebutan berbagai makanan yang lezat yang telah ter-cakup oleh makna dari kata surga-surga. Dan penyebutan sungai-sungai yang mengalir, sungai yang berisi air, susu, madu dan khamar, serta beragam sandang dan perhiasan yang mewah. (24) Demikian ini, lantaran mereka ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَى ٱلطَّيِّبِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ ﴿ "diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik," yang paling afdhal dan yang terbaik ialah kalimat ikhlas, disusul dengan perkataan-perkataan baik lain yang memuat dzikrullah atau pencurahan ke-baikan bagi sesama manusia. ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡحَمِيدِ 24 ﴿ "Dan mereka ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji," yaitu jalan yang dipuji. Hal ini karena seluruh syariat mengandung hikmah, pujian, keindahan perkara yang diperintahkan, dan keburukan perkara [yang dilarang]. Itulah agama, yang tidak mengandung ifrath (ekstrimitas) dan tafrith (penyepelean) yang berisikan ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Atau, bermakna mereka dituntun menuju jalan Allah Yang Maha Terpuji. Karena, seringkali Allah mengaitkan kata shirath kepadaNya. Pasalnya, shirath itu mengan-tarkan penitinya kepada Allah. Penyebutan kata al-Hamid (yang terpuji) di sini, untuk menjelaskan bahwa mereka bisa menggapai hidayah melalui jasa kebaikan dari Allah dan karuniaNya yang tercurahkan kepada mereka. Karena itu, mereka mengucapkan di dalam surga, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk." (Al-A'raf: 43). (18) Di tengah ayat-ayat ini, Allah تعالى menyisipkan penjelas-an mengenai sujudnya para makhluk kepadaNya, seluruh makhluk yang berada di langit dan bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, bangsa hewan yang mencakup selu-ruh binatang, dan kebanyakan dari kalangan manusia. Mereka adalah kaum Mukminin ﴾ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُۗ ﴿ "dan banyak dari manusia yang telah ditetapkan azabnya atasnya," maksudnya pasti dan telah ditetapkan lantaran kekufurannya dan tidak beriman. Allah tidak melimpahkan taufik baginya untuk menjadi orang beriman, karena Allah menghinakannya ﴾ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ ﴿ "dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya." Tidak ada yang dapat membendung apa yang diinginkan oleh Allah, dan tidak ada penentang terhadap kehendakNya. Jika semua makhluk bersujud kepada (Allah تعالى), tunduk kepada keagunganNya, merasa tak berdaya di hadapan keperkasaanNya, patuh kepada kekuasaan-Nya, maka hal ini menandakan bahwa Dia-lah semata Rabb yang berhak disembah, Raja yang terpuji (satu-satunya). Dan menunjuk-kan bahwa orang yang berpaling dariNya dengan menyembah kepada selain Allah, maka sungguh dia telah tersesat dengan ke-sesatan yang nyata, dan merugi dengan kerugian yang jelas.

Al-Hajj 22:24

"Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi'in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan se-gala sesuatu. Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar dari manusia. Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang di-hinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. De-ngan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), 'Rasakanlah azab yang membakar ini.' Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi per-hiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji." (Al-Hajj: 17-24). (17) Allah تعالى memberitahukan mengenai golongan-go-longan penduduk bumi, dari kalangan yang diberi al-Kitab, yaitu dari kalangan kaum Mukminin, Yahudi, Nasrani, kaum Shabi`in dan dari kalangan kaum Majusi serta kaum musyrikin, bahwa Allah akan menghimpun mereka seluruhnya di Hari Kiamat kelak, dan menetapkan keputusan di antara mereka dengan hukumNya yang adil, serta membalasi mereka berdasarkan amalan-amalan yan telah Allah simpan, tulis, dan saksikan. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ 17 ﴿ "Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu." (19-22) Setelah itu, Allah menjelaskan penetapan keputusan ini dengan berfirman, ﴾ هَٰذَانِ خَصۡمَانِ ٱخۡتَصَمُواْ فِي رَبِّهِمۡۖ ﴿ "Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka." Setiap pihak mengklaim berada di atas jalan kebenaran. ﴾ فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Maka orang kafir." Lafazh ini meliputi setiap orang kafir dari bangsa Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabi`in dan kaum musyrikin ﴾ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٞ مِّن نَّارٖ ﴿ "akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka," maksudnya dibuatkan baju bagi mereka yang terbuat dari cairan ter, dinyalakan api pada-nya, supaya siksaan mengenai mereka secara merata dari semua sisi. ﴾ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيمُ 19 ﴿ "Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka," yaitu air yang sangat panas sekali. ﴾ يُصۡهَرُ بِهِۦ مَا فِي بُطُونِهِمۡ وَٱلۡجُلُودُ 20 ﴿ "Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)," seperti daging, lemak serta usus-usus, karena dahsyatnya panas dan kengerian peristiwa-nya. ﴾ وَلَهُم مَّقَٰمِعُ مِنۡ حَدِيدٖ ﴿ "Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi," yang berada di tangan para malaikat yang kasar lagi keras. Para malaikat memukuli dan menghantam mereka dengannya. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka, niscaya mereka dikembali-kan ke dalamnya. Sehingga siksaan tidak diredakan dari mereka, dan mereka tidak mendapatkan tempo. Dikatakan kepada mereka sebagai pencelaan ﴾ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ 22 ﴿ "Rasakanlah azab yang membakar ini," yakni siksaan yang akan membakar hati dan tubuh-tubuh mereka. (23) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerja-kan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai." Dan telah diketahui bahwa ciri khas ini tidak cocok disematkan kepada selain kaum Muslimin, yang beriman kepada seluruh kitab Allah dan para RasulNya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas," maksudnya dipakaikan gelang-gelang emas di tangan-tangan mereka, kaum lelaki dan perempuan. ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ 23 ﴿ "Dan pakaian mereka adalah sutra," kenikmatan mereka menjadi sempurna melalui penyebutan berbagai makanan yang lezat yang telah ter-cakup oleh makna dari kata surga-surga. Dan penyebutan sungai-sungai yang mengalir, sungai yang berisi air, susu, madu dan khamar, serta beragam sandang dan perhiasan yang mewah. (24) Demikian ini, lantaran mereka ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَى ٱلطَّيِّبِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ ﴿ "diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik," yang paling afdhal dan yang terbaik ialah kalimat ikhlas, disusul dengan perkataan-perkataan baik lain yang memuat dzikrullah atau pencurahan ke-baikan bagi sesama manusia. ﴾ وَهُدُوٓاْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡحَمِيدِ 24 ﴿ "Dan mereka ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji," yaitu jalan yang dipuji. Hal ini karena seluruh syariat mengandung hikmah, pujian, keindahan perkara yang diperintahkan, dan keburukan perkara [yang dilarang]. Itulah agama, yang tidak mengandung ifrath (ekstrimitas) dan tafrith (penyepelean) yang berisikan ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Atau, bermakna mereka dituntun menuju jalan Allah Yang Maha Terpuji. Karena, seringkali Allah mengaitkan kata shirath kepadaNya. Pasalnya, shirath itu mengan-tarkan penitinya kepada Allah. Penyebutan kata al-Hamid (yang terpuji) di sini, untuk menjelaskan bahwa mereka bisa menggapai hidayah melalui jasa kebaikan dari Allah dan karuniaNya yang tercurahkan kepada mereka. Karena itu, mereka mengucapkan di dalam surga, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ ﴿ "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk." (Al-A'raf: 43). (18) Di tengah ayat-ayat ini, Allah تعالى menyisipkan penjelas-an mengenai sujudnya para makhluk kepadaNya, seluruh makhluk yang berada di langit dan bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, bangsa hewan yang mencakup selu-ruh binatang, dan kebanyakan dari kalangan manusia. Mereka adalah kaum Mukminin ﴾ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُۗ ﴿ "dan banyak dari manusia yang telah ditetapkan azabnya atasnya," maksudnya pasti dan telah ditetapkan lantaran kekufurannya dan tidak beriman. Allah tidak melimpahkan taufik baginya untuk menjadi orang beriman, karena Allah menghinakannya ﴾ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ ﴿ "dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya." Tidak ada yang dapat membendung apa yang diinginkan oleh Allah, dan tidak ada penentang terhadap kehendakNya. Jika semua makhluk bersujud kepada (Allah تعالى), tunduk kepada keagunganNya, merasa tak berdaya di hadapan keperkasaanNya, patuh kepada kekuasaan-Nya, maka hal ini menandakan bahwa Dia-lah semata Rabb yang berhak disembah, Raja yang terpuji (satu-satunya). Dan menunjuk-kan bahwa orang yang berpaling dariNya dengan menyembah kepada selain Allah, maka sungguh dia telah tersesat dengan ke-sesatan yang nyata, dan merugi dengan kerugian yang jelas.

Al-Hajj 22:25

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir, dan siapa yang bermaksud di dalamnya melaku-kan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepada-nya sebagian siksa yang pedih." (Al-Hajj: 25). (25) Allah تعالى memberitahukan mengenai kebusukan sikap kaum musyrikin dan kaum kafir terhadap Rabb mereka. Mereka telah menggabungkan antara kekufuran kepada Allah dan para RasulNya dengan usaha pembendungan (orang lain) dari jalan Allah, menghambat orang dari keimanan, dan menghalang-halangi dari Masjidil Haram yang bukan hak milik mereka ataupun milik nenek moyang mereka. Manusia di dalamnya benar-benar sedera-jat, baik orang yang menetap di sana ataupun pendatang. Bahkan mereka telah menghalangi orang yang terbaik, Muhammad dan para sahabat beliau. Padahal, termasuk bagian dari kesucian, peng-hormatan dan kebesaran Masjidil Haram, b a h w a ﴾ وَمَن يُرِدۡ فِيهِ بِإِلۡحَادِۭ بِظُلۡمٖ نُّذِقۡهُ مِنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ 25 ﴿ "barangsiapa yang bermaksud di dalamnya mela-kukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih," maka hanya bentuk keinginan semata-mata saja untuk berbuat aniaya dan ilhad (maksiat) di wilayah Haram dapat mendatangkan siksaan, walaupun di tempat lainnya, seorang hamba tidak dikenai hukuman kecuali setelah mengerja-kan kezhaliman (tidak sekedar niat saja). Lalu bagaimana dengan orang yang berbuat tindakan zhalim yang paling buruk, seperti kekufuran, syirik dan menghalangi orang dari jalan Allah, serta mencegah perjalanan orang yang akan mengunjunginya? Menurut mereka, apa tindakan yang akan Allah perbuat terhadap mereka? Dalam ayat yang mulia ini, terdapat kesimpulan wajibnya menghormati kota Haram dan tingginya tingkat pengagungan terhadapnya, serta peringatan dari niatan untuk berbuat maksiat di dalamnya dan merealisasikannya.

Al-Hajj 22:26

"Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) beri-kanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Ke-mudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)." (Al-Hajj: 26-29). (26) Allah تعالى memaparkan keagungan Baitul Haram dan kebesarannya serta keagungan orang yang membangunnya, yaitu Khalil ar-Rahman. Allah berfirman, ﴾ وَإِذۡ بَوَّأۡنَا لِإِبۡرَٰهِيمَ مَكَانَ ٱلۡبَيۡتِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah," maksudnya Kami telah persiapkan tempat itu bagi diri-nya, lalu menempatkannya di sana dan menetapkan sebagian keturunan beliau untuk menjadi penduduknya. Allah menitahkan kepada beliau untuk membangunnya. Lalu, beliau mendirikannya di atas pondasi takwa kepada Allah dan membangun pondasinya di atas ketaatan kepada Allah. Beliau melangsungkan pembangunan-nya bersama putra beliau, Isma'il. Allah memerintahkan beliau supaya tidak menyekutukanNya dengan apa pun, dalam bentuk mengikhlaskan seluruh amaliyah-amaliyah beliau bagi Allah, dan membangunnya atas nama Allah. ﴾ وَطَهِّرۡ بَيۡتِيَ ﴿ "Dan sucikanlah rumahKu," yaitu dari kesyirikan dan maksiat, dari najis-najis dan kotoran-kotoran. Allah menisbatkan-nya kepada DiriNya, karena kemuliaan dan keutamaannya, serta agar rasa cinta kepadanya semakin besar di kalbu. Hati (para ma-nusia) pun tergerak (mengunjungi) ke sana dari setiap penjuru. Dan supaya lebih besar penyucian dan pengagungan terhadapnya. Karena bangunan itu merupakan rumah Allah bagi orang-orang yang thawaf dan beri'tikaf di sana, yang sedang larut dalam aneka macam ibadah, seperti dzikir, membaca al-Qur`an, mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan ragam amaliyah lain yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. ﴾ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ 26 ﴿ "Dan orang-orang yang rukuk dan sujud," yaitu orang-orang yang mengerjakan shalat. Maksudnya, sucikanlah (Baitullah) bagi mereka yang mulia itu, yang punya obsesi hanya menaati Rabb mereka, menjadi hamba-Nya dan berusaha mendekatkan diri kepadaNya di dalam rumah-Nya. Mereka itulah orang yang paling berhak (dengan Masjidil Haram) dan menerima sambutan kemuliaan. Di antara bentuk suguhan kemuliaan bagi mereka adalah dengan cara menyucikan Baitullah untuk mereka. Termasuk juga dalam konsep penyuciannya, adalah menyuci-kannya dari suara-suara guyonan dan suara yang tinggi yang akan mengganggu orang-orang yang sedang beribadah dengan menger-jakan shalat maupun thawaf. Allah mendahulukan penyebutan thawaf dibandingkan i'tikaf dan shalat, lantaran merupakan ibadah yang berhubungan secara khusus dengan Baitullah. Selanjutnya, disebutkan i'tikaf, karena merupakan jenis ibadah yang khusus (dikerjakan di tempat yang disebut) masjid-masjid. (27) ﴾ وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ ﴿ "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji." Beritahukanlah hal ini kepada mereka, dan seru-lah mereka kepadanya. Sampaikan kepada orang yang dekat dan jauh darinya tentang kewajiban (berhaji) dan keutamaannya. Sung-guh, jika engkau telah memanggil mereka, niscaya mereka akan mendatangimu sebagai orang-orang yang berhaji atau mengerjakan umrah, ﴾ رِجَالٗا ﴿ "dengan berjalan kaki," maksudnya berjalan di atas kaki-kaki mereka karena terdorong oleh rasa kerinduan (kepada-nya), ﴾ وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ ﴿ "dan mengendarai unta yang kurus," maksud-nya unta kurus yang melintasi perjalanan yang susah dan padang pasir yang ganas. Ia meneruskan langkahnya sampai ke tempat yang paling mulia ﴾ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ 27 ﴿ "dari segenap penjuru yang jauh," dari setiap negeri yang jauh. Khalil ar-Rahman (Ibrahim) عليه السلام telah melaksanakannya. Sesu-dah itu, disusul oleh keturunannya Muhammad a. Maka, mereka berdua menyeru umat manusia untuk berhaji ke Baitullah. Kedua-nya mensosialisasikan dan mengulang-ulanginya. Dan sungguh telah terwujud janji Allah itu. Orang-orang datang dengan berjalan kaki dan menumpangi kendaraan dari belahan bumi Timur dan Barat. (28) Kemudian Allah memerinci manfaat-manfaat yang muncul dari berkunjung ke Baitullah al-Haram untuk memotivasi pergi ke sana. Allah berfirman, ﴾ لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡ ﴿ "Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka," maksudnya agar mereka memperoleh berbagai kemanfaatan agama di Baitullah, berupa (kesempatan) melakukan ibadah-ibadah yang utama dan ibadah-ibadah yang tidak terlaksana kecuali di tempat itu. (Dan mem-peroleh) manfaat duniawi, seperti berniaga, meraup keuntungan-keuntungan materi. Ini semua merupakan perkara yang riil. Setiap orang mengetahuinya. ﴾ وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۖ ﴿ "Dan supaya mereka menyebut Nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." Ini termasuk paduan manfaat agama dan duniawi. Maksudnya, agar mereka mengingat Nama Allah saat menyem-belih binatang-binatang kurban, sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas rizki yang Dia limpahkan kepada mereka dan Dia mu-dahkan bagi mereka dari binatang-binatang tersebut. Jika kalian menyembelihnya, ﴾ فَكُلُواْ مِنۡهَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡبَآئِسَ ٱلۡفَقِيرَ 28 ﴿ "maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir," yaitu orang yang sangat membutuhkan. (29) ﴾ ثُمَّ لۡيَقۡضُواْ تَفَثَهُمۡ ﴿ "Kemudian, hendaklah mereka menghi-langkan kotoran yang ada pada badan mereka," maksudnya hendaknya mereka menyelesaikan manasik-manasik mereka dan membersih-kan kotoran dan gangguan yang menempel pada tubuh mereka saat berihram. ﴾ وَلۡيُوفُواْ نُذُورَهُمۡ ﴿ "Dan hendaklah mereka menyempurna-kan nadzar-nadzar mereka," yang mereka wajibkan atas diri mereka, berupa haji, umrah, dan penyembelihan kurban. ﴾ وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ ﴿ "Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)," yaitu yang kuno. Ia adalah masjid yang paling utama secara mutlak, yang terbebaskan dari cengkraman para diktator. Ayat ini merupakan perintah untuk mengerjakan thawaf, terutama pasca dikeluarkannya perintah melaksanakan manasik-manasik haji secara umum. (Hal ini) lantaran melihat keutamaan dan kemu-liaan ibadah thawaf. Sebab, itulah sasaran yang dituju. Sementara ibadah-ibadah sebelumnya berstatus sebagai wasilah (perantara) yang mengantarkan kepadanya. Mungkin saja, wallahu a'lam, juga diarahkan untuk tujuan yang lain. Yaitu, bahwasanya thawaf di-syariatkan di setiap waktu, sama saja baik menjadi bagian dari manasik haji atau saat menjadi ibadah tersendiri.

Al-Hajj 22:27

"Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) beri-kanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Ke-mudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)." (Al-Hajj: 26-29). (26) Allah تعالى memaparkan keagungan Baitul Haram dan kebesarannya serta keagungan orang yang membangunnya, yaitu Khalil ar-Rahman. Allah berfirman, ﴾ وَإِذۡ بَوَّأۡنَا لِإِبۡرَٰهِيمَ مَكَانَ ٱلۡبَيۡتِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah," maksudnya Kami telah persiapkan tempat itu bagi diri-nya, lalu menempatkannya di sana dan menetapkan sebagian keturunan beliau untuk menjadi penduduknya. Allah menitahkan kepada beliau untuk membangunnya. Lalu, beliau mendirikannya di atas pondasi takwa kepada Allah dan membangun pondasinya di atas ketaatan kepada Allah. Beliau melangsungkan pembangunan-nya bersama putra beliau, Isma'il. Allah memerintahkan beliau supaya tidak menyekutukanNya dengan apa pun, dalam bentuk mengikhlaskan seluruh amaliyah-amaliyah beliau bagi Allah, dan membangunnya atas nama Allah. ﴾ وَطَهِّرۡ بَيۡتِيَ ﴿ "Dan sucikanlah rumahKu," yaitu dari kesyirikan dan maksiat, dari najis-najis dan kotoran-kotoran. Allah menisbatkan-nya kepada DiriNya, karena kemuliaan dan keutamaannya, serta agar rasa cinta kepadanya semakin besar di kalbu. Hati (para ma-nusia) pun tergerak (mengunjungi) ke sana dari setiap penjuru. Dan supaya lebih besar penyucian dan pengagungan terhadapnya. Karena bangunan itu merupakan rumah Allah bagi orang-orang yang thawaf dan beri'tikaf di sana, yang sedang larut dalam aneka macam ibadah, seperti dzikir, membaca al-Qur`an, mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan ragam amaliyah lain yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. ﴾ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ 26 ﴿ "Dan orang-orang yang rukuk dan sujud," yaitu orang-orang yang mengerjakan shalat. Maksudnya, sucikanlah (Baitullah) bagi mereka yang mulia itu, yang punya obsesi hanya menaati Rabb mereka, menjadi hamba-Nya dan berusaha mendekatkan diri kepadaNya di dalam rumah-Nya. Mereka itulah orang yang paling berhak (dengan Masjidil Haram) dan menerima sambutan kemuliaan. Di antara bentuk suguhan kemuliaan bagi mereka adalah dengan cara menyucikan Baitullah untuk mereka. Termasuk juga dalam konsep penyuciannya, adalah menyuci-kannya dari suara-suara guyonan dan suara yang tinggi yang akan mengganggu orang-orang yang sedang beribadah dengan menger-jakan shalat maupun thawaf. Allah mendahulukan penyebutan thawaf dibandingkan i'tikaf dan shalat, lantaran merupakan ibadah yang berhubungan secara khusus dengan Baitullah. Selanjutnya, disebutkan i'tikaf, karena merupakan jenis ibadah yang khusus (dikerjakan di tempat yang disebut) masjid-masjid. (27) ﴾ وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ ﴿ "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji." Beritahukanlah hal ini kepada mereka, dan seru-lah mereka kepadanya. Sampaikan kepada orang yang dekat dan jauh darinya tentang kewajiban (berhaji) dan keutamaannya. Sung-guh, jika engkau telah memanggil mereka, niscaya mereka akan mendatangimu sebagai orang-orang yang berhaji atau mengerjakan umrah, ﴾ رِجَالٗا ﴿ "dengan berjalan kaki," maksudnya berjalan di atas kaki-kaki mereka karena terdorong oleh rasa kerinduan (kepada-nya), ﴾ وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ ﴿ "dan mengendarai unta yang kurus," maksud-nya unta kurus yang melintasi perjalanan yang susah dan padang pasir yang ganas. Ia meneruskan langkahnya sampai ke tempat yang paling mulia ﴾ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ 27 ﴿ "dari segenap penjuru yang jauh," dari setiap negeri yang jauh. Khalil ar-Rahman (Ibrahim) عليه السلام telah melaksanakannya. Sesu-dah itu, disusul oleh keturunannya Muhammad a. Maka, mereka berdua menyeru umat manusia untuk berhaji ke Baitullah. Kedua-nya mensosialisasikan dan mengulang-ulanginya. Dan sungguh telah terwujud janji Allah itu. Orang-orang datang dengan berjalan kaki dan menumpangi kendaraan dari belahan bumi Timur dan Barat. (28) Kemudian Allah memerinci manfaat-manfaat yang muncul dari berkunjung ke Baitullah al-Haram untuk memotivasi pergi ke sana. Allah berfirman, ﴾ لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡ ﴿ "Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka," maksudnya agar mereka memperoleh berbagai kemanfaatan agama di Baitullah, berupa (kesempatan) melakukan ibadah-ibadah yang utama dan ibadah-ibadah yang tidak terlaksana kecuali di tempat itu. (Dan mem-peroleh) manfaat duniawi, seperti berniaga, meraup keuntungan-keuntungan materi. Ini semua merupakan perkara yang riil. Setiap orang mengetahuinya. ﴾ وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۖ ﴿ "Dan supaya mereka menyebut Nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." Ini termasuk paduan manfaat agama dan duniawi. Maksudnya, agar mereka mengingat Nama Allah saat menyem-belih binatang-binatang kurban, sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas rizki yang Dia limpahkan kepada mereka dan Dia mu-dahkan bagi mereka dari binatang-binatang tersebut. Jika kalian menyembelihnya, ﴾ فَكُلُواْ مِنۡهَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡبَآئِسَ ٱلۡفَقِيرَ 28 ﴿ "maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir," yaitu orang yang sangat membutuhkan. (29) ﴾ ثُمَّ لۡيَقۡضُواْ تَفَثَهُمۡ ﴿ "Kemudian, hendaklah mereka menghi-langkan kotoran yang ada pada badan mereka," maksudnya hendaknya mereka menyelesaikan manasik-manasik mereka dan membersih-kan kotoran dan gangguan yang menempel pada tubuh mereka saat berihram. ﴾ وَلۡيُوفُواْ نُذُورَهُمۡ ﴿ "Dan hendaklah mereka menyempurna-kan nadzar-nadzar mereka," yang mereka wajibkan atas diri mereka, berupa haji, umrah, dan penyembelihan kurban. ﴾ وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ ﴿ "Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)," yaitu yang kuno. Ia adalah masjid yang paling utama secara mutlak, yang terbebaskan dari cengkraman para diktator. Ayat ini merupakan perintah untuk mengerjakan thawaf, terutama pasca dikeluarkannya perintah melaksanakan manasik-manasik haji secara umum. (Hal ini) lantaran melihat keutamaan dan kemu-liaan ibadah thawaf. Sebab, itulah sasaran yang dituju. Sementara ibadah-ibadah sebelumnya berstatus sebagai wasilah (perantara) yang mengantarkan kepadanya. Mungkin saja, wallahu a'lam, juga diarahkan untuk tujuan yang lain. Yaitu, bahwasanya thawaf di-syariatkan di setiap waktu, sama saja baik menjadi bagian dari manasik haji atau saat menjadi ibadah tersendiri.

Al-Hajj 22:28

"Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) beri-kanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Ke-mudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)." (Al-Hajj: 26-29). (26) Allah تعالى memaparkan keagungan Baitul Haram dan kebesarannya serta keagungan orang yang membangunnya, yaitu Khalil ar-Rahman. Allah berfirman, ﴾ وَإِذۡ بَوَّأۡنَا لِإِبۡرَٰهِيمَ مَكَانَ ٱلۡبَيۡتِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah," maksudnya Kami telah persiapkan tempat itu bagi diri-nya, lalu menempatkannya di sana dan menetapkan sebagian keturunan beliau untuk menjadi penduduknya. Allah menitahkan kepada beliau untuk membangunnya. Lalu, beliau mendirikannya di atas pondasi takwa kepada Allah dan membangun pondasinya di atas ketaatan kepada Allah. Beliau melangsungkan pembangunan-nya bersama putra beliau, Isma'il. Allah memerintahkan beliau supaya tidak menyekutukanNya dengan apa pun, dalam bentuk mengikhlaskan seluruh amaliyah-amaliyah beliau bagi Allah, dan membangunnya atas nama Allah. ﴾ وَطَهِّرۡ بَيۡتِيَ ﴿ "Dan sucikanlah rumahKu," yaitu dari kesyirikan dan maksiat, dari najis-najis dan kotoran-kotoran. Allah menisbatkan-nya kepada DiriNya, karena kemuliaan dan keutamaannya, serta agar rasa cinta kepadanya semakin besar di kalbu. Hati (para ma-nusia) pun tergerak (mengunjungi) ke sana dari setiap penjuru. Dan supaya lebih besar penyucian dan pengagungan terhadapnya. Karena bangunan itu merupakan rumah Allah bagi orang-orang yang thawaf dan beri'tikaf di sana, yang sedang larut dalam aneka macam ibadah, seperti dzikir, membaca al-Qur`an, mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan ragam amaliyah lain yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. ﴾ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ 26 ﴿ "Dan orang-orang yang rukuk dan sujud," yaitu orang-orang yang mengerjakan shalat. Maksudnya, sucikanlah (Baitullah) bagi mereka yang mulia itu, yang punya obsesi hanya menaati Rabb mereka, menjadi hamba-Nya dan berusaha mendekatkan diri kepadaNya di dalam rumah-Nya. Mereka itulah orang yang paling berhak (dengan Masjidil Haram) dan menerima sambutan kemuliaan. Di antara bentuk suguhan kemuliaan bagi mereka adalah dengan cara menyucikan Baitullah untuk mereka. Termasuk juga dalam konsep penyuciannya, adalah menyuci-kannya dari suara-suara guyonan dan suara yang tinggi yang akan mengganggu orang-orang yang sedang beribadah dengan menger-jakan shalat maupun thawaf. Allah mendahulukan penyebutan thawaf dibandingkan i'tikaf dan shalat, lantaran merupakan ibadah yang berhubungan secara khusus dengan Baitullah. Selanjutnya, disebutkan i'tikaf, karena merupakan jenis ibadah yang khusus (dikerjakan di tempat yang disebut) masjid-masjid. (27) ﴾ وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ ﴿ "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji." Beritahukanlah hal ini kepada mereka, dan seru-lah mereka kepadanya. Sampaikan kepada orang yang dekat dan jauh darinya tentang kewajiban (berhaji) dan keutamaannya. Sung-guh, jika engkau telah memanggil mereka, niscaya mereka akan mendatangimu sebagai orang-orang yang berhaji atau mengerjakan umrah, ﴾ رِجَالٗا ﴿ "dengan berjalan kaki," maksudnya berjalan di atas kaki-kaki mereka karena terdorong oleh rasa kerinduan (kepada-nya), ﴾ وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ ﴿ "dan mengendarai unta yang kurus," maksud-nya unta kurus yang melintasi perjalanan yang susah dan padang pasir yang ganas. Ia meneruskan langkahnya sampai ke tempat yang paling mulia ﴾ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ 27 ﴿ "dari segenap penjuru yang jauh," dari setiap negeri yang jauh. Khalil ar-Rahman (Ibrahim) عليه السلام telah melaksanakannya. Sesu-dah itu, disusul oleh keturunannya Muhammad a. Maka, mereka berdua menyeru umat manusia untuk berhaji ke Baitullah. Kedua-nya mensosialisasikan dan mengulang-ulanginya. Dan sungguh telah terwujud janji Allah itu. Orang-orang datang dengan berjalan kaki dan menumpangi kendaraan dari belahan bumi Timur dan Barat. (28) Kemudian Allah memerinci manfaat-manfaat yang muncul dari berkunjung ke Baitullah al-Haram untuk memotivasi pergi ke sana. Allah berfirman, ﴾ لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡ ﴿ "Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka," maksudnya agar mereka memperoleh berbagai kemanfaatan agama di Baitullah, berupa (kesempatan) melakukan ibadah-ibadah yang utama dan ibadah-ibadah yang tidak terlaksana kecuali di tempat itu. (Dan mem-peroleh) manfaat duniawi, seperti berniaga, meraup keuntungan-keuntungan materi. Ini semua merupakan perkara yang riil. Setiap orang mengetahuinya. ﴾ وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۖ ﴿ "Dan supaya mereka menyebut Nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." Ini termasuk paduan manfaat agama dan duniawi. Maksudnya, agar mereka mengingat Nama Allah saat menyem-belih binatang-binatang kurban, sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas rizki yang Dia limpahkan kepada mereka dan Dia mu-dahkan bagi mereka dari binatang-binatang tersebut. Jika kalian menyembelihnya, ﴾ فَكُلُواْ مِنۡهَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡبَآئِسَ ٱلۡفَقِيرَ 28 ﴿ "maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir," yaitu orang yang sangat membutuhkan. (29) ﴾ ثُمَّ لۡيَقۡضُواْ تَفَثَهُمۡ ﴿ "Kemudian, hendaklah mereka menghi-langkan kotoran yang ada pada badan mereka," maksudnya hendaknya mereka menyelesaikan manasik-manasik mereka dan membersih-kan kotoran dan gangguan yang menempel pada tubuh mereka saat berihram. ﴾ وَلۡيُوفُواْ نُذُورَهُمۡ ﴿ "Dan hendaklah mereka menyempurna-kan nadzar-nadzar mereka," yang mereka wajibkan atas diri mereka, berupa haji, umrah, dan penyembelihan kurban. ﴾ وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ ﴿ "Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)," yaitu yang kuno. Ia adalah masjid yang paling utama secara mutlak, yang terbebaskan dari cengkraman para diktator. Ayat ini merupakan perintah untuk mengerjakan thawaf, terutama pasca dikeluarkannya perintah melaksanakan manasik-manasik haji secara umum. (Hal ini) lantaran melihat keutamaan dan kemu-liaan ibadah thawaf. Sebab, itulah sasaran yang dituju. Sementara ibadah-ibadah sebelumnya berstatus sebagai wasilah (perantara) yang mengantarkan kepadanya. Mungkin saja, wallahu a'lam, juga diarahkan untuk tujuan yang lain. Yaitu, bahwasanya thawaf di-syariatkan di setiap waktu, sama saja baik menjadi bagian dari manasik haji atau saat menjadi ibadah tersendiri.

Al-Hajj 22:29

"Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) beri-kanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Ke-mudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)." (Al-Hajj: 26-29). (26) Allah تعالى memaparkan keagungan Baitul Haram dan kebesarannya serta keagungan orang yang membangunnya, yaitu Khalil ar-Rahman. Allah berfirman, ﴾ وَإِذۡ بَوَّأۡنَا لِإِبۡرَٰهِيمَ مَكَانَ ٱلۡبَيۡتِ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah," maksudnya Kami telah persiapkan tempat itu bagi diri-nya, lalu menempatkannya di sana dan menetapkan sebagian keturunan beliau untuk menjadi penduduknya. Allah menitahkan kepada beliau untuk membangunnya. Lalu, beliau mendirikannya di atas pondasi takwa kepada Allah dan membangun pondasinya di atas ketaatan kepada Allah. Beliau melangsungkan pembangunan-nya bersama putra beliau, Isma'il. Allah memerintahkan beliau supaya tidak menyekutukanNya dengan apa pun, dalam bentuk mengikhlaskan seluruh amaliyah-amaliyah beliau bagi Allah, dan membangunnya atas nama Allah. ﴾ وَطَهِّرۡ بَيۡتِيَ ﴿ "Dan sucikanlah rumahKu," yaitu dari kesyirikan dan maksiat, dari najis-najis dan kotoran-kotoran. Allah menisbatkan-nya kepada DiriNya, karena kemuliaan dan keutamaannya, serta agar rasa cinta kepadanya semakin besar di kalbu. Hati (para ma-nusia) pun tergerak (mengunjungi) ke sana dari setiap penjuru. Dan supaya lebih besar penyucian dan pengagungan terhadapnya. Karena bangunan itu merupakan rumah Allah bagi orang-orang yang thawaf dan beri'tikaf di sana, yang sedang larut dalam aneka macam ibadah, seperti dzikir, membaca al-Qur`an, mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan ragam amaliyah lain yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. ﴾ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ 26 ﴿ "Dan orang-orang yang rukuk dan sujud," yaitu orang-orang yang mengerjakan shalat. Maksudnya, sucikanlah (Baitullah) bagi mereka yang mulia itu, yang punya obsesi hanya menaati Rabb mereka, menjadi hamba-Nya dan berusaha mendekatkan diri kepadaNya di dalam rumah-Nya. Mereka itulah orang yang paling berhak (dengan Masjidil Haram) dan menerima sambutan kemuliaan. Di antara bentuk suguhan kemuliaan bagi mereka adalah dengan cara menyucikan Baitullah untuk mereka. Termasuk juga dalam konsep penyuciannya, adalah menyuci-kannya dari suara-suara guyonan dan suara yang tinggi yang akan mengganggu orang-orang yang sedang beribadah dengan menger-jakan shalat maupun thawaf. Allah mendahulukan penyebutan thawaf dibandingkan i'tikaf dan shalat, lantaran merupakan ibadah yang berhubungan secara khusus dengan Baitullah. Selanjutnya, disebutkan i'tikaf, karena merupakan jenis ibadah yang khusus (dikerjakan di tempat yang disebut) masjid-masjid. (27) ﴾ وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ ﴿ "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji." Beritahukanlah hal ini kepada mereka, dan seru-lah mereka kepadanya. Sampaikan kepada orang yang dekat dan jauh darinya tentang kewajiban (berhaji) dan keutamaannya. Sung-guh, jika engkau telah memanggil mereka, niscaya mereka akan mendatangimu sebagai orang-orang yang berhaji atau mengerjakan umrah, ﴾ رِجَالٗا ﴿ "dengan berjalan kaki," maksudnya berjalan di atas kaki-kaki mereka karena terdorong oleh rasa kerinduan (kepada-nya), ﴾ وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ ﴿ "dan mengendarai unta yang kurus," maksud-nya unta kurus yang melintasi perjalanan yang susah dan padang pasir yang ganas. Ia meneruskan langkahnya sampai ke tempat yang paling mulia ﴾ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ 27 ﴿ "dari segenap penjuru yang jauh," dari setiap negeri yang jauh. Khalil ar-Rahman (Ibrahim) عليه السلام telah melaksanakannya. Sesu-dah itu, disusul oleh keturunannya Muhammad a. Maka, mereka berdua menyeru umat manusia untuk berhaji ke Baitullah. Kedua-nya mensosialisasikan dan mengulang-ulanginya. Dan sungguh telah terwujud janji Allah itu. Orang-orang datang dengan berjalan kaki dan menumpangi kendaraan dari belahan bumi Timur dan Barat. (28) Kemudian Allah memerinci manfaat-manfaat yang muncul dari berkunjung ke Baitullah al-Haram untuk memotivasi pergi ke sana. Allah berfirman, ﴾ لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡ ﴿ "Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka," maksudnya agar mereka memperoleh berbagai kemanfaatan agama di Baitullah, berupa (kesempatan) melakukan ibadah-ibadah yang utama dan ibadah-ibadah yang tidak terlaksana kecuali di tempat itu. (Dan mem-peroleh) manfaat duniawi, seperti berniaga, meraup keuntungan-keuntungan materi. Ini semua merupakan perkara yang riil. Setiap orang mengetahuinya. ﴾ وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۖ ﴿ "Dan supaya mereka menyebut Nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." Ini termasuk paduan manfaat agama dan duniawi. Maksudnya, agar mereka mengingat Nama Allah saat menyem-belih binatang-binatang kurban, sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas rizki yang Dia limpahkan kepada mereka dan Dia mu-dahkan bagi mereka dari binatang-binatang tersebut. Jika kalian menyembelihnya, ﴾ فَكُلُواْ مِنۡهَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡبَآئِسَ ٱلۡفَقِيرَ 28 ﴿ "maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir," yaitu orang yang sangat membutuhkan. (29) ﴾ ثُمَّ لۡيَقۡضُواْ تَفَثَهُمۡ ﴿ "Kemudian, hendaklah mereka menghi-langkan kotoran yang ada pada badan mereka," maksudnya hendaknya mereka menyelesaikan manasik-manasik mereka dan membersih-kan kotoran dan gangguan yang menempel pada tubuh mereka saat berihram. ﴾ وَلۡيُوفُواْ نُذُورَهُمۡ ﴿ "Dan hendaklah mereka menyempurna-kan nadzar-nadzar mereka," yang mereka wajibkan atas diri mereka, berupa haji, umrah, dan penyembelihan kurban. ﴾ وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ ﴿ "Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)," yaitu yang kuno. Ia adalah masjid yang paling utama secara mutlak, yang terbebaskan dari cengkraman para diktator. Ayat ini merupakan perintah untuk mengerjakan thawaf, terutama pasca dikeluarkannya perintah melaksanakan manasik-manasik haji secara umum. (Hal ini) lantaran melihat keutamaan dan kemu-liaan ibadah thawaf. Sebab, itulah sasaran yang dituju. Sementara ibadah-ibadah sebelumnya berstatus sebagai wasilah (perantara) yang mengantarkan kepadanya. Mungkin saja, wallahu a'lam, juga diarahkan untuk tujuan yang lain. Yaitu, bahwasanya thawaf di-syariatkan di setiap waktu, sama saja baik menjadi bagian dari manasik haji atau saat menjadi ibadah tersendiri.

Al-Hajj 22:30

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagung-kan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu, dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta, dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu denganNya. Barang-siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka dia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbang-kan angin ke tempat yang jauh." (Al-Hajj: 30-31). (30) ﴾ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Demikianlah (perintah Allah)," maksudnya Kami menyampaikan kepada kalian tentang hukum-hukum tersebut dan kandungannya, berupa penghormatan terhadap hurumatullah (hal-hal yang diagungkan oleh Allah), pengagungan dan pemuliaan terhadapnya, karena penghormatan hal-hal yang diagungkan oleh Allah termasuk bagian dari perkara-perkara yang dicintai oleh Allah yang bisa menyebabkan kedekatan denganNya. Orang-orang yang mengagungkan dan memuliakannya, niscaya Allah membalasinya dengan pahala yang berlimpah. Itu akan menjadi kebaikan bagi dirinya dalam agama, duniawi maupun ukhrawi di sisi Rabbnya. Dan yang dimaksud dengan hurumatullah yakni segala se-suatu yang mempunyai kehormatan dan Allah memerintahkan agar dihormati, yang berupa ibadah atau perkara lainnya. Misal-nya, manasik haji secara keseluruhan, tanah haram, pelaksanaan ihram, (penyembelihan) hewan-hewan kurban dan seperti ibadah-ibadah yang Allah menitahkan para hamba untuk melaksanakan-nya. Mengagungkan hal-hal tersebut sebagai bentuk penghormatan kepadanya dengan hati dan mencintainya serta menyempurnakan ubudiyah (pengabdian diri kepada Allah) tanpa meremehkan, malas-malasan, ataupun merasa keberatan (dalam menjalankannya). Kemudian Allah menyebutkan karunia dan curahan kebaikan-Nya melalui penghalalan hewan-hewan yang Allah tetapkan bagi para hambaNya, berupa hewan-hewan ternak, seperti unta, sapi, dan kambing. Dan Allah menetapkan aturan syariat padanya (melalui penyembelihan) sebagai bagian dari manasik haji yang difungsikan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Maka karunia Allah yang terkandung pada hewan-hewan ternak menjadi sema-kin besar ditinjau dari dua sisi. ﴾ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya," ketetapan pengharamannya di dalam al-Qur`an, seperti FirmanNya, ﴾ حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ …﴿ "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi…." (Al-Ma`idah: 3). Akan tetapi, yang termasuk rahmat Allah bagi para hamba-Nya adalah bahwa Allah mengharamkan sesuatu atas mereka dan mencegah mereka dari itu guna menyucikan dan membersihkan diri mereka dari syirik kepadaNya dan perkataan palsu. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱجۡتَنِبُواْ ٱلرِّجۡسَ ﴿ "Maka kalian jauhilah yang najis," menjijikkan lagi kotor ﴾ مِنَ ٱلۡأَوۡثَٰنِ ﴿ "dari berhala-berhala," yaitu tandingan-tandingan yang sudah kalian daulat sebagai se-sembahan bersama Allah. Karena sesungguhnya itu merupakan jenis kotoran yang paling parah. Secara zahir bahwa, kata ﴾ مِن ﴿ pada ayat ini bukan berfungsi menjelaskan suatu jenis (min al-jism), sebagaimana disampaikan oleh mayoritas ulama tafsir, namun berfungsi untuk tab'idh (men-jelaskan sebagian contoh konkretnya, sebagian), dan bahwa kata ar-Rijs sifatnya umum mencakup seluruh larangan dan perkara yang diharamkan. Sehingga menjadi perkara yang terlarang secara umum. Sedangkan larangan dari (penyembahan) berhala-berhala menjadi bagiannya secara khusus. ﴾ وَٱجۡتَنِبُواْ قَوۡلَ ٱلزُّورِ 30 ﴿ "Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta," yaitu seluruh perkataan yang diharamkan, karena sesungguhnya semua itu masuk kategori perkataan palsu, [yang merupakan kedustaan. Persaksian palsu menjadi salah satu bagiannya. Setelah Allah melarang mereka dari praktik kesyirikan, tindakan keji dan perkataan dusta]. (31) Dia menetapkan perintah kepada mereka agar menjadi ﴾ حُنَفَآءَ لِلَّهِ ﴿ "orang-orang yang ikhlas kepada Allah," maksudnya orang-orang yang berorientasi kepadaNya dan kepada beribadah untuk-Nya, berpaling dari selainNya. ﴾ غَيۡرَ مُشۡرِكِينَ بِهِۦۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ ﴿ "Tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya, dan barangsiapa mempersekutu-kan Allah," perumpamaannya ﴾ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "maka dia ia seolah-olah jatuh dari langit," maksudnya terjatuh darinya, ﴾ فَتَخۡطَفُهُ ٱلطَّيۡرُ ﴿ "lalu disambar oleh burung," dengan cepat, ﴾ أَوۡ تَهۡوِي بِهِ ٱلرِّيحُ فِي مَكَانٖ سَحِيقٖ 31 ﴿ "atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh," maksudnya nan jauh. Begitu pula kondisi kaum musyrikin. Keimanan itu kedudukan-nya bagaikan langit, terpelihara dan berada di ketinggian. Orang yang mencampakkan keimanan bak orang yang terjerembab dari langit, menjadi sasaran berbagai macam gangguan dan bencana. Atau akan tersambar oleh seekor burung yang akan mengoyak anggota tubuhnya. Demikian halnya orang musyrik, jika menge-nyampingkan berpegang teguh kepada keimanan. Setan akan menyambarnya dari segala sisi, mencabik-cabiknya dan membawa pergi agama dan kehidupan dunianya.

Al-Hajj 22:31

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagung-kan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu, dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta, dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu denganNya. Barang-siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka dia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbang-kan angin ke tempat yang jauh." (Al-Hajj: 30-31). (30) ﴾ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Demikianlah (perintah Allah)," maksudnya Kami menyampaikan kepada kalian tentang hukum-hukum tersebut dan kandungannya, berupa penghormatan terhadap hurumatullah (hal-hal yang diagungkan oleh Allah), pengagungan dan pemuliaan terhadapnya, karena penghormatan hal-hal yang diagungkan oleh Allah termasuk bagian dari perkara-perkara yang dicintai oleh Allah yang bisa menyebabkan kedekatan denganNya. Orang-orang yang mengagungkan dan memuliakannya, niscaya Allah membalasinya dengan pahala yang berlimpah. Itu akan menjadi kebaikan bagi dirinya dalam agama, duniawi maupun ukhrawi di sisi Rabbnya. Dan yang dimaksud dengan hurumatullah yakni segala se-suatu yang mempunyai kehormatan dan Allah memerintahkan agar dihormati, yang berupa ibadah atau perkara lainnya. Misal-nya, manasik haji secara keseluruhan, tanah haram, pelaksanaan ihram, (penyembelihan) hewan-hewan kurban dan seperti ibadah-ibadah yang Allah menitahkan para hamba untuk melaksanakan-nya. Mengagungkan hal-hal tersebut sebagai bentuk penghormatan kepadanya dengan hati dan mencintainya serta menyempurnakan ubudiyah (pengabdian diri kepada Allah) tanpa meremehkan, malas-malasan, ataupun merasa keberatan (dalam menjalankannya). Kemudian Allah menyebutkan karunia dan curahan kebaikan-Nya melalui penghalalan hewan-hewan yang Allah tetapkan bagi para hambaNya, berupa hewan-hewan ternak, seperti unta, sapi, dan kambing. Dan Allah menetapkan aturan syariat padanya (melalui penyembelihan) sebagai bagian dari manasik haji yang difungsikan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Maka karunia Allah yang terkandung pada hewan-hewan ternak menjadi sema-kin besar ditinjau dari dua sisi. ﴾ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya," ketetapan pengharamannya di dalam al-Qur`an, seperti FirmanNya, ﴾ حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ …﴿ "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi…." (Al-Ma`idah: 3). Akan tetapi, yang termasuk rahmat Allah bagi para hamba-Nya adalah bahwa Allah mengharamkan sesuatu atas mereka dan mencegah mereka dari itu guna menyucikan dan membersihkan diri mereka dari syirik kepadaNya dan perkataan palsu. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَٱجۡتَنِبُواْ ٱلرِّجۡسَ ﴿ "Maka kalian jauhilah yang najis," menjijikkan lagi kotor ﴾ مِنَ ٱلۡأَوۡثَٰنِ ﴿ "dari berhala-berhala," yaitu tandingan-tandingan yang sudah kalian daulat sebagai se-sembahan bersama Allah. Karena sesungguhnya itu merupakan jenis kotoran yang paling parah. Secara zahir bahwa, kata ﴾ مِن ﴿ pada ayat ini bukan berfungsi menjelaskan suatu jenis (min al-jism), sebagaimana disampaikan oleh mayoritas ulama tafsir, namun berfungsi untuk tab'idh (men-jelaskan sebagian contoh konkretnya, sebagian), dan bahwa kata ar-Rijs sifatnya umum mencakup seluruh larangan dan perkara yang diharamkan. Sehingga menjadi perkara yang terlarang secara umum. Sedangkan larangan dari (penyembahan) berhala-berhala menjadi bagiannya secara khusus. ﴾ وَٱجۡتَنِبُواْ قَوۡلَ ٱلزُّورِ 30 ﴿ "Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta," yaitu seluruh perkataan yang diharamkan, karena sesungguhnya semua itu masuk kategori perkataan palsu, [yang merupakan kedustaan. Persaksian palsu menjadi salah satu bagiannya. Setelah Allah melarang mereka dari praktik kesyirikan, tindakan keji dan perkataan dusta]. (31) Dia menetapkan perintah kepada mereka agar menjadi ﴾ حُنَفَآءَ لِلَّهِ ﴿ "orang-orang yang ikhlas kepada Allah," maksudnya orang-orang yang berorientasi kepadaNya dan kepada beribadah untuk-Nya, berpaling dari selainNya. ﴾ غَيۡرَ مُشۡرِكِينَ بِهِۦۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ ﴿ "Tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya, dan barangsiapa mempersekutu-kan Allah," perumpamaannya ﴾ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "maka dia ia seolah-olah jatuh dari langit," maksudnya terjatuh darinya, ﴾ فَتَخۡطَفُهُ ٱلطَّيۡرُ ﴿ "lalu disambar oleh burung," dengan cepat, ﴾ أَوۡ تَهۡوِي بِهِ ٱلرِّيحُ فِي مَكَانٖ سَحِيقٖ 31 ﴿ "atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh," maksudnya nan jauh. Begitu pula kondisi kaum musyrikin. Keimanan itu kedudukan-nya bagaikan langit, terpelihara dan berada di ketinggian. Orang yang mencampakkan keimanan bak orang yang terjerembab dari langit, menjadi sasaran berbagai macam gangguan dan bencana. Atau akan tersambar oleh seekor burung yang akan mengoyak anggota tubuhnya. Demikian halnya orang musyrik, jika menge-nyampingkan berpegang teguh kepada keimanan. Setan akan menyambarnya dari segala sisi, mencabik-cabiknya dan membawa pergi agama dan kehidupan dunianya.

Al-Hajj 22:32

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagung-kan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketak-waan hati. Bagi kamu pada binatang-binatang kurban, itu ada be-berapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah)." (Al-Hajj: 32-33). (32) Maksudnya, itu adalah hal-hal yang telah Kami kemu-kakan kepada kalian yang berupa pengagungan hal-hal yang patut dihormati dan sya'airNya. Yang dimaksud dengan sya'air, yakni simbol-simbol agama yang terlihat oleh mata. - Termasuk di dalamnya, pelaksanaan manasik haji seluruh-nya. Sebagaimana Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar-syi'ar Allah." (Al-Baqarah: 158). - Termasuk juga binatang-binatang kurban dan segala yang dipersembahkan kepada Baitullah. Telah berlalu, bahwa makna pengagungan terhadapnya, yaitu memuliakannya dan melaksana-kannya serta menyempurnakan pelaksanaannya sebisa mungkin. - Selain itu, hewan-hewan kurban (hadyu). Cara pengagungan-nya adalah dengan cara bertindak baik terhadapnya dan berusaha menggemukkannya serta hendaknya berujud sempurna ditinjau dari segala sisi. Pengagungan sya'arillah ini tumbuh dari ketakwaan hati. Orang yang mengagungkannya, yaitu orang yang telah mem-buktikan ketakwaan dan kebenaran imannya. Pasalnya, sikap mengagungkannya muncul dari pengaruh pengagungan kepada Allah dan pemuliaan kepadaNya. (33) ﴾ لَكُمۡ فِيهَا ﴿ "Bagi kamu pada binatang-binatang kurban," yaitu pada binatang-binatang sembelihan kurban ﴾ مَنَٰفِعُ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ﴿ "ada beberapa manfaat sampai kepada waktu yang ditentukan." Ini ter-kandung pada binatang-binatang kurban yang digiring, yang berupa unta dan binatang ternak lainnya. Para pemiliknya dapat meman-faatkannya dengan menungganginya, memeras air susunya dan kegunaan lainnya yang tidak menyebabkan akibat buruk padanya sampai waktu yang telah diketahui dan ditentukan. Yaitu (waktu) penyembelihannya jika sudah sampai pada tempatnya, yaitu ﴾ ٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ 33 ﴿ "Baitul 'Atiq," yakni wilayah kota haram (suci) seluruh-nya, Mina dan lainnya. Bila telah disembelih, maka mereka dapat mengkonsumsinya dan membagikannya sebagai hadiah serta mem-beri makan orang-orang yang sengsara lagi membutuhkannya.

Al-Hajj 22:33

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagung-kan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketak-waan hati. Bagi kamu pada binatang-binatang kurban, itu ada be-berapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah)." (Al-Hajj: 32-33). (32) Maksudnya, itu adalah hal-hal yang telah Kami kemu-kakan kepada kalian yang berupa pengagungan hal-hal yang patut dihormati dan sya'airNya. Yang dimaksud dengan sya'air, yakni simbol-simbol agama yang terlihat oleh mata. - Termasuk di dalamnya, pelaksanaan manasik haji seluruh-nya. Sebagaimana Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِۖ ﴿ "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar-syi'ar Allah." (Al-Baqarah: 158). - Termasuk juga binatang-binatang kurban dan segala yang dipersembahkan kepada Baitullah. Telah berlalu, bahwa makna pengagungan terhadapnya, yaitu memuliakannya dan melaksana-kannya serta menyempurnakan pelaksanaannya sebisa mungkin. - Selain itu, hewan-hewan kurban (hadyu). Cara pengagungan-nya adalah dengan cara bertindak baik terhadapnya dan berusaha menggemukkannya serta hendaknya berujud sempurna ditinjau dari segala sisi. Pengagungan sya'arillah ini tumbuh dari ketakwaan hati. Orang yang mengagungkannya, yaitu orang yang telah mem-buktikan ketakwaan dan kebenaran imannya. Pasalnya, sikap mengagungkannya muncul dari pengaruh pengagungan kepada Allah dan pemuliaan kepadaNya. (33) ﴾ لَكُمۡ فِيهَا ﴿ "Bagi kamu pada binatang-binatang kurban," yaitu pada binatang-binatang sembelihan kurban ﴾ مَنَٰفِعُ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ﴿ "ada beberapa manfaat sampai kepada waktu yang ditentukan." Ini ter-kandung pada binatang-binatang kurban yang digiring, yang berupa unta dan binatang ternak lainnya. Para pemiliknya dapat meman-faatkannya dengan menungganginya, memeras air susunya dan kegunaan lainnya yang tidak menyebabkan akibat buruk padanya sampai waktu yang telah diketahui dan ditentukan. Yaitu (waktu) penyembelihannya jika sudah sampai pada tempatnya, yaitu ﴾ ٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ 33 ﴿ "Baitul 'Atiq," yakni wilayah kota haram (suci) seluruh-nya, Mina dan lainnya. Bila telah disembelih, maka mereka dapat mengkonsumsinya dan membagikannya sebagai hadiah serta mem-beri makan orang-orang yang sengsara lagi membutuhkannya.

Al-Hajj 22:34

"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyem-belihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepadaNya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (Yaitu) orang-orang yang apa-bila disebut nama Allah, niscaya gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat, dan orang-orang yang menafkahkan seba-gian dari apa yang telah Kami rizkikan kepada mereka." (Al-Hajj: 34-35). (34) Maksudnya, ﴾ وَلِكُلِّ أُمَّةٖ ﴿ "dan bagi tiap-tiap umat," dari umat-umat manusia yang telah berlalu, ﴾ جَعَلۡنَا مَنسَكٗا ﴿ "telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban)," maka berlomba-lombalah untuk mengerjakan kebaikan dan bersegeralah untuk melaksanakannya. Dan Kami akan memonitor siapakah orang yang paling baik amalannya. Hikmah Ilahi yang tersimpulkan pada ketetapan Allah mengenai manasik haji bagi setiap umat secara tersendiri adalah untuk menghidupkan dzikrullah dan perhatian untuk mensyukuri-Nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ لِّيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۗ فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa." Kendatipun jenis-jenis aturan syariat berbeda-beda, semuanya sepakat pada satu prinsip dasar, yaitu penetapan uluhiyah bagi Allah dan pengesaanNya dengan ibadah, serta meninggalkan kesyirikan kepadaNya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ ﴿ "Karena itu berserah dirilah kamu kepadaNya," maksudnya patuhlah dan berserah dirilah kamu kepadanya, bukan kepada dzat lain. Sesungguhnya berserah diri kepadaNya adalah jalan yang mengantarkan menuju Darussalam (surga). ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُخۡبِتِينَ ﴿ "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (ke-pada Allah)," dengan kabar kebaikan dunia dan akhirat. Kata اَلْمُخْبِتُ bermakna orang yang tunduk kepada Rabbnya, pasrah dengan aturanNya, dan tawadhu' dengan sesama. (35) Selanjutnya, Allah menerangkan karakteristik orang-orang yang tunduk. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, niscaya gemetarlah hati mereka," lantaran takut dan pengagungan terhadapNya. Karena itu, mereka meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan, lantaran rasa takut dan kekhawatiran mereka kepada Allah semata. ﴾ وَٱلصَّٰبِرِينَ عَلَىٰ مَآ أَصَابَهُمۡ ﴿ "Orang-orang yang sabar terhadap apa yang me-nimpa mereka," berupa malapetaka, bahaya dan berbagai macam gangguan, sehingga tidak menyeret mereka untuk geram terhadap salah satu peristiwa yang terjadi. Mereka bersabar untuk mencari Wajah Rabb mereka, mengharapkan ganjaran dariNya dan me-nunggu-nunggu pahalaNya. ﴾ وَٱلۡمُقِيمِي ٱلصَّلَوٰةِ ﴿ "Dan orang-orang yang mendirikan shalat," yaitu orang-orang yang mengaplikasikannya secara tegak, lurus lagi sempurna, dengan cara, melaksanakan perkara-perkara yang wajib dan mustahab serta ubudiyah (peng-hambaan diri kepada Allah) yang lahiriah maupun batiniah di dalamnya. ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ 35 ﴿ "Dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rizkikan kepada mereka." Keterangan ini mencakup seluruh jenis nafkah yang wajib (dibayarkan), seperti zakat, kaffarah (denda), nafkah bagi para istri, budak dan kaum kerabat (dan mencakup) nafkah-nafkah yang mustahab, misalnya mengeluarkan sedekah dengan berbagai caranya. Allah mengemukakannya dengan kata (مِنْ) yang mengandung pengertian tab'idh (sebagian dari harta), agar diketahui kemudahan esensi perintah Allah dan anjuranNya. Kadarnya (berjumlah) seba-gian kecil saja dari limpahan rizki dari Allah. Seorang hamba tidak mempunyai kemampuan untuk menghasilkannya kalau tidak ada kemudahan dari Allah dan curahan rizki kepadanya. Wahai orang-orang yang diberi rizki dari sebagian kemurahan Allah! Infakkan-lah sebagian dari rizki yang Allah karuniakan kepadamu, niscaya Allah akan mencurahkan rizki kepadamu dan menambahi kemu-rahanNya kepadamu.

Al-Hajj 22:35

"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyem-belihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepadaNya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (Yaitu) orang-orang yang apa-bila disebut nama Allah, niscaya gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat, dan orang-orang yang menafkahkan seba-gian dari apa yang telah Kami rizkikan kepada mereka." (Al-Hajj: 34-35). (34) Maksudnya, ﴾ وَلِكُلِّ أُمَّةٖ ﴿ "dan bagi tiap-tiap umat," dari umat-umat manusia yang telah berlalu, ﴾ جَعَلۡنَا مَنسَكٗا ﴿ "telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban)," maka berlomba-lombalah untuk mengerjakan kebaikan dan bersegeralah untuk melaksanakannya. Dan Kami akan memonitor siapakah orang yang paling baik amalannya. Hikmah Ilahi yang tersimpulkan pada ketetapan Allah mengenai manasik haji bagi setiap umat secara tersendiri adalah untuk menghidupkan dzikrullah dan perhatian untuk mensyukuri-Nya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ لِّيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۗ فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ ﴿ "Supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa." Kendatipun jenis-jenis aturan syariat berbeda-beda, semuanya sepakat pada satu prinsip dasar, yaitu penetapan uluhiyah bagi Allah dan pengesaanNya dengan ibadah, serta meninggalkan kesyirikan kepadaNya. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ ﴿ "Karena itu berserah dirilah kamu kepadaNya," maksudnya patuhlah dan berserah dirilah kamu kepadanya, bukan kepada dzat lain. Sesungguhnya berserah diri kepadaNya adalah jalan yang mengantarkan menuju Darussalam (surga). ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُخۡبِتِينَ ﴿ "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (ke-pada Allah)," dengan kabar kebaikan dunia dan akhirat. Kata اَلْمُخْبِتُ bermakna orang yang tunduk kepada Rabbnya, pasrah dengan aturanNya, dan tawadhu' dengan sesama. (35) Selanjutnya, Allah menerangkan karakteristik orang-orang yang tunduk. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, niscaya gemetarlah hati mereka," lantaran takut dan pengagungan terhadapNya. Karena itu, mereka meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan, lantaran rasa takut dan kekhawatiran mereka kepada Allah semata. ﴾ وَٱلصَّٰبِرِينَ عَلَىٰ مَآ أَصَابَهُمۡ ﴿ "Orang-orang yang sabar terhadap apa yang me-nimpa mereka," berupa malapetaka, bahaya dan berbagai macam gangguan, sehingga tidak menyeret mereka untuk geram terhadap salah satu peristiwa yang terjadi. Mereka bersabar untuk mencari Wajah Rabb mereka, mengharapkan ganjaran dariNya dan me-nunggu-nunggu pahalaNya. ﴾ وَٱلۡمُقِيمِي ٱلصَّلَوٰةِ ﴿ "Dan orang-orang yang mendirikan shalat," yaitu orang-orang yang mengaplikasikannya secara tegak, lurus lagi sempurna, dengan cara, melaksanakan perkara-perkara yang wajib dan mustahab serta ubudiyah (peng-hambaan diri kepada Allah) yang lahiriah maupun batiniah di dalamnya. ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ 35 ﴿ "Dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rizkikan kepada mereka." Keterangan ini mencakup seluruh jenis nafkah yang wajib (dibayarkan), seperti zakat, kaffarah (denda), nafkah bagi para istri, budak dan kaum kerabat (dan mencakup) nafkah-nafkah yang mustahab, misalnya mengeluarkan sedekah dengan berbagai caranya. Allah mengemukakannya dengan kata (مِنْ) yang mengandung pengertian tab'idh (sebagian dari harta), agar diketahui kemudahan esensi perintah Allah dan anjuranNya. Kadarnya (berjumlah) seba-gian kecil saja dari limpahan rizki dari Allah. Seorang hamba tidak mempunyai kemampuan untuk menghasilkannya kalau tidak ada kemudahan dari Allah dan curahan rizki kepadanya. Wahai orang-orang yang diberi rizki dari sebagian kemurahan Allah! Infakkan-lah sebagian dari rizki yang Allah karuniakan kepadamu, niscaya Allah akan mencurahkan rizki kepadamu dan menambahi kemu-rahanNya kepadamu.

Al-Hajj 22:36

"Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak pada-nya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak me-minta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkan-nya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al-Hajj: 36-37). (36) Ini menjadi dalil bahwa syi'ar-sy'i'ar itu bersifat umum atas semua simbol agama yang zhahir (terlihat). Sudah dipaparkan sebelumnya bahwa Allah memberitahukan bahwa orang yang mengagungkan syi'ar-syi'arNya, maka sikap tersebut adalah bagian dari (cerminan) ketakwaan hati. Di sini, Dia mengabarkan bahwa di antara bentuk syi'ar-syi'arNya (simbol agama) adalah al-Budn yaitu unta atau sapi berdasarkan pendapat lain. Maka, ia diberi perhatian, digemukkan dan disikapi dengan baik. ﴾ لَكُمۡ فِيهَا خَيۡرٞۖ ﴿ "Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya," yaitu pada binatang ternak yang dikurbankan ataupun yang tidak, dalam bentuk di-makan, disedekahkan, dimanfaatkan dan turunnya ganjaran dan pahala. ﴾ فَٱذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَيۡهَا ﴿ "Maka sebutlah nama Allah ketika kamu me-nyembelihnya," saat menyembelihnya, ucapkanlah, "Bismillah," dan (selanjutnya) sembelihlah ﴾ صَوَآفَّۖ ﴿ "dalam keadaan berdiri (dan terikat)," dalam keadaan berdiri, dengan cara menegakkannya di atas kaki empatnya. Tangan (maksudnya, kaki depan) kirinya diikatkan (pada suatu tiang), dan kemudian disembelih. ﴾ فَإِذَا وَجَبَتۡ جُنُوبُهَا ﴿ "Ke-mudian apabila telah roboh (mati)," maksudnya apabila telah terjatuh di tanah saat dikuliti, kemudian si penjagal mengguling-gulingkan sisinya di tanah. Saat itulah, dagingnya telah siap untuk dimakan. ﴾ فَكُلُواْ مِنۡهَا ﴿ "Maka makanlah sebagiannya," perintah ini tertuju kepada orang yang berkurban. Sehingga dia boleh makan sebagian dari kurbannya. ﴾ وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡقَانِعَ وَٱلۡمُعۡتَرَّۚ ﴿ "Dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta," maksudnya orang fakir yang tidak meminta-minta karena qana`ah (menerima apa adanya) yang ingin menjaga kehor-matannya dan orang fakir yang meminta-minta. Masing-masing mempunyai hak pada hewan kurban. ﴾ كَذَٰلِكَ سَخَّرۡنَٰهَا لَكُمۡ ﴿ "Demikianlah Kami telah menundukannya kepada kamu," yaitu unta ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ 36 ﴿ "mudah-mudahan kamu bersyukur," kepada Allah atas pengerahan binatang-binatang ternak (bagi kalian). Sungguh, bila Allah tidak mengendalikannya, maka kalian tidak mempunyai daya untuk (menundukkan)nya. Akan tetapi, Dia mengkondisikan dan me-ngendalikannya bagi kalian sebagai bentuk rahmat dan curahan kebaikanNya kepada kalian. Maka, pujilah Dia. (37) ﴾ لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا ﴿ "Daging-daging unta dan darah-nya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah," maksudnya tujuan (yang terselip) padanya (binatang-binatang kurban) itu bukan semata-mata penyembelihannya saja. Tidak ada sedikit pun dari daging-daging dan darahnya yang sampai kepada Allah. Sebab, Dia Dzat Yang Mahakaya lagi Terpuji. Yang sampai kepadaNya, hanyalah ikhlas (waktu mengurbankan)nya dan mengharapkan pahala serta niatan yang baik. Oleh karena itu, Dia berfirman,﴾ وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ ﴿ "Tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." Dalam ayat ini tertuang anjuran dan himbauan untuk ikhlas pada saat menyembelih unta. Hendaknya tujuannya ialah mencari Wajah Allah saja, bukan untuk membanggakan diri, riya` (pamer agar dilihat), sum'ah (pamer agar didengar), ataupun hanya sekedar melaksanakan kebiasaan (budaya). Begitu pula, pada semua jenis ibadah, jika tidak dibarengi dengan ikhlas dan ketakwaan kepada Allah, maka ibadah tersebut bagaikan kulit (buah) yang tidak ada intisarinya, atau seperti tubuh tanpa roh. ﴾ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah," agar kalian mengagungkan dan memuliakan-Nya. Maka ﴾ هَدَىٰكُمۡۗ ﴿ "atas hidayahNya kepadamu," sebagai timbal-balik atas pemberian hidayah dariNya bagi kalian. Maka sungguh, Dia berhak menerima sanjungan yang paling sempurna, pujian yang paling agung dan pengagungan yang paling tinggi.﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah, dengan menyembah Allah seolah-olah mereka melihatNya. Bilamana mereka belum mencapai tingkatan ini, hendaknya mereka beribadah kepadaNya dengan meyakini pengawasan Allah dan pandanganNya kepada mereka pada saat beribadah. Dan hendaklah berbuat baik kepada para hamba Allah dengan beragam cara, baik yang berupa bantuan materi, ilmu, ja-batan, nasihat, amar ma'ruf dan nahi mungkar, atau kata-kata yang baik dan lain-lain. Kaum Muhsinun, mereka memperoleh kabar gembira dari Allah dalam bentuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah melimpahkan kebaikan kepada mereka, sebagaimana mereka telah berbuat baik dalam beribadah kepadaNya dan berbuat baik kepada para hambaNya. ﴾ هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ 60 ﴿ "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (Ar-Rahman: 60). Dan FirmanNya, ﴾ لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٞۖ ﴿ "Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya." (Yunus: 26).

Al-Hajj 22:37

"Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak pada-nya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak me-minta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkan-nya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al-Hajj: 36-37). (36) Ini menjadi dalil bahwa syi'ar-sy'i'ar itu bersifat umum atas semua simbol agama yang zhahir (terlihat). Sudah dipaparkan sebelumnya bahwa Allah memberitahukan bahwa orang yang mengagungkan syi'ar-syi'arNya, maka sikap tersebut adalah bagian dari (cerminan) ketakwaan hati. Di sini, Dia mengabarkan bahwa di antara bentuk syi'ar-syi'arNya (simbol agama) adalah al-Budn yaitu unta atau sapi berdasarkan pendapat lain. Maka, ia diberi perhatian, digemukkan dan disikapi dengan baik. ﴾ لَكُمۡ فِيهَا خَيۡرٞۖ ﴿ "Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya," yaitu pada binatang ternak yang dikurbankan ataupun yang tidak, dalam bentuk di-makan, disedekahkan, dimanfaatkan dan turunnya ganjaran dan pahala. ﴾ فَٱذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَيۡهَا ﴿ "Maka sebutlah nama Allah ketika kamu me-nyembelihnya," saat menyembelihnya, ucapkanlah, "Bismillah," dan (selanjutnya) sembelihlah ﴾ صَوَآفَّۖ ﴿ "dalam keadaan berdiri (dan terikat)," dalam keadaan berdiri, dengan cara menegakkannya di atas kaki empatnya. Tangan (maksudnya, kaki depan) kirinya diikatkan (pada suatu tiang), dan kemudian disembelih. ﴾ فَإِذَا وَجَبَتۡ جُنُوبُهَا ﴿ "Ke-mudian apabila telah roboh (mati)," maksudnya apabila telah terjatuh di tanah saat dikuliti, kemudian si penjagal mengguling-gulingkan sisinya di tanah. Saat itulah, dagingnya telah siap untuk dimakan. ﴾ فَكُلُواْ مِنۡهَا ﴿ "Maka makanlah sebagiannya," perintah ini tertuju kepada orang yang berkurban. Sehingga dia boleh makan sebagian dari kurbannya. ﴾ وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡقَانِعَ وَٱلۡمُعۡتَرَّۚ ﴿ "Dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta," maksudnya orang fakir yang tidak meminta-minta karena qana`ah (menerima apa adanya) yang ingin menjaga kehor-matannya dan orang fakir yang meminta-minta. Masing-masing mempunyai hak pada hewan kurban. ﴾ كَذَٰلِكَ سَخَّرۡنَٰهَا لَكُمۡ ﴿ "Demikianlah Kami telah menundukannya kepada kamu," yaitu unta ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ 36 ﴿ "mudah-mudahan kamu bersyukur," kepada Allah atas pengerahan binatang-binatang ternak (bagi kalian). Sungguh, bila Allah tidak mengendalikannya, maka kalian tidak mempunyai daya untuk (menundukkan)nya. Akan tetapi, Dia mengkondisikan dan me-ngendalikannya bagi kalian sebagai bentuk rahmat dan curahan kebaikanNya kepada kalian. Maka, pujilah Dia. (37) ﴾ لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا ﴿ "Daging-daging unta dan darah-nya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah," maksudnya tujuan (yang terselip) padanya (binatang-binatang kurban) itu bukan semata-mata penyembelihannya saja. Tidak ada sedikit pun dari daging-daging dan darahnya yang sampai kepada Allah. Sebab, Dia Dzat Yang Mahakaya lagi Terpuji. Yang sampai kepadaNya, hanyalah ikhlas (waktu mengurbankan)nya dan mengharapkan pahala serta niatan yang baik. Oleh karena itu, Dia berfirman,﴾ وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ ﴿ "Tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." Dalam ayat ini tertuang anjuran dan himbauan untuk ikhlas pada saat menyembelih unta. Hendaknya tujuannya ialah mencari Wajah Allah saja, bukan untuk membanggakan diri, riya` (pamer agar dilihat), sum'ah (pamer agar didengar), ataupun hanya sekedar melaksanakan kebiasaan (budaya). Begitu pula, pada semua jenis ibadah, jika tidak dibarengi dengan ikhlas dan ketakwaan kepada Allah, maka ibadah tersebut bagaikan kulit (buah) yang tidak ada intisarinya, atau seperti tubuh tanpa roh. ﴾ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah," agar kalian mengagungkan dan memuliakan-Nya. Maka ﴾ هَدَىٰكُمۡۗ ﴿ "atas hidayahNya kepadamu," sebagai timbal-balik atas pemberian hidayah dariNya bagi kalian. Maka sungguh, Dia berhak menerima sanjungan yang paling sempurna, pujian yang paling agung dan pengagungan yang paling tinggi.﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik," dalam beribadah kepada Allah, dengan menyembah Allah seolah-olah mereka melihatNya. Bilamana mereka belum mencapai tingkatan ini, hendaknya mereka beribadah kepadaNya dengan meyakini pengawasan Allah dan pandanganNya kepada mereka pada saat beribadah. Dan hendaklah berbuat baik kepada para hamba Allah dengan beragam cara, baik yang berupa bantuan materi, ilmu, ja-batan, nasihat, amar ma'ruf dan nahi mungkar, atau kata-kata yang baik dan lain-lain. Kaum Muhsinun, mereka memperoleh kabar gembira dari Allah dalam bentuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah melimpahkan kebaikan kepada mereka, sebagaimana mereka telah berbuat baik dalam beribadah kepadaNya dan berbuat baik kepada para hambaNya. ﴾ هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ 60 ﴿ "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (Ar-Rahman: 60). Dan FirmanNya, ﴾ لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٞۖ ﴿ "Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya." (Yunus: 26).

Al-Hajj 22:38

"Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah ber-iman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat." (Al-Hajj: 38). (38) Ini merupakan informasi, janji dan berita baik dari Allah bagi orang-orang yang beriman, bahwa Allah melindungi mereka dari segala hal yang dibenci, mengenyahkan segala kejelekan dari mereka, lantaran keimanan mereka (kepada Allah), seperti keja-hatan orang-orang kafir, kejelekan dan bisikan keraguan dari setan, keburukan-keburukan internal mereka, kesalahan-kesalahan amalan-amalan mereka, menanggung beban penderitaan mereka saat datangnya musibah tatkala mereka tidak mampu memikul-nya, sehingga meringankannya sampai benar-benar ringan. Setiap Mukmin memperoleh hak pembelaan dan keutamaan ini sesuai dengan kadar keimanannya, sedikit atau banyak. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat," maksudnya berkhianat dengan amanah yang dibebankan oleh Allah kepadanya. Ia mengurangi hak-hak Allah yang menjadi kewajibannya, mengkhianati hak-hakNya dan mengkhianati orang lain, ﴾ كَفُورٍ 38 ﴿ "lagi mengingkari (nikmat)," ter-hadap nikmat-nikmat Allah. Allah mengucurkan kebaikan kepada-nya, namun dia (membalasnya) dengan bersikap kufur dan maksiat muncul bersusul-susulan darinya. Oleh karena itu, Allah tidak mencintainya. Sebaliknya, Dia membenci dan memurkainya serta akan membalasinya atas tindakan kekufuran dan pengkhianatan-nya. Bisa dipahami dari ayat ini (mafhum al-ayat) bahwasanya Allah mencintai setiap orang yang dapat dipercaya, bertanggung jawab dengannya, lagi bersyukur kepadaNya.

Al-Hajj 22:39

"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, 'Rabb kami hanyalah Allah.' Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain, tentu-lah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah segala urusan kembali." (Al-Hajj: 39-41). (39) Di masa permulaan Islam, kaum Muslimin dilarang memerangi kaum kafir dan diperintahkan untuk bersabar terhadap (gangguan) mereka atas dasar hikmah ilahi. Ketika mereka telah berhijrah ke Madinah dan tetap ditindas, sementara telah terhim-pun ketahanan diri dan kekuatan, maka mereka diperbolehkan melancarkan peperangan. Sebagaimana tertuang dalam Firman Allah تعالى,, ﴾ أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَٰتَلُونَ ﴿ "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi." Dapat dipahami dari ayat tersebut, bahwasa-nya sebelumnya, mereka dilarang melakukannya. Kemudian Allah mengizinkan bagi mereka untuk memerangi kaum yang melancar-kan peperangan (kepada mereka). Allah memberikan lampu hijau bagi mereka (untuk berperang), karena mereka pihak yang terzha-limi, lantaran dihalang-halangi dari (menjalankan) agama mereka dan disakiti karenanya serta diusir dari kampung-kampung mereka. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصۡرِهِمۡ لَقَدِيرٌ 39 ﴿ "Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha-kuasa menolong mereka itu," maka hendaknya mereka memohon per-tolongan kepadaNya dan meminta bantuan kepadaNya. (40) Kemudian, Allah menceritakan tentang bentuk tindakan kezhaliman mereka. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِم ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka," maksud-nya mereka dipaksa untuk keluar (dari kampung halaman) dengan melancarkan penindasan dan fitnah (kepada kaum Muslimin) ﴾ بِغَيۡرِ حَقٍّ إِلَّآ ﴿ "tanpa alasan yang benar kecuali," bahwa dosa mereka yang menyebabkan para musuh menindas ialah ﴾ أَن يَقُولُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُۗ ﴿ "karena mereka berkata, 'Rabb kami hanyalah Allah'," maksudnya, kecuali karena mereka mengesakan Allah dan menyembahNya dengan mengikhlaskan ibadah kepadaNya. Jika ini memang dosa, maka itulah dosa mereka. Persis seperti Firman Allah, ﴾ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴿ "Dan tidaklah mereka menyiksa orang-orang Mukmin itu melain-kan karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha-perkasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). Ayat ini menunjukkan kepada hikmah pensyariatan jihad. Sesungguhnya, tujuan jihad yaitu penegakan agama Allah atau menahan orang-orang kafir yang mengganggu kaum Mukminin, yang mengawali perbuatan melampaui batas kepada kaum Muk-minin dari tindakan aniaya dan permusuhan mereka terhadap kaum Mukminin, (dan) keleluasaan untuk beribadah kepada Allah, dan penegakan syariat-syariat yang zhahirah. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ ﴿ "Dan sekiranya Allah tidak meno-lak (keganasan) sebagian manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain," maka Allah mengenyahkan bahaya yang ditimbulkan kaum kafir dengan keberadaan kaum mujahidin di jalanNya,﴾ لَّهُدِّمَتۡ صَوَٰمِعُ وَبِيَعٞ وَصَلَوَٰتٞ وَمَسَٰجِدُ ﴿ "tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid-masjid," maksud-nya, tempat-tempat ibadah yang besar ini milik sejumlah golongan ahli kitab dari penganut agama Nasrani dan Yahudi dan masjid-masjid kepunyaan kaum Muslimin benar-benar akan hancur berantakan. ﴾ يُذۡكَرُ فِيهَا ﴿ "Yang di dalamnya disebut," yaitu di tempat-tempat ibadah ini ﴾ ٱسۡمُ ٱللَّهِ كَثِيرٗاۗ ﴿ "nama Allah dengan banyak," shalat-shalat ditegakkan, kitab-kitab Allah dibaca dan penyebutan nama Allah diulang-ulang dengan berbagai jenis dzikir di dalamnya. Seandai-nya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain, niscaya kaum kafir dapat me-nguasai kaum Muslimin. Lalu, mereka meluluhlantakkan tempat-tempat ibadah mereka dan melancarkan fitnah yang menguji keya-kinan agama mereka. Hal ini menandakan bahwa pelaksanaan jihad disyariatkan untuk tujuan menghentikan amukan pihak tertentu dan yang mengganggu, dan (disyariatkan) untuk sasaran lainnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa negara-negara yang di dalamnya telah terwujud ketenangan untuk melakukan ibadah kepada Allah, masjid-masjidnya dimakmurkan, seluruh simbol-simbol agama menonjol, keadaan ini merupakan bagian dari jasa mulia kaum mu-jahidin dan keberkahan mereka. Allah melenyapkan kaum kafirin darinya. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ 251 ﴿ "Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam." (Al-Baqarah: 251). Bila Anda mengatakan: Sekarang ini, kita menyaksikan mas-jid-masjid kaum Muslimin begitu semarak, tidak rusak. Padahal kebanyakan (negeri-negeri kaum Muslimin) kecil dan pemerintah-annya tidak teratur dan mereka tidak terdorong untuk memerangi negara-negara tetangga dari bangsa Barat. Bahkan kita menyaksikan masjid-masjid yang berada di bawah pemerintahan dan penguasa-an mereka (kaum kafir) tetap makmur (terpelihara). Para pemilik-nya (kaum Muslimin) pun merasa tentram. Padahal penguasa dari kalangan kaum kafir mampu menghancurkannya. Lalu Allah menga-barkan bahwa seandainya tidak ada perlindungan Allah terhadap manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain, niscaya tempat-tempat ibadah itu akan hancur, tapi kita tidak menyaksikan adanya perlindungan? Untuk menjawabnya, bahwasanya jawaban pertanyaan dan masalah ini masuk dalam konteks keumuman ayat ini, dan menjadi salah satu bagiannya. Karena sesungguhnya orang yang mengerti seluk-beluk negara-negara dan aturannya sekarang ini, yang meng-anggap bahwa setiap suku dan ras yang berada di bawah dan masuk di dalam kekuasaannya adalah anggota dari kerajaannya, bagian dari pemerintahannya, baik suku tersebut mempunyai kekuatan dengan jumlah orangnya, persenjataannya, materinya, ilmunya atau pelayanannya, maka pihak pemerintah-pemerintah tersebut memberikan atensi pada kemaslahatan-kemaslahatan kelompok warga tersebut yang bersifat agamis maupun duniawi. Pemerintahan-pemerintahan itu khawatir bila tidak memenuhinya, stabilitas negara akan goncang dan kehilangan sebagian dari tum-puannya. Maka, pemerintahan tersebut melaksanakan kebijakan yang berkaitan dengan agama atas alasan ini, terutama pemba-ngunan masjid-masjid. Sesungguhnya, masjid-masjid itu sungguh-sungguh terpelihara rapi -walillahil hamd-. Bahkan yang berada di ibukota negara-negara kafir sekalipun. Negara-negara itu mem-berikan otoritas otonomi, karena pertimbangan perasaan rakyat mereka dari kalangan kaum Muslimin, kendatipun masih ada sifat dengki dan kebencian pada negara-negara Nasrani (untuk kaum Muslimin) yang sudah dikabarkan oleh Allah bahwa ia akan tetap berlangsung sampai Hari Kiamat. Maka, pemerintahan Islam yang tidak mampu membela kedaulatannya tetap aman dari bahaya mereka yang banyak lantaran keberadaan sifat kedengkian pada mereka. Tidak ada salah seorang pun dari mereka yang mampu men-cengkramkan tangannya kepadanya karena takut dari tindakan negara Islam membela diri dengan (meminta bantuan) negara yang lain. Meskipun demikian, Allah pasti akan memperlihatkan kepada para hambaNya tentang kemenangan Islam dan kaum Muslimin yang telah dijanjikan di dalam KitabNya. Walillahil hamd, sudah terlihat faktor-faktor yang mengarah ke sana, dengan tim-bulnya perasaan di kalangan kaum Muslimin akan pentingnya kembali kepada agama mereka. Timbulnya perasaan ini merupakan dasar amal. Kita memuji Allah dan memintaNya supaya menyem-purnakan kenikmatanNya. Oleh karenanya, Dia berfirman mengenai janjiNya yang jujur yang bertepatan dengan realita, ﴾ وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya," yaitu orang yang melakukan pembelaan terhadap agamaNya dengan ikhlas kepadaNya dalam pelaksanaannya, berjuang di jalanNya agar kalimatullah-lah yang paling tinggi. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ 40 ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa," maksudnya sempurna kekuatanNya, Mahaper-kasa, tidak bisa tertahan. Dia telah menundukkan seluruh makhluk dan memegang ubun-ubun mereka. Maka, bergembiralah kalian, wahai kaum Muslimin. Kendatipun jumlah dan kekuatan kalian lemah, sementara musuh kuat, maka sesungguhnya tumpuan kalian yang kuat lagi perkasa dan tempat bergantung kalian ialah Dzat yang telah menciptakan kalian dan menciptakan apa yang telah kalian kerjakan. Maka, tempuhlah langkah-langkah yang diperintahkan untuk dilakukannya. Kemudian, mintalah keme-nangan dariNya. Sudah mesti, Dia akan menolong kalian. ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ 7 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Muhammad: 7). Wahai kaum Muslimin, kerjakanlah konsekuensi iman dan amal shalih. Sungguh, ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalan yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah men-jadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu pun denganKu." (An-Nur: 55). (41) Kemudian, Allah menyebutkan tanda orang yang menolongNya. Dengan itu, bisa diketahui bahwa orang yang meng-klaim diri menolong Allah dan menolong agamaNya, akan tetapi tidak memenuhi kriteria sifat ini, maka ia dusta. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi," maksudnya Kami menjadikan mereka memilikinya dan menguasainya tanpa ada pihak penentang yang menentang ataupun menghadang, ﴾ أَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "niscaya mereka menegakkan shalat," pada waktu-waktunya, ketentuan-keten-tuannya, rukun-rukunnya dan syarat-syaratnya, baik dalam shalat Jum'at maupun jamaah, ﴾ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan menunaikan zakat," yang menjadi kewajiban mereka secara khusus dan kewajiban atas orang-orang yang berada di bawah tanggungannya secara umum. Mereka menyerahkannya kepada para penerimanya yang (benar-benar) mereka adalah pihak yang berhak. ﴾ وَأَمَرُواْ بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Dan menyuruh berbuat yang ma`ruf." Ini mencakup segala kebajikan yang sudah dikenal dalam kaca mata syariat dan akal sehat, berupa hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. ﴾ وَنَهَوۡاْ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۗ ﴿ "Dan mencegah dari perbuatan yang mungkar." Setiap kemungkaran menurut syariat dan akal sehat, keburukannya sudah diketahui bersama. "Perintah terhadap sesuatu dan larangan darinya" meliputi pula (perintah dan larangan) segala yang tidak terpenuhi kecuali dengannya. Apabila (aplikasi) kebaikan dan kemungkaran tergantung pada proses belajar dan mengajar, maka orang-orang diharuskan untuk belajar dan mengajar. Jika (pelaksanaan amar ma'ruf dan nahi mungkar) terikat dengan sanksi terukur dan tidak terukur secara syariat, seperti berbagai macam ta'zir (sanksi), maka mereka mesti me-ngerjakannya. Jika amar ma'ruf dan nahi mungkar itu tergantung pada penetapan sejumlah orang untuk menanganinya, maka hal itu mesti dilakukan, dan lain sebagainya, yang termasuk perkara-perkara pelaksanaan amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak terlak-sana kecuali dengannya. ﴾ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ 41 ﴿ "Dan kepada Allah-lah segala urusan kembali," maksudnya segala urusan kembali kepada Allah. Sungguh, Allah telah mengabarkan bahwa kesudahan yang baik adalah bagi (orang-orang yang) bertakwa. Barangsiapa yang telah Allah tetapkan se-bagai penguasa umat manusia, dari kalangan para raja kemudian dia menjalankan perintah Allah, maka baginya penutupan yang baik dan kondisi yang lurus. Dan siapa saja yang berkuasa atas mereka dengan tangan besi dan menjalankan ungkapan hawa nafsunya di tengah mereka, maka kendatipun dia berhasil meraih kekuasaan sementara, sungguh babak akhirnya tidak baik, kepe-mimpinannya menghasilkan kesialan, dan akhirnya tercela.

Al-Hajj 22:40

"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, 'Rabb kami hanyalah Allah.' Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain, tentu-lah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah segala urusan kembali." (Al-Hajj: 39-41). (39) Di masa permulaan Islam, kaum Muslimin dilarang memerangi kaum kafir dan diperintahkan untuk bersabar terhadap (gangguan) mereka atas dasar hikmah ilahi. Ketika mereka telah berhijrah ke Madinah dan tetap ditindas, sementara telah terhim-pun ketahanan diri dan kekuatan, maka mereka diperbolehkan melancarkan peperangan. Sebagaimana tertuang dalam Firman Allah تعالى,, ﴾ أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَٰتَلُونَ ﴿ "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi." Dapat dipahami dari ayat tersebut, bahwasa-nya sebelumnya, mereka dilarang melakukannya. Kemudian Allah mengizinkan bagi mereka untuk memerangi kaum yang melancar-kan peperangan (kepada mereka). Allah memberikan lampu hijau bagi mereka (untuk berperang), karena mereka pihak yang terzha-limi, lantaran dihalang-halangi dari (menjalankan) agama mereka dan disakiti karenanya serta diusir dari kampung-kampung mereka. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصۡرِهِمۡ لَقَدِيرٌ 39 ﴿ "Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha-kuasa menolong mereka itu," maka hendaknya mereka memohon per-tolongan kepadaNya dan meminta bantuan kepadaNya. (40) Kemudian, Allah menceritakan tentang bentuk tindakan kezhaliman mereka. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِم ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka," maksud-nya mereka dipaksa untuk keluar (dari kampung halaman) dengan melancarkan penindasan dan fitnah (kepada kaum Muslimin) ﴾ بِغَيۡرِ حَقٍّ إِلَّآ ﴿ "tanpa alasan yang benar kecuali," bahwa dosa mereka yang menyebabkan para musuh menindas ialah ﴾ أَن يَقُولُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُۗ ﴿ "karena mereka berkata, 'Rabb kami hanyalah Allah'," maksudnya, kecuali karena mereka mengesakan Allah dan menyembahNya dengan mengikhlaskan ibadah kepadaNya. Jika ini memang dosa, maka itulah dosa mereka. Persis seperti Firman Allah, ﴾ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴿ "Dan tidaklah mereka menyiksa orang-orang Mukmin itu melain-kan karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha-perkasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). Ayat ini menunjukkan kepada hikmah pensyariatan jihad. Sesungguhnya, tujuan jihad yaitu penegakan agama Allah atau menahan orang-orang kafir yang mengganggu kaum Mukminin, yang mengawali perbuatan melampaui batas kepada kaum Muk-minin dari tindakan aniaya dan permusuhan mereka terhadap kaum Mukminin, (dan) keleluasaan untuk beribadah kepada Allah, dan penegakan syariat-syariat yang zhahirah. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ ﴿ "Dan sekiranya Allah tidak meno-lak (keganasan) sebagian manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain," maka Allah mengenyahkan bahaya yang ditimbulkan kaum kafir dengan keberadaan kaum mujahidin di jalanNya,﴾ لَّهُدِّمَتۡ صَوَٰمِعُ وَبِيَعٞ وَصَلَوَٰتٞ وَمَسَٰجِدُ ﴿ "tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid-masjid," maksud-nya, tempat-tempat ibadah yang besar ini milik sejumlah golongan ahli kitab dari penganut agama Nasrani dan Yahudi dan masjid-masjid kepunyaan kaum Muslimin benar-benar akan hancur berantakan. ﴾ يُذۡكَرُ فِيهَا ﴿ "Yang di dalamnya disebut," yaitu di tempat-tempat ibadah ini ﴾ ٱسۡمُ ٱللَّهِ كَثِيرٗاۗ ﴿ "nama Allah dengan banyak," shalat-shalat ditegakkan, kitab-kitab Allah dibaca dan penyebutan nama Allah diulang-ulang dengan berbagai jenis dzikir di dalamnya. Seandai-nya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain, niscaya kaum kafir dapat me-nguasai kaum Muslimin. Lalu, mereka meluluhlantakkan tempat-tempat ibadah mereka dan melancarkan fitnah yang menguji keya-kinan agama mereka. Hal ini menandakan bahwa pelaksanaan jihad disyariatkan untuk tujuan menghentikan amukan pihak tertentu dan yang mengganggu, dan (disyariatkan) untuk sasaran lainnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa negara-negara yang di dalamnya telah terwujud ketenangan untuk melakukan ibadah kepada Allah, masjid-masjidnya dimakmurkan, seluruh simbol-simbol agama menonjol, keadaan ini merupakan bagian dari jasa mulia kaum mu-jahidin dan keberkahan mereka. Allah melenyapkan kaum kafirin darinya. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ 251 ﴿ "Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam." (Al-Baqarah: 251). Bila Anda mengatakan: Sekarang ini, kita menyaksikan mas-jid-masjid kaum Muslimin begitu semarak, tidak rusak. Padahal kebanyakan (negeri-negeri kaum Muslimin) kecil dan pemerintah-annya tidak teratur dan mereka tidak terdorong untuk memerangi negara-negara tetangga dari bangsa Barat. Bahkan kita menyaksikan masjid-masjid yang berada di bawah pemerintahan dan penguasa-an mereka (kaum kafir) tetap makmur (terpelihara). Para pemilik-nya (kaum Muslimin) pun merasa tentram. Padahal penguasa dari kalangan kaum kafir mampu menghancurkannya. Lalu Allah menga-barkan bahwa seandainya tidak ada perlindungan Allah terhadap manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain, niscaya tempat-tempat ibadah itu akan hancur, tapi kita tidak menyaksikan adanya perlindungan? Untuk menjawabnya, bahwasanya jawaban pertanyaan dan masalah ini masuk dalam konteks keumuman ayat ini, dan menjadi salah satu bagiannya. Karena sesungguhnya orang yang mengerti seluk-beluk negara-negara dan aturannya sekarang ini, yang meng-anggap bahwa setiap suku dan ras yang berada di bawah dan masuk di dalam kekuasaannya adalah anggota dari kerajaannya, bagian dari pemerintahannya, baik suku tersebut mempunyai kekuatan dengan jumlah orangnya, persenjataannya, materinya, ilmunya atau pelayanannya, maka pihak pemerintah-pemerintah tersebut memberikan atensi pada kemaslahatan-kemaslahatan kelompok warga tersebut yang bersifat agamis maupun duniawi. Pemerintahan-pemerintahan itu khawatir bila tidak memenuhinya, stabilitas negara akan goncang dan kehilangan sebagian dari tum-puannya. Maka, pemerintahan tersebut melaksanakan kebijakan yang berkaitan dengan agama atas alasan ini, terutama pemba-ngunan masjid-masjid. Sesungguhnya, masjid-masjid itu sungguh-sungguh terpelihara rapi -walillahil hamd-. Bahkan yang berada di ibukota negara-negara kafir sekalipun. Negara-negara itu mem-berikan otoritas otonomi, karena pertimbangan perasaan rakyat mereka dari kalangan kaum Muslimin, kendatipun masih ada sifat dengki dan kebencian pada negara-negara Nasrani (untuk kaum Muslimin) yang sudah dikabarkan oleh Allah bahwa ia akan tetap berlangsung sampai Hari Kiamat. Maka, pemerintahan Islam yang tidak mampu membela kedaulatannya tetap aman dari bahaya mereka yang banyak lantaran keberadaan sifat kedengkian pada mereka. Tidak ada salah seorang pun dari mereka yang mampu men-cengkramkan tangannya kepadanya karena takut dari tindakan negara Islam membela diri dengan (meminta bantuan) negara yang lain. Meskipun demikian, Allah pasti akan memperlihatkan kepada para hambaNya tentang kemenangan Islam dan kaum Muslimin yang telah dijanjikan di dalam KitabNya. Walillahil hamd, sudah terlihat faktor-faktor yang mengarah ke sana, dengan tim-bulnya perasaan di kalangan kaum Muslimin akan pentingnya kembali kepada agama mereka. Timbulnya perasaan ini merupakan dasar amal. Kita memuji Allah dan memintaNya supaya menyem-purnakan kenikmatanNya. Oleh karenanya, Dia berfirman mengenai janjiNya yang jujur yang bertepatan dengan realita, ﴾ وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya," yaitu orang yang melakukan pembelaan terhadap agamaNya dengan ikhlas kepadaNya dalam pelaksanaannya, berjuang di jalanNya agar kalimatullah-lah yang paling tinggi. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ 40 ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa," maksudnya sempurna kekuatanNya, Mahaper-kasa, tidak bisa tertahan. Dia telah menundukkan seluruh makhluk dan memegang ubun-ubun mereka. Maka, bergembiralah kalian, wahai kaum Muslimin. Kendatipun jumlah dan kekuatan kalian lemah, sementara musuh kuat, maka sesungguhnya tumpuan kalian yang kuat lagi perkasa dan tempat bergantung kalian ialah Dzat yang telah menciptakan kalian dan menciptakan apa yang telah kalian kerjakan. Maka, tempuhlah langkah-langkah yang diperintahkan untuk dilakukannya. Kemudian, mintalah keme-nangan dariNya. Sudah mesti, Dia akan menolong kalian. ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ 7 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Muhammad: 7). Wahai kaum Muslimin, kerjakanlah konsekuensi iman dan amal shalih. Sungguh, ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalan yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah men-jadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu pun denganKu." (An-Nur: 55). (41) Kemudian, Allah menyebutkan tanda orang yang menolongNya. Dengan itu, bisa diketahui bahwa orang yang meng-klaim diri menolong Allah dan menolong agamaNya, akan tetapi tidak memenuhi kriteria sifat ini, maka ia dusta. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi," maksudnya Kami menjadikan mereka memilikinya dan menguasainya tanpa ada pihak penentang yang menentang ataupun menghadang, ﴾ أَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "niscaya mereka menegakkan shalat," pada waktu-waktunya, ketentuan-keten-tuannya, rukun-rukunnya dan syarat-syaratnya, baik dalam shalat Jum'at maupun jamaah, ﴾ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan menunaikan zakat," yang menjadi kewajiban mereka secara khusus dan kewajiban atas orang-orang yang berada di bawah tanggungannya secara umum. Mereka menyerahkannya kepada para penerimanya yang (benar-benar) mereka adalah pihak yang berhak. ﴾ وَأَمَرُواْ بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Dan menyuruh berbuat yang ma`ruf." Ini mencakup segala kebajikan yang sudah dikenal dalam kaca mata syariat dan akal sehat, berupa hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. ﴾ وَنَهَوۡاْ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۗ ﴿ "Dan mencegah dari perbuatan yang mungkar." Setiap kemungkaran menurut syariat dan akal sehat, keburukannya sudah diketahui bersama. "Perintah terhadap sesuatu dan larangan darinya" meliputi pula (perintah dan larangan) segala yang tidak terpenuhi kecuali dengannya. Apabila (aplikasi) kebaikan dan kemungkaran tergantung pada proses belajar dan mengajar, maka orang-orang diharuskan untuk belajar dan mengajar. Jika (pelaksanaan amar ma'ruf dan nahi mungkar) terikat dengan sanksi terukur dan tidak terukur secara syariat, seperti berbagai macam ta'zir (sanksi), maka mereka mesti me-ngerjakannya. Jika amar ma'ruf dan nahi mungkar itu tergantung pada penetapan sejumlah orang untuk menanganinya, maka hal itu mesti dilakukan, dan lain sebagainya, yang termasuk perkara-perkara pelaksanaan amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak terlak-sana kecuali dengannya. ﴾ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ 41 ﴿ "Dan kepada Allah-lah segala urusan kembali," maksudnya segala urusan kembali kepada Allah. Sungguh, Allah telah mengabarkan bahwa kesudahan yang baik adalah bagi (orang-orang yang) bertakwa. Barangsiapa yang telah Allah tetapkan se-bagai penguasa umat manusia, dari kalangan para raja kemudian dia menjalankan perintah Allah, maka baginya penutupan yang baik dan kondisi yang lurus. Dan siapa saja yang berkuasa atas mereka dengan tangan besi dan menjalankan ungkapan hawa nafsunya di tengah mereka, maka kendatipun dia berhasil meraih kekuasaan sementara, sungguh babak akhirnya tidak baik, kepe-mimpinannya menghasilkan kesialan, dan akhirnya tercela.

Al-Hajj 22:41

"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, 'Rabb kami hanyalah Allah.' Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain, tentu-lah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah segala urusan kembali." (Al-Hajj: 39-41). (39) Di masa permulaan Islam, kaum Muslimin dilarang memerangi kaum kafir dan diperintahkan untuk bersabar terhadap (gangguan) mereka atas dasar hikmah ilahi. Ketika mereka telah berhijrah ke Madinah dan tetap ditindas, sementara telah terhim-pun ketahanan diri dan kekuatan, maka mereka diperbolehkan melancarkan peperangan. Sebagaimana tertuang dalam Firman Allah تعالى,, ﴾ أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَٰتَلُونَ ﴿ "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi." Dapat dipahami dari ayat tersebut, bahwasa-nya sebelumnya, mereka dilarang melakukannya. Kemudian Allah mengizinkan bagi mereka untuk memerangi kaum yang melancar-kan peperangan (kepada mereka). Allah memberikan lampu hijau bagi mereka (untuk berperang), karena mereka pihak yang terzha-limi, lantaran dihalang-halangi dari (menjalankan) agama mereka dan disakiti karenanya serta diusir dari kampung-kampung mereka. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصۡرِهِمۡ لَقَدِيرٌ 39 ﴿ "Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha-kuasa menolong mereka itu," maka hendaknya mereka memohon per-tolongan kepadaNya dan meminta bantuan kepadaNya. (40) Kemudian, Allah menceritakan tentang bentuk tindakan kezhaliman mereka. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِم ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka," maksud-nya mereka dipaksa untuk keluar (dari kampung halaman) dengan melancarkan penindasan dan fitnah (kepada kaum Muslimin) ﴾ بِغَيۡرِ حَقٍّ إِلَّآ ﴿ "tanpa alasan yang benar kecuali," bahwa dosa mereka yang menyebabkan para musuh menindas ialah ﴾ أَن يَقُولُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُۗ ﴿ "karena mereka berkata, 'Rabb kami hanyalah Allah'," maksudnya, kecuali karena mereka mengesakan Allah dan menyembahNya dengan mengikhlaskan ibadah kepadaNya. Jika ini memang dosa, maka itulah dosa mereka. Persis seperti Firman Allah, ﴾ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴿ "Dan tidaklah mereka menyiksa orang-orang Mukmin itu melain-kan karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha-perkasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). Ayat ini menunjukkan kepada hikmah pensyariatan jihad. Sesungguhnya, tujuan jihad yaitu penegakan agama Allah atau menahan orang-orang kafir yang mengganggu kaum Mukminin, yang mengawali perbuatan melampaui batas kepada kaum Muk-minin dari tindakan aniaya dan permusuhan mereka terhadap kaum Mukminin, (dan) keleluasaan untuk beribadah kepada Allah, dan penegakan syariat-syariat yang zhahirah. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ ﴿ "Dan sekiranya Allah tidak meno-lak (keganasan) sebagian manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain," maka Allah mengenyahkan bahaya yang ditimbulkan kaum kafir dengan keberadaan kaum mujahidin di jalanNya,﴾ لَّهُدِّمَتۡ صَوَٰمِعُ وَبِيَعٞ وَصَلَوَٰتٞ وَمَسَٰجِدُ ﴿ "tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan masjid-masjid," maksud-nya, tempat-tempat ibadah yang besar ini milik sejumlah golongan ahli kitab dari penganut agama Nasrani dan Yahudi dan masjid-masjid kepunyaan kaum Muslimin benar-benar akan hancur berantakan. ﴾ يُذۡكَرُ فِيهَا ﴿ "Yang di dalamnya disebut," yaitu di tempat-tempat ibadah ini ﴾ ٱسۡمُ ٱللَّهِ كَثِيرٗاۗ ﴿ "nama Allah dengan banyak," shalat-shalat ditegakkan, kitab-kitab Allah dibaca dan penyebutan nama Allah diulang-ulang dengan berbagai jenis dzikir di dalamnya. Seandai-nya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain, niscaya kaum kafir dapat me-nguasai kaum Muslimin. Lalu, mereka meluluhlantakkan tempat-tempat ibadah mereka dan melancarkan fitnah yang menguji keya-kinan agama mereka. Hal ini menandakan bahwa pelaksanaan jihad disyariatkan untuk tujuan menghentikan amukan pihak tertentu dan yang mengganggu, dan (disyariatkan) untuk sasaran lainnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa negara-negara yang di dalamnya telah terwujud ketenangan untuk melakukan ibadah kepada Allah, masjid-masjidnya dimakmurkan, seluruh simbol-simbol agama menonjol, keadaan ini merupakan bagian dari jasa mulia kaum mu-jahidin dan keberkahan mereka. Allah melenyapkan kaum kafirin darinya. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ 251 ﴿ "Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam." (Al-Baqarah: 251). Bila Anda mengatakan: Sekarang ini, kita menyaksikan mas-jid-masjid kaum Muslimin begitu semarak, tidak rusak. Padahal kebanyakan (negeri-negeri kaum Muslimin) kecil dan pemerintah-annya tidak teratur dan mereka tidak terdorong untuk memerangi negara-negara tetangga dari bangsa Barat. Bahkan kita menyaksikan masjid-masjid yang berada di bawah pemerintahan dan penguasa-an mereka (kaum kafir) tetap makmur (terpelihara). Para pemilik-nya (kaum Muslimin) pun merasa tentram. Padahal penguasa dari kalangan kaum kafir mampu menghancurkannya. Lalu Allah menga-barkan bahwa seandainya tidak ada perlindungan Allah terhadap manusia dengan (keberadaan) sebagian yang lain, niscaya tempat-tempat ibadah itu akan hancur, tapi kita tidak menyaksikan adanya perlindungan? Untuk menjawabnya, bahwasanya jawaban pertanyaan dan masalah ini masuk dalam konteks keumuman ayat ini, dan menjadi salah satu bagiannya. Karena sesungguhnya orang yang mengerti seluk-beluk negara-negara dan aturannya sekarang ini, yang meng-anggap bahwa setiap suku dan ras yang berada di bawah dan masuk di dalam kekuasaannya adalah anggota dari kerajaannya, bagian dari pemerintahannya, baik suku tersebut mempunyai kekuatan dengan jumlah orangnya, persenjataannya, materinya, ilmunya atau pelayanannya, maka pihak pemerintah-pemerintah tersebut memberikan atensi pada kemaslahatan-kemaslahatan kelompok warga tersebut yang bersifat agamis maupun duniawi. Pemerintahan-pemerintahan itu khawatir bila tidak memenuhinya, stabilitas negara akan goncang dan kehilangan sebagian dari tum-puannya. Maka, pemerintahan tersebut melaksanakan kebijakan yang berkaitan dengan agama atas alasan ini, terutama pemba-ngunan masjid-masjid. Sesungguhnya, masjid-masjid itu sungguh-sungguh terpelihara rapi -walillahil hamd-. Bahkan yang berada di ibukota negara-negara kafir sekalipun. Negara-negara itu mem-berikan otoritas otonomi, karena pertimbangan perasaan rakyat mereka dari kalangan kaum Muslimin, kendatipun masih ada sifat dengki dan kebencian pada negara-negara Nasrani (untuk kaum Muslimin) yang sudah dikabarkan oleh Allah bahwa ia akan tetap berlangsung sampai Hari Kiamat. Maka, pemerintahan Islam yang tidak mampu membela kedaulatannya tetap aman dari bahaya mereka yang banyak lantaran keberadaan sifat kedengkian pada mereka. Tidak ada salah seorang pun dari mereka yang mampu men-cengkramkan tangannya kepadanya karena takut dari tindakan negara Islam membela diri dengan (meminta bantuan) negara yang lain. Meskipun demikian, Allah pasti akan memperlihatkan kepada para hambaNya tentang kemenangan Islam dan kaum Muslimin yang telah dijanjikan di dalam KitabNya. Walillahil hamd, sudah terlihat faktor-faktor yang mengarah ke sana, dengan tim-bulnya perasaan di kalangan kaum Muslimin akan pentingnya kembali kepada agama mereka. Timbulnya perasaan ini merupakan dasar amal. Kita memuji Allah dan memintaNya supaya menyem-purnakan kenikmatanNya. Oleh karenanya, Dia berfirman mengenai janjiNya yang jujur yang bertepatan dengan realita, ﴾ وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya," yaitu orang yang melakukan pembelaan terhadap agamaNya dengan ikhlas kepadaNya dalam pelaksanaannya, berjuang di jalanNya agar kalimatullah-lah yang paling tinggi. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ 40 ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa," maksudnya sempurna kekuatanNya, Mahaper-kasa, tidak bisa tertahan. Dia telah menundukkan seluruh makhluk dan memegang ubun-ubun mereka. Maka, bergembiralah kalian, wahai kaum Muslimin. Kendatipun jumlah dan kekuatan kalian lemah, sementara musuh kuat, maka sesungguhnya tumpuan kalian yang kuat lagi perkasa dan tempat bergantung kalian ialah Dzat yang telah menciptakan kalian dan menciptakan apa yang telah kalian kerjakan. Maka, tempuhlah langkah-langkah yang diperintahkan untuk dilakukannya. Kemudian, mintalah keme-nangan dariNya. Sudah mesti, Dia akan menolong kalian. ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ 7 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Muhammad: 7). Wahai kaum Muslimin, kerjakanlah konsekuensi iman dan amal shalih. Sungguh, ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalan yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah men-jadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu pun denganKu." (An-Nur: 55). (41) Kemudian, Allah menyebutkan tanda orang yang menolongNya. Dengan itu, bisa diketahui bahwa orang yang meng-klaim diri menolong Allah dan menolong agamaNya, akan tetapi tidak memenuhi kriteria sifat ini, maka ia dusta. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi," maksudnya Kami menjadikan mereka memilikinya dan menguasainya tanpa ada pihak penentang yang menentang ataupun menghadang, ﴾ أَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "niscaya mereka menegakkan shalat," pada waktu-waktunya, ketentuan-keten-tuannya, rukun-rukunnya dan syarat-syaratnya, baik dalam shalat Jum'at maupun jamaah, ﴾ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan menunaikan zakat," yang menjadi kewajiban mereka secara khusus dan kewajiban atas orang-orang yang berada di bawah tanggungannya secara umum. Mereka menyerahkannya kepada para penerimanya yang (benar-benar) mereka adalah pihak yang berhak. ﴾ وَأَمَرُواْ بِٱلۡمَعۡرُوفِ ﴿ "Dan menyuruh berbuat yang ma`ruf." Ini mencakup segala kebajikan yang sudah dikenal dalam kaca mata syariat dan akal sehat, berupa hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. ﴾ وَنَهَوۡاْ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۗ ﴿ "Dan mencegah dari perbuatan yang mungkar." Setiap kemungkaran menurut syariat dan akal sehat, keburukannya sudah diketahui bersama. "Perintah terhadap sesuatu dan larangan darinya" meliputi pula (perintah dan larangan) segala yang tidak terpenuhi kecuali dengannya. Apabila (aplikasi) kebaikan dan kemungkaran tergantung pada proses belajar dan mengajar, maka orang-orang diharuskan untuk belajar dan mengajar. Jika (pelaksanaan amar ma'ruf dan nahi mungkar) terikat dengan sanksi terukur dan tidak terukur secara syariat, seperti berbagai macam ta'zir (sanksi), maka mereka mesti me-ngerjakannya. Jika amar ma'ruf dan nahi mungkar itu tergantung pada penetapan sejumlah orang untuk menanganinya, maka hal itu mesti dilakukan, dan lain sebagainya, yang termasuk perkara-perkara pelaksanaan amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak terlak-sana kecuali dengannya. ﴾ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ 41 ﴿ "Dan kepada Allah-lah segala urusan kembali," maksudnya segala urusan kembali kepada Allah. Sungguh, Allah telah mengabarkan bahwa kesudahan yang baik adalah bagi (orang-orang yang) bertakwa. Barangsiapa yang telah Allah tetapkan se-bagai penguasa umat manusia, dari kalangan para raja kemudian dia menjalankan perintah Allah, maka baginya penutupan yang baik dan kondisi yang lurus. Dan siapa saja yang berkuasa atas mereka dengan tangan besi dan menjalankan ungkapan hawa nafsunya di tengah mereka, maka kendatipun dia berhasil meraih kekuasaan sementara, sungguh babak akhirnya tidak baik, kepe-mimpinannya menghasilkan kesialan, dan akhirnya tercela.

Al-Hajj 22:42

"Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, 'Ad dan Tsamud, dan kaum Ibrahim dan kaum Luth, dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguh-kan (azabKu) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencianKu (kepada mereka itu). Betapa banyaknya kota yang telah Kami binasakan, yang penduduknya dalam keadaan zhalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi. Maka apa-kah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesung-guhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (Al-Hajj: 42-46). (42-44) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, "Kendatipun kaum musyrikin mendustakan dirimu, tapi engkau bukanlah rasul yang pertama kali didustakan. Dan mereka pun bukan umat manusia yang pertama kalian mendustakan rasul mereka." ﴾ فَقَدۡ كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحٖ وَعَادٞ وَثَمُودُ 42 وَقَوۡمُ إِبۡرَٰهِيمَ وَقَوۡمُ لُوطٖ 43 وَأَصۡحَٰبُ مَدۡيَنَۖ ﴿ "Sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, 'Ad dan Tsamud dan kaum Ibrahim dan kaum Luth dan penduduk Madyan," yaitu kaum Nabi Syu'aib. ﴾ وَكُذِّبَ مُوسَىٰۖ فَأَمۡلَيۡتُ لِلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan telah didus-takan Musa, lalu Aku tangguhkan (azabKu) untuk orang -orang kafir," yaitu orang-orang yang mendustakan. Aku tidak menyegerakan siksaan bagi mereka. Justru Aku memberikan masa penangguhan lagi sehingga mereka menjalankan tindak melampaui batas mereka dalam keadaan pandangan yang tertutup, dan semakin bertambah kekufuran dan keburukan mereka. ﴾ ثُمَّ أَخَذۡتُهُمۡۖ ﴿ "Kemudian Aku azab mereka," dengan siksaan oleh Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha-kuasa. ﴾ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ 44 ﴿ "Maka (lihatlah) bagaimana besarnya keben-cianKu (kepada mereka itu)," maksudnya pengingkaranKu terhadap kekufuran dan pendustaan mereka. Bagaimanakah keadaannya? Bentuknya adalah hukuman yang sangat berat dan siksaan yang sangat mengerikan. Di antara mereka ada yang ditenggelamkan. Ada yang disambar oleh petir. Sebagian lain dibinasakan oleh angin kencang. Ada yang diratakan dengan bumi. Dan di antara mereka ada yang dikirimi siksaan hari yang dinaungi oleh gumpalan mendung. Hendaknya kaum yang mendustakan memetik pelajaran (dari kejadian-kejadian yang menimpa mereka ini), agar (tidak) ditimpa oleh siksaan yang melanda mereka. Sesungguhnya mereka tidak lebih baik daripada orang-orang sebelumnya. Dan tidak tertuliskan surat bebas (siksaan bagi mereka) di dalam kitab-kitab yang diturunkan dari Allah. Berapa banyak orang-orang yang di-timpa siksaan lagi binasa semisal mereka! (45) Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ فَكَأَيِّن مِّن قَرۡيَةٍ ﴿ "Berapa banyaknya kota," maksudnya alangkah banyak kota ﴾ أَهۡلَكۡنَٰهَا ﴿ "yang telah Kami binasakan," dengan siksaan yang keras dan kehinaan di dunia, ﴾ وَهِيَ ظَالِمَةٞ ﴿ "yang penduduknya dalam keadaan zhalim," lan-taran kekufuran mereka terhadap Allah dan pendustaan mereka kepada para RasulNya. Hukuman yang Kami timpakan bukan bentuk kezhaliman Kami kepada mereka. ﴾ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا ﴿ "Maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya," maksud-nya tempat-tempat tinggal mereka berhancuran, istana dan dinding-dindingnya telah roboh dengan atapnya, sehingga berubah luluh-lantak padahal sebelumnya terpelihara, dan terlihat kuat, setelah sebelumnya layak dihuni dan nyaman bagi penghuninya. ﴾ وَبِئۡرٖ مُّعَطَّلَةٖ وَقَصۡرٖ مَّشِيدٍ 45 ﴿ "Dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi," maksudnya, berapa banyak sumur yang da-hulu orang-orang berdesakan di sana untuk mengambil air minum bagi mereka dan hewan-hewan ternak mereka. Orang-orang itu lenyap. Tiada lagi sesosok orang pun yang datang dan muncul di situ. Alangkah banyak istana, yang pemiliknya telah susah payah membangun dan meninggikannya, menguatkan dan menghiasinya, lalu ketika ketetapan (siksaan) Allah menghampiri mereka, maka itu semua tidak bermanfaat sama sekali bagi mereka. Tempat ini menjadi kosong dari penghuninya. Mereka telah menjadi sumber pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan permisalan bagi orang-orang yang mau berpikir dan merenung. (46) Oleh karena itu, Allah menyeru para hambaNya untuk mengembara di bumi supaya mereka merenung dan mengambil pelajaran. Allah berfirman, ﴾ أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi," dengan fisik dan hati mereka, ﴾ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ ﴿ "lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami," ayat-ayat Allah dan mencermati sumber-sumber pelajaran dengannya ﴾ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ ﴿ "atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar," berita-berita umat yang telah berlalu dan kabar-kabar mengenai bangsa-bangsa yang dilanda siksaan. Kalau tidak ditujukan untuk maksud demikian, maka pandangan mata, pendengaran telinga dan gerakan tubuh yang nihil dari upaya perenungan dan pengambilan pelajaran tidak ber-manfaat dan tidak mengantarkan kepada tujuan yang mesti dicapai. Karena alasan itu, Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ 46 ﴿ "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada," maksudnya model kebutaan yang membahayakan dalam agama ini adalah kebutaan hati ter-hadap kebenaran. Akibatnya tidak mampu menyaksikannya seba-gaimana orang buta tidak dapat melihat obyek-obyek pandangan. Sementara itu, kebutaan pandangan indra mata, maka puncak (pengaruh negatifnya) hanya mengganggu mata pencaharian dan kemanfaatan duniawi saja.

Al-Hajj 22:43

"Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, 'Ad dan Tsamud, dan kaum Ibrahim dan kaum Luth, dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguh-kan (azabKu) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencianKu (kepada mereka itu). Betapa banyaknya kota yang telah Kami binasakan, yang penduduknya dalam keadaan zhalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi. Maka apa-kah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesung-guhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (Al-Hajj: 42-46). (42-44) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, "Kendatipun kaum musyrikin mendustakan dirimu, tapi engkau bukanlah rasul yang pertama kali didustakan. Dan mereka pun bukan umat manusia yang pertama kalian mendustakan rasul mereka." ﴾ فَقَدۡ كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحٖ وَعَادٞ وَثَمُودُ 42 وَقَوۡمُ إِبۡرَٰهِيمَ وَقَوۡمُ لُوطٖ 43 وَأَصۡحَٰبُ مَدۡيَنَۖ ﴿ "Sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, 'Ad dan Tsamud dan kaum Ibrahim dan kaum Luth dan penduduk Madyan," yaitu kaum Nabi Syu'aib. ﴾ وَكُذِّبَ مُوسَىٰۖ فَأَمۡلَيۡتُ لِلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan telah didus-takan Musa, lalu Aku tangguhkan (azabKu) untuk orang -orang kafir," yaitu orang-orang yang mendustakan. Aku tidak menyegerakan siksaan bagi mereka. Justru Aku memberikan masa penangguhan lagi sehingga mereka menjalankan tindak melampaui batas mereka dalam keadaan pandangan yang tertutup, dan semakin bertambah kekufuran dan keburukan mereka. ﴾ ثُمَّ أَخَذۡتُهُمۡۖ ﴿ "Kemudian Aku azab mereka," dengan siksaan oleh Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha-kuasa. ﴾ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ 44 ﴿ "Maka (lihatlah) bagaimana besarnya keben-cianKu (kepada mereka itu)," maksudnya pengingkaranKu terhadap kekufuran dan pendustaan mereka. Bagaimanakah keadaannya? Bentuknya adalah hukuman yang sangat berat dan siksaan yang sangat mengerikan. Di antara mereka ada yang ditenggelamkan. Ada yang disambar oleh petir. Sebagian lain dibinasakan oleh angin kencang. Ada yang diratakan dengan bumi. Dan di antara mereka ada yang dikirimi siksaan hari yang dinaungi oleh gumpalan mendung. Hendaknya kaum yang mendustakan memetik pelajaran (dari kejadian-kejadian yang menimpa mereka ini), agar (tidak) ditimpa oleh siksaan yang melanda mereka. Sesungguhnya mereka tidak lebih baik daripada orang-orang sebelumnya. Dan tidak tertuliskan surat bebas (siksaan bagi mereka) di dalam kitab-kitab yang diturunkan dari Allah. Berapa banyak orang-orang yang di-timpa siksaan lagi binasa semisal mereka! (45) Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ فَكَأَيِّن مِّن قَرۡيَةٍ ﴿ "Berapa banyaknya kota," maksudnya alangkah banyak kota ﴾ أَهۡلَكۡنَٰهَا ﴿ "yang telah Kami binasakan," dengan siksaan yang keras dan kehinaan di dunia, ﴾ وَهِيَ ظَالِمَةٞ ﴿ "yang penduduknya dalam keadaan zhalim," lan-taran kekufuran mereka terhadap Allah dan pendustaan mereka kepada para RasulNya. Hukuman yang Kami timpakan bukan bentuk kezhaliman Kami kepada mereka. ﴾ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا ﴿ "Maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya," maksud-nya tempat-tempat tinggal mereka berhancuran, istana dan dinding-dindingnya telah roboh dengan atapnya, sehingga berubah luluh-lantak padahal sebelumnya terpelihara, dan terlihat kuat, setelah sebelumnya layak dihuni dan nyaman bagi penghuninya. ﴾ وَبِئۡرٖ مُّعَطَّلَةٖ وَقَصۡرٖ مَّشِيدٍ 45 ﴿ "Dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi," maksudnya, berapa banyak sumur yang da-hulu orang-orang berdesakan di sana untuk mengambil air minum bagi mereka dan hewan-hewan ternak mereka. Orang-orang itu lenyap. Tiada lagi sesosok orang pun yang datang dan muncul di situ. Alangkah banyak istana, yang pemiliknya telah susah payah membangun dan meninggikannya, menguatkan dan menghiasinya, lalu ketika ketetapan (siksaan) Allah menghampiri mereka, maka itu semua tidak bermanfaat sama sekali bagi mereka. Tempat ini menjadi kosong dari penghuninya. Mereka telah menjadi sumber pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan permisalan bagi orang-orang yang mau berpikir dan merenung. (46) Oleh karena itu, Allah menyeru para hambaNya untuk mengembara di bumi supaya mereka merenung dan mengambil pelajaran. Allah berfirman, ﴾ أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi," dengan fisik dan hati mereka, ﴾ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ ﴿ "lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami," ayat-ayat Allah dan mencermati sumber-sumber pelajaran dengannya ﴾ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ ﴿ "atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar," berita-berita umat yang telah berlalu dan kabar-kabar mengenai bangsa-bangsa yang dilanda siksaan. Kalau tidak ditujukan untuk maksud demikian, maka pandangan mata, pendengaran telinga dan gerakan tubuh yang nihil dari upaya perenungan dan pengambilan pelajaran tidak ber-manfaat dan tidak mengantarkan kepada tujuan yang mesti dicapai. Karena alasan itu, Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ 46 ﴿ "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada," maksudnya model kebutaan yang membahayakan dalam agama ini adalah kebutaan hati ter-hadap kebenaran. Akibatnya tidak mampu menyaksikannya seba-gaimana orang buta tidak dapat melihat obyek-obyek pandangan. Sementara itu, kebutaan pandangan indra mata, maka puncak (pengaruh negatifnya) hanya mengganggu mata pencaharian dan kemanfaatan duniawi saja.

Al-Hajj 22:44

"Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, 'Ad dan Tsamud, dan kaum Ibrahim dan kaum Luth, dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguh-kan (azabKu) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencianKu (kepada mereka itu). Betapa banyaknya kota yang telah Kami binasakan, yang penduduknya dalam keadaan zhalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi. Maka apa-kah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesung-guhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (Al-Hajj: 42-46). (42-44) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, "Kendatipun kaum musyrikin mendustakan dirimu, tapi engkau bukanlah rasul yang pertama kali didustakan. Dan mereka pun bukan umat manusia yang pertama kalian mendustakan rasul mereka." ﴾ فَقَدۡ كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحٖ وَعَادٞ وَثَمُودُ 42 وَقَوۡمُ إِبۡرَٰهِيمَ وَقَوۡمُ لُوطٖ 43 وَأَصۡحَٰبُ مَدۡيَنَۖ ﴿ "Sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, 'Ad dan Tsamud dan kaum Ibrahim dan kaum Luth dan penduduk Madyan," yaitu kaum Nabi Syu'aib. ﴾ وَكُذِّبَ مُوسَىٰۖ فَأَمۡلَيۡتُ لِلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan telah didus-takan Musa, lalu Aku tangguhkan (azabKu) untuk orang -orang kafir," yaitu orang-orang yang mendustakan. Aku tidak menyegerakan siksaan bagi mereka. Justru Aku memberikan masa penangguhan lagi sehingga mereka menjalankan tindak melampaui batas mereka dalam keadaan pandangan yang tertutup, dan semakin bertambah kekufuran dan keburukan mereka. ﴾ ثُمَّ أَخَذۡتُهُمۡۖ ﴿ "Kemudian Aku azab mereka," dengan siksaan oleh Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha-kuasa. ﴾ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ 44 ﴿ "Maka (lihatlah) bagaimana besarnya keben-cianKu (kepada mereka itu)," maksudnya pengingkaranKu terhadap kekufuran dan pendustaan mereka. Bagaimanakah keadaannya? Bentuknya adalah hukuman yang sangat berat dan siksaan yang sangat mengerikan. Di antara mereka ada yang ditenggelamkan. Ada yang disambar oleh petir. Sebagian lain dibinasakan oleh angin kencang. Ada yang diratakan dengan bumi. Dan di antara mereka ada yang dikirimi siksaan hari yang dinaungi oleh gumpalan mendung. Hendaknya kaum yang mendustakan memetik pelajaran (dari kejadian-kejadian yang menimpa mereka ini), agar (tidak) ditimpa oleh siksaan yang melanda mereka. Sesungguhnya mereka tidak lebih baik daripada orang-orang sebelumnya. Dan tidak tertuliskan surat bebas (siksaan bagi mereka) di dalam kitab-kitab yang diturunkan dari Allah. Berapa banyak orang-orang yang di-timpa siksaan lagi binasa semisal mereka! (45) Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ فَكَأَيِّن مِّن قَرۡيَةٍ ﴿ "Berapa banyaknya kota," maksudnya alangkah banyak kota ﴾ أَهۡلَكۡنَٰهَا ﴿ "yang telah Kami binasakan," dengan siksaan yang keras dan kehinaan di dunia, ﴾ وَهِيَ ظَالِمَةٞ ﴿ "yang penduduknya dalam keadaan zhalim," lan-taran kekufuran mereka terhadap Allah dan pendustaan mereka kepada para RasulNya. Hukuman yang Kami timpakan bukan bentuk kezhaliman Kami kepada mereka. ﴾ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا ﴿ "Maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya," maksud-nya tempat-tempat tinggal mereka berhancuran, istana dan dinding-dindingnya telah roboh dengan atapnya, sehingga berubah luluh-lantak padahal sebelumnya terpelihara, dan terlihat kuat, setelah sebelumnya layak dihuni dan nyaman bagi penghuninya. ﴾ وَبِئۡرٖ مُّعَطَّلَةٖ وَقَصۡرٖ مَّشِيدٍ 45 ﴿ "Dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi," maksudnya, berapa banyak sumur yang da-hulu orang-orang berdesakan di sana untuk mengambil air minum bagi mereka dan hewan-hewan ternak mereka. Orang-orang itu lenyap. Tiada lagi sesosok orang pun yang datang dan muncul di situ. Alangkah banyak istana, yang pemiliknya telah susah payah membangun dan meninggikannya, menguatkan dan menghiasinya, lalu ketika ketetapan (siksaan) Allah menghampiri mereka, maka itu semua tidak bermanfaat sama sekali bagi mereka. Tempat ini menjadi kosong dari penghuninya. Mereka telah menjadi sumber pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan permisalan bagi orang-orang yang mau berpikir dan merenung. (46) Oleh karena itu, Allah menyeru para hambaNya untuk mengembara di bumi supaya mereka merenung dan mengambil pelajaran. Allah berfirman, ﴾ أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi," dengan fisik dan hati mereka, ﴾ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ ﴿ "lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami," ayat-ayat Allah dan mencermati sumber-sumber pelajaran dengannya ﴾ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ ﴿ "atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar," berita-berita umat yang telah berlalu dan kabar-kabar mengenai bangsa-bangsa yang dilanda siksaan. Kalau tidak ditujukan untuk maksud demikian, maka pandangan mata, pendengaran telinga dan gerakan tubuh yang nihil dari upaya perenungan dan pengambilan pelajaran tidak ber-manfaat dan tidak mengantarkan kepada tujuan yang mesti dicapai. Karena alasan itu, Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ 46 ﴿ "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada," maksudnya model kebutaan yang membahayakan dalam agama ini adalah kebutaan hati ter-hadap kebenaran. Akibatnya tidak mampu menyaksikannya seba-gaimana orang buta tidak dapat melihat obyek-obyek pandangan. Sementara itu, kebutaan pandangan indra mata, maka puncak (pengaruh negatifnya) hanya mengganggu mata pencaharian dan kemanfaatan duniawi saja.

Al-Hajj 22:45

"Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, 'Ad dan Tsamud, dan kaum Ibrahim dan kaum Luth, dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguh-kan (azabKu) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencianKu (kepada mereka itu). Betapa banyaknya kota yang telah Kami binasakan, yang penduduknya dalam keadaan zhalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi. Maka apa-kah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesung-guhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (Al-Hajj: 42-46). (42-44) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, "Kendatipun kaum musyrikin mendustakan dirimu, tapi engkau bukanlah rasul yang pertama kali didustakan. Dan mereka pun bukan umat manusia yang pertama kalian mendustakan rasul mereka." ﴾ فَقَدۡ كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحٖ وَعَادٞ وَثَمُودُ 42 وَقَوۡمُ إِبۡرَٰهِيمَ وَقَوۡمُ لُوطٖ 43 وَأَصۡحَٰبُ مَدۡيَنَۖ ﴿ "Sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, 'Ad dan Tsamud dan kaum Ibrahim dan kaum Luth dan penduduk Madyan," yaitu kaum Nabi Syu'aib. ﴾ وَكُذِّبَ مُوسَىٰۖ فَأَمۡلَيۡتُ لِلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan telah didus-takan Musa, lalu Aku tangguhkan (azabKu) untuk orang -orang kafir," yaitu orang-orang yang mendustakan. Aku tidak menyegerakan siksaan bagi mereka. Justru Aku memberikan masa penangguhan lagi sehingga mereka menjalankan tindak melampaui batas mereka dalam keadaan pandangan yang tertutup, dan semakin bertambah kekufuran dan keburukan mereka. ﴾ ثُمَّ أَخَذۡتُهُمۡۖ ﴿ "Kemudian Aku azab mereka," dengan siksaan oleh Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha-kuasa. ﴾ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ 44 ﴿ "Maka (lihatlah) bagaimana besarnya keben-cianKu (kepada mereka itu)," maksudnya pengingkaranKu terhadap kekufuran dan pendustaan mereka. Bagaimanakah keadaannya? Bentuknya adalah hukuman yang sangat berat dan siksaan yang sangat mengerikan. Di antara mereka ada yang ditenggelamkan. Ada yang disambar oleh petir. Sebagian lain dibinasakan oleh angin kencang. Ada yang diratakan dengan bumi. Dan di antara mereka ada yang dikirimi siksaan hari yang dinaungi oleh gumpalan mendung. Hendaknya kaum yang mendustakan memetik pelajaran (dari kejadian-kejadian yang menimpa mereka ini), agar (tidak) ditimpa oleh siksaan yang melanda mereka. Sesungguhnya mereka tidak lebih baik daripada orang-orang sebelumnya. Dan tidak tertuliskan surat bebas (siksaan bagi mereka) di dalam kitab-kitab yang diturunkan dari Allah. Berapa banyak orang-orang yang di-timpa siksaan lagi binasa semisal mereka! (45) Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ فَكَأَيِّن مِّن قَرۡيَةٍ ﴿ "Berapa banyaknya kota," maksudnya alangkah banyak kota ﴾ أَهۡلَكۡنَٰهَا ﴿ "yang telah Kami binasakan," dengan siksaan yang keras dan kehinaan di dunia, ﴾ وَهِيَ ظَالِمَةٞ ﴿ "yang penduduknya dalam keadaan zhalim," lan-taran kekufuran mereka terhadap Allah dan pendustaan mereka kepada para RasulNya. Hukuman yang Kami timpakan bukan bentuk kezhaliman Kami kepada mereka. ﴾ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا ﴿ "Maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya," maksud-nya tempat-tempat tinggal mereka berhancuran, istana dan dinding-dindingnya telah roboh dengan atapnya, sehingga berubah luluh-lantak padahal sebelumnya terpelihara, dan terlihat kuat, setelah sebelumnya layak dihuni dan nyaman bagi penghuninya. ﴾ وَبِئۡرٖ مُّعَطَّلَةٖ وَقَصۡرٖ مَّشِيدٍ 45 ﴿ "Dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi," maksudnya, berapa banyak sumur yang da-hulu orang-orang berdesakan di sana untuk mengambil air minum bagi mereka dan hewan-hewan ternak mereka. Orang-orang itu lenyap. Tiada lagi sesosok orang pun yang datang dan muncul di situ. Alangkah banyak istana, yang pemiliknya telah susah payah membangun dan meninggikannya, menguatkan dan menghiasinya, lalu ketika ketetapan (siksaan) Allah menghampiri mereka, maka itu semua tidak bermanfaat sama sekali bagi mereka. Tempat ini menjadi kosong dari penghuninya. Mereka telah menjadi sumber pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan permisalan bagi orang-orang yang mau berpikir dan merenung. (46) Oleh karena itu, Allah menyeru para hambaNya untuk mengembara di bumi supaya mereka merenung dan mengambil pelajaran. Allah berfirman, ﴾ أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi," dengan fisik dan hati mereka, ﴾ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ ﴿ "lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami," ayat-ayat Allah dan mencermati sumber-sumber pelajaran dengannya ﴾ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ ﴿ "atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar," berita-berita umat yang telah berlalu dan kabar-kabar mengenai bangsa-bangsa yang dilanda siksaan. Kalau tidak ditujukan untuk maksud demikian, maka pandangan mata, pendengaran telinga dan gerakan tubuh yang nihil dari upaya perenungan dan pengambilan pelajaran tidak ber-manfaat dan tidak mengantarkan kepada tujuan yang mesti dicapai. Karena alasan itu, Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ 46 ﴿ "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada," maksudnya model kebutaan yang membahayakan dalam agama ini adalah kebutaan hati ter-hadap kebenaran. Akibatnya tidak mampu menyaksikannya seba-gaimana orang buta tidak dapat melihat obyek-obyek pandangan. Sementara itu, kebutaan pandangan indra mata, maka puncak (pengaruh negatifnya) hanya mengganggu mata pencaharian dan kemanfaatan duniawi saja.

Al-Hajj 22:46

"Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, 'Ad dan Tsamud, dan kaum Ibrahim dan kaum Luth, dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguh-kan (azabKu) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencianKu (kepada mereka itu). Betapa banyaknya kota yang telah Kami binasakan, yang penduduknya dalam keadaan zhalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi. Maka apa-kah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesung-guhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (Al-Hajj: 42-46). (42-44) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, Muhammad a, "Kendatipun kaum musyrikin mendustakan dirimu, tapi engkau bukanlah rasul yang pertama kali didustakan. Dan mereka pun bukan umat manusia yang pertama kalian mendustakan rasul mereka." ﴾ فَقَدۡ كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحٖ وَعَادٞ وَثَمُودُ 42 وَقَوۡمُ إِبۡرَٰهِيمَ وَقَوۡمُ لُوطٖ 43 وَأَصۡحَٰبُ مَدۡيَنَۖ ﴿ "Sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, 'Ad dan Tsamud dan kaum Ibrahim dan kaum Luth dan penduduk Madyan," yaitu kaum Nabi Syu'aib. ﴾ وَكُذِّبَ مُوسَىٰۖ فَأَمۡلَيۡتُ لِلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan telah didus-takan Musa, lalu Aku tangguhkan (azabKu) untuk orang -orang kafir," yaitu orang-orang yang mendustakan. Aku tidak menyegerakan siksaan bagi mereka. Justru Aku memberikan masa penangguhan lagi sehingga mereka menjalankan tindak melampaui batas mereka dalam keadaan pandangan yang tertutup, dan semakin bertambah kekufuran dan keburukan mereka. ﴾ ثُمَّ أَخَذۡتُهُمۡۖ ﴿ "Kemudian Aku azab mereka," dengan siksaan oleh Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha-kuasa. ﴾ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ 44 ﴿ "Maka (lihatlah) bagaimana besarnya keben-cianKu (kepada mereka itu)," maksudnya pengingkaranKu terhadap kekufuran dan pendustaan mereka. Bagaimanakah keadaannya? Bentuknya adalah hukuman yang sangat berat dan siksaan yang sangat mengerikan. Di antara mereka ada yang ditenggelamkan. Ada yang disambar oleh petir. Sebagian lain dibinasakan oleh angin kencang. Ada yang diratakan dengan bumi. Dan di antara mereka ada yang dikirimi siksaan hari yang dinaungi oleh gumpalan mendung. Hendaknya kaum yang mendustakan memetik pelajaran (dari kejadian-kejadian yang menimpa mereka ini), agar (tidak) ditimpa oleh siksaan yang melanda mereka. Sesungguhnya mereka tidak lebih baik daripada orang-orang sebelumnya. Dan tidak tertuliskan surat bebas (siksaan bagi mereka) di dalam kitab-kitab yang diturunkan dari Allah. Berapa banyak orang-orang yang di-timpa siksaan lagi binasa semisal mereka! (45) Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ فَكَأَيِّن مِّن قَرۡيَةٍ ﴿ "Berapa banyaknya kota," maksudnya alangkah banyak kota ﴾ أَهۡلَكۡنَٰهَا ﴿ "yang telah Kami binasakan," dengan siksaan yang keras dan kehinaan di dunia, ﴾ وَهِيَ ظَالِمَةٞ ﴿ "yang penduduknya dalam keadaan zhalim," lan-taran kekufuran mereka terhadap Allah dan pendustaan mereka kepada para RasulNya. Hukuman yang Kami timpakan bukan bentuk kezhaliman Kami kepada mereka. ﴾ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا ﴿ "Maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya," maksud-nya tempat-tempat tinggal mereka berhancuran, istana dan dinding-dindingnya telah roboh dengan atapnya, sehingga berubah luluh-lantak padahal sebelumnya terpelihara, dan terlihat kuat, setelah sebelumnya layak dihuni dan nyaman bagi penghuninya. ﴾ وَبِئۡرٖ مُّعَطَّلَةٖ وَقَصۡرٖ مَّشِيدٍ 45 ﴿ "Dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi," maksudnya, berapa banyak sumur yang da-hulu orang-orang berdesakan di sana untuk mengambil air minum bagi mereka dan hewan-hewan ternak mereka. Orang-orang itu lenyap. Tiada lagi sesosok orang pun yang datang dan muncul di situ. Alangkah banyak istana, yang pemiliknya telah susah payah membangun dan meninggikannya, menguatkan dan menghiasinya, lalu ketika ketetapan (siksaan) Allah menghampiri mereka, maka itu semua tidak bermanfaat sama sekali bagi mereka. Tempat ini menjadi kosong dari penghuninya. Mereka telah menjadi sumber pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan permisalan bagi orang-orang yang mau berpikir dan merenung. (46) Oleh karena itu, Allah menyeru para hambaNya untuk mengembara di bumi supaya mereka merenung dan mengambil pelajaran. Allah berfirman, ﴾ أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi," dengan fisik dan hati mereka, ﴾ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ ﴿ "lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami," ayat-ayat Allah dan mencermati sumber-sumber pelajaran dengannya ﴾ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ ﴿ "atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar," berita-berita umat yang telah berlalu dan kabar-kabar mengenai bangsa-bangsa yang dilanda siksaan. Kalau tidak ditujukan untuk maksud demikian, maka pandangan mata, pendengaran telinga dan gerakan tubuh yang nihil dari upaya perenungan dan pengambilan pelajaran tidak ber-manfaat dan tidak mengantarkan kepada tujuan yang mesti dicapai. Karena alasan itu, Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ 46 ﴿ "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada," maksudnya model kebutaan yang membahayakan dalam agama ini adalah kebutaan hati ter-hadap kebenaran. Akibatnya tidak mampu menyaksikannya seba-gaimana orang buta tidak dapat melihat obyek-obyek pandangan. Sementara itu, kebutaan pandangan indra mata, maka puncak (pengaruh negatifnya) hanya mengganggu mata pencaharian dan kemanfaatan duniawi saja.

Al-Hajj 22:47

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan mengingkari janjiNya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. Dan berapa banyak kota yang Aku tang-guhkan (azabKu) kepadanya, yang penduduknya berbuat zhalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepadaKu-lah kembalinya (segala sesuatu)." (Al-Hajj: 47-48). (47) Kaum yang mendustakan meminta engkau menye-gerakan datangnya siksaan, lantaran kebodohan, kezhaliman dan penentangan mereka, dalam rangka untuk melumpuhkan kekuatan (hujjah) Allah dan mendustakan para RasulNya. Allah tidak akan memungkiri janjiNya. Siksaan yang telah dijanjikan, pasti tiba. Tidak ada penghalang yang bisa menghambatnya. Tentang mem-percepat dan menyegerakan waktu kedatangannya maka bukan tergantung pada dirimu, wahai Muhammad. Janganlah permintaan mereka dan tindakan untuk melemahkan Kami membuatmu kendor. Sesungguhnya, di hadapan mereka terdapat Hari Kiamat yang mana orang-orang dahulu dan orang-orang belakangan akan dikumpulkan di hari tersebut. Mereka dibalasi berdasarkan amali-yah mereka. Dan siksaan yang abadi lagi menyakitkan akan meli-puti mereka. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ وَإِنَّ يَوۡمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلۡفِ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ 47 ﴿ "Sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu," lantaran waktunya yang pan-jang, kedahsyatan dan kengeriannya. Sama saja, baik mereka telah ditimpa siksaan di dunia atau siksaan itu tertunda di akhirat, karena sesungguhnya hari itu pasti akan menghadang mereka. Makna yang dimaksud dengan ayat ini juga mengarah ke pengertian, bahwasanya Allah itu Mahabijak, walaupun mereka meminta penyegeraan azab. Sesungguhnya satu hari di sisiNya bagaikan seribu tahun lamanya dalam hitungan kalian. Jarak ini, kendatipun kalian anggap masih lama, dan kalian anggap keda-tangan siksaan itu lamban, maka sesungguhnya Allah sekedar memberikan tempo yang panjang, tidak sedang melupakan kalian. Manakala tiba waktu Allah untuk menyiksa orang-orang zhalim dengan siksaanNya, niscaya Dia tidak akan meloloskan mereka. (48) ﴾ وَكَأَيِّن مِّن قَرۡيَةٍ أَمۡلَيۡتُ لَهَا ﴿ "Dan berapa banyak kota yang Aku tangguhkan (azabKu) kepadanya," Kami menundanya untuk waktu yang lama ﴾ وَهِيَ ظَالِمَةٞ ﴿ "yang penduduknya berbuat zhalim," meskipun mereka berbuat kezhaliman, laju mereka untuk berbuat kezhaliman tidak serta-merta membuat Kami mempercepat hu-kuman (mereka). ﴾ ثُمَّ أَخَذۡتُهَا وَإِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ 48 ﴿ "Kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepadaKu-lah kembalinya (segala sesuatu)," disertai siksa yang menghampiri mereka di dunia, mereka akan kembali kepada Allah, lalu menyiksa mereka dengan siksaNya. Maka, hati-hatilah orang-orang yang berbuat kezhaliman terhadap datangnya hukuman Allah. Jangan sampai mereka terpedaya dengan penangguhan waktu.

Al-Hajj 22:48

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan mengingkari janjiNya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. Dan berapa banyak kota yang Aku tang-guhkan (azabKu) kepadanya, yang penduduknya berbuat zhalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepadaKu-lah kembalinya (segala sesuatu)." (Al-Hajj: 47-48). (47) Kaum yang mendustakan meminta engkau menye-gerakan datangnya siksaan, lantaran kebodohan, kezhaliman dan penentangan mereka, dalam rangka untuk melumpuhkan kekuatan (hujjah) Allah dan mendustakan para RasulNya. Allah tidak akan memungkiri janjiNya. Siksaan yang telah dijanjikan, pasti tiba. Tidak ada penghalang yang bisa menghambatnya. Tentang mem-percepat dan menyegerakan waktu kedatangannya maka bukan tergantung pada dirimu, wahai Muhammad. Janganlah permintaan mereka dan tindakan untuk melemahkan Kami membuatmu kendor. Sesungguhnya, di hadapan mereka terdapat Hari Kiamat yang mana orang-orang dahulu dan orang-orang belakangan akan dikumpulkan di hari tersebut. Mereka dibalasi berdasarkan amali-yah mereka. Dan siksaan yang abadi lagi menyakitkan akan meli-puti mereka. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ وَإِنَّ يَوۡمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلۡفِ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ 47 ﴿ "Sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu," lantaran waktunya yang pan-jang, kedahsyatan dan kengeriannya. Sama saja, baik mereka telah ditimpa siksaan di dunia atau siksaan itu tertunda di akhirat, karena sesungguhnya hari itu pasti akan menghadang mereka. Makna yang dimaksud dengan ayat ini juga mengarah ke pengertian, bahwasanya Allah itu Mahabijak, walaupun mereka meminta penyegeraan azab. Sesungguhnya satu hari di sisiNya bagaikan seribu tahun lamanya dalam hitungan kalian. Jarak ini, kendatipun kalian anggap masih lama, dan kalian anggap keda-tangan siksaan itu lamban, maka sesungguhnya Allah sekedar memberikan tempo yang panjang, tidak sedang melupakan kalian. Manakala tiba waktu Allah untuk menyiksa orang-orang zhalim dengan siksaanNya, niscaya Dia tidak akan meloloskan mereka. (48) ﴾ وَكَأَيِّن مِّن قَرۡيَةٍ أَمۡلَيۡتُ لَهَا ﴿ "Dan berapa banyak kota yang Aku tangguhkan (azabKu) kepadanya," Kami menundanya untuk waktu yang lama ﴾ وَهِيَ ظَالِمَةٞ ﴿ "yang penduduknya berbuat zhalim," meskipun mereka berbuat kezhaliman, laju mereka untuk berbuat kezhaliman tidak serta-merta membuat Kami mempercepat hu-kuman (mereka). ﴾ ثُمَّ أَخَذۡتُهَا وَإِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ 48 ﴿ "Kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepadaKu-lah kembalinya (segala sesuatu)," disertai siksa yang menghampiri mereka di dunia, mereka akan kembali kepada Allah, lalu menyiksa mereka dengan siksaNya. Maka, hati-hatilah orang-orang yang berbuat kezhaliman terhadap datangnya hukuman Allah. Jangan sampai mereka terpedaya dengan penangguhan waktu.

Al-Hajj 22:49

"Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah se-orang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu.' Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia. Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman), mereka itu adalah penghuni-penghuni Neraka Jahim." (Al-Hajj: 49-51). (49) Allah تعالى menitahkan hamba dan RasulNya, Muhammad untuk memberitahu umat manusia bahwa dirinya adalah utusan Allah dengan sebenar-benarnya, menyampaikan kabar gembira bagi kaum Mukminin tentang pahala Allah, memperingatkan orang-orang kafir dan orang-orang yang zhalim dari hukuman-Nya. FirmanNya, ﴾ مُّبِينٞ 49 ﴿ "Yang nyata," maksudnya, yang jelas peringatannya. Indzar (penyampaian peringatan) pengertiannya menakut-nakuti disertai dengan pemberitahuan obyek yang harus ditakuti. Demikian ini, lantaran beliau telah menegakkan bukti-bukti yang kokoh yang menunjukkan kebenaran peringatan yang beliau arahkan kepada mereka. (50) Berikutnya, Allah menguraikan bentuk peringatan dan kabar gembira itu. Maka, Dia berfirman, ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman," dengan kalbu-kalbu mereka secara benar dan jujur ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal shalih," dengan anggota-anggota tubuh mereka, [﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ 56 ﴿ "mereka berada di surga-surga Na'im," (Al-Hajj: 56), maksudnya surga-surga yang sarat dengan aneka kenikmatan, dari makanan, minuman, perni-kahan, pemandangan-pemandangan dan lantunan suara-suara dan menikmati kenikmatan memandang Rabb Yang Mahamulia dan mendengarkan Firman-firmanNya. (51) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir,"][3] mengingkari nikmat Rabb mereka dan mendustai para utusanNya dan ayat-ayatNya, mereka itu ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ 51 ﴿ "para penghuni Neraka Jahim," maksudnya mereka menetap di sana, setiap waktu. Siksaannya tidak diringankan bagi mereka dan hukumannya tidak mengendor sekejap pun atas mereka.

Al-Hajj 22:50

"Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah se-orang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu.' Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia. Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman), mereka itu adalah penghuni-penghuni Neraka Jahim." (Al-Hajj: 49-51). (49) Allah تعالى menitahkan hamba dan RasulNya, Muhammad untuk memberitahu umat manusia bahwa dirinya adalah utusan Allah dengan sebenar-benarnya, menyampaikan kabar gembira bagi kaum Mukminin tentang pahala Allah, memperingatkan orang-orang kafir dan orang-orang yang zhalim dari hukuman-Nya. FirmanNya, ﴾ مُّبِينٞ 49 ﴿ "Yang nyata," maksudnya, yang jelas peringatannya. Indzar (penyampaian peringatan) pengertiannya menakut-nakuti disertai dengan pemberitahuan obyek yang harus ditakuti. Demikian ini, lantaran beliau telah menegakkan bukti-bukti yang kokoh yang menunjukkan kebenaran peringatan yang beliau arahkan kepada mereka. (50) Berikutnya, Allah menguraikan bentuk peringatan dan kabar gembira itu. Maka, Dia berfirman, ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman," dengan kalbu-kalbu mereka secara benar dan jujur ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal shalih," dengan anggota-anggota tubuh mereka, [﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ 56 ﴿ "mereka berada di surga-surga Na'im," (Al-Hajj: 56), maksudnya surga-surga yang sarat dengan aneka kenikmatan, dari makanan, minuman, perni-kahan, pemandangan-pemandangan dan lantunan suara-suara dan menikmati kenikmatan memandang Rabb Yang Mahamulia dan mendengarkan Firman-firmanNya. (51) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir,"][3] mengingkari nikmat Rabb mereka dan mendustai para utusanNya dan ayat-ayatNya, mereka itu ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ 51 ﴿ "para penghuni Neraka Jahim," maksudnya mereka menetap di sana, setiap waktu. Siksaannya tidak diringankan bagi mereka dan hukumannya tidak mengendor sekejap pun atas mereka.

Al-Hajj 22:51

"Katakanlah, 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah se-orang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu.' Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia. Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman), mereka itu adalah penghuni-penghuni Neraka Jahim." (Al-Hajj: 49-51). (49) Allah تعالى menitahkan hamba dan RasulNya, Muhammad untuk memberitahu umat manusia bahwa dirinya adalah utusan Allah dengan sebenar-benarnya, menyampaikan kabar gembira bagi kaum Mukminin tentang pahala Allah, memperingatkan orang-orang kafir dan orang-orang yang zhalim dari hukuman-Nya. FirmanNya, ﴾ مُّبِينٞ 49 ﴿ "Yang nyata," maksudnya, yang jelas peringatannya. Indzar (penyampaian peringatan) pengertiannya menakut-nakuti disertai dengan pemberitahuan obyek yang harus ditakuti. Demikian ini, lantaran beliau telah menegakkan bukti-bukti yang kokoh yang menunjukkan kebenaran peringatan yang beliau arahkan kepada mereka. (50) Berikutnya, Allah menguraikan bentuk peringatan dan kabar gembira itu. Maka, Dia berfirman, ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman," dengan kalbu-kalbu mereka secara benar dan jujur ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal shalih," dengan anggota-anggota tubuh mereka, [﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ 56 ﴿ "mereka berada di surga-surga Na'im," (Al-Hajj: 56), maksudnya surga-surga yang sarat dengan aneka kenikmatan, dari makanan, minuman, perni-kahan, pemandangan-pemandangan dan lantunan suara-suara dan menikmati kenikmatan memandang Rabb Yang Mahamulia dan mendengarkan Firman-firmanNya. (51) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir,"][3] mengingkari nikmat Rabb mereka dan mendustai para utusanNya dan ayat-ayatNya, mereka itu ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ 51 ﴿ "para penghuni Neraka Jahim," maksudnya mereka menetap di sana, setiap waktu. Siksaannya tidak diringankan bagi mereka dan hukumannya tidak mengendor sekejap pun atas mereka.

Al-Hajj 22:52

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, lalu Allah menghilangkan apa yang dimaksud oleh setan itu, kemudian Allah menguatkan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimaksudkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-Qur`an itulah yang hak dari Rabb-mu lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus." (Al-Hajj: 52-54). (52) Allah تعالى memberitahukan kandungan hikmahNya yang luhur dan seleksi yang Allah tentukan untuk memilih salah seorang dari kalangan para hambaNya, dan bahwa Allah tidaklah mendelegasikan sebelum Muhammad ﴾ مِن رَّسُولٖ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ ﴿ "seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan," maksudnya dia membaca sesuatu untuk menggugah umat manusia dan memerintahkan mereka serta melarang mereka ﴾ أَلۡقَى ٱلشَّيۡطَٰنُ فِيٓ أُمۡنِيَّتِهِۦ ﴿ "setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu," yaitu pada bacaannya, berupa trik-trik dan tipu-daya yang menghantam bacaan tersebut, kendati-pun Allah telah membentengi para rasul pada aspek risalah yang mereka sampaikan dari Allah dan memelihara wahyuNya biar tidak rancu dan bercampur-aduk dengan lainnya. Akan tetapi, lontaran godaan dari setan ini tidak selalu eksis dan berlangsung terus-menerus. Itu hanyalah sekedar hambatan yang timbul ke-mudian lenyap. Hambatan-hambatan ini terbatasi oleh ketentuan-ketentuan. Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ فَيَنسَخُ ٱللَّهُ مَا يُلۡقِي ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Maka Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu," maksudnya Allah melenyapkan dan menghilangkannya serta menggugurkan-nya, dan menerangkan bahwa itu bukan dari bagian ayat-ayatNya. Dan ﴾ يُحۡكِمُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦۗ ﴿ "Allah menguatkan ayat-ayatNya," mengokoh-kannya dan mensterilkan serta menjaganya, hingga tetap bersih murni dari dampak pencampuran hembusan godaan setan. ﴾ وَٱللَّهُ [عَزِيزٌ]﴿ "Dan Allah [Mahaperkasa],"[4] Sempurna kekuatan dan kuasa-Nya. Dengan kesempurnaan kekuatanNya, Dia memelihara wah-yuNya dan mengenyahkan lontaran campur tangan setan-setan. ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "Lagi Mahabijaksana," meletakkan seluruh perkara pada tempatnya. (53) Termasuk tanda kesempurnaan sifat hikmah Allah, Dia membuat setan mampu untuk melontarkan godaan-godaan itu, biar nyata apa yang disampaikan dalam FirmanNya,﴾ لِّيَجۡعَلَ مَا يُلۡقِي ٱلشَّيۡطَٰنُ فِتۡنَةٗ ﴿ "agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu sebagai fitnah," bagi dua golongan manusia yang Allah tidak mem-pedulikan mereka. [Mereka itu orang yang] ﴾ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "di dalam hatinya ada penyakit," yaitu kelemahan dan kekosongan iman yang sampai titik nadir dan (tidak adanya) pembenaran yang teguh. Hingga syubhat paling ringan saja yang muncul sudah dapat ber-pengaruh pada hati mereka. Apabila mereka mendengarkan lon-taran godaan dari setan, maka keraguan dan syak pun melekat pada hati mereka. Maka, jadilah ia fitnah bagi mereka. ﴾ وَٱلۡقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "Dan yang kasar hatinya," maksudnya yang kaku, yang tidak mempan oleh larangan dan peringatan, tidak mencerna maksud dari Allah dan RasulNya, lantaran kekerasannya. Jika mendengarkan lontaran godaan setan, mereka menjadikannya sebagai hujjah mereka atas kebatilan mereka. Dengan dasar itu, mereka melancarkan adu argumentasi. Mereka menentang Allah dan RasulNya. Oleh karena itu, Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَفِي شِقَاقِۭ بَعِيدٖ 53 ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat," maksudnya dalam persengketaan mereka dengan Allah, perlawanan terhadap al-haq dan penentangan terhadapnya, jauh dari rel kebenaran. Tipu daya yang dilancarkan setan berubah menjadi fitnah bagi kedua belah kelompok ini. De-ngan itu, terlihat kebusukan yang tersembunyi di hati-hati mereka. (54) Sementara golongan ketiga, hal itu menjadi pancaran rahmat bagi mereka. Mereka itulah yang disebutkan pada Firman-Nya, ﴾ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-Qur`an itulah yang haq dari Rabbmu." Allah mencurahkan anugerah ilmu bagi mereka yang menjadi (piranti) mereka untuk mengetahui antara kebenaran dan kebatilan, hidayah dan kesesatan, dan mereka pun membedakan antara dua hal itu, antara kebenaran yang kokoh yang Allah teguh-kan dan kebatilan yang timbul yang Allah hapuskan, dengan dasar bukti-bukti dari masing-masing. Dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Allah Mahabijaksana, Dia mendatangkan beberapa ujian yang dengan itu, tersibak rahasia-rahasia jiwa-jiwa yang baik dan jelek. ﴾ فَيُؤۡمِنُواْ بِهِۦ ﴿ "Lalu mereka beriman kepadanya," dengan sebab tersebut, dan keimanan mereka terderek naik manakala halangan dan syubhat-syubhat telah terhindarkan. ﴾ فَتُخۡبِتَ لَهُۥ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "Dan hati mereka tunduk kepadanya," maksudnya khusyu' tunduk dan berserah diri terhadap kandungan hikmahNya. Ini termasuk (pertanda) limpahan hidayah Allah pada mereka. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman," karena keimanan mereka ﴾ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ 54 ﴿ "kepada jalan yang lurus," mengetahui kebenaran dan mengamalkan tuntutan-nya. Maka, Allah meneguhkan orang-orang yang beriman melalui perkataan yang teguh di kehidupan dunia dan akhirat. Ini salah satu macam peneguhan Allah bagi hambaNya. Ayat-ayat ini memuat penjelasan bahwa Rasulullah mem-punyai sumber teladan dari rekan-rekan beliau dari kalangan para rasul, lantaran apa yang terjadi pada beliau ketika membaca ﴾ وَٱلنَّجۡمِ ﴿ "Demi bintang," ketika sampai pada ayat, ﴾ أَفَرَءَيۡتُمُ ٱللَّٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ 19 وَمَنَوٰةَ ٱلثَّالِثَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ 20 ﴿ "Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Latta dan al-'Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terakhir (seba-gai anak perempuan Allah)?" (An-Najm: 19-20). Setan melontarkan godaannya pada bacaan beliau, "Itu adalah burung-burung yang tinggi, dan sesungguhnya syafa'at mereka benar-benar diharapkan." Maka, dengan peristiwa itu, timbullah kesedihan pada diri Rasulullah dan fitnah bagi umat manusia. Se-bagaimana telah dipaparkan oleh Allah. Maka, Allah menurunkan ayat-ayat ini.[5]

Al-Hajj 22:53

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, lalu Allah menghilangkan apa yang dimaksud oleh setan itu, kemudian Allah menguatkan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimaksudkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-Qur`an itulah yang hak dari Rabb-mu lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus." (Al-Hajj: 52-54). (52) Allah تعالى memberitahukan kandungan hikmahNya yang luhur dan seleksi yang Allah tentukan untuk memilih salah seorang dari kalangan para hambaNya, dan bahwa Allah tidaklah mendelegasikan sebelum Muhammad ﴾ مِن رَّسُولٖ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ ﴿ "seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan," maksudnya dia membaca sesuatu untuk menggugah umat manusia dan memerintahkan mereka serta melarang mereka ﴾ أَلۡقَى ٱلشَّيۡطَٰنُ فِيٓ أُمۡنِيَّتِهِۦ ﴿ "setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu," yaitu pada bacaannya, berupa trik-trik dan tipu-daya yang menghantam bacaan tersebut, kendati-pun Allah telah membentengi para rasul pada aspek risalah yang mereka sampaikan dari Allah dan memelihara wahyuNya biar tidak rancu dan bercampur-aduk dengan lainnya. Akan tetapi, lontaran godaan dari setan ini tidak selalu eksis dan berlangsung terus-menerus. Itu hanyalah sekedar hambatan yang timbul ke-mudian lenyap. Hambatan-hambatan ini terbatasi oleh ketentuan-ketentuan. Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ فَيَنسَخُ ٱللَّهُ مَا يُلۡقِي ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Maka Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu," maksudnya Allah melenyapkan dan menghilangkannya serta menggugurkan-nya, dan menerangkan bahwa itu bukan dari bagian ayat-ayatNya. Dan ﴾ يُحۡكِمُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦۗ ﴿ "Allah menguatkan ayat-ayatNya," mengokoh-kannya dan mensterilkan serta menjaganya, hingga tetap bersih murni dari dampak pencampuran hembusan godaan setan. ﴾ وَٱللَّهُ [عَزِيزٌ]﴿ "Dan Allah [Mahaperkasa],"[4] Sempurna kekuatan dan kuasa-Nya. Dengan kesempurnaan kekuatanNya, Dia memelihara wah-yuNya dan mengenyahkan lontaran campur tangan setan-setan. ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "Lagi Mahabijaksana," meletakkan seluruh perkara pada tempatnya. (53) Termasuk tanda kesempurnaan sifat hikmah Allah, Dia membuat setan mampu untuk melontarkan godaan-godaan itu, biar nyata apa yang disampaikan dalam FirmanNya,﴾ لِّيَجۡعَلَ مَا يُلۡقِي ٱلشَّيۡطَٰنُ فِتۡنَةٗ ﴿ "agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu sebagai fitnah," bagi dua golongan manusia yang Allah tidak mem-pedulikan mereka. [Mereka itu orang yang] ﴾ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "di dalam hatinya ada penyakit," yaitu kelemahan dan kekosongan iman yang sampai titik nadir dan (tidak adanya) pembenaran yang teguh. Hingga syubhat paling ringan saja yang muncul sudah dapat ber-pengaruh pada hati mereka. Apabila mereka mendengarkan lon-taran godaan dari setan, maka keraguan dan syak pun melekat pada hati mereka. Maka, jadilah ia fitnah bagi mereka. ﴾ وَٱلۡقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "Dan yang kasar hatinya," maksudnya yang kaku, yang tidak mempan oleh larangan dan peringatan, tidak mencerna maksud dari Allah dan RasulNya, lantaran kekerasannya. Jika mendengarkan lontaran godaan setan, mereka menjadikannya sebagai hujjah mereka atas kebatilan mereka. Dengan dasar itu, mereka melancarkan adu argumentasi. Mereka menentang Allah dan RasulNya. Oleh karena itu, Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَفِي شِقَاقِۭ بَعِيدٖ 53 ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat," maksudnya dalam persengketaan mereka dengan Allah, perlawanan terhadap al-haq dan penentangan terhadapnya, jauh dari rel kebenaran. Tipu daya yang dilancarkan setan berubah menjadi fitnah bagi kedua belah kelompok ini. De-ngan itu, terlihat kebusukan yang tersembunyi di hati-hati mereka. (54) Sementara golongan ketiga, hal itu menjadi pancaran rahmat bagi mereka. Mereka itulah yang disebutkan pada Firman-Nya, ﴾ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-Qur`an itulah yang haq dari Rabbmu." Allah mencurahkan anugerah ilmu bagi mereka yang menjadi (piranti) mereka untuk mengetahui antara kebenaran dan kebatilan, hidayah dan kesesatan, dan mereka pun membedakan antara dua hal itu, antara kebenaran yang kokoh yang Allah teguh-kan dan kebatilan yang timbul yang Allah hapuskan, dengan dasar bukti-bukti dari masing-masing. Dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Allah Mahabijaksana, Dia mendatangkan beberapa ujian yang dengan itu, tersibak rahasia-rahasia jiwa-jiwa yang baik dan jelek. ﴾ فَيُؤۡمِنُواْ بِهِۦ ﴿ "Lalu mereka beriman kepadanya," dengan sebab tersebut, dan keimanan mereka terderek naik manakala halangan dan syubhat-syubhat telah terhindarkan. ﴾ فَتُخۡبِتَ لَهُۥ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "Dan hati mereka tunduk kepadanya," maksudnya khusyu' tunduk dan berserah diri terhadap kandungan hikmahNya. Ini termasuk (pertanda) limpahan hidayah Allah pada mereka. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman," karena keimanan mereka ﴾ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ 54 ﴿ "kepada jalan yang lurus," mengetahui kebenaran dan mengamalkan tuntutan-nya. Maka, Allah meneguhkan orang-orang yang beriman melalui perkataan yang teguh di kehidupan dunia dan akhirat. Ini salah satu macam peneguhan Allah bagi hambaNya. Ayat-ayat ini memuat penjelasan bahwa Rasulullah mem-punyai sumber teladan dari rekan-rekan beliau dari kalangan para rasul, lantaran apa yang terjadi pada beliau ketika membaca ﴾ وَٱلنَّجۡمِ ﴿ "Demi bintang," ketika sampai pada ayat, ﴾ أَفَرَءَيۡتُمُ ٱللَّٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ 19 وَمَنَوٰةَ ٱلثَّالِثَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ 20 ﴿ "Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Latta dan al-'Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terakhir (seba-gai anak perempuan Allah)?" (An-Najm: 19-20). Setan melontarkan godaannya pada bacaan beliau, "Itu adalah burung-burung yang tinggi, dan sesungguhnya syafa'at mereka benar-benar diharapkan." Maka, dengan peristiwa itu, timbullah kesedihan pada diri Rasulullah dan fitnah bagi umat manusia. Se-bagaimana telah dipaparkan oleh Allah. Maka, Allah menurunkan ayat-ayat ini.[5]

Al-Hajj 22:54

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, lalu Allah menghilangkan apa yang dimaksud oleh setan itu, kemudian Allah menguatkan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimaksudkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-Qur`an itulah yang hak dari Rabb-mu lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus." (Al-Hajj: 52-54). (52) Allah تعالى memberitahukan kandungan hikmahNya yang luhur dan seleksi yang Allah tentukan untuk memilih salah seorang dari kalangan para hambaNya, dan bahwa Allah tidaklah mendelegasikan sebelum Muhammad ﴾ مِن رَّسُولٖ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ ﴿ "seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan," maksudnya dia membaca sesuatu untuk menggugah umat manusia dan memerintahkan mereka serta melarang mereka ﴾ أَلۡقَى ٱلشَّيۡطَٰنُ فِيٓ أُمۡنِيَّتِهِۦ ﴿ "setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu," yaitu pada bacaannya, berupa trik-trik dan tipu-daya yang menghantam bacaan tersebut, kendati-pun Allah telah membentengi para rasul pada aspek risalah yang mereka sampaikan dari Allah dan memelihara wahyuNya biar tidak rancu dan bercampur-aduk dengan lainnya. Akan tetapi, lontaran godaan dari setan ini tidak selalu eksis dan berlangsung terus-menerus. Itu hanyalah sekedar hambatan yang timbul ke-mudian lenyap. Hambatan-hambatan ini terbatasi oleh ketentuan-ketentuan. Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ فَيَنسَخُ ٱللَّهُ مَا يُلۡقِي ٱلشَّيۡطَٰنُ ﴿ "Maka Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu," maksudnya Allah melenyapkan dan menghilangkannya serta menggugurkan-nya, dan menerangkan bahwa itu bukan dari bagian ayat-ayatNya. Dan ﴾ يُحۡكِمُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦۗ ﴿ "Allah menguatkan ayat-ayatNya," mengokoh-kannya dan mensterilkan serta menjaganya, hingga tetap bersih murni dari dampak pencampuran hembusan godaan setan. ﴾ وَٱللَّهُ [عَزِيزٌ]﴿ "Dan Allah [Mahaperkasa],"[4] Sempurna kekuatan dan kuasa-Nya. Dengan kesempurnaan kekuatanNya, Dia memelihara wah-yuNya dan mengenyahkan lontaran campur tangan setan-setan. ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "Lagi Mahabijaksana," meletakkan seluruh perkara pada tempatnya. (53) Termasuk tanda kesempurnaan sifat hikmah Allah, Dia membuat setan mampu untuk melontarkan godaan-godaan itu, biar nyata apa yang disampaikan dalam FirmanNya,﴾ لِّيَجۡعَلَ مَا يُلۡقِي ٱلشَّيۡطَٰنُ فِتۡنَةٗ ﴿ "agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu sebagai fitnah," bagi dua golongan manusia yang Allah tidak mem-pedulikan mereka. [Mereka itu orang yang] ﴾ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "di dalam hatinya ada penyakit," yaitu kelemahan dan kekosongan iman yang sampai titik nadir dan (tidak adanya) pembenaran yang teguh. Hingga syubhat paling ringan saja yang muncul sudah dapat ber-pengaruh pada hati mereka. Apabila mereka mendengarkan lon-taran godaan dari setan, maka keraguan dan syak pun melekat pada hati mereka. Maka, jadilah ia fitnah bagi mereka. ﴾ وَٱلۡقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "Dan yang kasar hatinya," maksudnya yang kaku, yang tidak mempan oleh larangan dan peringatan, tidak mencerna maksud dari Allah dan RasulNya, lantaran kekerasannya. Jika mendengarkan lontaran godaan setan, mereka menjadikannya sebagai hujjah mereka atas kebatilan mereka. Dengan dasar itu, mereka melancarkan adu argumentasi. Mereka menentang Allah dan RasulNya. Oleh karena itu, Allah berfirman,﴾ وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَفِي شِقَاقِۭ بَعِيدٖ 53 ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat," maksudnya dalam persengketaan mereka dengan Allah, perlawanan terhadap al-haq dan penentangan terhadapnya, jauh dari rel kebenaran. Tipu daya yang dilancarkan setan berubah menjadi fitnah bagi kedua belah kelompok ini. De-ngan itu, terlihat kebusukan yang tersembunyi di hati-hati mereka. (54) Sementara golongan ketiga, hal itu menjadi pancaran rahmat bagi mereka. Mereka itulah yang disebutkan pada Firman-Nya, ﴾ وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-Qur`an itulah yang haq dari Rabbmu." Allah mencurahkan anugerah ilmu bagi mereka yang menjadi (piranti) mereka untuk mengetahui antara kebenaran dan kebatilan, hidayah dan kesesatan, dan mereka pun membedakan antara dua hal itu, antara kebenaran yang kokoh yang Allah teguh-kan dan kebatilan yang timbul yang Allah hapuskan, dengan dasar bukti-bukti dari masing-masing. Dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Allah Mahabijaksana, Dia mendatangkan beberapa ujian yang dengan itu, tersibak rahasia-rahasia jiwa-jiwa yang baik dan jelek. ﴾ فَيُؤۡمِنُواْ بِهِۦ ﴿ "Lalu mereka beriman kepadanya," dengan sebab tersebut, dan keimanan mereka terderek naik manakala halangan dan syubhat-syubhat telah terhindarkan. ﴾ فَتُخۡبِتَ لَهُۥ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "Dan hati mereka tunduk kepadanya," maksudnya khusyu' tunduk dan berserah diri terhadap kandungan hikmahNya. Ini termasuk (pertanda) limpahan hidayah Allah pada mereka. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman," karena keimanan mereka ﴾ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ 54 ﴿ "kepada jalan yang lurus," mengetahui kebenaran dan mengamalkan tuntutan-nya. Maka, Allah meneguhkan orang-orang yang beriman melalui perkataan yang teguh di kehidupan dunia dan akhirat. Ini salah satu macam peneguhan Allah bagi hambaNya. Ayat-ayat ini memuat penjelasan bahwa Rasulullah mem-punyai sumber teladan dari rekan-rekan beliau dari kalangan para rasul, lantaran apa yang terjadi pada beliau ketika membaca ﴾ وَٱلنَّجۡمِ ﴿ "Demi bintang," ketika sampai pada ayat, ﴾ أَفَرَءَيۡتُمُ ٱللَّٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ 19 وَمَنَوٰةَ ٱلثَّالِثَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ 20 ﴿ "Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Latta dan al-'Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terakhir (seba-gai anak perempuan Allah)?" (An-Najm: 19-20). Setan melontarkan godaannya pada bacaan beliau, "Itu adalah burung-burung yang tinggi, dan sesungguhnya syafa'at mereka benar-benar diharapkan." Maka, dengan peristiwa itu, timbullah kesedihan pada diri Rasulullah dan fitnah bagi umat manusia. Se-bagaimana telah dipaparkan oleh Allah. Maka, Allah menurunkan ayat-ayat ini.[5]

Al-Hajj 22:55

"Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab Hari Kiamat. Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal shalih berada di dalam surga yang penuh kenikmatan. Sedangkan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, maka mereka mendapatkan azab yang menghina-kan." (Al-Hajj: 55-57). (55) Allah تعالى mengabarkan mengenai kondisi orang-orang kafir bahwa mereka senantiasa ragu terhadap risalah yang engkau emban, wahai Muhammad, karena dorongan sikap penentangan dan penyimpangan mereka. Mereka masih saja konsisten berada dalam keadaan ini, ﴾ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةً ﴿ "hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba," maksudnya dengan sekonyong-konyong. ﴾ أَوۡ يَأۡتِيَهُمۡ عَذَابُ يَوۡمٍ عَقِيمٍ 55 ﴿ "Atau datang kepada mereka azab Hari Kiamat," maksudnya yang tidak ada kebaikannya sedikit pun, yaitu Hari Kiamat. Apabila telah datang waktu yang telah ditentu-kan atau hari itu telah mendatangi mereka, niscaya orang-orang kafir itu mengetahui bahwa mereka telah melakukan kebohongan (atas ucapan-ucapan mereka di dunia), dirundung penyesalan pada saat penyesalan tidak berguna bagi mereka, tersiksa dan putus asa dari segala kebaikan. Mereka berharap-harap, seandainya dahulu beriman kepada Rasul dan menempuh jalan bersama beliau. Dalam ayat ini terkandung peringatan terhadap mereka karena konsistensi mereka dalam keragu-raguan dan kedustaan. (56–57) ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Kekuasaan di hari itu," yaitu Hari Kiamat ﴾ لِّلَّهِ ﴿ "ada pada Allah," Yang Mahatinggi, bukan bagi selain-Nya. ﴾ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "Dia memberi keputusan di antara mereka," dengan ketetapan hukumNya yang adil dan keputusanNya yang tuntas. ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman," kepada Allah dan para RasulNya serta risalah-risalah yang mereka bawa ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan beramal shalih," untuk membuktikan kebenaran keimanan me-reka dengannya ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ 56 ﴿ "berada di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan." Kenikmatan hati, jiwa dan raga, yang tidak dapat dideskripsikan oleh orang-orang dan tidak mampu ditera-wang oleh akal. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sedangkan orang-orang yang kafir," kepada Allah dan para RasulNya ﴾ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dan mendustakan ayat-ayat Kami," yang menunjukkan kepada al-haq dan jalan yang benar, maka mereka berpaling darinya atau menentangnya ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ 57 ﴿ "maka mereka mendapatkan azab yang menghinakan," mereka mendapatkan siksaan yang keras lagi pedih, dan siksaan tersebut sampai ke kalbu-kalbu mereka. Sebagaimana mereka telah menghinakan para RasulNya dan ayat-ayatNya, maka Allah meng-hinakan mereka dengan siksaan.

Al-Hajj 22:56

"Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab Hari Kiamat. Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal shalih berada di dalam surga yang penuh kenikmatan. Sedangkan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, maka mereka mendapatkan azab yang menghina-kan." (Al-Hajj: 55-57). (55) Allah تعالى mengabarkan mengenai kondisi orang-orang kafir bahwa mereka senantiasa ragu terhadap risalah yang engkau emban, wahai Muhammad, karena dorongan sikap penentangan dan penyimpangan mereka. Mereka masih saja konsisten berada dalam keadaan ini, ﴾ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةً ﴿ "hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba," maksudnya dengan sekonyong-konyong. ﴾ أَوۡ يَأۡتِيَهُمۡ عَذَابُ يَوۡمٍ عَقِيمٍ 55 ﴿ "Atau datang kepada mereka azab Hari Kiamat," maksudnya yang tidak ada kebaikannya sedikit pun, yaitu Hari Kiamat. Apabila telah datang waktu yang telah ditentu-kan atau hari itu telah mendatangi mereka, niscaya orang-orang kafir itu mengetahui bahwa mereka telah melakukan kebohongan (atas ucapan-ucapan mereka di dunia), dirundung penyesalan pada saat penyesalan tidak berguna bagi mereka, tersiksa dan putus asa dari segala kebaikan. Mereka berharap-harap, seandainya dahulu beriman kepada Rasul dan menempuh jalan bersama beliau. Dalam ayat ini terkandung peringatan terhadap mereka karena konsistensi mereka dalam keragu-raguan dan kedustaan. (56–57) ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Kekuasaan di hari itu," yaitu Hari Kiamat ﴾ لِّلَّهِ ﴿ "ada pada Allah," Yang Mahatinggi, bukan bagi selain-Nya. ﴾ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "Dia memberi keputusan di antara mereka," dengan ketetapan hukumNya yang adil dan keputusanNya yang tuntas. ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman," kepada Allah dan para RasulNya serta risalah-risalah yang mereka bawa ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan beramal shalih," untuk membuktikan kebenaran keimanan me-reka dengannya ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ 56 ﴿ "berada di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan." Kenikmatan hati, jiwa dan raga, yang tidak dapat dideskripsikan oleh orang-orang dan tidak mampu ditera-wang oleh akal. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sedangkan orang-orang yang kafir," kepada Allah dan para RasulNya ﴾ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dan mendustakan ayat-ayat Kami," yang menunjukkan kepada al-haq dan jalan yang benar, maka mereka berpaling darinya atau menentangnya ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ 57 ﴿ "maka mereka mendapatkan azab yang menghinakan," mereka mendapatkan siksaan yang keras lagi pedih, dan siksaan tersebut sampai ke kalbu-kalbu mereka. Sebagaimana mereka telah menghinakan para RasulNya dan ayat-ayatNya, maka Allah meng-hinakan mereka dengan siksaan.

Al-Hajj 22:57

"Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur`an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab Hari Kiamat. Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal shalih berada di dalam surga yang penuh kenikmatan. Sedangkan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, maka mereka mendapatkan azab yang menghina-kan." (Al-Hajj: 55-57). (55) Allah تعالى mengabarkan mengenai kondisi orang-orang kafir bahwa mereka senantiasa ragu terhadap risalah yang engkau emban, wahai Muhammad, karena dorongan sikap penentangan dan penyimpangan mereka. Mereka masih saja konsisten berada dalam keadaan ini, ﴾ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةً ﴿ "hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba," maksudnya dengan sekonyong-konyong. ﴾ أَوۡ يَأۡتِيَهُمۡ عَذَابُ يَوۡمٍ عَقِيمٍ 55 ﴿ "Atau datang kepada mereka azab Hari Kiamat," maksudnya yang tidak ada kebaikannya sedikit pun, yaitu Hari Kiamat. Apabila telah datang waktu yang telah ditentu-kan atau hari itu telah mendatangi mereka, niscaya orang-orang kafir itu mengetahui bahwa mereka telah melakukan kebohongan (atas ucapan-ucapan mereka di dunia), dirundung penyesalan pada saat penyesalan tidak berguna bagi mereka, tersiksa dan putus asa dari segala kebaikan. Mereka berharap-harap, seandainya dahulu beriman kepada Rasul dan menempuh jalan bersama beliau. Dalam ayat ini terkandung peringatan terhadap mereka karena konsistensi mereka dalam keragu-raguan dan kedustaan. (56–57) ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Kekuasaan di hari itu," yaitu Hari Kiamat ﴾ لِّلَّهِ ﴿ "ada pada Allah," Yang Mahatinggi, bukan bagi selain-Nya. ﴾ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "Dia memberi keputusan di antara mereka," dengan ketetapan hukumNya yang adil dan keputusanNya yang tuntas. ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman," kepada Allah dan para RasulNya serta risalah-risalah yang mereka bawa ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan beramal shalih," untuk membuktikan kebenaran keimanan me-reka dengannya ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ 56 ﴿ "berada di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan." Kenikmatan hati, jiwa dan raga, yang tidak dapat dideskripsikan oleh orang-orang dan tidak mampu ditera-wang oleh akal. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sedangkan orang-orang yang kafir," kepada Allah dan para RasulNya ﴾ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dan mendustakan ayat-ayat Kami," yang menunjukkan kepada al-haq dan jalan yang benar, maka mereka berpaling darinya atau menentangnya ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ 57 ﴿ "maka mereka mendapatkan azab yang menghinakan," mereka mendapatkan siksaan yang keras lagi pedih, dan siksaan tersebut sampai ke kalbu-kalbu mereka. Sebagaimana mereka telah menghinakan para RasulNya dan ayat-ayatNya, maka Allah meng-hinakan mereka dengan siksaan.

Al-Hajj 22:58

"Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rizki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah Sebaik-baiknya Pemberi rizki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun." (Al-Hajj: 58-59). (58) Ini merupakan berita gembira besar bagi yang me-nempuh perjalanan hijrah di jalan Allah. Dia keluar meninggalkan kampung halaman dan wilayahnya, anak-anak serta harta kekaya-annya dalam rangka menggapai ridha Allah, dan membela agama Allah. Orang ini mesti mendapat pahala dari Allah, baik dia me-ninggal di atas kasurnya atau terbunuh sebagai mujahid di jalan Allah. ﴾ لَيَرۡزُقَنَّهُمُ ٱللَّهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "Benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rizki yang baik (surga)," di alam Barzakh dan di Hari Kiamat dengan masuk surga yang berisikan rahmat, keindahan, kebaikan, dan kenikmatan hati dan jasmani. Ayat ini juga bisa mengandung pengertian bahwasanya orang yang berhijrah di jalan Allah, sungguh Allah telah menjamin rizkinya di dunia dengan rizki yang melimpah lagi baik. Sama saja, baik Allah mengetahui-nya akan meninggal di atas ranjangnya atau terbunuh di medan laga (mati syahid). Masing-masing akan terjamin rizkinya. Maka, jangan dikira bahwa orang yang pergi meninggalkan kampung halamannya, harta-bendanya (hijrah karena Allah) akan mengalami kemiskinan dan membutuhkan uluran tangan orang. Karena Pem-beri rizkinya adalah sebaik-baik Dzat yang melimpahkan rizki. Sungguh, telah terjadi sebagaimana yang diberitakan. Sesungguh-nya kaum Muhajirin terdahulu, telah meninggalkan kampung halaman, anak keturunan mereka, dan harta-benda mereka demi membela agama Allah. Tidak berapa lama, Allah menaklukkan negeri-negeri bagi mereka dan menjadikan mereka penguasa atas umat manusia. Mereka berhasil menggenggam harta kekayaan negeri-negeri itu. Dengan itu, mereka tergolong orang-orang yang terkaya. (59) Berdasarkan pernyataan ini, Firman Allah, ﴾ لَيُدۡخِلَنَّهُم مُّدۡخَلٗا يَرۡضَوۡنَهُۥۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya," baik bermakna Allah menaklukkan negeri-negeri bagi mereka, terutama penaklukan kota Makkah yang dimuliakan. Mereka memasukinya dengan diliputi rasa ridha dan suka cita. Atau yang dimaksudkan adalah rizki di akhirat yang berbentuk masuk ke dalam surga. Sehingga ayat ini memadukan antara dua jenis limpahan rizki; rizki di dunia dan rizki di akhirat. Lafazh (yang dipakai) sejalan dengan seluruh makna ini. Dan maknanya tetap benar. Maka, tidak ada salahnya ditujukan pada semua makna itu. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَعَلِيمٌ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui," segala urusan, yang zahir maupun batin, yang terdahulu dan yang terjadi belakangan ﴾ حَلِيمٞ 59 ﴿ "lagi Maha Penyantun," para makhluk mendurhakaiNya dan menentangNya dengan berbagai macam dosa besar, akan tetapi Dia tidak menye-gerakan siksaan atas mereka, kendatipun sangat mampu melaku-kannya. Justru tetap mencurahkan rizki bagi mereka dan mengu-curkan kebaikan untuk mereka.

Al-Hajj 22:59

"Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rizki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah Sebaik-baiknya Pemberi rizki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun." (Al-Hajj: 58-59). (58) Ini merupakan berita gembira besar bagi yang me-nempuh perjalanan hijrah di jalan Allah. Dia keluar meninggalkan kampung halaman dan wilayahnya, anak-anak serta harta kekaya-annya dalam rangka menggapai ridha Allah, dan membela agama Allah. Orang ini mesti mendapat pahala dari Allah, baik dia me-ninggal di atas kasurnya atau terbunuh sebagai mujahid di jalan Allah. ﴾ لَيَرۡزُقَنَّهُمُ ٱللَّهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ ﴿ "Benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rizki yang baik (surga)," di alam Barzakh dan di Hari Kiamat dengan masuk surga yang berisikan rahmat, keindahan, kebaikan, dan kenikmatan hati dan jasmani. Ayat ini juga bisa mengandung pengertian bahwasanya orang yang berhijrah di jalan Allah, sungguh Allah telah menjamin rizkinya di dunia dengan rizki yang melimpah lagi baik. Sama saja, baik Allah mengetahui-nya akan meninggal di atas ranjangnya atau terbunuh di medan laga (mati syahid). Masing-masing akan terjamin rizkinya. Maka, jangan dikira bahwa orang yang pergi meninggalkan kampung halamannya, harta-bendanya (hijrah karena Allah) akan mengalami kemiskinan dan membutuhkan uluran tangan orang. Karena Pem-beri rizkinya adalah sebaik-baik Dzat yang melimpahkan rizki. Sungguh, telah terjadi sebagaimana yang diberitakan. Sesungguh-nya kaum Muhajirin terdahulu, telah meninggalkan kampung halaman, anak keturunan mereka, dan harta-benda mereka demi membela agama Allah. Tidak berapa lama, Allah menaklukkan negeri-negeri bagi mereka dan menjadikan mereka penguasa atas umat manusia. Mereka berhasil menggenggam harta kekayaan negeri-negeri itu. Dengan itu, mereka tergolong orang-orang yang terkaya. (59) Berdasarkan pernyataan ini, Firman Allah, ﴾ لَيُدۡخِلَنَّهُم مُّدۡخَلٗا يَرۡضَوۡنَهُۥۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya," baik bermakna Allah menaklukkan negeri-negeri bagi mereka, terutama penaklukan kota Makkah yang dimuliakan. Mereka memasukinya dengan diliputi rasa ridha dan suka cita. Atau yang dimaksudkan adalah rizki di akhirat yang berbentuk masuk ke dalam surga. Sehingga ayat ini memadukan antara dua jenis limpahan rizki; rizki di dunia dan rizki di akhirat. Lafazh (yang dipakai) sejalan dengan seluruh makna ini. Dan maknanya tetap benar. Maka, tidak ada salahnya ditujukan pada semua makna itu. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَعَلِيمٌ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui," segala urusan, yang zahir maupun batin, yang terdahulu dan yang terjadi belakangan ﴾ حَلِيمٞ 59 ﴿ "lagi Maha Penyantun," para makhluk mendurhakaiNya dan menentangNya dengan berbagai macam dosa besar, akan tetapi Dia tidak menye-gerakan siksaan atas mereka, kendatipun sangat mampu melaku-kannya. Justru tetap mencurahkan rizki bagi mereka dan mengu-curkan kebaikan untuk mereka.

Al-Hajj 22:60

"Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah dia derita, kemudian dia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." (Al-Hajj: 60). (60) Hal demikian ini, karena orang yang ditimpa kejahatan dan penganiayaan, maka dia boleh membalas pelaku dengan ba-lasan serupa. Bila dia melakukan pembalasan itu, maka tidak ada cara untuk menyalahkannya dan ia pun tidak tercela. Jika setelah itu, dia diperlakukan semena-mena lagi, sungguh Allah akan me-nolongnya. Pasalnya, dia seorang yang mazhlum (teraniaya). Maka, dia tidak boleh dianiaya lagi karena dia (hanyalah) meminta haknya dikembalikan secara utuh. Apabila ada seseorang yang membalas orang lain atas ulah buruknya saat dia dizhalimi lagi, niscaya Allah akan menolongnya, maka sosok yang pada dasarnya tidak berusaha balas dendam terhadap siapa pun jika dia menjadi obyek peng-aniayaan dan kejahatan, tentu pertolongan (dari Allah) akan lebih dekat dengannya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٞ 60 ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun," maksudnya, Allah me-maafkan orang-orang yang berbuat dosa, tidak mempercepat keda-tangan hukuman bagi mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka serta menghapuskannya dan menghilangkan dampak-dampaknya dari mereka. Inilah sifat Allah yang selalu menyertai DzatNya dan cara pendekatanNya kepada para makhlukNya dalam semua waktu dengan membuka pintu maaf dan ampunan. Maka sudah sepatutnya kalian wahai orang-orang yang teraniaya lagi ditimpa kejahatan, untuk membuka pintu maaf dan ampunan. Agar Allah memperlakukan kalian sebagaimana sikap kalian memperlakukan sesama. Barangsiapa memaafkan dan mengusahakan perbaikan, maka pahalanya ada di tanggungan Allah.

Al-Hajj 22:61

"Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha melihat. (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan bahwasanya Allah, Dia-lah yang Mahatinggi lagi Mahabesar." (Al-Hajj: 61-62). (61) Dzat yang menetapkan hukum-hukum yang baik lagi (berorientasi kepada) keadilan, ialah Dzat Yang Mahabaik penge-lolaannya dalam menentukan dan mengatur, yang ﴾ يُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ ﴿ "(kuasa) memasukkan malam ke dalam siang," maksudnya memasukkan ini ke sana dan itu ke sini. Dia mendatangkan malam setelah waktu siang hari dan mendatangkan waktu siang sesudah waktu malam hari. Allah menambahkan perpanjangan durasi pada salah satu waktu tersebut yang mengurangi durasi yang sama dari waktu yang lain, dan sebaliknya. Sebagai akibatnya, muncullah berbagai macam musim, kemaslahatan yang timbul dari pergantian malam dan siang hari, serta kegunaan keberadaan matahari dan bulan yang merupakan sebagian kenikmatan terbesar yang dianu-gerahkan kepada para hambaNya yang mana ia merupakan kebu-tuhan-kebutuhan primer bagi mereka. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ ﴿ "Dan bahwasanya Allah Maha Mendengar," mendengarkan gemuruh suara-suara dalam berbagai bahasa untuk bermacam-macam permohonan. ﴾ بَصِيرٞ 61 ﴿ "Lagi Maha Melihat," menyaksikan langkah semut hitam yang berada di bawah batu berwarna hitam-pekat di malam hari yang gelap-gulita, sama saja, baik salah seorang di antara kalian yang melirihkan perkataannya dan mengeraskannya dan orang-orang yang tersembunyi di malam hari dan bergerak-gerak di siang hari. (62) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "(Kuasa Allah) yang demikian itu," Dzat yang memegang kekuasaan dan menetapkan hukum-hukum ﴾ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "adalah karena sesungguhnya Dia-lah (Rabb) Yang Haq," maksud-nya yang tetap eksis, senantiasa ada dan tidak akan pupus. Allah bernama al-Awwal, yang tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Nya. Dia-lah al-Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelahNya, sem-purna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, jujur dalam janjiNya, yang janjiNya benar-benar terjadi, perjumpaan denganNya pasti, agamaNya benar, peribadahan untukNya itulah (pilihan) yang benar, yang akan bermanfaat lagi lestari dalam keabadian. ﴾ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ ﴿ "Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah," berupa arca-arca, tandingan-tandingan dari bangsa binatang dan benda-benda mati ﴾ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ ﴿ "itulah yang batil," yang memang keberadaannya merupakan kebatilan dan peribadahan untuknya pun satu bentuk kebatilan. Lantaran ia bertumpu pada benda yang lemah lagi binasa, maka ia menjadi batil pula akibat terpengaruh dengan tujuan dan maksudnya yang batil. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ 62 ﴿ "Dan bahwasanya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar." Yang Mahatinggi dalam DzatNya, Dia Mahatinggi di atas segala makhlukNya, (Mahatinggi) dalam kemuliaanNya. Dia Mahasempurna dalam sifat-sifatNya, (Mahatinggi) dalam (kekuasaanNya), menguasai seluruh makhluk, Mahabesar dalam DzatNya, Nama-nama dan Sifat-sifatNya, yang termasuk petunjuk keagungan dan kebesaranNya, bahwa bumi berada di Genggaman-Nya di Hari Kiamat, langit-langit terlipat-lipat di Tangan kanan-Nya. Dan termasuk tanda kebesaranNya bahwa KursiNya telah memenuhi langit dan bumi. Termasuk pertanda keagungan dan kebesaranNya, bahwa ubun-ubun para hambaNya berada di Tangan-Nya. Tidaklah mereka menjalankan apa pun melainkan tergantung kehendakNya, tidaklah mereka bergerak dan diam melainkan de-ngan iradahNya. Dan hakikat kibriya` (kebesaran) Allah tidak diketa-hui kecuali oleh Allah saja, tidak diketahui oleh malaikat terdekat, nabi yang diutus; yaitu setiap sifat kesempurnaan, kemuliaan, ke-besaran dan keagungan. Sifat-sifat itu melekat pada Allah. Kepemi-likan Allah terhadap sifat-sifat itu, adalah sisi yang paling sempurna dari sifat-sifat itu. Di antara (indikasi) kebesaranNya, bahwasanya seluruh ibadah yang berasal dari penghuni langit dan bumi secara keseluruhan, tujuannya untuk membesar-besarkan, mengagungkan, memuliakan, dan menghormatiNya. Untuk itu, takbir menjadi simbol bagi ibadah-ibadah yang utama seperti shalat dan ibadah lainnya.

Al-Hajj 22:62

"Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha melihat. (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan bahwasanya Allah, Dia-lah yang Mahatinggi lagi Mahabesar." (Al-Hajj: 61-62). (61) Dzat yang menetapkan hukum-hukum yang baik lagi (berorientasi kepada) keadilan, ialah Dzat Yang Mahabaik penge-lolaannya dalam menentukan dan mengatur, yang ﴾ يُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ ﴿ "(kuasa) memasukkan malam ke dalam siang," maksudnya memasukkan ini ke sana dan itu ke sini. Dia mendatangkan malam setelah waktu siang hari dan mendatangkan waktu siang sesudah waktu malam hari. Allah menambahkan perpanjangan durasi pada salah satu waktu tersebut yang mengurangi durasi yang sama dari waktu yang lain, dan sebaliknya. Sebagai akibatnya, muncullah berbagai macam musim, kemaslahatan yang timbul dari pergantian malam dan siang hari, serta kegunaan keberadaan matahari dan bulan yang merupakan sebagian kenikmatan terbesar yang dianu-gerahkan kepada para hambaNya yang mana ia merupakan kebu-tuhan-kebutuhan primer bagi mereka. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ ﴿ "Dan bahwasanya Allah Maha Mendengar," mendengarkan gemuruh suara-suara dalam berbagai bahasa untuk bermacam-macam permohonan. ﴾ بَصِيرٞ 61 ﴿ "Lagi Maha Melihat," menyaksikan langkah semut hitam yang berada di bawah batu berwarna hitam-pekat di malam hari yang gelap-gulita, sama saja, baik salah seorang di antara kalian yang melirihkan perkataannya dan mengeraskannya dan orang-orang yang tersembunyi di malam hari dan bergerak-gerak di siang hari. (62) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "(Kuasa Allah) yang demikian itu," Dzat yang memegang kekuasaan dan menetapkan hukum-hukum ﴾ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "adalah karena sesungguhnya Dia-lah (Rabb) Yang Haq," maksud-nya yang tetap eksis, senantiasa ada dan tidak akan pupus. Allah bernama al-Awwal, yang tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Nya. Dia-lah al-Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelahNya, sem-purna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, jujur dalam janjiNya, yang janjiNya benar-benar terjadi, perjumpaan denganNya pasti, agamaNya benar, peribadahan untukNya itulah (pilihan) yang benar, yang akan bermanfaat lagi lestari dalam keabadian. ﴾ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ ﴿ "Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah," berupa arca-arca, tandingan-tandingan dari bangsa binatang dan benda-benda mati ﴾ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ ﴿ "itulah yang batil," yang memang keberadaannya merupakan kebatilan dan peribadahan untuknya pun satu bentuk kebatilan. Lantaran ia bertumpu pada benda yang lemah lagi binasa, maka ia menjadi batil pula akibat terpengaruh dengan tujuan dan maksudnya yang batil. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ 62 ﴿ "Dan bahwasanya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar." Yang Mahatinggi dalam DzatNya, Dia Mahatinggi di atas segala makhlukNya, (Mahatinggi) dalam kemuliaanNya. Dia Mahasempurna dalam sifat-sifatNya, (Mahatinggi) dalam (kekuasaanNya), menguasai seluruh makhluk, Mahabesar dalam DzatNya, Nama-nama dan Sifat-sifatNya, yang termasuk petunjuk keagungan dan kebesaranNya, bahwa bumi berada di Genggaman-Nya di Hari Kiamat, langit-langit terlipat-lipat di Tangan kanan-Nya. Dan termasuk tanda kebesaranNya bahwa KursiNya telah memenuhi langit dan bumi. Termasuk pertanda keagungan dan kebesaranNya, bahwa ubun-ubun para hambaNya berada di Tangan-Nya. Tidaklah mereka menjalankan apa pun melainkan tergantung kehendakNya, tidaklah mereka bergerak dan diam melainkan de-ngan iradahNya. Dan hakikat kibriya` (kebesaran) Allah tidak diketa-hui kecuali oleh Allah saja, tidak diketahui oleh malaikat terdekat, nabi yang diutus; yaitu setiap sifat kesempurnaan, kemuliaan, ke-besaran dan keagungan. Sifat-sifat itu melekat pada Allah. Kepemi-likan Allah terhadap sifat-sifat itu, adalah sisi yang paling sempurna dari sifat-sifat itu. Di antara (indikasi) kebesaranNya, bahwasanya seluruh ibadah yang berasal dari penghuni langit dan bumi secara keseluruhan, tujuannya untuk membesar-besarkan, mengagungkan, memuliakan, dan menghormatiNya. Untuk itu, takbir menjadi simbol bagi ibadah-ibadah yang utama seperti shalat dan ibadah lainnya.

Al-Hajj 22:63

"Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurun-kan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya lagi Maha Terpuji." (Al-Hajj: 63-64). (63) Ini adalah himbauan dariNya dan anjuran untuk me-nyaksikan tanda-tanda kekuasaanNya yang menandakan keesaan dan kesempurnaanNya. Allah berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ ﴿ "Apakah kamu tidak melihat," maksudnya tidakkah engkau menyaksikan dengan pandanganmu dan mata hatimu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ ﴿ "bahwasa-nya Allah menurunkan air dari langit," yaitu hujan. Ia turun di tanah keras lagi tandus, seluruh sisinya telah tertutupi oleh debu, tanaman dan pepohonan yang berada di atasnya telah mengering sehingga menjadi kehijau-hijauan. Telah terhiasi dengan segala tanaman yang berpasangan lagi menarik. Maka, muncullah panorama yang memikat darinya. Sesungguhnya Dzat yang menghidupkannya setelah kematian dan kegersangannya adalah Dzat yang benar-benar berkuasa menghidupkan orang-orang yang mati pasca peru-bahan mereka menjadi debu-debu. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ 63 ﴿ "Sesungguh-nya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui," yang mengetahui kan-dungan-kandungan segala sesuatu yang tersembunyi, rinciannya dan rahasia-rahasianya yang mendatangkan kebaikan kepada para hambaNya, mengenyahkan kejelekan dari mereka melalui cara-cara yang lembut yang tidak terdeteksi oleh manusia. Di antara tanda kelembutanNya bahwa Allah memperlihatkan kekuatanNya saat melakukan pembalasan (kepada para hambaNya yang durhaka), dan kesempurnaan kekuasaanNya, selanjutnya mempertontonkan kelembutanNya setelah seorang hamba merasa berada di ujung kebinasaan. Tanda kelembutan Allah (lainnya) bahwa Dia menge-tahui tempat-tempat sumber hujan di bumi ini dan benih-benih yang tertanam di dalamnya. Maka Dia mengarahkan air ke tempat benih-benih itu yang tidak terjangkau oleh makhluk-makhluk. Dari situ, tumbuhlah berbagai macam tumbuh-tumbuhan. ﴾ خَبِيرٞ ﴿ "Maha Mengetahui," rahasia-rahasia dari berbagai perkara, misteri-misteri hati dan teka-teki permasalahan-permasalahan. (64) ﴾ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit," dan (apa yang ada) di bumi sebagai makhluk ciptaan dan hambaNya. Allah menetapkan apa saja pada mereka dengan ke-kuasaan, hikmah, dan kesempurnaan kemampuanNya. Tidak ada seorang pun yang memiliki wewenang pengaturan sedikit pun. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهُوَ ٱلۡغَنِيُّ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha-kaya," dengan DzatNya, yang mempunyai kekayaan mutlak lagi sempurna dari segala sisi. Pertanda kekayaanNya bahwa Dia tidak memerlukan (bantuan) siapa pun dari makhlukNya, tidak meng-angkat mereka sebagai pembela karena kehinaan, dan tidak ingin terlihat banyak dalam pandangan mereka karena memiliki sedikit (miskin). Di antara bukti kekayaanNya, Allah tidak memiliki istri dan anak. Termasuk tanda kekayaanNya, bahwa Allah adalah tempat bergantung, tidak makan dan tidak minum, dan tidak mem-butuhkan seperti apa yang dibutuhkan oleh makhluk dari sisi apa pun. Dia-lah yang memberikan makanan, tanpa diberi makan (oleh siapa pun). Di antara kekayaanNya bahwa seluruh makhluk mem-butuhkanNya dalam penciptaan, perkembangan dan dukungan serta dalam masalah agama dan duniawi mereka. Termasuk tanda kekayaanNya bahwa andai seluruh penghuni langit dan bumi, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati berada di satu tanah lapang, masing-masing memanjatkan permohonan apa yang mereka angan-angankan, kemudian Allah memberi mereka lebih dari apa yang mereka harapkan, maka ini tidak mengurangi kekuasaanNya sedikit pun. Tanda kekayaanNya yang lain bahwa Tangan Allah selalu terbuka dengan kebaikan dan keberkahan, malam dan siang hari. Kemurahan Allah senantiasa tercurah pada makhluk-makhluk. Pertanda kekayaan dan kemurahanNya adalah sesuatu yang Dia sediakan di tempat kemuliaanNya (surga) berupa kenikmatan-ke-nikmatan yang tidak pernah terlihat oleh pandangan mata, belum terdengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik di hati orang. ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "Lagi Maha Terpuji," yang terpuji pada DzatNya, nama-nama dan sifat-sifatNya, karena nama-namaNya mengan-dung keindahan dan sifat-sifatNya seluruhnya merupakan kesem-purnaan, dan (terpuji) pada perbuatan-perbuatanNya, karena ber-poros pada keadilan, curahan kebaikan dan rahmat serta hikmah. Dan (terpuji) karena aturan syariatNya, lantaran tidaklah Dia me-merintahkan melainkan perkara yang mengandung kemaslahatan murni atau yang dominan kebaikannya, dan tidaklah dia menge-luarkan larangan melainkan pasti karena sesuatu yang berisi keru-sakan total atau dominan unsur kerusakannya. BagiNya pujian yang memenuhi tempat-tempat di langit dan bumi, dan tempat yang terletak antara keduanya dan tempat-tempat lain yang dike-hendaki olehNya, yang bentuk pujian-pujian bagiNya tidak dapat dihitung oleh para hambaNya. Akan tetapi Dia sesuai dengan pujian yang Dia sampaikan untuk DiriNya dan lebih tinggi dari sanjungan yang diungkapkan oleh para hambaNya. Dia terpuji atas pemberian taufik kepada orang-orang yang Allah limpahi kemudahan, dan (terpuji) atas penetapan kesesatan bagi orang yang Allah terlantarkan. Dia Mahakaya pada sanjunganNya dan Yang Maha Terpuji pada kekayaanNya.

Al-Hajj 22:64

"Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurun-kan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya lagi Maha Terpuji." (Al-Hajj: 63-64). (63) Ini adalah himbauan dariNya dan anjuran untuk me-nyaksikan tanda-tanda kekuasaanNya yang menandakan keesaan dan kesempurnaanNya. Allah berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ ﴿ "Apakah kamu tidak melihat," maksudnya tidakkah engkau menyaksikan dengan pandanganmu dan mata hatimu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ ﴿ "bahwasa-nya Allah menurunkan air dari langit," yaitu hujan. Ia turun di tanah keras lagi tandus, seluruh sisinya telah tertutupi oleh debu, tanaman dan pepohonan yang berada di atasnya telah mengering sehingga menjadi kehijau-hijauan. Telah terhiasi dengan segala tanaman yang berpasangan lagi menarik. Maka, muncullah panorama yang memikat darinya. Sesungguhnya Dzat yang menghidupkannya setelah kematian dan kegersangannya adalah Dzat yang benar-benar berkuasa menghidupkan orang-orang yang mati pasca peru-bahan mereka menjadi debu-debu. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ 63 ﴿ "Sesungguh-nya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui," yang mengetahui kan-dungan-kandungan segala sesuatu yang tersembunyi, rinciannya dan rahasia-rahasianya yang mendatangkan kebaikan kepada para hambaNya, mengenyahkan kejelekan dari mereka melalui cara-cara yang lembut yang tidak terdeteksi oleh manusia. Di antara tanda kelembutanNya bahwa Allah memperlihatkan kekuatanNya saat melakukan pembalasan (kepada para hambaNya yang durhaka), dan kesempurnaan kekuasaanNya, selanjutnya mempertontonkan kelembutanNya setelah seorang hamba merasa berada di ujung kebinasaan. Tanda kelembutan Allah (lainnya) bahwa Dia menge-tahui tempat-tempat sumber hujan di bumi ini dan benih-benih yang tertanam di dalamnya. Maka Dia mengarahkan air ke tempat benih-benih itu yang tidak terjangkau oleh makhluk-makhluk. Dari situ, tumbuhlah berbagai macam tumbuh-tumbuhan. ﴾ خَبِيرٞ ﴿ "Maha Mengetahui," rahasia-rahasia dari berbagai perkara, misteri-misteri hati dan teka-teki permasalahan-permasalahan. (64) ﴾ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit," dan (apa yang ada) di bumi sebagai makhluk ciptaan dan hambaNya. Allah menetapkan apa saja pada mereka dengan ke-kuasaan, hikmah, dan kesempurnaan kemampuanNya. Tidak ada seorang pun yang memiliki wewenang pengaturan sedikit pun. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهُوَ ٱلۡغَنِيُّ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha-kaya," dengan DzatNya, yang mempunyai kekayaan mutlak lagi sempurna dari segala sisi. Pertanda kekayaanNya bahwa Dia tidak memerlukan (bantuan) siapa pun dari makhlukNya, tidak meng-angkat mereka sebagai pembela karena kehinaan, dan tidak ingin terlihat banyak dalam pandangan mereka karena memiliki sedikit (miskin). Di antara bukti kekayaanNya, Allah tidak memiliki istri dan anak. Termasuk tanda kekayaanNya, bahwa Allah adalah tempat bergantung, tidak makan dan tidak minum, dan tidak mem-butuhkan seperti apa yang dibutuhkan oleh makhluk dari sisi apa pun. Dia-lah yang memberikan makanan, tanpa diberi makan (oleh siapa pun). Di antara kekayaanNya bahwa seluruh makhluk mem-butuhkanNya dalam penciptaan, perkembangan dan dukungan serta dalam masalah agama dan duniawi mereka. Termasuk tanda kekayaanNya bahwa andai seluruh penghuni langit dan bumi, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati berada di satu tanah lapang, masing-masing memanjatkan permohonan apa yang mereka angan-angankan, kemudian Allah memberi mereka lebih dari apa yang mereka harapkan, maka ini tidak mengurangi kekuasaanNya sedikit pun. Tanda kekayaanNya yang lain bahwa Tangan Allah selalu terbuka dengan kebaikan dan keberkahan, malam dan siang hari. Kemurahan Allah senantiasa tercurah pada makhluk-makhluk. Pertanda kekayaan dan kemurahanNya adalah sesuatu yang Dia sediakan di tempat kemuliaanNya (surga) berupa kenikmatan-ke-nikmatan yang tidak pernah terlihat oleh pandangan mata, belum terdengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik di hati orang. ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "Lagi Maha Terpuji," yang terpuji pada DzatNya, nama-nama dan sifat-sifatNya, karena nama-namaNya mengan-dung keindahan dan sifat-sifatNya seluruhnya merupakan kesem-purnaan, dan (terpuji) pada perbuatan-perbuatanNya, karena ber-poros pada keadilan, curahan kebaikan dan rahmat serta hikmah. Dan (terpuji) karena aturan syariatNya, lantaran tidaklah Dia me-merintahkan melainkan perkara yang mengandung kemaslahatan murni atau yang dominan kebaikannya, dan tidaklah dia menge-luarkan larangan melainkan pasti karena sesuatu yang berisi keru-sakan total atau dominan unsur kerusakannya. BagiNya pujian yang memenuhi tempat-tempat di langit dan bumi, dan tempat yang terletak antara keduanya dan tempat-tempat lain yang dike-hendaki olehNya, yang bentuk pujian-pujian bagiNya tidak dapat dihitung oleh para hambaNya. Akan tetapi Dia sesuai dengan pujian yang Dia sampaikan untuk DiriNya dan lebih tinggi dari sanjungan yang diungkapkan oleh para hambaNya. Dia terpuji atas pemberian taufik kepada orang-orang yang Allah limpahi kemudahan, dan (terpuji) atas penetapan kesesatan bagi orang yang Allah terlantarkan. Dia Mahakaya pada sanjunganNya dan Yang Maha Terpuji pada kekayaanNya.

Al-Hajj 22:65

"Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menunduk-kan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintahNya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izinNya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. Dan Dia-lah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi). Sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nik-mat." (Al-Hajj: 65-66). (65) Maksudnya, tidakkah engkau menyaksikan kenikmatan Rabbmu yang melimpah-ruah dan karuniaNya yang luas dengan pandangan matamu dan mata hatimu, dan ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi," berupa binatang-binatang, tumbuhan dan benda-benda padat yang tak bernyawa. Seluruh obyek yang berada di bumi, ditundukkan untuk anak keturunan Adam. Hewan-hewannya untuk ditunggangi, di-bebani dan digunakan menjalankan tugas-tugasnya serta untuk dikonsumsi dan kegunaan-kegunaan lain yang variatif. Sementara tumbuh-tumbuhan dan buah-buahnya untuk dinikmati. Sungguh Allah telah memberikan kekuasaan untuk dapat menanam dan memanfaatkannya. Dan sumber-sumber pertambangan yang dapat dia eksplorasi dan nikmati manfaatnya. ﴾ وَٱلۡفُلۡكَ ﴿ "Dan bahtera," maksudnya dan telah Kami tundukkan bahtera, yaitu kapal-kapal bagi kalian, ﴾ تَجۡرِي فِي ٱلۡبَحۡرِ بِأَمۡرِهِۦ ﴿ "yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya," yang mengangkut kalian dan barang-barang perniagaan yang kalian miliki, mengantarkan kalian dari suatu wilayah ke wilayah lain. Dan kalian bisa mengekplorasi perhiasan dari lautan yang kalian pakai. Dan sebagian dari pertanda rahmat Allah pada kalian adalah, ﴾ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَآءَ أَن تَقَعَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi," seandainya tidak ada curahan rahmat dan kekuasaan dariNya, niscaya langit akan jatuh runtuh di atas bumi, sehingga hancurlah segala sesuatu yang berada di permukaannya dan bina-salah penghuninya. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا 41 ﴿ "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (Fathir: 41). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ 65 ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang," lebih mengasihi mereka daripada orang tua mereka dan diri mereka sendiri. Untuk itu, Allah meng-inginkan kebaikan bagi mereka. Sedangkan mereka justru berminat meraih kejelekan dan bahaya bagi jiwa-jiwa mereka. Dan bukti rah-mat Allah lainnya bahwa Dia mengerahkan semua ini bagi mereka. (66) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَحۡيَاكُمۡ ﴿ "Dan Dia-lah Allah yang telah menghi-dupkan kamu," mengadakan wujud kalian dari ketiadaan. ﴾ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ﴿ "Kemudian mematikan kamu," sesudah Dia menghidupkan kalian. ﴾ ثُمَّ يُحۡيِيكُمۡۗ ﴿ "Kemudian menghidupkan kamu (lagi)," pasca kematian kalian; supaya Allah membalasi orang yang telah berbuat baik atas dasar tindakan baiknya, dan orang yang berbuat jelek atas dasar ulah buruknya. ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu," maksudnya bangsa manusia kecuali yang Allah pelihara, ﴾ لَكَفُورٞ 66 ﴿ "benar-benar sangat mengingkari nikmat," maksudnya kenikmatan-kenikmat-an Allah, mereka sungguh-sungguh mengkufuri Allah dan tidak mengakui curahan kebaikanNya. Bahkan terkadang mengingkari Hari Kebangkitan dan kekuasaan Rabbnya.

Al-Hajj 22:66

"Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menunduk-kan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintahNya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izinNya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. Dan Dia-lah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi). Sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nik-mat." (Al-Hajj: 65-66). (65) Maksudnya, tidakkah engkau menyaksikan kenikmatan Rabbmu yang melimpah-ruah dan karuniaNya yang luas dengan pandangan matamu dan mata hatimu, dan ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi," berupa binatang-binatang, tumbuhan dan benda-benda padat yang tak bernyawa. Seluruh obyek yang berada di bumi, ditundukkan untuk anak keturunan Adam. Hewan-hewannya untuk ditunggangi, di-bebani dan digunakan menjalankan tugas-tugasnya serta untuk dikonsumsi dan kegunaan-kegunaan lain yang variatif. Sementara tumbuh-tumbuhan dan buah-buahnya untuk dinikmati. Sungguh Allah telah memberikan kekuasaan untuk dapat menanam dan memanfaatkannya. Dan sumber-sumber pertambangan yang dapat dia eksplorasi dan nikmati manfaatnya. ﴾ وَٱلۡفُلۡكَ ﴿ "Dan bahtera," maksudnya dan telah Kami tundukkan bahtera, yaitu kapal-kapal bagi kalian, ﴾ تَجۡرِي فِي ٱلۡبَحۡرِ بِأَمۡرِهِۦ ﴿ "yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya," yang mengangkut kalian dan barang-barang perniagaan yang kalian miliki, mengantarkan kalian dari suatu wilayah ke wilayah lain. Dan kalian bisa mengekplorasi perhiasan dari lautan yang kalian pakai. Dan sebagian dari pertanda rahmat Allah pada kalian adalah, ﴾ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَآءَ أَن تَقَعَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi," seandainya tidak ada curahan rahmat dan kekuasaan dariNya, niscaya langit akan jatuh runtuh di atas bumi, sehingga hancurlah segala sesuatu yang berada di permukaannya dan bina-salah penghuninya. Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا 41 ﴿ "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (Fathir: 41). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ 65 ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang," lebih mengasihi mereka daripada orang tua mereka dan diri mereka sendiri. Untuk itu, Allah meng-inginkan kebaikan bagi mereka. Sedangkan mereka justru berminat meraih kejelekan dan bahaya bagi jiwa-jiwa mereka. Dan bukti rah-mat Allah lainnya bahwa Dia mengerahkan semua ini bagi mereka. (66) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَحۡيَاكُمۡ ﴿ "Dan Dia-lah Allah yang telah menghi-dupkan kamu," mengadakan wujud kalian dari ketiadaan. ﴾ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ﴿ "Kemudian mematikan kamu," sesudah Dia menghidupkan kalian. ﴾ ثُمَّ يُحۡيِيكُمۡۗ ﴿ "Kemudian menghidupkan kamu (lagi)," pasca kematian kalian; supaya Allah membalasi orang yang telah berbuat baik atas dasar tindakan baiknya, dan orang yang berbuat jelek atas dasar ulah buruknya. ﴾ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Sesungguhnya manusia itu," maksudnya bangsa manusia kecuali yang Allah pelihara, ﴾ لَكَفُورٞ 66 ﴿ "benar-benar sangat mengingkari nikmat," maksudnya kenikmatan-kenikmat-an Allah, mereka sungguh-sungguh mengkufuri Allah dan tidak mengakui curahan kebaikanNya. Bahkan terkadang mengingkari Hari Kebangkitan dan kekuasaan Rabbnya.

Al-Hajj 22:67

"Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka memban-tah kamu dalam urusan (syariat) ini, dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah, 'Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.' Allah akan mengadili di antara kamu pada Hari Kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya. Apakah kamu tidak me-ngetahui bahwa Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah'." (Al-Hajj: 67-70). (67) Allah تعالى memberitahukan bahwasanya Dia menjadi-kan bagi setiap umat manusia ﴾ مَنسَكًا ﴿ "syariat tertentu," maksudnya tempat ibadah dan cara peribadahan. Terkadang mengalami per-bedaan di beberapa sisi, walaupun tetap memuat nuansa keadilan dan hikmah. Sebagaimana kandungan Firman Allah, ﴾ لِكُلّٖ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ …﴿ "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadi-kanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu…." (Al-Ma`idah: 48). ﴾ هُمۡ نَاسِكُوهُۖ ﴿ "Yang mereka kerjakan," maksudnya mereka mengamalkannya selaras dengan kondisi dan latar belakang me-reka, sehingga tidak terjadi penentangan terhadap suatu syariat. Terutama dari kaum 'ummi (yang buta huruf), dari kalangan masya-rakat paganis dan jahiliyah yang sudah sangat nyata. Karena jika telah terbukti kebenaran risalah seorang rasul melalui dalil-dalil, maka wajib diterima seluruh ajaran yang ia bawa dengan tulus dan berserah diri, tanpa penolakan. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَلَا يُنَٰزِعُنَّكَ فِي ٱلۡأَمۡرِۚ ﴿ "Maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini," maksudnya jangan sampai orang-orang yang mendustakan saling melancarkan penentangan kepadaMu, menampik sebagian ajaran yang engkau bawa dengan dorongan akal-akal mereka yang sudah rusak, seperti penentangan mereka dalam masalah penghalalan bangkai sambil berujar, "Kalian me-makan binatang yang kalian sembelih, tetapi tidak sudi memakan binatang yang Allah matikan langsung?! Dan seperti pernyataan mereka, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ ﴿ "Sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba." (Al-Baqarah: 275), …dan lain sebagainya, yang berupa penolakan mereka yang tidak mesti disanggah satu persatu. Mereka pada dasarnya mengingkari risalah. Tidak perlu ditegakkan perdebatan dan adu argumentasi bagi masing-masing lontaran syubhat itu. Ada sikap khusus sesuai dengan situasi dan kondisi. Orang yang melontarkan sanggahan, lagi mengingkari risalah Rasul, jika ia berdalih melakukan perdebatan untuk men-dapatkan petunjuk, maka hendaklah disampaikan kepadanya: Permasalahan kami denganmu berhubungan dengan ada tidaknya risalah. Apabila tidak demikian,maka merasa puas dengan per-debatan ini menjadi bukti bahwa tujuannya adalah untuk memper-tontonkan penentangan dan usaha pembungkaman. Untuk itu, Allah memerintahkan RasulNya agar beliau menyerukan dakwah dengan sarat hikmah dan mau'izhah hasanah (nasihat yang baik) serta konsisten dengan metode pendekatan ini, baik mereka akan menghalang-halangi atau tidak. Dan seharusnya tidak boleh ada sesuatu pun yang membelokkan dirimu dari dakwah. Pasalnya, engkau berada ﴾ هُدٗى مُّسۡتَقِيمٖ 67 ﴿ "pada jalan yang lurus," yaitu jalan yang tengah-tengah, yang mengantarkan menuju tujuan yang ingin digapai, yang sarat dengan ilmu kebenaran dan pengamalannya. Jadi, engkau telah berada di atas tumpuan kepercayaan terhadap urusan yang sedang engkau jalankan dan berpegang teguh atas keyakinan terhadap agamamu. Hal ini mengharuskan lahirnya sikap pantang menyerah pada dirimu dan terus bergerak melak-sanakan perintah Rabbmu. Kamu tidaklah berada dalam perkara yang meragu-ragukan atau perkataan yang dusta, sehingga mem-buatmu mesti bercampur-baur bersama orang-orang, dan keinginan-keinginan serta pikiran-pikiran mereka sehingga penentangan mereka menghentikanmu. Senada dengan ini, Firman Allah تعالى, ﴾ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلۡحَقِّ ٱلۡمُبِينِ 79 ﴿ "Sebab itu, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata." (An-Naml: 79). Kendatipun dalam Firman Allah, ﴾ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدٗى مُّسۡتَقِيمٖ 67 ﴿ "Se-sungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus," termuat petunjuk untuk mencounter orang-orang yang menyanggah bebe-rapa point pada aturan syariat melalui daya nalar yang sehat. Karena al-huda (petunjuk) di sini merupakan gambaran bagi setiap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Dan hakikat al-huda ialah segala sesuatu yang mendatangkan hidayah dalam masalah-masalah ushul (prinsipil) dan furu' (cabang-cabang). Yang dimaksud adalah, perkara-perkara yang dapat dideteksi sisi kebaikan, keadilan dan kebijaksanaannya melalui akal dan fitrah yang masih lurus. Hasil ini bisa diketahui dengan cara menyelami perintah-perintah dan larangan-larangan secara mendalam. (68-69) Karena itu, dalam kondisi seperti ini, Allah meni-tahkan mengurungkan diri untuk meladeni perdebatan mereka. Dia berfirman, ﴾ وَإِن جَٰدَلُوكَ فَقُلِ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا تَعۡمَلُونَ 68 ﴿ "Dan jika mereka mem-bantah kamu, maka katakanlah, 'Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan'," maksudnya Dia Maha Mengetahui harapan-harapan yang ingin kalian capai dan niat-niat kalian. Dia akan memberikan balasannya kepada kalian di Hari Kiamat yang menjadi (momen-tum) bagi Allah untuk menetapkan keputusan (masalah yang ter-jadi) di antara kalian ﴾ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ 69 ﴿ "tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya." Barangsiapa tepat berada di atas shirathal mustaqim, maka dia termasuk penghuni Surga Na'im, dan barangsiapa membelok darinya, maka dia menjadi penghuni Neraka Jahim. (70) Menjadi tanda kesempurnaan ketetapan hukumNya, bahwa keputusan hukum itu bersumberkan dari ilmu. Oleh sebab itu, Allah menyebutkan betapa besarnya penguasaan ilmuNya dan muatan KitabNya. Allah berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi." Tidak ada perkara tersembunyi yang ter-lewatkan olehNya, baik perkara yang terjangkau (oleh pandangan manusia) atau perkara-perkara rahasia, yang pelik ataupun yang terang, yang sudah lama terjadi maupun yang bakal muncul. [Sesungguhnya] ilmuNya meliputi segala yang ada di langit dan bumi, Allah telah membakukannya dalam sebuah kitab (buku ca-tatan); yaitu Lauhul Mahfuzh ketika Allah menciptakan al-Qalam, قَالَ لَهُ: أُكْتُبْ! قَالَ: مَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: أُكْتُبْ مَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Allah berkata kepadanya, 'Tulislah.' Dia (al-Qalam) menjawab, 'Apa yang (harus) kutulis?' Allah berfirman, 'Tulislah segala sesuatu yang terjadi sampai Hari Kiamat'."[6] ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 70 ﴿ "Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah," meskipun imajinasi kalian tidak melingkupinya. Sedangkan Allah تعالى, mudah bagiNya meliputi segala sesuatu de-ngan ilmuNya dan menuliskannya di kitab yang akan cocok dengan fakta (yang terjadi).

Al-Hajj 22:68

"Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka memban-tah kamu dalam urusan (syariat) ini, dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah, 'Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.' Allah akan mengadili di antara kamu pada Hari Kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya. Apakah kamu tidak me-ngetahui bahwa Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah'." (Al-Hajj: 67-70). (67) Allah تعالى memberitahukan bahwasanya Dia menjadi-kan bagi setiap umat manusia ﴾ مَنسَكًا ﴿ "syariat tertentu," maksudnya tempat ibadah dan cara peribadahan. Terkadang mengalami per-bedaan di beberapa sisi, walaupun tetap memuat nuansa keadilan dan hikmah. Sebagaimana kandungan Firman Allah, ﴾ لِكُلّٖ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ …﴿ "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadi-kanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu…." (Al-Ma`idah: 48). ﴾ هُمۡ نَاسِكُوهُۖ ﴿ "Yang mereka kerjakan," maksudnya mereka mengamalkannya selaras dengan kondisi dan latar belakang me-reka, sehingga tidak terjadi penentangan terhadap suatu syariat. Terutama dari kaum 'ummi (yang buta huruf), dari kalangan masya-rakat paganis dan jahiliyah yang sudah sangat nyata. Karena jika telah terbukti kebenaran risalah seorang rasul melalui dalil-dalil, maka wajib diterima seluruh ajaran yang ia bawa dengan tulus dan berserah diri, tanpa penolakan. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَلَا يُنَٰزِعُنَّكَ فِي ٱلۡأَمۡرِۚ ﴿ "Maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini," maksudnya jangan sampai orang-orang yang mendustakan saling melancarkan penentangan kepadaMu, menampik sebagian ajaran yang engkau bawa dengan dorongan akal-akal mereka yang sudah rusak, seperti penentangan mereka dalam masalah penghalalan bangkai sambil berujar, "Kalian me-makan binatang yang kalian sembelih, tetapi tidak sudi memakan binatang yang Allah matikan langsung?! Dan seperti pernyataan mereka, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ ﴿ "Sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba." (Al-Baqarah: 275), …dan lain sebagainya, yang berupa penolakan mereka yang tidak mesti disanggah satu persatu. Mereka pada dasarnya mengingkari risalah. Tidak perlu ditegakkan perdebatan dan adu argumentasi bagi masing-masing lontaran syubhat itu. Ada sikap khusus sesuai dengan situasi dan kondisi. Orang yang melontarkan sanggahan, lagi mengingkari risalah Rasul, jika ia berdalih melakukan perdebatan untuk men-dapatkan petunjuk, maka hendaklah disampaikan kepadanya: Permasalahan kami denganmu berhubungan dengan ada tidaknya risalah. Apabila tidak demikian,maka merasa puas dengan per-debatan ini menjadi bukti bahwa tujuannya adalah untuk memper-tontonkan penentangan dan usaha pembungkaman. Untuk itu, Allah memerintahkan RasulNya agar beliau menyerukan dakwah dengan sarat hikmah dan mau'izhah hasanah (nasihat yang baik) serta konsisten dengan metode pendekatan ini, baik mereka akan menghalang-halangi atau tidak. Dan seharusnya tidak boleh ada sesuatu pun yang membelokkan dirimu dari dakwah. Pasalnya, engkau berada ﴾ هُدٗى مُّسۡتَقِيمٖ 67 ﴿ "pada jalan yang lurus," yaitu jalan yang tengah-tengah, yang mengantarkan menuju tujuan yang ingin digapai, yang sarat dengan ilmu kebenaran dan pengamalannya. Jadi, engkau telah berada di atas tumpuan kepercayaan terhadap urusan yang sedang engkau jalankan dan berpegang teguh atas keyakinan terhadap agamamu. Hal ini mengharuskan lahirnya sikap pantang menyerah pada dirimu dan terus bergerak melak-sanakan perintah Rabbmu. Kamu tidaklah berada dalam perkara yang meragu-ragukan atau perkataan yang dusta, sehingga mem-buatmu mesti bercampur-baur bersama orang-orang, dan keinginan-keinginan serta pikiran-pikiran mereka sehingga penentangan mereka menghentikanmu. Senada dengan ini, Firman Allah تعالى, ﴾ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلۡحَقِّ ٱلۡمُبِينِ 79 ﴿ "Sebab itu, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata." (An-Naml: 79). Kendatipun dalam Firman Allah, ﴾ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدٗى مُّسۡتَقِيمٖ 67 ﴿ "Se-sungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus," termuat petunjuk untuk mencounter orang-orang yang menyanggah bebe-rapa point pada aturan syariat melalui daya nalar yang sehat. Karena al-huda (petunjuk) di sini merupakan gambaran bagi setiap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Dan hakikat al-huda ialah segala sesuatu yang mendatangkan hidayah dalam masalah-masalah ushul (prinsipil) dan furu' (cabang-cabang). Yang dimaksud adalah, perkara-perkara yang dapat dideteksi sisi kebaikan, keadilan dan kebijaksanaannya melalui akal dan fitrah yang masih lurus. Hasil ini bisa diketahui dengan cara menyelami perintah-perintah dan larangan-larangan secara mendalam. (68-69) Karena itu, dalam kondisi seperti ini, Allah meni-tahkan mengurungkan diri untuk meladeni perdebatan mereka. Dia berfirman, ﴾ وَإِن جَٰدَلُوكَ فَقُلِ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا تَعۡمَلُونَ 68 ﴿ "Dan jika mereka mem-bantah kamu, maka katakanlah, 'Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan'," maksudnya Dia Maha Mengetahui harapan-harapan yang ingin kalian capai dan niat-niat kalian. Dia akan memberikan balasannya kepada kalian di Hari Kiamat yang menjadi (momen-tum) bagi Allah untuk menetapkan keputusan (masalah yang ter-jadi) di antara kalian ﴾ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ 69 ﴿ "tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya." Barangsiapa tepat berada di atas shirathal mustaqim, maka dia termasuk penghuni Surga Na'im, dan barangsiapa membelok darinya, maka dia menjadi penghuni Neraka Jahim. (70) Menjadi tanda kesempurnaan ketetapan hukumNya, bahwa keputusan hukum itu bersumberkan dari ilmu. Oleh sebab itu, Allah menyebutkan betapa besarnya penguasaan ilmuNya dan muatan KitabNya. Allah berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi." Tidak ada perkara tersembunyi yang ter-lewatkan olehNya, baik perkara yang terjangkau (oleh pandangan manusia) atau perkara-perkara rahasia, yang pelik ataupun yang terang, yang sudah lama terjadi maupun yang bakal muncul. [Sesungguhnya] ilmuNya meliputi segala yang ada di langit dan bumi, Allah telah membakukannya dalam sebuah kitab (buku ca-tatan); yaitu Lauhul Mahfuzh ketika Allah menciptakan al-Qalam, قَالَ لَهُ: أُكْتُبْ! قَالَ: مَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: أُكْتُبْ مَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Allah berkata kepadanya, 'Tulislah.' Dia (al-Qalam) menjawab, 'Apa yang (harus) kutulis?' Allah berfirman, 'Tulislah segala sesuatu yang terjadi sampai Hari Kiamat'."[6] ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 70 ﴿ "Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah," meskipun imajinasi kalian tidak melingkupinya. Sedangkan Allah تعالى, mudah bagiNya meliputi segala sesuatu de-ngan ilmuNya dan menuliskannya di kitab yang akan cocok dengan fakta (yang terjadi).

Al-Hajj 22:69

"Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka memban-tah kamu dalam urusan (syariat) ini, dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah, 'Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.' Allah akan mengadili di antara kamu pada Hari Kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya. Apakah kamu tidak me-ngetahui bahwa Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah'." (Al-Hajj: 67-70). (67) Allah تعالى memberitahukan bahwasanya Dia menjadi-kan bagi setiap umat manusia ﴾ مَنسَكًا ﴿ "syariat tertentu," maksudnya tempat ibadah dan cara peribadahan. Terkadang mengalami per-bedaan di beberapa sisi, walaupun tetap memuat nuansa keadilan dan hikmah. Sebagaimana kandungan Firman Allah, ﴾ لِكُلّٖ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ …﴿ "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadi-kanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu…." (Al-Ma`idah: 48). ﴾ هُمۡ نَاسِكُوهُۖ ﴿ "Yang mereka kerjakan," maksudnya mereka mengamalkannya selaras dengan kondisi dan latar belakang me-reka, sehingga tidak terjadi penentangan terhadap suatu syariat. Terutama dari kaum 'ummi (yang buta huruf), dari kalangan masya-rakat paganis dan jahiliyah yang sudah sangat nyata. Karena jika telah terbukti kebenaran risalah seorang rasul melalui dalil-dalil, maka wajib diterima seluruh ajaran yang ia bawa dengan tulus dan berserah diri, tanpa penolakan. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَلَا يُنَٰزِعُنَّكَ فِي ٱلۡأَمۡرِۚ ﴿ "Maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini," maksudnya jangan sampai orang-orang yang mendustakan saling melancarkan penentangan kepadaMu, menampik sebagian ajaran yang engkau bawa dengan dorongan akal-akal mereka yang sudah rusak, seperti penentangan mereka dalam masalah penghalalan bangkai sambil berujar, "Kalian me-makan binatang yang kalian sembelih, tetapi tidak sudi memakan binatang yang Allah matikan langsung?! Dan seperti pernyataan mereka, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ ﴿ "Sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba." (Al-Baqarah: 275), …dan lain sebagainya, yang berupa penolakan mereka yang tidak mesti disanggah satu persatu. Mereka pada dasarnya mengingkari risalah. Tidak perlu ditegakkan perdebatan dan adu argumentasi bagi masing-masing lontaran syubhat itu. Ada sikap khusus sesuai dengan situasi dan kondisi. Orang yang melontarkan sanggahan, lagi mengingkari risalah Rasul, jika ia berdalih melakukan perdebatan untuk men-dapatkan petunjuk, maka hendaklah disampaikan kepadanya: Permasalahan kami denganmu berhubungan dengan ada tidaknya risalah. Apabila tidak demikian,maka merasa puas dengan per-debatan ini menjadi bukti bahwa tujuannya adalah untuk memper-tontonkan penentangan dan usaha pembungkaman. Untuk itu, Allah memerintahkan RasulNya agar beliau menyerukan dakwah dengan sarat hikmah dan mau'izhah hasanah (nasihat yang baik) serta konsisten dengan metode pendekatan ini, baik mereka akan menghalang-halangi atau tidak. Dan seharusnya tidak boleh ada sesuatu pun yang membelokkan dirimu dari dakwah. Pasalnya, engkau berada ﴾ هُدٗى مُّسۡتَقِيمٖ 67 ﴿ "pada jalan yang lurus," yaitu jalan yang tengah-tengah, yang mengantarkan menuju tujuan yang ingin digapai, yang sarat dengan ilmu kebenaran dan pengamalannya. Jadi, engkau telah berada di atas tumpuan kepercayaan terhadap urusan yang sedang engkau jalankan dan berpegang teguh atas keyakinan terhadap agamamu. Hal ini mengharuskan lahirnya sikap pantang menyerah pada dirimu dan terus bergerak melak-sanakan perintah Rabbmu. Kamu tidaklah berada dalam perkara yang meragu-ragukan atau perkataan yang dusta, sehingga mem-buatmu mesti bercampur-baur bersama orang-orang, dan keinginan-keinginan serta pikiran-pikiran mereka sehingga penentangan mereka menghentikanmu. Senada dengan ini, Firman Allah تعالى, ﴾ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلۡحَقِّ ٱلۡمُبِينِ 79 ﴿ "Sebab itu, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata." (An-Naml: 79). Kendatipun dalam Firman Allah, ﴾ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدٗى مُّسۡتَقِيمٖ 67 ﴿ "Se-sungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus," termuat petunjuk untuk mencounter orang-orang yang menyanggah bebe-rapa point pada aturan syariat melalui daya nalar yang sehat. Karena al-huda (petunjuk) di sini merupakan gambaran bagi setiap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Dan hakikat al-huda ialah segala sesuatu yang mendatangkan hidayah dalam masalah-masalah ushul (prinsipil) dan furu' (cabang-cabang). Yang dimaksud adalah, perkara-perkara yang dapat dideteksi sisi kebaikan, keadilan dan kebijaksanaannya melalui akal dan fitrah yang masih lurus. Hasil ini bisa diketahui dengan cara menyelami perintah-perintah dan larangan-larangan secara mendalam. (68-69) Karena itu, dalam kondisi seperti ini, Allah meni-tahkan mengurungkan diri untuk meladeni perdebatan mereka. Dia berfirman, ﴾ وَإِن جَٰدَلُوكَ فَقُلِ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا تَعۡمَلُونَ 68 ﴿ "Dan jika mereka mem-bantah kamu, maka katakanlah, 'Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan'," maksudnya Dia Maha Mengetahui harapan-harapan yang ingin kalian capai dan niat-niat kalian. Dia akan memberikan balasannya kepada kalian di Hari Kiamat yang menjadi (momen-tum) bagi Allah untuk menetapkan keputusan (masalah yang ter-jadi) di antara kalian ﴾ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ 69 ﴿ "tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya." Barangsiapa tepat berada di atas shirathal mustaqim, maka dia termasuk penghuni Surga Na'im, dan barangsiapa membelok darinya, maka dia menjadi penghuni Neraka Jahim. (70) Menjadi tanda kesempurnaan ketetapan hukumNya, bahwa keputusan hukum itu bersumberkan dari ilmu. Oleh sebab itu, Allah menyebutkan betapa besarnya penguasaan ilmuNya dan muatan KitabNya. Allah berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi." Tidak ada perkara tersembunyi yang ter-lewatkan olehNya, baik perkara yang terjangkau (oleh pandangan manusia) atau perkara-perkara rahasia, yang pelik ataupun yang terang, yang sudah lama terjadi maupun yang bakal muncul. [Sesungguhnya] ilmuNya meliputi segala yang ada di langit dan bumi, Allah telah membakukannya dalam sebuah kitab (buku ca-tatan); yaitu Lauhul Mahfuzh ketika Allah menciptakan al-Qalam, قَالَ لَهُ: أُكْتُبْ! قَالَ: مَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: أُكْتُبْ مَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Allah berkata kepadanya, 'Tulislah.' Dia (al-Qalam) menjawab, 'Apa yang (harus) kutulis?' Allah berfirman, 'Tulislah segala sesuatu yang terjadi sampai Hari Kiamat'."[6] ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 70 ﴿ "Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah," meskipun imajinasi kalian tidak melingkupinya. Sedangkan Allah تعالى, mudah bagiNya meliputi segala sesuatu de-ngan ilmuNya dan menuliskannya di kitab yang akan cocok dengan fakta (yang terjadi).

Al-Hajj 22:70

"Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka memban-tah kamu dalam urusan (syariat) ini, dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah, 'Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.' Allah akan mengadili di antara kamu pada Hari Kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya. Apakah kamu tidak me-ngetahui bahwa Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah'." (Al-Hajj: 67-70). (67) Allah تعالى memberitahukan bahwasanya Dia menjadi-kan bagi setiap umat manusia ﴾ مَنسَكًا ﴿ "syariat tertentu," maksudnya tempat ibadah dan cara peribadahan. Terkadang mengalami per-bedaan di beberapa sisi, walaupun tetap memuat nuansa keadilan dan hikmah. Sebagaimana kandungan Firman Allah, ﴾ لِكُلّٖ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ …﴿ "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadi-kanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu…." (Al-Ma`idah: 48). ﴾ هُمۡ نَاسِكُوهُۖ ﴿ "Yang mereka kerjakan," maksudnya mereka mengamalkannya selaras dengan kondisi dan latar belakang me-reka, sehingga tidak terjadi penentangan terhadap suatu syariat. Terutama dari kaum 'ummi (yang buta huruf), dari kalangan masya-rakat paganis dan jahiliyah yang sudah sangat nyata. Karena jika telah terbukti kebenaran risalah seorang rasul melalui dalil-dalil, maka wajib diterima seluruh ajaran yang ia bawa dengan tulus dan berserah diri, tanpa penolakan. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَلَا يُنَٰزِعُنَّكَ فِي ٱلۡأَمۡرِۚ ﴿ "Maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini," maksudnya jangan sampai orang-orang yang mendustakan saling melancarkan penentangan kepadaMu, menampik sebagian ajaran yang engkau bawa dengan dorongan akal-akal mereka yang sudah rusak, seperti penentangan mereka dalam masalah penghalalan bangkai sambil berujar, "Kalian me-makan binatang yang kalian sembelih, tetapi tidak sudi memakan binatang yang Allah matikan langsung?! Dan seperti pernyataan mereka, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ ﴿ "Sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba." (Al-Baqarah: 275), …dan lain sebagainya, yang berupa penolakan mereka yang tidak mesti disanggah satu persatu. Mereka pada dasarnya mengingkari risalah. Tidak perlu ditegakkan perdebatan dan adu argumentasi bagi masing-masing lontaran syubhat itu. Ada sikap khusus sesuai dengan situasi dan kondisi. Orang yang melontarkan sanggahan, lagi mengingkari risalah Rasul, jika ia berdalih melakukan perdebatan untuk men-dapatkan petunjuk, maka hendaklah disampaikan kepadanya: Permasalahan kami denganmu berhubungan dengan ada tidaknya risalah. Apabila tidak demikian,maka merasa puas dengan per-debatan ini menjadi bukti bahwa tujuannya adalah untuk memper-tontonkan penentangan dan usaha pembungkaman. Untuk itu, Allah memerintahkan RasulNya agar beliau menyerukan dakwah dengan sarat hikmah dan mau'izhah hasanah (nasihat yang baik) serta konsisten dengan metode pendekatan ini, baik mereka akan menghalang-halangi atau tidak. Dan seharusnya tidak boleh ada sesuatu pun yang membelokkan dirimu dari dakwah. Pasalnya, engkau berada ﴾ هُدٗى مُّسۡتَقِيمٖ 67 ﴿ "pada jalan yang lurus," yaitu jalan yang tengah-tengah, yang mengantarkan menuju tujuan yang ingin digapai, yang sarat dengan ilmu kebenaran dan pengamalannya. Jadi, engkau telah berada di atas tumpuan kepercayaan terhadap urusan yang sedang engkau jalankan dan berpegang teguh atas keyakinan terhadap agamamu. Hal ini mengharuskan lahirnya sikap pantang menyerah pada dirimu dan terus bergerak melak-sanakan perintah Rabbmu. Kamu tidaklah berada dalam perkara yang meragu-ragukan atau perkataan yang dusta, sehingga mem-buatmu mesti bercampur-baur bersama orang-orang, dan keinginan-keinginan serta pikiran-pikiran mereka sehingga penentangan mereka menghentikanmu. Senada dengan ini, Firman Allah تعالى, ﴾ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلۡحَقِّ ٱلۡمُبِينِ 79 ﴿ "Sebab itu, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata." (An-Naml: 79). Kendatipun dalam Firman Allah, ﴾ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدٗى مُّسۡتَقِيمٖ 67 ﴿ "Se-sungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus," termuat petunjuk untuk mencounter orang-orang yang menyanggah bebe-rapa point pada aturan syariat melalui daya nalar yang sehat. Karena al-huda (petunjuk) di sini merupakan gambaran bagi setiap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Dan hakikat al-huda ialah segala sesuatu yang mendatangkan hidayah dalam masalah-masalah ushul (prinsipil) dan furu' (cabang-cabang). Yang dimaksud adalah, perkara-perkara yang dapat dideteksi sisi kebaikan, keadilan dan kebijaksanaannya melalui akal dan fitrah yang masih lurus. Hasil ini bisa diketahui dengan cara menyelami perintah-perintah dan larangan-larangan secara mendalam. (68-69) Karena itu, dalam kondisi seperti ini, Allah meni-tahkan mengurungkan diri untuk meladeni perdebatan mereka. Dia berfirman, ﴾ وَإِن جَٰدَلُوكَ فَقُلِ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا تَعۡمَلُونَ 68 ﴿ "Dan jika mereka mem-bantah kamu, maka katakanlah, 'Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan'," maksudnya Dia Maha Mengetahui harapan-harapan yang ingin kalian capai dan niat-niat kalian. Dia akan memberikan balasannya kepada kalian di Hari Kiamat yang menjadi (momen-tum) bagi Allah untuk menetapkan keputusan (masalah yang ter-jadi) di antara kalian ﴾ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ 69 ﴿ "tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya." Barangsiapa tepat berada di atas shirathal mustaqim, maka dia termasuk penghuni Surga Na'im, dan barangsiapa membelok darinya, maka dia menjadi penghuni Neraka Jahim. (70) Menjadi tanda kesempurnaan ketetapan hukumNya, bahwa keputusan hukum itu bersumberkan dari ilmu. Oleh sebab itu, Allah menyebutkan betapa besarnya penguasaan ilmuNya dan muatan KitabNya. Allah berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan bumi." Tidak ada perkara tersembunyi yang ter-lewatkan olehNya, baik perkara yang terjangkau (oleh pandangan manusia) atau perkara-perkara rahasia, yang pelik ataupun yang terang, yang sudah lama terjadi maupun yang bakal muncul. [Sesungguhnya] ilmuNya meliputi segala yang ada di langit dan bumi, Allah telah membakukannya dalam sebuah kitab (buku ca-tatan); yaitu Lauhul Mahfuzh ketika Allah menciptakan al-Qalam, قَالَ لَهُ: أُكْتُبْ! قَالَ: مَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: أُكْتُبْ مَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Allah berkata kepadanya, 'Tulislah.' Dia (al-Qalam) menjawab, 'Apa yang (harus) kutulis?' Allah berfirman, 'Tulislah segala sesuatu yang terjadi sampai Hari Kiamat'."[6] ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 70 ﴿ "Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah," meskipun imajinasi kalian tidak melingkupinya. Sedangkan Allah تعالى, mudah bagiNya meliputi segala sesuatu de-ngan ilmuNya dan menuliskannya di kitab yang akan cocok dengan fakta (yang terjadi).

Al-Hajj 22:71

"Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang mana Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan sesuatu yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. Dan orang-orang yang zhalim sekali-kali tidak mendapatkan seorang penolong pun. Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keing-karan pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir me-reka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah, 'Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka.' Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." (Al-Hajj: 71-72). (71) Allah تعالى menyebutkan kondisi kaum musyrikin yang berpaling dariNya kepada sesembahan yang lain, bahwa kondisi mereka sangatlah buruk. Sebetulnya tidak ada alasan kuat bagi mereka untuk membenarkan tindakan yang mereka kerjakan. Mereka tidak didukung oleh ilmu. Hanya taklid saja yang mereka genggam dari para nenek-moyang mereka yang sesat. Terkadang, ada orang yang tidak memiliki ilmu tentang apa yang dia lakukan, akan tetapi dia (pada perkara itu sendiri) mempunyai hujjah yang diketahuinya. Maka, Allah mengabarkan di sini bahwa Allah tidak menurunkan tentang itu ﴾ سُلۡطَٰنٗا ﴿ "keterangan," yaitu kekuatan hujjah yang mengarah ke sana dan memperbolehkannya. Justru (sebalik-nya) Allah menurunkan sejumlah bukti yang kokoh yang menan-dakan kerusakan dan kebatilannya. Selanjutnya, Allah mengancam orang-orang yang berbuat zhalim dari kalangan mereka, lagi menentang kebenaran. Allah berfirman, ﴾ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٖ 71 ﴿ "Dan orang-orang yang berbuat zhalim sekali-kali tidak mendapatkan seorang penolong pun," yang menyelamatkan mereka dari siksaan Allah bila telah turun dan menghampiri mereka. (72) Apakah orang-orang yang tidak mempunyai dasar ilmu atas tindak-tanduk yang biasa mereka jalani bermaksud mengikuti ayat-ayat Allah dan al-huda bila telah datang kepada mereka. Atau-kah mereka sudah merasa cukup dengan kebatilan yang mengung-kungi mereka? Allah menceritakan itu dalam FirmanNya, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا ﴿ "Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami," yang merupakan ayat-ayat Allah yang agung lagi ditujukan untuk menerangkan kebenaran agar terbedakan dari kebatilan, niscaya mereka tidak memberikan perhatian kepadanya dan tidak mem-pedulikannya. Bahkan ﴾ تَعۡرِفُ فِي وُجُوهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلۡمُنكَرَۖ ﴿ "niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu," lantaran kebencian dan antipati mereka, kita menyaksikan wajah-wajah mereka masam dan air muka mereka cemberut. ﴾ يَكَادُونَ يَسۡطُونَ بِٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِنَاۗ ﴿ "Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka," maksudnya hampir saja mereka menimpakan usaha pem-bunuhan terhadap orang-orang itu dan bogem mentah karena be-sarnya kebencian dan permusuhan terhadap mereka dan kebenaran. Keadaan orang-orang kafir ini merupakan sejelek-jelek keadaan. Dan keburukan yang muncul dari mereka merupakan sejelek-jelek keburukan. Akan tetapi, masih ada sesuatu yang lebih buruk dari-pada itu. Yaitu, keadaan yang akan mereka jalani nantinya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ قُلۡ أَفَأُنَبِّئُكُم بِشَرّٖ مِّن ذَٰلِكُمُۚ ٱلنَّارُ وَعَدَهَا ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Katakanlah, 'Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka.' Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali'." Neraka ini, keburukannya sangat panjang lagi meluas. Ketidak-nyamanan dan kepedihannya semakin bertambah selama-lamanya.

Al-Hajj 22:72

"Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang mana Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan sesuatu yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. Dan orang-orang yang zhalim sekali-kali tidak mendapatkan seorang penolong pun. Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keing-karan pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir me-reka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah, 'Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka.' Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." (Al-Hajj: 71-72). (71) Allah تعالى menyebutkan kondisi kaum musyrikin yang berpaling dariNya kepada sesembahan yang lain, bahwa kondisi mereka sangatlah buruk. Sebetulnya tidak ada alasan kuat bagi mereka untuk membenarkan tindakan yang mereka kerjakan. Mereka tidak didukung oleh ilmu. Hanya taklid saja yang mereka genggam dari para nenek-moyang mereka yang sesat. Terkadang, ada orang yang tidak memiliki ilmu tentang apa yang dia lakukan, akan tetapi dia (pada perkara itu sendiri) mempunyai hujjah yang diketahuinya. Maka, Allah mengabarkan di sini bahwa Allah tidak menurunkan tentang itu ﴾ سُلۡطَٰنٗا ﴿ "keterangan," yaitu kekuatan hujjah yang mengarah ke sana dan memperbolehkannya. Justru (sebalik-nya) Allah menurunkan sejumlah bukti yang kokoh yang menan-dakan kerusakan dan kebatilannya. Selanjutnya, Allah mengancam orang-orang yang berbuat zhalim dari kalangan mereka, lagi menentang kebenaran. Allah berfirman, ﴾ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٖ 71 ﴿ "Dan orang-orang yang berbuat zhalim sekali-kali tidak mendapatkan seorang penolong pun," yang menyelamatkan mereka dari siksaan Allah bila telah turun dan menghampiri mereka. (72) Apakah orang-orang yang tidak mempunyai dasar ilmu atas tindak-tanduk yang biasa mereka jalani bermaksud mengikuti ayat-ayat Allah dan al-huda bila telah datang kepada mereka. Atau-kah mereka sudah merasa cukup dengan kebatilan yang mengung-kungi mereka? Allah menceritakan itu dalam FirmanNya, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا ﴿ "Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami," yang merupakan ayat-ayat Allah yang agung lagi ditujukan untuk menerangkan kebenaran agar terbedakan dari kebatilan, niscaya mereka tidak memberikan perhatian kepadanya dan tidak mem-pedulikannya. Bahkan ﴾ تَعۡرِفُ فِي وُجُوهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلۡمُنكَرَۖ ﴿ "niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu," lantaran kebencian dan antipati mereka, kita menyaksikan wajah-wajah mereka masam dan air muka mereka cemberut. ﴾ يَكَادُونَ يَسۡطُونَ بِٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِنَاۗ ﴿ "Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka," maksudnya hampir saja mereka menimpakan usaha pem-bunuhan terhadap orang-orang itu dan bogem mentah karena be-sarnya kebencian dan permusuhan terhadap mereka dan kebenaran. Keadaan orang-orang kafir ini merupakan sejelek-jelek keadaan. Dan keburukan yang muncul dari mereka merupakan sejelek-jelek keburukan. Akan tetapi, masih ada sesuatu yang lebih buruk dari-pada itu. Yaitu, keadaan yang akan mereka jalani nantinya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ قُلۡ أَفَأُنَبِّئُكُم بِشَرّٖ مِّن ذَٰلِكُمُۚ ٱلنَّارُ وَعَدَهَا ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Katakanlah, 'Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka.' Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali'." Neraka ini, keburukannya sangat panjang lagi meluas. Ketidak-nyamanan dan kepedihannya semakin bertambah selama-lamanya.

Al-Hajj 22:73

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka kalian dengarkanlah perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyem-bah, dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak me-ngenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa." (Al-Hajj: 73-74). (73-74) Ini sebuah permisalan yang Allah (gariskan) untuk menggambarkan keburukan peribadahan kepada berhala-berhala dan menjelaskan cacatnya akal-akal orang-orang yang menjalankan ibadah kepadanya serta (menjelaskan) kelemahan semua pihak. Allah berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ﴿ "Hai manusia." Ini pembicaraan yang terarah kepada kaum Mukminin dan kaum kafir. Dengan itu, orang-orang Mukminin akan melonjak tingkat ilmu dan bashirah mereka. Sedangkan bagi kaum kafir, ayat itu menjadi hujjah yang menggu-gat mereka. ﴾ ضُرِبَ مَثَلٞ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥٓۚ ﴿ "Telah dibuat perumpamaan, maka kalian dengarkanlah perumpamaan itu," maksudnya condongkanlah pendengaran-pendengaran kalian ke arahnya. Dan pahami kan-dungannya. Jangan sampai mengenai hati yang sedang lalai dan pendengaran yang sedang membelok. Benar-benar arahkan hati dan pendengaran kalian. Yaitu Firman Allah ini, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah," keterang-an ini mencakup setiap obyek yang disembah selain Allah, ﴾ لَن يَخۡلُقُواْ ذُبَابٗا ﴿ "sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun," yang meru-pakan binatang yang paling hina lagi menjijikkan. Mereka tiada berdaya untuk menciptakan makhluk yang lemah ini. Apalagi benda-benda yang lebih baik darinya (sudah mesti mereka lebih tidak berdaya). ﴾ وَلَوِ ٱجۡتَمَعُواْ لَهُۥۖ ﴿ "Walaupun mereka bersatu untuk men-ciptakannya," bahkan, lebih parah daripada itu, ﴾ وَإِن يَسۡلُبۡهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيۡـٔٗا لَّا يَسۡتَنقِذُوهُ مِنۡهُۚ ﴿ "dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tidaklah mereka dapat merebutnya." Ini merupakan titik puncak kelemahannya. ﴾ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ ﴿ "Amat lemahlah yang menyembah," yaitu yang menyembah sesembahan selain Allah, ﴾ وَٱلۡمَطۡلُوبُ 73 ﴿ "dan amat lemah (pulalah) yang disembah," yaitu lalat. Masing-masing lemah. Lebih lemah lagi daripada keduanya adalah orang yang bergantung kepada makhluk yang lemah ini dan memposisikannya sebagai Rabbul 'Alamin (Penguasa alam semesta). Orang ini tidak menghor-mati Allah dengan sebenar-benarnya. Dia telah menyamakan obyek yang membutuhkan peran pihak lain lagi tanpa daya (dilihat) dari segala aspek dengan Dzat Yang Mahakaya lagi Kuat dari segala sisi. Dia telah mempersamakan obyek yang tidak mempunyai kemampuan (bagi dirinya dan bagi orang lain) untuk menetapkan kebaikan, bahaya, kematian, kehidupan, dan kebangkitan dengan Dzat yang Maha Pemberi kemanfaatan dan bahaya, Yang Melim-pahkan dan Menahan (kenikmatan), Pemilik kerajaan, dan Yang Mengatur dengan berbagai macam aturan di dalamnya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ 74 ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa," maksudnya sempurna kekuatanNya, sempurna kemuliaanNya. Di antara kesempurnaan kekuatan dan kemuliaan-Nya; bahwasanya ubun-ubun seluruh makhluk berada di dua TanganNya. Tidaklah ada benda yang bergerak dan diam melain-kan (pasti) dengan keinginan dan kehendakNya. Apa yang dikehen-daki oleh Allah, niscaya terjadi, dan apa-apa yang tidak diinginkan oleh Allah, niscaya tidak akan terlaksana. Di antara kesempurnaan kekuatan Allah bahwa Dia memegangi langit-langit dan bumi sehingga tidak terjatuh. Dan (bukti) kesempurnaan kekuatan Allah, Dia membangkitkan seluruh makhluk (setelah kehancurannya), sejak makhluk yang pertama dan yang paling akhir hanya dengan satu tiupan, dan Allah dapat membinasakan para diktator dan umat-umat manusia yang sombong, hanya dengan sesuatu yang kecil dan cemeti dari siksaanNya.

Al-Hajj 22:74

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka kalian dengarkanlah perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyem-bah, dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak me-ngenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa." (Al-Hajj: 73-74). (73-74) Ini sebuah permisalan yang Allah (gariskan) untuk menggambarkan keburukan peribadahan kepada berhala-berhala dan menjelaskan cacatnya akal-akal orang-orang yang menjalankan ibadah kepadanya serta (menjelaskan) kelemahan semua pihak. Allah berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ﴿ "Hai manusia." Ini pembicaraan yang terarah kepada kaum Mukminin dan kaum kafir. Dengan itu, orang-orang Mukminin akan melonjak tingkat ilmu dan bashirah mereka. Sedangkan bagi kaum kafir, ayat itu menjadi hujjah yang menggu-gat mereka. ﴾ ضُرِبَ مَثَلٞ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥٓۚ ﴿ "Telah dibuat perumpamaan, maka kalian dengarkanlah perumpamaan itu," maksudnya condongkanlah pendengaran-pendengaran kalian ke arahnya. Dan pahami kan-dungannya. Jangan sampai mengenai hati yang sedang lalai dan pendengaran yang sedang membelok. Benar-benar arahkan hati dan pendengaran kalian. Yaitu Firman Allah ini, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah," keterang-an ini mencakup setiap obyek yang disembah selain Allah, ﴾ لَن يَخۡلُقُواْ ذُبَابٗا ﴿ "sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun," yang meru-pakan binatang yang paling hina lagi menjijikkan. Mereka tiada berdaya untuk menciptakan makhluk yang lemah ini. Apalagi benda-benda yang lebih baik darinya (sudah mesti mereka lebih tidak berdaya). ﴾ وَلَوِ ٱجۡتَمَعُواْ لَهُۥۖ ﴿ "Walaupun mereka bersatu untuk men-ciptakannya," bahkan, lebih parah daripada itu, ﴾ وَإِن يَسۡلُبۡهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيۡـٔٗا لَّا يَسۡتَنقِذُوهُ مِنۡهُۚ ﴿ "dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tidaklah mereka dapat merebutnya." Ini merupakan titik puncak kelemahannya. ﴾ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ ﴿ "Amat lemahlah yang menyembah," yaitu yang menyembah sesembahan selain Allah, ﴾ وَٱلۡمَطۡلُوبُ 73 ﴿ "dan amat lemah (pulalah) yang disembah," yaitu lalat. Masing-masing lemah. Lebih lemah lagi daripada keduanya adalah orang yang bergantung kepada makhluk yang lemah ini dan memposisikannya sebagai Rabbul 'Alamin (Penguasa alam semesta). Orang ini tidak menghor-mati Allah dengan sebenar-benarnya. Dia telah menyamakan obyek yang membutuhkan peran pihak lain lagi tanpa daya (dilihat) dari segala aspek dengan Dzat Yang Mahakaya lagi Kuat dari segala sisi. Dia telah mempersamakan obyek yang tidak mempunyai kemampuan (bagi dirinya dan bagi orang lain) untuk menetapkan kebaikan, bahaya, kematian, kehidupan, dan kebangkitan dengan Dzat yang Maha Pemberi kemanfaatan dan bahaya, Yang Melim-pahkan dan Menahan (kenikmatan), Pemilik kerajaan, dan Yang Mengatur dengan berbagai macam aturan di dalamnya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ 74 ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa," maksudnya sempurna kekuatanNya, sempurna kemuliaanNya. Di antara kesempurnaan kekuatan dan kemuliaan-Nya; bahwasanya ubun-ubun seluruh makhluk berada di dua TanganNya. Tidaklah ada benda yang bergerak dan diam melain-kan (pasti) dengan keinginan dan kehendakNya. Apa yang dikehen-daki oleh Allah, niscaya terjadi, dan apa-apa yang tidak diinginkan oleh Allah, niscaya tidak akan terlaksana. Di antara kesempurnaan kekuatan Allah bahwa Dia memegangi langit-langit dan bumi sehingga tidak terjatuh. Dan (bukti) kesempurnaan kekuatan Allah, Dia membangkitkan seluruh makhluk (setelah kehancurannya), sejak makhluk yang pertama dan yang paling akhir hanya dengan satu tiupan, dan Allah dapat membinasakan para diktator dan umat-umat manusia yang sombong, hanya dengan sesuatu yang kecil dan cemeti dari siksaanNya.

Al-Hajj 22:75

"Allah memilih utusan-utusan(Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Allah Maha Mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan." (Al-Hajj: 75-76). (75-76) Usai menerangkan kesempurnaanNya dan kele-mahan berhala-berhala itu, dan Dia-lah Dzat yang berhak disembah dengan sebenarnya, maka Allah menjelaskan sifat-sifat para rasul dan keistimewaan mereka yang membedakan mereka dari para makhluk yang lain, dengan keutamaan-keutamaan yang (melekat) pada mereka. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ يَصۡطَفِي مِنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلٗا وَمِنَ ٱلنَّاسِۚ ﴿ "Allah memilih utusan-utusan(Nya) dari malaikat dan dari manusia," maksudnya memilih dan menyeleksi utusan-utusan dari kalangan malaikat dan dari kalangan manusia. Mereka (utusan-utusan pilihan ini) menjadi elemen-elemen yang paling suci dari kalangannya dan paling sarat dengan sifat-sifat kemuliaan dan paling berhak untuk menjadi (duta) pilihan. Para utusan ini tidak lain merupakan se-kumpulan makhluk terpilih secara mutlak. Dzat yang memilih dan menyeleksi mereka tidak buta terhadap seluk-beluk semua perkara atau (hanya) mengetahui secuil pengetahuan saja. Dzat yang me-milih adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Yang ilmu, pendengaran, dan pandanganNya telah meliputi segala sesuatu. Jadi, pemilihan mereka olehNya berdasarkan ilmu dariNya bahwa mereka memang pantas mengembannya dan bahwa wahyu cocok dengan mereka. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ حَيۡثُ يَجۡعَلُ رِسَالَتَهُۥۗ ﴿ "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan." (Al-An'am: 124). ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ 76 ﴿ "Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan," maksudnya Dia mengutus para rasul untuk mendakwahi umat manusia kepada Allah. Di antara mereka ada yang menyam-but seruan, ada pula yang menolak dakwah para rasul itu. Ada yang merespon positif, dan ada pula yang berbelok arah. Itulah tugas para rasul. Mengenai balasan atas amal perbuatan itu, maka dikembalikan kepada Allah. Janganlah engkau meniadakan kemu-rahan maupun keadilan dariNya.

Al-Hajj 22:76

"Allah memilih utusan-utusan(Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Allah Maha Mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan." (Al-Hajj: 75-76). (75-76) Usai menerangkan kesempurnaanNya dan kele-mahan berhala-berhala itu, dan Dia-lah Dzat yang berhak disembah dengan sebenarnya, maka Allah menjelaskan sifat-sifat para rasul dan keistimewaan mereka yang membedakan mereka dari para makhluk yang lain, dengan keutamaan-keutamaan yang (melekat) pada mereka. Allah berfirman, ﴾ ٱللَّهُ يَصۡطَفِي مِنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلٗا وَمِنَ ٱلنَّاسِۚ ﴿ "Allah memilih utusan-utusan(Nya) dari malaikat dan dari manusia," maksudnya memilih dan menyeleksi utusan-utusan dari kalangan malaikat dan dari kalangan manusia. Mereka (utusan-utusan pilihan ini) menjadi elemen-elemen yang paling suci dari kalangannya dan paling sarat dengan sifat-sifat kemuliaan dan paling berhak untuk menjadi (duta) pilihan. Para utusan ini tidak lain merupakan se-kumpulan makhluk terpilih secara mutlak. Dzat yang memilih dan menyeleksi mereka tidak buta terhadap seluk-beluk semua perkara atau (hanya) mengetahui secuil pengetahuan saja. Dzat yang me-milih adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Yang ilmu, pendengaran, dan pandanganNya telah meliputi segala sesuatu. Jadi, pemilihan mereka olehNya berdasarkan ilmu dariNya bahwa mereka memang pantas mengembannya dan bahwa wahyu cocok dengan mereka. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ حَيۡثُ يَجۡعَلُ رِسَالَتَهُۥۗ ﴿ "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan." (Al-An'am: 124). ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ 76 ﴿ "Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan," maksudnya Dia mengutus para rasul untuk mendakwahi umat manusia kepada Allah. Di antara mereka ada yang menyam-but seruan, ada pula yang menolak dakwah para rasul itu. Ada yang merespon positif, dan ada pula yang berbelok arah. Itulah tugas para rasul. Mengenai balasan atas amal perbuatan itu, maka dikembalikan kepada Allah. Janganlah engkau meniadakan kemu-rahan maupun keadilan dariNya.

Al-Hajj 22:77

"Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapatkan kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim sejak dulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur`an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu, dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (Al-Hajj: 77-78). (77) Allah تعالى menitahkan para hambaNya yang beriman untuk menegakkan shalat. Penyebutan rukuk dan sujud (untuk mewakili shalat), karena keutamaan dan status keduanya sebagai rukun shalat, (dan memerintahkan) untuk beribadah kepadaNya yang merupakan penyejuk mata dan penghibur hati yang pedih. Rububiyah dan curahan kebaikanNya pada hamba menuntut mereka untuk memurnikan ibadah bagiNya. Dia memerintahkan mereka untuk berbuat kebaikan secara umum dan mengaitkan keberuntungan seorang pada perkara-perkara tersebut. Allah ber-firman, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ۩ 77 ﴿ "Supaya kamu mendapatkan kemenangan," maksudnya kalian akan meraup kemenangan dengan meraih ha-rapan yang diinginkan dan selamat dari kejelekan (yang dikhawa-tirkan). Tidak ada jalan apa pun untuk menggapai keberuntungan selain bersikap ikhlas dalam menjalankan ibadah kepada al-Khaliq dan mengusahakan diri dapat bermanfaat bagi sesama. Siapa saja yang mendapatkan taufik untuk melaksanakan itu, maka dia men-dapatkan porsi yang besar dari nikmat kebahagiaan, keselamatan, dan keberuntungan. (78) ﴾ وَجَٰهِدُواْ فِي ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦۚ ﴿ "Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya," maksud dari kata al-jihad, yaitu mengerahkan kemampuan untuk dapat menggenggam tujuan yang dibidik. Jihad di jalan Allah dalam artian sebenarnya, yaitu melaksanakan perintah Allah dengan sepenuhnya, menyeru sesama manusia kepada jalanNya dengan berbagai macam cara yang dapat merealisasikannya, berupa pemberian nasihat, pembelajaran, peperangan, pembinaan, pencelaan, ceramah dan lain sebagainya. ﴾ هُوَ ٱجۡتَبَىٰكُمۡ ﴿ "Dia telah memilih kamu," maksudnya Dia telah memilih kalian wahai kaum Muslimin dari kalangan umat manusia dan memilihkan agama bagi kalian serta meridhainya bagi kalian (se-bagai ajaran agama). Dia juga memilihkan kitab terbaik dan utusan yang paling utama bagi kalian. Maka, terimalah anugerah besar ini dengan menegakkan jihad di jalannya dengan sepenuh arti. Manakala Firman Allah yang berbunyi, ﴾ وَجَٰهِدُواْ فِي ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦۚ ﴿ "Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benar-nya," mungkin ada orang yang menyangka bahwa ini merupakan bentuk taklif (pembebanan tanggung jawab) yang di luar batas kemampuan atau taklif yang memberatkan, maka Allah menyisih-kannya dari anggapan itu dengan FirmanNya, ﴾ وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ ﴿ "Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan," maksudnya, suatu kepelikan dan kesulitan. Justru benar-benar meringankannya dan memudahkan dengan kemu-dahan yang paling puncak. Pertama: Tidaklah Allah memerintah-kan dan mengharuskan melainkan (pasti) sesuatu yang mudah dirasakan oleh manusia, tidak memberatkan dan menyusahkan-nya. Selain itu, bila muncul beberapa faktor yang mengharuskan adanya dispensasi (peringanan), maka Allah meringankan kewa-jiban yang Allah perintahkan, baik dengan menggugurkannya atau menggugurkan sebagiannya. Dari ayat ini, bisa dipetik sebuah kaidah syar'i, yaituاَلْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ "masyaqqah (kesulitan) mendatangkan taisir (kemudahan masalah)," اَلضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ "keadaan darurat memperbolehkan hal-hal yang diharamkan." Sehingga banyak hukum furu` (cabang)(yang dikenal di dalam kitab-kitab hukum) masuk ke dalam kaidah ini. ﴾ مِّلَّةَ أَبِيكُمۡ إِبۡرَٰهِيمَۚ ﴿ "Agama orang tuamu, Ibrahim," maksudnya ajaran agama yang telah disebutkan dan perintah-perintah yang tertuliskan merupakan (hakikat) ajaran agama ayah kalian, Ibrahim yang beliau pegangi, maka tepatilah dan berpegang teguhlah de-ngannya. ﴾ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dia menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu," maksudnya dalam kitab-kitab terdahulu, kalian telah disebutkan dan sudah dikenal masyhur. ﴾ وَفِي هَٰذَا ﴿ "Dan (begitu pula) dalam (al-Qur`an) ini," kitab ini dan aturan syariat ini. Pengertiannya, bahwa nama ini menjadi milik kalian dahulu dan sekarang ini. ﴾ لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu," beserta amalan-amalan kalian; baik atau buruk. ﴾ وَتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِۚ ﴿ "Dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manu-sia," lantaran status kalian sebagai umat terbaik yang dimunculkan bagi umat manusia, umat yang wasath (pertengahan), adil lagi ter-pilih. Kalian bersaksi untuk mendukung para rasul bahwa mereka telah menyampaikan risalah kepada umat-umat mereka, dan ber-saksi di hadapan para umat bahwa para rasul mereka telah me-nyampaikan ajaran agama kepada mereka, melalui berita yang Allah kabarkan kepada kalian dalam KitabNya. ﴾ فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Maka dirikanlah shalat," dengan rukun-rukun, syarat-syarat dan aturan-aturan serta seluruh kelaziman (yang melengkapinya), ﴾ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan tunaikanlah zakat," yang diwajib-kan kepada pihak-pihak yang berhak menerimanya, dalam rangka wujud rasa syukur kepada Allah atas limpahan kenikmatan kepada mereka. ﴾ وَٱعۡتَصِمُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Dan berpeganglah kamu pada tali Allah," mak-sudnya bertahanlah denganNya dan bertawakallah kepadaNya dalam menjalankannya, janganlah kalian berpangku pada daya dan kekuatan kalian semata. ﴾ هُوَ مَوۡلَىٰكُمۡۖ ﴿ "Dia adalah Pelindungmu," Dzat yang menangani urusan-urusan kalian, hingga mengatur kalian dengan aturan yang bagus dan mengurusi kalian sesuai dengan ketentuan yang terbaik. ﴾ فَنِعۡمَ ٱلۡمَوۡلَىٰ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ 78 ﴿ "Maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong," maksudnya sebaik-baik penguasa bagi obyek yang ditangani, sehingga terealisasikan apa yang ingin dicapai olehnya. Dan sebaik-baik Penolong bagi orang yang memohon pertolongan, hingga melenyapkan kejelekan darinya. Tafsir [surat] al-Hajj sudah tuntas. Walhamdu lillahi Rabbil 'Alamin.

Al-Hajj 22:78

"Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapatkan kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim sejak dulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur`an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu, dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (Al-Hajj: 77-78). (77) Allah تعالى menitahkan para hambaNya yang beriman untuk menegakkan shalat. Penyebutan rukuk dan sujud (untuk mewakili shalat), karena keutamaan dan status keduanya sebagai rukun shalat, (dan memerintahkan) untuk beribadah kepadaNya yang merupakan penyejuk mata dan penghibur hati yang pedih. Rububiyah dan curahan kebaikanNya pada hamba menuntut mereka untuk memurnikan ibadah bagiNya. Dia memerintahkan mereka untuk berbuat kebaikan secara umum dan mengaitkan keberuntungan seorang pada perkara-perkara tersebut. Allah ber-firman, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ۩ 77 ﴿ "Supaya kamu mendapatkan kemenangan," maksudnya kalian akan meraup kemenangan dengan meraih ha-rapan yang diinginkan dan selamat dari kejelekan (yang dikhawa-tirkan). Tidak ada jalan apa pun untuk menggapai keberuntungan selain bersikap ikhlas dalam menjalankan ibadah kepada al-Khaliq dan mengusahakan diri dapat bermanfaat bagi sesama. Siapa saja yang mendapatkan taufik untuk melaksanakan itu, maka dia men-dapatkan porsi yang besar dari nikmat kebahagiaan, keselamatan, dan keberuntungan. (78) ﴾ وَجَٰهِدُواْ فِي ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦۚ ﴿ "Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya," maksud dari kata al-jihad, yaitu mengerahkan kemampuan untuk dapat menggenggam tujuan yang dibidik. Jihad di jalan Allah dalam artian sebenarnya, yaitu melaksanakan perintah Allah dengan sepenuhnya, menyeru sesama manusia kepada jalanNya dengan berbagai macam cara yang dapat merealisasikannya, berupa pemberian nasihat, pembelajaran, peperangan, pembinaan, pencelaan, ceramah dan lain sebagainya. ﴾ هُوَ ٱجۡتَبَىٰكُمۡ ﴿ "Dia telah memilih kamu," maksudnya Dia telah memilih kalian wahai kaum Muslimin dari kalangan umat manusia dan memilihkan agama bagi kalian serta meridhainya bagi kalian (se-bagai ajaran agama). Dia juga memilihkan kitab terbaik dan utusan yang paling utama bagi kalian. Maka, terimalah anugerah besar ini dengan menegakkan jihad di jalannya dengan sepenuh arti. Manakala Firman Allah yang berbunyi, ﴾ وَجَٰهِدُواْ فِي ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦۚ ﴿ "Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benar-nya," mungkin ada orang yang menyangka bahwa ini merupakan bentuk taklif (pembebanan tanggung jawab) yang di luar batas kemampuan atau taklif yang memberatkan, maka Allah menyisih-kannya dari anggapan itu dengan FirmanNya, ﴾ وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ ﴿ "Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan," maksudnya, suatu kepelikan dan kesulitan. Justru benar-benar meringankannya dan memudahkan dengan kemu-dahan yang paling puncak. Pertama: Tidaklah Allah memerintah-kan dan mengharuskan melainkan (pasti) sesuatu yang mudah dirasakan oleh manusia, tidak memberatkan dan menyusahkan-nya. Selain itu, bila muncul beberapa faktor yang mengharuskan adanya dispensasi (peringanan), maka Allah meringankan kewa-jiban yang Allah perintahkan, baik dengan menggugurkannya atau menggugurkan sebagiannya. Dari ayat ini, bisa dipetik sebuah kaidah syar'i, yaituاَلْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ "masyaqqah (kesulitan) mendatangkan taisir (kemudahan masalah)," اَلضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ "keadaan darurat memperbolehkan hal-hal yang diharamkan." Sehingga banyak hukum furu` (cabang)(yang dikenal di dalam kitab-kitab hukum) masuk ke dalam kaidah ini. ﴾ مِّلَّةَ أَبِيكُمۡ إِبۡرَٰهِيمَۚ ﴿ "Agama orang tuamu, Ibrahim," maksudnya ajaran agama yang telah disebutkan dan perintah-perintah yang tertuliskan merupakan (hakikat) ajaran agama ayah kalian, Ibrahim yang beliau pegangi, maka tepatilah dan berpegang teguhlah de-ngannya. ﴾ هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dia menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu," maksudnya dalam kitab-kitab terdahulu, kalian telah disebutkan dan sudah dikenal masyhur. ﴾ وَفِي هَٰذَا ﴿ "Dan (begitu pula) dalam (al-Qur`an) ini," kitab ini dan aturan syariat ini. Pengertiannya, bahwa nama ini menjadi milik kalian dahulu dan sekarang ini. ﴾ لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu," beserta amalan-amalan kalian; baik atau buruk. ﴾ وَتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِۚ ﴿ "Dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manu-sia," lantaran status kalian sebagai umat terbaik yang dimunculkan bagi umat manusia, umat yang wasath (pertengahan), adil lagi ter-pilih. Kalian bersaksi untuk mendukung para rasul bahwa mereka telah menyampaikan risalah kepada umat-umat mereka, dan ber-saksi di hadapan para umat bahwa para rasul mereka telah me-nyampaikan ajaran agama kepada mereka, melalui berita yang Allah kabarkan kepada kalian dalam KitabNya. ﴾ فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Maka dirikanlah shalat," dengan rukun-rukun, syarat-syarat dan aturan-aturan serta seluruh kelaziman (yang melengkapinya), ﴾ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan tunaikanlah zakat," yang diwajib-kan kepada pihak-pihak yang berhak menerimanya, dalam rangka wujud rasa syukur kepada Allah atas limpahan kenikmatan kepada mereka. ﴾ وَٱعۡتَصِمُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Dan berpeganglah kamu pada tali Allah," mak-sudnya bertahanlah denganNya dan bertawakallah kepadaNya dalam menjalankannya, janganlah kalian berpangku pada daya dan kekuatan kalian semata. ﴾ هُوَ مَوۡلَىٰكُمۡۖ ﴿ "Dia adalah Pelindungmu," Dzat yang menangani urusan-urusan kalian, hingga mengatur kalian dengan aturan yang bagus dan mengurusi kalian sesuai dengan ketentuan yang terbaik. ﴾ فَنِعۡمَ ٱلۡمَوۡلَىٰ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ 78 ﴿ "Maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong," maksudnya sebaik-baik penguasa bagi obyek yang ditangani, sehingga terealisasikan apa yang ingin dicapai olehnya. Dan sebaik-baik Penolong bagi orang yang memohon pertolongan, hingga melenyapkan kejelekan darinya. Tafsir [surat] al-Hajj sudah tuntas. Walhamdu lillahi Rabbil 'Alamin.