Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Anbiya' 21:1 – Al-Anbiya' 21:69
Daftar isi
- Al-Anbiya' 21:1
- Al-Anbiya' 21:2
- Al-Anbiya' 21:3
- Al-Anbiya' 21:4
- Al-Anbiya' 21:5
- Al-Anbiya' 21:6
- Al-Anbiya' 21:7
- Al-Anbiya' 21:8
- Al-Anbiya' 21:9
- Al-Anbiya' 21:10
- Al-Anbiya' 21:11
- Al-Anbiya' 21:12
- Al-Anbiya' 21:13
- Al-Anbiya' 21:14
- Al-Anbiya' 21:15
- Al-Anbiya' 21:16
- Al-Anbiya' 21:17
- Al-Anbiya' 21:18
- Al-Anbiya' 21:19
- Al-Anbiya' 21:20
- Al-Anbiya' 21:21
- Al-Anbiya' 21:22
- Al-Anbiya' 21:23
- Al-Anbiya' 21:24
- Al-Anbiya' 21:25
- Al-Anbiya' 21:26
- Al-Anbiya' 21:27
- Al-Anbiya' 21:28
- Al-Anbiya' 21:29
- Al-Anbiya' 21:30
- Al-Anbiya' 21:31
- Al-Anbiya' 21:32
- Al-Anbiya' 21:33
- Al-Anbiya' 21:34
- Al-Anbiya' 21:35
- Al-Anbiya' 21:36
- Al-Anbiya' 21:37
- Al-Anbiya' 21:38
- Al-Anbiya' 21:39
- Al-Anbiya' 21:40
- Al-Anbiya' 21:41
- Al-Anbiya' 21:42
- Al-Anbiya' 21:43
- Al-Anbiya' 21:44
- Al-Anbiya' 21:45
- Al-Anbiya' 21:46
- Al-Anbiya' 21:47
- Al-Anbiya' 21:48
- Al-Anbiya' 21:49
- Al-Anbiya' 21:50
- Al-Anbiya' 21:51
- Al-Anbiya' 21:52
- Al-Anbiya' 21:53
- Al-Anbiya' 21:54
- Al-Anbiya' 21:55
- Al-Anbiya' 21:56
- Al-Anbiya' 21:57
- Al-Anbiya' 21:58
- Al-Anbiya' 21:59
- Al-Anbiya' 21:60
- Al-Anbiya' 21:61
- Al-Anbiya' 21:62
- Al-Anbiya' 21:63
- Al-Anbiya' 21:64
- Al-Anbiya' 21:65
- Al-Anbiya' 21:66
- Al-Anbiya' 21:67
- Al-Anbiya' 21:68
- Al-Anbiya' 21:69
Al-Anbiya' 21:1
"Telah dekat kepada manusia (hari) penghitungan segala amal-an mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari padanya). Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat al-Qur`an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya dalam keadaan mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zhalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, 'Tidaklah orang ini melain-kan hanya seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya.' Muhammad berkata (kepada mereka), 'Rabbku mengetahui (semua) perkataan di langit dan bumi, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'." (Al-Anbiya`: 1-4).
Makkiyah
(1) Ini adalah bentuk keheranan terhadap kondisi manusia. Mereka itu, tidak mempan dengan peringatan, dan tidak mau men-dekat kepada pemberi peringatan. Padahal sebenarnya sudah dekat masa perhitungan amalan dan pembalasan bagi mereka atas amal-an mereka yang baik ataupun buruk. Ternyata mereka berada dalam keadaan, ﴾ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ 1 ﴿ " kelalaian lagi berpaling (dari padanya)," maksudnya lalai dari tujuan penciptaannya, dan berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka. Seolah-olah mereka tercipta (semata-mata) untuk dunia saja, dan dilahirkan hanya untuk bersenang-senang saja. Sementara itu, Allah masih senantiasa mem-perbarui peringatan dan nasihat terhadap mereka, namun mereka masih saja dalam kondisi lalai dan berpaling.
(2) Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ مَا يَأۡتِيهِم مِّن ذِكۡرٖ مِّن رَّبِّهِم مُّحۡدَثٍ ﴿ "Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat al-Qur`an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka," yang mengingatkan mereka ten-tang hal-hal yang (nantinya) bermanfaat bagi mereka dan mengajak kepadanya, (serta mengingatkan mereka) dari hal-hal yang memba-hayakan mereka dan menakut-nakuti mereka dengannya, ﴾ إِلَّا ٱسۡتَمَعُوهُ ﴿ "melainkan mereka mendengarkannya," dengan cara mendengar yang bisa dijadikan dasar tegaknya hujjah atas mereka ﴾ وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ 2 ﴿ " da-lam keadaan bermain-main."
(3) ﴾ لَاهِيَةٗ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "(Lagi) hati mereka dalam keadaan lalai," mak-sudnya hati mereka lalai, berpaling, dan terbuai dengan orientasi-orientasi keduniaan. Fisik-fisik mereka hanya bermain-main. Mereka larut dengan pemenuhan syahwat dan praktik kebatilan, serta per-kataan-perkataan yang picisan. Padahal, seyogyanya mereka tidak bersifat demikian; misalnya hati mereka menyambut perintah dan larangan Allah, mendengarkanNya dengan cara yang menjadikan-nya memahami maksudNya. Anggota-anggota tubuhnya bergerak untuk menjalankan ibadah yang menjadi tujuan penciptaan diri mereka. Dan sepatutnya pula, mereka menempatkan Hari Kiamat, perhitungan amalan dan pembalasannya di benak-benak mereka. Dengan itulah nanti, urusan mereka menjadi sempurna, kondisi mereka semakin lurus dan amalan mereka menjadi bersih. Tentang makna Firman Allah ﴾ ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ ﴿ "Telah dekat kepada manusia (hari) penghitungan segala amalan mereka," (Al-Anbiya`: 1), terdapat dua pendapat: Pendapat pertama: Umat ini (umat Islam) merupakan umat yang paling terakhir. RasulNya pun rasul yang terakhir. Hari Kiamat akan terjadi pada umat beliau. (Karena itu), sungguh Hari Kiamat telah dekat dengan mereka dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Berdasarkan sabda Nabi, بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ. "Saya diutus (menjadi rasul) bersamaan (datangnya) Hari Kiamat, seperti dua jari ini." Beliau menyandingkan jari telunjuknya dengan jari yang ber-ada di sampingnya (jari tengah).[1] Pendapat kedua: Yang dimaksud dengan dekatnya Hari Hisab (perhitungan amalan) adalah kematian. Bahwa orang yang meninggal, maka Kiamat sudah terjadi baginya, dan dia memasuki kampung pem-balasan atas amalan-amalannya. Ayat ini merupakan ungkapan keheranan terhadap orang yang terbuai dan berpaling, dia tidak tahu, kapan kematian mengagetkannya, pagi atau siang. Demikian ini kondisi orang-orang secara keseluruhan, kecuali orang-orang yang terlimpahi perhatian ilahi, maka dia mempersiapkan diri untuk kematian dan tahapan hidup selanjutnya. Selanjutnya, Allah menceritakan tentang topik yang dibahas oleh kaum kafir dan orang-orang yang zhalim secara sembunyi-sembunyi dalam rangka menentang dan melawan kebenaran dengan kebatilan. Mereka itu menjalin kesepakatan di antara mereka untuk melontarkan komentar tentang rasul, "Sesungguhnya dia adalah manusia biasa layaknya kalian. Maka, apakah yang menyebabkan-nya lebih utama dan lebih istimewa dari pada kalian? Seandainya ada salah seorang dari kalian mengklaim seperti pengakuannya, niscaya ungkapannya adalah sejenis dengan ungkapan Rasulullah. Namun, (dia melakukan hal itu) lantaran ingin lebih tinggi dari kalian dan menjadi pimpinan atas kalian. Oleh karenanya, jangan-lah kalian menaatinya dan jangan pula mempercayainya. Ia adalah tukang sihir. Dan al-Qur`an yang dia bawa merupakan sihir juga. Larilah darinya, serta jauhkan orang-orang darinya." Dan katakan-lah, ﴾ أَفَتَأۡتُونَ ٱلسِّحۡرَ وَأَنتُمۡ تُبۡصِرُونَ 3 ﴿ "Maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya." Beginilah yang mereka ucapkan, padahal mereka mengetahui bahwa dia benar-benar adalah utusan Allah, berdasarkan apa yang mereka saksikan, berupa tanda-tanda kekuasaan yang mencengangkan yang tidak disaksikan oleh orang selain mereka. Tetapi, perkara yang menyeret mereka melakukan penolakan, yaitu suratan takdir kebinasaan (pada mereka), kezhalim-an, dan sifat penentangan.
(4) Dengan ilmuNya, Allah تعالى telah meliputi apa yang me-reka rapatkan secara sembunyi-sembunyi, dan Allah akan membalas mereka atas perbuatan tersebut. Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ قَالَ رَبِّي يَعۡلَمُ ٱلۡقَوۡلَ ﴿ "Muhammad berkata (kepada mereka), 'Rabbku mengetahui se-mua perkataan'," yang lirih dan terang-terangan ﴾ فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "di langit dan bumi," di seluruh tempat yang masuk lingkup keduanya (langit dan bumi) ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha Mendengar," semua suara dengan ragam bahasanya untuk berbagai keperluan, ﴾ ٱلۡعَلِيمُ 4 ﴿ "lagi Maha Mengetahui," apa yang ada di hati sanubari dan yang disembunyikan oleh rahasia-rahasia hati.
Al-Anbiya' 21:2
"Telah dekat kepada manusia (hari) penghitungan segala amal-an mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari padanya). Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat al-Qur`an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya dalam keadaan mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zhalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, 'Tidaklah orang ini melain-kan hanya seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya.' Muhammad berkata (kepada mereka), 'Rabbku mengetahui (semua) perkataan di langit dan bumi, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'." (Al-Anbiya`: 1-4).
Makkiyah
(1) Ini adalah bentuk keheranan terhadap kondisi manusia. Mereka itu, tidak mempan dengan peringatan, dan tidak mau men-dekat kepada pemberi peringatan. Padahal sebenarnya sudah dekat masa perhitungan amalan dan pembalasan bagi mereka atas amal-an mereka yang baik ataupun buruk. Ternyata mereka berada dalam keadaan, ﴾ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ 1 ﴿ " kelalaian lagi berpaling (dari padanya)," maksudnya lalai dari tujuan penciptaannya, dan berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka. Seolah-olah mereka tercipta (semata-mata) untuk dunia saja, dan dilahirkan hanya untuk bersenang-senang saja. Sementara itu, Allah masih senantiasa mem-perbarui peringatan dan nasihat terhadap mereka, namun mereka masih saja dalam kondisi lalai dan berpaling.
(2) Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ مَا يَأۡتِيهِم مِّن ذِكۡرٖ مِّن رَّبِّهِم مُّحۡدَثٍ ﴿ "Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat al-Qur`an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka," yang mengingatkan mereka ten-tang hal-hal yang (nantinya) bermanfaat bagi mereka dan mengajak kepadanya, (serta mengingatkan mereka) dari hal-hal yang memba-hayakan mereka dan menakut-nakuti mereka dengannya, ﴾ إِلَّا ٱسۡتَمَعُوهُ ﴿ "melainkan mereka mendengarkannya," dengan cara mendengar yang bisa dijadikan dasar tegaknya hujjah atas mereka ﴾ وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ 2 ﴿ " da-lam keadaan bermain-main."
(3) ﴾ لَاهِيَةٗ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "(Lagi) hati mereka dalam keadaan lalai," mak-sudnya hati mereka lalai, berpaling, dan terbuai dengan orientasi-orientasi keduniaan. Fisik-fisik mereka hanya bermain-main. Mereka larut dengan pemenuhan syahwat dan praktik kebatilan, serta per-kataan-perkataan yang picisan. Padahal, seyogyanya mereka tidak bersifat demikian; misalnya hati mereka menyambut perintah dan larangan Allah, mendengarkanNya dengan cara yang menjadikan-nya memahami maksudNya. Anggota-anggota tubuhnya bergerak untuk menjalankan ibadah yang menjadi tujuan penciptaan diri mereka. Dan sepatutnya pula, mereka menempatkan Hari Kiamat, perhitungan amalan dan pembalasannya di benak-benak mereka. Dengan itulah nanti, urusan mereka menjadi sempurna, kondisi mereka semakin lurus dan amalan mereka menjadi bersih. Tentang makna Firman Allah ﴾ ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ ﴿ "Telah dekat kepada manusia (hari) penghitungan segala amalan mereka," (Al-Anbiya`: 1), terdapat dua pendapat: Pendapat pertama: Umat ini (umat Islam) merupakan umat yang paling terakhir. RasulNya pun rasul yang terakhir. Hari Kiamat akan terjadi pada umat beliau. (Karena itu), sungguh Hari Kiamat telah dekat dengan mereka dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Berdasarkan sabda Nabi, بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ. "Saya diutus (menjadi rasul) bersamaan (datangnya) Hari Kiamat, seperti dua jari ini." Beliau menyandingkan jari telunjuknya dengan jari yang ber-ada di sampingnya (jari tengah).[1] Pendapat kedua: Yang dimaksud dengan dekatnya Hari Hisab (perhitungan amalan) adalah kematian. Bahwa orang yang meninggal, maka Kiamat sudah terjadi baginya, dan dia memasuki kampung pem-balasan atas amalan-amalannya. Ayat ini merupakan ungkapan keheranan terhadap orang yang terbuai dan berpaling, dia tidak tahu, kapan kematian mengagetkannya, pagi atau siang. Demikian ini kondisi orang-orang secara keseluruhan, kecuali orang-orang yang terlimpahi perhatian ilahi, maka dia mempersiapkan diri untuk kematian dan tahapan hidup selanjutnya. Selanjutnya, Allah menceritakan tentang topik yang dibahas oleh kaum kafir dan orang-orang yang zhalim secara sembunyi-sembunyi dalam rangka menentang dan melawan kebenaran dengan kebatilan. Mereka itu menjalin kesepakatan di antara mereka untuk melontarkan komentar tentang rasul, "Sesungguhnya dia adalah manusia biasa layaknya kalian. Maka, apakah yang menyebabkan-nya lebih utama dan lebih istimewa dari pada kalian? Seandainya ada salah seorang dari kalian mengklaim seperti pengakuannya, niscaya ungkapannya adalah sejenis dengan ungkapan Rasulullah. Namun, (dia melakukan hal itu) lantaran ingin lebih tinggi dari kalian dan menjadi pimpinan atas kalian. Oleh karenanya, jangan-lah kalian menaatinya dan jangan pula mempercayainya. Ia adalah tukang sihir. Dan al-Qur`an yang dia bawa merupakan sihir juga. Larilah darinya, serta jauhkan orang-orang darinya." Dan katakan-lah, ﴾ أَفَتَأۡتُونَ ٱلسِّحۡرَ وَأَنتُمۡ تُبۡصِرُونَ 3 ﴿ "Maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya." Beginilah yang mereka ucapkan, padahal mereka mengetahui bahwa dia benar-benar adalah utusan Allah, berdasarkan apa yang mereka saksikan, berupa tanda-tanda kekuasaan yang mencengangkan yang tidak disaksikan oleh orang selain mereka. Tetapi, perkara yang menyeret mereka melakukan penolakan, yaitu suratan takdir kebinasaan (pada mereka), kezhalim-an, dan sifat penentangan.
(4) Dengan ilmuNya, Allah تعالى telah meliputi apa yang me-reka rapatkan secara sembunyi-sembunyi, dan Allah akan membalas mereka atas perbuatan tersebut. Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ قَالَ رَبِّي يَعۡلَمُ ٱلۡقَوۡلَ ﴿ "Muhammad berkata (kepada mereka), 'Rabbku mengetahui se-mua perkataan'," yang lirih dan terang-terangan ﴾ فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "di langit dan bumi," di seluruh tempat yang masuk lingkup keduanya (langit dan bumi) ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha Mendengar," semua suara dengan ragam bahasanya untuk berbagai keperluan, ﴾ ٱلۡعَلِيمُ 4 ﴿ "lagi Maha Mengetahui," apa yang ada di hati sanubari dan yang disembunyikan oleh rahasia-rahasia hati.
Al-Anbiya' 21:3
"Telah dekat kepada manusia (hari) penghitungan segala amal-an mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari padanya). Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat al-Qur`an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya dalam keadaan mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zhalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, 'Tidaklah orang ini melain-kan hanya seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya.' Muhammad berkata (kepada mereka), 'Rabbku mengetahui (semua) perkataan di langit dan bumi, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'." (Al-Anbiya`: 1-4).
Makkiyah
(1) Ini adalah bentuk keheranan terhadap kondisi manusia. Mereka itu, tidak mempan dengan peringatan, dan tidak mau men-dekat kepada pemberi peringatan. Padahal sebenarnya sudah dekat masa perhitungan amalan dan pembalasan bagi mereka atas amal-an mereka yang baik ataupun buruk. Ternyata mereka berada dalam keadaan, ﴾ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ 1 ﴿ " kelalaian lagi berpaling (dari padanya)," maksudnya lalai dari tujuan penciptaannya, dan berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka. Seolah-olah mereka tercipta (semata-mata) untuk dunia saja, dan dilahirkan hanya untuk bersenang-senang saja. Sementara itu, Allah masih senantiasa mem-perbarui peringatan dan nasihat terhadap mereka, namun mereka masih saja dalam kondisi lalai dan berpaling.
(2) Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ مَا يَأۡتِيهِم مِّن ذِكۡرٖ مِّن رَّبِّهِم مُّحۡدَثٍ ﴿ "Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat al-Qur`an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka," yang mengingatkan mereka ten-tang hal-hal yang (nantinya) bermanfaat bagi mereka dan mengajak kepadanya, (serta mengingatkan mereka) dari hal-hal yang memba-hayakan mereka dan menakut-nakuti mereka dengannya, ﴾ إِلَّا ٱسۡتَمَعُوهُ ﴿ "melainkan mereka mendengarkannya," dengan cara mendengar yang bisa dijadikan dasar tegaknya hujjah atas mereka ﴾ وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ 2 ﴿ " da-lam keadaan bermain-main."
(3) ﴾ لَاهِيَةٗ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "(Lagi) hati mereka dalam keadaan lalai," mak-sudnya hati mereka lalai, berpaling, dan terbuai dengan orientasi-orientasi keduniaan. Fisik-fisik mereka hanya bermain-main. Mereka larut dengan pemenuhan syahwat dan praktik kebatilan, serta per-kataan-perkataan yang picisan. Padahal, seyogyanya mereka tidak bersifat demikian; misalnya hati mereka menyambut perintah dan larangan Allah, mendengarkanNya dengan cara yang menjadikan-nya memahami maksudNya. Anggota-anggota tubuhnya bergerak untuk menjalankan ibadah yang menjadi tujuan penciptaan diri mereka. Dan sepatutnya pula, mereka menempatkan Hari Kiamat, perhitungan amalan dan pembalasannya di benak-benak mereka. Dengan itulah nanti, urusan mereka menjadi sempurna, kondisi mereka semakin lurus dan amalan mereka menjadi bersih. Tentang makna Firman Allah ﴾ ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ ﴿ "Telah dekat kepada manusia (hari) penghitungan segala amalan mereka," (Al-Anbiya`: 1), terdapat dua pendapat: Pendapat pertama: Umat ini (umat Islam) merupakan umat yang paling terakhir. RasulNya pun rasul yang terakhir. Hari Kiamat akan terjadi pada umat beliau. (Karena itu), sungguh Hari Kiamat telah dekat dengan mereka dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Berdasarkan sabda Nabi, بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ. "Saya diutus (menjadi rasul) bersamaan (datangnya) Hari Kiamat, seperti dua jari ini." Beliau menyandingkan jari telunjuknya dengan jari yang ber-ada di sampingnya (jari tengah).[1] Pendapat kedua: Yang dimaksud dengan dekatnya Hari Hisab (perhitungan amalan) adalah kematian. Bahwa orang yang meninggal, maka Kiamat sudah terjadi baginya, dan dia memasuki kampung pem-balasan atas amalan-amalannya. Ayat ini merupakan ungkapan keheranan terhadap orang yang terbuai dan berpaling, dia tidak tahu, kapan kematian mengagetkannya, pagi atau siang. Demikian ini kondisi orang-orang secara keseluruhan, kecuali orang-orang yang terlimpahi perhatian ilahi, maka dia mempersiapkan diri untuk kematian dan tahapan hidup selanjutnya. Selanjutnya, Allah menceritakan tentang topik yang dibahas oleh kaum kafir dan orang-orang yang zhalim secara sembunyi-sembunyi dalam rangka menentang dan melawan kebenaran dengan kebatilan. Mereka itu menjalin kesepakatan di antara mereka untuk melontarkan komentar tentang rasul, "Sesungguhnya dia adalah manusia biasa layaknya kalian. Maka, apakah yang menyebabkan-nya lebih utama dan lebih istimewa dari pada kalian? Seandainya ada salah seorang dari kalian mengklaim seperti pengakuannya, niscaya ungkapannya adalah sejenis dengan ungkapan Rasulullah. Namun, (dia melakukan hal itu) lantaran ingin lebih tinggi dari kalian dan menjadi pimpinan atas kalian. Oleh karenanya, jangan-lah kalian menaatinya dan jangan pula mempercayainya. Ia adalah tukang sihir. Dan al-Qur`an yang dia bawa merupakan sihir juga. Larilah darinya, serta jauhkan orang-orang darinya." Dan katakan-lah, ﴾ أَفَتَأۡتُونَ ٱلسِّحۡرَ وَأَنتُمۡ تُبۡصِرُونَ 3 ﴿ "Maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya." Beginilah yang mereka ucapkan, padahal mereka mengetahui bahwa dia benar-benar adalah utusan Allah, berdasarkan apa yang mereka saksikan, berupa tanda-tanda kekuasaan yang mencengangkan yang tidak disaksikan oleh orang selain mereka. Tetapi, perkara yang menyeret mereka melakukan penolakan, yaitu suratan takdir kebinasaan (pada mereka), kezhalim-an, dan sifat penentangan.
(4) Dengan ilmuNya, Allah تعالى telah meliputi apa yang me-reka rapatkan secara sembunyi-sembunyi, dan Allah akan membalas mereka atas perbuatan tersebut. Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ قَالَ رَبِّي يَعۡلَمُ ٱلۡقَوۡلَ ﴿ "Muhammad berkata (kepada mereka), 'Rabbku mengetahui se-mua perkataan'," yang lirih dan terang-terangan ﴾ فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "di langit dan bumi," di seluruh tempat yang masuk lingkup keduanya (langit dan bumi) ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha Mendengar," semua suara dengan ragam bahasanya untuk berbagai keperluan, ﴾ ٱلۡعَلِيمُ 4 ﴿ "lagi Maha Mengetahui," apa yang ada di hati sanubari dan yang disembunyikan oleh rahasia-rahasia hati.
Al-Anbiya' 21:4
"Telah dekat kepada manusia (hari) penghitungan segala amal-an mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari padanya). Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat al-Qur`an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya dalam keadaan mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zhalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, 'Tidaklah orang ini melain-kan hanya seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya.' Muhammad berkata (kepada mereka), 'Rabbku mengetahui (semua) perkataan di langit dan bumi, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'." (Al-Anbiya`: 1-4).
Makkiyah
(1) Ini adalah bentuk keheranan terhadap kondisi manusia. Mereka itu, tidak mempan dengan peringatan, dan tidak mau men-dekat kepada pemberi peringatan. Padahal sebenarnya sudah dekat masa perhitungan amalan dan pembalasan bagi mereka atas amal-an mereka yang baik ataupun buruk. Ternyata mereka berada dalam keadaan, ﴾ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ 1 ﴿ " kelalaian lagi berpaling (dari padanya)," maksudnya lalai dari tujuan penciptaannya, dan berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka. Seolah-olah mereka tercipta (semata-mata) untuk dunia saja, dan dilahirkan hanya untuk bersenang-senang saja. Sementara itu, Allah masih senantiasa mem-perbarui peringatan dan nasihat terhadap mereka, namun mereka masih saja dalam kondisi lalai dan berpaling.
(2) Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ مَا يَأۡتِيهِم مِّن ذِكۡرٖ مِّن رَّبِّهِم مُّحۡدَثٍ ﴿ "Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat al-Qur`an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka," yang mengingatkan mereka ten-tang hal-hal yang (nantinya) bermanfaat bagi mereka dan mengajak kepadanya, (serta mengingatkan mereka) dari hal-hal yang memba-hayakan mereka dan menakut-nakuti mereka dengannya, ﴾ إِلَّا ٱسۡتَمَعُوهُ ﴿ "melainkan mereka mendengarkannya," dengan cara mendengar yang bisa dijadikan dasar tegaknya hujjah atas mereka ﴾ وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ 2 ﴿ " da-lam keadaan bermain-main."
(3) ﴾ لَاهِيَةٗ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "(Lagi) hati mereka dalam keadaan lalai," mak-sudnya hati mereka lalai, berpaling, dan terbuai dengan orientasi-orientasi keduniaan. Fisik-fisik mereka hanya bermain-main. Mereka larut dengan pemenuhan syahwat dan praktik kebatilan, serta per-kataan-perkataan yang picisan. Padahal, seyogyanya mereka tidak bersifat demikian; misalnya hati mereka menyambut perintah dan larangan Allah, mendengarkanNya dengan cara yang menjadikan-nya memahami maksudNya. Anggota-anggota tubuhnya bergerak untuk menjalankan ibadah yang menjadi tujuan penciptaan diri mereka. Dan sepatutnya pula, mereka menempatkan Hari Kiamat, perhitungan amalan dan pembalasannya di benak-benak mereka. Dengan itulah nanti, urusan mereka menjadi sempurna, kondisi mereka semakin lurus dan amalan mereka menjadi bersih. Tentang makna Firman Allah ﴾ ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ ﴿ "Telah dekat kepada manusia (hari) penghitungan segala amalan mereka," (Al-Anbiya`: 1), terdapat dua pendapat: Pendapat pertama: Umat ini (umat Islam) merupakan umat yang paling terakhir. RasulNya pun rasul yang terakhir. Hari Kiamat akan terjadi pada umat beliau. (Karena itu), sungguh Hari Kiamat telah dekat dengan mereka dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Berdasarkan sabda Nabi, بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ. "Saya diutus (menjadi rasul) bersamaan (datangnya) Hari Kiamat, seperti dua jari ini." Beliau menyandingkan jari telunjuknya dengan jari yang ber-ada di sampingnya (jari tengah).[1] Pendapat kedua: Yang dimaksud dengan dekatnya Hari Hisab (perhitungan amalan) adalah kematian. Bahwa orang yang meninggal, maka Kiamat sudah terjadi baginya, dan dia memasuki kampung pem-balasan atas amalan-amalannya. Ayat ini merupakan ungkapan keheranan terhadap orang yang terbuai dan berpaling, dia tidak tahu, kapan kematian mengagetkannya, pagi atau siang. Demikian ini kondisi orang-orang secara keseluruhan, kecuali orang-orang yang terlimpahi perhatian ilahi, maka dia mempersiapkan diri untuk kematian dan tahapan hidup selanjutnya. Selanjutnya, Allah menceritakan tentang topik yang dibahas oleh kaum kafir dan orang-orang yang zhalim secara sembunyi-sembunyi dalam rangka menentang dan melawan kebenaran dengan kebatilan. Mereka itu menjalin kesepakatan di antara mereka untuk melontarkan komentar tentang rasul, "Sesungguhnya dia adalah manusia biasa layaknya kalian. Maka, apakah yang menyebabkan-nya lebih utama dan lebih istimewa dari pada kalian? Seandainya ada salah seorang dari kalian mengklaim seperti pengakuannya, niscaya ungkapannya adalah sejenis dengan ungkapan Rasulullah. Namun, (dia melakukan hal itu) lantaran ingin lebih tinggi dari kalian dan menjadi pimpinan atas kalian. Oleh karenanya, jangan-lah kalian menaatinya dan jangan pula mempercayainya. Ia adalah tukang sihir. Dan al-Qur`an yang dia bawa merupakan sihir juga. Larilah darinya, serta jauhkan orang-orang darinya." Dan katakan-lah, ﴾ أَفَتَأۡتُونَ ٱلسِّحۡرَ وَأَنتُمۡ تُبۡصِرُونَ 3 ﴿ "Maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya." Beginilah yang mereka ucapkan, padahal mereka mengetahui bahwa dia benar-benar adalah utusan Allah, berdasarkan apa yang mereka saksikan, berupa tanda-tanda kekuasaan yang mencengangkan yang tidak disaksikan oleh orang selain mereka. Tetapi, perkara yang menyeret mereka melakukan penolakan, yaitu suratan takdir kebinasaan (pada mereka), kezhalim-an, dan sifat penentangan.
(4) Dengan ilmuNya, Allah تعالى telah meliputi apa yang me-reka rapatkan secara sembunyi-sembunyi, dan Allah akan membalas mereka atas perbuatan tersebut. Untuk itu, Allah berfirman, ﴾ قَالَ رَبِّي يَعۡلَمُ ٱلۡقَوۡلَ ﴿ "Muhammad berkata (kepada mereka), 'Rabbku mengetahui se-mua perkataan'," yang lirih dan terang-terangan ﴾ فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "di langit dan bumi," di seluruh tempat yang masuk lingkup keduanya (langit dan bumi) ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha Mendengar," semua suara dengan ragam bahasanya untuk berbagai keperluan, ﴾ ٱلۡعَلِيمُ 4 ﴿ "lagi Maha Mengetahui," apa yang ada di hati sanubari dan yang disembunyikan oleh rahasia-rahasia hati.
Al-Anbiya' 21:5
"Bahkan mereka berkata (pula), '(Al-Qur`an itu adalah) mim-pi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia (sendiri) seorang penyair, maka hendaknya dia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus.' Tidak ada (penduduk) suatu negeri pun sebelum mereka yang ber-iman, yang mana Kami telah membinasakannya (disebabkan pen-dustaan mukjizat), maka apakah mereka akan beriman?" (Al-An-biya`: 5-6).
(5) Allah تعالى menyebutkan kebohongan orang-orang yang mendustakan Muhammad dan al-Qur`an yang dibawanya. Mereka telah berbuat dusta tentangnya dan melontarkan komentar-komen-tar batil lagi bermacam-macam. Terkadang mengatakan, '(Al-Qur`an adalah) mimpi-mimpi kalut ibarat ocehan orang tidur yang sedang mengigau, tidak menyadari apa yang dikatakannya!' Kadang-ka-dang mereka menyatakan, 'Ia telah membual, membuat-buat dan memalsukannya dari dirinya sendiri.' Suatu waktu mereka menga-takan, 'Ia adalah seorang penyair. Dan yang dibawanya adalah syair semata!' Padahal, orang yang mengetahui fakta walau sedikit saja tentang seluk-beluk Rasulullah dan memperhatikan al-Qur`an yang diembannya, niscaya akan yakin seyakin-yakinnya dengan keyakin-an yang tidak bisa dirasuki oleh keragu-raguan, bahwa ia (al-Qur`an) merupakan perkataan yang paling agung dan paling tinggi, berasal dari Allah, tidak ada seorang pun dari kalangan manusia yang mam-pu mendatangkan semisalnya, walau sebagian saja. Sebagaimana Allah telah menantang para musuhNya dengan tantangan tersebut, agar mereka menghadapinya. Kendatipun banyak motivasi untuk melawan dan memusuhinya, namun mereka tidak kuasa untuk melawannya, dan mereka menyadari tentang hal itu. Kalau mereka tidak demikian, maka tidaklah yang menyebab-kan mereka berdiri dan duduk, bangun dari pembaringan-pem-baringan mereka serta mengusik mulut-mulut mereka melainkan kebenaran yang tidak ada penghadangnya. Mereka melontarkan komentar-komentar tersebut tentang al-Qur`an dengan tidak meng-imaninya, adalah untuk tujuan menjauhkan orang yang belum me-ngenalnya darinya. Padahal, ia (al-Qur`an) merupakan bukti yang lestari yang menandakan kebenaran dan kelurusan risalah yang diemban oleh Rasulullah. Ia sudah mencukupi dan memadai. Siapa saja yang menuntut bukti lain selainnya, atau meminta diturunkan bukti selainnya, maka dia adalah orang bodoh lagi zhalim, persis seperti para penentang yang mendustakannya. Mereka malah meminta bukti-bukti lain yang justru akan menjelma sebagai bahaya bagi mereka, tanpa ada kebaikan pun bagi mereka dalam permintaan tersebut. Pasalnya, bila niatan me-reka adalah ingin mengetahui kebenaran, jika telah jelas dalilnya, maka sungguh telah terlihat jelas apa yang mereka inginkan tanpa memerlukan pembuktian lagi. Apabila tujuan mereka berupaya menggagalkan dan menegakkan dalil bagi diri mereka (untuk tidak beriman) bila Rasul tidak mendatangkan apa yang mereka minta, maka sesungguhnya dengan kondisi seperti ini, (walaupun mereka telah dihadirkan apa yang mereka minta), pasti tidak akan meng-imaninya. Kendatipun telah datang setiap bukti kebenaran, niscaya mereka tidak akan beriman sampai menyaksikan siksaan yang pedih. Oleh sebab itu, Allah berfirman tentang mereka,﴾ فَلۡيَأۡتِنَا بِـَٔايَةٖ كَمَآ أُرۡسِلَ ٱلۡأَوَّلُونَ 5 ﴿ "Maka hendaknya dia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus," seperti unta Nabi Shalih, tongkat Nabi Musa, dan lain-lain.
(6) Allah berfirman (untuk menjawabnya), ﴾ مَآ ءَامَنَتۡ قَبۡلَهُم مِّن قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَٰهَآۖ ﴿ "Tidak ada (penduduk) suatu negeri pun sebelum mereka yang beriman yang mana Kami telah membinasakannya (disebabkan pendustaan mukjizat)," maksudnya (tidak beriman) dengan bukti-bukti yang mereka usulkan sendiri. Sesungguhnya ketetapan Allah menuntut bahwa orang yang meminta bukti kebenaran (dari Nabi), kemudian telah didatangkan, tetapi dia tetap tidak beriman, niscaya akan disegerakan siksaan baginya oleh Allah. Orang-orang generasi se-belumnya, mereka tidak beriman (meski sudah dibawakan kepada mereka bukti-bukti kebenaran). Apakah mungkin mereka akan mengimaninya? Faktor apakah yang mengistimewakan mereka ketimbang generasi sebelumnya? Apakah sisi kebaikan yang ada pada mereka yang akan mengan-tarkan mereka kepada keimanan saat kemunculan tanda-tanda kebenaran itu? Pertanyaan ini bermakna penafian (peniadaan). Pengertiannya, hal tersebut tidak mungkin terjadi pada mereka selama-lamanya.
Al-Anbiya' 21:6
"Bahkan mereka berkata (pula), '(Al-Qur`an itu adalah) mim-pi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia (sendiri) seorang penyair, maka hendaknya dia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus.' Tidak ada (penduduk) suatu negeri pun sebelum mereka yang ber-iman, yang mana Kami telah membinasakannya (disebabkan pen-dustaan mukjizat), maka apakah mereka akan beriman?" (Al-An-biya`: 5-6).
(5) Allah تعالى menyebutkan kebohongan orang-orang yang mendustakan Muhammad dan al-Qur`an yang dibawanya. Mereka telah berbuat dusta tentangnya dan melontarkan komentar-komen-tar batil lagi bermacam-macam. Terkadang mengatakan, '(Al-Qur`an adalah) mimpi-mimpi kalut ibarat ocehan orang tidur yang sedang mengigau, tidak menyadari apa yang dikatakannya!' Kadang-ka-dang mereka menyatakan, 'Ia telah membual, membuat-buat dan memalsukannya dari dirinya sendiri.' Suatu waktu mereka menga-takan, 'Ia adalah seorang penyair. Dan yang dibawanya adalah syair semata!' Padahal, orang yang mengetahui fakta walau sedikit saja tentang seluk-beluk Rasulullah dan memperhatikan al-Qur`an yang diembannya, niscaya akan yakin seyakin-yakinnya dengan keyakin-an yang tidak bisa dirasuki oleh keragu-raguan, bahwa ia (al-Qur`an) merupakan perkataan yang paling agung dan paling tinggi, berasal dari Allah, tidak ada seorang pun dari kalangan manusia yang mam-pu mendatangkan semisalnya, walau sebagian saja. Sebagaimana Allah telah menantang para musuhNya dengan tantangan tersebut, agar mereka menghadapinya. Kendatipun banyak motivasi untuk melawan dan memusuhinya, namun mereka tidak kuasa untuk melawannya, dan mereka menyadari tentang hal itu. Kalau mereka tidak demikian, maka tidaklah yang menyebab-kan mereka berdiri dan duduk, bangun dari pembaringan-pem-baringan mereka serta mengusik mulut-mulut mereka melainkan kebenaran yang tidak ada penghadangnya. Mereka melontarkan komentar-komentar tersebut tentang al-Qur`an dengan tidak meng-imaninya, adalah untuk tujuan menjauhkan orang yang belum me-ngenalnya darinya. Padahal, ia (al-Qur`an) merupakan bukti yang lestari yang menandakan kebenaran dan kelurusan risalah yang diemban oleh Rasulullah. Ia sudah mencukupi dan memadai. Siapa saja yang menuntut bukti lain selainnya, atau meminta diturunkan bukti selainnya, maka dia adalah orang bodoh lagi zhalim, persis seperti para penentang yang mendustakannya. Mereka malah meminta bukti-bukti lain yang justru akan menjelma sebagai bahaya bagi mereka, tanpa ada kebaikan pun bagi mereka dalam permintaan tersebut. Pasalnya, bila niatan me-reka adalah ingin mengetahui kebenaran, jika telah jelas dalilnya, maka sungguh telah terlihat jelas apa yang mereka inginkan tanpa memerlukan pembuktian lagi. Apabila tujuan mereka berupaya menggagalkan dan menegakkan dalil bagi diri mereka (untuk tidak beriman) bila Rasul tidak mendatangkan apa yang mereka minta, maka sesungguhnya dengan kondisi seperti ini, (walaupun mereka telah dihadirkan apa yang mereka minta), pasti tidak akan meng-imaninya. Kendatipun telah datang setiap bukti kebenaran, niscaya mereka tidak akan beriman sampai menyaksikan siksaan yang pedih. Oleh sebab itu, Allah berfirman tentang mereka,﴾ فَلۡيَأۡتِنَا بِـَٔايَةٖ كَمَآ أُرۡسِلَ ٱلۡأَوَّلُونَ 5 ﴿ "Maka hendaknya dia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus," seperti unta Nabi Shalih, tongkat Nabi Musa, dan lain-lain.
(6) Allah berfirman (untuk menjawabnya), ﴾ مَآ ءَامَنَتۡ قَبۡلَهُم مِّن قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَٰهَآۖ ﴿ "Tidak ada (penduduk) suatu negeri pun sebelum mereka yang beriman yang mana Kami telah membinasakannya (disebabkan pendustaan mukjizat)," maksudnya (tidak beriman) dengan bukti-bukti yang mereka usulkan sendiri. Sesungguhnya ketetapan Allah menuntut bahwa orang yang meminta bukti kebenaran (dari Nabi), kemudian telah didatangkan, tetapi dia tetap tidak beriman, niscaya akan disegerakan siksaan baginya oleh Allah. Orang-orang generasi se-belumnya, mereka tidak beriman (meski sudah dibawakan kepada mereka bukti-bukti kebenaran). Apakah mungkin mereka akan mengimaninya? Faktor apakah yang mengistimewakan mereka ketimbang generasi sebelumnya? Apakah sisi kebaikan yang ada pada mereka yang akan mengan-tarkan mereka kepada keimanan saat kemunculan tanda-tanda kebenaran itu? Pertanyaan ini bermakna penafian (peniadaan). Pengertiannya, hal tersebut tidak mungkin terjadi pada mereka selama-lamanya.
Al-Anbiya' 21:7
" Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muham-mad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas." (Al-Anbiya`: 7-9).
(7-9) Ini merupakan sanggahan atas lontaran syubhat ka-langan orang-orang yang mendustakan Rasulullah. Mereka berko-mentar, "Kenapa dia (seorang rasul) bukan seorang malaikat yang tidak membutuhkan makanan dan minuman serta mondar-mandir berurusan di pasar-pasar! Kenapa dia tidak abadi!" Bila dia tidak demikian, berarti menunjukkan dia bukan seorang utusan Allah." Rangkaian syubhat ini, masih saja menancap di hati-hati kaum yang mendustakan para rasul. Mereka serupa dalam kekufuran, se-hingga pernyataan-pernyataan mereka pun senada. Berikutnya, Allah menangkis syubhat orang-orang yang mendustakan Rasulullah, (namun) mengakui penetapan eksistensi para rasul sebelum beliau. Kalau tidak ada nabi melainkan Nabi Ibrahim عليه السلام saja -yang telah diakui kenabiannya oleh seluruh golongan, yang mana kaum musyrikin melancarkan klaim berpegang teguh pada agama dan ajaran Ibrahim bahwa para rasul sebelum Muhammad semuanya dari kalangan manusia, yang makan makanan dan berjalan-jalan di pasar-pasar, dan muncul kejadian-kejadian manusiawi yang me-nimpa mereka seperti kematian dan kejadian lainnya, serta bahwa Allah telah mengutus mereka kepada kaum dan umat mereka; lalu sebagian beriman kepada mereka, dan ada pula yang mendustakan, dan bahwa Allah benar-benar akan merealisasikan bagi mereka sesuatu yang telah dijanjikan, berupa keselamatan dan kebahagia-an bagi mereka (para utusan Allah) dan para pengikut, dan akan membinasakan orang-orang yang melampaui batas, lagi mendusta-kan mereka-; maka mengapa banyak syubhat batil yang diarahkan kepada Muhammad dalam rangka mengingkari risalahnya, pada-hal realita-realita itu melekat pada para saudaranya dari kalangan para rasul yang diakui oleh para pendusta kenabian Muhammad? Ini adalah konsekuensi yang begitu jelas bagi mereka. Jika mereka mengakui kerasulan dari kalangan manusia, namun tidak mau menetapkan seorang rasul dari selain kalangan manusia, maka berarti syubhat mereka (tentang Nabi Muhammad) batil. Mereka telah mematahkannya sendiri dengan pengakuan mereka menge-nai rusaknya syubhat mereka dan adanya kontradiksi di tengah (pola pikir) mereka tentang itu. Andai langkah mereka ini diprediksi menuju pengingkaran kenabian dari kalangan manusia seutuhnya, tidak ada satu pun nabi, melainkan seorang malaikat yang abadi, tidak makan ma-kanan, maka sungguh Allah telah menyanggah syubhat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ مَلَكٞۖ وَلَوۡ أَنزَلۡنَا مَلَكٗا لَّقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ثُمَّ لَا يُنظَرُونَ 8 وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ مَلَكٗا لَّجَعَلۡنَٰهُ رَجُلٗا وَلَلَبَسۡنَا عَلَيۡهِم مَّا يَلۡبِسُونَ 9 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?' Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat tentu selesailah urusan itu. Kemudian mereka tidak di-beri tangguh (sekalipun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki, dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), niscaya Kami pun akan menjadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu'." (Al-An'am: 8-9). Dan bahwa bangsa manusia tidak mempunyai kekuatan dalam menerima wahyu dari malaikat (secara langsung). ﴾ قُل لَّوۡ كَانَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَلَٰٓئِكَةٞ يَمۡشُونَ مُطۡمَئِنِّينَ لَنَزَّلۡنَا عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَلَكٗا رَّسُولٗا 95 ﴿ "Katakanlah, 'Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang ber-jalan-jalan sebagai penghuni bumi, niscaya Kami turunkan (dari langit kepada mereka) seorang malaikat menjadi rasul'." (Al-Isra`: 95). Jikalau timbul keraguan pada kalian, dan kalian tidak menge-tahui seluk-beluk para rasul yang sudah lewat, hendaknya mereka bertanya kepada orang-orang yang berilmu tentang kitab-kitab yang terdahulu. Misalnya, para ulama yang menguasai Taurat dan Injil. Mereka bakal memberitahukan tentang ilmu yang mereka miliki kepada kalian, dan bahwa seluruh rasul adalah manusia yang ber-asal dari jenis bangsa yang diberikan risalah (obyek dakwah). Ayat ini, meskipun sebabnya khusus mengenai pertanyaan tentang jati diri para rasul yang telah berlalu kepada ahli dzikir, yaitu ulama, tapi sesungguhnya konteksnya umum, mencakup setiap permasalahan agama, perkara yang inti atau cabangnya. Jika seseorang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, hendaknya dia menanyakannya kepada orang yang mengetahuinya. Dalam keterangan ini terkandung pelajaran, adanya perintah untuk belajar dan bertanya kepada ulama. Tidaklah diperintahkan untuk bertanya kepada mereka (ulama) melainkan karena mereka wajib mengajarkan ilmu dan menjawab permasalahan yang mereka ketahui. Di dalam pengkhususan melontarkan pertanyaan kepada ulama, terkandung larangan bertanya kepada orang yang sudah dikenal dengan kebodohannya dan tidak berilmu. Di dalamnya juga terkandung larangan bagi orang yang bodoh untuk mempo-sisikan diri untuk menjawab. Dalam ayat ini termuat sebuah dalil bahwa tidak ada nabi dari kalangan wanita, termasuk Maryam atau lainnya bukan nabi. Hal ini berdasarkan Firman Allah, ﴾ إِلَّا رِجَالٗا ﴿ "Melainkan beberapa orang laki-laki."
Al-Anbiya' 21:8
" Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muham-mad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas." (Al-Anbiya`: 7-9).
(7-9) Ini merupakan sanggahan atas lontaran syubhat ka-langan orang-orang yang mendustakan Rasulullah. Mereka berko-mentar, "Kenapa dia (seorang rasul) bukan seorang malaikat yang tidak membutuhkan makanan dan minuman serta mondar-mandir berurusan di pasar-pasar! Kenapa dia tidak abadi!" Bila dia tidak demikian, berarti menunjukkan dia bukan seorang utusan Allah." Rangkaian syubhat ini, masih saja menancap di hati-hati kaum yang mendustakan para rasul. Mereka serupa dalam kekufuran, se-hingga pernyataan-pernyataan mereka pun senada. Berikutnya, Allah menangkis syubhat orang-orang yang mendustakan Rasulullah, (namun) mengakui penetapan eksistensi para rasul sebelum beliau. Kalau tidak ada nabi melainkan Nabi Ibrahim عليه السلام saja -yang telah diakui kenabiannya oleh seluruh golongan, yang mana kaum musyrikin melancarkan klaim berpegang teguh pada agama dan ajaran Ibrahim bahwa para rasul sebelum Muhammad semuanya dari kalangan manusia, yang makan makanan dan berjalan-jalan di pasar-pasar, dan muncul kejadian-kejadian manusiawi yang me-nimpa mereka seperti kematian dan kejadian lainnya, serta bahwa Allah telah mengutus mereka kepada kaum dan umat mereka; lalu sebagian beriman kepada mereka, dan ada pula yang mendustakan, dan bahwa Allah benar-benar akan merealisasikan bagi mereka sesuatu yang telah dijanjikan, berupa keselamatan dan kebahagia-an bagi mereka (para utusan Allah) dan para pengikut, dan akan membinasakan orang-orang yang melampaui batas, lagi mendusta-kan mereka-; maka mengapa banyak syubhat batil yang diarahkan kepada Muhammad dalam rangka mengingkari risalahnya, pada-hal realita-realita itu melekat pada para saudaranya dari kalangan para rasul yang diakui oleh para pendusta kenabian Muhammad? Ini adalah konsekuensi yang begitu jelas bagi mereka. Jika mereka mengakui kerasulan dari kalangan manusia, namun tidak mau menetapkan seorang rasul dari selain kalangan manusia, maka berarti syubhat mereka (tentang Nabi Muhammad) batil. Mereka telah mematahkannya sendiri dengan pengakuan mereka menge-nai rusaknya syubhat mereka dan adanya kontradiksi di tengah (pola pikir) mereka tentang itu. Andai langkah mereka ini diprediksi menuju pengingkaran kenabian dari kalangan manusia seutuhnya, tidak ada satu pun nabi, melainkan seorang malaikat yang abadi, tidak makan ma-kanan, maka sungguh Allah telah menyanggah syubhat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ مَلَكٞۖ وَلَوۡ أَنزَلۡنَا مَلَكٗا لَّقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ثُمَّ لَا يُنظَرُونَ 8 وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ مَلَكٗا لَّجَعَلۡنَٰهُ رَجُلٗا وَلَلَبَسۡنَا عَلَيۡهِم مَّا يَلۡبِسُونَ 9 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?' Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat tentu selesailah urusan itu. Kemudian mereka tidak di-beri tangguh (sekalipun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki, dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), niscaya Kami pun akan menjadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu'." (Al-An'am: 8-9). Dan bahwa bangsa manusia tidak mempunyai kekuatan dalam menerima wahyu dari malaikat (secara langsung). ﴾ قُل لَّوۡ كَانَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَلَٰٓئِكَةٞ يَمۡشُونَ مُطۡمَئِنِّينَ لَنَزَّلۡنَا عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَلَكٗا رَّسُولٗا 95 ﴿ "Katakanlah, 'Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang ber-jalan-jalan sebagai penghuni bumi, niscaya Kami turunkan (dari langit kepada mereka) seorang malaikat menjadi rasul'." (Al-Isra`: 95). Jikalau timbul keraguan pada kalian, dan kalian tidak menge-tahui seluk-beluk para rasul yang sudah lewat, hendaknya mereka bertanya kepada orang-orang yang berilmu tentang kitab-kitab yang terdahulu. Misalnya, para ulama yang menguasai Taurat dan Injil. Mereka bakal memberitahukan tentang ilmu yang mereka miliki kepada kalian, dan bahwa seluruh rasul adalah manusia yang ber-asal dari jenis bangsa yang diberikan risalah (obyek dakwah). Ayat ini, meskipun sebabnya khusus mengenai pertanyaan tentang jati diri para rasul yang telah berlalu kepada ahli dzikir, yaitu ulama, tapi sesungguhnya konteksnya umum, mencakup setiap permasalahan agama, perkara yang inti atau cabangnya. Jika seseorang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, hendaknya dia menanyakannya kepada orang yang mengetahuinya. Dalam keterangan ini terkandung pelajaran, adanya perintah untuk belajar dan bertanya kepada ulama. Tidaklah diperintahkan untuk bertanya kepada mereka (ulama) melainkan karena mereka wajib mengajarkan ilmu dan menjawab permasalahan yang mereka ketahui. Di dalam pengkhususan melontarkan pertanyaan kepada ulama, terkandung larangan bertanya kepada orang yang sudah dikenal dengan kebodohannya dan tidak berilmu. Di dalamnya juga terkandung larangan bagi orang yang bodoh untuk mempo-sisikan diri untuk menjawab. Dalam ayat ini termuat sebuah dalil bahwa tidak ada nabi dari kalangan wanita, termasuk Maryam atau lainnya bukan nabi. Hal ini berdasarkan Firman Allah, ﴾ إِلَّا رِجَالٗا ﴿ "Melainkan beberapa orang laki-laki."
Al-Anbiya' 21:9
" Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muham-mad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas." (Al-Anbiya`: 7-9).
(7-9) Ini merupakan sanggahan atas lontaran syubhat ka-langan orang-orang yang mendustakan Rasulullah. Mereka berko-mentar, "Kenapa dia (seorang rasul) bukan seorang malaikat yang tidak membutuhkan makanan dan minuman serta mondar-mandir berurusan di pasar-pasar! Kenapa dia tidak abadi!" Bila dia tidak demikian, berarti menunjukkan dia bukan seorang utusan Allah." Rangkaian syubhat ini, masih saja menancap di hati-hati kaum yang mendustakan para rasul. Mereka serupa dalam kekufuran, se-hingga pernyataan-pernyataan mereka pun senada. Berikutnya, Allah menangkis syubhat orang-orang yang mendustakan Rasulullah, (namun) mengakui penetapan eksistensi para rasul sebelum beliau. Kalau tidak ada nabi melainkan Nabi Ibrahim عليه السلام saja -yang telah diakui kenabiannya oleh seluruh golongan, yang mana kaum musyrikin melancarkan klaim berpegang teguh pada agama dan ajaran Ibrahim bahwa para rasul sebelum Muhammad semuanya dari kalangan manusia, yang makan makanan dan berjalan-jalan di pasar-pasar, dan muncul kejadian-kejadian manusiawi yang me-nimpa mereka seperti kematian dan kejadian lainnya, serta bahwa Allah telah mengutus mereka kepada kaum dan umat mereka; lalu sebagian beriman kepada mereka, dan ada pula yang mendustakan, dan bahwa Allah benar-benar akan merealisasikan bagi mereka sesuatu yang telah dijanjikan, berupa keselamatan dan kebahagia-an bagi mereka (para utusan Allah) dan para pengikut, dan akan membinasakan orang-orang yang melampaui batas, lagi mendusta-kan mereka-; maka mengapa banyak syubhat batil yang diarahkan kepada Muhammad dalam rangka mengingkari risalahnya, pada-hal realita-realita itu melekat pada para saudaranya dari kalangan para rasul yang diakui oleh para pendusta kenabian Muhammad? Ini adalah konsekuensi yang begitu jelas bagi mereka. Jika mereka mengakui kerasulan dari kalangan manusia, namun tidak mau menetapkan seorang rasul dari selain kalangan manusia, maka berarti syubhat mereka (tentang Nabi Muhammad) batil. Mereka telah mematahkannya sendiri dengan pengakuan mereka menge-nai rusaknya syubhat mereka dan adanya kontradiksi di tengah (pola pikir) mereka tentang itu. Andai langkah mereka ini diprediksi menuju pengingkaran kenabian dari kalangan manusia seutuhnya, tidak ada satu pun nabi, melainkan seorang malaikat yang abadi, tidak makan ma-kanan, maka sungguh Allah telah menyanggah syubhat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ مَلَكٞۖ وَلَوۡ أَنزَلۡنَا مَلَكٗا لَّقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ثُمَّ لَا يُنظَرُونَ 8 وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ مَلَكٗا لَّجَعَلۡنَٰهُ رَجُلٗا وَلَلَبَسۡنَا عَلَيۡهِم مَّا يَلۡبِسُونَ 9 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?' Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat tentu selesailah urusan itu. Kemudian mereka tidak di-beri tangguh (sekalipun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki, dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), niscaya Kami pun akan menjadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu'." (Al-An'am: 8-9). Dan bahwa bangsa manusia tidak mempunyai kekuatan dalam menerima wahyu dari malaikat (secara langsung). ﴾ قُل لَّوۡ كَانَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَلَٰٓئِكَةٞ يَمۡشُونَ مُطۡمَئِنِّينَ لَنَزَّلۡنَا عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَلَكٗا رَّسُولٗا 95 ﴿ "Katakanlah, 'Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang ber-jalan-jalan sebagai penghuni bumi, niscaya Kami turunkan (dari langit kepada mereka) seorang malaikat menjadi rasul'." (Al-Isra`: 95). Jikalau timbul keraguan pada kalian, dan kalian tidak menge-tahui seluk-beluk para rasul yang sudah lewat, hendaknya mereka bertanya kepada orang-orang yang berilmu tentang kitab-kitab yang terdahulu. Misalnya, para ulama yang menguasai Taurat dan Injil. Mereka bakal memberitahukan tentang ilmu yang mereka miliki kepada kalian, dan bahwa seluruh rasul adalah manusia yang ber-asal dari jenis bangsa yang diberikan risalah (obyek dakwah). Ayat ini, meskipun sebabnya khusus mengenai pertanyaan tentang jati diri para rasul yang telah berlalu kepada ahli dzikir, yaitu ulama, tapi sesungguhnya konteksnya umum, mencakup setiap permasalahan agama, perkara yang inti atau cabangnya. Jika seseorang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, hendaknya dia menanyakannya kepada orang yang mengetahuinya. Dalam keterangan ini terkandung pelajaran, adanya perintah untuk belajar dan bertanya kepada ulama. Tidaklah diperintahkan untuk bertanya kepada mereka (ulama) melainkan karena mereka wajib mengajarkan ilmu dan menjawab permasalahan yang mereka ketahui. Di dalam pengkhususan melontarkan pertanyaan kepada ulama, terkandung larangan bertanya kepada orang yang sudah dikenal dengan kebodohannya dan tidak berilmu. Di dalamnya juga terkandung larangan bagi orang yang bodoh untuk mempo-sisikan diri untuk menjawab. Dalam ayat ini termuat sebuah dalil bahwa tidak ada nabi dari kalangan wanita, termasuk Maryam atau lainnya bukan nabi. Hal ini berdasarkan Firman Allah, ﴾ إِلَّا رِجَالٗا ﴿ "Melainkan beberapa orang laki-laki."
Al-Anbiya' 21:10
"Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya." (Al-Anbiya`: 10).
(10) Maksudnya ﴾ لَقَدۡ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ ﴿ "sesungguhnya telah Kami tu-runkan kepada kamu," wahai utusan yang dikirimkan kepada mereka, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib ﴾ كِتَٰبٗا ﴿ "sebuah kitab," yang agung dan bacaan yang jelas, ﴾ فِيهِ ذِكۡرُكُمۡۚ ﴿ "yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu," yaitu kemuliaan, prestise, dan ketinggian martabat kalian. Jika kalian mengingat-ngingat kabar-kabar yang otentik yang ada di dalamnya, kemudian kalian meyakini dan menaati kandungan perintah-perintahnya, dan kalian menjauhi kandungan larangan-larangannya, niscaya kemu-liaan kalian akan meningkat dan kedudukan kalian akan menjadi agung. ﴾ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 10 ﴿ "Maka apakah kamu tiada memahaminya," yaitu perkara-perkara yang bermanfaat bagi kalian dan membahayakan kalian. Bagaimana bisa kalian tidak mengetahui kandungannya yang mencakup ketinggian martabat dan kemuliaan kalian di dunia dan akhirat? Seandainya kalian mempunyai akal, niscaya kalian akan menempuh jalan ini. Ketika kalian tidak berjalan di atasnya, (malah) menempuh jalan yang lain yang mengakibatkan kehinaan dan kenistaan kalian di dunia dan akhirat serta celaka di dua tem-pat tersebut, maka diketahuilah bahwa kalian tidak mempunyai akal sehat dan daya nalar yang matang. Ayat ini, buktinya adalah fakta yang telah terjadi. Sesungguh-nya orang-orang yang beriman kepada rasul dan orang-orang yang mengingat-ngingat al-Qur`an dari kalangan sahabat dan tabi'in telah menggapai ketinggian kedudukan, hegemoni yang mence-ngangkan, dan popularitas besar, serta kemuliaan di atas para raja, sebuah sejarah yang telah dimengerti oleh setiap insan. Sebagai-mana telah diketahui pula, sejarah yang menimpa orang yang tidak mempedulikan al-Qur`an sama sekali, tidak mendapatkan petunjuk dan menyucikan diri dengannya, dia mendapatkan kemarahan, kehinaan (dari Allah) dan kotornya (jiwa), serta kesengsaraan. Tidak ada akses menuju kebahagiaan dunia dan akhirat kecuali dengan mempelajari kitab ini (al-Qur`an). 9
Al-Anbiya' 21:11
"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zhalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasa-kan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi'." (Al-Anbiya`: 11-15).
(11) Allah berfirman untuk memperingatkan orang-orang yang berbuat kezhaliman, yang mendustakan Rasulullah dengan hukuman yang Allah berlakukan kepada umat-umat yang mendus-takan rasul lainnya. ﴾ وَكَمۡ قَصَمۡنَا ﴿ "Dan berapa banyak yang telah Kami binasakan," maksudnya Kami hancurkan dengan siksaan yang meng-habisi mereka secara total ﴾ مِن قَرۡيَةٖ ﴿ "dari (penduduk) negeri," yang musnah sampai penghuni terakhirnya. ﴾ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ 11 ﴿ "dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggan-tinya)."
(12) Sesungguhnya mereka itu, orang-orang yang dibinasa-kan, (tatkala mereka merasakan siksa dan hukuman Allah dan gesekannya langsung mengenai mereka), tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk kembali dan tidak ada cara untuk menarik diri. Mereka hanya bisa berlari-lari dengan kaki mereka di permukaan tanah sebagai bentuk ungkapan penyesalan, kegelisahan, dan sedih atas perbuatan mereka. Selanjutnya, ada yang berkata kepada mereka dengan nada olokan, ﴾ لَا تَرۡكُضُواْ وَٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡـَٔلُونَ 13 ﴿ "Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya," maksudnya, melarikan diri dan penyesalan tidaklah berguna. Namun, kalau kalian mampu, kembalilah kepada nikmat yang telah kalian rasakan, yang berbentuk aneka benda yang nikmat dan diminati, hunian-hunian kalian yang penuh dengan hiasan, dan dunia kalian yang telah memperdayai dan melalaikan kalian, sampai akhirnya datang ketetapan Allah. Lalu jadilah kalian orang-orang yang larut di dalamnya, memetik kenikmatannya lagi tentram dan terhormat di rumah-rumah kalian. Bisa jadi keinginan-keinginan kalian akan disambut sebagaimana dahulu kalian dikejar-kejar oleh tuntutan-tuntutan dunia seperti kondisi awal kalian. Tapi hal ini tidak mungkin terjadi!
(14) Bagaimana cara agar bisa mencapainya, sedangkan kesempatan sudah terlewatkan, hukuman dan kemarahan (Allah) telah melanda mereka. Kehormatan, kemuliaan, dan kekayaan dunia telah lenyap, sementara rasa sesal dan kesedihanlah yang meliputi mereka? Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 14 ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'."
(15) ﴾ فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ ﴿ "Maka tetaplah demikian keluhan me-reka," maksudnya umpatan kesengsaraan, kebinasaan, rasa sesal, dan pengakuan (tertumpahkan pada) diri mereka disebabkan ke-zhaliman, dan bahwa Allah Mahaadil berkaitan dengan hukuman yang Dia jatuhkan pada mereka, ﴾ حَتَّىٰ جَعَلۡنَٰهُمۡ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ 15 ﴿ "sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi," yaitu laksana tumbuhan yang telah dipanen dan di-binasakan. Gerakan-gerakan mereka sudah lumpuh. Suara-suara mereka telah membisu. Hati-hatilah kalian, wahai kaum yang di-ajak bicara, jangan sampai meneruskan pendustaan kepada rasul yang paling mulia, hingga akan melanda kalian azab yang telah menimpa mereka.
Al-Anbiya' 21:12
"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zhalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasa-kan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi'." (Al-Anbiya`: 11-15).
(11) Allah berfirman untuk memperingatkan orang-orang yang berbuat kezhaliman, yang mendustakan Rasulullah dengan hukuman yang Allah berlakukan kepada umat-umat yang mendus-takan rasul lainnya. ﴾ وَكَمۡ قَصَمۡنَا ﴿ "Dan berapa banyak yang telah Kami binasakan," maksudnya Kami hancurkan dengan siksaan yang meng-habisi mereka secara total ﴾ مِن قَرۡيَةٖ ﴿ "dari (penduduk) negeri," yang musnah sampai penghuni terakhirnya. ﴾ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ 11 ﴿ "dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggan-tinya)."
(12) Sesungguhnya mereka itu, orang-orang yang dibinasa-kan, (tatkala mereka merasakan siksa dan hukuman Allah dan gesekannya langsung mengenai mereka), tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk kembali dan tidak ada cara untuk menarik diri. Mereka hanya bisa berlari-lari dengan kaki mereka di permukaan tanah sebagai bentuk ungkapan penyesalan, kegelisahan, dan sedih atas perbuatan mereka. Selanjutnya, ada yang berkata kepada mereka dengan nada olokan, ﴾ لَا تَرۡكُضُواْ وَٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡـَٔلُونَ 13 ﴿ "Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya," maksudnya, melarikan diri dan penyesalan tidaklah berguna. Namun, kalau kalian mampu, kembalilah kepada nikmat yang telah kalian rasakan, yang berbentuk aneka benda yang nikmat dan diminati, hunian-hunian kalian yang penuh dengan hiasan, dan dunia kalian yang telah memperdayai dan melalaikan kalian, sampai akhirnya datang ketetapan Allah. Lalu jadilah kalian orang-orang yang larut di dalamnya, memetik kenikmatannya lagi tentram dan terhormat di rumah-rumah kalian. Bisa jadi keinginan-keinginan kalian akan disambut sebagaimana dahulu kalian dikejar-kejar oleh tuntutan-tuntutan dunia seperti kondisi awal kalian. Tapi hal ini tidak mungkin terjadi!
(14) Bagaimana cara agar bisa mencapainya, sedangkan kesempatan sudah terlewatkan, hukuman dan kemarahan (Allah) telah melanda mereka. Kehormatan, kemuliaan, dan kekayaan dunia telah lenyap, sementara rasa sesal dan kesedihanlah yang meliputi mereka? Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 14 ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'."
(15) ﴾ فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ ﴿ "Maka tetaplah demikian keluhan me-reka," maksudnya umpatan kesengsaraan, kebinasaan, rasa sesal, dan pengakuan (tertumpahkan pada) diri mereka disebabkan ke-zhaliman, dan bahwa Allah Mahaadil berkaitan dengan hukuman yang Dia jatuhkan pada mereka, ﴾ حَتَّىٰ جَعَلۡنَٰهُمۡ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ 15 ﴿ "sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi," yaitu laksana tumbuhan yang telah dipanen dan di-binasakan. Gerakan-gerakan mereka sudah lumpuh. Suara-suara mereka telah membisu. Hati-hatilah kalian, wahai kaum yang di-ajak bicara, jangan sampai meneruskan pendustaan kepada rasul yang paling mulia, hingga akan melanda kalian azab yang telah menimpa mereka.
Al-Anbiya' 21:13
"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zhalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasa-kan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi'." (Al-Anbiya`: 11-15).
(11) Allah berfirman untuk memperingatkan orang-orang yang berbuat kezhaliman, yang mendustakan Rasulullah dengan hukuman yang Allah berlakukan kepada umat-umat yang mendus-takan rasul lainnya. ﴾ وَكَمۡ قَصَمۡنَا ﴿ "Dan berapa banyak yang telah Kami binasakan," maksudnya Kami hancurkan dengan siksaan yang meng-habisi mereka secara total ﴾ مِن قَرۡيَةٖ ﴿ "dari (penduduk) negeri," yang musnah sampai penghuni terakhirnya. ﴾ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ 11 ﴿ "dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggan-tinya)."
(12) Sesungguhnya mereka itu, orang-orang yang dibinasa-kan, (tatkala mereka merasakan siksa dan hukuman Allah dan gesekannya langsung mengenai mereka), tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk kembali dan tidak ada cara untuk menarik diri. Mereka hanya bisa berlari-lari dengan kaki mereka di permukaan tanah sebagai bentuk ungkapan penyesalan, kegelisahan, dan sedih atas perbuatan mereka. Selanjutnya, ada yang berkata kepada mereka dengan nada olokan, ﴾ لَا تَرۡكُضُواْ وَٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡـَٔلُونَ 13 ﴿ "Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya," maksudnya, melarikan diri dan penyesalan tidaklah berguna. Namun, kalau kalian mampu, kembalilah kepada nikmat yang telah kalian rasakan, yang berbentuk aneka benda yang nikmat dan diminati, hunian-hunian kalian yang penuh dengan hiasan, dan dunia kalian yang telah memperdayai dan melalaikan kalian, sampai akhirnya datang ketetapan Allah. Lalu jadilah kalian orang-orang yang larut di dalamnya, memetik kenikmatannya lagi tentram dan terhormat di rumah-rumah kalian. Bisa jadi keinginan-keinginan kalian akan disambut sebagaimana dahulu kalian dikejar-kejar oleh tuntutan-tuntutan dunia seperti kondisi awal kalian. Tapi hal ini tidak mungkin terjadi!
(14) Bagaimana cara agar bisa mencapainya, sedangkan kesempatan sudah terlewatkan, hukuman dan kemarahan (Allah) telah melanda mereka. Kehormatan, kemuliaan, dan kekayaan dunia telah lenyap, sementara rasa sesal dan kesedihanlah yang meliputi mereka? Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 14 ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'."
(15) ﴾ فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ ﴿ "Maka tetaplah demikian keluhan me-reka," maksudnya umpatan kesengsaraan, kebinasaan, rasa sesal, dan pengakuan (tertumpahkan pada) diri mereka disebabkan ke-zhaliman, dan bahwa Allah Mahaadil berkaitan dengan hukuman yang Dia jatuhkan pada mereka, ﴾ حَتَّىٰ جَعَلۡنَٰهُمۡ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ 15 ﴿ "sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi," yaitu laksana tumbuhan yang telah dipanen dan di-binasakan. Gerakan-gerakan mereka sudah lumpuh. Suara-suara mereka telah membisu. Hati-hatilah kalian, wahai kaum yang di-ajak bicara, jangan sampai meneruskan pendustaan kepada rasul yang paling mulia, hingga akan melanda kalian azab yang telah menimpa mereka.
Al-Anbiya' 21:14
"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zhalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasa-kan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi'." (Al-Anbiya`: 11-15).
(11) Allah berfirman untuk memperingatkan orang-orang yang berbuat kezhaliman, yang mendustakan Rasulullah dengan hukuman yang Allah berlakukan kepada umat-umat yang mendus-takan rasul lainnya. ﴾ وَكَمۡ قَصَمۡنَا ﴿ "Dan berapa banyak yang telah Kami binasakan," maksudnya Kami hancurkan dengan siksaan yang meng-habisi mereka secara total ﴾ مِن قَرۡيَةٖ ﴿ "dari (penduduk) negeri," yang musnah sampai penghuni terakhirnya. ﴾ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ 11 ﴿ "dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggan-tinya)."
(12) Sesungguhnya mereka itu, orang-orang yang dibinasa-kan, (tatkala mereka merasakan siksa dan hukuman Allah dan gesekannya langsung mengenai mereka), tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk kembali dan tidak ada cara untuk menarik diri. Mereka hanya bisa berlari-lari dengan kaki mereka di permukaan tanah sebagai bentuk ungkapan penyesalan, kegelisahan, dan sedih atas perbuatan mereka. Selanjutnya, ada yang berkata kepada mereka dengan nada olokan, ﴾ لَا تَرۡكُضُواْ وَٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡـَٔلُونَ 13 ﴿ "Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya," maksudnya, melarikan diri dan penyesalan tidaklah berguna. Namun, kalau kalian mampu, kembalilah kepada nikmat yang telah kalian rasakan, yang berbentuk aneka benda yang nikmat dan diminati, hunian-hunian kalian yang penuh dengan hiasan, dan dunia kalian yang telah memperdayai dan melalaikan kalian, sampai akhirnya datang ketetapan Allah. Lalu jadilah kalian orang-orang yang larut di dalamnya, memetik kenikmatannya lagi tentram dan terhormat di rumah-rumah kalian. Bisa jadi keinginan-keinginan kalian akan disambut sebagaimana dahulu kalian dikejar-kejar oleh tuntutan-tuntutan dunia seperti kondisi awal kalian. Tapi hal ini tidak mungkin terjadi!
(14) Bagaimana cara agar bisa mencapainya, sedangkan kesempatan sudah terlewatkan, hukuman dan kemarahan (Allah) telah melanda mereka. Kehormatan, kemuliaan, dan kekayaan dunia telah lenyap, sementara rasa sesal dan kesedihanlah yang meliputi mereka? Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 14 ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'."
(15) ﴾ فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ ﴿ "Maka tetaplah demikian keluhan me-reka," maksudnya umpatan kesengsaraan, kebinasaan, rasa sesal, dan pengakuan (tertumpahkan pada) diri mereka disebabkan ke-zhaliman, dan bahwa Allah Mahaadil berkaitan dengan hukuman yang Dia jatuhkan pada mereka, ﴾ حَتَّىٰ جَعَلۡنَٰهُمۡ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ 15 ﴿ "sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi," yaitu laksana tumbuhan yang telah dipanen dan di-binasakan. Gerakan-gerakan mereka sudah lumpuh. Suara-suara mereka telah membisu. Hati-hatilah kalian, wahai kaum yang di-ajak bicara, jangan sampai meneruskan pendustaan kepada rasul yang paling mulia, hingga akan melanda kalian azab yang telah menimpa mereka.
Al-Anbiya' 21:15
"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zhalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka tatkala mereka merasa-kan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi'." (Al-Anbiya`: 11-15).
(11) Allah berfirman untuk memperingatkan orang-orang yang berbuat kezhaliman, yang mendustakan Rasulullah dengan hukuman yang Allah berlakukan kepada umat-umat yang mendus-takan rasul lainnya. ﴾ وَكَمۡ قَصَمۡنَا ﴿ "Dan berapa banyak yang telah Kami binasakan," maksudnya Kami hancurkan dengan siksaan yang meng-habisi mereka secara total ﴾ مِن قَرۡيَةٖ ﴿ "dari (penduduk) negeri," yang musnah sampai penghuni terakhirnya. ﴾ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ 11 ﴿ "dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggan-tinya)."
(12) Sesungguhnya mereka itu, orang-orang yang dibinasa-kan, (tatkala mereka merasakan siksa dan hukuman Allah dan gesekannya langsung mengenai mereka), tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk kembali dan tidak ada cara untuk menarik diri. Mereka hanya bisa berlari-lari dengan kaki mereka di permukaan tanah sebagai bentuk ungkapan penyesalan, kegelisahan, dan sedih atas perbuatan mereka. Selanjutnya, ada yang berkata kepada mereka dengan nada olokan, ﴾ لَا تَرۡكُضُواْ وَٱرۡجِعُوٓاْ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡـَٔلُونَ 13 ﴿ "Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya," maksudnya, melarikan diri dan penyesalan tidaklah berguna. Namun, kalau kalian mampu, kembalilah kepada nikmat yang telah kalian rasakan, yang berbentuk aneka benda yang nikmat dan diminati, hunian-hunian kalian yang penuh dengan hiasan, dan dunia kalian yang telah memperdayai dan melalaikan kalian, sampai akhirnya datang ketetapan Allah. Lalu jadilah kalian orang-orang yang larut di dalamnya, memetik kenikmatannya lagi tentram dan terhormat di rumah-rumah kalian. Bisa jadi keinginan-keinginan kalian akan disambut sebagaimana dahulu kalian dikejar-kejar oleh tuntutan-tuntutan dunia seperti kondisi awal kalian. Tapi hal ini tidak mungkin terjadi!
(14) Bagaimana cara agar bisa mencapainya, sedangkan kesempatan sudah terlewatkan, hukuman dan kemarahan (Allah) telah melanda mereka. Kehormatan, kemuliaan, dan kekayaan dunia telah lenyap, sementara rasa sesal dan kesedihanlah yang meliputi mereka? Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 14 ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'."
(15) ﴾ فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ ﴿ "Maka tetaplah demikian keluhan me-reka," maksudnya umpatan kesengsaraan, kebinasaan, rasa sesal, dan pengakuan (tertumpahkan pada) diri mereka disebabkan ke-zhaliman, dan bahwa Allah Mahaadil berkaitan dengan hukuman yang Dia jatuhkan pada mereka, ﴾ حَتَّىٰ جَعَلۡنَٰهُمۡ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ 15 ﴿ "sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi," yaitu laksana tumbuhan yang telah dipanen dan di-binasakan. Gerakan-gerakan mereka sudah lumpuh. Suara-suara mereka telah membisu. Hati-hatilah kalian, wahai kaum yang di-ajak bicara, jangan sampai meneruskan pendustaan kepada rasul yang paling mulia, hingga akan melanda kalian azab yang telah menimpa mereka.
Al-Anbiya' 21:16
"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentu-lah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki ber-buat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya)." (Al-Anbiya`: 16-17).
(16) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia tidaklah men-ciptakan langit dan bumi dengan sia-sia dan main-main, tanpa ada manfaat tertentu. Justru, Allah menciptakannya dengan dasar kebenaran dan untuk tujuan yang benar, agar para hamba dapat membuktikan dengannya bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Pencipta lagi Mahaagung, Maha Mengatur, Mahabijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang, yang memegang keseluruhan aspek kesempurnaan, sanjungan, kehormatan, Dzat yang benar Firman-firmanNya, dan yang jujur para utusanNya tentang pemberitaan yang mereka sampaikan. Dan bahwa Dia-lah Dzat Yang Maha-kuasa atas penciptaan keduanya (langit dan bumi) meski luas dan besar, Mahakuasa untuk mengembalikan jasad-jasad (hidup lagi) setelah kematiannya untuk membalasi orang yang berbuat kebaikan atas kebaikannya, dan orang yang berbuat jelek atas kejelekannya.
(17) ﴾ لَوۡ أَرَدۡنَآ أَن نَّتَّخِذَ لَهۡوٗا ﴿ "Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak)," sebagai anggapan dan perkiraan yang mustahil saja ﴾ لَّٱتَّخَذۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّآ ﴿ "tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami," maksudnya berasal dari sisi Kami. ﴾ إِن كُنَّا فَٰعِلِينَ 17 ﴿ "Jika Kami menghendaki berbuat demikian (tentulah Kami telah melakukan-nya)." Dan Kami pun tidak pernah memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang mengandung kesia-siaan dan permainan. Sebab, hal itu merupakan bentuk kekurangan dan perumpamaan yang buruk, Kami tidak ingin mempertontonkannya kepada kalian. Langit-langit dan bumi yang sudah terbiasa dalam jangkauan pandangan kalian, tidak mungkin tujuan penciptaan keduanya hanyalah sia-sia dan main-main (tanpa ada hikmah yang luhur). Semua (kete-rangan) ini semata-mata ingin mengakomodasi akal-akal yang dangkal dan ingin memenuhi kepuasannya dari segala aspek yang dapat memuaskan. Mahasuci Dzat Yang Mahalembut, Penyayang lagi Bijaksana dalam menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Al-Anbiya' 21:17
"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentu-lah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki ber-buat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya)." (Al-Anbiya`: 16-17).
(16) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia tidaklah men-ciptakan langit dan bumi dengan sia-sia dan main-main, tanpa ada manfaat tertentu. Justru, Allah menciptakannya dengan dasar kebenaran dan untuk tujuan yang benar, agar para hamba dapat membuktikan dengannya bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Pencipta lagi Mahaagung, Maha Mengatur, Mahabijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang, yang memegang keseluruhan aspek kesempurnaan, sanjungan, kehormatan, Dzat yang benar Firman-firmanNya, dan yang jujur para utusanNya tentang pemberitaan yang mereka sampaikan. Dan bahwa Dia-lah Dzat Yang Maha-kuasa atas penciptaan keduanya (langit dan bumi) meski luas dan besar, Mahakuasa untuk mengembalikan jasad-jasad (hidup lagi) setelah kematiannya untuk membalasi orang yang berbuat kebaikan atas kebaikannya, dan orang yang berbuat jelek atas kejelekannya.
(17) ﴾ لَوۡ أَرَدۡنَآ أَن نَّتَّخِذَ لَهۡوٗا ﴿ "Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak)," sebagai anggapan dan perkiraan yang mustahil saja ﴾ لَّٱتَّخَذۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّآ ﴿ "tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami," maksudnya berasal dari sisi Kami. ﴾ إِن كُنَّا فَٰعِلِينَ 17 ﴿ "Jika Kami menghendaki berbuat demikian (tentulah Kami telah melakukan-nya)." Dan Kami pun tidak pernah memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang mengandung kesia-siaan dan permainan. Sebab, hal itu merupakan bentuk kekurangan dan perumpamaan yang buruk, Kami tidak ingin mempertontonkannya kepada kalian. Langit-langit dan bumi yang sudah terbiasa dalam jangkauan pandangan kalian, tidak mungkin tujuan penciptaan keduanya hanyalah sia-sia dan main-main (tanpa ada hikmah yang luhur). Semua (kete-rangan) ini semata-mata ingin mengakomodasi akal-akal yang dangkal dan ingin memenuhi kepuasannya dari segala aspek yang dapat memuaskan. Mahasuci Dzat Yang Mahalembut, Penyayang lagi Bijaksana dalam menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Al-Anbiya' 21:18
"Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu memberikan sifat (untuk Allah dengan sifat-sifat yang tak layak bagiNya). Dan kepunyaanNya-lah segala yang ada di langit dan bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisiNya, mereka tidak mem-punyai rasa angkuh untuk menyembahNya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang, tiada henti-henti-nya." (Al-Anbiya`: 18-20).
(18) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia menjamin pengo-kohan al-haq dan penggagalan kebatilan. Bila kebatilan itu telah disampaikan dan menjadi bahan perdebatan, maka Allah akan menurunkan kebenaran, ilmu, dan penjelasan yang akan mematah-kannya. Hingga lenyap dan menjadi jelas kebatilannya bagi setiap orang. ﴾ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٞۚ ﴿ "Maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap," lenyap lagi sirna. Hal ini berlaku umum pada semua permasalahan agama. Tidaklah pengemban kebatilan melancarkan syubhat aqliyah (yang berdasarkan logika) atau naqliyah (dalil dari al-Qur`an atau hadits) untuk meneguhkan kebatilan atau menepis kebenaran melainkan pasti dalam dalil-dalil Allah terdapat kandungan logika dan dalil kuat yang akan menyirnakan ungkapan yang batil tersebut dan membungkamnya. Tiba-tiba sisi kebatilannya menjadi terang bagi siapa saja. Proses ini melalui pengkajian seluruh permasalahan satu-persatu. Anda akan menjumpainya demikian. Kemudian Allah berfirman, "Kalian, wahai orang-orang yang memberikan sifat untuk Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas bagiNya, seperti mempunyai anak dan istri, tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu, maka kalian mendapatkan bagian dan nasib celaka, penyesalan, dan kerugian. Tidak ada satu pun manfaat dari apa yang kalian ucapkan. Tidak akan menghasilkan sesuatu yang kalian angan-angankan, kerjakan, dan usahakan untuk mencapai-nya, melainkan kebalikan dari sesuatu yang kalian inginkan. Yakni, kegagalan dan terhalang dari tujuan.
(19) Selanjutnya, Allah memberitahukan bahwa Dia memi-liki kerajaan langit dan bumi serta seisinya. Semua menjadi hamba dan milikNya. Tidak ada seorang pun yang mempunyai kerajaan atau bagian dari kerajaan tersebut, atau jalinan kerjasama padanya. Dan tidak ada yang bisa memberikan syafa'at kecuali dengan izin-Nya. Lalu bagaimana bisa sebagian dari mereka ada yang didaulat sebagai tuhan? Apakah pantas ada yang dijadikan (dari mereka) sebagai anak Allah? Maka Mahatinggi lagi Mahasuci (Allah) Dzat Yang Maha Memiliki, lagi Mahaagung yang semua makhluk tunduk kepadaNya, setiap kesulitan menjadi sepele di hadapanNya dan para malaikat yang dekat khusyu' terhadapNya. Mereka semua menundukkan diri kepadaNya melalui ibadah yang kontinyu lagi bersinambungan. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَمَنۡ عِندَهُۥ ﴿ "Dan siapa saja yang berada di sisiNya," yaitu [dari] kalangan m a l a i k a t ﴾ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَلَا يَسۡتَحۡسِرُونَ 19 ﴿ "mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk me-nyembahNya dan tiada (pula) merasa letih," maksudnya mereka tidak mengalami kebosanan dan tidak jemu lantaran besarnya motivasi mereka, sempurnanya cinta mereka dan kuatnya fisik-fisik mereka.
(20) ﴾ يُسَبِّحُونَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لَا يَفۡتُرُونَ ﴿ "Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya," maksudnya mereka larut dalam ibadah dan lantunan tasbih di seluruh waktu mereka. Tidak ada waktu-waktu mereka yang luang atau kosong dari aktifitas ter-sebut. Mereka semua (dengan banyaknya jumlah mereka) berada dalam kondisi demikian. Dalam keterangan ini, terdapat penjelasan keagungan dan kebesaran kerajaan Allah, dan kesempurnaan ilmu dan hikmahNya yang menuntut agar tidak ada obyek yang diibadahi kecuali Dia saja, dan tidaklah ibadah diarahkan kepada selainNya.
Al-Anbiya' 21:19
"Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu memberikan sifat (untuk Allah dengan sifat-sifat yang tak layak bagiNya). Dan kepunyaanNya-lah segala yang ada di langit dan bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisiNya, mereka tidak mem-punyai rasa angkuh untuk menyembahNya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang, tiada henti-henti-nya." (Al-Anbiya`: 18-20).
(18) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia menjamin pengo-kohan al-haq dan penggagalan kebatilan. Bila kebatilan itu telah disampaikan dan menjadi bahan perdebatan, maka Allah akan menurunkan kebenaran, ilmu, dan penjelasan yang akan mematah-kannya. Hingga lenyap dan menjadi jelas kebatilannya bagi setiap orang. ﴾ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٞۚ ﴿ "Maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap," lenyap lagi sirna. Hal ini berlaku umum pada semua permasalahan agama. Tidaklah pengemban kebatilan melancarkan syubhat aqliyah (yang berdasarkan logika) atau naqliyah (dalil dari al-Qur`an atau hadits) untuk meneguhkan kebatilan atau menepis kebenaran melainkan pasti dalam dalil-dalil Allah terdapat kandungan logika dan dalil kuat yang akan menyirnakan ungkapan yang batil tersebut dan membungkamnya. Tiba-tiba sisi kebatilannya menjadi terang bagi siapa saja. Proses ini melalui pengkajian seluruh permasalahan satu-persatu. Anda akan menjumpainya demikian. Kemudian Allah berfirman, "Kalian, wahai orang-orang yang memberikan sifat untuk Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas bagiNya, seperti mempunyai anak dan istri, tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu, maka kalian mendapatkan bagian dan nasib celaka, penyesalan, dan kerugian. Tidak ada satu pun manfaat dari apa yang kalian ucapkan. Tidak akan menghasilkan sesuatu yang kalian angan-angankan, kerjakan, dan usahakan untuk mencapai-nya, melainkan kebalikan dari sesuatu yang kalian inginkan. Yakni, kegagalan dan terhalang dari tujuan.
(19) Selanjutnya, Allah memberitahukan bahwa Dia memi-liki kerajaan langit dan bumi serta seisinya. Semua menjadi hamba dan milikNya. Tidak ada seorang pun yang mempunyai kerajaan atau bagian dari kerajaan tersebut, atau jalinan kerjasama padanya. Dan tidak ada yang bisa memberikan syafa'at kecuali dengan izin-Nya. Lalu bagaimana bisa sebagian dari mereka ada yang didaulat sebagai tuhan? Apakah pantas ada yang dijadikan (dari mereka) sebagai anak Allah? Maka Mahatinggi lagi Mahasuci (Allah) Dzat Yang Maha Memiliki, lagi Mahaagung yang semua makhluk tunduk kepadaNya, setiap kesulitan menjadi sepele di hadapanNya dan para malaikat yang dekat khusyu' terhadapNya. Mereka semua menundukkan diri kepadaNya melalui ibadah yang kontinyu lagi bersinambungan. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَمَنۡ عِندَهُۥ ﴿ "Dan siapa saja yang berada di sisiNya," yaitu [dari] kalangan m a l a i k a t ﴾ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَلَا يَسۡتَحۡسِرُونَ 19 ﴿ "mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk me-nyembahNya dan tiada (pula) merasa letih," maksudnya mereka tidak mengalami kebosanan dan tidak jemu lantaran besarnya motivasi mereka, sempurnanya cinta mereka dan kuatnya fisik-fisik mereka.
(20) ﴾ يُسَبِّحُونَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لَا يَفۡتُرُونَ ﴿ "Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya," maksudnya mereka larut dalam ibadah dan lantunan tasbih di seluruh waktu mereka. Tidak ada waktu-waktu mereka yang luang atau kosong dari aktifitas ter-sebut. Mereka semua (dengan banyaknya jumlah mereka) berada dalam kondisi demikian. Dalam keterangan ini, terdapat penjelasan keagungan dan kebesaran kerajaan Allah, dan kesempurnaan ilmu dan hikmahNya yang menuntut agar tidak ada obyek yang diibadahi kecuali Dia saja, dan tidaklah ibadah diarahkan kepada selainNya.
Al-Anbiya' 21:20
"Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu memberikan sifat (untuk Allah dengan sifat-sifat yang tak layak bagiNya). Dan kepunyaanNya-lah segala yang ada di langit dan bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisiNya, mereka tidak mem-punyai rasa angkuh untuk menyembahNya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang, tiada henti-henti-nya." (Al-Anbiya`: 18-20).
(18) Allah تعالى memberitahukan bahwa Dia menjamin pengo-kohan al-haq dan penggagalan kebatilan. Bila kebatilan itu telah disampaikan dan menjadi bahan perdebatan, maka Allah akan menurunkan kebenaran, ilmu, dan penjelasan yang akan mematah-kannya. Hingga lenyap dan menjadi jelas kebatilannya bagi setiap orang. ﴾ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٞۚ ﴿ "Maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap," lenyap lagi sirna. Hal ini berlaku umum pada semua permasalahan agama. Tidaklah pengemban kebatilan melancarkan syubhat aqliyah (yang berdasarkan logika) atau naqliyah (dalil dari al-Qur`an atau hadits) untuk meneguhkan kebatilan atau menepis kebenaran melainkan pasti dalam dalil-dalil Allah terdapat kandungan logika dan dalil kuat yang akan menyirnakan ungkapan yang batil tersebut dan membungkamnya. Tiba-tiba sisi kebatilannya menjadi terang bagi siapa saja. Proses ini melalui pengkajian seluruh permasalahan satu-persatu. Anda akan menjumpainya demikian. Kemudian Allah berfirman, "Kalian, wahai orang-orang yang memberikan sifat untuk Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas bagiNya, seperti mempunyai anak dan istri, tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu, maka kalian mendapatkan bagian dan nasib celaka, penyesalan, dan kerugian. Tidak ada satu pun manfaat dari apa yang kalian ucapkan. Tidak akan menghasilkan sesuatu yang kalian angan-angankan, kerjakan, dan usahakan untuk mencapai-nya, melainkan kebalikan dari sesuatu yang kalian inginkan. Yakni, kegagalan dan terhalang dari tujuan.
(19) Selanjutnya, Allah memberitahukan bahwa Dia memi-liki kerajaan langit dan bumi serta seisinya. Semua menjadi hamba dan milikNya. Tidak ada seorang pun yang mempunyai kerajaan atau bagian dari kerajaan tersebut, atau jalinan kerjasama padanya. Dan tidak ada yang bisa memberikan syafa'at kecuali dengan izin-Nya. Lalu bagaimana bisa sebagian dari mereka ada yang didaulat sebagai tuhan? Apakah pantas ada yang dijadikan (dari mereka) sebagai anak Allah? Maka Mahatinggi lagi Mahasuci (Allah) Dzat Yang Maha Memiliki, lagi Mahaagung yang semua makhluk tunduk kepadaNya, setiap kesulitan menjadi sepele di hadapanNya dan para malaikat yang dekat khusyu' terhadapNya. Mereka semua menundukkan diri kepadaNya melalui ibadah yang kontinyu lagi bersinambungan. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَمَنۡ عِندَهُۥ ﴿ "Dan siapa saja yang berada di sisiNya," yaitu [dari] kalangan m a l a i k a t ﴾ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَلَا يَسۡتَحۡسِرُونَ 19 ﴿ "mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk me-nyembahNya dan tiada (pula) merasa letih," maksudnya mereka tidak mengalami kebosanan dan tidak jemu lantaran besarnya motivasi mereka, sempurnanya cinta mereka dan kuatnya fisik-fisik mereka.
(20) ﴾ يُسَبِّحُونَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لَا يَفۡتُرُونَ ﴿ "Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya," maksudnya mereka larut dalam ibadah dan lantunan tasbih di seluruh waktu mereka. Tidak ada waktu-waktu mereka yang luang atau kosong dari aktifitas ter-sebut. Mereka semua (dengan banyaknya jumlah mereka) berada dalam kondisi demikian. Dalam keterangan ini, terdapat penjelasan keagungan dan kebesaran kerajaan Allah, dan kesempurnaan ilmu dan hikmahNya yang menuntut agar tidak ada obyek yang diibadahi kecuali Dia saja, dan tidaklah ibadah diarahkan kepada selainNya.
Al-Anbiya' 21:21
"Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai 'Arasy dari apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang akan ditanyai. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selainNya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujjahmu! (al-Qur`an ) ini adalah petunjuk bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang sebelumku.' Sebenar-nya kebanyakan mereka tidak mengetahui yang haq, karena itu mereka berpaling. Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan pasti Kami wahyukan kepadanya, 'Bah-wasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka kalian sembahlah Aku'." (Al-Anbiya`: 21-25).
(21) Tatkala Allah تعالى menjelaskan kesempurnaan kekua-saanNya dan keagunganNya serta ketundukan segala sesuatu kepadaNya, maka Dia mengingkari kaum musyrikin yang telah menjadikan selainNya sebagai sesembahan dari bumi, yang berada dalam titik puncak kelemahan dan ketidakberdayaan. ﴾ هُمۡ يُنشِرُونَ 21 ﴿ "Mereka dapat menghidupkan (orang-orang mati)," ini merupakan bentuk pertanyaan, tetapi bermakna penafian (peniadaan). Maksud-nya, mereka tidak mampu untuk menghidupkan dan menghimpun mereka. Hal ini diterangkan oleh Firman Allah تعالى, ﴾ وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗ لَّا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ وَلَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ ضَرّٗا وَلَا نَفۡعٗا وَلَا يَمۡلِكُونَ مَوۡتٗا وَلَا حَيَوٰةٗ وَلَا نُشُورٗا 3 ﴿ "Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain dariNya (untuk disembah) yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) mem-bangkitkan." (Al-Furqan: 3) ﴾ وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ ءَالِهَةٗ لَّعَلَّهُمۡ يُنصَرُونَ 74 لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَهُمۡ وَهُمۡ لَهُمۡ جُندٞ مُّحۡضَرُونَ 75 ﴿ "Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka. Padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75).
(22) Orang musyrik menyembah makhluk yang tidak bisa memberikan manfaat atau membahayakan dengan meninggalkan sikap keikhlasan kepada Allah, Dzat yang mempunyai seluruh kesempurnaan. Di TanganNya-lah terdapat (kendali) segala urusan, manfaat, dan bahaya. Ini (perbuatan orang musyrik itu) termasuk (cerminan) tidak adanya taufik Allah padanya, buruknya keberun-tungannya, kebodohannya yang parah, dan besarnya ulah kezha-limannya. Sesungguhnya alam semesta ini tidak akan menjadi baik kecuali bila berada di bawah satu sesembahan semata. Sebagaimana tidaklah alam (ini) diadakan kecuali oleh satu pemilik (Rabb). Ka-renanya, Allah berfirman, ﴾ لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ ﴿ "Sekiranya di dalam keduanya," yaitu di langit dan bumi ﴾ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ ﴿ "terdapat tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa," pada bentuk kedua-nya, dan rusak pula makhluk-makhluk yang berada di dalamnya. Penjelasannya sebagai berikut: Bumi lapisan atas dan lapisan bawah berdasarkan pemandangan yang terlihat dalam bentuk yang paling sempurna ditilik dari aspek keindahan dan keteraturan, yang tidak ada celah kekurangan, cacat, pertentangan, dan kontradiksi di dalamnya, hal ini mengindikasikan bahwa Dzat yang mengatur-nya satu, Pemiliknya satu dan Tuhannya satu. Andai saja, alam ini mempunyai dua pengatur dan dua pemilik atau lebih dari itu, niscaya aturan geraknya akan carut-marut, tiang-tiangnya akan roboh, kedua-duanya akan saling bertentangan dan berlawanan. Jika salah satu dari keduanya ingin menetapkan suatu pengaturan tertentu, sementara pihak lain tidak menghendakinya, niscaya rea-lisasi keinginan mereka berdua secara sekaligus merupakan bentuk kemustahilan. Dan terealisasinya keinginan salah satu pihak, semen-tara kehendak yang lain tidak terwujud, menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan pihak yang lain itu. Sedangkan keserasian dua belah pihak pada satu kesepakatan bulat dalam seluruh per-kara adalah tidak mungkin juga. Oleh karenanya, menjadi sebuah kepastian bahwa Dzat yang Perkasa yang kehendakNya semata yang dapat terwujudkan (sesuatu) tanpa ada penentang atau penyanggah, Dia adalah Allah Yang Mahasatu lagi Mahaperkasa. Karena ini, Allah menyebutkan sebuah bentuk dalil tamanu' (kontra-diktif) dengan FirmanNya, ﴾ مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٖ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنۡ إِلَٰهٍۚ إِذٗا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهِۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ 91 ﴿ "Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya. (Kalau ada tuhan besertaNya) masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan seba-gian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha-suci Allah dari apa yang mereka sifatkan." (Al-Mu`minun: 91). Senada dengan ayat di atas, penggunaan ayat berikut ber-dasarkan salah satu tafsirannya, ﴾ قُل لَّوۡ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٞ كَمَا يَقُولُونَ إِذٗا لَّٱبۡتَغَوۡاْ إِلَىٰ ذِي ٱلۡعَرۡشِ سَبِيلٗا 42 سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوّٗا كَبِيرٗا 43 ﴿ "Katakanlah, 'Jikalau ada tuhan-tuhan di sampingNya sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Pemilik 'Arasy.' Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya." (Al-Isra`: 42-43). Karenanya, Allah berfirman, ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka Mahasuci Allah," Dia berlepas diri dan Suci dari segala kekurangan yang mengarah pada kesempurnaanNya ﴾ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "Yang mempunyai 'Arasy," yang menjadi atap seluruh makhluk, tempat yang paling luas dan paling agung. Maka, rububiyah (pengaturan) Allah terhadap makhluk-makhluk lain yang lebih kecil dari Arasy adalah lebih masuk akal ﴾ عَمَّا يَصِفُونَ 22 ﴿ "dari apa yang mereka sifatkan," yaitu orang-orang yang menentang dan mengingkari, berupa (tindakan) penisbatan anak dan istri bagi Allah, serta kepemilikan sekutu dari segala aspek.
(23) ﴾ لَا يُسۡـَٔلُ عَمَّا يَفۡعَلُ ﴿ "Dia tidak ditanya tentang apa yang diper-buatNya," karena kebesaran, kemuliaan, dan kesempurnaan kekua-saanNya. Tidak ada satu makhluk pun yang sanggup melawan dan menghambatNya, baik dengan perkataan ataupun tindakan. Lantaran kesempurnaan hikmahNya dan peletakan berbagai kete-tapan olehNya pada tempatnya, serta keelokan penangananNya pada bentuk yang terbaik, yang dapat dicerna oleh akal. Sehingga tidak ada pertanyaan yang tertuju padaNya. Sebab penciptaanNya tidak mengandung cacat atau kerusakan. ﴾ وَهُمۡ ﴿ "Dan merekalah," yakni para makhluk ﴾ يُسۡـَٔلُونَ 23 ﴿ "yang akan ditanyai,"tentang tindak-tanduk dan tutur kata mereka lantaran ketidakberdayaan dan kekerdilan mereka. Pasalnya, mereka adalah para hamba Allah. Perbuatan-perbuatan dan gerak-gerik mereka sudah tersuratkan. Tidak ada hak kewenangan penanganan dan pengaturan yang mereka miliki ataupun yang dimiliki oleh pihak lain sekecil biji gandum sekalipun.
(24) Setelah itu, Allah kembali merendahkan penilaian terhadap kondisi orang-orang kafir saat mereka memposisikan sesembahan lain selain Allah. Maka, Allah berfirman untuk mem-buruk-burukkan dan menggertak mereka,﴾ أَمِ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَٰنَكُمۡۖ ﴿ "Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selainnya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujjahmu'," yaitu hujjah dan bukti kalian yang me-nunjukkan kebenaran pandangan-pandangan kalian. Mereka tidak akan menemukan satu cara pun. Justru, bukti-bukti yang pasti tegak membuktikan kebatilannya. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا ذِكۡرُ مَن مَّعِيَ وَذِكۡرُ مَن قَبۡلِيۚ ﴿ "(Al-Qur`an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku," maksudnya kitab-kitab dan aturan-aturan syariat ilahi telah bersesuaian mengenai keakuratan perkataan yang aku sampaikan kepada kalian tentang kebatilan syirik. Lihatlah, ini Kitab Allah yang di dalamnya terdapat kete-tapan segala sesuatu yang berdasarkan dalil-dalil logika maupun naqliyah. Lihatlah, kitab-kitab (Allah) sebelum al-Qur`an, semuanya merupakan petunjuk dan bukti penguat apa yang aku katakan. Ketika sudah diketahui, telah tegak hujjah dan petunjuk bagi me-reka yang menunjukkan kebatilan asumsi mereka, maka diketahui bahwa mereka tidak mempunyai satu bukti pun. Pasalnya, petun-juk yang tegas telah meneguhkan tidak adanya penantang bagi Allah. Kalau tidak demikian, maka petunjuk tersebut belum kokoh. Seandainya terdapat penentangan-penentangan, itu tiada lain ha-nyalah lontaran-lontaran syubhat yang tidak mampu menangkis kebenaran sedikit pun. Firman Allah, ﴾ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٱلۡحَقَّۖ ﴿ "Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui al-haq," maksudnya mereka tetap berkutat dengan pegangan mereka sebagai bentuk sikap taklid kepada para pendahulu mereka. Mereka mendebat tanpa ilmu (yang benar) dan petunjuk. Ketidaktahuan mereka tentang kebenaran bukan lantaran tersembunyi atau ketidakjelasan kebenaran tersebut. Tetapi, tidak lain terdorong oleh antipati mereka terhadap kebenaran. Apabila tidak demikian, seandainya mereka menolehkan kepala ke arahnya sedikit saja, niscaya kebenaran akan menjadi jelas bagi mereka, ber-beda dengan kebatilan dengan perbedaan yang sangat signifikan. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَهُم مُّعۡرِضُونَ 24 ﴿ "Karena mereka berpaling."
(25) Ketika Allah تعالى mengalihkan pembicaraan tentang orang-orang terdahulu dan memerintahkan untuk mengaca kepada mereka dalam masalah ini, maka Dia menerangkan dengan kete-rangan yang sangat jelas dalam FirmanNya, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 25 ﴿ "Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan pasti Kami wahyukan kepadanya, 'Bah-wasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka kalian sembahlah Aku'." Seluruh utusan Allah sebelummu yang di-utus dengan dibekali kitab-kitab, intisari misi dan prinsipnya ialah perintah untuk beribadah kepada Alllah semata, tiada sekutu bagi-Nya, serta penjelasan bahwa Dia-lah Dzat Yang Mahabenar lagi disembah dan bahwa peribadahan kepada selainNya adalah batil.
Al-Anbiya' 21:22
"Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai 'Arasy dari apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang akan ditanyai. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selainNya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujjahmu! (al-Qur`an ) ini adalah petunjuk bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang sebelumku.' Sebenar-nya kebanyakan mereka tidak mengetahui yang haq, karena itu mereka berpaling. Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan pasti Kami wahyukan kepadanya, 'Bah-wasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka kalian sembahlah Aku'." (Al-Anbiya`: 21-25).
(21) Tatkala Allah تعالى menjelaskan kesempurnaan kekua-saanNya dan keagunganNya serta ketundukan segala sesuatu kepadaNya, maka Dia mengingkari kaum musyrikin yang telah menjadikan selainNya sebagai sesembahan dari bumi, yang berada dalam titik puncak kelemahan dan ketidakberdayaan. ﴾ هُمۡ يُنشِرُونَ 21 ﴿ "Mereka dapat menghidupkan (orang-orang mati)," ini merupakan bentuk pertanyaan, tetapi bermakna penafian (peniadaan). Maksud-nya, mereka tidak mampu untuk menghidupkan dan menghimpun mereka. Hal ini diterangkan oleh Firman Allah تعالى, ﴾ وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗ لَّا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ وَلَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ ضَرّٗا وَلَا نَفۡعٗا وَلَا يَمۡلِكُونَ مَوۡتٗا وَلَا حَيَوٰةٗ وَلَا نُشُورٗا 3 ﴿ "Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain dariNya (untuk disembah) yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) mem-bangkitkan." (Al-Furqan: 3) ﴾ وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ ءَالِهَةٗ لَّعَلَّهُمۡ يُنصَرُونَ 74 لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَهُمۡ وَهُمۡ لَهُمۡ جُندٞ مُّحۡضَرُونَ 75 ﴿ "Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka. Padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75).
(22) Orang musyrik menyembah makhluk yang tidak bisa memberikan manfaat atau membahayakan dengan meninggalkan sikap keikhlasan kepada Allah, Dzat yang mempunyai seluruh kesempurnaan. Di TanganNya-lah terdapat (kendali) segala urusan, manfaat, dan bahaya. Ini (perbuatan orang musyrik itu) termasuk (cerminan) tidak adanya taufik Allah padanya, buruknya keberun-tungannya, kebodohannya yang parah, dan besarnya ulah kezha-limannya. Sesungguhnya alam semesta ini tidak akan menjadi baik kecuali bila berada di bawah satu sesembahan semata. Sebagaimana tidaklah alam (ini) diadakan kecuali oleh satu pemilik (Rabb). Ka-renanya, Allah berfirman, ﴾ لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ ﴿ "Sekiranya di dalam keduanya," yaitu di langit dan bumi ﴾ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ ﴿ "terdapat tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa," pada bentuk kedua-nya, dan rusak pula makhluk-makhluk yang berada di dalamnya. Penjelasannya sebagai berikut: Bumi lapisan atas dan lapisan bawah berdasarkan pemandangan yang terlihat dalam bentuk yang paling sempurna ditilik dari aspek keindahan dan keteraturan, yang tidak ada celah kekurangan, cacat, pertentangan, dan kontradiksi di dalamnya, hal ini mengindikasikan bahwa Dzat yang mengatur-nya satu, Pemiliknya satu dan Tuhannya satu. Andai saja, alam ini mempunyai dua pengatur dan dua pemilik atau lebih dari itu, niscaya aturan geraknya akan carut-marut, tiang-tiangnya akan roboh, kedua-duanya akan saling bertentangan dan berlawanan. Jika salah satu dari keduanya ingin menetapkan suatu pengaturan tertentu, sementara pihak lain tidak menghendakinya, niscaya rea-lisasi keinginan mereka berdua secara sekaligus merupakan bentuk kemustahilan. Dan terealisasinya keinginan salah satu pihak, semen-tara kehendak yang lain tidak terwujud, menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan pihak yang lain itu. Sedangkan keserasian dua belah pihak pada satu kesepakatan bulat dalam seluruh per-kara adalah tidak mungkin juga. Oleh karenanya, menjadi sebuah kepastian bahwa Dzat yang Perkasa yang kehendakNya semata yang dapat terwujudkan (sesuatu) tanpa ada penentang atau penyanggah, Dia adalah Allah Yang Mahasatu lagi Mahaperkasa. Karena ini, Allah menyebutkan sebuah bentuk dalil tamanu' (kontra-diktif) dengan FirmanNya, ﴾ مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٖ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنۡ إِلَٰهٍۚ إِذٗا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهِۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ 91 ﴿ "Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya. (Kalau ada tuhan besertaNya) masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan seba-gian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha-suci Allah dari apa yang mereka sifatkan." (Al-Mu`minun: 91). Senada dengan ayat di atas, penggunaan ayat berikut ber-dasarkan salah satu tafsirannya, ﴾ قُل لَّوۡ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٞ كَمَا يَقُولُونَ إِذٗا لَّٱبۡتَغَوۡاْ إِلَىٰ ذِي ٱلۡعَرۡشِ سَبِيلٗا 42 سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوّٗا كَبِيرٗا 43 ﴿ "Katakanlah, 'Jikalau ada tuhan-tuhan di sampingNya sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Pemilik 'Arasy.' Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya." (Al-Isra`: 42-43). Karenanya, Allah berfirman, ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka Mahasuci Allah," Dia berlepas diri dan Suci dari segala kekurangan yang mengarah pada kesempurnaanNya ﴾ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "Yang mempunyai 'Arasy," yang menjadi atap seluruh makhluk, tempat yang paling luas dan paling agung. Maka, rububiyah (pengaturan) Allah terhadap makhluk-makhluk lain yang lebih kecil dari Arasy adalah lebih masuk akal ﴾ عَمَّا يَصِفُونَ 22 ﴿ "dari apa yang mereka sifatkan," yaitu orang-orang yang menentang dan mengingkari, berupa (tindakan) penisbatan anak dan istri bagi Allah, serta kepemilikan sekutu dari segala aspek.
(23) ﴾ لَا يُسۡـَٔلُ عَمَّا يَفۡعَلُ ﴿ "Dia tidak ditanya tentang apa yang diper-buatNya," karena kebesaran, kemuliaan, dan kesempurnaan kekua-saanNya. Tidak ada satu makhluk pun yang sanggup melawan dan menghambatNya, baik dengan perkataan ataupun tindakan. Lantaran kesempurnaan hikmahNya dan peletakan berbagai kete-tapan olehNya pada tempatnya, serta keelokan penangananNya pada bentuk yang terbaik, yang dapat dicerna oleh akal. Sehingga tidak ada pertanyaan yang tertuju padaNya. Sebab penciptaanNya tidak mengandung cacat atau kerusakan. ﴾ وَهُمۡ ﴿ "Dan merekalah," yakni para makhluk ﴾ يُسۡـَٔلُونَ 23 ﴿ "yang akan ditanyai,"tentang tindak-tanduk dan tutur kata mereka lantaran ketidakberdayaan dan kekerdilan mereka. Pasalnya, mereka adalah para hamba Allah. Perbuatan-perbuatan dan gerak-gerik mereka sudah tersuratkan. Tidak ada hak kewenangan penanganan dan pengaturan yang mereka miliki ataupun yang dimiliki oleh pihak lain sekecil biji gandum sekalipun.
(24) Setelah itu, Allah kembali merendahkan penilaian terhadap kondisi orang-orang kafir saat mereka memposisikan sesembahan lain selain Allah. Maka, Allah berfirman untuk mem-buruk-burukkan dan menggertak mereka,﴾ أَمِ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَٰنَكُمۡۖ ﴿ "Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selainnya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujjahmu'," yaitu hujjah dan bukti kalian yang me-nunjukkan kebenaran pandangan-pandangan kalian. Mereka tidak akan menemukan satu cara pun. Justru, bukti-bukti yang pasti tegak membuktikan kebatilannya. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا ذِكۡرُ مَن مَّعِيَ وَذِكۡرُ مَن قَبۡلِيۚ ﴿ "(Al-Qur`an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku," maksudnya kitab-kitab dan aturan-aturan syariat ilahi telah bersesuaian mengenai keakuratan perkataan yang aku sampaikan kepada kalian tentang kebatilan syirik. Lihatlah, ini Kitab Allah yang di dalamnya terdapat kete-tapan segala sesuatu yang berdasarkan dalil-dalil logika maupun naqliyah. Lihatlah, kitab-kitab (Allah) sebelum al-Qur`an, semuanya merupakan petunjuk dan bukti penguat apa yang aku katakan. Ketika sudah diketahui, telah tegak hujjah dan petunjuk bagi me-reka yang menunjukkan kebatilan asumsi mereka, maka diketahui bahwa mereka tidak mempunyai satu bukti pun. Pasalnya, petun-juk yang tegas telah meneguhkan tidak adanya penantang bagi Allah. Kalau tidak demikian, maka petunjuk tersebut belum kokoh. Seandainya terdapat penentangan-penentangan, itu tiada lain ha-nyalah lontaran-lontaran syubhat yang tidak mampu menangkis kebenaran sedikit pun. Firman Allah, ﴾ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٱلۡحَقَّۖ ﴿ "Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui al-haq," maksudnya mereka tetap berkutat dengan pegangan mereka sebagai bentuk sikap taklid kepada para pendahulu mereka. Mereka mendebat tanpa ilmu (yang benar) dan petunjuk. Ketidaktahuan mereka tentang kebenaran bukan lantaran tersembunyi atau ketidakjelasan kebenaran tersebut. Tetapi, tidak lain terdorong oleh antipati mereka terhadap kebenaran. Apabila tidak demikian, seandainya mereka menolehkan kepala ke arahnya sedikit saja, niscaya kebenaran akan menjadi jelas bagi mereka, ber-beda dengan kebatilan dengan perbedaan yang sangat signifikan. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَهُم مُّعۡرِضُونَ 24 ﴿ "Karena mereka berpaling."
(25) Ketika Allah تعالى mengalihkan pembicaraan tentang orang-orang terdahulu dan memerintahkan untuk mengaca kepada mereka dalam masalah ini, maka Dia menerangkan dengan kete-rangan yang sangat jelas dalam FirmanNya, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 25 ﴿ "Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan pasti Kami wahyukan kepadanya, 'Bah-wasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka kalian sembahlah Aku'." Seluruh utusan Allah sebelummu yang di-utus dengan dibekali kitab-kitab, intisari misi dan prinsipnya ialah perintah untuk beribadah kepada Alllah semata, tiada sekutu bagi-Nya, serta penjelasan bahwa Dia-lah Dzat Yang Mahabenar lagi disembah dan bahwa peribadahan kepada selainNya adalah batil.
Al-Anbiya' 21:23
"Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai 'Arasy dari apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang akan ditanyai. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selainNya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujjahmu! (al-Qur`an ) ini adalah petunjuk bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang sebelumku.' Sebenar-nya kebanyakan mereka tidak mengetahui yang haq, karena itu mereka berpaling. Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan pasti Kami wahyukan kepadanya, 'Bah-wasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka kalian sembahlah Aku'." (Al-Anbiya`: 21-25).
(21) Tatkala Allah تعالى menjelaskan kesempurnaan kekua-saanNya dan keagunganNya serta ketundukan segala sesuatu kepadaNya, maka Dia mengingkari kaum musyrikin yang telah menjadikan selainNya sebagai sesembahan dari bumi, yang berada dalam titik puncak kelemahan dan ketidakberdayaan. ﴾ هُمۡ يُنشِرُونَ 21 ﴿ "Mereka dapat menghidupkan (orang-orang mati)," ini merupakan bentuk pertanyaan, tetapi bermakna penafian (peniadaan). Maksud-nya, mereka tidak mampu untuk menghidupkan dan menghimpun mereka. Hal ini diterangkan oleh Firman Allah تعالى, ﴾ وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗ لَّا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ وَلَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ ضَرّٗا وَلَا نَفۡعٗا وَلَا يَمۡلِكُونَ مَوۡتٗا وَلَا حَيَوٰةٗ وَلَا نُشُورٗا 3 ﴿ "Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain dariNya (untuk disembah) yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) mem-bangkitkan." (Al-Furqan: 3) ﴾ وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ ءَالِهَةٗ لَّعَلَّهُمۡ يُنصَرُونَ 74 لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَهُمۡ وَهُمۡ لَهُمۡ جُندٞ مُّحۡضَرُونَ 75 ﴿ "Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka. Padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75).
(22) Orang musyrik menyembah makhluk yang tidak bisa memberikan manfaat atau membahayakan dengan meninggalkan sikap keikhlasan kepada Allah, Dzat yang mempunyai seluruh kesempurnaan. Di TanganNya-lah terdapat (kendali) segala urusan, manfaat, dan bahaya. Ini (perbuatan orang musyrik itu) termasuk (cerminan) tidak adanya taufik Allah padanya, buruknya keberun-tungannya, kebodohannya yang parah, dan besarnya ulah kezha-limannya. Sesungguhnya alam semesta ini tidak akan menjadi baik kecuali bila berada di bawah satu sesembahan semata. Sebagaimana tidaklah alam (ini) diadakan kecuali oleh satu pemilik (Rabb). Ka-renanya, Allah berfirman, ﴾ لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ ﴿ "Sekiranya di dalam keduanya," yaitu di langit dan bumi ﴾ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ ﴿ "terdapat tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa," pada bentuk kedua-nya, dan rusak pula makhluk-makhluk yang berada di dalamnya. Penjelasannya sebagai berikut: Bumi lapisan atas dan lapisan bawah berdasarkan pemandangan yang terlihat dalam bentuk yang paling sempurna ditilik dari aspek keindahan dan keteraturan, yang tidak ada celah kekurangan, cacat, pertentangan, dan kontradiksi di dalamnya, hal ini mengindikasikan bahwa Dzat yang mengatur-nya satu, Pemiliknya satu dan Tuhannya satu. Andai saja, alam ini mempunyai dua pengatur dan dua pemilik atau lebih dari itu, niscaya aturan geraknya akan carut-marut, tiang-tiangnya akan roboh, kedua-duanya akan saling bertentangan dan berlawanan. Jika salah satu dari keduanya ingin menetapkan suatu pengaturan tertentu, sementara pihak lain tidak menghendakinya, niscaya rea-lisasi keinginan mereka berdua secara sekaligus merupakan bentuk kemustahilan. Dan terealisasinya keinginan salah satu pihak, semen-tara kehendak yang lain tidak terwujud, menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan pihak yang lain itu. Sedangkan keserasian dua belah pihak pada satu kesepakatan bulat dalam seluruh per-kara adalah tidak mungkin juga. Oleh karenanya, menjadi sebuah kepastian bahwa Dzat yang Perkasa yang kehendakNya semata yang dapat terwujudkan (sesuatu) tanpa ada penentang atau penyanggah, Dia adalah Allah Yang Mahasatu lagi Mahaperkasa. Karena ini, Allah menyebutkan sebuah bentuk dalil tamanu' (kontra-diktif) dengan FirmanNya, ﴾ مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٖ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنۡ إِلَٰهٍۚ إِذٗا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهِۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ 91 ﴿ "Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya. (Kalau ada tuhan besertaNya) masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan seba-gian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha-suci Allah dari apa yang mereka sifatkan." (Al-Mu`minun: 91). Senada dengan ayat di atas, penggunaan ayat berikut ber-dasarkan salah satu tafsirannya, ﴾ قُل لَّوۡ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٞ كَمَا يَقُولُونَ إِذٗا لَّٱبۡتَغَوۡاْ إِلَىٰ ذِي ٱلۡعَرۡشِ سَبِيلٗا 42 سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوّٗا كَبِيرٗا 43 ﴿ "Katakanlah, 'Jikalau ada tuhan-tuhan di sampingNya sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Pemilik 'Arasy.' Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya." (Al-Isra`: 42-43). Karenanya, Allah berfirman, ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka Mahasuci Allah," Dia berlepas diri dan Suci dari segala kekurangan yang mengarah pada kesempurnaanNya ﴾ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "Yang mempunyai 'Arasy," yang menjadi atap seluruh makhluk, tempat yang paling luas dan paling agung. Maka, rububiyah (pengaturan) Allah terhadap makhluk-makhluk lain yang lebih kecil dari Arasy adalah lebih masuk akal ﴾ عَمَّا يَصِفُونَ 22 ﴿ "dari apa yang mereka sifatkan," yaitu orang-orang yang menentang dan mengingkari, berupa (tindakan) penisbatan anak dan istri bagi Allah, serta kepemilikan sekutu dari segala aspek.
(23) ﴾ لَا يُسۡـَٔلُ عَمَّا يَفۡعَلُ ﴿ "Dia tidak ditanya tentang apa yang diper-buatNya," karena kebesaran, kemuliaan, dan kesempurnaan kekua-saanNya. Tidak ada satu makhluk pun yang sanggup melawan dan menghambatNya, baik dengan perkataan ataupun tindakan. Lantaran kesempurnaan hikmahNya dan peletakan berbagai kete-tapan olehNya pada tempatnya, serta keelokan penangananNya pada bentuk yang terbaik, yang dapat dicerna oleh akal. Sehingga tidak ada pertanyaan yang tertuju padaNya. Sebab penciptaanNya tidak mengandung cacat atau kerusakan. ﴾ وَهُمۡ ﴿ "Dan merekalah," yakni para makhluk ﴾ يُسۡـَٔلُونَ 23 ﴿ "yang akan ditanyai,"tentang tindak-tanduk dan tutur kata mereka lantaran ketidakberdayaan dan kekerdilan mereka. Pasalnya, mereka adalah para hamba Allah. Perbuatan-perbuatan dan gerak-gerik mereka sudah tersuratkan. Tidak ada hak kewenangan penanganan dan pengaturan yang mereka miliki ataupun yang dimiliki oleh pihak lain sekecil biji gandum sekalipun.
(24) Setelah itu, Allah kembali merendahkan penilaian terhadap kondisi orang-orang kafir saat mereka memposisikan sesembahan lain selain Allah. Maka, Allah berfirman untuk mem-buruk-burukkan dan menggertak mereka,﴾ أَمِ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَٰنَكُمۡۖ ﴿ "Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selainnya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujjahmu'," yaitu hujjah dan bukti kalian yang me-nunjukkan kebenaran pandangan-pandangan kalian. Mereka tidak akan menemukan satu cara pun. Justru, bukti-bukti yang pasti tegak membuktikan kebatilannya. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا ذِكۡرُ مَن مَّعِيَ وَذِكۡرُ مَن قَبۡلِيۚ ﴿ "(Al-Qur`an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku," maksudnya kitab-kitab dan aturan-aturan syariat ilahi telah bersesuaian mengenai keakuratan perkataan yang aku sampaikan kepada kalian tentang kebatilan syirik. Lihatlah, ini Kitab Allah yang di dalamnya terdapat kete-tapan segala sesuatu yang berdasarkan dalil-dalil logika maupun naqliyah. Lihatlah, kitab-kitab (Allah) sebelum al-Qur`an, semuanya merupakan petunjuk dan bukti penguat apa yang aku katakan. Ketika sudah diketahui, telah tegak hujjah dan petunjuk bagi me-reka yang menunjukkan kebatilan asumsi mereka, maka diketahui bahwa mereka tidak mempunyai satu bukti pun. Pasalnya, petun-juk yang tegas telah meneguhkan tidak adanya penantang bagi Allah. Kalau tidak demikian, maka petunjuk tersebut belum kokoh. Seandainya terdapat penentangan-penentangan, itu tiada lain ha-nyalah lontaran-lontaran syubhat yang tidak mampu menangkis kebenaran sedikit pun. Firman Allah, ﴾ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٱلۡحَقَّۖ ﴿ "Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui al-haq," maksudnya mereka tetap berkutat dengan pegangan mereka sebagai bentuk sikap taklid kepada para pendahulu mereka. Mereka mendebat tanpa ilmu (yang benar) dan petunjuk. Ketidaktahuan mereka tentang kebenaran bukan lantaran tersembunyi atau ketidakjelasan kebenaran tersebut. Tetapi, tidak lain terdorong oleh antipati mereka terhadap kebenaran. Apabila tidak demikian, seandainya mereka menolehkan kepala ke arahnya sedikit saja, niscaya kebenaran akan menjadi jelas bagi mereka, ber-beda dengan kebatilan dengan perbedaan yang sangat signifikan. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَهُم مُّعۡرِضُونَ 24 ﴿ "Karena mereka berpaling."
(25) Ketika Allah تعالى mengalihkan pembicaraan tentang orang-orang terdahulu dan memerintahkan untuk mengaca kepada mereka dalam masalah ini, maka Dia menerangkan dengan kete-rangan yang sangat jelas dalam FirmanNya, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 25 ﴿ "Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan pasti Kami wahyukan kepadanya, 'Bah-wasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka kalian sembahlah Aku'." Seluruh utusan Allah sebelummu yang di-utus dengan dibekali kitab-kitab, intisari misi dan prinsipnya ialah perintah untuk beribadah kepada Alllah semata, tiada sekutu bagi-Nya, serta penjelasan bahwa Dia-lah Dzat Yang Mahabenar lagi disembah dan bahwa peribadahan kepada selainNya adalah batil.
Al-Anbiya' 21:24
"Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai 'Arasy dari apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang akan ditanyai. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selainNya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujjahmu! (al-Qur`an ) ini adalah petunjuk bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang sebelumku.' Sebenar-nya kebanyakan mereka tidak mengetahui yang haq, karena itu mereka berpaling. Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan pasti Kami wahyukan kepadanya, 'Bah-wasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka kalian sembahlah Aku'." (Al-Anbiya`: 21-25).
(21) Tatkala Allah تعالى menjelaskan kesempurnaan kekua-saanNya dan keagunganNya serta ketundukan segala sesuatu kepadaNya, maka Dia mengingkari kaum musyrikin yang telah menjadikan selainNya sebagai sesembahan dari bumi, yang berada dalam titik puncak kelemahan dan ketidakberdayaan. ﴾ هُمۡ يُنشِرُونَ 21 ﴿ "Mereka dapat menghidupkan (orang-orang mati)," ini merupakan bentuk pertanyaan, tetapi bermakna penafian (peniadaan). Maksud-nya, mereka tidak mampu untuk menghidupkan dan menghimpun mereka. Hal ini diterangkan oleh Firman Allah تعالى, ﴾ وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗ لَّا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ وَلَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ ضَرّٗا وَلَا نَفۡعٗا وَلَا يَمۡلِكُونَ مَوۡتٗا وَلَا حَيَوٰةٗ وَلَا نُشُورٗا 3 ﴿ "Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain dariNya (untuk disembah) yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) mem-bangkitkan." (Al-Furqan: 3) ﴾ وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ ءَالِهَةٗ لَّعَلَّهُمۡ يُنصَرُونَ 74 لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَهُمۡ وَهُمۡ لَهُمۡ جُندٞ مُّحۡضَرُونَ 75 ﴿ "Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka. Padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75).
(22) Orang musyrik menyembah makhluk yang tidak bisa memberikan manfaat atau membahayakan dengan meninggalkan sikap keikhlasan kepada Allah, Dzat yang mempunyai seluruh kesempurnaan. Di TanganNya-lah terdapat (kendali) segala urusan, manfaat, dan bahaya. Ini (perbuatan orang musyrik itu) termasuk (cerminan) tidak adanya taufik Allah padanya, buruknya keberun-tungannya, kebodohannya yang parah, dan besarnya ulah kezha-limannya. Sesungguhnya alam semesta ini tidak akan menjadi baik kecuali bila berada di bawah satu sesembahan semata. Sebagaimana tidaklah alam (ini) diadakan kecuali oleh satu pemilik (Rabb). Ka-renanya, Allah berfirman, ﴾ لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ ﴿ "Sekiranya di dalam keduanya," yaitu di langit dan bumi ﴾ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ ﴿ "terdapat tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa," pada bentuk kedua-nya, dan rusak pula makhluk-makhluk yang berada di dalamnya. Penjelasannya sebagai berikut: Bumi lapisan atas dan lapisan bawah berdasarkan pemandangan yang terlihat dalam bentuk yang paling sempurna ditilik dari aspek keindahan dan keteraturan, yang tidak ada celah kekurangan, cacat, pertentangan, dan kontradiksi di dalamnya, hal ini mengindikasikan bahwa Dzat yang mengatur-nya satu, Pemiliknya satu dan Tuhannya satu. Andai saja, alam ini mempunyai dua pengatur dan dua pemilik atau lebih dari itu, niscaya aturan geraknya akan carut-marut, tiang-tiangnya akan roboh, kedua-duanya akan saling bertentangan dan berlawanan. Jika salah satu dari keduanya ingin menetapkan suatu pengaturan tertentu, sementara pihak lain tidak menghendakinya, niscaya rea-lisasi keinginan mereka berdua secara sekaligus merupakan bentuk kemustahilan. Dan terealisasinya keinginan salah satu pihak, semen-tara kehendak yang lain tidak terwujud, menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan pihak yang lain itu. Sedangkan keserasian dua belah pihak pada satu kesepakatan bulat dalam seluruh per-kara adalah tidak mungkin juga. Oleh karenanya, menjadi sebuah kepastian bahwa Dzat yang Perkasa yang kehendakNya semata yang dapat terwujudkan (sesuatu) tanpa ada penentang atau penyanggah, Dia adalah Allah Yang Mahasatu lagi Mahaperkasa. Karena ini, Allah menyebutkan sebuah bentuk dalil tamanu' (kontra-diktif) dengan FirmanNya, ﴾ مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٖ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنۡ إِلَٰهٍۚ إِذٗا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهِۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ 91 ﴿ "Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya. (Kalau ada tuhan besertaNya) masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan seba-gian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha-suci Allah dari apa yang mereka sifatkan." (Al-Mu`minun: 91). Senada dengan ayat di atas, penggunaan ayat berikut ber-dasarkan salah satu tafsirannya, ﴾ قُل لَّوۡ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٞ كَمَا يَقُولُونَ إِذٗا لَّٱبۡتَغَوۡاْ إِلَىٰ ذِي ٱلۡعَرۡشِ سَبِيلٗا 42 سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوّٗا كَبِيرٗا 43 ﴿ "Katakanlah, 'Jikalau ada tuhan-tuhan di sampingNya sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Pemilik 'Arasy.' Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya." (Al-Isra`: 42-43). Karenanya, Allah berfirman, ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka Mahasuci Allah," Dia berlepas diri dan Suci dari segala kekurangan yang mengarah pada kesempurnaanNya ﴾ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "Yang mempunyai 'Arasy," yang menjadi atap seluruh makhluk, tempat yang paling luas dan paling agung. Maka, rububiyah (pengaturan) Allah terhadap makhluk-makhluk lain yang lebih kecil dari Arasy adalah lebih masuk akal ﴾ عَمَّا يَصِفُونَ 22 ﴿ "dari apa yang mereka sifatkan," yaitu orang-orang yang menentang dan mengingkari, berupa (tindakan) penisbatan anak dan istri bagi Allah, serta kepemilikan sekutu dari segala aspek.
(23) ﴾ لَا يُسۡـَٔلُ عَمَّا يَفۡعَلُ ﴿ "Dia tidak ditanya tentang apa yang diper-buatNya," karena kebesaran, kemuliaan, dan kesempurnaan kekua-saanNya. Tidak ada satu makhluk pun yang sanggup melawan dan menghambatNya, baik dengan perkataan ataupun tindakan. Lantaran kesempurnaan hikmahNya dan peletakan berbagai kete-tapan olehNya pada tempatnya, serta keelokan penangananNya pada bentuk yang terbaik, yang dapat dicerna oleh akal. Sehingga tidak ada pertanyaan yang tertuju padaNya. Sebab penciptaanNya tidak mengandung cacat atau kerusakan. ﴾ وَهُمۡ ﴿ "Dan merekalah," yakni para makhluk ﴾ يُسۡـَٔلُونَ 23 ﴿ "yang akan ditanyai,"tentang tindak-tanduk dan tutur kata mereka lantaran ketidakberdayaan dan kekerdilan mereka. Pasalnya, mereka adalah para hamba Allah. Perbuatan-perbuatan dan gerak-gerik mereka sudah tersuratkan. Tidak ada hak kewenangan penanganan dan pengaturan yang mereka miliki ataupun yang dimiliki oleh pihak lain sekecil biji gandum sekalipun.
(24) Setelah itu, Allah kembali merendahkan penilaian terhadap kondisi orang-orang kafir saat mereka memposisikan sesembahan lain selain Allah. Maka, Allah berfirman untuk mem-buruk-burukkan dan menggertak mereka,﴾ أَمِ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَٰنَكُمۡۖ ﴿ "Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selainnya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujjahmu'," yaitu hujjah dan bukti kalian yang me-nunjukkan kebenaran pandangan-pandangan kalian. Mereka tidak akan menemukan satu cara pun. Justru, bukti-bukti yang pasti tegak membuktikan kebatilannya. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا ذِكۡرُ مَن مَّعِيَ وَذِكۡرُ مَن قَبۡلِيۚ ﴿ "(Al-Qur`an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku," maksudnya kitab-kitab dan aturan-aturan syariat ilahi telah bersesuaian mengenai keakuratan perkataan yang aku sampaikan kepada kalian tentang kebatilan syirik. Lihatlah, ini Kitab Allah yang di dalamnya terdapat kete-tapan segala sesuatu yang berdasarkan dalil-dalil logika maupun naqliyah. Lihatlah, kitab-kitab (Allah) sebelum al-Qur`an, semuanya merupakan petunjuk dan bukti penguat apa yang aku katakan. Ketika sudah diketahui, telah tegak hujjah dan petunjuk bagi me-reka yang menunjukkan kebatilan asumsi mereka, maka diketahui bahwa mereka tidak mempunyai satu bukti pun. Pasalnya, petun-juk yang tegas telah meneguhkan tidak adanya penantang bagi Allah. Kalau tidak demikian, maka petunjuk tersebut belum kokoh. Seandainya terdapat penentangan-penentangan, itu tiada lain ha-nyalah lontaran-lontaran syubhat yang tidak mampu menangkis kebenaran sedikit pun. Firman Allah, ﴾ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٱلۡحَقَّۖ ﴿ "Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui al-haq," maksudnya mereka tetap berkutat dengan pegangan mereka sebagai bentuk sikap taklid kepada para pendahulu mereka. Mereka mendebat tanpa ilmu (yang benar) dan petunjuk. Ketidaktahuan mereka tentang kebenaran bukan lantaran tersembunyi atau ketidakjelasan kebenaran tersebut. Tetapi, tidak lain terdorong oleh antipati mereka terhadap kebenaran. Apabila tidak demikian, seandainya mereka menolehkan kepala ke arahnya sedikit saja, niscaya kebenaran akan menjadi jelas bagi mereka, ber-beda dengan kebatilan dengan perbedaan yang sangat signifikan. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَهُم مُّعۡرِضُونَ 24 ﴿ "Karena mereka berpaling."
(25) Ketika Allah تعالى mengalihkan pembicaraan tentang orang-orang terdahulu dan memerintahkan untuk mengaca kepada mereka dalam masalah ini, maka Dia menerangkan dengan kete-rangan yang sangat jelas dalam FirmanNya, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 25 ﴿ "Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan pasti Kami wahyukan kepadanya, 'Bah-wasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka kalian sembahlah Aku'." Seluruh utusan Allah sebelummu yang di-utus dengan dibekali kitab-kitab, intisari misi dan prinsipnya ialah perintah untuk beribadah kepada Alllah semata, tiada sekutu bagi-Nya, serta penjelasan bahwa Dia-lah Dzat Yang Mahabenar lagi disembah dan bahwa peribadahan kepada selainNya adalah batil.
Al-Anbiya' 21:25
"Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai 'Arasy dari apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang akan ditanyai. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selainNya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujjahmu! (al-Qur`an ) ini adalah petunjuk bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang sebelumku.' Sebenar-nya kebanyakan mereka tidak mengetahui yang haq, karena itu mereka berpaling. Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan pasti Kami wahyukan kepadanya, 'Bah-wasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka kalian sembahlah Aku'." (Al-Anbiya`: 21-25).
(21) Tatkala Allah تعالى menjelaskan kesempurnaan kekua-saanNya dan keagunganNya serta ketundukan segala sesuatu kepadaNya, maka Dia mengingkari kaum musyrikin yang telah menjadikan selainNya sebagai sesembahan dari bumi, yang berada dalam titik puncak kelemahan dan ketidakberdayaan. ﴾ هُمۡ يُنشِرُونَ 21 ﴿ "Mereka dapat menghidupkan (orang-orang mati)," ini merupakan bentuk pertanyaan, tetapi bermakna penafian (peniadaan). Maksud-nya, mereka tidak mampu untuk menghidupkan dan menghimpun mereka. Hal ini diterangkan oleh Firman Allah تعالى, ﴾ وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗ لَّا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ وَلَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ ضَرّٗا وَلَا نَفۡعٗا وَلَا يَمۡلِكُونَ مَوۡتٗا وَلَا حَيَوٰةٗ وَلَا نُشُورٗا 3 ﴿ "Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain dariNya (untuk disembah) yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) mem-bangkitkan." (Al-Furqan: 3) ﴾ وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ ءَالِهَةٗ لَّعَلَّهُمۡ يُنصَرُونَ 74 لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَهُمۡ وَهُمۡ لَهُمۡ جُندٞ مُّحۡضَرُونَ 75 ﴿ "Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka. Padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75).
(22) Orang musyrik menyembah makhluk yang tidak bisa memberikan manfaat atau membahayakan dengan meninggalkan sikap keikhlasan kepada Allah, Dzat yang mempunyai seluruh kesempurnaan. Di TanganNya-lah terdapat (kendali) segala urusan, manfaat, dan bahaya. Ini (perbuatan orang musyrik itu) termasuk (cerminan) tidak adanya taufik Allah padanya, buruknya keberun-tungannya, kebodohannya yang parah, dan besarnya ulah kezha-limannya. Sesungguhnya alam semesta ini tidak akan menjadi baik kecuali bila berada di bawah satu sesembahan semata. Sebagaimana tidaklah alam (ini) diadakan kecuali oleh satu pemilik (Rabb). Ka-renanya, Allah berfirman, ﴾ لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ ﴿ "Sekiranya di dalam keduanya," yaitu di langit dan bumi ﴾ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ ﴿ "terdapat tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa," pada bentuk kedua-nya, dan rusak pula makhluk-makhluk yang berada di dalamnya. Penjelasannya sebagai berikut: Bumi lapisan atas dan lapisan bawah berdasarkan pemandangan yang terlihat dalam bentuk yang paling sempurna ditilik dari aspek keindahan dan keteraturan, yang tidak ada celah kekurangan, cacat, pertentangan, dan kontradiksi di dalamnya, hal ini mengindikasikan bahwa Dzat yang mengatur-nya satu, Pemiliknya satu dan Tuhannya satu. Andai saja, alam ini mempunyai dua pengatur dan dua pemilik atau lebih dari itu, niscaya aturan geraknya akan carut-marut, tiang-tiangnya akan roboh, kedua-duanya akan saling bertentangan dan berlawanan. Jika salah satu dari keduanya ingin menetapkan suatu pengaturan tertentu, sementara pihak lain tidak menghendakinya, niscaya rea-lisasi keinginan mereka berdua secara sekaligus merupakan bentuk kemustahilan. Dan terealisasinya keinginan salah satu pihak, semen-tara kehendak yang lain tidak terwujud, menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan pihak yang lain itu. Sedangkan keserasian dua belah pihak pada satu kesepakatan bulat dalam seluruh per-kara adalah tidak mungkin juga. Oleh karenanya, menjadi sebuah kepastian bahwa Dzat yang Perkasa yang kehendakNya semata yang dapat terwujudkan (sesuatu) tanpa ada penentang atau penyanggah, Dia adalah Allah Yang Mahasatu lagi Mahaperkasa. Karena ini, Allah menyebutkan sebuah bentuk dalil tamanu' (kontra-diktif) dengan FirmanNya, ﴾ مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٖ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنۡ إِلَٰهٍۚ إِذٗا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهِۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ 91 ﴿ "Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya. (Kalau ada tuhan besertaNya) masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan seba-gian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha-suci Allah dari apa yang mereka sifatkan." (Al-Mu`minun: 91). Senada dengan ayat di atas, penggunaan ayat berikut ber-dasarkan salah satu tafsirannya, ﴾ قُل لَّوۡ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٞ كَمَا يَقُولُونَ إِذٗا لَّٱبۡتَغَوۡاْ إِلَىٰ ذِي ٱلۡعَرۡشِ سَبِيلٗا 42 سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوّٗا كَبِيرٗا 43 ﴿ "Katakanlah, 'Jikalau ada tuhan-tuhan di sampingNya sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Pemilik 'Arasy.' Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya." (Al-Isra`: 42-43). Karenanya, Allah berfirman, ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka Mahasuci Allah," Dia berlepas diri dan Suci dari segala kekurangan yang mengarah pada kesempurnaanNya ﴾ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "Yang mempunyai 'Arasy," yang menjadi atap seluruh makhluk, tempat yang paling luas dan paling agung. Maka, rububiyah (pengaturan) Allah terhadap makhluk-makhluk lain yang lebih kecil dari Arasy adalah lebih masuk akal ﴾ عَمَّا يَصِفُونَ 22 ﴿ "dari apa yang mereka sifatkan," yaitu orang-orang yang menentang dan mengingkari, berupa (tindakan) penisbatan anak dan istri bagi Allah, serta kepemilikan sekutu dari segala aspek.
(23) ﴾ لَا يُسۡـَٔلُ عَمَّا يَفۡعَلُ ﴿ "Dia tidak ditanya tentang apa yang diper-buatNya," karena kebesaran, kemuliaan, dan kesempurnaan kekua-saanNya. Tidak ada satu makhluk pun yang sanggup melawan dan menghambatNya, baik dengan perkataan ataupun tindakan. Lantaran kesempurnaan hikmahNya dan peletakan berbagai kete-tapan olehNya pada tempatnya, serta keelokan penangananNya pada bentuk yang terbaik, yang dapat dicerna oleh akal. Sehingga tidak ada pertanyaan yang tertuju padaNya. Sebab penciptaanNya tidak mengandung cacat atau kerusakan. ﴾ وَهُمۡ ﴿ "Dan merekalah," yakni para makhluk ﴾ يُسۡـَٔلُونَ 23 ﴿ "yang akan ditanyai,"tentang tindak-tanduk dan tutur kata mereka lantaran ketidakberdayaan dan kekerdilan mereka. Pasalnya, mereka adalah para hamba Allah. Perbuatan-perbuatan dan gerak-gerik mereka sudah tersuratkan. Tidak ada hak kewenangan penanganan dan pengaturan yang mereka miliki ataupun yang dimiliki oleh pihak lain sekecil biji gandum sekalipun.
(24) Setelah itu, Allah kembali merendahkan penilaian terhadap kondisi orang-orang kafir saat mereka memposisikan sesembahan lain selain Allah. Maka, Allah berfirman untuk mem-buruk-burukkan dan menggertak mereka,﴾ أَمِ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَٰنَكُمۡۖ ﴿ "Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selainnya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujjahmu'," yaitu hujjah dan bukti kalian yang me-nunjukkan kebenaran pandangan-pandangan kalian. Mereka tidak akan menemukan satu cara pun. Justru, bukti-bukti yang pasti tegak membuktikan kebatilannya. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ هَٰذَا ذِكۡرُ مَن مَّعِيَ وَذِكۡرُ مَن قَبۡلِيۚ ﴿ "(Al-Qur`an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku," maksudnya kitab-kitab dan aturan-aturan syariat ilahi telah bersesuaian mengenai keakuratan perkataan yang aku sampaikan kepada kalian tentang kebatilan syirik. Lihatlah, ini Kitab Allah yang di dalamnya terdapat kete-tapan segala sesuatu yang berdasarkan dalil-dalil logika maupun naqliyah. Lihatlah, kitab-kitab (Allah) sebelum al-Qur`an, semuanya merupakan petunjuk dan bukti penguat apa yang aku katakan. Ketika sudah diketahui, telah tegak hujjah dan petunjuk bagi me-reka yang menunjukkan kebatilan asumsi mereka, maka diketahui bahwa mereka tidak mempunyai satu bukti pun. Pasalnya, petun-juk yang tegas telah meneguhkan tidak adanya penantang bagi Allah. Kalau tidak demikian, maka petunjuk tersebut belum kokoh. Seandainya terdapat penentangan-penentangan, itu tiada lain ha-nyalah lontaran-lontaran syubhat yang tidak mampu menangkis kebenaran sedikit pun. Firman Allah, ﴾ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٱلۡحَقَّۖ ﴿ "Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui al-haq," maksudnya mereka tetap berkutat dengan pegangan mereka sebagai bentuk sikap taklid kepada para pendahulu mereka. Mereka mendebat tanpa ilmu (yang benar) dan petunjuk. Ketidaktahuan mereka tentang kebenaran bukan lantaran tersembunyi atau ketidakjelasan kebenaran tersebut. Tetapi, tidak lain terdorong oleh antipati mereka terhadap kebenaran. Apabila tidak demikian, seandainya mereka menolehkan kepala ke arahnya sedikit saja, niscaya kebenaran akan menjadi jelas bagi mereka, ber-beda dengan kebatilan dengan perbedaan yang sangat signifikan. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ فَهُم مُّعۡرِضُونَ 24 ﴿ "Karena mereka berpaling."
(25) Ketika Allah تعالى mengalihkan pembicaraan tentang orang-orang terdahulu dan memerintahkan untuk mengaca kepada mereka dalam masalah ini, maka Dia menerangkan dengan kete-rangan yang sangat jelas dalam FirmanNya, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 25 ﴿ "Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan pasti Kami wahyukan kepadanya, 'Bah-wasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka kalian sembahlah Aku'." Seluruh utusan Allah sebelummu yang di-utus dengan dibekali kitab-kitab, intisari misi dan prinsipnya ialah perintah untuk beribadah kepada Alllah semata, tiada sekutu bagi-Nya, serta penjelasan bahwa Dia-lah Dzat Yang Mahabenar lagi disembah dan bahwa peribadahan kepada selainNya adalah batil.
Al-Anbiya' 21:26
"Dan mereka berkata, 'Dzat Yang Maha Pemurah telah meng-ambil (mempunyai) anak.' Mahasuci Allah, sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahuluiNya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafa'at melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya. Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan, 'Se-sungguhnya aku adalah tuhan selain dari Allah,' maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang zhalim." (Al-Anbiya`: 26-29) .
(26) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin yang mendustakan Rasulullah. Mereka mengklaim bahwa –semoga Allah memperburuk keadaan mereka– bahwa Allah telah mengangkat seorang anak. Kata mereka, "Para malaikat adalah putri-putri Allah!" Mahatinggi Allah dari perkataan mereka. Allah telah mengabarkan tentang posisi malaikat sebagai hamba yang dimiliki dan diatur. Tidak ada hak kewenangan peng-aturan alam semesta bagi mereka sedikit pun. Mereka itu (para malaikat) dimuliakan di sisi Allah. Allah telah menetapkan dan menjadikan mereka dari kalangan hamba mulia dan sayangNya. De-mikian ini karena keutamaan-keutamaan dan kesucian mereka dari perkara-perkara yang menghinakan yang sudah dijadikan oleh Allah sebagai keistimewaan bagi mereka. Mereka itu berada di puncak kesopanan terhadap Allah dalam menaati perintah-perintahNya.
(27) ﴾ لَا يَسۡبِقُونَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ ﴿ "Mereka tidak mendahuluiNya dengan perkataan," maksudnya mereka tidak mengatakan sebuah ucapan yang berkaitan dengan pengaturan kerajaan alam semesta, sampai Allah menetapkan sesuatu melalui FirmanNya. Hal itu merupakan (cerminan) kesempurnaan adab mereka (di hadapan Allah) dan pengetahuan mereka mengenai kesempurnaan hikmah dan ilmu Allah. ﴾ وَهُم بِأَمۡرِهِۦ يَعۡمَلُونَ 27 ﴿ "Dan mereka mengerjakan perintah-perin-tahNya," maksudnya apa pun yang Allah perintahkan kepada mereka, pasti mereka taati. Bagaimana pun Allah mengatur mereka, pasti mereka kerjakan. Mereka tidak melanggar ketentuan Allah meskipun sekejap pandangan mata saja. Tidak ada aktifitas yang mereka jalankan berdasarkan hasrat-hasrat mereka sendiri tanpa titah dari Allah
(28) Kendatipun begitu, ilmu Allah meliputi mereka semua. Dia mengetahui ﴾ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ ﴿ "segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka," maksudnya, urusan-urusan mereka yang telah berlalu dan yang akan terjadi di kemu-dian hari. Mereka tidak pernah lepas dari ilmu Allah, sebagaimana mereka tidak bisa terpisah dari ketetapan dan pengaturanNya. Dan di antara muatan makna karakteristik mereka yang lebih terperinci dari sifat "Tidak mendahului Allah dengan perkataan" adalah mereka tidak memberikan syafa'at bagi siapa pun tanpa seizin dan ridhaNya. Jika Allah sudah mengizinkan mereka dan ridha ter-hadap orang yang akan menerima syafa'at mereka, baru mereka dapat mengeluarkan syafa'at. Hanya saja, Allah تعالى tidak meridhai perkataan dan tindakan kecuali yang murni hanya untuk wajahNya, dan mengikuti Rasulullah dalam perkataan dan tindakannya. Ayat ini termasuk dalil yang menunjukkan ketetapan adanya syafa'at, dan bahwa para malaikat memohonkan s y a f a ' a t ﴾ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ 28 ﴿ "dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya," maksudnya mereka itu diliputi rasa takut dan khawatir, mereka telah merendahkan diri di hadapan keagunganNya, wajah-wajah mereka telah tertunduk kepada kemuliaan dan keindahanNya.
(29) Setelah Allah menjelaskan bahwa mereka (para malai-kat) tidak mempunyai hak uluhiyah (sebagai ilah) dan tidak berhak untuk diibadahi sedikit pun, menilik sifat-sifat yang sudah Allah sebutkan tentang mereka yang menuntut (makna bahwa) mereka tidak pantas untuk diibadahi, maka Allah menerangkan pula bahwa mereka tidak punya bagian (uluhiyah) walaupun dengan dasar klaim belaka, dan bahwa bila ada di antara mereka yang mengklaim diri sebagai sesembahan selain Allah kendatipun dalam bentuk imajina-tif dan mengakomodasi pendapat lain yang keliru,﴾ فَذَٰلِكَ نَجۡزِيهِ جَهَنَّمَۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلظَّٰلِمِينَ 29 ﴿ "maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang zhalim," apakah ada kezhaliman yang lebih parah dari klaim seorang makhluk yang lemah lagi membutuhkan (bantuan) Allah dalam segala aspek kehi-dupannya (yang mengaku-ngaku) bersekutu dengan Allah dalam hak-hak istimewa ilahiyah dan rububiyah?
Al-Anbiya' 21:27
"Dan mereka berkata, 'Dzat Yang Maha Pemurah telah meng-ambil (mempunyai) anak.' Mahasuci Allah, sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahuluiNya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafa'at melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya. Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan, 'Se-sungguhnya aku adalah tuhan selain dari Allah,' maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang zhalim." (Al-Anbiya`: 26-29) .
(26) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin yang mendustakan Rasulullah. Mereka mengklaim bahwa –semoga Allah memperburuk keadaan mereka– bahwa Allah telah mengangkat seorang anak. Kata mereka, "Para malaikat adalah putri-putri Allah!" Mahatinggi Allah dari perkataan mereka. Allah telah mengabarkan tentang posisi malaikat sebagai hamba yang dimiliki dan diatur. Tidak ada hak kewenangan peng-aturan alam semesta bagi mereka sedikit pun. Mereka itu (para malaikat) dimuliakan di sisi Allah. Allah telah menetapkan dan menjadikan mereka dari kalangan hamba mulia dan sayangNya. De-mikian ini karena keutamaan-keutamaan dan kesucian mereka dari perkara-perkara yang menghinakan yang sudah dijadikan oleh Allah sebagai keistimewaan bagi mereka. Mereka itu berada di puncak kesopanan terhadap Allah dalam menaati perintah-perintahNya.
(27) ﴾ لَا يَسۡبِقُونَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ ﴿ "Mereka tidak mendahuluiNya dengan perkataan," maksudnya mereka tidak mengatakan sebuah ucapan yang berkaitan dengan pengaturan kerajaan alam semesta, sampai Allah menetapkan sesuatu melalui FirmanNya. Hal itu merupakan (cerminan) kesempurnaan adab mereka (di hadapan Allah) dan pengetahuan mereka mengenai kesempurnaan hikmah dan ilmu Allah. ﴾ وَهُم بِأَمۡرِهِۦ يَعۡمَلُونَ 27 ﴿ "Dan mereka mengerjakan perintah-perin-tahNya," maksudnya apa pun yang Allah perintahkan kepada mereka, pasti mereka taati. Bagaimana pun Allah mengatur mereka, pasti mereka kerjakan. Mereka tidak melanggar ketentuan Allah meskipun sekejap pandangan mata saja. Tidak ada aktifitas yang mereka jalankan berdasarkan hasrat-hasrat mereka sendiri tanpa titah dari Allah
(28) Kendatipun begitu, ilmu Allah meliputi mereka semua. Dia mengetahui ﴾ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ ﴿ "segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka," maksudnya, urusan-urusan mereka yang telah berlalu dan yang akan terjadi di kemu-dian hari. Mereka tidak pernah lepas dari ilmu Allah, sebagaimana mereka tidak bisa terpisah dari ketetapan dan pengaturanNya. Dan di antara muatan makna karakteristik mereka yang lebih terperinci dari sifat "Tidak mendahului Allah dengan perkataan" adalah mereka tidak memberikan syafa'at bagi siapa pun tanpa seizin dan ridhaNya. Jika Allah sudah mengizinkan mereka dan ridha ter-hadap orang yang akan menerima syafa'at mereka, baru mereka dapat mengeluarkan syafa'at. Hanya saja, Allah تعالى tidak meridhai perkataan dan tindakan kecuali yang murni hanya untuk wajahNya, dan mengikuti Rasulullah dalam perkataan dan tindakannya. Ayat ini termasuk dalil yang menunjukkan ketetapan adanya syafa'at, dan bahwa para malaikat memohonkan s y a f a ' a t ﴾ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ 28 ﴿ "dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya," maksudnya mereka itu diliputi rasa takut dan khawatir, mereka telah merendahkan diri di hadapan keagunganNya, wajah-wajah mereka telah tertunduk kepada kemuliaan dan keindahanNya.
(29) Setelah Allah menjelaskan bahwa mereka (para malai-kat) tidak mempunyai hak uluhiyah (sebagai ilah) dan tidak berhak untuk diibadahi sedikit pun, menilik sifat-sifat yang sudah Allah sebutkan tentang mereka yang menuntut (makna bahwa) mereka tidak pantas untuk diibadahi, maka Allah menerangkan pula bahwa mereka tidak punya bagian (uluhiyah) walaupun dengan dasar klaim belaka, dan bahwa bila ada di antara mereka yang mengklaim diri sebagai sesembahan selain Allah kendatipun dalam bentuk imajina-tif dan mengakomodasi pendapat lain yang keliru,﴾ فَذَٰلِكَ نَجۡزِيهِ جَهَنَّمَۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلظَّٰلِمِينَ 29 ﴿ "maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang zhalim," apakah ada kezhaliman yang lebih parah dari klaim seorang makhluk yang lemah lagi membutuhkan (bantuan) Allah dalam segala aspek kehi-dupannya (yang mengaku-ngaku) bersekutu dengan Allah dalam hak-hak istimewa ilahiyah dan rububiyah?
Al-Anbiya' 21:28
"Dan mereka berkata, 'Dzat Yang Maha Pemurah telah meng-ambil (mempunyai) anak.' Mahasuci Allah, sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahuluiNya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafa'at melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya. Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan, 'Se-sungguhnya aku adalah tuhan selain dari Allah,' maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang zhalim." (Al-Anbiya`: 26-29) .
(26) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin yang mendustakan Rasulullah. Mereka mengklaim bahwa –semoga Allah memperburuk keadaan mereka– bahwa Allah telah mengangkat seorang anak. Kata mereka, "Para malaikat adalah putri-putri Allah!" Mahatinggi Allah dari perkataan mereka. Allah telah mengabarkan tentang posisi malaikat sebagai hamba yang dimiliki dan diatur. Tidak ada hak kewenangan peng-aturan alam semesta bagi mereka sedikit pun. Mereka itu (para malaikat) dimuliakan di sisi Allah. Allah telah menetapkan dan menjadikan mereka dari kalangan hamba mulia dan sayangNya. De-mikian ini karena keutamaan-keutamaan dan kesucian mereka dari perkara-perkara yang menghinakan yang sudah dijadikan oleh Allah sebagai keistimewaan bagi mereka. Mereka itu berada di puncak kesopanan terhadap Allah dalam menaati perintah-perintahNya.
(27) ﴾ لَا يَسۡبِقُونَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ ﴿ "Mereka tidak mendahuluiNya dengan perkataan," maksudnya mereka tidak mengatakan sebuah ucapan yang berkaitan dengan pengaturan kerajaan alam semesta, sampai Allah menetapkan sesuatu melalui FirmanNya. Hal itu merupakan (cerminan) kesempurnaan adab mereka (di hadapan Allah) dan pengetahuan mereka mengenai kesempurnaan hikmah dan ilmu Allah. ﴾ وَهُم بِأَمۡرِهِۦ يَعۡمَلُونَ 27 ﴿ "Dan mereka mengerjakan perintah-perin-tahNya," maksudnya apa pun yang Allah perintahkan kepada mereka, pasti mereka taati. Bagaimana pun Allah mengatur mereka, pasti mereka kerjakan. Mereka tidak melanggar ketentuan Allah meskipun sekejap pandangan mata saja. Tidak ada aktifitas yang mereka jalankan berdasarkan hasrat-hasrat mereka sendiri tanpa titah dari Allah
(28) Kendatipun begitu, ilmu Allah meliputi mereka semua. Dia mengetahui ﴾ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ ﴿ "segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka," maksudnya, urusan-urusan mereka yang telah berlalu dan yang akan terjadi di kemu-dian hari. Mereka tidak pernah lepas dari ilmu Allah, sebagaimana mereka tidak bisa terpisah dari ketetapan dan pengaturanNya. Dan di antara muatan makna karakteristik mereka yang lebih terperinci dari sifat "Tidak mendahului Allah dengan perkataan" adalah mereka tidak memberikan syafa'at bagi siapa pun tanpa seizin dan ridhaNya. Jika Allah sudah mengizinkan mereka dan ridha ter-hadap orang yang akan menerima syafa'at mereka, baru mereka dapat mengeluarkan syafa'at. Hanya saja, Allah تعالى tidak meridhai perkataan dan tindakan kecuali yang murni hanya untuk wajahNya, dan mengikuti Rasulullah dalam perkataan dan tindakannya. Ayat ini termasuk dalil yang menunjukkan ketetapan adanya syafa'at, dan bahwa para malaikat memohonkan s y a f a ' a t ﴾ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ 28 ﴿ "dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya," maksudnya mereka itu diliputi rasa takut dan khawatir, mereka telah merendahkan diri di hadapan keagunganNya, wajah-wajah mereka telah tertunduk kepada kemuliaan dan keindahanNya.
(29) Setelah Allah menjelaskan bahwa mereka (para malai-kat) tidak mempunyai hak uluhiyah (sebagai ilah) dan tidak berhak untuk diibadahi sedikit pun, menilik sifat-sifat yang sudah Allah sebutkan tentang mereka yang menuntut (makna bahwa) mereka tidak pantas untuk diibadahi, maka Allah menerangkan pula bahwa mereka tidak punya bagian (uluhiyah) walaupun dengan dasar klaim belaka, dan bahwa bila ada di antara mereka yang mengklaim diri sebagai sesembahan selain Allah kendatipun dalam bentuk imajina-tif dan mengakomodasi pendapat lain yang keliru,﴾ فَذَٰلِكَ نَجۡزِيهِ جَهَنَّمَۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلظَّٰلِمِينَ 29 ﴿ "maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang zhalim," apakah ada kezhaliman yang lebih parah dari klaim seorang makhluk yang lemah lagi membutuhkan (bantuan) Allah dalam segala aspek kehi-dupannya (yang mengaku-ngaku) bersekutu dengan Allah dalam hak-hak istimewa ilahiyah dan rububiyah?
Al-Anbiya' 21:29
"Dan mereka berkata, 'Dzat Yang Maha Pemurah telah meng-ambil (mempunyai) anak.' Mahasuci Allah, sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahuluiNya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafa'at melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya. Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan, 'Se-sungguhnya aku adalah tuhan selain dari Allah,' maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang zhalim." (Al-Anbiya`: 26-29) .
(26) Allah تعالى memberitahukan tentang kebodohan kaum musyrikin yang mendustakan Rasulullah. Mereka mengklaim bahwa –semoga Allah memperburuk keadaan mereka– bahwa Allah telah mengangkat seorang anak. Kata mereka, "Para malaikat adalah putri-putri Allah!" Mahatinggi Allah dari perkataan mereka. Allah telah mengabarkan tentang posisi malaikat sebagai hamba yang dimiliki dan diatur. Tidak ada hak kewenangan peng-aturan alam semesta bagi mereka sedikit pun. Mereka itu (para malaikat) dimuliakan di sisi Allah. Allah telah menetapkan dan menjadikan mereka dari kalangan hamba mulia dan sayangNya. De-mikian ini karena keutamaan-keutamaan dan kesucian mereka dari perkara-perkara yang menghinakan yang sudah dijadikan oleh Allah sebagai keistimewaan bagi mereka. Mereka itu berada di puncak kesopanan terhadap Allah dalam menaati perintah-perintahNya.
(27) ﴾ لَا يَسۡبِقُونَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ ﴿ "Mereka tidak mendahuluiNya dengan perkataan," maksudnya mereka tidak mengatakan sebuah ucapan yang berkaitan dengan pengaturan kerajaan alam semesta, sampai Allah menetapkan sesuatu melalui FirmanNya. Hal itu merupakan (cerminan) kesempurnaan adab mereka (di hadapan Allah) dan pengetahuan mereka mengenai kesempurnaan hikmah dan ilmu Allah. ﴾ وَهُم بِأَمۡرِهِۦ يَعۡمَلُونَ 27 ﴿ "Dan mereka mengerjakan perintah-perin-tahNya," maksudnya apa pun yang Allah perintahkan kepada mereka, pasti mereka taati. Bagaimana pun Allah mengatur mereka, pasti mereka kerjakan. Mereka tidak melanggar ketentuan Allah meskipun sekejap pandangan mata saja. Tidak ada aktifitas yang mereka jalankan berdasarkan hasrat-hasrat mereka sendiri tanpa titah dari Allah
(28) Kendatipun begitu, ilmu Allah meliputi mereka semua. Dia mengetahui ﴾ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ ﴿ "segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka," maksudnya, urusan-urusan mereka yang telah berlalu dan yang akan terjadi di kemu-dian hari. Mereka tidak pernah lepas dari ilmu Allah, sebagaimana mereka tidak bisa terpisah dari ketetapan dan pengaturanNya. Dan di antara muatan makna karakteristik mereka yang lebih terperinci dari sifat "Tidak mendahului Allah dengan perkataan" adalah mereka tidak memberikan syafa'at bagi siapa pun tanpa seizin dan ridhaNya. Jika Allah sudah mengizinkan mereka dan ridha ter-hadap orang yang akan menerima syafa'at mereka, baru mereka dapat mengeluarkan syafa'at. Hanya saja, Allah تعالى tidak meridhai perkataan dan tindakan kecuali yang murni hanya untuk wajahNya, dan mengikuti Rasulullah dalam perkataan dan tindakannya. Ayat ini termasuk dalil yang menunjukkan ketetapan adanya syafa'at, dan bahwa para malaikat memohonkan s y a f a ' a t ﴾ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ 28 ﴿ "dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya," maksudnya mereka itu diliputi rasa takut dan khawatir, mereka telah merendahkan diri di hadapan keagunganNya, wajah-wajah mereka telah tertunduk kepada kemuliaan dan keindahanNya.
(29) Setelah Allah menjelaskan bahwa mereka (para malai-kat) tidak mempunyai hak uluhiyah (sebagai ilah) dan tidak berhak untuk diibadahi sedikit pun, menilik sifat-sifat yang sudah Allah sebutkan tentang mereka yang menuntut (makna bahwa) mereka tidak pantas untuk diibadahi, maka Allah menerangkan pula bahwa mereka tidak punya bagian (uluhiyah) walaupun dengan dasar klaim belaka, dan bahwa bila ada di antara mereka yang mengklaim diri sebagai sesembahan selain Allah kendatipun dalam bentuk imajina-tif dan mengakomodasi pendapat lain yang keliru,﴾ فَذَٰلِكَ نَجۡزِيهِ جَهَنَّمَۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلظَّٰلِمِينَ 29 ﴿ "maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang zhalim," apakah ada kezhaliman yang lebih parah dari klaim seorang makhluk yang lemah lagi membutuhkan (bantuan) Allah dalam segala aspek kehi-dupannya (yang mengaku-ngaku) bersekutu dengan Allah dalam hak-hak istimewa ilahiyah dan rububiyah?
Al-Anbiya' 21:30
"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasa-nya langit dan bumi itu, keduanya dulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?" (Al-Anbiya`: 30).
(30) Apakah mereka (yang kafir terhadap Rabb mereka dan mengingkari pengikhlasan ibadah bagiNya) tidak menyaksikan sebuah obyek kasat mata yang akan mengantarkan mereka menuju keyakinan bahwa Allah, Dia-lah Rabb segala sesuatu, Dzat Yang Maha Terpuji, Dzat Yang Mahamulia dan Dzat yang disembah semata. Dengan menyaksikan langit dan bumi, maka mereka akan menjumpainya dalam keadaan ﴾ رَتۡقٗا ﴿ "suatu yang padu," bagian ini (langit) tidak terlihat adanya mendung ataupun hujan. Sementara itu, bagian yang lain (bumi) terlihat diam mati, tanpa tumbuh-tumbuhan padanya. ﴾ فَفَتَقۡنَٰهُمَاۖ ﴿ "Kemudian Kami pisahkan," langit dengan hujan dan bumi dengan tumbuhan. Bukankah Dzat yang menciptakan men-dung di langit, setelah kondisi cuaca cerah tanpa ada awan-awan tipis, dan menempatkan air yang deras di dalamnya, kemudian menghalaunya menuju daerah yang mati, yang penjuru-penjuru wilayahnya sudah penuh dengan debu dan airnya sudah semakin menipis, selanjutnya Dia menurunkan hujan di tempat itu, sehingga tanah menjadi bergoyang dan bergerak serta berkembang dan menumbuhkan tanaman indah dari setiap jenisnya, yang beragam bentuk dan manfaatnya, bukankah demikian itu merupakan pe-tunjuk bahwa Dia-lah Dzat Yang Mahabenar, sedangkan selainNya merupakan sesembahan yang batil. Dia-lah Dzat Yang Menghidup-kan orang-orang yang mati dan Dia-lah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ 30 ﴿ "Maka mengapa mereka tiada juga beriman," dengan keimanan yang benar, tanpa diselipi unsur keraguan dan kesyirikan.
Kemudian Allah menyebutkan sejumlah dalil cakrawala seraya berfirman,
Al-Anbiya' 21:31
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi ini (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (Al-Anbiya`: 31-33)
(31) Di antara bukti kekuasaanNya dan kesempurnaan ke-esaan dan rahmatNya, yaitu bahwa tatkala bumi tidak dapat diam kecuali dengan keberadaan gunung-gunung, maka Allah meman-cangkannya, dan menempatkannya sebagai pasak padanya, agar bumi tidak bergoncang menggoncangkan para manusia. Maksud-nya tidak bergerak-gerak, hingga manusia tidak bisa menenang-kan diri padanya, tidak dapat membajak (tanah)nya dan tidak bisa menghuninya. Selanjutnya, Allah memancangkannya dengan gunung-gunung. Dengan itu, terwujudlah berbagai maslahat dan kemanfaatan yang dapat dinikmati. Ketika keberadaan gunung-gunung yang saling menyambung dengan bagian lainnya, dalam bentuk barisan yang begitu banyak sekali, bila tetap dalam bentuknya, gunung-gunung yang tinggi, puncak-puncaknya menjulang, tentulah menyebabkan kelumpuhan hubungan antara banyak wilayah. Di antara (cerminan) hikmah Allah dan rahmatNya, Allah menjadikan antara gunung-gunung tersebut ﴾ فِجَاجٗا سُبُلٗا ﴿ "jalan-jalan yang luas," yaitu jalan-jalan yang mudah dilalui tanpa ada kesulitan dalam menempuhnya. ﴾ لَّعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ 31 ﴿ "Agar mereka mendapat petunjuk," menuju negeri-negeri yang diinginkan. Semoga mereka mendapatkan petunjuk dengan itu tentang keesaan al-Mannan (Allah Dzat Yang Maha Memberi).
(32-33) ﴾ وَجَعَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ سَقۡفٗا ﴿ "Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap," bagi bumi yang kalian berada di atasnya ﴾ مَّحۡفُوظٗاۖ ﴿ "yang ter-pelihara," dari kerobohan, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap." (Fathir: 41), juga terlindungi dari pencurian pendengaran yang dilakukan oleh setan-setan ﴾ وَهُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهَا مُعۡرِضُونَ 32 ﴿ "sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya," maksudnya, lalai dan lupa diri. Ini umum sifatnya pada semua tanda-tanda kebesaran Allah yang berada di langit, berupa ketinggian, keluasan, kebesaran, dan warnanya yang elok serta keharmonisannya yang mengagumkan dan panorama-panorama lainnya. Di dalamnya, terdapat planet-planet yang statis dan yang beredar, matahari dan bulannya yang terang benderang yang mengakibatkan terjadinya malam dan siang, dan sifat keberadaannya yang senantiasa beredar di dalam porosnya. Begitu pula, bintang-bintang yang memunculkan keman-faatan bagi umat manusia, karena berpengaruh atas kemunculan cuaca panas, dingin, dan (pergantian) musim-musim dalam seta-hun. (Dengan itu) mereka pun menjadi tahu mengenai perhitungan waktu-waktu ibadah dan muamalah mereka. Di malam hari, mereka beristirahat, merasakan ketenangan dan ketentraman. Di siang harinya, mereka bertebaran dan mencari penghidupan. Semua perkara ini bila direnungi oleh seseorang yang cerdas dan memandangnya dengan cermat, niscaya dia akan yakin dengan seyakin-yakinnya tanpa ada keraguan apa pun bahwasanya Allah-lah yang mengaturnya berdasarkan ketentuan-ketentuan waktu pada tempo yang sudah dicanangkan sampai batas akhir yang pasti. Pada rentang waktu itu, manusia memenuhi hajat-hajatnya, dan kemanfaatan mereka terpenuhi dengannya. Tujuannya, supaya mereka dapat bersenang-senang dan memperoleh kemaslahatan. Setelah itu, (berbagai hal tadi) akan sirna dan lenyap. Dzat yang melenyapkannya adalah Dzat yang telah menciptakannya. Dan yang akan menjadikannya diam tidak bergerak adalah Dzat yang telah menggerakkannya. Orang-orang mukallaf akan berpindah dari tempat tinggal mereka menuju tempat lain. Di sana, mereka akan menjumpai balasan amal mereka (di dunia) secara penuh dan lengkap. Sehingga dapat diketahui bahwa kegunaan tempat ini (dunia) sebagai ladang (amalan) untuk membidik tempat hunian abadi (di akhirat), dan bahwa dunia hanya merupakan lintasan perjalanan seseorang, bukan tempat huniannya.
Al-Anbiya' 21:32
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi ini (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (Al-Anbiya`: 31-33)
(31) Di antara bukti kekuasaanNya dan kesempurnaan ke-esaan dan rahmatNya, yaitu bahwa tatkala bumi tidak dapat diam kecuali dengan keberadaan gunung-gunung, maka Allah meman-cangkannya, dan menempatkannya sebagai pasak padanya, agar bumi tidak bergoncang menggoncangkan para manusia. Maksud-nya tidak bergerak-gerak, hingga manusia tidak bisa menenang-kan diri padanya, tidak dapat membajak (tanah)nya dan tidak bisa menghuninya. Selanjutnya, Allah memancangkannya dengan gunung-gunung. Dengan itu, terwujudlah berbagai maslahat dan kemanfaatan yang dapat dinikmati. Ketika keberadaan gunung-gunung yang saling menyambung dengan bagian lainnya, dalam bentuk barisan yang begitu banyak sekali, bila tetap dalam bentuknya, gunung-gunung yang tinggi, puncak-puncaknya menjulang, tentulah menyebabkan kelumpuhan hubungan antara banyak wilayah. Di antara (cerminan) hikmah Allah dan rahmatNya, Allah menjadikan antara gunung-gunung tersebut ﴾ فِجَاجٗا سُبُلٗا ﴿ "jalan-jalan yang luas," yaitu jalan-jalan yang mudah dilalui tanpa ada kesulitan dalam menempuhnya. ﴾ لَّعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ 31 ﴿ "Agar mereka mendapat petunjuk," menuju negeri-negeri yang diinginkan. Semoga mereka mendapatkan petunjuk dengan itu tentang keesaan al-Mannan (Allah Dzat Yang Maha Memberi).
(32-33) ﴾ وَجَعَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ سَقۡفٗا ﴿ "Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap," bagi bumi yang kalian berada di atasnya ﴾ مَّحۡفُوظٗاۖ ﴿ "yang ter-pelihara," dari kerobohan, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap." (Fathir: 41), juga terlindungi dari pencurian pendengaran yang dilakukan oleh setan-setan ﴾ وَهُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهَا مُعۡرِضُونَ 32 ﴿ "sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya," maksudnya, lalai dan lupa diri. Ini umum sifatnya pada semua tanda-tanda kebesaran Allah yang berada di langit, berupa ketinggian, keluasan, kebesaran, dan warnanya yang elok serta keharmonisannya yang mengagumkan dan panorama-panorama lainnya. Di dalamnya, terdapat planet-planet yang statis dan yang beredar, matahari dan bulannya yang terang benderang yang mengakibatkan terjadinya malam dan siang, dan sifat keberadaannya yang senantiasa beredar di dalam porosnya. Begitu pula, bintang-bintang yang memunculkan keman-faatan bagi umat manusia, karena berpengaruh atas kemunculan cuaca panas, dingin, dan (pergantian) musim-musim dalam seta-hun. (Dengan itu) mereka pun menjadi tahu mengenai perhitungan waktu-waktu ibadah dan muamalah mereka. Di malam hari, mereka beristirahat, merasakan ketenangan dan ketentraman. Di siang harinya, mereka bertebaran dan mencari penghidupan. Semua perkara ini bila direnungi oleh seseorang yang cerdas dan memandangnya dengan cermat, niscaya dia akan yakin dengan seyakin-yakinnya tanpa ada keraguan apa pun bahwasanya Allah-lah yang mengaturnya berdasarkan ketentuan-ketentuan waktu pada tempo yang sudah dicanangkan sampai batas akhir yang pasti. Pada rentang waktu itu, manusia memenuhi hajat-hajatnya, dan kemanfaatan mereka terpenuhi dengannya. Tujuannya, supaya mereka dapat bersenang-senang dan memperoleh kemaslahatan. Setelah itu, (berbagai hal tadi) akan sirna dan lenyap. Dzat yang melenyapkannya adalah Dzat yang telah menciptakannya. Dan yang akan menjadikannya diam tidak bergerak adalah Dzat yang telah menggerakkannya. Orang-orang mukallaf akan berpindah dari tempat tinggal mereka menuju tempat lain. Di sana, mereka akan menjumpai balasan amal mereka (di dunia) secara penuh dan lengkap. Sehingga dapat diketahui bahwa kegunaan tempat ini (dunia) sebagai ladang (amalan) untuk membidik tempat hunian abadi (di akhirat), dan bahwa dunia hanya merupakan lintasan perjalanan seseorang, bukan tempat huniannya.
Al-Anbiya' 21:33
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi ini (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (Al-Anbiya`: 31-33)
(31) Di antara bukti kekuasaanNya dan kesempurnaan ke-esaan dan rahmatNya, yaitu bahwa tatkala bumi tidak dapat diam kecuali dengan keberadaan gunung-gunung, maka Allah meman-cangkannya, dan menempatkannya sebagai pasak padanya, agar bumi tidak bergoncang menggoncangkan para manusia. Maksud-nya tidak bergerak-gerak, hingga manusia tidak bisa menenang-kan diri padanya, tidak dapat membajak (tanah)nya dan tidak bisa menghuninya. Selanjutnya, Allah memancangkannya dengan gunung-gunung. Dengan itu, terwujudlah berbagai maslahat dan kemanfaatan yang dapat dinikmati. Ketika keberadaan gunung-gunung yang saling menyambung dengan bagian lainnya, dalam bentuk barisan yang begitu banyak sekali, bila tetap dalam bentuknya, gunung-gunung yang tinggi, puncak-puncaknya menjulang, tentulah menyebabkan kelumpuhan hubungan antara banyak wilayah. Di antara (cerminan) hikmah Allah dan rahmatNya, Allah menjadikan antara gunung-gunung tersebut ﴾ فِجَاجٗا سُبُلٗا ﴿ "jalan-jalan yang luas," yaitu jalan-jalan yang mudah dilalui tanpa ada kesulitan dalam menempuhnya. ﴾ لَّعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ 31 ﴿ "Agar mereka mendapat petunjuk," menuju negeri-negeri yang diinginkan. Semoga mereka mendapatkan petunjuk dengan itu tentang keesaan al-Mannan (Allah Dzat Yang Maha Memberi).
(32-33) ﴾ وَجَعَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ سَقۡفٗا ﴿ "Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap," bagi bumi yang kalian berada di atasnya ﴾ مَّحۡفُوظٗاۖ ﴿ "yang ter-pelihara," dari kerobohan, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap." (Fathir: 41), juga terlindungi dari pencurian pendengaran yang dilakukan oleh setan-setan ﴾ وَهُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهَا مُعۡرِضُونَ 32 ﴿ "sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya," maksudnya, lalai dan lupa diri. Ini umum sifatnya pada semua tanda-tanda kebesaran Allah yang berada di langit, berupa ketinggian, keluasan, kebesaran, dan warnanya yang elok serta keharmonisannya yang mengagumkan dan panorama-panorama lainnya. Di dalamnya, terdapat planet-planet yang statis dan yang beredar, matahari dan bulannya yang terang benderang yang mengakibatkan terjadinya malam dan siang, dan sifat keberadaannya yang senantiasa beredar di dalam porosnya. Begitu pula, bintang-bintang yang memunculkan keman-faatan bagi umat manusia, karena berpengaruh atas kemunculan cuaca panas, dingin, dan (pergantian) musim-musim dalam seta-hun. (Dengan itu) mereka pun menjadi tahu mengenai perhitungan waktu-waktu ibadah dan muamalah mereka. Di malam hari, mereka beristirahat, merasakan ketenangan dan ketentraman. Di siang harinya, mereka bertebaran dan mencari penghidupan. Semua perkara ini bila direnungi oleh seseorang yang cerdas dan memandangnya dengan cermat, niscaya dia akan yakin dengan seyakin-yakinnya tanpa ada keraguan apa pun bahwasanya Allah-lah yang mengaturnya berdasarkan ketentuan-ketentuan waktu pada tempo yang sudah dicanangkan sampai batas akhir yang pasti. Pada rentang waktu itu, manusia memenuhi hajat-hajatnya, dan kemanfaatan mereka terpenuhi dengannya. Tujuannya, supaya mereka dapat bersenang-senang dan memperoleh kemaslahatan. Setelah itu, (berbagai hal tadi) akan sirna dan lenyap. Dzat yang melenyapkannya adalah Dzat yang telah menciptakannya. Dan yang akan menjadikannya diam tidak bergerak adalah Dzat yang telah menggerakkannya. Orang-orang mukallaf akan berpindah dari tempat tinggal mereka menuju tempat lain. Di sana, mereka akan menjumpai balasan amal mereka (di dunia) secara penuh dan lengkap. Sehingga dapat diketahui bahwa kegunaan tempat ini (dunia) sebagai ladang (amalan) untuk membidik tempat hunian abadi (di akhirat), dan bahwa dunia hanya merupakan lintasan perjalanan seseorang, bukan tempat huniannya.
Al-Anbiya' 21:34
"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (Al-Anbiya`: 34-35).
(34) Ketika para musuh Rasulullah mengatakan seperti yang diceritakan oleh Allah, ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ 30 ﴿ "Kami menunggu-nunggu kecelakaan menimpanya." (Ath-Thur: 30), maka Allah تعالى berfirman, "Ini merupakan jalan hidup yang dilewati (setiap orang) dan jalan setapak yang meletihkan. Kami belum pernah menetapkan keabadian bagi seorang manusia pun di dunia, wahai Muhammad. Jika engkau meninggal, maka itulah kondisi orang-orang sepertimu, dari kalangan para rasul, nabi, wali, [dan lainnya]. ﴾ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ 34 ﴿ "Maka jikalau engkau mati, apakah mereka itu kekal," maksudnya apakah bila engkau meninggal, me-reka akan kekal abadi sepeninggalmu? Kalau memang demikian adanya, maka hendaknya keabadian menghalangi mereka (dari kematian). Namun, realitanya tidak demikian adanya. Bahkan setiap makhluk yang berada di atasnya (bumi) akan hancur.
(35) Oleh karenanya, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ ﴿ "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." Pengertian ini mencakup segenap nyawa para makhluk. Dan bahwa ajal ibarat gelas yang harus ditenggak oleh setiap makhluk, kendatipun masa hidup seorang hamba lama dan dikarunia umur panjang. Akan tetapi, Allah تعالى menciptakan para hambaNya di dunia, untuk diperintah dan dikekang dengan larangan. Serta untuk menguji mereka dengan takdir yang baik ataupun buruk, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan kemuliaan dan kehinaan, dengan kehidupan dan kematian, sebagai bentuk ujian dari Allah تعالى, ﴾ لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا 7 ﴿ "Supaya Kami menguji mereka siapakah yang paling baik amalan-nya." (Al-Kahfi: 7), siapa orang yang akhirnya terjebak dalam lubang-lubang fitnah, dan siapa yang berhasil selamat. Selanjutnya, ﴾ إِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ﴿ "hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." Kemudian Kami akan mem-balas mereka sesuai dengan amalan-amalan mereka. Apabila baik, maka balasannya baik pula. Jika amalannya buruk, niscaya balasan-nya buruk pula. Allah tidak berbuat aniaya terhadap para hamba-Nya. Ayat ini menunjukkan kebatilan perkataan orang yang me-nyatakan kelanggengan hidup Khidhir, bahwasanya beliau abadi di dunia ini. Ini merupakan pernyataan yang tidak ada buktinya, bertentangan dengan dalil-dalil agama.
Al-Anbiya' 21:35
"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (Al-Anbiya`: 34-35).
(34) Ketika para musuh Rasulullah mengatakan seperti yang diceritakan oleh Allah, ﴾ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيۡبَ ٱلۡمَنُونِ 30 ﴿ "Kami menunggu-nunggu kecelakaan menimpanya." (Ath-Thur: 30), maka Allah تعالى berfirman, "Ini merupakan jalan hidup yang dilewati (setiap orang) dan jalan setapak yang meletihkan. Kami belum pernah menetapkan keabadian bagi seorang manusia pun di dunia, wahai Muhammad. Jika engkau meninggal, maka itulah kondisi orang-orang sepertimu, dari kalangan para rasul, nabi, wali, [dan lainnya]. ﴾ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ 34 ﴿ "Maka jikalau engkau mati, apakah mereka itu kekal," maksudnya apakah bila engkau meninggal, me-reka akan kekal abadi sepeninggalmu? Kalau memang demikian adanya, maka hendaknya keabadian menghalangi mereka (dari kematian). Namun, realitanya tidak demikian adanya. Bahkan setiap makhluk yang berada di atasnya (bumi) akan hancur.
(35) Oleh karenanya, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ ﴿ "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." Pengertian ini mencakup segenap nyawa para makhluk. Dan bahwa ajal ibarat gelas yang harus ditenggak oleh setiap makhluk, kendatipun masa hidup seorang hamba lama dan dikarunia umur panjang. Akan tetapi, Allah تعالى menciptakan para hambaNya di dunia, untuk diperintah dan dikekang dengan larangan. Serta untuk menguji mereka dengan takdir yang baik ataupun buruk, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan kemuliaan dan kehinaan, dengan kehidupan dan kematian, sebagai bentuk ujian dari Allah تعالى, ﴾ لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا 7 ﴿ "Supaya Kami menguji mereka siapakah yang paling baik amalan-nya." (Al-Kahfi: 7), siapa orang yang akhirnya terjebak dalam lubang-lubang fitnah, dan siapa yang berhasil selamat. Selanjutnya, ﴾ إِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ﴿ "hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." Kemudian Kami akan mem-balas mereka sesuai dengan amalan-amalan mereka. Apabila baik, maka balasannya baik pula. Jika amalannya buruk, niscaya balasan-nya buruk pula. Allah tidak berbuat aniaya terhadap para hamba-Nya. Ayat ini menunjukkan kebatilan perkataan orang yang me-nyatakan kelanggengan hidup Khidhir, bahwasanya beliau abadi di dunia ini. Ini merupakan pernyataan yang tidak ada buktinya, bertentangan dengan dalil-dalil agama.
Al-Anbiya' 21:36
"Dan apabila orang-orang kafir itu melihatmu, mereka hanya membuatmu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan), 'Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu,' padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah. Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku. Maka janganlah kamu minta kepadaKu mendatangkan(nya) dengan segera. Mereka berkata, 'Kapankah janji itu akan datang, jika kamu sekalian adalah orang-orang yang benar.' Andaikata orang-orang kafir itu mengetahui, waktu (di mana) mereka tidak mampu untuk mengelak-kan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka, sedang mereka tidak (pula) mendapatkan pertolongan, (tentulah mereka tidak meminta disegerakan). Sebenarnya (azab) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak sanggup meno-laknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan." (Al-Anbiya`: 36-41).
(36) Ini lantaran dahsyatnya kekufuran mereka. Kaum musyrikin jika menyaksikan Rasulullah, niscaya mereka mengolok-olok beliau dengan berkata, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu," maksudnya apakah orang hina ini –menurut pandangan mereka– yang mencela tuhan-tuhan kalian, memaki dan menghinanya. Maknanya, janganlah kalian pedulikan dia, dan jangan mengerubutinya. Kejadian ini merupakan bentuk pengolokan dan penghinaan terhadap beliau dengan aspek yang menjadi kesempurnaan beliau. Beliau adalah insan yang paling sempurna dan paling utama. Di antara keutamaan dan ketinggian akhlak beliau, yaitu mengikh-laskan ibadah hanya kepada Allah, mencela segala yang disembah selain Allah dan mendiskreditkannya, serta menyebutkan posisi Allah dan (ketinggian) kedudukanNya. Akan tetapi, justru obyek olokan dan hinaan (yang pantas) adalah (kepada) orang-orang kafir yang telah menghimpun setiap perilaku tercela. Sekiranya tidak ada pada mereka kecuali kekufuran mereka kepada Rabb dan peng-ingkaran terhadap para utusanNya, maka dengan hal itu cukup sudah membuat mereka menjadi makhluk-makhluk yang paling nista dan paling hina. Kendatipun demikian, penyebutan mereka tentang ar-Rahman (yang merupakan kondisi terbaik mereka) ada-lah keadaan kafir mereka kepada Allah. Pasalnya tidaklah mereka menyebutkan nama ini dan tidak mengimaniNya melainkan dalam keadaan menyekutukanNya dengan makhluk lain. Maka ucapan dzikir mereka merupakan bentuk kekufuran dan kesyirikan. Lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan lainnya? Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَهُم بِذِكۡرِ ٱلرَّحۡمَٰنِ هُمۡ كَٰفِرُونَ 36 ﴿ "Padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah." Dalam penyebutan nama Allah ar-Rahman me-ngandung petunjuk betapa buruknya perilaku mereka. Bagaimana bisa mereka bersikap kepada ar-Rahman –Dzat yang mencurahkan segala kenikmatan dan menyingkirkan segala malapetaka yang mana tidak ada kenikmatan pada hamba-hamba melainkan pasti berasal dariNya, dan tidak dapat menghalau kejelekan selainNya– dengan sikap kekufuran dan kesyirikan.
(37) ﴾ خُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ مِنۡ عَجَلٖۚ ﴿ "Manusia telah dijadikan (bertabiat) ter-gesa-gesa," maksudnya tercipta dengan sifat bawaan tergesa-gesa, ingin menyegerakan segala sesuatu dan ingin cepat untuk mengeta-hui hasilnya. Kaum Mukminin menginginkan percepatan hukuman Allah bagi orang-orang kafir dan menilainya lamban. Sementara itu, orang-orang kafir berpaling dan mempunyai kehendak agar dipercepat siksaan (bagi mereka) dalam rangka untuk mendusta-kan dan penentangan, seraya berkata, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al-Anbiya`: 38). (Ketahuilah) Allah sedang menunda, bukan melupakan, ingin bersikap lembut, dan sudah menetapkan waktu tertentu bagi mereka. ﴾ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ 49 ﴿ "Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengun-durkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)." (Yunus: 49). Karena itu, Allah berfirman, ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Kelak akan Aku per-lihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku," yaitu mengenai balas den-damKu terhadap orang-orang yang mengingkari Aku dan durhaka kepadaKu. ﴾ فَلَا تَسۡتَعۡجِلُونِ 37 ﴿ "Maka janganlah kamu meminta kepadaKu mendatangkan segera," hal tersebut.
(38) Begitu pula, orang-orang kafir mengatakan,﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." Mereka itu melontarkan pernyataan ini lantaran terpedaya dengan kondisi mereka (yang akan selamat) karena hukuman yang belum menimpa mereka dan siksa belum turun menerjang mereka.
(39) Sekiranya ﴾ يَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "orang-orang kafir itu mengeta-hui," keadaan buruk mereka ﴾ حِينَ لَا يَكُفُّونَ عَن وُجُوهِهِمُ ٱلنَّارَ وَلَا عَن ظُهُورِهِمۡ ﴿ "waktu (di mana) mereka tak mampu untuk mengelakkan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka," pasalnya, (pada waktu itu), neraka telah mengitari mereka dari semua sisi, dan me-nyelubungi mereka dari semua tempat, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ 39 ﴿ "sedang mereka tidak mendapat pertolongan (tentulah mereka tiada meminta di-segerakan)," maksudnya tidak ada orang lain yang (dapat) menolong mereka. Mereka tidak ditolong dan tidak pula dapat menolong diri mereka sendiri.
(40) ﴾ بَلۡ تَأۡتِيهِم ﴿ "Bahkan api neraka datang kepada mereka," dalam keadaan ﴾ بَغۡتَةٗ ﴿ "dengan sekonyong-konyong," menghenyakkan mereka karena kepanikan, kebingungan, dan lantaran rasa takut yang sangat mengerikan. ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ رَدَّهَا ﴿ "Maka mereka tidak sanggup menolaknya," sebab mereka benar-benar hina dan lemah untuk bisa melakukannya ﴾ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka diberi (waktu) tangguh," maksudnya memperoleh penundaan tempo sehingga diakhirkan siksaan mereka. Seandainya mereka menge-tahui hakikat ini dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak akan meminta penyegeraan siksaan bagi mereka dan akan benar-benar merasa sangat takut terhadapnya. Hanya saja, karena pengetahuan ini kosong dari diri mereka, akhirnya mereka mengatakan apa yang telah mereka lontarkan.
(41) Dan setelah Allah menyebutkan penghinaan mereka terhadap RasulNya dengan perkataan, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu." (Al-Anbiya`: 36), maka Allah menghibur beliau, bahwa kejadian seperti itu merupa-kan kebiasaan umat-umat terdahulu saat menghadapi para utusan Allah (yang diutus kepada mereka). Allah berfirman,﴾ وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٖ مِّن قَبۡلِكَ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُواْ مِنۡهُم ﴿ "Dan sungguh telah diperolok-olok beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemo-ohkan dari mereka," menghampiri mereka, ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "balasan (azab) olok-olokan mereka." Maksudnya telah datang siksaan kepada mereka. Segala faktor untuk menolaknya pun lenyap. Hendaknya mereka berhati-hati akan turunnya bencana, hukuman yang telah melanda kaum yang mendustakan para utusan Allah.
Al-Anbiya' 21:37
"Dan apabila orang-orang kafir itu melihatmu, mereka hanya membuatmu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan), 'Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu,' padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah. Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku. Maka janganlah kamu minta kepadaKu mendatangkan(nya) dengan segera. Mereka berkata, 'Kapankah janji itu akan datang, jika kamu sekalian adalah orang-orang yang benar.' Andaikata orang-orang kafir itu mengetahui, waktu (di mana) mereka tidak mampu untuk mengelak-kan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka, sedang mereka tidak (pula) mendapatkan pertolongan, (tentulah mereka tidak meminta disegerakan). Sebenarnya (azab) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak sanggup meno-laknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan." (Al-Anbiya`: 36-41).
(36) Ini lantaran dahsyatnya kekufuran mereka. Kaum musyrikin jika menyaksikan Rasulullah, niscaya mereka mengolok-olok beliau dengan berkata, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu," maksudnya apakah orang hina ini –menurut pandangan mereka– yang mencela tuhan-tuhan kalian, memaki dan menghinanya. Maknanya, janganlah kalian pedulikan dia, dan jangan mengerubutinya. Kejadian ini merupakan bentuk pengolokan dan penghinaan terhadap beliau dengan aspek yang menjadi kesempurnaan beliau. Beliau adalah insan yang paling sempurna dan paling utama. Di antara keutamaan dan ketinggian akhlak beliau, yaitu mengikh-laskan ibadah hanya kepada Allah, mencela segala yang disembah selain Allah dan mendiskreditkannya, serta menyebutkan posisi Allah dan (ketinggian) kedudukanNya. Akan tetapi, justru obyek olokan dan hinaan (yang pantas) adalah (kepada) orang-orang kafir yang telah menghimpun setiap perilaku tercela. Sekiranya tidak ada pada mereka kecuali kekufuran mereka kepada Rabb dan peng-ingkaran terhadap para utusanNya, maka dengan hal itu cukup sudah membuat mereka menjadi makhluk-makhluk yang paling nista dan paling hina. Kendatipun demikian, penyebutan mereka tentang ar-Rahman (yang merupakan kondisi terbaik mereka) ada-lah keadaan kafir mereka kepada Allah. Pasalnya tidaklah mereka menyebutkan nama ini dan tidak mengimaniNya melainkan dalam keadaan menyekutukanNya dengan makhluk lain. Maka ucapan dzikir mereka merupakan bentuk kekufuran dan kesyirikan. Lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan lainnya? Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَهُم بِذِكۡرِ ٱلرَّحۡمَٰنِ هُمۡ كَٰفِرُونَ 36 ﴿ "Padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah." Dalam penyebutan nama Allah ar-Rahman me-ngandung petunjuk betapa buruknya perilaku mereka. Bagaimana bisa mereka bersikap kepada ar-Rahman –Dzat yang mencurahkan segala kenikmatan dan menyingkirkan segala malapetaka yang mana tidak ada kenikmatan pada hamba-hamba melainkan pasti berasal dariNya, dan tidak dapat menghalau kejelekan selainNya– dengan sikap kekufuran dan kesyirikan.
(37) ﴾ خُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ مِنۡ عَجَلٖۚ ﴿ "Manusia telah dijadikan (bertabiat) ter-gesa-gesa," maksudnya tercipta dengan sifat bawaan tergesa-gesa, ingin menyegerakan segala sesuatu dan ingin cepat untuk mengeta-hui hasilnya. Kaum Mukminin menginginkan percepatan hukuman Allah bagi orang-orang kafir dan menilainya lamban. Sementara itu, orang-orang kafir berpaling dan mempunyai kehendak agar dipercepat siksaan (bagi mereka) dalam rangka untuk mendusta-kan dan penentangan, seraya berkata, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al-Anbiya`: 38). (Ketahuilah) Allah sedang menunda, bukan melupakan, ingin bersikap lembut, dan sudah menetapkan waktu tertentu bagi mereka. ﴾ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ 49 ﴿ "Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengun-durkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)." (Yunus: 49). Karena itu, Allah berfirman, ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Kelak akan Aku per-lihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku," yaitu mengenai balas den-damKu terhadap orang-orang yang mengingkari Aku dan durhaka kepadaKu. ﴾ فَلَا تَسۡتَعۡجِلُونِ 37 ﴿ "Maka janganlah kamu meminta kepadaKu mendatangkan segera," hal tersebut.
(38) Begitu pula, orang-orang kafir mengatakan,﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." Mereka itu melontarkan pernyataan ini lantaran terpedaya dengan kondisi mereka (yang akan selamat) karena hukuman yang belum menimpa mereka dan siksa belum turun menerjang mereka.
(39) Sekiranya ﴾ يَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "orang-orang kafir itu mengeta-hui," keadaan buruk mereka ﴾ حِينَ لَا يَكُفُّونَ عَن وُجُوهِهِمُ ٱلنَّارَ وَلَا عَن ظُهُورِهِمۡ ﴿ "waktu (di mana) mereka tak mampu untuk mengelakkan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka," pasalnya, (pada waktu itu), neraka telah mengitari mereka dari semua sisi, dan me-nyelubungi mereka dari semua tempat, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ 39 ﴿ "sedang mereka tidak mendapat pertolongan (tentulah mereka tiada meminta di-segerakan)," maksudnya tidak ada orang lain yang (dapat) menolong mereka. Mereka tidak ditolong dan tidak pula dapat menolong diri mereka sendiri.
(40) ﴾ بَلۡ تَأۡتِيهِم ﴿ "Bahkan api neraka datang kepada mereka," dalam keadaan ﴾ بَغۡتَةٗ ﴿ "dengan sekonyong-konyong," menghenyakkan mereka karena kepanikan, kebingungan, dan lantaran rasa takut yang sangat mengerikan. ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ رَدَّهَا ﴿ "Maka mereka tidak sanggup menolaknya," sebab mereka benar-benar hina dan lemah untuk bisa melakukannya ﴾ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka diberi (waktu) tangguh," maksudnya memperoleh penundaan tempo sehingga diakhirkan siksaan mereka. Seandainya mereka menge-tahui hakikat ini dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak akan meminta penyegeraan siksaan bagi mereka dan akan benar-benar merasa sangat takut terhadapnya. Hanya saja, karena pengetahuan ini kosong dari diri mereka, akhirnya mereka mengatakan apa yang telah mereka lontarkan.
(41) Dan setelah Allah menyebutkan penghinaan mereka terhadap RasulNya dengan perkataan, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu." (Al-Anbiya`: 36), maka Allah menghibur beliau, bahwa kejadian seperti itu merupa-kan kebiasaan umat-umat terdahulu saat menghadapi para utusan Allah (yang diutus kepada mereka). Allah berfirman,﴾ وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٖ مِّن قَبۡلِكَ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُواْ مِنۡهُم ﴿ "Dan sungguh telah diperolok-olok beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemo-ohkan dari mereka," menghampiri mereka, ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "balasan (azab) olok-olokan mereka." Maksudnya telah datang siksaan kepada mereka. Segala faktor untuk menolaknya pun lenyap. Hendaknya mereka berhati-hati akan turunnya bencana, hukuman yang telah melanda kaum yang mendustakan para utusan Allah.
Al-Anbiya' 21:38
"Dan apabila orang-orang kafir itu melihatmu, mereka hanya membuatmu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan), 'Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu,' padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah. Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku. Maka janganlah kamu minta kepadaKu mendatangkan(nya) dengan segera. Mereka berkata, 'Kapankah janji itu akan datang, jika kamu sekalian adalah orang-orang yang benar.' Andaikata orang-orang kafir itu mengetahui, waktu (di mana) mereka tidak mampu untuk mengelak-kan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka, sedang mereka tidak (pula) mendapatkan pertolongan, (tentulah mereka tidak meminta disegerakan). Sebenarnya (azab) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak sanggup meno-laknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan." (Al-Anbiya`: 36-41).
(36) Ini lantaran dahsyatnya kekufuran mereka. Kaum musyrikin jika menyaksikan Rasulullah, niscaya mereka mengolok-olok beliau dengan berkata, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu," maksudnya apakah orang hina ini –menurut pandangan mereka– yang mencela tuhan-tuhan kalian, memaki dan menghinanya. Maknanya, janganlah kalian pedulikan dia, dan jangan mengerubutinya. Kejadian ini merupakan bentuk pengolokan dan penghinaan terhadap beliau dengan aspek yang menjadi kesempurnaan beliau. Beliau adalah insan yang paling sempurna dan paling utama. Di antara keutamaan dan ketinggian akhlak beliau, yaitu mengikh-laskan ibadah hanya kepada Allah, mencela segala yang disembah selain Allah dan mendiskreditkannya, serta menyebutkan posisi Allah dan (ketinggian) kedudukanNya. Akan tetapi, justru obyek olokan dan hinaan (yang pantas) adalah (kepada) orang-orang kafir yang telah menghimpun setiap perilaku tercela. Sekiranya tidak ada pada mereka kecuali kekufuran mereka kepada Rabb dan peng-ingkaran terhadap para utusanNya, maka dengan hal itu cukup sudah membuat mereka menjadi makhluk-makhluk yang paling nista dan paling hina. Kendatipun demikian, penyebutan mereka tentang ar-Rahman (yang merupakan kondisi terbaik mereka) ada-lah keadaan kafir mereka kepada Allah. Pasalnya tidaklah mereka menyebutkan nama ini dan tidak mengimaniNya melainkan dalam keadaan menyekutukanNya dengan makhluk lain. Maka ucapan dzikir mereka merupakan bentuk kekufuran dan kesyirikan. Lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan lainnya? Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَهُم بِذِكۡرِ ٱلرَّحۡمَٰنِ هُمۡ كَٰفِرُونَ 36 ﴿ "Padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah." Dalam penyebutan nama Allah ar-Rahman me-ngandung petunjuk betapa buruknya perilaku mereka. Bagaimana bisa mereka bersikap kepada ar-Rahman –Dzat yang mencurahkan segala kenikmatan dan menyingkirkan segala malapetaka yang mana tidak ada kenikmatan pada hamba-hamba melainkan pasti berasal dariNya, dan tidak dapat menghalau kejelekan selainNya– dengan sikap kekufuran dan kesyirikan.
(37) ﴾ خُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ مِنۡ عَجَلٖۚ ﴿ "Manusia telah dijadikan (bertabiat) ter-gesa-gesa," maksudnya tercipta dengan sifat bawaan tergesa-gesa, ingin menyegerakan segala sesuatu dan ingin cepat untuk mengeta-hui hasilnya. Kaum Mukminin menginginkan percepatan hukuman Allah bagi orang-orang kafir dan menilainya lamban. Sementara itu, orang-orang kafir berpaling dan mempunyai kehendak agar dipercepat siksaan (bagi mereka) dalam rangka untuk mendusta-kan dan penentangan, seraya berkata, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al-Anbiya`: 38). (Ketahuilah) Allah sedang menunda, bukan melupakan, ingin bersikap lembut, dan sudah menetapkan waktu tertentu bagi mereka. ﴾ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ 49 ﴿ "Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengun-durkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)." (Yunus: 49). Karena itu, Allah berfirman, ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Kelak akan Aku per-lihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku," yaitu mengenai balas den-damKu terhadap orang-orang yang mengingkari Aku dan durhaka kepadaKu. ﴾ فَلَا تَسۡتَعۡجِلُونِ 37 ﴿ "Maka janganlah kamu meminta kepadaKu mendatangkan segera," hal tersebut.
(38) Begitu pula, orang-orang kafir mengatakan,﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." Mereka itu melontarkan pernyataan ini lantaran terpedaya dengan kondisi mereka (yang akan selamat) karena hukuman yang belum menimpa mereka dan siksa belum turun menerjang mereka.
(39) Sekiranya ﴾ يَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "orang-orang kafir itu mengeta-hui," keadaan buruk mereka ﴾ حِينَ لَا يَكُفُّونَ عَن وُجُوهِهِمُ ٱلنَّارَ وَلَا عَن ظُهُورِهِمۡ ﴿ "waktu (di mana) mereka tak mampu untuk mengelakkan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka," pasalnya, (pada waktu itu), neraka telah mengitari mereka dari semua sisi, dan me-nyelubungi mereka dari semua tempat, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ 39 ﴿ "sedang mereka tidak mendapat pertolongan (tentulah mereka tiada meminta di-segerakan)," maksudnya tidak ada orang lain yang (dapat) menolong mereka. Mereka tidak ditolong dan tidak pula dapat menolong diri mereka sendiri.
(40) ﴾ بَلۡ تَأۡتِيهِم ﴿ "Bahkan api neraka datang kepada mereka," dalam keadaan ﴾ بَغۡتَةٗ ﴿ "dengan sekonyong-konyong," menghenyakkan mereka karena kepanikan, kebingungan, dan lantaran rasa takut yang sangat mengerikan. ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ رَدَّهَا ﴿ "Maka mereka tidak sanggup menolaknya," sebab mereka benar-benar hina dan lemah untuk bisa melakukannya ﴾ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka diberi (waktu) tangguh," maksudnya memperoleh penundaan tempo sehingga diakhirkan siksaan mereka. Seandainya mereka menge-tahui hakikat ini dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak akan meminta penyegeraan siksaan bagi mereka dan akan benar-benar merasa sangat takut terhadapnya. Hanya saja, karena pengetahuan ini kosong dari diri mereka, akhirnya mereka mengatakan apa yang telah mereka lontarkan.
(41) Dan setelah Allah menyebutkan penghinaan mereka terhadap RasulNya dengan perkataan, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu." (Al-Anbiya`: 36), maka Allah menghibur beliau, bahwa kejadian seperti itu merupa-kan kebiasaan umat-umat terdahulu saat menghadapi para utusan Allah (yang diutus kepada mereka). Allah berfirman,﴾ وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٖ مِّن قَبۡلِكَ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُواْ مِنۡهُم ﴿ "Dan sungguh telah diperolok-olok beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemo-ohkan dari mereka," menghampiri mereka, ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "balasan (azab) olok-olokan mereka." Maksudnya telah datang siksaan kepada mereka. Segala faktor untuk menolaknya pun lenyap. Hendaknya mereka berhati-hati akan turunnya bencana, hukuman yang telah melanda kaum yang mendustakan para utusan Allah.
Al-Anbiya' 21:39
"Dan apabila orang-orang kafir itu melihatmu, mereka hanya membuatmu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan), 'Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu,' padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah. Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku. Maka janganlah kamu minta kepadaKu mendatangkan(nya) dengan segera. Mereka berkata, 'Kapankah janji itu akan datang, jika kamu sekalian adalah orang-orang yang benar.' Andaikata orang-orang kafir itu mengetahui, waktu (di mana) mereka tidak mampu untuk mengelak-kan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka, sedang mereka tidak (pula) mendapatkan pertolongan, (tentulah mereka tidak meminta disegerakan). Sebenarnya (azab) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak sanggup meno-laknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan." (Al-Anbiya`: 36-41).
(36) Ini lantaran dahsyatnya kekufuran mereka. Kaum musyrikin jika menyaksikan Rasulullah, niscaya mereka mengolok-olok beliau dengan berkata, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu," maksudnya apakah orang hina ini –menurut pandangan mereka– yang mencela tuhan-tuhan kalian, memaki dan menghinanya. Maknanya, janganlah kalian pedulikan dia, dan jangan mengerubutinya. Kejadian ini merupakan bentuk pengolokan dan penghinaan terhadap beliau dengan aspek yang menjadi kesempurnaan beliau. Beliau adalah insan yang paling sempurna dan paling utama. Di antara keutamaan dan ketinggian akhlak beliau, yaitu mengikh-laskan ibadah hanya kepada Allah, mencela segala yang disembah selain Allah dan mendiskreditkannya, serta menyebutkan posisi Allah dan (ketinggian) kedudukanNya. Akan tetapi, justru obyek olokan dan hinaan (yang pantas) adalah (kepada) orang-orang kafir yang telah menghimpun setiap perilaku tercela. Sekiranya tidak ada pada mereka kecuali kekufuran mereka kepada Rabb dan peng-ingkaran terhadap para utusanNya, maka dengan hal itu cukup sudah membuat mereka menjadi makhluk-makhluk yang paling nista dan paling hina. Kendatipun demikian, penyebutan mereka tentang ar-Rahman (yang merupakan kondisi terbaik mereka) ada-lah keadaan kafir mereka kepada Allah. Pasalnya tidaklah mereka menyebutkan nama ini dan tidak mengimaniNya melainkan dalam keadaan menyekutukanNya dengan makhluk lain. Maka ucapan dzikir mereka merupakan bentuk kekufuran dan kesyirikan. Lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan lainnya? Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَهُم بِذِكۡرِ ٱلرَّحۡمَٰنِ هُمۡ كَٰفِرُونَ 36 ﴿ "Padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah." Dalam penyebutan nama Allah ar-Rahman me-ngandung petunjuk betapa buruknya perilaku mereka. Bagaimana bisa mereka bersikap kepada ar-Rahman –Dzat yang mencurahkan segala kenikmatan dan menyingkirkan segala malapetaka yang mana tidak ada kenikmatan pada hamba-hamba melainkan pasti berasal dariNya, dan tidak dapat menghalau kejelekan selainNya– dengan sikap kekufuran dan kesyirikan.
(37) ﴾ خُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ مِنۡ عَجَلٖۚ ﴿ "Manusia telah dijadikan (bertabiat) ter-gesa-gesa," maksudnya tercipta dengan sifat bawaan tergesa-gesa, ingin menyegerakan segala sesuatu dan ingin cepat untuk mengeta-hui hasilnya. Kaum Mukminin menginginkan percepatan hukuman Allah bagi orang-orang kafir dan menilainya lamban. Sementara itu, orang-orang kafir berpaling dan mempunyai kehendak agar dipercepat siksaan (bagi mereka) dalam rangka untuk mendusta-kan dan penentangan, seraya berkata, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al-Anbiya`: 38). (Ketahuilah) Allah sedang menunda, bukan melupakan, ingin bersikap lembut, dan sudah menetapkan waktu tertentu bagi mereka. ﴾ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ 49 ﴿ "Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengun-durkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)." (Yunus: 49). Karena itu, Allah berfirman, ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Kelak akan Aku per-lihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku," yaitu mengenai balas den-damKu terhadap orang-orang yang mengingkari Aku dan durhaka kepadaKu. ﴾ فَلَا تَسۡتَعۡجِلُونِ 37 ﴿ "Maka janganlah kamu meminta kepadaKu mendatangkan segera," hal tersebut.
(38) Begitu pula, orang-orang kafir mengatakan,﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." Mereka itu melontarkan pernyataan ini lantaran terpedaya dengan kondisi mereka (yang akan selamat) karena hukuman yang belum menimpa mereka dan siksa belum turun menerjang mereka.
(39) Sekiranya ﴾ يَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "orang-orang kafir itu mengeta-hui," keadaan buruk mereka ﴾ حِينَ لَا يَكُفُّونَ عَن وُجُوهِهِمُ ٱلنَّارَ وَلَا عَن ظُهُورِهِمۡ ﴿ "waktu (di mana) mereka tak mampu untuk mengelakkan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka," pasalnya, (pada waktu itu), neraka telah mengitari mereka dari semua sisi, dan me-nyelubungi mereka dari semua tempat, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ 39 ﴿ "sedang mereka tidak mendapat pertolongan (tentulah mereka tiada meminta di-segerakan)," maksudnya tidak ada orang lain yang (dapat) menolong mereka. Mereka tidak ditolong dan tidak pula dapat menolong diri mereka sendiri.
(40) ﴾ بَلۡ تَأۡتِيهِم ﴿ "Bahkan api neraka datang kepada mereka," dalam keadaan ﴾ بَغۡتَةٗ ﴿ "dengan sekonyong-konyong," menghenyakkan mereka karena kepanikan, kebingungan, dan lantaran rasa takut yang sangat mengerikan. ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ رَدَّهَا ﴿ "Maka mereka tidak sanggup menolaknya," sebab mereka benar-benar hina dan lemah untuk bisa melakukannya ﴾ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka diberi (waktu) tangguh," maksudnya memperoleh penundaan tempo sehingga diakhirkan siksaan mereka. Seandainya mereka menge-tahui hakikat ini dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak akan meminta penyegeraan siksaan bagi mereka dan akan benar-benar merasa sangat takut terhadapnya. Hanya saja, karena pengetahuan ini kosong dari diri mereka, akhirnya mereka mengatakan apa yang telah mereka lontarkan.
(41) Dan setelah Allah menyebutkan penghinaan mereka terhadap RasulNya dengan perkataan, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu." (Al-Anbiya`: 36), maka Allah menghibur beliau, bahwa kejadian seperti itu merupa-kan kebiasaan umat-umat terdahulu saat menghadapi para utusan Allah (yang diutus kepada mereka). Allah berfirman,﴾ وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٖ مِّن قَبۡلِكَ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُواْ مِنۡهُم ﴿ "Dan sungguh telah diperolok-olok beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemo-ohkan dari mereka," menghampiri mereka, ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "balasan (azab) olok-olokan mereka." Maksudnya telah datang siksaan kepada mereka. Segala faktor untuk menolaknya pun lenyap. Hendaknya mereka berhati-hati akan turunnya bencana, hukuman yang telah melanda kaum yang mendustakan para utusan Allah.
Al-Anbiya' 21:40
"Dan apabila orang-orang kafir itu melihatmu, mereka hanya membuatmu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan), 'Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu,' padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah. Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku. Maka janganlah kamu minta kepadaKu mendatangkan(nya) dengan segera. Mereka berkata, 'Kapankah janji itu akan datang, jika kamu sekalian adalah orang-orang yang benar.' Andaikata orang-orang kafir itu mengetahui, waktu (di mana) mereka tidak mampu untuk mengelak-kan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka, sedang mereka tidak (pula) mendapatkan pertolongan, (tentulah mereka tidak meminta disegerakan). Sebenarnya (azab) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak sanggup meno-laknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan." (Al-Anbiya`: 36-41).
(36) Ini lantaran dahsyatnya kekufuran mereka. Kaum musyrikin jika menyaksikan Rasulullah, niscaya mereka mengolok-olok beliau dengan berkata, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu," maksudnya apakah orang hina ini –menurut pandangan mereka– yang mencela tuhan-tuhan kalian, memaki dan menghinanya. Maknanya, janganlah kalian pedulikan dia, dan jangan mengerubutinya. Kejadian ini merupakan bentuk pengolokan dan penghinaan terhadap beliau dengan aspek yang menjadi kesempurnaan beliau. Beliau adalah insan yang paling sempurna dan paling utama. Di antara keutamaan dan ketinggian akhlak beliau, yaitu mengikh-laskan ibadah hanya kepada Allah, mencela segala yang disembah selain Allah dan mendiskreditkannya, serta menyebutkan posisi Allah dan (ketinggian) kedudukanNya. Akan tetapi, justru obyek olokan dan hinaan (yang pantas) adalah (kepada) orang-orang kafir yang telah menghimpun setiap perilaku tercela. Sekiranya tidak ada pada mereka kecuali kekufuran mereka kepada Rabb dan peng-ingkaran terhadap para utusanNya, maka dengan hal itu cukup sudah membuat mereka menjadi makhluk-makhluk yang paling nista dan paling hina. Kendatipun demikian, penyebutan mereka tentang ar-Rahman (yang merupakan kondisi terbaik mereka) ada-lah keadaan kafir mereka kepada Allah. Pasalnya tidaklah mereka menyebutkan nama ini dan tidak mengimaniNya melainkan dalam keadaan menyekutukanNya dengan makhluk lain. Maka ucapan dzikir mereka merupakan bentuk kekufuran dan kesyirikan. Lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan lainnya? Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَهُم بِذِكۡرِ ٱلرَّحۡمَٰنِ هُمۡ كَٰفِرُونَ 36 ﴿ "Padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah." Dalam penyebutan nama Allah ar-Rahman me-ngandung petunjuk betapa buruknya perilaku mereka. Bagaimana bisa mereka bersikap kepada ar-Rahman –Dzat yang mencurahkan segala kenikmatan dan menyingkirkan segala malapetaka yang mana tidak ada kenikmatan pada hamba-hamba melainkan pasti berasal dariNya, dan tidak dapat menghalau kejelekan selainNya– dengan sikap kekufuran dan kesyirikan.
(37) ﴾ خُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ مِنۡ عَجَلٖۚ ﴿ "Manusia telah dijadikan (bertabiat) ter-gesa-gesa," maksudnya tercipta dengan sifat bawaan tergesa-gesa, ingin menyegerakan segala sesuatu dan ingin cepat untuk mengeta-hui hasilnya. Kaum Mukminin menginginkan percepatan hukuman Allah bagi orang-orang kafir dan menilainya lamban. Sementara itu, orang-orang kafir berpaling dan mempunyai kehendak agar dipercepat siksaan (bagi mereka) dalam rangka untuk mendusta-kan dan penentangan, seraya berkata, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al-Anbiya`: 38). (Ketahuilah) Allah sedang menunda, bukan melupakan, ingin bersikap lembut, dan sudah menetapkan waktu tertentu bagi mereka. ﴾ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ 49 ﴿ "Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengun-durkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)." (Yunus: 49). Karena itu, Allah berfirman, ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Kelak akan Aku per-lihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku," yaitu mengenai balas den-damKu terhadap orang-orang yang mengingkari Aku dan durhaka kepadaKu. ﴾ فَلَا تَسۡتَعۡجِلُونِ 37 ﴿ "Maka janganlah kamu meminta kepadaKu mendatangkan segera," hal tersebut.
(38) Begitu pula, orang-orang kafir mengatakan,﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." Mereka itu melontarkan pernyataan ini lantaran terpedaya dengan kondisi mereka (yang akan selamat) karena hukuman yang belum menimpa mereka dan siksa belum turun menerjang mereka.
(39) Sekiranya ﴾ يَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "orang-orang kafir itu mengeta-hui," keadaan buruk mereka ﴾ حِينَ لَا يَكُفُّونَ عَن وُجُوهِهِمُ ٱلنَّارَ وَلَا عَن ظُهُورِهِمۡ ﴿ "waktu (di mana) mereka tak mampu untuk mengelakkan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka," pasalnya, (pada waktu itu), neraka telah mengitari mereka dari semua sisi, dan me-nyelubungi mereka dari semua tempat, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ 39 ﴿ "sedang mereka tidak mendapat pertolongan (tentulah mereka tiada meminta di-segerakan)," maksudnya tidak ada orang lain yang (dapat) menolong mereka. Mereka tidak ditolong dan tidak pula dapat menolong diri mereka sendiri.
(40) ﴾ بَلۡ تَأۡتِيهِم ﴿ "Bahkan api neraka datang kepada mereka," dalam keadaan ﴾ بَغۡتَةٗ ﴿ "dengan sekonyong-konyong," menghenyakkan mereka karena kepanikan, kebingungan, dan lantaran rasa takut yang sangat mengerikan. ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ رَدَّهَا ﴿ "Maka mereka tidak sanggup menolaknya," sebab mereka benar-benar hina dan lemah untuk bisa melakukannya ﴾ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka diberi (waktu) tangguh," maksudnya memperoleh penundaan tempo sehingga diakhirkan siksaan mereka. Seandainya mereka menge-tahui hakikat ini dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak akan meminta penyegeraan siksaan bagi mereka dan akan benar-benar merasa sangat takut terhadapnya. Hanya saja, karena pengetahuan ini kosong dari diri mereka, akhirnya mereka mengatakan apa yang telah mereka lontarkan.
(41) Dan setelah Allah menyebutkan penghinaan mereka terhadap RasulNya dengan perkataan, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu." (Al-Anbiya`: 36), maka Allah menghibur beliau, bahwa kejadian seperti itu merupa-kan kebiasaan umat-umat terdahulu saat menghadapi para utusan Allah (yang diutus kepada mereka). Allah berfirman,﴾ وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٖ مِّن قَبۡلِكَ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُواْ مِنۡهُم ﴿ "Dan sungguh telah diperolok-olok beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemo-ohkan dari mereka," menghampiri mereka, ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "balasan (azab) olok-olokan mereka." Maksudnya telah datang siksaan kepada mereka. Segala faktor untuk menolaknya pun lenyap. Hendaknya mereka berhati-hati akan turunnya bencana, hukuman yang telah melanda kaum yang mendustakan para utusan Allah.
Al-Anbiya' 21:41
"Dan apabila orang-orang kafir itu melihatmu, mereka hanya membuatmu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan), 'Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu,' padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah. Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku. Maka janganlah kamu minta kepadaKu mendatangkan(nya) dengan segera. Mereka berkata, 'Kapankah janji itu akan datang, jika kamu sekalian adalah orang-orang yang benar.' Andaikata orang-orang kafir itu mengetahui, waktu (di mana) mereka tidak mampu untuk mengelak-kan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka, sedang mereka tidak (pula) mendapatkan pertolongan, (tentulah mereka tidak meminta disegerakan). Sebenarnya (azab) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak sanggup meno-laknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan." (Al-Anbiya`: 36-41).
(36) Ini lantaran dahsyatnya kekufuran mereka. Kaum musyrikin jika menyaksikan Rasulullah, niscaya mereka mengolok-olok beliau dengan berkata, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu," maksudnya apakah orang hina ini –menurut pandangan mereka– yang mencela tuhan-tuhan kalian, memaki dan menghinanya. Maknanya, janganlah kalian pedulikan dia, dan jangan mengerubutinya. Kejadian ini merupakan bentuk pengolokan dan penghinaan terhadap beliau dengan aspek yang menjadi kesempurnaan beliau. Beliau adalah insan yang paling sempurna dan paling utama. Di antara keutamaan dan ketinggian akhlak beliau, yaitu mengikh-laskan ibadah hanya kepada Allah, mencela segala yang disembah selain Allah dan mendiskreditkannya, serta menyebutkan posisi Allah dan (ketinggian) kedudukanNya. Akan tetapi, justru obyek olokan dan hinaan (yang pantas) adalah (kepada) orang-orang kafir yang telah menghimpun setiap perilaku tercela. Sekiranya tidak ada pada mereka kecuali kekufuran mereka kepada Rabb dan peng-ingkaran terhadap para utusanNya, maka dengan hal itu cukup sudah membuat mereka menjadi makhluk-makhluk yang paling nista dan paling hina. Kendatipun demikian, penyebutan mereka tentang ar-Rahman (yang merupakan kondisi terbaik mereka) ada-lah keadaan kafir mereka kepada Allah. Pasalnya tidaklah mereka menyebutkan nama ini dan tidak mengimaniNya melainkan dalam keadaan menyekutukanNya dengan makhluk lain. Maka ucapan dzikir mereka merupakan bentuk kekufuran dan kesyirikan. Lalu bagaimana halnya dengan tindakan-tindakan lainnya? Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَهُم بِذِكۡرِ ٱلرَّحۡمَٰنِ هُمۡ كَٰفِرُونَ 36 ﴿ "Padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah." Dalam penyebutan nama Allah ar-Rahman me-ngandung petunjuk betapa buruknya perilaku mereka. Bagaimana bisa mereka bersikap kepada ar-Rahman –Dzat yang mencurahkan segala kenikmatan dan menyingkirkan segala malapetaka yang mana tidak ada kenikmatan pada hamba-hamba melainkan pasti berasal dariNya, dan tidak dapat menghalau kejelekan selainNya– dengan sikap kekufuran dan kesyirikan.
(37) ﴾ خُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ مِنۡ عَجَلٖۚ ﴿ "Manusia telah dijadikan (bertabiat) ter-gesa-gesa," maksudnya tercipta dengan sifat bawaan tergesa-gesa, ingin menyegerakan segala sesuatu dan ingin cepat untuk mengeta-hui hasilnya. Kaum Mukminin menginginkan percepatan hukuman Allah bagi orang-orang kafir dan menilainya lamban. Sementara itu, orang-orang kafir berpaling dan mempunyai kehendak agar dipercepat siksaan (bagi mereka) dalam rangka untuk mendusta-kan dan penentangan, seraya berkata, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al-Anbiya`: 38). (Ketahuilah) Allah sedang menunda, bukan melupakan, ingin bersikap lembut, dan sudah menetapkan waktu tertentu bagi mereka. ﴾ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ 49 ﴿ "Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengun-durkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)." (Yunus: 49). Karena itu, Allah berfirman, ﴾ سَأُوْرِيكُمۡ ءَايَٰتِي ﴿ "Kelak akan Aku per-lihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)Ku," yaitu mengenai balas den-damKu terhadap orang-orang yang mengingkari Aku dan durhaka kepadaKu. ﴾ فَلَا تَسۡتَعۡجِلُونِ 37 ﴿ "Maka janganlah kamu meminta kepadaKu mendatangkan segera," hal tersebut.
(38) Begitu pula, orang-orang kafir mengatakan,﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 38 ﴿ "Bilakah (terjadinya) janji (Hari Kebangkitan) ini jika kamu adalah orang-orang yang benar." Mereka itu melontarkan pernyataan ini lantaran terpedaya dengan kondisi mereka (yang akan selamat) karena hukuman yang belum menimpa mereka dan siksa belum turun menerjang mereka.
(39) Sekiranya ﴾ يَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "orang-orang kafir itu mengeta-hui," keadaan buruk mereka ﴾ حِينَ لَا يَكُفُّونَ عَن وُجُوهِهِمُ ٱلنَّارَ وَلَا عَن ظُهُورِهِمۡ ﴿ "waktu (di mana) mereka tak mampu untuk mengelakkan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka," pasalnya, (pada waktu itu), neraka telah mengitari mereka dari semua sisi, dan me-nyelubungi mereka dari semua tempat, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ 39 ﴿ "sedang mereka tidak mendapat pertolongan (tentulah mereka tiada meminta di-segerakan)," maksudnya tidak ada orang lain yang (dapat) menolong mereka. Mereka tidak ditolong dan tidak pula dapat menolong diri mereka sendiri.
(40) ﴾ بَلۡ تَأۡتِيهِم ﴿ "Bahkan api neraka datang kepada mereka," dalam keadaan ﴾ بَغۡتَةٗ ﴿ "dengan sekonyong-konyong," menghenyakkan mereka karena kepanikan, kebingungan, dan lantaran rasa takut yang sangat mengerikan. ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ رَدَّهَا ﴿ "Maka mereka tidak sanggup menolaknya," sebab mereka benar-benar hina dan lemah untuk bisa melakukannya ﴾ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ﴿ "dan tidak (pula) mereka diberi (waktu) tangguh," maksudnya memperoleh penundaan tempo sehingga diakhirkan siksaan mereka. Seandainya mereka menge-tahui hakikat ini dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak akan meminta penyegeraan siksaan bagi mereka dan akan benar-benar merasa sangat takut terhadapnya. Hanya saja, karena pengetahuan ini kosong dari diri mereka, akhirnya mereka mengatakan apa yang telah mereka lontarkan.
(41) Dan setelah Allah menyebutkan penghinaan mereka terhadap RasulNya dengan perkataan, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ ﴿ "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu." (Al-Anbiya`: 36), maka Allah menghibur beliau, bahwa kejadian seperti itu merupa-kan kebiasaan umat-umat terdahulu saat menghadapi para utusan Allah (yang diutus kepada mereka). Allah berfirman,﴾ وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٖ مِّن قَبۡلِكَ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُواْ مِنۡهُم ﴿ "Dan sungguh telah diperolok-olok beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemo-ohkan dari mereka," menghampiri mereka, ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "balasan (azab) olok-olokan mereka." Maksudnya telah datang siksaan kepada mereka. Segala faktor untuk menolaknya pun lenyap. Hendaknya mereka berhati-hati akan turunnya bencana, hukuman yang telah melanda kaum yang mendustakan para utusan Allah.
Al-Anbiya' 21:42
"Katakanlah, 'Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah.' Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari meng-ingat Rabb mereka. Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri, dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu. Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka apakah mereka yang menang." (Al-Anbiya`: 42-44).
(42) Allah تعالى berfirman untuk memaparkan betapa lemah-nya orang-orang yang menetapkan sesembahan selain Allah, dan bahwa mereka membutuhkan serta sangat berkepentingan dengan Rabb mereka ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) yang kasih sa-yangNya meliputi orang-orang baik dan jahat di malam dan siang hari. Allah berfirman, ﴾ قُلۡ مَن يَكۡلَؤُكُم ﴿ "Siapakah yang dapat memeli-hara kamu," maksudnya, siapakah yang akan menjaga dan memeli-hara kalian ﴾ بِٱلَّيۡلِ ﴿ "di malam hari," saat kalian tidur di atas ranjang-ranjang kalian, tanpa panca indera (yang berfungsi) dan tatkala di siang hari ketika kalian bertebaran (untuk mengais rizki) dan ketika kalian lalai ﴾ مِنَ ٱلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "selain ar-Rahman (Dzat Yang Maha Pemurah)," maksudnya, selainNya menggantikan posisiNya. Apakah ada dzat lain yang menjaga kalian selainNya? Jawabnya, tidak ada penjaga selainNya. ﴾ بَلۡ هُمۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِم مُّعۡرِضُونَ 42 ﴿ "Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingat Rabb mereka," Oleh karena itu, mereka menyekutukan sesuatu denganNya. Dan kalau tidak demikian, seandainya mereka mau menyambut peringatan Rabb mereka, mau menerima nasihat-nasihatNya, niscaya mereka akan mendapatkan petunjuk dan memperoleh taufik dalam setiap urusan mereka.
(43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ ءَالِهَةٞ تَمۡنَعُهُم مِّن دُونِنَاۚ ﴿ "Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami," maksud-nya jika Kami berkehendak mendatangkan sebuah keburukan pada mereka, apakah ada sesembahan mereka yang akan mampu melindungi mereka dari keburukan dan kejahatan yang melanda mereka? ﴾ لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَ أَنفُسِهِمۡ وَلَا هُم مِّنَّا يُصۡحَبُونَ 43 ﴿ "Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka di-lindungi dari (azab) Kami itu," maksudnya, mereka tidak memperoleh pertolongan dari sisi Kami. Jika mereka tidak mendapatkan per-tolongan dari Allah, maka mereka merupakan orang-orang yang terlantarkan dalam (menjalankan) urusan-urusan mereka. Mereka tidak mampu mendatangkan maslahat dan menepis mara bahaya.
(44) Faktor yang menyebabkan mereka kontinyu dalam kekufuran dan kesyirikan ialah, Firman Allah, ﴾ بَلۡ مَتَّعۡنَا هَٰٓؤُلَآءِ وَءَابَآءَهُمۡ حَتَّىٰ طَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡعُمُرُۗ ﴿ "Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka," maksudnya, Kami telah menopang kehidupan mereka dengan limpahan harta dan keturunan, dan Kami telah mengaruniakan umur panjang bagi mereka. Akhirnya, mereka menyibukkan diri untuk menikmatinya dan melupakan untuk misi apa mereka di-ciptakan di dunia ini. Seiring dengan perjalanan masa bersama mereka, kalbu-kalbu mereka menjadi keras, kepongahan mereka semakin menjadi-jadi serta kekufuran mereka pun semakin mengen-tal. Andai mereka mau mengarahkan pandangan mereka kepada orang-orang yang berada di sisi bumi sebelah kanan dan kiri, nis-caya mereka tidak akan menjumpai kecuali orang yang telah binasa. Tidaklah mereka mendengarkan melainkan suara-suara ratapan wanita. Dan tidaklah mereka menyadari melainkan masa-masa yang saling bergantian, berujung pada kehancuran. Kematian telah berdiri tegak di tengah jalan –untuk menyambar jiwa-jiwa– menye-barkan tali-tali jeratnya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَلَا يَرَوۡنَ أَنَّا نَأۡتِي ٱلۡأَرۡضَ نَنقُصُهَا مِنۡ أَطۡرَافِهَآۚ ﴿ "Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya," yaitu kabar tentang kematian para penduduk-nya, dan kehancuran mereka secara pelan-pelan sampai akhirnya Allah mewarisi bumi dan seisinya. Dia-lah sebaik-baik Dzat yang mewarisi. Jika mereka menyaksikan kejadian ini, niscaya mereka tidak akan terpedaya dan tidak akan keras kepala dengan kondisi mereka saat itu ﴾ أَفَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ 44 ﴿ "maka apakah mereka itu menang," yang dengan keleluasaan yang dimiliki, mereka bisa keluar dari takdir Allah dan dengan kemampuan yang dimiliki, mereka dapat menahan diri dari kematian. Apakah seperti ini keadaan mereka hingga tertipu dengan masa kehidupan mereka yang panjang (di dunia ini)? Ataukah mereka itu, bila utusan Allah (malaikat) datang untuk mencabut ruh-ruh, mereka akan patuh dan merasa hina, tidak tampak unsur penentangan dari mereka sedikit pun?
Al-Anbiya' 21:43
"Katakanlah, 'Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah.' Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari meng-ingat Rabb mereka. Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri, dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu. Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka apakah mereka yang menang." (Al-Anbiya`: 42-44).
(42) Allah تعالى berfirman untuk memaparkan betapa lemah-nya orang-orang yang menetapkan sesembahan selain Allah, dan bahwa mereka membutuhkan serta sangat berkepentingan dengan Rabb mereka ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) yang kasih sa-yangNya meliputi orang-orang baik dan jahat di malam dan siang hari. Allah berfirman, ﴾ قُلۡ مَن يَكۡلَؤُكُم ﴿ "Siapakah yang dapat memeli-hara kamu," maksudnya, siapakah yang akan menjaga dan memeli-hara kalian ﴾ بِٱلَّيۡلِ ﴿ "di malam hari," saat kalian tidur di atas ranjang-ranjang kalian, tanpa panca indera (yang berfungsi) dan tatkala di siang hari ketika kalian bertebaran (untuk mengais rizki) dan ketika kalian lalai ﴾ مِنَ ٱلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "selain ar-Rahman (Dzat Yang Maha Pemurah)," maksudnya, selainNya menggantikan posisiNya. Apakah ada dzat lain yang menjaga kalian selainNya? Jawabnya, tidak ada penjaga selainNya. ﴾ بَلۡ هُمۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِم مُّعۡرِضُونَ 42 ﴿ "Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingat Rabb mereka," Oleh karena itu, mereka menyekutukan sesuatu denganNya. Dan kalau tidak demikian, seandainya mereka mau menyambut peringatan Rabb mereka, mau menerima nasihat-nasihatNya, niscaya mereka akan mendapatkan petunjuk dan memperoleh taufik dalam setiap urusan mereka.
(43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ ءَالِهَةٞ تَمۡنَعُهُم مِّن دُونِنَاۚ ﴿ "Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami," maksud-nya jika Kami berkehendak mendatangkan sebuah keburukan pada mereka, apakah ada sesembahan mereka yang akan mampu melindungi mereka dari keburukan dan kejahatan yang melanda mereka? ﴾ لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَ أَنفُسِهِمۡ وَلَا هُم مِّنَّا يُصۡحَبُونَ 43 ﴿ "Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka di-lindungi dari (azab) Kami itu," maksudnya, mereka tidak memperoleh pertolongan dari sisi Kami. Jika mereka tidak mendapatkan per-tolongan dari Allah, maka mereka merupakan orang-orang yang terlantarkan dalam (menjalankan) urusan-urusan mereka. Mereka tidak mampu mendatangkan maslahat dan menepis mara bahaya.
(44) Faktor yang menyebabkan mereka kontinyu dalam kekufuran dan kesyirikan ialah, Firman Allah, ﴾ بَلۡ مَتَّعۡنَا هَٰٓؤُلَآءِ وَءَابَآءَهُمۡ حَتَّىٰ طَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡعُمُرُۗ ﴿ "Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka," maksudnya, Kami telah menopang kehidupan mereka dengan limpahan harta dan keturunan, dan Kami telah mengaruniakan umur panjang bagi mereka. Akhirnya, mereka menyibukkan diri untuk menikmatinya dan melupakan untuk misi apa mereka di-ciptakan di dunia ini. Seiring dengan perjalanan masa bersama mereka, kalbu-kalbu mereka menjadi keras, kepongahan mereka semakin menjadi-jadi serta kekufuran mereka pun semakin mengen-tal. Andai mereka mau mengarahkan pandangan mereka kepada orang-orang yang berada di sisi bumi sebelah kanan dan kiri, nis-caya mereka tidak akan menjumpai kecuali orang yang telah binasa. Tidaklah mereka mendengarkan melainkan suara-suara ratapan wanita. Dan tidaklah mereka menyadari melainkan masa-masa yang saling bergantian, berujung pada kehancuran. Kematian telah berdiri tegak di tengah jalan –untuk menyambar jiwa-jiwa– menye-barkan tali-tali jeratnya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَلَا يَرَوۡنَ أَنَّا نَأۡتِي ٱلۡأَرۡضَ نَنقُصُهَا مِنۡ أَطۡرَافِهَآۚ ﴿ "Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya," yaitu kabar tentang kematian para penduduk-nya, dan kehancuran mereka secara pelan-pelan sampai akhirnya Allah mewarisi bumi dan seisinya. Dia-lah sebaik-baik Dzat yang mewarisi. Jika mereka menyaksikan kejadian ini, niscaya mereka tidak akan terpedaya dan tidak akan keras kepala dengan kondisi mereka saat itu ﴾ أَفَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ 44 ﴿ "maka apakah mereka itu menang," yang dengan keleluasaan yang dimiliki, mereka bisa keluar dari takdir Allah dan dengan kemampuan yang dimiliki, mereka dapat menahan diri dari kematian. Apakah seperti ini keadaan mereka hingga tertipu dengan masa kehidupan mereka yang panjang (di dunia ini)? Ataukah mereka itu, bila utusan Allah (malaikat) datang untuk mencabut ruh-ruh, mereka akan patuh dan merasa hina, tidak tampak unsur penentangan dari mereka sedikit pun?
Al-Anbiya' 21:44
"Katakanlah, 'Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah.' Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari meng-ingat Rabb mereka. Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri, dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu. Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka apakah mereka yang menang." (Al-Anbiya`: 42-44).
(42) Allah تعالى berfirman untuk memaparkan betapa lemah-nya orang-orang yang menetapkan sesembahan selain Allah, dan bahwa mereka membutuhkan serta sangat berkepentingan dengan Rabb mereka ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) yang kasih sa-yangNya meliputi orang-orang baik dan jahat di malam dan siang hari. Allah berfirman, ﴾ قُلۡ مَن يَكۡلَؤُكُم ﴿ "Siapakah yang dapat memeli-hara kamu," maksudnya, siapakah yang akan menjaga dan memeli-hara kalian ﴾ بِٱلَّيۡلِ ﴿ "di malam hari," saat kalian tidur di atas ranjang-ranjang kalian, tanpa panca indera (yang berfungsi) dan tatkala di siang hari ketika kalian bertebaran (untuk mengais rizki) dan ketika kalian lalai ﴾ مِنَ ٱلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "selain ar-Rahman (Dzat Yang Maha Pemurah)," maksudnya, selainNya menggantikan posisiNya. Apakah ada dzat lain yang menjaga kalian selainNya? Jawabnya, tidak ada penjaga selainNya. ﴾ بَلۡ هُمۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِم مُّعۡرِضُونَ 42 ﴿ "Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingat Rabb mereka," Oleh karena itu, mereka menyekutukan sesuatu denganNya. Dan kalau tidak demikian, seandainya mereka mau menyambut peringatan Rabb mereka, mau menerima nasihat-nasihatNya, niscaya mereka akan mendapatkan petunjuk dan memperoleh taufik dalam setiap urusan mereka.
(43) ﴾ أَمۡ لَهُمۡ ءَالِهَةٞ تَمۡنَعُهُم مِّن دُونِنَاۚ ﴿ "Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami," maksud-nya jika Kami berkehendak mendatangkan sebuah keburukan pada mereka, apakah ada sesembahan mereka yang akan mampu melindungi mereka dari keburukan dan kejahatan yang melanda mereka? ﴾ لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَ أَنفُسِهِمۡ وَلَا هُم مِّنَّا يُصۡحَبُونَ 43 ﴿ "Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka di-lindungi dari (azab) Kami itu," maksudnya, mereka tidak memperoleh pertolongan dari sisi Kami. Jika mereka tidak mendapatkan per-tolongan dari Allah, maka mereka merupakan orang-orang yang terlantarkan dalam (menjalankan) urusan-urusan mereka. Mereka tidak mampu mendatangkan maslahat dan menepis mara bahaya.
(44) Faktor yang menyebabkan mereka kontinyu dalam kekufuran dan kesyirikan ialah, Firman Allah, ﴾ بَلۡ مَتَّعۡنَا هَٰٓؤُلَآءِ وَءَابَآءَهُمۡ حَتَّىٰ طَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡعُمُرُۗ ﴿ "Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka," maksudnya, Kami telah menopang kehidupan mereka dengan limpahan harta dan keturunan, dan Kami telah mengaruniakan umur panjang bagi mereka. Akhirnya, mereka menyibukkan diri untuk menikmatinya dan melupakan untuk misi apa mereka di-ciptakan di dunia ini. Seiring dengan perjalanan masa bersama mereka, kalbu-kalbu mereka menjadi keras, kepongahan mereka semakin menjadi-jadi serta kekufuran mereka pun semakin mengen-tal. Andai mereka mau mengarahkan pandangan mereka kepada orang-orang yang berada di sisi bumi sebelah kanan dan kiri, nis-caya mereka tidak akan menjumpai kecuali orang yang telah binasa. Tidaklah mereka mendengarkan melainkan suara-suara ratapan wanita. Dan tidaklah mereka menyadari melainkan masa-masa yang saling bergantian, berujung pada kehancuran. Kematian telah berdiri tegak di tengah jalan –untuk menyambar jiwa-jiwa– menye-barkan tali-tali jeratnya. Karena itu, Allah berfirman, ﴾ أَفَلَا يَرَوۡنَ أَنَّا نَأۡتِي ٱلۡأَرۡضَ نَنقُصُهَا مِنۡ أَطۡرَافِهَآۚ ﴿ "Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya," yaitu kabar tentang kematian para penduduk-nya, dan kehancuran mereka secara pelan-pelan sampai akhirnya Allah mewarisi bumi dan seisinya. Dia-lah sebaik-baik Dzat yang mewarisi. Jika mereka menyaksikan kejadian ini, niscaya mereka tidak akan terpedaya dan tidak akan keras kepala dengan kondisi mereka saat itu ﴾ أَفَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ 44 ﴿ "maka apakah mereka itu menang," yang dengan keleluasaan yang dimiliki, mereka bisa keluar dari takdir Allah dan dengan kemampuan yang dimiliki, mereka dapat menahan diri dari kematian. Apakah seperti ini keadaan mereka hingga tertipu dengan masa kehidupan mereka yang panjang (di dunia ini)? Ataukah mereka itu, bila utusan Allah (malaikat) datang untuk mencabut ruh-ruh, mereka akan patuh dan merasa hina, tidak tampak unsur penentangan dari mereka sedikit pun?
Al-Anbiya' 21:45
"Katakanlah (hai Muhammad), 'Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tidaklah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan.' Dan sesungguhnya, jika mereka ditimpa sedikit saja dari azab Rabbmu, pastilah mereka berkata, 'Aduhai, celaka-lah kami, bahwasanya kami adalah orang yang menganiaya diri sendiri'." (Al-Anbiya`: 45-46).
(45) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad kepada seluruh manusia ﴾ إِنَّمَآ أُنذِرُكُم بِٱلۡوَحۡيِۚ ﴿ "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu," maksudnya saya hanyalah seorang rasul, tidak membawa sesuatu dari diriku sendiri. Saya tidak mempunyai perbendaharaan kekayaan Allah, tidak mengetahui alam ghaib, dan tidak pula mengatakan bahwa diriku seorang malaikat. Saya hanyalah bertugas memberikan peringatan kepada kalian dengan wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Kalau kalian menyambut hal tersebut, maka sungguh kalian telah menyambut (panggilan) Allah, dan Dia akan memberi-kan balasan bagi kalian atas respons tersebut. Apabila kalian ber-paling dan melakukan penentangan, maka saya tidak mempunyai kewenangan sedikit pun dalam mengatur alam semesta ini. Segala urusan adalah milik Allah, dan ketetapan takdir hanya milik Allah semuanya. ﴾ وَلَا يَسۡمَعُ ٱلصُّمُّ ٱلدُّعَآءَ ﴿ "Dan tidaklah orang-orang yang tuli mende-ngar seruan," maksudnya orang tuli tidak mampu lagi mendengar-kan suara. Sebab, pendengarannya telah rusak dan tidak berfungsi lagi. Syarat dapat mendengarkan suara, adalah mesti ada media yang dapat menerimanya. Begitu pula wahyu, merupakan faktor kehidupan bagi hati dan ruh serta piranti untuk memahami maksud dari Allah. Tetapi, bila hati menolak mendengarkan hidayah, maka hati tersebut saat berinteraksi dengan hidayah dan cahaya iman, layaknya orang tuli terhadap suara-suara yang ada. Orang-orang musyrik, mereka itu tuli terhadap hidayah. Oleh karena itu, ja-nganlah dipandang dengan keheranan bila mereka tidak dapat meraih hidayah. Terlebih lagi, dalam kondisi seperti ini, di mana siksaan belum mendatangi mereka, dan rasa sakitnya siksaan belum mengenai mereka.
(46) Seandainya sudah benar-benar mengenai mereka ﴾ نَفۡحَةٞ مِّنۡ عَذَابِ رَبِّكَ ﴿ "sedikit saja dari azab Rabbmu," yaitu walaupun bagian kecil dari siksaNya, namun tidak ada istilah sedikit pada siksa Allah ﴾ لَيَقُولُنَّ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 46 ﴿ "pastilah mereka berkata, 'Aduhai celakalah kami, bahwasanya kami adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri'," maksudnya tiada perkataan yang mereka sampaikan kecuali ratapan celaka, kebinasaan, penyesalan dan pengakuan atas perbuatan aniaya dan kekufuran mereka serta pengakuan menjadi orang yang berhak tertimpa siksa.
Al-Anbiya' 21:46
"Katakanlah (hai Muhammad), 'Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tidaklah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan.' Dan sesungguhnya, jika mereka ditimpa sedikit saja dari azab Rabbmu, pastilah mereka berkata, 'Aduhai, celaka-lah kami, bahwasanya kami adalah orang yang menganiaya diri sendiri'." (Al-Anbiya`: 45-46).
(45) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," wahai Muhammad kepada seluruh manusia ﴾ إِنَّمَآ أُنذِرُكُم بِٱلۡوَحۡيِۚ ﴿ "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu," maksudnya saya hanyalah seorang rasul, tidak membawa sesuatu dari diriku sendiri. Saya tidak mempunyai perbendaharaan kekayaan Allah, tidak mengetahui alam ghaib, dan tidak pula mengatakan bahwa diriku seorang malaikat. Saya hanyalah bertugas memberikan peringatan kepada kalian dengan wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Kalau kalian menyambut hal tersebut, maka sungguh kalian telah menyambut (panggilan) Allah, dan Dia akan memberi-kan balasan bagi kalian atas respons tersebut. Apabila kalian ber-paling dan melakukan penentangan, maka saya tidak mempunyai kewenangan sedikit pun dalam mengatur alam semesta ini. Segala urusan adalah milik Allah, dan ketetapan takdir hanya milik Allah semuanya. ﴾ وَلَا يَسۡمَعُ ٱلصُّمُّ ٱلدُّعَآءَ ﴿ "Dan tidaklah orang-orang yang tuli mende-ngar seruan," maksudnya orang tuli tidak mampu lagi mendengar-kan suara. Sebab, pendengarannya telah rusak dan tidak berfungsi lagi. Syarat dapat mendengarkan suara, adalah mesti ada media yang dapat menerimanya. Begitu pula wahyu, merupakan faktor kehidupan bagi hati dan ruh serta piranti untuk memahami maksud dari Allah. Tetapi, bila hati menolak mendengarkan hidayah, maka hati tersebut saat berinteraksi dengan hidayah dan cahaya iman, layaknya orang tuli terhadap suara-suara yang ada. Orang-orang musyrik, mereka itu tuli terhadap hidayah. Oleh karena itu, ja-nganlah dipandang dengan keheranan bila mereka tidak dapat meraih hidayah. Terlebih lagi, dalam kondisi seperti ini, di mana siksaan belum mendatangi mereka, dan rasa sakitnya siksaan belum mengenai mereka.
(46) Seandainya sudah benar-benar mengenai mereka ﴾ نَفۡحَةٞ مِّنۡ عَذَابِ رَبِّكَ ﴿ "sedikit saja dari azab Rabbmu," yaitu walaupun bagian kecil dari siksaNya, namun tidak ada istilah sedikit pada siksa Allah ﴾ لَيَقُولُنَّ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ 46 ﴿ "pastilah mereka berkata, 'Aduhai celakalah kami, bahwasanya kami adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri'," maksudnya tiada perkataan yang mereka sampaikan kecuali ratapan celaka, kebinasaan, penyesalan dan pengakuan atas perbuatan aniaya dan kekufuran mereka serta pengakuan menjadi orang yang berhak tertimpa siksa.
Al-Anbiya' 21:47
"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan." (Al-Anbiya`: 47).
(47) Allah تعالى mengabarkan mengenai ketetapan hukumNya yang adil dan keputusanNya yang berimbang (tidak berat sebelah) di antara para hambaNya ketika Dia menghimpun mereka semua di Hari Kiamat. Dia memasang timbangan-timbangan yang adil bagi mereka. Dalam timbangan-timbangan itu menjadi tampak jelas beratnya biji sawi yang dengan itu kebaikan dan kejelekan akan ditimbang. ﴾ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ ﴿ "Maka tidaklah dirugikan seseorang," baik jiwa yang Muslim ataupun yang kafir ﴾ شَيۡـٔٗاۖ ﴿ "barang sedikit pun," dalam bentuk pengurangan dari sebagian kebaikannya atau penambahan kejelekannya. Kendatipun seberat biji sawi yang merupakan partikel terkecil dan tidak diperhitungkan, yang berasal dari kebaikan maupun kejelekan, Kami akan membawa dan meng-hadirkannya. Tujuannya, agar pemiliknya mendapatkan balasan dengannya. Makna ini seperti kandungan ayat, ﴾ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ 7 وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ 8 ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, nis-caya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (Az-Zalzalah: 7-8). ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerja-kan ada (tertulis)'." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ 47 ﴿ "Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat per-hitungan," maksudnya Dzat Allah yang mulia sebagai pembuat perhitungan hal tersebut. Cukuplah Allah sebagai Dzat yang mem-perhitungkan amalan-amalan. Maksudnya, mengetahui seluruh amaliah para hambaNya, memeliharanya dan menempatkannya dalam sebuah kitab catatan, mengetahui perhitungannya dan ke-tentuan pahala atau hukumannya serta hak-haknya untuk menye-rahkan balasan bagi para pelakunya.
Al-Anbiya' 21:48
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Rabb me-reka, sedang mereka tidak melihatnya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) Hari Kiamat. Dan al-Qur`an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?" (Al-Anbiya`: 48-50).
(48) Kerapkali Allah تعالى memadukan antara dua kitab agung ini, yang mana alam semesta ini tidak pernah menunjukkan kitab yang lebih utama, lebih agung penyebutannya, lebih mengandung berkah dan lebih besar muatan hidayah dan penjelasannya (bagi umat manusia) dari pada keduanya. Dua kitab tersebut yakni Taurat dan al-Qur`an. Allah memberitahukan bahwa Dia memberi al-Furqan (kitab yang membedakan) kepada Musa sebagai orang inti dan Harun sebagai pengikut. Yaitu Taurat yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan. Ia meru-pakan, ﴾ ضِيَآءٗ ﴿ "penerangan," yaitu cahaya yang menjadi obor bagi orang-orang yang mencari hidayah, menjadi pemandu bagi orang-orang yang berjalan serta piranti untuk mengetahui hukum-hukum Allah dan alat yang membedakan antara hal-hal yang halal dan haram, menyebarkan penerangan dalam kegelapan kebodohan, bid'ah, dan kesesatan, serta berfungsi sebagai pengingat bagi orang-orang yang bertakwa. Dengan itu, mereka mengingat hal-hal yang bermanfaat dan hal-hal yang berbahaya bagi mereka, dan meng-ingat-ingat kebaikan dan kejelekan. Allah mengkhususkan penye-butan orang-orang bertakwa dalam konteks ini, karena mereka itulah pihak-pihak yang meraup manfaat darinya dalam bentuk ilmu maupun amalan.
(49) Selanjutnya, Allah menerangkan siapa orang-orang yang bertakwa itu. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Rabb mereka sedang mereka tidak melihatNya," maksudnya mereka takut kepada Allah saat mereka sendirian, tidak ada pandangan orang lain yang mengarah kepada mereka, sehingga pasti saat bersama orang lain, akan lebih takut kepada Allah. Mereka menahan diri (wara`) dari apa yang diha-ramkan oleh Allah dan melaksanakan perkara-perkara yang harus dikerjakan. ﴾ وَهُم مِّنَ ٱلسَّاعَةِ مُشۡفِقُونَ 49 ﴿ "Dan mereka merasa takut akan (tibanya) Hari Kiamat," maksudnya, mereka takut lagi khawatir. Hal ini muncul karena kesempurnaan ma'rifat (pengetahuan) mereka tentang Rabb mereka. Sehingga mereka memadukan sikap untuk berbuat baik dan merasa takut kepadaNya. Bentuk 'athaf (kata sambung "dan") di sini untuk menghubungkan sifat-sifat yang berbeda-beda yang diperuntukkan bagi sesuatu yang (berjumlah) satu dan obyek yang satu.
(50) ﴾ وَهَٰذَا ﴿ "Dan ini," yaitu al-Qur`an ﴾ ذِكۡرٞ مُّبَارَكٌ أَنزَلۡنَٰهُۚ ﴿ "adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turun-kan." Allah menyifatinya dengan dua sifat agung. (Pertama) sebagai pengingat, dengan itu semua tuntutan agama menjadi tidak terlu-pakan, seperti mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya, mengenal sifat-sifat para rasul, para wali, dan seluk-beluk tentang mereka, mengetahui hukum-hukum syariat, dalam bentuk peribadahan, muamalah dan lain sebagainya, mengetahui pula kepastian pembalasan amalan, surga dan neraka. Dengannya (al-Qur`an), berbagai masalah, petunjuk-petunjuk logika, dan dalil-dalil naqli dapat diingat. Allah menamakannya sebagai dzikr (pengingat) karena akan mengingatkan perkara-per-kara yang telah Allah tanamkan pada akal-akal dan fitrah manusia berupa pembenaran terhadap berita-berita yang haq, perintah melakukan hal-hal yang baik, dan larangan dari perkara-perkara buruk menurut nalar manusia. (Kedua) bersifat penuh berkah. Sifat ini menuntut makna banyaknya kebaikannya dan pertumbuhan serta pertambahannya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih besar nilai keberkahannya dari pada al-Qur`an ini. Sesungguhnya setiap kebaikan, kenikmatan, dan tambahan nikmat agama, duniawi ataupun ukhrawi, berasal darinya dan efek dari pengamalannya. Jika ia bersifat sebagai pem-beri peringatan yang mengandung berkah, maka wajib menerima-nya dengan tulus, tunduk dan penyerahan diri, serta bersyukur kepada Allah atas karunia besar ini dan mengamalkannya, menggali keberkahannya, melalui mempelajari kata-kata dan makna-makna-nya. Sementara sikap menyikapinya dengan sifat-sifat yang ber-lawanan dengan keadaan ini, seperti berpaling darinya, mengabai-kannya, mengingkarinya dan tidak mengimaninya merupakan bentuk kekufuran yang sangat besar, kebodohan dan tindakan aniaya yang sangat fatal. Oleh sebab itu, Allah تعالى mengingkari orang-orang yang mengingkari al-Qur`an. Allah berfirman, ﴾ أَفَأَنتُمۡ لَهُۥ مُنكِرُونَ 50 ﴿ "Maka mengapakah kamu mengingkarinya?"
Al-Anbiya' 21:49
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Rabb me-reka, sedang mereka tidak melihatnya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) Hari Kiamat. Dan al-Qur`an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?" (Al-Anbiya`: 48-50).
(48) Kerapkali Allah تعالى memadukan antara dua kitab agung ini, yang mana alam semesta ini tidak pernah menunjukkan kitab yang lebih utama, lebih agung penyebutannya, lebih mengandung berkah dan lebih besar muatan hidayah dan penjelasannya (bagi umat manusia) dari pada keduanya. Dua kitab tersebut yakni Taurat dan al-Qur`an. Allah memberitahukan bahwa Dia memberi al-Furqan (kitab yang membedakan) kepada Musa sebagai orang inti dan Harun sebagai pengikut. Yaitu Taurat yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan. Ia meru-pakan, ﴾ ضِيَآءٗ ﴿ "penerangan," yaitu cahaya yang menjadi obor bagi orang-orang yang mencari hidayah, menjadi pemandu bagi orang-orang yang berjalan serta piranti untuk mengetahui hukum-hukum Allah dan alat yang membedakan antara hal-hal yang halal dan haram, menyebarkan penerangan dalam kegelapan kebodohan, bid'ah, dan kesesatan, serta berfungsi sebagai pengingat bagi orang-orang yang bertakwa. Dengan itu, mereka mengingat hal-hal yang bermanfaat dan hal-hal yang berbahaya bagi mereka, dan meng-ingat-ingat kebaikan dan kejelekan. Allah mengkhususkan penye-butan orang-orang bertakwa dalam konteks ini, karena mereka itulah pihak-pihak yang meraup manfaat darinya dalam bentuk ilmu maupun amalan.
(49) Selanjutnya, Allah menerangkan siapa orang-orang yang bertakwa itu. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Rabb mereka sedang mereka tidak melihatNya," maksudnya mereka takut kepada Allah saat mereka sendirian, tidak ada pandangan orang lain yang mengarah kepada mereka, sehingga pasti saat bersama orang lain, akan lebih takut kepada Allah. Mereka menahan diri (wara`) dari apa yang diha-ramkan oleh Allah dan melaksanakan perkara-perkara yang harus dikerjakan. ﴾ وَهُم مِّنَ ٱلسَّاعَةِ مُشۡفِقُونَ 49 ﴿ "Dan mereka merasa takut akan (tibanya) Hari Kiamat," maksudnya, mereka takut lagi khawatir. Hal ini muncul karena kesempurnaan ma'rifat (pengetahuan) mereka tentang Rabb mereka. Sehingga mereka memadukan sikap untuk berbuat baik dan merasa takut kepadaNya. Bentuk 'athaf (kata sambung "dan") di sini untuk menghubungkan sifat-sifat yang berbeda-beda yang diperuntukkan bagi sesuatu yang (berjumlah) satu dan obyek yang satu.
(50) ﴾ وَهَٰذَا ﴿ "Dan ini," yaitu al-Qur`an ﴾ ذِكۡرٞ مُّبَارَكٌ أَنزَلۡنَٰهُۚ ﴿ "adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turun-kan." Allah menyifatinya dengan dua sifat agung. (Pertama) sebagai pengingat, dengan itu semua tuntutan agama menjadi tidak terlu-pakan, seperti mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya, mengenal sifat-sifat para rasul, para wali, dan seluk-beluk tentang mereka, mengetahui hukum-hukum syariat, dalam bentuk peribadahan, muamalah dan lain sebagainya, mengetahui pula kepastian pembalasan amalan, surga dan neraka. Dengannya (al-Qur`an), berbagai masalah, petunjuk-petunjuk logika, dan dalil-dalil naqli dapat diingat. Allah menamakannya sebagai dzikr (pengingat) karena akan mengingatkan perkara-per-kara yang telah Allah tanamkan pada akal-akal dan fitrah manusia berupa pembenaran terhadap berita-berita yang haq, perintah melakukan hal-hal yang baik, dan larangan dari perkara-perkara buruk menurut nalar manusia. (Kedua) bersifat penuh berkah. Sifat ini menuntut makna banyaknya kebaikannya dan pertumbuhan serta pertambahannya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih besar nilai keberkahannya dari pada al-Qur`an ini. Sesungguhnya setiap kebaikan, kenikmatan, dan tambahan nikmat agama, duniawi ataupun ukhrawi, berasal darinya dan efek dari pengamalannya. Jika ia bersifat sebagai pem-beri peringatan yang mengandung berkah, maka wajib menerima-nya dengan tulus, tunduk dan penyerahan diri, serta bersyukur kepada Allah atas karunia besar ini dan mengamalkannya, menggali keberkahannya, melalui mempelajari kata-kata dan makna-makna-nya. Sementara sikap menyikapinya dengan sifat-sifat yang ber-lawanan dengan keadaan ini, seperti berpaling darinya, mengabai-kannya, mengingkarinya dan tidak mengimaninya merupakan bentuk kekufuran yang sangat besar, kebodohan dan tindakan aniaya yang sangat fatal. Oleh sebab itu, Allah تعالى mengingkari orang-orang yang mengingkari al-Qur`an. Allah berfirman, ﴾ أَفَأَنتُمۡ لَهُۥ مُنكِرُونَ 50 ﴿ "Maka mengapakah kamu mengingkarinya?"
Al-Anbiya' 21:50
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Rabb me-reka, sedang mereka tidak melihatnya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) Hari Kiamat. Dan al-Qur`an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?" (Al-Anbiya`: 48-50).
(48) Kerapkali Allah تعالى memadukan antara dua kitab agung ini, yang mana alam semesta ini tidak pernah menunjukkan kitab yang lebih utama, lebih agung penyebutannya, lebih mengandung berkah dan lebih besar muatan hidayah dan penjelasannya (bagi umat manusia) dari pada keduanya. Dua kitab tersebut yakni Taurat dan al-Qur`an. Allah memberitahukan bahwa Dia memberi al-Furqan (kitab yang membedakan) kepada Musa sebagai orang inti dan Harun sebagai pengikut. Yaitu Taurat yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan. Ia meru-pakan, ﴾ ضِيَآءٗ ﴿ "penerangan," yaitu cahaya yang menjadi obor bagi orang-orang yang mencari hidayah, menjadi pemandu bagi orang-orang yang berjalan serta piranti untuk mengetahui hukum-hukum Allah dan alat yang membedakan antara hal-hal yang halal dan haram, menyebarkan penerangan dalam kegelapan kebodohan, bid'ah, dan kesesatan, serta berfungsi sebagai pengingat bagi orang-orang yang bertakwa. Dengan itu, mereka mengingat hal-hal yang bermanfaat dan hal-hal yang berbahaya bagi mereka, dan meng-ingat-ingat kebaikan dan kejelekan. Allah mengkhususkan penye-butan orang-orang bertakwa dalam konteks ini, karena mereka itulah pihak-pihak yang meraup manfaat darinya dalam bentuk ilmu maupun amalan.
(49) Selanjutnya, Allah menerangkan siapa orang-orang yang bertakwa itu. Allah berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Rabb mereka sedang mereka tidak melihatNya," maksudnya mereka takut kepada Allah saat mereka sendirian, tidak ada pandangan orang lain yang mengarah kepada mereka, sehingga pasti saat bersama orang lain, akan lebih takut kepada Allah. Mereka menahan diri (wara`) dari apa yang diha-ramkan oleh Allah dan melaksanakan perkara-perkara yang harus dikerjakan. ﴾ وَهُم مِّنَ ٱلسَّاعَةِ مُشۡفِقُونَ 49 ﴿ "Dan mereka merasa takut akan (tibanya) Hari Kiamat," maksudnya, mereka takut lagi khawatir. Hal ini muncul karena kesempurnaan ma'rifat (pengetahuan) mereka tentang Rabb mereka. Sehingga mereka memadukan sikap untuk berbuat baik dan merasa takut kepadaNya. Bentuk 'athaf (kata sambung "dan") di sini untuk menghubungkan sifat-sifat yang berbeda-beda yang diperuntukkan bagi sesuatu yang (berjumlah) satu dan obyek yang satu.
(50) ﴾ وَهَٰذَا ﴿ "Dan ini," yaitu al-Qur`an ﴾ ذِكۡرٞ مُّبَارَكٌ أَنزَلۡنَٰهُۚ ﴿ "adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turun-kan." Allah menyifatinya dengan dua sifat agung. (Pertama) sebagai pengingat, dengan itu semua tuntutan agama menjadi tidak terlu-pakan, seperti mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya, mengenal sifat-sifat para rasul, para wali, dan seluk-beluk tentang mereka, mengetahui hukum-hukum syariat, dalam bentuk peribadahan, muamalah dan lain sebagainya, mengetahui pula kepastian pembalasan amalan, surga dan neraka. Dengannya (al-Qur`an), berbagai masalah, petunjuk-petunjuk logika, dan dalil-dalil naqli dapat diingat. Allah menamakannya sebagai dzikr (pengingat) karena akan mengingatkan perkara-per-kara yang telah Allah tanamkan pada akal-akal dan fitrah manusia berupa pembenaran terhadap berita-berita yang haq, perintah melakukan hal-hal yang baik, dan larangan dari perkara-perkara buruk menurut nalar manusia. (Kedua) bersifat penuh berkah. Sifat ini menuntut makna banyaknya kebaikannya dan pertumbuhan serta pertambahannya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih besar nilai keberkahannya dari pada al-Qur`an ini. Sesungguhnya setiap kebaikan, kenikmatan, dan tambahan nikmat agama, duniawi ataupun ukhrawi, berasal darinya dan efek dari pengamalannya. Jika ia bersifat sebagai pem-beri peringatan yang mengandung berkah, maka wajib menerima-nya dengan tulus, tunduk dan penyerahan diri, serta bersyukur kepada Allah atas karunia besar ini dan mengamalkannya, menggali keberkahannya, melalui mempelajari kata-kata dan makna-makna-nya. Sementara sikap menyikapinya dengan sifat-sifat yang ber-lawanan dengan keadaan ini, seperti berpaling darinya, mengabai-kannya, mengingkarinya dan tidak mengimaninya merupakan bentuk kekufuran yang sangat besar, kebodohan dan tindakan aniaya yang sangat fatal. Oleh sebab itu, Allah تعالى mengingkari orang-orang yang mengingkari al-Qur`an. Allah berfirman, ﴾ أَفَأَنتُمۡ لَهُۥ مُنكِرُونَ 50 ﴿ "Maka mengapakah kamu mengingkarinya?"
Al-Anbiya' 21:51
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:52
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:53
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:54
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:55
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:56
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:57
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:58
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:59
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:60
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:61
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:62
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:63
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:64
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:65
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:66
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:67
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:68
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.
Al-Anbiya' 21:69
"Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami menge-tahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab, 'Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Sesungguh-nya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami de-ngan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata, 'Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku terma-suk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.' Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali patung yang terbesar (induk) bagi mereka; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim.' Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata, '(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.' Mereka bertanya, 'Apa-kah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab, 'Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali ke-pada kesadaran mereka lalu berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), 'Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata, 'Maka mengapakah kamu me-nyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu. Ah (celakalah) kamu dan sesuatu yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami.' Mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hen-dak bertindak.' Kami berfirman, 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.' Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah men-jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah." (Al-Anbiya`: 51-73).
(51) Tatkala Allah تعالى menyebutkan kisah tentang Musa dan Muhammad serta kitab mereka berdua, maka Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun)," mak-sudnya, sebelum pendelegasian Musa dan Muhammad sebagai rasul dan (sebelum) turunnya kitab mereka berdua, maka Allah mempertontonkan kerajaan langit dan bumi kepada ibrahim, dan menganugerahkan kesempurnaan hidayah kepadanya sehingga dia dapat menyempurnakan dirinya, serta menyeru umat manusia kepadanya, sebuah anugerah yang tidak diberikan oleh Allah kepada siapa pun dari umat manusia selain kepada Muhammad. Allah menisbatkan kesempurnaan hidayah kepada Ibrahim, karena hidayah tersebut berkait erat dengan kondisi dan ketinggian mar-tabatnya. Kalau tidak diarahkan ke makna demikian ini, maka setiap insan Mukmin memiliki bagian hidayah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada dirinya. ﴾ وَكُنَّا بِهِۦ عَٰلِمِينَ 51 ﴿ "Dan Kami me-ngetahui (keadaan)nya," maksudnya, Kami memberinya kesempur-naan hidayah, dan Kami perlakukan dia dengan istimewa sebagai rasul dan kekasih, serta Kami menjadikannya sebagai hamba pilihan di dunia dan akhirat, karena Kami mengetahui bahwa dia pantas dan patut untuk mengembannya, mengingat kesucian jiwa dan kecerdasan akalnya. Karena itu, Allah memaparkan adu argumentasinya di ha-dapan kaumnya, langkah larangan beliau dari praktik syirik kepada mereka, penghancuran berhala-berhala yang dia lakukan dan pem-bungkaman mereka dengan hujjahnya. Allah berfirman,
(52) ﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ﴿ "(Ingatlah), ketika Ibrahim ber-kata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Patung-patung apakah ini'," yang kalian serupakan dan pahati dengan tangan-tangan kalian dalam rupa beberapa makhluk, ﴾ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ 52 ﴿ "yang kamu tekun ber-ibadah kepadanya." Berdiam diri untuk melakukan ibadah kepadanya dan senantiasa berada di dekatnya. Apakah hakikat berhala-berhala itu? Apakah ia mempunyai keutamaan yang melekat padanya. Ke manakah akal sehat kalian kabur hingga kalian menghabiskan waktu-waktu kalian untuk beribadah kepadanya. Padahal, kalian-lah yang membuat dan memahatnya dengan tangan-tangan kalian. Ini salah satu bentuk keajaiban, kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri?
(53) Mereka menjawabnya dengan jawaban tanpa alasan kuat, sebuah jawaban orang yang lemah, yang tidak mengandung sedikit pun syubhat yang bisa dipegangi. Mereka mengatakan, ﴾ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا ﴿ "Kami mendapati bapak-bapak kami." Beginilah mereka (orang-orang tua kami) melakukan, maka kami sekedar menerus-kan budaya-budaya mereka dan mengikuti mereka dalam menyem-bahnya. Sudah menjadi perkara yang diketahui, bahwa perbuatan seorang manusia, selain para rasul, bukan merupakan hujjah (dasar kuat) dan tidak boleh diteladani. Terutama dalam perkara dasar-dasar agama (akidah) dan tauhid (pengesaan) Rabb semesta alam.
(54) Karena itu, Ibrahim menilai mereka semua telah sesat dengan berkata, ﴾ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ 54 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata," maksud-nya, kesesatan yang jelas lagi terang-terangan. Kesesatan apa yang lebih fatal dari pada kesesatan mereka yang berada dalam jurang kesyirikan dan menjauhkan diri dari tauhid? Maksudnya, perkataan kalian tidak pantas dijadikan sandaran. Kalian dan mereka sama saja, berada dalam kesesatan yang nyata lagi jelas bagi siapa saja.
(55) ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka berkata," dengan nada keheranan terha-dap perkataan Ibrahim dan penuh tanda tanya terhadap apa yang diucapkan Ibrahim, bagaimana beliau mulai membodoh-bodohkan mereka dan juga nenek moyang mereka. ﴾ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ 55 ﴿ "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Maksudnya, ucapan ini yang engkau utarakan dan engkau bawakan kepada kami, apa-kah merupakan kebenaran yang memang ada ataukah ucapanmu kepada kami merupakan ucapan orang yang sedang bermain-main lagi memperolok kami, yang tidak sadar apa yang sedang diucap-kan? Inilah yang mereka tuju. Mereka mengulang-ulang perkataan ini antara dua alternatif tersebut. Pasalnya, mereka menginginkan untuk mengopinikan perkataan Ibrahim sebagai ketetapan yang sudah dimaklumi bersama pada setiap orang bahwa ucapan yang disampaikan Ibrahim merupakan perkataan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakannya.
(56) Maka Ibrahim menyanggahnya dengan tajam, sembari memaparkan sisi kebodohan dan kedangkalan akal mereka. Beliau berkata, ﴾ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "Sesung-guhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakan-nya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu," beliau memadukan antara argumentasi logis dan argumentasi wahyu terhadap mereka. Mengenai argumentasi logika yang beliau kemukakan, maka sesungguhnya setiap manu-sia mengetahui, hingga termasuk juga orang-orang yang didebat oleh Ibrahim bahwa Allah-lah Dzat Pencipta bagi seluruh makhluk; dari kalangan bani Adam, malaikat, jin, hewan-hewan, langit dan bumi, Dzat yang mengatur mereka semua dengan beragam cara pengaturan. Sehingga setiap makhluk itu merupakan ciptaan, ber-ada di bawah aturan dan ketetapan (Allah). Termasuk juga, segenap makhluk yang disembah selain Allah. Apakah selayaknya, orang yang mempunyai daya pikir dan analisa, menyembah satu makhluk yang berada di bawah pengaturan (Allah), tidak mempunyai ke-mampuan memberikan manfaat atau mendatangkan bahaya, (tidak memiliki kemampuan) mematikan, menghidupkan, membangkit-kan (dari kematian), dengan meninggalkan peribadahan kepada Allah, Sang Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam semesta ini? Adapun tentang dalil sam'i (dari wahyu), yaitu yang berasal dari para rasul k, sesungguhnya risalah yang mereka bawa me-rupakan perkara yang ma'shum (terpelihara), tidak salah dan tidak mengabarkan perkara yang menyalahi kebenaran. Termasuk jenis ini, persaksian salah seorang dari kalangan rasul terhadap perkara tersebut. Oleh karenanya, Ibrahim berkata, ﴾ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم ﴿ "Dan aku atas yang demikian itu," maksudnya hanya Allah-lah yang berhak disembah, dan peribadahan kepada selainNya adalah tindakan yang batil ﴾ مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 56 ﴿ "termasuk orang-orang yang dapat memberi bukti." Setelah persaksian dari Allah, persaksian manakah yang lebih tinggi daripada persaksian para utusan Allah, terlebih lagi persaksian para ulul 'azmi dari kalangan para rasul, apalagi dari Khalil ar-Rahman (kekasih ar-Rahman)?
(57) Setelah Ibrahim menjelaskan bahwa patung-patung mereka tidak mempunyai kewenangan pengaturan alam semesta sedikit pun, maka beliau ingin memperlihatkan secara nyata kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakberdayaan patung-patung itu. Dan untuk memperdayai mereka dengan cara yang akan mem-buat mereka mengeluarkan pengakuan tentang itu, maka beliau berkata, ﴾ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian," maksudnya saya akan memecahkannya untuk memperdayai mereka ﴾ بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ 57 ﴿ "sesudah kamu pergi meninggalkannya," untuk merayakan salah satu hari raya mereka.
(58) Ketika orang-orang meninggalkannya, Ibrahim berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke tempat patung-patung itu. ﴾ فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا ﴿ "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong," yaitu pecahan-pecahan dan potongan-potongan. Patung-patung itu berada dalam sebuah rumah. Beliau merusaknya secara keseluruhan ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar," kecuali patung yang paling besar untuk sebuah tujuan yang akan beliau jelaskan. Renungkanlah bentuk pengecualian yang mengagumkan ini. Sesungguhnya segala sesuatu yang dimurkai di sisi Allah, tidak disematkan ungkapan-ungkapan pengagungan kepadanya melain-kan dengan cara menisbatkannya kepada orang-orang yang merasa memilikinya. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad ketika menulis surat kepada para raja musyrikin. Beliau berkata, Kepada Pembesar Persia… Kepada Pembesar Romawi... dan lain-lain.[2] Beliau tidak mengatakan, Kepada Orang yang Agung! Di sini Allah berfirman, ﴾ إِلَّا كَبِيرٗا لَّهُمۡ ﴿ "kecuali yang terbesar bagi mereka," tidak berfirman كَبِيْرًا مِنْ أَصْنَامِهِمْ (yang terbesar dari patung-patung mereka). Dengan ini, sepatutnya diperhatikan dan berhati-hati dari sikap mengagungkan sesuatu yang telah Allah hinakan kecuali dengan menisbatkannya kepada orang-orang yang mengagung-kannya. ﴾ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ 58 ﴿ "Agar mereka kembali (untuk) bertanya kepadanya," maksudnya Ibrahim membiarkan patung besar tidak dipecahkan agar mereka nanti merujuk kepada Ibrahim dan me-minta pemaparan hujjahnya. Dan mereka akan menghadap kepada patung itu, tidak berpaling darinya. Karena itu, beliau berkata di akhir ucapannya ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka." (Al-Anbiya`: 64).
(59) Ketika mereka menyaksikan kejadian yang menimpa patung-patung mereka, berupa penghinaan dan pelecehan ﴾ قَالُواْ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 59 ﴿ "mereka bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim." Mereka menuduh Ibrahim sebagai pelaku kezhaliman karena telah menghancurkannya. Padahal merekalah yang lebih pantas untuk disebut telah berbuat zhalim. Mereka tidak tahu bahwa penghancurannya terhadap patung-patung merupa-kan jasa beliau yang paling utama, dan bentuk keadilan dan ketau-hidannya. Sesungguhnya orang yang berbuat zhalim, ialah orang yang menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, padahal orang itu mengetahui apa yang ia perbuat kepadanya.
(60) ﴾ قَالُواْ سَمِعۡنَا فَتٗى يَذۡكُرُهُمۡ ﴿ "Mereka berkata, "Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-berhala ini," maksudnya, pemuda yang memaki dan mencela mereka. Orang yang semacam ini perilakunya, pastilah dia pelaku yang menghancurkannya. Atau sebagian dari mereka mendengar bahwa dia akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung itu. ﴾ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبۡرَٰهِيمُ 60 ﴿ "Yang bernama Ibrahim."
(61) Tatkala mereka telah memastikan pelakunya adalah Ibrahim, ﴾ قَالُواْ فَأۡتُواْ بِهِۦ ﴿ "mereka berkata, '(Kalau demikian), bawalah dia'," yaitu Ibrahim ﴾ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ ﴿ "dengan cara yang dapat dilihat orang banyak," maksudnya di hadapan mata dan pendengaran mereka ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ 61 ﴿ "agar mereka menyaksikan," maksudnya menghadiri hukuman yang ditimpakan kepada orang yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Inilah yang diinginkan dan dikehendaki Ibrahim, yaitu hasrat menjelaskan kebenaran dilakukan di hadapan orang banyak. Agar mereka dapat menyaksikan kebenaran dan terbantahkanlah alasan-alasan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Musa ketika mengikat perjanjian untuk bertemu dengan Fir'aun, ﴾ مَوۡعِدُكُمۡ يَوۡمُ ٱلزِّينَةِ وَأَن يُحۡشَرَ ٱلنَّاسُ ضُحٗى 59 ﴿ "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya, dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik." (Thaha: 59).
(62) Ketika orang-orang telah hadir dan Ibrahim dihadap-kan, mereka berkata kepadanya, ﴾ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَٰذَا ﴿ "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini," yaitu penghancuran ﴾ بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ 62 ﴿ "ter-hadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim," ini merupakan bentuk tanya taqriri (penetapan pelaku). Maksudnya, apa yang membuatmu nekat melakukannya? Dan apa yang memaksamu lancang menger-jakannya?
(63) Ibrahim menjawabnya dengan disaksikan orang-orang, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا ﴿ "Sebenarnya patung besar itulah yang melakukan-nya," maksudnya, dialah yang menghancurkannya, lantaran murka kepadanya ketika masih ada sesembahan (kecil) yang disembah selainnya. Ia ingin agar ibadah kalian khusus untuk patung kalian yang paling besar. Perkataan ini muncul dari Ibrahim. Tujuannya, untuk memojokkan lawan bicara ke sesuatu yang diinginkan dan untuk menegakkan hujjah di hadapannya. Oleh karena itu, dia berkata, ﴾ فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara," yang beliau maksud ialah patung-patung yang sudah berkeping-keping. Tanyalah mereka, kenapa dipecahkan berkeping-keping? Dan kepada patung yang tidak hancur, tanyalah kenapa ia menghancurkannya? Bila mampu bicara, pasti akan menjawab pertanyaan kalian. Namun, saya dan kalian serta setiap orang mengetahui bahwa mereka itu tidak dapat berbicara, tidak berkata-kata, tidak mampu memberikan keman-faatan ataupun tidak pula dapat mendatangkan malapetaka. Bahkan tidak berkutik untuk menolong dirinya sendiri dari orang yang menimpakan gangguan padanya.
(64) ﴾ فَرَجَعُوٓاْ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Maka mereka telah kembali kepada ke-sadaran mereka," akal-akal mereka sehat kembali, dan daya nalar mereka pun berbalik lagi. Mereka tahu bahwa mereka sedang ber-ada dalam kesesatan saat menyembahnya. Mereka pun mengakui telah berbuat aniaya dan kesyirikan ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ 64 ﴿ "Lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)'," maka tercapailah tujuan yang diinginkan Ibrahim. Hujjah telah mengikat mereka, melalui pengakuan mereka bahwa selama ini berada di atas kebatilan, dan bahwa tindakan mereka merupakan kekufuran dan kezhaliman.
(65) Hanya saja, mereka tidak terus dalam kondisi ini. Akan tetapi, ﴾ نُكِسُواْ عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ ﴿ "kemudian kepala mereka jadi tertunduk," maksudnya kondisi mereka telah berubah drastis, akal-akal mereka sudah tidak normal lagi, daya pikir mereka telah mengalami pe-nyimpangan. Sehingga berkata kepada Ibrahim,﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara," bagaimana bisa engkau menyalahkan dan mengolok-olok kami, serta memerintahkan kami untuk bertanya kepada patung-patung tersebut. Padahal engkau tahu bahwa mereka tidak mampu berkata-kata?
(66) Maka Ibrahim berkata untuk menjelek-jelekkan mereka dan menegaskan kesyirikan mereka di hadapan khalayak sambil memaparkan perihal tidak pantasnya sesembahan-sesembahan mereka itu untuk diibadahi,﴾ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـٔٗا وَلَا يَضُرُّكُمۡ 66 ﴿ "maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu," tidak dapat menyuguhkan kebaikan ataupun menolak mara bahaya.
(67) ﴾ أُفّٖ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah," maksudnya alangkah sesat kalian, betapa ruginya usaha kalian, dan betapa hinanya kalian dan patung-patung yang kalian ibadahi selain Allah. Jika kalian benar-benar berpikir, niscaya kalian akan mengetahui hakikat kondisi ini. Namun, ketika kalian tidak mendayagunakan akal pikiran, berbuat kebodohan dan kesesatan dengan sadar, maka binatang-binatang ternak lebih baik daripada kalian.
(68) Pada waktu itulah, saat Ibrahim berhasil membungkam mereka, sampai tidak dapat mengemukakan satu pembelaan pun, mereka menggunakan kekuatan fisik untuk membalasnya. Maka ﴾ قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ 68 ﴿ "mereka berkata, 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak," maksudnya, bunuhlah dia dengan cara yang paling sadis, dengan cara membakarnya sebagai ungkapan rasa marah kalian dan pem-belaan kepada sesembahan-sesembahan kalian. Celakalah mereka, celakalah mereka, karena menyembah sesembahan yang telah me-reka akui membutuhkan pertolongan mereka namun tetap mereka jadikan sebagai tuhan yang disembah!!
(69) Berikutnya, Allah menolong kekasihNya saat dilempar-kan ke dalam kobaran api. Allah berkata k e p a d a n y a ﴾ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 69 ﴿ "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." Api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkannya. Tidak ada rasa kesakitan pada beliau saat berada di dalamnya, dan tidak merasakan sesuatu yang dibenci.
(70) ﴾ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا ﴿ "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim," dengan bertekad untuk membakarnya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 70 ﴿ "maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi," yaitu di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah telah menjadikan kekasihNya dan para pengikutnya sebagai golongan orang-orang yang beruntung lagi jaya.
(71) ﴾ وَنَجَّيۡنَٰهُ وَلُوطًا ﴿ "Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth." Pasalnya, tidak ada yang beriman dari kalangan kaumnya kecuali Luth عليه السلام. Disebutkan dalam sebuah versi, bahwa Luth adalah ke-ponakan Ibrahim. Allah menyelamatkannya dan berhijrah,﴾ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَٰلَمِينَ 71 ﴿ "ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia" yaitu negeri Syam. Beliau meninggalkan kaumnya di Babilonia di Irak. ﴾ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 26 ﴿ "Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Ankabut: 26). Di antara keberkahan negeri Syam adalah, banyak nabi yang berada di wilayahnya, Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi kekasihNya, dan di sana terdapat salah satu dari tiga rumahNya yang suci, Baitul Maqdis.
(72) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)," saat memisahkan diri dari kaumnya ﴾ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Ishaq dan Ya'qub," Ya'qub adalah putra Ishaq, ﴾ نَافِلَةٗۖ ﴿ "sebagai sebuah anugerah (dari Kami)," setelah beliau memasuki usia tua dan istrinya dalam ke-adaan mandul. Kemudian malaikat mengabarkan berita gembira kepadanya berupa kelahiran Ishaq. ﴾ وَمِن وَرَآءِ إِسۡحَٰقَ يَعۡقُوبَ 71 ﴿ "Dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub." (Hud: 71). Ya'qub adalah Israil yang darinya lahir bangsa yang besar. Sedangkan Isma'il bin Ibrahim, merupakan cikal bakal bangsa Arab yang utama. Di antara keturunannya, penghulu orang-orang terdahulu dan yang akan datang (Muhammad a). ﴾ وَكُلّٗا ﴿ "Dan masing-masing," masing-masing yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub ﴾ جَعَلۡنَا صَٰلِحِينَ 72 ﴿ "Kami jadikan orang-orang yang shalih," maksudnya orang-orang yang menjalankan hak-hakNya dan hak-hak manusia.
(73) Di antara bentuk keshalihan mereka, bahwa Allah menjadikan mereka sebagai para pemuka umat manusia yang memandu jalan sesuai dengan perintahNya. Ini termasuk nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada hambaNya, menjadi panutan bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang-orang berjalan di belakang untuk mengikutinya. Demikian ini, merupa-kan buah kesabaran mereka, dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Allah. Firman Allah, ﴾ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya mereka menunjuki umat manusia dengan agama Kami, tidak memerintahkan atas dasar hawa nafsu pribadi mereka. Akan tetapi, atas dasar perintah Allah, agamaNya, dan untuk mengikuti keridhaanNya. Seorang hamba tidak akan menjadi imam, sampai dia telah menyeru kepada perintah-perintah Allah. ﴾ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "Dan Kami telah mewahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan." Mereka melakukannya dan menyeru orang-orang untuk mengerjakannya. Ini mencakup seluruh jenis kebaikan, baik berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. ﴾ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ ﴿ "Mendirikan shalat dan menunaikan zakat," ini masuk dalam kategori عَطْفُ الْخَصِّ عَلَى الْعَامِّ (penggabungan obyek yang khusus pada ungkapan yang cakupannya umum), lantaran kemuliaan dan keutamaan dua ibadah ini. Dan juga karena, orang yang telah menyempurnakan dua ibadah ini, maka dia telah melaksanakan agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka dia lebih menyia-nyiakan ibadah lainnya. Begitu pula, karena shalat adalah amalan paling utama yang menjadi hak Allah. Se-mentara (pembayaran) zakat, merupakan amalan paling utama yang mengandung curahan kebaikan kepada makhlukNya. ﴾ وَكَانُواْ لَنَا ﴿ "Dan (hanya) kepada Kami-lah mereka," bukan kepada selain Kami ﴾ عَٰبِدِينَ 73 ﴿ "selalu menyembah," maksudnya senantiasa menjaga peribadahan hati, ucapan, dan fisik di sebagian besar waktu mereka. Mereka berhak menerima gelar sebagai orang yang beribadah. Sehingga mereka mempunyai sifat yang sesuai dengan perintah Allah kepada makhlukNya, dan Dia menciptakan mereka untuk tujuan itu.